Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.21 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Resep:Katimus 100 23506 120348 120168 2026-09-28T05:14:58Z Radramboo 39183 120348 wikitext text/x-wiki [[File:Ketimus.jpg|thumb|Ktimus]] '''Katimus''' adalah salah satu kue tradisional khas Sunda. Kue ini terbuat dari bahan utama yaitu singkong parut, kelapa parut, dan gula merah. Makanan ini biasanya dihidangkan pada acara-acara tertentu seperti tahlilan, mauludan, dan sebagainya. Berikut ini merupakan resep membuat katimus. == Bahan == * ½ kg singkong yang telah diparut * 100 gram kelapa yang telah diparut * 100 gram gula merah * 25 gram gula pasir * 1 sdt garam * ¼ sdt vanili * 1 lembar daun pandang yang telah dipotong-potong * Daun pisang secukupnya == Cara Membuat == # Siapkan semua bahan. # Campurkan semua bahan mulai dari singkong parut, kelapa parut, gula merah, gula pasir, garam, dan vanili. Lalu aduk hingga merata. # Potong daun pisang sesuai porsi yang diinginkan, lalu alasi dengan daun pandan. # Tempatkan tiga sendok makan adonan singkong yang telah dicampur tadi, lalu bungkus dengan rapi. # Kukus adonan selama 20 menit hingga matang. # Katimus siap dihidangkan. == Referensi == {{Reflist}} [[Kategori:WikiRenjana]] [[Kategori:WikiRenjana-Raflinoer32]] [[Kategori:Jajanan Sunda]] [[Kategori:DanaWiki2023]] r0bwfji9dpgron9qrx58e8qm0nzre2b Jelajah Wisata Makassar 0 26786 120353 120225 2026-09-28T06:29:52Z Iripseudocorus 39602 120353 wikitext text/x-wiki <div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya. Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div> # [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]] # [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Kayangan|Pulau Kayangan]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Barrang Lompo|Pulau Barrang Lompo]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona|Pulau Samalona]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]] # [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]] ## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf|Makam Syekh Yusuf]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo|Kompleks Makam Raja-Raja Tallo]] #[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi|Objek Wisata Religi]] ##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah|Masjid 99 Kubah]] ##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid Al-Markaz Al-Islami|Masjid Al-Markaz Al-Islami]] a6gd5tqdctuwacvp4dckh1tnt9hs7ni 120358 120353 2026-09-28T06:56:25Z Iripseudocorus 39602 120358 wikitext text/x-wiki <div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya. Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div> # [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]] # [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Barrang Lompo|Pulau Barrang Lompo]] ## Pulau Kayangan ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae|Pulau Lae-Lae]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona|Pulau Samalona]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]] # [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]] ## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf|Makam Syekh Yusuf]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo|Kompleks Makam Raja-Raja Tallo]] #[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi|Objek Wisata Religi]] ##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah|Masjid 99 Kubah]] ##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid Al-Markaz Al-Islami|Masjid Al-Markaz Al-Islami]] fz4sy6paikfsd5vvd0mhq462fahi1oi 120359 120358 2026-09-28T06:56:45Z Iripseudocorus 39602 120359 wikitext text/x-wiki <div style="text-align:center;font-size:2em;width:100%;font-variant:Small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">{{bl|'''Jelajah Wisata Makassar'''}}</div><div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Prakata'''</div>Kota Makassar tidak hanya menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, melainkan juga berada pada posisi strategis pada lintasan kawasan Indonesia Timur. Kondisi tersebut memungkinkan banyak pengunjung untuk hadir menikmati suasana Kota Makassar. Namun, tidak sedikit yang menyuarakan kesulitan menemui objek wisata di Kota Makassar dan akhirnya beralih melancong ke kabupaten sekitarnya. Buku ini merupakan karya kolaboratif yang disusun untuk menambah wawasan dan minat masyarakat Makassar dalam mengeksplorasi keunikan wisata di daerahnya, sekaligus untuk mengenalkan kepada pembaca dari daerah lain terkait objek wisata di kota Makassar . <div style="text-align:center;font-size:1.3em;width:100%;font-variant:small-caps;color:#100999;border-bottom: 2px solid #100999;">'''Daftar Isi'''</div> # [[Jelajah Wisata Makassar/Mengenal Kota Makassar|Mengenal Kota Makassar]] # [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar|Objek Wisata Alam di Kota Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Pantai Akkarena|Pantai Akkarena]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Barrang Lompo|Pulau Barrang Lompo]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Kayangan|Pulau Kayangan]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae|Pulau Lae-Lae]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Samalona|Pulau Samalona]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Ekowisata Mangrove Lantebung|Ekowisata Mangrove Lantebung]] # [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar|Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Benteng Rotterdam|Benteng Rotterdam]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum La Galigo|Museum La Galigo]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Museum Kota Makassar|Museum Kota Makassar]] ## [[Makam Pangeran Diponegoro di Makassar]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf|Makam Syekh Yusuf]] ## [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo|Kompleks Makam Raja-Raja Tallo]] #[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi|Objek Wisata Religi]] ##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid 99 Kubah|Masjid 99 Kubah]] ##[[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Religi/Masjid Al-Markaz Al-Islami|Masjid Al-Markaz Al-Islami]] ma58hoofaki5nherjfloigky1xg1da7 Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Barrang Lompo 0 28509 120354 120293 2026-09-28T06:31:17Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Pulau Barrang Lompo]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Barrang Lompo]] 120293 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Tridacna sp in Barrang Lompo Island.jpg|jmpl|Pulau Barrang Lompo]] Pulau Barrang Lompo merupakan salah satu pulau yang eksotis dengan keindahan pantainya yang sangat indah. Untuk berkunjung ke pulau ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, dan pulau ini memiliki dua dermaga yang yang merupakan tempat bersandarnya perahu yanng dijadikan sebagai transportasi untuk berkunjung ke pulau ini. Pulau Barrang Lompo sebagian besar didominasi dengan pasir putih dan memiliki banyak terumbu karang yang cantik, pulau ini juga merupakan salah satu pulau yang dikenal dengan pulau yang sangat jernih, dengan kejernihan air yang ada dipulau ini, masyarakat dan pengunjung pulau ini bisa menikmati keindahan bawah laut secara langsung tanpa harus menyelam ke dasar laut pulau ini. pulau ini juga memiliki salah satu alternatif transportasi khusus yang biasanya digunakan oleh masyarakat setempat di pulau ini, dan kendaraan ini bisa juga digunakan oleh pengunjung pulau ini untuk mengelilingi keindahan pulau ini dan hanya mengenakan tarif 5 rb rupiah dan dengan tarif yang murah ini sudah bisa mengelelilingi pulau ini sebanyak 3 putaran. Masyarakat di Pulau ini sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan, karena masyarakat di Pulau ini sangat bergantung pada hasil laut dan tradisi maritim yang turun-menurun. Salah satu hal yang membuat Pulau ini juga istimewa adalah keindahan pemandangan langit sore yang sangat indah sambil menyaksikan aktivitas para nelayan di sekitar pulau ini. == Referensi == # [https://www.celebes.co/pulau-barrang-lompo Pulau Barrang Lompo, Pulau Cantik yang Menawan Hati di Makassar - Celebes ID] diakses 27-09-2026 # [https://liburanplus.com/wisata/sulawesi/pulau-barrang-lompo/ Pulau Barrang Lompo: Surga Tersembunyi di Sulawesi Selatan] diakses 27-09-2026 # https://rri.co.id/makassar/wisata/2600221/barrang-lompo-pulau-bersejarah-dengan-pesona-bahari-di-makassar diakses 27-09-2026 9sqpm7nva84g25srhg8xwh2bt2vjvg6 Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf 0 28515 120363 120230 2026-09-28T07:01:57Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Syech yusuf]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf]] 120230 wikitext text/x-wiki '''Makam Syekh Yusuf Tuanta Salamaka'''  merupakan salah satu destinasi wisata religi dan sejarah terkemuka di Sulawesi Selatan, terletak di Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Situs ini merupakan peraduan terakhir dari Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–1699), ulama besar, pejuang anti-kolonial, serta Pahlawan Nasional Indonesia yang juga dihormati hingga Afrika Selatan. '''Daya Tarik Utama''' '''Wisata Spiritual & Ziarah:''' Kompleks makam ini senantiasa ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara (seperti Afrika Selatan dan Malaysia) untuk memanjatkan doa, merenungi keteladanan ulama besar, dan berzikir. '''Arsitektur Khas & Nilai Sejarah:''' Bangunan kubah makam menampilkan perpaduan arsitektur lokal Makassar dan corak Islami. Di area kompleks ini juga terdapat makam istri beliau, Daeng Visaya, serta kerabat Kerajaan Gowa. '''Jejak Lintas Benua:''' Syekh Yusuf dikenal sebagai pahlawan dua negara. Setelah diasingkan oleh Belanda ke Afrika Selatan, beliau menyebarkan Islam di sana hingga diangkat menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Afrika Selatan. '''Informasi Kunjungan''' {| class="wikitable" |'''Kategori''' |'''Detail''' |- |Lokasi |Jl. Syekh Yusuf, Katangka, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa |- |Aksesibilitas |Berjarak sekitar 10–12 km dari pusat Kota Makassar (±30 menit perjalanan) |- |Waktu Operasional |Terbuka setiap hari untuk umum |- |Etika Kunjungan |Berpakaian sopan dan menutup aurat, menjaga ketenangan, serta menjaga kebersihan kompleks makam |} '''''Sisi Budaya dan Religi dari Makam Syech Yusuf''''' Nilai budaya dan religi dari kompleks Makam Syekh Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, tercermin dari tradisi ziarah, penghormatan terhadap tokoh pahlawan, serta kearifan lokal masyarakat setempat. '''Pusat Wisata Religi dan Doa:''' Makam Syekh Yusuf—yang dikenal sebagai ''Tuanta Salamaka'' (Tuan Guru yang Menyelamatkan)—menjadi tempat peziarah memanjatkan doa, mengenang kematian, serta merefleksikan ajaran Islam. '''Teladan Sufisme dan Moral:''' Syekh Yusuf al-Makassari adalah ulama besar dan sufi yang menyebarkan ajaran tauhid dan tasawuf (seperti konsep kedekatan dengan Allah). Nilai keteguhan iman dan toleransi dari ajarannya menjadi inspirasi keagamaan yang kuat. '''Tradisi Spiritual dan Perdebatan Hukum:''' Terdapat praktik keagamaan seperti bernazar atau memohon hajat yang diiringi keyakinan akan berkah (''karamah'') dari sang wali. Dalam pandangan Islam, sebagian ulama membolehkannya selama doa dan harapan tetap disandarkan kepada Allah SWT, sementara sebagian mengingatkan agar tidak menyimpang dari akidah '''Tradisi Siklus Hidup:''' Makam Syekh Yusuf menjadi bagian integral dari fase penting kehidupan masyarakat Makassar. Ada tradisi kultural di mana '''pengantin baru''', orang yang akan/baru pulang '''naik haji''', atau keluarga yang menggelar akikah merasa perlu berziarah. Mereka datang untuk melepaskan ''nazar'' (janji spiritual) atau memohon keberkahan. '''Ritual Ziarah Musiman (Jelang Ramadan & Lebaran):''' menjelang bulan Ramadhan dan saat lebaran masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat kabupaten Gowa melakukan ziarah  secara besar-besaran. Makam akan dipadati ribuan peziarah dari berbagai daerah sebagai bentuk penghormatan dan pengingat spiritual. Hal tersebut sudah menjadi tradisi bagi masyarakat sekitar ataupun masyarakat Kabupaten Gowa. '''Nilai Sejarah Perjuangan Lintas Benua''' * '''Pahlawan Dua Negara:''' Makam ini menjadi peristirahatan terakhir seorang tokoh besar yang diakui sebagai Pahlawan Nasional di Indonesia sekaligus Afrika Selatan. * '''Saksi Bisu Diplomasi & Spiritualitas:''' Keberadaan makam ini menjadi bukti perjalanan panjang perjuangan anti-kolonial serta penyebaran Islam dari Nusantara hingga Benua Afrika. '''2. Pusat Ziarah Religi dan Spiritualitas''' * '''Daya Tarik Internasional:''' Kompleks makam ini ramai dikunjungi peziarah, tidak hanya dari berbagai wilayah Nusantara, tetapi juga dari mancanegara (seperti Afrika Selatan, Malaysia, dan negara-negara Timur Tengah). * '''Atmosfer Kekhusyukan:''' Area kubah (''kobbang'') menyajikan suasana yang tenang dan religius bagi peziarah yang ingin berzikir, membaca Al-Qur'an, dan merenungi keteladanan Sang Syekh. '''3. Keunikan Arsitektur dan Cagar Budaya''' * '''Perpaduan Budaya Lokal dan Islami:''' Bangunan kubah utama (''kobbang'') yang menaungi makam memiliki ciri khas arsitektur gabungan corak lokal Makassar dan nuansa Islami klasik. * '''Integrasi dengan Situs Bersejarah:''' Kompleks makam berada di area bernilai sejarah tinggi dan berdekatan langsung dengan Masjid Tua Al-Hilal KatangkaKlik untuk membuka panel samping guna melihat informasi selengkapnya, salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan. '''4. Lokasi Strategis dan Aksesibilitas Mudah''' * '''Dekat dengan Pusat Kota:''' Berada di kawasan Katangka, Somba Opu, lokasi ini sangat mudah dijangkau dari pusat Kota Makassar maupun Sungguminasa, Gowa. * '''Fasilitas Pendukung Lengkap:''' Didukung oleh infrastruktur jalan yang baik, area parkir, serta kedekatan dengan fasilitas publik seperti Masjid Agung Syekh YusufKlik untuk membuka panel samping guna melihat informasi selengkapnya dan Lapangan Syekh YusufKlik untuk membuka panel samping guna melihat informasi selengkapnya. '''Biografi dan Perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari''' Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani lahir di Moncoloe, Gowa pada 3 Juli 1626. Beliau adalah ulama besar Sufi, pejuang anti-kolonial, serta Pahlawan Nasional Indonesia dan Afrika Selatan. '''1. Pendidikan dan Perjalanan Keilmuan''' '''Awal Hayat & Sulawesi Selatan:''' Mempelajari agama Islam sejak kecil di Kesultanan Gowa di bawah bimbingan para ulama terkemuka, seperti Daeng Ri Tasammang dan Sayyid Ba Alawi bin Abdul Allah '''Rihlah Ilmiah ke Timur Tengah:''' Pada usia 18 tahun (1644), beliau berangkat ke Nusantara bagian barat dan Timur Tengah untuk memperdalam ilmu agama: '''Banten & Aceh:''' Berguru kepada Syekh Nuruddin Al-Raniri. '''Yaman, Makkah, Madinah, & Damaskus:''' Mempelajari tasawuf, hadis, dan fiqih dari ulama-ulama besar dunia Islam serta memperoleh ijazah berbagai tarekat, terutama Tarekat Khalwatiyah. '''2. Perjuangan Anti-Kolonial di Nusantara''' * '''Pusat Pergerakan di Banten:''' Sekembalinya dari Arab (sekitar 1672), beliau tidak langsung ke Gowa melainkan menetap di Kesultanan Banten atas undangan Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau diangkat menjadi penasihat kesultanan dan mufti Banten. * '''Gerilya Melawan VOC:''' Ketika Perang Banten pecah (1682–1683), Syekh Yusuf memimpin pasukan gerilya bersama Pangeran Purbaya melawan pasukan VOC Belanda. * '''Penangkapan:''' Setelah perang sengit bergerilya di hutan-hutan Jawa Barat, VOC berhasil menangkap beliau pada akhir tahun 1683 melalui tipu muslihat penjebakan. '''3. Pengasingan dan Penyebaran Islam Lintas Benua''' * '''Pengasingan ke Sri Lanka (1684–1693):''' Karena pengaruhnya yang sangat besar di kalangan umat Islam Nusantara, Belanda mengasingkan Syekh Yusuf ke Ceylon (Sri Lanka). Di sana, beliau tetap mengajar dan berkomunikasi dengan para jamaah haji serta raja-raja Nusantara melalui surat-menyurat. * '''Pengasingan ke Afrika Selatan (1693–1699):''' VOC menganggap Sri Lanka masih terlalu dekat dengan Indonesia, lalu memindahkan Syekh Yusuf ke Zandvliet (sekarang Macassar, Cape Town), Afrika Selatan. * '''Bapak Islam di Afrika Selatan:''' Di Afrika Selatan, beliau menyebarkan ajaran Islam kepada para budak dan masyarakat lokal. Komunitas yang didirikannya menjadi cikal bakal komunitas Muslim Afrika Selatan. '''Akhir Hayat dan Pengakuan Dunia''' Syekh Yusuf wafat di Macassar, Cape Town, pada 23 Mei 1699 di usia 72 tahun. Jenazahnya kemudian dibawa kembali dan dimakamkan di Katangka, Kabupaten Gowa, pada tahun 1705. Atas jasa-jasanya yang melintas batas benua, beliau dianugerahi gelar '''Pahlawan Nasional Indonesia''' pada tahun 1995 dan penghargaan penghargaan tertinggi '''''Order of the Companions of OR Tambo (Gold)''''' oleh Pemerintah Afrika Selatan yang diserahkan oleh Presiden Thabo Mbeki kepada keturunan beliau. s2cw1lmxmwr7iu97jzhjapiqxpw0tny Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae 0 28516 120360 120286 2026-09-28T06:57:33Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Pulau Lae lae]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae]] 120286 wikitext text/x-wiki Makassar merupakan salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang membentang rapih dengan pesona daya tarik keindahan  alam bahari. Terdapat beberapa pulau yang menyajikan keindahan dan keunikan masing-masing. Beberapa pulau seperti, Pulau Samalona, Pulau Kodingarengkeke, Pulau Gusung dan Pulau Lae-Lae. Kawasan bahari ini juga dikenal dengan kawasan supermonde yang dikelilingi oleh terumbu karang. Mengunjungi Pulau ini kita dapat menyebrang melalui dermaga Kayu Bangkoa yang terlrysj depan Benteng Fort Roterdam. Pulau Lae-Lae merupakan salah satu tujuan destinasi wisata bahari yang memang sangat menarik untuk di kunjungi bersama keluarga, kerabat dan teman teman. Pulau Lae-lae mempunyai luas sekitar 6,5 hektar dengan 440 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa. Pulau Lae-lae salah satu pulau yang mempunyai banyak penghuni, sehingga akftitas kehidupan disana terjadi dengan berbagai macam ciri khas nya. Kehidupan sosial di pulau ini memliki keterkaitan dengan kondisi budaya. Mata pencaharian penduduk di pulau ini rata-rata bermata pencaharian nelayan. Destinasi wisata Bahari Pulau Lae-lae memiliki keindahan pasir putih yang sangat memukai. di Pulau ini juga kita dapat menikmati matahari tenggelam (sun set). Pulau ini juga mempunyai jejak-jejak sejarah dan arkeologi yang dapat di telusuri dan di eksplore lebih jauh. Adanya Bunker peninggalan sejarah yaitu Jepang sehingga membuat keunikan sendiri. beberapa fasilitas yang dapat kita nikmati di pulau ini berupa gazebo, dan jasa beli dan ikan. 3pozaspkz9dmvyj3xf485x4wwts5lhr 120362 120360 2026-09-28T06:59:14Z Iripseudocorus 39602 120362 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Zoanthus sp, Pulau Lae.jpg|jmpl|Kenampakan Bawah Laut Pulau Lae]] Makassar merupakan salah satu daerah kepulauan di Indonesia yang membentang rapih dengan pesona daya tarik keindahan  alam bahari. Terdapat beberapa pulau yang menyajikan keindahan dan keunikan masing-masing. Beberapa pulau seperti, Pulau Samalona, Pulau Kodingarengkeke, Pulau Gusung dan Pulau Lae-Lae. Kawasan bahari ini juga dikenal dengan kawasan supermonde yang dikelilingi oleh terumbu karang. Untuk mengunjungi pulau ini kita dapat menyebrang melalui dermaga Kayu Bangkoa yang terlrysj depan Benteng Fort Roterdam. Pulau Lae-Lae merupakan salah satu tujuan destinasi wisata bahari yang memang sangat menarik untuk di kunjungi bersama keluarga, kerabat dan teman teman. Pulau Lae-lae mempunyai luas sekitar 6,5 hektar dengan 440 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 2000 jiwa. Pulau Lae-lae salah satu pulau yang mempunyai banyak penghuni, sehingga akftitas kehidupan disana terjadi dengan berbagai macam ciri khas nya. Kehidupan sosial di pulau ini memliki keterkaitan dengan kondisi budaya. Mata pencaharian penduduk di pulau ini rata-rata bermata pencaharian nelayan. Destinasi wisata Bahari Pulau Lae-lae memiliki keindahan pasir putih yang sangat memukai. di Pulau ini juga kita dapat menikmati matahari tenggelam (sun set). Pulau ini juga mempunyai jejak-jejak sejarah dan arkeologi yang dapat di telusuri dan di eksplore lebih jauh. Adanya Bunker peninggalan sejarah yaitu Jepang sehingga membuat keunikan sendiri. beberapa fasilitas yang dapat kita nikmati di pulau ini berupa gazebo, dan jasa beli dan ikan. 7vznbs8cjhh2x5gxc6mxt4320wsbwsk Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo 0 28526 120349 120255 2026-09-28T06:24:18Z Iripseudocorus 39602 Merapikan layout 120349 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Makam Raja-Raja Tallo-8.jpg|jmpl]] Kompleks Makam Raja-Raja Tallo adalah situs cagar budaya tempat peristirahatan terakhir para penguasa dan bangsawan Kesultanan Tallo, yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kompleks Makam Raja-Raja Tallo berada di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar, di dalam area bekas Benteng Tallo dekat muara Sungai Tallo. == Sejarah singkat == Situs ini memuat sekitar 81 makam dari abad ke-17 hingga ke-19. Tempat ini menjadi saksi kejayaan Kerajaan Tallo dan masuknya Islam, di mana Raja Tallo ke-14 yaitu I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Sultan Abdullah Awwalul Islam) menjadi raja pertama di wilayah tersebut yang memeluk Islam. == Arsitektur Makam == Terdapat tiga tipe bentuk bangunan makam di kawasan ini, yaitu: Kubang: Susunan balok batu persegi untuk makam raja atau pembesar. Papan batu: Bentuk menyerupai papan persegi panjang dari batu. Kubah: Bangunan beratap melengkung yang menaungi makam di bawahnya. == Fasilitas & Penataan: == Area makam kini ditata rapi menyerupai taman yang asri dan dilengkapi dengan pemindaian kode QR (QR Code) pada beberapa makam penting untuk memudahkan pengunjung membaca informasi sejarahnya. Terdapat 81 buah makam dalam keadaan utuh maupun yang sudah rusak. Kompleks makam tersebut adalah kumpulan keluarga bangsawan dan raja Kerajaan Tallo. Adapun raja-raja petinggi dan Kerajaan Tallo yang dimakam adalah raja Tallo ke-7 (1598-1641), raja Tallo ke-9, raja Tallo ke-12 (1770-1778), raja Tallo ke-13, dan raja Tallo ke-15 yang pernah menjadi raja Gowa ke-30 (1811-1825). Secara historis raja yang pertama kali memeluk agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo adalah I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka pada tanggal 22 September 1605 bertepatan pada malam jumat, 9 jumadil awal 1014, dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Setelah itu disusul oleh raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabia, dengan gelar Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa hampir memeluk agam Islam yang ditandai dengan upacara salat jumat bersama yang dipertama kali dilaksanakan di Mesjid Tallo pada tanggal 9 November 1607. Dalam waktu yang bersamaan di Bandar Makassar, pedagang-pedagang Melayu dan orang-orang Makassar sudah memeluk agama Islam di Benteng Somba Opu dengan melaksanakan salat jumat di Masjid Mangalekana. Komplek makam raja-raja Tallo berada di sudut sebelah timur laut dalam lingkup benteng Tallo. Namun, benteng Tallo itu saat ini hanya dapat ditemui sisa-sisanya saja pada sisi barat, utara dan selatan. Sedangkan, di dalam areal benteng, kecuali makam, telah dijadikan sebagai lahan hunian penduduk setempat. Kerajaan Tallo adalah salah satu kerajaan yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan yang merupakan hasil dari pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa yang dilakukan oleh Raja Gowa ke VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Pembagian ini menghasilkan dua kerajaan yang dikuasai masing- masing oleh putera raja, yaitu Batara Gowa Tuniawanga Ri Paralekkanna sebagai Raja Gowa ke VII (1460) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Ri Seri sebagai raja pertama. Keberadaan Kerajaan Tallo tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Gowa, ini merupakan keunikan. Kerajaan ini memiliki kemampuan dalam menyusun berbagai sistem pemerintahan, termasuk strategi militer. Makam dari raja-raja Tallo tersebut kini lebih dikenal dengan Kompleks Makam Raja-raja Tallo. Dua kerajaan ini kembali bersatu melalui persekutuan pada tahun 1528 dan menghasilkan Kerajaan Makassar yang pernah dipimpin oleh salah satu raja yang termahsyur, Sultan Hasanuddin. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah pusat kerajaan ini sekarang berada di wilayah Kota Makassar dan kabupaten lainnya. Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Raja Tallo telah ada sejak abad XVII dan digunakan sebagai pemakaman kerajaan hingga abad XIX. == Riwayat Penanganan == Pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982 kompleks makam raja-raja Tallo dipugar oleh pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan makam yang dipugar hingga mendekati bentuk aslinya ini sekarang tampak asri, tertata apik dengan pepohonan yang rindang, dan dapat dijadikan sebagai suatu objek wisata budaya. Raja-raja Tallo adalah para penguasa dari Kesultanan Tallo, sebuah kerajaan suku Makassar di Sulawesi Selatan yang berdampingan erat dan kemudian bersatu dengan Kerajaan Gowa. Berikut adalah beberapa raja (Karaeng atau Sultan) yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Tallo: * Karaeng Loe ri Sero: Raja Tallo pertama yang memerintah pada pertengahan abad ke-15 setelah wafatnya Raja Gowa ke-6. * Karaeng Matoaya (I Malingkaang Daeng Manyonri): Raja Tallo yang merangkap sebagai mangkubumi Gowa, dikenal sebagai penguasa Tallo pertama yang masuk Islam (bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan aktif menyebarkan ajaran Islam. * Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo): Raja Tallo ke-7 yang memerintah pada tahun 1598–1641. * Karaeng Pattingalloang: Mangkubumi dan cendekiawan terkenal dari Makassar yang membawa kerajaan pada masa kejayaan bersama Sultan Malikussaid. Beberapa makam terlihat memiliki bentuk menyerupai candi, bertingkat-tingkat dengan 1-3 tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil. Ukurannya beragam mulai dari ukuran besar hingga ukuran kecil. Di puncak makam terdapat 1 atau 2 buah nisan dengan bentuk pipih seperti pedang, atau bulat silindris. Makam-makam ini merupakan milik tokoh-tokoh Kerajaan Tallo, istri para raja, pegawai-pegawai kerajaan, utusan kerajaan tetangga, dan kerabat-kerabat raja. Banyak dari para penguasa dan bangsawan ini dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Tallo yang terletak di Kota Makassar. Saat ini, Makam raja-raja Tallo berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia 812fbnd7iz4rc0yzsk6mkfnzs56wk7k 120350 120349 2026-09-28T06:25:59Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Raja-raja Tallo]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo]] 120349 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Makam Raja-Raja Tallo-8.jpg|jmpl]] Kompleks Makam Raja-Raja Tallo adalah situs cagar budaya tempat peristirahatan terakhir para penguasa dan bangsawan Kesultanan Tallo, yang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kompleks Makam Raja-Raja Tallo berada di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Makassar, di dalam area bekas Benteng Tallo dekat muara Sungai Tallo. == Sejarah singkat == Situs ini memuat sekitar 81 makam dari abad ke-17 hingga ke-19. Tempat ini menjadi saksi kejayaan Kerajaan Tallo dan masuknya Islam, di mana Raja Tallo ke-14 yaitu I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka (Sultan Abdullah Awwalul Islam) menjadi raja pertama di wilayah tersebut yang memeluk Islam. == Arsitektur Makam == Terdapat tiga tipe bentuk bangunan makam di kawasan ini, yaitu: Kubang: Susunan balok batu persegi untuk makam raja atau pembesar. Papan batu: Bentuk menyerupai papan persegi panjang dari batu. Kubah: Bangunan beratap melengkung yang menaungi makam di bawahnya. == Fasilitas & Penataan: == Area makam kini ditata rapi menyerupai taman yang asri dan dilengkapi dengan pemindaian kode QR (QR Code) pada beberapa makam penting untuk memudahkan pengunjung membaca informasi sejarahnya. Terdapat 81 buah makam dalam keadaan utuh maupun yang sudah rusak. Kompleks makam tersebut adalah kumpulan keluarga bangsawan dan raja Kerajaan Tallo. Adapun raja-raja petinggi dan Kerajaan Tallo yang dimakam adalah raja Tallo ke-7 (1598-1641), raja Tallo ke-9, raja Tallo ke-12 (1770-1778), raja Tallo ke-13, dan raja Tallo ke-15 yang pernah menjadi raja Gowa ke-30 (1811-1825). Secara historis raja yang pertama kali memeluk agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo adalah I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka pada tanggal 22 September 1605 bertepatan pada malam jumat, 9 jumadil awal 1014, dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Setelah itu disusul oleh raja Gowa ke-14, I Mangerangi Daeng Manrabia, dengan gelar Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa hampir memeluk agam Islam yang ditandai dengan upacara salat jumat bersama yang dipertama kali dilaksanakan di Mesjid Tallo pada tanggal 9 November 1607. Dalam waktu yang bersamaan di Bandar Makassar, pedagang-pedagang Melayu dan orang-orang Makassar sudah memeluk agama Islam di Benteng Somba Opu dengan melaksanakan salat jumat di Masjid Mangalekana. Komplek makam raja-raja Tallo berada di sudut sebelah timur laut dalam lingkup benteng Tallo. Namun, benteng Tallo itu saat ini hanya dapat ditemui sisa-sisanya saja pada sisi barat, utara dan selatan. Sedangkan, di dalam areal benteng, kecuali makam, telah dijadikan sebagai lahan hunian penduduk setempat. Kerajaan Tallo adalah salah satu kerajaan yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan yang merupakan hasil dari pembagian kekuasaan Kerajaan Gowa yang dilakukan oleh Raja Gowa ke VI Tunatangka Lopi (1445-1460). Pembagian ini menghasilkan dua kerajaan yang dikuasai masing- masing oleh putera raja, yaitu Batara Gowa Tuniawanga Ri Paralekkanna sebagai Raja Gowa ke VII (1460) dan Kerajaan Tallo dikuasai oleh Karaeng Loe Ri Seri sebagai raja pertama. Keberadaan Kerajaan Tallo tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Gowa, ini merupakan keunikan. Kerajaan ini memiliki kemampuan dalam menyusun berbagai sistem pemerintahan, termasuk strategi militer. Makam dari raja-raja Tallo tersebut kini lebih dikenal dengan Kompleks Makam Raja-raja Tallo. Dua kerajaan ini kembali bersatu melalui persekutuan pada tahun 1528 dan menghasilkan Kerajaan Makassar yang pernah dipimpin oleh salah satu raja yang termahsyur, Sultan Hasanuddin. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah pusat kerajaan ini sekarang berada di wilayah Kota Makassar dan kabupaten lainnya. Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Raja Tallo telah ada sejak abad XVII dan digunakan sebagai pemakaman kerajaan hingga abad XIX. == Riwayat Penanganan == Pada tahun 1974/1975 dan 1981/1982 kompleks makam raja-raja Tallo dipugar oleh pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bangunan makam yang dipugar hingga mendekati bentuk aslinya ini sekarang tampak asri, tertata apik dengan pepohonan yang rindang, dan dapat dijadikan sebagai suatu objek wisata budaya. Raja-raja Tallo adalah para penguasa dari Kesultanan Tallo, sebuah kerajaan suku Makassar di Sulawesi Selatan yang berdampingan erat dan kemudian bersatu dengan Kerajaan Gowa. Berikut adalah beberapa raja (Karaeng atau Sultan) yang terkenal dalam sejarah Kerajaan Tallo: * Karaeng Loe ri Sero: Raja Tallo pertama yang memerintah pada pertengahan abad ke-15 setelah wafatnya Raja Gowa ke-6. * Karaeng Matoaya (I Malingkaang Daeng Manyonri): Raja Tallo yang merangkap sebagai mangkubumi Gowa, dikenal sebagai penguasa Tallo pertama yang masuk Islam (bergelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan aktif menyebarkan ajaran Islam. * Sultan Mudafar (Imanginyarrang Dg Makkiyo): Raja Tallo ke-7 yang memerintah pada tahun 1598–1641. * Karaeng Pattingalloang: Mangkubumi dan cendekiawan terkenal dari Makassar yang membawa kerajaan pada masa kejayaan bersama Sultan Malikussaid. Beberapa makam terlihat memiliki bentuk menyerupai candi, bertingkat-tingkat dengan 1-3 tingkatan yang semakin ke atas semakin mengecil. Ukurannya beragam mulai dari ukuran besar hingga ukuran kecil. Di puncak makam terdapat 1 atau 2 buah nisan dengan bentuk pipih seperti pedang, atau bulat silindris. Makam-makam ini merupakan milik tokoh-tokoh Kerajaan Tallo, istri para raja, pegawai-pegawai kerajaan, utusan kerajaan tetangga, dan kerabat-kerabat raja. Banyak dari para penguasa dan bangsawan ini dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Tallo yang terletak di Kota Makassar. Saat ini, Makam raja-raja Tallo berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia 812fbnd7iz4rc0yzsk6mkfnzs56wk7k Harta yang Terpendam/Bab 6 0 28539 120340 120332 2026-09-27T13:41:00Z Ars-arsa 42375 120340 wikitext text/x-wiki VI. DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH. Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminja dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat &#x200B;permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk. Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres. „Kenapa kaoe menanggis, Saneah ?” tanja Ali. „Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” &#x200B;„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?” „Itoe samoea soeda terdjadi dengen sakedjepan,” sahoet Ali. „Selagi akoe kalap, boleh djadi kalakoeankoe mirip sebagi orang gila, tetapi sekarang, sebagimana kaoe liat, akoe tida gila.” „Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?” „Ach! Saneah,” kata Ali dengen mengelah napas, „njatalah kaoe tida taoe keadaankoe, njatalah kaoe tida taoe apa jang sabetoelnja soeda terdjadi di roemahnja toean Joesoef. . . .” „Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,” „Akoe kapingin bisa boenoeh itoe doea bangsat &#x200B;seperti memboenoeh pada andjing-andjing,” kata Ali dengen gemes. „Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?” „Boekan lantaran iaorang soeka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Doea jaorang takoet dapet akoe poenja pembatesan.” „Pembalasan bagaimana? Apa iaorang soeda berboeat sala pada kaoe, Ali? Apa boekan kita jang dapet ia poenja banjak toeloengan di tempo doeloe ?” „Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, &#x200B;maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.” Saneah djadi katarik hati dengen itoe tjerita jang mirip seperti dongeng. Itoe harta f 50,000 ia masi kagoemken, dari sebab begitoe ia laloe mendengeri lebih hati-hati pada tjeritanja Ali jang masi diteroesken. „Saneah,” melandjoeti Ali dalem tjeritania itoe, „kaoe tentoe masi inget itoe malem kaoe ada sakit. Penjakitmoe itoe membikin akoe djadi jengkel, doahnja doekoen tida bisa berbasil. Itoe waktoe akoe inget ada satoe kitab Arab jang tergantoeng di dingding roemah, peninggalan abang Moersin, dan jang kita selaloe oekoepken sebagi barang angker. Akoe jang soeda boeang banjak oewang boeat itoe kitab, kerna saban malem Djoemahat moesti dioekoepken dengen menjan, djadi kapingin taoe &#x200B;isinja. Akoe soeda tetepken niatan, kaloe betoel itoe ada kitab soetji, akoe maoe minta kamandjoerannia boeat kaoe poenia penjakit dan kaloe kitab biasa, akoe niat aken djoeal sadja. Koetika akoe boeka lembarannja, satoe lipetan soerat soeda djato dari dalem lembaran kitab itoe. Akoe poengoet dan tjoema liat toelisan-toelisan Arab jang rapi. Dari sebab kapingin taoe, akoe laloe bawa soerat itoe pada toean Joesoef jang kasi katerangan bahoea soerat itoe ada testament dari hartanja satoe hadji. Hartanja jang berdjoembla f 50,000 ada terpendem di mesdjit roesak di Mangga Doea. Ia kasi katerangan begitoe lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef jang soeda hartawan tida nanti serahken harta itoe. Malemnja poekoel sapoeloe, dengen tida kasi taoe pada kaoe, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil &#x200B;itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?” Saneah goyang kepalanya. „Apa kau tidak keliru kalau duga Nyi Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?” tana Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. „Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat &#x200B;pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya jeriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau! pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat.” „Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah. „Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.” Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. 1ks9jzanj230kt9tb5jz8dlo1grymmh 120341 120340 2026-09-27T13:53:38Z Ars-arsa 42375 120341 wikitext text/x-wiki VI. DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH. Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminja dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat &#x200B;permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk. Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres. „Kenapa kaoe menanggis, Saneah ?” tanja Ali. „Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” &#x200B;„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?” „Itoe samoea soeda terdjadi dengen sakedjepan,” sahoet Ali. „Selagi akoe kalap, boleh djadi kalakoeankoe mirip sebagi orang gila, tetapi sekarang, sebagimana kaoe liat, akoe tida gila.” „Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?” „Ach! Saneah,” kata Ali dengen mengelah napas, „njatalah kaoe tida taoe keadaankoe, njatalah kaoe tida taoe apa jang sabetoelnja soeda terdjadi di roemahnja toean Joesoef. . . .” „Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,” „Akoe kapingin bisa boenoeh itoe doea bangsat &#x200B;seperti memboenoeh pada andjing-andjing,” kata Ali dengen gemes. „Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?” „Boekan lantaran iaorang soeka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Doea jaorang takoet dapet akoe poenja pembatesan.” „Pembalasan bagaimana? Apa iaorang soeda berboeat sala pada kaoe, Ali? Apa boekan kita jang dapet ia poenja banjak toeloengan di tempo doeloe ?” „Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, &#x200B;maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.” Saneah djadi katarik hati dengen itoe tjerita jang mirip seperti dongeng. Itoe harta f 50,000 ia masi kagoemken, dari sebab begitoe ia laloe mendengeri lebih hati-hati pada tjeritanja Ali jang masi diteroesken. „Saneah,” melanjuti Ali dalam ceritanya itu, „kau tentu masih inget itu malem kau ada sakit. Penyakitmu itu membikin aku jadi jengkel, doanya dukun tidak bisa berhasil. Itu waktu aku inget ada satu kitab Arab yang tergantung di dinding rumah, peninggalan abang Mursin, dan yang kita selalu ukupkan sebagai barang angker. Aku yang sudah buang banyak uang buat itu kitab, karena saban malam Jumat musti diukupkan dengan menyan, jadi kepingin tahu &#x200B;isinya. Aku sudah tetapkan niatan, kalau betul itu ada kitab suci, aku mau minta kemanjurannya buat kau punya penyakit dan kalau kitab biasa, aku niat aken jual saja. Ketika aku buka lembarannya, satu lipatan surat sudah jatuh dari dalem lembaran kitab itu. Aku pungut dan cuma lihat tulisan-tulisan Arab yang rapi. Dari sebab kepingin tahu, aku lalu bawa surat itu pada tuan Joesoef yang kasih keterangan bahwa surat itu ada testamen dari hartanya satu haji. Hartanya yang berjumlah f 50,000 ada terpendam di masjid rusak di Mangga Dua. Ia kasih keterangan begitu lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef yang sudah hartawan tidak nanti serahkan harta itu. Malemnya pukul sepuluh, dengan tidak kasih tahu pada kau, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil &#x200B;itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?” Saneah goyang kepalanya. „Apa kau tidak keliru kalau duga Nyi Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?” tana Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. „Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat &#x200B;pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya jeriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau! pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat.” „Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah. „Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.” Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. hq63h32hpwkvm7fmzfmn5vs8mf4c11t 120352 120341 2026-09-28T06:28:30Z Ars-arsa 42375 120352 wikitext text/x-wiki VI. DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH. Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminja dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat &#x200B;permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk. Saneah tida pertjaja perkataannja Ali, itoe pengakoean Saneah pikir tentoe dioega soeda kaloear dari plkiran gila. Soeda tiga bari Saneah koenjoengi Ali dan saban hari Saneah dapetken soeaminja seperti orang bisoe, tioema pertanjaan-pertanjaan jang perloe sadja Ali sahoetken. Dalem itoe tiga hari Ali tinggal diam, tida bitjara, tida soeka makan, minoem atawa isep roko, ia selaloe doedoek dengen toendoeken kapala seperti orang jang berat pikiran. Pertanjadonja Ali jang dioetjapken baroesan, Saneah tioema bales dengen manggoetken kapala, tetapi dari matanja kaliatan ada melele aer dengen deres. „Kenapa kau menangis, Saneah?” tanya Ali. „Ah! akoe taoe, kade merasa sedih lantaran masi doega akoe ada gila. Kaoe tida pertjaja perkataankoe bahoea akoe sabetoelnja tida gila.” &#x200B;„Ali, apa sabetoelnja kaoe bitjara dengen soenggoe-soenggoe ?” tanja Saneah sambil memandang moeka soeaminja, seperti djoega ia maoe dapet kapastian apakah ia bitjara dengen benar. „Kaloe kaoe tida gila, kenapa politie bawa kaoe kamari dan doktor bilang betoel kaoe gila?” „Itu semua sudah terjadi dengan sekejapan,” sahut Ali. „Selagi aku kalap, boleh jadi kelakuanku mirip sebagai orang gila, tetapi sekarang, sebagaimana kau lihat, aku tidak gila.” „Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?” „Ach! Saneah,” kata Ali dengan mengelah napas, „nyatalah kau tidak tau keadaanku, nyatalah kau tidak tau apa yang sebetulnya sudah terjadi di rumahnya tuan Joesoef. . . .” „Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,” „Aku kepingin bisa bunuh itu dua bangsat &#x200B;seperti membunuh pada anjing-anjing,” kata Ali dengan gemes. „Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?” „Bukan lantaran ia orang suka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Dua ia orang takut dapat aku punya pembatasan.” „Pembalasan bagaimana? Apa ia orang sudah berbuat salah pada kau, Ali? Apa bukan kita yang dapat ia punya banyak tulungan di tempo dulu?” „Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, &#x200B;maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.” Saneah jadi tertarik hati dengan itu cerita yang mirip seperti dongeng. Itu harta f 50,000 ia masih kagumkan, dari sebab begitu ia lalu mendengeri lebih hati-hati pada ceritanya Ali yang masih diteruskan. „Saneah,” melanjuti Ali dalam ceritanya itu, „kau tentu masih inget itu malem kau ada sakit. Penyakitmu itu membikin aku jadi jengkel, doanya dukun tidak bisa berhasil. Itu waktu aku inget ada satu kitab Arab yang tergantung di dinding rumah, peninggalan abang Mursin, dan yang kita selalu ukupkan sebagai barang angker. Aku yang sudah buang banyak uang buat itu kitab, karena saban malam Jumat musti diukupkan dengan menyan, jadi kepingin tahu &#x200B;isinya. Aku sudah tetapkan niatan, kalau betul itu ada kitab suci, aku mau minta kemanjurannya buat kau punya penyakit dan kalau kitab biasa, aku niat akan jual saja. Ketika aku buka lembarannya, satu lipatan surat sudah jatuh dari dalam lembaran kitab itu. Aku pungut dan cuma lihat tulisan-tulisan Arab yang rapi. Dari sebab kepingin tahu, aku lalu bawa surat itu pada tuan Joesoef yang kasih keterangan bahwa surat itu ada testamen dari hartanya satu haji. Hartanya yang berjumlah f 50,000 ada terpendam di masjid rusak di Mangga Dua. Ia kasih keterangan begitu lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef yang sudah hartawan tidak nanti serahkan harta itu. Malemnya pukul sepuluh, dengan tidak kasih tahu pada kau, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil &#x200B;itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?” Saneah goyang kepalanya. „Apa kau tidak keliru kalau duga Nyi Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?” tana Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. „Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat &#x200B;pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya jeriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau! pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat.” „Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah. „Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.” Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. 0xunaa37i3272eluhyjzxir3bdd0d6a 120356 120352 2026-09-28T06:39:36Z Ars-arsa 42375 120356 wikitext text/x-wiki VI. DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH. Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminya dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat &#x200B;permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk. Saneah tidak percaya perkataannya Ali, itu pengakuan Saneah pikir tentu juga sudah keluar dari pikiran gila. Sudah tiga hari Saneah kunjungi Ali dan saban hari Saneah dapatkan suaminya seperti orang bisu, cuma pertanyaan-pertanyaan yang perlu saja Ali sahutkan. Dalam itu tiga hari Ali tinggal diam, tidak bicara, tidak suka makan, minum atau isap rokok, ia selalu duduk dengan tundukkan kepala seperti orang yang berat pikiran. Pertanyadonya Ali yang diucapkan barusan, Saneah cuma balas dengan manggutkan kepala, tetapi dari matanya kelihatan ada meleleh airr dengan deras. „Kenapa kau menangis, Saneah?” tanya Ali. „Ah! aku tahu, kade merasa sedih lantaran masih juga aku ada gila. Kau tidak percaya perkataanku bahwa aku sebetulnya tidak gila.” &#x200B;„Ali, apa sebetulnya kau bicara dengan sungguh-sungguh?” tanya Saneah sambil memandang muka suaminya, seperti juga ia mau dapat kepastian apakah ia bicara dengan benar. „Kalau kau tidak gila, kenapa polisi bawa kau kemari dan doktor bilang betul kau gila?” „Itu semua sudah terjadi dengan sekejapan,” sahut Ali. „Selagi aku kalap, boleh jadi kelakuanku mirip sebagai orang gila, tetapi sekarang, sebagaimana kau lihat, aku tidak gila.” „Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?” „Ach! Saneah,” kata Ali dengan mengelah napas, „nyatalah kau tidak tau keadaanku, nyatalah kau tidak tau apa yang sebetulnya sudah terjadi di rumahnya tuan Joesoef. . . .” „Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,” „Aku kepingin bisa bunuh itu dua bangsat &#x200B;seperti membunuh pada anjing-anjing,” kata Ali dengan gemes. „Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?” „Bukan lantaran ia orang suka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Dua ia orang takut dapat aku punya pembatasan.” „Pembalasan bagaimana? Apa ia orang sudah berbuat salah pada kau, Ali? Apa bukan kita yang dapat ia punya banyak tulungan di tempo dulu?” „Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, &#x200B;maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.” Saneah jadi tertarik hati dengan itu cerita yang mirip seperti dongeng. Itu harta f 50,000 ia masih kagumkan, dari sebab begitu ia lalu mendengeri lebih hati-hati pada ceritanya Ali yang masih diteruskan. „Saneah,” melanjuti Ali dalam ceritanya itu, „kau tentu masih inget itu malem kau ada sakit. Penyakitmu itu membikin aku jadi jengkel, doanya dukun tidak bisa berhasil. Itu waktu aku inget ada satu kitab Arab yang tergantung di dinding rumah, peninggalan abang Mursin, dan yang kita selalu ukupkan sebagai barang angker. Aku yang sudah buang banyak uang buat itu kitab, karena saban malam Jumat musti diukupkan dengan menyan, jadi kepingin tahu &#x200B;isinya. Aku sudah tetapkan niatan, kalau betul itu ada kitab suci, aku mau minta kemanjurannya buat kau punya penyakit dan kalau kitab biasa, aku niat akan jual saja. Ketika aku buka lembarannya, satu lipatan surat sudah jatuh dari dalam lembaran kitab itu. Aku pungut dan cuma lihat tulisan-tulisan Arab yang rapi. Dari sebab kepingin tahu, aku lalu bawa surat itu pada tuan Joesoef yang kasih keterangan bahwa surat itu ada testamen dari hartanya satu haji. Hartanya yang berjumlah f 50,000 ada terpendam di masjid rusak di Mangga Dua. Ia kasih keterangan begitu lengkap dan njataken pengharepannja soepaja akoe bisa beroentoeng dapetken harta itoe, hingga akoe pertjaja toean Joesoef yang sudah hartawan tidak nanti serahkan harta itu. Malemnya pukul sepuluh, dengan tidak kasih tahu pada kau, sebab dipesen, akoe laloe berangkat ka itoe mesdjit, Di Gang Gardoe akoe dapet liat bajangan poetih jang akoe sangkahken setan, tapi akoe braniken hati dan teroes gali itoe harta di mesdjit roesak. Sasoeda dapet itoe peti dan boeka toetoepnia, dimana kaliatan ada berisi banjak oewang perak dan emas, sakoenjoeng-koenjoeng akoe denger soeara tertawa dan di depankoe berdiri satoe setan prampoean jang karoedoengi badannja dengen kaen poetih. Akoe sangka itoelah setannja Nji Grintil, hingga akoe djadi katakoetan sanget. Waktoe ia maoe ambil &#x200B;itoe peti, akoe lantas serang setan itoe, sebab akoe lebih hargaken harta itoe dari pada kamatian. Akoe djadi bergoelet, tapi dengen tida kataoean siapa jang poekoel, besokannja akoe dapetken dirikoe menggletak di tengah-tengah mesdjit itoe dengen loeka di kapala. Akoe laloe merajap sampe di pinggir gili-gili djalanan kreta api aken berangkat poelang, tapi tenagakoe abis dan akoe djato dengen tida inget orang. Sekarang, Saneah, kaoe tebak siapa adanja itoe orang jang poekoel akoe dengen batoe? Siapa adanja itoe prampoean jang menjaroe djadi setan?” Saneah goyang kepalanya. „Apa kau tidak keliru kalau duga Nyi Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?” tana Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. „Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat &#x200B;pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya jeriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau! pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat.” „Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah. „Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.” Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. i6iz2hx7tyerlq49n8j60m88hlpihre 120357 120356 2026-09-28T06:50:20Z Ars-arsa 42375 120357 wikitext text/x-wiki VI. DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH. Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminya dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat &#x200B;permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk. Saneah tidak percaya perkataannya Ali, itu pengakuan Saneah pikir tentu juga sudah keluar dari pikiran gila. Sudah tiga hari Saneah kunjungi Ali dan saban hari Saneah dapatkan suaminya seperti orang bisu, cuma pertanyaan-pertanyaan yang perlu saja Ali sahutkan. Dalam itu tiga hari Ali tinggal diam, tidak bicara, tidak suka makan, minum atau isap rokok, ia selalu duduk dengan tundukkan kepala seperti orang yang berat pikiran. Pertanyadonya Ali yang diucapkan barusan, Saneah cuma balas dengan manggutkan kepala, tetapi dari matanya kelihatan ada meleleh airr dengan deras. „Kenapa kau menangis, Saneah?” tanya Ali. „Ah! aku tahu, kade merasa sedih lantaran masih juga aku ada gila. Kau tidak percaya perkataanku bahwa aku sebetulnya tidak gila.” &#x200B;„Ali, apa sebetulnya kau bicara dengan sungguh-sungguh?” tanya Saneah sambil memandang muka suaminya, seperti juga ia mau dapat kepastian apakah ia bicara dengan benar. „Kalau kau tidak gila, kenapa polisi bawa kau kemari dan doktor bilang betul kau gila?” „Itu semua sudah terjadi dengan sekejapan,” sahut Ali. „Selagi aku kalap, boleh jadi kelakuanku mirip sebagai orang gila, tetapi sekarang, sebagaimana kau lihat, aku tidak gila.” „Soeda tiga hari akoe koendjoengi kaoe,” kata lagi Saneah, „dan satiap kali akoe liat kaoe doedoek dengen toendoeken kapala, kaoe tida sahoetken bebrapa pertanjaankoe, kaoe tida soeka makan makanan jang akoe anterken kamar. Apakah tiga hari jang laloe kaoe masi gila? Apakah sebabnja itoe, Ali?” „Ach! Saneah,” kata Ali dengan mengelah napas, „nyatalah kau tidak tau keadaanku, nyatalah kau tidak tau apa yang sebetulnya sudah terjadi di rumahnya tuan Joesoef. . . .” „Akoe soeda dapet katerangan dari Katma jang pergi ka roemahnja toean Joesoef dan menoeroet itoe boedjang poenja tjerita, dan selagi kaoe betoelin bilik mendadak kaoe poenja sakit gila kamboe kombali. Kaoe soeda tjekek toean Joesoef dan Njai Marsina,” „Aku kepingin bisa bunuh itu dua bangsat &#x200B;seperti membunuh pada anjing-anjing,” kata Ali dengan gemes. „Kenapa kaoe begitoe gemes padanja, Ali. Ia orang toch tida berdosa satoe apa. Ia panggil kaoe dateng betoelin bilik dengen tida sekali kira toekang bilik itoe ada kaoe sendiri. Toean Joesoef dan Njai Marsina soeda pinda di Bogor sebab lebih senang dengen hawa disini...?” „Bukan lantaran ia orang suka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Dua ia orang takut dapat aku punya pembatasan.” „Pembalasan bagaimana? Apa ia orang sudah berbuat salah pada kau, Ali? Apa bukan kita yang dapat ia punya banyak tulungan di tempo dulu?” „Saneah, dengerlah apa jang akoe tjeritaken, dan pertjajalah omongankoe ini ada dengen sabetoeinja. Doeloe orang dapetken akoe terletak di pinggir djalanan kreta api dengem loeka berat di kapala Orang kata akoe soeda dapet itoe loeka lantaran kabentoer kreta api. Akoe djadi sakit, dan kaoe tjerita itoe waktoe kalakoeankoe mirip seperti orang gila. Sabenar-benarnja itoe waktoe akoe sendiri tida taoe apakah akoe mengimpi atawakah sabetoelnja ada kadjadian itoe perkara. Loeka di kapala jang akoe dapetken, soeda mendiadi lantaran aken akoe tida bisa berpikie betoel perkara jang kadjadian. Akoe poenia ingetan ada keras pada itoe penggalian harta dan pada setannja Nii Grintil, &#x200B;maka djoega kadang-kadang dateng ingetan jang sengit boeat tjoba gali lagi harta itoe. Tapi dimana tempatnja jang betoel ada terpendem, akoe tida bisa inget lagi, maka djoega dimana sadja akoe lantas maoe menggali, Itoe bajangan setan jang rampas peti oewang djoega senantiasa terliat di depan matakoe. Lantaran ingetan di kapa'akoe kalang-kaboet, tentoe sadja akoe djadi senantiasa katakoetan. Sekarang perkara soeda djadi terang. Itoe peti oewang jang akoe kenalken betoel ada di roemahnja toean Joesoef. Soeda tiga hari akoe pikirken ini perkara, dan sekarang akoe taoe betoel begimana soeda kadjadian pada dirikoe.” Saneah jadi tertarik hati dengan itu cerita yang mirip seperti dongeng. Itu harta f 50,000 ia masih kagumkan, dari sebab begitu ia lalu mendengeri lebih hati-hati pada ceritanya Ali yang masih diteruskan. „Saneah,” melanjuti Ali dalam ceritanya itu, „kau tentu masih inget itu malem kau ada sakit. Penyakitmu itu membikin aku jadi jengkel, doanya dukun tidak bisa berhasil. Itu waktu aku inget ada satu kitab Arab yang tergantung di dinding rumah, peninggalan abang Mursin, dan yang kita selalu ukupkan sebagai barang angker. Aku yang sudah buang banyak uang buat itu kitab, karena saban malam Jumat musti diukupkan dengan menyan, jadi kepingin tahu &#x200B;isinya. Aku sudah tetapkan niatan, kalau betul itu ada kitab suci, aku mau minta kemanjurannya buat kau punya penyakit dan kalau kitab biasa, aku niat akan jual saja. Ketika aku buka lembarannya, satu lipatan surat sudah jatuh dari dalam lembaran kitab itu. Aku pungut dan cuma lihat tulisan-tulisan Arab yang rapi. Dari sebab kepingin tahu, aku lalu bawa surat itu pada tuan Joesoef yang kasih keterangan bahwa surat itu ada testamen dari hartanya satu haji. Hartanya yang berjumlah f 50,000 ada terpendam di masjid rusak di Mangga Dua. Ia kasih keterangan begitu lengkap dan nyatakan pengharapannya supaya aku bisa beruntung dapatkan harta itu, hingga aku percaya tuan Joesoef yang sudah hartawan tidak nanti serahkan harta itu. Malamnya pukul sepuluh, dengan tidak kasih tahu pada kau, sebab dipesan, aku lalu berangkat ke itu masjid, Di Gang Gardu aku dapat lihat bayangan putih yang aku sangkakan setan, tapi aku beranikan hati dan terus gali itu harta di masjid rusak. Sesudah dapat itu peti dan buka tutupnya, dimana kelihatan ada berisi banyak uang perak dan emas, sekunjung-kunjung aku dengar suara tertawa dan di depanku berdiri satu setan perempuan yang kerudungi badannya dengan kain putih. Aku sangka itulah setannya Nyi Grintil, hingga aku jadi ketakutan sangat. Waktu ia mau ambil &#x200B;itu peti, aku lantas serang setan itu, sebab aku lebih hargakan harta itu dari pada kematian. Aku jadi bergulat, tapi dengan tidak ketahuan siapa yang pukul, keesokannya aku dapatkan diriku menggeletak di tengah-tengah masjid itu dengan luka di kepala. Aku lalu merayap sampai di pinggir gili-gili jalanan kereta api akan berangkat pulang, tapi tenagaku habis dan aku jatuh dengan tidak ingat orang. Sekarang, Saneah, kau tebak siapa adanya itu orang yang pukul aku dengan batu? Siapa adanya itu perempuan yang menyaru jadi setan?” Saneah goyang kepalanya. „Apa kau tidak keliru kalau duga Nyi Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?” tanya Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. „Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat &#x200B;pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya jeriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau! pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat.” „Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah. „Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melinken lindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.” Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. 3iy2umgaqyts382vvot8utolrmqof6x 120365 120357 2026-09-28T07:06:59Z Ars-arsa 42375 120365 wikitext text/x-wiki VI. DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH. Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminya dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat &#x200B;permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat ketemukan suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, kunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu terangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak inget satu apa selainnya ingin mengamuk. Saneah tidak percaya perkataannya Ali, itu pengakuan Saneah pikir tentu juga sudah keluar dari pikiran gila. Sudah tiga hari Saneah kunjungi Ali dan saban hari Saneah dapatkan suaminya seperti orang bisu, cuma pertanyaan-pertanyaan yang perlu saja Ali sahutkan. Dalam itu tiga hari Ali tinggal diam, tidak bicara, tidak suka makan, minum atau isap rokok, ia selalu duduk dengan tundukkan kepala seperti orang yang berat pikiran. Pertanyadonya Ali yang diucapkan barusan, Saneah cuma balas dengan manggutkan kepala, tetapi dari matanya kelihatan ada meleleh airr dengan deras. „Kenapa kau menangis, Saneah?” tanya Ali. „Ah! aku tahu, kade merasa sedih lantaran masih juga aku ada gila. Kau tidak percaya perkataanku bahwa aku sebetulnya tidak gila.” &#x200B;„Ali, apa sebetulnya kau bicara dengan sungguh-sungguh?” tanya Saneah sambil memandang muka suaminya, seperti juga ia mau dapat kepastian apakah ia bicara dengan benar. „Kalau kau tidak gila, kenapa polisi bawa kau kemari dan doktor bilang betul kau gila?” „Itu semua sudah terjadi dengan sekejapan,” sahut Ali. „Selagi aku kalap, boleh jadi kelakuanku mirip sebagai orang gila, tetapi sekarang, sebagaimana kau lihat, aku tidak gila.” „Sudah tiga hari aku kunjungi kau,” kata lagi Saneah, „dan setiap kali aku lihat kau duduk dengan tundukkan kepala, kau tidak sahutkan beberapa pertanyaanku, kau tidak suka makan makanan yang aku antarkan kamar. Apakah tiga hari yang lalu kau masih gila? Apakah sebabnya itu, Ali?” „Ach! Saneah,” kata Ali dengan mengelah napas, „nyatalah kau tidak tahu keadaanku, nyatalah kau tidak tau apa yang sebetulnya sudah terjadi di rumahnya tuan Joesoef. . . .” „Aku sudah dapat keterangan dari Katma yang pergi ke rumahnya tuan Joesoef dan menurut itu bujang punya cerita, dan selagi kau betulkan bilik mendadak kau punya sakit gila kambuh kembali. Kau sudah cekek tuan Joesoef dan Nyai Marsinah,” „Aku kepingin bisa bunuh itu dua bangsat &#x200B;seperti membunuh pada anjing-anjing,” kata Ali dengan gemas. „Kenapa kau begitu gemas padanya, Ali. Ia orang toh tidak berdosa satu apa. Ia panggil kau datang betulkan bilik dengan tidak sekali kira tukang bilik itu ada kau sendiri. Tuan Joesoef dan Nyai Marsinah sudah pindah di Bogor sebab lebih senang dengan hawa disini...?” „Bukan lantaran ia orang suka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Dua ia orang takut dapat aku punya pembatasan.” „Pembalasan bagaimana? Apa ia orang sudah berbuat salah pada kau, Ali? Apa bukan kita yang dapat ia punya banyak pertolongan di tempo dulu?” „Saneah, dengarlah apa yang aku ceritakan, dan percayalah omonganku ini ada dengan sebetulnya. Dulu orang dapatkan aku terletak di pinggir jalanan kereta api dengan luka berat di kepala Orang kata aku sudah dapat itu luka lantaran kebentur kereta api. Aku jadi sakit, dan kau cerita itu waktu kelakuanku mirip seperti orang gila. Sebenar-benarnya itu waktu aku sendiri tidak tahu apakah aku mengimpi ataukah sebetulnya ada kejadian itu perkara. Luka di kepala yang aku dapatkan, sudah menjadi lantaran akan aku tidak bisa berpikir betul perkara yang kejadian. Aku punya ingatan ada keras pada itu penggalian harta dan pada setannya Nyi Grintil, &#x200B;maka juga kadang-kadang datang ingatan yang sengit buat coba gali lagi harta itu. Tapi dimana tempatnya yang betul ada terpendam, aku tidak bisa ingat lagi, maka juga dimana saja aku lantas mau menggali, Itu bayangan setan yang rampas peti uang juga senantiasa terlihat di depan mataku. Lantaran ingatan di kepalaku kalang-kabut, tentu saja aku jadi senantiasa ketakutan. Sekarang perkara sudah jadi terang. Itu peti uang yang aku kenalkan betul ada di rumahnya tuan Joesoef. Sudah tiga hari aku pikirkan ini perkara, dan sekarang aku tahu betul bagaimana sudah kejadian pada diriku.” Saneah jadi tertarik hati dengan itu cerita yang mirip seperti dongeng. Itu harta f 50,000 ia masih kagumkan, dari sebab begitu ia lalu mendengarkan lebih hati-hati pada ceritanya Ali yang masih diteruskan. „Saneah,” melanjutkan Ali dalam ceritanya itu, „kau tentu masih inget itu malem kau ada sakit. Penyakitmu itu membikin aku jadi jengkel, doanya dukun tidak bisa berhasil. Itu waktu aku inget ada satu kitab Arab yang tergantung di dinding rumah, peninggalan abang Mursin, dan yang kita selalu ukupkan sebagai barang angker. Aku yang sudah buang banyak uang buat itu kitab, karena saban malam Jumat musti diukupkan dengan menyan, jadi kepingin tahu &#x200B;isinya. Aku sudah tetapkan niatan, kalau betul itu ada kitab suci, aku mau minta kemanjurannya buat kau punya penyakit dan kalau kitab biasa, aku niat akan jual saja. Ketika aku buka lembarannya, satu lipatan surat sudah jatuh dari dalam lembaran kitab itu. Aku pungut dan cuma lihat tulisan-tulisan Arab yang rapi. Dari sebab kepingin tahu, aku lalu bawa surat itu pada tuan Joesoef yang kasih keterangan bahwa surat itu ada testamen dari hartanya satu haji. Hartanya yang berjumlah f 50,000 ada terpendam di masjid rusak di Mangga Dua. Ia kasih keterangan begitu lengkap dan nyatakan pengharapannya supaya aku bisa beruntung dapatkan harta itu, hingga aku percaya tuan Joesoef yang sudah hartawan tidak nanti serahkan harta itu. Malamnya pukul sepuluh, dengan tidak kasih tahu pada kau, sebab dipesan, aku lalu berangkat ke itu masjid, Di Gang Gardu aku dapat lihat bayangan putih yang aku sangkakan setan, tapi aku beranikan hati dan terus gali itu harta di masjid rusak. Sesudah dapat itu peti dan buka tutupnya, dimana kelihatan ada berisi banyak uang perak dan emas, sekunjung-kunjung aku dengar suara tertawa dan di depanku berdiri satu setan perempuan yang kerudungi badannya dengan kain putih. Aku sangka itulah setannya Nyi Grintil, hingga aku jadi ketakutan sangat. Waktu ia mau ambil &#x200B;itu peti, aku lantas serang setan itu, sebab aku lebih hargakan harta itu dari pada kematian. Aku jadi bergulat, tapi dengan tidak ketahuan siapa yang pukul, keesokannya aku dapatkan diriku menggeletak di tengah-tengah masjid itu dengan luka di kepala. Aku lalu merayap sampai di pinggir gili-gili jalanan kereta api akan berangkat pulang, tapi tenagaku habis dan aku jatuh dengan tidak ingat orang. Sekarang, Saneah, kau tebak siapa adanya itu orang yang pukul aku dengan batu? Siapa adanya itu perempuan yang menyaru jadi setan?” Saneah goyang kepalanya. „Apa kau tidak keliru kalau duga Nyi Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?” tanya Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. „Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat &#x200B;pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya jeriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau! pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat.” „Ach, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan,” kata Saneah. „Kau keliru Saneah,” kata Ali dengan mata menyala. „Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan.” Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. mbw7d8kpv3x8tgw2lh97mkxl306jiq1 Katalog Fosil Vertebrata Purbakala: Studi Kasus Situs Bumiayu dan Museum Dharma Guna 0 28559 120342 2026-09-27T14:16:07Z Abd.ghaffar 37065 ←Membuat halaman berisi '__NOTOC__ {| style="width:100%; background:#f9f9f9; border:1px solid #ccc; padding:15px;" | == Katalog Fosil Vertebrata Purbakala: Studi Kasus Situs Bumiayu dan Museum Bapak Nasikin == Selamat datang di halaman utama modul buku terbuka (''open textbook'') pendokumentasian warisan kepurbakalaan Situs Bumiayu. Buku ini disusun sebagai panduan ilmiah, inventaris digital, serta dokumentasi spesimen fauna purba yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Proyek ini...' 120342 wikitext text/x-wiki __NOTOC__ {| style="width:100%; background:#f9f9f9; border:1px solid #ccc; padding:15px;" | == Katalog Fosil Vertebrata Purbakala: Studi Kasus Situs Bumiayu dan Museum Bapak Nasikin == Selamat datang di halaman utama modul buku terbuka (''open textbook'') pendokumentasian warisan kepurbakalaan Situs Bumiayu. Buku ini disusun sebagai panduan ilmiah, inventaris digital, serta dokumentasi spesimen fauna purba yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Proyek ini diinisiasi untuk menjembatani pelestarian warisan budaya lokal agar dapat diakses secara global melalui ekosistem pengetahuan terbuka Wikimedia (Wikimedia Commons, Wikidata, dan Wikipedia). |- |} === Daftar Isi Buku === * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 1|Bab I: Pengantar Situs Purbakala Bumiayu]]''' *# Sejarah Penelitian dan Ekskavasi *# Signifikansi Stratigrafi dan Paleontologi Situs Bumiayu * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 2|Bab II: Peran Pelestarian Swadaya (Museum Bapak Nasikin)]]''' *# Sejarah Pendirian Museum Sejak 2013 *# Peran Komunitas Lokal dalam Penyelamatan Artefak (''Heritage Rescue'') * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 3|Bab III: Taksonomi dan Katalog Spesimen Fosil]]''' *# Kelompok Gajah Purba *# Dokumentasi Fotografi Makro dan Model 3D Spesimen * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 4|Bab IV: Panduan Praktis Digitalisasi Fosil]]''' *# Etika dan Protokol Penanganan Objek Fosil yang Rapuh *# Metodologi Fotografi Ilmiah dengan Mistar Skala *# Integrasi Metadata ke dalam Wikidata dan Wikimedia Commons === Tentang Buku Ini === Kontributor utama buku ini adalah Tim GLAM Bumiayu. Proyek dokumentasi dan penyusunan katalog ini didukung oleh Wikimedia Foundation melalui skema pendanaan Hibah Cepat (''Rapid Fund''), dan saat ini masih terus dalam tahap pengembangan. s0u2klp491m9npbeupfg20qxvo4jmjj 120343 120342 2026-09-27T14:17:07Z Abd.ghaffar 37065 /* Katalog Fosil Vertebrata Purbakala: Studi Kasus Situs Bumiayu dan Museum Bapak Nasikin */ 120343 wikitext text/x-wiki __NOTOC__ {| style="width:100%; background:#f9f9f9; border:1px solid #ccc; padding:15px;" | == Katalog Fosil Vertebrata Purbakala: Studi Kasus Situs Bumiayu dan Museum Bapak Nasikin == Selamat datang di halaman utama modul buku terbuka (''open textbook'') pendokumentasian warisan kepurbakalaan Situs Bumiayu. Buku ini disusun sebagai panduan ilmiah, inventaris digital, serta dokumentasi spesimen fauna purba yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Proyek ini diinisiasi untuk menjembatani pelestarian warisan budaya lokal agar dapat diakses secara global melalui ekosistem pengetahuan terbuka Wikimedia. |- |} === Daftar Isi Buku === * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 1|Bab I: Pengantar Situs Purbakala Bumiayu]]''' *# Sejarah Penelitian dan Ekskavasi *# Signifikansi Stratigrafi dan Paleontologi Situs Bumiayu * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 2|Bab II: Peran Pelestarian Swadaya (Museum Bapak Nasikin)]]''' *# Sejarah Pendirian Museum Sejak 2013 *# Peran Komunitas Lokal dalam Penyelamatan Artefak (''Heritage Rescue'') * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 3|Bab III: Taksonomi dan Katalog Spesimen Fosil]]''' *# Kelompok Gajah Purba *# Dokumentasi Fotografi Makro dan Model 3D Spesimen * '''[[Katalog Fosil Situs Bumiayu/Bab 4|Bab IV: Panduan Praktis Digitalisasi Fosil]]''' *# Etika dan Protokol Penanganan Objek Fosil yang Rapuh *# Metodologi Fotografi Ilmiah dengan Mistar Skala *# Integrasi Metadata ke dalam Wikidata dan Wikimedia Commons === Tentang Buku Ini === Kontributor utama buku ini adalah Tim GLAM Bumiayu. Proyek dokumentasi dan penyusunan katalog ini didukung oleh Wikimedia Foundation melalui skema pendanaan Hibah Cepat (''Rapid Fund''), dan saat ini masih terus dalam tahap pengembangan. gkklohihvkdb6fyv22pmwc1kwrxzupq Resep:Roti Manihot 100 28560 120344 2026-09-28T03:12:52Z Pluviophille 43559 Membuat halaman baru 120344 wikitext text/x-wiki '''Roti Manihot''' adalah kue tradisional yang berasal dari Banyumas yang terbuat dari parutan singkong dengan isian selai nenas dan tidak menggunakan tepung terigu sama sekali.<ref>https://budaya-indonesia.org/Roti-Manihot</ref> == Bahan-bahan == * Singkong (Ubi Kayu) 1½ kg * Nanas 1 buah * Gula merah ½ kg * Garam 2 sendok teh * Kelapa setengah tua 1 butir * Telur 1 butir == Cara membuat == # Singkong dibersihkan, lalu dikukus. # Tiriskan singkong yang sudah di kukus, lalu haluslkan # Bersihkan kepala lalu diparut. Setelah itu campur dengan singkong dan garam # Cuci dan bersihkan nanas lalu diparut, dicampur dengan gula dan dimasak seperti selai # Kocok kuning telur # Lalu adonan singkong dipipihkan hingga gepeng dan tengahnya diberi selai nanas. lalu bulatkan kembali hingga menjadi setengah lingkaran. setelah itu, oleskan kuning telur yang dikocok keatas roti # Panggang didalam oven mybf3dlhegyiz09pyiq5aqf0p3y293r 120345 120344 2026-09-28T03:13:19Z Pluviophille 43559 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 120345 wikitext text/x-wiki '''Roti Manihot''' adalah kue tradisional yang berasal dari Banyumas yang terbuat dari parutan singkong dengan isian selai nenas dan tidak menggunakan tepung terigu sama sekali.<ref>https://budaya-indonesia.org/Roti-Manihot</ref> == Bahan-bahan == * Singkong (Ubi Kayu) 1½ kg * Nanas 1 buah * Gula merah ½ kg * Garam 2 sendok teh * Kelapa setengah tua 1 butir * Telur 1 butir == Cara membuat == # Singkong dibersihkan, lalu dikukus. # Tiriskan singkong yang sudah di kukus, lalu haluslkan # Bersihkan kepala lalu diparut. Setelah itu campur dengan singkong dan garam # Cuci dan bersihkan nanas lalu diparut, dicampur dengan gula dan dimasak seperti selai # Kocok kuning telur # Lalu adonan singkong dipipihkan hingga gepeng dan tengahnya diberi selai nanas. lalu bulatkan kembali hingga menjadi setengah lingkaran. setelah itu, oleskan kuning telur yang dikocok keatas roti # Panggang didalam oven [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] hdkfyvtckjbf3zo08soe7kxdgxuh73r Resep:Roti Manis 100 28561 120346 2026-09-28T04:05:42Z Pluviophille 43559 Membuat halaman baru 120346 wikitext text/x-wiki Roti manis adalah roti jenis roti yang memiliki rasa dominan manis dan tekstur yang lembut dan empuk. == Bahan-bahan == * Mentega 1½ ons * gula halus ½ ons * tepung terigu 2 ons * tepung maizena ½ ons * kuning telur 1 butir * adonan roti ½ ons * soda 1 sendok teh * garam 1 sendok teh == Cara membuatnya == # campurkan mentega, gula, adonan roti, dan telur, diaduk sampai benar-benar rata # setelah itu masukkan soda kue dan garam # masukkan tepung maizena, lalu aduk sampai rata. Adonan harus cukup padat untuk dibentuk # Gilas atau ratakan adonan di atas papan sampai tipis, kira kira ½ cm # cetak menggunakan cetakan marie berbentuk persegi panjang # susun kue berjajar di atas loyang yang sebelumnya sudah diolesi mentega # panggang dengan api sedang # kalau kue sudah terlihat kuning, keluarkan sebentar. kemudian olesi tipis permukaannya dengan gula hias yang sudah dicampur sedikit kopi extract # panggang kembali dengan api sedang sampai matang === Perhatikan saat membuat adonan roti : === # campurkan tepung terigu, soda dan air menggunakan tangan di dalam panci # setelah tercampur, adonan di uleni dengan kuat di atas papan selama kira kira 1 jam # setelah itu adonan harus didiamkan minimal 2-3 jam sebelum digunakan # kalau adonan kurang mengembang atau proses pengembangannya tidak sempurna, kue yang dibuat akan menjadi keras # pada zaman dahulu, adonan seperti ini juga bisa dibeli langsung dari pabrik roti === Membuat gula hias === # campurkan gula dengan putih telur # aduk menggunakan sendok kayu sekitar 15 menit, sampai campuran menjadi halus dan kental # sesekali tambahkan sekitar 1 sendok teh cuka secara bertahap agar adonan tetap jernih dan tidak cepat mengeras # gula hias ini digunakan untuk membuat bunga atau hiasan pada kue tart === Membuat ekstrak kopi === # masak gula tanpa air di dalam panci # aduk sampai gula berubah menjadi kuning tua alias ini adalah proses karamelisasi # masukkan kopi, lalu terus aduk # tambahkan air, vanili, dan garam, kemudian kecilkan api # setelah mendidih, angkat dan biarkan agak dingin # saring menggunakan saringan halus # hasilnya disebut ekstrak kopi, dan ini bisa disimpan cukup lama. lzlqk2saur6wr01rqgo5s5redlpfly9 120347 120346 2026-09-28T04:06:05Z Pluviophille 43559 added [[Category:WikiCitaRasa 2.0]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 120347 wikitext text/x-wiki Roti manis adalah roti jenis roti yang memiliki rasa dominan manis dan tekstur yang lembut dan empuk. == Bahan-bahan == * Mentega 1½ ons * gula halus ½ ons * tepung terigu 2 ons * tepung maizena ½ ons * kuning telur 1 butir * adonan roti ½ ons * soda 1 sendok teh * garam 1 sendok teh == Cara membuatnya == # campurkan mentega, gula, adonan roti, dan telur, diaduk sampai benar-benar rata # setelah itu masukkan soda kue dan garam # masukkan tepung maizena, lalu aduk sampai rata. Adonan harus cukup padat untuk dibentuk # Gilas atau ratakan adonan di atas papan sampai tipis, kira kira ½ cm # cetak menggunakan cetakan marie berbentuk persegi panjang # susun kue berjajar di atas loyang yang sebelumnya sudah diolesi mentega # panggang dengan api sedang # kalau kue sudah terlihat kuning, keluarkan sebentar. kemudian olesi tipis permukaannya dengan gula hias yang sudah dicampur sedikit kopi extract # panggang kembali dengan api sedang sampai matang === Perhatikan saat membuat adonan roti : === # campurkan tepung terigu, soda dan air menggunakan tangan di dalam panci # setelah tercampur, adonan di uleni dengan kuat di atas papan selama kira kira 1 jam # setelah itu adonan harus didiamkan minimal 2-3 jam sebelum digunakan # kalau adonan kurang mengembang atau proses pengembangannya tidak sempurna, kue yang dibuat akan menjadi keras # pada zaman dahulu, adonan seperti ini juga bisa dibeli langsung dari pabrik roti === Membuat gula hias === # campurkan gula dengan putih telur # aduk menggunakan sendok kayu sekitar 15 menit, sampai campuran menjadi halus dan kental # sesekali tambahkan sekitar 1 sendok teh cuka secara bertahap agar adonan tetap jernih dan tidak cepat mengeras # gula hias ini digunakan untuk membuat bunga atau hiasan pada kue tart === Membuat ekstrak kopi === # masak gula tanpa air di dalam panci # aduk sampai gula berubah menjadi kuning tua alias ini adalah proses karamelisasi # masukkan kopi, lalu terus aduk # tambahkan air, vanili, dan garam, kemudian kecilkan api # setelah mendidih, angkat dan biarkan agak dingin # saring menggunakan saringan halus # hasilnya disebut ekstrak kopi, dan ini bisa disimpan cukup lama. [[Kategori:WikiCitaRasa 2.0]] 7hdq2f0u5qtckiwxenhqzy5f68pnr28 Jelajah Wisata Makassar/Makam Raja-raja Tallo 0 28562 120351 2026-09-28T06:25:59Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Raja-raja Tallo]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo]] 120351 wikitext text/x-wiki #ALIH [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Kompleks Makam Raja-Raja Tallo]] tbca46truejoddi1hwyy5a5tgw4at6s Jelajah Wisata Makassar/Pulau Barrang Lompo 0 28563 120355 2026-09-28T06:31:17Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Pulau Barrang Lompo]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Barrang Lompo]] 120355 wikitext text/x-wiki #ALIH [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Barrang Lompo]] pbzk7kwnd3oiljs5muvnoljx5qbjavi Jelajah Wisata Makassar/Pulau Lae lae 0 28564 120361 2026-09-28T06:57:33Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Pulau Lae lae]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae]] 120361 wikitext text/x-wiki #ALIH [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Alam di Kota Makassar/Pulau Lae-Lae]] sxkikstzn10m1f7jcsi6jk6x8qivpsx Jelajah Wisata Makassar/Makam Syech yusuf 0 28565 120364 2026-09-28T07:01:57Z Iripseudocorus 39602 Iripseudocorus memindahkan halaman [[Jelajah Wisata Makassar/Makam Syech yusuf]] ke [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf]] 120364 wikitext text/x-wiki #ALIH [[Jelajah Wisata Makassar/Objek Wisata Sejarah di Kota Makassar/Makam Syekh Yusuf]] jq8re77fbfz5b6jxtlllxwxg5ikxjts Harta yang Terpendam/Bab 10 0 28566 120366 2026-09-28T10:34:55Z Ars-arsa 42375 ←Membuat halaman berisi 'X. RAHASIA YANG TERBUKA. Jikalau matahari sedang sorotkan sinarnya yang keras di waktu lohor, tidaklah ada tempat yang lebih senang dari pada meneduh di bawah pohon besar yang daunnya lebat. Bukanlah saja manusia ada berpikiran begitu, tetapi juga binatang-binatang ada tahu ini kesenangan. Dengarlah di waktu lohor bagaimana merdu itu burung-burung menyanyi dalam pepohonan yang lebat sembari terbang dari satu cabang ke lain cabang, lihatlah itu anjing-anjing yan...' 120366 wikitext text/x-wiki X. RAHASIA YANG TERBUKA. Jikalau matahari sedang sorotkan sinarnya yang keras di waktu lohor, tidaklah ada tempat yang lebih senang dari pada meneduh di bawah pohon besar yang daunnya lebat. Bukanlah saja manusia ada berpikiran begitu, tetapi juga binatang-binatang ada tahu ini kesenangan. Dengarlah di waktu lohor bagaimana merdu itu burung-burung menyanyi dalam pepohonan yang lebat sembari terbang dari satu cabang ke lain cabang, lihatlah itu anjing-anjing yang tidur nyenyak di atas rumput tebal di bawah teduhnya pohon sambil golerkan kepalanya. la orang ada mahluk yang merdeka, tidak terikat oleh suatu kewajiban atau pekerjaän, maka tidaklah suatu apa yang menganggu kesenangannya. Tetapi adalah juga manusla yang sembari memikul pekerjaän merasakan itu kesenangan. Soedarmo, itu opzichter yang biasa kerja berat, tahu baik bagaimana senang jikalau sesudahnya bekerja capek di bawah sinarnya matahari yang panas, datang meneduh di bawahnya pepohonan yang lebat sambil dengarkan nyanyiannya burung-burung di atas cabang pohon dan rasakan meniupnya angin halus yang sejuk. Begitulah sudah terjadi di hari Rabu, itu hari yang Soedarmo belum pernah rasakan dirinya begitu &#x200B;senang. Satu pal setengah jauhnya la sudah berjalan mengukur tanah dengan menahan lelahnya badan yang terjemur terus-menerus di panasnya matahari. Akhirnya sampailah la di suatu tempat, di atas satu bukit kecil, dimana ada tumbuh banyak pohon besar-besar. Itulah ada suatu tempat yang bagi Darmo, ada sebagai astana dimana la bisa senangkan dirinya sesudah bekerja capek. la punya tiga koell poen toeroet rasaken itoe kasenangan sambil rebahken diri di atas roempoet tebel dan pentang badjoenja soepaja badannja tertioep angin. Darmo sendiri pilih satoe tempat jang mengadepi pada satoe solokan, dimana ada mengalir deres aer jang bening. Sasoeda boeka la poenja badjoe locar jang soeda basa dengen karinget, Darmo laloe senderken badannja di pongkot poehoen besar, sambil matanja memandang ka itoe solokan dimana ada mantjoer aer dari satoe pantjoeran bamboe jang ditoentjapken ka dalem tanah dipinggir boekit jang djoerang. Di bawah pantjoeran itoe ada doedoek satoe gadis jang sedeng menjoetji pakean. Ia melinken memake kaen jang di-iket sawates dadah, tetapi tida loepoet ada kaliatan djoega dengen njata la poenja boeah dadah jang seger dan montok. Koelitnja gadis itoe tida item, pengawakannja tinggi, tetapi tida gemoek. Darmo tida bisa dapet liat teges parasnja gadis itoe, kerna la mengadepi pada itoe pantjoeran dan &#x200B;sedeng asik menjoetji. Tedoehnja papoehoenan Jang melindoengken ia dari panasnja matabari, membikin ia tida merasa lelah dalem pakerdjaännja itoe. Darmo tidak merasa perloe aken liat teges parasnja itoe prampoean moeda jang la tida taoe batinnja, tetapi potongan badannja itoe prampoean dan keadaännja sedeng memake kaen sadja, membikin Darmo inget pada itoe kadjadian di waktoe pagi har! tatkala ia mendekem di podjokan aken intipi Moerhaja mandi di kali di belakang roemahnja Joesoef. Darmo meremken matanja, dan kenangken keadaännja Moerbaja jang menarik sanget pada hatinja. Darmo soeda menginep ampat malem di roemahnja Joesoef dan soeda perna beradoe mata tiga kali pada Moer haja. Kenapa Darmo, satoe anak moeda jang terpladjar tinggi, satoe opzichter jang besar, satoe Raden dan anaknja bekas satoe wedana, maoe perhatiken pada satoe koki jang berderadjat renda ? Inilah pembatja tentoe merasa heran djikaloe tida taoe begimana potongan dan parasnja itoe koki, Moerhaja, anaknja njai Saleha. Itoe malem sebagimana soeda ditjeritaken, Darmo soeda bersantap sama sama Joesoef dan Marsina, dimana Darmo memoedji-moedji kapandeannja orang jang bikin itoe masakan ledzat, dan Joesoef Jang tida kapingin Marsina dipoedji boeat &#x200B;perboeatan jang boekan pakerdjaännja, telah akoeh teroes-terang bahoea itoe masakan ada kerdiaännja Moerhaja, Joesoef poenja koki moeda. Sedari itoe waktoe Darmo dapet napsoe keras aken liat begimana matjemnja itoe Moerhaja jang mempoenjai kapandean masak begitoe baek. Sasoedanja abis dahar, Darmo sengadja djalan boelak-balik ka kakoes dan kamar mandi, jang maksoednja hanja melinken maoe tengok matjemnja itoe koki moeda. Koetika satoe kali la liwatken dapoer, ia dapet tengok Moerhaja sedeng berdiri deket pintoe, dan waktoe begitoe, parasnja tida koesoet seperti sabelonnja ia mandi dan berdandan, hingga ia poenja paras jang biasa katoetoepan sawang asep dan ramboetnja jang biasa awoet-awoetan lantaran tida diperdoeliken, itoe waktoe ada ada kaliatan beres dan parasnja kallatan njata. Darmo dapet liat potongan moekanja Moerhaja jang tiroes, idoengnja lang bangir, moeloetnja jang ketjil, serta alisnja jang melengkoeng sebagi boelan sabelab, di bawah mana ada bertachta sapasang mata jang mempoenjal sorot aloes, terhias dengen la poenja boeloe mata jang lentik. Koelitnja Moerhaja ada poetih, maskipoen tida terlaloe poetih seperti Marsina. Oemoernja Moerhaja poen baroe 17 taon. Itoelah pertama kali jang Darmo dapet liat pada Moerhaja, sedari waktoe mana Darmo djadi selaloe jakinken boeat dapet tillk lebih &#x200B;sampoerna. Laen barinja Darmo dapet djalan aken bisa awasken lebih lama pada itoe gadis, jaitoe di waktoe Marsina sedeng mandoorken Moerhaja bebena, atawa di waktoe sore sedeng Marsina bantoeken masak, Darmo sengadja dateng ka dapoer dan beromong-omong dengen Marsina, pada hal la poenja maksoed, jalah soepaja bisa tilik keadaännja Moerhaja. Gadis ini kallatan djadi kikoek berkerdja djikaloe Darmo mengawasken padanja, dan satoe kali Moerhaja djadi terkedjoet tatkala menengok dan dapet liat matanja Darmo mengadjak mesem padanja. Itoelah ada pertemoean mata jang mempoenjai arti, hingga sedari itoe waktoe api katjintaän moelai membakar dalem hatinja kadoea anak moeda itoe. Laen harinja komball Darmo berboeat begitoe, sampe la sendiri djadi kagilaän. la tida bisa tidoer poeles, dan saban kali ada soeara berkrisik hatinja djadi terkedjoet. Waktoe Marsina mengintip dari djendela, dan melariken diri dengen kasi denger sóeara tindakannja, soeda bikin Darmo djadi menjangka bahoea Moerhaja soeda taoe ia poenja maksoed hati, hingga denge 1 terboeroe napsoe Darmo ambil pikiran bahoea jang dateng di depan kamarnja, adalah si Moerhaja. Darmo rebahken diri di itoe korsi males di samping kamarnja Moerhaja, tidalah laen maksoed dari pada kapingin bisa bitjara pada Moerhaja zonder satoe orang dapet taoe, tetapi siapatah njana kaloe Marsina &#x200B;dateng menggoda dan njataken kamoerahan hatinja aken soeka menoeloeng djikaloe Darmo ada merasa soesa hati. Darmo pikir itoe tawaran ada dloetjapken dengen sasoenggoenja, jaltoe hendak menoeloeng Darmo poenja tali libetan tjinta pada Moerhaja, hingga dengen maloe Darmo soeda djawab jang ia soeka trima itoe tawaran, tjoema belon perloe itoe waktoe. Pikirannja Darmo, djikaloė ia poenja niat soeda dibri taoe pada ajahnja, baroe ah ia nanti minta toeloengannja Marsina boeat beresken la poenja lamaran pada Moerbaja, tida sekali-kali Darmo dapet katahoei bahoea Marsina sendiri ada djato tjinta padanja. Darmo punya rasa tjinta pada Moerbaja, sedari itoe harl ada djadi semingkin keras, hingga waktoe Moerhaja mengelah napas di itoe malem, sasoedanja Darmo abis bitjara pada Marsina, Darmo toeroet rasaken doekanja gadis Itoe, maski poen Darmo sendiri tida taoe Moerhaja mengelah napas lantaran apa. Laen malemnja, sasoeda beradoe mata katiga kalinja, kombali Darmo tida bisa tidoer poeles, la memikirken begimana moesti bikin pertemoean sama Moerhaja dengen tida laen orang jang dapet taoe. Parasnja Moerhaja jang tjantik, lebih eilok dari parasnja Marsina, dan prangi serta kalakoeannja jang aloes, ada meresep betoel dalem hatinja Darmo, &#x200B;apapoeia Moerhaja itoe ada mempoenjal satoe kapandean jang tida banjak orang prampoean bisa tandingken. Darmo merasa Moerbaja itoe tida nanti dapet katjelaän djikaloe diambil djadi istrinja, maski poen Moerhaja tida mengenal sabidji soerat. Tetapi keadaännja Moerhaja jang renda membikin Darmo tida brani bri njata rasa tjintanja dengen terang, sebab djikaloe Joesoef dan Marsina dapet katahoei itoe perkara, nistjaja doea orang ini tida indahken lagi padanja sebagi itoe waktoe, atawa sebagi satoe Raden jang bisa memegang deradjat. Oleh kerna demikian, Darmo djadi tida dapet djalan tjara begimana la baroes bikin pertemoean sama Moerhaja dengen djalan lang paling baek. Sampe djaoe malem baroe la ambil poetoesan aken bertemoe di pinggir kali pada waktoe Moerhaja pergi mandi. Begitoelab, sabelonnja laen-laen orang bangoen, Darmo soeda berada di podjokan gelap di pinggir kall sampe achirmja Darmo dapet liat Moerhaja toeroen ka kali. Kombali disini Darmo dapet llat njata potongan badannja Moerhaja jang langsing dan ramboetnja jang pandjang, serta betis dan lengan tangannja jang poetih. Darmo liat Moerhaja tida ada poenja satoe tjatjat jang boleh ditjela, dan itoe kasatoedjoean sekarang, sedeng doedoek di bawali tedoehnja poehoen besar, ada dirasaken oleh Darmo. Darmo inget komball perkataän-perkataännja itoe &#x200B;gadis jang merendahken diri dan la poenja kasedihan koetika dapet taoe bahoea dirinja boekan ada bandingan dengen satoe Raden. Djikaloe Darmo Inget matanja Moerhaja jang penoeh dengen rasa soekoer koetika Darmo oetjapken djandjinja jang pasti, Darmo merasa oerat-oeratnja katarik. Ia merasa ada satoe kwadjiban aken angkat gadis ini dari satoe tempat renda ka tingkatan jang lebi atas, dan sabagi satoe lelaki jang menjintaken prampoean itoe lebi doeloe, Darmo merasa wadjib aken briken gadis itoe kasenangan jang kekal. Itoelah sebabnja Darmo soeda ambil poetoesan aken menikah dengen terang pada Moerhaja, tetapi tiara begimana ini nikahan haroes dibikin, dan tjara begimana Moerhaja poenja karendahan bisa ditoetoep, itoelah ada perkara-perkara jang Darmo belon dapet djalan. Darmo merasa pasti bahoea ajahnja jang beradat koekoeh tida nanti bri idzin aken ia menikah pada Moerbaja djikaloe la taoe bahoea Moerhaja itoe ada satoe koki, satoe prampoean jang tida mempoenjal deradjat. Apakah la haroes bikin djikaloe ajahnja tida satoedjoe pada nikahan itoe? Apakah la moesti melawan pada kamaoean ajahnja? Tida! Darmo ada satoe anak jang berbakti pada orang toea, ia belon perna melawan segala prenta dan kabendak ajah itoe. Salaennja begitoe, Darmo sendiri ada poenja pengrasaän agoeng, maka perkara nikah sama Moerhaja la baroes berpikir sampe &#x200B;mateng, maskipoen katjintaän ada meminta sanget ia poenja kamoeraban hati. Darmo berpikir, Moerhaja poenja klakoean ada begitoe baek, sedari ia menginep di roemahnja Joesoef, belon perna kadengeran Marsina atawa Joesoef menjomel pada Moerbaja. Inilah ada satoe tanda bahoea kadoea orang itoe tida bermoesoe—djikaloe tida maoe dikata sajang — pada Moerbaja. Marsina soeda perna berkata di itoe malem, bahoea djikatoe Darmo ada soesah hati apa-apa, biarlah Darmo tjeritaken soesah apa jang menindi pada hatinja, soepaja Marsina bisa angkat itoe soesah hati. Njatalah bagi Darmo bahoea Marsina itoe ada satoe prampoean jang baek boedi, oleh kerna demikian, kenapalah djoega la tida maoe minta pertoeloengannja? Boekankah itoe oetjapan ada sampe terang jang Marsina soeka berboeat apa-apa boeat kabarkannja Darmo? Darmo berpikir lagi, djikaloe ia moesti minta pertoeloengannja Marsina, la moesti minta djoega pertoeloengannja Joesoef. Sabetoelnja ia kapingin itoe resia tinggal tertoetoep di matania Joesoe', soepaja ini sobat tinggal Indabken la poenja kaagoengan, tetapi sabaliknja Darmo berpikir, Joesoef sendiri tida bargaken kaägoengannja sebagi saorang Arab jang beribadat, kerna la soeda plara Marsina, satoe prampoean bekas djalang, maka Darmo rasa perindahannja Joesoef padanja tida aken djad! &#x200B;koerang dengen lantaran tjeritaken la poenja kahendak aken menikah pada itoe koki. Apakah Joesoef nanti tertawaken padanja djikaloe ia denger itoe tjerita, Itoelah boleh djadi. Tetapi diikaloe ia soeda dikasi mengarti bahoea batin jang baek, adat dan prilakoe jang sanoenoeh tida selamanja bisa didapet pada gadis-gadis hartawan atawa jang terpladjar, nistjaja Joesoef aken toetoep tertawanja, malah boleh djadi dengen ridlah hati nanti briken pertoeloengannja sampe Darmo bisa menikah pada kokinja itoe. Tetapi pertoeloengan begimanakah jang Darmo nanti minta dari Marsina dan Joesoef? Inilah ada satoe perkara soesa. Moerbaja berkerdja pada Joesoef sebagi koki dan iboenja sebagi baboe, tetapi tida samoea pendoedoek Bogor dapet taoe hal itoe, tida saorang di Betawi dapet taoe. Dari sebab begitoe, kenapalah tida boleh djadi djikaloe Moerbaja itoe diakoeh sebagi Joesoef poenja famille, saoepama misanan? Joesoef ada Darmo poenja sobat kekal, seperti soedara, tetapi la ada saorang jang ternama, dan hartawan, maka apakah ia bisa trima itoe akoeban? Inilah ada dikhawatirkan oleh Darmo. Tetapi Darmo mau coba dan jikalau maksudnya ini jadi gagal, ia nanti cari lain jalan. Jikalau bisa kejadian bahwa Moerbaya itu terakui sebagai Joesoef punya misanan niatjaja &#x200B;dengan bangga la nanti datang menghadap pada ayahnya, dan minta ibunya datang di Bogor buat lamar itu gadis dari sanaknya seorang yang ternama dan hartawan, buat hal mana niscaya ayah dan ibunya Darmo tidak nanti merasa keberatan. Lain dari begitu, buat sampaikan maksudnya, Darmo anggap Marsinah itu boleh dijadikan satu perkakas yang berguna. Ia ada satu gula-gula yang paling dicintai oleh Joesoef, hingga boleh dikata hampir tidak ada satu permintaännya ini perempuan yang tidak diturut. Darmo lihat Marsinah ada pandai sekali bicara, dan tentulah bicaranya itu jikalau diukir buat bujukan, akan memakan dengan tentu di hatinya Joesoef. Bukankah lidah perempuan ada sepuluh kali lebih tajam dari lidah lelaki? Marsinah nanti tampik ia punya permintaan? Itulah tidak boleh jadi. Bukankah itu malam Marsinah sendiri sudah tawarkan pertolongannya jikalau Darmo ada dapat susah? maka kenapalah juga Marsinah menampik jikalau ia diminta akan bujuk suaminya, supaya ia ini mau akui Moerbaya itu sebagai misanannya? Semua pikiran baik dan harapan yang tidak bercuriga ada dalam otaknya Darmo, satu anak muda yang belum banyak bergaulan, hingga tidak kenal baik adatnya manusia, Dengan itu pikiran-pikiran yang senang, Darmo &#x200B;jadi duduk sebagai patung di bawah itu pohon besar, hingga ia jadi teramat kaget ketika dengar kulinya menegur apakah belum sampai waktunya akan berangkat lagi. Itulah sudah jauh Johor, dan Darmo musti lakukan lagi pekerjaännya buat beberapa paal, maka setelah dapat ingat kembali pada Kwad ibanaya itu, la lalu berangkat mulail lakukan lagi pekerjaännya. 60a6vtfyhf1fov03wi957atpfpmdnyn