Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.18 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Templat:Header 10 2964 118710 115361 2026-09-04T11:46:08Z Bennylin 425 118710 wikitext text/x-wiki {{#ifexist:{{BOOKTEMPLATE}}/Header |{{{{BOOKTEMPLATE}}/Header|{{{1|}}}|{{{2|}}}|{{{3|}}}|{{{4|}}}|{{{5|}}}|{{{6|}}} }} |<!-- make sure no parameters are removed --><includeonly>{{#switch:undef! |{{{title|undef!}}} |{{{author|undef!}}} |{{{section|undef!}}} |{{{previous|undef!}}} |{{{next|undef!}}} |{{{notes|undef!}}} = {{error|Template error: please do not remove empty parameters.}} }}</includeonly> {{(}}{{!}}style="width:100%; margin-bottom:5px; border:1px solid #ADA; background:#E4F2E4; text-align:center; font-size:0.9em;" id="headertemplate" {{!}}- {{!}}class="header_backlink" {{!}} {{#if:{{{previous|}}}|<span id="headerprevious">←{{{previous}}}</span>}} {{!}}class="header_title" {{!}} '''{{{title|Tanpa judul}}}''' {{#if:{{{override_author|}}}|<br /><i>{{{override_author}}}</i>|{{#if:{{{author}}}|{{#if:{{{section|}}}| |<br/>}}<i>oleh {{#ifeq:{{#expr:{{{author}}}}}|<strong class="error">Expression error: Unrecognised punctuation character "["</strong>|{{{author}}}|[[Pengarang:{{{author}}}|{{{author}}}]]|{{{author}}}}}</i>}}{{#if:{{{translator|}}}|<i>, diterjemahkan oleh {{{translator}}}</i> }}}}{{#if:{{{section|}}}|<br />{{{section|}}}}} {{!}}class="header_forelink" {{!}} {{#if:{{{next|}}}|<span id="headernext">{{{next}}}→</span>}} {{!}}{{)}} {{(}}{{!}} class="header_notes" {{!}}- {{!}} {{{notes}}} {{!}}{{)}} }}<includeonly>{{BookCat|filing=deep}}</includeonly><noinclude>{{documentation}}</noinclude> o1c70tku61l5t2r7nmzmaveji8kpyy5 Wikibuku:Pengubahan nama pengguna/Permintaan 4 4548 118678 118668 2026-09-03T16:15:04Z NtReinn 43802 <p 118678 wikitext text/x-wiki ‹›Gunakan halaman ini untuk mengajukan '''permintaan [[Wikibooks:perubahan nama pengguna|perubahan nama pengguna]] <u>Anda sendiri</u>'''. Bila tidak diperlukan, harap jangan meminta penggantian nama pengguna. Bila Anda sampai ke halaman ini karena disarankan untuk mengganti nama pengguna Anda oleh pengguna yang lain, mungkin Anda telah menggunakan salah satu kategori nama yang dilarang di Wikipedia Indonesia, yaitu menyesatkan, menghasut, memfitnah, mirip pengguna lain, promosi organisasi, merupakan alamat email, atau merupakan merek dagang terdaftar. Bila nama pengguna Anda masuk ke dalam salah satu kategori di atas, maka cepatlah meminta perubahan nama pengguna sebelum akun Anda diblok selamanya. * '''Bahasa Indonesia''' : Sampaikan usulan Anda dengan cara mengetikkan kode berikut ini di bagian bawah halaman (klik sunting terlebih dahulu): <pre> {{subst:gantinama|<nama lama>|<nama baru>|<alasan>}} -- ~~~~ </pre> * '''English''' : Tell us your request by typing the following code at the bottom of the page (click edit first) : <pre> {{subst:gantinama|<old name>|<new name>|<reason>}} -- ~~~~ </pre> Seorang pengurus [[Wikibooks:Birokrat|Birokrat]] akan membaca permintaan Anda dan mempertimbangkan usulan penggantian nama Anda. Bila alasan penggantian dirasa memiliki alasan yang kuat dan sudah sesuai [[Wikibooks:Nama pengguna|kebijakan nama pengguna di Wikipedia]], maka Birokrat tersebut akan melakukan penggantian nama pengguna Anda. Bila tidak, usulan Anda dapat ditolak. Anda hanya dapat melakukan usulan di halaman ini jika Anda masuk log dengan nama yang diusulkan untuk diubah tersebut. <!-- Jika Anda telah diblok sebelum Anda sempat meminta perubahan nama pengguna, maka Anda tidak dapat meminta perubahan nama pengguna. --> ---- oty6j2iotlc9xn3kcbjalu0cxfqe661 118684 118678 2026-09-04T08:23:27Z Bennylin 425 Mengembalikan suntingan oleh [[Special:Contributions/NtReinn|NtReinn]] ([[User talk:NtReinn|bicara]]) ke revisi terakhir oleh [[User:Rachmat04|Rachmat04]] 118668 wikitext text/x-wiki Gunakan halaman ini untuk mengajukan '''permintaan [[Wikibooks:perubahan nama pengguna|perubahan nama pengguna]] <u>Anda sendiri</u>'''. Bila tidak diperlukan, harap jangan meminta penggantian nama pengguna. Bila Anda sampai ke halaman ini karena disarankan untuk mengganti nama pengguna Anda oleh pengguna yang lain, mungkin Anda telah menggunakan salah satu kategori nama yang dilarang di Wikipedia Indonesia, yaitu menyesatkan, menghasut, memfitnah, mirip pengguna lain, promosi organisasi, merupakan alamat email, atau merupakan merek dagang terdaftar. Bila nama pengguna Anda masuk ke dalam salah satu kategori di atas, maka cepatlah meminta perubahan nama pengguna sebelum akun Anda diblok selamanya. * '''Bahasa Indonesia''' : Sampaikan usulan Anda dengan cara mengetikkan kode berikut ini di bagian bawah halaman (klik sunting terlebih dahulu): <pre> {{subst:gantinama|<nama lama>|<nama baru>|<alasan>}} -- ~~~~ </pre> * '''English''' : Tell us your request by typing the following code at the bottom of the page (click edit first) : <pre> {{subst:gantinama|<old name>|<new name>|<reason>}} -- ~~~~ </pre> Seorang pengurus [[Wikibooks:Birokrat|Birokrat]] akan membaca permintaan Anda dan mempertimbangkan usulan penggantian nama Anda. Bila alasan penggantian dirasa memiliki alasan yang kuat dan sudah sesuai [[Wikibooks:Nama pengguna|kebijakan nama pengguna di Wikipedia]], maka Birokrat tersebut akan melakukan penggantian nama pengguna Anda. Bila tidak, usulan Anda dapat ditolak. Anda hanya dapat melakukan usulan di halaman ini jika Anda masuk log dengan nama yang diusulkan untuk diubah tersebut. <!-- Jika Anda telah diblok sebelum Anda sempat meminta perubahan nama pengguna, maka Anda tidak dapat meminta perubahan nama pengguna. --> ---- dnioctbfed9sq0fehxt10isg2100n17 118687 118684 2026-09-04T08:32:56Z Bennylin 425 118687 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman permohonan pengubahan nama pengguna. Bila Anda sampai ke halaman ini karena disarankan untuk mengganti nama pengguna Anda oleh pengguna yang lain, mungkin Anda telah menggunakan salah satu kategori nama yang dilarang di Wikibuku bahasa Indonesia, yaitu nama pengguna yang menyesatkan, menghasut, memfitnah, mirip pengguna lain, promosi organisasi, merupakan alamat surel, atau merupakan merek dagang terdaftar. Bila nama pengguna Anda masuk ke dalam salah satu kategori di atas, maka cepatlah meminta pengubahan nama pengguna sebelum akun Anda diblok selamanya. Jika Anda belum memiliki kontribusi yang signifikan tetapi diminta untuk mengganti nama, atau Anda merupakan kontributor anonim yang belum membuat akun yang ingin mengganti/mengubah nama pengguna Anda, silakan [[Istimewa:Masuk log/signup|buat akun baru]]. Nama pengguna baru yang Anda inginkan harus diisi. == Pengubahan otomatis == Anda dapat meminta pengubahan nama pengguna melalui formulir '''[[Istimewa:GlobalRenameRequest|pengubahan nama pengguna]]'''. Sebelum mengajukan permohonan pengubahan nama pengguna, pastikan membaca [[w:Wikipedia:Nama pengguna|kebijakan penggunaan nama pengguna]].{{br}} Jika Anda ingin meninggalkan proyek Wikimedia selama-lamanya, Anda dapat mengajukan permohonan penghapusan akun '''[[Istimewa:GlobalVanishRequest|di sini]]'''. Baca ketentuan penghapusan akun '''[[m:Special:MyLanguage/Right to vanish|di sini]]'''. 46mcn7xqu11isi5zu57uygwo1vkg0h3 118690 118687 2026-09-04T08:33:20Z Bennylin 425 Bennylin memindahkan halaman [[Wikibuku:Perubahan nama pengguna/Permintaan]] ke [[Wikibuku:Pengubahan nama pengguna/Permintaan]] 118687 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman permohonan pengubahan nama pengguna. Bila Anda sampai ke halaman ini karena disarankan untuk mengganti nama pengguna Anda oleh pengguna yang lain, mungkin Anda telah menggunakan salah satu kategori nama yang dilarang di Wikibuku bahasa Indonesia, yaitu nama pengguna yang menyesatkan, menghasut, memfitnah, mirip pengguna lain, promosi organisasi, merupakan alamat surel, atau merupakan merek dagang terdaftar. Bila nama pengguna Anda masuk ke dalam salah satu kategori di atas, maka cepatlah meminta pengubahan nama pengguna sebelum akun Anda diblok selamanya. Jika Anda belum memiliki kontribusi yang signifikan tetapi diminta untuk mengganti nama, atau Anda merupakan kontributor anonim yang belum membuat akun yang ingin mengganti/mengubah nama pengguna Anda, silakan [[Istimewa:Masuk log/signup|buat akun baru]]. Nama pengguna baru yang Anda inginkan harus diisi. == Pengubahan otomatis == Anda dapat meminta pengubahan nama pengguna melalui formulir '''[[Istimewa:GlobalRenameRequest|pengubahan nama pengguna]]'''. Sebelum mengajukan permohonan pengubahan nama pengguna, pastikan membaca [[w:Wikipedia:Nama pengguna|kebijakan penggunaan nama pengguna]].{{br}} Jika Anda ingin meninggalkan proyek Wikimedia selama-lamanya, Anda dapat mengajukan permohonan penghapusan akun '''[[Istimewa:GlobalVanishRequest|di sini]]'''. Baca ketentuan penghapusan akun '''[[m:Special:MyLanguage/Right to vanish|di sini]]'''. 46mcn7xqu11isi5zu57uygwo1vkg0h3 Wikibuku:Pengubahan nama pengguna 4 4549 118685 14130 2026-09-04T08:25:30Z Bennylin 425 118685 wikitext text/x-wiki [[Wikibooks:Nama pengguna|Nama pengguna]] yang telah Anda pilih bukanlah sesuatu yang diukir di atas batu. Jika diminta, [[Wikibooks:birokrat|birokrat]] dapat '''mengubah nama pengguna''', memindahkan semua pengaturan akun dan sumbangan suntingan ke nama baru tersebut. == Mengenai perubahan nama pengguna == Proses perubahan nama membebani server Wikimedia; karenanya sangat dianjurkan untuk menempuh alternatif-alternatif lain. * Tolong pertimbangkan untuk mengganti [[Bantuan:tanda tangan|tanda tangan]] Anda. Hal ini akan mengganti "tampilan publik" Anda di halaman-halaman pembicaraan tanpa membutuhkan modifikasi yang membebani basis data. Walaupun demikian, semua suntingan Anda akan tetap diberikan untuk akun yang sama. * Jika Anda memiliki jumlah suntingan yang sangat kecil, akan mudah untuk Anda jika Anda langsung membuat akun baru (walaupun nama yang terlalu mirip dengan nama yang telah ada akan secara otomatis diblokir untuk dibuat). Anda dapat menghentikan penggunaan akun lama. Akun ini tidak harus dihapus; akun yang tak digunakan tidak berbahaya dan dapat diabaikan dengan aman. Birokrat tidak dapat menggabungkan dua akun yang telah ada, atau untuk mengganti atribusi suntingan yang dibuat tanpa akun (kontribusi dari suatu alamat IP). Hanya akun terdaftar yang dapat diubah namanya, dan perubahan ini hanya dapat dilakukan ke nama pengguna baru yang belum digunakan. Ini berarti bahwa '''Anda hanya dapat merubah nama menjadi akun yang belum ada'''. Nama pengguna yang telah diminta dianggap "telah dipesan" sampai suatu permintaan diterima atau ditolak. Jika suatu akun dibuat dengan nama tersebut pada masa ini, akun tersebut akan dianggap sebagai upaya mengacaukan. Kadang seseorang akan meminta perubahan nama menjadi suatu akun yang telah ada tapi belum membuat suntingan apapun. Walaupun hal ini logis, tidak ada kebijakan yang mengatur hal ini dan biasanya permintaan semacam ini tetap akan ditolak. == Persyaratan dan prosedur == Harap ikuti prosedur berikut secara seksama atau permintaan Anda tidak akan dipenuhi. # Periksa bahwa nama baru yang Anda minta: #* tidak melanggar [[Wikibooks:Nama pengguna#Nama pengguna yang dilarang|kebijakan nama pengguna yang tidak layak]]; #* belum digunakan. Verifikasikan hal ini dengan melakukan pencarian di [[Istimewa:Listusers|daftar pengguna]]. Pastikan Anda memberikan huruf besar pada huruf pertama di nama pengguna. Jika Anda tidak melakukan hal ini, pencarian akan gagal; Wikipedia bahasa Indonesia tidak mengijinkan nama pengguna yang diawali dengan huruf kecil. CATATAN: Jangan menggunakan suatu nama yang telah ada. # Pastikan bahwa Anda masuk log dengan akun yang relevan. Untuk alasan keamanan, birokrat tidak akan melaksanakan perubahan nama jika permintaan berasal dari pengguna lain atau suatu alamat IP. # Isi formulir '''[[Istimewa:GlobalRenameRequest|permintaan pengubahan nama pengguna]]''' dengan menggunakan format yang dijelaskan di sana. == Jika dipenuhi == # Akun lama Anda tidak akan ada di basis data. Semua suntingan dan data pengguna lain dari akun lama Anda, termasuk preferensi, daftar pantauan, dan kata sandi, akan diubah ke akun baru Anda. # Jika birokrat belum melakukan hal tersebut, silakan [[Bantuan:Pemindahan|pindahkan]] halaman pengguna dan pembicaraan pengguna Anda ke nama baru yang tepat. # Jika Anda ingin mencegah penggunaan nama lama Anda oleh orang lain. Buat ulang akun lama Anda dan mintalah pengurus untuk memblokir akun lama. Hal ini biasanya tidak diperlukan. # Implikasi kerahasiaan dari perubahan nama pengguna adalah: Permintaan Anda akan dipindahkan ke arsip Wikipedia dan perubahan nama itu sendiri akan tercatat di [[Istimewa:Log/renameuser|log perubahan nama]]. Hal ini dilakukan untuk transparansi sehingga semua Wikipedian mendapat informasi mengenai perubahan nama yang telah dilakukan. Tidak dimungkinkan untuk merubah nama akun tanpa dicatat dalam log. rv15f6zbrerrjyxtta2jymxy99icgys 118686 118685 2026-09-04T08:27:03Z Bennylin 425 118686 wikitext text/x-wiki [[Wikibooks:Nama pengguna|Nama pengguna]] yang telah Anda pilih bukanlah sesuatu yang diukir di atas batu. Jika diminta, [[Wikibooks:birokrat|birokrat]] dapat '''mengubah nama pengguna''', memindahkan semua pengaturan akun dan sumbangan suntingan ke nama baru tersebut. == Mengenai perubahan nama pengguna == Proses perubahan nama membebani server Wikimedia; karenanya sangat dianjurkan untuk menempuh alternatif-alternatif lain. * Tolong pertimbangkan untuk mengganti [[Bantuan:tanda tangan|tanda tangan]] Anda. Hal ini akan mengganti "tampilan publik" Anda di halaman-halaman pembicaraan tanpa membutuhkan modifikasi yang membebani basis data. Walaupun demikian, semua suntingan Anda akan tetap diberikan untuk akun yang sama. * Jika Anda memiliki jumlah suntingan yang sangat kecil, akan mudah untuk Anda jika Anda langsung membuat akun baru (walaupun nama yang terlalu mirip dengan nama yang telah ada akan secara otomatis diblokir untuk dibuat). Anda dapat menghentikan penggunaan akun lama. Akun ini tidak harus dihapus; akun yang tak digunakan tidak berbahaya dan dapat diabaikan dengan aman. Birokrat tidak dapat menggabungkan dua akun yang telah ada, atau untuk mengganti atribusi suntingan yang dibuat tanpa akun (kontribusi dari suatu alamat IP). Hanya akun terdaftar yang dapat diubah namanya, dan perubahan ini hanya dapat dilakukan ke nama pengguna baru yang belum digunakan. Ini berarti bahwa '''Anda hanya dapat merubah nama menjadi akun yang belum ada'''. Nama pengguna yang telah diminta dianggap "telah dipesan" sampai suatu permintaan diterima atau ditolak. Jika suatu akun dibuat dengan nama tersebut pada masa ini, akun tersebut akan dianggap sebagai upaya mengacaukan. Kadang seseorang akan meminta perubahan nama menjadi suatu akun yang telah ada tapi belum membuat suntingan apapun. Walaupun hal ini logis, tidak ada kebijakan yang mengatur hal ini dan biasanya permintaan semacam ini tetap akan ditolak. == Persyaratan dan prosedur == Harap ikuti prosedur berikut secara seksama atau permintaan Anda tidak akan dipenuhi. # Isi formulir '''[[Istimewa:GlobalRenameRequest|permintaan pengubahan nama pengguna]]''' dengan menggunakan format yang dijelaskan di sana. # Pastikan bahwa Anda masuk log dengan akun yang relevan. # Periksa bahwa nama baru yang Anda minta: #* tidak melanggar [[Wikibooks:Nama pengguna#Nama pengguna yang dilarang|kebijakan nama pengguna yang tidak layak]]; #* belum digunakan. Verifikasikan hal ini dengan melakukan pencarian di [[Istimewa:Listusers|daftar pengguna]]. Pastikan Anda memberikan huruf besar pada huruf pertama di nama pengguna. Jika Anda tidak melakukan hal ini, pencarian akan gagal; Wikipedia bahasa Indonesia tidak mengijinkan nama pengguna yang diawali dengan huruf kecil. CATATAN: Jangan menggunakan suatu nama yang telah ada. == Jika dipenuhi == # Akun lama Anda tidak akan ada di basis data. Semua suntingan dan data pengguna lain dari akun lama Anda, termasuk preferensi, daftar pantauan, dan kata sandi, akan diubah ke akun baru Anda. # Jika birokrat belum melakukan hal tersebut, silakan [[Bantuan:Pemindahan|pindahkan]] halaman pengguna dan pembicaraan pengguna Anda ke nama baru yang tepat. # Jika Anda ingin mencegah penggunaan nama lama Anda oleh orang lain. Buat ulang akun lama Anda dan mintalah pengurus untuk memblokir akun lama. Hal ini biasanya tidak diperlukan. # Implikasi kerahasiaan dari perubahan nama pengguna adalah: Permintaan Anda akan dipindahkan ke arsip Wikipedia dan perubahan nama itu sendiri akan tercatat di [[Istimewa:Log/renameuser|log perubahan nama]]. Hal ini dilakukan untuk transparansi sehingga semua Wikipedian mendapat informasi mengenai perubahan nama yang telah dilakukan. Tidak dimungkinkan untuk merubah nama akun tanpa dicatat dalam log. og942kfno3doywmb3z0ywswtaatb7g7 118688 118686 2026-09-04T08:33:20Z Bennylin 425 Bennylin memindahkan halaman [[Wikibuku:Perubahan nama pengguna]] ke [[Wikibuku:Pengubahan nama pengguna]] 118686 wikitext text/x-wiki [[Wikibooks:Nama pengguna|Nama pengguna]] yang telah Anda pilih bukanlah sesuatu yang diukir di atas batu. Jika diminta, [[Wikibooks:birokrat|birokrat]] dapat '''mengubah nama pengguna''', memindahkan semua pengaturan akun dan sumbangan suntingan ke nama baru tersebut. == Mengenai perubahan nama pengguna == Proses perubahan nama membebani server Wikimedia; karenanya sangat dianjurkan untuk menempuh alternatif-alternatif lain. * Tolong pertimbangkan untuk mengganti [[Bantuan:tanda tangan|tanda tangan]] Anda. Hal ini akan mengganti "tampilan publik" Anda di halaman-halaman pembicaraan tanpa membutuhkan modifikasi yang membebani basis data. Walaupun demikian, semua suntingan Anda akan tetap diberikan untuk akun yang sama. * Jika Anda memiliki jumlah suntingan yang sangat kecil, akan mudah untuk Anda jika Anda langsung membuat akun baru (walaupun nama yang terlalu mirip dengan nama yang telah ada akan secara otomatis diblokir untuk dibuat). Anda dapat menghentikan penggunaan akun lama. Akun ini tidak harus dihapus; akun yang tak digunakan tidak berbahaya dan dapat diabaikan dengan aman. Birokrat tidak dapat menggabungkan dua akun yang telah ada, atau untuk mengganti atribusi suntingan yang dibuat tanpa akun (kontribusi dari suatu alamat IP). Hanya akun terdaftar yang dapat diubah namanya, dan perubahan ini hanya dapat dilakukan ke nama pengguna baru yang belum digunakan. Ini berarti bahwa '''Anda hanya dapat merubah nama menjadi akun yang belum ada'''. Nama pengguna yang telah diminta dianggap "telah dipesan" sampai suatu permintaan diterima atau ditolak. Jika suatu akun dibuat dengan nama tersebut pada masa ini, akun tersebut akan dianggap sebagai upaya mengacaukan. Kadang seseorang akan meminta perubahan nama menjadi suatu akun yang telah ada tapi belum membuat suntingan apapun. Walaupun hal ini logis, tidak ada kebijakan yang mengatur hal ini dan biasanya permintaan semacam ini tetap akan ditolak. == Persyaratan dan prosedur == Harap ikuti prosedur berikut secara seksama atau permintaan Anda tidak akan dipenuhi. # Isi formulir '''[[Istimewa:GlobalRenameRequest|permintaan pengubahan nama pengguna]]''' dengan menggunakan format yang dijelaskan di sana. # Pastikan bahwa Anda masuk log dengan akun yang relevan. # Periksa bahwa nama baru yang Anda minta: #* tidak melanggar [[Wikibooks:Nama pengguna#Nama pengguna yang dilarang|kebijakan nama pengguna yang tidak layak]]; #* belum digunakan. Verifikasikan hal ini dengan melakukan pencarian di [[Istimewa:Listusers|daftar pengguna]]. Pastikan Anda memberikan huruf besar pada huruf pertama di nama pengguna. Jika Anda tidak melakukan hal ini, pencarian akan gagal; Wikipedia bahasa Indonesia tidak mengijinkan nama pengguna yang diawali dengan huruf kecil. CATATAN: Jangan menggunakan suatu nama yang telah ada. == Jika dipenuhi == # Akun lama Anda tidak akan ada di basis data. Semua suntingan dan data pengguna lain dari akun lama Anda, termasuk preferensi, daftar pantauan, dan kata sandi, akan diubah ke akun baru Anda. # Jika birokrat belum melakukan hal tersebut, silakan [[Bantuan:Pemindahan|pindahkan]] halaman pengguna dan pembicaraan pengguna Anda ke nama baru yang tepat. # Jika Anda ingin mencegah penggunaan nama lama Anda oleh orang lain. Buat ulang akun lama Anda dan mintalah pengurus untuk memblokir akun lama. Hal ini biasanya tidak diperlukan. # Implikasi kerahasiaan dari perubahan nama pengguna adalah: Permintaan Anda akan dipindahkan ke arsip Wikipedia dan perubahan nama itu sendiri akan tercatat di [[Istimewa:Log/renameuser|log perubahan nama]]. Hal ini dilakukan untuk transparansi sehingga semua Wikipedian mendapat informasi mengenai perubahan nama yang telah dilakukan. Tidak dimungkinkan untuk merubah nama akun tanpa dicatat dalam log. og942kfno3doywmb3z0ywswtaatb7g7 Pengguna:Jakili 99 2 19556 118680 118669 2026-09-04T06:30:37Z ~2026-47656-15 43790 /* */ 118680 wikitext text/x-wiki Muhammad Lutfi (Sastrawan Indonesia) Muhammad Lutfi, S.S., M.Pd. adalah seorang sastrawan, penyair, penulis, cendekiawan dan akademisi dari Indonesia. Lahir di Pati pada tanggal 15 Oktober 1997. Bertempat tinggal di Pati, Jawa Tengah. Merupakan pendiri dari komunitas 'Rumput Sastra'. Sekaligus pendiri dari Masyarakat Filolog Indonesia, sebuah persatuan filolog yang menjembatani diskusi dan dialog pernaskahan kuno. Sekaligus pendiri dari Gerakan Mahasiswa Demokrasi Indonesia (GMDI), Sebuah organisasi berpaham demokrasi pancasila sebagai asasnya. Sebagai jurnalis di Koran Parlemen. Putra dari H. Slamet Suladi dan Hj. Siti Salamah ini menyukai dunia sastra, budaya, dan kepenulisan sejak masih kelas 4 SD karena suka membaca buku di pustaka milik ayahnya dan latihan mengarang semasa liburan sekolah. Ia memulai pendidikannya di SD N 1 Tanjungsari, SMP N 1 Jakenan, SMA N 2 Pati, dan S1 Sastra Indonesia, FIB, UNS, Surakarta (lulus pada tahun 2020 dan mendapatkan gelar Sarjana Sastra), S2 Pendidikan Bahasa Indonesia diselesaikan di UNNES pada tahun 2023. Bakat sastra diteruskannya ketika bertemu Dandang A. Dahlan sebagai gurunya. Di perkuliahan aktif mengikuti kajian prosa oleh dosennya Riannawati dan kajian drama oleh Albertus Prasojo. Tokoh dunia teater yang membuatnya tertarik adalah Hanindawan yang sebagai dosennya di UNS. Lulus dengan fokus kajian pada Puisi dengan bimbingan dosennya yang juga sastrawan bernama Wieranta. Fokus bidang Filsafat yang disukainya adalah Hegel, Nietzche, dan nasionalisme Soekarno. Menerbitkan buku pertamanya saat jadi mahasiswa di UNS. Terkadang ke gudang perpustakaan kampus untuk membaca karya dari Lorca, Rimbaud, dan Ernest Hemingway, Shakesphere, dan Goenawan Mohamad. Esai karya Goenawan Mohamad adalah esai kesukaan kolektif oleh Muhammad Lutfi. Karyanya dimuat di Kompas,Bali POS, Majalah Pusat Badan Bahasa, Majalah Karas Balai Bahasa, Majalah Sunday, Apajake, Amanah Sastra, Solopos, Koran Suara Sarawak, majalah Elipsis, Tirastimes, Koran Malaysia. Merupakan penyair Asean pada komunitas penyair Gaksa dan Bahana. Pada tahun (2016) penulis mendapat undangan dalam antologi puisi Matahari Cinta Samudra Kata (Taman Ismail Marzuki, DKJ, Jakarta, 2016). Kemudian dokumentasi biografi penyair nasional Indonesia (HPI, DKJ, 2016). Puisinya yang berjudul ‘Siapa Patriot Kini’ dalam antologi puisi HELP (Tsani Media, 2016) diterjemahkan ke dalam 5 bahasa asing. Berikut buku antologi puisi karya penulis yang sudah terbit: Kelir (Kamboja Merah Publishing, 2018), Kumpulan Puisi Kenangan (Ajrie Publisher, 2017), Mata Sengsara (Guepedia, 2019), Bunga Mawar Hitam (Guepedia, 2019), Soleh Spiritual dan Soleh Sosial (Guepedia, 2019), Gugat (Guepedia, 2020), Memo Rakyat (Guepedia, 2020), Taka (Guepedia, 2020), Aku dari East City (Guepedia, 2020). Sehimpun Haiku Malam Kekasih (JM Publisher, 2021), Balada Untung Suropati ( Ebiz Publisher). Selain menulis dan menerbitkan buku puisi, penulis juga menulis buku cerpen yang sudah diterbitkan: Tabula Rasa (Tidar Media, 2020), Pelaut (Innovasi Publishing, 2020), Bunga Dalam Air (CMG, 2021), Lorong (Ebiz Publisher), Khianat. Selain itu juga, penulis menerbitkan buku ‘serat falsafah Jawa’: Serat Tri Aji (Tidar Media, 2020), Kakawin Wiradarma (Guepedia, 2021), WiracaritaTejamantri (2023), Suluk Bagong Kajoran, Sukala Parwa. Buku naskah drama: Asuh (Lutfigilang Publishing, 2021), Elegi (Ebiz Publisher), Murtad, Ngek Geng. Buku Novela: Berlayar (Innovasi Publishing, 2021), Senja (Ebiz Publisher), Bisma Pahlawan Hidup Kembali (Ebiz Publisher), Zahra dan Kotak Pandora Ajaib (Ebiz Publisher). Buku Ajar:Sastra Pembebasan, Sastra Mistik, Pengkajian Puisi, Sastra Profetik, Kritik Sastra dan Aplikasinya pada Puisi Chairil Anwar, Semiotika Riffaterre dan Penerapannya, (Filsafat, Bahasa, dan Sastra), Mengenal Sastra, Resepsi Sastra, Pengantar Linguistik Umum, Kajian Postkolonialisme Sajak-sajak Chairil Anwar (2024), Telaah Prosa Studi Kasus Cerpen, Implikasi Psikoanalisis Sigmun Freud Dalam Teks Sastra Naskah Drama (Nagapustaka,2026). Buku Kebudayaan atau esai: Sastra dan Relevansinya dalam Agama dan Politik, SAKEBU, GORO-GORO PETRUK BAJINGUK. Penulis selalu menulis karya puisi, cerpen, novel, naskah drama dan monolog. Berikut beberapa artikel karya penulis: Galeri Seni ISI Surakart (Artspace, 2018), Anoman sang Intelijen dalam Epos Ramayana (Berdikari, 2019), Mahasiswa Sastra, Mahasiswa Intelektual (Indonesiana, 2019). Undangan dan beberapa forum sastra dan festifal sastra yang pernah diikuti: kemah sastra UGM 2026, Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi 2024, Kongres Bahasa Indonesia XII-2023 (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), LIFT VI-2022 Egypt, Undangan Sayembara Naskah Puisi DKJ 2023, Undangan Sayembara Naskah Teater DKJ 2023, Baca Puisi Internasional Writer Club Lintas Benua 2023, Pengajaran BIPA YALE 2023, Temu penyair Asia Tenggara 2022, Banjarbaru’s Rainy Day Festival (2017), Senyuman Lembah Ijen (Radar Banyuwangi, 2018), JKP (Bali, 2017), Puisi Asian (IAIN Purwokerto, 2017), GMB (2016), Penulisan Puisi Anak (Prasidatama, Balai Bahasa JATENG, 2019), pembacaan puisi penyair Asean komunitas Bahana (2021), pembacaan puisi penyair Asean komunitas Gaksa (2021). Cerpennya terangkum dalam beberapa antologi berepenyair lain: Malam yang terjaga (Cerpenmu, 2017), Foto Album (Anamerya, 2015), Cinta di Kediri (Puan.co, 2017). Karya Syiirnya: Syiir Pangapuran (Duta Islam, 2020), Syiir Ngaku Lepat (Ponpes.net, 2018), Syiir Suluk Terang-Terang (Bengkulutoday, 2019), Syiir Harapan Bangsa (Koran Pati, 2018), Syiir Serat Jayabaya, Syiir Zaman Semono. Beberapa puisinya diadaptasi menjadi lagu sebanyak 300 judul lagu dari sumber (LaguIndieMuhammadLutfi_youtube), antara lain: Malam, Malam Punama, Indonesiaku, Serentak, Pulau, Paksa, dll. Buku antologi puisi bersama peyair nasional: Surat untuk Kaki Langit Palestina (Antara Publishing, 2018), Kenangan Semalam di Cianjur (Fam Publishing, 2016), Indonesia 2030 (2018), Dongeng Negri Jauh (Tidar Media, 2018), Majalah Simalaba, Balai Bahasa JATENG, Mengunyah Geram (2017), EMB (2016), Berucaplah Padaku (Mawar Publisher, 2016), Peduli Hutan (Tuas Media, 2016), Requiem Tiada Henti (Competition Asean Poem, 2017), Hidupku (Elmisa Publisher, 2017), Rindu (Rumah Kayu Indonesia, 2017), Cerpen Sabana Pustaka, 2017), sky magazine (2020), Buku antologi cerpen bersama penyair nasional: Kumpulan Cerita Mini (Harasi, 2016), Malam yang Terjaga (Sabana Pustaka), Kumcer (Nahima Press, 2015), Puisi Bersama Bupati Pati (I AM Publishing 2020), Memoar Didi Kempot (DIOMEDIA 2020), MEMOQR Sapardi Djoko Damono (Diomedia 2020), Puisi Untuk Umaiyah (2022). Penulis selalu menulis di media masa lokal maupun nasional, baik di media cetak nasional maupun Malaysia. Berikut yang memuat karya-karya penulis: takanta, potret online, lamuri, radar pagi, estetikapers, koran Pati, koran Blora, marhaenislokajaya, suku sastra, sastranesia, normantis, koran amanah Jakarta, independhent, siswapedia, saluran sebelas UNS, kronfontasi, edusiana, sepenuhnya, asyik-asyik, lahir sajak, riau realita, majalah simalaba, satu bahasa, puisina, koran soearamoeria. Prestasi dan penghargaan yang pernah diraih: juara 3 puisi Asia di Malaysia, juara 1 puisi Sastra media (2020),juara 1 penulisan puisi Sastramedia (2021),juara 3 kaligrafi (2004), juara 3 melukis (2005), juara 1 cerdas cermat pramuka (2011), juara 2 penulisan puisi selektas UNS (2016), juara 4 penulisan puisi PLPI (2020), dan penulis favorit di tidarmedia, juara faforit kedua pantun dari Wikipedia, cerpennya berjudul Bunga Dalam Air masuk nominasi penghargaan cerpen pilihan Apajake, juara pertama penulisan opini dengan judul Pertanian Masa Darurat di SMI. Selain menulis, penulis juga terkenal sebagai pelukis. Lukisannya yang berjudul ‘Api Perjuangan’ mendapatkan undangan untuk pameran lukisan bersama Keluarga Seni Rupa Tasik (2020), pameran lukisan abstrak di Artiknesia dengan judul lukisan "Harimau" (2023). Penulis favorit pantun (Langit Biru, 2021). dha94ubd9ik3pnt0mih9wnuu00raun4 Modul:TableTools 828 20180 118677 79942 2026-09-03T12:55:13Z Hamish 31424 Update from [[d:Special:GoToLinkedPage/enwiki/Q15408619|master]] using [[mw:Synchronizer| #Synchronizer]] 118677 Scribunto text/plain ------------------------------------------------------------------------------------ -- TableTools -- -- -- -- This module includes a number of functions for dealing with Lua tables. -- -- It is a meta-module, meant to be called from other Lua modules, and should not -- -- be called directly from #invoke. -- ------------------------------------------------------------------------------------ local libraryUtil = require('libraryUtil') local p = {} -- Define often-used variables and functions. local floor = math.floor local infinity = math.huge local checkType = libraryUtil.checkType local checkTypeMulti = libraryUtil.checkTypeMulti ------------------------------------------------------------------------------------ -- isPositiveInteger -- -- This function returns true if the given value is a positive integer, and false -- if not. Although it doesn't operate on tables, it is included here as it is -- useful for determining whether a given table key is in the array part or the -- hash part of a table. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.isPositiveInteger(v) return type(v) == 'number' and v >= 1 and floor(v) == v and v < infinity end ------------------------------------------------------------------------------------ -- isNan -- -- This function returns true if the given number is a NaN value, and false if -- not. Although it doesn't operate on tables, it is included here as it is useful -- for determining whether a value can be a valid table key. Lua will generate an -- error if a NaN is used as a table key. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.isNan(v) return type(v) == 'number' and v ~= v end ------------------------------------------------------------------------------------ -- shallowClone -- -- This returns a clone of a table. The value returned is a new table, but all -- subtables and functions are shared. Metamethods are respected, but the returned -- table will have no metatable of its own. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.shallowClone(t) checkType('shallowClone', 1, t, 'table') local ret = {} for k, v in pairs(t) do ret[k] = v end return ret end ------------------------------------------------------------------------------------ -- removeDuplicates -- -- This removes duplicate values from an array. Non-positive-integer keys are -- ignored. The earliest value is kept, and all subsequent duplicate values are -- removed, but otherwise the array order is unchanged. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.removeDuplicates(arr) checkType('removeDuplicates', 1, arr, 'table') local isNan = p.isNan local ret, exists = {}, {} for _, v in ipairs(arr) do if isNan(v) then -- NaNs can't be table keys, and they are also unique, so we don't need to check existence. ret[#ret + 1] = v elseif not exists[v] then ret[#ret + 1] = v exists[v] = true end end return ret end ------------------------------------------------------------------------------------ -- numKeys -- -- This takes a table and returns an array containing the numbers of any numerical -- keys that have non-nil values, sorted in numerical order. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.numKeys(t) checkType('numKeys', 1, t, 'table') local isPositiveInteger = p.isPositiveInteger local nums = {} for k in pairs(t) do if isPositiveInteger(k) then nums[#nums + 1] = k end end table.sort(nums) return nums end ------------------------------------------------------------------------------------ -- affixNums -- -- This takes a table and returns an array containing the numbers of keys with the -- specified prefix and suffix. For example, for the table -- {a1 = 'foo', a3 = 'bar', a6 = 'baz'} and the prefix "a", affixNums will return -- {1, 3, 6}. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.affixNums(t, prefix, suffix) checkType('affixNums', 1, t, 'table') checkType('affixNums', 2, prefix, 'string', true) checkType('affixNums', 3, suffix, 'string', true) local function cleanPattern(s) -- Cleans a pattern so that the magic characters ()%.[]*+-?^$ are interpreted literally. return s:gsub('([%(%)%%%.%[%]%*%+%-%?%^%$])', '%%%1') end prefix = prefix or '' suffix = suffix or '' prefix = cleanPattern(prefix) suffix = cleanPattern(suffix) local pattern = '^' .. prefix .. '([1-9]%d*)' .. suffix .. '$' local nums = {} for k in pairs(t) do if type(k) == 'string' then local num = mw.ustring.match(k, pattern) if num then nums[#nums + 1] = tonumber(num) end end end table.sort(nums) return nums end ------------------------------------------------------------------------------------ -- numData -- -- Given a table with keys like {"foo1", "bar1", "foo2", "baz2"}, returns a table -- of subtables in the format -- {[1] = {foo = 'text', bar = 'text'}, [2] = {foo = 'text', baz = 'text'}}. -- Keys that don't end with an integer are stored in a subtable named "other". The -- compress option compresses the table so that it can be iterated over with -- ipairs. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.numData(t, compress) checkType('numData', 1, t, 'table') checkType('numData', 2, compress, 'boolean', true) local ret = {} for k, v in pairs(t) do local prefix, num = mw.ustring.match(tostring(k), '^([^0-9]*)([1-9][0-9]*)$') if num then num = tonumber(num) local subtable = ret[num] or {} if prefix == '' then -- Positional parameters match the blank string; put them at the start of the subtable instead. prefix = 1 end subtable[prefix] = v ret[num] = subtable else local subtable = ret.other or {} subtable[k] = v ret.other = subtable end end if compress then local other = ret.other ret = p.compressSparseArray(ret) ret.other = other end return ret end ------------------------------------------------------------------------------------ -- compressSparseArray -- -- This takes an array with one or more nil values, and removes the nil values -- while preserving the order, so that the array can be safely traversed with -- ipairs. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.compressSparseArray(t) checkType('compressSparseArray', 1, t, 'table') local ret = {} local nums = p.numKeys(t) for _, num in ipairs(nums) do ret[#ret + 1] = t[num] end return ret end ------------------------------------------------------------------------------------ -- sparseIpairs -- -- This is an iterator for sparse arrays. It can be used like ipairs, but can -- handle nil values. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.sparseIpairs(t) checkType('sparseIpairs', 1, t, 'table') local nums = p.numKeys(t) local i = 0 local lim = #nums return function () i = i + 1 if i <= lim then local key = nums[i] return key, t[key] else return nil, nil end end end ------------------------------------------------------------------------------------ -- size -- -- This returns the size of a key/value pair table. It will also work on arrays, -- but for arrays it is more efficient to use the # operator. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.size(t) checkType('size', 1, t, 'table') local i = 0 for _ in pairs(t) do i = i + 1 end return i end local function defaultKeySort(item1, item2) -- "number" < "string", so numbers will be sorted before strings. local type1, type2 = type(item1), type(item2) if type1 ~= type2 then return type1 < type2 elseif type1 == 'table' or type1 == 'boolean' or type1 == 'function' then return tostring(item1) < tostring(item2) else return item1 < item2 end end ------------------------------------------------------------------------------------ -- keysToList -- -- Returns an array of the keys in a table, sorted using either a default -- comparison function or a custom keySort function. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.keysToList(t, keySort, checked) if not checked then checkType('keysToList', 1, t, 'table') checkTypeMulti('keysToList', 2, keySort, {'function', 'boolean', 'nil'}) end local arr = {} local index = 1 for k in pairs(t) do arr[index] = k index = index + 1 end if keySort ~= false then keySort = type(keySort) == 'function' and keySort or defaultKeySort table.sort(arr, keySort) end return arr end ------------------------------------------------------------------------------------ -- sortedPairs -- -- Iterates through a table, with the keys sorted using the keysToList function. -- If there are only numerical keys, sparseIpairs is probably more efficient. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.sortedPairs(t, keySort) checkType('sortedPairs', 1, t, 'table') checkType('sortedPairs', 2, keySort, 'function', true) local arr = p.keysToList(t, keySort, true) local i = 0 return function () i = i + 1 local key = arr[i] if key ~= nil then return key, t[key] else return nil, nil end end end ------------------------------------------------------------------------------------ -- isArray -- -- Returns true if the given value is a table and all keys are consecutive -- integers starting at 1. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.isArray(v) if type(v) ~= 'table' then return false end local i = 0 for _ in pairs(v) do i = i + 1 if v[i] == nil then return false end end return true end ------------------------------------------------------------------------------------ -- isArrayLike -- -- Returns true if the given value is iterable and all keys are consecutive -- integers starting at 1. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.isArrayLike(v) if not pcall(pairs, v) then return false end local i = 0 for _ in pairs(v) do i = i + 1 if v[i] == nil then return false end end return true end ------------------------------------------------------------------------------------ -- invert -- -- Transposes the keys and values in an array. For example, {"a", "b", "c"} -> -- {a = 1, b = 2, c = 3}. Duplicates are not supported (result values refer to -- the index of the last duplicate) and NaN values are ignored. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.invert(arr) checkType("invert", 1, arr, "table") local isNan = p.isNan local map = {} for i, v in ipairs(arr) do if not isNan(v) then map[v] = i end end return map end ------------------------------------------------------------------------------------ -- listToSet -- -- Creates a set from the array part of the table. Indexing the set by any of the -- values of the array returns true. For example, {"a", "b", "c"} -> -- {a = true, b = true, c = true}. NaN values are ignored as Lua considers them -- never equal to any value (including other NaNs or even themselves). ------------------------------------------------------------------------------------ function p.listToSet(arr) checkType("listToSet", 1, arr, "table") local isNan = p.isNan local set = {} for _, v in ipairs(arr) do if not isNan(v) then set[v] = true end end return set end ------------------------------------------------------------------------------------ -- deepCopy -- -- Recursive deep copy function. Preserves identities of subtables. ------------------------------------------------------------------------------------ local function _deepCopy(orig, includeMetatable, already_seen) if type(orig) ~= "table" then return orig end -- already_seen stores copies of tables indexed by the original table. local copy = already_seen[orig] if copy ~= nil then return copy end copy = {} already_seen[orig] = copy -- memoize before any recursion, to avoid infinite loops for orig_key, orig_value in pairs(orig) do copy[_deepCopy(orig_key, includeMetatable, already_seen)] = _deepCopy(orig_value, includeMetatable, already_seen) end if includeMetatable then local mt = getmetatable(orig) if mt ~= nil then setmetatable(copy, _deepCopy(mt, true, already_seen)) end end return copy end function p.deepCopy(orig, noMetatable, already_seen) checkType("deepCopy", 3, already_seen, "table", true) return _deepCopy(orig, not noMetatable, already_seen or {}) end ------------------------------------------------------------------------------------ -- sparseConcat -- -- Concatenates all values in the table that are indexed by a number, in order. -- sparseConcat{a, nil, c, d} => "acd" -- sparseConcat{nil, b, c, d} => "bcd" ------------------------------------------------------------------------------------ function p.sparseConcat(t, sep, i, j) local arr = {} local arr_i = 0 for _, v in p.sparseIpairs(t) do arr_i = arr_i + 1 arr[arr_i] = v end return table.concat(arr, sep, i, j) end ------------------------------------------------------------------------------------ -- length -- -- Finds the length of an array, or of a quasi-array with keys such as "data1", -- "data2", etc., using an exponential search algorithm. It is similar to the -- operator #, but may return a different value when there are gaps in the array -- portion of the table. Intended to be used on data loaded with mw.loadData. For -- other tables, use #. -- Note: #frame.args in frame object always be set to 0, regardless of the number -- of unnamed template parameters, so use this function for frame.args. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.length(t, prefix) -- requiring module inline so that [[Module:Exponential search]] which is -- only needed by this one function doesn't get millions of transclusions local expSearch = require("Module:Exponential search") checkType('length', 1, t, 'table') checkType('length', 2, prefix, 'string', true) return expSearch(function (i) local key if prefix then key = prefix .. tostring(i) else key = i end return t[key] ~= nil end) or 0 end ------------------------------------------------------------------------------------ -- inArray -- -- Returns true if searchElement is a member of the array, and false otherwise. -- Equivalent to JavaScript array.includes(searchElement) or -- array.includes(searchElement, fromIndex), except fromIndex is 1 indexed ------------------------------------------------------------------------------------ function p.inArray(array, searchElement, fromIndex) checkType("inArray", 1, array, "table") -- if searchElement is nil, error? fromIndex = tonumber(fromIndex) if fromIndex then if (fromIndex < 0) then fromIndex = #array + fromIndex + 1 end if fromIndex < 1 then fromIndex = 1 end for _, v in ipairs({unpack(array, fromIndex)}) do if v == searchElement then return true end end else for _, v in pairs(array) do if v == searchElement then return true end end end return false end ------------------------------------------------------------------------------------ -- merge -- -- Given the arrays, returns an array containing the elements of each input array -- in sequence. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.merge(...) local arrays = {...} local ret = {} for i, arr in ipairs(arrays) do checkType('merge', i, arr, 'table') for _, v in ipairs(arr) do ret[#ret + 1] = v end end return ret end ------------------------------------------------------------------------------------ -- extend -- -- Extends the first array in place by appending all elements from the second -- array. ------------------------------------------------------------------------------------ function p.extend(arr1, arr2) checkType('extend', 1, arr1, 'table') checkType('extend', 2, arr2, 'table') for _, v in ipairs(arr2) do arr1[#arr1 + 1] = v end end return p 4n03zk6kcoeg4gz82mieeh94c1szcjy Mahaguru Dunia Langit 0 26421 118699 111171 2026-09-04T08:44:03Z Bennylin 425 118699 wikitext text/x-wiki Sinar matahari yang berhasil menembus atap rimbun dedaunan makin menipis, siang perlahan bergulir menuju senja. Samar-samar kabut tipis mulai terbentuk di sela-sela pepohonan yang menaungi jalan setapak menuju tengah hutan. Seorang penyihir muda nampak memacu kudanya dengan sedikit tergesa-gesa, jubahnya yang berwarna biru gemerlap berkibar mengikuti arah hembusan angin. Sesekali ia melihat pergelangan tangan kanannya, di mana terdapat gelang melingkar dengan kubah transparan melindungi anak panah yang stabil menuju ke satu arah. “Mestinya di sekitar sini,” gumam si Penyihir Muda seraya turun dari tunggangannya. Kompas di pergelangan tangannya berkedip-kedip pertanda dia telah sampai di tujuan. Sambil menyalakan api penerangan di tongkat yang ia pegang di tangan kiri, sang Penyihir melambaikan tangan kanannya ke udara, hingga terasa ada dinding tak terlihat yang teraba olehnya. Udara di hadapannya nampak beriak seperti air, dengan penuh harap sang Penyihir Muda menuntun kudanya menembus dinding riak udara yang ada di depan mereka tanpa ragu-ragu. “Oooh!” sang Penyihir Muda berseru takjub melihat apa yang ada di hadapannya. Bangunan berbentuk persegi megah berwarna abu-abu yang terdiri dari tiga lantai, dengan pencahayaan terang bagaikan siang yang berasal dari pancang yang berdiri berderet sepanjang jalan menuju bangunan. Area yang sebelumnya berupa hutan lebat dengan pepohononan dan akar panjang merambat, seketika tergantikan dengan sebidang tanah luas, jalanan berlapis batu yang rata, dengan air mancur di halaman depan. [[Berkas:Bangunan Dunia Langit.png|jmpl]] Sang Penyihir Muda mendekati bangunan kokoh di hadapannya selangkah demi selangkah. Ia menatap tiang-tiang penerangan yang mengeluarkan cahaya tanpa api. Di beberapa pohon yang ada di halaman, ia melihat salur-salur temali dengan sumber cahaya dalam bola kristal; juga tanpa api. Semakin mendekati air mancur, ia melihat bahwa pancuran tersebut tidak terhubung dengan danau ataupun sumber air lain. Sang Penyihir Muda menelan ludah. Dengan takut-takut ia mendekati teras bangunan dan berdiri di depan pintu ganda yang tertutup. Pintunya besar, berbentuk persegi, dan terbuat dari logam yang keras. Sang Penyihir Muda tidak menemukan pengetuk pintu logam yang biasa ada di setiap depan rumah. Bahkan ia tidak melihat ada gagang pintu yang bisa digunakan untuk membuka pintunya. Sang Penyihir Muda tertegun untuk beberapa saat hingga tiba-tiba... “Oh, ada tamu? Dengan siapa dan ada perlu apa?” si Penyihir Muda nyaris terloncat begitu mendengar suara tanpa wujud yang mengajaknya bicara. Ia buru-buru melepas topinya dan menengok ke kanan kiri, tanpa menemukan si sumber suara. Keringat dingin mulai meleleh di keningnya. Suara itu terdengar melodius, jelas suara seorang wanita. “Saya Liberius Arcadio; diutus kemari atas perintah Master Ortegia dari Menara Sembilan Matahari,” “Oh, kamu utusan Ortegia, masuk saja.” Suara tanpa wujud itu kembali terdengar, dan tak berapa lama kemudian pintu di hadapan Liberius terbuka sendiri. Sang Penyihir Muda kembali menelan ludah sambil menatap apa yang ada di depannya. Aula megah dengan lantai mengilat dan dinding rata bercat putih yang halus licin, langit-langitnya seolah memiliki penerangan sendiri, dan Liberius menatap takjub pada berbagai benda ajaib yang ia temui di dalam bangunan. Di luar, Liberius sudah menemukan sumber cahaya tanpa api, air mengalir tanpa mata air, pintu yang dapat membuka sendiri, dan suara yang dapat terdengar meski tanpa ada yang terlihat berbicara. Sementara di dalam bangunan, Liberius terpana melihat ada benda bulat pipih yang nampak merayap di lantai, seolah sedang membersihkan sesuatu. Di salah satu dinding, ia melihat lukisan berpigura hitam besar, tapi gambar di dalamnya bergerak-gerak; tampaknya suatu peralatan ajaib untuk mengintai dari jauh. Suhu di dalam pun begitu hangat, tidak seperti di luar yang mulai dingin menusuk tulang. Liberius tetap berdiri sampai ia mendengar suara langkah datang dari arah sisi lain ruangan. Bagian yang berisi peralatan ajaib paling asing yang belum pernah dilihat oleh Liberius. Ada sebuah lemari berwarna perak dengan dua pintu. Lemari-lemari tinggi dengan gaya seragam. Ketel air yang menyemburkan uap meski hanya diletakkan di konter dengan lapisan hitam tanpa api, dan semua dibarengi dengan aroma manis yang menguar ke seluruh ruangan. “Duduklah dulu, akan kuambilkan pesanan Master Ortegia,” dan saat itulah Liberius bertemu pertama kalinya dengan si pemilik bangunan. Seorang yang sangat dihormati oleh Master Ortegia, berjuluk “Mahaguru Dunia Langit”; karena memiliki ilmu dan kemampuan yang sama sekali berbeda dari segala ajaran aliran sihir yang dipelajari Liberius di sekolah Menara Sembilan Matahari. Sang Mahaguru masih terlihat relatif muda. Dia tidak terlalu tinggi, dan penampilannya benar-benar asing. Mengenakan jubah panjang tapi tidak berkancing, mengenakan baju leher tinggi tapi dengan bahan yang belum pernah dilihat oleh Liberius, dan tidak seperti penyihir wanita lain yang menyukai gaun panjang, sang Mahaguru mengenakan celana berwarna biru, bahannya sepertinya tebal dan sedikit sobek-sobek di beberapa tempat. Dia juga tidak mengenakan alas kaki. Liberius duduk dengan canggung. Sang Mahaguru mengambil sebuah mug, dan mendekati salah satu peralatan ajaib yang tiba-tiba mengeluarkan cairan sendiri setelah disentuh sedikit. “Semoga kamu tidak keberatan dengan cokelat susu panas, tunggu sebentar akan kuambilkan barangnya.” Tidak lama, sang Mahaguru kembali dengan sebuah kotak cukup besar di tangannya. Kotaknya berwarna cokelat, dengan bahan yang sangat ringan, Liberius belum pernah melihatnya, warnanya mirip kayu, tapi teksturnya lebih mirip kertas tebal. Di dalamnya Liberius melihat beberapa benda. “Master Ortegia memesan beberapa barang,” sang Mahaguru mengeluarkan sehelai kain berwarna kuning yang tampak kaku, “ini kain yang dapat menyerap air jauh lebih banyak dari kain biasa, tahan lama dan cocok untuk di laboratorium,” Liberius buru-buru mengeluarkan catatan. “Ini paracetamol; obat yang bisa digunakan untuk berbagai penyakit ringan, seperti demam, sakit kepala, atau flu ringan,” sang Mahaguru menunjukkan beberapa strip berisi bulatan pipih, lalu mengeluarkan beberapa botol berisi butiran pil hitam pekat “dan ini norit, fungsinya untuk penawar racun.” Liberius mengingatkan diri untuk memastikan menjaganya dengan nyawanya. Sang Mahaguru tersenyum setelah menunjukkan satu persatu keseluruhan isi kotak yang berikutnya ia serahkan pada Liberius. “Ini semua yang dipesan Master Ortegia, malam ini kamu bisa menginap di kamar atas karena berbahaya melewati hutan malam-malam.” Ujarnya sambil mengarahkan tongkat sihir aneh berbentuk persegi panjang tipis yang penuh dengan deretan ornamen ke lukisan raksasa di salah satu tembok; yang berikutnya segera menjadi lukisan hitam tanpa gambar. Liberius buru-buru menganggukkan kepalanya. Terbayang dia bisa membanggakan diri ke para murid Master Ortegia yang lain karena dia pernah diundang menginap oleh Mahaguru Dunia Langit; dan bisa melihat berbagai peralatan ajaib yang selama ini tidak ada di tempat asalnya. Mungkin suatu saat, Liberius dapat kesempatan diundang berkunjung ke tempat asal sang Mahaguru, dan dia bertekad untuk berangkat meski harus mendaki naik ke langit. Suatu hari nanti, siapa tahu. [[Kategori: Fiksi Mini]] jvoj4ent4ryhipy6r8l6jf0qwgm4pls Para Penyambung Hidup yang Terisolasi 0 27863 118698 117919 2026-09-04T08:42:58Z Bennylin 425 118698 wikitext text/x-wiki Suara kicau burung memanggilku untuk membuka mata. Hari baru sudah dimulai. Mungkin akan sama seperti kemarin, tapi tidak ada salahnya mengawali pagi dengan harapan akan ada sesuatu yang berbeda. Setelah membasuh muka dan menyikat gigi, kandang hewan adalah tujuanku berikutnya. Apa yang akan masuk ke perutku hari ini, sangat bergantung dari kesediaan para ayamku untuk berbagi, kuharap mereka memutuskan untuk bertelur pagi ini. Berikutnya kusikat setiap helai bulu domba-domba kesayanganku; sweater rajut yang kukenakan pagi ini, adalah hadiah dari para domba yang kupelihara dengan baik; karena tanpa wol dari mereka, aku tak akan memiliki sumber bahan baju lagi. Ladang adalah tujuanku selanjutnya. Sebagai satu-satunya petani yang memiliki pertanian sendiri di desa ini, aku bertanggung jawab penuh mengenai kelangsungan hidup para penduduk lainnya. Dengan langkah cepat, kudaki bukit tempat tanah pertanianku terletak; sebidang area luas yang didedikasikan untuk menanam gandum, sayuran, dan beberapa jenis bunga; sekedar memastikan supaya flora alami sekitar tidak punah. Setelah memanen sebagian sayuran dan menebar pupuk, kusiapkan beberapa petak tanah untuk menanam tanaman baru. Matteo anak pemilik tempat makan kecil di ujung jalan memintaku untuk menyediakan satu bal gandum sebagai bahan utama baget mentega dalam menu sarapan kami sehari-hari, sementara Anna, anak perempuan yang biasa bermain di halaman rumahku; memintaku untuk mencarikan beberapa kuntum bunga Krisan dan Aster karena hendak berlatih seni merangkai bunga. Yah, tentu saja aku mendukung penuh semangatnya untuk belajar. Hanya saja, masalahnya tidak ada yang menjual bunga Krisan dan Aster di desa ini, jadi satu-satunya cara adalah aku harus menanamnya dulu dari benih yang kusimpan dengan baik. Tapi mengingat Anna masih berusia 6 tahun, sepertinya dia tidak akan keberatan menunggu sedikit lebih lama. Sementara untuk gandumnya; mungkin dalam beberapa minggu ke depan sudah ada yang bisa dipanen, Matteo toh tak bisa memaksa gandumnya untuk tumbuh lebih cepat. Sambil bersandar di pohon ceri, pandanganku mengarah pada dinding tebing raksasa yang mengisolasi desa. Sudah lima tahun berlalu sejak kami terakhir kali berurusan dengan dunia luar akibat gempa bumi dahsyat yang menggeser lempeng tanah sehingga dataran tempat area desa kami terletak; turun amblas dan terisolir tanpa ada jalan keluar. [[Berkas:Human Settlement Surrounded by Cliffs Gemini Generated.png|center|500px]] Mungkin tidak ada lagi momen yang bisa benar-benar menggambarkan kata 'dunia runtuh' dalam kehidupan nyata. Kami yang saat itu berada di desa selamat, tapi entah dengan mereka yang tengah berada di luar. Ayah Matteo, ayah Anna, Jason si pemilik penginapan, kakak Jenny putri pemilik peternakan, semoga mereka baik-baik saja di balik dinding lembah. Dan sejak saat itu pula kami bertahan hidup dengan menggunakan segala sumber daya alam yang ikut terjebak dalam lembah ini. Sebagai satu-satunya petani, aku bertanggung jawab untuk penyediaan bahan pangan seluruh penduduk. Matteo dan ibunya membantu mengolah semua bahan yang kutanam dan kuberikan pada mereka, dan kami seluruh penduduk desa akan menikmati santapan bersama dalam satu meja setiap harinya. Jenny dan ayahnya memiliki peternakan kecil, mereka membantuku memastikan suplai protein hewani untuk penduduk. Sesekali mereka meminta bantuanku untuk mencarikan beberapa jenis material atau kayu, dengan imbalan satu jerigen susu karena aku tak memiliki sapi. Di desa ini, mata uang tidak lagi berlaku karena ekonomi tidak berputar. Kami kembali ke era bertukar barang. Jika boleh sedikit berbangga, desa ini bisa dibilang menerapkan konsep ramah lingkungan secara optimal. Karena tidak ada suplai baru, kami mendaur ulang segalanya atau menggunakan bahan yang disediakan alam sekitar. Saat membuat pakaian, kami memintal benang wol dari domba yang kupelihara. Sisa pembuangan kandang hewan kembali ke bumi dalam bentuk kompos, semua serpihan kayu dan bunga kami olah untuk membuat hio; sebagai alternatif pengharum yang sudah sama sekali tidak tersisa di desa ini. Untuk kebutuhan pangan, kami bahu membahu saling memastikan tidak ada seorang pun yang tidur dengan perut lapar. Dan setiap pagi, Matteo dan ibunya akan mengantarkan sisa biji dari sayur atau buah yang mereka olah kepadaku, untuk ditanam kembali di kebun milikku yang terletak di bukit tertinggi di area ini. Dari atas bukit ini aku dapat menebarkan pandangan ke seluruh desa kecil, yang kubangun dengan kedua tanganku sendiri. Ya, semua bangunan baik kandang hewan, gudang, dan rumah, semua menggunakan bahan yang berasal dari kayu pohon yang kutanam, kurawat dan kutebang sendiri, pondasinya menggunakan material dari batu yang kugali dari salah satu sisi tebing, dan kupanggul sendiri setiap bongkahan bebatuannya dari sisi gunung ke desa. Pengerjaan pertukangan pun semua kukerjakan, dengan sedikit bantuan dari beberapa laki-laki dewasa yang ikut terisolir bersama. Oh, tentu saja bangunan yang sedang tidak ada pemiliknya dengan sangat menyesal tidak menjadi prioritas untuk dibangun ulang. Sampai saat ini reruntuhan bangunan penginapan milik Jason belum tersentuh sama sekali dan masih menjadi tumpukan kayu tak bertuan. Baiklah, ternak dan kebun sudah selesai dikerjakan, matahari baru naik setinggi tombak, masih ada banyak hal yang harus dilakukan. Mungkin aku akan menanam beberapa pohon lagi di area sekitar danau kecil tempat kami memelihara ikan, yang hanya boleh dipancing saat ada perayaan seperti ulang tahun atau tahun baru. Atau melakukan inspeksi di beberapa bangunan, karena memang kami tidak bisa berharap banyak pada kualitas pekerjaan pertukangan yang dilakukan oleh petani, bukan tukang kayu profesional. Meski masih berharap untuk diberi kesempatan untuk melihat kembali dunia luar dan bertemu dengan keluarga yang terpisah, kami sudah menerima jika memang harus hidup seperti ini sampai akhir cerita. Tidak ada wabah penyakit baru, tidak ada predator hewan buas, tidak ada konflik, dan tidak ada kesenjangan sama sekali. Mungkin nanti baru akan ada kepusingan lagi saat tiba waktunya untuk memastikan keberadaan generasi penerus; hanya ada dua laki-laki muda di desa ini; aku dan Matteo, sementara satu-satunya gadis muda hanyalah Jenny. Yah, mari pikirkan hal itu di keesokan hari saja. Untuk saat ini, mari bersyukur dulu karena masih bisa melanjutkan hidup, semoga besok ada yang berbeda dari hari ini dan kemarin. [[Kategori: Fiksi Mini]] 7x8kk4o5gzb467k1gowmmex09fafszd Resep:Klappertaart 100 27871 118697 117947 2026-09-04T08:40:58Z Bennylin 425 Bennylin memindahkan halaman [[Resep Klapertart]] ke [[Resep:Klappertaart]] tanpa membuat pengalihan 117947 wikitext text/x-wiki '''Klappertaart''' adalah kue atau hidangan penutup khas Manado, Sulawesi Utara yang dipengaruhi oleh kuliner zaman kolonial Belanda. Nama ini berasal dari bahasa Belanda, yaitu ''klapper'' (kelapa) dan ''taart'' (kue). == Bahan-Bahan == === Bahan Adonan Utama: === # 500 ml susu cair ''full cream'' # 100 gram gula pasir (sesuaikan jika suka lebih manis) # 50 gram tepung terigu # 50 gram tepung maizena # 3 butir kuning telur, kocok lepas # 100 gram mentega atau margarin, lelehkan # Daging dari 2-3 buah kelapa muda, kerok memanjang # 50 gram kismis (rendam sebentar dengan air hangat agar mekar, lalu tiriskan) # 50 gram kacang kenari kupas (bisa diganti ''almond slice''), cincang kasar # 1 sdt pasta vanila atau ekstrak vanila === Bahan Topping (Meringue): === # 3 butir putih telur # 50 gram gula pasir halus # Sejumput garam # 1/2 sdt air perasan jeruk nipis/lemon (agar putih telur mengembang kaku dan tidak amis) === Bahan Taburan (Garnish): === # Kismis secukupnya # Kacang kenari/almond secukupnya # Kayu manis bubuk (''cinnamon powder'') secukupnya == Cara membuat == === Membuat Adonan Klapertart: === # Siapkan panci (jangan dinyalakan dulu apinya). Masukkan tepung terigu dan tepung maizena. Tuangkan sebagian susu cair sedikit demi sedikit sambil diaduk menggunakan ''whisk'' hingga tepung larut dan tidak ada yang bergerindil. # Masukkan sisa susu cair, gula pasir, dan pasta vanila ke dalam panci. # Nyalakan kompor dengan api kecil hingga sedang. Masak adonan sambil '''terus diaduk''' agar tidak gosong di bagian bawahnya. # Saat adonan mulai hangat dan sedikit mengental, ambil 1-2 sendok sayur adonan tersebut dan campurkan ke dalam mangkuk berisi kuning telur kocok (teknik pancingan agar telur tidak matang tiba-tiba). Aduk rata, lalu tuangkan kembali campuran telur tersebut ke dalam panci adonan. # Terus aduk hingga adonan meletup-letup dan mengental (menjadi ''custard''). # Matikan api. Masukkan mentega cair, daging kelapa muda, kismis, dan kenari/almond. Aduk rata hingga semua bahan tercampur sempurna. # Tuang adonan ke dalam wadah aluminium foil cup atau pinggan tahan panas (yang sudah diolesi sedikit margarin) hingga mencapai ¾ tinggi wadah. === Memanggang Adonan: === # Panaskan oven pada suhu 160°C - 170°C. # Panggang klapertart dengan teknik ''au bain-marie'' (pemanggangan dengan loyang berisi air). Letakkan wadah klapertart di atas loyang datar yang lebih besar, lalu tuang sedikit air panas ke dalam loyang datar tersebut (setinggi kurang lebih 1 cm). # Panggang selama sekitar 20-25 menit hingga setengah matang. Keluarkan dari oven (biarkan oven tetap menyala). === Membuat Topping (Meringue): === # Kocok putih telur, garam, dan air perasan jeruk nipis menggunakan ''mixer'' dengan kecepatan rendah hingga berbusa. # Masukkan gula pasir sedikit demi sedikit sambil menaikkan kecepatan ''mixer''. # Kocok terus hingga putih telur mencapai tahap ''stiff peak'' (kaku, mengkilap, dan jika mangkuk dibalik, adonan tidak tumpah). === Sentuhan Akhir: === # Semprotkan atau ratakan ''meringue'' (putih telur kaku) di atas klapertart yang sudah dipanggang setengah matang tadi hingga menutupi seluruh permukaannya. # Taburkan kismis, kacang kenari/almond, dan ayak kayu manis bubuk di atasnya. # Masukkan kembali ke dalam oven, panggang selama 10-15 menit (suhu bisa dinaikkan sedikit ke 180°C jika ingin lebih cepat) hingga bagian atas ''meringue'' berwarna kuning kecoklatan (karamelisasi). # Keluarkan dari oven dan biarkan uap panasnya hilang. [[Category:WikiRempah]] [[Category:WikiRempah Gorontalo]] 4r05lpifmy532m5jfvg1o7jyqvv4tz7 Kategori:WikiRempah 14 27872 118693 118145 2026-09-04T08:39:05Z Bennylin 425 added [[Category:Resep]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118693 wikitext text/x-wiki [[m:Grants:Programs/Wikimedia_Community_Fund/Rapid_Fund/WikiRempah:Potret_Situs_Budaya_Jalur_Rempah_Nusantara_di_Indonesia_Timur_(ID:_23832671)|WikiRempah]] merupakan sebuah inisiatif yang didukung oleh Wikimedia Foundation dan dijalankan melalui kolaborasi dengan sejumlah komunitas Wikimedia di Indonesia. WikiRempah berfokus pada pendokumentasian dan pengembangan pengetahuan mengenai sejarah, budaya, serta warisan jalur rempah di Indonesia melalui proyek-proyek Wikimedia, termasuk Wikibuku. [[Kategori:Resep]] cwkoiv7xsk5ed095zesyr3lpfkmk0vk Kategori:WikiRempah Gorontalo 14 27873 118694 118154 2026-09-04T08:39:07Z Bennylin 425 added [[Category:WikiRempah]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118694 wikitext text/x-wiki [https://meta.wikimedia.org/wiki/Grants:Programs/Wikimedia%20Community%20Fund/Rapid%20Fund/WikiRempah:Potret%20Situs%20Budaya%20Jalur%20Rempah%20Nusantara%20di%20Indonesia%20Timur%20(ID:%2023832671) WikiRempah] Gorontalo merupakan inisiatif pelestarian dan pengembangan pengetahuan mengenai sejarah, budaya, serta warisan jalur rempah di Indonesia melalui proyek-proyek Wikimedia yang ada di wilayah Gorontalo. Agenda ini diwujudkan dalam kopdar yang melibatkan para kontributor Komunitas Wikimedia Gorontalo. [[Kategori:WikiRempah]] 4wd25lv1k86cl88om40l7m4woo1lg6f Resep:Yondog Binangoan 100 27912 118696 118117 2026-09-04T08:40:44Z Bennylin 425 Bennylin memindahkan halaman [[Yondog Binangoan]] ke [[Resep:Yondog Binangoan]] tanpa membuat pengalihan 118117 wikitext text/x-wiki Yondog Binangoan adalah hidangan sayur tradisional khas suku Mongondow di Sulawesi Utara yang memadukan daun gedi, rebung, dan ikan fufu dalam kuah santan. === Bahan Utama === * '''2 ikat''' daun gedi segar (cuci bersih, buang batangnya, dan rajang kasar) * '''300 ml''' santan kental (dihasilkan dari kelapa parut untuk rasa terbaik) * '''100 gram''' Ikan Fufu (ikan asap, suwir kasar) * '''150 gram''' rebung * Garam, gula, dan kaldu secukupnya === Bumbu Iris & Halus === * '''6 siung''' bawang merah (haluskan) * '''3 siung''' bawang putih (haluskan) * '''5 buah''' cabai rawit merah (sesuaikan dengan selera pedas, haluskan) * '''2 batang''' daun bawang (iris halus) '''1.Tumis Bumbu:''' Pastikan bumbu matang dan harum. Panaskan sedikit minyak, lalu tumis bumbu halus bersama irisan daun bawang. Aduk terus hingga bumbu mengeluarkan aroma harum dan matang. '''2.Masukkan Rebung dan Ikan:''' Tambahkan potongan rebung dan suwiran Ikan Fufu ke dalam wajan. Aduk rata agar bumbu tumis melapisi dan meresap sempurna ke dalam serat ikan asap dan rebung. '''3.Tuang Santan Kelapa:'''Gunakan api sedang. Masukkan santan kelapa secara perlahan ke dalam tumisan bumbu dan isian. Terus aduk kuah secara konsisten agar santan tidak pecah. Masak hingga kuah mulai mendidih ringan. '''4.Masak Daun Gedi:'''Proses pemanasan singkat. Masukkan rajangan daun gedi ke dalam kuah santan. Masak sebentar saja agar warna hijau klorofilnya tetap cerah dan nutrisinya terjaga. Di tahap ini, lendir alami dari gedi akan mulai mengentalkan kuah. '''5.Koreksi Rasa dan Sajikan:''' Tambahkan garam, gula, dan kaldu secukupnya. Aduk sebentar, matikan api, dan Yondog Binangoan siap disajikan. [[Category:WikiRempah]] [[Category:WikiRempah Manado]] kdtldx3w5gk2qoo2qe6chtylx546guf Kategori:WikiRempah Manado 14 27913 118695 118118 2026-09-04T08:40:34Z Bennylin 425 added [[Category:WikiRempah]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118695 wikitext text/x-wiki '''WikiRempah Manado''' [[Kategori:WikiRempah]] 5vgfv3ysrmfh17pbukusby5jwk7xxye Kategori:WikiRempah Makassar 14 27922 118692 118152 2026-09-04T08:39:01Z Bennylin 425 added [[Category:WikiRempah]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118692 wikitext text/x-wiki [https://meta.wikimedia.org/wiki/Grants:Programs/Wikimedia%20Community%20Fund/Rapid%20Fund/WikiRempah:Potret%20Situs%20Budaya%20Jalur%20Rempah%20Nusantara%20di%20Indonesia%20Timur%20(ID:%2023832671) WikiRempah] Makassar merupakan inisiatif pelestarian dan pengembangan pengetahuan mengenai sejarah, budaya, serta warisan jalur rempah di Indonesia melalui proyek-proyek Wikimedia yang ada di wilayah Sulawesi Selatan. Agenda ini diwujudkan dalam kopdar yang melibatkan para kontributor Komunitas Wikimedia Makassar. [[Kategori:WikiRempah]] 90rpooux1a1ku7pvmq1m56k407t81u8 Pengguna:Undeka 11 2 27971 118700 118255 2026-09-04T10:53:11Z Undeka 11 43619 118700 wikitext text/x-wiki Hai, Saya Vicky! Saya asli Padang, salam urang awak 😀🙏 {{Peserta WikiCitaRasa}} lj4j4dekdesi56pcrriht02t0a62pxv Modul:Exponential search 828 28109 118679 2026-09-03T22:13:28Z Hamish 31424 [IPE-NEXT] Quick edit imported from [[:w:en:Module:Exponential search]] 118679 Scribunto text/plain -- This module provides a generic exponential search algorithm. require[[strict]] local checkType = require('libraryUtil').checkType local floor = math.floor local function midPoint(lower, upper) return floor(lower + (upper - lower) / 2) end local function search(testFunc, i, lower, upper) if testFunc(i) then if i + 1 == upper then return i end lower = i if upper then i = midPoint(lower, upper) else i = i * 2 end return search(testFunc, i, lower, upper) else upper = i i = midPoint(lower, upper) return search(testFunc, i, lower, upper) end end return function (testFunc, init) checkType('Exponential search', 1, testFunc, 'function') checkType('Exponential search', 2, init, 'number', true) if init and (init < 1 or init ~= floor(init) or init == math.huge) then error(string.format( "invalid init value '%s' detected in argument #2 to " .. "'Exponential search' (init value must be a positive integer)", tostring(init) ), 2) end init = init or 2 if not testFunc(1) then return nil end return search(testFunc, init, 1, nil) end jqqi8l27tb73lglksbukg2g3bzt3fmv Pengguna:Muhamad Izzul Fiqih 2 28110 118681 2026-09-04T07:45:33Z Muhamad Izzul Fiqih 36628 /* */ 118681 wikitext text/x-wiki {{Peserta WikiLatih|acara=|tgl=5 September 2026|di=Jambi}} tgb592dqcypwyf1s6r1ntpnkt5yjwub Kategori:Pengguna peserta WikiLatih tanggal 5 September 2026 14 28111 118682 2026-09-04T08:01:34Z Muhamad Izzul Fiqih 36628 ←Membuat halaman berisi 'Peserta WikiLatih Wikibuku 5 September 2026' 118682 wikitext text/x-wiki Peserta WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 mqml7o9ucy2tytaw0vcdwb5a4i945mw 118683 118682 2026-09-04T08:02:03Z Muhamad Izzul Fiqih 36628 added [[Category:WikiLatih WikiBuku: Berbagi Pengetahuan dan Tulisan]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118683 wikitext text/x-wiki Peserta WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 [[Kategori:WikiLatih WikiBuku: Berbagi Pengetahuan dan Tulisan]] d7vwy2miggr9dzlpjybcz1ic9ppuxmz Wikibuku:Perubahan nama pengguna 4 28112 118689 2026-09-04T08:33:20Z Bennylin 425 Bennylin memindahkan halaman [[Wikibuku:Perubahan nama pengguna]] ke [[Wikibuku:Pengubahan nama pengguna]] 118689 wikitext text/x-wiki #ALIH [[Wikibuku:Pengubahan nama pengguna]] 89eywgal7wr0zwkx2334o53rci2yno3 Wikibuku:Perubahan nama pengguna/Permintaan 4 28113 118691 2026-09-04T08:33:20Z Bennylin 425 Bennylin memindahkan halaman [[Wikibuku:Perubahan nama pengguna/Permintaan]] ke [[Wikibuku:Pengubahan nama pengguna/Permintaan]] 118691 wikitext text/x-wiki #ALIH [[Wikibuku:Pengubahan nama pengguna/Permintaan]] 3k8dmpw9e2gspkctcxvobmaywdpiua0 Dukaku Tempat Kudus-Mu 0 28114 118701 2026-09-04T11:00:51Z Bennylin 425 Dukaku Tempat Kudus-Mu 118701 wikitext text/x-wiki Apa yang Daud katakan tentang kebanggaan seorang manusia? Mazmur 90 mencatat bahwa jawabannya adalah "kesukaran dan penderitaan". Apa yang Sidharta Gautama simpulkan tentang hidup manusia? "Hidup adalah penderitaan". Apa yang membuat buku Scott Peck "The Road Less Traveled" laku keras? Karena ia menekankan bahwa "Life is difficult" (Hidup itu sulit). Lantas apa yang Allah kerjakan dalam penderitaan kita sebagai anak-anak-Nya? Apakah Dia hanya berpangku tangan dan berdiam diri? Tidak! Dia menjumpai kita di sana, Dia mengerjakan penebusan-Nya bagi kita di sana. Dia membentuk karakter kita di sana. Dia menyatakan penyertaan dan pertolongan-Nya di sana sebagaimana yang disimpulkan dengan indah oleh Pdt. Yakub Susabda dalam tulisannya pada Newsletter STTRII volume XIV dengan judul Lembaran Baru dari Sejarah Yang Lama, "Allah dalam Kristus Yesus adalah Allah yang luar biasa. Dia bukan Allah yang menyediakan konteks perjumpaan dengan diri-Nya di tengah kekayaan, kesuksesan dan kemakmuran hidup. Dia menunggu dan menjumpai anak-anak-Nya di jalan salib yang Ia sendiri tempuh”. Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, maka tidak berlebihan jika saya mengatakan, “Duka dan derita adalah tempat kudus, tempat di mana Allah dalam Kristus hadir dan kita menjumpai-Nya.” Seluruh pasal-pasal dalam buku ini bermaksud menunjukkan kebenaran tersebut. Soli Deo Gloria Yohan Candawasa * Bab 1: [[Tumpuan Iman/|Tumpuan Iman]] * Bab 2: [[Roma 8:28/|Roma 8:28]] * Bab 3: [[Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)/|Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)]] * Bab 4: [[Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)/|Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)]] * Bab 5: [[Manusia Sorgawi (1)/|Manusia Sorgawi (1)]] * Bab 6: [[Manusia Sorgawi (2)/|Manusia Sorgawi (2)]] * Bab 7: [[Perempuan Kanaan/|Perempuan Kanaan]] * Bab 8: [[Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri/|Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri]] ---- DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Oleh: Yohan Candawasa, S.Th Hak Cipta © 2007 Yohan Candawasa <poem> Editing Naskah : Marchnie Hidayat Desain sampul : Gangga Saputra Kutipan Alkitab : ALKITAB, Lembaga Alkitab Indonesia Setting & Percetakan : Pionir Jaya Penerbit: UnveilingGLORY Indonesia Jl. Surya Sumantri No. 106, Bandung 40163 Telp: (022) 2016120, Fax: (022) 2018536 Email: ugindo@telkom.net bekerjasama dengan Pionir Jaya Jl. Jend. Sudirman 511, Bandung 40231 Telp: (022) 6013120, Fax: (022) 6072424 pionirjaya@bdg.centrin.net.id ANGGOTA IKAPI NO. 042 / IBA ISBN : 979-542-236-7 Cetakan: Januari 2007 </poem> Buku ini tersedia di situs Wikibuku bahasa Indonesia atas seizin penulis, Yohan Candawasa Buku ini saya dedikasikan untuk saudara-saudara kandung saya. * Jacob Candawasa * Paul Candawasa * Daud Candawasa ioe6xq5vunkvzi6lk7bb0f5wbklhce4 118702 118701 2026-09-04T11:02:02Z Bennylin 425 118702 wikitext text/x-wiki Apa yang Daud katakan tentang kebanggaan seorang manusia? Mazmur 90 mencatat bahwa jawabannya adalah "kesukaran dan penderitaan". Apa yang Sidharta Gautama simpulkan tentang hidup manusia? "Hidup adalah penderitaan". Apa yang membuat buku Scott Peck "The Road Less Traveled" laku keras? Karena ia menekankan bahwa "Life is difficult" (Hidup itu sulit). Lantas apa yang Allah kerjakan dalam penderitaan kita sebagai anak-anak-Nya? Apakah Dia hanya berpangku tangan dan berdiam diri? Tidak! Dia menjumpai kita di sana, Dia mengerjakan penebusan-Nya bagi kita di sana. Dia membentuk karakter kita di sana. Dia menyatakan penyertaan dan pertolongan-Nya di sana sebagaimana yang disimpulkan dengan indah oleh Pdt. Yakub Susabda dalam tulisannya pada Newsletter STTRII volume XIV dengan judul Lembaran Baru dari Sejarah Yang Lama, "Allah dalam Kristus Yesus adalah Allah yang luar biasa. Dia bukan Allah yang menyediakan konteks perjumpaan dengan diri-Nya di tengah kekayaan, kesuksesan dan kemakmuran hidup. Dia menunggu dan menjumpai anak-anak-Nya di jalan salib yang Ia sendiri tempuh”. Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, maka tidak berlebihan jika saya mengatakan, “Duka dan derita adalah tempat kudus, tempat di mana Allah dalam Kristus hadir dan kita menjumpai-Nya.” Seluruh pasal-pasal dalam buku ini bermaksud menunjukkan kebenaran tersebut. Soli Deo Gloria Yohan Candawasa * Bab 1: [[/Tumpuan Iman/|Tumpuan Iman]] * Bab 2: [[/Roma 8:28/|Roma 8:28]] * Bab 3: [[/Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)/|Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)]] * Bab 4: [[/Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)/|Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)]] * Bab 5: [[/Manusia Sorgawi (1)/|Manusia Sorgawi (1)]] * Bab 6: [[/Manusia Sorgawi (2)/|Manusia Sorgawi (2)]] * Bab 7: [[/Perempuan Kanaan/|Perempuan Kanaan]] * Bab 8: [[/Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri/|Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri]] ---- DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Oleh: Yohan Candawasa, S.Th Hak Cipta © 2007 Yohan Candawasa <poem> Editing Naskah : Marchnie Hidayat Desain sampul : Gangga Saputra Kutipan Alkitab : ALKITAB, Lembaga Alkitab Indonesia Setting & Percetakan : Pionir Jaya Penerbit: UnveilingGLORY Indonesia Jl. Surya Sumantri No. 106, Bandung 40163 Telp: (022) 2016120, Fax: (022) 2018536 Email: ugindo@telkom.net bekerjasama dengan Pionir Jaya Jl. Jend. Sudirman 511, Bandung 40231 Telp: (022) 6013120, Fax: (022) 6072424 pionirjaya@bdg.centrin.net.id ANGGOTA IKAPI NO. 042 / IBA ISBN : 979-542-236-7 Cetakan: Januari 2007 </poem> Buku ini tersedia di situs Wikibuku bahasa Indonesia atas seizin penulis, Yohan Candawasa Buku ini saya dedikasikan untuk saudara-saudara kandung saya. * Jacob Candawasa * Paul Candawasa * Daud Candawasa 0bqnlxql3iucmo7s587d9n9dq8f8q10 Dukaku Tempat Kudus-Mu/Tumpuan Iman 0 28115 118703 2026-09-04T11:15:32Z Bennylin 425 bab 1 118703 wikitext text/x-wiki {{C|MATIUS 2:1-2}} ---- ¹ Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem ² dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” {{C|MATIUS 2:11-18}} ---- ¹¹ Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan, dan mur. ¹² Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. ¹³ Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” ¹⁴ Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, ¹⁵ dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” ¹⁶ Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. <sup>17</sup> Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: <sup>18</sup> "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi." = Bab 1: Tumpuan Iman = Pemusnahan 6.000.000 orang bangsa Yahudi secara brutal oleh Hitler, membuat bangsa ini bergumul dan bertanya-tanya, "Di manakah Allah saat kita menderita?" Pertanyaan itu menyiratkan kekecewaan yang mendalam terhadap Tuhan karena Ia tidak hadir dan bertindak pada saat-saat yang paling dibutuhkan. Bagaimana mungkin Ia cuma duduk diam menyaksikan penderitaan manusia, bahkan terhadap umat pilihan-Nya sendiri? Peristiwa semacam ini juga terjadi saat Herodes yang karena takut kekuasaannya direbut oleh Yesus — raja yang baru lahir itu — memutuskan untuk membunuh semua anak laki-laki yang berusia di bawah dua tahun. == ALLAH HADIR DAN MENGETAHUI == Di manakah Allah saat-saat seperti itu? Apakah Ia hadir pada saat pasukan Herodes melaksanakan perintah-nya untuk membunuh anak-anak tersebut? Ya, Ia hadir. Ia sudah mengetahui akan terjadinya peristiwa tersebut ratusan tahun sebelumnya, bahkan sebelum dunia diciptakan. Matius mencatat bahwa pembunuhan yang dilakukan Herodes itu sudah difirmankan Allah melalui nubuat Nabi Yeremia (31:15) yang dikutip dalam Matius 2:18: {{quote|"Terdengarlah suara di Rama tangis dan ratap yang amat sedih, Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur sebab mereka tidak ada lagi."}} == ALLAH SANGGUP MENOLONG == Ia bukan hanya tahu, tetapi sesungguhnya Ia juga sanggup menolong anak-anak itu dari pembunuhan Herodes. Apa buktinya? Alkitab mencatat dua kali Ia menunjukkan kemampuan-Nya. <br />''Pertama'': memperingatkan orang Majus melalui mimpi agar tidak kembali kepada Herodes (ayat 11-12). <br />''Kedua'': Ia mengutus malaikat untuk memberitahu Yusuf agar ia menyelamatkan keluarganya dari pembunuhan Herodes (ayat 13-18). Karena itu sebenarnya Allah juga dapat memberi mimpi atau mengutus malaikat untuk memberitahu para orang tua yang memiliki anak laki-laki berusia di bawah dua tahun agar menyelamatkan anak-anak mereka. Bahkan ada cara lain yang lebih praktis: Ia cukup mengutus satu malaikat saja untuk memusnahkan Herodes dengan seluruh pasukannya. Dalam Perjanjian Lama, ketika Israel dikepung Sanherib —Raja Asyur— hanya dengan satu malaikat saja maka seluruh pasukan yang berjumlah 185 ribu orang dapat dimusnahkan dalam satu malam (baca 2 Raja-Raja 18). Jadi mudah sekali bagi Allah untuk mengatasi masalah ini. == HARUSKAH ALLAH TURUN TANGAN? == Jika Ia tahu dan berkuasa, maka pertanyaan selanjutnya adalah haruskah Ia turun tangan memberi pertolongan? Ya! Bagi saya Allah tidak memiliki alasan apa pun untuk menjawab “tidak”. Pertimbangkanlah alasan-alasan berikut ini: # Allah itu mahakasih dan membenci kejahatan, maka sudah seharusnyalah Ia mencegah terlaksananya niat jahat Herodes. # Apalagi dalam kasus ini, bukankah Dia yang menjadi “biang keroknya”? Seandainya Yesus tidak lahir, sudah tentu tidak akan terjadi kemalangan tersebut. Pembunuhan anak-anak itu terjadi “gara-gara” Tuhan Yesus lahir, bukan? # Lagi pula toh malaikat sudah diutus, sehingga ia bisa sambil lewat memberitahu juga kepada keluarga-keluarga lain yang mempunyai anak laki-laki di bawah dua tahun untuk melarikan diri. # Herodes tanpa melakukan pembunuhan anak-anak pun sudah seharusnya ditumbangkan. Hampir tidak ada satu hari pun dalam pemerintahannya tanpa orang dihukum mati. <br />Jangankan orang lain, keluarganya sendiri juga ia bunuh: istri, putra, maupun iparnya. Bahkan lima hari sebelum kematiannya, ia memerintahkan para laskarnya untuk menangkap orang-orang Yahudi agar mereka dihukum mati pada hari kematiannya. <br />Ia melakukan hal itu demi terciptanya suasana berkabung di seluruh negeri pada saat ia mati. Orang sekejam itu seharusnya tidak boleh dibiarkan hidup apalagi memegang kuasa pemerintahan. == ALLAH YANG DIAM SAJA == Namun ternyata Allah tidak mencegah, menumbangkan, atau membunuh Herodes. Selain Yusuf, Maria, Yesus, serta para majus, Allah tidak menyelamatkan anak-anak lain dan dibiarkan-Nya keluarga mereka meratap karena kehilangan. Apa yang terjadi jika Anda adalah salah satu dari keluarga korban? Anak Anda direbut dari pelukan dan disembelih di depan mata Anda? Saat Anda meratap memeluk tubuh kecil yang berlumuran darah, saya sebagai seorang pendeta datang berkunjung dan memberitahukan tiga hal dengan maksud untuk menghibur Anda: <br />1. Allah mengasihi Anda, <br />2. Allah sudah tahu peristiwa itu akan terjadi jauh sebelumnya, dan <br />3. Allah bisa menyelamatkan anak Anda kalau Ia mau, bahkan Ia sudah membuktikan itu dengan mengirimkan malaikat untuk menyelamatkan Yesus dan orang majus. Apakah ketiga hal tersebut akan mendatangkan rasa aman dan meneguhkan iman Anda atau malah menggoncangkan dan membuat Anda marah kepada Tuhan? Apalagi kalau rumah Anda tepat di sebelah rumah atau berseberangan dengan rumah Yusuf dan Yesus juga sering datang bermain ke rumah Anda. Sungguh tidak masuk akal, Tuhan sama sekali tidak menyuruh malaikatnya mampir memberitahukan bahaya yang tengah mengancam itu. Pasti kita akan sangat marah kepada Tuhan, bukan? Mengapa? Karena setiap orang menyetujui bahwa kasih pasti peduli terhadap yang dikasihi dan diwujudkan dalam tindakan konkrit. Maka apabila seseorang mengetahui ada bahaya besar yang akan mengancam orang yang dikasihi-nya, pastilah ia akan memberitahukannya; dan jika ia mampu, pasti ia akan menolong. Sebaliknya, tahu tetapi tidak mau memberitahu, berkuasa menolong tetapi menonton saja, bukan saja membuktikan bahwa kasihnya adalah omong kosong tetapi juga membuat dia harus dipersalahkan. Misalnya saja jika seseorang mengetahui sebelumnya bahwa ada sebuah bom akan meledak di dalam mobil yang diparkir dan sekalipun ia mampu menaklukkan bom itu atau memberitahu pihak yang berwajib tetapi dia diam saja, maka secara hukum orang ini ikut bertanggung jawab atas musibah tersebut. == TUMPUAN IMAN == Jika demikian, iman yang didasarkan pada Allah yang seperti apakah yang membuat kita dapat bertahan, kokoh tak tergoyahkan ketika dihadang pelbagai masalah? Saya menawarkan 3 pilihan: === 1. ALLAH YANG MAHATAHU, MAHAKASIH, MAHAKUASA, DAN SELALU BERTINDAK MENURUT PERMINTAAN KITA. === Masalah apa pun yang kita hadapi, kapan pun, dan di mana pun, Ia akan dengan sigap menolong. Ketika pasangan kita berselingkuh dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberinya pertobatan. Ketika kita mengalami kesulitan keuangan untuk sekolah anak-anak dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan jalan keluar. Ketika kita menderita sakit penyakit dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan kesembuhan. Ketika kita dalam marabahaya dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan keselamatan. Jika kita memiliki Allah seperti itu, dijamin iman kita tak akan pernah goyah bukan? Terus terang saja saya juga sangat menginginkan memiliki Allah seperti itu. Sebagai seorang pendeta, ketika berdoa bagi orang-orang yang sedang dalam penderitaan entah karena ekonomi, sakit-penyakit, keluarga tidak harmonis, dan seterusnya, seringkali saya mengalami frustrasi yang mendalam karena melihat penderitaan yang terus berlanjut dan doa-doa tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Saya membayangkan betapa bahagianya jika memiliki Allah yang cekatan dalam mengabulkan doa-doa kita. Tetapi dalam realita, Allah yang dinyatakan dalam Alkitab tidaklah seperti itu. Berulang kali ditunjukkan kepada kita bahwa Ia mengatakan "tidak" terhadap permintaan kita yang paling baik, yang bagi kita tidak ada satu alasan apa pun untuk ditolak-Nya. Sehingga jawaban "tidak"-Nya itu seringkali terasa begitu tidak masuk akal dan menimbulkan kegusaran di hati kita. Saya percaya itulah juga yang terjadi pada Meg Woodson yang kisahnya diceritakan Philip Yancey dalam buku terkenalnya Dissapointment With God. {{quote|Meg adalah seorang Kristen yang taat dan setia, istri pendeta dan penulis yang sangat berbakat. Keluarga Woodson memiliki dua orang anak yang bernama Peggie dan Joey. Kedua-duanya lahir dengan penyakit cyctic fibrosis. Peggie dan Joey tetap saja kurus tidak peduli seberapa banyak mereka makan. Mereka terus menerus batuk dan sulit bernapas. Meg terpaksa menepuk dada mereka dua kali sehari untuk mengeluarkan riak yang mengganjal. Dalam setahun kedua anak ini harus masuk rumah sakit selama beberapa minggu dan kemungkinan besar anak-anak ini akan mati sebelum mencapai usia dewasa. Dan benar! Joey, bocah lelaki yang cerdas dan riang, meninggal pada usia dua belas tahun. Tetapi syukurlah Peggie tumbuh semakin sehat sehingga pengharapan agar ia sembuh menjadi semakin kuat. Tetapi ternyata ia meninggal pada usia dua puluh tiga. Setelah Peggie meninggal, Meg menulis sebuah surat untuk Philip Yancey yang isinya, "Saya menyadari bahwa saya ingin menceritakan kepada Anda tentang bagaimana Peggie meninggal. Saya tidak tahu apa penyebabnya kecuali bahwa dorongan untuk membicarakan hal ini terasa begitu kuat. Saya tidak mau merepotkan kawan-kawan lebih dari satu kali dan tidak ada lagi orang yang bisa saya ajak bicara. Pada akhir minggu sebelum ia harus masuk rumah sakit terakhir kalinya, Peggie pulang dengan semangat membicarakan perkataan William Barclay yang dikutip oleh pendetanya. Ia begitu terkesan dengan kutipan itu sampai menuliskannya di atas sehelai kartu pos untuk saya. "Ketahanan bukan saja berarti kemampuan untuk menanggung beban yang berat, tetapi untuk mengubahnya menjadi kemuliaan." Peggie mengatakan bahwa sang pendeta sendiri mungkin telah melewati minggu yang berat sebab selesai mengutip kalimat itu, ia memukul mimbar, membelakangi hadirin lalu menangis. Setelah beberapa hari berada di rumah sakit dan kesehatannya tidak membaik, Peggie memandang pada semua peralatan yang dihubungkan ke tubuhnya. Ia berkata, "Hai Ma, masih ingat dengan kutipan itu?" Ia lalu memandang lagi ke sekelilingnya dan pada pipa-pipa yang bergelantungan itu, menjulurkan ujung lidahnya di sudut bibir, mengangguk-angguk dan membelalakkan mata dengan kagum memperhatikan segala eksperimen yang sedang dijalaninya. Penyerahan dirinya tetap bertahan selama ia masih dalam keadaan sadar. Rektornya pernah mengunjunginya di rumah sakit dan bertanya apakah ada sesuatu yang dapat ia doakan. Ia sudah terlampau lemah untuk dapat menjawab. Karena itu ia mengangguk kepada saya untuk menjelaskan kutipan dari Barclay dan memintanya untuk berdoa agar penderitaannya diubah menjadi kemuliaan. Saya sedang duduk di samping tempat tidurnya beberapa hari sebelum kematiannya ketika ia mendadak menjerit-jerit. Saya takkan pernah melupakan jeritannya yang melengking menusuk kalbu itu. Para perawat berlarian dari segala arah dan mengelilinginya dengan kasih mereka. 'Tenang saja, Peggie,' kata salah seorang dari mereka, "Jeannie ada di sini." Para perawat itu membelai-belai tubuhnya. Akhirnya ia berhasil ditenangkan kembali dengan kata-kata dan sentuhan mereka. Namun saat jeritan-jeritannya kembali berlanjut, mereka tidak mampu lagi menenangkannya. Saya jarang sekali melihat kasih sayang seperti yang mereka curahkan itu. Wendy, perawat yang menjadi sahabat karib Peggie, mengatakan kepada saya bahwa setiap perawat di lantai itu pasti mempunyai paling sedikit seorang pasien kepada siapa mereka rela menyumbangkan salah satu paru-parunya seandainya dapat. Berlawanan dengan manusia yang bisa merasa hancur karena tidak mampu berbuat apa-apa, Allah yang sebenarnya dapat menolong cuma memandang saja kepada seorang wanita muda yang begitu setia kepada-Nya. Ia malahan memutuskan untuk berpangku tangan dan membiarkannya mati ditelan cyctic fibrosis yang mengerikan itu. Philip, tak ada gunanya untuk berbicara tentang kebaikan yang dihasilkan lewat penderitaan. Atau tentang Allah yang hampir selalu membiarkan proses fisik berjalan sebagaimana mestinya. Sebab seandainya Ia memang turut campur tangan, maka pada setiap tahap penderitaan manusia Ia telah membuat keputusan untuk turun tangan atau tidak. Dalam kasus Peggie, Ia memilih untuk membiarkan penyakit itu mengambil korban. Ada saat-saat di mana reaksi saya hanyalah kesedihan dan kemarahan yang teramat mendalam belaka. Bahkan dengan jalan mengekspresikannya pun perasaan-perasaan itu tidak juga berkurang. Peggie tidak pernah mengeluh tentang Allah. Ini bukanlah suatu sikap yang sok suci. Saya rasa bahwa tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mengeluh. Dan tidak ada seorang pun dari antara kami yang mendampinginya di saat-saat terakhir yang pernah mengeluh. Kami semua merasa dikuatkan. Kasih Allah begitu nyata sehingga orang takkan dapat meragukannya atau mencela jalan-Nya. Seandainya saya menceritakan semua ini kepada Anda dengan tujuan menemukan semacam pemecahan bagi masalah Peggie dan saya sendiri, mungkin saya telah sekali lagi dibawa kepada satu-satunya hal yang menolong saya untuk mengalami kasih Allah, yaitu belaian dan bisikan-Nya, "Aku ada di sini, Meg." Tetapi sekali lagi saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin Ia melihat situasi seperti itu dan diam berpangku tangan saja? Kalau saya pikir-pikir, belum pernah saya mencurahkan hati seperti ini kepada siapa pun karena saya takut bahwa hal ini akan mengganggu imannya. Anda tidak perlu berpikir bahwa Anda harus mengatakan sesuatu untuk membuat saya "merasa lebih baik". Tetapi terima kasih karena Anda sudah mau mendengarkan. Kebanyakan orang tidak dapat membayangkan betapa hal ini dapat menolong seseorang." }}<!-- endquote --> Hati kita mungkin akan menjadi lebih ciut lagi, ketika mengetahui bahwa Meg bukanlah orang pertama dan terakhir yang mengalami kebuntuan rohani di dalam penderitaannya. C. S. Lewis, yang imannya hampir runtuh dalam keputus-asaan karena kesedihannya atas kematian istrinya pernah mengalami hal yang serupa. Ia berkata: "Temuilah Allah saat engkau sangat membutuhkan, ketika semua pertolongan yang lain sia-sia, dan apa yang engkau temukan? Pintu yang dibanting tepat di depan mukamu, dan suara grendel pintu yang dikancingkan sampai 2 kali. Setelah itu sunyi senyap...." Kesimpulannya adalah: jikalau kita berharap Allah yang mahatahu, mahakasih, mahakuasa itu selalu bertindak menurut permintaan kita, maka Allah telah kita perlakukan tidak bedanya dengan jin lampu Aladin yang datang dan pergi, bertindak ini dan itu berdasarkan perintah kita. Jika demikian, sesungguhnya kita lebih berkuasa dari Allah bahkan kita sendirilah 'allah'. Oleh sebab itu, mengharapkan Allah yang penurut seperti itu sebagai tumpuan iman kita —yang sebenarnya hanya ada dalam khayalan kita demi melayani kita sendiri— tidak akan menghasilkan iman yang kokoh, bahkan justru membuat iman semakin rapuh. Jika demikian halnya, maka kita harus memiliki pilihan lain untuk dijadikan tumpuan iman kita. === 2. ALLAH YANG MAHATAHU, MAHAKASIH TETAPI TIDAK MAHAKUASA === Allah seperti inilah yang Harold Kushner tawarkan di dalam bukunya yang sangat terkenal When Bad Things Happen to Good people. Buku itu lahir dari kepahitan hidup yang dialami anak laki-laki bungsunya yang bernama Aaron. {{quote|Aaron menderita progeria, suatu cacat bawaan, penuaan dini yang tidak memungkinkan tubuhnya bertumbuh secara normal. Ia meninggal dunia dua hari setelah ulang tahunnya yang keempat belas. Kushner menulis buku itu dengan tujuan untuk berbagi cerita dengan orang lain tentang bagaimana caranya ia tetap percaya kepada Allah yang tidak menolongnya pada saat dia menderita. Ia memutuskan bahwa Allah pasti baik, karena itu Dia tidak suka melihat orang menderita. Dia telah berusaha keras untuk itu, namun apa daya sebagaimana pepatah "maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai", Dia tidak punya cukup kemampuan untuk itu. Artinya Dia memang mahabaik, adil dan kasih tetapi tidak mahakuasa. Kitalah yang telah mengharap terlalu banyak dari Dia. Hal-hal buruk terjadi pada orang-orang baik karena Allah tidak mengendalikan dunia ini. Ia tidak berdaya mencegah terjadinya hal-hal buruk pada kita. Dunia yang diciptakan-Nya ini berjalan sendiri. Alam tidak pandang bulu dan buta. Bakteri dan virus tidak memilih-milih siapa yang akan mereka jangkiti. Mesin pesawat terbang gagal dan pesawat jatuh tanpa sebab dan alasan. Jadi hal-hal buruk terjadi begitu saja dan itu bukan rencana Tuhan. "Paling banyak, yang dijanjikan kepada kita," tulisnya, "adalah kita tidak akan sendirian di dalam penderitaan kita dan kita dapat mencari sumber kekuatan dan keberanian dari luar diri kita untuk bertahan terhadap berbagai tragedi dan ketidakadilan hidup". }}<!-- endquote --> Banyak orang yang dalam kesusahan mendapatkan penghiburan dan diteguhkan imannya melalui buku itu. Terbukti sampai hari ini, walaupun bertahun-tahun telah berlalu sejak pertama kali diterbitkan pada tahun delapan puluhan, buku ini terus dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dan dibaca secara luas. Tetapi pada akhirnya dengan pemahaman yang seperti ini orang akan dikuasai kegelisahan yang lebih besar, karena berarti Allah tidak sepenuhnya mengendalikan dunia ini. Segala sesuatu terjadi berdasarkan kemujuran dan kesialan belaka. Dan ketika yang kita minta dalam doa ternyata di luar kesanggupan Allah untuk memenuhinya, kita cuma bisa berharap Ia akan duduk menangis dan bersama-sama merasakan getirnya keputus-asaan. Jelas ini bukan Allah yang Alkitab katakan. Alkitab menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat atas segala ciptaan, tidak ada kuasa di atas kuasa-Nya, segala sesuatu adalah hamba-Nya. Tidak ada yang bisa memaksa-Nya, tidak ada yang bisa membatalkan, menggagalkan segala hal yang Ia kehendaki atau yang Ia tidak kehendaki. Pada pilihan ke-2 ini kita bisa membuat variasi "Allah mahatahu, mahakuasa tetapi maha jahat" atau "Allah mahatahu, mahajahat tetapi tidak mahakuasa", dst. Tetapi hal ini tidak diperlukan karena hanya menjadi bertele-tele dan pasti kesimpulan akhirnya adalah Allah seperti itu tidak bisa menjadi tumpuan iman kita. Sekarang marilah kita mempertimbangkan pilihan ke 3. === 3. ALLAH ITU TIDAK ADA. === Semakin kita berharap kepada pertolongan orang lain, semakin rentan kita untuk dikecewakan. Apalagi kalau yang kita harapkan untuk memberi uluran tangan itu ternyata tidak eksis. {{quote|Beberapa tahun lalu Detroit Press pernah memuat surat seorang sandera Iran. Surat itu merupakan responsnya terhadap surat penghiburan yang dikirim oleh temannya. Sandera ini berusia 64 tahun dan ia menulis surat responsnya pada hari ke 249 ia di penjara. Bunyinya: "Saya berharap saya dapat percaya seperti engkau, tetapi sayang sekali saya tidak bisa. Penderitaan ini sudah berlangsung lama dan tidak satu doa pun yang saya panjatkan didengar Allah. Seperti yang engkau telah ketahui saya sudah sering berkeliling dunia mengunjungi kamp-kamp konsentrasi tempat berjuta-juta orang menderita dan meninggal dunia. Seruan mereka tidak didengar Allah. Bagaimana orang bisa tetap percaya?" }}<!-- endquote --> Karena itu tidak heran banyak orang yang berpendapat bahwa segala penderitaan: sakit penyakit, kemiskinan, kelaparan, bencana alam, kejahatan merupakan bukti tidak adanya Allah. Akibatnya mereka tidak merasa perlu untuk berdoa atau membangun iman di atas Allah. Bagi mereka semua ini hanya akan memperdalam kekecewaan dan merupakan kesia-sian belaka, seperti berteriak pada kekosongan. Maka hal terbaik menurut mereka adalah berimanlah kepada diri sendiri. Pertanyaannya adalah: benarkah kejahatan dan penderitaan hebat membuktikan Allah tidak ada? Alkitab tidak malu-malu, sungkan atau menutup-nutupi bahwa Allah bisa membiarkan kejahatan terjadi sekalipun Ia tahu jauh sebelumnya dan berkuasa untuk mencegahnya. Pembunuhan yang dilakukan Hitler dan Herodes bukanlah satu-satunya contoh. Di dalam Perjanjian Lama kita membaca cerita yang sama di mana anak-anak orang Ibrani dibunuh, kemudian dimulailah perbudakan ratusan tahun lamanya. Walau Allah tahu itu akan terjadi, dan sudah mengkomunikasikannya kepada Abraham sebelum bangsa itu sendiri eksis, bahkan sebelum nama Abram berganti menjadi Abraham (Baca Kej 15:13). Bukan itu saja, Ia juga berkuasa kalau mau menghentikan kejahatan itu. Kemampuan itu Ia tunjukkan melalui 10 tulah dahsyat yang menimpa Mesir. Tapi dalam realita Ia terlihat membiarkan saja semua hal ini terjadi. Lebih dari itu, argumentasi bahwa penderitaan membuktikan Allah tidak ada merupakan argumentasi yang paling tak dapat digunakan di dalam iman Kristen. Karena dengan inkarnasi-Nya, Allah Anak masuk ke dalam penderitaan manusia sampai-sampai Ia disebut sebagai "... seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan..." (Yesaya 53:3). Dan di setiap penderitaan yang Kristus alami sampai puncaknya di atas kayu salib, Bapa-Nya tahu, Bapa-Nya berkuasa menyelamatkan-Nya, tetapi justru sengaja mendiamkan-Nya sebagai bentuk kasih tertinggi-Nya kepada kita. Dengan demikian, alih-alih membuktikan Allah tidak ada, penderitaan malah sebaliknya justru menunjukkan bahwa Allah bisa kita jumpai di tengah-tengah penderitaan. Maka dari itu ketika terjadi suatu kejahatan yang begitu dahsyat —yang tidak akan pernah kita bisa mengerti mengapa Allah membiarkan itu terjadi— tidak membuktikan Allah tidak tahu, tidak berkuasa, atau tidak peduli, apalagi tidak ada. Memang benar beriman kepada obyek yang keliru adalah kesia-siaan, namun beriman kepada diri sendiri tidaklah lebih baik juga. Sebenarnya itu merupakan ekspresi ketakutan, seperti seseorang karena takut dikecewakan kekasih memilih untuk tidak berpacaran; takut dikecewakan suami/istri maka memilih untuk tidak menikah; takut pesawat jatuh maka memilih tidak naik pesawat. Walau kelihatannya aman tetapi sesungguhnya sangat besar kerugiannya. == KEMBALI KEPADA ALLAH ALKITAB == Menjawab pertanyaan awal kita, “Jika demikian, apa pilihan kita? Allah seperti apa yang dapat membuat iman kita kokoh tak tergoyahkan ketika dihadang pelbagai masalah?” Kita tidak memiliki pilihan yang terbaik selain kembali kepada yang Alkitab tunjukkan yaitu Allah yang mahatahu, mahakuasa, mahakasih, serta mahaberdaulat. Dengan demikian ketika kesusahan besar menghadang, yang kita butuhkan bukanlah mencoba membangun sesosok Allah yang cocok dengan pikiran kita untuk dijadikan tumpuan iman kita, melainkan menyesuaikan respons kita kepada Allah yang Alkitab tunjukkan kepada kita. Berikut ini adalah dua sikap yang sesuai dengan kehendak Allah: === 1. BERSANDAR ATAU PERCAYA KEPADA KEBAIKAN-NYA (TRUST) === Artinya ketika persoalan datang menimpa, kita akan menjawab "Ya" pada pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa-kah Allah tahu? Apakah Allah bisa menolong? Apakah Allah baik? Satu-satunya yang tidak dapat kita pastikan adalah, "Apakah Ia mau melakukannya?" Tetapi saat Ia menjawab "Tidak", kita dapat mengatakan kepada diri kita, "Sesungguhnya aku ini anak yang dikasihi-Nya, ke-adaanku secara menyeluruh diketahui-Nya dan Ia sangat berkuasa menolongku. Jika Ia sampai tidak menolongku, pastilah ada sesuatu yang berbeda dalam pikiran dan ke-inginan-Nya, dalam rencana dan tujuan-Nya yang sedang Ia kerjakan atasku." Ada sebuah pengalaman indah yang saya alami dengan anak saya ketika ia berusia 4-5 tahun sebagaimana pernah saya ceritakan dalam buku saya terdahulu "Menapaki Hari Bersama Allah". {{quote|Saat itu karena ia positif terjangkit demam berdarah, dokter meminta kami orangtuanya agar setiap hari memantau trombosit anak ini. Berarti ia harus diambil darahnya selama beberapa hari berturut-turut di laboratorium, sampai ada petunjuk kemajuan positif pada jumlah trombositnya. Hari pertama membawanya ke laboratorium, anak saya bertanya “Tempat apa ini, ayah?” Saya tidak menjawabnya. Setelah didudukkan di sebuah kursi dan lengannya diikat tali karet, ia mulai merengek dan akhirnya menangis ketika dia melihat jarum suntik dihujamkan ke lengannya. Hari kedua prosedur yang sama harus dilaluinya. Namun berbeda dengan hari terdahulu karena sekarang ia sudah tahu, sehingga semakin berat menjalaninya. Tiba di depan laboratorium saja ia sudah tidak mau turun dari mobil, terpaksa saya menggendong dengan paksa dan membawanya masuk sekalipun ia menangis dan minta pulang. Ketika didudukkan, ia gemetar ketakutan mengantisipasi perlakuan “buruk” yang akan menimpanya. }}<!-- endquote --> Ketika merenungkan kejadian itu, saya bertanya-tanya, tahukah saya ketakutan dan penderitaan anak saya? Tahu. Bisakah saya menyelamatkannya dari jarum suntik, dan mengabulkan permintaannya untuk dibawa pulang? Bisa. Apakah saya mengasihinya? Ya. Itulah yang membuat saya membawanya ke laboratorium itu. Kalau begitu, maukah saya membawanya pulang? Tidak. Ketika mencoba menempatkan diri di tempat si anak, saya berpikir ketika ia meminta saya membawanya pulang, pasti menurutnya tidak ada alasan apa pun untuk saya tidak mengabulkannya. “Bukankah ayah tahu ini menyakitkan, membuatku gemetar ketakutan luar biasa, bukankah ayah mampu menolongku, dan bukankah ayah mengasihiku? Kalau begitu tidak ada alasan ayah membiarkan aku di sini.” Sesungguhnya saya juga menderita. Coba bayangkan, bagaimana rasanya mendampingi anak itu, melihat ketakutan dan kesakitannya padahal saya dapat dengan mudah menyelamatkannya, tetapi saya justru harus menahan diri, tidak boleh melakukannya karena alasan-alasan yang kalau saya jelaskan juga tidak mungkin dimengerti anak itu. Terus terang dalam keadaan demikian sebenarnya lebih mudah bagi saya mengabulkan permintaan anak itu daripada menahan diri, berdiam dan menyaksikan kesusahannya berlanjut. Sesungguhnya, baik ayah maupun anak sama-sama merasa susah, walaupun kesusahannya berbeda. Tetapi di atas semua itu, terlintas dalam pikiran saya bahwa satu-satunya yang bisa menolong anak saya untuk bisa menjalani penderitaannya tanpa bersungut-sungut walaupun ia takut adalah justru kalau ia tahu bahwa “ayahku tahu penderitaanku, ayahku sungguh sanggup melepaskanku, dan ayahku sangat mengasihiku. Maka jika ia sampai tidak berbuat apa-apa, pastilah ada yang ia maksudkan. Kalau begitu aku berserah saja.” Pelajaran serupa diberikan kepada kita oleh James Hudson Taylor, misionari perintis yang mendirikan China Inland Mission. Selama berlangsungnya Pemberontakan Boxer yang sangat mengerikan itu —di mana para misionari ditangkapi dan dibunuh— James mengalami tekanan kesedihan yang sangat berat sampai-sampai ia tidak mampu berdoa. Ia meringkas pergumulannya dalam buku hariannya, "Aku tidak bisa membaca, tidak bisa berpikir, tidak bisa berdoa. Tetapi aku bisa bersandar (I can't read. I can't think. I can't pray. But I can trust.)" Tak seorang pun tahu apa yang terjadi esok. Mungkin saja hari-hari gelap akan kita masuki, yang kepekatannya membuat kita tidak lagi bisa membaca firman-Nya, melihat wajah-Nya, dan meraba tangan-Nya. Namun di saat-saat seperti itu kita masih tetap dapat percaya bahwa apa yang tersembunyi bagi kita tidak tersembunyi bagi Dia. Ia membaca hati kita, melihat wajah kita dengan jelas, dan memegang erat tangan kita. === 2. TAKLUK KEPADA KEDAULATAN-NYA === Jika di awal Injil Matius, kita diberitahu bagaimana Yesus kecil diselamatkan dari ancaman akan dibunuh Herodes, tidaklah demikian di akhir Injil saat Ia menghadapi salib. Allah tidak menurunkan-Nya dari salib. Ditunjukkan di situ bahwa adakalanya Allah memperlakukan kita secara ajaib dan menakjubkan bahkan tanpa kita minta, tanpa kita berdoa. Tetapi di lain kesempatan perlakuan-Nya nampak tidak manusiawi, sekalipun kita sudah berteriak-teriak berdoa memohon pertolongan-Nya. Namun sebagaimana Yesus taat ketika Bapa-Nya mengatakan "tidak" pada permintaan-Nya untuk tidak meminum cawan pahit-Nya, demikian juga seharusnya kita. Ketaklukan serupa diperlihatkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika memilih masuk dapur api daripada menyembah patung Nebukadnezar. Mereka menjawab kepada sang raja, "Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami...". Perkataan ini menyatakan bahwa mereka sepenuhnya percaya kepada kuasa, kemampuan, kasih dan kehadiran Allah. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, mereka melanjutkannya, "Maka jika Ia mau Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku..." (Dan 3:17-18). Dengan kata lain "Jika Ia mau Ia akan selamatkan kami, tetapi kalau Ia ingin kami mati terbakar, kami akan taat." Kalimat ini menunjukkan betapa mereka takluk sepenuhnya kepada kedaulatan-Nya. == PENUTUP == Allah adalah Allah yang bisa melakukan apa saja yang disukainya dan tidak seorang pun dapat berkata kepada-Nya, "Engkau tidak boleh melakukan itu kepadaku." Oleh karena itu kematangan seorang Kristen terlihat di dalam keberaniannya memberi kepada Allah kebebasan untuk memutuskan dan mengerjakan kebijakan-Nya yang baik, bukan menurut kita tetapi menurut-Nya. Maka pada saat-saat kita berada di lembah kekelaman dan Ia nampak diam, yang dipertanyakan bukanlah kasih, kemahakuasaan, kemahatahuan-Nya: Apakah Allah peduli? Apakah Ia berdaya? Apakah Ia tahu? Sebaliknya yang dipertanyakan adalah seberapa besar iman kita kepada hikmat dan kebaikan-Nya serta ketaatan kita kepada keputusan-Nya. Saya ingin menutup dengan menyanyikan lagu Percaya dan Patuh (Trust and Obey) sebagai doa dan pernyataan isi hati kita kepada Allah. :#Bersama Tuhanku dalam t’rang firman-Nya<br />Ia yang menyinari jalanku.<br />Kuturut p’rintah-Nya, Ia tinggal dalamku<br />beserta umat-Nya yang patuh.<br /> :#Hilang awan gelap, lenyap bayang maut<br />saat nampak wajah Tuhanku.<br />Hilanglah bimbangku, lenyap airmataku<br />percaya dan patuh pada-Nya.<br /> :#Tiada beban berat, tiada kesusahan<br />pend’ritaanku Ia peduli.<br />Hilanglah sedihku, lenyaplah hinaku<br />kar’na anugrah-Nya besarlah.<br /> :Reff: :Percayalah dan patuh pada-Nya. :Kau slalu dikasihi, hanya percayalah. q3cw1fzqgc5muww2uoo2kwcutnuyv4z 118704 118703 2026-09-04T11:37:41Z Bennylin 425 118704 wikitext text/x-wiki {{header}} {{C|MATIUS 2:1-2}} ---- ''¹ Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem ² dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”'' {{C|MATIUS 2:11-18}} ---- ''¹¹ Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan, dan mur. ¹² Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. '' ''¹³ Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” ¹⁴ Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, ¹⁵ dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” '' ''¹⁶ Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. <sup>17</sup> Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: <sup>18</sup> "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."'' = Bab 1: Tumpuan Iman = Pemusnahan 6.000.000 orang bangsa Yahudi secara brutal oleh Hitler, membuat bangsa ini bergumul dan bertanya-tanya, "Di manakah Allah saat kita menderita?" Pertanyaan itu menyiratkan kekecewaan yang mendalam terhadap Tuhan karena Ia tidak hadir dan bertindak pada saat-saat yang paling dibutuhkan. Bagaimana mungkin Ia cuma duduk diam menyaksikan penderitaan manusia, bahkan terhadap umat pilihan-Nya sendiri? Peristiwa semacam ini juga terjadi saat Herodes yang karena takut kekuasaannya direbut oleh Yesus — raja yang baru lahir itu — memutuskan untuk membunuh semua anak laki-laki yang berusia di bawah dua tahun. == ALLAH HADIR DAN MENGETAHUI == Di manakah Allah saat-saat seperti itu? Apakah Ia hadir pada saat pasukan Herodes melaksanakan perintah-nya untuk membunuh anak-anak tersebut? Ya, Ia hadir. Ia sudah mengetahui akan terjadinya peristiwa tersebut ratusan tahun sebelumnya, bahkan sebelum dunia diciptakan. Matius mencatat bahwa pembunuhan yang dilakukan Herodes itu sudah difirmankan Allah melalui nubuat Nabi Yeremia (31:15) yang dikutip dalam Matius 2:18: {{quote|"Terdengarlah suara di Rama tangis dan ratap yang amat sedih, Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur sebab mereka tidak ada lagi."}} == ALLAH SANGGUP MENOLONG == Ia bukan hanya tahu, tetapi sesungguhnya Ia juga sanggup menolong anak-anak itu dari pembunuhan Herodes. Apa buktinya? Alkitab mencatat dua kali Ia menunjukkan kemampuan-Nya. <br />''Pertama'': memperingatkan orang Majus melalui mimpi agar tidak kembali kepada Herodes (ayat 11-12). <br />''Kedua'': Ia mengutus malaikat untuk memberitahu Yusuf agar ia menyelamatkan keluarganya dari pembunuhan Herodes (ayat 13-18). Karena itu sebenarnya Allah juga dapat memberi mimpi atau mengutus malaikat untuk memberitahu para orang tua yang memiliki anak laki-laki berusia di bawah dua tahun agar menyelamatkan anak-anak mereka. Bahkan ada cara lain yang lebih praktis: Ia cukup mengutus satu malaikat saja untuk memusnahkan Herodes dengan seluruh pasukannya. Dalam Perjanjian Lama, ketika Israel dikepung Sanherib —Raja Asyur— hanya dengan satu malaikat saja maka seluruh pasukan yang berjumlah 185 ribu orang dapat dimusnahkan dalam satu malam (baca 2 Raja-Raja 18). Jadi mudah sekali bagi Allah untuk mengatasi masalah ini. == HARUSKAH ALLAH TURUN TANGAN? == Jika Ia tahu dan berkuasa, maka pertanyaan selanjutnya adalah haruskah Ia turun tangan memberi pertolongan? Ya! Bagi saya Allah tidak memiliki alasan apa pun untuk menjawab “tidak”. Pertimbangkanlah alasan-alasan berikut ini: # Allah itu mahakasih dan membenci kejahatan, maka sudah seharusnyalah Ia mencegah terlaksananya niat jahat Herodes. # Apalagi dalam kasus ini, bukankah Dia yang menjadi “biang keroknya”? Seandainya Yesus tidak lahir, sudah tentu tidak akan terjadi kemalangan tersebut. Pembunuhan anak-anak itu terjadi “gara-gara” Tuhan Yesus lahir, bukan? # Lagi pula toh malaikat sudah diutus, sehingga ia bisa sambil lewat memberitahu juga kepada keluarga-keluarga lain yang mempunyai anak laki-laki di bawah dua tahun untuk melarikan diri. # Herodes tanpa melakukan pembunuhan anak-anak pun sudah seharusnya ditumbangkan. Hampir tidak ada satu hari pun dalam pemerintahannya tanpa orang dihukum mati. <br />Jangankan orang lain, keluarganya sendiri juga ia bunuh: istri, putra, maupun iparnya. Bahkan lima hari sebelum kematiannya, ia memerintahkan para laskarnya untuk menangkap orang-orang Yahudi agar mereka dihukum mati pada hari kematiannya. <br />Ia melakukan hal itu demi terciptanya suasana berkabung di seluruh negeri pada saat ia mati. Orang sekejam itu seharusnya tidak boleh dibiarkan hidup apalagi memegang kuasa pemerintahan. == ALLAH YANG DIAM SAJA == Namun ternyata Allah tidak mencegah, menumbangkan, atau membunuh Herodes. Selain Yusuf, Maria, Yesus, serta para majus, Allah tidak menyelamatkan anak-anak lain dan dibiarkan-Nya keluarga mereka meratap karena kehilangan. Apa yang terjadi jika Anda adalah salah satu dari keluarga korban? Anak Anda direbut dari pelukan dan disembelih di depan mata Anda? Saat Anda meratap memeluk tubuh kecil yang berlumuran darah, saya sebagai seorang pendeta datang berkunjung dan memberitahukan tiga hal dengan maksud untuk menghibur Anda: <br />1. Allah mengasihi Anda, <br />2. Allah sudah tahu peristiwa itu akan terjadi jauh sebelumnya, dan <br />3. Allah bisa menyelamatkan anak Anda kalau Ia mau, bahkan Ia sudah membuktikan itu dengan mengirimkan malaikat untuk menyelamatkan Yesus dan orang majus. Apakah ketiga hal tersebut akan mendatangkan rasa aman dan meneguhkan iman Anda atau malah menggoncangkan dan membuat Anda marah kepada Tuhan? Apalagi kalau rumah Anda tepat di sebelah rumah atau berseberangan dengan rumah Yusuf dan Yesus juga sering datang bermain ke rumah Anda. Sungguh tidak masuk akal, Tuhan sama sekali tidak menyuruh malaikatnya mampir memberitahukan bahaya yang tengah mengancam itu. Pasti kita akan sangat marah kepada Tuhan, bukan? Mengapa? Karena setiap orang menyetujui bahwa kasih pasti peduli terhadap yang dikasihi dan diwujudkan dalam tindakan konkrit. Maka apabila seseorang mengetahui ada bahaya besar yang akan mengancam orang yang dikasihi-nya, pastilah ia akan memberitahukannya; dan jika ia mampu, pasti ia akan menolong. Sebaliknya, tahu tetapi tidak mau memberitahu, berkuasa menolong tetapi menonton saja, bukan saja membuktikan bahwa kasihnya adalah omong kosong tetapi juga membuat dia harus dipersalahkan. Misalnya saja jika seseorang mengetahui sebelumnya bahwa ada sebuah bom akan meledak di dalam mobil yang diparkir dan sekalipun ia mampu menaklukkan bom itu atau memberitahu pihak yang berwajib tetapi dia diam saja, maka secara hukum orang ini ikut bertanggung jawab atas musibah tersebut. == TUMPUAN IMAN == Jika demikian, iman yang didasarkan pada Allah yang seperti apakah yang membuat kita dapat bertahan, kokoh tak tergoyahkan ketika dihadang pelbagai masalah? Saya menawarkan 3 pilihan: === 1. ALLAH YANG MAHATAHU, MAHAKASIH, MAHAKUASA, DAN SELALU BERTINDAK MENURUT PERMINTAAN KITA === Masalah apa pun yang kita hadapi, kapan pun, dan di mana pun, Ia akan dengan sigap menolong. Ketika pasangan kita berselingkuh dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberinya pertobatan. Ketika kita mengalami kesulitan keuangan untuk sekolah anak-anak dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan jalan keluar. Ketika kita menderita sakit penyakit dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan kesembuhan. Ketika kita dalam marabahaya dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan keselamatan. Jika kita memiliki Allah seperti itu, dijamin iman kita tak akan pernah goyah bukan? Terus terang saja saya juga sangat menginginkan memiliki Allah seperti itu. Sebagai seorang pendeta, ketika berdoa bagi orang-orang yang sedang dalam penderitaan entah karena ekonomi, sakit-penyakit, keluarga tidak harmonis, dan seterusnya, seringkali saya mengalami frustrasi yang mendalam karena melihat penderitaan yang terus berlanjut dan doa-doa tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Saya membayangkan betapa bahagianya jika memiliki Allah yang cekatan dalam mengabulkan doa-doa kita. Tetapi dalam realita, Allah yang dinyatakan dalam Alkitab tidaklah seperti itu. Berulang kali ditunjukkan kepada kita bahwa Ia mengatakan "tidak" terhadap permintaan kita yang paling baik, yang bagi kita tidak ada satu alasan apa pun untuk ditolak-Nya. Sehingga jawaban "tidak"-Nya itu seringkali terasa begitu tidak masuk akal dan menimbulkan kegusaran di hati kita. Saya percaya itulah juga yang terjadi pada Meg Woodson yang kisahnya diceritakan [[:w:Philip Yancey|Philip Yancey]] dalam buku terkenalnya ''Dissapointment With God''. {{quote|Meg adalah seorang Kristen yang taat dan setia, istri pendeta dan penulis yang sangat berbakat. Keluarga Woodson memiliki dua orang anak yang bernama Peggie dan Joey. Kedua-duanya lahir dengan penyakit cyctic fibrosis. Peggie dan Joey tetap saja kurus tidak peduli seberapa banyak mereka makan. Mereka terus menerus batuk dan sulit bernapas. Meg terpaksa menepuk dada mereka dua kali sehari untuk mengeluarkan riak yang mengganjal. Dalam setahun kedua anak ini harus masuk rumah sakit selama beberapa minggu dan kemungkinan besar anak-anak ini akan mati sebelum mencapai usia dewasa. Dan benar! Joey, bocah lelaki yang cerdas dan riang, meninggal pada usia dua belas tahun. Tetapi syukurlah Peggie tumbuh semakin sehat sehingga pengharapan agar ia sembuh menjadi semakin kuat. Tetapi ternyata ia meninggal pada usia dua puluh tiga. Setelah Peggie meninggal, Meg menulis sebuah surat untuk Philip Yancey yang isinya, "Saya menyadari bahwa saya ingin menceritakan kepada Anda tentang bagaimana Peggie meninggal. Saya tidak tahu apa penyebabnya kecuali bahwa dorongan untuk membicarakan hal ini terasa begitu kuat. Saya tidak mau merepotkan kawan-kawan lebih dari satu kali dan tidak ada lagi orang yang bisa saya ajak bicara. Pada akhir minggu sebelum ia harus masuk rumah sakit terakhir kalinya, Peggie pulang dengan semangat membicarakan perkataan William Barclay yang dikutip oleh pendetanya. Ia begitu terkesan dengan kutipan itu sampai menuliskannya di atas sehelai kartu pos untuk saya. ''"Ketahanan bukan saja berarti kemampuan untuk menanggung beban yang berat, tetapi untuk mengubahnya menjadi kemuliaan." '' Peggie mengatakan bahwa sang pendeta sendiri mungkin telah melewati minggu yang berat sebab selesai mengutip kalimat itu, ia memukul mimbar, membelakangi hadirin lalu menangis. Setelah beberapa hari berada di rumah sakit dan kesehatannya tidak membaik, Peggie memandang pada semua peralatan yang dihubungkan ke tubuhnya. Ia berkata, "Hai Ma, masih ingat dengan kutipan itu?" Ia lalu memandang lagi ke sekelilingnya dan pada pipa-pipa yang bergelantungan itu, menjulurkan ujung lidahnya di sudut bibir, mengangguk-angguk dan membelalakkan mata dengan kagum memperhatikan segala eksperimen yang sedang dijalaninya. Penyerahan dirinya tetap bertahan selama ia masih dalam keadaan sadar. Rektornya pernah mengunjunginya di rumah sakit dan bertanya apakah ada sesuatu yang dapat ia doakan. Ia sudah terlampau lemah untuk dapat menjawab. Karena itu ia mengangguk kepada saya untuk menjelaskan kutipan dari Barclay dan memintanya untuk berdoa agar penderitaannya diubah menjadi kemuliaan. Saya sedang duduk di samping tempat tidurnya beberapa hari sebelum kematiannya ketika ia mendadak menjerit-jerit. Saya takkan pernah melupakan jeritannya yang melengking menusuk kalbu itu. Para perawat berlarian dari segala arah dan mengelilinginya dengan kasih mereka. "Tenang saja, Peggie," kata salah seorang dari mereka, "Jeannie ada di sini." Para perawat itu membelai-belai tubuhnya. Akhirnya ia berhasil ditenangkan kembali dengan kata-kata dan sentuhan mereka. Namun saat jeritan-jeritannya kembali berlanjut, mereka tidak mampu lagi menenangkannya. Saya jarang sekali melihat kasih sayang seperti yang mereka curahkan itu. Wendy, perawat yang menjadi sahabat karib Peggie, mengatakan kepada saya bahwa setiap perawat di lantai itu pasti mempunyai paling sedikit seorang pasien kepada siapa mereka rela menyumbangkan salah satu paru-parunya seandainya dapat. Berlawanan dengan manusia yang bisa merasa hancur karena tidak mampu berbuat apa-apa, Allah yang sebenarnya dapat menolong cuma memandang saja kepada seorang wanita muda yang begitu setia kepada-Nya. Ia malahan memutuskan untuk berpangku tangan dan membiarkannya mati ditelan cyctic fibrosis yang mengerikan itu. Philip, tak ada gunanya untuk berbicara tentang kebaikan yang dihasilkan lewat penderitaan. Atau tentang Allah yang hampir selalu membiarkan proses fisik berjalan sebagaimana mestinya. Sebab seandainya Ia memang turut campur tangan, maka pada setiap tahap penderitaan manusia Ia telah membuat keputusan untuk turun tangan atau tidak. Dalam kasus Peggie, Ia memilih untuk membiarkan penyakit itu mengambil korban. Ada saat-saat di mana reaksi saya hanyalah kesedihan dan kemarahan yang teramat mendalam belaka. Bahkan dengan jalan mengekspresikannya pun perasaan-perasaan itu tidak juga berkurang. Peggie tidak pernah mengeluh tentang Allah. Ini bukanlah suatu sikap yang sok suci. Saya rasa bahwa tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mengeluh. Dan tidak ada seorang pun dari antara kami yang mendampinginya di saat-saat terakhir yang pernah mengeluh. Kami semua merasa dikuatkan. Kasih Allah begitu nyata sehingga orang takkan dapat meragukannya atau mencela jalan-Nya. Seandainya saya menceritakan semua ini kepada Anda dengan tujuan menemukan semacam pemecahan bagi masalah Peggie dan saya sendiri, mungkin saya telah sekali lagi dibawa kepada satu-satunya hal yang menolong saya untuk mengalami kasih Allah, yaitu belaian dan bisikan-Nya, "Aku ada di sini, Meg." Tetapi sekali lagi saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin Ia melihat situasi seperti itu dan diam berpangku tangan saja? Kalau saya pikir-pikir, belum pernah saya mencurahkan hati seperti ini kepada siapa pun karena saya takut bahwa hal ini akan mengganggu imannya. Anda tidak perlu berpikir bahwa Anda harus mengatakan sesuatu untuk membuat saya "merasa lebih baik". Tetapi terima kasih karena Anda sudah mau mendengarkan. Kebanyakan orang tidak dapat membayangkan betapa hal ini dapat menolong seseorang. }}<!-- endquote --> Hati kita mungkin akan menjadi lebih ciut lagi, ketika mengetahui bahwa Meg bukanlah orang pertama dan terakhir yang mengalami kebuntuan rohani di dalam penderitaannya. [[:w:C.S. Lewis|C.S. Lewis]], yang imannya hampir runtuh dalam keputus-asaan karena kesedihannya atas kematian istrinya pernah mengalami hal yang serupa. Ia berkata: "Temuilah Allah saat engkau sangat membutuhkan, ketika semua pertolongan yang lain sia-sia, dan apa yang engkau temukan? Pintu yang dibanting tepat di depan mukamu, dan suara grendel pintu yang dikancingkan sampai 2 kali. Setelah itu sunyi senyap...." Kesimpulannya adalah: jikalau kita berharap Allah yang mahatahu, mahakasih, mahakuasa itu selalu bertindak menurut permintaan kita, maka Allah telah kita perlakukan tidak bedanya dengan jin lampu Aladin yang datang dan pergi, bertindak ini dan itu berdasarkan perintah kita. Jika demikian, sesungguhnya kita lebih berkuasa dari Allah bahkan kita sendirilah 'allah'. Oleh sebab itu, mengharapkan Allah yang penurut seperti itu sebagai tumpuan iman kita —yang sebenarnya hanya ada dalam khayalan kita demi melayani kita sendiri— tidak akan menghasilkan iman yang kokoh, bahkan justru membuat iman semakin rapuh. Jika demikian halnya, maka kita harus memiliki pilihan lain untuk dijadikan tumpuan iman kita. === 2. ALLAH YANG MAHATAHU, MAHAKASIH TETAPI TIDAK MAHAKUASA === Allah seperti inilah yang [[:w:Harold Kushner|Harold Kushner]] tawarkan di dalam bukunya yang sangat terkenal ''When Bad Things Happen to Good People''. Buku itu lahir dari kepahitan hidup yang dialami anak laki-laki bungsunya yang bernama Aaron. {{quote|Aaron menderita progeria, suatu cacat bawaan, penuaan dini yang tidak memungkinkan tubuhnya bertumbuh secara normal. Ia meninggal dunia dua hari setelah ulang tahunnya yang keempat belas. Kushner menulis buku itu dengan tujuan untuk berbagi cerita dengan orang lain tentang bagaimana caranya ia tetap percaya kepada Allah yang tidak menolongnya pada saat dia menderita. Ia memutuskan bahwa Allah pasti baik, karena itu Dia tidak suka melihat orang menderita. Dia telah berusaha keras untuk itu, namun apa daya sebagaimana pepatah "maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai", Dia tidak punya cukup kemampuan untuk itu. Artinya Dia memang mahabaik, adil dan kasih tetapi tidak mahakuasa. Kitalah yang telah mengharap terlalu banyak dari Dia. Hal-hal buruk terjadi pada orang-orang baik karena Allah tidak mengendalikan dunia ini. Ia tidak berdaya mencegah terjadinya hal-hal buruk pada kita. Dunia yang diciptakan-Nya ini berjalan sendiri. Alam tidak pandang bulu dan buta. Bakteri dan virus tidak memilih-milih siapa yang akan mereka jangkiti. Mesin pesawat terbang gagal dan pesawat jatuh tanpa sebab dan alasan. Jadi hal-hal buruk terjadi begitu saja dan itu bukan rencana Tuhan. "Paling banyak, yang dijanjikan kepada kita," tulisnya, "adalah kita tidak akan sendirian di dalam penderitaan kita dan kita dapat mencari sumber kekuatan dan keberanian dari luar diri kita untuk bertahan terhadap berbagai tragedi dan ketidakadilan hidup". }}<!-- endquote --> Banyak orang yang dalam kesusahan mendapatkan penghiburan dan diteguhkan imannya melalui buku itu. Terbukti sampai hari ini, walaupun bertahun-tahun telah berlalu sejak pertama kali diterbitkan pada tahun delapan puluhan, buku ini terus dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dan dibaca secara luas. Tetapi pada akhirnya dengan pemahaman yang seperti ini orang akan dikuasai kegelisahan yang lebih besar, karena berarti Allah tidak sepenuhnya mengendalikan dunia ini. Segala sesuatu terjadi berdasarkan kemujuran dan kesialan belaka. Dan ketika yang kita minta dalam doa ternyata di luar kesanggupan Allah untuk memenuhinya, kita cuma bisa berharap Ia akan duduk menangis dan bersama-sama merasakan getirnya keputus-asaan. Jelas ini bukan Allah yang Alkitab katakan. Alkitab menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat atas segala ciptaan, tidak ada kuasa di atas kuasa-Nya, segala sesuatu adalah hamba-Nya. Tidak ada yang bisa memaksa-Nya, tidak ada yang bisa membatalkan, menggagalkan segala hal yang Ia kehendaki atau yang Ia tidak kehendaki. Pada pilihan ke-2 ini kita bisa membuat variasi "Allah mahatahu, mahakuasa tetapi maha jahat" atau "Allah mahatahu, mahajahat tetapi tidak mahakuasa", dst. Tetapi hal ini tidak diperlukan karena hanya menjadi bertele-tele dan pasti kesimpulan akhirnya adalah Allah seperti itu tidak bisa menjadi tumpuan iman kita. Sekarang marilah kita mempertimbangkan pilihan ke 3. === 3. ALLAH ITU TIDAK ADA === Semakin kita berharap kepada pertolongan orang lain, semakin rentan kita untuk dikecewakan. Apalagi kalau yang kita harapkan untuk memberi uluran tangan itu ternyata tidak eksis. {{quote|Beberapa tahun lalu Detroit Press pernah memuat surat seorang sandera Iran. Surat itu merupakan responsnya terhadap surat penghiburan yang dikirim oleh temannya. Sandera ini berusia 64 tahun dan ia menulis surat responsnya pada hari ke-249 ia di penjara. Bunyinya: "Saya berharap saya dapat percaya seperti engkau, tetapi sayang sekali saya tidak bisa. Penderitaan ini sudah berlangsung lama dan tidak satu doa pun yang saya panjatkan didengar Allah. Seperti yang engkau telah ketahui saya sudah sering berkeliling dunia mengunjungi kamp-kamp konsentrasi tempat berjuta-juta orang menderita dan meninggal dunia. Seruan mereka tidak didengar Allah. Bagaimana orang bisa tetap percaya?" }}<!-- endquote --> Karena itu tidak heran banyak orang yang berpendapat bahwa segala penderitaan: sakit penyakit, kemiskinan, kelaparan, bencana alam, kejahatan merupakan bukti tidak adanya Allah. Akibatnya mereka tidak merasa perlu untuk berdoa atau membangun iman di atas Allah. Bagi mereka semua ini hanya akan memperdalam kekecewaan dan merupakan kesia-sian belaka, seperti berteriak pada kekosongan. Maka hal terbaik menurut mereka adalah berimanlah kepada diri sendiri. Pertanyaannya adalah: benarkah kejahatan dan penderitaan hebat membuktikan Allah tidak ada? Alkitab tidak malu-malu, sungkan atau menutup-nutupi bahwa Allah bisa membiarkan kejahatan terjadi sekalipun Ia tahu jauh sebelumnya dan berkuasa untuk mencegahnya. Pembunuhan yang dilakukan Hitler dan Herodes bukanlah satu-satunya contoh. Di dalam Perjanjian Lama kita membaca cerita yang sama di mana anak-anak orang Ibrani dibunuh, kemudian dimulailah perbudakan ratusan tahun lamanya. Walau Allah tahu itu akan terjadi, dan sudah mengkomunikasikannya kepada Abraham sebelum bangsa itu sendiri eksis, bahkan sebelum nama Abram berganti menjadi Abraham (''Baca Kej 15:13''). Bukan itu saja, Ia juga berkuasa kalau mau menghentikan kejahatan itu. Kemampuan itu Ia tunjukkan melalui 10 tulah dahsyat yang menimpa Mesir. Tapi dalam realita Ia terlihat membiarkan saja semua hal ini terjadi. Lebih dari itu, argumentasi bahwa penderitaan membuktikan Allah tidak ada merupakan argumentasi yang paling tak dapat digunakan di dalam iman Kristen. Karena dengan inkarnasi-Nya, Allah Anak masuk ke dalam penderitaan manusia sampai-sampai Ia disebut sebagai "... seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan..." (Yesaya 53:3). Dan di setiap penderitaan yang Kristus alami sampai puncaknya di atas kayu salib, Bapa-Nya tahu, Bapa-Nya berkuasa menyelamatkan-Nya, tetapi justru sengaja mendiamkan-Nya sebagai bentuk kasih tertinggi-Nya kepada kita. Dengan demikian, alih-alih membuktikan Allah tidak ada, penderitaan malah sebaliknya justru menunjukkan bahwa Allah bisa kita jumpai di tengah-tengah penderitaan. Maka dari itu ketika terjadi suatu kejahatan yang begitu dahsyat —yang tidak akan pernah kita bisa mengerti mengapa Allah membiarkan itu terjadi— tidak membuktikan Allah tidak tahu, tidak berkuasa, atau tidak peduli, apalagi tidak ada. Memang benar beriman kepada obyek yang keliru adalah kesia-siaan, namun beriman kepada diri sendiri tidaklah lebih baik juga. Sebenarnya itu merupakan ekspresi ketakutan, seperti seseorang karena takut dikecewakan kekasih memilih untuk tidak berpacaran; takut dikecewakan suami/istri maka memilih untuk tidak menikah; takut pesawat jatuh maka memilih tidak naik pesawat. Walau kelihatannya aman tetapi sesungguhnya sangat besar kerugiannya. == KEMBALI KEPADA ALLAH ALKITAB == Menjawab pertanyaan awal kita, “Jika demikian, apa pilihan kita? Allah seperti apa yang dapat membuat iman kita kokoh tak tergoyahkan ketika dihadang pelbagai masalah?” Kita tidak memiliki pilihan yang terbaik selain kembali kepada yang Alkitab tunjukkan yaitu Allah yang mahatahu, mahakuasa, mahakasih, serta maha berdaulat. Dengan demikian ketika kesusahan besar menghadang, yang kita butuhkan bukanlah mencoba membangun sesosok Allah yang cocok dengan pikiran kita untuk dijadikan tumpuan iman kita, melainkan menyesuaikan respons kita kepada Allah yang Alkitab tunjukkan kepada kita. Berikut ini adalah dua sikap yang sesuai dengan kehendak Allah: === 1. BERSANDAR ATAU PERCAYA KEPADA KEBAIKAN-NYA (TRUST) === Artinya ketika persoalan datang menimpa, kita akan menjawab "''Ya''" pada pertanyaan-pertanyaan berikut: <br />Apakah Allah tahu? <br />Apakah Allah bisa menolong? <br />Apakah Allah baik? <br />Satu-satunya yang tidak dapat kita pastikan adalah, "Apakah Ia mau melakukannya?" Tetapi saat Ia menjawab "''Tidak''", kita dapat mengatakan kepada diri kita, "Sesungguhnya aku ini anak yang dikasihi-Nya, keadaanku secara menyeluruh diketahui-Nya dan Ia sangat berkuasa menolongku. Jika Ia sampai tidak menolongku, pastilah ada sesuatu yang berbeda dalam pikiran dan keinginan-Nya, dalam rencana dan tujuan-Nya yang sedang Ia kerjakan atasku." Ada sebuah pengalaman indah yang saya alami dengan anak saya ketika ia berusia 4-5 tahun sebagaimana pernah saya ceritakan dalam buku saya terdahulu "[[Menapaki Hari Bersama Allah]]". {{quote|Saat itu karena ia positif terjangkit demam berdarah, dokter meminta kami orangtuanya agar setiap hari memantau trombosit anak ini. Berarti ia harus diambil darahnya selama beberapa hari berturut-turut di laboratorium, sampai ada petunjuk kemajuan positif pada jumlah trombositnya. Hari pertama membawanya ke laboratorium, anak saya bertanya “Tempat apa ini, ayah?” Saya tidak menjawabnya. Setelah didudukkan di sebuah kursi dan lengannya diikat tali karet, ia mulai merengek dan akhirnya menangis ketika dia melihat jarum suntik dihujamkan ke lengannya. Hari kedua prosedur yang sama harus dilaluinya. Namun berbeda dengan hari terdahulu karena sekarang ia sudah tahu, sehingga semakin berat menjalaninya. Tiba di depan laboratorium saja ia sudah tidak mau turun dari mobil, terpaksa saya menggendong dengan paksa dan membawanya masuk sekalipun ia menangis dan minta pulang. Ketika didudukkan, ia gemetar ketakutan mengantisipasi perlakuan “buruk” yang akan menimpanya. }}<!-- endquote --> Ketika merenungkan kejadian itu, saya bertanya-tanya, tahukah saya ketakutan dan penderitaan anak saya? Tahu. Bisakah saya menyelamatkannya dari jarum suntik, dan mengabulkan permintaannya untuk dibawa pulang? Bisa. Apakah saya mengasihinya? Ya. Itulah yang membuat saya membawanya ke laboratorium itu. Kalau begitu, maukah saya membawanya pulang? Tidak. Ketika mencoba menempatkan diri di tempat si anak, saya berpikir ketika ia meminta saya membawanya pulang, pasti menurutnya tidak ada alasan apa pun untuk saya tidak mengabulkannya. “Bukankah ayah tahu ini menyakitkan, membuatku gemetar ketakutan luar biasa, bukankah ayah mampu menolongku, dan bukankah ayah mengasihiku? Kalau begitu tidak ada alasan ayah membiarkan aku di sini.” Sesungguhnya saya juga menderita. Coba bayangkan, bagaimana rasanya mendampingi anak itu, melihat ketakutan dan kesakitannya padahal saya dapat dengan mudah menyelamatkannya, tetapi saya justru harus menahan diri, tidak boleh melakukannya karena alasan-alasan yang kalau saya jelaskan juga tidak mungkin dimengerti anak itu. Terus terang dalam keadaan demikian sebenarnya lebih mudah bagi saya mengabulkan permintaan anak itu daripada menahan diri, berdiam dan menyaksikan kesusahannya berlanjut. Sesungguhnya, baik ayah maupun anak sama-sama merasa susah, walaupun kesusahannya berbeda. Tetapi di atas semua itu, terlintas dalam pikiran saya bahwa satu-satunya yang bisa menolong anak saya untuk bisa menjalani penderitaannya tanpa bersungut-sungut walaupun ia takut adalah justru kalau ia tahu bahwa “ayahku tahu penderitaanku, ayahku sungguh sanggup melepaskanku, dan ayahku sangat mengasihiku. Maka jika ia sampai tidak berbuat apa-apa, pastilah ada yang ia maksudkan. Kalau begitu aku berserah saja.” Pelajaran serupa diberikan kepada kita oleh [[:w:James Hudson Taylor|James Hudson Taylor]], misionari perintis yang mendirikan [[:w:China Inland Mission|China Inland Mission]]. Selama berlangsungnya Pemberontakan Boxer yang sangat mengerikan itu —di mana para misionari ditangkapi dan dibunuh— James mengalami tekanan kesedihan yang sangat berat sampai-sampai ia tidak mampu berdoa. Ia meringkas pergumulannya dalam buku hariannya, "Aku tidak bisa membaca, tidak bisa berpikir, tidak bisa berdoa. Tetapi aku bisa bersandar. (''I can't read. I can't think. I can't pray. But I can trust.'')" Tak seorang pun tahu apa yang terjadi esok. Mungkin saja hari-hari gelap akan kita masuki, yang kepekatannya membuat kita tidak lagi bisa membaca firman-Nya, melihat wajah-Nya, dan meraba tangan-Nya. Namun di saat-saat seperti itu kita masih tetap dapat percaya bahwa apa yang tersembunyi bagi kita tidak tersembunyi bagi Dia. Ia membaca hati kita, melihat wajah kita dengan jelas, dan memegang erat tangan kita. === 2. TAKLUK KEPADA KEDAULATAN-NYA === Jika di awal Injil Matius, kita diberitahu bagaimana Yesus kecil diselamatkan dari ancaman akan dibunuh Herodes, tidaklah demikian di akhir Injil saat Ia menghadapi salib. Allah tidak menurunkan-Nya dari salib. Ditunjukkan di situ bahwa adakalanya Allah memperlakukan kita secara ajaib dan menakjubkan bahkan tanpa kita minta, tanpa kita berdoa. Tetapi di lain kesempatan perlakuan-Nya nampak tidak manusiawi, sekalipun kita sudah berteriak-teriak berdoa memohon pertolongan-Nya. Namun sebagaimana Yesus taat ketika Bapa-Nya mengatakan "tidak" pada permintaan-Nya untuk tidak meminum cawan pahit-Nya, demikian juga seharusnya kita. Ketaklukan serupa diperlihatkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika memilih masuk dapur api daripada menyembah patung Nebukadnezar. Mereka menjawab kepada sang raja, "Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami...". Perkataan ini menyatakan bahwa mereka sepenuhnya percaya kepada kuasa, kemampuan, kasih dan kehadiran Allah. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, mereka melanjutkannya, "Maka jika Ia mau Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku..." (Dan 3:17-18). Dengan kata lain "Jika Ia mau Ia akan selamatkan kami, tetapi kalau Ia ingin kami mati terbakar, kami akan taat." Kalimat ini menunjukkan betapa mereka takluk sepenuhnya kepada kedaulatan-Nya. == PENUTUP == Allah adalah Allah yang bisa melakukan apa saja yang disukainya dan tidak seorang pun dapat berkata kepada-Nya, "Engkau tidak boleh melakukan itu kepadaku." Oleh karena itu kematangan seorang Kristen terlihat di dalam keberaniannya memberi kepada Allah kebebasan untuk memutuskan dan mengerjakan kebijakan-Nya yang baik, bukan menurut kita tetapi menurut-Nya. Maka pada saat-saat kita berada di lembah kekelaman dan Ia nampak diam, yang dipertanyakan bukanlah kasih, kemahakuasaan, kemahatahuan-Nya: Apakah Allah peduli? Apakah Ia berdaya? Apakah Ia tahu? Sebaliknya yang dipertanyakan adalah seberapa besar iman kita kepada hikmat dan kebaikan-Nya serta ketaatan kita kepada keputusan-Nya. Saya ingin menutup dengan menyanyikan lagu ''Percaya dan Patuh'' (''Trust and Obey'') sebagai doa dan pernyataan isi hati kita kepada Allah. :#''Bersama Tuhanku dalam t’rang firman-Nya<br />Ia yang menyinari jalanku.<br />Kuturut p’rintah-Nya, Ia tinggal dalamku<br />beserta umat-Nya yang patuh.'' :#''Hilang awan gelap, lenyap bayang maut<br />saat nampak wajah Tuhanku.<br />Hilanglah bimbangku, lenyap airmataku<br />percaya dan patuh pada-Nya.'' :#''Tiada beban berat, tiada kesusahan<br />pend’ritaanku Ia peduli.<br />Hilanglah sedihku, lenyaplah hinaku<br />kar’na anugrah-Nya besarlah.'' :''Reff:'' :''Percayalah dan patuh pada-Nya.'' :''Kau slalu dikasihi, hanya percayalah.'' rxy79xsufjh48mpr0lnnc5l7chclkfk 118711 118704 2026-09-04T11:46:31Z Bennylin 425 118711 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous= |next=[[../Roma 8:28|Roma 8:28]] }} {{C|MATIUS 2:1-2}} ---- ''¹ Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem ² dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”'' {{C|MATIUS 2:11-18}} ---- ''¹¹ Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan, dan mur. ¹² Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. '' ''¹³ Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” ¹⁴ Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, ¹⁵ dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” '' ''¹⁶ Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. <sup>17</sup> Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: <sup>18</sup> "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."'' = Bab 1: Tumpuan Iman = Pemusnahan 6.000.000 orang bangsa Yahudi secara brutal oleh Hitler, membuat bangsa ini bergumul dan bertanya-tanya, "Di manakah Allah saat kita menderita?" Pertanyaan itu menyiratkan kekecewaan yang mendalam terhadap Tuhan karena Ia tidak hadir dan bertindak pada saat-saat yang paling dibutuhkan. Bagaimana mungkin Ia cuma duduk diam menyaksikan penderitaan manusia, bahkan terhadap umat pilihan-Nya sendiri? Peristiwa semacam ini juga terjadi saat Herodes yang karena takut kekuasaannya direbut oleh Yesus — raja yang baru lahir itu — memutuskan untuk membunuh semua anak laki-laki yang berusia di bawah dua tahun. == ALLAH HADIR DAN MENGETAHUI == Di manakah Allah saat-saat seperti itu? Apakah Ia hadir pada saat pasukan Herodes melaksanakan perintah-nya untuk membunuh anak-anak tersebut? Ya, Ia hadir. Ia sudah mengetahui akan terjadinya peristiwa tersebut ratusan tahun sebelumnya, bahkan sebelum dunia diciptakan. Matius mencatat bahwa pembunuhan yang dilakukan Herodes itu sudah difirmankan Allah melalui nubuat Nabi Yeremia (31:15) yang dikutip dalam Matius 2:18: {{quote|"Terdengarlah suara di Rama tangis dan ratap yang amat sedih, Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur sebab mereka tidak ada lagi."}} == ALLAH SANGGUP MENOLONG == Ia bukan hanya tahu, tetapi sesungguhnya Ia juga sanggup menolong anak-anak itu dari pembunuhan Herodes. Apa buktinya? Alkitab mencatat dua kali Ia menunjukkan kemampuan-Nya. <br />''Pertama'': memperingatkan orang Majus melalui mimpi agar tidak kembali kepada Herodes (ayat 11-12). <br />''Kedua'': Ia mengutus malaikat untuk memberitahu Yusuf agar ia menyelamatkan keluarganya dari pembunuhan Herodes (ayat 13-18). Karena itu sebenarnya Allah juga dapat memberi mimpi atau mengutus malaikat untuk memberitahu para orang tua yang memiliki anak laki-laki berusia di bawah dua tahun agar menyelamatkan anak-anak mereka. Bahkan ada cara lain yang lebih praktis: Ia cukup mengutus satu malaikat saja untuk memusnahkan Herodes dengan seluruh pasukannya. Dalam Perjanjian Lama, ketika Israel dikepung Sanherib —Raja Asyur— hanya dengan satu malaikat saja maka seluruh pasukan yang berjumlah 185 ribu orang dapat dimusnahkan dalam satu malam (baca 2 Raja-Raja 18). Jadi mudah sekali bagi Allah untuk mengatasi masalah ini. == HARUSKAH ALLAH TURUN TANGAN? == Jika Ia tahu dan berkuasa, maka pertanyaan selanjutnya adalah haruskah Ia turun tangan memberi pertolongan? Ya! Bagi saya Allah tidak memiliki alasan apa pun untuk menjawab “tidak”. Pertimbangkanlah alasan-alasan berikut ini: # Allah itu mahakasih dan membenci kejahatan, maka sudah seharusnyalah Ia mencegah terlaksananya niat jahat Herodes. # Apalagi dalam kasus ini, bukankah Dia yang menjadi “biang keroknya”? Seandainya Yesus tidak lahir, sudah tentu tidak akan terjadi kemalangan tersebut. Pembunuhan anak-anak itu terjadi “gara-gara” Tuhan Yesus lahir, bukan? # Lagi pula toh malaikat sudah diutus, sehingga ia bisa sambil lewat memberitahu juga kepada keluarga-keluarga lain yang mempunyai anak laki-laki di bawah dua tahun untuk melarikan diri. # Herodes tanpa melakukan pembunuhan anak-anak pun sudah seharusnya ditumbangkan. Hampir tidak ada satu hari pun dalam pemerintahannya tanpa orang dihukum mati. <br />Jangankan orang lain, keluarganya sendiri juga ia bunuh: istri, putra, maupun iparnya. Bahkan lima hari sebelum kematiannya, ia memerintahkan para laskarnya untuk menangkap orang-orang Yahudi agar mereka dihukum mati pada hari kematiannya. <br />Ia melakukan hal itu demi terciptanya suasana berkabung di seluruh negeri pada saat ia mati. Orang sekejam itu seharusnya tidak boleh dibiarkan hidup apalagi memegang kuasa pemerintahan. == ALLAH YANG DIAM SAJA == Namun ternyata Allah tidak mencegah, menumbangkan, atau membunuh Herodes. Selain Yusuf, Maria, Yesus, serta para majus, Allah tidak menyelamatkan anak-anak lain dan dibiarkan-Nya keluarga mereka meratap karena kehilangan. Apa yang terjadi jika Anda adalah salah satu dari keluarga korban? Anak Anda direbut dari pelukan dan disembelih di depan mata Anda? Saat Anda meratap memeluk tubuh kecil yang berlumuran darah, saya sebagai seorang pendeta datang berkunjung dan memberitahukan tiga hal dengan maksud untuk menghibur Anda: <br />1. Allah mengasihi Anda, <br />2. Allah sudah tahu peristiwa itu akan terjadi jauh sebelumnya, dan <br />3. Allah bisa menyelamatkan anak Anda kalau Ia mau, bahkan Ia sudah membuktikan itu dengan mengirimkan malaikat untuk menyelamatkan Yesus dan orang majus. Apakah ketiga hal tersebut akan mendatangkan rasa aman dan meneguhkan iman Anda atau malah menggoncangkan dan membuat Anda marah kepada Tuhan? Apalagi kalau rumah Anda tepat di sebelah rumah atau berseberangan dengan rumah Yusuf dan Yesus juga sering datang bermain ke rumah Anda. Sungguh tidak masuk akal, Tuhan sama sekali tidak menyuruh malaikatnya mampir memberitahukan bahaya yang tengah mengancam itu. Pasti kita akan sangat marah kepada Tuhan, bukan? Mengapa? Karena setiap orang menyetujui bahwa kasih pasti peduli terhadap yang dikasihi dan diwujudkan dalam tindakan konkrit. Maka apabila seseorang mengetahui ada bahaya besar yang akan mengancam orang yang dikasihi-nya, pastilah ia akan memberitahukannya; dan jika ia mampu, pasti ia akan menolong. Sebaliknya, tahu tetapi tidak mau memberitahu, berkuasa menolong tetapi menonton saja, bukan saja membuktikan bahwa kasihnya adalah omong kosong tetapi juga membuat dia harus dipersalahkan. Misalnya saja jika seseorang mengetahui sebelumnya bahwa ada sebuah bom akan meledak di dalam mobil yang diparkir dan sekalipun ia mampu menaklukkan bom itu atau memberitahu pihak yang berwajib tetapi dia diam saja, maka secara hukum orang ini ikut bertanggung jawab atas musibah tersebut. == TUMPUAN IMAN == Jika demikian, iman yang didasarkan pada Allah yang seperti apakah yang membuat kita dapat bertahan, kokoh tak tergoyahkan ketika dihadang pelbagai masalah? Saya menawarkan 3 pilihan: === 1. ALLAH YANG MAHATAHU, MAHAKASIH, MAHAKUASA, DAN SELALU BERTINDAK MENURUT PERMINTAAN KITA === Masalah apa pun yang kita hadapi, kapan pun, dan di mana pun, Ia akan dengan sigap menolong. Ketika pasangan kita berselingkuh dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberinya pertobatan. Ketika kita mengalami kesulitan keuangan untuk sekolah anak-anak dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan jalan keluar. Ketika kita menderita sakit penyakit dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan kesembuhan. Ketika kita dalam marabahaya dan kita berdoa kepada-Nya, Ia pun bertindak memberikan keselamatan. Jika kita memiliki Allah seperti itu, dijamin iman kita tak akan pernah goyah bukan? Terus terang saja saya juga sangat menginginkan memiliki Allah seperti itu. Sebagai seorang pendeta, ketika berdoa bagi orang-orang yang sedang dalam penderitaan entah karena ekonomi, sakit-penyakit, keluarga tidak harmonis, dan seterusnya, seringkali saya mengalami frustrasi yang mendalam karena melihat penderitaan yang terus berlanjut dan doa-doa tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Saya membayangkan betapa bahagianya jika memiliki Allah yang cekatan dalam mengabulkan doa-doa kita. Tetapi dalam realita, Allah yang dinyatakan dalam Alkitab tidaklah seperti itu. Berulang kali ditunjukkan kepada kita bahwa Ia mengatakan "tidak" terhadap permintaan kita yang paling baik, yang bagi kita tidak ada satu alasan apa pun untuk ditolak-Nya. Sehingga jawaban "tidak"-Nya itu seringkali terasa begitu tidak masuk akal dan menimbulkan kegusaran di hati kita. Saya percaya itulah juga yang terjadi pada Meg Woodson yang kisahnya diceritakan [[:w:Philip Yancey|Philip Yancey]] dalam buku terkenalnya ''Dissapointment With God''. {{quote|Meg adalah seorang Kristen yang taat dan setia, istri pendeta dan penulis yang sangat berbakat. Keluarga Woodson memiliki dua orang anak yang bernama Peggie dan Joey. Kedua-duanya lahir dengan penyakit cyctic fibrosis. Peggie dan Joey tetap saja kurus tidak peduli seberapa banyak mereka makan. Mereka terus menerus batuk dan sulit bernapas. Meg terpaksa menepuk dada mereka dua kali sehari untuk mengeluarkan riak yang mengganjal. Dalam setahun kedua anak ini harus masuk rumah sakit selama beberapa minggu dan kemungkinan besar anak-anak ini akan mati sebelum mencapai usia dewasa. Dan benar! Joey, bocah lelaki yang cerdas dan riang, meninggal pada usia dua belas tahun. Tetapi syukurlah Peggie tumbuh semakin sehat sehingga pengharapan agar ia sembuh menjadi semakin kuat. Tetapi ternyata ia meninggal pada usia dua puluh tiga. Setelah Peggie meninggal, Meg menulis sebuah surat untuk Philip Yancey yang isinya, "Saya menyadari bahwa saya ingin menceritakan kepada Anda tentang bagaimana Peggie meninggal. Saya tidak tahu apa penyebabnya kecuali bahwa dorongan untuk membicarakan hal ini terasa begitu kuat. Saya tidak mau merepotkan kawan-kawan lebih dari satu kali dan tidak ada lagi orang yang bisa saya ajak bicara. Pada akhir minggu sebelum ia harus masuk rumah sakit terakhir kalinya, Peggie pulang dengan semangat membicarakan perkataan William Barclay yang dikutip oleh pendetanya. Ia begitu terkesan dengan kutipan itu sampai menuliskannya di atas sehelai kartu pos untuk saya. ''"Ketahanan bukan saja berarti kemampuan untuk menanggung beban yang berat, tetapi untuk mengubahnya menjadi kemuliaan." '' Peggie mengatakan bahwa sang pendeta sendiri mungkin telah melewati minggu yang berat sebab selesai mengutip kalimat itu, ia memukul mimbar, membelakangi hadirin lalu menangis. Setelah beberapa hari berada di rumah sakit dan kesehatannya tidak membaik, Peggie memandang pada semua peralatan yang dihubungkan ke tubuhnya. Ia berkata, "Hai Ma, masih ingat dengan kutipan itu?" Ia lalu memandang lagi ke sekelilingnya dan pada pipa-pipa yang bergelantungan itu, menjulurkan ujung lidahnya di sudut bibir, mengangguk-angguk dan membelalakkan mata dengan kagum memperhatikan segala eksperimen yang sedang dijalaninya. Penyerahan dirinya tetap bertahan selama ia masih dalam keadaan sadar. Rektornya pernah mengunjunginya di rumah sakit dan bertanya apakah ada sesuatu yang dapat ia doakan. Ia sudah terlampau lemah untuk dapat menjawab. Karena itu ia mengangguk kepada saya untuk menjelaskan kutipan dari Barclay dan memintanya untuk berdoa agar penderitaannya diubah menjadi kemuliaan. Saya sedang duduk di samping tempat tidurnya beberapa hari sebelum kematiannya ketika ia mendadak menjerit-jerit. Saya takkan pernah melupakan jeritannya yang melengking menusuk kalbu itu. Para perawat berlarian dari segala arah dan mengelilinginya dengan kasih mereka. "Tenang saja, Peggie," kata salah seorang dari mereka, "Jeannie ada di sini." Para perawat itu membelai-belai tubuhnya. Akhirnya ia berhasil ditenangkan kembali dengan kata-kata dan sentuhan mereka. Namun saat jeritan-jeritannya kembali berlanjut, mereka tidak mampu lagi menenangkannya. Saya jarang sekali melihat kasih sayang seperti yang mereka curahkan itu. Wendy, perawat yang menjadi sahabat karib Peggie, mengatakan kepada saya bahwa setiap perawat di lantai itu pasti mempunyai paling sedikit seorang pasien kepada siapa mereka rela menyumbangkan salah satu paru-parunya seandainya dapat. Berlawanan dengan manusia yang bisa merasa hancur karena tidak mampu berbuat apa-apa, Allah yang sebenarnya dapat menolong cuma memandang saja kepada seorang wanita muda yang begitu setia kepada-Nya. Ia malahan memutuskan untuk berpangku tangan dan membiarkannya mati ditelan cyctic fibrosis yang mengerikan itu. Philip, tak ada gunanya untuk berbicara tentang kebaikan yang dihasilkan lewat penderitaan. Atau tentang Allah yang hampir selalu membiarkan proses fisik berjalan sebagaimana mestinya. Sebab seandainya Ia memang turut campur tangan, maka pada setiap tahap penderitaan manusia Ia telah membuat keputusan untuk turun tangan atau tidak. Dalam kasus Peggie, Ia memilih untuk membiarkan penyakit itu mengambil korban. Ada saat-saat di mana reaksi saya hanyalah kesedihan dan kemarahan yang teramat mendalam belaka. Bahkan dengan jalan mengekspresikannya pun perasaan-perasaan itu tidak juga berkurang. Peggie tidak pernah mengeluh tentang Allah. Ini bukanlah suatu sikap yang sok suci. Saya rasa bahwa tidak pernah terpikirkan olehnya untuk mengeluh. Dan tidak ada seorang pun dari antara kami yang mendampinginya di saat-saat terakhir yang pernah mengeluh. Kami semua merasa dikuatkan. Kasih Allah begitu nyata sehingga orang takkan dapat meragukannya atau mencela jalan-Nya. Seandainya saya menceritakan semua ini kepada Anda dengan tujuan menemukan semacam pemecahan bagi masalah Peggie dan saya sendiri, mungkin saya telah sekali lagi dibawa kepada satu-satunya hal yang menolong saya untuk mengalami kasih Allah, yaitu belaian dan bisikan-Nya, "Aku ada di sini, Meg." Tetapi sekali lagi saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin Ia melihat situasi seperti itu dan diam berpangku tangan saja? Kalau saya pikir-pikir, belum pernah saya mencurahkan hati seperti ini kepada siapa pun karena saya takut bahwa hal ini akan mengganggu imannya. Anda tidak perlu berpikir bahwa Anda harus mengatakan sesuatu untuk membuat saya "merasa lebih baik". Tetapi terima kasih karena Anda sudah mau mendengarkan. Kebanyakan orang tidak dapat membayangkan betapa hal ini dapat menolong seseorang. }}<!-- endquote --> Hati kita mungkin akan menjadi lebih ciut lagi, ketika mengetahui bahwa Meg bukanlah orang pertama dan terakhir yang mengalami kebuntuan rohani di dalam penderitaannya. [[:w:C.S. Lewis|C.S. Lewis]], yang imannya hampir runtuh dalam keputus-asaan karena kesedihannya atas kematian istrinya pernah mengalami hal yang serupa. Ia berkata: "Temuilah Allah saat engkau sangat membutuhkan, ketika semua pertolongan yang lain sia-sia, dan apa yang engkau temukan? Pintu yang dibanting tepat di depan mukamu, dan suara grendel pintu yang dikancingkan sampai 2 kali. Setelah itu sunyi senyap...." Kesimpulannya adalah: jikalau kita berharap Allah yang mahatahu, mahakasih, mahakuasa itu selalu bertindak menurut permintaan kita, maka Allah telah kita perlakukan tidak bedanya dengan jin lampu Aladin yang datang dan pergi, bertindak ini dan itu berdasarkan perintah kita. Jika demikian, sesungguhnya kita lebih berkuasa dari Allah bahkan kita sendirilah 'allah'. Oleh sebab itu, mengharapkan Allah yang penurut seperti itu sebagai tumpuan iman kita —yang sebenarnya hanya ada dalam khayalan kita demi melayani kita sendiri— tidak akan menghasilkan iman yang kokoh, bahkan justru membuat iman semakin rapuh. Jika demikian halnya, maka kita harus memiliki pilihan lain untuk dijadikan tumpuan iman kita. === 2. ALLAH YANG MAHATAHU, MAHAKASIH TETAPI TIDAK MAHAKUASA === Allah seperti inilah yang [[:w:Harold Kushner|Harold Kushner]] tawarkan di dalam bukunya yang sangat terkenal ''When Bad Things Happen to Good People''. Buku itu lahir dari kepahitan hidup yang dialami anak laki-laki bungsunya yang bernama Aaron. {{quote|Aaron menderita progeria, suatu cacat bawaan, penuaan dini yang tidak memungkinkan tubuhnya bertumbuh secara normal. Ia meninggal dunia dua hari setelah ulang tahunnya yang keempat belas. Kushner menulis buku itu dengan tujuan untuk berbagi cerita dengan orang lain tentang bagaimana caranya ia tetap percaya kepada Allah yang tidak menolongnya pada saat dia menderita. Ia memutuskan bahwa Allah pasti baik, karena itu Dia tidak suka melihat orang menderita. Dia telah berusaha keras untuk itu, namun apa daya sebagaimana pepatah "maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai", Dia tidak punya cukup kemampuan untuk itu. Artinya Dia memang mahabaik, adil dan kasih tetapi tidak mahakuasa. Kitalah yang telah mengharap terlalu banyak dari Dia. Hal-hal buruk terjadi pada orang-orang baik karena Allah tidak mengendalikan dunia ini. Ia tidak berdaya mencegah terjadinya hal-hal buruk pada kita. Dunia yang diciptakan-Nya ini berjalan sendiri. Alam tidak pandang bulu dan buta. Bakteri dan virus tidak memilih-milih siapa yang akan mereka jangkiti. Mesin pesawat terbang gagal dan pesawat jatuh tanpa sebab dan alasan. Jadi hal-hal buruk terjadi begitu saja dan itu bukan rencana Tuhan. "Paling banyak, yang dijanjikan kepada kita," tulisnya, "adalah kita tidak akan sendirian di dalam penderitaan kita dan kita dapat mencari sumber kekuatan dan keberanian dari luar diri kita untuk bertahan terhadap berbagai tragedi dan ketidakadilan hidup". }}<!-- endquote --> Banyak orang yang dalam kesusahan mendapatkan penghiburan dan diteguhkan imannya melalui buku itu. Terbukti sampai hari ini, walaupun bertahun-tahun telah berlalu sejak pertama kali diterbitkan pada tahun delapan puluhan, buku ini terus dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dan dibaca secara luas. Tetapi pada akhirnya dengan pemahaman yang seperti ini orang akan dikuasai kegelisahan yang lebih besar, karena berarti Allah tidak sepenuhnya mengendalikan dunia ini. Segala sesuatu terjadi berdasarkan kemujuran dan kesialan belaka. Dan ketika yang kita minta dalam doa ternyata di luar kesanggupan Allah untuk memenuhinya, kita cuma bisa berharap Ia akan duduk menangis dan bersama-sama merasakan getirnya keputus-asaan. Jelas ini bukan Allah yang Alkitab katakan. Alkitab menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat atas segala ciptaan, tidak ada kuasa di atas kuasa-Nya, segala sesuatu adalah hamba-Nya. Tidak ada yang bisa memaksa-Nya, tidak ada yang bisa membatalkan, menggagalkan segala hal yang Ia kehendaki atau yang Ia tidak kehendaki. Pada pilihan ke-2 ini kita bisa membuat variasi "Allah mahatahu, mahakuasa tetapi maha jahat" atau "Allah mahatahu, mahajahat tetapi tidak mahakuasa", dst. Tetapi hal ini tidak diperlukan karena hanya menjadi bertele-tele dan pasti kesimpulan akhirnya adalah Allah seperti itu tidak bisa menjadi tumpuan iman kita. Sekarang marilah kita mempertimbangkan pilihan ke 3. === 3. ALLAH ITU TIDAK ADA === Semakin kita berharap kepada pertolongan orang lain, semakin rentan kita untuk dikecewakan. Apalagi kalau yang kita harapkan untuk memberi uluran tangan itu ternyata tidak eksis. {{quote|Beberapa tahun lalu Detroit Press pernah memuat surat seorang sandera Iran. Surat itu merupakan responsnya terhadap surat penghiburan yang dikirim oleh temannya. Sandera ini berusia 64 tahun dan ia menulis surat responsnya pada hari ke-249 ia di penjara. Bunyinya: "Saya berharap saya dapat percaya seperti engkau, tetapi sayang sekali saya tidak bisa. Penderitaan ini sudah berlangsung lama dan tidak satu doa pun yang saya panjatkan didengar Allah. Seperti yang engkau telah ketahui saya sudah sering berkeliling dunia mengunjungi kamp-kamp konsentrasi tempat berjuta-juta orang menderita dan meninggal dunia. Seruan mereka tidak didengar Allah. Bagaimana orang bisa tetap percaya?" }}<!-- endquote --> Karena itu tidak heran banyak orang yang berpendapat bahwa segala penderitaan: sakit penyakit, kemiskinan, kelaparan, bencana alam, kejahatan merupakan bukti tidak adanya Allah. Akibatnya mereka tidak merasa perlu untuk berdoa atau membangun iman di atas Allah. Bagi mereka semua ini hanya akan memperdalam kekecewaan dan merupakan kesia-sian belaka, seperti berteriak pada kekosongan. Maka hal terbaik menurut mereka adalah berimanlah kepada diri sendiri. Pertanyaannya adalah: benarkah kejahatan dan penderitaan hebat membuktikan Allah tidak ada? Alkitab tidak malu-malu, sungkan atau menutup-nutupi bahwa Allah bisa membiarkan kejahatan terjadi sekalipun Ia tahu jauh sebelumnya dan berkuasa untuk mencegahnya. Pembunuhan yang dilakukan Hitler dan Herodes bukanlah satu-satunya contoh. Di dalam Perjanjian Lama kita membaca cerita yang sama di mana anak-anak orang Ibrani dibunuh, kemudian dimulailah perbudakan ratusan tahun lamanya. Walau Allah tahu itu akan terjadi, dan sudah mengkomunikasikannya kepada Abraham sebelum bangsa itu sendiri eksis, bahkan sebelum nama Abram berganti menjadi Abraham (''Baca Kej 15:13''). Bukan itu saja, Ia juga berkuasa kalau mau menghentikan kejahatan itu. Kemampuan itu Ia tunjukkan melalui 10 tulah dahsyat yang menimpa Mesir. Tapi dalam realita Ia terlihat membiarkan saja semua hal ini terjadi. Lebih dari itu, argumentasi bahwa penderitaan membuktikan Allah tidak ada merupakan argumentasi yang paling tak dapat digunakan di dalam iman Kristen. Karena dengan inkarnasi-Nya, Allah Anak masuk ke dalam penderitaan manusia sampai-sampai Ia disebut sebagai "... seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan..." (Yesaya 53:3). Dan di setiap penderitaan yang Kristus alami sampai puncaknya di atas kayu salib, Bapa-Nya tahu, Bapa-Nya berkuasa menyelamatkan-Nya, tetapi justru sengaja mendiamkan-Nya sebagai bentuk kasih tertinggi-Nya kepada kita. Dengan demikian, alih-alih membuktikan Allah tidak ada, penderitaan malah sebaliknya justru menunjukkan bahwa Allah bisa kita jumpai di tengah-tengah penderitaan. Maka dari itu ketika terjadi suatu kejahatan yang begitu dahsyat —yang tidak akan pernah kita bisa mengerti mengapa Allah membiarkan itu terjadi— tidak membuktikan Allah tidak tahu, tidak berkuasa, atau tidak peduli, apalagi tidak ada. Memang benar beriman kepada obyek yang keliru adalah kesia-siaan, namun beriman kepada diri sendiri tidaklah lebih baik juga. Sebenarnya itu merupakan ekspresi ketakutan, seperti seseorang karena takut dikecewakan kekasih memilih untuk tidak berpacaran; takut dikecewakan suami/istri maka memilih untuk tidak menikah; takut pesawat jatuh maka memilih tidak naik pesawat. Walau kelihatannya aman tetapi sesungguhnya sangat besar kerugiannya. == KEMBALI KEPADA ALLAH ALKITAB == Menjawab pertanyaan awal kita, “Jika demikian, apa pilihan kita? Allah seperti apa yang dapat membuat iman kita kokoh tak tergoyahkan ketika dihadang pelbagai masalah?” Kita tidak memiliki pilihan yang terbaik selain kembali kepada yang Alkitab tunjukkan yaitu Allah yang mahatahu, mahakuasa, mahakasih, serta maha berdaulat. Dengan demikian ketika kesusahan besar menghadang, yang kita butuhkan bukanlah mencoba membangun sesosok Allah yang cocok dengan pikiran kita untuk dijadikan tumpuan iman kita, melainkan menyesuaikan respons kita kepada Allah yang Alkitab tunjukkan kepada kita. Berikut ini adalah dua sikap yang sesuai dengan kehendak Allah: === 1. BERSANDAR ATAU PERCAYA KEPADA KEBAIKAN-NYA (TRUST) === Artinya ketika persoalan datang menimpa, kita akan menjawab "''Ya''" pada pertanyaan-pertanyaan berikut: <br />Apakah Allah tahu? <br />Apakah Allah bisa menolong? <br />Apakah Allah baik? <br />Satu-satunya yang tidak dapat kita pastikan adalah, "Apakah Ia mau melakukannya?" Tetapi saat Ia menjawab "''Tidak''", kita dapat mengatakan kepada diri kita, "Sesungguhnya aku ini anak yang dikasihi-Nya, keadaanku secara menyeluruh diketahui-Nya dan Ia sangat berkuasa menolongku. Jika Ia sampai tidak menolongku, pastilah ada sesuatu yang berbeda dalam pikiran dan keinginan-Nya, dalam rencana dan tujuan-Nya yang sedang Ia kerjakan atasku." Ada sebuah pengalaman indah yang saya alami dengan anak saya ketika ia berusia 4-5 tahun sebagaimana pernah saya ceritakan dalam buku saya terdahulu "[[Menapaki Hari Bersama Allah]]". {{quote|Saat itu karena ia positif terjangkit demam berdarah, dokter meminta kami orangtuanya agar setiap hari memantau trombosit anak ini. Berarti ia harus diambil darahnya selama beberapa hari berturut-turut di laboratorium, sampai ada petunjuk kemajuan positif pada jumlah trombositnya. Hari pertama membawanya ke laboratorium, anak saya bertanya “Tempat apa ini, ayah?” Saya tidak menjawabnya. Setelah didudukkan di sebuah kursi dan lengannya diikat tali karet, ia mulai merengek dan akhirnya menangis ketika dia melihat jarum suntik dihujamkan ke lengannya. Hari kedua prosedur yang sama harus dilaluinya. Namun berbeda dengan hari terdahulu karena sekarang ia sudah tahu, sehingga semakin berat menjalaninya. Tiba di depan laboratorium saja ia sudah tidak mau turun dari mobil, terpaksa saya menggendong dengan paksa dan membawanya masuk sekalipun ia menangis dan minta pulang. Ketika didudukkan, ia gemetar ketakutan mengantisipasi perlakuan “buruk” yang akan menimpanya. }}<!-- endquote --> Ketika merenungkan kejadian itu, saya bertanya-tanya, tahukah saya ketakutan dan penderitaan anak saya? Tahu. Bisakah saya menyelamatkannya dari jarum suntik, dan mengabulkan permintaannya untuk dibawa pulang? Bisa. Apakah saya mengasihinya? Ya. Itulah yang membuat saya membawanya ke laboratorium itu. Kalau begitu, maukah saya membawanya pulang? Tidak. Ketika mencoba menempatkan diri di tempat si anak, saya berpikir ketika ia meminta saya membawanya pulang, pasti menurutnya tidak ada alasan apa pun untuk saya tidak mengabulkannya. “Bukankah ayah tahu ini menyakitkan, membuatku gemetar ketakutan luar biasa, bukankah ayah mampu menolongku, dan bukankah ayah mengasihiku? Kalau begitu tidak ada alasan ayah membiarkan aku di sini.” Sesungguhnya saya juga menderita. Coba bayangkan, bagaimana rasanya mendampingi anak itu, melihat ketakutan dan kesakitannya padahal saya dapat dengan mudah menyelamatkannya, tetapi saya justru harus menahan diri, tidak boleh melakukannya karena alasan-alasan yang kalau saya jelaskan juga tidak mungkin dimengerti anak itu. Terus terang dalam keadaan demikian sebenarnya lebih mudah bagi saya mengabulkan permintaan anak itu daripada menahan diri, berdiam dan menyaksikan kesusahannya berlanjut. Sesungguhnya, baik ayah maupun anak sama-sama merasa susah, walaupun kesusahannya berbeda. Tetapi di atas semua itu, terlintas dalam pikiran saya bahwa satu-satunya yang bisa menolong anak saya untuk bisa menjalani penderitaannya tanpa bersungut-sungut walaupun ia takut adalah justru kalau ia tahu bahwa “ayahku tahu penderitaanku, ayahku sungguh sanggup melepaskanku, dan ayahku sangat mengasihiku. Maka jika ia sampai tidak berbuat apa-apa, pastilah ada yang ia maksudkan. Kalau begitu aku berserah saja.” Pelajaran serupa diberikan kepada kita oleh [[:w:James Hudson Taylor|James Hudson Taylor]], misionari perintis yang mendirikan [[:w:China Inland Mission|China Inland Mission]]. Selama berlangsungnya Pemberontakan Boxer yang sangat mengerikan itu —di mana para misionari ditangkapi dan dibunuh— James mengalami tekanan kesedihan yang sangat berat sampai-sampai ia tidak mampu berdoa. Ia meringkas pergumulannya dalam buku hariannya, "Aku tidak bisa membaca, tidak bisa berpikir, tidak bisa berdoa. Tetapi aku bisa bersandar. (''I can't read. I can't think. I can't pray. But I can trust.'')" Tak seorang pun tahu apa yang terjadi esok. Mungkin saja hari-hari gelap akan kita masuki, yang kepekatannya membuat kita tidak lagi bisa membaca firman-Nya, melihat wajah-Nya, dan meraba tangan-Nya. Namun di saat-saat seperti itu kita masih tetap dapat percaya bahwa apa yang tersembunyi bagi kita tidak tersembunyi bagi Dia. Ia membaca hati kita, melihat wajah kita dengan jelas, dan memegang erat tangan kita. === 2. TAKLUK KEPADA KEDAULATAN-NYA === Jika di awal Injil Matius, kita diberitahu bagaimana Yesus kecil diselamatkan dari ancaman akan dibunuh Herodes, tidaklah demikian di akhir Injil saat Ia menghadapi salib. Allah tidak menurunkan-Nya dari salib. Ditunjukkan di situ bahwa adakalanya Allah memperlakukan kita secara ajaib dan menakjubkan bahkan tanpa kita minta, tanpa kita berdoa. Tetapi di lain kesempatan perlakuan-Nya nampak tidak manusiawi, sekalipun kita sudah berteriak-teriak berdoa memohon pertolongan-Nya. Namun sebagaimana Yesus taat ketika Bapa-Nya mengatakan "tidak" pada permintaan-Nya untuk tidak meminum cawan pahit-Nya, demikian juga seharusnya kita. Ketaklukan serupa diperlihatkan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego ketika memilih masuk dapur api daripada menyembah patung Nebukadnezar. Mereka menjawab kepada sang raja, "Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami...". Perkataan ini menyatakan bahwa mereka sepenuhnya percaya kepada kuasa, kemampuan, kasih dan kehadiran Allah. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, mereka melanjutkannya, "Maka jika Ia mau Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku..." (Dan 3:17-18). Dengan kata lain "Jika Ia mau Ia akan selamatkan kami, tetapi kalau Ia ingin kami mati terbakar, kami akan taat." Kalimat ini menunjukkan betapa mereka takluk sepenuhnya kepada kedaulatan-Nya. == PENUTUP == Allah adalah Allah yang bisa melakukan apa saja yang disukainya dan tidak seorang pun dapat berkata kepada-Nya, "Engkau tidak boleh melakukan itu kepadaku." Oleh karena itu kematangan seorang Kristen terlihat di dalam keberaniannya memberi kepada Allah kebebasan untuk memutuskan dan mengerjakan kebijakan-Nya yang baik, bukan menurut kita tetapi menurut-Nya. Maka pada saat-saat kita berada di lembah kekelaman dan Ia nampak diam, yang dipertanyakan bukanlah kasih, kemahakuasaan, kemahatahuan-Nya: Apakah Allah peduli? Apakah Ia berdaya? Apakah Ia tahu? Sebaliknya yang dipertanyakan adalah seberapa besar iman kita kepada hikmat dan kebaikan-Nya serta ketaatan kita kepada keputusan-Nya. Saya ingin menutup dengan menyanyikan lagu ''Percaya dan Patuh'' (''Trust and Obey'') sebagai doa dan pernyataan isi hati kita kepada Allah. :#''Bersama Tuhanku dalam t’rang firman-Nya<br />Ia yang menyinari jalanku.<br />Kuturut p’rintah-Nya, Ia tinggal dalamku<br />beserta umat-Nya yang patuh.'' :#''Hilang awan gelap, lenyap bayang maut<br />saat nampak wajah Tuhanku.<br />Hilanglah bimbangku, lenyap airmataku<br />percaya dan patuh pada-Nya.'' :#''Tiada beban berat, tiada kesusahan<br />pend’ritaanku Ia peduli.<br />Hilanglah sedihku, lenyaplah hinaku<br />kar’na anugrah-Nya besarlah.'' :''Reff:'' :''Percayalah dan patuh pada-Nya.'' :''Kau slalu dikasihi, hanya percayalah.'' 4bdor6vq9tpd411j9u5gxddh0rjxydg Templat:Header2 10 28116 118705 2026-09-04T11:38:48Z Bennylin 425 baru 118705 wikitext text/x-wiki {{header | title = [[{{PAGENAME}}]] | author = {{{author|}}} | year = {{{year|}}} | section = {{{section|}}} | previous = {{{previous|}}} | next = {{{next|}}} | notes =​ {{#switch:{{{1}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{PAGENAME}}}}}.pdf|[[Indeks:{{{1|{{PAGENAME}}}}}.pdf|Indeks]] {{!}} [[:Berkas:{{{1|{{PAGENAME}}}}}.pdf|PDF]]}} }}{{#if:{{{notes|{{{2|}}}}}}|&nbsp;{{!}} {{{notes|{{{2|}}}}}}}} }}<includeonly> {{#switch:{{{1|{{PAGENAME}}}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{PAGENAME}}}}}.pdf|[[Berkas:{{{1|{{PAGENAME}}}}}.pdf|jmpl|{{#if:{{{page|}}}|page={{{page}}}}}|{{#if:{{{page|}}}|link=Halaman:{{{1|{{PAGENAME}}}}}.pdf/{{{page}}}}}|{{{desc|{{{1|{{PAGENAME}}}}}}}}]]}} {{#ifeq:{{{kat|}}}|no||[[Kategori:{{{1|{{PAGENAME}}}}}]]}} }}</includeonly><noinclude>[[Kategori:Templat]] eqbnju0bic0rdk75big67o3xqez9p0d 118706 118705 2026-09-04T11:42:05Z Bennylin 425 118706 wikitext text/x-wiki {{header | title = [[{{SUBPAGENAME}}]] | author = {{{author|}}} | year = {{{year|}}} | section = {{{section|}}} | previous = {{{previous|}}} | next = {{{next|}}} | notes =​ {{#switch:{{{1}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|PDF]]}} }}{{#if:{{{notes|{{{2|}}}}}}|&nbsp;{{!}} {{{notes|{{{2|}}}}}}}} }}<includeonly> {{#switch:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|jmpl|{{#if:{{{page|}}}|page={{{page}}}}}|{{#if:{{{page|}}}|link=|{{{desc|{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}}}}]]}} {{#ifeq:{{{kat|}}}|no||[[Kategori:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}]]}} }}</includeonly><noinclude>[[Kategori:Templat]] 9g050bcimr6wq3bg172trydhf8eb37d 118707 118706 2026-09-04T11:43:01Z Bennylin 425 118707 wikitext text/x-wiki {{header | title = [[{{SUBPAGENAME}}]] | author = {{{author|}}} | year = {{{year|}}} | section = {{{section|}}} | previous = {{{previous|}}} | next = {{{next|}}} | notes =​ {{#switch:{{{1}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|PDF]]}} }}{{#if:{{{notes|{{{2|}}}}}}|&nbsp;{{!}} {{{notes|{{{2|}}}}}}}} }}<includeonly> {{#switch:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|jmpl|{{#if:{{{page|}}}|page={{{page}}}}}|{{#if:{{{page|}}}|link=}}|{{{desc|{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}}}}]]}} {{#ifeq:{{{kat|}}}|no||[[Kategori:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}]]}} }}</includeonly><noinclude>[[Kategori:Templat]] 3204hnwkvqn68z59x2ieidtu0soufo5 118708 118707 2026-09-04T11:43:12Z Bennylin 425 118708 wikitext text/x-wiki {{header | title = [[{{SUBPAGENAME}}]] | author = {{{author|}}} | year = {{{year|}}} | section = {{{section|}}} | previous = {{{previous|}}} | next = {{{next|}}} | notes =​ {{#switch:{{{1}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|PDF]]}} }}{{#if:{{{notes|{{{2|}}}}}}|&nbsp;{{!}} {{{notes|{{{2|}}}}}}}} }}<includeonly> {{#switch:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|jmpl|{{#if:{{{page|}}}|page={{{page}}}}}|{{{desc|{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}}}}]]}} {{#ifeq:{{{kat|}}}|no||[[Kategori:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}]]}} }}</includeonly><noinclude>[[Kategori:Templat]] epih863aw65qp8gu2urfh3j92lpj1n0 118709 118708 2026-09-04T11:45:52Z Bennylin 425 118709 wikitext text/x-wiki {{header | title = [[{{BASEPAGENAME}}]] | author = {{{author|}}} | year = {{{year|}}} | section = {{{section|}}} | previous = {{{previous|}}} | next = {{{next|}}} | notes =​ {{#switch:{{{1}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|PDF]]}} }}{{#if:{{{notes|{{{2|}}}}}}|&nbsp;{{!}} {{{notes|{{{2|}}}}}}}} }}<includeonly> {{#switch:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}} |#default={{#ifexist:Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|[[Berkas:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}.pdf|jmpl|{{#if:{{{page|}}}|page={{{page}}}}}|{{{desc|{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}}}}]]}} {{#ifeq:{{{kat|}}}|no||[[Kategori:{{{1|{{BASEPAGENAME}}}}}]]}} }}</includeonly><noinclude>[[Kategori:Templat]] j0cxsjhh0n86e5q3bw6w6xab93luezy Dukaku Tempat Kudus-Mu/Roma 8:28 0 28117 118712 2026-09-04T11:50:21Z Bennylin 425 Bab 2 118712 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous=[[../Tumpuan Iman|Tumpuan Iman]] |next=[[../Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)|Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)]] }} ROMA 8:28-30 28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. 30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. Bab 2 Roma 828 Roma 8:28 adalah ayat yang sangat dahsyat. Di dalam ayat itu dikatakan bahwa Allah bekerja di dalam segala sesuatu. Berarti, di tangan-Nya bukan hanya kejadian-kejadian tertentu, tetapi segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita: tidak peduli apa pun itu, tanpa pandang bulu, tanpa perkecualian apakah hal itu baik atau buruk, benar atau salah, kotor atau bersih, tragedi atau keberuntungan, susah atau senang, tak ada satu pun yang luput atau tak terpakai oleh-Nya yang pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi kita orang-orang yang mengasihi-Nya. Ada banyak ilustrasi untuk menjelaskan cara kerja Allah ini. Saya lampirkan beberapa contoh: Rick Warren dalam The Purpose Driven Life menggambarkannya dengan pembuatan kue. Ia menulis demikian, "Dalam tiap hal Allah turut bekerja sehingga peristiwa-peristiwa dalam hidup kita bukan kejadian terpisah, berdiri sendiri-sendiri melainkan bagian yang saling ber- 38 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU gantung dalam sebuah proses menghasilkan kebaikan. Untuk membuat kue kita harus menggunakan tepung, garam, telur mentah, gula, dan minyak. Kalau diolah atau dimakan terpisah, masing-masing bahan itu tidak akan menjadi kue yang enak bahkan ada yang pahit, tetapi pangganglah bahan-bahan itu bersama-sama maka akan berbeda hasilnya." Ray Prichard menggambarkan cara kerja Allah ini dalam bukunya Keep Believing dengan sebuah pabrik mobil. Dari luar gedung pabrik, kita cuma bisa melihat bahwa di salah satu ujung bangunan pabrik itu berbagai macam materi dimasukkan: besi, karet, plastik, kabel-kabel, dan bahan-bahan lainnya yang tidak kita kenali. Di ujung lainnya keluarlah mobil-mobil baru. Lantas apa yang terjadi di antara kedua ujung tersebut? Kita yang melihat dari luar gedung pabrik itu tentu tidak tahu. Kita hanya mendengar suara ribut-ribut di dalam gedung itu, tetapi tak dapat melihat prosesnya. Satu hal yang pasti adalah mobil baru yang diluncurkan di ujung lain gedung pabrik itu bukanlah hasil kebetulan. Tetapi merupakan karya tangan terampil di dalam gedung itu yang membentuk, menyusun, memasang bahan-bahan mentah itu dengan tekanan, pukulan, pemanasan menjadi sebuah mobil. Itulah juga yang Allah kerjakan atas segala yang terjadi dalam hidup orang percaya. Ia mengolahnya menjadi produk yang diinginkan-Nya. John Milton dalam bukunya Paradise Lost menjelaskan tentang cara kerja Allah itu dengan menggambarkan kejahatan dalam sejarah sebagai tumpukan kompos — ROMA 8:28 39 suatu campuran dari bahan-bahan sampah yang membusuk seperti kotoran binatang, kulit sayuran dan buah-buahan, kulit kentang, kulit telur, daun-daun kering, dan kulit pisang— yang kemudian ditutupi dengan kotoran. Setelah beberapa saat —bahkan dalam kasus-kasus tertentu sampai memakan waktu bertahun-tahun— tanah di situ berubah menjadi subur dan sangat baik untuk ditanami buah-buahan dan sayur-sayuran. Berarti, peristiwa-peristiwa terburuk dalam sejarah manusia yang tidak dapat kita pahami, bahkan neraka itu sendiri, hanyalah kompos dalam rencana kekal Allah yang indah. Salah satu contoh dari kejahatan terbesar adalah peristiwa penyaliban Yesus yang justru memunculkan kebaikan tertinggi. Allah mengubah kejahatan menjadi kebaikan tanpa menghilangkan kengerian dari kejahatan itu sendiri. Selain cara kerja Allah seperti yang telah dibahas di atas, apa lagi yang dapat kita pelajari lebih jauh tentang Allah dan Kristus melalui ayat dalam Roma 8:28 ini? ALLAH Jika Allah bekerja bukan hanya pada sebagian besar atau sebagian kecil dari yang terjadi, melainkan pada semua yang terjadi atas kita untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, maka Allah pasti: MAHATAHU Ia harus mengetahui segala hal yang menimpa kita. Jika sampai ada satu hal saja yang terjadi atas kita walau 40 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU sekecil apa pun yang tidak diketahui-Nya, maka tidaklah bisa dikatakan bahwa segala sesuatu secara mutlak dapat dipakai-Nya untuk kebaikan bagi kita. Oleh sebab itu, ketika suatu kepedihan terjadi, sebelum kita bertanya apakah kita percaya bahwa itu dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan, tanyakanlah lebih dahulu apakah kita percaya bahwa Allah mengetahui apa yang kita sedang alami sampai sedetil-detilnya. MAHA-ADA Ia harus hadir di segala hal yang menimpa kita. Jika sampai ada satu hal saja yang terjadi atas kita walau sekecil apa pun dan Ia tidak hadir di sana, maka tidaklah bisa dikatakan bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk menjadikan hal tersebut berguna bagi kebaikan kita. Kemaha-adaan Allah, tanpa sengaja telah dengan indah ditunjukkan oleh 3 versi terjemahan Alkitab yang berbeda berikut: King James Version: “All things work together for good to them that love God.” New American Standard Bible: “God causes all things to work together for good.” New International Version: “In all things God works for the good of those who love him.” Apakah Anda memperhatikan perbedaan posisi Allah di tiap-tiap versi Alkitab di atas? Pada versi King James Allah ada di akhir. Pada NASB Allah ada di awal. Dan pada NIV Allah ada di tengah-tengah. Walau tidak sedang ROMA 8:28 41 menyampaikan tentang kemaha-adaan Allah, tetapi posisi Allah di situ telah sangat mengingatkan kita bahwa Ia selalu hadir dalam semua yang terjadi dalam hidup kita. Maka ketika sesuatu peristiwa terjadi entah itu baik atau buruk, sebelum kita menjawab pertanyaan: percayakah kita bahwa hal itu dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan, kita perlu bertanya dahulu: Apakah kita percaya bahwa Allah hadir dalam setiap detil-detil pengalaman kita? Ia hadir sebelum semua terjadi, saat semua terjadi, dan tetap hadir setelah semua berlalu. MAHAKUASA Ia harus berkuasa atas segala hal yang menimpa kita. Kalau sampai ada satu hal saja yang terjadi atas kita walau sekecil apa pun dan Ia tahu sekaligus hadir di sana, tetapi tidak berkuasa untuk mengendalikannya, maka tidaklah bisa dikatakan bahwa segala sesuatu secara mutlak dipakai-Nya demi kebaikan kita. Maka ketika sesuatu terjadi atas kita, sebelum kita menjawab pertanyaan: percayakah kita bahwa hal itu dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan, kita perlu bertanya dahulu: apakah kita percaya bahwa Allah tidak tunduk pada kekuatan apa pun. Dialah Allah yang mahatinggi, segala kuasa ada di tangan-Nya. Ia memerintah dan mengatur seluruh ciptaannya, tanpa ada satu pun yang terluput dari kuasa-Nya. Hal-hal di atas tidak berarti bahwa Allahlah yang mengatur segala kejadian sehingga Dialah yang bertanggung jawab atas semua peristiwa yang menimpa kita. Paulus bukan mengatakan "Ia mengerjakan segala sesuatu" 42 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU melainkan Ia bekerja di dalam segala sesuatu. Frasa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu" dapat ditulis "Allah menjadikan segala sesuatu bersinergi untuk mendatangkan kebaikan". Dari kata Yunani sunergon inilah bahasa Inggris mendapatkan kata synergy. Apakah artinya sinergi itu? Sinergi adalah kombinasi pelbagai unsur yang menghasilkan hasil yang positif. Hanya Allah yang mahakuasalah yang dapat mengerjakan hal itu. MAHABAIK Tanpa sifat mahabaik ini, maka 3 atribut di atas tidak akan menjadi berkat apa pun bagi kita. Jika Allah itu mahajahat, maka 3 atribut di atas akan menjadi kutuk bagi kita. Bunyi Roma 8:28 ini akan membuat bulu roma kita berdiri: "kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kutuk dan bencana bagi semua orang." Allah juga tidak ambivalen (saling bertentangan) dalam semua sifat-sifat-Nya. Ia bukan Allah yang memiliki sifat baik tetapi juga jahat; memiliki kasih tetapi juga kebencian; berbelas-kasihan tetapi juga kejam. Jikalau Ia memiliki ambivalensi dalam sifat-Nya, maka tidak mungkin Ia terus menerus konsisten berkarya dalam segala sesuatu dengan tujuan yang tidak berubah yaitu untuk kebaikan kita. AYAT YANG SUKAR DIPERCAYA Di satu sisi, ayat ini telah menolong dan menguatkan begitu banyak orang percaya, khususnya ketika berhadapan dengan segala bentuk kepahitan hidup. Namun di sisi lain, ROMA 8:28 43 ayat ini justru paling diragukan pada saat-saat kita terluka. Kita tidak percaya akan munculnya kebaikan dari tragedi yang menimpa kita. Salah satu contoh orang yang mengalami hal ini adalah Gretchen sebagaimana yang dikisahkan oleh Lynda Hunter dalam bukunya God Do You Care? Dia menikah pada usia sangat muda 19 tahun, dengan seorang laki-laki tampan berusia 23 tahun. Mereka dikaruniai dua anak laki-laki, Stanley dan Howard, yang perbedaan usianya hanya terpaut sebelas bulan. Kemudian perang Vietnam mengharuskan suaminya pergi meninggalkan dia dan kedua anaknya. Ketika suaminya kembali dari medan perang, dia sudah tidak seperti yang dulu lagi, tetapi berubah menjadi seorang pecandu obat-obatan. Tahun 1974 pernikahan mereka berakhir dan sejak itu ia tidak pernah melihat suaminya lagi. Gretchen tinggal dengan orangtuanya untuk sementara waktu. Dia bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan telepon dan hanya mendapat enam puluh empat dolar seminggu. Dengan kedua orangtuanya, Gretchen dan kedua anak laki-lakinya mulai beribadah di sebuah gereja Presbiterian. Di gereja itu dia mengajar sekolah minggu. Pada tahun 1981 Gretchen menikah dengan Chuck, seorang penerbit surat kabar kota. Chuck berganti pekerjaan ketika Stanley dan Howard di SMU. Hal ini membuat mereka harus pindah ke sebuah kota lain di Illinois. Walaupun secara keuangan lebih menguntungkan, ternyata perpindahan ini tidak mudah bagi kedua anak laki-laki itu. Stanley mengalami masalah di 44 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU sekolah dan menjadi pecandu alkohol. Gretchen berusaha terus untuk mendapatkan per-tolongan dan mencari orang-orang yang dapat mem-bantunya melalui masa-masa sulit itu. Akhirnya dia menemukan pertolongan dari gereja Kepenuhan Roh Kudus. Stanley lulus dari SMU lalu bergabung dengan Angkatan Laut dan pergi ke San Diego. Howard me-nyelesaikan sekolahnya setahun kemudian dengan nilai A, lalu masuk perguruan tinggi. Kemudian Chuck kehilangan pekerjaan sehingga dia dan Gretchen ha-rus pindah ke Carolina Utara. Di tempat yang baru, Gretchen kembali harus bergumul untuk kehidupannya. Pada tanggal 8 Januari 1992, Gretchen menelepon Stanley karena sudah beberapa hari dia tidak men-dengar kabar tentang anak pertamanya itu. Teman sekamarnya yang menerima telepon itu berkata, “Saya berusaha menghubungi Anda. Stanley meninggal tadi pagi.” Gretchen kemudian mengetahui bahwa anak laki-lakinya itu mengendarai sepeda motor menuju pangkalan militernya pagi itu. Dia terlempar ke bawah kolong kendaraan lain karena salah perhitungan dalam menjaga jarak dengan sebuah truk yang sedang melaju cepat. Gretchen, Chuck, dan Howard melihat jenazah Stanley yang dikirim dengan kapal laut oleh Angkatan Laut ke Illinois. Setelah acara penguburan, Howard meninggalkan perguruan tingginya lalu pergi ke Carolina Utara untuk menghibur ibunya yang berduka atas kejadian itu. Tidak lama setelah itu, datang kiriman sebuah kotak yang berisi barang-barang Stanley dan ROMA 8:28 45 Howard mengambil jaket milik kakaknya. Howard mendaftarkan diri ke perguruan tinggi lain untuk meneruskan pendidikannya. Dia juga mendapatkan pekerjaan paruh-waktu di sebuah toko yang bagus. Suatu malam dia mengenakan jaket milik kakaknya untuk berangkat bekerja. "Ibu mengasihimu, Nak," kata Gretchen kepada anak laki-lakinya itu. "Aku juga mengasihi Ibu," kata Howard. Itu untuk terakhir kalinya Gretchen bertemu dengan Howard. Ketika dia sedang bekerja, dua orang pemuda masuk ke toko dan mengambil uang sebanyak 50 dolar sebelum menembakkan enam peluru ke tubuhnya. Gretchen menguburkan anak keduanya sebelas minggu setelah penguburan anak pertamanya. Secara berturut-turut Stanley dan Howard meninggal pada tanggal 8 Januari dan 24 Maret 1992. Kematian mereka tidak akan pernah bisa dimengerti. Gretchen sendiri mengakui bahwa dia lebih sering bertanya kepada Allah setelah kematian kedua anak laki-lakinya. Ketika polisi mengabarkan bahwa anak keduanya meninggal, Gretchen berkata, "Anak saya tidak mungkin meninggal, karena saya baru saja menguburkan anak laki-laki saya yang pertama. Saya tidak akan pernah berdoa lagi, karena Allah telah mengambil kedua anak saya. Saya tidak mengerti semua ini. Rasanya ingin mati saja." Kisah-kisah getir seperti di atas bisa terus ditambahkan tanpa akhir. Dan pada kisah-kisah itu seringkali diwarnai 46 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU dengan reaksi marah dan putus asa dari anak-anak Tuhan yang mempertanyakan apa kebaikan dari pengalaman getir seperti itu: Apa yang baik dengan dibunuhnya anak-anak saya? Apa baiknya kehilangan ayah? Apa baiknya dengan perceraian ini? Apa baiknya dengan pemerkosaan yang saya alami? Dst, dst. Ada beberapa penghalang besar yang menghalangi kita untuk mempercayai Roma 8:28 ini. Pertama, kita sering melihat Allah sama seperti kita. Kita tidak maha-kuasa, maka kalau kita menganggap suatu tragedi di luar kemampuan kita untuk mengatasi dan memulihkan keadaannya, kita memandang Allah juga sama seperti kita. Kita merasa ragu-ragu, karena menganggap Allah sama tidak berdayanya seperti kita. Kita tidak mahatahu, maka kita menganggap Allah juga sama seperti kita. Kita hanya mengetahui apa yang ada di awal lorong gelap yang kita hadapi, tetapi tidak mengetahui apa yang ada di tengah dan di akhir lorong itu. Akibatnya kita akan menyimpulkan apa yang akan terjadi di tengah dan akhir lorong berdasarkan apa yang kita alami di awal lorong itu. Kita menyimpulkan apa yang tidak dapat kita lihat berdasarkan apa yang bisa kita lihat. Maka jika mata kita tidak dapat melihat kebaikan apa-apa, kita pun meyakinkan diri kita sendiri bahwa tidak akan ada kebaikan apa-apa sekarang dan selamanya dari kejadian yang menimpa kita tersebut. Celakanya, kesimpulan-kesimpulan yang kita ambil itu kita anggap sebagai kesimpulan Allah juga. Sesungguhnya Allah memahami dan berkuasa atas se- ROMA 8:28 47 gala sesuatu. Ia melihat gambaran menyeluruh kehidupan kita maupun sejarah dunia ini. Ia mengetahui dengan tepat apa yang telah, sedang, dan akan terjadi dan dengan kuasa-Nya sangat mudah bagi-Nya untuk mengarahkan semua yang terjadi itu kepada tujuan-Nya. Bukankah itu yang ditunjukkan Alkitab kepada kita melalui kisah Yusuf, Musa, Ruth. Tetapi saat tokoh-tokoh tersebut menjalani peristiwa-peristiwa: penjara, pengasingan, penolakan, seringkali mereka juga merasa buntu, gelap, mustahil peristiwa itu akan mendatangkan kebaikan apa pun. Kedua, kita seringkali ingin hidup berdasarkan penglihatan dan bukan berdasarkan iman. Kita ingin tahu lebih dulu kebaikan apa yang akan dihasilkan bagi kita; kita ingin diberitahu bagaimana proses detil kerja Allah untuk menghasilkan kebaikan tersebut. Kita lupa bahwa ini adalah pekerjaan Allah, bukan seorang manusia. Artinya jikalau kita ingin memahami bagaimana Ia "turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita" maka haruslah kita sendiri mahatahu, mahakuasa, dan mahahadir. Oleh sebab itu adalah mustahil untuk memahami apa yang Allah lakukan. Tidak heran Paulus menutup unit pertama surat Romanya (pasal 1-11) dengan "O alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya." Maka dari itu, jika kita bersama Rasul Paulus mengatakan "kita tahu sekarang..." Itu bukan karena kita mengerti mengapa anak atau pasangan kita mati, mengapa kita menderita kanker sementara anak-anak masih kecil, 48 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU mengapa usaha kita jatuh sekalipun kita bekerja dengan bertanggung jawab, mengapa kita dikhianati, dan 1001 mengapa lainnya. Tetapi semata-mata karena kita mengenal-Nya dan kita percaya bahwa Ia bisa dipercaya. YESUS KRISTUS Dalam surat yang sama, Rasul Paulus sebelumnya menulis bahwa pada dasarnya kita semua adalah orang berdosa, dan untuk itu ganjaran yang kita terima adalah maut (Roma 3:23; 6:23). Jikalau demikian, bukankah Roma 8:28 ini seharusnya berbunyi: "kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebinasaan bagi kita orang berdosa"? Atau bentuk lain yang lebih lembut yaitu yang berdasarkan hukum tabur-tuai seperti yang sering kita lihat pada ayat-ayat Perjanjian Lama. Imamat 26:40-42: "Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa hidup mereka bertentangan dengan Daku —Aku pun bertindak melawan mereka dan membawa mereka ke negeri musuh mereka— atau bila kemudian hati mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjian-Ku dengan Abraham pun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga." ROMA 8:28 49 Ulangan 11:13-17: "Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang. Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu." Ulangan 11: 26-28: "Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal." (bacalah juga Ulangan 28:1-24) Yesaya 1:19-20: "Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. 50 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang. Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya." Jadi hukumnya adalah "ada ubi ada talas, ada budi ada balas". Apa yang akan kita terima dari Allah ditentukan oleh kita sendiri: Ketaatan pada firman-Nya mendatangkan berkat sedangkan ketidaktaatan mendatangkan kutuk. Jika demikian halnya maka Roma 8:28 akan berbunyi: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam hal-hal tertentu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang taat. Dan ada hal-hal di mana Allah turut bekerja mendatangkan hukuman bagi mereka yang tidak taat." Bukankah dengan demikian barulah terasa keadilannya? Bagaimana mungkin Allah turut bekerja dalam segala hal untuk kebaikan kita tanpa pandang bulu, entah yang terjadi itu karena dosa atau ketaatan kita. Apakah itu adil? Apakah hal itu tidak membuat kita makin semena-mena dalam berdosa? Menanggapi persoalan inilah Kristus tampil sebagai jawaban. Tanpa adanya kesempurnaan Kristus dan karya-Nya sebagai dasar Roma 8:28, maka ayat itu merupakan pernyataan Allah yang tidak adil dan membingungkan. PEMBENARAN OLEH YESUS KRISTUS Adalah benar bahwa Allah tidak mungkin bekerja tanpa memandang dosa-dosa kita. Ia adalah Allah yang mahakudus dan maha-adil, karena itu kekudusan hidup kita merupakan syarat untuk dapat berhubungan dengan-Nya ROMA 8:28 51 dan merasakan kebaikan-Nya. Karena itu Roma 8:28 tidak mungkin tanpa didasari Roma 8:1: "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus". Mari kita teliti ayat ini secara rinci. Kata "demikianlah" dapat ditinjau dari dua sudut pandang. Pertama, kata itu menjadi puncak pembahasan sebelumnya. Karena Kristus telah ditentukan Allah menjadi "jalan pendamaian karena iman" (3:25); karena Dia telah "diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita" (4:25); karena melalui ketaatan satu orang semua orang "menjadi orang benar" (5:19). Maka hasilnya adalah kebebasan dari hukuman bagi kita yang melalui iman berada "di dalam Kristus Yesus". Mengapa demikian? Karena ketika kita percaya kepada Kristus kita dipersatukan dengan-Nya, maka kematian-Nya bagi dosa-dosa kita diperhitungkan menjadi kematian kita dan kesempurnaan kebenaran dalam hidup-Nya menjadi kesempurnaan kita. Itulah yang kita ketahui dalam pengajaran pembenaran oleh iman. Dengan adanya pembenaran yang diperuntukkan bagi orang "yang berada di dalam Kristus Yesus" berarti Allah membenarkan atau menyatakan bahwa kita benar bukan karena jasa, usaha, atau kerja keras kita tetapi berdasarkan apa yang Kristus lakukan bagi kita. Kita adalah manusia yang berdosa, karena itu tidaklah mungkin menebus dosa-dosa kita sendiri. Usaha kita sama seperti menggunakan dua belah tangan yang kotor untuk saling membersihkan, atau menggunakan tangan yang bersih membersihkan tangan yang kotor, di mana hasil 52 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU akhirnya kedua tangan menjadi kotor. Yang kita butuhkan adalah pertolongan dari luar: air dan sabun. Untuk itulah Kristus diberikan. Ia yang sempurna dapat melakukannya bagi kita. Dengan dosa kita dibebankan kepada-Nya, maka Ia menerima segala konsekwensi dosa tersebut. Dengan demikian, penderitaan-Nya adalah penderitaan yang seharusnya kita jalani dan kematian-Nya adalah kematian yang seharusnya kita terima. Demikianlah penderitaan dan kematian Kristus telah menjamin kebebasan kita dari hukuman. Dengan Kristus telah mati sekali bagi seluruh dosa kita, maka kita tidak akan lagi dihukum atas dosa-dosa kita. Itu bukan karena tidak ada penghukuman melainkan karena penghukuman itu telah dijalankan. Dan jelas tidak boleh ada dua kali penghukuman untuk kesalahan yang sama di pengadilan manapun. Dengan demikian kata "tidak ada" di dalam Roma 8:1 itu bersifat mutlak. Artinya tidak ada penghukuman apa pun, karena apa pun itu: entah karena melanggar hukum Taurat, atau karena kebobrokan batin, atau karena kejatuhan dan kelemahan lainnya; tidak ada suatu sumber atau penyebab apa pun yang akan atau dapat memungkinkan penghukuman itu terjadi. Hal ini menunjukkan kesempurnaan Kristus dan karya penebusan-Nya bagi kita. Itu sebabnya pada Roma 8:33 Rasul Paulus secara retorik bertanya: "Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?" Jawabnya tegas, "Tidak ada sama sekali". ROMA 8:28 53 Pembenaran Allah tidak hanya menyatukan kita dengan penderitaan dan kematian Kristus bagi dosa-dosa kita sehingga "sekarang tidak ada penghukuman", tetapi juga menyatukan kita dengan kesempurnaan hidup-Nya. Kristus benar-benar sempurna karena seluruh hidup-Nya adalah ketaatan kepada Allah. "Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:8). Kematian-Nya merupakan puncak ketaatan-Nya. Sedangkan kita adalah orang berdosa yang tidak mungkin dapat mencapai tingkat kesempurnaan yang Allah tuntut itu, maka kita tidak memiliki kebenaran yang dapat membuat Allah menerima kita. Tetapi dengan kita berada di dalam Kristus, Allah mengambil kesempurnaan Kristus itu dan memberikannya kepada kita, memperhitungkannya sebagai milik kita, menjadi kesempurnaan kita. Akibatnya setiap kali Allah menjumpai kita, Dia tidak lagi melihat dosa-dosa kita; Ia hanya melihat kesempurnaan Putra-Nya di dalam kita. Kita selamanya diterima oleh Allah, bukan karena penampilan atau prestasi ketaatan kita tetapi karena kesempurnaan-Nya belaka. Inilah yang Paulus maksudkan ketika berkata, "oleh ketaatan satu orang, semua orang menjadi orang benar" (Roma 5:19). Kedua, kata "demikianlah" tidak hanya dipandang sebagai kesimpulan yang diambil dari keseluruhan pembahasan sebelumnya, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan pembahasan terdekat sebelumnya yaitu Roma 7:13-26. Di situ Rasul Paulus menjadikan pengalaman dirinya sendiri untuk menggambarkan adanya konflik batin yang menyakitkan dan berlangsung terus-menerus di dalam 54 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU jiwa orang yang telah lahir baru. Walaupun kita meng- alami kekalahan dalam konflik tersebut, penderitaan dan kematian Kristus tetap menjamin bahwa tak akan ada hukuman bagi kita. Perhatikanlah, sekalipun dalam paragraf ini Paulus mengemukakan pengalaman pribadinya sendiri namun ia mengubah jumlah orang yang tidak mendapat penghu- kuman. Ia tidak berkata, "Tidak ada penghukuman bagi saya," tetapi "bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." Seandainya di sini ia menggunakan kata ganti diri tunggal, yakni kata "saya", maka itu hanya berlaku untuk Paulus tetapi tidak untuk kita. Tetapi dengan kata ganti "mereka" Paulus menunjukkan bahwa "tidak ada peng- hukuman" itu benar-benar berlaku bagi semua orang yang ada di dalam Kristus Yesus. Dengan demikian ada dua alasan mengapa Allah tidak berbuat curang atau melanggar keadilan ketika Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan orang percaya. Pertama, tuntutan-tuntutan Allah atas utang ke- tidakbenaran telah dilunasi melalui kematian Kristus se- hingga kita bisa memiliki hidup kekal dan mengalami kebaikannya. Kedua, ketaatan Kristus menyediakan kebe- naran yang kita butuhkan untuk dibenarkan di hadapan pengadilan Allah. TIDAK BERLAKU LAGINYA "TAAT-BERKAT; TIDAK TAAT-KUTUK" Dengan Kristus sebagai pembenaran kita, menyebabkan pola "taat - berkat, tidak taat - kutuk" tidak berlaku lagi. ROMA 8:28 55 Karya Kristus di Kalvari sudah menghapus hukuman dosa apa pun. Maka dosa apa pun yang kita lakukan tidak lagi mendatangkan hukuman. Selain itu Kristus itu selalu benar, taat, memenuhi Taurat, mengasihi Allah dengan tanpa cacat dan terbagi. Maka jika kita diterima Allah karena Dia, di hadapan-Nya kita selalu sempurna. Itu berarti kejahatan kita bukan penghalang, kegagalan kita bukan penghambat untuk terus mengalami kebaikan Allah. Maka semenjak kita ada di dalam Kristus, apa pun yang Allah kerjakan hanyalah yang baik untuk kita. Kenyataan ini berlaku bagi semua orang percaya tanpa kecuali. Karena semua orang percaya diterima bukan berdasarkan prestasinya tetapi prestasi Kristus. Maka ketika suatu kemalangan, tragedi terjadi pada kita adalah keliru jika kita berpikir "Dosa apa yang aku lakukan sehingga Allah menghukumku?" Walau tentu saja dosa yang kita lakukan dapat mendatangkan celaka bagi kita: perasaan bersalah, penderitaan, penyakit, dan hukuman masyarakat. Tetapi itu bukan hukuman dari Allah, melainkan akibat logis tindakan kita atau merupakan hajaran karena kasih Allah kepada kita. Namun di atas semuanya hal itu pun menjadi komponen yang Allah pakai mencapai maksud baik-Nya bagi kita. DORONGAN UNTUK HIDUP DI DALAM DOSA? Dengan Allah tidak lagi pernah menghukum kita, sebaliknya turut bekerja dalam segala hal untuk kebaikan kita tanpa pandang bulu entah yang terjadi itu karena dosa atau ketaatan kita, apakah itu tidak membuat kita makin 56 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU semena-mena dalam berdosa? Walaupun kita mengakui bahwa kita memang masih sering lemah dan gagal menaati Allah, namun kebenaran di atas sama sekali tidak mendorong kita makin berdosa, malah mendorong kita untuk hidup makin saleh. Ada dua alasan untuk itu. Pertama, “kebaikan” yang dihasilkan melalui turutnya Allah bekerja dalam segala sesuatu itu bukanlah kebaikan seperti yang kita pikirkan: kesehatan, kelimpahan harta, umur panjang, makanan enak, pekerjaan dengan gaji tinggi, rumah nyaman, kendaraan bagus. Juga “kebaikan” itu sama sekali tidak dapat diartikan bahwa hanya hal-hal yang “baik” saja yang akan terjadi atas mereka yang mengasihi Allah. Pada ayat-ayat berikutnya Paulus menyebutkan apa yang sedang dinantikan atau dialami jemaat Roma: penindasan, kesesakan, aniaya, kelaparan, ketelanjangan, bahaya dan pedang. Paulus bahkan mengutip Mazmur 44:23 demi menggambarkan kehidupan orang percaya: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan” (Roma 8:35-36). Kebaikan apa yang dimaksud di situ dijelaskan Paulus pada ayat selanjutnya, “semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29). Singkatnya Allah bekerja secara intensif dan ektensif mendatangkan kebaikan yaitu keserupaan kita dengan Kristus. Dengan demikian makin kebaikan itu nyata, makin salehlah hidup kita. Sebagai catatan, di sini kita menemukan satu lagi penghalang besar untuk kita menikmati Roma 8:28, yaitu ROMA 8:28 57 kita selalu mengukur kebaikan Allah dari kriteria yang dunia janjikan: kelimpahan materi, kenikmatan makan minum, kenyamanan fasilitas rumah, mobil, umur panjang, dst. Sedangkan Allah berkarya dengan kriteria yang baik menurut Dia, yaitu segala sesuatu yang membuat kita makin serupa anak-Nya. Segala sesuatu yang menjauhkan kita dari keserupaan dengan anak-Nya adalah jahat menurut Allah. Itulah sebabnya mengapa kita selalu gagal melihat karya Allah dalam hidup kita. Ironisnya, kegagalan kita melihat karya Allah itu kita simpulkan sebagai tidak berkaryanya Allah dalam kehidupan kita. Kedua, karya Allah ini berlaku hanya bagi “mereka yang mengasihi Dia”, jadi tidak untuk seluruh umat manusia melainkan bagi mereka yang dibenarkan dalam Kristus dan yang terliput dalam rencana Allah menjadikannya serupa dengan Kristus. Walaupun ungkapan “mereka yang mengasihi Dia” ini langka dalam tulisan Paulus, di mana ia lebih sering menekankan kasih Allah atau Yesus kepada kita (bacalah Rom 1:7; 5:8; 8:37, 39; 9:13,25; Kol 3:12; 1 Tes 1:4 dll). Namun demikian konsepnya tidak baru, karena mengasihi Allah adalah bagian pertama dari Hukum Kasih. Dengan mengasihi Allah, kita akan bertumbuh mengasihi yang Ia kasihi. Dan tidak ada yang lebih Allah kasihi selain Putra tunggal-Nya Yesus Kristus. Maka sudah tentu itu akan menyebabkan kita makin mau dijadikan serupa dengan Kristus. 58 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU PENUTUP Sesungguhnya Roma 8:28 adalah ayat yang dahsyat. Untuk pelaksanaan isi ayat itu Allah haruslah sepenuhnya Allah: Ia haruslah mahatahu, maha-ada, mahakuasa, maha-baik. Bahkan itu saja tidak cukup. Untuk ayat itu terlaksana sepenuhnya atas kita harus ditambah dengan Putra Allah memberikan segalanya kepada kita: Ia harus berinkarnasi, memberi nyawa-Nya menebus kita, dan memberi kesempurnaan hidup-Nya kepada kita. Kenyataan ini membuat kita dicelikkan betapa kuatnya janji ini karena back up yang total oleh Tritunggal Allah: Bapa, Kristus, dan Roh Kudus (di pasal 8 ini Roh Kudus muncul sampai belasan kali). Maka tidak berlebihanlah jika saya menyimpulkan bahwa meragukan Roma 8:28 setelah mendapatkan penjelasan yang demikian lengkap adalah identik dengan meragukan seluruh iman Kristen. Mengapa? Karena karakter dan atribut Allah dipertaruhkan di situ, kesempurnaan karya Kristus bagi kita dipertaruhkan di situ, dan tujuan puncak penebusan kita juga dipertaruhkan di situ. Oleh sebab itu sebuah pertanyaan perlu kita ajukan di akhir bab ini: ketika hidup kita runtuh, dan airmata menggenangi jalan kita, apakah kita dapat menegakkan kepala dan dengan iman menegaskan: “Hidup ini sukar dan berat tetapi kita memiliki Allah yang tak pernah lalai berkarya dalam hidup kita dan Ia pasti berhasil mendatangkan kebaikan-Nya atas kita”? ROMA 8:28 59 DOA Tuhan, Kami ini terbatas: tidak mahatahu, tidak maha-ada, dan tidak mahakuasa Oleh sebab itu tidak mungkin kami mengerti pekerjaan-Mu atas kami Tetapi daripada menyerahkan hidup kami kepada-Mu, kami sebaliknya mencurigai-Mu saat perkara pahit yang menimpa kami tidak bisa kami mengerti dan atasi Iman kami terbatas, sering lebih kecil dari biji sesawi Kami meminta, "Topanglah kami terus dengan kemurahan dan belas kasihan-Mu" Itu doa permohonan kami dalam nama Yesus Kristus Amin lx2jc8jwgazbwkvcb0bvmx355qbwogn Dukaku Tempat Kudus-Mu/Dukaku Tempat Kudus-Mu (1) 0 28118 118713 2026-09-04T11:50:34Z Bennylin 425 Bab 3 118713 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous=[[../Roma 8:28|Roma 8:28]] |next=[[../Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)|Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)]] }} IBRANI 4: 15-16 ¹⁵ Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. ¹⁶ Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. Bab 3 Dukaku Tempat Kudus-Mu (1) Inkarnasi Yesus Kristus menunjukkan kepada kita bahwa Allah bukanlah Allah yang berongkang-ongkang kaki, bernyaman-nyaman di sorga sana, sambil menutup telinga-Nya terhadap suara penderitaan yang terjadi di bumi. Ia juga bukan Allah yang memilih hidup di bumi ini sebagai manusia yang mengurung diri di istana-Nya (Bait-Nya) —di mana setiap hari Ia dilayani dengan puji-pujian yang merdu, tarian yang indah serta korban-korban persembahan yang menyenangkan— tetapi buta terhadap apa yang terjadi di luar istana-Nya: rakyat yang kelaparan, miskin, tertindas, dan kejahatan merajalela di mana-mana. Apa yang Perjanjian Baru catat tentang inkarnasi Allah adalah bahwa Ia memilih menjadi manusia dan menjadikan penderitaan manusia sebagai "tempat kudus" kehadiran dan karya-Nya. Semenjak dilahirkan di bumi sebagai manusia, Ia menjalani setiap bentuk rasa sakit seorang manusia: penolakan, kehausan, kelaparan, kemiskinan, 62 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU menggelandang (tidak punya rumah, bahkan tidak punya kuburan), ketakutan, kesedihan, dipukuli, kehilangan orang yang dikasihi, menjadi korban ketidak-adilan dan kejahatan. Semua itu kemudian mencapai puncaknya pada siksaan tak terperikan di atas kayu salib. Pada saat-saat keputus-asaan-Nya, Ia berteriak menyayat hati, "Eli Eli lama sabakhtani?" (Allah-Ku Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?") Saat itu Ia tidak mendengar apa pun, yang ada hanyalah keheningan. Ia nampaknya ditinggalkan dan mati dalam kesendirian yang menyesakkan. Begitu akrabnya Ia hidup bersama-sama dengan manusia yang tertindas, lengkap dengan pengalaman kesengsaraannya sampai-sampai Ia disebut sebagai "... seorang yang penuh kesengsaran dan yang biasa menderita kesakitan." (Yesaya 53:3). PENDERITAAN YANG UNIK Sekalipun Allah dalam inkarnasi-Nya menjalani penderitaan-penderitaan yang juga dialami manusia lainnya, tetapi penderitaan-Nya adalah penderitaan yang unik. Mengapa? Ia adalah Allah yang berinkarnasi, maka sangat jauh berbeda dengan manusia manapun. Ketika seorang manusia dilahirkan, ia menderita karena meninggalkan rahim ibunya yang nyaman. Yesus Kristus bukan sekedar meninggalkan rahim ibu-Nya tetapi "rahim" Bapa sorgawi-Nya. Ketika seorang manusia mengalami perlakuan yang tidak adil, sebenarnya ia sendiri juga pernah bahkan mungkin sering berbuat tidak adil pada orang lain. Yesus DUKA (1) 63 Kristus tidak demikian, Ia tidak pernah memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Ketika manusia menderita kelaparan karena tidak berdaya memperoleh makanan, Yesus menderita kelaparan padahal Ia berkuasa mengubah batu menjadi roti, dst. Penderitaan Yesus juga menjadi unik tak ada duanya karena kedalaman dan ketuntasan penderitaan yang dialami-Nya. John Piper dalam bukunya The Passion of Jesus Christ memberikan uraian yang sederhana tetapi mendalam tentang hal ini. Ia menjelaskan bahwa karena Yesus selalu berhasil melewati setiap pencobaan dan penderitaan, maka hal itu telah membuat-Nya mengalami pencobaan yang lebih hebat daripada yang kita alami. Jika seseorang menyerah terhadap suatu pencobaan, maka pencobaan itu tidak akan sampai pada tahap serangan yang terhebat, karena kita sudah menyerah pada saat tekanan belum mencapai puncaknya. Tetapi karena Yesus tidak pernah menyerah, maka Dia menjalani tekanan yang makin lama makin dahsyat. Pencobaan dan penderitaan datang kepada-Nya dari waktu ke waktu dengan kekuatan yang makin lama makin hebat sampai akhirnya dengan kekuatan yang maksimal. Itulah perbedaan Yesus dengan kita. Tidak ada manusia yang pernah mengalami penderitaan seperti yang dialami-Nya. Tidak ada manusia yang pernah bertahan terhadap siksaan seperti yang dialami-Nya. Dan tidak ada manusia yang pernah menelan habis kekuatan maksimum pencobaan serta keluar sebagai pemenang seperti yang dialami-Nya. Menanggapi kenyataan di atas R.C. Sproul turut 64 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU berkomentar, "Tidak ada orang yang pernah diminta Allah untuk menderita lebih berat daripada penderitaan yang Allah limpahkan kepada anak tunggal-Nya. Juruselamat kita adalah Juruselamat yang menderita. Ia pergi di depan kita ke negeri penderitaan dan maut yang tidak ada satu manusia pun ketahui." Dan akhirnya keunikan penderitaan Yesus yang terbesar bagi kita adalah apa yang penderitaan-Nya berikan bagi kita. ALLAH MENGERTI PENDERITAAN KITA Yesus menjalani kehidupan sebagai manusia, lengkap dengan segala penderitaan dari lahir sampai mati. Ia bahkan mengalami penderitaan yang lebih hebat yang tidak akan pernah manusia lain alami, sehingga "kita mempunyai Imam Besar yang tiada bandingannya dalam 'turut merasakan' (Berasal dari bahasa Yunani Sympathos yang berarti menderita bersama) kelemahan-kelemahan kita...." seperti yang penulis surat Ibrani katakan. Joni Eareckson Tada dalam kesaksiannya menceritakan tentang bagaimana kenyataan ini telah sangat menguatkannya. Saat masih gadis remaja, ia adalah seorang atlet olahraga atletik. Suatu hari ia mengalami kecelakaan hebat. Ketika di teluk Chesapeake ia melompat masuk ke dalam air, kepalanya terantuk batu di dasar air yang ternyata dangkal. Seketika itu juga seluruh tubuhnya mati rasa. Ia menderita kerusakan permanen pada tulang belakangnya. Kecelakaan itu berlangsung dalam 2 detik tetapi akibatnya berlangsung DUKA (1) 65 seumur hidup. Sejak itu ia dipaksa mengubah jalan hidupnya menjadi orang cacat. Suatu kali setelah waktu berlalu dan segala usaha pengobatan tidak membawa hasil apa pun, Joni berkata: “Saya begitu hancur. Hidup saya selama ini begitu padat dengan aktivitas, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tiba-tiba sekarang, saya menemukan diri saya tanpa siapa pun, tidak dapat bergerak sama sekali. Semua hobi dan apa yang saya miliki tiba-tiba saja menjadi tidak berarti lagi. Kuda-kuda yang ada di pekarangan yang selalu saya tunggangi tidak dapat saya nikmati lagi. Bahkan saya tidak dapat memberi makan diri saya sendiri tanpa bantuan orang lain. Saya hanya dapat tidur dan bernafas, selebihnya saya memerlukan bantuan orang lain.” Saat teman-teman sekolah yang datang menjenguknya melihat dari dekat bagaimana Joni yang biasa mereka kenal sebagai gadis yang sangat aktif, ceria, dan energik terbaring tidak berdaya; mereka tidak siap menghadapi kenyataan tersebut. Seorang di antara mereka tanpa bisa menahan berbisik, “Ya Tuhan.” Mereka berdiri termangu kaku selama beberapa detik, kemudian mulai berlari ke luar ruangan. Joni dapat mendengar salah seorang dari mereka muntah-muntah di luar, sementara yang lainnya menangis terisak-isak. Joni bertanya-tanya apa yang menyebabkan reaksi mereka seperti itu. Sebenarnya, ada apa dengan dirinya? Beberapa hari kemudian, ia mengetahui jawabannya. Ia meminta seorang pembesuknya, Jackie, untuk 66 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU memberinya sebuah cermin. Mula-mula Jackie terdiam dan ragu-ragu, tetapi setelah Joni memaksanya maka dengan segan ia mengambilkan sebuah cermin dan memegangnya di depan wajah Joni dengan tangan gemetar. Joni melihat wajahnya dengan sekilas dan berteriak, "Ya Tuhan, bagaimana Kau dapat melakukan ini padaku!" Wajah yang terlihat di cermin adalah wajah dengan bola mata merah yang jatuh ke dalam rongga tengkoraknya dengan ceruk yang dalam dan berwarna gelap. Kulitnya telah menjadi pucat kekuning-kuningan, giginya hitam karena obat-obatan yang telah ia telan. Kepalanya masih gundul dengan logam tertancap di kedua sisi tengkorak kepalanya. Berat badannya menyusut dari 62 kg menjadi 40 kg. Joni menangis tidak terkendali. Akhirnya ia berkata sambil menangis, "Oh, Jackie, saya perlu bantuanmu. Satu kali saja. Saya tidak tahan lagi menghadapinya". "Bantuan apa, Joni? Saya pasti akan membantumu." "Bantu saya untuk mati. Bawakan saya beberapa pil atau silet. Saya tidak mau lagi hidup dengan tubuh seperti ini. Bantu saya untuk mati, Jackie." Tentu saja Jackie tidak dapat membantu Joni dalam hal ini. Dan Joni pun akhirnya menyadari suatu fakta yang baru: "untuk mati pun ia tidak dapat melakukannya sendiri". Suatu malam, akhirnya Joni merasa bahwa Tuhan sebenarnya mengerti keadaan yang dia alami. Ketika itu rasa nyeri yang menyerang bagian belakang tubuhnya tidak tertahankan. Jika seorang sehat yang meng- DUKA (1) 67 alami hal itu, maka ia dapat dengan mudah mencari bagian yang nyeri kemudian memijat atau menggosok- nya. Tetapi orang lumpuh seperti Joni mau tidak mau hanya diam tidak dapat berbuat apa-apa. Pada saat itu Cindy, seorang teman dekatnya ada di samping tempat tidurnya. Cindy sedang berusaha untuk memberi Joni semangat dan penghiburan. “Joni, kau tidak sendirian. Tuhan Yesus mengerti penderitaan yang sedang kau alami sekarang. Ia juga pernah mengalami kelumpuhan.” Joni menatap wajah temannya dengan bertanya-tanya, “Apa yang sedang kau bicarakan?” Cindy melanjutkan. “Iya, benar. Ingat, Tuhan Yesus sewaktu di kayu salib dengan punggungnya yang penuh dengan bekas cam- bukan, ingin mengubah posisinya atau mengubah berat badannya, tetapi Ia tidak dapat melakukannya. Ia tidak dapat bergerak sama sekali karena paku yang tertancap pada tangan-Nya.” Pemikiran ini sangat mengganggu Joni dan untuk beberapa saat lamanya ia tidak lagi memikirkan rasa nyeri yang sedang dideritanya. Tidak pernah ia me- mikirkan hal itu sebelumnya yaitu bahwa Tuhan Yesus pernah berada dalam kondisi yang persis seperti yang Ia alami saat itu. Pemikiran baru ini sangat melegakan hatinya, “Tuhan terasa sangat dekat dengan saya. Sepertinya saya diubahkan oleh Tuhan melalui kasih yang ditunjukkan oleh teman-teman dekat dan ke- luarga saya. Akhirnya saya mulai mengerti bahwa Tuhan pun mengasihi saya.” 68 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU KECEWA PADA ALLAH Melalui Kristus —Allah yang menjadi manusia— kita mengetahui bahwa Allah bukan saja memahami kelemahan kita, tetapi juga Ia memahami perasaan kecewa dan putus asa kita terhadap-Nya. Daud pernah mengalami bagaimana Tuhan tidak memedulikannya ketika ia dalam ketidakberdayaan serta keputus-asaannya datang meminta pertolongan kepada Tuhan yang biasa disebutnya sebagai Gunung Batuku, Tempat Perlindunganku, Bentengku yang kokoh, atau Gembalaku. Akibatnya, kepekatan kegelapan hidupnya makin bertambah. Di dalam kesesakan seperti itu ia menulis sebuah Mazmur yang mengungkapkan kefrustrasiannya kepada Allah. "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak. Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: "Ia menyerah kepada Tuhan; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?" DUKA (1) 69 Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuatku aman pada dada ibuku. Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku. Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong. Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku; kekuatanku kering seperti beling, lidahku melekat pada langit-langit mulutku; dan dalam debu maut Kau letakkan aku." (Mazmur 22:2-4, 7-12, 15-16) Mazmur ini merupakan seruan keputus-asaan semua orang yang dalam ketidak berdayaannya mencari Tuhan, tetapi ternyata bukannya mendapatkan kekuatan malah sebaliknya merasa ditinggalkan. Siapa pun tidak akan meragukan bahwa Yesus tidak asing dengan apa yang Daud rasakan. Bukankah Mazmur ini menjadi terkenal karena Yesus? Sebab Dialah orang yang menyerukan baris pertama Mazmur ini ketika berada di puncak penderitaan-Nya. Selain Daud, contoh lain yang sangat menyesakkan hati, saya dapatkan dari novel sejarah tulisan Shusaku Endo —seorang penulis berkebangsaan Jepang— yang diberi judul Silence. Dalam buku itu Endo berkisah tentang para imam Roma Katolik, yang salah satunya berasal dari Portugis bernama Sebastian Rodrigues. Ia pada abad ke-17 diam-diam ikut menyelundup masuk ke Jepang. Sekalipun abad sebelumnya merupakan abad kejayaan 70 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU kekristenan di Jepang yang dimulai oleh Fransiskus Xaverius, tetapi saat Sebastian masuk ke Jepang keadaan sudah berubah drastis. Injil tidak lagi diijinkan untuk diberitakan dan orang Kristen diperhadapkan pada penganiayaan dan hukuman mati yang keji. Sebastian Rodrigues berhasil menyelundupkan beberapa surat keluar dari Jepang. Salah satunya ditulis oleh seorang Kristen Jepang yang mengungkapkan penganiayaan orang Kristen di sana: "...Dua puluh tahun telah berlalu sejak penganiayaan ini terjadi; tanah Jepang yang hitam sudah dipenuhi dengan ratap tangis dari begitu banyak orang Kristen; darah para imam yang merah sudah banyak yang dicurahkan; tembok-tembok gereja sudah diruntuhkan; dan di hadapan korban yang mengerikan dan tanpa ampun yang dipersembahkan kepada-Nya ini, Allah tetap saja membisu". Sebastian Rodrigues dipaksa untuk melihat hukuman mati yang dijatuhkan kepada orang-orang Kristen di mana mereka secara perlahan-lahan ditenggelamkan di laut yang dalam. Ia menulis tentang pengalamannya itu. "Mereka dijadikan martir. Tetapi, kemartiran macam apa! Telah banyak kubaca tentang kemartiran para orang kudus —bagaimana jiwa-jiwa para martir tersebut naik ke sorga, bagaimana mereka dipenuhi dengan kemuliaan Sorgawi— Tetapi, kemartiran orang-orang Kristen Jepang... Betapa menyedihkan dan menyakitkan semuanya ini! Hujan turun tak henti-hentinya di atas laut. Dan laut yang membunuh DUKA (1) 71 mereka terus bergelora seakan-akan tak terjadi apa-apa dalam kebisuan... Di balik kebisuan laut yang menekan ini, ada kebisuan Allah... perasaan bahwa ketika manusia menaikkan suaranya dalam keputusasaan, Allah tetap memandang dengan tangan terlipat, membisu seribu bahasa". Pada akhirnya, Rodrigues, beserta seorang imam lainnya, Ferreira mengingkari imannya. Itu dilakukan bukanlah demi menghindari penganiayaan atas diri mereka sendiri tetapi demi menyelamatkan orang Kristen Jepang dari penyiksaan lebih lanjut. Inilah yang dikatakan Ferreira kepada Sebastian Rodrigues tentang penyangkalan imannya: "Apa yang membuatku meninggalkan iman? Dengarkanlah! Aku ditempatkan di sini dan mendengar suara orang-orang yang tidak didengar dan tidak ditanggapi oleh Allah. Allah tidak melakukan apa pun. Aku sudah berdoa dengan segenap kekuatanku; tetapi Allah tetap tidak melakukan apa pun." Hidup terasa sangat berat ketika Allah nampak tidak peduli, padahal mereka adalah orang-orang yang setia dan mengorbankan segalanya bagi Dia. Tetapi siapakah yang berani mengatakan bahwa Allah tidak mengerti kefrustrasian mereka terhadap-Nya? Kristus mengalami realita itu sedalam-dalamnya dan sepenuh-penuhnya. Sebagai seorang yang seumur hidup taat dan mengabdikan hidup-Nya kepada Bapa-Nya, tetapi dalam saat-saat keputusasaan-Nya di atas kayu salib, Ia malah berteriak menyayat hati, 72 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU “Eli Eli lama sabakhtani —Allah-Ku Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Saat itu seperti Rodrigues, Yesus juga tidak mendengar apa pun, yang ada hanya keheningan belaka. Ia nampaknya ditinggalkan dan mati dalam kesendirian yang menyesakkan. ALLAH BERSEKUTU DALAM KESUSAHAN KITA Dengan Allah menjadi manusia dan menjumpai kita di dalam penderitaan kita serta berkarya di dalamnya, maka hal lain yang penting untuk kita sadari adalah: penderitaan sama sekali tidak menandakan ketidakhadiran dan ketiadaan penyertaan-Nya. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia hadir sampai sekarang di dalam diri saudara-saudara kita yang kelaparan, kehausan, asing, telanjang, sakit, terpenjara. Sehingga memberi mereka makan, minum, tumpangan, pakaian, perawatan, dan perkunjungan tidak lain adalah memberi-Nya makan, minum, tumpangan, pakaian, perawatan, dan perkunjungan. Yesus berkata: “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Itu pula sebabnya ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Saulus yang menganiaya gereja-Nya, Ia bukan bertanya kepadanya, “Saulus, Saulus mengapakah engkau menganiaya gereja-Ku?” melainkan “...mengapakah engkau menganiaya Aku?” Dan itu dipertegas lagi ketika menjawab pertanyaan Saulus, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Jawab-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu.” (Kisah Para Rasul 9: 3-5) DUKA (1) 73 Sesungguhnya setiap penderitaan kita sebagai anak-anak-Nya, bukan tanda ketidakhadiran dan ketidakpedulian-Nya melainkan merupakan tempat di mana Ia datang menjumpai, ikut merasakan, bersekutu dan menyertai kita, anak-anak-Nya. ALLAH MENYELAMATKAN KITA Apakah Yesus memasuki penderitaan kita hanya untuk memberi jaminan bahwa Ia memahami dan bersekutu dengan kita dalam semua kesengsaraan kita, sebagaimana yang dilakukan ibu dalam cerita yang mengharukan berikut ini? Suatu hari seorang ibu meraung kesakitan sehingga membuat para tetangga yang mendengarnya berlari-lari masuk ke rumahnya sambil bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Mereka segera mengetahui bahwa ibu itu telah dengan sengaja membakar telunjuknya sendiri. Beginilah kisah lengkapnya. Ketika ibu itu sedang mengiris-iris sayur, sambil memanaskan air, ia tidak memperhatikan bahwa anaknya bermain mendekati tungku api dan memegang arang yang menyala pada sebatang kayu api. Anak itu pun menangis sejadi-jadinya karena kesakitan. Sang ibu berpikir bagaimana menolong meringankan penderitaan anaknya. Jari anak itu ditiup-tiup, dicium, diolesi minyak, dan kemudian berusaha mengalihkan perhatian anaknya dengan menyanyi, membadut, tetapi semuanya tidak berhasil. Anaknya masih saja menangis kesakitan. 74 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Di tengah kebingungan dan keputus-asaannya, sang ibu melakukan hal yang mengerikan. Ia menaruh jari-nya sendiri di bara arang yang menyala di tungkunya. Mengapa ia membakar jarinya sendiri? Jawabannya sangat menyentuh hati, "Jika aku tidak dapat melenyapkan sakit anakku maka lebih baik aku ikut merasakan dan bersatu dengannya dalam penderitaannya." Apakah Kristus seperti ibu itu, membakar jari-Nya sendiri dengan mengalami seluruh penderitaan manusia secara lengkap dari lahir sampai mati hanya demi memahami dan bersekutu dalam penderitaan kita? Tidak. Ia bertindak lebih jauh dari itu. Ayat Ibrani yang kita baca tidak berhenti hanya pada Ia "dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,..." tetapi melanjutkannya dengan "...marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya" Dengan demikian, Tuhan Yesus menderita bukan karena kekurangmampuan atau ketidakberdayaan-Nya. Tetapi Ia justru masuk ke dalam penderitaan untuk menghancurkannya dari dalam, sehingga keselamatan dapat kita peroleh. Kemenangan-Nya itu dibuktikan dengan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Oleh kebangkitan-Nya itu ditunjukkan kepada kita kemenangan: hidup atas maut, keadilan atas ketidakadilan, kasih atas kebencian, kebaikan atas kejahatan, Allah atas setan. Maka betapa hebat dan lama pun segala kegelapan yang dialami pada DUKA (1) 75 masa kini hanyalah bersifat sementara. Pada akhir-Nya Allah di dalam Kristus akan memulihkan dengan sempurna semua kekacauan dan kesengsaraan yang yang kita alami dalam hidup. Sebagaimana yang Rasul Yohanes tuliskan tentang penglihatannya: "Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan Aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala airmata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu" (Wahyu 21: 1-4). Menanggapi kebenaran ini, Joni Eareckson Tada mengatakan bahwa kemuliaan hidup masa depan merupakan alasan yang cukup untuk membuat kita bersukacita saat ini sekalipun berhadapan dengan penderitaan yang berat. Ada banyak kesaksian lainnya yang mengokohkan apa yang Joni katakan. Di antaranya adalah sebagai berikut: Justin adalah anak yang mengidap Tourette Syndrome, penyakit yang disebabkan oleh kelainan genetik yang tidak ada obatnya. Ketika penyakit ini menyerang, maka si penderita tidak dapat mengontrol tubuhnya 76 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU yang memelintir dan ia akan mengeluarkan suara aneh. Suatu hari ibunya membawa Justin dan dua saudarinya ke sebuah rumah makan. Tetapi sukacita bersama mereka tidak berlangsung lama karena di sana syndromnya menyerang dan itu bukan pengalaman pertama. Ibunya memutuskan untuk segera membawanya pulang. Adik perempuannya dengan berlinang airmata bertanya, "Mami apakah Justin akan selalu seperti ini?" Ibunya membalikkan wajahnya ke tembok menutupi airmatanya sendiri, tidak bisa menjawab. Sesampainya di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada suaminya. Dan suaminya bertanya apa yang ia jawab kepada anak-anak. "Saya tak punya jawaban." Suaminya memegang tangan istrinya, "Engkau punya jawaban. Engkau dapat mengatakan Justin tidak akan selalu seperti ini. Akan tiba waktunya Justin akan mendapatkan warisannya dari Allah. Ia tidak akan sakit lagi dan kita tidak akan menangis lagi. Justin mengasihi Kristus dan Allah akan menebus anak-anak-Nya. Justin tidak akan selalu seperti ini." Di dalam Renungan Harian, Alex Ross menceritakan tentang seorang wanita Kristen tua yang akan meninggal. Suaminya yang tercinta duduk di samping tempat tidurnya sambil memegang tangannya. Mereka berdua tahu bahwa kematiannya telah dekat dan mereka segera akan berpisah. Ketika mata mereka bertemu, sebutir airmata turun membasahi pipi wanita tua itu. Suaminya menghapus airmata itu dengan lembut, dan dengan suara bergetar ia berkata, "Berterima DUKA (1) 77 kasihlah kepada Allah, Mary, ini adalah airmata yang terakhir." Airmata adalah sahabat yang setia di dalam kita mengarungi kehidupan ini. Pada saat lahir, tangisan keras terdengar tatkala seorang bayi keluar dari rahim dan paru-parunya yang kecil terisi dengan udara. Dan pada akhirnya, seperti yang terjadi pada awal kehidupan, airmata juga akan menutupi hari-hari kehidupan kita yang fana. Namun orang percaya memiliki janji bahwa suatu hari kelak semua airmata akan dihapuskan. PENUTUP Jikalau kisah ibu yang membakar jarinya sendiri itu tidaklah memadai untuk menggambarkan apa yang Yesus hasilkan bagi kita melalui penderitaan-Nya, ada sebuah cerita lain yang sedikit lebih memadai. Ada seorang raja yang sedang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Kebanyakan tamu tiba dengan kereta kuda yang sangat bagus. Tak berapa lama kemudian hujan mulai mengguyur dan membuat kolam lumpur persis di muka pintu masuk utama ke dalam istana. Saat itu datanglah sebuah kereta kuda dan berhenti tepat di depan genangan air lumpur itu. Seorang tua mencoba keluar dari keretanya, namun ia tergelincir dan tercebur ke dalam genangan lumpur. Ketika ia bangkit dari kolam, ia sadar bahwa sekujur pakaiannya sudah sangat kotor 78 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU bermandikan lumpur, ia sangat tidak pantas untuk masuk ke ruang perjamuan. Ia menjadi tontonan yang menggelikan bagi tamu-tamu yang lain. Seorang pelayan yang melihat kejadian itu bergegas menemui raja dan melaporkan kejadian tersebut. Raja keluar menemui tamu itu dan mempersilakannya untuk masuk ke ruang pesta walaupun orang ini dalam keadaan kotor. Tetapi tamu itu merasa malu terhadap para tamu lainnya. Ia bersikeras untuk pulang saja. Di luar perkiraan siapa pun, raja yang berpakaian indah itu membenamkan dirinya dari kepala sampai ke kaki bergulingan di kolam lumpur yang sama. Ia sekarang juga berlumpur di sekujur tubuhnya. Kemudian ia menggandeng tamu itu dan mereka berjalan bersama-sama dalam keadaan penuh lumpur memasuki ruang perjamuan. Penderitaan Tuhan Yesus unik tiada duanya. Dan ketika kita merenungkan apa yang telah dilakukan-Nya itu, timbul sebuah pertanyaan, "Mengapa Ia melakukan hal itu?" Jawabannya sederhana tapi sangat mendalam: Kasih-Nya kepada kitalah yang menjadi alasan mengapa Ia melakukan semua itu. Kasih mau berkorban, mau mengerti dan mau mendatangkan yang terbaik bagi yang dikasihi. Itulah yang membuat-Nya rela mengambil jalan terjauh, terkeras dan berbahaya bagi kita, dan melalui itulah Ia dapat menunjukkan kepada kita betapa Ia memahami kita, menyertai di sepanjang jalan kita sampai kita tiba di rumah yang telah Ia sediakan bagi kita di sorga sana. DUKA (1) 79 Sampai di sini terlintas sebuah lagu rohani di benak saya, yang alangkah baiknya menjadi nyanyian di bibir dan hati kita di akhir renungan ini. ALLAH PEDULI Banyak perkara yang tak dapatku mengerti. Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini Satu perkara yang kusimpan dalam hati Tiada sesuatu kan terjadi tanpa Allah peduli Allah mengerti Allah peduli segala persoalan yang kita hadapi Tak akan pernah ditinggalkan-Nya ku bergumul sendiri S'bab Allah mengerti 96xlydjup2gk228vzt6cljd5fu719qc Dukaku Tempat Kudus-Mu/Dukaku Tempat Kudus-Mu (2) 0 28119 118714 2026-09-04T11:50:46Z Bennylin 425 Bab 4 118714 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous=[[../Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)|Dukaku Tempat Kudus-Mu (1)]] |next=[[../Manusia Sorgawi (1)|Manusia Sorgawi (1)]] }} FILIPI 3: 9-10 ⁹ dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. ¹⁰ Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, Bab 4 Dukaku Tempat Kudus-Mu (2) Kehidupan Tuhan Yesus yang tercatat dalam kitab Yesaya adalah: "Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan, ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikul-nya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:3-5). Dari ayat-ayat di atas, kita mengetahui bahwa tidak ada satu pun penderitaan yang Yesus alami -dari kelahiran sampai kematian-Nya- yang tidak terkait dengan penderitaan kita. Karena sesungguhnya penderitaan kitalah yang dipikul-Nya, dan semua itu dilakukan demi kasih- 82 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Nya kepada kita. Kita baru dapat memahami betapa besar kasih Allah dalam Kristus kalau kita mau merenungkan dengan seksama penderitaan dahsyat yang Yesus alami. Brennan Manning di dalam bukunya Jesus' Signature menulis seperti ini, “Tidak ada sesuatu di dunia ini yang lebih menggerakkan hati dari kasih yang menderita. Itulah sebabnya mengapa pengungkapan sempurna kasih Allah kepada kita adalah sosok sekarat Yesus.” Manning kemudian melanjutkan tulisan tersebut dengan menceritakan pengalamannya sendiri ketika berhadapan langsung dengan kesengsaraan Yesus. “Di musim dingin tahun 1968 sampai 1969, saya tinggal di sebuah goa di pegunungan Padang Pasir Zaragosa Spanyol. Selama tujuh bulan saya tidak melihat siapa pun, dan tidak mendengar suara siapa pun. Goa itu ada di sebuah gunung, enam ribu kaki (1.800 m) di atas permukaan laut. Setiap Minggu pagi seorang bruder dari desa Farlete yang terletak di bawah pegunungan meninggalkan pangan, air minum, dan minyak tanah di tempat yang sudah ditunjukkan. Dalam goa itu sebuah partisi batu digunakan untuk memisahkan kapel di sebelah kanan dan tempat tinggal di sebelah kiri. Sebuah lempeng batu ditutup karung kentang dijadikan ranjang. Mebel lainnya adalah meja granit kasar, kursi kayu, sebuah kompor, dan sebuah lampu minyak tanah. Di dinding kapel itu tergantung sebuah salib dengan patung-patung Yesus sebesar tiga kaki (90 cm). Setiap hari saya bangun jam 02:00 dan masuk ke dalam kapel untuk pemujaan selama satu jam. DUKAKU (2) 83 Pada tanggal 13 Desember malam, berawal dengan jam doa yang panjang dan sepi, dalam iman saya mendengar Yesus Kristus berkata, “Demi kasih-Ku kepadamu, Aku meninggalkan Bapa-Ku. Aku datang kepada engkau yang melarikan diri dari-Ku, yang menjauhi Aku, yang tidak ingin mendengar nama-Ku. Demi kasih-Ku kepadamu, Aku terbungkus ludah, dihajar, didera, dan dipaku di kayu salib.” Kata-kata itu ditoreh dengan api pada kehidupan saya. Entah saya berada dalam keadaan diberkati kasih karunia atau dalam keadaan dikucilkan, bahagia, atau depresi, malam berapi itu terus membakar. Lama sekali saya memandangi salib dengan Yesus itu, dalam bayangan saya melihat darah itu mengalir dari setiap pori tubuh-Nya, dan terdengar jeritan dari luka-luka-Nya: “Ini bukan lelucon. Ini bukan sesuatu untuk ditertawakan karena Aku mengasihimu.” Semakin lama saya memandang, semakin saya menyadari bahwa tidak pernah ada orang yang mengasihi saya atau dapat mengasihi saya seperti Dia mengasihi saya. Saya ke luar dari goa, berdiri di tepi jurang, dan berseru ke dalam kegelapan, “Yesus, Engkau gila? Apa Engkau sudah sinting sampai mau mengasihiku seperti itu?” Ketika hendak pulang meninggalkan tempat itu Brennan bercerita: “Saya berpaling ke pintu, dan mendadak di dalam iman saya melihat Yesus yang telah bangkit dengan lubang-lubang, luka-luka kasih, dalam tangan dan kaki dan rusuk-Nya. Saya meratap keras-keras. Kehangatan dan kasih-Nya datang menimpa 84 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU saya. Sungguh besar sekali. Saya menyadari bahwa saya masih belum tahu apa-apa tentang kasih-Nya itu. Segala sesuatu yang pernah saya tulis, ucapkan, atau alami mengenai kasih Yesus Kristus hanyalah sekadar suatu bagian kecil, suatu helai rumput kering, atau daun kering yang ditiup angin". APA RASANYA MENJADI YESUS Di dalam Filipi 3:10 Rasul Paulus memberi kita sebuah jalan lain untuk mengenal Kristus dan kasih-Nya kepada kita. Saya percaya jalan tersebut akan membawa kita mengenal-Nya lebih jauh dan mendalam, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Paulus sendiri. Jikalau ia adalah seorang rasul yang sudah begitu mengenal dan intim dengan Tuhannya, maka ketika ia mengatakan ingin mengenal Kristus, pastilah itu bukan pengenalan yang sekarang ia sudah miliki tetapi pengenalan yang lebih dan lebih dalam lagi akan Yesus. Salah satu jalan yang Paulus sebutkan adalah "persekutuan dalam penderitaan-Nya". Paulus memahami bahwa Kristus adalah "seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan". Karena itu kita perlu merasakan penderitaan yang dialami-Nya dan mengidentifikasikan diri kita dengan Kristus untuk dapat mengenal-Nya lebih dalam. Dengan demikian maka pengenalan kita kepada-Nya bukan sebatas perenungan di akal saja melainkan mengalami sendiri —walaupun hanya sedikit— bagaimana rasanya menjadi Yesus. Sekalipun penderitaan-penderitaan yang Paulus mak- DUKAKU (2) 85 sudkan di dalam ayat ini adalah penderitaan demi orang lain karena pelayanan Injil, namun kita dapat memakai prinsip-prinsip ini secara lebih luas. Karena Yesus pernah mengalami rasa sakit sebagai manusia sejak dilahirkan sampai saat-saat menghadapi kematian, maka kita pun sebagai orang percaya dapat membawa seluruh penderitaan yang kita alami sepanjang hidup kita —dari lahir sampai mati— kepada-Nya dan meminta Roh Kudus untuk menjadikan penderitaan kita sebagai tempat atau jalan kudus untuk berjumpa, memahami, dan mendalami kasih Allah dalam Kristus kepada kita. Jalan ini bahkan lebih penting daripada jalan kesenangan. Izinkanlah saya untuk menunjukkan bagaimana penderitaan dapat memimpin kita pada pemahaman akan kedalaman kasih Allah terhadap kita. KAITKANLAH SETIAP PENDERITAAN KITA DENGAN PENDERITAAN YANG YESUS PIKUL BAGI KITA Apa pun luka dan keperihan yang kita alami dalam hidup ini, kita dapat membawanya kepada Yesus dan kemudian merefleksikannya dengan kesengsaraan-Nya bagi kita. Melalui hal itulah, Ia dan kasih-Nya akan makin kita kenal. Ada banyak contoh untuk menolong kita mengerti butir ini TRACY KEETH Dulunya ia adalah seorang atlet yang lumayan berbakat. Di SMP gadis ini bermain bola basket, bola 86 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU voli, dan softball. Tetapi semua itu berakhir di SMA ketika sindrom Reiter (bentuk langka dari artritis) menyebabkan rasa sakit yang parah dan pembengkakan di kakinya. Kondisi itu memaksa dia menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, dan di tahun 1992 para dokter mengamputasi kaki kanannya. Tracy berjuang untuk menjalankan kembali kehidupan normal, tetapi setahun lebih kemudian para dokter menemukan bahwa mereka terpaksa harus mengamputasi kaki lainnya. Sungguhpun demikian, sementara tubuhnya menderita, semangatnya masih membumbung tinggi. Tracy mengakui, "Selama ini saya bukan umat Kristen yang sungguh-sungguh dan yang penuh komitmen. Sungguh memalukan bahwa harus terjadi sesuatu seperti ini baru saya datang mendekat kepada Allah, tetapi itulah yang terjadi dengan diri saya. Waktu saya dalam kepedihan yang teramat sangat sehingga saya tidak bisa tidur, saya melalui waktu dengan membaca Alkitab dan berdoa." Suatu malam, waktu rasa sakit itu tidak tertahankan lagi, ia mulai berpikir betapa sebaiknya ia mati saja. Tetapi pada saat bersamaan ia mulai mengaitkan rasa sakitnya dengan rasa sakit yang diderita Yesus saat Ia dipukul, diludahi, dan disalib, khususnya ketika paku menghujam kaki-Nya. Dan malam itu Tracy mengenal lebih jauh akan derita yang Yesus pikul bagi dia karena kasih-Nya terhadap dia. Hal itu membuatnya makin ingin mengenal dan intim dengan-Nya daripada sebelumnya. DUKAKU (2) 87 MARTA Setelah bertahun-tahun Marta dan suaminya Craig jauh dari Tuhan, akhirnya mereka memperbaharui penyerahan mereka. Tidak lama kemudian Tuhan memimpin mereka melayani di kepulauan Haiti. Tetapi baru saja satu minggu di Haiti, Craig mengalami cedera berat dalam suatu kecelakaan dan pada malam harinya ia meninggal dunia. Marta istrinya sendirian di sana, menjadi seorang janda di saat usianya belum mencapai 30 tahun. Mengapa Tuhan membiarkan itu terjadi? Bukankah mereka baru saja memperbaharui dedikasi mereka, dan pergi ke Haiti karena pimpinan Tuhan? Sekarang yang tersisa hanyalah kesedihan yang menyesakkan hati. Namun Marta tidak berfokus pada kesedihan ataupun pencarian penjelasan “mengapa”. Ia melangkah membawa kehilangannya ke dalam persekutuan dengan penderitaan Yesus. Ia memandang penderitaannya sendiri sebagai kesempatan untuk berbagi pengalaman yang sama dengan Yesus. Marta mulai mengenali rasa sepi, putus asa yang Yesus pikul demi dirinya ketika di kayu salib Ia ditinggalkan Bapa-Nya. Di sana ia menemukan bahwa kasih yang lebih besar dari biasanya sedang menopangnya. Selain itu ia berkomentar, “Selain rasa pemulihan emosional saya, Tuhan telah menyatakan diri-Nya dengan cara-cara yang tidak pernah saya bayangkan. Kebutuhan-kebutuhan jasmani, finansial, emosional dan spiritual saya dipenuhi dengan cara yang dramatis dan supernatural.” 88 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU BASILEA SCHLINK Ia adalah suster kepala Evangelical Sisterhood of Mary. Di dalam bukunya Harta di Balik Derita ia membagikan pengalamannya ketika menderita sakit yang parah. "Apa gerangan yang menghibur saya selama mengalami sakit yang berat yang mengharuskan saya terkurung sendirian di dalam kamar selama beberapa bulan sebab dokter sudah memerintahkan saya harus sama sekali tenang dan tidak boleh menerima banyak pengunjung? Apa gerangan yang membawa berkat yang tak terlupakan kepada saya? Di dinding yang menghadap tempat tidur saya tergantung sebuah salib dengan patung Yesus. Sewaktu memandang ukiran itu, saya merasa seolah-olah Yesus, Tuhan yang tersalib itu, berbicara kepada saya, "Tidakkah engkau telah mempersembahkan dirimu untuk mengikut jalan salib? Akulah orang yang penuh kesengsaraan, yang menderita dan penuh luka. Sekarang engkau mempunyai kesempatan untuk mengikut Aku, dan membuka hatimu bagi penderitaan-Ku dengan cara baru yang mendalam." Selama keadaan sakit ini, Yesus, sebagai Orang yang penuh kesengsaraan, lebih dekat dengan saya lagi. Kasih saya kepada-Nya bertambah dan begitu juga rasa syukur atas semua penderitaan yang dialami-Nya. Tuhan menuntun saya ke dalam hubungan kasih yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Semenjak waktu itu saya lebih bersatu dengan kehendak-Nya dan karenanya lebih dekat di hati-Nya, saya mengalami betapa membahagiakannya hal ini". DUKAKU (2) 89 KAMI Beberapa waktu lalu saya dan anak saya membaca bersama buku The Case for Christ tulisan Lee Strobel. Sampai kepada bab penderitaan fisik Kristus, terjadi diskusi antara kami tentang kesengsaraan Yesus yang tak terbayangkan itu. Saat itu terbersit suatu gagasan yang kemudian saya utarakan kepada anak saya, "Kapan-kapan kalau harus ke dokter gigi, kita minta saja untuk tidak dibius saat gigi dibor atau dicabut. Dengan begitu kita bisa lebih memahami lagi seperti apa penderitaan Yesus ketika memikul kesakitan yang begitu rupa demi kita." Ketika anak itu diam saja saya melanjutkan, "Wah, setelah itu pasti kita akan lebih cinta Yesus, karena sudah lebih mengerti arti pengorbanan-Nya bagi kita." KAITKAN RASA SAKIT YANG ORANG LAIN TIMBULKAN PADA KITA DENGAN RASA SAKIT YANG KITA TIMBULKAN PADA ALLAH. Berbeda dengan langkah di atas di mana penderitaan kita sendiri menjadi jalan merasakan penderitaan yang Yesus pikul demi kita. Maka pada langkah ini penderitaan kita karena ulah orang lain, menjadi jalan merasakan penderitaan Yesus karena ulah kita. Pada umumnya kita jauh lebih peka terhadap tindakan orang lain yang menyakiti kita dibandingkan tindakan kita yang menyakiti orang lain. Oleh sebab itu, pemahaman akan bagaimana sakitnya perasaan orang lain 90 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU akibat perbuatan kita, biasanya hanya dapat diperoleh de- ngan mengalami sendiri rasa sakit ketika dijahati orang, bukan melalui perenungan tentang betapa sakitnya pera- saan seseorang yang kita jahati. Pendalaman rasa sakit kita sendiri inilah yang merupakan jalan untuk memasuki rasa sakit Yesus ketika kita menjahati-Nya dengan dosa- dosa kita. Mari kita lihat beberapa contoh KETIDAKSETIAAN Pasangan suami-istri Hosea-Gomer merupakan contoh yang paling baik, karena pengalaman yang Hosea alami me- mang Tuhan maksudkan untuk mencerminkan pengalaman Tuhan terhadap ketidaksetiaan umat-Nya (Hosea 1:1-2). Tidak seperti anak hilang dalam perumpamaan Tuhan Yesus yang hanya pergi satu kali saja meninggalkan bapa- nya dan setelah pulang kembali ia seterusnya setia tinggal di rumah, Gomer berulangkali minggat meninggalkan Hosea untuk memberikan cinta dan tubuhnya kepada laki-laki lain. Dan setiap kali ia hamil dari hasil bersundalnya, ia pulang kembali kepada Hosea sehingga Hosea memper- oleh 3 anak dari hasil persundalan Gomer. Rasa sedih dan terluka serta kekecewaan Hosea tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Seorang teman saya pernah menceritakan sebuah cerita lucu. Ada seorang laki-laki tua yang terbaring lemah menunggu ajal, sementara istrinya duduk di samping ranjang menungguinya. Dengan nafas tersengal- sengal si suami berkata kepada istrinya, “Istriku, aku DUKAKU (2) 91 tahu hidupku tinggal sesaat lagi. Selama ini ada ganjalan berat yang terus kubawa di dalam hati, betapa inginnya aku mati tanpa membawa ganjalan itu." "Ganjalan apa?" tanya istrinya. Suaminya termenung sejenak, nampak ragu-ragu untuk menjawab. Akhirnya ia mengutarakan isi hatinya, "Dari dulu aku menaruh curiga bahwa anak kita yang terakhir itu bukanlah anakku. Ia terlalu berbeda dengan ke-3 kakaknya. Wajah anak itu, kecerdasan serta tingkah lakunya paling memprihatinkan. Maukah sebelum aku mati engkau memberitahuku dengan jujur, sebenarnya anak siapakah dia supaya aku mati dengan tenang?" Sambil menghela nafas panjang istrinya menjawab, "Sudahlah untuk apa kau tahu hal yang malah akan menambah kesedihanmu." Tetapi karena didesak terus serta merasa kasihan melihat suaminya yang makin kepayahan, ia pun menjawab, "Sebenarnya yang terakhir itulah anak kandungmu, sedangkan ke-3 kakaknya bukan!" Hosea tidak akan tertawa mendengar lelucon itu. Baginya cerita itu lebih merupakan pisau yang mengiris-iris lukanya yang masih perih. Namun di atas semua itu, pengalaman-pengalaman getir inilah yang membuat Hosea dapat mendalami rasa sakit yang disebabkan sebuah ketidaksetiaan dan sekaligus hal ini menggambarkan rasa perih hati Allah karena ketidaksetiaan umat-Nya. Lebih jauh lagi, Hosea sendiri jadi memahami secara mendalam bagaimana perasaan hati Allah saat ia sendiri tidak setia kepada-Nya. 92 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU KETIDAK-TAATAN Sebagai seorang ayah, saya seringkali memberikan pelbagai nasihat demi kebaikan anak saya. Seringkali ketidak-taatanlah yang anak itu tunjukkan kepada saya. Saat-saat seperti itu saya menyelidiki hati saya sendiri untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Saya mendapati kesedihan, kefrustrasian, dan juga kemarahan. Saya merenungkan bagaimana perasaan Allah ketika saya sebagai anak-Nya tidak taat kepada-Nya. Pastilah Ia juga "sedih", "marah", dan "frustrasi". Saya dapat bersekutu dengan perasaan sedih-Nya sebagai seorang Bapa. KEHILANGAN ANAK Pada suatu hari di bulan September tahun 1995, seorang gadis berusia tujuh tahun diculik. Dalam waktu kurang dari seminggu, tersangkanya yaitu seorang lelaki yang dikenal dekat dan sangat dipercayai oleh keluarga anak tersebut tertangkap dan mengakui kejahatannya. Inilah yang telah ia lakukan: gadis kecil yang diculiknya itu diikat di daerah pepohonan dekat rumah anak itu sendiri, kemudian diperkosanya. Lalu gadis mungil itu dipukulinya sampai mati dan mayatnya ia sembunyikan. Reaksi masyarakat sudah dapat diramalkan: orang ini pantas dihukum mati. Tetapi Jaksa Wilayah berjanji untuk menukar hukumannya menjadi maksimum dua puluh tahun penjara sebagai ganti informasi mengenai keberadaan jasad si gadis kecil. Janji itu kemudian dijilat dan ditelan kembali oleh sang Jaksa setelah DUKAKU (2) 93 melihat betapa ngerinya keadaan jasad anak itu. la juga berkata bahwa ia berharap bisa menjadi Jaksa Wilayah pertama di dalam sejarah New York masa kini yang mengirimkan seorang pembunuh ke ruangan hukuman mati. Para tetangga yang diwawancarai oleh media masa setempat bahkan menyarankan agar pihak berwenang melepaskan pembunuh itu sehingga mereka sendirilah yang akan membereskan si pembunuh itu. Ketika pengadilan menjatuhkan vonisnya, mula-mula hakim membacakan dengan suara keras mengenai hukumannya, yaitu penjara seumur hidup tanpa pembebasan, lalu dengan berang hakim itu menambahkan, "Kuharap neraka yang kamu hadapi di penjara sekarang hanyalah hukuman awal dari neraka yang harus kamu hadapi di akhirat." Melihat kemarahan setiap orang yang terlibat dalam kisah ini, kita dapat membayangkan kejahatan yang begitu keji yang telah dialami keluarga yang kehilangan ini. Dengan hati yang terasa sangat berat, saya berpikir adakah orang lain selain ayah ibu anak gadis kecil ini yang bisa merasakan bagaimana rasanya luka dan duka Allah ketika Anak Tunggal-Nya diikat, dipermalukan, dipukuli kemudian digantung mati di atas "pohon"? Namun lebih jauh dari itu, ayah ibu ini jugalah yang paling dapat memahami betapa besarnya duka dan luka yang mereka timbulkan pada hati Allah, karena dalam kenyataan sesungguhnya mereka juga telah ikut membunuh Anak Tunggal-Nya melalui dosa-dosa mereka. 94 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU KAITKANLAH PERGUMULAN BERAT KITA UNTUK MENGAMPUNI DAN BERBUAT BAIK KEPADA ORANG YANG MELUKAI KITA DENGAN PENGAMPUNAN DAN KEBAIKAN ALLAH DALAM KRISTUS KEPADA KITA. Bagaimanakah perasaan Yesus saat Ia berinisiatif datang untuk mencari dan menebus kita orang berdosa? Bagaimana perasaan-Nya saat Ia mengampuni dan menerima kita orang berdosa? Hosea sangat memahami semua itu, karena ketika Gomer mengkhianatinya, Hosealah yang berinisiatif mencarinya, menebus, dan mencintai Gomer lagi (Hosea 3:1-5). Seorang rekan memberikan kepada saya sebuah cerita yang didengarnya dari Ravi Zacharias. Seorang laki-laki mengambil kesempatan ketika bertugas keluar kota untuk meninggalkan istri dan 2 putri kecilnya. Ia mengirim surat kepada mereka yang garis besar isinya adalah menyuruh mereka untuk tidak usah menunggu dia pulang, karena ia tidak akan pernah kembali lagi. Di kota lain itu laki-laki ini memulai sebuah keluarga baru. Ia menikah dengan kekasih gelapnya dan dikaruniai seorang putra. Istri lama dan 2 orang putrinya dengan setia setiap bulan mengiriminya surat memberitahu keadaan dan perkembangan di rumah. Tentu surat-surat itu tak pernah mendapat balasan. Tiga tahun berlalu, surat balasan pun muncul. Surat itu tidak ditulis oleh laki-laki itu, tetapi oleh istri barunya. Isinya merupakan jeritan minta tolong untuk mengirim uang demi perawatan yang panjang DUKAKU (2) 95 bagi suaminya yang mengidap kanker, karena uang mereka sudah habis untuk berobat. Tidak lama kemudian istri baru itu mendapat surat jawaban yang isinya meminta agar dia beserta suami dan anaknya pindah ke rumah si istri lama. Karena menurut si istri lama, tidak mungkin istri muda ini melakukan segala hal sendiri: merawat suami yang sakit kanker, mengasuh putra yang masih kecil, dan mencari uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Si istri baru pun mengikuti saran si istri lama. Ketika si istri lama diwawancarai oleh reporter sebuah majalah tentang bagaimana ia bisa melakukan hal seperti itu kepada orang yang telah begitu menyakitinya, ia menjawab bahwa kasih Yesus kepadanya itulah yang membuatnya mampu melakukan semua itu. Ketika wanita ini mengaitkan pengalamannya dengan penderitaan Allah di dalam penderitaan Kristus karena pelanggaran-pelanggaran kita, hal itu membawanya pada pengenalan yang lebih dalam lagi akan hati Allah. Ia jadi lebih memahami akan kasih dan penerimaan Allah kepadanya sebagai orang berdosa melalui penerimaannya sendiri atas orang yang melukainya. Pengampunan dan kebaikan yang dilakukan orang-orang di atas jelaslah bukan hal mudah dan murah meriah. Ketika orang menyakiti kita, cermatilah dengan seksama pergolakan di dalam batin kita yaitu kemarahan dan nafsu untuk membalas sehebat-hebatnya. Dan semakin kita mendalami rasa sakit itu, semakin dalam jugalah 96 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU rasa dendam dan kepahitan menenggelamkan kita. Kita menjadi sadar betapa sulitnya memberikan pengampunan, apalagi mengasihi musuh. Jikalau kita sebagai orang berdosa yang seringkali berbuat salah dan membutuhkan pengampunan ternyata sukar mengampuni orang yang bersalah kepada kita, apa-lagi Allah? Ia maha-adil dan mahakudus, karena itu Ia juga mahamurka terhadap dosa. Salib Kristus telah mem-buktikan bahwa pengampunan itu jauh lebih sulit bagi Allah daripada bagi kita. Ia tidak bisa begitu saja meng-ampuni kita, tetapi dengan hati-Nya yang sudah dilukai Ia masih harus membayar dengan menyerahkan Putra Tunggal-Nya untuk ditindas, dan dihabisi bukan oleh siapa-siapa tetapi oleh murka-Nya sendiri atas dosa kita (Yesaya 53:10; Roma 3:25). Tetapi justru di dalam per-gumulan seperti inilah kita makin mengerti besarnya dan dalamnya pengampunan Allah. Jika melalui mendalami pergumulan antara rasa sakit dan pergumulan memberi pengampunan membuat kita memahami kebesaran pengampunan Allah, maka ketika kita disakiti janganlah berpedoman "dendam seperti pistol yang ditembakkan pada orang tetapi yang luka dan mati adalah kita sendiri" jadi "ngapain dipikirin" dan berusaha menyangkali rasa sakit itu. Kita berusaha untuk mengecil-ngecilkan dan melupakan secepatnya: melalui pemberian pengampunan yang segera tanpa pergumulan yang jujur dan sungguh-sungguh, melalui menyibukkan diri dengan shopping, nonton, makan, konseling, bahkan melalui pelayanan atau mencari kuasa penyembuhan dari Tuhan DUKAKU (2) 97 Yesus. Semua itu kita lakukan demi cepatnya kesembuhan diri kita sendiri. Akibatnya: dengan tidak mendalamnya pemahaman kita terhadap rasa sakit yang orang lain timbulkan dalam hati kita dan sukar serta mahalnya sebuah pengampunan itu, kita tidak memiliki perasaan apa-apa ketika menyakiti hati Allah dan tidak merasakan betapa berharganya pengampunan Allah. Sebaliknya, dengan semakin kita mengenal bagaimana perasaan hati Allah yang kita sakiti dan bagaimana kita sebagai musuh diampuni-Nya, kita bukan hanya akan merasakan betapa besarnya pengampunan tetapi juga akan menolong kita untuk lebih dapat mengampuni orang yang melukai kita. Yesus Kristus yang disalibkan bukan semata-mata merupakan suatu teladan saja bagi kita, tetapi Ia juga adalah kuasa dan hikmat hidup dari Allah yang memampukan kita untuk mengulurkan tangan memberi pengampunan kepada orang yang telah memperdayakan, menyulitkan, dan menjatuhkan kita. KEKUDUSAN HIDUP Ketika kita mempersekutukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya, maka kita bukan saja bertumbuh dalam mengenal Dia sehingga kita dapat berkata: "Aku memahami seperti apa rasanya hati Allah ketika disakiti karena aku sendiri merasakan bagaimana sakitnya disakiti orang"; "Aku memahami seperti apa rasanya kesakitan dipaku di atas kayu salib karena aku sendiri merasakan betapa sakitnya tercucuk paku tanpa ada obat dan pertolongan"; 98 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU “Aku memahami berat dan mahalnya pengampunan dan keselamatan yang diberikan-Nya kepadaku karena aku merasakan bagaimana beratnya pergumulanku sendiri ketika berusaha mengampuni orang yang menyakitiku”, tetapi pengenalan seperti ini juga akan mendorong kita untuk hidup menaati-Nya dan menjauhkan diri dari dosa. Kita tidak ingin menyakiti-Nya karena kita memahami betapa sakitnya dan beratnya penderitaan yang Dia pikul bagi kita. PENUTUP Sesungguhnya sebagai orang percaya kita hanya mempunyai satu panggilan, yaitu mengenal, mengasihi dan hidup bagi Yesus. Bila panggilan ini kita penuhi, maka Dia akan menjadi segala-galanya, pujaan dan idaman tertinggi hati kita serta harta termulia kita. Bagi Rasul Paulus, kalaupun ia harus banyak menderita untuk memenuhi panggilan yang adalah kerinduan jiwanya itu, tetap hal itu akan dijalaninya. Betapa berbedanya orang Kristen hari ini. Betapa sedikit orang Kristen yang memahami pentingnya kesedihan dan dukacita dalam mengalami Kristus secara lebih besar dan utuh. Kita sudah begitu mengubah inti iman Kristen. Kita mengenal Kristus demi menghapus penderitaan dan memperlancar hidup kita. Dan ketika penderitaan datang, kita akan mati-matian menghindarinya dan menjadi marah ketika Tuhan nampak diam saja. Richard, yang dikisahkan Philip Yancey dalam Dissapointment With God, merupakan sebuah contoh DUKAKU (2) 99 nyata. Ia adalah seorang mahasiswa teologi di Wheaton College. Sekalipun ia telah menulis buku yang sangat bermutu tentang kitab Ayub tetapi tepat sebelum peluncuran perdana bukunya, ia malah membakar naskah asli bukunya itu. Alasannya adalah karena ia tidak percaya lagi dengan apa yang ditulisnya. Mengapa ia berubah sedemikian radikal? Richard mengungkapkan kisahnya yang dimulai dengan perceraian kedua orang tuanya. Ia mengatakan, "Saya telah melakukan segalanya untuk mencegah perceraian itu. Saya baru saja menjadi orang Kristen di universitas dan rupa-rupanya saya terlalu naif karena percaya bahwa Tuhan peduli. Saya berdoa siang malam tanpa henti agar mereka bersatu kembali. Saya bahkan berhenti mengikuti kuliah untuk sementara waktu dan kembali pulang untuk berusaha menyelamatkan keluargaku. Saya menyangka bahwa saya sedang melaksanakan kehendak Allah, tetapi saya rasa saya telah semakin membuat parah segalanya. Ini merupakan pengalaman pahit pertama saya dengan doa yang tidak dijawab." Selanjutnya ia menceritakan tentang peluang pekerjaan yang gagal diraihnya. Seorang pemilik perusahaan telah mengingkari janji dan menerima orang lain yang kurang pantas ditolong. Akibatnya, hutangnya untuk biaya pendidikan menumpuk dan ia tidak mempunyai sumber penghasilan. Pada saat yang sama, tunangannya yang bernama Sharon meninggalkannya. Tanpa peringatan sebelumnya, Sharon memutuskan hubungan dan menolak memberikan penjelasan peri- 100 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU hal perasaannya yang mendadak berubah itu. Padahal selama ini Sharon memegang peranan penting dalam pertumbuhan rohani Richard. Mereka berdua telah sering berdoa bersama tentang masa depan, dan sekarang doa-doa itu bagaikan lelucon yang kejam belaka. Tidak heran jika saat ditinggalkan, Richard merasa seakan sebagian dari imannya turut melayang juga. Luka-luka penolakan yang dideritanya saat kedua orang tuanya berpisah terkuak kembali. Apakah Allah sudah menipunya, sama seperti Sharon? Bagi Richard, masalah-masalah yang dihadapinya sama sekali tidak sepele. Ia tak dapat memahami mengapa seorang Bapa sorgawi yang penuh kasih membiarkannya menderita kekecewaan yang begitu dalam. Padahal bapa di dunia pun tak akan tega memperlakukan anaknya seperti itu. Ia dalam pergumulan beratnya datang kepada seorang pendeta meminta nasihat. Ia berkata bahwa ia merasa seperti orang yang sedang tenggelam. Ia ingin mempercayai Allah, tetapi setiap kali ia mengulurkan tangan, ia cuma menangkap segenggam udara. Untuk apa ia harus terus mempercayai Allah yang nampaknya tidak memedulikan kesejahteraannya? Pendeta itu dengan ringan saja menanggapi "Bila hubungan dengan pacarmu pulih kembali, maka hubunganmu dengan Allah akan beres juga." Tanggapan itu telah menambah kekecewaannya kepada Tuhan. Ia tetap pergi ke gereja, tetapi jauh di lubuk hatinya mulai terbentuk sikap sinis dan marah kepada Tuhan maupun kepada sesama orang Kristen. DUKAKU (2) 101 Pada suatu malam ia menghadiri kebaktian di mana ia mendengar berbagai kesaksian dan puji-pujian sebagaimana biasanya. Namun ada sebuah laporan yang benar-benar mengganggu pikirannya. Minggu sebelumnya sebuah pesawat terbang yang membawa sembilan orang pekabar Injil jatuh di pegunungan Alaska dan menewaskan seluruh penumpang. Setelah dengan khidmat pendeta gereja itu menyampaikan kejadian itu, ia lalu memperkenalkan salah seorang anggota gereja yang selamat dalam suatu kecelakaan pesawat lain dalam minggu yang sama. Sesudah orang itu selesai memberikan kesaksiannya, jemaat pun berseru, "Puji Tuhan!" disusul dengan doa sang pendeta, "Tuhan, kami mengucap syukur kepada-Mu karena meluputkan saudara kami ini dari maut dan karena mengutus pasukan malaikat-Mu untuk menjaganya. Sertailah juga sanak saudara mereka yang telah tewas dalam kecelakaan di Alaska itu." Doa ini memicu rasa mual dalam diri Richard. Mana mungkin kita harus menerima kedua-duanya, pikirnya. Bila orang yang selamat karena pertolongan Allah dan Ia dipuji untuk itu, maka seharusnya Ia juga dipersalahkan atas para korban kecelakaan itu. Selama ini belum pernah terdengar kesaksian dari mereka yang berduka. Apa yang akan dikatakan oleh para janda pekabar-pekabar Injil yang tewas itu? Apakah mereka akan bersaksi juga tentang seorang "Bapa yang penuh kasih"? Richard kembali pulang ke apartemennya. Satu 102 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU pertanyaan selalu datang padanya, "Apakah Allah ada di sana?" Ia tidak melihat ada satu pun bukti yang dapat meyakinkannya. Ia kemudian melanjutkan kisahnya, "Sekarang nampaknya memang lucu, tetapi inilah yang kemudian saya lakukan. Saya mengambil Alkitab saya dan buku-buku Kristen lainnya lalu turun menuju halaman belakang. Saya menutup pintu perlahan-lahan di belakang saya agar tidak membangunkan orang lain. Di halaman ada sebuah tempat panggangan daging dan saya menumpukkan semua buku itu di atasnya, menyemprotkan bahan bakar, lalu menyalakan korek api. Malam itu tidak ada bulan dan lidah-lidah api menjulang tinggi. Ayat-ayat Alkitab dan potongan-potongan buku teologi meliuk-liuk, menghitam lalu hancur menjadi kepingan-kepingan abu tipis yang melayang-layang naik ke atas. Dan iman saya pun turut melayang bersama mereka." Sekalipun masalah yang dialami Richard itu berat dan bertubi-tubi, tetapi jika semua itu dijadikan sebagai sarana persekutuan dengan penderitaan Kristus, Richard memiliki kesempatan yang sangat baik untuk mendalami apa yang Kristus pikul demi kasih-Nya kepadanya. Sayang, ia sebagaimana kita pada umumnya lebih memakai kepedihan dan keperihan hidup untuk memarahi dan membenci-Nya. Kenyataan-kenyataan di atas telah menjelaskan mengapa kebanyakan orang Kristen dangkal di dalam pengenalan akan Yesus Kristus. Mengapa pengorbanan Allah dalam memberikan Kristus kepada kita dan kerelaan Kristus DUKAKU (2) 103 menderita tidak kita pahami dan syukuri dengan mendalam? Salah satu alasan penting adalah kita tidak mau mendalami penderitaan dan kesengsaraan kita sendiri. Begitu takutnya kita menderita sekalipun itu akan membawa kita mengalami dan mengenal-Nya lebih dalam lagi. Hal itu menjelaskan pula mengapa kita dengan begitu mudah menyakiti hati-Nya dengan dosa-dosa kita. Karena kita tidak bersedia mendalami sepenuh-penuhnya duka dan luka yang menusuk ketika kita disakiti, kita bebal akan rasa sakit dan kepedihan yang kita timbulkan di hati-Nya. Karena itu, marilah kita berdoa agar perspektif kita terhadap penderitaan diubah-Nya. Sehingga di dalam Tuhan segala kesukaran hidup tidak lagi harus kita pahami sebagai interupsi, gangguan, tanda tidak beriman, tanda tidak diberkati melainkan tempat kudus untuk bertemu dengan Kristus "yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Galatia 2:20). Akhir kata, jika dengan kesulitan-kesulitan itu membuat kita makin mengenal dan menikmati-Nya, maka biarlah kita meminta untuk tinggal lebih lama dalam persekutuan dalam penderitaan-Nya itu, sebagaimana yang diungkapkan syair berikut ini: Kalau hari ini Dia memanggilmu dari salibmu, Dan mengatakan, "Sudah selesai salibmu yang sukar." Apakah kamu tidak akan berpikir bahwa rasa kecewa akan menguasaimu? Kamu akan berkata, "Secepat ini? Biarkan aku kembali dan menderita beberapa waktu lagi... masih banyak 104 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU derita-Mu bagiku yang ingin kukenali. Lagi pula di situ aku belum memuji Allah." DOA Tuhan, jikalau lahir adalah menderita, tua adalah menderita, sakit adalah menderita, mati adalah menderita, itu berarti seumur hidup kami terus diberi kesempatan menggunakan penderitaan kami untuk mengenal besarnya kasih-Mu dalam Kristus. Oleh sebab itu beri kami hikmat agar setiap kesempatan itu tidak berlalu sia-sia, apalagi sampai membuat kami menjauhi-Mu. Inilah doa kami, kabulkan dalam nama Putra-Mu Yesus Kristus Amin 4smv2x3q3i49x7f9vlppxs5753uptw4 Dukaku Tempat Kudus-Mu/Manusia Sorgawi (1) 0 28120 118715 2026-09-04T11:51:09Z Bennylin 425 Bab 5 118715 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous=[[../Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)|Dukaku Tempat Kudus-Mu (2)]] |next=[[../Manusia Sorgawi (2)|Manusia Sorgawi (2)]] }} ROMA 8: 22-25 22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. 23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. 24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? 25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menanti-kannya dengan tekun. Bab 5 Manusia Sorgawi (1) Alkitab mengajarkan bahwa dunia ciptaan memantulkan atau mencerminkan Allah penciptanya: keilahian-Nya, kekuatan-Nya, kemuliaan-Nya, keadilan-Nya ataupun kebaikan-Nya (bacalah Mazmur 19:2; Roma 1:18-20 , Kejadian 1:31) BAYANG-BAYANG DAN REALITANYA Ada dua hal yang perlu kita catat di sini. Pertama, ciptaan bukanlah realitas ilahi itu sendiri. Dunia ciptaan, sekalipun memantulkan kemuliaan, kekuatan atau kebaikan Allah tetapi bukanlah Allah itu sendiri. Untuk memudahkan kita mengerti tentang hal ini, saya memakai ilustrasi bulan dan matahari. Kita mengetahui bahwa bulan tidak memiliki cahaya sendiri. Ia menerima sinarnya dari matahari yang kemudian dipantulkannya ke bumi. Maka walaupun cahaya yang kita terima dari bulan adalah pantulan cahaya matahari, namun bagaimanapun juga 108 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU bulan bukanlah matahari itu sendiri. Kedua, jika kita membandingkan cahaya matahari yang dipantulkan oleh bulan purnama dengan terang benderang cahaya sang sumber —yaitu matahari itu sendiri— di hari yang tercerah, maka cahaya yang dipantulkan bulan tersebut sangatlah miskin, samar, dan bermutu sangat jauh lebih rendah dari yang asli. Walau bagaimanapun bulan hanyalah bayang-bayang redup dan bukan hakekat atau realita itu sendiri. Demikian juga halnya dengan ciptaan dalam memantulkan Allah. Pantulan yang paling cerah sekalipun sebenarnya redup, miskin, dan bermutu jauh lebih rendah dari realita sesungguhnya. Karena itu kita hanya dapat mencicipi sedikit sekali kemuliaan dan kebaikan Allah melalui ciptaan. Dan hal itu sama sekali tidak mencukupi kebutuhan kita yang adalah gambar Allah. Hanya diri Allah sendirilah yang dapat memenuhinya. Sebagaimana yang Agustinus katakan dalam buku Confessions-nya: “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu sendiri dan hati kami tidak menemukan damai sebelum berdiam dalam-Mu.” Nada serupa dikatakan oleh C.S Lewis: “Saya mendapati dalam diri saya suatu kerinduan yang tak dapat dipuaskan oleh pengalaman apa pun di dunia ini. Penjelasan yang paling besar kemungkinannya adalah bahwa saya ini sebenarnya diciptakan untuk dunia lain.” Dengan demikian, ketidaksanggupan dunia ciptaan untuk memuaskan dan membahagiakan kita seharusnya tidak menjadi masalah bagi kita, karena memang dunia tidak dimaksudkan untuk menjadi tujuan hidup dan sumber MANUSIA SORGAWI (1) 109 kebahagiaan ultima kita, melainkan hanya menjadi sarana yang mengantar kita kepada sumbernya dan realitasnya yaitu Allah itu sendiri. Kenyataan inilah yang menyebabkan Allah dalam kasih-Nya yang besar telah memberi diri-Nya melalui Putra-Nya Yesus Kristus kepada kita. Sekarang kita mengetahui bahwa hal apa pun yang terbaik di dunia ini hanyalah bayangan redup dari kebaikan terbesar, sumber bahagia kita yang tak terbatas yaitu Yesus Kristus. Kita sebutkan beberapa contoh di sini: pernikahan yang terbaik di dunia ini, cuma cahaya samar-samar dari realita kesatuan kita dengan mempelai kita Yesus Kristus; kasih terdalam di dunia ini cuma cahaya samar-samar yang mengacu pada realita kasih Allah dalam Kristus; rumah terbaik di dunia ini cuma gubuk dibandingkan realitas rumah sorgawi yang Yesus sediakan bagi kita; kesehatan paling prima hanyalah pantulan buruk realita keindahan tubuh kebangkitan kita; anak-anak yang termanis dan taat, uang yang paling melimpah, pekerjaan yang terbaik dst., semua itu akan nampak miskin dan buruk jika dibandingkan dengan realitas hidup sorgawi yang Allah berikan saat Kristus datang kembali. MANUSIA SEKULER Ketika manusia pertama, Adam, jatuh ke dalam dosa setidaknya telah terjadi dua hal. Pertama, dunia ciptaan sekalipun masih berfungsi memantulkan Allah penciptanya tetapi sudah rusak dan tercemar. Tidak lagi seperti bulan purnama yang memantulkan sinar matahari di hari 110 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU yang tercerah, melainkan telah berubah menjadi bulan sabit kecil di hari yang berawan. Jikalau dunia pra kejatuhan saja tidak memadai untuk menjadi sumber kepuasan hidup manusia, apalagi setelah peristiwa kejatuhan. Kedua, manusia memberontak dan menolak Allah sebagai sumber kebaikan dan kebahagiaan tertingginya. Akibatnya muncullah manusia sekuler yaitu manusia yang memberhalakan dunia ciptaan. Hal itu dilakukannya dengan meninggikan ciptaan yang sebenarnya hanya merupakan cermin samar-samar —bayangan suram dan cemar— kebaikan-kebaikan Allah kepada posisi Allah itu sendiri. Manusia menjadikan ciptaan sebagai realitas kebaikan tertinggi dan terakhir dan menganggap bahwa tidak ada kebaikan apa pun yang tersedia bagi manusia di luar dunia ini. Hidup dipahaminya sebagai perjalanan yang berawal dan berakhir di dunia. Mereka sepenuhnya warga negara dunia ini. Sejak saat itu mulailah manusia mencari kebahagiaan tertinggi dari perkawinan mereka; mencari nilai tertinggi dari uang dan pekerjaan mereka; mencari kenikmatan tertinggi dari hiburan-hiburan dunia: makan makanan terbaik, minum anggur terbaik, seks terbaik; mencari kepuasan tertinggi dari prestasi-prestasi dan kemakmuran. Singkatnya mencari kehidupan tertinggi dari dunia yang fana dan terbatas serta rusak ini. Kita akan mencari segala kiat sukses, buku-buku, seminar-seminar, sekolah-sekolah, kursus pelatihan dan segala hal lain untuk mendapatkan segala sesuatu yang dunia janjikan: keamanan dan jaminan kebahagiaan dari dunia ini MANUSIA SORGAWI (1) 111 MENANGGAPI PENDERITAAN Ketika berhadapan dengan realitas gelap dunia yang jatuh: kekecewaan, kesakitan, kehilangan, kemerosotan, kefanaan, hubungan-hubungan yang hancur, dan kematian, kita menderita dan mengeluh. Tetapi biasanya kita tidak akan tinggal diam. Kita bertindak sekuat tenaga untuk melawannya bahkan kadang-kadang dengan mendustai diri sendiri. Bagaimana caranya? Untuk menghindari kesialan kita tidak mau memasang angka 4 pada gedung-gedung bertingkat. Untuk menutupi ketuaan, kita melakukan bedah plastik, memakai kosmetik, pewarna rambut, obat-obatan, mengikuti program slim n beauty. Dalam menghadapi tubuh yang merosot, kita gila-gilaan berolahraga dan mengonsumsi pelbagai jenis suplemen makanan. Dalam menghadapi hubungan yang hancur, kita berusaha melupakannya melalui hiburan-hiburan: nonton, shopping, main perempuan, makan, mengonsumsi narkoba dst. Intinya, ketika penderitaan melanda kehidupan kita, yang kita inginkan saat itu adalah pemulihan sesegera mungkin supaya bisa segera berdiri dan berlari lagi mengejar janji-janji dunia. Kita berharap bahwa lewat perjuangan panjang umat manusia, suatu hari nanti kita akan berhasil memiliki sorga di dunia di mana tak ada lagi airmata, sakit penyakit, kematian, kemiskinan, dst. KESIA-SIAAN Kebodohan terbesar hidup sekuler seperti ini adalah mencari kebaikan di tempat yang salah dan tidak memadai. Kebaikan tersebut juga terlalu rendah, sementara, 112 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU samar-samar dan minim. Maka dari itulah manusia sekuler tidak pernah mengalami kebaikan yang sesungguhnya dan sukacita yang sejati. Ia akan terus dikecewakan, tak terpuaskan, dan hidup dalam kekuatiran. Semua yang dilakukannya adalah sia-sia, sebagaimana yang dinyatakan dengan sangat baik dalam kitab Pengkhotbah sebagai usaha menjaring angin. Martin Luther King Jr. pernah berkata, "Ada begitu banyak keputus-asaan dalam dunia ini karena kita bersandar kepada ilah-ilah daripada kepada Allah. Kita berlutut kepada ilah sains untuk kemudian mendapatkan bahwa itu hanya memberikan kepada kita bom atom serta menghasilkan ketakutan dan kekuatiran yang tak pernah sains mampu atasi. Kita sudah menyembah ilah kenikmatan, hanya untuk kemudian mendapati bahwa getaran-getaran kenikmatan itu sangat pendek saja umurnya. Kita telah menyembah ilah uang, hanya untuk kemudian belajar bahwa hal-hal seperti cinta kasih, persahabatan tidaklah dapat dibeli dengan uang. Dan di dunia yang berubah-ubah di mana bisnis serta investasi bisa terpuruk, saham bisa menjadi anjlok, uang adalah ilah yang tidak mempunyai kepastian. Ilah-ilah dunia ini tidak mampu menyelamatkan dan membawa kebahagiaan bagi hati manusia. Hanya Allah saja yang dapat. Kembali beriman kepada-Nya itulah yang harus kita temukan." KRISTEN SEKULER Hidup seorang Kristen sekuler, di satu sisi seratus MANUSIA SORGAWI (1) 113 persen sama persis dengan manusia sekuler. Komitmen hidup tertingginya adalah mencapai segala kesenangan, kenyamanan dan kenikmatan yang dunia ini janjikan. Tetapi di sisi lain, ada sesuatu yang membedakannya dengan orang sekuler, yaitu dengan dimasukkannya Allah ke dalam praktek kehidupannya. MANFAAT ALLAH Bagi orang Kristen sekuler, Allah itu memiliki 2 manfaat besar. Pertama, sebagai sarana pemenuh kebutuhan spiritual. Sebagai manusia, kita hidup dengan pelbagai bentuk kebutuhan: fisik, emosi, dan spiritual. Kebutuhan fisik dipenuhi dengan makanan, minuman, seks dan istirahat. Kebutuhan emosi dipenuhi dengan kasih dan penghargaan oleh orang lain. Sedangkan kebutuhan spiritual diisi oleh Allah. Masing-masing pemenuh kebutuhan ini tidak dapat dipertukarkan. Makanan tidak bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan religi, begitu pula sebaliknya. Selain tidak bisa bertukar tempat, lebih tidak mungkin lagi jika satu di antara sarana-sarana kebutuhan itu —apa pun itu— difungsikan untuk memenuhi segala macam kebutuhan kita. Sebagai contoh: Allah memang dapat memenuhi kebutuhan spiritual tetapi tidak mungkin menjadikan Dia sebagai pemenuh semua kebutuhan kita seperti seks, istirahat, makan, minum dst. Dengan demikian kita memposisikan diri sebagai seorang raja kecil yang dikelilingi pelayan-pelayan yang memberi pelayanan-pelayanan sesuai dengan spesialisasinya untuk memenuhi kebutuhan kita yang berbeda-beda. 114 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Kedua, sebagai penolong dalam kehidupan. Karena selain mengasihi kita, Ia juga memiliki kuasa yang besar, maka Ia harus mendukung kita untuk mencapai impian duniawi kita. Allah kita hampiri sebagai sarana pelicin, pemberes halangan dalam mewujudkan apa yang ingin kita dapatkan di dunia ini. Allah bukan hanya menolong dalam mencapai visi hidup kita, Ia juga difungsikan sebagai penjaga setia dan peningkat kesejahteraan kita agar hidup kita lebih baik dan lebih baik lagi. Sebagai penjaga, tugas Allah adalah menjaga kesehatan kita, perkawinan kita, anak kita, perusahaan kita, harta benda kita dst. Kalau semua terpelihara dengan baik, kita akan menyanyikan bagi-Nya pujian "Besar setia-Mu"; "Kau Sungguh Baik"; "Yesus Yang Termanis". Dalam hal meningkatkan kesejahteraan kita, Ia akan membuat kita yang sebelumnya bertempat tinggal di rumah kontrakan akan tinggal di apartemen mewah, dari usaha warung setidaknya menjadi mini-market, dari hidup sepi membujang menjadi pasangan suami-istri lengkap dengan anak-anak yang manis. Tujuan terbesar keberadaan Allah adalah kesejahteraan kita. Dengan demikian orang Kristen sekuler telah melakukan pembalikan yang menakutkan terhadap tatanan ciptaan dan pencipta. Dunia ciptaan Allah maksudkan sebagai sarana untuk melayani-Nya dan untuk membawa manusia datang mendapatkan diri-Nya sendiri. Sekarang Allahlah yang menjadi sarana untuk melayani dan mengantar kita mendapatkan ciptaan. Kita tidak pernah percaya bahwa kepuasan penuh kita adalah mendapatkan Allah, sang realitas kebaikan itu MANUSIA SORGAWI (1) 115 sendiri. Bagaimanapun saya lebih senang mendapat mobil baru, atau memenangkan kuis "I want to be millionaire". Bahkan kita bisa lebih senang menikmati televisi daripada menikmati Allah. Maka tidak mungkin kita bersedia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan mobil, menjadi juara kuis, atau melepas kebiasaan nonton demi ditukarkan dengan Allah. MENANGGAPI PENDERITAAN Segala penderitaan, kehilangan dan masalah harus kita hindari mati-matian. Kita melihatnya sebagai interupsi, kutuk, penghambat dalam mengejar dan menikmati kenyamanan hidup di dunia ini. Maka ketika penderitaan menimpa, minat kita hanya satu, yaitu pemulihan dunia kita. Kita mengeluh kepada Allah dan menugaskan-Nya untuk membereskan hal-hal salah yang membuat hidup kita tidak sejahtera di dunia ini. Allah harus menyingkirkan semua penghalang demi terbangunnya kembali sorga dunia kita di mana airmata, sakit, kesukaran harus disingkirkan dari dalamnya. Ketika ternyata Allah tidak berfungsi seperti yang kita harapkan dan kesejahteraan yang kita idamkan tak kunjung datang, kita pun menjadi marah kepada-Nya dan melihat penderitaan sebagai realitas ultima hidup ini. Kisah berikut yang saya sadur dari buku Shattered Dream tulisan Larry Crabb akan memudahkan kita memahami kenyataan di atas. Ada seorang laki-laki yang taat dan hidup bahagia. Ia mempunyai pekerjaan baik, sehat, istri cantik dan baik, anak-anak manis dan cerdas. Allah ingin menya- 116 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU darkannya bahwa dunia ini bukan sorga, tetapi ciptaan yang cemar dan rusak. Adalah kesia-siaan berharap dunia menjadi sorga yang membahagiakannya. Sesungguhnya kebaikan sejati hanya ada pada Allah sendiri. Maka Ia diamkan saja ketika musibah menimpa orang itu. Laki-laki itu kehilangan kesehatannya, berlanjut dengan kehilangan pekerjaannya. Keluarganya mulai retak-retak. Mula-mula ia terkejut, dan bingung. “Oh ini tidak mungkin terjadi padaku, aku telah bekerja dengan sangat setia dan bertanggung jawab. Tuhan bagaimana mungkin membiarkan ini terjadi, apa dosaku?” Ia kemudian berusaha menenangkan dirinya dengan berkata, “Ini akan berlangsung sementara saja. Allah pasti setia, Ia mengasihiku. Ia akan memulihkanku. Aku percaya Ia menyertaiku.” Maka ia pun berdoa dengan lebih tekun, melayani dengan lebih sungguh, dan beriman dengan lebih dalam. Dengan berjalannya waktu keadaan tidak berubah malah makin memburuk. Ia mulai frustrasi tetapi berusaha memeranginya dengan sungguh-sungguh, katanya: “Aku tahu Tuhan sedang mengujiku. Aku harus bertekun. Aku percaya segala sesuatu turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Tuhan. Pada waktunya segala sesuatu akan pulih kembali bahkan lebih limpah. Bukankah itu yang terjadi pada Ayub?” Maka ia pun meneruskan ketekunannya dan berdoa dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Perhatikanlah bahwa iman, ketekunan, pemakaian MANUSIA SORGAWI (1) 117 ayat-ayat Alkitab, dan doa semuanya bersumber dari minat sekulernya. Dunia haruslah menjadi tempat yang menyenangkan dan tugas Allah adalah menolong mencapai itu. Allah tentu saja tidak akan mengabulkan doanya, karena Ia tidak menghendaki untuk membuat orang itu makin tenggelam dalam hidup sekulernya yang sia-sia. Akibatnya kehidupan orang itu makin sengsara. Ia mulai marah kepada Tuhan yang tidak peduli pada keadaannya. Makin hari makin besar keinginannya agar sorga dunianya kembali. Akhirnya ia hilang harapan, depresi, doanya berhenti, pelayanannya berhenti, imannya menjadi sangat besar bahwa Allah itu tidak ada. Allah yang fungsinya memulihkan hidupnya itu sudah mati, bersama dengan itu matilah juga dia. Allah yang berjanji melegakan kepedihannya ternyata adalah kebohongan besar. Sesungguhnya hidup tidak lain dan tidak bukan adalah kesengsaraan. Maka orang itu mulai bergumul untuk memilih apakah meneruskan hidup pahitnya atau membunuh dirinya. Sampai di akhir kisah, pergumulan laki-laki itu tidak pernah bergeser dari menjadikan Allah berfungsi dalam skema keinginannya kepada menjadikan-Nya sebagai tujuan hidupnya. Ia gagal menangkap bahwa yang terutama bukanlah mengembalikan atau memenuhi segala kehidupan yang menyenangkan, melainkan menemukan-Nya sebagai kebaikan dan sukacita sejati. Walaupun kisah laki-laki di atas nampak lebih rumit, 118 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU namun inti kerohaniannya sama dengan penjahat yang mengatakan kepada Yesus "Jikalau Engkau Putra Allah, selamatkanlah diri-Mu dan kami". Bukan Yesus yang ia ingini tetapi fungsinya. Pembebasan diartikan dalam skema duniawi. Dibebaskan dari kayu salib dan berlari lagi untuk melanjutkan pengejarannya atas apa yang dunia ini tawarkan. Seringkali kita, sebagaimana laki-laki itu, tidak bertindak seperti anak hilang dalam perumpamaan Tuhan Yesus yang dalam keterpurukannya itu teringat kepada bapanya dan ingin pulang. Kita sebaliknya bersikeras meminta Tuhan memulihkan hidup kita agar bisa seperti dulu lagi atau lebih baik dari dulu. Memohon kepada-Nya agar mengubah kandang babi kita menjadi pabrik ham, atau paling tidak café kecil. Saat Allah tidak responsif terhadap doa kita, kita sering merasa marah, kecewa dan pedih, karena mimpi dan keinginan kita hancur. Kemudian kita akan memperlakukan Tuhan dengan lebih buruk lagi, lebih lagi berpusat pada diri dan mengasihani diri sendiri. MANUSIA SORGAWI Manusia sorgawi adalah manusia yang tujuan utama hidupnya bukanlah mencari kenikmatan tertingginya dari dunia ini, di sini dan kini, melainkan menikmati Allah di dalam Kristus Yesus. Hasrat ini tak pernah akan dialami sepenuhnya di dunia ini sampai kelak Kristus datang kembali menggenapi janji-Nya akan langit dan bumi baru. Pada awalnya, mereka juga serupa dengan orang MANUSIA SORGAWI (1) 119 Kristen sekuler, tetapi dalam perjalanan mereka bersama Allah, mereka mengalami perubahan menjadi “rindu tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air sorgawi”. Harapan dan hasrat mereka tidak lagi pada suatu apa pun di bawah sini, melainkan hal-hal di tempat yang ada di atas sana. Akibatnya mereka tidak lagi memahami dunia ini sebagai rumah mereka. Mereka hanyalah orang asing, pendatang sementara di dunia ini yang sangat menantikan sorga (Ibrani 11:13-16). Penulis surat Ibrani di pasal yang sama menyajikan kehidupan Abraham sebagai contoh konkrit perubahan tersebut. ABRAHAM Kita tahu bahwa Abraham dipanggil keluar dari Ur menuju ke tempat yang tidak diketahuinya. Ia taat saja. Abraham percaya penuh kepada Tuhan yang memanggil-nya, sehingga ia tidak merasa perlu tahu terlebih dahulu kemana tujuannya. Setelah perjalanan panjang, sampailah ia di tujuannya yaitu negeri yang Tuhan janjikan kepadanya. Penulis Ibrani kemudian mencatatkan bagi kita tentang tingkah laku Abraham yang aneh tetapi menarik, “karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing, dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu” (Ibrani 11:8-10). Bukankah dengan sampainya ia ke tanah yang dijanjikan Allah kepadanya itu berarti perjalanannya telah berakhir? Tetapi mengapa di tanah miliknya sendiri ia hidup seolah-olah orang asing? Mengapa ia masih bertindak 120 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU seperti seorang pengembara yang sedang transit, sehingga sebagaimana yang biasa dilakukan oleh seorang pengembara yang hanya tinggal untuk sementara dan setelah istirahat secukupnya akan melanjutkan lagi perjalanannya, maka Abraham pun tidak mendirikan tempat tinggal permanen, sebaliknya ia hanya membuat dan tinggal dalam kemah sementara? Apa sebabnya Abraham bertindak seperti itu, apakah ia tidak tahu bahwa ia sudah tiba, dan bahwa perjalanannya sudah selesai? Ayat 10 memberitahukan kita jawabannya, bahwa sekarang dia "menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah." Rupanya perjalanan menuju Tanah Perjanjian itu telah menjadi sebuah perjalanan yang membuat Abraham semakin intim dengan Tuhannya. Dan ketika akhirnya Abraham tiba di tanah itu, ia sudah mengenal Allah secara lebih mendalam dan luas, sehingga tanah itu tidak begitu menarik dan berarti lagi baginya. Ia ingin agar di mana Tuhan berada, ia pun berada di sana. Tidak heran kalau dia dapat dengan begitu mudah menyuruh Lot kemenakannya untuk memilih lebih dahulu tanah bagian mana yang diinginkannya. Abraham telah menemukan sesuatu yang lebih baik daripada tanah tersebut, yaitu Tuhan. Itulah sebabnya sekalipun di tanahnya sendiri, Abraham merasa sebagai orang asing, karena ia merindukan tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air sorgawi (ayat 16). Jelaslah panggilan Allah kepada Abraham itu adalah panggilan kepada diri-Nya sendiri MANUSIA SORGAWI (1) 121 TINDAKAN ALLAH Bagaimanakah seorang manusia sekuler seperti kita — yang menganggap dunia inilah segala-galanya yang kita rindukan— sampai dapat bergeser kepada Allah sang kebaikan itu sendiri? Bagaimana kita dapat melihat dengan benar dan tepat bahwa segala kebaikan di dunia ini bukanlah realitas kebaikan itu sendiri, melainkan hanyalah bayangan yang samar-samar, sementara dan sudah tercemar dari kebaikan yang sesungguhnya? Bagaimana bisa kita menempatkan Allah sebagai kerinduan kita yang terbesar, sampai-sampai kita dapat melihat bahwa kesenangan di luar Allah adalah kesia-siaan? Bagaimana kita yang begitu melekat dan mengasihi dunia material ini bisa tertarik pada dunia lain dari dunia ini? Bagaimana kita yang menjunjung kenikmatan lebih dari kebaikan bisa rela meninggalkannya demi dunia yang kudus? Ayat bacaan Roma 8:23-24 secara mendasar memberitahukan bahwa Allah melalui Roh Kudus-Nya akan menghancurkan segala perintang yang menghalangi kita bersatu dan menikmati-Nya secara lebih mendalam dan utuh. Hal itu dilakukan-Nya secara negatif dan positif. Secara Negatif Ia akan membiarkan kita berhadapan muka dengan muka dengan dunia demi merasakan rasa asli hidup di dunia yang telah jatuh dan rusak ini. Hal itu dilakukannya dengan tidak mengabulkan doa-doa kita ketika sifat-sifat dunia yang rusak ini, yaitu penderitaan, kehilangan, sakit-penyakit, kerapuhan, ketidakpastian, kefanaan, keterbatasan, 122 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU kemerosotan, ketidakadilan, kebencian, kegagalan, keke-cewaan, kematian, dan sebagainya menghampiri kita. Di situlah kita akan dilukai, dihempaskan dan kemungkinan dilumat habis karena hancurnya hal terbaik dan terpenting yang kita miliki atau karena hidup tetap terasa hampa sekalipun kita sudah mencoba memenuhi seluruh nafsu mata, telinga, mulut, otak, seks: dari yang normal sampai tidak normal, dari yang tinggi sampai yang rendah yang ternyata tetap tidak dapat memuaskan kita. Melalui kehancuran dan kehilangan, kita akan terus menerus diingatkan bahwa hidup kita di dunia yang telah jatuh dan rusak ini tidak pernah terlepas dari kenyataan yang menakutkan dan tidak menyenangkan, di mana kita semua akhirnya akan mati dan bukan kita yang menjadi pengendali kehidupan kita. Sedangkan melalui kehampaan, ketidakcukupan dunia ini, kita disadarkan bahwa walau bagaimanapun dunia ini tidak bisa memenuhi rasa haus dan lapar kita Akibatnya, walau mungkin belum sampai mau melepas sepenuhnya, kita akan mulai mengendurkan genggaman kita terhadap harapan dan tujuan hidup yang mustahil: menjadikan dunia ini sebagai pemenuh gairah kita yang tertinggi dan terdalam. Kita jadi lebih menyadari bahwa membangun sorga di kehidupan dunia yang telah jatuh dan rusak ini adalah impian di siang bolong. Secara positif Di dalam kekecewaan terhadap dunia ini, entah karena ketidakcukupannya maupun kerapuhannya, anak-anak Allah MANUSIA SORGAWI (1) 123 menerima pertolongan Roh Kudus bukan untuk tidak mengeluh, melainkan mengeluh dengan benar, sehingga keluhan mereka tidak seperti manusia sekuler: baik yang Kristen maupun yang bukan. Keluhan-keluhan manusia sekuler atas apa yang mereka alami: perasaan marah, kecewa, pedih karena keadaan yang buruk, sakit penyakit, kematian, kemerosotan tubuh, mimpi yang hancur dan keinginan yang tidak terpenuhi hanya mendorong mereka pada kerinduan untuk segera mendapatkan pemulihan dan penyempurnaan dunia mereka. Keluhan anak-anak Allah atas dunia ini: kesakitan dan kehilangan yang dialami justru membuatnya makin merindukan agar dinyatakan sebagai anak Allah dan tinggal bersama Dia demi menikmati Allah itu sendiri secara penuh. Kehilangan demi kehilangan, sakit demi sakit, kekecewaan demi kekecewaan, kesedihan demi kesedihan mengingatkan kita terus menerus untuk tidak mengasihi dunia ini serta menyadari betapa berartinya hal-hal yang kekal. Sehingga kita bisa lebih dan lebih lagi mengendurkan genggaman kita atas semua yang dunia tawarkan dan mulai menolak pencarian-pencarian yang dangkal dan sepele. Hidup mulai dilepaskan dari hal-hal yang non esensial, untuk sebaliknya makin lama makin mengencangkan genggaman kita kepada-Nya. Karena dengan kehilangan, kita walaupun lamban akan disadarkan bahwa yang kita miliki itu fana, terbatas dan sangat tidak memadai padahal yang kita kehendaki adalah yang tetap, yang tidak bisa diambil dari kita, yang seterusnya dan selamanya boleh menjadi milik kita. Jika demikian, 124 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU bukankah Allah itulah yang sebenarnya kita rindukan? Kebenaran seperti inilah yang disaksikan oleh manusia-manusia sorgawi seperti Joni Eareckson Tada. Ia menulis dalam Heaven: Your Real Home sebagai berikut: "Rumah tangga yang retak, tubuh-tubuh yang berantakan, dan hati yang hancur meremukkan ilusi kita bahwa dunia bisa menepati janjinya, bahwa dunia bisa memuaskan kita. Sesungguhnya hanya harapan akan sorga yang bisa sesungguhnya menggeser hasrat kita terhadap dunia ini. Apabila kita akhirnya menyadari bahwa harapan-harapan yang kita genggam tidak akan pernah menjadi kenyataan: seseorang yang kita kasihi sudah tiada dalam kehidupan ini, seorang anak kita didiagnosa menderita kanker yang tidak bisa dioperasi untuk selamanya, atau kita tidak akan pernah berhasil seperti yang pada awalnya kita bayangkan, saat itulah pandangan kita akan kita tengadahkan ke langit. Harapan saya untuk bisa berlarian di lapangan rumput hijau di bumi dan membasahkan kaki saya di batang air yang jernih tidak akan pernah menjadi kenyataan di bumi, tetapi akan terwujud di sorga. Impian saya untuk memeluk orang yang kita sayangi dan merasakan pelukannya tidak akan pernah menjadi kenyataan di bumi, tetapi akan terwujud apabila saya berdiri bersama di hadapan Yesus." Dave Dravecky adalah seorang pitcher bisbol profesional untuk San Francisco Giants. Ia terpaksa me- MANUSIA SORGAWI (1) 125 ninggalkan profesinya karena kanker yang diidapnya. Ia bercerita tentang istrinya Jan Dravecky ketika terkuras lelah demi merawatnya, sehingga Jan sendiri harus berkutat dengan pergumulannya sendiri. Suatu ketika keadaan emosi Jan sudah turun sampai ke tingkat yang paling rendah, depresinya telah mencapai dasar dan ia secara fisik tidak lagi sanggup memenuhi tuntutan keluarganya. Saat itu anak-anaknya memintanya pergi bersama mereka ke kolam renang, dan bisa diramalkan Jan menolaknya. Ia tidak memiliki energi atau kekuatan untuk itu. Setelah anak-anaknya pergi dan ia sendirian di rumah, ia mengepalkan tinjunya kepada Allah dan berkata, "Kau tahu, keadaan ini sangat buruk. Aku tidak dapat merasakan-Mu. Aku tidak dapat melihat-Mu. Aku tidak melihat suatu bukti apa pun dari kehadiran-Mu di dalam hidupku. Aku tidak dapat meraba-Mu. Seharusnya aku meninggalkan-Mu dan pergi dari-Mu. Aku harus kembali ke dunia ini. Aku punya cukup banyak uang. Aku bisa pergi berbelanja dan membeli apa saja yang aku inginkan dan melupakan diriku dalam kesibukan itu. Atau aku bisa mulai belajar main tenis atau mulai merancang dan menjual pakaian. Aku harus berpaling ke dunia, karena semenjak aku mengikuti-Mu, keadaan menjadi semakin parah saja." Tetapi sementara ia mulai meninggalkan Allah, sesuatu terjadi. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa melakukannya. Ia tahu bahwa dunia ini, dengan semua yang ditawarkannya, hanya sementara saja. Satu-satunya yang bernilai kekal adalah Allah dan Firman-Nya. 126 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Dalam kisah perumpamaan Yesus, si bungsu yang dalam mengejar impiannya telah meninggalkan bapanya ternyata harus berakhir dengan tinggal di kandang babi. Anak itu mengeluh tentang keadaan buruknya, keadaan makanannya, dan penderitaannya. Tetapi semua itulah yang mengarahkan mata dan hatinya untuk kembali kepada bapanya. Seperti haus mengarahkannya kepada air; lapar mengarahkannya kepada makanan, rasa lelah mengarahkannya kepada istirahat, kerapuhan hidup mengarahkannya kepada Allah Sang Pemberi Hidup. Demikianlah setiap kehilangan dan kekecewaan terhadap dunia ini digunakan Roh Kudus dengan cara mengisi tempat kosong yang ditinggalkan itu dengan kehadiran Allah yang lebih besar, sehingga menghasilkan pergeseran-pergeseran dan perubahan-perubahan batiniah di dalam diri kita. Realitas sorga yang kita pandang dengan cara yang baru, membuat kita semakin utuh menjalani hidup sebagai orang-orang asing dan para pendatang di bumi ini. PENUTUP Nampaknya panggilan Allah untuk beralih kepada-Nya sebagai sumber kepuasan kita mengambil dua jalan mendasar. Pada Abraham nampaknya keindahan-keindahan Allah yang makin terbuka di hadapan mata imannya membuatnya melihat dunia ini tidak menarik lagi. Seperti seorang anak yang bermain pasir, ketika diperlihatkan permen coklat, maka ia tidak lagi menyukai pasirnya. MANUSIA SORGAWI (1) 127 Rupanya jalan ini juga yang dialami Musa (Ibrani 11:24-26). Sementara kepada anak-anak-Nya yang lain Allah membiarkan mereka untuk mengalami seperti anak hilang: keterpurukan dan kekecewaan yang demikian dalam terhadap dunia ini sehingga mereka mengeluh dengan hebat atas luka-luka yang ditimbulkannya. Pada saat-saat seperti itu betapa hanya pelukan Bapa sorgawilah yang mereka inginkan. Sekalipun proses pada tiap-tiap anak Allah menempuh perjalanan yang berbeda, dan acapkali ke-2 jalan di atas itu bercampur dalam hidup kita, tetapi tujuannya adalah sama yaitu kita dipanggil kepada diri-Nya sendiri. Perubahan menjadi manusia sorgawi bukanlah proses sekali jadi. Bagi Abraham, hal ini dicapainya setelah menempuh perjalanan jarak jauh dari Ur ke Tanah perjanjian. Bagi kita, perjalanan itu masih berlangsung. Yang jelas, di sepanjang jalan itu Allah akan memahat hati kita dengan pukulan berulang-ulang yang kadang-kadang keras, kadang-kadang lembut sampai bentuk yang diinginkannya muncul: kita sebagai orang asing dan pendatang di dunia ini tiba di rumah idaman kita sorga, di mana Allah menjadi segala-galanya bagi kita. DOA Ketika kenyataan yang paling tidak mau kudengar, kuterima, kuhadapi terjadi atasku, Tuhan dampingilah aku. Tuntunlah aku bukan terutama untuk pemulihan segera, akan kelancaran dan beresnya hal-hal menyakitkan sehingga aku bisa hidup seperti biasanya lagi: aman terkendali. 128 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Bukan juga sekedar memegangi aku, menemaniku, menungguku, meyakinkanku bahwa Engkau besertaku sampai "time heals" terjadi padaku. Pemulihan-pemulihan sedemikian itu akan sesaat saja. Tidak ada yang berubah dalam pengenalanku akan Engkau selain sebagai alat pemulih. Aku hanya menghadapi masalah waktu untuk kemudian dihempaskan lagi oleh kefanaan, kerapuhan, dan kerawanan hidup yang sudah rusak dan jatuh ini. Maka pintaku kepada-Mu, hadirlah dengan topangan anugerah-Mu sementara Engkau membiarkan realita tajam menusuk hatiku, kepedihan melukai secara mendalam di jiwaku dan kesakitan menggerogoti tubuhku, serta segala cemas, takut, bingung tak terusir dari benakku. Dengan sabar semua itu kupikul sampai kebenaran-kebenaran-Mu tidak lagi berupa benih, tetapi sudah mulai berakar dan bertunas, yang mana kutahu sangat membutuhkan waktu. Bukalah perlahan, satu persatu apa yang harus kuterima, yang harus kuubah, dan yang harus mengambil kasihku sepenuhnya. Ketika itu terjadi, aku sesungguhnya tidak peduli lagi dengan pemulihanku yang fana. Karena sesungguhnya pemulihan kekal sudah kuterima. Sukacita, damai sejahtera yang tidak diberi oleh dunia ini melalui kekayaan, kesuksesan, kelancaran, kesehatan, tetapi dalam-Mu sendiri, yang karenanya tidak bisa diambil ketika hal-hal itu hilang dariku. MANUSIA SORGAWI (1) 129 Ya Tuhan karyakan kebenaran itu dari pengetahuan kognitifku menjadi kenyataan hidupku. Dengar doa seruanku dalam Putra Kudus-Mu Yesus Kristus, Amin. lqcgnymndpx662d8imjjkfrfrasj7os Dukaku Tempat Kudus-Mu/Manusia Sorgawi (2) 0 28121 118716 2026-09-04T11:51:24Z Bennylin 425 Bab 6 118716 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous=[[../Manusia Sorgawi (1)|Manusia Sorgawi (1)]] |next=[[../Perempuan Kanaan|Perempuan Kanaan]] }} EFESUS 5: 25-30 25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 1 KORINTUS 15: 44b-49 44b Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. 48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi. 2 KORINTUS 5: 1-10 1 Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. 2 Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini, 3 sebab dengan demikian kita berpakaian dan tidak kedapatan telanjang. 4 Sebab selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan, karena kita mau mengenakan pakaian yang baru itu tanpa menanggalkan yang lama, supaya yang fana itu ditelan oleh hidup. 5 Tetapi Allahlah yang justru mempersiapkan kita untuk hal itu dan yang mengaruniakan Roh, kepada kita sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi kita. 6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 7 — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat — 8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. 9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. 10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukan-nya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. 1 TIMOTIUS 4:8 8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu ber-guna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. 1 TIMOTIUS 6: 5-10 5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka Bab 6 Manusia Sorgawi (2) Setelah selesai menyampaikan khotbah 'Manusia Sorgawi' di sebuah persekutuan Kristen, beberapa pertanyaan diajukan kepada saya: * “Jika hidup tidak untuk mengejar sorga dunia, maka untuk apa kita bersusah payah bersekolah, mencari pekerjaan baik, dan membentuk keluarga harmonis?” * “Apakah kita harus pasrah saja ketika ditimpa penyakit, tidak usah memelihara kesehatan tubuh, dan tidak usah memerangi kemiskinan?” * “Apakah saya tidak boleh berdoa untuk meminta kesuksesan, kelancaran, kesehatan, rumah dan mobil kepada Tuhan?” * “Apakah ini bukan sejenis ajaran yang di dalam sejarah gereja telah menimbulkan askese sorgawi —orang-orang yang mengasingkan diri dari dunia— yang seluruh hidupnya hanya dipakai untuk 'bergaul' dengan Tuhan saja melalui berdoa, membaca Alkitab, dan menyanyi lagu-lagu rohani, sehingga gagal menjadi garam dan terang dunia?” 134 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan saya pada pertanyaan-pertanyaan serupa, "Jika Tuhan sudah mengetahui segala sesuatu sebelum kita berdoa, untuk apa kita berdoa?" atau "Jika seseorang diselamatkan karena ia sudah dipilih Tuhan di dalam kekekalan, untuk apa kita bersusah payah menginjili?" Dengan kata lain, kita mau berdoa jika Tuhan tidak mengetahui kebutuhan kita dan melalui doa tersebut kita memberitahu apa yang tidak diketahui-Nya. Kita mau menginjili jika Tuhan belum memutuskan siapa saja yang akan Ia selamatkan, sehingga keberhasilan penginjilan kitalah yang menjadi penentu keselamatan mereka. Lebih lanjut, pola pikir seperti ini akan menghasilkan sikap "Kalau gaji sudah dibayar sebelum bekerja dan hasil pekerjaan kita tidak mempengaruhi gaji kita, untuk apa kita bekerja dengan sungguh-sungguh?" "Jika keselamatan kita sudah pasti dan tidak bisa hilang, untuk apa kita hidup kudus?" "Jika sudah pasti naik kelas, untuk apa belajar?" "Kita bertobat untuk mendapatkan pengampunan. Jadi, jika tidak akan ada hukuman untuk apa bertobat?" Sebenarnya semua pola pikir di atas menyingkapkan betapa kacaunya pikiran seseorang yang berdosa. Kita hanya mau bekerja keras kalau dicambuk. Kita hanya mau hidup baik kalau ada neraka. Kita akan bekerja dengan baik, membina pernikahan sebaik-baiknya, dan turut berperan dalam memerangi kemiskinan jika kebahagiaan kita bergantung pada hal tersebut. Betapa mengerikan dan dangkalnya pemikiran seperti ini. Jika untuk mengetahui apa kebutuhan kita saja Allah MANUSIA SURGAWI (2) 135 harus bergantung kepada pemberitahuan kita, bagaimana kita bisa percaya Ia memiliki kemampuan untuk memenuhinya? Jika hasil penginjilan bergantung kepada kita baru kita mau pergi menginjili, betapa kasihannya Allah. Berarti jika orang Kristen semakin malas menginjili, semakin mubasir juga pengorbanan Kristus di kayu salib. Sebenarnya, justru karena Ia telah memilih, maka Ia akan mengutus sehingga Injil pasti diberitakan kepada orang pilihan-Nya. Logika yang sama Alkitab tunjukkan berlaku juga dalam kehidupan manusia sorgawi. Hidup yang berorientasi pada kepuasan akan Allahlah yang membuat hidup kita menjadi kemuliaan bagi Allah dan bermanfaat bagi sesama. Di sini saya akan memberikan 3 contoh dari 3 bidang kehidupan kita: perkawinan, kesehatan, dan keuangan. PERKAWINAN Efesus 5:25-30 Rasul Paulus di dalam bagian Alkitab di atas dengan jelas mengajarkan bahwa hubungan suami istri adalah analogi yang sangat terbatas, redup, dan jauh dari realitas aslinya yaitu hubungan Kristus dengan gereja-Nya. Seperti halnya sinar bulan yang redup yang mengacu pada terang benderang sinar matahari. Jika kasih Kristus kepada gereja-Nya adalah kasih tanpa batas dan anugerah-Nya adalah anugerah yang tanpa syarat dan kekal, sebaliknya kasih di antara suami-istri adalah kasih yang terbatas, bersyarat dan mempunyai akhir. Oleh karena itu, 136 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU seindah apa pun perkawinan kita, hanyalah cicipan secara samar-samar dan minim akan kasih Kristus kepada kita. Kita pasti akan kecewa jikalau kita mengharapkan kebutuhan tertinggi dan terdalam kita dapat dipenuhi dan dipuaskan oleh pasangan kita. Dengan kata lain, menuntut dari sebuah analogi untuk bertindak sebagai realitas yang diacunya, adalah sama seperti meminta bulan untuk bersinar seterang matahari. Jelas sekali itu tidak mungkin. Tindakan itu hanya akan menghabiskan energi dan sukacita dalam sebuah perkawinan dan perkawinan tersebut akan cepat kandas. Bagaimanapun juga pasangan kita tidaklah memadai untuk memuaskan dan membahagiakan kita. Semakin dalam kita mengenal pasangan kita, seringkali bukannya kepuasan yang kita peroleh melainkan kekecewaan, karena kita semakin menemukan kelemahan-kelemahannya. Selain itu, menuntut pasangan kita untuk menjadi sumber kebahagiaan kita akan dengan cepat mengubah hubungan suami-istri menjadi hubungan kontrak, saling mendendam atau balas membalas. Karena pada dasarnya cinta kita bersyarat, maka kita cenderung untuk tidak mengasihi orang yang tidak menyayangi kita dan tidak membahagiakan orang yang tidak membahagiakan kita. Contoh: Seorang suami pulang ke rumah dengan harapan akan memperoleh pelukan dan sambutan yang menghibur dari istrinya karena ia telah mengalami hari yang buruk di kantor. Namun ternyata yang dia temukan hanyalah seorang istri yang tertekan oleh pekerjaannya sendiri dan tidak memiliki kesabaran maupun kemampuan untuk MANUSIA SURGAWI (2) 137 bereaksi sesuai dengan keinginan sang suami, maka terjadilah lingkaran negatif. Reaksi istri yang kurang positif itu kemudian ditanggapi dengan bersikap dingin saat makan malam dan saling memunggung ketika tidur. Hal itu mungkin berlangsung sampai beberapa hari. Mereka berdua saling mengasingkan diri karena merasa terluka oleh pasangan. Kalau hal ini sering terulang, akhirnya mereka akan memilih untuk menutup diri dan menghindar dari pasangan demi tidak terulangnya rasa sakit. Masing-masing berpendapat: "Jika kamu membahagiakan aku, aku akan membahagiakanmu. Jika tidak, aku juga tidak." Masalahnya adalah: siapa yang harus terlebih dahulu membahagiakan pasangannya? Ketika kita merasa kebutuhan kitalah yang harus didahulukan, akhirnya kita akan menuntut orang lain untuk mengorbankan keinginannya. Hal seperti ini tidak mungkin dilakukan secara konsisten, kecuali jika kita berhasil menindas orang tersebut. Jika masing-masing bersikeras minta didahulukan, maka kita akan saling mengadu kekuatan untuk menentukan kepentingan siapa yang harus dinomorsatukan. Lebih jauh lagi, keyakinan bahwa kebahagiaan atau kepuasan kita bersumber pada orang lain —dalam hal ini pasangan kita— merupakan salah satu alasan mengapa perkawinan kita begitu labil. Kita mudah beralih dari satu hubungan ke hubungan lainnya. Hal itu terjadi karena ketika kita merasa tidak bahagia, kita menganggap bahwa pasangan kitalah yang harus kita persalahkan. Kita mulai mencari orang lain dengan harapan kita mendapatkan orang yang tepat yaitu orang yang bisa membahagiakan 138 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU kita. Apa yang kita lakukan persis seperti pendulang yang berpindah dari mata air satu ke mata air lainnya untuk mencari emas. LANGSUNG DATANG KEPADA REALITANYA Jadi, untuk terpuaskannya kebutuhan akan kasih dalam sebuah pernikahan hanya dapat diperoleh dengan datang langsung kepada sumber atau realita itu sendiri yaitu sang matahari, Yesus Kristus sendiri. Dengan kesadaran bahwa Allah adalah kasih dan sebelum aku mengasihi-Nya, Ia telah mengasihiku dengan memberikan Kristus kepadaku, maka aku tahu bahwa aku dicintai oleh Dia sebelum aku dicintai oleh siapa pun. Dan kebutuhanku yang terdalam sudah diisi oleh kasih sayang Tuhan yang lebih dari cukup. Kesadaran ini akan membawa dampak luar biasa dalam kehidupan pernikahan kita. Pertama, kita tidak akan beranggapan bahwa tidak ada yang mengasihi kita, kita ditinggalkan sepi sendiri, tidak berharga, tidak ada yang menginginkan kita. Kita juga tidak akan beranggapan: kebutuhan kita akan cinta kasih tak terpenuhi, sehingga kita tidak bahagia. Pikiran-pikiran seperti itu memang wajar jika dikatakan oleh orang sekuler, yang mencari kasih tertingginya dari sumber yang lemah yaitu manusia itu sendiri. Kedua, hubungan kasih dengan Kristus yang bersifat tidak berubah ini (first class love) akan memberi kita identitas, kestabilan emosi, dan rasa aman. Akibatnya kita memiliki keberanian untuk mengambil resiko membangun hubungan kasih dalam pernikahan yang lebih rendah, MANUSIA SURGAWI (2) 139 tidak stabil, tidak aman, bersyarat (second class love). Kita tidak kuatir akan dikecewakan. Kita mengetahui bahwa ketika kasih yang lebih rendah itu tidak memuaskan — sesuatu yang memang pasti terjadi — kita tidak akan terhempas hancur. Berarti berbahaya sekali jika kita mencoba mengasihi dan mencari kasih dari suami-istri tanpa didahului dengan bekal kasih Kristus. Hal itu akan berakhir dengan kegoncangan yang hebat ketika kasih yang diharapkan ternyata mengecewakan. Ketiga, dengan telah terpenuhinya kebahagiaan kita, kita tidak lagi menuntut orang lain untuk membahagiakan kita. Hal itu akan membebaskan hubungan suami-istri dari tekanan permintaan dan tuntutan atau memanfaatkan orang lain untuk membahagiakan kita. Jika kita mengalami hal-hal yang menyenangkan dari hubungan kita dengan pasangan kita: pujian, penghiburan, pelukan, dorongan, dan lain sebagainya, kita perhitungkan itu sebagai bonus sampingan dari hadiah utama yang sudah kita terima yaitu perhatian yang dicurahkan oleh Tuhan. Pasangan kita sama sekali bukan sumber utama kepuasan hidup kita. UNTUK APAKAH PERKAWINAN? Jikalau manusia (Adam) sudah merasa sangat bahagia dan puas dengan kasih Allah saja, mengapa Allah mengatakan bahwa tidak baik bagi Adam jika hanya seorang diri dan Ia menciptakan Hawa untuk dipersatukan dengan Adam di dalam sebuah perkawinan? Bukankah itu tidak perlu? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita amati 140 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU apa yang Paulus katakan. Menurut Rasul Paulus, Yesus berhubungan dengan gereja-Nya bukan karena Ia kekurangan kasih, melainkan karena Ia kelimpahan kasih, sehingga Ia membagikannya, dan Ia berkorban, melakukan semua yang terbaik bagi gereja-Nya. Berarti, jika hubungan suami-istri merupakan analogi hubungan Kristus dengan gereja, maka kebenaran yang sama juga berlaku padanya. Hawa diberikan kepada Adam bukan karena Adam kurang bahagia atau kurang mendapat kasih sayang dari Allah sehingga Hawa diciptakan untuk memenuhi kebutuhannya. Hawa diberikan kepada Adam, demikian pula sebaliknya — Adam diberikan bagi Hawa — karena mereka ingin berbagi kelimpahan kasih dan kebahagiaan yang mereka terima. Dengan demikian kasih Adam kepada Hawa dan sebaliknya Hawa kepada Adam, bukan karena mereka ingin saling membahagiakan — Adam membahagiakan Hawa, maka Hawa membahagiakan Adam — melainkan karena Allah telah membahagiakan mereka berdua secara melimpah, maka mereka menyalurkannya kepada pasangannya. John Piper memberikan sebuah uraian menarik pada bukunya The Dangerous Duty of Delight, yaitu bahwa Kristus mengorbankan apa saja demi memberi yang terbaik bagi mempelai-Nya, tetapi ujung-ujungnya yaitu hasil akhirnya adalah untuk diri-Nya sendiri yaitu “menempatkan di hadapan diri-Nya” jemaat yang cemerlang, tidak bercela, tidak berkerut, dan kudus (ayat 27). Prinsip yang sama dengan suami-istri di ayat 28-29. Apa saja akan dilakukan suami untuk mengasihi istrinya, tetapi ujung-ujungnya MANUSIA SURGAWI (2) 141 adalah untuk dirinya sendiri, Paulus merumuskan itu dengan "siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri". Di sini yang berlaku adalah "kebahagiaanku adalah membuatmu bahagia. Kebahagiaanmu itulah yang paling membahagiakanku". Hal ini bukan berarti "jika engkau tidak bahagia, aku pun tidak bahagia" tetapi kecukupan yang kita terima dari Allah menyebabkan kita mampu melakukan pelayanan inkarnatif seperti Kristus, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain. Dengan demikian perkawinan sebagai analogi hubungan Kristus dengan gereja-Nya benar-benar berfungsi memantulkan kemuliaan dan keindahan kasih Kristus pada gereja-Nya. Jadi, tidaklah benar pendapat yang mengatakan "Kalau Allah menjadi sumber kebahagiaan kita, maka perkawinan akan jadi buruk dan diterbengkalaikan". KESEHATAN I Korintus 15:44b-49, 2 Korintus 5: 1-10; 1 Tim 4:8 Kesehatan dan kesempurnaan fisik merupakan modal sangat penting untuk mengejar dan mendapatkan segala yang dunia ini janjikan. Sampai-sampai mantan pemimpin terbesar negeri komunis Cina Mao Zhi Dong pernah mempopulerkan ungkapan "jian kang di yi", kesehatan itu nomor satu. Alkitab menegaskan bahwa tubuh terbaik kita di dunia ini hanyalah tubuh yang sangat buruk dibandingkan tubuh kemuliaan kita kelak. Apalagi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, bukan hanya rumput saja yang menjadi 142 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU layu, bunga berguguran, tetapi orang pun menua dan mati. Bahkan merupakan suatu realita bahwa saat kita masih di kandungan pun sebenarnya proses kematian tersebut sudah mulai kita jalani, dan hal itu berjalan dengan cepat. Maka kita seharusnya semakin menyadari bahwa tubuh kita tak memadai untuk menjadi sumber atau menjadi andalan di dalam mencari kebahagian dan kepuasan hidup. Allah sejak dari awal memang bermaksud agar kita bersukacita atas tubuh sorgawi kita, sehingga Allah tidak ingin kita memusatkan perhatian kita untuk mencoba sesuatu yang sia-sia yaitu mempertahankan tubuh fana kita. Kita sebaliknya harus berfokus pada tubuh masa depan kita. Itulah yang Paulus tunjukkan di dalam suratnya 2 Korintus 5:1-10. Di situ ia menggambarkan tubuh fana kita sebagai kemah, bukan bangunan permanen. Hidup di kemah akan membuat kita banyak mengeluh (Paulus sampai dua kali mengulang kata mengeluh di ayat 2 dan 4) karena begitu banyak kekurangannya: cepat lapuk, apek, mudah robek, bocor, dan akhirnya ambruk. Tetapi Paulus tidak mengeluh kepada Allah akan kemahnya dan memohon kepada-Nya untuk mengubahnya menjadi bangunan tembok atau apartemen. Melainkan ia angkat jiwanya pada kerinduan tubuh sorgawi yang permanen, nyaman, anti bocor, yang Tuhan sendiri bangunkan baginya. Kerinduan itu juga sampai dua kali ia ulangi, ayat 2 "rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini" dan ayat 8 "terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan". MANUSIA SURGAWI (2) 143 Jika demikian, apakah itu berarti kita disuruh mengabaikan, tidak merawat, atau merusak tubuh fana kita? Tidak. Paulus pernah menasihati Timotius agar jangan minum air putih saja tetapi minum juga sedikit anggur demi kesehatan pencernaannya (1 Timotius 5:23). Namun demikian di surat yang sama Paulus menasihati Timotius, "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang" (1 Tim 4:8). Artinya, bodoh sekali kalau kita rajin berolahraga untuk kesehatan tetapi melalaikan yang lebih penting yaitu waktu teduh bersama Tuhan. Kita juga sangat bodoh kalau kita begitu rajin mengonsumsi vitamin tetapi tidak rajin membaca Alkitab. Dengan demikian, hidup manusia sorgawi itu realistis. Ia tahu apa yang benar-benar penting, sehingga di satu sisi sekalipun ia memperhatikan dan merawat tubuhnya namun ia tidak akan berkonsentrasi untuk mengejar, memperbaharui dan mendandani tubuh sekarang ini sampai menghabiskan waktu, uang, usaha yang sangat banyak karena ia tahu bahwa semua itu sia-sia. Tetap saja ia akan menjadi tua, keriput, rusak, sakit, memburuk, dan akhirnya mati. Di sisi lain ia dapat tabah dan tidak tawar hati walau tubuhnya makin hari makin merosot, mengganggu dan tak lagi dapat digunakan sebab ia tahu bahwa ia akan mendapat tubuh baru yaitu tubuh sorgawi yang mulia dan sempurna saat memandang wajah Tuhannya Yesus Kristus muka dengan muka (2 Korintus 5:16). Maka lebih baik waktu dan usaha itu dipakai untuk bergiat mengerjakan 144 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU hal-hal yang kekal dan mempersiapkannya untuk meng- hadap Kristus (1 Korintus 15:58; 2 Korintus 5:10). Pemahaman seperti itulah yang menyebabkan seorang ibu yang mengidap kanker di sebuah kota yang pernah saya layani, setelah berobat sekian waktu, memutuskan tidak melanjutkannya dan meminta anak-anaknya agar uangnya tidak lagi digunakan untuk perawatannya tetapi untuk pekerjaan Tuhan. Selain itu, kalau kita benar-benar memahami apa artinya tubuh kita yang fana dan rusak ini akan digantikan dengan yang mulia, kita tidak takut mengalami pen- deritaan atau kehilangan tubuh kita demi melayani Tuhan. Rasul Paulus berkata: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada pende- ritaan kami" (2 Korintus 4:18). Pemahaman seperti inilah yang membuat seorang teman saya yang karena penya- kitnya telah menjadi berkat ketika ia melayani sesamanya yang berpenyakit sama seperti dia. Dan ketika saya berdoa baginya, saya menantangnya, "Jika karena melihat penya- kitmu orang lain mendapat kekuatan, penghiburan dan pengharapan melalui pelayananmu, relakah engkau ber- doa meminta Tuhan tidak mengambil penyakitmu demi terus memakainya untuk kemuliaan-Nya?" "Ya berdoalah seperti itu untuk saya", demikian jawabnya. Sekarang teman itu sudah pergi kepada Juruselamatnya. Ia sudah bukan orang asing dan pendatang karena ia sudah tiba di negeri sorgawi, dan pasti ia akan mendapatkan tubuh barunya. MANUSIA SURGAWI (2) 145 Bukan itu saja, pemahaman seperti itu bagi seorang manusia sorgawi akan membuatnya berani mati sebagai martir dengan tenang dan berani. Mereka tidak menganggap kematian mereka sebagai barter dengan Allah, di mana kematian mereka akan Allah bayar dengan pahala super besar. Justru kebalikannyalah yang benar. Mereka telah mendapatkan janji Allah yang sangat besar, sehingga dengan sendirinya ketika karena Kristus mereka harus kehilangan tubuh fana dan darah mereka (bukan darah orang lain) harus dicurahkan, mereka akan menjalaninya dengan sukacita. Lagi pula kalau tidak mati bagi Kristus, tubuh mereka juga tetap akan rusak dan mati. Ignatius dari Antiokia ketika menghadapi kematian sebagai martir, diberitahu bahwa saudara-saudara seimannya di Smirna berdoa baginya agar ia mendapatkan pengampunan dan terlepas dari kematian. Dalam suratnya ia menulis, “Saya harus memohon kepada kalian supaya jangan melakukan bagiku kebaikan yang tidak tepat waktu itu; izinkanlah aku menjadi makanan binatang-binatang buas, karena mereka akan membukakan jalan bagiku untuk datang kepada Allah. Aku adalah butir gandum-Nya, yang digiling oleh gigi-gigi singa untuk dijadikan roti yang murni bagi Kristus. Kalau dapat, biarlah tubuh makhluk-makhluk itu menjadi tempat penguburanku, janganlah mereka menyisakan sedikit pun dari dagingku... Bila tak ada lagi dari tubuhku yang tersisa di dunia ini, maka dapatlah aku layak menjadi murid Tuhan Yesus Kristus.” Orang-orang di atas adalah orang-orang yang seperti 146 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Jim Elliot katakan, “Bukanlah orang bodoh karena mele- paskan apa yang tidak dapat dipertahankannya dan memperoleh apa yang tak dapat diambil darinya.” KEUANGAN 1 Timotius 6:5-10 Ibu saya pernah bercerita tentang apa yang dilihatnya di TV, bahwa ada seorang ayah yang demikian tega me- megangi kepala putrinya yang baru berusia 8 tahun sementara istrinya mencekik anak itu sampai mati. Alasan mereka melakukan tindakan kejam itu adalah karena anak itu terus-menerus merengek meminta makan dan mereka tidak mempunyai cukup uang untuk memenuhi keinginan anak itu. Jika kemiskinan sering membuat seseorang merasa hidup dalam keadaan tercekik, maka tidak heran kalau kebanyakan orang tidak percaya bahwa harta berlimpah tidak menjamin kebahagiaan. Apalagi ketika kita men- dapati bahwa segala sesuatu dalam hidup ini mulai dari lahir, sekolah, makan-minum, menikah, melahirkan bah- kan mati pun membutuhkan uang. Mutu makanan, pa- kaian, rumah tinggal, fasilitas kesehatan, pendidikan, kedudukan di masyarakat dan jaminan masa depan atau hari tua kita pun semua ditentukan oleh berapa banyak uang yang kita miliki. Maka makin kuatlah kesimpulan kita bahwa uang adalah hidup itu sendiri, menjadi kaya raya identik dengan hidup berlimpah. Pemahaman seperti di atas membuat sebagian orang begitu tergila-gilanya MANUSIA SURGAWI (2) 147 akan uang sehingga segala sesuatu termasuk Tuhan dimasukkan ke dalam skema itu. Orang-orang seperti inilah yang Paulus minta agar Timotius waspadai. Yang menarik, nasihat Paulus kepada Timotius bukanlah agar ia tidak mencari keuntungan melalui kesalehan, melainkan agar ia melalui kesalehan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar daripada yang didapat oleh para pencinta uang. Yaitu jikalau hubungan dengan Tuhan membuat kita memiliki rasa puas sehingga memiliki hal yang paling mendasar yang berupa makanan dan pakaian saja kita sudah merasa cukup (ayat 8). Bahkan saat kekurangan pun hal itu tidak mengganggu kepuasan hidup kita, sebagaimana yang Rasul Paulus katakan, “Aku tahu apa itu kekurangan dan apa itu kelimpahan”. Dengan demikian kita pun tidak lagi menginginkan untuk menjadi orang kaya raya, karena kita memang tidak membutuhkan itu untuk hidup puas. Hal ini memberi kepada kita keuntungan negatif dan positif. KEUNTUNGAN NEGATIF Dengan hidup terbebas dari nafsu ingin kaya, kita telah terbebas dari menghancurkan hidup kita sendiri, terbebas dari menyiksa diri dengan pelbagai kesedihan dan terbebas dari memakai hidup secara sia-sia: mencari rasa aman, sukacita di tempat yang salah. Terbebas dari Jerat Harta. Joserizal Manra menulis syair berikut di harian kompas beberapa tahun lalu 148 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Manusia kepingin kalau bisa Setelah lepas dari sekedar jadi pedagang dan punya rumah toko Manusia kepingin TV, kulkas dan honda bebek Setelah puas dari sekedar jadi pengusaha dan punya supermarket Manusia kepingin laserdisk, babybenz dan kebun anggrek Setelah lepas dari sekedar konglomerat dan punya kondominium Manusia kepingin kapal pesiar, hotel terapung dan lapangan golf Setelah lepas dari sekedar jadi pedagang Setelah lepas dari sekedar jadi pengusaha Setelah lepas dari sekedar jadi konglomerat Manusia kepingin tak mati-mati Kalau bisa... Jose memberi kita gambaran bahwa hidup mengejar kekayaan adalah sebuah pengejaran tanpa henti, seperti orang berlari tanpa garis finis, tetapi sekaligus tak mau berhenti berlari. Karena sebenarnya ia dijerat dan diseret hawa nafsunya sendiri. Akibatnya pastilah fatal. Saya pernah membaca sebuah cerita tentang fatalnya mengejar kekayaan tanpa rasa puas: Ada seseorang yang karena berjasa, diberi raja sebidang tanah yang luasnya ditentukan oleh berapa besarnya bidang tanah yang ia kelilingi dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Artinya selama 12 jam itu ia harus memulai dan mengakhiri perjalanannya di tempat yang sama. Maka orang itu memikirkan bagaimana caranya mendapat seluas-luasnya bidang tanah tersebut. Dalam hatinya ia berkata, "Agar aku dapat membuat lingkaran seluas-luasnya, aku harus berlari sekencang yang kubisa." MANUSIA SURGAWI (2) 149 Ia pun mulai berlari, setelah 3-4 jam berlalu, ia sudah sangat kelelahan, ia berpikir untuk berjalan santai, tetapi itu berarti mengurangi keluasan tanah yang akan ia miliki, maka ia putuskan terus berlari. Setelah cukup jauh ia berpikir untuk berbelok kembali ke tempat startnya. Tetapi ia berpikir jangan-jangan ia akan tiba lebih awal satu atau 2 jam, betapa sayangnya itu. Maka ia berlari lebih jauh lagi. Sampai jam 6 sore tiba, bahkan jam-jam berikutnya pun orang itu tidak pernah kembali ke tempat ia memulai. Ia telah berlari begitu jauh dan lelahnya, sehingga ketika ia berbelok untuk kembali ke titik awal, ia harus berlari secepat-cepatnya mengejar waktu, dan hal itu membuat jantungnya putus. Ada hal lain yang menarik pada syair Joserizal Manra yang kita cantumkan di atas, yaitu letaknya pada pojok bawah kiri halaman pertama Kompas, tepat bersebelahan dengan foto Chung Mong-Hun yang mati karena bunuh diri. Ia adalah seorang konglomerat Korea, putra pendiri grup Hyundai yang bernama Chung Ju Yung. Berita ini seolah mau meneruskan kalimat terakhir syair Jose, "kalau bisa... tetapi sayangnya tidak bisa" Terbebas dari Berbagai Nafsu yang Hampa Rasul Paulus mengatakan bahwa kita datang ke dunia dengan telanjang dan pergi dari dunia ini juga dalam keadaan yang sama. Jika demikian, orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar kekayaan adalah orang yang bodoh. Ia bodoh karena menginvestasikan seluruh 150 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU hidupnya dan menggantungkan semua harapannya kepada kehidupan yang pasti akan berakhir dengan nol besar. Saat manusia mati, ia akan pergi dengan telanjang. Semua yang diembeli dengan "ku": mobilku, rumahku, anakku, istriku, uangku, gelarku, bahkan tubuhku pun dilucuti darinya. Saat itu apa yang tersisa pada kita? Jika tidak ada, berarti seluruh yang kita kumpulkan selama di dunia adalah kesia-siaan belaka. Kita akan didapati sebagai orang bodoh, dan miskin di mata Allah. Ketidakinginan menjadi kaya itu menguntungkan. Selain keuntungan di atas, banyak keuntungan lain yang Paulus sebutkan: terhindar dari jatuh ke dalam pencobaan (menghalalkan segala cara demi mendapat kekayaan), menyimpang dari iman, dan menyiksa diri dengan berbagai duka. KEUNTUNGAN POSITIF Jika kepuasan dan kebahagiaan tertinggi kita sudah kita peroleh dari Tuhan, maka kita tidak akan lagi mencari kepuasan dan kebahagiaan kita dari uang. Jika demikian benarkah kita akan membiarkan hidup kita dalam kemiskinan, tidak berusaha mencari pekerjaan yang baik dengan bayaran yang memuaskan? Tentu saja tidak. Allah tidaklah anti kekayaan, Ia sendiri adalah Allah yang mahakaya dan kelak akan mengenyahkan kemiskinan sekali untuk selamanya. Yang dibenci-Nya bukanlah keinginan dan usaha mendapatkan atau menghasilkan uang banyak. Yang dibenci-Nya adalah sikap yang salah terhadap kekayaan, yaitu mengandalkan kekayaan sebagai MANUSIA SURGAWI (2) 151 sumber keamanan dan kenikmatan hidup. Yang Ia kutuk adalah keinginan mencari uang untuk memiliki lebih dan lebih banyak uang, untuk kita simpan bagi diri sendiri, untuk memiliki rumah yang makin banyak dan besar, mobil yang makin banyak dan mewah, baju yang makin mahal dan bermerk, makan yang makin lezat dan berlebihan dst. Jadi Allah sama sekali tidak melarang kita mencari uang banyak, atau memiliki perusahaan yang besar. Justru dengan kepuasan yang sudah kita dapat dari Allah, barulah kita dapat menggunakan uang untuk mendapatkan keuntungan yang terbesar, dan berdurasi paling lama jauh melampaui dari keuntungan yang didapat pencinta uang. Kita Dapat Menjadi Murah Hati Dalam Memberi Kita dapat mencari uang sebanyak-banyaknya dan berbisnis sebesar-besarnya dengan tujuan kemanusiaan, memberi pekerjaan, menafkahi orang-orang miskin, mendukung pekerjaan misi, pendidikan dsb. Kita dapat melepas uang dengan murah hati, karena uang bukan sumber kebahagiaan dan kepuasan kita, tetapi alat melayani sesama. John Wesley merupakan teladan bagi kita. Tahun 1731, saat pertama kali mengajar di universitas Oxford dan menerima gaji 30 pounds, 2 poundsnya ia berikan pada orang miskin. Tahun 1732 gajinya menjadi dua kali lipat 60 pounds, ia mengambil 28 pounds dan memberikan 32 pounds kepada mereka yang membutuhkannya. Tahun 1733, ia mendapat gaji 90 pounds. Ia mengambil 28 pounds dan memberikan 62 pounds ke- 152 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU pada orang lain. Di tahun 1734, ia memberi 92 pounds, sampai gajinya mencapai 1400 barulah ia menaikkannya menjadi 30 pounds untuk dirinya sendiri karena saat itu harga barang-barang kebutuhannya berubah. Dengan statusnya sebagai dosen Oxford dan hasil tulisan yang diterbitkan, tahun 1778 pejabat pajak mengirim surat kepadanya, "kami yakin Anda memiliki harta yang sampai saat ini belum pernah dilaporkan secara teratur." Mereka tidak percaya orang seperti Wesley tidak memiliki harta berlimpah. Wesley menjawab surat itu, "saya mempunyai dua buah sendok perak di London dan 2 lagi di Bristol. Saya tidak akan membeli lebih banyak lagi kalau masih ada begitu banyak orang yang kekurangan makan di sini." Kita Dapat Menyimpan Harta Kita di Sorga Sesungguhnya ketika karena Kristus kita mencari dan melepaskan uang kita untuk menolong orang lain yang berkekurangan, uang itu kita investasikan sebagai harta sorgawi kita "yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri, dan yang tidak dirusakkan ngengat" (bacalah Lukas 12:31-34). Ajakan Yesus di atas inilah yang menjadi dasar bagi Paulus untuk meminta Timotius memperingati orang kaya "agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya" (1 Timotius 6:18-19). Lukas menyambung ayatnya di atas dengan ucapan MANUSIA SURGAWI (2) 153 Yesus "Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada." Jadi keuntungan di atas bukan saja menyelamatkan kita dari kehancuran yang menyedihkan, tetapi juga membuat kita mengejar sukacita kekal dan penuh karena dengan harta kita ditaruh di 'atas', hati kita pun makin ditambatkan pada hal-hal sorgawi. Di dalam buku kecil The Dangerous Duty of Delight, benar sekali yang John Piper katakan, "Kristus tidak menentang invesment tetapi invesment yang buruk yaitu menaruh cinta kita pada kenyamanan dan keamanan yang uang dapat berikan." PENUTUP Uang, makanan, kekuasaan, kebebasan, waktu, keluarga, seks dan sebagainya adalah hal-hal baik pemberian Allah. Amat mudah kita menerima dan menjadikannya sebagai jaminan, topangan dan sumber kepuasaan ultima yang palsu bagi hidup ini. Tetapi Allah di dalam Kristus telah memberi kita perspektif bahwa kehidupan tidak akan mencapai yang sempurna kecuali dijalani dengan pemahaman dan penerapan yang akurat bahwa Allah-lah realitas kebaikan itu sendiri. Perspektif itu akan secara radikal mengubah hidup kita di dalam dunia ini. Nilai-nilai kita atas uang, waktu, orang, ruang, materi semua dimurnikan dan ditata ulang sesuai dengan perspektif tersebut. Jelaslah bahwa Allah tidak menyuruh kita untuk melepas harta benda, pekerjaan, keluarga kita, dan mundur dari dunia, menghindari dunia ini dengan menganggap 154 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU dunia ini tidak nyata, maya, dan mencoba hidup tanpa menginginkan apa-apa di dunia ini. Apa yang Allah inginkan adalah bergesernya titik berat hati kita kepada-Nya, menjadikan hati kita sebagai ruang mahakudus di mana Allah sang kebaikan tertinggi itu tinggal ke mana pun kita pergi dan apa pun yang kita lakukan dan alami. Akibatnya walaupun secara lahiriah hidup kita akan nampak sama tetapi sebenarnya inilah yang terjadi: semua hal baik yang dulunya menjadi realitas dan sumber kebahagiaan tertinggi sekarang kita hargai dan manfaatkan sejauh itu berlaku sebagai alat, sarana yang menolong kita memperdalam, memperkuat, menikmati dan menyatakan hidup baru kita di dalam Kristus. Dengan demikian, perhatian utama kita tidak lagi pada lancar atau seretnya hidup, sedikit atau banyaknya mendapatkan apa yang dunia ini janjikan, melainkan seberapa besar hal itu membantu kita dalam mencapai tujuan hidup di atas tadi. Cara hidup demikian akan membuat kita, sebagaimana yang Ignatius Loyola tuliskan dalam pendahuluan buku latihan spiritualnya, memiliki sikap sedemikian "lepas bebas terbuka terhadap segala ciptaan tersebut, ... Maka dari itu dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek, begitu juga seterusnya untuk hal-hal lain. Yang kita inginkan dan kita pilih adalah apa yang lebih membawa kita kepada tujuan kita diciptakan." MANUSIA SURGAWI (2) 155 DOA Tuhan aku menyukai berkat-berkat berupa orang-orang luar biasa dalam hidupku, rumah, mobil, pakaian yang baik dan pemulihan kesehatan dari sakit yang gawat. Aku juga menyukai berkat-berkat berupa kesempatan melayani dan melakukan hal-hal baik yang menyenangkan. Tetapi aku sadar bahwa pusat hatiku seharusnya selalu menjadi milik-Mu. Sehingga itu membuatku rindu menikmati hadirat-Mu tidak peduli berapa pun harganya Karena mendapatkan-Mu berharga di atas segalanya. Oleh sebab itu pintaku kepada-Mu: berilah apa saja yang membuatku berpaut kepada-Mu, Lepaskan aku dari apa saja yang menjauhkanku dari-Mu. Berilah kekayaan, berilah kesehatan Berilah kepandaian, berilah panjang umur Jika itu menautkanku dengan-Mu, Air Hidupku Jauhkanlah kekayaan, jauhkanlah kesehatan Jauhkanlah kepandaian, jauhkanlah panjang umur Jika itu melarutkanku, menjauhkanku dari-Mu, Gembala Agungku Dalam segalanya itu pegangi aku terus. Karena kalau kedua-duanya: baik kaya maupun miskin, 156 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU baik sehat maupun sakit, baik pandai maupun bodoh, baik umur panjang maupun pendek, tidak membuatku celik bahwa Engkaulah yang paling kurindukan, maka beri kemurahan dan belas kasihan-Mu di dalam Kristus itu lebih limpah lagi kepadaku. Dalam nama Yesus Kristus wujud berkat tertinggi bagiku itu, aku berdoa, Amin. mopl2ry52dzz1x4dv84of3uftnpjzro Dukaku Tempat Kudus-Mu/Perempuan Kanaan 0 28122 118717 2026-09-04T11:51:40Z Bennylin 425 Bab 7 118717 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous=[[../Manusia Sorgawi (2)|Manusia Sorgawi (2)]] |next=[[../Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri|Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri]] }} MATIUS 15 : 21 - 28 Lalu Yesus pergi dari situ dan mengundur ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." 24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 26 Tetapi Yesus men- jawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak- anak dan melemparkannya kepada anjing." 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. MASALAH YANG BERTAMBAH MATIUS 15: 21-28 21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." 24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Bab 7 Perempuan Kanaan Penyingkiran Yesus ke kota Tirus dan Sidon merupakan kunjungan pertama-Nya ke wilayah kafir. Di wilayah kafir itu, seorang wanita yang tidak disebutkan namanya datang menjumpai Yesus. Ia adalah orang Kanaan, karena itu tergolong orang kafir. Pada jaman itu bangsa Yahudi memiliki pandangan bahwa umat manusia di dunia terdiri dari dua golongan: orang Yahudi sebagai umat Allah dan non Yahudi sebagai orang rendahan, kafir, berdosa, haram, dan sesat. MASALAH YANG BERTAMBAH Wanita kafir itu datang kepada Yesus untuk meminta pertolongan bagi anaknya yang kerasukan setan. Kemungkinan besar wanita ini sudah membawa anaknya ke kuil Eshmun —dewa penyembuhan yang letaknya hanya 3 mil di barat laut Sidon— tetapi anaknya tetap tidak sembuh. Kedatangan Yesus memberinya pengharapan baru yaitu 160 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU akan segera berakhirnya penderitaan mereka. Yesus menanggapi permintaan wanita Kanaan tersebut dengan pelbagai respons. Respons pertama: Ia diam saja, tidak satu patah kata pun keluar dari mulut-Nya. Nampaknya Ia sama sekali tidak peduli (ayat 23). Tetapi karena wanita itu masih terus mengikuti-Nya sambil berteriak-teriak, maka murid-murid merasa kesal dan terganggu sehingga meminta Yesus agar mengusir wanita itu. Yesus menjawab permintaan murid-murid-Nya, "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" (ayat 24). Jawaban Yesus yang rupanya dapat didengar wanita itu memberitahu bahwa dia bukan merupakan bagian dari domba-domba Israel, sehingga tidak merupakan orang-orang yang dicari dan dilayani. Inilah respons kedua yang diterima wanita itu. Tetapi alih-alih merasa tertolak, ia malah mendekat, menyembah dan berkata, "Tuhan tolonglah aku" (ayat 25). Menanggapi permintaan kali ini, Yesus memberi respons ketiga yang isinya merupakan penghinaan. Kata Yesus, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing" (ayat 26). Jelas bahwa yang dimaksud dengan "anak-anak" adalah orang Yahudi, sedangkan "anjing" adalah sebutan bagi wanita Kanaan itu. Bagi orang Yahudi, anjing merupakan binatang haram dan najis, karena binatang ini memakan bangkai (Keluaran 22:31) atau muntahnya sendiri (Amsal 26:11; 2 Petrus 2:22). Anjing juga merupakan kiasan untuk merendahkan musuh atau orang-orang di luar Israel (1 Sam 17:43; Maz 22:17; Amsal 26:11). Tuhan Yesus PEREMPUAN KANAAN 161 juga pernah memakai gambaran bahwa anjing sejajar dengan babi, "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi" (Matius 7:6). Maka perkataan Yesus yang menggolongkan wanita Kanaan ini sebagai anjing seakan-akan merupakan tendangan ke wajah dalam bentuk kata-kata. Ada dua hal yang perlu kita perhatikan di sini. Pertama, perhatikanlah tanggapan Yesus yang tingkat kekerasannya bertahap, makin lama makin berat menekan wanita ini: mula-mula hanya dengan membisu, tidak peduli, mendiamkannya. Kemudian menolak wanita ini sebagai bukan bagian dari domba Israel dan diakhiri dengan merendahkannya sebagai anjing. Kedua, wanita ini datang dengan harapan untuk mendapatkan pertolongan. Tetapi kenyataannya, bukan saja anaknya tidak ditolong, malah ia mendapat penderitaan baru yang bersumber dari sikap Yesus kepadanya. Karena itu tidak berlebihan kalau kita menyimpulkan bahwa ketika kita bermasalah dan datang kepada Tuhan, adakalanya bukan pertolongan yang kita dapatkan, malah penderitaan kita semakin menjadi-jadi. Hal yang lebih menakutkan lagi adalah bahwa tekanan dan penderitaan itu justru datangnya dari Tuhan yang kepada-Nya kita berharap untuk mendapatkan pertolongan. Ketika hal itu terjadi atas kita, apa yang Alkitab ajarkan melalui sikap perempuan Kanaan ini? 162 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU IMAN YANG KOKOH Jika kita perhatikan, ternyata iman wanita ini justru berbanding terbalik dengan berat tekanan yang diterimanya. Semakin besar dan berat tekanan yang diterima, semakin terbentuk dan terlihat keteguhan imannya kepada Yesus. Ketika wanita ini didiamkan saja, ia tidak meninggalkan Yesus dengan kecewa, melainkan terus mengikuti-Nya dari jarak jauh, sehingga ia harus berteriak-teriak dalam menyampaikan permintaannya. Ketika ia disuruh pergi secara halus dengan dikatakan sebagai orang luar yang tidak punya bagian dalam pelayanan Yesus, ia tidak menyingkir sambil mencaci maki Yesus, sebaliknya malah semakin mendekat dan bersimpuh. Dan ketika pukulan puncak yang berupa penghinaan diluncurkan, seketika itu juga ia merendahkan diri seolah-olah anjing sungguhan. Semakin ia ditolak, semakin ia mendekat. Semakin besar penderitaannya, semakin besar juga iman yang dinyatakannya. Sampai akhirnya Tuhan Yesus berkata, “Hai ibu, besar imanmu...” Respons iman yang wanita ini tunjukkan mengingatkan saya pada kipas air mobil yang diperlukan pada saat hujan. Kipas air itu memiliki 3 kecepatan yang disesuaikan dengan tingkat curah hujan: kecepatan paling rendah untuk hujan rintik-rintik, kecepatan sedang untuk hujan sedang, dan kecepatan tinggi untuk hujan deras. Dengan demikian, ketika hujan semakin deras, kita tidak akan menggunakan kipas air kecepatan lambat, apalagi memati- PEREMPUAN KANAAN 163 kannya. Apa yang wanita Kanaan ini tunjukkan memiliki kebenaran yang sama. Semakin tinggi tekanan atas hidupnya, semakin maksimal ia nyalakan kipas imannya, semakin ia mendekat kepada Tuhan dan semakin ia bersandar kepada-Nya. Harus kita akui bahwa dalam realita, kehidupan iman kita bertolak belakang dengan iman wanita Kanaan ini. Baru perlakuan pertama saja, yaitu saat Tuhan tidak menjawab sepatah kata pun atas seruan permintaan kita, sudah cukup untuk memukul rontok iman kita kepada Tuhan. Kita dikuasai oleh pelbagai prasangka negatif tentang Allah, menganggap Ia tidak peduli, Ia tuli, dst. Semangat doa kita menjadi luntur, kita menjauh dari-Nya, dan pudarlah iman kita. Apa yang kita lakukan itu seperti seorang pengendara bodoh yang ketika hujan sangat deras, bukannya memaksimalkan kecepatan kipas airnya, sebaliknya malah mematikannya. Akibatnya pandangannya menjadi semakin kabur dan kecelakaan tak terhindarkan. Itulah yang akan kita alami: hidup yang semakin hancur jika iman kepada Tuhan tidak dimaksimalkan pada saat tekanan kehidupan semakin dahsyat. Kiranya Allah menganugerahi kita iman seperti wanita Kanaan itu. KESADARAN AKAN KETUHANAN YESUS YANG MENDALAM Perhatikanlah kesadaran wanita ini akan ketuhanan Yesus. Semakin besar tekanan yang diterimanya, semakin tinggi ia memandang dan mengenal ketuhanan Yesus. Coba kita renungkan: dari 3 kali wanita ini menyebut Yesus 164 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU sebagai “Tuhan” (ayat 22, 25, 27), pada sebutan kebera- pakah yang berbobot paling tinggi? Ketiga. Hal itu kita ketahui dari posisi tubuh wanita Kanaan ini ketika me- nyebut Yesus “Tuhan”. Pada saat pertama: Yesus berdiri, ia juga berdiri. Walaupun ia memanggil Yesus “Tuhan”, te- tapi ia merasa setara. Saat berikutnya ketika jawaban Yesus makin menyakitkan, sementara Yesus berdiri, Ia menyebut Yesus “Tuhan” dengan berlutut. Ia tahu bahwa ia lebih rendah. Terakhir kali ketika ia menerima ucapan Yesus yang paling keras yang menyebutnya anjing, saya percaya saat itu sementara Yesus berdiri, perempuan itu menyebut Yesus “Tuhan” dalam keadaan tersungkur. Jadi pada kali ketigalah Yesus disebut Tuhan dengan bobot paling tinggi. Saya teringat akan peristiwa yang serupa dengan yang dialami wanita Kanaan ini. Pada saat dalam kebutuhan mendesak mereka datang kepada Yesus dan meminta per- tolongan-Nya, Ia malah menunjukkan sikap tidak peduli. Tetapi justru sikap itulah yang menyebabkan mereka di- mungkinkan mengenal ketuhanan Kristus dengan lebih dalam dan tinggi. Peristiwa itu terjadi ketika Lazarus jatuh sakit (Yoh 11). Saudara-saudara Lazarus: Maria dan Marta mengirim orang untuk memberitahukan keadaan itu ke- pada Yesus, “Tuhan, orang yang Kau kasihi sakit.” Kita diberitahu bahwa Yesus mengasihi Maria, Marta serta Lazarus (Yoh 11:5), karena itu tidak heran kalau kita berpikir bahwa Yesus tanpa menunda-nunda akan segera berlari secepat kilat ke Betania setelah mendengar berita tersebut. Betapa terkejutnya kita ketika Ia malah tidak memberi jawaban. Ia nampak tidak peduli dan dengan PEREMPUAN KANAAN 165 sengaja tinggal dua hari lagi di tempat Ia berada. Tindakan-Nya itu tidak saja telah membiarkan penyakit Lazarus menjadi semakin parah, bahkan telah membiarkannya mati dan membusuk. Setelah empat hari Lazarus dikubur, barulah Ia tiba. Karena itu walaupun Tuhan Yesus mengasihi kita, janganlah berharap bahwa Ia akan berkarya menurut cara dan waktu kita pada saat kita memerlukan-Nya. Sebaliknya bisa saja Ia akan nampak mengabaikan kita sehingga memperberat penderitaan kita. Bagaimanapun Yesus selalu mempunyai agenda dan tujuan-Nya sendiri serta berkarya jauh melampaui apa yang kita pikirkan, duga, dan harapkan. Sebagaimana yang kita saksikan dalam keluarga Lazarus, Yesus jelas memanfaatkan krisis itu untuk mengangkat mereka kepada iman dan pengenalan Allah yang lebih dalam dan penuh yang belum pernah mereka capai sebelumnya. "Akulah kebangkitan dan hidup" merupakan pengenalan puncak dalam kisah ini. Yesus bukan hanya penyembuh pilek, kanker, atau sekarat, melainkan juga Allah atas kematian. Selain dengan cara membiarkan sakit Lazarus bertambah parah dan akhirnya mati, adakah cara lain untuk mengangkat pengenalan dan pengalaman mereka akan Tuhan Yesus sampai ke tingkat itu? Tidak ada. Jika demikian, merupakan suatu keharusan untuk membiarkan mereka menderita sampai ajal menjemput Lazarus. KESADARAN AKAN ANUGERAH YANG BESAR Kedalaman pengenalan akan ketuhanan Yesus yang 166 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU terjadi pada wanita Kanaan ini tak terpisahkan dari pengenalan akan ketidaklayakan dirinya di hadapan Tuhan, sehingga ia sadar bahwa anugerah-Nyalah yang membuat ia layak datang kepada-Nya. Bandingkan sikap wanita ini di saat pertama kali dengan terakhir kali ia memohon kepada Yesus. Pertama kali, wanita ini datang dengan keyakinan diri yang sangat besar. Langsung saja ia berteriak, berbicara apa yang Yesus harus kerjakan baginya, "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita" (ayat 22). Ketika Yesus tidak memedulikannya, ia terus saja berteriak-teriak. Setelah Yesus menyadarkannya bahwa ia tidak termasuk dalam domba Israel, ia makin mengenal kerendahannya. Maka kali ini ia hanya berani berkata, "Tuhan, tolonglah aku." Hal itu dikatakannya dengan berlutut. Sampai pada penolakan Yesus yang paling keras yang menyamakannya dengan anjing, ia dengan segala kerendahan hati berkata menyetujui kata-kata Yesus: "Benar Tuhan, aku bukan anak, melainkan cuma seekor anjing. Aku tidak layak mendapat roti kebaikan-Mu. Aku hanya memohon agar diperbolehkan untuk mendapatkan remah-remah yang jatuh di lantai. Tidak ada sesuatu apa pun yang dapat kuajukan untuk ditukar dengan keharusan-Mu melakukan apa yang aku mau. Aku bergantung sepenuhnya kepada kemurahan-Mu. Kalau sampai Engkau menjawab dengan memberikan kebaikan-Mu sekecil apa pun itu, itu semata-mata sebuah anugerah untukku". Lagi-lagi harus kita akui bahwa dalam realita, kehi- PEREMPUAN KANAAN 167 dupan rohani kita seringkali bertolak belakang dengan perubahan pada sikap wanita Kanaan ini. Kita seringkali datang kepada Tuhan dengan sikap berhak menuntut: • Bukankah Engkau adalah Tuhan, karena itu seharusnyalah Engkau menolongku? • Bukankah tugas-Mu mengasihi manusia? • Bukankah Engkau sendiri berkata bahwa Engkau baik dan peduli kepada manusia? • Bukankah Engkau sendiri yang berjanji 'mintalah maka akan diberi, carilah maka akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan'? • Bukankah Engkau sendiri tanpa diminta berikrar 'mintalah apa saja dalam nama Yesus maka Engkau akan melakukannya'? Ketika Tuhan memberikan jawaban-jawaban yang menyakitkan, kita bukannya makin mengenal ketinggian-Nya dan melihat kerendahan kita, malah sebaliknyalah yang terjadi: kita makin meninggikan diri dan merendahkan Tuhan. Pada awalnya kita datang dengan tersungkur di hadapan Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya. Ketika Ia diam saja, kita mulai berlutut, dan ketika Ia menolak permintaan kita, kita pun berdiri dengan berkacak pinggang, menyuruh-Nya berlutut, dan mulailah kita memarahi dan mengacungkan tinju ke wajah-Nya. Sebagaimana wanita Kanaan itu, biarlah saat Kristus memberi kita krisis melalui penolakan-Nya yang makin lama makin meningkat derajat kekerasannya, bersama dengan itu Ia berikan juga kepada kita pengenalan yang 168 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU makin penuh akan ketuhanan-Nya, kerendahan hati, pe- nyerahan total, kesadaran atas ketidakberhakan kita atas pemberian apa pun dari-Nya. Kita disadarkan bahwa ke- baikan-Nya atas kita orang-orang berdosa adalah anu- gerah semata-mata, sebagaimana yang dinyatakan dengan indah oleh syair berikut: Kalau Allah dalam Kristus menghampiri dan memberimu kebaikan-Nya Itu bukan karena engkau baik tetapi karena Ia bermurah hati Itu bukan karena engkau berhak, tetapi karena Ia rela Itu bukan karena engkau pantas tetapi karena Ia berbelas- kasihan Itu bukan karena Ia berhutang kepadamu tetapi karena Ia mengasihimu. Semuanya cuma anugerah-Nya semata. IMAN, ANUGERAH DAN KETUHANAN KRISTUS Pada akhirnya Yesus merespons, "Hai ibu, besar iman- mu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh (ayat 28). Sepintas lalu nampak seolah-olah karena iman besar wanita itulah yang memaksa Yesus yang semula menolak memberi per- tolongan akhirnya menyerah kepada permintaan perem- puan itu, sehingga seringkali orang menekankan asal iman kita besar, maka kita bisa menuntut Allah melakukan apa yang kita minta. Pemikiran seperti itu disebabkan oleh terlupakannya sisi anugerah: "Sesungguhnya bukan karena aku memiliki PEREMPUAN KANAAN 169 iman penggeser gunung sehingga aku berhak menuntut-Nya untuk mendengar doaku dan melakukan kemauanku, tetapi itu semata-mata anugerah-Nya". Ketika kita beriman kepada Kristus, memang di satu sisi kita percaya penuh bahwa hanya Dia yang dapat memberikan apa yang kita perlukan: selain Dia tidak ada tempat lain untuk kita berpaling. Tetapi di sisi lain, hidup dalam anugerah-Nya membuat kita sadar bahwa betapa tidak layaknya kita menuntut apa-apa dari-Nya, betapa semua bergantung pada kemurahan-Nya. Di dalam ketegangan antara hidup dalam iman dan anugerah itu, kerinduan terdalam kita bukan lagi untuk disembuhkan, dilepaskan dari masalah, dipenuhinya apa yang kita minta, melainkan hidup di bawah ketuhanan-Nya. Artinya hidup taat kepada apa yang Ia inginkan. Karena ketika ketuhanan Yesus disambut dengan kerendah-hatian kita, akan timbul penyerahan diri yang mendalam kepada kedaulatan-Nya. Sebagai Tuhan, Ia-lah yang berhak memutuskan apa yang akan dilakukan-Nya atas kita. PENUTUP Respons wanita Kanaan ini kepada Yesus telah menyingkapkan apa yang sesungguhnya menjadi tujuan Yesus bersikap dingin dan tak peduli kepada wanita ini. Sikap itu bukanlah karena sentimen etnis, melainkan berkaitan dengan hak istimewa bagi bangsa Israel yang mendapat urutan pertama dalam menerima keselamatan. Kedatangan 170 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU dan pelayanan Yesus haruslah diperuntukkan bagi bangsa Israel terlebih dahulu, barulah kemudian bagi seluruh dunia. Hal ini pada akhir Injil Matius dinyatakan secara eksplisit dalam Amanat Agung (Matius 28:19). Bukan itu saja, sikap dingin Yesus terhadap wanita ini juga bertujuan membentuk dan menyatakan iman yang luar biasa dari wanita kafir tersebut, sehingga terlihat jelas kontras yang sangat tajam dengan ketidakpercayaan orang Israel kepada Yesus. Jika Israel yang diberi hak istimewa menjadi pendengar pertama pengajaran Yesus, serta melihat mujizat yang menyertainya sebagai pengesahan sudah tibanya kerajaan sorga (4:12-17) malah tidak percaya (11:20-24) bahkan orang-orang kampung halaman-Nya sendiri di Nazaret juga menolak-Nya (13:53-58), sebaliknya wanita kafir ini menyebut Yesus "Tuhan" dan percaya kepada-Nya, bahkan sebelum melihat Yesus berbuat keajaiban apa pun baginya. Bagi kita hari ini, sikap dingin dan keras Tuhan Yesus terhadap perempuan Kanaan itu mengundang kita sebagai sesama orang kafir yang mendapat anugerah-Nya, untuk memiliki sikap yang sama dengannya. Saat kesusahan kita ditanggapi Tuhan dengan jalan yang panjang, terjal dan berliku-liku; waktu yang lama dan menyakitkan kita seharusnya malah membuat kita menjadi semakin beriman, semakin merendah, semakin bersimpuh, semakin merasakan kebutuhan akan anugerah-Nya, dan semakin besar pula Kristus memenuhi hati kita. Kiranya karena kemurahan-Nya Ia mengaruniakan semua hal-hal ini kepada kita. PEREMPUAN KANAAN 171 II Ketika wanita Kanaan itu datang membawa masalah-nya kepada Yesus, kita melihat ada dua minat dan perhatian yang berbeda antara Yesus dan wanita Kanaan itu. Bagi perempuan Kanaan itu, minat satu-satunya mencari Yesus bukanlah agar ia makin mengenal Yesus, makin beriman kepada-Nya dan makin mengenal siapa dirinya di hadapan Yesus. Apa yang menjadi perhatian dan minat terbesarnya adalah agar dibebaskan dari masalah dan penderitaan mereka dengan dimerdekakannya putrinya dari setan yang merasuknya. Apa minat dan perhatian utama Yesus? MINAT UTAMA YESUS Minat utama Yesus atas perempuan Kanaan ini ternyata bukanlah pada permohonannya tetapi pada pemohon itu sendiri. Yang Ia proses pertama-tama bukanlah apakah Ia harus mengabulkan atau menolak permintaan wanita ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, "Sudah berapa lama anakmu kerasukan?", "Untuk apa anakmu disembuhkan?", "Pengobatan apa saja yang sudah pernah diberikan?", "Sebaiknya kapan anakmu dipulihkan?" dan seterusnya, tetapi pemohon itu sendirilah yang diproses-Nya. Kalau kita perhatikan, ayat-ayat mengenai masalah yang dihadapi perempuan Kanaan itu hanya terdiri dari 2 ayat: ayat 22 dan 28, sedangkan ayat yang membicarakan perlakuan Tuhan Yesus terhadap perempuan Kanaan itu berjumlah 5 ayat: ayat 23-27. 172 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Jadi, apa yang pertama-tama Yesus lakukan terhadap perempuan Kanaan itu adalah memproses dulu diri perempuan itu, baru kemudian permintaannya. Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa ketika kita sedang berada dalam keadaan krisis keuangan, kesehatan, keluarga, dan lain-lain datang kepada Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya, seringkali Tuhan tidak membawa kita kepada penyelesaian krisis tersebut tetapi malah kepada krisis yang lebih besar dan penderitaan yang makin berlarut-larut dan beban yang berlipat-lipat. Akibatnya kita merasa Ia tidak peduli, bisu, dan tuli. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Dia sedang melakukan pekerjaannya yang penting, bukan saja atas permintaan kita tetapi terutama atas diri kita. Itu sebabnya mengapa sebagai Allah yang mahakuasa yang sebenarnya sangat mudah bagi-Nya untuk menjawab semua doa kita pada kali pertama kita memohon kepada-Nya, adakalanya kita melihat Ia malah semakin memperumit permasalahan. Mari kita lihat hidup Yusuf. Allah sebenarnya dapat menggenapi mimpi Yusuf dengan mudah. Namun Ia justru membiarkan Yusuf menempuh jalan panjang dan terjal lewat pengkhianatan saudara-saudaranya, perbudakan, dan pemenjaraan. Mengapa? Karena Ia mau membentuk Yusuf menjadi orang yang diinginkan-Nya. Pikirkanlah apa yang Allah bentuk dalam hidup Yusuf, baik dalam pemahaman teologis, ketrampilan maupun mentalitasnya. Hal-hal tersebut tidak akan Yusuf miliki jika ia tetap tinggal di rumah bersama ayah yang memanjakannya dan tidak membiasa- PEREMPUAN KANAAN 173 kannya bekerja. Jikalau Allah langsung menjadikan Yusuf sebagai pemegang kekuasaan Mesir yang begitu besar tanpa membentuknya terlebih dahulu, maka hal itu bukan saja akan merusak dirinya tetapi juga akan menjadi malapetaka bagi orang lain. Allah dapat saja mengabulkan permohonan Hana akan seorang anak pada saat permohonan itu pertama kali dipanjatkan kepada-Nya. Tetapi ternyata Ia membiarkan penderitaan dan airmata yang lebih banyak pada Hana. Mengapa? Karena ada hal-hal lain yang Ia ingin capai lebih dulu dalam hidup Hana. Yesus juga dapat mengabulkan permohonan wanita Kanaan ini pada saat pertama kali permohonan itu diajukan kepada-Nya. Namun hal itu akan menghasilkan bukan saja iman yang dangkal tetapi juga pemahaman yang keliru akan Allah dan diri sendiri. Ia memperlakukan wanita itu dengan tekanan demi tekanan yang semakin berat, karena hanya dengan demikian akan membentuk dan menyingkapkan iman yang kokoh dalam diri wanita ini serta hidup yang mengandalkan anugerah dan meninggikan Tuhan. KEMUNGKINAN LAINNYA Proses pembentukan sering juga dilakukan Allah dengan cara tidak menyelesaikan masalah atau kesusahan yang kita minta agar Ia ambil atau selesaikan bagi kita. Rasul Paulus merupakan contoh tentang kebenaran ini. Di dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus 174 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU (12:7-10), ia menuliskan tentang pergumulannya dengan 'duri di dalam dagingnya' yang tidak kita ketahui dengan pasti apa maksudnya. Para penafsir memiliki dugaan yang berbeda-beda: epilepsi, penyakit mata, depresi kronis, malaria, godaan seksual. Yang jelas kelemahannya itu membuatnya begitu menderita dan sangat mengganggu pelayanannya. Ia meminta Tuhan untuk mengambil duri tersebut darinya. Tiga kali ia meminta, tiga kali juga permintaannya ditolak Tuhan. Alasannya adalah: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Membandingkan apa yang Allah lakukan atas Paulus dengan apa yang dilakukan-Nya atas perempuan Kanaan, kita mendapatkan kebenaran berikut: pada perempuan Kanaan, Tuhan memproses dulu diri wanita ini baru kemudian menyelesaikan penderitaannya. Sedangkan pada Paulus Tuhan memproses diri Paulus tanpa menyelesaikan penderitaannya, karena penderitaan itulah sarana yang Tuhan pakai dalam proses pembentukan itu. Kelemahan dan penderitaan yang Paulus minta agar Allah ambil justru dipertahankan Allah untuk tetap berada di dalam hidupnya demi menghasilkan kebaikan yang lebih tinggi daripada yang bisa dihasilkan melalui menyelesaikan masalah itu. Dengan membiarkan duri itu terus berada dalam dagingnya, Allah menghancurkan sikap sombong rohani dan membentuk hidup yang bergantung terus menerus kepada anugerah-Nya. Coba kita renungkan, seandainya setelah wanita Kanaan itu didapati beriman besar, Tuhan Yesus berkata: PEREMPUAN KANAAN 175 "Hai ibu, besar imanmu, pulanglah dan anakmu tetap akan menderita", sikap apa yang akan wanita itu tunjukkan kepada Yesus? Saya menduga akan terjadi perubahan sikap terhadap apa yang semula ia minta dari Yesus. Ia akan bersikap seperti Paulus yang ketika Tuhan tidak mengabulkan permohonannya —karena apa yang ia mohonkan itu ternyata dipergunakan Allah untuk membentuk hidupnya agar terus-menerus bergantung kepada Tuhan— tidak menggerutu, sebaliknya memeluk dengan 'senang dan rela' penderitaannya dan mengatakan, "Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (2 Korintus 12:10). MINAT UTAMA KITA Betapa berbedanya minat kita dengan minat Allah. Saat kita dilanda masalah dan tekanan hidup, dapat dipastikan minat utama kita menghampiri Tuhan adalah agar Ia menyelesaikannya bagi kita, sehingga hidup kita kembali nyaman, lancar, bebas dari masalah. Mentalitas seperti inilah yang membuat kita tidak pernah bertumbuh menjadi semakin indah, sebaliknya menjadi semakin buruk di hadapan Tuhan. Kita mencari Tuhan hanya saat kita bermasalah. Mudah diramalkan wanita Kanaan ini tidak akan mencari Yesus kalau ia tidak memiliki masalah anaknya kerasukan setan. Hubungan kita dengan Tuhan dibangun dari 176 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU fungsi-Nya sebagai mesin penjawab kebutuhan kita. Ia kita dekati secara impersonal hanya sebagai alat penyelesaian masalah belaka. Jika Tuhan Yesus bersedia diperlakukan sesuai dengan minat perempuan ini, maka catatan Injil Matius tentang peristiwa ini hanyalah terdiri dari 3 ayat yaitu: ayat 21, 22, dan 28. Perempuan itu datang karena bermasalah. Setelah masalah diselesaikan, selesai pula hubungannya dengan Kristus. Selain itu, karena kita terus saja mengkonsentrasikan pergumulan dan perhatian kita pada mendapatkan pengabulan atas permohonan kita, maka akibatnya kita akan mengukur kepedulian bahkan manfaat Tuhan dari jawaban-Nya atas doa permohonan kita. Bukan itu saja, saat minat terutama Tuhan adalah memproses diri kita, maka fokus perhatian pada penyelesaian masalah akan membuat kita buta akan apa yang Ia sedang kerjakan atas diri kita sebagai pemohon. Tangan-Nya yang sebenarnya sedang bekerja luput dari perhatian kita, maka tidak heran bagi kita Ia nampak tidak berbuat apa-apa. Itu sebabnya juga kita tidak melihat bahwa sebenarnya Tuhan Yesus sudah mulai berkarya menjawab doa perempuan Kanaan ini sejak Ia diam tidak menjawab sepatah katapun (ayat 23). Akibat yang paling menakutkan adalah kita tidak peduli menjadi orang macam apa di hadapan Tuhan, yang penting bagi kita adalah selesainya penderitaan kita. Kita mencari penyelesaian bagi kemiskinan kita, tanpa peduli keserakahan dalam hati kita. Kita meminta Tuhan menyelesaikan sakit-penyakit kita tanpa peduli bagaimana kesehatan kita hambur-hamburkan untuk hawa nafsu PEREMPUAN KANAAN 177 kita. Kita minta Tuhan mengangkat kita dari kegagalan tanpa peduli akan rasa iri dan dengki dalam jiwa kita. Mentalitas seperti ini telah melahirkan pelayanan-pelayanan yang menekankan kesembuhan jasmani dan kemakmuran, tanpa memedulikan masalah-masalah abadi yang sebenarnya sangat merisaukan Yesus seperti kesombongan, keserakahan, egoisme, kemunafikan, kebencian, dan materialisme. PENUTUP Sesungguhnya kenyamanan, kelancaran dan kesenangan hidup bukanlah minat utama Allah bagi kita. Ia lebih tertarik membentuk kita menjadi orang yang berkenan kepada-Nya. Dalam hal ini harus diakui bahwa kebanyakan manusia tidak memasuki proses pembentukan tersebut ketika hidupnya dipenuhi kenyamanan, kesenangan, ketenangan, kelancaran dan doa-doa yang dikabulkan dengan cepat. Karena itu, seringkali kepedihan dan kesulitan yang bertambah memang diperlukan untuk membawa kita kepada kedewasaan rohani. Pada saat-saat seperti itulah iman makin dinyatakan, anugerah makin dialami dan realitas Ketuhanan Yesus makin besar dalam kehidupan kita seperti yang dinyatakan puisi ini: Jiwa-jiwa kudus adalah kertas Penderitaan dan penganiayaan adalah 'pena'nya Airmata sebagai tinta Roh Kudus penulisnya 178 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU Akan diterbitkan pada hari kemuliaan di sorga. Kita hanya menyerah untuk siap ditulisi sampai kisah itu selesai. Namun kebenaran ini terasa menyesakkan bagi kita para pecinta kenyamanan dan keamanan, pecandu ke- lancaran dan kemudahan. Oleh karenanya marilah kita meminta ampun dan memohon Tuhan berbelas kasihan kepada kita. DOA Ampuni kami Tuhan karena hanya membicarakan kelemahan-kelemahan serta kesusahan-kesusahan kami. Dan masih belum mengerti apa artinya membiarkan kehendak dan kuasa-Mu terjadi. Serta tidak membolehkan diri kami untuk dituang ke dalam cetakan “Rupa Kristus” itu. Padahal kami sudah melewati beberapa galeri-Mu dan mengagumi semua lukisan dan pahatan-Mu. Tetapi masih belum juga kami menyerahkan diri untuk menerima torehan-torehan kuas atau pisau-Mu. Oleh karena itu biarlah Engkau sendiri yang mengerjakan di dalam kami baik kemauan maupun pekerjaan-Mu menurut kerelaan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. dzrw1y9ra1cuzytjvk8y5nc9b9ivpsl Dukaku Tempat Kudus-Mu/Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri 0 28123 118718 2026-09-04T11:52:11Z Bennylin 425 Bab 8 118718 wikitext text/x-wiki {{header2 |author=Yohan Candawasa |year=2007 |section={{SUBPAGENAME}} |previous=[[../Perempuan Kanaan|Perempuan Kanaan]] |next=[[../Tentang|Tentang]] }} LUKAS 22: 40-44 ⁴⁰ Setelah tiba di tempat itu Ia berkata kepada mereka: "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan." ⁴¹ Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira se- pelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: ⁴² "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak- Mulah yang terjadi." ⁴³ Maka seorang malaikat dari langit me- nampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada- Nya. ⁴⁴ Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang ber- tetesan ke tanah. Bab 8 Doa, Sebuah Aksi Memberi Diri Mengacu kepada Roma 11:36, "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" maka hidup manusia adalah sebuah siklus melingkar dari Allah, oleh Allah, dan bagi Allah. Arah lingkaran ini, sejak manusia jatuh dalam dosa berubah menjadi dari aku, oleh aku dan untuk aku. Keterbalikan arah itu telah menghasilkan "Me Religion" atau "segalanya ada bagiku". Manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai fokus atau tujuan final dari segala sesuatu. Persis seperti saat kita bercermin, minat kita sama sekali bukanlah kepada cermin itu karena yang ingin kita lihat adalah diri kita sendiri, demikian juga persepsi dan tindakan kita terhadap segala sesuatu: Allah, manusia, dan alam selalu kita reduksi sesuai dengan ukuran minat, kesenangan, kepentingan, kenyamanan, kepuasan, keuntungan, kehormatan, dan kebahagiaan kita sendiri. Dengan kata lain, segala sesuatu dalam hidup ini kita 182 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU pandang hanya sebagai sarana/alat untuk melayani kepentingan kita. Kehidupan yang serba demi diri sendiri ini begitu alamiahnya mewarnai kehidupan kita. Suatu hari saya menerima telpon dari seorang teman jauh yang ingin mampir dan bermalam di rumah saya. Setelah menyatakan kesediaan untuk menerimanya, saya dan istri mulai sibuk merapikan rumah. Saat itu sebuah kesadaran muncul di benak saya: ternyata kesibukan kami merapikan rumah sama sekali bukanlah demi kepentingan agar tamu kami menikmati ruangan yang rapi dan nyaman. Minat utama kami adalah supaya dia mempunyai kesan yang baik tentang kami dan rumah kami. Pada kesempatan lain, saat saya mengendarai mobil di tengah-tengah kemacetan lalu lintas, seorang penjaja koran menawarkan dagangannya. Mata saya menangkap berita utama koran Warta Kota, yaitu tentang pembajakan karya seni. Di sana tertulis dengan huruf-huruf yang sangat besar bahwa Inul mengatakan agar para pembajak dihukum seberat-beratnya. Gitaris kelompok band Raja bahkan menyarankan hukuman "potong tangan" kepada para pembajak. Saya bertanya-tanya di dalam hati, apakah Inul dan gitaris tersebut suka membeli dan menonton DVD bajakan yang banyak beredar di Indonesia? Jika ya, apakah mereka menghukum seberat-beratnya atau memotong tangan mereka sendiri? Jika ternyata mereka ikut membeli dan menonton DVD bajakan, tetapi tidak menjatuhi hukuman yang berat atau memotong tangan mereka sendiri, maka sebenarnya minat mereka bukanlah DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 183 pada perkara bajak membajak melainkan hanya pada karya mereka sendiri yang dibajak. Saya jadi teringat kisah tentang Nasrudin ketika ia menjadi hakim: Suatu hari seorang lelaki datang kepadanya. "Sapi Anda menanduk perut sapiku sampai mati," katanya. "Ya, pemiliknya jangan ikut campur. Ini urusan binatang dengan binatang," jawab Nasrudin. "Eh maksudku, sapikulah yang menanduk perut sapi Anda." "Bila demikian persoalannya," kata Nasrudin, "Coba ambilkan buku hukum di rak itu. Aku lihat dulu, bagaimana keputusan yang tepat mengenai masalah ini." DOA YANG BERPUSAT KEPADA DIRI SENDIRI Kehidupan yang berpusat pada diri sendiri berdampak sangat besar terhadap kehidupan doa kita. Yakobus menuliskan: "Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak dapat memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati. Kamu sangat mendambakan sesuatu, tetapi tidak dapat mencapai kemauanmu, lalu kamu bertengkar dan berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa yang kau inginkan karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu sendiri" (Yak 4:2-3). Dengan ayat di atas Yakobus memaparkan kepada kita bahwa ternyata doa pun tidak luput dari pengaruh hidup kita yang serba demi diri sendiri itu. Pertimbangan 184 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU kita untuk berdoa atau tidak berdoa adalah, "Apa baiknya untuk aku? Apa untungnya bagiku? Apa yang akan ku-peroleh dari itu?" Semua penuh dengan aku, aku dan aku. Maka ketika kita berdoa, minat utama kita adalah kepada keinginan kita sendiri, baik keinginan untuk mendapatkan sesuatu: anak, harta, kesehatan, terselesaikannya masalah yang kita hadapi. Atau keinginan untuk tidak mendapat-kan sesuatu: tidak ingin mengalami kecelakaan, kesialan, pasangan yang buruk, cuaca yang buruk, gempa dst. Kita datang kepada Allah dalam doa kita yang senantiasa kelaparan akan apa yang kita ingin agar Ia sediakan, kerjakan, atau lakukan bagi kita. Minat yang seperti itu akan dengan cepat membunuh kehidupan doa kita. Kita akan berhenti berdoa jika se-telah lama berdoa tapi ternyata tetap saja yang kita ingin-kan tak kunjung dikabulkan. Bagi kita, doa berubah men-jadi suatu kesia-siaan. Beberapa kali saya mendengar orang berkata, "Saya kira saya sudah cukup kecewa, sampai makin lama saya makin tidak ingin lagi meminta dalam doa agar tidak merasa kecewa dan kecewa lagi." Atau kita akan berhenti berdoa kalau apa yang kita inginkan sudah dikabulkan. Kita merasa tidak perlu lagi untuk melanjut-kan berdoa, paling tidak sampai ada kebutuhan berikut-nya. Dan jika kelak yang kita butuhkan dapat kita peroleh tanpa melalui doa tetapi cukup dengan usaha kita sendiri saja, maka kita pun tidak merasa perlu untuk berdoa. Bukan hanya itu saja, doa yang semata-mata berfokus untuk mendapatkan keinginan dan penyelesaian semua masalah kita dengan sendirinya membuat kita datang ke- DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 185 pada Allah bukan untuk mencari persekutuan dengan-Nya. Calvin Miller dalam bukunya Walking With Saints menceritakan kenyataan di atas melalui pengalaman hidupnya sendiri: Ketika putranya yang bernama Timothy dilahir-kan, anak itu berkali-kali mendapat serangan radang paru-paru. Tentu saja penderitaan anak itu adalah penderitaan ayah dan ibunya juga. Miller dan istrinya selalu berdoa setiap malam agar anaknya masih tetap hidup keesokan harinya. Sekarang anak itu sudah sehat. Hari-hari yang sudah berlalu itu mengajarkan kepada keluarga Miller bahwa krisis itu telah membutakan peng-lihatan rohaninya, sehingga tidak bisa melihat Allah. Ia mengatakan, "Betapa sering iman percaya saya kelihatannya lebih kecil daripada krisis yang terjadi. Doa-doa yang dinaikkan begitu tertuju pada kebutuhan-kebutuhan kami sendiri sehingga kami berbicara dengan Allah tanpa melihat-Nya. Ketika saya berdoa, "Allah selamatkanlah bayi kami", saya mengakui bahwa pikiran saya lebih tertuju pada bayi kami daripada kepada Kristus. Allah memang menjawab doa-doa kami, tetapi Dia tidak memperlihatkan diri-Nya kepa-da kami. Dia tidak bisa. Karena mata kami melihat ke bawah sedangkan Dia berdiri di atas kami". Akhirnya, doa yang mengutamakan keinginan kita sendiri itu akan membuat kita mengevaluasi bukan hanya doa saja dari segi apa manfaatnya bagi kita, tetapi Allah juga akan kita evaluasi bukan dari perspektif siapa Dia 186 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU adanya melainkan dari apa yang dilakukan-Nya bagi kita. Kita akan bertindak sebagai seorang tuan yang mengevaluasi kinerja hamba-hambanya. Saya pernah membaca kesaksian seorang yang menyaksikan hebatnya Tuhan Yesus itu karena apa yang telah Ia lakukan dalam hidup orang itu: mengabulkan doanya agar disembuhkan dari penyakit jantung, ginjal, dan luka-luka batinnya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah Yesus itu 'tidak hebat' jikalau penyakit jantung, ginjal, dan luka batin orang itu tidak disembuhkan-Nya? DOA YANG BERPUSAT KEPADA ALLAH Apa yang Yesus lakukan dengan doa-Nya di taman Getsemani adalah sebuah pembalikan radikal daripada kehidupan doa yang kita bicarakan di atas. Oleh karena itu doa Yesus menjadi petunjuk yang sangat penting bagi kehidupan doa kita. Sebagaimana yang telah kita ketahui, doa Yesus di taman Getsemani tidaklah dilakukan dalam keadaan biasa, tetapi semalam sebelum Ia naik ke atas kayu salib. Seseorang yang sedang diperhadapkan antara hidup atau mati, pasti tidak akan berdoa untuk hal-hal yang sepele dan non esensial. Yesus menunjukkan kepada kita, pada saat-saat seperti itu apa yang benar-benar penting untuk kita bawa ke hadapan Bapa sorgawi. Berikut ini adalah hal-hal paling esensial yang kita dapatkan dalam doa Yesus di taman Getsemani, yang harus menjadi hal-hal paling esensial juga bagi doa-doa kita. DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 187 HIDUP BERSEKUTU DENGAN ALLAH. Bagi Yesus, berdoa mendahului memikul salib, keintiman dengan Allah mendahului hidup bagi Allah, bersama Allah mendahului melakukan kehendak Allah, membicarakan cawan pahit mendahului meminum cawan pahit. Jikalau doa adalah persekutuan, keintiman, kebersamaan, dan pembicaraan dengan Allah itu mendahului hal-hal lainnya, berarti doa bukanlah merupakan sarana mendapat berkat melainkan berkat itu sendiri. Mengapa? Karena doa yang berpusat kepada hubungan adalah doa yang bukan menginginkan jawaban, melainkan pribadi Allah itu sendiri. Kita ingin hidup bersama-Nya secara lebih dekat dan lebih dalam lagi. Beberapa tahun lalu, SCTV menayangkan acara dengan sebutan “Mimpi Kali Yee...” Acara ini diikuti oleh 2 peserta yang memenangkan undian. Hadiah yang mereka peroleh adalah kesempatan untuk bertemu dengan bintang sinetron idaman. Di dalam pertemuan itu, yang paling diinginkan para pesertanya bukanlah mendapatkan uang, emas, atau barang berharga lainnya melainkan pertemuan dengan sang bintang itu sendiri. Mereka boleh berkenalan, bertatap muka, bercakap-cakap, duduk berdampingan, menyatakan isi hati mereka. Saya percaya, pertemuan itu juga yang akan mereka bawa pulang untuk dikenang, dan diceritakan dengan bangga kepada para kerabat dan rekan-rekan mereka. Walaupun saya hanya pernah satu kali menonton acara TV tersebut, namun hal itu langsung menyadarkan 188 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU saya bahwa doa terutama bukanlah sarana untuk mendapatkan keinginan-keinginan kita yang remeh, tetapi adalah berkat terbesar itu sendiri: kita boleh bertemu dengan Dia yang mahabesar, mahabaik, mahaindah untuk bercakap-cakap dan menyatakan isi hati kita kepada-Nya. Jika dalam realita hidup sehari-hari saja seseorang yang bertemu dengan bintang pujaannya seringkali menjadi gemetar, lupa kata-kata dan keinginannya sendiri karena tenggelam dalam keterpesonaan dan sukacita yang tak terkatakan, seharusnya terlebih lagi perjumpaan kita dengan Kristus. Tidak perlu diragukan lagi bahwa persekutuan kita dengan Kristus di dalam doa-doa kita akan menghasilkan dalam diri kita perasaan sukacita yang besar. Dengan demikian, perasaan bosan, kesal, dan kecewa dalam kehidupan doa yang memperlakukan doa semata-mata sebagai alat untuk mendapat jawaban atas kesulitan-kesulitan hidup, atau mendapatkan keinginan-keinginan kita sendiri, dapat berganti dengan perasaan segar dan kegemaran berdoa ketika doa kita berubah menjadi sebuah keintiman persekutuan dengan-Nya. Teresa dari Avila menjelaskan bahwa bersekutu dengan Kristus dan merenungkan-Nya persis seperti seorang wanita yang akan menikah, di mana dia sudah tahu siapa, orang macam apa dan kualitas apa yang dimiliki calon suaminya itu. Maka ketika wanita itu merenungkan kualitas-kualitas yang ada pada pasangannya, yang membuatnya begitu tertarik kepadanya, tentulah hasilnya adalah keinginannya yang bertambah besar untuk makin bersatu dengannya. DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 189 DOA MENJADI MATI KARENA TERBIASA. Melanjutkan pengamatan saya atas acara "Mimpi Kali Yee...", saya berpikir bagaimana kalau peserta itu bukan hanya diberi kesempatan bertemu, tetapi juga dijadikan suami atau istri sang bintang pujaannya itu. Maka lambat laun perjumpaan mereka tidak lagi istimewa. Rasa luar biasa akan berubah menjadi biasa, bahkan mungkin merosot menjadi kejengkelan seiring dengan hilangnya rasa kekaguman karena terungkapnya sisi gelap pasangannya. Dan sebagaimana yang umum terjadi pada pasangan suami-istri, khususnya para bintang film, keinginan hidup bersama berubah drastis menjadi keinginan berpisah. Bisakah hal ini terjadi dalam kedekatan kita dengan Allah, Kristus dan Roh Kudus? Apakah kedekatan kita dengan Allah akan mengantar kita melihat sisi gelap-Nya, yang berbeda dengan sisi publik? Jelas tidak! karena Dia adalah Allah yang mahasempurna. Namun demikian persekutuan kita dengan Allah di dalam Kristus walau di satu sisi adalah berkat besar, tetapi di sisi lainnya terasa sangat menakutkan karena membawa ancaman-ancaman yang membuat kita ingin lari dari-Nya. Ancaman-ancaman itu antara lain seperti yang dialami oleh Yesaya: kedekatan dengan Allah membuat kita tidak nyaman penuh ketakutan karena makin melihat kekotoran dosa dan kelemahan diri kita sendiri. Atau sebagaimana yang dialami oleh Ayub, kita takut keintiman dengan Allah akan membuat setan begitu bernafsu untuk menghancurkan kita demi memutuskan hubungan 190 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU kita dengan Tuhan. Atau sebagaimana yang dialami perempuan yang tertangkap basah berzinah: pertemuan dengan Yesus akan meminta kita berhenti dari dosa-dosa kita. Berdekatan dengan Allah identik dengan tidak boleh lagi ini dan itu. Atau sebagaimana yang terjadi pada Tuhan Yesus di Getsemani: di dalam doa persekutuan dengan Allah, kita akan diminta untuk melepaskan keinginan kita dan diganti dengan keinginan-Nya. Walaupun pada setiap kasus ketakutan di atas selalu berakhir dengan baik, Yesaya mengalami apa yang Philip Yancey katakan dalam bukunya Reaching For The Invisible God: kasih karunia, seperti air, mengalir ke tempat paling rendah. Dalam kenajisannya Yesaya menerima kucuran deras anugerah Allah. Ayub dipulihkan dua kali lipat sambil membuat setan gigit jari. Perempuan yang berjinah itu terluput dari hukuman mati dan mendapatkan hidup barunya. Sementara Yesus keintiman dengan Bapa-Nya memungkinkan-Nya kuat untuk menyelesaikan karya penebusan-Nya dengan gemilang. Namun seringkali kita tetap saja takut kepada Allah dan tidak dapat percaya kepada kebaikan-Nya. Akibatnya selalu saja kita dikuasai sikap mendua: kita ingin dekat sekaligus menjauh dari Allah. Hal itu menjadikan kita di satu sisi sadar betapa dalamnya kita memusuhi Allah, di sisi lain hal itu mendorong kita semakin bergantung hanya kepada anugerah-Nya untuk menarik kita berdekat kepada-Nya. DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 191 HIDUP BAGI ALLAH Doa Yesus di Getsemani memberitahukan kepada kita unsur esensial kedua yaitu doa bukan hanya bersekutu dengan Allah tetapi juga hidup bagi Allah. Begitu mudahnya kita menjumpai unsur esensial ini di dalam kalimat Yesus: "tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendakMu-lah yang terjadi." Ada beberapa hal yang kita catat pada unsur esensial kedua ini. KITA SEBAGAI PENJAWAB DOA ITU Memang benar bahwa kita berdoa untuk memberitahu Allah akan keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan kita. Yesus memulai doanya dengan mengajukan dan meminta apa yang diinginkan-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku". Tetapi doa Yesus tidak berhenti di situ. Melalui doa jugalah Allah memberitahu atau menegaskan kehendak-Nya kepada kita. Oleh karena itu di dalam doa harus terjadi juga pembalikan-pembalikan peran. Pertama, bukan kita yang selalu menunggu Allah menjawab, tetapi sebaliknya Allah menunggu kita menjawab-Nya. Doa bukan semata-mata usaha kita untuk didengarkan Allah, tetapi juga usaha agar kita menjadi pendengar Tuhan yang baik. Kedua, bukan Allah yang memberikan apa yang kita minta, sebaliknya kitalah yang memberi kepada-Nya apa yang Ia minta. Yesus memulai doanya dengan mengajukan permintaan-Nya namun ketika Bapa-Nya mengatakan 192 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU tidak, maka Dia pun berbalik memberi diri kepada-Nya. Itu berarti ketika Tuhan berkata tidak, sama sekali bukan karena Tuhan tidak menyertai, tidak mencintai, atau menolak kita. Sesungguhnya yang sering terjadi adalah diri kita sendirilah yang menolak kehendak-Nya dan tak menjawab permintaan-Nya. Ketiga, terbalik dengan "kehendakku yang terjadilah" di mana Allah sebagai pelaksana keinginan kita, maka kalimat "melainkan kehendak-Mu yang terjadi" berarti kitalah pelaksana keinginan Allah itu. DOA YANG MENDAHULUKAN KEDAULATAN ALLAH DI ATAS PEMELIHARAAN ALLAH Selanjutnya, doa Tuhan Yesus di taman Getsemani memberitahukan kepada kita bahwa kedaulatan Allah lebih utama daripada pemeliharaan Allah. Yesus sebagai seorang manusia seperti kita, ketika Ia menderita dan terancam bahaya juga mencari dan meminta pemeliharaan, perlindungan dari Allah Bapa-Nya. Tetapi Ia lebih mendahulukan kedaulatan, keputusan Allah, dan siap melakukan apa pun yang Bapa-Nya kehendaki. Dalam Yohanes 12:27 dicatat bahwa pada saat-saat terakhir menghadapi salib, Yesus merasa ngeri ditinggalkan manusia dan Allah. Sendirian tergantung di salib-Nya. Kematian yang dihadapinya sama sekali tidak indah, Ia tidak akan dengan penuh senyum naik ke atas salib-Nya. Saat itu Ia bertanya: "Apakah yang harus Kukatakan? Bapa selamatkanlah aku dari saat ini?" Tetapi segera Ia menjawab dari ketaatan-Nya kepada Bapa, "Tidak, sebab DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 193 untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini." Beberapa tahun sebelumnya, Ia juga pernah 3 kali menundukkan keinginan-keinginan-Nya sendiri demi ketaatan kepada kehendak Bapa-Nya. Setelah lama berpuasa, tentu Ia merasa sangat lapar dan ingin makan. Saat itu Dia taklukkan rasa lapar-Nya di bawah ketaatan kepada Bapa-Nya. Ia datang untuk membangun kerajaan-Nya, tetapi Ia menolak memerintah seluruh dunia dengan cara di luar kehendak Bapa-Nya. Tidak mengherankan ketika murid-murid meminta agar Dia mengajar mereka berdoa, Ia pun mengajar mereka agar sebelum memohon pemeliharaan Allah dalam hal makan minum, pengampunan, kelepasan dari pencobaan harus didahului oleh "datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu". Itu berarti semua permintaan kita akan pemeliharaan Allah harus dibingkai dan dipagari oleh kedaulatan pemerintahan-Nya. Dengan kata lain, apakah makanan itu akan diberikan atau tidak, pengampunan itu diulurkan atau tidak, pencobaan dijauhkan atau diperbolehkan atas diri kita sebagaimana yang Ayub alami, semua adalah berdasarkan kerelaan kehendak-Nya. Allah tidak terikat dan diperintah oleh apa pun atau siapa pun di luar diri-Nya sendiri. Ia tidak dapat dipaksa. Ia dengan bebas menganugerahkan rahmat-Nya menurut kerelaan kehendak-Nya berdasarkan kebaikan dan belas kasihan-Nya sendiri 194 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU DOA ADALAH MENARIK DIRI KELUAR DARI KEASYIKAN KEPADA DIRI SENDIRI BERALIH KEPADA ALLAH DAN KEHENDAK-NYA. Doa Yesus di Getsemani juga memberitahukan kepada kita bahwa doa “tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendakMu-lah yang terjadi” adalah pembalikan siklus hidup self-ward —dari aku, oleh aku, bagi aku— menjadi God-ward —dari Allah, oleh Allah dan bagi Allah. Dengan demikian, di dalam doa seperti itu, kita sebagai manusia yang pada dasarnya egosentris diajak untuk keluar dari keasyikan kepada diri sendiri untuk dibebas-merdekakan dari kepicikan diri, dari perbudakan tuan yang tak mengenal ampun yaitu diri sendiri. Kita menjadi sadar bahwa diri dan keinginan-keinginan kita sendiri bukanlah segala-galanya. Selain itu, kita juga dialihkan kepada Allah dan kehendak-Nya. Kita diubah untuk tidak lagi memandang Allah dengan sikap Allah ada untukku, melainkan aku ada untuk-Nya. Bukan kita yang duduk menempati takhtaNya sementara Allah sujud menjadi hamba yang siap melayani kita, melainkan kitalah hamba dan Dialah Tuan yang sepenuhnya berhak atas kita. Hal ini berarti hidup sebagai seorang hamba yang lebih terikat kepada kedaulatan pemerintahan tuannya daripada pemeliharaan tuannya. Tuannya boleh berbuat apa saja atasnya dan memerintahkan melakukan apa saja, termasuk juga perintah yang membahayakan yaitu naik ke atas kayu salib. DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 195 PENYATUAN DUA KEHENDAK Akhirnya, doa Tuhan Yesus di Getsemani: "Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendakMu-lah yang terjadi" adalah sebuah wujud penyatuan kehendak-Nya dengan kehendak Bapa-Nya. Sekalipun pada awalnya Yesus memiliki keinginan-Nya sendiri tetapi Ia memutuskan untuk menyangkal diri-Nya, takluk dan taat kepada keinginan Bapa-Nya. Keputusan itu diambil melalui pergumulan berat yang tercermin melalui keringat darah-Nya, sampai akhirnya salib pun dengan sukacita Ia pikul. Penyangkalan diri yang Yesus jalani bukan karena Ia kalah dalam persaingan antara kehendak-Nya dengan kehendak Bapa-Nya. Bukan pula dua kehendak yang beradu kuasa untuk saling menindas: kehendak Yesus menindas dan memaksa Allah mengalah atau kuasa Allah menindas Yesus sehingga walau tidak suka Ia terpaksa takluk kepada kehendak-Nya. Jika demikian halnya maka hubungan antara Yesus dengan Bapa-Nya adalah hubungan antara yang dijajah dengan penjajah. Yang dijajah walau terpaksa taat, namun di hatinya penuh dengan kegeraman, caci maki dan dorongan untuk memberontak. Apa yang terjadi di dalam doa Tuhan Yesus di taman Getsemani adalah penyatuan dua kehendak yang berbeda menjadi satu kesatuan, bukan dalam bentuk "kehendak-Ku menjadi kehendak-Mu" melainkan "kehendak-Mu menjadi kehendak-Ku" Hal ini mirip dengan apa yang Abraham alami ketika berdoa bagi Sodom dan Gomora. Allah berkehendak 196 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU menghancurkan kota itu sementara Abraham tidak. Di dalam pergulatan panjang akhirnya Abraham bukan mengalah, bukan pula menyangkal yang diinginkannya, melainkan ia menerima sepenuhnya bahwa kehendak Allah-lah yang sempurna. Dalam realita, tidak bisa kita pungkiri bahwa kitalah yang seringkali berdoa memaksakan kehendak kita kepada Allah, karena ketidakmauan maupun ketidakmampuan kita untuk mempercayai bahwa Ia sungguh-sungguh tahu apa yang baik bagi kita dan Ia sungguh-sungguh ingin memberi yang terbaik bagi kita. Bagi kita, Allah tidak tahu mengenai apa yang baik bagi kita, dan tidak berminat memberikannya. Ia cuma mau menang sendiri saja. Akibatnya kita harus bergulat sekuat tenaga kita demi menaklukkan kehendak-Nya di bawah kehendak kita. Semoga Roh Kudus melalui doa Tuhan Yesus di Getsemani ini menolong kita walau dengan pergumulan berat untuk selalu berani menerima kehendak-Nya atas kita MENYATUKAN HIDUP BERSAMA ALLAH DENGAN HIDUP BAGI ALLAH Dua hal esensial yang Tuhan Yesus lakukan di dalam doa-Nya di taman Getsemani: duduk bersekutu dengan Bapa-Nya dan memberikan hidup-Nya untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya adalah seperti 2 sisi dari satu keping uang logam yang sama. Karena itu dua hal ini janganlah dipahami sebagai 2 hal yang terpisah atau berurutan, melainkan sebuah tindakan yang sekaligus. DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 197 Membuat pemisahan atau urutan bagi kedua hal itu di dalam doa kita akan menghasilkan kefrustrasian. Saat ini kehidupan kita ditandai dengan beban dan tanggung-jawab yang tak pernah habis-habisnya dan kita demikian sibuk. Jangankan untuk berdoa, untuk pasangan dan anak-anak kita pun, kita sering tak punya waktu. Akibatnya kita seringkali merasa putus asa karena kehidupan tidak lagi berada di dalam kendali kita. Kita merasa lelah, kehabisan nafas, sekaligus merasa menyesal dan bersalah bahwa kita tidak mempunyai kuantitas maupun kualitas dalam kehidupan doa kita. Kenyataan ini membuat kita makin dituntut untuk menyadari bahwa berdoa yaitu bersekutu dengan Allah dan memberi hidup kepada Allah harus dilakukan sekaligus. Artinya, kita membawa seluruh kegiatan sehari-hari kita ke ruang doa dalam hati dan membawa kehadiran Allah dalam ruang doa batiniah kita ke dalam seluruh kegiatan harian kita. Jadi sepanjang hari, sementara hidup lahiriah kita sepenuhnya sibuk terhadap tuntutan rutinitas sehari-hari: berpikir, mengasuh anak, membaca, mengendarai mobil, memasak, bercakap-cakap, menulis, berjalan, bekerja, bermain, tertawa, menangis dan sebagainya. Di saat yang sama di dalam hati kita, kita berdoa tanpa henti kepada Allah, merenung, berbicara, memuja, mengucap syukur, dan mendapat tuntunan-Nya melalui Roh Kudus-Nya. Praktek hidup seperti itu disebut Brother Lawrence sebagai "mempraktekkan kehadiran Allah". Dia berdoa sementara memasak, mencuci piring, dan melayani di 198 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU meja makan. Brother Lawrence bagi semua orang-orang di dekatnya terlihat selalu sibuk mengerjakan banyak hal. Tetapi pada kenyataannya, di kedalaman hatinya ia tidak pernah kehilangan fokusnya akan Kristus. Kisah berikut akan membuat kita dengan mudah memahami maksud Lawrence di atas. Sejumlah pendeta berkumpul bersama-sama untuk membahas dan berdiskusi tentang beberapa soal yang sukar, antara lain arti dari bagaimana berdoa yang tidak putus-putus sementara tugas pelayanan mereka bertambah banyak. Sementara para pendeta ini sedang berdiskusi, seorang pelayan wanita tua mendengar diskusi mereka, lalu ia berkata bahwa ia tahu jalan keluarnya. Pelayan ini dibawa ke dalam kelompok itu dan seorang pendeta tua bertanya kepadanya: “Mary, apakah yang ingin Anda beritahukan kepada kami bagaimana mengatur waktu untuk bisa berdoa terus, di tengah pekerjaan kami yang makin bertumpuk?” “Oh, ya benar sekali, tuan,” jawab pelayan itu. Kemudian ia melanjutkan, “Tuan, semakin banyak yang harus saya kerjakan, semakin banyak pula doa yang saya panjatkan.” “Coba jelaskan hal itu, Mary. Sebab banyak orang justru berpikir sebaliknya.” “Tuan, inilah yang saya perbuat: Pada waktu aku membuka mata sesudah tidur sepanjang malam, aku berdoa: “Tuhan, bukakanlah mata dan pengertianku.” DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 199 Ketika aku mandi aku berdoa: “Tuhan sucikan aku, basuh aku dengan darah-Mu.” Ketika aku berpakaian aku berdoa: “Tuhan, kenakan aku baju kebenaran-Mu.” Ketika aku makan pagi aku berdoa: “Tuhan, biarlah jiwaku lapar dan haus akan Firman-Mu.” Ketika aku menyapu aku berdoa: “Tuhan bersihkan hatiku menjadi ruang Kudus-Mu.” Ketika aku mencuci pakaian, aku berdoa: “Tuhan, nyatakanlah kalau ada yang kotor dalam hatiku.” Ketika aku mulai menyalakan api di dapur, aku berdoa: “Tuhan, kiranya imanku panas, dan menyala-nyala melayani-Mu dengan tidak jemu-jemu.” Ketika aku mengurus anak-anak kecil, aku berdoa: “Tuhan, biarlah aku tetap menjadi anak-Mu oleh kemurahan dan anugerah-Mu.” Ketika aku sakit, aku berdoa: “Tuhan ajar aku lebih mengerti penderitaan-Mu bagiku.” Ketika aku bernafas aku berdoa: “Tuhan jadikanlah doa sebagai nafas hidupku”. Dan akhirnya ketika aku kembali tidur, aku berdoa: “Tuhan bawalah aku ke rumah-Mu jika aku tidak bangun lagi.” Maka untuk setiap pekerjaan yang harus saya kerjakan, saya memanjatkan doa yang sesuai dengan apa yang saya hadapi.” Pendeta tua ini langsung berkata: “Ah, itulah jawaban yang kita perlukan. Memang benar Allah 200 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU berkenan menyatakan hal-hal sukar kepada anak kecil, dan menyembunyikan dari orang-orang yang merasa dirinya pandai. Terima kasih Mary." Demikianlah hidup bersama dan untuk Allah itu diungkapkan sekaligus di dalam doa atas setiap hal yang kita lakukan. Brennan Manning menulis dalam Jesus' Signature bahwa melalui latihan "mempraktekkan kehadiran Allah" ini akhirnya akan mentransformasi pikiran dan perasaan kita. Hal ini akan mengakibatkan hilangnya pemisahan ruang, waktu dan aktivitas kehidupan 'di dalam Kristus dan bagi Kristus'; 'bersekutu di dalam doa dan melakukan kehendak-Nya'. Penyatuan kedua unsur esensial itu akan menghasilkan kehidupan yang terintegrasi antara hidup di tataran eksternal (lahiriah) dengan hidup internal (batiniah) kita. Sampai-sampai saat kita tidak sadar dan mengigau pun kehidupan luar-dalam kita itu sinkron adanya. Itulah kenyataan yang disaksikan oleh Dr. George Truett: Ia adalah gembala sidang senior First Baptist Church di kota Dallas, Texas, Amerika Serikat. Selama puluhan tahun ia menggembalakan jemaatnya dengan penuh ketekunan, sampai akhirnya, suatu hari ia harus terbaring di rumah sakit karena menderita suatu penyakit yang cukup serius. Selama beberapa minggu terbaring di rumah sakit, Dr. Truett sering kali mengigau jika suhu badannya meninggi. Ketika beliau sadar kembali, ia bertanya kepada para perawat yang menjaganya: "Ketika aku dalam keadaan tidak sadar dan DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 201 mengigau, apakah ada kata-kata yang tidak mencer-minkan citra Kristen keluar dari mulutku?" Para perawat yang menjaganya dengan serentak menjawab bahwa dalam keadaan tidak sadar dan mengigau, yang keluar dari mulut Dr. Truett selalu kata-kata yang positif yang memuliakan nama Kristus. Seringkali kata-katanya seperti orang yang sedang berkhotbah, atau igauannya seperti orang sedang memberikan konseling dan pada kesempatan lain mengigau tentang peka-baran Injil ke luar negeri yang harus dilaksanakannya. Mendengar jawaban tersebut, Dr. Truett menjadi tenang dan ia berkata: "Aku akan menjadi sangat sedih apabila ketika aku tidak sadar dan mengigau, kata-kata yang keluar dari mulutku tidak mencerminkan citra Kristen yang baik." Yang perlu dicamkan adalah bahwa pada hari-hari pertama dari disiplin ini dilakukan, kita akan mengalami kesukaran karena diperlukan kesadaran (awareness), kesiap-siagaan terus menerus. Kealpaan akan terjadi berkali-kali. Saat seperti itu janganlah kita menghabiskan waktu untuk menyesal, merasa bersalah dan menghukum diri. Karena memang seperti itulah kita adanya sebagai orang yang tak pernah mampu berjalan sendiri, dan harus terus-menerus ditopang anugerah-Nya. Jadi lebih baik, seperti anak yang sedang belajar berjalan yang ketika jatuh ia berdiri lagi, demikianlah kita mulai lagi saja dari awal. 202 DUKAKU TEMPAT KUDUS-MU PENUTUP Jika pada dasarnya hidup manusia berdosa itu memiliki siklus: dari aku, oleh aku dan untuk aku, maka hidup serba demi diri sendiri itu makin menjadi-jadi ketika kita berhadapan dengan ancaman serius atas keselamatan hidup kita. Kita akan meminta semua orang untuk memperhatikan, memedulikan dan mengutamakan kita dan menjadi sangat marah ketika tidak ada yang memedulikan kita. Doa Tuhan Yesus di taman Getsemani adalah sebuah pembalikan radikal dari diri kepada Allah. Justru saat di dalam ancaman bahaya maut, di dalam kemendesakan kebutuhan untuk mencari selamat, Yesus berpaling kepada Bapa-Nya duduk diam bersama-Nya, dan memberi diri-Nya kepada Bapa-Nya bagi penebusan kita umat-Nya. Bercermin dari doa Yesus itu, kita mempertanyakan kehidupan doa kita sendiri. Apakah tujuan hidup doa kita? Ketika kita mencari-Nya dalam doa apakah karena Allah sendiri menarik hati kita? Apakah kebersamaan dengan-Nya adalah berkat bagi kita? Apakah ketika kita mencari-Nya dalam doa-doa kita itu disebabkan semata-mata oleh karena Dia penyedia segala sesuatu untuk kita dan kita datang kepada-Nya semata-mata demi mengalami pencukupan, pemeliharaan, perlindungan, pemulihan dan kelimpahan-Nya belaka? Ataukah kita mencari-Nya karena Dia memerintah dan berdaulat atas kehidupan kita, di mana dengan sungguh-sungguh kita berkata: “Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”? DOA, SEBUAH AKSI MEMBERI DIRI 203 DOA Bapa kami yang di sorga Dikuduskanlah nama-Mu Datanglah Kerajaan-Mu Jadilah kehendak-Mu Di bumi seperti di sorga Berilah kami pada hari ini Hati yang mengasihi-Mu Tekad untuk menaati-Mu Sebagaimana Tuhan Yesus, Kami rindu dapat berkata "makananku ialah melakukan kehendak-Mu..." Dengarlah permohonan kami Dalam nama Yesus Kristus Amin iw0yqlrzsx543lvygxbg4yt2nid5y0m