Wikiwisata idwikivoyage https://id.wikivoyage.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.46.0-wmf.24 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikiwisata Pembicaraan Wikiwisata Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Palembang 0 1980 33843 33841 2026-04-26T04:39:18Z Swarabakti 179 33843 wikitext text/x-wiki {{Pagebanner|Palembang page banner Jembatan Ampera awak.JPG|pgname=Palembang|caption=Jembatan Ampera|origin=-0.4,0}} '''Palembang''' adalah sebuah kota besar di [[Indonesia]] yang menjadi pusat pemerintahan [[Sumatera Selatan]]. Terletak di dataran rendah tempat bertemunya sungai Ogan, Komering, dan Musi, wilayah metropolitan Palembang mencakup lebih dari 2 juta penduduk. Kota ini merupakan simpul kegiatan kawasan serta pintu gerbang bagi para pelancong yang hendak menjelajah bagian selatan Sumatra lebih lanjut. Dengan sejarah panjangnya sebagai pusat kekuasaan dan bandar persinggahan sejak zaman Sriwijaya, Palembang kaya akan warisan budaya hasil akulturasi Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan India. Mulai dari Jembatan Ampera yang ikonik hingga wisata perahu yang asyik, dari kampung tua tepi sungai hingga warung pempek yang ramai, Palembang menawarkan paduan wisata pusaka dan cita rasa yang sulit dilewatkan begitu saja. ==Pahami== ===Sejarah=== [[Gambar:Prasasti Kedukan Bukit 3.jpg|jmpl|350px|Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat pendirian Sriwijaya]] Di antara kota-kota di [[Indonesia]] atau bahkan di [[Asia Tenggara]], Palembang merupakan salah satu kota tertua yang masih terus dihuni hingga kini (kemungkinan hanya kalah dari [[Hanoi]]). Kemunculan Palembang dapat ditarik kembali hingga tahun 683 M, ketika kota ini menjadi pusat kemaharajaan maritim Sriwijaya, salah satu kerajaan bercorak Buddha terbesar dan terpenting dalam sejarah Indonesia. Kota ini memainkan peran penting dalam panggung niaga dan pertukaran budaya di tingkat kawasan. Sriwijaya menguasai jalur strategis seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, dan Palembang berfungsi sebagai bandar persinggahan (''entrepôt'') bagi komoditas dari dalam dan luar Nusantara. Pada saat yang sama, Palembang juga menjadi pusat pendidikan religi yang berkembang pesat, hingga mampu menarik peziarah [[Tiongkok]] untuk singgah dalam perjalanan rantau mereka ke [[India]] demi mempelajari naskah-naskah suci agama Buddha dengan para biksu dan cendekiawan setempat. [[Gambar:Palembang Great Mosque.jpg|jmpl|350px|Menara Masjid Agung Palembang dari abad ke-18.]] Setelah Palembang diserang oleh Chola pada awal abad ke-11, pamor kota ini mulai menurun. Palembang mengalami serangkaian perubahan kepemimpinan, sebagian besarnya di bawah pengaruh berbagai kerajaan yang berpusat di [[Jawa]], diawali dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14. Pada awal abad ke-15, kota ini sempat jatuh ke tangan bajak laut Tiongkok, tetapi mereka segera ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho, yang kemudian menunjuk seorang pejabat Tionghoa untuk memerintah kota tersebut. Pada abad ke-16, serombongan bangsawan Jawa yang menghindari perang perebutan takhta di tanah asalnya mendirikan wangsa Palembang yang baru, meskipun mereka masih mengakui kekuasaan raja dan sultan yang berpusat di Jawa secara nominal. Barulah pada pertengahan abad ke-17, penguasa Palembang mulai menyatakan kemerdekaannya dengan menggunakan gelar "Sultan" secara mandiri. Kesultanan Palembang mengendalikan perdagangan di sepanjang Sungai Musi serta pulau-pulau jiran seperti Bangka dan Belitung, mengambil untung dari ekspor komoditas lada dan timah. Kekayaan ini kemudian digunakan untuk mendirikan bangunan megah, termasuk di antaranya sebuah [[#Masjid Agung|masjid agung]] serta [[#Kuto Besak|benteng keraton yang baru]]. Permukiman mulai berkembang di sepanjang tepi Sungai Musi; kebanyakan warga lama menetap di sisi utara (Seberang Ilir), sementara warga rantau, termasuk orang Tionghoa dan Arab, diizinkan menetap di sisi selatan (Seberang Ulu). Kesultanan ini terus berkembang hingga awal abad ke-19, ketika perang yang melibatkan perselisihan internal serta kekuatan kolonial Inggris dan Belanda mengakhiri masa kejayaannya. Setelah pembubaran Kesultanan pada tahun 1825, kota ini menjadi ibu kota Keresidenan Palembang, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan Provinsi Sumatera Selatan pada saat ini. Palembang mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-19, seiring dengan pesatnya perkembangan industri minyak bumi dan karet yang meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi. Palembang resmi berstatus ''gemeente'' (kotapraja) sejak tahun 1906, dan menjadi pusat urban luar Jawa terpadat di Hindia Belanda pada tahun 1930-an, mengungguli Medan dan Makassar. Urbanisasi yang pesat mendorong kota ini untuk meningkatkan infrastrukturnya melalui berbagai pembangunan, mulai dari pendirian [[#Kantor Ledeng|menara air]] untuk kebutuhan distribusi air minum hingga reklamasi puluhan anak sungai dan kanal untuk transportasi darat. Namun, krisis ekonomi global pada 1930-an menyebabkan mandeknya rencana pengembangan lebih lanjut. Palembang merupakan salah satu lokasi penting selama masa Perang Pasifik (Perang Dunia II). Pasukan pendudukan Jepang merebut kota ini demi menguasai kilang minyaknya, dan Sekutu melakukan beberapa serangan bom terhadap kilang tersebut. Semasa Revolusi Nasional Indonesia, kota ini juga menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan republik dan pasukan Belanda pada awal tahun 1947. Setelah kemerdekaan Indonesia, Palembang meneruskan pengembangan kota ke pinggiran, menimbun jalur air dan mengutamakan jalur darat. Pembangunan [[#Ampera|Jembatan Ampera]] yang melintasi Sungai Musi pada 1960-an menjadi tonggak upaya "pemodernan" kota ini, karena memfasilitasi pertumbuhan urban yang menjauh dari tepi sungai, mengikuti jalan poros utara-selatan. Dewasa ini, Palembang juga dikenal dengan citranya sebagai pusat penyelenggaraan acara olahraga, dengan kiprahnya sebagai tuan rumah bersama [[Jakarta]] untuk SEA Games 2011 dan Asian Games 2018. ===Orientasi=== [[Gambar:Kampung Kapitan, Palembang.jpg|thumb|350px|Kampung Kapitan, salah satu pecinan tertua di Palembang]] Pada awalnya, perkembangan kawasan perkotaan Palembang menyebar di sepanjang tepian Sungai Musi, yang membelah kota ini menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Jembatan Ampera membentang dengan sangat mencolok di pusat kota dan hampir selalu terlihat dari mana pun di sepanjang tepian Sungai Musi, selama masih di dalam batas kota. Berbeda dengan banyak kota lain di Indonesia dengan ukuran serupa, Palembang memiliki sejumlah jalan raya yang cukup lebar, bahkan mencapai 8 lajur di beberapa ruas. Namun, sebagian besar permukiman lama di Palembang dibangun di sepanjang ratusan sungai kecil dan kanal yang kini telah direklamasi. Hal ini menyebabkan pola permukiman yang tidak teratur dengan orientasi ke segala arah alih-alih berpatokan pada mata angin. Kebanyakan gang dan lorong membentuk jaringan berkelok-kelok dan bermuara ke jalan-jalan besar. Karena itu, alamat sering kali diberikan dengan kombinasi nama jalan dan gang/lorong, dengan nama jalan yang lebih besar di awal, diikuti nama gang atau lorong yang lebih kecil untuk memperjelas lokasi sebenarnya, serta dilengkapi dengan nomor, wilayah administratif, dan kode pos. ===Bicara=== {{see also|Buku percakapan Palembang}} Bahasa utama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kota ini adalah '''[[Buku percakapan Palembang|bahasa Palembang]]''' atau '''bahasa Melayu Palembang''', yang secara lokal dikenal sebagai ''baso Pelémbang''. Bahasa ini masih berkerabat dengan berbagai ragam bahasa Melayu yang dituturkan di seluruh [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Singapura]], dan [[Brunei]], termasuk [[Buku percakapan Betawi|bahasa Betawi]] dan [[Buku percakapan Minangkabau|bahasa Minangkabau]], antara lain. Bahasa Palembang memiliki perbedaan kosakata dari ragam baku, dengan pengaruh kuat dari [[Buku percakapan Jawa|bahasa Jawa]], serta sedikit perbedaan dalam pengucapan dan tata bahasa. Sebagaimana di banyak tempat lain di Indonesia, ragam Palembang ini sering digunakan bersama dengan bahasa Indonesia. Semakin formal situasinya, bahasa yang digunakan akan semakin condong ke ragam baku (atau ke ragam bahasa Indonesia Jakarta). Dalam situasi tidak formal, penutur di Palembang mungkin saja tidak menggunakan ragam baku sama sekali, sehingga bahasanya sulit dipahami oleh orang luar. Meski demikian, terlepas dari keterbatasan penggunaannya secara lisan, bahasa Indonesia secara praktis dipahami oleh hampir semua orang, dan menjadi bahasa paling umum yang digunakan dalam tulisan. Di sisi lain, bahasa Inggris tidak banyak digunakan, terutama karena Palembang bukan merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara. Beberapa anak muda mungkin lebih memahami bahasa Inggris dibanding yang lain, meskipun belum tentu merasa nyaman menggunakannya secara lisan. Selain itu, orang-orang yang bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. ===Baca=== Tidak terdapat banyak bacaan populer mengenai Palembang. Daftar di bawah ini memuat beberapa karya fiksi dan nonfiksi di antaranya, utamanya yang bernuansa sejarah dan kebudayaan. * '''''{{w|Dian yang Tak Kunjung Padam}}''''' oleh {{w|Sutan Takdir Alisjahbana}} — Kisah asmara klasik antara pemuda miskin dan putri dari keluarga bangsawan di tepian Sungai Musi, berlatarkan Palembang zaman kolonial. * '''''Melayu-Jawa: Citra Sejarah dan Budaya Palembang''''' oleh Djohan Hanafiah — Bacaan ringan mengenai pembentukan identitas masyarakat Palembang, melalui interpretasi penulis terhadap peristiwa serta sumber sejarah sebelum dan semasa Kesultanan. * '''''Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial''''' oleh Dedi Irwanto Muhammad Santun — Ulasan sejarah perkembangan Palembang dari zaman Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, dengan fokus pada identitas simbolik kota dan peran ruang air. ==Menuju ke sini== ===Dengan pesawat=== {{Go | name=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | alt={{IATA|PLM}} | url=http://www.smbadaruddin2-airport.co.id | email= | address= | lat=-2.9 | long=104.7 | directions= | phone= | tollfree= | fax= | hours= | price= | wikipedia=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | image=PesawatdiSMB2IA.jpg | wikidata=Q1432286 | lastedit=2026-03-27 | content=Melayani kawasan metropolitan Palembang Raya, bandara ini terletak di sisi utara kota. Bandara ini menyediakan 16 rute penerbangan domestik langsung, yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air, Citilink, Super Air Jet, Pelita Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Garuda Indonesia, dengan tujuan Jakarta, [[Batam]], [[Medan]], [[Pagar Alam]], [[Pangkalpinang]], [[Surabaya]], dan [[Yogyakarta]]. Bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional ke [[Kuala Lumpur]] dan [[Singapura]].}} ===Dengan kereta api=== {{Go | name=Stasiun Kertapati | alt='''KPT''' | wikipedia=Stasiun Kertapati | lat=-3.017 | long=104.752 | image=Stasiun_Kertapati.jpg | wikidata=Q19748476 | lastedit=2025-01-04 | content=Stasiun kereta api penumpang jarak jauh satu-satunya di Palembang, terletak di barat daya kota di sisi Seberang Ulu. Stasiun ini merupakan perhentian akhir (terminus) bagi jalur kereta api dari arah [[Prabumulih]], termasuk juga jalur dari [[Lubuk Linggau]] dan [[Bandar Lampung]]. Per awal tahun 2025, stasiun ini hanya melayani 3 kereta api penumpang jarak jauh, yakni Bukit Serelo (Ekonomi) dan Sindang Marga (Bisnis/Eksekutif) untuk relasi Kertapati–Lubuk Linggau pp, serta Rajabasa (Ekonomi) untuk relasi Kertapati–Tanjung Karang pp.}} ===Dengan bus=== Terdapat dua terminal utama tipe A untuk bus antarkota, yakni {{Marker | type=go |name=Terminal Alang-Alang Lebar | lat=-2.917 | long=104.681}} di utara dan {{Marker | type=go | name=Terminal Karya Jaya | lat=-3.064 | long=104.739}} di selatan. Meski begitu, perusahaan bus antarkota biasanya lebih sering menaikturunkan penumpang di pangkalan-pangkalan mereka masing-masing alih-alih di kedua terminal ini. ===Dengan kendaraan bermotor=== Kota ini dapat dicapai dengan berkendara via beberapa rute berbeda. Jika datang dari arah [[Kayu Agung]] dan Bandar Lampung, Anda dapat melintasi Jalan Tol Trans-Sumatra ruas utama (Bakter, Terpeka, Kapalbetung) dan keluar di Gerbang Tol Keramasan (~14 km dari pusat kota). Jika datang dari arah Prabumulih dan [[Bengkulu]], Anda dapat melalui Jalan Tol Trans-Sumatra ruas pendukung (Indraprabu, Palindra) dan keluar di Gerbang Tol Palembang (~10 km dari pusat kota). Kedua ruas tol ini bersilangan di Simpang Susun Palembang. Kota ini juga dilalui oleh ruas jalan raya nasional Lintas Timur Sumatra (AH25), yang menghubungkannya hingga ke wilayah provinsi tetangga, yakni [[Lampung]] di selatan serta [[Jambi]] di utara. Terdapat pula jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, seperti [[Baturaja]], [[Muara Enim]], dan [[Pagar Alam]]. ==Berkeliling== {{Mapframe|-2.988|104.759|zoom=13}} {{mapshape}} ===Dengan LRT=== [[Gambar:LRT Palembang Ampera.jpg|thumb|350px|LRT Palembang melintasi [[#Ampera|Jembatan Ampera]]]] LRT Palembang pertama kali dibuka untuk mendukung Asian Games 2018. Satu-satunya jalur dari sistem ini membelah kota dari utara ke selatan dengan total 13 stasiun, menghubungkan bandara, pusat kota, dan kompleks olahraga Jakabaring. Terdapat selisih waktu sekitar 17 hingga 19 menit antar perjalanan kereta, dan perjalanan satu arah dari ujung ke ujung menghabiskan waktu selama 49 menit. Kereta pertama berangkat dari Stasiun DJKA di selatan pada pukul 5.05, sementara kereta terakhir berangkat dari Stasiun Bandara di utara pada pukul 19.55. Tarif perjalanan jauh-dekat adalah sebesar Rp5.000, kecuali perjalanan dari dan ke Stasiun Bandara yang bertarif Rp10.000. Pembayaran dapat menggunakan tiket sekali jalan yang dibeli langsung di loket, atau kartu uang elektronik yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di loket agar dapat dipindai di pintu pembayaran. ==Lihat== ===Tengara utama=== {{anchor|Ampera}} * {{See | name=Jembatan Ampera | alt= | url= | email= | address= | lat=-2.9917 | long=104.763 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=Buka 24 jam | price=Gratis | wikipedia=Jembatan Ampera | image=Ampera Bridge, Palembang.jpg | wikidata=Q643147 | lastedit=2024-07-07 | content=Jembatan pertama yang melintasi Sungai Musi di Palembang, serta merupakan yang terpanjang di Indonesia ketika pertama kali dibuka pada tahun 1965. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal yang lewat, tetapi mekanisme ini berhenti digunakan hanya beberapa tahun setelah jembatan ini dibuka. Jembatan ini adalah tengara paling terkenal di Palembang karena terletak tepat di jantung kota, menghubungkan dua sisi Sungai Musi. }} {{anchor|Masjid Agung}} * {{See | name=Masjid Agung Palembang| alt=Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo| url= | email= | address= Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil 30111 | lat=-2.987833 | long=104.759796 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia=Masjid Agung Palembang | wikidata=Q14917382 | lastedit=2024-07-07 | content=Masjid besar ini pertama kali dibuka pada tahun 1748, tetapi telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan di kemudian hari. Bangunan dan menara aslinya dari abad ke-18 terletak di sisi barat kompleks (sisi yang jauh dari jalan utama), menampilkan campuran gaya arsitektur Melayu Palembang, Tiongkok, dan Eropa. Ruang salat tambahan didirikan di sekeliling bangunan asli secara terpisah dengan tiga buah atap limas raksasa serta menara baru yang lebih tinggi dan ramping. }} * {{See | name=Bundaran Air Mancur | alt=Tugu Cempako Telok | url= | email= | address= | lat=-2.9880748201474328 |long=104.7610451233057 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia= | wikidata= | lastedit=2026-04-19 | content=Bundaran ini merupakan titik nol pusat Kota Palembang, yang dibangun tidak lama setelah Jembatan Ampera berdiri. Sejak awal, unsur air mancur menjadi identitas utama bundaran ini, meskipun strukturnya sendiri telah mengalami perubahan drastis berkali-kali. Sempat menjadi tugu peringatan SEA Games 2011, bundaran ini terakhir direnovasi pada 2026 dengan bentuk kembang ''cempako telok'' yang menjadi ikon baru kota. }} {{anchor|Kuto Besak}} * {{See | name=Kuto Besak | alt=Benteng Kuto Besak | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9917 | long=104.7593 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=06.00–22.00 | price=Gratis untuk kawasan plaza | wikipedia=Kuto Besak | image=Kutobesak.jpg | wikidata=Q16773690 | lastedit=2024-07-07 | content= Sebuah kubu pertahanan dari era Kesultanan di sisi utara Sungai Musi. Selesai dibangun pada tahun 1797, kini digunakan sebagai markas komando daerah TNI. Kompleks ini tertutup untuk umum karena digunakan untuk keperluan militer, meskipun sebuah plaza terbuka di depannya berfungsi sebagai alun-alun utama kota. Di plaza tersebut terdapat {{Marker|type=see|name=Tugu Ikan Belido |lat=-2.9927|long=104.7596}}, didedikasikan untuk spesies endemik dilindungi yang dulunya menjadi bahan utama dalam pembuatan pempek.}} {{anchor|Kantor Ledeng}} * {{See | name=Kantor Wali Kota Palembang | alt=Kantor Ledeng | url= | email= | address=Jl. Merdeka no. 2, 22 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9911 | long=104.7568 | directions=750 m/12 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia=Kantor Wali Kota Palembang | image=Palembang Mayor Office.jpg | wikidata=Q23009349 | lastedit=2024-07-07 | content=Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, gedung dengan pengaruh arsitektur ''de stijl'' ini awalnya berfungsi ganda sebagai menara air dan balai kota, serta menjadi gedung tertinggi di Palembang ketika pertama kali diresmikan. Saat ini digunakan utamanya sebagai kantor wali kota saja. }} * {{See | name=Pulau Kemaro | alt= | url= | email= | address=1 Ilir, Ilir Timur II dan Sei Selincah, Kalidoni | lat=-2.9794 | long=104.8195 | directions=30 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image=Pagoda pulo kemaro.png | wikidata=Q12506795 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah pulau delta sungai yang penggunaannya telah bergonta-ganti sepanjang sejarah, mulai dari menjadi kubu pertahanan terdepan Kesultanan pada abad ke-19, menjadi kompleks penjara untuk tahanan politik pasca-1965, hingga menjadi tujuan wisata budaya dan religius seperti sekarang. Pulau ini memiliki kompleks keagamaan Buddha yang terdiri dari {{Marker|type=see|name=Kelenteng Hok Tjing Bio|lat=-2.9809|long=104.8126}} dan {{Marker|type=see|name=Pagoda Pulau Kemaro|lat=-2.9805|long=104.8135}} yang memiliki 9 lantai. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Palembang dipusatkan di sini. Selama perayaan berlangsung, sisi utara pulau akan dihubungkan sementara dengan jembatan ponton ke daratan utama. }} ===Museum dan situs warisan budaya=== * {{See | name=Monumen Perjuangan Rakyat | alt=Monpera | url= | email= | address=Jl. Merdeka no.1, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9892| long=104.7603 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price=Rp5.000 | wikipedia=Museum Monumen Perjuangan Rakyat| image= | wikidata=Q97241069 | lastedit=2024-07-07 | content=Terletak berhadapan dengan Masjid Agung, diresmikan pada tahun 1988 untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di Palembang. Di dalam bangunan berarsitektur brutalis ini, terdapat museum yang menampilkan berbagai artefak dan foto bersejarah yang berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang (1947). Terdapat pula air mancur menari di pelataran monumen. }} * {{See | name=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II | alt= | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.99026 | long=104.7611 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–17.00 (hari biasa), 09.00–17.00 (akhir pekan dan hari libur nasional) | price=Rp5.000 (umum), Rp20.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II| image=Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, Palembang.jpg | wikidata=Q48988740 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum yang dikelola pemerintah kota ini berada di atas sisa-sisa Keraton Kuto Lamo, yang dulunya merupakan pusat Kesultanan sebelum dipindahkan ke Kuto Besak. Bangunan saat ini, yang mengadopsi arsitektur atap limasan khas Palembang, pernah digunakan sebagai kantor residen pada masa penjajahan Belanda. Museum ini menampilkan sejarah kota Palembang, dari era Sriwijaya hingga masa kolonial dan kemerdekaan. }} * {{See | name=Museum Balaputradewa | alt=Museum Negeri Sumatera Selatan | url= | email= | address=Jl. Srijaya no. 1, Srijaya, Alang-Alang Lebar 30139 | lat=-2.9508 | long=104.7306 | directions=700 m/10 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT RSUD | phone= | tollfree= | hours=08.30–15.30 (Selasa–Minggu), tutup setiap Senin dan hari libur nasional | price=Rp5.000 (umum), Rp15.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Balaputera Dewa | image=Rumah Limas of IDR 10000 banknote.jpg | wikidata = Q48728288 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum ini menampilkan sejarah provinsi Sumatera Selatan secara keseluruhan. Artefak yang dipamerkan mencakup diorama dan megalit prasejarah hingga patung dan prasasti era Sriwijaya. Kompleks museum ini juga mencakup rumah limasan Palembang ikonik yang pernah tertera pada uang kertas pecahan Rp10.000 sebelum tahun 2016—pihak museum juga menyediakan spesimen uang kertas lama ini untuk dipinjam, jika Anda ingin mengambil foto yang membandingkan ilustrasinya dengan rumah yang asli. }} * {{See | name=Kompleks Makam Ki Gede ing Suro | alt= | url= | email= | address=Jl. Ratu Sianum, Lorong H Umar, 1 Ilir, Ilir Timur II 30111| lat=-2.9779 | long=104.7920 | directions=5 km/20 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2024-07-07 | content=Kompleks serupa candi yang terdiri dari 7 bangunan berbahan bata dan batu putih, dengan gaya seni yang menunjukkan pengaruh Majapahit dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Arca-arca perunggu berlapis emas dari masa Sriwijaya juga ditemukan di situs ini. Digunakan sebagai pemakaman Islam pada sekitar abad ke-16 oleh keluarga bangsawan Ki Gede ing Suro yang menjadi leluhur dinasti Kesultanan Palembang. }} * {{See | name=Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya | alt= | url= | email= | address=Jl. Syakyakirti, Karang Anyar, Gandus 30148 | lat=-3.015036 | long=104.734414 | directions=5.5 km/25 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price= | wikidata=Q7586543 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah situs arkeologi bekas pemukiman kuno (dari era Sriwijaya dan seterusnya) dengan jaringan kanal buatan. Taman ini juga memiliki museum yang menampilkan artefak seperti patung Buddha, tembikar, dan keramik. Tidak ditemui struktur bangunan bersejarah di sini, karena pemukiman ini dulunya kemungkinan besar dibangun dari bahan yang mudah terurai seperti kayu alih-alih batu bata. }} * {{See | name=Rumah Saudagar Ong Boen Tjiet | alt= | url=https://www.instagram.com/rumahongboentjiet/ | email= | address=Lorong Saudagar Yucing no. 55, 3-4 Ulu, Seberang Ulu I 30124| lat=-3.0014 | long=104.7549 | directions=10 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours=11.00–17.00 | price=Rp10.000 | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2025-10-19 | content=Bekas kediaman Ong Boen Tjiet, seorang pedagang terkenal Palembang pada abad ke-20 yang berlatar belakang Tionghoa-Indonesia. Menghadap Sungai Musi dari sisi selatannya, rumah ini menampilkan campuran unsur arsitektur Melayu Palembang dan Tionghoa, serta menampung koleksi yang dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh keturunan keluarga Ong Boen Tjiet. Tempat ini juga dapat dijangkau melalui jalur darat, meskipun gang menuju rumah ini hanya muat untuk sepeda motor. }} * {{See | name=Bayt Al-Qur'an Al-Akbar | alt= | url= | email= | address=Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Jl. M. Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus 30149 | lat=-3.011122 | long=104.70403 | directions= 14 km/40 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price=Rp20.000 per Februari 2020 | wikidata=Q20426381 | lastedit=2024-07-07 | content=Menyimpan salinan Al-Quran ukiran kayu yang diklaim terbesar di dunia; halaman demi halamannya dipamerkan dalam sebuah gedung galeri setinggi 15 meter. Ulasannya bervariasi; banyak wisatawan mengatakan bahwa tempat ini wajib dikunjungi saat berada di Palembang, sementara yang lain mengeluhkan akses ke sana yang melintasi jalan pedesaan buruk serta tiadanya akomodasi penyandang disabilitas. }} ==Lakukan== <!--Tur jalan kaki, wisata sungai, olahraga--> ==Beli== ==Makan== Palembang merupakan pilihan yang tepat sebagai tujuan wisata kuliner. Terdapat berbagai variasi tempat makan yang menyediakan masakan ataupun kudapan khas setempat, dengan sajian unggulan masing-masing. Rentang harga yang ditampilkan adalah per satu sajian, yang mencakup seporsi makanan berat dan minuman pendamping. * {{eat | name=Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z. | alt= | url= | email= | address=Jl. KH. Ahmad Dahlan no. 2, 26 Ilir, Bukit Kecil 30136 | lat=-2.9886363289145494 |long=104.75326480796426 | directions=1.2 km/18 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone=+62 711 5556844 | tollfree= | hours=06.00-22.00 | price=Mulai dari Rp30.000 | content=Restoran mi celor paling terkenal di Palembang dengan beberapa cabang. Lokasi ini merupakan cabang pusat, yang terletak di tengah-tengah Pasar 26 Ilir. Mi celor memiliki kuah berbahan kaldu udang dan santan dengan rasa yang ringan. }} * {{eat | name=Sarinande Tempo Doeloe | alt= | url= | email= | address=Jl. Mayor Ruslan no. 966, 20 Ilir D. I, Ilir Timur I 30114 | lat=-2.973840121991675, |long=104.75782994396515 | directions=3 km/10 menit berkendara dari pusat kota | phone=+62 711 313037 | tollfree= | hours=10.00-21.00 (Senin–Sabtu), 10.00–17.00 (Minggu) | price=Mulai dari Rp60.000 | content=Berdiri sejak tahun 1970-an, restoran ini menawarkan cita rasa masakan Palembang klasik, utamanya pindang ikan sungai dan pelengkapnya. Juga menyediakan nasi minyak dan kari kambing khusus setiap Jumat hingga Minggu. }} * Pempek * Model. * Tekwan * Mie celor * Pindang Ikan * Pepes Tempoyak * Nasi Minyak ==Minum== Cobalah minuman lokal Palembang, '''es kacang merah''', minuman es yang terbuat dari kacang merah. ==Tidur== ===Budget=== * {{sleep | name=Monoloog Hotel Palembang | alt=Tune Hotel Palembang | url= | email= | address=Jl. Jend. Sudirman | lat=-2.965956 | long=104.746206 | directions= | phone=+62 711 315 222 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp200.000 | wikidata=Q111139144 | content=Merek hotel tanpa embel-embel, tetapi memiliki fasilitas lengkap seperti sarapan, Wi-Fi, AC, dan TV. }} * {{sleep | name=Zuri Express | alt= | url=http://grandzuri.com/zuriexpress-palembang | email= | address=Jl Dr. M. Isa no 988 | lat=-2.96991 | long=104.77 | directions= | phone=+62 711 710 800 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp350.000 | wikidata=Q115795588 | content=Hotel murah dengan kamar yang terlihat sederhanam namun bersih dan dengan desain yang minimalis. Restoran berada di gedung terpisah di lantai bawah, tetapi jangan berharap akan menu yang bervariasi. }} ===Menengah=== * {{sleep | name=Aston Palembang Hotel & Conference Center | alt= | url= | email= | address= | lat= | long= | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp600.000 | wikidata=Q111139126 | content=Hotel Aston ini lebih sederhana dibandingkan hotel sejenisnya di kota besar. Menyediakan kamar deluks yang besar, suite, dan pilihan yang mencakup masakan khas Palembang untuk sarapan. }} * {{sleep | name=Novotel Palembang | alt= | url=https://all.accor.com/hotel/3716/index.en.shtml | email= | address=Jalan R Sukamto No. 8A | lat=-2.9494 | long=104.7638 | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp700.000 | wikidata=Q12500946 | content=Salah satu hotel terbaik di kota ini. Keramahtamahan khas Accor dengan kamar yang luas, sarapan yang berlimpah, kolam renang yang luas, dan area joging. Secara umum cocok untuk pelancong bisnis serta keluarga. }} ===Mahal=== * {{sleep | name=Hotel Aryaduta Palembang | alt= | url=http://www.aryaduta.com/palembang/ | email= | address=Jl. POM IX, Palembang Square | lat=-2.977247 | long=104.741005 | directions= | phone=+62 711 383 838 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp1.100.000 | wikidata=Q111139132 | lastedit=2017-08-26 | content=Hotel atrium 18 lantai yang menawarkan 174 kamar. Salah satu fasilitas yang mereka tawarkan kepada para tamu ialah ruang perjamuan dan pertemuan terbesar di Sumatera Selatan, yang dapat menampung hingga 2.500 tamu dalam sebuah resepsi. Para tamu juga dapat menikmati pengalaman mereka di Pool Café yang menawarkan makanan sehat, camilan, dan minuman ringan. }} ==Tetap aman== ==Tujuan berikutnya== *Perjalanan melalui jalan darat ke [[Jambi]] *Pergi ke [[Lampung]] dengan kereta api *Perjalanan dengan feri dari sepanjang muara Sungai Musi ke Pulau [[Bangka (Sumatera)|Bangka]] {{Geo|-2.991108|104.756733}} {{IsPartOf|Sumatera Selatan}} {{Outlinecity}} f0pryw1saqwvh49fm7szfs47wybov7w 33844 33843 2026-04-26T04:46:55Z Swarabakti 179 /* Sejarah */ 33844 wikitext text/x-wiki {{Pagebanner|Palembang page banner Jembatan Ampera awak.JPG|pgname=Palembang|caption=Jembatan Ampera|origin=-0.4,0}} '''Palembang''' adalah sebuah kota besar di [[Indonesia]] yang menjadi pusat pemerintahan [[Sumatera Selatan]]. Terletak di dataran rendah tempat bertemunya sungai Ogan, Komering, dan Musi, wilayah metropolitan Palembang mencakup lebih dari 2 juta penduduk. Kota ini merupakan simpul kegiatan kawasan serta pintu gerbang bagi para pelancong yang hendak menjelajah bagian selatan Sumatra lebih lanjut. Dengan sejarah panjangnya sebagai pusat kekuasaan dan bandar persinggahan sejak zaman Sriwijaya, Palembang kaya akan warisan budaya hasil akulturasi Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan India. Mulai dari Jembatan Ampera yang ikonik hingga wisata perahu yang asyik, dari kampung tua tepi sungai hingga warung pempek yang ramai, Palembang menawarkan paduan wisata pusaka dan cita rasa yang sulit dilewatkan begitu saja. ==Pahami== ===Sejarah=== [[Gambar:Prasasti Kedukan Bukit 3.jpg|jmpl|350px|Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat pendirian Sriwijaya]] Di antara kota-kota di [[Indonesia]] atau bahkan di [[Asia Tenggara]], Palembang merupakan salah satu kota tertua yang masih terus dihuni hingga kini (kemungkinan hanya kalah dari [[Hanoi]]). Kemunculan Palembang dapat ditarik kembali hingga tahun 683 M, ketika kota ini menjadi pusat kemaharajaan maritim Sriwijaya, salah satu kerajaan bercorak Buddha terbesar dan terpenting dalam sejarah Indonesia. Kota ini memainkan peran penting dalam panggung niaga dan pertukaran budaya di tingkat kawasan. Sriwijaya menguasai jalur strategis seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, dan Palembang berfungsi sebagai bandar persinggahan (''entrepôt'') bagi komoditas dari dalam dan luar Nusantara. Pada saat yang sama, Palembang juga menjadi pusat pendidikan religi yang berkembang pesat, hingga mampu menarik peziarah [[Tiongkok]] untuk singgah dalam perjalanan rantau mereka ke [[India]] demi mempelajari naskah-naskah suci agama Buddha dengan para biksu dan cendekiawan setempat. [[Gambar:Palembang Great Mosque.jpg|jmpl|350px|Menara Masjid Agung Palembang dari abad ke-18.]] Setelah Palembang diserang oleh Chola pada awal abad ke-11, pamor kota ini mulai menurun. Palembang mengalami serangkaian perubahan kepemimpinan, sebagian besarnya di bawah pengaruh berbagai kerajaan yang berpusat di [[Jawa]], diawali dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14. Pada awal abad ke-15, kota ini sempat jatuh ke tangan bajak laut Tiongkok, tetapi mereka segera ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho, yang kemudian menunjuk seorang pejabat Tionghoa untuk memerintah kota tersebut. Pada abad ke-16, serombongan bangsawan Jawa yang menghindari perang perebutan takhta di tanah asalnya mendirikan wangsa Palembang yang baru, meskipun mereka masih mengakui kekuasaan raja dan sultan yang berpusat di Jawa. Barulah pada pertengahan abad ke-17, penguasa Palembang mulai menyatakan kedaulatannya dengan menggunakan gelar "Sultan" secara mandiri. Kesultanan Palembang mengendalikan perdagangan di sepanjang Sungai Musi serta pulau-pulau jiran seperti Bangka dan Belitung, mengambil untung dari ekspor komoditas lada dan timah. Kekayaan ini kemudian digunakan untuk mendirikan bangunan megah, termasuk di antaranya sebuah [[#Masjid Agung|masjid agung]] serta [[#Kuto Besak|benteng keraton yang baru]]. Permukiman mulai berkembang di sepanjang tepi Sungai Musi; kebanyakan warga lama menetap di sisi utara ([[#Orientasi|Seberang Ilir]]), sementara warga rantau, termasuk orang Tionghoa dan Arab, diizinkan menetap di sisi selatan ([[#Orientasi|Seberang Ulu]]). Kesultanan ini terus berkembang hingga awal abad ke-19, ketika perang yang melibatkan perselisihan internal serta kekuatan kolonial Inggris dan Belanda mengakhiri masa kejayaannya. Setelah pembubaran Kesultanan pada tahun 1825, kota ini menjadi ibu kota Keresidenan Palembang, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan Provinsi Sumatera Selatan saat ini. Palembang mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-19, seiring dengan pesatnya perkembangan industri minyak bumi dan karet yang meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pusat niaga baru pun mulai bertumbuh di daratan, seperti di kawasan [[#Pasar Sekanak|Sekanak]] dan [[#Pasar 16 Ilir|16 Ilir]]. Palembang resmi berstatus ''gemeente'' (kotapraja) sejak tahun 1906, dan menjadi pusat urban luar Jawa terpadat di Hindia Belanda pada tahun 1930-an, mengungguli [[Medan]] dan [[Makassar]]. Urbanisasi yang pesat mendorong kota ini untuk meningkatkan infrastrukturnya melalui berbagai pembangunan, mulai dari pendirian [[#Kantor Ledeng|menara air]] untuk kebutuhan distribusi air minum hingga reklamasi puluhan anak sungai dan kanal untuk transportasi darat. Namun, krisis ekonomi global pada 1930-an menyebabkan mandeknya rencana pengembangan lebih lanjut. Palembang merupakan salah satu lokasi penting selama masa Perang Pasifik (Perang Dunia II). Pasukan pendudukan Jepang merebut kota ini demi menguasai kilang minyaknya, dan Sekutu melakukan beberapa serangan bom terhadap kilang tersebut. Semasa Revolusi Nasional Indonesia, kota ini juga menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan republik dan pasukan Belanda pada awal tahun 1947. Setelah kemerdekaan Indonesia, Palembang meneruskan pengembangan kota ke pinggiran, menimbun jalur air dan mengutamakan jalur darat. Pembangunan [[#Ampera|Jembatan Ampera]] yang melintasi Sungai Musi pada 1960-an menjadi tonggak upaya "pemodernan" kota ini, karena memfasilitasi pertumbuhan urban yang menjauh dari tepi sungai, mengikuti jalan poros utara-selatan. Dewasa ini, Palembang juga dikenal dengan citranya sebagai pusat penyelenggaraan acara olahraga, dengan kiprahnya sebagai tuan rumah bersama [[Jakarta]] untuk SEA Games 2011 dan Asian Games 2018. ===Orientasi=== [[Gambar:Kampung Kapitan, Palembang.jpg|thumb|350px|Kampung Kapitan, salah satu pecinan tertua di Palembang]] Pada awalnya, perkembangan kawasan perkotaan Palembang menyebar di sepanjang tepian Sungai Musi, yang membelah kota ini menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Jembatan Ampera membentang dengan sangat mencolok di pusat kota dan hampir selalu terlihat dari mana pun di sepanjang tepian Sungai Musi, selama masih di dalam batas kota. Berbeda dengan banyak kota lain di Indonesia dengan ukuran serupa, Palembang memiliki sejumlah jalan raya yang cukup lebar, bahkan mencapai 8 lajur di beberapa ruas. Namun, sebagian besar permukiman lama di Palembang dibangun di sepanjang ratusan sungai kecil dan kanal yang kini telah direklamasi. Hal ini menyebabkan pola permukiman yang tidak teratur dengan orientasi ke segala arah alih-alih berpatokan pada mata angin. Kebanyakan gang dan lorong membentuk jaringan berkelok-kelok dan bermuara ke jalan-jalan besar. Karena itu, alamat sering kali diberikan dengan kombinasi nama jalan dan gang/lorong, dengan nama jalan yang lebih besar di awal, diikuti nama gang atau lorong yang lebih kecil untuk memperjelas lokasi sebenarnya, serta dilengkapi dengan nomor, wilayah administratif, dan kode pos. ===Bicara=== {{see also|Buku percakapan Palembang}} Bahasa utama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kota ini adalah '''[[Buku percakapan Palembang|bahasa Palembang]]''' atau '''bahasa Melayu Palembang''', yang secara lokal dikenal sebagai ''baso Pelémbang''. Bahasa ini masih berkerabat dengan berbagai ragam bahasa Melayu yang dituturkan di seluruh [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Singapura]], dan [[Brunei]], termasuk [[Buku percakapan Betawi|bahasa Betawi]] dan [[Buku percakapan Minangkabau|bahasa Minangkabau]], antara lain. Bahasa Palembang memiliki perbedaan kosakata dari ragam baku, dengan pengaruh kuat dari [[Buku percakapan Jawa|bahasa Jawa]], serta sedikit perbedaan dalam pengucapan dan tata bahasa. Sebagaimana di banyak tempat lain di Indonesia, ragam Palembang ini sering digunakan bersama dengan bahasa Indonesia. Semakin formal situasinya, bahasa yang digunakan akan semakin condong ke ragam baku (atau ke ragam bahasa Indonesia Jakarta). Dalam situasi tidak formal, penutur di Palembang mungkin saja tidak menggunakan ragam baku sama sekali, sehingga bahasanya sulit dipahami oleh orang luar. Meski demikian, terlepas dari keterbatasan penggunaannya secara lisan, bahasa Indonesia secara praktis dipahami oleh hampir semua orang, dan menjadi bahasa paling umum yang digunakan dalam tulisan. Di sisi lain, bahasa Inggris tidak banyak digunakan, terutama karena Palembang bukan merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara. Beberapa anak muda mungkin lebih memahami bahasa Inggris dibanding yang lain, meskipun belum tentu merasa nyaman menggunakannya secara lisan. Selain itu, orang-orang yang bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. ===Baca=== Tidak terdapat banyak bacaan populer mengenai Palembang. Daftar di bawah ini memuat beberapa karya fiksi dan nonfiksi di antaranya, utamanya yang bernuansa sejarah dan kebudayaan. * '''''{{w|Dian yang Tak Kunjung Padam}}''''' oleh {{w|Sutan Takdir Alisjahbana}} — Kisah asmara klasik antara pemuda miskin dan putri dari keluarga bangsawan di tepian Sungai Musi, berlatarkan Palembang zaman kolonial. * '''''Melayu-Jawa: Citra Sejarah dan Budaya Palembang''''' oleh Djohan Hanafiah — Bacaan ringan mengenai pembentukan identitas masyarakat Palembang, melalui interpretasi penulis terhadap peristiwa serta sumber sejarah sebelum dan semasa Kesultanan. * '''''Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial''''' oleh Dedi Irwanto Muhammad Santun — Ulasan sejarah perkembangan Palembang dari zaman Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, dengan fokus pada identitas simbolik kota dan peran ruang air. ==Menuju ke sini== ===Dengan pesawat=== {{Go | name=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | alt={{IATA|PLM}} | url=http://www.smbadaruddin2-airport.co.id | email= | address= | lat=-2.9 | long=104.7 | directions= | phone= | tollfree= | fax= | hours= | price= | wikipedia=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | image=PesawatdiSMB2IA.jpg | wikidata=Q1432286 | lastedit=2026-03-27 | content=Melayani kawasan metropolitan Palembang Raya, bandara ini terletak di sisi utara kota. Bandara ini menyediakan 16 rute penerbangan domestik langsung, yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air, Citilink, Super Air Jet, Pelita Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Garuda Indonesia, dengan tujuan Jakarta, [[Batam]], [[Medan]], [[Pagar Alam]], [[Pangkalpinang]], [[Surabaya]], dan [[Yogyakarta]]. Bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional ke [[Kuala Lumpur]] dan [[Singapura]].}} ===Dengan kereta api=== {{Go | name=Stasiun Kertapati | alt='''KPT''' | wikipedia=Stasiun Kertapati | lat=-3.017 | long=104.752 | image=Stasiun_Kertapati.jpg | wikidata=Q19748476 | lastedit=2025-01-04 | content=Stasiun kereta api penumpang jarak jauh satu-satunya di Palembang, terletak di barat daya kota di sisi Seberang Ulu. Stasiun ini merupakan perhentian akhir (terminus) bagi jalur kereta api dari arah [[Prabumulih]], termasuk juga jalur dari [[Lubuk Linggau]] dan [[Bandar Lampung]]. Per awal tahun 2025, stasiun ini hanya melayani 3 kereta api penumpang jarak jauh, yakni Bukit Serelo (Ekonomi) dan Sindang Marga (Bisnis/Eksekutif) untuk relasi Kertapati–Lubuk Linggau pp, serta Rajabasa (Ekonomi) untuk relasi Kertapati–Tanjung Karang pp.}} ===Dengan bus=== Terdapat dua terminal utama tipe A untuk bus antarkota, yakni {{Marker | type=go |name=Terminal Alang-Alang Lebar | lat=-2.917 | long=104.681}} di utara dan {{Marker | type=go | name=Terminal Karya Jaya | lat=-3.064 | long=104.739}} di selatan. Meski begitu, perusahaan bus antarkota biasanya lebih sering menaikturunkan penumpang di pangkalan-pangkalan mereka masing-masing alih-alih di kedua terminal ini. ===Dengan kendaraan bermotor=== Kota ini dapat dicapai dengan berkendara via beberapa rute berbeda. Jika datang dari arah [[Kayu Agung]] dan Bandar Lampung, Anda dapat melintasi Jalan Tol Trans-Sumatra ruas utama (Bakter, Terpeka, Kapalbetung) dan keluar di Gerbang Tol Keramasan (~14 km dari pusat kota). Jika datang dari arah Prabumulih dan [[Bengkulu]], Anda dapat melalui Jalan Tol Trans-Sumatra ruas pendukung (Indraprabu, Palindra) dan keluar di Gerbang Tol Palembang (~10 km dari pusat kota). Kedua ruas tol ini bersilangan di Simpang Susun Palembang. Kota ini juga dilalui oleh ruas jalan raya nasional Lintas Timur Sumatra (AH25), yang menghubungkannya hingga ke wilayah provinsi tetangga, yakni [[Lampung]] di selatan serta [[Jambi]] di utara. Terdapat pula jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, seperti [[Baturaja]], [[Muara Enim]], dan [[Pagar Alam]]. ==Berkeliling== {{Mapframe|-2.988|104.759|zoom=13}} {{mapshape}} ===Dengan LRT=== [[Gambar:LRT Palembang Ampera.jpg|thumb|350px|LRT Palembang melintasi [[#Ampera|Jembatan Ampera]]]] LRT Palembang pertama kali dibuka untuk mendukung Asian Games 2018. Satu-satunya jalur dari sistem ini membelah kota dari utara ke selatan dengan total 13 stasiun, menghubungkan bandara, pusat kota, dan kompleks olahraga Jakabaring. Terdapat selisih waktu sekitar 17 hingga 19 menit antar perjalanan kereta, dan perjalanan satu arah dari ujung ke ujung menghabiskan waktu selama 49 menit. Kereta pertama berangkat dari Stasiun DJKA di selatan pada pukul 5.05, sementara kereta terakhir berangkat dari Stasiun Bandara di utara pada pukul 19.55. Tarif perjalanan jauh-dekat adalah sebesar Rp5.000, kecuali perjalanan dari dan ke Stasiun Bandara yang bertarif Rp10.000. Pembayaran dapat menggunakan tiket sekali jalan yang dibeli langsung di loket, atau kartu uang elektronik yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di loket agar dapat dipindai di pintu pembayaran. ==Lihat== ===Tengara utama=== {{anchor|Ampera}} * {{See | name=Jembatan Ampera | alt= | url= | email= | address= | lat=-2.9917 | long=104.763 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=Buka 24 jam | price=Gratis | wikipedia=Jembatan Ampera | image=Ampera Bridge, Palembang.jpg | wikidata=Q643147 | lastedit=2024-07-07 | content=Jembatan pertama yang melintasi Sungai Musi di Palembang, serta merupakan yang terpanjang di Indonesia ketika pertama kali dibuka pada tahun 1965. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal yang lewat, tetapi mekanisme ini berhenti digunakan hanya beberapa tahun setelah jembatan ini dibuka. Jembatan ini adalah tengara paling terkenal di Palembang karena terletak tepat di jantung kota, menghubungkan dua sisi Sungai Musi. }} {{anchor|Masjid Agung}} * {{See | name=Masjid Agung Palembang| alt=Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo| url= | email= | address= Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil 30111 | lat=-2.987833 | long=104.759796 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia=Masjid Agung Palembang | wikidata=Q14917382 | lastedit=2024-07-07 | content=Masjid besar ini pertama kali dibuka pada tahun 1748, tetapi telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan di kemudian hari. Bangunan dan menara aslinya dari abad ke-18 terletak di sisi barat kompleks (sisi yang jauh dari jalan utama), menampilkan campuran gaya arsitektur Melayu Palembang, Tiongkok, dan Eropa. Ruang salat tambahan didirikan di sekeliling bangunan asli secara terpisah dengan tiga buah atap limas raksasa serta menara baru yang lebih tinggi dan ramping. }} * {{See | name=Bundaran Air Mancur | alt=Tugu Cempako Telok | url= | email= | address= | lat=-2.9880748201474328 |long=104.7610451233057 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia= | wikidata= | lastedit=2026-04-19 | content=Bundaran ini merupakan titik nol pusat Kota Palembang, yang dibangun tidak lama setelah Jembatan Ampera berdiri. Sejak awal, unsur air mancur menjadi identitas utama bundaran ini, meskipun strukturnya sendiri telah mengalami perubahan drastis berkali-kali. Sempat menjadi tugu peringatan SEA Games 2011, bundaran ini terakhir direnovasi pada 2026 dengan bentuk kembang ''cempako telok'' yang menjadi ikon baru kota. }} {{anchor|Kuto Besak}} * {{See | name=Kuto Besak | alt=Benteng Kuto Besak | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9917 | long=104.7593 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=06.00–22.00 | price=Gratis untuk kawasan plaza | wikipedia=Kuto Besak | image=Kutobesak.jpg | wikidata=Q16773690 | lastedit=2024-07-07 | content= Sebuah kubu pertahanan dari era Kesultanan di sisi utara Sungai Musi. Selesai dibangun pada tahun 1797, kini digunakan sebagai markas komando daerah TNI. Kompleks ini tertutup untuk umum karena digunakan untuk keperluan militer, meskipun sebuah plaza terbuka di depannya berfungsi sebagai alun-alun utama kota. Di plaza tersebut terdapat {{Marker|type=see|name=Tugu Ikan Belido |lat=-2.9927|long=104.7596}}, didedikasikan untuk spesies endemik dilindungi yang dulunya menjadi bahan utama dalam pembuatan pempek.}} {{anchor|Kantor Ledeng}} * {{See | name=Kantor Wali Kota Palembang | alt=Kantor Ledeng | url= | email= | address=Jl. Merdeka no. 2, 22 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9911 | long=104.7568 | directions=750 m/12 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia=Kantor Wali Kota Palembang | image=Palembang Mayor Office.jpg | wikidata=Q23009349 | lastedit=2024-07-07 | content=Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, gedung dengan pengaruh arsitektur ''de stijl'' ini awalnya berfungsi ganda sebagai menara air dan balai kota, serta menjadi gedung tertinggi di Palembang ketika pertama kali diresmikan. Saat ini digunakan utamanya sebagai kantor wali kota saja. }} * {{See | name=Pulau Kemaro | alt= | url= | email= | address=1 Ilir, Ilir Timur II dan Sei Selincah, Kalidoni | lat=-2.9794 | long=104.8195 | directions=30 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image=Pagoda pulo kemaro.png | wikidata=Q12506795 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah pulau delta sungai yang penggunaannya telah bergonta-ganti sepanjang sejarah, mulai dari menjadi kubu pertahanan terdepan Kesultanan pada abad ke-19, menjadi kompleks penjara untuk tahanan politik pasca-1965, hingga menjadi tujuan wisata budaya dan religius seperti sekarang. Pulau ini memiliki kompleks keagamaan Buddha yang terdiri dari {{Marker|type=see|name=Kelenteng Hok Tjing Bio|lat=-2.9809|long=104.8126}} dan {{Marker|type=see|name=Pagoda Pulau Kemaro|lat=-2.9805|long=104.8135}} yang memiliki 9 lantai. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Palembang dipusatkan di sini. Selama perayaan berlangsung, sisi utara pulau akan dihubungkan sementara dengan jembatan ponton ke daratan utama. }} ===Museum dan situs warisan budaya=== * {{See | name=Monumen Perjuangan Rakyat | alt=Monpera | url= | email= | address=Jl. Merdeka no.1, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9892| long=104.7603 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price=Rp5.000 | wikipedia=Museum Monumen Perjuangan Rakyat| image= | wikidata=Q97241069 | lastedit=2024-07-07 | content=Terletak berhadapan dengan Masjid Agung, diresmikan pada tahun 1988 untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di Palembang. Di dalam bangunan berarsitektur brutalis ini, terdapat museum yang menampilkan berbagai artefak dan foto bersejarah yang berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang (1947). Terdapat pula air mancur menari di pelataran monumen. }} * {{See | name=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II | alt= | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.99026 | long=104.7611 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–17.00 (hari biasa), 09.00–17.00 (akhir pekan dan hari libur nasional) | price=Rp5.000 (umum), Rp20.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II| image=Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, Palembang.jpg | wikidata=Q48988740 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum yang dikelola pemerintah kota ini berada di atas sisa-sisa Keraton Kuto Lamo, yang dulunya merupakan pusat Kesultanan sebelum dipindahkan ke Kuto Besak. Bangunan saat ini, yang mengadopsi arsitektur atap limasan khas Palembang, pernah digunakan sebagai kantor residen pada masa penjajahan Belanda. Museum ini menampilkan sejarah kota Palembang, dari era Sriwijaya hingga masa kolonial dan kemerdekaan. }} * {{See | name=Museum Balaputradewa | alt=Museum Negeri Sumatera Selatan | url= | email= | address=Jl. Srijaya no. 1, Srijaya, Alang-Alang Lebar 30139 | lat=-2.9508 | long=104.7306 | directions=700 m/10 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT RSUD | phone= | tollfree= | hours=08.30–15.30 (Selasa–Minggu), tutup setiap Senin dan hari libur nasional | price=Rp5.000 (umum), Rp15.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Balaputera Dewa | image=Rumah Limas of IDR 10000 banknote.jpg | wikidata = Q48728288 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum ini menampilkan sejarah provinsi Sumatera Selatan secara keseluruhan. Artefak yang dipamerkan mencakup diorama dan megalit prasejarah hingga patung dan prasasti era Sriwijaya. Kompleks museum ini juga mencakup rumah limasan Palembang ikonik yang pernah tertera pada uang kertas pecahan Rp10.000 sebelum tahun 2016—pihak museum juga menyediakan spesimen uang kertas lama ini untuk dipinjam, jika Anda ingin mengambil foto yang membandingkan ilustrasinya dengan rumah yang asli. }} * {{See | name=Kompleks Makam Ki Gede ing Suro | alt= | url= | email= | address=Jl. Ratu Sianum, Lorong H Umar, 1 Ilir, Ilir Timur II 30111| lat=-2.9779 | long=104.7920 | directions=5 km/20 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2024-07-07 | content=Kompleks serupa candi yang terdiri dari 7 bangunan berbahan bata dan batu putih, dengan gaya seni yang menunjukkan pengaruh Majapahit dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Arca-arca perunggu berlapis emas dari masa Sriwijaya juga ditemukan di situs ini. Digunakan sebagai pemakaman Islam pada sekitar abad ke-16 oleh keluarga bangsawan Ki Gede ing Suro yang menjadi leluhur dinasti Kesultanan Palembang. }} * {{See | name=Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya | alt= | url= | email= | address=Jl. Syakyakirti, Karang Anyar, Gandus 30148 | lat=-3.015036 | long=104.734414 | directions=5.5 km/25 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price= | wikidata=Q7586543 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah situs arkeologi bekas pemukiman kuno (dari era Sriwijaya dan seterusnya) dengan jaringan kanal buatan. Taman ini juga memiliki museum yang menampilkan artefak seperti patung Buddha, tembikar, dan keramik. Tidak ditemui struktur bangunan bersejarah di sini, karena pemukiman ini dulunya kemungkinan besar dibangun dari bahan yang mudah terurai seperti kayu alih-alih batu bata. }} * {{See | name=Rumah Saudagar Ong Boen Tjiet | alt= | url=https://www.instagram.com/rumahongboentjiet/ | email= | address=Lorong Saudagar Yucing no. 55, 3-4 Ulu, Seberang Ulu I 30124| lat=-3.0014 | long=104.7549 | directions=10 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours=11.00–17.00 | price=Rp10.000 | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2025-10-19 | content=Bekas kediaman Ong Boen Tjiet, seorang pedagang terkenal Palembang pada abad ke-20 yang berlatar belakang Tionghoa-Indonesia. Menghadap Sungai Musi dari sisi selatannya, rumah ini menampilkan campuran unsur arsitektur Melayu Palembang dan Tionghoa, serta menampung koleksi yang dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh keturunan keluarga Ong Boen Tjiet. Tempat ini juga dapat dijangkau melalui jalur darat, meskipun gang menuju rumah ini hanya muat untuk sepeda motor. }} * {{See | name=Bayt Al-Qur'an Al-Akbar | alt= | url= | email= | address=Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Jl. M. Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus 30149 | lat=-3.011122 | long=104.70403 | directions= 14 km/40 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price=Rp20.000 per Februari 2020 | wikidata=Q20426381 | lastedit=2024-07-07 | content=Menyimpan salinan Al-Quran ukiran kayu yang diklaim terbesar di dunia; halaman demi halamannya dipamerkan dalam sebuah gedung galeri setinggi 15 meter. Ulasannya bervariasi; banyak wisatawan mengatakan bahwa tempat ini wajib dikunjungi saat berada di Palembang, sementara yang lain mengeluhkan akses ke sana yang melintasi jalan pedesaan buruk serta tiadanya akomodasi penyandang disabilitas. }} ==Lakukan== <!--Tur jalan kaki, wisata sungai, olahraga--> ==Beli== ==Makan== Palembang merupakan pilihan yang tepat sebagai tujuan wisata kuliner. Terdapat berbagai variasi tempat makan yang menyediakan masakan ataupun kudapan khas setempat, dengan sajian unggulan masing-masing. Rentang harga yang ditampilkan adalah per satu sajian, yang mencakup seporsi makanan berat dan minuman pendamping. * {{eat | name=Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z. | alt= | url= | email= | address=Jl. KH. Ahmad Dahlan no. 2, 26 Ilir, Bukit Kecil 30136 | lat=-2.9886363289145494 |long=104.75326480796426 | directions=1.2 km/18 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone=+62 711 5556844 | tollfree= | hours=06.00-22.00 | price=Mulai dari Rp30.000 | content=Restoran mi celor paling terkenal di Palembang dengan beberapa cabang. Lokasi ini merupakan cabang pusat, yang terletak di tengah-tengah Pasar 26 Ilir. Mi celor memiliki kuah berbahan kaldu udang dan santan dengan rasa yang ringan. }} * {{eat | name=Sarinande Tempo Doeloe | alt= | url= | email= | address=Jl. Mayor Ruslan no. 966, 20 Ilir D. I, Ilir Timur I 30114 | lat=-2.973840121991675, |long=104.75782994396515 | directions=3 km/10 menit berkendara dari pusat kota | phone=+62 711 313037 | tollfree= | hours=10.00-21.00 (Senin–Sabtu), 10.00–17.00 (Minggu) | price=Mulai dari Rp60.000 | content=Berdiri sejak tahun 1970-an, restoran ini menawarkan cita rasa masakan Palembang klasik, utamanya pindang ikan sungai dan pelengkapnya. Juga menyediakan nasi minyak dan kari kambing khusus setiap Jumat hingga Minggu. }} * Pempek * Model. * Tekwan * Mie celor * Pindang Ikan * Pepes Tempoyak * Nasi Minyak ==Minum== Cobalah minuman lokal Palembang, '''es kacang merah''', minuman es yang terbuat dari kacang merah. ==Tidur== ===Budget=== * {{sleep | name=Monoloog Hotel Palembang | alt=Tune Hotel Palembang | url= | email= | address=Jl. Jend. Sudirman | lat=-2.965956 | long=104.746206 | directions= | phone=+62 711 315 222 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp200.000 | wikidata=Q111139144 | content=Merek hotel tanpa embel-embel, tetapi memiliki fasilitas lengkap seperti sarapan, Wi-Fi, AC, dan TV. }} * {{sleep | name=Zuri Express | alt= | url=http://grandzuri.com/zuriexpress-palembang | email= | address=Jl Dr. M. Isa no 988 | lat=-2.96991 | long=104.77 | directions= | phone=+62 711 710 800 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp350.000 | wikidata=Q115795588 | content=Hotel murah dengan kamar yang terlihat sederhanam namun bersih dan dengan desain yang minimalis. Restoran berada di gedung terpisah di lantai bawah, tetapi jangan berharap akan menu yang bervariasi. }} ===Menengah=== * {{sleep | name=Aston Palembang Hotel & Conference Center | alt= | url= | email= | address= | lat= | long= | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp600.000 | wikidata=Q111139126 | content=Hotel Aston ini lebih sederhana dibandingkan hotel sejenisnya di kota besar. Menyediakan kamar deluks yang besar, suite, dan pilihan yang mencakup masakan khas Palembang untuk sarapan. }} * {{sleep | name=Novotel Palembang | alt= | url=https://all.accor.com/hotel/3716/index.en.shtml | email= | address=Jalan R Sukamto No. 8A | lat=-2.9494 | long=104.7638 | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp700.000 | wikidata=Q12500946 | content=Salah satu hotel terbaik di kota ini. Keramahtamahan khas Accor dengan kamar yang luas, sarapan yang berlimpah, kolam renang yang luas, dan area joging. Secara umum cocok untuk pelancong bisnis serta keluarga. }} ===Mahal=== * {{sleep | name=Hotel Aryaduta Palembang | alt= | url=http://www.aryaduta.com/palembang/ | email= | address=Jl. POM IX, Palembang Square | lat=-2.977247 | long=104.741005 | directions= | phone=+62 711 383 838 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp1.100.000 | wikidata=Q111139132 | lastedit=2017-08-26 | content=Hotel atrium 18 lantai yang menawarkan 174 kamar. Salah satu fasilitas yang mereka tawarkan kepada para tamu ialah ruang perjamuan dan pertemuan terbesar di Sumatera Selatan, yang dapat menampung hingga 2.500 tamu dalam sebuah resepsi. Para tamu juga dapat menikmati pengalaman mereka di Pool Café yang menawarkan makanan sehat, camilan, dan minuman ringan. }} ==Tetap aman== ==Tujuan berikutnya== *Perjalanan melalui jalan darat ke [[Jambi]] *Pergi ke [[Lampung]] dengan kereta api *Perjalanan dengan feri dari sepanjang muara Sungai Musi ke Pulau [[Bangka (Sumatera)|Bangka]] {{Geo|-2.991108|104.756733}} {{IsPartOf|Sumatera Selatan}} {{Outlinecity}} pd6j15xcc64saayv39gg7kme0pmhr42 33845 33844 2026-04-26T04:50:55Z Swarabakti 179 /* Sejarah */ 33845 wikitext text/x-wiki {{Pagebanner|Palembang page banner Jembatan Ampera awak.JPG|pgname=Palembang|caption=Jembatan Ampera|origin=-0.4,0}} '''Palembang''' adalah sebuah kota besar di [[Indonesia]] yang menjadi pusat pemerintahan [[Sumatera Selatan]]. Terletak di dataran rendah tempat bertemunya sungai Ogan, Komering, dan Musi, wilayah metropolitan Palembang mencakup lebih dari 2 juta penduduk. Kota ini merupakan simpul kegiatan kawasan serta pintu gerbang bagi para pelancong yang hendak menjelajah bagian selatan Sumatra lebih lanjut. Dengan sejarah panjangnya sebagai pusat kekuasaan dan bandar persinggahan sejak zaman Sriwijaya, Palembang kaya akan warisan budaya hasil akulturasi Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan India. Mulai dari Jembatan Ampera yang ikonik hingga wisata perahu yang asyik, dari kampung tua tepi sungai hingga warung pempek yang ramai, Palembang menawarkan paduan wisata pusaka dan cita rasa yang sulit dilewatkan begitu saja. ==Pahami== ===Sejarah=== [[Gambar:Prasasti Kedukan Bukit 3.jpg|jmpl|350px|Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat pendirian Sriwijaya]] Di antara kota-kota di [[Indonesia]] atau bahkan di [[Asia Tenggara]], Palembang merupakan salah satu kota tertua yang masih terus dihuni hingga kini. Kemunculan Palembang dapat ditarik kembali hingga tahun 683 M, ketika kota ini menjadi pusat kemaharajaan maritim Sriwijaya, salah satu kerajaan bercorak Buddha terbesar dan terpenting dalam sejarah Indonesia. Kota ini memainkan peran penting dalam panggung niaga dan pertukaran budaya di tingkat kawasan. Sriwijaya menguasai jalur strategis seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, dan Palembang berfungsi sebagai bandar persinggahan (''entrepôt'') bagi komoditas dari dalam dan luar Nusantara. Pada saat yang sama, Palembang juga menjadi pusat pendidikan religi yang berkembang pesat, hingga mampu menarik peziarah [[Tiongkok]] untuk singgah dalam perjalanan rantau mereka ke [[India]] demi mempelajari naskah-naskah suci agama Buddha dengan para biksu dan cendekiawan setempat. [[Gambar:Palembang Great Mosque.jpg|jmpl|350px|Menara Masjid Agung Palembang dari abad ke-18.]] Setelah Palembang diserang oleh Chola pada awal abad ke-11, pamor kota ini mulai menurun. Palembang mengalami serangkaian perubahan kepemimpinan, sebagian besarnya di bawah pengaruh berbagai kerajaan yang berpusat di [[Jawa]], diawali dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14. Pada awal abad ke-15, kota ini sempat jatuh ke tangan bajak laut Tiongkok, tetapi mereka segera ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho, yang kemudian menunjuk seorang pejabat Tionghoa untuk memerintah kota tersebut. Pada abad ke-16, serombongan bangsawan Jawa yang menghindari perang perebutan takhta di tanah asalnya mendirikan wangsa Palembang yang baru, meskipun mereka masih mengakui kekuasaan raja dan sultan yang berpusat di Jawa. Barulah pada pertengahan abad ke-17, penguasa Palembang mulai menyatakan kedaulatannya dengan menggunakan gelar "Sultan" secara mandiri. Kesultanan Palembang mengendalikan perdagangan di sepanjang Sungai Musi serta pulau-pulau jiran seperti Bangka dan Belitung, mengambil untung dari ekspor komoditas lada dan timah. Kekayaan ini kemudian digunakan untuk mendirikan bangunan megah, termasuk di antaranya sebuah [[#Masjid Agung|masjid agung]] serta [[#Kuto Besak|benteng keraton yang baru]]. Permukiman mulai berkembang di sepanjang tepi Sungai Musi; kebanyakan warga lama menetap di sisi utara ([[#Orientasi|Seberang Ilir]]), sementara warga rantau, termasuk orang Tionghoa dan Arab, diizinkan menetap di sisi selatan ([[#Orientasi|Seberang Ulu]]). Kesultanan ini terus berkembang hingga awal abad ke-19, ketika perang yang melibatkan perselisihan internal serta kekuatan kolonial Inggris dan Belanda mengakhiri masa kejayaannya. Setelah pembubaran Kesultanan pada tahun 1825, kota ini menjadi ibu kota Keresidenan Palembang, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan Provinsi Sumatera Selatan saat ini. Palembang mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-19, seiring dengan pesatnya perkembangan industri minyak bumi dan karet yang meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pusat niaga baru pun mulai bertumbuh di daratan, seperti di kawasan [[#Pasar Sekanak|Sekanak]] dan [[#Pasar 16 Ilir|16 Ilir]]. Palembang resmi berstatus ''gemeente'' (kotapraja) sejak tahun 1906, dan menjadi pusat urban luar Jawa terpadat di Hindia Belanda pada tahun 1930-an, mengungguli [[Medan]] dan [[Makassar]]. Urbanisasi yang pesat mendorong kota ini untuk meningkatkan infrastrukturnya melalui berbagai pembangunan, mulai dari pendirian [[#Kantor Ledeng|menara air]] untuk kebutuhan distribusi air minum hingga reklamasi puluhan anak sungai dan kanal untuk transportasi darat. Namun, krisis ekonomi global pada 1930-an menyebabkan mandeknya rencana pengembangan lebih lanjut. Palembang merupakan salah satu lokasi penting selama masa Perang Pasifik (Perang Dunia II). Pasukan pendudukan Jepang merebut kota ini demi menguasai kilang minyaknya, dan Sekutu melakukan beberapa serangan bom terhadap kilang tersebut. Semasa Revolusi Nasional Indonesia, kota ini juga menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan republik dan pasukan Belanda pada awal tahun 1947. Setelah kemerdekaan Indonesia, Palembang meneruskan pengembangan kota ke pinggiran, menimbun jalur air dan mengutamakan jalur darat. Pembangunan [[#Ampera|Jembatan Ampera]] yang melintasi Sungai Musi pada 1960-an menjadi tonggak upaya "pemodernan" kota ini, karena memfasilitasi pertumbuhan urban yang menjauh dari tepi sungai, mengikuti jalan poros utara-selatan. Dewasa ini, Palembang juga dikenal dengan citranya sebagai pusat penyelenggaraan acara olahraga, dengan kiprahnya sebagai tuan rumah bersama [[Jakarta]] untuk SEA Games 2011 dan Asian Games 2018. ===Orientasi=== [[Gambar:Kampung Kapitan, Palembang.jpg|thumb|350px|Kampung Kapitan, salah satu pecinan tertua di Palembang]] Pada awalnya, perkembangan kawasan perkotaan Palembang menyebar di sepanjang tepian Sungai Musi, yang membelah kota ini menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Jembatan Ampera membentang dengan sangat mencolok di pusat kota dan hampir selalu terlihat dari mana pun di sepanjang tepian Sungai Musi, selama masih di dalam batas kota. Berbeda dengan banyak kota lain di Indonesia dengan ukuran serupa, Palembang memiliki sejumlah jalan raya yang cukup lebar, bahkan mencapai 8 lajur di beberapa ruas. Namun, sebagian besar permukiman lama di Palembang dibangun di sepanjang ratusan sungai kecil dan kanal yang kini telah direklamasi. Hal ini menyebabkan pola permukiman yang tidak teratur dengan orientasi ke segala arah alih-alih berpatokan pada mata angin. Kebanyakan gang dan lorong membentuk jaringan berkelok-kelok dan bermuara ke jalan-jalan besar. Karena itu, alamat sering kali diberikan dengan kombinasi nama jalan dan gang/lorong, dengan nama jalan yang lebih besar di awal, diikuti nama gang atau lorong yang lebih kecil untuk memperjelas lokasi sebenarnya, serta dilengkapi dengan nomor, wilayah administratif, dan kode pos. ===Bicara=== {{see also|Buku percakapan Palembang}} Bahasa utama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kota ini adalah '''[[Buku percakapan Palembang|bahasa Palembang]]''' atau '''bahasa Melayu Palembang''', yang secara lokal dikenal sebagai ''baso Pelémbang''. Bahasa ini masih berkerabat dengan berbagai ragam bahasa Melayu yang dituturkan di seluruh [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Singapura]], dan [[Brunei]], termasuk [[Buku percakapan Betawi|bahasa Betawi]] dan [[Buku percakapan Minangkabau|bahasa Minangkabau]], antara lain. Bahasa Palembang memiliki perbedaan kosakata dari ragam baku, dengan pengaruh kuat dari [[Buku percakapan Jawa|bahasa Jawa]], serta sedikit perbedaan dalam pengucapan dan tata bahasa. Sebagaimana di banyak tempat lain di Indonesia, ragam Palembang ini sering digunakan bersama dengan bahasa Indonesia. Semakin formal situasinya, bahasa yang digunakan akan semakin condong ke ragam baku (atau ke ragam bahasa Indonesia Jakarta). Dalam situasi tidak formal, penutur di Palembang mungkin saja tidak menggunakan ragam baku sama sekali, sehingga bahasanya sulit dipahami oleh orang luar. Meski demikian, terlepas dari keterbatasan penggunaannya secara lisan, bahasa Indonesia secara praktis dipahami oleh hampir semua orang, dan menjadi bahasa paling umum yang digunakan dalam tulisan. Di sisi lain, bahasa Inggris tidak banyak digunakan, terutama karena Palembang bukan merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara. Beberapa anak muda mungkin lebih memahami bahasa Inggris dibanding yang lain, meskipun belum tentu merasa nyaman menggunakannya secara lisan. Selain itu, orang-orang yang bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. ===Baca=== Tidak terdapat banyak bacaan populer mengenai Palembang. Daftar di bawah ini memuat beberapa karya fiksi dan nonfiksi di antaranya, utamanya yang bernuansa sejarah dan kebudayaan. * '''''{{w|Dian yang Tak Kunjung Padam}}''''' oleh {{w|Sutan Takdir Alisjahbana}} — Kisah asmara klasik antara pemuda miskin dan putri dari keluarga bangsawan di tepian Sungai Musi, berlatarkan Palembang zaman kolonial. * '''''Melayu-Jawa: Citra Sejarah dan Budaya Palembang''''' oleh Djohan Hanafiah — Bacaan ringan mengenai pembentukan identitas masyarakat Palembang, melalui interpretasi penulis terhadap peristiwa serta sumber sejarah sebelum dan semasa Kesultanan. * '''''Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial''''' oleh Dedi Irwanto Muhammad Santun — Ulasan sejarah perkembangan Palembang dari zaman Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, dengan fokus pada identitas simbolik kota dan peran ruang air. ==Menuju ke sini== ===Dengan pesawat=== {{Go | name=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | alt={{IATA|PLM}} | url=http://www.smbadaruddin2-airport.co.id | email= | address= | lat=-2.9 | long=104.7 | directions= | phone= | tollfree= | fax= | hours= | price= | wikipedia=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | image=PesawatdiSMB2IA.jpg | wikidata=Q1432286 | lastedit=2026-03-27 | content=Melayani kawasan metropolitan Palembang Raya, bandara ini terletak di sisi utara kota. Bandara ini menyediakan 16 rute penerbangan domestik langsung, yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air, Citilink, Super Air Jet, Pelita Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Garuda Indonesia, dengan tujuan Jakarta, [[Batam]], [[Medan]], [[Pagar Alam]], [[Pangkalpinang]], [[Surabaya]], dan [[Yogyakarta]]. Bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional ke [[Kuala Lumpur]] dan [[Singapura]].}} ===Dengan kereta api=== {{Go | name=Stasiun Kertapati | alt='''KPT''' | wikipedia=Stasiun Kertapati | lat=-3.017 | long=104.752 | image=Stasiun_Kertapati.jpg | wikidata=Q19748476 | lastedit=2025-01-04 | content=Stasiun kereta api penumpang jarak jauh satu-satunya di Palembang, terletak di barat daya kota di sisi Seberang Ulu. Stasiun ini merupakan perhentian akhir (terminus) bagi jalur kereta api dari arah [[Prabumulih]], termasuk juga jalur dari [[Lubuk Linggau]] dan [[Bandar Lampung]]. Per awal tahun 2025, stasiun ini hanya melayani 3 kereta api penumpang jarak jauh, yakni Bukit Serelo (Ekonomi) dan Sindang Marga (Bisnis/Eksekutif) untuk relasi Kertapati–Lubuk Linggau pp, serta Rajabasa (Ekonomi) untuk relasi Kertapati–Tanjung Karang pp.}} ===Dengan bus=== Terdapat dua terminal utama tipe A untuk bus antarkota, yakni {{Marker | type=go |name=Terminal Alang-Alang Lebar | lat=-2.917 | long=104.681}} di utara dan {{Marker | type=go | name=Terminal Karya Jaya | lat=-3.064 | long=104.739}} di selatan. Meski begitu, perusahaan bus antarkota biasanya lebih sering menaikturunkan penumpang di pangkalan-pangkalan mereka masing-masing alih-alih di kedua terminal ini. ===Dengan kendaraan bermotor=== Kota ini dapat dicapai dengan berkendara via beberapa rute berbeda. Jika datang dari arah [[Kayu Agung]] dan Bandar Lampung, Anda dapat melintasi Jalan Tol Trans-Sumatra ruas utama (Bakter, Terpeka, Kapalbetung) dan keluar di Gerbang Tol Keramasan (~14 km dari pusat kota). Jika datang dari arah Prabumulih dan [[Bengkulu]], Anda dapat melalui Jalan Tol Trans-Sumatra ruas pendukung (Indraprabu, Palindra) dan keluar di Gerbang Tol Palembang (~10 km dari pusat kota). Kedua ruas tol ini bersilangan di Simpang Susun Palembang. Kota ini juga dilalui oleh ruas jalan raya nasional Lintas Timur Sumatra (AH25), yang menghubungkannya hingga ke wilayah provinsi tetangga, yakni [[Lampung]] di selatan serta [[Jambi]] di utara. Terdapat pula jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, seperti [[Baturaja]], [[Muara Enim]], dan [[Pagar Alam]]. ==Berkeliling== {{Mapframe|-2.988|104.759|zoom=13}} {{mapshape}} ===Dengan LRT=== [[Gambar:LRT Palembang Ampera.jpg|thumb|350px|LRT Palembang melintasi [[#Ampera|Jembatan Ampera]]]] LRT Palembang pertama kali dibuka untuk mendukung Asian Games 2018. Satu-satunya jalur dari sistem ini membelah kota dari utara ke selatan dengan total 13 stasiun, menghubungkan bandara, pusat kota, dan kompleks olahraga Jakabaring. Terdapat selisih waktu sekitar 17 hingga 19 menit antar perjalanan kereta, dan perjalanan satu arah dari ujung ke ujung menghabiskan waktu selama 49 menit. Kereta pertama berangkat dari Stasiun DJKA di selatan pada pukul 5.05, sementara kereta terakhir berangkat dari Stasiun Bandara di utara pada pukul 19.55. Tarif perjalanan jauh-dekat adalah sebesar Rp5.000, kecuali perjalanan dari dan ke Stasiun Bandara yang bertarif Rp10.000. Pembayaran dapat menggunakan tiket sekali jalan yang dibeli langsung di loket, atau kartu uang elektronik yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di loket agar dapat dipindai di pintu pembayaran. ==Lihat== ===Tengara utama=== {{anchor|Ampera}} * {{See | name=Jembatan Ampera | alt= | url= | email= | address= | lat=-2.9917 | long=104.763 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=Buka 24 jam | price=Gratis | wikipedia=Jembatan Ampera | image=Ampera Bridge, Palembang.jpg | wikidata=Q643147 | lastedit=2024-07-07 | content=Jembatan pertama yang melintasi Sungai Musi di Palembang, serta merupakan yang terpanjang di Indonesia ketika pertama kali dibuka pada tahun 1965. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal yang lewat, tetapi mekanisme ini berhenti digunakan hanya beberapa tahun setelah jembatan ini dibuka. Jembatan ini adalah tengara paling terkenal di Palembang karena terletak tepat di jantung kota, menghubungkan dua sisi Sungai Musi. }} {{anchor|Masjid Agung}} * {{See | name=Masjid Agung Palembang| alt=Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo| url= | email= | address= Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil 30111 | lat=-2.987833 | long=104.759796 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia=Masjid Agung Palembang | wikidata=Q14917382 | lastedit=2024-07-07 | content=Masjid besar ini pertama kali dibuka pada tahun 1748, tetapi telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan di kemudian hari. Bangunan dan menara aslinya dari abad ke-18 terletak di sisi barat kompleks (sisi yang jauh dari jalan utama), menampilkan campuran gaya arsitektur Melayu Palembang, Tiongkok, dan Eropa. Ruang salat tambahan didirikan di sekeliling bangunan asli secara terpisah dengan tiga buah atap limas raksasa serta menara baru yang lebih tinggi dan ramping. }} * {{See | name=Bundaran Air Mancur | alt=Tugu Cempako Telok | url= | email= | address= | lat=-2.9880748201474328 |long=104.7610451233057 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia= | wikidata= | lastedit=2026-04-19 | content=Bundaran ini merupakan titik nol pusat Kota Palembang, yang dibangun tidak lama setelah Jembatan Ampera berdiri. Sejak awal, unsur air mancur menjadi identitas utama bundaran ini, meskipun strukturnya sendiri telah mengalami perubahan drastis berkali-kali. Sempat menjadi tugu peringatan SEA Games 2011, bundaran ini terakhir direnovasi pada 2026 dengan bentuk kembang ''cempako telok'' yang menjadi ikon baru kota. }} {{anchor|Kuto Besak}} * {{See | name=Kuto Besak | alt=Benteng Kuto Besak | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9917 | long=104.7593 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=06.00–22.00 | price=Gratis untuk kawasan plaza | wikipedia=Kuto Besak | image=Kutobesak.jpg | wikidata=Q16773690 | lastedit=2024-07-07 | content= Sebuah kubu pertahanan dari era Kesultanan di sisi utara Sungai Musi. Selesai dibangun pada tahun 1797, kini digunakan sebagai markas komando daerah TNI. Kompleks ini tertutup untuk umum karena digunakan untuk keperluan militer, meskipun sebuah plaza terbuka di depannya berfungsi sebagai alun-alun utama kota. Di plaza tersebut terdapat {{Marker|type=see|name=Tugu Ikan Belido |lat=-2.9927|long=104.7596}}, didedikasikan untuk spesies endemik dilindungi yang dulunya menjadi bahan utama dalam pembuatan pempek.}} {{anchor|Kantor Ledeng}} * {{See | name=Kantor Wali Kota Palembang | alt=Kantor Ledeng | url= | email= | address=Jl. Merdeka no. 2, 22 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9911 | long=104.7568 | directions=750 m/12 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia=Kantor Wali Kota Palembang | image=Palembang Mayor Office.jpg | wikidata=Q23009349 | lastedit=2024-07-07 | content=Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, gedung dengan pengaruh arsitektur ''de stijl'' ini awalnya berfungsi ganda sebagai menara air dan balai kota, serta menjadi gedung tertinggi di Palembang ketika pertama kali diresmikan. Saat ini digunakan utamanya sebagai kantor wali kota saja. }} * {{See | name=Pulau Kemaro | alt= | url= | email= | address=1 Ilir, Ilir Timur II dan Sei Selincah, Kalidoni | lat=-2.9794 | long=104.8195 | directions=30 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image=Pagoda pulo kemaro.png | wikidata=Q12506795 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah pulau delta sungai yang penggunaannya telah bergonta-ganti sepanjang sejarah, mulai dari menjadi kubu pertahanan terdepan Kesultanan pada abad ke-19, menjadi kompleks penjara untuk tahanan politik pasca-1965, hingga menjadi tujuan wisata budaya dan religius seperti sekarang. Pulau ini memiliki kompleks keagamaan Buddha yang terdiri dari {{Marker|type=see|name=Kelenteng Hok Tjing Bio|lat=-2.9809|long=104.8126}} dan {{Marker|type=see|name=Pagoda Pulau Kemaro|lat=-2.9805|long=104.8135}} yang memiliki 9 lantai. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Palembang dipusatkan di sini. Selama perayaan berlangsung, sisi utara pulau akan dihubungkan sementara dengan jembatan ponton ke daratan utama. }} ===Museum dan situs warisan budaya=== * {{See | name=Monumen Perjuangan Rakyat | alt=Monpera | url= | email= | address=Jl. Merdeka no.1, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9892| long=104.7603 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price=Rp5.000 | wikipedia=Museum Monumen Perjuangan Rakyat| image= | wikidata=Q97241069 | lastedit=2024-07-07 | content=Terletak berhadapan dengan Masjid Agung, diresmikan pada tahun 1988 untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di Palembang. Di dalam bangunan berarsitektur brutalis ini, terdapat museum yang menampilkan berbagai artefak dan foto bersejarah yang berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang (1947). Terdapat pula air mancur menari di pelataran monumen. }} * {{See | name=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II | alt= | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.99026 | long=104.7611 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–17.00 (hari biasa), 09.00–17.00 (akhir pekan dan hari libur nasional) | price=Rp5.000 (umum), Rp20.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II| image=Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, Palembang.jpg | wikidata=Q48988740 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum yang dikelola pemerintah kota ini berada di atas sisa-sisa Keraton Kuto Lamo, yang dulunya merupakan pusat Kesultanan sebelum dipindahkan ke Kuto Besak. Bangunan saat ini, yang mengadopsi arsitektur atap limasan khas Palembang, pernah digunakan sebagai kantor residen pada masa penjajahan Belanda. Museum ini menampilkan sejarah kota Palembang, dari era Sriwijaya hingga masa kolonial dan kemerdekaan. }} * {{See | name=Museum Balaputradewa | alt=Museum Negeri Sumatera Selatan | url= | email= | address=Jl. Srijaya no. 1, Srijaya, Alang-Alang Lebar 30139 | lat=-2.9508 | long=104.7306 | directions=700 m/10 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT RSUD | phone= | tollfree= | hours=08.30–15.30 (Selasa–Minggu), tutup setiap Senin dan hari libur nasional | price=Rp5.000 (umum), Rp15.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Balaputera Dewa | image=Rumah Limas of IDR 10000 banknote.jpg | wikidata = Q48728288 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum ini menampilkan sejarah provinsi Sumatera Selatan secara keseluruhan. Artefak yang dipamerkan mencakup diorama dan megalit prasejarah hingga patung dan prasasti era Sriwijaya. Kompleks museum ini juga mencakup rumah limasan Palembang ikonik yang pernah tertera pada uang kertas pecahan Rp10.000 sebelum tahun 2016—pihak museum juga menyediakan spesimen uang kertas lama ini untuk dipinjam, jika Anda ingin mengambil foto yang membandingkan ilustrasinya dengan rumah yang asli. }} * {{See | name=Kompleks Makam Ki Gede ing Suro | alt= | url= | email= | address=Jl. Ratu Sianum, Lorong H Umar, 1 Ilir, Ilir Timur II 30111| lat=-2.9779 | long=104.7920 | directions=5 km/20 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2024-07-07 | content=Kompleks serupa candi yang terdiri dari 7 bangunan berbahan bata dan batu putih, dengan gaya seni yang menunjukkan pengaruh Majapahit dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Arca-arca perunggu berlapis emas dari masa Sriwijaya juga ditemukan di situs ini. Digunakan sebagai pemakaman Islam pada sekitar abad ke-16 oleh keluarga bangsawan Ki Gede ing Suro yang menjadi leluhur dinasti Kesultanan Palembang. }} * {{See | name=Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya | alt= | url= | email= | address=Jl. Syakyakirti, Karang Anyar, Gandus 30148 | lat=-3.015036 | long=104.734414 | directions=5.5 km/25 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price= | wikidata=Q7586543 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah situs arkeologi bekas pemukiman kuno (dari era Sriwijaya dan seterusnya) dengan jaringan kanal buatan. Taman ini juga memiliki museum yang menampilkan artefak seperti patung Buddha, tembikar, dan keramik. Tidak ditemui struktur bangunan bersejarah di sini, karena pemukiman ini dulunya kemungkinan besar dibangun dari bahan yang mudah terurai seperti kayu alih-alih batu bata. }} * {{See | name=Rumah Saudagar Ong Boen Tjiet | alt= | url=https://www.instagram.com/rumahongboentjiet/ | email= | address=Lorong Saudagar Yucing no. 55, 3-4 Ulu, Seberang Ulu I 30124| lat=-3.0014 | long=104.7549 | directions=10 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours=11.00–17.00 | price=Rp10.000 | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2025-10-19 | content=Bekas kediaman Ong Boen Tjiet, seorang pedagang terkenal Palembang pada abad ke-20 yang berlatar belakang Tionghoa-Indonesia. Menghadap Sungai Musi dari sisi selatannya, rumah ini menampilkan campuran unsur arsitektur Melayu Palembang dan Tionghoa, serta menampung koleksi yang dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh keturunan keluarga Ong Boen Tjiet. Tempat ini juga dapat dijangkau melalui jalur darat, meskipun gang menuju rumah ini hanya muat untuk sepeda motor. }} * {{See | name=Bayt Al-Qur'an Al-Akbar | alt= | url= | email= | address=Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Jl. M. Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus 30149 | lat=-3.011122 | long=104.70403 | directions= 14 km/40 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price=Rp20.000 per Februari 2020 | wikidata=Q20426381 | lastedit=2024-07-07 | content=Menyimpan salinan Al-Quran ukiran kayu yang diklaim terbesar di dunia; halaman demi halamannya dipamerkan dalam sebuah gedung galeri setinggi 15 meter. Ulasannya bervariasi; banyak wisatawan mengatakan bahwa tempat ini wajib dikunjungi saat berada di Palembang, sementara yang lain mengeluhkan akses ke sana yang melintasi jalan pedesaan buruk serta tiadanya akomodasi penyandang disabilitas. }} ==Lakukan== <!--Tur jalan kaki, wisata sungai, olahraga--> ==Beli== ==Makan== Palembang merupakan pilihan yang tepat sebagai tujuan wisata kuliner. Terdapat berbagai variasi tempat makan yang menyediakan masakan ataupun kudapan khas setempat, dengan sajian unggulan masing-masing. Rentang harga yang ditampilkan adalah per satu sajian, yang mencakup seporsi makanan berat dan minuman pendamping. * {{eat | name=Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z. | alt= | url= | email= | address=Jl. KH. Ahmad Dahlan no. 2, 26 Ilir, Bukit Kecil 30136 | lat=-2.9886363289145494 |long=104.75326480796426 | directions=1.2 km/18 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone=+62 711 5556844 | tollfree= | hours=06.00-22.00 | price=Mulai dari Rp30.000 | content=Restoran mi celor paling terkenal di Palembang dengan beberapa cabang. Lokasi ini merupakan cabang pusat, yang terletak di tengah-tengah Pasar 26 Ilir. Mi celor memiliki kuah berbahan kaldu udang dan santan dengan rasa yang ringan. }} * {{eat | name=Sarinande Tempo Doeloe | alt= | url= | email= | address=Jl. Mayor Ruslan no. 966, 20 Ilir D. I, Ilir Timur I 30114 | lat=-2.973840121991675, |long=104.75782994396515 | directions=3 km/10 menit berkendara dari pusat kota | phone=+62 711 313037 | tollfree= | hours=10.00-21.00 (Senin–Sabtu), 10.00–17.00 (Minggu) | price=Mulai dari Rp60.000 | content=Berdiri sejak tahun 1970-an, restoran ini menawarkan cita rasa masakan Palembang klasik, utamanya pindang ikan sungai dan pelengkapnya. Juga menyediakan nasi minyak dan kari kambing khusus setiap Jumat hingga Minggu. }} * Pempek * Model. * Tekwan * Mie celor * Pindang Ikan * Pepes Tempoyak * Nasi Minyak ==Minum== Cobalah minuman lokal Palembang, '''es kacang merah''', minuman es yang terbuat dari kacang merah. ==Tidur== ===Budget=== * {{sleep | name=Monoloog Hotel Palembang | alt=Tune Hotel Palembang | url= | email= | address=Jl. Jend. Sudirman | lat=-2.965956 | long=104.746206 | directions= | phone=+62 711 315 222 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp200.000 | wikidata=Q111139144 | content=Merek hotel tanpa embel-embel, tetapi memiliki fasilitas lengkap seperti sarapan, Wi-Fi, AC, dan TV. }} * {{sleep | name=Zuri Express | alt= | url=http://grandzuri.com/zuriexpress-palembang | email= | address=Jl Dr. M. Isa no 988 | lat=-2.96991 | long=104.77 | directions= | phone=+62 711 710 800 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp350.000 | wikidata=Q115795588 | content=Hotel murah dengan kamar yang terlihat sederhanam namun bersih dan dengan desain yang minimalis. Restoran berada di gedung terpisah di lantai bawah, tetapi jangan berharap akan menu yang bervariasi. }} ===Menengah=== * {{sleep | name=Aston Palembang Hotel & Conference Center | alt= | url= | email= | address= | lat= | long= | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp600.000 | wikidata=Q111139126 | content=Hotel Aston ini lebih sederhana dibandingkan hotel sejenisnya di kota besar. Menyediakan kamar deluks yang besar, suite, dan pilihan yang mencakup masakan khas Palembang untuk sarapan. }} * {{sleep | name=Novotel Palembang | alt= | url=https://all.accor.com/hotel/3716/index.en.shtml | email= | address=Jalan R Sukamto No. 8A | lat=-2.9494 | long=104.7638 | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp700.000 | wikidata=Q12500946 | content=Salah satu hotel terbaik di kota ini. Keramahtamahan khas Accor dengan kamar yang luas, sarapan yang berlimpah, kolam renang yang luas, dan area joging. Secara umum cocok untuk pelancong bisnis serta keluarga. }} ===Mahal=== * {{sleep | name=Hotel Aryaduta Palembang | alt= | url=http://www.aryaduta.com/palembang/ | email= | address=Jl. POM IX, Palembang Square | lat=-2.977247 | long=104.741005 | directions= | phone=+62 711 383 838 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp1.100.000 | wikidata=Q111139132 | lastedit=2017-08-26 | content=Hotel atrium 18 lantai yang menawarkan 174 kamar. Salah satu fasilitas yang mereka tawarkan kepada para tamu ialah ruang perjamuan dan pertemuan terbesar di Sumatera Selatan, yang dapat menampung hingga 2.500 tamu dalam sebuah resepsi. Para tamu juga dapat menikmati pengalaman mereka di Pool Café yang menawarkan makanan sehat, camilan, dan minuman ringan. }} ==Tetap aman== ==Tujuan berikutnya== *Perjalanan melalui jalan darat ke [[Jambi]] *Pergi ke [[Lampung]] dengan kereta api *Perjalanan dengan feri dari sepanjang muara Sungai Musi ke Pulau [[Bangka (Sumatera)|Bangka]] {{Geo|-2.991108|104.756733}} {{IsPartOf|Sumatera Selatan}} {{Outlinecity}} o6cm269t4ke07qvm81kg5qekxhnfkk1 33846 33845 2026-04-26T04:58:04Z Swarabakti 179 /* Lihat */ 33846 wikitext text/x-wiki {{Pagebanner|Palembang page banner Jembatan Ampera awak.JPG|pgname=Palembang|caption=Jembatan Ampera|origin=-0.4,0}} '''Palembang''' adalah sebuah kota besar di [[Indonesia]] yang menjadi pusat pemerintahan [[Sumatera Selatan]]. Terletak di dataran rendah tempat bertemunya sungai Ogan, Komering, dan Musi, wilayah metropolitan Palembang mencakup lebih dari 2 juta penduduk. Kota ini merupakan simpul kegiatan kawasan serta pintu gerbang bagi para pelancong yang hendak menjelajah bagian selatan Sumatra lebih lanjut. Dengan sejarah panjangnya sebagai pusat kekuasaan dan bandar persinggahan sejak zaman Sriwijaya, Palembang kaya akan warisan budaya hasil akulturasi Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan India. Mulai dari Jembatan Ampera yang ikonik hingga wisata perahu yang asyik, dari kampung tua tepi sungai hingga warung pempek yang ramai, Palembang menawarkan paduan wisata pusaka dan cita rasa yang sulit dilewatkan begitu saja. ==Pahami== ===Sejarah=== [[Gambar:Prasasti Kedukan Bukit 3.jpg|jmpl|350px|Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat pendirian Sriwijaya]] Di antara kota-kota di [[Indonesia]] atau bahkan di [[Asia Tenggara]], Palembang merupakan salah satu kota tertua yang masih terus dihuni hingga kini. Kemunculan Palembang dapat ditarik kembali hingga tahun 683 M, ketika kota ini menjadi pusat kemaharajaan maritim Sriwijaya, salah satu kerajaan bercorak Buddha terbesar dan terpenting dalam sejarah Indonesia. Kota ini memainkan peran penting dalam panggung niaga dan pertukaran budaya di tingkat kawasan. Sriwijaya menguasai jalur strategis seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, dan Palembang berfungsi sebagai bandar persinggahan (''entrepôt'') bagi komoditas dari dalam dan luar Nusantara. Pada saat yang sama, Palembang juga menjadi pusat pendidikan religi yang berkembang pesat, hingga mampu menarik peziarah [[Tiongkok]] untuk singgah dalam perjalanan rantau mereka ke [[India]] demi mempelajari naskah-naskah suci agama Buddha dengan para biksu dan cendekiawan setempat. [[Gambar:Palembang Great Mosque.jpg|jmpl|350px|Menara Masjid Agung Palembang dari abad ke-18.]] Setelah Palembang diserang oleh Chola pada awal abad ke-11, pamor kota ini mulai menurun. Palembang mengalami serangkaian perubahan kepemimpinan, sebagian besarnya di bawah pengaruh berbagai kerajaan yang berpusat di [[Jawa]], diawali dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14. Pada awal abad ke-15, kota ini sempat jatuh ke tangan bajak laut Tiongkok, tetapi mereka segera ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho, yang kemudian menunjuk seorang pejabat Tionghoa untuk memerintah kota tersebut. Pada abad ke-16, serombongan bangsawan Jawa yang menghindari perang perebutan takhta di tanah asalnya mendirikan wangsa Palembang yang baru, meskipun mereka masih mengakui kekuasaan raja dan sultan yang berpusat di Jawa. Barulah pada pertengahan abad ke-17, penguasa Palembang mulai menyatakan kedaulatannya dengan menggunakan gelar "Sultan" secara mandiri. Kesultanan Palembang mengendalikan perdagangan di sepanjang Sungai Musi serta pulau-pulau jiran seperti Bangka dan Belitung, mengambil untung dari ekspor komoditas lada dan timah. Kekayaan ini kemudian digunakan untuk mendirikan bangunan megah, termasuk di antaranya sebuah [[#Masjid Agung|masjid agung]] serta [[#Kuto Besak|benteng keraton yang baru]]. Permukiman mulai berkembang di sepanjang tepi Sungai Musi; kebanyakan warga lama menetap di sisi utara ([[#Orientasi|Seberang Ilir]]), sementara warga rantau, termasuk orang Tionghoa dan Arab, diizinkan menetap di sisi selatan ([[#Orientasi|Seberang Ulu]]). Kesultanan ini terus berkembang hingga awal abad ke-19, ketika perang yang melibatkan perselisihan internal serta kekuatan kolonial Inggris dan Belanda mengakhiri masa kejayaannya. Setelah pembubaran Kesultanan pada tahun 1825, kota ini menjadi ibu kota Keresidenan Palembang, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan Provinsi Sumatera Selatan saat ini. Palembang mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-19, seiring dengan pesatnya perkembangan industri minyak bumi dan karet yang meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pusat niaga baru pun mulai bertumbuh di daratan, seperti di kawasan [[#Pasar Sekanak|Sekanak]] dan [[#Pasar 16 Ilir|16 Ilir]]. Palembang resmi berstatus ''gemeente'' (kotapraja) sejak tahun 1906, dan menjadi pusat urban luar Jawa terpadat di Hindia Belanda pada tahun 1930-an, mengungguli [[Medan]] dan [[Makassar]]. Urbanisasi yang pesat mendorong kota ini untuk meningkatkan infrastrukturnya melalui berbagai pembangunan, mulai dari pendirian [[#Kantor Ledeng|menara air]] untuk kebutuhan distribusi air minum hingga reklamasi puluhan anak sungai dan kanal untuk transportasi darat. Namun, krisis ekonomi global pada 1930-an menyebabkan mandeknya rencana pengembangan lebih lanjut. Palembang merupakan salah satu lokasi penting selama masa Perang Pasifik (Perang Dunia II). Pasukan pendudukan Jepang merebut kota ini demi menguasai kilang minyaknya, dan Sekutu melakukan beberapa serangan bom terhadap kilang tersebut. Semasa Revolusi Nasional Indonesia, kota ini juga menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan republik dan pasukan Belanda pada awal tahun 1947. Setelah kemerdekaan Indonesia, Palembang meneruskan pengembangan kota ke pinggiran, menimbun jalur air dan mengutamakan jalur darat. Pembangunan [[#Ampera|Jembatan Ampera]] yang melintasi Sungai Musi pada 1960-an menjadi tonggak upaya "pemodernan" kota ini, karena memfasilitasi pertumbuhan urban yang menjauh dari tepi sungai, mengikuti jalan poros utara-selatan. Dewasa ini, Palembang juga dikenal dengan citranya sebagai pusat penyelenggaraan acara olahraga, dengan kiprahnya sebagai tuan rumah bersama [[Jakarta]] untuk SEA Games 2011 dan Asian Games 2018. ===Orientasi=== [[Gambar:Kampung Kapitan, Palembang.jpg|thumb|350px|Kampung Kapitan, salah satu pecinan tertua di Palembang]] Pada awalnya, perkembangan kawasan perkotaan Palembang menyebar di sepanjang tepian Sungai Musi, yang membelah kota ini menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Jembatan Ampera membentang dengan sangat mencolok di pusat kota dan hampir selalu terlihat dari mana pun di sepanjang tepian Sungai Musi, selama masih di dalam batas kota. Berbeda dengan banyak kota lain di Indonesia dengan ukuran serupa, Palembang memiliki sejumlah jalan raya yang cukup lebar, bahkan mencapai 8 lajur di beberapa ruas. Namun, sebagian besar permukiman lama di Palembang dibangun di sepanjang ratusan sungai kecil dan kanal yang kini telah direklamasi. Hal ini menyebabkan pola permukiman yang tidak teratur dengan orientasi ke segala arah alih-alih berpatokan pada mata angin. Kebanyakan gang dan lorong membentuk jaringan berkelok-kelok dan bermuara ke jalan-jalan besar. Karena itu, alamat sering kali diberikan dengan kombinasi nama jalan dan gang/lorong, dengan nama jalan yang lebih besar di awal, diikuti nama gang atau lorong yang lebih kecil untuk memperjelas lokasi sebenarnya, serta dilengkapi dengan nomor, wilayah administratif, dan kode pos. ===Bicara=== {{see also|Buku percakapan Palembang}} Bahasa utama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kota ini adalah '''[[Buku percakapan Palembang|bahasa Palembang]]''' atau '''bahasa Melayu Palembang''', yang secara lokal dikenal sebagai ''baso Pelémbang''. Bahasa ini masih berkerabat dengan berbagai ragam bahasa Melayu yang dituturkan di seluruh [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Singapura]], dan [[Brunei]], termasuk [[Buku percakapan Betawi|bahasa Betawi]] dan [[Buku percakapan Minangkabau|bahasa Minangkabau]], antara lain. Bahasa Palembang memiliki perbedaan kosakata dari ragam baku, dengan pengaruh kuat dari [[Buku percakapan Jawa|bahasa Jawa]], serta sedikit perbedaan dalam pengucapan dan tata bahasa. Sebagaimana di banyak tempat lain di Indonesia, ragam Palembang ini sering digunakan bersama dengan bahasa Indonesia. Semakin formal situasinya, bahasa yang digunakan akan semakin condong ke ragam baku (atau ke ragam bahasa Indonesia Jakarta). Dalam situasi tidak formal, penutur di Palembang mungkin saja tidak menggunakan ragam baku sama sekali, sehingga bahasanya sulit dipahami oleh orang luar. Meski demikian, terlepas dari keterbatasan penggunaannya secara lisan, bahasa Indonesia secara praktis dipahami oleh hampir semua orang, dan menjadi bahasa paling umum yang digunakan dalam tulisan. Di sisi lain, bahasa Inggris tidak banyak digunakan, terutama karena Palembang bukan merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara. Beberapa anak muda mungkin lebih memahami bahasa Inggris dibanding yang lain, meskipun belum tentu merasa nyaman menggunakannya secara lisan. Selain itu, orang-orang yang bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. ===Baca=== Tidak terdapat banyak bacaan populer mengenai Palembang. Daftar di bawah ini memuat beberapa karya fiksi dan nonfiksi di antaranya, utamanya yang bernuansa sejarah dan kebudayaan. * '''''{{w|Dian yang Tak Kunjung Padam}}''''' oleh {{w|Sutan Takdir Alisjahbana}} — Kisah asmara klasik antara pemuda miskin dan putri dari keluarga bangsawan di tepian Sungai Musi, berlatarkan Palembang zaman kolonial. * '''''Melayu-Jawa: Citra Sejarah dan Budaya Palembang''''' oleh Djohan Hanafiah — Bacaan ringan mengenai pembentukan identitas masyarakat Palembang, melalui interpretasi penulis terhadap peristiwa serta sumber sejarah sebelum dan semasa Kesultanan. * '''''Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial''''' oleh Dedi Irwanto Muhammad Santun — Ulasan sejarah perkembangan Palembang dari zaman Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, dengan fokus pada identitas simbolik kota dan peran ruang air. ==Menuju ke sini== ===Dengan pesawat=== {{Go | name=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | alt={{IATA|PLM}} | url=http://www.smbadaruddin2-airport.co.id | email= | address= | lat=-2.9 | long=104.7 | directions= | phone= | tollfree= | fax= | hours= | price= | wikipedia=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | image=PesawatdiSMB2IA.jpg | wikidata=Q1432286 | lastedit=2026-03-27 | content=Melayani kawasan metropolitan Palembang Raya, bandara ini terletak di sisi utara kota. Bandara ini menyediakan 16 rute penerbangan domestik langsung, yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air, Citilink, Super Air Jet, Pelita Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Garuda Indonesia, dengan tujuan Jakarta, [[Batam]], [[Medan]], [[Pagar Alam]], [[Pangkalpinang]], [[Surabaya]], dan [[Yogyakarta]]. Bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional ke [[Kuala Lumpur]] dan [[Singapura]].}} ===Dengan kereta api=== {{Go | name=Stasiun Kertapati | alt='''KPT''' | wikipedia=Stasiun Kertapati | lat=-3.017 | long=104.752 | image=Stasiun_Kertapati.jpg | wikidata=Q19748476 | lastedit=2025-01-04 | content=Stasiun kereta api penumpang jarak jauh satu-satunya di Palembang, terletak di barat daya kota di sisi Seberang Ulu. Stasiun ini merupakan perhentian akhir (terminus) bagi jalur kereta api dari arah [[Prabumulih]], termasuk juga jalur dari [[Lubuk Linggau]] dan [[Bandar Lampung]]. Per awal tahun 2025, stasiun ini hanya melayani 3 kereta api penumpang jarak jauh, yakni Bukit Serelo (Ekonomi) dan Sindang Marga (Bisnis/Eksekutif) untuk relasi Kertapati–Lubuk Linggau pp, serta Rajabasa (Ekonomi) untuk relasi Kertapati–Tanjung Karang pp.}} ===Dengan bus=== Terdapat dua terminal utama tipe A untuk bus antarkota, yakni {{Marker | type=go |name=Terminal Alang-Alang Lebar | lat=-2.917 | long=104.681}} di utara dan {{Marker | type=go | name=Terminal Karya Jaya | lat=-3.064 | long=104.739}} di selatan. Meski begitu, perusahaan bus antarkota biasanya lebih sering menaikturunkan penumpang di pangkalan-pangkalan mereka masing-masing alih-alih di kedua terminal ini. ===Dengan kendaraan bermotor=== Kota ini dapat dicapai dengan berkendara via beberapa rute berbeda. Jika datang dari arah [[Kayu Agung]] dan Bandar Lampung, Anda dapat melintasi Jalan Tol Trans-Sumatra ruas utama (Bakter, Terpeka, Kapalbetung) dan keluar di Gerbang Tol Keramasan (~14 km dari pusat kota). Jika datang dari arah Prabumulih dan [[Bengkulu]], Anda dapat melalui Jalan Tol Trans-Sumatra ruas pendukung (Indraprabu, Palindra) dan keluar di Gerbang Tol Palembang (~10 km dari pusat kota). Kedua ruas tol ini bersilangan di Simpang Susun Palembang. Kota ini juga dilalui oleh ruas jalan raya nasional Lintas Timur Sumatra (AH25), yang menghubungkannya hingga ke wilayah provinsi tetangga, yakni [[Lampung]] di selatan serta [[Jambi]] di utara. Terdapat pula jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, seperti [[Baturaja]], [[Muara Enim]], dan [[Pagar Alam]]. ==Berkeliling== {{Mapframe|-2.988|104.759|zoom=13}} {{mapshape}} ===Dengan LRT=== [[Gambar:LRT Palembang Ampera.jpg|thumb|350px|LRT Palembang melintasi [[#Ampera|Jembatan Ampera]]]] LRT Palembang pertama kali dibuka untuk mendukung Asian Games 2018. Satu-satunya jalur dari sistem ini membelah kota dari utara ke selatan dengan total 13 stasiun, menghubungkan bandara, pusat kota, dan kompleks olahraga Jakabaring. Terdapat selisih waktu sekitar 17 hingga 19 menit antar perjalanan kereta, dan perjalanan satu arah dari ujung ke ujung menghabiskan waktu selama 49 menit. Kereta pertama berangkat dari Stasiun DJKA di selatan pada pukul 5.05, sementara kereta terakhir berangkat dari Stasiun Bandara di utara pada pukul 19.55. Tarif perjalanan jauh-dekat adalah sebesar Rp5.000, kecuali perjalanan dari dan ke Stasiun Bandara yang bertarif Rp10.000. Pembayaran dapat menggunakan tiket sekali jalan yang dibeli langsung di loket, atau kartu uang elektronik yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di loket agar dapat dipindai di pintu pembayaran. ==Lihat== Sebagian besar tempat di daftar ini dapat dicapai dengan berjalan kaki di kawasan pusat kota. Tempat yang lebih jauh diberikan patokan transportasi umum terdekat, atau perkiraan jarak dan waktu tempuh dari [[#Air Mancur|titik nol kota]]. ===Tengara utama=== {{anchor|Ampera}} * {{See | name=Jembatan Ampera | alt= | url= | email= | address= | lat=-2.9917 | long=104.763 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=Buka 24 jam | price=Gratis | wikipedia=Jembatan Ampera | image=Ampera Bridge, Palembang.jpg | wikidata=Q643147 | lastedit=2024-07-07 | content=Jembatan pertama yang melintasi Sungai Musi di Palembang, serta merupakan yang terpanjang di Indonesia ketika pertama kali dibuka pada tahun 1965. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal yang lewat, tetapi mekanisme ini berhenti digunakan hanya beberapa tahun setelah jembatan ini dibuka. Jembatan ini adalah tengara paling terkenal di Palembang karena terletak tepat di jantung kota, menghubungkan dua sisi Sungai Musi. }} {{anchor|Masjid Agung}} * {{See | name=Masjid Agung Palembang| alt=Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo| url= | email= | address= Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil 30111 | lat=-2.987833 | long=104.759796 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia=Masjid Agung Palembang | wikidata=Q14917382 | lastedit=2024-07-07 | content=Masjid besar ini pertama kali dibuka pada tahun 1748, tetapi telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan di kemudian hari. Bangunan dan menara aslinya dari abad ke-18 terletak di sisi barat kompleks (sisi yang jauh dari jalan utama), menampilkan campuran gaya arsitektur Melayu Palembang, Tiongkok, dan Eropa. Ruang salat tambahan didirikan di sekeliling bangunan asli secara terpisah dengan tiga buah atap limas raksasa serta menara baru yang lebih tinggi dan ramping. }} {{anchor|Air Mancur}} * {{See | name=Bundaran Air Mancur | alt=Tugu Cempako Telok | url= | email= | address= | lat=-2.9880748201474328 |long=104.7610451233057 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia= | wikidata= | lastedit=2026-04-19 | content=Bundaran ini merupakan titik nol pusat Kota Palembang, yang dibangun tidak lama setelah Jembatan Ampera berdiri. Sejak awal, unsur air mancur menjadi identitas utama bundaran ini, meskipun strukturnya sendiri telah mengalami perubahan drastis berkali-kali. Sempat menjadi tugu peringatan SEA Games 2011, bundaran ini terakhir direnovasi pada 2026 dengan bentuk kembang ''cempako telok'' yang menjadi ikon baru kota. }} {{anchor|Kuto Besak}} * {{See | name=Kuto Besak | alt=Benteng Kuto Besak | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9917 | long=104.7593 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=06.00–22.00 | price=Gratis untuk kawasan plaza | wikipedia=Kuto Besak | image=Kutobesak.jpg | wikidata=Q16773690 | lastedit=2024-07-07 | content= Sebuah kubu pertahanan dari era Kesultanan di sisi utara Sungai Musi. Selesai dibangun pada tahun 1797, kini digunakan sebagai markas komando daerah TNI. Kompleks ini tertutup untuk umum karena digunakan untuk keperluan militer, meskipun sebuah plaza terbuka di depannya berfungsi sebagai alun-alun utama kota. Di plaza tersebut terdapat {{Marker|type=see|name=Tugu Ikan Belido |lat=-2.9927|long=104.7596}}, didedikasikan untuk spesies endemik dilindungi yang dulunya menjadi bahan utama dalam pembuatan pempek.}} {{anchor|Kantor Ledeng}} * {{See | name=Kantor Wali Kota Palembang | alt=Kantor Ledeng | url= | email= | address=Jl. Merdeka no. 2, 22 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9911 | long=104.7568 | directions=750 m/12 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia=Kantor Wali Kota Palembang | image=Palembang Mayor Office.jpg | wikidata=Q23009349 | lastedit=2024-07-07 | content=Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, gedung dengan pengaruh arsitektur ''de stijl'' ini awalnya berfungsi ganda sebagai menara air dan balai kota, serta menjadi gedung tertinggi di Palembang ketika pertama kali diresmikan. Saat ini digunakan utamanya sebagai kantor wali kota saja. }} * {{See | name=Pulau Kemaro | alt= | url= | email= | address=1 Ilir, Ilir Timur II dan Sei Selincah, Kalidoni | lat=-2.9794 | long=104.8195 | directions=30 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image=Pagoda pulo kemaro.png | wikidata=Q12506795 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah pulau delta sungai yang penggunaannya telah bergonta-ganti sepanjang sejarah, mulai dari menjadi kubu pertahanan terdepan Kesultanan pada abad ke-19, menjadi kompleks penjara untuk tahanan politik pasca-1965, hingga menjadi tujuan wisata budaya dan religius seperti sekarang. Pulau ini memiliki kompleks keagamaan Buddha yang terdiri dari {{Marker|type=see|name=Kelenteng Hok Tjing Bio|lat=-2.9809|long=104.8126}} dan {{Marker|type=see|name=Pagoda Pulau Kemaro|lat=-2.9805|long=104.8135}} yang memiliki 9 lantai. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Palembang dipusatkan di sini. Selama perayaan berlangsung, sisi utara pulau akan dihubungkan sementara dengan jembatan ponton ke daratan utama. }} ===Museum dan situs warisan budaya=== * {{See | name=Monumen Perjuangan Rakyat | alt=Monpera | url= | email= | address=Jl. Merdeka no.1, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9892| long=104.7603 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price=Rp5.000 | wikipedia=Museum Monumen Perjuangan Rakyat| image= | wikidata=Q97241069 | lastedit=2024-07-07 | content=Terletak berhadapan dengan Masjid Agung, diresmikan pada tahun 1988 untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di Palembang. Di dalam bangunan berarsitektur brutalis ini, terdapat museum yang menampilkan berbagai artefak dan foto bersejarah yang berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang (1947). Terdapat pula air mancur menari di pelataran monumen. }} * {{See | name=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II | alt= | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.99026 | long=104.7611 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–17.00 (hari biasa), 09.00–17.00 (akhir pekan dan hari libur nasional) | price=Rp5.000 (umum), Rp20.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II| image=Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, Palembang.jpg | wikidata=Q48988740 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum yang dikelola pemerintah kota ini berada di atas sisa-sisa Keraton Kuto Lamo, yang dulunya merupakan pusat Kesultanan sebelum dipindahkan ke Kuto Besak. Bangunan saat ini, yang mengadopsi arsitektur atap limasan khas Palembang, pernah digunakan sebagai kantor residen pada masa penjajahan Belanda. Museum ini menampilkan sejarah kota Palembang, dari era Sriwijaya hingga masa kolonial dan kemerdekaan. }} * {{See | name=Museum Balaputradewa | alt=Museum Negeri Sumatera Selatan | url= | email= | address=Jl. Srijaya no. 1, Srijaya, Alang-Alang Lebar 30139 | lat=-2.9508 | long=104.7306 | directions=700 m/10 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT RSUD | phone= | tollfree= | hours=08.30–15.30 (Selasa–Minggu), tutup setiap Senin dan hari libur nasional | price=Rp5.000 (umum), Rp15.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Balaputera Dewa | image=Rumah Limas of IDR 10000 banknote.jpg | wikidata = Q48728288 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum ini menampilkan sejarah provinsi Sumatera Selatan secara keseluruhan. Artefak yang dipamerkan mencakup diorama dan megalit prasejarah hingga patung dan prasasti era Sriwijaya. Kompleks museum ini juga mencakup rumah limasan Palembang ikonik yang pernah tertera pada uang kertas pecahan Rp10.000 sebelum tahun 2016—pihak museum juga menyediakan spesimen uang kertas lama ini untuk dipinjam, jika Anda ingin mengambil foto yang membandingkan ilustrasinya dengan rumah yang asli. }} * {{See | name=Kompleks Makam Ki Gede ing Suro | alt= | url= | email= | address=Jl. Ratu Sianum, Lorong H Umar, 1 Ilir, Ilir Timur II 30111| lat=-2.9779 | long=104.7920 | directions=5 km/20 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2024-07-07 | content=Kompleks serupa candi yang terdiri dari 7 bangunan berbahan bata dan batu putih, dengan gaya seni yang menunjukkan pengaruh Majapahit dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Arca-arca perunggu berlapis emas dari masa Sriwijaya juga ditemukan di situs ini. Digunakan sebagai pemakaman Islam pada sekitar abad ke-16 oleh keluarga bangsawan Ki Gede ing Suro yang menjadi leluhur dinasti Kesultanan Palembang. }} * {{See | name=Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya | alt= | url= | email= | address=Jl. Syakyakirti, Karang Anyar, Gandus 30148 | lat=-3.015036 | long=104.734414 | directions=5.5 km/25 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price= | wikidata=Q7586543 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah situs arkeologi bekas pemukiman kuno (dari era Sriwijaya dan seterusnya) dengan jaringan kanal buatan. Taman ini juga memiliki museum yang menampilkan artefak seperti patung Buddha, tembikar, dan keramik. Tidak ditemui struktur bangunan bersejarah di sini, karena pemukiman ini dulunya kemungkinan besar dibangun dari bahan yang mudah terurai seperti kayu alih-alih batu bata. }} * {{See | name=Rumah Saudagar Ong Boen Tjiet | alt= | url=https://www.instagram.com/rumahongboentjiet/ | email= | address=Lorong Saudagar Yucing no. 55, 3-4 Ulu, Seberang Ulu I 30124| lat=-3.0014 | long=104.7549 | directions=10 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours=11.00–17.00 | price=Rp10.000 | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2025-10-19 | content=Bekas kediaman Ong Boen Tjiet, seorang pedagang terkenal Palembang pada abad ke-20 yang berlatar belakang Tionghoa-Indonesia. Menghadap Sungai Musi dari sisi selatannya, rumah ini menampilkan campuran unsur arsitektur Melayu Palembang dan Tionghoa, serta menampung koleksi yang dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh keturunan keluarga Ong Boen Tjiet. Tempat ini juga dapat dijangkau melalui jalur darat, meskipun gang menuju rumah ini hanya muat untuk sepeda motor. }} * {{See | name=Bayt Al-Qur'an Al-Akbar | alt= | url= | email= | address=Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Jl. M. Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus 30149 | lat=-3.011122 | long=104.70403 | directions= 14 km/40 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price=Rp20.000 per Februari 2020 | wikidata=Q20426381 | lastedit=2024-07-07 | content=Menyimpan salinan Al-Quran ukiran kayu yang diklaim terbesar di dunia; halaman demi halamannya dipamerkan dalam sebuah gedung galeri setinggi 15 meter. Ulasannya bervariasi; banyak wisatawan mengatakan bahwa tempat ini wajib dikunjungi saat berada di Palembang, sementara yang lain mengeluhkan akses ke sana yang melintasi jalan pedesaan buruk serta tiadanya akomodasi penyandang disabilitas. }} ==Lakukan== <!--Tur jalan kaki, wisata sungai, olahraga--> ==Beli== ==Makan== Palembang merupakan pilihan yang tepat sebagai tujuan wisata kuliner. Terdapat berbagai variasi tempat makan yang menyediakan masakan ataupun kudapan khas setempat, dengan sajian unggulan masing-masing. Rentang harga yang ditampilkan adalah per satu sajian, yang mencakup seporsi makanan berat dan minuman pendamping. * {{eat | name=Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z. | alt= | url= | email= | address=Jl. KH. Ahmad Dahlan no. 2, 26 Ilir, Bukit Kecil 30136 | lat=-2.9886363289145494 |long=104.75326480796426 | directions=1.2 km/18 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone=+62 711 5556844 | tollfree= | hours=06.00-22.00 | price=Mulai dari Rp30.000 | content=Restoran mi celor paling terkenal di Palembang dengan beberapa cabang. Lokasi ini merupakan cabang pusat, yang terletak di tengah-tengah Pasar 26 Ilir. Mi celor memiliki kuah berbahan kaldu udang dan santan dengan rasa yang ringan. }} * {{eat | name=Sarinande Tempo Doeloe | alt= | url= | email= | address=Jl. Mayor Ruslan no. 966, 20 Ilir D. I, Ilir Timur I 30114 | lat=-2.973840121991675, |long=104.75782994396515 | directions=3 km/10 menit berkendara dari pusat kota | phone=+62 711 313037 | tollfree= | hours=10.00-21.00 (Senin–Sabtu), 10.00–17.00 (Minggu) | price=Mulai dari Rp60.000 | content=Berdiri sejak tahun 1970-an, restoran ini menawarkan cita rasa masakan Palembang klasik, utamanya pindang ikan sungai dan pelengkapnya. Juga menyediakan nasi minyak dan kari kambing khusus setiap Jumat hingga Minggu. }} * Pempek * Model. * Tekwan * Mie celor * Pindang Ikan * Pepes Tempoyak * Nasi Minyak ==Minum== Cobalah minuman lokal Palembang, '''es kacang merah''', minuman es yang terbuat dari kacang merah. ==Tidur== ===Budget=== * {{sleep | name=Monoloog Hotel Palembang | alt=Tune Hotel Palembang | url= | email= | address=Jl. Jend. Sudirman | lat=-2.965956 | long=104.746206 | directions= | phone=+62 711 315 222 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp200.000 | wikidata=Q111139144 | content=Merek hotel tanpa embel-embel, tetapi memiliki fasilitas lengkap seperti sarapan, Wi-Fi, AC, dan TV. }} * {{sleep | name=Zuri Express | alt= | url=http://grandzuri.com/zuriexpress-palembang | email= | address=Jl Dr. M. Isa no 988 | lat=-2.96991 | long=104.77 | directions= | phone=+62 711 710 800 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp350.000 | wikidata=Q115795588 | content=Hotel murah dengan kamar yang terlihat sederhanam namun bersih dan dengan desain yang minimalis. Restoran berada di gedung terpisah di lantai bawah, tetapi jangan berharap akan menu yang bervariasi. }} ===Menengah=== * {{sleep | name=Aston Palembang Hotel & Conference Center | alt= | url= | email= | address= | lat= | long= | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp600.000 | wikidata=Q111139126 | content=Hotel Aston ini lebih sederhana dibandingkan hotel sejenisnya di kota besar. Menyediakan kamar deluks yang besar, suite, dan pilihan yang mencakup masakan khas Palembang untuk sarapan. }} * {{sleep | name=Novotel Palembang | alt= | url=https://all.accor.com/hotel/3716/index.en.shtml | email= | address=Jalan R Sukamto No. 8A | lat=-2.9494 | long=104.7638 | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp700.000 | wikidata=Q12500946 | content=Salah satu hotel terbaik di kota ini. Keramahtamahan khas Accor dengan kamar yang luas, sarapan yang berlimpah, kolam renang yang luas, dan area joging. Secara umum cocok untuk pelancong bisnis serta keluarga. }} ===Mahal=== * {{sleep | name=Hotel Aryaduta Palembang | alt= | url=http://www.aryaduta.com/palembang/ | email= | address=Jl. POM IX, Palembang Square | lat=-2.977247 | long=104.741005 | directions= | phone=+62 711 383 838 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp1.100.000 | wikidata=Q111139132 | lastedit=2017-08-26 | content=Hotel atrium 18 lantai yang menawarkan 174 kamar. Salah satu fasilitas yang mereka tawarkan kepada para tamu ialah ruang perjamuan dan pertemuan terbesar di Sumatera Selatan, yang dapat menampung hingga 2.500 tamu dalam sebuah resepsi. Para tamu juga dapat menikmati pengalaman mereka di Pool Café yang menawarkan makanan sehat, camilan, dan minuman ringan. }} ==Tetap aman== ==Tujuan berikutnya== *Perjalanan melalui jalan darat ke [[Jambi]] *Pergi ke [[Lampung]] dengan kereta api *Perjalanan dengan feri dari sepanjang muara Sungai Musi ke Pulau [[Bangka (Sumatera)|Bangka]] {{Geo|-2.991108|104.756733}} {{IsPartOf|Sumatera Selatan}} {{Outlinecity}} s0vqur0qq0iuu5qarqufdrlm0yw8ms9 33847 33846 2026-04-26T05:04:37Z Swarabakti 179 /* Museum dan situs warisan budaya */ 33847 wikitext text/x-wiki {{Pagebanner|Palembang page banner Jembatan Ampera awak.JPG|pgname=Palembang|caption=Jembatan Ampera|origin=-0.4,0}} '''Palembang''' adalah sebuah kota besar di [[Indonesia]] yang menjadi pusat pemerintahan [[Sumatera Selatan]]. Terletak di dataran rendah tempat bertemunya sungai Ogan, Komering, dan Musi, wilayah metropolitan Palembang mencakup lebih dari 2 juta penduduk. Kota ini merupakan simpul kegiatan kawasan serta pintu gerbang bagi para pelancong yang hendak menjelajah bagian selatan Sumatra lebih lanjut. Dengan sejarah panjangnya sebagai pusat kekuasaan dan bandar persinggahan sejak zaman Sriwijaya, Palembang kaya akan warisan budaya hasil akulturasi Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan India. Mulai dari Jembatan Ampera yang ikonik hingga wisata perahu yang asyik, dari kampung tua tepi sungai hingga warung pempek yang ramai, Palembang menawarkan paduan wisata pusaka dan cita rasa yang sulit dilewatkan begitu saja. ==Pahami== ===Sejarah=== [[Gambar:Prasasti Kedukan Bukit 3.jpg|jmpl|350px|Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat pendirian Sriwijaya]] Di antara kota-kota di [[Indonesia]] atau bahkan di [[Asia Tenggara]], Palembang merupakan salah satu kota tertua yang masih terus dihuni hingga kini. Kemunculan Palembang dapat ditarik kembali hingga tahun 683 M, ketika kota ini menjadi pusat kemaharajaan maritim Sriwijaya, salah satu kerajaan bercorak Buddha terbesar dan terpenting dalam sejarah Indonesia. Kota ini memainkan peran penting dalam panggung niaga dan pertukaran budaya di tingkat kawasan. Sriwijaya menguasai jalur strategis seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, dan Palembang berfungsi sebagai bandar persinggahan (''entrepôt'') bagi komoditas dari dalam dan luar Nusantara. Pada saat yang sama, Palembang juga menjadi pusat pendidikan religi yang berkembang pesat, hingga mampu menarik peziarah [[Tiongkok]] untuk singgah dalam perjalanan rantau mereka ke [[India]] demi mempelajari naskah-naskah suci agama Buddha dengan para biksu dan cendekiawan setempat. [[Gambar:Palembang Great Mosque.jpg|jmpl|350px|Menara Masjid Agung Palembang dari abad ke-18.]] Setelah Palembang diserang oleh Chola pada awal abad ke-11, pamor kota ini mulai menurun. Palembang mengalami serangkaian perubahan kepemimpinan, sebagian besarnya di bawah pengaruh berbagai kerajaan yang berpusat di [[Jawa]], diawali dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14. Pada awal abad ke-15, kota ini sempat jatuh ke tangan bajak laut Tiongkok, tetapi mereka segera ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho, yang kemudian menunjuk seorang pejabat Tionghoa untuk memerintah kota tersebut. Pada abad ke-16, serombongan bangsawan Jawa yang menghindari perang perebutan takhta di tanah asalnya mendirikan wangsa Palembang yang baru, meskipun mereka masih mengakui kekuasaan raja dan sultan yang berpusat di Jawa. Barulah pada pertengahan abad ke-17, penguasa Palembang mulai menyatakan kedaulatannya dengan menggunakan gelar "Sultan" secara mandiri. Kesultanan Palembang mengendalikan perdagangan di sepanjang Sungai Musi serta pulau-pulau jiran seperti Bangka dan Belitung, mengambil untung dari ekspor komoditas lada dan timah. Kekayaan ini kemudian digunakan untuk mendirikan bangunan megah, termasuk di antaranya sebuah [[#Masjid Agung|masjid agung]] serta [[#Kuto Besak|benteng keraton yang baru]]. Permukiman mulai berkembang di sepanjang tepi Sungai Musi; kebanyakan warga lama menetap di sisi utara ([[#Orientasi|Seberang Ilir]]), sementara warga rantau, termasuk orang Tionghoa dan Arab, diizinkan menetap di sisi selatan ([[#Orientasi|Seberang Ulu]]). Kesultanan ini terus berkembang hingga awal abad ke-19, ketika perang yang melibatkan perselisihan internal serta kekuatan kolonial Inggris dan Belanda mengakhiri masa kejayaannya. Setelah pembubaran Kesultanan pada tahun 1825, kota ini menjadi ibu kota Keresidenan Palembang, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan Provinsi Sumatera Selatan saat ini. Palembang mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-19, seiring dengan pesatnya perkembangan industri minyak bumi dan karet yang meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pusat niaga baru pun mulai bertumbuh di daratan, seperti di kawasan [[#Pasar Sekanak|Sekanak]] dan [[#Pasar 16 Ilir|16 Ilir]]. Palembang resmi berstatus ''gemeente'' (kotapraja) sejak tahun 1906, dan menjadi pusat urban luar Jawa terpadat di Hindia Belanda pada tahun 1930-an, mengungguli [[Medan]] dan [[Makassar]]. Urbanisasi yang pesat mendorong kota ini untuk meningkatkan infrastrukturnya melalui berbagai pembangunan, mulai dari pendirian [[#Kantor Ledeng|menara air]] untuk kebutuhan distribusi air minum hingga reklamasi puluhan anak sungai dan kanal untuk transportasi darat. Namun, krisis ekonomi global pada 1930-an menyebabkan mandeknya rencana pengembangan lebih lanjut. Palembang merupakan salah satu lokasi penting selama masa Perang Pasifik (Perang Dunia II). Pasukan pendudukan Jepang merebut kota ini demi menguasai kilang minyaknya, dan Sekutu melakukan beberapa serangan bom terhadap kilang tersebut. Semasa Revolusi Nasional Indonesia, kota ini juga menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan republik dan pasukan Belanda pada awal tahun 1947. Setelah kemerdekaan Indonesia, Palembang meneruskan pengembangan kota ke pinggiran, menimbun jalur air dan mengutamakan jalur darat. Pembangunan [[#Ampera|Jembatan Ampera]] yang melintasi Sungai Musi pada 1960-an menjadi tonggak upaya "pemodernan" kota ini, karena memfasilitasi pertumbuhan urban yang menjauh dari tepi sungai, mengikuti jalan poros utara-selatan. Dewasa ini, Palembang juga dikenal dengan citranya sebagai pusat penyelenggaraan acara olahraga, dengan kiprahnya sebagai tuan rumah bersama [[Jakarta]] untuk SEA Games 2011 dan Asian Games 2018. ===Orientasi=== [[Gambar:Kampung Kapitan, Palembang.jpg|thumb|350px|Kampung Kapitan, salah satu pecinan tertua di Palembang]] Pada awalnya, perkembangan kawasan perkotaan Palembang menyebar di sepanjang tepian Sungai Musi, yang membelah kota ini menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Jembatan Ampera membentang dengan sangat mencolok di pusat kota dan hampir selalu terlihat dari mana pun di sepanjang tepian Sungai Musi, selama masih di dalam batas kota. Berbeda dengan banyak kota lain di Indonesia dengan ukuran serupa, Palembang memiliki sejumlah jalan raya yang cukup lebar, bahkan mencapai 8 lajur di beberapa ruas. Namun, sebagian besar permukiman lama di Palembang dibangun di sepanjang ratusan sungai kecil dan kanal yang kini telah direklamasi. Hal ini menyebabkan pola permukiman yang tidak teratur dengan orientasi ke segala arah alih-alih berpatokan pada mata angin. Kebanyakan gang dan lorong membentuk jaringan berkelok-kelok dan bermuara ke jalan-jalan besar. Karena itu, alamat sering kali diberikan dengan kombinasi nama jalan dan gang/lorong, dengan nama jalan yang lebih besar di awal, diikuti nama gang atau lorong yang lebih kecil untuk memperjelas lokasi sebenarnya, serta dilengkapi dengan nomor, wilayah administratif, dan kode pos. ===Bicara=== {{see also|Buku percakapan Palembang}} Bahasa utama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kota ini adalah '''[[Buku percakapan Palembang|bahasa Palembang]]''' atau '''bahasa Melayu Palembang''', yang secara lokal dikenal sebagai ''baso Pelémbang''. Bahasa ini masih berkerabat dengan berbagai ragam bahasa Melayu yang dituturkan di seluruh [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Singapura]], dan [[Brunei]], termasuk [[Buku percakapan Betawi|bahasa Betawi]] dan [[Buku percakapan Minangkabau|bahasa Minangkabau]], antara lain. Bahasa Palembang memiliki perbedaan kosakata dari ragam baku, dengan pengaruh kuat dari [[Buku percakapan Jawa|bahasa Jawa]], serta sedikit perbedaan dalam pengucapan dan tata bahasa. Sebagaimana di banyak tempat lain di Indonesia, ragam Palembang ini sering digunakan bersama dengan bahasa Indonesia. Semakin formal situasinya, bahasa yang digunakan akan semakin condong ke ragam baku (atau ke ragam bahasa Indonesia Jakarta). Dalam situasi tidak formal, penutur di Palembang mungkin saja tidak menggunakan ragam baku sama sekali, sehingga bahasanya sulit dipahami oleh orang luar. Meski demikian, terlepas dari keterbatasan penggunaannya secara lisan, bahasa Indonesia secara praktis dipahami oleh hampir semua orang, dan menjadi bahasa paling umum yang digunakan dalam tulisan. Di sisi lain, bahasa Inggris tidak banyak digunakan, terutama karena Palembang bukan merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara. Beberapa anak muda mungkin lebih memahami bahasa Inggris dibanding yang lain, meskipun belum tentu merasa nyaman menggunakannya secara lisan. Selain itu, orang-orang yang bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. ===Baca=== Tidak terdapat banyak bacaan populer mengenai Palembang. Daftar di bawah ini memuat beberapa karya fiksi dan nonfiksi di antaranya, utamanya yang bernuansa sejarah dan kebudayaan. * '''''{{w|Dian yang Tak Kunjung Padam}}''''' oleh {{w|Sutan Takdir Alisjahbana}} — Kisah asmara klasik antara pemuda miskin dan putri dari keluarga bangsawan di tepian Sungai Musi, berlatarkan Palembang zaman kolonial. * '''''Melayu-Jawa: Citra Sejarah dan Budaya Palembang''''' oleh Djohan Hanafiah — Bacaan ringan mengenai pembentukan identitas masyarakat Palembang, melalui interpretasi penulis terhadap peristiwa serta sumber sejarah sebelum dan semasa Kesultanan. * '''''Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial''''' oleh Dedi Irwanto Muhammad Santun — Ulasan sejarah perkembangan Palembang dari zaman Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, dengan fokus pada identitas simbolik kota dan peran ruang air. ==Menuju ke sini== ===Dengan pesawat=== {{Go | name=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | alt={{IATA|PLM}} | url=http://www.smbadaruddin2-airport.co.id | email= | address= | lat=-2.9 | long=104.7 | directions= | phone= | tollfree= | fax= | hours= | price= | wikipedia=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | image=PesawatdiSMB2IA.jpg | wikidata=Q1432286 | lastedit=2026-03-27 | content=Melayani kawasan metropolitan Palembang Raya, bandara ini terletak di sisi utara kota. Bandara ini menyediakan 16 rute penerbangan domestik langsung, yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air, Citilink, Super Air Jet, Pelita Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Garuda Indonesia, dengan tujuan Jakarta, [[Batam]], [[Medan]], [[Pagar Alam]], [[Pangkalpinang]], [[Surabaya]], dan [[Yogyakarta]]. Bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional ke [[Kuala Lumpur]] dan [[Singapura]].}} ===Dengan kereta api=== {{Go | name=Stasiun Kertapati | alt='''KPT''' | wikipedia=Stasiun Kertapati | lat=-3.017 | long=104.752 | image=Stasiun_Kertapati.jpg | wikidata=Q19748476 | lastedit=2025-01-04 | content=Stasiun kereta api penumpang jarak jauh satu-satunya di Palembang, terletak di barat daya kota di sisi Seberang Ulu. Stasiun ini merupakan perhentian akhir (terminus) bagi jalur kereta api dari arah [[Prabumulih]], termasuk juga jalur dari [[Lubuk Linggau]] dan [[Bandar Lampung]]. Per awal tahun 2025, stasiun ini hanya melayani 3 kereta api penumpang jarak jauh, yakni Bukit Serelo (Ekonomi) dan Sindang Marga (Bisnis/Eksekutif) untuk relasi Kertapati–Lubuk Linggau pp, serta Rajabasa (Ekonomi) untuk relasi Kertapati–Tanjung Karang pp.}} ===Dengan bus=== Terdapat dua terminal utama tipe A untuk bus antarkota, yakni {{Marker | type=go |name=Terminal Alang-Alang Lebar | lat=-2.917 | long=104.681}} di utara dan {{Marker | type=go | name=Terminal Karya Jaya | lat=-3.064 | long=104.739}} di selatan. Meski begitu, perusahaan bus antarkota biasanya lebih sering menaikturunkan penumpang di pangkalan-pangkalan mereka masing-masing alih-alih di kedua terminal ini. ===Dengan kendaraan bermotor=== Kota ini dapat dicapai dengan berkendara via beberapa rute berbeda. Jika datang dari arah [[Kayu Agung]] dan Bandar Lampung, Anda dapat melintasi Jalan Tol Trans-Sumatra ruas utama (Bakter, Terpeka, Kapalbetung) dan keluar di Gerbang Tol Keramasan (~14 km dari pusat kota). Jika datang dari arah Prabumulih dan [[Bengkulu]], Anda dapat melalui Jalan Tol Trans-Sumatra ruas pendukung (Indraprabu, Palindra) dan keluar di Gerbang Tol Palembang (~10 km dari pusat kota). Kedua ruas tol ini bersilangan di Simpang Susun Palembang. Kota ini juga dilalui oleh ruas jalan raya nasional Lintas Timur Sumatra (AH25), yang menghubungkannya hingga ke wilayah provinsi tetangga, yakni [[Lampung]] di selatan serta [[Jambi]] di utara. Terdapat pula jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, seperti [[Baturaja]], [[Muara Enim]], dan [[Pagar Alam]]. ==Berkeliling== {{Mapframe|-2.988|104.759|zoom=13}} {{mapshape}} ===Dengan LRT=== [[Gambar:LRT Palembang Ampera.jpg|thumb|350px|LRT Palembang melintasi [[#Ampera|Jembatan Ampera]]]] LRT Palembang pertama kali dibuka untuk mendukung Asian Games 2018. Satu-satunya jalur dari sistem ini membelah kota dari utara ke selatan dengan total 13 stasiun, menghubungkan bandara, pusat kota, dan kompleks olahraga Jakabaring. Terdapat selisih waktu sekitar 17 hingga 19 menit antar perjalanan kereta, dan perjalanan satu arah dari ujung ke ujung menghabiskan waktu selama 49 menit. Kereta pertama berangkat dari Stasiun DJKA di selatan pada pukul 5.05, sementara kereta terakhir berangkat dari Stasiun Bandara di utara pada pukul 19.55. Tarif perjalanan jauh-dekat adalah sebesar Rp5.000, kecuali perjalanan dari dan ke Stasiun Bandara yang bertarif Rp10.000. Pembayaran dapat menggunakan tiket sekali jalan yang dibeli langsung di loket, atau kartu uang elektronik yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di loket agar dapat dipindai di pintu pembayaran. ==Lihat== Sebagian besar tempat di daftar ini dapat dicapai dengan berjalan kaki di kawasan pusat kota. Tempat yang lebih jauh diberikan patokan transportasi umum terdekat, atau perkiraan jarak dan waktu tempuh dari [[#Air Mancur|titik nol kota]]. ===Tengara utama=== {{anchor|Ampera}} * {{See | name=Jembatan Ampera | alt= | url= | email= | address= | lat=-2.9917 | long=104.763 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=Buka 24 jam | price=Gratis | wikipedia=Jembatan Ampera | image=Ampera Bridge, Palembang.jpg | wikidata=Q643147 | lastedit=2024-07-07 | content=Jembatan pertama yang melintasi Sungai Musi di Palembang, serta merupakan yang terpanjang di Indonesia ketika pertama kali dibuka pada tahun 1965. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal yang lewat, tetapi mekanisme ini berhenti digunakan hanya beberapa tahun setelah jembatan ini dibuka. Jembatan ini adalah tengara paling terkenal di Palembang karena terletak tepat di jantung kota, menghubungkan dua sisi Sungai Musi. }} {{anchor|Masjid Agung}} * {{See | name=Masjid Agung Palembang| alt=Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo| url= | email= | address= Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil 30111 | lat=-2.987833 | long=104.759796 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia=Masjid Agung Palembang | wikidata=Q14917382 | lastedit=2024-07-07 | content=Masjid besar ini pertama kali dibuka pada tahun 1748, tetapi telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan di kemudian hari. Bangunan dan menara aslinya dari abad ke-18 terletak di sisi barat kompleks (sisi yang jauh dari jalan utama), menampilkan campuran gaya arsitektur Melayu Palembang, Tiongkok, dan Eropa. Ruang salat tambahan didirikan di sekeliling bangunan asli secara terpisah dengan tiga buah atap limas raksasa serta menara baru yang lebih tinggi dan ramping. }} {{anchor|Air Mancur}} * {{See | name=Bundaran Air Mancur | alt=Tugu Cempako Telok | url= | email= | address= | lat=-2.9880748201474328 |long=104.7610451233057 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia= | wikidata= | lastedit=2026-04-19 | content=Bundaran ini merupakan titik nol pusat Kota Palembang, yang dibangun tidak lama setelah Jembatan Ampera berdiri. Sejak awal, unsur air mancur menjadi identitas utama bundaran ini, meskipun strukturnya sendiri telah mengalami perubahan drastis berkali-kali. Sempat menjadi tugu peringatan SEA Games 2011, bundaran ini terakhir direnovasi pada 2026 dengan bentuk kembang ''cempako telok'' yang menjadi ikon baru kota. }} {{anchor|Kuto Besak}} * {{See | name=Kuto Besak | alt=Benteng Kuto Besak | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9917 | long=104.7593 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=06.00–22.00 | price=Gratis untuk kawasan plaza | wikipedia=Kuto Besak | image=Kutobesak.jpg | wikidata=Q16773690 | lastedit=2024-07-07 | content= Sebuah kubu pertahanan dari era Kesultanan di sisi utara Sungai Musi. Selesai dibangun pada tahun 1797, kini digunakan sebagai markas komando daerah TNI. Kompleks ini tertutup untuk umum karena digunakan untuk keperluan militer, meskipun sebuah plaza terbuka di depannya berfungsi sebagai alun-alun utama kota. Di plaza tersebut terdapat {{Marker|type=see|name=Tugu Ikan Belido |lat=-2.9927|long=104.7596}}, didedikasikan untuk spesies endemik dilindungi yang dulunya menjadi bahan utama dalam pembuatan pempek.}} {{anchor|Kantor Ledeng}} * {{See | name=Kantor Wali Kota Palembang | alt=Kantor Ledeng | url= | email= | address=Jl. Merdeka no. 2, 22 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9911 | long=104.7568 | directions=750 m/12 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia=Kantor Wali Kota Palembang | image=Palembang Mayor Office.jpg | wikidata=Q23009349 | lastedit=2024-07-07 | content=Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, gedung dengan pengaruh arsitektur ''de stijl'' ini awalnya berfungsi ganda sebagai menara air dan balai kota, serta menjadi gedung tertinggi di Palembang ketika pertama kali diresmikan. Saat ini digunakan utamanya sebagai kantor wali kota saja. }} * {{See | name=Pulau Kemaro | alt= | url= | email= | address=1 Ilir, Ilir Timur II dan Sei Selincah, Kalidoni | lat=-2.9794 | long=104.8195 | directions=30 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image=Pagoda pulo kemaro.png | wikidata=Q12506795 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah pulau delta sungai yang penggunaannya telah bergonta-ganti sepanjang sejarah, mulai dari menjadi kubu pertahanan terdepan Kesultanan pada abad ke-19, menjadi kompleks penjara untuk tahanan politik pasca-1965, hingga menjadi tujuan wisata budaya dan religius seperti sekarang. Pulau ini memiliki kompleks keagamaan Buddha yang terdiri dari {{Marker|type=see|name=Kelenteng Hok Tjing Bio|lat=-2.9809|long=104.8126}} dan {{Marker|type=see|name=Pagoda Pulau Kemaro|lat=-2.9805|long=104.8135}} yang memiliki 9 lantai. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Palembang dipusatkan di sini. Selama perayaan berlangsung, sisi utara pulau akan dihubungkan sementara dengan jembatan ponton ke daratan utama. }} ===Museum dan situs warisan budaya=== * {{See | name=Monumen Perjuangan Rakyat | alt=Monpera | url= | email= | address=Jl. Merdeka no.1, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9892| long=104.7603 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price=Rp5.000 | wikipedia=Museum Monumen Perjuangan Rakyat| image= | wikidata=Q97241069 | lastedit=2024-07-07 | content=Terletak berhadapan dengan Masjid Agung, diresmikan pada tahun 1988 untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di Palembang. Di dalam bangunan berarsitektur brutalis ini, terdapat museum yang menampilkan berbagai artefak dan foto bersejarah yang berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang (1947). Terdapat pula air mancur menari di pelataran monumen. }} * {{See | name=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II | alt= | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.99026 | long=104.7611 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–17.00 (hari biasa), 09.00–17.00 (akhir pekan dan hari libur nasional) | price=Rp5.000 (umum), Rp20.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II| image=Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, Palembang.jpg | wikidata=Q48988740 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum yang dikelola pemerintah kota ini berdiri di atas sisa-sisa Keraton Kuto Lamo, yang dulunya merupakan pusat Kesultanan sebelum dipindahkan ke Kuto Besak. Bangunan saat ini, yang mengadopsi arsitektur atap limasan khas Palembang, pernah digunakan sebagai kantor residen pada masa penjajahan Belanda. Museum ini menampilkan sejarah kota Palembang, dari era Sriwijaya hingga masa kolonial dan kemerdekaan. }} * {{See | name=Museum Balaputradewa | alt=Museum Negeri Sumatera Selatan | url= | email= | address=Jl. Srijaya no. 1, Srijaya, Alang-Alang Lebar 30139 | lat=-2.9508 | long=104.7306 | directions=700 m/10 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT RSUD | phone= | tollfree= | hours=08.30–15.30 (Selasa–Minggu), tutup setiap Senin dan hari libur nasional | price=Rp5.000 (umum), Rp15.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Balaputera Dewa | image=Rumah Limas of IDR 10000 banknote.jpg | wikidata = Q48728288 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum ini menampilkan sejarah provinsi Sumatera Selatan secara keseluruhan. Artefak yang dipamerkan mencakup diorama dan megalit prasejarah hingga patung dan prasasti era Sriwijaya. Kompleks museum ini juga mencakup rumah limasan Palembang ikonik yang pernah tertera pada uang kertas pecahan Rp10.000 sebelum tahun 2016—pihak museum juga menyediakan spesimen uang kertas lama ini untuk dipinjam, jika Anda ingin mengambil foto yang membandingkan ilustrasinya dengan rumah yang asli. }} * {{See | name=Kompleks Makam Ki Gede ing Suro | alt= | url= | email= | address=Jl. Ratu Sianum, Lorong H Umar, 1 Ilir, Ilir Timur II 30111| lat=-2.9779 | long=104.7920 | directions=5 km/20 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2024-07-07 | content=Kompleks serupa candi yang terdiri dari 7 bangunan berbahan bata dan batu putih, dengan gaya seni yang menunjukkan pengaruh Majapahit dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Arca-arca perunggu berlapis emas dari masa Sriwijaya juga ditemukan di situs ini. Digunakan sebagai pemakaman Islam pada sekitar abad ke-16 oleh keluarga bangsawan Ki Gede ing Suro yang menjadi leluhur dinasti Kesultanan Palembang. }} * {{See | name=Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya | alt= | url= | email= | address=Jl. Syakyakirti, Karang Anyar, Gandus 30148 | lat=-3.015036 | long=104.734414 | directions=5.5 km/25 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price= | wikidata=Q7586543 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah situs arkeologi bekas pemukiman kuno (dari era Sriwijaya dan seterusnya) dengan jaringan kanal buatan. Taman ini juga memiliki museum yang menampilkan artefak seperti patung Buddha, tembikar, dan keramik. Tidak ditemui struktur bangunan bersejarah di sini, karena pemukiman ini dulunya kemungkinan besar dibangun dari bahan yang mudah terurai seperti kayu alih-alih batu bata. }} * {{See | name=Rumah Saudagar Ong Boen Tjiet | alt= | url=https://www.instagram.com/rumahongboentjiet/ | email= | address=Lorong Saudagar Yucing no. 55, 3-4 Ulu, Seberang Ulu I 30124| lat=-3.0014 | long=104.7549 | directions=10 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours=11.00–17.00 | price=Rp10.000 | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2025-10-19 | content=Bekas kediaman Ong Boen Tjiet, seorang pedagang terkenal Palembang pada abad ke-20 yang berlatar belakang Tionghoa-Indonesia. Menghadap Sungai Musi dari sisi selatannya, rumah ini menampilkan campuran unsur arsitektur Melayu Palembang dan Tionghoa, serta menampung koleksi yang dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh keturunan keluarga Ong Boen Tjiet. Tempat ini juga dapat dijangkau melalui jalur darat, meskipun gang menuju rumah ini hanya muat untuk sepeda motor. }} * {{See | name=Bayt Al-Qur'an Al-Akbar | alt= | url= | email= | address=Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Jl. M. Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus 30149 | lat=-3.011122 | long=104.70403 | directions= 14 km/40 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price=Rp20.000 per Februari 2020 | wikidata=Q20426381 | lastedit=2024-07-07 | content=Menyimpan salinan Al-Quran ukiran kayu yang diklaim terbesar di dunia; halaman demi halamannya dipamerkan dalam sebuah gedung galeri setinggi 15 meter. Ulasannya bervariasi; banyak wisatawan mengatakan bahwa tempat ini wajib dikunjungi saat berada di Palembang, sementara yang lain mengeluhkan akses ke sana yang melintasi jalan pedesaan buruk serta tiadanya akomodasi penyandang disabilitas. }} ==Lakukan== <!--Tur jalan kaki, wisata sungai, olahraga--> ==Beli== ==Makan== Palembang merupakan pilihan yang tepat sebagai tujuan wisata kuliner. Terdapat berbagai variasi tempat makan yang menyediakan masakan ataupun kudapan khas setempat, dengan sajian unggulan masing-masing. Rentang harga yang ditampilkan adalah per satu sajian, yang mencakup seporsi makanan berat dan minuman pendamping. * {{eat | name=Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z. | alt= | url= | email= | address=Jl. KH. Ahmad Dahlan no. 2, 26 Ilir, Bukit Kecil 30136 | lat=-2.9886363289145494 |long=104.75326480796426 | directions=1.2 km/18 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone=+62 711 5556844 | tollfree= | hours=06.00-22.00 | price=Mulai dari Rp30.000 | content=Restoran mi celor paling terkenal di Palembang dengan beberapa cabang. Lokasi ini merupakan cabang pusat, yang terletak di tengah-tengah Pasar 26 Ilir. Mi celor memiliki kuah berbahan kaldu udang dan santan dengan rasa yang ringan. }} * {{eat | name=Sarinande Tempo Doeloe | alt= | url= | email= | address=Jl. Mayor Ruslan no. 966, 20 Ilir D. I, Ilir Timur I 30114 | lat=-2.973840121991675, |long=104.75782994396515 | directions=3 km/10 menit berkendara dari pusat kota | phone=+62 711 313037 | tollfree= | hours=10.00-21.00 (Senin–Sabtu), 10.00–17.00 (Minggu) | price=Mulai dari Rp60.000 | content=Berdiri sejak tahun 1970-an, restoran ini menawarkan cita rasa masakan Palembang klasik, utamanya pindang ikan sungai dan pelengkapnya. Juga menyediakan nasi minyak dan kari kambing khusus setiap Jumat hingga Minggu. }} * Pempek * Model. * Tekwan * Mie celor * Pindang Ikan * Pepes Tempoyak * Nasi Minyak ==Minum== Cobalah minuman lokal Palembang, '''es kacang merah''', minuman es yang terbuat dari kacang merah. ==Tidur== ===Budget=== * {{sleep | name=Monoloog Hotel Palembang | alt=Tune Hotel Palembang | url= | email= | address=Jl. Jend. Sudirman | lat=-2.965956 | long=104.746206 | directions= | phone=+62 711 315 222 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp200.000 | wikidata=Q111139144 | content=Merek hotel tanpa embel-embel, tetapi memiliki fasilitas lengkap seperti sarapan, Wi-Fi, AC, dan TV. }} * {{sleep | name=Zuri Express | alt= | url=http://grandzuri.com/zuriexpress-palembang | email= | address=Jl Dr. M. Isa no 988 | lat=-2.96991 | long=104.77 | directions= | phone=+62 711 710 800 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp350.000 | wikidata=Q115795588 | content=Hotel murah dengan kamar yang terlihat sederhanam namun bersih dan dengan desain yang minimalis. Restoran berada di gedung terpisah di lantai bawah, tetapi jangan berharap akan menu yang bervariasi. }} ===Menengah=== * {{sleep | name=Aston Palembang Hotel & Conference Center | alt= | url= | email= | address= | lat= | long= | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp600.000 | wikidata=Q111139126 | content=Hotel Aston ini lebih sederhana dibandingkan hotel sejenisnya di kota besar. Menyediakan kamar deluks yang besar, suite, dan pilihan yang mencakup masakan khas Palembang untuk sarapan. }} * {{sleep | name=Novotel Palembang | alt= | url=https://all.accor.com/hotel/3716/index.en.shtml | email= | address=Jalan R Sukamto No. 8A | lat=-2.9494 | long=104.7638 | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp700.000 | wikidata=Q12500946 | content=Salah satu hotel terbaik di kota ini. Keramahtamahan khas Accor dengan kamar yang luas, sarapan yang berlimpah, kolam renang yang luas, dan area joging. Secara umum cocok untuk pelancong bisnis serta keluarga. }} ===Mahal=== * {{sleep | name=Hotel Aryaduta Palembang | alt= | url=http://www.aryaduta.com/palembang/ | email= | address=Jl. POM IX, Palembang Square | lat=-2.977247 | long=104.741005 | directions= | phone=+62 711 383 838 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp1.100.000 | wikidata=Q111139132 | lastedit=2017-08-26 | content=Hotel atrium 18 lantai yang menawarkan 174 kamar. Salah satu fasilitas yang mereka tawarkan kepada para tamu ialah ruang perjamuan dan pertemuan terbesar di Sumatera Selatan, yang dapat menampung hingga 2.500 tamu dalam sebuah resepsi. Para tamu juga dapat menikmati pengalaman mereka di Pool Café yang menawarkan makanan sehat, camilan, dan minuman ringan. }} ==Tetap aman== ==Tujuan berikutnya== *Perjalanan melalui jalan darat ke [[Jambi]] *Pergi ke [[Lampung]] dengan kereta api *Perjalanan dengan feri dari sepanjang muara Sungai Musi ke Pulau [[Bangka (Sumatera)|Bangka]] {{Geo|-2.991108|104.756733}} {{IsPartOf|Sumatera Selatan}} {{Outlinecity}} 7w4xfyg5m1ytiz2nwdo959wkbzdre2a 33848 33847 2026-04-26T05:05:38Z Swarabakti 179 /* Baca */ 33848 wikitext text/x-wiki {{Pagebanner|Palembang page banner Jembatan Ampera awak.JPG|pgname=Palembang|caption=Jembatan Ampera|origin=-0.4,0}} '''Palembang''' adalah sebuah kota besar di [[Indonesia]] yang menjadi pusat pemerintahan [[Sumatera Selatan]]. Terletak di dataran rendah tempat bertemunya sungai Ogan, Komering, dan Musi, wilayah metropolitan Palembang mencakup lebih dari 2 juta penduduk. Kota ini merupakan simpul kegiatan kawasan serta pintu gerbang bagi para pelancong yang hendak menjelajah bagian selatan Sumatra lebih lanjut. Dengan sejarah panjangnya sebagai pusat kekuasaan dan bandar persinggahan sejak zaman Sriwijaya, Palembang kaya akan warisan budaya hasil akulturasi Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan India. Mulai dari Jembatan Ampera yang ikonik hingga wisata perahu yang asyik, dari kampung tua tepi sungai hingga warung pempek yang ramai, Palembang menawarkan paduan wisata pusaka dan cita rasa yang sulit dilewatkan begitu saja. ==Pahami== ===Sejarah=== [[Gambar:Prasasti Kedukan Bukit 3.jpg|jmpl|350px|Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat pendirian Sriwijaya]] Di antara kota-kota di [[Indonesia]] atau bahkan di [[Asia Tenggara]], Palembang merupakan salah satu kota tertua yang masih terus dihuni hingga kini. Kemunculan Palembang dapat ditarik kembali hingga tahun 683 M, ketika kota ini menjadi pusat kemaharajaan maritim Sriwijaya, salah satu kerajaan bercorak Buddha terbesar dan terpenting dalam sejarah Indonesia. Kota ini memainkan peran penting dalam panggung niaga dan pertukaran budaya di tingkat kawasan. Sriwijaya menguasai jalur strategis seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, dan Palembang berfungsi sebagai bandar persinggahan (''entrepôt'') bagi komoditas dari dalam dan luar Nusantara. Pada saat yang sama, Palembang juga menjadi pusat pendidikan religi yang berkembang pesat, hingga mampu menarik peziarah [[Tiongkok]] untuk singgah dalam perjalanan rantau mereka ke [[India]] demi mempelajari naskah-naskah suci agama Buddha dengan para biksu dan cendekiawan setempat. [[Gambar:Palembang Great Mosque.jpg|jmpl|350px|Menara Masjid Agung Palembang dari abad ke-18.]] Setelah Palembang diserang oleh Chola pada awal abad ke-11, pamor kota ini mulai menurun. Palembang mengalami serangkaian perubahan kepemimpinan, sebagian besarnya di bawah pengaruh berbagai kerajaan yang berpusat di [[Jawa]], diawali dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14. Pada awal abad ke-15, kota ini sempat jatuh ke tangan bajak laut Tiongkok, tetapi mereka segera ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho, yang kemudian menunjuk seorang pejabat Tionghoa untuk memerintah kota tersebut. Pada abad ke-16, serombongan bangsawan Jawa yang menghindari perang perebutan takhta di tanah asalnya mendirikan wangsa Palembang yang baru, meskipun mereka masih mengakui kekuasaan raja dan sultan yang berpusat di Jawa. Barulah pada pertengahan abad ke-17, penguasa Palembang mulai menyatakan kedaulatannya dengan menggunakan gelar "Sultan" secara mandiri. Kesultanan Palembang mengendalikan perdagangan di sepanjang Sungai Musi serta pulau-pulau jiran seperti Bangka dan Belitung, mengambil untung dari ekspor komoditas lada dan timah. Kekayaan ini kemudian digunakan untuk mendirikan bangunan megah, termasuk di antaranya sebuah [[#Masjid Agung|masjid agung]] serta [[#Kuto Besak|benteng keraton yang baru]]. Permukiman mulai berkembang di sepanjang tepi Sungai Musi; kebanyakan warga lama menetap di sisi utara ([[#Orientasi|Seberang Ilir]]), sementara warga rantau, termasuk orang Tionghoa dan Arab, diizinkan menetap di sisi selatan ([[#Orientasi|Seberang Ulu]]). Kesultanan ini terus berkembang hingga awal abad ke-19, ketika perang yang melibatkan perselisihan internal serta kekuatan kolonial Inggris dan Belanda mengakhiri masa kejayaannya. Setelah pembubaran Kesultanan pada tahun 1825, kota ini menjadi ibu kota Keresidenan Palembang, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan Provinsi Sumatera Selatan saat ini. Palembang mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-19, seiring dengan pesatnya perkembangan industri minyak bumi dan karet yang meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pusat niaga baru pun mulai bertumbuh di daratan, seperti di kawasan [[#Pasar Sekanak|Sekanak]] dan [[#Pasar 16 Ilir|16 Ilir]]. Palembang resmi berstatus ''gemeente'' (kotapraja) sejak tahun 1906, dan menjadi pusat urban luar Jawa terpadat di Hindia Belanda pada tahun 1930-an, mengungguli [[Medan]] dan [[Makassar]]. Urbanisasi yang pesat mendorong kota ini untuk meningkatkan infrastrukturnya melalui berbagai pembangunan, mulai dari pendirian [[#Kantor Ledeng|menara air]] untuk kebutuhan distribusi air minum hingga reklamasi puluhan anak sungai dan kanal untuk transportasi darat. Namun, krisis ekonomi global pada 1930-an menyebabkan mandeknya rencana pengembangan lebih lanjut. Palembang merupakan salah satu lokasi penting selama masa Perang Pasifik (Perang Dunia II). Pasukan pendudukan Jepang merebut kota ini demi menguasai kilang minyaknya, dan Sekutu melakukan beberapa serangan bom terhadap kilang tersebut. Semasa Revolusi Nasional Indonesia, kota ini juga menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan republik dan pasukan Belanda pada awal tahun 1947. Setelah kemerdekaan Indonesia, Palembang meneruskan pengembangan kota ke pinggiran, menimbun jalur air dan mengutamakan jalur darat. Pembangunan [[#Ampera|Jembatan Ampera]] yang melintasi Sungai Musi pada 1960-an menjadi tonggak upaya "pemodernan" kota ini, karena memfasilitasi pertumbuhan urban yang menjauh dari tepi sungai, mengikuti jalan poros utara-selatan. Dewasa ini, Palembang juga dikenal dengan citranya sebagai pusat penyelenggaraan acara olahraga, dengan kiprahnya sebagai tuan rumah bersama [[Jakarta]] untuk SEA Games 2011 dan Asian Games 2018. ===Orientasi=== [[Gambar:Kampung Kapitan, Palembang.jpg|thumb|350px|Kampung Kapitan, salah satu pecinan tertua di Palembang]] Pada awalnya, perkembangan kawasan perkotaan Palembang menyebar di sepanjang tepian Sungai Musi, yang membelah kota ini menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Jembatan Ampera membentang dengan sangat mencolok di pusat kota dan hampir selalu terlihat dari mana pun di sepanjang tepian Sungai Musi, selama masih di dalam batas kota. Berbeda dengan banyak kota lain di Indonesia dengan ukuran serupa, Palembang memiliki sejumlah jalan raya yang cukup lebar, bahkan mencapai 8 lajur di beberapa ruas. Namun, sebagian besar permukiman lama di Palembang dibangun di sepanjang ratusan sungai kecil dan kanal yang kini telah direklamasi. Hal ini menyebabkan pola permukiman yang tidak teratur dengan orientasi ke segala arah alih-alih berpatokan pada mata angin. Kebanyakan gang dan lorong membentuk jaringan berkelok-kelok dan bermuara ke jalan-jalan besar. Karena itu, alamat sering kali diberikan dengan kombinasi nama jalan dan gang/lorong, dengan nama jalan yang lebih besar di awal, diikuti nama gang atau lorong yang lebih kecil untuk memperjelas lokasi sebenarnya, serta dilengkapi dengan nomor, wilayah administratif, dan kode pos. ===Bicara=== {{see also|Buku percakapan Palembang}} Bahasa utama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kota ini adalah '''[[Buku percakapan Palembang|bahasa Palembang]]''' atau '''bahasa Melayu Palembang''', yang secara lokal dikenal sebagai ''baso Pelémbang''. Bahasa ini masih berkerabat dengan berbagai ragam bahasa Melayu yang dituturkan di seluruh [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Singapura]], dan [[Brunei]], termasuk [[Buku percakapan Betawi|bahasa Betawi]] dan [[Buku percakapan Minangkabau|bahasa Minangkabau]], antara lain. Bahasa Palembang memiliki perbedaan kosakata dari ragam baku, dengan pengaruh kuat dari [[Buku percakapan Jawa|bahasa Jawa]], serta sedikit perbedaan dalam pengucapan dan tata bahasa. Sebagaimana di banyak tempat lain di Indonesia, ragam Palembang ini sering digunakan bersama dengan bahasa Indonesia. Semakin formal situasinya, bahasa yang digunakan akan semakin condong ke ragam baku (atau ke ragam bahasa Indonesia Jakarta). Dalam situasi tidak formal, penutur di Palembang mungkin saja tidak menggunakan ragam baku sama sekali, sehingga bahasanya sulit dipahami oleh orang luar. Meski demikian, terlepas dari keterbatasan penggunaannya secara lisan, bahasa Indonesia secara praktis dipahami oleh hampir semua orang, dan menjadi bahasa paling umum yang digunakan dalam tulisan. Di sisi lain, bahasa Inggris tidak banyak digunakan, terutama karena Palembang bukan merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara. Beberapa anak muda mungkin lebih memahami bahasa Inggris dibanding yang lain, meskipun belum tentu merasa nyaman menggunakannya secara lisan. Selain itu, orang-orang yang bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. ===Baca=== Tidak terdapat banyak bacaan populer mengenai Palembang. Daftar di bawah ini memuat beberapa karya fiksi dan nonfiksi di antaranya, utamanya yang bernuansa sejarah dan kebudayaan. * '''''{{w|Dian yang Tak Kunjung Padam}}''''' oleh {{w|Sutan Takdir Alisjahbana}} (1932) — Kisah asmara klasik antara pemuda miskin dan putri dari keluarga bangsawan di tepian Sungai Musi, berlatarkan Palembang zaman kolonial. * '''''Melayu-Jawa: Citra Sejarah dan Budaya Palembang''''' oleh Djohan Hanafiah (1995) — Bacaan ringan mengenai pembentukan identitas masyarakat Palembang, melalui interpretasi penulis terhadap peristiwa serta sumber sejarah sebelum dan semasa Kesultanan. * '''''Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial''''' oleh Dedi Irwanto Muhammad Santun (2011) — Ulasan sejarah perkembangan Palembang dari zaman Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, dengan fokus pada identitas simbolik kota dan peran ruang air. ==Menuju ke sini== ===Dengan pesawat=== {{Go | name=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | alt={{IATA|PLM}} | url=http://www.smbadaruddin2-airport.co.id | email= | address= | lat=-2.9 | long=104.7 | directions= | phone= | tollfree= | fax= | hours= | price= | wikipedia=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | image=PesawatdiSMB2IA.jpg | wikidata=Q1432286 | lastedit=2026-03-27 | content=Melayani kawasan metropolitan Palembang Raya, bandara ini terletak di sisi utara kota. Bandara ini menyediakan 16 rute penerbangan domestik langsung, yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air, Citilink, Super Air Jet, Pelita Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Garuda Indonesia, dengan tujuan Jakarta, [[Batam]], [[Medan]], [[Pagar Alam]], [[Pangkalpinang]], [[Surabaya]], dan [[Yogyakarta]]. Bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional ke [[Kuala Lumpur]] dan [[Singapura]].}} ===Dengan kereta api=== {{Go | name=Stasiun Kertapati | alt='''KPT''' | wikipedia=Stasiun Kertapati | lat=-3.017 | long=104.752 | image=Stasiun_Kertapati.jpg | wikidata=Q19748476 | lastedit=2025-01-04 | content=Stasiun kereta api penumpang jarak jauh satu-satunya di Palembang, terletak di barat daya kota di sisi Seberang Ulu. Stasiun ini merupakan perhentian akhir (terminus) bagi jalur kereta api dari arah [[Prabumulih]], termasuk juga jalur dari [[Lubuk Linggau]] dan [[Bandar Lampung]]. Per awal tahun 2025, stasiun ini hanya melayani 3 kereta api penumpang jarak jauh, yakni Bukit Serelo (Ekonomi) dan Sindang Marga (Bisnis/Eksekutif) untuk relasi Kertapati–Lubuk Linggau pp, serta Rajabasa (Ekonomi) untuk relasi Kertapati–Tanjung Karang pp.}} ===Dengan bus=== Terdapat dua terminal utama tipe A untuk bus antarkota, yakni {{Marker | type=go |name=Terminal Alang-Alang Lebar | lat=-2.917 | long=104.681}} di utara dan {{Marker | type=go | name=Terminal Karya Jaya | lat=-3.064 | long=104.739}} di selatan. Meski begitu, perusahaan bus antarkota biasanya lebih sering menaikturunkan penumpang di pangkalan-pangkalan mereka masing-masing alih-alih di kedua terminal ini. ===Dengan kendaraan bermotor=== Kota ini dapat dicapai dengan berkendara via beberapa rute berbeda. Jika datang dari arah [[Kayu Agung]] dan Bandar Lampung, Anda dapat melintasi Jalan Tol Trans-Sumatra ruas utama (Bakter, Terpeka, Kapalbetung) dan keluar di Gerbang Tol Keramasan (~14 km dari pusat kota). Jika datang dari arah Prabumulih dan [[Bengkulu]], Anda dapat melalui Jalan Tol Trans-Sumatra ruas pendukung (Indraprabu, Palindra) dan keluar di Gerbang Tol Palembang (~10 km dari pusat kota). Kedua ruas tol ini bersilangan di Simpang Susun Palembang. Kota ini juga dilalui oleh ruas jalan raya nasional Lintas Timur Sumatra (AH25), yang menghubungkannya hingga ke wilayah provinsi tetangga, yakni [[Lampung]] di selatan serta [[Jambi]] di utara. Terdapat pula jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, seperti [[Baturaja]], [[Muara Enim]], dan [[Pagar Alam]]. ==Berkeliling== {{Mapframe|-2.988|104.759|zoom=13}} {{mapshape}} ===Dengan LRT=== [[Gambar:LRT Palembang Ampera.jpg|thumb|350px|LRT Palembang melintasi [[#Ampera|Jembatan Ampera]]]] LRT Palembang pertama kali dibuka untuk mendukung Asian Games 2018. Satu-satunya jalur dari sistem ini membelah kota dari utara ke selatan dengan total 13 stasiun, menghubungkan bandara, pusat kota, dan kompleks olahraga Jakabaring. Terdapat selisih waktu sekitar 17 hingga 19 menit antar perjalanan kereta, dan perjalanan satu arah dari ujung ke ujung menghabiskan waktu selama 49 menit. Kereta pertama berangkat dari Stasiun DJKA di selatan pada pukul 5.05, sementara kereta terakhir berangkat dari Stasiun Bandara di utara pada pukul 19.55. Tarif perjalanan jauh-dekat adalah sebesar Rp5.000, kecuali perjalanan dari dan ke Stasiun Bandara yang bertarif Rp10.000. Pembayaran dapat menggunakan tiket sekali jalan yang dibeli langsung di loket, atau kartu uang elektronik yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di loket agar dapat dipindai di pintu pembayaran. ==Lihat== Sebagian besar tempat di daftar ini dapat dicapai dengan berjalan kaki di kawasan pusat kota. Tempat yang lebih jauh diberikan patokan transportasi umum terdekat, atau perkiraan jarak dan waktu tempuh dari [[#Air Mancur|titik nol kota]]. ===Tengara utama=== {{anchor|Ampera}} * {{See | name=Jembatan Ampera | alt= | url= | email= | address= | lat=-2.9917 | long=104.763 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=Buka 24 jam | price=Gratis | wikipedia=Jembatan Ampera | image=Ampera Bridge, Palembang.jpg | wikidata=Q643147 | lastedit=2024-07-07 | content=Jembatan pertama yang melintasi Sungai Musi di Palembang, serta merupakan yang terpanjang di Indonesia ketika pertama kali dibuka pada tahun 1965. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal yang lewat, tetapi mekanisme ini berhenti digunakan hanya beberapa tahun setelah jembatan ini dibuka. Jembatan ini adalah tengara paling terkenal di Palembang karena terletak tepat di jantung kota, menghubungkan dua sisi Sungai Musi. }} {{anchor|Masjid Agung}} * {{See | name=Masjid Agung Palembang| alt=Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo| url= | email= | address= Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil 30111 | lat=-2.987833 | long=104.759796 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia=Masjid Agung Palembang | wikidata=Q14917382 | lastedit=2024-07-07 | content=Masjid besar ini pertama kali dibuka pada tahun 1748, tetapi telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan di kemudian hari. Bangunan dan menara aslinya dari abad ke-18 terletak di sisi barat kompleks (sisi yang jauh dari jalan utama), menampilkan campuran gaya arsitektur Melayu Palembang, Tiongkok, dan Eropa. Ruang salat tambahan didirikan di sekeliling bangunan asli secara terpisah dengan tiga buah atap limas raksasa serta menara baru yang lebih tinggi dan ramping. }} {{anchor|Air Mancur}} * {{See | name=Bundaran Air Mancur | alt=Tugu Cempako Telok | url= | email= | address= | lat=-2.9880748201474328 |long=104.7610451233057 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia= | wikidata= | lastedit=2026-04-19 | content=Bundaran ini merupakan titik nol pusat Kota Palembang, yang dibangun tidak lama setelah Jembatan Ampera berdiri. Sejak awal, unsur air mancur menjadi identitas utama bundaran ini, meskipun strukturnya sendiri telah mengalami perubahan drastis berkali-kali. Sempat menjadi tugu peringatan SEA Games 2011, bundaran ini terakhir direnovasi pada 2026 dengan bentuk kembang ''cempako telok'' yang menjadi ikon baru kota. }} {{anchor|Kuto Besak}} * {{See | name=Kuto Besak | alt=Benteng Kuto Besak | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9917 | long=104.7593 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=06.00–22.00 | price=Gratis untuk kawasan plaza | wikipedia=Kuto Besak | image=Kutobesak.jpg | wikidata=Q16773690 | lastedit=2024-07-07 | content= Sebuah kubu pertahanan dari era Kesultanan di sisi utara Sungai Musi. Selesai dibangun pada tahun 1797, kini digunakan sebagai markas komando daerah TNI. Kompleks ini tertutup untuk umum karena digunakan untuk keperluan militer, meskipun sebuah plaza terbuka di depannya berfungsi sebagai alun-alun utama kota. Di plaza tersebut terdapat {{Marker|type=see|name=Tugu Ikan Belido |lat=-2.9927|long=104.7596}}, didedikasikan untuk spesies endemik dilindungi yang dulunya menjadi bahan utama dalam pembuatan pempek.}} {{anchor|Kantor Ledeng}} * {{See | name=Kantor Wali Kota Palembang | alt=Kantor Ledeng | url= | email= | address=Jl. Merdeka no. 2, 22 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9911 | long=104.7568 | directions=750 m/12 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia=Kantor Wali Kota Palembang | image=Palembang Mayor Office.jpg | wikidata=Q23009349 | lastedit=2024-07-07 | content=Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, gedung dengan pengaruh arsitektur ''de stijl'' ini awalnya berfungsi ganda sebagai menara air dan balai kota, serta menjadi gedung tertinggi di Palembang ketika pertama kali diresmikan. Saat ini digunakan utamanya sebagai kantor wali kota saja. }} * {{See | name=Pulau Kemaro | alt= | url= | email= | address=1 Ilir, Ilir Timur II dan Sei Selincah, Kalidoni | lat=-2.9794 | long=104.8195 | directions=30 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image=Pagoda pulo kemaro.png | wikidata=Q12506795 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah pulau delta sungai yang penggunaannya telah bergonta-ganti sepanjang sejarah, mulai dari menjadi kubu pertahanan terdepan Kesultanan pada abad ke-19, menjadi kompleks penjara untuk tahanan politik pasca-1965, hingga menjadi tujuan wisata budaya dan religius seperti sekarang. Pulau ini memiliki kompleks keagamaan Buddha yang terdiri dari {{Marker|type=see|name=Kelenteng Hok Tjing Bio|lat=-2.9809|long=104.8126}} dan {{Marker|type=see|name=Pagoda Pulau Kemaro|lat=-2.9805|long=104.8135}} yang memiliki 9 lantai. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Palembang dipusatkan di sini. Selama perayaan berlangsung, sisi utara pulau akan dihubungkan sementara dengan jembatan ponton ke daratan utama. }} ===Museum dan situs warisan budaya=== * {{See | name=Monumen Perjuangan Rakyat | alt=Monpera | url= | email= | address=Jl. Merdeka no.1, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9892| long=104.7603 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price=Rp5.000 | wikipedia=Museum Monumen Perjuangan Rakyat| image= | wikidata=Q97241069 | lastedit=2024-07-07 | content=Terletak berhadapan dengan Masjid Agung, diresmikan pada tahun 1988 untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di Palembang. Di dalam bangunan berarsitektur brutalis ini, terdapat museum yang menampilkan berbagai artefak dan foto bersejarah yang berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang (1947). Terdapat pula air mancur menari di pelataran monumen. }} * {{See | name=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II | alt= | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.99026 | long=104.7611 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–17.00 (hari biasa), 09.00–17.00 (akhir pekan dan hari libur nasional) | price=Rp5.000 (umum), Rp20.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II| image=Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, Palembang.jpg | wikidata=Q48988740 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum yang dikelola pemerintah kota ini berdiri di atas sisa-sisa Keraton Kuto Lamo, yang dulunya merupakan pusat Kesultanan sebelum dipindahkan ke Kuto Besak. Bangunan saat ini, yang mengadopsi arsitektur atap limasan khas Palembang, pernah digunakan sebagai kantor residen pada masa penjajahan Belanda. Museum ini menampilkan sejarah kota Palembang, dari era Sriwijaya hingga masa kolonial dan kemerdekaan. }} * {{See | name=Museum Balaputradewa | alt=Museum Negeri Sumatera Selatan | url= | email= | address=Jl. Srijaya no. 1, Srijaya, Alang-Alang Lebar 30139 | lat=-2.9508 | long=104.7306 | directions=700 m/10 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT RSUD | phone= | tollfree= | hours=08.30–15.30 (Selasa–Minggu), tutup setiap Senin dan hari libur nasional | price=Rp5.000 (umum), Rp15.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Balaputera Dewa | image=Rumah Limas of IDR 10000 banknote.jpg | wikidata = Q48728288 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum ini menampilkan sejarah provinsi Sumatera Selatan secara keseluruhan. Artefak yang dipamerkan mencakup diorama dan megalit prasejarah hingga patung dan prasasti era Sriwijaya. Kompleks museum ini juga mencakup rumah limasan Palembang ikonik yang pernah tertera pada uang kertas pecahan Rp10.000 sebelum tahun 2016—pihak museum juga menyediakan spesimen uang kertas lama ini untuk dipinjam, jika Anda ingin mengambil foto yang membandingkan ilustrasinya dengan rumah yang asli. }} * {{See | name=Kompleks Makam Ki Gede ing Suro | alt= | url= | email= | address=Jl. Ratu Sianum, Lorong H Umar, 1 Ilir, Ilir Timur II 30111| lat=-2.9779 | long=104.7920 | directions=5 km/20 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2024-07-07 | content=Kompleks serupa candi yang terdiri dari 7 bangunan berbahan bata dan batu putih, dengan gaya seni yang menunjukkan pengaruh Majapahit dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Arca-arca perunggu berlapis emas dari masa Sriwijaya juga ditemukan di situs ini. Digunakan sebagai pemakaman Islam pada sekitar abad ke-16 oleh keluarga bangsawan Ki Gede ing Suro yang menjadi leluhur dinasti Kesultanan Palembang. }} * {{See | name=Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya | alt= | url= | email= | address=Jl. Syakyakirti, Karang Anyar, Gandus 30148 | lat=-3.015036 | long=104.734414 | directions=5.5 km/25 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price= | wikidata=Q7586543 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah situs arkeologi bekas pemukiman kuno (dari era Sriwijaya dan seterusnya) dengan jaringan kanal buatan. Taman ini juga memiliki museum yang menampilkan artefak seperti patung Buddha, tembikar, dan keramik. Tidak ditemui struktur bangunan bersejarah di sini, karena pemukiman ini dulunya kemungkinan besar dibangun dari bahan yang mudah terurai seperti kayu alih-alih batu bata. }} * {{See | name=Rumah Saudagar Ong Boen Tjiet | alt= | url=https://www.instagram.com/rumahongboentjiet/ | email= | address=Lorong Saudagar Yucing no. 55, 3-4 Ulu, Seberang Ulu I 30124| lat=-3.0014 | long=104.7549 | directions=10 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours=11.00–17.00 | price=Rp10.000 | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2025-10-19 | content=Bekas kediaman Ong Boen Tjiet, seorang pedagang terkenal Palembang pada abad ke-20 yang berlatar belakang Tionghoa-Indonesia. Menghadap Sungai Musi dari sisi selatannya, rumah ini menampilkan campuran unsur arsitektur Melayu Palembang dan Tionghoa, serta menampung koleksi yang dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh keturunan keluarga Ong Boen Tjiet. Tempat ini juga dapat dijangkau melalui jalur darat, meskipun gang menuju rumah ini hanya muat untuk sepeda motor. }} * {{See | name=Bayt Al-Qur'an Al-Akbar | alt= | url= | email= | address=Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Jl. M. Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus 30149 | lat=-3.011122 | long=104.70403 | directions= 14 km/40 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price=Rp20.000 per Februari 2020 | wikidata=Q20426381 | lastedit=2024-07-07 | content=Menyimpan salinan Al-Quran ukiran kayu yang diklaim terbesar di dunia; halaman demi halamannya dipamerkan dalam sebuah gedung galeri setinggi 15 meter. Ulasannya bervariasi; banyak wisatawan mengatakan bahwa tempat ini wajib dikunjungi saat berada di Palembang, sementara yang lain mengeluhkan akses ke sana yang melintasi jalan pedesaan buruk serta tiadanya akomodasi penyandang disabilitas. }} ==Lakukan== <!--Tur jalan kaki, wisata sungai, olahraga--> ==Beli== ==Makan== Palembang merupakan pilihan yang tepat sebagai tujuan wisata kuliner. Terdapat berbagai variasi tempat makan yang menyediakan masakan ataupun kudapan khas setempat, dengan sajian unggulan masing-masing. Rentang harga yang ditampilkan adalah per satu sajian, yang mencakup seporsi makanan berat dan minuman pendamping. * {{eat | name=Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z. | alt= | url= | email= | address=Jl. KH. Ahmad Dahlan no. 2, 26 Ilir, Bukit Kecil 30136 | lat=-2.9886363289145494 |long=104.75326480796426 | directions=1.2 km/18 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone=+62 711 5556844 | tollfree= | hours=06.00-22.00 | price=Mulai dari Rp30.000 | content=Restoran mi celor paling terkenal di Palembang dengan beberapa cabang. Lokasi ini merupakan cabang pusat, yang terletak di tengah-tengah Pasar 26 Ilir. Mi celor memiliki kuah berbahan kaldu udang dan santan dengan rasa yang ringan. }} * {{eat | name=Sarinande Tempo Doeloe | alt= | url= | email= | address=Jl. Mayor Ruslan no. 966, 20 Ilir D. I, Ilir Timur I 30114 | lat=-2.973840121991675, |long=104.75782994396515 | directions=3 km/10 menit berkendara dari pusat kota | phone=+62 711 313037 | tollfree= | hours=10.00-21.00 (Senin–Sabtu), 10.00–17.00 (Minggu) | price=Mulai dari Rp60.000 | content=Berdiri sejak tahun 1970-an, restoran ini menawarkan cita rasa masakan Palembang klasik, utamanya pindang ikan sungai dan pelengkapnya. Juga menyediakan nasi minyak dan kari kambing khusus setiap Jumat hingga Minggu. }} * Pempek * Model. * Tekwan * Mie celor * Pindang Ikan * Pepes Tempoyak * Nasi Minyak ==Minum== Cobalah minuman lokal Palembang, '''es kacang merah''', minuman es yang terbuat dari kacang merah. ==Tidur== ===Budget=== * {{sleep | name=Monoloog Hotel Palembang | alt=Tune Hotel Palembang | url= | email= | address=Jl. Jend. Sudirman | lat=-2.965956 | long=104.746206 | directions= | phone=+62 711 315 222 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp200.000 | wikidata=Q111139144 | content=Merek hotel tanpa embel-embel, tetapi memiliki fasilitas lengkap seperti sarapan, Wi-Fi, AC, dan TV. }} * {{sleep | name=Zuri Express | alt= | url=http://grandzuri.com/zuriexpress-palembang | email= | address=Jl Dr. M. Isa no 988 | lat=-2.96991 | long=104.77 | directions= | phone=+62 711 710 800 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp350.000 | wikidata=Q115795588 | content=Hotel murah dengan kamar yang terlihat sederhanam namun bersih dan dengan desain yang minimalis. Restoran berada di gedung terpisah di lantai bawah, tetapi jangan berharap akan menu yang bervariasi. }} ===Menengah=== * {{sleep | name=Aston Palembang Hotel & Conference Center | alt= | url= | email= | address= | lat= | long= | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp600.000 | wikidata=Q111139126 | content=Hotel Aston ini lebih sederhana dibandingkan hotel sejenisnya di kota besar. Menyediakan kamar deluks yang besar, suite, dan pilihan yang mencakup masakan khas Palembang untuk sarapan. }} * {{sleep | name=Novotel Palembang | alt= | url=https://all.accor.com/hotel/3716/index.en.shtml | email= | address=Jalan R Sukamto No. 8A | lat=-2.9494 | long=104.7638 | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp700.000 | wikidata=Q12500946 | content=Salah satu hotel terbaik di kota ini. Keramahtamahan khas Accor dengan kamar yang luas, sarapan yang berlimpah, kolam renang yang luas, dan area joging. Secara umum cocok untuk pelancong bisnis serta keluarga. }} ===Mahal=== * {{sleep | name=Hotel Aryaduta Palembang | alt= | url=http://www.aryaduta.com/palembang/ | email= | address=Jl. POM IX, Palembang Square | lat=-2.977247 | long=104.741005 | directions= | phone=+62 711 383 838 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp1.100.000 | wikidata=Q111139132 | lastedit=2017-08-26 | content=Hotel atrium 18 lantai yang menawarkan 174 kamar. Salah satu fasilitas yang mereka tawarkan kepada para tamu ialah ruang perjamuan dan pertemuan terbesar di Sumatera Selatan, yang dapat menampung hingga 2.500 tamu dalam sebuah resepsi. Para tamu juga dapat menikmati pengalaman mereka di Pool Café yang menawarkan makanan sehat, camilan, dan minuman ringan. }} ==Tetap aman== ==Tujuan berikutnya== *Perjalanan melalui jalan darat ke [[Jambi]] *Pergi ke [[Lampung]] dengan kereta api *Perjalanan dengan feri dari sepanjang muara Sungai Musi ke Pulau [[Bangka (Sumatera)|Bangka]] {{Geo|-2.991108|104.756733}} {{IsPartOf|Sumatera Selatan}} {{Outlinecity}} et3i8ednj2ad7ov454qo3z2kn0uiwjk 33849 33848 2026-04-26T05:13:54Z Swarabakti 179 /* Budget */ 33849 wikitext text/x-wiki {{Pagebanner|Palembang page banner Jembatan Ampera awak.JPG|pgname=Palembang|caption=Jembatan Ampera|origin=-0.4,0}} '''Palembang''' adalah sebuah kota besar di [[Indonesia]] yang menjadi pusat pemerintahan [[Sumatera Selatan]]. Terletak di dataran rendah tempat bertemunya sungai Ogan, Komering, dan Musi, wilayah metropolitan Palembang mencakup lebih dari 2 juta penduduk. Kota ini merupakan simpul kegiatan kawasan serta pintu gerbang bagi para pelancong yang hendak menjelajah bagian selatan Sumatra lebih lanjut. Dengan sejarah panjangnya sebagai pusat kekuasaan dan bandar persinggahan sejak zaman Sriwijaya, Palembang kaya akan warisan budaya hasil akulturasi Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan India. Mulai dari Jembatan Ampera yang ikonik hingga wisata perahu yang asyik, dari kampung tua tepi sungai hingga warung pempek yang ramai, Palembang menawarkan paduan wisata pusaka dan cita rasa yang sulit dilewatkan begitu saja. ==Pahami== ===Sejarah=== [[Gambar:Prasasti Kedukan Bukit 3.jpg|jmpl|350px|Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang memuat pendirian Sriwijaya]] Di antara kota-kota di [[Indonesia]] atau bahkan di [[Asia Tenggara]], Palembang merupakan salah satu kota tertua yang masih terus dihuni hingga kini. Kemunculan Palembang dapat ditarik kembali hingga tahun 683 M, ketika kota ini menjadi pusat kemaharajaan maritim Sriwijaya, salah satu kerajaan bercorak Buddha terbesar dan terpenting dalam sejarah Indonesia. Kota ini memainkan peran penting dalam panggung niaga dan pertukaran budaya di tingkat kawasan. Sriwijaya menguasai jalur strategis seperti Selat Malaka dan Selat Sunda, dan Palembang berfungsi sebagai bandar persinggahan (''entrepôt'') bagi komoditas dari dalam dan luar Nusantara. Pada saat yang sama, Palembang juga menjadi pusat pendidikan religi yang berkembang pesat, hingga mampu menarik peziarah [[Tiongkok]] untuk singgah dalam perjalanan rantau mereka ke [[India]] demi mempelajari naskah-naskah suci agama Buddha dengan para biksu dan cendekiawan setempat. [[Gambar:Palembang Great Mosque.jpg|jmpl|350px|Menara Masjid Agung Palembang dari abad ke-18.]] Setelah Palembang diserang oleh Chola pada awal abad ke-11, pamor kota ini mulai menurun. Palembang mengalami serangkaian perubahan kepemimpinan, sebagian besarnya di bawah pengaruh berbagai kerajaan yang berpusat di [[Jawa]], diawali dengan kehadiran Majapahit pada abad ke-14. Pada awal abad ke-15, kota ini sempat jatuh ke tangan bajak laut Tiongkok, tetapi mereka segera ditumpas oleh Laksamana Cheng Ho, yang kemudian menunjuk seorang pejabat Tionghoa untuk memerintah kota tersebut. Pada abad ke-16, serombongan bangsawan Jawa yang menghindari perang perebutan takhta di tanah asalnya mendirikan wangsa Palembang yang baru, meskipun mereka masih mengakui kekuasaan raja dan sultan yang berpusat di Jawa. Barulah pada pertengahan abad ke-17, penguasa Palembang mulai menyatakan kedaulatannya dengan menggunakan gelar "Sultan" secara mandiri. Kesultanan Palembang mengendalikan perdagangan di sepanjang Sungai Musi serta pulau-pulau jiran seperti Bangka dan Belitung, mengambil untung dari ekspor komoditas lada dan timah. Kekayaan ini kemudian digunakan untuk mendirikan bangunan megah, termasuk di antaranya sebuah [[#Masjid Agung|masjid agung]] serta [[#Kuto Besak|benteng keraton yang baru]]. Permukiman mulai berkembang di sepanjang tepi Sungai Musi; kebanyakan warga lama menetap di sisi utara ([[#Orientasi|Seberang Ilir]]), sementara warga rantau, termasuk orang Tionghoa dan Arab, diizinkan menetap di sisi selatan ([[#Orientasi|Seberang Ulu]]). Kesultanan ini terus berkembang hingga awal abad ke-19, ketika perang yang melibatkan perselisihan internal serta kekuatan kolonial Inggris dan Belanda mengakhiri masa kejayaannya. Setelah pembubaran Kesultanan pada tahun 1825, kota ini menjadi ibu kota Keresidenan Palembang, yang wilayahnya kurang lebih sama dengan Provinsi Sumatera Selatan saat ini. Palembang mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-19, seiring dengan pesatnya perkembangan industri minyak bumi dan karet yang meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Pusat niaga baru pun mulai bertumbuh di daratan, seperti di kawasan [[#Pasar Sekanak|Sekanak]] dan [[#Pasar 16 Ilir|16 Ilir]]. Palembang resmi berstatus ''gemeente'' (kotapraja) sejak tahun 1906, dan menjadi pusat urban luar Jawa terpadat di Hindia Belanda pada tahun 1930-an, mengungguli [[Medan]] dan [[Makassar]]. Urbanisasi yang pesat mendorong kota ini untuk meningkatkan infrastrukturnya melalui berbagai pembangunan, mulai dari pendirian [[#Kantor Ledeng|menara air]] untuk kebutuhan distribusi air minum hingga reklamasi puluhan anak sungai dan kanal untuk transportasi darat. Namun, krisis ekonomi global pada 1930-an menyebabkan mandeknya rencana pengembangan lebih lanjut. Palembang merupakan salah satu lokasi penting selama masa Perang Pasifik (Perang Dunia II). Pasukan pendudukan Jepang merebut kota ini demi menguasai kilang minyaknya, dan Sekutu melakukan beberapa serangan bom terhadap kilang tersebut. Semasa Revolusi Nasional Indonesia, kota ini juga menjadi lokasi pertempuran besar antara pasukan republik dan pasukan Belanda pada awal tahun 1947. Setelah kemerdekaan Indonesia, Palembang meneruskan pengembangan kota ke pinggiran, menimbun jalur air dan mengutamakan jalur darat. Pembangunan [[#Ampera|Jembatan Ampera]] yang melintasi Sungai Musi pada 1960-an menjadi tonggak upaya "pemodernan" kota ini, karena memfasilitasi pertumbuhan urban yang menjauh dari tepi sungai, mengikuti jalan poros utara-selatan. Dewasa ini, Palembang juga dikenal dengan citranya sebagai pusat penyelenggaraan acara olahraga, dengan kiprahnya sebagai tuan rumah bersama [[Jakarta]] untuk SEA Games 2011 dan Asian Games 2018. ===Orientasi=== [[Gambar:Kampung Kapitan, Palembang.jpg|thumb|350px|Kampung Kapitan, salah satu pecinan tertua di Palembang]] Pada awalnya, perkembangan kawasan perkotaan Palembang menyebar di sepanjang tepian Sungai Musi, yang membelah kota ini menjadi dua sisi, yaitu Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Jembatan Ampera membentang dengan sangat mencolok di pusat kota dan hampir selalu terlihat dari mana pun di sepanjang tepian Sungai Musi, selama masih di dalam batas kota. Berbeda dengan banyak kota lain di Indonesia dengan ukuran serupa, Palembang memiliki sejumlah jalan raya yang cukup lebar, bahkan mencapai 8 lajur di beberapa ruas. Namun, sebagian besar permukiman lama di Palembang dibangun di sepanjang ratusan sungai kecil dan kanal yang kini telah direklamasi. Hal ini menyebabkan pola permukiman yang tidak teratur dengan orientasi ke segala arah alih-alih berpatokan pada mata angin. Kebanyakan gang dan lorong membentuk jaringan berkelok-kelok dan bermuara ke jalan-jalan besar. Karena itu, alamat sering kali diberikan dengan kombinasi nama jalan dan gang/lorong, dengan nama jalan yang lebih besar di awal, diikuti nama gang atau lorong yang lebih kecil untuk memperjelas lokasi sebenarnya, serta dilengkapi dengan nomor, wilayah administratif, dan kode pos. ===Bicara=== {{see also|Buku percakapan Palembang}} Bahasa utama yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di kota ini adalah '''[[Buku percakapan Palembang|bahasa Palembang]]''' atau '''bahasa Melayu Palembang''', yang secara lokal dikenal sebagai ''baso Pelémbang''. Bahasa ini masih berkerabat dengan berbagai ragam bahasa Melayu yang dituturkan di seluruh [[Indonesia]], [[Malaysia]], [[Singapura]], dan [[Brunei]], termasuk [[Buku percakapan Betawi|bahasa Betawi]] dan [[Buku percakapan Minangkabau|bahasa Minangkabau]], antara lain. Bahasa Palembang memiliki perbedaan kosakata dari ragam baku, dengan pengaruh kuat dari [[Buku percakapan Jawa|bahasa Jawa]], serta sedikit perbedaan dalam pengucapan dan tata bahasa. Sebagaimana di banyak tempat lain di Indonesia, ragam Palembang ini sering digunakan bersama dengan bahasa Indonesia. Semakin formal situasinya, bahasa yang digunakan akan semakin condong ke ragam baku (atau ke ragam bahasa Indonesia Jakarta). Dalam situasi tidak formal, penutur di Palembang mungkin saja tidak menggunakan ragam baku sama sekali, sehingga bahasanya sulit dipahami oleh orang luar. Meski demikian, terlepas dari keterbatasan penggunaannya secara lisan, bahasa Indonesia secara praktis dipahami oleh hampir semua orang, dan menjadi bahasa paling umum yang digunakan dalam tulisan. Di sisi lain, bahasa Inggris tidak banyak digunakan, terutama karena Palembang bukan merupakan destinasi wisata utama bagi wisatawan mancanegara. Beberapa anak muda mungkin lebih memahami bahasa Inggris dibanding yang lain, meskipun belum tentu merasa nyaman menggunakannya secara lisan. Selain itu, orang-orang yang bekerja di bidang perhotelan dan pariwisata cenderung memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik. ===Baca=== Tidak terdapat banyak bacaan populer mengenai Palembang. Daftar di bawah ini memuat beberapa karya fiksi dan nonfiksi di antaranya, utamanya yang bernuansa sejarah dan kebudayaan. * '''''{{w|Dian yang Tak Kunjung Padam}}''''' oleh {{w|Sutan Takdir Alisjahbana}} (1932) — Kisah asmara klasik antara pemuda miskin dan putri dari keluarga bangsawan di tepian Sungai Musi, berlatarkan Palembang zaman kolonial. * '''''Melayu-Jawa: Citra Sejarah dan Budaya Palembang''''' oleh Djohan Hanafiah (1995) — Bacaan ringan mengenai pembentukan identitas masyarakat Palembang, melalui interpretasi penulis terhadap peristiwa serta sumber sejarah sebelum dan semasa Kesultanan. * '''''Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial''''' oleh Dedi Irwanto Muhammad Santun (2011) — Ulasan sejarah perkembangan Palembang dari zaman Belanda hingga setelah Indonesia merdeka, dengan fokus pada identitas simbolik kota dan peran ruang air. ==Menuju ke sini== ===Dengan pesawat=== {{Go | name=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | alt={{IATA|PLM}} | url=http://www.smbadaruddin2-airport.co.id | email= | address= | lat=-2.9 | long=104.7 | directions= | phone= | tollfree= | fax= | hours= | price= | wikipedia=Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II | image=PesawatdiSMB2IA.jpg | wikidata=Q1432286 | lastedit=2026-03-27 | content=Melayani kawasan metropolitan Palembang Raya, bandara ini terletak di sisi utara kota. Bandara ini menyediakan 16 rute penerbangan domestik langsung, yang dilayani oleh beberapa maskapai penerbangan seperti Lion Air, Citilink, Super Air Jet, Pelita Air, Batik Air, Sriwijaya Air, NAM Air, dan Garuda Indonesia, dengan tujuan Jakarta, [[Batam]], [[Medan]], [[Pagar Alam]], [[Pangkalpinang]], [[Surabaya]], dan [[Yogyakarta]]. Bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional ke [[Kuala Lumpur]] dan [[Singapura]].}} ===Dengan kereta api=== {{Go | name=Stasiun Kertapati | alt='''KPT''' | wikipedia=Stasiun Kertapati | lat=-3.017 | long=104.752 | image=Stasiun_Kertapati.jpg | wikidata=Q19748476 | lastedit=2025-01-04 | content=Stasiun kereta api penumpang jarak jauh satu-satunya di Palembang, terletak di barat daya kota di sisi Seberang Ulu. Stasiun ini merupakan perhentian akhir (terminus) bagi jalur kereta api dari arah [[Prabumulih]], termasuk juga jalur dari [[Lubuk Linggau]] dan [[Bandar Lampung]]. Per awal tahun 2025, stasiun ini hanya melayani 3 kereta api penumpang jarak jauh, yakni Bukit Serelo (Ekonomi) dan Sindang Marga (Bisnis/Eksekutif) untuk relasi Kertapati–Lubuk Linggau pp, serta Rajabasa (Ekonomi) untuk relasi Kertapati–Tanjung Karang pp.}} ===Dengan bus=== Terdapat dua terminal utama tipe A untuk bus antarkota, yakni {{Marker | type=go |name=Terminal Alang-Alang Lebar | lat=-2.917 | long=104.681}} di utara dan {{Marker | type=go | name=Terminal Karya Jaya | lat=-3.064 | long=104.739}} di selatan. Meski begitu, perusahaan bus antarkota biasanya lebih sering menaikturunkan penumpang di pangkalan-pangkalan mereka masing-masing alih-alih di kedua terminal ini. ===Dengan kendaraan bermotor=== Kota ini dapat dicapai dengan berkendara via beberapa rute berbeda. Jika datang dari arah [[Kayu Agung]] dan Bandar Lampung, Anda dapat melintasi Jalan Tol Trans-Sumatra ruas utama (Bakter, Terpeka, Kapalbetung) dan keluar di Gerbang Tol Keramasan (~14 km dari pusat kota). Jika datang dari arah Prabumulih dan [[Bengkulu]], Anda dapat melalui Jalan Tol Trans-Sumatra ruas pendukung (Indraprabu, Palindra) dan keluar di Gerbang Tol Palembang (~10 km dari pusat kota). Kedua ruas tol ini bersilangan di Simpang Susun Palembang. Kota ini juga dilalui oleh ruas jalan raya nasional Lintas Timur Sumatra (AH25), yang menghubungkannya hingga ke wilayah provinsi tetangga, yakni [[Lampung]] di selatan serta [[Jambi]] di utara. Terdapat pula jaringan jalan provinsi yang menghubungkan Palembang dengan kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan, seperti [[Baturaja]], [[Muara Enim]], dan [[Pagar Alam]]. ==Berkeliling== {{Mapframe|-2.988|104.759|zoom=13}} {{mapshape}} ===Dengan LRT=== [[Gambar:LRT Palembang Ampera.jpg|thumb|350px|LRT Palembang melintasi [[#Ampera|Jembatan Ampera]]]] LRT Palembang pertama kali dibuka untuk mendukung Asian Games 2018. Satu-satunya jalur dari sistem ini membelah kota dari utara ke selatan dengan total 13 stasiun, menghubungkan bandara, pusat kota, dan kompleks olahraga Jakabaring. Terdapat selisih waktu sekitar 17 hingga 19 menit antar perjalanan kereta, dan perjalanan satu arah dari ujung ke ujung menghabiskan waktu selama 49 menit. Kereta pertama berangkat dari Stasiun DJKA di selatan pada pukul 5.05, sementara kereta terakhir berangkat dari Stasiun Bandara di utara pada pukul 19.55. Tarif perjalanan jauh-dekat adalah sebesar Rp5.000, kecuali perjalanan dari dan ke Stasiun Bandara yang bertarif Rp10.000. Pembayaran dapat menggunakan tiket sekali jalan yang dibeli langsung di loket, atau kartu uang elektronik yang sudah didaftarkan terlebih dahulu di loket agar dapat dipindai di pintu pembayaran. ==Lihat== Sebagian besar tempat di daftar ini dapat dicapai dengan berjalan kaki di kawasan pusat kota. Tempat yang lebih jauh diberikan patokan transportasi umum terdekat, atau perkiraan jarak dan waktu tempuh dari [[#Air Mancur|titik nol kota]]. ===Tengara utama=== {{anchor|Ampera}} * {{See | name=Jembatan Ampera | alt= | url= | email= | address= | lat=-2.9917 | long=104.763 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=Buka 24 jam | price=Gratis | wikipedia=Jembatan Ampera | image=Ampera Bridge, Palembang.jpg | wikidata=Q643147 | lastedit=2024-07-07 | content=Jembatan pertama yang melintasi Sungai Musi di Palembang, serta merupakan yang terpanjang di Indonesia ketika pertama kali dibuka pada tahun 1965. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal yang lewat, tetapi mekanisme ini berhenti digunakan hanya beberapa tahun setelah jembatan ini dibuka. Jembatan ini adalah tengara paling terkenal di Palembang karena terletak tepat di jantung kota, menghubungkan dua sisi Sungai Musi. }} {{anchor|Masjid Agung}} * {{See | name=Masjid Agung Palembang| alt=Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo| url= | email= | address= Jl. Jend. Sudirman, 19 Ilir, Bukit Kecil 30111 | lat=-2.987833 | long=104.759796 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia=Masjid Agung Palembang | wikidata=Q14917382 | lastedit=2024-07-07 | content=Masjid besar ini pertama kali dibuka pada tahun 1748, tetapi telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan di kemudian hari. Bangunan dan menara aslinya dari abad ke-18 terletak di sisi barat kompleks (sisi yang jauh dari jalan utama), menampilkan campuran gaya arsitektur Melayu Palembang, Tiongkok, dan Eropa. Ruang salat tambahan didirikan di sekeliling bangunan asli secara terpisah dengan tiga buah atap limas raksasa serta menara baru yang lebih tinggi dan ramping. }} {{anchor|Air Mancur}} * {{See | name=Bundaran Air Mancur | alt=Tugu Cempako Telok | url= | email= | address= | lat=-2.9880748201474328 |long=104.7610451233057 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= Gratis | wikipedia= | wikidata= | lastedit=2026-04-19 | content=Bundaran ini merupakan titik nol pusat Kota Palembang, yang dibangun tidak lama setelah Jembatan Ampera berdiri. Sejak awal, unsur air mancur menjadi identitas utama bundaran ini, meskipun strukturnya sendiri telah mengalami perubahan drastis berkali-kali. Sempat menjadi tugu peringatan SEA Games 2011, bundaran ini terakhir direnovasi pada 2026 dengan bentuk kembang ''cempako telok'' yang menjadi ikon baru kota. }} {{anchor|Kuto Besak}} * {{See | name=Kuto Besak | alt=Benteng Kuto Besak | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9917 | long=104.7593 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=06.00–22.00 | price=Gratis untuk kawasan plaza | wikipedia=Kuto Besak | image=Kutobesak.jpg | wikidata=Q16773690 | lastedit=2024-07-07 | content= Sebuah kubu pertahanan dari era Kesultanan di sisi utara Sungai Musi. Selesai dibangun pada tahun 1797, kini digunakan sebagai markas komando daerah TNI. Kompleks ini tertutup untuk umum karena digunakan untuk keperluan militer, meskipun sebuah plaza terbuka di depannya berfungsi sebagai alun-alun utama kota. Di plaza tersebut terdapat {{Marker|type=see|name=Tugu Ikan Belido |lat=-2.9927|long=104.7596}}, didedikasikan untuk spesies endemik dilindungi yang dulunya menjadi bahan utama dalam pembuatan pempek.}} {{anchor|Kantor Ledeng}} * {{See | name=Kantor Wali Kota Palembang | alt=Kantor Ledeng | url= | email= | address=Jl. Merdeka no. 2, 22 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9911 | long=104.7568 | directions=750 m/12 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia=Kantor Wali Kota Palembang | image=Palembang Mayor Office.jpg | wikidata=Q23009349 | lastedit=2024-07-07 | content=Pertama kali dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, gedung dengan pengaruh arsitektur ''de stijl'' ini awalnya berfungsi ganda sebagai menara air dan balai kota, serta menjadi gedung tertinggi di Palembang ketika pertama kali diresmikan. Saat ini digunakan utamanya sebagai kantor wali kota saja. }} * {{See | name=Pulau Kemaro | alt= | url= | email= | address=1 Ilir, Ilir Timur II dan Sei Selincah, Kalidoni | lat=-2.9794 | long=104.8195 | directions=30 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image=Pagoda pulo kemaro.png | wikidata=Q12506795 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah pulau delta sungai yang penggunaannya telah bergonta-ganti sepanjang sejarah, mulai dari menjadi kubu pertahanan terdepan Kesultanan pada abad ke-19, menjadi kompleks penjara untuk tahanan politik pasca-1965, hingga menjadi tujuan wisata budaya dan religius seperti sekarang. Pulau ini memiliki kompleks keagamaan Buddha yang terdiri dari {{Marker|type=see|name=Kelenteng Hok Tjing Bio|lat=-2.9809|long=104.8126}} dan {{Marker|type=see|name=Pagoda Pulau Kemaro|lat=-2.9805|long=104.8135}} yang memiliki 9 lantai. Perayaan Cap Go Meh tahunan di Palembang dipusatkan di sini. Selama perayaan berlangsung, sisi utara pulau akan dihubungkan sementara dengan jembatan ponton ke daratan utama. }} ===Museum dan situs warisan budaya=== * {{See | name=Monumen Perjuangan Rakyat | alt=Monpera | url= | email= | address=Jl. Merdeka no.1, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.9892| long=104.7603 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price=Rp5.000 | wikipedia=Museum Monumen Perjuangan Rakyat| image= | wikidata=Q97241069 | lastedit=2024-07-07 | content=Terletak berhadapan dengan Masjid Agung, diresmikan pada tahun 1988 untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di Palembang. Di dalam bangunan berarsitektur brutalis ini, terdapat museum yang menampilkan berbagai artefak dan foto bersejarah yang berkaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang (1947). Terdapat pula air mancur menari di pelataran monumen. }} * {{See | name=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II | alt= | url= | email= | address=Jl. Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil 30113 | lat=-2.99026 | long=104.7611 | directions={{Rint|metro}} LRT Ampera | phone= | tollfree= | hours=08.00–17.00 (hari biasa), 09.00–17.00 (akhir pekan dan hari libur nasional) | price=Rp5.000 (umum), Rp20.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Sultan Mahmud Badaruddin II| image=Sultan Mahmud Badaruddin II Museum, Palembang.jpg | wikidata=Q48988740 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum yang dikelola pemerintah kota ini berdiri di atas sisa-sisa Keraton Kuto Lamo, yang dulunya merupakan pusat Kesultanan sebelum dipindahkan ke Kuto Besak. Bangunan saat ini, yang mengadopsi arsitektur atap limasan khas Palembang, pernah digunakan sebagai kantor residen pada masa penjajahan Belanda. Museum ini menampilkan sejarah kota Palembang, dari era Sriwijaya hingga masa kolonial dan kemerdekaan. }} * {{See | name=Museum Balaputradewa | alt=Museum Negeri Sumatera Selatan | url= | email= | address=Jl. Srijaya no. 1, Srijaya, Alang-Alang Lebar 30139 | lat=-2.9508 | long=104.7306 | directions=700 m/10 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT RSUD | phone= | tollfree= | hours=08.30–15.30 (Selasa–Minggu), tutup setiap Senin dan hari libur nasional | price=Rp5.000 (umum), Rp15.000 (wisatawan asing) | wikipedia=Museum Balaputera Dewa | image=Rumah Limas of IDR 10000 banknote.jpg | wikidata = Q48728288 | lastedit=2024-07-07 | content=Museum ini menampilkan sejarah provinsi Sumatera Selatan secara keseluruhan. Artefak yang dipamerkan mencakup diorama dan megalit prasejarah hingga patung dan prasasti era Sriwijaya. Kompleks museum ini juga mencakup rumah limasan Palembang ikonik yang pernah tertera pada uang kertas pecahan Rp10.000 sebelum tahun 2016—pihak museum juga menyediakan spesimen uang kertas lama ini untuk dipinjam, jika Anda ingin mengambil foto yang membandingkan ilustrasinya dengan rumah yang asli. }} * {{See | name=Kompleks Makam Ki Gede ing Suro | alt= | url= | email= | address=Jl. Ratu Sianum, Lorong H Umar, 1 Ilir, Ilir Timur II 30111| lat=-2.9779 | long=104.7920 | directions=5 km/20 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price= | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2024-07-07 | content=Kompleks serupa candi yang terdiri dari 7 bangunan berbahan bata dan batu putih, dengan gaya seni yang menunjukkan pengaruh Majapahit dari abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Arca-arca perunggu berlapis emas dari masa Sriwijaya juga ditemukan di situs ini. Digunakan sebagai pemakaman Islam pada sekitar abad ke-16 oleh keluarga bangsawan Ki Gede ing Suro yang menjadi leluhur dinasti Kesultanan Palembang. }} * {{See | name=Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya | alt= | url= | email= | address=Jl. Syakyakirti, Karang Anyar, Gandus 30148 | lat=-3.015036 | long=104.734414 | directions=5.5 km/25 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours=08.00–18.00 | price= | wikidata=Q7586543 | lastedit=2024-07-07 | content=Sebuah situs arkeologi bekas pemukiman kuno (dari era Sriwijaya dan seterusnya) dengan jaringan kanal buatan. Taman ini juga memiliki museum yang menampilkan artefak seperti patung Buddha, tembikar, dan keramik. Tidak ditemui struktur bangunan bersejarah di sini, karena pemukiman ini dulunya kemungkinan besar dibangun dari bahan yang mudah terurai seperti kayu alih-alih batu bata. }} * {{See | name=Rumah Saudagar Ong Boen Tjiet | alt= | url=https://www.instagram.com/rumahongboentjiet/ | email= | address=Lorong Saudagar Yucing no. 55, 3-4 Ulu, Seberang Ulu I 30124| lat=-3.0014 | long=104.7549 | directions=10 menit berperahu motor dari dermaga Kuto Besak | phone= | tollfree= | hours=11.00–17.00 | price=Rp10.000 | wikipedia= | image= | wikidata= | lastedit=2025-10-19 | content=Bekas kediaman Ong Boen Tjiet, seorang pedagang terkenal Palembang pada abad ke-20 yang berlatar belakang Tionghoa-Indonesia. Menghadap Sungai Musi dari sisi selatannya, rumah ini menampilkan campuran unsur arsitektur Melayu Palembang dan Tionghoa, serta menampung koleksi yang dimiliki dan dikelola secara pribadi oleh keturunan keluarga Ong Boen Tjiet. Tempat ini juga dapat dijangkau melalui jalur darat, meskipun gang menuju rumah ini hanya muat untuk sepeda motor. }} * {{See | name=Bayt Al-Qur'an Al-Akbar | alt= | url= | email= | address=Pondok Pesantren IGM Al Ihsaniyah, Jl. M. Amin Fauzi, Soak Bujang, Gandus 30149 | lat=-3.011122 | long=104.70403 | directions= 14 km/40 menit berkendara dari pusat kota | phone= | tollfree= | hours= | price=Rp20.000 per Februari 2020 | wikidata=Q20426381 | lastedit=2024-07-07 | content=Menyimpan salinan Al-Quran ukiran kayu yang diklaim terbesar di dunia; halaman demi halamannya dipamerkan dalam sebuah gedung galeri setinggi 15 meter. Ulasannya bervariasi; banyak wisatawan mengatakan bahwa tempat ini wajib dikunjungi saat berada di Palembang, sementara yang lain mengeluhkan akses ke sana yang melintasi jalan pedesaan buruk serta tiadanya akomodasi penyandang disabilitas. }} ==Lakukan== <!--Tur jalan kaki, wisata sungai, olahraga--> ==Beli== ==Makan== Palembang merupakan pilihan yang tepat sebagai tujuan wisata kuliner. Terdapat berbagai variasi tempat makan yang menyediakan masakan ataupun kudapan khas setempat, dengan sajian unggulan masing-masing. Rentang harga yang ditampilkan adalah per satu sajian, yang mencakup seporsi makanan berat dan minuman pendamping. * {{eat | name=Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z. | alt= | url= | email= | address=Jl. KH. Ahmad Dahlan no. 2, 26 Ilir, Bukit Kecil 30136 | lat=-2.9886363289145494 |long=104.75326480796426 | directions=1.2 km/18 menit jalan kaki dari {{Rint|metro}} LRT Ampera | phone=+62 711 5556844 | tollfree= | hours=06.00-22.00 | price=Mulai dari Rp30.000 | content=Restoran mi celor paling terkenal di Palembang dengan beberapa cabang. Lokasi ini merupakan cabang pusat, yang terletak di tengah-tengah Pasar 26 Ilir. Mi celor memiliki kuah berbahan kaldu udang dan santan dengan rasa yang ringan. }} * {{eat | name=Sarinande Tempo Doeloe | alt= | url= | email= | address=Jl. Mayor Ruslan no. 966, 20 Ilir D. I, Ilir Timur I 30114 | lat=-2.973840121991675, |long=104.75782994396515 | directions=3 km/10 menit berkendara dari pusat kota | phone=+62 711 313037 | tollfree= | hours=10.00-21.00 (Senin–Sabtu), 10.00–17.00 (Minggu) | price=Mulai dari Rp60.000 | content=Berdiri sejak tahun 1970-an, restoran ini menawarkan cita rasa masakan Palembang klasik, utamanya pindang ikan sungai dan pelengkapnya. Juga menyediakan nasi minyak dan kari kambing khusus setiap Jumat hingga Minggu. }} * Pempek * Model. * Tekwan * Mie celor * Pindang Ikan * Pepes Tempoyak * Nasi Minyak ==Minum== Cobalah minuman lokal Palembang, '''es kacang merah''', minuman es yang terbuat dari kacang merah. ==Tidur== ===Hemat=== * {{sleep | name=Monoloog Hotel Palembang | alt=Tune Hotel Palembang | url= | email= | address=Jl. Jend. Sudirman | lat=-2.965956 | long=104.746206 | directions= | phone=+62 711 315 222 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp200.000 | wikidata=Q111139144 | content=Merek hotel tanpa embel-embel, tetapi memiliki fasilitas lengkap seperti sarapan, Wi-Fi, AC, dan TV. }} * {{sleep | name=Zuri Express | alt= | url=http://grandzuri.com/zuriexpress-palembang | email= | address=Jl Dr. M. Isa no 988 | lat=-2.96991 | long=104.77 | directions= | phone=+62 711 710 800 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp350.000 | wikidata=Q115795588 | content=Hotel murah dengan kamar yang terlihat sederhanam namun bersih dan dengan desain yang minimalis. Restoran berada di gedung terpisah di lantai bawah, tetapi jangan berharap akan menu yang bervariasi. }} ===Menengah=== * {{sleep | name=Aston Palembang Hotel & Conference Center | alt= | url= | email= | address= | lat= | long= | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp600.000 | wikidata=Q111139126 | content=Hotel Aston ini lebih sederhana dibandingkan hotel sejenisnya di kota besar. Menyediakan kamar deluks yang besar, suite, dan pilihan yang mencakup masakan khas Palembang untuk sarapan. }} * {{sleep | name=Novotel Palembang | alt= | url=https://all.accor.com/hotel/3716/index.en.shtml | email= | address=Jalan R Sukamto No. 8A | lat=-2.9494 | long=104.7638 | directions= | phone= | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp700.000 | wikidata=Q12500946 | content=Salah satu hotel terbaik di kota ini. Keramahtamahan khas Accor dengan kamar yang luas, sarapan yang berlimpah, kolam renang yang luas, dan area joging. Secara umum cocok untuk pelancong bisnis serta keluarga. }} ===Mahal=== * {{sleep | name=Hotel Aryaduta Palembang | alt= | url=http://www.aryaduta.com/palembang/ | email= | address=Jl. POM IX, Palembang Square | lat=-2.977247 | long=104.741005 | directions= | phone=+62 711 383 838 | tollfree= | checkin= | checkout= | price=Mulai dari Rp1.100.000 | wikidata=Q111139132 | lastedit=2017-08-26 | content=Hotel atrium 18 lantai yang menawarkan 174 kamar. Salah satu fasilitas yang mereka tawarkan kepada para tamu ialah ruang perjamuan dan pertemuan terbesar di Sumatera Selatan, yang dapat menampung hingga 2.500 tamu dalam sebuah resepsi. Para tamu juga dapat menikmati pengalaman mereka di Pool Café yang menawarkan makanan sehat, camilan, dan minuman ringan. }} ==Tetap aman== ==Tujuan berikutnya== *Perjalanan melalui jalan darat ke [[Jambi]] *Pergi ke [[Lampung]] dengan kereta api *Perjalanan dengan feri dari sepanjang muara Sungai Musi ke Pulau [[Bangka (Sumatera)|Bangka]] {{Geo|-2.991108|104.756733}} {{IsPartOf|Sumatera Selatan}} {{Outlinecity}} hnyzh0v0etyli16xtpfss7liqmhpwyz