Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.8
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Pengguna:Fishynila
2
26230
117245
110267
2026-06-25T11:44:25Z
Fishynila
41127
117245
wikitext
text/x-wiki
Halo, nama saya Nila. Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang senang mengunggah tulisan hasil tugasnya di sini.
f28t05rcltoev21mfrcye7pcef4pd5w
Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri/Sungai Baung Rengat Barat
0
27096
117242
114522
2026-06-24T12:33:50Z
A1melinda
42807
/* */
117242
wikitext
text/x-wiki
'''Sungai Baung''' adalah sebuah desa yang terletak dalam wilayah Kecamatan Rengat Barat di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.
Sekitar Agustus 2021 terjadi kebakaran di desa ini. Sebuah rumah ludes terbakar akibat tumpahan Bahan Bakar Minyak jenis Pertalite yang disimpan pemilik rumah di dalam rumahnya. Sejak saat ini masyarakat Sungai Baung berhati-hati sekali jika menyimpan BBM dalam jeregen plastik. Prilaku ini juga ditiru generasi muda saat ini, meski mereka tidak penah menyaksikan langsung peristiwa tersebut, kecuali melalui cerita dari mulut ke mulut.
1.Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan
"Numpang lewat kebun"
Contoh komunikasi: "Pak, saya numpang lewat kebun ya, mau ke sungai."
"Iya, silakan lewat."
Maknanya menunjukkan sikap saling menghargai hak milik orang lain dan menjaga hubungan baik antarwarga.
2. Integritas Nasional
"Minta bibit atau tunas tanaman"
Contoh komunikasi: "Bu, saya minta pucuk ubi sedikit untuk ditanam di rumah."
"Ambil saja, masih banyak kok."
Maknanya menunjukkan sikap tolong-menolong dan mempererat persaudaraan.
3. Konstitusi di Indonesia
Aturan: Larangan membakar lahan sembarangan.
Contoh komunikasi: "Jangan bakar semak itu sembarangan, sekarang ada aturan yang melarang pembakaran lahan."
"Iya, lebih baik dibersihkan secara bertahap agar tidak menimbulkan kebakaran."
4. Hak dan Kewajiban WNI
Kegiatan: Gotong royong membersihkan lingkungan dan parit
Warga desa rutin melakukan gotong royong untuk menjaga kebersihan lingkungan serta kelancaran aliran sungai.
Contoh komunikasi: "Hari Minggu kita gotong royong membersihkan parit desa."
5. Demokrasi dan Sistem Pemerintahan
Istilah: "Rembuk kampung"
Contoh komunikasi: "Kita rembuk dulu soal perbaikan jalan kebun."
"Setuju, biar keputusan diambil bersama."
Maknanya menunjukkan musyawarah untuk mencapai mufakat.
6. Penegakan Hukum
Istilah: "Diselesaikan secara kekeluargaan"
Contoh komunikasi: "Masalah batas tanah ini kita bicarakan baik-baik dulu."
"Iya, jangan sampai jadi pertengkaran."
Maknanya menunjukkan penyelesaian masalah dengan damai dan sesuai aturan.
7. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional
Istilah: "Simpan hasil panen"
Contoh komunikasi: "Jangan dijual semua hasil panennya."
"Iya, sebagian disimpan untuk kebutuhan keluarga."
Maknanya untuk menjaga persediaan pangan saat musim sulit.
8. Ketahanan Pangan
Istilah: "Berbagi hasil kebun"
Contoh komunikasi: "Cabai saya lagi banyak, ambil saja sedikit."
"Terima kasih, nanti kalau panen terong saya gantian berbagi."
Maknanya memperkuat ketahanan pangan dan hubungan sosial masyarakat.
9. Kearifan Lokal dan Implementasinya pada Bidang Agribisnis
contoh komunikasi: "Pak, pelepah sawit ini dibuang saja?"
"Jangan, kumpulkan saja. Nanti bisa dibuat kompos untuk kebun."
"Oh begitu, jadi lebih hemat pupuk ya Pak."
"Iya, sekaligus memanfaatkan limbah sawit."
Maknanya Masyarakat memanfaatkan limbah sawit menjadi kompos sebagai kearifan lokal yang mendukung kegiatan agribisnis.
ladiy2jlbn8nti8dnkfv2p6nilroj9r
Banjar yang Manis, Bukan Masin
0
27459
117244
115879
2026-06-24T12:38:04Z
Raihankakicak
41526
117244
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Balap Jukung di Sungai Awang Banjarmasin.jpg|jmpl|Sungai di Banjarmasin]]
== '''Banjar yang Manis, Bukan Masin''' ==
=== Oleh Kakicak ===
Ingin kota ini
serasa gula merah yang larut pelan,
bukan air keruh yang menyesak lidah.
Ingin orang-orangnya
menyapa seperti aroma untuk isi kacang,
bukan tatapan getir penuh garam yang dijajah.
Banjar yang manis
ingin kuganti nama,
tapi cara kita menenun bahasa,
menjaga sungai dari limbah neraka,
Cara kita
sama seperti orang tua zaman dulunya
Jangan biarkan amarah
mengganti rasa
menjadi asin atau kurang penyedap rasa
Mari rebus kembali kuah
dari keramahan dan kerja sama
hingga harum manisnya
mengisi udara kota.
''-Kakicak''
''Banjarmasin, 20 September 2025''
[[Kategori:Puisi]]
[[Kategori:Fiksi]]
[[Kategori:Bahan ajar]]
4y04shscp70azhvwx5hf2hisx2wbtqe
Menulis Cerpen Bahasa Bakumpai
0
27532
117243
116144
2026-06-24T12:37:21Z
Raihankakicak
41526
117243
wikitext
text/x-wiki
== '''Menulis Cerpen Bahasa Bakumpai''' ==
=== Sebuah karya dari Kakicak ===
Pengumuman lomba itu muncul sewaktu ia sedang duduk di ruang baca jurusan, sedari menunggu giliran pergantian jam mata kuliah. Seharusnya sedang mencari referensi untuk tugas kuliah, tetapi jemarinya malah membuka media sosial. Di sana, di antara unggahan foto minuman manis dan potongan video konser, matanya tertumbuk pada sebuah poster berwarna cerah.
Tulisan di bagian atas poster itu langsung menarik perhatian rakyat kecil seperti dia. Lomba menulis cerpen [[w:Bahasa_Bakumpai|bahasa Bakumpai]] terbuka untuk seluruh masyarakat [[w:Kalimantan_Selatan|Kalimantan Selatan]] dan Tengah. Gambar rumah adat di tengah dengan ulekan air sungai menghiasi, sementara deretan hadiah uang tunai dan sertifikat tercetak jelas di bawahnya. Ia membaca semua detailnya dengan teliti sampai pandangannya berhenti pada satu syarat yang dicetak tebal. Cerpen harus ditulis dalam bahasa Bakumpai. ''Behhhh.''
Ia mengulang membaca kalimat itu seolah berharap menemukan pengecualian kecil yang bisa memberinya alasan untuk ikut tanpa harus mempelajari bahasa baru. Tetapi tidak ada, Bahasa Bakumpai adalah syarat mutlak.
Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan bahasa Banjar. Itu bahasa yang digunakan di rumah, di pasar, di sekolah, bahkan di obrolan santai dengan teman-teman. Bahasa Bakumpai hanya hadir sesekali di telinganya, biasanya ketika bertemu pedagang dari desa tertentu atau saat menghadiri acara keluarga yang mengundang kerabat jauh. Suaranya khas seperti ada alunan tertentu di setiap suku kata, tetapi artinya selalu menguap sebelum bisa ditangkap.
Logikanya tidak ada alasan untuk mengikuti lomba ini. Bagaimana mungkin menulis cerita utuh dalam bahasa yang tidak dikuasai. Eh tapiiii, justru alasan itu rasa ingin tahu menyelinap. Bagaimana jika?
Ia memandangi layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menyimpan poster itu ke galeri. Kalender digital dibuka lalu sebuah tanda diberikan pada tanggal tenggat pengumpulan. Tidak ada rencana besar di kepalanya hanya niat sederhana untuk ikut.
Malam itu di kamar kos yang sempit ia membayangkan dirinya duduk di panggung sebuah festival sastra. Cerpennya dibacakan di hadapan juri. Penonton menatap penuh rasa ingin tahu. Ia tidak yakin apakah itu akan menjadi momen kemenangan atau bahan tertawaan tetapi bayangan itu membuatnya tersenyum kecil. Bukan hadiah yang dikejar melainkan pengalaman menantang diri sendiri.
Langkah pertama yang terpikirkan mencari kamus bahasa Bakumpai di internet. Hasil pencarian muncul dalam hitungan detik. Ada beberapa artikel blog dan dipilihnya satu laman yang terlihat paling rapi. Dua kolom berdampingan. Satu berisi daftar kata Bakumpai, satu lagi terjemahan bahasa Indonesia.
Matanya menelusuri setiap baris dengan hati hati. Ada kata yang pendek dan terdengar akrab di telinga, tetapi banyak yang bunyinya asing dan membuat lidahnya ingin tergulung-guling saat mencoba mengucapkannya. Mulai lah menyalin beberapa kata yang menurutnya menarik ke buku catatan. Begitu mencoba menyusunnya menjadi kalimat, semuanya terasa aneh. Susunannya kaku, maknanya terputus putus. Prasangkanya. Seperti mencoba menyatukan potongan ''puzzle'' dari gambar yang berbeda.
Hari berikutnya dihabiskan untuk mencari sumber lain. Ia menonton video orang berbicara dalam bahasa Bakumpai. Ada satu video yang diputar berulang kali, menampilkan seorang berbicara dengan nada cepat dan mengalun. Setiap kata yang diucapkan terdengar seperti aliran air yang melewati bebatuan, indah namun sulit ditangkap maknanya. Ia mencoba menirukan pengucapannya, tetapi selalu berhenti di tengah karena ragu. Lagian sok-sokan, ngerti katanya saja tidak.
Setiap kali menemukan kata baru, ia memotret dan mencatatnya di ponsel. Beberapa kali ada dorongan untuk bertanya kepada orang di sekitarnya, namun rasa malu membuat langkahnya surut. Seperti, ''kamu itu orang sini kalau mau bahasa itu ya ke orang situ'', begitulah.
Sementara waktu terus berjalan. Tenggat lomba kian dekat, tetapi halaman dokumen cerpennya masih lebih banyak kosong daripada isinya. Paragraf pembuka sudah lumayan rapi, tetapi bagian inti cerita terasa hambar. Ia ragu apakah kosakata yang dipakai benar, atau justru akan membuat pembaca asli bahasa itu tertawa karena keliru.
Suatu siang, di koridor kampus yang sepi, ia baru dapat informasi kalau ada seorang teman sekelas yang logatnya berbeda. Ingatannya terpicu. Pernah mendengar teman itu mengatakan bahwa keluarganya berasal dari daerah yang menggunakan bahasa Bakumpai. Tanpa banyak pikir, ia menghampiri.
“Kau orang Bakumpai ya?” tanyanya.
“Iya, kenapa?” jawab teman itu sambil menoleh.
Ia menceritakan rencananya mengikuti lomba. Temannya tersenyum kecil, lalu bertanya
“Memangnya berapa hari lagi tenggatnya.?”
“Besok!” jawabnya singkat.
Keduanya tertawa pendek. Teman itu sedang terburu-buru sehingga mereka hanya berbicara sebentar. Dari sekian banyak kata yang ingin ditanyakan, hanya satu yang sempat ia minta untuk diterjemahkan. ‘Coba lagi’. Temannya meraih selembar kertas dan menulisnya.
''‘Sinde hindai’''
Dua kata itu kini berada di tangannya. Ia menatapnya lama. Bunyi yang sederhana, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatnya ingin terus mengulang. Ia belum tahu akan meletakkannya di bagian mana, tetapi ia yakin kata itu akan menjadi pusat cerita.
Malam terakhir sebelum batas pengumpulan, kamarnya hanya diterangi cahaya lampu meja yang meredup. Lingkar cahaya kuning itu jatuh di permukaan meja yang penuh tumpukan kertas, buku catatan terbuka, dan ponsel dengan layar yang terus menyala menampilkan kamus daringnya. Di sisi kanan, segelas merk kopi datu sudah dingin sejak beberapa jam lalu.
Layar laptop memperlihatkan dokumen cerpen yang belum selesai. Paragraf awal sudah tertulis rapi, memperkenalkan tokoh dan latar, tetapi bagian tengah dan akhir masih kosong. Ia memandangi kursor yang berkedip seolah mengejek. Tenggat pengumpulan hanya tinggal beberapa jam lagi.
Dua kata yang didapat siang itu terngiang di kepala. ''Sinde hindai.'' Ia mengucapkannya pelan, mencoba merasakan setiap suku kata di lidah. Ada getaran aneh, seperti dorongan untuk terus melangkah meskipun langkah sebelumnya goyah. Kata itu seperti bisikan yang membuatnya ingin mencoba lagi, meski tahu usahanya mungkin sia-sia.
Jemarinya mulai mengetik. Ia membiarkan kalimat mengalir tanpa terlalu memikirkan tata bahasa atau ketepatan kosakata. Ia menulis adegan seseorang berdiri di tepi aliran air, menatap riak yang tak pernah sama, merasakan ragu, lalu mendengar suara samar yang membisikkan kata itu. ''Sinde hindai.''
Sesekali ia berhenti untuk mencari kata baru di kamus daring. Sering kali hasil pencarian justru mengarah ke kosakata yang tak relevan dengan cerita. Ada kata yang artinya membuatnya tersenyum sendiri, ada pula yang membuatnya mengernyit karena artinya jauh dari dugaan awal. Namanya waktu tak memberi kesempatan untuk terlalu lama menimbang.
Jam dinding menunjukkan lewat tengah malam. Matanya berat, punggungnya pegal, dan konsentrasi mulai terpecah. Namun di tengah rasa lelah itu, ada bagian dari dirinya yang tak mau berhenti. Setiap kali rasa ragu muncul, ''sinde hindai'' kembali terucap, mengusir niat untuk menutup laptop.
Kalimat demi kalimat terbentuk, meski tidak semua memuaskan. Ia tahu cerita ini belum sempurna. Tetapi semakin ia mengetik, semakin ia merasa bahwa menyelesaikannya lebih penting daripada menunggu momen inspirasi yang mungkin tak akan datang.
Di halaman terakhir, ia menuliskan kata itu sekali lagi. ''Sinde hindai.'' Tidak ia beri terjemahan, tidak ia jelaskan. Biarlah pembaca menebak, atau membiarkan artinya menggantung di kepala mereka.
Fajar belum benar benar datang ketika ia mengetik kalimat terakhirnya. Di luar, suara langkah orang yang hendak berangkat kerja terdengar samar bercampur dengan kokok ayam yang bersahutan. Angin dini hari masuk lewat jendela yang setengah terbuka membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam.
Ia membaca kembali cerpennya dari awal. Ada bagian yang membuatnya tersenyum karena berhasil menghadirkan suasana yang diinginkan, tetapi ada pula bagian yang terasa canggung. Kosakata bahasa Bakumpai yang digunakan bisa dihitung dengan jari, sisanya adalah bahasa Indonesia yang diselipi beberapa terjemahan seadanya. Namun di bagian penutup, ''sinde hindai'' berdiri sendiri, dibiarkan tanpa penjelasan, seperti rahasia kecil yang hanya akan dimengerti oleh sebagian orang.
Tangannya sempat ragu di atas keyboard. Ia tahu karya itu jauh dari sempurna. Namun ia juga tahu, jika terlalu lama menunda, ia akan kehilangan keberanian untuk mengirimkannya. Lomba ini bukan tentang menampilkan kemampuan terbaik dalam bahasa Bakumpai, melainkan tentang berani mencoba menulis di luar bahasa ibu yang sudah menjadi zona nyaman.
Situs pengumpulan karya dibuka. Dokumen itu diunggah, judul diisi, formulir dilengkapi, lalu tombol kirim ditekan. Layar menampilkan pesan singkat bahwa karyanya telah diterima. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada rasa lega berlebihan, hanya detak jantung yang perlahan kembali normal.
Selesai tidak selesai, kumpul saja, pikirnya. Terserah penilai nanti.
Ia mematikan laptop dan bersandar di kursi. Di meja, kertas kecil dengan tulisan ''sinde hindai'' masih tergeletak. Ia meraihnya dan menempelkannya di dinding tepat di depan meja belajar. Dua kata itu kini menjadi pengingat bahwa setiap kegagalan hanyalah ajakan untuk mencoba lagi.
Beberapa hari kemudian, ia mendengar kabar bahwa lomba itu mendapatkan banyak peserta dari berbagai daerah. Sebagian besar adalah penutur asli bahasa Bakumpai. Ia tidak menaruh harapan besar pada hasilnya. Yang lebih penting adalah perjalanan yang sudah dilewati. Malam malam panjang, pencarian kata, rasa ragu, hingga tawa kecil ketika menemukan kosakata yang tak disangka artinya. Semua itu menjadi cerita tersendiri.
Entah nanti karyanya dibaca oleh juri dengan penuh apresiasi atau hanya sekilas dilirik sebelum dipinggirkan, ia tetap merasa bahwa langkah yang diambil sudah tepat. Sebab di luar semua penilaian, ada kepuasan pribadi yang tidak bisa diukur. Kepuasan karena telah melampaui batas yang sebelumnya ia buat sendiri.
Dan jika suatu hari nanti ada lomba serupa, ia tahu apa yang akan dilakukan. Mengingat kembali dua kata yang sederhana itu, lalu memulai lagi dari awal. ''Sinde hindai.''
Beberapa minggu kemudian, pesan singkat masuk ke ponselnya. Pengumuman pemenang lomba. Ia membukanya tanpa ekspetasi, hanya ingin tahu siapa yang berhasil membawa pulang hadiah. Namun matanya membesar ketika melihat namanya tercantum di urutan pertama.
Ia membacanya berkali kali memastikan tidak salah lihat. Rasa heran bercampur geli memenuhi pikirannya. Dalam hati ia membayangkan para juri yang mungkin kebingungan menilai tumpukan naskah yang sama-sama tidak sempurna. Rupanya jumlah peserta tidak banyak, dan sebagian besar mengalami kesulitan yang sama, bahkan ada yang mengaku menyerah sebelum cerita selesai.
Ia menertawakan nasib baik yang datang tak terduga. Menjadi juara bukan karena mahir, melainkan karena mau mencoba sampai tuntas. Kemenangan itu tidak membuatnya merasa paling hebat, tapi justru semakin mengingatkan bahwa setiap langkah, sekecil apapun, bisa membawanya pada hasil yang tak pernah dibayangkan.
Di dinding kamarnya, kertas kecil bertuliskan ''sinde hindai'' tetap menempel, kini dengan makna yang lebih dalam. Dua kata itu bukan hanya pengingat untuk mencoba lagi, tetapi juga tanda bahwa keberanian kadang menjadi kunci utama untuk menang.
Banjarmasin, Agustus 2025
[[Kategori:Cerpen]]
[[Kategori:Fiksi]]
[[Kategori:Bahan ajar]]
[[Kategori:Cerita pendek]]
pcwuz3w289xjgkptxwpat21bzwf01pf