Wikibuku
minwikibooks
https://min.wikibooks.org/wiki/Palanta
MediaWiki 1.47.0-wmf.1
first-letter
Media
Istimewa
Rundiang
Pangguno
Rundiang Pangguno
Wikibuku
Rundiang Wikibuku
Berkas
Rundiang Berkas
MediaWiki
Rundiang MediaWiki
Templat
Rundiang Templat
Bantuan
Rundiang Bantuan
Kategori
Rundiang Kategori
TimedText
TimedText talk
Modul
Rundiang Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Si Paik Lidah
0
2131
9515
2026-05-10T08:16:23Z
Happywu
26
←Mambuek laman baisi "'''Si Pahit Lidah''' merupakan cerita rakyat yang terkenal di Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Terdapat dua versi yang berbeda mengenai alur dari cerita Si Pahit Lidah. Ada yang mengatakan kisah ini bercerita mengenai konflik antara si Pahit Lidah dengan adik iparnya, Aria Tebing. Versi lainnya bercerita tentang adu kesaktian antara si Pahit Lidah dengan Si Mata Empat. marupoan carito rakyat nan tanamo di Sumat == Sinopsis == === Versi kesatu === Di sebuah k..."
9515
wikitext
text/x-wiki
'''Si Pahit Lidah''' merupakan cerita rakyat yang terkenal di Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Terdapat dua versi yang berbeda mengenai alur dari cerita Si Pahit Lidah. Ada yang mengatakan kisah ini bercerita mengenai konflik antara si Pahit Lidah dengan adik iparnya, Aria Tebing. Versi lainnya bercerita tentang adu kesaktian antara si Pahit Lidah dengan Si Mata Empat.
marupoan carito rakyat nan tanamo di Sumat
== Sinopsis ==
=== Versi kesatu ===
Di sebuah kerajaan tersebutlah seorang pangeran bernama Serunting. Ia adalah anak dari keturunan raksasa, yang tersohor kesaktiannya. Suatu ketika ia hendak menikahi seorang gadis desa bernama Sitti dan mengajaknya hidup di Istana. Namun Gadis desa tersebut memiliki adik laki-laki bernama Aria Tebing. Ia tidak tega jika harus meninggalkan adiknya sendirian di desa. Akhirnya Pangeran Serunting hendak membawanya untuk hidup di istana.
Tawaran tersebut ia tolak, karena Aria Tebing lebih memilih tinggal di desa yang bebas dan tidak banyak aturan seperti di istana. Hingga pada keputusan Sitti dan Aria Tebing bersedia membagi tanah warisan milik orang tuanya. Untuk menghindari perselisihan, mereka membuat pembatas di ladang tersebut dengan sebuah kayu.
Beberapa hari kemudian kayu tersebut menumbuhkan jamur cendawan. Namun jamur yang tumbuh di sisi kebun milik Sitti, yang juga milik Pangeran Serunting hanya jamur biasa, sementara jamur yang tumbuh di sisi kebun milik Aria Tebing adalah jamur emas. Ia kemudian menjualnya dan menjadi kaya raya.
Karena merasa iri, Pangeran Serunting membuat siasat dan segera menemui Aria Tebing di ladang. Ia mengklaim bahwa Aria Tebing telah membalikkan kayu tersebut sehingga jamur emas tumbuh di sisi kebunnya. Merasa tidak bersalah dan telah meminta maaf, Aria Tebing tiba-tiba ditantang oleh kakak iparnya sendiri. Namun Aria Tebing menyadari bahwa ia akan kalah sebab kesaktian Pangeran Serunting.
Ia akhirnya meminta waktu selama dua hari untuk berpikir. Aria Tebing secara sembunyi-sembunyi menemui kakanya, Sitti, untuk memberitahukan rahasia kekuatan Pangeran Serunting. Singkat cerita, kakanya memberitahu kelemahan Pangeran Serunting, dengan syarat Aria Tebing tidak boleh sampai membunuhnya.
Tiba pada waktu yang ditentukan, Mereka berdua berkelahi, disaat Aria Tebing semakin terdesak, ia kemudian melancarkan serangan yang mengarah pada kelemahan Pangeran Serunting. Pangeran Serunting dengan segera terluka parah. Merasa malu dan kalah ia pergi jauh dari desa untuk mengasingkan diri.
Sampai di suatu tempat, Pangeran Serunting bertemu dengan Sang Hyang Mahameru yang hendak memberikannya kekuatan. Setelah ia bertapa selama dua tahun lamanya, Pangeran Serunting berhasil mendapat kekuatan bahwa setiap ucapan yang keluar darinya akan menjadi kutukan. Ia kemudian berniat untuk membalaskan dendamnya kepada Aria Tebing. Ia mencoba kesaktiannya pada sebuah bambu yang seketika berubah menjadi batu setelah ia ucapkan. Maka dari itu ia dikenal dengan julukan Si Pahit Lidah.
Dalam perjalanan pulangnya, Si Pahit Lidah mendapati sebuah bukit yang gersang, kemudian dengan kekuatannya ia ubah menjadi hutan belantara, ia juga mengabulkan permintaan sepasang lansia yang ingin memiliki anak. Selama perjalanannya menuju istana, Si Pahit Lidah telah melakukan banyak perbuatan baik. Hingga ia tiba di istana, dendamnya tersebut telah tertutupi dengan kebaikan yang ia lakukan. Pada akhirnya ia meminta maaf kepada Aria Tebing dan Sitti, istrinya.
=== Versi kedua ===
Di suatu negeri bernama Banding Agung terdapat dua pendekar sakti yang terkenal akan kehebatan dan kekuatannya sehingga mereka disegani oleh musush-musuhnya. Mereka adalah Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, bahkan diantara keduanya memiliki persaingan yang sengit untuk mendapatkan pengakuan jawara.
Namun Si Mata Empat dalam hatinya mengakui akan kehebatan kutukan Lidah Si Pahit Lidah. Ia terus memikirkan siasat agar dapat menang ketika melawan Si Pahit Lidah sewaktu-waktu. Si Mata Empat kemudian menantang Si Pahit Lidah untuk menunjukkan kehebatannya. Akhirnya, karena ingin membuktikan siapa yang benar-benar lebih hebat di antara mereka berdua, mereka sepakat untuk bertemu dan mengadu kekuatan masing-masing.
Tibalah pada hari yang ditentukan, di pinggir Danau Ranau ketika matahari hendak tenggelam. Mata Empat memulai dengan taktik yang licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Caranya, secara bergiliran keduanya harus tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Lalu, bunga aren di atas akan dipotong oleh salah satu di antara mereka. Bagi yang dapat menghindar lemparan bunga dan buah aren tersebut adalah pemenangnya dan diakui sebagai jawara sakti. Namun Si Pahit Lidah tidak mengetahui bahwa ini hanyalah permainan licik dari Si Mata Empat.
Kemudian keduanya melakukan undian dengan aturan yang telah mereka sepakati. Si Mata Empat mendapat giliran pertama. Sesuai namanya, Si Mata Empat juga memiliki dua mata lain, yakni di belakang kepalanya. Setelah berada di atas pohon aren yang ada di tepi danau tersebut. Dengan tenangnya ia menelungkup di bawah pohon dan segera memotong buah aren kearah Si Pahit Lidah. Kehebatan Si Mata Empat adalah ia bisa melihat arah jatuhnya buah aren tersebut. Mata di kepala mata empat bisa melihat ketika bunga aren jatuh meluncur ke ke arah Mata Empat. Dengan mudahnya Si Mata Empat bisa menghindar dari runtuhan buah aren tersebut. Si Pahit Lidah pun membalasnya dengan buah aren yang lebih besar, tetapi Si Mata Empat dapat menghindar lagi dari jatuhan buah aren tersebut dengan mudah.
Saat giliran terakhir, dengan sisa tenaganya Si Pahit Lidah memotong buah aren yang lebh besar dari yang kedua. Namun dengan kemampuan yang dimilikinya, Si Mata Empat dapat menghindar dengan cepat. Dengan perasaan kecewa Si Pahit Lidah turun dari pohon aren tersebut. Kini giliran Si Pahit Lidah untuk manjat pohon aren. Dengan secepat kilat juga Si Mata Empat memanjat dan Si Pahit Lidah sudah menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon tersebut.
Dengan mudah Si Mata Empat menjatuhkan buah aren tepat di atas kepala Si Pahit Lidah. Si Pahit Lidah tak bisa mengetahui hal itu. Ia tak dapat mengelaknya. Akhirnya Si Pahit Lidah berteriak kesakitan. Buah aren yang besar dan berat tersebut mengenai tubuh Si Pahit Lidah. Tubuhnya bersimbah darah dan ia tewas seketika secara mengenaskan.
Si Mata Empat senang, dan merasa puas. Ia berhasil membuktikan pada semua orang, dirinyalah yang lebih sakti dari Si Pahit Lidah. Namun rasa ingin tahunya muncul, mengapa lawannya itu mendapat julukan Si Pahit Lidah. Hanya karena penasaran, ia masukkan jarinya ke dalam mulut Si Pahit Lidah yang sudah mati, kemudian ia rasakan jarinya sendiri yang sudah terkena liur di Pahit Lidah. Ia mengakui rasa yang sangat pahit tersebut, namun Si Mata Empat tidak mengetahui bahwa itu adalah racun mematikan. Ia seketika mengerang kesakitan memegangi tenggorokannya hingga ia tewas begitu saja akibat keangkuhan dan kesombongannya.
== Pranala luar ==
* https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/mengenal-legenda-si-pahit-lidah/
* http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/287-si-pahit-lidah#:~:text=Si%20Pahit%20Lidah%20adalah%20julukan,oleh%20adik%20iparnya%2C%20Aria%20Tebing.&text=Dahulu%2C%20di%20daerah%20Sumidang%2C%20Sumatra,ada%20seorang%20pangeran%20bernama%20Serunting.
0plfzzg8iuonbg0xgwoodjbntqxf52w
9522
9515
2026-05-10T08:24:33Z
Happywu
26
9522
wikitext
text/x-wiki
'''Si Paik Lidah''' adolah carito rakyat nan tanamo dari Sumatera Selatan, Jambi, jo Bengkulu. Ado duo versi nan babeda dari alur cerita "Si Pahit Lidah". Salah satu mode mancaritoan konflik antaro Si Pahit Lidah jo sumandonyo, Aria Tebing. Mode lain mancaritoan patandiangan kakuatan ajaib antaro Si Pahit Lidah jo Si Mata Empat.
== Sinopsis ==
=== Mode partamo ===
Dalam sabuah karajaan tingga surang pangeran nan banamo Serunting. Inyo adolah anak raksasa, nan tanamo jo kakuatan ajaibnyo. Suatu hari, inyo nio manikah jo surang gadih kampuang nan banamo Sitti dan maajaknyo untuak tingga di istano. Namun, gadih kampuang tu punyo adiak laki-laki nan banamo Aria Tebing. Indak tega inyo maninggaan adiaknyo surang di kampuang. Pangeran Serunting akhianyo manawarkan untuak mambaoknyo untuak tingga di istano.
Inyo manulak tawaran tu, karano Aria Tebing labiah suko tingga di kampuang, di mano ado kabebasan jo aturan nan labiah saketek daripado di istano. Akhianyo Sitti jo Aria Tebing sapakaik untuak mambagi tanah pusako masiang-masiang. Untuak maindari sangketo, mereka mambuek palang kayu di sakitar lapangan.
Babarapo hari kamudian, tumbuahlah jamur di ateh kayu tu. Namun, cindawan nan tumbuah di sisi parak Sitti, nan juo punyo Pangeran Serunting, adolah cindawan biaso, sadangkan nan tumbuah di sisi Aria Tebing adolah cindawan ameh. Inyo kamudian manjua, mako inyo manjadi kayo.
Dek bangih dek raso cemburu, Pangeran Serunting marancang strategi jo langsuang maadoki Aria Tebing di sawah. Inyo mangaku baso Aria Tebing lah mambaliak-baliak kayu tu, manyababkan jamur ameh tu tumbuah di sisi kabunnyo. Maraso indak basalah dan alah minta maaf, Aria Tebing tibo-tibo ditantang dek sumandonyo surang. Namun, Aria Tebing manyadari inyo akan kalah dek kakuatan supranatural Pangeran Serunting.
Akhianyo inyo mintak wakatu duo hari untuak bapikia. Aria Tebing diam-diam basobok jo adiak padusinyo, Sitti, untuak mangungkapkan rahasio kakuasoan Pangeran Serunting. Panjang carito singkek, adiak padusinyo mangungkapkan kalamahan Pangeran Serunting, jo syarat Aria Tebing indak mambunuahnyo.
Pado wakatu nan lah ditantukan, kaduonyo bacakak. Sairiang Aria Tebing samakin putuih aso, inyo malancarkan sarangan nan ditujukan kapado kalamahan Pangeran Serunting. Pangeran Serunting langsuang luko parah. Maraso malu jo kalah, inyo lari dari kampuang manjadi pangasingan.
Tibo di suatu tampek tatantu, Pangeran Serunting basobok jo Sang Hyang Mahameru, nan manawarkan untuak maagiahnyo kakuasoan. Sasudah merenung salamo duo tahun, Pangeran Serunting mandapekkan kakuatan bahaso satiok kato nan diucapkannyo akan dikutuak. Inyo kamudian baniaik untuak mambaleh dandam ka Aria Tebing. Inyo mauji kakuatan ajaibnyo pado tungkek buluah, nan lansuang barubah manjadi batu sasudah inyo mangucapkannyo. Dek karano itu, inyo dikenal sabagai Lidah Paik.
Dalam pajalanan pulang, Si Pahit Lidah manamukan bukik nan tandus, kamudian jo kakuatannyo inyo maubahnyo manjadi padang pasia, inyo juo mangabulkan kainginan pasangan lansia nan nio punyo anak. Salamo pajalanan ka ustano, Si Pahit Lidah lah banyak pabuatan baiak. Pado wakatu inyo tibo di istano, dendamnyo alah tatutuik dek kabaikan nan alah dilakukannyo. Pado akhianyo, inyo minta maaf ka Aria Tebing jo Sitti, bininyo.
=== Mode kaduo ===
Di suatu tanah nan banamo Banding Agung, tingga duo urang prajurit nan bakuaso nan tanamo jo keahlian jo kakuatannyo, nan mambuek mareka dihormati dek musuah-musuahnyo. Mereka adolah Si Pahit Lidah jo Si Mata Empat, dan mereka bahkan terlibat dalam persaingan sengit untuak marabuik gala juara.
Namun, Si Mata Empat, dalam hati, mangaku kuaso sumpah Si Pahit Lidah. Inyo taruih marancang strategi untuak mangalahkan Si Pahit Lidah satiok inyo mahadok-i Si Pahit Lidah. Si Mata Empat lalu manantang Si Pahit Lidah untuak mampacaliak-an kasaktiannyo. Akhianyo, dek taragak mambuktikan sia nan sabananyo labiah hebat dari kaduonyo, mereka sepakat untuak basobok dan mauji kakuatan mereka.
Tibolah hari nan ditantukan, di tapi Danau Ranau sabagai matoari nan ka tabanam. Si Mata Empat mamulai jo taktik licik nan hanyo mauntuangkan dirinyo surang. Kaduonyo baganti-ganti barado muko ka bawah di bawah rumpun bungo aren. Sudah tu, salah surang dari mereka akan mamotong bungo aren di ateh. Nan bisa mailak dari pelting bungo jo buah-buahan aren dinyatokan manang dan diakui sabagai juaro nan kuaik. Tapi si Lidah Paik indak tau bahaso iko hanyolah pamainan licik dari Mato Ampek.
Sudah tu, kaduonyo ba-undi manuruik aturan nan lah disapakati. Ampek Mato dapek giliran partamo. Batua jo namonyo, Ampek Mato punyo duo mato lain, ciek di balakang kapalonyo. Sakali di puncak batang sawit di tapi danau, inyo tanang-tanang jongkok di bawah batang tu dan bagageh mamotong buah sawit ka arah Lidah Paik. Kamampuan Mato Ampek adolah mancaliak kama buah tu ka jatuah. Mato di kapalonyo bisa mancaliak bungo sawit nan jatuah tu maleset ka arahnyo. Si Mato Ampek jo mudah mailak dari buah sawit nan jatuah tu. Lidah Paik mambaleh jo buah sawit nan labiah gadang, tapi Mato Ampek jo mudah mailak dari buah nan jatuah tu.
Pado giliran tarakhirnyo, jo kakuatan tarakhirnyo, Lidah Paik mamotong buah sawit nan labiah gadang. Namun, jo kamampuannyo, Ampek Mato copek mailak darinyo. Kecewa, Paik Lidah manurun dari batang kayu. Kini giliran inyo nan mamanjek batang kayu tu. Jo kacapatan kilek, Mato Ampek naiak ka ateh, dan Lidah Paik alah talantang maadok ka bawah di bawah rumpun kayu.
Mato Ampek jo mudah manjatuahan buah sawit tapek di kapalo Lidah Paik. Lidah Paik indak bisa mancaliaknyo datang. Inyo indak bisa mailak. Akhianyo, Lidah Paik mamakiak dek sakik. Buah sawit nan gadang, barek kanai Lidah Paik. Badannyo tatutuik darah, dan inyo maningga sakutiko dan mengerikan.
Si Ampek Mato sanang jo pueh. Inyo lah mambuktikan ka sadonyo urang bahaso inyo labiah bakuaso dari Lidah Paik. Namun, timbua raso ingin tahunyo: baa mangko lawannyo dijuluki Lidah Paik. Dek karano penasaran, inyo masuakkan jarinyo ka muncuang Lidah Paik nan lah mati tu dan marasoan jarinyo surang, nan alah banoda jo aia liua Lidah Paik. Inyo mangakui raso nan sangaik paik, tapi Ampek Mato indak tahu itu racun nan mamatikan. Inyo langsuang mangaluah sakik, mamacik lihianyo, sampai maningga, hanyo dek sombong jo sombongnyo.
== Pranala luar ==
* https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/mengenal-legenda-si-pahit-lidah/
* http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/287-si-pahit-lidah#:~:text=Si%20Pahit%20Lidah%20adalah%20julukan,oleh%20adik%20iparnya%2C%20Aria%20Tebing.&text=Dahulu%2C%20di%20daerah%20Sumidang%2C%20Sumatra,ada%20seorang%20pangeran%20bernama%20Serunting.
pafwfqxkuc9w6kvawxju3papeuxp23t
9524
9522
2026-05-10T08:25:47Z
Happywu
26
9524
wikitext
text/x-wiki
'''Si Paik Lidah''' adolah carito rakyat nan tanamo dari Sumatera Selatan, Jambi, jo Bengkulu. Ado duo versi nan babeda dari alur cerita "Si Pahit Lidah". Salah satu mode mancaritoan konflik antaro Si Pahit Lidah jo sumandonyo, Aria Tebing. Mode lain mancaritoan patandiangan kakuatan ajaib antaro Si Pahit Lidah jo Si Mata Empat.
== Sinopsis ==
=== Mode partamo ===
Dalam sabuah karajaan tingga surang pangeran nan banamo Serunting. Inyo adolah anak raksasa, nan tanamo jo kakuatan ajaibnyo. Suatu hari, inyo nio manikah jo surang gadih kampuang nan banamo Sitti dan maajaknyo untuak tingga di istano. Namun, gadih kampuang tu punyo adiak laki-laki nan banamo Aria Tebing. Indak tega inyo maninggaan adiaknyo surang di kampuang. Pangeran Serunting akhianyo manawarkan untuak mambaoknyo untuak tingga di istano.
Inyo manulak tawaran tu, karano Aria Tebing labiah suko tingga di kampuang, di mano ado kabebasan jo aturan nan labiah saketek daripado di istano. Akhianyo Sitti jo Aria Tebing sapakaik untuak mambagi tanah pusako masiang-masiang. Untuak maindari sangketo, mereka mambuek palang kayu di sakitar lapangan.
Babarapo hari kamudian, tumbuahlah jamur di ateh kayu tu. Namun, cindawan nan tumbuah di sisi parak Sitti, nan juo punyo Pangeran Serunting, adolah cindawan biaso, sadangkan nan tumbuah di sisi Aria Tebing adolah cindawan ameh. Inyo kamudian manjua, mako inyo manjadi kayo.
Dek bangih dek raso cemburu, Pangeran Serunting marancang strategi jo langsuang maadoki Aria Tebing di sawah. Inyo mangaku baso Aria Tebing lah mambaliak-baliak kayu tu, manyababkan jamur ameh tu tumbuah di sisi kabunnyo. Maraso indak basalah dan alah minta maaf, Aria Tebing tibo-tibo ditantang dek sumandonyo surang. Namun, Aria Tebing manyadari inyo akan kalah dek kakuatan supranatural Pangeran Serunting.
Akhianyo inyo mintak wakatu duo hari untuak bapikia. Aria Tebing diam-diam basobok jo adiak padusinyo, Sitti, untuak mangungkapkan rahasio kakuasoan Pangeran Serunting. Panjang carito singkek, adiak padusinyo mangungkapkan kalamahan Pangeran Serunting, jo syarat Aria Tebing indak mambunuahnyo.
Pado wakatu nan lah ditantukan, kaduonyo bacakak. Sairiang Aria Tebing samakin putuih aso, inyo malancarkan sarangan nan ditujukan kapado kalamahan Pangeran Serunting. Pangeran Serunting langsuang luko parah. Maraso malu jo kalah, inyo lari dari kampuang manjadi pangasingan.
Tibo di suatu tampek tatantu, Pangeran Serunting basobok jo Sang Hyang Mahameru, nan manawarkan untuak maagiahnyo kakuasoan. Sasudah merenung salamo duo tahun, Pangeran Serunting mandapekkan kakuatan bahaso satiok kato nan diucapkannyo akan dikutuak. Inyo kamudian baniaik untuak mambaleh dandam ka Aria Tebing. Inyo mauji kakuatan ajaibnyo pado tungkek buluah, nan lansuang barubah manjadi batu sasudah inyo mangucapkannyo. Dek karano itu, inyo dikenal sabagai Lidah Paik.
Dalam pajalanan pulang, Si Pahit Lidah manamukan bukik nan tandus, kamudian jo kakuatannyo inyo maubahnyo manjadi padang pasia, inyo juo mangabulkan kainginan pasangan lansia nan nio punyo anak. Salamo pajalanan ka ustano, Si Pahit Lidah lah banyak pabuatan baiak. Pado wakatu inyo tibo di istano, dendamnyo alah tatutuik dek kabaikan nan alah dilakukannyo. Pado akhianyo, inyo minta maaf ka Aria Tebing jo Sitti, bininyo.
=== Mode kaduo ===
Di suatu tanah nan banamo Banding Agung, tingga duo urang prajurit nan bakuaso nan tanamo jo keahlian jo kakuatannyo, nan mambuek mareka dihormati dek musuah-musuahnyo. Mereka adolah Si Pahit Lidah jo Si Mata Empat, dan mereka bahkan terlibat dalam persaingan sengit untuak marabuik gala juara.
Namun, Si Mata Empat, dalam hati, mangaku kuaso sumpah Si Pahit Lidah. Inyo taruih marancang strategi untuak mangalahkan Si Pahit Lidah satiok inyo mahadok-i Si Pahit Lidah. Si Mata Empat lalu manantang Si Pahit Lidah untuak mampacaliak-an kasaktiannyo. Akhianyo, dek taragak mambuktikan sia nan sabananyo labiah hebat dari kaduonyo, mereka sepakat untuak basobok dan mauji kakuatan mereka.
Tibolah hari nan ditantukan, di tapi Danau Ranau sabagai matoari nan ka tabanam. Si Mata Empat mamulai jo taktik licik nan hanyo mauntuangkan dirinyo surang. Kaduonyo baganti-ganti barado muko ka bawah di bawah rumpun bungo aren. Sudah tu, salah surang dari mereka akan mamotong bungo aren di ateh. Nan bisa mailak dari pelting bungo jo buah-buahan aren dinyatokan manang dan diakui sabagai juaro nan kuaik. Tapi si Lidah Paik indak tau bahaso iko hanyolah pamainan licik dari Mato Ampek.
Sudah tu, kaduonyo ba-undi manuruik aturan nan lah disapakati. Ampek Mato dapek giliran partamo. Batua jo namonyo, Ampek Mato punyo duo mato lain, ciek di balakang kapalonyo. Sakali di puncak batang sawit di tapi danau, inyo tanang-tanang jongkok di bawah batang tu dan bagageh mamotong buah sawit ka arah Lidah Paik. Kamampuan Mato Ampek adolah mancaliak kama buah tu ka jatuah. Mato di kapalonyo bisa mancaliak bungo sawit nan jatuah tu maleset ka arahnyo. Si Mato Ampek jo mudah mailak dari buah sawit nan jatuah tu. Lidah Paik mambaleh jo buah sawit nan labiah gadang, tapi Mato Ampek jo mudah mailak dari buah nan jatuah tu.
Pado giliran tarakhirnyo, jo kakuatan tarakhirnyo, Lidah Paik mamotong buah sawit nan labiah gadang. Namun, jo kamampuannyo, Ampek Mato copek mailak darinyo. Kecewa, Paik Lidah manurun dari batang kayu. Kini giliran inyo nan mamanjek batang kayu tu. Jo kacapatan kilek, Mato Ampek naiak ka ateh, dan Lidah Paik alah talantang maadok ka bawah di bawah rumpun kayu.
Mato Ampek jo mudah manjatuahan buah sawit tapek di kapalo Lidah Paik. Lidah Paik indak bisa mancaliaknyo datang. Inyo indak bisa mailak. Akhianyo, Lidah Paik mamakiak dek sakik. Buah sawit nan gadang, barek kanai Lidah Paik. Badannyo tatutuik darah, dan inyo maningga sakutiko dan mengerikan.
Si Ampek Mato sanang jo pueh. Inyo lah mambuktikan ka sadonyo urang bahaso inyo labiah bakuaso dari Lidah Paik. Namun, timbua raso ingin tahunyo: baa mangko lawannyo dijuluki Lidah Paik. Dek karano penasaran, inyo masuakkan jarinyo ka muncuang Lidah Paik nan lah mati tu dan marasoan jarinyo surang, nan alah banoda jo aia liua Lidah Paik. Inyo mangakui raso nan sangaik paik, tapi Ampek Mato indak tahu itu racun nan mamatikan. Inyo langsuang mangaluah sakik, mamacik lihianyo, sampai maningga, hanyo dek sombong jo sombongnyo.
== Pranala luar ==
* https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/mengenal-legenda-si-pahit-lidah/
* http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/287-si-pahit-lidah#:~:text=Si%20Pahit%20Lidah%20adalah%20julukan,oleh%20adik%20iparnya%2C%20Aria%20Tebing.&text=Dahulu%2C%20di%20daerah%20Sumidang%2C%20Sumatra,ada%20seorang%20pangeran%20bernama%20Serunting.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
9edtqnbrn09821mi2diznsngz2vbhp5
9525
9524
2026-05-10T08:29:59Z
Happywu
26
9525
wikitext
text/x-wiki
'''Si Paik Lidah''' adolah carito rakyat nan tanamo dari Sumatera Selatan, Jambi, jo Bengkulu. Ado duo versi nan babeda dari alur cerita "Si Pahit Lidah". Salah satu mode mancaritoan konflik antaro Si Pahit Lidah jo sumandonyo, Aria Tebing. Mode lain mancaritoan patandiangan kakuatan ajaib antaro Si Pahit Lidah jo Si Mata Empat.
== Sinopsis ==
=== Mode partamo ===
Dalam sabuah karajaan tingga surang pangeran nan banamo Serunting. Inyo adolah anak raksasa, nan tanamo jo kakuatan ajaibnyo. Suatu hari, inyo nio manikah jo surang gadih kampuang nan banamo Sitti dan maajaknyo untuak tingga di istano. Namun, gadih kampuang tu punyo adiak laki-laki nan banamo Aria Tebing. Indak tega inyo maninggaan adiaknyo surang di kampuang. Pangeran Serunting akhianyo manawarkan untuak mambaoknyo untuak tingga di istano.
Inyo manulak tawaran tu, karano Aria Tebing labiah suko tingga di kampuang, di mano ado kabebasan jo aturan nan labiah saketek daripado di istano. Akhianyo Sitti jo Aria Tebing sapakaik untuak mambagi tanah pusako masiang-masiang. Untuak maindari sangketo, mereka mambuek palang kayu di sakitar lapangan.
Babarapo hari kamudian, tumbuahlah jamur di ateh kayu tu. Namun, cindawan nan tumbuah di sisi parak Sitti, nan juo punyo Pangeran Serunting, adolah cindawan biaso, sadangkan nan tumbuah di sisi Aria Tebing adolah cindawan ameh. Inyo kamudian manjua, mako inyo manjadi kayo.
Dek bangih dek raso cemburu, Pangeran Serunting marancang strategi jo langsuang maadoki Aria Tebing di sawah. Inyo mangaku baso Aria Tebing lah mambaliak-baliak kayu tu, manyababkan jamur ameh tu tumbuah di sisi kabunnyo. Maraso indak basalah dan alah minta maaf, Aria Tebing tibo-tibo ditantang dek sumandonyo surang. Namun, Aria Tebing manyadari inyo akan kalah dek kakuatan supranatural Pangeran Serunting.
Akhianyo inyo mintak wakatu duo hari untuak bapikia. Aria Tebing diam-diam basobok jo adiak padusinyo, Sitti, untuak mangungkapkan rahasio kakuasoan Pangeran Serunting. Panjang carito singkek, adiak padusinyo mangungkapkan kalamahan Pangeran Serunting, jo syarat Aria Tebing indak mambunuahnyo.
Pado wakatu nan lah ditantukan, kaduonyo bacakak. Sairiang Aria Tebing samakin putuih aso, inyo malancarkan sarangan nan ditujukan kapado kalamahan Pangeran Serunting. Pangeran Serunting langsuang luko parah. Maraso malu jo kalah, inyo lari dari kampuang manjadi pangasingan.
Tibo di suatu tampek tatantu, Pangeran Serunting basobok jo Sang Hyang Mahameru, nan manawarkan untuak maagiahnyo kakuasoan. Sasudah merenung salamo duo tahun, Pangeran Serunting mandapekkan kakuatan bahaso satiok kato nan diucapkannyo akan dikutuak. Inyo kamudian baniaik untuak mambaleh dandam ka Aria Tebing. Inyo mauji kakuatan ajaibnyo pado tungkek buluah, nan lansuang barubah manjadi batu sasudah inyo mangucapkannyo. Dek karano itu, inyo dikenal sabagai Lidah Paik.
Dalam pajalanan pulang, Si Pahit Lidah manamukan bukik nan tandus, kamudian jo kakuatannyo inyo maubahnyo manjadi padang pasia, inyo juo mangabulkan kainginan pasangan lansia nan nio punyo anak. Salamo pajalanan ka ustano, Si Pahit Lidah lah banyak pabuatan baiak. Pado wakatu inyo tibo di istano, dendamnyo alah tatutuik dek kabaikan nan alah dilakukannyo. Pado akhianyo, inyo minta maaf ka Aria Tebing jo Sitti, bininyo.
=== Mode kaduo ===
Di suatu tanah nan banamo Banding Agung, tingga duo urang prajurit nan bakuaso nan tanamo jo keahlian jo kakuatannyo, nan mambuek mareka dihormati dek musuah-musuahnyo. Mereka adolah Si Pahit Lidah jo Si Mato Ampek, dan mereka bahkan talibaik dalam pasaiangan sangik untuak marabuik gala juara.
Namun, Si Mato Ampek dalam hati, mangaku kuaso sumpah Si Paik Lidah. Inyo taruih marancang strategi untuak mangalahkan Si Paik Lidah satiok inyo mahadok-i Si Pahit Lidah. Si Mato Ampek lalu manantang Si Paik Lidah untuak mampacaliak-an kasaktiannyo. Akhianyo, dek taragak mambuktikan sia nan sabananyo labiah hebat dari kaduonyo, mereka sepakat untuak basobok dan mauji kakuatan mereka.
Tibolah hari nan ditantukan, di tapi Danau Ranau sabagai matoari nan ka tabanam. Si Mato Ampek mamulai jo taktik licik nan hanyo mauntuangkan dirinyo surang. Kaduonyo baganti-ganti barado muko ka bawah di bawah rumpun bungo aren. Sudah tu, salah surang dari mereka akan mamotong bungo aren di ateh. Nan bisa mailak dari pelting bungo jo buah-buahan aren dinyatokan manang dan diakui sabagai juaro nan kuaik. Tapi si Lidah Paik indak tau bahaso iko hanyolah pamainan licik dari Mato Ampek.
Sudah tu, kaduonyo ba-undi manuruik aturan nan lah disapakati. Ampek Mato dapek giliran partamo. Batua jo namonyo, Ampek Mato punyo duo mato lain, ciek di balakang kapalonyo. Sakali di puncak batang sawit di tapi danau, inyo tanang-tanang jongkok di bawah batang tu dan bagageh mamotong buah sawit ka arah Lidah Paik. Kamampuan Mato Ampek adolah mancaliak kama buah tu ka jatuah. Mato di kapalonyo bisa mancaliak bungo sawit nan jatuah tu maleset ka arahnyo. Si Mato Ampek jo mudah mailak dari buah sawit nan jatuah tu. Lidah Paik mambaleh jo buah sawit nan labiah gadang, tapi Mato Ampek jo mudah mailak dari buah nan jatuah tu.
Pado giliran tarakhirnyo, jo kakuatan tarakhirnyo, Lidah Paik mamotong buah sawit nan labiah gadang. Namun, jo kamampuannyo, Ampek Mato copek mailak darinyo. Kecewa, Paik Lidah manurun dari batang kayu. Kini giliran inyo nan mamanjek batang kayu tu. Jo kacapatan kilek, Mato Ampek naiak ka ateh, dan Lidah Paik alah talantang maadok ka bawah di bawah rumpun kayu.
Mato Ampek jo mudah manjatuahan buah sawit tapek di kapalo Lidah Paik. Lidah Paik indak bisa mancaliaknyo datang. Inyo indak bisa mailak. Akhianyo, Lidah Paik mamakiak dek sakik. Buah sawit nan gadang, barek kanai Lidah Paik. Badannyo tatutuik darah, dan inyo maningga sakutiko dan mengerikan.
Si Ampek Mato sanang jo pueh. Inyo lah mambuktikan ka sadonyo urang bahaso inyo labiah bakuaso dari Lidah Paik. Namun, timbua raso ingin tahunyo: baa mangko lawannyo dijuluaki Lidah Paik. Dek karano panasaran, inyo masuakkan jarinyo ka muncuang Lidah Paik nan lah mati tu dan marasoan jarinyo surang, nan alah banoda jo aia liua Lidah Paik. Inyo mangakui raso nan sangaik paik, tapi Ampek Mato indak tahu itu racun nan mamatikan. Inyo langsuang mangaluah sakik, mamacik lihianyo, sampai maningga, hanyo dek sombong jo sombongnyo.
== Pranala luar ==
* https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/mengenal-legenda-si-pahit-lidah/
* http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/287-si-pahit-lidah#:~:text=Si%20Pahit%20Lidah%20adalah%20julukan,oleh%20adik%20iparnya%2C%20Aria%20Tebing.&text=Dahulu%2C%20di%20daerah%20Sumidang%2C%20Sumatra,ada%20seorang%20pangeran%20bernama%20Serunting.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
nyzklu8s9gomyrulz6oe19d49xwwcww
9526
9525
2026-05-10T08:31:41Z
Happywu
26
Happywu mamindahan laman [[Si Pahit Lidah]] ka [[Si Paik Lidah]]: Mengganti judul dengan bahasa Minang
9525
wikitext
text/x-wiki
'''Si Paik Lidah''' adolah carito rakyat nan tanamo dari Sumatera Selatan, Jambi, jo Bengkulu. Ado duo versi nan babeda dari alur cerita "Si Pahit Lidah". Salah satu mode mancaritoan konflik antaro Si Pahit Lidah jo sumandonyo, Aria Tebing. Mode lain mancaritoan patandiangan kakuatan ajaib antaro Si Pahit Lidah jo Si Mata Empat.
== Sinopsis ==
=== Mode partamo ===
Dalam sabuah karajaan tingga surang pangeran nan banamo Serunting. Inyo adolah anak raksasa, nan tanamo jo kakuatan ajaibnyo. Suatu hari, inyo nio manikah jo surang gadih kampuang nan banamo Sitti dan maajaknyo untuak tingga di istano. Namun, gadih kampuang tu punyo adiak laki-laki nan banamo Aria Tebing. Indak tega inyo maninggaan adiaknyo surang di kampuang. Pangeran Serunting akhianyo manawarkan untuak mambaoknyo untuak tingga di istano.
Inyo manulak tawaran tu, karano Aria Tebing labiah suko tingga di kampuang, di mano ado kabebasan jo aturan nan labiah saketek daripado di istano. Akhianyo Sitti jo Aria Tebing sapakaik untuak mambagi tanah pusako masiang-masiang. Untuak maindari sangketo, mereka mambuek palang kayu di sakitar lapangan.
Babarapo hari kamudian, tumbuahlah jamur di ateh kayu tu. Namun, cindawan nan tumbuah di sisi parak Sitti, nan juo punyo Pangeran Serunting, adolah cindawan biaso, sadangkan nan tumbuah di sisi Aria Tebing adolah cindawan ameh. Inyo kamudian manjua, mako inyo manjadi kayo.
Dek bangih dek raso cemburu, Pangeran Serunting marancang strategi jo langsuang maadoki Aria Tebing di sawah. Inyo mangaku baso Aria Tebing lah mambaliak-baliak kayu tu, manyababkan jamur ameh tu tumbuah di sisi kabunnyo. Maraso indak basalah dan alah minta maaf, Aria Tebing tibo-tibo ditantang dek sumandonyo surang. Namun, Aria Tebing manyadari inyo akan kalah dek kakuatan supranatural Pangeran Serunting.
Akhianyo inyo mintak wakatu duo hari untuak bapikia. Aria Tebing diam-diam basobok jo adiak padusinyo, Sitti, untuak mangungkapkan rahasio kakuasoan Pangeran Serunting. Panjang carito singkek, adiak padusinyo mangungkapkan kalamahan Pangeran Serunting, jo syarat Aria Tebing indak mambunuahnyo.
Pado wakatu nan lah ditantukan, kaduonyo bacakak. Sairiang Aria Tebing samakin putuih aso, inyo malancarkan sarangan nan ditujukan kapado kalamahan Pangeran Serunting. Pangeran Serunting langsuang luko parah. Maraso malu jo kalah, inyo lari dari kampuang manjadi pangasingan.
Tibo di suatu tampek tatantu, Pangeran Serunting basobok jo Sang Hyang Mahameru, nan manawarkan untuak maagiahnyo kakuasoan. Sasudah merenung salamo duo tahun, Pangeran Serunting mandapekkan kakuatan bahaso satiok kato nan diucapkannyo akan dikutuak. Inyo kamudian baniaik untuak mambaleh dandam ka Aria Tebing. Inyo mauji kakuatan ajaibnyo pado tungkek buluah, nan lansuang barubah manjadi batu sasudah inyo mangucapkannyo. Dek karano itu, inyo dikenal sabagai Lidah Paik.
Dalam pajalanan pulang, Si Pahit Lidah manamukan bukik nan tandus, kamudian jo kakuatannyo inyo maubahnyo manjadi padang pasia, inyo juo mangabulkan kainginan pasangan lansia nan nio punyo anak. Salamo pajalanan ka ustano, Si Pahit Lidah lah banyak pabuatan baiak. Pado wakatu inyo tibo di istano, dendamnyo alah tatutuik dek kabaikan nan alah dilakukannyo. Pado akhianyo, inyo minta maaf ka Aria Tebing jo Sitti, bininyo.
=== Mode kaduo ===
Di suatu tanah nan banamo Banding Agung, tingga duo urang prajurit nan bakuaso nan tanamo jo keahlian jo kakuatannyo, nan mambuek mareka dihormati dek musuah-musuahnyo. Mereka adolah Si Pahit Lidah jo Si Mato Ampek, dan mereka bahkan talibaik dalam pasaiangan sangik untuak marabuik gala juara.
Namun, Si Mato Ampek dalam hati, mangaku kuaso sumpah Si Paik Lidah. Inyo taruih marancang strategi untuak mangalahkan Si Paik Lidah satiok inyo mahadok-i Si Pahit Lidah. Si Mato Ampek lalu manantang Si Paik Lidah untuak mampacaliak-an kasaktiannyo. Akhianyo, dek taragak mambuktikan sia nan sabananyo labiah hebat dari kaduonyo, mereka sepakat untuak basobok dan mauji kakuatan mereka.
Tibolah hari nan ditantukan, di tapi Danau Ranau sabagai matoari nan ka tabanam. Si Mato Ampek mamulai jo taktik licik nan hanyo mauntuangkan dirinyo surang. Kaduonyo baganti-ganti barado muko ka bawah di bawah rumpun bungo aren. Sudah tu, salah surang dari mereka akan mamotong bungo aren di ateh. Nan bisa mailak dari pelting bungo jo buah-buahan aren dinyatokan manang dan diakui sabagai juaro nan kuaik. Tapi si Lidah Paik indak tau bahaso iko hanyolah pamainan licik dari Mato Ampek.
Sudah tu, kaduonyo ba-undi manuruik aturan nan lah disapakati. Ampek Mato dapek giliran partamo. Batua jo namonyo, Ampek Mato punyo duo mato lain, ciek di balakang kapalonyo. Sakali di puncak batang sawit di tapi danau, inyo tanang-tanang jongkok di bawah batang tu dan bagageh mamotong buah sawit ka arah Lidah Paik. Kamampuan Mato Ampek adolah mancaliak kama buah tu ka jatuah. Mato di kapalonyo bisa mancaliak bungo sawit nan jatuah tu maleset ka arahnyo. Si Mato Ampek jo mudah mailak dari buah sawit nan jatuah tu. Lidah Paik mambaleh jo buah sawit nan labiah gadang, tapi Mato Ampek jo mudah mailak dari buah nan jatuah tu.
Pado giliran tarakhirnyo, jo kakuatan tarakhirnyo, Lidah Paik mamotong buah sawit nan labiah gadang. Namun, jo kamampuannyo, Ampek Mato copek mailak darinyo. Kecewa, Paik Lidah manurun dari batang kayu. Kini giliran inyo nan mamanjek batang kayu tu. Jo kacapatan kilek, Mato Ampek naiak ka ateh, dan Lidah Paik alah talantang maadok ka bawah di bawah rumpun kayu.
Mato Ampek jo mudah manjatuahan buah sawit tapek di kapalo Lidah Paik. Lidah Paik indak bisa mancaliaknyo datang. Inyo indak bisa mailak. Akhianyo, Lidah Paik mamakiak dek sakik. Buah sawit nan gadang, barek kanai Lidah Paik. Badannyo tatutuik darah, dan inyo maningga sakutiko dan mengerikan.
Si Ampek Mato sanang jo pueh. Inyo lah mambuktikan ka sadonyo urang bahaso inyo labiah bakuaso dari Lidah Paik. Namun, timbua raso ingin tahunyo: baa mangko lawannyo dijuluaki Lidah Paik. Dek karano panasaran, inyo masuakkan jarinyo ka muncuang Lidah Paik nan lah mati tu dan marasoan jarinyo surang, nan alah banoda jo aia liua Lidah Paik. Inyo mangakui raso nan sangaik paik, tapi Ampek Mato indak tahu itu racun nan mamatikan. Inyo langsuang mangaluah sakik, mamacik lihianyo, sampai maningga, hanyo dek sombong jo sombongnyo.
== Pranala luar ==
* https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/mengenal-legenda-si-pahit-lidah/
* http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/287-si-pahit-lidah#:~:text=Si%20Pahit%20Lidah%20adalah%20julukan,oleh%20adik%20iparnya%2C%20Aria%20Tebing.&text=Dahulu%2C%20di%20daerah%20Sumidang%2C%20Sumatra,ada%20seorang%20pangeran%20bernama%20Serunting.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
nyzklu8s9gomyrulz6oe19d49xwwcww
9531
9526
2026-05-10T08:48:00Z
Happywu
26
9531
wikitext
text/x-wiki
'''Si Paik Lidah''' adolah carito rakyat nan tanamo dari Sumatera Selatan, Jambi, jo Bengkulu. Ado duo versi nan babeda dari alur cerita "Si Pahit Lidah". Salah satu mode mancaritoan konflik antaro Si Pahit Lidah jo sumandonyo, Aria Tebing. Mode lain mancaritoan patandiangan kakuatan ajaib antaro Si Pahit Lidah jo Si Mata Empat.
== Sinopsis ==
=== Mode partamo ===
Dalam sabuah karajaan tingga surang pangeran nan banamo Serunting. Inyo adolah anak raksasa, nan tanamo jo kakuatan ajaibnyo. Suatu hari, inyo nio manikah jo surang gadih kampuang nan banamo Sitti dan maajaknyo untuak tingga di istano. Namun, gadih kampuang tu punyo adiak laki-laki nan banamo Aria Tebing. Indak tega inyo maninggaan adiaknyo surang di kampuang. Pangeran Serunting akhianyo manawarkan untuak mambaoknyo untuak tingga di istano.
Inyo manulak tawaran tu, karano Aria Tebing labiah suko tingga di kampuang, di mano ado kabebasan jo aturan nan labiah saketek daripado di istano. Akhianyo Sitti jo Aria Tebing sapakaik untuak mambagi tanah pusako masiang-masiang. Untuak maindari sangketo, mereka mambuek palang kayu di sakitar lapangan.
Babarapo hari kamudian, tumbuahlah jamur di ateh kayu tu. Namun, cindawan nan tumbuah di sisi parak Sitti, nan juo punyo Pangeran Serunting, adolah cindawan biaso, sadangkan nan tumbuah di sisi Aria Tebing adolah cindawan ameh. Inyo kamudian manjua, mako inyo manjadi kayo.
Dek bangih dek raso cemburu, Pangeran Serunting marancang strategi jo langsuang maadoki Aria Tebing di sawah. Inyo mangaku baso Aria Tebing lah mambaliak-baliak kayu tu, manyababkan jamur ameh tu tumbuah di sisi kabunnyo. Maraso indak basalah dan alah minta maaf, Aria Tebing tibo-tibo ditantang dek sumandonyo surang. Namun, Aria Tebing manyadari inyo akan kalah dek kakuatan supranatural Pangeran Serunting.
Akhianyo inyo mintak wakatu duo hari untuak bapikia. Aria Tebing diam-diam basobok jo adiak padusinyo, Sitti, untuak mangungkapkan rahasio kakuasoan Pangeran Serunting. Panjang carito singkek, adiak padusinyo mangungkapkan kalamahan Pangeran Serunting, jo syarat Aria Tebing indak mambunuahnyo.
Pado wakatu nan lah ditantukan, kaduonyo bacakak. Sairiang Aria Tebing samakin putuih aso, inyo malancarkan sarangan nan ditujukan kapado kalamahan Pangeran Serunting. Pangeran Serunting langsuang luko parah. Maraso malu jo kalah, inyo lari dari kampuang manjadi pangasingan.
Tibo di suatu tampek tatantu, Pangeran Serunting basobok jo Sang Hyang Mahameru, nan manawarkan untuak maagiahnyo kakuasoan. Sasudah merenung salamo duo tahun, Pangeran Serunting mandapekkan kakuatan bahaso satiok kato nan diucapkannyo akan dikutuak. Inyo kamudian baniaik untuak mambaleh dandam ka Aria Tebing. Inyo mauji kakuatan ajaibnyo pado tungkek buluah, nan lansuang barubah manjadi batu sasudah inyo mangucapkannyo. Dek karano itu, inyo dikenal sabagai Lidah Paik.
Dalam pajalanan pulang, Si Pahit Lidah manamukan bukik nan tandus, kamudian jo kakuatannyo inyo maubahnyo manjadi padang pasia, inyo juo mangabulkan kainginan pasangan lansia nan nio punyo anak. Salamo pajalanan ka ustano, Si Pahit Lidah lah banyak pabuatan baiak. Pado wakatu inyo tibo di istano, dendamnyo alah tatutuik dek kabaikan nan alah dilakukannyo. Pado akhianyo, inyo minta maaf ka Aria Tebing jo Sitti, bininyo.
=== Mode kaduo ===
Di suatu tanah nan banamo Banding Agung, tingga duo urang prajurit nan bakuaso nan tanamo jo keahlian jo kakuatannyo, nan mambuek mareka dihormati dek musuah-musuahnyo. Mereka adolah Si Pahit Lidah jo Si Mato Ampek, dan mereka bahkan talibaik dalam pasaiangan sangik untuak marabuik gala juara.
Namun, Si Mato Ampek dalam hati, mangaku kuaso sumpah Si Paik Lidah. Inyo taruih marancang strategi untuak mangalahkan Si Paik Lidah satiok inyo mahadok-i Si Pahit Lidah. Si Mato Ampek lalu manantang Si Paik Lidah untuak mampacaliak-an kasaktiannyo. Akhianyo, dek taragak mambuktikan sia nan sabananyo labiah hebat dari kaduonyo, mereka sepakat untuak basobok dan mauji kakuatan mereka.
Tibolah hari nan ditantukan, di tapi Danau Ranau sabagai matoari nan ka tabanam. Si Mato Ampek mamulai jo taktik licik nan hanyo mauntuangkan dirinyo surang. Kaduonyo baganti-ganti barado muko ka bawah di bawah rumpun bungo aren. Sudah tu, salah surang dari mereka akan mamotong bungo aren di ateh. Nan bisa mailak dari pelting bungo jo buah-buahan aren dinyatokan manang dan diakui sabagai juaro nan kuaik. Tapi si Lidah Paik indak tau bahaso iko hanyolah pamainan licik dari Mato Ampek.
Sudah tu, kaduonyo ba-undi manuruik aturan nan lah disapakati. Ampek Mato dapek giliran partamo. Batua jo namonyo, Ampek Mato punyo duo mato lain, ciek di balakang kapalonyo. Sakali di puncak batang sawit di tapi danau, inyo tanang-tanang jongkok di bawah batang tu dan bagageh mamotong buah sawit ka arah Lidah Paik. Kamampuan Mato Ampek adolah mancaliak kama buah tu ka jatuah. Mato di kapalonyo bisa mancaliak bungo sawit nan jatuah tu maleset ka arahnyo. Si Mato Ampek jo mudah mailak dari buah sawit nan jatuah tu. Lidah Paik mambaleh jo buah sawit nan labiah gadang, tapi Mato Ampek jo mudah mailak dari buah nan jatuah tu.
Pado giliran tarakhirnyo, jo kakuatan tarakhirnyo, Lidah Paik mamotong buah sawit nan labiah gadang. Namun, jo kamampuannyo, Ampek Mato copek mailak darinyo. Kecewa, Paik Lidah manurun dari batang kayu. Kini giliran inyo nan mamanjek batang kayu tu. Jo kacapatan kilek, Mato Ampek naiak ka ateh, dan Lidah Paik alah talantang maadok ka bawah di bawah rumpun kayu.
Mato Ampek jo mudah manjatuahan buah sawit tapek di kapalo Lidah Paik. Lidah Paik indak bisa mancaliaknyo datang. Inyo indak bisa mailak. Akhianyo, Lidah Paik mamakiak dek sakik. Buah sawit nan gadang, barek kanai Lidah Paik. Badannyo tatutuik darah, dan inyo maningga sakutiko dan mengerikan.
Si Ampek Mato sanang jo pueh. Inyo lah mambuktikan ka sadonyo urang bahaso inyo labiah bakuaso dari Lidah Paik. Namun, timbua raso ingin tahunyo: baa mangko lawannyo dijuluaki Lidah Paik. Dek karano panasaran, inyo masuakkan jarinyo ka muncuang Lidah Paik nan lah mati tu dan marasoan jarinyo surang, nan alah banoda jo aia liua Lidah Paik. Inyo mangakui raso nan sangaik paik, tapi Ampek Mato indak tahu itu racun nan mamatikan. Inyo langsuang mangaluah sakik, mamacik lihianyo, sampai maningga, hanyo dek kaangkuahan jo sombongnyo.
== Pranala luar ==
* https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjambi/mengenal-legenda-si-pahit-lidah/
* http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/287-si-pahit-lidah#:~:text=Si%20Pahit%20Lidah%20adalah%20julukan,oleh%20adik%20iparnya%2C%20Aria%20Tebing.&text=Dahulu%2C%20di%20daerah%20Sumidang%2C%20Sumatra,ada%20seorang%20pangeran%20bernama%20Serunting.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
ahx4wdjyv4ldfx1c12b2ho9x4i3rkfs
Putri Reno Pinang Masak
0
2132
9516
2026-05-10T08:16:34Z
Mery Nurfa Dilla
88
←Mambuek laman baisi "Pado maso saisuak, di sabuah daerah nan banamo Mayang, ado sabuah karajaan nan banamo Limbungan. Karajaan ko dipimpin dek saurang ratu, Putri Reno Pinang Masak. Baliau dibantu dek tigo urang panglimo nan dipicayonyo untuak mamimpin karajaan, yaitu; Hulubalang I, Datuk Raja Penghulu nan tasabuik sabagai urang arif bijaksano; Hulubalang II, Datuk Mandanga Buku nan dapek maramal kajadian maso datang malalui buku nan dimilikinyo; jo Hulubalang III, Datuk Mangun nan manj..."
9516
wikitext
text/x-wiki
Pado maso saisuak, di sabuah daerah nan banamo Mayang, ado sabuah karajaan nan banamo Limbungan. Karajaan ko dipimpin dek saurang ratu, Putri Reno Pinang Masak. Baliau dibantu dek tigo urang panglimo nan dipicayonyo untuak mamimpin karajaan, yaitu; Hulubalang I, Datuk Raja Penghulu nan tasabuik sabagai urang arif bijaksano; Hulubalang II, Datuk Mandanga Buku nan dapek maramal kajadian maso datang malalui buku nan dimilikinyo; jo Hulubalang III, Datuk Mangun nan manjabat sabagai panglimo parang karajaan.
Putri Reno Pinang Masak salalu dihormati dek kaumnyo karano parangainyo nan mulia, kabijaksanaan, jo kapamimpinannyo nan bijaksana, nan mambuek karajaan ko manjadi wilayah nan aman jo makmur. Inyo juo tanamo jo kacantikannyo. Banyak rajo-rajo nan lah datang ka Kerajaan Limbungan jo niaik untuak manikahi ratu. Namun, indak surang juo nan berhasil malamarnyo. Rancaknyo malah sampai ka tahta Rajo Jawa. Sudah tu, Rajo Jawa mangirim utusan untuak malamar Putri. Namun, usulan itu ditulak, sangaik manyingguang Rajo Jawa. Inyo kamudian batekad untuak manikahi Putri Reno Pinang Masak jo caro apopun nan diparaluan. Mandanga kaba ko, Putri Reno Pinang Masak bangih, karano inyo mamandang tindakan Rajo Jawa ko sabagai ancaman kapado kadaulatan nagarinyo.
Suatu hari, ratu maimbau katigo panglimo tu dan mangumpuakan sagalo panduduak karajaannyo. Mareka marancang strategi maadoki Rajo Jawa. Akhianyo, sapakaiklah mereka untuak manggali talang Gadang jo duri samak nan runciang. Alang-alang tu ditanam balapis-lapis sabagai benteng partahanan. Jadi caliak sajo di pintu masuak, didalam pasukan Hulubalang III lah siaga. Indak lamo sasudah itu, Rajo Jawa jo pasukannyo pacah di jantuang Karajaan Limbungan. Mareka lalu malalui pintu gerbang, nan disarang dek Hulubalang Datuk Mangun jo anak buahnyo, pakai parang.
Pasukan Rajo Jawa indak dapek manembus patahanan Datuk Mangun, diiriangi dek tantaranyo nan gagah jo panduduak Limbungan, mamaso mareka mundur. Rajo Jawa kamudian marancang strategi: inyo manembakkan ribuan pitih receh ka satiok lapisan buluah, manyababkan pitih receh tu takumpua di celah-celah antaro batang buluah nan baduri. Strategi iko dimukasuikkan untuak mangicuah Ratu jo pasukannyo.
Suatu hari, surang warga Limbungan, nan lalu di dakek paga buluah, indak sangajo manamukan tumpukan pitih receh di sapanjang benteng-benteng. Mancaliak pitih nan banyak tu, inyo mamutuihkan untuak maagiah tahu Ratu di istano jo caro maambiak babarapo pitih receh. Kajadian iko mandorong Ratu jo pasukannyo untuak maambiak pitih receh nan batumpuak di antaro kabun buluah. Untuak labiah mudah maambiaknyo, batang buluah ditebang dan pitih receh nan banyak tu diangkuik ka istano. Pado wakatu nan samo, tibo-tibo Rajo Jawa jo pasukannyo manyarang. Karano benteng-benteng itu indak ado lai, pasukan Jawa jo mudah masuak ka karajaan Limbungan. Tantara jo urang Limbungan indak mampu manahan sarangan tibo-tibo tu. Putri Reno Pinang Masak manyadari kasalahannyo dan sangaik manyasa jo tindakannyo. Akhianyo Karajaan Limbungan ditaklukkan dek Rajo Jawa, tapi inyo indak dapek kawin jo Putti Reno Pinang Masak karano ratunyo alah labiah dahulu lapeh.
6ftykag6tdv2bf9ixxrvnkk54lobbmz
9517
9516
2026-05-10T08:19:17Z
Mery Nurfa Dilla
88
9517
wikitext
text/x-wiki
Pado maso saisuak, di sabuah daerah nan banamo Mayang, ado sabuah karajaan nan banamo Limbungan. Karajaan ko dipimpin dek saurang ratu, Putri Reno Pinang Masak. Baliau dibantu dek tigo urang panglimo nan dipicayonyo untuak mamimpin karajaan, yaitu; Hulubalang I, Datuk Raja Penghulu nan tasabuik sabagai urang arif bijaksano; Hulubalang II, Datuk Mandanga Buku nan dapek maramal kajadian maso datang malalui buku nan dimilikinyo; jo Hulubalang III, Datuk Mangun nan manjabat sabagai panglimo parang karajaan.
Putri Reno Pinang Masak salalu dihormati dek kaumnyo karano parangainyo nan mulia, kabijaksanaan, jo kapamimpinannyo nan bijaksana, nan mambuek karajaan ko manjadi wilayah nan aman jo makmur. Inyo juo tanamo jo kacantikannyo. Banyak rajo-rajo nan lah datang ka Kerajaan Limbungan jo niaik untuak manikahi ratu. Namun, indak surang juo nan berhasil malamarnyo. Rancaknyo malah sampai ka tahta Rajo Jawa. Sudah tu, Rajo Jawa mangirim utusan untuak malamar Putri. Namun, usulan itu ditulak, sangaik manyingguang Rajo Jawa. Inyo kamudian batekad untuak manikahi Putri Reno Pinang Masak jo caro apopun nan diparaluan. Mandanga kaba ko, Putri Reno Pinang Masak bangih, karano inyo mamandang tindakan Rajo Jawa ko sabagai ancaman kapado kadaulatan nagarinyo.
Suatu hari, ratu maimbau katigo panglimo tu dan mangumpuakan sagalo panduduak karajaannyo. Mareka marancang strategi maadoki Rajo Jawa. Akhianyo, sapakaiklah mereka untuak manggali talang Gadang jo duri samak nan runciang. Alang-alang tu ditanam balapis-lapis sabagai benteng partahanan. Jadi caliak sajo di pintu masuak, didalam pasukan Hulubalang III lah siaga. Indak lamo sasudah itu, Rajo Jawa jo pasukannyo pacah di jantuang Karajaan Limbungan. Mareka lalu malalui pintu gerbang, nan disarang dek Hulubalang Datuk Mangun jo anak buahnyo, pakai parang.
Pasukan Rajo Jawa indak dapek manembus patahanan Datuk Mangun, diiriangi dek tantaranyo nan gagah jo panduduak Limbungan, mamaso mareka mundur. Rajo Jawa kamudian marancang strategi: inyo manembakkan ribuan pitih receh ka satiok lapisan buluah, manyababkan pitih receh tu takumpua di celah-celah antaro batang buluah nan baduri. Strategi iko dimukasuikkan untuak mangicuah Ratu jo pasukannyo.
Suatu hari, surang warga Limbungan, nan lalu di dakek paga buluah, indak sangajo manamukan tumpukan pitih receh di sapanjang benteng-benteng. Mancaliak pitih nan banyak tu, inyo mamutuihkan untuak maagiah tahu Ratu di istano jo caro maambiak babarapo pitih receh. Kajadian iko mandorong Ratu jo pasukannyo untuak maambiak pitih receh nan batumpuak di antaro kabun buluah. Untuak labiah mudah maambiaknyo, batang buluah ditebang dan pitih receh nan banyak tu diangkuik ka istano. Pado wakatu nan samo, tibo-tibo Rajo Jawa jo pasukannyo manyarang. Karano benteng-benteng itu indak ado lai, pasukan Jawa jo mudah masuak ka karajaan Limbungan. Tantara jo urang Limbungan indak mampu manahan sarangan tibo-tibo tu. Putri Reno Pinang Masak manyadari kasalahannyo dan sangaik manyasa jo tindakannyo. Akhianyo Karajaan Limbungan ditaklukkan dek Rajo Jawa, tapi inyo indak dapek kawin jo Putti Reno Pinang Masak karano ratunyo alah labiah dahulu lapeh.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
dsvik2z138lqxq5mam4s5ub8g6o1efi
9528
9517
2026-05-10T08:31:49Z
Mery Nurfa Dilla
88
9528
wikitext
text/x-wiki
Pado maso saisuak, di sabuah daerah nan banamo Mayang, ado sabuah karajaan nan banamo Limbungan. Karajaan ko dipimpin dek saurang ratu, Putri Reno Pinang Masak. Baliau dibantu dek tigo urang panglimo nan dipicayonyo untuak mamimpin karajaan, yaitu; Hulubalang I, Datuk Raja Penghulu nan tasabuik sabagai urang arif bijaksano; Hulubalang II, Datuk Mandanga Buku nan dapek maramal kajadian maso datang malalui buku nan dimilikinyo; jo Hulubalang III, Datuk Mangun nan manjabaik sabagai panglimo parang karajaan.
Putri Reno Pinang Masak salalu dihormati dek kaumnyo karano parangainyo nan mulia, kabijaksanaan, jo kapamimpinannyo nan bijaksana, nan mambuek karajaan ko manjadi wilayah nan aman jo makmur. Inyo juo tanamo jo kacantikannyo. Banyak rajo-rajo nan lah datang ka Kerajaan Limbungan jo niaik untuak manikahi ratu. Namun, indak surang juo nan berhasil malamarnyo. Rancaknyo malah sampai ka tahta Rajo Jawa. Sudah tu, Rajo Jawa mangirim utusan untuak malamar Putri. Namun, usulan itu ditulak, sangaik manyingguang Rajo Jawa. Inyo kamudian batekaik untuak manikahi Putri Reno Pinang Masak jo caro apopun nan diparaluan. Mandanga kaba ko, Putri Reno Pinang Masak bangih, karano inyo mamandang tindakan Rajo Jawa ko sabagai ancaman kapado kadaulatan nagarinyo.
Suatu hari, ratu maimbau katigo panglimo tu dan mangumpuakan sagalo panduduak karajaannyo. Mareka marancang strategi maadoki Rajo Jawa. Akhianyo, sapakaiklah mereka untuak manggali talang Gadang jo duri samak nan runciang. Alang-alang tu ditanam balapih-lapih sabagai benteng patahanan. Jadi caliak sajo di pintu masuak, didalam pasukan Hulubalang III lah siago. Indak lamo sasudah itu, Rajo Jawa jo pasukannyo pacah di jantuang Karajaan Limbungan. Mareka lalu malalui pintu gerbang, nan disarang dek Hulubalang Datuk Mangun jo anak buahnyo, pakai parang.
Pasukan Rajo Jawa indak dapek manambuih patahanan Datuk Mangun, diiriangi dek tantaranyo nan gagah jo panduduak Limbungan, mamaso mareka mundur. Rajo Jawa kamudian marancang strategi: inyo manembakkan ribuan pitih receh ka satiok lapisan buluah, manyababkan pitih receh tu takumpua di celah-celah antaro batang buluah nan baduri. Strategi iko dimukasuikkan untuak mangicuah Ratu jo pasukannyo.
Suatu hari, surang warga Limbungan, nan lalu di dakek paga buluah, indak sangajo manamukan tumpukan pitih receh di sapanjang benteng-benteng. Mancaliak pitih nan banyak tu, inyo mamutuihkan untuak maagiah tahu Ratu di istano jo caro maambiak babarapo pitih receh. Kajadian iko mandorong Ratu jo pasukannyo untuak maambiak pitih receh nan batumpuak di antaro kabun buluah. Untuak labiah mudah maambiaknyo, batang buluah ditebang dan pitih receh nan banyak tu diangkuik ka istano. Pado wakatu nan samo, tibo-tibo Rajo Jawa jo pasukannyo manyarang. Karano benteng-benteng itu indak ado lai, pasukan Jawa jo mudah masuak ka karajaan Limbungan. Tantara jo urang Limbungan indak mampu manahan sarangan tibo-tibo tu. Putri Reno Pinang Masak manyadari kasalahannyo dan sangaik manyasa jo tindakannyo. Akhianyo Karajaan Limbungan ditaklukkan dek Rajo Jawa, tapi inyo indak dapek kawin jo Putti Reno Pinang Masak karano ratunyo alah labiah dahulu lapeh.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
o8fv5r54zdpygwfv5zdsgkaug4hv9sw
9530
9528
2026-05-10T08:34:58Z
Mery Nurfa Dilla
88
9530
wikitext
text/x-wiki
'''Putri Reno Pinang''' '''Masak''' adolah sabuah carito rakyaik nan carito ko bamulai di sabuah daerah nan banamo Mayang, ado sabuah karajaan nan banamo Limbungan. Karajaan ko dipimpin dek saurang ratu, Putri Reno Pinang Masak. Baliau dibantu dek tigo urang panglimo nan dipicayonyo untuak mamimpin karajaan, yaitu; Hulubalang I, Datuk Raja Penghulu nan tasabuik sabagai urang arif bijaksano; Hulubalang II, Datuk Mandanga Buku nan dapek maramal kajadian maso datang malalui buku nan dimilikinyo; jo Hulubalang III, Datuk Mangun nan manjabaik sabagai panglimo parang karajaan.
Putri Reno Pinang Masak salalu dihormati dek kaumnyo karano parangainyo nan mulia, kabijaksanaan, jo kapamimpinannyo nan bijaksana, nan mambuek karajaan ko manjadi wilayah nan aman jo makmur. Inyo juo tanamo jo kacantikannyo. Banyak rajo-rajo nan lah datang ka Kerajaan Limbungan jo niaik untuak manikahi ratu. Namun, indak surang juo nan berhasil malamarnyo. Rancaknyo malah sampai ka tahta Rajo Jawa. Sudah tu, Rajo Jawa mangirim utusan untuak malamar Putri. Namun, usulan itu ditulak, sangaik manyingguang Rajo Jawa. Inyo kamudian batekaik untuak manikahi Putri Reno Pinang Masak jo caro apopun nan diparaluan. Mandanga kaba ko, Putri Reno Pinang Masak bangih, karano inyo mamandang tindakan Rajo Jawa ko sabagai ancaman kapado kadaulatan nagarinyo.
Suatu hari, ratu maimbau katigo panglimo tu dan mangumpuakan sagalo panduduak karajaannyo. Mareka marancang strategi maadoki Rajo Jawa. Akhianyo, sapakaiklah mereka untuak manggali talang Gadang jo duri samak nan runciang. Alang-alang tu ditanam balapih-lapih sabagai benteng patahanan. Jadi caliak sajo di pintu masuak, didalam pasukan Hulubalang III lah siago. Indak lamo sasudah itu, Rajo Jawa jo pasukannyo pacah di jantuang Karajaan Limbungan. Mareka lalu malalui pintu gerbang, nan disarang dek Hulubalang Datuk Mangun jo anak buahnyo, pakai parang.
Pasukan Rajo Jawa indak dapek manambuih patahanan Datuk Mangun, diiriangi dek tantaranyo nan gagah jo panduduak Limbungan, mamaso mareka mundur. Rajo Jawa kamudian marancang strategi: inyo manembakkan ribuan pitih receh ka satiok lapisan buluah, manyababkan pitih receh tu takumpua di celah-celah antaro batang buluah nan baduri. Strategi iko dimukasuikkan untuak mangicuah Ratu jo pasukannyo.
Suatu hari, surang warga Limbungan, nan lalu di dakek paga buluah, indak sangajo manamukan tumpukan pitih receh di sapanjang benteng-benteng. Mancaliak pitih nan banyak tu, inyo mamutuihkan untuak maagiah tahu Ratu di istano jo caro maambiak babarapo pitih receh. Kajadian iko mandorong Ratu jo pasukannyo untuak maambiak pitih receh nan batumpuak di antaro kabun buluah. Untuak labiah mudah maambiaknyo, batang buluah ditebang dan pitih receh nan banyak tu diangkuik ka istano. Pado wakatu nan samo, tibo-tibo Rajo Jawa jo pasukannyo manyarang. Karano benteng-benteng itu indak ado lai, pasukan Jawa jo mudah masuak ka karajaan Limbungan. Tantara jo urang Limbungan indak mampu manahan sarangan tibo-tibo tu. Putri Reno Pinang Masak manyadari kasalahannyo dan sangaik manyasa jo tindakannyo. Akhianyo Karajaan Limbungan ditaklukkan dek Rajo Jawa, tapi inyo indak dapek kawin jo Putti Reno Pinang Masak karano ratunyo alah labiah dahulu lapeh.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
6n5y74o35encvapsvqqws1295spcbwy
Asal-Usul Danau Limboto
0
2133
9518
2026-05-10T08:19:39Z
Zhilal Darma
23
←Mambuek laman baisi "'''Asal-Usul Danau Limboto''' adolah carita rakyat dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo tantang tajadinyo Danau Limboto nan tadapek di kabupaten tasabuik. == Sinopsis == Pado maso dulunyo daerah Limboto atau Limutu masih tatutuik dek lauik nan laweh. Lauik ko ditandoi ded adonyo duo gunuang, nan manandoi juo arah mato angina. Gunuang Boliohuto di sabalah barat jo Gunuang Tilongkabila di sabalah timur. Sasudah basalang waktu nan lamo, lauik pun suruik, mam..."
9518
wikitext
text/x-wiki
'''Asal-Usul Danau Limboto''' adolah carita rakyat dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo tantang tajadinyo Danau Limboto nan tadapek di kabupaten tasabuik.
== Sinopsis ==
Pado maso dulunyo daerah Limboto atau Limutu masih tatutuik dek lauik nan laweh. Lauik ko ditandoi ded adonyo duo gunuang, nan manandoi juo arah mato angina. Gunuang Boliohuto di sabalah barat jo Gunuang Tilongkabila di sabalah timur.
Sasudah basalang waktu nan lamo, lauik pun suruik, mambukak hamparan daratan nan laweh. Lamo-lamo, tanah ko manjadi rimbo labek nan jarang dituruik urang. Di dalamnyo, ado muncua babarapo mato aia. Salah satu mato aia, nan dijuluki jo Mato Aia Tupalo, marupokan mato aia nan janiah sarupo kristal. Tujuah bidadari acok turun dari langik untuak mandi jo bamain aia disinan.
Pado suatu maso, katiko para bidadari sadang mandi di mato aia itu, ado surang kilaki banamo Jilumoto liwaik. Jilumoto dalam bahaso satampek bararti 'nan manjelma ka dunia'. Inyo mangintip bidadari mandi dari baliak batang kayu gadang. Kamudian, talinteh di pikirannyo untuak mancilok salah satu sayok bidarari nan dliatakkan di sabuah batu gadang supayo si pamilik sayok indak bisa kambali ka kayangan dan Jilumoto dapek manikahinyo. Jilumoto pun bisa mancilok salah satu sayok bidarari dan kamudian manyuruak.
Pado siang ari, bidadari salasai mandi dan pai maambiak sayoknyo. Sayangnyo, nan paliang tuo di antaronyo banamo, Mbu'i Bungale, indak dapek manamukan sayoknyo, walaupun alah mancari-cari di saluruah tampek. Dek ari alah kalam, anam bidadari nan lain tapaso babaliak ka kayangan, maninggaan Mbu'i Bungale surang di mato aia tasabuik. Jilumoto kalua dari pasambunyian kamudian basobok jo Mbu’i Bungale nan sadang sadiah. Inyo mintak padusi tu manikah jo inyo, dan padusi tu manarimo.
Beberapa hari kemudian, sebuah kafilah dari timur yang terdiri dari empat orang beristirahat di Mati Air Tupalo. Salah seorang dari mereka melihat sebuah tudung tergeletak di dekat situ. Saat mencoba menyentuh tudung itu, tiba-tiba muncul angin kencang dan turun hujan deras. Mereka pun lari mencari tempat berlindung. Peristiwa itu tidak berlangsung lama dan mereka kembali ke tempat tudung tadi. Kali ini, sebelum menyentuh tudung itu, mereka meludahinya dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar tidak timbul bahaya. Tudung pun berhasil diambil, namun mereka terkejut ada mustika di baliknya.
Sasudah barumahtanggo, inyo mancari tanah untuak bacocok tanam. Akhianyo sampailah mereka di sabuah bukik nan indak jauah dari mato aia dan mambuek rumah di atehnyo. Mareka maagiah namo bukik tu Huntu lo Ti'opo, atau Bukik Kapeh.
Pado suatu ari, Mbu'i Bungale mandapek kiriman dari kayangan: benda suci nan banamo Bimelula, babantuak sarupo talua itiak. Inyo malatakkan benda tu dakek Mato Aia Tupalo dan manutuiknyo jo tolu, atau tuduang.
Babarapo hari kamudian, sabuah kafilah dari arah timur, tadiri dari ampek urang, istirahat di Mato Aia Tupalo. Salah surang mancaliak tuduang nan talatak didakeknyo. Katiko mancubo manyantuah tuduang tu, tibo-tibo muncua angin kancang jo hujan labek turun. Inyo lari mancari tampek balinduang. Paristiwa itu indak balangsuang lamo, dan mereka babaliak ka tuduang tadi. Kali ko, sabalun manyantuah tuduang, inyo maludahinyo siriah nan alah diagiah monto untuak mancegah bahayo.
l9zy7n1m8fuotge8726mirjgunxl1oe
9520
9518
2026-05-10T08:23:58Z
Zhilal Darma
23
9520
wikitext
text/x-wiki
'''Asal-Usul Danau Limboto''' adolah carita rakyat dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo tantang tajadinyo Danau Limboto nan tadapek di kabupaten tasabuik.
== Sinopsis ==
Pado maso dulunyo daerah Limboto atau Limutu masih tatutuik dek lauik nan laweh. Lauik ko ditandoi ded adonyo duo gunuang, nan manandoi juo arah mato angina. Gunuang Boliohuto di sabalah barat jo Gunuang Tilongkabila di sabalah timur.
Sasudah basalang waktu nan lamo, lauik pun suruik, mambukak hamparan daratan nan laweh. Lamo-lamo, tanah ko manjadi rimbo labek nan jarang dituruik urang. Di dalamnyo, ado muncua babarapo mato aia. Salah satu mato aia, nan dijuluki jo Mato Aia Tupalo, marupokan mato aia nan janiah sarupo kristal. Tujuah bidadari acok turun dari langik untuak mandi jo bamain aia disinan.
Pado suatu maso, katiko para bidadari sadang mandi di mato aia itu, ado surang kilaki banamo Jilumoto liwaik. Jilumoto dalam bahaso satampek bararti 'nan manjelma ka dunia'. Inyo mangintip bidadari mandi dari baliak batang kayu gadang. Kamudian, talinteh di pikirannyo untuak mancilok salah satu sayok bidarari nan dliatakkan di sabuah batu gadang supayo si pamilik sayok indak bisa kambali ka kayangan dan Jilumoto dapek manikahinyo. Jilumoto pun bisa mancilok salah satu sayok bidarari dan kamudian manyuruak.
Pado siang ari, bidadari salasai mandi dan pai maambiak sayoknyo. Sayangnyo, nan paliang tuo di antaronyo banamo, Mbu'i Bungale, indak dapek manamukan sayoknyo, walaupun alah mancari-cari di saluruah tampek. Dek ari alah kalam, anam bidadari nan lain tapaso babaliak ka kayangan, maninggaan Mbu'i Bungale surang di mato aia tasabuik. Jilumoto kalua dari pasambunyian kamudian basobok jo Mbu’i Bungale nan sadang sadiah. Inyo mintak padusi tu manikah jo inyo, dan padusi tu manarimo.
Beberapa hari kemudian, sebuah kafilah dari timur yang terdiri dari empat orang beristirahat di Mati Air Tupalo. Salah seorang dari mereka melihat sebuah tudung tergeletak di dekat situ. Saat mencoba menyentuh tudung itu, tiba-tiba muncul angin kencang dan turun hujan deras. Mereka pun lari mencari tempat berlindung. Peristiwa itu tidak berlangsung lama dan mereka kembali ke tempat tudung tadi. Kali ini, sebelum menyentuh tudung itu, mereka meludahinya dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar tidak timbul bahaya. Tudung pun berhasil diambil, namun mereka terkejut ada mustika di baliknya.
Sasudah barumahtanggo, inyo mancari tanah untuak bacocok tanam. Akhianyo sampailah mereka di sabuah bukik nan indak jauah dari mato aia dan mambuek rumah di atehnyo. Mareka maagiah namo bukik tu Huntu lo Ti'opo, atau Bukik Kapeh.
Pado suatu ari, Mbu'i Bungale mandapek kiriman dari kayangan: benda suci nan banamo Bimelula, babantuak sarupo talua itiak. Inyo malatakkan benda tu dakek Mato Aia Tupalo dan manutuiknyo jo tolu, atau tuduang.
Babarapo hari kamudian, sabuah kafilah dari arah timur, tadiri dari ampek urang, istirahat di Mato Aia Tupalo. Salah surang mancaliak tuduang nan talatak didakeknyo. Katiko mancubo manyantuah tuduang tu, tibo-tibo muncua angin kancang jo hujan labek turun. Inyo lari mancari tampek balinduang. Paristiwa itu indak balangsuang lamo, dan mereka babaliak ka tuduang tadi. Kali ko, sabalun manyantuah tuduang, inyo maludahinyo siriah nan alah diagiah monto untuak mancegah bahayo.
4wfxvcebjuh7ei24y4qaf38e55ffuc3
9521
9520
2026-05-10T08:24:33Z
Zhilal Darma
23
added [[Category:Carito Rakyat]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
9521
wikitext
text/x-wiki
'''Asal-Usul Danau Limboto''' adolah carita rakyat dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo tantang tajadinyo Danau Limboto nan tadapek di kabupaten tasabuik.
== Sinopsis ==
Pado maso dulunyo daerah Limboto atau Limutu masih tatutuik dek lauik nan laweh. Lauik ko ditandoi ded adonyo duo gunuang, nan manandoi juo arah mato angina. Gunuang Boliohuto di sabalah barat jo Gunuang Tilongkabila di sabalah timur.
Sasudah basalang waktu nan lamo, lauik pun suruik, mambukak hamparan daratan nan laweh. Lamo-lamo, tanah ko manjadi rimbo labek nan jarang dituruik urang. Di dalamnyo, ado muncua babarapo mato aia. Salah satu mato aia, nan dijuluki jo Mato Aia Tupalo, marupokan mato aia nan janiah sarupo kristal. Tujuah bidadari acok turun dari langik untuak mandi jo bamain aia disinan.
Pado suatu maso, katiko para bidadari sadang mandi di mato aia itu, ado surang kilaki banamo Jilumoto liwaik. Jilumoto dalam bahaso satampek bararti 'nan manjelma ka dunia'. Inyo mangintip bidadari mandi dari baliak batang kayu gadang. Kamudian, talinteh di pikirannyo untuak mancilok salah satu sayok bidarari nan dliatakkan di sabuah batu gadang supayo si pamilik sayok indak bisa kambali ka kayangan dan Jilumoto dapek manikahinyo. Jilumoto pun bisa mancilok salah satu sayok bidarari dan kamudian manyuruak.
Pado siang ari, bidadari salasai mandi dan pai maambiak sayoknyo. Sayangnyo, nan paliang tuo di antaronyo banamo, Mbu'i Bungale, indak dapek manamukan sayoknyo, walaupun alah mancari-cari di saluruah tampek. Dek ari alah kalam, anam bidadari nan lain tapaso babaliak ka kayangan, maninggaan Mbu'i Bungale surang di mato aia tasabuik. Jilumoto kalua dari pasambunyian kamudian basobok jo Mbu’i Bungale nan sadang sadiah. Inyo mintak padusi tu manikah jo inyo, dan padusi tu manarimo.
Beberapa hari kemudian, sebuah kafilah dari timur yang terdiri dari empat orang beristirahat di Mati Air Tupalo. Salah seorang dari mereka melihat sebuah tudung tergeletak di dekat situ. Saat mencoba menyentuh tudung itu, tiba-tiba muncul angin kencang dan turun hujan deras. Mereka pun lari mencari tempat berlindung. Peristiwa itu tidak berlangsung lama dan mereka kembali ke tempat tudung tadi. Kali ini, sebelum menyentuh tudung itu, mereka meludahinya dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar tidak timbul bahaya. Tudung pun berhasil diambil, namun mereka terkejut ada mustika di baliknya.
Sasudah barumahtanggo, inyo mancari tanah untuak bacocok tanam. Akhianyo sampailah mereka di sabuah bukik nan indak jauah dari mato aia dan mambuek rumah di atehnyo. Mareka maagiah namo bukik tu Huntu lo Ti'opo, atau Bukik Kapeh.
Pado suatu ari, Mbu'i Bungale mandapek kiriman dari kayangan: benda suci nan banamo Bimelula, babantuak sarupo talua itiak. Inyo malatakkan benda tu dakek Mato Aia Tupalo dan manutuiknyo jo tolu, atau tuduang.
Babarapo hari kamudian, sabuah kafilah dari arah timur, tadiri dari ampek urang, istirahat di Mato Aia Tupalo. Salah surang mancaliak tuduang nan talatak didakeknyo. Katiko mancubo manyantuah tuduang tu, tibo-tibo muncua angin kancang jo hujan labek turun. Inyo lari mancari tampek balinduang. Paristiwa itu indak balangsuang lamo, dan mereka babaliak ka tuduang tadi. Kali ko, sabalun manyantuah tuduang, inyo maludahinyo siriah nan alah diagiah monto untuak mancegah bahayo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
i8kyuf4llpmqm2i92nkir6mmd6t756p
9523
9521
2026-05-10T08:24:47Z
Zhilal Darma
23
added [[Category:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
9523
wikitext
text/x-wiki
'''Asal-Usul Danau Limboto''' adolah carita rakyat dari Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo tantang tajadinyo Danau Limboto nan tadapek di kabupaten tasabuik.
== Sinopsis ==
Pado maso dulunyo daerah Limboto atau Limutu masih tatutuik dek lauik nan laweh. Lauik ko ditandoi ded adonyo duo gunuang, nan manandoi juo arah mato angina. Gunuang Boliohuto di sabalah barat jo Gunuang Tilongkabila di sabalah timur.
Sasudah basalang waktu nan lamo, lauik pun suruik, mambukak hamparan daratan nan laweh. Lamo-lamo, tanah ko manjadi rimbo labek nan jarang dituruik urang. Di dalamnyo, ado muncua babarapo mato aia. Salah satu mato aia, nan dijuluki jo Mato Aia Tupalo, marupokan mato aia nan janiah sarupo kristal. Tujuah bidadari acok turun dari langik untuak mandi jo bamain aia disinan.
Pado suatu maso, katiko para bidadari sadang mandi di mato aia itu, ado surang kilaki banamo Jilumoto liwaik. Jilumoto dalam bahaso satampek bararti 'nan manjelma ka dunia'. Inyo mangintip bidadari mandi dari baliak batang kayu gadang. Kamudian, talinteh di pikirannyo untuak mancilok salah satu sayok bidarari nan dliatakkan di sabuah batu gadang supayo si pamilik sayok indak bisa kambali ka kayangan dan Jilumoto dapek manikahinyo. Jilumoto pun bisa mancilok salah satu sayok bidarari dan kamudian manyuruak.
Pado siang ari, bidadari salasai mandi dan pai maambiak sayoknyo. Sayangnyo, nan paliang tuo di antaronyo banamo, Mbu'i Bungale, indak dapek manamukan sayoknyo, walaupun alah mancari-cari di saluruah tampek. Dek ari alah kalam, anam bidadari nan lain tapaso babaliak ka kayangan, maninggaan Mbu'i Bungale surang di mato aia tasabuik. Jilumoto kalua dari pasambunyian kamudian basobok jo Mbu’i Bungale nan sadang sadiah. Inyo mintak padusi tu manikah jo inyo, dan padusi tu manarimo.
Beberapa hari kemudian, sebuah kafilah dari timur yang terdiri dari empat orang beristirahat di Mati Air Tupalo. Salah seorang dari mereka melihat sebuah tudung tergeletak di dekat situ. Saat mencoba menyentuh tudung itu, tiba-tiba muncul angin kencang dan turun hujan deras. Mereka pun lari mencari tempat berlindung. Peristiwa itu tidak berlangsung lama dan mereka kembali ke tempat tudung tadi. Kali ini, sebelum menyentuh tudung itu, mereka meludahinya dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar tidak timbul bahaya. Tudung pun berhasil diambil, namun mereka terkejut ada mustika di baliknya.
Sasudah barumahtanggo, inyo mancari tanah untuak bacocok tanam. Akhianyo sampailah mereka di sabuah bukik nan indak jauah dari mato aia dan mambuek rumah di atehnyo. Mareka maagiah namo bukik tu Huntu lo Ti'opo, atau Bukik Kapeh.
Pado suatu ari, Mbu'i Bungale mandapek kiriman dari kayangan: benda suci nan banamo Bimelula, babantuak sarupo talua itiak. Inyo malatakkan benda tu dakek Mato Aia Tupalo dan manutuiknyo jo tolu, atau tuduang.
Babarapo hari kamudian, sabuah kafilah dari arah timur, tadiri dari ampek urang, istirahat di Mato Aia Tupalo. Salah surang mancaliak tuduang nan talatak didakeknyo. Katiko mancubo manyantuah tuduang tu, tibo-tibo muncua angin kancang jo hujan labek turun. Inyo lari mancari tampek balinduang. Paristiwa itu indak balangsuang lamo, dan mereka babaliak ka tuduang tadi. Kali ko, sabalun manyantuah tuduang, inyo maludahinyo siriah nan alah diagiah monto untuak mancegah bahayo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
ae7y4660aqq57ww0umrhujco1gfncgf
Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026
14
2134
9519
2026-05-10T08:20:43Z
Mery Nurfa Dilla
88
←Mambuek laman baisi "Artikel katiko Kopdar WikiBuku Bahaso Minangkabau di Padang (Minggu, 10 Mei 2026)"
9519
wikitext
text/x-wiki
Artikel katiko Kopdar WikiBuku Bahaso Minangkabau di Padang (Minggu, 10 Mei 2026)
1b9mt264tq0kseg0vyma7p7lrsh86tm
Si Pahit Lidah
0
2135
9527
2026-05-10T08:31:41Z
Happywu
26
Happywu mamindahan laman [[Si Pahit Lidah]] ka [[Si Paik Lidah]]: Mengganti judul dengan bahasa Minang
9527
wikitext
text/x-wiki
#ALIAH [[Si Paik Lidah]]
ikrvxwzpobqhy7pkamujcwpwn5u56dt
Dongeng Cindelaras
0
2136
9529
2026-05-10T08:34:12Z
Afdhal Sy
25
←Mambuek laman baisi "'''Cindelaras''' marupokan carito rakyat nan barasa dari daerah Jawa Timur. == Deskripsi == Raden Putra adolah rajo Karajaan Jenggala. Inyo didampingan jo surang ratu nan bahati elok jo surang selir nan rancak bana. Tatapi, selir rajo Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan..."
9529
wikitext
text/x-wiki
'''Cindelaras''' marupokan carito rakyat nan barasa dari daerah Jawa Timur.
== Deskripsi ==
Raden Putra adolah rajo Karajaan Jenggala. Inyo didampingan jo surang ratu nan bahati elok jo surang selir nan rancak bana. Tatapi, selir rajo
Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu muslihat kepada permaisuri. Lalu selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia kemudian berpura-pura sakit parah, sehingga harus segera memanggil tabib istana. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri dan menyangkal bahwa permaisurilah yang melakukannya. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. la segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan. Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tetapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Ia sudah mengetahui niat jahat selir baginda. Untuk menolong sang permaisuri, ia kemudian membuat berita palsu kepada baginda seolah-olah telah membunuh sang permaisuri. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja kemudian merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang-binatang hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur, kemudian setelah tiga minggu, telur itu menetas. Rupanya telur tersebut menetaskan seekor anak ayam. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin hingga tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang elok dan kuat. Tetapi terdapat satu keanehan pada bunyi kokok ayam jantan tersebut; "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..." Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan.
Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di izinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ia bertemu dengan beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Ia kemudian ditantang untuk menguji kebolehan ayam jantannya tersebut. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke telinga Raden Putra. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. Setelah itu, ayam jantan Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Setelah Baginda mengaku kalah, ia segera menanyakan siapaka pemuda pemilik ayam tersebut. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama kemudian ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...." ayam jantan tersebut berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. Bersamaan dengan hal tersebut, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. Begitu mendengar cerita dari sang patih, Raja menjadi murka dan hendak memberi hukuman yang setimpal pada selirnya. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.
cnk70rmqmy0tdfu8j74rmri57rc99q3
9533
9529
2026-05-10T08:53:01Z
Afdhal Sy
25
9533
wikitext
text/x-wiki
'''Cindelaras''' marupokan carito rakyat nan barasa dari daerah Jawa Timur.
== Deskripsi ==
Raden Putra adolah rajo Karajaan Jenggala. Inyo didampingan jo surang Ratu nan bahati elok jo surang selir nan rancak bana. Tatapi, selir Rajo Raden Putra mampunyoi sipaik iri jo dangki kapado sang Ratu. Inyo marancanokan sabuah muslihat kapado Ratu. Tu selir bagindo, bageng jo surang angku doto istano. Inyo kemudian bapurak-purak sakit parah, sahinggo harus sagiro mamanggia angku doto istano. Sang angku doto mangatokan bahso ado surang nan alah maagiah racun dalam minuman tuan putri nan manulak bahso ratulah nan mangarajokannyo. Bagindo menjadi berang mandanga panjalasan angku doto istano. Inyo sagiro mamarintahan pardana mentrinyo untuak mambuang Ratu ka hutan. Sang
Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tetapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Ia sudah mengetahui niat jahat selir baginda. Untuk menolong sang permaisuri, ia kemudian membuat berita palsu kepada baginda seolah-olah telah membunuh sang permaisuri. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja kemudian merasa puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang-binatang hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur, kemudian setelah tiga minggu, telur itu menetas. Rupanya telur tersebut menetaskan seekor anak ayam. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin hingga tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang elok dan kuat. Tetapi terdapat satu keanehan pada bunyi kokok ayam jantan tersebut; "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..." Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan.
Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di izinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ia bertemu dengan beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Ia kemudian ditantang untuk menguji kebolehan ayam jantannya tersebut. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke telinga Raden Putra. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. Setelah itu, ayam jantan Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Setelah Baginda mengaku kalah, ia segera menanyakan siapaka pemuda pemilik ayam tersebut. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama kemudian ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...." ayam jantan tersebut berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. Bersamaan dengan hal tersebut, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. Begitu mendengar cerita dari sang patih, Raja menjadi murka dan hendak memberi hukuman yang setimpal pada selirnya. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.
lei19wmk32d8tdhwhh7eak1c9s2chew
9571
9533
2026-05-10T10:02:27Z
Afdhal Sy
25
9571
wikitext
text/x-wiki
'''Cindelaras''' marupokan carito rakyat nan barasa dari daerah Jawa Timur.
== Deskripsi ==
Raden Putra adolah rajo Karajaan Jenggala. Inyo didampingan jo surang Ratu nan bahati elok jo surang selir nan rancak bana. Tatapi, selir Rajo Raden Putra mampunyoi sipaik iri jo dangki kapado sang Ratu. Inyo marancanokan sabuah muslihat kapado Ratu. Tu selir bagindo, bageng jo surang angku doto istano. Inyo kemudian bapurak-purak sakit parah, sahinggo harus sagiro mamanggia angku doto istano. Sang angku doto mangatokan bahso ado surang nan alah maagiah racun dalam minuman tuan putri nan manulak bahso ratulah nan mangarajokannyo. Bagindo menjadi berang mandanga panjalasan angku doto istano. Inyo sagiro mamarintahan pardana mentrinyo untuak mambuang Ratu ka hutan. Sang pardana mentri sagiro mambawo ratu nan sadang manganduang itu ka rimbo. Tatapi pardana mentri nan bijak itu indak nio mambuanuahnyo. Inyo sudah mangatahui niak jaek selir bagindo. Untuak manolong sang ratu, inyo kamudian mambuek barita palsu kapado bagindo saolah-olah alah mambunuah sang ratu. Untuak mangalabui rajo, sang pardana mentri maoles pedangnyo jo darah kalinci nan ditangkoknyo. Rajo kamudian maraso pueh katiko sang pardana mentri malapor kalau inyo alah mambunuah ratu.
Sasudah babarapo bulan barado di rimbo, lahialah anak ratu. Bayi itu diagaihnyo namo Cindelaras.Cindelaras tumbuah manjadi surang anak nan pandai jo rancak. Sajak ketek inyo alah bakawan jo binatang-binatang rimbo. Suatu hari, katiko sadang sanang bamain, saikua buruang rajawali manjatuahan talua. Sasudah tigo minggu, talua tu manateh. Ruponyo talua itu mananteh manjadi saikua anak ayam. Cindelaras mamilaharo anak ayam tu sampai gadang manjadi ayam jantan nan rancak dan kuek. Tatapi ado ciek nan aneh dari kukuak ayam jantan tu: "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnyo di tangah rimbo, atoknyo dari daun karambia, ayahnyo Raden Putra..." Tacangang Cindelaras mandanga kukuak ayam jantannyo dan langsuang manunjuakkan ka amaknyo. Tu, amak Cindelaras manjalehan asa mulo pajalanan inyo ka rimbo.
Mandanga carito amaknyo, Cindelaras mamutuihan untuak pai ka istano jo mancaritokan kajahatan selir Rajo. Jo izin amaknyo, Cindelaras pai ka istano diiriangi dek ayam jantannyo. Dalam pajalanan, inyo basobok jo babarapo urang nan sadang malakukan adu ayam. Inyo kamudian ditantang untuak mauji kapandaian ayam jantannyo. Katiko ayam jantan tu bacakak, ayam jantan Cindelaras tabukti sabagai pajuang nan hebat dan jo capek mangalahkan lawannyo. Sasudah babarapo kali diadu, ayam jantan Cindelaras indak kalah. Kaba kasaktian ayam jantan Cindelaras tasebar capek, sampai ka Raden Putra. Raden Putra tu mamarentahkan panglimonyo maimbau Cindelaras. Ayam jantan Cindelaras diadukan jo ayam jantan Raden Putra, jo ciek syarat: kalau ayam jantan Cindelaras kalah, inyo amuah kapalonyo dipotong. tatapi jikok ayam jantannyo manang, satangah harato Raden Putra akan manjadi milik Cindelaras.
Kaduo ayam jantan tu bacakak jo gagah baraninyo. Tapi dalam wakatu singkek, ayam jantan Cindelaras mangalahkan ayam jantan Rajo. Urang nan manoton rami basorak-sorak Cindelaras jo ayam jantannyo. Sasudah Rajo mangaku kalah, inyo langsuang batanyo sia anak mudo nan punyo ayam jantan tu. Cindelaras langsuang manunduak seolah-olah mambisiakan sesuatu ka ayam jantannyo. Indak lamo sasudah tu, ayam jantan mulai bakanduang. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnyo di tangah rimbo, atoknyo dari daun karambia, ayahnyo Raden Putra...." ayam jantan bakukuak baulang-ulang. Raden Putra takajuik mandanga kukuak ayam jantan Cindelaras. Sairiang jo itu, perdana menteri langsuang datang ka inyo dan mancaritoan sagalo kajadian nan sabananyo tajadi pado ratu. Sasudah mandanga carito dari pardana mantari, rajo bangih dan ingin maagiah hukuman nan pas kapado selirnyo. Kamudian, selir Raden Putra diusir ka rimbo. Raden Putra lansuang mamaluak anaknyo dan minta maaf ateh kasalahannyo. Sasudah itu, Raden Putra jo panglimo langsuang mambaok ratu ka rimbo. Akhianyo, Raden Putra, ratu, jo Cindelaras dapek basatu baliak. Sasudah Raden Putra maningga, Cindelaras manggantikan ayahnyo. Inyo mamarintah nagarinyo sacaro adil sarato bijaksana.
povjdsityvk0ngjsgsx81l3bm16d3m2
9573
9571
2026-05-10T10:03:01Z
Afdhal Sy
25
9573
wikitext
text/x-wiki
'''Cindelaras''' marupokan carito rakyat nan barasa dari daerah Jawa Timur.
== Deskripsi ==
Raden Putra adolah rajo Karajaan Jenggala. Inyo didampingan jo surang Ratu nan bahati elok jo surang selir nan rancak bana. Tatapi, selir Rajo Raden Putra mampunyoi sipaik iri jo dangki kapado sang Ratu. Inyo marancanokan sabuah muslihat kapado Ratu. Tu selir bagindo, bageng jo surang angku doto istano. Inyo kemudian bapurak-purak sakit parah, sahinggo harus sagiro mamanggia angku doto istano. Sang angku doto mangatokan bahso ado surang nan alah maagiah racun dalam minuman tuan putri nan manulak bahso ratulah nan mangarajokannyo. Bagindo menjadi berang mandanga panjalasan angku doto istano. Inyo sagiro mamarintahan pardana mentrinyo untuak mambuang Ratu ka hutan. Sang pardana mentri sagiro mambawo ratu nan sadang manganduang itu ka rimbo. Tatapi pardana mentri nan bijak itu indak nio mambuanuahnyo. Inyo sudah mangatahui niak jaek selir bagindo. Untuak manolong sang ratu, inyo kamudian mambuek barita palsu kapado bagindo saolah-olah alah mambunuah sang ratu. Untuak mangalabui rajo, sang pardana mentri maoles pedangnyo jo darah kalinci nan ditangkoknyo. Rajo kamudian maraso pueh katiko sang pardana mentri malapor kalau inyo alah mambunuah ratu.
Sasudah babarapo bulan barado di rimbo, lahialah anak ratu. Bayi itu diagaihnyo namo Cindelaras.Cindelaras tumbuah manjadi surang anak nan pandai jo rancak. Sajak ketek inyo alah bakawan jo binatang-binatang rimbo. Suatu hari, katiko sadang sanang bamain, saikua buruang rajawali manjatuahan talua. Sasudah tigo minggu, talua tu manateh. Ruponyo talua itu mananteh manjadi saikua anak ayam. Cindelaras mamilaharo anak ayam tu sampai gadang manjadi ayam jantan nan rancak dan kuek. Tatapi ado ciek nan aneh dari kukuak ayam jantan tu: "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnyo di tangah rimbo, atoknyo dari daun karambia, ayahnyo Raden Putra..." Tacangang Cindelaras mandanga kukuak ayam jantannyo dan langsuang manunjuakkan ka amaknyo. Tu, amak Cindelaras manjalehan asa mulo pajalanan inyo ka rimbo.
Mandanga carito amaknyo, Cindelaras mamutuihan untuak pai ka istano jo mancaritokan kajahatan selir Rajo. Jo izin amaknyo, Cindelaras pai ka istano diiriangi dek ayam jantannyo. Dalam pajalanan, inyo basobok jo babarapo urang nan sadang malakukan adu ayam. Inyo kamudian ditantang untuak mauji kapandaian ayam jantannyo. Katiko ayam jantan tu bacakak, ayam jantan Cindelaras tabukti sabagai pajuang nan hebat dan jo capek mangalahkan lawannyo. Sasudah babarapo kali diadu, ayam jantan Cindelaras indak kalah. Kaba kasaktian ayam jantan Cindelaras tasebar capek, sampai ka Raden Putra. Raden Putra tu mamarentahkan panglimonyo maimbau Cindelaras. Ayam jantan Cindelaras diadukan jo ayam jantan Raden Putra, jo ciek syarat: kalau ayam jantan Cindelaras kalah, inyo amuah kapalonyo dipotong. tatapi jikok ayam jantannyo manang, satangah harato Raden Putra akan manjadi milik Cindelaras.
Kaduo ayam jantan tu bacakak jo gagah baraninyo. Tapi dalam wakatu singkek, ayam jantan Cindelaras mangalahkan ayam jantan Rajo. Urang nan manoton rami basorak-sorak Cindelaras jo ayam jantannyo. Sasudah Rajo mangaku kalah, inyo langsuang batanyo sia anak mudo nan punyo ayam jantan tu. Cindelaras langsuang manunduak seolah-olah mambisiakan sesuatu ka ayam jantannyo. Indak lamo sasudah tu, ayam jantan mulai bakanduang. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnyo di tangah rimbo, atoknyo dari daun karambia, ayahnyo Raden Putra...." ayam jantan bakukuak baulang-ulang. Raden Putra takajuik mandanga kukuak ayam jantan Cindelaras. Sairiang jo itu, perdana menteri langsuang datang ka inyo dan mancaritoan sagalo kajadian nan sabananyo tajadi pado ratu. Sasudah mandanga carito dari pardana mantari, rajo bangih dan ingin maagiah hukuman nan pas kapado selirnyo. Kamudian, selir Raden Putra diusir ka rimbo. Raden Putra lansuang mamaluak anaknyo dan minta maaf ateh kasalahannyo. Sasudah itu, Raden Putra jo panglimo langsuang mambaok ratu ka rimbo. Akhianyo, Raden Putra, ratu, jo Cindelaras dapek basatu baliak. Sasudah Raden Putra maningga, Cindelaras manggantikan ayahnyo. Inyo mamarintah nagarinyo sacaro adil sarato bijaksana.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
gh3oq867l7skyh92lttvduaifzn4one
Rigi ba Ana'a
0
2137
9532
2026-05-10T08:51:58Z
Syurida
32
←Mambuek laman baisi "'''Di suatu desa''' ado duo urang nan basaudara, inyo ado rencana untuak marantau. Inyopun mangecek baa cari pai ka lua pulau inyo tu, akhianyo inyo manumpang ka kapa rute dari sabuah pulau atau kampuang ka subarang. Kapa di bahaso Nieh disabuik Owo/Nowo (ukurannyo labiah gadang dari sampan). Katiko inyo di jalan jo posisi nan alah di tangah lauik nan lueh, tibo-tibo datang angin badai nan gawat, nan mambuek kapa inyo tu indak bisa dikandalikan lai, nan maakibaikkan..."
9532
wikitext
text/x-wiki
'''Di suatu desa''' ado duo urang nan basaudara, inyo ado rencana untuak marantau. Inyopun mangecek baa cari pai ka lua pulau inyo tu, akhianyo inyo manumpang ka kapa rute dari sabuah pulau atau kampuang ka subarang. Kapa di bahaso Nieh disabuik Owo/Nowo (ukurannyo labiah gadang dari sampan). Katiko inyo di jalan jo posisi nan alah di tangah lauik nan lueh, tibo-tibo datang angin badai nan gawat, nan mambuek kapa inyo tu indak bisa dikandalikan lai, nan maakibaikkan kapa inyo mahantam karang dakek pulau ketek. Sadolah panumpang kapa tu tabanam ndak bisa disalamaikan, tapi ado duo urang nan basaudara salamaik karano pandai baranang. Tanago alah takureh, jo inyo sampai di pantai jo salamaik. Yang paliang gadang banamo '''Osama''' mangecek ka adiaknyo nan banamo Ali: "Hoi, Ali. Di kadaan nan mandasak ko mo lah kito basyukua, karano kito alah bisa sampai di pantai ko." Masih ngos-ngosan, adiaknyo si Ali manuruik sajo. Dan Osama maajka inyo untuak basyukua ka Tuhan, inyo sapakaik untuak manggarik mancari siapo tau ado panghuni di pulau ko. Alah mulai panek inyo bajalan, tapi indak saurangpun nan basobok jo inyo. Sasakali suaro nan mahiasi jalan inyo, saakan sahuik-sahuikan nan hampehan aia lauik nan sasakali mamacah kahaniangan jo mahantam karang-karang dakek pantai. Haripun alah malam, jo indak ado piliahan untuak capek istirahat, karano apobilo inyo manruihan pajalanan, jugo indak ado jaminan atau harapan ka basobok jo sio-sio. Malam tu inyo baalehkan bumi jo baatok langik.
Karano pajalanan nan mamanekan bana, rasonyo samalaman inyo indak bisa mambedaan sadang lalok di tanah atau di rumah. Inyo masuak dalam kahaniangan malam hinggo pagi bisuaknyo inyopun jago. Osama jago labiah awal, jo inyo manjagoan adiaknyo, sambia mangecek ka Ali adiaknyo, "Ali, pek lah kito ka pantai, siapo tau ado kapa nan lewat. Tapi inyo mandakek kapa nan karam patangnyo untuak mamastian apokah barang-barang inyo masih ado atau indak. Jo sungguah mangajuikan inyo, ado babarapo barang nan masih nyangkuik antaro lain: ciek peti kayu, ciek pariuak dari tulang, ciek peti kue, ciek guluang kain layar jo kayu kapa. Jo inyo sangaik sanang mandapekan barang-barang tasabuik artinyo bisa batahan hiduik. Jo karajo samo nan elok kakak baradiak tu, Osama jo Ali mambantangan kain layar kapal tu, inyo jadian atok pondok darurat tampek inyo bataduah. Jo di pondok itu sadolah barang-barang tu inyo simpan.
p9jatho787elzlpprxhkbyw5zktouf6
9535
9532
2026-05-10T08:55:19Z
Syurida
32
9535
wikitext
text/x-wiki
'''Di suatu desa''' ado duo urang nan basaudara, inyo ado rencana untuak marantau. Inyopun mangecek baa cari pai ka lua pulau inyo tu, akhianyo inyo manumpang ka kapa rute dari sabuah pulau atau kampuang ka subarang. Kapa di bahaso Nieh disabuik Owo/Nowo (ukurannyo labiah gadang dari sampan). Katiko inyo di jalan jo posisi nan alah di tangah lauik nan lueh, tibo-tibo datang angin badai nan gawat, nan mambuek kapa inyo tu indak bisa dikandalikan lai, nan maakibaikkan kapa inyo mahantam karang dakek pulau ketek. Sadolah panumpang kapa tu tabanam ndak bisa disalamaikan, tapi ado duo urang nan basaudara salamaik karano pandai baranang. Tanago alah takureh, jo inyo sampai di pantai jo salamaik. Yang paliang gadang banamo '''Osama''' mangecek ka adiaknyo nan banamo Ali: "Hoi, Ali. Di kadaan nan mandasak ko mo lah kito basyukua, karano kito alah bisa sampai di pantai ko." Masih ngos-ngosan, adiaknyo si Ali manuruik sajo. Dan Osama maajka inyo untuak basyukua ka Tuhan, inyo sapakaik untuak manggarik mancari siapo tau ado panghuni di pulau ko. Alah mulai panek inyo bajalan, tapi indak saurangpun nan basobok jo inyo. Sasakali suaro nan mahiasi jalan inyo, saakan sahuik-sahuikan nan hampehan aia lauik nan sasakali mamacah kahaniangan jo mahantam karang-karang dakek pantai. Haripun alah malam, jo indak ado piliahan untuak capek istirahat, karano apobilo inyo manruihan pajalanan, jugo indak ado jaminan atau harapan ka basobok jo sio-sio. Malam tu inyo baalehkan bumi jo baatok langik.
Karano pajalanan nan mamanekan bana, rasonyo samalaman inyo indak bisa mambedaan sadang lalok di tanah atau di rumah. Inyo masuak dalam kahaniangan malam hinggo pagi bisuaknyo inyopun jago. Osama jago labiah awal, jo inyo manjagoan adiaknyo, sambia mangecek ka Ali adiaknyo, "Ali, pek lah kito ka pantai, siapo tau ado kapa nan lewat. Tapi inyo mandakek kapa nan karam patangnyo untuak mamastian apokah barang-barang inyo masih ado atau indak. Jo sungguah mangajuikan inyo, ado babarapo barang nan masih nyangkuik antaro lain: ciek peti kayu, ciek pariuak dari tulang, ciek peti kue, ciek guluang kain layar jo kayu kapa. Jo inyo sangaik sanang mandapekan barang-barang tasabuik artinyo bisa batahan hiduik. Jo karajo samo nan elok kakak baradiak tu, Osama jo Ali mambantangan kain layar kapal tu, inyo jadian atok pondok darurat tampek inyo bataduah. Jo di pondok itu sadolah barang-barang tu inyo simpan.<ref>KabarNias.Com (20 Juli 2015).''[https://kabarnias.com/budaya/cerita-rakyat/rigi-ba-anaa-1499 "Rigi ba Ana’a"]'', diakses 8 Nopember 2020</ref>
== Rujuakan ==
7zu82dd02old8gl9h5ufaje76u5xy1j
9558
9535
2026-05-10T09:34:02Z
Zhilal Darma
23
added [[Category:Carito Rakyat]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
9558
wikitext
text/x-wiki
'''Di suatu desa''' ado duo urang nan basaudara, inyo ado rencana untuak marantau. Inyopun mangecek baa cari pai ka lua pulau inyo tu, akhianyo inyo manumpang ka kapa rute dari sabuah pulau atau kampuang ka subarang. Kapa di bahaso Nieh disabuik Owo/Nowo (ukurannyo labiah gadang dari sampan). Katiko inyo di jalan jo posisi nan alah di tangah lauik nan lueh, tibo-tibo datang angin badai nan gawat, nan mambuek kapa inyo tu indak bisa dikandalikan lai, nan maakibaikkan kapa inyo mahantam karang dakek pulau ketek. Sadolah panumpang kapa tu tabanam ndak bisa disalamaikan, tapi ado duo urang nan basaudara salamaik karano pandai baranang. Tanago alah takureh, jo inyo sampai di pantai jo salamaik. Yang paliang gadang banamo '''Osama''' mangecek ka adiaknyo nan banamo Ali: "Hoi, Ali. Di kadaan nan mandasak ko mo lah kito basyukua, karano kito alah bisa sampai di pantai ko." Masih ngos-ngosan, adiaknyo si Ali manuruik sajo. Dan Osama maajka inyo untuak basyukua ka Tuhan, inyo sapakaik untuak manggarik mancari siapo tau ado panghuni di pulau ko. Alah mulai panek inyo bajalan, tapi indak saurangpun nan basobok jo inyo. Sasakali suaro nan mahiasi jalan inyo, saakan sahuik-sahuikan nan hampehan aia lauik nan sasakali mamacah kahaniangan jo mahantam karang-karang dakek pantai. Haripun alah malam, jo indak ado piliahan untuak capek istirahat, karano apobilo inyo manruihan pajalanan, jugo indak ado jaminan atau harapan ka basobok jo sio-sio. Malam tu inyo baalehkan bumi jo baatok langik.
Karano pajalanan nan mamanekan bana, rasonyo samalaman inyo indak bisa mambedaan sadang lalok di tanah atau di rumah. Inyo masuak dalam kahaniangan malam hinggo pagi bisuaknyo inyopun jago. Osama jago labiah awal, jo inyo manjagoan adiaknyo, sambia mangecek ka Ali adiaknyo, "Ali, pek lah kito ka pantai, siapo tau ado kapa nan lewat. Tapi inyo mandakek kapa nan karam patangnyo untuak mamastian apokah barang-barang inyo masih ado atau indak. Jo sungguah mangajuikan inyo, ado babarapo barang nan masih nyangkuik antaro lain: ciek peti kayu, ciek pariuak dari tulang, ciek peti kue, ciek guluang kain layar jo kayu kapa. Jo inyo sangaik sanang mandapekan barang-barang tasabuik artinyo bisa batahan hiduik. Jo karajo samo nan elok kakak baradiak tu, Osama jo Ali mambantangan kain layar kapal tu, inyo jadian atok pondok darurat tampek inyo bataduah. Jo di pondok itu sadolah barang-barang tu inyo simpan.<ref>KabarNias.Com (20 Juli 2015).''[https://kabarnias.com/budaya/cerita-rakyat/rigi-ba-anaa-1499 "Rigi ba Ana’a"]'', diakses 8 Nopember 2020</ref>
== Rujuakan ==
[[Kategori:Carito Rakyat]]
gzn97p41kfstdhlj4bo7pcf7odgpjwx
9559
9558
2026-05-10T09:34:15Z
Zhilal Darma
23
added [[Category:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
9559
wikitext
text/x-wiki
'''Di suatu desa''' ado duo urang nan basaudara, inyo ado rencana untuak marantau. Inyopun mangecek baa cari pai ka lua pulau inyo tu, akhianyo inyo manumpang ka kapa rute dari sabuah pulau atau kampuang ka subarang. Kapa di bahaso Nieh disabuik Owo/Nowo (ukurannyo labiah gadang dari sampan). Katiko inyo di jalan jo posisi nan alah di tangah lauik nan lueh, tibo-tibo datang angin badai nan gawat, nan mambuek kapa inyo tu indak bisa dikandalikan lai, nan maakibaikkan kapa inyo mahantam karang dakek pulau ketek. Sadolah panumpang kapa tu tabanam ndak bisa disalamaikan, tapi ado duo urang nan basaudara salamaik karano pandai baranang. Tanago alah takureh, jo inyo sampai di pantai jo salamaik. Yang paliang gadang banamo '''Osama''' mangecek ka adiaknyo nan banamo Ali: "Hoi, Ali. Di kadaan nan mandasak ko mo lah kito basyukua, karano kito alah bisa sampai di pantai ko." Masih ngos-ngosan, adiaknyo si Ali manuruik sajo. Dan Osama maajka inyo untuak basyukua ka Tuhan, inyo sapakaik untuak manggarik mancari siapo tau ado panghuni di pulau ko. Alah mulai panek inyo bajalan, tapi indak saurangpun nan basobok jo inyo. Sasakali suaro nan mahiasi jalan inyo, saakan sahuik-sahuikan nan hampehan aia lauik nan sasakali mamacah kahaniangan jo mahantam karang-karang dakek pantai. Haripun alah malam, jo indak ado piliahan untuak capek istirahat, karano apobilo inyo manruihan pajalanan, jugo indak ado jaminan atau harapan ka basobok jo sio-sio. Malam tu inyo baalehkan bumi jo baatok langik.
Karano pajalanan nan mamanekan bana, rasonyo samalaman inyo indak bisa mambedaan sadang lalok di tanah atau di rumah. Inyo masuak dalam kahaniangan malam hinggo pagi bisuaknyo inyopun jago. Osama jago labiah awal, jo inyo manjagoan adiaknyo, sambia mangecek ka Ali adiaknyo, "Ali, pek lah kito ka pantai, siapo tau ado kapa nan lewat. Tapi inyo mandakek kapa nan karam patangnyo untuak mamastian apokah barang-barang inyo masih ado atau indak. Jo sungguah mangajuikan inyo, ado babarapo barang nan masih nyangkuik antaro lain: ciek peti kayu, ciek pariuak dari tulang, ciek peti kue, ciek guluang kain layar jo kayu kapa. Jo inyo sangaik sanang mandapekan barang-barang tasabuik artinyo bisa batahan hiduik. Jo karajo samo nan elok kakak baradiak tu, Osama jo Ali mambantangan kain layar kapal tu, inyo jadian atok pondok darurat tampek inyo bataduah. Jo di pondok itu sadolah barang-barang tu inyo simpan.<ref>KabarNias.Com (20 Juli 2015).''[https://kabarnias.com/budaya/cerita-rakyat/rigi-ba-anaa-1499 "Rigi ba Ana’a"]'', diakses 8 Nopember 2020</ref>
== Rujuakan ==
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
n893eg9vo4c3eawzahtvnt3nf2lcasx
9583
9559
2026-05-10T10:49:04Z
Syurida
32
9583
wikitext
text/x-wiki
'''Di suatu desa''' ado duo urang nan basaudara, inyo ado rencana untuak marantau. Inyopun mangecek baa cari pai ka lua pulau inyo tu, akhianyo inyo manumpang ka kapa rute dari sabuah pulau atau kampuang ka subarang. Kapa di bahaso Nieh disabuik Owo/Nowo (ukurannyo labiah gadang dari sampan). Katiko inyo di jalan jo posisi nan alah di tangah lauik nan lueh, tibo-tibo datang angin badai nan gawat, nan mambuek kapa inyo tu indak bisa dikandalikan lai, nan maakibaikkan kapa inyo mahantam karang dakek pulau ketek. Sadolah panumpang kapa tu tabanam ndak bisa disalamaikan, tapi ado duo urang nan basaudara salamaik karano pandai baranang. Tanago alah takureh, jo inyo sampai di pantai jo salamaik. Yang paliang gadang banamo '''Osama''' mangecek ka adiaknyo nan banamo Ali: "Hoi, Ali. Di kadaan nan mandasak ko mo lah kito basyukua, karano kito alah bisa sampai di pantai ko." Masih ngos-ngosan, adiaknyo si Ali manuruik sajo. Dan Osama maajka inyo untuak basyukua ka Tuhan, inyo sapakaik untuak manggarik mancari siapo tau ado panghuni di pulau ko. Alah mulai panek inyo bajalan, tapi indak saurangpun nan basobok jo inyo. Sasakali suaro nan mahiasi jalan inyo, saakan sahuik-sahuikan nan hampehan aia lauik nan sasakali mamacah kahaniangan jo mahantam karang-karang dakek pantai. Haripun alah malam, jo indak ado piliahan untuak capek istirahat, karano apobilo inyo manruihan pajalanan, jugo indak ado jaminan atau harapan ka basobok jo sio-sio. Malam tu inyo baalehkan bumi jo baatok langik.
Karano pajalanan nan mamanekan bana, rasonyo samalaman inyo indak bisa mambedaan sadang lalok di tanah atau di rumah. Inyo masuak dalam kahaniangan malam hinggo pagi bisuaknyo inyopun jago. Osama jago labiah awal, jo inyo manjagoan adiaknyo, sambia mangecek ka Ali adiaknyo, "Ali, pek lah kito ka pantai, siapo tau ado kapa nan lewat. Tapi inyo mandakek kapa nan karam patangnyo untuak mamastian apokah barang-barang inyo masih ado atau indak. Jo sungguah mangajuikan inyo, ado babarapo barang nan masih nyangkuik antaro lain: ciek peti kayu, ciek pariuak dari tulang, ciek peti kue, ciek guluang kain layar jo kayu kapa. Jo inyo sangaik sanang mandapekan barang-barang tasabuik artinyo bisa batahan hiduik. Jo karajo samo nan elok kakak baradiak tu, Osama jo Ali mambantangan kain layar kapal tu, inyo jadian atok pondok darurat tampek inyo bataduah. Jo di pondok itu sadolah barang-barang tu inyo simpan.
Si Ali bagageh mancubo manbuka peti kayu tu, jo tarnyato isinyo adolah pakaian kayu jo babarapo alaik, jo jugo ado saikaik nan barisi ameh, sapuluah ribu kalau dipitihan di rupiah pado maso tu. Jo di ikekan ameh tasabuik ado tulisan kayak ko:" Kho Duo Edua wa Zono, banua Negafatana." Artinyo tulisan tasabuik adolah namo saurang nan banamo Dua Edua wa Zono nan barasa dari kampuang Negafatana. Jo baitu partamo sakali si Ali maliek ikaikan ameh tu jo inyo sangaik sanang jo maagiah tau samo akaknyo basonho inyo alah punyo ameh. Tapi, si Osama indak baitu mananggapi kato adiaknyo, malah inyo manjalehan ka adiaknyo kalau nan punyo ameh tu adolah kakek Dua Edua wa Zonon, jiko beko kito bisa pulang ka kampuang mako itu bisa baguno tapi katiko kito batahan di pulau ko jo indak bisa pulang, apolah arati ameh tu, ameh indak bisa dibalanjoan jo dimakan, habis tu kakaknyo mancaliakan sakaruang jo nyo sabuik samo adiaknyo kalau isi karuang nan dipaciknyo tu jauah labiah baguno dek inyo dibandiang ameh. Jo Osama kakaknyo, mancaliakan isi karuang tu adolah jaguang. Jo kakaknyo maajak adiaknyo untuak mananam jaguang tu di sakita pondok dimano inyo indak mati kalaparan. Jo wakatu itu, si Ali adiaknyo patuik turuik jo akaknyo jo akhianyo inyopun mananam jaguang. Katiko makanan lain alah mulai abih, jo jaguang nan inyo tanam, ndak taraso jugo alah mulai bisa panen, inyo pun maambiaknyo jo mambaka untuak makanan, jo kiro-kiro satahun labiah inyo hanyo makan jaguang siang jo malam. Jo sasakali jugo inyo barupayo mamancaiang lauak sadapeknyo. Jo satalah satahun, tibo-tibo adolah kapa nan lewat dakek pulau dimano inyo tadampa, inyopun ikuik jp sapakaik balabuah di kampuang Negafatana. Baitu inyo sampai di daerah tasabuik jo inyo bajuang untuak mancari kabadaradoan kakek Dua Edua wa Zono pamiliak pati ameh dari kapa nan tadampa satahun nan lalu. Baitu sobok jo inyo mamareso pati tu jo sadolah ee utuah, bahkan surek didalamnyo jo lataknyo indak ado parubahan samo sakali. Jo si Dua Edua wa Zono, langsuang mangatoan ka kadua adial baradiak tu, kalau inyo adolah urang-urang nan elok jo jujur. Jo izinkan awak maagiah upah bakarajo di siko, tigo ratuih rupiah masiang-masiang kalian pabulan, lanjuiknyo ka si Osama jo Ali, karajonyo sangaik sadarhana, hanyo manjago atau maawasan urang karajo. Osama jo Ali manarimo tawaran karajo tu, jo inyo saliang mambutuahan. Si Dua Edua wa Zono sangaik simpati ka inyo. Jo dalam pajalanan wakatu, sasakali si Ali ngecek jo kakaknyo tantang panamuan ameh tu, Ali manyayangan manga dibaliakan, kalau sajo inyo tahan, kan ameh inyo banyak. Tapi Osama ngecek, "kalau sajo kito indak manamuan jaguang tu, mungkin sajo kito alah mati." Sangaik bamanfaaik bagi sia se nan haragonyo maha kayak ameh, tapi jaguamg tu jugo baharaho maagiah kito hiduik. Akhianyo adiaknyo pun mangarati baa eloknyo satiok proses dalam hiduik. Indak ado nan kabetulan.<ref>KabarNias.Com (20 Juli 2015).''[https://kabarnias.com/budaya/cerita-rakyat/rigi-ba-anaa-1499 "Rigi ba Ana’a"]'', diakses 8 Nopember 2020</ref>
== Rujuakan ==
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
6mhahskw2x4kr63gthzjsxslgtfl5y4
Kisah ayam dan musang
0
2138
9534
2026-05-10T08:54:16Z
Nadia Erwanda
351
←Mambuek laman baisi "== Kisah Ayam dan Musang == Suatu katiko, ayam itam punyo rajo sadang bajalan-jalan di rimbo. Ayam tu punyo duo limo ikua anak. Inyo nampak bamain-main sahinggo lupo pulang, tapi sasudah balamo-lamo kaluarga ayam indak bisa manamukan jalannyo hinggo inyo tibo di gubuak musang. Karano hari mulai galok, inyo ndak talok maliek lagi. Induak ayam mangatokan pado kaluarga musang untuak manginap di tampeknyo dan musang tu maizinkannyo. Musang bapikia inyo sakaluarga akan..."
9534
wikitext
text/x-wiki
== Kisah Ayam dan Musang ==
Suatu katiko, ayam itam punyo rajo sadang bajalan-jalan di rimbo. Ayam tu punyo duo limo ikua anak. Inyo nampak bamain-main sahinggo lupo pulang, tapi sasudah balamo-lamo kaluarga ayam indak bisa manamukan jalannyo hinggo inyo tibo di gubuak musang. Karano hari mulai galok, inyo ndak talok maliek lagi. Induak ayam mangatokan pado kaluarga musang untuak manginap di tampeknyo dan musang tu maizinkannyo.
Musang bapikia inyo sakaluarga akan mamakan ayam. Tibo-tibo musang manyarankan kapado ayam untuak tidua di dalam. Walaupun musang manarimo kahadiran kaluarga ayam jo ramah, induak ayam tatap jago-jago karano musang tu musuah inyo. Induak ayam akhirnyo manolak agoan musang jo babarapo alasan dan tatap mamiliah tidua di lua.
Induak ayam mangarami anaknyo karano malam samakin laruik. Inyo tidua di pangka dapua. Di dakek pangka tu tadapek batang kalawi yang gadang. Induak ayam babisiak kapado anaknyo
rz7izh6h09byzl3fbs90idfx8iav3sx
9567
9534
2026-05-10T10:00:47Z
Nadia Erwanda
351
9567
wikitext
text/x-wiki
== Kisah Ayam dan Musang ==
Suatu katiko, ayam itam punyo rajo sadang bajalan-jalan di rimbo. Ayam tu punyo duo limo ikua anak. Inyo nampak bamain-main sahinggo lupo pulang, tapi sasudah balamo-lamo kaluarga ayam indak bisa manamukan jalannyo hinggo inyo tibo di gubuak musang. Karano hari mulai galok, inyo ndak bisa maliek lai. Induak ayam mangatokan pado kaluarga musang untuak manginap di tampeknyo dan musang tu maizinkannyo.
Musang bapikia inyo sakaluarga akan mamakan ayam. Tibo-tibo musang manyarankan kapado ayam untuak tidua di dalam. Walaupun musang manarimo kahadiran kaluarga ayam jo ramah, induak ayam tatap jago-jago karano musang tu musuah inyo. Induak ayam akhirnyo manolak agoan musang jo babarapo alasan dan tatap mamiliah tidua di lua.
Induak ayam mangarami anaknyo karano malam samakin laruik. Inyo tidua di sarambi dapua. Di dakek pangka tu tadapek batang kalawi nan gadang. Induak ayam babisiak kapado anaknyo, inyo mambahas tantang siasaik untuak lari mambao diri, supayo indak dimakan dek musang nan sadang maintai. Anak ayam tu mangguang-guang tando satuju, sadoalahnyo patuah ka kecek induaknyo.
Samantaro itu, di lua gubuak kaluarga musang sadang sibuk maracik rampah jo mambukak bubuak. Tabayang di kapalo inyo ka makan gadang malam ko jo menu ayam nan lamak rasonyo. Anak musang malonjak-lonjak sambia maribuik kagirangan, tapi langsuang di tagua dek urang tuonyo.
"Oih nak, jan mamakak juo, beko tadangan dek induak ayam tu!" kecek induak musang jo suaro nan babisiak-bisiak.
Inyo cameh kalau rancana jaek tu bocor sabalun ayam-ayam tu masuak ka paruik.
Induak ayam hitam nan sadang bajago-jago tanyato punyo pandangan nan tajam. Inyo danga suaro urang bagaduah di dapua musang. Didanganyo elok-elok, mako taulah induak ayam tu kalau musang-musang tu sadang manyadiokan kuali untuak mamasak inyo jo anak-anaknyo.
Waktu taruih bajalan, malam samakin kalam, bulan pun samakin tinggi. Musang lah siap-siap nak manarkam. Untuak mamastian ayam tu lah lalok apo alun, musang mamanggia-manggia dari lua.
"ayam...ayam hitam..lah lalok kau?"
Tiap kali dipanggia, induak ayam taruih manyaruik. Sambia manyaruik, tangannyo (sayok) mangaca anaknyo surang-surang. tiok kali takaca, tabanglah anak ayam tu ciek-ciek ka ateh kalawih nan ado di dakek situ.
Musang nan mandanga suaro sayok tabang tu batanyo ka induak ayam "suaro apo nan badasau tu?. Induak ayam manjawek tanang "Suaro rantiang kayu nan kanai angin tu mah!".
Musang picayo sajo. Tiok kali ado anak ayam nan tabang, induak ayam maagiah alasan nan samo sampai sadoalah anaknyo lah batenggek aman di ateh batang kalawuih. Pado akhianyo, induak ayam tu pun tabang ikuik anak-anaknyo.
Sabalun pai, induak ayam nampak ado ijuak itam jo batu baasahan di ateh sarambi dapua musang. Di situlah akanyo bamain, diambiaknyo batu asahan tu dilatakaannyo di tangah tumpuakan ijuak. Kalau dicaliak dari jauah dalam malam nan kalam, ujuak tu manyarupoi induak ayam nan sadang mangarami anak-anaknyo.
Musang bapikia induak ayam jo anak-anaknyo alah lalok lamak dek alah lamo indak mandanga suaro sahutan. "Iko saatnyo" kecek laki musang.
Inyo bukak pintu jo palahan demi palahan tu langsuang inyo terkam tumpuakan ijuak itam nan disangko ayam tadi.
''Prakk!!!''
Gigi musang patah sadoalahnyo dek manggigik batu asahan nan kareh. Inyo langsuang mati di situ juo. Indak lamo sasudah itu, bini musang kalua pulo, inyo sangko lakinyo alah mandapekan ayam, mangkonyo inyo ikuik manarokam. Nasibnyo samo, inyo jatuah tasungku jo batu asahan tu, Indak lamo anak musang pun manyusul urangtuonyo tasungku di onggokkan batu asahan tu.
Katiko Mato hari lah tabik, kaluarga ayam turun dari ateh batang kalawuih, inyo masuak ka gubuak musang nan lah kosong tu, Di situ inyo manyobokkan lumbuang bareh nan panuah. Kaluarga ayam tu nampak sanang sangaik, makan mamatuak-matuak bareh punyo musang tadi. Indak lamo sasudah itu, tibolah Raja manjapuik inyo sadoalahnyo tu giriang pulang ka rumah. Salasailah kisah Musang nan kalah dek siasaik Induak Ayam nan bijaksana.
gjg10cx4ifoiulwpm8jzrx60nmqo30x
9569
9567
2026-05-10T10:01:45Z
Nadia Erwanda
351
9569
wikitext
text/x-wiki
== Kisah Ayam dan Musang ==
Suatu katiko, ayam itam punyo rajo sadang bajalan-jalan di rimbo. Ayam tu punyo duo limo ikua anak. Inyo nampak bamain-main sahinggo lupo pulang, tapi sasudah balamo-lamo kaluarga ayam indak bisa manamukan jalannyo hinggo inyo tibo di gubuak musang. Karano hari mulai galok, inyo ndak bisa maliek lai. Induak ayam mangatokan pado kaluarga musang untuak manginap di tampeknyo dan musang tu maizinkannyo.
Musang bapikia inyo sakaluarga akan mamakan ayam. Tibo-tibo musang manyarankan kapado ayam untuak tidua di dalam. Walaupun musang manarimo kahadiran kaluarga ayam jo ramah, induak ayam tatap jago-jago karano musang tu musuah inyo. Induak ayam akhirnyo manolak agoan musang jo babarapo alasan dan tatap mamiliah tidua di lua.
Induak ayam mangarami anaknyo karano malam samakin laruik. Inyo tidua di sarambi dapua. Di dakek pangka tu tadapek batang kalawi nan gadang. Induak ayam babisiak kapado anaknyo, inyo mambahas tantang siasaik untuak lari mambao diri, supayo indak dimakan dek musang nan sadang maintai. Anak ayam tu mangguang-guang tando satuju, sadoalahnyo patuah ka kecek induaknyo.
Samantaro itu, di lua gubuak kaluarga musang sadang sibuk maracik rampah jo mambukak bubuak. Tabayang di kapalo inyo ka makan gadang malam ko jo menu ayam nan lamak rasonyo. Anak musang malonjak-lonjak sambia maribuik kagirangan, tapi langsuang di tagua dek urang tuonyo.
"Oih nak, jan mamakak juo, beko tadangan dek induak ayam tu!" kecek induak musang jo suaro nan babisiak-bisiak.
Inyo cameh kalau rancana jaek tu bocor sabalun ayam-ayam tu masuak ka paruik.
Induak ayam hitam nan sadang bajago-jago tanyato punyo pandangan nan tajam. Inyo danga suaro urang bagaduah di dapua musang. Didanganyo elok-elok, mako taulah induak ayam tu kalau musang-musang tu sadang manyadiokan kuali untuak mamasak inyo jo anak-anaknyo.
Waktu taruih bajalan, malam samakin kalam, bulan pun samakin tinggi. Musang lah siap-siap nak manarkam. Untuak mamastian ayam tu lah lalok apo alun, musang mamanggia-manggia dari lua.
"ayam...ayam hitam..lah lalok kau?"
Tiap kali dipanggia, induak ayam taruih manyaruik. Sambia manyaruik, tangannyo (sayok) mangaca anaknyo surang-surang. tiok kali takaca, tabanglah anak ayam tu ciek-ciek ka ateh kalawih nan ado di dakek situ.
Musang nan mandanga suaro sayok tabang tu batanyo ka induak ayam "suaro apo nan badasau tu?. Induak ayam manjawek tanang "Suaro rantiang kayu nan kanai angin tu mah!".
Musang picayo sajo. Tiok kali ado anak ayam nan tabang, induak ayam maagiah alasan nan samo sampai sadoalah anaknyo lah batenggek aman di ateh batang kalawuih. Pado akhianyo, induak ayam tu pun tabang ikuik anak-anaknyo.
Sabalun pai, induak ayam nampak ado ijuak itam jo batu baasahan di ateh sarambi dapua musang. Di situlah akanyo bamain, diambiaknyo batu asahan tu dilatakaannyo di tangah tumpuakan ijuak. Kalau dicaliak dari jauah dalam malam nan kalam, ujuak tu manyarupoi induak ayam nan sadang mangarami anak-anaknyo.
Musang bapikia induak ayam jo anak-anaknyo alah lalok lamak dek alah lamo indak mandanga suaro sahutan. "Iko saatnyo" kecek laki musang.
Inyo bukak pintu jo palahan demi palahan tu langsuang inyo terkam tumpuakan ijuak itam nan disangko ayam tadi.
''Prakk!!!''
Gigi musang patah sadoalahnyo dek manggigik batu asahan nan kareh. Inyo langsuang mati di situ juo. Indak lamo sasudah itu, bini musang kalua pulo, inyo sangko lakinyo alah mandapekan ayam, mangkonyo inyo ikuik manarokam. Nasibnyo samo, inyo jatuah tasungku jo batu asahan tu, Indak lamo anak musang pun manyusul urangtuonyo tasungku di onggokkan batu asahan tu.
Katiko Mato hari lah tabik, kaluarga ayam turun dari ateh batang kalawuih, inyo masuak ka gubuak musang nan lah kosong tu, Di situ inyo manyobokkan lumbuang bareh nan panuah. Kaluarga ayam tu nampak sanang sangaik, makan mamatuak-matuak bareh punyo musang tadi. Indak lamo sasudah itu, tibolah Raja manjapuik inyo sadoalahnyo tu giriang pulang ka rumah. Salasailah kisah Musang nan kalah dek siasaik Induak Ayam nan bijaksana.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
6po0e9w9r8uq94p9iopq2hqzvmag4mf
Asal-Usul Danau Toba
0
2139
9536
2026-05-10T08:57:51Z
Riolin Putri
80
←Mambuek laman baisi "'''Asal usul Danau Toba''' adolah carito rakyat dari urang Batak Toba manganai tabantuaknyo Danau Toba, nan sacaro administratif masuak dalam babarapo kabupaten di Provinsi Sumatera Utara: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, jo Dairi. Ado babarapo mode tantang carito ko. Pado laman ko hanyo manyadiokan carito ciek mode. == Sinopsis == Ado salah surang patani nan banamo Toba nan iduiknyo mambujang. Inyo baharok sabanta lai punyo bini..."
9536
wikitext
text/x-wiki
'''Asal usul Danau Toba''' adolah carito rakyat dari urang Batak Toba manganai tabantuaknyo Danau Toba, nan sacaro administratif masuak dalam babarapo kabupaten di Provinsi Sumatera Utara: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, jo Dairi. Ado babarapo mode tantang carito ko. Pado laman ko hanyo manyadiokan carito ciek mode.
== Sinopsis ==
Ado salah surang patani nan banamo Toba nan iduiknyo mambujang. Inyo baharok sabanta lai punyo bini jo anak. Suatu hari, sasudah bakarajo di ladangnyo, inyo pai mamanciang ka batang aia sarupo hari biaso. Nan indak biaso, hari tu inyo dapek ikan gadang, bawarna ameh. Katiko inyo manangkok ikan tu, inyo takajuik mancaliak ikan tu baso inyo bisa mangecek. Ikan tu mamohon supayo jan dimakan. Dek takajuik, Toba manjatuahan ikan tu ka tanah, dan ikan tu lansuang barubah manjadi padusi nan rancak.
Padusi tu bausaho mananangan Toba. Inyo manjalehan baso Toba baru sajo mambebaskannyo dari kutukan dewata. Inyo mangatokan bahwasanyo inyo amuah manjadi bini si Toba dan baranak jo inyo. Namun, ado ciek janji nan haruih dipanuahi dek Toba: yaitu inyo dilarang untuak mangecekkan asa usua padusi tu, karano inyo barasa dari ikan, kapado siapo sajo, tamasuak anak-anaknyo nan akan datang. Toba pun satuju jo syaraik nan disabuikkan.
Toba jo pasangannyo malahiaan surang anak laki-laki nan banamo Samosir. Inyo mudah lapa dan banyak makan. Acok kali wakatu makan, inyo mahabihan makan untuak porsi tigo urang surang.
Suatu ari, Samosir disuruah maantaan makanan ka ayahnyo ka sawah. Makanan tu indak jadi diantaannyo malah dimakannyo surang. Toba nan sadang lapa pulang jo kondisi berang. Berang si Toba katiko tau makanan tu lah abih dimakan dek si Samosir dan inyo sadang sibuk main. Inyo bangih dan indak sadar maimbau Samosir anak ikan. Sakatiko inyo sadar alah mungkia janji jo bininyo, Toba langsuang manutuik muluiknyo. Pado wakatu itu, bini jo anak-anaknyo ilang. Tibo-tibo, hujan badai turun indak baranti-ranti sampai sungai tu maluap dan marandam Toba jo kampuangnyo. Aia banjir nan laweh ko kudian manjadi Danau, nan dinamokan Danau Toba, dan bukik ketek di tangah dinamokan manjadi Pulau Samosir.
4q7x6u1ydfc1ueb1zrg2p5vqpgrwbwx
9540
9536
2026-05-10T09:18:23Z
Riolin Putri
80
9540
wikitext
text/x-wiki
'''Asal usul Danau Toba''' adolah carito rakyat dari urang Batak Toba manganai tabantuaknyo Danau Toba, nan sacaro administratif masuak dalam babarapo kabupaten di Provinsi Sumatera Utara: Samosir, Toba, Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, jo Dairi. Ado babarapo mode tantang carito ko. Pado laman ko hanyo manyadiokan carito ciek mode.
== Sinopsis ==
Ado salah surang patani nan banamo Toba nan iduiknyo mambujang. Inyo baharok sabanta lai punyo bini jo anak. Suatu hari, sasudah bakarajo di ladangnyo, inyo pai mamanciang ka batang aia sarupo hari biaso. Nan indak biaso, hari tu inyo dapek ikan gadang, bawarna ameh. Katiko inyo manangkok ikan tu, inyo takajuik mancaliak ikan tu baso inyo bisa mangecek. Ikan tu mamohon supayo jan dimakan. Dek takajuik, Toba manjatuahan ikan tu ka tanah, dan ikan tu lansuang barubah manjadi padusi nan rancak.
Padusi tu bausaho mananangan Toba. Inyo manjalehan baso Toba baru sajo mambebaskannyo dari kutukan dewata. Inyo mangatokan bahwasanyo inyo amuah manjadi bini si Toba dan baranak jo inyo. Namun, ado ciek janji nan haruih dipanuahi dek Toba: yaitu inyo dilarang untuak mangecekkan asa usua padusi tu, karano inyo barasa dari ikan, kapado siapo sajo, tamasuak anak-anaknyo nan akan datang. Toba pun satuju jo syaraik nan disabuikkan.
Toba jo pasangannyo malahiaan surang anak laki-laki nan banamo Samosir. Inyo mudah lapa dan banyak makan. Acok kali wakatu makan, inyo mahabihan makan untuak porsi tigo urang surang.
Suatu ari, Samosir disuruah maantaan makanan ka ayahnyo ka sawah. Makanan tu indak jadi diantaannyo malah dimakannyo surang. Toba nan sadang lapa pulang jo kondisi berang. Berang si Toba katiko tau makanan tu lah abih dimakan dek si Samosir dan inyo sadang sibuk main. Inyo bangih dan indak sadar maimbau Samosir anak ikan. Sakatiko inyo sadar alah mungkia janji jo bininyo, Toba langsuang manutuik muluiknyo. Pado wakatu itu, bini jo anak-anaknyo ilang. Tibo-tibo, hujan badai turun indak baranti-ranti sampai sungai tu maluap dan marandam Toba jo kampuangnyo. Aia banjir nan laweh ko kudian manjadi Danau, nan dinamokan Danau Toba, dan bukik ketek di tangah dinamokan manjadi Pulau Samosir.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
8jcqcw9fcqqdvqqnapubwro8kbbiyoc
Lutung Kasarung
0
2140
9537
2026-05-10T09:06:44Z
Tisa0603
87
←Mambuek laman baisi "{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}} [[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]"
9537
wikitext
text/x-wiki
{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}}
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]
2p1e7d5iv2xgdofejoxv4hr8hyqaj1j
9543
9537
2026-05-10T09:19:55Z
Tisa0603
87
9543
wikitext
text/x-wiki
{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}}
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
5za29lmx3599zbhnsssfw7jtaar0i8q
9551
9543
2026-05-10T09:26:55Z
Tisa0603
87
9551
wikitext
text/x-wiki
{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}}
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
Purbararang nan galok mato barancana untuak malukoi adeiaknyo dengan caro mampatamui Purbasari jo panyihir. Hal ko mangakibaikan kulit adiaknyo panuah jo bentol-bentol hitam sahingyo kondisi cando iko mangahruskan Purbasari untuak diasiagkan ka hutan.
Purbasari indak maraso kasapjan di hutan karano inyo banyak mampunyoi kawan hewan-hewan di hutan. Salah satunyo adolah kera. Kera tasabuik selalu setia mangawanan Purbasari. Kera tu salalu mambawoan buah jo bungo untuak manghibur Purbasari.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
4ks472x5c9ovoelkny239aijj7m134h
9555
9551
2026-05-10T09:31:00Z
Tisa0603
87
9555
wikitext
text/x-wiki
{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}}
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
Purbararang nan galok mato barancana untuak malukoi adeiaknyo dengan caro mampatamui Purbasari jo panyihir. Hal ko mangakibaikan kulit adiaknyo panuah jo bentol-bentol hitam sahingyo kondisi cando iko mangahruskan Purbasari untuak diasiagkan ka hutan.
Purbasari indak maraso kasapjan di hutan karano inyo banyak mampunyoi kawan hewan-hewan di hutan. Salah satunyo adolah kera. Kera tasabuik selalu setia mangawanan Purbasari. Kera tu salalu mambawoan buah jo bungo untuak manghibur Purbasari.
Suatu malam sang kera bersemedi, satalah tu tibo-tibo muncua air mambantuak sabuah talago. Talago tasabuik aianyo janiah jo wangi. Kera maminta Purbasari untuak mandi di talago tu
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
gz45d0hrn0inef3xol7jdvhctgfqe9b
9563
9555
2026-05-10T09:55:54Z
Tisa0603
87
9563
wikitext
text/x-wiki
{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}}
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
Purbararang nan galok mato barancana untuak malukoi adeiaknyo dengan caro mampatamui Purbasari jo panyihir. Hal ko mangakibaikan kulit adiaknyo panuah jo bentol-bentol hitam sahingyo kondisi cando iko mangahruskan Purbasari untuak diasiagkan ka hutan.
Purbasari indak maraso kasapjan di hutan karano inyo banyak mampunyoi kawan hewan-hewan di hutan. Salah satunyo adolah kera. Kera tasabuik selalu setia mangawanan Purbasari. Kera tu salalu mambawoan buah jo bungo untuak manghibur Purbasari.
Suatu malam sang kera bersemedi, satalah tu tibo-tibo muncua air mambantuak sabuah talago. Talago tasabuik aianyo janiah jo wangi. Kera maminta Purbasari untuak mandi di talago tu sakatiko tubuah Purbasari kambali rancak samulo bak cando putri nan kamek.
Suatu hari Purbararangbaniek untuak manjanguak adiaknyo Purbasari. Pado mulonyo, ia takajuik mancaliak si Purbasai kambali rancak. Inyo ndak manyarah dan maminta adiaknyo baradu
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
nvxnsf058149j3t2nkjx64zf2b0dgnv
9564
9563
2026-05-10T09:58:04Z
Tisa0603
87
9564
wikitext
text/x-wiki
{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}}
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
Purbararang nan galok mato barancana untuak malukoi adeiaknyo dengan caro mampatamui Purbasari jo panyihir. Hal ko mangakibaikan kulit adiaknyo panuah jo bentol-bentol hitam sahingyo kondisi cando iko mangahruskan Purbasari untuak diasiagkan ka hutan.
Purbasari indak maraso kasapjan di hutan karano inyo banyak mampunyoi kawan hewan-hewan di hutan. Salah satunyo adolah kera. Kera tasabuik selalu setia mangawanan Purbasari. Kera tu salalu mambawoan buah jo bungo untuak manghibur Purbasari.
Suatu malam sang kera bersemedi, satalah tu tibo-tibo muncua air mambantuak sabuah talago. Talago tasabuik aianyo janiah jo wangi. Kera maminta Purbasari untuak mandi di talago tu sakatiko tubuah Purbasari kambali rancak samulo bak cando putri nan kamek.
Suatu hari Purbararangbaniek untuak manjanguak adiaknyo Purbasari. Pado mulonyo, ia takajuik mancaliak si Purbasai kambali rancak. Inyo ndak manyarah dan maminta adiaknyo baradu sia nan panjang rambuik. Tanyato Purbasari labiah panjang rambuiknyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
8h45jrl6n8f4vntbklvcgfkjcjs0793
9565
9564
2026-05-10T09:59:22Z
Tisa0603
87
9565
wikitext
text/x-wiki
{{Navigator tengah|sebelum=[[Kumpulan Cerita Rakyat/Malin Kundang|Malin Kundang]]|sekarang=Lutung Kasarung|buku=Kumpulan Cerita Rakyat|berikut=}}
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
Purbararang nan galok mato barancana untuak malukoi adeiaknyo dengan caro mampatamui Purbasari jo panyihir. Hal ko mangakibaikan kulit adiaknyo panuah jo bentol-bentol hitam sahingyo kondisi cando iko mangahruskan Purbasari untuak diasiagkan ka hutan.
Purbasari indak maraso kasapjan di hutan karano inyo banyak mampunyoi kawan hewan-hewan di hutan. Salah satunyo adolah kera. Kera tasabuik selalu setia mangawanan Purbasari. Kera tu salalu mambawoan buah jo bungo untuak manghibur Purbasari.
Suatu malam sang kera bersemedi, satalah tu tibo-tibo muncua air mambantuak sabuah talago. Talago tasabuik aianyo janiah jo wangi. Kera maminta Purbasari untuak mandi di talago tu sakatiko tubuah Purbasari kambali rancak samulo bak cando putri nan kamek.
Suatu hari Purbararangbaniek untuak manjanguak adiaknyo Purbasari. Pado mulonyo, ia takajuik mancaliak si Purbasai kambali rancak. Inyo ndak manyarah dan maminta adiaknyo baradu sia nan panjang rambuik. Tanyato Purbasari labiah panjang rambuiknyo.
Indak pueh jo itu, Purbararang manuntuik jodoh nan rancak jo tunangannyo. Pado wakatu itu, Purbasari mamacik tangan monyet nan pernah mangawaninyo di rimbo tu, sarato manjamunyo.
Sabuah mukjizat tajadi pado monyet tu. Monyet tu barubah manjadi laki-laki nan sabana gagah, bahkan labiah gagah dari tunangan Purbararang, dan Purbasari manang. Monyet tu aslinyo pangeran dari nagari jauah. Inyo dikutuak manjadi monyet dek salah nan dibueknyo. Inyo hanyo akan barubah baliak manjadi bantuaknyo nan sabananyo jiko ado padusi mudo nan satuju untuak manjadi bininyo.
Pado wakatu itu, Purbararang minta maaf jo mangakui kasalahannyo, dan Purbasari manjadi ratu nan bijaksana, mamimpin karajaan nan diwarihkan dari ayahnyo, basamo jo monyet, atau lutung, nan kini alah barubah manjadi laki-laki rancak.
Purbasari juo mamaafkan adiaknyo dan indak ado niaik untuak mahukumnyo. Indak ado pikiran untuak mambaleh dandam ka inyo nan manyubarang di pikirannyo. Kini Purbasari hiduik bahagia jo cinto hiduiknyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
f4o76l3nlf2726fid58pwr3x0jxn6e7
9568
9565
2026-05-10T10:01:02Z
Tisa0603
87
9568
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
Purbararang nan galok mato barancana untuak malukoi adeiaknyo dengan caro mampatamui Purbasari jo panyihir. Hal ko mangakibaikan kulit adiaknyo panuah jo bentol-bentol hitam sahingyo kondisi cando iko mangahruskan Purbasari untuak diasiagkan ka hutan.
Purbasari indak maraso kasapjan di hutan karano inyo banyak mampunyoi kawan hewan-hewan di hutan. Salah satunyo adolah kera. Kera tasabuik selalu setia mangawanan Purbasari. Kera tu salalu mambawoan buah jo bungo untuak manghibur Purbasari.
Suatu malam sang kera bersemedi, satalah tu tibo-tibo muncua air mambantuak sabuah talago. Talago tasabuik aianyo janiah jo wangi. Kera maminta Purbasari untuak mandi di talago tu sakatiko tubuah Purbasari kambali rancak samulo bak cando putri nan kamek.
Suatu hari Purbararangbaniek untuak manjanguak adiaknyo Purbasari. Pado mulonyo, ia takajuik mancaliak si Purbasai kambali rancak. Inyo ndak manyarah dan maminta adiaknyo baradu sia nan panjang rambuik. Tanyato Purbasari labiah panjang rambuiknyo.
Indak pueh jo itu, Purbararang manuntuik jodoh nan rancak jo tunangannyo. Pado wakatu itu, Purbasari mamacik tangan monyet nan pernah mangawaninyo di rimbo tu, sarato manjamunyo.
Sabuah mukjizat tajadi pado monyet tu. Monyet tu barubah manjadi laki-laki nan sabana gagah, bahkan labiah gagah dari tunangan Purbararang, dan Purbasari manang. Monyet tu aslinyo pangeran dari nagari jauah. Inyo dikutuak manjadi monyet dek salah nan dibueknyo. Inyo hanyo akan barubah baliak manjadi bantuaknyo nan sabananyo jiko ado padusi mudo nan satuju untuak manjadi bininyo.
Pado wakatu itu, Purbararang minta maaf jo mangakui kasalahannyo, dan Purbasari manjadi ratu nan bijaksana, mamimpin karajaan nan diwarihkan dari ayahnyo, basamo jo monyet, atau lutung, nan kini alah barubah manjadi laki-laki rancak.
Purbasari juo mamaafkan adiaknyo dan indak ado niaik untuak mahukumnyo. Indak ado pikiran untuak mambaleh dandam ka inyo nan manyubarang di pikirannyo. Kini Purbasari hiduik bahagia jo cinto hiduiknyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
d684iffqk2sr1qg6b6qyj1tvk3avwcl
9572
9568
2026-05-10T10:03:00Z
Tisa0603
87
9572
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Cover Lutung Kasarung Wikibook.png|500px|pus]]Pado Zaman Daulu kalo tadapek sabuah alkisah Lutung Kasarung. Carito tasabuik dapek dijumpoi xi derah Pasundan. Wakatu itu, disinan tadapek saurang rajo banamo Prabu Tapak Agung. Baliau tu adolah rajo nan sangaik bijaksano jo disukuoi dek masyarakaik nan dipimpinnyo. Rajo Prabu Tapang Agung mampunyoi duo urang anak nan banamo Purbararang jo Purbasari.
Suatu hari sang ayah mandapati pahambuihan nafas tarakhirnyo, tapi diujuang nafasnyo sang rajo bapasan kapado aduo urang anaknyo, Purbararang jo Purbasari. Dalam titahnyo sang ayah, Rajo ingin manurunan tahto nan akan dilanjuikan atau dipimpin dek Purbasari untuak mamimpin kerajaannya. Mandanga kaba nan saparti itu, kakanyo si Purbararang indak tarimo dek Purbararang maraso inyo nan labiah pantas manggantian tahta ayah dek inyo anak nan tartuo.
Purbararang nan galok mato barancana untuak malukoi adeiaknyo dengan caro mampatamui Purbasari jo panyihir. Hal ko mangakibaikan kulit adiaknyo panuah jo bentol-bentol hitam sahingyo kondisi cando iko mangahruskan Purbasari untuak diasiagkan ka hutan.
Purbasari indak maraso kasapjan di hutan karano inyo banyak mampunyoi kawan hewan-hewan di hutan. Salah satunyo adolah kera. Kera tasabuik selalu setia mangawanan Purbasari. Kera tu salalu mambawoan buah jo bungo untuak manghibur Purbasari.
Suatu malam sang kera bersemedi, satalah tu tibo-tibo muncua air mambantuak sabuah talago. Talago tasabuik aianyo janiah jo wangi. Kera maminta Purbasari untuak mandi di talago tu sakatiko tubuah Purbasari kambali rancak samulo bak cando putri nan kamek.
Suatu hari Purbararangbaniek untuak manjanguak adiaknyo Purbasari. Pado mulonyo, ia takajuik mancaliak si Purbasai kambali rancak. Inyo ndak manyarah dan maminta adiaknyo baradu sia nan panjang rambuik. Tanyato Purbasari labiah panjang rambuiknyo.
Indak pueh jo itu, Purbararang manuntuik jodoh nan rancak jo tunangannyo. Pado wakatu itu, Purbasari mamacik tangan monyet nan pernah mangawaninyo di rimbo tu, sarato manjamunyo.
Sabuah mukjizat tajadi pado monyet tu. Monyet tu barubah manjadi laki-laki nan sabana gagah, bahkan labiah gagah dari tunangan Purbararang, dan Purbasari manang. Monyet tu aslinyo pangeran dari nagari jauah. Inyo dikutuak manjadi monyet dek salah nan dibueknyo. Inyo hanyo akan barubah baliak manjadi bantuaknyo nan sabananyo jiko ado padusi mudo nan satuju untuak manjadi bininyo.
Pado wakatu itu, Purbararang minta maaf jo mangakui kasalahannyo, dan Purbasari manjadi ratu nan bijaksana, mamimpin karajaan nan diwarihkan dari ayahnyo, basamo jo monyet, atau lutung, nan kini alah barubah manjadi laki-laki rancak.
Purbasari lah mamafkan sagalo kasalahan adiaknyo jo hati nan lapang, indak saketek juo ado niat di dalam hati untuak mahukumnyo. Indak ado sakali pikiran untuak mambaleh dandam, karano nan ado hanyolah kaikhlasan jo kasadaran untuak malapehkan sagalo nan lah lalu. Purbasari indak lai manyimpan rasa sakit hati, malah inyo miliah untuak manjalanan hiduik jo hati nan tenang. Kini, Purbasari hiduik dalam kabahagiaan basamo jo cinto sajatinyo, manikmati hari-hari nan panuah suka jo damai.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
am33qbd32im1xpgnwjc2b7a61hi9r32
Talua Alang
0
2141
9538
2026-05-10T09:15:26Z
Firman Rusda
353
←Mambuek laman baisi "'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan. == Sinopsis == Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang..."
9538
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang lang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan lang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan lang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi lang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua lang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
==Daftar Pustaka==
{{refbegin|1}}
{{cite book|title=Cerita Lisan Rakyat Lampung Way Kanan|last=Letti|first=Letti|publisher=Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional|year=2001|isbn=979 685 171 7|location=Jakarta|pages=142|ref={{sfnref|Letti|2001}}|url-status=live}}
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
tl5y28r0zyky92ydu7gobvo2viyl8ms
9541
9538
2026-05-10T09:19:16Z
Firman Rusda
353
/* Daftar Pustaka */
9541
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang lang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan lang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan lang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi lang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua lang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
==Daftar Pustaka==
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
ee0vjcfa4bhat61n5zsvqh0l6q770ay
9544
9541
2026-05-10T09:21:47Z
Firman Rusda
353
9544
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang lang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan lang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan lang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi lang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua lang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
==Rujuakan==
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
apz0qj680wwh1o7pjoy478mhf69vgoq
9548
9544
2026-05-10T09:24:44Z
Firman Rusda
353
/* Rujuakan */
9548
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang lang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan lang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan lang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi lang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua lang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
==Rujuakan==
{{refbegin|1}}
{{cite book|title=Cerita Lisan Rakyat Lampung Way Kanan|last=Letti|first=Letti|publisher=Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional|year=2001|isbn=979 685 171 7|location=Jakarta|pages=142|ref={{sfnref|Letti|2001}}|url-status=live}}
[[Kategori:Sastra]]
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
g7vgwvitrc2tnj2dcom5fhqt2xmtqzs
9549
9548
2026-05-10T09:25:20Z
Firman Rusda
353
/* Rujuakan */
9549
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang lang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan lang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan lang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi lang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua lang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
==Rujuakan==
{{cite book|title=Cerita Lisan Rakyat Lampung Way Kanan|last=Letti|first=Letti|publisher=Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional|year=2001|isbn=979 685 171 7|location=Jakarta|pages=142|ref={{sfnref|Letti|2001}}|url-status=live}}
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
oow31wsb23tv20f5q8iink74fc084w6
9550
9549
2026-05-10T09:26:07Z
Firman Rusda
353
9550
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang lang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan lang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan lang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi lang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua lang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
l5hdm1kix5t7q4txl4pcczgpo9n2k0t
9552
9550
2026-05-10T09:27:40Z
Firman Rusda
353
9552
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero sarato rakuih makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang lang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan lang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan lang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi lang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua lang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
gzv7xhnmj3uz9d0xfry3mc4ekkxcj6y
9553
9552
2026-05-10T09:29:33Z
Firman Rusda
353
9553
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero sarato rakuih makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari pun samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang alang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan alang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan alang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi alang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua alang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
hm2k1dvx02h14hxapa1q9oycoq0dtkf
9556
9553
2026-05-10T09:31:39Z
Firman Rusda
353
9556
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero sarato rakuih makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo samba-sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari pun samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang alang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan alang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan alang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi alang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua alang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
lu5pljqt4kpex5hla84ftr2mqw9y75r
9557
9556
2026-05-10T09:32:46Z
Firman Rusda
353
9557
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano nan rancak tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero sarato rakuih makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo samba-sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari pun samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan kabua dari istano saalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang alang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan alang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan alang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi alang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua alang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
9ojk49af8wqi1ujvs2l56xt5fbm477f
9560
9557
2026-05-10T09:34:38Z
Firman Rusda
353
9560
wikitext
text/x-wiki
'''Talua Alang''' adolah salah satu karya sastra lamo nan pokok kisahnyo barasa dari Way Kanan, Provinsi Lampung. Karya sastra iko merupokan carito fiktif nan disampaikan lewat tradisi lisan.
== Sinopsis ==
Konon kabanyo, di sabuah istano nan rancak tinggalah sapasang rajo jo parmaisuri nan hiduik basamo katujuah putinyo. Babedo jo si bungsu, anam urang uninyo tanamo mampunyoi parangai nan indak elok. Urang tu gadang salero sarato rakuih makannyo, sainggo satiok pagi jo patang, manjalang jam makan, sang rajo jo parmaisuri tapaso manyadiokan sakancah gadang nasi sarato jo samba-sambanyo. Bimbang kok kalak mambao nan indak rancak ka dalam istano, sang rajo jo parmaisuri mancari aka untuak mausia kaanam putinyo tu, baharok dapek mailangkan tabiaik buruaknyo tu.
Sang rajo mampunyoi niaik untuak mananam babarapo incek mantimun di dakek sumua nan dalam bana. Isuak, mantimun tu urek jo jalonyo katurun marambek hinggo ka dasa sumua. Rajo baniaik supayo puti-putinyo nan rakuih tu jatuah ka dalam sumua nan dalam sainggo indak dapek baliak ka ateh lai. Hari baganti hari, mantimun tumbuah subua sarato tibolah maso mamanen. Rajo lalu mambari titah pado anak-anaknyo nan rakuih tu untuak lakeh mamatiknyo. Kaanam puti manyambuik parintah rajo tu jo rasonyo nan sanang hati. Urang tu dapek mamatik mantimun sapuehnyo, indak lupo pulo si bungsu sato dek tapaso diajak dek uninyo nan suluang.
Hari pun samakin patang, hasil piakan alah manggunuang, indak sadar kaanam gadih tu alah tajajak sampai di dasa sumua. Inyo tajabak indak dapek kalua lai sainggo si suluang mamintak tolong ka si bungsu untuak mambaoknyo kalua. Si bungsu hanyo dapek manuruikkan kahandak uninyo. Tapi sasudah salamaik urang tu indak nio baliak ka istano. Badasarkan pandapek si bungsu, urang tu mamutuihkan untuak kabua dari istano satalah mangatahui aka sang rajo nan nio mausia puti-putinyo.
Pado suatu hari, di tampek nan jauah dari istano, tasabuiklah pulo katujuah urang dunsanak tu hiduik di sabuah dangau nan buruak. Suatu kutiko dangau nyo dihinggok-i dek saikua buruang alang ajaib nan nio batalua. Indak surang juo dari kaanam uninyo tu nan namuah mambiyakan alang tu mangarami taluanyo dek nio ka marusak dangau urang tu, hanyo si bungsu nan rila mambiyakan alang ajaib batalua di ateh dangaunyo. Tiok harinyo si bungsu mangumpuakan tahi alang nan kironyo tabuek dari ameh sarato jo rontokan bulu-bulunyo nan dapek dijadian parhiasan.
Babarapo hari kamudian kutiko kaanam uninyo pulang ka dangau, urang tu takajuik mancaliak ado banyak makanan nan alah tasadio di meja. Kironyo makanan tu barasa dari talua alang si bungsu. Indak hanyo itu, talua tu sacaro ajaib mangaluarkan surang pangeran nan gagah. Rancak rupinyo indak luput dari pandangan kaanam uni si bungsu. Urang tu mancubo marayunyo tapi pangeran tu hanyo nio dakek jo si bungsu. Hinggo akhirnyo pangeran manikah jo si bungsu lalu pindah tingga di istano manggantikan rajo sabalunnyo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
fai3r3k8vw1zfhn0sj0u99tc1ao0ns8
Hikayat Indra Bangsawan
0
2142
9539
2026-05-10T09:17:38Z
Triwahyuni.o
356
←Mambuek laman baisi "'''Di sabuah''' karajaan nan gadang, makmur dan dihormati, tingga surang rajo nan arif nan bijaksano. Baliau punyo ciek anak laki-laki nan banamo Indra Bangsawan. Sajak ketek, Indra Bangsawan dididik ilmu kapamimpinan, parang, agamo, jo sastra. Wajahnyo rancak, lakunyo lembut, dan punyo pikiran nan tajam. Rakyaik punyo harapan nan tinggi kapadonyo. Namun, walaupun tingga di kamewahan istano, hati Indra Bangsawan salalu maraso ado nan kurang. Inyo acok duduak bamanu..."
9539
wikitext
text/x-wiki
'''Di sabuah''' karajaan nan gadang, makmur dan dihormati, tingga surang rajo nan arif nan bijaksano. Baliau punyo ciek anak laki-laki nan banamo Indra Bangsawan. Sajak ketek, Indra Bangsawan dididik ilmu kapamimpinan, parang, agamo, jo sastra. Wajahnyo rancak, lakunyo lembut, dan punyo pikiran nan tajam. Rakyaik punyo harapan nan tinggi kapadonyo.
Namun, walaupun tingga di kamewahan istano, hati Indra Bangsawan salalu maraso ado nan kurang. Inyo acok duduak bamanuang di barando istano, mamandang ka lua ka lauik lapeh, seolah-olah takdir maimbaunyo.
Di suatu malam, Indra Bangsawan bamimpi.
Dalam mimpinyo, inyo mancaliak padusi nan mukonyo basinar, mamakai baju nan bakilek-kilek sarupo cahayo bulan. Padusi tu tagak di taman nan ditanami bungo kamuniang jo bungo kanango. Alun sempat nyo batanyo sia padusitu, bayangannyo ilang.
Sajak malam tu Indra Bangsawan galisah. Inyo yakin baso padusi nan ado dalam mimpinyo tu bukan hanyo ciptaan imajinasinyo. Baliau adolah takdir.
Sasudah bakonsultasi jo ahli nujum jo urang santiang istano, inyo manjadi tahu baso padusi dalam mimpinyo adolah Putri Kemala Sari, saorang putri dari karajaan jauah nan tanamo kacantikan jo kecerdasannyo.
Tanpa ragu-ragu, Indra Bangsawan mamintak izin ka ayahnyo untuak balayia mancari Putri Kemala Sari.
Rajo awalnyo khawatir, tapi mancaliak tekad anaknyo, inyo mambarikan restunyo dan bapasan, "Jan hanyo mambaok Padang; baoklah kasabaran jo kabijaksanaan juo."
Perjalanan nan panuah jo cobaan
Pajalanan Indra Bangsawan indak biaso-biaso sajo. Inyo tapaso malayari lauik nan luas dan tanamo ganas. Galombang satinggi bukik-bukik malantak kapanyo, angin badai mancabiak layar kapanyo. Tapi inyo tatap taguah, mamimpin awak kapanyo jo gagah.
Sabalun tibo di tampek tujuan, inyo menghadapi ujian lain.
Di sabuah pulau nan jauah, kapanyo disarang dek bajak lauik. Indra Bangsawan indak hanyo mangandalkan kakuatan padangnyo tapi juo akalnyo. Inyo marancang strategi, mangalahkan musuah-musuahnyo, jo bahasil manyalamaikan saluruah awak kapa tanpa kahilangan nyawa.
Sasudah babulan-bulan balayia, akhianyo tibolah inyo di karajaan tampek tingga Putri Kemala Sari.
Namun, kadatangannyo indak disambuik angek.
Rajo nagari lah maadokan sayembara. Siapo sajo nan baniaik manikah jo Putri Kemala Sari tapaso mangalahkan hulubalang paliang kuek di karajaan, manjawek tigo patanyoan nan panuah teka-teki dari putri, jo mambuktikan kasatiaan jo tekadnyo.
Banyak pangeran dari babagai nagari nan lah mancubo. Sadonyo lah gagal.
Katiko Indra Bangsawan partamo kali mancaliak Putri Kemala Sari, inyo tadiam. Mukonyo memang rancak sarupo dalam mimpi, tapi nan labiah mambuek urang terpikat adolah sorot matonyo nan cadiak.
Putri Kemala Sari bukanlah padusi nan hanyo manunggu untuak disalamaikan. Inyo ingin pasangan nan satara pikiran jo jiwanyo.
Dalam ujian partamo, Indra Bangsawan bacakak jo Hulubalang istano. Cakak tu sabana sengit. Namun, inyo indak mambunuah lawannyo. Inyo mamiliah untuak malumpuahkannyo dan maagiah hormat. Sikap ksatria ko mambuek saluruah istano indak bisa mangecek dek kagum.
Batanyolah Putri Kemala Sari, "Apo nan labiah kuek dari baja, labiah laweh dari lautan, sarato labiah tajam dari karih?"
Indra Bangsawan manjawek, "Tekad jo cinto nan tulus. Baja bisa pacah, lauik bisa suruik, karih bisa manjadi kusam. Tapi hati nan taguah indak akan mudah hancua."
Jawaban itu mambuek Putri Kemala Sari tasanyum untuak partamo kalinyo.
Ujian tarakhir adolah kasatiaan. Indra Bangsawan tapaso iduik di karajaan salamo suatu jangka wakatu tanpa gala karajaan, iduik sarupo urang biaso, untuak mambuktikan baso cintonyo bukan untuak bakuaso. Inyo manarimo.
Salamo itu, inyo manolong rakyaik, mampaelok-i saluran aia, maajaan silek ka pamuda kampuang, sarato mandangakan keluhan urang-urang tu. Urang-urang tu mulai suko ka inyo.
Putri Kemala Sari manyaksikan itu sadonyo. Inyo tahu kalau laki-laki ko indak hanyo rancak dan gagah, tapi juo punyo hati nan lueh.
Tapi carito mereka alun salasai.
Saurang pangeran cemburu dari nagari lain basakongkol untuak manggulingakan Indra Bangsawan. Pangerantu manuduah inyo sabagai mata-mata jo pangkhianat. Fitnah iko hampia manyababkan Indra Bangsawan di agiah hukuman.
Dalam kaadaan kritis, Putri Kemala Sari tagak untuak kabanaran. Inyo mangamukokan tipu daya pangeran tu jo kecerdasannyo.
Kabanaran akhianyo tarang. Pangeran nan jahek tu diusia dari nagari tu.
Rajo nagaritu akhianyo mangaku baso Indra Bangsawan alah luluih sagalo ujian, indak hanyo sabagai calon suami, tapi sabagai calon pamimpin.
Pernikahan mereka dirayokan jo adaik nan megah. Musik gambus jo musik rabana mangiringi prosesi. Urang banyak bagadang ati.
Indra Bangsawan jo Putri Kemala Sari kamudian mamarintah kaduo karajaan jo bijaksana. Inyo mamarentah indak jo raso takuik, tapi jo adil sarato jo kasiah sayang.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
nqfjz1zz0z68dbef0vuffusga4c7fj9
9575
9539
2026-05-10T10:09:36Z
Triwahyuni.o
356
9575
wikitext
text/x-wiki
'''Di sabuah''' karajaan nan gadang, makmur dan dihormati, tingga surang rajo nan arif nan bijaksano. Baliau punyo ciek anak laki-laki nan banamo Indra Bangsawan. Sajak ketek, Indra Bangsawan dididik ilmu kapamimpinan, parang, agamo, jo sastra. Wajahnyo rancak, lakunyo lembut, dan punyo pikiran nan tajam. Rakyaik punyo harapan nan tinggi kapadonyo.
Namun, walaupun tingga di kamewahan istano, hati Indra Bangsawan salalu maraso ado nan kurang. Inyo acok duduak bamanuang di barando istano, mamandang ka lua ka lauik lapeh, seolah-olah takdir maimbaunyo.
Di suatu malam, Indra Bangsawan bamimpi. Dalam mimpinyo, inyo mancaliak padusi nan mukonyo basinar, mamakai baju nan bakilek-kilek sarupo cahayo bulan. Padusi tu tagak di taman nan ditanami bungo kamuniang jo bungo kanango. Alun sempat nyo batanyo sia padusitu, bayangannyo ilang.
Sajak malam tu Indra Bangsawan galisah. Inyo yakin baso padusi nan ado dalam mimpinyo tu bukan hanyo ciptaan imajinasinyo. Baliau adolah takdir. Sasudah bakonsultasi jo ahli nujum jo urang santiang istano, inyo manjadi tahu baso padusi dalam mimpinyo adolah Putri Kemala Sari, saorang putri dari karajaan jauah nan tanamo kacantikan jo kecerdasannyo. Tanpa ragu-ragu, Indra Bangsawan mamintak izin ka ayahnyo untuak balayia mancari Putri Kemala Sari.
Rajo awalnyo khawatir, tapi mancaliak tekad anaknyo, inyo mambarikan restunyo dan bapasan, "Jan hanyo mambaok Padang; baoklah kasabaran jo kabijaksanaan juo."Perjalanan nan panuah jo cobaan
Pajalanan Indra Bangsawan indak biaso-biaso sajo. Inyo tapaso malayari lauik nan luas dan tanamo ganas. Galombang satinggi bukik-bukik malantak kapanyo, angin badai mancabiak layar kapanyo. Tapi inyo tatap taguah, mamimpin awak kapanyo jo gagah.
Sabalun tibo di tampek tujuan, inyo menghadapi ujian lain. Di sabuah pulau nan jauah, kapanyo disarang dek bajak lauik. Indra Bangsawan indak hanyo mangandalkan kakuatan padangnyo tapi juo akalnyo. Inyo marancang strategi, mangalahkan musuah-musuahnyo, jo bahasil manyalamaikan saluruah awak kapa tanpa kahilangan nyawa.
Sasudah babulan-bulan balayia, akhianyo tibolah inyo di karajaan tampek tingga Putri Kemala Sari. Namun, kadatangannyo indak disambuik angek. Rajo nagari lah maadokan sayembara. Siapo sajo nan baniaik manikah jo Putri Kemala Sari tapaso mangalahkan hulubalang paliang kuek di karajaan, manjawek tigo patanyoan nan panuah teka-teki dari putri, jo mambuktikan kasatiaan jo tekadnyo.
Banyak pangeran dari babagai nagari nan lah mancubo. Sadonyo lah gagal. Katiko Indra Bangsawan partamo kali mancaliak Putri Kemala Sari, inyo tadiam. Mukonyo memang rancak sarupo dalam mimpi, tapi nan labiah mambuek urang terpikat adolah sorot matonyo nan cadiak.
Putri Kemala Sari bukanlah padusi nan hanyo manunggu untuak disalamaikan. Inyo ingin pasangan nan satara pikiran jo jiwanyo. Dalam ujian partamo, Indra Bangsawan bacakak jo Hulubalang istano. Cakak tu sabana sengit. Namun, inyo indak mambunuah lawannyo. Inyo mamiliah untuak malumpuahkannyo dan maagiah hormat. Sikap ksatria ko mambuek saluruah istano indak bisa mangecek dek kagum.
Batanyolah Putri Kemala Sari, "Apo nan labiah kuek dari baja, labiah laweh dari lautan, sarato labiah tajam dari karih?". Indra Bangsawan manjawek, "Tekad jo cinto nan tulus. Baja bisa pacah, lauik bisa suruik, karih bisa manjadi kusam. Tapi hati nan taguah indak akan mudah hancua." Jawaban itu mambuek Putri Kemala Sari tasanyum untuak partamo kalinyo.
Ujian tarakhir adolah kasatiaan. Indra Bangsawan tapaso iduik di karajaan salamo suatu jangka wakatu tanpa gala karajaan, iduik sarupo urang biaso, untuak mambuktikan baso cintonyo bukan untuak bakuaso. Inyo manarimo. Salamo itu, inyo manolong rakyaik, mampaelok-i saluran aia, maajaan silek ka pamuda kampuang, sarato mandangakan keluhan urang-urang tu. Urang-urang tu mulai suko ka inyo.
Putri Kemala Sari manyaksikan itu sadonyo. Inyo tahu kalau laki-laki ko indak hanyo rancak dan gagah, tapi juo punyo hati nan lueh. Tapi carito mereka alun salasai. Saurang pangeran cemburu dari nagari lain basakongkol untuak manggulingakan Indra Bangsawan. Pangerantu manuduah inyo sabagai mata-mata jo pangkhianat. Fitnah iko hampia manyababkan Indra Bangsawan di agiah hukuman.
Dalam kaadaan kritis, Putri Kemala Sari tagak untuak kabanaran. Inyo mangamukokan tipu daya pangeran tu jo kecerdasannyo. Kabanaran akhianyo tarang. Pangeran nan jahek tu diusia dari nagari tu. Rajo nagaritu akhianyo mangaku baso Indra Bangsawan alah luluih sagalo ujian, indak hanyo sabagai calon suami, tapi sabagai calon pamimpin.
Pernikahan mereka dirayokan jo adaik nan megah. Musik gambus jo musik rabana mangiringi prosesi. Urang banyak bagadang ati. Indra Bangsawan jo Putri Kemala Sari kamudian mamarintah kaduo karajaan jo bijaksana. Inyo mamarentah indak jo raso takuik, tapi jo adil sarato jo kasiah sayang.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
tq0ymcf9elg5c99tf8qo457ywdxpub4
9578
9575
2026-05-10T10:11:04Z
Triwahyuni.o
356
9578
wikitext
text/x-wiki
'''Di sabuah''' karajaan nan gadang, makmur dan dihormati, tingga surang rajo nan arif nan bijaksano. Baliau punyo ciek anak laki-laki nan banamo Indra Bangsawan. Sajak ketek, Indra Bangsawan dididik ilmu kapamimpinan, parang, agamo, jo sastra. Wajahnyo rancak, lakunyo lembut, dan punyo pikiran nan tajam. Rakyaik punyo harapan nan tinggi kapadonyo. Namun, walaupun tingga di kamewahan istano, hati Indra Bangsawan salalu maraso ado nan kurang. Inyo acok duduak bamanuang di barando istano, mamandang ka lua ka lauik lapeh, seolah-olah takdir maimbaunyo.
Di suatu malam, Indra Bangsawan bamimpi. Dalam mimpinyo, inyo mancaliak padusi nan mukonyo basinar, mamakai baju nan bakilek-kilek sarupo cahayo bulan. Padusi tu tagak di taman nan ditanami bungo kamuniang jo bungo kanango. Alun sempat nyo batanyo sia padusitu, bayangannyo ilang. Sajak malam tu Indra Bangsawan galisah. Inyo yakin baso padusi nan ado dalam mimpinyo tu bukan hanyo ciptaan imajinasinyo. Baliau adolah takdir. Sasudah bakonsultasi jo ahli nujum jo urang santiang istano, inyo manjadi tahu baso padusi dalam mimpinyo adolah Putri Kemala Sari, saorang putri dari karajaan jauah nan tanamo kacantikan jo kecerdasannyo. Tanpa ragu-ragu, Indra Bangsawan mamintak izin ka ayahnyo untuak balayia mancari Putri Kemala Sari. Rajo awalnyo khawatir, tapi mancaliak tekad anaknyo, inyo mambarikan restunyo dan bapasan, "Jan hanyo mambaok Padang; baoklah kasabaran jo kabijaksanaan juo."Perjalanan nan panuah jo cobaan
Pajalanan Indra Bangsawan indak biaso-biaso sajo. Inyo tapaso malayari lauik nan luas dan tanamo ganas. Galombang satinggi bukik-bukik malantak kapanyo, angin badai mancabiak layar kapanyo. Tapi inyo tatap taguah, mamimpin awak kapanyo jo gagah. Sabalun tibo di tampek tujuan, inyo menghadapi ujian lain. Di sabuah pulau nan jauah, kapanyo disarang dek bajak lauik. Indra Bangsawan indak hanyo mangandalkan kakuatan padangnyo tapi juo akalnyo. Inyo marancang strategi, mangalahkan musuah-musuahnyo, jo bahasil manyalamaikan saluruah awak kapa tanpa kahilangan nyawa.
Sasudah babulan-bulan balayia, akhianyo tibolah inyo di karajaan tampek tingga Putri Kemala Sari. Namun, kadatangannyo indak disambuik angek. Rajo nagari lah maadokan sayembara. Siapo sajo nan baniaik manikah jo Putri Kemala Sari tapaso mangalahkan hulubalang paliang kuek di karajaan, manjawek tigo patanyoan nan panuah teka-teki dari putri, jo mambuktikan kasatiaan jo tekadnyo. Banyak pangeran dari babagai nagari nan lah mancubo. Sadonyo lah gagal. Katiko Indra Bangsawan partamo kali mancaliak Putri Kemala Sari, inyo tadiam. Mukonyo memang rancak sarupo dalam mimpi, tapi nan labiah mambuek urang terpikat adolah sorot matonyo nan cadiak.
Putri Kemala Sari bukanlah padusi nan hanyo manunggu untuak disalamaikan. Inyo ingin pasangan nan satara pikiran jo jiwanyo. Dalam ujian partamo, Indra Bangsawan bacakak jo Hulubalang istano. Cakak tu sabana sengit. Namun, inyo indak mambunuah lawannyo. Inyo mamiliah untuak malumpuahkannyo dan maagiah hormat. Sikap ksatria ko mambuek saluruah istano indak bisa mangecek dek kagum.
Batanyolah Putri Kemala Sari, "Apo nan labiah kuek dari baja, labiah laweh dari lautan, sarato labiah tajam dari karih?". Indra Bangsawan manjawek, "Tekad jo cinto nan tulus. Baja bisa pacah, lauik bisa suruik, karih bisa manjadi kusam. Tapi hati nan taguah indak akan mudah hancua." Jawaban itu mambuek Putri Kemala Sari tasanyum untuak partamo kalinyo. Ujian tarakhir adolah kasatiaan. Indra Bangsawan tapaso iduik di karajaan salamo suatu jangka wakatu tanpa gala karajaan, iduik sarupo urang biaso, untuak mambuktikan baso cintonyo bukan untuak bakuaso. Inyo manarimo. Salamo itu, inyo manolong rakyaik, mampaelok-i saluran aia, maajaan silek ka pamuda kampuang, sarato mandangakan keluhan urang-urang tu. Urang-urang tu mulai suko ka inyo.
Putri Kemala Sari manyaksikan itu sadonyo. Inyo tahu kalau laki-laki ko indak hanyo rancak dan gagah, tapi juo punyo hati nan lueh. Tapi carito mereka alun salasai. Saurang pangeran cemburu dari nagari lain basakongkol untuak manggulingakan Indra Bangsawan. Pangerantu manuduah inyo sabagai mata-mata jo pangkhianat. Fitnah iko hampia manyababkan Indra Bangsawan di agiah hukuman. Dalam kaadaan kritis, Putri Kemala Sari tagak untuak kabanaran. Inyo mangamukokan tipu daya pangeran tu jo kecerdasannyo. Kabanaran akhianyo tarang. Pangeran nan jahek tu diusia dari nagari tu. Rajo nagaritu akhianyo mangaku baso Indra Bangsawan alah luluih sagalo ujian, indak hanyo sabagai calon suami, tapi sabagai calon pamimpin.
Pernikahan mereka dirayokan jo adaik nan megah. Musik gambus jo musik rabana mangiringi prosesi. Urang banyak bagadang ati. Indra Bangsawan jo Putri Kemala Sari kamudian mamarintah kaduo karajaan jo bijaksana. Inyo mamarentah indak jo raso takuik, tapi jo adil sarato jo kasiah sayang.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
ohi47d77i57b0b6x9zs8fvhsbhyvxdc
Buayo Sungai Musi
0
2143
9542
2026-05-10T09:19:52Z
Riolin Putri
80
←Mambuek laman baisi "Pado maso dulu, katiko Palembang masih sabagian gadang dikuliliangi rawa-rawa, daerah ko marupoan tampek bakumpuanyo buayo. Buayo-buayo ko indak hanyo ganeh tapi inyo juo mamangso panduduak nan sadang mandi, mancuci, atau mamanciang di tapi sungai. Rajo Palembang pado wakatu itu, inyo basamo jo duo panasehatnyo, yaitu Panasehat Militer jo Panasehat Kasajahteraan, sadang mambahas baa caro manangani ancaman buayo di Sungai Musi ko. Penasehat Militer tu kamudian mangu..."
9542
wikitext
text/x-wiki
Pado maso dulu, katiko Palembang masih sabagian gadang dikuliliangi rawa-rawa, daerah ko marupoan tampek bakumpuanyo buayo. Buayo-buayo ko indak hanyo ganeh tapi inyo juo mamangso panduduak nan sadang mandi, mancuci, atau mamanciang di tapi sungai.
Rajo Palembang pado wakatu itu, inyo basamo jo duo panasehatnyo, yaitu Panasehat Militer jo Panasehat Kasajahteraan, sadang mambahas baa caro manangani ancaman buayo di Sungai Musi ko. Penasehat Militer tu kamudian mangusulkan untuak manyusun sadoalah tantara karajaan nan paliang tageh ka tapi sungai untuak mambunuah buayo-buayo tu. Tapi, Panasehat Kasajahteraan manantang saran iko, inyo bapandapek bahwasanyo karajaan hanyo akan kahilangan tantaranyo nan paliang tageh. Inyo kamudian mangusulkan untuak maimbau salah surang tokoh nan bakuaso, nan dikenal sabagai dukun, dari nagari sabalah untuak manjinakkan buayo-buayo nan ganeh tu.
Sasudah baminggu-minggu manunggu dukun ko tibo, Rajo nan Mulia ko langsuang mamarintahkan dukun untuak manjinakkan buayo tu. Di tapi Sungai Musi, dukun tu mamulai ritualnyo jo babarapo isyarat tangan sarato malagukan mantra. Inyo lalu mambuang talua ka batang aia.
Mulai dari itu Sungai Musi aman dari buayo. Dukun tu kudian diagiah hadiah nan malimpah dek Rajo, nan mambuek Penasehat Militer bangih. Inyo lalu malakukan tipu daya nan dimukasuik untuak marugikan dukun tu. Inyo maajak dukun tu ka tapi Sungai Musi, jauah ka pedalaman dari pusat kerajaan.
qurf464b48iogienu65pyalonrd1wir
9545
9542
2026-05-10T09:23:30Z
Riolin Putri
80
9545
wikitext
text/x-wiki
Pado maso dulu, katiko Palembang masih sabagian gadang dikuliliangi rawa-rawa, daerah ko marupoan tampek bakumpuanyo buayo. Buayo-buayo ko indak hanyo ganeh tapi inyo juo mamangso panduduak nan sadang mandi, mancuci, atau mamanciang di tapi sungai.
Rajo Palembang pado wakatu itu, inyo basamo jo duo panasehatnyo, yaitu Panasehat Militer jo Panasehat Kasajahteraan, sadang mambahas baa caro manangani ancaman buayo di Sungai Musi ko. Penasehat Militer tu kamudian mangusulkan untuak manyusun sadoalah tantara karajaan nan paliang tageh ka tapi sungai untuak mambunuah buayo-buayo tu. Tapi, Panasehat Kasajahteraan manantang saran iko, inyo bapandapek bahwasanyo karajaan hanyo akan kahilangan tantaranyo nan paliang tageh. Inyo kamudian mangusulkan untuak maimbau salah surang tokoh nan bakuaso, nan dikenal sabagai dukun, dari nagari sabalah untuak manjinakkan buayo-buayo nan ganeh tu.
Sasudah baminggu-minggu manunggu dukun ko tibo, Rajo nan Mulia ko langsuang mamarintahkan dukun untuak manjinakkan buayo tu. Di tapi Sungai Musi, dukun tu mamulai ritualnyo jo babarapo isyarat tangan sarato malagukan mantra. Inyo lalu mambuang talua ka batang aia.
Mulai dari itu Sungai Musi aman dari buayo. Dukun tu kudian diagiah hadiah nan malimpah dek Rajo, nan mambuek Penasehat Militer bangih. Inyo lalu malakukan tipu daya nan dimukasuik untuak marugikan dukun tu. Inyo maajak dukun tu ka tapi Sungai Musi, jauah ka pedalaman dari pusat kerajaan.
Satibonyo di pedalaman, dukun tu malakukan ritual manjinakkan buayo nan biaso. Sabalun barangkek, Penasehat Militer mamulai tindakannyo jo mancubo mamprovokasi dukun tu untuak berang. Maraso diremehkan, dukun tu langsuang manapuak parmukaan aia tigo kali. Sakatiko, buayo-buayo nan jinak sabalunnyo manjadi ganas. Katiko dukun tu lah salasai, Penasehat Militer tu, jo kakuatan panuah, mandorong dukun tu ka buayo-buayo tu. Indak heran, dukun tu dimakan buayo-buayo tu dan dibunuah. Dek tindakannyo, Penasehat Militer dihukum dek Rajo.
1ej3cw298r4i3tbj1h16ar1gis2d4nb
9546
9545
2026-05-10T09:24:23Z
Riolin Putri
80
9546
wikitext
text/x-wiki
Pado maso dulu, katiko Palembang masih sabagian gadang dikuliliangi rawa-rawa, daerah ko marupoan tampek bakumpuanyo buayo. Buayo-buayo ko indak hanyo ganeh tapi inyo juo mamangso panduduak nan sadang mandi, mancuci, atau mamanciang di tapi sungai.
Rajo Palembang pado wakatu itu, inyo basamo jo duo panasehatnyo, yaitu Panasehat Militer jo Panasehat Kasajahteraan, sadang mambahas baa caro manangani ancaman buayo di Sungai Musi ko. Penasehat Militer tu kamudian mangusulkan untuak manyusun sadoalah tantara karajaan nan paliang tageh ka tapi sungai untuak mambunuah buayo-buayo tu. Tapi, Panasehat Kasajahteraan manantang saran iko, inyo bapandapek bahwasanyo karajaan hanyo akan kahilangan tantaranyo nan paliang tageh. Inyo kamudian mangusulkan untuak maimbau salah surang tokoh nan bakuaso, nan dikenal sabagai dukun, dari nagari sabalah untuak manjinakkan buayo-buayo nan ganeh tu.
Sasudah baminggu-minggu manunggu dukun ko tibo, Rajo nan Mulia ko langsuang mamarintahkan dukun untuak manjinakkan buayo tu. Di tapi Sungai Musi, dukun tu mamulai ritualnyo jo babarapo isyarat tangan sarato malagukan mantra. Inyo lalu mambuang talua ka batang aia.
Mulai dari itu Sungai Musi aman dari buayo. Dukun tu kudian diagiah hadiah nan malimpah dek Rajo, nan mambuek Penasehat Militer bangih. Inyo lalu malakukan tipu daya nan dimukasuik untuak marugikan dukun tu. Inyo maajak dukun tu ka tapi Sungai Musi, jauah ka pedalaman dari pusat kerajaan.
Satibonyo di pedalaman, dukun tu malakukan ritual manjinakkan buayo nan biaso. Sabalun barangkek, Penasehat Militer mamulai tindakannyo jo mancubo mamprovokasi dukun tu untuak berang. Maraso diremehkan, dukun tu langsuang manapuak parmukaan aia tigo kali. Sakatiko, buayo-buayo nan jinak sabalunnyo manjadi ganas. Katiko dukun tu lah salasai, Penasehat Militer tu, jo kakuatan panuah, mandorong dukun tu ka buayo-buayo tu. Indak heran, dukun tu dimakan buayo-buayo tu dan dibunuah. Dek tindakannyo, Penasehat Militer dihukum dek Rajo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
t0ods6uqkhn0h0xvc1rs272l0ssxjnv
9547
9546
2026-05-10T09:24:39Z
Riolin Putri
80
9547
wikitext
text/x-wiki
'''Pado maso dulu''', katiko Palembang masih sabagian gadang dikuliliangi rawa-rawa, daerah ko marupoan tampek bakumpuanyo buayo. Buayo-buayo ko indak hanyo ganeh tapi inyo juo mamangso panduduak nan sadang mandi, mancuci, atau mamanciang di tapi sungai.
Rajo Palembang pado wakatu itu, inyo basamo jo duo panasehatnyo, yaitu Panasehat Militer jo Panasehat Kasajahteraan, sadang mambahas baa caro manangani ancaman buayo di Sungai Musi ko. Penasehat Militer tu kamudian mangusulkan untuak manyusun sadoalah tantara karajaan nan paliang tageh ka tapi sungai untuak mambunuah buayo-buayo tu. Tapi, Panasehat Kasajahteraan manantang saran iko, inyo bapandapek bahwasanyo karajaan hanyo akan kahilangan tantaranyo nan paliang tageh. Inyo kamudian mangusulkan untuak maimbau salah surang tokoh nan bakuaso, nan dikenal sabagai dukun, dari nagari sabalah untuak manjinakkan buayo-buayo nan ganeh tu.
Sasudah baminggu-minggu manunggu dukun ko tibo, Rajo nan Mulia ko langsuang mamarintahkan dukun untuak manjinakkan buayo tu. Di tapi Sungai Musi, dukun tu mamulai ritualnyo jo babarapo isyarat tangan sarato malagukan mantra. Inyo lalu mambuang talua ka batang aia.
Mulai dari itu Sungai Musi aman dari buayo. Dukun tu kudian diagiah hadiah nan malimpah dek Rajo, nan mambuek Penasehat Militer bangih. Inyo lalu malakukan tipu daya nan dimukasuik untuak marugikan dukun tu. Inyo maajak dukun tu ka tapi Sungai Musi, jauah ka pedalaman dari pusat kerajaan.
Satibonyo di pedalaman, dukun tu malakukan ritual manjinakkan buayo nan biaso. Sabalun barangkek, Penasehat Militer mamulai tindakannyo jo mancubo mamprovokasi dukun tu untuak berang. Maraso diremehkan, dukun tu langsuang manapuak parmukaan aia tigo kali. Sakatiko, buayo-buayo nan jinak sabalunnyo manjadi ganas. Katiko dukun tu lah salasai, Penasehat Militer tu, jo kakuatan panuah, mandorong dukun tu ka buayo-buayo tu. Indak heran, dukun tu dimakan buayo-buayo tu dan dibunuah. Dek tindakannyo, Penasehat Militer dihukum dek Rajo.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
mjjhh6fc34csqyjbgse6w82ch760oyb
Si Pitung
0
2144
9554
2026-05-10T09:29:54Z
Naila Fathinah
354
←Mambuek laman baisi "'''Si Pitung''' adolah carito rakyaik nan barasa dari DKI Jakarta, bacarito tantang surang pamuda daerah tu nan malawan panjajah. == Sinopsis == Si Pitung ko adolah surang pamuda nan taat baagamo dari Rawa Belong. Inyo rajin bana baraja mangaji ka Haji Naipin. Sasudah mangaji, inyo dilatih pulo basilek. Batau-taun lamonya, kapandaian inyo dalam ilimu agamo jo mambela diri samakin lamo samakin santiang. Pado maso tu, Ulando (Belanda) sadang manjajah Indonesia. Si P..."
9554
wikitext
text/x-wiki
'''Si Pitung''' adolah carito rakyaik nan barasa dari DKI Jakarta, bacarito tantang surang pamuda daerah tu nan malawan panjajah.
== Sinopsis ==
Si Pitung ko adolah surang pamuda nan taat baagamo dari Rawa Belong. Inyo rajin bana baraja mangaji ka Haji Naipin. Sasudah mangaji, inyo dilatih pulo basilek. Batau-taun lamonya, kapandaian inyo dalam ilimu agamo jo mambela diri samakin lamo samakin santiang.
Pado maso tu, Ulando (Belanda) sadang manjajah Indonesia. Si Pitung maraso ibo ati mancaliak sansaronyo iduik nan ditangguang dek rakyaik badarai (rakyaik kaciak). Samantaro itu, kumpeni (sabutan untuak Ulando), sakalompok tauke, sarato jo tuan tanah hiduik sanang balimpah harato jo kamewahan. Rumah sarato ladang urang tu pun dijago bana dek panjago nan garang.
Dibantu dek kawan-kawannyo, si Rais jo Jii, si Pitung mulai mambuek rancano untuak marampok rumah tauke jo tuan tanah nan kayo rayo tu. Hasil rampokannyo kudian dibagi-bagikan pado rakyaik nan bansaik. Di muko pintu rumah kaluarga nan sadang kalaparan, dilatakannyo sapikua bareh. Untuak kaluarga nan talilit utang rentenir, dibarinyo pitih bantuan, sarato ka anak-anak yatim piatu dikirimnyo bingkisan baju jo hadiah nan lain.
Kasuksesan si Pitung jo kawan-kawannyo ko tajadi dek karano duo hal. Nan partamo, inyo mampunyoi ilimu silek nan tinggi sarato dikabakan badannyo kaba indak mampan dek timah angek (paluru). Nan kaduo, urang-urang sapanjang kampuang indak namuah mancaritokan dima si Pitung basambunyi. Biapun baitu, urang-urang kayo nan kanai rampok dek si Pitung basamo kumpeni taruih sajo bausaho mambujuak urang-urang supayo namuah mambuka muluik.
Kumpeni pun mampagunoan kakerasan untuak mamaso panduduak mambari katarangan. Pado suatu hari, kumpeni jo tuan-tuan tanah kayo akhianyo barasil mandapek kaba tantang kaluarga si Pitung. Urang tu pun manyandero kaduo urang tuonyo sarato Haji Naipin. Lewaik siksoan nan barek, akhianyo urang tu mandapek informasi dima si Pitung barado sarato apokah rahasio kakabalan badannyo.
Babaka sagalo informasi tu, polisi kumpeni langsuang manyargap si Pitung. Si Pitung jo kawan-kawannyo malawan sahabih dayo. Malang nian nasibnyo, informasi rahasio kakabalan badan si Pitung alah tabukak. Inyo dilantiang jo talua-talua busuak lapeh tu ditembak. Inyo pun maningga sakutiko. Biapun lah baitu, bagi urang Jakarta, si Pitung tatok dikanang sabagai pahlawan pambela rakyaik badarai.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
10qq6igks1vp1txdwkg3umdi0njcxzx
Asa usua namo pempek
0
2145
9561
2026-05-10T09:49:13Z
Naila Fathinah
354
←Mambuek laman baisi "Sajak zaman saisuak, Kota Palembang atau Sriwijaya alah sangaik tanamo, sainggo mambuek para parantau dari barbagai panjuru nagari badatangan ka sinan untuak manggaleh, manuntuik ilimu, sarato manyebarkan agamo jo kabudayaan urang tu. Di antaronyo iyolah parantau dari daratan Tiongkok. Konon kabanyo, pado abaik ka-16 dima Sultan Mahmud Badaruddin II nan mamimpin nagari tasabuik, Kota Palembang alah dipadek-i dek para parantau dari Tiongkok. Pado maso pamarentahanny..."
9561
wikitext
text/x-wiki
Sajak zaman saisuak, Kota Palembang atau Sriwijaya alah sangaik tanamo, sainggo mambuek para parantau dari barbagai panjuru nagari badatangan ka sinan untuak manggaleh, manuntuik ilimu, sarato manyebarkan agamo jo kabudayaan urang tu. Di antaronyo iyolah parantau dari daratan Tiongkok.
Konon kabanyo, pado abaik ka-16 dima Sultan Mahmud Badaruddin II nan mamimpin nagari tasabuik, Kota Palembang alah dipadek-i dek para parantau dari Tiongkok. Pado maso pamarentahannyo, sadoalah etnis masyarakaik dilinduangi tamasuak para parantau dari Tiongkok tu. Di sampiang pandai manggaleh, para parantau ko pandai pulo maolah masakan. Sainggo banyak muncua aneka masakan nan marupokan papaduan antaro masakan lokal jo kaum pandatang.
Malalui Sungai Musi sabagai jalua utamo lalu linteh, urang tu mampagunokannyo sabagai tampek transaksi padagangan. Sungai ko manjadi tampek mancari rasaki pulo bagi masyarakaik lokal khususnyo kaum nalayan. Lauak di siko malimpah ruah malahan takadang rancak mambusuak sarato tabuang parcuma sajo.
Banyak masyarakaik etnis Tionghoa nan bamukim di tapi sungai bapacaharian sabagai panggaleh sarato nalayan, nan kabanyakannyo adolah laki-laki nan alah gaek. Urang tu biasonyo manggaleh makanan jo caro bakaliliang kampuang, dan masyarakaik sakitar biasonyo maimbaunyo jo sabutan "<nowiki>''</nowiki>pek<nowiki>''</nowiki>" atau "<nowiki>''</nowiki>apek<nowiki>''</nowiki>".
Para <nowiki>''</nowiki>apek<nowiki>''</nowiki> ko maraso ibo hati mancaliak kondisi lauak di Sungai Musi nan alun taolah sacaro maksimal. Lantas urang tu mancubo manggiliang aluih dagiang lauak tasabuik, dicampua jo tapuang sagu sarato ditambuah jo bumbu-bumbu sarato rampah-rampah. Kironyo rasonyo lamak bana. Jajanan tu mandapek sambutan elok pulo dek urang nan mambali, tapi sangkek tu masyarakaik alun mangatahui namo makanan tu. Mako jikok apak-apak gaek tasabuik babaliak manggaleh kaliliang, urang-urang nan ka mambali cukuik manariak-i maimbau, “<nowiki>''</nowiki>pek<nowiki>''</nowiki>, <nowiki>''</nowiki>apek<nowiki>''</nowiki>..!". Lamo-kalamoan, imbauan <nowiki>''</nowiki>pek<nowiki>''</nowiki> ko samakin lakek jo jajanan baru nan digalehkan tu. Akhianyo makanan jinih baru ko manjadi makanan khas sarato tanamo jo namo <nowiki>'''</nowiki>pempek<nowiki>'''</nowiki>.
9pr7vywrrebkzg28ynsp3t4bx7x73y6
9576
9561
2026-05-10T10:09:59Z
Naila Fathinah
354
9576
wikitext
text/x-wiki
Sajak zaman saisuak, Kota Palembang atau Sriwijaya alah sangaik tanamo, sainggo mambuek para parantau dari barbagai panjuru nagari badatangan ka sinan untuak manggaleh, manuntuik ilimu, sarato manyebarkan agamo jo kabudayaan urang tu. Di antaronyo iyolah parantau dari daratan Tiongkok.
Konon kabanyo, pado abaik ka-16 dima Sultan Mahmud Badaruddin II nan mamimpin nagari tasabuik, Kota Palembang alah dipadek-i dek para parantau dari Tiongkok. Pado maso pamarentahannyo, sadoalah etnis masyarakaik dilinduangi tamasuak para parantau dari Tiongkok tu. Di sampiang pandai manggaleh, para parantau ko pandai pulo maolah masakan. Sainggo banyak muncua aneka masakan nan marupokan papaduan antaro masakan lokal jo kaum pandatang.
Malalui Sungai Musi sabagai jalua utamo lalu linteh, urang tu mampagunokannyo sabagai tampek transaksi padagangan. Sungai ko manjadi tampek mancari rasaki pulo bagi masyarakaik lokal khususnyo kaum nalayan. Lauak di siko malimpah ruah malahan takadang rancak mambusuak sarato tabuang parcuma sajo.
Banyak masyarakaik etnis Tionghoa nan bamukim di tapi sungai bapacaharian sabagai panggaleh sarato nalayan, nan kabanyakannyo adolah laki-laki nan alah gaek. Urang tu biasonyo manggaleh makanan jo caro bakaliliang kampuang, dan masyarakaik sakitar biasonyo maimbaunyo jo sabutan "<nowiki>''</nowiki>pek<nowiki>''</nowiki>" atau "<nowiki>''</nowiki>apek<nowiki>''</nowiki>".
Para <nowiki>''</nowiki>apek<nowiki>''</nowiki> ko maraso ibo hati mancaliak kondisi lauak di Sungai Musi nan alun taolah sacaro maksimal. Lantas urang tu mancubo manggiliang aluih dagiang lauak tasabuik, dicampua jo tapuang sagu sarato ditambuah jo bumbu-bumbu sarato rampah-rampah. Kironyo rasonyo lamak bana. Jajanan tu mandapek sambutan elok pulo dek urang nan mambali, tapi sangkek tu masyarakaik alun mangatahui namo makanan tu. Mako jikok apak-apak gaek tasabuik babaliak manggaleh kaliliang, urang-urang nan ka mambali cukuik manariak-i maimbau, “<nowiki>''</nowiki>pek<nowiki>''</nowiki>, <nowiki>''</nowiki>apek<nowiki>''</nowiki>..!". Lamo-kalamoan, imbauan <nowiki>''</nowiki>pek<nowiki>''</nowiki> ko samakin lakek jo jajanan baru nan digalehkan tu. Akhianyo makanan jinih baru ko manjadi makanan khas sarato tanamo jo namo <nowiki>'''</nowiki>pempek<nowiki>'''</nowiki>.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
5y3g8acivpbdj7fbfu13r0jyw864zqh
Ande-Ande Lumuik
0
2146
9562
2026-05-10T09:49:18Z
Muhammad Nafal
355
←Mambuek laman baisi "Pado suatu hari, hiduiklah surang padusi rancak banamo Candra Kirana. Inyo punyo laki seorang putra mahkota Karajaan Jenggalo nan banamo Raden Putra. Raden Putra diusie dari Karajaan Jenggalo dek indak nio manggantian ayahnyo jadi rajo. Mako itu pado suatu hari, inyo pai tanpa mangajak bininyo. sahinggo Candra Kirana indak tahu ka mano suaminyo pai. Pado suatu hari, Candra Kirana mancari kaba suaminyo dengan manyama jadi padusi kampuang biaso. Di tangah pajalanan, i..."
9562
wikitext
text/x-wiki
Pado suatu hari, hiduiklah surang padusi rancak banamo Candra Kirana. Inyo punyo laki seorang putra mahkota Karajaan Jenggalo nan banamo Raden Putra. Raden Putra diusie dari Karajaan Jenggalo dek indak nio manggantian ayahnyo jadi rajo. Mako itu pado suatu hari, inyo pai tanpa mangajak bininyo. sahinggo Candra Kirana indak tahu ka mano suaminyo pai.
Pado suatu hari, Candra Kirana mancari kaba suaminyo dengan manyama jadi padusi kampuang biaso. Di tangah pajalanan, inyo batamu jo surang jando kayo nan banamo Mbok Rando Karangwulusan. Lalu Mbok Rando mangangkek Candra Kirana jadi anak angkeknyo. Dek Mbok Rando, namo Candra Kirana diganti jadi Kleting Kuning. Sabana nyo, Mbok Rando alah punyo tigo urang anak padusi, yaitu Kleting Abang, Kleting Wungu, jo Kleting Biru. Kleting Kuning dianggapnyo jadi anak nan paliang ketek.
Tigo urang anak Mbok Rando ko indak suko jo Kleting Kuning. Mereka salalu barbuat jahat ka inyo. Mereka iri jo kacantikan Kleting Kuning, malahan inyo dipakso mamakai baju buruak supayo nampak lusuh sarupo pambantu.
Selain tu, inyo salalu manyuruah Kleting Kuning mangarajoan karajo rumah tanggo, macam manyuci baju, piriang, jo marapian rumah. Kadang-kadang, urang tu manyuruah Kleting Kuning mangarajoan karajo nan susah bana. Tubuah Kleting Kuning jadi babaun dek indak ado wakatu untuak marawik dirinyo sandiri. Tapi Kleting Kuning indak pernah mangadu jo apo nan dilakuan saudaro angkeknyo. Inyo tatap sabar jo ikhlas, dan picayo bahasonyo kasabaran nyo tu bakal mambuek hasil di kamudian hari. Manusio jo hati baiak biaso nyo memang diuji dulu. Alam ko hobi bana mambuek jalan carito macam sinetron azab.
Pado suatu hari, dapek kaba bahaso di kampuang Dadapan ado surang bujang rancak nan sadang mancari calon istri. Mbok Rando manyuruah katigo anaknyo pai batamu jo bujang rancak tu. Samentaro Kleting Kuning disuruah tingga di rumah. Katigo anak Mbok Rando tu pun pai ka kampuang Dadapan jo mamakai pakaian nan paliang rancak nan inyo punyo.
parjalanan ka kampuang Dadapan indaklah sanang. Urang tu harus manyubarangi batang aia gadang dahulu. Tibo-tibo, muncua dari pinggia batang aia seekor kapitiang gadang banamo Yayu Kangkang. Inyo manawari bantuan jo syarat katigo padusi tu harus nio dicium jo mancium Yayu Kangkang. Mandanga syaraik tu, katigo saudaro tu pun manarimo dek nan penting bagi urang tu bisa manyubarang batang aia tu. Manusio memang sering bana mau jalan capek, walau harga dirinyo nan digadai. Tradisi kuno nan masih awet sampai kini, cuma bungkuihnyo nan beda.
Kaba tantang bujang rancak tu sampai juo ka Kleting Kuning. Inyo lalu minta izin ka Mbok Rando Karangwulusan. Tapi Mbok Rando bakato bahaso Kleting Kuning indak pantas batamu jo bujang rancak tu. Malahan Mbok Rando sampai mamberangan inyo. Tapi Kleting Kuning indak sakik hati jo kato-kato tu. Inyo tatap barasikok untuak pai batamu jo Ande-Ande Lumut. Sampai akhirnya Mbok Rando mangizinkan inyo pai.
Samo jo katigo saudaro angkeknyo, Kleting Kuning juo ditawari manyubarang batang aia dek Yayu Kangkang si Kapitiang Gadang. Kleting Kuning manyanggupi syarat nan dibarian Yayu Kangkang. Tapi Kleting Kuning indak kahabisan aka. Satalah sampai di sabarang, inyo capek-capek manampelkan tahi ayam nan dibawanyo ka pipinyo. Akhirnyo Yayu Kangkang indak jadi mancium Kleting Kuning dek baunyo nan manyangek bana.
Sampai di kampuang Dadapan, Kleting Kuning mandapekkan katigo kakak angkeknyo alah ditolak dek Ande-Ande Lumut. Rupanyo Ande-Ande Lumut manolak mereka dek alah dicium Yayu Kangkang. Kleting Kuning pun malanjuikkan parjalanannyo manuju Ande-Ande Lumut.
Sampai di sano, Kleting Kuning batamu jo Ande-Ande Lumut. Tak disangko, Ande-Ande Lumut manyambuik kadatangan Kleting Kuning jo ramah. Mbok Rando Dadapan sampai bakato alangkah naifnyo Ande-Ande Lumut dek manolak padusi-padusi rancak tapi malah manarimo Kleting Kuning nan kumuah jo babau tu.
Mandanga kato tu, Ande-Ande Lumut langsung manjawuik bahaso inyo indak buliah mancaliak urang dari luarnyo sajo. Dek inyo yakin Kleting Kuning alah manjago kahormatannyo, indak sarupo gadih-gadih lainnyo.
Lalu Kleting Kuning pai minta izin untuak marasiahkan diri. Alangkah takajuiknyo Ande-Ande Lumut wakatu mancaliak Kleting Kuning alah mamakai pakaian nan elok. Tubuahnyo harum, jo kacantikannyo makin basinar. Kacantikan tu taraso indak asing dek Ande-Ande Lumut.
Ande-Ande Lumut lalu bakato bahaso inyo sabananyo adalah Raden Putra, suami dari Dewi Candra Kirana. Saketiko urang-urang nan ado di situ langsung tacangang. Begitu juo jo katigo saudaro angkek Kleting Kuning. Mereka sangat takajuik wakatu tahu bahaso Kleting Kuning tu adalah Dewi Candra Kirana, sadangkan Ande-Ande Lumut adalah Raden Putra.
Dewi Candra Kirana jo Raden Putra pun sangat sanang dek akhirnya batamu baliak. Kaduonyo lalu hiduik baliak sabagai suami istri sarupo maso dahulu di Istano Karajaan Jenggalo. Manang memang lambek, tapi biaso nyo datang juo. Cuma manusialah nan sering kalah sabalun akhir carito.
jmygq72yke7blv94zhqbsv0k5vl5kc0
9574
9562
2026-05-10T10:04:04Z
Muhammad Nafal
355
/* */
9574
wikitext
text/x-wiki
Pado suatu hari, hiduiklah surang padusi rancak banamo Candra Kirana. Inyo punyo laki seorang putra mahkota Karajaan Jenggalo nan banamo Raden Putra. Raden Putra diusie dari Karajaan Jenggalo dek indak nio manggantian ayahnyo jadi rajo. Mako itu pado suatu hari, inyo pai tanpa mangajak bininyo. sahinggo Candra Kirana indak tahu ka mano suaminyo pai.
Pado suatu hari, Candra Kirana mancari kaba suaminyo dengan manyama jadi padusi kampuang biaso. Di tangah pajalanan, inyo batamu jo surang jando kayo nan banamo Mbok Rando Karangwulusan. Lalu Mbok Rando mangangkek Candra Kirana jadi anak angkeknyo. Dek Mbok Rando, namo Candra Kirana diganti jadi Kleting Kuning. Sabana nyo, Mbok Rando alah punyo tigo urang anak padusi, yaitu Kleting Abang, Kleting Wungu, jo Kleting Biru. Kleting Kuning dianggapnyo jadi anak nan paliang ketek.
Tigo urang anak Mbok Rando ko indak suko jo Kleting Kuning. Mereka salalu barbuat jahat ka inyo. Mereka iri jo kacantikan Kleting Kuning, malahan inyo dipakso mamakai baju buruak supayo nampak lusuh sarupo pambantu.
Selain tu, inyo salalu manyuruah Kleting Kuning mangarajoan karajo rumah tanggo, macam manyuci baju, piriang, jo marapian rumah. Kadang-kadang, urang tu manyuruah Kleting Kuning mangarajoan karajo nan susah bana. Tubuah Kleting Kuning jadi babaun dek indak ado wakatu untuak marawik dirinyo sandiri. Tapi Kleting Kuning indak pernah mangadu jo apo nan dilakuan saudaro angkeknyo. Inyo tatap sabar jo ikhlas, dan picayo bahasonyo kasabaran nyo tu bakal mambuek hasil di kamudian hari. Manusio jo hati baiak biaso nyo memang diuji dulu. Alam ko hobi bana mambuek jalan carito macam sinetron azab.
Pado suatu hari, dapek kaba bahaso di kampuang Dadapan ado surang bujang rancak nan sadang mancari calon istri. Mbok Rando manyuruah katigo anaknyo pai batamu jo bujang rancak tu. Samentaro Kleting Kuning disuruah tingga di rumah. Katigo anak Mbok Rando tu pun pai ka kampuang Dadapan jo mamakai pakaian nan paliang rancak nan inyo punyo.
parjalanan ka kampuang Dadapan indaklah sanang. Urang tu harus manyubarangi batang aia gadang dahulu. Tibo-tibo, muncua dari pinggia batang aia seekor kapitiang gadang banamo Yayu Kangkang. Inyo manawari bantuan jo syarat katigo padusi tu harus nio dicium jo mancium Yayu Kangkang. Mandanga syaraik tu, katigo saudaro tu pun manarimo dek nan penting bagi urang tu bisa manyubarang batang aia tu. Manusio memang sering bana mau jalan capek, walau harga dirinyo nan digadai. Tradisi kuno nan masih awet sampai kini, cuma bungkuihnyo nan beda.
Kaba tantang bujang rancak tu sampai juo ka Kleting Kuning. Inyo lalu minta izin ka Mbok Rando Karangwulusan. Tapi Mbok Rando bakato bahaso Kleting Kuning indak pantas batamu jo bujang rancak tu. Malahan Mbok Rando sampai mamberangan inyo. Tapi Kleting Kuning indak sakik hati jo kato-kato tu. Inyo tatap barasikok untuak pai batamu jo Ande-Ande Lumut. Sampai akhirnya Mbok Rando mangizinkan inyo pai.
Samo jo katigo saudaro angkeknyo, Kleting Kuning juo ditawari manyubarang batang aia dek Yayu Kangkang si Kapitiang Gadang. Kleting Kuning manyanggupi syarat nan dibarian Yayu Kangkang. Tapi Kleting Kuning indak kahabisan aka. Satalah sampai di sabarang, inyo capek-capek manampelkan tahi ayam nan dibawanyo ka pipinyo. Akhirnyo Yayu Kangkang indak jadi mancium Kleting Kuning dek baunyo nan manyangek bana.
Sampai di kampuang Dadapan, Kleting Kuning mandapekkan katigo kakak angkeknyo alah ditolak dek Ande-Ande Lumut. Rupanyo Ande-Ande Lumut manolak mereka dek alah dicium Yayu Kangkang. Kleting Kuning pun malanjuikkan parjalanannyo manuju Ande-Ande Lumut.
Sampai di sano, Kleting Kuning batamu jo Ande-Ande Lumut. Tak disangko, Ande-Ande Lumut manyambuik kadatangan Kleting Kuning jo ramah. Mbok Rando Dadapan sampai bakato alangkah naifnyo Ande-Ande Lumut dek manolak padusi-padusi rancak tapi malah manarimo Kleting Kuning nan kumuah jo babau tu.
Mandanga kato tu, Ande-Ande Lumut langsung manjawuik bahaso inyo indak buliah mancaliak urang dari luarnyo sajo. Dek inyo yakin Kleting Kuning alah manjago kahormatannyo, indak sarupo gadih-gadih lainnyo.
Lalu Kleting Kuning pai minta izin untuak marasiahkan diri. Alangkah takajuiknyo Ande-Ande Lumut wakatu mancaliak Kleting Kuning alah mamakai pakaian nan elok. Tubuahnyo harum, jo kacantikannyo makin basinar. Kacantikan tu taraso indak asing dek Ande-Ande Lumut.
Ande-Ande Lumut lalu bakato bahaso inyo sabananyo adalah Raden Putra, suami dari Dewi Candra Kirana. Saketiko urang-urang nan ado di situ langsung tacangang. Begitu juo jo katigo saudaro angkek Kleting Kuning. Mereka sangat takajuik wakatu tahu bahaso Kleting Kuning tu adalah Dewi Candra Kirana, sadangkan Ande-Ande Lumut adalah Raden Putra.
Dewi Candra Kirana jo Raden Putra pun sangat sanang dek akhirnya batamu baliak. Kaduonyo lalu hiduik baliak sabagai suami istri sarupo maso dahulu di Istano Karajaan Jenggalo. Manang memang lambek, tapi biaso nyo datang juo. Cuma manusialah nan sering kalah sabalun akhir carito.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdarl
36rydv92jyqgk0gswepx6hlprtwrkkc
9585
9574
2026-05-10T11:20:27Z
Erik Baas
39
+[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]
9585
wikitext
text/x-wiki
Pado suatu hari, hiduiklah surang padusi rancak banamo Candra Kirana. Inyo punyo laki seorang putra mahkota Karajaan Jenggalo nan banamo Raden Putra. Raden Putra diusie dari Karajaan Jenggalo dek indak nio manggantian ayahnyo jadi rajo. Mako itu pado suatu hari, inyo pai tanpa mangajak bininyo. sahinggo Candra Kirana indak tahu ka mano suaminyo pai.
Pado suatu hari, Candra Kirana mancari kaba suaminyo dengan manyama jadi padusi kampuang biaso. Di tangah pajalanan, inyo batamu jo surang jando kayo nan banamo Mbok Rando Karangwulusan. Lalu Mbok Rando mangangkek Candra Kirana jadi anak angkeknyo. Dek Mbok Rando, namo Candra Kirana diganti jadi Kleting Kuning. Sabana nyo, Mbok Rando alah punyo tigo urang anak padusi, yaitu Kleting Abang, Kleting Wungu, jo Kleting Biru. Kleting Kuning dianggapnyo jadi anak nan paliang ketek.
Tigo urang anak Mbok Rando ko indak suko jo Kleting Kuning. Mereka salalu barbuat jahat ka inyo. Mereka iri jo kacantikan Kleting Kuning, malahan inyo dipakso mamakai baju buruak supayo nampak lusuh sarupo pambantu.
Selain tu, inyo salalu manyuruah Kleting Kuning mangarajoan karajo rumah tanggo, macam manyuci baju, piriang, jo marapian rumah. Kadang-kadang, urang tu manyuruah Kleting Kuning mangarajoan karajo nan susah bana. Tubuah Kleting Kuning jadi babaun dek indak ado wakatu untuak marawik dirinyo sandiri. Tapi Kleting Kuning indak pernah mangadu jo apo nan dilakuan saudaro angkeknyo. Inyo tatap sabar jo ikhlas, dan picayo bahasonyo kasabaran nyo tu bakal mambuek hasil di kamudian hari. Manusio jo hati baiak biaso nyo memang diuji dulu. Alam ko hobi bana mambuek jalan carito macam sinetron azab.
Pado suatu hari, dapek kaba bahaso di kampuang Dadapan ado surang bujang rancak nan sadang mancari calon istri. Mbok Rando manyuruah katigo anaknyo pai batamu jo bujang rancak tu. Samentaro Kleting Kuning disuruah tingga di rumah. Katigo anak Mbok Rando tu pun pai ka kampuang Dadapan jo mamakai pakaian nan paliang rancak nan inyo punyo.
parjalanan ka kampuang Dadapan indaklah sanang. Urang tu harus manyubarangi batang aia gadang dahulu. Tibo-tibo, muncua dari pinggia batang aia seekor kapitiang gadang banamo Yayu Kangkang. Inyo manawari bantuan jo syarat katigo padusi tu harus nio dicium jo mancium Yayu Kangkang. Mandanga syaraik tu, katigo saudaro tu pun manarimo dek nan penting bagi urang tu bisa manyubarang batang aia tu. Manusio memang sering bana mau jalan capek, walau harga dirinyo nan digadai. Tradisi kuno nan masih awet sampai kini, cuma bungkuihnyo nan beda.
Kaba tantang bujang rancak tu sampai juo ka Kleting Kuning. Inyo lalu minta izin ka Mbok Rando Karangwulusan. Tapi Mbok Rando bakato bahaso Kleting Kuning indak pantas batamu jo bujang rancak tu. Malahan Mbok Rando sampai mamberangan inyo. Tapi Kleting Kuning indak sakik hati jo kato-kato tu. Inyo tatap barasikok untuak pai batamu jo Ande-Ande Lumut. Sampai akhirnya Mbok Rando mangizinkan inyo pai.
Samo jo katigo saudaro angkeknyo, Kleting Kuning juo ditawari manyubarang batang aia dek Yayu Kangkang si Kapitiang Gadang. Kleting Kuning manyanggupi syarat nan dibarian Yayu Kangkang. Tapi Kleting Kuning indak kahabisan aka. Satalah sampai di sabarang, inyo capek-capek manampelkan tahi ayam nan dibawanyo ka pipinyo. Akhirnyo Yayu Kangkang indak jadi mancium Kleting Kuning dek baunyo nan manyangek bana.
Sampai di kampuang Dadapan, Kleting Kuning mandapekkan katigo kakak angkeknyo alah ditolak dek Ande-Ande Lumut. Rupanyo Ande-Ande Lumut manolak mereka dek alah dicium Yayu Kangkang. Kleting Kuning pun malanjuikkan parjalanannyo manuju Ande-Ande Lumut.
Sampai di sano, Kleting Kuning batamu jo Ande-Ande Lumut. Tak disangko, Ande-Ande Lumut manyambuik kadatangan Kleting Kuning jo ramah. Mbok Rando Dadapan sampai bakato alangkah naifnyo Ande-Ande Lumut dek manolak padusi-padusi rancak tapi malah manarimo Kleting Kuning nan kumuah jo babau tu.
Mandanga kato tu, Ande-Ande Lumut langsung manjawuik bahaso inyo indak buliah mancaliak urang dari luarnyo sajo. Dek inyo yakin Kleting Kuning alah manjago kahormatannyo, indak sarupo gadih-gadih lainnyo.
Lalu Kleting Kuning pai minta izin untuak marasiahkan diri. Alangkah takajuiknyo Ande-Ande Lumut wakatu mancaliak Kleting Kuning alah mamakai pakaian nan elok. Tubuahnyo harum, jo kacantikannyo makin basinar. Kacantikan tu taraso indak asing dek Ande-Ande Lumut.
Ande-Ande Lumut lalu bakato bahaso inyo sabananyo adalah Raden Putra, suami dari Dewi Candra Kirana. Saketiko urang-urang nan ado di situ langsung tacangang. Begitu juo jo katigo saudaro angkek Kleting Kuning. Mereka sangat takajuik wakatu tahu bahaso Kleting Kuning tu adalah Dewi Candra Kirana, sadangkan Ande-Ande Lumut adalah Raden Putra.
Dewi Candra Kirana jo Raden Putra pun sangat sanang dek akhirnya batamu baliak. Kaduonyo lalu hiduik baliak sabagai suami istri sarupo maso dahulu di Istano Karajaan Jenggalo. Manang memang lambek, tapi biaso nyo datang juo. Cuma manusialah nan sering kalah sabalun akhir carito.
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
e3dptdk0hupmwg8idriu2h1678xwhz0
Malin Kundang
0
2147
9566
2026-05-10T09:59:50Z
DwiFidratul
129
←Mambuek laman baisi "Zaman dulu di suatu kampuangan dakek pantai aia masih tadapek sabuah kaluarga ketek nan miskin nan mampunyoi saurang anal nan banamo Malin Kundang, sadangkan ibunyo banamo Mande Rubayah. Sakian lamo inyo hiduik di kamiskinan. Untuak mandapek an kahidupan nan labiah elok, sang ayah mamutuihan untuak marantau ka nagari subarang untuak baharap mandapekan pangasilan nan labiah elok. Sapaningga suaminyo marantau, ibu Malin Kundang sahari-hari bakarajo kareh jo manangko..."
9566
wikitext
text/x-wiki
Zaman dulu di suatu kampuangan dakek pantai aia masih tadapek sabuah kaluarga ketek nan miskin nan mampunyoi saurang anal nan banamo Malin Kundang, sadangkan ibunyo banamo Mande Rubayah. Sakian lamo inyo hiduik di kamiskinan. Untuak mandapek an kahidupan nan labiah elok, sang ayah mamutuihan untuak marantau ka nagari subarang untuak baharap mandapekan pangasilan nan labiah elok. Sapaningga suaminyo marantau, ibu Malin Kundang sahari-hari bakarajo kareh jo manangkok ikan di pantai atau bakaliliang kampuang manjua kue. Sakian lamo Rubayah sarat anaknyo mananti kapulangan ayah tacinto, wakatu taruih balalu tanpa ado kaba barito. Hal itu nan mambuek mande Rubayah jo anak nyo maraso sadiah. Malin Kundang taruih mananyoan kabaradoaan ayahnyo nan indak kunjuang pulang kapado ibunyo. Mande Rubayah hanyo bisa manasehati untuak tetap basaba.
Sairiang bajalannyo wakatu, malin tumbuah manjadi pamuda nan cadiak jo taguah jo inyo akhiahnyo mamutuihan untuak maratau guno dapek manjadi urang barado sahinggo dapek mambantu jo mambahagiakan ibunyo. Malin kundang kamudian maminta izin ibunyo untuak marantau. Sang ibu pado awalnyo mangawatirkan malin pai sarupo ayahnyo nan indak kunjuang baliak. Karano raso cinto ka anaknyo akhianyo ibunyo mangabuakan pamintaan malin.
Suatu hari, sabuah kapa dagang balabuah di pantai aia manih. Batapo sanangnyo hatinyo mancaliak kapa dangan nan balabuah di pantai aia manih nan baharok nio mambaok pai marantau. Inyo kamudian maminta izin nahkoda kapa untuak ikuik kapa tasabuik, sang nahkodapun mangizinkannyo. Dengan mambaok saketek baka malin mamulai parjalanannyo. Salamo balayar, malin banyak mambantu nahkoda kapa malakukan babagai karajo harian kapa indak jarang pulo inyo babagi pangatahuan jo pangalamannyo kapado malin.
Suatu katiko, kajadian buruak manimpo kapa dangang itu. Di tangah lauik inyo disarang sakawanan parampok kapa. Malin barusaho manghindari cakak dengan basambunyi di sabuah ruangan ketek. Parampok mambunuah kasado awak kapa sarato nahkodanyo nan barasia maambiak sado harato di kapa itu nan sagiro maninggaan kapa nan manyisoan malin surang diri. Kapa taombang ambiang di lauik indak tantu arah. Malin hanyo dapek mamasrahan nasibnyo ka tuhan. Sampai malin tadampar di sabuah pantai. Sasudah tu barusan malin bajalan manuju desa tadakek nan bisa mamintak patolongan. Panduduak desa mambari izin untuak malin tingga di desa inyo.
Sasudah itu malin mamulai hiduiknyo di desa itu. Inyo bakarajo kareh jo mancubo untuak manggaleh. Singkaik carito inyo barasia manjadi urang kayo rayo. Sudah tu inyo mulai mangambangan manggaleh ka desa-desa lainnyo dengan manyewa kapa-kapa dangang antaro pulau untuak kaparaluan dangang. Satelah pardangannyo samakin manggadang, akhiany malin mampu mambali kapa dangang surang. Malin langsuang manikahi gadih nan paliang rancak di desa tasabuik. Gadih dari kaluarga kayo rayo.
Sadangkan, di kampuang pantai aia manih, sang ibu taruih mananti kaba dari anaknyo. Satiok ado kapa nan balabuah di pantai. Sang ibu taruih mananyoan apoko ado anaknyo barado di kapa itu. Karano lah bakali-kali dan sakian lamo anaknyo indak juo nampak. Pado suatu hari, mande Rubayah mandanga kaba kalau ado kapa dangang nan sadang balabuah. Mande langsuang balari ka palabuahan jikok ado anaknyo di kapa itu. Datak jantuang mande Rubayah samakin kancang katiko dari jauah mancaliak anaknyo tagak jo padusi rancak di kapa dangang nan mewah itu. Inyo bana-bana yakin kalau itu batua anaknyo. Mande Rubayah sangaik sanang katiko urang basorak kalau Malin kundang lah nan punyo kapa itu. Malin Kundang nan mamakai pakaian mewah nan manuruni kapa. Dari bawa, Mande Rubayah sagiro balari mandakek ka malin. Indak sagan sagan mande langsuang mamaluak anaknyo arek-arek jo parasaan nan haru jo bahagia. Namun malin malapehan paluakan ibunyo jo manundoan jo kasa sampai tajatuah.
Malin sabananyo tau kalau urang tuo nan mamaluaknyo itu adolah ibu kanduangnyo. Karano maraso malu di muko istrinyo jo anak buahnyo karano panampilan ibunyo nan sangaik miskin jo lusuah. Mande Rubayah sangaik takajuik jo kalakuan anaknyo, tapi inyo tetap barusaho meingekan anaknyo kalau inyo adolah ibu kanduangnyo. Istri malin kundang pun sato mamparingek an suaminyo untuak indak kasa balabiah kapado urang nan alah tuo. Tapi jo sikap tageh malin mangecekan kalau urang tuo itu bukan ibu kanduangnyo. Inyo mangaku kalau ibunyo alah lamo maningga katiko inyo masih ketek.
Hati Mande Rubayah sangaik sakik jo kalakuan malin, anak kanduangnyo tacinto. Inyo langsuang pai manjauah dari malin kundang. Sasudah tu mande Rubayah ma angkek tangan ka ateh sarato badoa ka tuhan kalau urang nan indak ma akui inyo sabagai induak kanduangnyo adolah sabana bana anaknyo, inyo langsuang basumpah supayo anaknyo barubah manjadi batu.
Indak lamo sudah tu, malin baliak ka kapanyo. Inyo langsuang manyuruah anak buahnyo untuak sagiro manjauah dari pantai aia manih. Indak lamo kamudian, langik nan mulonyo nampak rancak tibo-tibo barubah mandangan badai nan mahantam kapa dangan punyo malin sampai hancua. Badan malin kundang taseret ombak jo tadampa baliak ka pasisia pantai. Katiko itu badan malin langsuang barubah manjadi batu dalam kaadaan basujuik maminta ampun ka ibunyo. Malin Kundang anak durako nan malu ma akui ibu kanduangnyo. Kini alah manarimo azab barubah jadi batu
erogj8tj3bgklfhc0tke6tih6kegkf7
9570
9566
2026-05-10T10:02:20Z
DwiFidratul
129
9570
wikitext
text/x-wiki
Zaman dulu di suatu kampuangan dakek pantai aia masih tadapek sabuah kaluarga ketek nan miskin nan mampunyoi saurang anal nan banamo Malin Kundang, sadangkan ibunyo banamo Mande Rubayah. Sakian lamo inyo hiduik di kamiskinan. Untuak mandapek an kahidupan nan labiah elok, sang ayah mamutuihan untuak marantau ka nagari subarang untuak baharap mandapekan pangasilan nan labiah elok. Sapaningga suaminyo marantau, ibu Malin Kundang sahari-hari bakarajo kareh jo manangkok ikan di pantai atau bakaliliang kampuang manjua kue. Sakian lamo Rubayah sarat anaknyo mananti kapulangan ayah tacinto, wakatu taruih balalu tanpa ado kaba barito. Hal itu nan mambuek mande Rubayah jo anak nyo maraso sadiah. Malin Kundang taruih mananyoan kabaradoaan ayahnyo nan indak kunjuang pulang kapado ibunyo. Mande Rubayah hanyo bisa manasehati untuak tetap basaba.
Sairiang bajalannyo wakatu, malin tumbuah manjadi pamuda nan cadiak jo taguah jo inyo akhiahnyo mamutuihan untuak maratau guno dapek manjadi urang barado sahinggo dapek mambantu jo mambahagiakan ibunyo. Malin kundang kamudian maminta izin ibunyo untuak marantau. Sang ibu pado awalnyo mangawatirkan malin pai sarupo ayahnyo nan indak kunjuang baliak. Karano raso cinto ka anaknyo akhianyo ibunyo mangabuakan pamintaan malin.
Suatu hari, sabuah kapa dagang balabuah di pantai aia manih. Batapo sanangnyo hatinyo mancaliak kapa dangan nan balabuah di pantai aia manih nan baharok nio mambaok pai marantau. Inyo kamudian maminta izin nahkoda kapa untuak ikuik kapa tasabuik, sang nahkodapun mangizinkannyo. Dengan mambaok saketek baka malin mamulai parjalanannyo. Salamo balayar, malin banyak mambantu nahkoda kapa malakukan babagai karajo harian kapa indak jarang pulo inyo babagi pangatahuan jo pangalamannyo kapado malin.
Suatu katiko, kajadian buruak manimpo kapa dangang itu. Di tangah lauik inyo disarang sakawanan parampok kapa. Malin barusaho manghindari cakak dengan basambunyi di sabuah ruangan ketek. Parampok mambunuah kasado awak kapa sarato nahkodanyo nan barasia maambiak sado harato di kapa itu nan sagiro maninggaan kapa nan manyisoan malin surang diri. Kapa taombang ambiang di lauik indak tantu arah. Malin hanyo dapek mamasrahan nasibnyo ka tuhan. Sampai malin tadampar di sabuah pantai. Sasudah tu barusan malin bajalan manuju desa tadakek nan bisa mamintak patolongan. Panduduak desa mambari izin untuak malin tingga di desa inyo.
Sasudah itu malin mamulai hiduiknyo di desa itu. Inyo bakarajo kareh jo mancubo untuak manggaleh. Singkaik carito inyo barasia manjadi urang kayo rayo. Sudah tu inyo mulai mangambangan manggaleh ka desa-desa lainnyo dengan manyewa kapa-kapa dangang antaro pulau untuak kaparaluan dangang. Satelah pardangannyo samakin manggadang, akhiany malin mampu mambali kapa dangang surang. Malin langsuang manikahi gadih nan paliang rancak di desa tasabuik. Gadih dari kaluarga kayo rayo.
Sadangkan, di kampuang pantai aia manih, sang ibu taruih mananti kaba dari anaknyo. Satiok ado kapa nan balabuah di pantai. Sang ibu taruih mananyoan apoko ado anaknyo barado di kapa itu. Karano lah bakali-kali dan sakian lamo anaknyo indak juo nampak. Pado suatu hari, mande Rubayah mandanga kaba kalau ado kapa dangang nan sadang balabuah. Mande langsuang balari ka palabuahan jikok ado anaknyo di kapa itu. Datak jantuang mande Rubayah samakin kancang katiko dari jauah mancaliak anaknyo tagak jo padusi rancak di kapa dangang nan mewah itu. Inyo bana-bana yakin kalau itu batua anaknyo. Mande Rubayah sangaik sanang katiko urang basorak kalau Malin kundang lah nan punyo kapa itu. Malin Kundang nan mamakai pakaian mewah nan manuruni kapa. Dari bawa, Mande Rubayah sagiro balari mandakek ka malin. Indak sagan sagan mande langsuang mamaluak anaknyo arek-arek jo parasaan nan haru jo bahagia. Namun malin malapehan paluakan ibunyo jo manundoan jo kasa sampai tajatuah.
Malin sabananyo tau kalau urang tuo nan mamaluaknyo itu adolah ibu kanduangnyo. Karano maraso malu di muko istrinyo jo anak buahnyo karano panampilan ibunyo nan sangaik miskin jo lusuah. Mande Rubayah sangaik takajuik jo kalakuan anaknyo, tapi inyo tetap barusaho meingekan anaknyo kalau inyo adolah ibu kanduangnyo. Istri malin kundang pun sato mamparingek an suaminyo untuak indak kasa balabiah kapado urang nan alah tuo. Tapi jo sikap tageh malin mangecekan kalau urang tuo itu bukan ibu kanduangnyo. Inyo mangaku kalau ibunyo alah lamo maningga katiko inyo masih ketek.
Hati Mande Rubayah sangaik sakik jo kalakuan malin, anak kanduangnyo tacinto. Inyo langsuang pai manjauah dari malin kundang. Sasudah tu mande Rubayah ma angkek tangan ka ateh sarato badoa ka tuhan kalau urang nan indak ma akui inyo sabagai induak kanduangnyo adolah sabana bana anaknyo, inyo langsuang basumpah supayo anaknyo barubah manjadi batu.
Indak lamo sudah tu, malin baliak ka kapanyo. Inyo langsuang manyuruah anak buahnyo untuak sagiro manjauah dari pantai aia manih. Indak lamo kamudian, langik nan mulonyo nampak rancak tibo-tibo barubah mandangan badai nan mahantam kapa dangan punyo malin sampai hancua. Badan malin kundang taseret ombak jo tadampa baliak ka pasisia pantai. Katiko itu badan malin langsuang barubah manjadi batu dalam kaadaan basujuik maminta ampun ka ibunyo. Malin Kundang anak durako nan malu ma akui ibu kanduangnyo. Kini alah manarimo azab barubah jadi batu
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
219bgti001dlzbtrq0dxu89u0s0z5nj
9580
9570
2026-05-10T10:28:15Z
DwiFidratul
129
9580
wikitext
text/x-wiki
=== Malin Kundang ===
Zaman dulu di suatu kampuangan dakek pantai aia masih tadapek sabuah kaluarga ketek nan miskin nan mampunyoi saurang anal nan banamo Malin Kundang, sadangkan ibunyo banamo Mande Rubayah. Sakian lamo inyo hiduik di kamiskinan. Untuak mandapek an kahidupan nan labiah elok, sang ayah mamutuihan untuak marantau ka nagari subarang untuak baharap mandapekan pangasilan nan labiah elok. Sapaningga suaminyo marantau, ibu Malin Kundang sahari-hari bakarajo kareh jo manangkok ikan di pantai atau bakaliliang kampuang manjua kue. Sakian lamo Rubayah sarat anaknyo mananti kapulangan ayah tacinto, wakatu taruih balalu tanpa ado kaba barito. Hal itu nan mambuek mande Rubayah jo anak nyo maraso sadiah. Malin Kundang taruih mananyoan kabaradoaan ayahnyo nan indak kunjuang pulang kapado ibunyo. Mande Rubayah hanyo bisa manasehati untuak tetap basaba.
Sairiang bajalannyo wakatu, malin tumbuah manjadi pamuda nan cadiak jo taguah jo inyo akhiahnyo mamutuihan untuak maratau guno dapek manjadi urang barado sahinggo dapek mambantu jo mambahagiakan ibunyo. Malin kundang kamudian maminta izin ibunyo untuak marantau. Sang ibu pado awalnyo mangawatirkan malin pai sarupo ayahnyo nan indak kunjuang baliak. Karano raso cinto ka anaknyo akhianyo ibunyo mangabuakan pamintaan malin.
Suatu hari, sabuah kapa dagang balabuah di pantai aia manih. Batapo sanangnyo hatinyo mancaliak kapa dangan nan balabuah di pantai aia manih nan baharok nio mambaok pai marantau. Inyo kamudian maminta izin nahkoda kapa untuak ikuik kapa tasabuik, sang nahkodapun mangizinkannyo. Dengan mambaok saketek baka malin mamulai parjalanannyo. Salamo balayar, malin banyak mambantu nahkoda kapa malakukan babagai karajo harian kapa indak jarang pulo inyo babagi pangatahuan jo pangalamannyo kapado malin.
Suatu katiko, kajadian buruak manimpo kapa dangang itu. Di tangah lauik inyo disarang sakawanan parampok kapa. Malin barusaho manghindari cakak dengan basambunyi di sabuah ruangan ketek. Parampok mambunuah kasado awak kapa sarato nahkodanyo nan barasia maambiak sado harato di kapa itu nan sagiro maninggaan kapa nan manyisoan malin surang diri. Kapa taombang ambiang di lauik indak tantu arah. Malin hanyo dapek mamasrahan nasibnyo ka tuhan. Sampai malin tadampar di sabuah pantai. Sasudah tu barusan malin bajalan manuju desa tadakek nan bisa mamintak patolongan. Panduduak desa mambari izin untuak malin tingga di desa inyo.
Sasudah itu malin mamulai hiduiknyo di desa itu. Inyo bakarajo kareh jo mancubo untuak manggaleh. Singkaik carito inyo barasia manjadi urang kayo rayo. Sudah tu inyo mulai mangambangan manggaleh ka desa-desa lainnyo dengan manyewa kapa-kapa dangang antaro pulau untuak kaparaluan dangang. Satelah pardangannyo samakin manggadang, akhiany malin mampu mambali kapa dangang surang. Malin langsuang manikahi gadih nan paliang rancak di desa tasabuik. Gadih dari kaluarga kayo rayo.
Sadangkan, di kampuang pantai aia manih, sang ibu taruih mananti kaba dari anaknyo. Satiok ado kapa nan balabuah di pantai. Sang ibu taruih mananyoan apoko ado anaknyo barado di kapa itu. Karano lah bakali-kali dan sakian lamo anaknyo indak juo nampak. Pado suatu hari, mande Rubayah mandanga kaba kalau ado kapa dangang nan sadang balabuah. Mande langsuang balari ka palabuahan jikok ado anaknyo di kapa itu. Datak jantuang mande Rubayah samakin kancang katiko dari jauah mancaliak anaknyo tagak jo padusi rancak di kapa dangang nan mewah itu. Inyo bana-bana yakin kalau itu batua anaknyo. Mande Rubayah sangaik sanang katiko urang basorak kalau Malin kundang lah nan punyo kapa itu. Malin Kundang nan mamakai pakaian mewah nan manuruni kapa. Dari bawa, Mande Rubayah sagiro balari mandakek ka malin. Indak sagan sagan mande langsuang mamaluak anaknyo arek-arek jo parasaan nan haru jo bahagia. Namun malin malapehan paluakan ibunyo jo manundoan jo kasa sampai tajatuah.
Malin sabananyo tau kalau urang tuo nan mamaluaknyo itu adolah ibu kanduangnyo. Karano maraso malu di muko istrinyo jo anak buahnyo karano panampilan ibunyo nan sangaik miskin jo lusuah. Mande Rubayah sangaik takajuik jo kalakuan anaknyo, tapi inyo tetap barusaho meingekan anaknyo kalau inyo adolah ibu kanduangnyo. Istri malin kundang pun sato mamparingek an suaminyo untuak indak kasa balabiah kapado urang nan alah tuo. Tapi jo sikap tageh malin mangecekan kalau urang tuo itu bukan ibu kanduangnyo. Inyo mangaku kalau ibunyo alah lamo maningga katiko inyo masih ketek.
Hati Mande Rubayah sangaik sakik jo kalakuan malin, anak kanduangnyo tacinto. Inyo langsuang pai manjauah dari malin kundang. Sasudah tu mande Rubayah ma angkek tangan ka ateh sarato badoa ka tuhan kalau urang nan indak ma akui inyo sabagai induak kanduangnyo adolah sabana bana anaknyo, inyo langsuang basumpah supayo anaknyo barubah manjadi batu.
Indak lamo sudah tu, malin baliak ka kapanyo. Inyo langsuang manyuruah anak buahnyo untuak sagiro manjauah dari pantai aia manih. Indak lamo kamudian, langik nan mulonyo nampak rancak tibo-tibo barubah mandangan badai nan mahantam kapa dangan punyo malin sampai hancua. Badan malin kundang taseret ombak jo tadampa baliak ka pasisia pantai. Katiko itu badan malin langsuang barubah manjadi batu dalam kaadaan basujuik maminta ampun ka ibunyo. Malin Kundang anak durako nan malu ma akui ibu kanduangnyo. Kini alah manarimo azab barubah jadi batu
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
kcaxti41kxwyef28e8lqw9repu3qv8g
Keong Mas
0
2148
9577
2026-05-10T10:10:31Z
Muhammad Rivanza Putra Ilmar
307
←Mambuek laman baisi "[[Kategori:Carito Rakyat]] [[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]"
9577
wikitext
text/x-wiki
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
f3q3jsggk48if55sjk6my3ncmgtbmqy
9582
9577
2026-05-10T10:45:58Z
Muhammad Rivanza Putra Ilmar
307
9582
wikitext
text/x-wiki
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
wakatu itu di sabuah tempek, ado sarang karajaan nan di sabuik Kerajaan Daha, nan dipimpin oleh seorang rajo. Rajo itu punyo saurang putri nan indak kalah cantik, namonyo Dewi Galuh Candra Kirana. Tutur katanyo lemah-lembuik, parasnyo manih nan jelita. Belum lamo Candra Kirana dipertunangkan jo Raden Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Kahuripan.
Inu Kertapati pemuda tampan dan bijaksano. Cocok bana untuak pasangan Candra Kirana. Ka banyak urang ikuik gembira manyambutik pertunangan nan langka ko. Tapi ndak samo jo itu, Galuh Ajeng, gadih nan jo darah biru, nan deko kajo dekat jo Candra Kirana, merasa cemburu. Sababnyo, dia punyo cita-cita untuak jadi istri Raden Inu Kertapati juo. Dalam hati dia berucap, “Iyo, aku harus gagalkan pernikahan ko.”
Galuh Ajeng pun manuju ke seorang nenek sihir, minta ilmu sihirnyo untuak mencelakakan Dewi Candra Kirana. Di samping tu, Galuh Ajeng jo menyebarkan fitnah ka Candra Kirana.
Konon, Bagindo Rajo Daha takanai pangaruh ulah jaek Galuh Ajeng. Sampe rajo ndak segan-segan mangusia Candra Kirana dari istano. Padahal, Candra Kirana adolah anak kandungnyo, ndak jadi pertimbangan lagi. Sejak itu, Dewi Candra Kirana hiduik terlunta-lunta. Putri malang ko bajalan ndak tantu arahnyo. Hinggo suatu hari, dia tiba di sabuah taplau. Di sinan, karena kutukan nenek sihir jahat, sang putri berubah jadi keong cangkak emas. Ombak pun mambawa keong ko ke lauik.
Keong ameh terombang-ambing sampai tadampa di sisi pantai lain, tidak jauh dari desa nan ka sabuik Dadapan. Di situ tinggal seorang **nenek pencari ikan. Suatu hari, nenek ko menemukan keong emas. Nenek pun gembira: “Alah cantiknyo keong ko!” Dia pun memutuskan untuak memelihara keong ko dalam **tempayan*.
Beberapa hari berlalu. Suatu hari, nenek pergi ke pantai tapi ndak dapek ikan satupun. Pulang ka rumah dengan tangan kosong, nenek terheran-heran. Di atas balai-balai tampak makanan lezat. Nenek langsung mangan, baru sesudah tu termenung, mikir, “Siapo lah nan masak makanan ko?”
Hari-hari berikutnyo, peristiwa ko terulang taruih. Nenek panasaran. Suatu wakatu, dia berpura-pura pai ka pantai tapi baliak lai nan basambunyi, mengintai keong ameh. Nenek takajuik, maliek asap mengepul dari tempayan. Dari balik asap, tampak saurang putri jelita muncul, masuak dapur, masak, nyiapkan lauk-pauk. Nenek ndak paham darimano bahan makanan tu berasal.
Lamo kelamaan, nenek ndak tahan, kalua dari persembunyian dan bertanyo: “Sia ko?” Putri nan ternyata Dewi Candra Kirana takajuik. Dia memperkenalkan diri, menjelasakan kenapo jadi keong ameh. Itu ulah Galuh Ajeng nan iri hati, memanggil tukang sihir jahat. Kutukan hanya ka hilang kalau dia ketemu tunangannyo.
Nenek Dadapan termenung, gumam, “Raso iri memang menyesatkan, bisa mambuek orang lain susah.” Dia pun berdoa ka dewata supaya kutukan Candra Kirana cepat hilang.
Sementara tu, Raden Inu Kertapati mandanga nasib Candra Kirana. Dia ndak diam, menemui Rajo Daha untuak manyalasaikan perkara. Akhirnyo, dibuktikan ulah jahat Galuh Ajeng. Galuh Ajeng jo tukang sihir dijatuhi hukuman. Inu Kertapati pun memulai pencarian tunangannyo. Berbulan-bulan lamanya sampai tiba di desa Dadapan.
Karena panas terik, dia haus dan liat gubuk. Masuk untuak minta air, tapi liat Candra Kirana. “Adinda Dewi!” seru Inu Kertapati. Candra Kirana balas, “Oh, Kakanda!” Mereka pun bersua, dan cinta suci mereka membatalkan kutukan.
Candra Kirana mengajak Inu Kertapati masuk, menceritakan pengalaman masing-masing. Nenek Dadapan muncul, diperkenalkan kepada Inu Kertapati. Inu Kertapati membawa tunangannya ke istano, dan Nenek Dadapan ikut diboyong. Tidak lamo kemudian, pernikahan langka dilaksanakan, antara Raden Inu Kertapati dan Dewi Candra Kirana.
60hfm263luetakb6j4e7zj9nyxj7rin
Asal Mula Huruf Jawa
0
2149
9579
2026-05-10T10:24:31Z
Harris Est 13
352
←Mambuek laman baisi "'''Asal Mula Huruf Jawa''' iolah carito rakyat nan mangisahkan tabantuaknyo tulisan Jawa dalam kabudayaan Jawa. == Carito == Alkisah, saurang patualang banamo Aji Saka datang ka Tanah Jawa nan ka maajaan pabagai ilmu di sinan. Aji Saka iko indak datang surang, malainkan basamo duo abdinyo: Dora jo Sembada. Sadang Aji Saka batualang di Tanah Jawa, inyo baistirahat di Gunuang Kendeng saat nio pai ka Medang Kamulan. Aji Saka bapasan ka Sembada untuak bamukim di Gunua..."
9579
wikitext
text/x-wiki
'''Asal Mula Huruf Jawa''' iolah carito rakyat nan mangisahkan tabantuaknyo tulisan Jawa dalam kabudayaan Jawa.
== Carito ==
Alkisah, saurang patualang banamo Aji Saka datang ka Tanah Jawa nan ka maajaan pabagai ilmu di sinan. Aji Saka iko indak datang surang, malainkan basamo duo abdinyo: Dora jo Sembada.
Sadang Aji Saka batualang di Tanah Jawa, inyo baistirahat di Gunuang Kendeng saat nio pai ka Medang Kamulan. Aji Saka bapasan ka Sembada untuak bamukim di Gunuang Kendeng dan manjago karihnyo bia indak tajadi parang. Sembada dilarang mangagiahan karih itu lain dari Aji Saka.
Satibonyo di Medang Kamulan, Aji Saka nio mangabdi ka Sang Prabu, tapi basobok jo saurang gaek nan malarangnyo dek Sang Prabu suko mamakan urang sahinggo urang-urang nan tingga di sinan banyak nan pai mangungsi. Aji Saka bakareh untuak basobok jo Sang Prabu, sahinggo urang gaek tadi maantanyo ka Sang Patih. Sang Patih ko pulo mangingekannyo jo parangai Sang Prabu itu. Aji Saka indak bagamiang, malah inyo maminta tanah ka Sang Patih salaweh ikek kapalonyo kalau inyo salamaik. Sang Patih mangiyoan.
Aji Saka mangabdi ka Sang Prabu di Medang Kamulan. Wakatu malam alah masuak, dan Aji Saka maubah dirinyo manjadi manjadi anak-anak subua nan elok. Sang Prabu langsuang sanang maliek anak itu dan ka mamakannyo. Aji Saka mangampiri muncuang Sang Prabu dan mangoyakkannyo. Matilah Sang Prabu.
Sasudah itu Aji Saka babaliak ka rupo samulo dan basobok Sang Patih untuak managiah janji. Aji Saka malapeh ikek kapalonyo lalu mambantangnyo. Ruponyo ikek kapalo itu manaungi sado tanah Medang Kamulan. Sang Prabu akhirnyo manyarahan Medang Kamulan ka Aji Saka. Rakyat Medang Kamulan sanang dek Sang Prabu nan suko mamakan urang alah mati sahinggo tanah itu manjadi salamaik. Diangkeklah Aji Saka manjadi rajo Medang Kamulan. Inyo mamarentah nagari itu dengan kaadilan dan kasajahteraan.
Aji Saka taragak jo abdinyo Sembada nan bamukim di Gunuang Kendeng dan manjago karihnyo. Sabab itulah inyo mangutus Dora untuak manjapuik Sembada, maambiak karihnyo baliak, sarato maajaknyo ka Medang Kamulan. Satibonyo di Gunuang Kendeng, Dora babuek sarupo parentah Aji Saka. Namun, Dora manolak dek inyo diparentahan Aji Saka pulo yaitu indak manyarahan karihnyo lain dari nan punyo surang.
Kaduonyo samo-samo patuah, kaduonyo samo-samo kareh. Mako kaduonyo samo-samo bacakak mamakai kamampuan dan kaahlian bataruang nan samo-samo kuek. Matilah kaduonyo. Aji Saka nan cameh dek indak ado nan datang kudian barangkek ka Gunuang Kendeng, mancaliak kaduo abdinyo alah mati. Manyasalah Aji Saka dek parentahnyo dan kapatuhan abdinyo itu mambuek kaduonyo mati. Untuak manganang jaso kaduo abdinyo itu, Aji Saka mambuek huruf (Aksara) Jawa nan urutan abjadnyo manjadi carito:
{|
|-
| ꦲ<br>ha || ꦤ<br>na || ꦕ<br>ca || ꦫ<br>ra || ꦏ<br>ka
| style="padding-left: 2em;" | "ada utusan"
|-
| ꦢ<br>da || ꦠ<br>ta || ꦱ<br>sa || ꦮ<br>wa || ꦭ<br>la
| style="padding-left: 2em;" | "mereka bertengkar"
|-
| ꦥ<br>pa || ꦝ<br>dha || ꦗ<br>ja || ꦪ<br>ya || ꦚ<br>nya
| style="padding-left: 2em;" | "sama saktinya"
|-
| ꦩ<br>ma || ꦒ<br>ga || ꦧ<br>ba || ꦛ<br>tha || ꦔ<br>nga
| style="padding-left: 2em;" | "keduanya menjadi mayat"
|}
amnt7w32yimmpddvq0ckazaeh6ms183
9581
9579
2026-05-10T10:44:49Z
Harris Est 13
352
9581
wikitext
text/x-wiki
'''Asal Mula Huruf Jawa''' iolah carito rakyat nan mangisahkan tabantuaknyo tulisan Jawa dalam kabudayaan Jawa.
== Carito ==
Alkisah, saurang patualang banamo Aji Saka datang ka Tanah Jawa nan ka maajaan pabagai ilmu di sinan. Aji Saka iko indak datang surang, malainkan basamo duo abdinyo: Dora jo Sembada.
Sadang Aji Saka batualang di Tanah Jawa, inyo baistirahat di Gunuang Kendeng saat nio pai ka Medang Kamulan. Aji Saka bapasan ka Sembada untuak bamukim di Gunuang Kendeng dan manjago karihnyo bia indak tajadi parang. Sembada dilarang mangagiahan karih itu lain dari Aji Saka.
Satibonyo di Medang Kamulan, Aji Saka nio mangabdi ka Sang Prabu, tapi basobok jo saurang gaek nan malarangnyo dek Sang Prabu suko mamakan urang sahinggo urang-urang nan tingga di sinan banyak nan pai mangungsi. Aji Saka bakareh untuak basobok jo Sang Prabu, sahinggo urang gaek tadi maantanyo ka Sang Patih. Sang Patih ko pulo mangingekannyo jo parangai Sang Prabu itu. Aji Saka indak bagamiang, malah inyo maminta tanah ka Sang Patih salaweh ikek kapalonyo kalau inyo salamaik. Sang Patih mangiyoan.
Aji Saka mangabdi ka Sang Prabu di Medang Kamulan. Wakatu malam alah masuak, dan Aji Saka maubah dirinyo manjadi manjadi anak-anak subua nan elok. Sang Prabu langsuang sanang maliek anak itu dan ka mamakannyo. Aji Saka mangampiri muncuang Sang Prabu dan mangoyakkannyo. Matilah Sang Prabu.
Sasudah itu Aji Saka babaliak ka rupo samulo dan basobok Sang Patih untuak managiah janji. Aji Saka malapeh ikek kapalonyo lalu mambantangnyo. Ruponyo ikek kapalo itu manaungi sado tanah Medang Kamulan. Sang Prabu akhirnyo manyarahan Medang Kamulan ka Aji Saka. Rakyat Medang Kamulan sanang dek Sang Prabu nan suko mamakan urang alah mati sahinggo tanah itu manjadi salamaik. Diangkeklah Aji Saka manjadi rajo Medang Kamulan. Inyo mamarentah nagari itu dengan kaadilan dan kasajahteraan.
Aji Saka taragak jo abdinyo Sembada nan bamukim di Gunuang Kendeng dan manjago karihnyo. Sabab itulah inyo mangutus Dora untuak manjapuik Sembada, maambiak karihnyo baliak, sarato maajaknyo ka Medang Kamulan. Satibonyo di Gunuang Kendeng, Dora babuek sarupo parentah Aji Saka. Namun, Dora manolak dek inyo diparentahan Aji Saka pulo yaitu indak manyarahan karihnyo lain dari nan punyo surang.
Kaduonyo samo-samo patuah, kaduonyo samo-samo kareh. Mako kaduonyo samo-samo bacakak mamakai kamampuan dan kaahlian bataruang nan samo-samo kuek. Matilah kaduonyo. Aji Saka nan cameh dek indak ado nan datang kudian barangkek ka Gunuang Kendeng, mancaliak kaduo abdinyo alah mati. Manyasalah Aji Saka dek parentahnyo dan kapatuhan abdinyo itu mambuek kaduonyo mati. Untuak manganang jaso kaduo abdinyo itu, Aji Saka mambuek huruf (Aksara) Jawa nan urutan abjadnyo manjadi carito (disasuaikan ka dalam bahaso Minangkabau):
{|
|-
| ꦲ<br>ha || ꦤ<br>na || ꦕ<br>ca || ꦫ<br>ra || ꦏ<br>ka
| style="padding-left: 2em;" | "utusan tibo"
|-
| ꦢ<br>da || ꦠ<br>ta || ꦱ<br>sa || ꦮ<br>wa || ꦭ<br>la
| style="padding-left: 2em;" | "bacakak inyo"
|-
| ꦥ<br>pa || ꦝ<br>dha || ꦗ<br>ja || ꦪ<br>ya || ꦚ<br>nya
| style="padding-left: 2em;" | "samo kueknyo"
|-
| ꦩ<br>ma || ꦒ<br>ga || ꦧ<br>ba || ꦛ<br>tha || ꦔ<br>nga
| style="padding-left: 2em;" | "maik jadinyo"
|}
airqqohb9500bylrqeyw93wuufqcrgl
9584
9581
2026-05-10T11:04:33Z
Harris Est 13
352
9584
wikitext
text/x-wiki
'''Asal Mula Huruf Jawa''' iolah carito rakyat nan mangisahkan tabantuaknyo tulisan Jawa dalam kabudayaan Jawa.
== Carito ==
Alkisah, saurang patualang banamo Aji Saka datang ka Tanah Jawa nan ka maajaan pabagai ilmu di sinan. Aji Saka iko indak datang surang, malainkan basamo duo abdinyo: Dora jo Sembada.
Sadang Aji Saka batualang di Tanah Jawa, inyo baistirahat di Gunuang Kendeng saat nio pai ka Medang Kamulan. Aji Saka bapasan ka Sembada untuak bamukim di Gunuang Kendeng dan manjago karihnyo bia indak tajadi parang. Sembada dilarang mangagiahan karih itu lain dari Aji Saka.
Satibonyo di Medang Kamulan, Aji Saka nio mangabdi ka Sang Prabu, tapi basobok jo saurang gaek nan malarangnyo dek Sang Prabu suko mamakan urang sahinggo urang-urang nan tingga di sinan banyak nan pai mangungsi. Aji Saka bakareh untuak basobok jo Sang Prabu, sahinggo urang gaek tadi maantanyo ka Sang Patih. Sang Patih ko pulo mangingekannyo jo parangai Sang Prabu itu. Aji Saka indak bagamiang, malah inyo maminta tanah ka Sang Patih salaweh ikek kapalonyo kalau inyo salamaik. Sang Patih mangiyoan.
Aji Saka mangabdi ka Sang Prabu di Medang Kamulan. Wakatu malam alah masuak, dan Aji Saka maubah dirinyo manjadi manjadi anak-anak subua nan elok. Sang Prabu langsuang sanang maliek anak itu dan ka mamakannyo. Aji Saka mangampiri muncuang Sang Prabu dan mangoyakkannyo. Matilah Sang Prabu.
Sasudah itu Aji Saka babaliak ka rupo samulo dan basobok Sang Patih untuak managiah janji. Aji Saka malapeh ikek kapalonyo lalu mambantangnyo. Ruponyo ikek kapalo itu manaungi sado tanah Medang Kamulan. Sang Prabu akhirnyo manyarahan Medang Kamulan ka Aji Saka. Rakyat Medang Kamulan sanang dek Sang Prabu nan suko mamakan urang alah mati sahinggo tanah itu manjadi salamaik. Diangkeklah Aji Saka manjadi rajo Medang Kamulan. Inyo mamarentah nagari itu dengan kaadilan dan kasajahteraan.
Aji Saka taragak jo abdinyo Sembada nan bamukim di Gunuang Kendeng dan manjago karihnyo. Sabab itulah inyo mangutus Dora untuak manjapuik Sembada, maambiak karihnyo baliak, sarato maajaknyo ka Medang Kamulan. Satibonyo di Gunuang Kendeng, Dora babuek sarupo parentah Aji Saka. Namun, Dora manolak dek inyo diparentahan Aji Saka pulo yaitu indak manyarahan karihnyo lain dari nan punyo surang.
Kaduonyo samo-samo patuah, kaduonyo samo-samo kareh. Mako kaduonyo samo-samo bacakak mamakai kamampuan dan kaahlian bataruang nan samo-samo kuek. Matilah kaduonyo. Aji Saka nan cameh dek indak ado nan datang kudian barangkek ka Gunuang Kendeng, mancaliak kaduo abdinyo alah mati. Manyasalah Aji Saka dek parentahnyo dan kapatuhan abdinyo itu mambuek kaduonyo mati. Untuak manganang jaso kaduo abdinyo itu, Aji Saka mambuek huruf (Aksara) Jawa nan urutan abjadnyo manjadi carito (disasuaikan ka dalam bahaso Minangkabau):
{|
|-
| ꦲ<br>ha || ꦤ<br>na || ꦕ<br>ca || ꦫ<br>ra || ꦏ<br>ka
| style="padding-left: 2em;" | "utusan tibo"
|-
| ꦢ<br>da || ꦠ<br>ta || ꦱ<br>sa || ꦮ<br>wa || ꦭ<br>la
| style="padding-left: 2em;" | "bacakak inyo"
|-
| ꦥ<br>pa || ꦝ<br>dha || ꦗ<br>ja || ꦪ<br>ya || ꦚ<br>nya
| style="padding-left: 2em;" | "samo kueknyo"
|-
| ꦩ<br>ma || ꦒ<br>ga || ꦧ<br>ba || ꦛ<br>tha || ꦔ<br>nga
| style="padding-left: 2em;" | "maik jadinyo"
|}
[[Kategori:Carito Rakyat]]
[[Kategori:Kopdar WikiBuku 10 Mei 2026]]
bmzbr2tq37f5f0ppwtnihkjkac2jglm