Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.6 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Puisi-Puisi Takuboku Ishikawa 0 27548 116362 116313 2026-06-12T05:32:16Z Sibiru45 35568 116362 wikitext text/x-wiki '''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref> Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref> == Mari Bernyanyi == Mari bernyanyi. Ketika tubuh kita letih oleh pertempuran yang tak selesai-selesai, ketika kesedihan datang dan duduk lama di samping kita, ketika anak kita menemui kematian sebelum sempat tumbuh, ketika kita melihat seorang pengemis yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu, ketika cinta menghabiskan seluruh isi hati kita— mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu. Sambil menatap langit yang tak mengatakan apa-apa. Wahai kawan-kawanku yang lapar. == Sebuah Pesawat == Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. Seorang anak pengantar koran, pada satu dari sedikit hari Minggu yang tidak dirampas pekerjaannya, di rumah yang sunyi bersama ibunya yang sakit paru-paru, dengan mata lelah karena terlalu lama membaca buku-buku pelajaran sendirian . . . Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. == Kepada Seekor Kepiting == Kau, kepiting cerdik di pantai timur itu, bersembunyi di liangmu saat air pasang, keluar lagi saat air surut, selalu berjalan menyamping— tahukah kau, atau mungkin tidak, ada seorang anak yang letih melintas di dekatmu, terbawa arus yang tak memberinya kesempatan, mengikuti seberkas cahaya yang bahkan lebih kecil daripada matamu? == Aku Akan Pergi Sendiri == Hari telah selesai. (hidup yang menyedihkan) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Segala bunyi meredup. (oh, hidupku) Hutan kenangan diguyur melodi yang begitu halus. (pikiran tentang malam, pikiran tentang hidup) Kisah cinta itu selesai. (hidup yang dibangun khayalan) Ke dalam hutan yang membuatku lupa pada diriku sendiri aku melangkah sendiri. Wangi bunga popi perlahan memudar. (oh, hidupku) Hutan tempat napasku mengambang seperti kabut hijau yang tipis. (aroma malam, aroma cinta) Kisah cinta itu hancur. (hidup yang penuh nestapa) Ke dalam hutan doa aku melangkah sendiri. Wajahnya muncul setiap kali aku berdoa. (oh, hidupku) Hutan cinta yang disegarkan seorang muse dari langit. (doa malam, doa kehidupan) Bulan bersinar. (hidup yang berwarna-warni) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Cahaya bulan yang lembut di antara pepohonan (oh, hidupku) menerangi hamparan bunga-bunga keemasan di kampung halamanku. (hidup di malam hari, oh, hidupku) ==Untuk Adikku== Untuk Takaka Horiai Apakah angin dingin sedang bertiup? Bulan September. Aroma daun-daun muda membersihkan mimpiku di pondok yang sunyi ini. Seusai sarapan, ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah, tempat pembakar dupa hijauku retak, dan angin membawa udara yang baru. Aku mencuci tangan, lalu menyalakan dupa. Kau bertanya dari mana datangnya harum itu. Aku masih mengingat senyummu yang tenang. Di bawah langit kota yang kelabu, di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar, kau menunjuk merpati-merpati putih yang terbang rendah di atas atap. Aku mengikuti arah jarimu. Dan untuk sesaat, hatiku menjadi sangat tenang. Kau mengangguk perlahan. Dengan mata yang jernih. Lalu aku teringat: pernah ada seorang bayi yang bersandar di lutut lembut kakaknya. Bayi itu adalah dirimu. Kau tersenyum pada getaran bayang-bayang pohon ara. Kau membawa kebahagiaan ke dalam rumah. Juga kepadaku, yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk puisi dan buku-buku. Perjalanan hidupku kasar. Dayung-dayungku patah. Aku hanyut seperti perahu yang kehilangan tujuan. Tetapi di dada seseorang yang menunggu, aku mendengar suara mata air yang tak pernah kering. Kini musim panas datang. Rumah ini sederhana. Namun aku masih berharap kebahagiaan suatu hari mengalahkan nasib. Aku masih berharap hari-hari yang membanggakan itu tiba. Karena itulah aku bernyanyi melewati kemarin dan hari ini. Barangkali sulit menulis puisi terbaik. Tetapi kebahagiaan sendiri sudah cukup menjadi penghiburan. Meski suatu hari aku tersesat di tengah keramaian, duniaku tetap sebuah hutan cinta yang luas. Bukan ibu kota dengan penjara-penjara berkarat. Aku ingin melihat bunga matahariku. Bunga-bunga harapan yang tumbuh. Anak-anak yatim yang berjalan di tanah berbatu, yang memuntahkan darah di depan lagu-lagu duka, tetap bermimpi awan sedang bermain-main, tetap bermimpi angin memberkati ranting-ranting. Di kamar berjendela rendah ini, jiwaku dipeluk perlahan oleh aroma dupa yang terbakar. Di altar kecil yang sunyi ini, aku bangga menjadi seorang rahib muda. Adikku yang kusayangi, jika suatu hari nanti kau hidup cukup lama untuk melihat hutan-hutan besar menua, hutan yang mulia, ranting-ranting cinta itu, ingatlah: di dalam nyanyianku yang tenang selalu ada mimpi yang damai. Kelak, saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa, menyisir rambutmu dengan wewangian, memasang perhiasan keemasan di sisir kerangmu, lalu berjalan di atas rumput yang hijau, jangan lupakan kebahagiaan sederhana yang pernah kita miliki bersama lelaki kurus itu: penyair yang tak pernah miskin hati, di pondok terpencil ini. Kita pernah memiliki kebahagiaan yang lebih kuat daripada nasib. Kita pernah percaya pada hari-hari yang suci. Dengan tempat dupa yang retak, kita bernyanyi. Dan merasa cukup. Meski musim panas itu hanya bernada pelan, aku menuliskannya dengan hati yang gembira. Aku menulis tentang kebahagiaan kita. Seluruh hatiku kutitipkan pada baris-baris ini. Karena hatiku tersenyum, terimalah puisi ini dengan senyummu juga. ==Wajah Putih== Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian. Angin barat di penghujung Oktober mengaum di antara ranting-ranting. Ratusan pohon sakura serentak menggugurkan daun. Daun-daun itu jatuh seperti hujan. Dari balik hujan daun itu, ke seberang sana— ah, hanya satu lirikan yang diarahkan kepadaku, seorang gadis berlalu begitu cepat. Empat tahun yang lalu, di penghujung musim gugur, di hutan Ueno'''''¹''''' , pada suatu senja yang sunyi, dari balik hujan daun-daun yang jatuh, ah, satu lirikan, sebuah wajah putih. '''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.'' Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' Aku telah bekerja lebih keras daripada kerja yang paling keras, namun hidupku tak juga menjadi lebih baik. Aku hanya menunduk menatap kedua tanganku yang tinggal tulang. Berbaring di pasir bukit pasir, hari ini aku mengenang, dari kejauhan, dukacita cinta pertamaku. Dokter berkata, "Bagaimana? Sudah lelah hidup?" Aku tetap diam. Aku menutup mulutku rapat-rapat. == Referensi == [[Kategori:Sastra Jepang]] [[Kategori:Puisi Jepang]] [[Kategori:Jepang]] ktxeka30fubsbsqrt3s2eteell6oijm 116363 116362 2026-06-12T05:33:13Z Sibiru45 35568 116363 wikitext text/x-wiki '''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref> Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref> == Mari Bernyanyi == Mari bernyanyi. Ketika tubuh kita letih oleh pertempuran yang tak selesai-selesai, ketika kesedihan datang dan duduk lama di samping kita, ketika anak kita menemui kematian sebelum sempat tumbuh, ketika kita melihat seorang pengemis yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu, ketika cinta menghabiskan seluruh isi hati kita— mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu. Sambil menatap langit yang tak mengatakan apa-apa. Wahai kawan-kawanku yang lapar. == Sebuah Pesawat == Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. Seorang anak pengantar koran, pada satu dari sedikit hari Minggu yang tidak dirampas pekerjaannya, di rumah yang sunyi bersama ibunya yang sakit paru-paru, dengan mata lelah karena terlalu lama membaca buku-buku pelajaran sendirian . . . Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. == Kepada Seekor Kepiting == Kau, kepiting cerdik di pantai timur itu, bersembunyi di liangmu saat air pasang, keluar lagi saat air surut, selalu berjalan menyamping— tahukah kau, atau mungkin tidak, ada seorang anak yang letih melintas di dekatmu, terbawa arus yang tak memberinya kesempatan, mengikuti seberkas cahaya yang bahkan lebih kecil daripada matamu? == Aku Akan Pergi Sendiri == Hari telah selesai. (hidup yang menyedihkan) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Segala bunyi meredup. (oh, hidupku) Hutan kenangan diguyur melodi yang begitu halus. (pikiran tentang malam, pikiran tentang hidup) Kisah cinta itu selesai. (hidup yang dibangun khayalan) Ke dalam hutan yang membuatku lupa pada diriku sendiri aku melangkah sendiri. Wangi bunga popi perlahan memudar. (oh, hidupku) Hutan tempat napasku mengambang seperti kabut hijau yang tipis. (aroma malam, aroma cinta) Kisah cinta itu hancur. (hidup yang penuh nestapa) Ke dalam hutan doa aku melangkah sendiri. Wajahnya muncul setiap kali aku berdoa. (oh, hidupku) Hutan cinta yang disegarkan seorang muse dari langit. (doa malam, doa kehidupan) Bulan bersinar. (hidup yang berwarna-warni) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Cahaya bulan yang lembut di antara pepohonan (oh, hidupku) menerangi hamparan bunga-bunga keemasan di kampung halamanku. (hidup di malam hari, oh, hidupku) ==Untuk Adikku== Untuk Takaka Horiai Apakah angin dingin sedang bertiup? Bulan September. Aroma daun-daun muda membersihkan mimpiku di pondok yang sunyi ini. Seusai sarapan, ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah, tempat pembakar dupa hijauku retak, dan angin membawa udara yang baru. Aku mencuci tangan, lalu menyalakan dupa. Kau bertanya dari mana datangnya harum itu. Aku masih mengingat senyummu yang tenang. Di bawah langit kota yang kelabu, di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar, kau menunjuk merpati-merpati putih yang terbang rendah di atas atap. Aku mengikuti arah jarimu. Dan untuk sesaat, hatiku menjadi sangat tenang. Kau mengangguk perlahan. Dengan mata yang jernih. Lalu aku teringat: pernah ada seorang bayi yang bersandar di lutut lembut kakaknya. Bayi itu adalah dirimu. Kau tersenyum pada getaran bayang-bayang pohon ara. Kau membawa kebahagiaan ke dalam rumah. Juga kepadaku, yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk puisi dan buku-buku. Perjalanan hidupku kasar. Dayung-dayungku patah. Aku hanyut seperti perahu yang kehilangan tujuan. Tetapi di dada seseorang yang menunggu, aku mendengar suara mata air yang tak pernah kering. Kini musim panas datang. Rumah ini sederhana. Namun aku masih berharap kebahagiaan suatu hari mengalahkan nasib. Aku masih berharap hari-hari yang membanggakan itu tiba. Karena itulah aku bernyanyi melewati kemarin dan hari ini. Barangkali sulit menulis puisi terbaik. Tetapi kebahagiaan sendiri sudah cukup menjadi penghiburan. Meski suatu hari aku tersesat di tengah keramaian, duniaku tetap sebuah hutan cinta yang luas. Bukan ibu kota dengan penjara-penjara berkarat. Aku ingin melihat bunga matahariku. Bunga-bunga harapan yang tumbuh. Anak-anak yatim yang berjalan di tanah berbatu, yang memuntahkan darah di depan lagu-lagu duka, tetap bermimpi awan sedang bermain-main, tetap bermimpi angin memberkati ranting-ranting. Di kamar berjendela rendah ini, jiwaku dipeluk perlahan oleh aroma dupa yang terbakar. Di altar kecil yang sunyi ini, aku bangga menjadi seorang rahib muda. Adikku yang kusayangi, jika suatu hari nanti kau hidup cukup lama untuk melihat hutan-hutan besar menua, hutan yang mulia, ranting-ranting cinta itu, ingatlah: di dalam nyanyianku yang tenang selalu ada mimpi yang damai. Kelak, saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa, menyisir rambutmu dengan wewangian, memasang perhiasan keemasan di sisir kerangmu, lalu berjalan di atas rumput yang hijau, jangan lupakan kebahagiaan sederhana yang pernah kita miliki bersama lelaki kurus itu: penyair yang tak pernah miskin hati, di pondok terpencil ini. Kita pernah memiliki kebahagiaan yang lebih kuat daripada nasib. Kita pernah percaya pada hari-hari yang suci. Dengan tempat dupa yang retak, kita bernyanyi. Dan merasa cukup. Meski musim panas itu hanya bernada pelan, aku menuliskannya dengan hati yang gembira. Aku menulis tentang kebahagiaan kita. Seluruh hatiku kutitipkan pada baris-baris ini. Karena hatiku tersenyum, terimalah puisi ini dengan senyummu juga. ==Wajah Putih== Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian. Angin barat di penghujung Oktober mengaum di antara ranting-ranting. Ratusan pohon sakura serentak menggugurkan daun. Daun-daun itu jatuh seperti hujan. Dari balik hujan daun itu, ke seberang sana— ah, hanya satu lirikan yang diarahkan kepadaku, seorang gadis berlalu begitu cepat. Empat tahun yang lalu, di penghujung musim gugur, di hutan Ueno'''''¹''''' , pada suatu senja yang sunyi, dari balik hujan daun-daun yang jatuh, ah, satu lirikan, sebuah wajah putih. '''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.'' ==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna''== (1) Aku telah bekerja lebih keras daripada kerja yang paling keras, namun hidupku tak juga menjadi lebih baik. Aku hanya menunduk menatap kedua tanganku yang tinggal tulang. Berbaring di pasir bukit pasir, hari ini aku mengenang, dari kejauhan, dukacita cinta pertamaku. Dokter berkata, "Bagaimana? Sudah lelah hidup?" Aku tetap diam. Aku menutup mulutku rapat-rapat. == Referensi == [[Kategori:Sastra Jepang]] [[Kategori:Puisi Jepang]] [[Kategori:Jepang]] nn3y2qholjrnrxmt0wfn16zkcqui413 116364 116363 2026-06-12T05:33:59Z Sibiru45 35568 /* Tiga Tanka dari Antologi Ichiaku no Suna */ 116364 wikitext text/x-wiki '''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref> Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref> == Mari Bernyanyi == Mari bernyanyi. Ketika tubuh kita letih oleh pertempuran yang tak selesai-selesai, ketika kesedihan datang dan duduk lama di samping kita, ketika anak kita menemui kematian sebelum sempat tumbuh, ketika kita melihat seorang pengemis yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu, ketika cinta menghabiskan seluruh isi hati kita— mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu. Sambil menatap langit yang tak mengatakan apa-apa. Wahai kawan-kawanku yang lapar. == Sebuah Pesawat == Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. Seorang anak pengantar koran, pada satu dari sedikit hari Minggu yang tidak dirampas pekerjaannya, di rumah yang sunyi bersama ibunya yang sakit paru-paru, dengan mata lelah karena terlalu lama membaca buku-buku pelajaran sendirian . . . Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. == Kepada Seekor Kepiting == Kau, kepiting cerdik di pantai timur itu, bersembunyi di liangmu saat air pasang, keluar lagi saat air surut, selalu berjalan menyamping— tahukah kau, atau mungkin tidak, ada seorang anak yang letih melintas di dekatmu, terbawa arus yang tak memberinya kesempatan, mengikuti seberkas cahaya yang bahkan lebih kecil daripada matamu? == Aku Akan Pergi Sendiri == Hari telah selesai. (hidup yang menyedihkan) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Segala bunyi meredup. (oh, hidupku) Hutan kenangan diguyur melodi yang begitu halus. (pikiran tentang malam, pikiran tentang hidup) Kisah cinta itu selesai. (hidup yang dibangun khayalan) Ke dalam hutan yang membuatku lupa pada diriku sendiri aku melangkah sendiri. Wangi bunga popi perlahan memudar. (oh, hidupku) Hutan tempat napasku mengambang seperti kabut hijau yang tipis. (aroma malam, aroma cinta) Kisah cinta itu hancur. (hidup yang penuh nestapa) Ke dalam hutan doa aku melangkah sendiri. Wajahnya muncul setiap kali aku berdoa. (oh, hidupku) Hutan cinta yang disegarkan seorang muse dari langit. (doa malam, doa kehidupan) Bulan bersinar. (hidup yang berwarna-warni) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Cahaya bulan yang lembut di antara pepohonan (oh, hidupku) menerangi hamparan bunga-bunga keemasan di kampung halamanku. (hidup di malam hari, oh, hidupku) ==Untuk Adikku== Untuk Takaka Horiai Apakah angin dingin sedang bertiup? Bulan September. Aroma daun-daun muda membersihkan mimpiku di pondok yang sunyi ini. Seusai sarapan, ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah, tempat pembakar dupa hijauku retak, dan angin membawa udara yang baru. Aku mencuci tangan, lalu menyalakan dupa. Kau bertanya dari mana datangnya harum itu. Aku masih mengingat senyummu yang tenang. Di bawah langit kota yang kelabu, di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar, kau menunjuk merpati-merpati putih yang terbang rendah di atas atap. Aku mengikuti arah jarimu. Dan untuk sesaat, hatiku menjadi sangat tenang. Kau mengangguk perlahan. Dengan mata yang jernih. Lalu aku teringat: pernah ada seorang bayi yang bersandar di lutut lembut kakaknya. Bayi itu adalah dirimu. Kau tersenyum pada getaran bayang-bayang pohon ara. Kau membawa kebahagiaan ke dalam rumah. Juga kepadaku, yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk puisi dan buku-buku. Perjalanan hidupku kasar. Dayung-dayungku patah. Aku hanyut seperti perahu yang kehilangan tujuan. Tetapi di dada seseorang yang menunggu, aku mendengar suara mata air yang tak pernah kering. Kini musim panas datang. Rumah ini sederhana. Namun aku masih berharap kebahagiaan suatu hari mengalahkan nasib. Aku masih berharap hari-hari yang membanggakan itu tiba. Karena itulah aku bernyanyi melewati kemarin dan hari ini. Barangkali sulit menulis puisi terbaik. Tetapi kebahagiaan sendiri sudah cukup menjadi penghiburan. Meski suatu hari aku tersesat di tengah keramaian, duniaku tetap sebuah hutan cinta yang luas. Bukan ibu kota dengan penjara-penjara berkarat. Aku ingin melihat bunga matahariku. Bunga-bunga harapan yang tumbuh. Anak-anak yatim yang berjalan di tanah berbatu, yang memuntahkan darah di depan lagu-lagu duka, tetap bermimpi awan sedang bermain-main, tetap bermimpi angin memberkati ranting-ranting. Di kamar berjendela rendah ini, jiwaku dipeluk perlahan oleh aroma dupa yang terbakar. Di altar kecil yang sunyi ini, aku bangga menjadi seorang rahib muda. Adikku yang kusayangi, jika suatu hari nanti kau hidup cukup lama untuk melihat hutan-hutan besar menua, hutan yang mulia, ranting-ranting cinta itu, ingatlah: di dalam nyanyianku yang tenang selalu ada mimpi yang damai. Kelak, saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa, menyisir rambutmu dengan wewangian, memasang perhiasan keemasan di sisir kerangmu, lalu berjalan di atas rumput yang hijau, jangan lupakan kebahagiaan sederhana yang pernah kita miliki bersama lelaki kurus itu: penyair yang tak pernah miskin hati, di pondok terpencil ini. Kita pernah memiliki kebahagiaan yang lebih kuat daripada nasib. Kita pernah percaya pada hari-hari yang suci. Dengan tempat dupa yang retak, kita bernyanyi. Dan merasa cukup. Meski musim panas itu hanya bernada pelan, aku menuliskannya dengan hati yang gembira. Aku menulis tentang kebahagiaan kita. Seluruh hatiku kutitipkan pada baris-baris ini. Karena hatiku tersenyum, terimalah puisi ini dengan senyummu juga. ==Wajah Putih== Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian. Angin barat di penghujung Oktober mengaum di antara ranting-ranting. Ratusan pohon sakura serentak menggugurkan daun. Daun-daun itu jatuh seperti hujan. Dari balik hujan daun itu, ke seberang sana— ah, hanya satu lirikan yang diarahkan kepadaku, seorang gadis berlalu begitu cepat. Empat tahun yang lalu, di penghujung musim gugur, di hutan Ueno'''''¹''''' , pada suatu senja yang sunyi, dari balik hujan daun-daun yang jatuh, ah, satu lirikan, sebuah wajah putih. '''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.'' ==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna''== (1) Aku telah bekerja lebih keras daripada kerja yang paling keras, namun hidupku tak juga menjadi lebih baik. Aku hanya menunduk menatap kedua tanganku yang tinggal tulang. (2) Berbaring di pasir bukit pasir, hari ini aku mengenang, dari kejauhan, dukacita cinta pertamaku. (3) Dokter berkata, "Bagaimana? Sudah lelah hidup?" Aku tetap diam. Aku menutup mulutku rapat-rapat. == Referensi == [[Kategori:Sastra Jepang]] [[Kategori:Puisi Jepang]] [[Kategori:Jepang]] n5162om89kk1j2c1fnuvq9kh2vrbnff 116365 116364 2026-06-12T05:42:32Z Sibiru45 35568 116365 wikitext text/x-wiki '''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref> Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref> == Mari Bernyanyi == Mari bernyanyi. Ketika tubuh kita letih oleh pertempuran yang tak selesai-selesai, ketika kesedihan datang dan duduk lama di samping kita, ketika anak kita menemui kematian sebelum sempat tumbuh, ketika kita melihat seorang pengemis yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu, ketika cinta menghabiskan seluruh isi hati kita— mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu. Sambil menatap langit yang tak mengatakan apa-apa. Wahai kawan-kawanku yang lapar. == Sebuah Pesawat == Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. Seorang anak pengantar koran, pada satu dari sedikit hari Minggu yang tidak dirampas pekerjaannya, di rumah yang sunyi bersama ibunya yang sakit paru-paru, dengan mata lelah karena terlalu lama membaca buku-buku pelajaran sendirian . . . Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. == Kepada Seekor Kepiting == Kau, kepiting cerdik di pantai timur itu, bersembunyi di liangmu saat air pasang, keluar lagi saat air surut, selalu berjalan menyamping— tahukah kau, atau mungkin tidak, ada seorang anak yang letih melintas di dekatmu, terbawa arus yang tak memberinya kesempatan, mengikuti seberkas cahaya yang bahkan lebih kecil daripada matamu? == Aku Akan Pergi Sendiri == Hari telah selesai. (hidup yang menyedihkan) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Segala bunyi meredup. (oh, hidupku) Hutan kenangan diguyur melodi yang begitu halus. (pikiran tentang malam, pikiran tentang hidup) Kisah cinta itu selesai. (hidup yang dibangun khayalan) Ke dalam hutan yang membuatku lupa pada diriku sendiri aku melangkah sendiri. Wangi bunga popi perlahan memudar. (oh, hidupku) Hutan tempat napasku mengambang seperti kabut hijau yang tipis. (aroma malam, aroma cinta) Kisah cinta itu hancur. (hidup yang penuh nestapa) Ke dalam hutan doa aku melangkah sendiri. Wajahnya muncul setiap kali aku berdoa. (oh, hidupku) Hutan cinta yang disegarkan seorang muse dari langit. (doa malam, doa kehidupan) Bulan bersinar. (hidup yang berwarna-warni) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Cahaya bulan yang lembut di antara pepohonan (oh, hidupku) menerangi hamparan bunga-bunga keemasan di kampung halamanku. (hidup di malam hari, oh, hidupku) ==Untuk Adikku== Untuk Takaka Horiai Apakah angin dingin sedang bertiup? Bulan September. Aroma daun-daun muda membersihkan mimpiku di pondok yang sunyi ini. Seusai sarapan, ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah, tempat pembakar dupa hijauku retak, dan angin membawa udara yang baru. Aku mencuci tangan, lalu menyalakan dupa. Kau bertanya dari mana datangnya harum itu. Aku masih mengingat senyummu yang tenang. Di bawah langit kota yang kelabu, di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar, kau menunjuk merpati-merpati putih yang terbang rendah di atas atap. Aku mengikuti arah jarimu. Dan untuk sesaat, hatiku menjadi sangat tenang. Kau mengangguk perlahan. Dengan mata yang jernih. Lalu aku teringat: pernah ada seorang bayi yang bersandar di lutut lembut kakaknya. Bayi itu adalah dirimu. Kau tersenyum pada getaran bayang-bayang pohon ara. Kau membawa kebahagiaan ke dalam rumah. Juga kepadaku, yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk puisi dan buku-buku. Perjalanan hidupku kasar. Dayung-dayungku patah. Aku hanyut seperti perahu yang kehilangan tujuan. Tetapi di dada seseorang yang menunggu, aku mendengar suara mata air yang tak pernah kering. Kini musim panas datang. Rumah ini sederhana. Namun aku masih berharap kebahagiaan suatu hari mengalahkan nasib. Aku masih berharap hari-hari yang membanggakan itu tiba. Karena itulah aku bernyanyi melewati kemarin dan hari ini. Barangkali sulit menulis puisi terbaik. Tetapi kebahagiaan sendiri sudah cukup menjadi penghiburan. Meski suatu hari aku tersesat di tengah keramaian, duniaku tetap sebuah hutan cinta yang luas. Bukan ibu kota dengan penjara-penjara berkarat. Aku ingin melihat bunga matahariku. Bunga-bunga harapan yang tumbuh. Anak-anak yatim yang berjalan di tanah berbatu, yang memuntahkan darah di depan lagu-lagu duka, tetap bermimpi awan sedang bermain-main, tetap bermimpi angin memberkati ranting-ranting. Di kamar berjendela rendah ini, jiwaku dipeluk perlahan oleh aroma dupa yang terbakar. Di altar kecil yang sunyi ini, aku bangga menjadi seorang rahib muda. Adikku yang kusayangi, jika suatu hari nanti kau hidup cukup lama untuk melihat hutan-hutan besar menua, hutan yang mulia, ranting-ranting cinta itu, ingatlah: di dalam nyanyianku yang tenang selalu ada mimpi yang damai. Kelak, saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa, menyisir rambutmu dengan wewangian, memasang perhiasan keemasan di sisir kerangmu, lalu berjalan di atas rumput yang hijau, jangan lupakan kebahagiaan sederhana yang pernah kita miliki bersama lelaki kurus itu: penyair yang tak pernah miskin hati, di pondok terpencil ini. Kita pernah memiliki kebahagiaan yang lebih kuat daripada nasib. Kita pernah percaya pada hari-hari yang suci. Dengan tempat dupa yang retak, kita bernyanyi. Dan merasa cukup. Meski musim panas itu hanya bernada pelan, aku menuliskannya dengan hati yang gembira. Aku menulis tentang kebahagiaan kita. Seluruh hatiku kutitipkan pada baris-baris ini. Karena hatiku tersenyum, terimalah puisi ini dengan senyummu juga. ==Wajah Putih== Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian. Angin barat di penghujung Oktober mengaum di antara ranting-ranting. Ratusan pohon sakura serentak menggugurkan daun. Daun-daun itu jatuh seperti hujan. Dari balik hujan daun itu, ke seberang sana— ah, hanya satu lirikan yang diarahkan kepadaku, seorang gadis berlalu begitu cepat. Empat tahun yang lalu, di penghujung musim gugur, di hutan Ueno'''''¹''''' , pada suatu senja yang sunyi, dari balik hujan daun-daun yang jatuh, ah, satu lirikan, sebuah wajah putih. '''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.'' ==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna''<ref>Ishikawa. T (2026). A handful of sand. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>== (1) Aku telah bekerja lebih keras daripada kerja yang paling keras, namun hidupku tak juga menjadi lebih baik. Aku hanya menunduk menatap kedua tanganku yang tinggal tulang. (2) Berbaring di pasir bukit pasir, hari ini aku mengenang, dari kejauhan, dukacita cinta pertamaku. (3) Dokter berkata, "Bagaimana? Sudah lelah hidup?" Aku tetap diam. Aku menutup mulutku rapat-rapat. == Referensi == [[Kategori:Sastra Jepang]] [[Kategori:Puisi Jepang]] [[Kategori:Jepang]] o62mn2c9w4ann4dci31yd80ymfkbmca 116366 116365 2026-06-12T05:43:10Z Sibiru45 35568 /* Tiga Tanka dari Antologi Ichiaku no Suna[3] */ 116366 wikitext text/x-wiki '''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref> Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref> == Mari Bernyanyi == Mari bernyanyi. Ketika tubuh kita letih oleh pertempuran yang tak selesai-selesai, ketika kesedihan datang dan duduk lama di samping kita, ketika anak kita menemui kematian sebelum sempat tumbuh, ketika kita melihat seorang pengemis yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu, ketika cinta menghabiskan seluruh isi hati kita— mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu. Sambil menatap langit yang tak mengatakan apa-apa. Wahai kawan-kawanku yang lapar. == Sebuah Pesawat == Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. Seorang anak pengantar koran, pada satu dari sedikit hari Minggu yang tidak dirampas pekerjaannya, di rumah yang sunyi bersama ibunya yang sakit paru-paru, dengan mata lelah karena terlalu lama membaca buku-buku pelajaran sendirian . . . Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. == Kepada Seekor Kepiting == Kau, kepiting cerdik di pantai timur itu, bersembunyi di liangmu saat air pasang, keluar lagi saat air surut, selalu berjalan menyamping— tahukah kau, atau mungkin tidak, ada seorang anak yang letih melintas di dekatmu, terbawa arus yang tak memberinya kesempatan, mengikuti seberkas cahaya yang bahkan lebih kecil daripada matamu? == Aku Akan Pergi Sendiri == Hari telah selesai. (hidup yang menyedihkan) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Segala bunyi meredup. (oh, hidupku) Hutan kenangan diguyur melodi yang begitu halus. (pikiran tentang malam, pikiran tentang hidup) Kisah cinta itu selesai. (hidup yang dibangun khayalan) Ke dalam hutan yang membuatku lupa pada diriku sendiri aku melangkah sendiri. Wangi bunga popi perlahan memudar. (oh, hidupku) Hutan tempat napasku mengambang seperti kabut hijau yang tipis. (aroma malam, aroma cinta) Kisah cinta itu hancur. (hidup yang penuh nestapa) Ke dalam hutan doa aku melangkah sendiri. Wajahnya muncul setiap kali aku berdoa. (oh, hidupku) Hutan cinta yang disegarkan seorang muse dari langit. (doa malam, doa kehidupan) Bulan bersinar. (hidup yang berwarna-warni) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Cahaya bulan yang lembut di antara pepohonan (oh, hidupku) menerangi hamparan bunga-bunga keemasan di kampung halamanku. (hidup di malam hari, oh, hidupku) ==Untuk Adikku== Untuk Takaka Horiai Apakah angin dingin sedang bertiup? Bulan September. Aroma daun-daun muda membersihkan mimpiku di pondok yang sunyi ini. Seusai sarapan, ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah, tempat pembakar dupa hijauku retak, dan angin membawa udara yang baru. Aku mencuci tangan, lalu menyalakan dupa. Kau bertanya dari mana datangnya harum itu. Aku masih mengingat senyummu yang tenang. Di bawah langit kota yang kelabu, di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar, kau menunjuk merpati-merpati putih yang terbang rendah di atas atap. Aku mengikuti arah jarimu. Dan untuk sesaat, hatiku menjadi sangat tenang. Kau mengangguk perlahan. Dengan mata yang jernih. Lalu aku teringat: pernah ada seorang bayi yang bersandar di lutut lembut kakaknya. Bayi itu adalah dirimu. Kau tersenyum pada getaran bayang-bayang pohon ara. Kau membawa kebahagiaan ke dalam rumah. Juga kepadaku, yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk puisi dan buku-buku. Perjalanan hidupku kasar. Dayung-dayungku patah. Aku hanyut seperti perahu yang kehilangan tujuan. Tetapi di dada seseorang yang menunggu, aku mendengar suara mata air yang tak pernah kering. Kini musim panas datang. Rumah ini sederhana. Namun aku masih berharap kebahagiaan suatu hari mengalahkan nasib. Aku masih berharap hari-hari yang membanggakan itu tiba. Karena itulah aku bernyanyi melewati kemarin dan hari ini. Barangkali sulit menulis puisi terbaik. Tetapi kebahagiaan sendiri sudah cukup menjadi penghiburan. Meski suatu hari aku tersesat di tengah keramaian, duniaku tetap sebuah hutan cinta yang luas. Bukan ibu kota dengan penjara-penjara berkarat. Aku ingin melihat bunga matahariku. Bunga-bunga harapan yang tumbuh. Anak-anak yatim yang berjalan di tanah berbatu, yang memuntahkan darah di depan lagu-lagu duka, tetap bermimpi awan sedang bermain-main, tetap bermimpi angin memberkati ranting-ranting. Di kamar berjendela rendah ini, jiwaku dipeluk perlahan oleh aroma dupa yang terbakar. Di altar kecil yang sunyi ini, aku bangga menjadi seorang rahib muda. Adikku yang kusayangi, jika suatu hari nanti kau hidup cukup lama untuk melihat hutan-hutan besar menua, hutan yang mulia, ranting-ranting cinta itu, ingatlah: di dalam nyanyianku yang tenang selalu ada mimpi yang damai. Kelak, saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa, menyisir rambutmu dengan wewangian, memasang perhiasan keemasan di sisir kerangmu, lalu berjalan di atas rumput yang hijau, jangan lupakan kebahagiaan sederhana yang pernah kita miliki bersama lelaki kurus itu: penyair yang tak pernah miskin hati, di pondok terpencil ini. Kita pernah memiliki kebahagiaan yang lebih kuat daripada nasib. Kita pernah percaya pada hari-hari yang suci. Dengan tempat dupa yang retak, kita bernyanyi. Dan merasa cukup. Meski musim panas itu hanya bernada pelan, aku menuliskannya dengan hati yang gembira. Aku menulis tentang kebahagiaan kita. Seluruh hatiku kutitipkan pada baris-baris ini. Karena hatiku tersenyum, terimalah puisi ini dengan senyummu juga. ==Wajah Putih== Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian. Angin barat di penghujung Oktober mengaum di antara ranting-ranting. Ratusan pohon sakura serentak menggugurkan daun. Daun-daun itu jatuh seperti hujan. Dari balik hujan daun itu, ke seberang sana— ah, hanya satu lirikan yang diarahkan kepadaku, seorang gadis berlalu begitu cepat. Empat tahun yang lalu, di penghujung musim gugur, di hutan Ueno'''''¹''''' , pada suatu senja yang sunyi, dari balik hujan daun-daun yang jatuh, ah, satu lirikan, sebuah wajah putih. '''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.'' ==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna''<ref>Ishikawa. T (1910). A handful of sand. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>== (1) Aku telah bekerja lebih keras daripada kerja yang paling keras, namun hidupku tak juga menjadi lebih baik. Aku hanya menunduk menatap kedua tanganku yang tinggal tulang. (2) Berbaring di pasir bukit pasir, hari ini aku mengenang, dari kejauhan, dukacita cinta pertamaku. (3) Dokter berkata, "Bagaimana? Sudah lelah hidup?" Aku tetap diam. Aku menutup mulutku rapat-rapat. == Referensi == [[Kategori:Sastra Jepang]] [[Kategori:Puisi Jepang]] [[Kategori:Jepang]] 6zp5rkp1s5uxrvffdsts28z70s1kdcd 116367 116366 2026-06-12T05:43:42Z Sibiru45 35568 /* Tiga Tanka dari Antologi Ichiaku no Suna[3] */ 116367 wikitext text/x-wiki '''Takuboku Ishikawa''' (20 Februari 1886 – 13 April 1912) adalah penyair Jepang yang meninggal dunia pada usia muda akibat tuberkulosis. Ia dikenal luas melalui karya-karya tanka serta puisi-puisi bergaya modern yang lebih bebas dari pakem tradisional. Pada awal perjalanan sastranya, ia bergabung dengan lingkaran penyair naturalis ''Myōjō''. Namun seiring waktu, pandangan dan orientasi kepenyairannya berubah; ia kemudian lebih dekat dengan kalangan penyair yang berhaluan sosialistik dan perlahan meninggalkan estetika naturalisme yang sebelumnya dianutnya.<ref>[https://www.poetryfoundation.org/poets/takuboku-ishikawa Biografi Takuboku Ishikawa] </ref> Puisi-puisi Takuboku Ishikawa berikut ini diterjemahkan dari buku antologi puisi Takuboku Ishikawa berjudul ''On Knowing Oneself Too Well'' terjemahan Tamae K. Prindle yang terbit pada tahun 2010.<ref>''Takuboku. I (2010). On Knowing Oneself Too Well: Selected Poems of Ishikawa Takuboku, Translated by Tamae K. Prindle.'' Syllabic Press''.'' ISBN: 978-0-615-34562-8</ref> == Mari Bernyanyi == Mari bernyanyi. Ketika tubuh kita letih oleh pertempuran yang tak selesai-selesai, ketika kesedihan datang dan duduk lama di samping kita, ketika anak kita menemui kematian sebelum sempat tumbuh, ketika kita melihat seorang pengemis yang wajahnya mengingatkan kita pada ibu, ketika cinta menghabiskan seluruh isi hati kita— mari bernyanyi pada saat-saat seperti itu. Sambil menatap langit yang tak mengatakan apa-apa. Wahai kawan-kawanku yang lapar. == Sebuah Pesawat == Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. Seorang anak pengantar koran, pada satu dari sedikit hari Minggu yang tidak dirampas pekerjaannya, di rumah yang sunyi bersama ibunya yang sakit paru-paru, dengan mata lelah karena terlalu lama membaca buku-buku pelajaran sendirian . . . Lihatlah, hari ini lagi, pesawat itu tinggi sekali di langit biru. == Kepada Seekor Kepiting == Kau, kepiting cerdik di pantai timur itu, bersembunyi di liangmu saat air pasang, keluar lagi saat air surut, selalu berjalan menyamping— tahukah kau, atau mungkin tidak, ada seorang anak yang letih melintas di dekatmu, terbawa arus yang tak memberinya kesempatan, mengikuti seberkas cahaya yang bahkan lebih kecil daripada matamu? == Aku Akan Pergi Sendiri == Hari telah selesai. (hidup yang menyedihkan) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Segala bunyi meredup. (oh, hidupku) Hutan kenangan diguyur melodi yang begitu halus. (pikiran tentang malam, pikiran tentang hidup) Kisah cinta itu selesai. (hidup yang dibangun khayalan) Ke dalam hutan yang membuatku lupa pada diriku sendiri aku melangkah sendiri. Wangi bunga popi perlahan memudar. (oh, hidupku) Hutan tempat napasku mengambang seperti kabut hijau yang tipis. (aroma malam, aroma cinta) Kisah cinta itu hancur. (hidup yang penuh nestapa) Ke dalam hutan doa aku melangkah sendiri. Wajahnya muncul setiap kali aku berdoa. (oh, hidupku) Hutan cinta yang disegarkan seorang muse dari langit. (doa malam, doa kehidupan) Bulan bersinar. (hidup yang berwarna-warni) Ke dalam hutan ilusi aku melangkah sendiri. Cahaya bulan yang lembut di antara pepohonan (oh, hidupku) menerangi hamparan bunga-bunga keemasan di kampung halamanku. (hidup di malam hari, oh, hidupku) ==Untuk Adikku== Untuk Takaka Horiai Apakah angin dingin sedang bertiup? Bulan September. Aroma daun-daun muda membersihkan mimpiku di pondok yang sunyi ini. Seusai sarapan, ketika secangkir teh membuat pagi terasa ramah, tempat pembakar dupa hijauku retak, dan angin membawa udara yang baru. Aku mencuci tangan, lalu menyalakan dupa. Kau bertanya dari mana datangnya harum itu. Aku masih mengingat senyummu yang tenang. Di bawah langit kota yang kelabu, di sisi selatan kuil yang dinaungi pohon cedar, kau menunjuk merpati-merpati putih yang terbang rendah di atas atap. Aku mengikuti arah jarimu. Dan untuk sesaat, hatiku menjadi sangat tenang. Kau mengangguk perlahan. Dengan mata yang jernih. Lalu aku teringat: pernah ada seorang bayi yang bersandar di lutut lembut kakaknya. Bayi itu adalah dirimu. Kau tersenyum pada getaran bayang-bayang pohon ara. Kau membawa kebahagiaan ke dalam rumah. Juga kepadaku, yang telah menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk puisi dan buku-buku. Perjalanan hidupku kasar. Dayung-dayungku patah. Aku hanyut seperti perahu yang kehilangan tujuan. Tetapi di dada seseorang yang menunggu, aku mendengar suara mata air yang tak pernah kering. Kini musim panas datang. Rumah ini sederhana. Namun aku masih berharap kebahagiaan suatu hari mengalahkan nasib. Aku masih berharap hari-hari yang membanggakan itu tiba. Karena itulah aku bernyanyi melewati kemarin dan hari ini. Barangkali sulit menulis puisi terbaik. Tetapi kebahagiaan sendiri sudah cukup menjadi penghiburan. Meski suatu hari aku tersesat di tengah keramaian, duniaku tetap sebuah hutan cinta yang luas. Bukan ibu kota dengan penjara-penjara berkarat. Aku ingin melihat bunga matahariku. Bunga-bunga harapan yang tumbuh. Anak-anak yatim yang berjalan di tanah berbatu, yang memuntahkan darah di depan lagu-lagu duka, tetap bermimpi awan sedang bermain-main, tetap bermimpi angin memberkati ranting-ranting. Di kamar berjendela rendah ini, jiwaku dipeluk perlahan oleh aroma dupa yang terbakar. Di altar kecil yang sunyi ini, aku bangga menjadi seorang rahib muda. Adikku yang kusayangi, jika suatu hari nanti kau hidup cukup lama untuk melihat hutan-hutan besar menua, hutan yang mulia, ranting-ranting cinta itu, ingatlah: di dalam nyanyianku yang tenang selalu ada mimpi yang damai. Kelak, saat kau tumbuh menjadi perempuan dewasa, menyisir rambutmu dengan wewangian, memasang perhiasan keemasan di sisir kerangmu, lalu berjalan di atas rumput yang hijau, jangan lupakan kebahagiaan sederhana yang pernah kita miliki bersama lelaki kurus itu: penyair yang tak pernah miskin hati, di pondok terpencil ini. Kita pernah memiliki kebahagiaan yang lebih kuat daripada nasib. Kita pernah percaya pada hari-hari yang suci. Dengan tempat dupa yang retak, kita bernyanyi. Dan merasa cukup. Meski musim panas itu hanya bernada pelan, aku menuliskannya dengan hati yang gembira. Aku menulis tentang kebahagiaan kita. Seluruh hatiku kutitipkan pada baris-baris ini. Karena hatiku tersenyum, terimalah puisi ini dengan senyummu juga. ==Wajah Putih== Awan-awan kelabu tercerai dan berlarian. Angin barat di penghujung Oktober mengaum di antara ranting-ranting. Ratusan pohon sakura serentak menggugurkan daun. Daun-daun itu jatuh seperti hujan. Dari balik hujan daun itu, ke seberang sana— ah, hanya satu lirikan yang diarahkan kepadaku, seorang gadis berlalu begitu cepat. Empat tahun yang lalu, di penghujung musim gugur, di hutan Ueno'''''¹''''' , pada suatu senja yang sunyi, dari balik hujan daun-daun yang jatuh, ah, satu lirikan, sebuah wajah putih. '''''¹ Ueno''' adalah taman terkenal di Tokyo yang dikenal karena deretan pohon sakuranya dan menjadi salah satu tempat favorit warga Jepang untuk menikmati musim semi.'' ==Tiga Tanka dari Antologi ''Ichiaku no Suna'' (Segenggam Pasir) <ref>Ishikawa. T (1910). A handful of sand. Tōkyō : Tōundō Shoten</ref>== (1) Aku telah bekerja lebih keras daripada kerja yang paling keras, namun hidupku tak juga menjadi lebih baik. Aku hanya menunduk menatap kedua tanganku yang tinggal tulang. (2) Berbaring di pasir bukit pasir, hari ini aku mengenang, dari kejauhan, dukacita cinta pertamaku. (3) Dokter berkata, "Bagaimana? Sudah lelah hidup?" Aku tetap diam. Aku menutup mulutku rapat-rapat. == Referensi == [[Kategori:Sastra Jepang]] [[Kategori:Puisi Jepang]] [[Kategori:Jepang]] 7ba2sd2qhahjogudwswsle0wialpv82 Putri Kembang Remigo 0 27555 116358 116357 2026-06-11T12:06:12Z Ismaaatull 42809 116358 wikitext text/x-wiki '''PUTERI KEMBANG REMIGO''' Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado. (Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.) Suatu aghi pegilah rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut cak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo. (Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan ke Raja Naga" [[File:Putri Kembang Remigo.png|thumb|Seorang Puteri raja yang bernama Puteri Kembang Remigo]] Lum lamo itu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang remigo lair, nido diajung o keluagh guma. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo berkebar ngan jemo-jemo dusun seberang. (Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri) La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Putri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai." (Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar). Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang remigo anak Raja Ulu Sungai.") "Siap," kate o. ("Siap," jawabnya.) Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke guma rajo, pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang. (Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang.) Cak masuak ikan Bilis ke dalam guma rajo, nengagh kiciakkan rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di guma ni kareno Puteri Kembang Remigo ndak betunakan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan rajo Nago". "Ngapo pulo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo nago." (Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silahkan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga). Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago. (Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang remigo," lapor Ikan Bilis Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o,ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai. (Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.) Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapagh ka aku di tepi laman mandian," gaikan degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni. (Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo, Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, petikkan tanggai menghadap langit." Lalu degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dipetikkan tanggai menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.) "Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago. (Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat mengaku sebagai degenam. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.) "Nido Puteri Kembang remigo, tapi degenam, nyo nunggu di tepi mandian u Rajo Nago." (Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga) "Bantingka di situa degenam," perintah rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nangsai degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni digendam o ngan aiak," pesan Rajo nago. "Banting di situ degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantngnya degenam hingga jera. Kemudian degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar) Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantakka nyo ujan deghas tegendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu. (Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu). "Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo." (Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua) Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian." (Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian.") "Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunakan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut." ("Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut.") Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak." (Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian) Sampai la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutka nyo aiak, akap o panas gancang. (Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas) "Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato rajo. (Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepai. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja. Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago. (Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga) "Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian." ("Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo sekali dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian") Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?" (Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo?") "Tando Putri Kembang Remigo nian urai kan gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit." (Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, petikkan tanggai hingga bersuara dan menghadap ke langit) Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak,mangko dititingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni. (Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dihadapkan ke langit, rambutnya tersentuh) Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi. (Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo) La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo la ndak sampai Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago. (Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai, orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo) Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku," (Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku.") Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago. (Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga) Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh (Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh) 1whf5kunjunu7w6202eq5bcns3gfkq9 116359 116358 2026-06-11T12:15:41Z Ismaaatull 42809 116359 wikitext text/x-wiki '''PUTERI KEMBANG REMIGO''' [[File:Putri Kembang Remigo.ogg|thumb|Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga]] Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado. (Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.) Suatu aghi pegilah rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut cak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo. (Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan ke Raja Naga" [[File:Putri Kembang Remigo.png|thumb|Seorang Puteri raja yang bernama Puteri Kembang Remigo]] Lum lamo itu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang remigo lair, nido diajung o keluagh guma. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo berkebar ngan jemo-jemo dusun seberang. (Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri) La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Putri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai." (Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar). Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang remigo anak Raja Ulu Sungai.") "Siap," kate o. ("Siap," jawabnya.) Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke guma rajo, pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang. (Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang.) Cak masuak ikan Bilis ke dalam guma rajo, nengagh kiciakkan rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di guma ni kareno Puteri Kembang Remigo ndak betunakan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan rajo Nago". "Ngapo pulo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo nago." (Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silahkan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga). Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago. (Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang remigo," lapor Ikan Bilis Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o,ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai. (Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.) Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapagh ka aku di tepi laman mandian," gaikan degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni. (Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo, Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, petikkan tanggai menghadap langit." Lalu degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dipetikkan tanggai menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.) "Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago. (Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat mengaku sebagai degenam. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.) "Nido Puteri Kembang remigo, tapi degenam, nyo nunggu di tepi mandian u Rajo Nago." (Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga) "Bantingka di situa degenam," perintah rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nangsai degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni digendam o ngan aiak," pesan Rajo nago. "Banting di situ degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantngnya degenam hingga jera. Kemudian degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar) Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantakka nyo ujan deghas tegendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu. (Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu). "Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo." (Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua) Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian." (Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian.") "Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunakan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut." ("Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut.") Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak." (Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian) Sampai la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutka nyo aiak, akap o panas gancang. (Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas) "Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato rajo. (Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepai. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja. Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago. (Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga) "Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian." ("Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo sekali dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian") Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?" (Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo?") "Tando Putri Kembang Remigo nian urai kan gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit." (Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, petikkan tanggai hingga bersuara dan menghadap ke langit) Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak,mangko dititingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni. (Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dihadapkan ke langit, rambutnya tersentuh) Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi. (Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo) La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo la ndak sampai Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago. (Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai, orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo) Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku," (Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku.") Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago. (Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga) Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh (Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh) 721s3abf1a5uk5djbbnmm5wyolgl5hy 116361 116359 2026-06-12T05:10:35Z Ismaaatull 42809 116361 wikitext text/x-wiki '''PUTERI KEMBANG REMIGO''' [[File:Putri Kembang Remigo.ogg|thumb|Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga]] Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado. (Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.) Suatu aghi pegilah rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut cak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Mo ku ado anak kelo, jadia ku namo i Puteri Kembang Remigo. La besak ku enjuak ngan Rajo Nago," kato Rajo. (Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Ternyata di langit ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Kalau nanti aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan ke Raja Naga" [[File:Putri Kembang Remigo.png|thumb|Seorang Puteri raja yang bernama Puteri Kembang Remigo]] Lum lamo itu ado nian anak o, dinamoi lah Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang remigo lair, nido diajung o keluagh guma. Jemo dusun nido diajung o bemuni. Jangan ado nyo berkebar ngan jemo-jemo dusun seberang. (Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, Raja tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri) La sebulan, duo bulan. La setahun, duo tahun kini la besak pulo Putri Kembang Remigo ni. Kato Rajo Nago, "Cubo, Kawan, ngiciakkah anak Bilis. Cubo kaba jaruakah kuday Puteri Kembang Remigo anak Rajo Ulu Sungai." (Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar). Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang Remigo anak Raja Ulu Sungai.") "Siap," kate o. ("Siap," jawabnya.) Pegilah ikan Bilis ke ulu sungai, dikinaki ado la gegebay gi ngambiak aiak pakai gerigiak. Dimasuaki nyo ikan Bilis ke dalam gerigiak gegebay. Kebetulan gegebay tu ngambiak aiak batak ke guma Rajo, pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang. (Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah Raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang (nasi dalam bambu).) Cak masuak ikan Bilis ke dalam guma rajo, nengagh kicikan Rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di guma ni kareno Puteri Kembang Remigo ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Jangan sampai keruan ngan Rajo Nago". "Ngapo pulo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo Nago." (Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silahkan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga). Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu ndak Puteri Kembang Remigo, waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago. (Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang Remigo," lapor Ikan Bilis Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah pesan ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung pegi nyampaikah pesan Rajo Nago. Cak sampai o, ketemulah ngan jemo tuo mpay ndak mandi. "Ui pindo, Kawan. Aku ni matak kabar jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago minta antatkah Puteri Kembang remigo ke tepi mandian. Mo la siap ajung Puteri mantau Rajo Nago, pacak Rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Datangan Jemo tuo ni tadi, disampaikah pesan rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai. (Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu Raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang Remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.) Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, mantau la Degenam nyamar jadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapat ka aku di tepi laman mandian," gaikan Degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan Rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan Degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni. (Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo, Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang Remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, petikkan tanggai menghadap langit." Lalu degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dipetikkan tanggai menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.) "Nido, nido cak itu kaba Puteri Kembang remigo," Rajo Nago ngangat. Datang Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang Remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui Degenam. Datang anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago. (Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat tampilan Degenam berantakan. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.) "Nido Puteri Kembang Remigo, tapi Degenam, nyo nunggu di tepi mandian tu Rajo Nago." (Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi Degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga) "Bantingka di situa, Degenam," perintah rajo. Datang anak bua Rajo Nago dibanting o nggut nyangsai Degenam ni tadi. La nangsai mangko dipesankah nyo batan Rajo Ulu Sungai lewat Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni digendam o ngan aiak," pesan Rajo Nago. "Banting di situ, Degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantingnya Degenam hingga jera. Kemudian Degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar) Degenam tadi baliak nyampaikah pesan Rajo Nago. Nengagh itu bukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang Remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso diremehka, dilantakka nyo ujan deghas tegendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun banyak tu datang la ke guma Rajo, kato jemo tu. (Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu). "Luak mano kito ni, Mamak? aiak ni makin lamo makin besak bae, ingunan la mati galo." (Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua) Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bapak, antatkah la aku ni ke tepi mandian." (Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian.") "Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut." ("Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut.") Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak." (Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian) Sampai la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutka nyo aiak, akap o panas gancang. (Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas) "Aku agam ngan kaba, Nak, tapi janji harus ditepati. Mo nido nyelah ni jadia, Nak," kato rajo. (Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepati. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja. Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko datangan Puteri Kembang Remigo dipanggil o la Rajo Nago. (Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga) "Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian." ("Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo sekali dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian") Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?" (Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo?") "Tando Putri Kembang Remigo nian uraika gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit." (Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu hingga bersuara dan menghadap ke langit) Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak, mangko ditintingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni. (Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dijentikkan kukunya ke langit, ada suaranya) Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kawan kawan o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi. (Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo) La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo la ndak sampai Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago. (Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai, orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo) Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu dalam wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami nyo jemo banyak u, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku," (Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku.") Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago. (Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga) Lum lamo itu, Rajo Nago dianugerahi anak tino lagi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh (Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh) hsm2oi918vr0y66s8kuyo2vewgtt31x Sesuatu (Puisi) 0 27557 116360 2026-06-11T14:18:07Z Raihankakicak 41526 ←Membuat halaman berisi '''Sesuatu?'' Berlari kukejar buih yang disulut ombak sambil memberi jejak di batu menyukai luka padahal air di sini memantulkan pagi bak cermin yang menyimpan suci Kupuji bunyi gelombang tanpa tahu raupan dayung juga bisa menjadi irama perjalanan yang mengantar pulang dari pehuluan Mengabadikan pantai mengabaikan tenang memotret burung juga hanyut harum kelopak bunga Di tepian ini tanah basah kayu lemah mengikat ingatan lama dari tempe...' 116360 wikitext text/x-wiki ''Sesuatu?'' Berlari kukejar buih yang disulut ombak sambil memberi jejak di batu menyukai luka padahal air di sini memantulkan pagi bak cermin yang menyimpan suci Kupuji bunyi gelombang tanpa tahu raupan dayung juga bisa menjadi irama perjalanan yang mengantar pulang dari pehuluan Mengabadikan pantai mengabaikan tenang memotret burung juga hanyut harum kelopak bunga Di tepian ini tanah basah kayu lemah mengikat ingatan lama dari tempelan garam di kulit hama Tidak tahu kah? Setiap luap jadi kalimat tanpa huruf menyimpan cerita musim ke musim tanpa pernah meminta lazim Loksado, Agustus 2025 [[Kategori:Puisi]] [[Kategori:Fiksi]] [[Kategori:Bahan ajar]] hxj4h726p8xuui01l0cq1yawqhqpqja Asal Usul Desa Masmambang 0 27558 116368 2026-06-12T07:21:41Z Ismaaatull 42809 ←Membuat halaman berisi ''''Asal Usul Desa Masmambang''' Sekitar taun 1817, waktu itu Kerajaan Majapahit hancur di Jawa kerno kompeni Belanda masuak, Agama Islam masuak. Akhir o ado sughang keluargo dan rumbungannyo keluagh jak di Kerajaan Majapahit dan merantau ke sekitar Selat Sunda. Lalu rumbungan kompeni tu bekiciak ndak nyemerang ke Sumatera mbuat rakit jak di batang kayu. Bebulan-bulan akhir o tekapung-kapung di tengah laut. Akhir o sampailah rumbungan tu ke Semenanjung Sumatera....' 116368 wikitext text/x-wiki '''Asal Usul Desa Masmambang''' Sekitar taun 1817, waktu itu Kerajaan Majapahit hancur di Jawa kerno kompeni Belanda masuak, Agama Islam masuak. Akhir o ado sughang keluargo dan rumbungannyo keluagh jak di Kerajaan Majapahit dan merantau ke sekitar Selat Sunda. Lalu rumbungan kompeni tu bekiciak ndak nyemerang ke Sumatera mbuat rakit jak di batang kayu. Bebulan-bulan akhir o tekapung-kapung di tengah laut. Akhir o sampailah rumbungan tu ke Semenanjung Sumatera. Rumbungan tu ndaghat waktu itu di Lampung. Waktu itu bada rumbungan tu di sekitar Nusakambangan bada o di Way Kambas. (Pada sekitar tahun 1817, waktu itu Kerajaan Majapahit hancur di Jawa akibat kompeni Belanda masuk, Agama Islam masuk. Akhirnya ada satu keluarga dan pengikut-pengikutnya keluar dari Kerajaan Majapahit dan merantau ke sekitar Selat Sunda. Lalu mereka berkompromi untuk menyeberang ke Sumatera membuat rakit dari batang kayu. Berbulan-bulan akhirnya terombang-ambing ke tengah lautan sampailah mereka ke Semenanjung Sumatera. Mereka mendarat waktu itu di Lampung. Waktu itu tempat mereka di sekitar Nusakambangan di daerah Way Kambas) Setelah beminggu-minggu netap di Way Kambas. Waktu itu lum ado dusun, ado sughang jak di keluargo nyo pegi ke aiak sungai. Diinaki di aiak sungai tu ado sutiak buah pinang nyo anyut ke aiak sungai, udim itu dio melapor ngan sang Rajo, namonyo Si Baka. Rajo o Si baka, bini o namo o Si Biki. Rumbungan ini melaporkah bahwa ado buah anyut, dulu o kito la ado manusio. “Kito pegi jak di sini,” kato Baka. Karno kito ndalak bada lain, mangko kito tinggalka sughang keluargo. Nah, Ditinggal kela di Way Kambas. Rumbungan bejalan lagi nelusugh bukit barisan di Sumatera ini. Sampailah di daerah Kikim, Sumatera Selatan. (Jadi, setelah berminggu-minggu menetap di Way Kambas. Waktu itu belum ada dusun, ada seorang dari keluarganya pergi ke sungai. Ditengoklah di sungai tu ada sebuah buah pinang hanyut ke sungai, lalu dia melapor kepada sang raja yang bernama Si Baka. Rajanya Si baka, istrinya bernama Si Biki. Mereka melaporkan bahwa ada buah hanyut, yang menyatakan bahwa dulu telah ada manusia. “Kita pergi dari sini,” kata Baka. Dikarenakan kita mau mencari tempat lain, makanya di situ kita meninggalkan seorang keluarga dan ditinggalkan di Way Kambas. Mereka berjalan lagi menelusuri bukit barisan di Sumatera ini sampailah di daerah Kikim, Sumatera Selatan.) Kalu la di situ ado jemo, nah jemo yang ado di situ ganas-ganas galo. Mangko, rumbungan itu bemusuhan. Akhir o ditinggal kela bada itu. Udim itu pegi lagi ke utara, bejalan lagi bebulan-bulan, sampailah ke bada Dusun Minangkabau. Mangko sampai mbak kini, silek Minangkabau Padang itu ampir samo ngan silek nyo ado di Provinsi Bengkulu atau di Seluma ini. (Kalau di situ sudah ada orang, nah orang yang ada di situ kejam-kejam semua. Jadi, mereka bermusuhan dan akhirnya ditinggalkan daerahnya itu. Pergi lagi ke arah utara, berjalan lagi berbulan-bulan sampailah ke daerah Minangkabau. Makanya sampai sekarang, pencak silat Minangkabau Padang itu hampir sama dengan pencak silat yang ada di Provinsi Bengkulu atau di Seluma ini.) Jak di situ ditinggal kela sutiak keluargo, rumbungan ngulang lagi merantau. Akhir o sampai jugo di bada Dusun Pagar Gading, namo o mbak kini di Pino. Sampai di Pino ado anak o sughang bidapan. Selamo di situ, rumbungan tu ke kebon jagung, kerno dandanan la banyak abis. Udim itu rumbungan bejalan lagi sampai ke bada ini (Dusun Masmambang) dulu o Dusun Pamah Rambutan. Kerno di Pamah Rambutan ini rumbungan itu ado kepercayaan rumbungan ado penyakit, kerno di situ ado pupuran keling. Aiak keluagh jak di tanah, kerno ado penyakit. “Kito pindah jak di sini,” kato Baka. Kito pegi ke aiak besak, namo o Sungai Talo. Beghendamlah rumbungan tu di situ, buat dusun. Namo dusun o waktu itu Kuto Tanah, kerno dikandangi ngan tanah sebagai pertahanan. (Dari sana ditinggalkan satu keluarga juga, mereka kembali lagi melalangbuana. Akhirnya sampai lagi di daerah Pagar Gading, sekarang di Pino. Sampai di situ ada anak yang sedang sakit. Selama di situ, mereka pergi ke kebun jagung, dikarenakan perbekalan sudah habis. Setelah itu mereka berjalan lagi sampailah mereka ke daerah ini (Masmambang) yang dulu namanya Dusun Pamah Rambutan. Karena di Pamah Rambutan ini mereka ada kepercayaan mereka ada penyakit, karena di situ ada yang namanya pupuran keling (nama penyakit kulit). Air keluar dari tanah atau penyakit. “Kita pindah dari sini,” kata Baka. Kita pergi ke sungai besar, namanya Sungai Talo. Berendamlah mereka di situ, untuk membuat dusun. Nama dusun waktu itu adalah “Kuto Tanah” karena dipagari dengan tanah agar sebagai pertahanan.) Udim tu, waktu mandi atau udim mandi dio ado jemo di aiak itu berakit. Satu sentakan rakit dengan itu Ada jemo hilang. Kelu kalau ada orang ngelipat, kito sindang. Dio ngelipat kito sindang, belago lah, becukukan, nido ndak bekalahan. Akhir o si Baka ngambiak o kebijakan, nyo pegi ke istana lalu dibujuk, lalu dinikahkanlah dengan anak si Baka. Dia dijadikan Mangkubumi, caro Rajo. (Lalu, waktu mandi atau setelah mandi ado orang yang ada di sungai itu sedang berakit. Satu sentakan rakit dengan itu Ada jemo hilang. Kelu kalau ada orang ngelipat, kito sindang. Dio ngelipat kito sindang, belago lah, becukukan, nido ndak bekalahan. Akhir o si Baka ngambiak o kebijakan, nyo pegi ke istana lalu dibujuk, lalu dinikahkanlah dengan anak si Baka. Dia dijadikan Mangkubumi, caro Rajo) Selang satu minggu, datang lagi sughang lagi ke dusun ini. Ditanyoka bujak dimano, belago kateyo. Waktu itu di sungai Talo itu keruh akibat jemo belago, saling lempar pakai batu. Melempar 3 batu sekaligus, besarnya hampir sebesar gajah, hilang. Nah setelah Masmambang itu kedapatan batu itu di Ulu kering sini, batu besak itu, 3 buah itu sebesak gajah, betumpuk 3 buah itu. Selang satu minggu, datang lagi sughang lagi ke dusun ini. Ditanyoka bujak dimano, belago kateyo. Waktu itu di sungai Talo itu keruh akibat jemo belago, saling lempar pakai batu. Melempar 3 batu sekaligus, besarnya hampir sebesar gajah, hilang. Nah setelah Masmambang itu kedapatan batu itu di Ulu kering sini, batu besak itu, 3 buah itu sebesak gajah, betumpuk 3 buah itu. Nah dio ni ahli dalam perdukunan, sementaro anak si Baka ini masih sakit. Lalu dio upati anak si Baka ini namanya Ranggawuni. Akibat diobati, badung, lalu kata si Baka “Kaba betunakan be dengan anakku ni.” Nah dia ini ahli dalam perdukunan, sementara anak si Baka ini masih sakit. Lalu dio upati anak si Baka ini namanya Ranggawuni. Akibat diobati, badung, lalu kata si Baka “Kaba betunakan be dengan anakku ni.” Jadi nikahlah dengan anak o tu. Lalu dio dibuatlah sebagai menteri kesehatannya, sebagai tukang obat. Kemudian beberapa bulan lagi datang lagi. Karno la tu dusun Kuto Tanah ni memang jemo-jemo bagus, lalu datang lagi. Nah yang datang lagi tu namo o Puyang Magawan. Yang tukang ngobati tadi namanya Puyang Alam. Yang pertamanya tadi Puyang tuan. Nah ini puyang Magawan, dio ni galak cukuan, meribut tulah polanya. Jadi nikahlah dengan anak o tu. Lalu dio dibuatlah sebagai menteri kesehatannya, sebagai tukang obat. Kemudian beberapa bulan lagi datang lagi. Karno la tu dusun Kuto Tanah ni memang jemo-jemo bagus, lalu datang lagi. Nah yang datang lagi tu namo o Puyang Magawan. Yang tukang ngobati tadi namanya Puyang Alam. Yang pertamanya tadi Puyang tuan. Nah ini puyang Magawan, dio ni galak cukuan, meribut tulah polanya. Karno dio ni melawan. Oleh si Baka dipanggil. “kamu jangan ribut lagi kamu jadi anak aku be, nikah be dengan anak aku. kamu ku jadikan panglima” Keturunan puyang magawan tu sekarang tukang ribut, masih ada di masmambang ini. Tapi dio ni nido kebal lagi. Nah setelah itu datang lagi puyang singolayang, nah ini keturunan rejang. Dio ni punya ekor emas, dio ni ahli juru bicara. Jadi ado rapat, ado sidang, nyo diutus sebagai juru bicara oleh si Baka ini, tapi dia berekor emas. Dio nido pacak duduak di dasar luak ini, dia harus duduk dianggung-anggung karno ekornya ni panjang, ekornya emas. Untuk rapat di kembang seri, oleh puyang kembang seri diambiak ekor ni akhirnya putus ekornya. Nah lalu dio ninggal di kembang seri, dan puyang tadi nido pacak lagi jadi manusio karno bersumpah menjadi ulagh palak 7. Nyo tengah hari emas, ekor dari puyang singolayang tadi. Keturunan puyang singolayang tidak ada yang kaya, kekayaannya udah diambil. Kemudian datang lagi, puyang ratu barus. Puyang ini jemo terpelajar. Jadi dia begitu sampai di kuto tanah, dio ngajar tulis baca, ngajar bercocok tanam, ngajar caro nanam bungo. Tiap guma itu ada taman bunga. Nah berubahlah nama kuto tanah ini jadi tanjung bunga. Puyang ratu barus ini dijadikan guru di dusun tanjung bunga itu. Sementaro yang satu lagi nanyo kemalobungi. Kemalobungi anak bungsu dari puyang si baka. Karno dia anak bungsu, didirikannya rumah di palak tanah. Dia buat rumah di palak tanah untuk jago di palak tanah. Nah anak o yang kemalobungi nih ado sughang gadis namo o rubiyah. Begitu dia mpay nanjak dewasa, sekitar 15 tahun umur o, dio mandi. Nah waktu itu badah mandi o, pasung. Terbuat dari kayu yang besak. Sekitar setiap jam 9 pagi dio ado pelayan, ado yang bawa sabun, handuk, langigh. Udah mandi, rubiyah ini datanglah pelangi, mandi pulo di situ. Lalu dia mekik “AAAAAAAAAAAAAAA”, kedengaran sama puyang kemalobumi di belakang. Datanglah dayang ke kemalobumi. Bada mandi putri ado guniang. Berangkatlah dio nyambut pedang, langsung dengan dibacakan mantra-mantra. Lalu dihempaskan pedangnya ke guniang itu tadi. Serta merta pelanginya hilang, diair tampat mandi tadi kemampang emas. Oleh puyang kemalobumi diambili, diperlihatkan dengan Rubiyah. Kato ble “ini apo ni?” “Emas” kato Rubiyah. Kato dayang “Mambang”. Nah saat itu dusun tanjung bunga berubah menjadi masmambang. 3ag4q848cb5rdmxc9xaa23qer6zkgu8