Wikibasurek minwikisource https://min.wikisource.org/wiki/Palanta MediaWiki 1.47.0-wmf.10 first-letter Media Istimewa Rundiang Pangguno Rundiang Pangguno Wikibasurek Rundiang Wikibasurek Berkas Rundiang Berkas MediaWiki Rundiang MediaWiki Templat Rundiang Templat Bantuan Rundiang Bantuan Kategori Rundiang Kategori Portal Rundiang Portal Halaman Rundiang Halaman Buku Rundiang Buku TimedText TimedText talk Modul Rundiang Modul Acara Pembicaraan Acara Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/139 250 4515 30477 15782 2026-07-12T09:16:48Z Firman Rusda 248 /* Indak ado teks */ 30477 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Firman Rusda" /></noinclude><noinclude>{{rh||128}}</noinclude> p5q1sr8ok4tls1ymqz0fzk8i3kb00ya Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/135 250 4519 30473 15788 2026-07-12T09:15:09Z Firman Rusda 248 /* Divalidasi */ 30473 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Firman Rusda" /></noinclude>tuo nan cilako, sabab indak ado baalemu. Arati‘damuik badak jantan’, nan indak tahu di duri, kulik suriah jangeknyo luko, namun lenggok baitu juo, bak kabau jalang kareh hiduang, parunjuik pambulang tali, indaklah tahu di kandangnyo, bak alemu tukang rabab, indak buliah bakato awak, hanyo nan kandak inyo surang, indaklah buliah disalahi, itulah tuo nan cilako, sabab miskin pado budi. Arati‘riang-riang asam’, bak kancah nan laweh arang. paham bak tabuang saruweh, kok dapek mambaokkannyo, taruah bana bak katidiang, kok tak elok-elok awainyo. tasuriah bana bak anjalai. Siapo nan pandai maujukan, dipuji bamuko-muko barang siapo tak manuruik, barapo upek di balakang, sampai dicacek dihinokan, buruak sanan aiblah sanan, setan bajuntai di lidahnyo, galak ibilih manolongi, itulah tuo nan cilako, sabab indak kasiah di agamo. Kamudian daripado itu, dangakan pulo oi Nak kan-duang, sipat manusia di ateh dunia nangko, adolah duo pakaronyo, <poem> ::Partamo sipat kabancian, ::Kaduo sipak kasayangan. ::Adopun ‘sipat kabancian’, buliah denai bilang agak sapuluah, ::Elok baso indak katuju ::Baiak budi indak manantu ::Gadang sanduak indak mambaok ::Gadang ancak indak lalu ::Elok tungkuih indak baisi ::Gadang agak indak manyampai ::Galang galogok indak bamalu ::Gadang latuih indak baasok ::Gadang lautan apopun indak. ::Oi nak kanduang sibiran tulang, kok tapakai salah satu, nan </poem><noinclude>{{rh||124}}</noinclude> 85ogw55h293rlypttqnow4m4priwhhx Halaman:Rancak Dilabuah.pdf/134 250 4520 30474 15789 2026-07-12T09:15:40Z Firman Rusda 248 /* Divalidasi */ 30474 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Firman Rusda" /></noinclude>dikubik dia pun datang, belum diagah dia tertawa, bak ketiding lepas bingkainya, seperti payung patah kasau, pahamnya bak kambing sakit, karena panjang angan-angan, itulah yang muda celaka. <poem> ::Arti“muda yang pengusau,” ingatlah pantun orang tua, ::Cincin perak dua permata ::Cincin tembaga berkilatan; ::Sudah ribut sepenuh kata ::Adat orang muda kesebutan </poem> Hilir mudik dia menyusah, kiri kanan memecah perang, dari jorong sepanjang jorong, dari kampung sepanjang kampung, barang yang ada ingin menghela, apa yang nampak ingin mengambil, dia ingin semuanya, meminta tidak dengan suka, membeli tidak dengan harga, seperti balam terbang rendah, ayam di lesung dicengkeramnya, itulah muda yang celaka, sebab dimabuk angan-angan Yang bernama “muda lengkisau,” itulah muda lidah air, sepantun telinga angin, jalan sempit kuda penyipak, mulut keras lari menyimpang, ekor sempit kepala rendah, kulit tebal ajaran kurang, akal busuk itikad jahat, paham tak suka ke yang baik, menyimpan dengki dan kianat, itulah muda yang celaka, sebab takabur dalam hati. Manalah anak kandung yang berdua, celaka muda sudah disebut, dengarkan juga oleh kalian, denai kaji celaka tua, itu ada tiga perkaranya. <poem> ::Pertama nyinyir tak menentu ::Kedua damuik badak jantan ::Ketiga riang-riang asam </poem> Arti nyinyir tak menentu, seperti balam terlampau jinak, mengangguk anguk tabung air, berwarna kili-kilinya, dimabuk kata lemah lembut, runding bak serasah terjun, tidak memberi pengajaran, kata bak bunyi gunung runtuh, tidak nasehat dan amanat, bertutur berolok-olok, menyimpang mata bisul orang, itulah<noinclude>{{rh||123}}</noinclude> i3o3usdefeer6yiyug843k9xb4c0o9s 30475 30474 2026-07-12T09:15:59Z Firman Rusda 248 30475 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Firman Rusda" /></noinclude>dikubik dia pun datang, belum diagah dia tertawa, bak ketiding lepas bingkainya, seperti payung patah kasau, pahamnya bak kambing sakit, karena panjang angan-angan, itulah yang muda celaka. <poem> ::Arti“muda yang pengusau,” ingatlah pantun orang tua, ::Cincin perak dua permata ::Cincin tembaga berkilatan; ::Sudah ribut sepenuh kata ::Adat orang muda kesebutan </poem> Hilir mudik dia menyusah, kiri kanan memecah perang, dari jorong sepanjang jorong, dari kampung sepanjang kampung, barang yang ada ingin menghela, apa yang nampak ingin mengambil, dia ingin semuanya, meminta tidak dengan suka, membeli tidak dengan harga, seperti balam terbang rendah, ayam di lesung dicengkeramnya, itulah muda yang celaka, sebab dimabuk angan-angan Yang bernama “muda lengkisau,” itulah muda lidah air, sepantun telinga angin, jalan sempit kuda penyipak, mulut keras lari menyimpang, ekor sempit kepala rendah, kulit tebal ajaran kurang, akal busuk itikad jahat, paham tak suka ke yang baik, menyimpan dengki dan kianat, itulah muda yang celaka, sebab takabur dalam hati. Manalah anak kandung yang berdua, celaka muda sudah disebut, dengarkan juga oleh kalian, denai kaji celaka tua, itu ada tiga perkaranya. <poem> ::Pertama nyinyir tak menentu ::Kedua damuik badak jantan ::Ketiga riang-riang asam </poem> Arti nyinyir tak menentu, seperti balam terlampau jinak, mengangguk anguk tabung air, berwarna kili-kilinya, dimabuk kata lemah lembut, runding bak serasah terjun, tidak memberi pengajaran, kata bak bunyi gunung runtuh, tidak nasehat dan amanat, bertutur berolok-olok, menyimpang mata bisul orang, itulah<noinclude>{{rh||123}}</noinclude> 3fx54uzsmz2a71a4vye2483hh1xwr5c 30476 30475 2026-07-12T09:16:25Z Firman Rusda 248 30476 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Firman Rusda" /></noinclude>dikubik dia pun datang, belum diagah dia tertawa, bak ketiding lepas bingkainya, seperti payung patah kasau, pahamnya bak kambing sakit, karena panjang angan-angan, itulah yang muda celaka. <poem> ::Arti“muda yang pengusau,” ingatlah pantun orang tua, ::Cincin perak dua permata ::Cincin tembaga berkilatan; ::Sudah ribut sepenuh kata ::Adat orang muda kesebutan </poem> Hilir mudik dia menyusah, kiri kanan memecah perang, dari jorong sepanjang jorong, dari kampung sepanjang kampung, barang yang ada ingin menghela, apa yang nampak ingin mengambil, dia ingin semuanya, meminta tidak dengan suka, membeli tidak dengan harga, seperti balam terbang rendah, ayam di lesung dicengkeramnya, itulah muda yang celaka, sebab dimabuk angan-angan Yang bernama “muda lengkisau,” itulah muda lidah air, sepantun telinga angin, jalan sempit kuda penyipak, mulut keras lari menyimpang, ekor sempit kepala rendah, kulit tebal ajaran kurang, akal busuk itikad jahat, paham tak suka ke yang baik, menyimpan dengki dan kianat, itulah muda yang celaka, sebab takabur dalam hati. Manalah anak kandung yang berdua, celaka muda sudah disebut, dengarkan juga oleh kalian, denai kaji celaka tua, itu ada tiga perkaranya. <poem> ::Pertama nyinyir tak menentu ::Kedua damuik badak jantan ::Ketiga riang-riang asam </poem> Arti nyinyir tak menentu, seperti balam terlampau jinak, mengangguk anguk tabung air, berwarna kili-kilinya, dimabuk kata lemah lembut, runding bak serasah terjun, tidak memberi pengajaran, kata bak bunyi gunung runtuh, tidak nasehat dan amanat, bertutur berolok-olok, menyimpang mata bisul orang, itulah<noinclude>{{rh||123}}</noinclude> ajw4ml4scqjovxljfsrs4q8ujpbffl1