Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.18 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Halaman Utama 0 2 118944 115322 2026-09-05T22:40:17Z Deepturquoise 32400 hapus tulisan vandal 118944 wikitext text/x-wiki {{Halaman Utama/Intro}} <div class="center">'''Mencari atau Memulai Halaman Baru'''</div> <inputbox> type=create buttonlabel=Buat halaman baru width=43 break=no preload= editintro= </inputbox> {{HU | background-title-color = Orange | background-content-color = | title = Apakah Wikibuku Itu? | title color = white | link = | link color = | content = <div id="mf-about" title="Apakah Wikibuku itu?">Wikibooks adalah salah satu proyek [[:w:Wikimedia|Wikimedia]] yang dimulai sejak 10 Juli 2003. Sementara itu, Wikibuku bahasa Indonesia diluncurkan sejak 31 Juli 2004. Sejak itu, para sukarelawan penulis telah menulis sekitar {{NUMBEROFARTICLES}} halaman dan ratusan buku. WikiBuku menerima '''tulisan asli''' maupun tulisan-tulisan yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya, selama penulisnya bersedia melepas tulisan tersebut dengan lisensi [[:w:Wikipedia:Teks Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 3.0|Creative Commons CC-BY-SA]] dan [[:wmf:Terms of use-Summary/id|Ketentuan Penggunaan]]. Silakan mencoba di [[Wikibuku:Bak pasir|bak pasir]], tempat Anda dapat melakukan ''apa saja'' dan rasakan bagaimana cara bekerja. Lihat juga [[Wikibuku:Rencana buku|rencana]] halaman untuk memperbincangkan berita-berita terbaru atau kunjungi '''[[Wikibuku:Warung kopi|warung kopi]]''' kami. [[Wikibuku:Mengapa menyumbang ke buku cetak sumber terbuka|Mengapa menyumbang ke buku cetak sumber terbuka?]]</div> | style = }} </div><!-- --> <div style="display: flex; flex-direction: row; flex-wrap: wrap;"><!-- --> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex: 3 1 25em;"><!-- --> {{HU | background-title-color = Orange | background-content-color = | icon = | title = Buku bagus | title color = white | link = Templat:Buku bagus/Daftar | link color = | content = {{Buku bagus}} | style = }} </div><!-- --> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex: 1 3 25em;"><!-- --> {{HU | background-title-color = Orange | background-content-color = | icon = | title = Buku lainnya | title color = white | link = Templat:Semua rak buku | link color = | content = {{semua rak buku|notitle=1|notahapan=1}} | style = }} </div><!-- --> </div><!-- --> {{HU | background-title-color = orange | background-content-color = | icon = | title = Rak buku | title color = white | link = Templat:Buku yang sudah ada | link color = | content = <!--<div id="mf-bw" title="Buku yang sudah ada">-->{{Buku yang sudah ada}}<!--</div>--> | style = }} </div><!-- --> </div><!-- --> <div> {{HU | background-title-color = Orange | background-content-color = | icon = | title = ProyekWiki lainnya | title color = white | link = | link color = | content = {{ProyekWiki}} | style = }} </div><!-- --> {{BahasaWikibuku}} __NOTOC__ <!-- -->__NOEDITSECTION__ [[Kategori:Utama| ]] <!--INTERWIKI--> [[ca:]] [[cs:]] [[da:]] [[de:]] [[en:]] [[es:]] [[fr:]] [[he:]] [[hr:]] [[hu:]] [[it:]] [[ja:]] [[ms:]] [[nl:]] [[no:]] [[pt:]] [[ru:]] [[sq:]] [[sv:]] [[th:]] [[tr:]] [[vi:]] [[zh:]] 0xz1mbxc8155gx5k3plwxt2v41aaajy Pengguna:Jakili 99 2 19556 118930 118680 2026-09-05T13:17:41Z ~2026-47656-15 43790 /* */ 118930 wikitext text/x-wiki Muhammad Lutfi (Sastrawan Indonesia) Muhammad Lutfi, S.S., M.Pd. adalah seorang sastrawan, penyair, penulis,filsafat, cendekiawan dan akademisi dari Indonesia. Lahir di Pati pada tanggal 15 Oktober 1997. Bertempat tinggal di Pati, Jawa Tengah. Merupakan pendiri dari komunitas 'Rumput Sastra'. Sekaligus pendiri dari Masyarakat Filolog Indonesia, sebuah persatuan filolog yang menjembatani diskusi dan dialog pernaskahan kuno. Sekaligus pendiri dari Gerakan Mahasiswa Demokrasi Indonesia (GMDI), Sebuah organisasi berpaham demokrasi pancasila sebagai asasnya. Sebagai jurnalis di Koran Parlemen. Putra dari H. Slamet Suladi dan Hj. Siti Salamah ini menyukai dunia sastra, budaya, dan kepenulisan sejak masih kelas 4 SD karena suka membaca buku di pustaka milik ayahnya dan latihan mengarang semasa liburan sekolah. Ia memulai pendidikannya di SD N 1 Tanjungsari, SMP N 1 Jakenan, SMA N 2 Pati, dan S1 Sastra Indonesia, FIB, UNS, Surakarta (lulus pada tahun 2020 dan mendapatkan gelar Sarjana Sastra), S2 Pendidikan Bahasa Indonesia diselesaikan di UNNES pada tahun 2023. Bakat sastra diteruskannya ketika bertemu Dandang A. Dahlan sebagai gurunya. Di perkuliahan aktif mengikuti kajian prosa oleh dosennya Riannawati dan kajian drama oleh Albertus Prasojo. Tokoh dunia teater yang membuatnya tertarik adalah Hanindawan yang sebagai dosennya di UNS. Lulus dengan fokus kajian pada Puisi dengan bimbingan dosennya yang juga sastrawan bernama Wieranta. Fokus bidang Filsafat yang disukainya adalah Hegel, Nietzche, dan nasionalisme Soekarno. Menerbitkan buku pertamanya saat jadi mahasiswa di UNS. Terkadang ke gudang perpustakaan kampus untuk membaca karya dari Lorca, Rimbaud, dan Ernest Hemingway, Shakesphere, dan Goenawan Mohamad. Esai karya Goenawan Mohamad adalah esai kesukaan kolektif oleh Muhammad Lutfi. Karyanya dimuat di Kompas,Bali POS, Majalah Pusat Badan Bahasa, Majalah Karas Balai Bahasa, Majalah Sunday, Apajake, Amanah Sastra, Solopos, Koran Suara Sarawak, majalah Elipsis, Tirastimes, Koran Malaysia. Merupakan penyair Asean pada komunitas penyair Gaksa dan Bahana. Pada tahun (2016) penulis mendapat undangan dalam antologi puisi Matahari Cinta Samudra Kata (Taman Ismail Marzuki, DKJ, Jakarta, 2016). Kemudian dokumentasi biografi penyair nasional Indonesia (HPI, DKJ, 2016). Puisinya yang berjudul ‘Siapa Patriot Kini’ dalam antologi puisi HELP (Tsani Media, 2016) diterjemahkan ke dalam 5 bahasa asing. Berikut buku antologi puisi karya penulis yang sudah terbit: Kelir (Kamboja Merah Publishing, 2018), Kumpulan Puisi Kenangan (Ajrie Publisher, 2017), Mata Sengsara (Guepedia, 2019), Bunga Mawar Hitam (Guepedia, 2019), Soleh Spiritual dan Soleh Sosial (Guepedia, 2019), Gugat (Guepedia, 2020), Memo Rakyat (Guepedia, 2020), Taka (Guepedia, 2020), Aku dari East City (Guepedia, 2020). Sehimpun Haiku Malam Kekasih (JM Publisher, 2021), Balada Untung Suropati ( Ebiz Publisher). Selain menulis dan menerbitkan buku puisi, penulis juga menulis buku cerpen yang sudah diterbitkan: Tabula Rasa (Tidar Media, 2020), Pelaut (Innovasi Publishing, 2020), Bunga Dalam Air (CMG, 2021), Lorong (Ebiz Publisher), Khianat. Selain itu juga, penulis menerbitkan buku ‘serat falsafah Jawa’: Serat Tri Aji (Tidar Media, 2020), Kakawin Wiradarma (Guepedia, 2021), WiracaritaTejamantri (2023), Suluk Bagong Kajoran, Sukala Parwa. Buku naskah drama: Asuh (Lutfigilang Publishing, 2021), Elegi (Ebiz Publisher), Murtad, Ngek Geng. Buku Novela: Berlayar (Innovasi Publishing, 2021), Senja (Ebiz Publisher), Bisma Pahlawan Hidup Kembali (Ebiz Publisher), Zahra dan Kotak Pandora Ajaib (Ebiz Publisher). Buku Ajar:Sastra Pembebasan, Sastra Mistik, Pengkajian Puisi, Sastra Profetik, Kritik Sastra dan Aplikasinya pada Puisi Chairil Anwar, Semiotika Riffaterre dan Penerapannya, (Filsafat, Bahasa, dan Sastra), Mengenal Sastra, Resepsi Sastra, Pengantar Linguistik Umum, Kajian Postkolonialisme Sajak-sajak Chairil Anwar (2024), Telaah Prosa Studi Kasus Cerpen, Implikasi Psikoanalisis Sigmun Freud Dalam Teks Sastra Naskah Drama (Nagapustaka,2026). Buku Kebudayaan atau esai: Sastra dan Relevansinya dalam Agama dan Politik, SAKEBU, GORO-GORO PETRUK BAJINGUK. Penulis selalu menulis karya puisi, cerpen, novel, naskah drama dan monolog. Berikut beberapa artikel karya penulis: Galeri Seni ISI Surakart (Artspace, 2018), Anoman sang Intelijen dalam Epos Ramayana (Berdikari, 2019), Mahasiswa Sastra, Mahasiswa Intelektual (Indonesiana, 2019). Undangan dan beberapa forum sastra dan festifal sastra yang pernah diikuti: kemah sastra UGM 2026, Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi 2024, Kongres Bahasa Indonesia XII-2023 (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), LIFT VI-2022 Egypt, Undangan Sayembara Naskah Puisi DKJ 2023, Undangan Sayembara Naskah Teater DKJ 2023, Baca Puisi Internasional Writer Club Lintas Benua 2023, Pengajaran BIPA YALE 2023, Temu penyair Asia Tenggara 2022, Banjarbaru’s Rainy Day Festival (2017), Senyuman Lembah Ijen (Radar Banyuwangi, 2018), JKP (Bali, 2017), Puisi Asian (IAIN Purwokerto, 2017), GMB (2016), Penulisan Puisi Anak (Prasidatama, Balai Bahasa JATENG, 2019), pembacaan puisi penyair Asean komunitas Bahana (2021), pembacaan puisi penyair Asean komunitas Gaksa (2021). Cerpennya terangkum dalam beberapa antologi berepenyair lain: Malam yang terjaga (Cerpenmu, 2017), Foto Album (Anamerya, 2015), Cinta di Kediri (Puan.co, 2017). Karya Syiirnya: Syiir Pangapuran (Duta Islam, 2020), Syiir Ngaku Lepat (Ponpes.net, 2018), Syiir Suluk Terang-Terang (Bengkulutoday, 2019), Syiir Harapan Bangsa (Koran Pati, 2018), Syiir Serat Jayabaya, Syiir Zaman Semono. Beberapa puisinya diadaptasi menjadi lagu sebanyak 300 judul lagu dari sumber (LaguIndieMuhammadLutfi_youtube), antara lain: Malam, Malam Punama, Indonesiaku, Serentak, Pulau, Paksa, dll. Buku antologi puisi bersama peyair nasional: Surat untuk Kaki Langit Palestina (Antara Publishing, 2018), Kenangan Semalam di Cianjur (Fam Publishing, 2016), Indonesia 2030 (2018), Dongeng Negri Jauh (Tidar Media, 2018), Majalah Simalaba, Balai Bahasa JATENG, Mengunyah Geram (2017), EMB (2016), Berucaplah Padaku (Mawar Publisher, 2016), Peduli Hutan (Tuas Media, 2016), Requiem Tiada Henti (Competition Asean Poem, 2017), Hidupku (Elmisa Publisher, 2017), Rindu (Rumah Kayu Indonesia, 2017), Cerpen Sabana Pustaka, 2017), sky magazine (2020), Buku antologi cerpen bersama penyair nasional: Kumpulan Cerita Mini (Harasi, 2016), Malam yang Terjaga (Sabana Pustaka), Kumcer (Nahima Press, 2015), Puisi Bersama Bupati Pati (I AM Publishing 2020), Memoar Didi Kempot (DIOMEDIA 2020), MEMOQR Sapardi Djoko Damono (Diomedia 2020), Puisi Untuk Umaiyah (2022). Penulis selalu menulis di media masa lokal maupun nasional, baik di media cetak nasional maupun Malaysia. Berikut yang memuat karya-karya penulis: takanta, potret online, lamuri, radar pagi, estetikapers, koran Pati, koran Blora, marhaenislokajaya, suku sastra, sastranesia, normantis, koran amanah Jakarta, independhent, siswapedia, saluran sebelas UNS, kronfontasi, edusiana, sepenuhnya, asyik-asyik, lahir sajak, riau realita, majalah simalaba, satu bahasa, puisina, koran soearamoeria. Prestasi dan penghargaan yang pernah diraih: juara 3 puisi Asia di Malaysia, juara 1 puisi Sastra media (2020),juara 1 penulisan puisi Sastramedia (2021),juara 3 kaligrafi (2004), juara 3 melukis (2005), juara 1 cerdas cermat pramuka (2011), juara 2 penulisan puisi selektas UNS (2016), juara 4 penulisan puisi PLPI (2020), dan penulis favorit di tidarmedia, juara faforit kedua pantun dari Wikipedia, cerpennya berjudul Bunga Dalam Air masuk nominasi penghargaan cerpen pilihan Apajake, juara pertama penulisan opini dengan judul Pertanian Masa Darurat di SMI. Selain menulis, penulis juga terkenal sebagai pelukis. Lukisannya yang berjudul ‘Api Perjuangan’ mendapatkan undangan untuk pameran lukisan bersama Keluarga Seni Rupa Tasik (2020), pameran lukisan abstrak di Artiknesia dengan judul lukisan "Harimau" (2023). Penulis favorit pantun (Langit Biru, 2021). tvt2dz9uuvc7gvkuhfheq2rcm06wvv1 118932 118930 2026-09-05T13:18:11Z ~2026-47656-15 43790 /* */ 118932 wikitext text/x-wiki Muhammad Lutfi (Sastrawan Indonesia) Muhammad Lutfi, S.S., M.Pd. adalah seorang sastrawan, penyair, penulis, filsuf, cendekiawan dan akademisi dari Indonesia. Lahir di Pati pada tanggal 15 Oktober 1997. Bertempat tinggal di Pati, Jawa Tengah. Merupakan pendiri dari komunitas 'Rumput Sastra'. Sekaligus pendiri dari Masyarakat Filolog Indonesia, sebuah persatuan filolog yang menjembatani diskusi dan dialog pernaskahan kuno. Sekaligus pendiri dari Gerakan Mahasiswa Demokrasi Indonesia (GMDI), Sebuah organisasi berpaham demokrasi pancasila sebagai asasnya. Sebagai jurnalis di Koran Parlemen. Putra dari H. Slamet Suladi dan Hj. Siti Salamah ini menyukai dunia sastra, budaya, dan kepenulisan sejak masih kelas 4 SD karena suka membaca buku di pustaka milik ayahnya dan latihan mengarang semasa liburan sekolah. Ia memulai pendidikannya di SD N 1 Tanjungsari, SMP N 1 Jakenan, SMA N 2 Pati, dan S1 Sastra Indonesia, FIB, UNS, Surakarta (lulus pada tahun 2020 dan mendapatkan gelar Sarjana Sastra), S2 Pendidikan Bahasa Indonesia diselesaikan di UNNES pada tahun 2023. Bakat sastra diteruskannya ketika bertemu Dandang A. Dahlan sebagai gurunya. Di perkuliahan aktif mengikuti kajian prosa oleh dosennya Riannawati dan kajian drama oleh Albertus Prasojo. Tokoh dunia teater yang membuatnya tertarik adalah Hanindawan yang sebagai dosennya di UNS. Lulus dengan fokus kajian pada Puisi dengan bimbingan dosennya yang juga sastrawan bernama Wieranta. Fokus bidang Filsafat yang disukainya adalah Hegel, Nietzche, dan nasionalisme Soekarno. Menerbitkan buku pertamanya saat jadi mahasiswa di UNS. Terkadang ke gudang perpustakaan kampus untuk membaca karya dari Lorca, Rimbaud, dan Ernest Hemingway, Shakesphere, dan Goenawan Mohamad. Esai karya Goenawan Mohamad adalah esai kesukaan kolektif oleh Muhammad Lutfi. Karyanya dimuat di Kompas,Bali POS, Majalah Pusat Badan Bahasa, Majalah Karas Balai Bahasa, Majalah Sunday, Apajake, Amanah Sastra, Solopos, Koran Suara Sarawak, majalah Elipsis, Tirastimes, Koran Malaysia. Merupakan penyair Asean pada komunitas penyair Gaksa dan Bahana. Pada tahun (2016) penulis mendapat undangan dalam antologi puisi Matahari Cinta Samudra Kata (Taman Ismail Marzuki, DKJ, Jakarta, 2016). Kemudian dokumentasi biografi penyair nasional Indonesia (HPI, DKJ, 2016). Puisinya yang berjudul ‘Siapa Patriot Kini’ dalam antologi puisi HELP (Tsani Media, 2016) diterjemahkan ke dalam 5 bahasa asing. Berikut buku antologi puisi karya penulis yang sudah terbit: Kelir (Kamboja Merah Publishing, 2018), Kumpulan Puisi Kenangan (Ajrie Publisher, 2017), Mata Sengsara (Guepedia, 2019), Bunga Mawar Hitam (Guepedia, 2019), Soleh Spiritual dan Soleh Sosial (Guepedia, 2019), Gugat (Guepedia, 2020), Memo Rakyat (Guepedia, 2020), Taka (Guepedia, 2020), Aku dari East City (Guepedia, 2020). Sehimpun Haiku Malam Kekasih (JM Publisher, 2021), Balada Untung Suropati ( Ebiz Publisher). Selain menulis dan menerbitkan buku puisi, penulis juga menulis buku cerpen yang sudah diterbitkan: Tabula Rasa (Tidar Media, 2020), Pelaut (Innovasi Publishing, 2020), Bunga Dalam Air (CMG, 2021), Lorong (Ebiz Publisher), Khianat. Selain itu juga, penulis menerbitkan buku ‘serat falsafah Jawa’: Serat Tri Aji (Tidar Media, 2020), Kakawin Wiradarma (Guepedia, 2021), WiracaritaTejamantri (2023), Suluk Bagong Kajoran, Sukala Parwa. Buku naskah drama: Asuh (Lutfigilang Publishing, 2021), Elegi (Ebiz Publisher), Murtad, Ngek Geng. Buku Novela: Berlayar (Innovasi Publishing, 2021), Senja (Ebiz Publisher), Bisma Pahlawan Hidup Kembali (Ebiz Publisher), Zahra dan Kotak Pandora Ajaib (Ebiz Publisher). Buku Ajar:Sastra Pembebasan, Sastra Mistik, Pengkajian Puisi, Sastra Profetik, Kritik Sastra dan Aplikasinya pada Puisi Chairil Anwar, Semiotika Riffaterre dan Penerapannya, (Filsafat, Bahasa, dan Sastra), Mengenal Sastra, Resepsi Sastra, Pengantar Linguistik Umum, Kajian Postkolonialisme Sajak-sajak Chairil Anwar (2024), Telaah Prosa Studi Kasus Cerpen, Implikasi Psikoanalisis Sigmun Freud Dalam Teks Sastra Naskah Drama (Nagapustaka,2026). Buku Kebudayaan atau esai: Sastra dan Relevansinya dalam Agama dan Politik, SAKEBU, GORO-GORO PETRUK BAJINGUK. Penulis selalu menulis karya puisi, cerpen, novel, naskah drama dan monolog. Berikut beberapa artikel karya penulis: Galeri Seni ISI Surakart (Artspace, 2018), Anoman sang Intelijen dalam Epos Ramayana (Berdikari, 2019), Mahasiswa Sastra, Mahasiswa Intelektual (Indonesiana, 2019). Undangan dan beberapa forum sastra dan festifal sastra yang pernah diikuti: kemah sastra UGM 2026, Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi 2024, Kongres Bahasa Indonesia XII-2023 (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), LIFT VI-2022 Egypt, Undangan Sayembara Naskah Puisi DKJ 2023, Undangan Sayembara Naskah Teater DKJ 2023, Baca Puisi Internasional Writer Club Lintas Benua 2023, Pengajaran BIPA YALE 2023, Temu penyair Asia Tenggara 2022, Banjarbaru’s Rainy Day Festival (2017), Senyuman Lembah Ijen (Radar Banyuwangi, 2018), JKP (Bali, 2017), Puisi Asian (IAIN Purwokerto, 2017), GMB (2016), Penulisan Puisi Anak (Prasidatama, Balai Bahasa JATENG, 2019), pembacaan puisi penyair Asean komunitas Bahana (2021), pembacaan puisi penyair Asean komunitas Gaksa (2021). Cerpennya terangkum dalam beberapa antologi berepenyair lain: Malam yang terjaga (Cerpenmu, 2017), Foto Album (Anamerya, 2015), Cinta di Kediri (Puan.co, 2017). Karya Syiirnya: Syiir Pangapuran (Duta Islam, 2020), Syiir Ngaku Lepat (Ponpes.net, 2018), Syiir Suluk Terang-Terang (Bengkulutoday, 2019), Syiir Harapan Bangsa (Koran Pati, 2018), Syiir Serat Jayabaya, Syiir Zaman Semono. Beberapa puisinya diadaptasi menjadi lagu sebanyak 300 judul lagu dari sumber (LaguIndieMuhammadLutfi_youtube), antara lain: Malam, Malam Punama, Indonesiaku, Serentak, Pulau, Paksa, dll. Buku antologi puisi bersama peyair nasional: Surat untuk Kaki Langit Palestina (Antara Publishing, 2018), Kenangan Semalam di Cianjur (Fam Publishing, 2016), Indonesia 2030 (2018), Dongeng Negri Jauh (Tidar Media, 2018), Majalah Simalaba, Balai Bahasa JATENG, Mengunyah Geram (2017), EMB (2016), Berucaplah Padaku (Mawar Publisher, 2016), Peduli Hutan (Tuas Media, 2016), Requiem Tiada Henti (Competition Asean Poem, 2017), Hidupku (Elmisa Publisher, 2017), Rindu (Rumah Kayu Indonesia, 2017), Cerpen Sabana Pustaka, 2017), sky magazine (2020), Buku antologi cerpen bersama penyair nasional: Kumpulan Cerita Mini (Harasi, 2016), Malam yang Terjaga (Sabana Pustaka), Kumcer (Nahima Press, 2015), Puisi Bersama Bupati Pati (I AM Publishing 2020), Memoar Didi Kempot (DIOMEDIA 2020), MEMOQR Sapardi Djoko Damono (Diomedia 2020), Puisi Untuk Umaiyah (2022). Penulis selalu menulis di media masa lokal maupun nasional, baik di media cetak nasional maupun Malaysia. Berikut yang memuat karya-karya penulis: takanta, potret online, lamuri, radar pagi, estetikapers, koran Pati, koran Blora, marhaenislokajaya, suku sastra, sastranesia, normantis, koran amanah Jakarta, independhent, siswapedia, saluran sebelas UNS, kronfontasi, edusiana, sepenuhnya, asyik-asyik, lahir sajak, riau realita, majalah simalaba, satu bahasa, puisina, koran soearamoeria. Prestasi dan penghargaan yang pernah diraih: juara 3 puisi Asia di Malaysia, juara 1 puisi Sastra media (2020),juara 1 penulisan puisi Sastramedia (2021),juara 3 kaligrafi (2004), juara 3 melukis (2005), juara 1 cerdas cermat pramuka (2011), juara 2 penulisan puisi selektas UNS (2016), juara 4 penulisan puisi PLPI (2020), dan penulis favorit di tidarmedia, juara faforit kedua pantun dari Wikipedia, cerpennya berjudul Bunga Dalam Air masuk nominasi penghargaan cerpen pilihan Apajake, juara pertama penulisan opini dengan judul Pertanian Masa Darurat di SMI. Selain menulis, penulis juga terkenal sebagai pelukis. Lukisannya yang berjudul ‘Api Perjuangan’ mendapatkan undangan untuk pameran lukisan bersama Keluarga Seni Rupa Tasik (2020), pameran lukisan abstrak di Artiknesia dengan judul lukisan "Harimau" (2023). Penulis favorit pantun (Langit Biru, 2021). q4w3gsc1iongpobomobqnulhq49dtxa Resep:Pindang patin 100 25287 118945 105865 2026-09-05T22:53:17Z Deepturquoise 32400 Recipe summary 118945 wikitext text/x-wiki {{Recipe summary | category = Resep ikan | servings = 4-6 porsi | time = 40 menit | difficulty = 3 | image = | energy = | note = }} ==Bahan-bahan== *2 ekor ikan patin *1 buah jeruk limau *Garam secukupnya ==Bumbu halus== *4 siung bawang putih *8 butir bawang merah *8 buah cabai merah keriting *1 ruas kunyit bakar *1 sdm terasi bakar ==Bumbu cemplung== *1/2 bagian nanas, potong dadu *2 buah tomat hijau, iris *1 batang sereh, geprek *3 lembar daun jeruk *2 lembar daun salam *Lengkuas geprek *15 buah cabai rawit merah *1 sdt asem jawa *2 sdt garam *1 sdt gula *Kaldu bubuk secukupnya *1 ikat daun kemangi ==Cara membuat== #Rendam ikan setelah dibuang isi perutnya dengan air perasan jeruk limau, lumuri garam. Biarkan selama 7 menitan lalu cuci bersih. #Kemudian rebus ikan bersama dengan daun salam, daun jeruk, sereh. #Haluskan bumbu, tumis bumbu halus dan lengkuas hingga wangi lalu masukkan ke dalam rebusan ikan. #Tambahkan asem jawa, gula, garam dan kaldu bubuk, aduk rata. #Setelah mendidih masukkan potongan nanas dan irisan tomat hijau serta daun kemangi. #Aduk rata lalu matikan, kemudian masukkan cabai rawit utuh. Sajikan. [[Kategori:Masakan Palembang]] [[Kategori:WikiRondaRasoPalembang2025]] kd9qf8m39ph230qgkh9snltytuz636d Pengguna:Muhamad Izzul Fiqih 2 28110 118966 118768 2026-09-06T07:35:24Z Muhamad Izzul Fiqih 36628 /* */ 118966 wikitext text/x-wiki phoiac9h4m842xq45sp7s6u21eteeq1 Pengguna:Hazmin N 2 28140 118935 118813 2026-09-05T14:43:21Z Hazmin N 43792 hapus, buat ulang 118935 wikitext text/x-wiki [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] [[Kategori:Opini]] cbuwocf59b4rsccg1clyfst7ki3gf6z 118936 118935 2026-09-05T14:49:00Z Hazmin N 43792 Menambahkan halaman pengguna 118936 wikitext text/x-wiki [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] [[Kategori:Opini]] Halo, Saya Hazmin. Penulis amatir yang sedang mencoba menuliskan kegelisahannnya akan lingkungan dan generasinya. 0quzknopfgtu1v5gfyzskgyh3zt7m0q 118940 118936 2026-09-05T15:33:17Z Hazmin N 43792 118940 wikitext text/x-wiki Halo, Saya Hazmin. Penulis amatir yang sedang mencoba menuliskan kegelisahannnya akan lingkungan dan generasinya. 4tcwj8n07w0k8spb8iyl84kvg0r3agb 118941 118940 2026-09-05T15:34:46Z Hazmin N 43792 Menambahkan isi 118941 wikitext text/x-wiki Halo, Saya Hazmin. Penulis amatir yang sedang mencoba menuliskan kegelisahannnya akan lingkungan dan generasinya. Kebenaran hanya milik-Nya, kesaalahan adalah milik saya, anda, kita semua. k5wci16omm0srkcce1oywmibr4ihekz 118942 118941 2026-09-05T15:35:10Z Hazmin N 43792 118942 wikitext text/x-wiki Halo, Saya Hazmin. Penulis amatir yang sedang mencoba menuliskan kegelisahannnya akan lingkungan dan generasinya. Kebenaran hanya milik-Nya, kesalahan adalah milik saya, anda dan kita semua. mhyup6szbqye0xdz8l32v958vxqqb2n 118965 118942 2026-09-06T07:29:35Z Muhamad Izzul Fiqih 36628 /* */ 118965 wikitext text/x-wiki {{Peserta WikiLatih|acara=|tgl=5 September 2026|di=Jambi}} Halo, Saya Hazmin. Penulis amatir yang sedang mencoba menuliskan kegelisahannnya akan lingkungan dan generasinya. Kebenaran hanya milik-Nya, kesalahan adalah milik saya, anda dan kita semua. r71w4d4k65e87klzse3bp4z2bghnbzp Hukum-Hukum Seputar Qurban 0 28149 118931 118829 2026-09-05T13:17:50Z Arkadaş Li 43239 118931 wikitext text/x-wiki Pada hari Raya Idul Adha, yang afdhol dilakukan seorang muslim adalah menyembelih hewan qurban. '''Hukum Berqurban''': 1. Wajib: bagi yang mampu 2. Sunnah Mu'akkadah: meninggalkannya makhruh, bagi yang mampu. Bentuk kehati-hatian seorang muslim, hendaklah jangan meninggalkannya apalagi seseorang itu mampu. ''':Waktu Penyembelihan''': 1. Waktu Awal: dimulai dari setelah shalat Idul Adha selesai 2. Waktu Akhir: di akhir hari tasyrik (13 dzulhijah) saat matahari terbenam '''PERINGATAN!''' Jika hewan disembelih sebelum shalat, maka sembelihan tersebut dianggap sebagai sembelihan biasa dan harus diulangi kembali setelah dilaksanakan shalat Ied. [[Kategori:Islam]] [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] f28knqw5nnv7pk712537ue71hk949yc 118933 118931 2026-09-05T13:37:11Z Arkadaş Li 43239 118933 wikitext text/x-wiki Pada hari Raya Idul Adha, yang afdhol dilakukan seorang muslim adalah menyembelih hewan qurban. '''Hukum Berqurban''': 1. Wajib: bagi yang mampu 2. Sunnah Mu'akkadah: meninggalkannya makhruh, bagi yang mampu. ''Bentuk kehati-hatian seorang muslim, hendaklah jangan meninggalkannya apalagi seseorang itu mampu.'' '''Waktu Penyembelihan''': 1. Waktu Awal: dimulai dari setelah shalat Idul Adha selesai 2. Waktu Akhir: di akhir hari tasyrik (13 dzulhijah) saat matahari terbenam '''PERINGATAN!''' Jika hewan disembelih sebelum shalat Ied Adha, maka sembelihan tersebut dianggap sebagai sembelihan biasa dan harus diulangi kembali setelah dilaksanakan shalat Ied. '''Hewan Kurban (Bahīmatul An‘ām)''' 1. Unta: Minimal berusia 5 tahun. Dapat dilakukan secara urunan atau berserikat oleh maksimal 7 orang. 2. Sapi/Kerbau: Minimal berusia 2 tahun. Dapat dilakukan secara urunan atau berserikat oleh maksimal 7 orang. 3. Domba: Minimal berusia 6 bulan. Diperuntukkan untuk 1 orang. 4. Kambing: Minimal berusia 1 tahun. Diperuntukkan untuk 1 orang. '''Syarat Hewan Kurban''' Hewan yang akan dijadikan kurban harus memenuhi beberapa syarat berikut: 1. Tidak memiliki cacat yang berat atau dapat mengurangi kualitas hewan. 2. Tidak memiliki cacat yang jelas, seperti: Sakit parah, pincang, sangat kurus, dll. 3. Dianjurkan memilih hewan kurban yang: gemuk, sehat, memiliki kondisi fisik yang baik. '''Tata Cara Penyembelihan''' Tata cara penyembelihan hewan kurban meliputi: 1. Menghadapkan hewan ke arah kiblat. 2. Membaca basmalah. 3. Membaca takbir. 4. Membaca doa ketika menyembelih. 5. Menajamkan pisau sebelum penyembelihan. 6. Memperlakukan hewan dengan baik dan membuatnya nyaman sebelum penyembelihan. [[Kategori:Islam]] [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] 72eg5s64xkd4ok1pvc66ylnf4rm9yat 118934 118933 2026-09-05T13:53:05Z Arkadaş Li 43239 118934 wikitext text/x-wiki Pada Hari Raya Iduladha, salah satu amalan yang paling utama bagi seorang muslim adalah menyembelih hewan kurban. '''Hukum Berkurban''': 1. Wajib: bagi yang mampu 2. Sunnah Mu'akkadah: meninggalkannya makhruh, bagi yang mampu. ''Bentuk kehati-hatian seorang muslim, hendaklah jangan meninggalkannya apalagi seseorang itu mampu.'' '''Waktu Penyembelihan''': 1. Waktu Awal: dimulai dari setelah shalat Idul Adha selesai 2. Waktu Akhir: di akhir hari tasyrik (13 dzulhijah) saat matahari terbenam '''PERINGATAN!''' Jika hewan disembelih sebelum shalat Ied Adha, maka sembelihan tersebut dianggap sebagai sembelihan biasa dan harus diulangi kembali setelah dilaksanakan shalat Ied. '''Hewan Kurban (Bahīmatul An‘ām)''' 1. Unta: Minimal berusia 5 tahun. Dapat dilakukan secara urunan atau berserikat oleh maksimal 7 orang. 2. Sapi/Kerbau: Minimal berusia 2 tahun. Dapat dilakukan secara urunan atau berserikat oleh maksimal 7 orang. 3. Domba: Minimal berusia 6 bulan. Diperuntukkan untuk 1 orang. 4. Kambing: Minimal berusia 1 tahun. Diperuntukkan untuk 1 orang. '''Syarat Hewan Kurban''' Hewan yang akan dijadikan kurban harus memenuhi beberapa syarat berikut: 1. Tidak memiliki cacat yang berat atau dapat mengurangi kualitas hewan. 2. Tidak memiliki cacat yang jelas, seperti: Sakit parah, pincang, sangat kurus, dll. 3. Dianjurkan memilih hewan kurban yang: gemuk, sehat, memiliki kondisi fisik yang baik. '''Tata Cara Penyembelihan''' Tata cara penyembelihan hewan kurban meliputi: 1. Menghadapkan hewan ke arah kiblat. 2. Membaca basmalah. 3. Membaca takbir. 4. Membaca doa ketika menyembelih. 5. Menajamkan pisau sebelum penyembelihan. 6. Memperlakukan hewan dengan baik dan membuatnya nyaman sebelum penyembelihan. Disarikan oleh: [[Pengguna:Arkadaş Li|Arkadaş Li]] (''sumber kajian: Masjid Ubay bin Ka'ab Jambi, 17 Mei 2026'') [[Kategori:Islam]] [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] sa40datmnmk8mc3644bpn4s7euez1bc Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi 14 28158 118946 118812 2026-09-06T01:17:43Z Muhamad Izzul Fiqih 36628 added [[Category:WikiLatih WikiBuku: Berbagi Pengetahuan dan Tulisan]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118946 wikitext text/x-wiki Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi [[Kategori:WikiLatih WikiBuku: Berbagi Pengetahuan dan Tulisan]] dwbw00lq9rnwonuzlc3yeh0zfq0ckbu Acara:Kopdar WikiCitaRasa 2.0 Banjarmasin 1728 28191 118960 118895 2026-09-06T04:18:57Z Raflinoer32 36196 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118960 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Banjarmasin. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] rwzm667ts581621x96prirx3x8m7qpj Acara:Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 Medan 1728 28196 118959 118901 2026-09-06T04:18:44Z Raflinoer32 36196 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118959 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 di Medan. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] k3lktsovhm88paue0e0924qb0srly8u Indonesia Berasap 0 28202 118923 2026-09-05T12:13:30Z Catatansicikal 43791 ←Membuat halaman berisi 'Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk ka...' 118923 wikitext text/x-wiki Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap kembali jadi sesuatu yang harus kita waspadai. Pertanyaannya kemudian: Sebenarnya, dari mana semua asap ini datang? Tinggal di daerah yang banyak perkebunan karet dan sawit bikin saya sedikit banyak paham: ngurus lahan berhektare-hektare itu Tidak murah. Coba bayangkan kalau kita punya lahan luas, lalu mau membersihkannya dengan sistem upah harian. Keluar biaya terus. Belum tentu hasilnya juga sesuai harapan. Makanya, membakar lahan kadang dianggap sebagai jalan yang paling murah dan cepat. Sekali api menyala, lahan yang tadinya penuh semak bisa langsung bersih. Praktis? Iya. Murah? Kelihatannya iya. Tapi masalahnya, yang murah dan cepat hari ini bisa jadi mahal banget untuk masa depan. Pernah dengar kalimat: “Kita makan hari ini, Bos. Masa depan biarlah anak cucu yang menanggung.” Duh. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini memang ada logikanya kalau kita cuma melihat kebutuhan hari ini. Tapi ya... nggak bisa dibilang sepenuhnya benar juga. Mungkin banyak orang memilih cara seperti itu karena memang belum tahu dampaknya bisa sejauh apa. Nah, dari obrolan saya bersama Kak Ola Abas dari @PantauGambut, saya jadi makin paham bahwa pembakaran lahan bukan sekadar persoalan: “Habis dibakar, selesai.” Pembakaran lahan ikut berkontribusi terhadap emisi karbon yang memperparah pemanasan global (global warming). Dan pada akhirnya, persoalan itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang sangat dekat, yaitu udara yang kita hirup “Tapi kan nggak semua kebakaran hutan itu disengaja?” Betul. Ada juga kebakaran yang bisa terjadi secara alami. Misalnya petir menyambar lahan yang kering saat musim kemarau, lalu apinya menyebar ke mana-mana. Hanya saja ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut erat kaitannya dengan alih guna lahan. Bahkan sampai 2023, sekitar 33% wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dialihgunakan, dan sekitar setengahnya menjadi lahan kelapa sawit (Pantau Gambut, 2023). Terus, kenapa gambut ini penting banget? Kenapa kita harus peduli? Karena gambut itu bukan sekadar tanah. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan dan organisme yang mati dan tertimbun selama ribuan tahun. Karena berasal dari makhluk hidup, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dan ternyata manfaatnya banyak banget. 1. Gambut itu seperti spons raksasa. Saat musim hujan, gambut menyerap dan menyimpan air. Saat kemarau, air yang tersimpan itu menjadi cadangan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. Jadi, gambut sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan air. 2. Gambut juga menjadi sumber penghasilan masyarakat. Berbagai tanaman pangan, palawija, dan komoditas lainnya bisa tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Jadi menjaga gambut bukan berarti masyarakat harus kehilangan sumber penghasilan. Yang penting adalah bagaimana lahan tersebut dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. 3. Gambut adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. Orangutan, macan dahan, lutung merah, dan berbagai satwa lainnya hidup di ekosistem gambut. Begitu juga dengan berbagai tumbuhan seperti balangeran dan gemor.Artinya, ketika satu kawasan gambut rusak, yang hilang bukan cuma “tanah”. Ada rumah bagi banyak makhluk hidup yang ikut hilang. 4. Dan yang paling penting: gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Nah, di sini masalahnya. Gambut yang basah relatif aman. Tapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sekali terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar. Dan ini ikut memperparah pemanasan global. Lalu bagaimana kebakaran itu bisa semakin parah? Salah satu masalahnya dimulai ketika lahan gambut akan dialihgunakan untuk perkebunan. Dibuatlah kanal-kanal untuk mengeringkan lahan. Airnya keluar. Gambut yang tadinya basah menjadi kering. Dan ketika kering... gambut jadi jauh lebih mudah terbakar. Ketika terbakar, karbon dilepaskan. Pemanasan global semakin parah. Suhu meningkat. Kondisi menjadi semakin panas dan kering. Risiko kebakaran pun meningkat lagi. Dan begitu terus. Seperti lingkaran setan. Lalu kita kembali lagi ke awal. Jadi, kita bisa melakukan apa? Saya juga sadar, saya bukan pembuat kebijakan. Nggak punya kewenangan untuk menentukan aturan soal lahan. Tapi bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan. Pertama, sebarkan informasi. Ngobrolin soal bahaya pembakaran lahan. Terutama kalau konteksnya lahan gambut. Karena bisa jadi orang melakukan sesuatu bukan karena nggak peduli, tapi karena memang belum tahu dampaknya. Kedua, awasi kebijakan. Cari tahu bagaimana pemerintah membuat aturan soal penggunaan dan pemberian hak atas lahan. Pantau. Kritisi kalau memang ada yang perlu dikritisi. Karena masyarakat juga punya peran sebagai kontrol terhadap negara. Ketiga, dukung gerakan yang menjaga lingkungan. Nggak harus selalu dalam bentuk besar. Bisa dengan ikut kampanye, menyebarkan informasi, mendukung organisasi lingkungan, atau sekadar mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli. Karena mungkin selama ini kita mengira karhutla itu masalah yang jauh. Masalahnya ada di hutan. Masalahnya ada di lahan. Masalahnya ada di tempat lain. Padahal ketika asapnya sampai ke kota, ketika kualitas udara turun, ketika kita mulai memakai masker untuk keluar rumah... baru terasa bahwa masalahnya ternyata ada di sekitar kita. Berawal dari manusia sendiri. Kita memang hidup untuk hari ini. Tapi udara yang kita hirup hari ini juga akan menentukan seperti apa kehidupan anak cucu kita nanti. Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: “Bagaimana caranya supaya lahan ini cepat bersih?” Tapi juga: “Setelah lahan ini bersih, akan jadi seperti apa tempat ini untuk generasi berikutnya?” Menurut saya, pertanyaan kedua ini jauh lebih penting untuk kita pikirkan. [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] Ditulis oleh [[Pengguna: Catatansicikal]] Tulisan ini diparafrase dari tulisan asli penulis yang sudah terpublikasi di blog pribadi. Adapun penyuntingan lanjutan agar tulisan ini menjadi lebih baik dengan data terbaru diperkenankan. 1yj702ube81hbsg8a2fofo9nafqow2b 118924 118923 2026-09-05T12:23:19Z Catatansicikal 43791 118924 wikitext text/x-wiki Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Indonesia dalam beberapa bulan ini terkenal karena asap. Khususnya Provinsi Jambi yang sering naik peringkat lima besar Provinsi berasap. Kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap kembali jadi sesuatu yang harus kita waspadai. Pertanyaannya kemudian: '''Sebenarnya, dari mana semua asap ini datang?''' Tinggal di daerah yang banyak perkebunan karet dan sawit bikin saya sedikit banyak paham: ngurus lahan berhektare-hektare itu Tidak murah. Coba bayangkan kalau kita punya lahan luas, lalu mau membersihkannya dengan sistem upah harian. Keluar biaya terus. Belum tentu hasilnya juga sesuai harapan. Makanya, membakar lahan kadang dianggap sebagai jalan yang paling murah dan cepat. Sekali api menyala, lahan yang tadinya penuh semak bisa langsung bersih. Praktis? Iya. Murah? Kelihatannya iya. Tapi masalahnya, yang murah dan cepat hari ini bisa jadi mahal banget untuk masa depan. Pernah dengar kalimat: “Kita makan hari ini, Bos. Masa depan biarlah anak cucu yang menanggung.”Duh. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini memang ada logikanya kalau kita cuma melihat kebutuhan hari ini.Tapi ya... nggak bisa dibilang sepenuhnya benar juga. Mungkin banyak orang memilih cara seperti itu karena memang belum tahu dampaknya bisa sejauh apa. Setelah menyimak penjelasan Ka Ola Abas dari '''@PantauGambu'''t, saya jadi makin paham bahwa pembakaran lahan bukan sekadar persoalan: “Habis dibakar, selesai.” Pembakaran lahan ikut berkontribusi terhadap emisi karbon yang memperparah pemanasan global (global warming). Dan pada akhirnya, persoalan itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang sangat dekat, yaitu udara yang kita hirup “Tapi kan nggak semua kebakaran hutan itu disengaja?” Betul. Ada juga kebakaran yang bisa terjadi secara alami. Misalnya petir menyambar lahan yang kering saat musim kemarau, lalu apinya menyebar ke mana-mana. Hanya saja ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut erat kaitannya dengan alih guna lahan. Bahkan sampai 2023, sekitar 33% wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dialihgunakan, dan sekitar setengahnya menjadi lahan kelapa sawit (Pantau Gambut, 2023). Terus, kenapa gambut ini penting banget? Kenapa kita harus peduli? Karena gambut itu bukan sekadar tanah. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan dan organisme yang mati dan tertimbun selama ribuan tahun, berasal dari makhluk hidup, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan ternyata manfaatnya banyak banget. == Manfaat lahan Gambut == === 1. Gambut itu seperti spons raksasa. === Saat musim hujan, gambut menyerap dan menyimpan air. Saat kemarau, air yang tersimpan itu menjadi cadangan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. Jadi, gambut sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan air. === 2. Gambut juga menjadi sumber penghasilan masyarakat. === Berbagai tanaman pangan, palawija, dan komoditas lainnya bisa tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Jadi menjaga gambut bukan berarti masyarakat harus kehilangan sumber penghasilan. Yang penting adalah bagaimana lahan tersebut dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. === 3. Gambut adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. === Orangutan, macan dahan, lutung merah, dan berbagai satwa lainnya hidup di ekosistem gambut. Begitu juga dengan berbagai tumbuhan seperti balangeran dan gemor.Artinya, ketika satu kawasan gambut rusak, yang hilang bukan cuma “tanah”. Ada rumah bagi banyak makhluk hidup yang ikut hilang. === 4. Dan yang paling penting: gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. === Nah, di sini masalahnya. Gambut yang basah relatif aman. Tapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sekali terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar dan ini ikut memperparah pemanasan global. Lalu bagaimana kebakaran itu bisa semakin parah? Salah satu masalahnya dimulai ketika lahan gambut akan dialihgunakan untuk perkebunan. Dibuatlah kanal-kanal untuk mengeringkan lahan. Airnya keluar. Gambut yang tadinya basah menjadi kering. Lantas jika kering gambut jadi jauh lebih mudah terbakar. Ketika terbakar, karbon dilepaskan. Pemanasan global semakin parah. Suhu meningkat. Kondisi menjadi semakin panas dan kering. Risiko kebakaran pun meningkat lagi, begitu terus seperti lingkaran setan. Lalu kita kembali lagi ke awal. == Jadi, kita bisa melakukan apa? == Saya juga sadar, saya bukan pembuat kebijakan. Nggak punya kewenangan untuk menentukan aturan soal lahan. Tapi bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan. === Pertama, sebarkan informasi. === Ngobrolin soal bahaya pembakaran lahan. Terutama kalau konteksnya lahan gambut. Karena bisa jadi orang melakukan sesuatu bukan karena nggak peduli, tapi karena memang belum tahu dampaknya. === Kedua, awasi kebijakan. === Cari tahu bagaimana pemerintah membuat aturan soal penggunaan dan pemberian hak atas lahan. Pantau. Kritisi kalau memang ada yang perlu dikritisi. Karena masyarakat juga punya peran sebagai kontrol terhadap negara. === Ketiga, dukung gerakan yang menjaga lingkungan. === Nggak harus selalu dalam bentuk besar. Bisa dengan ikut kampanye, menyebarkan informasi, mendukung organisasi lingkungan, atau sekadar mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli. Mungkin selama ini kita mengira karhutla itu masalah yang jauh. Masalahnya ada di hutan. Masalahnya ada di lahan.Masalahnya ada di tempat lain. Padahal ketika asapnya sampai ke kota, ketika kualitas udara turun, ketika kita mulai memakai masker untuk keluar rumah baru terasa bahwa masalahnya ternyata ada di sekitar kita. Bisa juga berawal dari manusia sendiri. Kita memang hidup untuk hari ini. Tapi udara yang kita hirup hari ini juga akan menentukan seperti apa kehidupan anak cucu kita nanti. Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: '''“Bagaimana caranya supaya lahan ini cepat bersih?”''' Tapi juga:'''“Setelah lahan ini bersih, akan jadi seperti apa tempat ini untuk generasi berikutnya?”''' Menurut saya, pertanyaan kedua ini jauh lebih penting untuk kita pikirkan. Ditulis oleh [[Pengguna: Catatansicikal]] Tulisan ini diparafrase dari tulisan asli penulis yang sudah terpublikasi di blog pribadi. Adapun penyuntingan lanjutan agar tulisan ini menjadi lebih baik dengan data terbaru diperkenankan. [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] 693r34ujjjin7xcadkxzz9htew9f3qt 118925 118924 2026-09-05T12:24:44Z Catatansicikal 43791 118925 wikitext text/x-wiki Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Indonesia dalam beberapa bulan ini terkenal karena asap, khususnya Provinsi Jambi yang sering naik peringkat lima besar Provinsi berasap. Hal ini terlihat dari kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap kembali jadi sesuatu yang harus kita waspadai. Pertanyaannya kemudian: '''Sebenarnya, dari mana semua asap ini datang?''' Tinggal di daerah yang banyak perkebunan karet dan sawit bikin saya sedikit banyak paham: ngurus lahan berhektare-hektare itu Tidak murah. Coba bayangkan kalau kita punya lahan luas, lalu mau membersihkannya dengan sistem upah harian. Keluar biaya terus. Belum tentu hasilnya juga sesuai harapan. Makanya, membakar lahan kadang dianggap sebagai jalan yang paling murah dan cepat. Sekali api menyala, lahan yang tadinya penuh semak bisa langsung bersih. Praktis? Iya. Murah? Kelihatannya iya. Tapi masalahnya, yang murah dan cepat hari ini bisa jadi mahal banget untuk masa depan. Pernah dengar kalimat: “Kita makan hari ini, Bos. Masa depan biarlah anak cucu yang menanggung.”Duh. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini memang ada logikanya kalau kita cuma melihat kebutuhan hari ini.Tapi ya... nggak bisa dibilang sepenuhnya benar juga. Mungkin banyak orang memilih cara seperti itu karena memang belum tahu dampaknya bisa sejauh apa. Setelah menyimak penjelasan Ka Ola Abas dari '''@PantauGambu'''t, saya jadi makin paham bahwa pembakaran lahan bukan sekadar persoalan: “Habis dibakar, selesai.” Pembakaran lahan ikut berkontribusi terhadap emisi karbon yang memperparah pemanasan global (global warming). Dan pada akhirnya, persoalan itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang sangat dekat, yaitu udara yang kita hirup “Tapi kan nggak semua kebakaran hutan itu disengaja?” Betul. Ada juga kebakaran yang bisa terjadi secara alami. Misalnya petir menyambar lahan yang kering saat musim kemarau, lalu apinya menyebar ke mana-mana. Hanya saja ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut erat kaitannya dengan alih guna lahan. Bahkan sampai 2023, sekitar 33% wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dialihgunakan, dan sekitar setengahnya menjadi lahan kelapa sawit (Pantau Gambut, 2023). Terus, kenapa gambut ini penting banget? Kenapa kita harus peduli? Karena gambut itu bukan sekadar tanah. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan dan organisme yang mati dan tertimbun selama ribuan tahun, berasal dari makhluk hidup, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan ternyata manfaatnya banyak banget. == Manfaat lahan Gambut == === 1. Gambut itu seperti spons raksasa. === Saat musim hujan, gambut menyerap dan menyimpan air. Saat kemarau, air yang tersimpan itu menjadi cadangan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. Jadi, gambut sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan air. === 2. Gambut juga menjadi sumber penghasilan masyarakat. === Berbagai tanaman pangan, palawija, dan komoditas lainnya bisa tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Jadi menjaga gambut bukan berarti masyarakat harus kehilangan sumber penghasilan. Yang penting adalah bagaimana lahan tersebut dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. === 3. Gambut adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. === Orangutan, macan dahan, lutung merah, dan berbagai satwa lainnya hidup di ekosistem gambut. Begitu juga dengan berbagai tumbuhan seperti balangeran dan gemor.Artinya, ketika satu kawasan gambut rusak, yang hilang bukan cuma “tanah”. Ada rumah bagi banyak makhluk hidup yang ikut hilang. === 4. Dan yang paling penting: gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. === Nah, di sini masalahnya. Gambut yang basah relatif aman. Tapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sekali terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar dan ini ikut memperparah pemanasan global. Lalu bagaimana kebakaran itu bisa semakin parah? Salah satu masalahnya dimulai ketika lahan gambut akan dialihgunakan untuk perkebunan. Dibuatlah kanal-kanal untuk mengeringkan lahan. Airnya keluar. Gambut yang tadinya basah menjadi kering. Lantas jika kering gambut jadi jauh lebih mudah terbakar. Ketika terbakar, karbon dilepaskan. Pemanasan global semakin parah. Suhu meningkat. Kondisi menjadi semakin panas dan kering. Risiko kebakaran pun meningkat lagi, begitu terus seperti lingkaran setan. Lalu kita kembali lagi ke awal. == Jadi, kita bisa melakukan apa? == Saya juga sadar, saya bukan pembuat kebijakan. Nggak punya kewenangan untuk menentukan aturan soal lahan. Tapi bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan. === Pertama, sebarkan informasi. === Ngobrolin soal bahaya pembakaran lahan. Terutama kalau konteksnya lahan gambut. Karena bisa jadi orang melakukan sesuatu bukan karena nggak peduli, tapi karena memang belum tahu dampaknya. === Kedua, awasi kebijakan. === Cari tahu bagaimana pemerintah membuat aturan soal penggunaan dan pemberian hak atas lahan. Pantau. Kritisi kalau memang ada yang perlu dikritisi. Karena masyarakat juga punya peran sebagai kontrol terhadap negara. === Ketiga, dukung gerakan yang menjaga lingkungan. === Nggak harus selalu dalam bentuk besar. Bisa dengan ikut kampanye, menyebarkan informasi, mendukung organisasi lingkungan, atau sekadar mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli. Mungkin selama ini kita mengira karhutla itu masalah yang jauh. Masalahnya ada di hutan. Masalahnya ada di lahan.Masalahnya ada di tempat lain. Padahal ketika asapnya sampai ke kota, ketika kualitas udara turun, ketika kita mulai memakai masker untuk keluar rumah baru terasa bahwa masalahnya ternyata ada di sekitar kita. Bisa juga berawal dari manusia sendiri. Kita memang hidup untuk hari ini. Tapi udara yang kita hirup hari ini juga akan menentukan seperti apa kehidupan anak cucu kita nanti. Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: '''“Bagaimana caranya supaya lahan ini cepat bersih?”''' Tapi juga:'''“Setelah lahan ini bersih, akan jadi seperti apa tempat ini untuk generasi berikutnya?”''' Menurut saya, pertanyaan kedua ini jauh lebih penting untuk kita pikirkan. Ditulis oleh [[Pengguna: Catatansicikal]] Tulisan ini diparafrase dari tulisan asli penulis yang sudah terpublikasi di blog pribadi. Adapun penyuntingan lanjutan agar tulisan ini menjadi lebih baik dengan data terbaru diperkenankan. [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] 8uz6bf7zcf6ogquoupd6un3e86627or 118926 118925 2026-09-05T12:26:59Z Catatansicikal 43791 118926 wikitext text/x-wiki Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Indonesia dalam beberapa bulan ini terkenal karena asap, khususnya Provinsi Jambi yang sering naik peringkat lima besar Provinsi berasap. Hal ini terlihat dari kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap kembali jadi sesuatu yang harus kita waspadai. Pertanyaannya kemudian: '''Sebenarnya, dari mana semua asap ini datang?''' Tinggal di daerah yang banyak perkebunan karet dan sawit membuat saya mengerti bahwa mengurus lahan berhektar-hektar itu tidak murah. Coba bayangkan kalau kita punya lahan luas, lalu mau membersihkannya dengan sistem upah harian. Keluar biaya terus. Belum tentu hasilnya juga sesuai harapan. Makanya, membakar lahan kadang dianggap sebagai jalan yang paling murah dan cepat. Sekali api menyala, lahan yang tadinya penuh semak bisa langsung bersih. Praktis? Iya. Murah? Kelihatannya iya. Tapi masalahnya, yang murah dan cepat hari ini bisa jadi pengorbanan mahal banget untuk masa depan. Pernah dengar kalimat: “Kita makan hari ini, Bos. Masa depan biarlah anak cucu yang menanggung.”Duh. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini memang ada logikanya kalau kita cuma melihat kebutuhan hari ini.Tapi ya... nggak bisa dibilang sepenuhnya benar juga. Mungkin banyak orang memilih cara seperti itu karena memang belum tahu dampaknya bisa sejauh apa. Setelah menyimak penjelasan Ka Ola Abas dari '''@PantauGambu'''t, saya jadi makin paham bahwa pembakaran lahan bukan sekadar persoalan: “Habis dibakar, selesai.” Pembakaran lahan ikut berkontribusi terhadap emisi karbon yang memperparah pemanasan global (global warming). Dan pada akhirnya, persoalan itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang sangat dekat, yaitu udara yang kita hirup “Tapi kan nggak semua kebakaran hutan itu disengaja?” Betul. Ada juga kebakaran yang bisa terjadi secara alami. Misalnya petir menyambar lahan yang kering saat musim kemarau, lalu apinya menyebar ke mana-mana. Hanya saja ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut erat kaitannya dengan alih guna lahan. Bahkan sampai 2023, sekitar 33% wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dialihgunakan, dan sekitar setengahnya menjadi lahan kelapa sawit (Pantau Gambut, 2023). Terus, kenapa gambut ini penting banget? Kenapa kita harus peduli? Karena gambut itu bukan sekadar tanah. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan dan organisme yang mati dan tertimbun selama ribuan tahun, berasal dari makhluk hidup, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan ternyata manfaatnya banyak banget. == Manfaat lahan Gambut == === 1. Gambut itu seperti spons raksasa. === Saat musim hujan, gambut menyerap dan menyimpan air. Saat kemarau, air yang tersimpan itu menjadi cadangan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. Jadi, gambut sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan air. === 2. Gambut juga menjadi sumber penghasilan masyarakat. === Berbagai tanaman pangan, palawija, dan komoditas lainnya bisa tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Jadi menjaga gambut bukan berarti masyarakat harus kehilangan sumber penghasilan. Yang penting adalah bagaimana lahan tersebut dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. === 3. Gambut adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. === Orangutan, macan dahan, lutung merah, dan berbagai satwa lainnya hidup di ekosistem gambut. Begitu juga dengan berbagai tumbuhan seperti balangeran dan gemor.Artinya, ketika satu kawasan gambut rusak, yang hilang bukan cuma “tanah”. Ada rumah bagi banyak makhluk hidup yang ikut hilang. === 4. Dan yang paling penting: gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. === Nah, di sini masalahnya. Gambut yang basah relatif aman. Tapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sekali terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar dan ini ikut memperparah pemanasan global. Lalu bagaimana kebakaran itu bisa semakin parah? Salah satu masalahnya dimulai ketika lahan gambut akan dialihgunakan untuk perkebunan. Dibuatlah kanal-kanal untuk mengeringkan lahan. Airnya keluar. Gambut yang tadinya basah menjadi kering. Lantas jika kering gambut jadi jauh lebih mudah terbakar. Ketika terbakar, karbon dilepaskan. Pemanasan global semakin parah. Suhu meningkat. Kondisi menjadi semakin panas dan kering. Risiko kebakaran pun meningkat lagi, begitu terus seperti lingkaran setan. Lalu kita kembali lagi ke awal. == Jadi, kita bisa melakukan apa? == Saya juga sadar, saya bukan pembuat kebijakan. Nggak punya kewenangan untuk menentukan aturan soal lahan. Tapi bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan. === Pertama, sebarkan informasi. === Ngobrolin soal bahaya pembakaran lahan. Terutama kalau konteksnya lahan gambut. Karena bisa jadi orang melakukan sesuatu bukan karena nggak peduli, tapi karena memang belum tahu dampaknya. === Kedua, awasi kebijakan. === Cari tahu bagaimana pemerintah membuat aturan soal penggunaan dan pemberian hak atas lahan. Pantau. Kritisi kalau memang ada yang perlu dikritisi. Karena masyarakat juga punya peran sebagai kontrol terhadap negara. === Ketiga, dukung gerakan yang menjaga lingkungan. === Nggak harus selalu dalam bentuk besar. Bisa dengan ikut kampanye, menyebarkan informasi, mendukung organisasi lingkungan, atau sekadar mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli. Mungkin selama ini kita mengira karhutla itu masalah yang jauh. Masalahnya ada di hutan. Masalahnya ada di lahan.Masalahnya ada di tempat lain. Padahal ketika asapnya sampai ke kota, ketika kualitas udara turun, ketika kita mulai memakai masker untuk keluar rumah baru terasa bahwa masalahnya ternyata ada di sekitar kita. Bisa juga berawal dari manusia sendiri. Kita memang hidup untuk hari ini. Tapi udara yang kita hirup hari ini juga akan menentukan seperti apa kehidupan anak cucu kita nanti. Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: '''“Bagaimana caranya supaya lahan ini cepat bersih?”''' Tapi juga:'''“Setelah lahan ini bersih, akan jadi seperti apa tempat ini untuk generasi berikutnya?”''' Menurut saya, pertanyaan kedua ini jauh lebih penting untuk kita pikirkan. Ditulis oleh [[Pengguna: Catatansicikal]] Tulisan ini diparafrase dari tulisan asli penulis yang sudah terpublikasi di blog pribadi. Adapun penyuntingan lanjutan agar tulisan ini menjadi lebih baik dengan data terbaru diperkenankan. [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] 07slnwn0p7bd119sv1efm8u3ql9hhp1 118927 118926 2026-09-05T12:28:27Z Catatansicikal 43791 118927 wikitext text/x-wiki Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Indonesia dalam beberapa bulan ini terkenal karena asap, khususnya Provinsi Jambi yang sering naik peringkat lima besar Provinsi berasap. Hal ini terlihat dari kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap kembali jadi sesuatu yang harus kita waspadai. Pertanyaannya kemudian: '''Sebenarnya, dari mana semua asap ini datang?''' Tinggal di daerah yang banyak perkebunan karet dan sawit membuat saya mengerti bahwa mengurus lahan berhektar-hektar itu tidak murah. Coba bayangkan kalau kita punya lahan luas, lalu mau membersihkannya dengan sistem upah harian. Keluar biaya terus. Belum tentu hasilnya juga sesuai harapan. Makanya, membakar lahan kadang dianggap sebagai jalan yang paling murah dan cepat. Sekali api menyala, lahan yang tadinya penuh semak bisa langsung bersih. Praktis? Iya. Murah? Kelihatannya iya. Tapi masalahnya, yang murah dan cepat hari ini bisa jadi pengorbanan mahal banget untuk masa depan. Pernah dengar kalimat: “Kita makan hari ini, Bos. Masa depan biarlah anak cucu yang menanggung.”Duh. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini memang ada logikanya kalau kita cuma melihat kebutuhan hari ini.Tapi ya... nggak bisa dibilang sepenuhnya benar juga. Mungkin banyak orang memilih cara seperti itu karena memang belum tahu dampaknya bisa sejauh apa. Setelah menyimak penjelasan Ka Ola Abas dari '''@PantauGambu'''t, saya jadi makin paham bahwa pembakaran lahan bukan sekadar persoalan: “Habis dibakar, selesai.” Pembakaran lahan ikut berkontribusi terhadap emisi karbon yang memperparah pemanasan global (global warming). Dan pada akhirnya, persoalan itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang sangat dekat, yaitu udara yang kita hirup “Tapi kan nggak semua kebakaran hutan itu disengaja?” Betul. Ada juga kebakaran yang bisa terjadi secara alami. Misalnya petir menyambar lahan yang kering saat musim kemarau, lalu apinya menyebar ke mana-mana. Hanya saja ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut erat kaitannya dengan alih guna lahan. Bahkan sampai 2023, sekitar 33% wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dialihgunakan, dan sekitar setengahnya menjadi lahan kelapa sawit (Pantau Gambut, 2023). Terus, kenapa gambut ini penting banget? Kenapa kita harus peduli? Karena gambut itu bukan sekadar tanah. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan dan organisme yang mati dan tertimbun selama ribuan tahun, berasal dari makhluk hidup, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan ternyata manfaatnya banyak banget. == Manfaat lahan Gambut == === 1. Gambut itu seperti spons raksasa. === Saat musim hujan, gambut menyerap dan menyimpan air. Saat kemarau, air yang tersimpan itu menjadi cadangan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. Jadi, gambut sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan air. === 2. Gambut juga menjadi sumber penghasilan masyarakat. === Berbagai tanaman pangan, palawija, dan komoditas lainnya bisa tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Jadi menjaga gambut bukan berarti masyarakat harus kehilangan sumber penghasilan. Yang penting adalah bagaimana lahan tersebut dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. === 3. Gambut adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. === Orangutan, macan dahan, lutung merah, dan berbagai satwa lainnya hidup di ekosistem gambut. Begitu juga dengan berbagai tumbuhan seperti balangeran dan gemor.Artinya, ketika satu kawasan gambut rusak, yang hilang bukan cuma “tanah”. Ada rumah bagi banyak makhluk hidup yang ikut hilang. === 4. Dan yang paling penting: gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. === Nah, di sini masalahnya. Gambut yang basah relatif aman. Tapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sekali terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar dan ini ikut memperparah pemanasan global. Lalu bagaimana kebakaran itu bisa semakin parah? Salah satu masalahnya dimulai ketika lahan gambut akan dialihgunakan untuk perkebunan. Dibuatlah kanal-kanal untuk mengeringkan lahan. Airnya keluar. Gambut yang tadinya basah menjadi kering. Lantas jika kering gambut jadi jauh lebih mudah terbakar. Ketika terbakar, karbon dilepaskan. Pemanasan global semakin parah. Suhu meningkat. Kondisi menjadi semakin panas dan kering. Risiko kebakaran pun meningkat lagi, begitu terus seperti lingkaran setan. Lalu kita kembali lagi ke awal. == Jadi, kita bisa melakukan apa? == Saya juga sadar, saya bukan pembuat kebijakan. Nggak punya kewenangan untuk menentukan aturan soal lahan. Tapi bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan. === Pertama, sebarkan informasi. === Ngobrolin soal bahaya pembakaran lahan. Terutama kalau konteksnya lahan gambut. Karena bisa jadi orang melakukan sesuatu bukan karena nggak peduli, tapi karena memang belum tahu dampaknya. === Kedua, awasi kebijakan. === Cari tahu bagaimana pemerintah membuat aturan soal penggunaan dan pemberian hak atas lahan. Pantau. Kritisi kalau memang ada yang perlu dikritisi. Karena masyarakat juga punya peran sebagai kontrol terhadap negara. === Ketiga, dukung gerakan yang menjaga lingkungan. === Nggak harus selalu dalam bentuk besar. Bisa dengan ikut kampanye, menyebarkan informasi, mendukung organisasi lingkungan, atau sekadar mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli. Mungkin selama ini kita mengira karhutla itu masalah yang jauh. Masalahnya ada di hutan. Masalahnya ada di lahan.Masalahnya ada di tempat lain. Padahal ketika asapnya sampai ke kota, ketika kualitas udara turun, ketika kita mulai memakai masker untuk keluar rumah baru terasa bahwa masalahnya ternyata ada di sekitar kita. Bisa juga berawal dari manusia sendiri. Kita memang hidup untuk hari ini. Tapi udara yang kita hirup hari ini juga akan menentukan seperti apa kehidupan anak cucu kita nanti. Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: '''“Bagaimana caranya supaya lahan ini cepat bersih?”''' Tapi juga:'''“Setelah lahan ini bersih, akan jadi seperti apa tempat ini untuk generasi berikutnya?”''' Menurut saya, pertanyaan kedua ini jauh lebih penting untuk kita pikirkan. Ditulis oleh [[Pengguna: Catatansicikal]] Tulisan ini diparafrase dari tulisan asli penulis yang sudah terpublikasi di blog pribadi. Adapun penyuntingan lanjutan agar tulisan ini menjadi lebih baik dengan data terbaru diperkenankan. [[Kategori:Kebakaran Hutan]] [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] 3coqiv3kjz3kmqdab4p9vfdk0o0v2kf 118928 118927 2026-09-05T12:31:37Z Catatansicikal 43791 suntingan penulis 118928 wikitext text/x-wiki {{JUDULTAMPILAN:Saat Indonesia Terkenal Jalur Asap}} Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Indonesia dalam beberapa bulan ini terkenal karena asap, khususnya Provinsi Jambi yang sering naik peringkat lima besar Provinsi berasap. Hal ini terlihat dari kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap kembali jadi sesuatu yang harus kita waspadai. Pertanyaannya kemudian: '''Sebenarnya, dari mana semua asap ini datang?''' Tinggal di daerah yang banyak perkebunan karet dan sawit membuat saya mengerti bahwa mengurus lahan berhektar-hektar itu tidak murah. Coba bayangkan kalau kita punya lahan luas, lalu mau membersihkannya dengan sistem upah harian. Keluar biaya terus. Belum tentu hasilnya juga sesuai harapan. Makanya, membakar lahan kadang dianggap sebagai jalan yang paling murah dan cepat. Sekali api menyala, lahan yang tadinya penuh semak bisa langsung bersih. Praktis? Iya. Murah? Kelihatannya iya. Tapi masalahnya, yang murah dan cepat hari ini bisa jadi pengorbanan mahal banget untuk masa depan. Pernah dengar kalimat: “Kita makan hari ini, Bos. Masa depan biarlah anak cucu yang menanggung.”Duh. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini memang ada logikanya kalau kita cuma melihat kebutuhan hari ini.Tapi ya... nggak bisa dibilang sepenuhnya benar juga. Mungkin banyak orang memilih cara seperti itu karena memang belum tahu dampaknya bisa sejauh apa. Setelah menyimak penjelasan Ka Ola Abas dari '''@PantauGambu'''t, saya jadi makin paham bahwa pembakaran lahan bukan sekadar persoalan: “Habis dibakar, selesai.” Pembakaran lahan ikut berkontribusi terhadap emisi karbon yang memperparah pemanasan global (global warming). Dan pada akhirnya, persoalan itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang sangat dekat, yaitu udara yang kita hirup “Tapi kan nggak semua kebakaran hutan itu disengaja?” Betul. Ada juga kebakaran yang bisa terjadi secara alami. Misalnya petir menyambar lahan yang kering saat musim kemarau, lalu apinya menyebar ke mana-mana. Hanya saja ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut erat kaitannya dengan alih guna lahan. Bahkan sampai 2023, sekitar 33% wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dialihgunakan, dan sekitar setengahnya menjadi lahan kelapa sawit (Pantau Gambut, 2023). Terus, kenapa gambut ini penting banget? Kenapa kita harus peduli? Karena gambut itu bukan sekadar tanah. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan dan organisme yang mati dan tertimbun selama ribuan tahun, berasal dari makhluk hidup, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan ternyata manfaatnya banyak banget. == Manfaat lahan Gambut == === 1. Gambut itu seperti spons raksasa. === Saat musim hujan, gambut menyerap dan menyimpan air. Saat kemarau, air yang tersimpan itu menjadi cadangan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. Jadi, gambut sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan air. === 2. Gambut juga menjadi sumber penghasilan masyarakat. === Berbagai tanaman pangan, palawija, dan komoditas lainnya bisa tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Jadi menjaga gambut bukan berarti masyarakat harus kehilangan sumber penghasilan. Yang penting adalah bagaimana lahan tersebut dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. === 3. Gambut adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. === Orangutan, macan dahan, lutung merah, dan berbagai satwa lainnya hidup di ekosistem gambut. Begitu juga dengan berbagai tumbuhan seperti balangeran dan gemor.Artinya, ketika satu kawasan gambut rusak, yang hilang bukan cuma “tanah”. Ada rumah bagi banyak makhluk hidup yang ikut hilang. === 4. Dan yang paling penting: gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. === Nah, di sini masalahnya. Gambut yang basah relatif aman. Tapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sekali terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar dan ini ikut memperparah pemanasan global. Lalu bagaimana kebakaran itu bisa semakin parah? Salah satu masalahnya dimulai ketika lahan gambut akan dialihgunakan untuk perkebunan. Dibuatlah kanal-kanal untuk mengeringkan lahan. Airnya keluar. Gambut yang tadinya basah menjadi kering. Lantas jika kering gambut jadi jauh lebih mudah terbakar. Ketika terbakar, karbon dilepaskan. Pemanasan global semakin parah. Suhu meningkat. Kondisi menjadi semakin panas dan kering. Risiko kebakaran pun meningkat lagi, begitu terus seperti lingkaran setan. Lalu kita kembali lagi ke awal. == Jadi, kita bisa melakukan apa? == Saya juga sadar, saya bukan pembuat kebijakan. Nggak punya kewenangan untuk menentukan aturan soal lahan. Tapi bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan. === Pertama, sebarkan informasi. === Ngobrolin soal bahaya pembakaran lahan. Terutama kalau konteksnya lahan gambut. Karena bisa jadi orang melakukan sesuatu bukan karena nggak peduli, tapi karena memang belum tahu dampaknya. === Kedua, awasi kebijakan. === Cari tahu bagaimana pemerintah membuat aturan soal penggunaan dan pemberian hak atas lahan. Pantau. Kritisi kalau memang ada yang perlu dikritisi. Karena masyarakat juga punya peran sebagai kontrol terhadap negara. === Ketiga, dukung gerakan yang menjaga lingkungan. === Nggak harus selalu dalam bentuk besar. Bisa dengan ikut kampanye, menyebarkan informasi, mendukung organisasi lingkungan, atau sekadar mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli. Mungkin selama ini kita mengira karhutla itu masalah yang jauh. Masalahnya ada di hutan. Masalahnya ada di lahan.Masalahnya ada di tempat lain. Padahal ketika asapnya sampai ke kota, ketika kualitas udara turun, ketika kita mulai memakai masker untuk keluar rumah baru terasa bahwa masalahnya ternyata ada di sekitar kita. Bisa juga berawal dari manusia sendiri. Kita memang hidup untuk hari ini. Tapi udara yang kita hirup hari ini juga akan menentukan seperti apa kehidupan anak cucu kita nanti. Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: '''“Bagaimana caranya supaya lahan ini cepat bersih?”''' Tapi juga:'''“Setelah lahan ini bersih, akan jadi seperti apa tempat ini untuk generasi berikutnya?”''' Menurut saya, pertanyaan kedua ini jauh lebih penting untuk kita pikirkan. Ditulis oleh [[Pengguna: Catatansicikal]] Tulisan ini diparafrase dari tulisan asli penulis yang sudah terpublikasi di blog pribadi. Adapun penyuntingan lanjutan agar tulisan ini menjadi lebih baik dengan data terbaru diperkenankan. [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] [[Kategori:Karhutla]] 0njkbnevrjytfid2dpxlmyd896kkrks 118929 118928 2026-09-05T12:32:22Z Catatansicikal 43791 118929 wikitext text/x-wiki {{JUDULTAMPILAN:Saat Indonesia Terkenal Jalur Asap}} Udara yang biasanya kita hirup tanpa pernah kita pikirkan, sekarang justru harus kita perhatikan. Indonesia dalam beberapa bulan ini terkenal karena asap, khususnya Provinsi Jambi yang sering naik peringkat lima besar Provinsi berasap. Hal ini terlihat dari kualitas udara di Kota Jambi kembali memburuk. Pada 4 September 2026, ISPU di Stasiun Jambi Paal Lima sempat mencapai 210, masuk kategori sangat tidak sehat, dengan PM2.5 menjadi parameter kritis. Di wilayah lain di Jambi pun kondisinya belum benar-benar membaik. Di Tanjung Jabung Timur, misalnya, ISPU PM2.5 pada Sabtu pagi, 5 September, tercatat 150,9 dan masuk kategori tidak sehat. Kabut asap kembali jadi sesuatu yang harus kita waspadai. Pertanyaannya kemudian: '''Sebenarnya, dari mana semua asap ini datang?''' Tinggal di daerah yang banyak perkebunan karet dan sawit membuat saya mengerti bahwa mengurus lahan berhektar-hektar itu tidak murah. Coba bayangkan kalau kita punya lahan luas, lalu mau membersihkannya dengan sistem upah harian. Keluar biaya terus. Belum tentu hasilnya juga sesuai harapan. Makanya, membakar lahan kadang dianggap sebagai jalan yang paling murah dan cepat. Sekali api menyala, lahan yang tadinya penuh semak bisa langsung bersih. Praktis? Iya. Murah? Kelihatannya iya. Tapi masalahnya, yang murah dan cepat hari ini bisa jadi pengorbanan mahal banget untuk masa depan. Pernah dengar kalimat: “Kita makan hari ini, Bos. Masa depan biarlah anak cucu yang menanggung.”Duh. Kalau dipikir-pikir, kalimat ini memang ada logikanya kalau kita cuma melihat kebutuhan hari ini.Tapi ya... nggak bisa dibilang sepenuhnya benar juga. Mungkin banyak orang memilih cara seperti itu karena memang belum tahu dampaknya bisa sejauh apa. Setelah menyimak penjelasan Ka Ola Abas dari '''@PantauGambu'''t, saya jadi makin paham bahwa pembakaran lahan bukan sekadar persoalan: “Habis dibakar, selesai.” Pembakaran lahan ikut berkontribusi terhadap emisi karbon yang memperparah pemanasan global (global warming). Dan pada akhirnya, persoalan itu bisa kembali kepada kita dalam bentuk yang sangat dekat, yaitu udara yang kita hirup “Tapi kan nggak semua kebakaran hutan itu disengaja?” Betul. Ada juga kebakaran yang bisa terjadi secara alami. Misalnya petir menyambar lahan yang kering saat musim kemarau, lalu apinya menyebar ke mana-mana. Hanya saja ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan. Data menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut erat kaitannya dengan alih guna lahan. Bahkan sampai 2023, sekitar 33% wilayah Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) telah dialihgunakan, dan sekitar setengahnya menjadi lahan kelapa sawit (Pantau Gambut, 2023). Terus, kenapa gambut ini penting banget? Kenapa kita harus peduli? Karena gambut itu bukan sekadar tanah. Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan dan organisme yang mati dan tertimbun selama ribuan tahun, berasal dari makhluk hidup, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan ternyata manfaatnya banyak banget. == Manfaat lahan Gambut == === 1. Gambut itu seperti spons raksasa. === Saat musim hujan, gambut menyerap dan menyimpan air. Saat kemarau, air yang tersimpan itu menjadi cadangan yang penting bagi lingkungan di sekitarnya. Jadi, gambut sebenarnya punya peran besar dalam menjaga keseimbangan air. === 2. Gambut juga menjadi sumber penghasilan masyarakat. === Berbagai tanaman pangan, palawija, dan komoditas lainnya bisa tumbuh dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Jadi menjaga gambut bukan berarti masyarakat harus kehilangan sumber penghasilan. Yang penting adalah bagaimana lahan tersebut dikelola dengan cara yang tepat dan berkelanjutan. === 3. Gambut adalah rumah bagi banyak makhluk hidup. === Orangutan, macan dahan, lutung merah, dan berbagai satwa lainnya hidup di ekosistem gambut. Begitu juga dengan berbagai tumbuhan seperti balangeran dan gemor.Artinya, ketika satu kawasan gambut rusak, yang hilang bukan cuma “tanah”. Ada rumah bagi banyak makhluk hidup yang ikut hilang. === 4. Dan yang paling penting: gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. === Nah, di sini masalahnya. Gambut yang basah relatif aman. Tapi ketika dikeringkan, gambut menjadi jauh lebih mudah terbakar. Sekali terbakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam jumlah besar dan ini ikut memperparah pemanasan global. Lalu bagaimana kebakaran itu bisa semakin parah? Salah satu masalahnya dimulai ketika lahan gambut akan dialihgunakan untuk perkebunan. Dibuatlah kanal-kanal untuk mengeringkan lahan. Airnya keluar. Gambut yang tadinya basah menjadi kering. Lantas jika kering gambut jadi jauh lebih mudah terbakar. Ketika terbakar, karbon dilepaskan. Pemanasan global semakin parah. Suhu meningkat. Kondisi menjadi semakin panas dan kering. Risiko kebakaran pun meningkat lagi, begitu terus seperti lingkaran setan. Lalu kita kembali lagi ke awal. == Jadi, kita bisa melakukan apa? == Saya juga sadar, saya bukan pembuat kebijakan. Nggak punya kewenangan untuk menentukan aturan soal lahan. Tapi bukan berarti kita nggak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan. === Pertama, sebarkan informasi. === Ngobrolin soal bahaya pembakaran lahan. Terutama kalau konteksnya lahan gambut. Karena bisa jadi orang melakukan sesuatu bukan karena nggak peduli, tapi karena memang belum tahu dampaknya. === Kedua, awasi kebijakan. === Cari tahu bagaimana pemerintah membuat aturan soal penggunaan dan pemberian hak atas lahan. Pantau. Kritisi kalau memang ada yang perlu dikritisi. Karena masyarakat juga punya peran sebagai kontrol terhadap negara. === Ketiga, dukung gerakan yang menjaga lingkungan. === Nggak harus selalu dalam bentuk besar. Bisa dengan ikut kampanye, menyebarkan informasi, mendukung organisasi lingkungan, atau sekadar mengajak orang di sekitar kita untuk lebih peduli. Mungkin selama ini kita mengira karhutla itu masalah yang jauh. Masalahnya ada di hutan. Masalahnya ada di lahan.Masalahnya ada di tempat lain. Padahal ketika asapnya sampai ke kota, ketika kualitas udara turun, ketika kita mulai memakai masker untuk keluar rumah baru terasa bahwa masalahnya ternyata ada di sekitar kita. Bisa juga berawal dari manusia sendiri. Kita memang hidup untuk hari ini. Tapi udara yang kita hirup hari ini juga akan menentukan seperti apa kehidupan anak cucu kita nanti. Jadi mungkin pertanyaannya bukan cuma: '''“Bagaimana caranya supaya lahan ini cepat bersih?”''' Tapi juga:'''“Setelah lahan ini bersih, akan jadi seperti apa tempat ini untuk generasi berikutnya?”''' Menurut saya, pertanyaan kedua ini jauh lebih penting untuk kita pikirkan. Ditulis oleh [[Pengguna: Catatansicikal]] Tulisan ini diparafrase dari tulisan asli penulis yang sudah terpublikasi di blog pribadi. Adapun penyuntingan lanjutan agar tulisan ini menjadi lebih baik dengan data terbaru diperkenankan. [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] [[Kategori:Karhutla]] jsxohk6vdu7vxot8z226bbgcthtbvqe Renungan Gen-Z: Perlawanan Atas Tren Banalitas Generasinya 0 28203 118937 2026-09-05T15:13:20Z Hazmin N 43792 Menulis isi buku 118937 wikitext text/x-wiki Kota Jambi begitu syahdu sore ini. Anginnya sepai-sepoi meskipun sedikit panas, wajar karena sore hari. Saya duduk di tepian Danau Sipin. Menurut warga sekitar, meskipun airnya tenang dan tanpak jernih kehijau-hijaun, tapi justru tercemar dan tidak layak untuk diminum. Satu-satunya yang bisa disyukuri hanyalah pepohonan sekitar yang masih rindang. Perlahan senja mulai muncul dan langit sedikit demi sedikit memerah. [[Berkas:Danau Sipin 6.jpg|jmpl|Lokasi penulis menikmati senja hari itu]] [[Berkas:Gunung Kerinci dari tempat wisata Swarga 4.jpg|jmpl|Kemegahan Gunung Kerinci]] Sekilas cerita tentang Jambi. Saya cukup yakin kalau tidak semua warga Indonesia tahu nama dan letak daerah ini. Mari saya ceritakan sedikit kisahnya. Syahdan, Jambi adalah pusat pendidikan Hindu-Budha terbesar di Asia Tenggara, tepatnya ketika Kerajaan sriwijaya berada pada puncak keemasannya. Candi Muara Jambi, saksi bisu yang sampai kini masih berdiri gagah di atas sisa-sisa kemegahan masa lampau. Luas kompleksnya saja melebihi Candi Borobudur. Selain itu pula, Jambi juga terkenal dengan megahnya Gunung Kerinci, Gunung Masurai, Sungai Batanghari, dan masih banyak lagi. Penasaran? datanglah kemari, biar saya temani. Kembali ke cerita saya di awal. Saat saya menikmati ketenangan di pinggir Danau Sipin, lewatlah serombongan anak-anak SMP berpasang-pasangan layaknya hendak nikahan massal. Saya biasa saja, namanya juga bocah labil. Tak berselang lama, duduk pula sepasang kekasih muda-mudi, yang masih berpakaian SMA di sebelah saya, lengkap dengan gombalannya. Biarlah, mungkin masih baru terjebak dalam labirian hormon. Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya saya memutuskan untuk merenung sambil menelusuri tepian Danau saja. Semakin lama saya berjalan, selalu saja saya temui sepasang kekasih yang sedang bermesraan, hampir di sepanjang danau saya temui hal janggal ini. Setelah akhirnya merasa cukup menikmati sore ini, saya akhirnya memutuskan untuk pulang membawa sedikit kekesalan. Di tengah perjalanan pulang, terlintas beberapa pertanyaan yang menyerbu bak rinai hujan, “Berapa banyak muda-mudi di negeri ini? Berapa banyak dari mereka yang hanya sibuk memadu asmara? Jika lebih dari setengah populasi muda-mudi hanya sibuk bermaksiat dan berasmara lantas apa yang kita harapkan dengan Indonesia EMAS 2045? Bagaimana orang tua mengawasi dan mendidik anak-anak zaman sekarang? sudah sampai mana fenomena ini di normalisasikan? Wajar saja jika negara ini sulit untuk maju”. Gen-Z pada akhirnya terjebak dalam dunia digital yang fana, yang mereka bangga-banggakan. <nowiki>*</nowiki>Catatan renungan bebas penulis, tanpa menyalahkan siapapun. <nowiki>[[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]]</nowiki> <nowiki>[[Opini]]</nowiki> p9prz1etuherhgja1mjuooatoentmvi 118938 118937 2026-09-05T15:17:34Z Hazmin N 43792 118938 wikitext text/x-wiki Kota Jambi begitu syahdu sore ini. Anginnya sepai-sepoi meskipun sedikit panas, wajar karena sore hari. Saya duduk di tepian Danau Sipin. Menurut warga sekitar, meskipun airnya tenang dan tanpak jernih kehijau-hijaun, tapi justru tercemar dan tidak layak untuk diminum. Satu-satunya yang bisa disyukuri hanyalah pepohonan sekitar yang masih rindang. Perlahan senja mulai muncul dan langit sedikit demi sedikit memerah. [[Berkas:Danau Sipin 6.jpg|jmpl|Lokasi penulis menikmati senja hari itu]] [[Berkas:Gunung Kerinci dari tempat wisata Swarga 4.jpg|jmpl|Kemegahan Gunung Kerinci]] Sekilas cerita tentang Jambi. Saya cukup yakin kalau tidak semua warga Indonesia tahu nama dan letak daerah ini. Mari saya ceritakan sedikit kisahnya. Syahdan, Jambi adalah pusat pendidikan Hindu-Budha terbesar di Asia Tenggara, tepatnya ketika Kerajaan sriwijaya berada pada puncak keemasannya. Candi Muara Jambi, saksi bisu yang sampai kini masih berdiri gagah di atas sisa-sisa kemegahan masa lampau. Luas kompleksnya saja melebihi Candi Borobudur. Selain itu pula, Jambi juga terkenal dengan megahnya Gunung Kerinci, Gunung Masurai, Sungai Batanghari, dan masih banyak lagi. Penasaran? datanglah kemari, biar saya temani. Kembali ke cerita saya di awal. Saat saya menikmati ketenangan di pinggir Danau Sipin, lewatlah serombongan anak-anak SMP berpasang-pasangan layaknya hendak nikahan massal. Saya biasa saja, namanya juga bocah labil. Tak berselang lama, duduk pula sepasang kekasih muda-mudi, yang masih berpakaian SMA di sebelah saya, lengkap dengan gombalannya. Biarlah, mungkin masih baru terjebak dalam labirian hormon. Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya saya memutuskan untuk merenung sambil menelusuri tepian Danau saja. Semakin lama saya berjalan, selalu saja saya temui sepasang kekasih yang sedang bermesraan, hampir di sepanjang danau saya temui hal janggal ini. Setelah akhirnya merasa cukup menikmati sore ini, saya akhirnya memutuskan untuk pulang membawa sedikit kekesalan. Di tengah perjalanan pulang, terlintas beberapa pertanyaan yang menyerbu bak rinai hujan, “Berapa banyak muda-mudi di negeri ini? Berapa banyak dari mereka yang hanya sibuk memadu asmara? Jika lebih dari setengah populasi muda-mudi hanya sibuk bermaksiat dan berasmara lantas apa yang kita harapkan dengan Indonesia EMAS 2045? Bagaimana orang tua mengawasi dan mendidik anak-anak zaman sekarang? sudah sampai mana fenomena ini di normalisasikan? Wajar saja jika negara ini sulit untuk maju”. Gen-Z pada akhirnya terjebak dalam dunia digital yang fana, yang mereka bangga-banggakan. <nowiki>*</nowiki>Catatan renungan bebas penulis, tanpa menyalahkan siapapun. [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] 7dp0ls1u9z2fyu3piy951s78xdxsl1c Jembatan gentala arasy 0 28204 118939 2026-09-05T15:30:00Z Bang Muk 43816 Membuat tulisan baru 118939 wikitext text/x-wiki Matahari sore masih terasa menyengat kulit ketika motor kami berhenti di area parkir kawasan Ancol, Kota Jambi. Jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Rasa lelah selepas jam kuliah terakhir seketika menguap begitu embusan angin dari Sungai Batanghari menyambut saya dan teman-teman sekelas. Sore ini, kami memutuskan untuk melepas penat di salah satu ikon paling megah di tanah Pilih Pesako Betuah: Jembatan Gentala Arasy.Sambil melangkah menuju pangkal jembatan, seorang teman mengingatkan kembali asal-usul nama tempat ini. Gentala Arasy ternyata merupakan sebuah akronim yang mendalam, diambil dari "Genah Lahir Haji Abdurrahman Sayoeti", sebuah penghormatan untuk mantan Gubernur Jambi yang sangat dihormati. Meski cuaca sore itu masih cukup terik, suasana di sekitar jembatan sudah sangat hidup. Puluhan orang, mulai dari anak muda yang pulang sekolah hingga keluarga kecil, tampak lalu lalang menikmati suasana. Di sekitar area bawah jembatan, deretan lapak pedagang kaki lima memenuhi pandangan. Mereka menawarkan aneka Jajanan, jagung bakar, tebu es, hingga pakaian dan pernak-pernik khas Jambi yang ramah di kantong mahasiswa. Kami mulai menyusuri jembatan pedestrian bermodel jembatan gantung (cable-stayed) ini. Berdasarkan catatan sejarahnya, mahakarya ini dibangun selama dua tahun, dari tahun 2012 hingga 2014. Namun, momen bersejarah yang paling diingat adalah saat jembatan ini diresmikan secara langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla, pada tanggal 18 Maret 2015. Dari atas jembatan setinggi puluhan meter ini, sejauh mata memandang, terhampar kemegahan Sungai Batanghari. Aliran airnya yang tenang namun perkasa membentang sepanjang 503 kilometer, membelah provinsi ini dan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sejak zaman kerajaan kuno. Menghabiskan sore di Gentala Arasy, melihat perahu ketek melintas di bawah jembatan berlatar menara jam yang menjulang, membuat kami sadar betapa kayanya budaya dan pesona kota ini. Yuk, tunggu apa lagi? Jambi bukan sekadar titik di peta Sumatra, melainkan sepotong surga budaya dan sejarah yang siap memikat siapa saja. Datang dan rasakan sendiri kehangatan kotanya, nikmati senja magis di atas Sungai Batanghari, dan biarkan kemegahan Jembatan Gentala Arasy menyambut Anda. Ayo berkunjung ke Kota Jambi dan ciptakan cerita perjalanan Anda sendiri! <nowiki>[[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]]</nowiki> 3qywun6gjp70h00dzx0eu3av80nieuw 118947 118939 2026-09-06T03:40:02Z Muhamad Izzul Fiqih 36628 added [[Category:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118947 wikitext text/x-wiki Matahari sore masih terasa menyengat kulit ketika motor kami berhenti di area parkir kawasan Ancol, Kota Jambi. Jarum jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Rasa lelah selepas jam kuliah terakhir seketika menguap begitu embusan angin dari Sungai Batanghari menyambut saya dan teman-teman sekelas. Sore ini, kami memutuskan untuk melepas penat di salah satu ikon paling megah di tanah Pilih Pesako Betuah: Jembatan Gentala Arasy.Sambil melangkah menuju pangkal jembatan, seorang teman mengingatkan kembali asal-usul nama tempat ini. Gentala Arasy ternyata merupakan sebuah akronim yang mendalam, diambil dari "Genah Lahir Haji Abdurrahman Sayoeti", sebuah penghormatan untuk mantan Gubernur Jambi yang sangat dihormati. Meski cuaca sore itu masih cukup terik, suasana di sekitar jembatan sudah sangat hidup. Puluhan orang, mulai dari anak muda yang pulang sekolah hingga keluarga kecil, tampak lalu lalang menikmati suasana. Di sekitar area bawah jembatan, deretan lapak pedagang kaki lima memenuhi pandangan. Mereka menawarkan aneka Jajanan, jagung bakar, tebu es, hingga pakaian dan pernak-pernik khas Jambi yang ramah di kantong mahasiswa. Kami mulai menyusuri jembatan pedestrian bermodel jembatan gantung (cable-stayed) ini. Berdasarkan catatan sejarahnya, mahakarya ini dibangun selama dua tahun, dari tahun 2012 hingga 2014. Namun, momen bersejarah yang paling diingat adalah saat jembatan ini diresmikan secara langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla, pada tanggal 18 Maret 2015. Dari atas jembatan setinggi puluhan meter ini, sejauh mata memandang, terhampar kemegahan Sungai Batanghari. Aliran airnya yang tenang namun perkasa membentang sepanjang 503 kilometer, membelah provinsi ini dan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sejak zaman kerajaan kuno. Menghabiskan sore di Gentala Arasy, melihat perahu ketek melintas di bawah jembatan berlatar menara jam yang menjulang, membuat kami sadar betapa kayanya budaya dan pesona kota ini. Yuk, tunggu apa lagi? Jambi bukan sekadar titik di peta Sumatra, melainkan sepotong surga budaya dan sejarah yang siap memikat siapa saja. Datang dan rasakan sendiri kehangatan kotanya, nikmati senja magis di atas Sungai Batanghari, dan biarkan kemegahan Jembatan Gentala Arasy menyambut Anda. Ayo berkunjung ke Kota Jambi dan ciptakan cerita perjalanan Anda sendiri! <nowiki>[[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]]</nowiki> [[Kategori:WikiLatih Wikibuku 5 September 2026 Jambi]] col1vwjmpz4d51qicgmhyh1uwd5unvy Kategori:Motivasi 14 28205 118943 2026-09-05T19:57:10Z ~2026-48331-01 43826 Membuat halaman kosong 118943 wikitext text/x-wiki phoiac9h4m842xq45sp7s6u21eteeq1 Acara:Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 Malang 1728 28207 118949 2026-09-06T04:14:02Z Raflinoer32 36196 ←Membuat halaman berisi 'Ini adalah halaman Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 di Malang.' 118949 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 di Malang. lchgtvk9ca9g5s7n4ebg8ixab7tjrpb 118958 118949 2026-09-06T04:18:34Z Raflinoer32 36196 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118958 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 di Malang. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] hk8zjy69m66ealqixrlbvidf859om6v Acara:Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 Denpasar 1728 28208 118950 2026-09-06T04:14:41Z Raflinoer32 36196 ←Membuat halaman berisi 'Ini adalah halaman untuk acara Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 di Denpasar.' 118950 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 di Denpasar. nncurxc393nsg741gkmoukibroahfrt 118957 118950 2026-09-06T04:18:22Z Raflinoer32 36196 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118957 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Lokakarya WikiCitaRasa 2.0 di Denpasar. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] afuubynweu84i22rckauo1e7k33hek2 Acara:Kopdar WikiCitaRasa 2.0 Madura 1728 28209 118951 2026-09-06T04:15:33Z Raflinoer32 36196 ←Membuat halaman berisi 'Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Madura.' 118951 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Madura. 543q47wkuxensguz3ld9dwj5sppv5sd 118956 118951 2026-09-06T04:18:10Z Raflinoer32 36196 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118956 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Madura. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] mus69dr199v1a5ey6h3xmgo9w1au7t8 Acara:Kopdar WikiCitaRasa 2.0 Palembang 1728 28210 118952 2026-09-06T04:16:02Z Raflinoer32 36196 ←Membuat halaman berisi 'Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Palembang.' 118952 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Palembang. 890g6rskzqfm8mmohkglqeh0hrm3412 118955 118952 2026-09-06T04:18:02Z Raflinoer32 36196 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118955 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Palembang. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] mhwep1q6bacrwqt2xn7e33c2h6b0ocz Acara:Kopdar WikiCitaRasa 2.0 Bandung 1728 28211 118953 2026-09-06T04:16:57Z Raflinoer32 36196 ←Membuat halaman berisi 'Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Bandung.' 118953 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Bandung. m3iof5dg1zcvxkri7kn119jy2g3rim4 118954 118953 2026-09-06T04:17:10Z Raflinoer32 36196 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 118954 wikitext text/x-wiki Ini adalah halaman untuk acara Kopdar WikiCitaRasa 2.0 di Bandung. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] 2eqp3obp9oe38ov4wczui7osv052dm5 Seloka Jambi/Jangan ditukak batang cimedak 0 28213 118967 2026-09-06T09:58:17Z Onyaso 27293 ←Membuat halaman berisi '<poem>''Jangan ditukak batang cimedak ''Same lekat getah kukain ''Ayah idak induk pun idak ''Jangan sampai jadi pumalin.</poem> == Terjemahan == <poem>''Jangan dipukul pohon cempedak ''Getahnya lekat pada kain ''Ayah tidak ada ibu pun tidak ''Jangan sampai jadi pemain.</poem> == Makna == Merupakan pantun nasihat kepada seseorang anak yatim piatu. Untuk tidak menjadi pemain atau pemaling. [[Kategori:WikiSeloka]]' 118967 wikitext text/x-wiki <poem>''Jangan ditukak batang cimedak ''Same lekat getah kukain ''Ayah idak induk pun idak ''Jangan sampai jadi pumalin.</poem> == Terjemahan == <poem>''Jangan dipukul pohon cempedak ''Getahnya lekat pada kain ''Ayah tidak ada ibu pun tidak ''Jangan sampai jadi pemain.</poem> == Makna == Merupakan pantun nasihat kepada seseorang anak yatim piatu. Untuk tidak menjadi pemain atau pemaling. [[Kategori:WikiSeloka]] 41qot87ym727sxduuqh17ik2xz59c2y Seloka Jambi/Panjatlah anak sibatang aro 0 28214 118968 2026-09-06T10:12:42Z Onyaso 27293 ←Membuat halaman berisi '<poem>''Panjatlah anak sibatang aro ''Buahnyo masak diahi petang ''Bia harto kito dak punyo ''Budi bahsao ngan dikenang uhang.</poem> == Terjemahan == <poem>''Panjatlah pohon kayu ara ''Buahnya masak di hari petang ''Biar pun harta tidak punya ''Budi dan bahasa dikenang prang.</poem> == Makna == Walaupun seseorang tidak memiliki banyak harta atau kekayaan, kalau ia mempunyai budi yang baik, sopan santun, dan tutur bahasa yang bagus, maka dirinya akan tetap diha...' 118968 wikitext text/x-wiki <poem>''Panjatlah anak sibatang aro ''Buahnyo masak diahi petang ''Bia harto kito dak punyo ''Budi bahsao ngan dikenang uhang.</poem> == Terjemahan == <poem>''Panjatlah pohon kayu ara ''Buahnya masak di hari petang ''Biar pun harta tidak punya ''Budi dan bahasa dikenang prang.</poem> == Makna == Walaupun seseorang tidak memiliki banyak harta atau kekayaan, kalau ia mempunyai budi yang baik, sopan santun, dan tutur bahasa yang bagus, maka dirinya akan tetap dihargai dan dikenang oleh orang lain. Jadi, pesan utamanya adalah: kekayaan bukanlah ukuran utama harga diri seseorang. Budi pekerti, kebaikan hati, dan cara kita berbicara kepada orang lain justru lebih berharga dan meninggalkan kesan yang lama. Kalau dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kira-kira maksudnya: “Tak perlu kaya untuk menjadi orang yang berarti. Jadilah orang yang baik, santun, dan berbahasa elok, karena itulah yang akan membuat kita dikenang.” [[Kategori:WikiSeloka]] [[Kategori:Pantun]] h7qb7mdqup30ffkrzngyg2m3cdm3t3c 118969 118968 2026-09-06T10:13:34Z Onyaso 27293 /* Makna */ 118969 wikitext text/x-wiki <poem>''Panjatlah anak sibatang aro ''Buahnyo masak diahi petang ''Bia harto kito dak punyo ''Budi bahsao ngan dikenang uhang.</poem> == Terjemahan == <poem>''Panjatlah pohon kayu ara ''Buahnya masak di hari petang ''Biar pun harta tidak punya ''Budi dan bahasa dikenang prang.</poem> == Makna == Walaupun seseorang tidak memiliki banyak harta atau kekayaan, kalau ia mempunyai budi yang baik, sopan santun, dan tutur bahasa yang bagus, maka dirinya akan tetap dihargai dan dikenang oleh orang lain. Jadi, pesan utamanya kekayaan bukanlah ukuran utama harga diri seseorang. Budi pekerti, kebaikan hati, dan cara kita berbicara kepada orang lain justru lebih berharga dan meninggalkan kesan yang lama [[Kategori:WikiSeloka]] [[Kategori:Pantun]] eqcw76o4yw76hlpu3bm4zuhfome94ss 118970 118969 2026-09-06T10:14:40Z Onyaso 27293 118970 wikitext text/x-wiki <poem>''Panjatlah anak sibatang aro ''Buahnyo masak diahi petang ''Bia harto kito dak punyo ''Budi bahaso ngan dikenang uhang.</poem> == Terjemahan == <poem>''Panjatlah pohon kayu ara ''Buahnya masak di hari petang ''Biar pun harta tidak punya ''Budi dan bahasa dikenang prang.</poem> == Makna == Walaupun seseorang tidak memiliki banyak harta atau kekayaan, kalau ia mempunyai budi yang baik, sopan santun, dan tutur bahasa yang bagus, maka dirinya akan tetap dihargai dan dikenang oleh orang lain. Jadi, pesan utamanya kekayaan bukanlah ukuran utama harga diri seseorang. Budi pekerti, kebaikan hati, dan cara kita berbicara kepada orang lain justru lebih berharga dan meninggalkan kesan yang lama [[Kategori:WikiSeloka]] [[Kategori:Pantun]] rp7t14lk2n8x5ba3nkemndp05j9g93q Seloka Jambi/Pagi kubalai mumbeli buah 0 28215 118971 2026-09-06T10:58:57Z Onyaso 27293 ←Membuat halaman berisi '<poem>''Pagi kubalai mumbeli buah ''Buah sipilo diambik kanti ''Jangan Plit untuk basedekah ''Karno harto idak dibao mati</poem> == Terjemahan == <poem>''Pergi ke pasar membeli buah ''Buah pepaya diambil teman ''Jangan pelit untuk bersedekah ''Karna harta tidak dibawa mati.</poem> == Makna == Merupakan pantun nasihat kepada seseorang untuk bersedekah, karena untuk apa pelit padahal harta tidak dibisa dibawa mati. [[Kategori:WikiSeloka]]' 118971 wikitext text/x-wiki <poem>''Pagi kubalai mumbeli buah ''Buah sipilo diambik kanti ''Jangan Plit untuk basedekah ''Karno harto idak dibao mati</poem> == Terjemahan == <poem>''Pergi ke pasar membeli buah ''Buah pepaya diambil teman ''Jangan pelit untuk bersedekah ''Karna harta tidak dibawa mati.</poem> == Makna == Merupakan pantun nasihat kepada seseorang untuk bersedekah, karena untuk apa pelit padahal harta tidak dibisa dibawa mati. [[Kategori:WikiSeloka]] 8crlep51wkzddquitcvopnbpshci5vm Seloka Jambi/Rami pasa uhang sungai pnuh 0 28216 118972 2026-09-06T11:12:15Z Onyaso 27293 ←Membuat halaman berisi '<poem>''Rami pasa uhang sungai pnuh ''Rami dianak uhang semumu ''Bulajalah anak sungguh-sungguh ''Karno idut kito butuh ilmu".</poem> == Terjemahan == <poem>''Ramai pasar Sungai Penuh ''Ramai oleh orang Semumu ''Belajarlah, Nak sungguh-sungguh ''Karena hidup butuh ilmu.</poem> == Makna == Merupakan pantun nasihat kepada seseorang anak untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu, karena dalam kehidupan ini membutuhkan ilmu. [[Kategori:WikiSeloka]]' 118972 wikitext text/x-wiki <poem>''Rami pasa uhang sungai pnuh ''Rami dianak uhang semumu ''Bulajalah anak sungguh-sungguh ''Karno idut kito butuh ilmu".</poem> == Terjemahan == <poem>''Ramai pasar Sungai Penuh ''Ramai oleh orang Semumu ''Belajarlah, Nak sungguh-sungguh ''Karena hidup butuh ilmu.</poem> == Makna == Merupakan pantun nasihat kepada seseorang anak untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu, karena dalam kehidupan ini membutuhkan ilmu. [[Kategori:WikiSeloka]] e02bcsfurb1g02btlxsynb8tlfx59q1 Seloka Jambi/Anak kucek dtengah umo 0 28217 118973 2026-09-06T11:24:29Z Onyaso 27293 ←Membuat halaman berisi '[[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Anak kucek ditengah umo.wav|jmpl|Anak kucek ditengah umo]] [[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Diambik uhang dusun tinggi.wav |jmpl|Diambik uhang dusun tinggi]] [[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Awak jaek pumen idak pulo.wav |jmpl|Awak jaek pumen idak pulo]] [[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Tapi cita-cita harusnyo tinggi".wav |jmpl|Tapi cita-cita harusnyo tinggi]] <poem>''Anak kucek ditengah umo ''Diambik uhang dusun tinggi ''Awak jae...' 118973 wikitext text/x-wiki [[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Anak kucek ditengah umo.wav|jmpl|Anak kucek ditengah umo]] [[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Diambik uhang dusun tinggi.wav |jmpl|Diambik uhang dusun tinggi]] [[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Awak jaek pumen idak pulo.wav |jmpl|Awak jaek pumen idak pulo]] [[Berkas:LL-Q3195442 (kvr)-Fenov-Tapi cita-cita harusnyo tinggi".wav |jmpl|Tapi cita-cita harusnyo tinggi]] <poem>''Anak kucek ditengah umo ''Diambik uhang dusun tinggi ''Awak jaek pumen idak pulo ''Tapi cita-cita harusnyo tinggi.</poem> == Terjemahan == <poem>''Anak kecil di tengah rimba ''Diambil oleh orang Dusun Tinggi ''Awak tidak begitu jelek juga ''Tapi cita-citanya harus tinggi.</poem> == Makna == Merupakan pantun nasihat, pesan utama bahwa kekurangan atau kesederhanaan status sosial tidak boleh menghalangi seseorang untuk memiliki impian dan cita-cita yang mulia serta tinggi. [[Kategori:WikiSeloka]] jsoguzr5hbzqhyk3bsotdqgi42uw12s