Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.22 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Harta yang Terpendam/Bab 6 0 28539 120374 120367 2026-09-29T16:12:59Z Ars-arsa 42375 120374 wikitext text/x-wiki '''DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH''' Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminya dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat ​permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat bertemu suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, mengunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu menerangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak ingat satu apa selain hanya ingin mengamuk. Saneah tidak percaya perkataannya Ali, itu pengakuan Saneah pikir tentu juga sudah keluar dari pikiran gila. Sudah tiga hari Saneah mengunjungi Ali dan saban hari Saneah mendapatkan suaminya seperti orang bisu, cuma pertanyaan-pertanyaan yang perlu saja Ali sahutkan. Dalam itu tiga hari Ali tinggal diam, tidak bicara, tidak suka makan, minum atau isap rokok, ia selalu duduk dengan tundukkan kepala seperti orang yang berat pikiran. Pertanyaannya Ali yang diucapkan barusan, Saneah cuma balas dengan manggutkan kepala, tetapi dari matanya kelihatan ada meleleh air dengan deras. "Kenapa kau menangis, Saneah?" tanya Ali. "Ah! aku tahu, kau merasa sedih lantaran masih juga aku ada gila. Kau tidak percaya perkataanku bahwa aku sebetulnya tidak gila." "Ali, apa sebetulnya kau bicara dengan sungguh-sungguh?" tanya Saneah sambil memandang muka suaminya, seperti juga ia mau dapat kepastian apakah ia bicara dengan benar. "Kalau kau tidak gila, kenapa polisi bawa kau kemari dan dokter bilang betul kau gila?" "Itu semua sudah terjadi dengan sekejapan," sahut Ali. "Selagi aku kalap, boleh jadi kelakuanku mirip sebagai orang gila, tetapi sekarang, sebagaimana kau lihat, aku tidak gila." "Sudah tiga hari aku kunjungi kau," kata lagi Saneah, "dan setiap kali aku lihat kau duduk dengan tundukkan kepala, kau tidak sahutkan beberapa pertanyaanku, kau tidak suka makan makanan yang aku antarkan kamar. Apakah tiga hari yang lalu kau masih gila? Apakah sebabnya itu, Ali?" "Ah! Saneah," kata Ali dengan mengelah napas, "nyatalah kau tidak tahu keadaanku, nyatalah kau tidak tahu apa yang sebetulnya sudah terjadi di rumahnya tuan Joesoef. . . ." "Aku sudah dapat keterangan dari Katma yang pergi ke rumahnya tuan Joesoef dan menurut itu bujang punya cerita, dan selagi kau betulkan bilik mendadak kau punya sakit gila kambuh kembali. Kau sudah cekek tuan Joesoef dan Nyai Marsinah," "Aku kepingin bisa bunuh itu dua bangsat ​seperti membunuh pada anjing-anjing," kata Ali dengan gemas. "Kenapa kau begitu gemas padanya, Ali. Ia orang toh tidak berdosa satu apa. Ia panggil kau datang betulkan bilik dengan tidak sekali kira tukang bilik itu ada kau sendiri. Tuan Joesoef dan Nyai Marsinah sudah pindah di Bogor sebab lebih senang dengan hawa di sini...?" "Bukan lantaran ia orang suka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Dua ia orang takut dapat aku punya pembalasan." "Pembalasan bagaimana? Apa ia orang sudah berbuat salah pada kau, Ali? Apa bukan kita yang dapat ia punya banyak pertolongan di tempo dulu?" "Saneah, dengarlah apa yang aku ceritakan, dan percayalah omonganku ini ada dengan sebetulnya. Dulu orang dapatkan aku terletak di pinggir jalanan kereta api dengan luka berat di kepala. Orang kata aku sudah dapat itu luka lantaran terbentur kereta api. Aku jadi sakit, dan kau cerita itu waktu kelakuanku mirip seperti orang gila. Sebenar-benarnya itu waktu aku sendiri tidak tahu apakah aku berimpi ataukah sebetulnya ada kejadian itu perkara. Luka di kepala yang aku dapatkan, sudah menjadi lantaran akan aku tidak bisa berpikir betul perkara yang kejadian. Aku punya ingatan ada keras pada itu penggalian harta dan pada setannya Nyi Grintil, ​maka juga kadang-kadang datang ingatan yang sengit buat coba gali lagi harta itu. Tapi di mana tempatnya yang betul ada terpendam, aku tidak bisa ingat lagi, maka juga di mana saja aku lantas mau menggali. Itu bayangan setan yang rampas peti uang juga senantiasa terlihat di depan mataku. Lantaran ingatan di kepalaku kalang-kabut, tentu saja aku jadi senantiasa ketakutan. Sekarang perkara sudah jadi terang. Itu peti uang yang aku kenalkan betul ada di rumahnya tuan Joesoef. Sudah tiga hari aku pikirkan ini perkara, dan sekarang aku tahu betul bagaimana sudah kejadian pada diriku." Saneah jadi tertarik hati dengan itu cerita yang mirip seperti dongeng. Itu harta f 50,000 ia masih kagumkan, dari sebab begitu ia lalu mendengarkan lebih hati-hati pada ceritanya Ali yang masih diteruskan. "Saneah," melanjutkan Ali dalam ceritanya itu, "kau tentu masih ingat itu malem kau ada sakit. Penyakitmu itu membikin aku jadi jengkel, doanya dukun tidak bisa berhasil. Itu waktu aku inget ada satu kitab Arab yang tergantung di dinding rumah, peninggalan abang Mursin, dan yang kita selalu ukupkan sebagai barang angker. Aku yang sudah buang banyak uang buat itu kitab, karena saban malam Jumat musti diukupkan dengan menyan, jadi kepingin tahu ​isinya. Aku sudah tetapkan niatan, kalau betul itu ada kitab suci, aku mau minta kemanjurannya buat kau punya penyakit dan kalau kitab biasa, aku niat akan jual saja. Ketika aku buka lembarannya, satu lipatan surat sudah jatuh dari dalam lembaran kitab itu. Aku pungut dan cuma lihat tulisan-tulisan Arab yang rapi. Dari sebab kepingin tahu, aku lalu bawa surat itu pada tuan Joesoef yang kasih keterangan bahwa surat itu ada testamen dari hartanya satu haji. Hartanya yang berjumlah f 50,000 ada terpendam di masjid rusak di Mangga Dua. Ia kasih keterangan begitu lengkap dan nyatakan pengharapannya supaya aku bisa beruntung dapatkan harta itu, hingga aku percaya tuan Joesoef yang sudah hartawan tidak nanti serahkan harta itu. Malamnya pukul sepuluh, dengan tidak kasih tahu pada kau, sebab dipesan, aku lalu berangkat ke itu masjid. Di Gang Gardu aku dapat lihat bayangan putih yang aku sangkakan setan, tapi aku beranikan hati dan terus gali itu harta di masjid rusak. Sesudah dapat itu peti dan buka tutupnya, di mana kelihatan ada berisi banyak uang perak dan emas, sekonyung-konyong aku dengar suara tertawa dan di depanku berdiri satu setan perempuan yang kerudungi badannya dengan kain putih. Aku sangka itulah setannya Nyi Grintil, hingga aku jadi ketakutan sangat. Waktu ia mau ambil ​itu peti, aku lantas serang setan itu, sebab aku lebih hargakan harta itu dari pada kematian. Aku jadi bergulat, tapi dengan tidak ketahuan siapa yang pukul, keesokannya aku dapatkan diriku menggeletak di tengah-tengah masjid itu dengan luka di kepala. Aku lalu merayap sampai di pinggir gili-gili jalanan kereta api akan berangkat pulang, tapi tenagaku habis dan aku jatuh dengan tidak ingat orang. Sekarang, Saneah, kau tebak siapa adanya itu orang yang pukul aku dengan batu? Siapa adanya itu perempuan yang menyaru jadi setan?" Saneah goyang kepalanya. "Apa kau tidak keliru kalau duga Nyai Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?" tanya Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. "Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat ​pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya deriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat." "Ah, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan," kata Saneah. "Kau keliru Saneah," kata Ali dengan mata menyala. "Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan." Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. kywiohxwtnhcfh679wzdq0qflcl1ian 120377 120374 2026-09-29T16:15:18Z Ars-arsa 42375 added [[Category:Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 120377 wikitext text/x-wiki '''DI RUMAH SAKIT CIKEUMEUH''' Polisi dapat banyak susah akan bawa Ali ke rumah sakit Cikeumeuh, sebab ia selalu berontak-rontak tidak mau dibawa ke itu tempat kalau tidak bersama-sama istrinya. Sebab bisa bawa bencana bila Ali senantiasa berontak-rontak begitu, maka polisi luluskan kehendaknya Ali, yang lalu dibawa ke Kebon Jahe di rumahnya Katma. Tentu saja semua orang isinya itu rumah jadi terkejut sangat ketika dapat lihat Ali terikat tangannya dengan dipegang oleh dua orang polisi. Keadaannya Ali jadi semakin gila ketika dapat lihat istri dan familinya. Ia terus berontak, hingga beberapa kali polisi terpaksa gunakan ruyungnya: buat bikin Ali merasa sakit, tetapi itu semua tidak menolong, Ali punya kalap tidak perdulikan sakit. Embok Saneah, istrinya Ali, jadi menjerit-jerit ketika lihat suaminya dipukuli oleh orang polisi, sedang sekalian familinya yang perempuan turut menangis, Katma berulang-ulang minta pada itu orang polisi supaya saudaranya tidak dipukuli, dan kemudian, bersama Saneah, Katma lalu antar Ali ke rumah sakit di Cikeumeuh. Ali diperiksa oleh satu dokter dan ini tabib Eropa lalu menerangkan bahwa Ali betul dapat sakit gila, tetapi tidak keras, dalam satu bulan barangkali bisa sembuh. Istrinya Ali dikasih surat ​permisi akan boleh masuk ke rumah sakit buat bertemu suaminya. Ali dimasukkan di satu kamar sendirian, sedang Katma dan Saneah lalu berjalan pulang dengan hati sedih. Pada suatu hari, ketika Saneah, sebagaimana biasa setiap hari, mengunjungi suaminya di rumah sakit, Ali lalu menerangkan pada Saneah bahwa ia sebetulnya tidak gila, cuma lantaran terlalu gusar, maka ia jadi begitu kalap, hingga pikirannya jadi gelap. Ia tidak ingat satu apa selain hanya ingin mengamuk. Saneah tidak percaya perkataannya Ali, itu pengakuan Saneah pikir tentu juga sudah keluar dari pikiran gila. Sudah tiga hari Saneah mengunjungi Ali dan saban hari Saneah mendapatkan suaminya seperti orang bisu, cuma pertanyaan-pertanyaan yang perlu saja Ali sahutkan. Dalam itu tiga hari Ali tinggal diam, tidak bicara, tidak suka makan, minum atau isap rokok, ia selalu duduk dengan tundukkan kepala seperti orang yang berat pikiran. Pertanyaannya Ali yang diucapkan barusan, Saneah cuma balas dengan manggutkan kepala, tetapi dari matanya kelihatan ada meleleh air dengan deras. "Kenapa kau menangis, Saneah?" tanya Ali. "Ah! aku tahu, kau merasa sedih lantaran masih juga aku ada gila. Kau tidak percaya perkataanku bahwa aku sebetulnya tidak gila." "Ali, apa sebetulnya kau bicara dengan sungguh-sungguh?" tanya Saneah sambil memandang muka suaminya, seperti juga ia mau dapat kepastian apakah ia bicara dengan benar. "Kalau kau tidak gila, kenapa polisi bawa kau kemari dan dokter bilang betul kau gila?" "Itu semua sudah terjadi dengan sekejapan," sahut Ali. "Selagi aku kalap, boleh jadi kelakuanku mirip sebagai orang gila, tetapi sekarang, sebagaimana kau lihat, aku tidak gila." "Sudah tiga hari aku kunjungi kau," kata lagi Saneah, "dan setiap kali aku lihat kau duduk dengan tundukkan kepala, kau tidak sahutkan beberapa pertanyaanku, kau tidak suka makan makanan yang aku antarkan kamar. Apakah tiga hari yang lalu kau masih gila? Apakah sebabnya itu, Ali?" "Ah! Saneah," kata Ali dengan mengelah napas, "nyatalah kau tidak tahu keadaanku, nyatalah kau tidak tahu apa yang sebetulnya sudah terjadi di rumahnya tuan Joesoef. . . ." "Aku sudah dapat keterangan dari Katma yang pergi ke rumahnya tuan Joesoef dan menurut itu bujang punya cerita, dan selagi kau betulkan bilik mendadak kau punya sakit gila kambuh kembali. Kau sudah cekek tuan Joesoef dan Nyai Marsinah," "Aku kepingin bisa bunuh itu dua bangsat ​seperti membunuh pada anjing-anjing," kata Ali dengan gemas. "Kenapa kau begitu gemas padanya, Ali. Ia orang toh tidak berdosa satu apa. Ia panggil kau datang betulkan bilik dengan tidak sekali kira tukang bilik itu ada kau sendiri. Tuan Joesoef dan Nyai Marsinah sudah pindah di Bogor sebab lebih senang dengan hawa di sini...?" "Bukan lantaran ia orang suka sama hawa di sini, tetapi sebab di Mangga Dua ia orang takut dapat aku punya pembalasan." "Pembalasan bagaimana? Apa ia orang sudah berbuat salah pada kau, Ali? Apa bukan kita yang dapat ia punya banyak pertolongan di tempo dulu?" "Saneah, dengarlah apa yang aku ceritakan, dan percayalah omonganku ini ada dengan sebetulnya. Dulu orang dapatkan aku terletak di pinggir jalanan kereta api dengan luka berat di kepala. Orang kata aku sudah dapat itu luka lantaran terbentur kereta api. Aku jadi sakit, dan kau cerita itu waktu kelakuanku mirip seperti orang gila. Sebenar-benarnya itu waktu aku sendiri tidak tahu apakah aku berimpi ataukah sebetulnya ada kejadian itu perkara. Luka di kepala yang aku dapatkan, sudah menjadi lantaran akan aku tidak bisa berpikir betul perkara yang kejadian. Aku punya ingatan ada keras pada itu penggalian harta dan pada setannya Nyi Grintil, ​maka juga kadang-kadang datang ingatan yang sengit buat coba gali lagi harta itu. Tapi di mana tempatnya yang betul ada terpendam, aku tidak bisa ingat lagi, maka juga di mana saja aku lantas mau menggali. Itu bayangan setan yang rampas peti uang juga senantiasa terlihat di depan mataku. Lantaran ingatan di kepalaku kalang-kabut, tentu saja aku jadi senantiasa ketakutan. Sekarang perkara sudah jadi terang. Itu peti uang yang aku kenalkan betul ada di rumahnya tuan Joesoef. Sudah tiga hari aku pikirkan ini perkara, dan sekarang aku tahu betul bagaimana sudah kejadian pada diriku." Saneah jadi tertarik hati dengan itu cerita yang mirip seperti dongeng. Itu harta f 50,000 ia masih kagumkan, dari sebab begitu ia lalu mendengarkan lebih hati-hati pada ceritanya Ali yang masih diteruskan. "Saneah," melanjutkan Ali dalam ceritanya itu, "kau tentu masih ingat itu malem kau ada sakit. Penyakitmu itu membikin aku jadi jengkel, doanya dukun tidak bisa berhasil. Itu waktu aku inget ada satu kitab Arab yang tergantung di dinding rumah, peninggalan abang Mursin, dan yang kita selalu ukupkan sebagai barang angker. Aku yang sudah buang banyak uang buat itu kitab, karena saban malam Jumat musti diukupkan dengan menyan, jadi kepingin tahu ​isinya. Aku sudah tetapkan niatan, kalau betul itu ada kitab suci, aku mau minta kemanjurannya buat kau punya penyakit dan kalau kitab biasa, aku niat akan jual saja. Ketika aku buka lembarannya, satu lipatan surat sudah jatuh dari dalam lembaran kitab itu. Aku pungut dan cuma lihat tulisan-tulisan Arab yang rapi. Dari sebab kepingin tahu, aku lalu bawa surat itu pada tuan Joesoef yang kasih keterangan bahwa surat itu ada testamen dari hartanya satu haji. Hartanya yang berjumlah f 50,000 ada terpendam di masjid rusak di Mangga Dua. Ia kasih keterangan begitu lengkap dan nyatakan pengharapannya supaya aku bisa beruntung dapatkan harta itu, hingga aku percaya tuan Joesoef yang sudah hartawan tidak nanti serahkan harta itu. Malamnya pukul sepuluh, dengan tidak kasih tahu pada kau, sebab dipesan, aku lalu berangkat ke itu masjid. Di Gang Gardu aku dapat lihat bayangan putih yang aku sangkakan setan, tapi aku beranikan hati dan terus gali itu harta di masjid rusak. Sesudah dapat itu peti dan buka tutupnya, di mana kelihatan ada berisi banyak uang perak dan emas, sekonyung-konyong aku dengar suara tertawa dan di depanku berdiri satu setan perempuan yang kerudungi badannya dengan kain putih. Aku sangka itulah setannya Nyi Grintil, hingga aku jadi ketakutan sangat. Waktu ia mau ambil ​itu peti, aku lantas serang setan itu, sebab aku lebih hargakan harta itu dari pada kematian. Aku jadi bergulat, tapi dengan tidak ketahuan siapa yang pukul, keesokannya aku dapatkan diriku menggeletak di tengah-tengah masjid itu dengan luka di kepala. Aku lalu merayap sampai di pinggir gili-gili jalanan kereta api akan berangkat pulang, tapi tenagaku habis dan aku jatuh dengan tidak ingat orang. Sekarang, Saneah, kau tebak siapa adanya itu orang yang pukul aku dengan batu? Siapa adanya itu perempuan yang menyaru jadi setan?" Saneah goyang kepalanya. "Apa kau tidak keliru kalau duga Nyai Marsinah dan Joesoef sudah berbuat begitu?" tanya Saneah, sebab sangsi kalau Ali nanti jatuhkan dugaan ke situ. "Tidak bisa keliru. Joesoef ada satu bangsat yang paling pandai berpura-pura. Ia bikin dirinya terpandang mulia, sebab tidak suka serakahkan itu harta dan kasih keterangan cukup hal adanya harta itu, tapi malam-malam ia sudah ajak Nyi Marsinah ke itu masjid, rupanya mau dulukan ambil itu harta, tapi ketika lihat aku ada di situ ia lantas suruh Marsinah menyaru jadi setan. Ketika lihat aku mau matikan Marsinah, Joesoef lantas serang dengan batu. Keesokannya tentu ia suruh Min cari tahu dan dapat keterangan aku tidak mati, hingga ia jadi khawatir sekali dapat ​pembalasan, maka ia lantas pindah ke Ciwaringin, dengan harapan supaya kita tidak bisa ketemukan lagi padanya. Tetapi Allah-ta-allah sudah bawa kita kemari buat bikin perhitungan padanya. Begitulah dengan kodrat Allah aku sudah datang di rumahnya buat betulkan bilik, di tempat mana justru ada itu lemari yang mesti dikisarkan. Dalam itu lemari aku dapat lihat itu peti uang, yang lantas juga aku kenalkan ada itu peti yang aku gali di masjid rusak dan berisi itu uang f 50,000. Pikiranku yang gelap, itu waktu jadi terang sebagai matahari, hingga lantaran sengit aku sudah serang pada Nyai Marsinah dan tuan Joesoef, aku kepingin sekali ambil jiwanya dengan aku punya deriji. Nah, sekarang kau tahu duduknya perkara, Saneah. Kau pikir pembalasan kita musti bikin pada itu dua bangsat." "Ah, Ali, buat apa kita bikin pembalasan. Dia ada orang hartawan, kita orang miskin. Biarlah Allah sendiri nanti balas itu kejahatan," kata Saneah. "Kau keliru Saneah," kata Ali dengan mata menyala. "Allah tidak bisa turunkan tangan, ia melindungi orang yang hendak membalas pada manusia yang berbuat kejahatan." Saneah mengelah napas. Ia tahu Ali ada punya nafsu yang keras dalam segala perkara yang tidak pantas. [[Kategori:Fiksi]] ezn4gsqjmvwxboznjigv3ejw3sqaxrh Harta yang Terpendam/Bab 10 0 28566 120375 120372 2026-09-29T16:14:33Z Ars-arsa 42375 120375 wikitext text/x-wiki '''RAHASIA YANG TERBUKA''' Jikalau matahari sedang sorotkan sinarnya yang keras di waktu lohor, tidaklah ada tempat yang lebih senang daripada meneduh di bawah pohon besar yang daunnya lebat. Bukanlah saja manusia ada berpikiran begitu, tetapi juga binatang-binatang ada tahu ini kesenangan. Dengarlah di waktu lohor bagaimana merdu itu burung-burung menyanyi dalam pepohonan yang lebat sembari terbang dari satu cabang ke lain cabang, lihatlah itu anjing-anjing yang tidur nyenyak di atas rumput tebal di bawah teduhnya pohon sambil golerkan kepalanya. la orang ada mahluk yang merdeka, tidak terikat oleh suatu kewajiban atau pekerjaän, maka tidaklah suatu apa yang menganggu kesenangannya. Tetapi adalah juga manusia yang sembari memikul pekerjaän merasakan itu kesenangan. Soedarmo, itu opzichter yang biasa kerja berat, tahu baik bagaimana senang jikalau sesudahnya bekerja capek di bawah sinarnya matahari yang panas, datang meneduh di bawahnya pepohonan yang lebat sambil dengarkan nyanyiannya burung-burung di atas cabang pohon dan rasakan meniupnya angin halus yang sejuk. Begitulah sudah terjadi di hari Rabu, itu hari yang Soedarmo belum pernah rasakan dirinya begitu ​senang. Satu pal setengah jauhnya ia sudah berjalan mengukur tanah dengan menahan lelahnya badan yang terjemur terus-menerus di panasnya matahari. Akhirnya sampailah ia di suatu tempat, di atas satu bukit kecil, di mana ada tumbuh banyak pohon besar-besar. Itulah ada suatu tempat yang bagi Darmo, ada sebagai astana di mana ia bisa senangkan dirinya sesudah bekerja capek. la punya tiga kul pun turut rasakan itu kesenangan sambil rebahkan diri di atas rumput tebal dan pantang bajunya supaya badannya tertiup angin. Darmo sendiri pilih satu tempat yang menghadap pada satu selokan, di mana ada mengalir deras air yang bening. Sesudah buka ia punya baju locar yang sudah basah dengan keringat, Darmo lalu senderkan badannya di pongkot pohon besar, sambil matanya memandang ke itu selokan di mana ada mancur air dari satu pancuran bambu yang ditancapkan ke dalam tanah di pinggir bukit yang jurang. Di bawah pancuran itu ada duduk satu gadis yang sedang mencuci pakaian. Ia melinkan memakai kain yang diikat sebatas dada, tetapi tidak luput ada kelihatan juga dengan nyata ia punya buah dada yang segar dan montok. Kulitnya gadis itu tidak hitam, perawakannya tinggi, tetapi tidak gemuk. Darmo tidak bisa dapat lihat tegas parasnya gadis itu, karena ia menghadap pada itu pancuran dan ​sedang asyik mencuci. Teduhnya pepohonan yang melindungkan ia dari panasnya matahari, membikin ia tidak merasa lelah dalam pekerjaannya itu. Darmo tidak merasa perlu akan lihat tegas parasnya itu perempuan muda yang ia tidak tahu batinnya, tetapi potongan badannya itu perempuan dan keadaannya sedang memakai kain saja, membikin Darmo ingat pada itu kejadian di waktu pagi hari tatkala ia mendekam di pojokan akan intipi Moerhaya mandi di kali di belakang rumahnya Joesoef. Darmo meremkan matanya, dan kenangkan keadaannya Moerhaya yang menarik sangat pada hatinya. Darmo sudah menginap empat malam di rumahnya Joesoef dan sudah pernah beradu mata tiga kali pada Moerhaya. Kenapa Darmo, satu anak muda yang terpelajar tinggi, satu opzichter yang besar, satu Raden dan anaknya bekas satu wedana, mau perhatikan pada satu koki yang berderajat rendah? Inilah pembaca tentu merasa heran jikalau tidak tahu bagaimana potongan dan parasnya itu koki, Moerhaya, anaknya nyai Saleha. Itu malam sebagaimana sudah diceritakan, Darmo sudah bersantap sama sama Joesoef dan Marsinah, di mana Darmo memuji-muji kepandaiannya orang yang bikin itu masakan lezat, dan Joesoef yang tidak kepingin Marsinah dipuji buat ​perbuatan yang bukan pekerjaannya, telah akuh terus-terang bahwa itu masakan ada kerjaannya Moerhaya, Joesoef punya koki muda. Sedari itu waktu Darmo dapat napsu keras akan lihat bagaimana macamnya itu Moerhaya yang mempunyai kepandaian masak begitu baik. Sesudahnya habis dahar, Darmo sengaja jalan bolak-balik ke kakus dan kamar mandi, yang maksudnya hanya melinkan mau tengok macamnya itu koki muda. Ketika satu kali ia liwatkan dapur, ia dapat tengok Moerhaya sedang berdiri dekat pintu, dan waktu begitu, parasnya tidak kusut seperti sebelumnya ia mandi dan berdandan, hingga ia punya paras yang biasa ketutupan sawang asap dan rambutnya yang biasa awut-awutan lantaran tidak diperdulikan, itu waktu ada kelihatan beres dan parasnya kelihatan nyata. Darmo dapat lihat potongan mukanya Moerhaya yang tirus, hidungnya yang bangir, mulutnya yang kecil, serta alisnya yang melengkung sebagai bulan sabelab, di bawah mana ada bertahta sepasang mata yang mempunyai sorot halus, terhias dengan ia punya bulu mata yang lentik. Kulitnya Moerhaya ada putih, meskipun tidak terlalu putih seperti Marsinah. Umurnya Moerhaya pun baru 17 tahun. Itulah pertama kali yang Darmo dapat lihat pada Moerhaya, sedari waktu mana Darmo jadi selalu yakinkan buat dapat tilik lebih ​sempurna. Lain harinya Darmo dapat jalan akan bisa awaskan lebih lama pada itu gadis, yaitu di waktu Marsinah sedang mandorkan Moerhaya bebenah, atau di waktu sore sedang Marsinah bantukan masak, Darmo sengaja datang ke dapur dan beromong-omong dengan Marsinah, padahal ia punya maksud, ialah supaya bisa tilik keadaannya Moerhaya. Gadis ini kelihatan jadi kikuk bekerja jikalau Darmo mengawaskan padanya, dan satu kali Moerhaya jadi terkejut tatkala menengok dan dapat lihat matanya Darmo mengajak mesem padanya. Itulah ada pertemuan mata yang mempunyai arti, hingga sedari itu waktu api kecintaan mulai membakar dalam hatinya kedua anak muda itu. Lain harinya kembali Darmo berbuat begitu, sampai ia sendiri jadi kegilaan. la tidak bisa tidur pulas, dan saban kali ada suara berisik hatinya jadi terkejut. Waktu Marsinah mengintip dari jendela, dan melarikan diri dengan kasih dengar suara tindakannya, sudah bikin Darmo jadi menyangka bahwa Moerhaya sudah tahu ia punya maksud hati, hingga dengan terburu napsu Darmo ambil pikiran bahwa yang datang di depan kamarnya, adalah si Moerhaya. Darmo rebahkan diri di itu kursi malas di samping kamarnya Moerhaya, tidaklah lain maksud daripada kepingin bisa bicara pada Moerhaya zonder satu orang dapat tahu, tetapi siapatah nyana kalau Marsinah ​datang menggoda dan nyatakan kemurahan hatinya akan suka menolong jikalau Darmo ada merasa susah hati. Darmo pikir itu tawaran ada diucapkan dengan sesungguhnya, yaitu hendak menolong Darmo punja tali libetan cinta pada Moerhaya, hingga dengan malu Darmo sudah jawab yang ia suka terima itu tawaran, cuma belum perlu itu waktu. Pikirannya Darmo, jikalau ia punya niat sudah diberitahu pada ayahnya, barulah ia nanti minta pertolongannya Marsinah buat bereskan ia punya lamaran pada Moerhaya, tidak sekali-kali Darmo dapat ketahui bahwa Marsinah sendiri ada jatuh cinta padanya. Darmo punya rasa cinta pada Moerhaya, sedari itu harl ada jadi semakin keras, hingga waktu Moerhaya mengelah napas di itu malam, sesudahnya Darmo habis bicara pada Marsinah, Darmo turut merasakan dukanya gadis itu, meskipun Darmo sendiri tidak tahu Moerhaya mengelah napas lantaran apa. Lain malamnya, sesudah beradu mata ketiga kalinya, kembali Darmo tidak bisa tidur pulas, ia memikirkan bagaimana musti bikin pertemuan sama Moerhaya dengan tidak lain orang yang dapat tahu. Parasnja Moerhaya yang cantik, lebih elok dari parasnya Marsinah, dan perangai serta kelakuannya yang halus, ada meresap betul dalam hatinya Darmo, ​apapoeia Moerhaya itu ada mempunyai satu kepandaian yang tidak banyak orang perempuan bisa tandingkan. Darmo merasa Moerhaya itu tidak nanti dapat kecelaan jikalau diambil jadi istrinya, meskipun Moerhaya tidak mengenal sebiji surat. Tetapi keadaannya Moerhaya yang rendah membikin Darmo tidak berani memberi nyata rasa cintanya dengan terang, sebab jikalau Joesoef dan Marsinah dapat ketahui itu perkara, niscaya dua orang ini tidak indahkan lagi padanya sebagai itu waktu, atau sebagai satu Raden yang bisa memegang derajat. Oleh karena demikian, Darmo jadi tidak dapat jalan cara bagaimana ia harus bikin pertemuan sama Moerhaya dengan jalan yang paling baik. Sampai jauh malam baru ia ambil keputusan akan bertemu di pinggir kali pada waktu Moerhaya pergi mandi. Begitulah, sebelumnya lain-lain orang bangun, Darmo sudah berada di pojokan gelap di pinggir kali sampai akhirnya Darmo dapat lihat Moerhaya turun ke kali. Kembali di sini Darmo dapat lihat nyata potongan badannya Moerhaya yang langsing dan rambutnya yang panjang, serta betis dan lengan tangannya yang putih. Darmo lihat Moerhaya tidak ada punya satu cacat yang boleh dicela, dan itu kesetujuan sekarang, sedang duduk di bawah teduhnya pohon besar, ada dirasakan oleh Darmo. Darmo ingat kemball perkataan-perkataannya itu ​gadis yang merendahkan diri dan ia punya kesedihan ketika dapat tahu bahwa dirinya bukan ada bandingan dengan satu Raden. Jikalau Darmo ingat matanya Moerhaya yang penuh dengan rasa syukur ketika Darmo ucapkan janjinya yang pasti, Darmo merasa urat-uratnya ketarik. Ia merasa ada satu kewajiban akan angkat gadis ini dari satu tempat rendah ke tingkatan yang lebih atas, dan sebagai satu lelaki yang mencintakan perempuan itu lebih dulu, Darmo merasa wajib akan memberikan gadis itu kesenangan yang kekal. Itulah sebabnya Darmo sudah mengambil keputusan akan menikah dengan terang pada Moerhaya, tetapi cara bagaimana ini nikahan harus dibikin, dan cara bagaimana Moerhaya punya kerendahan bisa ditutup, itulah ada perkara-perkara yang Darmo belum dapat jalan. Darmo merasa pasti bahwa ayahnya yang beradat kukuh nanti tidak beri ijin ia akan menikah pada Moerhaya jikalau ia tahu bahwa Moerhaya itu ada satu koki, satu perempuan yang tidak mempunyai derajat. Apakah ia harus bikin jikalau ayahnya tidak setuju pada nikahan itu? Apakah ia musti melawan pada kemauan ayahnya? Tidak! Darmo ada satu anak yang berbakti pada orang tua, ia belum pernah melawan segala perintah dan kehendak ayah itu. Selain itu, Darmo sendiri ada punya perasaan agung, maka perkara nikah sama Moerhaya ia harus berpikir sampai ​matang, meskipun kecintaan ada meminta sangat ia punya kemurahan hati. Darmo berpikir, Moerhaya punya kelakuan ada begitu baik, sedari ia menginap di rumahnya Joesoef, belum pernah kedengaran Marsinah atau Joesoef menyomel pada Moerhaya. Inilah ada satu tanda bahwa kedua orang itu tidak bermusuh—jikalau tidak mau dikata sayang — pada Moerhaya. Marsinah sudah pernah berkata di itu malam, bahwa jikalau Darmo ada susah hati apa-apa, biarlah Darmo ceritakan susah apa yang menindi pada hatinya, supaya Marsinah bisa angkat itu susah hati. Nyatalah bagi Darmo bahwa Marsinah itu ada satu perempuan yang baik budi, oleh karena demikian, kenapalah juga ia tidak mau minta pertolongannya? Bukankah itu ucapan ada sampai terang yang Marsinah suka berbuat apa-apa buat kabarkannya Darmo? Darmo berpikir lagi, jikalau ia musti minta pertolongannya Marsinah, ia musti minta juga pertolongannya Joesoef. Sebetulnya ia kepingin itu rahasia tinggal tertutup di matanya Joesoef, supaya ini sobat tinggal indabkan ia punya keagungan, tetapi sebaliknya Darmo berpikir, Joesoef sendiri tidak hargakan keagungannya sebagai seorang Arab yang beribadat, karena ia sudah plara Marsinah, satu perempuan bekas jalang, maka Darmo rasa perindahannya Joesoef padanya tidak akan jadi ​kurang dengan lantaran ceritakan ia punya kehendak akan menikah pada itu koki. Apakah Joesoef nanti tertawakan padanya jikalau ia dengar itu cerita, itulah boleh jadi. Tetapi jikalau ia sudah dikasih mengerti bahwa batin yang baik, adat dan perilaku yang senonoh tidak selamanya bisa didapat pada gadis-gadis hartawan atau yang terpelajar, niscaya Joesoef akan tutup tertawanya, malah boleh jadi dengan ridla hati nanti memberikan pertolongannya sampai Darmo bisa menikah pada kokinya itu. Tetapi pertolongan bagaimanakah yang Darmo nanti minta dari Marsinah dan Joesoef? Inilah ada satu perkara susah. Moerhaya bekerja pada Joesoef sebagi koki dan ibunya sebagai babu, tetapi tidak semua penduduk Bogor dapat tahu hal itu, tidak seorang di Betawi dapat tahu. Dari sebab begitu, kenapalah tidak boleh jadi jikalau Moerhaya itu diakui sebagai Joesoef punya famili, seupama misanan? Joesoef ada Darmo punya sobat kekal, seperti saudara, tetapi ia ada seorang yang ternama, dan hartawan, maka apakah ia bisa terima itu akuban? Inilah ada dikhawatirkan oleh Darmo. Tetapi Darmo mau coba dan jikalau maksudnya ini jadi gagal, ia nanti cari lain jalan. Jikalau bisa kejadian bahwa Moerhaya itu terakui sebagai Joesoef punya misanan niscaya ​dengan bangga ia nanti datang menghadap pada ayahnya, dan minta ibunya datang di Bogor buat lamar itu gadis dari sanaknya seorang yang ternama dan hartawan, buat hal mana niscaya ayah dan ibunya Darmo tidak nanti merasa keberatan. Lain dari begitu, buat sampaikan maksudnya, Darmo anggap Marsinah itu boleh dijadikan satu perkakas yang berguna. Ia ada satu gula-gula yang paling dicintai oleh Joesoef, hingga boleh dikata hampir tidak ada satu permintaännya ini perempuan yang tidak diturut. Darmo lihat Marsinah ada pandai sekali bicara, dan tentulah bicaranya itu jikalau diukir buat bujukan, akan memakan dengan tentu di hatinya Joesoef. Bukankah lidah perempuan ada sepuluh kali lebih tajam dari lidah lelaki? Marsinah nanti tampik ia punya permintaan? Itulah tidak boleh jadi. Bukankah itu malam Marsinah sendiri sudah tawarkan pertolongannya jikalau Darmo ada dapat susah? maka kenapalah juga Marsinah menampik jikalau ia diminta akan bujuk suaminya, supaya ia ini mau akui Moerbaya itu sebagai misanannya? Semua pikiran baik dan harapan yang tidak bercuriga ada dalam otaknya Darmo, satu anak muda yang belum banyak pergaulan, hingga tidak kenal baik adatnya manusia. Dengan itu pikiran-pikiran yang senang, Darmo ​jadi duduk sebagai patung di bawah itu pohon besar, hingga ia jadi teramat kaget ketika dengar kulinya menegur apakah belum sampai waktunya akan berangkat lagi. Itulah sudah jauh Johor, dan Darmo musti lakukan lagi pekerjaannya buat beberapa pal, maka setelah dapat ingat kembali pada Kwad ibanaya itu, la lalu berangkat mulai lakukan lagi pekerjaannya. px4ya754vqu3rw8h3aav2oqrf0w1506 120376 120375 2026-09-29T16:14:54Z Ars-arsa 42375 added [[Category:Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 120376 wikitext text/x-wiki '''RAHASIA YANG TERBUKA''' Jikalau matahari sedang sorotkan sinarnya yang keras di waktu lohor, tidaklah ada tempat yang lebih senang daripada meneduh di bawah pohon besar yang daunnya lebat. Bukanlah saja manusia ada berpikiran begitu, tetapi juga binatang-binatang ada tahu ini kesenangan. Dengarlah di waktu lohor bagaimana merdu itu burung-burung menyanyi dalam pepohonan yang lebat sembari terbang dari satu cabang ke lain cabang, lihatlah itu anjing-anjing yang tidur nyenyak di atas rumput tebal di bawah teduhnya pohon sambil golerkan kepalanya. la orang ada mahluk yang merdeka, tidak terikat oleh suatu kewajiban atau pekerjaän, maka tidaklah suatu apa yang menganggu kesenangannya. Tetapi adalah juga manusia yang sembari memikul pekerjaän merasakan itu kesenangan. Soedarmo, itu opzichter yang biasa kerja berat, tahu baik bagaimana senang jikalau sesudahnya bekerja capek di bawah sinarnya matahari yang panas, datang meneduh di bawahnya pepohonan yang lebat sambil dengarkan nyanyiannya burung-burung di atas cabang pohon dan rasakan meniupnya angin halus yang sejuk. Begitulah sudah terjadi di hari Rabu, itu hari yang Soedarmo belum pernah rasakan dirinya begitu ​senang. Satu pal setengah jauhnya ia sudah berjalan mengukur tanah dengan menahan lelahnya badan yang terjemur terus-menerus di panasnya matahari. Akhirnya sampailah ia di suatu tempat, di atas satu bukit kecil, di mana ada tumbuh banyak pohon besar-besar. Itulah ada suatu tempat yang bagi Darmo, ada sebagai astana di mana ia bisa senangkan dirinya sesudah bekerja capek. la punya tiga kul pun turut rasakan itu kesenangan sambil rebahkan diri di atas rumput tebal dan pantang bajunya supaya badannya tertiup angin. Darmo sendiri pilih satu tempat yang menghadap pada satu selokan, di mana ada mengalir deras air yang bening. Sesudah buka ia punya baju locar yang sudah basah dengan keringat, Darmo lalu senderkan badannya di pongkot pohon besar, sambil matanya memandang ke itu selokan di mana ada mancur air dari satu pancuran bambu yang ditancapkan ke dalam tanah di pinggir bukit yang jurang. Di bawah pancuran itu ada duduk satu gadis yang sedang mencuci pakaian. Ia melinkan memakai kain yang diikat sebatas dada, tetapi tidak luput ada kelihatan juga dengan nyata ia punya buah dada yang segar dan montok. Kulitnya gadis itu tidak hitam, perawakannya tinggi, tetapi tidak gemuk. Darmo tidak bisa dapat lihat tegas parasnya gadis itu, karena ia menghadap pada itu pancuran dan ​sedang asyik mencuci. Teduhnya pepohonan yang melindungkan ia dari panasnya matahari, membikin ia tidak merasa lelah dalam pekerjaannya itu. Darmo tidak merasa perlu akan lihat tegas parasnya itu perempuan muda yang ia tidak tahu batinnya, tetapi potongan badannya itu perempuan dan keadaannya sedang memakai kain saja, membikin Darmo ingat pada itu kejadian di waktu pagi hari tatkala ia mendekam di pojokan akan intipi Moerhaya mandi di kali di belakang rumahnya Joesoef. Darmo meremkan matanya, dan kenangkan keadaannya Moerhaya yang menarik sangat pada hatinya. Darmo sudah menginap empat malam di rumahnya Joesoef dan sudah pernah beradu mata tiga kali pada Moerhaya. Kenapa Darmo, satu anak muda yang terpelajar tinggi, satu opzichter yang besar, satu Raden dan anaknya bekas satu wedana, mau perhatikan pada satu koki yang berderajat rendah? Inilah pembaca tentu merasa heran jikalau tidak tahu bagaimana potongan dan parasnya itu koki, Moerhaya, anaknya nyai Saleha. Itu malam sebagaimana sudah diceritakan, Darmo sudah bersantap sama sama Joesoef dan Marsinah, di mana Darmo memuji-muji kepandaiannya orang yang bikin itu masakan lezat, dan Joesoef yang tidak kepingin Marsinah dipuji buat ​perbuatan yang bukan pekerjaannya, telah akuh terus-terang bahwa itu masakan ada kerjaannya Moerhaya, Joesoef punya koki muda. Sedari itu waktu Darmo dapat napsu keras akan lihat bagaimana macamnya itu Moerhaya yang mempunyai kepandaian masak begitu baik. Sesudahnya habis dahar, Darmo sengaja jalan bolak-balik ke kakus dan kamar mandi, yang maksudnya hanya melinkan mau tengok macamnya itu koki muda. Ketika satu kali ia liwatkan dapur, ia dapat tengok Moerhaya sedang berdiri dekat pintu, dan waktu begitu, parasnya tidak kusut seperti sebelumnya ia mandi dan berdandan, hingga ia punya paras yang biasa ketutupan sawang asap dan rambutnya yang biasa awut-awutan lantaran tidak diperdulikan, itu waktu ada kelihatan beres dan parasnya kelihatan nyata. Darmo dapat lihat potongan mukanya Moerhaya yang tirus, hidungnya yang bangir, mulutnya yang kecil, serta alisnya yang melengkung sebagai bulan sabelab, di bawah mana ada bertahta sepasang mata yang mempunyai sorot halus, terhias dengan ia punya bulu mata yang lentik. Kulitnya Moerhaya ada putih, meskipun tidak terlalu putih seperti Marsinah. Umurnya Moerhaya pun baru 17 tahun. Itulah pertama kali yang Darmo dapat lihat pada Moerhaya, sedari waktu mana Darmo jadi selalu yakinkan buat dapat tilik lebih ​sempurna. Lain harinya Darmo dapat jalan akan bisa awaskan lebih lama pada itu gadis, yaitu di waktu Marsinah sedang mandorkan Moerhaya bebenah, atau di waktu sore sedang Marsinah bantukan masak, Darmo sengaja datang ke dapur dan beromong-omong dengan Marsinah, padahal ia punya maksud, ialah supaya bisa tilik keadaannya Moerhaya. Gadis ini kelihatan jadi kikuk bekerja jikalau Darmo mengawaskan padanya, dan satu kali Moerhaya jadi terkejut tatkala menengok dan dapat lihat matanya Darmo mengajak mesem padanya. Itulah ada pertemuan mata yang mempunyai arti, hingga sedari itu waktu api kecintaan mulai membakar dalam hatinya kedua anak muda itu. Lain harinya kembali Darmo berbuat begitu, sampai ia sendiri jadi kegilaan. la tidak bisa tidur pulas, dan saban kali ada suara berisik hatinya jadi terkejut. Waktu Marsinah mengintip dari jendela, dan melarikan diri dengan kasih dengar suara tindakannya, sudah bikin Darmo jadi menyangka bahwa Moerhaya sudah tahu ia punya maksud hati, hingga dengan terburu napsu Darmo ambil pikiran bahwa yang datang di depan kamarnya, adalah si Moerhaya. Darmo rebahkan diri di itu kursi malas di samping kamarnya Moerhaya, tidaklah lain maksud daripada kepingin bisa bicara pada Moerhaya zonder satu orang dapat tahu, tetapi siapatah nyana kalau Marsinah ​datang menggoda dan nyatakan kemurahan hatinya akan suka menolong jikalau Darmo ada merasa susah hati. Darmo pikir itu tawaran ada diucapkan dengan sesungguhnya, yaitu hendak menolong Darmo punja tali libetan cinta pada Moerhaya, hingga dengan malu Darmo sudah jawab yang ia suka terima itu tawaran, cuma belum perlu itu waktu. Pikirannya Darmo, jikalau ia punya niat sudah diberitahu pada ayahnya, barulah ia nanti minta pertolongannya Marsinah buat bereskan ia punya lamaran pada Moerhaya, tidak sekali-kali Darmo dapat ketahui bahwa Marsinah sendiri ada jatuh cinta padanya. Darmo punya rasa cinta pada Moerhaya, sedari itu harl ada jadi semakin keras, hingga waktu Moerhaya mengelah napas di itu malam, sesudahnya Darmo habis bicara pada Marsinah, Darmo turut merasakan dukanya gadis itu, meskipun Darmo sendiri tidak tahu Moerhaya mengelah napas lantaran apa. Lain malamnya, sesudah beradu mata ketiga kalinya, kembali Darmo tidak bisa tidur pulas, ia memikirkan bagaimana musti bikin pertemuan sama Moerhaya dengan tidak lain orang yang dapat tahu. Parasnja Moerhaya yang cantik, lebih elok dari parasnya Marsinah, dan perangai serta kelakuannya yang halus, ada meresap betul dalam hatinya Darmo, ​apapoeia Moerhaya itu ada mempunyai satu kepandaian yang tidak banyak orang perempuan bisa tandingkan. Darmo merasa Moerhaya itu tidak nanti dapat kecelaan jikalau diambil jadi istrinya, meskipun Moerhaya tidak mengenal sebiji surat. Tetapi keadaannya Moerhaya yang rendah membikin Darmo tidak berani memberi nyata rasa cintanya dengan terang, sebab jikalau Joesoef dan Marsinah dapat ketahui itu perkara, niscaya dua orang ini tidak indahkan lagi padanya sebagai itu waktu, atau sebagai satu Raden yang bisa memegang derajat. Oleh karena demikian, Darmo jadi tidak dapat jalan cara bagaimana ia harus bikin pertemuan sama Moerhaya dengan jalan yang paling baik. Sampai jauh malam baru ia ambil keputusan akan bertemu di pinggir kali pada waktu Moerhaya pergi mandi. Begitulah, sebelumnya lain-lain orang bangun, Darmo sudah berada di pojokan gelap di pinggir kali sampai akhirnya Darmo dapat lihat Moerhaya turun ke kali. Kembali di sini Darmo dapat lihat nyata potongan badannya Moerhaya yang langsing dan rambutnya yang panjang, serta betis dan lengan tangannya yang putih. Darmo lihat Moerhaya tidak ada punya satu cacat yang boleh dicela, dan itu kesetujuan sekarang, sedang duduk di bawah teduhnya pohon besar, ada dirasakan oleh Darmo. Darmo ingat kemball perkataan-perkataannya itu ​gadis yang merendahkan diri dan ia punya kesedihan ketika dapat tahu bahwa dirinya bukan ada bandingan dengan satu Raden. Jikalau Darmo ingat matanya Moerhaya yang penuh dengan rasa syukur ketika Darmo ucapkan janjinya yang pasti, Darmo merasa urat-uratnya ketarik. Ia merasa ada satu kewajiban akan angkat gadis ini dari satu tempat rendah ke tingkatan yang lebih atas, dan sebagai satu lelaki yang mencintakan perempuan itu lebih dulu, Darmo merasa wajib akan memberikan gadis itu kesenangan yang kekal. Itulah sebabnya Darmo sudah mengambil keputusan akan menikah dengan terang pada Moerhaya, tetapi cara bagaimana ini nikahan harus dibikin, dan cara bagaimana Moerhaya punya kerendahan bisa ditutup, itulah ada perkara-perkara yang Darmo belum dapat jalan. Darmo merasa pasti bahwa ayahnya yang beradat kukuh nanti tidak beri ijin ia akan menikah pada Moerhaya jikalau ia tahu bahwa Moerhaya itu ada satu koki, satu perempuan yang tidak mempunyai derajat. Apakah ia harus bikin jikalau ayahnya tidak setuju pada nikahan itu? Apakah ia musti melawan pada kemauan ayahnya? Tidak! Darmo ada satu anak yang berbakti pada orang tua, ia belum pernah melawan segala perintah dan kehendak ayah itu. Selain itu, Darmo sendiri ada punya perasaan agung, maka perkara nikah sama Moerhaya ia harus berpikir sampai ​matang, meskipun kecintaan ada meminta sangat ia punya kemurahan hati. Darmo berpikir, Moerhaya punya kelakuan ada begitu baik, sedari ia menginap di rumahnya Joesoef, belum pernah kedengaran Marsinah atau Joesoef menyomel pada Moerhaya. Inilah ada satu tanda bahwa kedua orang itu tidak bermusuh—jikalau tidak mau dikata sayang — pada Moerhaya. Marsinah sudah pernah berkata di itu malam, bahwa jikalau Darmo ada susah hati apa-apa, biarlah Darmo ceritakan susah apa yang menindi pada hatinya, supaya Marsinah bisa angkat itu susah hati. Nyatalah bagi Darmo bahwa Marsinah itu ada satu perempuan yang baik budi, oleh karena demikian, kenapalah juga ia tidak mau minta pertolongannya? Bukankah itu ucapan ada sampai terang yang Marsinah suka berbuat apa-apa buat kabarkannya Darmo? Darmo berpikir lagi, jikalau ia musti minta pertolongannya Marsinah, ia musti minta juga pertolongannya Joesoef. Sebetulnya ia kepingin itu rahasia tinggal tertutup di matanya Joesoef, supaya ini sobat tinggal indabkan ia punya keagungan, tetapi sebaliknya Darmo berpikir, Joesoef sendiri tidak hargakan keagungannya sebagai seorang Arab yang beribadat, karena ia sudah plara Marsinah, satu perempuan bekas jalang, maka Darmo rasa perindahannya Joesoef padanya tidak akan jadi ​kurang dengan lantaran ceritakan ia punya kehendak akan menikah pada itu koki. Apakah Joesoef nanti tertawakan padanya jikalau ia dengar itu cerita, itulah boleh jadi. Tetapi jikalau ia sudah dikasih mengerti bahwa batin yang baik, adat dan perilaku yang senonoh tidak selamanya bisa didapat pada gadis-gadis hartawan atau yang terpelajar, niscaya Joesoef akan tutup tertawanya, malah boleh jadi dengan ridla hati nanti memberikan pertolongannya sampai Darmo bisa menikah pada kokinya itu. Tetapi pertolongan bagaimanakah yang Darmo nanti minta dari Marsinah dan Joesoef? Inilah ada satu perkara susah. Moerhaya bekerja pada Joesoef sebagi koki dan ibunya sebagai babu, tetapi tidak semua penduduk Bogor dapat tahu hal itu, tidak seorang di Betawi dapat tahu. Dari sebab begitu, kenapalah tidak boleh jadi jikalau Moerhaya itu diakui sebagai Joesoef punya famili, seupama misanan? Joesoef ada Darmo punya sobat kekal, seperti saudara, tetapi ia ada seorang yang ternama, dan hartawan, maka apakah ia bisa terima itu akuban? Inilah ada dikhawatirkan oleh Darmo. Tetapi Darmo mau coba dan jikalau maksudnya ini jadi gagal, ia nanti cari lain jalan. Jikalau bisa kejadian bahwa Moerhaya itu terakui sebagai Joesoef punya misanan niscaya ​dengan bangga ia nanti datang menghadap pada ayahnya, dan minta ibunya datang di Bogor buat lamar itu gadis dari sanaknya seorang yang ternama dan hartawan, buat hal mana niscaya ayah dan ibunya Darmo tidak nanti merasa keberatan. Lain dari begitu, buat sampaikan maksudnya, Darmo anggap Marsinah itu boleh dijadikan satu perkakas yang berguna. Ia ada satu gula-gula yang paling dicintai oleh Joesoef, hingga boleh dikata hampir tidak ada satu permintaännya ini perempuan yang tidak diturut. Darmo lihat Marsinah ada pandai sekali bicara, dan tentulah bicaranya itu jikalau diukir buat bujukan, akan memakan dengan tentu di hatinya Joesoef. Bukankah lidah perempuan ada sepuluh kali lebih tajam dari lidah lelaki? Marsinah nanti tampik ia punya permintaan? Itulah tidak boleh jadi. Bukankah itu malam Marsinah sendiri sudah tawarkan pertolongannya jikalau Darmo ada dapat susah? maka kenapalah juga Marsinah menampik jikalau ia diminta akan bujuk suaminya, supaya ia ini mau akui Moerbaya itu sebagai misanannya? Semua pikiran baik dan harapan yang tidak bercuriga ada dalam otaknya Darmo, satu anak muda yang belum banyak pergaulan, hingga tidak kenal baik adatnya manusia. Dengan itu pikiran-pikiran yang senang, Darmo ​jadi duduk sebagai patung di bawah itu pohon besar, hingga ia jadi teramat kaget ketika dengar kulinya menegur apakah belum sampai waktunya akan berangkat lagi. Itulah sudah jauh Johor, dan Darmo musti lakukan lagi pekerjaannya buat beberapa pal, maka setelah dapat ingat kembali pada Kwad ibanaya itu, la lalu berangkat mulai lakukan lagi pekerjaannya. [[Kategori:Fiksi]] 12rau9hwt2ofyt6phz08sifla9vyy4r