Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.9 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Harvest Moon:Back To Nature/Kalender 0 8422 117348 117275 2026-07-03T23:04:45Z ~2026-36231-94 43450 /* Musim Panas */ 117348 wikitext text/x-wiki ==Musim Semi== {| class="wikitable" |- ! Tanggal !! Acara |- | 1 || New Year Festival |- | 2 || Louis (madu,roti) |- | 4 || Bold (ungu) tepung |- | 8 || Goddess Festival |- | 11 || Saibara (ikan besar,rebung) |- | 14 || Thanksgiving Festival |- | 15 || Staid (biru tua) tepung |- | 16 || Elli (semua bunga) |- | 17 || Barley (telur spa) |- | 18 || Local Horse Festival |- | 19 || Lillia (turbojolt) |- | 22 || Cooking Festival |- | 26 || Aqua (biru muda) tepung |- | 29 || Greg (ikan besar) |- | 30 || Sasha- karen mom(coklat,cookies) |} ==Musim Panas== {| class="wikitable" |- ! Tanggal !! Acara |- | 1 || Swimming Festival |- | 3 || Popuri (telur spa,cokelat) |- | 4 || Harris-police (telur spa,turbojolt) |- | 6 || Cliff (apel,jus sayur) |- | 7 || Chicken Sumo Festival |- | 11 || Basil (telur spa,jamur) |- | 12 || Tomato Fight Festival |- | 16 || Timid (hijau) tepung |- | 17 || Ann (telur spa,cokelat) |- | 20 || Cow Festival |- | 22 || Kai (wine,minyak goreng) |- | 24 || Fireworks Festival |- | 25 || Walikota Thomas (truffle,wine) |- | 29 || Zack (wine) |} ==Musim Gugur== {| class="wikitable" |- ! Tanggal !! Acara |- | 2 || Gotz (telur,susu) |- | 3 || Music Festival |- | 5 || Stu (madu , ice cream) |- | 9 || Harvest Festival |- | 10 || Hoggy (kuning) |- | 11 || Manna (madu,jus sayur) |- | 13 || Moon Festival |- | 14 || Chef (merah) |- | 15 || Karen (wine,popcorn) |- | 17 || Doctor (jamur beracun,telur spa) |- | 20 || Carter (wine) |- | 21 || Sheep Festival |- | 23 || Anna mary's mom (flower) |- | 27 || Rick (telur spa,madu) |} ==Musim Dingin== {| class="wikitable" |- ! Tanggal !! Acara |-1 tanya kepada nenek elli 2 kali terus ke puncak gunung jam 6 sore melihat bunga ke bahgiaan dan ke nenek eli dan papanya mery | 2 || Kano (madu,wine) |- | 6 || Grey (biji tambang,es krim) |- | 10 || Dog Race Festival |- | 11 || Doug (madu,wine) |- | 13 || Ellen (flower,yarn ball) |- | 14 || Admirer Thanksgiving Festival |- | 15 || Duke (telur spa,wine) |- | 19 || Won (ikan) |- | 20 || Mary (rebung,jamur) |- | 22 || Nappy (oren) |- | 24 || Star Night Festival |- | 26 || May (madu,es krim) |- | 29 || Jeff (bodigizer,turbojolt) |- | 30 || New Year Eve Festival paikgywdge0i4n8ld3m7n5autvbxhwn Pemrograman HTML/Komentar 0 16662 117352 96170 2026-07-04T09:06:01Z ~2026-37944-31 43500 /* */ 117352 wikitext text/x-wiki GANTENG CANTIK JAKARTA 0895 2483 7937 JASA MENCARIKAN CINTA KHUSUS WAJAH GANTENG CANTIK SAJA BER IJIN NO NPWP NEGARA == Sintaks == <source lang="html"> <!-- Ini adalah contoh dari tag komentar yang saya buat --> <!-- tag komentar kedua --> <p>Halo Dunia, Ini adalah kode saya</p> <!-- Isi kalimat yang anda tulis dalam tag komentar tidak akan muncul pada halaman web-> </source> Perlu juga menjadi catatan bahwa walaupun komentar tidak ditampilkan pada web browser, tetapi seseorang masih bisa membaca komentar tersebut dengan cara melihat source halaman HTML. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menambahkan komentar yang sensitif atau bersifat rahasia, seperti username atau password. [[Kategori:Pemrograman HTML]] <P>hallo semua,saya dengan nama 8360,ini kode saya</p> d53g5f7c8jxokwlme4bmgbatoylc0mu Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hulu Rengat Riau 0 27035 117343 117302 2026-07-03T12:12:05Z NindiAstt 43491 /* Daftar Isi */ 117343 wikitext text/x-wiki '''Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Sekip hulu Rengat,Riau adalah sebuah Proyek (Proma) Mahasiswa berupa kajian empiris yang dilakukan oleh Dosen Pengampu Matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada Institut Teknologi dan Bisnis Indragiri, Hendri. S, MA bersama dengan mahasiswa yang mengikuti matakuliah dimaksud tahun 2026 pada Program Studi S1 Agribisnis, S1 Kebidananan dan S1 Teknik Sipil. Mahasiswa merekam dan menuliskan secara singkat dan padat data dan fakta yang terdapat di desa Promanya masing-masing, sesuai silabus/Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang diturunkan Dosen Pengampu. Perbaikan informasi (terkadang juga EYD kalimat) dilakukan oleh Dosen Pengampu. Sekip Hulu merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Wilayah ini berbatasan langsung dengan area pusat perkotaan Rengat—yang juga merupakan kota tertua di Riau—serta berada di dekat kawasan Pasar Kota Rengat dan Jalan Haji Agus Salim. Fasilitas Umum & Ruang Terbuka: Terdapat area Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Rengat yang berlokasi di Jalan H. Agus Salim.Pemerintahan: Kelurahan Sekip Hulu memiliki kantor lurah tersendiri yang melayani berbagai administrasi publik bagi warga setempat.Batas Wilayah: Bersama dengan Kelurahan Sekip Hilir, daerah ini merupakan hasil pemekaran dari Kelurahan Sekip pada tahun 1960 akibat pertambahan jumlah penduduk. Banjir jadi tempat wisata dadakan di Indragiri hulu Riau (25/12/2023) orang-orang yang datang bukan hanya warga setempat, tetapi juga ada warga dari luar kedua desa tersebut. Melihat ramainya warga yang wisata ke lokasi banjir, Banjir besar yang melanda wilayah Kabupaten Indragiri Hulu, termasuk Kelurahan Sekip Hulu (Kecamatan Rengat), terjadi pada akhir Desember 2023 akibat tingginya intensitas curah hujan dan luapan Sungai Indragiri. Bencana ini merendam puluhan desa, memaksa ratusan warga mengungsi, dan memicu berbagai penyakit pascabanjir. Waktu Kejadian: Bencana banjir mulai meluas sejak tanggal 22 Desember 2023 dan terus meluas ke berbagai kecamatan hingga akhir tahun.Lokasi Terdampak: Kelurahan Sekip Hulu dan wilayah sekitarnya di Kecamatan Rengat terdampak banjir luapan yang merendam akses jalan dan permukiman. Secara total, sebanyak 86 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu (termasuk Rengat Barat) terendam.Dampak Kerusakan & Korban: Ratusan kepala keluarga terdampak, fasilitas umum seperti sekolah mengalami kerusakan, dan kerugian material cukup signifikan karena rumah terendam.Penanganan Darurat: Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu yang dipimpin oleh Bupati Rezita Meylani Yopi melakukan peninjauan dan penyaluran bantuan, sementara posko kesehatan disiagakan mengingat warga mulai terserang penyakit seperti gatal-gatal dan ISPA. == Pendahuluan == Sesuai Undang-Undang No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<ref>https://pusmendik.kemdikbud.go.id/pdf/file-154</ref> Dari defenisi pendidikan tersebut dapat diketahui bahwa dalam proses pendidikan terdapat dua aspek, yaitu pendidikan dan pengajaran. Pendidikan akan menghasilkan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, dan akhlak mulia. Sedangkan pengajaran akan menghasilkan kecerdasan dan keterampilan. Kata Kewarganegaraan, adalah kata benda yang diberi imbukan ke dan akhiran an, sehingga maknanya berobah menjadi kumpulan sifat-sifat. Kata dasarnya adalah warga dan negara.. Warga mengandung arti peserta, anggota<ref>https://brainly.co.id/tugas/3405045</ref> atau member dari suatu organisasi atau komunitas yang terikat dengan aturan (termasuk tujuan organisasi tersebut). Istilah "negara" berasal dari bahasa Sanskerta yaitu ''nagari'' atau ''nagara'' yang berarti wilayah, kota, atau penguasa. Ilmuwan politik modern mendefinisikan negara sebagai suatu organisasi terbesar dan tertinggi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.<ref>https://papuapegunungan.kpu.go.id/blog/read/2851_negara-adalah-pengertian-unsur-dan-fungsinya</ref> Jadi, warga negara arinya individu dari masyarakat suatu negara yang patuh terhadap aturan hukum dan norma-norma yang berlaku dalam negara tersebut. DAS Indragiri adalah kawasan yang menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Indragiri. Wilayahnya meliputi tiga kabupaten di Riau saat ini, yaitu Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Indragiri Hulir dan Kabupaten Kuantan Singingi. Batas wilayahnya adalah bagian Selatan dengan Provinsi Jambi, Sebelah Barat berbatasan dengan Kab. Sawahlunto-Sijunjung (Sumatera Barat). Bagian Utara berbatasan Kabupaten Kampar (Riau) dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Berhala.<ref>Ahmad Yusuf <u>dkk</u>., ''Sejarah Kesultanan Inderagiri, Unri Press, Pekanbaru, 2003.''</ref> Ciri khas DAS Indragiri adalah; di sebelah Timur berawa-rawa dan sebelah Barat berbukit-bukit.Wiayahnya dibelah oleh Sungai Indragiri, hulunya di Danau Singkarak bernama Batang Ombilin, memasuki Riau, sungai ini bernama Batang Kuantan, dan memasuki wilayah Sei. Lalak (Kab. Indragiri Hulu) bernama Sungai Indragiri, hingga bermuara di laut, di kawasan Kab. Indragiri Hilir. Penduduk yang mendiami DAS Indragiri mayoritas etnis Melayu dengan kebudayaan Melayu Indragiri. == Referensi == <references /> == Daftar Isi == *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Air Putih Lubuk Batu Jaya|Aiir Putih Lubuk Batu Jaya]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Aur Cina Batang Cenaku|Aur Cina Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Batu Sawar Kelayang|Batu Sawar Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bayas Jaya Kempas|Bayas Jaya Kempas]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bongkal Malang Kelayang|Bongkal Malang Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Kelayang|Dusun Tua Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Kota Rengat|Kampung Besar Kota Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Seberang Rengat|Kampung Besar Seberang Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Dagang Rengat|Kampung Dagang Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Pulau Rengat|Kampung Pulau Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Keloyang Rakit Kulim|Keloyang Rakit Kulim]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Gading Batang Cenaku|Kuala Gading Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Kilan Batang Cenaku|Kuala Kilan Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Babu Rengat|Kuantan Babu Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Tenang Rakit Kulim|Kuantan Tenang Rakit Kulim]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kulam Loyang Rakit Kulim|Kulam Loyang Rakit Kulim]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Lubuk Cabau V Koto|Lubuk Cabau V Koto]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kelampaian Sei. Lala|Pasir Kelampaian Sei. Lala]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kemilu Rengat|Pasir Kemilu Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Ringgit Lirik|Pasir Ringgit Lirik]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pelangko Kelayang|Pelangko Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Manggis|Pematang Manggis]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Reba|Pematang Reba]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Petaling Jaya Batang Cenaku|Petaling Jaya Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rantau Mapesai|Rantau Mapesai]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Redang Seko Lirik|Redang Seko Lirik]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Bangun Rengat|Rawa Bangun Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Sekip Rengat|Rawa Sekip Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rumbai Jaya Tempuling|Rumbai Jaya Tempuling]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hilir Rengat|Sekip Hilir Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hulu Rengat|Sekip Hulu Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Seresam Seberida|Seresam Seberida]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Siambul Batang Gansal|Siambul Batang Gansal]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri / Simpang Kota Medan|Simpang Kota Medan]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Banyak Ikan Kelayang|Sungai Banyak Ikan Kelayang]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Baung Rengat Barat|Sungai Baung Rengat Barat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Beringin Rengat|Sungai Beringin Rengat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Dawu Rengat Barat|Sungai Dawu Rengat Barat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Parit Sei Lala|Sungai Parit Sei Lala]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Raya Rengat|Sungai Raya Rengat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Sagu Lirik|Sungai Sagu Lirik]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tanah Datar Rengat Barat|Tanah Datar Rengat Barat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tembilahan|Tembilahan]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Desa Teluk Kabung|Desa Teluk Kabung]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Pelang Kelayang]] [[Kategori:Pendidikan Kewarganegaraan]] [[Kategori:Kebudayaan Melayu indragiri]] kxhl1q0pzb9bs5bv4iq041mjr0ntl2v 117345 117343 2026-07-03T13:02:36Z Foraselfia 43493 /* Daftar Isi */ 117345 wikitext text/x-wiki '''Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Sekip hulu Rengat,Riau adalah sebuah Proyek (Proma) Mahasiswa berupa kajian empiris yang dilakukan oleh Dosen Pengampu Matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada Institut Teknologi dan Bisnis Indragiri, Hendri. S, MA bersama dengan mahasiswa yang mengikuti matakuliah dimaksud tahun 2026 pada Program Studi S1 Agribisnis, S1 Kebidananan dan S1 Teknik Sipil. Mahasiswa merekam dan menuliskan secara singkat dan padat data dan fakta yang terdapat di desa Promanya masing-masing, sesuai silabus/Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang diturunkan Dosen Pengampu. Perbaikan informasi (terkadang juga EYD kalimat) dilakukan oleh Dosen Pengampu. Sekip Hulu merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Wilayah ini berbatasan langsung dengan area pusat perkotaan Rengat—yang juga merupakan kota tertua di Riau—serta berada di dekat kawasan Pasar Kota Rengat dan Jalan Haji Agus Salim. Fasilitas Umum & Ruang Terbuka: Terdapat area Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Rengat yang berlokasi di Jalan H. Agus Salim.Pemerintahan: Kelurahan Sekip Hulu memiliki kantor lurah tersendiri yang melayani berbagai administrasi publik bagi warga setempat.Batas Wilayah: Bersama dengan Kelurahan Sekip Hilir, daerah ini merupakan hasil pemekaran dari Kelurahan Sekip pada tahun 1960 akibat pertambahan jumlah penduduk. Banjir jadi tempat wisata dadakan di Indragiri hulu Riau (25/12/2023) orang-orang yang datang bukan hanya warga setempat, tetapi juga ada warga dari luar kedua desa tersebut. Melihat ramainya warga yang wisata ke lokasi banjir, Banjir besar yang melanda wilayah Kabupaten Indragiri Hulu, termasuk Kelurahan Sekip Hulu (Kecamatan Rengat), terjadi pada akhir Desember 2023 akibat tingginya intensitas curah hujan dan luapan Sungai Indragiri. Bencana ini merendam puluhan desa, memaksa ratusan warga mengungsi, dan memicu berbagai penyakit pascabanjir. Waktu Kejadian: Bencana banjir mulai meluas sejak tanggal 22 Desember 2023 dan terus meluas ke berbagai kecamatan hingga akhir tahun.Lokasi Terdampak: Kelurahan Sekip Hulu dan wilayah sekitarnya di Kecamatan Rengat terdampak banjir luapan yang merendam akses jalan dan permukiman. Secara total, sebanyak 86 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu (termasuk Rengat Barat) terendam.Dampak Kerusakan & Korban: Ratusan kepala keluarga terdampak, fasilitas umum seperti sekolah mengalami kerusakan, dan kerugian material cukup signifikan karena rumah terendam.Penanganan Darurat: Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu yang dipimpin oleh Bupati Rezita Meylani Yopi melakukan peninjauan dan penyaluran bantuan, sementara posko kesehatan disiagakan mengingat warga mulai terserang penyakit seperti gatal-gatal dan ISPA. == Pendahuluan == Sesuai Undang-Undang No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<ref>https://pusmendik.kemdikbud.go.id/pdf/file-154</ref> Dari defenisi pendidikan tersebut dapat diketahui bahwa dalam proses pendidikan terdapat dua aspek, yaitu pendidikan dan pengajaran. Pendidikan akan menghasilkan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, dan akhlak mulia. Sedangkan pengajaran akan menghasilkan kecerdasan dan keterampilan. Kata Kewarganegaraan, adalah kata benda yang diberi imbukan ke dan akhiran an, sehingga maknanya berobah menjadi kumpulan sifat-sifat. Kata dasarnya adalah warga dan negara.. Warga mengandung arti peserta, anggota<ref>https://brainly.co.id/tugas/3405045</ref> atau member dari suatu organisasi atau komunitas yang terikat dengan aturan (termasuk tujuan organisasi tersebut). Istilah "negara" berasal dari bahasa Sanskerta yaitu ''nagari'' atau ''nagara'' yang berarti wilayah, kota, atau penguasa. Ilmuwan politik modern mendefinisikan negara sebagai suatu organisasi terbesar dan tertinggi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.<ref>https://papuapegunungan.kpu.go.id/blog/read/2851_negara-adalah-pengertian-unsur-dan-fungsinya</ref> Jadi, warga negara arinya individu dari masyarakat suatu negara yang patuh terhadap aturan hukum dan norma-norma yang berlaku dalam negara tersebut. DAS Indragiri adalah kawasan yang menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Indragiri. Wilayahnya meliputi tiga kabupaten di Riau saat ini, yaitu Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Indragiri Hulir dan Kabupaten Kuantan Singingi. Batas wilayahnya adalah bagian Selatan dengan Provinsi Jambi, Sebelah Barat berbatasan dengan Kab. Sawahlunto-Sijunjung (Sumatera Barat). Bagian Utara berbatasan Kabupaten Kampar (Riau) dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Berhala.<ref>Ahmad Yusuf <u>dkk</u>., ''Sejarah Kesultanan Inderagiri, Unri Press, Pekanbaru, 2003.''</ref> Ciri khas DAS Indragiri adalah; di sebelah Timur berawa-rawa dan sebelah Barat berbukit-bukit.Wiayahnya dibelah oleh Sungai Indragiri, hulunya di Danau Singkarak bernama Batang Ombilin, memasuki Riau, sungai ini bernama Batang Kuantan, dan memasuki wilayah Sei. Lalak (Kab. Indragiri Hulu) bernama Sungai Indragiri, hingga bermuara di laut, di kawasan Kab. Indragiri Hilir. Penduduk yang mendiami DAS Indragiri mayoritas etnis Melayu dengan kebudayaan Melayu Indragiri. == Referensi == <references /> == Daftar Isi == *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Air Putih Lubuk Batu Jaya|Aiir Putih Lubuk Batu Jaya]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Aur Cina Batang Cenaku|Aur Cina Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Batu Sawar Kelayang|Batu Sawar Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bayas Jaya Kempas|Bayas Jaya Kempas]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bongkal Malang Kelayang|Bongkal Malang Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Kelayang|Dusun Tua Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Kota Rengat|Kampung Besar Kota Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Seberang Rengat|Kampung Besar Seberang Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Dagang Rengat|Kampung Dagang Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Pulau Rengat|Kampung Pulau Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Keloyang Rakit Kulim|Keloyang Rakit Kulim]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Gading Batang Cenaku|Kuala Gading Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Kilan Batang Cenaku|Kuala Kilan Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Babu Rengat|Kuantan Babu Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Tenang Rakit Kulim|Kuantan Tenang Rakit Kulim]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kulam Loyang Rakit Kulim|Kulam Loyang Rakit Kulim]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Lubuk Cabau V Koto|Lubuk Cabau V Koto]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kelampaian Sei. Lala|Pasir Kelampaian Sei. Lala]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kemilu Rengat|Pasir Kemilu Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Ringgit Lirik|Pasir Ringgit Lirik]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pelangko Kelayang|Pelangko Kelayang]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Manggis|Pematang Manggis]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Reba|Pematang Reba]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Petaling Jaya Batang Cenaku|Petaling Jaya Batang Cenaku]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rantau Mapesai|Rantau Mapesai]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Redang Seko Lirik|Redang Seko Lirik]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Bangun Rengat|Rawa Bangun Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Sekip Rengat|Rawa Sekip Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rumbai Jaya Tempuling|Rumbai Jaya Tempuling]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hilir Rengat|Sekip Hilir Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hulu Rengat|Sekip Hulu Rengat]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Seresam Seberida|Seresam Seberida]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Siambul Batang Gansal|Siambul Batang Gansal]] *[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri / Simpang Kota Medan|Simpang Kota Medan]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Banyak Ikan Kelayang|Sungai Banyak Ikan Kelayang]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Baung Rengat Barat|Sungai Baung Rengat Barat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Beringin Rengat|Sungai Beringin Rengat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Dawu Rengat Barat|Sungai Dawu Rengat Barat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Parit Sei Lala|Sungai Parit Sei Lala]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Raya Rengat|Sungai Raya Rengat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Sagu Lirik|Sungai Sagu Lirik]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tanah Datar Rengat Barat|Tanah Datar Rengat Barat]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tembilahan|Tembilahan]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Desa Teluk Kabung|Desa Teluk Kabung]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Pelang Kelayang]] * [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Desa Rimpian Lubuk Batu Jaya]] [[Kategori:Pendidikan Kewarganegaraan]] [[Kategori:Kebudayaan Melayu indragiri]] krrnfvhcp9hn9okzy3lhvuibwej9v6n Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Kelayang 0 27065 117342 117341 2026-07-03T12:00:46Z NindiAstt 43491 /* */ 117342 wikitext text/x-wiki '''Dusun Tua''' adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kelayang pada Kabupaten Indragiri Hulu di Provinsi Riau. Biografi / Sejarah Singkat Desa Dusun Tua Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu. Desa Dusun Tua merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 6,2 km² dengan jumlah penduduk sekitar 798 jiwa. 1. Asal-usul Desa Nama Dusun Tua berasal dari pemukiman lama masyarakat Melayu yang sudah ada sejak dahulu. Desa ini berkembang dari sebuah perkampungan kecil yang dihuni oleh masyarakat yang hidup dari hasil alam seperti bertani, berkebun, dan mencari ikan di sungai. Lingkungan alam yang dekat dengan sungai membuat masyarakatnya sejak dahulu banyak bergantung pada sumber daya alam sekitar. 2. Kondisi Wilayah dan Masyarakat Mayoritas masyarakat Desa Dusun Tua bekerja sebagai petani, pedagang kecil, dan nelayan sungai. Kehidupan sosial masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, dan musyawarah dalam kehidupan sehari-hari. 3. Pembagian Wilayah Desa Secara administratif, Desa Dusun Tua terdiri dari 4 dusun, yaitu: 1. Dusun Pulau Sarap / Pulau Harapan 2. Dusun Pulau Tengah 3. Dusun Pulau Sialang 4. Dusun Kasang Solobuai 4. Budaya dan Tradisi Di desa ini terdapat tradisi masyarakat seperti ritual menyimah kampung, yaitu upacara adat yang dilakukan sebagai bentuk doa dan harapan agar kampung selalu aman, makmur, dan terhindar dari gangguan. Ritual ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antar masyarakat. 5. Perkembangan Desa Saat ini Desa Dusun Tua terus berkembang melalui berbagai program pembangunan desa, seperti pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan pelayanan sosial yang direncanakan melalui musyawarah desa bersama masyarakat. Kesimpulan: Desa Dusun Tua adalah desa di Kecamatan Kelayang yang memiliki sejarah panjang sebagai perkampungan masyarakat Melayu. Kehidupan masyarakatnya masih kental dengan budaya gotong royong dan adat istiadat, serta sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan hasil alam. [[Kategori:Pendidikan Kewarganegaraan]] [[Kategori:Kebudayaan Melayu indragiri]] laom1ds80kf9qz0lps94wljbger9hi5 Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Baung Rengat Barat 0 27096 117353 117286 2026-07-04T09:22:32Z Lola Nurul 42724 Kejadian yang pernah terjadi di desa proma 117353 wikitext text/x-wiki Sungai Baung adalah sebuah desa yang terletak dalam wilayah Kecamatan Rengat Barat di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kejadian yang pernah terjadi di desa sungai baung yaitu kebakaran rumah pada 1 Agustus 2021,kronologinya pada saat itu sebuah rumah non-permanen di RT 005 RW 004 Dusun Titian tinggi,Desa sungai Baung,ludes terbakar akibat tumpahan pertalite,yang menyebabkan pemilik rumah meninggal dunia.pada saat itu masyarakat setempat sangat panik dan prihatin atas kejadian tersebut, setelah kejadian itu membuat masyarakat waspada terhadap tumpahan pertalite.sebagian besar generasi muda di desa sungai baung mengetahui hal tersebut dari cerita orang tua dan warga sekitar,ada juga yang mengetahui dari kabar yang tersebar di lingkungan desa.dari kejadian itu,generasi muda menjadi lebih memahami pentingnya berhati-hati dan waspada terhadap bahaya kebakaran. 7eqwfo39ycoxcxr2q7afmpugyzcgk88 Pengguna:Sajak Puisi 2 27748 117349 117339 2026-07-04T01:07:03Z Sajak Puisi 43496 /* */ 117349 wikitext text/x-wiki PUISI-PUISI KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026) Agung Gema masih mengembara Sambil bergelayutan di hutan kata-kata Lalu mencium aroma nektar madu lebah dari singgasana kursi kejujuran Kebenaran adalah pangeran tersembunyi di lubuk lembah terdalam hati nurani Kini setelah zaman berganti Ia mesti berdaya berani berjaya Memakai mahkota keadilan demi mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi umat manusia PUISI SATU (Makna Puisi) Puisi adalah mantra ajaib Dari intuisi sakral yang gaib Pesona bahasa penuh perbawa Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia Alam berkelana pada pijaran Sinar-sinar ruhani gemerlapan Biarlah emosional itu terlibat Dalam frasa rangkaian tersurat Fantasi gairah mimpi keramat Kan membuka tabir yang tersirat PUISI DARI TANAH BANDUNG Bagai danau, bunga dan bukitan Aku catat setiap kejadian Dari mantra-mantra ajaib Kemungkinan dan sikap kearifan Puisi dari tanah Bandung Adalah visi misi semesta raya Penjaga generasi masa datang Penyejuk gelombang zaman Keharmonisan ucap, kata, alam Menjadi bahasa penuh makna Air mengalirkan semangat Restu kebajikan keramat Halus berbudi Cermin bagi jendela hati AKU BANGGA DI INDONESIA Setelah umur empat puluh tahun Harus kunyatakan dengan jujur Agar aku mujur dan makmur Terpilih sebagai orang bersyukur Aku bangga di Indonesia Matahari terbit di atas kepala Sinarnya sejuk menyegarkan mata Angin mengalir tenang perlahan Membawa wangi bunga kemboja Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan Apakah dinamakan bekerja Jika berada di perusahaan asing ? Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”! Apakah tidak lebih baik bangga dengan kemampuan diri ketika seseorang bisa memanfaatkannya untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara? Juga memiliki sekaligus berbagi waktu untuk berbagai keperluan? Hidup adalah pilihan Angin dan air tumpang tindih menjadi banjir. Membawa kayu kegolondongan, biji emas dan nikel. Memoles batu akik berwarna hijau Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa Menyuguhkan harum cendana. Aku tidak ingin ke luar negeri Sudah kutetapkan di sini Menikmati suka duka bersama mimpi Meski dihina dicaci Hanya karena serabutan Hihi bukan persoalan Karena aku cinta negeri ini Setiap saat kuingat Aku berdoa dalam sunyi Semoga keadilan merata Semangat kebangsaan tumbuh Negeri damai tenteram Rakyatnya sehat Pusakanya keramat Aku berharap bisa mencerdaskan Kehidupan bangsa Bersikap patriotik tidak harus berpolitik Aku punya karya Meski tidak seterkenal Shakespeare Chairil Anwar atau Rendra Tapi aku bisa menunjukkan diriku Dengan sebuah catatan pemikiran Aku lulusan bahasa dan sastra Sebagai sarjana Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi Lebih dekat dengan Indonesia Dengan bahasa, sastra dan budaya Di luar itu Aku mempelajari musik, filsafat, agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik perjimatan, keajaiban matematika, mantik, dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari Akhirnya semua kusatukan dalam karya puisiku “Julukanku perpustakaan berjalan” Kurang pas tapi mengagetkanku Aku punya banyak murid Formal maupun informal Mereka mau tidak mau mengakui Pengetahuannya dari pengetahuanku Dan aku tidak perlu gaji untuk itu karena seorang guru adalah pengabdian. memberi kesegaran bagi masa depan. Kendaraanku cukup Dari hasil mengamen Aku bisa membeli rumah Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari. Aku punya kebun cukup luas tiga puluh enam tumbak Ya dari hasil jual rongsokan Aku tidak pernah mencicil apapun Sampai saat puisi ini kamu baca Tidak juga kekurangan uang Dan jauh dari hutang ke bank Malahan membayari seseorang yang memiliki hutang Haha terkadang aku tertawa Sambil terharu Siapa aku? Aku cuma rindu wanitaku. Itu naluriah Seorang lelaki mencintai dan dicintai Kerinduanku berkarat disiram rembulan Hidup adalah perjalanan Hidup adalah persinggahan Siapa orang yang tidak terberkati Dengan adanya diriku Bukan memuji diri Ini adalah klarifikasi Maaf pernyataanku lucu-lucuan Berharap bisa memberi kesan Pertimbangan untuk ke depan Anak aku sekolahkan Aku benci pungli bila terjadi Anak yatim cukup kubiayai Para janda masih sanggup kuhidupi Aku masih bisa meminjamkan uang Tanpa bunga tanpa anggunan Entah mungkin nanti Sampai saat puisi ini kutulis Pagi di Indonesia penuh canda Kehangatan dan paradoks nya jiwa kurasakan menjadi bahan kajian Dan kita mesti belajar berlapang dada Aku paham di zaman sekarang Bekerja kantoran adalah kebanggaan Tapi tidak bagi diriku Kita bisa berbeda itulah keberagaman Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai Ketimbang sikap ksatria Ya ya hidup hedon sedikit nakal Atau berfoya-foya adalah keberhasilan Penilaian tergantung gaya hidup Biarpun berat sanubari melarat Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan terlihat keluarga atau tetangga Itulah yang kutangkap dari sisi lain Yang lain dengan pandanganku Aku bangga di Indonesia Biarpun belum bisa membanggakan Bukan pula kebanggan NEGERI YANG ANEH Di balik galaksi bima sakti Ada secarik tulisan “Negeri yang aneh Puisi pun dibatasi oleh modal dan pandangan pribadi Disesuaikan dengan keinginan para oligarki Menolak keindahan persepsi Berarti menidurkan daya sejati dari kreatifitas perasaan anugrah Tuhan Jika dipilih dipilah Seperti ikan asin, cumi, udang Di beli dapat hasil beli Di kursuskan jadi karbitan Di pertontonkan butuh pengakuan Di bukukan perlu bayaran.” Aku berjalan dari desa ke kota Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata Mengolah rasa menjadikan karya sastra Dan tak peduli ada yang mengakui Ini bukan curahan hati Tapi demi kebebasan berpuisi Selama unsur keindahan itu terjadi Maka layak diberi Prestise dan prestasi Sebagai penyair meski sunyi Jangan persulit lagi Sudah bosan terlalu berangan Tanpa perkumpulan Tak ada penerbitan Tanpa uang Tak ada keikutsertaan Apalagi kelayakan Tanpa komunitas Tak ada kepenyairan Lepaskan itu semua Buatlah puisi Tanpa perlu penilaian Untung di planet lain Terhijab triliunan kain Bukan di bumi Pula di negeriku ini Tapi di balik matahari Tiada terkena sentuhan cahaya Jauh dari rembulan Negeri begitu kelam Hanya malam Menggelombang mengambang … Puisi tak perlu tingkatan senioritas Puisi lepas aturan kesesuaian tema, judul dan kata Puisi adalah eksistensi diri Puisi memupuk kemandirian naluri Merdekakan puisi Dari cengkeraman tangan ganda yang berotot, berkuku, bergigi kuda Puisi tidak seperti rel Sambung menyambung Bukan bukit gunung Juga berbeda dengan jalan tol Apalagi minuman botol Puisi tak perlu laku Atau rayu merayu agar terjual di pasar Puisi adalah kearifan Hakikat manusia yang dengannya dia berjaya DUNIA TANPA BATAS Agung Gema Nugraha Angin panas dari negara maju menyerbu singgasana kepulauan Arah baru membuka tantangan bagi masa depan Dalam permasalahan kompleks Negara berkembang ditekan dipaksa untuk perubahan Meski harus hilang keseimbangan antara hak dan kewajiban Isu global, kesenjangan sosial Berlarut-larut bagai hujan yang bisa mengakibatkan banjir dan gempa susulan Dunia saat ini dalam satu pantauan satu daerah lingkup teknologi Kita tak bisa diam dalam percaturan pergerakan kesadaran perlu diberdayakan Peranan masyarakat adalah matahari yang penting untuk dikedepankan Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi dan segala aspek kehidupan Sesuai dengan kemampuan tanpa meninggalkan nilai moral leluhur serasi, selaras berkeadilan bersatu dalam perbedaan Kapitalis adalah gunung angkuh yang tak mungkin mengalah runtuh menjadi lembah Dunia tanpa batas Memberi informasi kenyataan negeri Bahwa kita sedang dipersiapkan Untuk menjadi pion atau raja PUISI UNTUK PEMBERITAAN (Khusus Sesar Lembang) Agung Gema Nugraha Masih itu saja. Berita adalah doa Bisa berwujud mantra-mantra ketika diulang-ulang memakai syarat ketentuan Pengabaran seolah ramalan dalam kehidupan. Keterkabulan akan terjadi bila diiringi hati harap-harap cemas Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya ke langit maka sampailah pada penjaga Malaikat pengurus bumi Maytotorun Maytotorun! Kritik mesti ditegakkan dengan benar dan berkeadilan. Antisipasi dibutuhkan sekadar keperluan Tapi tidak harus terus-menerus Menjadi arus topik pembicaraan Peliputan yang bertolak dengan kenyataan mata telanjang Adalah melawan kekuatan alam Peliputan mencari kesadarannya kepada berbagai pihak Baik untuk sebagian tujuan Dan akan kurang beruntung bagi metafisika spiritual Jiwa manusia mesti terjaga SENDAWAKU, BUAT OKNUM, KORUPTOR! .. ….. Agung Gema N Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu di saat aku tidak mengharapkanmu. Eughh, eughh oknum, koruptor! Oknum, koruptor Bertelor Meneror Mimpi masa depan kebangsaan Merah mega menyala Semburat cinta purba bangkit perkasa Berani memberantas korupsi adalah ksatria sejati Pemimpin cermin bagi hati nurani Oh kekasihku, yang duduk di kursi kekuasaan negara jangan makan gaji buta Di antara awang-awang dan bumi yang pernah cedera Sepuluh tahun aku menahan luka Dua puluh tahun aku terlunta-lunta Kamu kini bukan wujud yang kemarin Manipulasi diri begitu narsis dan dingin Seperti lambungku, kosong kendor Oknum, koruptor! Oknum, koruptor! CIKOLE Agung Gema Nugraha Mimpi-mimpi yang perkasa berdiri tegak di bawah lembah Gunung Tangkuban Perahu Langkah-langkah dari jauh disulap angin riuh dan mitos negeri peri Gunung Puteri Kembang Jaksi Lembah Hyang Cikole Jayagiri Dewi menyala seperti bintang di malam hari Murninya alam kahyangan Cantiknya Parahyangan LAGU BUAT NENG DEWI (Bulan Juni 2026) Aku tulis puisi ini Sambil menikmati bulan Juni Riuh remaja bulannya muda Wahai neng Dewi kucinta padamu Setangkai bidara yang tertanam Diusapi sepi udara malam Sejuk membelai merekah gemulai Memantapkan keyakinan tanpa buaian Dirimu dalam pandangan Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi Wahai neng Dewi kumerindukanmu KEMBALI KE LEUWI PANJANG Kembali ke terminal Leuwi Panjang adalah menemani nyanyi pagi bulan Juli setelah kegiatan sehari-hari terhenti Bus kota kunaiki bersama mimpi tanpa mengenyam raut muka kekasih masa silam Dan Dewi masih menunda tanda Belum juga terbit di pelupuk mata Tapi hidup tak boleh sia-sia dalam kobarannya TANGIS BESI Tangis Besi Tangis Besi Betapa ganasnya satu pekerti Dan ia tak mau mengerti Tangis besi Tangis Besi Keras kaku pemikiran angan Itu tak bisa dihancurkan PENA JULI Pena Juli Tintanya tersirap matahari dari ufuk hari yang tak pasti Pena Juli Tiada tajam bagai gergaji atau kilat pisau belati Patah perintah hati nurani MAWAR TEMBAGA Mawar tembaga Adalah bunga persembahan zaman Kebunnya sudah menjadi menara Istrinya terbentur musim gugur Segala jiwa keluarga menganggur Mawar tembaga Lelaki legam perkasa Sudah lima tahun bertapa bertambah tua muka banyak berduka Tak ada cinta jika tak menghasilkan Sebagaimana cahaya malam redam bila bintang bulannya tenggelam Ah kesendirian itu adalah pintu gila Mawar tembaga BERAS BATIN Beras Batin Angin menggelinding membawa kabar tentang tanah subur tanpa penghuni Sawah-sawah liar itu telah tertanam gedung dan perumahan mewah Beras Batin Rakyatnya pergi ke lorong mega Sambil melangkah menganga menitikkan air mata tanpa suara Karena bunyi habis termakan excavator, tower crane Palu besar menambah pilu Concret pump, vibrator dan gergaji menyayat sanubari Beras batin i22hfhiqpay234szut15zaw2q4akemp 117350 117349 2026-07-04T01:27:25Z Sajak Puisi 43496 /* */ 117350 wikitext text/x-wiki PUISI-PUISI KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026) Agung Gema masih mengembara Sambil bergelayutan di hutan kata-kata Lalu mencium aroma nektar madu lebah dari singgasana kursi kejujuran Kebenaran adalah pangeran tersembunyi di lubuk lembah terdalam hati nurani Kini setelah zaman berganti Ia mesti berdaya berani berjaya Memakai mahkota keadilan demi mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi umat manusia PUISI SATU (Makna Puisi) Puisi adalah mantra ajaib Dari intuisi sakral yang gaib Pesona bahasa penuh perbawa Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia Alam berkelana pada pijaran Sinar-sinar ruhani gemerlapan Biarlah emosional itu terlibat Dalam frasa rangkaian tersurat Fantasi gairah mimpi keramat Kan membuka tabir yang tersirat PUISI DARI TANAH BANDUNG Bagai danau, bunga dan bukitan Aku catat setiap kejadian Dari mantra-mantra ajaib Kemungkinan dan sikap kearifan Puisi dari tanah Bandung Adalah visi misi semesta raya Penjaga generasi masa datang Penyejuk gelombang zaman Keharmonisan ucap, kata, alam Menjadi bahasa penuh makna Air mengalirkan semangat Restu kebajikan keramat Halus berbudi Cermin bagi jendela hati AKU BANGGA DI INDONESIA Setelah umur empat puluh tahun Harus kunyatakan dengan jujur Agar aku mujur dan makmur Terpilih sebagai orang bersyukur Aku bangga di Indonesia Matahari terbit di atas kepala Sinarnya sejuk menyegarkan mata Angin mengalir tenang perlahan Membawa wangi bunga kemboja Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan Apakah dinamakan bekerja Jika berada di perusahaan asing ? Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”! Apakah tidak lebih baik bangga dengan kemampuan diri ketika seseorang bisa memanfaatkannya untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara? Juga memiliki sekaligus berbagi waktu untuk berbagai keperluan? Hidup adalah pilihan Angin dan air tumpang tindih menjadi banjir. Membawa kayu kegolondongan, biji emas dan nikel. Memoles batu akik berwarna hijau Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa Menyuguhkan harum cendana. Aku tidak ingin ke luar negeri Sudah kutetapkan di sini Menikmati suka duka bersama mimpi Meski dihina dicaci Hanya karena serabutan Hihi bukan persoalan Karena aku cinta negeri ini Setiap saat kuingat Aku berdoa dalam sunyi Semoga keadilan merata Semangat kebangsaan tumbuh Negeri damai tenteram Rakyatnya sehat Pusakanya keramat Aku berharap bisa mencerdaskan Kehidupan bangsa Bersikap patriotik tidak harus berpolitik Aku punya karya Meski tidak seterkenal Shakespeare Chairil Anwar atau Rendra Tapi aku bisa menunjukkan diriku Dengan sebuah catatan pemikiran Aku lulusan bahasa dan sastra Sebagai sarjana Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi Lebih dekat dengan Indonesia Dengan bahasa, sastra dan budaya Di luar itu Aku mempelajari musik, filsafat, agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik perjimatan, keajaiban matematika, mantik, dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari Akhirnya semua kusatukan dalam karya puisiku “Julukanku perpustakaan berjalan” Kurang pas tapi mengagetkanku Aku punya banyak murid Formal maupun informal Mereka mau tidak mau mengakui Pengetahuannya dari pengetahuanku Dan aku tidak perlu gaji untuk itu karena seorang guru adalah pengabdian. memberi kesegaran bagi masa depan. Kendaraanku cukup Dari hasil mengamen Aku bisa membeli rumah Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari. Aku punya kebun cukup luas tiga puluh enam tumbak Ya dari hasil jual rongsokan Aku tidak pernah mencicil apapun Sampai saat puisi ini kamu baca Tidak juga kekurangan uang Dan jauh dari hutang ke bank Malahan membayari seseorang yang memiliki hutang Haha terkadang aku tertawa Sambil terharu Siapa aku? Aku cuma rindu wanitaku. Itu naluriah Seorang lelaki mencintai dan dicintai Kerinduanku berkarat disiram rembulan Hidup adalah perjalanan Hidup adalah persinggahan Siapa orang yang tidak terberkati Dengan adanya diriku Bukan memuji diri Ini adalah klarifikasi Maaf pernyataanku lucu-lucuan Berharap bisa memberi kesan Pertimbangan untuk ke depan Anak aku sekolahkan Aku benci pungli bila terjadi Anak yatim cukup kubiayai Para janda masih sanggup kuhidupi Aku masih bisa meminjamkan uang Tanpa bunga tanpa anggunan Entah mungkin nanti Sampai saat puisi ini kutulis Pagi di Indonesia penuh canda Kehangatan dan paradoks nya jiwa kurasakan menjadi bahan kajian Dan kita mesti belajar berlapang dada Aku paham di zaman sekarang Bekerja kantoran adalah kebanggaan Tapi tidak bagi diriku Kita bisa berbeda itulah keberagaman Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai Ketimbang sikap ksatria Ya ya hidup hedon sedikit nakal Atau berfoya-foya adalah keberhasilan Penilaian tergantung gaya hidup Biarpun berat sanubari melarat Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan terlihat keluarga atau tetangga Itulah yang kutangkap dari sisi lain Yang lain dengan pandanganku Aku bangga di Indonesia Biarpun belum bisa membanggakan Bukan pula kebanggan NEGERI YANG ANEH Di balik galaksi bima sakti Ada secarik tulisan “Negeri yang aneh Puisi pun dibatasi oleh modal dan pandangan pribadi Disesuaikan dengan keinginan para oligarki Menolak keindahan persepsi Berarti menidurkan daya sejati dari kreatifitas perasaan anugrah Tuhan Jika dipilih dipilah Seperti ikan asin, cumi, udang Di beli dapat hasil beli Di kursuskan jadi karbitan Di pertontonkan butuh pengakuan Di bukukan perlu bayaran.” Aku berjalan dari desa ke kota Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata Mengolah rasa menjadikan karya sastra Dan tak peduli ada yang mengakui Ini bukan curahan hati Tapi demi kebebasan berpuisi Selama unsur keindahan itu terjadi Maka layak diberi Prestise dan prestasi Sebagai penyair meski sunyi Jangan persulit lagi Sudah bosan terlalu berangan Tanpa perkumpulan Tak ada penerbitan Tanpa uang Tak ada keikutsertaan Apalagi kelayakan Tanpa komunitas Tak ada kepenyairan Lepaskan itu semua Buatlah puisi Tanpa perlu penilaian Untung di planet lain Terhijab triliunan kain Bukan di bumi Pula di negeriku ini Tapi di balik matahari Tiada terkena sentuhan cahaya Jauh dari rembulan Negeri begitu kelam Hanya malam Menggelombang mengambang … Puisi tak perlu tingkatan senioritas Puisi lepas aturan kesesuaian tema, judul dan kata Puisi adalah eksistensi diri Puisi memupuk kemandirian naluri Merdekakan puisi Dari cengkeraman tangan ganda yang berotot, berkuku, bergigi kuda Puisi tidak seperti rel Sambung menyambung Bukan bukit gunung Juga berbeda dengan jalan tol Apalagi minuman botol Puisi tak perlu laku Atau rayu merayu agar terjual di pasar Puisi adalah kearifan Hakikat manusia yang dengannya dia berjaya DUNIA TANPA BATAS Agung Gema Nugraha Angin panas dari negara maju menyerbu singgasana kepulauan Arah baru membuka tantangan bagi masa depan Dalam permasalahan kompleks Negara berkembang ditekan dipaksa untuk perubahan Meski harus hilang keseimbangan antara hak dan kewajiban Isu global, kesenjangan sosial Berlarut-larut bagai hujan yang bisa mengakibatkan banjir dan gempa susulan Dunia saat ini dalam satu pantauan satu daerah lingkup teknologi Kita tak bisa diam dalam percaturan pergerakan kesadaran perlu diberdayakan Peranan masyarakat adalah matahari yang penting untuk dikedepankan Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi dan segala aspek kehidupan Sesuai dengan kemampuan tanpa meninggalkan nilai moral leluhur serasi, selaras berkeadilan bersatu dalam perbedaan Kapitalis adalah gunung angkuh yang tak mungkin mengalah runtuh menjadi lembah Dunia tanpa batas Memberi informasi kenyataan negeri Bahwa kita sedang dipersiapkan Untuk menjadi pion atau raja PUISI UNTUK PEMBERITAAN (Khusus Sesar Lembang) Agung Gema Nugraha Masih itu saja. Berita adalah doa Bisa berwujud mantra-mantra ketika diulang-ulang memakai syarat ketentuan Pengabaran seolah ramalan dalam kehidupan. Keterkabulan akan terjadi bila diiringi hati harap-harap cemas Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya ke langit maka sampailah pada penjaga Malaikat pengurus bumi Maytotorun Maytotorun! Kritik mesti ditegakkan dengan benar dan berkeadilan. Antisipasi dibutuhkan sekadar keperluan Tapi tidak harus terus-menerus Menjadi arus topik pembicaraan Peliputan yang bertolak dengan kenyataan mata telanjang Adalah melawan kekuatan alam Peliputan mencari kesadarannya kepada berbagai pihak Baik untuk sebagian tujuan Dan akan kurang beruntung bagi metafisika spiritual Jiwa manusia mesti terjaga SENDAWAKU, BUAT OKNUM, KORUPTOR! .. ….. Agung Gema N Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu di saat aku tidak mengharapkanmu. Eughh, eughh oknum, koruptor! Oknum, koruptor Bertelor Meneror Mimpi masa depan kebangsaan Merah mega menyala Semburat cinta purba bangkit perkasa Berani memberantas korupsi adalah ksatria sejati Pemimpin cermin bagi hati nurani Oh kekasihku, yang duduk di kursi kekuasaan negara jangan makan gaji buta Di antara awang-awang dan bumi yang pernah cedera Sepuluh tahun aku menahan luka Dua puluh tahun aku terlunta-lunta Kamu kini bukan wujud yang kemarin Manipulasi diri begitu narsis dan dingin Seperti lambungku, kosong kendor Oknum, koruptor! Oknum, koruptor! CIKOLE Agung Gema Nugraha Mimpi-mimpi yang perkasa berdiri tegak di bawah lembah Gunung Tangkuban Perahu Langkah-langkah dari jauh disulap angin riuh dan mitos negeri peri Gunung Puteri Kembang Jaksi Lembah Hyang Cikole Jayagiri Dewi menyala seperti bintang di malam hari Murninya alam kahyangan Cantiknya Parahyangan LAGU BUAT NENG DEWI (Bulan Juni 2026) Aku tulis puisi ini Sambil menikmati bulan Juni Riuh remaja bulannya muda Wahai neng Dewi kucinta padamu Setangkai bidara yang tertanam Diusapi sepi udara malam Sejuk membelai merekah gemulai Memantapkan keyakinan tanpa buaian Dirimu dalam pandangan Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi Wahai neng Dewi kumerindukanmu KEMBALI KE LEUWI PANJANG Kembali ke terminal Leuwi Panjang adalah menemani nyanyi pagi bulan Juli setelah kegiatan sehari-hari terhenti Bus kota kunaiki bersama mimpi tanpa mengenyam raut muka kekasih masa silam Dan Dewi masih menunda tanda Belum juga terbit di pelupuk mata Tapi hidup tak boleh sia-sia dalam kobarannya TANGIS BESI Tangis Besi Tangis Besi Betapa ganasnya satu pekerti Dan ia tak mau mengerti Tangis besi Tangis Besi Keras kaku pemikiran angan Itu tak bisa dihancurkan PENA JULI Pena Juli Tintanya tersirap matahari dari ufuk hari yang tak pasti Pena Juli Tiada tajam bagai gergaji atau kilat pisau belati Patah perintah hati nurani MAWAR TEMBAGA Mawar tembaga Adalah bunga persembahan zaman Kebunnya sudah menjadi menara Istrinya terbentur musim gugur Segala jiwa keluarga menganggur Mawar tembaga Lelaki legam perkasa Sudah lima tahun bertapa bertambah tua muka banyak berduka Tak ada cinta jika tak menghasilkan Sebagaimana cahaya malam redam bila bintang bulannya tenggelam Ah kesendirian itu adalah pintu gila Mawar tembaga BERAS BATIN Beras Batin Angin menggelinding membawa kabar tentang tanah subur tanpa penghuni Sawah-sawah liar itu telah tertanam gedung dan perumahan mewah Beras Batin Rakyatnya pergi ke lorong mega Sambil melangkah menganga menitikkan air mata tanpa suara Karena bunyi habis termakan excavator, tower crane Palu besar menambah pilu Concret pump, vibrator dan gergaji menyayat sanubari Beras batin KUMPULAN PUISI AGUNG GEMA NUGRAHA 16 REMBULAN 1. WANITA SATU RUPA Singgah di kursi pemanjaan dirimu Aku boneka yang tiada bernama Sudah kuciptakan seribu sajak Sambil diam terbajak Masih mencari juga tentang makna tentang kenapa kita harus bersama? Kamu adalah wanita penuh warna Baik hati memiliki satu rupa Ketulusan Wahai kekasih pemberi inspirasi Seratus guru aku pelajari Tapi kembali kepadamu aku berkaca 2. BUKAN CINTA MEI Bukan cinta untuk Mei Aku tulis sajak di bulan ini Tapi karena kemelut mencari jalannya lewat kalimat tanpa laknat Kita terlalu mudah sakit hati Batang patah nurani bergetah Meludah marah muntah-muntah Menempel di tangan menjadi dendam Masuk ke pikiran semakin kelam Sulitnya naga berapi Diam menyepi berkontemplasi Malah  nge-gas tegas menolak berontak Menerima secuil takdir keberuntungan Kita belum dewasa mengenal bunga Warna-warni kehidupan fatamorgana Enggan beriring saat tak bernama Kalah bersaing menyaring bising Dalam kenyataan yang dihadapi Diri bagai cedera luka kura-kura Setiap manusia korban khianat duka Bukan cuma Anda Bianglala tiada selalu menyala Lalu kamu mengalirkan air mata Menyuap alam semesta Akhirnya bersembunyi di semak berduri Terpenjara oleh hari 3. KERAJAAN JAMPANG MANGGUNG Jampang Manggung dua masehi Aki Sugiwanca menemu tanda di balik sunyi Selatan Jawa Barat adalah permata Kesuburan tanah mesti terjaga Cianjur, Sukabumi berdaya Kerajaan tegak tatar pasundan semarak Sang kakak, Aki Tirem dari Banten leluhur raja-raja Sunda menyimak dan ya, utara – selatan mesti terdengar harapan agar tertata wilayah makmur, adil dan sejahtera 4. SAJAK BULU Satu perjalanan seribu pengkhianatan Aku merasakan bulu-bulu di tubuh menyentuh kisruh pikiran, keringat berpeluh kering merapuh Memanjang nan keruh Kusut beringsut Ibarat perdebatan intelektual di media sosial Serasa hampa kurang guna tiada ada jalan keluar Malah api berkobar Kita terbakar Lubang-lubang semakin lengang tanda ketidakmampuan mulut membicarakan berbagai keluhan yang datang bertubi-tubi setiap jam saat berbunyi berdentang Bulu di telinga berwarna jingga Bulu di hidung lendir terkandung Bulu di atas bibir dan mata Menyangkut kental air susu putih dan tragedi cinta merintih Bulu di ketiak Bagai jerat hitam scorpio Bulu di emmm…. Mesti dibersihkan harian, mingguan atau bulanan sebelum waktu gajian Bulu di setiap jengkal terus tumbuh tersipuh janji-janji kecil terasingkan lalu akhirnya meluas memanjang menjadi kebun binatang Ah Seperti alang-alang tertiup angin rambut jagung pun menguning terjemur persoalan hutang Umur tergadaikan Bulu terlupakan 5. PUISI X Menyaksikan semesta raya adalah mencari keberadaan diri kita yang terbang melayang dalam pertanyaan mencoba memantapkan ujuan Spinoza sedikit mengurai kata tentang kesadaran etika Dan aku memahami bahwa mengikuti hasrat diri untuk kepentingan kita sendiri yang terlihat baik mandiri Bisa jadi membuat problema baru bagi keserasian keharmonisan jalannya ketentuan alam Bangunan-bangunan bertembok besi, baja, seng dan tembaga Hunian indah mengorbankan pohonan, hutan, hewan rumputan Kendaraan di empat elemen Aspalan jalan, gang menggantikan tanah persahabatan Mengugurkan kecintaan pemeliharaan akan riuhnya kehidupan Kimia menjadi sihir pembakar kehijauan Napas manusia meracuni harapan hewan tumbuhan juga kemurnian Kita menghancurkan keyakinan kita sendiri 6. SI JALAK HARUPAT Di mana dia Si Jalak Harupat penghalau badai barat laut? Ombak menggoyangkan pohonan Si Jalak Harupat perkasa membelah setiap hantaman Kepekaannya memindahkan awan hitam Cerdas kata tegas matahari terpancar dan bagai petir mengandung energi listrik kalimatnya menggetarkan para penindas yang pura-pura kura-kura Dinding mana mampu menghalangi? Keberaniannya mengungguli setiap hati Celoteh alasan apa bisa menandingi? Penjajahan dan diskriminasi tak boleh berdiri di bumi pertiwi Menyerah bahasa lain di ujung langit sepi Pendidikan, berdayakan! Keadilan dan kedaulatan perjuangkan! Bangsa mesti “Merdeka!” 7. PUTRI KADITA Udara itu rasa jamu batrawali Ramuan nasib gaib yang tiada kita ketahui membuat bintang bulan cemberut Jekut muka malam karam terdalam luka-luka duka cita Putri Kadita Putri Kadita Kasih ayah adalah segala Air mata ada di jiwa Putri Kadita darah Siliwangi berkata “Cedera rasa, keadilan menjelma.” Oh, Merah jingga mengalir bagai butiran berlian takkan mudah terkalahkan …Setelah tersia-sia Perjalanan memiliki perhitungan Ketentuan masing-masing kehidupan Meski mesti kita terkucil terasing Kain Kemulyaan keagungan Tiada tertukar disambar hasrat kedengkian Jika waktunya alam kan memakaikannya Di roh, mata, telinga, suara keabadian Putri Kadita ratu penguasa pesisir pantai selatan 8. BUAH HONJE Buah Honje buah Honje Nyai Padmawati Istri terkasih Prabu Siliwangi Menanti sang buah hati Langit menguji perasaan Kuat keinginan dua roh di badan Mengungkapkan buah masam karena mengidam adalah bisikan lain alam Ki lengser Pajajaran merenangi mimpi Mengembara di sorot sinar mentari Mencari terus mencari tapi di negeri begitu sepi Setelah lelah bimbang hadapi hari Bisikan diri menggerakan kaki Langkah lari tiada terperi Di hutan akhirnya ia dapati Sayang hitungan delapan Terpetik harapan Ki lengser kerajaan Muara Beres mendahului waktu terdepan Takdir permaisuri Gambir Wangi pun serupa hasrat tersirat Buah Honje buah Honje Dua lengser saling memperebutkan Rembulan menyaksikan Ilmu berkilatan Sekali sentil bukit mengecil Tiada kalah dan menang Malam kesaktian berimbang Bintang cemerlang Akhirnya meminta petunjuk kahyangan Sunan Ambu adalah keadilan Memutuskan tiada mengabaikan Dibagilah dengan rata dan sejahtera Nyai Padma melahirkan putra bercahaya Prabu Mundinglaya Dikusumah Gagah perkasa 9. PENGHARGAAN SEMU Hei, hei air segelas jika hilangkan dahaga Tak perlu seember penuh terhidangkan untuk kamu reguk agar sirna panas ternggorokan Biar tidak mabuk Hei, hei kenapa kamu bersamaan Jika sendiri mampu menyelesaikan Penghargaan kolektif tak ada tujuan Bila yang tunggal mampu memecahkan Apalagi kamu harapkan? Hei, hei jangan belajar tak masuk akal! Bayangan semu tak perlu dirindu Ambillah kenyataan pahitnya hatimu 10. PENYAIR  PEMECAH REKOR Dia adalah cakrawala luas Pecinta budaya dan harapan tanpa batas Ribuan kata-kata berbintang Metafora matahari kebaruan hari-hari bersinar terang di langit membentang Penyair pemecah rekor karya otentik Memberontak waktu sigap tiap menit sengit berlari mengejar detik-detik terpantik inspirasi gelora mistik Kalimat keramat bagai mengandung daya magnetik 11. IBU INGGIT GANARSIH Inggit Ganarsih adalah sinar fajar yang siap siaga selalu tiada samar menemani langkah lelah sang Bapak Bangsa memperjuangkan cita-cita kedaulatan negara tercinta Beliau langit terhampar tak gentar Menemui malam dan teriknya siang Senja menua tetap menyala Oh jasa-jasa dari napas ketulusan jiwa Jangan sampai generasi kita terlupa Sejuknya kasih sayang dan cinta Bagaikan namanya indah kan bergema 12. MENUJU MAKAM IBU INGGIT GANARSIH Matahari nampak indah menerangi Bersambut sentuhan angin Sukajadi Di jari-jari sepinya hati Bandung selalu mendukung perjalanan hari-hari Tiba-tiba bisikan harapan bangkitkan niat keramat untuk kembali menyibak Tokoh istimewa yang banyak mata telinga dan generasi terlupa Seorang hebat terang berjasa Pondasi penyemangat Bapak Bangsa Maka kulanjutkan langkah teduhku melewati Pajajaran, pasar Caringin menuju Babakan Ciparay Cahaya tergerai “Ibu Inggit Ganarsih kuucapkan salam” Perempuan perintis pergerakan kemerdekaan Indonesia yang selalu setia mendampingi Sang Proklamator tercinta Doa-doa Renungan masa lama Sejarah Dan cerita Tangis air mata 13. PENYAIR PENYU Penyair itu telah lahir di tanah mentah putih pasir Sendiri sepi Meniti matahari terpuji terlindungi Menekuni hari-hari merayapi arti Sambil melangkahan kaki menuju tepi pantai Ia tak gontai Menulis puisi di antara kegetiran pasang surut lautan rindu, diri, dan zaman Penyair penyu penyair penyu Terlihat dunia tanpa batasan Keluasan keluwesan adalah kehidupan Keberanian menjadi kebenaran Bergulung ia dengan gelombang Menyelam ke dalam lautan Mengikuti tarian ombak untuk satu tujuan Petualangan 14. PENYAIR GURU Angin mengusap mukanya yang gemerlap getir terkesiap rasa khawatir renungi anak didik sekolahnya menyelami gelombang pancaroba Lautan berkarang dan berpetir Badai datang selalu tidak terduga Perahu sederhana hanya bisa mengikuti arus ombak berbicara Sarapan malam terganti tinta hitam Sendok dan piring kaca ia sulap menjadi kertas – pena Penyair guru tabu bermain dadu Meski kehidupan dalam pengajaran tak ada jaminan mencapai langit biru Tapi kurikulum serupa bintang arahan Dan tujuan perjalanan mesti diperjuangkan 15. PERNAH BERKHAYAL Pernah aku berkhayal bermimpi berangan seperti berkontemplasi diri Harga-harga bisa turun kembali maka akan menyenangkan bagi hati saat sedang dilanda pailit ekonomi Oh keuangan mustika di rimbun jerami Oh karya-karya puisi tidak berarti Kita ada dalam kegagalan mencari jati diri Menegakkan keadilan mendesak metode induksi Intelektual terlalu bermanja-manja logika Lupa dengan atom-atom rasa yang meluap ke udara menjadi derita Itulah lamunan singkat padat bukan terang kejora harapan Tapi penantian tidak memungkinkan 16. PERTEMUAN PENYAIR Telah kutemui berbagai suara tangis Jeritan sesal, durhaka, derita dan bahagia Angin mengejar waktu untuk bersama Penyair dikalahkan oleh kata-kata Apa yang tertera di balik dinding hening Malam dingin siang berhimpun tanding Lanskap perkotaan – angan pedesaan Segala sesuatu saling berpangku Seperti bumi merantai musim cuaca Hujan kemarau selalu berganti Manusia tak ada yang mandiri Begitu pula air Syair penyair nig2hzl9ewzerpqxj2syudcdxq1xsx4 117351 117350 2026-07-04T05:26:30Z Sajak Puisi 43496 /* */ 117351 wikitext text/x-wiki PUISI-PUISI KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026) Agung Gema masih mengembara Sambil bergelayutan di hutan kata-kata Lalu mencium aroma nektar madu lebah dari singgasana kursi kejujuran Kebenaran adalah pangeran tersembunyi di lubuk lembah terdalam hati nurani Kini setelah zaman berganti Ia mesti berdaya berani berjaya Memakai mahkota keadilan demi mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi umat manusia PUISI SATU (Makna Puisi) Puisi adalah mantra ajaib Dari intuisi sakral yang gaib Pesona bahasa penuh perbawa Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia Alam berkelana pada pijaran Sinar-sinar ruhani gemerlapan Biarlah emosional itu terlibat Dalam frasa rangkaian tersurat Fantasi gairah mimpi keramat Kan membuka tabir yang tersirat PUISI DARI TANAH BANDUNG Bagai danau, bunga dan bukitan Aku catat setiap kejadian Dari mantra-mantra ajaib Kemungkinan dan sikap kearifan Puisi dari tanah Bandung Adalah visi misi semesta raya Penjaga generasi masa datang Penyejuk gelombang zaman Keharmonisan ucap, kata, alam Menjadi bahasa penuh makna Air mengalirkan semangat Restu kebajikan keramat Halus berbudi Cermin bagi jendela hati AKU BANGGA DI INDONESIA Setelah umur empat puluh tahun Harus kunyatakan dengan jujur Agar aku mujur dan makmur Terpilih sebagai orang bersyukur Aku bangga di Indonesia Matahari terbit di atas kepala Sinarnya sejuk menyegarkan mata Angin mengalir tenang perlahan Membawa wangi bunga kemboja Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan Apakah dinamakan bekerja Jika berada di perusahaan asing ? Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”! Apakah tidak lebih baik bangga dengan kemampuan diri ketika seseorang bisa memanfaatkannya untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara? Juga memiliki sekaligus berbagi waktu untuk berbagai keperluan? Hidup adalah pilihan Angin dan air tumpang tindih menjadi banjir. Membawa kayu kegolondongan, biji emas dan nikel. Memoles batu akik berwarna hijau Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa Menyuguhkan harum cendana. Aku tidak ingin ke luar negeri Sudah kutetapkan di sini Menikmati suka duka bersama mimpi Meski dihina dicaci Hanya karena serabutan Hihi bukan persoalan Karena aku cinta negeri ini Setiap saat kuingat Aku berdoa dalam sunyi Semoga keadilan merata Semangat kebangsaan tumbuh Negeri damai tenteram Rakyatnya sehat Pusakanya keramat Aku berharap bisa mencerdaskan Kehidupan bangsa Bersikap patriotik tidak harus berpolitik Aku punya karya Meski tidak seterkenal Shakespeare Chairil Anwar atau Rendra Tapi aku bisa menunjukkan diriku Dengan sebuah catatan pemikiran Aku lulusan bahasa dan sastra Sebagai sarjana Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi Lebih dekat dengan Indonesia Dengan bahasa, sastra dan budaya Di luar itu Aku mempelajari musik, filsafat, agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik perjimatan, keajaiban matematika, mantik, dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari Akhirnya semua kusatukan dalam karya puisiku “Julukanku perpustakaan berjalan” Kurang pas tapi mengagetkanku Aku punya banyak murid Formal maupun informal Mereka mau tidak mau mengakui Pengetahuannya dari pengetahuanku Dan aku tidak perlu gaji untuk itu karena seorang guru adalah pengabdian. memberi kesegaran bagi masa depan. Kendaraanku cukup Dari hasil mengamen Aku bisa membeli rumah Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari. Aku punya kebun cukup luas tiga puluh enam tumbak Ya dari hasil jual rongsokan Aku tidak pernah mencicil apapun Sampai saat puisi ini kamu baca Tidak juga kekurangan uang Dan jauh dari hutang ke bank Malahan membayari seseorang yang memiliki hutang Haha terkadang aku tertawa Sambil terharu Siapa aku? Aku cuma rindu wanitaku. Itu naluriah Seorang lelaki mencintai dan dicintai Kerinduanku berkarat disiram rembulan Hidup adalah perjalanan Hidup adalah persinggahan Siapa orang yang tidak terberkati Dengan adanya diriku Bukan memuji diri Ini adalah klarifikasi Maaf pernyataanku lucu-lucuan Berharap bisa memberi kesan Pertimbangan untuk ke depan Anak aku sekolahkan Aku benci pungli bila terjadi Anak yatim cukup kubiayai Para janda masih sanggup kuhidupi Aku masih bisa meminjamkan uang Tanpa bunga tanpa anggunan Entah mungkin nanti Sampai saat puisi ini kutulis Pagi di Indonesia penuh canda Kehangatan dan paradoks nya jiwa kurasakan menjadi bahan kajian Dan kita mesti belajar berlapang dada Aku paham di zaman sekarang Bekerja kantoran adalah kebanggaan Tapi tidak bagi diriku Kita bisa berbeda itulah keberagaman Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai Ketimbang sikap ksatria Ya ya hidup hedon sedikit nakal Atau berfoya-foya adalah keberhasilan Penilaian tergantung gaya hidup Biarpun berat sanubari melarat Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan terlihat keluarga atau tetangga Itulah yang kutangkap dari sisi lain Yang lain dengan pandanganku Aku bangga di Indonesia Biarpun belum bisa membanggakan Bukan pula kebanggan NEGERI YANG ANEH Di balik galaksi bima sakti Ada secarik tulisan “Negeri yang aneh Puisi pun dibatasi oleh modal dan pandangan pribadi Disesuaikan dengan keinginan para oligarki Menolak keindahan persepsi Berarti menidurkan daya sejati dari kreatifitas perasaan anugrah Tuhan Jika dipilih dipilah Seperti ikan asin, cumi, udang Di beli dapat hasil beli Di kursuskan jadi karbitan Di pertontonkan butuh pengakuan Di bukukan perlu bayaran.” Aku berjalan dari desa ke kota Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata Mengolah rasa menjadikan karya sastra Dan tak peduli ada yang mengakui Ini bukan curahan hati Tapi demi kebebasan berpuisi Selama unsur keindahan itu terjadi Maka layak diberi Prestise dan prestasi Sebagai penyair meski sunyi Jangan persulit lagi Sudah bosan terlalu berangan Tanpa perkumpulan Tak ada penerbitan Tanpa uang Tak ada keikutsertaan Apalagi kelayakan Tanpa komunitas Tak ada kepenyairan Lepaskan itu semua Buatlah puisi Tanpa perlu penilaian Untung di planet lain Terhijab triliunan kain Bukan di bumi Pula di negeriku ini Tapi di balik matahari Tiada terkena sentuhan cahaya Jauh dari rembulan Negeri begitu kelam Hanya malam Menggelombang mengambang … Puisi tak perlu tingkatan senioritas Puisi lepas aturan kesesuaian tema, judul dan kata Puisi adalah eksistensi diri Puisi memupuk kemandirian naluri Merdekakan puisi Dari cengkeraman tangan ganda yang berotot, berkuku, bergigi kuda Puisi tidak seperti rel Sambung menyambung Bukan bukit gunung Juga berbeda dengan jalan tol Apalagi minuman botol Puisi tak perlu laku Atau rayu merayu agar terjual di pasar Puisi adalah kearifan Hakikat manusia yang dengannya dia berjaya DUNIA TANPA BATAS Agung Gema Nugraha Angin panas dari negara maju menyerbu singgasana kepulauan Arah baru membuka tantangan bagi masa depan Dalam permasalahan kompleks Negara berkembang ditekan dipaksa untuk perubahan Meski harus hilang keseimbangan antara hak dan kewajiban Isu global, kesenjangan sosial Berlarut-larut bagai hujan yang bisa mengakibatkan banjir dan gempa susulan Dunia saat ini dalam satu pantauan satu daerah lingkup teknologi Kita tak bisa diam dalam percaturan pergerakan kesadaran perlu diberdayakan Peranan masyarakat adalah matahari yang penting untuk dikedepankan Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi dan segala aspek kehidupan Sesuai dengan kemampuan tanpa meninggalkan nilai moral leluhur serasi, selaras berkeadilan bersatu dalam perbedaan Kapitalis adalah gunung angkuh yang tak mungkin mengalah runtuh menjadi lembah Dunia tanpa batas Memberi informasi kenyataan negeri Bahwa kita sedang dipersiapkan Untuk menjadi pion atau raja PUISI UNTUK PEMBERITAAN (Khusus Sesar Lembang) Agung Gema Nugraha Masih itu saja. Berita adalah doa Bisa berwujud mantra-mantra ketika diulang-ulang memakai syarat ketentuan Pengabaran seolah ramalan dalam kehidupan. Keterkabulan akan terjadi bila diiringi hati harap-harap cemas Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya ke langit maka sampailah pada penjaga Malaikat pengurus bumi Maytotorun Maytotorun! Kritik mesti ditegakkan dengan benar dan berkeadilan. Antisipasi dibutuhkan sekadar keperluan Tapi tidak harus terus-menerus Menjadi arus topik pembicaraan Peliputan yang bertolak dengan kenyataan mata telanjang Adalah melawan kekuatan alam Peliputan mencari kesadarannya kepada berbagai pihak Baik untuk sebagian tujuan Dan akan kurang beruntung bagi metafisika spiritual Jiwa manusia mesti terjaga SENDAWAKU, BUAT OKNUM, KORUPTOR! .. ….. Agung Gema N Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu di saat aku tidak mengharapkanmu. Eughh, eughh oknum, koruptor! Oknum, koruptor Bertelor Meneror Mimpi masa depan kebangsaan Merah mega menyala Semburat cinta purba bangkit perkasa Berani memberantas korupsi adalah ksatria sejati Pemimpin cermin bagi hati nurani Oh kekasihku, yang duduk di kursi kekuasaan negara jangan makan gaji buta Di antara awang-awang dan bumi yang pernah cedera Sepuluh tahun aku menahan luka Dua puluh tahun aku terlunta-lunta Kamu kini bukan wujud yang kemarin Manipulasi diri begitu narsis dan dingin Seperti lambungku, kosong kendor Oknum, koruptor! Oknum, koruptor! CIKOLE Agung Gema Nugraha Mimpi-mimpi yang perkasa berdiri tegak di bawah lembah Gunung Tangkuban Perahu Langkah-langkah dari jauh disulap angin riuh dan mitos negeri peri Gunung Puteri Kembang Jaksi Lembah Hyang Cikole Jayagiri Dewi menyala seperti bintang di malam hari Murninya alam kahyangan Cantiknya Parahyangan LAGU BUAT NENG DEWI (Bulan Juni 2026) Aku tulis puisi ini Sambil menikmati bulan Juni Riuh remaja bulannya muda Wahai neng Dewi kucinta padamu Setangkai bidara yang tertanam Diusapi sepi udara malam Sejuk membelai merekah gemulai Memantapkan keyakinan tanpa buaian Dirimu dalam pandangan Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi Wahai neng Dewi kumerindukanmu KEMBALI KE LEUWI PANJANG Kembali ke terminal Leuwi Panjang adalah menemani nyanyi pagi bulan Juli setelah kegiatan sehari-hari terhenti Bus kota kunaiki bersama mimpi tanpa mengenyam raut muka kekasih masa silam Dan Dewi masih menunda tanda Belum juga terbit di pelupuk mata Tapi hidup tak boleh sia-sia dalam kobarannya TANGIS BESI Tangis Besi Tangis Besi Betapa ganasnya satu pekerti Dan ia tak mau mengerti Tangis besi Tangis Besi Keras kaku pemikiran angan Itu tak bisa dihancurkan PENA JULI Pena Juli Tintanya tersirap matahari dari ufuk hari yang tak pasti Pena Juli Tiada tajam bagai gergaji atau kilat pisau belati Patah perintah hati nurani MAWAR TEMBAGA Mawar tembaga Adalah bunga persembahan zaman Kebunnya sudah menjadi menara Istrinya terbentur musim gugur Segala jiwa keluarga menganggur Mawar tembaga Lelaki legam perkasa Sudah lima tahun bertapa bertambah tua muka banyak berduka Tak ada cinta jika tak menghasilkan Sebagaimana cahaya malam redam bila bintang bulannya tenggelam Ah kesendirian itu adalah pintu gila Mawar tembaga BERAS BATIN Beras Batin Angin menggelinding membawa kabar tentang tanah subur tanpa penghuni Sawah-sawah liar itu telah tertanam gedung dan perumahan mewah Beras Batin Rakyatnya pergi ke lorong mega Sambil melangkah menganga menitikkan air mata tanpa suara Karena bunyi habis termakan excavator, tower crane Palu besar menambah pilu Concret pump, vibrator dan gergaji menyayat sanubari Beras batin KUMPULAN PUISI AGUNG GEMA NUGRAHA 16 REMBULAN 1. WANITA SATU RUPA Singgah di kursi pemanjaan dirimu Aku boneka yang tiada bernama Sudah kuciptakan seribu sajak Sambil diam terbajak Masih mencari juga tentang makna tentang kenapa kita harus bersama? Kamu adalah wanita penuh warna Baik hati memiliki satu rupa Ketulusan Wahai kekasih pemberi inspirasi Seratus guru aku pelajari Tapi kembali kepadamu aku berkaca 2. BUKAN CINTA MEI Bukan cinta untuk Mei Aku tulis sajak di bulan ini Tapi karena kemelut mencari jalannya lewat kalimat tanpa laknat Kita terlalu mudah sakit hati Batang patah nurani bergetah Meludah marah muntah-muntah Menempel di tangan menjadi dendam Masuk ke pikiran semakin kelam Sulitnya naga berapi Diam menyepi berkontemplasi Malah  nge-gas tegas menolak berontak Menerima secuil takdir keberuntungan Kita belum dewasa mengenal bunga Warna-warni kehidupan fatamorgana Enggan beriring saat tak bernama Kalah bersaing menyaring bising Dalam kenyataan yang dihadapi Diri bagai cedera luka kura-kura Setiap manusia korban khianat duka Bukan cuma Anda Bianglala tiada selalu menyala Lalu kamu mengalirkan air mata Menyuap alam semesta Akhirnya bersembunyi di semak berduri Terpenjara oleh hari 3. KERAJAAN JAMPANG MANGGUNG Jampang Manggung dua masehi Aki Sugiwanca menemu tanda di balik sunyi Selatan Jawa Barat adalah permata Kesuburan tanah mesti terjaga Cianjur, Sukabumi berdaya Kerajaan tegak tatar pasundan semarak Sang kakak, Aki Tirem dari Banten leluhur raja-raja Sunda menyimak dan ya, utara – selatan mesti terdengar harapan agar tertata wilayah makmur, adil dan sejahtera 4. SAJAK BULU Satu perjalanan seribu pengkhianatan Aku merasakan bulu-bulu di tubuh menyentuh kisruh pikiran, keringat berpeluh kering merapuh Memanjang nan keruh Kusut beringsut Ibarat perdebatan intelektual di media sosial Serasa hampa kurang guna tiada ada jalan keluar Malah api berkobar Kita terbakar Lubang-lubang semakin lengang tanda ketidakmampuan mulut membicarakan berbagai keluhan yang datang bertubi-tubi setiap jam saat berbunyi berdentang Bulu di telinga berwarna jingga Bulu di hidung lendir terkandung Bulu di atas bibir dan mata Menyangkut kental air susu putih dan tragedi cinta merintih Bulu di ketiak Bagai jerat hitam scorpio Bulu di emmm…. Mesti dibersihkan harian, mingguan atau bulanan sebelum waktu gajian Bulu di setiap jengkal terus tumbuh tersipuh janji-janji kecil terasingkan lalu akhirnya meluas memanjang menjadi kebun binatang Ah Seperti alang-alang tertiup angin rambut jagung pun menguning terjemur persoalan hutang Umur tergadaikan Bulu terlupakan 5. PUISI X Menyaksikan semesta raya adalah mencari keberadaan diri kita yang terbang melayang dalam pertanyaan mencoba memantapkan ujuan Spinoza sedikit mengurai kata tentang kesadaran etika Dan aku memahami bahwa mengikuti hasrat diri untuk kepentingan kita sendiri yang terlihat baik mandiri Bisa jadi membuat problema baru bagi keserasian keharmonisan jalannya ketentuan alam Bangunan-bangunan bertembok besi, baja, seng dan tembaga Hunian indah mengorbankan pohonan, hutan, hewan rumputan Kendaraan di empat elemen Aspalan jalan, gang menggantikan tanah persahabatan Mengugurkan kecintaan pemeliharaan akan riuhnya kehidupan Kimia menjadi sihir pembakar kehijauan Napas manusia meracuni harapan hewan tumbuhan juga kemurnian Kita menghancurkan keyakinan kita sendiri 6. SI JALAK HARUPAT Di mana dia Si Jalak Harupat penghalau badai barat laut? Ombak menggoyangkan pohonan Si Jalak Harupat perkasa membelah setiap hantaman Kepekaannya memindahkan awan hitam Cerdas kata tegas matahari terpancar dan bagai petir mengandung energi listrik kalimatnya menggetarkan para penindas yang pura-pura kura-kura Dinding mana mampu menghalangi? Keberaniannya mengungguli setiap hati Celoteh alasan apa bisa menandingi? Penjajahan dan diskriminasi tak boleh berdiri di bumi pertiwi Menyerah bahasa lain di ujung langit sepi Pendidikan, berdayakan! Keadilan dan kedaulatan perjuangkan! Bangsa mesti “Merdeka!” 7. PUTRI KADITA Udara itu rasa jamu batrawali Ramuan nasib gaib yang tiada kita ketahui membuat bintang bulan cemberut Jekut muka malam karam terdalam luka-luka duka cita Putri Kadita Putri Kadita Kasih ayah adalah segala Air mata ada di jiwa Putri Kadita darah Siliwangi berkata “Cedera rasa, keadilan menjelma.” Oh, Merah jingga mengalir bagai butiran berlian takkan mudah terkalahkan …Setelah tersia-sia Perjalanan memiliki perhitungan Ketentuan masing-masing kehidupan Meski mesti kita terkucil terasing Kain Kemulyaan keagungan Tiada tertukar disambar hasrat kedengkian Jika waktunya alam kan memakaikannya Di roh, mata, telinga, suara keabadian Putri Kadita ratu penguasa pesisir pantai selatan 8. BUAH HONJE Buah Honje buah Honje Nyai Padmawati Istri terkasih Prabu Siliwangi Menanti sang buah hati Langit menguji perasaan Kuat keinginan dua roh di badan Mengungkapkan buah masam karena mengidam adalah bisikan lain alam Ki lengser Pajajaran merenangi mimpi Mengembara di sorot sinar mentari Mencari terus mencari tapi di negeri begitu sepi Setelah lelah bimbang hadapi hari Bisikan diri menggerakan kaki Langkah lari tiada terperi Di hutan akhirnya ia dapati Sayang hitungan delapan Terpetik harapan Ki lengser kerajaan Muara Beres mendahului waktu terdepan Takdir permaisuri Gambir Wangi pun serupa hasrat tersirat Buah Honje buah Honje Dua lengser saling memperebutkan Rembulan menyaksikan Ilmu berkilatan Sekali sentil bukit mengecil Tiada kalah dan menang Malam kesaktian berimbang Bintang cemerlang Akhirnya meminta petunjuk kahyangan Sunan Ambu adalah keadilan Memutuskan tiada mengabaikan Dibagilah dengan rata dan sejahtera Nyai Padma melahirkan putra bercahaya Prabu Mundinglaya Dikusumah Gagah perkasa 9. PENGHARGAAN SEMU Hei, hei air segelas jika hilangkan dahaga Tak perlu seember penuh terhidangkan untuk kamu reguk agar sirna panas ternggorokan Biar tidak mabuk Hei, hei kenapa kamu bersamaan Jika sendiri mampu menyelesaikan Penghargaan kolektif tak ada tujuan Bila yang tunggal mampu memecahkan Apalagi kamu harapkan? Hei, hei jangan belajar tak masuk akal! Bayangan semu tak perlu dirindu Ambillah kenyataan pahitnya hatimu 10. PENYAIR  PEMECAH REKOR Dia adalah cakrawala luas Pecinta budaya dan harapan tanpa batas Ribuan kata-kata berbintang Metafora matahari kebaruan hari-hari bersinar terang di langit membentang Penyair pemecah rekor karya otentik Memberontak waktu sigap tiap menit sengit berlari mengejar detik-detik terpantik inspirasi gelora mistik Kalimat keramat bagai mengandung daya magnetik 11. IBU INGGIT GANARSIH Inggit Ganarsih adalah sinar fajar yang siap siaga selalu tiada samar menemani langkah lelah sang Bapak Bangsa memperjuangkan cita-cita kedaulatan negara tercinta Beliau langit terhampar tak gentar Menemui malam dan teriknya siang Senja menua tetap menyala Oh jasa-jasa dari napas ketulusan jiwa Jangan sampai generasi kita terlupa Sejuknya kasih sayang dan cinta Bagaikan namanya indah kan bergema 12. MENUJU MAKAM IBU INGGIT GANARSIH Matahari nampak indah menerangi Bersambut sentuhan angin Sukajadi Di jari-jari sepinya hati Bandung selalu mendukung perjalanan hari-hari Tiba-tiba bisikan harapan bangkitkan niat keramat untuk kembali menyibak Tokoh istimewa yang banyak mata telinga dan generasi terlupa Seorang hebat terang berjasa Pondasi penyemangat Bapak Bangsa Maka kulanjutkan langkah teduhku melewati Pajajaran, pasar Caringin menuju Babakan Ciparay Cahaya tergerai “Ibu Inggit Ganarsih kuucapkan salam” Perempuan perintis pergerakan kemerdekaan Indonesia yang selalu setia mendampingi Sang Proklamator tercinta Doa-doa Renungan masa lama Sejarah Dan cerita Tangis air mata 13. PENYAIR PENYU Penyair itu telah lahir di tanah mentah putih pasir Sendiri sepi Meniti matahari terpuji terlindungi Menekuni hari-hari merayapi arti Sambil melangkahan kaki menuju tepi pantai Ia tak gontai Menulis puisi di antara kegetiran pasang surut lautan rindu, diri, dan zaman Penyair penyu penyair penyu Terlihat dunia tanpa batasan Keluasan keluwesan adalah kehidupan Keberanian menjadi kebenaran Bergulung ia dengan gelombang Menyelam ke dalam lautan Mengikuti tarian ombak untuk satu tujuan Petualangan 14. PENYAIR GURU Angin mengusap mukanya yang gemerlap getir terkesiap rasa khawatir renungi anak didik sekolahnya menyelami gelombang pancaroba Lautan berkarang dan berpetir Badai datang selalu tidak terduga Perahu sederhana hanya bisa mengikuti arus ombak berbicara Sarapan malam terganti tinta hitam Sendok dan piring kaca ia sulap menjadi kertas – pena Penyair guru tabu bermain dadu Meski kehidupan dalam pengajaran tak ada jaminan mencapai langit biru Tapi kurikulum serupa bintang arahan Dan tujuan perjalanan mesti diperjuangkan 15. PERNAH BERKHAYAL Pernah aku berkhayal bermimpi berangan seperti berkontemplasi diri Harga-harga bisa turun kembali maka akan menyenangkan bagi hati saat sedang dilanda pailit ekonomi Oh keuangan mustika di rimbun jerami Oh karya-karya puisi tidak berarti Kita ada dalam kegagalan mencari jati diri Menegakkan keadilan mendesak metode induksi Intelektual terlalu bermanja-manja logika Lupa dengan atom-atom rasa yang meluap ke udara menjadi derita Itulah lamunan singkat padat bukan terang kejora harapan Tapi penantian tidak memungkinkan 16. PERTEMUAN PENYAIR Telah kutemui berbagai suara tangis Jeritan sesal, durhaka, derita dan bahagia Angin mengejar waktu untuk bersama Penyair dikalahkan oleh kata-kata Apa yang tertera di balik dinding hening Malam dingin siang berhimpun tanding Lanskap perkotaan – angan pedesaan Segala sesuatu saling berpangku Seperti bumi merantai musim cuaca Hujan kemarau selalu berganti Manusia tak ada yang mandiri Begitu pula air Syair penyair 11 PUISI YANG MERASA YANG BERKARYA KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA 1. BAGAI ACHILLES DAN KURA-KURA Aku dan kamu ini waktu Bagai Achilles dan kura-kura Sekuat tenaga aku curahkan Sejauh mata memandang Melewati batasan-batasan Setenang kamu berjalan Secepat aku berlari Seberapa jauh tempat terhenti Serajin aku mencari Kembali aku mesti menjumpai Sementara garis-garis nasib tak pasti dalam ruang di balik ruang ada ruang gaib Memasuki pintu ke pintu lagi-lagi bertemu Kemustahilan menjadi kemungkinan Yang tak bisa kita tafsirkan 2. ZENO DARI BARAT LAUT Zeno dari barat laut telah menempuh larut mengukir paradoks Tentang misteri batasan dan waktu Menguatkan kembali satu teori setia pada guru sejati Membangun ruang pemikiran yang mesti terpecahkan Bunga keberuntungan jatuh di dada Aristoteles Dibuatlah pintu-pintu dan jendela agar masuk udara kesegaran bagi mata dan jiwa 3. PUISI UNTUK TENDER SURRENDER, STEVE VAI Melodi itu terdengar seperti persahabatan makhluk dunia lain yang sedang rundingan berdialog sambil berdialektika Bagai mengawasi langkah-langkah arah urat-urat tubuh lalu berlabuh di ulu hatiku, teduh Asing tenang beriring Bening nan nyaring Ada Hening di kedalaman Semarak menyeru keakraban Padat menekan keyakinan Membiru gunung di langit kejauhan Not-not jumpalitan tetap bertujuan Ada dingin berselancar dalam getar membuat bulu kudukku merinding berdebar-debar Ada kasih kerinduan manis senyuman dalam sentuhan tone tegas senar-senar Ada gurauan canda tawa kebajikan Gaya elegan berdamping kemampuan tak terbantahkan Ini keajaiban! Gelombang ombak lautan berarakan Harmonis di luar nalar batasan Luwes bertenaga daya segala sukma Dua karakter satu rasa menghantam baja Kelembutan tajamnya naluri seni Sebagai seorang gitaris dunia Stevai, merangkai bisikan harapan terpendam gejolak alam tiada padam Setiap lompatan jari melahirkan irama unik sistemik pernak-pernik indah hidup bermadah teknik permainan berhamburan berbicara bermakna bermetamorfosis, menjadi, dan dinamis 4. MENJELANG ZODIAK TAURUS Menjelang Taurus, Aries meraih kembali Pisces masih mencari di pagi bermentari Gemini dalam duka hitam cinta ditinggal kekasih setia Oh hujan yang berpetir longsor sungguh aku khawatir Dan sampah jangan sebabkan banjir Gagasan kebajikan dan ambisi Taurus terencana matang Anginnya sudah memberi kabar Taurus, Taurus gunung didaki tak perlu terlalu tinggi Hipotermia bisa jadi sempitkan nafas di dada 5. RUMAH ZODIAK ARIES BULAN APRIL Rumah adalah singgasana bagi perjalanan jiwa Di antara seribu bisikan persoalan eksternal yang tak masuk di akal Angin memikul rezeki dari kejauhan terbang sampaikan keberuntungan Cinta mengalir bagaikan air kali jernih diselimuti kehijauan pohonan Aries bertapa dalam karya dan cipta Rumah adalah singgasana Mahkota pemimpin Keberkatan bersanding 6. DELAPAN BELAS APRIL (KAA) Teruntuk delapan belas April Hati di dua benua terpanggil Indonesia berbicara Lantang dengan semangat kuat membaja–menyala Bandung, Gedung Merdeka Saksi menuju masa depan cemerlang Pintu kepedulian kemanusiaan Antara kekhawatiran dan harapan Dua puluh sembilan negara Berembuk bersama Memantapkan kembali budaya Kerjasama ekonomi agar lebih berdaya Negara-negara berkembang berjuang Kolonialisme mesti ditentang Karena merugikan Mengundang kehancuran Negara berhak merdeka dengan segala kedaulatannya Jangan ada negara boneka! Yang bisa dipermainkan seenaknya Hak asasi manusia mesti terjaga Neokolonialisme wabah penyakit bagaikan bakteri yang menggerogoti negeri Penjajahan tak boleh ada di muka bumi Delapan belas April Bersinar cahaya kesadaran Solidaritas dibangkitkan Perdamaian disuarakan Hari baru nafas baru Sembilan belas lima puluh lima Konferensi Asia Afrika 7. PENYAIR MALANG MELINTANG Penyair yang malang melintang adalah dia dalam dikotomi peradaban Satu tubuh dua kehidupan Antara cinta dan misi cita-cita Angin membawanya ke air terjun Penyair bermandi limpahan karunia Matahari bagai koin kuning Menyemprotkan angka nominal pada pandangan Bimbang ia berputaran Menelentangkan dua tangan Mengangkat satu kaki sambil bersiulan Dan jawaban itu tak pernah ditemukan 8. PENYAIR DI ATAS KASUR Penyair di atas kasur bersama khayalan ia bertempur Jendela adalah benda kuno yang mesti ia pelihara dari pandangan penguasa siang Dan angin bagai roh jahat mengutuknya sekatuk laknat Penyair di atas kasur Kakinya terlipat lalu terulur Seperti niat tekadnya maju mundur 9. SERENADA APRIL Hey hey hey hey Hey hey hey hey Dewi kelopak bunga melati Putih berseri-seri Ceria mewangi di bulan April bersemi Menjadi nyanyian duniawi Hey hey hey hey Hey hey hey hey Dewi serenada ungu laguku Spiritualitas penggerak sajakku 10. DI PARKIRAN Anginnya tegak berkerut kening cemberut tak bergeming dan halaman bagai pulau es dingin Sudah satu minggu Peluitnya bisu temboknya tuli tiada mendengar mesin bergetar Tukang parkir itu berunding bersama hening Lamunannya nyangkut di cakrawala Bingung anaknya SD harus outing class Dan seragam agak kusam Uang belum juga tergenggam Wahai yang mencari Ke mana rezeki akan berlari Jika waktu tentu Kembali juga kepadamu 11. TUJUH PERI DI WARUNG REMANG Pohon sawit berbaris berjejeran Jalan dramatis menangis di pinggiran Di warung remang-remang Tujuh peri membisikan harapan Semoga hari ini ada yang datang Air hujan jatuh bercucuran Seperti hati mereka gelisah tak keruan Di dipan halaman teduhan Lagu rindu sendu berwangi kemenyan Setiap yang bernyawa memiliki kebutuhan Awan masih hitam Nasib bulan agak kusam Lambungnya ringan melayang-layang Wahai tujuh peri yang mengunyah sepi mencari rezeki menjemput keberuntungan diri Sementara kamu berusaha Dan jauh dari putus asa Doa dalam asa takkan sia-sia Bagian itu akan tiba pada saatnya Tiada tertukar ke lain dunia lmmt7babafe89wz0thb1iiei1xe1e9o 117354 117351 2026-07-04T10:08:57Z Sajak Puisi 43496 /* */ 117354 wikitext text/x-wiki PUISI-PUISI KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026) Agung Gema masih mengembara Sambil bergelayutan di hutan kata-kata Lalu mencium aroma nektar madu lebah dari singgasana kursi kejujuran Kebenaran adalah pangeran tersembunyi di lubuk lembah terdalam hati nurani Kini setelah zaman berganti Ia mesti berdaya berani berjaya Memakai mahkota keadilan demi mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi umat manusia PUISI SATU (Makna Puisi) Puisi adalah mantra ajaib Dari intuisi sakral yang gaib Pesona bahasa penuh perbawa Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia Alam berkelana pada pijaran Sinar-sinar ruhani gemerlapan Biarlah emosional itu terlibat Dalam frasa rangkaian tersurat Fantasi gairah mimpi keramat Kan membuka tabir yang tersirat PUISI DARI TANAH BANDUNG Bagai danau, bunga dan bukitan Aku catat setiap kejadian Dari mantra-mantra ajaib Kemungkinan dan sikap kearifan Puisi dari tanah Bandung Adalah visi misi semesta raya Penjaga generasi masa datang Penyejuk gelombang zaman Keharmonisan ucap, kata, alam Menjadi bahasa penuh makna Air mengalirkan semangat Restu kebajikan keramat Halus berbudi Cermin bagi jendela hati AKU BANGGA DI INDONESIA Setelah umur empat puluh tahun Harus kunyatakan dengan jujur Agar aku mujur dan makmur Terpilih sebagai orang bersyukur Aku bangga di Indonesia Matahari terbit di atas kepala Sinarnya sejuk menyegarkan mata Angin mengalir tenang perlahan Membawa wangi bunga kemboja Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan Apakah dinamakan bekerja Jika berada di perusahaan asing ? Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”! Apakah tidak lebih baik bangga dengan kemampuan diri ketika seseorang bisa memanfaatkannya untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara? Juga memiliki sekaligus berbagi waktu untuk berbagai keperluan? Hidup adalah pilihan Angin dan air tumpang tindih menjadi banjir. Membawa kayu kegolondongan, biji emas dan nikel. Memoles batu akik berwarna hijau Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa Menyuguhkan harum cendana. Aku tidak ingin ke luar negeri Sudah kutetapkan di sini Menikmati suka duka bersama mimpi Meski dihina dicaci Hanya karena serabutan Hihi bukan persoalan Karena aku cinta negeri ini Setiap saat kuingat Aku berdoa dalam sunyi Semoga keadilan merata Semangat kebangsaan tumbuh Negeri damai tenteram Rakyatnya sehat Pusakanya keramat Aku berharap bisa mencerdaskan Kehidupan bangsa Bersikap patriotik tidak harus berpolitik Aku punya karya Meski tidak seterkenal Shakespeare Chairil Anwar atau Rendra Tapi aku bisa menunjukkan diriku Dengan sebuah catatan pemikiran Aku lulusan bahasa dan sastra Sebagai sarjana Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi Lebih dekat dengan Indonesia Dengan bahasa, sastra dan budaya Di luar itu Aku mempelajari musik, filsafat, agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik perjimatan, keajaiban matematika, mantik, dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari Akhirnya semua kusatukan dalam karya puisiku “Julukanku perpustakaan berjalan” Kurang pas tapi mengagetkanku Aku punya banyak murid Formal maupun informal Mereka mau tidak mau mengakui Pengetahuannya dari pengetahuanku Dan aku tidak perlu gaji untuk itu karena seorang guru adalah pengabdian. memberi kesegaran bagi masa depan. Kendaraanku cukup Dari hasil mengamen Aku bisa membeli rumah Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari. Aku punya kebun cukup luas tiga puluh enam tumbak Ya dari hasil jual rongsokan Aku tidak pernah mencicil apapun Sampai saat puisi ini kamu baca Tidak juga kekurangan uang Dan jauh dari hutang ke bank Malahan membayari seseorang yang memiliki hutang Haha terkadang aku tertawa Sambil terharu Siapa aku? Aku cuma rindu wanitaku. Itu naluriah Seorang lelaki mencintai dan dicintai Kerinduanku berkarat disiram rembulan Hidup adalah perjalanan Hidup adalah persinggahan Siapa orang yang tidak terberkati Dengan adanya diriku Bukan memuji diri Ini adalah klarifikasi Maaf pernyataanku lucu-lucuan Berharap bisa memberi kesan Pertimbangan untuk ke depan Anak aku sekolahkan Aku benci pungli bila terjadi Anak yatim cukup kubiayai Para janda masih sanggup kuhidupi Aku masih bisa meminjamkan uang Tanpa bunga tanpa anggunan Entah mungkin nanti Sampai saat puisi ini kutulis Pagi di Indonesia penuh canda Kehangatan dan paradoks nya jiwa kurasakan menjadi bahan kajian Dan kita mesti belajar berlapang dada Aku paham di zaman sekarang Bekerja kantoran adalah kebanggaan Tapi tidak bagi diriku Kita bisa berbeda itulah keberagaman Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai Ketimbang sikap ksatria Ya ya hidup hedon sedikit nakal Atau berfoya-foya adalah keberhasilan Penilaian tergantung gaya hidup Biarpun berat sanubari melarat Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan terlihat keluarga atau tetangga Itulah yang kutangkap dari sisi lain Yang lain dengan pandanganku Aku bangga di Indonesia Biarpun belum bisa membanggakan Bukan pula kebanggan NEGERI YANG ANEH Di balik galaksi bima sakti Ada secarik tulisan “Negeri yang aneh Puisi pun dibatasi oleh modal dan pandangan pribadi Disesuaikan dengan keinginan para oligarki Menolak keindahan persepsi Berarti menidurkan daya sejati dari kreatifitas perasaan anugrah Tuhan Jika dipilih dipilah Seperti ikan asin, cumi, udang Di beli dapat hasil beli Di kursuskan jadi karbitan Di pertontonkan butuh pengakuan Di bukukan perlu bayaran.” Aku berjalan dari desa ke kota Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata Mengolah rasa menjadikan karya sastra Dan tak peduli ada yang mengakui Ini bukan curahan hati Tapi demi kebebasan berpuisi Selama unsur keindahan itu terjadi Maka layak diberi Prestise dan prestasi Sebagai penyair meski sunyi Jangan persulit lagi Sudah bosan terlalu berangan Tanpa perkumpulan Tak ada penerbitan Tanpa uang Tak ada keikutsertaan Apalagi kelayakan Tanpa komunitas Tak ada kepenyairan Lepaskan itu semua Buatlah puisi Tanpa perlu penilaian Untung di planet lain Terhijab triliunan kain Bukan di bumi Pula di negeriku ini Tapi di balik matahari Tiada terkena sentuhan cahaya Jauh dari rembulan Negeri begitu kelam Hanya malam Menggelombang mengambang … Puisi tak perlu tingkatan senioritas Puisi lepas aturan kesesuaian tema, judul dan kata Puisi adalah eksistensi diri Puisi memupuk kemandirian naluri Merdekakan puisi Dari cengkeraman tangan ganda yang berotot, berkuku, bergigi kuda Puisi tidak seperti rel Sambung menyambung Bukan bukit gunung Juga berbeda dengan jalan tol Apalagi minuman botol Puisi tak perlu laku Atau rayu merayu agar terjual di pasar Puisi adalah kearifan Hakikat manusia yang dengannya dia berjaya DUNIA TANPA BATAS Agung Gema Nugraha Angin panas dari negara maju menyerbu singgasana kepulauan Arah baru membuka tantangan bagi masa depan Dalam permasalahan kompleks Negara berkembang ditekan dipaksa untuk perubahan Meski harus hilang keseimbangan antara hak dan kewajiban Isu global, kesenjangan sosial Berlarut-larut bagai hujan yang bisa mengakibatkan banjir dan gempa susulan Dunia saat ini dalam satu pantauan satu daerah lingkup teknologi Kita tak bisa diam dalam percaturan pergerakan kesadaran perlu diberdayakan Peranan masyarakat adalah matahari yang penting untuk dikedepankan Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi dan segala aspek kehidupan Sesuai dengan kemampuan tanpa meninggalkan nilai moral leluhur serasi, selaras berkeadilan bersatu dalam perbedaan Kapitalis adalah gunung angkuh yang tak mungkin mengalah runtuh menjadi lembah Dunia tanpa batas Memberi informasi kenyataan negeri Bahwa kita sedang dipersiapkan Untuk menjadi pion atau raja PUISI UNTUK PEMBERITAAN (Khusus Sesar Lembang) Agung Gema Nugraha Masih itu saja. Berita adalah doa Bisa berwujud mantra-mantra ketika diulang-ulang memakai syarat ketentuan Pengabaran seolah ramalan dalam kehidupan. Keterkabulan akan terjadi bila diiringi hati harap-harap cemas Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya ke langit maka sampailah pada penjaga Malaikat pengurus bumi Maytotorun Maytotorun! Kritik mesti ditegakkan dengan benar dan berkeadilan. Antisipasi dibutuhkan sekadar keperluan Tapi tidak harus terus-menerus Menjadi arus topik pembicaraan Peliputan yang bertolak dengan kenyataan mata telanjang Adalah melawan kekuatan alam Peliputan mencari kesadarannya kepada berbagai pihak Baik untuk sebagian tujuan Dan akan kurang beruntung bagi metafisika spiritual Jiwa manusia mesti terjaga SENDAWAKU, BUAT OKNUM, KORUPTOR! .. ….. Agung Gema N Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu di saat aku tidak mengharapkanmu. Eughh, eughh oknum, koruptor! Oknum, koruptor Bertelor Meneror Mimpi masa depan kebangsaan Merah mega menyala Semburat cinta purba bangkit perkasa Berani memberantas korupsi adalah ksatria sejati Pemimpin cermin bagi hati nurani Oh kekasihku, yang duduk di kursi kekuasaan negara jangan makan gaji buta Di antara awang-awang dan bumi yang pernah cedera Sepuluh tahun aku menahan luka Dua puluh tahun aku terlunta-lunta Kamu kini bukan wujud yang kemarin Manipulasi diri begitu narsis dan dingin Seperti lambungku, kosong kendor Oknum, koruptor! Oknum, koruptor! CIKOLE Agung Gema Nugraha Mimpi-mimpi yang perkasa berdiri tegak di bawah lembah Gunung Tangkuban Perahu Langkah-langkah dari jauh disulap angin riuh dan mitos negeri peri Gunung Puteri Kembang Jaksi Lembah Hyang Cikole Jayagiri Dewi menyala seperti bintang di malam hari Murninya alam kahyangan Cantiknya Parahyangan LAGU BUAT NENG DEWI (Bulan Juni 2026) Aku tulis puisi ini Sambil menikmati bulan Juni Riuh remaja bulannya muda Wahai neng Dewi kucinta padamu Setangkai bidara yang tertanam Diusapi sepi udara malam Sejuk membelai merekah gemulai Memantapkan keyakinan tanpa buaian Dirimu dalam pandangan Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi Wahai neng Dewi kumerindukanmu KEMBALI KE LEUWI PANJANG Kembali ke terminal Leuwi Panjang adalah menemani nyanyi pagi bulan Juli setelah kegiatan sehari-hari terhenti Bus kota kunaiki bersama mimpi tanpa mengenyam raut muka kekasih masa silam Dan Dewi masih menunda tanda Belum juga terbit di pelupuk mata Tapi hidup tak boleh sia-sia dalam kobarannya TANGIS BESI Tangis Besi Tangis Besi Betapa ganasnya satu pekerti Dan ia tak mau mengerti Tangis besi Tangis Besi Keras kaku pemikiran angan Itu tak bisa dihancurkan PENA JULI Pena Juli Tintanya tersirap matahari dari ufuk hari yang tak pasti Pena Juli Tiada tajam bagai gergaji atau kilat pisau belati Patah perintah hati nurani MAWAR TEMBAGA Mawar tembaga Adalah bunga persembahan zaman Kebunnya sudah menjadi menara Istrinya terbentur musim gugur Segala jiwa keluarga menganggur Mawar tembaga Lelaki legam perkasa Sudah lima tahun bertapa bertambah tua muka banyak berduka Tak ada cinta jika tak menghasilkan Sebagaimana cahaya malam redam bila bintang bulannya tenggelam Ah kesendirian itu adalah pintu gila Mawar tembaga BERAS BATIN Beras Batin Angin menggelinding membawa kabar tentang tanah subur tanpa penghuni Sawah-sawah liar itu telah tertanam gedung dan perumahan mewah Beras Batin Rakyatnya pergi ke lorong mega Sambil melangkah menganga menitikkan air mata tanpa suara Karena bunyi habis termakan excavator, tower crane Palu besar menambah pilu Concret pump, vibrator dan gergaji menyayat sanubari Beras batin KUMPULAN PUISI AGUNG GEMA NUGRAHA 16 REMBULAN 1. WANITA SATU RUPA Singgah di kursi pemanjaan dirimu Aku boneka yang tiada bernama Sudah kuciptakan seribu sajak Sambil diam terbajak Masih mencari juga tentang makna tentang kenapa kita harus bersama? Kamu adalah wanita penuh warna Baik hati memiliki satu rupa Ketulusan Wahai kekasih pemberi inspirasi Seratus guru aku pelajari Tapi kembali kepadamu aku berkaca 2. BUKAN CINTA MEI Bukan cinta untuk Mei Aku tulis sajak di bulan ini Tapi karena kemelut mencari jalannya lewat kalimat tanpa laknat Kita terlalu mudah sakit hati Batang patah nurani bergetah Meludah marah muntah-muntah Menempel di tangan menjadi dendam Masuk ke pikiran semakin kelam Sulitnya naga berapi Diam menyepi berkontemplasi Malah  nge-gas tegas menolak berontak Menerima secuil takdir keberuntungan Kita belum dewasa mengenal bunga Warna-warni kehidupan fatamorgana Enggan beriring saat tak bernama Kalah bersaing menyaring bising Dalam kenyataan yang dihadapi Diri bagai cedera luka kura-kura Setiap manusia korban khianat duka Bukan cuma Anda Bianglala tiada selalu menyala Lalu kamu mengalirkan air mata Menyuap alam semesta Akhirnya bersembunyi di semak berduri Terpenjara oleh hari 3. KERAJAAN JAMPANG MANGGUNG Jampang Manggung dua masehi Aki Sugiwanca menemu tanda di balik sunyi Selatan Jawa Barat adalah permata Kesuburan tanah mesti terjaga Cianjur, Sukabumi berdaya Kerajaan tegak tatar pasundan semarak Sang kakak, Aki Tirem dari Banten leluhur raja-raja Sunda menyimak dan ya, utara – selatan mesti terdengar harapan agar tertata wilayah makmur, adil dan sejahtera 4. SAJAK BULU Satu perjalanan seribu pengkhianatan Aku merasakan bulu-bulu di tubuh menyentuh kisruh pikiran, keringat berpeluh kering merapuh Memanjang nan keruh Kusut beringsut Ibarat perdebatan intelektual di media sosial Serasa hampa kurang guna tiada ada jalan keluar Malah api berkobar Kita terbakar Lubang-lubang semakin lengang tanda ketidakmampuan mulut membicarakan berbagai keluhan yang datang bertubi-tubi setiap jam saat berbunyi berdentang Bulu di telinga berwarna jingga Bulu di hidung lendir terkandung Bulu di atas bibir dan mata Menyangkut kental air susu putih dan tragedi cinta merintih Bulu di ketiak Bagai jerat hitam scorpio Bulu di emmm…. Mesti dibersihkan harian, mingguan atau bulanan sebelum waktu gajian Bulu di setiap jengkal terus tumbuh tersipuh janji-janji kecil terasingkan lalu akhirnya meluas memanjang menjadi kebun binatang Ah Seperti alang-alang tertiup angin rambut jagung pun menguning terjemur persoalan hutang Umur tergadaikan Bulu terlupakan 5. PUISI X Menyaksikan semesta raya adalah mencari keberadaan diri kita yang terbang melayang dalam pertanyaan mencoba memantapkan ujuan Spinoza sedikit mengurai kata tentang kesadaran etika Dan aku memahami bahwa mengikuti hasrat diri untuk kepentingan kita sendiri yang terlihat baik mandiri Bisa jadi membuat problema baru bagi keserasian keharmonisan jalannya ketentuan alam Bangunan-bangunan bertembok besi, baja, seng dan tembaga Hunian indah mengorbankan pohonan, hutan, hewan rumputan Kendaraan di empat elemen Aspalan jalan, gang menggantikan tanah persahabatan Mengugurkan kecintaan pemeliharaan akan riuhnya kehidupan Kimia menjadi sihir pembakar kehijauan Napas manusia meracuni harapan hewan tumbuhan juga kemurnian Kita menghancurkan keyakinan kita sendiri 6. SI JALAK HARUPAT Di mana dia Si Jalak Harupat penghalau badai barat laut? Ombak menggoyangkan pohonan Si Jalak Harupat perkasa membelah setiap hantaman Kepekaannya memindahkan awan hitam Cerdas kata tegas matahari terpancar dan bagai petir mengandung energi listrik kalimatnya menggetarkan para penindas yang pura-pura kura-kura Dinding mana mampu menghalangi? Keberaniannya mengungguli setiap hati Celoteh alasan apa bisa menandingi? Penjajahan dan diskriminasi tak boleh berdiri di bumi pertiwi Menyerah bahasa lain di ujung langit sepi Pendidikan, berdayakan! Keadilan dan kedaulatan perjuangkan! Bangsa mesti “Merdeka!” 7. PUTRI KADITA Udara itu rasa jamu batrawali Ramuan nasib gaib yang tiada kita ketahui membuat bintang bulan cemberut Jekut muka malam karam terdalam luka-luka duka cita Putri Kadita Putri Kadita Kasih ayah adalah segala Air mata ada di jiwa Putri Kadita darah Siliwangi berkata “Cedera rasa, keadilan menjelma.” Oh, Merah jingga mengalir bagai butiran berlian takkan mudah terkalahkan …Setelah tersia-sia Perjalanan memiliki perhitungan Ketentuan masing-masing kehidupan Meski mesti kita terkucil terasing Kain Kemulyaan keagungan Tiada tertukar disambar hasrat kedengkian Jika waktunya alam kan memakaikannya Di roh, mata, telinga, suara keabadian Putri Kadita ratu penguasa pesisir pantai selatan 8. BUAH HONJE Buah Honje buah Honje Nyai Padmawati Istri terkasih Prabu Siliwangi Menanti sang buah hati Langit menguji perasaan Kuat keinginan dua roh di badan Mengungkapkan buah masam karena mengidam adalah bisikan lain alam Ki lengser Pajajaran merenangi mimpi Mengembara di sorot sinar mentari Mencari terus mencari tapi di negeri begitu sepi Setelah lelah bimbang hadapi hari Bisikan diri menggerakan kaki Langkah lari tiada terperi Di hutan akhirnya ia dapati Sayang hitungan delapan Terpetik harapan Ki lengser kerajaan Muara Beres mendahului waktu terdepan Takdir permaisuri Gambir Wangi pun serupa hasrat tersirat Buah Honje buah Honje Dua lengser saling memperebutkan Rembulan menyaksikan Ilmu berkilatan Sekali sentil bukit mengecil Tiada kalah dan menang Malam kesaktian berimbang Bintang cemerlang Akhirnya meminta petunjuk kahyangan Sunan Ambu adalah keadilan Memutuskan tiada mengabaikan Dibagilah dengan rata dan sejahtera Nyai Padma melahirkan putra bercahaya Prabu Mundinglaya Dikusumah Gagah perkasa 9. PENGHARGAAN SEMU Hei, hei air segelas jika hilangkan dahaga Tak perlu seember penuh terhidangkan untuk kamu reguk agar sirna panas ternggorokan Biar tidak mabuk Hei, hei kenapa kamu bersamaan Jika sendiri mampu menyelesaikan Penghargaan kolektif tak ada tujuan Bila yang tunggal mampu memecahkan Apalagi kamu harapkan? Hei, hei jangan belajar tak masuk akal! Bayangan semu tak perlu dirindu Ambillah kenyataan pahitnya hatimu 10. PENYAIR  PEMECAH REKOR Dia adalah cakrawala luas Pecinta budaya dan harapan tanpa batas Ribuan kata-kata berbintang Metafora matahari kebaruan hari-hari bersinar terang di langit membentang Penyair pemecah rekor karya otentik Memberontak waktu sigap tiap menit sengit berlari mengejar detik-detik terpantik inspirasi gelora mistik Kalimat keramat bagai mengandung daya magnetik 11. IBU INGGIT GANARSIH Inggit Ganarsih adalah sinar fajar yang siap siaga selalu tiada samar menemani langkah lelah sang Bapak Bangsa memperjuangkan cita-cita kedaulatan negara tercinta Beliau langit terhampar tak gentar Menemui malam dan teriknya siang Senja menua tetap menyala Oh jasa-jasa dari napas ketulusan jiwa Jangan sampai generasi kita terlupa Sejuknya kasih sayang dan cinta Bagaikan namanya indah kan bergema 12. MENUJU MAKAM IBU INGGIT GANARSIH Matahari nampak indah menerangi Bersambut sentuhan angin Sukajadi Di jari-jari sepinya hati Bandung selalu mendukung perjalanan hari-hari Tiba-tiba bisikan harapan bangkitkan niat keramat untuk kembali menyibak Tokoh istimewa yang banyak mata telinga dan generasi terlupa Seorang hebat terang berjasa Pondasi penyemangat Bapak Bangsa Maka kulanjutkan langkah teduhku melewati Pajajaran, pasar Caringin menuju Babakan Ciparay Cahaya tergerai “Ibu Inggit Ganarsih kuucapkan salam” Perempuan perintis pergerakan kemerdekaan Indonesia yang selalu setia mendampingi Sang Proklamator tercinta Doa-doa Renungan masa lama Sejarah Dan cerita Tangis air mata 13. PENYAIR PENYU Penyair itu telah lahir di tanah mentah putih pasir Sendiri sepi Meniti matahari terpuji terlindungi Menekuni hari-hari merayapi arti Sambil melangkahan kaki menuju tepi pantai Ia tak gontai Menulis puisi di antara kegetiran pasang surut lautan rindu, diri, dan zaman Penyair penyu penyair penyu Terlihat dunia tanpa batasan Keluasan keluwesan adalah kehidupan Keberanian menjadi kebenaran Bergulung ia dengan gelombang Menyelam ke dalam lautan Mengikuti tarian ombak untuk satu tujuan Petualangan 14. PENYAIR GURU Angin mengusap mukanya yang gemerlap getir terkesiap rasa khawatir renungi anak didik sekolahnya menyelami gelombang pancaroba Lautan berkarang dan berpetir Badai datang selalu tidak terduga Perahu sederhana hanya bisa mengikuti arus ombak berbicara Sarapan malam terganti tinta hitam Sendok dan piring kaca ia sulap menjadi kertas – pena Penyair guru tabu bermain dadu Meski kehidupan dalam pengajaran tak ada jaminan mencapai langit biru Tapi kurikulum serupa bintang arahan Dan tujuan perjalanan mesti diperjuangkan 15. PERNAH BERKHAYAL Pernah aku berkhayal bermimpi berangan seperti berkontemplasi diri Harga-harga bisa turun kembali maka akan menyenangkan bagi hati saat sedang dilanda pailit ekonomi Oh keuangan mustika di rimbun jerami Oh karya-karya puisi tidak berarti Kita ada dalam kegagalan mencari jati diri Menegakkan keadilan mendesak metode induksi Intelektual terlalu bermanja-manja logika Lupa dengan atom-atom rasa yang meluap ke udara menjadi derita Itulah lamunan singkat padat bukan terang kejora harapan Tapi penantian tidak memungkinkan 16. PERTEMUAN PENYAIR Telah kutemui berbagai suara tangis Jeritan sesal, durhaka, derita dan bahagia Angin mengejar waktu untuk bersama Penyair dikalahkan oleh kata-kata Apa yang tertera di balik dinding hening Malam dingin siang berhimpun tanding Lanskap perkotaan – angan pedesaan Segala sesuatu saling berpangku Seperti bumi merantai musim cuaca Hujan kemarau selalu berganti Manusia tak ada yang mandiri Begitu pula air Syair penyair 11 PUISI YANG MERASA YANG BERKARYA KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA 1. BAGAI ACHILLES DAN KURA-KURA Aku dan kamu ini waktu Bagai Achilles dan kura-kura Sekuat tenaga aku curahkan Sejauh mata memandang Melewati batasan-batasan Setenang kamu berjalan Secepat aku berlari Seberapa jauh tempat terhenti Serajin aku mencari Kembali aku mesti menjumpai Sementara garis-garis nasib tak pasti dalam ruang di balik ruang ada ruang gaib Memasuki pintu ke pintu lagi-lagi bertemu Kemustahilan menjadi kemungkinan Yang tak bisa kita tafsirkan 2. ZENO DARI BARAT LAUT Zeno dari barat laut telah menempuh larut mengukir paradoks Tentang misteri batasan dan waktu Menguatkan kembali satu teori setia pada guru sejati Membangun ruang pemikiran yang mesti terpecahkan Bunga keberuntungan jatuh di dada Aristoteles Dibuatlah pintu-pintu dan jendela agar masuk udara kesegaran bagi mata dan jiwa 3. PUISI UNTUK TENDER SURRENDER, STEVE VAI Melodi itu terdengar seperti persahabatan makhluk dunia lain yang sedang rundingan berdialog sambil berdialektika Bagai mengawasi langkah-langkah arah urat-urat tubuh lalu berlabuh di ulu hatiku, teduh Asing tenang beriring Bening nan nyaring Ada Hening di kedalaman Semarak menyeru keakraban Padat menekan keyakinan Membiru gunung di langit kejauhan Not-not jumpalitan tetap bertujuan Ada dingin berselancar dalam getar membuat bulu kudukku merinding berdebar-debar Ada kasih kerinduan manis senyuman dalam sentuhan tone tegas senar-senar Ada gurauan canda tawa kebajikan Gaya elegan berdamping kemampuan tak terbantahkan Ini keajaiban! Gelombang ombak lautan berarakan Harmonis di luar nalar batasan Luwes bertenaga daya segala sukma Dua karakter satu rasa menghantam baja Kelembutan tajamnya naluri seni Sebagai seorang gitaris dunia Stevai, merangkai bisikan harapan terpendam gejolak alam tiada padam Setiap lompatan jari melahirkan irama unik sistemik pernak-pernik indah hidup bermadah teknik permainan berhamburan berbicara bermakna bermetamorfosis, menjadi, dan dinamis 4. MENJELANG ZODIAK TAURUS Menjelang Taurus, Aries meraih kembali Pisces masih mencari di pagi bermentari Gemini dalam duka hitam cinta ditinggal kekasih setia Oh hujan yang berpetir longsor sungguh aku khawatir Dan sampah jangan sebabkan banjir Gagasan kebajikan dan ambisi Taurus terencana matang Anginnya sudah memberi kabar Taurus, Taurus gunung didaki tak perlu terlalu tinggi Hipotermia bisa jadi sempitkan nafas di dada 5. RUMAH ZODIAK ARIES BULAN APRIL Rumah adalah singgasana bagi perjalanan jiwa Di antara seribu bisikan persoalan eksternal yang tak masuk di akal Angin memikul rezeki dari kejauhan terbang sampaikan keberuntungan Cinta mengalir bagaikan air kali jernih diselimuti kehijauan pohonan Aries bertapa dalam karya dan cipta Rumah adalah singgasana Mahkota pemimpin Keberkatan bersanding 6. DELAPAN BELAS APRIL (KAA) Teruntuk delapan belas April Hati di dua benua terpanggil Indonesia berbicara Lantang dengan semangat kuat membaja–menyala Bandung, Gedung Merdeka Saksi menuju masa depan cemerlang Pintu kepedulian kemanusiaan Antara kekhawatiran dan harapan Dua puluh sembilan negara Berembuk bersama Memantapkan kembali budaya Kerjasama ekonomi agar lebih berdaya Negara-negara berkembang berjuang Kolonialisme mesti ditentang Karena merugikan Mengundang kehancuran Negara berhak merdeka dengan segala kedaulatannya Jangan ada negara boneka! Yang bisa dipermainkan seenaknya Hak asasi manusia mesti terjaga Neokolonialisme wabah penyakit bagaikan bakteri yang menggerogoti negeri Penjajahan tak boleh ada di muka bumi Delapan belas April Bersinar cahaya kesadaran Solidaritas dibangkitkan Perdamaian disuarakan Hari baru nafas baru Sembilan belas lima puluh lima Konferensi Asia Afrika 7. PENYAIR MALANG MELINTANG Penyair yang malang melintang adalah dia dalam dikotomi peradaban Satu tubuh dua kehidupan Antara cinta dan misi cita-cita Angin membawanya ke air terjun Penyair bermandi limpahan karunia Matahari bagai koin kuning Menyemprotkan angka nominal pada pandangan Bimbang ia berputaran Menelentangkan dua tangan Mengangkat satu kaki sambil bersiulan Dan jawaban itu tak pernah ditemukan 8. PENYAIR DI ATAS KASUR Penyair di atas kasur bersama khayalan ia bertempur Jendela adalah benda kuno yang mesti ia pelihara dari pandangan penguasa siang Dan angin bagai roh jahat mengutuknya sekatuk laknat Penyair di atas kasur Kakinya terlipat lalu terulur Seperti niat tekadnya maju mundur 9. SERENADA APRIL Hey hey hey hey Hey hey hey hey Dewi kelopak bunga melati Putih berseri-seri Ceria mewangi di bulan April bersemi Menjadi nyanyian duniawi Hey hey hey hey Hey hey hey hey Dewi serenada ungu laguku Spiritualitas penggerak sajakku 10. DI PARKIRAN Anginnya tegak berkerut kening cemberut tak bergeming dan halaman bagai pulau es dingin Sudah satu minggu Peluitnya bisu temboknya tuli tiada mendengar mesin bergetar Tukang parkir itu berunding bersama hening Lamunannya nyangkut di cakrawala Bingung anaknya SD harus outing class Dan seragam agak kusam Uang belum juga tergenggam Wahai yang mencari Ke mana rezeki akan berlari Jika waktu tentu Kembali juga kepadamu 11. TUJUH PERI DI WARUNG REMANG Pohon sawit berbaris berjejeran Jalan dramatis menangis di pinggiran Di warung remang-remang Tujuh peri membisikan harapan Semoga hari ini ada yang datang Air hujan jatuh bercucuran Seperti hati mereka gelisah tak keruan Di dipan halaman teduhan Lagu rindu sendu berwangi kemenyan Setiap yang bernyawa memiliki kebutuhan Awan masih hitam Nasib bulan agak kusam Lambungnya ringan melayang-layang Wahai tujuh peri yang mengunyah sepi mencari rezeki menjemput keberuntungan diri Sementara kamu berusaha Dan jauh dari putus asa Doa dalam asa takkan sia-sia Bagian itu akan tiba pada saatnya Tiada tertukar ke lain dunia INTROSPEKSI BULAN JULI Melirik lagi masa sedetik tadi adalah berintrospeksi diri pada langkah manusia yang lalai akan jalannya alam dan takdir sehingga melupakan adalah pengkhianatan akan kebaikan Kita tidak mau menjadi saksi bagi kelemahan hati Dengan pergaulan pikiran gila logika kita jadi tidak memahami satu nama “rasa kasih cinta.” SETELAH KEMARAU BULAN JUNI Setelah kemarau kemarin bulan Juni yang penuh kesombongan Hari ini sayap malaikat suci mengepakkan kasih sayangnya Tercurahlan air bekas ia bermandi di telaga langit surga menjadi kesederhanaan hujan bulan Juli Insan tak perlu angkuh dengan materi padahal keadaannya tiada pernah ia memahami Insan lepaslah baju keegoanmu sebab satu titik air menyegarkan untuk kehidupanmu rumit untuk kamu ciptakan HUJAN BULAN JULI Ada muka yang membawa sukacita dari rindu purba di bawah langit senja Hujan bulan Juli Kini telah turun lagi setelah tujuh tahun bersembunyi karena langkah sehari-hari awan tiada menepikan pesan harapan mata air kehidupan surgawi (Manusia melupakan kaitannya dengan alam maka hujan pun enggan memberi kedamaian) Ada keangkuhan derita menjadi cerita Hujan bulan Juli menjadi penyadaran lelaki akan cintanya yang tak pernah ia akui kcokpwh0qre6t99ebf0df1dbrlxb4aa Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Pelang Kelayang 0 27749 117344 2026-07-03T12:17:07Z NindiAstt 43491 ←Membuat halaman berisi 'Desa Dusun Tua Pelang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Desa ini terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Desa Dusun Tua pada tanggal 31 Desember 2006. Pemekaran dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan, mempercepat pelayanan kepada masyarakat, serta mendorong pemerataan pembangunan di wilayah desa. Setelah resmi berdiri sebagai desa definitif, pemerintahan pertama dipimpin oleh Roesli...' 117344 wikitext text/x-wiki Desa Dusun Tua Pelang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Desa ini terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Desa Dusun Tua pada tanggal 31 Desember 2006. Pemekaran dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan, mempercepat pelayanan kepada masyarakat, serta mendorong pemerataan pembangunan di wilayah desa. Setelah resmi berdiri sebagai desa definitif, pemerintahan pertama dipimpin oleh Roesli sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa hingga terlaksananya pemilihan kepala desa secara langsung. Sebelum menjadi desa yang berdiri sendiri, wilayah Dusun Tua Pelang merupakan bagian dari Desa Dusun Tua. Masyarakatnya telah lama menetap di kawasan tersebut dan menggantungkan kehidupan pada hasil alam. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani karet dan kelapa sawit, sementara sebagian lainnya menjadi pedagang, buruh, nelayan sungai, serta mengembangkan usaha kecil dan menengah. Kehidupan masyarakat masih sangat kental dengan budaya Melayu, ditandai dengan semangat gotong royong, musyawarah, serta pelestarian adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Seiring berjalannya waktu, Desa Dusun Tua Pelang mengalami perkembangan dalam berbagai bidang. Pembangunan infrastruktur seperti jalan desa, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, dan sarana pelayanan masyarakat terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Pemerintah desa juga membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Melalui BUMDes, berbagai unit usaha dikembangkan, seperti pengelolaan perkebunan kelapa sawit, penyediaan gas LPG, serta penyewaan alat peras santan. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan berbagai usaha mikro seperti pembuatan keripik ubi, kue bawang, dan makanan ringan lainnya yang menjadi sumber pendapatan tambahan. Desa Dusun Tua Pelang juga dikenal masih menjaga tradisi dan budaya lokal. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan adalah upacara adat Menyimah Kampung, yaitu tradisi masyarakat Melayu yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, dan ketenteraman bagi seluruh warga desa. Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat dan terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang oleh perkembangan zaman. Dalam perjalanan sejarahnya, tidak terdapat catatan mengenai peristiwa besar seperti peperangan, konflik sosial berskala luas, maupun bencana alam besar yang pernah melanda Desa Dusun Tua Pelang. Peristiwa yang paling bersejarah bagi masyarakat adalah pemekaran desa pada tahun 2006, karena menjadi awal terbentuknya pemerintahan desa yang mandiri. Selain itu, berbagai kegiatan pembangunan, pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat, serta penyelenggaraan kegiatan budaya dan olahraga tradisional seperti Pacu Sampan Mini menjadi bagian dari sejarah perkembangan desa hingga saat ini. Saat ini Desa Dusun Tua Pelang terus berkembang dengan mengedepankan pembangunan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pelestarian adat dan budaya. Semangat kebersamaan, gotong royong, dan partisipasi masyarakat menjadi kekuatan utama dalam membangun desa agar semakin maju, mandiri, dan sejahtera. HAM DAN DEMOKRASI DI DESA DUSUN TUA PELANG Pelaksanaan HAM dan demokrasi di Desa Dusun Tua Pelang, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu telah berjalan dengan cukup baik. Masyarakat memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, mengikuti musyawarah desa, serta berpartisipasi dalam kegiatan pemerintahan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pelaksanaan demokrasi dapat dilihat dari keikutsertaan masyarakat dalam Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Warga menggunakan hak pilihnya secara langsung untuk menentukan pemimpin yang dianggap mampu memajukan desa. Selain itu, pemerintah desa juga melaksanakan Musyawarah Desa (Musdes) yang melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan warga dalam menyusun serta menentukan program pembangunan desa. Secara umum, pelaksanaan demokrasi di Desa Dusun Tua Pelang berlangsung dengan aman, tertib, dan kondusif. Hingga saat ini tidak terdapat catatan resmi mengenai pelanggaran HAM yang berat maupun konflik besar dalam pelaksanaan Pemilu atau Pilkades. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu menjaga persatuan, menghormati perbedaan pilihan, dan mendukung terciptanya kehidupan yang demokratis. ie35u62s189bgu0ot3nximws6yj265z Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Desa Rimpian Lubuk Batu Jaya 0 27750 117346 2026-07-03T13:04:48Z Foraselfia 43493 ←Membuat halaman berisi 'Desa Rimpian merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kecamatan Lubuk Batu Jaya sendiri terdiri dari beberapa desa, di antaranya Desa Rimpian, Lubuk Batu Tinggal, Air Putih, Kulim Jaya, Sei Beras-Beras, Sei Beberas Hilir, Pondok Gelugur, Tasik Juang, dan Pontian Mekar. Sebagian besar masyarakat di wilayah ini bekerja sebagai petani dan pekebun, terutama di sektor perkebunan kelapa sawit dan karet...' 117346 wikitext text/x-wiki Desa Rimpian merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kecamatan Lubuk Batu Jaya sendiri terdiri dari beberapa desa, di antaranya Desa Rimpian, Lubuk Batu Tinggal, Air Putih, Kulim Jaya, Sei Beras-Beras, Sei Beberas Hilir, Pondok Gelugur, Tasik Juang, dan Pontian Mekar. Sebagian besar masyarakat di wilayah ini bekerja sebagai petani dan pekebun, terutama di sektor perkebunan kelapa sawit dan karet. Desa Rimpian memiliki letak yang cukup strategis karena berada di jalur penghubung antarwilayah di Kecamatan Lubuk Batu Jaya. Selain sektor pertanian dan perkebunan, perkembangan ekonomi masyarakat juga didukung oleh keberadaan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit. Salah satu perusahaan yang beroperasi di Desa Rimpian adalah PT Sanling Sawit Sejahtera (PT SSS) yang memiliki Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Kehadiran pabrik ini membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta mendorong perkembangan usaha kecil seperti warung, jasa transportasi, dan perdagangan hasil perkebunan. Perusahaan juga pernah melaksanakan program tanggung jawab sosial (CSR), seperti perbaikan jalan, pembangunan jembatan, bantuan sembako, dan kegiatan sosial lainnya bagi masyarakat. Namun, keberadaan pabrik tersebut juga pernah menjadi perhatian masyarakat. Pada tahun 2020–2021 sempat terjadi perbedaan pendapat terkait pembangunan dan operasional PKS PT SSS. Sebagian masyarakat mendukung karena memberikan kesempatan kerja dan meningkatkan perekonomian, sementara sebagian lainnya menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak lingkungan, terutama terhadap kualitas air sungai dan pengelolaan limbah. Persoalan tersebut kemudian menjadi pembahasan bersama antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak perusahaan. Selain itu, Kecamatan Lubuk Batu Jaya juga pernah mengalami bencana banjir. Curah hujan yang tinggi menyebabkan beberapa desa, termasuk wilayah di Kecamatan Lubuk Batu Jaya, terendam banjir sehingga mengganggu aktivitas masyarakat, merusak akses jalan, bahkan menyebabkan beberapa jembatan rusak. Pemerintah kecamatan bersama masyarakat melakukan penanganan darurat dan membantu warga yang terdampak. Di Desa Rimpian juga pernah terjadi peristiwa banjir yang menggenangi puluhan hektare lahan perkebunan masyarakat akibat penyekatan aliran anak sungai. Peristiwa tersebut mengakibatkan sebagian warga gagal panen dan mengalami kerugian ekonomi. Masalah ini kemudian mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mencari penyelesaian. Selain itu, pada tahun 2023 pemerintah daerah membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Desa Rimpian sebagai salah satu upaya menyediakan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat. Pembangunan ini diharapkan dapat menjadi sarana rekreasi, olahraga, dan kegiatan sosial warga. Secara umum, Kecamatan Lubuk Batu Jaya merupakan wilayah yang terus berkembang, terutama pada sektor perkebunan kelapa sawit. Meskipun pernah menghadapi berbagai tantangan seperti banjir, persoalan lingkungan, dan konflik lahan di beberapa wilayah kecamatan, masyarakat tetap berupaya menjaga pembangunan daerah melalui kerja sama dengan pemerintah dan dunia usaha agar perekonomian serta kesejahteraan masyarakat terus meningkat. HAM DAN DEMOKRASI DIDESA RIMPIAN Pelaksanaan demokrasi di Desa Rimpian dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pemilihan umum, seperti Pemilihan Presiden, Pemilihan Legislatif, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), serta Pemilihan Kepala Desa. Masyarakat diberikan hak yang sama untuk memilih dan menentukan pemimpin sesuai dengan hati nurani mereka tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Hal ini menunjukkan bahwa prinsip demokrasi dan hak asasi manusia telah diterapkan dalam kehidupan masyarakat desa. Pada setiap pelaksanaan pemilu maupun pemilihan kepala desa, masyarakat Desa Rimpian umumnya menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Warga datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hak pilihnya sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan daerah dan negara. Proses pemungutan suara dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain melalui pemilihan umum, nilai-nilai demokrasi juga diterapkan dalam musyawarah desa. Berbagai keputusan yang berkaitan dengan pembangunan, perbaikan fasilitas umum, dan program desa biasanya dibahas melalui musyawarah yang melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga. Dengan adanya musyawarah tersebut, masyarakat dapat menyampaikan pendapat, usulan, maupun kritik secara terbuka demi kemajuan Desa Rimpian. Secara umum, pelaksanaan demokrasi di Desa Rimpian berjalan dengan baik. Masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik dan pemerintahan desa, sehingga hak-hak warga negara dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan prinsip demokrasi dan HAM. 198x3ctipinqfobihyxe9d5roulhd5e