Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.9
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Harvest Moon:Back To Nature/Kalender
0
8422
117348
117275
2026-07-03T23:04:45Z
~2026-36231-94
43450
/* Musim Panas */
117348
wikitext
text/x-wiki
==Musim Semi==
{| class="wikitable"
|-
! Tanggal !! Acara
|-
| 1 || New Year Festival
|-
| 2 || Louis (madu,roti)
|-
| 4 || Bold (ungu) tepung
|-
| 8 || Goddess Festival
|-
| 11 || Saibara (ikan besar,rebung)
|-
| 14 || Thanksgiving Festival
|-
| 15 || Staid (biru tua) tepung
|-
| 16 || Elli (semua bunga)
|-
| 17 || Barley (telur spa)
|-
| 18 || Local Horse Festival
|-
| 19 || Lillia (turbojolt)
|-
| 22 || Cooking Festival
|-
| 26 || Aqua (biru muda) tepung
|-
| 29 || Greg (ikan besar)
|-
| 30 || Sasha- karen mom(coklat,cookies)
|}
==Musim Panas==
{| class="wikitable"
|-
! Tanggal !! Acara
|-
| 1 || Swimming Festival
|-
| 3 || Popuri (telur spa,cokelat)
|-
| 4 || Harris-police (telur spa,turbojolt)
|-
| 6 || Cliff (apel,jus sayur)
|-
| 7 || Chicken Sumo Festival
|-
| 11 || Basil (telur spa,jamur)
|-
| 12 || Tomato Fight Festival
|-
| 16 || Timid (hijau) tepung
|-
| 17 || Ann (telur spa,cokelat)
|-
| 20 || Cow Festival
|-
| 22 || Kai (wine,minyak goreng)
|-
| 24 || Fireworks Festival
|-
| 25 || Walikota Thomas (truffle,wine)
|-
| 29 || Zack (wine)
|}
==Musim Gugur==
{| class="wikitable"
|-
! Tanggal !! Acara
|-
| 2 || Gotz (telur,susu)
|-
| 3 || Music Festival
|-
| 5 || Stu (madu , ice cream)
|-
| 9 || Harvest Festival
|-
| 10 || Hoggy (kuning)
|-
| 11 || Manna (madu,jus sayur)
|-
| 13 || Moon Festival
|-
| 14 || Chef (merah)
|-
| 15 || Karen (wine,popcorn)
|-
| 17 || Doctor (jamur beracun,telur spa)
|-
| 20 || Carter (wine)
|-
| 21 || Sheep Festival
|-
| 23 || Anna mary's mom (flower)
|-
| 27 || Rick (telur spa,madu)
|}
==Musim Dingin==
{| class="wikitable"
|-
! Tanggal !! Acara
|-1 tanya kepada nenek elli 2 kali terus ke puncak gunung jam 6 sore melihat bunga ke bahgiaan dan ke nenek eli dan papanya mery
| 2 || Kano (madu,wine)
|-
| 6 || Grey (biji tambang,es krim)
|-
| 10 || Dog Race Festival
|-
| 11 || Doug (madu,wine)
|-
| 13 || Ellen (flower,yarn ball)
|-
| 14 || Admirer Thanksgiving Festival
|-
| 15 || Duke (telur spa,wine)
|-
| 19 || Won (ikan)
|-
| 20 || Mary (rebung,jamur)
|-
| 22 || Nappy (oren)
|-
| 24 || Star Night Festival
|-
| 26 || May (madu,es krim)
|-
| 29 || Jeff (bodigizer,turbojolt)
|-
| 30 || New Year Eve Festival
paikgywdge0i4n8ld3m7n5autvbxhwn
Pemrograman HTML/Komentar
0
16662
117352
96170
2026-07-04T09:06:01Z
~2026-37944-31
43500
/* */
117352
wikitext
text/x-wiki
GANTENG CANTIK JAKARTA 0895 2483 7937 JASA MENCARIKAN CINTA KHUSUS WAJAH GANTENG CANTIK SAJA BER IJIN NO NPWP NEGARA
== Sintaks ==
<source lang="html">
<!-- Ini adalah contoh dari tag komentar yang saya buat -->
<!-- tag komentar kedua -->
<p>Halo Dunia, Ini adalah kode saya</p>
<!-- Isi kalimat yang anda tulis dalam tag komentar tidak akan muncul pada halaman web->
</source>
Perlu juga menjadi catatan bahwa walaupun komentar tidak ditampilkan pada web browser, tetapi seseorang masih bisa membaca komentar tersebut dengan cara melihat source halaman HTML. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak menambahkan komentar yang sensitif atau bersifat rahasia, seperti username atau password.
[[Kategori:Pemrograman HTML]]
<P>hallo semua,saya dengan nama 8360,ini kode saya</p>
d53g5f7c8jxokwlme4bmgbatoylc0mu
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hulu Rengat Riau
0
27035
117343
117302
2026-07-03T12:12:05Z
NindiAstt
43491
/* Daftar Isi */
117343
wikitext
text/x-wiki
'''Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Sekip hulu Rengat,Riau adalah sebuah Proyek (Proma) Mahasiswa berupa kajian empiris yang dilakukan oleh Dosen Pengampu Matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada Institut Teknologi dan Bisnis Indragiri, Hendri. S, MA bersama dengan mahasiswa yang mengikuti matakuliah dimaksud tahun 2026 pada Program Studi S1 Agribisnis, S1 Kebidananan dan S1 Teknik Sipil.
Mahasiswa merekam dan menuliskan secara singkat dan padat data dan fakta yang terdapat di desa Promanya masing-masing, sesuai silabus/Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang diturunkan Dosen Pengampu. Perbaikan informasi (terkadang juga EYD kalimat) dilakukan oleh Dosen Pengampu.
Sekip Hulu merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Wilayah ini berbatasan langsung dengan area pusat perkotaan Rengat—yang juga merupakan kota tertua di Riau—serta berada di dekat kawasan Pasar Kota Rengat dan Jalan Haji Agus Salim.
Fasilitas Umum & Ruang Terbuka: Terdapat area Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Rengat yang berlokasi di Jalan H. Agus Salim.Pemerintahan: Kelurahan Sekip Hulu memiliki kantor lurah tersendiri yang melayani berbagai administrasi publik bagi warga setempat.Batas Wilayah: Bersama dengan Kelurahan Sekip Hilir, daerah ini merupakan hasil pemekaran dari Kelurahan Sekip pada tahun 1960 akibat pertambahan jumlah penduduk.
Banjir jadi tempat wisata dadakan di Indragiri hulu Riau (25/12/2023)
orang-orang yang datang bukan hanya warga setempat, tetapi juga ada warga dari luar kedua desa tersebut. Melihat ramainya warga yang wisata ke lokasi banjir, Banjir besar yang melanda wilayah Kabupaten Indragiri Hulu, termasuk Kelurahan Sekip Hulu (Kecamatan Rengat), terjadi pada akhir Desember 2023 akibat tingginya intensitas curah hujan dan luapan Sungai Indragiri. Bencana ini merendam puluhan desa, memaksa ratusan warga mengungsi, dan memicu berbagai penyakit pascabanjir. Waktu Kejadian: Bencana banjir mulai meluas sejak tanggal 22 Desember 2023 dan terus meluas ke berbagai kecamatan hingga akhir tahun.Lokasi Terdampak: Kelurahan Sekip Hulu dan wilayah sekitarnya di Kecamatan Rengat terdampak banjir luapan yang merendam akses jalan dan permukiman. Secara total, sebanyak 86 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu (termasuk Rengat Barat) terendam.Dampak Kerusakan & Korban: Ratusan kepala keluarga terdampak, fasilitas umum seperti sekolah mengalami kerusakan, dan kerugian material cukup signifikan karena rumah terendam.Penanganan Darurat: Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu yang dipimpin oleh Bupati Rezita Meylani Yopi melakukan peninjauan dan penyaluran bantuan, sementara posko kesehatan disiagakan mengingat warga mulai terserang penyakit seperti gatal-gatal dan ISPA.
== Pendahuluan ==
Sesuai Undang-Undang No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<ref>https://pusmendik.kemdikbud.go.id/pdf/file-154</ref>
Dari defenisi pendidikan tersebut dapat diketahui bahwa dalam proses pendidikan terdapat dua aspek, yaitu pendidikan dan pengajaran. Pendidikan akan menghasilkan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, dan akhlak mulia. Sedangkan pengajaran akan menghasilkan kecerdasan dan keterampilan.
Kata Kewarganegaraan, adalah kata benda yang diberi imbukan ke dan akhiran an, sehingga maknanya berobah menjadi kumpulan sifat-sifat.
Kata dasarnya adalah warga dan negara.. Warga mengandung arti peserta, anggota<ref>https://brainly.co.id/tugas/3405045</ref> atau member dari suatu organisasi atau komunitas yang terikat dengan aturan (termasuk tujuan organisasi tersebut).
Istilah "negara" berasal dari bahasa Sanskerta yaitu ''nagari'' atau ''nagara'' yang berarti wilayah, kota, atau penguasa. Ilmuwan politik modern mendefinisikan negara sebagai suatu organisasi terbesar dan tertinggi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.<ref>https://papuapegunungan.kpu.go.id/blog/read/2851_negara-adalah-pengertian-unsur-dan-fungsinya</ref>
Jadi, warga negara arinya individu dari masyarakat suatu negara yang patuh terhadap aturan hukum dan norma-norma yang berlaku dalam negara tersebut.
DAS Indragiri adalah kawasan yang menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Indragiri. Wilayahnya meliputi tiga kabupaten di Riau saat ini, yaitu Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Indragiri Hulir dan Kabupaten Kuantan Singingi. Batas wilayahnya adalah bagian Selatan dengan Provinsi Jambi, Sebelah Barat berbatasan dengan Kab. Sawahlunto-Sijunjung (Sumatera Barat). Bagian Utara berbatasan Kabupaten Kampar (Riau) dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Berhala.<ref>Ahmad Yusuf <u>dkk</u>., ''Sejarah Kesultanan Inderagiri, Unri Press, Pekanbaru, 2003.''</ref>
Ciri khas DAS Indragiri adalah; di sebelah Timur berawa-rawa dan sebelah Barat berbukit-bukit.Wiayahnya dibelah oleh Sungai Indragiri, hulunya di Danau Singkarak bernama Batang Ombilin, memasuki Riau, sungai ini bernama Batang Kuantan, dan memasuki wilayah Sei. Lalak (Kab. Indragiri Hulu) bernama Sungai Indragiri, hingga bermuara di laut, di kawasan Kab. Indragiri Hilir. Penduduk yang mendiami DAS Indragiri mayoritas etnis Melayu dengan kebudayaan Melayu Indragiri.
== Referensi ==
<references />
== Daftar Isi ==
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Air Putih Lubuk Batu Jaya|Aiir Putih Lubuk Batu Jaya]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Aur Cina Batang Cenaku|Aur Cina Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Batu Sawar Kelayang|Batu Sawar Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bayas Jaya Kempas|Bayas Jaya Kempas]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bongkal Malang Kelayang|Bongkal Malang Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Kelayang|Dusun Tua Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Kota Rengat|Kampung Besar Kota Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Seberang Rengat|Kampung Besar Seberang Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Dagang Rengat|Kampung Dagang Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Pulau Rengat|Kampung Pulau Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Keloyang Rakit Kulim|Keloyang Rakit Kulim]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Gading Batang Cenaku|Kuala Gading Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Kilan Batang Cenaku|Kuala Kilan Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Babu Rengat|Kuantan Babu Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Tenang Rakit Kulim|Kuantan Tenang Rakit Kulim]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kulam Loyang Rakit Kulim|Kulam Loyang Rakit Kulim]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Lubuk Cabau V Koto|Lubuk Cabau V Koto]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kelampaian Sei. Lala|Pasir Kelampaian Sei. Lala]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kemilu Rengat|Pasir Kemilu Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Ringgit Lirik|Pasir Ringgit Lirik]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pelangko Kelayang|Pelangko Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Manggis|Pematang Manggis]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Reba|Pematang Reba]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Petaling Jaya Batang Cenaku|Petaling Jaya Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rantau Mapesai|Rantau Mapesai]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Redang Seko Lirik|Redang Seko Lirik]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Bangun Rengat|Rawa Bangun Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Sekip Rengat|Rawa Sekip Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rumbai Jaya Tempuling|Rumbai Jaya Tempuling]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hilir Rengat|Sekip Hilir Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hulu Rengat|Sekip Hulu Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Seresam Seberida|Seresam Seberida]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Siambul Batang Gansal|Siambul Batang Gansal]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri / Simpang Kota Medan|Simpang Kota Medan]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Banyak Ikan Kelayang|Sungai Banyak Ikan Kelayang]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Baung Rengat Barat|Sungai Baung Rengat Barat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Beringin Rengat|Sungai Beringin Rengat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Dawu Rengat Barat|Sungai Dawu Rengat Barat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Parit Sei Lala|Sungai Parit Sei Lala]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Raya Rengat|Sungai Raya Rengat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Sagu Lirik|Sungai Sagu Lirik]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tanah Datar Rengat Barat|Tanah Datar Rengat Barat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tembilahan|Tembilahan]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Desa Teluk Kabung|Desa Teluk Kabung]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Pelang Kelayang]]
[[Kategori:Pendidikan Kewarganegaraan]]
[[Kategori:Kebudayaan Melayu indragiri]]
kxhl1q0pzb9bs5bv4iq041mjr0ntl2v
117345
117343
2026-07-03T13:02:36Z
Foraselfia
43493
/* Daftar Isi */
117345
wikitext
text/x-wiki
'''Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Sekip hulu Rengat,Riau adalah sebuah Proyek (Proma) Mahasiswa berupa kajian empiris yang dilakukan oleh Dosen Pengampu Matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada Institut Teknologi dan Bisnis Indragiri, Hendri. S, MA bersama dengan mahasiswa yang mengikuti matakuliah dimaksud tahun 2026 pada Program Studi S1 Agribisnis, S1 Kebidananan dan S1 Teknik Sipil.
Mahasiswa merekam dan menuliskan secara singkat dan padat data dan fakta yang terdapat di desa Promanya masing-masing, sesuai silabus/Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang diturunkan Dosen Pengampu. Perbaikan informasi (terkadang juga EYD kalimat) dilakukan oleh Dosen Pengampu.
Sekip Hulu merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Wilayah ini berbatasan langsung dengan area pusat perkotaan Rengat—yang juga merupakan kota tertua di Riau—serta berada di dekat kawasan Pasar Kota Rengat dan Jalan Haji Agus Salim.
Fasilitas Umum & Ruang Terbuka: Terdapat area Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Rengat yang berlokasi di Jalan H. Agus Salim.Pemerintahan: Kelurahan Sekip Hulu memiliki kantor lurah tersendiri yang melayani berbagai administrasi publik bagi warga setempat.Batas Wilayah: Bersama dengan Kelurahan Sekip Hilir, daerah ini merupakan hasil pemekaran dari Kelurahan Sekip pada tahun 1960 akibat pertambahan jumlah penduduk.
Banjir jadi tempat wisata dadakan di Indragiri hulu Riau (25/12/2023)
orang-orang yang datang bukan hanya warga setempat, tetapi juga ada warga dari luar kedua desa tersebut. Melihat ramainya warga yang wisata ke lokasi banjir, Banjir besar yang melanda wilayah Kabupaten Indragiri Hulu, termasuk Kelurahan Sekip Hulu (Kecamatan Rengat), terjadi pada akhir Desember 2023 akibat tingginya intensitas curah hujan dan luapan Sungai Indragiri. Bencana ini merendam puluhan desa, memaksa ratusan warga mengungsi, dan memicu berbagai penyakit pascabanjir. Waktu Kejadian: Bencana banjir mulai meluas sejak tanggal 22 Desember 2023 dan terus meluas ke berbagai kecamatan hingga akhir tahun.Lokasi Terdampak: Kelurahan Sekip Hulu dan wilayah sekitarnya di Kecamatan Rengat terdampak banjir luapan yang merendam akses jalan dan permukiman. Secara total, sebanyak 86 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu (termasuk Rengat Barat) terendam.Dampak Kerusakan & Korban: Ratusan kepala keluarga terdampak, fasilitas umum seperti sekolah mengalami kerusakan, dan kerugian material cukup signifikan karena rumah terendam.Penanganan Darurat: Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu yang dipimpin oleh Bupati Rezita Meylani Yopi melakukan peninjauan dan penyaluran bantuan, sementara posko kesehatan disiagakan mengingat warga mulai terserang penyakit seperti gatal-gatal dan ISPA.
== Pendahuluan ==
Sesuai Undang-Undang No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.<ref>https://pusmendik.kemdikbud.go.id/pdf/file-154</ref>
Dari defenisi pendidikan tersebut dapat diketahui bahwa dalam proses pendidikan terdapat dua aspek, yaitu pendidikan dan pengajaran. Pendidikan akan menghasilkan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, dan akhlak mulia. Sedangkan pengajaran akan menghasilkan kecerdasan dan keterampilan.
Kata Kewarganegaraan, adalah kata benda yang diberi imbukan ke dan akhiran an, sehingga maknanya berobah menjadi kumpulan sifat-sifat.
Kata dasarnya adalah warga dan negara.. Warga mengandung arti peserta, anggota<ref>https://brainly.co.id/tugas/3405045</ref> atau member dari suatu organisasi atau komunitas yang terikat dengan aturan (termasuk tujuan organisasi tersebut).
Istilah "negara" berasal dari bahasa Sanskerta yaitu ''nagari'' atau ''nagara'' yang berarti wilayah, kota, atau penguasa. Ilmuwan politik modern mendefinisikan negara sebagai suatu organisasi terbesar dan tertinggi dalam suatu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.<ref>https://papuapegunungan.kpu.go.id/blog/read/2851_negara-adalah-pengertian-unsur-dan-fungsinya</ref>
Jadi, warga negara arinya individu dari masyarakat suatu negara yang patuh terhadap aturan hukum dan norma-norma yang berlaku dalam negara tersebut.
DAS Indragiri adalah kawasan yang menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Indragiri. Wilayahnya meliputi tiga kabupaten di Riau saat ini, yaitu Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Indragiri Hulir dan Kabupaten Kuantan Singingi. Batas wilayahnya adalah bagian Selatan dengan Provinsi Jambi, Sebelah Barat berbatasan dengan Kab. Sawahlunto-Sijunjung (Sumatera Barat). Bagian Utara berbatasan Kabupaten Kampar (Riau) dan sebelah Timur berbatasan dengan Selat Berhala.<ref>Ahmad Yusuf <u>dkk</u>., ''Sejarah Kesultanan Inderagiri, Unri Press, Pekanbaru, 2003.''</ref>
Ciri khas DAS Indragiri adalah; di sebelah Timur berawa-rawa dan sebelah Barat berbukit-bukit.Wiayahnya dibelah oleh Sungai Indragiri, hulunya di Danau Singkarak bernama Batang Ombilin, memasuki Riau, sungai ini bernama Batang Kuantan, dan memasuki wilayah Sei. Lalak (Kab. Indragiri Hulu) bernama Sungai Indragiri, hingga bermuara di laut, di kawasan Kab. Indragiri Hilir. Penduduk yang mendiami DAS Indragiri mayoritas etnis Melayu dengan kebudayaan Melayu Indragiri.
== Referensi ==
<references />
== Daftar Isi ==
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Air Putih Lubuk Batu Jaya|Aiir Putih Lubuk Batu Jaya]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Aur Cina Batang Cenaku|Aur Cina Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Batu Sawar Kelayang|Batu Sawar Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bayas Jaya Kempas|Bayas Jaya Kempas]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Bongkal Malang Kelayang|Bongkal Malang Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Kelayang|Dusun Tua Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Kota Rengat|Kampung Besar Kota Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Besar Seberang Rengat|Kampung Besar Seberang Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Dagang Rengat|Kampung Dagang Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kampung Pulau Rengat|Kampung Pulau Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Keloyang Rakit Kulim|Keloyang Rakit Kulim]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Gading Batang Cenaku|Kuala Gading Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuala Kilan Batang Cenaku|Kuala Kilan Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Babu Rengat|Kuantan Babu Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kuantan Tenang Rakit Kulim|Kuantan Tenang Rakit Kulim]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Kulam Loyang Rakit Kulim|Kulam Loyang Rakit Kulim]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Lubuk Cabau V Koto|Lubuk Cabau V Koto]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kelampaian Sei. Lala|Pasir Kelampaian Sei. Lala]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Kemilu Rengat|Pasir Kemilu Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pasir Ringgit Lirik|Pasir Ringgit Lirik]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pelangko Kelayang|Pelangko Kelayang]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Manggis|Pematang Manggis]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Pematang Reba|Pematang Reba]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Petaling Jaya Batang Cenaku|Petaling Jaya Batang Cenaku]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rantau Mapesai|Rantau Mapesai]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Redang Seko Lirik|Redang Seko Lirik]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Bangun Rengat|Rawa Bangun Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rawa Sekip Rengat|Rawa Sekip Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Rumbai Jaya Tempuling|Rumbai Jaya Tempuling]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hilir Rengat|Sekip Hilir Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sekip Hulu Rengat|Sekip Hulu Rengat]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Seresam Seberida|Seresam Seberida]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Siambul Batang Gansal|Siambul Batang Gansal]]
*[[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri / Simpang Kota Medan|Simpang Kota Medan]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Banyak Ikan Kelayang|Sungai Banyak Ikan Kelayang]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Baung Rengat Barat|Sungai Baung Rengat Barat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Beringin Rengat|Sungai Beringin Rengat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Dawu Rengat Barat|Sungai Dawu Rengat Barat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Parit Sei Lala|Sungai Parit Sei Lala]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Raya Rengat|Sungai Raya Rengat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Sagu Lirik|Sungai Sagu Lirik]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tanah Datar Rengat Barat|Tanah Datar Rengat Barat]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Tembilahan|Tembilahan]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Desa Teluk Kabung|Desa Teluk Kabung]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Pelang Kelayang]]
* [[Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Desa Rimpian Lubuk Batu Jaya]]
[[Kategori:Pendidikan Kewarganegaraan]]
[[Kategori:Kebudayaan Melayu indragiri]]
krrnfvhcp9hn9okzy3lhvuibwej9v6n
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Kelayang
0
27065
117342
117341
2026-07-03T12:00:46Z
NindiAstt
43491
/* */
117342
wikitext
text/x-wiki
'''Dusun Tua''' adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Kelayang pada Kabupaten Indragiri Hulu di Provinsi Riau.
Biografi / Sejarah Singkat Desa Dusun Tua
Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu.
Desa Dusun Tua merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia. Desa ini memiliki luas wilayah sekitar 6,2 km² dengan jumlah penduduk sekitar 798 jiwa.
1. Asal-usul Desa
Nama Dusun Tua berasal dari pemukiman lama masyarakat Melayu yang sudah ada sejak dahulu. Desa ini berkembang dari sebuah perkampungan kecil yang dihuni oleh masyarakat yang hidup dari hasil alam seperti bertani, berkebun, dan mencari ikan di sungai. Lingkungan alam yang dekat dengan sungai membuat masyarakatnya sejak dahulu banyak bergantung pada sumber daya alam sekitar.
2. Kondisi Wilayah dan Masyarakat
Mayoritas masyarakat Desa Dusun Tua bekerja sebagai petani, pedagang kecil, dan nelayan sungai. Kehidupan sosial masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, kebersamaan, dan musyawarah dalam kehidupan sehari-hari.
3. Pembagian Wilayah Desa
Secara administratif, Desa Dusun Tua terdiri dari 4 dusun, yaitu:
1. Dusun Pulau Sarap / Pulau Harapan
2. Dusun Pulau Tengah
3. Dusun Pulau Sialang
4. Dusun Kasang Solobuai
4. Budaya dan Tradisi
Di desa ini terdapat tradisi masyarakat seperti ritual menyimah kampung, yaitu upacara adat yang dilakukan sebagai bentuk doa dan harapan agar kampung selalu aman, makmur, dan terhindar dari gangguan. Ritual ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antar masyarakat.
5. Perkembangan Desa
Saat ini Desa Dusun Tua terus berkembang melalui berbagai program pembangunan desa, seperti pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan pelayanan sosial yang direncanakan melalui musyawarah desa bersama masyarakat.
Kesimpulan:
Desa Dusun Tua adalah desa di Kecamatan Kelayang yang memiliki sejarah panjang sebagai perkampungan masyarakat Melayu. Kehidupan masyarakatnya masih kental dengan budaya gotong royong dan adat istiadat, serta sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan hasil alam.
[[Kategori:Pendidikan Kewarganegaraan]]
[[Kategori:Kebudayaan Melayu indragiri]]
laom1ds80kf9qz0lps94wljbger9hi5
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Baung Rengat Barat
0
27096
117353
117286
2026-07-04T09:22:32Z
Lola Nurul
42724
Kejadian yang pernah terjadi di desa proma
117353
wikitext
text/x-wiki
Sungai Baung adalah sebuah desa yang terletak dalam wilayah Kecamatan Rengat Barat di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.
Kejadian yang pernah terjadi di desa sungai baung yaitu kebakaran rumah pada 1 Agustus 2021,kronologinya pada saat itu sebuah rumah non-permanen di RT 005 RW 004 Dusun Titian tinggi,Desa sungai Baung,ludes terbakar akibat tumpahan pertalite,yang menyebabkan pemilik rumah meninggal dunia.pada saat itu masyarakat setempat sangat panik dan prihatin atas kejadian tersebut, setelah kejadian itu membuat masyarakat waspada terhadap tumpahan pertalite.sebagian besar generasi muda di desa sungai baung mengetahui hal tersebut dari cerita orang tua dan warga sekitar,ada juga yang mengetahui dari kabar yang tersebar di lingkungan desa.dari kejadian itu,generasi muda menjadi lebih memahami pentingnya berhati-hati dan waspada terhadap bahaya kebakaran.
7eqwfo39ycoxcxr2q7afmpugyzcgk88
Pengguna:Sajak Puisi
2
27748
117349
117339
2026-07-04T01:07:03Z
Sajak Puisi
43496
/* */
117349
wikitext
text/x-wiki
PUISI-PUISI
KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA
LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026)
Agung Gema masih mengembara
Sambil bergelayutan di hutan kata-kata
Lalu mencium aroma nektar madu lebah
dari singgasana kursi kejujuran
Kebenaran adalah pangeran tersembunyi
di lubuk lembah terdalam hati nurani
Kini setelah zaman berganti
Ia mesti berdaya berani berjaya
Memakai mahkota keadilan
demi mewujudkan kesejahteraan
yang merata bagi umat manusia
PUISI SATU
(Makna Puisi)
Puisi adalah mantra ajaib
Dari intuisi sakral yang gaib
Pesona bahasa penuh perbawa
Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia
Alam berkelana pada pijaran
Sinar-sinar ruhani gemerlapan
Biarlah emosional itu terlibat
Dalam frasa rangkaian tersurat
Fantasi gairah mimpi keramat
Kan membuka tabir yang tersirat
PUISI DARI TANAH BANDUNG
Bagai danau, bunga dan bukitan
Aku catat setiap kejadian
Dari mantra-mantra ajaib
Kemungkinan dan sikap kearifan
Puisi dari tanah Bandung
Adalah visi misi semesta raya
Penjaga generasi masa datang
Penyejuk gelombang zaman
Keharmonisan ucap, kata, alam
Menjadi bahasa penuh makna
Air mengalirkan semangat
Restu kebajikan keramat
Halus berbudi
Cermin bagi jendela hati
AKU BANGGA DI INDONESIA
Setelah umur empat puluh tahun
Harus kunyatakan dengan jujur
Agar aku mujur dan makmur
Terpilih sebagai orang bersyukur
Aku bangga di Indonesia
Matahari terbit di atas kepala
Sinarnya sejuk menyegarkan mata
Angin mengalir tenang perlahan
Membawa wangi bunga kemboja
Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan
Apakah dinamakan bekerja
Jika berada di perusahaan asing ?
Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas
Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”!
Apakah tidak lebih baik
bangga dengan kemampuan diri
ketika seseorang bisa memanfaatkannya
untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara?
Juga memiliki sekaligus berbagi waktu
untuk berbagai keperluan?
Hidup adalah pilihan
Angin dan air tumpang tindih
menjadi banjir.
Membawa kayu kegolondongan,
biji emas dan nikel.
Memoles batu akik berwarna hijau
Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa
Menyuguhkan harum cendana.
Aku tidak ingin ke luar negeri
Sudah kutetapkan di sini
Menikmati suka duka bersama mimpi
Meski dihina dicaci
Hanya karena serabutan
Hihi bukan persoalan
Karena aku cinta negeri ini
Setiap saat kuingat
Aku berdoa dalam sunyi
Semoga keadilan merata
Semangat kebangsaan tumbuh
Negeri damai tenteram
Rakyatnya sehat
Pusakanya keramat
Aku berharap bisa mencerdaskan
Kehidupan bangsa
Bersikap patriotik tidak harus berpolitik
Aku punya karya
Meski tidak seterkenal Shakespeare
Chairil Anwar atau Rendra
Tapi aku bisa menunjukkan diriku
Dengan sebuah catatan pemikiran
Aku lulusan bahasa dan sastra
Sebagai sarjana
Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja
Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi
Lebih dekat dengan Indonesia
Dengan bahasa, sastra dan budaya
Di luar itu
Aku mempelajari musik, filsafat,
agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik
perjimatan, keajaiban matematika, mantik,
dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran
ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari
Akhirnya semua kusatukan
dalam karya puisiku
“Julukanku perpustakaan berjalan”
Kurang pas tapi mengagetkanku
Aku punya banyak murid
Formal maupun informal
Mereka mau tidak mau mengakui
Pengetahuannya dari pengetahuanku
Dan aku tidak perlu gaji untuk itu
karena seorang guru adalah pengabdian.
memberi kesegaran bagi masa depan.
Kendaraanku cukup
Dari hasil mengamen
Aku bisa membeli rumah
Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari.
Aku punya kebun cukup luas
tiga puluh enam tumbak
Ya dari hasil jual rongsokan
Aku tidak pernah mencicil apapun
Sampai saat puisi ini kamu baca
Tidak juga kekurangan uang
Dan jauh dari hutang ke bank
Malahan membayari seseorang
yang memiliki hutang
Haha terkadang aku tertawa
Sambil terharu
Siapa aku?
Aku cuma rindu wanitaku.
Itu naluriah
Seorang lelaki mencintai dan dicintai
Kerinduanku berkarat disiram rembulan
Hidup adalah perjalanan
Hidup adalah persinggahan
Siapa orang yang tidak terberkati
Dengan adanya diriku
Bukan memuji diri
Ini adalah klarifikasi
Maaf pernyataanku lucu-lucuan
Berharap bisa memberi kesan
Pertimbangan untuk ke depan
Anak aku sekolahkan
Aku benci pungli bila terjadi
Anak yatim cukup kubiayai
Para janda masih sanggup kuhidupi
Aku masih bisa meminjamkan uang
Tanpa bunga tanpa anggunan
Entah mungkin nanti
Sampai saat puisi ini kutulis
Pagi di Indonesia penuh canda
Kehangatan dan paradoks nya jiwa
kurasakan menjadi bahan kajian
Dan kita mesti belajar berlapang dada
Aku paham di zaman sekarang
Bekerja kantoran adalah kebanggaan
Tapi tidak bagi diriku
Kita bisa berbeda itulah keberagaman
Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai
Ketimbang sikap ksatria
Ya ya hidup hedon sedikit nakal
Atau berfoya-foya adalah keberhasilan
Penilaian tergantung gaya hidup
Biarpun berat sanubari melarat
Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan
terlihat keluarga atau tetangga
Itulah yang kutangkap dari sisi lain
Yang lain dengan pandanganku
Aku bangga di Indonesia
Biarpun belum bisa membanggakan
Bukan pula kebanggan
NEGERI YANG ANEH
Di balik galaksi bima sakti
Ada secarik tulisan
“Negeri yang aneh
Puisi pun dibatasi
oleh modal dan pandangan pribadi
Disesuaikan dengan keinginan
para oligarki
Menolak keindahan persepsi
Berarti menidurkan daya sejati
dari kreatifitas perasaan
anugrah Tuhan
Jika dipilih dipilah
Seperti ikan asin, cumi, udang
Di beli dapat hasil beli
Di kursuskan jadi karbitan
Di pertontonkan butuh pengakuan
Di bukukan perlu bayaran.”
Aku berjalan dari desa ke kota
Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata
Mengolah rasa menjadikan karya sastra
Dan tak peduli
ada yang mengakui
Ini bukan curahan hati
Tapi demi kebebasan berpuisi
Selama unsur keindahan
itu terjadi
Maka layak diberi
Prestise dan prestasi
Sebagai penyair meski sunyi
Jangan persulit lagi
Sudah bosan terlalu berangan
Tanpa perkumpulan
Tak ada penerbitan
Tanpa uang
Tak ada keikutsertaan
Apalagi kelayakan
Tanpa komunitas
Tak ada kepenyairan
Lepaskan itu semua
Buatlah puisi
Tanpa perlu penilaian
Untung di planet lain
Terhijab triliunan kain
Bukan di bumi
Pula di negeriku ini
Tapi di balik matahari
Tiada terkena sentuhan cahaya
Jauh dari rembulan
Negeri begitu kelam
Hanya malam
Menggelombang mengambang
…
Puisi tak perlu tingkatan
senioritas
Puisi lepas aturan
kesesuaian tema, judul dan kata
Puisi adalah eksistensi diri
Puisi memupuk kemandirian naluri
Merdekakan puisi
Dari cengkeraman tangan ganda
yang berotot, berkuku, bergigi kuda
Puisi tidak seperti rel
Sambung menyambung
Bukan bukit gunung
Juga berbeda dengan jalan tol
Apalagi minuman botol
Puisi tak perlu laku
Atau rayu merayu
agar terjual di pasar
Puisi adalah kearifan
Hakikat manusia
yang dengannya dia berjaya
DUNIA TANPA BATAS
Agung Gema Nugraha
Angin panas dari negara maju
menyerbu singgasana kepulauan
Arah baru membuka tantangan
bagi masa depan
Dalam permasalahan kompleks
Negara berkembang ditekan
dipaksa untuk perubahan
Meski harus hilang keseimbangan
antara hak dan kewajiban
Isu global, kesenjangan sosial
Berlarut-larut bagai hujan
yang bisa mengakibatkan banjir
dan gempa susulan
Dunia saat ini dalam satu pantauan
satu daerah lingkup teknologi
Kita tak bisa diam dalam percaturan
pergerakan kesadaran perlu diberdayakan
Peranan masyarakat adalah matahari
yang penting untuk dikedepankan
Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi
dan segala aspek kehidupan
Sesuai dengan kemampuan
tanpa meninggalkan nilai moral leluhur
serasi, selaras
berkeadilan bersatu dalam perbedaan
Kapitalis adalah gunung angkuh
yang tak mungkin mengalah runtuh
menjadi lembah
Dunia tanpa batas
Memberi informasi kenyataan negeri
Bahwa kita sedang dipersiapkan
Untuk menjadi pion atau raja
PUISI UNTUK PEMBERITAAN
(Khusus Sesar Lembang)
Agung Gema Nugraha
Masih itu saja. Berita adalah doa
Bisa berwujud mantra-mantra
ketika diulang-ulang
memakai syarat ketentuan
Pengabaran seolah ramalan
dalam kehidupan.
Keterkabulan akan terjadi
bila diiringi hati harap-harap cemas
Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya
ke langit maka sampailah pada penjaga
Malaikat pengurus bumi
Maytotorun Maytotorun!
Kritik mesti ditegakkan dengan
benar dan berkeadilan.
Antisipasi dibutuhkan
sekadar keperluan
Tapi tidak harus terus-menerus
Menjadi arus
topik pembicaraan
Peliputan yang bertolak
dengan kenyataan mata telanjang
Adalah melawan kekuatan alam
Peliputan mencari kesadarannya
kepada berbagai pihak
Baik untuk sebagian tujuan
Dan akan kurang beruntung
bagi metafisika spiritual
Jiwa manusia mesti terjaga
SENDAWAKU, BUAT OKNUM,
KORUPTOR!
.. ….. Agung Gema N
Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu
di saat aku tidak mengharapkanmu.
Eughh, eughh oknum, koruptor!
Oknum, koruptor
Bertelor
Meneror
Mimpi masa depan kebangsaan
Merah mega menyala
Semburat cinta purba bangkit perkasa
Berani memberantas korupsi
adalah ksatria sejati
Pemimpin cermin bagi hati nurani
Oh kekasihku, yang duduk di kursi
kekuasaan negara
jangan makan gaji buta
Di antara awang-awang
dan bumi yang pernah cedera
Sepuluh tahun aku menahan luka
Dua puluh tahun aku terlunta-lunta
Kamu kini bukan wujud yang kemarin
Manipulasi diri begitu narsis dan dingin
Seperti lambungku, kosong kendor
Oknum, koruptor! Oknum, koruptor!
CIKOLE
Agung Gema Nugraha
Mimpi-mimpi yang perkasa
berdiri tegak di bawah lembah
Gunung Tangkuban Perahu
Langkah-langkah dari jauh
disulap angin riuh
dan mitos negeri peri
Gunung Puteri
Kembang Jaksi
Lembah Hyang
Cikole
Jayagiri
Dewi
menyala seperti bintang di malam hari
Murninya alam kahyangan
Cantiknya Parahyangan
LAGU BUAT NENG DEWI
(Bulan Juni 2026)
Aku tulis puisi ini
Sambil menikmati bulan Juni
Riuh remaja bulannya muda
Wahai neng Dewi kucinta padamu
Setangkai bidara yang tertanam
Diusapi sepi udara malam
Sejuk membelai merekah gemulai
Memantapkan keyakinan tanpa buaian
Dirimu dalam pandangan
Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi
Wahai neng Dewi kumerindukanmu
KEMBALI KE LEUWI PANJANG
Kembali ke terminal Leuwi Panjang
adalah menemani nyanyi pagi
bulan Juli
setelah kegiatan sehari-hari terhenti
Bus kota kunaiki bersama mimpi
tanpa mengenyam raut muka
kekasih masa silam
Dan Dewi masih menunda tanda
Belum juga terbit di pelupuk mata
Tapi hidup tak boleh sia-sia
dalam kobarannya
TANGIS BESI
Tangis Besi Tangis Besi
Betapa ganasnya satu pekerti
Dan ia tak mau mengerti
Tangis besi Tangis Besi
Keras kaku pemikiran angan
Itu tak bisa dihancurkan
PENA JULI
Pena Juli
Tintanya tersirap matahari
dari ufuk hari yang tak pasti
Pena Juli
Tiada tajam bagai gergaji
atau kilat pisau belati
Patah perintah hati nurani
MAWAR TEMBAGA
Mawar tembaga
Adalah bunga persembahan zaman
Kebunnya sudah menjadi menara
Istrinya terbentur musim gugur
Segala jiwa keluarga menganggur
Mawar tembaga
Lelaki legam perkasa
Sudah lima tahun bertapa
bertambah tua muka
banyak berduka
Tak ada cinta
jika tak menghasilkan
Sebagaimana cahaya malam redam
bila bintang bulannya tenggelam
Ah kesendirian itu adalah pintu gila
Mawar tembaga
BERAS BATIN
Beras Batin
Angin menggelinding membawa kabar
tentang tanah subur tanpa penghuni
Sawah-sawah liar itu telah tertanam
gedung dan perumahan mewah
Beras Batin
Rakyatnya pergi ke lorong mega
Sambil melangkah menganga
menitikkan air mata tanpa suara
Karena bunyi habis termakan
excavator, tower crane
Palu besar menambah pilu
Concret pump, vibrator dan gergaji
menyayat sanubari
Beras batin
i22hfhiqpay234szut15zaw2q4akemp
117350
117349
2026-07-04T01:27:25Z
Sajak Puisi
43496
/* */
117350
wikitext
text/x-wiki
PUISI-PUISI
KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA
LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026)
Agung Gema masih mengembara
Sambil bergelayutan di hutan kata-kata
Lalu mencium aroma nektar madu lebah
dari singgasana kursi kejujuran
Kebenaran adalah pangeran tersembunyi
di lubuk lembah terdalam hati nurani
Kini setelah zaman berganti
Ia mesti berdaya berani berjaya
Memakai mahkota keadilan
demi mewujudkan kesejahteraan
yang merata bagi umat manusia
PUISI SATU
(Makna Puisi)
Puisi adalah mantra ajaib
Dari intuisi sakral yang gaib
Pesona bahasa penuh perbawa
Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia
Alam berkelana pada pijaran
Sinar-sinar ruhani gemerlapan
Biarlah emosional itu terlibat
Dalam frasa rangkaian tersurat
Fantasi gairah mimpi keramat
Kan membuka tabir yang tersirat
PUISI DARI TANAH BANDUNG
Bagai danau, bunga dan bukitan
Aku catat setiap kejadian
Dari mantra-mantra ajaib
Kemungkinan dan sikap kearifan
Puisi dari tanah Bandung
Adalah visi misi semesta raya
Penjaga generasi masa datang
Penyejuk gelombang zaman
Keharmonisan ucap, kata, alam
Menjadi bahasa penuh makna
Air mengalirkan semangat
Restu kebajikan keramat
Halus berbudi
Cermin bagi jendela hati
AKU BANGGA DI INDONESIA
Setelah umur empat puluh tahun
Harus kunyatakan dengan jujur
Agar aku mujur dan makmur
Terpilih sebagai orang bersyukur
Aku bangga di Indonesia
Matahari terbit di atas kepala
Sinarnya sejuk menyegarkan mata
Angin mengalir tenang perlahan
Membawa wangi bunga kemboja
Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan
Apakah dinamakan bekerja
Jika berada di perusahaan asing ?
Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas
Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”!
Apakah tidak lebih baik
bangga dengan kemampuan diri
ketika seseorang bisa memanfaatkannya
untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara?
Juga memiliki sekaligus berbagi waktu
untuk berbagai keperluan?
Hidup adalah pilihan
Angin dan air tumpang tindih
menjadi banjir.
Membawa kayu kegolondongan,
biji emas dan nikel.
Memoles batu akik berwarna hijau
Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa
Menyuguhkan harum cendana.
Aku tidak ingin ke luar negeri
Sudah kutetapkan di sini
Menikmati suka duka bersama mimpi
Meski dihina dicaci
Hanya karena serabutan
Hihi bukan persoalan
Karena aku cinta negeri ini
Setiap saat kuingat
Aku berdoa dalam sunyi
Semoga keadilan merata
Semangat kebangsaan tumbuh
Negeri damai tenteram
Rakyatnya sehat
Pusakanya keramat
Aku berharap bisa mencerdaskan
Kehidupan bangsa
Bersikap patriotik tidak harus berpolitik
Aku punya karya
Meski tidak seterkenal Shakespeare
Chairil Anwar atau Rendra
Tapi aku bisa menunjukkan diriku
Dengan sebuah catatan pemikiran
Aku lulusan bahasa dan sastra
Sebagai sarjana
Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja
Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi
Lebih dekat dengan Indonesia
Dengan bahasa, sastra dan budaya
Di luar itu
Aku mempelajari musik, filsafat,
agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik
perjimatan, keajaiban matematika, mantik,
dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran
ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari
Akhirnya semua kusatukan
dalam karya puisiku
“Julukanku perpustakaan berjalan”
Kurang pas tapi mengagetkanku
Aku punya banyak murid
Formal maupun informal
Mereka mau tidak mau mengakui
Pengetahuannya dari pengetahuanku
Dan aku tidak perlu gaji untuk itu
karena seorang guru adalah pengabdian.
memberi kesegaran bagi masa depan.
Kendaraanku cukup
Dari hasil mengamen
Aku bisa membeli rumah
Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari.
Aku punya kebun cukup luas
tiga puluh enam tumbak
Ya dari hasil jual rongsokan
Aku tidak pernah mencicil apapun
Sampai saat puisi ini kamu baca
Tidak juga kekurangan uang
Dan jauh dari hutang ke bank
Malahan membayari seseorang
yang memiliki hutang
Haha terkadang aku tertawa
Sambil terharu
Siapa aku?
Aku cuma rindu wanitaku.
Itu naluriah
Seorang lelaki mencintai dan dicintai
Kerinduanku berkarat disiram rembulan
Hidup adalah perjalanan
Hidup adalah persinggahan
Siapa orang yang tidak terberkati
Dengan adanya diriku
Bukan memuji diri
Ini adalah klarifikasi
Maaf pernyataanku lucu-lucuan
Berharap bisa memberi kesan
Pertimbangan untuk ke depan
Anak aku sekolahkan
Aku benci pungli bila terjadi
Anak yatim cukup kubiayai
Para janda masih sanggup kuhidupi
Aku masih bisa meminjamkan uang
Tanpa bunga tanpa anggunan
Entah mungkin nanti
Sampai saat puisi ini kutulis
Pagi di Indonesia penuh canda
Kehangatan dan paradoks nya jiwa
kurasakan menjadi bahan kajian
Dan kita mesti belajar berlapang dada
Aku paham di zaman sekarang
Bekerja kantoran adalah kebanggaan
Tapi tidak bagi diriku
Kita bisa berbeda itulah keberagaman
Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai
Ketimbang sikap ksatria
Ya ya hidup hedon sedikit nakal
Atau berfoya-foya adalah keberhasilan
Penilaian tergantung gaya hidup
Biarpun berat sanubari melarat
Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan
terlihat keluarga atau tetangga
Itulah yang kutangkap dari sisi lain
Yang lain dengan pandanganku
Aku bangga di Indonesia
Biarpun belum bisa membanggakan
Bukan pula kebanggan
NEGERI YANG ANEH
Di balik galaksi bima sakti
Ada secarik tulisan
“Negeri yang aneh
Puisi pun dibatasi
oleh modal dan pandangan pribadi
Disesuaikan dengan keinginan
para oligarki
Menolak keindahan persepsi
Berarti menidurkan daya sejati
dari kreatifitas perasaan
anugrah Tuhan
Jika dipilih dipilah
Seperti ikan asin, cumi, udang
Di beli dapat hasil beli
Di kursuskan jadi karbitan
Di pertontonkan butuh pengakuan
Di bukukan perlu bayaran.”
Aku berjalan dari desa ke kota
Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata
Mengolah rasa menjadikan karya sastra
Dan tak peduli
ada yang mengakui
Ini bukan curahan hati
Tapi demi kebebasan berpuisi
Selama unsur keindahan
itu terjadi
Maka layak diberi
Prestise dan prestasi
Sebagai penyair meski sunyi
Jangan persulit lagi
Sudah bosan terlalu berangan
Tanpa perkumpulan
Tak ada penerbitan
Tanpa uang
Tak ada keikutsertaan
Apalagi kelayakan
Tanpa komunitas
Tak ada kepenyairan
Lepaskan itu semua
Buatlah puisi
Tanpa perlu penilaian
Untung di planet lain
Terhijab triliunan kain
Bukan di bumi
Pula di negeriku ini
Tapi di balik matahari
Tiada terkena sentuhan cahaya
Jauh dari rembulan
Negeri begitu kelam
Hanya malam
Menggelombang mengambang
…
Puisi tak perlu tingkatan
senioritas
Puisi lepas aturan
kesesuaian tema, judul dan kata
Puisi adalah eksistensi diri
Puisi memupuk kemandirian naluri
Merdekakan puisi
Dari cengkeraman tangan ganda
yang berotot, berkuku, bergigi kuda
Puisi tidak seperti rel
Sambung menyambung
Bukan bukit gunung
Juga berbeda dengan jalan tol
Apalagi minuman botol
Puisi tak perlu laku
Atau rayu merayu
agar terjual di pasar
Puisi adalah kearifan
Hakikat manusia
yang dengannya dia berjaya
DUNIA TANPA BATAS
Agung Gema Nugraha
Angin panas dari negara maju
menyerbu singgasana kepulauan
Arah baru membuka tantangan
bagi masa depan
Dalam permasalahan kompleks
Negara berkembang ditekan
dipaksa untuk perubahan
Meski harus hilang keseimbangan
antara hak dan kewajiban
Isu global, kesenjangan sosial
Berlarut-larut bagai hujan
yang bisa mengakibatkan banjir
dan gempa susulan
Dunia saat ini dalam satu pantauan
satu daerah lingkup teknologi
Kita tak bisa diam dalam percaturan
pergerakan kesadaran perlu diberdayakan
Peranan masyarakat adalah matahari
yang penting untuk dikedepankan
Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi
dan segala aspek kehidupan
Sesuai dengan kemampuan
tanpa meninggalkan nilai moral leluhur
serasi, selaras
berkeadilan bersatu dalam perbedaan
Kapitalis adalah gunung angkuh
yang tak mungkin mengalah runtuh
menjadi lembah
Dunia tanpa batas
Memberi informasi kenyataan negeri
Bahwa kita sedang dipersiapkan
Untuk menjadi pion atau raja
PUISI UNTUK PEMBERITAAN
(Khusus Sesar Lembang)
Agung Gema Nugraha
Masih itu saja. Berita adalah doa
Bisa berwujud mantra-mantra
ketika diulang-ulang
memakai syarat ketentuan
Pengabaran seolah ramalan
dalam kehidupan.
Keterkabulan akan terjadi
bila diiringi hati harap-harap cemas
Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya
ke langit maka sampailah pada penjaga
Malaikat pengurus bumi
Maytotorun Maytotorun!
Kritik mesti ditegakkan dengan
benar dan berkeadilan.
Antisipasi dibutuhkan
sekadar keperluan
Tapi tidak harus terus-menerus
Menjadi arus
topik pembicaraan
Peliputan yang bertolak
dengan kenyataan mata telanjang
Adalah melawan kekuatan alam
Peliputan mencari kesadarannya
kepada berbagai pihak
Baik untuk sebagian tujuan
Dan akan kurang beruntung
bagi metafisika spiritual
Jiwa manusia mesti terjaga
SENDAWAKU, BUAT OKNUM,
KORUPTOR!
.. ….. Agung Gema N
Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu
di saat aku tidak mengharapkanmu.
Eughh, eughh oknum, koruptor!
Oknum, koruptor
Bertelor
Meneror
Mimpi masa depan kebangsaan
Merah mega menyala
Semburat cinta purba bangkit perkasa
Berani memberantas korupsi
adalah ksatria sejati
Pemimpin cermin bagi hati nurani
Oh kekasihku, yang duduk di kursi
kekuasaan negara
jangan makan gaji buta
Di antara awang-awang
dan bumi yang pernah cedera
Sepuluh tahun aku menahan luka
Dua puluh tahun aku terlunta-lunta
Kamu kini bukan wujud yang kemarin
Manipulasi diri begitu narsis dan dingin
Seperti lambungku, kosong kendor
Oknum, koruptor! Oknum, koruptor!
CIKOLE
Agung Gema Nugraha
Mimpi-mimpi yang perkasa
berdiri tegak di bawah lembah
Gunung Tangkuban Perahu
Langkah-langkah dari jauh
disulap angin riuh
dan mitos negeri peri
Gunung Puteri
Kembang Jaksi
Lembah Hyang
Cikole
Jayagiri
Dewi
menyala seperti bintang di malam hari
Murninya alam kahyangan
Cantiknya Parahyangan
LAGU BUAT NENG DEWI
(Bulan Juni 2026)
Aku tulis puisi ini
Sambil menikmati bulan Juni
Riuh remaja bulannya muda
Wahai neng Dewi kucinta padamu
Setangkai bidara yang tertanam
Diusapi sepi udara malam
Sejuk membelai merekah gemulai
Memantapkan keyakinan tanpa buaian
Dirimu dalam pandangan
Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi
Wahai neng Dewi kumerindukanmu
KEMBALI KE LEUWI PANJANG
Kembali ke terminal Leuwi Panjang
adalah menemani nyanyi pagi
bulan Juli
setelah kegiatan sehari-hari terhenti
Bus kota kunaiki bersama mimpi
tanpa mengenyam raut muka
kekasih masa silam
Dan Dewi masih menunda tanda
Belum juga terbit di pelupuk mata
Tapi hidup tak boleh sia-sia
dalam kobarannya
TANGIS BESI
Tangis Besi Tangis Besi
Betapa ganasnya satu pekerti
Dan ia tak mau mengerti
Tangis besi Tangis Besi
Keras kaku pemikiran angan
Itu tak bisa dihancurkan
PENA JULI
Pena Juli
Tintanya tersirap matahari
dari ufuk hari yang tak pasti
Pena Juli
Tiada tajam bagai gergaji
atau kilat pisau belati
Patah perintah hati nurani
MAWAR TEMBAGA
Mawar tembaga
Adalah bunga persembahan zaman
Kebunnya sudah menjadi menara
Istrinya terbentur musim gugur
Segala jiwa keluarga menganggur
Mawar tembaga
Lelaki legam perkasa
Sudah lima tahun bertapa
bertambah tua muka
banyak berduka
Tak ada cinta
jika tak menghasilkan
Sebagaimana cahaya malam redam
bila bintang bulannya tenggelam
Ah kesendirian itu adalah pintu gila
Mawar tembaga
BERAS BATIN
Beras Batin
Angin menggelinding membawa kabar
tentang tanah subur tanpa penghuni
Sawah-sawah liar itu telah tertanam
gedung dan perumahan mewah
Beras Batin
Rakyatnya pergi ke lorong mega
Sambil melangkah menganga
menitikkan air mata tanpa suara
Karena bunyi habis termakan
excavator, tower crane
Palu besar menambah pilu
Concret pump, vibrator dan gergaji
menyayat sanubari
Beras batin
KUMPULAN PUISI
AGUNG GEMA NUGRAHA
16 REMBULAN
1.
WANITA SATU RUPA
Singgah di kursi pemanjaan dirimu
Aku boneka yang tiada bernama
Sudah kuciptakan seribu sajak
Sambil diam terbajak
Masih mencari juga tentang makna
tentang kenapa kita harus bersama?
Kamu adalah wanita penuh warna
Baik hati memiliki satu rupa
Ketulusan
Wahai kekasih pemberi inspirasi
Seratus guru aku pelajari
Tapi kembali kepadamu aku berkaca
2.
BUKAN CINTA MEI
Bukan cinta untuk Mei
Aku tulis sajak di bulan ini
Tapi karena kemelut mencari jalannya
lewat kalimat tanpa laknat
Kita terlalu mudah sakit hati
Batang patah nurani bergetah
Meludah marah muntah-muntah
Menempel di tangan menjadi dendam
Masuk ke pikiran semakin kelam
Sulitnya naga berapi
Diam menyepi berkontemplasi
Malah nge-gas tegas menolak berontak
Menerima secuil takdir keberuntungan
Kita belum dewasa mengenal bunga
Warna-warni kehidupan fatamorgana
Enggan beriring saat tak bernama
Kalah bersaing menyaring bising
Dalam kenyataan yang dihadapi
Diri bagai cedera luka kura-kura
Setiap manusia korban khianat duka
Bukan cuma Anda
Bianglala tiada selalu menyala
Lalu kamu mengalirkan air mata
Menyuap alam semesta
Akhirnya bersembunyi di semak berduri
Terpenjara oleh hari
3.
KERAJAAN JAMPANG MANGGUNG
Jampang Manggung dua masehi
Aki Sugiwanca menemu tanda
di balik sunyi
Selatan Jawa Barat adalah permata
Kesuburan tanah mesti terjaga
Cianjur, Sukabumi berdaya
Kerajaan tegak tatar pasundan semarak
Sang kakak, Aki Tirem dari Banten
leluhur raja-raja Sunda menyimak
dan ya, utara – selatan mesti
terdengar harapan agar tertata
wilayah makmur, adil dan sejahtera
4.
SAJAK BULU
Satu perjalanan seribu pengkhianatan
Aku merasakan bulu-bulu di tubuh
menyentuh kisruh
pikiran, keringat berpeluh
kering merapuh
Memanjang nan keruh
Kusut beringsut
Ibarat perdebatan intelektual
di media sosial
Serasa hampa kurang guna
tiada ada jalan keluar
Malah api berkobar
Kita terbakar
Lubang-lubang semakin lengang
tanda ketidakmampuan
mulut membicarakan berbagai keluhan yang datang bertubi-tubi setiap jam
saat berbunyi berdentang
Bulu di telinga berwarna jingga
Bulu di hidung lendir terkandung
Bulu di atas bibir dan mata
Menyangkut kental air susu putih
dan tragedi cinta merintih
Bulu di ketiak
Bagai jerat hitam scorpio
Bulu di emmm….
Mesti dibersihkan harian, mingguan
atau bulanan sebelum waktu gajian
Bulu di setiap jengkal terus tumbuh
tersipuh janji-janji kecil terasingkan
lalu akhirnya meluas memanjang
menjadi kebun binatang
Ah Seperti alang-alang tertiup angin
rambut jagung pun menguning
terjemur persoalan hutang
Umur tergadaikan
Bulu terlupakan
5.
PUISI X
Menyaksikan semesta raya
adalah mencari keberadaan diri kita
yang terbang melayang dalam pertanyaan
mencoba memantapkan ujuan
Spinoza sedikit mengurai kata
tentang kesadaran etika
Dan aku memahami
bahwa mengikuti hasrat diri
untuk kepentingan kita sendiri
yang terlihat baik mandiri
Bisa jadi membuat problema baru
bagi keserasian keharmonisan
jalannya ketentuan alam
Bangunan-bangunan bertembok
besi, baja, seng dan tembaga
Hunian indah mengorbankan
pohonan, hutan, hewan rumputan
Kendaraan di empat elemen
Aspalan jalan, gang menggantikan
tanah persahabatan
Mengugurkan kecintaan pemeliharaan
akan riuhnya kehidupan
Kimia menjadi sihir pembakar kehijauan
Napas manusia meracuni harapan hewan
tumbuhan juga kemurnian
Kita menghancurkan keyakinan kita sendiri
6.
SI JALAK HARUPAT
Di mana dia Si Jalak Harupat
penghalau badai barat laut?
Ombak menggoyangkan pohonan
Si Jalak Harupat perkasa
membelah setiap hantaman
Kepekaannya memindahkan awan hitam
Cerdas kata tegas matahari terpancar
dan bagai petir mengandung energi listrik kalimatnya menggetarkan para penindas
yang pura-pura kura-kura
Dinding mana mampu menghalangi?
Keberaniannya mengungguli setiap hati
Celoteh alasan apa bisa menandingi?
Penjajahan dan diskriminasi
tak boleh berdiri di bumi pertiwi
Menyerah bahasa lain di ujung langit sepi
Pendidikan, berdayakan!
Keadilan dan kedaulatan perjuangkan!
Bangsa mesti “Merdeka!”
7.
PUTRI KADITA
Udara itu rasa jamu batrawali
Ramuan nasib gaib
yang tiada kita ketahui
membuat bintang bulan cemberut
Jekut muka malam karam
terdalam luka-luka duka cita
Putri Kadita Putri Kadita
Kasih ayah adalah segala
Air mata ada di jiwa
Putri Kadita darah Siliwangi berkata
“Cedera rasa, keadilan menjelma.”
Oh, Merah jingga
mengalir bagai butiran berlian
takkan mudah terkalahkan
…Setelah tersia-sia
Perjalanan memiliki perhitungan
Ketentuan masing-masing kehidupan
Meski mesti kita terkucil terasing
Kain Kemulyaan keagungan
Tiada tertukar disambar hasrat kedengkian
Jika waktunya alam kan memakaikannya
Di roh, mata, telinga, suara keabadian
Putri Kadita ratu penguasa
pesisir pantai selatan
8.
BUAH HONJE
Buah Honje buah Honje
Nyai Padmawati
Istri terkasih Prabu Siliwangi
Menanti sang buah hati
Langit menguji perasaan
Kuat keinginan dua roh di badan
Mengungkapkan buah masam
karena mengidam
adalah bisikan lain alam
Ki lengser Pajajaran merenangi mimpi
Mengembara di sorot sinar mentari
Mencari terus mencari
tapi di negeri begitu sepi
Setelah lelah bimbang hadapi hari
Bisikan diri menggerakan kaki
Langkah lari tiada terperi
Di hutan akhirnya ia dapati
Sayang hitungan delapan
Terpetik harapan
Ki lengser kerajaan Muara Beres
mendahului waktu terdepan
Takdir permaisuri Gambir Wangi
pun serupa hasrat tersirat
Buah Honje buah Honje
Dua lengser saling memperebutkan
Rembulan menyaksikan
Ilmu berkilatan
Sekali sentil bukit mengecil
Tiada kalah dan menang
Malam kesaktian berimbang
Bintang cemerlang
Akhirnya meminta petunjuk kahyangan
Sunan Ambu adalah keadilan
Memutuskan tiada mengabaikan
Dibagilah dengan rata dan sejahtera
Nyai Padma melahirkan putra bercahaya
Prabu Mundinglaya Dikusumah
Gagah perkasa
9.
PENGHARGAAN SEMU
Hei, hei air segelas jika hilangkan dahaga
Tak perlu seember penuh terhidangkan
untuk kamu reguk agar sirna
panas ternggorokan
Biar tidak mabuk
Hei, hei kenapa kamu bersamaan
Jika sendiri mampu menyelesaikan
Penghargaan kolektif tak ada tujuan
Bila yang tunggal mampu memecahkan
Apalagi kamu harapkan?
Hei, hei jangan belajar tak masuk akal!
Bayangan semu tak perlu dirindu
Ambillah kenyataan pahitnya hatimu
10.
PENYAIR PEMECAH REKOR
Dia adalah cakrawala luas
Pecinta budaya dan harapan
tanpa batas
Ribuan kata-kata berbintang
Metafora matahari kebaruan hari-hari
bersinar terang di langit membentang
Penyair pemecah rekor karya otentik
Memberontak waktu sigap tiap
menit sengit
berlari mengejar detik-detik
terpantik inspirasi gelora mistik
Kalimat keramat
bagai mengandung daya magnetik
11.
IBU INGGIT GANARSIH
Inggit Ganarsih adalah sinar fajar
yang siap siaga selalu tiada samar
menemani langkah lelah
sang Bapak Bangsa
memperjuangkan cita-cita
kedaulatan negara tercinta
Beliau langit terhampar tak gentar
Menemui malam dan teriknya siang
Senja menua tetap menyala
Oh jasa-jasa dari napas ketulusan jiwa
Jangan sampai generasi kita terlupa
Sejuknya kasih sayang dan cinta
Bagaikan namanya indah kan bergema
12.
MENUJU MAKAM IBU INGGIT GANARSIH
Matahari nampak indah menerangi
Bersambut sentuhan angin Sukajadi
Di jari-jari sepinya hati
Bandung selalu mendukung
perjalanan hari-hari
Tiba-tiba bisikan harapan bangkitkan
niat keramat untuk kembali menyibak
Tokoh istimewa yang banyak mata
telinga dan generasi terlupa
Seorang hebat terang berjasa
Pondasi penyemangat Bapak Bangsa
Maka kulanjutkan langkah teduhku
melewati Pajajaran, pasar Caringin
menuju Babakan Ciparay
Cahaya tergerai
“Ibu Inggit Ganarsih kuucapkan salam”
Perempuan perintis pergerakan
kemerdekaan Indonesia
yang selalu setia mendampingi
Sang Proklamator tercinta
Doa-doa
Renungan masa lama
Sejarah
Dan cerita
Tangis air mata
13.
PENYAIR PENYU
Penyair itu telah lahir
di tanah mentah putih pasir
Sendiri sepi
Meniti matahari terpuji terlindungi
Menekuni hari-hari merayapi arti
Sambil melangkahan kaki
menuju tepi pantai
Ia tak gontai
Menulis puisi di antara kegetiran
pasang surut lautan
rindu, diri, dan zaman
Penyair penyu penyair penyu
Terlihat dunia tanpa batasan
Keluasan keluwesan adalah kehidupan
Keberanian menjadi kebenaran
Bergulung ia dengan gelombang
Menyelam ke dalam lautan
Mengikuti tarian ombak
untuk satu tujuan
Petualangan
14.
PENYAIR GURU
Angin mengusap mukanya
yang gemerlap getir
terkesiap rasa khawatir
renungi anak didik sekolahnya
menyelami gelombang pancaroba
Lautan berkarang dan berpetir
Badai datang selalu tidak terduga
Perahu sederhana hanya bisa
mengikuti arus ombak berbicara
Sarapan malam terganti tinta hitam
Sendok dan piring kaca
ia sulap menjadi kertas – pena
Penyair guru tabu bermain dadu
Meski kehidupan dalam pengajaran
tak ada jaminan mencapai langit biru
Tapi kurikulum serupa bintang arahan
Dan tujuan perjalanan mesti diperjuangkan
15.
PERNAH BERKHAYAL
Pernah aku berkhayal bermimpi berangan
seperti berkontemplasi diri
Harga-harga bisa turun kembali
maka akan menyenangkan bagi hati
saat sedang dilanda pailit ekonomi
Oh keuangan mustika di rimbun jerami
Oh karya-karya puisi tidak berarti
Kita ada dalam kegagalan mencari jati diri
Menegakkan keadilan
mendesak metode induksi
Intelektual terlalu bermanja-manja logika
Lupa dengan atom-atom rasa
yang meluap ke udara menjadi derita
Itulah lamunan singkat padat
bukan terang kejora harapan
Tapi penantian tidak memungkinkan
16.
PERTEMUAN PENYAIR
Telah kutemui berbagai suara tangis
Jeritan sesal, durhaka, derita dan bahagia
Angin mengejar waktu untuk bersama
Penyair dikalahkan oleh kata-kata
Apa yang tertera di balik dinding hening
Malam dingin siang berhimpun tanding
Lanskap perkotaan – angan pedesaan
Segala sesuatu saling berpangku
Seperti bumi merantai musim cuaca
Hujan kemarau selalu berganti
Manusia tak ada yang mandiri
Begitu pula air
Syair penyair
nig2hzl9ewzerpqxj2syudcdxq1xsx4
117351
117350
2026-07-04T05:26:30Z
Sajak Puisi
43496
/* */
117351
wikitext
text/x-wiki
PUISI-PUISI
KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA
LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026)
Agung Gema masih mengembara
Sambil bergelayutan di hutan kata-kata
Lalu mencium aroma nektar madu lebah
dari singgasana kursi kejujuran
Kebenaran adalah pangeran tersembunyi
di lubuk lembah terdalam hati nurani
Kini setelah zaman berganti
Ia mesti berdaya berani berjaya
Memakai mahkota keadilan
demi mewujudkan kesejahteraan
yang merata bagi umat manusia
PUISI SATU
(Makna Puisi)
Puisi adalah mantra ajaib
Dari intuisi sakral yang gaib
Pesona bahasa penuh perbawa
Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia
Alam berkelana pada pijaran
Sinar-sinar ruhani gemerlapan
Biarlah emosional itu terlibat
Dalam frasa rangkaian tersurat
Fantasi gairah mimpi keramat
Kan membuka tabir yang tersirat
PUISI DARI TANAH BANDUNG
Bagai danau, bunga dan bukitan
Aku catat setiap kejadian
Dari mantra-mantra ajaib
Kemungkinan dan sikap kearifan
Puisi dari tanah Bandung
Adalah visi misi semesta raya
Penjaga generasi masa datang
Penyejuk gelombang zaman
Keharmonisan ucap, kata, alam
Menjadi bahasa penuh makna
Air mengalirkan semangat
Restu kebajikan keramat
Halus berbudi
Cermin bagi jendela hati
AKU BANGGA DI INDONESIA
Setelah umur empat puluh tahun
Harus kunyatakan dengan jujur
Agar aku mujur dan makmur
Terpilih sebagai orang bersyukur
Aku bangga di Indonesia
Matahari terbit di atas kepala
Sinarnya sejuk menyegarkan mata
Angin mengalir tenang perlahan
Membawa wangi bunga kemboja
Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan
Apakah dinamakan bekerja
Jika berada di perusahaan asing ?
Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas
Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”!
Apakah tidak lebih baik
bangga dengan kemampuan diri
ketika seseorang bisa memanfaatkannya
untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara?
Juga memiliki sekaligus berbagi waktu
untuk berbagai keperluan?
Hidup adalah pilihan
Angin dan air tumpang tindih
menjadi banjir.
Membawa kayu kegolondongan,
biji emas dan nikel.
Memoles batu akik berwarna hijau
Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa
Menyuguhkan harum cendana.
Aku tidak ingin ke luar negeri
Sudah kutetapkan di sini
Menikmati suka duka bersama mimpi
Meski dihina dicaci
Hanya karena serabutan
Hihi bukan persoalan
Karena aku cinta negeri ini
Setiap saat kuingat
Aku berdoa dalam sunyi
Semoga keadilan merata
Semangat kebangsaan tumbuh
Negeri damai tenteram
Rakyatnya sehat
Pusakanya keramat
Aku berharap bisa mencerdaskan
Kehidupan bangsa
Bersikap patriotik tidak harus berpolitik
Aku punya karya
Meski tidak seterkenal Shakespeare
Chairil Anwar atau Rendra
Tapi aku bisa menunjukkan diriku
Dengan sebuah catatan pemikiran
Aku lulusan bahasa dan sastra
Sebagai sarjana
Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja
Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi
Lebih dekat dengan Indonesia
Dengan bahasa, sastra dan budaya
Di luar itu
Aku mempelajari musik, filsafat,
agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik
perjimatan, keajaiban matematika, mantik,
dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran
ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari
Akhirnya semua kusatukan
dalam karya puisiku
“Julukanku perpustakaan berjalan”
Kurang pas tapi mengagetkanku
Aku punya banyak murid
Formal maupun informal
Mereka mau tidak mau mengakui
Pengetahuannya dari pengetahuanku
Dan aku tidak perlu gaji untuk itu
karena seorang guru adalah pengabdian.
memberi kesegaran bagi masa depan.
Kendaraanku cukup
Dari hasil mengamen
Aku bisa membeli rumah
Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari.
Aku punya kebun cukup luas
tiga puluh enam tumbak
Ya dari hasil jual rongsokan
Aku tidak pernah mencicil apapun
Sampai saat puisi ini kamu baca
Tidak juga kekurangan uang
Dan jauh dari hutang ke bank
Malahan membayari seseorang
yang memiliki hutang
Haha terkadang aku tertawa
Sambil terharu
Siapa aku?
Aku cuma rindu wanitaku.
Itu naluriah
Seorang lelaki mencintai dan dicintai
Kerinduanku berkarat disiram rembulan
Hidup adalah perjalanan
Hidup adalah persinggahan
Siapa orang yang tidak terberkati
Dengan adanya diriku
Bukan memuji diri
Ini adalah klarifikasi
Maaf pernyataanku lucu-lucuan
Berharap bisa memberi kesan
Pertimbangan untuk ke depan
Anak aku sekolahkan
Aku benci pungli bila terjadi
Anak yatim cukup kubiayai
Para janda masih sanggup kuhidupi
Aku masih bisa meminjamkan uang
Tanpa bunga tanpa anggunan
Entah mungkin nanti
Sampai saat puisi ini kutulis
Pagi di Indonesia penuh canda
Kehangatan dan paradoks nya jiwa
kurasakan menjadi bahan kajian
Dan kita mesti belajar berlapang dada
Aku paham di zaman sekarang
Bekerja kantoran adalah kebanggaan
Tapi tidak bagi diriku
Kita bisa berbeda itulah keberagaman
Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai
Ketimbang sikap ksatria
Ya ya hidup hedon sedikit nakal
Atau berfoya-foya adalah keberhasilan
Penilaian tergantung gaya hidup
Biarpun berat sanubari melarat
Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan
terlihat keluarga atau tetangga
Itulah yang kutangkap dari sisi lain
Yang lain dengan pandanganku
Aku bangga di Indonesia
Biarpun belum bisa membanggakan
Bukan pula kebanggan
NEGERI YANG ANEH
Di balik galaksi bima sakti
Ada secarik tulisan
“Negeri yang aneh
Puisi pun dibatasi
oleh modal dan pandangan pribadi
Disesuaikan dengan keinginan
para oligarki
Menolak keindahan persepsi
Berarti menidurkan daya sejati
dari kreatifitas perasaan
anugrah Tuhan
Jika dipilih dipilah
Seperti ikan asin, cumi, udang
Di beli dapat hasil beli
Di kursuskan jadi karbitan
Di pertontonkan butuh pengakuan
Di bukukan perlu bayaran.”
Aku berjalan dari desa ke kota
Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata
Mengolah rasa menjadikan karya sastra
Dan tak peduli
ada yang mengakui
Ini bukan curahan hati
Tapi demi kebebasan berpuisi
Selama unsur keindahan
itu terjadi
Maka layak diberi
Prestise dan prestasi
Sebagai penyair meski sunyi
Jangan persulit lagi
Sudah bosan terlalu berangan
Tanpa perkumpulan
Tak ada penerbitan
Tanpa uang
Tak ada keikutsertaan
Apalagi kelayakan
Tanpa komunitas
Tak ada kepenyairan
Lepaskan itu semua
Buatlah puisi
Tanpa perlu penilaian
Untung di planet lain
Terhijab triliunan kain
Bukan di bumi
Pula di negeriku ini
Tapi di balik matahari
Tiada terkena sentuhan cahaya
Jauh dari rembulan
Negeri begitu kelam
Hanya malam
Menggelombang mengambang
…
Puisi tak perlu tingkatan
senioritas
Puisi lepas aturan
kesesuaian tema, judul dan kata
Puisi adalah eksistensi diri
Puisi memupuk kemandirian naluri
Merdekakan puisi
Dari cengkeraman tangan ganda
yang berotot, berkuku, bergigi kuda
Puisi tidak seperti rel
Sambung menyambung
Bukan bukit gunung
Juga berbeda dengan jalan tol
Apalagi minuman botol
Puisi tak perlu laku
Atau rayu merayu
agar terjual di pasar
Puisi adalah kearifan
Hakikat manusia
yang dengannya dia berjaya
DUNIA TANPA BATAS
Agung Gema Nugraha
Angin panas dari negara maju
menyerbu singgasana kepulauan
Arah baru membuka tantangan
bagi masa depan
Dalam permasalahan kompleks
Negara berkembang ditekan
dipaksa untuk perubahan
Meski harus hilang keseimbangan
antara hak dan kewajiban
Isu global, kesenjangan sosial
Berlarut-larut bagai hujan
yang bisa mengakibatkan banjir
dan gempa susulan
Dunia saat ini dalam satu pantauan
satu daerah lingkup teknologi
Kita tak bisa diam dalam percaturan
pergerakan kesadaran perlu diberdayakan
Peranan masyarakat adalah matahari
yang penting untuk dikedepankan
Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi
dan segala aspek kehidupan
Sesuai dengan kemampuan
tanpa meninggalkan nilai moral leluhur
serasi, selaras
berkeadilan bersatu dalam perbedaan
Kapitalis adalah gunung angkuh
yang tak mungkin mengalah runtuh
menjadi lembah
Dunia tanpa batas
Memberi informasi kenyataan negeri
Bahwa kita sedang dipersiapkan
Untuk menjadi pion atau raja
PUISI UNTUK PEMBERITAAN
(Khusus Sesar Lembang)
Agung Gema Nugraha
Masih itu saja. Berita adalah doa
Bisa berwujud mantra-mantra
ketika diulang-ulang
memakai syarat ketentuan
Pengabaran seolah ramalan
dalam kehidupan.
Keterkabulan akan terjadi
bila diiringi hati harap-harap cemas
Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya
ke langit maka sampailah pada penjaga
Malaikat pengurus bumi
Maytotorun Maytotorun!
Kritik mesti ditegakkan dengan
benar dan berkeadilan.
Antisipasi dibutuhkan
sekadar keperluan
Tapi tidak harus terus-menerus
Menjadi arus
topik pembicaraan
Peliputan yang bertolak
dengan kenyataan mata telanjang
Adalah melawan kekuatan alam
Peliputan mencari kesadarannya
kepada berbagai pihak
Baik untuk sebagian tujuan
Dan akan kurang beruntung
bagi metafisika spiritual
Jiwa manusia mesti terjaga
SENDAWAKU, BUAT OKNUM,
KORUPTOR!
.. ….. Agung Gema N
Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu
di saat aku tidak mengharapkanmu.
Eughh, eughh oknum, koruptor!
Oknum, koruptor
Bertelor
Meneror
Mimpi masa depan kebangsaan
Merah mega menyala
Semburat cinta purba bangkit perkasa
Berani memberantas korupsi
adalah ksatria sejati
Pemimpin cermin bagi hati nurani
Oh kekasihku, yang duduk di kursi
kekuasaan negara
jangan makan gaji buta
Di antara awang-awang
dan bumi yang pernah cedera
Sepuluh tahun aku menahan luka
Dua puluh tahun aku terlunta-lunta
Kamu kini bukan wujud yang kemarin
Manipulasi diri begitu narsis dan dingin
Seperti lambungku, kosong kendor
Oknum, koruptor! Oknum, koruptor!
CIKOLE
Agung Gema Nugraha
Mimpi-mimpi yang perkasa
berdiri tegak di bawah lembah
Gunung Tangkuban Perahu
Langkah-langkah dari jauh
disulap angin riuh
dan mitos negeri peri
Gunung Puteri
Kembang Jaksi
Lembah Hyang
Cikole
Jayagiri
Dewi
menyala seperti bintang di malam hari
Murninya alam kahyangan
Cantiknya Parahyangan
LAGU BUAT NENG DEWI
(Bulan Juni 2026)
Aku tulis puisi ini
Sambil menikmati bulan Juni
Riuh remaja bulannya muda
Wahai neng Dewi kucinta padamu
Setangkai bidara yang tertanam
Diusapi sepi udara malam
Sejuk membelai merekah gemulai
Memantapkan keyakinan tanpa buaian
Dirimu dalam pandangan
Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi
Wahai neng Dewi kumerindukanmu
KEMBALI KE LEUWI PANJANG
Kembali ke terminal Leuwi Panjang
adalah menemani nyanyi pagi
bulan Juli
setelah kegiatan sehari-hari terhenti
Bus kota kunaiki bersama mimpi
tanpa mengenyam raut muka
kekasih masa silam
Dan Dewi masih menunda tanda
Belum juga terbit di pelupuk mata
Tapi hidup tak boleh sia-sia
dalam kobarannya
TANGIS BESI
Tangis Besi Tangis Besi
Betapa ganasnya satu pekerti
Dan ia tak mau mengerti
Tangis besi Tangis Besi
Keras kaku pemikiran angan
Itu tak bisa dihancurkan
PENA JULI
Pena Juli
Tintanya tersirap matahari
dari ufuk hari yang tak pasti
Pena Juli
Tiada tajam bagai gergaji
atau kilat pisau belati
Patah perintah hati nurani
MAWAR TEMBAGA
Mawar tembaga
Adalah bunga persembahan zaman
Kebunnya sudah menjadi menara
Istrinya terbentur musim gugur
Segala jiwa keluarga menganggur
Mawar tembaga
Lelaki legam perkasa
Sudah lima tahun bertapa
bertambah tua muka
banyak berduka
Tak ada cinta
jika tak menghasilkan
Sebagaimana cahaya malam redam
bila bintang bulannya tenggelam
Ah kesendirian itu adalah pintu gila
Mawar tembaga
BERAS BATIN
Beras Batin
Angin menggelinding membawa kabar
tentang tanah subur tanpa penghuni
Sawah-sawah liar itu telah tertanam
gedung dan perumahan mewah
Beras Batin
Rakyatnya pergi ke lorong mega
Sambil melangkah menganga
menitikkan air mata tanpa suara
Karena bunyi habis termakan
excavator, tower crane
Palu besar menambah pilu
Concret pump, vibrator dan gergaji
menyayat sanubari
Beras batin
KUMPULAN PUISI
AGUNG GEMA NUGRAHA
16 REMBULAN
1.
WANITA SATU RUPA
Singgah di kursi pemanjaan dirimu
Aku boneka yang tiada bernama
Sudah kuciptakan seribu sajak
Sambil diam terbajak
Masih mencari juga tentang makna
tentang kenapa kita harus bersama?
Kamu adalah wanita penuh warna
Baik hati memiliki satu rupa
Ketulusan
Wahai kekasih pemberi inspirasi
Seratus guru aku pelajari
Tapi kembali kepadamu aku berkaca
2.
BUKAN CINTA MEI
Bukan cinta untuk Mei
Aku tulis sajak di bulan ini
Tapi karena kemelut mencari jalannya
lewat kalimat tanpa laknat
Kita terlalu mudah sakit hati
Batang patah nurani bergetah
Meludah marah muntah-muntah
Menempel di tangan menjadi dendam
Masuk ke pikiran semakin kelam
Sulitnya naga berapi
Diam menyepi berkontemplasi
Malah nge-gas tegas menolak berontak
Menerima secuil takdir keberuntungan
Kita belum dewasa mengenal bunga
Warna-warni kehidupan fatamorgana
Enggan beriring saat tak bernama
Kalah bersaing menyaring bising
Dalam kenyataan yang dihadapi
Diri bagai cedera luka kura-kura
Setiap manusia korban khianat duka
Bukan cuma Anda
Bianglala tiada selalu menyala
Lalu kamu mengalirkan air mata
Menyuap alam semesta
Akhirnya bersembunyi di semak berduri
Terpenjara oleh hari
3.
KERAJAAN JAMPANG MANGGUNG
Jampang Manggung dua masehi
Aki Sugiwanca menemu tanda
di balik sunyi
Selatan Jawa Barat adalah permata
Kesuburan tanah mesti terjaga
Cianjur, Sukabumi berdaya
Kerajaan tegak tatar pasundan semarak
Sang kakak, Aki Tirem dari Banten
leluhur raja-raja Sunda menyimak
dan ya, utara – selatan mesti
terdengar harapan agar tertata
wilayah makmur, adil dan sejahtera
4.
SAJAK BULU
Satu perjalanan seribu pengkhianatan
Aku merasakan bulu-bulu di tubuh
menyentuh kisruh
pikiran, keringat berpeluh
kering merapuh
Memanjang nan keruh
Kusut beringsut
Ibarat perdebatan intelektual
di media sosial
Serasa hampa kurang guna
tiada ada jalan keluar
Malah api berkobar
Kita terbakar
Lubang-lubang semakin lengang
tanda ketidakmampuan
mulut membicarakan berbagai keluhan yang datang bertubi-tubi setiap jam
saat berbunyi berdentang
Bulu di telinga berwarna jingga
Bulu di hidung lendir terkandung
Bulu di atas bibir dan mata
Menyangkut kental air susu putih
dan tragedi cinta merintih
Bulu di ketiak
Bagai jerat hitam scorpio
Bulu di emmm….
Mesti dibersihkan harian, mingguan
atau bulanan sebelum waktu gajian
Bulu di setiap jengkal terus tumbuh
tersipuh janji-janji kecil terasingkan
lalu akhirnya meluas memanjang
menjadi kebun binatang
Ah Seperti alang-alang tertiup angin
rambut jagung pun menguning
terjemur persoalan hutang
Umur tergadaikan
Bulu terlupakan
5.
PUISI X
Menyaksikan semesta raya
adalah mencari keberadaan diri kita
yang terbang melayang dalam pertanyaan
mencoba memantapkan ujuan
Spinoza sedikit mengurai kata
tentang kesadaran etika
Dan aku memahami
bahwa mengikuti hasrat diri
untuk kepentingan kita sendiri
yang terlihat baik mandiri
Bisa jadi membuat problema baru
bagi keserasian keharmonisan
jalannya ketentuan alam
Bangunan-bangunan bertembok
besi, baja, seng dan tembaga
Hunian indah mengorbankan
pohonan, hutan, hewan rumputan
Kendaraan di empat elemen
Aspalan jalan, gang menggantikan
tanah persahabatan
Mengugurkan kecintaan pemeliharaan
akan riuhnya kehidupan
Kimia menjadi sihir pembakar kehijauan
Napas manusia meracuni harapan hewan
tumbuhan juga kemurnian
Kita menghancurkan keyakinan kita sendiri
6.
SI JALAK HARUPAT
Di mana dia Si Jalak Harupat
penghalau badai barat laut?
Ombak menggoyangkan pohonan
Si Jalak Harupat perkasa
membelah setiap hantaman
Kepekaannya memindahkan awan hitam
Cerdas kata tegas matahari terpancar
dan bagai petir mengandung energi listrik kalimatnya menggetarkan para penindas
yang pura-pura kura-kura
Dinding mana mampu menghalangi?
Keberaniannya mengungguli setiap hati
Celoteh alasan apa bisa menandingi?
Penjajahan dan diskriminasi
tak boleh berdiri di bumi pertiwi
Menyerah bahasa lain di ujung langit sepi
Pendidikan, berdayakan!
Keadilan dan kedaulatan perjuangkan!
Bangsa mesti “Merdeka!”
7.
PUTRI KADITA
Udara itu rasa jamu batrawali
Ramuan nasib gaib
yang tiada kita ketahui
membuat bintang bulan cemberut
Jekut muka malam karam
terdalam luka-luka duka cita
Putri Kadita Putri Kadita
Kasih ayah adalah segala
Air mata ada di jiwa
Putri Kadita darah Siliwangi berkata
“Cedera rasa, keadilan menjelma.”
Oh, Merah jingga
mengalir bagai butiran berlian
takkan mudah terkalahkan
…Setelah tersia-sia
Perjalanan memiliki perhitungan
Ketentuan masing-masing kehidupan
Meski mesti kita terkucil terasing
Kain Kemulyaan keagungan
Tiada tertukar disambar hasrat kedengkian
Jika waktunya alam kan memakaikannya
Di roh, mata, telinga, suara keabadian
Putri Kadita ratu penguasa
pesisir pantai selatan
8.
BUAH HONJE
Buah Honje buah Honje
Nyai Padmawati
Istri terkasih Prabu Siliwangi
Menanti sang buah hati
Langit menguji perasaan
Kuat keinginan dua roh di badan
Mengungkapkan buah masam
karena mengidam
adalah bisikan lain alam
Ki lengser Pajajaran merenangi mimpi
Mengembara di sorot sinar mentari
Mencari terus mencari
tapi di negeri begitu sepi
Setelah lelah bimbang hadapi hari
Bisikan diri menggerakan kaki
Langkah lari tiada terperi
Di hutan akhirnya ia dapati
Sayang hitungan delapan
Terpetik harapan
Ki lengser kerajaan Muara Beres
mendahului waktu terdepan
Takdir permaisuri Gambir Wangi
pun serupa hasrat tersirat
Buah Honje buah Honje
Dua lengser saling memperebutkan
Rembulan menyaksikan
Ilmu berkilatan
Sekali sentil bukit mengecil
Tiada kalah dan menang
Malam kesaktian berimbang
Bintang cemerlang
Akhirnya meminta petunjuk kahyangan
Sunan Ambu adalah keadilan
Memutuskan tiada mengabaikan
Dibagilah dengan rata dan sejahtera
Nyai Padma melahirkan putra bercahaya
Prabu Mundinglaya Dikusumah
Gagah perkasa
9.
PENGHARGAAN SEMU
Hei, hei air segelas jika hilangkan dahaga
Tak perlu seember penuh terhidangkan
untuk kamu reguk agar sirna
panas ternggorokan
Biar tidak mabuk
Hei, hei kenapa kamu bersamaan
Jika sendiri mampu menyelesaikan
Penghargaan kolektif tak ada tujuan
Bila yang tunggal mampu memecahkan
Apalagi kamu harapkan?
Hei, hei jangan belajar tak masuk akal!
Bayangan semu tak perlu dirindu
Ambillah kenyataan pahitnya hatimu
10.
PENYAIR PEMECAH REKOR
Dia adalah cakrawala luas
Pecinta budaya dan harapan
tanpa batas
Ribuan kata-kata berbintang
Metafora matahari kebaruan hari-hari
bersinar terang di langit membentang
Penyair pemecah rekor karya otentik
Memberontak waktu sigap tiap
menit sengit
berlari mengejar detik-detik
terpantik inspirasi gelora mistik
Kalimat keramat
bagai mengandung daya magnetik
11.
IBU INGGIT GANARSIH
Inggit Ganarsih adalah sinar fajar
yang siap siaga selalu tiada samar
menemani langkah lelah
sang Bapak Bangsa
memperjuangkan cita-cita
kedaulatan negara tercinta
Beliau langit terhampar tak gentar
Menemui malam dan teriknya siang
Senja menua tetap menyala
Oh jasa-jasa dari napas ketulusan jiwa
Jangan sampai generasi kita terlupa
Sejuknya kasih sayang dan cinta
Bagaikan namanya indah kan bergema
12.
MENUJU MAKAM IBU INGGIT GANARSIH
Matahari nampak indah menerangi
Bersambut sentuhan angin Sukajadi
Di jari-jari sepinya hati
Bandung selalu mendukung
perjalanan hari-hari
Tiba-tiba bisikan harapan bangkitkan
niat keramat untuk kembali menyibak
Tokoh istimewa yang banyak mata
telinga dan generasi terlupa
Seorang hebat terang berjasa
Pondasi penyemangat Bapak Bangsa
Maka kulanjutkan langkah teduhku
melewati Pajajaran, pasar Caringin
menuju Babakan Ciparay
Cahaya tergerai
“Ibu Inggit Ganarsih kuucapkan salam”
Perempuan perintis pergerakan
kemerdekaan Indonesia
yang selalu setia mendampingi
Sang Proklamator tercinta
Doa-doa
Renungan masa lama
Sejarah
Dan cerita
Tangis air mata
13.
PENYAIR PENYU
Penyair itu telah lahir
di tanah mentah putih pasir
Sendiri sepi
Meniti matahari terpuji terlindungi
Menekuni hari-hari merayapi arti
Sambil melangkahan kaki
menuju tepi pantai
Ia tak gontai
Menulis puisi di antara kegetiran
pasang surut lautan
rindu, diri, dan zaman
Penyair penyu penyair penyu
Terlihat dunia tanpa batasan
Keluasan keluwesan adalah kehidupan
Keberanian menjadi kebenaran
Bergulung ia dengan gelombang
Menyelam ke dalam lautan
Mengikuti tarian ombak
untuk satu tujuan
Petualangan
14.
PENYAIR GURU
Angin mengusap mukanya
yang gemerlap getir
terkesiap rasa khawatir
renungi anak didik sekolahnya
menyelami gelombang pancaroba
Lautan berkarang dan berpetir
Badai datang selalu tidak terduga
Perahu sederhana hanya bisa
mengikuti arus ombak berbicara
Sarapan malam terganti tinta hitam
Sendok dan piring kaca
ia sulap menjadi kertas – pena
Penyair guru tabu bermain dadu
Meski kehidupan dalam pengajaran
tak ada jaminan mencapai langit biru
Tapi kurikulum serupa bintang arahan
Dan tujuan perjalanan mesti diperjuangkan
15.
PERNAH BERKHAYAL
Pernah aku berkhayal bermimpi berangan
seperti berkontemplasi diri
Harga-harga bisa turun kembali
maka akan menyenangkan bagi hati
saat sedang dilanda pailit ekonomi
Oh keuangan mustika di rimbun jerami
Oh karya-karya puisi tidak berarti
Kita ada dalam kegagalan mencari jati diri
Menegakkan keadilan
mendesak metode induksi
Intelektual terlalu bermanja-manja logika
Lupa dengan atom-atom rasa
yang meluap ke udara menjadi derita
Itulah lamunan singkat padat
bukan terang kejora harapan
Tapi penantian tidak memungkinkan
16.
PERTEMUAN PENYAIR
Telah kutemui berbagai suara tangis
Jeritan sesal, durhaka, derita dan bahagia
Angin mengejar waktu untuk bersama
Penyair dikalahkan oleh kata-kata
Apa yang tertera di balik dinding hening
Malam dingin siang berhimpun tanding
Lanskap perkotaan – angan pedesaan
Segala sesuatu saling berpangku
Seperti bumi merantai musim cuaca
Hujan kemarau selalu berganti
Manusia tak ada yang mandiri
Begitu pula air
Syair penyair
11 PUISI
YANG MERASA YANG BERKARYA
KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA
1.
BAGAI ACHILLES DAN KURA-KURA
Aku dan kamu ini waktu
Bagai Achilles dan kura-kura
Sekuat tenaga aku curahkan
Sejauh mata memandang
Melewati batasan-batasan
Setenang kamu berjalan
Secepat aku berlari
Seberapa jauh tempat terhenti
Serajin aku mencari
Kembali aku mesti menjumpai
Sementara garis-garis nasib
tak pasti dalam ruang
di balik ruang ada ruang gaib
Memasuki pintu ke pintu
lagi-lagi bertemu
Kemustahilan menjadi kemungkinan
Yang tak bisa kita tafsirkan
2.
ZENO DARI BARAT LAUT
Zeno dari barat laut
telah menempuh larut
mengukir paradoks
Tentang misteri batasan dan waktu
Menguatkan kembali satu teori
setia pada guru sejati
Membangun ruang pemikiran
yang mesti terpecahkan
Bunga keberuntungan jatuh
di dada Aristoteles
Dibuatlah pintu-pintu dan jendela
agar masuk udara kesegaran
bagi mata dan jiwa
3.
PUISI UNTUK
TENDER SURRENDER, STEVE VAI
Melodi itu terdengar seperti persahabatan
makhluk dunia lain yang sedang rundingan berdialog sambil berdialektika
Bagai mengawasi langkah-langkah arah
urat-urat tubuh lalu berlabuh
di ulu hatiku, teduh
Asing tenang beriring
Bening nan nyaring
Ada Hening di kedalaman
Semarak menyeru keakraban
Padat menekan keyakinan
Membiru gunung di langit kejauhan
Not-not jumpalitan tetap bertujuan
Ada dingin berselancar dalam getar
membuat bulu kudukku merinding
berdebar-debar
Ada kasih kerinduan manis senyuman
dalam sentuhan tone tegas senar-senar
Ada gurauan canda tawa kebajikan
Gaya elegan berdamping kemampuan
tak terbantahkan
Ini keajaiban!
Gelombang ombak lautan berarakan
Harmonis di luar nalar batasan
Luwes bertenaga daya segala sukma
Dua karakter satu rasa menghantam baja
Kelembutan tajamnya naluri seni
Sebagai seorang gitaris dunia
Stevai, merangkai bisikan harapan
terpendam gejolak alam tiada padam
Setiap lompatan jari melahirkan
irama unik sistemik
pernak-pernik indah hidup bermadah
teknik permainan berhamburan
berbicara bermakna
bermetamorfosis, menjadi, dan dinamis
4.
MENJELANG ZODIAK TAURUS
Menjelang Taurus, Aries meraih kembali
Pisces masih mencari di pagi bermentari
Gemini dalam duka hitam cinta
ditinggal kekasih setia
Oh hujan yang berpetir
longsor sungguh aku khawatir
Dan sampah jangan sebabkan banjir
Gagasan kebajikan dan ambisi
Taurus terencana matang
Anginnya sudah memberi kabar
Taurus, Taurus gunung didaki
tak perlu terlalu tinggi
Hipotermia
bisa jadi sempitkan nafas di dada
5.
RUMAH ZODIAK ARIES BULAN APRIL
Rumah adalah singgasana
bagi perjalanan jiwa
Di antara seribu bisikan persoalan
eksternal yang tak masuk di akal
Angin memikul rezeki dari kejauhan
terbang sampaikan keberuntungan
Cinta mengalir bagaikan air kali
jernih diselimuti kehijauan pohonan
Aries bertapa dalam karya dan cipta
Rumah adalah singgasana
Mahkota pemimpin
Keberkatan bersanding
6.
DELAPAN BELAS APRIL
(KAA)
Teruntuk delapan belas April
Hati di dua benua terpanggil
Indonesia berbicara
Lantang dengan semangat kuat
membaja–menyala
Bandung, Gedung Merdeka
Saksi menuju masa depan cemerlang
Pintu kepedulian kemanusiaan
Antara kekhawatiran dan harapan
Dua puluh sembilan negara
Berembuk bersama
Memantapkan kembali budaya
Kerjasama ekonomi agar lebih berdaya
Negara-negara berkembang berjuang
Kolonialisme mesti ditentang
Karena merugikan
Mengundang kehancuran
Negara berhak merdeka
dengan segala kedaulatannya
Jangan ada negara boneka!
Yang bisa dipermainkan seenaknya
Hak asasi manusia mesti terjaga
Neokolonialisme wabah penyakit
bagaikan bakteri
yang menggerogoti negeri
Penjajahan tak boleh ada di muka bumi
Delapan belas April
Bersinar cahaya kesadaran
Solidaritas dibangkitkan
Perdamaian disuarakan
Hari baru nafas baru
Sembilan belas lima puluh lima
Konferensi Asia Afrika
7.
PENYAIR MALANG MELINTANG
Penyair yang malang melintang
adalah dia dalam dikotomi peradaban
Satu tubuh dua kehidupan
Antara cinta dan misi cita-cita
Angin membawanya ke air terjun
Penyair bermandi limpahan karunia
Matahari bagai koin kuning
Menyemprotkan angka nominal
pada pandangan
Bimbang ia berputaran
Menelentangkan dua tangan
Mengangkat satu kaki sambil bersiulan
Dan jawaban itu tak pernah ditemukan
8.
PENYAIR DI ATAS KASUR
Penyair di atas kasur
bersama khayalan ia bertempur
Jendela adalah benda kuno
yang mesti ia pelihara
dari pandangan penguasa siang
Dan angin bagai roh jahat
mengutuknya sekatuk laknat
Penyair di atas kasur
Kakinya terlipat lalu terulur
Seperti niat tekadnya maju mundur
9.
SERENADA APRIL
Hey hey hey hey
Hey hey hey hey
Dewi kelopak bunga melati
Putih berseri-seri
Ceria mewangi
di bulan April bersemi
Menjadi nyanyian duniawi
Hey hey hey hey
Hey hey hey hey
Dewi serenada ungu laguku
Spiritualitas penggerak sajakku
10.
DI PARKIRAN
Anginnya tegak berkerut kening
cemberut tak bergeming
dan halaman bagai pulau es dingin
Sudah satu minggu
Peluitnya bisu temboknya tuli
tiada mendengar mesin bergetar
Tukang parkir itu berunding
bersama hening
Lamunannya nyangkut di cakrawala
Bingung anaknya SD harus outing class
Dan seragam agak kusam
Uang belum juga tergenggam
Wahai yang mencari
Ke mana rezeki akan berlari
Jika waktu tentu
Kembali juga kepadamu
11.
TUJUH PERI DI WARUNG REMANG
Pohon sawit berbaris berjejeran
Jalan dramatis menangis di pinggiran
Di warung remang-remang
Tujuh peri membisikan harapan
Semoga hari ini ada yang datang
Air hujan jatuh bercucuran
Seperti hati mereka gelisah tak keruan
Di dipan halaman teduhan
Lagu rindu sendu berwangi kemenyan
Setiap yang bernyawa memiliki kebutuhan
Awan masih hitam
Nasib bulan agak kusam
Lambungnya ringan melayang-layang
Wahai tujuh peri yang mengunyah sepi
mencari rezeki
menjemput keberuntungan diri
Sementara kamu berusaha
Dan jauh dari putus asa
Doa dalam asa takkan sia-sia
Bagian itu akan tiba pada saatnya
Tiada tertukar ke lain dunia
lmmt7babafe89wz0thb1iiei1xe1e9o
117354
117351
2026-07-04T10:08:57Z
Sajak Puisi
43496
/* */
117354
wikitext
text/x-wiki
PUISI-PUISI
KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA
LAGU AGUNG BULAN JUNI (2026)
Agung Gema masih mengembara
Sambil bergelayutan di hutan kata-kata
Lalu mencium aroma nektar madu lebah
dari singgasana kursi kejujuran
Kebenaran adalah pangeran tersembunyi
di lubuk lembah terdalam hati nurani
Kini setelah zaman berganti
Ia mesti berdaya berani berjaya
Memakai mahkota keadilan
demi mewujudkan kesejahteraan
yang merata bagi umat manusia
PUISI SATU
(Makna Puisi)
Puisi adalah mantra ajaib
Dari intuisi sakral yang gaib
Pesona bahasa penuh perbawa
Ikatan kuat sinyal-sinyal dunia
Alam berkelana pada pijaran
Sinar-sinar ruhani gemerlapan
Biarlah emosional itu terlibat
Dalam frasa rangkaian tersurat
Fantasi gairah mimpi keramat
Kan membuka tabir yang tersirat
PUISI DARI TANAH BANDUNG
Bagai danau, bunga dan bukitan
Aku catat setiap kejadian
Dari mantra-mantra ajaib
Kemungkinan dan sikap kearifan
Puisi dari tanah Bandung
Adalah visi misi semesta raya
Penjaga generasi masa datang
Penyejuk gelombang zaman
Keharmonisan ucap, kata, alam
Menjadi bahasa penuh makna
Air mengalirkan semangat
Restu kebajikan keramat
Halus berbudi
Cermin bagi jendela hati
AKU BANGGA DI INDONESIA
Setelah umur empat puluh tahun
Harus kunyatakan dengan jujur
Agar aku mujur dan makmur
Terpilih sebagai orang bersyukur
Aku bangga di Indonesia
Matahari terbit di atas kepala
Sinarnya sejuk menyegarkan mata
Angin mengalir tenang perlahan
Membawa wangi bunga kemboja
Orang berkata : kamu tidak bekerja?” Padahal dia tak banyak tahu tentangku dan arti pekerjaan
Apakah dinamakan bekerja
Jika berada di perusahaan asing ?
Atau dengan kemeja, jas, sepatu, tas
Lalu berucap “saya sibuk sedang bekerja”!
Apakah tidak lebih baik
bangga dengan kemampuan diri
ketika seseorang bisa memanfaatkannya
untuk pengabdian terhadap bangsa dan negara?
Juga memiliki sekaligus berbagi waktu
untuk berbagai keperluan?
Hidup adalah pilihan
Angin dan air tumpang tindih
menjadi banjir.
Membawa kayu kegolondongan,
biji emas dan nikel.
Memoles batu akik berwarna hijau
Adalah bumi kita zamrud khatulistiwa
Menyuguhkan harum cendana.
Aku tidak ingin ke luar negeri
Sudah kutetapkan di sini
Menikmati suka duka bersama mimpi
Meski dihina dicaci
Hanya karena serabutan
Hihi bukan persoalan
Karena aku cinta negeri ini
Setiap saat kuingat
Aku berdoa dalam sunyi
Semoga keadilan merata
Semangat kebangsaan tumbuh
Negeri damai tenteram
Rakyatnya sehat
Pusakanya keramat
Aku berharap bisa mencerdaskan
Kehidupan bangsa
Bersikap patriotik tidak harus berpolitik
Aku punya karya
Meski tidak seterkenal Shakespeare
Chairil Anwar atau Rendra
Tapi aku bisa menunjukkan diriku
Dengan sebuah catatan pemikiran
Aku lulusan bahasa dan sastra
Sebagai sarjana
Sejak awal aku kuliah bukan untuk bekerja
Tapi mencari ilmu agar bisa berbagi
Lebih dekat dengan Indonesia
Dengan bahasa, sastra dan budaya
Di luar itu
Aku mempelajari musik, filsafat,
agama, tata negara, hukum, sosial, politik, ilmu alam, kewirausahaan, peradaban sejarah, psikologi, eskatologi, mistik
perjimatan, keajaiban matematika, mantik,
dasar fisika, metafisika, pengobatan, kaidah-kaidah kedokteran
ramalan-ramalan kuno dengan berbagai genre nya kuperdalam setiap hari
Akhirnya semua kusatukan
dalam karya puisiku
“Julukanku perpustakaan berjalan”
Kurang pas tapi mengagetkanku
Aku punya banyak murid
Formal maupun informal
Mereka mau tidak mau mengakui
Pengetahuannya dari pengetahuanku
Dan aku tidak perlu gaji untuk itu
karena seorang guru adalah pengabdian.
memberi kesegaran bagi masa depan.
Kendaraanku cukup
Dari hasil mengamen
Aku bisa membeli rumah
Cukup untuk singgah, merenung menikmati hari.
Aku punya kebun cukup luas
tiga puluh enam tumbak
Ya dari hasil jual rongsokan
Aku tidak pernah mencicil apapun
Sampai saat puisi ini kamu baca
Tidak juga kekurangan uang
Dan jauh dari hutang ke bank
Malahan membayari seseorang
yang memiliki hutang
Haha terkadang aku tertawa
Sambil terharu
Siapa aku?
Aku cuma rindu wanitaku.
Itu naluriah
Seorang lelaki mencintai dan dicintai
Kerinduanku berkarat disiram rembulan
Hidup adalah perjalanan
Hidup adalah persinggahan
Siapa orang yang tidak terberkati
Dengan adanya diriku
Bukan memuji diri
Ini adalah klarifikasi
Maaf pernyataanku lucu-lucuan
Berharap bisa memberi kesan
Pertimbangan untuk ke depan
Anak aku sekolahkan
Aku benci pungli bila terjadi
Anak yatim cukup kubiayai
Para janda masih sanggup kuhidupi
Aku masih bisa meminjamkan uang
Tanpa bunga tanpa anggunan
Entah mungkin nanti
Sampai saat puisi ini kutulis
Pagi di Indonesia penuh canda
Kehangatan dan paradoks nya jiwa
kurasakan menjadi bahan kajian
Dan kita mesti belajar berlapang dada
Aku paham di zaman sekarang
Bekerja kantoran adalah kebanggaan
Tapi tidak bagi diriku
Kita bisa berbeda itulah keberagaman
Kecerdikan bersilat lidah lebih dihargai
Ketimbang sikap ksatria
Ya ya hidup hedon sedikit nakal
Atau berfoya-foya adalah keberhasilan
Penilaian tergantung gaya hidup
Biarpun berat sanubari melarat
Yang penting rumah, kendaraan, tumpukan belanjaan
terlihat keluarga atau tetangga
Itulah yang kutangkap dari sisi lain
Yang lain dengan pandanganku
Aku bangga di Indonesia
Biarpun belum bisa membanggakan
Bukan pula kebanggan
NEGERI YANG ANEH
Di balik galaksi bima sakti
Ada secarik tulisan
“Negeri yang aneh
Puisi pun dibatasi
oleh modal dan pandangan pribadi
Disesuaikan dengan keinginan
para oligarki
Menolak keindahan persepsi
Berarti menidurkan daya sejati
dari kreatifitas perasaan
anugrah Tuhan
Jika dipilih dipilah
Seperti ikan asin, cumi, udang
Di beli dapat hasil beli
Di kursuskan jadi karbitan
Di pertontonkan butuh pengakuan
Di bukukan perlu bayaran.”
Aku berjalan dari desa ke kota
Mencatat tiap gejala di kehidupan nyata
Mengolah rasa menjadikan karya sastra
Dan tak peduli
ada yang mengakui
Ini bukan curahan hati
Tapi demi kebebasan berpuisi
Selama unsur keindahan
itu terjadi
Maka layak diberi
Prestise dan prestasi
Sebagai penyair meski sunyi
Jangan persulit lagi
Sudah bosan terlalu berangan
Tanpa perkumpulan
Tak ada penerbitan
Tanpa uang
Tak ada keikutsertaan
Apalagi kelayakan
Tanpa komunitas
Tak ada kepenyairan
Lepaskan itu semua
Buatlah puisi
Tanpa perlu penilaian
Untung di planet lain
Terhijab triliunan kain
Bukan di bumi
Pula di negeriku ini
Tapi di balik matahari
Tiada terkena sentuhan cahaya
Jauh dari rembulan
Negeri begitu kelam
Hanya malam
Menggelombang mengambang
…
Puisi tak perlu tingkatan
senioritas
Puisi lepas aturan
kesesuaian tema, judul dan kata
Puisi adalah eksistensi diri
Puisi memupuk kemandirian naluri
Merdekakan puisi
Dari cengkeraman tangan ganda
yang berotot, berkuku, bergigi kuda
Puisi tidak seperti rel
Sambung menyambung
Bukan bukit gunung
Juga berbeda dengan jalan tol
Apalagi minuman botol
Puisi tak perlu laku
Atau rayu merayu
agar terjual di pasar
Puisi adalah kearifan
Hakikat manusia
yang dengannya dia berjaya
DUNIA TANPA BATAS
Agung Gema Nugraha
Angin panas dari negara maju
menyerbu singgasana kepulauan
Arah baru membuka tantangan
bagi masa depan
Dalam permasalahan kompleks
Negara berkembang ditekan
dipaksa untuk perubahan
Meski harus hilang keseimbangan
antara hak dan kewajiban
Isu global, kesenjangan sosial
Berlarut-larut bagai hujan
yang bisa mengakibatkan banjir
dan gempa susulan
Dunia saat ini dalam satu pantauan
satu daerah lingkup teknologi
Kita tak bisa diam dalam percaturan
pergerakan kesadaran perlu diberdayakan
Peranan masyarakat adalah matahari
yang penting untuk dikedepankan
Dalam hal budaya, seni, sosial, komunikasi
dan segala aspek kehidupan
Sesuai dengan kemampuan
tanpa meninggalkan nilai moral leluhur
serasi, selaras
berkeadilan bersatu dalam perbedaan
Kapitalis adalah gunung angkuh
yang tak mungkin mengalah runtuh
menjadi lembah
Dunia tanpa batas
Memberi informasi kenyataan negeri
Bahwa kita sedang dipersiapkan
Untuk menjadi pion atau raja
PUISI UNTUK PEMBERITAAN
(Khusus Sesar Lembang)
Agung Gema Nugraha
Masih itu saja. Berita adalah doa
Bisa berwujud mantra-mantra
ketika diulang-ulang
memakai syarat ketentuan
Pengabaran seolah ramalan
dalam kehidupan.
Keterkabulan akan terjadi
bila diiringi hati harap-harap cemas
Ketakutan akan menumbuhkan sayapnya
ke langit maka sampailah pada penjaga
Malaikat pengurus bumi
Maytotorun Maytotorun!
Kritik mesti ditegakkan dengan
benar dan berkeadilan.
Antisipasi dibutuhkan
sekadar keperluan
Tapi tidak harus terus-menerus
Menjadi arus
topik pembicaraan
Peliputan yang bertolak
dengan kenyataan mata telanjang
Adalah melawan kekuatan alam
Peliputan mencari kesadarannya
kepada berbagai pihak
Baik untuk sebagian tujuan
Dan akan kurang beruntung
bagi metafisika spiritual
Jiwa manusia mesti terjaga
SENDAWAKU, BUAT OKNUM,
KORUPTOR!
.. ….. Agung Gema N
Sendawaku akhirnya sampai juga kepadamu
di saat aku tidak mengharapkanmu.
Eughh, eughh oknum, koruptor!
Oknum, koruptor
Bertelor
Meneror
Mimpi masa depan kebangsaan
Merah mega menyala
Semburat cinta purba bangkit perkasa
Berani memberantas korupsi
adalah ksatria sejati
Pemimpin cermin bagi hati nurani
Oh kekasihku, yang duduk di kursi
kekuasaan negara
jangan makan gaji buta
Di antara awang-awang
dan bumi yang pernah cedera
Sepuluh tahun aku menahan luka
Dua puluh tahun aku terlunta-lunta
Kamu kini bukan wujud yang kemarin
Manipulasi diri begitu narsis dan dingin
Seperti lambungku, kosong kendor
Oknum, koruptor! Oknum, koruptor!
CIKOLE
Agung Gema Nugraha
Mimpi-mimpi yang perkasa
berdiri tegak di bawah lembah
Gunung Tangkuban Perahu
Langkah-langkah dari jauh
disulap angin riuh
dan mitos negeri peri
Gunung Puteri
Kembang Jaksi
Lembah Hyang
Cikole
Jayagiri
Dewi
menyala seperti bintang di malam hari
Murninya alam kahyangan
Cantiknya Parahyangan
LAGU BUAT NENG DEWI
(Bulan Juni 2026)
Aku tulis puisi ini
Sambil menikmati bulan Juni
Riuh remaja bulannya muda
Wahai neng Dewi kucinta padamu
Setangkai bidara yang tertanam
Diusapi sepi udara malam
Sejuk membelai merekah gemulai
Memantapkan keyakinan tanpa buaian
Dirimu dalam pandangan
Bagai kejernihan murni Bumi Pertiwi
Wahai neng Dewi kumerindukanmu
KEMBALI KE LEUWI PANJANG
Kembali ke terminal Leuwi Panjang
adalah menemani nyanyi pagi
bulan Juli
setelah kegiatan sehari-hari terhenti
Bus kota kunaiki bersama mimpi
tanpa mengenyam raut muka
kekasih masa silam
Dan Dewi masih menunda tanda
Belum juga terbit di pelupuk mata
Tapi hidup tak boleh sia-sia
dalam kobarannya
TANGIS BESI
Tangis Besi Tangis Besi
Betapa ganasnya satu pekerti
Dan ia tak mau mengerti
Tangis besi Tangis Besi
Keras kaku pemikiran angan
Itu tak bisa dihancurkan
PENA JULI
Pena Juli
Tintanya tersirap matahari
dari ufuk hari yang tak pasti
Pena Juli
Tiada tajam bagai gergaji
atau kilat pisau belati
Patah perintah hati nurani
MAWAR TEMBAGA
Mawar tembaga
Adalah bunga persembahan zaman
Kebunnya sudah menjadi menara
Istrinya terbentur musim gugur
Segala jiwa keluarga menganggur
Mawar tembaga
Lelaki legam perkasa
Sudah lima tahun bertapa
bertambah tua muka
banyak berduka
Tak ada cinta
jika tak menghasilkan
Sebagaimana cahaya malam redam
bila bintang bulannya tenggelam
Ah kesendirian itu adalah pintu gila
Mawar tembaga
BERAS BATIN
Beras Batin
Angin menggelinding membawa kabar
tentang tanah subur tanpa penghuni
Sawah-sawah liar itu telah tertanam
gedung dan perumahan mewah
Beras Batin
Rakyatnya pergi ke lorong mega
Sambil melangkah menganga
menitikkan air mata tanpa suara
Karena bunyi habis termakan
excavator, tower crane
Palu besar menambah pilu
Concret pump, vibrator dan gergaji
menyayat sanubari
Beras batin
KUMPULAN PUISI
AGUNG GEMA NUGRAHA
16 REMBULAN
1.
WANITA SATU RUPA
Singgah di kursi pemanjaan dirimu
Aku boneka yang tiada bernama
Sudah kuciptakan seribu sajak
Sambil diam terbajak
Masih mencari juga tentang makna
tentang kenapa kita harus bersama?
Kamu adalah wanita penuh warna
Baik hati memiliki satu rupa
Ketulusan
Wahai kekasih pemberi inspirasi
Seratus guru aku pelajari
Tapi kembali kepadamu aku berkaca
2.
BUKAN CINTA MEI
Bukan cinta untuk Mei
Aku tulis sajak di bulan ini
Tapi karena kemelut mencari jalannya
lewat kalimat tanpa laknat
Kita terlalu mudah sakit hati
Batang patah nurani bergetah
Meludah marah muntah-muntah
Menempel di tangan menjadi dendam
Masuk ke pikiran semakin kelam
Sulitnya naga berapi
Diam menyepi berkontemplasi
Malah nge-gas tegas menolak berontak
Menerima secuil takdir keberuntungan
Kita belum dewasa mengenal bunga
Warna-warni kehidupan fatamorgana
Enggan beriring saat tak bernama
Kalah bersaing menyaring bising
Dalam kenyataan yang dihadapi
Diri bagai cedera luka kura-kura
Setiap manusia korban khianat duka
Bukan cuma Anda
Bianglala tiada selalu menyala
Lalu kamu mengalirkan air mata
Menyuap alam semesta
Akhirnya bersembunyi di semak berduri
Terpenjara oleh hari
3.
KERAJAAN JAMPANG MANGGUNG
Jampang Manggung dua masehi
Aki Sugiwanca menemu tanda
di balik sunyi
Selatan Jawa Barat adalah permata
Kesuburan tanah mesti terjaga
Cianjur, Sukabumi berdaya
Kerajaan tegak tatar pasundan semarak
Sang kakak, Aki Tirem dari Banten
leluhur raja-raja Sunda menyimak
dan ya, utara – selatan mesti
terdengar harapan agar tertata
wilayah makmur, adil dan sejahtera
4.
SAJAK BULU
Satu perjalanan seribu pengkhianatan
Aku merasakan bulu-bulu di tubuh
menyentuh kisruh
pikiran, keringat berpeluh
kering merapuh
Memanjang nan keruh
Kusut beringsut
Ibarat perdebatan intelektual
di media sosial
Serasa hampa kurang guna
tiada ada jalan keluar
Malah api berkobar
Kita terbakar
Lubang-lubang semakin lengang
tanda ketidakmampuan
mulut membicarakan berbagai keluhan yang datang bertubi-tubi setiap jam
saat berbunyi berdentang
Bulu di telinga berwarna jingga
Bulu di hidung lendir terkandung
Bulu di atas bibir dan mata
Menyangkut kental air susu putih
dan tragedi cinta merintih
Bulu di ketiak
Bagai jerat hitam scorpio
Bulu di emmm….
Mesti dibersihkan harian, mingguan
atau bulanan sebelum waktu gajian
Bulu di setiap jengkal terus tumbuh
tersipuh janji-janji kecil terasingkan
lalu akhirnya meluas memanjang
menjadi kebun binatang
Ah Seperti alang-alang tertiup angin
rambut jagung pun menguning
terjemur persoalan hutang
Umur tergadaikan
Bulu terlupakan
5.
PUISI X
Menyaksikan semesta raya
adalah mencari keberadaan diri kita
yang terbang melayang dalam pertanyaan
mencoba memantapkan ujuan
Spinoza sedikit mengurai kata
tentang kesadaran etika
Dan aku memahami
bahwa mengikuti hasrat diri
untuk kepentingan kita sendiri
yang terlihat baik mandiri
Bisa jadi membuat problema baru
bagi keserasian keharmonisan
jalannya ketentuan alam
Bangunan-bangunan bertembok
besi, baja, seng dan tembaga
Hunian indah mengorbankan
pohonan, hutan, hewan rumputan
Kendaraan di empat elemen
Aspalan jalan, gang menggantikan
tanah persahabatan
Mengugurkan kecintaan pemeliharaan
akan riuhnya kehidupan
Kimia menjadi sihir pembakar kehijauan
Napas manusia meracuni harapan hewan
tumbuhan juga kemurnian
Kita menghancurkan keyakinan kita sendiri
6.
SI JALAK HARUPAT
Di mana dia Si Jalak Harupat
penghalau badai barat laut?
Ombak menggoyangkan pohonan
Si Jalak Harupat perkasa
membelah setiap hantaman
Kepekaannya memindahkan awan hitam
Cerdas kata tegas matahari terpancar
dan bagai petir mengandung energi listrik kalimatnya menggetarkan para penindas
yang pura-pura kura-kura
Dinding mana mampu menghalangi?
Keberaniannya mengungguli setiap hati
Celoteh alasan apa bisa menandingi?
Penjajahan dan diskriminasi
tak boleh berdiri di bumi pertiwi
Menyerah bahasa lain di ujung langit sepi
Pendidikan, berdayakan!
Keadilan dan kedaulatan perjuangkan!
Bangsa mesti “Merdeka!”
7.
PUTRI KADITA
Udara itu rasa jamu batrawali
Ramuan nasib gaib
yang tiada kita ketahui
membuat bintang bulan cemberut
Jekut muka malam karam
terdalam luka-luka duka cita
Putri Kadita Putri Kadita
Kasih ayah adalah segala
Air mata ada di jiwa
Putri Kadita darah Siliwangi berkata
“Cedera rasa, keadilan menjelma.”
Oh, Merah jingga
mengalir bagai butiran berlian
takkan mudah terkalahkan
…Setelah tersia-sia
Perjalanan memiliki perhitungan
Ketentuan masing-masing kehidupan
Meski mesti kita terkucil terasing
Kain Kemulyaan keagungan
Tiada tertukar disambar hasrat kedengkian
Jika waktunya alam kan memakaikannya
Di roh, mata, telinga, suara keabadian
Putri Kadita ratu penguasa
pesisir pantai selatan
8.
BUAH HONJE
Buah Honje buah Honje
Nyai Padmawati
Istri terkasih Prabu Siliwangi
Menanti sang buah hati
Langit menguji perasaan
Kuat keinginan dua roh di badan
Mengungkapkan buah masam
karena mengidam
adalah bisikan lain alam
Ki lengser Pajajaran merenangi mimpi
Mengembara di sorot sinar mentari
Mencari terus mencari
tapi di negeri begitu sepi
Setelah lelah bimbang hadapi hari
Bisikan diri menggerakan kaki
Langkah lari tiada terperi
Di hutan akhirnya ia dapati
Sayang hitungan delapan
Terpetik harapan
Ki lengser kerajaan Muara Beres
mendahului waktu terdepan
Takdir permaisuri Gambir Wangi
pun serupa hasrat tersirat
Buah Honje buah Honje
Dua lengser saling memperebutkan
Rembulan menyaksikan
Ilmu berkilatan
Sekali sentil bukit mengecil
Tiada kalah dan menang
Malam kesaktian berimbang
Bintang cemerlang
Akhirnya meminta petunjuk kahyangan
Sunan Ambu adalah keadilan
Memutuskan tiada mengabaikan
Dibagilah dengan rata dan sejahtera
Nyai Padma melahirkan putra bercahaya
Prabu Mundinglaya Dikusumah
Gagah perkasa
9.
PENGHARGAAN SEMU
Hei, hei air segelas jika hilangkan dahaga
Tak perlu seember penuh terhidangkan
untuk kamu reguk agar sirna
panas ternggorokan
Biar tidak mabuk
Hei, hei kenapa kamu bersamaan
Jika sendiri mampu menyelesaikan
Penghargaan kolektif tak ada tujuan
Bila yang tunggal mampu memecahkan
Apalagi kamu harapkan?
Hei, hei jangan belajar tak masuk akal!
Bayangan semu tak perlu dirindu
Ambillah kenyataan pahitnya hatimu
10.
PENYAIR PEMECAH REKOR
Dia adalah cakrawala luas
Pecinta budaya dan harapan
tanpa batas
Ribuan kata-kata berbintang
Metafora matahari kebaruan hari-hari
bersinar terang di langit membentang
Penyair pemecah rekor karya otentik
Memberontak waktu sigap tiap
menit sengit
berlari mengejar detik-detik
terpantik inspirasi gelora mistik
Kalimat keramat
bagai mengandung daya magnetik
11.
IBU INGGIT GANARSIH
Inggit Ganarsih adalah sinar fajar
yang siap siaga selalu tiada samar
menemani langkah lelah
sang Bapak Bangsa
memperjuangkan cita-cita
kedaulatan negara tercinta
Beliau langit terhampar tak gentar
Menemui malam dan teriknya siang
Senja menua tetap menyala
Oh jasa-jasa dari napas ketulusan jiwa
Jangan sampai generasi kita terlupa
Sejuknya kasih sayang dan cinta
Bagaikan namanya indah kan bergema
12.
MENUJU MAKAM IBU INGGIT GANARSIH
Matahari nampak indah menerangi
Bersambut sentuhan angin Sukajadi
Di jari-jari sepinya hati
Bandung selalu mendukung
perjalanan hari-hari
Tiba-tiba bisikan harapan bangkitkan
niat keramat untuk kembali menyibak
Tokoh istimewa yang banyak mata
telinga dan generasi terlupa
Seorang hebat terang berjasa
Pondasi penyemangat Bapak Bangsa
Maka kulanjutkan langkah teduhku
melewati Pajajaran, pasar Caringin
menuju Babakan Ciparay
Cahaya tergerai
“Ibu Inggit Ganarsih kuucapkan salam”
Perempuan perintis pergerakan
kemerdekaan Indonesia
yang selalu setia mendampingi
Sang Proklamator tercinta
Doa-doa
Renungan masa lama
Sejarah
Dan cerita
Tangis air mata
13.
PENYAIR PENYU
Penyair itu telah lahir
di tanah mentah putih pasir
Sendiri sepi
Meniti matahari terpuji terlindungi
Menekuni hari-hari merayapi arti
Sambil melangkahan kaki
menuju tepi pantai
Ia tak gontai
Menulis puisi di antara kegetiran
pasang surut lautan
rindu, diri, dan zaman
Penyair penyu penyair penyu
Terlihat dunia tanpa batasan
Keluasan keluwesan adalah kehidupan
Keberanian menjadi kebenaran
Bergulung ia dengan gelombang
Menyelam ke dalam lautan
Mengikuti tarian ombak
untuk satu tujuan
Petualangan
14.
PENYAIR GURU
Angin mengusap mukanya
yang gemerlap getir
terkesiap rasa khawatir
renungi anak didik sekolahnya
menyelami gelombang pancaroba
Lautan berkarang dan berpetir
Badai datang selalu tidak terduga
Perahu sederhana hanya bisa
mengikuti arus ombak berbicara
Sarapan malam terganti tinta hitam
Sendok dan piring kaca
ia sulap menjadi kertas – pena
Penyair guru tabu bermain dadu
Meski kehidupan dalam pengajaran
tak ada jaminan mencapai langit biru
Tapi kurikulum serupa bintang arahan
Dan tujuan perjalanan mesti diperjuangkan
15.
PERNAH BERKHAYAL
Pernah aku berkhayal bermimpi berangan
seperti berkontemplasi diri
Harga-harga bisa turun kembali
maka akan menyenangkan bagi hati
saat sedang dilanda pailit ekonomi
Oh keuangan mustika di rimbun jerami
Oh karya-karya puisi tidak berarti
Kita ada dalam kegagalan mencari jati diri
Menegakkan keadilan
mendesak metode induksi
Intelektual terlalu bermanja-manja logika
Lupa dengan atom-atom rasa
yang meluap ke udara menjadi derita
Itulah lamunan singkat padat
bukan terang kejora harapan
Tapi penantian tidak memungkinkan
16.
PERTEMUAN PENYAIR
Telah kutemui berbagai suara tangis
Jeritan sesal, durhaka, derita dan bahagia
Angin mengejar waktu untuk bersama
Penyair dikalahkan oleh kata-kata
Apa yang tertera di balik dinding hening
Malam dingin siang berhimpun tanding
Lanskap perkotaan – angan pedesaan
Segala sesuatu saling berpangku
Seperti bumi merantai musim cuaca
Hujan kemarau selalu berganti
Manusia tak ada yang mandiri
Begitu pula air
Syair penyair
11 PUISI
YANG MERASA YANG BERKARYA
KARYA AGUNG GEMA NUGRAHA
1.
BAGAI ACHILLES DAN KURA-KURA
Aku dan kamu ini waktu
Bagai Achilles dan kura-kura
Sekuat tenaga aku curahkan
Sejauh mata memandang
Melewati batasan-batasan
Setenang kamu berjalan
Secepat aku berlari
Seberapa jauh tempat terhenti
Serajin aku mencari
Kembali aku mesti menjumpai
Sementara garis-garis nasib
tak pasti dalam ruang
di balik ruang ada ruang gaib
Memasuki pintu ke pintu
lagi-lagi bertemu
Kemustahilan menjadi kemungkinan
Yang tak bisa kita tafsirkan
2.
ZENO DARI BARAT LAUT
Zeno dari barat laut
telah menempuh larut
mengukir paradoks
Tentang misteri batasan dan waktu
Menguatkan kembali satu teori
setia pada guru sejati
Membangun ruang pemikiran
yang mesti terpecahkan
Bunga keberuntungan jatuh
di dada Aristoteles
Dibuatlah pintu-pintu dan jendela
agar masuk udara kesegaran
bagi mata dan jiwa
3.
PUISI UNTUK
TENDER SURRENDER, STEVE VAI
Melodi itu terdengar seperti persahabatan
makhluk dunia lain yang sedang rundingan berdialog sambil berdialektika
Bagai mengawasi langkah-langkah arah
urat-urat tubuh lalu berlabuh
di ulu hatiku, teduh
Asing tenang beriring
Bening nan nyaring
Ada Hening di kedalaman
Semarak menyeru keakraban
Padat menekan keyakinan
Membiru gunung di langit kejauhan
Not-not jumpalitan tetap bertujuan
Ada dingin berselancar dalam getar
membuat bulu kudukku merinding
berdebar-debar
Ada kasih kerinduan manis senyuman
dalam sentuhan tone tegas senar-senar
Ada gurauan canda tawa kebajikan
Gaya elegan berdamping kemampuan
tak terbantahkan
Ini keajaiban!
Gelombang ombak lautan berarakan
Harmonis di luar nalar batasan
Luwes bertenaga daya segala sukma
Dua karakter satu rasa menghantam baja
Kelembutan tajamnya naluri seni
Sebagai seorang gitaris dunia
Stevai, merangkai bisikan harapan
terpendam gejolak alam tiada padam
Setiap lompatan jari melahirkan
irama unik sistemik
pernak-pernik indah hidup bermadah
teknik permainan berhamburan
berbicara bermakna
bermetamorfosis, menjadi, dan dinamis
4.
MENJELANG ZODIAK TAURUS
Menjelang Taurus, Aries meraih kembali
Pisces masih mencari di pagi bermentari
Gemini dalam duka hitam cinta
ditinggal kekasih setia
Oh hujan yang berpetir
longsor sungguh aku khawatir
Dan sampah jangan sebabkan banjir
Gagasan kebajikan dan ambisi
Taurus terencana matang
Anginnya sudah memberi kabar
Taurus, Taurus gunung didaki
tak perlu terlalu tinggi
Hipotermia
bisa jadi sempitkan nafas di dada
5.
RUMAH ZODIAK ARIES BULAN APRIL
Rumah adalah singgasana
bagi perjalanan jiwa
Di antara seribu bisikan persoalan
eksternal yang tak masuk di akal
Angin memikul rezeki dari kejauhan
terbang sampaikan keberuntungan
Cinta mengalir bagaikan air kali
jernih diselimuti kehijauan pohonan
Aries bertapa dalam karya dan cipta
Rumah adalah singgasana
Mahkota pemimpin
Keberkatan bersanding
6.
DELAPAN BELAS APRIL
(KAA)
Teruntuk delapan belas April
Hati di dua benua terpanggil
Indonesia berbicara
Lantang dengan semangat kuat
membaja–menyala
Bandung, Gedung Merdeka
Saksi menuju masa depan cemerlang
Pintu kepedulian kemanusiaan
Antara kekhawatiran dan harapan
Dua puluh sembilan negara
Berembuk bersama
Memantapkan kembali budaya
Kerjasama ekonomi agar lebih berdaya
Negara-negara berkembang berjuang
Kolonialisme mesti ditentang
Karena merugikan
Mengundang kehancuran
Negara berhak merdeka
dengan segala kedaulatannya
Jangan ada negara boneka!
Yang bisa dipermainkan seenaknya
Hak asasi manusia mesti terjaga
Neokolonialisme wabah penyakit
bagaikan bakteri
yang menggerogoti negeri
Penjajahan tak boleh ada di muka bumi
Delapan belas April
Bersinar cahaya kesadaran
Solidaritas dibangkitkan
Perdamaian disuarakan
Hari baru nafas baru
Sembilan belas lima puluh lima
Konferensi Asia Afrika
7.
PENYAIR MALANG MELINTANG
Penyair yang malang melintang
adalah dia dalam dikotomi peradaban
Satu tubuh dua kehidupan
Antara cinta dan misi cita-cita
Angin membawanya ke air terjun
Penyair bermandi limpahan karunia
Matahari bagai koin kuning
Menyemprotkan angka nominal
pada pandangan
Bimbang ia berputaran
Menelentangkan dua tangan
Mengangkat satu kaki sambil bersiulan
Dan jawaban itu tak pernah ditemukan
8.
PENYAIR DI ATAS KASUR
Penyair di atas kasur
bersama khayalan ia bertempur
Jendela adalah benda kuno
yang mesti ia pelihara
dari pandangan penguasa siang
Dan angin bagai roh jahat
mengutuknya sekatuk laknat
Penyair di atas kasur
Kakinya terlipat lalu terulur
Seperti niat tekadnya maju mundur
9.
SERENADA APRIL
Hey hey hey hey
Hey hey hey hey
Dewi kelopak bunga melati
Putih berseri-seri
Ceria mewangi
di bulan April bersemi
Menjadi nyanyian duniawi
Hey hey hey hey
Hey hey hey hey
Dewi serenada ungu laguku
Spiritualitas penggerak sajakku
10.
DI PARKIRAN
Anginnya tegak berkerut kening
cemberut tak bergeming
dan halaman bagai pulau es dingin
Sudah satu minggu
Peluitnya bisu temboknya tuli
tiada mendengar mesin bergetar
Tukang parkir itu berunding
bersama hening
Lamunannya nyangkut di cakrawala
Bingung anaknya SD harus outing class
Dan seragam agak kusam
Uang belum juga tergenggam
Wahai yang mencari
Ke mana rezeki akan berlari
Jika waktu tentu
Kembali juga kepadamu
11.
TUJUH PERI DI WARUNG REMANG
Pohon sawit berbaris berjejeran
Jalan dramatis menangis di pinggiran
Di warung remang-remang
Tujuh peri membisikan harapan
Semoga hari ini ada yang datang
Air hujan jatuh bercucuran
Seperti hati mereka gelisah tak keruan
Di dipan halaman teduhan
Lagu rindu sendu berwangi kemenyan
Setiap yang bernyawa memiliki kebutuhan
Awan masih hitam
Nasib bulan agak kusam
Lambungnya ringan melayang-layang
Wahai tujuh peri yang mengunyah sepi
mencari rezeki
menjemput keberuntungan diri
Sementara kamu berusaha
Dan jauh dari putus asa
Doa dalam asa takkan sia-sia
Bagian itu akan tiba pada saatnya
Tiada tertukar ke lain dunia
INTROSPEKSI BULAN JULI
Melirik lagi masa sedetik tadi
adalah berintrospeksi diri
pada langkah manusia yang lalai
akan jalannya alam dan takdir
sehingga melupakan adalah pengkhianatan akan kebaikan
Kita tidak mau menjadi saksi
bagi kelemahan hati
Dengan pergaulan pikiran gila logika
kita jadi tidak memahami satu nama
“rasa kasih cinta.”
SETELAH KEMARAU BULAN JUNI
Setelah kemarau kemarin bulan Juni
yang penuh kesombongan
Hari ini sayap malaikat suci
mengepakkan kasih sayangnya
Tercurahlan air bekas ia bermandi
di telaga langit surga
menjadi kesederhanaan hujan bulan Juli
Insan tak perlu angkuh dengan materi
padahal keadaannya
tiada pernah ia memahami
Insan lepaslah baju keegoanmu
sebab satu titik air menyegarkan
untuk kehidupanmu
rumit untuk kamu ciptakan
HUJAN BULAN JULI
Ada muka yang membawa sukacita
dari rindu purba di bawah langit senja
Hujan bulan Juli
Kini telah turun lagi setelah tujuh tahun
bersembunyi karena langkah sehari-hari
awan tiada menepikan pesan harapan
mata air kehidupan surgawi
(Manusia melupakan kaitannya
dengan alam maka hujan pun enggan
memberi kedamaian)
Ada keangkuhan derita menjadi cerita
Hujan bulan Juli
menjadi penyadaran lelaki
akan cintanya yang tak pernah ia akui
kcokpwh0qre6t99ebf0df1dbrlxb4aa
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Dusun Tua Pelang Kelayang
0
27749
117344
2026-07-03T12:17:07Z
NindiAstt
43491
←Membuat halaman berisi 'Desa Dusun Tua Pelang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Desa ini terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Desa Dusun Tua pada tanggal 31 Desember 2006. Pemekaran dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan, mempercepat pelayanan kepada masyarakat, serta mendorong pemerataan pembangunan di wilayah desa. Setelah resmi berdiri sebagai desa definitif, pemerintahan pertama dipimpin oleh Roesli...'
117344
wikitext
text/x-wiki
Desa Dusun Tua Pelang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Desa ini terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Desa Dusun Tua pada tanggal 31 Desember 2006. Pemekaran dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan, mempercepat pelayanan kepada masyarakat, serta mendorong pemerataan pembangunan di wilayah desa. Setelah resmi berdiri sebagai desa definitif, pemerintahan pertama dipimpin oleh Roesli sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Desa hingga terlaksananya pemilihan kepala desa secara langsung.
Sebelum menjadi desa yang berdiri sendiri, wilayah Dusun Tua Pelang merupakan bagian dari Desa Dusun Tua. Masyarakatnya telah lama menetap di kawasan tersebut dan menggantungkan kehidupan pada hasil alam. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani karet dan kelapa sawit, sementara sebagian lainnya menjadi pedagang, buruh, nelayan sungai, serta mengembangkan usaha kecil dan menengah. Kehidupan masyarakat masih sangat kental dengan budaya Melayu, ditandai dengan semangat gotong royong, musyawarah, serta pelestarian adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.
Seiring berjalannya waktu, Desa Dusun Tua Pelang mengalami perkembangan dalam berbagai bidang. Pembangunan infrastruktur seperti jalan desa, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, dan sarana pelayanan masyarakat terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Pemerintah desa juga membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai upaya meningkatkan perekonomian masyarakat. Melalui BUMDes, berbagai unit usaha dikembangkan, seperti pengelolaan perkebunan kelapa sawit, penyediaan gas LPG, serta penyewaan alat peras santan. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan berbagai usaha mikro seperti pembuatan keripik ubi, kue bawang, dan makanan ringan lainnya yang menjadi sumber pendapatan tambahan.
Desa Dusun Tua Pelang juga dikenal masih menjaga tradisi dan budaya lokal. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan adalah upacara adat Menyimah Kampung, yaitu tradisi masyarakat Melayu yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus memohon keselamatan, keberkahan, dan ketenteraman bagi seluruh warga desa. Tradisi ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat dan terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.
Dalam perjalanan sejarahnya, tidak terdapat catatan mengenai peristiwa besar seperti peperangan, konflik sosial berskala luas, maupun bencana alam besar yang pernah melanda Desa Dusun Tua Pelang. Peristiwa yang paling bersejarah bagi masyarakat adalah pemekaran desa pada tahun 2006, karena menjadi awal terbentuknya pemerintahan desa yang mandiri. Selain itu, berbagai kegiatan pembangunan, pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat, serta penyelenggaraan kegiatan budaya dan olahraga tradisional seperti Pacu Sampan Mini menjadi bagian dari sejarah perkembangan desa hingga saat ini.
Saat ini Desa Dusun Tua Pelang terus berkembang dengan mengedepankan pembangunan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pelestarian adat dan budaya. Semangat kebersamaan, gotong royong, dan partisipasi masyarakat menjadi kekuatan utama dalam membangun desa agar semakin maju, mandiri, dan sejahtera.
HAM DAN DEMOKRASI DI DESA DUSUN TUA PELANG
Pelaksanaan HAM dan demokrasi di Desa Dusun Tua Pelang, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu telah berjalan dengan cukup baik. Masyarakat memiliki hak yang sama untuk menyampaikan pendapat, mengikuti musyawarah desa, serta berpartisipasi dalam kegiatan pemerintahan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pelaksanaan demokrasi dapat dilihat dari keikutsertaan masyarakat dalam Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Warga menggunakan hak pilihnya secara langsung untuk menentukan pemimpin yang dianggap mampu memajukan desa. Selain itu, pemerintah desa juga melaksanakan Musyawarah Desa (Musdes) yang melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan warga dalam menyusun serta menentukan program pembangunan desa.
Secara umum, pelaksanaan demokrasi di Desa Dusun Tua Pelang berlangsung dengan aman, tertib, dan kondusif. Hingga saat ini tidak terdapat catatan resmi mengenai pelanggaran HAM yang berat maupun konflik besar dalam pelaksanaan Pemilu atau Pilkades. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu menjaga persatuan, menghormati perbedaan pilihan, dan mendukung terciptanya kehidupan yang demokratis.
ie35u62s189bgu0ot3nximws6yj265z
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/ Desa Rimpian Lubuk Batu Jaya
0
27750
117346
2026-07-03T13:04:48Z
Foraselfia
43493
←Membuat halaman berisi 'Desa Rimpian merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kecamatan Lubuk Batu Jaya sendiri terdiri dari beberapa desa, di antaranya Desa Rimpian, Lubuk Batu Tinggal, Air Putih, Kulim Jaya, Sei Beras-Beras, Sei Beberas Hilir, Pondok Gelugur, Tasik Juang, dan Pontian Mekar. Sebagian besar masyarakat di wilayah ini bekerja sebagai petani dan pekebun, terutama di sektor perkebunan kelapa sawit dan karet...'
117346
wikitext
text/x-wiki
Desa Rimpian merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kecamatan Lubuk Batu Jaya sendiri terdiri dari beberapa desa, di antaranya Desa Rimpian, Lubuk Batu Tinggal, Air Putih, Kulim Jaya, Sei Beras-Beras, Sei Beberas Hilir, Pondok Gelugur, Tasik Juang, dan Pontian Mekar. Sebagian besar masyarakat di wilayah ini bekerja sebagai petani dan pekebun, terutama di sektor perkebunan kelapa sawit dan karet.
Desa Rimpian memiliki letak yang cukup strategis karena berada di jalur penghubung antarwilayah di Kecamatan Lubuk Batu Jaya. Selain sektor pertanian dan perkebunan, perkembangan ekonomi masyarakat juga didukung oleh keberadaan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit.
Salah satu perusahaan yang beroperasi di Desa Rimpian adalah PT Sanling Sawit Sejahtera (PT SSS) yang memiliki Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Kehadiran pabrik ini membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta mendorong perkembangan usaha kecil seperti warung, jasa transportasi, dan perdagangan hasil perkebunan. Perusahaan juga pernah melaksanakan program tanggung jawab sosial (CSR), seperti perbaikan jalan, pembangunan jembatan, bantuan sembako, dan kegiatan sosial lainnya bagi masyarakat.
Namun, keberadaan pabrik tersebut juga pernah menjadi perhatian masyarakat. Pada tahun 2020–2021 sempat terjadi perbedaan pendapat terkait pembangunan dan operasional PKS PT SSS. Sebagian masyarakat mendukung karena memberikan kesempatan kerja dan meningkatkan perekonomian, sementara sebagian lainnya menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak lingkungan, terutama terhadap kualitas air sungai dan pengelolaan limbah. Persoalan tersebut kemudian menjadi pembahasan bersama antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak perusahaan.
Selain itu, Kecamatan Lubuk Batu Jaya juga pernah mengalami bencana banjir. Curah hujan yang tinggi menyebabkan beberapa desa, termasuk wilayah di Kecamatan Lubuk Batu Jaya, terendam banjir sehingga mengganggu aktivitas masyarakat, merusak akses jalan, bahkan menyebabkan beberapa jembatan rusak. Pemerintah kecamatan bersama masyarakat melakukan penanganan darurat dan membantu warga yang terdampak.
Di Desa Rimpian juga pernah terjadi peristiwa banjir yang menggenangi puluhan hektare lahan perkebunan masyarakat akibat penyekatan aliran anak sungai. Peristiwa tersebut mengakibatkan sebagian warga gagal panen dan mengalami kerugian ekonomi. Masalah ini kemudian mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mencari penyelesaian.
Selain itu, pada tahun 2023 pemerintah daerah membangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Desa Rimpian sebagai salah satu upaya menyediakan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat. Pembangunan ini diharapkan dapat menjadi sarana rekreasi, olahraga, dan kegiatan sosial warga.
Secara umum, Kecamatan Lubuk Batu Jaya merupakan wilayah yang terus berkembang, terutama pada sektor perkebunan kelapa sawit. Meskipun pernah menghadapi berbagai tantangan seperti banjir, persoalan lingkungan, dan konflik lahan di beberapa wilayah kecamatan, masyarakat tetap berupaya menjaga pembangunan daerah melalui kerja sama dengan pemerintah dan dunia usaha agar perekonomian serta kesejahteraan masyarakat terus meningkat.
HAM DAN DEMOKRASI DIDESA RIMPIAN
Pelaksanaan demokrasi di Desa Rimpian dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pemilihan umum, seperti Pemilihan Presiden, Pemilihan Legislatif, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), serta Pemilihan Kepala Desa. Masyarakat diberikan hak yang sama untuk memilih dan menentukan pemimpin sesuai dengan hati nurani mereka tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun. Hal ini menunjukkan bahwa prinsip demokrasi dan hak asasi manusia telah diterapkan dalam kehidupan masyarakat desa.
Pada setiap pelaksanaan pemilu maupun pemilihan kepala desa, masyarakat Desa Rimpian umumnya menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Warga datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hak pilihnya sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan daerah dan negara. Proses pemungutan suara dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Selain melalui pemilihan umum, nilai-nilai demokrasi juga diterapkan dalam musyawarah desa. Berbagai keputusan yang berkaitan dengan pembangunan, perbaikan fasilitas umum, dan program desa biasanya dibahas melalui musyawarah yang melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga. Dengan adanya musyawarah tersebut, masyarakat dapat menyampaikan pendapat, usulan, maupun kritik secara terbuka demi kemajuan Desa Rimpian.
Secara umum, pelaksanaan demokrasi di Desa Rimpian berjalan dengan baik. Masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik dan pemerintahan desa, sehingga hak-hak warga negara dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan prinsip demokrasi dan HAM.
198x3ctipinqfobihyxe9d5roulhd5e