Wikibuku
idwikibooks
https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.21
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikibuku
Pembicaraan Wikibuku
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Resep
Pembicaraan Resep
Wisata
Pembicaraan Wisata
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Kampuang Nan Jauah di Mato
0
1744
120195
115876
2026-09-26T13:31:18Z
Sri aini
42655
menambah terjemahan bahasa Indonesia
120195
wikitext
text/x-wiki
{{judullagu|{{PAGENAME}}|Cipt. Oslan husein}}
<poem>
Kampuang nan jauh di mato
Gunuang sansai bakuliliang
Den takana jo kawan-kawan den lamo
Sangkek basuliang-suliang
Panduduaknyo nan elok
Nan suko bagotong-royong
Kok Susah samo samo diraso
Den takana.. jo kampuang
Reff. :
Takana..... Jo kampuang.....
Induak ayah adiek sadonyo
Raso maimbau-imbau den raso
Den takana jo kampuang....
...Takana..... Jo kampuang.....
...Takana..... Jo kampuang.....
</poem>
=== Terjemah Bahasa Indonesia ===
Kampung yang jauh di mata
Dikelilingi banyak gunung
Teringat kawan-kawan lama
Sewaktu bermain suling
Penduduknya yang baik
Yang suka bergotong-royong
Susah dan senang sama-sama dirasakan
Ku teringat dengan kampung
Teringat dengan kampung
Ibu, Ayah, Adik, dan semuanya
Serasa memanggil ku pulang
Ku teringat dengan kampung
{{daftarisi|Lagu Daerah Sumatra Barat}}
[[Kategori:Lagu daerah]]
gjej9xqryzv40qblggj5q1zh791abr1
Templat:Selamat datang
10
4229
120219
57776
2026-09-27T03:19:33Z
AF1011
25283
Pembaruan sedikit, penambahan bagian.
120219
wikitext
text/x-wiki
<div style="border:2px solid #f3e4f2; background-color:#ffffff; font-size:95%; margin-right:1em; margin-left :1em; margin-bottom : 1em; padding: 5px;">
<span style="font-size:big;">'''Selamat datang, ''{{{nama|{{PAGENAME}}}}}''!'''</span>
Halo dan [[Wikibooks:Selamat datang|selamat datang]] di [[Wikibooks:Perihal|Wikibuku bahasa Indonesia]]!
'''[[Wikibooks:Perihal|Wikibuku]]''' adalah kumpulan buku yang isinya ditulis bersama-sama oleh para penggunanya dan disusun agar dapat dibaca dan disunting oleh siapapun juga.
* Anda bisa mengucapkan selamat datang kepada pengguna lainnya di [[Wikibooks:Halaman perkenalan|Halaman perkenalan]]
* Pertanyaan, usulan, dan komentar tentang Wikibuku bahasa Indonesia bisa dilakukan di [[Wikibooks:Warung kopi|Warung kopi]]. Ingat menandatangani pesan Anda, sehingga pengguna lain mengetahui siapa sang penulis pesan, dengan mengetikkan <code><nowiki>~~~~</nowiki></code> (empat kali tanda gelombang/tilde).
* '''Baca dan pelajarilah terlebih dahulu [[Wikibooks:Kebijakan dan pedoman|kebijakan dan pedoman]] yang berlaku di Wikibuku bahasa Indonesia.'''
* Untuk mencoba melakukan penyuntingan, lakukanlah di [[Wikibooks:Bak pasir|bak pasir]].
* Perhatikan juga [[Wikibooks:Kesalahan umum di Wikibuku|hal-hal yang tidak boleh dilakukan di Wikibuku]].
* Untuk menulis profil atau sekilas informasi tentang anda, bisa dilakukan di [[Pengguna:{{PAGENAME}}]], sehingga pengguna lain bisa mengenal sedikit tentang Anda.
</div><br/>
:~~<includeonly></includeonly>~~
<noinclude>{{documentation}}</noinclude>
4u0k73qsfucp2b39xkqohn13pdvw1ja
Panduan Game/Neo Geo
0
13754
120339
77931
2026-09-27T10:11:31Z
Abuhusainalbanjari
43686
120339
wikitext
text/x-wiki
{{Wikipedia|Neo Geo}}
# 2020 Super Baseball (olahraga kasti semi-3D)
# 3 Count Bout (gulat)
# Aero Fighters 2 (pesawat)
# Aero Fighters 3 (pesawat)
# Aggressors of Dark Kombat
# Alpha Mission 2
# Andro Dunos
# Art of Fighting (duel)
# Art of Fighting 2 (duel)
# Art of Fighting 3 (duel)
# Bang Bead
# Baseball Stars
# Baseball Stars 2 (bisbol semi-3D)
# Baseball Stars Professional (bisbol)
# Battle Flip Shot (pertarungan semi-3D)
# Blazing Star (pesawat)
# Blue's Journey (petualangan)
# Breaker's
# Breaker's Revenge (duel)
# Chibi Marukochan Deluxe Quiz (kuis)
# Crouching Tiger Hidden Dragon 2003 Set 1 (duel)
# Crouching Tiger Hidden Dragon 2003 Super Plus (duel)
# Crouching Tiger Hidden Dragon 2003 Super Plus Alternate (duel)
# Burning Fight (petualangan semi-3D)
# Captain Tomaday (pukul-pukulan)
# Crossed Swords (petualangan orang pertama)
# Cyber Lip (petualangan)
# Digger Man
# Double Dragon
# Eightman (petualangan)
# Far East of Eden (duel)
# Fatal Fury (pertarungan)
# Fatal Fury 2 (pertarungan)
# Fatal Fury 3 (pertarungan)
# Fatal Fury Special
# Fight Fever
# Fighters Swords (duel)
# Football Frenzy (olahraga football semi-3D)
# Galaxy Fight
# Garou - Mark of the Wolves (duel)
# Ghost Pilots (pesawat)
# Ghostlop (strategi)
# Goal! Goal! Goal! (sepakbola)
# Gururin
# Irritating Maze
# Jockey Grand Prix (berkuda)
# Jyunshin Densetsu - Quest of Jongmaster
# Kabuki Klash
# Karnov's Revenge
# King of Fighters '94
# King of Fighters '95
# King of Fighters '96
# King of Fighters '97
# King of Fighters '98
# King of Fighters '99
# King of Fighters 2000
# King of Fighters 2001
# King of Fighters 2002
# King of Gladiators - The King of Fighter '97 Bootleg (duel)
# King of the Monsters (duel)
# King of the Monsters 2 (duel)
# Kizuna Encounter
# Lansquenet 2004 (tembak-tembakan)
# Last Blade
# Last Blade 2
# Last Resort (pesawat)
# League Bowling (bowling)
# Legend of Success Joe (tinju semi-3D)
# Magical Drop II (puzzle)
# Magical Drop III
# Magician Lord (petualangan)
# Mahjong Kyo Retsuden
# Matrimelee
# Metal Slug (petualangan)
# Metal Slug 2 (petualangan)
# Metal Slug 3 (petualangan)
# Metal Slug 4 (petualangan)
# Metal Slug 5
# Metal Slug X
# {{Sub|Mutation Nation}} (petualangan semi-3D)
# Nam 1975 (petualangan orang pertama)
# Neo Bomberman (strategi)
# Neo Driftout (balap mobil)
# Neo Mr. Do (game papan)
# Neo No Panepon (strategi)
# Neo Turf Masters
# Nightmare in the Dark
# Ninja Combat (petualangan semi-3D)
# Ninja Commando (petualangan semi-3D)
# Ninja Master's
# Operation Ragnagard
# Overtop
# Panic Bomber (puzzle)
# Power Spikes 2 (olahraga voli)
# Prehistoric Isle 2
# Pulstar
# Puzzle Bobble (puzzle)
# Puzzle Bobble 2
# Puzzle De Pon!
# Puzzled (puzzle)
# Real Bout Fatal Fury
# Real Bout Fatal Fury 2
# Real Bout Fatal Fury Special
# Riding Hero
# {{Sub|Robo Army}} (petualangan semi-3D)
# Samurai Shodown
# Samurai Shodown 2
# Samurai Shodown 3
# Samurai Shodown 4 (pertarungan)
# Savage Reign
# {{Sub|Sengoku}} (petualangan semi-3D)
# Sengoku 2 (petualangan semi-3D)
# Sengoku 3
# Shock Troopers
# Shock Troopers 2
# Soccer Brawl (olahraga sepakbola semi-3D)
# {{Sub|Spin Master}} (petualangan)
# Stakes Winner (olahraga balap kuda semi-3D)
# Stakes Winner 2
# Street Hoop
# Strikers 1945 Plus
# Super Dodge Ball
# Super Sidekicks (olahraga sepakbola semi-3D)
# Super Sidekicks 2 (olahraga sepakbola semi-3D)
# Super Sidekicks 3
# Super Sidekicks 4
# Super Spy (petualangan orang pertama)
# Tecmo World Soccer '96
# Thrash Rally (olahraga reli mobil semi-3D)
# Top Hunter (petualangan)
# Top Player's Golf (olahraga golf)
# Twinklestar Sprites
# Viewpoint (pesawat semi-3D)
# Voltage Fighter - Gowcaizer
# Waku Waku 7
# Wind Jammers
# World Heroes
# World Heroes 2
# World Heroes Perfect
# Zed Blade (pesawat)
# Zupapa
== Pranala luar ==
* {{En}} [http://coolrom.com/roms/neogeo Neo Geo].
* {{En}} [http://www.gamefaqs.com/neo Neo-Geo].
[[Kategori:Panduan Game|{{SUBPAGENAME}}]]
[[Kategori:Neo Geo| ]]
g9afb0ikqc7r5v8cyiajsr1olg7kxqu
Abad Pertengahan/Sejarah/Bizantium/Nikephoros II
0
14147
120265
58557
2026-09-27T04:31:49Z
Geguritan
43945
Memperbarui kategori
120265
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Nikiphoros Phokas.jpg|175px|jmpl|ka|Lukisan Nikephoros II]]
Salah seorang jenderal Romanos, Nikephorus Phokas, menjadi kaisar. Ia adalah jenderal yang memimpin penaklukan Kreta, jadi rakyat menyukainya. Nikephoros II menikahi janda Romanos, Theophano, dan memerintah bersama anak-anak mereka, akan tetapi ia terbukti bukan kaisar yang baik. Ia terus-menerus berperang, melawan bangsa Hongaria, bangsa Bulgar, dan Abbasiyyah. Semua perang ini begitu mahal dan membuat pajak dinaikkan sehingga menjadikannya tidak populer. Pada akhirnya pada 969 M, Theophanoe menyusun persekongkolan untuk membunuhnya ketika ia tidur.
{{Abad Pertengahan}}
[[Kategori:Abad Pertengahan]]
r1s0qtm5sgjfm2cox5rezrp3fqg2v68
Abad Pertengahan/Sejarah/Bizantium/Basileios II
0
14149
120252
48095
2026-09-27T04:13:54Z
Rekhaaqsolia
43933
added [[Category:Sejarah]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120252
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Basilios II.jpg|175px|jmpl|ka|Lukisan Basileios II]]
Putra Romanus dan Theophano, Basileios II, kini telah dewasa dan mampu berkuasa sendiri meski baru berusia delapan belas tahun Basileios terbukti menjadi kaisar yang jauh lebih baik dibanding ayahnya, para walinya, atau bahkan beberapa kaisar sebelumnya. Ia memaksa orang kaya untuk membayar pajak lagi, ia juga menyepakati perdamaian dengan Tsar Rusia, Vladimir. Vladimir bersedia membantu Basileios dalam perang serta memeluk Kristen, dan sebagai balasannya saudari termuda Basileios, Anna, dinikahkan dengan Vladimir. Basileios juga menyelesaikan perebutan kembali Syria dari Abbasiyah. Itu belum semua, Basileiso menaklukan kembali sebagian besar Kekaisaran Bulgaria hingga sejauh sungai Danube, selain itu ia juga memukul mundur bangsa Hongaria.
Basileios hidup lama dan memerintah hampir selama lima puluh tahun, tapi ia tidak memiliki seprang pun putra. Ia meninggal pada 1025 M.
{{Abad Pertengahan}}
[[kategori:Abad Pertengahan]]
[[Kategori:Sejarah]]
56is0947ywujgyqqdulg41u1lg87mv0
Bungong Jeumpa
0
24282
120194
98504
2026-09-26T13:26:31Z
Riana Mulyati
43979
menambahakan prolog
120194
wikitext
text/x-wiki
'''''Bungong Jeumpa''''' merupakan lagu daerah yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. Lagu ''Bungong Jeumpa'' berarti bunga cempaka, Diciptakan oleh Abraham Abduh, lagu ini menceritakan tentang keindahan yang dimiliki sebuah bunga yang bewarna putih bercampur semu kuning. Mulai dari keharuman dan kecantikan yang melekat pada bunga cempaka.{{Wikipedia}}
[[Berkas:Aceh_-_Bungong_Jeumpa.wav]]
[[Berkas:Bungong Jeumpa.webm|thumb|500px|Bungong Jeumpa]]
== Lirik ==
{| class="wikitable"
|+
!'''Bahasa Aceh'''
!'''Bahasa Indonesia'''
|-
|''Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di Acèh''
''Bungong teuleubèh, teuleubèh indah lagoë na''
''Putéh kunèng meujampu mirah''
''Bungong siulah cidah that rupa'' [''indah lagoë na'']
''Lam sina buleuën, lam sina buleuën angèn peuayôn''
''Rurôh meususôn, meususôn, nyang mala-mala''
''Mangat that meubèë meunyo tatém côm''
''Leupah that harôm si bungong jeumpa''
|Bunga cempaka, bunga cempaka terkenal di Aceh
Bunga indah sekali
Putih kuning bercampur merah
Mekar sekuntum indah rupawan
Dalam sinar bulan, dalam sinar bulan angin ayunkan
Gugur bersusun, bersusun, yang sudah layu
Harum baunya kalau ingin dicium
Alangkah harum si bunga cempaka
|}
[[Kategori:Lagu daerah]]
[[Kategori:Aceh]]
[[Kategori:Lagu daerah Aceh]]
[[Kategori:WikiDendang]]
[[Kategori:Lagu bahasa Aceh]]
[[Kategori:Lagu anak Indonesia]]
toftc2i221qbi225mgvdjugmfm4c7a9
Yamko Rambe Yamko
0
24283
120182
98510
2026-09-26T12:26:02Z
Yunyun02
41911
menambah sub
120182
wikitext
text/x-wiki
{{Wikipedia}}
[[Berkas:Papua_-_Yamko_Rambe_Yamko.wav]]
[[Berkas:Yamko Rambe Yamko.webm|thumb|500px|Yamko Rambe Yamko]]
== Lirik ==
<i>Hee Yamko Rambe Yamko<br />
Aronawa kombe<br />
Hee Yamko Rambe Yamko<br />
Aronawa Kombe<br />
Temino Kibe (atau: Teemi nokibe) Kubano Ko Bombe Ko<br />
Yuma No Bungo Awe Ade<br />
Temino Kibe Kubano Ko Bombe Ko<br />
Yuma No Bungo Awe Ade<br />
Hongke Hongke, Hongke Riro<br />
Hongke Jombe, Jombe Riro<br />
Hongke Hongke, Hongke Riro<br />
Hongke Jombe, Jombe Riro</i>
===Penjelasan lirik===
;Hee Yamko Rambe Yamko
*Kata ''Hee'' disini berarti ''Hey!'' merupakan kata sapaan umum dalam bahasa Klesi, bahasa Namblong, dan bahasa Kemtuk untuk meminta perhatian.
*Kata ''Yamko'' disini berarti "berhenti sudah!" ditunjukan kepada penonton untuk tenang karena permainan mau dimulai. (bahasa Namblong)
*Kata ''Rambe'' berarti "(ini) hanya permainan" mengacu pada permainan Kasep. (bahasa Klesi dan Namblong)
;Aronawa Kombe
Kalimat ini diucapkan ketika roh kasep sudah merasuki dari pemimpin permainan.
*Kata ''Aronawa'' tidak dikenal oleh masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari ''Agonawa'' (bahasa Kemtuk).
*''Agonawa Kombe'' ini berarti artinya "Ini ibu-ku dan juga ibu-mu", ibu disini bisa berarti [[personifikasi]] tanah Papua.
;
;Temino Kibe Kubano Ko Bombe Ko
*Kata ''Temino Kibe'' tidak dikenal masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari ''Temne Inokkibe'' (bahasa Klesi), berarti "gendong gadis kecil itu". Gadis kecil yang dimaksudkan bukan manusia tetapi boneka yang digunakan sebagai media untuk roh Kasep.
*kata ''Ku'' menjelaskan waktu saat itu. Berarti harafiah di bawah. Kata ''Banoko'' berarti ''terang bulan'' (bahasa Klesi dan Namblong). Selain itu juga merupakan nama asli desa [[Braso, Kemtuk Gresi, Jayapura|Braso]] yaitu ''Yakna''-''Kubanu'' (dibawah bulan)-''Blobanu'' (diatas bulan).<ref name="BRWA 2024">{{cite web | title=Badan Registrasi Wilayah Adat | website=berita BRWA | date=2024-04-28 | url=https://brwa.or.id/wa/view/QUdZUl9Ea2ZyVlE | language=id | access-date=2024-04-28}}</ref>
*''Ku Banu ko Bombe Ko'', bisa diartikan "karena bulan sudah mau terbenam". Permainan Kasep ini biasa dilakukan pada malam hari saat bulan sudah mau terbenam menjelang pagi.
;Yuma No Bungo Awe Ade
*Kata ''Yuma'' merupakan ajakan "Ayo!", atau ''Yu Ma'' digunakan untuk ancang ancang dimana ''Ma'' berarti kekuatan gaib yang diberikan.
*Kata ''No'' merupakan nama satu tempat sakral bersejarah di [[Nambluong, Jayapura|Distrik Namblong]].
*Kata ''Awe'' merupakan nama tradisional (nama tanah) seseorang.
*Kata ''Ade'' tidak dikenal oleh masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari ''Adey'' yang artinya "bersama saya"
*Sehingga berarti "Ayo pergi ke ''No'', sudah ditunggu, ''Awe'' dan saya".
;Hongke Hongke, Hongke Riro<br/>Hongke Jombe, Jombe Riro
*Kata ''Hongke'' tidak dikenal masyarakat lokal dan merupakan perubahan dari ''Hank' e'', yang merupakan ungkapan terima kasih kepada "sayang e", ditujukan kepada roh Kasep yang sudah memberikan berkat atau sesuatu yang diminta
*Kata ''Riro'' tidak dikenal masyarakat lokal dan merupakan perubahan kata dari ''Lido'', yang artinya ''datangkanlah'' mengacu pada berkat yang diminta.
*Kata ''Jombe'' berarti "milik kita".
*Bait ini berarti untuk meminta berkat (atau hal lain) kepada roh Kasep yang sudah dipanggil. "Sayang, sayang, sayang, datangkanlah (berkat), sayang milik kita, milik kita datangkanlah".
== Referensi ==
[[Kategori:Lagu daerah]]
[[Kategori:Papua]]
[[Kategori:Lagu daerah Papua]]
[[Kategori:WikiDendang]]
[[Kategori:Lagu bahasa-bahasa Papua]]
[[Kategori:Lagu anak Indonesia]]
lihcfin19isalaqdczhab8fteio8vw1
Belajar di Rumah: Panduan Pendidikan Keluarga (Seri PAUD)/isi
0
25359
120250
104530
2026-09-27T04:11:09Z
Mengsky
41602
added [[Category:Nonfiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120250
wikitext
text/x-wiki
== Apa itu Pendidikan dan Tujuannya ==
Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa pendidikan dan pengajaran memiliki arti yang berbeda dalam memahami tujuan pendidikan. Pengajaran ''(onderwijs)'' adalah bagian dari pendidikan yang berfungsi memberikan ilmu untuk mengembangkan kecakapan hidup siswa, baik lahir maupun batin. Sementara itu, '''pendidikan ''(opvoeding)'' mencakup segala upaya untuk membimbing kekuatan alami anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan tertinggi, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.'''
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan dan pengajaran adalah persiapan untuk hidup manusia, baik dalam masyarakat maupun dalam budaya. Pendidikan menjadi wadah untuk menumbuhkan kebudayaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diwariskan. Pendidikan bertujuan untuk memerdekakan manusia, baik secara lahir maupun batin, agar dapat mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Melalui pendidikan, siswa diharapkan dapat tumbuh secara utuh, memuliakan diri dan orang lain, serta mampu mengatur hidupnya sendiri tanpa perintah orang lain.<blockquote>'''Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menuntun kodrat anak agar mereka mencapai kebahagiaan dan keselamatan tertinggi. Pendidik hanya berfungsi sebagai pemandu yang membantu mengembangkan kekuatan kodrat anak, sehingga mereka dapat memperbaiki diri dan hidup dengan baik.'''</blockquote>
== Mengenal Ragam Pendidikan ==
[[Berkas:Ragam Pendidikan.png|al=Ragam Pendidikan, Quraeni, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons|kiri|jmpl|638x638px|''Ragam Pendidikan,'' Quraeni, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons]]
Pilihan cara mendidik anak usia dini sangat bervariasi. Jika Anda mencari informasi tentang “kurikulum taman kanak-kanak”, Anda akan menemukan jutaan sumber yang membahas berbagai jenis kurikulum untuk anak-anak pra-sekolah ini. Beberapa kurikulum didasarkan pada filosofi dan gagasan pendidikan yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh pendidikan atau metode tertentu, seperti [[wikisource:The_New_Student's_Reference_Work/Montessori_System|Montessori]], [[wikipedia:Waldorf_education|Waldorf]], [[wikisource:Author:Charlotte_Maria_Shaw_Mason|Charlotte Mason]], dan [[wikipedia:Reggio_Emilia_approach|Reggio Emilia]].
Selain itu, ada kurikulum yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan seperti ''HighScope, Bank Street,'' dan ''Creative Curriculum,'' yang biasanya berasal dari sektor swasta (non-pemerintah). Pemerintah di berbagai negara juga memiliki kurikulum untuk pendidikan pra-sekolah.
'''Setiap kurikulum memiliki ciri khasnya masing-masing. Anda dapat memilih di antara berbagai pilihan tersebut atau mencari alternatif lain melalui internet,''' baik yang gratis maupun berbayar. Ada pula model pendidikan yang berbeda, yakni ''Unschooling''. '''Berbeda dengan kurikulum yang terstruktur, ''Unschooling'' menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dan berfokus pada pembelajaran yang dipimpin oleh anak, di mana proses belajar dipicu oleh minat anak itu sendiri.'''
''Unschooling'' berasumsi bahwa keinginan untuk belajar adalah sifat alami pada anak. Sejak lahir, ketika anak mulai berinteraksi dengan lingkungannya, mereka memiliki naluri untuk mengeksplorasi dan ingin mengetahui berbagai hal. <blockquote>''Dunia nyata dan lingkungan sekitar adalah tempat belajar terbaik bagi anak. Karena anak cenderung berinisiatif dan ingin mengeksplorasi, '''peran orang tua adalah menyediakan lingkungan yang mendukung dan mengurangi campur tangan yang bisa menghalangi proses belajar alami anak.'''''</blockquote>
== Apa itu Pendidikan Informal ==
Sebagai sebuah model pendidikan alternatif, ''homeschooling'' memiliki model yang berbeda dibandingkan sekolah. Salah satu perbedaannya adalah penempatan keluarga sebagai sentral dalam proses penyelenggaraan pendidikan.
Sebagai sentral pendidikan, keluarga memiliki peran yang sangat penting dan krusial. Keluarga terlibat dalam setiap tahap pendidikan, mulai dari penetapan visi dan tujuan yang ingin dicapai, pelaksanaan kegiatan pendidikan sehari-hari, hingga evaluasi. Peran ini akan terus dijalankan oleh keluarga seiring dengan perkembangan anak dan proses ''homeschooling'' yang mereka jalani. Ini adalah kesempatan sekaligus tantangan dalam pelaksanaan ''homeschooling''.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul mengenai homeschooling adalah kurikulum apa yang harus digunakan, terutama untuk anak usia dini. '''Apa kurikulum dan panduan yang tepat untuk keluarga dalam menjalani ''homeschooling'' pada anak usia 0 hingga 6 tahun?'''<blockquote><u>Karena ''homeschooling'' berbasis pada keluarga dan setiap keluarga berbeda, tidak ada satu model atau panduan yang wajib diikuti. '''Setiap keluarga bebas memilih pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mereka.'''</u></blockquote>'''Salah satu prinsip penting dalam ''homeschooling'' adalah "boleh".'''
Keluarga memiliki kebebasan untuk memilih aliran parenting dan kurikulum yang digunakan dalam homeschooling. Bahkan jika memilih untuk tidak menggunakan kurikulum formal dan menerapkan pendekatan ''unschooling'', itu juga diperbolehkan.<blockquote>Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan oleh keluarga ''homeschooling'' saat memilih kurikulum, yaitu:
# Menyadari nilai-nilai yang penting bagi keluarga
# Memahami berbagai pilihan yang tersedia
# Memilih yang paling sesuai dengan keluarga
</blockquote>Proses tsb tidak harus dilakukan dalam urutan tertentu. Bisa dimulai dengan mengenali nilai-nilai keluarga atau mengeksplorasi pilihan-pilihan yang ada dengan membaca buku tentang parenting. Prosesnya juga dapat dilakukan sebelum memulai ''homeschooling'' atau sambil berjalan. Bisa selesai dalam satu waktu atau menjadi proses berkelanjutan yang terus dikaji ulang selama ''homeschooling''.
Yang terpenting adalah ketiga langkah tersebut (mengenali nilai-nilai keluarga, mengenali pilihan, dan memilih yang sesuai) dijalankan, dengan cara yang disesuaikan dengan karakter dan kebiasaan keluarga
Hal paling mendasar yang perlu diingat oleh orang tua tentang tujuan yang dipentingkan dalam proses pendidikan keluarga anak usia dini bukanlah mendidik anak menjadi juara di bidang akademis. ''Homechooling'' bukan perlombaan lebih cepat membaca, lebih jago berhitung dan menjadi anak yang bisa dipamerkan kepada orang lain.
</br></br></br>
{{c| ——————————————————
</br>
『'''[[Belajar di Rumah: Panduan Pendidikan Keluarga (Seri PAUD)/praktik#Membuat Rencana Pembelajaran di Rumah|Membuat Rencana Pembelajaran di Rumah]]'''』『'''[[Belajar di Rumah: Panduan Pendidikan Keluarga (Seri PAUD)/praktik#Memahami Perkembangan Anak|Memahami Perkembangan Anak]]'''』}}
[[Kategori:Nonfiksi]]
tef2ygosictvaamszmabinptnyrgr0t
Pengguna:Quraeni
2
25363
120201
109816
2026-09-26T18:44:54Z
Quraeni
37519
120201
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Wikisource Conference 2025, Day 3, Denpasar; February 2025 (126).jpg|al=sedang berbicara|ka|nirbing]]
Hai! Aku Qure. Terbuka untuk berkolaborasi. Hayuk ngobrol [[Istimewa:EmailUser/Quraeni|di sini]].
== Proyek Menulis ==
=== Nonfiksi ===
=== Fiksi ===
*
<blockquote>[[Pengguna:Quraeni/Bak pasir|Bak pasirku]] 📝</blockquote>
4zdzsmt4n33w7at6vb4g9j61ovo0xrs
Bencana? Jangan Panik, Tetap Epik: Tanggap, Tangguh, Terlindungi!
0
25930
120254
110831
2026-09-27T04:14:30Z
Geguritan
43945
added [[Category:Buku]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120254
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Cover buku Bencana Jangan Panik, Tetap Epik Tanggap, Tangguh, Terlindungi!.png|pus|nirbing|622x622px|]]
== Daftar Isi ==
[[Bencana? Jangan Panik, Tetap Epik: Tanggap, Tangguh, Terlindungi!/GLOSARIUM|GLOSARIUM]]
[[Bencana? Jangan Panik, Tetap Epik: Tanggap, Tangguh, Terlindungi!/PENDAHULUAN|PENDAHULUAN]]
<ol type=A>
<li>[[Bencana? Jangan Panik, Tetap Epik: Tanggap, Tangguh, Terlindungi!/Identitas Modul|Identitas Modul]]</li>
<li>Kompetensi Dasar</li>
<li> Petunjuk Penggunaan Modul</li>
<li>Tujuan Modul</li>
<li>Tujuan Pembelajaran</li>
</ol>
[[Bencana? Jangan Panik, Tetap Epik: Tanggap, Tangguh, Terlindungi!/Eksplorasi Materi 1 Memahami Bencana Alam: Kenali, Pahami, dan Hadapi dengan Siaga!|Eksplorasi Materi 1 Memahami Bencana Alam: Kenali, Pahami, dan Hadapi dengan Siaga!]]
<ol type=A>
<li> Apakah Bencana Itu?</li>
<li> Kenapa Bencana bisa terjadi di Indonesia?</li>
<li> Apakah yang dimaksud bencana Alam?</li>
</ol>
# Jenis – Jenis bencana Alam
<ol type=a>
<li> Gempa Bumi</li>
<li> Tsunami</li>
<li> Erupsi Gunung Api</li>
<li> Banjir</li>
<li> Tanah Longsor</li>
<li> Kekeringan</li>
<li> Puting Beliung</li>
<li> Kebakaran Hutan dan Lahan</li>
<li> Likuifaksi</li>
</ol>
<ol start=4 type=A>
<li> Siklus Penanggulangan Bencana</li>
</ol>
# Perencanaan dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
# Perencanaan Penanggulangan Bencana
# Proses Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana
# Prinsip-Prinsip Dalam Penanggulangan Bencana
# Tujuan Penanggulangan Bencana
<ol start=5 type=A>
<li> Rangkuman</li>
</ol>
E. Latihan Soal 32
F. Diskusi Kelompok. 35
G. Refleksi dan Pengayaan Individu.. 37
H. Tabel Penilaian Diri 38
Kunci Jawaban dan Penjelasan.. 40
DAFTAR PUSTAKA.. 44
[[Kategori:Bhumika Wiki (Surabaya)]]
[[Kategori:Buku]]
ihbyt83e4gxc5krnhby2dxnyedl20fv
Pengguna:Mengsky
2
25939
120218
115259
2026-09-27T03:17:13Z
Mengsky
41602
120218
wikitext
text/x-wiki
Hallo, aku Akit. Tinggal di Surabaya dan sangat tertarik dengan dengan industri kreatif. Mari berinteraksi di akun media sosial saya [https://www.instagram.com/tika.yulia.e.w?igsh=MXRmNGE5cW9mZGdwcw==]
rznatgf2dqnufb643b2s3vstn9c94lq
120242
120218
2026-09-27T04:03:00Z
Mengsky
41602
120242
wikitext
text/x-wiki
Meow.
Mengsky Kampengsky di sini, tapi panggil saja Mengsky, kucing digital yang sangat menggemari hal-hal sederhana sehari-hari. Beberapa kali wira-wiri di beragam kegiatan Wikimedia. Tergabung menjadi anggota komunitas Wikimedia Suroboyo. Suka sekali jalan-jalan, memfoto hal random,corat-coret serta yapping hal-hal yang menarik.[[Berkas:Foto diri Mengsky.jpg]]
sn6euc202i50o9s9k7dv50m1x1g98k8
120246
120242
2026-09-27T04:06:38Z
Mengsky
41602
120246
wikitext
text/x-wiki
Meow.
Mengsky Kampengsky di sini, tapi panggil saja Mengsky, kucing digital yang sangat menggemari hal-hal sederhana sehari-hari. Beberapa kali wira-wiri di beragam kegiatan Wikimedia. Tergabung menjadi anggota komunitas Wikimedia Suroboyo. Suka sekali jalan-jalan, memfoto hal random,corat-coret serta yapping hal-hal yang menarik.
Seringkali aktif menulis '''copy''' untuk media sosial, '''fiksi''' berdasarkan pengalaman pribadi serta sesekali '''nonfiksi''' untuk mereview sesuatu.
nixh0rrhkmf78mfasgb3dk7e5zerua1
120253
120246
2026-09-27T04:14:06Z
Mengsky
41602
120253
wikitext
text/x-wiki
Meow.
== Tentang Saya ==
Mengsky Kampengsky di sini, tapi panggil saja Mengsky, kucing digital yang sangat menggemari hal-hal sederhana sehari-hari. Beberapa kali wira-wiri di beragam kegiatan Wikimedia. Tergabung menjadi anggota komunitas Wikimedia Suroboyo. Suka sekali jalan-jalan, memfoto hal random,corat-coret serta yapping hal-hal yang menarik.
Seringkali aktif menulis '''copy''' untuk media sosial, '''fiksi''' berdasarkan pengalaman pribadi serta sesekali '''nonfiksi''' untuk mereview sesuatu.
== Proyek ==
* Fiksi
* Nonfiksi
af2xt3ricqsneobxzfld0a7wxev338c
120262
120253
2026-09-27T04:26:56Z
Mengsky
41602
/* Proyek */
120262
wikitext
text/x-wiki
Meow.
== Tentang Saya ==
Mengsky Kampengsky di sini, tapi panggil saja Mengsky, kucing digital yang sangat menggemari hal-hal sederhana sehari-hari. Beberapa kali wira-wiri di beragam kegiatan Wikimedia. Tergabung menjadi anggota komunitas Wikimedia Suroboyo. Suka sekali jalan-jalan, memfoto hal random,corat-coret serta yapping hal-hal yang menarik.
Seringkali aktif menulis '''copy''' untuk media sosial, '''fiksi''' berdasarkan pengalaman pribadi serta sesekali '''nonfiksi''' untuk mereview sesuatu.
== Proyek ==
Fiksi
* [[Duh, Keyshaaaa!]]
detqzjxi6atr5xmb4mm8it48c9vucoj
120264
120262
2026-09-27T04:30:33Z
Mengsky
41602
/* Proyek */
120264
wikitext
text/x-wiki
Meow.
== Tentang Saya ==
Mengsky Kampengsky di sini, tapi panggil saja Mengsky, kucing digital yang sangat menggemari hal-hal sederhana sehari-hari. Beberapa kali wira-wiri di beragam kegiatan Wikimedia. Tergabung menjadi anggota komunitas Wikimedia Suroboyo. Suka sekali jalan-jalan, memfoto hal random,corat-coret serta yapping hal-hal yang menarik.
Seringkali aktif menulis '''copy''' untuk media sosial, '''fiksi''' berdasarkan pengalaman pribadi serta sesekali '''nonfiksi''' untuk mereview sesuatu.
== Proyek ==
Fiksi
* [[Duh, Keyshaaaa!]]
Non Fiksi
* [[Gedung-Gedung Bersejarah di Surabaya/Gedung Balai Pemuda Surabaya]]
2rvz0kfzcbz15ui65tyit0h56f1mf6i
Gedung-Gedung Bersejarah di Surabaya/Gedung Balai Pemuda Surabaya
0
25956
120263
109337
2026-09-27T04:29:54Z
Mengsky
41602
added [[Category:Non fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120263
wikitext
text/x-wiki
{{c|{{xxx-larger|'''Gedung Balai Pemuda'''}}}}
[[Berkas:Simpangsche Societeit, Soerabaia., KITLV 1404387.tiff|al=Foto Lama Balai Pemuda Surabaya |jmpl|Gedung Balai Pemuda di Alun-alun Surabaya]]
== Gedung Balai Pemuda ==
Gedung Balai Pemuda terletak di kawasan Alun-alun Surabaya yang telah berubah nama serta fungsi dari masa ke masa. Mulai dari klub dan perkumpulan eksklusif, markas tentara Indonesia sampai pada ruang interaksi dan rekreasi masyarakat. Beralamat di Jalan Gubernur Suryo No 15, Embong Kaliasin, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, membuat gedung ini cukup dekat dengan kantor Gubernur Jawa Timur serta kantor Walikota Surabaya.<ref name=":0">https://disbudporapar.surabaya.go.id/adinda/portaldata/cagarbudaya/detail/balai-pemuda-surabaya diakses pada 20 Juli 2025</ref>
== Perkembangan dari Masa ke Masa ==
* 1907- dibangun dan dikenal sebagai ''De Simpangsche Societeit'' ''(''<abbr>terj. har.</abbr> 'Perkumpulan Simpang')
* 1929- ditambahkan bangunan lepas di sebelah gedung yang lama
* 1945- dijadikan markas perjuangan arek-arek Suroboyo oleh Pemuda Republik Indonesia (PRI)
* 1950- diambil alih oleh Penguasa Militer Provinsi Jawa Timur dengan pelaksana KKMB (Komando Militer Kota Besar) Surabaya
* 1957- masih bernama ''De Simpangsche Societeit'' diserahterimakan oleh Penguasa Militer Provinsi Jawa Timur pada Ketua Dewan Pemerintah Daerah Kota Praja Surabaya dan mengganti namanya sebagai Balai Pemuda sesuai dengan fungsinya sebagai pertemuan umum.
* 1971-1972- renovasi dan dibangunnya Balai Pemuda Mitra
* 1974- Digunakan sebagai sekretariat Federasi Pemuda Indonesia dan KNPI
* 1979-1980- pemugaran gedung barat
* 1980- Di sebelah utara ditempati oleh Dewan Kesenian Surabaya sebagai Pusat Pagelaran Kesenian Surabaya (PPKS), termasuk pusat pembinaan dalam Bengkel Muda Surabaya (BMS) dan Akademi Seni rupa Surabaya (AKSERA).
* 2016- Rancangan pembangunan Alun-alun Surabaya
* 2018- Pembangungan fisik alun-alun Surabaya dimulai
* 2020- Peresmian kawasan Alun-alun Surabaya
== Referensi ==
[[Kategori:Non fiksi]]
69jgn0v6hg807d3xqmmjkdgq1q680vk
Penulis:Lu Xun
0
26132
120331
119324
2026-09-27T07:40:32Z
Quraeni
37519
/* Ulasan buku */
120331
wikitext
text/x-wiki
'''Lu Xun''' (dibaca “'''luh shiwn'''”; juga dikenal sebagai '''Lu Hsün'''), yang nama aslinya adalah '''Zhou Shuren''', lahir pada 25 September 1881 dari sebuah keluarga kelas bangsawan di Shaoxing, Tiongkok, sebuah kota kecil di selatan Sungai Yangtze. Semasa kecil, ia mendapatkan pendidikan klasik yang baik dan menyukai cerita hantu, fantasi, serta seni rakyat. Saat berusia tiga belas tahun, kakeknya, Zhou Jiefu, seorang editor di Akademi Kekaisaran di Beijing, dituduh menerima suap dalam ujian dinas provinsi dan dipenjara selama tujuh tahun. Ayah Lu Xun, Zhou Boyi, jatuh sakit setelah kakeknya dipenjara dan menjadi orang sakit permanen hingga meninggal pada tahun 1896. Kemunduran keluarga membuat Lu Xun berpindah ke dunia perbatasan antara kemewahan dan kemiskinan, yang menajamkan daya pengamatannya. Ibunya, Lu Rui, putri seorang cendekiawan, dibesarkan di pedesaan namun mengajarkan dirinya sendiri untuk membaca. Ia memiliki pengaruh besar pada putranya; Lu Xun mengambil kata “Lu” dalam nama penanya dari nama ibunya.<ref>Qingyun Wu. 2017. “Lu Xun.” ''Critical Survey of World Literature,'' December, 1762–68. [https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=lkh&AN=132190755&site=eds-live&scope=site. https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=lkh&AN=132190755&site=eds-live&scope=site.]</ref>
Lu Xun dikenal sebagai tokoh penting dalam sastra dan pemikiran Tiongkok modern berkat ketajamannya mengupas karakter, masyarakat, dan budaya bangsanya. Ia menonjol karena orisinalitas pemikiran serta kemampuannya mengubah wawasan intelektual dan psikologis menjadi karya sastra yang berpengaruh. Meskipun jumlah karyanya tidak banyak—terutama cerpen dan prosa puitis—nama besarnya mengakar kuat. Dalam ranah politik, reputasinya dibangun melalui perannya sebagai pengkritik sosial, khususnya pada masa-masa terakhir hidupnya di Shanghai.
Sebagai figur publik, Lu Xun menampilkan citra percaya diri dan berani mengkritik sifat serta tradisi masyarakat Tiongkok. Bahkan setelah 1927, ketika rezim Kuomintang menunjukkan permusuhan terbuka, ia tetap tegar melancarkan kritik. Penampilannya—dengan tatapan tajam dan kumis tebal—mencerminkan keberanian revolusioner. Komunis Tiongkok kemudian membentuk citra ini menjadi simbol heroik sederhana, menutupi kompleksitas kepribadian dan pemikirannya. Bagi Lu Xun, membangkitkan rasa hormat dan percaya diri pada bangsa merupakan langkah awal menuju kebangkitan nasional, menjadikannya lambang perjuangan Tiongkok untuk menjadi masyarakat modern yang dewasa.
Namun, sisi pribadinya jauh lebih rumit. Ia memandang kehidupan dengan nada tragis, merasa terhimpit oleh kekuatan reaksioner dan represi, serta meragukan kemenangan revolusi. Hidupnya dibayangi penderitaan batin, keraguan, dan obsesi terhadap kematian. Komitmennya pada komunisme berakar pada keinginan untuk membangun kembali bangsa, bukan sekadar kesetiaan ideologis. Integritasnya muncul dari tekad untuk menghindari penipuan diri, disertai kebiasaan mengkritik dirinya dengan keras. Ia menghadapi kenyataan tanpa ilusi, dan moralitasnya bertumpu pada situasi kemanusiaan nyata.
Meski kontribusinya terhadap revolusi politik diakui, warisan terbesar Lu Xun justru terletak pada kontradiksi dan pergulatan batin yang tergambar dalam karyanya. Ia dikenang karena kemampuannya menangkap sifat mendasar bangsa Tiongkok sekaligus mengekspresikan kegelisahan psikologisnya lewat sastra dan puisi. Inilah yang menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah modern Tiongkok, bukan hanya sebagai penulis, tetapi juga sebagai cerminan kompleksitas jiwa dan zaman yang ia hidupi.<ref>Crabtree, Loren W. “Lu Xun.” ''Dictionary of World Biography: The 20th Century,'' January 2000, 1–3. https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=lkh&AN=164499126&site=eds-live&scope=site.</ref>
== Karya ==
<gallery>
Berkas:1948-阿Q正传-英汉对照-重庆新中国书局.pdf|''Ah Q zheng zhuan'', ''1921, serial (1923, book; in Nahan; The True Story of Ah Q, 1926)''
</gallery>
== Resensi buku ==
* ''Gushi xinbian, 1935 (Old Tales Retold, 1961).'' Telah diterjemahkan dari bahasa Tionghoa dengan anotasi oleh Tonny Mustika dengan judul '''Kisah Lama Tutur Baru''' (Penerbit Marjin Kiri).
== Referensi ==
[[Kategori:Penulis]]
h6wcyefuiapdnq2qrcjexsuww7oryi7
Jelajah Wisata Makassar
0
26786
120196
112948
2026-09-26T14:19:00Z
Iripseudocorus
39602
prakata
120196
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]] a. [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]] b. [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]] a. [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
fkpc9se5sw50lye195mmcojxxdw1qzk
120197
120196
2026-09-26T14:19:49Z
Iripseudocorus
39602
daftar isi
120197
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
jpalr0a5934ywqcebzlxuislxrs8w0r
120207
120197
2026-09-27T01:54:32Z
Sekar Jarwo Soekarno
41687
120207
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
2jy6cqjplwjvc18fhtsdzhbopnkumxf
120212
120207
2026-09-27T02:08:27Z
Iripseudocorus
39602
/* */
120212
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
##
dzbqbg2w5khc1dkrc4zh4jdwtztivxg
120213
120212
2026-09-27T02:43:08Z
Iripseudocorus
39602
120213
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona|Pulau Samalona]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
#[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi|Objek Wisata Religi]]
##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah|Masjid 99 Kubah]]
qnqf9lrlmamzz1s08v40r0xe0g8dmn4
120214
120213
2026-09-27T02:49:17Z
AF1011
25283
Pembaruan sedikit, penambahan bagian.
120214
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona|Pulau Samalona]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
#[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi|Objek Wisata Religi]]
##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah|Masjid 99 Kubah]]
##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid Al-Markaz Al-Islami|Masjid Al-Markaz Al-Islami]]
19ao9kwjqpx9m46s9tid9jv81kblxwa
120221
120214
2026-09-27T03:23:30Z
Iripseudocorus
39602
/* */
120221
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Kayangan|Pulau Kayangan]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae|Pulau Lae-Lae]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona|Pulau Samalona]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf|Makam Syekh Yusuf]]
#[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi|Objek Wisata Religi]]
##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah|Masjid 99 Kubah]]
##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid Al-Markaz Al-Islami|Masjid Al-Markaz Al-Islami]]
t99gjh1mke8fq1nkw4bk8a0vbzwa03g
120225
120221
2026-09-27T03:33:55Z
Iripseudocorus
39602
/* */
120225
wikitext
text/x-wiki
<div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya.
Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div>
# [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Kayangan|Pulau Kayangan]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae|Pulau Lae-Lae]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona|Pulau Samalona]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]]
# [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]]
## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf|Makam Syekh Yusuf]]
## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo|Kompleks Makam Raja-Raja Tallo]]
#[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi|Objek Wisata Religi]]
##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah|Masjid 99 Kubah]]
##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid Al-Markaz Al-Islami|Masjid Al-Markaz Al-Islami]]
bkbyvje8w9t5mnxkhlpkq4vid28hbu0
Bengawan Solo
0
27275
120189
115407
2026-09-26T13:17:17Z
Yunyun02
41911
menambahkan kalimat
120189
wikitext
text/x-wiki
{{header
|title = {{PAGENAME}}
|section =
|author = Gesang
|previous =
|next =
|year =
|portal = Lagu daerah Indonesia
|shortcut =
|notes = [[:w:Bengawan Solo (lagu)|artikel Wikipedia]]
}}
Oleh: [[:w:Gesang|Gesang]]
'''Lagu Bengawan Solo''' adalah lagu daerah Surakarta, Solo, Jawa Tengah, yang menciptakan aliran Sungai karangan dari Gesang Martohartono. Penciptaan lagu tersebut pada tahun 1940 disaat usia beliau 23 tahun. Inspirasi lagu Bengawan Solo berawal dari Gesang Martohartono yang sedang duduk di tepian Sungai Bengawan Solo. <ref>Maria Oktaviana, ANTARA Kantor Berita Indonesia, https://www.antaranews.com/berita/4240651/lirik-lagu-bengawan-solo-karya-legendaris-gesang-martohartono, diakses tanggal 26 September 2026. </ref>
[[Berkas:Bengawan Solo.mp3|jmpl|Sepenggal lagu Bengawan Solo dari film berjudul sama tahun 1971]]
==Lirik==
===Bahasa Indonesia===
<poem>
Bengawan Solo, riwayatmu ini
Sedari dulu jadi, perhatian insani
Musim kemarau, tak b'rapa airmu
Di musim hujan, air meluap sampai jauh
:Mata airmu dari Solo
:Terkurung Gunung Seribu
:Air mengalir sampai jauh
:Akhirnya ke laut
Itu perahu, riwayatnya dulu
Kaum pedagang s'lalu naik itu perahu
</poem>
===Bahasa Inggris===
(versi Rebecca Pan)
<poem>
Bengawan Solo, river of love, behold
Where the palms are swaying low, and lovers that so's enthralled
Bengawan Solo, river of love we know
Where my heart was set aglow, when we loved not long ago
:Nightingales softly singing
:To a guitar is gently playing
:Moon and stars brightly shining
:Shining for you and I
In that moment divine, you whispered you were mine
and you vowed we'd never part, down by the river of love
</poem>
===Bahasa Jepang <ref>[http://melet.us/yuku/1577 liryc Bengawan Solo (Japan)]dipunnunduh tanggal 14 Mei 2011, tabuh 00.25 WIB </ref>===
{|
|- border="1"
! style="width:220px" |
!
|-
| 変わらぬは ソロの流れ
| kawaranu ha Solo no nagare
|-
| いわれを秘めて 今日も流れる
| iware wo himete kyou mo nagareru
|-
| 乾燥期(かれどき)は 水は乾けど
| karedoki ha mizu kawakedo
|-
| 雨期は豊かに あふれ流れる
| uki ha yutaka ni afure nagareru
|-
|
|
|-
| 緑の深山(みやま)に 囲まれた水上(みなかみ)
| midori no miyama ni kakomareta minakami
|-
| 流れて終(つ)いには 海にそそぐ
| nagarete tui ni ha umi ni sosogu
|-
| 過ぎし日を 語るように
| sugisi hi wo kataru you ni
|-
| 商いの舟 今日も漕ぎ行く
| akinai no fune kyou mo kogi yuku
|-
|
|
|- style="text-align:left"
|}
=== Bahasa Mandarin ===
{|
|-
|美丽的梭罗河,我为你歌唱
|mei li de suo luo he,wo wei ni ge chang
|-
|你的光荣历史,我永远记在心上
|ni de guang rong li shi,wo yong yuan ji zai xin shang
|-
|旱季来临,你轻轻流淌
|han ji lai lin,ni qing qing liu tang
|-
|雨季使波滔滚滚,你流向远方
|yu ji shi bo tao gun gun,ni liu xiang yuan fang
|-
|
:你的源泉是来自梭罗
|
:ni de yuan quan shi lai zi suo luo
|-
|
:万丛山送你一路前往
|
:wan cong shan song ni yi lu qian wang
|-
|
:滚滚的波滔流向远方
|
:gun gun de bo tao liu xiang yuan fang
|-
|
:一直流入海洋
|
:yi zhi liu ru hai yang
|-
|你的历史,就是一只船
|ni de li shi,jiu shi yi zhi chuan
|-
|商人们乘船远航,在美丽的河面上
|shang ren men cheng chuan yuan hang, zai mei li de he mian shang
|}
== Referensi ==
{{Reflist}}
[[Kategori:Lagu daerah]]
sublvg90bavx57h8hfmxxvld4ziianv
Gundhul Pacul
0
27286
120184
115437
2026-09-26T12:48:33Z
Uzlifatull
43978
120184
wikitext
text/x-wiki
== Makna lagu Gundhul pacul ==
Filosofi di balik lagu daerah ini merupakan sebuah peringatan keras bagi para pemegang kekuasaan. Pemimpin diingatkan untuk tidak bersikap sewenang-wenang atau lupa diri atas jabatan yang mereka miliki. Ketika seorang pemimpin gagal menjaga amanah tersebut karena kesombongannya, maka tatanan masyarakat akan rusak, kekuasaannya akan hancur, dan kesejahteraan rakyat pun akan dikorbankan.{{header
|title = {{PAGENAME}}
|section =
|author =
|previous =
|next =
|year =
|portal = Lagu daerah Indonesia
|shortcut =
|notes =
}}
<poem>
Gundhul-gundhul pacul, cul
Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul, kul
gelelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
</poem>
[[kategori:Lagu daerah]]
hqoejfua7ka93qt4p0axx7dly18ygg1
120185
120184
2026-09-26T12:57:33Z
Uzlifatull
43978
120185
wikitext
text/x-wiki
{{header
|title = {{PAGENAME}}
|section =
|author =
|previous =
|next =
|year =
|portal = Lagu daerah Indonesia
|shortcut =
|notes =
}}
<poem>
Gundhul-gundhul pacul, cul
Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul, kul
gelelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
</poem>
== Makna lagu ==
Filosofi di balik lagu daerah ini merupakan sebuah peringatan keras bagi para pemegang kekuasaan. Pemimpin diingatkan untuk tidak bersikap sewenang-wenang atau lupa diri atas jabatan yang mereka miliki. Ketika seorang pemimpin gagal menjaga amanah tersebut karena kesombongannya, maka tatanan masyarakat akan rusak, kekuasaannya akan hancur, dan kesejahteraan rakyat pun akan dikorbankan.<ref><nowiki>https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7086955/makna-lirik-lagu-gundul-gundul-pacul-nasihat-sunan-kalijaga-untuk-pemimpin</nowiki></ref>
== Referensi ==
<references />
[[kategori:Lagu daerah]]
f6ugh73zmfxjkh7ib90u9tgg5zc2ptv
120186
120185
2026-09-26T13:10:35Z
Uzlifatull
43978
120186
wikitext
text/x-wiki
'''Gundhul-gundhul pacul''' merupakan lagu asal jawa yang sangat dikenal masyarakat luas. Tembang anak-anak berbahasa Jawa ini umumnya dikaitkan dengan [[w:R.C._Hardjosubroto|R.C. Hardjosubroto]] sebagai penciptanya, meskipun sebagian tradisi lisan meyakini bahwa Sunan Kalijaga adalah pencipta awalnya. Kendati dibawakan dengan irama yang santai dan penuh canda, lagu ini sebenarnya memuat pesan filosofis yang sarat makna mengenai amanah serta tanggung jawab seorang penguasa terhadap kesejahteraan rakyatnya.<ref name=":1" />{{header
|title = {{PAGENAME}}
|section =
|author =
|previous =
|next =
|year =
|portal = Lagu daerah Indonesia
|shortcut =
|notes =
}}
<poem>
Gundhul-gundhul pacul, cul
Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul, kul
gelelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
</poem>
== Makna lagu ==
Filosofi di balik lagu daerah ini merupakan sebuah peringatan keras bagi para pemegang kekuasaan. Pemimpin diingatkan untuk tidak bersikap sewenang-wenang atau lupa diri atas jabatan yang mereka miliki. Ketika seorang pemimpin gagal menjaga amanah tersebut karena kesombongannya, maka tatanan masyarakat akan rusak, kekuasaannya akan hancur, dan kesejahteraan rakyat pun akan dikorbankan.<ref name=":1"><nowiki>https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7086955/makna-lirik-lagu-gundul-gundul-pacul-nasihat-sunan-kalijaga-untuk-pemimpin</nowiki></ref>
== Referensi ==
<references />
[[kategori:Lagu daerah]]
5n8pcna4cpbv9opkdpr9n30z5h3d57j
120193
120186
2026-09-26T13:21:31Z
Uzlifatull
43978
120193
wikitext
text/x-wiki
'''Gundul–Gundul Pacul''' adalah lagu anak-anak berbahasa Jawa sekaligus lagu daerah populer yang berasal dari Jawa Tengah. Mayoritas anak-anak generasi 90-an di wilayah Jawa Tengah sangat akrab dengan lagu dolanan ini. Berdasarkan catatan sejarah, lirik lagu ini konon diciptakan oleh [[w:Sunan_Kalijaga|Sunan Kalijaga]] pada kisaran tahun 1400-an, yang kemudian dalam perkembangannya turut diaransemen kembali oleh maestro karawitan [[w:R.C._Hardjosubroto|R.C. Hardjosubroto]]. <ref>https://javanologi.uns.ac.id/2022/10/28/tembang-dolanan-jawa-gundul-gundul-pacul/</ref>Kendati dibawakan dengan irama yang santai dan penuh canda, lagu ini sebenarnya memuat pesan filosofis yang sarat makna mengenai amanah serta tanggung jawab seorang penguasa terhadap kesejahteraan rakyatnya.<ref name=":1" />{{header
|title = {{PAGENAME}}
|section =
|author =
|previous =
|next =
|year =
|portal = Lagu daerah Indonesia
|shortcut =
|notes =
}}
<poem>
Gundhul-gundhul pacul, cul
Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul, kul
gelelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
</poem>
== Makna lagu ==
Filosofi di balik lagu daerah ini merupakan sebuah peringatan keras bagi para pemegang kekuasaan. Pemimpin diingatkan untuk tidak bersikap sewenang-wenang atau lupa diri atas jabatan yang mereka miliki. Ketika seorang pemimpin gagal menjaga amanah tersebut karena kesombongannya, maka tatanan masyarakat akan rusak, kekuasaannya akan hancur, dan kesejahteraan rakyat pun akan dikorbankan.<ref name=":1"><nowiki>https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7086955/makna-lirik-lagu-gundul-gundul-pacul-nasihat-sunan-kalijaga-untuk-pemimpin</nowiki></ref>
== Referensi ==
<references />
[[kategori:Lagu daerah]]
esrosbdyj53op91tk5v7q07ubi4flc1
Suwe Ora Jamu
0
27301
120187
115759
2026-09-26T13:11:14Z
Riana Mulyati
43979
menambah arti lagu
120187
wikitext
text/x-wiki
Suwe Ora Jamu adalah judul salah satu lagu daerah Jawa. Sejumlah sumber menyebut lagu ini diciptakan R.C Hardjosoebroto, seniman bidang seni karawitan dan tembang dari Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada era 1970.<ref>https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/2741/ kemenbud 26 september 2026</ref>
{{Wikipedia}}
==Lirik lagu suwe ora jamu==
==== Lirik Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
''Suwé ora jamu, Jamu Godhong téla''
''Suwé ora ketemu, ketemu pisan gawé gela''
==== Lirik lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong téla''
''Suwé ora ketemu, temu pisan aja gela''
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong meniran''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi pikiran''
''Wis suwé ya mas ora jamu, Jamu godhong sligi''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi ati''
''Abang-abang ora kurang, Sing ijo di undhuhi''
''Sing legan ora kurang, Sing duwé bojo kok di rusuhi''
''Ireng-ireng montoré kanjeng ya mas, Ganen rene tak setirané''
''Yen padha seneng aja mung mandeng, Golèkana ngendi omahé ''
''Wis suwé ya mas ora jamu, Jamu rempah rempah''
''Wis suwé ora ketemu, Temu manèh karo mbak Wadljinah''
== terjemah lagu suwe ora jamu ==
==== Arti Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
Lama tidak minum jamu, jamu daun ketela,
Lama tidak bertemu, ketemu sekali membuat kecewa.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]<ref>https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya</ref>
==== Arti lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun ketela
Lama tidak bertemu, bertemu pertama kali jangan kecewa
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun Meniran
Sudah lama tidak bertemu, bertemu pertama jadi pikiran
Sudah lama ya Mas, tidak minum jamu, jamu daun Sligi,
Sudah lama tidak bertemu, bertemu sekali jadi hati.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]<ref>https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya</ref>
== Referensi ==
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
[[Kategori:Lagu daerah]]
jltuppg1veanyas2qnkw5fglzc9gq8f
120188
120187
2026-09-26T13:15:32Z
Riana Mulyati
43979
120188
wikitext
text/x-wiki
'''Suwe Ora Jamu''' adalah judul salah satu lagu daerah Jawa. Sejumlah sumber menyebut lagu ini diciptakan R.C Hardjosoebroto, seniman bidang seni karawitan dan tembang dari Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada era 1970.<ref>https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/2741/ kemenbud 26 september 2026</ref>
{{Wikipedia}}
==Lirik lagu suwe ora jamu==
==== Lirik Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
''Suwé ora jamu, Jamu Godhong téla''
''Suwé ora ketemu, ketemu pisan gawé gela''
==== Lirik lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong téla''
''Suwé ora ketemu, temu pisan aja gela''
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong meniran''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi pikiran''
''Wis suwé ya mas ora jamu, Jamu godhong sligi''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi ati''
''Abang-abang ora kurang, Sing ijo di undhuhi''
''Sing legan ora kurang, Sing duwé bojo kok di rusuhi''
''Ireng-ireng montoré kanjeng ya mas, Ganen rene tak setirané''
''Yen padha seneng aja mung mandeng, Golèkana ngendi omahé ''
''Wis suwé ya mas ora jamu, Jamu rempah rempah''
''Wis suwé ora ketemu, Temu manèh karo mbak Wadljinah''
== terjemah lagu suwe ora jamu ==
==== Arti Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
Lama tidak minum jamu, jamu daun ketela,
Lama tidak bertemu, ketemu sekali membuat kecewa.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]<ref>https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya</ref>
==== Arti lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun ketela
Lama tidak bertemu, bertemu pertama kali jangan kecewa
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun Meniran
Sudah lama tidak bertemu, bertemu pertama jadi pikiran
Sudah lama ya Mas, tidak minum jamu, jamu daun Sligi,
Sudah lama tidak bertemu, bertemu sekali jadi hati.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]<ref>https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya</ref>
== Referensi ==
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
[[Kategori:Lagu daerah]]
maebugv4n6op9djeuzcbuw6549i3pb9
120190
120188
2026-09-26T13:17:48Z
Riana Mulyati
43979
120190
wikitext
text/x-wiki
'''Suwe Ora Jamu''' adalah judul salah satu lagu daerah Jawa. Sejumlah sumber menyebut lagu ini diciptakan R.C Hardjosoebroto, seniman bidang seni karawitan dan tembang dari Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada era 1970.<ref>https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/2741/ kemenbud 26 september 2026</ref>
{{Wikipedia}}
==Lirik lagu suwe ora jamu==
==== Lirik Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
''Suwé ora jamu, Jamu Godhong téla''
''Suwé ora ketemu, ketemu pisan gawé gela''
==== Lirik lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong téla''
''Suwé ora ketemu, temu pisan aja gela''
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong meniran''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi pikiran''
''Wis suwé ya mas ora jamu, Jamu godhong sligi''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi ati''
''Abang-abang ora kurang, Sing ijo di undhuhi''
''Sing legan ora kurang, Sing duwé bojo kok di rusuhi''
''Ireng-ireng montoré kanjeng ya mas, Ganen rene tak setirané''
''Yen padha seneng aja mung mandeng, Golèkana ngendi omahé ''
''Wis suwé ya mas ora jamu, Jamu rempah rempah''
''Wis suwé ora ketemu, Temu manèh karo mbak Wadljinah''
== terjemah lagu suwe ora jamu ==
==== Arti Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
Lama tidak minum jamu, jamu daun ketela,
Lama tidak bertemu, ketemu sekali membuat kecewa.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]
==== Arti lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun ketela
Lama tidak bertemu, bertemu pertama kali jangan kecewa
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun Meniran
Sudah lama tidak bertemu, bertemu pertama jadi pikiran
Sudah lama ya Mas, tidak minum jamu, jamu daun Sligi,
Sudah lama tidak bertemu, bertemu sekali jadi hati.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]
== Referensi ==
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
[[Kategori:Lagu daerah]]
bq7ggay1m4ms9pdgke24mlk2lnyng8m
120192
120190
2026-09-26T13:21:22Z
Riana Mulyati
43979
120192
wikitext
text/x-wiki
'''Suwe Ora Jamu''' adalah judul salah satu lagu daerah Jawa. Sejumlah sumber menyebut lagu ini diciptakan R.C Hardjosoebroto, seniman bidang seni karawitan dan tembang dari Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada era 1970.<ref>https://repositori.kemenbud.go.id/id/eprint/2741/ kemenbud 26 september 2026</ref>
{{Wikipedia}}
==Lirik lagu suwe ora jamu==
==== Lirik Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
''Suwé ora jamu, Jamu Godhong téla''
''Suwé ora ketemu, ketemu pisan gawé gela''
==== Lirik lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong téla''
''Suwé ora ketemu, temu pisan aja gela''
''Suwé ora jamu ya mas, Jamu godhong meniran''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi pikiran''
''Wis suwé ya mas ora jamu, Jamu godhong sligi''
''Wis suwé ora ketemu, Temu pisan dadi ati''
''Abang-abang ora kurang, Sing ijo di undhuhi''
''Sing legan ora kurang, Sing duwé bojo kok di rusuhi''
''Ireng-ireng montoré kanjeng ya mas, Ganen rene tak setirané''
''Yen padha seneng aja mung mandeng, Golèkana ngendi omahé ''
''BWis suwé ya mas ora jamu, Jamu rempah rempah''
''Wis suwé ora ketemu, Temu manèh karo mbak Wadljinah''
== terjemah lagu suwe ora jamu ==
==== Arti Lagu Suwe Ora Jamu oleh R C Hardjosubroto ====
Lama tidak minum jamu, jamu daun ketela,
Lama tidak bertemu, ketemu sekali membuat kecewa.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]
==== Arti lagu Suwe ora jamu Versi Waldjinah ====
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun ketela
Lama tidak bertemu, bertemu pertama kali jangan kecewa
Lama tidak minum jamu Mas, jamu daun Meniran
Sudah lama tidak bertemu, bertemu pertama jadi pikiran
Sudah lama ya Mas, tidak minum jamu, jamu daun Sligi,
Sudah lama tidak bertemu, bertemu sekali jadi hati.[https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya]
== Referensi ==
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6181676/lirik-lagu-suwe-ora-jamu-lengkap-dengan-makna-dan-kisahnya
[[Kategori:Lagu daerah]]
tm4xwujzoprk7fsdm48ea6b6oja13iq
Acara:Wikilatih Wikibuku Wikisuroboyo
1728
28311
120199
120180
2026-09-26T17:48:04Z
Quraeni
37519
/* Informasi */
120199
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Kategori CME - Lintas Generasi.png|pus|nirbing|114x114px]][https://www.wikibooks.org/ '''Wikibooks'''] adalah salah satu proyek Wikimedia yang dimulai sejak 10 Juli 2003. Wikibuku bahasa Indonesia lahir setahun kemudian, 31 Juli 2004. WikiBuku memuat '''tulisan asli''' maupun tulisan-tulisan yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya, selama penulisnya bersedia melepas tulisan tersebut dengan [[w:Wikipedia:Teks_Lisensi_Creative_Commons_Atribusi-BerbagiSerupa_4.0_Internasional|lisensi Creative Commons CC-BY-SA]] dan [[foundation:Policy:Terms_of_Use/Summary/id|Ketentuan Penggunaan.]]
{| class="wikitable" style="width:100%; text-align:center; background:#d57cb6; font-size:150%; font-weight:bold; color:white;"
|-
| WikiLatih Wikibuku Wikisuroboyo
|}
== Informasi ==
* '''Materi Salindia''': [https://wmid.info/wikibuku-sub klik di sini.]
* '''Pelatih:''' [[Pengguna:Quraeni|Qure]], [[Pengguna:Ulumarifah|Ulum]], dan [[Pengguna:Perparagraf|Hasan]].
== Apresiasi ==
* Pemenang kuis (2 orang):
* Pemenang tantangan Instagram: (1 orang):
== Dokumentasi ==
Akan ditampilkan di sini.
== Hubungi Kami ==
Jika kamu memiliki pertanyaan, silakan menghubungi penanggung jawab kegiatan ([[Special:EmailUser/F4hroro|Fahrinda)]] atau kirimkan pesan melalui akun Instagram [https://www.instagram.com/wikisuroboyo @wikisuroboyo].
== Penyelenggara ==
[[File:Logo Komunitas Wikimedia Surabaya.png|center|frameless|350x350px]]
== Didukung oleh ==
<gallery mode="packed-hover" heights="100">
File:Wikimedia-logo-id.svg
</gallery>
p4wyti48g09wbrs1dog1b5d4coffzqb
120200
120199
2026-09-26T18:17:01Z
Quraeni
37519
/* Informasi */
120200
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Kategori CME - Lintas Generasi.png|pus|nirbing|114x114px]][https://www.wikibooks.org/ '''Wikibooks'''] adalah salah satu proyek Wikimedia yang dimulai sejak 10 Juli 2003. Wikibuku bahasa Indonesia lahir setahun kemudian, 31 Juli 2004. WikiBuku memuat '''tulisan asli''' maupun tulisan-tulisan yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya, selama penulisnya bersedia melepas tulisan tersebut dengan [[w:Wikipedia:Teks_Lisensi_Creative_Commons_Atribusi-BerbagiSerupa_4.0_Internasional|lisensi Creative Commons CC-BY-SA]] dan [[foundation:Policy:Terms_of_Use/Summary/id|Ketentuan Penggunaan.]]
{| class="wikitable" style="width:100%; text-align:center; background:#d57cb6; font-size:150%; font-weight:bold; color:white;"
|-
| WikiLatih Wikibuku Wikisuroboyo
|}
== Informasi ==
* '''Materi Salindia''': [https://wmid.info/wikibuku-sub klik di sini.]
* '''Video tutorial:''' bit.ly/tutorial-wikibuku
* '''Pelatih:''' [[Pengguna:Quraeni|Qure]], [[Pengguna:Ulumarifah|Ulum]], dan [[Pengguna:Perparagraf|Hasan]].
== Apresiasi ==
* Pemenang kuis (2 orang):
* Pemenang tantangan Instagram (1 orang):
== Dokumentasi ==
Akan ditampilkan di sini.
== Hubungi Kami ==
Jika kamu memiliki pertanyaan, silakan menghubungi penanggung jawab kegiatan ([[Special:EmailUser/F4hroro|Fahrinda)]] atau kirimkan pesan melalui akun Instagram [https://www.instagram.com/wikisuroboyo @wikisuroboyo].
== Penyelenggara ==
[[File:Logo Komunitas Wikimedia Surabaya.png|center|frameless|350x350px]]
== Didukung oleh ==
<gallery mode="packed-hover" heights="100">
File:Wikimedia-logo-id.svg
</gallery>
c56bfulsio88c4qatsjhqzmh83z8d30
120278
120200
2026-09-27T04:51:00Z
Quraeni
37519
/* Apresiasi */
120278
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Kategori CME - Lintas Generasi.png|pus|nirbing|114x114px]][https://www.wikibooks.org/ '''Wikibooks'''] adalah salah satu proyek Wikimedia yang dimulai sejak 10 Juli 2003. Wikibuku bahasa Indonesia lahir setahun kemudian, 31 Juli 2004. WikiBuku memuat '''tulisan asli''' maupun tulisan-tulisan yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya, selama penulisnya bersedia melepas tulisan tersebut dengan [[w:Wikipedia:Teks_Lisensi_Creative_Commons_Atribusi-BerbagiSerupa_4.0_Internasional|lisensi Creative Commons CC-BY-SA]] dan [[foundation:Policy:Terms_of_Use/Summary/id|Ketentuan Penggunaan.]]
{| class="wikitable" style="width:100%; text-align:center; background:#d57cb6; font-size:150%; font-weight:bold; color:white;"
|-
| WikiLatih Wikibuku Wikisuroboyo
|}
== Informasi ==
* '''Materi Salindia''': [https://wmid.info/wikibuku-sub klik di sini.]
* '''Video tutorial:''' bit.ly/tutorial-wikibuku
* '''Pelatih:''' [[Pengguna:Quraeni|Qure]], [[Pengguna:Ulumarifah|Ulum]], dan [[Pengguna:Perparagraf|Hasan]].
== Apresiasi ==
* Pemenang kuis (1 orang):
* Pemenang tantangan Instagram (1 orang):
== Dokumentasi ==
Akan ditampilkan di sini.
== Hubungi Kami ==
Jika kamu memiliki pertanyaan, silakan menghubungi penanggung jawab kegiatan ([[Special:EmailUser/F4hroro|Fahrinda)]] atau kirimkan pesan melalui akun Instagram [https://www.instagram.com/wikisuroboyo @wikisuroboyo].
== Penyelenggara ==
[[File:Logo Komunitas Wikimedia Surabaya.png|center|frameless|350x350px]]
== Didukung oleh ==
<gallery mode="packed-hover" heights="100">
File:Wikimedia-logo-id.svg
</gallery>
iguh2zwyrqibvt90enoni8r78gsxus0
Pengguna:Sri aini
2
28500
120181
2026-09-26T12:25:38Z
Sri aini
42655
←Membuat halaman berisi 'Hai, saya Aini Rohmatul Uliyah, saya suka menulis dan menebar manfaat melalui kontribusi di Wikimedia, salam kenal.'
120181
wikitext
text/x-wiki
Hai, saya Aini Rohmatul Uliyah, saya suka menulis dan menebar manfaat melalui kontribusi di Wikimedia, salam kenal.
11220abjuo7mwwegjc2yheoh07inpke
Pengguna:Riana Mulyati
2
28501
120183
2026-09-26T12:32:56Z
Riana Mulyati
43979
←Membuat halaman berisi 'halo, saya Riana Mulyati, dari wiki banjarnegara saya ingin belajar tentang wikibuku'
120183
wikitext
text/x-wiki
halo, saya Riana Mulyati, dari wiki banjarnegara
saya ingin belajar tentang wikibuku
mcprrvajxkg48qs9ugyh0i3eh2gl4qk
Menthok-Menthok
0
28502
120191
2026-09-26T13:20:26Z
Sri aini
42655
Menbuat halaman lagu daerah Mentok-menthok
120191
wikitext
text/x-wiki
Lagu menthok-menthok karya R.C. Hardjasoebrata (Raden Cajetanus Hardjasoebrata) adalah tembang dolanan tradisional asal Jawa
== Lirik ==
Menthok-menthok tak kandhani
Mung lakumu angisin-ngisini
Mbok ya aja ngethok
Ana Kandang wae
Enak-enak ngorok
Ora nyambut gawe
Menthok-menthok mung lakumu
Megal-megol gawe guyu
6v68cipkhsddqhx9wflnstzn5v2p1x0
Pengguna:Perparagraf
2
28503
120198
2026-09-26T14:33:51Z
Perparagraf
43977
←Membuat halaman berisi '<div style="background:linear-gradient(135deg,#0d1333,#10183f); border-radius:10px; padding:50px; color:white; min-height:320px;"> <div style="letter-spacing:3px; text-transform:uppercase; font-size:13px; color:#9aa4c0; margin-bottom:20px;"> Hey, here's </div> <div style="font-size:52px; font-weight:bold; letter-spacing:1px; line-height:1.1; margin-bottom:20px;"> <span style="color:#4A90E2;">Perparagraf</span> </div> <div style="margin-top:35px; padding-left:1...'
120198
wikitext
text/x-wiki
<div style="background:linear-gradient(135deg,#0d1333,#10183f); border-radius:10px; padding:50px; color:white; min-height:320px;">
<div style="letter-spacing:3px; text-transform:uppercase; font-size:13px; color:#9aa4c0; margin-bottom:20px;">
Hey, here's
</div>
<div style="font-size:52px; font-weight:bold; letter-spacing:1px; line-height:1.1; margin-bottom:20px;">
<span style="color:#4A90E2;">Perparagraf</span>
</div>
<div style="margin-top:35px; padding-left:15px; border-left:4px solid #4A90E2; font-style:italic; font-size:16px; color:#d8d8d8;">
"Writing today, preserving knowledge for tomorrow."
</div>
<hr style="border:0; height:1px; background:#2b3f73; margin-top:35px; margin-bottom:15px;">
<div style="text-align:center; color:#9aa4c0; font-size:90%;">
Perparagraf • Since 2019
</div>
</div>
i33cyfhil936h0ql7fa5feu3olb2q2p
Pengguna:Windy Eff
2
28504
120202
2026-09-26T23:48:05Z
Windy Eff
43438
←Membuat halaman berisi 'Saya Windy Effendy, seorang penulis lepas sekaligus editor yang lebih suka menulis fiksi seperti cerpen dan novel. Menulis dan membaca menjadi bagian dari keseharian saya. Saya menyukai belajar hal baru, yang dengan mudah didapatkan dari membaca dan menyunting aneka karya. Kegemaran membaca membawa saya suka menuliskan hal-hal yang menarik dan membagikannya, juga menerbitkan melalui buku atau tulisan di media cetak dan digital.'
120202
wikitext
text/x-wiki
Saya Windy Effendy, seorang penulis lepas sekaligus editor yang lebih suka menulis fiksi seperti cerpen dan novel. Menulis dan membaca menjadi bagian dari keseharian saya. Saya menyukai belajar hal baru, yang dengan mudah didapatkan dari membaca dan menyunting aneka karya. Kegemaran membaca membawa saya suka menuliskan hal-hal yang menarik dan membagikannya, juga menerbitkan melalui buku atau tulisan di media cetak dan digital.
ihj994hcdldidz614gpy47lod87whog
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar
0
28505
120203
2026-09-27T01:28:14Z
Sekar Jarwo Soekarno
41687
←Membuat halaman berisi 'Makam Pangeran Diponegoro di Makassar merupakan kompleks pemakaman bersejarah tempat peristirahatan terakhir salah satu pahlawan nasional Indonesia bersama istri, anak-cucu, serta sebagian pengikut setianya. Kompleks seluas kurang lebih 25 meter persegi ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Kampung Melayu (Kampung Jawa), Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di tengah kota dekat kawasan Pasar Sentral Makassar. Pangeran Diponegoro dimaka...'
120203
wikitext
text/x-wiki
Makam Pangeran Diponegoro di Makassar merupakan kompleks pemakaman bersejarah tempat peristirahatan terakhir salah satu pahlawan nasional Indonesia bersama istri, anak-cucu, serta sebagian pengikut setianya. Kompleks seluas kurang lebih 25 meter persegi ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Kampung Melayu (Kampung Jawa), Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di tengah kota dekat kawasan Pasar Sentral Makassar.
Pangeran Diponegoro dimakamkan di kota ini karena beliau menjalani masa pengasingan panjang setelah ditangkap oleh pihak kolonial Belanda usai berakhirnya Perang Jawa (1825–1830). Setelah sempat ditahan di Manado, beliau dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, hingga akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Di kompleks makam ini, pusara Pangeran Diponegoro terletak berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratna Ningsih, serta dikelilingi oleh sekitar 60 pusara keturunan dan pengikut beliau yang beranak pinak di tanah Makassar.
Hingga saat ini, kompleks makam tersebut terbuka untuk umum sebagai objek wisata sejarah, religi, dan edukasi yang dirawat secara turun-temurun oleh generasi kelima keturunannya.
53rqnpwxy7yi6q6xjbiy26ixc8rgiwk
120204
120203
2026-09-27T01:32:29Z
Sekar Jarwo Soekarno
41687
120204
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Makam Pangeran Diponegoro.jpg|jmpl|Makam Pangeran Diponegoro]]
Makam Pangeran Diponegoro di Makassar merupakan kompleks pemakaman bersejarah tempat peristirahatan terakhir salah satu pahlawan nasional Indonesia bersama istri, anak-cucu, serta sebagian pengikut setianya. Kompleks seluas kurang lebih 25 meter persegi ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Kampung Melayu (Kampung Jawa), Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di tengah kota dekat kawasan Pasar Sentral Makassar.
Keberadaan Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pengikut setianya yang beranak pinak di Makassar melahirkan perkampungan di sekitar lokasi makam yang hingga kini dikenal akrab sebagai Kampung Jawa atau Kampung Melayu, karena dulunya menjadi pusat bermukimnya orang-orang pelarian politik dan pengikut Diponegoro dari Jawa.
Menurut sejarahnya, Pangeran Diponegoro dimakamkan di kota ini karena beliau menjalani masa pengasingan panjang setelah ditangkap oleh pihak kolonial Belanda usai berakhirnya Perang Jawa (1825–1830). Setelah sempat ditahan di Manado, beliau dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, hingga akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Di kompleks makam ini, pusara Pangeran Diponegoro terletak berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratna Ningsih, serta dikelilingi oleh sekitar 60 pusara keturunan dan pengikut beliau yang beranak pinak di tanah Makassar.
Hingga saat ini, Kompleks makam ini sering kali menjadi lokasi wajib kunjung bagi para pejabat negara, menteri, sejarawan, akademisi, hingga wisatawan dari berbagai daerah (khususnya Pulau Jawa) yang sedang bertugas atau berwisata ke Makassar untuk melakukan ziarah kebangsaan.
== Referensi ==
https://travel.detik.com/destination/d-2199734/jangan-lupa-ada-makam-pangeran-diponegoro-di-makassar diakses 27-09-2026
e0gy63n2e301komls6nvo3bhayi2upb
120205
120204
2026-09-27T01:33:54Z
Sekar Jarwo Soekarno
41687
/* Referensi */
120205
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Makam Pangeran Diponegoro.jpg|jmpl|Makam Pangeran Diponegoro]]
Makam Pangeran Diponegoro di Makassar merupakan kompleks pemakaman bersejarah tempat peristirahatan terakhir salah satu pahlawan nasional Indonesia bersama istri, anak-cucu, serta sebagian pengikut setianya. Kompleks seluas kurang lebih 25 meter persegi ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Kampung Melayu (Kampung Jawa), Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di tengah kota dekat kawasan Pasar Sentral Makassar.
Keberadaan Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pengikut setianya yang beranak pinak di Makassar melahirkan perkampungan di sekitar lokasi makam yang hingga kini dikenal akrab sebagai Kampung Jawa atau Kampung Melayu, karena dulunya menjadi pusat bermukimnya orang-orang pelarian politik dan pengikut Diponegoro dari Jawa.
Menurut sejarahnya, Pangeran Diponegoro dimakamkan di kota ini karena beliau menjalani masa pengasingan panjang setelah ditangkap oleh pihak kolonial Belanda usai berakhirnya Perang Jawa (1825–1830). Setelah sempat ditahan di Manado, beliau dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, hingga akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Di kompleks makam ini, pusara Pangeran Diponegoro terletak berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratna Ningsih, serta dikelilingi oleh sekitar 60 pusara keturunan dan pengikut beliau yang beranak pinak di tanah Makassar.
Hingga saat ini, Kompleks makam ini sering kali menjadi lokasi wajib kunjung bagi para pejabat negara, menteri, sejarawan, akademisi, hingga wisatawan dari berbagai daerah (khususnya Pulau Jawa) yang sedang bertugas atau berwisata ke Makassar untuk melakukan ziarah kebangsaan.
== Referensi ==
# https://travel.detik.com/destination/d-2199734/jangan-lupa-ada-makam-pangeran-diponegoro-di-makassar diakses 27-09-2026
# https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230715183923-20-973924/cucu-generasi-kelima-pemakaman-di-makassar-wasiat-pangeran-diponegoro diakses 27-09-2026
1v5dy7x24utdlx5enbi2l2s7izu4dg4
120206
120205
2026-09-27T01:37:54Z
Sekar Jarwo Soekarno
41687
120206
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Makam Pangeran Diponegoro.jpg|jmpl|Makam Pangeran Diponegoro]]
Makam Pangeran Diponegoro di Makassar merupakan kompleks pemakaman bersejarah tempat peristirahatan terakhir salah satu pahlawan nasional Indonesia bersama istri, anak-cucu, serta sebagian pengikut setianya. Kompleks seluas kurang lebih 25 meter persegi ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Kampung Melayu (Kampung Jawa), Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di tengah kota dekat kawasan Pasar Sentral Makassar.
Keberadaan Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pengikut setianya yang beranak pinak di Makassar melahirkan perkampungan di sekitar lokasi makam yang hingga kini dikenal akrab sebagai Kampung Jawa atau Kampung Melayu, karena dulunya menjadi pusat bermukimnya orang-orang pelarian politik dan pengikut Diponegoro dari Jawa.
Menurut sejarahnya, Pangeran Diponegoro dimakamkan di kota ini karena beliau menjalani masa pengasingan panjang setelah ditangkap oleh pihak kolonial Belanda usai berakhirnya Perang Jawa (1825–1830). Setelah sempat ditahan di Manado, beliau dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, hingga akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Di kompleks makam ini, pusara Pangeran Diponegoro terletak berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratna Ningsih, serta dikelilingi oleh sekitar 60 pusara keturunan dan pengikut beliau yang beranak pinak di tanah Makassar.
Hingga saat ini, Kompleks makam ini sering kali menjadi lokasi wajib kunjung bagi para pejabat negara, menteri, sejarawan, akademisi, hingga wisatawan dari berbagai daerah (khususnya Pulau Jawa) yang sedang bertugas atau berwisata ke Makassar untuk melakukan ziarah kebangsaan.
== Referensi ==
# https://travel.detik.com/destination/d-2199734/jangan-lupa-ada-makam-pangeran-diponegoro-di-makassar diakses 27-09-2026
# https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230715183923-20-973924/cucu-generasi-kelima-pemakaman-di-makassar-wasiat-pangeran-diponegoro diakses 27-09-2026
[[Kategori:Sejarah Makassar]]
[[Kategori:Sejarah kerajaan Indonesia]]
hr43htm7u7s3ualitklevlohze5kjnz
120208
120206
2026-09-27T01:56:53Z
Sekar Jarwo Soekarno
41687
Sekar Jarwo Soekarno memindahkan halaman [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
120206
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Makam Pangeran Diponegoro.jpg|jmpl|Makam Pangeran Diponegoro]]
Makam Pangeran Diponegoro di Makassar merupakan kompleks pemakaman bersejarah tempat peristirahatan terakhir salah satu pahlawan nasional Indonesia bersama istri, anak-cucu, serta sebagian pengikut setianya. Kompleks seluas kurang lebih 25 meter persegi ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Kampung Melayu (Kampung Jawa), Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di tengah kota dekat kawasan Pasar Sentral Makassar.
Keberadaan Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pengikut setianya yang beranak pinak di Makassar melahirkan perkampungan di sekitar lokasi makam yang hingga kini dikenal akrab sebagai Kampung Jawa atau Kampung Melayu, karena dulunya menjadi pusat bermukimnya orang-orang pelarian politik dan pengikut Diponegoro dari Jawa.
Menurut sejarahnya, Pangeran Diponegoro dimakamkan di kota ini karena beliau menjalani masa pengasingan panjang setelah ditangkap oleh pihak kolonial Belanda usai berakhirnya Perang Jawa (1825–1830). Setelah sempat ditahan di Manado, beliau dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, hingga akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Di kompleks makam ini, pusara Pangeran Diponegoro terletak berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratna Ningsih, serta dikelilingi oleh sekitar 60 pusara keturunan dan pengikut beliau yang beranak pinak di tanah Makassar.
Hingga saat ini, Kompleks makam ini sering kali menjadi lokasi wajib kunjung bagi para pejabat negara, menteri, sejarawan, akademisi, hingga wisatawan dari berbagai daerah (khususnya Pulau Jawa) yang sedang bertugas atau berwisata ke Makassar untuk melakukan ziarah kebangsaan.
== Referensi ==
# https://travel.detik.com/destination/d-2199734/jangan-lupa-ada-makam-pangeran-diponegoro-di-makassar diakses 27-09-2026
# https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230715183923-20-973924/cucu-generasi-kelima-pemakaman-di-makassar-wasiat-pangeran-diponegoro diakses 27-09-2026
[[Kategori:Sejarah Makassar]]
[[Kategori:Sejarah kerajaan Indonesia]]
hr43htm7u7s3ualitklevlohze5kjnz
120210
120208
2026-09-27T02:01:41Z
Iripseudocorus
39602
Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]: Anak subjudul
120206
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Makam Pangeran Diponegoro.jpg|jmpl|Makam Pangeran Diponegoro]]
Makam Pangeran Diponegoro di Makassar merupakan kompleks pemakaman bersejarah tempat peristirahatan terakhir salah satu pahlawan nasional Indonesia bersama istri, anak-cucu, serta sebagian pengikut setianya. Kompleks seluas kurang lebih 25 meter persegi ini terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Kampung Melayu (Kampung Jawa), Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di tengah kota dekat kawasan Pasar Sentral Makassar.
Keberadaan Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pengikut setianya yang beranak pinak di Makassar melahirkan perkampungan di sekitar lokasi makam yang hingga kini dikenal akrab sebagai Kampung Jawa atau Kampung Melayu, karena dulunya menjadi pusat bermukimnya orang-orang pelarian politik dan pengikut Diponegoro dari Jawa.
Menurut sejarahnya, Pangeran Diponegoro dimakamkan di kota ini karena beliau menjalani masa pengasingan panjang setelah ditangkap oleh pihak kolonial Belanda usai berakhirnya Perang Jawa (1825–1830). Setelah sempat ditahan di Manado, beliau dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, hingga akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Di kompleks makam ini, pusara Pangeran Diponegoro terletak berdampingan dengan istrinya, RA Ratu Ratna Ningsih, serta dikelilingi oleh sekitar 60 pusara keturunan dan pengikut beliau yang beranak pinak di tanah Makassar.
Hingga saat ini, Kompleks makam ini sering kali menjadi lokasi wajib kunjung bagi para pejabat negara, menteri, sejarawan, akademisi, hingga wisatawan dari berbagai daerah (khususnya Pulau Jawa) yang sedang bertugas atau berwisata ke Makassar untuk melakukan ziarah kebangsaan.
== Referensi ==
# https://travel.detik.com/destination/d-2199734/jangan-lupa-ada-makam-pangeran-diponegoro-di-makassar diakses 27-09-2026
# https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230715183923-20-973924/cucu-generasi-kelima-pemakaman-di-makassar-wasiat-pangeran-diponegoro diakses 27-09-2026
[[Kategori:Sejarah Makassar]]
[[Kategori:Sejarah kerajaan Indonesia]]
hr43htm7u7s3ualitklevlohze5kjnz
Makam Pangeran Diponegoro di Makassar
0
28506
120209
2026-09-27T01:56:53Z
Sekar Jarwo Soekarno
41687
Sekar Jarwo Soekarno memindahkan halaman [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
120209
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
84v2ewuo6vocdc2vbcws5lt2w583w7x
Jelajah Wisata Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar
0
28507
120211
2026-09-27T02:01:41Z
Iripseudocorus
39602
Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]: Anak subjudul
120211
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]]
f5rcfnpx9s7hplt9ous8mkyirp83vuo
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung
0
28508
120215
2026-09-27T03:03:34Z
Iripseudocorus
39602
Merintis halaman
120215
wikitext
text/x-wiki
Di tengah pemukiman Kota Makassar, tepatnya di Lantebung, Kecamatan Tamalanrea terdapat kawasan ekowisata Mangrove. Letaknya yang terpencil di lorong pemukiman menyebabkan akses ke lokasi ini cukup sulit. Pengunjung lebih disarankan mengunjungi tempat ini dengan mengendarai sepeda motor karena lahan parkir yang kurang luas.
1b248bbiz72qn1prxd8r4xdtsuibj1v
120217
120215
2026-09-27T03:16:15Z
Iripseudocorus
39602
/* */
120217
wikitext
text/x-wiki
Di tengah pemukiman Kota Makassar, tepatnya di Lantebung, Kecamatan Tamalanrea terdapat kawasan ekowisata Mangrove. Letaknya yang terpencil di lorong pemukiman menyebabkan akses ke lokasi ini cukup sulit. Pengunjung lebih disarankan mengunjungi tempat ini dengan mengendarai sepeda motor karena lahan parkir yang kurang luas.
Namun, pengunjung tidak perlu takut kelaparan saat datang ke Lantebung ini karena di lorongnya terdapat banyak toko kelontong maupun warung yang menjual makanan berat seperti nasi kuning.
Kunjungan ke lokasi ekowisata ini memerlukan karcis masuk senilai Rp.5000. Pada loket pembelian karcis juga menyediakan berbagai minuman dingin.
Pengunjung lokasi ini bisa berasal dari kalangan umum yang ingin berwisata maupun peneliti dan aktivis lingkungan yang menyelenggarakan aksi penanaman mangrove
jtt53tfwhip0d3cbbidfz2gn9tsojrk
120224
120217
2026-09-27T03:32:01Z
Iripseudocorus
39602
/* */
120224
wikitext
text/x-wiki
Di tengah pemukiman Kota Makassar, tepatnya di Lantebung, Kecamatan Tamalanrea terdapat kawasan ekowisata Mangrove. Letaknya yang terpencil di lorong pemukiman menyebabkan akses ke lokasi ini cukup sulit. Pengunjung lebih disarankan mengunjungi tempat ini dengan mengendarai sepeda motor karena lahan parkir yang kurang luas.
Namun, pengunjung tidak perlu takut kelaparan saat datang ke Lantebung ini karena di lorongnya terdapat banyak toko kelontong maupun warung yang menjual makanan berat seperti nasi kuning.
Kunjungan ke lokasi ekowisata ini memerlukan karcis masuk senilai Rp.5000. Pada loket pembelian karcis juga menyediakan berbagai minuman dingin.
Pengunjung lokasi ini bisa berasal dari kalangan umum yang ingin berwisata maupun peneliti dan aktivis lingkungan yang menyelenggarakan aksi penanaman mangrove maupun pengamatan biodiversitas.
Sebagai tempat wisata, Ekowisata Lantebung memiliki banyak spot foto. Kawasan ini juga dikenal dengan jembatan kayunya yang dicat berwarna-warni. Sayangnya, karena kurangnya perawatan beberapa bagian dari jembatan ini sudah pudar dan patah, sehingga pengunjung perlu berhati-hati saat melangkah.
ef5wpx0tu1lttlya3tvz6pb3owdgela
120232
120224
2026-09-27T03:55:08Z
Iripseudocorus
39602
120232
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dermaga pelangi lantebung.jpg|jmpl|Jembatan Pelangi Lantebung]]
Di tengah pemukiman Kota Makassar, tepatnya di Lantebung, Kecamatan Tamalanrea terdapat kawasan ekowisata Mangrove. Letaknya yang terpencil di lorong pemukiman menyebabkan akses ke lokasi ini cukup sulit. Pengunjung lebih disarankan mengunjungi tempat ini dengan mengendarai sepeda motor karena lahan parkir yang kurang luas.
Namun, pengunjung tidak perlu takut kelaparan saat datang ke Lantebung ini karena di lorongnya terdapat banyak toko kelontong maupun warung yang menjual makanan berat seperti nasi kuning.
Kunjungan ke lokasi ekowisata ini memerlukan karcis masuk senilai Rp.5000. Pada loket pembelian karcis juga menyediakan berbagai minuman dingin.
Pengunjung lokasi ini bisa berasal dari kalangan umum yang ingin berwisata maupun peneliti dan aktivis lingkungan yang menyelenggarakan aksi penanaman mangrove maupun pengamatan biodiversitas.
Sebagai tempat wisata, Ekowisata Lantebung memiliki banyak spot foto. Kawasan ini juga dikenal dengan jembatan kayunya yang dicat berwarna-warni. Sayangnya, karena kurangnya perawatan beberapa bagian dari jembatan ini sudah pudar dan patah, sehingga pengunjung perlu berhati-hati saat melangkah.
7csujoon9ignh2esfkb2qrpmkfm8frf
Jelajah Wisata Makassar/Pulau Barrang Lompo
0
28509
120216
2026-09-27T03:04:37Z
Wanita Hijrah
43248
←Membuat halaman berisi 'Pulau Barrang Lompo merupakan salah satu pulau yang eksotis dengan keindahan pantainya yang sangat indah.'
120216
wikitext
text/x-wiki
Pulau Barrang Lompo merupakan salah satu pulau yang eksotis dengan keindahan pantainya yang sangat indah.
7q4q06agt080g0td6kweqosv3azf4x5
120226
120216
2026-09-27T03:37:45Z
Wanita Hijrah
43248
120226
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Tridacna sp in Barrang Lompo Island.jpg|jmpl|Pulau Barrang Lompo]]
Pulau Barrang Lompo merupakan salah satu pulau yang eksotis dengan keindahan pantainya yang sangat indah. Untuk berkunjung ke pulau ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, dan pulau ini memiliki dua dermaga yang yang merupakan tempat bersandarnya perahu yanng dijadikan sebagai transportasi untuk berkunjung ke pulau ini.
Pulau Barrang Lompo sebagian besar didominasi dengan pasir yang berwarna putih dan memiliki banyak terumbu karang, pulau ini juga merupakan salah satu pulau yang dikenal dengan pulau yang sangat jernih, dengan kejernihan air yang ada dipulau ini, masyarakat dan pengunjung pulau ini bisa menikmati keindahan bawah laut secara langsung tanpa harus menyelam ke dasar laut pulau ini.
pulau ini juga memiliki salah satu alternatif transportasi khusus yang biasanya digunakan oleh masyarakat setempat di pulau ini, dan kendaraan ini bisa juga digunakan oleh pengunjung pulau ini untuk mengelilingi keindahan pulau ini dan hanya mengenakan tarif 5 rb rupiah dan dengan tarif yang murah ini sudah bisa mengelelilingi pulau ini sebanyak 3 putaran.
== Referensi ==
[https://www.celebes.co/pulau-barrang-lompo Pulau Barrang Lompo, Pulau Cantik yang Menawan Hati di Makassar - Celebes ID] diakses 27-09-2026
[https://liburanplus.com/wisata/sulawesi/pulau-barrang-lompo/ Pulau Barrang Lompo: Surga Tersembunyi di Sulawesi Selatan] diakses 27-09-2026
j1h82rtvppvtlk0nk6qd8s6ymez1fi1
120227
120226
2026-09-27T03:38:49Z
Wanita Hijrah
43248
120227
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Tridacna sp in Barrang Lompo Island.jpg|jmpl|Pulau Barrang Lompo]]
Pulau Barrang Lompo merupakan salah satu pulau yang eksotis dengan keindahan pantainya yang sangat indah. Untuk berkunjung ke pulau ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, dan pulau ini memiliki dua dermaga yang yang merupakan tempat bersandarnya perahu yanng dijadikan sebagai transportasi untuk berkunjung ke pulau ini.
Pulau Barrang Lompo sebagian besar didominasi dengan pasir yang berwarna putih dan memiliki banyak terumbu karang, pulau ini juga merupakan salah satu pulau yang dikenal dengan pulau yang sangat jernih, dengan kejernihan air yang ada dipulau ini, masyarakat dan pengunjung pulau ini bisa menikmati keindahan bawah laut secara langsung tanpa harus menyelam ke dasar laut pulau ini.
pulau ini juga memiliki salah satu alternatif transportasi khusus yang biasanya digunakan oleh masyarakat setempat di pulau ini, dan kendaraan ini bisa juga digunakan oleh pengunjung pulau ini untuk mengelilingi keindahan pulau ini dan hanya mengenakan tarif 5 rb rupiah dan dengan tarif yang murah ini sudah bisa mengelelilingi pulau ini sebanyak 3 putaran.
== Referensi ==
# [https://www.celebes.co/pulau-barrang-lompo Pulau Barrang Lompo, Pulau Cantik yang Menawan Hati di Makassar - Celebes ID] diakses 27-09-2026
# [https://liburanplus.com/wisata/sulawesi/pulau-barrang-lompo/ Pulau Barrang Lompo: Surga Tersembunyi di Sulawesi Selatan] diakses 27-09-2026
kd71tgyuq8habuwp0p7yyehhy28y5l8
120267
120227
2026-09-27T04:36:15Z
Wanita Hijrah
43248
120267
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Tridacna sp in Barrang Lompo Island.jpg|jmpl|Pulau Barrang Lompo]]
Pulau Barrang Lompo merupakan salah satu pulau yang eksotis dengan keindahan pantainya yang sangat indah. Untuk berkunjung ke pulau ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, dan pulau ini memiliki dua dermaga yang yang merupakan tempat bersandarnya perahu yanng dijadikan sebagai transportasi untuk berkunjung ke pulau ini.
Pulau Barrang Lompo sebagian besar didominasi dengan pasir putih dan memiliki banyak terumbu karang yang cantik, pulau ini juga merupakan salah satu pulau yang dikenal dengan pulau yang sangat jernih, dengan kejernihan air yang ada dipulau ini, masyarakat dan pengunjung pulau ini bisa menikmati keindahan bawah laut secara langsung tanpa harus menyelam ke dasar laut pulau ini.
pulau ini juga memiliki salah satu alternatif transportasi khusus yang biasanya digunakan oleh masyarakat setempat di pulau ini, dan kendaraan ini bisa juga digunakan oleh pengunjung pulau ini untuk mengelilingi keindahan pulau ini dan hanya mengenakan tarif 5 rb rupiah dan dengan tarif yang murah ini sudah bisa mengelelilingi pulau ini sebanyak 3 putaran.
Masyarakat di Pulau ini sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan, karena masyarakat di Pulau ini sangat bergantung pada hasil laut dan tradisi maritim yang turun-menurun. Salah satu hal yang membuat Pulau ini istimewa adalah keindahan pemandangan langit sore yang sangat indah sambil menyaksikan aktivitas para nelayan di sekitar pulau ini.
== Referensi ==
# [https://www.celebes.co/pulau-barrang-lompo Pulau Barrang Lompo, Pulau Cantik yang Menawan Hati di Makassar - Celebes ID] diakses 27-09-2026
# [https://liburanplus.com/wisata/sulawesi/pulau-barrang-lompo/ Pulau Barrang Lompo: Surga Tersembunyi di Sulawesi Selatan] diakses 27-09-2026
# https://rri.co.id/makassar/wisata/2600221/barrang-lompo-pulau-bersejarah-dengan-pesona-bahari-di-makassar diakses 27-09-2026
f80a86emkktyj9hezt2015feys8ql6s
120293
120267
2026-09-27T05:07:41Z
Wanita Hijrah
43248
120293
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Tridacna sp in Barrang Lompo Island.jpg|jmpl|Pulau Barrang Lompo]]
Pulau Barrang Lompo merupakan salah satu pulau yang eksotis dengan keindahan pantainya yang sangat indah. Untuk berkunjung ke pulau ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, dan pulau ini memiliki dua dermaga yang yang merupakan tempat bersandarnya perahu yanng dijadikan sebagai transportasi untuk berkunjung ke pulau ini.
Pulau Barrang Lompo sebagian besar didominasi dengan pasir putih dan memiliki banyak terumbu karang yang cantik, pulau ini juga merupakan salah satu pulau yang dikenal dengan pulau yang sangat jernih, dengan kejernihan air yang ada dipulau ini, masyarakat dan pengunjung pulau ini bisa menikmati keindahan bawah laut secara langsung tanpa harus menyelam ke dasar laut pulau ini.
pulau ini juga memiliki salah satu alternatif transportasi khusus yang biasanya digunakan oleh masyarakat setempat di pulau ini, dan kendaraan ini bisa juga digunakan oleh pengunjung pulau ini untuk mengelilingi keindahan pulau ini dan hanya mengenakan tarif 5 rb rupiah dan dengan tarif yang murah ini sudah bisa mengelelilingi pulau ini sebanyak 3 putaran.
Masyarakat di Pulau ini sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan, karena masyarakat di Pulau ini sangat bergantung pada hasil laut dan tradisi maritim yang turun-menurun. Salah satu hal yang membuat Pulau ini juga istimewa adalah keindahan pemandangan langit sore yang sangat indah sambil menyaksikan aktivitas para nelayan di sekitar pulau ini.
== Referensi ==
# [https://www.celebes.co/pulau-barrang-lompo Pulau Barrang Lompo, Pulau Cantik yang Menawan Hati di Makassar - Celebes ID] diakses 27-09-2026
# [https://liburanplus.com/wisata/sulawesi/pulau-barrang-lompo/ Pulau Barrang Lompo: Surga Tersembunyi di Sulawesi Selatan] diakses 27-09-2026
# https://rri.co.id/makassar/wisata/2600221/barrang-lompo-pulau-bersejarah-dengan-pesona-bahari-di-makassar diakses 27-09-2026
9sqpm7nva84g25srhg8xwh2bt2vjvg6
Pembicaraan Pengguna:Thasouvenir
3
28510
120220
2026-09-27T03:20:51Z
AF1011
25283
/* Selamat datang! */ bagian baru
120220
wikitext
text/x-wiki
== Selamat datang! ==
<div style="border:2px solid #f3e4f2; background-color:#ffffff; font-size:95%; margin-right:1em; margin-left :1em; margin-bottom : 1em; padding: 5px;">
<span style="font-size:big;">'''Selamat datang, ''{{PAGENAME}}''!'''</span>
Halo dan [[Wikibooks:Selamat datang|selamat datang]] di [[Wikibooks:Perihal|Wikibuku bahasa Indonesia]]!
'''[[Wikibooks:Perihal|Wikibuku]]''' adalah kumpulan buku yang isinya ditulis bersama-sama oleh para penggunanya dan disusun agar dapat dibaca dan disunting oleh siapapun juga.
* Anda bisa mengucapkan selamat datang kepada pengguna lainnya di [[Wikibooks:Halaman perkenalan|Halaman perkenalan]]
* Pertanyaan, usulan, dan komentar tentang Wikibuku bahasa Indonesia bisa dilakukan di [[Wikibooks:Warung kopi|Warung kopi]]. Ingat menandatangani pesan Anda, sehingga pengguna lain mengetahui siapa sang penulis pesan, dengan mengetikkan <code><nowiki>~~~~</nowiki></code> (empat kali tanda gelombang/tilde).
* '''Baca dan pelajarilah terlebih dahulu [[Wikibooks:Kebijakan dan pedoman|kebijakan dan pedoman]] yang berlaku di Wikibuku bahasa Indonesia.'''
* Untuk mencoba melakukan penyuntingan, lakukanlah di [[Wikibooks:Bak pasir|bak pasir]].
* Perhatikan juga [[Wikibooks:Kesalahan umum di Wikibuku|hal-hal yang tidak boleh dilakukan di Wikibuku]].
* Untuk menulis profil atau sekilas informasi tentang anda, bisa dilakukan di [[Pengguna:{{PAGENAME}}]], sehingga pengguna lain bisa mengenal sedikit tentang Anda.
</div><br/>
:[[Pengguna:AF1011|AF1011]] ([[Pembicaraan Pengguna:AF1011|bicara]]) 27 September 2026 03.20 (UTC)
l09ug6qt32t7mcemz4m29suumcdof22
Pembicaraan Pengguna:Mengsky
3
28511
120222
2026-09-27T03:23:39Z
AF1011
25283
/* Selamat datang! */ bagian baru
120222
wikitext
text/x-wiki
== Selamat datang! ==
<div style="border:2px solid #f3e4f2; background-color:#ffffff; font-size:95%; margin-right:1em; margin-left :1em; margin-bottom : 1em; padding: 5px;">
<span style="font-size:big;">'''Selamat datang, ''{{PAGENAME}}''!'''</span>
Halo dan [[Wikibooks:Selamat datang|selamat datang]] di [[Wikibooks:Perihal|Wikibuku bahasa Indonesia]]!
'''[[Wikibooks:Perihal|Wikibuku]]''' adalah kumpulan buku yang isinya ditulis bersama-sama oleh para penggunanya dan disusun agar dapat dibaca dan disunting oleh siapapun juga.
* Anda bisa mengucapkan selamat datang kepada pengguna lainnya di [[Wikibooks:Halaman perkenalan|Halaman perkenalan]]
* Pertanyaan, usulan, dan komentar tentang Wikibuku bahasa Indonesia bisa dilakukan di [[Wikibooks:Warung kopi|Warung kopi]]. Ingat menandatangani pesan Anda, sehingga pengguna lain mengetahui siapa sang penulis pesan, dengan mengetikkan <code><nowiki>~~~~</nowiki></code> (empat kali tanda gelombang/tilde).
* '''Baca dan pelajarilah terlebih dahulu [[Wikibooks:Kebijakan dan pedoman|kebijakan dan pedoman]] yang berlaku di Wikibuku bahasa Indonesia.'''
* Untuk mencoba melakukan penyuntingan, lakukanlah di [[Wikibooks:Bak pasir|bak pasir]].
* Perhatikan juga [[Wikibooks:Kesalahan umum di Wikibuku|hal-hal yang tidak boleh dilakukan di Wikibuku]].
* Untuk menulis profil atau sekilas informasi tentang anda, bisa dilakukan di [[Pengguna:{{PAGENAME}}]], sehingga pengguna lain bisa mengenal sedikit tentang Anda.
</div><br/>
:[[Pengguna:AF1011|AF1011]] ([[Pembicaraan Pengguna:AF1011|bicara]]) 27 September 2026 03.23 (UTC)
1ksjf1pstmbhsq3qhnl3haxd49n4xyd
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar
0
28512
120223
2026-09-27T03:27:53Z
Aasha Ruzka
41766
←Membuat halaman berisi 'Di Jalan Balai Kota, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan perjalanan panjang Kota Makassar. Bangunan yang kini dikenal sebagai '''Museum Kota Makassar''' pada awalnya merupakan kantor pemerintahan ''Gemeente Makassar'' dan kemudian menjadi kantor wali kota. Setelah kantor wali kota berpindah, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi museum. Museum ini dibuka untuk pertama kalinya pada '''7 Juni 2000''', dengan tujuan menghadirkan informasi mengenai identitas,...'
120223
wikitext
text/x-wiki
Di Jalan Balai Kota, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan perjalanan panjang Kota Makassar. Bangunan yang kini dikenal sebagai '''Museum Kota Makassar''' pada awalnya merupakan kantor pemerintahan ''Gemeente Makassar'' dan kemudian menjadi kantor wali kota. Setelah kantor wali kota berpindah, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi museum. Museum ini dibuka untuk pertama kalinya pada '''7 Juni 2000''', dengan tujuan menghadirkan informasi mengenai identitas, sejarah, dan budaya Kota Makassar kepada masyarakat.
Memasuki museum, pengunjung seperti diajak berjalan menyusuri perjalanan Makassar dari masa ke masa. Koleksi yang ditampilkan antara lain peta, foto peristiwa dan bangunan bersejarah, mata uang, perlengkapan kehidupan sehari-hari, serta foto para wali kota Makassar dari masa ke masa. Koleksi-koleksi tersebut menjadi bagian dari cerita tentang bagaimana sebuah kota tumbuh, berubah, dan membentuk identitasnya.
Cerita itu kemudian terbagi ke dalam berbagai ruang. Salah satunya adalah ruang '''Makassar Awal''', yang memperkenalkan sejarah awal kota melalui peta, batu bata yang disebut berasal dari runtuhan Benteng Somba Opu, gambaran perdagangan pada abad ke-16 dan ke-17, serta rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Ada pula ruang yang menceritakan masa Kompeni, kolonial, hingga awal Republik Indonesia melalui lukisan tokoh-tokoh sejarah, persenjataan, dan Perjanjian Bongaya.
Perjalanan berlanjut ke ruang yang menampilkan para wali kota Makassar, masa kemajuan kota, perdagangan dan pelayaran, hingga keberagaman budaya Sulawesi Selatan. Di ruang '''Perdagangan dan Pelayaran''', misalnya, pengunjung dapat mengenal kembali posisi Makassar sebagai pusat perdagangan di kawasan Indonesia Timur serta melihat gambaran perahu ''padewakang'' yang digunakan dalam aktivitas perdagangan. Sementara itu, ruang '''Multi Culture''' memperlihatkan pakaian adat dari berbagai suku di Sulawesi Selatan, termasuk koleksi pakaian dari India dan Cina.
Museum ini tidak hanya mengajak pengunjung untuk melihat koleksi. Pengalaman di dalamnya juga dapat dilakukan melalui kegiatan mengamati, mengikuti penjelasan, menonton video animasi budaya, seminar, hingga permainan edukatif. Penelitian tentang Museum Kota Makassar bahkan mengembangkan konsep ''storytelling'' dan permainan sejarah agar pengunjung dapat belajar sambil berinteraksi dengan koleksi museum.
Dengan demikian, Museum Kota Makassar bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama. Di dalamnya, sejarah kota disusun menjadi sebuah perjalanan dari awal terbentuknya Makassar, masa perdagangan dan kolonial, perkembangan pemerintahan, hingga keberagaman budaya yang masih menjadi bagian dari kehidupan kota hingga sekarang.
8jo3e6r6f4qq7f2mwpyqb834564m13l
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo
0
28513
120228
2026-09-27T03:52:45Z
NasRI A. Muhammad Abduh
42196
←Membuat halaman berisi ' Menelusuri Jejak Peradaban di Balik Benteng Tua: Menguak Riwayat dan Cerita Museum La Galigo MAKASSAR — Di balik kokohnya dinding-dinding batu bergaya arsitektur kolonial abad ke-17 di kompleks Benteng Fort Rotterdam, tersimpan sebuah lorong waktu yang membawa siapa saja melintasi sejarah panjang tanah Sulawesi Selatan. Di sanalah Museum La Galigo berdiri, menjadi rumah penjaga memori kolektif dan rekaman jejak peradaban empat suku besar: Bugis, Makassar, To...'
120228
wikitext
text/x-wiki
Menelusuri Jejak Peradaban di Balik Benteng Tua: Menguak Riwayat dan Cerita Museum La Galigo
MAKASSAR — Di balik kokohnya dinding-dinding batu bergaya arsitektur kolonial abad ke-17 di kompleks Benteng Fort Rotterdam, tersimpan sebuah lorong waktu yang membawa siapa saja melintasi sejarah panjang tanah Sulawesi Selatan. Di sanalah Museum La Galigo berdiri, menjadi rumah penjaga memori kolektif dan rekaman jejak peradaban empat suku besar: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.
Langkah kaki di atas lantai batu museum ini tak sekadar menyusuri ruangan berisi artefak tua, melainkan membaca kembali pasang surut sejarah yang terukir sejak era sebelum kemerdekaan.
Dari Celebes Museum hingga Menjadi La Galigo
Kisah keberadaan museum ini dimulai pada 1938, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan Celebes Museum. Wadah ini sempat menjadi panggung bagi benda-benda seni dan etnografi kawasan timur Nusantara. Namun, gelombang Perang Dunia II dan masuknya pendudukan Jepang membuat museum ini berhentinya berdenyut; ruang pamerannya terbengkalai dan koleksinya terabaikan.
Secara bertahap, api kesadaran sejarah itu dinyalakan kembali pasca-kemerdekaan. Pada 1 Mei 1966, atas prakarsa para budayawan dan akademisi daerah yang disokong oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Kolonel Achmad Lamo, museum ini dihidupkan kembali dengan nama Museum Celebes di Gedung D Fort Rotterdam.
Puncaknya terjadi pada 10 Maret 1974, ketika pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengambil alih pengelolaannya sekaligus menyematkan nama baru yang sarat makna: Museum La Galigo.
Warisan Nama dari Epik Terpanjang di Dunia
Semat nama "La Galigo" yang disandang museum ini bukanlah tanpa alasan. Nama tersebut berakar dari Sureq Galigo, sebuah karya sastra epik-mitologis mahaagung milik masyarakat Bugis.
Mengisahkan silsilah manusia pertama hingga pengembaraan tokoh Sawerigading dan anaknya, La Galigo, naskah kuno ini memegang predikat sebagai epik terpanjang di dunia—bahkan melampaui panjang bait mahakarya Mahabharata dari India maupun Iliad karya Homer. Pengakuan dunia atas mahakarya ini pun makin kukuh setelah UNESCO menetapkannya sebagai bagian dari Memory of the World.
Pemilihan nama La Galigo menjadi simbol bahwasanya museum ini bertugas memelihara kedalaman nilai, literasi, serta identitas kebudayaan Sulawesi Selatan agar tak lapuk ditelan zaman.
Saksi Bisu Pengasingan Sang Pangeran dan Kekayaan Artefak
Berada di dalam kawasan Benteng Jumpandang—yang kemudian dinamai Fort Rotterdam pasca-Perjanjian Bongaya 1667—memberikan atmosfer magis tersendiri bagi Museum La Galigo. Kompleks benteng ini bukan hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Tak jauh dari gedung museum, berdiri sudut pengasingan Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional yang diasingkan Belanda di tempat ini sejak 1833 hingga wafatnya pada 1855.
Kini, Museum La Galigo membagi ruang kisahnya ke dalam dua gedung utama:
• Gedung Etnografi: Menghadirkan miniatur denyut nadi kehidupan masyarakat lokal. Mulai dari alat pertanian tradisional, rahasia keahlian pembuat kapal Pinisi yang legendaris, hingga deretan busana adat empat suku utama yang memikat mata.
• Gedung Arkeologi & Sejarah: Menjadi lorong waktu yang membawa pengunjung melompati zaman, menampilkan jejak fosil purba dan alat batu Paleolitikum dari gua-gua karst Maros-Pangkep, keramik peninggalan jalur pelayaran kuno, hingga bilah-bilah tajam senjata tradisional seperti badik dan keris.
09btizkwbx909g4ppbahtzjomdfs9lu
120235
120228
2026-09-27T04:00:41Z
NasRI A. Muhammad Abduh
42196
120235
wikitext
text/x-wiki
Makassar, Sulawesi Selatan — Di balik kokohnya dinding-dinding batu bergaya arsitektur kolonial abad ke-17 di kompleks Benteng Fort Rotterdam, tersimpan sebuah lorong waktu yang membawa siapa saja melintasi sejarah panjang tanah Sulawesi Selatan. Di sanalah Museum La Galigo berdiri, menjadi rumah penjaga memori kolektif dan rekaman jejak peradaban empat suku besar: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.
Langkah kaki di atas lantai batu museum ini tak sekadar menyusuri ruangan berisi artefak tua, melainkan membaca kembali pasang surut sejarah yang terukir sejak era sebelum kemerdekaan.
Dari Celebes Museum hingga Menjadi La Galigo
Kisah keberadaan museum ini dimulai pada 1938, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan Celebes Museum. Wadah ini sempat menjadi panggung bagi benda-benda seni dan etnografi kawasan timur Nusantara. Namun, gelombang Perang Dunia II dan masuknya pendudukan Jepang membuat museum ini berhentinya berdenyut; ruang pamerannya terbengkalai dan koleksinya terabaikan.
Secara bertahap, api kesadaran sejarah itu dinyalakan kembali pasca-kemerdekaan. Pada 1 Mei 1966, atas prakarsa para budayawan dan akademisi daerah yang disokong oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Kolonel Achmad Lamo, museum ini dihidupkan kembali dengan nama Museum Celebes di Gedung D Fort Rotterdam.
Puncaknya terjadi pada 10 Maret 1974, ketika pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengambil alih pengelolaannya sekaligus menyematkan nama baru yang sarat makna: Museum La Galigo.
Warisan Nama dari Epik Terpanjang di Dunia
Semat nama "La Galigo" yang disandang museum ini bukanlah tanpa alasan. Nama tersebut berakar dari Sureq Galigo, sebuah karya sastra epik-mitologis mahaagung milik masyarakat Bugis.
Mengisahkan silsilah manusia pertama hingga pengembaraan tokoh Sawerigading dan anaknya, La Galigo, naskah kuno ini memegang predikat sebagai epik terpanjang di dunia—bahkan melampaui panjang bait mahakarya Mahabharata dari India maupun Iliad karya Homer. Pengakuan dunia atas mahakarya ini pun makin kukuh setelah UNESCO menetapkannya sebagai bagian dari Memory of the World.
Pemilihan nama La Galigo menjadi simbol bahwasanya museum ini bertugas memelihara kedalaman nilai, literasi, serta identitas kebudayaan Sulawesi Selatan agar tak lapuk ditelan zaman.
Saksi Bisu Pengasingan Sang Pangeran dan Kekayaan Artefak
Berada di dalam kawasan Benteng Jumpandang—yang kemudian dinamai Fort Rotterdam pasca-Perjanjian Bongaya 1667—memberikan atmosfer magis tersendiri bagi Museum La Galigo. Kompleks benteng ini bukan hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Tak jauh dari gedung museum, berdiri sudut pengasingan Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional yang diasingkan Belanda di tempat ini sejak 1833 hingga wafatnya pada 1855.
Kini, Museum La Galigo membagi ruang kisahnya ke dalam dua gedung utama:
• Gedung Etnografi: Menghadirkan miniatur denyut nadi kehidupan masyarakat lokal. Mulai dari alat pertanian tradisional, rahasia keahlian pembuat kapal Pinisi yang legendaris, hingga deretan busana adat empat suku utama yang memikat mata.
• Gedung Arkeologi & Sejarah: Menjadi lorong waktu yang membawa pengunjung melompati zaman, menampilkan jejak fosil purba dan alat batu Paleolitikum dari gua-gua karst Maros-Pangkep, keramik peninggalan jalur pelayaran kuno, hingga bilah-bilah tajam senjata tradisional seperti badik dan keris.
3es50kq10i8mzuavnsrt73m36rcdoxc
120240
120235
2026-09-27T04:01:48Z
NasRI A. Muhammad Abduh
42196
120240
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Museum La Galigo, Makassar.jpg|jmpl]]
Makassar, Sulawesi Selatan — Di balik kokohnya dinding-dinding batu bergaya arsitektur kolonial abad ke-17 di kompleks Benteng Fort Rotterdam, tersimpan sebuah lorong waktu yang membawa siapa saja melintasi sejarah panjang tanah Sulawesi Selatan. Di sanalah Museum La Galigo berdiri, menjadi rumah penjaga memori kolektif dan rekaman jejak peradaban empat suku besar: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.
Langkah kaki di atas lantai batu museum ini tak sekadar menyusuri ruangan berisi artefak tua, melainkan membaca kembali pasang surut sejarah yang terukir sejak era sebelum kemerdekaan.
Dari Celebes Museum hingga Menjadi La Galigo
Kisah keberadaan museum ini dimulai pada 1938, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan Celebes Museum. Wadah ini sempat menjadi panggung bagi benda-benda seni dan etnografi kawasan timur Nusantara. Namun, gelombang Perang Dunia II dan masuknya pendudukan Jepang membuat museum ini berhentinya berdenyut; ruang pamerannya terbengkalai dan koleksinya terabaikan.
Secara bertahap, api kesadaran sejarah itu dinyalakan kembali pasca-kemerdekaan. Pada 1 Mei 1966, atas prakarsa para budayawan dan akademisi daerah yang disokong oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Kolonel Achmad Lamo, museum ini dihidupkan kembali dengan nama Museum Celebes di Gedung D Fort Rotterdam.
Puncaknya terjadi pada 10 Maret 1974, ketika pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengambil alih pengelolaannya sekaligus menyematkan nama baru yang sarat makna: Museum La Galigo.
Warisan Nama dari Epik Terpanjang di Dunia
Semat nama "La Galigo" yang disandang museum ini bukanlah tanpa alasan. Nama tersebut berakar dari Sureq Galigo, sebuah karya sastra epik-mitologis mahaagung milik masyarakat Bugis.
Mengisahkan silsilah manusia pertama hingga pengembaraan tokoh Sawerigading dan anaknya, La Galigo, naskah kuno ini memegang predikat sebagai epik terpanjang di dunia—bahkan melampaui panjang bait mahakarya Mahabharata dari India maupun Iliad karya Homer. Pengakuan dunia atas mahakarya ini pun makin kukuh setelah UNESCO menetapkannya sebagai bagian dari Memory of the World.
Pemilihan nama La Galigo menjadi simbol bahwasanya museum ini bertugas memelihara kedalaman nilai, literasi, serta identitas kebudayaan Sulawesi Selatan agar tak lapuk ditelan zaman.
Saksi Bisu Pengasingan Sang Pangeran dan Kekayaan Artefak
Berada di dalam kawasan Benteng Jumpandang—yang kemudian dinamai Fort Rotterdam pasca-Perjanjian Bongaya 1667—memberikan atmosfer magis tersendiri bagi Museum La Galigo. Kompleks benteng ini bukan hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Tak jauh dari gedung museum, berdiri sudut pengasingan Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional yang diasingkan Belanda di tempat ini sejak 1833 hingga wafatnya pada 1855.
Kini, Museum La Galigo membagi ruang kisahnya ke dalam dua gedung utama:
• Gedung Etnografi: Menghadirkan miniatur denyut nadi kehidupan masyarakat lokal. Mulai dari alat pertanian tradisional, rahasia keahlian pembuat kapal Pinisi yang legendaris, hingga deretan busana adat empat suku utama yang memikat mata.
• Gedung Arkeologi & Sejarah: Menjadi lorong waktu yang membawa pengunjung melompati zaman, menampilkan jejak fosil purba dan alat batu Paleolitikum dari gua-gua karst Maros-Pangkep, keramik peninggalan jalur pelayaran kuno, hingga bilah-bilah tajam senjata tradisional seperti badik dan keris.
ik3q4zlauv3ei6bgawx1sljj6kjq7ci
120260
120240
2026-09-27T04:25:02Z
NasRI A. Muhammad Abduh
42196
NasRI A. Muhammad Abduh memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Museum La Galigo]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo]]
120240
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Museum La Galigo, Makassar.jpg|jmpl]]
Makassar, Sulawesi Selatan — Di balik kokohnya dinding-dinding batu bergaya arsitektur kolonial abad ke-17 di kompleks Benteng Fort Rotterdam, tersimpan sebuah lorong waktu yang membawa siapa saja melintasi sejarah panjang tanah Sulawesi Selatan. Di sanalah Museum La Galigo berdiri, menjadi rumah penjaga memori kolektif dan rekaman jejak peradaban empat suku besar: Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar.
Langkah kaki di atas lantai batu museum ini tak sekadar menyusuri ruangan berisi artefak tua, melainkan membaca kembali pasang surut sejarah yang terukir sejak era sebelum kemerdekaan.
Dari Celebes Museum hingga Menjadi La Galigo
Kisah keberadaan museum ini dimulai pada 1938, ketika pemerintah kolonial Belanda mendirikan Celebes Museum. Wadah ini sempat menjadi panggung bagi benda-benda seni dan etnografi kawasan timur Nusantara. Namun, gelombang Perang Dunia II dan masuknya pendudukan Jepang membuat museum ini berhentinya berdenyut; ruang pamerannya terbengkalai dan koleksinya terabaikan.
Secara bertahap, api kesadaran sejarah itu dinyalakan kembali pasca-kemerdekaan. Pada 1 Mei 1966, atas prakarsa para budayawan dan akademisi daerah yang disokong oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Kolonel Achmad Lamo, museum ini dihidupkan kembali dengan nama Museum Celebes di Gedung D Fort Rotterdam.
Puncaknya terjadi pada 10 Maret 1974, ketika pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengambil alih pengelolaannya sekaligus menyematkan nama baru yang sarat makna: Museum La Galigo.
Warisan Nama dari Epik Terpanjang di Dunia
Semat nama "La Galigo" yang disandang museum ini bukanlah tanpa alasan. Nama tersebut berakar dari Sureq Galigo, sebuah karya sastra epik-mitologis mahaagung milik masyarakat Bugis.
Mengisahkan silsilah manusia pertama hingga pengembaraan tokoh Sawerigading dan anaknya, La Galigo, naskah kuno ini memegang predikat sebagai epik terpanjang di dunia—bahkan melampaui panjang bait mahakarya Mahabharata dari India maupun Iliad karya Homer. Pengakuan dunia atas mahakarya ini pun makin kukuh setelah UNESCO menetapkannya sebagai bagian dari Memory of the World.
Pemilihan nama La Galigo menjadi simbol bahwasanya museum ini bertugas memelihara kedalaman nilai, literasi, serta identitas kebudayaan Sulawesi Selatan agar tak lapuk ditelan zaman.
Saksi Bisu Pengasingan Sang Pangeran dan Kekayaan Artefak
Berada di dalam kawasan Benteng Jumpandang—yang kemudian dinamai Fort Rotterdam pasca-Perjanjian Bongaya 1667—memberikan atmosfer magis tersendiri bagi Museum La Galigo. Kompleks benteng ini bukan hanya menjadi tempat penyimpanan artefak, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Tak jauh dari gedung museum, berdiri sudut pengasingan Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional yang diasingkan Belanda di tempat ini sejak 1833 hingga wafatnya pada 1855.
Kini, Museum La Galigo membagi ruang kisahnya ke dalam dua gedung utama:
• Gedung Etnografi: Menghadirkan miniatur denyut nadi kehidupan masyarakat lokal. Mulai dari alat pertanian tradisional, rahasia keahlian pembuat kapal Pinisi yang legendaris, hingga deretan busana adat empat suku utama yang memikat mata.
• Gedung Arkeologi & Sejarah: Menjadi lorong waktu yang membawa pengunjung melompati zaman, menampilkan jejak fosil purba dan alat batu Paleolitikum dari gua-gua karst Maros-Pangkep, keramik peninggalan jalur pelayaran kuno, hingga bilah-bilah tajam senjata tradisional seperti badik dan keris.
ik3q4zlauv3ei6bgawx1sljj6kjq7ci
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Kayangan
0
28514
120229
2026-09-27T03:53:09Z
Fitriakhrd
43981
←Membuat halaman berisi 'Pulau Kayangan Writer: Fitriakhrd Kota Makassar bukan hanya kota besar yang tumbuh di pesisir barat Sulawesi Selatan. Kota ini juga memiliki banyak pulau kecil yang menjadi bagian dari identitas geografisnya. Letaknya yang menghadap Selat Makassar membuat kehidupan kota sangat terkait dengan laut. Di antara gugusan pulau-pulau yang berada di sekitar wilayah pantai, ada Pulau Kayangan. Pulau kecil ini menjadi bagian dari lanskap bahari Kota Makassar. Pulau Kayanga...'
120229
wikitext
text/x-wiki
Pulau Kayangan
Writer: Fitriakhrd
Kota Makassar bukan hanya kota besar yang tumbuh di pesisir barat Sulawesi Selatan. Kota ini juga memiliki banyak pulau kecil yang menjadi bagian dari identitas geografisnya. Letaknya yang menghadap Selat Makassar membuat kehidupan kota sangat terkait dengan laut. Di antara gugusan pulau-pulau yang berada di sekitar wilayah pantai, ada Pulau Kayangan. Pulau kecil ini menjadi bagian dari lanskap bahari Kota Makassar.
Pulau Kayangan terletak cukup dekat dengan daratan utama Kota Makassar. Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, pulau ini berada di wilayah Kelurahan Bulo Gading. Jaraknya sekitar 0,9 kilometer dari pusat kota. Jarak yang dekat ini membuat Pulau Kayangan berbeda dari pulau lain yang lebih jauh dari pusat kota. Laut yang memisahkan pulau dari daratan justru menjadi bagian penting dari pengalaman melihat makna geografis Makassar.
Perjalanan menuju Pulau Kayangan memberikan perubahan suasana yang nyata. Dari daerah perkotaan yang padat, kita bergerak menuju perairan terbuka. Daratan perlahan-lahan meninggalkan pandangan, sementara laut menjadi lanskap utama. Perubahan ini memberi gambaran sederhana tentang posisi Makassar sebagai kota pesisir, kehidupan kota dan kehidupan laut berdekatan.
Sebagai pulau kecil, Pulau Kayangan punya karakter ruang yang berbeda dari tempat wisata di daratan utama. Pulau ini dikelilingi oleh air dan punya lingkungan pesisir sebagai bagian utama dari tampilannya. Aktivitas yang berkaitan dengan pantai dan laut menjadi inti dari kegiatan rekreasi di sini. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat bahwa orang bisa berenang dan snorkeling di kawasan ini.
Namun, melihat Pulau Kayangan hanya sebagai tempat wisata bahari belum sepenuhnya menggambarkan artinya bagi Makassar. Pulau ini adalah bagian dari gugusan kepulauan yang menunjukkan karakter maritim kota. Dalam dokumen perencanaan tata ruang Kota Makassar, keberadaan dermaga wisata di Pulau Kayangan disebutkan sebagai bagian dari sistem transportasi air dan fasilitas pariwisata pesisir. Ini menunjukkan bahwa pulau ini dibuat dalam kerangka yang lebih luas, sebagai bagian dari hubungan antara daratan, pesisir, dan pulau-pulau kecil.
Konteks ini penting karena secara historis, Makassar tumbuh sebagai kota dengan hubungan kuat dengan dunia laut. Posisinya di jalur perdagangan dan pelayaran menjadikan laut bukan sekadar batas, melainkan ruang yang membentuk perkembangan masyarakat dan kota. Sampai sekarang, ciri tersebut masih terlihat melalui pelabuhan, kawasan pesisir, aktivitas nelayan, transportasi laut, serta pulau-pulau kecil di sekitar kota.
Dalam konteks pariwisata, keberadaan Pulau Kayangan memperluas cara orang melihat Makassar sebagai destinasi. Wisata di kota tidak hanya soal bangunan bersejarah, tempat makan, ruang publik, atau kawasan perkotaan. Di luar daratan utama, ada juga kawasan kepulauan yang memberi sudut pandang berbeda tentang kota. Pulau Kayangan adalah salah satu contoh bagaimana ruang laut bisa menjadi bagian dari pengalaman mengenal Makassar.
Pulau-pulau kecil di sekitar Makassar juga punya arti penting dari sisi lingkungan. Ekosistem pesisir dan laut adalah ruang yang saling terkait dengan kehidupan masyarakat. Di saat bersamaan, ekosistem ini rentan terhadap perubahan lingkungan. Karena itu, pengembangan wisata di pulau-pulau kecil tidak bisa lepas dari masalah kebersihan, pelestarian alam, pengelolaan sampah, dan pemanfaatan ruang yang memperhatikan daya dukung alam.
Bagi mereka yang mengenal Makassar hanya dari kehidupan di daratan, Pulau Kayangan memberi gambaran berbeda tentang wajah kota. Pulau ini menunjukkan bahwa Makassar punya dimensi geografis yang lebih luas dari sekadar kawasan perkotaan. Di balik gedung-gedung, jalan-jalan, pusat perdagangan, dan ruang-ruang publik, ada laut dan pulau-pulau kecil yang menjadi bagian dari wilayah kota.
Pulau Kayangan pada akhirnya bisa dilihat sebagai bagian dari lanskap bahari Makassar. Nilainya tidak hanya terletak pada fungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga pada keberadaannya sebagai bagian dari wilayah kepulauan yang membentuk ciri geografis kota. Dari pulau kecil ini, Makassar bisa dilihat dari sudut yang berbeda — bukan hanya sebagai kota yang menghadap laut, tetapi sebagai kota yang hidupnya erat terkait dengan laut dan pulau-pulau di sekitarnya.
Jadi, mengenal Pulau Kayangan berarti mengenal salah satu wajah bahari Kota Makassar. Pulau kecil ini menjadi pengingat bahwa identitas sebuah kota pesisir tidak hanya dibentuk oleh apa yang ada di daratan, tetapi juga oleh laut, pulau-pulau kecil, dan hubungan manusia dengan lingkungan maritim yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Sumber:
Pemerintah Kota Makassar. (2024). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Makassar tahun 2025–2045. Pemerintah Kota Makassar. (https://makassarkota.go.id/halaman/geografis?utm_source=chatgpt.com)
6vwwsehk91tadhth656hbeelxqhe34c
120283
120229
2026-09-27T04:56:03Z
Fitriakhrd
43981
sumber
120283
wikitext
text/x-wiki
'''Pulau Kayangan'''
Kota Makassar bukan hanya kota besar yang tumbuh di pesisir barat Sulawesi Selatan. Kota ini juga memiliki banyak pulau kecil yang menjadi bagian dari identitas geografisnya. Letaknya yang menghadap Selat Makassar membuat kehidupan kota sangat terkait dengan laut. Di antara gugusan pulau-pulau di sekitar wilayah pantai, terdapat Pulau Kayangan. Pulau kecil ini menjadi bagian dari lanskap bahari Kota Makassar.<ref>https://fliphtml5.com/jmbci/ytck/Rencana_Pembangunan_Kota_Makassar_2025-2045/46/?utm_source=.com#google_vignette</ref>
Pulau Kayangan terletak cukup dekat dengan daratan utama Kota Makassar. Pulau ini berada di wilayah Kelurahan Bulo Gading. Jaraknya sekitar 0,8 kilometer dari pusat kota.<ref name=":1">https://kumparan.com/jendela-dunia/pulau-kayangan-lokasi-daya-tarik-dan-info-lainnya-222Niv69Coj/1</ref><ref name=":2">https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/pulau-khayangan-surga-kecil-di-perairan-makassar/</ref> Jarak yang dekat ini membuat Pulau Kayangan berbeda dari pulau lain yang lebih jauh dari pusat kota. Laut yang memisahkan pulau dari daratan justru menjadi bagian penting dari pengalaman melihat makna geografis Makassar.
Sebagai pulau kecil, Pulau Kayangan punya karakter ruang yang berbeda dari tempat wisata di daratan utama. Pulau ini dikelilingi oleh air dan punya lingkungan pesisir sebagai bagian utama dari tampilannya. Aktivitas yang berkaitan dengan pantai dan laut menjadi inti dari kegiatan rekreasi di sini. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat bahwa orang bisa berenang dan snorkeling di kawasan ini.<ref>https://agris.fao.org/search/en/providers/122323/records/6582f66debe24a6dee898c19</ref>
Keindahan Pulau Kayangan paling jelas terlihat dari hamparan pasir, garis pantai, dan perairan laut yang mengelilinginya. Dari tepi Pulau Kayangan, laut terbuka menampilkan pemandangan yang menakjubkan, dan suasana kepulauan memberi kesan berbeda dibandingkan dengan kawasan perkotaan Makassar.<ref name=":2" /> Pulau Kayangan menunjukkan bahwa karakter Kota Makassar tidak hanya berasal dari daratan, tetapi juga dari ruang laut dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Selain menikmati pemandangan dari darat, kawasan laut di sekitar Pulau Kayangan juga menawarkan kesempatan untuk bermain di air. Kondisi laut yang tenang di beberapa waktu memungkinkan pengunjung berenang atau bermain di sekitar pantai dengan tetap menjaga kondisi cuaca dan keselamatan. Bagi yang suka foto, garis pantai dan pemandangan laut bisa menjadi latar yang indah untuk mengabadikan momen.<ref name=":1" /><ref name=":1" />
Waktu yang menarik untuk datang ke Pulau Kayangan adalah saat menjelang sore. Letak pulau di Selat Makassar memungkinkan pengunjung menyaksikan perubahan warna langit saat matahari mulai tenggelam. Cahaya sore yang jatuh di atas laut menciptakan suasana yang berbeda dibanding siang hari. Saat itu, Pulau Kayangan menunjukkan sisi keindahan yang khas dan pemandangan yang menarik.
Pulau Kayangan bukan hanya tempat untuk bersenang-senang, tetapi juga menunjukkan sisi pesisir dan kepulauan dari Kota Makassar. Keberadaannya menunjukkan bahwa kota ini tidak hanya terdiri dari daratan, jalan, dan bangunan, tetapi juga laut dan pulau-pulau kecil yang ikut membentuk pemandangan kota. Maka, menikmati Pulau Kayangan bukan sekadar menikmati pantai, tetapi juga mengenal bagian dari alam yang berada tidak jauh dari kehidupan perkotaan.
b38z6ynthl677whhbzsmiimyf61l02n
Jelajah Wisata Makassar/Makam Syech yusuf
0
28515
120230
2026-09-27T03:53:29Z
Noefieya NFY
42224
←Membuat halaman berisi ''''Makam Syekh Yusuf Tuanta Salamaka''' merupakan salah satu destinasi wisata religi dan sejarah terkemuka di Sulawesi Selatan, terletak di Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Situs ini merupakan peraduan terakhir dari Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–1699), ulama besar, pejuang anti-kolonial, serta Pahlawan Nasional Indonesia yang juga dihormati hingga Afrika Selatan. '''Daya Tarik Utama''' '''Wisata Spiritual & Ziarah:''' Kompleks makam ini s...'
120230
wikitext
text/x-wiki
'''Makam Syekh Yusuf Tuanta Salamaka''' merupakan salah satu destinasi wisata religi dan sejarah terkemuka di Sulawesi Selatan, terletak di Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Situs ini merupakan peraduan terakhir dari Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–1699), ulama besar, pejuang anti-kolonial, serta Pahlawan Nasional Indonesia yang juga dihormati hingga Afrika Selatan.
'''Daya Tarik Utama'''
'''Wisata Spiritual & Ziarah:''' Kompleks makam ini senantiasa ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara (seperti Afrika Selatan dan Malaysia) untuk memanjatkan doa, merenungi keteladanan ulama besar, dan berzikir.
'''Arsitektur Khas & Nilai Sejarah:''' Bangunan kubah makam menampilkan perpaduan arsitektur lokal Makassar dan corak Islami. Di area kompleks ini juga terdapat makam istri beliau, Daeng Visaya, serta kerabat Kerajaan Gowa.
'''Jejak Lintas Benua:''' Syekh Yusuf dikenal sebagai pahlawan dua negara. Setelah diasingkan oleh Belanda ke Afrika Selatan, beliau menyebarkan Islam di sana hingga diangkat menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Afrika Selatan.
'''Informasi Kunjungan'''
{| class="wikitable"
|'''Kategori'''
|'''Detail'''
|-
|Lokasi
|Jl. Syekh Yusuf, Katangka, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa
|-
|Aksesibilitas
|Berjarak sekitar 10–12 km dari pusat Kota Makassar (±30 menit perjalanan)
|-
|Waktu Operasional
|Terbuka setiap hari untuk umum
|-
|Etika Kunjungan
|Berpakaian sopan dan menutup aurat, menjaga ketenangan, serta menjaga kebersihan kompleks makam
|}
'''''Sisi Budaya dan Religi dari Makam Syech Yusuf'''''
Nilai budaya dan religi dari kompleks Makam Syekh Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tercermin dari tradisi ziarah, penghormatan terhadap tokoh pahlawan, serta kearifan lokal masyarakat setempat.
'''Pusat Wisata Religi dan Doa:''' Makam Syekh Yusuf—yang dikenal sebagai ''Tuanta Salamaka'' (Tuan Guru yang Menyelamatkan)—menjadi tempat peziarah memanjatkan doa, mengenang kematian, serta merefleksikan ajaran Islam.
'''Teladan Sufisme dan Moral:''' Syekh Yusuf al-Makassari adalah ulama besar dan sufi yang menyebarkan ajaran tauhid dan tasawuf (seperti konsep kedekatan dengan Allah). Nilai keteguhan iman dan toleransi dari ajarannya menjadi inspirasi keagamaan yang kuat.
'''Tradisi Spiritual dan Perdebatan Hukum:''' Terdapat praktik keagamaan seperti bernazar atau memohon hajat yang diiringi keyakinan akan berkah (''karamah'') dari sang wali. Dalam pandangan Islam, sebagian ulama membolehkannya selama doa dan harapan tetap disandarkan kepada Allah SWT, sementara sebagian mengingatkan agar tidak menyimpang dari akidah
'''Tradisi Siklus Hidup:''' Makam Syekh Yusuf menjadi bagian integral dari fase penting kehidupan masyarakat Makassar. Ada tradisi kultural di mana '''pengantin baru''', orang yang akan/baru pulang '''naik haji''', atau keluarga yang menggelar akikah merasa perlu berziarah. Mereka datang untuk melepaskan ''nazar'' (janji spiritual) atau memohon keberkahan.
'''Ritual Ziarah Musiman (Jelang Ramadan & Lebaran):''' menjelang bulan Ramadhan dan saat lebaran masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat kabupaten Gowa melakukan ziarah secara besar-besaran. Makam akan dipadati ribuan peziarah dari berbagai daerah sebagai bentuk penghormatan dan pengingat spiritual. Hal tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat sekitar ataupun masyarakat Kabupaten Gowa.
'''Nilai Sejarah Perjuangan Lintas Benua'''
* '''Pahlawan Dua Negara:''' Makam ini menjadi peristirahatan terakhir seorang tokoh besar yang diakui sebagai Pahlawan Nasional di Indonesia sekaligus Afrika Selatan.
* '''Saksi Bisu Diplomasi & Spiritualitas:''' Keberadaan makam ini menjadi bukti perjalanan panjang perjuangan anti-kolonial serta penyebaran Islam dari Nusantara hingga Benua Afrika.
'''2. Pusat Ziarah Religi dan Spiritualitas'''
* '''Daya Tarik Internasional:''' Kompleks makam ini ramai dikunjungi peziarah, tidak hanya dari berbagai wilayah Nusantara, tetapi juga dari mancanegara (seperti Afrika Selatan, Malaysia, dan negara-negara Timur Tengah).
* '''Atmosfer Kekhusyukan:''' Area kubah (''kobbang'') menyajikan suasana yang tenang dan religius bagi peziarah yang ingin berzikir, membaca Al-Qur'an, dan merenungi keteladanan Sang Syekh.
'''3. Keunikan Arsitektur dan Cagar Budaya'''
* '''Perpaduan Budaya Lokal dan Islami:''' Bangunan kubah utama (''kobbang'') yang menaungi makam memiliki ciri khas arsitektur gabungan corak lokal Makassar dan nuansa Islami klasik.
* '''Integrasi dengan Situs Bersejarah:''' Kompleks makam berada di area bernilai sejarah tinggi dan berdekatan langsung dengan Masjid Tua Al-Hilal KatangkaKlik untuk membuka panel samping guna melihat informasi selengkapnya, salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan.
'''4. Lokasi Strategis dan Aksesibilitas Mudah'''
* '''Dekat dengan Pusat Kota:''' Berada di kawasan Katangka, Somba Opu, lokasi ini sangat mudah dijangkau dari pusat Kota Makassar maupun Sungguminasa, Gowa.
* '''Fasilitas Pendukung Lengkap:''' Didukung oleh infrastruktur jalan yang baik, area parkir, serta kedekatan dengan fasilitas publik seperti Masjid Agung Syekh YusufKlik untuk membuka panel samping guna melihat informasi selengkapnya dan Lapangan Syekh YusufKlik untuk membuka panel samping guna melihat informasi selengkapnya.
'''Biografi dan Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari'''
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani lahir di Moncoloe, Gowa pada 3 Juli 1626. Beliau adalah ulama besar Sufi, pejuang anti-kolonial, serta Pahlawan Nasional Indonesia dan Afrika Selatan.
'''1. Pendidikan dan Perjalanan Keilmuan'''
'''Awal Hayat & Sulawesi Selatan:''' Mempelajari agama Islam sejak kecil di Kesultanan Gowa di bawah bimbingan para ulama terkemuka, seperti Daeng Ri Tasammang dan Sayyid Ba Alawi bin Abdul Allah
'''Rihlah Ilmiah ke Timur Tengah:''' Pada usia 18 tahun (1644), beliau berangkat ke Nusantara bagian barat dan Timur Tengah untuk memperdalam ilmu agama:
'''Banten & Aceh:''' Berguru kepada Syekh Nuruddin Al-Raniri.
'''Yaman, Makkah, Madinah, & Damaskus:''' Mempelajari tasawuf, hadis, dan fiqih dari ulama-ulama besar dunia Islam serta memperoleh ijazah berbagai tarekat, terutama Tarekat Khalwatiyah.
'''2. Perjuangan Anti-Kolonial di Nusantara'''
* '''Pusat Pergerakan di Banten:''' Sekembalinya dari Arab (sekitar 1672), beliau tidak langsung ke Gowa melainkan menetap di Kesultanan Banten atas undangan Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau diangkat menjadi penasihat kesultanan dan mufti Banten.
* '''Gerilya Melawan VOC:''' Ketika Perang Banten pecah (1682–1683), Syekh Yusuf memimpin pasukan gerilya bersama Pangeran Purbaya melawan pasukan VOC Belanda.
* '''Penangkapan:''' Setelah perang sengit bergerilya di hutan-hutan Jawa Barat, VOC berhasil menangkap beliau pada akhir tahun 1683 melalui tipu muslihat penjebakan.
'''3. Pengasingan dan Penyebaran Islam Lintas Benua'''
* '''Pengasingan ke Sri Lanka (1684–1693):''' Karena pengaruhnya yang sangat besar di kalangan umat Islam Nusantara, Belanda mengasingkan Syekh Yusuf ke Ceylon (Sri Lanka). Di sana, beliau tetap mengajar dan berkomunikasi dengan para jamaah haji serta raja-raja Nusantara melalui surat-menyurat.
* '''Pengasingan ke Afrika Selatan (1693–1699):''' VOC menganggap Sri Lanka masih terlalu dekat dengan Indonesia, lalu memindahkan Syekh Yusuf ke Zandvliet (sekarang Macassar, Cape Town), Afrika Selatan.
* '''Bapak Islam di Afrika Selatan:''' Di Afrika Selatan, beliau menyebarkan ajaran Islam kepada para budak dan masyarakat lokal. Komunitas yang didirikannya menjadi cikal bakal komunitas Muslim Afrika Selatan.
'''Akhir Hayat dan Pengakuan Dunia'''
Syekh Yusuf wafat di Macassar, Cape Town, pada 23 Mei 1699 di usia 72 tahun. Jenazahnya kemudian dibawa kembali dan dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa, pada tahun 1705.
Atas jasa-jasanya yang melintas batas benua, beliau dianugerahi gelar '''Pahlawan Nasional Indonesia''' pada tahun 1995 dan penghargaan penghargaan tertinggi '''''Order of the Companions of OR Tambo (Gold)''''' oleh Pemerintah Afrika Selatan yang diserahkan oleh Presiden Thabo Mbeki kepada keturunan beliau.
s2cw1lmxmwr7iu97jzhjapiqxpw0tny
Jelajah Wisata Makassar/Pulau Lae lae
0
28516
120231
2026-09-27T03:54:20Z
Indra-doozo
42221
←Membuat halaman berisi 'Makassar merupakan salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang membentang rapih dengan pesona daya tarik keindahan alam bahari. Terdapat beberapa pulau yang menyajikan keindahan dan keunikan masing-masing. Beberapa pulau seperti, Pulau Samalona, Pulau Kodingarengkeke, Pulau Gusung dan Pulau Lae-Lae. Pulau Lae-Lae merupakan salah satu tujuan destinasi wisata bahari yang memang sangat menarik untuk di kunjungi bersama keluarga, kerabat dan teman teman. Pulau L...'
120231
wikitext
text/x-wiki
Makassar merupakan salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang membentang rapih dengan pesona daya tarik keindahan alam bahari. Terdapat beberapa pulau yang menyajikan keindahan dan keunikan masing-masing. Beberapa pulau seperti, Pulau Samalona, Pulau Kodingarengkeke, Pulau Gusung dan Pulau Lae-Lae.
Pulau Lae-Lae merupakan salah satu tujuan destinasi wisata bahari yang memang sangat menarik untuk di kunjungi bersama keluarga, kerabat dan teman teman. Pulau Lae-lae mempunyai luas sekitar 6,5 hektar dengan 440 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa. Pulau ini juga meninggalkan jejak-jejak sejarah dan arkeologi.
Destinasi wisata Bahari Pulau Lae-lae memiliki keindahan pasir putih yang sangat memukai.
s56rydrezjwarq4dqcapgz8gvfbvl6y
120276
120231
2026-09-27T04:46:44Z
Indra-doozo
42221
120276
wikitext
text/x-wiki
Makassar merupakan salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang membentang rapih dengan pesona daya tarik keindahan alam bahari. Terdapat beberapa pulau yang menyajikan keindahan dan keunikan masing-masing. Beberapa pulau seperti, Pulau Samalona, Pulau Kodingarengkeke, Pulau Gusung dan Pulau Lae-Lae. KAwasan bahari ini juga dikenal dengan kawasan supermonde yang dikelilingi oleh terumbu karang. Mengunjungi Pulau ini kita dapat menyebrang melalui dermaga Kayu Bangkoa yang terlrysj depan Benteng Fort Roterdam.
Pulau Lae-Lae merupakan salah satu tujuan destinasi wisata bahari yang memang sangat menarik untuk di kunjungi bersama keluarga, kerabat dan teman teman. Pulau Lae-lae mempunyai luas sekitar 6,5 hektar dengan 440 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa. Pulau Lae-lae salah satu pulau yang mempunyai banyak penghuni, sehingga akftitas kehidupan disana terjadi dengan berbagai macam ciri khas nya. Kehidupan sosial di pulau ini memliki keterkaitan dengan kondisi budaya. Mata pencaharian penduduk di pulau ini rata-rata bermata pencaharian nelayan
Destinasi wisata Bahari Pulau Lae-lae memiliki keindahan pasir putih yang sangat memukai. di Pulau ini juga kita dapat menikmati matahari tenggelam (sun set). Pulau ini juga mempunyai jejak-jejak sejarah dan arkeolgiolgi yang dapat di telusuri dan di eksplore lebih jauh. Adanya Bunker peninggalan sejarah membuat keunikan sendiri. beberapa fasilitas yang dapat kita nikmati di pulau ini berupa gazebo, dan jasa beli dan ikan.
p9igg8iok6r3ntre8qvtxlwdh58f2qd
120286
120276
2026-09-27T05:02:13Z
Indra-doozo
42221
120286
wikitext
text/x-wiki
Makassar merupakan salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang membentang rapih dengan pesona daya tarik keindahan alam bahari. Terdapat beberapa pulau yang menyajikan keindahan dan keunikan masing-masing. Beberapa pulau seperti, Pulau Samalona, Pulau Kodingarengkeke, Pulau Gusung dan Pulau Lae-Lae. Kawasan bahari ini juga dikenal dengan kawasan supermonde yang dikelilingi oleh terumbu karang. Mengunjungi Pulau ini kita dapat menyebrang melalui dermaga Kayu Bangkoa yang terlrysj depan Benteng Fort Roterdam.
Pulau Lae-Lae merupakan salah satu tujuan destinasi wisata bahari yang memang sangat menarik untuk di kunjungi bersama keluarga, kerabat dan teman teman. Pulau Lae-lae mempunyai luas sekitar 6,5 hektar dengan 440 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa. Pulau Lae-lae salah satu pulau yang mempunyai banyak penghuni, sehingga akftitas kehidupan disana terjadi dengan berbagai macam ciri khas nya. Kehidupan sosial di pulau ini memliki keterkaitan dengan kondisi budaya. Mata pencaharian penduduk di pulau ini rata-rata bermata pencaharian nelayan.
Destinasi wisata Bahari Pulau Lae-lae memiliki keindahan pasir putih yang sangat memukai. di Pulau ini juga kita dapat menikmati matahari tenggelam (sun set). Pulau ini juga mempunyai jejak-jejak sejarah dan arkeologi yang dapat di telusuri dan di eksplore lebih jauh. Adanya Bunker peninggalan sejarah yaitu Jepang sehingga membuat keunikan sendiri. beberapa fasilitas yang dapat kita nikmati di pulau ini berupa gazebo, dan jasa beli dan ikan.
3pozaspkz9dmvyj3xf485x4wwts5lhr
Pengguna:Rekhaaqsolia
2
28517
120233
2026-09-27T03:59:10Z
Rekhaaqsolia
43933
←Membuat halaman berisi 'Hi! I'm an Educator with a Bachelor's degree in Indonesian Language and Literature and few years of experience across elementary education, preschool, Indonesian language teaching, test preparation, writing, cultural activities, and community education. I am passionate about language, education, and content development. With over five years of experience in teaching, writing, and training, I have worked in curriculum design, academic preparation, and editorial r...'
120233
wikitext
text/x-wiki
Hi! I'm an Educator with a Bachelor's degree in Indonesian Language and Literature and few years of experience across elementary education, preschool, Indonesian language teaching, test preparation, writing, cultural activities, and community education.
I am passionate about language, education, and content development. With over five years of experience in teaching, writing, and training, I have worked in curriculum design, academic preparation, and editorial roles. Beyond the classroom, I enjoy creating content, developing learning materials, and engaging with communities to promote education and culture. I believe that learning is a lifelong process, and I am always excited to explore new ways to make knowledge more accessible and impactful.
Open to collaborations in content proofreading, development, learning, and community-based initiatives. Let’s connect!
hhp6k0d590krh7qclcwsagvnhuuq9sf
Pengguna:Nblprsnt27
2
28518
120234
2026-09-27T04:00:09Z
Nblprsnt27
43922
←Membuat halaman berisi 'Halo! Aku nabila seorang freelancer content writer, copywriter, dan learning designer. Jika kamu ingin berkolaborasi, bisa hubungi: nabilaaprisanti@gmail.com!'
120234
wikitext
text/x-wiki
Halo! Aku nabila seorang freelancer content writer, copywriter, dan learning designer.
Jika kamu ingin berkolaborasi, bisa hubungi: nabilaaprisanti@gmail.com!
4i9kp4p2gk79e9k6kxjya0i95saon69
Pengguna:Arumi Kavya
2
28519
120236
2026-09-27T04:00:58Z
Arumi Kavya
43948
bio arumi
120236
wikitext
text/x-wiki
Arumi Kavya adalah nama pena seorang penulis yang berangkat dari panggung sebelum halaman. Lulusan Sastra Inggris ini tumbuh sebagai anak teater, dan pengalaman itu terasa dalam cara ia menulis, dekat dengan tubuh, bunyi, dan ritual.
Karya novel pertamanya, Seblang Lanang (KMO Indonesia, cetakan pertama Agustus 2026), menandai kembalinya ia ke dunia menulis setelah sekitar sepuluh tahun vakum. Novel ini mengambil latar tradisi Seblang di Banyuwangi dan menghadirkan dialog dalam bahasa Using. Riset penulisannya melibatkan kunjungan langsung ke Sanggar Pamujen Bakungan.
Selain fiksi berlatar budaya, Arumi juga menulis esai personal dan cerita remaja. Saat ini ia sedang menyiapkan Balada Balado, kumpulan kisah episodik tentang seorang siswi SMA yang terlalu jujur untuk lingkungannya, serta sekuel Seblang Lanang yang menjelajahi tradisi Banyuwangi lainnya.
tmz4vyf50pq8nwf7uu8yt8zlz9ml31k
Pengguna:Ahifcxa
2
28520
120237
2026-09-27T04:01:01Z
Ahifcxa
43982
tidak ada
120237
wikitext
text/x-wiki
Dahulu sekali, seorang pemuda pernah duduk sendirian di pinggir lautan yang luas sambil membawa buku dan pena kebanggaan nya. Ia adalah seorang penulis—kata dirinya sendiri— Sudah berapa tahun lamanya ia menghabiskan hidupnya untuk menulis cerita yang ia buat sendiri di dalam pikirannya. Sampai suatu hari pemuda itu bermimpi bahwa dirinya akan membuat banyak cerita sehingga ceritanya tersebut akan dikenal oleh umat manusia di bumi ini.
Beberapa bulan kemudian, ia berhasil menerbitkan buku antologi cerpennya setelah mengajak teman-temannya bergabung dan berkolaborasi untuk membuat cerita bersama. Tentu saja, para guru juga Ikut andil dalam proses penerbitan buku antologi tersebut. Pemuda itu semakin meninggikan mimpinya agar bisa menerbitkan ceritanya sendiri.
Bertahun-tahun Ia terus Menulis di pinggir lautan yang tetap tenang seakan memperhatikan pemuda tersebut yang tidak tahu bahwa ada rencana kejam yang sedang ia siapkan.
Di sore hari, pemuda itu membaringkan tubuhnya di atas pinggiran pasir dengan membawa kertas-kertas kosong. Pena kebanggaannya sudah mengapung di atas air dan terhanyut oleh arus ombak. Tinta Pena itu sudah kosong tapi tidak dengan isi pikirannya. Ia masih mempunyai banyak imajinasi di dalam kepalanya dan bertekad bahwa dirinya tidak akan berhenti menulis walaupun harus mengorbankan ribuan nyawa Pena miliknya.
Suatu hari, laut Berguncang hebat ketika mendengar suara jeritan pemuda tersebut. Ia berteriak—memberitahukan—bahwa ceritanya berhasil terbit secara resmi dan benar-benar berwujud sebuah novel bukan buku usang yang sering ia gunakan untuk menulis. Pemuda itu benar-benar senang, ia tidak berhenti berteriak ke arah lautan lepas bahwa novel pertama nya layak dibaca dan akan bisa mengguncang seluruh isi lautan. Laut yang mendengar teriakan tersebut sedikit bergerak seakan menahan tawa melihat kepolosan pemuda tersebut yang sedang merayakan keberhasilan nya.
Namun, setelah keberhasilannya itu. Sang pemuda menghilang. Ia tidak pernah datang lagi, bahkan untuk menulis sekalipun. Laut biru yang selama ini menjadi saksi bisu kegilaan pemuda tersebut hanya diam menunggu ia datang, entah kapan.
235mzvthydlic91d79edtxkvc5lr0cl
Pengguna:Jauharajaa
2
28521
120238
2026-09-27T04:01:30Z
Jauharajaa
43985
←Membuat halaman berisi 'Suatu saat di kota metropolis hidup dan tumbuh berkembang seorang pemuda yang bernama pena Jauharajaa'
120238
wikitext
text/x-wiki
Suatu saat di kota metropolis hidup dan tumbuh berkembang seorang pemuda yang bernama pena Jauharajaa
3mpnu50shjne7dawit1qi6qa3eddw81
Pengguna:Hd. Aisya
2
28522
120239
2026-09-27T04:01:37Z
Hd. Aisya
43939
←Membuat halaman berisi 'Hd. Aisya seorang penulis lepas yang telah menulis berbagai gnre buku. Beberapa genre tulisan fiksi dan nonfiksi telah dimuat di medi acetak dan digital. Penulis buku: * 1. Antologi Puisi 11 * 2. Sehimpun Puisi Lingga & Yoni * 3. Kumpulan Cerpen Enigma Kehidupan * 4. Kumpulan Esai Masih Adakah Esok * 5. Kumpulan Cerpen Memeluk Cermin * 6. Kumpulan Pentigraf Teroka Bentala Sarwa * 7. Kumpulan Cerpen Destinasi Dunia Maya * 8. Kumpulan Pentigraf Manusia Kosong *...'
120239
wikitext
text/x-wiki
Hd. Aisya seorang penulis lepas yang telah menulis berbagai gnre buku. Beberapa genre tulisan fiksi dan nonfiksi telah dimuat di medi acetak dan digital.
Penulis buku:
* 1. Antologi Puisi 11
* 2. Sehimpun Puisi Lingga & Yoni
* 3. Kumpulan Cerpen Enigma Kehidupan
* 4. Kumpulan Esai Masih Adakah Esok
* 5. Kumpulan Cerpen Memeluk Cermin
* 6. Kumpulan Pentigraf Teroka Bentala Sarwa
* 7. Kumpulan Cerpen Destinasi Dunia Maya
* 8. Kumpulan Pentigraf Manusia Kosong
* 9. Kumpulan Fabel Kia Kelomang dan Rumah Warna
* dll.
Hd. Aisya juga membuka ruang kolaborasi dan kerjasama dengan menghubungi hd.aisya@gmail.com
t6x1yq0oi4ysorp6czzin568ofd5cje
Pengguna:Geguritan
2
28523
120241
2026-09-27T04:01:57Z
Geguritan
43945
←Membuat halaman berisi 'Seorang pengelana informasi. Hubungi saya '''di sini'''.'
120241
wikitext
text/x-wiki
Seorang pengelana informasi. Hubungi saya '''di sini'''.
m9a9xw8alprfevmiyz99rf0qalntyu3
120243
120241
2026-09-27T04:04:26Z
Geguritan
43945
Update contact
120243
wikitext
text/x-wiki
Seorang pengelana informasi. Hubungi saya [[Istimewa:EmailUser/Geguritan|di sini]].
ae1tyhz88fo842oaznie4xirijly3dk
Pengguna:Mazhar Zahwakirana Muzaima
2
28524
120244
2026-09-27T04:04:29Z
Mazhar Zahwakirana Muzaima
43955
←Membuat halaman berisi 'Saya Mazhar Zahwakirana Muzaima seorang mahasiswa program studi Administrasi Publik UPN Veteran Jawa Timur. Saya pribadi yang suka menulis, berkecimpung di dunia pengambdia masyarakat, dan suka bersuara untuk hak anak dan perempuan. Saya pernah menulis sebuah esai seputar rancangan inovasi aplikasi yang mempermudah masyarakat dalam mencari informasi layanan umum pada daerah Jombang, Jawa Timur. Selain itu, saya juga sering mengikuti acara public hiring atau disku...'
120244
wikitext
text/x-wiki
Saya Mazhar Zahwakirana Muzaima seorang mahasiswa program studi Administrasi Publik UPN Veteran Jawa Timur. Saya pribadi yang suka menulis, berkecimpung di dunia pengambdia masyarakat, dan suka bersuara untuk hak anak dan perempuan. Saya pernah menulis sebuah esai seputar rancangan inovasi aplikasi yang mempermudah masyarakat dalam mencari informasi layanan umum pada daerah Jombang, Jawa Timur. Selain itu, saya juga sering mengikuti acara public hiring atau diskusi publik yang digunakan untuk serap aspirasi masyarakat guna penyusunan peraturan daerah, disana menjadi tempat bagi saya untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dan menambah pengetahuan seputar kebijakan publik.
nyl7tjv55rwfkdfdmng4ncmvp3ups83
Pengguna:Mimin Rohmini
2
28525
120245
2026-09-27T04:05:29Z
Mimin Rohmini
43934
←Membuat halaman berisi 'Mimin Rohmini, buku antologinya yaitu Tempat Hatiku Pulang, Kumpulan cerita anak Fantasaia dan Menemmukan Ketengangan. Menulis baginya seperti tempat bertualang..Suka dengan cerita anak dan petualangan.'
120245
wikitext
text/x-wiki
Mimin Rohmini, buku antologinya yaitu Tempat Hatiku Pulang, Kumpulan cerita anak Fantasaia dan Menemmukan Ketengangan. Menulis baginya seperti tempat bertualang..Suka dengan cerita anak dan petualangan.
6mgnvgbfiywl4yqf34v097n2pzlkasl
Jelajah Wisata Makassar/Makam Raja-raja Tallo
0
28526
120247
2026-09-27T04:08:11Z
Sutrisno.asrori
43946
←Membuat halaman berisi 'Kompleks Makam Raja-Raja Tallo adalah situs cagar budaya tempat peristirahatan terakhir para penguasa dan bangsawan Kesultanan Tallo, yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kompleks Makam Raja-Raja Tallo • Lokasi: Berada di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar, di dalam area bekas Benteng Tallo dekat muara Sungai Tallo. • Sejarah Singkat: Situs ini memuat sekitar 81 makam dari abad ke-17 hingga ke-...'
120247
wikitext
text/x-wiki
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo adalah situs cagar budaya tempat peristirahatan terakhir para penguasa dan bangsawan Kesultanan Tallo, yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo
• Lokasi: Berada di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar, di dalam area bekas Benteng Tallo dekat muara Sungai Tallo.
• Sejarah Singkat: Situs ini memuat sekitar 81 makam dari abad ke-17 hingga ke-19. Tempat ini menjadi saksi kejayaan Kerajaan Tallo dan masuknya Islam, di mana Raja Tallo ke-14 yaitu I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Sultan Abdullah Awwalul Islam) menjadi raja pertama di wilayah tersebut yang memeluk Islam.
• Arsitektur Makam: Terdapat tiga tipe bentuk bangunan makam di kawasan ini, yaitu:
o Kubang: Susunan balok batu persegi untuk makam raja atau pembesar.
o Papan batu: Bentuk menyerupai papan persegi panjang dari batu.
o Kubah: Bangunan beratap melengkung yang menaungi makam di bawahnya.
• Fasilitas & Penataan: Area makam kini ditata rapi menyerupai taman yang asri dan dilengkapi dengan pemindaian kode QR (QR Code) pada beberapa makam penting untuk memudahkan pengunjung membaca informasi sejarahnya.
Kompleks Makam Raja Raja Tallo - Kesultanan Nusantara
19 Feb 2024 — Kompleks Makam Raja Raja Tallo | Bukti Peninggalan | Kesultanan Nusantara Kompleks makam raja-raja Talo. Kompleks makam raja-raja ...
terdapat 81 buah makam dalam keadaan utuh maupun yang sudah rusak. Kompleks makam tersebut adalah kumpulan keluarga bangsawan dan raja Kerajaan Tallo. Adapun raja-raja petinggi dan Kerajaan Tallo yang dimakam adalah raja Tallo ke-7 (1598-1641), raja Tallo ke-9, raja Tallo ke-12 (1770-1778), raja Tallo ke-13, dan raja Tallo ke-15 yang pernah menjadi raja Gowa ke-30 (1811-1825). Secara historis raja yang pertama kali memeluk agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo adalah I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka pada tanggal 22 September 1605 bertepatan pada malam jumat, 9 jumadil awal 1014, dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Setelah itu disusul oleh raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabia, dengan gelar Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa hampir memeluk agam Islam yang ditandai dengan upacara salat jumat bersama yang dipertama kali dilaksanakan di Mesjid Tallo pada tanggal 9 November 1607. Dalam waktu yang bersamaan di Bandar Makassar, pedagang-pedagang Melayu dan orang-orang Makassar sudah memeluk agama Islam di Benteng Somba Opu dengan melaksanakan salat jumat di Masjid Mangalekana.
Komplek makam raja-raja Tallo berada di sudut sebelah timur laut dalam lingkup benteng Tallo. Namun, benteng Tallo itu saat ini hanya dapat ditemui sisa-sisanya saja pada sisi barat, utara dan selatan. Sedangkan, di dalam areal benteng, kecuali makam, telah dijadikan sebagai lahan hunian penduduk setempat.
Kerajaan Tallo adalah salah satu kerajaan yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan yang merupakan hasil dari pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa yang dilakukan oleh Raja Gowa ke VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Pembagian ini menghasilkan dua kerajaan yang dikuasai masing- masing oleh putera raja, yaitu Batara Gowa Tuniawanga Ri Paralekkanna sebagai Raja Gowa ke VII (1460) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Ri Seri sebagai raja pertama.
Keberadaan Kerajaan Tallo tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Gowa, ini merupakan keunikan. Kerajaan ini memiliki kemampuan dalam menyusun berbagai sistem pemerintahan, termasuk strategi militer.
Makam dari raja-raja Tallo tersebut kini lebih dikenal dengan Kompleks Makam Raja-raja Tallo.
Dua kerajaan ini kembali bersatu melalui persekutuan pada tahun 1528 dan menghasilkan Kerajaan Makassar yang pernah dipimpin oleh salah satu raja yang termahsyur, Sultan Hasanuddin.
Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah pusat kerajaan ini sekarang berada di wilayah Kota Makassar dan kabupaten lainnya.
Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Raja Tallo telah ada sejak abad XVII dan digunakan sebagai pemakaman kerajaan hingga abad XIX.
Riwayat Penanganan :
Pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982 kompleks makam raja-raja Tallo dipugar oleh pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan makam yang dipugar hingga mendekati bentuk aslinya ini sekarang tampak asri, tertata apik dengan pepohonan yang rindang, dan dapat dijadikan sebagai suatu objek wisata budaya.
Raja-raja Tallo adalah para penguasa dari Kesultanan Tallo, sebuah kerajaan suku Makassar di Sulawesi Selatan yang berdampingan erat dan kemudian bersatu dengan Kerajaan Gowa.
Berikut adalah beberapa raja (Karaeng atau Sultan) yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Tallo:
• Karaeng Loe ri Sero: Raja Tallo pertama yang memerintah pada pertengahan abad ke-15 setelah wafatnya Raja Gowa ke-6.
• Karaeng Matoaya (I Malingkaang Daeng Manyonri): Raja Tallo yang merangkap sebagai mangkubumi Gowa, dikenal sebagai penguasa Tallo pertama yang masuk Islam (bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan aktif menyebarkan ajaran Islam.
• Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo)
: Raja Tallo ke-7 yang memerintah pada tahun 1598–1641.
• Karaeng Pattingalloang: Mangkubumi dan cendekiawan terkenal dari Makassar yang membawa kerajaan pada masa kejayaan bersama Sultan Malikussaid.
Beberapa makam terlihat memiliki bentuk menyerupai candi, bertingkat-tingkat dengan 1-3 tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil. Ukurannya beragam mulai dari ukuran besar hingga ukuran kecil. Di puncak makam terdapat 1 atau 2 buah nisan dengan bentuk pipih seperti pedang, atau bulat silindris. Makam-makam ini merupakan milik tokoh-tokoh Kerajaan Tallo, istri para raja, pegawai-pegawai kerajaan, utusan kerajaan tetangga, dan kerabat-kerabat raja.
Banyak dari para penguasa dan bangsawan ini dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Tallo yang terletak di Kota Makassar.
Saat ini, Makam raja-raja Tallo berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
1xgo8ughtylow44tsgazj4m1bq7r7hp
120248
120247
2026-09-27T04:10:07Z
Sutrisno.asrori
43946
120248
wikitext
text/x-wiki
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo adalah situs cagar budaya tempat peristirahatan terakhir para penguasa dan bangsawan Kesultanan Tallo, yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo
• Lokasi: Berada di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar, di dalam area bekas Benteng Tallo dekat muara Sungai Tallo.
• Sejarah Singkat: Situs ini memuat sekitar 81 makam dari abad ke-17 hingga ke-19. Tempat ini menjadi saksi kejayaan Kerajaan Tallo dan masuknya Islam, di mana Raja Tallo ke-14 yaitu I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Sultan Abdullah Awwalul Islam) menjadi raja pertama di wilayah tersebut yang memeluk Islam.
• Arsitektur Makam: Terdapat tiga tipe bentuk bangunan makam di kawasan ini, yaitu:
o Kubang: Susunan balok batu persegi untuk makam raja atau pembesar.
o Papan batu: Bentuk menyerupai papan persegi panjang dari batu.
o Kubah: Bangunan beratap melengkung yang menaungi makam di bawahnya.
• Fasilitas & Penataan: Area makam kini ditata rapi menyerupai taman yang asri dan dilengkapi dengan pemindaian kode QR (QR Code) pada beberapa makam penting untuk memudahkan pengunjung membaca informasi sejarahnya.
Kompleks Makam Raja Raja Tallo - Kesultanan Nusantara
19 Feb 2024 — Kompleks Makam Raja Raja Tallo | Bukti Peninggalan | Kesultanan Nusantara Kompleks makam raja-raja Talo. Kompleks makam raja-raja ...
terdapat 81 buah makam dalam keadaan utuh maupun yang sudah rusak. Kompleks makam tersebut adalah kumpulan keluarga bangsawan dan raja Kerajaan Tallo. Adapun raja-raja petinggi dan Kerajaan Tallo yang dimakam adalah raja Tallo ke-7 (1598-1641), raja Tallo ke-9, raja Tallo ke-12 (1770-1778), raja Tallo ke-13, dan raja Tallo ke-15 yang pernah menjadi raja Gowa ke-30 (1811-1825). Secara historis raja yang pertama kali memeluk agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo adalah I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka pada tanggal 22 September 1605 bertepatan pada malam jumat, 9 jumadil awal 1014, dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Setelah itu disusul oleh raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabia, dengan gelar Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa hampir memeluk agam Islam yang ditandai dengan upacara salat jumat bersama yang dipertama kali dilaksanakan di Mesjid Tallo pada tanggal 9 November 1607. Dalam waktu yang bersamaan di Bandar Makassar, pedagang-pedagang Melayu dan orang-orang Makassar sudah memeluk agama Islam di Benteng Somba Opu dengan melaksanakan salat jumat di Masjid Mangalekana.
Komplek makam raja-raja Tallo berada di sudut sebelah timur laut dalam lingkup benteng Tallo. Namun, benteng Tallo itu saat ini hanya dapat ditemui sisa-sisanya saja pada sisi barat, utara dan selatan. Sedangkan, di dalam areal benteng, kecuali makam, telah dijadikan sebagai lahan hunian penduduk setempat.
Kerajaan Tallo adalah salah satu kerajaan yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan yang merupakan hasil dari pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa yang dilakukan oleh Raja Gowa ke VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Pembagian ini menghasilkan dua kerajaan yang dikuasai masing- masing oleh putera raja, yaitu Batara Gowa Tuniawanga Ri Paralekkanna sebagai Raja Gowa ke VII (1460) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Ri Seri sebagai raja pertama.
Keberadaan Kerajaan Tallo tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Gowa, ini merupakan keunikan. Kerajaan ini memiliki kemampuan dalam menyusun berbagai sistem pemerintahan, termasuk strategi militer.
Makam dari raja-raja Tallo tersebut kini lebih dikenal dengan Kompleks Makam Raja-raja Tallo.
Dua kerajaan ini kembali bersatu melalui persekutuan pada tahun 1528 dan menghasilkan Kerajaan Makassar yang pernah dipimpin oleh salah satu raja yang termahsyur, Sultan Hasanuddin.
Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah pusat kerajaan ini sekarang berada di wilayah Kota Makassar dan kabupaten lainnya.
Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Raja Tallo telah ada sejak abad XVII dan digunakan sebagai pemakaman kerajaan hingga abad XIX.
Riwayat Penanganan :
Pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982 kompleks makam raja-raja Tallo dipugar oleh pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan makam yang dipugar hingga mendekati bentuk aslinya ini sekarang tampak asri, tertata apik dengan pepohonan yang rindang, dan dapat dijadikan sebagai suatu objek wisata budaya.
Raja-raja Tallo adalah para penguasa dari Kesultanan Tallo, sebuah kerajaan suku Makassar di Sulawesi Selatan yang berdampingan erat dan kemudian bersatu dengan Kerajaan Gowa.
Berikut adalah beberapa raja (Karaeng atau Sultan) yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Tallo:
• Karaeng Loe ri Sero: Raja Tallo pertama yang memerintah pada pertengahan abad ke-15 setelah wafatnya Raja Gowa ke-6.
• Karaeng Matoaya (I Malingkaang Daeng Manyonri): Raja Tallo yang merangkap sebagai mangkubumi Gowa, dikenal sebagai penguasa Tallo pertama yang masuk Islam (bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan aktif menyebarkan ajaran Islam.
• Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo)
: Raja Tallo ke-7 yang memerintah pada tahun 1598–1641.
• Karaeng Pattingalloang: Mangkubumi dan cendekiawan terkenal dari Makassar yang membawa kerajaan pada masa kejayaan bersama Sultan Malikussaid.
Beberapa makam terlihat memiliki bentuk menyerupai candi, bertingkat-tingkat dengan 1-3 tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil. Ukurannya beragam mulai dari ukuran besar hingga ukuran kecil. Di puncak makam terdapat 1 atau 2 buah nisan dengan bentuk pipih seperti pedang, atau bulat silindris. Makam-makam ini merupakan milik tokoh-tokoh Kerajaan Tallo, istri para raja, pegawai-pegawai kerajaan, utusan kerajaan tetangga, dan kerabat-kerabat raja.
Banyak dari para penguasa dan bangsawan ini dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Tallo yang terletak di Kota Makassar.
Saat ini, Makam raja-raja Tallo berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
ppjsxj1ne4mj0b4wpkvfl2mgn1m83gi
120255
120248
2026-09-27T04:21:17Z
Sutrisno.asrori
43946
120255
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Makam Raja-Raja Tallo-8.jpg|jmpl]]
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo adalah situs cagar budaya tempat peristirahatan terakhir para penguasa dan bangsawan Kesultanan Tallo, yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Kompleks Makam Raja-Raja Tallo
• Lokasi: Berada di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar, di dalam area bekas Benteng Tallo dekat muara Sungai Tallo.
• Sejarah Singkat: Situs ini memuat sekitar 81 makam dari abad ke-17 hingga ke-19. Tempat ini menjadi saksi kejayaan Kerajaan Tallo dan masuknya Islam, di mana Raja Tallo ke-14 yaitu I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Sultan Abdullah Awwalul Islam) menjadi raja pertama di wilayah tersebut yang memeluk Islam.
• Arsitektur Makam: Terdapat tiga tipe bentuk bangunan makam di kawasan ini, yaitu:
o Kubang: Susunan balok batu persegi untuk makam raja atau pembesar.
o Papan batu: Bentuk menyerupai papan persegi panjang dari batu.
o Kubah: Bangunan beratap melengkung yang menaungi makam di bawahnya.
• Fasilitas & Penataan: Area makam kini ditata rapi menyerupai taman yang asri dan dilengkapi dengan pemindaian kode QR (QR Code) pada beberapa makam penting untuk memudahkan pengunjung membaca informasi sejarahnya.
Kompleks Makam Raja Raja Tallo - Kesultanan Nusantara
19 Feb 2024 — Kompleks Makam Raja Raja Tallo | Bukti Peninggalan | Kesultanan Nusantara Kompleks makam raja-raja Talo. Kompleks makam raja-raja ...
terdapat 81 buah makam dalam keadaan utuh maupun yang sudah rusak. Kompleks makam tersebut adalah kumpulan keluarga bangsawan dan raja Kerajaan Tallo. Adapun raja-raja petinggi dan Kerajaan Tallo yang dimakam adalah raja Tallo ke-7 (1598-1641), raja Tallo ke-9, raja Tallo ke-12 (1770-1778), raja Tallo ke-13, dan raja Tallo ke-15 yang pernah menjadi raja Gowa ke-30 (1811-1825). Secara historis raja yang pertama kali memeluk agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo adalah I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka pada tanggal 22 September 1605 bertepatan pada malam jumat, 9 jumadil awal 1014, dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Setelah itu disusul oleh raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabia, dengan gelar Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa hampir memeluk agam Islam yang ditandai dengan upacara salat jumat bersama yang dipertama kali dilaksanakan di Mesjid Tallo pada tanggal 9 November 1607. Dalam waktu yang bersamaan di Bandar Makassar, pedagang-pedagang Melayu dan orang-orang Makassar sudah memeluk agama Islam di Benteng Somba Opu dengan melaksanakan salat jumat di Masjid Mangalekana.
Komplek makam raja-raja Tallo berada di sudut sebelah timur laut dalam lingkup benteng Tallo. Namun, benteng Tallo itu saat ini hanya dapat ditemui sisa-sisanya saja pada sisi barat, utara dan selatan. Sedangkan, di dalam areal benteng, kecuali makam, telah dijadikan sebagai lahan hunian penduduk setempat.
Kerajaan Tallo adalah salah satu kerajaan yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan yang merupakan hasil dari pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa yang dilakukan oleh Raja Gowa ke VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Pembagian ini menghasilkan dua kerajaan yang dikuasai masing- masing oleh putera raja, yaitu Batara Gowa Tuniawanga Ri Paralekkanna sebagai Raja Gowa ke VII (1460) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Ri Seri sebagai raja pertama.
Keberadaan Kerajaan Tallo tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Gowa, ini merupakan keunikan. Kerajaan ini memiliki kemampuan dalam menyusun berbagai sistem pemerintahan, termasuk strategi militer.
Makam dari raja-raja Tallo tersebut kini lebih dikenal dengan Kompleks Makam Raja-raja Tallo.
Dua kerajaan ini kembali bersatu melalui persekutuan pada tahun 1528 dan menghasilkan Kerajaan Makassar yang pernah dipimpin oleh salah satu raja yang termahsyur, Sultan Hasanuddin.
Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah pusat kerajaan ini sekarang berada di wilayah Kota Makassar dan kabupaten lainnya.
Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Raja Tallo telah ada sejak abad XVII dan digunakan sebagai pemakaman kerajaan hingga abad XIX.
Riwayat Penanganan :
Pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982 kompleks makam raja-raja Tallo dipugar oleh pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan makam yang dipugar hingga mendekati bentuk aslinya ini sekarang tampak asri, tertata apik dengan pepohonan yang rindang, dan dapat dijadikan sebagai suatu objek wisata budaya.
Raja-raja Tallo adalah para penguasa dari Kesultanan Tallo, sebuah kerajaan suku Makassar di Sulawesi Selatan yang berdampingan erat dan kemudian bersatu dengan Kerajaan Gowa.
Berikut adalah beberapa raja (Karaeng atau Sultan) yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Tallo:
• Karaeng Loe ri Sero: Raja Tallo pertama yang memerintah pada pertengahan abad ke-15 setelah wafatnya Raja Gowa ke-6.
• Karaeng Matoaya (I Malingkaang Daeng Manyonri): Raja Tallo yang merangkap sebagai mangkubumi Gowa, dikenal sebagai penguasa Tallo pertama yang masuk Islam (bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan aktif menyebarkan ajaran Islam.
• Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo)
: Raja Tallo ke-7 yang memerintah pada tahun 1598–1641.
• Karaeng Pattingalloang: Mangkubumi dan cendekiawan terkenal dari Makassar yang membawa kerajaan pada masa kejayaan bersama Sultan Malikussaid.
Beberapa makam terlihat memiliki bentuk menyerupai candi, bertingkat-tingkat dengan 1-3 tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil. Ukurannya beragam mulai dari ukuran besar hingga ukuran kecil. Di puncak makam terdapat 1 atau 2 buah nisan dengan bentuk pipih seperti pedang, atau bulat silindris. Makam-makam ini merupakan milik tokoh-tokoh Kerajaan Tallo, istri para raja, pegawai-pegawai kerajaan, utusan kerajaan tetangga, dan kerabat-kerabat raja.
Banyak dari para penguasa dan bangsawan ini dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Tallo yang terletak di Kota Makassar.
Saat ini, Makam raja-raja Tallo berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
lrurztea7ncnltjq9i8nb2oa5wo8v01
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah
0
28527
120249
2026-09-27T04:11:07Z
Fadila Dwi Annisa
43938
←Membuat halaman berisi '[[Berkas:Masjid 99 Kubah (2025).jpg|jmpl]] Mesjid Asmaul Husna atau yang lebih dikenal dengan nama Mesjid 99 Kubah adalah sebuah mesjid bersejarah yang berada di Kota Makassar yang telah menjadi salah satu ikon kota Makassar, posisinya terletak di kawasan reklamasi Center Point Indonesia dan tidak jauh dari Pantai Losari. <ref>https://indonesiavirtualtour.com/hangout/masjid-99-kubah</ref> Dirancang oleh Mantan Gubernur Jawa Barat sekaligus arsitek ternama Ridwan...'
120249
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Masjid 99 Kubah (2025).jpg|jmpl]]
Mesjid Asmaul Husna atau yang lebih dikenal dengan nama Mesjid 99 Kubah adalah sebuah mesjid bersejarah yang berada di Kota Makassar yang telah menjadi salah satu ikon kota Makassar, posisinya terletak di kawasan reklamasi Center Point Indonesia dan tidak jauh dari Pantai Losari. <ref>https://indonesiavirtualtour.com/hangout/masjid-99-kubah</ref>
Dirancang oleh Mantan Gubernur Jawa Barat sekaligus arsitek ternama Ridwan Kamil dan diresmikan pada tahun 2022, Ridwan Kamil bekerja sama dengan arsitek lokal bernama M Mursif untuk membuat sebuah bangunan. Mesjid ini memiliki luas bangunan 72 x 45 meter persegi. <ref>https://makassarkota.go.id/destinasi/6</ref><ref>https://dandapala.com/photo/detail/melihat-keindahan-masjid-99-kubah-ikon-baru-di-makassar</ref>
Adapun pembagian area utamanya terdiri dari 3 bagian, yang pertama adalah ruang salat yang merupakan area tertutup tempat dimana jemaah melaksanakan shalat dan dirancang luas agar bisa menampung ribuan orang. Area yang kedua adalah mezanin yang merupakan lantai tingkat atau balkon di dalam ruang utama yang bisa menambah kapasitas daya tampung jemaah. Dan yang terakhir ada area pelataran yang merupakan area terbuka luas di luar bangunan utama, sering dimanfaatkan juga untuk menampung jemaah dalam jumlah besar saat ada kegiatan akbar.
Mesjid 99 Kubah juga merupakan salah satu bangunan yang ramah lingkungan karena memiliki konsep ruang terbuka dan sirkulasi udara yang dirancang dan didesain khusus agar tidak memerlukan pendingin ruangan. Meski demikian, ruangan di dalam mesjid bisa tetap terasa sejuk dan nyaman. <ref>https://www.masjidnusantara.org/8-fakta-menarik-dari-masjid-99-kubah-di-makassar/</ref>
== Referensi ==
jq1ls2wcca6ztkdu0668x3lef334lur
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona
0
28528
120251
2026-09-27T04:13:27Z
Bethegoodgirl
42223
←Membuat halaman berisi '[[Berkas:Keindahan Pulau Samalona.jpg|jmpl]] Pulau Samalona adalah salah satu tempat wisata yang ada di sekitar Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Meski ukurannya tidak terlalu besar, pulau ini punya daya tarik sendiri. Ada pasir putih yang lembut, air laut yang jernih, dan suasana yang terasa sangat tropis. Bagi saya, pergi ke Pulau Samalona bukan hanya sekadar jalan-jalan, tapi jadi pengalaman yang benar-benar menyenangkan. Perjalanan ke Pulau Samalona dimulai d...'
120251
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Keindahan Pulau Samalona.jpg|jmpl]]
Pulau Samalona adalah salah satu tempat wisata yang ada di sekitar Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Meski ukurannya tidak terlalu besar, pulau ini punya daya tarik sendiri. Ada pasir putih yang lembut, air laut yang jernih, dan suasana yang terasa sangat tropis. Bagi saya, pergi ke Pulau Samalona bukan hanya sekadar jalan-jalan, tapi jadi pengalaman yang benar-benar menyenangkan.
Perjalanan ke Pulau Samalona dimulai dengan naik perahu dari dermaga kayu bangkoa sekitar 15 menit. Selama perjalanan, saya bisa melihat pemandangan laut dan merasakan angin yang sejuk. Perlahan, suasana kota mulai terasa jauh, dan saya mulai melihat laut yang luas dan indah. Saat sampai di Pulau Samalona, saya langsung disambut dengan pemandangan yang menakjubkan. saya berjalan di tepi pantai sambil melihat sekitar dan mengambil beberapa foto.
Salah satu hal yang paling menyenangkan adalah snorkling melihat keindahan bawah laut. Air yang jernih memungkinkan saya melihat terumbu karang walaupun tidak terlalu banyak. Pengalaman ini membuat saya merasa sangat dekat dengan alam. Saya sadar bahwa laut bukan hanya tempat untuk dinikmati, tapi juga tempat yang harus dijaga. Selain itu, saya juga mencoba salah satu aktivitas yang tidak kalah menarik yaitu foto dan membuat video diatas paddle board.
Bagi saya, Pulau Samalona bukan hanya tempat untuk liburan, tapi juga tempat untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan menikmati keindahan alam. Pengalaman mengunjungi Pulau Samalona mengajarkan saya bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tempat yang sederhana. Tidak perlu pergi jauh untuk menemukan tempat yang indah. Di sekitar kita juga ada banyak keindahan alam yang patut dihargai, dinikmati, dan yang paling penting, dijaga bersama.
Berdasarkan pengalaman pribadi sudah banyak jasa Open Trip ke pulau-pulau yang ada di sekitar Kota Makassar. Menurut saya, mengikuti open trip cukup praktis. Dengan biaya Rp. 175.000 sudah include. Perahu PP, Tiket Wisata, Tour Guide, Spot Snorkling, pelampung, alat snorkling, paddle board, makan siang, dan dokumentasi.
Galeri
[[Berkas:Dermaga Kayu Bangkoa.jpg|nir|jmpl|178x178px]]
[[Berkas:Snorkling di Pulau Samalona.jpg|nir|jmpl|150x150px]]
[[Berkas:Paddle Board di Pulau Samalona.jpg|nir|jmpl|178x178px]]
92toiexhrem9zp1xr08o9vdxz4uhbci
Harta yang Terpendam
0
28529
120256
2026-09-27T04:23:55Z
Quraeni
37519
Menulis ulang cerpen lama
120256
wikitext
text/x-wiki
'''HARTA JANG TERPENDEM'''
ATAWA
'''TJERITANJA NJAI MARSINA.'''
Ingetlah ini nasehat jang bergoena,
Bahoea piara satoe prampoean hina,
Selamanja bisa dapet bintjana,
Liatlah disini pada perboeatannja Njai Marsina.
----Ditjeritaken oleh:
'''PROBITAS.'''
Boekoe ini diperlindoengken oleh
hak pengarang.
----'''Djilid ka 1.'''
----Tertjitak oleh:
DRUKKERIJ SIN PO
BATAVIA
1920.
e0q3vlfm97bxq31tiqqrw1s4vliamjv
120258
120256
2026-09-27T04:24:13Z
Quraeni
37519
added [[Category:Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120258
wikitext
text/x-wiki
'''HARTA JANG TERPENDEM'''
ATAWA
'''TJERITANJA NJAI MARSINA.'''
Ingetlah ini nasehat jang bergoena,
Bahoea piara satoe prampoean hina,
Selamanja bisa dapet bintjana,
Liatlah disini pada perboeatannja Njai Marsina.
----Ditjeritaken oleh:
'''PROBITAS.'''
Boekoe ini diperlindoengken oleh
hak pengarang.
----'''Djilid ka 1.'''
----Tertjitak oleh:
DRUKKERIJ SIN PO
BATAVIA
1920.
[[Kategori:Fiksi]]
ru2vn54550bufzfrjckdnynr644aqfh
120268
120258
2026-09-27T04:37:55Z
Quraeni
37519
120268
wikitext
text/x-wiki
{{c|'''HARTA JANG TERPENDEM'''
ATAWA
'''TJERITANJA NJAI MARSINA.'''}}
{{c|
<poem>Ingetlah ini nasehat jang bergoena,
Bahoea piara satoe prampoean hina,
Selamanja bisa dapet bintjana,
Liatlah disini pada perboeatannja Njai Marsina.</poem>
}}
----Ditjeritaken oleh:
'''PROBITAS.'''
Boekoe ini diperlindoengken oleh
hak pengarang.
----'''Djilid ka 1.'''
----Tertjitak oleh:
DRUKKERIJ SIN PO
BATAVIA
1920.
[[Kategori:Fiksi]]
fb21plpz1ddruv2vawxtcgdnovy6hl9
120273
120268
2026-09-27T04:43:58Z
Quraeni
37519
120273
wikitext
text/x-wiki
{{c|'''HARTA YANG TERPENDAM'''
atau
'''Ceritanya Nyai Marsina.'''}}
{{c|
<poem>Ingetlah ini nasihat yang berguna,
Bahwa piara satu perempuean hina,
Selamanya bisa dapet bintjana,
Liatlah disini pada perbuatannya Nyai Marsina.</poem>
}}
{{c|
Ditjeritaken oleh:
'''PROBITAS.'''
Boekoe ini diperlindoengken oleh hak pengarang.
}}
{{c|'''Djilid ka 1.'''
Dicetak oleh:
DRUKKERIJ SIN PO
BATAVIA
1920.}}
[[Kategori:Fiksi]]
211dsmyt6h20ee3c9fo4phzzd6erimj
120275
120273
2026-09-27T04:44:54Z
Quraeni
37519
120275
wikitext
text/x-wiki
{{c|'''HARTA YANG TERPENDAM'''
atau
'''Ceritanya Nyai Marsina.'''}}
{{c|
<poem>Ingetlah ini nasihat yang berguna,
Bahwa piara satu perempuean hina,
Selamanya bisa dapet bintjana,
Liatlah disini pada perbuatannya Nyai Marsina.</poem>
}}
{{c|
Ditjeritaken oleh:
'''PROBITAS.'''
Boekoe ini diperlindoengken oleh hak pengarang.
}}
{{c|'''Djilid ka 1.'''
<poem>Dicetak oleh:
DRUKKERIJ SIN PO
BATAVIA
1920.</poem>}}
[[Kategori:Fiksi]]
7cybl9fvw8gzrw1444fw5bwe1jfazbg
Duh, Keyshaaaa!
0
28530
120257
2026-09-27T04:24:08Z
Mengsky
41602
cerpen fiksi
120257
wikitext
text/x-wiki
“Key, hari ini menari?”, Nayla menyapa Keysha yang sedang makan puding di dalam kelas.
“Sepertinya, tadi waktu aku ke kantin, ada bu Mitha. Beliau bilang, hari ini ada latihan tambahan mengingat pertandingan tinggal tiga minggu lagi, masih ada beberapa anak yang belum hafal gerakannya. Makanya sama bu Mitha latihannya mau ditambah biar kita kompak” Keysha menjawab Nayla, yang kini duduk menjejerinya di dalam kelas.
“Tapi kamu bawa baju ganti sama selendang tari gak Key?”
“Aku sih selalu bawa selendang dalam tas. Kamu?”
“Nggak.”, jawab Nayla.
“Terus gimana dong, tahu sendiri bu Mitha gak suka kalau kita gak bawa selendang.”
“Ng.. Ntar aku minta tolong bu Lisa deh buat ''wa'' mamaku supaya nganterin selendangnya, aku kan gak tahu kalau ada latihan tambahan buat persiapan lomba.”
“Ya kalau gitu sekarang aja. Tuh bu Lisa”, Keysha menggerakkan dagu ke arah meja guru, tempat di mana walikelas mereka bu Lisa sedang duduk mengoreksi tugas matematika mereka.
“Tapi aku malu ngomongnya..”
“Haduh, tinggal bilang aja lho… Buruan, keburu bel masuk lagi ini.”
“Tapi.. Ta.. pii…”
“Ah lamaaa kamu ini”, Keysha tiba-tiba beranjak berdiri dan berjalan menuju meja guru.
“Key…”, Nayla mencoba mencegah, tapi Keysha sudah lebih dulu sampai dekat meja bu Lisa.
“Bu… Nayla mau ngomong”, Keysha berkata dengan suara keras ke arah bu Lisa.
Bu Lisa yang awalnya menunduk dan sibuk dengan buku tugas muridnya kemudian menengadah, menghadap Keysha yang berbicara sembari berjalan ke arahnya.
“Kenapa Key?”, Bu Lisa bertanya ulang.
“Itu Nayla mau ngomong bu..”, Keysha menunjuk ke arah Nayla yang juga sedang menghampiri bu Lisa.
“Itu bu.. anu….”, Nayla berjalan mendekat dengan takut-takut, dia meremat seragam putihnya dengan kepala menunduk.
“Duh.. Ngomong Nay..”, Keysha berkata tidak sabar, sembari berjalan kembali ke arah Nayla dan meraih lengannya dengan sedikit gerakan menarik yang membuat Nayla berjalan terhuyung ke meja bu Lisa. Keysha yang bertubuh tinggi terlihat dengan mudah menyeret Nayla yang bertubuh mungil.
“Apa Nay?”, tanya bu Lisa lembut, setelah Keysha menjajarkan Nayla ke sisi kanan bu Lisa yang sedang duduk.
“Ng… itu bu.. anu.. mau minta tolong bu Lisa WA kan mama. Nanti ada ekskul tari, aku lupa bilang sama lupa bawa selendang. Minta …. Mmmmmm.. Mama bawakan pas ke sini pulang sekolah bu..”, jawab Nayla lirih.
“Ekskul tari? Hah? Nanti ibu sampaikan. Ada lagi?”
“Nggak ada bu, itu aja…”
“Habis ini ibu kirim pesan ke mama ya”
“Makasih bu.”, Keysha mengucapkan terima kasih mendahuli Nayla yang kemudian membeo dengan nada yang lebih lirih. Bu Lisa yang memperhatikan interaksi keduanya hanya menggeleng dan tersenyum sembari mengernyitkan dahi. Merasa ada yang janggal dengan permintaan Nayla.
Sepulang sekolah, Bu Lisa mengabari Nayla bahwa mamanya sudah menunggu di pos satpam mengantarkan selendang tari miliknya. Bergegas Nayla berjalan ke sana, sedangkan Keysha berjalan menuju ke aula tempat mereka akan latihan menari. Latihan masih akan dimulai 30 menit lagi, tetapi Keysha sudah gelisah. Dia memilih untuk menunggu Bu Mitha dan teman-teman ekskulnya di dalam aula. Selendang warna merah miliknya sudah terpasang di pinggang, tas ransel bertengger di punggung, serta tangannya mengipas-ngipaskan buku tulis ke wajahnya mencoba menghalau panas.
Sesampainya di aula betapa terkejutnya dia melihat di sana ada beberapa anak berseragam futsal yang sedang melakukan pemanasan. Dua di antara mereka teman sekelasnya bernama Fatih dan Anas. Usai meletakkan tas serampangan dan melempar buku yang dipakainya sebagai kipas di pojok ruangan, Keysha mendatangi Fatih dan Anas.
“Fat, kok kalian di sini? Kan anak tari mau latihan di sini”, Ujarnya sembari berkacak pinggang.
“Ini kan hari Kamis, harinya Futsal”, jawab Fatih sambil terus mengoperkan bola ke arah Anas mengabaikan Keysha yang berdiri di sebelahnya.
“Tapi anak tari tuh mau pakai ruangan ini. Kita mau latihan”
“Ekskul tari kan Selasa, kok tiba-tiba jadi Kamis sih?”, tanya Fatih, masih terus bermain oper bola bersama Anas.
“Latihannya ditambah karena kita mau lomba. Bu Mitha tadi yang bilang”
“Ah, bohong ah.”
“Enggak, aku ga bohong. Emang beneran ada latihan tambahan”
“Masa sih, ga percaya ah”, Fatih menjawab sekenanya sambil terus menendang bola ke arah Anas.
“Betulan, Bu Mitha sendiri yang bilang”
“Ngarang kali kamu tuh… Atau lupa..”
“Aku ga ngarang. Bener..”
Fatih tak menjawab, dia kembali sibuk menggiring bola menirukan gaya pemain bola favoritnya mengabaikan Keysha yang terus-menerus mencoba mengajaknya bicara, meyakinkan bahwa ruangan ini akan dipakai tim tari dan tim futsal seharusnya tak berada di situ.
“Fat… Fatih…. Kamu dengerin aku ga sih?”
“Enggak”, jawab Fatih singkat. Keysha yang merasa tak terima karena diabaikan segera berlari mengejar bola plastik yang sedari tadi digunakan Fatih dan Anas. Dia buru-buru mengambil bola itu, membawanya keluar dan melemparnya kuat-kuat ke luar aula. Melihat bola terlempar jauh, Anas tak banyak bicara tapi segera mengambil bola itu, meninggalkan Keysha dan Fatih yang berhadapan. Wajah Keysha memerah menahan marah karena merasa diabaikan, sementara Fatih yang terengah mendengus tak suka karena Keysha menganggu permainannya.
“Kamu nih apa-apan sih. Gak sopan begitu itu”, Fatih mendorong tubuh Keysha
“Kamu yang ga sopan, aku ajak kamu ngomong, tapi kamu malah terus main bola”, Keysha balas mendorong bahu Fatih.
“Ya kamu aneh, kita waktunya latihan di ruangan ini kok tiba-tiba disuruh pindah. Ya gak maulah.”
“Ya kan aku bilang dari tadi, kalau disuruh bu Mitha.”
“Halah, alasan. Pasti ini akal-akalan kamu biar bisa pakai ruangan ini di luar jadwal”
“Enggak, tim tari beneran ada tambahan jadwal latihan”
“Bohong..”
“AKU GAK BOHONG”, suara Keysha yang tiba-tiba meninggi mengagetkan Nayla yang sudah berada di dalam aula bersama Anas.
“Eh kenapa ini kok jadi bertengkar?”, Anas bergegas mendekat mencoba melerai Fatih dan Keysha yang sepertinya hendak melanjutkan saling mendorong.
“Dia nih pembohong”, keluh Fatih kesal.
“AKU GAK BOHONG YAAA, TANYA NAYLA AJA SANA!!!”, Keysha memekik tak mau kalah.
“Nay kenapa sih ini?” Anas bertanya pada Nayla yang juga sama bingungnya dan menggeleng tak tahu
“Entah”
“Ini ni si Key bilang hari ini aula dipakai buat latihan tari, padahal kan Kamis harinya Futsal”, sahut Fatih tak mau kalah.
“Lho ya memang Kamis hari Futsal, Pak Karim gak bilang ekskul libur kok”, jawab Anas.
“Tuh dengerin telinganya. Keysha ngotot kalau aulanya mau dipakai buat latihan nari dan kita gak boleh di sini”, sambung Fatih.
“Latihan Nari? Masa sih?”
“Kan, kamu ga percaya juga. Katanya latihan buat persiapan lomba”
“Betul begitu Nay?”, Anas mencoba mengkonfirmasi ke Nayla yang dijawab dengan menaikkan bahu cepat.
“TAPI AKUTUH DIKASIH TAHU BU MITHA LANGSUNG TADIIIIII”, Keysha tak terima dia terus meninggikan suaranya, tanpa sadar teman-temannya yang ikut ekskul futsal sudah memenuhi aula. Sementara teman ekskul tari lainnya tak terlihat.
“Udah.. udah daripada ribut yuk kita cari Pak Karim dan Bu Mitha buat memastikan”, Anas mencoba menengahi.
“Terseralahlah”, Key menjawab ketus.
Anas kemudian mengajak Keysha, Fatih serta Nayla berjalan keluar aula. Namun, belum sampai mereka keluar aula Nayla menyadari ada tulisan besar di papan tulis yang terdapat di aula.
“Teman-teman lihat…”, Tunjuk Nayla. Berempat mereka mendekati papan itu dan membaca apa yang tertera di sana. Fatih bahkan membaca tulisan itu keras-keras.
“Pengumuman, Latihan tambahan ekskul tari untuk persiapan lomba akan diadakan hari Jumat dan Sabtu sepulang sekolah”.
Ow oh..
Mendengar hal tersebut seketika wajah Keysha berubah pucat, rupanya saat bertemu dengan bu Mitha di kantin tadi dia hanya mendengar ada latihan tambahan minggu ini tanpa tahu kapan tepatnya latihan dilaksanakan. Di pikiran Keysha latihan tambahan diadakan hari ini.
“Keyshaaaaaaa!!!!”, kali ini giliran Nayla dan teman-temannya yang berteriak gemas.
dw84koi2s17u27i8nkp0csms9jlmmt8
120259
120257
2026-09-27T04:24:27Z
Mengsky
41602
added [[Category:Fiksi Mini]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120259
wikitext
text/x-wiki
“Key, hari ini menari?”, Nayla menyapa Keysha yang sedang makan puding di dalam kelas.
“Sepertinya, tadi waktu aku ke kantin, ada bu Mitha. Beliau bilang, hari ini ada latihan tambahan mengingat pertandingan tinggal tiga minggu lagi, masih ada beberapa anak yang belum hafal gerakannya. Makanya sama bu Mitha latihannya mau ditambah biar kita kompak” Keysha menjawab Nayla, yang kini duduk menjejerinya di dalam kelas.
“Tapi kamu bawa baju ganti sama selendang tari gak Key?”
“Aku sih selalu bawa selendang dalam tas. Kamu?”
“Nggak.”, jawab Nayla.
“Terus gimana dong, tahu sendiri bu Mitha gak suka kalau kita gak bawa selendang.”
“Ng.. Ntar aku minta tolong bu Lisa deh buat ''wa'' mamaku supaya nganterin selendangnya, aku kan gak tahu kalau ada latihan tambahan buat persiapan lomba.”
“Ya kalau gitu sekarang aja. Tuh bu Lisa”, Keysha menggerakkan dagu ke arah meja guru, tempat di mana walikelas mereka bu Lisa sedang duduk mengoreksi tugas matematika mereka.
“Tapi aku malu ngomongnya..”
“Haduh, tinggal bilang aja lho… Buruan, keburu bel masuk lagi ini.”
“Tapi.. Ta.. pii…”
“Ah lamaaa kamu ini”, Keysha tiba-tiba beranjak berdiri dan berjalan menuju meja guru.
“Key…”, Nayla mencoba mencegah, tapi Keysha sudah lebih dulu sampai dekat meja bu Lisa.
“Bu… Nayla mau ngomong”, Keysha berkata dengan suara keras ke arah bu Lisa.
Bu Lisa yang awalnya menunduk dan sibuk dengan buku tugas muridnya kemudian menengadah, menghadap Keysha yang berbicara sembari berjalan ke arahnya.
“Kenapa Key?”, Bu Lisa bertanya ulang.
“Itu Nayla mau ngomong bu..”, Keysha menunjuk ke arah Nayla yang juga sedang menghampiri bu Lisa.
“Itu bu.. anu….”, Nayla berjalan mendekat dengan takut-takut, dia meremat seragam putihnya dengan kepala menunduk.
“Duh.. Ngomong Nay..”, Keysha berkata tidak sabar, sembari berjalan kembali ke arah Nayla dan meraih lengannya dengan sedikit gerakan menarik yang membuat Nayla berjalan terhuyung ke meja bu Lisa. Keysha yang bertubuh tinggi terlihat dengan mudah menyeret Nayla yang bertubuh mungil.
“Apa Nay?”, tanya bu Lisa lembut, setelah Keysha menjajarkan Nayla ke sisi kanan bu Lisa yang sedang duduk.
“Ng… itu bu.. anu.. mau minta tolong bu Lisa WA kan mama. Nanti ada ekskul tari, aku lupa bilang sama lupa bawa selendang. Minta …. Mmmmmm.. Mama bawakan pas ke sini pulang sekolah bu..”, jawab Nayla lirih.
“Ekskul tari? Hah? Nanti ibu sampaikan. Ada lagi?”
“Nggak ada bu, itu aja…”
“Habis ini ibu kirim pesan ke mama ya”
“Makasih bu.”, Keysha mengucapkan terima kasih mendahuli Nayla yang kemudian membeo dengan nada yang lebih lirih. Bu Lisa yang memperhatikan interaksi keduanya hanya menggeleng dan tersenyum sembari mengernyitkan dahi. Merasa ada yang janggal dengan permintaan Nayla.
Sepulang sekolah, Bu Lisa mengabari Nayla bahwa mamanya sudah menunggu di pos satpam mengantarkan selendang tari miliknya. Bergegas Nayla berjalan ke sana, sedangkan Keysha berjalan menuju ke aula tempat mereka akan latihan menari. Latihan masih akan dimulai 30 menit lagi, tetapi Keysha sudah gelisah. Dia memilih untuk menunggu Bu Mitha dan teman-teman ekskulnya di dalam aula. Selendang warna merah miliknya sudah terpasang di pinggang, tas ransel bertengger di punggung, serta tangannya mengipas-ngipaskan buku tulis ke wajahnya mencoba menghalau panas.
Sesampainya di aula betapa terkejutnya dia melihat di sana ada beberapa anak berseragam futsal yang sedang melakukan pemanasan. Dua di antara mereka teman sekelasnya bernama Fatih dan Anas. Usai meletakkan tas serampangan dan melempar buku yang dipakainya sebagai kipas di pojok ruangan, Keysha mendatangi Fatih dan Anas.
“Fat, kok kalian di sini? Kan anak tari mau latihan di sini”, Ujarnya sembari berkacak pinggang.
“Ini kan hari Kamis, harinya Futsal”, jawab Fatih sambil terus mengoperkan bola ke arah Anas mengabaikan Keysha yang berdiri di sebelahnya.
“Tapi anak tari tuh mau pakai ruangan ini. Kita mau latihan”
“Ekskul tari kan Selasa, kok tiba-tiba jadi Kamis sih?”, tanya Fatih, masih terus bermain oper bola bersama Anas.
“Latihannya ditambah karena kita mau lomba. Bu Mitha tadi yang bilang”
“Ah, bohong ah.”
“Enggak, aku ga bohong. Emang beneran ada latihan tambahan”
“Masa sih, ga percaya ah”, Fatih menjawab sekenanya sambil terus menendang bola ke arah Anas.
“Betulan, Bu Mitha sendiri yang bilang”
“Ngarang kali kamu tuh… Atau lupa..”
“Aku ga ngarang. Bener..”
Fatih tak menjawab, dia kembali sibuk menggiring bola menirukan gaya pemain bola favoritnya mengabaikan Keysha yang terus-menerus mencoba mengajaknya bicara, meyakinkan bahwa ruangan ini akan dipakai tim tari dan tim futsal seharusnya tak berada di situ.
“Fat… Fatih…. Kamu dengerin aku ga sih?”
“Enggak”, jawab Fatih singkat. Keysha yang merasa tak terima karena diabaikan segera berlari mengejar bola plastik yang sedari tadi digunakan Fatih dan Anas. Dia buru-buru mengambil bola itu, membawanya keluar dan melemparnya kuat-kuat ke luar aula. Melihat bola terlempar jauh, Anas tak banyak bicara tapi segera mengambil bola itu, meninggalkan Keysha dan Fatih yang berhadapan. Wajah Keysha memerah menahan marah karena merasa diabaikan, sementara Fatih yang terengah mendengus tak suka karena Keysha menganggu permainannya.
“Kamu nih apa-apan sih. Gak sopan begitu itu”, Fatih mendorong tubuh Keysha
“Kamu yang ga sopan, aku ajak kamu ngomong, tapi kamu malah terus main bola”, Keysha balas mendorong bahu Fatih.
“Ya kamu aneh, kita waktunya latihan di ruangan ini kok tiba-tiba disuruh pindah. Ya gak maulah.”
“Ya kan aku bilang dari tadi, kalau disuruh bu Mitha.”
“Halah, alasan. Pasti ini akal-akalan kamu biar bisa pakai ruangan ini di luar jadwal”
“Enggak, tim tari beneran ada tambahan jadwal latihan”
“Bohong..”
“AKU GAK BOHONG”, suara Keysha yang tiba-tiba meninggi mengagetkan Nayla yang sudah berada di dalam aula bersama Anas.
“Eh kenapa ini kok jadi bertengkar?”, Anas bergegas mendekat mencoba melerai Fatih dan Keysha yang sepertinya hendak melanjutkan saling mendorong.
“Dia nih pembohong”, keluh Fatih kesal.
“AKU GAK BOHONG YAAA, TANYA NAYLA AJA SANA!!!”, Keysha memekik tak mau kalah.
“Nay kenapa sih ini?” Anas bertanya pada Nayla yang juga sama bingungnya dan menggeleng tak tahu
“Entah”
“Ini ni si Key bilang hari ini aula dipakai buat latihan tari, padahal kan Kamis harinya Futsal”, sahut Fatih tak mau kalah.
“Lho ya memang Kamis hari Futsal, Pak Karim gak bilang ekskul libur kok”, jawab Anas.
“Tuh dengerin telinganya. Keysha ngotot kalau aulanya mau dipakai buat latihan nari dan kita gak boleh di sini”, sambung Fatih.
“Latihan Nari? Masa sih?”
“Kan, kamu ga percaya juga. Katanya latihan buat persiapan lomba”
“Betul begitu Nay?”, Anas mencoba mengkonfirmasi ke Nayla yang dijawab dengan menaikkan bahu cepat.
“TAPI AKUTUH DIKASIH TAHU BU MITHA LANGSUNG TADIIIIII”, Keysha tak terima dia terus meninggikan suaranya, tanpa sadar teman-temannya yang ikut ekskul futsal sudah memenuhi aula. Sementara teman ekskul tari lainnya tak terlihat.
“Udah.. udah daripada ribut yuk kita cari Pak Karim dan Bu Mitha buat memastikan”, Anas mencoba menengahi.
“Terseralahlah”, Key menjawab ketus.
Anas kemudian mengajak Keysha, Fatih serta Nayla berjalan keluar aula. Namun, belum sampai mereka keluar aula Nayla menyadari ada tulisan besar di papan tulis yang terdapat di aula.
“Teman-teman lihat…”, Tunjuk Nayla. Berempat mereka mendekati papan itu dan membaca apa yang tertera di sana. Fatih bahkan membaca tulisan itu keras-keras.
“Pengumuman, Latihan tambahan ekskul tari untuk persiapan lomba akan diadakan hari Jumat dan Sabtu sepulang sekolah”.
Ow oh..
Mendengar hal tersebut seketika wajah Keysha berubah pucat, rupanya saat bertemu dengan bu Mitha di kantin tadi dia hanya mendengar ada latihan tambahan minggu ini tanpa tahu kapan tepatnya latihan dilaksanakan. Di pikiran Keysha latihan tambahan diadakan hari ini.
“Keyshaaaaaaa!!!!”, kali ini giliran Nayla dan teman-temannya yang berteriak gemas.
[[Kategori:Fiksi Mini]]
endijd3mrh7t3q77rkxezbubac51ums
Jelajah Wisata Makassar/Museum La Galigo
0
28531
120261
2026-09-27T04:25:02Z
NasRI A. Muhammad Abduh
42196
NasRI A. Muhammad Abduh memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Museum La Galigo]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo]]
120261
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo]]
kbw51d142xu3szhwfh4dit8p241vuok
Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid Al-Markaz Al-Islami
0
28532
120266
2026-09-27T04:35:45Z
AF1011
25283
Membuat bagian Artikel baru.
120266
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Masjid_Al-Markaz_Al-Islami_Makassar.jpg|jmpl]]
'''Masjid Al-Markaz Al-Islami''' merupakan Masjid Terbesar ke-2 dan berlokasi di Kecamatan Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan. Pembangunan Mesjid tersebut dimulai pada tahun 1994 dan rampung di tahun 1996, dan lalu diresmikan pada tahun 2005.
Nama mesjid tersebut dari waktu awalnya bernama ''Al-Markaz Al-Islami'' dan lalu ditambahkan nama ''Jendral M. Yusuf'' pencetus gagasan pembangunan mesjid tersebut dan penambahan nama tersebut resmi ditambahkan setelah beliau wafat. Hingga nama lawas tersebut masih tetap dipertahankan sampai sekarang dan hanya cuma menambahkan nama ''Masjid Al-Markaz Al-Islami Jendral M. Yusuf'' hingga sekarang.<ref name="FactIDN"/>
Desain pada mesjid tersebut dirancang oleh Ir. Ahmad Nu'man, desain tersebut mengambil dari arsitektur khas lokal daerah seperti desain plafon berbentuk kuncup segi empat yang terinspirasi dari Mesjid Katangka, Gowa. Dan menara mesjid tersebut memiliki setinggi 84 meter; Dan gedung tersebut memiliki 3 Lantai.<ref name="FactIDN"/>
Mesjid tersebut menjadi destinasi wisata religi untuk masyarakat lokal dan Mancanegara, di saat maupun momen Ramadhan dan lebaran.<ref name="FactIDN"> {{cite web|url=https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/5-fakta-masjid-al-markaz-al-islami-masjid-terbesar-di-makassar-00-5qckx-g18lzy|title=5 Fakta Masjid Al-Markaz Al-Islami, Terbesar di Makassar|website=IDN Times|accessdate=2026-02-22|first=Aan|last=Pranata}}</ref>
== Referensi ==
{{reflist}}
ih53ytf3f940tjanqrlilmfvs4kur6u
Templat:Selamat datang/doc
10
28533
120269
2026-09-27T04:39:53Z
AF1011
25283
Membuat bagian baru, Hanya untuk dokumentasi templat.
120269
wikitext
text/x-wiki
{{documentation subpage}}
{{Template shortcut|Sd|Welcome}}
{{Subst only}}
Mengingat nilai komunitas Wikibooks dan untuk membantu pengguna baru mengenal Wikibooks, sangat dianjurkan untuk menyambut mereka dan memberikan beberapa tautan dan petunjuk yang bermanfaat. Tidak ada aturan tentang kapan harus menyambut pengguna baru. Gunakan penilaian Anda sendiri. Lihat kontribusi mereka untuk melihat apakah mereka cenderung bergabung atau apakah mereka sudah lama mengikuti program ini.
== Pengunaan ==
Tempelkan
<pre>{{subst:Selamat datang}}</pre>
pada halaman pembicaraan pengguna (bukan halaman penggunanya sendiri) & tanda tangani (<code><nowiki>--~~~~</nowiki></code>). Catatan pribadi singkat selalu menyenangkan. Anda dapat menyertakannya dalam templat:
<pre>{{subst:Selamat datang|1=catatan anda disini}}</pre>
yang akan menggantikan sapaan standar tetapi tetap menampilkan paket sambutan.
=== Lihat pula ===
*{{tl|bigwelcome}} – menjelaskan lebih rinci daripada sambutan singkat ini.
*{{tl|joinus}} – untuk pengguna tidak terdaftar
*{{tl|classwelcome}} – Termasuk tautan ke pedoman proyek kelas, yang ditujukan untuk peserta proyek kelas.
<includeonly>
[[Category:Templat selamat datang|{{PAGENAME}}]]
swpul75j6dtf0sg25geldce96k18ahi
Harta yang Terpendam/Bab 1
0
28534
120270
2026-09-27T04:40:16Z
Mengsky
41602
←Membuat halaman berisi '== I. == == SATOE TESTAMENT. == Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sasoedanja pakerdjaan politie dirobah djadi lebih baek, dan kapala bangsat jang terkenal soeda diboewang ka laen negri, tida satoe bangsat lagi brani...'
120270
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== SATOE TESTAMENT. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sasoedanja pakerdjaan politie dirobah djadi lebih baek, dan kapala bangsat jang terkenal soeda diboewang ka laen negri, tida satoe bangsat lagi brani djalanken pakerdjain di ini tempat. Maski begitoe, sampe sekarang djarang ada orang-orang mampoe soeka tinggal disitoe, sebab maskipoen tida kwatir diganggoe lagi oleh rampok, tetapi toch banjaknia koeboeran-koeboeran Islam di tepi djalanan sabelah kiri, tida adanja ​penerangan gas di waktoe malem, soeda bikin tida enak aken orang tinggal di ini tempat. Di waktoe siang sekali poen, salaennja soeara tram electrisch dan kandaran-kandaran jang liwat pergi dateng, tida ada kadengeran soeara apa-apa lagi; orang liwat poen sedikit sekali, dan bila matahari soeda silem, boleh dibilang djarang ada manoesia jang brani lintasken tempat itoe. Orang-orang Boemipoetra ada pertjaja bahoea itoe koeboeran-koeboeran Islam ada mempoenjai keangkeran. Tersiarnja tjerita bahoea banjak orang liwat ada dapet liat setan-setan, soeda bikin lebih sepi keadaannja ini tempat.
Kasoenjian begitoe ada disoeka oleh orang-orang jang biasa berboeat apa-apa dengen semboeni, Begitoelah satoe roemah model panggoeng jang soeda toea pada tepi kanan dari djalanan itoe, soeda bebrapa lama kaliatan ada diperabotken dengen netjis. Poehoen-poehoen oetan jang sdoeloe ada toemboe lebet dan membikin djelek pada pekarangan itoe roemah, telah ditebang dan ditanemin poehoen-poehoen boengah atawa pot-pot kembang jang dirawat baek. Roepanja saorang hartawan soeda sewa ini roemab, tetapi aneh sekali ia tida maoe tjari tempat rame boeat oendjoek kaindahan tempatnia. Nistjaja tida bisa di sangkal lagi orang itoe kapingin simpen resia apa-apa: jang ia tida maoe banjak orang dapet taoe.
Bila salaennja hari Minggoe, di waktoe sore ​pada hari-hari biasa ampir boleh dibilang tentoe satoe auto nanti masoek ka dalem pekarangan itoe roemah, dan satoe anak moeda jang memake pitji stamboel warna mera, atawa kadang-kadang topi helmhoed warna koening, toeroen dari itoe auto jang ia stuur sendiri, disamboet di tangga roema oleh satoe prampoean moeda jang ellok.
Pembatja tentoe lantas bisa doega bahoea doea orang moeda itoe tentoe ada poenja perhoeboengan seperti soeami-istri, tetapi apakah sebabnja anak moeda itoe maoe ambil tempat jang begitoe soenji?
Sebagi anaknja saorang Arab jang anoet igama dengen betoel dan hargaken ia poenja toeroepan Said dari bebrapa laloehoer, maka maskipoen Moehamad Joesoef bin Alsagaf soeda djadi begitoe tergila-gila sama itoe prampoean Preanger, toch ia tida maoe bangsanja dapet taoe kaloe ia ada piara itoe prampoean dengen loepaken istri kawin dan anak-anaknja.
Joesoef ada anak satoe-satoenja dari almarhoem Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, toean tanah jang paling hartawan di Tjimanggis.
Sedari wafatnja itoe ajah, Joesoet dapet kamerdikaan loeas. Kaloe doeloe, waktoe ajahnja masi idoep, Joesoef melinken mampoe pake satoe sado preman jang ampir bokbrok, sekarang ia bisa pake satoe auto model landaulet jang bagoes.
<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6|num=4|formatted=4|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7|num=5|formatted=5|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8|num=6|formatted=6|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9|num=7|formatted=7|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10|num=8|formatted=8|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11|num=9|formatted=9|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12|num=10|formatted=10|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13|num=11|formatted=11|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14|num=12|formatted=12|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15|num=13|formatted=13|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16|num=14|formatted=14|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16}}
6l0k0nko7cf5fqfm2v94mhge231zk8w
120272
120270
2026-09-27T04:42:46Z
Mengsky
41602
120272
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== SATOE TESTAMENT. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi brani djalanken pakerdjain di ini tempat. Maski begitoe, sampe sekarang djarang ada orang-orang mampoe soeka tinggal disitoe, sebab maskipoen tida kwatir diganggoe lagi oleh rampok, tetapi toch banjaknia koeboeran-koeboeran Islam di tepi djalanan sabelah kiri, tida adanja ​penerangan gas di waktoe malem, soeda bikin tida enak aken orang tinggal di ini tempat. Di waktoe siang sekali poen, salaennja soeara tram electrisch dan kandaran-kandaran jang liwat pergi dateng, tida ada kadengeran soeara apa-apa lagi; orang liwat poen sedikit sekali, dan bila matahari soeda silem, boleh dibilang djarang ada manoesia jang brani lintasken tempat itoe. Orang-orang Boemipoetra ada pertjaja bahoea itoe koeboeran-koeboeran Islam ada mempoenjai keangkeran. Tersiarnja tjerita bahoea banjak orang liwat ada dapet liat setan-setan, soeda bikin lebih sepi keadaannja ini tempat.
Kasoenjian begitoe ada disoeka oleh orang-orang jang biasa berboeat apa-apa dengen semboeni, Begitoelah satoe roemah model panggoeng jang soeda toea pada tepi kanan dari djalanan itoe, soeda bebrapa lama kaliatan ada diperabotken dengen netjis. Poehoen-poehoen oetan jang sdoeloe ada toemboe lebet dan membikin djelek pada pekarangan itoe roemah, telah ditebang dan ditanemin poehoen-poehoen boengah atawa pot-pot kembang jang dirawat baek. Roepanja saorang hartawan soeda sewa ini roemab, tetapi aneh sekali ia tida maoe tjari tempat rame boeat oendjoek kaindahan tempatnia. Nistjaja tida bisa di sangkal lagi orang itoe kapingin simpen resia apa-apa: jang ia tida maoe banjak orang dapet taoe.
Bila salaennja hari Minggoe, di waktoe sore ​pada hari-hari biasa ampir boleh dibilang tentoe satoe auto nanti masoek ka dalem pekarangan itoe roemah, dan satoe anak moeda jang memake pitji stamboel warna mera, atawa kadang-kadang topi helmhoed warna koening, toeroen dari itoe auto jang ia stuur sendiri, disamboet di tangga roema oleh satoe prampoean moeda jang ellok.
Pembatja tentoe lantas bisa doega bahoea doea orang moeda itoe tentoe ada poenja perhoeboengan seperti soeami-istri, tetapi apakah sebabnja anak moeda itoe maoe ambil tempat jang begitoe soenji?
Sebagi anaknja saorang Arab jang anoet igama dengen betoel dan hargaken ia poenja toeroepan Said dari bebrapa laloehoer, maka maskipoen Moehamad Joesoef bin Alsagaf soeda djadi begitoe tergila-gila sama itoe prampoean Preanger, toch ia tida maoe bangsanja dapet taoe kaloe ia ada piara itoe prampoean dengen loepaken istri kawin dan anak-anaknja.
Joesoef ada anak satoe-satoenja dari almarhoem Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, toean tanah jang paling hartawan di Tjimanggis.
Sedari wafatnja itoe ajah, Joesoet dapet kamerdikaan loeas. Kaloe doeloe, waktoe ajahnja masi idoep, Joesoef melinken mampoe pake satoe sado preman jang ampir bokbrok, sekarang ia bisa pake satoe auto model landaulet jang bagoes.
<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6|num=4|formatted=4|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7|num=5|formatted=5|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8|num=6|formatted=6|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9|num=7|formatted=7|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10|num=8|formatted=8|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11|num=9|formatted=9|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12|num=10|formatted=10|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13|num=11|formatted=11|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14|num=12|formatted=12|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15|num=13|formatted=13|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16|num=14|formatted=14|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16}}
dzn9t9pwunw3u34ibl3ifhr5aqkfba4
120282
120272
2026-09-27T04:53:28Z
Mengsky
41602
120282
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram electrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kubauran-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang liwat ada dapet lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kasoenjian begitoe ada disoeka oleh orang-orang jang biasa berboeat apa-apa dengen semboeni, Begitoelah satoe roemah model panggoeng jang soeda toea pada tepi kanan dari djalanan itoe, soeda bebrapa lama kaliatan ada diperabotken dengen netjis. Poehoen-poehoen oetan jang sdoeloe ada toemboe lebet dan membikin djelek pada pekarangan itoe roemah, telah ditebang dan ditanemin poehoen-poehoen boengah atawa pot-pot kembang jang dirawat baek. Roepanja saorang hartawan soeda sewa ini roemab, tetapi aneh sekali ia tida maoe tjari tempat rame boeat oendjoek kaindahan tempatnia. Nistjaja tida bisa di sangkal lagi orang itoe kapingin simpen resia apa-apa: jang ia tida maoe banjak orang dapet taoe.
Bila salaennja hari Minggoe, di waktoe sore ​pada hari-hari biasa ampir boleh dibilang tentoe satoe auto nanti masoek ka dalem pekarangan itoe roemah, dan satoe anak moeda jang memake pitji stamboel warna mera, atawa kadang-kadang topi helmhoed warna koening, toeroen dari itoe auto jang ia stuur sendiri, disamboet di tangga roema oleh satoe prampoean moeda jang ellok.
Pembatja tentoe lantas bisa doega bahoea doea orang moeda itoe tentoe ada poenja perhoeboengan seperti soeami-istri, tetapi apakah sebabnja anak moeda itoe maoe ambil tempat jang begitoe soenji?
Sebagi anaknja saorang Arab jang anoet igama dengen betoel dan hargaken ia poenja toeroepan Said dari bebrapa laloehoer, maka maskipoen Moehamad Joesoef bin Alsagaf soeda djadi begitoe tergila-gila sama itoe prampoean Preanger, toch ia tida maoe bangsanja dapet taoe kaloe ia ada piara itoe prampoean dengen loepaken istri kawin dan anak-anaknja.
Joesoef ada anak satoe-satoenja dari almarhoem Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, toean tanah jang paling hartawan di Tjimanggis.
Sedari wafatnja itoe ajah, Joesoet dapet kamerdikaan loeas. Kaloe doeloe, waktoe ajahnja masi idoep, Joesoef melinken mampoe pake satoe sado preman jang ampir bokbrok, sekarang ia bisa pake satoe auto model landaulet jang bagoes.
<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6|num=4|formatted=4|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7|num=5|formatted=5|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8|num=6|formatted=6|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9|num=7|formatted=7|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10|num=8|formatted=8|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11|num=9|formatted=9|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12|num=10|formatted=10|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13|num=11|formatted=11|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14|num=12|formatted=12|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15|num=13|formatted=13|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16|num=14|formatted=14|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16}}
bp086lk7o4mszpxc3uum78qwpxbsukd
120294
120282
2026-09-27T05:09:14Z
Mengsky
41602
120294
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila salaennja hari Minggoe, di waktoe sore ​pada hari-hari biasa ampir boleh dibilang tentoe satoe auto nanti masoek ka dalem pekarangan itoe roemah, dan satoe anak moeda jang memake pitji stamboel warna mera, atawa kadang-kadang topi helmhoed warna koening, toeroen dari itoe auto jang ia stuur sendiri, disamboet di tangga roema oleh satoe prampoean moeda jang ellok.
Pembatja tentoe lantas bisa doega bahoea doea orang moeda itoe tentoe ada poenja perhoeboengan seperti soeami-istri, tetapi apakah sebabnja anak moeda itoe maoe ambil tempat jang begitoe soenji?
Sebagi anaknja saorang Arab jang anoet igama dengen betoel dan hargaken ia poenja toeroepan Said dari bebrapa laloehoer, maka maskipoen Moehamad Joesoef bin Alsagaf soeda djadi begitoe tergila-gila sama itoe prampoean Preanger, toch ia tida maoe bangsanja dapet taoe kaloe ia ada piara itoe prampoean dengen loepaken istri kawin dan anak-anaknja.
Joesoef ada anak satoe-satoenja dari almarhoem Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, toean tanah jang paling hartawan di Tjimanggis.
Sedari wafatnja itoe ajah, Joesoet dapet kamerdikaan loeas. Kaloe doeloe, waktoe ajahnja masi idoep, Joesoef melinken mampoe pake satoe sado preman jang ampir bokbrok, sekarang ia bisa pake satoe auto model landaulet jang bagoes.
<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6|num=4|formatted=4|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/6}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7|num=5|formatted=5|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/7}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8|num=6|formatted=6|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/8}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9|num=7|formatted=7|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/9}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10|num=8|formatted=8|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/10}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11|num=9|formatted=9|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/11}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12|num=10|formatted=10|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/12}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13|num=11|formatted=11|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/13}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14|num=12|formatted=12|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/14}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15|num=13|formatted=13|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/15}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16|num=14|formatted=14|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/16}}
6ypsamhf5y5mdhv3q36u63dimpqp2el
120295
120294
2026-09-27T05:11:28Z
Mengsky
41602
120295
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila salaennja hari Minggoe, di waktoe sore ​pada hari-hari biasa ampir boleh dibilang tentoe satoe auto nanti masoek ka dalem pekarangan itoe roemah, dan satoe anak moeda jang memake pitji stamboel warna mera, atawa kadang-kadang topi helmhoed warna koening, toeroen dari itoe auto jang ia stuur sendiri, disamboet di tangga roema oleh satoe prampoean moeda jang ellok.
Pembatja tentoe lantas bisa doega bahoea doea orang moeda itoe tentoe ada poenja perhoeboengan seperti soeami-istri, tetapi apakah sebabnja anak moeda itoe maoe ambil tempat jang begitoe soenji?
Sebagi anaknja saorang Arab jang anoet igama dengen betoel dan hargaken ia poenja toeroepan Said dari bebrapa laloehoer, maka maskipoen Moehamad Joesoef bin Alsagaf soeda djadi begitoe tergila-gila sama itoe prampoean Preanger, toch ia tida maoe bangsanja dapet taoe kaloe ia ada piara itoe prampoean dengen loepaken istri kawin dan anak-anaknja.
Joesoef ada anak satoe-satoenja dari almarhoem Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, toean tanah jang paling hartawan di Tjimanggis.
Sedari wafatnja itoe ajah, Joesoet dapet kamerdikaan loeas. Kaloe doeloe, waktoe ajahnja masi idoep, Joesoef melinken mampoe pake satoe sado preman jang ampir bokbrok, sekarang ia bisa pake satoe auto model landaulet jang bagoes.
Ia poenja kalojaran dalem hal memake oewang, soeda bikin ia dapet banjak sobat disana-sini. Begitoelah dengen perantaraannja ia poenja sala satoe sobat di Bandoeng, Joesoef telah berkenalan sama satoe prampoean latjoer bekas anak komedie bangsawan.
Marsina moesti dipoedji ada satoe prampoean tjantik. Warna koelitnia, sebagimana kabanjakan ada pada prampoean-prampoean Preanger, ada poetih djerni. Marsina baroe beroemoer kira-kira 22 taon, badannja montok, pinggangnja langsing, ramboetnja gemoek, ditambahken dengen sedikit poni jang membikin tampang moekanja djadi lebih ellok. Sapasang alisnja ada item, sedeng jang tida terlaloe besar, tetapi tadjem, adan mempoenjai sorot jang menarik hati. Moeloetnja ada sedikit djeding, satoe pengasih natuur jang bawa peroentoengan bagoes pada ini prampoean, tetapi djoega membawa sifat djahat dalem hatinja. Sasoeatoe lelaki nanti merasa terhiboer bila dapet liat mesem atawa tertawanja ini prampoean, apa poela denger ia poenja soeara tertawa jang lemah lemboet.
Marsina tida tampik lagi aken dipiara oleh Joesoef, sebab salaennja Joesoef sendiri ada satoe anak moeda jang tjakep, koelitnja poetih, tida seperti ajahnja jang item, dandanannja perlente, djoega tangannja Joesoef ada terlepas, sebab ia poen, dengen harta peninggalan ajahnja, ada tjoekoep hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini prampoean, tetapi ia bingoeng djoega waktoe ia maoe pindahken prampoean ini ka Betawi. Ia ada poenja bebrapa roemah sewaan di kampoeng Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitoe ada terkenal sebagi kampoengnia orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentoe merasa tida senang hati bila dapet taoe Joesoef ada piara satoe prampoean Melajoe dan bekas djalang di Bandoeng. Salaennja begitoe, orang taoe djoega Joesoef ada poenja istri kawin dari toeroenan jang terhormat, dari istri mana Joesoef soeda dapet doea anak. Joesoef ada terantjem aken bisa dipisaken dari pergaoelan orang-orang Arab jang terhormat. Ia poenja nama jang terindah sebagi toeroenan Said sedjati aken tida di-indahken lagi. Dari sebab begitoe, Joesoef maoe perhoeboengannja sama Marsina tinggal resia. Beroentoeng ia dapetken itoe roemah di Mangga Doea, satoe tempat sepi. Joesoef poenja pergi dan dateng di itoe roemah djarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belon perna brentiken autonja di depan pekarangan, selamanja dimasoeken ka dalem dan pintoe pekarangan laloe di toetoep lagi.
Pada soeatoe hari Minggoe, tatkala matahari ampir silam di Koelon, Joesoef ada dateng dengen autonja. Marsina tida samboet Joesoef di tangga roemah.
Di dalem Joesoef dapetken Marsina sedeng doedoek beromong-omong sama satoe njonja Europa, soedagar barang mas-inten.
„Kabetoelan toean dateng,“ kata Marsina sembari bangoen, „ini njonja Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-baranng bagoes jang tokonja baroe trima, dari Europa. Saja sedeng tawar ia poenja sapasang giwang brilliant dan satoe peniti taboer. ...“
„Brapa harganja?“ tanja Joesoef dengen tjepet.
„Tida mahal toean,” kata njonja Lerroi. „ini sapasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Djadi f 5000 boeat itoe doea roepa barang?” kata Joeooef dengen keroetken djidat, „Ach! Marsina, belon brapa lama akoe soeda beliken kaoe sapasang giwang dan peniti taboer, boeat apa beli lagi?”
„Ja, tapi toean beli terlaloe ketjil,” sahoet Marsina sembari oendjoek ia poenija tingka jang aleman.
„Akoe tida bisa beliken kaoe itoe barang-barang jang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kaloe kaoe maoe djoega, biarlah samoea barang-barang moe didjoeal doeloe dan oewangnja boeat beli itoe doea roepa barang, sakoerangnja akoe tamba.” „Saja tida maoe begitoe,“ kata Marsina dengen tjemberoet. „Salaennja begitoe, saja poenja doea tjtntjin dan doea gelang soeda digade.”
„Ha?” kata Joesoef dengen moeloet terboeka. „Kaoe bikin apa sama oewangnja, dan kaoe boewang kamana oewang jang akoe kasi saban boelan?“
Marsina tida menjaoet, ia takoet bilang jang saban hari ia ada berdjoedi besar sama njonja-njonja Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef oelangken kombali pertanjannja jang tadi, sedeng roepania kaliatan marah. Achir-achir Marsina mengakoe djoega dengen kasi alesan bahoea lantaran kaloe siang tida betah tinggal di roemah, djadi ia tjari hiboeran dengen doedoek berdjoedi di roemak-roemahnja orang Tionghoa.
„Moelai dari ini hari kaoe tida boleh berdjoedi lagi,” kata Joesoef sembari mengantjem.
Tjoeatja soeda moelai gelap, lampoe-lampoe laloe dipasang. Njonja Lerroi jang liat barangnja bakal tida dibeli, sigra permisi poelang. Marsina kaliatan tida senang hati sama toeannja, ia masoek ka kamar dan moelai menangis. Joesoef djadi kesel, ia doedoek di serambi belakang roemahnja dengen toendjang djanggoet. Ia inget brapa riboe oewangnja soeda kaloear boeat Marsina, tetapi itoe samoea tentoe ia tida boeat seselan kaloe dipake saharoesnja oleh ia poenja kekasih jang ia tjinta sagenap hati, tapi Marsina soeda boewang itoe oewang dalem djoedi, inilah jang bikin ia menjesel, dan lebih bikin ia doeka kaloe ia pikirken apakah Marsina bisa boewang kasoekaannja sama djoedi.
Tjoeatja jang gelap sekarang moelai diadi terang oleh sinarnja boelan jang gilang-goemilang, sedeng angin ada menioep dengen perlahan pada poehoen-poehoen boengah sembari bawa terbang haroemnja boengah-boengah itoe ka lobang idoengnja Joesoef, tapi dia ini jang lagi kesel, tida dapet endoesin kasedepan itoe.
Pintoe pekarangan di loear ada diboeka dan di toetoep lagi dengen tida bersoeara oleh satoe orang lelaki jang memake tjelana koetoeng dan badjoe tombeng. Ia berdjalan dengen perlahan di samping roemah sampe di serambi belakang.
„Toean Said,“ kata orang itoe.
Joesoef terprandjat.
„Siapa kaoe.“
„Saja, toean,” sahoet itoe orang sembari madjoeken dirinja dari tempat gelap ka tempat terang.
„Ali?” tanja Joesoef.
„Betoel, toean.”
„Ada apa dateng malem-malem.”
„Ada sedikit oeroesan toean.”
„Mari sini, oeroesan apa?” „Saja permisi maoe tanja toean, apa boenjinja ini soerat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahken satoe goeloeng kaen toewa jang dilepit dengen rapi.
„Soerat apa ini?” tanja Joesoef sembari boeka itoe goeloengan.
„Saja koerang taoce, toean,” sahoet Ali. „Tapi saja taksir ada soerat djlmat. Saja kapingin taoe apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
6rjma1g8c307id8feo8kluv29ejr2x6
120298
120295
2026-09-27T05:14:11Z
Mengsky
41602
120298
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembatja tentoe lantas bisa doega bahoea doea orang moeda itoe tentoe ada poenja perhoeboengan seperti soeami-istri, tetapi apakah sebabnja anak moeda itoe maoe ambil tempat jang begitoe soenji?
Sebagi anaknja saorang Arab jang anoet igama dengen betoel dan hargaken ia poenja toeroepan Said dari bebrapa laloehoer, maka maskipoen Moehamad Joesoef bin Alsagaf soeda djadi begitoe tergila-gila sama itoe prampoean Preanger, toch ia tida maoe bangsanja dapet taoe kaloe ia ada piara itoe prampoean dengen loepaken istri kawin dan anak-anaknja.
Joesoef ada anak satoe-satoenja dari almarhoem Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, toean tanah jang paling hartawan di Tjimanggis.
Sedari wafatnja itoe ajah, Joesoet dapet kamerdikaan loeas. Kaloe doeloe, waktoe ajahnja masi idoep, Joesoef melinken mampoe pake satoe sado preman jang ampir bokbrok, sekarang ia bisa pake satoe auto model landaulet jang bagoes.
Ia poenja kalojaran dalem hal memake oewang, soeda bikin ia dapet banjak sobat disana-sini. Begitoelah dengen perantaraannja ia poenja sala satoe sobat di Bandoeng, Joesoef telah berkenalan sama satoe prampoean latjoer bekas anak komedie bangsawan.
Marsina moesti dipoedji ada satoe prampoean tjantik. Warna koelitnia, sebagimana kabanjakan ada pada prampoean-prampoean Preanger, ada poetih djerni. Marsina baroe beroemoer kira-kira 22 taon, badannja montok, pinggangnja langsing, ramboetnja gemoek, ditambahken dengen sedikit poni jang membikin tampang moekanja djadi lebih ellok. Sapasang alisnja ada item, sedeng jang tida terlaloe besar, tetapi tadjem, adan mempoenjai sorot jang menarik hati. Moeloetnja ada sedikit djeding, satoe pengasih natuur jang bawa peroentoengan bagoes pada ini prampoean, tetapi djoega membawa sifat djahat dalem hatinja. Sasoeatoe lelaki nanti merasa terhiboer bila dapet liat mesem atawa tertawanja ini prampoean, apa poela denger ia poenja soeara tertawa jang lemah lemboet.
Marsina tida tampik lagi aken dipiara oleh Joesoef, sebab salaennja Joesoef sendiri ada satoe anak moeda jang tjakep, koelitnja poetih, tida seperti ajahnja jang item, dandanannja perlente, djoega tangannja Joesoef ada terlepas, sebab ia poen, dengen harta peninggalan ajahnja, ada tjoekoep hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini prampoean, tetapi ia bingoeng djoega waktoe ia maoe pindahken prampoean ini ka Betawi. Ia ada poenja bebrapa roemah sewaan di kampoeng Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitoe ada terkenal sebagi kampoengnia orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentoe merasa tida senang hati bila dapet taoe Joesoef ada piara satoe prampoean Melajoe dan bekas djalang di Bandoeng. Salaennja begitoe, orang taoe djoega Joesoef ada poenja istri kawin dari toeroenan jang terhormat, dari istri mana Joesoef soeda dapet doea anak. Joesoef ada terantjem aken bisa dipisaken dari pergaoelan orang-orang Arab jang terhormat. Ia poenja nama jang terindah sebagi toeroenan Said sedjati aken tida di-indahken lagi. Dari sebab begitoe, Joesoef maoe perhoeboengannja sama Marsina tinggal resia. Beroentoeng ia dapetken itoe roemah di Mangga Doea, satoe tempat sepi. Joesoef poenja pergi dan dateng di itoe roemah djarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belon perna brentiken autonja di depan pekarangan, selamanja dimasoeken ka dalem dan pintoe pekarangan laloe di toetoep lagi.
Pada soeatoe hari Minggoe, tatkala matahari ampir silam di Koelon, Joesoef ada dateng dengen autonja. Marsina tida samboet Joesoef di tangga roemah.
Di dalem Joesoef dapetken Marsina sedeng doedoek beromong-omong sama satoe njonja Europa, soedagar barang mas-inten.
„Kabetoelan toean dateng,“ kata Marsina sembari bangoen, „ini njonja Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-baranng bagoes jang tokonja baroe trima, dari Europa. Saja sedeng tawar ia poenja sapasang giwang brilliant dan satoe peniti taboer. ...“
„Brapa harganja?“ tanja Joesoef dengen tjepet.
„Tida mahal toean,” kata njonja Lerroi. „ini sapasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Djadi f 5000 boeat itoe doea roepa barang?” kata Joeooef dengen keroetken djidat, „Ach! Marsina, belon brapa lama akoe soeda beliken kaoe sapasang giwang dan peniti taboer, boeat apa beli lagi?”
„Ja, tapi toean beli terlaloe ketjil,” sahoet Marsina sembari oendjoek ia poenija tingka jang aleman.
„Akoe tida bisa beliken kaoe itoe barang-barang jang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kaloe kaoe maoe djoega, biarlah samoea barang-barang moe didjoeal doeloe dan oewangnja boeat beli itoe doea roepa barang, sakoerangnja akoe tamba.” „Saja tida maoe begitoe,“ kata Marsina dengen tjemberoet. „Salaennja begitoe, saja poenja doea tjtntjin dan doea gelang soeda digade.”
„Ha?” kata Joesoef dengen moeloet terboeka. „Kaoe bikin apa sama oewangnja, dan kaoe boewang kamana oewang jang akoe kasi saban boelan?“
Marsina tida menjaoet, ia takoet bilang jang saban hari ia ada berdjoedi besar sama njonja-njonja Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef oelangken kombali pertanjannja jang tadi, sedeng roepania kaliatan marah. Achir-achir Marsina mengakoe djoega dengen kasi alesan bahoea lantaran kaloe siang tida betah tinggal di roemah, djadi ia tjari hiboeran dengen doedoek berdjoedi di roemak-roemahnja orang Tionghoa.
„Moelai dari ini hari kaoe tida boleh berdjoedi lagi,” kata Joesoef sembari mengantjem.
Tjoeatja soeda moelai gelap, lampoe-lampoe laloe dipasang. Njonja Lerroi jang liat barangnja bakal tida dibeli, sigra permisi poelang. Marsina kaliatan tida senang hati sama toeannja, ia masoek ka kamar dan moelai menangis. Joesoef djadi kesel, ia doedoek di serambi belakang roemahnja dengen toendjang djanggoet. Ia inget brapa riboe oewangnja soeda kaloear boeat Marsina, tetapi itoe samoea tentoe ia tida boeat seselan kaloe dipake saharoesnja oleh ia poenja kekasih jang ia tjinta sagenap hati, tapi Marsina soeda boewang itoe oewang dalem djoedi, inilah jang bikin ia menjesel, dan lebih bikin ia doeka kaloe ia pikirken apakah Marsina bisa boewang kasoekaannja sama djoedi.
Tjoeatja jang gelap sekarang moelai diadi terang oleh sinarnja boelan jang gilang-goemilang, sedeng angin ada menioep dengen perlahan pada poehoen-poehoen boengah sembari bawa terbang haroemnja boengah-boengah itoe ka lobang idoengnja Joesoef, tapi dia ini jang lagi kesel, tida dapet endoesin kasedepan itoe.
Pintoe pekarangan di loear ada diboeka dan di toetoep lagi dengen tida bersoeara oleh satoe orang lelaki jang memake tjelana koetoeng dan badjoe tombeng. Ia berdjalan dengen perlahan di samping roemah sampe di serambi belakang.
„Toean Said,“ kata orang itoe.
Joesoef terprandjat.
„Siapa kaoe.“
„Saja, toean,” sahoet itoe orang sembari madjoeken dirinja dari tempat gelap ka tempat terang.
„Ali?” tanja Joesoef.
„Betoel, toean.”
„Ada apa dateng malem-malem.”
„Ada sedikit oeroesan toean.”
„Mari sini, oeroesan apa?” „Saja permisi maoe tanja toean, apa boenjinja ini soerat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahken satoe goeloeng kaen toewa jang dilepit dengen rapi.
„Soerat apa ini?” tanja Joesoef sembari boeka itoe goeloengan.
„Saja koerang taoce, toean,” sahoet Ali. „Tapi saja taksir ada soerat djlmat. Saja kapingin taoe apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
jwf2vnu74v5fs45y2oyz9xwu5afb0rb
120304
120298
2026-09-27T05:20:36Z
Mengsky
41602
120304
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia poenja kalojaran dalem hal memake oewang, soeda bikin ia dapet banjak sobat disana-sini. Begitoelah dengen perantaraannja ia poenja sala satoe sobat di Bandoeng, Joesoef telah berkenalan sama satoe prampoean latjoer bekas anak komedie bangsawan.
Marsina moesti dipoedji ada satoe prampoean tjantik. Warna koelitnia, sebagimana kabanjakan ada pada prampoean-prampoean Preanger, ada poetih djerni. Marsina baroe beroemoer kira-kira 22 taon, badannja montok, pinggangnja langsing, ramboetnja gemoek, ditambahken dengen sedikit poni jang membikin tampang moekanja djadi lebih ellok. Sapasang alisnja ada item, sedeng jang tida terlaloe besar, tetapi tadjem, adan mempoenjai sorot jang menarik hati. Moeloetnja ada sedikit djeding, satoe pengasih natuur jang bawa peroentoengan bagoes pada ini prampoean, tetapi djoega membawa sifat djahat dalem hatinja. Sasoeatoe lelaki nanti merasa terhiboer bila dapet liat mesem atawa tertawanja ini prampoean, apa poela denger ia poenja soeara tertawa jang lemah lemboet.
Marsina tida tampik lagi aken dipiara oleh Joesoef, sebab salaennja Joesoef sendiri ada satoe anak moeda jang tjakep, koelitnja poetih, tida seperti ajahnja jang item, dandanannja perlente, djoega tangannja Joesoef ada terlepas, sebab ia poen, dengen harta peninggalan ajahnja, ada tjoekoep hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini prampoean, tetapi ia bingoeng djoega waktoe ia maoe pindahken prampoean ini ka Betawi. Ia ada poenja bebrapa roemah sewaan di kampoeng Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitoe ada terkenal sebagi kampoengnia orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentoe merasa tida senang hati bila dapet taoe Joesoef ada piara satoe prampoean Melajoe dan bekas djalang di Bandoeng. Salaennja begitoe, orang taoe djoega Joesoef ada poenja istri kawin dari toeroenan jang terhormat, dari istri mana Joesoef soeda dapet doea anak. Joesoef ada terantjem aken bisa dipisaken dari pergaoelan orang-orang Arab jang terhormat. Ia poenja nama jang terindah sebagi toeroenan Said sedjati aken tida di-indahken lagi. Dari sebab begitoe, Joesoef maoe perhoeboengannja sama Marsina tinggal resia. Beroentoeng ia dapetken itoe roemah di Mangga Doea, satoe tempat sepi. Joesoef poenja pergi dan dateng di itoe roemah djarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belon perna brentiken autonja di depan pekarangan, selamanja dimasoeken ka dalem dan pintoe pekarangan laloe di toetoep lagi.
Pada soeatoe hari Minggoe, tatkala matahari ampir silam di Koelon, Joesoef ada dateng dengen autonja. Marsina tida samboet Joesoef di tangga roemah.
Di dalem Joesoef dapetken Marsina sedeng doedoek beromong-omong sama satoe njonja Europa, soedagar barang mas-inten.
„Kabetoelan toean dateng,“ kata Marsina sembari bangoen, „ini njonja Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-baranng bagoes jang tokonja baroe trima, dari Europa. Saja sedeng tawar ia poenja sapasang giwang brilliant dan satoe peniti taboer. ...“
„Brapa harganja?“ tanja Joesoef dengen tjepet.
„Tida mahal toean,” kata njonja Lerroi. „ini sapasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Djadi f 5000 boeat itoe doea roepa barang?” kata Joeooef dengen keroetken djidat, „Ach! Marsina, belon brapa lama akoe soeda beliken kaoe sapasang giwang dan peniti taboer, boeat apa beli lagi?”
„Ja, tapi toean beli terlaloe ketjil,” sahoet Marsina sembari oendjoek ia poenija tingka jang aleman.
„Akoe tida bisa beliken kaoe itoe barang-barang jang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kaloe kaoe maoe djoega, biarlah samoea barang-barang moe didjoeal doeloe dan oewangnja boeat beli itoe doea roepa barang, sakoerangnja akoe tamba.” „Saja tida maoe begitoe,“ kata Marsina dengen tjemberoet. „Salaennja begitoe, saja poenja doea tjtntjin dan doea gelang soeda digade.”
„Ha?” kata Joesoef dengen moeloet terboeka. „Kaoe bikin apa sama oewangnja, dan kaoe boewang kamana oewang jang akoe kasi saban boelan?“
Marsina tida menjaoet, ia takoet bilang jang saban hari ia ada berdjoedi besar sama njonja-njonja Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef oelangken kombali pertanjannja jang tadi, sedeng roepania kaliatan marah. Achir-achir Marsina mengakoe djoega dengen kasi alesan bahoea lantaran kaloe siang tida betah tinggal di roemah, djadi ia tjari hiboeran dengen doedoek berdjoedi di roemak-roemahnja orang Tionghoa.
„Moelai dari ini hari kaoe tida boleh berdjoedi lagi,” kata Joesoef sembari mengantjem.
Tjoeatja soeda moelai gelap, lampoe-lampoe laloe dipasang. Njonja Lerroi jang liat barangnja bakal tida dibeli, sigra permisi poelang. Marsina kaliatan tida senang hati sama toeannja, ia masoek ka kamar dan moelai menangis. Joesoef djadi kesel, ia doedoek di serambi belakang roemahnja dengen toendjang djanggoet. Ia inget brapa riboe oewangnja soeda kaloear boeat Marsina, tetapi itoe samoea tentoe ia tida boeat seselan kaloe dipake saharoesnja oleh ia poenja kekasih jang ia tjinta sagenap hati, tapi Marsina soeda boewang itoe oewang dalem djoedi, inilah jang bikin ia menjesel, dan lebih bikin ia doeka kaloe ia pikirken apakah Marsina bisa boewang kasoekaannja sama djoedi.
Tjoeatja jang gelap sekarang moelai diadi terang oleh sinarnja boelan jang gilang-goemilang, sedeng angin ada menioep dengen perlahan pada poehoen-poehoen boengah sembari bawa terbang haroemnja boengah-boengah itoe ka lobang idoengnja Joesoef, tapi dia ini jang lagi kesel, tida dapet endoesin kasedepan itoe.
Pintoe pekarangan di loear ada diboeka dan di toetoep lagi dengen tida bersoeara oleh satoe orang lelaki jang memake tjelana koetoeng dan badjoe tombeng. Ia berdjalan dengen perlahan di samping roemah sampe di serambi belakang.
„Toean Said,“ kata orang itoe.
Joesoef terprandjat.
„Siapa kaoe.“
„Saja, toean,” sahoet itoe orang sembari madjoeken dirinja dari tempat gelap ka tempat terang.
„Ali?” tanja Joesoef.
„Betoel, toean.”
„Ada apa dateng malem-malem.”
„Ada sedikit oeroesan toean.”
„Mari sini, oeroesan apa?” „Saja permisi maoe tanja toean, apa boenjinja ini soerat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahken satoe goeloeng kaen toewa jang dilepit dengen rapi.
„Soerat apa ini?” tanja Joesoef sembari boeka itoe goeloengan.
„Saja koerang taoce, toean,” sahoet Ali. „Tapi saja taksir ada soerat djlmat. Saja kapingin taoe apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
l10wmragc8tbr6we55o90kyxz89d7ry
120309
120304
2026-09-27T05:44:01Z
Mengsky
41602
120309
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia punya kelonggaran dalam hal memakai uang, sudah bikin ia dapet banyak sobat di sana-sini. Begitulah dengan perantaraannya ia punya salah satu sobat di Bandung, Joesoef telah berkenalan sama satu perempuan lacur bekas anak komedi bangsawan.
Marsina musti dipuji ada satu perempuan cantik. Warna kulitnya, sebagaimana kebanyakan ada pada perempuan-perempuan Preanger, ada putih djerni. Marsina baru berumur kira-kira 22 tahun, badannya montok, pinggangnya langsing, rambutnya gemuk, ditambahkan dengen sedikit poni yang membikin tampang mukanya jadi lebih elok. Sapasang alisnya ada item, sedang yang tidak terlalu besar, tetapi tajam, dan mempoenyai sorot yang menarik hati. Mulutnya ada sedikit djeding, satu pengasih natural yang bawa peruntungan bagus pada ini perempuan, tetapi duga membawa sifat jahat dalem hatinya. Sesuatu lelaki nanti merasa terhibur bila dapet lihat mesem atau tertawanya ini perempuan, apa pula denger ia punya suara tertawa yang lemah lembut.
Marsina tidak tampik lagi aken dipelihara oleh Joesoef, sebab selaennya Joesoef sendiri ada satu anak muda yang cakep, kulitnya putih, tidak seperti ayahnya yang hitam, dandanannya perlente, juga tangannya Joesoef ada terlepas, sebab ia pun, dengen harta peninggalan ayahnjy, ada cukup hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini prampoean, tetapi ia bingoeng djoega waktoe ia maoe pindahken prampoean ini ka Betawi. Ia ada poenja bebrapa roemah sewaan di kampoeng Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitoe ada terkenal sebagi kampoengnia orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentoe merasa tida senang hati bila dapet taoe Joesoef ada piara satoe prampoean Melajoe dan bekas djalang di Bandoeng. Salaennja begitoe, orang taoe djoega Joesoef ada poenja istri kawin dari toeroenan jang terhormat, dari istri mana Joesoef soeda dapet doea anak. Joesoef ada terantjem aken bisa dipisaken dari pergaoelan orang-orang Arab jang terhormat. Ia poenja nama jang terindah sebagi toeroenan Said sedjati aken tida di-indahken lagi. Dari sebab begitoe, Joesoef maoe perhoeboengannja sama Marsina tinggal resia. Beroentoeng ia dapetken itoe roemah di Mangga Doea, satoe tempat sepi. Joesoef poenja pergi dan dateng di itoe roemah djarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belon perna brentiken autonja di depan pekarangan, selamanja dimasoeken ka dalem dan pintoe pekarangan laloe di toetoep lagi.
Pada soeatoe hari Minggoe, tatkala matahari ampir silam di Koelon, Joesoef ada dateng dengen autonja. Marsina tida samboet Joesoef di tangga roemah.
Di dalem Joesoef dapetken Marsina sedeng doedoek beromong-omong sama satoe njonja Europa, soedagar barang mas-inten.
„Kabetoelan toean dateng,“ kata Marsina sembari bangoen, „ini njonja Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-baranng bagoes jang tokonja baroe trima, dari Europa. Saja sedeng tawar ia poenja sapasang giwang brilliant dan satoe peniti taboer. ...“
„Brapa harganja?“ tanja Joesoef dengen tjepet.
„Tida mahal toean,” kata njonja Lerroi. „ini sapasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Djadi f 5000 boeat itoe doea roepa barang?” kata Joeooef dengen keroetken djidat, „Ach! Marsina, belon brapa lama akoe soeda beliken kaoe sapasang giwang dan peniti taboer, boeat apa beli lagi?”
„Ja, tapi toean beli terlaloe ketjil,” sahoet Marsina sembari oendjoek ia poenija tingka jang aleman.
„Akoe tida bisa beliken kaoe itoe barang-barang jang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kaloe kaoe maoe djoega, biarlah samoea barang-barang moe didjoeal doeloe dan oewangnja boeat beli itoe doea roepa barang, sakoerangnja akoe tamba.” „Saja tida maoe begitoe,“ kata Marsina dengen tjemberoet. „Salaennja begitoe, saja poenja doea tjtntjin dan doea gelang soeda digade.”
„Ha?” kata Joesoef dengen moeloet terboeka. „Kaoe bikin apa sama oewangnja, dan kaoe boewang kamana oewang jang akoe kasi saban boelan?“
Marsina tida menjaoet, ia takoet bilang jang saban hari ia ada berdjoedi besar sama njonja-njonja Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef oelangken kombali pertanjannja jang tadi, sedeng roepania kaliatan marah. Achir-achir Marsina mengakoe djoega dengen kasi alesan bahoea lantaran kaloe siang tida betah tinggal di roemah, djadi ia tjari hiboeran dengen doedoek berdjoedi di roemak-roemahnja orang Tionghoa.
„Moelai dari ini hari kaoe tida boleh berdjoedi lagi,” kata Joesoef sembari mengantjem.
Tjoeatja soeda moelai gelap, lampoe-lampoe laloe dipasang. Njonja Lerroi jang liat barangnja bakal tida dibeli, sigra permisi poelang. Marsina kaliatan tida senang hati sama toeannja, ia masoek ka kamar dan moelai menangis. Joesoef djadi kesel, ia doedoek di serambi belakang roemahnja dengen toendjang djanggoet. Ia inget brapa riboe oewangnja soeda kaloear boeat Marsina, tetapi itoe samoea tentoe ia tida boeat seselan kaloe dipake saharoesnja oleh ia poenja kekasih jang ia tjinta sagenap hati, tapi Marsina soeda boewang itoe oewang dalem djoedi, inilah jang bikin ia menjesel, dan lebih bikin ia doeka kaloe ia pikirken apakah Marsina bisa boewang kasoekaannja sama djoedi.
Tjoeatja jang gelap sekarang moelai diadi terang oleh sinarnja boelan jang gilang-goemilang, sedeng angin ada menioep dengen perlahan pada poehoen-poehoen boengah sembari bawa terbang haroemnja boengah-boengah itoe ka lobang idoengnja Joesoef, tapi dia ini jang lagi kesel, tida dapet endoesin kasedepan itoe.
Pintoe pekarangan di loear ada diboeka dan di toetoep lagi dengen tida bersoeara oleh satoe orang lelaki jang memake tjelana koetoeng dan badjoe tombeng. Ia berdjalan dengen perlahan di samping roemah sampe di serambi belakang.
„Toean Said,“ kata orang itoe.
Joesoef terprandjat.
„Siapa kaoe.“
„Saja, toean,” sahoet itoe orang sembari madjoeken dirinja dari tempat gelap ka tempat terang.
„Ali?” tanja Joesoef.
„Betoel, toean.”
„Ada apa dateng malem-malem.”
„Ada sedikit oeroesan toean.”
„Mari sini, oeroesan apa?” „Saja permisi maoe tanja toean, apa boenjinja ini soerat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahken satoe goeloeng kaen toewa jang dilepit dengen rapi.
„Soerat apa ini?” tanja Joesoef sembari boeka itoe goeloengan.
„Saja koerang taoce, toean,” sahoet Ali. „Tapi saja taksir ada soerat djlmat. Saja kapingin taoe apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
f3bkk4t7cwrfdzev75zeioc3ak7lltk
120316
120309
2026-09-27T05:50:27Z
Mengsky
41602
120316
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia punya kelonggaran dalam hal memakai uang, sudah bikin ia dapet banyak sobat di sana-sini. Begitulah dengan perantaraannya ia punya salah satu sobat di Bandung, Joesoef telah berkenalan sama satu perempuan lacur bekas anak komedi bangsawan.
Marsina musti dipuji ada satu perempuan cantik. Warna kulitnya, sebagaimana kebanyakan ada pada perempuan-perempuan Preanger, ada putih djerni. Marsina baru berumur kira-kira 22 tahun, badannya montok, pinggangnya langsing, rambutnya gemuk, ditambahkan dengen sedikit poni yang membikin tampang mukanya jadi lebih elok. Sapasang alisnya ada item, sedang yang tidak terlalu besar, tetapi tajam, dan mempoenyai sorot yang menarik hati. Mulutnya ada sedikit djeding, satu pengasih natural yang bawa peruntungan bagus pada ini perempuan, tetapi duga membawa sifat jahat dalem hatinya. Sesuatu lelaki nanti merasa terhibur bila dapet lihat mesem atau tertawanya ini perempuan, apa pula denger ia punya suara tertawa yang lemah lembut.
Marsina tidak tampik lagi aken dipelihara oleh Joesoef, sebab selaennya Joesoef sendiri ada satu anak muda yang cakep, kulitnya putih, tidak seperti ayahnya yang hitam, dandanannya perlente, juga tangannya Joesoef ada terlepas, sebab ia pun, dengen harta peninggalan ayahnjy, ada cukup hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini perempuan, tetapi ia bingung juga waktu ia mau pindahkan perempuan ini ke Betawi. Ia ada punya beberapa rumah sewaan di kampung Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitu ada terkenal sebagi kampungnya orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentu merasa tidak senang hati bila dapet tahu Joesoef ada mempelihara satu perempuan Melayu dan bekas jalang di Bandung. Selaennya begitu, orang tahu juga Joesoef ada punya istri kawin dari turunan yang terhormat, dari istri mana Joesoef sudah dapet dua anak. Joesoef ada terancam akan bisa dipisahkan dari pergaulan orang-orang Arab yang terhormat. Ia punya nama yang terindah sebagai turunan Said sejati akan tidak di-indahken lagi. Dari sebab begitu, Joesoef mau perhubungannya sama Marsina tinggal rahasia. Beruntung ia dapatkan itu rumah di Mangga Dua, satu tempat sepi. Joesoef punya pergi dan dateng di itu rumah jarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belum pernah berhentikan autonya di depan pekarangan, selamanya dimasukan ke dalam dan pintu pekarangan lalu di tutup lagi.
Pada soeatoe hari Minggoe, tatkala matahari ampir silam di Koelon, Joesoef ada dateng dengen autonja. Marsina tida samboet Joesoef di tangga roemah.
Di dalem Joesoef dapetken Marsina sedeng doedoek beromong-omong sama satoe njonja Europa, soedagar barang mas-inten.
„Kabetoelan toean dateng,“ kata Marsina sembari bangoen, „ini njonja Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-baranng bagoes jang tokonja baroe trima, dari Europa. Saja sedeng tawar ia poenja sapasang giwang brilliant dan satoe peniti taboer. ...“
„Brapa harganja?“ tanja Joesoef dengen tjepet.
„Tida mahal toean,” kata njonja Lerroi. „ini sapasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Djadi f 5000 boeat itoe doea roepa barang?” kata Joeooef dengen keroetken djidat, „Ach! Marsina, belon brapa lama akoe soeda beliken kaoe sapasang giwang dan peniti taboer, boeat apa beli lagi?”
„Ja, tapi toean beli terlaloe ketjil,” sahoet Marsina sembari oendjoek ia poenija tingka jang aleman.
„Akoe tida bisa beliken kaoe itoe barang-barang jang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kaloe kaoe maoe djoega, biarlah samoea barang-barang moe didjoeal doeloe dan oewangnja boeat beli itoe doea roepa barang, sakoerangnja akoe tamba.” „Saja tida maoe begitoe,“ kata Marsina dengen tjemberoet. „Salaennja begitoe, saja poenja doea tjtntjin dan doea gelang soeda digade.”
„Ha?” kata Joesoef dengen moeloet terboeka. „Kaoe bikin apa sama oewangnja, dan kaoe boewang kamana oewang jang akoe kasi saban boelan?“
Marsina tida menjaoet, ia takoet bilang jang saban hari ia ada berdjoedi besar sama njonja-njonja Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef oelangken kombali pertanjannja jang tadi, sedeng roepania kaliatan marah. Achir-achir Marsina mengakoe djoega dengen kasi alesan bahoea lantaran kaloe siang tida betah tinggal di roemah, djadi ia tjari hiboeran dengen doedoek berdjoedi di roemak-roemahnja orang Tionghoa.
„Moelai dari ini hari kaoe tida boleh berdjoedi lagi,” kata Joesoef sembari mengantjem.
Tjoeatja soeda moelai gelap, lampoe-lampoe laloe dipasang. Njonja Lerroi jang liat barangnja bakal tida dibeli, sigra permisi poelang. Marsina kaliatan tida senang hati sama toeannja, ia masoek ka kamar dan moelai menangis. Joesoef djadi kesel, ia doedoek di serambi belakang roemahnja dengen toendjang djanggoet. Ia inget brapa riboe oewangnja soeda kaloear boeat Marsina, tetapi itoe samoea tentoe ia tida boeat seselan kaloe dipake saharoesnja oleh ia poenja kekasih jang ia tjinta sagenap hati, tapi Marsina soeda boewang itoe oewang dalem djoedi, inilah jang bikin ia menjesel, dan lebih bikin ia doeka kaloe ia pikirken apakah Marsina bisa boewang kasoekaannja sama djoedi.
Tjoeatja jang gelap sekarang moelai diadi terang oleh sinarnja boelan jang gilang-goemilang, sedeng angin ada menioep dengen perlahan pada poehoen-poehoen boengah sembari bawa terbang haroemnja boengah-boengah itoe ka lobang idoengnja Joesoef, tapi dia ini jang lagi kesel, tida dapet endoesin kasedepan itoe.
Pintoe pekarangan di loear ada diboeka dan di toetoep lagi dengen tida bersoeara oleh satoe orang lelaki jang memake tjelana koetoeng dan badjoe tombeng. Ia berdjalan dengen perlahan di samping roemah sampe di serambi belakang.
„Toean Said,“ kata orang itoe.
Joesoef terprandjat.
„Siapa kaoe.“
„Saja, toean,” sahoet itoe orang sembari madjoeken dirinja dari tempat gelap ka tempat terang.
„Ali?” tanja Joesoef.
„Betoel, toean.”
„Ada apa dateng malem-malem.”
„Ada sedikit oeroesan toean.”
„Mari sini, oeroesan apa?” „Saja permisi maoe tanja toean, apa boenjinja ini soerat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahken satoe goeloeng kaen toewa jang dilepit dengen rapi.
„Soerat apa ini?” tanja Joesoef sembari boeka itoe goeloengan.
„Saja koerang taoce, toean,” sahoet Ali. „Tapi saja taksir ada soerat djlmat. Saja kapingin taoe apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
rt61tyvqwktawnbb2hplzefjzyc0r9l
120322
120316
2026-09-27T06:13:29Z
Mengsky
41602
120322
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia punya kelonggaran dalam hal memakai uang, sudah bikin ia dapet banyak sobat di sana-sini. Begitulah dengan perantaraannya ia punya salah satu sobat di Bandung, Joesoef telah berkenalan sama satu perempuan lacur bekas anak komedi bangsawan.
Marsina musti dipuji ada satu perempuan cantik. Warna kulitnya, sebagaimana kebanyakan ada pada perempuan-perempuan Preanger, ada putih djerni. Marsina baru berumur kira-kira 22 tahun, badannya montok, pinggangnya langsing, rambutnya gemuk, ditambahkan dengen sedikit poni yang membikin tampang mukanya jadi lebih elok. Sapasang alisnya ada item, sedang yang tidak terlalu besar, tetapi tajam, dan mempoenyai sorot yang menarik hati. Mulutnya ada sedikit djeding, satu pengasih natural yang bawa peruntungan bagus pada ini perempuan, tetapi duga membawa sifat jahat dalem hatinya. Sesuatu lelaki nanti merasa terhibur bila dapet lihat mesem atau tertawanya ini perempuan, apa pula denger ia punya suara tertawa yang lemah lembut.
Marsina tidak tampik lagi aken dipelihara oleh Joesoef, sebab selaennya Joesoef sendiri ada satu anak muda yang cakep, kulitnya putih, tidak seperti ayahnya yang hitam, dandanannya perlente, juga tangannya Joesoef ada terlepas, sebab ia pun, dengen harta peninggalan ayahnjya, ada cukup hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini perempuan, tetapi ia bingung juga waktu ia mau pindahkan perempuan ini ke Betawi. Ia ada punya beberapa rumah sewaan di kampung Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitu ada terkenal sebagi kampungnya orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentu merasa tidak senang hati bila dapet tahu Joesoef ada mempelihara satu perempuan Melayu dan bekas jalang di Bandung. Selaennya begitu, orang tahu juga Joesoef ada punya istri kawin dari turunan yang terhormat, dari istri mana Joesoef sudah dapet dua anak. Joesoef ada terancam akan bisa dipisahkan dari pergaulan orang-orang Arab yang terhormat. Ia punya nama yang terindah sebagai turunan Said sejati akan tidak di-indahken lagi. Dari sebab begitu, Joesoef mau perhubungannya sama Marsina tinggal rahasia. Beruntung ia dapatkan itu rumah di Mangga Dua, satu tempat sepi. Joesoef punya pergi dan dateng di itu rumah jarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belum pernah berhentikan autonya di depan pekarangan, selamanya dimasukan ke dalam dan pintu pekarangan lalu di tutup lagi.
Pada suatu hari Minggu, tatkala matahari hampir silam di Koelon, Joesoef ada datang dengen autonya. Marsina tidak sambut Joesoef di tangga rumah.
Di dalam Joesoef dapetkan Marsina sedeng duduk beromong-omong sama satu nyonya Eropa, saudagar barang mas-intan.
„Kebetulan tuan datang,“ kata Marsina sembari bangun, „ini nyonya Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-barang bagus yang tokonya baru terima, dari Eropa. Saya sedang tawar ia punya sepasang giwang brilliant dan satu peniti tabur. ...“
„Brapa harganya?“ tanya Joesoef dengen cepat.
„Tidak mahal tuan,” kata nyonya Lerroi. „ini sepasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Jadi f 5000 buat itu dua rupa barang?” kata Joeooef dengen kerutkan jidat, „Ach! Marsina, belom berapa lama aku sudah belikan kau sepasang giwang dan peniti tabur, buat apa beli lagi?”
„Ja, tapi tuan beli terlalu ketcil,” sahut Marsina sembari unjuk ia puniya tingka yang aleman.
Aku tidak bisa belikan kau itu barang-barang yang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kalau kau mau juga, biarlah sampe barang-barang mu dijual dulu dan uwangnya buat beli itu dua rupa barang, sekurangnya aku tambah.” „Saya tidak mau begitu,“ kata Marsina dengan cemberut. „Selaennya begitu, saja punya dua cincin dan dua gelang sudah digadai.”
„Ha?” kata Joesoef dengan mulut terbuka. „Kau bikin apa sama uwangnya, dan kau buang kemana uang jang aku kasih saban bulan?“
Marsina tidak menjaut, ia takut bilang yang saban hari ia ada berjudi besar sama nyonya-nyonya Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef pulangken kombali pertanjannja jang tadi, sedeng roepania kaliatan marah. Achir-achir Marsina mengakoe djoega dengen kasi alesan bahoea lantaran kaloe siang tida betah tinggal di roemah, djadi ia tjari hiboeran dengen doedoek berdjoedi di roemak-roemahnja orang Tionghoa.
„Moelai dari ini hari kaoe tida boleh berdjoedi lagi,” kata Joesoef sembari mengantjem.
Tjoeatja soeda moelai gelap, lampoe-lampoe laloe dipasang. Njonja Lerroi jang liat barangnja bakal tida dibeli, sigra permisi poelang. Marsina kaliatan tida senang hati sama toeannja, ia masoek ka kamar dan moelai menangis. Joesoef djadi kesel, ia doedoek di serambi belakang roemahnja dengen toendjang djanggoet. Ia inget brapa riboe oewangnja soeda kaloear boeat Marsina, tetapi itoe samoea tentoe ia tida boeat seselan kaloe dipake saharoesnja oleh ia poenja kekasih jang ia tjinta sagenap hati, tapi Marsina soeda boewang itoe oewang dalem djoedi, inilah jang bikin ia menjesel, dan lebih bikin ia doeka kaloe ia pikirken apakah Marsina bisa boewang kasoekaannja sama djoedi.
Tjoeatja jang gelap sekarang moelai diadi terang oleh sinarnja boelan jang gilang-goemilang, sedeng angin ada menioep dengen perlahan pada poehoen-poehoen boengah sembari bawa terbang haroemnja boengah-boengah itoe ka lobang idoengnja Joesoef, tapi dia ini jang lagi kesel, tida dapet endoesin kasedepan itoe.
Pintoe pekarangan di loear ada diboeka dan di toetoep lagi dengen tida bersoeara oleh satoe orang lelaki jang memake tjelana koetoeng dan badjoe tombeng. Ia berdjalan dengen perlahan di samping roemah sampe di serambi belakang.
„Toean Said,“ kata orang itoe.
Joesoef terprandjat.
„Siapa kaoe.“
„Saja, toean,” sahoet itoe orang sembari madjoeken dirinja dari tempat gelap ka tempat terang.
„Ali?” tanja Joesoef.
„Betoel, toean.”
„Ada apa dateng malem-malem.”
„Ada sedikit oeroesan toean.”
„Mari sini, oeroesan apa?” „Saja permisi maoe tanja toean, apa boenjinja ini soerat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahken satoe goeloeng kaen toewa jang dilepit dengen rapi.
„Soerat apa ini?” tanja Joesoef sembari boeka itoe goeloengan.
„Saja koerang taoce, toean,” sahoet Ali. „Tapi saja taksir ada soerat djlmat. Saja kapingin taoe apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
qwj3afpbzvui02gc9hsnpez85dvlmp0
120323
120322
2026-09-27T06:21:33Z
Mengsky
41602
120323
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia punya kelonggaran dalam hal memakai uang, sudah bikin ia dapet banyak sobat di sana-sini. Begitulah dengan perantaraannya ia punya salah satu sobat di Bandung, Joesoef telah berkenalan sama satu perempuan lacur bekas anak komedi bangsawan.
Marsina musti dipuji ada satu perempuan cantik. Warna kulitnya, sebagaimana kebanyakan ada pada perempuan-perempuan Preanger, ada putih djerni. Marsina baru berumur kira-kira 22 tahun, badannya montok, pinggangnya langsing, rambutnya gemuk, ditambahkan dengen sedikit poni yang membikin tampang mukanya jadi lebih elok. Sapasang alisnya ada item, sedang yang tidak terlalu besar, tetapi tajam, dan mempoenyai sorot yang menarik hati. Mulutnya ada sedikit djeding, satu pengasih natural yang bawa peruntungan bagus pada ini perempuan, tetapi duga membawa sifat jahat dalem hatinya. Sesuatu lelaki nanti merasa terhibur bila dapet lihat mesem atau tertawanya ini perempuan, apa pula denger ia punya suara tertawa yang lemah lembut.
Marsina tidak tampik lagi aken dipelihara oleh Joesoef, sebab selaennya Joesoef sendiri ada satu anak muda yang cakep, kulitnya putih, tidak seperti ayahnya yang hitam, dandanannya perlente, juga tangannya Joesoef ada terlepas, sebab ia pun, dengen harta peninggalan ayahnjya, ada cukup hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini perempuan, tetapi ia bingung juga waktu ia mau pindahkan perempuan ini ke Betawi. Ia ada punya beberapa rumah sewaan di kampung Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitu ada terkenal sebagi kampungnya orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentu merasa tidak senang hati bila dapet tahu Joesoef ada mempelihara satu perempuan Melayu dan bekas jalang di Bandung. Selaennya begitu, orang tahu juga Joesoef ada punya istri kawin dari turunan yang terhormat, dari istri mana Joesoef sudah dapet dua anak. Joesoef ada terancam akan bisa dipisahkan dari pergaulan orang-orang Arab yang terhormat. Ia punya nama yang terindah sebagai turunan Said sejati akan tidak di-indahken lagi. Dari sebab begitu, Joesoef mau perhubungannya sama Marsina tinggal rahasia. Beruntung ia dapatkan itu rumah di Mangga Dua, satu tempat sepi. Joesoef punya pergi dan dateng di itu rumah jarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belum pernah berhentikan autonya di depan pekarangan, selamanya dimasukan ke dalam dan pintu pekarangan lalu di tutup lagi.
Pada suatu hari Minggu, tatkala matahari hampir silam di Koelon, Joesoef ada datang dengen autonya. Marsina tidak sambut Joesoef di tangga rumah.
Di dalam Joesoef dapetkan Marsina sedeng duduk beromong-omong sama satu nyonya Eropa, saudagar barang mas-intan.
„Kebetulan tuan datang,“ kata Marsina sembari bangun, „ini nyonya Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-barang bagus yang tokonya baru terima, dari Eropa. Saya sedang tawar ia punya sepasang giwang brilliant dan satu peniti tabur. ...“
„Brapa harganya?“ tanya Joesoef dengen cepat.
„Tidak mahal tuan,” kata nyonya Lerroi. „ini sepasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Jadi f 5000 buat itu dua rupa barang?” kata Joeooef dengen kerutkan jidat, „Ach! Marsina, belom berapa lama aku sudah belikan kau sepasang giwang dan peniti tabur, buat apa beli lagi?”
„Ja, tapi tuan beli terlalu ketcil,” sahut Marsina sembari unjuk ia puniya tingka yang aleman.
Aku tidak bisa belikan kau itu barang-barang yang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kalau kau mau juga, biarlah sampe barang-barang mu dijual dulu dan uwangnya buat beli itu dua rupa barang, sekurangnya aku tambah.” „Saya tidak mau begitu,“ kata Marsina dengan cemberut. „Selaennya begitu, saja punya dua cincin dan dua gelang sudah digadai.”
„Ha?” kata Joesoef dengan mulut terbuka. „Kau bikin apa sama uwangnya, dan kau buang kemana uang jang aku kasih saban bulan?“
Marsina tidak menjaut, ia takut bilang yang saban hari ia ada berjudi besar sama nyonya-nyonya Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef pulangkan kembali pertanyannya yang tadi, sedang rupanya kelihatan marah. Akhir-akhir Marsina mengaku juga dengan kasih alasan bahwa lantaran kalau siang tidak betah tinggal di rumah, jadi ia cari hiburan dengan duduk berjudi di rumah-rumahnya orang Tionghoa.
„Mulai dari ini hari kau tidak boleh berjudi lagi,” kata Joesoef sembari mengancam.
Cuaca sudah mulai gelap, lampu-lampu lalu dipasang. Nyonya Lerroi yang liat barangnya bakal tidak dibeli, sigra permisi pulang. Marsina keliatan tidak senang hati sama tuannya, ia masuk ke kamar dan mulai menangis. Joesoef jadi kesel, ia duduk di serambi belakang rumahnya dengen tunjang janggoet. Ia inget brapa riboe oewangnja soeda kaloear boeat Marsina, tetapi itoe samoea tentoe ia tida boeat seselan kaloe dipake saharoesnja oleh ia poenja kekasih jang ia tjinta sagenap hati, tapi Marsina soeda boewang itoe oewang dalem djoedi, inilah jang bikin ia menjesel, dan lebih bikin ia doeka kaloe ia pikirken apakah Marsina bisa boewang kasoekaannja sama djoedi.
Tjoeatja jang gelap sekarang moelai diadi terang oleh sinarnja boelan jang gilang-goemilang, sedeng angin ada menioep dengen perlahan pada poehoen-poehoen boengah sembari bawa terbang haroemnja boengah-boengah itoe ka lobang idoengnja Joesoef, tapi dia ini jang lagi kesel, tida dapet endoesin kasedepan itoe.
Pintoe pekarangan di loear ada diboeka dan di toetoep lagi dengen tida bersoeara oleh satoe orang lelaki jang memake tjelana koetoeng dan badjoe tombeng. Ia berdjalan dengen perlahan di samping roemah sampe di serambi belakang.
„Toean Said,“ kata orang itoe.
Joesoef terprandjat.
„Siapa kaoe.“
„Saja, toean,” sahoet itoe orang sembari madjoeken dirinja dari tempat gelap ka tempat terang.
„Ali?” tanja Joesoef.
„Betoel, toean.”
„Ada apa dateng malem-malem.”
„Ada sedikit oeroesan toean.”
„Mari sini, oeroesan apa?” „Saja permisi maoe tanja toean, apa boenjinja ini soerat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahken satoe goeloeng kaen toewa jang dilepit dengen rapi.
„Soerat apa ini?” tanja Joesoef sembari boeka itoe goeloengan.
„Saja koerang taoce, toean,” sahoet Ali. „Tapi saja taksir ada soerat djlmat. Saja kapingin taoe apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
blchl0z1enq9etsuq38i52zmbilreg8
120328
120323
2026-09-27T07:10:39Z
Mengsky
41602
120328
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia punya kelonggaran dalam hal memakai uang, sudah bikin ia dapet banyak sobat di sana-sini. Begitulah dengan perantaraannya ia punya salah satu sobat di Bandung, Joesoef telah berkenalan sama satu perempuan lacur bekas anak komedi bangsawan.
Marsina musti dipuji ada satu perempuan cantik. Warna kulitnya, sebagaimana kebanyakan ada pada perempuan-perempuan Preanger, ada putih djerni. Marsina baru berumur kira-kira 22 tahun, badannya montok, pinggangnya langsing, rambutnya gemuk, ditambahkan dengen sedikit poni yang membikin tampang mukanya jadi lebih elok. Sapasang alisnya ada item, sedang yang tidak terlalu besar, tetapi tajam, dan mempoenyai sorot yang menarik hati. Mulutnya ada sedikit djeding, satu pengasih natural yang bawa peruntungan bagus pada ini perempuan, tetapi duga membawa sifat jahat dalem hatinya. Sesuatu lelaki nanti merasa terhibur bila dapet lihat mesem atau tertawanya ini perempuan, apa pula denger ia punya suara tertawa yang lemah lembut.
Marsina tidak tampik lagi aken dipelihara oleh Joesoef, sebab selaennya Joesoef sendiri ada satu anak muda yang cakep, kulitnya putih, tidak seperti ayahnya yang hitam, dandanannya perlente, juga tangannya Joesoef ada terlepas, sebab ia pun, dengen harta peninggalan ayahnjya, ada cukup hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini perempuan, tetapi ia bingung juga waktu ia mau pindahkan perempuan ini ke Betawi. Ia ada punya beberapa rumah sewaan di kampung Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitu ada terkenal sebagi kampungnya orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentu merasa tidak senang hati bila dapet tahu Joesoef ada mempelihara satu perempuan Melayu dan bekas jalang di Bandung. Selaennya begitu, orang tahu juga Joesoef ada punya istri kawin dari turunan yang terhormat, dari istri mana Joesoef sudah dapet dua anak. Joesoef ada terancam akan bisa dipisahkan dari pergaulan orang-orang Arab yang terhormat. Ia punya nama yang terindah sebagai turunan Said sejati akan tidak di-indahken lagi. Dari sebab begitu, Joesoef mau perhubungannya sama Marsina tinggal rahasia. Beruntung ia dapatkan itu rumah di Mangga Dua, satu tempat sepi. Joesoef punya pergi dan dateng di itu rumah jarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belum pernah berhentikan autonya di depan pekarangan, selamanya dimasukan ke dalam dan pintu pekarangan lalu di tutup lagi.
Pada suatu hari Minggu, tatkala matahari hampir silam di Koelon, Joesoef ada datang dengen autonya. Marsina tidak sambut Joesoef di tangga rumah.
Di dalam Joesoef dapetkan Marsina sedeng duduk beromong-omong sama satu nyonya Eropa, saudagar barang mas-intan.
„Kebetulan tuan datang,“ kata Marsina sembari bangun, „ini nyonya Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-barang bagus yang tokonya baru terima, dari Eropa. Saya sedang tawar ia punya sepasang giwang brilliant dan satu peniti tabur. ...“
„Brapa harganya?“ tanya Joesoef dengen cepat.
„Tidak mahal tuan,” kata nyonya Lerroi. „ini sepasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Jadi f 5000 buat itu dua rupa barang?” kata Joeooef dengen kerutkan jidat, „Ach! Marsina, belom berapa lama aku sudah belikan kau sepasang giwang dan peniti tabur, buat apa beli lagi?”
„Ja, tapi tuan beli terlalu ketcil,” sahut Marsina sembari unjuk ia puniya tingka yang aleman.
Aku tidak bisa belikan kau itu barang-barang yang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kalau kau mau juga, biarlah sampe barang-barang mu dijual dulu dan uwangnya buat beli itu dua rupa barang, sekurangnya aku tambah.” „Saya tidak mau begitu,“ kata Marsina dengan cemberut. „Selaennya begitu, saja punya dua cincin dan dua gelang sudah digadai.”
„Ha?” kata Joesoef dengan mulut terbuka. „Kau bikin apa sama uwangnya, dan kau buang kemana uang jang aku kasih saban bulan?“
Marsina tidak menjaut, ia takut bilang yang saban hari ia ada berjudi besar sama nyonya-nyonya Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef pulangkan kembali pertanyannya yang tadi, sedang rupanya kelihatan marah. Akhir-akhir Marsina mengaku juga dengan kasih alasan bahwa lantaran kalau siang tidak betah tinggal di rumah, jadi ia cari hiburan dengan duduk berjudi di rumah-rumahnya orang Tionghoa.
„Mulai dari ini hari kau tidak boleh berjudi lagi,” kata Joesoef sembari mengancam.
Cuaca sudah mulai gelap, lampu-lampu lalu dipasang. Nyonya Lerroi yang liat barangnya bakal tidak dibeli, sigra permisi pulang. Marsina keliatan tidak senang hati sama tuannya, ia masuk ke kamar dan mulai menangis. Joesoef jadi kesel, ia duduk di serambi belakang rumahnya dengen tunjang janggut. Ia ingat berapa ribu uangnya sudah keluar buat Marsina, tetapi itu sampai tentu ia tidak buat seselan kalau dipakai seharusnya oleh ia punya kekasih yang ia cinta segenap hati, tapi Marsina sudah buang itu uang dalam judi, inilah yang bikin ia menyesal, dan lebih bikin ia duka kalau ia pikirkan apakah Marsina bisa buang kesukaannya sama judi.
Cuaca yang gelap sekarang mulai jadi terang oleh sinarnya bulan yang gilang-gemilang, sedang angin ada meniup dengan perlahan ada pohon-pohon bunga sembari bawa terbang harumnya bunga-bunga itu ke lubang hidungnya Joesoef, tapi dia ini yang lagi kesel, tidak dapat endoesin kasedepan itu.
Pintu pekarangan di luar ada dibuka dan di tutup lagi dengan tidak bersuara oleh satu orang lelaki jang memakai celana kutung dan baju tombeng. Ia berjalan dengan perlahan di samping rumah sampai di serambi belakang.
„Tuan Said,“ kata orang itu.
Joesoef terperanjat.
„Siapa kau.“
„Saya, tuan,” sahut itu orang sembari majukan dirinya dari tempat gelap ke tempat terang.
„Ali?” tanya Joesoef.
„Betul, tuan.”
„Ada apa datang malem-malem.”
„Ada sedikit urusan tuan.”
„Mari sini, urusan apa?” „Saja permisi mau tanya tuan, apa bunyinya ini surat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahkan satu golong kaen tua yang dilepit dengan rapi.
„Surat apa ini?” tanya Joesoef sembari buka itu golongan.
„Saya kurang tahu, tuan,” sahut Ali. „Tapi saja taksir ada surat jimat. Saya kepingin tao apa betoel ada begitoe. Kaloe betoel saja maoe goenaken boeat bikin semboeh saja poenja istri jang sedeng sakit.”
Joesoef batja itoe soerat jang tertoelis dalem bahasa Arab di atas sapotong kaen toea. Ia kaliatan katarik hati.
„Dari mana kaoe dapet ini soerat?” tanja Joesoef sembari memandang pada Ali jang doedoek di atas dijoebin sambil senderken badannja pada tembok.
„Dari dalem satoe kitab Arab.”
„Siapa jang poenja itoe kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
dict232y8udq9ve9zdxa0t4tmakl1fh
120330
120328
2026-09-27T07:28:16Z
Mengsky
41602
120330
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia punya kelonggaran dalam hal memakai uang, sudah bikin ia dapet banyak sobat di sana-sini. Begitulah dengan perantaraannya ia punya salah satu sobat di Bandung, Joesoef telah berkenalan sama satu perempuan lacur bekas anak komedi bangsawan.
Marsina musti dipuji ada satu perempuan cantik. Warna kulitnya, sebagaimana kebanyakan ada pada perempuan-perempuan Preanger, ada putih djerni. Marsina baru berumur kira-kira 22 tahun, badannya montok, pinggangnya langsing, rambutnya gemuk, ditambahkan dengen sedikit poni yang membikin tampang mukanya jadi lebih elok. Sapasang alisnya ada item, sedang yang tidak terlalu besar, tetapi tajam, dan mempoenyai sorot yang menarik hati. Mulutnya ada sedikit djeding, satu pengasih natural yang bawa peruntungan bagus pada ini perempuan, tetapi duga membawa sifat jahat dalem hatinya. Sesuatu lelaki nanti merasa terhibur bila dapet lihat mesem atau tertawanya ini perempuan, apa pula denger ia punya suara tertawa yang lemah lembut.
Marsina tidak tampik lagi aken dipelihara oleh Joesoef, sebab selaennya Joesoef sendiri ada satu anak muda yang cakep, kulitnya putih, tidak seperti ayahnya yang hitam, dandanannya perlente, juga tangannya Joesoef ada terlepas, sebab ia pun, dengen harta peninggalan ayahnjya, ada cukup hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini perempuan, tetapi ia bingung juga waktu ia mau pindahkan perempuan ini ke Betawi. Ia ada punya beberapa rumah sewaan di kampung Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitu ada terkenal sebagi kampungnya orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentu merasa tidak senang hati bila dapet tahu Joesoef ada mempelihara satu perempuan Melayu dan bekas jalang di Bandung. Selaennya begitu, orang tahu juga Joesoef ada punya istri kawin dari turunan yang terhormat, dari istri mana Joesoef sudah dapet dua anak. Joesoef ada terancam akan bisa dipisahkan dari pergaulan orang-orang Arab yang terhormat. Ia punya nama yang terindah sebagai turunan Said sejati akan tidak di-indahken lagi. Dari sebab begitu, Joesoef mau perhubungannya sama Marsina tinggal rahasia. Beruntung ia dapatkan itu rumah di Mangga Dua, satu tempat sepi. Joesoef punya pergi dan dateng di itu rumah jarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belum pernah berhentikan autonya di depan pekarangan, selamanya dimasukan ke dalam dan pintu pekarangan lalu di tutup lagi.
Pada suatu hari Minggu, tatkala matahari hampir silam di Koelon, Joesoef ada datang dengen autonya. Marsina tidak sambut Joesoef di tangga rumah.
Di dalam Joesoef dapetkan Marsina sedeng duduk beromong-omong sama satu nyonya Eropa, saudagar barang mas-intan.
„Kebetulan tuan datang,“ kata Marsina sembari bangun, „ini nyonya Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-barang bagus yang tokonya baru terima, dari Eropa. Saya sedang tawar ia punya sepasang giwang brilliant dan satu peniti tabur. ...“
„Brapa harganya?“ tanya Joesoef dengen cepat.
„Tidak mahal tuan,” kata nyonya Lerroi. „ini sepasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Jadi f 5000 buat itu dua rupa barang?” kata Joeooef dengen kerutkan jidat, „Ach! Marsina, belom berapa lama aku sudah belikan kau sepasang giwang dan peniti tabur, buat apa beli lagi?”
„Ja, tapi tuan beli terlalu ketcil,” sahut Marsina sembari unjuk ia puniya tingka yang aleman.
Aku tidak bisa belikan kau itu barang-barang yang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kalau kau mau juga, biarlah sampe barang-barang mu dijual dulu dan uwangnya buat beli itu dua rupa barang, sekurangnya aku tambah.” „Saya tidak mau begitu,“ kata Marsina dengan cemberut. „Selaennya begitu, saja punya dua cincin dan dua gelang sudah digadai.”
„Ha?” kata Joesoef dengan mulut terbuka. „Kau bikin apa sama uwangnya, dan kau buang kemana uang jang aku kasih saban bulan?“
Marsina tidak menjaut, ia takut bilang yang saban hari ia ada berjudi besar sama nyonya-nyonya Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef pulangkan kembali pertanyannya yang tadi, sedang rupanya kelihatan marah. Akhir-akhir Marsina mengaku juga dengan kasih alasan bahwa lantaran kalau siang tidak betah tinggal di rumah, jadi ia cari hiburan dengan duduk berjudi di rumah-rumahnya orang Tionghoa.
„Mulai dari ini hari kau tidak boleh berjudi lagi,” kata Joesoef sembari mengancam.
Cuaca sudah mulai gelap, lampu-lampu lalu dipasang. Nyonya Lerroi yang liat barangnya bakal tidak dibeli, sigra permisi pulang. Marsina keliatan tidak senang hati sama tuannya, ia masuk ke kamar dan mulai menangis. Joesoef jadi kesel, ia duduk di serambi belakang rumahnya dengen tunjang janggut. Ia ingat berapa ribu uangnya sudah keluar buat Marsina, tetapi itu sampai tentu ia tidak buat seselan kalau dipakai seharusnya oleh ia punya kekasih yang ia cinta segenap hati, tapi Marsina sudah buang itu uang dalam judi, inilah yang bikin ia menyesal, dan lebih bikin ia duka kalau ia pikirkan apakah Marsina bisa buang kesukaannya sama judi.
Cuaca yang gelap sekarang mulai jadi terang oleh sinarnya bulan yang gilang-gemilang, sedang angin ada meniup dengan perlahan ada pohon-pohon bunga sembari bawa terbang harumnya bunga-bunga itu ke lubang hidungnya Joesoef, tapi dia ini yang lagi kesel, tidak dapat endoesin kasedepan itu.
Pintu pekarangan di luar ada dibuka dan di tutup lagi dengan tidak bersuara oleh satu orang lelaki jang memakai celana kutung dan baju tombeng. Ia berjalan dengan perlahan di samping rumah sampai di serambi belakang.
„Tuan Said,“ kata orang itu.
Joesoef terperanjat.
„Siapa kau.“
„Saya, tuan,” sahut itu orang sembari majukan dirinya dari tempat gelap ke tempat terang.
„Ali?” tanya Joesoef.
„Betul, tuan.”
„Ada apa datang malem-malem.”
„Ada sedikit urusan tuan.”
„Mari sini, urusan apa?” „Saja permisi mau tanya tuan, apa bunyinya ini surat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahkan satu gulung kain tua yang dilepit dengan rapi.
„Surat apa ini?” tanya Joesoef sembari buka itu golongan.
„Saya kurang tahu, tuan,” sahut Ali. „Tapi saja taksir ada surat jimat. Saya kepingin tahu apa betul ada begitu. Kalau betul saja mau gunakan buat bikin sembuh saya punya istri yang sedang sakit.”
Joesoef bacaa itu surat yang tertulis dalam bahasa Arab di atas sepotong kain tua. Ia kelihatan tertarik hati.
„Dari mana kau dapat ini surat?” tanya Joesoef sembari memandang pada Ali yang duduk di atas ubin sambil sandarkan badannya pada tembok.
„Dari dalam satu kitab Arab.”
„Siapa yang punya itu kitab?”
„Saja tida taoe, tapi saja poenja istri jang dapetken itoe kata, sedari ia tinggal di itoe roemah, itoe kitab memang soeda ada di atas dingding pager. Sedari tinggalin itoe roemah kita-orang tida brani ganggoe itoe kitab dari tempatnja tergantoeng, satiap malem Djoemahat kita-orang oekoepken sama menjan. Itoe kitab ada tinggalan dari orang jang tadinja tinggal di itoe roemah dan koetika pinda, ia pesen sama bini saja boeat oekoepin saban Djoemahat. Tadi saja kaliwat kapingin taoe apa isinja, maka saja boeka dan dapetken ini kaen jang tertoelis banjak aksara Arab, tapi saja tida bisa batja. Saja taksir inilah ada djimat jang dihormatken, maka kaloe betoel saja nanti taro lagi dalem itoe kitab, tapi kaloe boekan saja maoe boeang sadija sama-sama kitabnja, sebab saja roegi beliin menjan saban Djoemahat doea cent, abisnja bint saja sakit-sakit djoega.”
„Insja Allah,“ kata Joesoef sambil rangkep kadoea tangannja, „kaloe begitoe kaoe inilah ada orang jang dibriken koedrad Allah.”
Ali bengong.
„Saja tida mengarti, toean. Apa saja bakal tjilaka?”
„Kaoe bakal beroentoeng.”
„Bakal djadi slamet, toean?”
„Boekan slamet sadja, tapi djadi kaja besar.”
„Ah! toean memaen.”
„Akoe bitjara betoel, Ali. Ini ada soerat testament dari harta peninggalannja satoe pendita, tapi tida ada diseboet namanija, djoega tida ada diseboet siapa adanja ia poenja anak jang ia maoe kasiken hartanja itoe jang ada terpendem disatoe tempat, oleh kerna demikian djadi kaoe inilah ada orang jang boleh gali itoe harta.”
„Ah! itoe soerat bohong.” „Akoe pertjaja ada betoel. Disini ada ditoelis tanggalnja, dan kamariin soeda delapanblas taon. Banjaknja itoe harta ada f 50,000, tempatnja dipendem di satoe mesdjit roesak di Mangga Doea dekat djalanan kreta api. Tjoba kaoe denger akoe batja ini soerat:
„Allahoeakbar!
„„Kami sediaken satoe harta f 50,000 di bawah satoe batoe pesegi jang doeloe ada mendjadi kami poenja tempat doedoek. Batoe ini ada lima langkah djaoenja dari satoe soemoer, sabelah kanan dari koeboerannja. Said Alhabsi. Pindaken ini batoe dan gali tanah satoe kaki, lantas kaoe dapetken satoe peti dari kajoe sawo item. Pernahnja mesdjit, dimana kami tanem ini harta, ada di Mangga Doea, sabelah kiri dari djalanan kreta api. Disitoelah kaoe moesti bersoedjoet pada kaoe poenja ajah jang doeloe mendjalanken pakerdjaan pendita.””
„Ini orang tentoe ada bitjara dalem testament pada ia poenja ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnja batja itoe soerat, „tapi siapakah anaknja?”
„Djangan kata taoe siapa anaknja, orangnja jang menoelis djoega saja tida taoe,” sahoet Ali.
„Kaloe begitoe, kaoe tra’oesah banjak pikir, ini malem kaoe pergi sendiri ka itoe tempat dan gaib itoe harta djangan kasi taoe laen manoesia. £50,000. ada tloekoep banjak boeat kaoe idoep senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali jang masi tida pertjaja ada orang simpen harta begitoe banjak didalem tanah.
„Kaoe sangsi halnja itoe harta jang terpendem ? Tida saorang Arab jang beribadat, demikian poen tida satoe pendita nanti brani menoelis begini boeat bikin soesa orang. Lagi poen ini roepanja ada testament betoel. Taro kata tida betoel, kaoe toch tida roegi gali itoe lobang jang dioendjoek. Dan kaloe betoel, tidakah itoe barta djadi kapoenjaan kaoe?”
„Di belakang hari kaloe ada achliwarisnja?” tanja Ali.
„Achliwaris itoe tida nanti brani akoe itoe harta kaloe tida ada ini soerat katerangan.”
„Baeklah saja nanti toeroet boenjinja itoe soerat. Saja moesti bilang beriboe-riboe trima kasih sama toean jang soeda kasi katerangan beres.”
„Ja, akoe senang kaoe djadi beroentoeng, Ali,“ kata Joesoef dengen mesem.
Ali laloe permisi poelang.
Joesoef berbangkit dari tempat doedoeknja aken masoek ka dalem. Di samping pintoe, teraling. oleh kaen pedengan pintoe, Joesoef dapetken Marsina mengoempet.
„Kaoe bikin apa disini, Marsina ?” tanja Joesoef dengen heran.
„Saja dengerin toean bitjara sama Ali.“ „Ja, Ali bakal djadi kaja.”
„Kenapa toean tida maoe bikin saja djadi kaja.”
Joesoef diam, ia tida mengarti omongannja Marsina.
„Kenapa toean tida maoe simpen itoe resia boeat toean sendiri. Ali tida bisa batja itoe soerat, toean boleh djoestaken soerat itoe tida bergoena, dan dengen begitoe kita sendiri boleh gali itoe harta.”
„Oh! kaoe poenja hati tida baek, Marsina. Ali jaang diberkahken Allah, boekan akoe dan boekan kaoe.”
„Tapi kita bisa dapet itoe berkah kaloe sekarang, sabelonnja Ali sampe di itoe mesdjit roesak, kita soeda gali lebih doeloe.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
8xuzbzz9nxnkto35sxwdu1ojcv1rtnq
120335
120330
2026-09-27T08:25:58Z
Mengsky
41602
120335
wikitext
text/x-wiki
== I. ==
== BAB SATU. ==
Straat Mangga Dua ada satu bagian jalanan yang menghubungkan Pintu Besar dan Pasar Senen. Straat ini ada diteduhkan oleh pohon-pohon kenari yang tumbuh pada kedua tepi jalanan itu. Duapuluh tahun yang lalu ini tempat ada terkenal sebagai sarangnya penyamun-penyamun, tetapi sekarang, sesudahnya pekerjaan polisi diubah jadi lebih baik, dan kepala bangsat yang terkenal sudah dibuang ke lain negeri, tidak satu bangsat lagi berani mejalankan pakerjaan di ini tempat. Meski begitu, sampai sekarang jarang ada orang-orang mampu suka tinggal disitu, sebab maskipun tidak khawatir diganggu lagi oleh rampok, tetapi toh banyaknya kuburan-kuburan Islam di tepi jalanan sebelah kiri, tidak adanya ​penerangan gas di waktu malam, sudah bikin tidak enak akan orang tinggal di ini tempat. Di waktu siang sekalipun, selaennyaa suara tram elektrik dan kendaaran-kendaraan yang lewat pergi datang, tidak ada kadengaran suara apa-apa lagi; orang lewat pun sedikit sekali, dan bila matahari sudah silam, boleh dibilang jarang ada manusia yang berani lintaskan tempat itu. Orang-orang Bumiputra ada percaya bahwa itu kuburan-kuburan Islam ada mempunyai keangkeran. Tersiarnya cerita bahwa banyak orang lewat ada dapat lihat setan-setan, sudah bikin lebih sepi keadaannya ini tempat.
Kesunyian begitu ada disuka oleh orang-orang yang biasa berbuat apa-apa dengen sembunyi, Begitulah satu rumah model panggung yang sudah tua pada tepi kanan dari jalanan itu, sudah beberapa lama keliatan ada diperebutkan dengen necis. Pohon-pohon utan yang sdulu ada tumbuh lebat dan membikin jelek pada pekarangan itu rumah, telah ditebang dan ditanemin pohon-pohon bunga atau pot-pot kembang yang dirawat baik. Rupanya seorang hartawan sudah sewa ini rumah, tetapi aneh sekali ia tidak mau cari tempat rame buat unjuk keindahan tempatnya. Niscaya tidak bisa di sangkal lagi orang itu kepingin simpan rahasia apa-apa: yang ia tidak mau banyak orang dapet tahu.
Bila selainnya hari Minggu, di waktu sore ​pada hari-hari biasa hampir boleh dibilang tentu satu auto nanti masuk ke dalem pekarangan itu rumah, dan satu anak muda yang memakai peci stambul warna merah, atau kadang-kadang topi helmhoed warna kuning, turun dari itu auto yang ia stuur sendiri, disambut di tangga rumah oleh satu perempuan muda yang elok.
Pembaca tentu lantas bisa duga bahwa dua orang muda itu tentu ada punya perhubungan seperti suami-istri, tetapi apakah sebabnya anak muda itu mau ambil tempat yang begitu sunyi?
Sebagai anaknya seorang Arab yang anut agama dengen betul dan hargakan ia punya turupan Said dari beberapa leluhur, maka meskipun Moehamad Joesoef bin Alsagaf sudah jadi begitu tergila-gila sama itu perempuan Preanger, toh ia tidak mau bangsanya dapat tahu kalau ia ada piara itu perempuan dengen lupakan istri kawin dan anak-anaknya.
Joesoef ada anak satu-satunja dari almarhum Said Moehamad Ibrahim bin Alsagaf, tuan tanah yang paling hartawan di Cimanggis.
Sedari wafatnya itu aja, Joesoet dapat kemerdekaan luas. Kalau dulu, waktu ayahnya masih hidup, Joesoef melinken mampu pakai satu sado preman yang hampir bobrok, sekarang ia bisa pake satu auto model landaulet yang bagus.
Ia punya kelonggaran dalam hal memakai uang, sudah bikin ia dapet banyak sobat di sana-sini. Begitulah dengan perantaraannya ia punya salah satu sobat di Bandung, Joesoef telah berkenalan sama satu perempuan lacur bekas anak komedi bangsawan.
Marsina musti dipuji ada satu perempuan cantik. Warna kulitnya, sebagaimana kebanyakan ada pada perempuan-perempuan Preanger, ada putih djerni. Marsina baru berumur kira-kira 22 tahun, badannya montok, pinggangnya langsing, rambutnya gemuk, ditambahkan dengen sedikit poni yang membikin tampang mukanya jadi lebih elok. Sapasang alisnya ada item, sedang yang tidak terlalu besar, tetapi tajam, dan mempoenyai sorot yang menarik hati. Mulutnya ada sedikit djeding, satu pengasih natural yang bawa peruntungan bagus pada ini perempuan, tetapi duga membawa sifat jahat dalem hatinya. Sesuatu lelaki nanti merasa terhibur bila dapet lihat mesem atau tertawanya ini perempuan, apa pula denger ia punya suara tertawa yang lemah lembut.
Marsina tidak tampik lagi aken dipelihara oleh Joesoef, sebab selaennya Joesoef sendiri ada satu anak muda yang cakep, kulitnya putih, tidak seperti ayahnya yang hitam, dandanannya perlente, juga tangannya Joesoef ada terlepas, sebab ia pun, dengen harta peninggalan ayahnjya, ada cukup hartawan.
Joesoef merasa senang hati dapet ini perempuan, tetapi ia bingung juga waktu ia mau pindahkan perempuan ini ke Betawi. Ia ada punya beberapa rumah sewaan di kampung Kodja dan Kampoeng Kroekoet, tetapi disitu ada terkenal sebagi kampungnya orang-orang Arab. Orang-orang Arab tentu merasa tidak senang hati bila dapet tahu Joesoef ada mempelihara satu perempuan Melayu dan bekas jalang di Bandung. Selaennya begitu, orang tahu juga Joesoef ada punya istri kawin dari turunan yang terhormat, dari istri mana Joesoef sudah dapet dua anak. Joesoef ada terancam akan bisa dipisahkan dari pergaulan orang-orang Arab yang terhormat. Ia punya nama yang terindah sebagai turunan Said sejati akan tidak di-indahken lagi. Dari sebab begitu, Joesoef mau perhubungannya sama Marsina tinggal rahasia. Beruntung ia dapatkan itu rumah di Mangga Dua, satu tempat sepi. Joesoef punya pergi dan dateng di itu rumah jarang sekali dapet diliat orang, sebab ia belum pernah berhentikan autonya di depan pekarangan, selamanya dimasukan ke dalam dan pintu pekarangan lalu di tutup lagi.
Pada suatu hari Minggu, tatkala matahari hampir silam di Koelon, Joesoef ada datang dengen autonya. Marsina tidak sambut Joesoef di tangga rumah.
Di dalam Joesoef dapetkan Marsina sedeng duduk beromong-omong sama satu nyonya Eropa, saudagar barang mas-intan.
„Kebetulan tuan datang,“ kata Marsina sembari bangun, „ini nyonya Lerroi dari toko van Arcken ada bawa barang-barang bagus yang tokonya baru terima, dari Eropa. Saya sedang tawar ia punya sepasang giwang brilliant dan satu peniti tabur. ...“
„Brapa harganya?“ tanya Joesoef dengen cepat.
„Tidak mahal tuan,” kata nyonya Lerroi. „ini sepasang giwang kita dapet harga dari toko f 2000 dan ini peneti f 3000.”
„Jadi f 5000 buat itu dua rupa barang?” kata Joeooef dengen kerutkan jidat, „Ach! Marsina, belom berapa lama aku sudah belikan kau sepasang giwang dan peniti tabur, buat apa beli lagi?”
„Ja, tapi tuan beli terlalu ketcil,” sahut Marsina sembari unjuk ia puniya tingka yang aleman.
Aku tidak bisa belikan kau itu barang-barang yang berharga mahal,” kata lagi Joesoef, „kalau kau mau juga, biarlah sampe barang-barang mu dijual dulu dan uwangnya buat beli itu dua rupa barang, sekurangnya aku tambah.” „Saya tidak mau begitu,“ kata Marsina dengan cemberut. „Selaennya begitu, saja punya dua cincin dan dua gelang sudah digadai.”
„Ha?” kata Joesoef dengan mulut terbuka. „Kau bikin apa sama uwangnya, dan kau buang kemana uang jang aku kasih saban bulan?“
Marsina tidak menjaut, ia takut bilang yang saban hari ia ada berjudi besar sama nyonya-nyonya Tionghoa hartawan di kota.
Joesoef pulangkan kembali pertanyannya yang tadi, sedang rupanya kelihatan marah. Akhir-akhir Marsina mengaku juga dengan kasih alasan bahwa lantaran kalau siang tidak betah tinggal di rumah, jadi ia cari hiburan dengan duduk berjudi di rumah-rumahnya orang Tionghoa.
„Mulai dari ini hari kau tidak boleh berjudi lagi,” kata Joesoef sembari mengancam.
Cuaca sudah mulai gelap, lampu-lampu lalu dipasang. Nyonya Lerroi yang liat barangnya bakal tidak dibeli, sigra permisi pulang. Marsina keliatan tidak senang hati sama tuannya, ia masuk ke kamar dan mulai menangis. Joesoef jadi kesel, ia duduk di serambi belakang rumahnya dengen tunjang janggut. Ia ingat berapa ribu uangnya sudah keluar buat Marsina, tetapi itu sampai tentu ia tidak buat seselan kalau dipakai seharusnya oleh ia punya kekasih yang ia cinta segenap hati, tapi Marsina sudah buang itu uang dalam judi, inilah yang bikin ia menyesal, dan lebih bikin ia duka kalau ia pikirkan apakah Marsina bisa buang kesukaannya sama judi.
Cuaca yang gelap sekarang mulai jadi terang oleh sinarnya bulan yang gilang-gemilang, sedang angin ada meniup dengan perlahan ada pohon-pohon bunga sembari bawa terbang harumnya bunga-bunga itu ke lubang hidungnya Joesoef, tapi dia ini yang lagi kesel, tidak dapat endoesin kasedepan itu.
Pintu pekarangan di luar ada dibuka dan di tutup lagi dengan tidak bersuara oleh satu orang lelaki jang memakai celana kutung dan baju rombeng. Ia berjalan dengan perlahan di samping rumah sampai di serambi belakang.
„Tuan Said,“ kata orang itu.
Joesoef terperanjat.
„Siapa kau.“
„Saya, tuan,” sahut itu orang sembari majukan dirinya dari tempat gelap ke tempat terang.
„Ali?” tanya Joesoef.
„Betul, tuan.”
„Ada apa datang malem-malem.”
„Ada sedikit urusan tuan.”
„Mari sini, urusan apa?” „Saja permisi mau tanya tuan, apa bunyinya ini surat,“ kata Ali sembari hampiri Joesoef dan serahkan satu gulung kain tua yang dilepit dengan rapi.
„Surat apa ini?” tanya Joesoef sembari buka itu golongan.
„Saya kurang tahu, tuan,” sahut Ali. „Tapi saja taksir ada surat jimat. Saya kepingin tahu apa betul ada begitu. Kalau betul saja mau gunakan buat bikin sembuh saya punya istri yang sedang sakit.”
Joesoef baca itu surat yang tertulis dalam bahasa Arab di atas sepotong kain tua. Ia kelihatan tertarik hati.
„Dari mana kau dapat ini surat?” tanya Joesoef sembari memandang pada Ali yang duduk di atas ubin sambil sandarkan badannya pada tembok.
„Dari dalam satu kitab Arab.”
„Siapa yang punya itu kitab?”
„Saya tidak tahu, tapi saya punya istri yang dapatkan itu kata, sedari ia tinggal di itu rumah, itu kitab memang sudah ada di atas dingding pagar. Sedari tinggalkan itu rumah kita-orang tidak berani ganggu itu kitab dari tempatnya tergantung, setiap malem Djoemahat kita-orang cukupkan sama menyan. Itu kitab ada tinggalan dari orang yang tadinya tinggal di itu rumah dan ketika pindah, ia pesen sama bini saya buat cukupin saban Jumat. Tadi saja keliwat kepingin tahu apa isinya, maka saya buka dan dapatkan ini kain yang tertulis banyak aksara Arab, tapi saja tidak bisa baca. Saja taksir inilah ada jimat yang dihormatkan, maka kalau betul saja nanti taruh lagi dalam itu kitab, tapi kalau bukan saja mau buang saja sama-sama kitabnya, sebab saya rugi beliin menyan saban Jumat dua cen, abisnya bini saja sakit-sakit juga.”
„Insya Allah,“ kata Joesoef sambil rangkap kedua tangannya, „kalau begitu kau inilah ada orang yang diberikan kodrat Allah.”
Ali bengong.
„Saya tidak mengerti, tuan. Apa saja bakal celaka?”
„Kau bakal beruntung.”
„Bakal jadi slamet, tuan?”
„Bukan slamet saja, tapi jadi kaya besar.”
„Ah! tuan memaen.”
„Aku bicara betul, Ali. Ini ada surat testament dari harta peninggalannya satu pendeta, tapi tidak ada disebut namanya, juga tidak ada disebut siapa adanya ia punya anak yang ia mau kasihkan hartanya itu yang ada terpendam disatu tempat, oleh karena demikian jadi kau inilah ada orang yang boleh gali itu harta.”
„Ah! itu surat bohong.” „Aku percaya ada betul. Disini ada ditulis tanggalnya, dan kemarin sudah delapan belas tahun. Banyaknya itu harta ada f 50,000, tempatnya dipendam di satu masjid rusak di Mangga Dua dekat jalanan kereta api. Coba kau dengar aku baca ini surat:
„Allahuakbar!
„„Kami sediakan satu harta f 50,000 di bawah satu batu pesegi yang dulu ada menjadi kami punya tempat duduk. Batu ini ada lima langkah jauhnya dari satu sumur, sabelah kanan dari kuburannya. Said Alhabsi. Pindakan ini batu dan gali tanah satu kaki, lantas kau dapatkan satu peti dari kayu sawo hitam. Pernahnya masjid, dimana kami tanam ini harta, ada di Mangga Dua, sabelah kiri dari jalanan kereta api. Disitulah kau mesti bersujud pada kau punya ayah yang dulu menjalankan pakerjaan pendeta.””
„Ini orang tentu ada bicara dalam testament pada ia punya ‘anak,” berkata lagi Joesoef sahabisnya baca itu surat, „tapi siapakah anaknya?”
„Jangan kata tahu siapa anaknya, orangnya yang menulis juga saya tidak tahu,” sahut Ali.
„Kalau begitu, kau tidak usah banyak pikir, ini malem kau pergi sendiri ke itu tempat dan gaib itu harta jangan kasih tahu lain manusia. £50,000. ada cukup banyak buat ka]u idup senang.“
„Tapi saja sangsi,” kata Ali yang masih tidak percaya ada orang simpan harta begitu banyak didalem tanah.
„Kau sangsi halnya itu harta yang terpendam ? Tidak seorang Arab yang beribadah, demikian pun tidak satu pendeta nanti berani menulis begini buat bikin susah orang. Lagi pun ini rupanya ada testament betul. Taruh kata tidak betul, kau tuh tidak rugi gali itu lubang yang diunjuk. Dan kalau betul, tidakah itu barta jadi kepunyaan kau?”
„Di belakang hari kalau ada ahli warisnya?” tanya Ali.
„Ahliwaris itu tidak nanti berani aku itu harta kalau tidak ada ini surat katerangan.”
„Baeklah saya nanti turut bunyinya itu surat. Saya musti bilang beribu-ribu terima kasih sama tuan yang sudah kasih katerangan beres.”
„Ya, aku senang kau jadi beruntung, Ali,“ kata Joesoef dengan mesem.
Ali lalu permisi pulang.
Joesoef berbangkit dari tempat duduknya akan masuk ke dalam. Di samping pintu, teraling. oleh kain pedengan pintu, Joesoef dapetkan Marsina mengumpat.
„Kau bikin apa disini, Marsina ?” tanya Joesoef dengen heran.
„Saya dengerin tuan bicara sama Ali.“ „ya, Ali bakal jadi kaya.”
„Kenapa tuan tidak mau bikin saja jadi kaya.”
Joesoef diam, ia tidak mengerti omongannya Marsina.
„Kenapa tuan tidak mau simpan itu rahasia buat tuan sendiri. Ali tidak bisa baca itu surat, tuan boleh justakan surat itu tidak berguna, dan dengan begitu kita sendiri boleh gali itu harta.”
„Oh! kau punya hati tidak baik, Marsina. Ali yang diberkahkan Allah, bukan aku dan bukan kau.”
„Tapi kita bisa dapat itu berkah kalau sekarang, sebelumnya Ali sampai di itu mesjid rusak, kita sudah gali lebih dulu.”
„Ali nanti taoe kita jang gali, sebab ia tida boeka itoe resia boeat laen orang. Ia nanti bikin pembalesan.”
„Kita tinggalken peti kosong. Ia toch memangnja tida terlaloe pertjaja itoe soerat sesoenggoenja benar.”
„Tapi akoe tida maoe berboeat begitoe, Marsina. Akoe merasa tioekoep dengen akoe poenja kakajaan.”
„Saja merasa tida tjoekoep,” sahoet Marsina dengen oering-oeringan, „sebab toean tida maoe beliken itoe giwang dan peniti.”
„Akoe nanti beliken itoe kaloe akoe soeda dapet kanjatahan jang kaoe tida berdjoedi lagi.” Marsina tida menjaoet. Ia merasa pasti bahoea hatinja Joesoef tida dapet digerakin boeat rampas haknja si Ali.
Joesoef masoek ka kamar dan rebahken diri dengen lelah. Marsina rebahken dirinja di korsi males di pinggir lankan dalem serambi jang mengadepi pada kebon. Otaknja berpikir, sedeng matanja berbajang-bajang meliat itoe oewang f 50,000. Ia kapingin bisa dapet itoe harta dan kapingin nanti dibeliken djoega itoe giwang dan peniti oleh toeannja. Tidakah kaloe ja dapet itoe oewang 50,000 dan itoe perhiasan jang mahal, ia nanti djadi rébo sekali?
Joesoef soeda poeles njenjak di kamar, sedeng Marsina masi doedoek berpikir.
Lotieng di pertengahan mengoetaraken djam poekoel 10.
qybl37nn86bfnjuaje08uvaoxuj15a4
Membumikan Nilai Dasar Pergerakan
0
28535
120271
2026-09-27T04:42:24Z
Jauharajaa
43985
←Membuat halaman berisi 'Karya tulis yang bertajuk "Membumikan Nilai Dasar Pergerakan." ini lahir sebagai ikhtiar kecil untuk membentangkan cakrawala pengetahuan, Sepanjang proses penyusunannya, penulis menyadari bahwa karya ini tidak mungkin terwujud tanpa uluran tangan, arahan, serta dukungan tulus dari berbagai pihak yang telah menemani perjalanan ini dari awal hingga akhir.'
120271
wikitext
text/x-wiki
Karya tulis yang bertajuk "Membumikan Nilai Dasar Pergerakan." ini lahir sebagai ikhtiar kecil untuk membentangkan cakrawala pengetahuan, Sepanjang proses penyusunannya, penulis menyadari bahwa karya ini tidak mungkin terwujud tanpa uluran tangan, arahan, serta dukungan tulus dari berbagai pihak yang telah menemani perjalanan ini dari awal hingga akhir.
tvaxfhlzbg4lkof5900uzkudeoeh2co
120299
120271
2026-09-27T05:14:15Z
Jauharajaa
43985
120299
wikitext
text/x-wiki
Karya tulis yang bertajuk "Membumikan Nilai Dasar Pergerakan." ini lahir sebagai ikhtiar kecil untuk membentangkan cakrawala pengetahuan, Sepanjang proses penyusunannya, penulis menyadari bahwa karya ini tidak mungkin terwujud tanpa uluran tangan, arahan, serta dukungan tulus dari berbagai pihak yang telah menemani perjalanan ini dari awal hingga akhir.
Dengan segenap kerendahan hati, penulis menghaturkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, teristimewa kepada '''Angkatan Fortivora PMII Surabaya Selatan''' selaku keluarga dan sahabat-sahabati yang senantiasa menjadi penopang semangat penulis di setiap langkah penyusunan karya tulis ini.
Penulis pun menyadari sepenuhnya bahwa karya ini masih menyimpan banyak celah dan masih jauh dari kata sempurna, layaknya sebuah goresan pertama yang masih memerlukan penghalusan. Dengan demikian, adanya kritik dan saran yang membangun akan penulis sambut dengan tangan terbuka sebagai bekal penyempurnaan di masa mendatang. Semoga, di balik segala kekurangannya, karya tulis ini tetap mampu menghadirkan secercah manfaat dan relevan terhadap khazanah pengetahuan bagi pembaca.
'''''Surabaya Selatan, 15 September 2026'''''
, Penulis
bq6rg3dbiikrezofgbz21ovpgaivx40
Seporsi Bakso Sebelum Kuliah
0
28536
120274
2026-09-27T04:43:58Z
Ahifcxa
43982
←Membuat halaman berisi 'Bakso Adalah Sebuah makanan yang berasal dari jawa timur. Namun,siapa sangka bahwa dari makanan itu terdapat sebuah cerita yang akan dikenang oleh satu gadis nantinya. Namanya, Nila. Dia adalah mahasiswi Semester satu yang sekarang bersekolah di Universiteas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya. Setiap Hari, ia selalu menyempatkan memakan bakso sebelum berangkat sekolah. Di suatu hari, ia tidak sengaja duduk bersama seorang laki-laki yang sedang memakan bakso. Nila...'
120274
wikitext
text/x-wiki
Bakso Adalah Sebuah makanan yang berasal dari jawa timur. Namun,siapa sangka bahwa dari makanan itu terdapat sebuah cerita yang akan dikenang oleh satu gadis nantinya. Namanya, Nila. Dia adalah mahasiswi Semester satu yang sekarang bersekolah di Universiteas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya. Setiap Hari, ia selalu menyempatkan memakan bakso sebelum berangkat sekolah.
Di suatu hari, ia tidak sengaja duduk bersama seorang laki-laki yang sedang memakan bakso. Nila memperhatikan laki-laki tersebut dari bawah sampai Mati [[Berkas:Mi Bakso Bali.jpg|jmpl]]
sb3oh65yysyqi8iqlpgzwskqtr6uv5d
120292
120274
2026-09-27T05:06:29Z
Ahifcxa
43982
kata
120292
wikitext
text/x-wiki
Bakso Adalah Sebuah makanan yang berasal dari jawa timur. Namun,siapa sangka bahwa dari makanan itu terdapat sebuah cerita yang akan dikenang oleh satu gadis nantinya. Namanya, Nila. Dia adalah mahasiswi Semester satu yang sekarang bersekolah di Universiteas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya. Setiap Hari, ia selalu menyempatkan memakan bakso sebelum berangkat sekolah.
Di suatu hari, ia tidak sengaja duduk bersama seorang laki-laki yang sedang memakan bakso. Nila memperhatikan laki-laki tersebut dari bawah sampai atas tanpa tahu bahwa laki-laki tersebut menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.
Hayooo habis itu Ngapain? Lanjut part 2 next week yaaaa [[Berkas:Mi Bakso Bali.jpg|jmpl]]
jmqi67j01jc7j2jn3ykr1p25noy2rz5
Pengguna:Astroiseur
2
28537
120277
2026-09-27T04:48:20Z
Astroiseur
43983
/* */
120277
wikitext
text/x-wiki
Digital Rights Activist. Currently residing in Indonesia and doing some consultancy works related to good management practice, green environment and energy conservation.
osmsq4m0q4lej194tn0kmskofyuewrs
Harta yang Terpendam/Bab 3
0
28538
120279
2026-09-27T04:52:08Z
Mazhar Zahwakirana Muzaima
43955
terbitkan halaman baru
120279
wikitext
text/x-wiki
III.
KATEMAHA’ANNJA SATOE PRAMPOEAN.
Matahari soeda mentjarken sinarnja jang panas, menemboes pada djendela-djendela roemahnja Moehamad Joesoef. Biasanja waktoe begitoe Ali soeda bikin bersi roempoet-roempoet di kebon belakang dan pelataran depan, sekallan sirem poehoen-poehoen kembang jang toemboe di pot-pot bagoes, atawa kamoedian pikoel aer isiken bak mandi, tapi itoe pagi Ali tida kaliatan. Marsina, begitoe poen Joesoef, tida perdoeliken Ali tida dateng, maskipoen koki Min beroelang-oelang kasi taoe hel itoe pada Marsina.
„Brangkali istrinja sakit keras,” kata Marsina pada koki Min koetika ia ini kasi taoe ka tiga kalinja tentang Ali tida dateng.
Di serambi belakang soeda teratoer satoe medja boender jang ditatakin taplak poetih jang berenda, di atas mana ada satoe nenampan jang berisi tjangkir-tjangkir dan tekoan kopi. Satoe piring dan satoe piso ada ditaro dekat doea potong roti dan satoe boejoeng mentega. Marsina soeda isi tjangkir-tjangkir itoe dengen soesoe dan kopi, silaken toean Joesoef dahar, tapi ia ini jang doedoek di korsi males dengen badan lesoe dan moeka koesoet, gojang kapala beroelang-oelang. Marsina kaliatan girang sadja, lebi girang tingkanja dari hari-hari laen.
„Apalah djoega jang toean moesti keselken sekarang,” kata Marsina sambil memandang toeannja. ,Ali soeda mat}, tida saorang taoe toean soeda poekoel padanja. Itoe harta jang soeda ada di tangan kita, tida nanti saotang brani rampas kombali, maskipoen saandenja achliwaris dari itoe pendita masi idoep di doenia.”
„Kaoe djangan banjak bitjara, prampoean temaha,” sahoet Joesoef dengen boeang moekanja ka laen djoeroesan, seperti djoega ia tida soedi liat lagi parasnja Marsina jang di itoe pagi sabetoelnja ada kaliatan lebi tjantik. „Akoe tida pikir hal itoe harta jang soeda ada di tanganmoe, tetapi akoe tida bisa ilangken akoe poenja rasa menjesel atas perboeatankoe jang sanget kedjem pada sasama manoesia. Ali binasa lantaran kaoe poenja perboeatan, dan ia soeda binasa di tangan akoe. Siapakah jang nanti tjoetji itoe kadosahan ? Ach! terkoetoeklah kaoe, Marsina.”
Marsina tertawa dengen merdoe.
„Di waktoe lapar orang tida inget pada dosa,” kata lagi Marsina, „saja boekan lapar tida makan, tapi lapar dengen barang permata, Tjoba toean beliken itoe barang-barang dari toko van Arcken tentoe saja tida serakahken Ali poenja harta...."
„Tapi toch kaoe masi ada poenja barang-barang permata dari akoe, itoe gelang, toesoek konde, pending dan laen-laen jang masi berharga riboean. Salaennja begitoe kaoe tida kakoerangan pake dan blandja, kenapa kaoe begitoe temaha aken rampas laen orang poenja hak ? Marsina, kaoe ada satoe prampoean temaha.”
„Biar dikataken temaha, asal banjak doeit,” kata poela Marsina dengen tertawa.
· · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · ·
Dengen iaorang poenja pembitjaraan diatas, lantas kita bisa dapet taoe bahoea Marsina dan Joesoef ada itoe orang jang tjampoer dalem perkara rampas hartanja Ali jang baroe dapet digali. Biarlah sekarang kita balik sedikit dalem tjerita.
Sebagimana kita soeda tjeritaken, itoe malem, satelah Ali soeda berlaloe dari roemahnja Joesoef, Marsina djadi sedikit tjektjok sama Joesoef dalem perkara maoe rampas hartanja Ali, boeat perboeatan mana Joesoef tida satoedjoe dan tinggalken Marsina sendirian di serambi belakang.
Di atas korsi males Marsina rebah dengen pikiran moendoer madjoe. Itoe harta f 50,000 ada menarik sanget pada hatinja. Begimana ia moesti berboeat; soepaja ia bisa ambil harta itoe sabelonnja Ali dateng? Perdjalanan ka itoe tempat ada amat sepi, ia poenja hati prampoean ada merasa sangsi aken liwatken itoe Gang Gardoe jang amat serem, apapoela moesti liwatken koeboeran-koeboeran Islam jang penoe di sakitarnja itoe mesdjit roesak. Ia nanti ada poenja kabranian kaloe saandenja Joesoef soeka sama-sama pergi ka itoe mesdjit roesak dan gali itoe harta, tapi Joesoef tida maoe dan ia soeda tolak aken lakoeken itoe pakerdjaan dengen hati jang tida dapet dirobah lagi. Sama siapakah ia moestipergi ka itoe tempat jang serem? Begitoelah Marsina berpikir. Min, ia poenja koki boleh diadjak, tapi Min sendiri ada satoe pengetjoet, penakoet sama setan-setan. Sering-sering Min sendiri ada tjeritaken sama Marsina tentang djahatnja setan Niai Grintil. Salaennja dari begitoe, Min belon tentoe aken bersetia selama-lamanja, maka kaloe satoe waktoe ia boeka itoe resia, nistjaja kasenangannja Marsina bisa terganggoe. „Akoe moesti pergi sendirian,” kata Marsina pada diri sendiri. Tetapi Marsina berpikir lagi, tjara begimana ia moesti gali itoe harta. Di dalem testament ada terseboet, itoe peti oewang ada terpendem di tanah satoe kaki dalemnja dan tertindi oleh satoe batoe. Apakah ia sanggoep kiserken itoe batoe dan gali itoe tanah? Itoelah boekan pakerdjaannja orang prampoean, sebab moesti pake banjak tenaga. Salaennja begitoe Marsina berpikir djoega, sadndenja selagi gali itoe harta Ali dateng, begimana ia moesti bikin sama Ali? Berklai tentoe Marsina tida aken menang. Achir-achir Marsina inget si Min poenja tjerita tentang setannja Njai Grintil, Apakah Ali takoet setan? Inilah tida bisa kliroe, sebab Ali sendiri seringkali pertjaja bahoea kaloe istrinja sakit, ada dari lantaran dapet liat setan. Marsina dapet pikir satoe akal, hingga ia djadi bersenjoem. Itoe oewang f 50,000 berbajang-bajang di depan matanija, hingga Marsina djadi loepa tadi lotjeng di pertengahan roemah soeda mengoetaraken djam sapoeloe. Ia lekas berbangkit dan masoek ka dalem kamar, dari mana ia ambil satoe sprei dan teroes berdjalan ka loear dengen tida ada orang jang taoe.
Di djalanan ada sepi, angin menioep dengen santer. Marsina lekas karoedoengi badannja dengen itoe sprei, teroes djalan sampe di moeloet Gang Gardoe, Ia pikir Ali tentoe belon dateng ka itoe tempat, maka koetika dapet liat ada bajangan item dalem itoe gang, ia djadi terkedjoet, boeloe badannja mengkirik. Ia sendiri sangka bajangan itoe ada setan koeboeran, tetapi satelah dapet liat api roko di moeloetnja bajangan itoe, lantas djoega Marsina dapet doega bahoea bajangan itoe tida laen dari si Ali. Ia lekas mengoempet dalem gombolan, kamoedian satelah liat bajangan itoe soeda berdjalan lagi, ia sigra boentoetin. Tjepet sekali Ali berdjalan, hingga Marsina katinggalan djaoe. Koetika sampe di depan itoe mesdjit roesak, lantas djoega Marsina dapet denger soearanja tanah jang digali dan soeara patjoel jang beradoe-radoe dengen batoe. Dengen pelahan sambil mengoempet di bajangan-bajangan tembok, Marsina masoek ka dalem mesdjit jang soeda tida ada gentengnja sampe di pertengahan, dimana dengen laloeasa ia awasken Ali berkerdja, sedeng Ali tida aken dapet liat padanja.
Bebrapa saat soeda berlaloe, achirnja Marsina rasaken hatinja memoekoel keras satelah dapet liat Ali kasi kaloear itoe peti item dari dalem tanah. Marsina tida tahan hatinja jang bersoerak satelah dapet liat itoe oewang dikasi kaloear oleh Ali dari dalem itoe kantong-kantong, hingga dengen tida terasa ia soeda tertawa dengen keras. Ia liat Ali terkedjoet sanget dan moendoer bebrapa tindak ka blakang, sedeng badan dan tangannja bergoemeter. Marsina baroe inget akal jang ia pikirken tadi, dan ia merasa broentoeng sekali itoe tertawaan jang tida disengadja soeda tida bikin gagal maksoednja, maka dengen lekas ia karoedoengi antero moeka dan badannia dengen itoe sprei poetih, dan berdjalan menghamperi pada itoe peti oewang dengen tindakan perlahan. Dalem hatinja Marsina merasa amat geli meliat tingkanja Ali jang sanget ketakoetan dan tida brentinja menjembah serta menjeboet. Koetika soeda berdiri di depan itoe peti Oewang dan merasa Ali tida nanti brani membantah kaloe peti itoe ia angkat pergi, maka Marsina tida kasi ilang tempo lagi, dengen tjepet pondong peti itoe, maski poen ada amat berat. Koetika maoe melariken diri, ia merasa kadoea tangannja dipegang oleh Ali dari belakang dan itoe peti direboet oleh Ali. Marsina melawan dengen sakoeat tenaganja, hingga itoe peti djato ka tanab. Ali maoe ambil kombali itoe peti, tapi Marsina djorokin padanja, hingga tergoeling bebrapa depa. Ia angkat kombali itoe peti dan niat maoe melariken diri lekas-lekas sabelonnja Ali kaboéroe bangoen, tapi doegaanja kaliroe, sebab Ali, sebagi singa, dengen lekas bangoen dari tempatnja tergoeling dan toebroek Marsina dengen tenaga keras, hingga ia djato tengoeroep dengen tindihken itoe peti. Marsina tjepet baliken badannja, tetapi ia merasa tenaganja abis aken berontak dari tindihannja Ali, jang salaennja doea dengkoel ada di atas dadahnja Marsina, tetapi djoega kadoea tangannja ada menjekek dengen keras pada lehernja dan ia pikir djiwanja bakal binasa.
Sakoenjoeng-koenjoeng ia liat Ali lepasken padanja dan dengen kaloearken satoe soeara treakan, ia liat Ali djato terdjeroenoek bebrapa depa. Marsina lekas bangoen dan satoe lelaki berdiri di depannja. Marsina terkedjoet, ia liat lelaki itoe masi memegang batoe di tangan, tetapi rasa kwatirnja djadi ilang, malah ja merasa girang, kerna lelaki itoe boekan laen, hanja ada ia poenja soeami, toean Joesoef .. .
Matanja Joesoef awasken Ali jang badannja berkledjetan, sedeng dara ada mengoetjoer deres. dari kapalanja. Kaliatan Joesoef tida bisa liat itoe pemandangan ngeri, sebab ia lekas lemparken itoe batoe jang ada di tangannja dan melariken diri sembari berkata: „Lekas lari,....lekas lari!”
Marsina taoe bahaja apa bisa deena kaloe perboeatannja di sitoe kataoean orang, betoel tempat itoe ada sepi, tetapi Ali poenja soeara bertreak ada tioekoep keras aken bisa didenger oleh toekang-toekang grobak di Gang Gardoe, maka lekas-lekas Marsina pondong itoe peti oewang dan melariken diri.
Ia sampe di roemah dengen napas tersengal-sengal dan tida bisa kaloearken satoe perkataan, sebab aken pondong itoe peti oewang jang berat sampe di roemah, boekan sedikit tenaga ia moesti kaloearken. Peti itoe ia taro di atas medja dan ia sendiri roeboehken dirinja di atas divan.
Bebrapa saat Marsina tida bergerak, keadaan dalem itoe roewangan djadi soenji, hingga melinken kadengeran soearanja Marsina sadja jang ditarik keras. Lampoe: gantoeng jang besar ada ketjil sekali apinja; hingga penerangan dalem roewangan itoe melinken ada samar-samar sadja.
Podjokan depan dari roewangan itoe, di bawah satoe djendela jang tertoetoep, ada satoe korsi males, dimana Joesoef biasa rebahken dirinja. Marsina tida perhatiken Joesoef ada dimana, ia doega Joesoef ada dalem kamar. Sasoeda rasaken dirinja ilang tjape, Marsina moelai bangoenken badannja. Sakoenjoeng-koenjoeng ia mendjerit, di itoe podjokan jang gelap ia dapet liat doea tangan jang diangkat dan doea mata jang mendelik. Marsina toetoepken matanja dan baliken badannja dengen goemetar. Ia pikir itoelah setannja si Ali dateng menjoesoel.
„Toean! toean, toeloeng!” bertreak Marsina dengen njaring.
Kamoedian ia denger soearanja badan jang diroeboebken di atas itoe korsi males, betoel pada tempat dimana Marsina dapet liat itoe mata dan tangan.
Marsina baliken kapalanja dan awasken lagi itoe tempat gelap. Sekarang matanja baroe dapet liat potongannja satoe badan jang sedeng rebah.
„Toean !” memanggil Marsina.
Ia denger Joesoef mengelah napas.
„Ja, Allah!” menjeboet Marsina dengen mengoeroet dada aken bikin legah ia poenja hati, jang tadi terkedjoet sanget, „kenapa toean berboeat begitoe ? Astaga, saja kira setannja si Ali.”
Joesoef tida bitjara, ia tekap matanja.
Kadoea orang ini sedeng berada dalem katakoetan. Begitoelah memang biasanja kadjadian pada orang-orang jang berdosa. Marsina, maskipoen hatinja katoetoepan oleh rasa temaha, toch tida bisa loepa itoe pemandangan dimana ada kaliatan badannja
, Ali djato berkledjetan, sebagi binatang ajam jang dipotong. Hatinja jang brani soeda djadi linjap tatkala liat itoe tangan jang diangkat dan mata jang mendelik, hingga ia soeda mendjerit.
Apakah sebabnja Joesoef, dalem itoe podjokan jang gelap, angkat-angkat tangan sebagi orang jang maoe menolak serangannja satoe moesoe dan deliken matanja sebagi orang jang meliat satoe perkara ngeri? Dia ini poen ada dalem katakoetan jang heibat. Ia sampe di roemah dari itoe tempat koeboeran dengen keadaain lemas dan bingoeng. Soeda lama ia rebahken badannja di itoe korsi males dengen karinget mengoetjoer. Hatinja memoekoel keras, pikirannja melajang ka itoe Mesdjit toea, dimana roepanja Ali berbajang lagi di matanja. Ia rasaken boeloe badannja bangoen pada saban kali inget begimana badannja Ali berkledjetan satelah dapet poekoelan batoe dari tangannja. Pikirannja jang roewet melajang semingkin djaoe; ia pikir besok pagi orang nanti dapetken maitnja Ali di itoe tempat, orang katemoeken itoe lobang dan perkakas menggali. Orang aken dateng serepin padanja, sebab Ali bekas ia poenja boedjang. Ali poenja istri jang sakit dan ia poenja mertoea jang soeda kolot, nanti menangis tersedoeh-sedoeh kaloe dapet liat Ali soeda djadi mait. Ali poenja setan tida soeka hati boeat itoe perkara, setan itoe tentoe dateng menggoda, boleh djadi membales sakit hati... .. Ia bangoen terkoenjoeng-koenjoeng dan di hatlepannja, Joesoef liat ada berdiri si Ali dengen satoe badi di tangan. Badannja berloemoeran dara, ia mengantjem dan sedia aken toeblesken badinja itoe di hatinja Joesoef. Joesoef menangkis dengen tangannja dan ia denger Marsina mendjerit.... Ia mendoesin, ia soeda mengigo dari katakoetan, hingga dengen merasa amat tjape ia bantingken dirinja di atas itoe korsi males dan tekapken matanja.
Marsina besarken apinja lampoe gantoeng, soepaja hatinja poen toeroet djadi besar, dan kamoedian ia hampirken Joesoef. Dengen soeara lemah-lemboet ia menanja kenapa tadi Joesoef soeda berboeat begitoe.
„Akoe dapet liat setannja si Ali,” saoet Joesoef dengen ogah.
„Mana ada setan,” kata Marsina, „toch sabetoelnja boekan setan.”
„Satoe waktoe betoel-betoel ia nanti dateng,” kata lagi Joesoef.
„Saja tida pertjaja dan toean djangan pertjaja. Toean moesti bikin senang hati, sebab sekarang kita poenja kakajaan soeda bertamba.”
„Gila!” kata Joesoef dengen sengit.
Marsina hampirken itoe peti oewang dan toewang isinja di atas medja. Toempoekan oewang itoe djadi tertjampoer poetih dan merah, jaitoe perak dan emas, tjahianja ada mengkredep di sinarnja api. Marsina tida brentinja bersenjoem, hatinja amat senang. Ia soesoen itoe oewang brapa djoeblanja.
Joesoef djadi inget pada dosanja koetika liat itoe toempoekan oewang dan denger soearanja oewang itoe di itoeng, seperti djibrail mengitoeng dosanja. Ia poenja kabentjian pada Marsina djadi semingkin sanget, hingga ia lantas bangoen dan masoek ka kamar dengen kontjiken pintoenja dari dalem.
f8cp7ysto1zbvcyku0pice33kn2ubrd
120306
120279
2026-09-27T05:41:20Z
Mazhar Zahwakirana Muzaima
43955
120306
wikitext
text/x-wiki
III.
KETAMAKAN SATU PEREMPUAN.
Matahari sudah memancarkan sinarnya yang panas, menembus pada jendela-jendela rumahnya Moehamad Joesoef. Biasanya, ketika Ali sudah membersihkan rumput-rumput di kebun belakang dan pelataran depan, sekalian menyiram pohon-pohon bunga yang tumbuh di pot-pot bagus, kemudian memikul air berisikan bak mandi, tapi pagi itu Ali tidak terlihat. Marsina, begitupun Joesoef, tidak memperdulika Ali tidak datang, meskipun koki Min berulang-ulang memberi tau hal tersebut kepada Marsina.
„Brangkali istrinja sakit keras,” kata Marsina pada koki Min koetika ia ini kasi taoe ka tiga kalinja tentang Ali tida dateng.
Di serambi belakang soeda teratoer satoe medja boender jang ditatakin taplak poetih jang berenda, di atas mana ada satoe nenampan jang berisi tjangkir-tjangkir dan tekoan kopi. Satoe piring dan satoe piso ada ditaro dekat doea potong roti dan satoe boejoeng mentega. Marsina soeda isi tjangkir-tjangkir itoe dengen soesoe dan kopi, silaken toean Joesoef dahar, tapi ia ini jang doedoek di korsi males dengen badan lesoe dan moeka koesoet, gojang kapala beroelang-oelang. Marsina kaliatan girang sadja, lebi girang tingkanja dari hari-hari laen.
"Apa yang harus tuan kesalkan sekarang?” kata Marsina sambil memandang tuannya. "Ali sudah mati, tidak ada seorangpun yang tau jika tuan sudah memukulnya. Itu harta yang sudah ada di tangan kita, tidak ada seorangpun yang berani merampas kembali, meskipun seandainya ahli waris dari pendeta itu masih hidup di dunia.”
"Kamu jangan banyak bicara, perempuan tamak!” sahut Joesoef dengan membuang mukanya ke arah lain, seperti ia sudah tidak sudi lagi melihat parasnya Marsina yang pada pagi itu sebenarnya terlihat lebih cantik. "Aku tidak memikirkan harta yang sudah ada di tanganmu, tetapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku menyesal atas perbuatanku yang sangat kejam pada sesama manusia. Ali mati karena perbuatanmu, dan ia sudah mati di tanganku. Siapakah yang nantinya akan membersihkan dosa itu? Ach! Terkutuklah kamu, Marsina.”
Marsina tertawa dengen merdu.
"Di waktu lapar orang tidak ingat pada dosa,” kata lagi Marsina, "bukan lapar tidak makan, tapi lapar dengan barang permata, coba tuan belikan itu barang-barang dari toko van Arcken tentu saja Ali tidak serakah...."
"Tapi kamu masih punya barang-barang permata dari aku, itu gelang, tusuk konde, ikat pinggang dan lain-lain yang masih berharga ribuan. Selain kamu tidak kekurangan belanja, kenapa kamu begitu tamak merampas hak orang lain? Marsina, kamu adalah satu perempuan tamak.”
"Biarpun dikatakan tamak, asalkan banyak duit,” kata Marsina dengan tertawa.
· · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · ·
Dengen iaorang poenja pembitjaraan diatas, lantas kita bisa dapet taoe bahoea Marsina dan Joesoef ada itoe orang jang tjampoer dalem perkara rampas hartanja Ali jang baroe dapet digali. Biarlah sekarang kita balik sedikit dalem tjerita.
Sebagimana kita soeda tjeritaken, itoe malem, satelah Ali soeda berlaloe dari roemahnja Joesoef, Marsina djadi sedikit tjektjok sama Joesoef dalem perkara maoe rampas hartanja Ali, boeat perboeatan mana Joesoef tida satoedjoe dan tinggalken Marsina sendirian di serambi belakang.
Di atas korsi males Marsina rebah dengen pikiran moendoer madjoe. Itoe harta f 50,000 ada menarik sanget pada hatinja. Begimana ia moesti berboeat; soepaja ia bisa ambil harta itoe sabelonnja Ali dateng? Perdjalanan ka itoe tempat ada amat sepi, ia poenja hati prampoean ada merasa sangsi aken liwatken itoe Gang Gardoe jang amat serem, apapoela moesti liwatken koeboeran-koeboeran Islam jang penoe di sakitarnja itoe mesdjit roesak. Ia nanti ada poenja kabranian kaloe saandenja Joesoef soeka sama-sama pergi ka itoe mesdjit roesak dan gali itoe harta, tapi Joesoef tida maoe dan ia soeda tolak aken lakoeken itoe pakerdjaan dengen hati jang tida dapet dirobah lagi. Sama siapakah ia moestipergi ka itoe tempat jang serem? Begitoelah Marsina berpikir. Min, ia poenja koki boleh diadjak, tapi Min sendiri ada satoe pengetjoet, penakoet sama setan-setan. Sering-sering Min sendiri ada tjeritaken sama Marsina tentang djahatnja setan Niai Grintil. Salaennja dari begitoe, Min belon tentoe aken bersetia selama-lamanja, maka kaloe satoe waktoe ia boeka itoe resia, nistjaja kasenangannja Marsina bisa terganggoe. „Akoe moesti pergi sendirian,” kata Marsina pada diri sendiri. Tetapi Marsina berpikir lagi, tjara begimana ia moesti gali itoe harta. Di dalem testament ada terseboet, itoe peti oewang ada terpendem di tanah satoe kaki dalemnja dan tertindi oleh satoe batoe. Apakah ia sanggoep kiserken itoe batoe dan gali itoe tanah? Itoelah boekan pakerdjaannja orang prampoean, sebab moesti pake banjak tenaga. Salaennja begitoe Marsina berpikir djoega, sadndenja selagi gali itoe harta Ali dateng, begimana ia moesti bikin sama Ali? Berklai tentoe Marsina tida aken menang. Achir-achir Marsina inget si Min poenja tjerita tentang setannja Njai Grintil, Apakah Ali takoet setan? Inilah tida bisa kliroe, sebab Ali sendiri seringkali pertjaja bahoea kaloe istrinja sakit, ada dari lantaran dapet liat setan. Marsina dapet pikir satoe akal, hingga ia djadi bersenjoem. Itoe oewang f 50,000 berbajang-bajang di depan matanija, hingga Marsina djadi loepa tadi lotjeng di pertengahan roemah soeda mengoetaraken djam sapoeloe. Ia lekas berbangkit dan masoek ka dalem kamar, dari mana ia ambil satoe sprei dan teroes berdjalan ka loear dengen tida ada orang jang taoe.
Di djalanan ada sepi, angin menioep dengen santer. Marsina lekas karoedoengi badannja dengen itoe sprei, teroes djalan sampe di moeloet Gang Gardoe, Ia pikir Ali tentoe belon dateng ka itoe tempat, maka koetika dapet liat ada bajangan item dalem itoe gang, ia djadi terkedjoet, boeloe badannja mengkirik. Ia sendiri sangka bajangan itoe ada setan koeboeran, tetapi satelah dapet liat api roko di moeloetnja bajangan itoe, lantas djoega Marsina dapet doega bahoea bajangan itoe tida laen dari si Ali. Ia lekas mengoempet dalem gombolan, kamoedian satelah liat bajangan itoe soeda berdjalan lagi, ia sigra boentoetin. Tjepet sekali Ali berdjalan, hingga Marsina katinggalan djaoe. Koetika sampe di depan itoe mesdjit roesak, lantas djoega Marsina dapet denger soearanja tanah jang digali dan soeara patjoel jang beradoe-radoe dengen batoe. Dengen pelahan sambil mengoempet di bajangan-bajangan tembok, Marsina masoek ka dalem mesdjit jang soeda tida ada gentengnja sampe di pertengahan, dimana dengen laloeasa ia awasken Ali berkerdja, sedeng Ali tida aken dapet liat padanja.
Bebrapa saat soeda berlaloe, achirnja Marsina rasaken hatinja memoekoel keras satelah dapet liat Ali kasi kaloear itoe peti item dari dalem tanah. Marsina tida tahan hatinja jang bersoerak satelah dapet liat itoe oewang dikasi kaloear oleh Ali dari dalem itoe kantong-kantong, hingga dengen tida terasa ia soeda tertawa dengen keras. Ia liat Ali terkedjoet sanget dan moendoer bebrapa tindak ka blakang, sedeng badan dan tangannja bergoemeter. Marsina baroe inget akal jang ia pikirken tadi, dan ia merasa broentoeng sekali itoe tertawaan jang tida disengadja soeda tida bikin gagal maksoednja, maka dengen lekas ia karoedoengi antero moeka dan badannia dengen itoe sprei poetih, dan berdjalan menghamperi pada itoe peti oewang dengen tindakan perlahan. Dalem hatinja Marsina merasa amat geli meliat tingkanja Ali jang sanget ketakoetan dan tida brentinja menjembah serta menjeboet. Koetika soeda berdiri di depan itoe peti Oewang dan merasa Ali tida nanti brani membantah kaloe peti itoe ia angkat pergi, maka Marsina tida kasi ilang tempo lagi, dengen tjepet pondong peti itoe, maski poen ada amat berat. Koetika maoe melariken diri, ia merasa kadoea tangannja dipegang oleh Ali dari belakang dan itoe peti direboet oleh Ali. Marsina melawan dengen sakoeat tenaganja, hingga itoe peti djato ka tanab. Ali maoe ambil kombali itoe peti, tapi Marsina djorokin padanja, hingga tergoeling bebrapa depa. Ia angkat kombali itoe peti dan niat maoe melariken diri lekas-lekas sabelonnja Ali kaboéroe bangoen, tapi doegaanja kaliroe, sebab Ali, sebagi singa, dengen lekas bangoen dari tempatnja tergoeling dan toebroek Marsina dengen tenaga keras, hingga ia djato tengoeroep dengen tindihken itoe peti. Marsina tjepet baliken badannja, tetapi ia merasa tenaganja abis aken berontak dari tindihannja Ali, jang salaennja doea dengkoel ada di atas dadahnja Marsina, tetapi djoega kadoea tangannja ada menjekek dengen keras pada lehernja dan ia pikir djiwanja bakal binasa.
Sakoenjoeng-koenjoeng ia liat Ali lepasken padanja dan dengen kaloearken satoe soeara treakan, ia liat Ali djato terdjeroenoek bebrapa depa. Marsina lekas bangoen dan satoe lelaki berdiri di depannja. Marsina terkedjoet, ia liat lelaki itoe masi memegang batoe di tangan, tetapi rasa kwatirnja djadi ilang, malah ja merasa girang, kerna lelaki itoe boekan laen, hanja ada ia poenja soeami, toean Joesoef .. .
Matanja Joesoef awasken Ali jang badannja berkledjetan, sedeng dara ada mengoetjoer deres. dari kapalanja. Kaliatan Joesoef tida bisa liat itoe pemandangan ngeri, sebab ia lekas lemparken itoe batoe jang ada di tangannja dan melariken diri sembari berkata: „Lekas lari,....lekas lari!”
Marsina taoe bahaja apa bisa deena kaloe perboeatannja di sitoe kataoean orang, betoel tempat itoe ada sepi, tetapi Ali poenja soeara bertreak ada tioekoep keras aken bisa didenger oleh toekang-toekang grobak di Gang Gardoe, maka lekas-lekas Marsina pondong itoe peti oewang dan melariken diri.
Ia sampe di roemah dengen napas tersengal-sengal dan tida bisa kaloearken satoe perkataan, sebab aken pondong itoe peti oewang jang berat sampe di roemah, boekan sedikit tenaga ia moesti kaloearken. Peti itoe ia taro di atas medja dan ia sendiri roeboehken dirinja di atas divan.
Bebrapa saat Marsina tida bergerak, keadaan dalem itoe roewangan djadi soenji, hingga melinken kadengeran soearanja Marsina sadja jang ditarik keras. Lampoe: gantoeng jang besar ada ketjil sekali apinja; hingga penerangan dalem roewangan itoe melinken ada samar-samar sadja.
Podjokan depan dari roewangan itoe, di bawah satoe djendela jang tertoetoep, ada satoe korsi males, dimana Joesoef biasa rebahken dirinja. Marsina tida perhatiken Joesoef ada dimana, ia doega Joesoef ada dalem kamar. Sasoeda rasaken dirinja ilang tjape, Marsina moelai bangoenken badannja. Sakoenjoeng-koenjoeng ia mendjerit, di itoe podjokan jang gelap ia dapet liat doea tangan jang diangkat dan doea mata jang mendelik. Marsina toetoepken matanja dan baliken badannja dengen goemetar. Ia pikir itoelah setannja si Ali dateng menjoesoel.
„Toean! toean, toeloeng!” bertreak Marsina dengen njaring.
Kamoedian ia denger soearanja badan jang diroeboebken di atas itoe korsi males, betoel pada tempat dimana Marsina dapet liat itoe mata dan tangan.
Marsina baliken kapalanja dan awasken lagi itoe tempat gelap. Sekarang matanja baroe dapet liat potongannja satoe badan jang sedeng rebah.
„Toean !” memanggil Marsina.
Ia denger Joesoef mengelah napas.
„Ja, Allah!” menjeboet Marsina dengen mengoeroet dada aken bikin legah ia poenja hati, jang tadi terkedjoet sanget, „kenapa toean berboeat begitoe ? Astaga, saja kira setannja si Ali.”
Joesoef tida bitjara, ia tekap matanja.
Kadoea orang ini sedeng berada dalem katakoetan. Begitoelah memang biasanja kadjadian pada orang-orang jang berdosa. Marsina, maskipoen hatinja katoetoepan oleh rasa temaha, toch tida bisa loepa itoe pemandangan dimana ada kaliatan badannja
, Ali djato berkledjetan, sebagi binatang ajam jang dipotong. Hatinja jang brani soeda djadi linjap tatkala liat itoe tangan jang diangkat dan mata jang mendelik, hingga ia soeda mendjerit.
Apakah sebabnja Joesoef, dalem itoe podjokan jang gelap, angkat-angkat tangan sebagi orang jang maoe menolak serangannja satoe moesoe dan deliken matanja sebagi orang jang meliat satoe perkara ngeri? Dia ini poen ada dalem katakoetan jang heibat. Ia sampe di roemah dari itoe tempat koeboeran dengen keadaain lemas dan bingoeng. Soeda lama ia rebahken badannja di itoe korsi males dengen karinget mengoetjoer. Hatinja memoekoel keras, pikirannja melajang ka itoe Mesdjit toea, dimana roepanja Ali berbajang lagi di matanja. Ia rasaken boeloe badannja bangoen pada saban kali inget begimana badannja Ali berkledjetan satelah dapet poekoelan batoe dari tangannja. Pikirannja jang roewet melajang semingkin djaoe; ia pikir besok pagi orang nanti dapetken maitnja Ali di itoe tempat, orang katemoeken itoe lobang dan perkakas menggali. Orang aken dateng serepin padanja, sebab Ali bekas ia poenja boedjang. Ali poenja istri jang sakit dan ia poenja mertoea jang soeda kolot, nanti menangis tersedoeh-sedoeh kaloe dapet liat Ali soeda djadi mait. Ali poenja setan tida soeka hati boeat itoe perkara, setan itoe tentoe dateng menggoda, boleh djadi membales sakit hati... .. Ia bangoen terkoenjoeng-koenjoeng dan di hatlepannja, Joesoef liat ada berdiri si Ali dengen satoe badi di tangan. Badannja berloemoeran dara, ia mengantjem dan sedia aken toeblesken badinja itoe di hatinja Joesoef. Joesoef menangkis dengen tangannja dan ia denger Marsina mendjerit.... Ia mendoesin, ia soeda mengigo dari katakoetan, hingga dengen merasa amat tjape ia bantingken dirinja di atas itoe korsi males dan tekapken matanja.
Marsina besarken apinja lampoe gantoeng, soepaja hatinja poen toeroet djadi besar, dan kamoedian ia hampirken Joesoef. Dengen soeara lemah-lemboet ia menanja kenapa tadi Joesoef soeda berboeat begitoe.
„Akoe dapet liat setannja si Ali,” saoet Joesoef dengen ogah.
„Mana ada setan,” kata Marsina, „toch sabetoelnja boekan setan.”
„Satoe waktoe betoel-betoel ia nanti dateng,” kata lagi Joesoef.
„Saja tida pertjaja dan toean djangan pertjaja. Toean moesti bikin senang hati, sebab sekarang kita poenja kakajaan soeda bertamba.”
„Gila!” kata Joesoef dengen sengit.
Marsina hampirken itoe peti oewang dan toewang isinja di atas medja. Toempoekan oewang itoe djadi tertjampoer poetih dan merah, jaitoe perak dan emas, tjahianja ada mengkredep di sinarnja api. Marsina tida brentinja bersenjoem, hatinja amat senang. Ia soesoen itoe oewang brapa djoeblanja.
Joesoef djadi inget pada dosanja koetika liat itoe toempoekan oewang dan denger soearanja oewang itoe di itoeng, seperti djibrail mengitoeng dosanja. Ia poenja kabentjian pada Marsina djadi semingkin sanget, hingga ia lantas bangoen dan masoek ka kamar dengen kontjiken pintoenja dari dalem.
6b4ptpwfnksplflvvj0wu0qfuep9irn
120312
120306
2026-09-27T05:48:54Z
Quraeni
37519
Quraeni memindahkan halaman [[Harta yang terpendam/bab 3]] ke [[Harta yang Terpendam/Bab 3]]: Judul salah eja
120306
wikitext
text/x-wiki
III.
KETAMAKAN SATU PEREMPUAN.
Matahari sudah memancarkan sinarnya yang panas, menembus pada jendela-jendela rumahnya Moehamad Joesoef. Biasanya, ketika Ali sudah membersihkan rumput-rumput di kebun belakang dan pelataran depan, sekalian menyiram pohon-pohon bunga yang tumbuh di pot-pot bagus, kemudian memikul air berisikan bak mandi, tapi pagi itu Ali tidak terlihat. Marsina, begitupun Joesoef, tidak memperdulika Ali tidak datang, meskipun koki Min berulang-ulang memberi tau hal tersebut kepada Marsina.
„Brangkali istrinja sakit keras,” kata Marsina pada koki Min koetika ia ini kasi taoe ka tiga kalinja tentang Ali tida dateng.
Di serambi belakang soeda teratoer satoe medja boender jang ditatakin taplak poetih jang berenda, di atas mana ada satoe nenampan jang berisi tjangkir-tjangkir dan tekoan kopi. Satoe piring dan satoe piso ada ditaro dekat doea potong roti dan satoe boejoeng mentega. Marsina soeda isi tjangkir-tjangkir itoe dengen soesoe dan kopi, silaken toean Joesoef dahar, tapi ia ini jang doedoek di korsi males dengen badan lesoe dan moeka koesoet, gojang kapala beroelang-oelang. Marsina kaliatan girang sadja, lebi girang tingkanja dari hari-hari laen.
"Apa yang harus tuan kesalkan sekarang?” kata Marsina sambil memandang tuannya. "Ali sudah mati, tidak ada seorangpun yang tau jika tuan sudah memukulnya. Itu harta yang sudah ada di tangan kita, tidak ada seorangpun yang berani merampas kembali, meskipun seandainya ahli waris dari pendeta itu masih hidup di dunia.”
"Kamu jangan banyak bicara, perempuan tamak!” sahut Joesoef dengan membuang mukanya ke arah lain, seperti ia sudah tidak sudi lagi melihat parasnya Marsina yang pada pagi itu sebenarnya terlihat lebih cantik. "Aku tidak memikirkan harta yang sudah ada di tanganmu, tetapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku menyesal atas perbuatanku yang sangat kejam pada sesama manusia. Ali mati karena perbuatanmu, dan ia sudah mati di tanganku. Siapakah yang nantinya akan membersihkan dosa itu? Ach! Terkutuklah kamu, Marsina.”
Marsina tertawa dengen merdu.
"Di waktu lapar orang tidak ingat pada dosa,” kata lagi Marsina, "bukan lapar tidak makan, tapi lapar dengan barang permata, coba tuan belikan itu barang-barang dari toko van Arcken tentu saja Ali tidak serakah...."
"Tapi kamu masih punya barang-barang permata dari aku, itu gelang, tusuk konde, ikat pinggang dan lain-lain yang masih berharga ribuan. Selain kamu tidak kekurangan belanja, kenapa kamu begitu tamak merampas hak orang lain? Marsina, kamu adalah satu perempuan tamak.”
"Biarpun dikatakan tamak, asalkan banyak duit,” kata Marsina dengan tertawa.
· · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · ·
Dengen iaorang poenja pembitjaraan diatas, lantas kita bisa dapet taoe bahoea Marsina dan Joesoef ada itoe orang jang tjampoer dalem perkara rampas hartanja Ali jang baroe dapet digali. Biarlah sekarang kita balik sedikit dalem tjerita.
Sebagimana kita soeda tjeritaken, itoe malem, satelah Ali soeda berlaloe dari roemahnja Joesoef, Marsina djadi sedikit tjektjok sama Joesoef dalem perkara maoe rampas hartanja Ali, boeat perboeatan mana Joesoef tida satoedjoe dan tinggalken Marsina sendirian di serambi belakang.
Di atas korsi males Marsina rebah dengen pikiran moendoer madjoe. Itoe harta f 50,000 ada menarik sanget pada hatinja. Begimana ia moesti berboeat; soepaja ia bisa ambil harta itoe sabelonnja Ali dateng? Perdjalanan ka itoe tempat ada amat sepi, ia poenja hati prampoean ada merasa sangsi aken liwatken itoe Gang Gardoe jang amat serem, apapoela moesti liwatken koeboeran-koeboeran Islam jang penoe di sakitarnja itoe mesdjit roesak. Ia nanti ada poenja kabranian kaloe saandenja Joesoef soeka sama-sama pergi ka itoe mesdjit roesak dan gali itoe harta, tapi Joesoef tida maoe dan ia soeda tolak aken lakoeken itoe pakerdjaan dengen hati jang tida dapet dirobah lagi. Sama siapakah ia moestipergi ka itoe tempat jang serem? Begitoelah Marsina berpikir. Min, ia poenja koki boleh diadjak, tapi Min sendiri ada satoe pengetjoet, penakoet sama setan-setan. Sering-sering Min sendiri ada tjeritaken sama Marsina tentang djahatnja setan Niai Grintil. Salaennja dari begitoe, Min belon tentoe aken bersetia selama-lamanja, maka kaloe satoe waktoe ia boeka itoe resia, nistjaja kasenangannja Marsina bisa terganggoe. „Akoe moesti pergi sendirian,” kata Marsina pada diri sendiri. Tetapi Marsina berpikir lagi, tjara begimana ia moesti gali itoe harta. Di dalem testament ada terseboet, itoe peti oewang ada terpendem di tanah satoe kaki dalemnja dan tertindi oleh satoe batoe. Apakah ia sanggoep kiserken itoe batoe dan gali itoe tanah? Itoelah boekan pakerdjaannja orang prampoean, sebab moesti pake banjak tenaga. Salaennja begitoe Marsina berpikir djoega, sadndenja selagi gali itoe harta Ali dateng, begimana ia moesti bikin sama Ali? Berklai tentoe Marsina tida aken menang. Achir-achir Marsina inget si Min poenja tjerita tentang setannja Njai Grintil, Apakah Ali takoet setan? Inilah tida bisa kliroe, sebab Ali sendiri seringkali pertjaja bahoea kaloe istrinja sakit, ada dari lantaran dapet liat setan. Marsina dapet pikir satoe akal, hingga ia djadi bersenjoem. Itoe oewang f 50,000 berbajang-bajang di depan matanija, hingga Marsina djadi loepa tadi lotjeng di pertengahan roemah soeda mengoetaraken djam sapoeloe. Ia lekas berbangkit dan masoek ka dalem kamar, dari mana ia ambil satoe sprei dan teroes berdjalan ka loear dengen tida ada orang jang taoe.
Di djalanan ada sepi, angin menioep dengen santer. Marsina lekas karoedoengi badannja dengen itoe sprei, teroes djalan sampe di moeloet Gang Gardoe, Ia pikir Ali tentoe belon dateng ka itoe tempat, maka koetika dapet liat ada bajangan item dalem itoe gang, ia djadi terkedjoet, boeloe badannja mengkirik. Ia sendiri sangka bajangan itoe ada setan koeboeran, tetapi satelah dapet liat api roko di moeloetnja bajangan itoe, lantas djoega Marsina dapet doega bahoea bajangan itoe tida laen dari si Ali. Ia lekas mengoempet dalem gombolan, kamoedian satelah liat bajangan itoe soeda berdjalan lagi, ia sigra boentoetin. Tjepet sekali Ali berdjalan, hingga Marsina katinggalan djaoe. Koetika sampe di depan itoe mesdjit roesak, lantas djoega Marsina dapet denger soearanja tanah jang digali dan soeara patjoel jang beradoe-radoe dengen batoe. Dengen pelahan sambil mengoempet di bajangan-bajangan tembok, Marsina masoek ka dalem mesdjit jang soeda tida ada gentengnja sampe di pertengahan, dimana dengen laloeasa ia awasken Ali berkerdja, sedeng Ali tida aken dapet liat padanja.
Bebrapa saat soeda berlaloe, achirnja Marsina rasaken hatinja memoekoel keras satelah dapet liat Ali kasi kaloear itoe peti item dari dalem tanah. Marsina tida tahan hatinja jang bersoerak satelah dapet liat itoe oewang dikasi kaloear oleh Ali dari dalem itoe kantong-kantong, hingga dengen tida terasa ia soeda tertawa dengen keras. Ia liat Ali terkedjoet sanget dan moendoer bebrapa tindak ka blakang, sedeng badan dan tangannja bergoemeter. Marsina baroe inget akal jang ia pikirken tadi, dan ia merasa broentoeng sekali itoe tertawaan jang tida disengadja soeda tida bikin gagal maksoednja, maka dengen lekas ia karoedoengi antero moeka dan badannia dengen itoe sprei poetih, dan berdjalan menghamperi pada itoe peti oewang dengen tindakan perlahan. Dalem hatinja Marsina merasa amat geli meliat tingkanja Ali jang sanget ketakoetan dan tida brentinja menjembah serta menjeboet. Koetika soeda berdiri di depan itoe peti Oewang dan merasa Ali tida nanti brani membantah kaloe peti itoe ia angkat pergi, maka Marsina tida kasi ilang tempo lagi, dengen tjepet pondong peti itoe, maski poen ada amat berat. Koetika maoe melariken diri, ia merasa kadoea tangannja dipegang oleh Ali dari belakang dan itoe peti direboet oleh Ali. Marsina melawan dengen sakoeat tenaganja, hingga itoe peti djato ka tanab. Ali maoe ambil kombali itoe peti, tapi Marsina djorokin padanja, hingga tergoeling bebrapa depa. Ia angkat kombali itoe peti dan niat maoe melariken diri lekas-lekas sabelonnja Ali kaboéroe bangoen, tapi doegaanja kaliroe, sebab Ali, sebagi singa, dengen lekas bangoen dari tempatnja tergoeling dan toebroek Marsina dengen tenaga keras, hingga ia djato tengoeroep dengen tindihken itoe peti. Marsina tjepet baliken badannja, tetapi ia merasa tenaganja abis aken berontak dari tindihannja Ali, jang salaennja doea dengkoel ada di atas dadahnja Marsina, tetapi djoega kadoea tangannja ada menjekek dengen keras pada lehernja dan ia pikir djiwanja bakal binasa.
Sakoenjoeng-koenjoeng ia liat Ali lepasken padanja dan dengen kaloearken satoe soeara treakan, ia liat Ali djato terdjeroenoek bebrapa depa. Marsina lekas bangoen dan satoe lelaki berdiri di depannja. Marsina terkedjoet, ia liat lelaki itoe masi memegang batoe di tangan, tetapi rasa kwatirnja djadi ilang, malah ja merasa girang, kerna lelaki itoe boekan laen, hanja ada ia poenja soeami, toean Joesoef .. .
Matanja Joesoef awasken Ali jang badannja berkledjetan, sedeng dara ada mengoetjoer deres. dari kapalanja. Kaliatan Joesoef tida bisa liat itoe pemandangan ngeri, sebab ia lekas lemparken itoe batoe jang ada di tangannja dan melariken diri sembari berkata: „Lekas lari,....lekas lari!”
Marsina taoe bahaja apa bisa deena kaloe perboeatannja di sitoe kataoean orang, betoel tempat itoe ada sepi, tetapi Ali poenja soeara bertreak ada tioekoep keras aken bisa didenger oleh toekang-toekang grobak di Gang Gardoe, maka lekas-lekas Marsina pondong itoe peti oewang dan melariken diri.
Ia sampe di roemah dengen napas tersengal-sengal dan tida bisa kaloearken satoe perkataan, sebab aken pondong itoe peti oewang jang berat sampe di roemah, boekan sedikit tenaga ia moesti kaloearken. Peti itoe ia taro di atas medja dan ia sendiri roeboehken dirinja di atas divan.
Bebrapa saat Marsina tida bergerak, keadaan dalem itoe roewangan djadi soenji, hingga melinken kadengeran soearanja Marsina sadja jang ditarik keras. Lampoe: gantoeng jang besar ada ketjil sekali apinja; hingga penerangan dalem roewangan itoe melinken ada samar-samar sadja.
Podjokan depan dari roewangan itoe, di bawah satoe djendela jang tertoetoep, ada satoe korsi males, dimana Joesoef biasa rebahken dirinja. Marsina tida perhatiken Joesoef ada dimana, ia doega Joesoef ada dalem kamar. Sasoeda rasaken dirinja ilang tjape, Marsina moelai bangoenken badannja. Sakoenjoeng-koenjoeng ia mendjerit, di itoe podjokan jang gelap ia dapet liat doea tangan jang diangkat dan doea mata jang mendelik. Marsina toetoepken matanja dan baliken badannja dengen goemetar. Ia pikir itoelah setannja si Ali dateng menjoesoel.
„Toean! toean, toeloeng!” bertreak Marsina dengen njaring.
Kamoedian ia denger soearanja badan jang diroeboebken di atas itoe korsi males, betoel pada tempat dimana Marsina dapet liat itoe mata dan tangan.
Marsina baliken kapalanja dan awasken lagi itoe tempat gelap. Sekarang matanja baroe dapet liat potongannja satoe badan jang sedeng rebah.
„Toean !” memanggil Marsina.
Ia denger Joesoef mengelah napas.
„Ja, Allah!” menjeboet Marsina dengen mengoeroet dada aken bikin legah ia poenja hati, jang tadi terkedjoet sanget, „kenapa toean berboeat begitoe ? Astaga, saja kira setannja si Ali.”
Joesoef tida bitjara, ia tekap matanja.
Kadoea orang ini sedeng berada dalem katakoetan. Begitoelah memang biasanja kadjadian pada orang-orang jang berdosa. Marsina, maskipoen hatinja katoetoepan oleh rasa temaha, toch tida bisa loepa itoe pemandangan dimana ada kaliatan badannja
, Ali djato berkledjetan, sebagi binatang ajam jang dipotong. Hatinja jang brani soeda djadi linjap tatkala liat itoe tangan jang diangkat dan mata jang mendelik, hingga ia soeda mendjerit.
Apakah sebabnja Joesoef, dalem itoe podjokan jang gelap, angkat-angkat tangan sebagi orang jang maoe menolak serangannja satoe moesoe dan deliken matanja sebagi orang jang meliat satoe perkara ngeri? Dia ini poen ada dalem katakoetan jang heibat. Ia sampe di roemah dari itoe tempat koeboeran dengen keadaain lemas dan bingoeng. Soeda lama ia rebahken badannja di itoe korsi males dengen karinget mengoetjoer. Hatinja memoekoel keras, pikirannja melajang ka itoe Mesdjit toea, dimana roepanja Ali berbajang lagi di matanja. Ia rasaken boeloe badannja bangoen pada saban kali inget begimana badannja Ali berkledjetan satelah dapet poekoelan batoe dari tangannja. Pikirannja jang roewet melajang semingkin djaoe; ia pikir besok pagi orang nanti dapetken maitnja Ali di itoe tempat, orang katemoeken itoe lobang dan perkakas menggali. Orang aken dateng serepin padanja, sebab Ali bekas ia poenja boedjang. Ali poenja istri jang sakit dan ia poenja mertoea jang soeda kolot, nanti menangis tersedoeh-sedoeh kaloe dapet liat Ali soeda djadi mait. Ali poenja setan tida soeka hati boeat itoe perkara, setan itoe tentoe dateng menggoda, boleh djadi membales sakit hati... .. Ia bangoen terkoenjoeng-koenjoeng dan di hatlepannja, Joesoef liat ada berdiri si Ali dengen satoe badi di tangan. Badannja berloemoeran dara, ia mengantjem dan sedia aken toeblesken badinja itoe di hatinja Joesoef. Joesoef menangkis dengen tangannja dan ia denger Marsina mendjerit.... Ia mendoesin, ia soeda mengigo dari katakoetan, hingga dengen merasa amat tjape ia bantingken dirinja di atas itoe korsi males dan tekapken matanja.
Marsina besarken apinja lampoe gantoeng, soepaja hatinja poen toeroet djadi besar, dan kamoedian ia hampirken Joesoef. Dengen soeara lemah-lemboet ia menanja kenapa tadi Joesoef soeda berboeat begitoe.
„Akoe dapet liat setannja si Ali,” saoet Joesoef dengen ogah.
„Mana ada setan,” kata Marsina, „toch sabetoelnja boekan setan.”
„Satoe waktoe betoel-betoel ia nanti dateng,” kata lagi Joesoef.
„Saja tida pertjaja dan toean djangan pertjaja. Toean moesti bikin senang hati, sebab sekarang kita poenja kakajaan soeda bertamba.”
„Gila!” kata Joesoef dengen sengit.
Marsina hampirken itoe peti oewang dan toewang isinja di atas medja. Toempoekan oewang itoe djadi tertjampoer poetih dan merah, jaitoe perak dan emas, tjahianja ada mengkredep di sinarnja api. Marsina tida brentinja bersenjoem, hatinja amat senang. Ia soesoen itoe oewang brapa djoeblanja.
Joesoef djadi inget pada dosanja koetika liat itoe toempoekan oewang dan denger soearanja oewang itoe di itoeng, seperti djibrail mengitoeng dosanja. Ia poenja kabentjian pada Marsina djadi semingkin sanget, hingga ia lantas bangoen dan masoek ka kamar dengen kontjiken pintoenja dari dalem.
6b4ptpwfnksplflvvj0wu0qfuep9irn
120329
120312
2026-09-27T07:12:18Z
Mazhar Zahwakirana Muzaima
43955
120329
wikitext
text/x-wiki
III.
KETAMAKAN SATU PEREMPUAN.
Matahari sudah memancarkan sinarnya yang panas, menembus pada jendela-jendela rumahnya Moehamad Joesoef. Biasanya, ketika Ali sudah membersihkan rumput-rumput di kebun belakang dan pelataran depan, sekalian menyiram pohon-pohon bunga yang tumbuh di pot-pot bagus, kemudian memikul air berisikan bak mandi, tapi pagi itu Ali tidak terlihat. Marsina, begitupun Joesoef, tidak memperdulika Ali tidak datang, meskipun koki Min berulang-ulang memberi tau hal tersebut kepada Marsina.
"Barangkali istrinya sakit keras,” kata Marsina pada koki Min ketika ia memberiahu untuk ke tiga kalinya tentang Ali yang tidak datang.
Di serambi belakang sudah tersusun satu meja bundar yang ditutupi taplak putih yang berenda, di atasnya ada satu nampan yang berisi cangkir-cangkir dan teko berisi kopi. Satu piring dan satu pisau ditaruh dekat dua potong roti dan satu wadah mentega. Marsina sudah mengisi cangkir-cangkir itu dengan susu dan kopi, mempersilakan tuan Joesoef makan, tapi ia duduk di kursi malas dengan badan lesu dan muka kusut, menggoyangkan kapala berulang-ulang. Marsina kelihatan girang saja, lebih girang tingkahnya dari hari-hari lain.
"Apa yang harus tuan kesalkan sekarang?” kata Marsina sambil memandang tuannya. "Ali sudah mati, tidak ada seorangpun yang tau jika tuan sudah memukulnya. Itu harta yang sudah ada di tangan kita, tidak ada seorangpun yang berani merampas kembali, meskipun seandainya ahli waris dari pendeta itu masih hidup di dunia.”
"Kamu jangan banyak bicara, perempuan tamak!” sahut Joesoef dengan membuang mukanya ke arah lain, seperti ia sudah tidak sudi lagi melihat parasnya Marsina yang pada pagi itu sebenarnya terlihat lebih cantik. "Aku tidak memikirkan harta yang sudah ada di tanganmu, tetapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku menyesal atas perbuatanku yang sangat kejam pada sesama manusia. Ali mati karena perbuatanmu, dan ia sudah mati di tanganku. Siapakah yang nantinya akan membersihkan dosa itu? Ach! Terkutuklah kamu, Marsina.”
Marsina tertawa dengen merdu.
"Di waktu lapar orang tidak ingat pada dosa,” kata lagi Marsina, "bukan lapar tidak makan, tapi lapar dengan barang permata, coba tuan belikan itu barang-barang dari toko van Arcken tentu saja Ali tidak serakah...."
"Tapi kamu masih punya barang-barang permata dari aku, itu gelang, tusuk konde, ikat pinggang dan lain-lain yang masih berharga ribuan. Selain kamu tidak kekurangan belanja, kenapa kamu begitu tamak merampas hak orang lain? Marsina, kamu adalah satu perempuan tamak.”
"Biarpun dikatakan tamak, asalkan banyak duit,” kata Marsina dengan tertawa.
· · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · · ·
Dengan orang yang berbicara diatas, lantas kita bisa tau bahu Marsina dan Joesoef ada itu orang yang ikut campur dalam perkara merampas harta Ali yang baru dapat digali. Biarlah sekarang kita balik sedikit dalam cerita.
Sebagaimana yang sudah kita ceritakan, malam itu, setelah Ali sudah berlalu dari rumahya Joesoef, Marsina jadi sedikit cekcok dengan Joesoef dalam perkara ingin merampas hartanya Ali, Joesoef tidak setuju dan meninggalkan Marsina sendirian di serambi belakang.
Di atas kursi dengan malas Marsina duduk dengan pikiran maju mundur. Itu harta sebesar f 50,000 sangat menarik pada hatinya. Bagaimana ia harus berbuat supaya ia bisa mengambil harta itu sebelum Ali datang? Perjalanan ke tempat itu sangat sepi, hati perempuan itu ada merasa sanksi akan melewati Gang Gardoe yang amat seram, apa lagi harus melewati kuburan-kuburan Islam yang penuh di sekitarnya masjid rusak. Ia mempunyai keberanian kalau seandainya Joesoef suka sama-sama pergi ke masjid rusak dan menggali harta itu, tapi Joesoef tida mau dan ia sudah menolak untuk melakukan pekerjaan dengan hati yang tidak dapat diubah lagi. Berama siapakah ia moestipergi ka itoe tempat jang serem? Begitoelah Marsina berpikir. Min, ia poenja koki boleh diadjak, tapi Min sendiri ada satoe pengetjoet, penakoet sama setan-setan. Sering-sering Min sendiri ada tjeritaken sama Marsina tentang djahatnja setan Niai Grintil. Salaennja dari begitoe, Min belon tentoe aken bersetia selama-lamanja, maka kaloe satoe waktoe ia boeka itoe resia, nistjaja kasenangannja Marsina bisa terganggoe. „Akoe moesti pergi sendirian,” kata Marsina pada diri sendiri. Tetapi Marsina berpikir lagi, tjara begimana ia moesti gali itoe harta. Di dalem testament ada terseboet, itoe peti oewang ada terpendem di tanah satoe kaki dalemnja dan tertindi oleh satoe batoe. Apakah ia sanggoep kiserken itoe batoe dan gali itoe tanah? Itoelah boekan pakerdjaannja orang prampoean, sebab moesti pake banjak tenaga. Salaennja begitoe Marsina berpikir djoega, sadndenja selagi gali itoe harta Ali dateng, begimana ia moesti bikin sama Ali? Berklai tentoe Marsina tida aken menang. Achir-achir Marsina inget si Min poenja tjerita tentang setannja Njai Grintil, Apakah Ali takoet setan? Inilah tida bisa kliroe, sebab Ali sendiri seringkali pertjaja bahoea kaloe istrinja sakit, ada dari lantaran dapet liat setan. Marsina dapet pikir satoe akal, hingga ia djadi bersenjoem. Itoe oewang f 50,000 berbajang-bajang di depan matanija, hingga Marsina djadi loepa tadi lotjeng di pertengahan roemah soeda mengoetaraken djam sapoeloe. Ia lekas berbangkit dan masoek ka dalem kamar, dari mana ia ambil satoe sprei dan teroes berdjalan ka loear dengen tida ada orang jang taoe.
Di djalanan ada sepi, angin menioep dengen santer. Marsina lekas karoedoengi badannja dengen itoe sprei, teroes djalan sampe di moeloet Gang Gardoe, Ia pikir Ali tentoe belon dateng ka itoe tempat, maka koetika dapet liat ada bajangan item dalem itoe gang, ia djadi terkedjoet, boeloe badannja mengkirik. Ia sendiri sangka bajangan itoe ada setan koeboeran, tetapi satelah dapet liat api roko di moeloetnja bajangan itoe, lantas djoega Marsina dapet doega bahoea bajangan itoe tida laen dari si Ali. Ia lekas mengoempet dalem gombolan, kamoedian satelah liat bajangan itoe soeda berdjalan lagi, ia sigra boentoetin. Tjepet sekali Ali berdjalan, hingga Marsina katinggalan djaoe. Koetika sampe di depan itoe mesdjit roesak, lantas djoega Marsina dapet denger soearanja tanah jang digali dan soeara patjoel jang beradoe-radoe dengen batoe. Dengen pelahan sambil mengoempet di bajangan-bajangan tembok, Marsina masoek ka dalem mesdjit jang soeda tida ada gentengnja sampe di pertengahan, dimana dengen laloeasa ia awasken Ali berkerdja, sedeng Ali tida aken dapet liat padanja.
Bebrapa saat soeda berlaloe, achirnja Marsina rasaken hatinja memoekoel keras satelah dapet liat Ali kasi kaloear itoe peti item dari dalem tanah. Marsina tida tahan hatinja jang bersoerak satelah dapet liat itoe oewang dikasi kaloear oleh Ali dari dalem itoe kantong-kantong, hingga dengen tida terasa ia soeda tertawa dengen keras. Ia liat Ali terkedjoet sanget dan moendoer bebrapa tindak ka blakang, sedeng badan dan tangannja bergoemeter. Marsina baroe inget akal jang ia pikirken tadi, dan ia merasa broentoeng sekali itoe tertawaan jang tida disengadja soeda tida bikin gagal maksoednja, maka dengen lekas ia karoedoengi antero moeka dan badannia dengen itoe sprei poetih, dan berdjalan menghamperi pada itoe peti oewang dengen tindakan perlahan. Dalem hatinja Marsina merasa amat geli meliat tingkanja Ali jang sanget ketakoetan dan tida brentinja menjembah serta menjeboet. Koetika soeda berdiri di depan itoe peti Oewang dan merasa Ali tida nanti brani membantah kaloe peti itoe ia angkat pergi, maka Marsina tida kasi ilang tempo lagi, dengen tjepet pondong peti itoe, maski poen ada amat berat. Koetika maoe melariken diri, ia merasa kadoea tangannja dipegang oleh Ali dari belakang dan itoe peti direboet oleh Ali. Marsina melawan dengen sakoeat tenaganja, hingga itoe peti djato ka tanab. Ali maoe ambil kombali itoe peti, tapi Marsina djorokin padanja, hingga tergoeling bebrapa depa. Ia angkat kombali itoe peti dan niat maoe melariken diri lekas-lekas sabelonnja Ali kaboéroe bangoen, tapi doegaanja kaliroe, sebab Ali, sebagi singa, dengen lekas bangoen dari tempatnja tergoeling dan toebroek Marsina dengen tenaga keras, hingga ia djato tengoeroep dengen tindihken itoe peti. Marsina tjepet baliken badannja, tetapi ia merasa tenaganja abis aken berontak dari tindihannja Ali, jang salaennja doea dengkoel ada di atas dadahnja Marsina, tetapi djoega kadoea tangannja ada menjekek dengen keras pada lehernja dan ia pikir djiwanja bakal binasa.
Sakoenjoeng-koenjoeng ia liat Ali lepasken padanja dan dengen kaloearken satoe soeara treakan, ia liat Ali djato terdjeroenoek bebrapa depa. Marsina lekas bangoen dan satoe lelaki berdiri di depannja. Marsina terkedjoet, ia liat lelaki itoe masi memegang batoe di tangan, tetapi rasa kwatirnja djadi ilang, malah ja merasa girang, kerna lelaki itoe boekan laen, hanja ada ia poenja soeami, toean Joesoef .. .
Matanja Joesoef awasken Ali jang badannja berkledjetan, sedeng dara ada mengoetjoer deres. dari kapalanja. Kaliatan Joesoef tida bisa liat itoe pemandangan ngeri, sebab ia lekas lemparken itoe batoe jang ada di tangannja dan melariken diri sembari berkata: „Lekas lari,....lekas lari!”
Marsina taoe bahaja apa bisa deena kaloe perboeatannja di sitoe kataoean orang, betoel tempat itoe ada sepi, tetapi Ali poenja soeara bertreak ada tioekoep keras aken bisa didenger oleh toekang-toekang grobak di Gang Gardoe, maka lekas-lekas Marsina pondong itoe peti oewang dan melariken diri.
Ia sampe di roemah dengen napas tersengal-sengal dan tida bisa kaloearken satoe perkataan, sebab aken pondong itoe peti oewang jang berat sampe di roemah, boekan sedikit tenaga ia moesti kaloearken. Peti itoe ia taro di atas medja dan ia sendiri roeboehken dirinja di atas divan.
Bebrapa saat Marsina tida bergerak, keadaan dalem itoe roewangan djadi soenji, hingga melinken kadengeran soearanja Marsina sadja jang ditarik keras. Lampoe: gantoeng jang besar ada ketjil sekali apinja; hingga penerangan dalem roewangan itoe melinken ada samar-samar sadja.
Podjokan depan dari roewangan itoe, di bawah satoe djendela jang tertoetoep, ada satoe korsi males, dimana Joesoef biasa rebahken dirinja. Marsina tida perhatiken Joesoef ada dimana, ia doega Joesoef ada dalem kamar. Sasoeda rasaken dirinja ilang tjape, Marsina moelai bangoenken badannja. Sakoenjoeng-koenjoeng ia mendjerit, di itoe podjokan jang gelap ia dapet liat doea tangan jang diangkat dan doea mata jang mendelik. Marsina toetoepken matanja dan baliken badannja dengen goemetar. Ia pikir itoelah setannja si Ali dateng menjoesoel.
„Toean! toean, toeloeng!” bertreak Marsina dengen njaring.
Kamoedian ia denger soearanja badan jang diroeboebken di atas itoe korsi males, betoel pada tempat dimana Marsina dapet liat itoe mata dan tangan.
Marsina baliken kapalanja dan awasken lagi itoe tempat gelap. Sekarang matanja baroe dapet liat potongannja satoe badan jang sedeng rebah.
„Toean !” memanggil Marsina.
Ia denger Joesoef mengelah napas.
„Ja, Allah!” menjeboet Marsina dengen mengoeroet dada aken bikin legah ia poenja hati, jang tadi terkedjoet sanget, „kenapa toean berboeat begitoe ? Astaga, saja kira setannja si Ali.”
Joesoef tida bitjara, ia tekap matanja.
Kadoea orang ini sedeng berada dalem katakoetan. Begitoelah memang biasanja kadjadian pada orang-orang jang berdosa. Marsina, maskipoen hatinja katoetoepan oleh rasa temaha, toch tida bisa loepa itoe pemandangan dimana ada kaliatan badannja
, Ali djato berkledjetan, sebagi binatang ajam jang dipotong. Hatinja jang brani soeda djadi linjap tatkala liat itoe tangan jang diangkat dan mata jang mendelik, hingga ia soeda mendjerit.
Apakah sebabnja Joesoef, dalem itoe podjokan jang gelap, angkat-angkat tangan sebagi orang jang maoe menolak serangannja satoe moesoe dan deliken matanja sebagi orang jang meliat satoe perkara ngeri? Dia ini poen ada dalem katakoetan jang heibat. Ia sampe di roemah dari itoe tempat koeboeran dengen keadaain lemas dan bingoeng. Soeda lama ia rebahken badannja di itoe korsi males dengen karinget mengoetjoer. Hatinja memoekoel keras, pikirannja melajang ka itoe Mesdjit toea, dimana roepanja Ali berbajang lagi di matanja. Ia rasaken boeloe badannja bangoen pada saban kali inget begimana badannja Ali berkledjetan satelah dapet poekoelan batoe dari tangannja. Pikirannja jang roewet melajang semingkin djaoe; ia pikir besok pagi orang nanti dapetken maitnja Ali di itoe tempat, orang katemoeken itoe lobang dan perkakas menggali. Orang aken dateng serepin padanja, sebab Ali bekas ia poenja boedjang. Ali poenja istri jang sakit dan ia poenja mertoea jang soeda kolot, nanti menangis tersedoeh-sedoeh kaloe dapet liat Ali soeda djadi mait. Ali poenja setan tida soeka hati boeat itoe perkara, setan itoe tentoe dateng menggoda, boleh djadi membales sakit hati... .. Ia bangoen terkoenjoeng-koenjoeng dan di hatlepannja, Joesoef liat ada berdiri si Ali dengen satoe badi di tangan. Badannja berloemoeran dara, ia mengantjem dan sedia aken toeblesken badinja itoe di hatinja Joesoef. Joesoef menangkis dengen tangannja dan ia denger Marsina mendjerit.... Ia mendoesin, ia soeda mengigo dari katakoetan, hingga dengen merasa amat tjape ia bantingken dirinja di atas itoe korsi males dan tekapken matanja.
Marsina besarken apinja lampoe gantoeng, soepaja hatinja poen toeroet djadi besar, dan kamoedian ia hampirken Joesoef. Dengen soeara lemah-lemboet ia menanja kenapa tadi Joesoef soeda berboeat begitoe.
„Akoe dapet liat setannja si Ali,” saoet Joesoef dengen ogah.
„Mana ada setan,” kata Marsina, „toch sabetoelnja boekan setan.”
„Satoe waktoe betoel-betoel ia nanti dateng,” kata lagi Joesoef.
„Saja tida pertjaja dan toean djangan pertjaja. Toean moesti bikin senang hati, sebab sekarang kita poenja kakajaan soeda bertamba.”
„Gila!” kata Joesoef dengen sengit.
Marsina hampirken itoe peti oewang dan toewang isinja di atas medja. Toempoekan oewang itoe djadi tertjampoer poetih dan merah, jaitoe perak dan emas, tjahianja ada mengkredep di sinarnja api. Marsina tida brentinja bersenjoem, hatinja amat senang. Ia soesoen itoe oewang brapa djoeblanja.
Joesoef djadi inget pada dosanja koetika liat itoe toempoekan oewang dan denger soearanja oewang itoe di itoeng, seperti djibrail mengitoeng dosanja. Ia poenja kabentjian pada Marsina djadi semingkin sanget, hingga ia lantas bangoen dan masoek ka kamar dengen kontjiken pintoenja dari dalem.
8z0rpaixnt8bwqdkjbigidyq6428erg
Harta yang Terpendam/Bab 6
0
28539
120280
2026-09-27T04:52:25Z
Ars-arsa
42375
←Membuat halaman berisi 'VI. DI ROEMAH SAKIT TJIKEUMEUH. Politie dapet banjak soesa aken bawa Ali ka roemah sakit Tjikeumeuh, sebab ia selaloe berontak-rontak tida maoe dibawa ka itoe tempat kaloe tida bersama-sama istrinja. Sebab bisa bawa bintjana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitoe, maka politie loeloesken kahendaknja Ali, jang laloe dibawa ka Kebon Djahe diroemahnja Katma. Tentoe sadja samoea orang isinja itoe roemah djadi terkedjoet sanget koetika dapet liat Ali teriket ta...'
120280
wikitext
text/x-wiki
VI.
DI ROEMAH SAKIT TJIKEUMEUH.
Politie dapet banjak soesa aken bawa Ali ka roemah sakit Tjikeumeuh, sebab ia selaloe berontak-rontak tida maoe dibawa ka itoe tempat kaloe tida bersama-sama istrinja. Sebab bisa bawa bintjana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitoe, maka politie loeloesken kahendaknja Ali, jang laloe dibawa ka Kebon Djahe diroemahnja Katma. Tentoe sadja samoea orang isinja itoe roemah djadi terkedjoet sanget koetika dapet liat Ali teriket tangannja dengen dipegang oleh doea orang politie. Keadaannja Ali djadi semingkin gila koetika dapet liat istri dan familienja. Ia teroes berontak, hingga bebrapa kali politie terpaksa goenaken roejoengnja: boeat bikin Ali merasa sakit, tetapi itoe samoea tida menoeloeng, Ali poenja kalap tida perdoeliken sakit. Embok Saneah, istrinja Ali, djadi mendjerit-djerit koetika liat soeaminja dipoekoelin oleh orang polltie, sedeng sekalian familienja jang prampoean toeroet menangis, Katma beroelang-oelang minta pada itoe orang politie soepaja soedaranja tida dipoekoelin, dan kamoedian, bersama Saneah, Katma laloe anter Ali ka roemah sakit di Tjikeumeuh.
Ali dipreksa oleh satoe doktor dan ini thabib Europa laloe menerangken bahoea Ali betoel dapet sakit gila, tetapi tida keras, dalem satoe boelan brangkali bisa semboeh. Istrinja Ali dikasi soerat ​permisi aken boleh masoek ka roemah sakit boeat katemoeken soeaminja.
Ali dimasoeken di satoe kamar sendirian, sedeng Katma dan Saneah laloe berdjalan poelang dengen hati sedih.
Pada soeatoe hari, koetika Saneah, sebagimana biasa satlap hari, koendjoengi soeaminja di roemah sakit, Ali laloe terangken pada Saneah bahoea ia sabetoelnja tida gila, tjoema lantaran terlaloe goesar, maka ia djadi begitoe kalap, hingga pikirannja djadi gelap. Ia tida inget satoe apa salaennja ingin mengamoek.
Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres.
„Kenapa kaoe menanggis, Saneah ?” tanja Ali.
„Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” ​„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?”
„Itoe samoea soeda terdjadi dengen sakedjepan,” sahoet Ali. „Selagi akoe kalap, boleh djadi kalakoeankoe mirip sebagi orang gila, tetapi sekarang, sebagimana kaoe liat, akoe tida gila.”
„Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?”
„Ach! Saneah,” kata Ali dengen mengelah napas, „njatalah kaoe tida taoe keadaankoe, njatalah kaoe tida taoe apa jang sabetoelnja soeda terdjadi di roemahnja toean Joesoef. . . .”
„Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,”
„Akoe kapingin bisa boenoeh itoe doea bangsat ​seperti memboenoeh pada andjing-andjing,” kata Ali dengen gemes.
„Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?”
„Boekan lantaran iaorang soeka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Doea jaorang takoet dapet akoe poenja pembatesan.”
„Pembalesan begimana? Apa iaorang soeda berboeat sala pada kaoe, Ali? Apa boekan kita jang dapet ia poenja banjak toeloengan di tempo doeloe ?”
„Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, ​maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.”
Saneah djadi katarik hati dengen itoe tjerita jang mirip seperti dongeng. Itoe harta f 50,000 ia masi kagoemken, dari sebab begitoe ia laloe mendengeri lebih hati-hati pada tjeritanja Ali jang masi diteroesken.
„Saneah,” melandjoeti Ali dalem tjeritania itoe, „kaoe tentoe masi inget itoe malem kaoe ada sakit. Penjakitmoe itoe membikin akoe djadi jengkel, doahnja doekoen tida bisa berbasil. Itoe waktoe akoe inget ada satoe kitab Arab jang tergantoeng di dingding roemah, peninggalan abang Moersin, dan jang kita selaloe oekoepken sebagi barang angker. Akoe jang soeda boeang banjak oewang boeat itoe kitab, kerna saban malem Djoemahat moesti dioekoepken dengen menjan, djadi kapingin taoe ​isinja. Akoe soeda tetepken niatan, kaloe betoel itoe ada kitab soetji, akoe maoe minta kamandjoerannia boeat kaoe poenia penjakit dan kaloe kitab biasa, akoe niat aken djoeal sadja. Koetika akoe boeka lembarannja, satoe lipetan soerat soeda djato dari dalem lembaran kitab itoe. Akoe poengoet dan tjoema liat toelisan-toelisan Arab jang rapi. Dari sebab kapingin taoe, akoe laloe bawa soerat itoe pada toean Joesoef jang kasi katerangan bahoea soerat itoe ada testament dari hartanja satoe hadji. Hartanja jang berdjoembla f 50,000 ada terpendem di mesdjit roesak di Mangga Doea. Ia kasi katerangan begitoe lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef jang soeda hartawan tida nanti serahken harta itoe. Malemnja poekoel sapoeloe, dengen tida kasi taoe pada kaoe, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil ​itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?”
Saneah gojang kapalanja.
„Apa kaoe tida kliroe kaloe doega Nji Marsina dan Joesoef soeda berboeat begitoe?” tana Saneah, sebab sangsi kaloe Ali nanti djatoken doegaan ka sitoe.
„Tida bisa kliroe. Joesoef ada satoe bangsat jang paling pande berpoera-poera. Ia bikin dirinja terpandang moelia, sebab tida soeka serakahken itoe harta dan kasi katerangan tjoekoep hal adanja harta itoe, tapi malem-malem ia soeda adjak Nji Marsina ka itoe mesdjit, roepanja maoe doeloein ambil itoe harta, tapi koetika liat akoe ada di sitoe ia lantas soeroe Marsina menjaroe djadi setan. Koetika liat akoe maoe matiken Marsina, Joesoef lantas serang dengen batoe. Besokannja tentoe ia soeroe Min tjari taoe dan dapet katerangan akoe tida mati, hingga ia jadi kwatir sekali dapet ​pembalesan, maka ia lantas pinda ka Tjiwaringin, dengen harepan soepaja kita tida bisa katemoeken lagi padanja. Tetapi Allah-ta-allah soeda bawa kita kamari boeat bikin peritoengan padanja. Begitoelah dengen koedrad Allah akoe soeda dateng di roemahnja bocat betoelken bilik, di tempat mana djoestroe ada itoe lemari jang moesti dikiserken. Dalem itoe lemari akoe dapet liat itoe peti oewang, jang lantas djoega akoe kenalken ada itoe peti jang akoe gali di mesdjit roesak dan berisi itoe oewang f 50,000. Pikirankoe jang gelap, itoe waktoe djadi terang sebagi matahari, hingga lantaran sengit akoe soeda serang pada Njai Marsina dan toean Joesoef, akoe kapingin sekali ambil djiwanja dengen akoe poenja djeridji. Nah, sekarang kaoe taoe doedoeknja perkara, Saneah. Kaoe! pikir pembalesan kita moesti bikin pada itoe doea bangsat.”
„Ach, Ali, boeat apa kita bikin pembalesan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti bales itoe kadjahatan,” kata Saneah.
„Kaoe kliroe Saneah,” kata Ali dengen mata menjala. „Allah tida bisa toeroenken tangan, ia melinken lindoengi orang jang hendak membales pada manoesia jang berboeat kadjahatan.”
Saneah mengelah napas. Ia taoe Ali ada poenja napsoe jang keras dalem segala perkara jang tida pantes.
<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/66|num=64|formatted=64|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/66}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/67|num=65|formatted=65|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/67}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/68|num=66|formatted=66|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/68}}
g4hsmdj0g8fjb0r80k04zabayu3e9qg
120287
120280
2026-09-27T05:03:37Z
Ars-arsa
42375
120287
wikitext
text/x-wiki
VI.
DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH.
Politie dapet banyak soesa aken bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka politie luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja samoea orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannja dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinja Ali, djadi mendjerit-djerit koetika liat soeaminja dipoekoelin oleh orang polltie, sedeng sekalian familienja jang prampoean toeroet menangis, Katma beroelang-oelang minta pada itoe orang politie soepaja soedaranja tida dipoekoelin, dan kamoedian, bersama Saneah, Katma laloe anter Ali ka roemah sakit di Tjikeumeuh.
Ali dipreksa oleh satoe doktor dan ini thabib Europa laloe menerangken bahoea Ali betoel dapet sakit gila, tetapi tida keras, dalem satoe boelan brangkali bisa semboeh. Istrinja Ali dikasi soerat ​permisi aken boleh masoek ka roemah sakit boeat katemoeken soeaminja.
Ali dimasoeken di satoe kamar sendirian, sedeng Katma dan Saneah laloe berdjalan poelang dengen hati sedih.
Pada soeatoe hari, koetika Saneah, sebagimana biasa satlap hari, koendjoengi soeaminja di roemah sakit, Ali laloe terangken pada Saneah bahoea ia sabetoelnja tida gila, tjoema lantaran terlaloe goesar, maka ia djadi begitoe kalap, hingga pikirannja djadi gelap. Ia tida inget satoe apa salaennja ingin mengamoek.
Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres.
„Kenapa kaoe menanggis, Saneah ?” tanja Ali.
„Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” ​„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?”
„Itoe samoea soeda terdjadi dengen sakedjepan,” sahoet Ali. „Selagi akoe kalap, boleh djadi kalakoeankoe mirip sebagi orang gila, tetapi sekarang, sebagimana kaoe liat, akoe tida gila.”
„Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?”
„Ach! Saneah,” kata Ali dengen mengelah napas, „njatalah kaoe tida taoe keadaankoe, njatalah kaoe tida taoe apa jang sabetoelnja soeda terdjadi di roemahnja toean Joesoef. . . .”
„Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,”
„Akoe kapingin bisa boenoeh itoe doea bangsat ​seperti memboenoeh pada andjing-andjing,” kata Ali dengen gemes.
„Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?”
„Boekan lantaran iaorang soeka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Doea jaorang takoet dapet akoe poenja pembatesan.”
„Pembalesan begimana? Apa iaorang soeda berboeat sala pada kaoe, Ali? Apa boekan kita jang dapet ia poenja banjak toeloengan di tempo doeloe ?”
„Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, ​maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.”
Saneah djadi katarik hati dengen itoe tjerita jang mirip seperti dongeng. Itoe harta f 50,000 ia masi kagoemken, dari sebab begitoe ia laloe mendengeri lebih hati-hati pada tjeritanja Ali jang masi diteroesken.
„Saneah,” melandjoeti Ali dalem tjeritania itoe, „kaoe tentoe masi inget itoe malem kaoe ada sakit. Penjakitmoe itoe membikin akoe djadi jengkel, doahnja doekoen tida bisa berbasil. Itoe waktoe akoe inget ada satoe kitab Arab jang tergantoeng di dingding roemah, peninggalan abang Moersin, dan jang kita selaloe oekoepken sebagi barang angker. Akoe jang soeda boeang banjak oewang boeat itoe kitab, kerna saban malem Djoemahat moesti dioekoepken dengen menjan, djadi kapingin taoe ​isinja. Akoe soeda tetepken niatan, kaloe betoel itoe ada kitab soetji, akoe maoe minta kamandjoerannia boeat kaoe poenia penjakit dan kaloe kitab biasa, akoe niat aken djoeal sadja. Koetika akoe boeka lembarannja, satoe lipetan soerat soeda djato dari dalem lembaran kitab itoe. Akoe poengoet dan tjoema liat toelisan-toelisan Arab jang rapi. Dari sebab kapingin taoe, akoe laloe bawa soerat itoe pada toean Joesoef jang kasi katerangan bahoea soerat itoe ada testament dari hartanja satoe hadji. Hartanja jang berdjoembla f 50,000 ada terpendem di mesdjit roesak di Mangga Doea. Ia kasi katerangan begitoe lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef jang soeda hartawan tida nanti serahken harta itoe. Malemnja poekoel sapoeloe, dengen tida kasi taoe pada kaoe, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil ​itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?”
Saneah gojang kapalanja.
„Apa kaoe tida kliroe kaloe doega Nji Marsina dan Joesoef soeda berboeat begitoe?” tana Saneah, sebab sangsi kaloe Ali nanti djatoken doegaan ka sitoe.
„Tida bisa kliroe. Joesoef ada satoe bangsat jang paling pande berpoera-poera. Ia bikin dirinja terpandang moelia, sebab tida soeka serakahken itoe harta dan kasi katerangan tjoekoep hal adanja harta itoe, tapi malem-malem ia soeda adjak Nji Marsina ka itoe mesdjit, roepanja maoe doeloein ambil itoe harta, tapi koetika liat akoe ada di sitoe ia lantas soeroe Marsina menjaroe djadi setan. Koetika liat akoe maoe matiken Marsina, Joesoef lantas serang dengen batoe. Besokannja tentoe ia soeroe Min tjari taoe dan dapet katerangan akoe tida mati, hingga ia jadi kwatir sekali dapet ​pembalesan, maka ia lantas pinda ka Tjiwaringin, dengen harepan soepaja kita tida bisa katemoeken lagi padanja. Tetapi Allah-ta-allah soeda bawa kita kamari boeat bikin peritoengan padanja. Begitoelah dengen koedrad Allah akoe soeda dateng di roemahnja bocat betoelken bilik, di tempat mana djoestroe ada itoe lemari jang moesti dikiserken. Dalem itoe lemari akoe dapet liat itoe peti oewang, jang lantas djoega akoe kenalken ada itoe peti jang akoe gali di mesdjit roesak dan berisi itoe oewang f 50,000. Pikirankoe jang gelap, itoe waktoe djadi terang sebagi matahari, hingga lantaran sengit akoe soeda serang pada Njai Marsina dan toean Joesoef, akoe kapingin sekali ambil djiwanja dengen akoe poenja djeridji. Nah, sekarang kaoe taoe doedoeknja perkara, Saneah. Kaoe! pikir pembalesan kita moesti bikin pada itoe doea bangsat.”
„Ach, Ali, boeat apa kita bikin pembalesan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti bales itoe kadjahatan,” kata Saneah.
„Kaoe kliroe Saneah,” kata Ali dengen mata menjala. „Allah tida bisa toeroenken tangan, ia melinken lindoengi orang jang hendak membales pada manoesia jang berboeat kadjahatan.”
Saneah mengelah napas. Ia taoe Ali ada poenja napsoe jang keras dalem segala perkara jang tida pantes.
<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/66|num=64|formatted=64|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/66}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/67|num=65|formatted=65|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/67}}<pageseparator /><span>{{:MediaWiki:Proofreadpage_pagenum_template|page=Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/68|num=66|formatted=66|quality=4}}</span>{{:Halaman:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf/68}}
om00awsgf2eepfjnqll9kn3311axdg2
120297
120287
2026-09-27T05:13:54Z
Ars-arsa
42375
120297
wikitext
text/x-wiki
VI.
DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH.
Politie dapet banyak soesa aken bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka politie luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja samoea orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannja dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinja Ali, djadi mendjerit-djerit koetika liat soeaminja dipoekoelin oleh orang polltie, sedeng sekalian familienja jang prampoean toeroet menangis, Katma beroelang-oelang minta pada itoe orang politie soepaja soedaranja tida dipoekoelin, dan kamoedian, bersama Saneah, Katma laloe anter Ali ka roemah sakit di Tjikeumeuh.
Ali dipreksa oleh satoe doktor dan ini thabib Europa laloe menerangken bahoea Ali betoel dapet sakit gila, tetapi tida keras, dalem satoe boelan brangkali bisa semboeh. Istrinja Ali dikasi soerat ​permisi aken boleh masoek ka roemah sakit boeat katemoeken soeaminja.
Ali dimasoeken di satoe kamar sendirian, sedeng Katma dan Saneah laloe berdjalan poelang dengen hati sedih.
Pada soeatoe hari, koetika Saneah, sebagimana biasa satlap hari, koendjoengi soeaminja di roemah sakit, Ali laloe terangken pada Saneah bahoea ia sabetoelnja tida gila, tjoema lantaran terlaloe goesar, maka ia djadi begitoe kalap, hingga pikirannja djadi gelap. Ia tida inget satoe apa salaennja ingin mengamoek.
Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres.
„Kenapa kaoe menanggis, Saneah ?” tanja Ali.
„Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” ​„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?”
„Itoe samoea soeda terdjadi dengen sakedjepan,” sahoet Ali. „Selagi akoe kalap, boleh djadi kalakoeankoe mirip sebagi orang gila, tetapi sekarang, sebagimana kaoe liat, akoe tida gila.”
„Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?”
„Ach! Saneah,” kata Ali dengen mengelah napas, „njatalah kaoe tida taoe keadaankoe, njatalah kaoe tida taoe apa jang sabetoelnja soeda terdjadi di roemahnja toean Joesoef. . . .”
„Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,”
„Akoe kapingin bisa boenoeh itoe doea bangsat ​seperti memboenoeh pada andjing-andjing,” kata Ali dengen gemes.
„Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?”
„Boekan lantaran iaorang soeka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Doea jaorang takoet dapet akoe poenja pembatesan.”
„Pembalesan begimana? Apa iaorang soeda berboeat sala pada kaoe, Ali? Apa boekan kita jang dapet ia poenja banjak toeloengan di tempo doeloe ?”
„Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, ​maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.”
Saneah djadi katarik hati dengen itoe tjerita jang mirip seperti dongeng. Itoe harta f 50,000 ia masi kagoemken, dari sebab begitoe ia laloe mendengeri lebih hati-hati pada tjeritanja Ali jang masi diteroesken.
„Saneah,” melandjoeti Ali dalem tjeritania itoe, „kaoe tentoe masi inget itoe malem kaoe ada sakit. Penjakitmoe itoe membikin akoe djadi jengkel, doahnja doekoen tida bisa berbasil. Itoe waktoe akoe inget ada satoe kitab Arab jang tergantoeng di dingding roemah, peninggalan abang Moersin, dan jang kita selaloe oekoepken sebagi barang angker. Akoe jang soeda boeang banjak oewang boeat itoe kitab, kerna saban malem Djoemahat moesti dioekoepken dengen menjan, djadi kapingin taoe ​isinja. Akoe soeda tetepken niatan, kaloe betoel itoe ada kitab soetji, akoe maoe minta kamandjoerannia boeat kaoe poenia penjakit dan kaloe kitab biasa, akoe niat aken djoeal sadja. Koetika akoe boeka lembarannja, satoe lipetan soerat soeda djato dari dalem lembaran kitab itoe. Akoe poengoet dan tjoema liat toelisan-toelisan Arab jang rapi. Dari sebab kapingin taoe, akoe laloe bawa soerat itoe pada toean Joesoef jang kasi katerangan bahoea soerat itoe ada testament dari hartanja satoe hadji. Hartanja jang berdjoembla f 50,000 ada terpendem di mesdjit roesak di Mangga Doea. Ia kasi katerangan begitoe lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef jang soeda hartawan tida nanti serahken harta itoe. Malemnja poekoel sapoeloe, dengen tida kasi taoe pada kaoe, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil ​itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?”
Saneah gojang kapalanja.
„Apa kaoe tida kliroe kaloe doega Nji Marsina dan Joesoef soeda berboeat begitoe?” tana Saneah, sebab sangsi kaloe Ali nanti djatoken doegaan ka sitoe.
„Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu mesdjit, rupanya mau duluin ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Besokannya tentu ia suru Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat ​pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitoelah dengen koedrad Allah akoe soeda dateng di roemahnja bocat betoelken bilik, di tempat mana djoestroe ada itoe lemari jang moesti dikiserken. Dalem itoe lemari akoe dapet liat itoe peti oewang, jang lantas djoega akoe kenalken ada itoe peti jang akoe gali di mesdjit roesak dan berisi itoe oewang f 50,000. Pikirankoe jang gelap, itoe waktoe djadi terang sebagi matahari, hingga lantaran sengit akoe soeda serang pada Njai Marsina dan toean Joesoef, akoe kapingin sekali ambil djiwanja dengen akoe poenja djeridji. Nah, sekarang kaoe taoe doedoeknja perkara, Saneah. Kaoe! pikir pembalesan kita moesti bikin pada itoe doea bangsat.”
„Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah.
„Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.”
Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas.
ne6t7rqfcfqz5pp1qwf7fl37ux96whq
120307
120297
2026-09-27T05:41:24Z
Ars-arsa
42375
120307
wikitext
text/x-wiki
VI.
DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH.
Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminja dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh.
Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat ​permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya.
Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih.
Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk.
Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres.
„Kenapa kaoe menanggis, Saneah ?” tanja Ali.
„Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” ​„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?”
„Itoe samoea soeda terdjadi dengen sakedjepan,” sahoet Ali. „Selagi akoe kalap, boleh djadi kalakoeankoe mirip sebagi orang gila, tetapi sekarang, sebagimana kaoe liat, akoe tida gila.”
„Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?”
„Ach! Saneah,” kata Ali dengen mengelah napas, „njatalah kaoe tida taoe keadaankoe, njatalah kaoe tida taoe apa jang sabetoelnja soeda terdjadi di roemahnja toean Joesoef. . . .”
„Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,”
„Akoe kapingin bisa boenoeh itoe doea bangsat ​seperti memboenoeh pada andjing-andjing,” kata Ali dengen gemes.
„Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?”
„Boekan lantaran iaorang soeka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Doea jaorang takoet dapet akoe poenja pembatesan.”
„Pembalesan begimana? Apa iaorang soeda berboeat sala pada kaoe, Ali? Apa boekan kita jang dapet ia poenja banjak toeloengan di tempo doeloe ?”
„Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, ​maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.”
Saneah djadi katarik hati dengen itoe tjerita jang mirip seperti dongeng. Itoe harta f 50,000 ia masi kagoemken, dari sebab begitoe ia laloe mendengeri lebih hati-hati pada tjeritanja Ali jang masi diteroesken.
„Saneah,” melandjoeti Ali dalem tjeritania itoe, „kaoe tentoe masi inget itoe malem kaoe ada sakit. Penjakitmoe itoe membikin akoe djadi jengkel, doahnja doekoen tida bisa berbasil. Itoe waktoe akoe inget ada satoe kitab Arab jang tergantoeng di dingding roemah, peninggalan abang Moersin, dan jang kita selaloe oekoepken sebagi barang angker. Akoe jang soeda boeang banjak oewang boeat itoe kitab, kerna saban malem Djoemahat moesti dioekoepken dengen menjan, djadi kapingin taoe ​isinja. Akoe soeda tetepken niatan, kaloe betoel itoe ada kitab soetji, akoe maoe minta kamandjoerannia boeat kaoe poenia penjakit dan kaloe kitab biasa, akoe niat aken djoeal sadja. Koetika akoe boeka lembarannja, satoe lipetan soerat soeda djato dari dalem lembaran kitab itoe. Akoe poengoet dan tjoema liat toelisan-toelisan Arab jang rapi. Dari sebab kapingin taoe, akoe laloe bawa soerat itoe pada toean Joesoef jang kasi katerangan bahoea soerat itoe ada testament dari hartanja satoe hadji. Hartanja jang berdjoembla f 50,000 ada terpendem di mesdjit roesak di Mangga Doea. Ia kasi katerangan begitoe lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef jang soeda hartawan tida nanti serahken harta itoe. Malemnja poekoel sapoeloe, dengen tida kasi taoe pada kaoe, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil ​itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?”
Saneah gojang kapalanja.
„Apa kaoe tida kliroe kaloe doega Nji Marsina dan Joesoef soeda berboeat begitoe?” tana Saneah, sebab sangsi kaloe Ali nanti djatoken doegaan ka sitoe.
„Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu mesdjit, rupanya mau duluin ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Besokannya tentu ia suru Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat ​pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitoelah dengen koedrad Allah akoe soeda dateng di roemahnja bocat betoelken bilik, di tempat mana djoestroe ada itoe lemari jang moesti dikiserken. Dalem itoe lemari akoe dapet liat itoe peti oewang, jang lantas djoega akoe kenalken ada itoe peti jang akoe gali di mesdjit roesak dan berisi itoe oewang f 50,000. Pikirankoe jang gelap, itoe waktoe djadi terang sebagi matahari, hingga lantaran sengit akoe soeda serang pada Njai Marsina dan toean Joesoef, akoe kapingin sekali ambil djiwanja dengen akoe poenja djeridji. Nah, sekarang kaoe taoe doedoeknja perkara, Saneah. Kaoe! pikir pembalesan kita moesti bikin pada itoe doea bangsat.”
„Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah.
„Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.”
Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas.
908mu5koacosh6pllokaqhb7jcw8qv5
120332
120307
2026-09-27T07:53:00Z
Ars-arsa
42375
120332
wikitext
text/x-wiki
VI.
DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH.
Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminja dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh.
Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat ​permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya.
Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih.
Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk.
Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres.
„Kenapa kaoe menanggis, Saneah ?” tanja Ali.
„Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” ​„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?”
„Itoe samoea soeda terdjadi dengen sakedjepan,” sahoet Ali. „Selagi akoe kalap, boleh djadi kalakoeankoe mirip sebagi orang gila, tetapi sekarang, sebagimana kaoe liat, akoe tida gila.”
„Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?”
„Ach! Saneah,” kata Ali dengen mengelah napas, „njatalah kaoe tida taoe keadaankoe, njatalah kaoe tida taoe apa jang sabetoelnja soeda terdjadi di roemahnja toean Joesoef. . . .”
„Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,”
„Akoe kapingin bisa boenoeh itoe doea bangsat ​seperti memboenoeh pada andjing-andjing,” kata Ali dengen gemes.
„Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?”
„Boekan lantaran iaorang soeka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Doea jaorang takoet dapet akoe poenja pembatesan.”
„Pembalasan bagaimana? Apa iaorang soeda berboeat sala pada kaoe, Ali? Apa boekan kita jang dapet ia poenja banjak toeloengan di tempo doeloe ?”
„Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, ​maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.”
Saneah djadi katarik hati dengen itoe tjerita jang mirip seperti dongeng. Itoe harta f 50,000 ia masi kagoemken, dari sebab begitoe ia laloe mendengeri lebih hati-hati pada tjeritanja Ali jang masi diteroesken.
„Saneah,” melandjoeti Ali dalem tjeritania itoe, „kaoe tentoe masi inget itoe malem kaoe ada sakit. Penjakitmoe itoe membikin akoe djadi jengkel, doahnja doekoen tida bisa berbasil. Itoe waktoe akoe inget ada satoe kitab Arab jang tergantoeng di dingding roemah, peninggalan abang Moersin, dan jang kita selaloe oekoepken sebagi barang angker. Akoe jang soeda boeang banjak oewang boeat itoe kitab, kerna saban malem Djoemahat moesti dioekoepken dengen menjan, djadi kapingin taoe ​isinja. Akoe soeda tetepken niatan, kaloe betoel itoe ada kitab soetji, akoe maoe minta kamandjoerannia boeat kaoe poenia penjakit dan kaloe kitab biasa, akoe niat aken djoeal sadja. Koetika akoe boeka lembarannja, satoe lipetan soerat soeda djato dari dalem lembaran kitab itoe. Akoe poengoet dan tjoema liat toelisan-toelisan Arab jang rapi. Dari sebab kapingin taoe, akoe laloe bawa soerat itoe pada toean Joesoef jang kasi katerangan bahoea soerat itoe ada testament dari hartanja satoe hadji. Hartanja jang berdjoembla f 50,000 ada terpendem di mesdjit roesak di Mangga Doea. Ia kasi katerangan begitoe lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef jang soeda hartawan tida nanti serahken harta itoe. Malemnja poekoel sapoeloe, dengen tida kasi taoe pada kaoe, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil ​itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?”
Saneah gojang kapalanja.
„Apa kaoe tida kliroe kaloe doega Nji Marsina dan Joesoef soeda berboeat begitoe?” tana Saneah, sebab sangsi kaloe Ali nanti djatoken doegaan ka sitoe.
„Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu mesdjit, rupanya mau duluin ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Besokannya tentu ia suru Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat ​pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitoelah dengen koedrad Allah akoe soeda dateng di roemahnja bocat betoelken bilik, di tempat mana djoestroe ada itoe lemari jang moesti dikiserken. Dalem itoe lemari akoe dapet liat itoe peti oewang, jang lantas djoega akoe kenalken ada itoe peti jang akoe gali di mesdjit roesak dan berisi itoe oewang f 50,000. Pikirankoe jang gelap, itoe waktoe djadi terang sebagi matahari, hingga lantaran sengit akoe soeda serang pada Njai Marsina dan toean Joesoef, akoe kapingin sekali ambil djiwanja dengen akoe poenja djeridji. Nah, sekarang kaoe taoe doedoeknja perkara, Saneah. Kaoe! pikir pembalesan kita moesti bikin pada itoe doea bangsat.”
„Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah.
„Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.”
Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas.
89xdq6jockj36c9lbe3vvdb5tttfwzi
Resep Goreng Garam
0
28540
120281
2026-09-27T04:52:32Z
Hd. Aisya
43939
←Membuat halaman berisi '= RESEP GORENG GARAM = ==== Goreng Garam adalah salah satu masakan khas Betawi. Makanan ini sudah ada sejak zaman kolonial. Nama Goreng Garam sendiri menunjukkan kesederhanaan bahan-bahannya. Berikut cara membuatnya. Masakan ini sangat praktis dan ekonomis. Cocok untuk menjadi teman makan pagi, siang atau malam. ==== === Bahan-bahan: === * Bawang merah * Cabai merah besar * Cabai rawit * Garam * Kaldu jamur atau penyedap rasa === Cara Membuatnya: === * Bawan...'
120281
wikitext
text/x-wiki
= RESEP GORENG GARAM =
==== Goreng Garam adalah salah satu masakan khas Betawi. Makanan ini sudah ada sejak zaman kolonial. Nama Goreng Garam sendiri menunjukkan kesederhanaan bahan-bahannya. Berikut cara membuatnya. Masakan ini sangat praktis dan ekonomis. Cocok untuk menjadi teman makan pagi, siang atau malam. ====
=== Bahan-bahan: ===
* Bawang merah
* Cabai merah besar
* Cabai rawit
* Garam
* Kaldu jamur atau penyedap rasa
=== Cara Membuatnya: ===
* Bawang merah dikupas kulitnya.
* Cabai merah besar dan cabai rawit dibuang tangkainya, lalu dicuci bersih.
* Bawang merah, cabai merah besar, dan cabai rawit diiris tipis.
* Bawang meraah digoreng di minyak panas hingga menguning lalu ditiriskan.
* Cabai merah bersar digoreng setengah kering lalu ditiriskan.
* Cabai rawit digoreng setengah kering lalu ditiriskan.
* Siapkan wadah, campurkan bawang merah, cabai merah besar dan cabai rawit yang telah dingin.
* Tambahkan garam dan kaldu jamur, lalu campur hingga rata.
=== Saran Penyajiannya: ===
* Hidangkan cabai garam dengan nasi hangat.
* Cabai garam cocok dihidangkan kapan saja (pagi, siang atau malam)
1o8cqj1mtwskrdz08yfhxpgzk60yzyn
120326
120281
2026-09-27T06:25:42Z
Hd. Aisya
43939
added [[Category:Resep Masakan]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120326
wikitext
text/x-wiki
= RESEP GORENG GARAM =
==== Goreng Garam adalah salah satu masakan khas Betawi. Makanan ini sudah ada sejak zaman kolonial. Nama Goreng Garam sendiri menunjukkan kesederhanaan bahan-bahannya. Berikut cara membuatnya. Masakan ini sangat praktis dan ekonomis. Cocok untuk menjadi teman makan pagi, siang atau malam. ====
=== Bahan-bahan: ===
* Bawang merah
* Cabai merah besar
* Cabai rawit
* Garam
* Kaldu jamur atau penyedap rasa
=== Cara Membuatnya: ===
* Bawang merah dikupas kulitnya.
* Cabai merah besar dan cabai rawit dibuang tangkainya, lalu dicuci bersih.
* Bawang merah, cabai merah besar, dan cabai rawit diiris tipis.
* Bawang meraah digoreng di minyak panas hingga menguning lalu ditiriskan.
* Cabai merah bersar digoreng setengah kering lalu ditiriskan.
* Cabai rawit digoreng setengah kering lalu ditiriskan.
* Siapkan wadah, campurkan bawang merah, cabai merah besar dan cabai rawit yang telah dingin.
* Tambahkan garam dan kaldu jamur, lalu campur hingga rata.
=== Saran Penyajiannya: ===
* Hidangkan cabai garam dengan nasi hangat.
* Cabai garam cocok dihidangkan kapan saja (pagi, siang atau malam)
[[Kategori:Resep Masakan]]
j39p1h46q173cdseh9986ed8uvfjn7t
Gaya Hidup Sehat
0
28541
120284
2026-09-27T04:57:18Z
Astroiseur
43983
←Membuat halaman berisi 'Menurut anda, apa itu gaya hidup sehat? (Jelaskan) Gaya hidup sehat adalah hidup sejahtera dengan work balance yang sesuai umur. Dapat menikmati hidup dengan kualitas baik atau relatif baik tergantung lingkungan tanpa gangguan fisik yang berarti. Mengapa harus melakukan gaya hidup sehat? (Jelaskan)* Tubuh adalah kendaraan agar dapat menjalani hidup dengan baik, tidak sakit, yang harus dipertahankan dan dipelihara selama mungkin. Bagaimana cara anda memprakti...'
120284
wikitext
text/x-wiki
Menurut anda, apa itu gaya hidup sehat? (Jelaskan)
Gaya hidup sehat adalah hidup sejahtera dengan work balance yang sesuai umur. Dapat menikmati hidup dengan kualitas baik atau relatif baik tergantung lingkungan tanpa gangguan fisik yang berarti.
Mengapa harus melakukan gaya hidup sehat? (Jelaskan)*
Tubuh adalah kendaraan agar dapat menjalani hidup dengan baik, tidak sakit, yang harus dipertahankan dan dipelihara selama mungkin.
Bagaimana cara anda mempraktikkan gaya hidup sehat? (Jelaskan)
1. Makan sesuai porsi yang benar, sekitar tiga kali sehari. Makanan adalah obat anda. 2. Tidak perlu olahraga berat seperti gym, lari, seperti atlit atau keperluan lainnya. Kecuali senam untuk stretching. Tujuan agar tidak memperberat kerja Jantung anda. 3. Hindari stress karena dalam jiwa yang waras terdapat jasmani yang sehat.
Apa tantangan terbesar anda dalam melaksanakan gaya hidup sehat? (Jelaskan)
Tantangan hidup sehat adalah tawaran konsumtif, atau ambisi yang berlebihan yang dijadikan target namun dalam kenyataan sulit dicapai sehingga membebani gaya hidup itu sendiri.
Apa yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendukung transformasi hidup sehat? (Jelaskan)*
Ketersediaan bahan pangan yang benar sesuai gizi dan ketersediaan layanan kesehatan yang baik secara konsisten dan berkelanjutan. Masyarakat yang sehat akan mengurangi beban pemerintah atau pajak yang harus dikeluarkan dari kas negara.
Bagaimana pola konsumsi anda sehari-hari? (Jelaskan)
Makan sesuai porsi yang benar, sekitar tiga kali sehari dengan jeda sekitar empat atau lima jam untuk memberikan kesempatan bagi tubuh untuk mencerna. Minumlah sesuai kebutuhan.
Bagaimana pola konsumsi yang seimbang menurut anda? (Jelaskan)
Makan tiap hari dengan porsi 30% carbo, 30% veggie, 30% protein sekitar tiga kali sehari. Minum air putih secukupnya.
Disunting untuk halaman Wikibuku.
81wrxlde5xbm0jb5tqnvilflnl21gfa
Modul:Unsubst
828
28542
120285
2026-09-27T05:01:35Z
AF1011
25283
Membuat bagian baru untuk skrip modul.
120285
Scribunto
text/plain
local checkType = require('libraryUtil').checkType
local p = {}
local BODY_PARAM = '$B'
local specialParams = {
['$params'] = 'daftar parameter',
['$aliases'] = 'alias parameter',
['$flags'] = 'bendera',
['$B'] = 'konten templat',
['$template-name'] = 'penggantian nama pemanggilan templat',
}
function p.main(frame, body)
-- If we are substing, this function returns a template invocation, and if
-- not, it returns the template body. The template body can be specified in
-- the body parameter, or in the template parameter defined in the
-- BODY_PARAM variable. This function can be called from Lua or from
-- #invoke.
-- Return the template body if we aren't substing.
if not mw.isSubsting() then
if body ~= nil then
return body
elseif frame.args[BODY_PARAM] ~= nil then
return frame.args[BODY_PARAM]
else
error(string.format(
"tidak ada konten templat yang dispesifikan (gunakan parameter '%s' dari #invoke)",
BODY_PARAM
), 2)
end
end
-- Sanity check for the frame object.
if type(frame) ~= 'table'
or type(frame.getParent) ~= 'function'
or not frame:getParent()
then
error(
"argumen #1 ke 'main' harus sebuah objek frame dengan sebuah parent " ..
"frame tersedia",
2
)
end
-- Find the invocation name.
local mTemplateInvocation = require('Module:Template invocation')
local name
if frame.args['$template-name'] and '' ~= frame.args['$template-name'] then
name = frame.args['$template-name'] -- override whatever the template name is with this name
else
name = mTemplateInvocation.name(frame:getParent():getTitle())
end
-- Combine passed args with passed defaults
local args = {}
if string.find( ','..(frame.args['$flags'] or '')..',', ',%s*override%s*,' ) then
for k, v in pairs( frame:getParent().args ) do
args[k] = v
end
for k, v in pairs( frame.args ) do
if not specialParams[k] then
if v == '__DATE__' then
v = mw.getContentLanguage():formatDate( 'F Y' )
end
args[k] = v
end
end
else
for k, v in pairs( frame.args ) do
if not specialParams[k] then
if v == '__DATE__' then
v = mw.getContentLanguage():formatDate( 'F Y' )
end
args[k] = v
end
end
for k, v in pairs( frame:getParent().args ) do
args[k] = v
end
end
-- Trim parameters, if not specified otherwise
if not string.find( ','..(frame.args['$flags'] or '')..',', ',%s*keep%-whitespace%s*,' ) then
for k, v in pairs( args ) do args[k] = mw.ustring.match(v, '^%s*(.*)%s*$') or '' end
end
-- Pull information from parameter aliases
local aliases = {}
if frame.args['$aliases'] then
local list = mw.text.split( frame.args['$aliases'], '%s*,%s*' )
for k, v in ipairs( list ) do
local tmp = mw.text.split( v, '%s*>%s*' )
aliases[tonumber(mw.ustring.match(tmp[1], '^[1-9][0-9]*$')) or tmp[1]] = ((tonumber(mw.ustring.match(tmp[2], '^[1-9][0-9]*$'))) or tmp[2])
end
end
for k, v in pairs( aliases ) do
if args[k] and ( not args[v] or args[v] == '' ) then
args[v] = args[k]
end
args[k] = nil
end
-- Remove empty parameters, if specified
if string.find( ','..(frame.args['$flags'] or '')..',', ',%s*remove%-empty%s*,' ) then
local tmp = 0
for k, v in ipairs( args ) do
if v ~= '' or ( args[k+1] and args[k+1] ~= '' ) or ( args[k+2] and args[k+2] ~= '' ) then
tmp = k
else
break
end
end
for k, v in pairs( args ) do
if v == '' then
if not (type(k) == 'number' and k < tmp) then args[k] = nil end
end
end
end
-- Order parameters
if frame.args['$params'] then
local params, tmp = mw.text.split( frame.args['$params'], '%s*,%s*' ), {}
for k, v in ipairs(params) do
v = tonumber(mw.ustring.match(v, '^[1-9][0-9]*$')) or v
if args[v] then tmp[v], args[v] = args[v], nil end
end
for k, v in pairs(args) do tmp[k], args[k] = args[k], nil end
args = tmp
end
return mTemplateInvocation.invocation(name, args)
end
p[''] = p.main -- For backwards compatibility
return p
gn3fkfodalgenrqba7g4biveh8ko1mr
Templat:Thinsp
10
28543
120288
2026-09-27T05:03:49Z
AF1011
25283
Membuat bagian Templat baru.
120288
wikitext
text/x-wiki
<noinclude>{{#tag:syntaxhighlight|</noinclude><span style="white-space:nowrap"> </span>{{#if:{{{1|}}}|{{{1}}} }}<noinclude>|lang=html}}
{{documentation}}
</noinclude>
6obf5z71xslpp8cgn7a6acesmvuhcq2
Berbicara kepada Diri Sendiri, Mengapa Kita Melakukannya?
0
28544
120289
2026-09-27T05:03:57Z
Nblprsnt27
43922
←Membuat halaman berisi 'Pernahkah kamu tiba-tiba berbicara kepada diri sendiri? Misalnya, “Aduh, aku kok bisa lupa, ya?” ketika menyadari ada barang yang tertinggal, atau berkata, “Tenang, kita kerjakan satu per satu,” ketika pekerjaan sedang menumpuk. Bisa juga kamu hanya mengatakannya di dalam hati tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Hal seperti ini mungkin terasa sepele, tetapi sebenarnya cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kamu mungkin tidak menyadarinya kar...'
120289
wikitext
text/x-wiki
Pernahkah kamu tiba-tiba berbicara kepada diri sendiri? Misalnya, “Aduh, aku kok bisa lupa, ya?” ketika menyadari ada barang yang tertinggal, atau berkata, “Tenang, kita kerjakan satu per satu,” ketika pekerjaan sedang menumpuk. Bisa juga kamu hanya mengatakannya di dalam hati tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Hal seperti ini mungkin terasa sepele, tetapi sebenarnya cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kamu mungkin tidak menyadarinya karena percakapan tersebut sudah menjadi bagian dari cara berpikir ketika sedang menghadapi sesuatu.
Berbicara kepada diri sendiri dikenal sebagai ''self-talk''. Bentuknya bisa berupa percakapan di dalam hati, berbicara dengan suara keras, atau bahkan menuliskan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Selama dilakukan secara sadar dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, ''self-talk'' merupakan hal yang wajar.
== '''Jadi, sebenarnya apa itu self-talk?''' ==
Sederhananya, ''self-talk'' adalah percakapan yang kamu lakukan dengan dirimu sendiri. Percakapan ini dapat muncul ketika kamu sedang memikirkan sesuatu, menghadapi masalah, mengevaluasi tindakan, atau mencoba memberikan semangat kepada diri sendiri.
Misalnya, besok kamu harus melakukan presentasi. Sebelum masuk ruangan, mungkin muncul percakapan seperti, “Aku sudah latihan. Tinggal lakukan saja dengan tenang.” Percakapan sederhana seperti ini dapat menjadi cara untuk memberikan dorongan kepada diri sendiri ketika menghadapi situasi yang menantang.
Kamu juga tidak harus mengucapkannya dengan suara keras. Bisa saja percakapan tersebut hanya terjadi di dalam pikiran. Menuliskan isi pikiran dan perasaan di jurnal juga dapat menjadi salah satu cara untuk berdialog dengan diri sendiri.
== '''Kenapa kita suka berbicara dengan diri sendiri?''' ==
Pernah merasa ingin bercerita kepada seseorang, tetapi orang yang ingin diajak bicara sedang sibuk? Atau justru kamu sendiri belum tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang dirasakan?
Dalam situasi seperti itu, berbicara kepada diri sendiri bisa menjadi salah satu cara untuk mengeluarkan isi pikiran. Kamu bisa mengatakan apa yang membuat kesal, mengakui bahwa hari ini terasa berat, atau sekadar bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya aku kenapa, ya?”
Dengan mengeluarkan apa yang ada di pikiran, kamu bisa mulai memahami perasaan yang sedang muncul. Kadang, setelah membicarakannya, kamu juga dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda dan menemukan kemungkinan solusi.
Jadi, ''self-talk'' tidak selalu berarti sedang mencari jawaban. Terkadang, kamu hanya sedang memberi kesempatan kepada dirimu sendiri untuk didengarkan.
== '''Self-talk ternyata punya beberapa manfaat''' ==
Kalau dilakukan dengan cara yang tepat, berbicara kepada diri sendiri dapat memberikan beberapa manfaat. Salah satunya adalah membantu membuat suasana hati menjadi lebih baik dan membuat pikiran terasa lebih tenang.
Ketika sedang menghadapi tekanan, misalnya, kamu bisa mengatakan, “Oke, masalahnya memang banyak, tapi kita selesaikan satu-satu dulu.” Kalimat sederhana seperti itu dapat membantu mengarahkan perhatian pada hal yang bisa dilakukan daripada terus memikirkan semuanya sekaligus.
''Self-talk'' juga dapat digunakan sebagai bentuk afirmasi dan motivasi. Kamu bisa mengingatkan diri sendiri tentang sesuatu yang sudah berhasil dilakukan atau memberikan semangat ketika sedang menghadapi kesulitan.
Selain itu, berbicara kepada diri sendiri dapat membantu memproses emosi, mencari solusi, meningkatkan rasa percaya diri, dan mengurangi perasaan kesepian. Bahkan, percakapan dengan diri sendiri dapat membantu memunculkan ide atau melihat masalah dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
== '''Tapi, bagaimana kalau yang dikatakan justru negatif?''' ==
Nah, di sinilah kita perlu mulai memperhatikan isi percakapan tersebut.
Tidak semua ''self-talk'' memberikan dampak yang baik. Pernah gagal melakukan sesuatu lalu langsung berkata, “Aku memang nggak bisa,” atau “Aku selalu gagal”? Percakapan seperti ini termasuk ''negative self-talk''.
Negative self-talk merupakan percakapan dengan diri sendiri yang bersifat negatif dan dapat muncul secara sadar maupun tidak sadar. Jika terus dilakukan, pola tersebut dapat menurunkan motivasi dan membuat seseorang semakin terjebak dalam pikiran negatif.
Salah satu bentuknya adalah ''overgeneralizing''. Misalnya, kamu gagal dalam satu wawancara kerja lalu berpikir, “Aku gagal di sini, berarti wawancara berikutnya pasti gagal juga.” Satu kejadian akhirnya dianggap sebagai gambaran untuk semua kejadian yang akan datang.
Ada juga ''labeling'', yaitu ketika kamu memberikan label negatif kepada diri sendiri. Contohnya, “Aku memang bodoh,” atau “Aku memang nggak bisa melakukan apa-apa.”
Bentuk lainnya adalah ''mind reading''. Misalnya, dosenmu terlihat diam setelah presentasi, lalu kamu langsung berpikir, “Dosen pasti nggak suka sama presentasiku.” Padahal, belum tentu kamu benar-benar tahu apa yang sedang dipikirkan orang tersebut.
== '''Bagaimana cara mengubah self-talk yang negatif?''' ==
Ketika pikiran negatif muncul, kamu tidak harus langsung memaksakan diri untuk berpikir positif. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah '''menyadari bahwa pikiran tersebut sedang muncul'''.
Misalnya, ketika muncul pikiran, “Aku pasti gagal,” coba berhenti sebentar dan tanyakan, “Benarkah aku pasti gagal?” Pertanyaan sederhana ini bisa membantumu melihat apakah pikiran tersebut memang sesuai dengan kenyataan atau hanya muncul karena sedang merasa takut dan tertekan.
Setelah itu, kamu bisa mencoba mengubahnya menjadi kalimat yang lebih realistis. Daripada mengatakan, “Aku selalu gagal,” kamu bisa mengatakan, “Kali ini aku gagal, tapi aku masih bisa mencari tahu apa yang perlu diperbaiki.”
Perhatikan bahwa kalimat tersebut bukan berarti membohongi diri sendiri. Kegagalan tetap diakui, tetapi satu kegagalan tidak dijadikan alasan untuk memberikan label negatif kepada seluruh diri sendiri.
Kamu juga bisa menggunakan afirmasi sederhana seperti, “Aku akan mencoba lagi,” “Aku bisa mengerjakannya pelan-pelan,” atau “Kesalahan ini bisa menjadi bahan belajar.”
== '''Berbicara kepada diri sendiri bukan berarti harus selalu positif''' ==
Ada anggapan bahwa ''self-talk'' yang baik berarti harus selalu mengatakan hal-hal positif. Padahal, yang tidak kalah penting adalah '''berbicara kepada diri sendiri secara lebih realistis dan membantu'''.
Kalau sedang kecewa, kamu tetap boleh mengatakan, “Aku memang kecewa.” Kalau sedang lelah, kamu juga tidak harus memaksakan diri mengatakan, “Aku baik-baik saja.”
Kamu bisa mengakui perasaan tersebut sekaligus memberikan respons yang lebih mendukung. Misalnya, “Hari ini memang berat. Istirahat dulu, setelah itu kita coba lagi.”
Dengan begitu, ''self-talk'' bukan tentang berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, percakapan dengan diri sendiri dapat menjadi kesempatan untuk mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami masalah, dan menentukan bagaimana akan meresponsnya.
'''Jadi, apakah berbicara sendiri itu aneh?'''
Tidak selalu.
Kalau kamu pernah berbicara sendiri ketika sedang berpikir, mengingat sesuatu, menyemangati diri, atau mencoba memahami masalah, kamu tidak perlu langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh. ''Self-talk'' yang dilakukan secara sadar merupakan hal yang wajar.
Namun, ada kondisi yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut, terutama jika seseorang berbicara kepada dirinya sendiri tanpa kesadaran, sepenuhnya menggantikan keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau mengalami halusinasi dan keyakinan bahwa ada orang lain yang tidak nyata sedang mendengar atau merespons pembicaraannya.
Kondisi tersebut berbeda dengan percakapan biasa yang dilakukan secara sadar untuk mengevaluasi diri, memberikan semangat, atau memproses pikiran dan perasaan. Jika mengalami kondisi yang mengkhawatirkan, bantuan dari tenaga profesional dapat diperlukan.
== '''Mungkin sudah waktunya mendengarkan cara kita berbicara''' ==
Coba perhatikan percakapan yang sering muncul di dalam kepalamu. Ketika melakukan kesalahan, apa yang biasanya kamu katakan kepada diri sendiri? Ketika menghadapi sesuatu yang sulit, apakah kamu langsung mengatakan, “Aku nggak bisa,” atau masih memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mencoba?
Tidak semua pikiran yang muncul harus langsung dipercaya. Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar, melihat kembali apa yang sedang dipikirkan, lalu memilih respons yang lebih realistis dan membantu.
Pada akhirnya, ''self-talk'' bukan sekadar kebiasaan berbicara sendiri. Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenali diri, memproses emosi, mencari solusi, dan memberikan dukungan kepada diri sendiri ketika menghadapi berbagai situasi.
Jadi, lain kali ketika kamu tanpa sadar berkata, “Tenang, kita coba lagi,” mungkin tidak perlu merasa aneh. Bisa jadi, kamu sedang belajar menjadi teman yang lebih baik untuk dirimu sendiri.
jo1bj1r1gnw7s9gx36mqe6tabsr39dv
120310
120289
2026-09-27T05:44:50Z
Nblprsnt27
43922
120310
wikitext
text/x-wiki
Pernahkah kamu tiba-tiba berbicara kepada diri sendiri? Misalnya, “Aduh, aku kok bisa lupa, ya?” ketika menyadari ada barang yang tertinggal, atau berkata, “Tenang, kita kerjakan satu per satu,” ketika pekerjaan sedang menumpuk. Bisa juga kamu hanya mengatakannya di dalam hati tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Hal seperti ini mungkin terasa sepele, tetapi sebenarnya cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kamu mungkin tidak menyadarinya karena percakapan tersebut sudah menjadi bagian dari cara berpikir ketika sedang menghadapi sesuatu.
Berbicara kepada diri sendiri dikenal sebagai ''self-talk''. Bentuknya bisa berupa percakapan di dalam hati, berbicara dengan suara keras, atau bahkan menuliskan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Selama dilakukan secara sadar dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, ''self-talk'' merupakan hal yang wajar.
== '''Jadi, sebenarnya apa itu ''self-talk''?''' ==
Sederhananya, ''self-talk'' adalah percakapan yang kamu lakukan dengan dirimu sendiri. Percakapan ini dapat muncul ketika kamu sedang memikirkan sesuatu, menghadapi masalah, mengevaluasi tindakan, atau mencoba memberikan semangat kepada diri sendiri.
Misalnya, besok kamu harus melakukan presentasi. Sebelum masuk ruangan, mungkin muncul percakapan seperti, “Aku sudah latihan. Tinggal lakukan saja dengan tenang.” Percakapan sederhana seperti ini dapat menjadi cara untuk memberikan dorongan kepada diri sendiri ketika menghadapi situasi yang menantang.
Kamu juga tidak harus mengucapkannya dengan suara keras. Bisa saja percakapan tersebut hanya terjadi di dalam pikiran. Menuliskan isi pikiran dan perasaan di jurnal juga dapat menjadi salah satu cara untuk berdialog dengan diri sendiri.
== '''Kenapa kita suka berbicara dengan diri sendiri?''' ==
Pernah merasa ingin bercerita kepada seseorang, tetapi orang yang ingin diajak bicara sedang sibuk? Atau justru kamu sendiri belum tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang dirasakan?
Dalam situasi seperti itu, berbicara kepada diri sendiri bisa menjadi salah satu cara untuk mengeluarkan isi pikiran. Kamu bisa mengatakan apa yang membuat kesal, mengakui bahwa hari ini terasa berat, atau sekadar bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya aku kenapa, ya?”
Dengan mengeluarkan apa yang ada di pikiran, kamu bisa mulai memahami perasaan yang sedang muncul. Kadang, setelah membicarakannya, kamu juga dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda dan menemukan kemungkinan solusi.
Jadi, ''self-talk'' tidak selalu berarti sedang mencari jawaban. Terkadang, kamu hanya sedang memberi kesempatan kepada dirimu sendiri untuk didengarkan.
== '''''Self-talk'' ternyata punya beberapa manfaat''' ==
Kalau dilakukan dengan cara yang tepat, berbicara kepada diri sendiri dapat memberikan beberapa manfaat. Salah satunya adalah membantu membuat suasana hati menjadi lebih baik dan membuat pikiran terasa lebih tenang.
Ketika sedang menghadapi tekanan, misalnya, kamu bisa mengatakan, “Oke, masalahnya memang banyak, tapi kita selesaikan satu-satu dulu.” Kalimat sederhana seperti itu dapat membantu mengarahkan perhatian pada hal yang bisa dilakukan daripada terus memikirkan semuanya sekaligus.
''Self-talk'' juga dapat digunakan sebagai bentuk afirmasi dan motivasi. Kamu bisa mengingatkan diri sendiri tentang sesuatu yang sudah berhasil dilakukan atau memberikan semangat ketika sedang menghadapi kesulitan.
Selain itu, berbicara kepada diri sendiri dapat membantu memproses emosi, mencari solusi, meningkatkan rasa percaya diri, dan mengurangi perasaan kesepian. Bahkan, percakapan dengan diri sendiri dapat membantu memunculkan ide atau melihat masalah dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
== '''Tapi, bagaimana kalau yang dikatakan justru negatif?''' ==
Nah, di sinilah kita perlu mulai memperhatikan isi percakapan tersebut.
Tidak semua ''self-talk'' memberikan dampak yang baik. Pernah gagal melakukan sesuatu lalu langsung berkata, “Aku memang nggak bisa,” atau “Aku selalu gagal”? Percakapan seperti ini termasuk ''negative self-talk''.
Negative self-talk merupakan percakapan dengan diri sendiri yang bersifat negatif dan dapat muncul secara sadar maupun tidak sadar. Jika terus dilakukan, pola tersebut dapat menurunkan motivasi dan membuat seseorang semakin terjebak dalam pikiran negatif.
Salah satu bentuknya adalah ''overgeneralizing''. Misalnya, kamu gagal dalam satu wawancara kerja lalu berpikir, “Aku gagal di sini, berarti wawancara berikutnya pasti gagal juga.” Satu kejadian akhirnya dianggap sebagai gambaran untuk semua kejadian yang akan datang.
Ada juga ''labeling'', yaitu ketika kamu memberikan label negatif kepada diri sendiri. Contohnya, “Aku memang bodoh,” atau “Aku memang nggak bisa melakukan apa-apa.”
Bentuk lainnya adalah ''mind reading''. Misalnya, dosenmu terlihat diam setelah presentasi, lalu kamu langsung berpikir, “Dosen pasti nggak suka sama presentasiku.” Padahal, belum tentu kamu benar-benar tahu apa yang sedang dipikirkan orang tersebut.
== '''Bagaimana cara mengubah ''self-talk'' yang negatif?''' ==
Ketika pikiran negatif muncul, kamu tidak harus langsung memaksakan diri untuk berpikir positif. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah '''menyadari bahwa pikiran tersebut sedang muncul'''.
Misalnya, ketika muncul pikiran, “Aku pasti gagal,” coba berhenti sebentar dan tanyakan, “Benarkah aku pasti gagal?” Pertanyaan sederhana ini bisa membantumu melihat apakah pikiran tersebut memang sesuai dengan kenyataan atau hanya muncul karena sedang merasa takut dan tertekan.
Setelah itu, kamu bisa mencoba mengubahnya menjadi kalimat yang lebih realistis. Daripada mengatakan, “Aku selalu gagal,” kamu bisa mengatakan, “Kali ini aku gagal, tapi aku masih bisa mencari tahu apa yang perlu diperbaiki.”
Perhatikan bahwa kalimat tersebut bukan berarti membohongi diri sendiri. Kegagalan tetap diakui, tetapi satu kegagalan tidak dijadikan alasan untuk memberikan label negatif kepada seluruh diri sendiri.
Kamu juga bisa menggunakan afirmasi sederhana seperti, “Aku akan mencoba lagi,” “Aku bisa mengerjakannya pelan-pelan,” atau “Kesalahan ini bisa menjadi bahan belajar.”
== '''Berbicara kepada diri sendiri bukan berarti harus selalu positif''' ==
Ada anggapan bahwa ''self-talk'' yang baik berarti harus selalu mengatakan hal-hal positif. Padahal, yang tidak kalah penting adalah '''berbicara kepada diri sendiri secara lebih realistis dan membantu'''.
Kalau sedang kecewa, kamu tetap boleh mengatakan, “Aku memang kecewa.” Kalau sedang lelah, kamu juga tidak harus memaksakan diri mengatakan, “Aku baik-baik saja.”
Kamu bisa mengakui perasaan tersebut sekaligus memberikan respons yang lebih mendukung. Misalnya, “Hari ini memang berat. Istirahat dulu, setelah itu kita coba lagi.”
Dengan begitu, ''self-talk'' bukan tentang berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, percakapan dengan diri sendiri dapat menjadi kesempatan untuk mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami masalah, dan menentukan bagaimana akan meresponsnya.
'''Jadi, apakah berbicara sendiri itu aneh?'''
Tidak selalu.
Kalau kamu pernah berbicara sendiri ketika sedang berpikir, mengingat sesuatu, menyemangati diri, atau mencoba memahami masalah, kamu tidak perlu langsung menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh. ''Self-talk'' yang dilakukan secara sadar merupakan hal yang wajar.
Namun, ada kondisi yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut, terutama jika seseorang berbicara kepada dirinya sendiri tanpa kesadaran, sepenuhnya menggantikan keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau mengalami halusinasi dan keyakinan bahwa ada orang lain yang tidak nyata sedang mendengar atau merespons pembicaraannya.
Kondisi tersebut berbeda dengan percakapan biasa yang dilakukan secara sadar untuk mengevaluasi diri, memberikan semangat, atau memproses pikiran dan perasaan. Jika mengalami kondisi yang mengkhawatirkan, bantuan dari tenaga profesional dapat diperlukan.
== '''Mungkin sudah waktunya mendengarkan cara kita berbicara''' ==
Coba perhatikan percakapan yang sering muncul di dalam kepalamu. Ketika melakukan kesalahan, apa yang biasanya kamu katakan kepada diri sendiri? Ketika menghadapi sesuatu yang sulit, apakah kamu langsung mengatakan, “Aku nggak bisa,” atau masih memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mencoba?
Tidak semua pikiran yang muncul harus langsung dipercaya. Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar, melihat kembali apa yang sedang dipikirkan, lalu memilih respons yang lebih realistis dan membantu.
Pada akhirnya, ''self-talk'' bukan sekadar kebiasaan berbicara sendiri. Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenali diri, memproses emosi, mencari solusi, dan memberikan dukungan kepada diri sendiri ketika menghadapi berbagai situasi.
Jadi, lain kali ketika kamu tanpa sadar berkata, “Tenang, kita coba lagi,” mungkin tidak perlu merasa aneh. Bisa jadi, kamu sedang belajar menjadi teman yang lebih baik untuk dirimu sendiri.
rrfgqwetbddg8ric96dwpf757rir9xd
Templat:Braces
10
28545
120290
2026-09-27T05:04:04Z
AF1011
25283
Membuat bagian Templat baru.
120290
wikitext
text/x-wiki
{{#if:{{{code|{{{tt|}}}}}}|<code>}}<!--
--><nowiki>{{</nowiki>{{{1|{{thinsp}}}}}<!--
-->{{#if:{{{2|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{2}}}}}<!--
-->{{#if:{{{3|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{3}}}}}<!--
-->{{#if:{{{4|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{4}}}}}<!--
-->{{#if:{{{5|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{5}}}}}<!--
-->{{#if:{{{6|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{6}}}}}<!--
-->{{#if:{{{7|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{7}}}}}<!--
-->{{#if:{{{8|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{8}}}}}<!--
-->{{#if:{{{9|}}} |{{thinsp}}{{!}}{{thinsp}}{{{9}}}}}<!--
--><nowiki>}}</nowiki><!--
-->{{#if:{{{code|{{{tt|}}}}}}|</code>}}<noinclude>{{Documentation}}</noinclude>
1ab74omodaicbzav1p1h177xylxlr8x
Templat:Subst only
10
28546
120291
2026-09-27T05:05:22Z
AF1011
25283
Membuat bagian Templat baru.
120291
wikitext
text/x-wiki
{{{{{|safesubst:}}}#invoke:Unsubst|main|$B=
{{Ombox
| type = notice
| image = [[File:OOjs UI icon information-warning.svg|30px|alt=|link=]]
| text = '''Templat ini harus selalu [[WB:Substitusi|disubstitusi]]''' (s.c., gunakan <!--
-->{{#ifeq:{{NAMESPACE}}:{{BASEPAGENAME}}|Templat:Subst only |{{braces|[[Wikipedia:Substitusi|subst]]:'''''Nama templat'''''}} |{{{actualtemplate|{{template other|{{Tlsp|{{PAGENAME}}}}|{{Tlsu|{{FULLPAGENAME}}}}}}}}}}}). <!--
-->{{#if:{{yesno|{{{auto|no}}}}} |Segala transklusi yang tidak disengaja akan secara otomatis digantikan oleh bot.{{{1|}}}{{#ifeq:{{BASEPAGENAME}}|{{PAGENAME}}|[[Kategori:Templat Wikibuku yang akan disubstitusi secara otomatis]]}}}} <!--
-->{{#if:{{{alt|}}} |Untuk mentransklusikan, gunakan {{Tl|{{{alt|}}}}}.}}
}}{{#ifeq:{{BASEPAGENAME}}|{{PAGENAME}}|[[Kategori:Templat Wikibuku yang disubstitusi]]}}}}<noinclude>{{Documentation}}</noinclude>
31u4uwwj22nzvx5k361fh2m64ns82nl
Catur Adventure
0
28547
120296
2026-09-27T05:12:22Z
Arumi Kavya
43948
←Membuat halaman berisi 'Pukul lima pagi, Pak Min baru menghabiskan kopi sachetnya, dan penumpang di sebelahnya sudah menghabiskan nasi bungkus ketiga. Anak itu makan sambil memiringkan kaca spion samping ke arah dirinya sendiri. Setiap beberapa suap dia berhenti, memandangi wajahnya, merapikan rambut yang sebetulnya sudah rapi, lalu makan lagi. Kartu karton di dadanya bertuliskan MAS SELEP dengan spidol emas. "Mas, spionnya," kata Pak Min. "Kenapa, Pak?" "Saya nggak bisa lihat belakang....'
120296
wikitext
text/x-wiki
Pukul lima pagi, Pak Min baru menghabiskan kopi sachetnya, dan penumpang di sebelahnya sudah menghabiskan nasi bungkus ketiga.
Anak itu makan sambil memiringkan kaca spion samping ke arah dirinya sendiri. Setiap beberapa suap dia berhenti, memandangi wajahnya, merapikan rambut yang sebetulnya sudah rapi, lalu makan lagi. Kartu karton di dadanya bertuliskan MAS SELEP dengan spidol emas.
"Mas, spionnya," kata Pak Min.
"Kenapa, Pak?"
"Saya nggak bisa lihat belakang."
Mas Selep memandangi spion itu, lalu memandangi Pak Min, lalu mengembalikan posisinya pelan-pelan, seperti melepas sesuatu yang dia sayangi.
Pak Min melirik bungkus nasi yang ditumpuk rapi di dasbor. Tiga. Badan anak itu kurus seperti galah.
"Makannya banyak ya, Mas. Kok nggak gemuk?"
Mas Selep tidak menjawab. Dia mengangkat ujung kausnya dan memandangi perutnya di kaca jendela, lama, sampai lampu merah berubah hijau dan mobil di belakang membunyikan klakson.
Dari bangku tengah terdengar bunyi kaleng dibuka.
Lewat spion tengah, Pak Min melihat anak berambut acak-acakan mengangkat seekor sarden dengan dua jari, memandanginya sebentar ke arah lampu jalan, lalu memasukkannya utuh ke mulut. Kuahnya menetes ke celana. Dia tidak mengelapnya.
"Mas, itu belum digoreng."
"Nggak apa-apa, Pak."
"Nanti sakit perut."
"Belum pernah."
Kartunya bertuliskan RIKI, ditulis miring, seperti ditulis sambil makan.
Anak di sebelah Riki duduk menghadap jendela. Pak Min bertanya apakah AC-nya terlalu dingin. Anak itu diam. Pak Min bertanya sekali lagi, lebih keras. Anak itu tetap memandangi kebun apel yang lewat.
Anak zaman sekarang, pikir Pak Min.
Riki menoleh dan bicara ke tengkuk temannya. "Lot. Pak Min tanya."
Tidak ada jawaban.
"Lot."
Riki melempar tutup kaleng sarden ke pangkuan anak itu. Anak itu menoleh.
"Pak Min tanya, AC-nya dingin nggak," kata Riki, menghadap wajahnya, pelan dan jelas.
"Oh. Nggak, Pak. Pas." Anak itu memandangi tutup kaleng di pangkuannya, yang meninggalkan noda minyak di celana. "Dari tadi ngomong sama aku?"
"Dari tadi."
"Aku cuma lihat tengkukmu."
Kartu di dadanya bertuliskan BOLOT, huruf besar-besar dan tegas. Pak Min memandanginya lewat spion agak lama. Setelah itu, setiap kali ingin bertanya sesuatu kepada anak itu, Pak Min menoleh dulu.
Di bangku paling belakang duduk anak yang begitu besar sehingga kepalanya hampir menyentuh atap. Dia berbagi tempat dengan dua kardus air mineral, dua karung beras, kompor lapangan, dan sebuah gong kecil yang dia pangku dengan hati-hati, dibungkus sarung, seperti memangku bayi.
"Rik, aku kapan dikasih nama panggung?"
"Nanti, Bim."
"Dari semester satu nantinya."
Kartunya bertuliskan BIMO. Hanya itu.
Mas Selep membuka roti sobek dan menoleh ke belakang. "Bim, mau?"
"Nanti saja, Mas. Masih kenyang."
Mas Selep mengangguk. Di lampu merah berikutnya, roti itu tinggal plastiknya.
***
Sinyal hilang setelah mereka keluar dari jalan provinsi. Panah biru di ponsel Pak Min berhenti di tengah bidang hijau dan berputar di tempat. Pak Min mengetuk layarnya dengan kuku jempol, seperti membangunkan orang tidur.
Riki mencondongkan badan ke depan dan memandang matahari yang baru naik. "Utara ke sana, Pak. Tegalarum harusnya ke utara."
Pak Min menepi di depan warung kopi dan bertanya kepada bapak bersarung yang sedang menyapu. Bapak itu menunjuk ke atas bukit, ke kanan, lalu ke atas lagi. Pak Min kembali dengan wajah lega.
"Tegalarum. Lurus, nanti di pertigaan ambil yang ke atas."
"Bapak tadi bilang Bumi Perkemahan?" tanya Riki.
"Saya bilang Tegalarum."
"Bumi Perkemahannya?"
"Ya Tegalarum itu."
Riki bersandar lagi dan membuka kaleng kedua.
Jalan menanjak. Aspal berubah jadi batu, batu berubah jadi tanah dengan dua alur bekas ban. Pintu geser di tengah mulai terbuka sendiri setiap kali mobil berguncang. Riki mengeluarkan tali rafia dari ransel, mengikat gagang pintu ke tiang kursi dengan simpul yang Pak Min tidak pernah lihat, dan pintu itu diam. Dia melakukannya sambil tetap mengunyah.
Satu lubang besar membuat mobil melompat. Kepala Mas Selep terbentur kaca.
"Pak! Pelan-pelan! Rambutku!"
"Jalannya, Mas."
"Jalannya kenapa, Pak? Bapak kan yang nyetir! Aku sudah sisiran dari subuh!" Dia memukul dasbor sekali, lalu memiringkan spion samping ke arahnya lagi dan mulai membetulkan poni.
Pak Min tidak berkata apa-apa. Dia menyetir sambil melihat spion tengah saja.
Di belakang, kardus air mineral bergeser setiap kali mobil berguncang. Bimo menahannya dengan lutut, lalu dengan kedua lutut, lalu memeluknya bersama gong.
"Enak ya jalannya," kata Bimo. "Kayak dipijat."
***
Gapura bambu itu sudah miring ke kiri. Papan di atasnya tinggal separuh hurufnya. GALARUM.
"Nah," kata Pak Min.
Mereka menurunkan barang di bawah pohon pinus. Ketika Pak Min memutar mobil, ban kanan selip di rumput basah. Bimo sudah mendorong bagian belakangnya sebelum diminta.
"Nggak apa-apa, Pak. Sekalian olahraga."
Mobil itu lepas. Pak Min memutar kemudi, tapi tidak langsung menginjak gas. Dari kaca spion dia melihat mereka berempat berdiri berjajar dengan kardus dan karung.
Yang satu tidak bisa dengar, dan teman-temannya lupa terus. Yang klimis makan tiga bungkus sebelum matahari terbit, dan anak begitu kalau lapar pasti repot. Yang paling besar baik sekali. Terlalu baik. Anak seperti itu biasanya yang paling gampang ditinggal orang. Yang terakhir makan ikan mentah dari kaleng dan bisa mengikat pintu mobil sambil mengunyah, dan Pak Min tidak tahu harus merasa tenang atau justru khawatir soal itu.
Dia hampir mematikan mesin. Lalu dia ingat rektorat yang harus dijemput di bandara jam dua.
"Sabtu saya jemput," katanya lewat jendela.
Bimo melambai dengan dua tangan. Mas Selep tidak melambai karena sedang memandangi kali. Riki mengangkat kaleng sarden. Bolot tidak tahu Pak Min baru saja bicara, dan baru melambai ketika Riki menyikutnya.
Mobil itu turun pelan-pelan. Di tikungan terakhir, Pak Min melihat spion sekali lagi. Empat anak itu makin kecil di antara pinus, di bawah papan yang hurufnya tinggal separuh.
Dua hari, pikirnya. Cuma dua hari.
Bio Narasi Penulis
Arumi Kavya menulis prosa yang bergerak di antara tradisi, humor, dan hal-hal yang sunyi. Novelnya, Seblang Lanang, terbit bersama KMO Indonesia pada 2026. Ia percaya cerita terbaik sering lahir dari orang-orang biasa yang berada di tempat yang salah.
tpak3ou3c2tp41w19yasbc6ens5t1ei
120300
120296
2026-09-27T05:15:04Z
Arumi Kavya
43948
added [[Category:Cerita pendek]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120300
wikitext
text/x-wiki
Pukul lima pagi, Pak Min baru menghabiskan kopi sachetnya, dan penumpang di sebelahnya sudah menghabiskan nasi bungkus ketiga.
Anak itu makan sambil memiringkan kaca spion samping ke arah dirinya sendiri. Setiap beberapa suap dia berhenti, memandangi wajahnya, merapikan rambut yang sebetulnya sudah rapi, lalu makan lagi. Kartu karton di dadanya bertuliskan MAS SELEP dengan spidol emas.
"Mas, spionnya," kata Pak Min.
"Kenapa, Pak?"
"Saya nggak bisa lihat belakang."
Mas Selep memandangi spion itu, lalu memandangi Pak Min, lalu mengembalikan posisinya pelan-pelan, seperti melepas sesuatu yang dia sayangi.
Pak Min melirik bungkus nasi yang ditumpuk rapi di dasbor. Tiga. Badan anak itu kurus seperti galah.
"Makannya banyak ya, Mas. Kok nggak gemuk?"
Mas Selep tidak menjawab. Dia mengangkat ujung kausnya dan memandangi perutnya di kaca jendela, lama, sampai lampu merah berubah hijau dan mobil di belakang membunyikan klakson.
Dari bangku tengah terdengar bunyi kaleng dibuka.
Lewat spion tengah, Pak Min melihat anak berambut acak-acakan mengangkat seekor sarden dengan dua jari, memandanginya sebentar ke arah lampu jalan, lalu memasukkannya utuh ke mulut. Kuahnya menetes ke celana. Dia tidak mengelapnya.
"Mas, itu belum digoreng."
"Nggak apa-apa, Pak."
"Nanti sakit perut."
"Belum pernah."
Kartunya bertuliskan RIKI, ditulis miring, seperti ditulis sambil makan.
Anak di sebelah Riki duduk menghadap jendela. Pak Min bertanya apakah AC-nya terlalu dingin. Anak itu diam. Pak Min bertanya sekali lagi, lebih keras. Anak itu tetap memandangi kebun apel yang lewat.
Anak zaman sekarang, pikir Pak Min.
Riki menoleh dan bicara ke tengkuk temannya. "Lot. Pak Min tanya."
Tidak ada jawaban.
"Lot."
Riki melempar tutup kaleng sarden ke pangkuan anak itu. Anak itu menoleh.
"Pak Min tanya, AC-nya dingin nggak," kata Riki, menghadap wajahnya, pelan dan jelas.
"Oh. Nggak, Pak. Pas." Anak itu memandangi tutup kaleng di pangkuannya, yang meninggalkan noda minyak di celana. "Dari tadi ngomong sama aku?"
"Dari tadi."
"Aku cuma lihat tengkukmu."
Kartu di dadanya bertuliskan BOLOT, huruf besar-besar dan tegas. Pak Min memandanginya lewat spion agak lama. Setelah itu, setiap kali ingin bertanya sesuatu kepada anak itu, Pak Min menoleh dulu.
Di bangku paling belakang duduk anak yang begitu besar sehingga kepalanya hampir menyentuh atap. Dia berbagi tempat dengan dua kardus air mineral, dua karung beras, kompor lapangan, dan sebuah gong kecil yang dia pangku dengan hati-hati, dibungkus sarung, seperti memangku bayi.
"Rik, aku kapan dikasih nama panggung?"
"Nanti, Bim."
"Dari semester satu nantinya."
Kartunya bertuliskan BIMO. Hanya itu.
Mas Selep membuka roti sobek dan menoleh ke belakang. "Bim, mau?"
"Nanti saja, Mas. Masih kenyang."
Mas Selep mengangguk. Di lampu merah berikutnya, roti itu tinggal plastiknya.
***
Sinyal hilang setelah mereka keluar dari jalan provinsi. Panah biru di ponsel Pak Min berhenti di tengah bidang hijau dan berputar di tempat. Pak Min mengetuk layarnya dengan kuku jempol, seperti membangunkan orang tidur.
Riki mencondongkan badan ke depan dan memandang matahari yang baru naik. "Utara ke sana, Pak. Tegalarum harusnya ke utara."
Pak Min menepi di depan warung kopi dan bertanya kepada bapak bersarung yang sedang menyapu. Bapak itu menunjuk ke atas bukit, ke kanan, lalu ke atas lagi. Pak Min kembali dengan wajah lega.
"Tegalarum. Lurus, nanti di pertigaan ambil yang ke atas."
"Bapak tadi bilang Bumi Perkemahan?" tanya Riki.
"Saya bilang Tegalarum."
"Bumi Perkemahannya?"
"Ya Tegalarum itu."
Riki bersandar lagi dan membuka kaleng kedua.
Jalan menanjak. Aspal berubah jadi batu, batu berubah jadi tanah dengan dua alur bekas ban. Pintu geser di tengah mulai terbuka sendiri setiap kali mobil berguncang. Riki mengeluarkan tali rafia dari ransel, mengikat gagang pintu ke tiang kursi dengan simpul yang Pak Min tidak pernah lihat, dan pintu itu diam. Dia melakukannya sambil tetap mengunyah.
Satu lubang besar membuat mobil melompat. Kepala Mas Selep terbentur kaca.
"Pak! Pelan-pelan! Rambutku!"
"Jalannya, Mas."
"Jalannya kenapa, Pak? Bapak kan yang nyetir! Aku sudah sisiran dari subuh!" Dia memukul dasbor sekali, lalu memiringkan spion samping ke arahnya lagi dan mulai membetulkan poni.
Pak Min tidak berkata apa-apa. Dia menyetir sambil melihat spion tengah saja.
Di belakang, kardus air mineral bergeser setiap kali mobil berguncang. Bimo menahannya dengan lutut, lalu dengan kedua lutut, lalu memeluknya bersama gong.
"Enak ya jalannya," kata Bimo. "Kayak dipijat."
***
Gapura bambu itu sudah miring ke kiri. Papan di atasnya tinggal separuh hurufnya. GALARUM.
"Nah," kata Pak Min.
Mereka menurunkan barang di bawah pohon pinus. Ketika Pak Min memutar mobil, ban kanan selip di rumput basah. Bimo sudah mendorong bagian belakangnya sebelum diminta.
"Nggak apa-apa, Pak. Sekalian olahraga."
Mobil itu lepas. Pak Min memutar kemudi, tapi tidak langsung menginjak gas. Dari kaca spion dia melihat mereka berempat berdiri berjajar dengan kardus dan karung.
Yang satu tidak bisa dengar, dan teman-temannya lupa terus. Yang klimis makan tiga bungkus sebelum matahari terbit, dan anak begitu kalau lapar pasti repot. Yang paling besar baik sekali. Terlalu baik. Anak seperti itu biasanya yang paling gampang ditinggal orang. Yang terakhir makan ikan mentah dari kaleng dan bisa mengikat pintu mobil sambil mengunyah, dan Pak Min tidak tahu harus merasa tenang atau justru khawatir soal itu.
Dia hampir mematikan mesin. Lalu dia ingat rektorat yang harus dijemput di bandara jam dua.
"Sabtu saya jemput," katanya lewat jendela.
Bimo melambai dengan dua tangan. Mas Selep tidak melambai karena sedang memandangi kali. Riki mengangkat kaleng sarden. Bolot tidak tahu Pak Min baru saja bicara, dan baru melambai ketika Riki menyikutnya.
Mobil itu turun pelan-pelan. Di tikungan terakhir, Pak Min melihat spion sekali lagi. Empat anak itu makin kecil di antara pinus, di bawah papan yang hurufnya tinggal separuh.
Dua hari, pikirnya. Cuma dua hari.
Bio Narasi Penulis
Arumi Kavya menulis prosa yang bergerak di antara tradisi, humor, dan hal-hal yang sunyi. Novelnya, Seblang Lanang, terbit bersama KMO Indonesia pada 2026. Ia percaya cerita terbaik sering lahir dari orang-orang biasa yang berada di tempat yang salah.
[[Kategori:Cerita pendek]]
72tfirtbwistm8xg3vn2vta3fzhb07d
120302
120300
2026-09-27T05:17:58Z
Arumi Kavya
43948
Foto
120302
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:2018-07-01 Adventure by-David-Revoy.jpg|jmpl]]
Pukul lima pagi, Pak Min baru menghabiskan kopi sachetnya, dan penumpang di sebelahnya sudah menghabiskan nasi bungkus ketiga.
Anak itu makan sambil memiringkan kaca spion samping ke arah dirinya sendiri. Setiap beberapa suap dia berhenti, memandangi wajahnya, merapikan rambut yang sebetulnya sudah rapi, lalu makan lagi. Kartu karton di dadanya bertuliskan MAS SELEP dengan spidol emas.
"Mas, spionnya," kata Pak Min.
"Kenapa, Pak?"
"Saya nggak bisa lihat belakang."
Mas Selep memandangi spion itu, lalu memandangi Pak Min, lalu mengembalikan posisinya pelan-pelan, seperti melepas sesuatu yang dia sayangi.
Pak Min melirik bungkus nasi yang ditumpuk rapi di dasbor. Tiga. Badan anak itu kurus seperti galah.
"Makannya banyak ya, Mas. Kok nggak gemuk?"
Mas Selep tidak menjawab. Dia mengangkat ujung kausnya dan memandangi perutnya di kaca jendela, lama, sampai lampu merah berubah hijau dan mobil di belakang membunyikan klakson.
Dari bangku tengah terdengar bunyi kaleng dibuka.
Lewat spion tengah, Pak Min melihat anak berambut acak-acakan mengangkat seekor sarden dengan dua jari, memandanginya sebentar ke arah lampu jalan, lalu memasukkannya utuh ke mulut. Kuahnya menetes ke celana. Dia tidak mengelapnya.
"Mas, itu belum digoreng."
"Nggak apa-apa, Pak."
"Nanti sakit perut."
"Belum pernah."
Kartunya bertuliskan RIKI, ditulis miring, seperti ditulis sambil makan.
Anak di sebelah Riki duduk menghadap jendela. Pak Min bertanya apakah AC-nya terlalu dingin. Anak itu diam. Pak Min bertanya sekali lagi, lebih keras. Anak itu tetap memandangi kebun apel yang lewat.
Anak zaman sekarang, pikir Pak Min.
Riki menoleh dan bicara ke tengkuk temannya. "Lot. Pak Min tanya."
Tidak ada jawaban.
"Lot."
Riki melempar tutup kaleng sarden ke pangkuan anak itu. Anak itu menoleh.
"Pak Min tanya, AC-nya dingin nggak," kata Riki, menghadap wajahnya, pelan dan jelas.
"Oh. Nggak, Pak. Pas." Anak itu memandangi tutup kaleng di pangkuannya, yang meninggalkan noda minyak di celana. "Dari tadi ngomong sama aku?"
"Dari tadi."
"Aku cuma lihat tengkukmu."
Kartu di dadanya bertuliskan BOLOT, huruf besar-besar dan tegas. Pak Min memandanginya lewat spion agak lama. Setelah itu, setiap kali ingin bertanya sesuatu kepada anak itu, Pak Min menoleh dulu.
Di bangku paling belakang duduk anak yang begitu besar sehingga kepalanya hampir menyentuh atap. Dia berbagi tempat dengan dua kardus air mineral, dua karung beras, kompor lapangan, dan sebuah gong kecil yang dia pangku dengan hati-hati, dibungkus sarung, seperti memangku bayi.
"Rik, aku kapan dikasih nama panggung?"
"Nanti, Bim."
"Dari semester satu nantinya."
Kartunya bertuliskan BIMO. Hanya itu.
Mas Selep membuka roti sobek dan menoleh ke belakang. "Bim, mau?"
"Nanti saja, Mas. Masih kenyang."
Mas Selep mengangguk. Di lampu merah berikutnya, roti itu tinggal plastiknya.
***
Sinyal hilang setelah mereka keluar dari jalan provinsi. Panah biru di ponsel Pak Min berhenti di tengah bidang hijau dan berputar di tempat. Pak Min mengetuk layarnya dengan kuku jempol, seperti membangunkan orang tidur.
Riki mencondongkan badan ke depan dan memandang matahari yang baru naik. "Utara ke sana, Pak. Tegalarum harusnya ke utara."
Pak Min menepi di depan warung kopi dan bertanya kepada bapak bersarung yang sedang menyapu. Bapak itu menunjuk ke atas bukit, ke kanan, lalu ke atas lagi. Pak Min kembali dengan wajah lega.
"Tegalarum. Lurus, nanti di pertigaan ambil yang ke atas."
"Bapak tadi bilang Bumi Perkemahan?" tanya Riki.
"Saya bilang Tegalarum."
"Bumi Perkemahannya?"
"Ya Tegalarum itu."
Riki bersandar lagi dan membuka kaleng kedua.
Jalan menanjak. Aspal berubah jadi batu, batu berubah jadi tanah dengan dua alur bekas ban. Pintu geser di tengah mulai terbuka sendiri setiap kali mobil berguncang. Riki mengeluarkan tali rafia dari ransel, mengikat gagang pintu ke tiang kursi dengan simpul yang Pak Min tidak pernah lihat, dan pintu itu diam. Dia melakukannya sambil tetap mengunyah.
Satu lubang besar membuat mobil melompat. Kepala Mas Selep terbentur kaca.
"Pak! Pelan-pelan! Rambutku!"
"Jalannya, Mas."
"Jalannya kenapa, Pak? Bapak kan yang nyetir! Aku sudah sisiran dari subuh!" Dia memukul dasbor sekali, lalu memiringkan spion samping ke arahnya lagi dan mulai membetulkan poni.
Pak Min tidak berkata apa-apa. Dia menyetir sambil melihat spion tengah saja.
Di belakang, kardus air mineral bergeser setiap kali mobil berguncang. Bimo menahannya dengan lutut, lalu dengan kedua lutut, lalu memeluknya bersama gong.
"Enak ya jalannya," kata Bimo. "Kayak dipijat."
***
Gapura bambu itu sudah miring ke kiri. Papan di atasnya tinggal separuh hurufnya. GALARUM.
"Nah," kata Pak Min.
Mereka menurunkan barang di bawah pohon pinus. Ketika Pak Min memutar mobil, ban kanan selip di rumput basah. Bimo sudah mendorong bagian belakangnya sebelum diminta.
"Nggak apa-apa, Pak. Sekalian olahraga."
Mobil itu lepas. Pak Min memutar kemudi, tapi tidak langsung menginjak gas. Dari kaca spion dia melihat mereka berempat berdiri berjajar dengan kardus dan karung.
Yang satu tidak bisa dengar, dan teman-temannya lupa terus. Yang klimis makan tiga bungkus sebelum matahari terbit, dan anak begitu kalau lapar pasti repot. Yang paling besar baik sekali. Terlalu baik. Anak seperti itu biasanya yang paling gampang ditinggal orang. Yang terakhir makan ikan mentah dari kaleng dan bisa mengikat pintu mobil sambil mengunyah, dan Pak Min tidak tahu harus merasa tenang atau justru khawatir soal itu.
Dia hampir mematikan mesin. Lalu dia ingat rektorat yang harus dijemput di bandara jam dua.
"Sabtu saya jemput," katanya lewat jendela.
Bimo melambai dengan dua tangan. Mas Selep tidak melambai karena sedang memandangi kali. Riki mengangkat kaleng sarden. Bolot tidak tahu Pak Min baru saja bicara, dan baru melambai ketika Riki menyikutnya.
Mobil itu turun pelan-pelan. Di tikungan terakhir, Pak Min melihat spion sekali lagi. Empat anak itu makin kecil di antara pinus, di bawah papan yang hurufnya tinggal separuh.
Dua hari, pikirnya. Cuma dua hari.
Bio Narasi Penulis
Arumi Kavya menulis prosa yang bergerak di antara tradisi, humor, dan hal-hal yang sunyi. Novelnya, Seblang Lanang, terbit bersama KMO Indonesia pada 2026. Ia percaya cerita terbaik sering lahir dari orang-orang biasa yang berada di tempat yang salah.
[[Kategori:Cerita pendek]]
g3djk8xo6q0ufqfs050fwyyolafv3x3
120305
120302
2026-09-27T05:31:15Z
Arumi Kavya
43948
Letak tulisan
120305
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:2018-07-01 Adventure by-David-Revoy.jpg|jmpl]]
Pukul lima pagi, Pak Min baru menghabiskan kopi sachetnya, dan penumpang di sebelahnya sudah menghabiskan nasi bungkus ketiga.
Anak itu makan sambil memiringkan kaca spion samping ke arah dirinya sendiri. Setiap beberapa suap dia berhenti, memandangi wajahnya, merapikan rambut yang sebetulnya sudah rapi, lalu makan lagi. Kartu karton di dadanya bertuliskan MAS SELEP dengan spidol emas.
"Mas, spionnya," kata Pak Min.
"Kenapa, Pak?"
"Saya nggak bisa lihat belakang."
Mas Selep memandangi spion itu, lalu memandangi Pak Min, lalu mengembalikan posisinya pelan-pelan, seperti melepas sesuatu yang dia sayangi.
Pak Min melirik bungkus nasi yang ditumpuk rapi di dasbor. Tiga. Badan anak itu kurus seperti galah.
"Makannya banyak ya, Mas. Kok nggak gemuk?"
Mas Selep tidak menjawab. Dia mengangkat ujung kausnya dan memandangi perutnya di kaca jendela, lama, sampai lampu merah berubah hijau dan mobil di belakang membunyikan klakson.
Dari bangku tengah terdengar bunyi kaleng dibuka.
Lewat spion tengah, Pak Min melihat anak berambut acak-acakan mengangkat seekor sarden dengan dua jari, memandanginya sebentar ke arah lampu jalan, lalu memasukkannya utuh ke mulut. Kuahnya menetes ke celana. Dia tidak mengelapnya.
"Mas, itu belum digoreng."
"Nggak apa-apa, Pak."
"Nanti sakit perut."
"Belum pernah."
Kartunya bertuliskan RIKI, ditulis miring, seperti ditulis sambil makan.
Anak di sebelah Riki duduk menghadap jendela. Pak Min bertanya apakah AC-nya terlalu dingin. Anak itu diam. Pak Min bertanya sekali lagi, lebih keras. Anak itu tetap memandangi kebun apel yang lewat.
Anak zaman sekarang, pikir Pak Min.
Riki menoleh dan bicara ke tengkuk temannya. "Lot. Pak Min tanya."
Tidak ada jawaban.
"Lot."
Riki melempar tutup kaleng sarden ke pangkuan anak itu. Anak itu menoleh.
"Pak Min tanya, AC-nya dingin nggak," kata Riki, menghadap wajahnya, pelan dan jelas.
"Oh. Nggak, Pak. Pas." Anak itu memandangi tutup kaleng di pangkuannya, yang meninggalkan noda minyak di celana. "Dari tadi ngomong sama aku?"
"Dari tadi."
"Aku cuma lihat tengkukmu."
Kartu di dadanya bertuliskan BOLOT, huruf besar-besar dan tegas. Pak Min memandanginya lewat spion agak lama. Setelah itu, setiap kali ingin bertanya sesuatu kepada anak itu, Pak Min menoleh dulu.
Di bangku paling belakang duduk anak yang begitu besar sehingga kepalanya hampir menyentuh atap. Dia berbagi tempat dengan dua kardus air mineral, dua karung beras, kompor lapangan, dan sebuah gong kecil yang dia pangku dengan hati-hati, dibungkus sarung, seperti memangku bayi.
"Rik, aku kapan dikasih nama panggung?"
"Nanti, Bim."
"Dari semester satu nantinya."
Kartunya bertuliskan BIMO. Hanya itu.
Mas Selep membuka roti sobek dan menoleh ke belakang. "Bim, mau?"
"Nanti saja, Mas. Masih kenyang."
Mas Selep mengangguk. Di lampu merah berikutnya, roti itu tinggal plastiknya.
***
Sinyal hilang setelah mereka keluar dari jalan provinsi. Panah biru di ponsel Pak Min berhenti di tengah bidang hijau dan berputar di tempat. Pak Min mengetuk layarnya dengan kuku jempol, seperti membangunkan orang tidur.
Riki mencondongkan badan ke depan dan memandang matahari yang baru naik. "Utara ke sana, Pak. Tegalarum harusnya ke utara."
Pak Min menepi di depan warung kopi dan bertanya kepada bapak bersarung yang sedang menyapu. Bapak itu menunjuk ke atas bukit, ke kanan, lalu ke atas lagi. Pak Min kembali dengan wajah lega.
"Tegalarum. Lurus, nanti di pertigaan ambil yang ke atas."
"Bapak tadi bilang Bumi Perkemahan?" tanya Riki.
"Saya bilang Tegalarum."
"Bumi Perkemahannya?"
"Ya Tegalarum itu."
Riki bersandar lagi dan membuka kaleng kedua.
Jalan menanjak. Aspal berubah jadi batu, batu berubah jadi tanah dengan dua alur bekas ban. Pintu geser di tengah mulai terbuka sendiri setiap kali mobil berguncang. Riki mengeluarkan tali rafia dari ransel, mengikat gagang pintu ke tiang kursi dengan simpul yang Pak Min tidak pernah lihat, dan pintu itu diam. Dia melakukannya sambil tetap mengunyah.
Satu lubang besar membuat mobil melompat. Kepala Mas Selep terbentur kaca.
"Pak! Pelan-pelan! Rambutku!"
"Jalannya, Mas."
"Jalannya kenapa, Pak? Bapak kan yang nyetir! Aku sudah sisiran dari subuh!" Dia memukul dasbor sekali, lalu memiringkan spion samping ke arahnya lagi dan mulai membetulkan poni.
Pak Min tidak berkata apa-apa. Dia menyetir sambil melihat spion tengah saja.
Di belakang, kardus air mineral bergeser setiap kali mobil berguncang. Bimo menahannya dengan lutut, lalu dengan kedua lutut, lalu memeluknya bersama gong.
"Enak ya jalannya," kata Bimo. "Kayak dipijat."
***
Gapura bambu itu sudah miring ke kiri. Papan di atasnya tinggal separuh hurufnya. GALARUM.
"Nah," kata Pak Min.
Mereka menurunkan barang di bawah pohon pinus. Ketika Pak Min memutar mobil, ban kanan selip di rumput basah. Bimo sudah mendorong bagian belakangnya sebelum diminta.
"Nggak apa-apa, Pak. Sekalian olahraga."
Mobil itu lepas. Pak Min memutar kemudi, tapi tidak langsung menginjak gas. Dari kaca spion dia melihat mereka berempat berdiri berjajar dengan kardus dan karung.
Yang satu tidak bisa dengar, dan teman-temannya lupa terus. Yang klimis makan tiga bungkus sebelum matahari terbit, dan anak begitu kalau lapar pasti repot. Yang paling besar baik sekali. Terlalu baik. Anak seperti itu biasanya yang paling gampang ditinggal orang. Yang terakhir makan ikan mentah dari kaleng dan bisa mengikat pintu mobil sambil mengunyah, dan Pak Min tidak tahu harus merasa tenang atau justru khawatir soal itu.
Dia hampir mematikan mesin. Lalu dia ingat rektorat yang harus dijemput di bandara jam dua.
"Sabtu saya jemput," katanya lewat jendela.
Bimo melambai dengan dua tangan. Mas Selep tidak melambai karena sedang memandangi kali. Riki mengangkat kaleng sarden. Bolot tidak tahu Pak Min baru saja bicara, dan baru melambai ketika Riki menyikutnya.
Mobil itu turun pelan-pelan. Di tikungan terakhir, Pak Min melihat spion sekali lagi. Empat anak itu makin kecil di antara pinus, di bawah papan yang hurufnya tinggal separuh.
Dua hari, pikirnya. Cuma dua hari.
Bio Narasi Penulis
Arumi Kavya menulis prosa yang bergerak di antara tradisi, humor, dan hal-hal yang sunyi. Novelnya, Seblang Lanang, terbit bersama KMO Indonesia pada 2026. Ia percaya cerita terbaik sering lahir dari orang-orang biasa yang berada di tempat yang salah.
[[Kategori:Cerita pendek]]
6l35qq38kxx12fso90slwwnphqt9zch
Harta yang Terpendam/Bab 2
0
28548
120301
2026-09-27T05:16:54Z
Rekhaaqsolia
43933
←Membuat halaman berisi ''''SETAN NYAI GRINTIL''' Di antara rumah-rumah gubuk di bawah pohon-pohon kelapa yang lebat di Pecah Kulit, ada berdiri juga satu rumah atap yang sudah tua dan reyot. Satu suara merintih ada kedengaran dalam gubuk itu. Pintu depan ada kedengaran ditolak dengan berisik. "Ali!” memanggil itu suara yang tadi merintih-rintih. "Mana, Ma?” balas menanya si Ali yang baru pulang dari rumahnya Yoesoef. "Lagi cari obat, gua ''nggak'' tahan kepala kelewat sakit.”...'
120301
wikitext
text/x-wiki
'''SETAN NYAI GRINTIL'''
Di antara rumah-rumah gubuk di bawah pohon-pohon kelapa yang lebat di Pecah Kulit, ada berdiri juga satu rumah atap yang sudah tua dan reyot. Satu suara merintih ada kedengaran dalam gubuk itu. Pintu depan ada kedengaran ditolak dengan berisik.
"Ali!” memanggil itu suara yang tadi merintih-rintih.
"Mana, Ma?” balas menanya si Ali yang baru pulang dari rumahnya Yoesoef.
"Lagi cari obat, gua ''nggak'' tahan kepala kelewat sakit.”
Ali hampiri istrinya dan pijitkan kepala istri itu, sedang badannya itu perempuan ia pegang ada panas betul. Ali punya istri sedang sakit meriang, serupa penyakit yang biasa menyerang pada penduduk bilangan Mangga Dua dan Pecah Kulit.
"Lu pergi ke mana tadi, Ali?” menanya sang istri.
"Gua pergi ke rumah teman,” sahut Ali.
"Kenapa lu ''nggak'' mau pergi ke rumah Nyi Marsina buat pinjam duit?”
"Tadi siang gua sudah dapat seringgit, bukan pinjaman, hanya persenan, sebab gua kasih tahu sama dia lu lagi sakit.”
Ali tungguin istrinya yang sakit sampai ia punya mertua sudah pulang dengan bawa daun obat. Sama sekali Ali tidak mau ceritakan tentang itu surat wasiat yang bakal kasih ia harta besar. Selagi mertuanya menumbuk obat, Ali pergi ke pelataran dan rebahkan diri di atas bale sambil memikirkan dengan perkakas apa ia mesti gali itu harta. Buat pergi ke itu masjid rusak ada dua jalan. Kesatu di Gang Gardu dan kedua di Gang Burung. Kira-kira itu waktu baru jam 9 malam. Kalau ia berangkat dengan bawa pacul dan linggis pada waktu begitu, niscaya tukang-tukang grobak di Gang Gardu bisa dapat lihat, sebab mereka belum masuk tidur begitu waktu, demikian juga di Gang Burung tentu masih ramai. Ali ambil putusan akan tunggu sampai jam 10 lewat dan ambil jalan di Gang Gardu, sebab di situ ada lebih dekat ke masjid rusak, juga tidak terlalu serem. Jalanan di Gang Burung mesti lewatkan banyak kuburan Olanda dan kuburan Islam, inilah Ali, yang pikirannya penuh khayal, tidak berani lewatkan.
Bulan yang bundar ada sinarkan cahayanya semakin terang. Ali, sambil rebah telentang di atas bale, ada pandang bagusnya bulan itu sebagai bagusnya peruntungan yang bakal datang. Ia kenangkan kalau ia dapat itu harta £50,000, ia nanti pindah ke Matraman, di mana ia ada punya famili. Ia nanti bikin rumah yang bagus, perabotkan itu dengan necis, piara sado dan delman karet. Ia punya istri nanti ia pakaikan mas intan yang berharga mahal, saban malam ia boleh plesir nonton bioskop atau ke park buat unjuk kekayaannya. Ia punya saudara di Bogor yang cuma mampu jadi tukang bikin bilik, ia nanti panggil pulang dan tinggal sama-sama ia di rumah yang bagus. Ia sendiri tidak lagi jadi tukang pikul air dan tukang piara pohon-pohonnya Nyi Marsina. Pada Tuan Yoesoef ia nanti antar banyak barang makanan dan pakaian, sebagai ia punya tanda terima kasih yang Tuan itu sudah kasih keterangan halnya itu surat wasiat dengan sejujurnya. Banyaklah pikiran-pikiran enak masuk di kepalanya si Ali, sampai akhir-akhir ia ini jadi terkejut ketika dapat dengar suara kereta api bersuit. Itulah ada kereta jam 10 dari Tanjung Priok. Ali berbangkit dengan cepat. Di dalam ia lihat mertuanya rebah pulas, dan istrinya mulai enakan ketika kepalanya sudah dicacap dengan daun obat.
Ali pergi ke belakang rumah, ambil pacul dan linggis, kemudian dengan tidak kasih tahu istri dan mertuanya, ia lalu berangkat ke masjid rusak. Sepanjang jalanan ada sepi, tidak satu biji manusia Ali ketemukan, sampai akhirnya Ali masuk di Gang Gardu dan lewatkan rumah-rumahnya tukang grobak.
Lima belas tahun yang lalu, masjid itu ada amat dihormatkan oleh orang-orang yang beragama Islam; setiap hari Jumat ada banyak orang datang sembahyang, tetapi sedari Said Machmoed bin Alkadar wafat, masjid itu sudah tidak ada yang urus lagi, hingga lama-lama menjadi rusak. Sekitarnya tempat itu yang tadinya ada berdiri rumah-rumah gubuk, sekarang sudah jadi kuburan Islam, sedang tepi sebelah kanan ada melintas jalanan kereta api. Pohon-pohon rumput ada tumbuh dengan lebat. Gentengnya masjid itu sudah rompal, di sana-sini, sedang tembok-temboknya sebagian besar telah gugur.
Di tempat yang begitu lebat dengan pepohonan tentu ada bersarang banyak burung-burung iblis, terutama burung serak dan burung kokokbeluk yang berbunyi saling sahut di sepanjang tempat yang Ali lewatkan. Dari rumah, Ali merasa yang hatinya cukup berani akan pergi ke itu masjid, tetapi ketika dengar itu suara-suara serem, bulunya jadi bangun, hatinya memukul keras, sedang kepalanya ia rasakan jadi gede, ia merasa sangsi apakah baik ia teruskan perjalanannya atau balik pulang. Kalau ia balik, kapankah lagi itu harta boleh digali. Di waktu siang tentu orang bisa lihat perbuatannya, sebab setiap hari banyak tukang rumput di tepi-tepi situ, selain begitu, juga orang yang datang sembahyang di kuburan, boleh dibilang hampir tidak berhenti. Sementara kalau ia teruskan perjalanannya, ia takut dicekek setan. Ali balik kepalanya akan lihat tempat yang ia sudah lewatkan di Gang Gardu. Gelap dan serem! Selagi berpikir, sekejap kemudian Ali dapat lihat bayangan putih lari berkelebat di dalam itu gang, sedikit jauh dari tempat ia berdiri.
"Laillah!” menyebut Ali dengan takut.
Itu bayangan lenyap di gombolan pohon-pohon. Dalam hatinya Ali ingat pada ceritanya setan Nyai Grintil.
Ali sekarang ambil keputusan akan tidak lewat lagi di itu gang, sebab ia takut ketemukan itu bayangan yang ia lihat melak-melak ada lari mengumpet di gombolan pohon.
Ia teruskan perjalanannya dengan cepat ke itu masjid, dalam hatinya meminta pada Allah supaya ia dilindungkan dari segala godaan iblis, sedang mulutnya tidak berhenti membaca beberapa jampean.
Akhirnya Ali sampai di itu masjid. Dari pintu samping ia lantas bisa dapat lihat itu sumur, dan dari pinggiran sumur ini ia lalu bertindak lima langkah ke samping sebelah kanan dari satu kuburan, di tempat mana betul juga Ali dapat lihat itu batu persegi yang sekarang sudah ditutupi oleh rumput-rumput. Dengan tangan saja batu tidak nanti dapat digeserkan, tetapi Ali ada bawa linggis, maka dengan itu perkakas ia bikin batu itu terguling. Ali coba tekan itu tanah yang tadinya ditindi oleh batu dan ia rasakan kakinya yang menekan jadi ambles. Ia merasa amat girang, harapannya jadi besar. Sekarang ia ambil itu pacul, dengan apa lalu gali tanah itu sampai satu kaki dalamnya. Selagi menggali, paculnya ia rasakan ada membentur apa-apa yang keras. Itulah Ali duga tentu ada peti yang tersebut dalam surat testament. Ia lempar itu pacul dan dengan tangannya, keduk tanah yang masih menutupi pada itu lubang. Tangannya lantas dapat memegang pada itu peti, yang dengan penuh kegirangan ia lalu tarik ke atas. Satu peti persegi sedikit panjang sekarang ada di hadapannya. Peti itu ada terkunci, tapi dengan gampang bisa dibuka dengan satu kali dongkrak sama linggis. Tatkala tutupnya dibuka, lantas juga ada kelihatan beberapa kantong yang berisi uang. Salah satu kantong itu, Ali segera buka dan isinya putih-putih ada kelihatan di sinarnya bulan. Lagi satu kantong Ali buka dan isinya merah-merah, yaitu uang emas ringgitan dan perakan. Ali rasakan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang oleh karena baru pernah dapat lihat uang yang begitu banyak. Ia duduk hadapkan itu peti dengan peluk dengkul sebagai seorang kasimah, bingung; tidak tahu apa yang ia mesti berbuat. Sekonyong-konyong Ali dengar suara perempuan tertawa. Ali celingukan, tetapi tidak ada apa-apa yang ia dapat lihat.
"Astaga,” menyebut Ali dengan bulu badan mengkirik. Dalam hatinya berpikir, apakah ada orang intipkan padanya? Tidak boleh jadi, itu tempat toch tidak ada manusia. Ach! itulah suara setan. Ali cepat tutup itu peti, tatkala mana, dari satu tempat gelap ia dapat lihat bayangan putih bergerak.
Ali punya rasa takut tidak bisa tertahan, ia lompat beberapa tindak dan berlutut.
"Ampun Nyai Grintil...” meratap Ali dengan suara gemetar.
Ali punya sangkahan tidak bisa salah lagi bahwa itu bayangan putih ada rohnya Nyai Grintil, betul serupa dengan itu bayangan yang tadi ia dapat lihat di Gang Gardu.
Nyai Grintil ada seorang perempuan yang tatkala hidupnya telah bersumpah akan tidak menikah pada bangsa kafir, tetapi lantaran pengaruhnya kecintaan, ia sudah ikut seorang orang Olanda, dari siapa ia hamili seorang bayi, tetapi ketika mau lahirkan bayi itu, ia menutup mata sama-sama dengan itu bayi yang masih ada dalam kandungan. Orang-orang di sekitarnya kampung Mangga Dua jadi buat ceritakan, lantaran mayatnya ditanam di kuburan Olanda, itu Nyai yang melanggar sumpahnya sendiri, jadi tidak mempunyai tempat di akhirat, dan jadi bergelandangan saja saban malam. Kalau ada orang dapat lihat apa-apa di waktu malam, lantas orang itu bercerita bahwa ia dapat lihat setannya Nyai Grintil. Ali tadinya tidak percaya, tetapi sekarang ia hadapkan betul-betul itu setan, maka terasa heran kalau ia punya ketakutan jadi setengah mati. Ia berlutut dengan badan gemetar dan awaskan apa yang itu bayangan putih mau berbuat padanya. Bayangan itu ada berupa dengan orang perempuan, ia punya muka terus ke kaki ada dikarudungi dengan kain putih, tetapi buah dadanya yang montok ada kelihatan nyata. Dengan tidak berkata-kata bayangan itu hampiri pada peti uang dengan pelahan, dan ketika sudah dekat, ia lekas pondong itu dan bersedia akan bawa pergi. Ali lihat tingkahnya itu setan, tetapi ketika dapat lihat ia punya peti uang mau dibawa pergi, ia lekas bangun dan dengan beranikan hati, rebut kembali itu peti. Saling tarik satu sama lain, akhirnya ia berdua jadi bergulat. Ali dapat tindih itu setan, cekek batang lehernya, tatkala mana sekonyong-konyong dari belakang kepalanya ditimpa dengan batu besar. Ali berteriak satu kali dan roboh telentang dengan berkedjetan.
"Lekas lari, ... lekas lari... .” kata satu suara lelaki.
8r3ei4zkgul4xxq3tsmqkop5q7jypqa
120303
120301
2026-09-27T05:18:20Z
Rekhaaqsolia
43933
added [[Category:Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120303
wikitext
text/x-wiki
'''SETAN NYAI GRINTIL'''
Di antara rumah-rumah gubuk di bawah pohon-pohon kelapa yang lebat di Pecah Kulit, ada berdiri juga satu rumah atap yang sudah tua dan reyot. Satu suara merintih ada kedengaran dalam gubuk itu. Pintu depan ada kedengaran ditolak dengan berisik.
"Ali!” memanggil itu suara yang tadi merintih-rintih.
"Mana, Ma?” balas menanya si Ali yang baru pulang dari rumahnya Yoesoef.
"Lagi cari obat, gua ''nggak'' tahan kepala kelewat sakit.”
Ali hampiri istrinya dan pijitkan kepala istri itu, sedang badannya itu perempuan ia pegang ada panas betul. Ali punya istri sedang sakit meriang, serupa penyakit yang biasa menyerang pada penduduk bilangan Mangga Dua dan Pecah Kulit.
"Lu pergi ke mana tadi, Ali?” menanya sang istri.
"Gua pergi ke rumah teman,” sahut Ali.
"Kenapa lu ''nggak'' mau pergi ke rumah Nyi Marsina buat pinjam duit?”
"Tadi siang gua sudah dapat seringgit, bukan pinjaman, hanya persenan, sebab gua kasih tahu sama dia lu lagi sakit.”
Ali tungguin istrinya yang sakit sampai ia punya mertua sudah pulang dengan bawa daun obat. Sama sekali Ali tidak mau ceritakan tentang itu surat wasiat yang bakal kasih ia harta besar. Selagi mertuanya menumbuk obat, Ali pergi ke pelataran dan rebahkan diri di atas bale sambil memikirkan dengan perkakas apa ia mesti gali itu harta. Buat pergi ke itu masjid rusak ada dua jalan. Kesatu di Gang Gardu dan kedua di Gang Burung. Kira-kira itu waktu baru jam 9 malam. Kalau ia berangkat dengan bawa pacul dan linggis pada waktu begitu, niscaya tukang-tukang grobak di Gang Gardu bisa dapat lihat, sebab mereka belum masuk tidur begitu waktu, demikian juga di Gang Burung tentu masih ramai. Ali ambil putusan akan tunggu sampai jam 10 lewat dan ambil jalan di Gang Gardu, sebab di situ ada lebih dekat ke masjid rusak, juga tidak terlalu serem. Jalanan di Gang Burung mesti lewatkan banyak kuburan Olanda dan kuburan Islam, inilah Ali, yang pikirannya penuh khayal, tidak berani lewatkan.
Bulan yang bundar ada sinarkan cahayanya semakin terang. Ali, sambil rebah telentang di atas bale, ada pandang bagusnya bulan itu sebagai bagusnya peruntungan yang bakal datang. Ia kenangkan kalau ia dapat itu harta £50,000, ia nanti pindah ke Matraman, di mana ia ada punya famili. Ia nanti bikin rumah yang bagus, perabotkan itu dengan necis, piara sado dan delman karet. Ia punya istri nanti ia pakaikan mas intan yang berharga mahal, saban malam ia boleh plesir nonton bioskop atau ke park buat unjuk kekayaannya. Ia punya saudara di Bogor yang cuma mampu jadi tukang bikin bilik, ia nanti panggil pulang dan tinggal sama-sama ia di rumah yang bagus. Ia sendiri tidak lagi jadi tukang pikul air dan tukang piara pohon-pohonnya Nyi Marsina. Pada Tuan Yoesoef ia nanti antar banyak barang makanan dan pakaian, sebagai ia punya tanda terima kasih yang Tuan itu sudah kasih keterangan halnya itu surat wasiat dengan sejujurnya. Banyaklah pikiran-pikiran enak masuk di kepalanya si Ali, sampai akhir-akhir ia ini jadi terkejut ketika dapat dengar suara kereta api bersuit. Itulah ada kereta jam 10 dari Tanjung Priok. Ali berbangkit dengan cepat. Di dalam ia lihat mertuanya rebah pulas, dan istrinya mulai enakan ketika kepalanya sudah dicacap dengan daun obat.
Ali pergi ke belakang rumah, ambil pacul dan linggis, kemudian dengan tidak kasih tahu istri dan mertuanya, ia lalu berangkat ke masjid rusak. Sepanjang jalanan ada sepi, tidak satu biji manusia Ali ketemukan, sampai akhirnya Ali masuk di Gang Gardu dan lewatkan rumah-rumahnya tukang grobak.
Lima belas tahun yang lalu, masjid itu ada amat dihormatkan oleh orang-orang yang beragama Islam; setiap hari Jumat ada banyak orang datang sembahyang, tetapi sedari Said Machmoed bin Alkadar wafat, masjid itu sudah tidak ada yang urus lagi, hingga lama-lama menjadi rusak. Sekitarnya tempat itu yang tadinya ada berdiri rumah-rumah gubuk, sekarang sudah jadi kuburan Islam, sedang tepi sebelah kanan ada melintas jalanan kereta api. Pohon-pohon rumput ada tumbuh dengan lebat. Gentengnya masjid itu sudah rompal, di sana-sini, sedang tembok-temboknya sebagian besar telah gugur.
Di tempat yang begitu lebat dengan pepohonan tentu ada bersarang banyak burung-burung iblis, terutama burung serak dan burung kokokbeluk yang berbunyi saling sahut di sepanjang tempat yang Ali lewatkan. Dari rumah, Ali merasa yang hatinya cukup berani akan pergi ke itu masjid, tetapi ketika dengar itu suara-suara serem, bulunya jadi bangun, hatinya memukul keras, sedang kepalanya ia rasakan jadi gede, ia merasa sangsi apakah baik ia teruskan perjalanannya atau balik pulang. Kalau ia balik, kapankah lagi itu harta boleh digali. Di waktu siang tentu orang bisa lihat perbuatannya, sebab setiap hari banyak tukang rumput di tepi-tepi situ, selain begitu, juga orang yang datang sembahyang di kuburan, boleh dibilang hampir tidak berhenti. Sementara kalau ia teruskan perjalanannya, ia takut dicekek setan. Ali balik kepalanya akan lihat tempat yang ia sudah lewatkan di Gang Gardu. Gelap dan serem! Selagi berpikir, sekejap kemudian Ali dapat lihat bayangan putih lari berkelebat di dalam itu gang, sedikit jauh dari tempat ia berdiri.
"Laillah!” menyebut Ali dengan takut.
Itu bayangan lenyap di gombolan pohon-pohon. Dalam hatinya Ali ingat pada ceritanya setan Nyai Grintil.
Ali sekarang ambil keputusan akan tidak lewat lagi di itu gang, sebab ia takut ketemukan itu bayangan yang ia lihat melak-melak ada lari mengumpet di gombolan pohon.
Ia teruskan perjalanannya dengan cepat ke itu masjid, dalam hatinya meminta pada Allah supaya ia dilindungkan dari segala godaan iblis, sedang mulutnya tidak berhenti membaca beberapa jampean.
Akhirnya Ali sampai di itu masjid. Dari pintu samping ia lantas bisa dapat lihat itu sumur, dan dari pinggiran sumur ini ia lalu bertindak lima langkah ke samping sebelah kanan dari satu kuburan, di tempat mana betul juga Ali dapat lihat itu batu persegi yang sekarang sudah ditutupi oleh rumput-rumput. Dengan tangan saja batu tidak nanti dapat digeserkan, tetapi Ali ada bawa linggis, maka dengan itu perkakas ia bikin batu itu terguling. Ali coba tekan itu tanah yang tadinya ditindi oleh batu dan ia rasakan kakinya yang menekan jadi ambles. Ia merasa amat girang, harapannya jadi besar. Sekarang ia ambil itu pacul, dengan apa lalu gali tanah itu sampai satu kaki dalamnya. Selagi menggali, paculnya ia rasakan ada membentur apa-apa yang keras. Itulah Ali duga tentu ada peti yang tersebut dalam surat testament. Ia lempar itu pacul dan dengan tangannya, keduk tanah yang masih menutupi pada itu lubang. Tangannya lantas dapat memegang pada itu peti, yang dengan penuh kegirangan ia lalu tarik ke atas. Satu peti persegi sedikit panjang sekarang ada di hadapannya. Peti itu ada terkunci, tapi dengan gampang bisa dibuka dengan satu kali dongkrak sama linggis. Tatkala tutupnya dibuka, lantas juga ada kelihatan beberapa kantong yang berisi uang. Salah satu kantong itu, Ali segera buka dan isinya putih-putih ada kelihatan di sinarnya bulan. Lagi satu kantong Ali buka dan isinya merah-merah, yaitu uang emas ringgitan dan perakan. Ali rasakan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang oleh karena baru pernah dapat lihat uang yang begitu banyak. Ia duduk hadapkan itu peti dengan peluk dengkul sebagai seorang kasimah, bingung; tidak tahu apa yang ia mesti berbuat. Sekonyong-konyong Ali dengar suara perempuan tertawa. Ali celingukan, tetapi tidak ada apa-apa yang ia dapat lihat.
"Astaga,” menyebut Ali dengan bulu badan mengkirik. Dalam hatinya berpikir, apakah ada orang intipkan padanya? Tidak boleh jadi, itu tempat toch tidak ada manusia. Ach! itulah suara setan. Ali cepat tutup itu peti, tatkala mana, dari satu tempat gelap ia dapat lihat bayangan putih bergerak.
Ali punya rasa takut tidak bisa tertahan, ia lompat beberapa tindak dan berlutut.
"Ampun Nyai Grintil...” meratap Ali dengan suara gemetar.
Ali punya sangkahan tidak bisa salah lagi bahwa itu bayangan putih ada rohnya Nyai Grintil, betul serupa dengan itu bayangan yang tadi ia dapat lihat di Gang Gardu.
Nyai Grintil ada seorang perempuan yang tatkala hidupnya telah bersumpah akan tidak menikah pada bangsa kafir, tetapi lantaran pengaruhnya kecintaan, ia sudah ikut seorang orang Olanda, dari siapa ia hamili seorang bayi, tetapi ketika mau lahirkan bayi itu, ia menutup mata sama-sama dengan itu bayi yang masih ada dalam kandungan. Orang-orang di sekitarnya kampung Mangga Dua jadi buat ceritakan, lantaran mayatnya ditanam di kuburan Olanda, itu Nyai yang melanggar sumpahnya sendiri, jadi tidak mempunyai tempat di akhirat, dan jadi bergelandangan saja saban malam. Kalau ada orang dapat lihat apa-apa di waktu malam, lantas orang itu bercerita bahwa ia dapat lihat setannya Nyai Grintil. Ali tadinya tidak percaya, tetapi sekarang ia hadapkan betul-betul itu setan, maka terasa heran kalau ia punya ketakutan jadi setengah mati. Ia berlutut dengan badan gemetar dan awaskan apa yang itu bayangan putih mau berbuat padanya. Bayangan itu ada berupa dengan orang perempuan, ia punya muka terus ke kaki ada dikarudungi dengan kain putih, tetapi buah dadanya yang montok ada kelihatan nyata. Dengan tidak berkata-kata bayangan itu hampiri pada peti uang dengan pelahan, dan ketika sudah dekat, ia lekas pondong itu dan bersedia akan bawa pergi. Ali lihat tingkahnya itu setan, tetapi ketika dapat lihat ia punya peti uang mau dibawa pergi, ia lekas bangun dan dengan beranikan hati, rebut kembali itu peti. Saling tarik satu sama lain, akhirnya ia berdua jadi bergulat. Ali dapat tindih itu setan, cekek batang lehernya, tatkala mana sekonyong-konyong dari belakang kepalanya ditimpa dengan batu besar. Ali berteriak satu kali dan roboh telentang dengan berkedjetan.
"Lekas lari, ... lekas lari... .” kata satu suara lelaki.
[[Kategori:Fiksi]]
2hgs8s7fvgaty3pc05ldwemwtq16wg8
120317
120303
2026-09-27T05:51:00Z
Quraeni
37519
Quraeni memindahkan halaman [[Harta Yang Terpendam atau Ceritanya Nyai Marsina/Bab 2]] ke [[Harta yang Terpendam/Bab 2]]: Judul salah eja
120303
wikitext
text/x-wiki
'''SETAN NYAI GRINTIL'''
Di antara rumah-rumah gubuk di bawah pohon-pohon kelapa yang lebat di Pecah Kulit, ada berdiri juga satu rumah atap yang sudah tua dan reyot. Satu suara merintih ada kedengaran dalam gubuk itu. Pintu depan ada kedengaran ditolak dengan berisik.
"Ali!” memanggil itu suara yang tadi merintih-rintih.
"Mana, Ma?” balas menanya si Ali yang baru pulang dari rumahnya Yoesoef.
"Lagi cari obat, gua ''nggak'' tahan kepala kelewat sakit.”
Ali hampiri istrinya dan pijitkan kepala istri itu, sedang badannya itu perempuan ia pegang ada panas betul. Ali punya istri sedang sakit meriang, serupa penyakit yang biasa menyerang pada penduduk bilangan Mangga Dua dan Pecah Kulit.
"Lu pergi ke mana tadi, Ali?” menanya sang istri.
"Gua pergi ke rumah teman,” sahut Ali.
"Kenapa lu ''nggak'' mau pergi ke rumah Nyi Marsina buat pinjam duit?”
"Tadi siang gua sudah dapat seringgit, bukan pinjaman, hanya persenan, sebab gua kasih tahu sama dia lu lagi sakit.”
Ali tungguin istrinya yang sakit sampai ia punya mertua sudah pulang dengan bawa daun obat. Sama sekali Ali tidak mau ceritakan tentang itu surat wasiat yang bakal kasih ia harta besar. Selagi mertuanya menumbuk obat, Ali pergi ke pelataran dan rebahkan diri di atas bale sambil memikirkan dengan perkakas apa ia mesti gali itu harta. Buat pergi ke itu masjid rusak ada dua jalan. Kesatu di Gang Gardu dan kedua di Gang Burung. Kira-kira itu waktu baru jam 9 malam. Kalau ia berangkat dengan bawa pacul dan linggis pada waktu begitu, niscaya tukang-tukang grobak di Gang Gardu bisa dapat lihat, sebab mereka belum masuk tidur begitu waktu, demikian juga di Gang Burung tentu masih ramai. Ali ambil putusan akan tunggu sampai jam 10 lewat dan ambil jalan di Gang Gardu, sebab di situ ada lebih dekat ke masjid rusak, juga tidak terlalu serem. Jalanan di Gang Burung mesti lewatkan banyak kuburan Olanda dan kuburan Islam, inilah Ali, yang pikirannya penuh khayal, tidak berani lewatkan.
Bulan yang bundar ada sinarkan cahayanya semakin terang. Ali, sambil rebah telentang di atas bale, ada pandang bagusnya bulan itu sebagai bagusnya peruntungan yang bakal datang. Ia kenangkan kalau ia dapat itu harta £50,000, ia nanti pindah ke Matraman, di mana ia ada punya famili. Ia nanti bikin rumah yang bagus, perabotkan itu dengan necis, piara sado dan delman karet. Ia punya istri nanti ia pakaikan mas intan yang berharga mahal, saban malam ia boleh plesir nonton bioskop atau ke park buat unjuk kekayaannya. Ia punya saudara di Bogor yang cuma mampu jadi tukang bikin bilik, ia nanti panggil pulang dan tinggal sama-sama ia di rumah yang bagus. Ia sendiri tidak lagi jadi tukang pikul air dan tukang piara pohon-pohonnya Nyi Marsina. Pada Tuan Yoesoef ia nanti antar banyak barang makanan dan pakaian, sebagai ia punya tanda terima kasih yang Tuan itu sudah kasih keterangan halnya itu surat wasiat dengan sejujurnya. Banyaklah pikiran-pikiran enak masuk di kepalanya si Ali, sampai akhir-akhir ia ini jadi terkejut ketika dapat dengar suara kereta api bersuit. Itulah ada kereta jam 10 dari Tanjung Priok. Ali berbangkit dengan cepat. Di dalam ia lihat mertuanya rebah pulas, dan istrinya mulai enakan ketika kepalanya sudah dicacap dengan daun obat.
Ali pergi ke belakang rumah, ambil pacul dan linggis, kemudian dengan tidak kasih tahu istri dan mertuanya, ia lalu berangkat ke masjid rusak. Sepanjang jalanan ada sepi, tidak satu biji manusia Ali ketemukan, sampai akhirnya Ali masuk di Gang Gardu dan lewatkan rumah-rumahnya tukang grobak.
Lima belas tahun yang lalu, masjid itu ada amat dihormatkan oleh orang-orang yang beragama Islam; setiap hari Jumat ada banyak orang datang sembahyang, tetapi sedari Said Machmoed bin Alkadar wafat, masjid itu sudah tidak ada yang urus lagi, hingga lama-lama menjadi rusak. Sekitarnya tempat itu yang tadinya ada berdiri rumah-rumah gubuk, sekarang sudah jadi kuburan Islam, sedang tepi sebelah kanan ada melintas jalanan kereta api. Pohon-pohon rumput ada tumbuh dengan lebat. Gentengnya masjid itu sudah rompal, di sana-sini, sedang tembok-temboknya sebagian besar telah gugur.
Di tempat yang begitu lebat dengan pepohonan tentu ada bersarang banyak burung-burung iblis, terutama burung serak dan burung kokokbeluk yang berbunyi saling sahut di sepanjang tempat yang Ali lewatkan. Dari rumah, Ali merasa yang hatinya cukup berani akan pergi ke itu masjid, tetapi ketika dengar itu suara-suara serem, bulunya jadi bangun, hatinya memukul keras, sedang kepalanya ia rasakan jadi gede, ia merasa sangsi apakah baik ia teruskan perjalanannya atau balik pulang. Kalau ia balik, kapankah lagi itu harta boleh digali. Di waktu siang tentu orang bisa lihat perbuatannya, sebab setiap hari banyak tukang rumput di tepi-tepi situ, selain begitu, juga orang yang datang sembahyang di kuburan, boleh dibilang hampir tidak berhenti. Sementara kalau ia teruskan perjalanannya, ia takut dicekek setan. Ali balik kepalanya akan lihat tempat yang ia sudah lewatkan di Gang Gardu. Gelap dan serem! Selagi berpikir, sekejap kemudian Ali dapat lihat bayangan putih lari berkelebat di dalam itu gang, sedikit jauh dari tempat ia berdiri.
"Laillah!” menyebut Ali dengan takut.
Itu bayangan lenyap di gombolan pohon-pohon. Dalam hatinya Ali ingat pada ceritanya setan Nyai Grintil.
Ali sekarang ambil keputusan akan tidak lewat lagi di itu gang, sebab ia takut ketemukan itu bayangan yang ia lihat melak-melak ada lari mengumpet di gombolan pohon.
Ia teruskan perjalanannya dengan cepat ke itu masjid, dalam hatinya meminta pada Allah supaya ia dilindungkan dari segala godaan iblis, sedang mulutnya tidak berhenti membaca beberapa jampean.
Akhirnya Ali sampai di itu masjid. Dari pintu samping ia lantas bisa dapat lihat itu sumur, dan dari pinggiran sumur ini ia lalu bertindak lima langkah ke samping sebelah kanan dari satu kuburan, di tempat mana betul juga Ali dapat lihat itu batu persegi yang sekarang sudah ditutupi oleh rumput-rumput. Dengan tangan saja batu tidak nanti dapat digeserkan, tetapi Ali ada bawa linggis, maka dengan itu perkakas ia bikin batu itu terguling. Ali coba tekan itu tanah yang tadinya ditindi oleh batu dan ia rasakan kakinya yang menekan jadi ambles. Ia merasa amat girang, harapannya jadi besar. Sekarang ia ambil itu pacul, dengan apa lalu gali tanah itu sampai satu kaki dalamnya. Selagi menggali, paculnya ia rasakan ada membentur apa-apa yang keras. Itulah Ali duga tentu ada peti yang tersebut dalam surat testament. Ia lempar itu pacul dan dengan tangannya, keduk tanah yang masih menutupi pada itu lubang. Tangannya lantas dapat memegang pada itu peti, yang dengan penuh kegirangan ia lalu tarik ke atas. Satu peti persegi sedikit panjang sekarang ada di hadapannya. Peti itu ada terkunci, tapi dengan gampang bisa dibuka dengan satu kali dongkrak sama linggis. Tatkala tutupnya dibuka, lantas juga ada kelihatan beberapa kantong yang berisi uang. Salah satu kantong itu, Ali segera buka dan isinya putih-putih ada kelihatan di sinarnya bulan. Lagi satu kantong Ali buka dan isinya merah-merah, yaitu uang emas ringgitan dan perakan. Ali rasakan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang oleh karena baru pernah dapat lihat uang yang begitu banyak. Ia duduk hadapkan itu peti dengan peluk dengkul sebagai seorang kasimah, bingung; tidak tahu apa yang ia mesti berbuat. Sekonyong-konyong Ali dengar suara perempuan tertawa. Ali celingukan, tetapi tidak ada apa-apa yang ia dapat lihat.
"Astaga,” menyebut Ali dengan bulu badan mengkirik. Dalam hatinya berpikir, apakah ada orang intipkan padanya? Tidak boleh jadi, itu tempat toch tidak ada manusia. Ach! itulah suara setan. Ali cepat tutup itu peti, tatkala mana, dari satu tempat gelap ia dapat lihat bayangan putih bergerak.
Ali punya rasa takut tidak bisa tertahan, ia lompat beberapa tindak dan berlutut.
"Ampun Nyai Grintil...” meratap Ali dengan suara gemetar.
Ali punya sangkahan tidak bisa salah lagi bahwa itu bayangan putih ada rohnya Nyai Grintil, betul serupa dengan itu bayangan yang tadi ia dapat lihat di Gang Gardu.
Nyai Grintil ada seorang perempuan yang tatkala hidupnya telah bersumpah akan tidak menikah pada bangsa kafir, tetapi lantaran pengaruhnya kecintaan, ia sudah ikut seorang orang Olanda, dari siapa ia hamili seorang bayi, tetapi ketika mau lahirkan bayi itu, ia menutup mata sama-sama dengan itu bayi yang masih ada dalam kandungan. Orang-orang di sekitarnya kampung Mangga Dua jadi buat ceritakan, lantaran mayatnya ditanam di kuburan Olanda, itu Nyai yang melanggar sumpahnya sendiri, jadi tidak mempunyai tempat di akhirat, dan jadi bergelandangan saja saban malam. Kalau ada orang dapat lihat apa-apa di waktu malam, lantas orang itu bercerita bahwa ia dapat lihat setannya Nyai Grintil. Ali tadinya tidak percaya, tetapi sekarang ia hadapkan betul-betul itu setan, maka terasa heran kalau ia punya ketakutan jadi setengah mati. Ia berlutut dengan badan gemetar dan awaskan apa yang itu bayangan putih mau berbuat padanya. Bayangan itu ada berupa dengan orang perempuan, ia punya muka terus ke kaki ada dikarudungi dengan kain putih, tetapi buah dadanya yang montok ada kelihatan nyata. Dengan tidak berkata-kata bayangan itu hampiri pada peti uang dengan pelahan, dan ketika sudah dekat, ia lekas pondong itu dan bersedia akan bawa pergi. Ali lihat tingkahnya itu setan, tetapi ketika dapat lihat ia punya peti uang mau dibawa pergi, ia lekas bangun dan dengan beranikan hati, rebut kembali itu peti. Saling tarik satu sama lain, akhirnya ia berdua jadi bergulat. Ali dapat tindih itu setan, cekek batang lehernya, tatkala mana sekonyong-konyong dari belakang kepalanya ditimpa dengan batu besar. Ali berteriak satu kali dan roboh telentang dengan berkedjetan.
"Lekas lari, ... lekas lari... .” kata satu suara lelaki.
[[Kategori:Fiksi]]
2hgs8s7fvgaty3pc05ldwemwtq16wg8
Harta yang Terpendam/Bab 4
0
28549
120308
2026-09-27T05:41:44Z
Geguritan
43945
Membuat halaman Harta yang Terpendam/Bab 4
120308
wikitext
text/x-wiki
IV.
GILA.
Setiap kali kereta api lewat, itu pintu jalanan kereta di ujung Gang Gardu dapat ditutup dan dibuka kembali dengan perkakas kawat yang dikerjakan oleh satu tukang jaga pintu di satu gubuk, sedikit jauh dari tempat itu.
Meskipun tak banyak, tetapi beberapa orang sedari pagi melintasi jalanan itu, hanya saja tidak ada satu pun yang dapat menengok tubuh seorang terluka yang terletak di bawah gili-gili jalanan itu. Kebetulan itu pagi ada sekawanan orang-orang Bumiputera yang baru pulang mengubur mayat dan salah satu yang menengok ke sebelah kanan, melihat badan itu telentang di bawah gili-gili jalanan kereta dan dari petunjuk itu, kawan-kawan lainnya pun lalu menengok. Satu diantara orang-orang itu—yang berbadan gemuk dan berkumis, serta rupanya ada paling terindah dalam rombongan tersebut, telah meminta tolong kepada kawan-kawannya untuk mengangkat orang terluka itu. Mereka mendapati orang itu dengan luka besar di kepala, banyak darah sudah mengucur di sekujur badannya, hingga mukanya pun hampir tidak terlihat, lantaran tertutup oleh darah yang sudah kering. Keadaan orang terluka itu sudah amat parah, tapi ia masih bernapas, meskipun matanya terpejam. Orang-orang Bumiputera lalu angkat si luka ke atas jalanan besar. Mereka memerlukan air untuk membersihkan darah yang menutupi muka si luka, serta menggunakan saputangan untuk membungkus luka itu.
Masing-masing tida kenal siapa adanja itoe orang dan djoega tida taoe ia dapet loeka lantaran apa. Iaorang doega pasti, tentoelah itoe orang soeda kelanggar kreta api koetika ia berdiri di pinggir itoe djalanan dan teroes djato mengglinding di bawahnja gili-gili terseboet.
Sedikit aer jang dikasi minoem pada si loeka, soeda bikin ia sedikit seger, meleken matanja dan awasken ifoe samoea orang, tetapl tida ada satoe perkataan jang kaloear dari moeloetnja, maskipoen beroelang-oelang orang tanja siapa namanja dan dimana tempat tinggalnja. Itoe mata jang diboeka besar, kaliatan boekan seperti mata orang biasa, disitoe ada kaliatan roepa jang takoet atawa seperti ada meliat soeatoe apa jang membikin ia kwatir. Bebrapa kali orang loeka itoe tjoba bangoenken badannja dan berontak dari banjak tangan jang pegangken padanja, tetapi saban kali ia moesti roeboeken kombali badannja dengen napas tersengal-sengal.
Sedeng itoe rombongan orang baniak lagi bingoeng memikirken kemana orang itoe moesti dibawa pergi, itoe toekang djaga pintoe djalanan kreta api jang dari djaoe dapet liat banjak orang berkroemoen, laloe mendatengi dengen tiepet. Dia ini lantas djoega soeda bisa kenalken bahoea si loeka itoe ada si Ali jang tinggal di Petjah Koelit. Iaorang laloe ambil poetoesan aken gotong si Ali dengen koeroeng batang, bekas tadi dipake menggotong mait. Begitoelah si Ali jang belon mati soeda mengalamin digotong di atas koeroeng batang,, sedeng jang laen laen mengikoeti dari belakang.
Di depan pintoe dari itoe roemah goeboek di Petjah Koelit ada djongkok embok Saneah, istrinja Ali dengen kapala diboengkoes dan moeka poetjet. Parasnja ada kaliatan kesel, sebab memikirken kemana perginja si Ali sedari samalem, Sakoenjoeng-koenjoeng dari dijace ja dapet liat ada mendatengin sakawan orang banjak jang gotong satoe koeroeng batang. ia heran kenapa orang-orang itoe ada toedjoeken tindakannja ka depan dimana ia sedeng djongkok. Ia pikir ientoe orang-orang jtoe soeda sala ambil djalan, maka ia lekas bangoen dan maoe kasi taoe pada orang-orang itoe bahoea djalanan ka koeboeran moesti diambil dari Gang Gardoe, tetapi satoe orang lelaki jang mengikoet pada itoe rombongan soeda lebih doeloe boeka moeloet menanja kaloe-kaloe betoel disitoe ada roemahnja si Ali. Embok Saneah lekas kasi djawaban, bahoea betoel sekali disitoe ada roemahnja si Ali, tetapi dalem hatinja merasa amat heran dan terkedjoet. Orang laloe toeroenken itoe koeroeng batang dan angkat si Ali ka dalem roemah dengen keadaan seperti mait, sedeng pada embok Saneah orang laloe tjeritaken dimana iaorang dapetken Ali jang loeka.
Sabelonnja orang abis toetoerken keadaanja si Ali koetika orang dapetken padania, embok Saneah soeda memboeroe pada badannja si Ali dan teroes roeboeh di tanah dengen pangsan. Mertoeanja Ali jang soeda toea, tida bisa tahan aken tida menangis, Sabentaran sadja tetangganja embok Saneah dateng berkoempoel dan masing-masing menanja dengen melit dimana Ali soeda dapet itoe loeka dan lantaran apa. Itoe orang gemoek dan berkoemis, soeda tjeritaken dengen sabar keadadnnja Ali koetika didapetken di bawah itoe gili-gili djalanan spoor. Lebih djaoe orang itoe njataken pendapetannja bahoea Ali tentoe soeda dapet itoe loeka kabentoer oleh kreta api jang sedeng liwat. Samoea pendenger, salaennja Saneah dan iboenja, telah pertjaja itoe tjerita.
Ini orang gemoek jang kaliatan moerah hati, koetika dapetliat keadaan roemahnja All ada miskin, soeda kaloearken bebrapa roepia dari kantongnja boeat Ali berobat, sedeng kawan-kawannja poen jang mempoenjai sedikit oewang, soeda menderma ketjil-ketjil, hingga di tangan iboenja Saneah ada dikoempoel oewang ampir doeapoeloe roepia.
Saneah jang tadi djato pangsan, sekarang sedeng menangis dengen sedih meliat keadain soeaminja. Ali jang rebah di atas bale tida sekali geraken badannja, maskipoén orang tjoetji kapalanja dengen aer dan boengkoes loeka itoe dengen bebrapa matjem obat dadaonan.
Loeka itoe sabetoelnja tida terlaloe berbahaja, tetapi lantaran itoe batoe jang memoekoel ada di ajoenken dengen keras, maka otaknja Ali ada tergerak keras, hingga itoelah lantarannja jang membikin Ali tida bisa inget orang dengen betoel.
Saneah, begitoe poen iboenja merasa amat heran begimana Ali soeda dapetken itoe loeka di itoe tempat sepi. Lagi poen iaorang inget Ali soeda kaloear di waktoe tengah malem, maka apakah djoega jang Ali bikin di itoe tempat? Begitoelah Saneah berpikir, tetapi tida soeatoe doegain jang membikin tetap pikirannja, melinken ia harep: Ali sendiri nanti bisa tjeritaken boeat oeroesan apa ia soeda pergi ka ifoe tempat sepi di waktoe tengah malem.
Bebrapa djam telah laloe dan achirnja Ali dapet tenaga lagi, hingga ia bisa bangoenken badannja, toeroen dari bale dan doedoek di satoe bangkoe. Matanja jang di boeka besar ada mengawasken istrinja jang djongkok dihadepannja, tetapi itoe mata boekan seperti mata orang biasa, hingga istrinja djadi takoet, pinda doedoek ka atas bale. Kemana djoega istri itoe bertindak, matanja Ali tinggal mengikoeti dengen mendelik.
Bebrapa doekoen soeda dipanggil, tetap Ali poenja lingloeng tida dioega bisa disemboehken. Selagi doedoek di itoe bangkoe, kadang-kadang matanja Ali mengawasi pada satoe tempat sampe lama, sasoedanja begitoe ia laloe tjari patjoel dan kaloe tida dapet itoe barang, ia goenaken kajoe potongan, gali itoe tanah jang tadi ia awasken, sedeng di moeloetnja sabentar-bentar berkata: “Betoel disini, betoel ini tempat, . .” Istrinja poenja pertanjain dengen maksoed apa Ali berkoeat begitoe, tida sekali disahoeti, koepingnja soeda seperti toeli dan moeloetnja bisoe boeat bitjara pada laen orang. Kadang-kadang djoega, selagi berbaring di bale pembaringan, matanja Ali mendelik-delik mengawasi pada satoe podjokan, dan sasoeda mengawasi begitoe saklan lamanja, ia laloe lompat melariken diri dengan toebroek segala apa, seperti djoega ia dioeber setan. Sembari lompat-lompatan begitoe, Ali bertreak-treak dengen seboet ada setannja NjiGrintil. Lantaran omongannja. Ali begitoe, istrinja djadi pertjaja bahoea salaennja kabentoer kareta api, Ali soeda tergoda djoega oleh setannja Nji Grintil, maka ia laloe panggil doekoen aken bikin sadekah dl koeboeran Nji Grintil. Itoe samoea tida menoeloeng, sampe tiga hari lamanja Ali selaloe mengatjo dengen seboet namanja Nji Grintil, Nii Marsina, toean Joesoef dan satoe waktoe ia soeda minta djoega orang ambilin badjoenja jang itoe malem ia pake pergi kaloear, tetapi badjoe itoe soeda ditjoetji sebab penoe darah, Badjoe ini Ali preksa beroelang-oelang, sebab katanja disitoe ia ada simpen soerat wasiat.
Hari keampat Ali moelai banjak bitjara, kalakoeannja adem seperti biasa sabelonnja ia dapet itoe loeka, ia tida lompat-lompat lagi, tida mengatjo dan katakoetan perkara setan atawa gali-gali tanah. Tetapi apa jang ia omongken, ada perkara-perkara jang membikin heran pada Saneah dan iboenja.
Pada soeatoe pagi Ali tjerita pada istrinja dan mertoeanja jang mendengeri dengen girang, sebab kira Ali soeda semboeh hetoel dari lingloengnja, ia kata, dari itoe kitab Arab ia soeda dapetken satoe soerat wasiat jang mengoendjoek tempatnja satoe harta jang terpendem, Malem-malem ia pergi ka itoe tempat dan soeda dapet gali itoe oewang f 50,000 jang terisi dalem satoe peti, tetapi selagi maoe bawa oewang itoe, Nji Grintil dateng reboet dan tangannja menampar sampe ia dapet itoe loeka di kapala. Saneah, begitoe poen iboenja, maski ada pertjaja perkara tachajoel dan kadang-kadang merasa serem djoega kaloe orang tjeritaken perkara setannja Niji Grintil, tetapi aken pertjaja tjeritanja Ali, itoelah ada perkara jang terlaloe tida bisa djadi. Setan sering menakoe in pada orang idoep, itoelah ia pertjaja, tetapi setan menampar sampe orang dapet loeka begitoe heibat, inilah biar di samber gledek Saneah tida bisa pertjaja. Teroetama lagi tjeritanja Ali ada djoesta, sebab dimanatah ada orang simpen oewang sampe f 50,000 dalem tanah ? Omongannja Ali semoea tida bisa djadi, hingga Saneah dan iboenja diadi lebih tetap pertjaja Ali dapet sakit gila. Kapertjajainnja itoe djadi tida bisa disangsi lagi keetika pada soeatoe malem Saneah dapet liat Ali bangoen dari pembaringan. Saneah tinggal mengintip dan liatken Ali pergi ka blakang roemah, tjari patjoel dan linggis. Barang itoe ia tida dapetken, dan Saneah sendiri tida taoe kemana ilangnja. Ali dapetken sapotong kajoe dan dengen itoe barang la, maoe berangkat, tetapi Saneah tjepet tjegat dan-tanja kemana ia maoe pergi. Ali djawab ia maoe pergi gali harta. Saneah oelangken tjeritania Ali tadi pagi, dimana ia bilang itoe harta ia soeda gali dan telah direboet oleh setannja Niji Grintil. Ali tarik kombali tjeritanja itoe, ia kata ia soeda salah omong, sedeng sabetoelnja apa jang ia tjeritaken tjoema ada implan sadja. Itoe harta ia tetep kata belon digali dan berkeras maoe pergi, tetapi Saneah tlega dengen keras. Ali djadi doedoek terpekoer di atas bale, dan pengabisannja ia mengelah napas sambil berkata: „Ach! soeda boekan peroentoengan akoe!“ Dari kadoea matanja laloe meleleh aer dengen deres, hingga Saneah dan iboenja djadi toeroet merasa sedih dan lebih sedih lagi istti ini memikirken dari mana ia bisa dapet oewang boeat onkost makan, sebab itoe dermaan dari orang banjak soeda abies digoenaken panggil doekoen dan sadekah, sedeng soeda ampir sapoeloeh hari All tida berkerdja soeatoe apa.
Loekanja Ali soeda ampir semboeh, demikian poen pikirannja moelai djadi betoel, tjoema kadang-kadang ia soeka tjeritaken ia poenja berangkat ka satoe tempat boeat gali itoe oewang f 50,900 dan begimana sasoedanja dapet itoe oewang ia ditampar oleh setannja Nii Grintil. Saban kali ia tjeritaken hal itoe, saban-saban djoega orang pertiaja bahoea otaknja Ali masi miring.
Djalannia hari ada amat lekas, sigra djoega sakitnja Ali soeda ampir satoe boelan. Saneah jang tida poenja akal aken tjari oewang, sedikit-sedikit soeda djoeal barang perabotan roemah tangganja sampe perabotan piting mangkok dan prioek nasi abis didjoeal. Sasoedanja abis akal, Saneah laloe ambil poetoesan berangkat ka Bogor aken menoempang tinggal di roema abangnja si All. Begitoelah samoea perabotan roemah-tangganja di djoeal, melinken itoe kitab Arab Ali tida maoe djoeal. Iaorang berangkat ka Bogor dan disana iaQrang menoempang sama abangnja si Ali jang satelah dapet liat keadaan adenja begitoe roepa, djadi merasa amat doeka.
suqihf0gpq6jz3h326cnn0c9n6xjah5
120321
120308
2026-09-27T06:05:18Z
Geguritan
43945
Memperbarui penulisan
120321
wikitext
text/x-wiki
IV.
GILA.
Setiap kali kereta api lewat, itu pintu jalanan kereta di ujung Gang Gardu dapat ditutup dan dibuka kembali dengan perkakas kawat yang dikerjakan oleh satu tukang jaga pintu di satu gubuk, sedikit jauh dari tempat itu.
Meskipun tak banyak, tetapi beberapa orang sedari pagi melintasi jalanan itu, hanya saja tidak ada satu pun yang dapat menengok tubuh seorang terluka yang terletak di bawah gili-gili jalanan itu. Kebetulan itu pagi ada sekawanan orang-orang Bumiputera yang baru pulang mengubur mayat dan salah satu yang menengok ke sebelah kanan, melihat badan itu telentang di bawah gili-gili jalanan kereta dan dari petunjuk itu, kawan-kawan lainnya pun lalu menengok. Satu diantara orang-orang itu—yang berbadan gemuk dan berkumis, serta rupanya ada paling terindah dalam rombongan tersebut, telah meminta tolong kepada kawan-kawannya untuk mengangkat orang terluka itu. Mereka mendapati orang itu dengan luka besar di kepala, banyak darah sudah mengucur di sekujur badannya, hingga mukanya pun hampir tidak terlihat, lantaran tertutup oleh darah yang sudah kering. Keadaan orang terluka itu sudah amat parah, tapi ia masih bernapas, meskipun matanya terpejam. Orang-orang Bumiputera lalu angkat si luka ke atas jalanan besar. Mereka memerlukan air untuk membersihkan darah yang menutupi muka si luka, serta menggunakan saputangan untuk membungkus luka itu.
Masing-masing tidak kenal siapa adanya orang itu dan juga tidak tahu ia terluka lantaran apa. Mereka duga pasti, tentulah itu orang sudah melanggar kereta api ketika ia berdiri di pinggir jalanan itu dan terus jatuh menggelinding di bawahnya gili-gili tersebut.
Sedikit air yang dikasih minum pada si luka, sudah bikin ia sedikit segar, terbuka matanya dan tercuri perhatian semua orang, tetapi tidak ada satu perkataan yang keluar dari mulutnya, meskipun berulang-ulang orang tanya siapa namanya dan dimana tempat tinggalnya. Mata yang dibuka besar itu, terlihat bukan seperti mata orang biasa, disitu ada terlihat rupa yang takut atau seperti ada melihat suatu apa yang membuat ia khawatir. Beberapa kali orang luka itu coba bangunkan badannya dan berontak dari banyak tangan yang pegangkan padanya, tetapi setiap kali ia musti rubuhkan kembali badannya dengan napas tersengal-sengal.
Sedeng itoe rombongan orang baniak lagi bingoeng memikirken kemana orang itoe moesti dibawa pergi, itoe toekang djaga pintoe djalanan kreta api jang dari djaoe dapet liat banjak orang berkroemoen, laloe mendatengi dengen tiepet. Dia ini lantas djoega soeda bisa kenalken bahoea si loeka itoe ada si Ali jang tinggal di Petjah Koelit. Iaorang laloe ambil poetoesan aken gotong si Ali dengen koeroeng batang, bekas tadi dipake menggotong mait. Begitoelah si Ali jang belon mati soeda mengalamin digotong di atas koeroeng batang,, sedeng jang laen laen mengikoeti dari belakang.
Di depan pintoe dari itoe roemah goeboek di Petjah Koelit ada djongkok embok Saneah, istrinja Ali dengen kapala diboengkoes dan moeka poetjet. Parasnja ada kaliatan kesel, sebab memikirken kemana perginja si Ali sedari samalem, Sakoenjoeng-koenjoeng dari dijace ja dapet liat ada mendatengin sakawan orang banjak jang gotong satoe koeroeng batang. ia heran kenapa orang-orang itoe ada toedjoeken tindakannja ka depan dimana ia sedeng djongkok. Ia pikir ientoe orang-orang jtoe soeda sala ambil djalan, maka ia lekas bangoen dan maoe kasi taoe pada orang-orang itoe bahoea djalanan ka koeboeran moesti diambil dari Gang Gardoe, tetapi satoe orang lelaki jang mengikoet pada itoe rombongan soeda lebih doeloe boeka moeloet menanja kaloe-kaloe betoel disitoe ada roemahnja si Ali. Embok Saneah lekas kasi djawaban, bahoea betoel sekali disitoe ada roemahnja si Ali, tetapi dalem hatinja merasa amat heran dan terkedjoet. Orang laloe toeroenken itoe koeroeng batang dan angkat si Ali ka dalem roemah dengen keadaan seperti mait, sedeng pada embok Saneah orang laloe tjeritaken dimana iaorang dapetken Ali jang loeka.
Sabelonnja orang abis toetoerken keadaanja si Ali koetika orang dapetken padania, embok Saneah soeda memboeroe pada badannja si Ali dan teroes roeboeh di tanah dengen pangsan. Mertoeanja Ali jang soeda toea, tida bisa tahan aken tida menangis, Sabentaran sadja tetangganja embok Saneah dateng berkoempoel dan masing-masing menanja dengen melit dimana Ali soeda dapet itoe loeka dan lantaran apa. Itoe orang gemoek dan berkoemis, soeda tjeritaken dengen sabar keadadnnja Ali koetika didapetken di bawah itoe gili-gili djalanan spoor. Lebih djaoe orang itoe njataken pendapetannja bahoea Ali tentoe soeda dapet itoe loeka kabentoer oleh kreta api jang sedeng liwat. Samoea pendenger, salaennja Saneah dan iboenja, telah pertjaja itoe tjerita.
Ini orang gemoek jang kaliatan moerah hati, koetika dapetliat keadaan roemahnja All ada miskin, soeda kaloearken bebrapa roepia dari kantongnja boeat Ali berobat, sedeng kawan-kawannja poen jang mempoenjai sedikit oewang, soeda menderma ketjil-ketjil, hingga di tangan iboenja Saneah ada dikoempoel oewang ampir doeapoeloe roepia.
Saneah jang tadi djato pangsan, sekarang sedeng menangis dengen sedih meliat keadain soeaminja. Ali jang rebah di atas bale tida sekali geraken badannja, maskipoén orang tjoetji kapalanja dengen aer dan boengkoes loeka itoe dengen bebrapa matjem obat dadaonan.
Loeka itoe sabetoelnja tida terlaloe berbahaja, tetapi lantaran itoe batoe jang memoekoel ada di ajoenken dengen keras, maka otaknja Ali ada tergerak keras, hingga itoelah lantarannja jang membikin Ali tida bisa inget orang dengen betoel.
Saneah, begitoe poen iboenja merasa amat heran begimana Ali soeda dapetken itoe loeka di itoe tempat sepi. Lagi poen iaorang inget Ali soeda kaloear di waktoe tengah malem, maka apakah djoega jang Ali bikin di itoe tempat? Begitoelah Saneah berpikir, tetapi tida soeatoe doegain jang membikin tetap pikirannja, melinken ia harep: Ali sendiri nanti bisa tjeritaken boeat oeroesan apa ia soeda pergi ka ifoe tempat sepi di waktoe tengah malem.
Bebrapa djam telah laloe dan achirnja Ali dapet tenaga lagi, hingga ia bisa bangoenken badannja, toeroen dari bale dan doedoek di satoe bangkoe. Matanja jang di boeka besar ada mengawasken istrinja jang djongkok dihadepannja, tetapi itoe mata boekan seperti mata orang biasa, hingga istrinja djadi takoet, pinda doedoek ka atas bale. Kemana djoega istri itoe bertindak, matanja Ali tinggal mengikoeti dengen mendelik.
Bebrapa doekoen soeda dipanggil, tetap Ali poenja lingloeng tida dioega bisa disemboehken. Selagi doedoek di itoe bangkoe, kadang-kadang matanja Ali mengawasi pada satoe tempat sampe lama, sasoedanja begitoe ia laloe tjari patjoel dan kaloe tida dapet itoe barang, ia goenaken kajoe potongan, gali itoe tanah jang tadi ia awasken, sedeng di moeloetnja sabentar-bentar berkata: “Betoel disini, betoel ini tempat, . .” Istrinja poenja pertanjain dengen maksoed apa Ali berkoeat begitoe, tida sekali disahoeti, koepingnja soeda seperti toeli dan moeloetnja bisoe boeat bitjara pada laen orang. Kadang-kadang djoega, selagi berbaring di bale pembaringan, matanja Ali mendelik-delik mengawasi pada satoe podjokan, dan sasoeda mengawasi begitoe saklan lamanja, ia laloe lompat melariken diri dengan toebroek segala apa, seperti djoega ia dioeber setan. Sembari lompat-lompatan begitoe, Ali bertreak-treak dengen seboet ada setannja NjiGrintil. Lantaran omongannja. Ali begitoe, istrinja djadi pertjaja bahoea salaennja kabentoer kareta api, Ali soeda tergoda djoega oleh setannja Nji Grintil, maka ia laloe panggil doekoen aken bikin sadekah dl koeboeran Nji Grintil. Itoe samoea tida menoeloeng, sampe tiga hari lamanja Ali selaloe mengatjo dengen seboet namanja Nji Grintil, Nii Marsina, toean Joesoef dan satoe waktoe ia soeda minta djoega orang ambilin badjoenja jang itoe malem ia pake pergi kaloear, tetapi badjoe itoe soeda ditjoetji sebab penoe darah, Badjoe ini Ali preksa beroelang-oelang, sebab katanja disitoe ia ada simpen soerat wasiat.
Hari keampat Ali moelai banjak bitjara, kalakoeannja adem seperti biasa sabelonnja ia dapet itoe loeka, ia tida lompat-lompat lagi, tida mengatjo dan katakoetan perkara setan atawa gali-gali tanah. Tetapi apa jang ia omongken, ada perkara-perkara jang membikin heran pada Saneah dan iboenja.
Pada soeatoe pagi Ali tjerita pada istrinja dan mertoeanja jang mendengeri dengen girang, sebab kira Ali soeda semboeh hetoel dari lingloengnja, ia kata, dari itoe kitab Arab ia soeda dapetken satoe soerat wasiat jang mengoendjoek tempatnja satoe harta jang terpendem, Malem-malem ia pergi ka itoe tempat dan soeda dapet gali itoe oewang f 50,000 jang terisi dalem satoe peti, tetapi selagi maoe bawa oewang itoe, Nji Grintil dateng reboet dan tangannja menampar sampe ia dapet itoe loeka di kapala. Saneah, begitoe poen iboenja, maski ada pertjaja perkara tachajoel dan kadang-kadang merasa serem djoega kaloe orang tjeritaken perkara setannja Niji Grintil, tetapi aken pertjaja tjeritanja Ali, itoelah ada perkara jang terlaloe tida bisa djadi. Setan sering menakoe in pada orang idoep, itoelah ia pertjaja, tetapi setan menampar sampe orang dapet loeka begitoe heibat, inilah biar di samber gledek Saneah tida bisa pertjaja. Teroetama lagi tjeritanja Ali ada djoesta, sebab dimanatah ada orang simpen oewang sampe f 50,000 dalem tanah ? Omongannja Ali semoea tida bisa djadi, hingga Saneah dan iboenja diadi lebih tetap pertjaja Ali dapet sakit gila. Kapertjajainnja itoe djadi tida bisa disangsi lagi keetika pada soeatoe malem Saneah dapet liat Ali bangoen dari pembaringan. Saneah tinggal mengintip dan liatken Ali pergi ka blakang roemah, tjari patjoel dan linggis. Barang itoe ia tida dapetken, dan Saneah sendiri tida taoe kemana ilangnja. Ali dapetken sapotong kajoe dan dengen itoe barang la, maoe berangkat, tetapi Saneah tjepet tjegat dan-tanja kemana ia maoe pergi. Ali djawab ia maoe pergi gali harta. Saneah oelangken tjeritania Ali tadi pagi, dimana ia bilang itoe harta ia soeda gali dan telah direboet oleh setannja Niji Grintil. Ali tarik kombali tjeritanja itoe, ia kata ia soeda salah omong, sedeng sabetoelnja apa jang ia tjeritaken tjoema ada implan sadja. Itoe harta ia tetep kata belon digali dan berkeras maoe pergi, tetapi Saneah tlega dengen keras. Ali djadi doedoek terpekoer di atas bale, dan pengabisannja ia mengelah napas sambil berkata: „Ach! soeda boekan peroentoengan akoe!“ Dari kadoea matanja laloe meleleh aer dengen deres, hingga Saneah dan iboenja djadi toeroet merasa sedih dan lebih sedih lagi istti ini memikirken dari mana ia bisa dapet oewang boeat onkost makan, sebab itoe dermaan dari orang banjak soeda abies digoenaken panggil doekoen dan sadekah, sedeng soeda ampir sapoeloeh hari All tida berkerdja soeatoe apa.
Loekanja Ali soeda ampir semboeh, demikian poen pikirannja moelai djadi betoel, tjoema kadang-kadang ia soeka tjeritaken ia poenja berangkat ka satoe tempat boeat gali itoe oewang f 50,900 dan begimana sasoedanja dapet itoe oewang ia ditampar oleh setannja Nii Grintil. Saban kali ia tjeritaken hal itoe, saban-saban djoega orang pertiaja bahoea otaknja Ali masi miring.
Djalannia hari ada amat lekas, sigra djoega sakitnja Ali soeda ampir satoe boelan. Saneah jang tida poenja akal aken tjari oewang, sedikit-sedikit soeda djoeal barang perabotan roemah tangganja sampe perabotan piting mangkok dan prioek nasi abis didjoeal. Sasoedanja abis akal, Saneah laloe ambil poetoesan berangkat ka Bogor aken menoempang tinggal di roema abangnja si All. Begitoelah samoea perabotan roemah-tangganja di djoeal, melinken itoe kitab Arab Ali tida maoe djoeal. Iaorang berangkat ka Bogor dan disana iaQrang menoempang sama abangnja si Ali jang satelah dapet liat keadaan adenja begitoe roepa, djadi merasa amat doeka.
665yo9vgaz19ix5c009bc7hhlhzdbdj
Harta yang Terpendam/Bab 7
0
28550
120311
2026-09-27T05:45:50Z
Rekhaaqsolia
43933
←Membuat halaman berisi ''''SATU SOBAT LAMA'''<ref>https://id.wikisource.org/wiki/Harta_jang_Terpendem_atawa_Tjeritanja_Njai_Marsina/Bab_7</ref> Dua minggu kemudian sesudahnya terjadi itu keributan, Marsina dan Yoesoef ada pergi jalan-jalan ke Kota Batu, di mana ada satu tempat mandi yang indah, akan hiburkan dia orang punya hati. Yoesoef punya ketakutan akan dapat Ali punya pembalasan lebih jauh, ada banyak lebih besar dari Marsina, Joesoef tahu jikalau Ali sudah sembuh dari sakitnya,...'
120311
wikitext
text/x-wiki
'''SATU SOBAT LAMA'''<ref>https://id.wikisource.org/wiki/Harta_jang_Terpendem_atawa_Tjeritanja_Njai_Marsina/Bab_7</ref>
Dua minggu kemudian sesudahnya terjadi itu keributan, Marsina dan Yoesoef ada pergi jalan-jalan ke Kota Batu, di mana ada satu tempat mandi yang indah, akan hiburkan dia orang punya hati. Yoesoef punya ketakutan akan dapat Ali punya pembalasan lebih jauh, ada banyak lebih besar dari Marsina, Joesoef tahu jikalau Ali sudah sembuh dari sakitnya, ia nanti diantarkan pulang dan Joesoef khawatir Ali nanti dapat ingat lagi perkara itu harta, kemudian lanjutkan pula ia punya sakit hati padanya. Tetapi Marsina tidak pikir sampai di situ, ia masih percaya bahwa sesudahnya Ali keluar dari rumah sakit, ia nanti dituntut di pengadilan buat ia punya perbuatan coba membunuh dua jiwa. Kadang-kadang selagi duduk sendirian di waktu malam, Joesoef jadi terkejut jika dapat dengar suara tikus berkeresek, sebab hatinya senantiasa curiga Ali sembunyikan diri dalam rumahnya dan nanti keluar kalau sudah sepi akan bikin habis ia punya jiwa. Itu ketakutan semakin hari semakin besar, hingga di waktu tidur Joesoef bisa mengimpi ditikam oleh si Ali. Ia kepingin akan pindah ke tempat jauh, tetapi ia punya istri kawin dan anak-anak di Cimanggis, bukan ada perkara gampang akan dipindahkan, sebab itu rumah di Cimanggis, ada ia punya pusaka turunan. Selainnya dari begitu, ia punya rumah-rumah sewaan dan ''perceel-perceel'' semua ada termasuk dalam ''afdeeling'' Betawi, maka ia tidak bisa pindah tinggal di luar dari itu bilangan. Oleh karena demikian, Joesoef jadi turutkan saja perasaan hatinya, lantaran apa itu pikiran akan dapat pembalasannya Ali jadi tidak bisa disingkirkan, meskipun Marsina coba seberapa bisa buat hiburkan hati suaminya itu.
Itu hari cuaca ada bagus. Sudah dua hari Marsina bujuk supaya Joesoef mau pergi mandi di Kota Batu, tapi senantiasa Joesoef menampik. Itu hari Joesoef luluskan juga permintaannya Marsina, lantaran tertarik hati dengan sinarnya matahari yang tidak panas, dan meniupnya angin yang halus, maka Joesoef lalu mengendarai mobil autonya menuju ke Kota Batu.
Marsina dapat banyak kesenangan mandi dalam itu air dingin, tetapi bagi Joesoef tidak ada apa yang bisa hiburkan hatinya. Iaorang tidak lama berdiam di itu tempat pemandian, dan lekas juga iaorang mau berangkat pulang, tatkala mana sekonyong-konyong ia dihampirkan oleh satu jejaka muda yang pakaiannya sudah dekil dengan abu. Itu jejaka lantas saja pegang lengannya Joesoef dan berkata:
"Halo, sobat, kau dapat banyak senang di itu tempat mandi?” Joesoef menengok dan lantas juga kenalkan bahwa orang yang menegor, ada ia punya sobat kekal dari waktu masih anak-anak, yaitu Raden Aria Soedarmo.
"Eh! Kau ada di sini, Darmo,” kata Joesoef dengan panggil sobat itu punya nama ringkas, "Apa kau tidak jadi berangkat ke Jambi? Apa kau bikin di sini dengan pakaian begini kotor?”
"Ah! Kerjaan capek,” sahut Darmo dengan kebut-kebut ia punya topi ''Helmhoed'' yang juga sudah mesum.Kau tentu tahu, sesudahnya tidak beruntung jadi arsitek, aku lalu masuk jadi pengawas, yang aku lakukan sampai sekarang. Baru beberapa hari aku dikirim ke sini, buat ukur tanah-tanah sekitarnya kota Bogor, sebab Dewan Kota Praja ada niatan akan luaskan kota ini. Hawa matahari yang bakar kepalaku dari pagi, sudah bikin aku haus dan mampir di sini buat minum sedikit air blanda (air berkarbonasi). Marilah kita duduk. Aku nanti ceritakan perjalananku ke Jambi.”
"Tapi sekarang aku mau berangkat pulang,” sahut Joesoef yang merasa malu akan banggakan ia punya piaraan di depan orang banyak, „aku ada niatan akan undang kau bersantap sebentar sore di rumahku di kampung Ciwaringin no. 14. Apakah kau tidak tampik? Di sana kita bisa beromong-omong lebih banyak.”
"Baik sekali. Kenapakah juga aku tampik? Malah kalau kau ada sedia kamar, aku mau minta juga menginap di rumahmu itu. Tetapi aneh betul kau sudah pindah di Ciwaringin. Sudah berapa lama kau pindah di kampung itu?”
"Baru setengah bulan,” sahut Joesoef.
"Bersama kau punya istri dan anak-anak?” tanya lagi Darmo yang tidak tahu kalau Joesoef ada punya piaraan.
"Bukan, hanya berdua saja dengan aku punya penghibur, satu perempuan cantik yang kau bisa lihat dari sini.” Sambil berkata begitu, Joesoef menunjuk ke autonya, di mana Marsina duduk menunggu.
Darmo tertawa, tetapi ia tidak membanyol.
"Aku harap bisa ajar kenal pada kau punya Nyai sebentar sore,” kata Darmo, dan Joesoef lalu angsurkan tangannya, terus berpamitan.
"Aku girang bisa ketemu lagi pada sobatku itu,” kata Joesoef pada Marsina tatkala ia duduk dalam autonya dan jalankan menuju ke rumahnya.
"Siapa itu?”, tanya Marsina, "Kenapa Tuan tidak ajak ia ke rumah?”
"Dia itu ada aku punya sobat dari masih kecil. Ia sudah terima aku punya undangan akan bersantap sebentar sore di rumah kita malah aku undang juga akan ia menginap. Apa kau suka bikin makanan yang enak, Marsina?”
"Tuan jangan khawatir,” sahut Marsina. "Saya punya masakan tidak enak, tapi kita punya koki baru, itu si Moerlaja, nanti bikin masakan Olanda yang sedap, dan Tuan tentu diam-diam juga sudah puji betul ia punya masakan. Apa tidak begitu?”
"Ya, sungguh aku puji ia punya masakan,” sahut Joesoef, dan sembari kata begitu ia ingat juga kecantikannya Moerhaja yang senantiasa ketutup oleh konde yang aduk-adukan setiap hari, muka yang mesum, dari sawang asap dan pakaian yang kotor bekas abu dapur.
Sembari omong-omong auto dijalankan dengan perlahan dan tidak lama lagi sudah sampai di rumahnya. Marsina lantas saja masuk ke dapur, beri perintah pada koki Moerhaja akan bikin masakan yang enak-enak, sedang pada babu Saleha, Marsina titahkan sediakan kamar yang bersih.
Betul Loceng di pertengahan depan baru mengutarakan jam lima setengah sore, satu dogkar telah berhenti di pintu pekarangan, dari kendaraan mana lalu turun satu anak muda yang berdandan cakep. Joesoef bersedia akan sambut tamunya itu, sedang Marsina titahkan Saleha angkat kopernya tamu itu ke dalam kamar di mana tamu itu akan menginap.
"Ah, Darmo,” kata Joesoef pada tamu-tamunya sambil tepok-tepok belakang orang, "Kau punya dasi merah bikin aku ingat lagi pada itu waktu yang kita baru habis lepas sekolah dan bikin perjalanan ke Bandung.”
"Banyak kali aku pakai dasi begini, tapi tidak mengandung maksud satu apa, meskipun pada adat bangsa Eropa dasi begini ada berarti satu jejaka yang mau cari tundangan.”
"Sekali pun begitu, toh tidak bikin kau jadi salah,” kata lagi Joesoef sambil mempersilakan tamunya duduk. "Kau toh belum beristri, dan bukankah baik sekali kalau dengan itu dasi kau dapatkan satu tundangan di ini tempat dingin?”
"Akhir-akhir aku mengalami lagi kau punya kekocakan,” kata Darmo yang ingin tidak dipanjangkan halnya itu dasi.
Sebelumnya cerita lebih jauh, biarlah kita tuturkan siapakah adanya itu si Darmo, atau Soedarmo.
Ia ada anak bungsu dari Raden Jaka Soedarmo, wedana pensiun di Betawi. Dengan ongkosnya ini ayah Raden Aria Soedarmo dikasih masuk sekolah dari H.I.S. sampai di sekolah H.B.S., dan sesudahnya berhenti dari ini sekolah, ia masuk ke sekolah K.W.S., tapi ia tidak teruskan, hanya masuk kerja dalam kantor Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W.). Dalam sedikit tempo saja ia sudah dijadikan pengawas dan dikirim ke Jambi, tapi di sana ia tidak tinggal lama, maka ketika balik ia lalu dikirim ke Bogor berhubung dengan maksudnya Gemeenteraad (Kota Praja) akan luaskan itu kota.
Soedarmo baru berusia 25 tahun, pengawakannya tegap, kulitnya putih, hidungnya mancung sementara matanya jeli sekali. Ia punya potongan muka yang tirus dengan mulut yang kecil, ada merupakan paras yang bagus, senyumnya yang terbuka dengan kasih lihat giginya yang rata dan putih, niscaya bisa bikin birahi pada hatinya orang perempuan yang tidak teguh. Jika Soedarmo berpakaian jas terbuka warna abu-abu dan topi pet yang besar, niscaya orang tidak nanti kira bahwa Soedarmo ada seorang turunan Jawa tulen. Ia ada banyak mirip dengan potongan Eropa.
Waktu beromong-omong dengan Joesoef, Marsina lalu keluar dan Soedarmo segera bangun berdiri sambil unjuk hormatnya, kemudian dengan bahasa manis lalu menanyakan kewarasannya itu nyonya rumah yang Darmo pandang seperti Joesoef punya istri. Marsina tidak turut omong-omong di situ, sesudahnya beri perintah pada Saleha akan sediakan teh dan kue-kue, ia segera masuk kembali ke ruangan dalam, tetapi dengan diam-diam hatinya Marsina memuji pada kecakepannya itu lelaki.
Ketika ia Marsina masuk kembali, Darmo lalu bicara dengan perlahan pada Joesoef dengan kata bahwa Joesoef bisa sekali pilih penghibur hati yang begitu cantik.
Dia beromong-omong banyak sekali tentang rupa-rupa perkara, sampai Loceng mengutarakan jam 7, tatkala mana Marsina lalu undang suami dan tamunya bersantap.
Di atas meja panjang sudah teratur rupa-rupa makanan yang masih mengepul asapnya, dan siarkan bau yang sedap dari satu-satu makanan itu, hingga membangkitkan napsunya orang-orang yang mau duduk makan.
Joesoef duduk di tengah meja, Marsina di sebelah kiri suaminya dan Soedarmo di sebelah kanannya Joesoef.
Baru saja dabar beberapa rupa masakan, lantas juga Soedarmo memuji panjang lebar atas kepandaian orang yang kerjakan itu masakan, sedang matanya Darmo yang penuh kegirangan dan rasa turut beruntung, sebentar-bentar ada ditujukan pada Joesoef. Ia ini mengerti bahwa Darmo ada kira itu masakan ada bikinannya Marsina, maka lantas juga Joesoef kasih keterangan bahwa ia baru dapatkan satu koki muda yang sudah pernah bekerja pada beberapa orang Europa dan Tionghoa, hingga mengerti betul tentang masak-masakan Olanda dan Melajoe. Darmo mengerti ia punya dugaan sudah keliru, tetapi ia punya pujian tidak jadi kurang pada itu koki.
Buat Marsina itu pengakuan dari Joesoef ada merugikan, sebab Marsina punya diam atas Darmo punya pujian-pujian ada berarti bahwa ia kepingin itu dugaan tinggal tersimpan terus buat dirinya. Itu rupa tidak senang ada kelihatan pada parasnya Marsina, hal mana Joesoef lantas dapat tahu, maka ia lekas putar omongan akan bikin Marsina lupa itu perkara.
Sambil bersantap Joesoef dan Darmo tidak berhentinya bicarakan ini dan itu, tempo-tempo dengan kocak, hingga mereka bertiga jadi tertawa terbahak-bahak. Marsina cuma turut bicara sedikit saja, meskipun hatinya kepingin bicara banyak. Di itu tempat duduk yang berhadap-hadapan dengan Darmo, Marsina rasakan seperti banyak durinya, hingga ia tidak bisa duduk tetap. Darmo punya tertawa yang keras tempo-tempo ada mengejutkan batinnya Marsina, apa lagi jika matanya bertemu dengan matanya Darmo lantas saja hatinya Marsina jadi ''deg-degan''.
Apakah Marsina ada jatuh cinta pada Darmo? Itulah kita tidak berani kalau kita ingat Marsina itu dari mana asalnya.
dmz1tfri0oo3osobw41fwhdd7k7rpbv
120314
120311
2026-09-27T05:50:04Z
Quraeni
37519
Quraeni memindahkan halaman [[Harta Yang Terpendam atau Ceritanya Nyai Marsina/Bab 7]] ke [[Harta yang Terpendam/Bab 7]]: Judul salah eja
120311
wikitext
text/x-wiki
'''SATU SOBAT LAMA'''<ref>https://id.wikisource.org/wiki/Harta_jang_Terpendem_atawa_Tjeritanja_Njai_Marsina/Bab_7</ref>
Dua minggu kemudian sesudahnya terjadi itu keributan, Marsina dan Yoesoef ada pergi jalan-jalan ke Kota Batu, di mana ada satu tempat mandi yang indah, akan hiburkan dia orang punya hati. Yoesoef punya ketakutan akan dapat Ali punya pembalasan lebih jauh, ada banyak lebih besar dari Marsina, Joesoef tahu jikalau Ali sudah sembuh dari sakitnya, ia nanti diantarkan pulang dan Joesoef khawatir Ali nanti dapat ingat lagi perkara itu harta, kemudian lanjutkan pula ia punya sakit hati padanya. Tetapi Marsina tidak pikir sampai di situ, ia masih percaya bahwa sesudahnya Ali keluar dari rumah sakit, ia nanti dituntut di pengadilan buat ia punya perbuatan coba membunuh dua jiwa. Kadang-kadang selagi duduk sendirian di waktu malam, Joesoef jadi terkejut jika dapat dengar suara tikus berkeresek, sebab hatinya senantiasa curiga Ali sembunyikan diri dalam rumahnya dan nanti keluar kalau sudah sepi akan bikin habis ia punya jiwa. Itu ketakutan semakin hari semakin besar, hingga di waktu tidur Joesoef bisa mengimpi ditikam oleh si Ali. Ia kepingin akan pindah ke tempat jauh, tetapi ia punya istri kawin dan anak-anak di Cimanggis, bukan ada perkara gampang akan dipindahkan, sebab itu rumah di Cimanggis, ada ia punya pusaka turunan. Selainnya dari begitu, ia punya rumah-rumah sewaan dan ''perceel-perceel'' semua ada termasuk dalam ''afdeeling'' Betawi, maka ia tidak bisa pindah tinggal di luar dari itu bilangan. Oleh karena demikian, Joesoef jadi turutkan saja perasaan hatinya, lantaran apa itu pikiran akan dapat pembalasannya Ali jadi tidak bisa disingkirkan, meskipun Marsina coba seberapa bisa buat hiburkan hati suaminya itu.
Itu hari cuaca ada bagus. Sudah dua hari Marsina bujuk supaya Joesoef mau pergi mandi di Kota Batu, tapi senantiasa Joesoef menampik. Itu hari Joesoef luluskan juga permintaannya Marsina, lantaran tertarik hati dengan sinarnya matahari yang tidak panas, dan meniupnya angin yang halus, maka Joesoef lalu mengendarai mobil autonya menuju ke Kota Batu.
Marsina dapat banyak kesenangan mandi dalam itu air dingin, tetapi bagi Joesoef tidak ada apa yang bisa hiburkan hatinya. Iaorang tidak lama berdiam di itu tempat pemandian, dan lekas juga iaorang mau berangkat pulang, tatkala mana sekonyong-konyong ia dihampirkan oleh satu jejaka muda yang pakaiannya sudah dekil dengan abu. Itu jejaka lantas saja pegang lengannya Joesoef dan berkata:
"Halo, sobat, kau dapat banyak senang di itu tempat mandi?” Joesoef menengok dan lantas juga kenalkan bahwa orang yang menegor, ada ia punya sobat kekal dari waktu masih anak-anak, yaitu Raden Aria Soedarmo.
"Eh! Kau ada di sini, Darmo,” kata Joesoef dengan panggil sobat itu punya nama ringkas, "Apa kau tidak jadi berangkat ke Jambi? Apa kau bikin di sini dengan pakaian begini kotor?”
"Ah! Kerjaan capek,” sahut Darmo dengan kebut-kebut ia punya topi ''Helmhoed'' yang juga sudah mesum.Kau tentu tahu, sesudahnya tidak beruntung jadi arsitek, aku lalu masuk jadi pengawas, yang aku lakukan sampai sekarang. Baru beberapa hari aku dikirim ke sini, buat ukur tanah-tanah sekitarnya kota Bogor, sebab Dewan Kota Praja ada niatan akan luaskan kota ini. Hawa matahari yang bakar kepalaku dari pagi, sudah bikin aku haus dan mampir di sini buat minum sedikit air blanda (air berkarbonasi). Marilah kita duduk. Aku nanti ceritakan perjalananku ke Jambi.”
"Tapi sekarang aku mau berangkat pulang,” sahut Joesoef yang merasa malu akan banggakan ia punya piaraan di depan orang banyak, „aku ada niatan akan undang kau bersantap sebentar sore di rumahku di kampung Ciwaringin no. 14. Apakah kau tidak tampik? Di sana kita bisa beromong-omong lebih banyak.”
"Baik sekali. Kenapakah juga aku tampik? Malah kalau kau ada sedia kamar, aku mau minta juga menginap di rumahmu itu. Tetapi aneh betul kau sudah pindah di Ciwaringin. Sudah berapa lama kau pindah di kampung itu?”
"Baru setengah bulan,” sahut Joesoef.
"Bersama kau punya istri dan anak-anak?” tanya lagi Darmo yang tidak tahu kalau Joesoef ada punya piaraan.
"Bukan, hanya berdua saja dengan aku punya penghibur, satu perempuan cantik yang kau bisa lihat dari sini.” Sambil berkata begitu, Joesoef menunjuk ke autonya, di mana Marsina duduk menunggu.
Darmo tertawa, tetapi ia tidak membanyol.
"Aku harap bisa ajar kenal pada kau punya Nyai sebentar sore,” kata Darmo, dan Joesoef lalu angsurkan tangannya, terus berpamitan.
"Aku girang bisa ketemu lagi pada sobatku itu,” kata Joesoef pada Marsina tatkala ia duduk dalam autonya dan jalankan menuju ke rumahnya.
"Siapa itu?”, tanya Marsina, "Kenapa Tuan tidak ajak ia ke rumah?”
"Dia itu ada aku punya sobat dari masih kecil. Ia sudah terima aku punya undangan akan bersantap sebentar sore di rumah kita malah aku undang juga akan ia menginap. Apa kau suka bikin makanan yang enak, Marsina?”
"Tuan jangan khawatir,” sahut Marsina. "Saya punya masakan tidak enak, tapi kita punya koki baru, itu si Moerlaja, nanti bikin masakan Olanda yang sedap, dan Tuan tentu diam-diam juga sudah puji betul ia punya masakan. Apa tidak begitu?”
"Ya, sungguh aku puji ia punya masakan,” sahut Joesoef, dan sembari kata begitu ia ingat juga kecantikannya Moerhaja yang senantiasa ketutup oleh konde yang aduk-adukan setiap hari, muka yang mesum, dari sawang asap dan pakaian yang kotor bekas abu dapur.
Sembari omong-omong auto dijalankan dengan perlahan dan tidak lama lagi sudah sampai di rumahnya. Marsina lantas saja masuk ke dapur, beri perintah pada koki Moerhaja akan bikin masakan yang enak-enak, sedang pada babu Saleha, Marsina titahkan sediakan kamar yang bersih.
Betul Loceng di pertengahan depan baru mengutarakan jam lima setengah sore, satu dogkar telah berhenti di pintu pekarangan, dari kendaraan mana lalu turun satu anak muda yang berdandan cakep. Joesoef bersedia akan sambut tamunya itu, sedang Marsina titahkan Saleha angkat kopernya tamu itu ke dalam kamar di mana tamu itu akan menginap.
"Ah, Darmo,” kata Joesoef pada tamu-tamunya sambil tepok-tepok belakang orang, "Kau punya dasi merah bikin aku ingat lagi pada itu waktu yang kita baru habis lepas sekolah dan bikin perjalanan ke Bandung.”
"Banyak kali aku pakai dasi begini, tapi tidak mengandung maksud satu apa, meskipun pada adat bangsa Eropa dasi begini ada berarti satu jejaka yang mau cari tundangan.”
"Sekali pun begitu, toh tidak bikin kau jadi salah,” kata lagi Joesoef sambil mempersilakan tamunya duduk. "Kau toh belum beristri, dan bukankah baik sekali kalau dengan itu dasi kau dapatkan satu tundangan di ini tempat dingin?”
"Akhir-akhir aku mengalami lagi kau punya kekocakan,” kata Darmo yang ingin tidak dipanjangkan halnya itu dasi.
Sebelumnya cerita lebih jauh, biarlah kita tuturkan siapakah adanya itu si Darmo, atau Soedarmo.
Ia ada anak bungsu dari Raden Jaka Soedarmo, wedana pensiun di Betawi. Dengan ongkosnya ini ayah Raden Aria Soedarmo dikasih masuk sekolah dari H.I.S. sampai di sekolah H.B.S., dan sesudahnya berhenti dari ini sekolah, ia masuk ke sekolah K.W.S., tapi ia tidak teruskan, hanya masuk kerja dalam kantor Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W.). Dalam sedikit tempo saja ia sudah dijadikan pengawas dan dikirim ke Jambi, tapi di sana ia tidak tinggal lama, maka ketika balik ia lalu dikirim ke Bogor berhubung dengan maksudnya Gemeenteraad (Kota Praja) akan luaskan itu kota.
Soedarmo baru berusia 25 tahun, pengawakannya tegap, kulitnya putih, hidungnya mancung sementara matanya jeli sekali. Ia punya potongan muka yang tirus dengan mulut yang kecil, ada merupakan paras yang bagus, senyumnya yang terbuka dengan kasih lihat giginya yang rata dan putih, niscaya bisa bikin birahi pada hatinya orang perempuan yang tidak teguh. Jika Soedarmo berpakaian jas terbuka warna abu-abu dan topi pet yang besar, niscaya orang tidak nanti kira bahwa Soedarmo ada seorang turunan Jawa tulen. Ia ada banyak mirip dengan potongan Eropa.
Waktu beromong-omong dengan Joesoef, Marsina lalu keluar dan Soedarmo segera bangun berdiri sambil unjuk hormatnya, kemudian dengan bahasa manis lalu menanyakan kewarasannya itu nyonya rumah yang Darmo pandang seperti Joesoef punya istri. Marsina tidak turut omong-omong di situ, sesudahnya beri perintah pada Saleha akan sediakan teh dan kue-kue, ia segera masuk kembali ke ruangan dalam, tetapi dengan diam-diam hatinya Marsina memuji pada kecakepannya itu lelaki.
Ketika ia Marsina masuk kembali, Darmo lalu bicara dengan perlahan pada Joesoef dengan kata bahwa Joesoef bisa sekali pilih penghibur hati yang begitu cantik.
Dia beromong-omong banyak sekali tentang rupa-rupa perkara, sampai Loceng mengutarakan jam 7, tatkala mana Marsina lalu undang suami dan tamunya bersantap.
Di atas meja panjang sudah teratur rupa-rupa makanan yang masih mengepul asapnya, dan siarkan bau yang sedap dari satu-satu makanan itu, hingga membangkitkan napsunya orang-orang yang mau duduk makan.
Joesoef duduk di tengah meja, Marsina di sebelah kiri suaminya dan Soedarmo di sebelah kanannya Joesoef.
Baru saja dabar beberapa rupa masakan, lantas juga Soedarmo memuji panjang lebar atas kepandaian orang yang kerjakan itu masakan, sedang matanya Darmo yang penuh kegirangan dan rasa turut beruntung, sebentar-bentar ada ditujukan pada Joesoef. Ia ini mengerti bahwa Darmo ada kira itu masakan ada bikinannya Marsina, maka lantas juga Joesoef kasih keterangan bahwa ia baru dapatkan satu koki muda yang sudah pernah bekerja pada beberapa orang Europa dan Tionghoa, hingga mengerti betul tentang masak-masakan Olanda dan Melajoe. Darmo mengerti ia punya dugaan sudah keliru, tetapi ia punya pujian tidak jadi kurang pada itu koki.
Buat Marsina itu pengakuan dari Joesoef ada merugikan, sebab Marsina punya diam atas Darmo punya pujian-pujian ada berarti bahwa ia kepingin itu dugaan tinggal tersimpan terus buat dirinya. Itu rupa tidak senang ada kelihatan pada parasnya Marsina, hal mana Joesoef lantas dapat tahu, maka ia lekas putar omongan akan bikin Marsina lupa itu perkara.
Sambil bersantap Joesoef dan Darmo tidak berhentinya bicarakan ini dan itu, tempo-tempo dengan kocak, hingga mereka bertiga jadi tertawa terbahak-bahak. Marsina cuma turut bicara sedikit saja, meskipun hatinya kepingin bicara banyak. Di itu tempat duduk yang berhadap-hadapan dengan Darmo, Marsina rasakan seperti banyak durinya, hingga ia tidak bisa duduk tetap. Darmo punya tertawa yang keras tempo-tempo ada mengejutkan batinnya Marsina, apa lagi jika matanya bertemu dengan matanya Darmo lantas saja hatinya Marsina jadi ''deg-degan''.
Apakah Marsina ada jatuh cinta pada Darmo? Itulah kita tidak berani kalau kita ingat Marsina itu dari mana asalnya.
dmz1tfri0oo3osobw41fwhdd7k7rpbv
120320
120314
2026-09-27T05:55:18Z
Rekhaaqsolia
43933
120320
wikitext
text/x-wiki
'''SATU SOBAT LAMA'''<ref>https://id.wikisource.org/wiki/Harta_jang_Terpendem_atawa_Tjeritanja_Njai_Marsina/Bab_7</ref>
Dua minggu kemudian sesudahnya terjadi itu keributan, Marsina dan Yoesoef ada pergi jalan-jalan ke Kota Batu, di mana ada satu tempat mandi yang indah, akan hiburkan dia orang punya hati. Yoesoef punya ketakutan akan dapat Ali punya pembalasan lebih jauh, ada banyak lebih besar dari Marsina, Joesoef tahu jikalau Ali sudah sembuh dari sakitnya, ia nanti diantarkan pulang dan Joesoef khawatir Ali nanti dapat ingat lagi perkara itu harta, kemudian lanjutkan pula ia punya sakit hati padanya. Tetapi Marsina tidak pikir sampai di situ, ia masih percaya bahwa sesudahnya Ali keluar dari rumah sakit, ia nanti dituntut di pengadilan buat ia punya perbuatan coba membunuh dua jiwa. Kadang-kadang selagi duduk sendirian di waktu malam, Joesoef jadi terkejut jika dapat dengar suara tikus berkeresek, sebab hatinya senantiasa curiga Ali sembunyikan diri dalam rumahnya dan nanti keluar kalau sudah sepi akan bikin habis ia punya jiwa. Itu ketakutan semakin hari semakin besar, hingga di waktu tidur Joesoef bisa mengimpi ditikam oleh si Ali. Ia kepingin akan pindah ke tempat jauh, tetapi ia punya istri kawin dan anak-anak di Cimanggis, bukan ada perkara gampang akan dipindahkan, sebab itu rumah di Cimanggis, ada ia punya pusaka turunan. Selainnya dari begitu, ia punya rumah-rumah sewaan dan persil semua ada termasuk dalam ''afdeeling'' Betawi, maka ia tidak bisa pindah tinggal di luar dari itu bilangan. Oleh karena demikian, Joesoef jadi turutkan saja perasaan hatinya, lantaran apa itu pikiran akan dapat pembalasannya Ali jadi tidak bisa disingkirkan, meskipun Marsina coba seberapa bisa buat hiburkan hati suaminya itu.
Itu hari cuaca ada bagus. Sudah dua hari Marsina bujuk supaya Joesoef mau pergi mandi di Kota Batu, tapi senantiasa Joesoef menampik. Itu hari Joesoef luluskan juga permintaannya Marsina, lantaran tertarik hati dengan sinarnya matahari yang tidak panas, dan meniupnya angin yang halus, maka Joesoef lalu mengendarai mobil autonya menuju ke Kota Batu.
Marsina dapat banyak kesenangan mandi dalam itu air dingin, tetapi bagi Joesoef tidak ada apa yang bisa hiburkan hatinya. Iaorang tidak lama berdiam di itu tempat pemandian, dan lekas juga iaorang mau berangkat pulang, tatkala mana sekonyong-konyong ia dihampirkan oleh satu jejaka muda yang pakaiannya sudah dekil dengan abu. Itu jejaka lantas saja pegang lengannya Joesoef dan berkata:
"Halo, sobat, kau dapat banyak senang di itu tempat mandi?” Joesoef menengok dan lantas juga kenalkan bahwa orang yang menegor, ada ia punya sobat kekal dari waktu masih anak-anak, yaitu Raden Aria Soedarmo.
"Eh! Kau ada di sini, Darmo,” kata Joesoef dengan panggil sobat itu punya nama ringkas, "Apa kau tidak jadi berangkat ke Jambi? Apa kau bikin di sini dengan pakaian begini kotor?”
"Ah! Kerjaan capek,” sahut Darmo dengan kebut-kebut ia punya topi ''Helmhoed'' yang juga sudah mesum.Kau tentu tahu, sesudahnya tidak beruntung jadi arsitek, aku lalu masuk jadi pengawas, yang aku lakukan sampai sekarang. Baru beberapa hari aku dikirim ke sini, buat ukur tanah-tanah sekitarnya kota Bogor, sebab Dewan Kota Praja ada niatan akan luaskan kota ini. Hawa matahari yang bakar kepalaku dari pagi, sudah bikin aku haus dan mampir di sini buat minum sedikit air blanda (air berkarbonasi). Marilah kita duduk. Aku nanti ceritakan perjalananku ke Jambi.”
"Tapi sekarang aku mau berangkat pulang,” sahut Joesoef yang merasa malu akan banggakan ia punya piaraan di depan orang banyak, "Aku ada niatan akan undang kau bersantap sebentar sore di rumahku di kampung Ciwaringin no. 14. Apakah kau tidak tampik? Di sana kita bisa beromong-omong lebih banyak.”
"Baik sekali. Kenapakah juga aku tampik? Malah kalau kau ada sedia kamar, aku mau minta juga menginap di rumahmu itu. Tetapi aneh betul kau sudah pindah di Ciwaringin. Sudah berapa lama kau pindah di kampung itu?”
"Baru setengah bulan,” sahut Joesoef.
"Bersama kau punya istri dan anak-anak?” tanya lagi Darmo yang tidak tahu kalau Joesoef ada punya piaraan.
"Bukan, hanya berdua saja dengan aku punya penghibur, satu perempuan cantik yang kau bisa lihat dari sini.” Sambil berkata begitu, Joesoef menunjuk ke autonya, di mana Marsina duduk menunggu.
Darmo tertawa, tetapi ia tidak membanyol.
"Aku harap bisa ajar kenal pada kau punya Nyai sebentar sore,” kata Darmo, dan Joesoef lalu angsurkan tangannya, terus berpamitan.
"Aku girang bisa ketemu lagi pada sobatku itu,” kata Joesoef pada Marsina tatkala ia duduk dalam autonya dan jalankan menuju ke rumahnya.
"Siapa itu?”, tanya Marsina, "Kenapa Tuan tidak ajak ia ke rumah?”
"Dia itu ada aku punya sobat dari masih kecil. Ia sudah terima aku punya undangan akan bersantap sebentar sore di rumah kita malah aku undang juga akan ia menginap. Apa kau suka bikin makanan yang enak, Marsina?”
"Tuan jangan khawatir,” sahut Marsina. "Saya punya masakan tidak enak, tapi kita punya koki baru, itu si Moerlaja, nanti bikin masakan Olanda yang sedap, dan Tuan tentu diam-diam juga sudah puji betul ia punya masakan. Apa tidak begitu?”
"Ya, sungguh aku puji ia punya masakan,” sahut Joesoef, dan sembari kata begitu ia ingat juga kecantikannya Moerhaja yang senantiasa ketutup oleh konde yang aduk-adukan setiap hari, muka yang mesum, dari sawang asap dan pakaian yang kotor bekas abu dapur.
Sembari omong-omong auto dijalankan dengan perlahan dan tidak lama lagi sudah sampai di rumahnya. Marsina lantas saja masuk ke dapur, beri perintah pada koki Moerhaja akan bikin masakan yang enak-enak, sedang pada babu Saleha, Marsina titahkan sediakan kamar yang bersih.
Betul Loceng di pertengahan depan baru mengutarakan jam lima setengah sore, satu dogkar telah berhenti di pintu pekarangan, dari kendaraan mana lalu turun satu anak muda yang berdandan cakep. Joesoef bersedia akan sambut tamunya itu, sedang Marsina titahkan Saleha angkat kopernya tamu itu ke dalam kamar di mana tamu itu akan menginap.
"Ah, Darmo,” kata Joesoef pada tamu-tamunya sambil tepok-tepok belakang orang, "Kau punya dasi merah bikin aku ingat lagi pada itu waktu yang kita baru habis lepas sekolah dan bikin perjalanan ke Bandung.”
"Banyak kali aku pakai dasi begini, tapi tidak mengandung maksud satu apa, meskipun pada adat bangsa Eropa dasi begini ada berarti satu jejaka yang mau cari tundangan.”
"Sekali pun begitu, toh tidak bikin kau jadi salah,” kata lagi Joesoef sambil mempersilakan tamunya duduk. "Kau toh belum beristri, dan bukankah baik sekali kalau dengan itu dasi kau dapatkan satu tundangan di ini tempat dingin?”
"Akhir-akhir aku mengalami lagi kau punya kekocakan,” kata Darmo yang ingin tidak dipanjangkan halnya itu dasi.
Sebelumnya cerita lebih jauh, biarlah kita tuturkan siapakah adanya itu si Darmo, atau Soedarmo.
Ia ada anak bungsu dari Raden Jaka Soedarmo, wedana pensiun di Betawi. Dengan ongkosnya ini ayah Raden Aria Soedarmo dikasih masuk sekolah dari H.I.S. sampai di sekolah H.B.S., dan sesudahnya berhenti dari ini sekolah, ia masuk ke sekolah K.W.S., tapi ia tidak teruskan, hanya masuk kerja dalam kantor Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W.). Dalam sedikit tempo saja ia sudah dijadikan pengawas dan dikirim ke Jambi, tapi di sana ia tidak tinggal lama, maka ketika balik ia lalu dikirim ke Bogor berhubung dengan maksudnya Gemeenteraad (Kota Praja) akan luaskan itu kota.
Soedarmo baru berusia 25 tahun, pengawakannya tegap, kulitnya putih, hidungnya mancung sementara matanya jeli sekali. Ia punya potongan muka yang tirus dengan mulut yang kecil, ada merupakan paras yang bagus, senyumnya yang terbuka dengan kasih lihat giginya yang rata dan putih, niscaya bisa bikin birahi pada hatinya orang perempuan yang tidak teguh. Jika Soedarmo berpakaian jas terbuka warna abu-abu dan topi pet yang besar, niscaya orang tidak nanti kira bahwa Soedarmo ada seorang turunan Jawa tulen. Ia ada banyak mirip dengan potongan Eropa.
Waktu beromong-omong dengan Joesoef, Marsina lalu keluar dan Soedarmo segera bangun berdiri sambil unjuk hormatnya, kemudian dengan bahasa manis lalu menanyakan kewarasannya itu nyonya rumah yang Darmo pandang seperti Joesoef punya istri. Marsina tidak turut omong-omong di situ, sesudahnya beri perintah pada Saleha akan sediakan teh dan kue-kue, ia segera masuk kembali ke ruangan dalam, tetapi dengan diam-diam hatinya Marsina memuji pada kecakepannya itu lelaki.
Ketika ia Marsina masuk kembali, Darmo lalu bicara dengan perlahan pada Joesoef dengan kata bahwa Joesoef bisa sekali pilih penghibur hati yang begitu cantik.
Dia beromong-omong banyak sekali tentang rupa-rupa perkara, sampai Loceng mengutarakan jam 7, tatkala mana Marsina lalu undang suami dan tamunya bersantap.
Di atas meja panjang sudah teratur rupa-rupa makanan yang masih mengepul asapnya, dan siarkan bau yang sedap dari satu-satu makanan itu, hingga membangkitkan napsunya orang-orang yang mau duduk makan.
Joesoef duduk di tengah meja, Marsina di sebelah kiri suaminya dan Soedarmo di sebelah kanannya Joesoef.
Baru saja dabar beberapa rupa masakan, lantas juga Soedarmo memuji panjang lebar atas kepandaian orang yang kerjakan itu masakan, sedang matanya Darmo yang penuh kegirangan dan rasa turut beruntung, sebentar-bentar ada ditujukan pada Joesoef. Ia ini mengerti bahwa Darmo ada kira itu masakan ada bikinannya Marsina, maka lantas juga Joesoef kasih keterangan bahwa ia baru dapatkan satu koki muda yang sudah pernah bekerja pada beberapa orang Europa dan Tionghoa, hingga mengerti betul tentang masak-masakan Olanda dan Melajoe. Darmo mengerti ia punya dugaan sudah keliru, tetapi ia punya pujian tidak jadi kurang pada itu koki.
Buat Marsina itu pengakuan dari Joesoef ada merugikan, sebab Marsina punya diam atas Darmo punya pujian-pujian ada berarti bahwa ia kepingin itu dugaan tinggal tersimpan terus buat dirinya. Itu rupa tidak senang ada kelihatan pada parasnya Marsina, hal mana Joesoef lantas dapat tahu, maka ia lekas putar omongan akan bikin Marsina lupa itu perkara.
Sambil bersantap Joesoef dan Darmo tidak berhentinya bicarakan ini dan itu, tempo-tempo dengan kocak, hingga mereka bertiga jadi tertawa terbahak-bahak. Marsina cuma turut bicara sedikit saja, meskipun hatinya kepingin bicara banyak. Di itu tempat duduk yang berhadap-hadapan dengan Darmo, Marsina rasakan seperti banyak durinya, hingga ia tidak bisa duduk tetap. Darmo punya tertawa yang keras tempo-tempo ada mengejutkan batinnya Marsina, apa lagi jika matanya bertemu dengan matanya Darmo lantas saja hatinya Marsina jadi ''deg-degan''.
Apakah Marsina ada jatuh cinta pada Darmo? Itulah kita tidak berani kalau kita ingat Marsina itu dari mana asalnya.
rojbfzsldu6zk53mblvy2bgvw9koj91
Harta yang terpendam/bab 3
0
28551
120313
2026-09-27T05:48:54Z
Quraeni
37519
Quraeni memindahkan halaman [[Harta yang terpendam/bab 3]] ke [[Harta yang Terpendam/Bab 3]]: Judul salah eja
120313
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Harta yang Terpendam/Bab 3]]
9x105taxw5v4k4jwao6g9y2q30i1kz4
Harta Yang Terpendam atau Ceritanya Nyai Marsina/Bab 7
0
28552
120315
2026-09-27T05:50:04Z
Quraeni
37519
Quraeni memindahkan halaman [[Harta Yang Terpendam atau Ceritanya Nyai Marsina/Bab 7]] ke [[Harta yang Terpendam/Bab 7]]: Judul salah eja
120315
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Harta yang Terpendam/Bab 7]]
r4etc26u0x6g64fvg2j1zvhbhp8ljjq
Harta Yang Terpendam atau Ceritanya Nyai Marsina/Bab 2
0
28553
120318
2026-09-27T05:51:00Z
Quraeni
37519
Quraeni memindahkan halaman [[Harta Yang Terpendam atau Ceritanya Nyai Marsina/Bab 2]] ke [[Harta yang Terpendam/Bab 2]]: Judul salah eja
120318
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Harta yang Terpendam/Bab 2]]
50d0mwbfcrnb7n4b47jk0fahjzsx62o
Warisan Ritual Hidangan Wilujengan Kolok Goblok Poncokusumo
0
28554
120319
2026-09-27T05:51:23Z
Abdisaverio
41993
←Membuat halaman berisi 'Kolok Goblok merupakan hidangan khas Desa Wisata Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang secara turun-temurun digunakan sebagai sarana upacara selamatan. Kudapan berbahan dasar labu, parutan kelapa, dan gula merah ini menyimpan nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat setempat. Keunikan utamanya terletak pada teknik pengolahan tradisional menggunakan alat kukus khusus bernama tanggi, serta penyajian kuah yang tersimpan langsung di dalam buah labu. Hingga kini, prose...'
120319
wikitext
text/x-wiki
Kolok Goblok merupakan hidangan khas Desa Wisata Poncokusumo, Kabupaten Malang, yang secara turun-temurun digunakan sebagai sarana upacara selamatan. Kudapan berbahan dasar labu, parutan kelapa, dan gula merah ini menyimpan nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat setempat. Keunikan utamanya terletak pada teknik pengolahan tradisional menggunakan alat kukus khusus bernama tanggi, serta penyajian kuah yang tersimpan langsung di dalam buah labu. Hingga kini, proses pembuatannya tetap mempertahankan metode otentik guna menjaga kelestarian tradisi dari generasi ke generasi.
Hidangan ini dibuat dengan melubangi labu untuk diisi dengan irisan gula merah dan kelapa parut dengan terlebih dahulu membuang seluruh biji labu. Sebelum akhirnya dikukus menggunakan tanggi.
== Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Malang ==
Kolok Goblok merupakan manifestasi identitas kultural masyarakat Desa Poncokusumo yang memiliki nilai historis dan keunikan yang tinggi. Sebagai warisan leluhur yang bersifat eksklusif bagi wilayah tersebut, tradisi ini memegang peranan krusial dalam memperkaya kebudayaan lokal. Upaya pelestarian mulai diperkuat pada tahun 2025 melalui usulan resmi Pemerintah Kabupaten Malang, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, untuk menetapkan Kolok Goblok sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di tingkat nasional.
Dalam proses administrasinya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyatakan bahwa Kolok Goblok telah melampaui verifikasi tahap awal dalam rangkaian pengusulan WBTB. Langkah diplomasi budaya ini didukung melalui penyelenggaraan "Festival Makan Bersama", yang berfungsi sebagai promosi sekaligus media edukasi bagi masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi strategis dalam meneguhkan autentisitas tradisi Poncokusumo di tengah arus modernisasi, sekaligus memastikan keberlanjutan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pada 22 Februari 2026, Kolok Goblok resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan, bersamaan dengan seni Bantengan Lereng Semeru. Legitimasi yuridis ini disahkan melalui penyerahan sertifikat WBTB secara simbolis oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kepada Bupati Malang, HM Sanusi. Momentum ini menegaskan pengakuan negara terhadap bertambahnya warisan budaya yang dimiliki oleh Kabupaten Malang.
Prosesi penyerahan tersebut diselenggarakan di Taman Krida Budaya Jawa Timur, bertepatan dengan agenda pemberian apresiasi bagi para seniman serta tunjangan kehormatan bagi juru pelihara cagar budaya. Penyerahan sertifikat ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan sebuah komitmen antara pemerintah daerah dan pusat untuk menjamin perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Kolok Goblok sebagai aset budaya bangsa yang berkelanjutan.
== Hidangan Bangsawan Poncokusumo ==
Terletak di lereng barat Gunung Semeru, Desa Poncokusumo merupakan destinasi wisata di Kabupaten Malang yang menawarkan atmosfer pegunungan sejuk pada ketinggian 700 hingga 1500 mdpl. Desa Poncokusumo memiliki kekayaan alam seperti agrowisata, panorama matahari terbit dan terbenam, hingga area berkemah di hutan yang asri. Selain itu, desa Poncokusumo juga menjaga kelestarian budayanya dengan sangat baik, salah satu agenda tahunan yang menonjol adalah Poncokusumo Traditional Culture Feast, sebuah festival yang menyuguhkan tarian adat serta hidangan tradisional gratis, termasuk kuliner khas bernama Kolok Goblok.
Keunikan Kolok Goblok terletak pada metode memasaknya yang khas, yaitu dengan menyimpan kuah di dalam buah labu. Cara ini menghasilkan cita rasa yang autentik dan telah diwariskan secara turun-temurun. Secara historis, hidangan ini dahulu hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan atau kasta tinggi dan hanya disajikan sekali dalam setahun, tepat pada hari ketujuh setelah Idul Fitri. Tradisi penyajian tersebut berkaitan erat dengan ritual syukuran atas hewan ternak yang dikenal sebagai Metri Rojo Koyo, yang melibatkan hewan seperti kambing, kerbau, sapi, dan kuda. Dalam perayaan tersebut, Kolok Goblok dihidangkan bersama ketupat segitiga yang diperuntukkan bagi hewan ternak, sementara Kolok Goblok sendiri dikonsumsi oleh para tamu undangan dan pemilik ternak. Seiring perkembangan zaman, Kolok Goblok tidak lagi terbatas pada hari ketujuh Idul Fitri, melainkan juga disajikan pada bulan Suro atau Muharram.
== Lahir dari Warisan Budaya Spiritual ==
Kolok Goblok berperan sebagai sarana utama dalam pelaksanaan ritual Metri Rojo Koyo. Kolok Goblok merupakan elemen fundamental yang sangat diperlukan untuk mencapai tujuan spiritual dari upacara tersebut. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi Suku Tengger, Kolok Goblok memiliki makna simbolik yang penting sebagai wujud usaha kolektif masyarakat dalam memohon perlindungan dan keberkahan. Hidangan ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus kemakmuran atas melimpahnya rezeki dari hewan ternak. Keberadaannya menegaskan bahwa hewan ternak bukan sekadar aset ekonomi semata, melainkan anugerah yang patut dihormati dan disyukuri dalam kehidupan masyarakat. Melalui penyajian Kolok Goblok, masyarakat Tengger mengharapkan agar ternak mereka senantiasa dalam keadaan sehat, produktif, serta senantiasa mendatangkan keberkahan bagi keberlangsungan kehidupan mereka.
Dalam pelaksanaan upacara Metri Rojo Koyo, Kolok Goblok disajikan dengan cara yang khas dan sarat makna budaya. Hidangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan dihidangkan bersama aneka sajian tradisional lainnya, seperti ketupat segitiga, lontong, serta ketupat biasa. Ritual dimulai dengan pembacaan ujub atau doa yang dipimpin oleh dukun atau tetua adat, sesuai dengan tujuan penyelenggaraan upacara. Setelah seluruh hidangan didoakan, sebagian Kolok Goblok yang telah didoakan disajikan dalam kenduri sebagai wujud syukur dan doa bersama masyarakat. Sementara itu, sebagian kecil Kolok Goblok dan ketupat segitiga diberikan kepada hewan peliharaan. Tindakan ini melambangkan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kelangsungan kehidupan. Hakikat Metri Rojo Koyo sesungguhnya terletak pada tujuan utamanya, yaitu menyelamati Rojo Koyo.
Masyarakat Desa Poncokusumo memaknai Kolok Goblok sebagai bentuk ungkapan syukur atas segala berkah yang mereka terima, terutama dalam hal kesejahteraan ternak yang mereka pelihara. Kata Goblok dalam nama hidangan ini sama sekali bukan bermakna sebagai kata umpatan. Kata tersebut berasal dari istilah lokal doblok yang merujuk pada bunga labu atau kembang waluh, sehingga hidangan ini kemudian dikenal dengan sebutan Kolok Goblok. Dari sisi filosofis, pemilihan kata goblok yang bermakna bodoh tersebut sengaja ditujukan kepada hewan ternak. Hal ini didasarkan pada keyakinan masyarakat bahwa hewan tidak memiliki akal sebagaimana manusia. Selain itu, hidangan ini juga dikenal dengan nama alternatif Kolak Kluntung, meski sebutan Kolok Goblok tetap menjadi sebutan yang paling populer.
Desa Poncokusumo, sebagai tempat kelahiran Kolok Goblok, dikenal dengan kekayaan budaya dan kuliner khasnya. Hidangan ini berbeda dari kolak biasa karena dikukus di dalam buah labu secara utuh. Kolok Goblok mengandung nilai budaya yang mendalam, mencerminkan semangat kebersamaan, keberkahan, serta pelestarian tradisi. Hidangan ini juga melambangkan kesejahteraan melalui penghormatan terhadap hewan ternak sebagai sumber rezeki. Secara fungsional, Kolok Goblok mempererat hubungan sosial, menghubungkan masyarakat dengan adat leluhur, serta meningkatkan daya tarik wisata kuliner. Saat ini, hidangan tersebut bukan hanya warisan budaya, melainkan juga berkontribusi terhadap perekonomian lokal dan promosi pariwisata Desa Poncokusumo. Dengan demikian, Kolok Goblok merupakan simbol sejarah, identitas budaya, dan kearifan lokal yang penting untuk dilestarikan.
== Metode Pembuatan Kolok Goblok ==
Masyarakat Desa Poncokusumo secara konsisten mempertahankan metode tradisional dalam pembuatan Kolok Goblok guna menjaga keaslian cita rasanya. Proses ini dimulai dengan pemilihan dan pembersihan labu berukuran kecil, yang kemudian bagian dalamnya diisi dengan campuran parutan kelapa, gula merah, dan sedikit garam. Setelah siap, labu tersebut dikukus selama kurang lebih 30 menit hingga matang sempurna. Teknik pengolahan yang sederhana namun teliti ini berhasil menciptakan perpaduan tekstur lembut serta rasa manis dan gurih yang menjadi ciri khas utama hidangan tersebut.
Kolok Goblok adalah sajian labu kukus dengan isian kelapa parut dan gula merah. Menikmati Kolok Goblok dimulai dengan membuka bagian atas labu yang telah dilubangi. Isiannya, yang terdiri dari perpaduan kelapa parut dan gula merah, meresap sempurna ke dalam daging labu yang lembut. Cara terbaik menyantapnya adalah dengan mencampur daging labu dan isian menggunakan sendok langsung dari wadahnya, menciptakan harmoni rasa manis dan gurih. Hidangan tradisional yang unik ini sangat nikmat disajikan hangat segera setelah dikukus maupun saat sudah mendingin.
[[Kategori:Resep]]
[[Kategori:Warisan Budaya Takbenda Indonesia]]
[[Kategori:WikiCitaRasa]]
2lew0gajj69i17dolzj05it9zgqnd78
Tips Bangun Pagi
0
28555
120324
2026-09-27T06:22:43Z
Hd. Aisya
43939
←Membuat halaman berisi '= Tips Bangun Pagi = * Pertama: biasakan tidur lebih awal secara konsisten. Pastikan tubuh kita mendapat waktu istirahat 7 hingga 9 jam. * Kedua: Jauhkan ponsel dan televisi dari tempat tidur kita. Pastikan Sobat sudah tidak menggunakan ponsel 1 jam sebelum tidur. * Ketiga: Gunakan lampu yang lebih redup saat beranjak tidur. * Keempat: Pasang alarm bila perlu. * Kelima: Minum air putih sebelum tidur. Hindari mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein, ya.'
120324
wikitext
text/x-wiki
= Tips Bangun Pagi =
* Pertama: biasakan tidur lebih awal secara konsisten. Pastikan tubuh kita mendapat waktu istirahat 7 hingga 9 jam.
* Kedua: Jauhkan ponsel dan televisi dari tempat tidur kita. Pastikan Sobat sudah tidak menggunakan ponsel 1 jam sebelum tidur.
* Ketiga: Gunakan lampu yang lebih redup saat beranjak tidur.
* Keempat: Pasang alarm bila perlu.
* Kelima: Minum air putih sebelum tidur. Hindari mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein, ya.
r88b4gwm6gh1txeyvscj2t64ryejthm
120325
120324
2026-09-27T06:23:45Z
Hd. Aisya
43939
added [[Category:Tips]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
120325
wikitext
text/x-wiki
= Tips Bangun Pagi =
* Pertama: biasakan tidur lebih awal secara konsisten. Pastikan tubuh kita mendapat waktu istirahat 7 hingga 9 jam.
* Kedua: Jauhkan ponsel dan televisi dari tempat tidur kita. Pastikan Sobat sudah tidak menggunakan ponsel 1 jam sebelum tidur.
* Ketiga: Gunakan lampu yang lebih redup saat beranjak tidur.
* Keempat: Pasang alarm bila perlu.
* Kelima: Minum air putih sebelum tidur. Hindari mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein, ya.
[[Kategori:Tips]]
ojktakxzu85jw0613qmif7v512jcmpl
Harta Yang Terpendam atau Ceritanya Nyai Marsina/Bab 8
0
28556
120327
2026-09-27T07:06:37Z
Rekhaaqsolia
43933
←Membuat halaman berisi ''''MALAM YANG MENUTUP HATI''' Mulai dari itu hari Darmo jadi menginap di rumahnya Joesoef. Setiap pagi jam tujuh di depan rumahnya Joesoef tentu ada menunggu tiga orang bumiputra, satu rupanya ada jadi kepala dan yang dua sebagai kuli pengangkut perkakas ukur tanah. Itulah ada orang-orangnya Darmo, dan pada waktu begitu Darmo biasa berangkat ke tempat pekerjaannya. Ia punya pulang tidak tentu, kadang-kadang siang dan kadang-kadang sampai malam. Sedari Darmo me...'
120327
wikitext
text/x-wiki
'''MALAM YANG MENUTUP HATI'''
Mulai dari itu hari Darmo jadi menginap di rumahnya Joesoef.
Setiap pagi jam tujuh di depan rumahnya Joesoef tentu ada menunggu tiga orang bumiputra, satu rupanya ada jadi kepala dan yang dua sebagai kuli pengangkut perkakas ukur tanah. Itulah ada orang-orangnya Darmo, dan pada waktu begitu Darmo biasa berangkat ke tempat pekerjaannya. Ia punya pulang tidak tentu, kadang-kadang siang dan kadang-kadang sampai malam.
Sedari Darmo menginap di rumah itu, Joesoef jadi lupa sama sekali halnya si Ali. Ia punya rasa takut yang begitu besar, sekarang jadi lenyap seperti awan tertiup angin. Setiap hari ia selalu bergembira, apalagi jika ia sedang duduk berdua sama Darmo sambil beromong-omong tentulah Joesoef lupa apa yang sudah kejadian baru ini pada dirinya.
Hari pertama kelakuannya Darmo selalu bergembira, ia suka sekali beromong banyak, atau menuturkan perkara-perkara yang Joesoef belum tahu. Iaorang masuk tidur sampai jauh malam. Tetapi pada hari kedua, Darmo yang sengaja pulang siang-siang, lebih suka berdiam lama di kamarnya. Ia punya kelakuan pun senantiasa ada bimbang. Waktu Marsina sedang bantu masak di dapur, banyak kali Darmo datang di situ dan sengaja omong-omong perkara masakan.
Meskipun Marsina masih sedikit malu-malu akan bercakap-cakap dengan itu jejaka, tetapi Darmo tidak perdulikan itu, hanya turutin saja ia punya adat kebiasaan yang suka mengobrol. Boleh jadi juga Darmo punya sering-sering pergi ke kakus bukan ada maksud yang betul, hanya pura-pura, supaya sering lewat di dapur atau kalau kesomplokan dengan Marsina, jadi dapat tempo akan beromong-omong.
Di waktu bersantap Darmo kelihatan nafsu sekali makan apa yang disajikan, tetapi ia tidak banyak membanyol atau menyeritakan ini itu seperti kemarin, dan kadang-kadang matanya mengawasi lama pada Marsina, seperti orang yang kepingin tahu hatinya orang yang ia awasi. Marsina yang jadi semingkin bergoncang hatinya, coba umpetkan seberapa bisa rasa hatinya itu, supaya tidak jadi kentara pada suaminya. Tetapi Joesoef yang percaya pada kesetiaan itu sobat dan kecintaan Marsina padanya, sama sekali tidak taruh dugaan apa itu sobat dan piaraan ada menaruh cinta satu sama lain.
Itu malam kelakuannya Darmo kelihatan ada amat bimbang. Ia tidak bisa duduk lama akan beromong-omong sama Joesoef, sebentar-bentar ia bangun dan pergi ke belakang, di mana Marsina masih mandorkan koki dan babunya, atau sedang duduk di ruangan belakang sambil mengunyah sirih. Itu kelakuan jadi kentara sekali di matanya Marsina, yang tidak merasa sangsi lagi akan duga bahwa jejaka itu telah ada jatuh cinta padanya. Marsina merasa beruntung sekali akan hal ini, dan ia harap dalam sedikit hari lagi Darmo nanti nyatakan cintanya itu, buat mana Marsina sudah ambil putusan akan tidak menampik.
Kenapalah juga ia mesti menampik? Betul sekali Joesoef punya paras tidak jelek, juga belum tua, tapi ia ada turunan Arab; itu warna kulit yang hitam, menambahkan segala cacat, dan selainnya begitu, Joesoef ada lebih tua dari Darmo, sudah mempunyai beberapa anak, sedang Darmo warna kulitnya putih, barangkali sama putihnya dengan kulitnya Marsina, dan ia masih muda, serta belum mempunyai istri.
Marsina punya hati yang muda telah bilang, seandainya ia mesti dilepas oleh Joesoef lantaran ketahuan ia punya percintaan dengan Darmo, toh ia senang hati ikutkan itu jejaka, meskipun miskin. Ia toh ada punya harta sendiri yang terdapat dari itu pusaka pendeman. Itu harta cukup banyak akan ia hidup senang sama satu jejaka miskin yang ia nanti ongkoskan seumur hidup. Tetapi Darmo tidak boleh dibilang miskin, ia ada turunan Raden, ayahnya ada punya banyak harta, dan Darmo sendiri ada dapat gaji besar.
Sudah lama memang Marsina ingin pulang ke rumah orang tuanya, tetapi Joesoef senantiasa menghalangkan keinginannya, maka seandainya Darmo bisa turutin kehendak hatinya, Marsina sudah berniat akan ajak jejaka ini pindah ke Bandung, di kota mana Marsina nanti beli rumah dan sawah-sawah, supaya bisa hidup dengan santausa.
Marsina uruk pikirannya dengan itu hal-hal yang enak dan siram rasa-rasa hatinya dengan itu percintaan-percintaan yang ia akan terima dari Darmo yang cakep.
Sedang Marsina melayangkan pikirannya ke itu jurusan, Darmo sedang beromong-omong dengan Joesoef di pertengahan depan, tetapi lagunya ia punya suara ada menyatakan seperti ia ada amat ngantuk. Joesoef dapat lihat itu hal dan lalu menanya kalau-kalau Darmo sudah merasa kepingin akan rebahkan diri, hal mana lantas dijawab oleh Darmo bahwa sesungguhnya juga ia merasa amat ''ngantuk'' lantaran siangnya sudah kerja banyak.
Loceng baru mengutarakan jam seperempat sebelas dan Darmo lalu permisi masuk ke kamarnya.
Dari dalam Darmo kunci pintu kamarnya, dan dengan badan yang seperti digandulkan oleh barang berat, ia rebah di atas ''bokzak'' yang empuk.
Di atas pembaringan Darmo tidak meremkan matanya, malah buka besar-besar seperti mau awasi betul-betul satu petaan paras yang menarik hati. Mulutnya bersenyum dan ia peluk satu bantal seperti memeluk orang yang dicintakan. Tidak bisa salah lagi Darmo telah mengandung satu pengrasaan cinta yang dalam.
Darmo rebah di atas pembaringan begitu rupa sampai jam 12, tatkala mana semua orang sudah tidur nyenyak. Tetapi jikalau Darmo mau pasang kupingnya betul-betul, niscaya ia bisa dapat dengar suaranya orang bertindak dengan perlahan, atau kalau ia menengok ke jurusan jendela kaca, tentu ia bisa dapat lihat satu bayangan sedang mengintip.
Tetapi Darmo tidak dapat tahu yang dirinya sedang diintip oleh Marsina.
Marsina sudah awaskan kelakuannya Darmo, yang itu waktu keadaannya seperti orang yang tertindih oleh pengrasaan berat, dan kalau Marsina tidak sabar, tentu ia sudah ketok pintu kamarnya Darmo akan hampiri jejaka ini dan angkat itu tindihan. Tetapi Marsina tidak berbuat begitu, ia pikir masih ada cukup tempo, sebab toh Darmo nanti menginap di rumahnya paling sedikit dua minggu, maka dalam tempo sebagitu ia nanti bisa atur jalan yang lebih halus supaya Darmo sendiri nanti nyatakan cinta padanya. Itulah sebabnya maka Marsina tinggal berdiri di depan jendela kaca dan awaskan tingkahnya Darmo, sampai jejaka ini merasa lelah dan bangun buka pintu dengan perlahan. Itu ketika Marsina cepat melarikan diri ke kamarnya, yang pernahnya berdamping dengan kamarnya Darmo, yaitu pada bagian sebelah belakang. Marsina kepingin tidak dapat diketahui oleh Darmo, maka ia lekas lari masuk ke kamar sendiri. Itu suara kaki yang terburu-buru ada dapat didengar tegas oleh Darmo. Setelah pintu sudah terbuka, Darmo lekas tonjolkan kepalanya, dan mengawasi ke jurusan pintu yang menembus ke kamar-kamarnya itu koki dan babu. Tetapi ia tidak dapat lihat satu manusia. Ia hampiri kamarnya Marsina, juga tertutup rapat.
Hal itu bikin hatinya jadi semingkin bimbang dan dengan sendirinya ia menanya, apakah bukannya ia punya jantung hati yang datang mengintip?
Darmo lalu pergi ke ruangan belakang, rebahkan dirinya di kursi malas dekat papan kamarnya koki Moerhaja. Saban-saban ada kedengaran Darmo punya suara napas yang ditarik panjang, seperti orang yang hendak singkirkan pengrasaan berat.
Sesudahnya masuk ke kamar, Marsina lalu pasang kupingnya dan ia dapat dengar Darmo pergi rebahkan diri di ruangan belakang, kemudian dengar juga itu suara napas yang ditarik panjang. Ia jadi merasa kasihan sudah tambahkan godaan pada itu jejaka yang menanggung rindu, maka dengan perlahan ia lalu hampiri pada Darmo, hingga ia ini jadi terkejut.
"Ada apa yang bikin Adik tidak bisa tidur?” tanya Marsina dengan suara perlahan.
"Ah, tidak, Nji,” sahut Darmo dengan hormat.
"Tapi saya dengar ade tarik-tarik napas seperti orang yang menanggung susah.”
"Ach, bagaimana Nji bisa dengar?” tanya Darmo dengan heran.
"Sebab dari tadi saya juga tidak bisa tidur pulas. Coba Adik kasih tahu apa yang bikin Adik susah hati, barangkali saya bisa tolong....”
"Oh!....” kata Darmo dengan gugup. "Terima kasih buat Nji punya kebaikan, tapi saya melainkan susahkan satu perkara yang ini waktu saya tidak bisa kasih tahu.”
"Apa ada halangan kalau dikasih tahu sekarang?” tanya Marsina dengan mesem manis dan kasih lihat matanya yang tajam. "Saya pikir kalau itu susah dikasih lalu lebih lekas bukan ada lebih baik?”
"Tapi kalau lekas-lekas disingkirkan, bukan jadi hilang malah nanti tambah berat.”
"Saya tidak mengerti.”
"Nji, nanti mengerti sedikit hari lagi.”
"Baiklah, saya harap bisa tolong angkat itu susah.”
"Ah! Itulah yang saya mau minta,” kata Darmo dengan girang.
"Selamat tidur, Adik,” kata Marsina akhir-akhir dan tinggalkan Darmo sendirian yang lalu berpikir dengan heran pada itu kejadian. Jadi ia tidak bingung lagi pada itu suara kaki yang berlari-lari, itulah tentu kakinya Marsina, ia sudah mengintip ke kamarnya. Darmo jadi tertawa dan pada parasnya lantas kelihatan rupa yang menyesal.
Di kamarnya itu koki, Darmo ada dengar suara ngelahan napas dan suara yang menglisihan.
Heran sungguh, itu malam rupanya ada malam yang menutup hati.
n71kbx5kktoejagqyq348aps9kj2nl8
Harta yang Terpendam/Bab 9
0
28557
120333
2026-09-27T07:58:29Z
Hd. Aisya
43939
Ejaan dan huruf kapital
120333
wikitext
text/x-wiki
IX.
FAJAR YANG MEMBOEKA. HATI.
Hawa dingin di Bogor pada waktu pagi, ada bikin orang-orang miskin jadi gesit akan bangun sabelumnya matahari terbit buat lakukan pakerjaännya yang berat, tetapi bagi orang orang hartawan, hawa itu bikin iaorang jadi males akan bangun begitu waktu. Begitulah, sedang Marsina dan Jusuf masih enak-enakan tutupkan badannya dengan selimut, Adalah Nyi Saleha dan Murhaja suda Musti gerajangan ka dapur buat jalakan api akan masak air dan lain-lain. Samentara menunggukan air itu mateng, Saling bergantian Nyi Saleha dan Murhala pergi mandi di kali yang pernanja di belakang itu ramah. Saleha sudah mandi lebih dulu, kamudian barulah Murhaja lang dengen perlahan turun ka kali.
Biasanja begitoe waktoe Moerhaja belon pernakatemoeken orang di itoe pangkalan, tetapi itoe pagi, sasoedanja Moerhaja ada dalem aer, tatkala menengok ka pinggir gili-gill, dengen terkedjoet ia dapet liat potongan badannja satoe orang lelaki jang sedeng djongkok di tempat gelap. Moerhaja djadi amat heran dan tida bisa dapet tebak siapa adanja itoe orang jang mengawasken padanja dengen tida brenti. Ia tjoba memanggil dan menanja tapi tida didjawab oleh itoe orang. Moerhaja djadh tiada senang mandi lama-lama, maka ia lekas naek dan sabelonnja berpakean, la laloe hampirken itoe lelaki di tempat gelap.
„Siapa ini ?” tanja Moerhaja koetika soeda menghampirken sampe dekat.
„Soeda katelandjoeran,” kata itoe orang sambil bangoen berdiri, „biarlah orang kenalin sadja.”
„Astaga,....” menjeboet Moerhaja sambil moenpoer satoe tindak dengen merasa amat heran dan maloe. Lebih dari oetjapken perkataän itoe, ia tida bisa berkata apa-apa lagi. Matanja awasken lelaki itoe seperti ingin menanja maoe apa lelaki itoe djongkok disitoe?
„Moerhaja,” kata lelaki itoe dengen soeara lemes, „akoe taoe kaoe heran kenapa akoe ada disini begini waktoe, tetapi kaoe tentoe aken merasa lebih heran djikaloe akoe bilang, sedari satoe djam akoe ada toenggoeken kaoe dateng mandi disini. Apa kaoe taoe, Moerbaja, perloe apa akoe toenggoeken kaoe disini? Akoe ada perloe bitjara dengen tida laen orang jang dapet taoe salaennja kita-orang berdoea. Ach! Moerhaja, marilah deketan, soepaja kita bisa bitjara lebih perlahan.”
Moerhaja tinggal diam dengen toendoekan kapala sebagi patoeng jang tida bisa berkiser, sampe itoe lelaki hampirken padanja dan pegang satoe tangannja dengen perlahan.
„Dingin betoel tanganmoe, Moerhaja,” kata lagi itoe lelaki, „tapi brangkali boekan dingin lantaran abis mandi, hanja lantaran katakoetan. Apa kaoe takoet padakoe, Moerhaja?”
Moerhaja gojang kapalanja.
„Begitoe memang patoetnja,” kata itoe lelaki dengen girang. „Moerhaja, baroe ini pagi akoe dapet bitjara padamoe, dapet pegang tanganmoe dan dapet liat matamoe jang bagoes. Kenapa baroe ini pagi akoe berichtiar aken bertemoe padamoe berdoeaän disini ? Tentoe kaoe maoe tanja begitoe, sebab ada banjak koetika djlkaloe akoe maoe bikin ini pertemoean. Itoelah betoel Moerhaja tetapi tidalah sama seperti ini waktoe, dimana kita-orang poenja hati soeda sama-sama taoe, Djoega, tidalah sama seperti di ini tempat, dimana tida saorang dapet taoe atawa dapet denger kita-orang poenja bitjaraän. Tjoba kaoe tida berkerdja di ini gedong, tjoba akoe katemoeken kaoe di satoe desa, tjoba sahandenja kaoe tida rendaken diri aken djadi toekang masak, atawa sedikitnja kaoe ada anaknja saorang pantes-pantes, nistjaja akoe tida maoe bikin ini pertemoean dengen semboeni, nistjaja akoe soeda lamar padamoe dengen berterang, nistjaja sedikit hari lagi kita-orang soeda menikah. Keadaänmoe jang sekarang, bikin akoe kwatir boeka ini resia, sebab djikaloe toean Joesoef dapet taoe nistjaja....”
Sabelonnja oetjapken abis itoe perkataän, Moerhaja angkat moekanja dengen mendadak, dan dari kadoea matanja ada kaliatan bebrapa ketes aer mata jang melele di kadoea pipinja.
„Kaoe menangis, Moerhaja ?” tanja itoe lelaki dengen menjesel. „Djadi kaloe begitoe sasoenggoenja kaoe djoega ada tjinta padakoe? Tapiakoe heran apa sebabnja kaoe menangis. Akoe tida bilang keadaänmoe jang begini renda bikin halangan aken akoe menikah padamoe.”
„Tapi, Neng....” kata Moerhaja dengen soeara pelahan.
„Bitjaralah Moerhaja, kaoe poenja soeara bikin senang batikoe,” kata itoe lelaki.
„Neng tjoema perloe katemoe saja boeat kasi tape itoe kakatjekan, Neng dan saja. Itoe hina dan terhormat, itoe kaja dan miskin. Djadi saja menjesel kenapa tadi Neng tida lekas oesir saja. Saja lebih soeka menanggoeng sengsara boeat impiken Neng saoemoer idoep, biarnja tida bisa katemoe, biarnja tida bisa kawin. Seperti sekarang Neng soeda omong, djadi Neng bikin itoe barang jang memboengkoes hati saja d
jadi petjah, dan tentoelah tida saorang sanggoep bikin betoel kombali. Saja sesalken Neng, sedeng soeda taoe saja ada satoe hoedjang toekang masak, maoe djoega Neng bitjara sama saja.”
Akoe oelangken kombali, Moerhaja, jang akoe tida ada halangan boeat menika padamoe, tapi sabelonnja ada djalan jang baek, biarlah kaoe satoedjoe djikaloe kita poenja perhoeboengan jang dimoelai dari ini pagi, dipegang resia, soepaja tida ada laen orang dapet taoe, katjoeali iboemoe.”
„Katahoeilah olehmoe, Moerhaja,” berkata lagi itoe lelaki. „bahoea akoe ada merdika dari ajah boeat tjari istri sendiri. Hatikoe tida tinggi. Kaoe poenja kamiskinan jang memaksa kaoe djadi toekang masak, tida bikin akoe merasa renda boeat ambil kace djadi istrikoe, malah bikin akoe merasa lebih enak boeat toeloeng angkat padamoe dari ini keadaan.”
Moerhaja pegang tangannja Itoe lelaki dan angkat moekanja ka atas. Aer mata jang tadi mengalir, sekarang linjap dan terganti dengen tjahia jang menjataken girangnja hati. Ia angkat moekanja dan oendjoek senjoem jang manis pada itoe lelaki, hingga ia ini tida bisa tahan hatinja jang penoeh tjinta. Dengen pelahan la peloek badannja Moerhaja dan tindes bibirnja gadis itoe dengen bibir sendiri.
Moerhaja lepasken badannja dari peloekan dan melarikan diri.
Tatkala sampe di dapoer Moerhaja dimarahken oleh iboenja, jang kataken Moerhaja soeda mandi terlaloe lama, sedeng matahari soeda terbit sedikit tinggi, waktoenja aken Moerhaja bikin sedia kopi, soesoe dan roti boeat toean Joesoef, Marsina dan itoe tetamoe.
Moerhaja kerdjaken itoe dengen sabentaran sadja, dan koetika Saleha bawa itoe ka medja makan, ja denger di loear Marsina dan Joesoef lagi bitjara sama saorang prampoean laen. Saleba laloe pergi ka depan, sekalian oendang madjikannja dahar kopi.
Di depannja Marsina dan Joesoef, di atas djoebin ada doedoek saorang prampoean jang badannja koeroes dan moekanja sedikit poetjet, menjataken la menanggoeng banjak sedih, sedeng dari pakeannja jang rombeng dan tida ditambel, ada menjataken prampoean itoe poenja kamiskinan jang sanget.
„Kaoe orang dari mana ?” tanja Marsina.
„Dari Mester, njonja,” sahoet itoe prampoean dengen lagoe soeara Betawi.
„Kenapa kaoe sampe disini, apa sebabnja kaoe djadi terlantar. Di Mester kaloe kaoe maoe kerdja tentoe banjak kerdjaän di gedong-gedong Blanda.”
„Brangkali bisa dapet kerdjaän disana, nionja, tapi sekarang saja tida koeat djalan kaki sampedi Mester. Sedari kemaren sore saja tida makan, sebab tida ada poenja oewang satoe cent lagi. Maoe pegi minta-minta tentoe orang tida kasi, sebab badan saja masi seger, masi bisa kerdja. Lebih baek kaloe bisa dapet saja kerdja sadja disini, sekalian toempangken dlri saja jang tida poenja sanak famillie di ini tempat. Disoeroe kerdja apa djoega saja maoe.”
„Sajang akoe soeda ada poenja doea boedjang, lebi banjak tida perloe,” kata Marsina.
„Kaloe begitoe kasi sadja saja koell njoetji,” kata itoe prampoean jang tjoba harepannja paling pengabisan.
„Tjoetjian tida banjak, bisa dipegang oleh akoe Doenja boedjang toea.”
„Apa njonja tida poenja kasian sama saja boeat kasi kerdjaän apa sadja. Saja tida maoe trima gadji, asal saja dikasi makan, sekalian dikasi tidoer biar di batoe, asal ada tempat menedoeh.”
„Abis akoe bisa kasi kaoe kerdjaän apa ? Disini tida ada kerdjaän lebih. Tapi kaloe kaoe maoe berangkat poelang ka Mester, akoe soeka kasi kaoe satoe perak boeat ongkos djalan.”
„Ach! njonja, di Mester nanti djadinja seperti sekarang. Betoel itoe oewang saperak ada lebihnja dari ongkos kreta api. Tetapi tentoe tida bisa dipake sampe bebrapa hari sabelonnja di Mester saja dapet kerdjaän. Kaloe satoe boelan lamanja disana saja tida dapet kerdjaän, abis dimana saja moesti dapet makan. Disana djoega sanak saja masing-masing tida maoe kasi saja menoempang, sebab meroegiken sadja padanja. Saja mintalah biar njonja ada poenja kasian boeat trima saja kerdja disini.” Joesoef jang sedari tadi tida tjampoer omong, hanja doedoek diam membatja soerat-kabar, sekarang baliken moekanja dan berkata pada Marsina: „Biarlah kasi la menoempang disini. Kita masi ada poenja satoe kamar boedjang, djoega memang kita ada niat plara banjak boeroeng-boeroeng dan ajam jang bagoes-bagoes, kaloe dia ada disini nanti bergoena boeat rawatken itoe binatang.”
„Baeklah kaloe toean maoe begitoe,” kata Marsina achir-achir dan adjak itoe prampoean masoek ka dalem.
Marsina ambil bebrapa kaen toewa dari lemari, briken itoe pada prampoean tadi. Ia ini merasa girang dan oetjapken banjak-banjak trima kasi.
Koetika masoek di pertengahan, Marsina dapet liat Darmo baroe kaloear dari kamar mandi. Parasnja ini djedjaka ada seger dan kallatan girang, laen sekali dari parasnja jang kamaren.
Joesoef djoega laloe masoek dan masing-masing doedoek di media makan boeat dahar.
Sahabisnja itoe, Darmo laloe berdandan. Ia poenia orang-orang soeda menoenggoe di depan gedong. Itoe hari Darmo berangkat ka tempat kerdjaäanja sedikit siang, tapi hatinja senantiasa merasa senang, hingga dengen tida terasa di sepandjang djalanan moeloetnja bersoeit-soeit, sedeng di moeloet itoe ada teroekir satoe senjoeman, seperti djoega itoe pepoehoenan di sepandjang djalanan jang kallatan seger, dan itoe goenoeng-goenoeng jang tinggi, adjak mesem padanja.
prrfmw26vq9l43vyy8dquzni2hfzkzy
120334
120333
2026-09-27T08:17:23Z
Hd. Aisya
43939
Ejaan dan huruf kapital
120334
wikitext
text/x-wiki
IX. FAJAR YANG MEMBOEKA. HATI.
Hawa dingin di Bogor pada waktu pagi, ada bikin orang-orang miskin jadi gesit akan bangun sabelumnya matahari terbit buat lakukan pakerjaännya yang berat, tetapi bagi orang orang hartawan, hawa itu bikin iaorang jadi males akan bangun begitu waktu. Begitulah, sedang Marsina dan Jusuf masih enak-enakan tutupkan badannya dengan selimut, Adalah Nyi Saleha dan Murhaja suda Musti gerajangan ka dapur buat jalakan api akan masak air dan lain-lain. Samentara menunggukan air itu mateng, Saling bergantian Nyi Saleha dan Murhala pergi mandi di kali yang pernanja di belakang itu ramah. Saleha sudah mandi lebih dulu, kamudian barulah Murhaja lang dengen perlahan turun ka kali.
Biasanya begitu waktu Murhaja belon pernakatemukan orang di itu pangkalan, tetapi itu pagi, sasoedanja Moerhaja ada dalem air, tatkala menengok ka pinggir gili-gili, dengen terkejut ia dapat liat potongan badannya satu orang lelaki yang sedang jongkok di tempat gelap. Murhaja jadi amat heran dan tida bisa dapet tebak siapa adanya itu orang yang mengawasken padanya dengan tidak berenti. Ia coba memanggil dan menanya tapi tida dijawab oleh itu orang. Murhaja jadh tiada senang mandi lama-lama, maka ia lekas naik dan sabelonnya berpakaian, la lalu hampirkan itu lelaki di tempat gelap.
"Siapa ini?” tanja Murhaja kutika sudah menghampirkan sampai dekat.
"Sudah katelanjuran,” kata itu orang sambil bangun berdiri, "biarlah orang kenalin saja.”
„Astaga,....” menjeboet Moerhaja sambil moenpoer satoe tindak dengen merasa amat heran dan maloe. Lebih dari oetjapken perkataän itoe, ia tida bisa berkata apa-apa lagi. Matanja awasken lelaki itoe seperti ingin menanja maoe apa lelaki itoe djongkok disitoe?
„Moerhaja,” kata lelaki itoe dengen soeara lemes, „akoe taoe kaoe heran kenapa akoe ada disini begini waktoe, tetapi kaoe tentoe aken merasa lebih heran djikaloe akoe bilang, sedari satoe djam akoe ada toenggoeken kaoe dateng mandi disini. Apa kaoe taoe, Moerbaja, perloe apa akoe toenggoeken kaoe disini? Akoe ada perloe bitjara dengen tida laen orang jang dapet taoe salaennja kita-orang berdoea. Ach! Moerhaja, marilah deketan, soepaja kita bisa bitjara lebih perlahan.”
Moerhaja tinggal diam dengen toendoekan kapala sebagi patoeng jang tida bisa berkiser, sampe itoe lelaki hampirken padanja dan pegang satoe tangannja dengen perlahan.
„Dingin betoel tanganmoe, Moerhaja,” kata lagi itoe lelaki, „tapi brangkali boekan dingin lantaran abis mandi, hanja lantaran katakoetan. Apa kaoe takoet padakoe, Moerhaja?”
Moerhaja gojang kapalanja.
„Begitoe memang patoetnja,” kata itoe lelaki dengen girang. „Moerhaja, baroe ini pagi akoe dapet bitjara padamoe, dapet pegang tanganmoe dan dapet liat matamoe jang bagoes. Kenapa baroe ini pagi akoe berichtiar aken bertemoe padamoe berdoeaän disini ? Tentoe kaoe maoe tanja begitoe, sebab ada banjak koetika djlkaloe akoe maoe bikin ini pertemoean. Itoelah betoel Moerhaja tetapi tidalah sama seperti ini waktoe, dimana kita-orang poenja hati soeda sama-sama taoe, Djoega, tidalah sama seperti di ini tempat, dimana tida saorang dapet taoe atawa dapet denger kita-orang poenja bitjaraän. Tjoba kaoe tida berkerdja di ini gedong, tjoba akoe katemoeken kaoe di satoe desa, tjoba sahandenja kaoe tida rendaken diri aken djadi toekang masak, atawa sedikitnja kaoe ada anaknja saorang pantes-pantes, nistjaja akoe tida maoe bikin ini pertemoean dengen semboeni, nistjaja akoe soeda lamar padamoe dengen berterang, nistjaja sedikit hari lagi kita-orang soeda menikah. Keadaänmoe jang sekarang, bikin akoe kwatir boeka ini resia, sebab djikaloe toean Joesoef dapet taoe nistjaja....”
Sabelonnja oetjapken abis itoe perkataän, Moerhaja angkat moekanja dengen mendadak, dan dari kadoea matanja ada kaliatan bebrapa ketes aer mata jang melele di kadoea pipinja.
„Kaoe menangis, Moerhaja ?” tanja itoe lelaki dengen menjesel. „Djadi kaloe begitoe sasoenggoenja kaoe djoega ada tjinta padakoe? Tapiakoe heran apa sebabnja kaoe menangis. Akoe tida bilang keadaänmoe jang begini renda bikin halangan aken akoe menikah padamoe.”
„Tapi, Neng....” kata Moerhaja dengen soeara pelahan.
„Bitjaralah Moerhaja, kaoe poenja soeara bikin senang batikoe,” kata itoe lelaki.
„Neng tjoema perloe katemoe saja boeat kasi tape itoe kakatjekan, Neng dan saja. Itoe hina dan terhormat, itoe kaja dan miskin. Djadi saja menjesel kenapa tadi Neng tida lekas oesir saja. Saja lebih soeka menanggoeng sengsara boeat impiken Neng saoemoer idoep, biarnja tida bisa katemoe, biarnja tida bisa kawin. Seperti sekarang Neng soeda omong, djadi Neng bikin itoe barang jang memboengkoes hati saja d
jadi petjah, dan tentoelah tida saorang sanggoep bikin betoel kombali. Saja sesalken Neng, sedeng soeda taoe saja ada satoe hoedjang toekang masak, maoe djoega Neng bitjara sama saja.”
Akoe oelangken kombali, Moerhaja, jang akoe tida ada halangan boeat menika padamoe, tapi sabelonnja ada djalan jang baek, biarlah kaoe satoedjoe djikaloe kita poenja perhoeboengan jang dimoelai dari ini pagi, dipegang resia, soepaja tida ada laen orang dapet taoe, katjoeali iboemoe.”
„Katahoeilah olehmoe, Moerhaja,” berkata lagi itoe lelaki. „bahoea akoe ada merdika dari ajah boeat tjari istri sendiri. Hatikoe tida tinggi. Kaoe poenja kamiskinan jang memaksa kaoe djadi toekang masak, tida bikin akoe merasa renda boeat ambil kace djadi istrikoe, malah bikin akoe merasa lebih enak boeat toeloeng angkat padamoe dari ini keadaan.”
Moerhaja pegang tangannja Itoe lelaki dan angkat moekanja ka atas. Aer mata jang tadi mengalir, sekarang linjap dan terganti dengen tjahia jang menjataken girangnja hati. Ia angkat moekanja dan oendjoek senjoem jang manis pada itoe lelaki, hingga ia ini tida bisa tahan hatinja jang penoeh tjinta. Dengen pelahan la peloek badannja Moerhaja dan tindes bibirnja gadis itoe dengen bibir sendiri.
Moerhaja lepasken badannja dari peloekan dan melarikan diri.
Tatkala sampe di dapoer Moerhaja dimarahken oleh iboenja, jang kataken Moerhaja soeda mandi terlaloe lama, sedeng matahari soeda terbit sedikit tinggi, waktoenja aken Moerhaja bikin sedia kopi, soesoe dan roti boeat toean Joesoef, Marsina dan itoe tetamoe.
Moerhaja kerdjaken itoe dengen sabentaran sadja, dan koetika Saleha bawa itoe ka medja makan, ja denger di loear Marsina dan Joesoef lagi bitjara sama saorang prampoean laen. Saleba laloe pergi ka depan, sekalian oendang madjikannja dahar kopi.
Di depannja Marsina dan Joesoef, di atas djoebin ada doedoek saorang prampoean jang badannja koeroes dan moekanja sedikit poetjet, menjataken la menanggoeng banjak sedih, sedeng dari pakeannja jang rombeng dan tida ditambel, ada menjataken prampoean itoe poenja kamiskinan jang sanget.
„Kaoe orang dari mana ?” tanja Marsina.
„Dari Mester, njonja,” sahoet itoe prampoean dengen lagoe soeara Betawi.
„Kenapa kaoe sampe disini, apa sebabnja kaoe djadi terlantar. Di Mester kaloe kaoe maoe kerdja tentoe banjak kerdjaän di gedong-gedong Blanda.”
„Brangkali bisa dapet kerdjaän disana, nionja, tapi sekarang saja tida koeat djalan kaki sampedi Mester. Sedari kemaren sore saja tida makan, sebab tida ada poenja oewang satoe cent lagi. Maoe pegi minta-minta tentoe orang tida kasi, sebab badan saja masi seger, masi bisa kerdja. Lebih baek kaloe bisa dapet saja kerdja sadja disini, sekalian toempangken dlri saja jang tida poenja sanak famillie di ini tempat. Disoeroe kerdja apa djoega saja maoe.”
„Sajang akoe soeda ada poenja doea boedjang, lebi banjak tida perloe,” kata Marsina.
„Kaloe begitoe kasi sadja saja koell njoetji,” kata itoe prampoean jang tjoba harepannja paling pengabisan.
„Tjoetjian tida banjak, bisa dipegang oleh akoe Doenja boedjang toea.”
„Apa njonja tida poenja kasian sama saja boeat kasi kerdjaän apa sadja. Saja tida maoe trima gadji, asal saja dikasi makan, sekalian dikasi tidoer biar di batoe, asal ada tempat menedoeh.”
„Abis akoe bisa kasi kaoe kerdjaän apa ? Disini tida ada kerdjaän lebih. Tapi kaloe kaoe maoe berangkat poelang ka Mester, akoe soeka kasi kaoe satoe perak boeat ongkos djalan.”
„Ach! njonja, di Mester nanti djadinja seperti sekarang. Betoel itoe oewang saperak ada lebihnja dari ongkos kreta api. Tetapi tentoe tida bisa dipake sampe bebrapa hari sabelonnja di Mester saja dapet kerdjaän. Kaloe satoe boelan lamanja disana saja tida dapet kerdjaän, abis dimana saja moesti dapet makan. Disana djoega sanak saja masing-masing tida maoe kasi saja menoempang, sebab meroegiken sadja padanja. Saja mintalah biar njonja ada poenja kasian boeat trima saja kerdja disini.” Joesoef jang sedari tadi tida tjampoer omong, hanja doedoek diam membatja soerat-kabar, sekarang baliken moekanja dan berkata pada Marsina: „Biarlah kasi la menoempang disini. Kita masi ada poenja satoe kamar boedjang, djoega memang kita ada niat plara banjak boeroeng-boeroeng dan ajam jang bagoes-bagoes, kaloe dia ada disini nanti bergoena boeat rawatken itoe binatang.”
„Baeklah kaloe toean maoe begitoe,” kata Marsina achir-achir dan adjak itoe prampoean masoek ka dalem.
Marsina ambil bebrapa kaen toewa dari lemari, briken itoe pada prampoean tadi. Ia ini merasa girang dan oetjapken banjak-banjak trima kasi.
Koetika masoek di pertengahan, Marsina dapet liat Darmo baroe kaloear dari kamar mandi. Parasnja ini djedjaka ada seger dan kallatan girang, laen sekali dari parasnja jang kamaren.
Joesoef djoega laloe masoek dan masing-masing doedoek di media makan boeat dahar.
Sahabisnja itoe, Darmo laloe berdandan. Ia poenia orang-orang soeda menoenggoe di depan gedong. Itoe hari Darmo berangkat ka tempat kerdjaäanja sedikit siang, tapi hatinja senantiasa merasa senang, hingga dengen tida terasa di sepandjang djalanan moeloetnja bersoeit-soeit, sedeng di moeloet itoe ada teroekir satoe senjoeman, seperti djoega itoe pepoehoenan di sepandjang djalanan jang kallatan seger, dan itoe goenoeng-goenoeng jang tinggi, adjak mesem padanja.
6893aeoka8416xu1x32vbq0nq1qu5at
120338
120334
2026-09-27T08:47:31Z
Hd. Aisya
43939
Ejaan dan huruf kapital
120338
wikitext
text/x-wiki
IX. FAJAR YANG MEMBOEKA. HATI.
Hawa dingin di Bogor pada waktu pagi, ada bikin orang-orang miskin jadi gesit akan bangun sabelumnya matahari terbit buat lakukan pakerjaännya yang berat, tetapi bagi orang orang hartawan, hawa itu bikin iaorang jadi males akan bangun begitu waktu. Begitulah, sedang Marsina dan Jusuf masih enak-enakan tutupkan badannya dengan selimut, Adalah Nyi Saleha dan Murhaja suda Musti gerajangan ka dapur buat jalakan api akan masak air dan lain-lain. Samentara menunggukan air itu mateng, Saling bergantian Nyi Saleha dan Murhala pergi mandi di kali yang pernanja di belakang itu ramah. Saleha sudah mandi lebih dulu, kamudian barulah Murhaja lang dengen perlahan turun ka kali.
Biasanya begitu waktu Murhaja belon pernakatemukan orang di itu pangkalan, tetapi itu pagi, sasoedanja Moerhaja ada dalem air, tatkala menengok ka pinggir gili-gili, dengen terkejut ia dapat liat potongan badannya satu orang lelaki yang sedang jongkok di tempat gelap. Murhaja jadi amat heran dan tida bisa dapet tebak siapa adanya itu orang yang mengawasken padanya dengan tidak berenti. Ia coba memanggil dan menanya tapi tida dijawab oleh itu orang. Murhaja jadh tiada senang mandi lama-lama, maka ia lekas naik dan sabelonnya berpakaian, la lalu hampirkan itu lelaki di tempat gelap.
"Siapa ini?” tanja Murhaja kutika sudah menghampirkan sampai dekat.
"Sudah katelanjuran,” kata itu orang sambil bangun berdiri, "biarlah orang kenalin saja.”
„Astaga,....” menjebutt Murhaja sambil munpur satu tindak dengen merasa amat heran dan malu Lebih dari ucapkan perkataän itu, ia tida bisa berkata apa-apa lagi. Matanya awaskan lelaki itu seperti ingin menanya mau apa lelaki itu jongkok disitu?
„Murhaja,” kata lelaki itu dengen suara lemas, „aku tau kau heran kenapa aku ada disini begini waktu, tetapi kau tentu akan merasa lebih heran jikalu aku bilang, sedari satu jam aku ada tungguken kau datang mandi di sini. Apa kau tahu, Moerbaja, perlu apa aku tunggukan kau di sini? Aku ada perlu bicara dengan tidak lain orang yang dapat tahu salaennya kita-orang berdua. Ach! Moerhaja, marilah deketan, supaya kita bisa bicara lebih perlahan.”
Moerhaja tinggal diam dengen toendoekan kapala sebagi patoeng jang tida bisa berkiser, sampe itoe lelaki hampirken padanja dan pegang satoe tangannja dengen perlahan.
„Dingin betoel tanganmoe, Moerhaja,” kata lagi itoe lelaki, „tapi brangkali boekan dingin lantaran abis mandi, hanja lantaran katakoetan. Apa kaoe takoet padakoe, Moerhaja?”
Moerhaja gojang kapalanja.
„Begitoe memang patoetnja,” kata itoe lelaki dengen girang. „Moerhaja, baroe ini pagi akoe dapet bitjara padamoe, dapet pegang tanganmoe dan dapet liat matamoe jang bagoes. Kenapa baroe ini pagi akoe berichtiar aken bertemoe padamoe berdoeaän disini ? Tentoe kaoe maoe tanja begitoe, sebab ada banjak koetika djlkaloe akoe maoe bikin ini pertemoean. Itoelah betoel Moerhaja tetapi tidalah sama seperti ini waktoe, dimana kita-orang poenja hati soeda sama-sama taoe, Djoega, tidalah sama seperti di ini tempat, dimana tida saorang dapet taoe atawa dapet denger kita-orang poenja bitjaraän. Tjoba kaoe tida berkerdja di ini gedong, tjoba akoe katemoeken kaoe di satoe desa, tjoba sahandenja kaoe tida rendaken diri aken djadi toekang masak, atawa sedikitnja kaoe ada anaknja saorang pantes-pantes, nistjaja akoe tida maoe bikin ini pertemoean dengen semboeni, nistjaja akoe soeda lamar padamoe dengen berterang, nistjaja sedikit hari lagi kita-orang soeda menikah. Keadaänmoe jang sekarang, bikin akoe kwatir boeka ini resia, sebab djikaloe toean Joesoef dapet taoe nistjaja....”
Sabelonnja oetjapken abis itoe perkataän, Moerhaja angkat moekanja dengen mendadak, dan dari kadoea matanja ada kaliatan bebrapa ketes aer mata jang melele di kadoea pipinja.
„Kaoe menangis, Moerhaja ?” tanja itoe lelaki dengen menjesel. „Djadi kaloe begitoe sasoenggoenja kaoe djoega ada tjinta padakoe? Tapiakoe heran apa sebabnja kaoe menangis. Akoe tida bilang keadaänmoe jang begini renda bikin halangan aken akoe menikah padamoe.”
„Tapi, Neng....” kata Moerhaja dengen soeara pelahan.
„Bitjaralah Moerhaja, kaoe poenja soeara bikin senang batikoe,” kata itoe lelaki.
„Neng tjoema perloe katemoe saja boeat kasi tape itoe kakatjekan, Neng dan saja. Itoe hina dan terhormat, itoe kaja dan miskin. Djadi saja menjesel kenapa tadi Neng tida lekas oesir saja. Saja lebih soeka menanggoeng sengsara boeat impiken Neng saoemoer idoep, biarnja tida bisa katemoe, biarnja tida bisa kawin. Seperti sekarang Neng soeda omong, djadi Neng bikin itoe barang jang memboengkoes hati saja d
jadi petjah, dan tentoelah tida saorang sanggoep bikin betoel kombali. Saja sesalken Neng, sedeng soeda taoe saja ada satoe hoedjang toekang masak, maoe djoega Neng bitjara sama saja.”
Akoe oelangken kombali, Moerhaja, jang akoe tida ada halangan boeat menika padamoe, tapi sabelonnja ada djalan jang baek, biarlah kaoe satoedjoe djikaloe kita poenja perhoeboengan jang dimoelai dari ini pagi, dipegang resia, soepaja tida ada laen orang dapet taoe, katjoeali iboemoe.”
„Katahoeilah olehmoe, Moerhaja,” berkata lagi itoe lelaki. „bahoea akoe ada merdika dari ajah boeat tjari istri sendiri. Hatikoe tida tinggi. Kaoe poenja kamiskinan jang memaksa kaoe djadi toekang masak, tida bikin akoe merasa renda boeat ambil kace djadi istrikoe, malah bikin akoe merasa lebih enak boeat toeloeng angkat padamoe dari ini keadaan.”
Moerhaja pegang tangannja Itoe lelaki dan angkat moekanja ka atas. Aer mata jang tadi mengalir, sekarang linjap dan terganti dengen tjahia jang menjataken girangnja hati. Ia angkat moekanja dan oendjoek senjoem jang manis pada itoe lelaki, hingga ia ini tida bisa tahan hatinja jang penoeh tjinta. Dengen pelahan la peloek badannja Moerhaja dan tindes bibirnja gadis itoe dengen bibir sendiri.
Moerhaja lepasken badannja dari peloekan dan melarikan diri.
Tatkala sampe di dapoer Moerhaja dimarahken oleh iboenja, jang kataken Moerhaja soeda mandi terlaloe lama, sedeng matahari soeda terbit sedikit tinggi, waktoenja aken Moerhaja bikin sedia kopi, soesoe dan roti boeat toean Joesoef, Marsina dan itoe tetamoe.
Moerhaja kerdjaken itoe dengen sabentaran sadja, dan koetika Saleha bawa itoe ka medja makan, ja denger di loear Marsina dan Joesoef lagi bitjara sama saorang prampoean laen. Saleba laloe pergi ka depan, sekalian oendang madjikannja dahar kopi.
Di depannja Marsina dan Joesoef, di atas djoebin ada doedoek saorang prampoean jang badannja koeroes dan moekanja sedikit poetjet, menjataken la menanggoeng banjak sedih, sedeng dari pakeannja jang rombeng dan tida ditambel, ada menjataken prampoean itoe poenja kamiskinan jang sanget.
„Kaoe orang dari mana ?” tanja Marsina.
„Dari Mester, njonja,” sahoet itoe prampoean dengen lagoe soeara Betawi.
„Kenapa kaoe sampe disini, apa sebabnja kaoe djadi terlantar. Di Mester kaloe kaoe maoe kerdja tentoe banjak kerdjaän di gedong-gedong Blanda.”
„Brangkali bisa dapet kerdjaän disana, nionja, tapi sekarang saja tida koeat djalan kaki sampedi Mester. Sedari kemaren sore saja tida makan, sebab tida ada poenja oewang satoe cent lagi. Maoe pegi minta-minta tentoe orang tida kasi, sebab badan saja masi seger, masi bisa kerdja. Lebih baek kaloe bisa dapet saja kerdja sadja disini, sekalian toempangken dlri saja jang tida poenja sanak famillie di ini tempat. Disoeroe kerdja apa djoega saja maoe.”
„Sajang akoe soeda ada poenja doea boedjang, lebi banjak tida perloe,” kata Marsina.
„Kaloe begitoe kasi sadja saja koell njoetji,” kata itoe prampoean jang tjoba harepannja paling pengabisan.
„Tjoetjian tida banjak, bisa dipegang oleh akoe Doenja boedjang toea.”
„Apa njonja tida poenja kasian sama saja boeat kasi kerdjaän apa sadja. Saja tida maoe trima gadji, asal saja dikasi makan, sekalian dikasi tidoer biar di batoe, asal ada tempat menedoeh.”
„Abis akoe bisa kasi kaoe kerdjaän apa ? Disini tida ada kerdjaän lebih. Tapi kaloe kaoe maoe berangkat poelang ka Mester, akoe soeka kasi kaoe satoe perak boeat ongkos djalan.”
„Ach! njonja, di Mester nanti djadinja seperti sekarang. Betoel itoe oewang saperak ada lebihnja dari ongkos kreta api. Tetapi tentoe tida bisa dipake sampe bebrapa hari sabelonnja di Mester saja dapet kerdjaän. Kaloe satoe boelan lamanja disana saja tida dapet kerdjaän, abis dimana saja moesti dapet makan. Disana djoega sanak saja masing-masing tida maoe kasi saja menoempang, sebab meroegiken sadja padanja. Saja mintalah biar njonja ada poenja kasian boeat trima saja kerdja disini.” Joesoef jang sedari tadi tida tjampoer omong, hanja doedoek diam membatja soerat-kabar, sekarang baliken moekanja dan berkata pada Marsina: „Biarlah kasi la menoempang disini. Kita masi ada poenja satoe kamar boedjang, djoega memang kita ada niat plara banjak boeroeng-boeroeng dan ajam jang bagoes-bagoes, kaloe dia ada disini nanti bergoena boeat rawatken itoe binatang.”
„Baeklah kaloe toean maoe begitoe,” kata Marsina achir-achir dan adjak itoe prampoean masoek ka dalem.
Marsina ambil bebrapa kaen toewa dari lemari, briken itoe pada prampoean tadi. Ia ini merasa girang dan oetjapken banjak-banjak trima kasi.
Koetika masoek di pertengahan, Marsina dapet liat Darmo baroe kaloear dari kamar mandi. Parasnja ini djedjaka ada seger dan kallatan girang, laen sekali dari parasnja jang kamaren.
Joesoef djoega laloe masoek dan masing-masing doedoek di media makan boeat dahar.
Sahabisnja itoe, Darmo laloe berdandan. Ia poenia orang-orang soeda menoenggoe di depan gedong. Itoe hari Darmo berangkat ka tempat kerdjaäanja sedikit siang, tapi hatinja senantiasa merasa senang, hingga dengen tida terasa di sepandjang djalanan moeloetnja bersoeit-soeit, sedeng di moeloet itoe ada teroekir satoe senjoeman, seperti djoega itoe pepoehoenan di sepandjang djalanan jang kallatan seger, dan itoe goenoeng-goenoeng jang tinggi, adjak mesem padanja.
4lohfimo7j2x6pqu3z5zlg1znnv9chc
Jelajah Budaya Kuliner Bugis Makassar/Kaddo Minyak
0
28558
120336
2026-09-27T08:35:22Z
Sutrisno.asrori
43946
←Membuat halaman berisi ' === '''Dari Dapur Keluarga ke Ruang Kebudayaan:''' '''Ketika Makanan Tradisional Menjadi Bahasa, Ingatan, dan Identitas Masyarakat Bugis-Makassar''' === Aroma nasi yang bercampur minyak dan bumbu perlahan memenuhi ruang dapur. Di antara suara peralatan masak dan percakapan anggota keluarga, tangan-tangan yang telah terbiasa bekerja menyiapkan sebuah hidangan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi mereka yang mengenalnya, Kaddo Minyak bu...'
120336
wikitext
text/x-wiki
=== '''Dari Dapur Keluarga ke Ruang Kebudayaan:''' '''Ketika Makanan Tradisional Menjadi Bahasa, Ingatan, dan Identitas Masyarakat Bugis-Makassar''' ===
Aroma nasi yang bercampur minyak dan bumbu perlahan memenuhi ruang dapur. Di antara suara peralatan masak dan percakapan anggota keluarga, tangan-tangan yang telah terbiasa bekerja menyiapkan sebuah hidangan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi mereka yang mengenalnya, Kaddo Minyak bukan sekadar makanan. Ia membawa ingatan tentang keluarga, pertemuan, penghormatan kepada tamu, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Bugis dan Makassar, makanan tradisional kerap hadir dalam ruang kehidupan yang lebih luas daripada meja makan. Ia dapat muncul ketika keluarga berkumpul, ketika tamu datang, ketika masyarakat mengadakan kegiatan bersama, atau ketika sebuah keluarga melaksanakan acara tertentu. Dalam ruang-ruang tersebut, makanan menjadi bagian dari komunikasi sosial. Kaddo Minyak dapat dibaca sebagai pesan tanpa kata: ada penerimaan, penghormatan, kebersamaan, dan keinginan untuk menjaga hubungan antarmanusia.
Namun, di tengah perubahan pola hidup dan derasnya arus kuliner modern, pertanyaan mengenai keberadaan Kaddo Minyak menjadi relevan: apakah makanan tradisional ini masih sekadar hidangan, atau justru menyimpan pengetahuan budaya yang perlahan terancam dilupakan?
'''Bukan Sekadar Makanan'''
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak makan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis. Cara memilih bahan makanan, memasak, menyajikan, dan menikmatinya bersama orang lain merupakan bagian dari kebudayaan.
Antropolog Indonesia Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kebudayaan mencakup sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan masyarakat. Dengan kerangka tersebut, makanan tradisional dapat ditempatkan sebagai bagian dari kebudayaan karena pengetahuan tentang makanan diperoleh melalui proses sosial dan diwariskan antargenerasi.
Kaddo Minyak berada dalam ruang tersebut. Pengetahuan mengenai bahan, teknik pengolahan, rasa, waktu penyajian, dan siapa yang biasanya terlibat dalam pembuatannya tidak selalu ditemukan dalam buku resep. Sebagian justru hidup dalam ingatan keluarga, Seorang ibu mengajarkan anaknya memasak. Seorang nenek mengajarkan cucunya mengenali rasa. Seorang anggota keluarga yang lebih tua menjelaskan kapan hidangan tersebut biasa disajikan. Proses sederhana itu sesungguhnya merupakan proses transmisi budaya.
'''Dapur sebagai Ruang Komunikasi Budaya'''
Ada kecenderungan menganggap komunikasi hanya terjadi ketika seseorang berbicara kepada orang lain. Padahal, komunikasi juga berlangsung melalui simbol, tindakan, benda, kebiasaan, dan ritual sosial,
Edward T. Hall dalam ''The Silent Language'' (1959) menunjukkan pentingnya unsur-unsur nonverbal dalam kehidupan budaya. Cara manusia menggunakan ruang, waktu, benda, dan perilaku sehari-hari dapat menyampaikan pesan sosial.
Dari sudut pandang ini, Kaddo Minyak dapat dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi nonverbal. Ketika seseorang menyiapkan makanan untuk orang lain, tindakan tersebut menyampaikan pesan tertentu. Makanan menjadi medium, sementara hubungan sosial menjadi konteks pesannya, Tuan rumah mungkin tidak mengatakan, “Kami menghormati kedatangan Anda.” Tetapi dengan menyiapkan makanan, menghidangkannya, dan mempersilakan tamu makan, pesan penghormatan itu telah dikomunikasikan.
Karena itu, dapur bukan hanya tempat memasak. Ia juga dapat menjadi ruang komunikasi budaya. Di sana terjadi percakapan, pembagian pekerjaan, pengajaran, pengamatan, dan pewarisan pengalaman.
'''Resep yang Tidak Selalu Tertulis'''
Salah satu karakter menarik makanan tradisional adalah pengetahuannya sering kali diwariskan secara lisan dan melalui praktik, “Takaran secukupnya”, “minyak jangan terlalu banyak”, atau “tunggu sampai aromanya keluar” mungkin terdengar sederhana bagi orang luar. Namun bagi orang yang telah lama memasak, kalimat-kalimat itu mengandung pengetahuan praktis yang diperoleh melalui pengalaman.
Antropolog James P. Spradley dalam ''The Ethnographic Interview'' (1979) menekankan pentingnya memahami pengetahuan budaya sebagaimana dipahami oleh anggota masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, penelitian mengenai Kaddo Minyak sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan tentang bahan dan resep, tetapi juga menggali makna yang diberikan masyarakat terhadap makanan tersebut.
Pertanyaan tersebut dapat menghasilkan informasi mengenai perubahan resep sekaligus memperlihatkan bagaimana pengetahuan kuliner berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
'''Dari Beras Menjadi Identitas'''
Beras memiliki posisi penting dalam kehidupan banyak masyarakat agraris di Indonesia. Ia bukan hanya bahan makanan, tetapi berkaitan dengan pekerjaan, rumah tangga, ekonomi, dan hubungan sosial.
Kaddo Minyak kemudian memperoleh makna melalui cara masyarakat menggunakannya dalam kehidupan sosial. Ketika makanan disajikan dalam sebuah acara, konteks tersebut ikut memberikan makna terhadap makanan.
Clifford Geertz dalam ''The Interpretation of Cultures'' (1973) memandang kebudayaan sebagai jaringan makna yang dibangun dan ditafsirkan manusia. Pendekatan tersebut membantu melihat bahwa sebuah makanan tidak berdiri sendiri. Makna makanan muncul dari hubungan antara makanan, manusia, situasi, dan simbol-simbol sosial di sekitarnya.
Karena itu, meneliti Kaddo Minyak hanya dari rasa akan membuat sebagian besar ceritanya hilang. Yang menarik justru adalah apa yang terjadi di sekelilingnya: siapa yang memasak, siapa yang makan, kapan disajikan, mengapa dibuat, dan hubungan sosial apa yang terbentuk setelah orang-orang duduk bersama.
'''Ketika Makanan Menjadi Tanda Penghormatan'''
Dalam banyak kebudayaan, jamuan makan memiliki fungsi sosial yang kuat. Makanan dapat menjadi cara menyambut tamu sekaligus memperlihatkan hubungan antara tuan rumah dan orang yang datang.
Kaddo Minyak dalam konteks tertentu dapat menjalankan fungsi tersebut. Ketika dihidangkan kepada tamu atau keluarga yang berkumpul, makanan tidak hanya dipindahkan dari dapur ke ruang makan. Bersamaan dengan itu, berpindah pula pesan keramahan.
Dalam perspektif komunikasi budaya, tindakan menyuguhkan makanan dapat disebut sebagai komunikasi simbolik. Pesannya tidak selalu diucapkan, tetapi dipahami melalui tindakan.
'''Kaddo Minyak dalam Acara Keluarga dan Keagamaan'''
Kapan Kaddo Minyak disuguhkan? Jawabannya tidak dapat dibuat seragam untuk semua masyarakat Bugis dan Makassar, Tradisi makanan sangat dipengaruhi oleh wilayah, keluarga, dan komunitas. Dalam lingkungan tertentu, Kaddo Minyak dapat disiapkan untuk acara keluarga, syukuran, pertemuan kerabat, jamuan tamu, atau kegiatan masyarakat. Pada komunitas tertentu, makanan tradisional juga dapat muncul dalam kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan.
Karena itu, informasi mengenai waktu dan acara penyajian perlu diperoleh dari masyarakat yang memang menjalankan tradisi tersebut.
“Dalam acara apa saja Kaddo Minyak biasanya disiapkan di kampung atau lingkungan ini? Apakah ada makna khusus ketika makanan tersebut disajikan?”
Pembedaan ini penting. Kaddo Minyak tidak perlu ditempatkan sebagai bagian dari kewajiban agama. Jika disajikan dalam kegiatan keagamaan, ia lebih tepat dipahami sebagai bagian dari praktik budaya dan sosial masyarakat yang berjalan berdampingan dengan kehidupan keagamaan.
'''Syukur, Berbagi, dan Silaturahmi'''
Makanan yang dibagikan kepada orang lain dapat memiliki makna sosial dan religius sekaligus. Dalam konteks masyarakat Muslim, berbagi makanan dapat berkaitan dengan nilai syukur, sedekah, dan silaturahmi. Namun, makna tersebut perlu ditempatkan sebagai interpretasi sosial-keagamaan masyarakat, bukan sebagai ketentuan agama yang secara khusus melekat pada Kaddo Minyak.
Di sinilah budaya lokal dan agama dapat bertemu dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah kegiatan masyarakat dapat memiliki unsur doa, pertemuan keluarga, makan bersama, dan percakapan dalam satu rangkaian acara.
Makanan menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai unsur tersebut.
'''Cara Membuat: Tradisi yang Hidup di Tangan'''
Secara umum, Kaddo Minyak berbahan dasar beras atau nasi yang dipadukan dengan minyak dan bumbu sesuai tradisi setempat. Komposisi dan teknik pembuatannya dapat berbeda antar wilayah maupun antar keluarga.
Beras dibersihkan dan dimasak. Bumbu dipersiapkan dan diolah bersama minyak, kemudian dipadukan dengan nasi sesuai teknik yang diwariskan. Detail resep perlu dikonfirmasi melalui pelaku tradisi karena variasi lokal merupakan bagian dari karakter makanan tradisional,Yang menarik bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses pembuatannya. Di dapur, seseorang dapat belajar tanpa mengikuti kelas formal. Ia melihat, meniru, mencoba, gagal, memperbaiki, kemudian pada suatu saat mampu memasak sendiri,Itulah pendidikan budaya yang berlangsung secara informal.
'''Dari Generasi ke Generasi'''
Kebudayaan dapat bertahan karena diwariskan. Tetapi pewarisan bukan berarti selalu dilakukan dengan cara yang sama.
Generasi muda mungkin memasak menggunakan kompor modern, menggunakan takaran digital, mendokumentasikan proses memasak dengan telepon genggam, bahkan membagikannya melalui media sosial. Teknologinya berubah, tetapi praktik budaya dapat tetap dilanjutkan.
Dalam konteks inilah konsep ''intangible cultural heritage'' atau warisan budaya takbenda menjadi relevan. UNESCO menempatkan praktik, pengetahuan, keterampilan, serta ekspresi budaya yang diwariskan antargenerasi sebagai bagian dari warisan budaya takbenda apabila komunitas mengakui dan terus mempraktikkannya.
Kaddo Minyak dapat dipandang dari perspektif tersebut sebagai praktik kuliner yang memiliki potensi nilai warisan budaya, tetapi status atau pengakuan resmi tertentu tentu membutuhkan dokumentasi dan verifikasi tersendiri.
'''Tantangan di Tengah Kuliner Modern'''
Makanan tradisional kini berhadapan dengan perubahan gaya hidup. Makanan cepat saji semakin mudah diperoleh. Waktu keluarga untuk memasak bersama semakin terbatas. Anak-anak muda lebih sering mengenal kuliner melalui platform digital daripada melalui dapur keluarga.
Perubahan itu tidak selalu berarti tradisi harus hilang. Sebaliknya, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikannya.
Video seorang nenek yang sedang memasak Kaddo Minyak, misalnya, bukan hanya konten kuliner. Jika direkam dengan wawancara yang baik, video tersebut dapat menjadi dokumentasi sejarah lisan. Di dalamnya terdapat resep, dialek, cerita keluarga, nama bahan, pengalaman masa lalu, dan konteks sosial.
Dengan demikian, teknologi dapat menjadi jembatan antara tradisi lama dan generasi baru.
'''Kearifan Lokal di Atas Meja Makan'''
Kearifan lokal sering kali dibicarakan dalam konteks besar: lingkungan, pertanian, adat, atau sistem pengetahuan masyarakat. Padahal, ia juga dapat ditemukan dalam praktik sehari-hari.
Makanan mengajarkan tentang berbagi. Memasak bersama mengajarkan kerja sama. Menjamu tamu mengajarkan penghormatan. Mengajarkan resep kepada anak mengajarkan tanggung jawab terhadap warisan keluarga, Dalam konteks tersebut, Kaddo Minyak memperlihatkan bahwa kearifan lokal tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat atau petuah. Ia dapat hadir dalam tindakan yang berulang setiap hari.
'''Ketika Tradisi Menjadi Cerita Media'''
Bagi media massa, Kaddo Minyak bukan hanya cerita tentang makanan. Ia adalah pintu masuk untuk membicarakan identitas, perubahan sosial, komunikasi antargenerasi, dan keberlanjutan budaya, Feature journalism memiliki kekuatan pada cerita manusia. Karena itu, artikel mengenai Kaddo Minyak akan lebih kuat jika menghadirkan sosok nyata: seorang ibu yang masih memasak resep warisan ibunya, seorang nenek yang menjadi penjaga resep keluarga, seorang anak muda yang mencoba mendokumentasikan makanan tersebut, atau seorang budayawan yang melihat perubahan tradisi dari masa ke masa.
'''Sepiring Makanan, Sejumlah Pesan'''
Pada akhirnya, Kaddo Minyak tidak hanya berbicara tentang apa yang dimakan masyarakat Bugis-Makassar. Ia juga berbicara tentang bagaimana masyarakat berkomunikasi, mengingat masa lalu, membangun hubungan, dan meneruskan identitas, Sebuah piring yang dihidangkan kepada tamu dapat berarti penghormatan. Sebuah dapur yang dipenuhi anggota keluarga dapat menjadi ruang pewarisan pengetahuan. Sebuah resep yang diajarkan seorang nenek kepada cucunya dapat menjadi bentuk komunikasi antargenerasi. Sementara sebuah acara makan bersama dapat menjadi ruang untuk memperkuat kembali hubungan sosial.
Kaddo Minyak dengan demikian dapat dibaca sebagai “bahasa” budaya yang menggunakan makanan sebagai medianya. Bahasanya tidak selalu berupa kata-kata, tetapi hadir melalui rasa, aroma, cara memasak, cara menyajikan, dan siapa yang duduk bersama di meja makan.
Dan mungkin di situlah kekuatan makanan tradisional: ia tidak hanya mengisi perut, tetapi juga mengisi ingatan, Selama resep masih diwariskan, selama dapur masih menjadi tempat orang tua mengajarkan anaknya, dan selama makanan masih digunakan untuk menyambut serta mengikat hubungan antarmanusia, Kaddo Minyak akan terus memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat, Sebab sebuah tradisi tidak hidup karena ia pernah ada.
Tradisi hidup karena masih ada manusia yang memilih untuk mengulanginya, memaknainya, dan menceritakannya kembali.
'''Bahan Pustaka'''
'''Geertz, Clifford.''' (1973). ''The Interpretation of Cultures: Selected Essays''. New York: Basic Books..
'''Hall, Edward T.''' (1959). ''The Silent Language''. Garden City, New York: Doubleday.
'''Koentjaraningrat.''' (2009). ''Pengantar Ilmu Antropologi''. Jakarta: Rineka Cipta.
'''Spradley, James P.''' (1979). ''The Ethnographic Interview''. New York: Holt, Rinehart and Winston.
'''UNESCO.''' ''Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage'' (2003).
'''Kriyantono, Rachmat.''' (2014). ''Teknik Praktis Riset Komunikasi''. Jakarta: Kencana.
cj5di9s54p71b0sxyeps09kennxuu2b
120337
120336
2026-09-27T08:41:46Z
Sutrisno.asrori
43946
120337
wikitext
text/x-wiki
=== [[Berkas:Gambar Kaddo Minyak.jpg]] ===
=== '''Dari Dapur Keluarga ke Ruang Kebudayaan:''' '''Ketika Makanan Tradisional Menjadi Bahasa, Ingatan, dan Identitas Masyarakat Bugis-Makassar''' ===
Aroma nasi yang bercampur minyak dan bumbu perlahan memenuhi ruang dapur. Di antara suara peralatan masak dan percakapan anggota keluarga, tangan-tangan yang telah terbiasa bekerja menyiapkan sebuah hidangan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi mereka yang mengenalnya, Kaddo Minyak bukan sekadar makanan. Ia membawa ingatan tentang keluarga, pertemuan, penghormatan kepada tamu, dan tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Bugis dan Makassar, makanan tradisional kerap hadir dalam ruang kehidupan yang lebih luas daripada meja makan. Ia dapat muncul ketika keluarga berkumpul, ketika tamu datang, ketika masyarakat mengadakan kegiatan bersama, atau ketika sebuah keluarga melaksanakan acara tertentu. Dalam ruang-ruang tersebut, makanan menjadi bagian dari komunikasi sosial. Kaddo Minyak dapat dibaca sebagai pesan tanpa kata: ada penerimaan, penghormatan, kebersamaan, dan keinginan untuk menjaga hubungan antarmanusia.
Namun, di tengah perubahan pola hidup dan derasnya arus kuliner modern, pertanyaan mengenai keberadaan Kaddo Minyak menjadi relevan: apakah makanan tradisional ini masih sekadar hidangan, atau justru menyimpan pengetahuan budaya yang perlahan terancam dilupakan?
'''Bukan Sekadar Makanan'''
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak makan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis. Cara memilih bahan makanan, memasak, menyajikan, dan menikmatinya bersama orang lain merupakan bagian dari kebudayaan.
Antropolog Indonesia Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kebudayaan mencakup sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan masyarakat. Dengan kerangka tersebut, makanan tradisional dapat ditempatkan sebagai bagian dari kebudayaan karena pengetahuan tentang makanan diperoleh melalui proses sosial dan diwariskan antargenerasi.
Kaddo Minyak berada dalam ruang tersebut. Pengetahuan mengenai bahan, teknik pengolahan, rasa, waktu penyajian, dan siapa yang biasanya terlibat dalam pembuatannya tidak selalu ditemukan dalam buku resep. Sebagian justru hidup dalam ingatan keluarga, Seorang ibu mengajarkan anaknya memasak. Seorang nenek mengajarkan cucunya mengenali rasa. Seorang anggota keluarga yang lebih tua menjelaskan kapan hidangan tersebut biasa disajikan. Proses sederhana itu sesungguhnya merupakan proses transmisi budaya.
'''Dapur sebagai Ruang Komunikasi Budaya'''
Ada kecenderungan menganggap komunikasi hanya terjadi ketika seseorang berbicara kepada orang lain. Padahal, komunikasi juga berlangsung melalui simbol, tindakan, benda, kebiasaan, dan ritual sosial,
Edward T. Hall dalam ''The Silent Language'' (1959) menunjukkan pentingnya unsur-unsur nonverbal dalam kehidupan budaya. Cara manusia menggunakan ruang, waktu, benda, dan perilaku sehari-hari dapat menyampaikan pesan sosial.
Dari sudut pandang ini, Kaddo Minyak dapat dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi nonverbal. Ketika seseorang menyiapkan makanan untuk orang lain, tindakan tersebut menyampaikan pesan tertentu. Makanan menjadi medium, sementara hubungan sosial menjadi konteks pesannya, Tuan rumah mungkin tidak mengatakan, “Kami menghormati kedatangan Anda.” Tetapi dengan menyiapkan makanan, menghidangkannya, dan mempersilakan tamu makan, pesan penghormatan itu telah dikomunikasikan.
Karena itu, dapur bukan hanya tempat memasak. Ia juga dapat menjadi ruang komunikasi budaya. Di sana terjadi percakapan, pembagian pekerjaan, pengajaran, pengamatan, dan pewarisan pengalaman.
'''Resep yang Tidak Selalu Tertulis'''
Salah satu karakter menarik makanan tradisional adalah pengetahuannya sering kali diwariskan secara lisan dan melalui praktik, “Takaran secukupnya”, “minyak jangan terlalu banyak”, atau “tunggu sampai aromanya keluar” mungkin terdengar sederhana bagi orang luar. Namun bagi orang yang telah lama memasak, kalimat-kalimat itu mengandung pengetahuan praktis yang diperoleh melalui pengalaman.
Antropolog James P. Spradley dalam ''The Ethnographic Interview'' (1979) menekankan pentingnya memahami pengetahuan budaya sebagaimana dipahami oleh anggota masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, penelitian mengenai Kaddo Minyak sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan tentang bahan dan resep, tetapi juga menggali makna yang diberikan masyarakat terhadap makanan tersebut.
Pertanyaan tersebut dapat menghasilkan informasi mengenai perubahan resep sekaligus memperlihatkan bagaimana pengetahuan kuliner berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
'''Dari Beras Menjadi Identitas'''
Beras memiliki posisi penting dalam kehidupan banyak masyarakat agraris di Indonesia. Ia bukan hanya bahan makanan, tetapi berkaitan dengan pekerjaan, rumah tangga, ekonomi, dan hubungan sosial.
Kaddo Minyak kemudian memperoleh makna melalui cara masyarakat menggunakannya dalam kehidupan sosial. Ketika makanan disajikan dalam sebuah acara, konteks tersebut ikut memberikan makna terhadap makanan.
Clifford Geertz dalam ''The Interpretation of Cultures'' (1973) memandang kebudayaan sebagai jaringan makna yang dibangun dan ditafsirkan manusia. Pendekatan tersebut membantu melihat bahwa sebuah makanan tidak berdiri sendiri. Makna makanan muncul dari hubungan antara makanan, manusia, situasi, dan simbol-simbol sosial di sekitarnya.
Karena itu, meneliti Kaddo Minyak hanya dari rasa akan membuat sebagian besar ceritanya hilang. Yang menarik justru adalah apa yang terjadi di sekelilingnya: siapa yang memasak, siapa yang makan, kapan disajikan, mengapa dibuat, dan hubungan sosial apa yang terbentuk setelah orang-orang duduk bersama.
'''Ketika Makanan Menjadi Tanda Penghormatan'''
Dalam banyak kebudayaan, jamuan makan memiliki fungsi sosial yang kuat. Makanan dapat menjadi cara menyambut tamu sekaligus memperlihatkan hubungan antara tuan rumah dan orang yang datang.
Kaddo Minyak dalam konteks tertentu dapat menjalankan fungsi tersebut. Ketika dihidangkan kepada tamu atau keluarga yang berkumpul, makanan tidak hanya dipindahkan dari dapur ke ruang makan. Bersamaan dengan itu, berpindah pula pesan keramahan.
Dalam perspektif komunikasi budaya, tindakan menyuguhkan makanan dapat disebut sebagai komunikasi simbolik. Pesannya tidak selalu diucapkan, tetapi dipahami melalui tindakan.
'''Kaddo Minyak dalam Acara Keluarga dan Keagamaan'''
Kapan Kaddo Minyak disuguhkan? Jawabannya tidak dapat dibuat seragam untuk semua masyarakat Bugis dan Makassar, Tradisi makanan sangat dipengaruhi oleh wilayah, keluarga, dan komunitas. Dalam lingkungan tertentu, Kaddo Minyak dapat disiapkan untuk acara keluarga, syukuran, pertemuan kerabat, jamuan tamu, atau kegiatan masyarakat. Pada komunitas tertentu, makanan tradisional juga dapat muncul dalam kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan.
Karena itu, informasi mengenai waktu dan acara penyajian perlu diperoleh dari masyarakat yang memang menjalankan tradisi tersebut.
“Dalam acara apa saja Kaddo Minyak biasanya disiapkan di kampung atau lingkungan ini? Apakah ada makna khusus ketika makanan tersebut disajikan?”
Pembedaan ini penting. Kaddo Minyak tidak perlu ditempatkan sebagai bagian dari kewajiban agama. Jika disajikan dalam kegiatan keagamaan, ia lebih tepat dipahami sebagai bagian dari praktik budaya dan sosial masyarakat yang berjalan berdampingan dengan kehidupan keagamaan.
'''Syukur, Berbagi, dan Silaturahmi'''
Makanan yang dibagikan kepada orang lain dapat memiliki makna sosial dan religius sekaligus. Dalam konteks masyarakat Muslim, berbagi makanan dapat berkaitan dengan nilai syukur, sedekah, dan silaturahmi. Namun, makna tersebut perlu ditempatkan sebagai interpretasi sosial-keagamaan masyarakat, bukan sebagai ketentuan agama yang secara khusus melekat pada Kaddo Minyak.
Di sinilah budaya lokal dan agama dapat bertemu dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah kegiatan masyarakat dapat memiliki unsur doa, pertemuan keluarga, makan bersama, dan percakapan dalam satu rangkaian acara.
Makanan menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai unsur tersebut.
'''Cara Membuat: Tradisi yang Hidup di Tangan'''
Secara umum, Kaddo Minyak berbahan dasar beras atau nasi yang dipadukan dengan minyak dan bumbu sesuai tradisi setempat. Komposisi dan teknik pembuatannya dapat berbeda antar wilayah maupun antar keluarga.
Beras dibersihkan dan dimasak. Bumbu dipersiapkan dan diolah bersama minyak, kemudian dipadukan dengan nasi sesuai teknik yang diwariskan. Detail resep perlu dikonfirmasi melalui pelaku tradisi karena variasi lokal merupakan bagian dari karakter makanan tradisional,Yang menarik bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses pembuatannya. Di dapur, seseorang dapat belajar tanpa mengikuti kelas formal. Ia melihat, meniru, mencoba, gagal, memperbaiki, kemudian pada suatu saat mampu memasak sendiri,Itulah pendidikan budaya yang berlangsung secara informal.
'''Dari Generasi ke Generasi'''
Kebudayaan dapat bertahan karena diwariskan. Tetapi pewarisan bukan berarti selalu dilakukan dengan cara yang sama.
Generasi muda mungkin memasak menggunakan kompor modern, menggunakan takaran digital, mendokumentasikan proses memasak dengan telepon genggam, bahkan membagikannya melalui media sosial. Teknologinya berubah, tetapi praktik budaya dapat tetap dilanjutkan.
Dalam konteks inilah konsep ''intangible cultural heritage'' atau warisan budaya takbenda menjadi relevan. UNESCO menempatkan praktik, pengetahuan, keterampilan, serta ekspresi budaya yang diwariskan antargenerasi sebagai bagian dari warisan budaya takbenda apabila komunitas mengakui dan terus mempraktikkannya.
Kaddo Minyak dapat dipandang dari perspektif tersebut sebagai praktik kuliner yang memiliki potensi nilai warisan budaya, tetapi status atau pengakuan resmi tertentu tentu membutuhkan dokumentasi dan verifikasi tersendiri.
'''Tantangan di Tengah Kuliner Modern'''
Makanan tradisional kini berhadapan dengan perubahan gaya hidup. Makanan cepat saji semakin mudah diperoleh. Waktu keluarga untuk memasak bersama semakin terbatas. Anak-anak muda lebih sering mengenal kuliner melalui platform digital daripada melalui dapur keluarga.
Perubahan itu tidak selalu berarti tradisi harus hilang. Sebaliknya, ruang digital dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikannya.
Video seorang nenek yang sedang memasak Kaddo Minyak, misalnya, bukan hanya konten kuliner. Jika direkam dengan wawancara yang baik, video tersebut dapat menjadi dokumentasi sejarah lisan. Di dalamnya terdapat resep, dialek, cerita keluarga, nama bahan, pengalaman masa lalu, dan konteks sosial.
Dengan demikian, teknologi dapat menjadi jembatan antara tradisi lama dan generasi baru.
'''Kearifan Lokal di Atas Meja Makan'''
Kearifan lokal sering kali dibicarakan dalam konteks besar: lingkungan, pertanian, adat, atau sistem pengetahuan masyarakat. Padahal, ia juga dapat ditemukan dalam praktik sehari-hari.
Makanan mengajarkan tentang berbagi. Memasak bersama mengajarkan kerja sama. Menjamu tamu mengajarkan penghormatan. Mengajarkan resep kepada anak mengajarkan tanggung jawab terhadap warisan keluarga, Dalam konteks tersebut, Kaddo Minyak memperlihatkan bahwa kearifan lokal tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat atau petuah. Ia dapat hadir dalam tindakan yang berulang setiap hari.
'''Ketika Tradisi Menjadi Cerita Media'''
Bagi media massa, Kaddo Minyak bukan hanya cerita tentang makanan. Ia adalah pintu masuk untuk membicarakan identitas, perubahan sosial, komunikasi antargenerasi, dan keberlanjutan budaya, Feature journalism memiliki kekuatan pada cerita manusia. Karena itu, artikel mengenai Kaddo Minyak akan lebih kuat jika menghadirkan sosok nyata: seorang ibu yang masih memasak resep warisan ibunya, seorang nenek yang menjadi penjaga resep keluarga, seorang anak muda yang mencoba mendokumentasikan makanan tersebut, atau seorang budayawan yang melihat perubahan tradisi dari masa ke masa.
'''Sepiring Makanan, Sejumlah Pesan'''
Pada akhirnya, Kaddo Minyak tidak hanya berbicara tentang apa yang dimakan masyarakat Bugis-Makassar. Ia juga berbicara tentang bagaimana masyarakat berkomunikasi, mengingat masa lalu, membangun hubungan, dan meneruskan identitas, Sebuah piring yang dihidangkan kepada tamu dapat berarti penghormatan. Sebuah dapur yang dipenuhi anggota keluarga dapat menjadi ruang pewarisan pengetahuan. Sebuah resep yang diajarkan seorang nenek kepada cucunya dapat menjadi bentuk komunikasi antargenerasi. Sementara sebuah acara makan bersama dapat menjadi ruang untuk memperkuat kembali hubungan sosial.
Kaddo Minyak dengan demikian dapat dibaca sebagai “bahasa” budaya yang menggunakan makanan sebagai medianya. Bahasanya tidak selalu berupa kata-kata, tetapi hadir melalui rasa, aroma, cara memasak, cara menyajikan, dan siapa yang duduk bersama di meja makan.
Dan mungkin di situlah kekuatan makanan tradisional: ia tidak hanya mengisi perut, tetapi juga mengisi ingatan, Selama resep masih diwariskan, selama dapur masih menjadi tempat orang tua mengajarkan anaknya, dan selama makanan masih digunakan untuk menyambut serta mengikat hubungan antarmanusia, Kaddo Minyak akan terus memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat, Sebab sebuah tradisi tidak hidup karena ia pernah ada.
Tradisi hidup karena masih ada manusia yang memilih untuk mengulanginya, memaknainya, dan menceritakannya kembali.
'''Bahan Pustaka'''
'''Geertz, Clifford.''' (1973). ''The Interpretation of Cultures: Selected Essays''. New York: Basic Books..
'''Hall, Edward T.''' (1959). ''The Silent Language''. Garden City, New York: Doubleday.
'''Koentjaraningrat.''' (2009). ''Pengantar Ilmu Antropologi''. Jakarta: Rineka Cipta.
'''Spradley, James P.''' (1979). ''The Ethnographic Interview''. New York: Holt, Rinehart and Winston.
'''UNESCO.''' ''Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage'' (2003).
'''Kriyantono, Rachmat.''' (2014). ''Teknik Praktis Riset Komunikasi''. Jakarta: Kencana.
h7eb75vkiou3msg1huzldsh28ycqkjb