Wikipedia bugwiki https://bug.wikipedia.org/wiki/Watangpola MediaWiki 1.47.0-wmf.21 first-letter Médiya Mallebbi Panennaq Pagguna Panennaq pagguna Wikipedia Panennaq Wikipedia Attarong Panennaq attarong MediaWiki Panennaq MediaWiki Accuwang Panennaq accuwang Bantungeng Panennaq bantungeng Katagori Panennaq katagori TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Tunipallangga 0 24140 211622 211619 2026-09-30T04:55:51Z Iripseudocorus 13591 211622 wikitext text/x-wiki {{Terjemah|komentar=Halaman masih dalam '''bahasa Indonesia'''}} '''Tunipallangga''' adalah Raja Gowa ke-10 yang memerintah [[Kerajaan Gowa]] dan [[Kesultanan Tallo|Kerajaan Tallo]] sejak tahun 1546 M hingga 1565 M. Ia merupakan anak dari Raja Gowa ke-9 yaitu [[Tumapa'risi' Kallonna]]. Pada masa pemerintahannya, pusat pemerintahan dan istana Kerajaan Gowa dipindahkan dari Bukit Tamalate ke Somba Opu. Tunipallangga memperluas wilayah Kerajaan Gowa hingga ke bagian utara wilayah [[Sulawesi Selatan]] dan menaklukkan seluruh kerajaan yang tergabung dalam [[Ajatappareng|Konfederasi Ajatappareng]] dan [[Konfederasi Tellu Limpoe]]. Tunipallangga meneruskan kegiatan pembangunan benteng di wilayah Kerajaan Gowa untuk mempertahankan wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa. Tunipallangga menerapkan kebijakan perdagangan maritim yang disebut ''makkanama nu mammio'' (aku bertitah dan kamu taati) bagi kerajaan taklukannya. Kebijakan ini membuat bandar niaga Somba Opu mengalami kemajuan pesat karena para pedagang mulai berdatangan untuk berdagang di Kerajaan Gowa. Pada masa Tunipallangga, masyarakat Kerajaan Gowa mulai memiliki pekerjaan khusus yang bersifat ahli berkaitan dengan kegiatan [[ekonomi]]. Selama masa pemerintahan Tunipallangga, penduduk asli dari [[suku Makassar]] di Kerajaan Gowa hidup pada permukiman yang terpisah dengan penduduk pendatang dari [[suku Melayu]]. Sementara itu, permukiman penduduk dari wilayah taklukan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada masa pemerintahan Tunipallangga didirikan di dua pelabuhan yaitu Pelabuhan Somba Opu dan Pelabuhan Tallo. Kedua permukiman terpisah tersebut lama-kelamaan menyatu dan menjadi cikal bakal terbentuknya [[Kota Makassar]]. == Silsilah dan keluarga == Tunipallangga dilahirkan dengan nama I Manriogau Daeng Bonto Lakiung.<ref>{{Cite book|last=Abu Hamid|date=Januari 2005|url=https://www.google.co.id/books/edition/Syekh_Yusuf_Makassar_seorang_ulama_sufi/jGAQUZcSqCgC?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA19&printsec=frontcover|title=Syekh Yusuf Makassar, Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang|location=Jakarta|publisher=Yayasan Obor Indonesia|isbn=979-461-175-1|pages=19|url-status=live}}</ref> Nama ayahnya ialah [[Tumapa'risi' Kallonna]]. Ayah Tunipallangga merupakan Raja Gowa ke-9 yang memerintah sejak tahun 1510 Masehi hingga tahun 1546 Masehi.<ref name=":022">{{Cite book|last=Bahri|date=Agustus 2015|url=https://eprints.unm.ac.id/19680/2/Buku%20Monograf%20-%20Perebutan%20Tahta%20di%20Sulawesi%20Selatan.pdf|title=Sulawesi Selatan Tempo Doeloe: Mozaik Sejarah Lokal|location=Makassar|publisher=Rayhan Intermedia|isbn=978-602-95545-6-4|pages=35|chapter=Perebutan Tahta di Sulawesi Selatan|url-status=live}}</ref> Ayahnya juga merupakan pemersatu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada tahun 1528 melalui sumpah penghentian perang sekaligus sumpah penyatuan kedua kerajaan.<ref name=":022" />{{Sfn|Sirajuddin|2010|p=2}} Tumapa'risi' Kallonna menjadi raja untuk Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo dengan Raja Tallo sebagai [[mangkubumi]] Kerajaan Gowa. Kedudukan ini berlanjut untuk raja-raja setelahnya termasuk pada masa pemerintahan Tunipallangga.{{Sfn|Sirajuddin|2010|p=3}} Ayah Tunipallangga yaitu Tumapa'risi' Kallonna diperkirakan berasal dari keturunan keluarga [[Kerajaan Bantaeng]] dari jalur silsilah ibunya atau istrinya. Dugaan tersebut berasal dari sejarah penaklukan Kerajaan Gowa terhadap kerajaan-kerajaan di pesisir selatan wilayah Sulawesi Selatan. Dalam penaklukan oleh Tumapa'risi' Kallonna dan Tunipallangga, Kerajaan Bantaeng tidak pernah dinyatakan sebagai kerajaan taklukan maupun kerajaan sahabat bagi Kerajaan Gowa.<ref>{{Cite book|last=Mahmud, M. I., dkk.|date=Desember 2007|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/15912/1/Bantaeng%20Masa%20Prasejarah%20Ke%20Masa%20Islam.pdf|title=Bantaeng: Masa Prasejarah ke Masa Islam|location=Mala|publisher=Masagena Press|isbn=978-979-97977-9-7|editor-last=Akhmar|editor-first=Andi M.|pages=135|url-status=live}}</ref> Tunipallangga memiliki seorang anak [[perempuan]] yang menjadi salah satu istri dari I Mangngarai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa yang berstatus sebagai Raja Tallo. Nama putrinya ialah Karaeng Bone. [[Pernikahan]] antara Karaeng Bone dan Karaeng Bontolangkasa menghubungkan silsilah kekeluargaan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.<ref>{{Cite book|last=Manan|first=Abdul|date=September 2019|url=https://repo.jayabaya.ac.id/1500/1/11.%20Buku%20Pengadilan%20Agama.pdf|title=Pengadilan Agama: Cagar Budaya Nusantara Memperkuat NKRI|location=Jakarta|publisher=Prenadamedia Group|isbn=978-623-218-237-0|pages=143|url-status=live}}</ref> Tunipallangga juga memiliki seorang putri bernama I Daeng Takammoe Karaeng Bili Tangngayya. I Daeng Takammoe menjadi istri dari I Pasiri' Daeng Mangasi Karaeng Labbua Tali Bannangna yang berstatus sebagai Raja Bangkala ke-3 untuk [[Kerajaan Bangkala]] yang pernah berkuasa di wilayah [[Kabupaten Jeneponto]]. Dari pernikahan putrinya, Tunallangga memiliki seorang [[cucu]] bernama I Mannyarang.<ref>{{Cite journal|last=Ridho|first=Muhammad Akil|date=2021|editor-last=Andriany|title=Potensi dan Sebaran Cagar Budaya di WIlayah Adat Toddo Limayya ri Marusu Kabupaten Maros|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/24562/1/buletin%202021.pdf|journal=Buletin Somba Opu|publisher=Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan|volume=24|issue=28|pages=47|issn=1411-2930}}</ref> == Masa pemerintahan == === Pusat pemerintahan === Ketika [[Tumapa'risi' Kallonna]] meninggal, Tunipallangga sebagai anaknya menggantikan posisinya sebagai Raja Gowa.<ref>{{Cite book|url=https://scispace.com/pdf/a-chain-of-kings-the-makassarese-chronicles-of-gowa-and-4huz4wticd.pdf|title=A Chain of Kings: The Makassarese chronicles of Gowa and Talloq|location=Leiden|publisher=KITLV Press|isbn=978-90-67182-87-7|editor-last=Cummings|editor-first=William|pages=33|language=EN|url-status=live}}</ref> Tunipallangga memerintah sebagai Raja Gowa ke-10 bagi Kerajaan Gowa.<ref name=":122">{{Cite book|last=Sewang|first=Ahmad M.|date=April 2005|url=https://books.google.co.id/books?id=HOcUtQAtl00C&printsec=copyright&hl=id#v=onepage&q=Tunipalangga&f=false|title=Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI sampai Abad XVII|location=Jakarta|publisher=Yayasan Obor Indonesia|isbn=979-461-530-7|pages=1|url-status=live}}</ref> Pelantikannya sebagai Raja Gowa ke-10 dilakukan oleh Bate Salapang.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=48}} Sebagai Raja Gowa ke-10, Tunipallangga diberi gelar Daeng Bonto Karaeng Lakiung.<ref name=":022" /> Ia memulai masa pemerintahannya sejak tahun 1546 Masehi hingga tahun 1565 Masehi.<ref>{{Cite journal|last=Cummings|first=William|date=25 Mei 2025|title=Biblical Traces in a Muslim Chronicle from Makasar, Indonesia|url=https://journals.openedition.org/archipel/pdf/7342|journal=Archipel: Études interdisciplinaires sur le monde insulindien|language=EN|publisher=Association Archipel|issue=109|pages=269|doi=10.4000/144xn|isbn=978-2-910513-97-9|issn=0044-8613}}</ref> Pusat pemerintahan Kerajaan Gowa pada masa pemerintahannya terletak di Somba Opu yang merupakan pusat pemerintahan bersama bagi Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo sebagai satu kekuasaan politik dan ekonomi.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=34}} Istana Kerajaan Gowa yang awalnya terletak di Bukit Tamalate tidak lagi digunakan dan istana yang baru didirikan di Somba Opu. Nama istana Kerajaan Gowa yang baru ialah Maccini Sombala.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=133}} === Perluasan wilayah kekuasaan === ==== Rencana dan persiapan penaklukan ==== Pada masa pemerintahannya, Tunipallangga meneruskan rencana perluasan wilayah Kerajaan Gowa yang telah dirintis oleh Tumaparrisi’ Kallonna.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=133}} Tunipallangga memiliki keberanian dan menerapkan kebijaksanaan dalam melakukan perang penaklukan.<ref>{{Cite book|last=Departemen Penerangan|date=1959|url=https://www.google.co.id/books/edition/Republik_Indonesia_Propinsi_Sumatera_Uta/a-KFAAAAIAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Tunipallangga&dq=Tunipallangga&printsec=frontcover|title=Republik Indonesia: Propinsi Sumatera Utara|publisher=Kementerian Penerangan|pages=589|url-status=live|lay-url=https://www.google.co.id/books/edition/Republik_Indonesia_Propinsi_Sumatera_Uta/a-KFAAAAIAAJ?hl=id&gbpv=0&bsq=Tunipallangga}}</ref> Proses penaklukan yang dilakukan oleh Tunipallangga dirancang secara sistematis dan terencana.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=133}} Penaklukan yang diadakan oleh Tunipallangga sebagai Raja Gowa dibantu oleh I Mappasomba I Daeng Uraga yang merupakan sepupu dari Raja Tallo pada masa kekuasaan Tunipallangga. I Mappasomba I Daeng berstatus sebagai raja bagi [[Kerajaan Marusu]] ketika Tunipallangga mengadakan penaklukan atas daerah-daerah di sekitarnya.<ref>{{Cite book|last=Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan|date=1986|url=https://www.google.co.id/books/edition/Laporan_pengumpulan_data_peninggalan_sej/9nQCAAAAIAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Tunipallangga&dq=Tunipallangga&printsec=frontcover|title=Laporan Pengumpulan Data Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kabupaten Maros|location=Maros|publisher=Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulawesi Selatan|pages=51|url-status=live|lay-url=https://www.google.co.id/books/edition/Laporan_pengumpulan_data_peninggalan_sej/9nQCAAAAIAAJ?hl=id&gbpv=0&bsq=Tunipallangga}}</ref> Tunipallangga mengadakan penaklukan di wilayah-wilayah bagian utara Sulawesi Selatan yang secara umum merupakan wilayah kekuasaan kerajaan dari suku Bugis, [[suku Mandar]] dan suku Toraja. Penaklukan atas wilayah utara Sulawesi Selatan dilakukan oleh Tunipallangga untuk memperluas wilayah pertanian dan komoditas dari alam untuk memperkuat kegiatan perdagangan dan pelayaran di Somba Opu.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=35}} Dalam upaya penaklukan, Tunipallangga mengutamakan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan pesisir yang menjadi pesaing Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo dalam perdagangan maritim.{{Sfn|Amir|2013|p=109}} Pasukan Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Tunipallangga dibagi-bagi dengan masing-masing seorang pimpinan tertinggi sebagai pemimpinnya. Pemimpin tertinggi dalam Pasukan Kerajaan Gowa disebut Anrong Guru. Selain pasukan biasa, Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Tunipallangga membentuk pasukan istimewa yang terdiri dari putra raja dan putra-putra dari keluarga [[bangsawan]] Kerajaan Gowa. Pimpinan tertinggi pasukan istimewa Kerajaan Gowa disebut Karaeng Tumakkajannangngang.{{Sfn|Sagimun|1992|p=26}} ==== Penaklukan Konfederasi Ajatappareng ==== Dua kerajaan di wilayah [[Ajatappareng|Konfederasi Ajatappareng]] telah ditaklukkan sejak masa Raja Gowa ke-9 yaitu Tumapa'risi' Kallonna. Keduanya ialah [[Kedatuan Sidenreng|Kerajaan Sidenreng]] dan [[Kerajaan Rappang]]. Karena itu, Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang membantu penaklukan Kerajaan Gowa selama masa pemerintahan Tunipallangga.{{Sfn|Amir|2013|p=117}} Selain itu, Tunipallangga menaklukkan Kerajaan Bacukiki.{{Sfn|Amir|2013|p=87}} Sejak dasawarsa 1550-an, Tunipallangga telah memperluas pengaruh kekuasaan Kerajaan Gowa ke Kerajaan Bacukiki, Kerajaan Alitta, Kerajaan Sawitto dan Kerajaan Sidenreng.{{Sfn|Amir|2013|p=87}} Pada tahun 1552, Kerajaan Gowa menaklukkan [[Kedatuan Suppa|Kerajaan Suppa]] dan [[Kerajaan Sawitto]].{{Sfn|Amir|2013|p=114}} Pada masa pemerintahan Tunipallangga, Kedatuan Suppa dan Kerajaan Sawitto merupakan pusat perdagangan maritim di kawasan selat Makassar bagi Konfederasi Ajatappareng.{{Sfn|Hasaruddin|2021|p=4}} Alasan penaklukan Kerajaan Suppa dan Kerajaan Sawitto ada dua yaitu penolakan La Makkawari sebagai Datu Suppa dalam menerima lamaran dari putra Tunipallangga untuk putrinya yang bernama We Lampeweluwa. Penolakan ini karena La Paleteang selaku Addatuang Sawitto juga melamar We Lampeweluwa untuk anaknya yaitu La Cella Mata. Lamaran La Cella Mata diterima karena adanya hubungan saudara beda ibu antara La Makkawari dan La Paleteang.{{Sfn|Amir|2013|p=111-113}} Alasan kedua ialah Kerajaan Gowa menganggap Kedatuan Suppa dan Kerajaan Sawitto sebagai pesaing bagi perdagangan maritim Kerajaan Gowa. Kedatuan Suppa dan Kerajaan Sawitto saat itu memiliki sawah yang luas dan dimukimi oleh para pedagang suku Melayu.{{Sfn|Amir|2013|p=115-116}} Penaklukan Kerajaan Sawitto oleh Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Tunipallangga juga didasari oleh hubungan baik Kerajaan Sawitto dengan [[Kedatuan Luwu]]. Penyerangan terhadap Kerajaan Sawitto dilakukan oleh Kerajaan Gowa secara besar-besaran akibat dari kemarahan Tunipallangga terhadap Kerajaan Luwu. Kerajaan Sawitto merupakan penghasil pasokan beras untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan bagi rakyat Kerajaan Luwu selama tujuh tahun masa kekeringan. Karena itu, Kerajaan Luwu menyatakan bahwa gelar Sombaya tidak sepatutnya diberikan kepada Tunipallangga sebagai Raja Gowa tetapi lebih layak diberikan kepada La Cella Mata sebagai Raja Sawitto ke-5. Pernyataan tersebut dinyatakan oleh Payungnge ri Luwu. Pasukan Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Tunipallangga akhirnya menyerang istana Raja Sawitto dan menguasai wilayah Kerajaan Sawitto sebagai taklukan Kerajaan Gowa dan menetapkan We Passulle sebagai Raja Sawitto ke-6 menggantikan La Cella Mata.<ref>{{Cite book|last=Hafid|first=Rosdiana|date=2012|url=https://repositori.kemdikbud.go.id/16573/1/Toponimi%20daerah%20pinrang.pdf|title=Toponimi Daerah Pinrang sebagai Sumber Sejarah|location=Makassar|publisher=De La Macca|isbn=978-979-3897-52-3|editor-last=KIla|editor-first=Syahrir|pages=58|url-status=live}}</ref> Sedangkan Kedatuan Suppa ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan We Lampeweluwa.{{Sfn|Amir|2013|p=113}} Setelah penaklukan seluruh wilayah Konfederasi Ajatappareng, Tunipallangga menetapkan putrinya yang bernama We Tosappai sebagai Datu Suppa dan menikahkannya dengan La Pattiroi yang merupakan Addatuang Sidenreng. Pernikahan ini memperkuat pengaruh kekuasaan Kerajaan Gowa atas seluruh wilayah Ajatappareng.{{Sfn|Amir|2013|p=117}} ==== Penaklukan Konfederasi Tellu Limpoe ==== Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang menaklukkan wilayah Kerajaan Otting, Kerajaan Bulucenrana dan [[Kerajaan Wajo]] sebagai taklukan Kerajaan Gowa.{{Sfn|Amir|2013|p=117}} Tunipallangga sebagai Raja Gowa juga memperluas wilayah Kerajaan Gowa hingga ke sebagian wilayah Bulukumba. Kerajaan Gowa pada masa pemerintahannya berhasil menguasai wilayah Palioi, Gantarang, Ujungloe Ujung Loe, Panynyikkokang, Wero, Kajang, hingga Bira.{{Sfn|Nasruddin, dkk.|2016|p=142}} Tunipallangga juga menjadikan Kerajaan Tiro dan Kerajaan Bira sebagai palili Kerajaan Gowa.<ref>{{Cite book|last=Rahayu|first=Sri|date=Maret 2023|url=https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/42424-Full_Text.pdf|title=30 Cerita Rakyat Indonesia tentang Asal-usul Penamaan Suatu Daerah di Indonesia|location=Solok|publisher=Penerbit PT Mafy Media Literasi Indonesia|isbn=978-623-09-2643-3|editor-last=Hanapi|editor-first=A. Rahmat|pages=57|url-status=live}}</ref> Politik perluasan wilayah kekuasaan yang diadakan oleh Kerajaan Gowa ditentang oleh [[Kesultanan Bone|Kerajaan Bone]] sebagai salah satu kerajaan tetangga Kerajaan Gowa yang saling bersaing dalam memperluas wilayah kekuasaan masing-masing.{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=64}} Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga terus melakukan penyerangan terhadap wilayah Kerajaan Bone yang merupakan salah satu kerajaan terkuat dari kalangan suku Bugis.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=91}} Namun peperangan selama enam tahun lebih tujuh bulan oleh Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga tidak dapat menaklukkan Kerajaan Bone.{{Sfn|Sagimun|1992|p=29}} Pada tahun 1561 M, Latenrirawe Bongkange selaku Raja Bone mengusulkan pembentukan [[Konfederasi Tellu Limpoe]] melalui [[Perjanjian Topekkong|Perjanjian]] [[Perjanjian Topekkong|Topekkong]].<ref>{{Cite book|last=Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional|date=1985|url=https://www.google.co.id/books/edition/Peristiwa_tahun_tahun_bersejarah_daerah/SqtwAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=1561++Tellu+Limpoe&dq=1561++Tellu+Limpoe&printsec=frontcover|title=Peristiwa tahun-tahun bersejarah daerah Sulawesi Selatan dari abad ke XIV s/d XIX|location=Ujung Pandang|publisher=Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan|pages=27|url-status=live}}</ref> Konfederasi Tellu Limpoe terdiri dari tiga kerajaan yaitu [[Kerajaan Lamatti]], [[Kerajaan Tondong]] dan Kerajaan Bulo-Bulo.{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=7}} Sebelum pembentukan Konfederasi Tellu Limpoe, kerajaan-kerajaan yang tergabung di dalamnya telah menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Bone.{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=115-116}} Tujuan pembentukan Konfederasi Tellu Limpoe untuk mencegah penaklukan daerah SInjai oleh Kerajaan Gowa pada masa kekuasaan Tunipallangga.{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=115}} Tunipallangga mengadakan penaklukan [[Kabupaten Sinjai|daerah Sinjai]] dengan dibantu oleh La Pakkoko Topabbele selaku Arung Matowa Wajo ke-10 dan oleh La Mungkace Toudama selaku panglima perang Kerajaan Wajo. Di sisi lain, pasukan perlawanan dari Konfederasi Tellu Limpoe terbagi tiga dan dipimpin oleh masing-masing raja dari Kerajaan Lamatti, Kerajaan Tondong dan Kerajaan Bulo-Bulo. Pasukan Kerajaan Lamatti dipimpin oleh Lamapadering sealku Raja Lamatti ke-5. Pasukan Kerajaan Tondong dipimpin oleh Lottong Daeng Marumpa selaku Raja Tondong ke-7. Sedangkan pasukan Kerajaan Bulo-Bulo dipimpin oleh Lamappasokok selaku Raja Bulo-Bulo ke-6. Namun perlawanan pasukan Konfederasi Tellu Limpoe berhasil dikalahkan oleh pasukan Kerajaan Gowa.{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=61-62}} Pada Februari 1564, Konfederasi Tellu Limpoe dibentuk kembali oleh Kerajaan Tondong, Kerajaan Bulo-Bulo dan Kerajaan Lamatti melalui Perjanjian Topekkong. Pembentukan ulang Konfederasi Tellu Limpoe menandakan bahwa wilayah Konfederasi Tellu Limpoe telah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Gowa.{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=64}} Pada tahun 1565 M, Kerajaan Gowa sepenuhnya mengakhiri persaingan dengan Kerajaan Bone dalam hal perluasan wilayah kekuasaan di wilayah Konfederasi Tellu Limpoe dengan mengadakan Perjanjian Caleppa. Isi Perjanjian Caleppa menyatakan bahwa [[sungai Tangka]] yang berada di daerah Sinjai atau di wilayah Konfederasi Tellu Limpoe menjadi batas wilayah kekuasaan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Seluruh wilayah di selatan sungai Tangka menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa dan seluruh wilayah di utara sungai Tangka menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Bone.{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=64-65}} Perjanjian Caleppa secara ''[[de facto]]'' menjadikan wilayah Konfederasi Tellu Limpoe sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa dengan status negeri bawahan (''palili'').{{Sfn|Sritimuryati|2016|p=65}} Selain itu, isi Perjanjian Caleppa menjadi penanda batas terluas wilayah Kerajaan Gowa selama masa pemerintahan Tunipallangga yaitu hingga ke bagian selatan sungai Tangka.{{Sfn|Nasruddin, dkk.|2016|p=142-143}} ==== Penaklukan lain dan masa akhir penaklukan ==== [[Berkas:Penaklukan_Tunipalangga_id.png|jmpl|Penaklukan kerajaan-kerajaan oleh Kerajaan Gowa selama masa pemerintahan Tunipallangga.]] Selain kerajaan-kerajaan di wilayah [[Sulawesi Selatan]], Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga menaklukkan kerajaan-kerajaan di daerah Mandar. Kekuasaan Kerajaan Gowa di daerah Mandar meliputi daerah Bungka, Mapilli, Poda-poda dan Campalagian. Daerah lain di luar Sulawesi Selatan yang ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga ialah [[Kerajaan Toli-Toli]] dan Kerajaan Kaili.{{Sfn|Sagimun|1992|p=23}} Tunipallangga merupakan Raja Gowa yang paling banyak menaklukkan kerajaan-kerajaan di [[dataran]] Sulawesi Selatan melalui perang.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=36}} Selama masa pemerintahan Tunipallangga, Kerajaan Gowa berhasil menaklukkan sebanyak 48 kerajaan lain di sekitarnya. Kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan merupakan kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh suku Makassar maupun [[suku Bugis]]. Penaklukan Kerajaan Gowa atas kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya merupakan penaklukan paling sukses yang pernah terjadi dalam sejarah Kerajaan Gowa.<ref>{{Cite book|date=September 2017|url=https://www.google.co.id/books/edition/Aksara_Naskah_dan_Budaya_Nusantara/igAlEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA168&printsec=frontcover|title=Aksara, Naskah, dan Budaya Nusantara|location=Tangerang|publisher=Indigo Media|isbn=978-602-74720-6-8|editor-last=Kramadibrata|editor-first=Dewaki|pages=168|url-status=live}}</ref> Kerajaan Bone menjadi satu-satunya kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan yang tidak berhasil ditaklukkan melalui peperangan oleh Kerajaan Gowa selama masa pemerintahan Tunipallangga.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=133}} === Pembentukan jabatan-jabatan pemerintahan === Meluasnya wilayah Kerajaan Gowa dengan kondisi masyarakat yang komplek pada masa pemerintahan Tunipallangga, membuat dibentuknya jabatan-jabatan baru dalam pemerintahan Kerajaan Gowa yaitu Tumabicara Butta, Tumailalang dan Sabannara.<ref name=":222">{{Cite book|last=Effendy|first=Muslimin A.R.|url=https://repositori.kemdikbud.go.id/14812/1/Dari%20Kale%20Gowa%20Ke%20Somba%20Opu%20merajut%20simpul-simpul%20pertahanan%20kerajaan%20goiwa%20di%20sulawesi%20selatan.pdf|title=Dari Kale Gowa ke Somba Opu: Merajut Simpul-simpul Pertahanan Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan|location=Makassar|publisher=Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar|pages=5|url-status=live}}</ref> Tumabicara Butta merupakan jabatan yang berperan sebagai pendamping Raja Gowa sekaligus perwakilannya dalam [[pengambilan keputusan]] atas kepentingan Raja Gowa dan rakyat Kerajaan Gowa.<ref>{{Cite book|last=Paeni, M., dkk.|date=Juni 1984|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/27542/1/SEJARAH%20SOSIAL%20DAERAH%20SULAWESI%20SELATAN.pdf|title=Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Selatan: Mobilitas Sosial Kota Makassar 1900 - 1950|location=Jakarta|publisher=Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional|pages=72|url-status=live}}</ref> Jabatan Tumailalang merupakan jabatan yang setara dengan menteri urusan dalam negeri. Pejabat pertamanya bernama Daeng Pamatte.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=37}} Sedangkan Sabannara adalah jabatan yang mengerjakan tugas-tugas [[syahbandar]].<ref name=":222" /> Jabatan ini dibentuk bersamaan dengan pendirian Kesyahbandaran Somba Opu dengan pejabat pertamanya yaitu Karaeng Mangewai.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=37}} Ketika masa Tunipallangga, bandar Somba Opu merupakan bandar perdagangan yang pertama didirikan dan menjadi satu-satunya bandar perdagangan bagi Kerajaan Gowa.{{Sfn|Hasaruddin|2021|p=4}} === Pertahanan atas wilayah kekuasaan === Pada tahun 1548 M, Tunipallangga memperbaiki teknologi pembangunan benteng pertahanan yang dibuat pada masa pemerintahan ayahnya selama proses perluasan wilayah Kerajaan Gowa. Sejak masa pemerintahan Tunipallangga, penggunaan [[tanah liat]] sebagai bahan bangunan pembuatan dinding benteng pertahanan diganti dengan penggunaan [[batu bata]].<ref name=":222" />{{Sfn|Hadrawi|2021|p=48}} Penggunaan batu bata menggantikan tanah liat pada dua benteng pertahanan yaitu Benteng Somba Opu dan Benteng Kale Gowa yang merupakan istana bagi Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=51}} Setelah merombak benteng-benteng yang telah ada, Tunipallangga meneruskan kegiatan pembangunan benteng di wilayah Kerajaan Gowa yang sebelumnya dirintis oleh ayahnya yaitu Tumapa'risi’ Kallonna. Pembangunan benteng-benteng baru di wilayah Kerajaan Gowa dilakukan untuk digunakan sebagai infrastuktur pendukung ekonomi dan politik [[monarki]] Kerajaan Gowa. Selain itu, benteng-benteng baru dibangun sebagai infrastuktur pertahanan dari serangan-serangan saingan politik Kerajaan Gowa di wilayah Sulawesi Selatan.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=35}} Pembangunan benteng-benteng menggunakan [[tenaga kerja]] dari wilayah taklukan Kerajaan Gowa terutama dari Kerajaan Suppa, Kerajaan Sawitto, dan Kerajaan Bacukiki.{{Sfn|Sagimun|1992|p=25}} Benteng-benteng pertahanan yang selesai dibangun pada masa pemerintahan Tunipallangga ialah Benteng Tallo, Benteng Ujung Tana, Benteng Ujung Pandang, Benteng Mariso, Benteng Panakkukang, Benteng Garassi, Benteng Barombong dan Benteng Galesong.<ref>{{Cite book|last=Syarifuddin, Tika, Z., dan Nasuhan, N.|date=2007|url=https://www.google.co.id/books/edition/Rakyat_Gowa_menentang_penjajah/VKMMAQAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Tunipallangga&dq=Tunipallangga&printsec=frontcover|title=Rakyat Gowa Menentang Penjajah|publisher=Pustaka Refleksi|pages=6|url-status=live|lay-url=https://www.google.co.id/books/edition/Rakyat_Gowa_menentang_penjajah/VKMMAQAAMAAJ?hl=id&gbpv=0&bsq=Tunipallangga}}</ref> Hubungan baik dengan suku Melayu membuat kemampuan militer dari pasukan Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga mengalami peningkatan. Para pakar militer dari suku Melayu di Kerajaan Gowa melatih para prajurit Kerajaan Gowa dalam pembuatan dan penggunaan senjata. Para prajurit Kerajaan Gowa dilatih menjadi tukang potong dan poles untuk membuat senjata berupa [[Sumpit (senjata)|sumpit]] dan [[mesiu]].{{Sfn|Hadrawi|2020|p=87}} Tunipallangga juga merintis penggunaan meriam secara berbaris pada benteng-benteng berukuran besar di Kerajaan Gowa.{{Sfn|Sagimun|1992|p=24}} === Penduduk dan permukiman === Setelah [[Kesultanan Melaka]] ditaklukkan oleh [[Imperium Portugal|Imperium Portugis]] pada tahun 1511, para pedagang muslim dari suku Melayu mengungsi ke pelabuhan-pelabuhan pesisir di wilayah Nusantara.<ref name=":1">{{Cite book|last=Ahmadin|date=Januari 2024|url=https://repository.penerbitwidina.com/media/publications/567918-sociologizing-urban-space-makassar-in-th-2e047b51.pdf|title=Sociologizing Urban Space: Makassar in the Colonial and Post-Colonial Period|location=[[Kabupaten Bandung|Bandung]]|publisher=Widina Media Utama|isbn=978-623-500-033-6|editor-last=Masruroh|editor-first=Aas|pages=51|language=EN|chapter=Chapter 3 - Become Makassar: History of Ethnic Arrival|url-status=live}}</ref> Keruntuhan Kesultanan Malaka membuat para pedagang dari suku Melayu akhirnya mulai berpindah tempat berdagang ke wilayah bagian selatan dari Pulau Sulawesi termasuk ke wilayah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.<ref>{{Cite book|last=Bowring|first=Philip|date=Maret 2022|url=https://www.google.co.id/books/edition/Nusantaria/B8BmEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Nusantaria+Sejarah+Asia+Tenggara+Maritim&pg=PR3&printsec=frontcover|title=Nusantaria: Sejarah Asia Tenggara Maritim|location=Jakarta|publisher=Kepustakaan Populer Gramedia|isbn=978-602-481-802-9|editor-last=Primanda|editor-first=Andya|pages=248|language=EN|translator-last=Prasetyo|translator-first=Febri Ady|trans-title=Empire of the Winds|url-status=live}}</ref> Salah satu tujuan pengungsian suku Melayu ialah Kota Somba Opu yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa. Keberadaan suku Melayu di Pelabuhan Somba Opu berlangsung pula pada masa pemerintahan Tunipallangga sejak tahun 1561 M.<ref name=":1" /> Tunipallangga menetapkan kebijakan bersifat terbuka terhadap para pedagang pendatang suku Melayu di wilayah kekuasaannya.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=37}} Karena itu, penduduk asli dari suku Makassar di wilayah Kerajaan Gowa maupun penduduk pendatang dari suku Melayu dapat mendirikan permukiman di Kerajaan Gowa.<ref name=":03">{{Cite book|last=Reid|first=Anthony|date=2011|url=https://archive.org/details/asia-tenggara-dalam-kurun-niaga-1450-1680-jilid-ii-jaringan-perdagangan-global-a/page/151/mode/2up?q=Tunipalangga|title=Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global|location=Jakarta|publisher=Yayasan Pustaka Obor Indonesia|isbn=978-979-461-330-6|pages=151|translator-last=Leirissa, R. Z., dan Soemitro, P.|trans-title=Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680|url-status=live}}</ref> Pada masa pemerintahan Tunipallangga, pedagang muslim pendatang dari suku Melayu mengawali pembentukan perkampungan muslim di Kerajaan Gowa. Para pedagang muslim dari suku Melayu berasal dari [[Kerajaan Champa]], Kerajaan Pattani, Kesultanan Johor dan dari wilayah Minangkabau.<ref>{{Cite book|last=Murniah|first=Dad|date=2010|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/2329/1/Ayam%20jantan%20dari%20timur.pdf|title=Ayam Jantan dari Timur|location=Jakarta|publisher=Pusat Bahasa|isbn=978-979-069-045-5|pages=44|url-status=live}}</ref> Kedatangan pedagang muslim suku Melayu dari wilayah Minangkabau, Pahang, Pattani dan Johor ke Kerajaan Gowa dipimpin oleh Nakhoda Bonang.<ref>{{Cite book|last=Jamil|first=M. Mukhsin|date=Februari 2020|url=https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/14742/1/M%20Mukhsin%20Jamil%20-%20Spiritualisasi%20Budaya%20-%20SeAP%202020.pdf|title=Spiritualisasi Budaya: Intelektualisme dan Jalan Moderasi Ulama Nusantara|location=Semarang|publisher=Southeast Asian Publishing|isbn=978-623-96405-3-8|pages=43-44|url-status=live}}</ref> Dalam ''Lontara' Bilang'', dinyatakan bahwa Nakhoda Bonang merupakan seorang dari [[suku Jawa]].<ref>{{Cite book|last=Sila|first=Muhammad Adlin|date=2015|url=https://www.google.co.id/books/edition/Maudu/Ky9RCwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA28&printsec=frontcover|title=Maudu': A Way of Union with God|location=Acton|publisher=ANU Press|isbn=978-1-9250-2271-1|pages=28|language=EN|url-status=live}}</ref> Lokasi permukiman antara suku Makassar dan suku Melayu di Kerajaan Gowa dibuat terpisah.<ref name=":03" /> Tunipallangga mengizinkan para pedagang dari suku Melayu untuk mendirikan perkampungan di Mangallekana dalam wilayah Somba Opu untuk didirikan sebagai permukiman khusus bagi para pendatang dari suku Melayu.<ref>{{Cite book|last=Mattulada|date=2011|title=Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah|location=Yogyakarta|publisher=Penerbit Ombak|isbn=978-602-8335-72-X|pages=35|url-status=live}}</ref>{{Sfn|Hadrawi|2021|p=37}}<ref>{{Cite book|last=Razaq|first=Abdur Rahim|date=Maret 2024|url=https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/39829-Full_Text.pdf|title=Qadhi Sidenreng|location=Sukabumi|publisher=Penerbit Haura Utama|isbn=978-623-492-821-1|pages=18|url-status=live}}</ref> Mangallekana merupakan sebuah wilayah di bagian muara [[sungai Jeneberang]] pada bagian utara Somba Opu.<ref>{{Cite book|last=Supriyanto, dkk.|date=Februari 2018|url=https://books.google.co.id/books?id=rDhmEQAAQBAJ&newbks=0&printsec=frontcover&pg=PA315&dq=Tunipallangga&hl=id&source=newbks_fb&redir_esc=y#v=onepage&q=Tunipallangga&f=false|title=Islam dan Kearifan Lokal: Ekspresi Keberagaman di Asia Tenggara|location=Sleman|publisher=Deepublish|isbn=978-602-401-867-2|pages=315|url-status=live}}</ref> Pemisahan permukiman suku Melayu merupakan hasil perjanjian antara Tunipallangga selaku Raja Gowa dengan Nakhoda Bonang sebagai perwakilan permukiman suku Melayu di Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pihak Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo hanya menetapkan satu orang [[syahbandar]] untuk mengurusi permukiman dan para pedagang suku Melayu di wilayah kekuasaannya. Pengurusan ini juga disertai dengan penunjukan seorang [[penerjemah]] untuk menerjemahkan bahasa Melayu dalam penulisan administrasi keuangan untuk keperluan perdagangan.<ref name=":03" /> Sementara itu, permukiman penduduk dari wilayah taklukan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada masa pemerintahan Tunipallangga didirikan di dua pelabuhan yaitu Pelabuhan Somba Opu dan Pelabuhan Tallo.{{Sfn|Amir|2013|p=109}} Para [[rakyat]] dari kerajaan taklukan Kerajaan Gowa pada pemerintahan Tunipallangga ditawan untuk dipekerjakan secara paksa dalam pembuatan [[batu bata]] dalam pembangunan istana Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=36}} Kedua permukiman terpisah terbentuk di Pelabuhan Somba Opu dan Pelabuhan Tallo. Namun lama-kelamaan jumlah permukiman bertambah dan membentuk jejeran permukiman yang memanjang dari selatan ke utara pada kawasan pesisir Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Permukiman bagian selatan dimulai dari muara sungai Jeneberang dan berjejer hingga ke permukiman bagian utara di muara sungai Bira. Permukiman-permukiman di kawasan pesisir Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo ini yang kemudian menjadi cikal bakal pembentukan [[Kota Makassar]].{{Sfn|Amir|2013|p=109-110}} === Perekonomian === ==== Perdagangan maritim ==== Pada masa pemerintahan Tunipallangga, didirikan sebuah kota pelabuhan bernama Somba Opu yang menjadi pusat perdagangan di Kerajaan Gowa. Pendirian Somba Opu mengubah Kerajaan Gowa dari sebuah kerajaan yang mengutamakan [[pertanian]], menjadi kerajaan yang mengutamakan perdagangan maritim.{{Sfn|Hasaruddin|2021|p=126}} Tunipallangga menerapkan kebijakan perdagangan yang disebut ''makkanama nu mammio'' yang berarti ''aku bertitah dan kamu patuhi''.{{Sfn|Putrohari, dkk.|2015|p=282}} Pemberlakuan kebijakan tersebut diterapkan secara paksa atas wilayah kerajaan-kerajaan taklukan Kerajaan Gowa yang ditandai dengan pernyataan ikrar.<ref>{{Cite book|last=Poelinggomang|first=Edward L.|date=September 2016|url=https://www.google.co.id/books/edition/Makassar_Abad_XIX/ZidIDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1|title=Makassar Abad XIX: Studi tentang Kebijakan Perdagangan Maritim|location=Jakarta|publisher=Kepustakaan Populer Gramedia|isbn=978-602-424-164-3|editor-last=Udiani|editor-first=Christina M.|pages=21|url-status=live}}</ref> Dalam kebijakan ini, barang-barang maupun pekerja dari wilayah kerajaan taklukan dipindahkan ke bandar niaga Somba Opu yang berada dalam kekuasaan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.<ref>{{Cite book|last=Surya, B., dan Taibe, P.|date=Desember 2022|url=https://www.google.co.id/books/edition/Transormasi_Spasial_dan_Perubahan_Sosial/El2jEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA76&printsec=frontcover|title=Transormasi Spasial dan Perubahan Sosial Komunitas Lokal: Perspektif Dinamika Pembangunan Kawasan Kota Baru|location=Makassar|publisher=Chakti Pustaka Indonesia|isbn=978-623-09-1002-9|editor-last=Sobirin|pages=76|url-status=live}}</ref>{{Sfn|Amir|2013|p=109}} Kebijakan ''makkanama nu mammio'' membuat bandar niaga di kerajaan-kerajaan lain pada wilayah Sulawesi Selatan tidak mengalami perkembangan. Sebaliknya, bandar niaga Somba Opu mengalami kemajuan pesat karena para pedagang mulai berdatangan untuk mengadakan kegiatan perdagangan {{Sfn|Amir|2013|p=109}} Pada paruh kedua abad ke-16 Masehi, bandar Tallo dan bandar Somba Opu menjadi satu-satunya bandar pelabuhan di pesisir barat pada bagian [[Semenanjung Selatan, Sulawesi|semenanjung selatan Sulawesi]].{{Sfn|Putrohari, dkk.|2015|p=275}} Tunipallangga melanjutkan pembolehan kedatangan para pedagang [[muslim]] untuk berdagang di pelabuhan milik Kerajaan Gowa. Kedatangan para padegang muslim ke wilayah Kerajaan Gowa telah berlangsung sejak awal abad ke-16 M akibat penaklukan [[Kesultanan Melaka]] oleh [[Imperium Portugal|Portugis]]. Kedatangan para pedagang muslim meningkatkan jumlah bea cukai yang diperoleh Kerajaan Gowa sebagai biaya berlabuh di pelabuhan.<ref>{{Cite book|last=Mukhlis P., dkk.|date=1995|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/7516/1/SEJARAH%20KEBUDAYAAN%20SULAWESI.pdf|title=Sejarah Kebudayaan Sulawesi|location=Jakarta|publisher=Proyek lnventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional|editor-last=R.Z. Leirissa|pages=89|url-status=live}}</ref> Di sisi lain, Kerajaan Gowa dalam masa pemerintahan Tunipallangga juga mengizinkan orang Portugis untuk mendirikan [[loji]] di wilayahnya. Penduduk Kerajaan Gowa membeli kain yang diperoleh para pedagang Portugis dari wilayah [[Benggala]].<ref name=":0">{{Cite book|last=Agussalim|date=September 2017|url=https://www.google.co.id/books/edition/Prasejarah_Kemerdekaan_di_Sulawesi_Selat/9PVTEQAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA51&printsec=frontcover|title=Prasejarah-Kemerdekaan di Sulawesi Selatan|location=Sleman|publisher=Deepublish|isbn=978-602-401-358-5|pages=51|url-status=live}}</ref> Selain itu, penduduk Kerajaan Gowa juga membeli kain sutra dan [[emas]] yang dibeli oleh para pedagang Portugis dari Tiongkok. Barang-barang tersebut kemudian dijual secara lokal di sekitar wilayah Kerajaan Gowa dan kepulauan di sekitarnya. Sementara itu, para pedagang Portugis di Kerajaan Gowa membeli barang-barang yang berasal dari [[Kepulauan Maluku]], [[Pulau Ambon]], dan Kalimantan. Barang yang dibeli antara lain sandal kayu, lilin, kulit kura-kura, dan bezoar.<ref name=":0" /> ==== Pelayaran penduduk lokal ==== Setelah kedatangan para pedagang suku Melayu di Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga, para pedagang Kerajaan Gowa juga mulai mengadakan kegiatan pelayaran untuk perdagangan ke arah timur. Sebelum masa Tunipallangga, para pedagang Kerajaan Gowa hanya mengadakan perdagangan dengan berlayar ke arah barat, yaitu ke Kalimantan, Pulau Jawa, [[Melaka]], Pahang dan [[Siam]]. Produk yang dijual berupa beras putih dan emas. Pada masa Tunipallangga, pedagang dari Kerajaan Gowa mulai berdagang rempah-rempah ke Maluku bersama pedagang dari suku Melayu.{{Sfn|Putrohari, dkk.|2015|p=283}} ==== Pertukangan ==== Tunipallangga sebagai Raja Gowa juga meningkatkan kemampuan rakyatnya dalam pertukangan. Ia mendirikan tempat peleburan besi serta tempat pembuatan meriam dan [[bedil]]. Para pekerja di kedua tempat tersebut diperkirakan dikirim belajar kepada [[orang Portugis]] untuk menguasai keahlian dalam pertukangan.<ref>{{Cite book|last=Departemen Penerangan|date=1953|url=https://www.google.co.id/books/edition/Propinsi_Sulawesi/cnMSAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA589&printsec=frontcover|title=Propinsi Sulawesi|publisher=Kementerian Penerangan|pages=589|url-status=live|lay-url=https://www.google.co.id/books/edition/Propinsi_Sulawesi/cnMSAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=0}}</ref> Selain itu, Tunipallangga memanfaatkan hubungan baik dengan suku Melayu di Kerajaan Gowa untuk meningkatkan keterampilan masyarakatnya dalam bidang teknologi dan pembangunan.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=86-87}} Salah satu produk manufaktur yang pertama kali dibuat di wilayah Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga yaitu batu bata.<ref name=":2">{{Cite book|last=Reid|first=Anthony|date=Februari 2014|url=https://archive.org/details/asia-tenggara-dalam-kurun-niaga-1450-1680-jilid-i-tanah-di-bawah-angin-anthony-reid/page/155/mode/2up?q=Tunipalangga|title=Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin|location=Jakarta|publisher=Yayasan Pustaka Obor Indonesia|isbn=978-979-461-108-1|pages=156|translator-last=Pabotingi|translator-first=Mochtar|trans-title=Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680|url-status=live}}</ref> Pada masa Tunipallangga, masyarakat Kerajaan Gowa mulai memiliki pekerjaan khusus yang berkaitan dengan [[ekonomi]].<ref name=":222" /> Di Kerajaan Gowa pada masa Tunipallangga telah ada pekerjaan sebagai pandai emas, pandai besi, pembuat [[perahu]], juru bangunan, pembuat benteng dan pembuat [[timbangan]].{{Sfn|Hadrawi|2020|p=87}} Selain itu, terdapat para pengrajin kapal di Kerajaan Gowa yang bekerja dalam pembuatan kapal dan pembuatan tali.<ref name=":222" /> Setiap keahlian dalam bidang [[teknologi]] memiliki jabatan tersendiri dan kedudukannya dinamakan Anrong Guru.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=87}} Seorang pejabat yang disebut ''jannang'' juga dilantik oleh Tunipallangga sebagai pemimpin dalam setiap pekerjaan yang bersifat profesional di Kerajaan Gowa. Beberapa pekerjaan yang memiliki jannang ialah tukang besi, tukang emas, [[arsitek]] rumah, ahli perahu, ahli penombak, ahli [[senjata tiup]], ahli penembak, ahli pemotongan besi, ahli pengukir dan ahli pembuat tali.{{Sfn|Hadrawi|2021|p=37}} === Keagamaan === Pada masa pemerintahan Tunipallangga, wilayah Kerajaan Gowa belum mengalami [[islamisasi]]. Namun Tunipallangga menjalin hubungan baik dengan komunitas muslim yang menjadi penduduk pendatang di wilayah Kerajaan Gowa.<ref>{{Cite book|last=Hasram|first=Khaidir|date=Maret 2020|url=https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/50413/1/Khaidir%20Hasram.pdf|title=Birokratisasi Islam di Indonesia: Meninjau Ulang Hubungan Negara dan Minoritas Muslim|location=Kabupaten Cirebon|publisher=Penerbit Nusa Litera Inspirasi|isbn=978-623-7276-71-5|pages=89-90|url-status=live}}</ref> Dalam naskah Pattorioloanga ri Togowaya yang merupakan salah satu Lontara Gowa, dijelaskan bahwa penerimaan Islam telah dimulai pada masyarakat Kerajaan Gowa setelah kedatangan seorang utusan dari [[Dunia Melayu]] asal [[suku Jawa]] bernama Nakhoda Bonang untuk menemui Tunipallangga. Selama pertemuan, Nakhoda Bonang memberikan hadiah khas suku Melayu kepada Tunipallangga sekaligus mengajukan permintaan berupa pemberian hak kawasan bagi suku Melayu di wilayah yang kini termasuk wilayah Kota Makassar.<ref>{{Cite book|last=Jaffar|first=Hilful Fudhul Sirajuddin|date=Oktober 2020|url=https://www.google.co.id/books/edition/Jaringan_Ulama_dan_Islamisasi_Indonesia/qLj8DwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Jaringan+Ulama+dan+Islamisasi+Indonesia+Timur&pg=PA31&printsec=frontcover|title=Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur: Peta dan Jejak Islam di Nusantara|location=Yogyakarta|publisher=IRCiSoD|isbn=978-623-7378-80-8|editor-last=Fakih|editor-first=Muhammad Ali|pages=31|url-status=live}}</ref> Tunipallangga membolehkan suku Melayu mengadakan penyebaran agama Islam sambil berdagang di wilayah Kerajaan Gowa.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=134}} == Kematian == Tunipallangga berkuasa sebagai Raja Gowa selama 19 tahun.<ref>{{Cite book|last=Amin|first=Kasma F.|date=2017|url=https://www.google.co.id/books/edition/Para_Tawanan_Perang_Kisah_Syekh_Yusuf_Al/470zDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA96&printsec=frontcover|title=Para Tawanan Perang: Kisah Syekh Yusuf Al-Makasari dan Arung Palakka|location=Makassar|publisher=Celebes Media Perkasa|isbn=978-602-609-925-9|pages=96|url-status=live|lay-url=https://www.google.co.id/books/edition/Para_Tawanan_Perang_Kisah_Syekh_Yusuf_Al/470zDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=0}}</ref> Masa kekuasaannya berakhir setelah ia menderita sakit dan meninggal. Tunipallangga mengalami sakit setelah dirinya kembali dari ekspedisi penaklukan [[Kesultanan Bone|Kerajaan Bone]] yang berakhir dengan kegagalan.<ref name=":13">{{Cite book|last=Amir|first=Amrullah|date=November 2020|url=https://festival.borobudurwriters.id/wp-content/uploads/2020/12/Buku-Makalah-Digital-The-9th-BWCF-2020_BHUMISODHANA.pdf|title=Bhūmiśodhana: Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara (Sebuah Bunga Rampai Tulisan)|publisher=Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 & CV. Sulur Pustaka|isbn=978-623-6791-08-0|editor-last=Sutrisno, R. M., Suyono, S. J., dan Muhtarom, I.|pages=249|chapter=Wabah dalam Perang Makassar|url-status=live}}</ref> Penyakit yang dialami oleh Tunipallangga ialah tidak dapat menelan makanan. Setelah Karaeng Tumenanga ri Makkoayang selaku Raja Tallo ke-4 sekaligus mangkubumi Kerajaan Gowa mengetahui kondisi penyakit Tunipallangga semakin parah, ia meminta Tunipallangga untuk kembali ke wilayah Kerajaan Gowa. Tunipallangga yang sedang berada di Benteng Papolong memenuhi permintaan tersebut dan kembali ke wilayah Kerajaan Gowa. Setelah 48 malam berada di wilayah Kerajaan Gowa, Tunipallangga meninggal. Ia meninggal dalam usia 54 tahun.{{Sfn|Sagimun|1992|p=29}} Jenazah Tunipallangga dikuburkan di wilayah Kerajaan Gowa.<ref>{{Cite book|last=Usmar, A., dan Mattalitti, M. A.|date=1981|url=https://www.google.co.id/books/edition/Bunga_rampai_sastra_Bugis/pJtxAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Tunipallangga&dq=Tunipallangga&printsec=frontcover|title=Bunga Rampai Sastra Bugis: Bacaan Sejarah Sulawesi Selatan|publisher=Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah|pages=124|url-status=live}}</ref> Penggantinya sebagai Raja Gowa ialah I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data.<ref>{{Cite book|first=Sastrawan X|date=April 2020|url=https://www.google.co.id/books/edition/BEDUG_BEDUG_PENGUASA/NDhMEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=Tunipallangga&pg=PA56&printsec=frontcover|title=Bedag Bedug Penguasa: Antologi Literasi Sejarah Indonesia|publisher=Guepedia|isbn=978-623-7953-26-5|editor-last=Murtadho|editor-first=Ahmad Ali|pages=56|url-status=live}}</ref> I Tajibarani merupakan [[adik]] dari Tunipallangga.<ref name=":13" /> == Peninggalan bersejarah == === Benteng Somba Opu === Benteng Somba Opu terletak di Jalan Daeng Tata dalam wilayah [[Barombong, Gowa|Kecamatan Barombong]], Kabupaten Gowa. Pembangunan Benteng Somba Opu dimulai sejak masa Raja Gowa ke-9 yaitu Tumapakrisi' Kallonna. Namun penguatan struktur Benteng Somba Opu dilakukan oleh Tunipallangga pada tahun 1545 dengan statusnya sebagai anggota keluarga Kerajaan Gowa.<ref name=":23">{{Cite book|last=Doe|first=John|date=2018|url=https://www.swisscontact.org/_Resources/Persistent/c/3/6/7/c3674e252b56968c10cf2cc3454c6437c918e8f8/Toraja_-_Guide_Book_w.pdf|title=Toraja: Guide the Magnificient Sight and Attraction of the Sacred Highlands|location=Tana Toraja|publisher=Toraja DMO|isbn=978-3-9523834-3-8|editor-last=Hermanto|editor-first=Unggul|pages=201|language=EN|url-status=live}}</ref> Tunipallangga menggunakan batu bata untuk menguatkan struktur Benteng Somba Opu.<ref>{{Cite book|last=Mannan|first=Syahrawi|date=November 2014|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/15110/1/Zonasi%20Benteng%20Somba%20Opu.pdf|title=Zonasi Benteng Somba Opu|location=Makassar|publisher=Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar|editor-last=Effendy|editor-first=Muslimin A. R.|pages=6|url-status=live}}</ref> Batu bata merupakan salah satu jenis barang yang pertama kali dibuat di wilayah Kerajaan Gowa dengan Tunipallangga sebagai raja pertama yang merintis pembuatannya.<ref name=":2" /> Bagian dalam Benteng Somba Opu berfungsi sebagai [[tempat tinggal]] bagi kerabat dan abdi raja Kerajaan Gowa.<ref name=":23" /> Pada tahun 1669 M, Belanda menghacurkan Benteng Somba Opu setelah menaklukkan Kerajaan Gowa pada tahun 1667 M.<ref>{{Cite book|last=Balai Arkeologi Yogyakarta|date=September 2014|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/2053/1/Buku%20Benteng2.pdf|title=Benteng Dulu, Kini dan Esok|location=Kepel Press|publisher=Kepel Press|isbn=978-602-1228-65-4|pages=190|url-status=live}}</ref> Fungsi Benteng Somba Opu kini berubah dari benteng menjadi [[museum]] daengan hak kepemilikan dan pengelolaan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Gowa. Di dalam Benteng Somba Opu kini terdapat berbagai rumah tradisional dari suku-suku di Sulawesi Selatan yaitu suku Luwu, suku Toraja, suku Bugis, dan suku Makassar. Rumah tradisional di dalam Benteng Somba Opu diamerkan sebagai koleksi museum.<ref name=":23" /> === Benteng Ujung Pandang === Pada tahun 1550 M, Tunipallangga membangun benteng dengan dinding tanah bernama Benteng Ujung Pandang. Namun dinding tanah pada Benteng Ujung Pandang telah digantikan dengan batu bata selama pembangunan ulang pada tahun 1634.<ref>{{Cite book|date=1990|url=https://www.google.co.id/books/edition/Sulawesi/ZNdwAAAAMAAJ?hl=id&gbpv=1&bsq=Tunipallangga+Gowa+Kingdom&dq=Tunipallangga+Gowa+Kingdom&printsec=frontcover|title=Sulawesi: Island Crossroads of Indonesia|publisher=Passport Books|isbn=978-0-8442-9906-8|editor-last=Caldwell, I., dan Volkman, T. A.|pages=68|language=EN|url-status=live}}</ref> Pembangunan ulang dilakukan dalam masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 yaitu I Mangerangi Daeng Manrabia yang bergelar Sultan Alauddin. Kini Benteng Ujung Pandang dijadikan sebagai lokasi bagi [[Museum La Galigo]] sekaligus Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) Makassar.<ref>{{Cite book|last=Wulandari, T., dkk.|date=2005|url=https://repositori.kemdikbud.go.id/23950/1/LAWATAN%20SEJARAH%20TINGKAT%20NASIONAL%20KETIGA%20MAKASSAR%20-%20SELAYAR.pdf|title=Lawatan Sejarah Tingkat Nasional Ketiga: Makassar-Selayar|location=Jakarta|publisher=Asisten Deputi Urusan Sejarah Nasional|pages=12|url-status=live}}</ref> === ''Lontara' Alloping-loping'' === ''Lontara' Alloping-loping'' (''Kitab Hukum Pelayaran'') disusun oleh Amana Gappa selama masa pemerintahan Tunipallangga. Amana Gappa adalah [[syahbandar]] ketiga bagi Kerajaan Gowa. Penulisan ''Lontara' Alloping-loping'' dipengaruhi oleh peraturan kelautan dari suku Melayu dan suku Bugis.{{Sfn|Hadrawi|2020|p=27}} == Referensi == === Catatan kaki === {{Reflist}} === Daftar pustaka === * {{Cite book|last=Amir|first=Muhammad|date=2013|url=https://repositori.kemdikbud.go.id/16639/1/Konfederasi%20Ajatappareng%20Abad%20Ke-16.pdf|title=Konfederasi Ajatappareng: Kajian Sejarah Persekutuan Antarkerajaan di Sulawesi Selatan Abad ke-16|location=Makassar|publisher=Balai Pelestarian Nilai Budaya & Penerbit De La Macca|isbn=978-602-263-038-8|editor-last=Abdul Latif|ref={{sfnref|Amir|2013}}|url-status=live}} * {{Cite book|last=Hadrawi|first=Muhlis|date=2020|url=https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/6111/1/MUHLIS%20HADRAWI%20Integrasi%20Melayu%20di%20Sulsel%20PDF%202020.pdf|title=Integrasi Melayu di Sulawesi Selatan: Kajian Berdasarkan Lontara|location=Jakarta|publisher=Perpusnas Press|isbn=978-623-31305-3-0|language=MS|ref={{sfnref|Hadrawi|2020}}|url-status=live|lay-url=https://books.google.co.id/books/about/Integrasi_Melayu_di_Sulawesi_Selatan.html?id=vIJ9zgEACAAJ&redir_esc=y}} * {{Cite book|last=Hadrawi|first=Muhlis|date=2021|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/17041/1/Fort%20Rotterdam%20di%20simpang%20masa%202021%20_opt.pdf|title=Fort Rotterdam: Benteng di Simpang Masa|location=Makassar|publisher=Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan|isbn=978-623-99092-0-8|editor-last=Sumantri|editor-first=Iwan|pages=33-78|ref={{sfnref|Hadrawi|2021}}|url-status=live}} * {{Cite book|last=Hasaruddin|date=2021|url=https://repositori.uin-alauddin.ac.id/21177/1/Prof.%20Hasaruddin%20%28VERSI%20BUKU%29.pdf|title=Menyusuri Jejak Historis Kedatuan Sawitto di Pesisir Barat Jazirah Sulawesi Abad XVI-XVII|location=Gowa|publisher=Alauddin University Press|isbn=978-602-328-400-9|editor-last=Yani|editor-first=A.|ref={{sfnref|Hasaruddin|2021}}|url-status=live}} * {{Cite book|last=Nasruddin, dkk.|date=2016|url=http://repositori.uin-alauddin.ac.id/193/1/SEJARAH%20DAN%20BUDAYA%20LOKAL%20DARI%20SULAWESI%20SAMPAI%20BIMA.pdf|title=Sejarah dan Budaya Lokal: Dari Sulawesi sampai Bima|location=Makassar|publisher=Gunadarma Ilmu|isbn=978-602-1347-45-4|ref={{sfnref|Nasruddin, dkk.|2016}}|url-status=live|lay-url=http://repositori.uin-alauddin.ac.id/193/}} * {{Cite book|last=Putrohari, R. D., dkk.|url=http://rumahbelajar.id/Media/Dokumen/5cff5f5fb646044330d686d0/8305070e7dd15ca1f0b22cc8cb954aa2.pdf|title=Diaspora Melanesia di Nusantara|location=Jakarta|publisher=Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya|isbn=978-602-1289-19-8|editor-last=Abdullah, T., dan Paeni, M.|ref={{sfnref|Putrohari, dkk.|2015}}|url-status=live}} * {{Cite book|last=Sagimun M.D.|date=1992|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/12373/1/Benteng%20Ujung%20Pandang.pdf|title=Benteng Ujung Pandang|location=Jakarta|publisher=Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan|ref={{sfnref|Sagimun|1992}}|url-status=live|lay-url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/12373/}} * {{Cite book|last=Sirajuddin|first=Ilham Arief|date=November 2010|url=http://eprints2.ipdn.ac.id/id/eprint/397/1/KOTA%20DUNIA%20MAKASSAR.pdf|title=Kota Dunia Makassar dan Kota-kota Lain: Sebuah Telaah|location=Makassar|publisher=De La Macca|isbn=978-979-3897-35-6|editor-last=Patarai, M. I., dan Dwidjowijoto, R. N.|url-status=live}} * {{Cite book|last=Sritimuryati|date=Mei 2016|url=https://repositori.kemendikdasmen.go.id/29777/1/ISLAMISASI%20DI%20SINJAI%20SRITIMURYANI.pdf|title=Islamisasi di Sinjai|location=Makassar|publisher=Pustaka Sawerigading & Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar|isbn=978-602-9248-37-1|editor-last=Kila|editor-first=Syahrir|ref={{sfnref|Sritimuryati|2016}}|url-status=live}} [[Kategori:Raja Gowa]] e3xcjpsy6lsmwb1hwzspd72kbabki6u Lippujang faraq 0 24141 211621 2026-09-30T04:42:06Z Iripseudocorus 13591 Dibuat dengan menerjemahkan halaman "[[:id:Special:Redirect/revision/30005495|Sargassum cinereum]]" 211621 wikitext text/x-wiki '''Lippujang faraq''' iyanaritu ''spesies'' pappada taneng-taneng tasik e, iyyae mattama' ri ''famili'' Sargassaceae sibawa ordo Fucales. Aseng ilmiahna iyanaro ''Sargassum cinereum.<ref>Syahruddin Fattah. 2021. [https://play.google.com/books/reader?id=aKdVEAAAQBAJ&pg=GBS.PA94&hl=id&q=jarampa+ridi Glosari Flona Bugis, (Flora dan Fauna dalam Bahasa Bugis) - Google Play Buku]. SEMPUGI.</ref>'' Iyaro mappammula mappakatajangngi iyae ''spesies'' engka sedi aheli J.Agardh ri taung 1848.<ref>Michael D. Guiry (2015). M. D. Guiry & G. M. Guiry (ed.). "Sargassum". AlgaeBase. National University of Ireland, Galway. World Register of Marine Species. Diakses tanggal 10 Juni 2021.</ref> Pappada ''alga'' laingnge, iyaro lippujang faraq engka napunna ''[[talus]]'' (lanroalena taneng-taneng baiccu iyae deppi ta' pisah mancaji bageang-bageang laingnge). Iyaro tanra na lippujang faraq, ku i itai talusna masikola', manipi' na mappekka-pekka. Nappi iyaro ''filoid'' na (lanroalenan iyyae pappada daung) mallebu, malampé, na maggarigi ri wiringna.<ref name=":02">{{Cite book|last=Kasanah|first=Noer|last2=Ulfah|first2=Maria|last3=Nugroho|first3=Aji|last4=Wijnana|first4=Adhika P. Agra|last5=Triyanto|date=2021-10-21|url=https://play.google.com/books/reader?id=-HtJEAAAQBAJ&pg=GBS.PA35&hl=en|title=RUMPUT LAUT INDONESIA: Keanekaragaman Rumput Laut Nusa Tenggara Timur|publisher=UGM PRESS|isbn=978-602-386-921-3|language=id}}</ref> == Onrongna tuwo == Iyyae lippujang faraq wedding i tuwo ri substrat matedde'e pappada watu maloppori tasik e.<ref name=":02" /> Iyyae rupanna lippujang faraq wedding i runtuk ri [[Sri Lanka]], [[Hong Kong]], [[Cina]], [[ᨈᨕᨗᨓᨕᨊ|Taiwan]], [[ᨈᨕᨗᨒᨊᨉ|Thailand]], [[Singapura]], [[Vietnam]], [[Indonesia]], sibawa [[India]].<ref>{{Cite book|last=Susila|first=Wisnu Adhi|last2=Putra|first2=M. Akbar Hakim Rahma|last3=Ulfah|first3=Maria|last4=Triyanto|date=2019-07-18|url=https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=jSSjDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA22&dq=karakteristik+Sargassum+cinereum&ots=qwARNAeURE&sig=v1xVYSy3Tvk_pNHLcwR6EWBuJ-4&redir_esc=y#v=onepage&q=karakteristik%20Sargassum%20cinereum&f=true|title=Sargassum: Karakteristik Biogeografi dan Potensi|publisher=UGM PRESS|isbn=978-602-386-219-1|language=id}}</ref> == Owungenna == ptcbleetrrcjwun9jsiu1ylbypja230 211624 211621 2026-09-30T05:00:30Z Iripseudocorus 13591 211624 wikitext text/x-wiki '''Lippujang faraq''' iyanaritu ''spesies'' pappada taneng-taneng tasik e, iyyae mattama' ri ''famili'' Sargassaceae sibawa ordo Fucales. Aseng ilmiahna iyanaro ''Sargassum cinereum.<ref>Syahruddin Fattah. 2021. [https://play.google.com/books/reader?id=aKdVEAAAQBAJ&pg=GBS.PA94&hl=id&q=jarampa+ridi Glosari Flona Bugis, (Flora dan Fauna dalam Bahasa Bugis) - Google Play Buku]. SEMPUGI.</ref>'' Iyaro mappammula mappakatajangngi iyae ''spesies'' engka sedi aheli J.Agardh ri taung 1848.<ref>Michael D. Guiry (2015). M. D. Guiry & G. M. Guiry (ed.). "Sargassum". AlgaeBase. National University of Ireland, Galway. World Register of Marine Species. Diakses tanggal 10 Juni 2021.</ref> Pappada ''alga'' laingnge, iyaro lippujang faraq engka napunna ''[[talus]]'' (lanroalena taneng-taneng baiccu iyae deppi ta' pisah mancaji bageang-bageang laingnge). Iyaro tanra na lippujang faraq, ku i itai talusna masikola', manipi' na mappekka-pekka. Nappi iyaro ''filoid'' na (lanroalenan iyyae pappada daung) mallebu, malampé, na maggarigi ri wiringna.<ref name=":02">{{Cite book|last=Kasanah|first=Noer|last2=Ulfah|first2=Maria|last3=Nugroho|first3=Aji|last4=Wijnana|first4=Adhika P. Agra|last5=Triyanto|date=2021-10-21|url=https://play.google.com/books/reader?id=-HtJEAAAQBAJ&pg=GBS.PA35&hl=en|title=RUMPUT LAUT INDONESIA: Keanekaragaman Rumput Laut Nusa Tenggara Timur|publisher=UGM PRESS|isbn=978-602-386-921-3|language=id}}</ref> == Onrongna tuwo == Iyyae lippujang faraq wedding i tuwo ri substrat matedde'e pappada watu maloppo ri tasik e.<ref name=":02" /> Iyyae rupanna lippujang faraq wedding i runtuk ri [[Sri Lanka]], [[Hong Kong]], [[Cina]], [[ᨈᨕᨗᨓᨕᨊ|Taiwan]], [[ᨈᨕᨗᨒᨊᨉ|Thailand]], [[Singapura]], [[Vietnam]], [[Indonesia]], sibawa [[India]].<ref>{{Cite book|last=Susila|first=Wisnu Adhi|last2=Putra|first2=M. Akbar Hakim Rahma|last3=Ulfah|first3=Maria|last4=Triyanto|date=2019-07-18|url=https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=jSSjDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA22&dq=karakteristik+Sargassum+cinereum&ots=qwARNAeURE&sig=v1xVYSy3Tvk_pNHLcwR6EWBuJ-4&redir_esc=y#v=onepage&q=karakteristik%20Sargassum%20cinereum&f=true|title=Sargassum: Karakteristik Biogeografi dan Potensi|publisher=UGM PRESS|isbn=978-602-386-219-1|language=id}}</ref> == Owungenna == eor1fjhoqr30iaxdibo03ovv6839knb Panennaq:Tunipallangga 1 24142 211623 2026-09-30T04:57:36Z Iripseudocorus 13591 /* Penerjemahan artikel */ bagian baru 211623 wikitext text/x-wiki == Penerjemahan artikel == Salam kak, @[[Pagguna:Wanita Hijrah|Wanita Hijrah]], mohon bantu diterjemahkan dulu yaa artikelnya. Tidak perlu terlalu panjang jg nda masalah :)) [[Pagguna:Iripseudocorus|Iripseudocorus]] ([[Panennaq pagguna:Iripseudocorus|bicara]]) 30 Séttémberéq 2026 04.57 (UTC) g6xqoabram125q25hnuzoeajozpx2u5