Wikibuku idwikibooks https://id.wikibooks.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.24 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikibuku Pembicaraan Wikibuku Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Resep Pembicaraan Resep Wisata Pembicaraan Wisata TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Bahasa Banjar 0 18296 121138 68703 2026-10-18T04:39:44Z Wadaihangit 36203 +[[Kategori:Bahasa]]; +[[Kategori:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121138 wikitext text/x-wiki == Di Provinsi Kalimantan Selatan == Bahasa Banjar dituturkan oleh sebagian besar masyarakat di wilayah Kalimantan Selatan. Selain itu, bahasa Banjar juga dituturkan masayarakat di Provinsi Kalimantan Tengah, Riau, Kepulauan Riau, dan Jambi. Di Provinsi Kalimantan Selatan, bahasa Banjar dituturkan oleh masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balangan, Tanah Laut, Kotabaru, Tapin, Banjarmasin (Kota Banjarmasin), Banjar, Tabalong, dan Barito Kuala. Persentase perbedaan antarsemua daerah pengamatan pemakai bahasa Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan berkisar 16%--72,50%. Menurut pengakuan penutur, sebagian penutur bahasa yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan menyebut bahasa yang mereka gunakan sebagai bahasa Bukit atau bahasa Dayak Meratus. Akan tetapi, berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Bukit (Dayak Meratus) adalah satu bahasa dengan bahasa Banjar dengan persentase berkisar 44--51% (beda subdialek atau beda dialek). Di Provinsi Kalimantan Tengah, bahasa Banjar terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Pematang Panjang yang dituturkan di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Pambuang Hilir (Seruyan Hilir) dan di Desa Tanjung Rangas, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan. Persentase perbedaan berdasarkan hasil penghitungan dialektometri antarisolek tersebut sebesar 27,25% sehingga dinyatakan beda wicara; (2) dialek Kuala Jelai dituturkan di Desa Kuala Jelai (Jelai), Kecamatan Kuala Jelai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Persentase perbedaan berdasarkan hasil penghitungan dialektometri antarisolek tersebut sebesar 74,05%. Bahasa Banjar, baik yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan maupun yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah adalah bahasa yang sama dengan persentase perbedaan sebesar 48% (beda subdialek). Bahasa Banjar yang terdapat di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau dituturkan di Kabupaten Indragiri Hilir. Bahasa ini terdiri atas empat dialek, yaitu (1) dialek Pekan Kemis yang dituturkan di Desa Pekan Kemis; (2) dialek Simpang Gaung yang dituturkan di Desa Simpang Gaung; (3) dialek Sei Raya-Sungai Piring yang dituturkan di Desa Sei Raya dan Sungai Piring; (4) dialek Teluk Jira yang dituturkan di Desa Teluk Jira. Persentase antara keempat dialek tersebut sekitar 55,06%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan antara dialek Banjar yang terdapat di Kalimantan Selatan dan dialek Banjar yang terdapat di Provinsi Riau/Kepulauan Riau adalah sebesar 66,75% (beda dialek). Bahasa Banjar yang terdapat di Provinsi Jambi terdiri atas tiga dialek, yaitu (1) dialek Paritpudin yang dituturkan di Desa Paritpudin, Kecamatan Pangabuan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat; (2) dialek Pembengis yang dituturkan di Desa Pembengis, Kecamatan Pangabuan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat; (3) dialek Sungairambut yang dituturkan di Desa Sungairambut, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Persentase perbedaan antarketiga dialek tersebut berkisar 53,75%--56%. Sementara itu, persentase perbedaan antara isolek Banjar yang terdapat di Kalimantan Selatan dengan isolek Banjar yang terdapat di Provinsi Jambi adalah sebesar 72,75% (beda dialek). Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Banjar merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 82%--98% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya bahasa Banjar dengan bahasa Samihin, Maanyan, Beragas, dan Bakumpai. == Di Provinsi Kalimantan Tengah == Bahasa Banjar dituturkan oleh masyarakat di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, di Desa Tanjungrangas, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, dan di Kelurahan Kuala Jelai, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah. Bahasa Banjar yang dituturkan di Kalimantan Tengah terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Pematang Panjang yang dituturkan di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Seruyan Hilir dan di Desa Tanjungrangas, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan. Persentase perbedaan berdasarkan hasil penghitungan dialektometri antarkedua isolek tersebut sebesar 27,25% sehingga dinyatakan beda wicara; (2) dialek Kuala Jelai dituturkan di Kelurahan Kuala Jelai, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara. Persentase perbedaan berdasarkan hasil penghitungan dialektometri antarisolek tersebut sebesar 74,05%. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Banjar merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 84%--94% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya. Misalnya bahasa Banjar dengan bahasa Balai, bahasa Dayak Kapuas, bahasa Mentaya, dan dengan bahasa bahasa Sampit. == Di Provinsi Jambi == Bahasa Banjar yang berada di Provinsi Jambi dituturkan di Desa Parit Pudin, Kecamatan Pangabuan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat; Desa Pembengis, Kecamatan Bram Itam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat; dan Desa Sungairambut, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Bahasa Banjar yang terdapat di Provinsi Jambi terdiri atas tiga dialek, yaitu (1) dialek Paritpudin yang dituturkan di Desa Parit Pudin, Kecamatan Pangabuan, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, (2) dialek Pembengis yang dituturkan di Desa Pembengis, Kecamatan Bram Itam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan (3) dialek Sungairambut yang dituturkan di Desa Sungairambut, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan ketiga dialek tersebut berkisar 53,75--56%. Sementara itu, persentase perbedaan bahasa Banjar yang terdapat di Kalimantan Selatan dan di Provinsi Jambi sebesar 72,75% sehingga berbeda dialek. == Di Provinsi Riau == Bahasa Banjar yang berada di Provinsi Riau dituturkan di Desa Pekan Kamis, Kecamatan Tembilahan Hulu; Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung; Desa Sungairaya dan Kelurahan Sungaipiring Kecamatan Batang Tuaka; Desa Telukjira, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir. Bahasa Banjar terdiri atas empat dialek, yaitu (1) dialek Pekan Kamis dituturkan di Desa Pekan Kamis, Kecamatan Tembilahan Hulu, (2) dialek Simpang Gaung dituturkan di Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung, (3) dialek Sungai Raya-Sungai Piring dituturkan di Desa Sungairaya dan Kelurahan Sungaipiring Kecamatan Batang Tuaka, dan (4) dialek Teluk Jira dituturkan di Desa Telukjira, Kecamatan Tempuling. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, persentase perbedaan keempat dialek tersebut berkisar 51%--80%. Persentase perbedaan antara bahasa Banjar yang terdapat di Provinsi Riau dan di Kalimantan Selatan sebesar 66,75% (beda dialek). <noinclude> {{Bahasa di Indonesia|tipe=kalimantan}} </noinclude> [[Kategori:Bahasa]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] 8e0v1zneds4rnlnnzeft05nmo7li29j Soal-Soal Matematika/Pengukuran sudut 0 23125 121048 113371 2026-10-17T21:46:40Z Akuindo 8654 /* Pengukuran besar sudut jarum jam */ 121048 wikitext text/x-wiki pengukuran sudut terdiri dari tiga jenis yaitu # sudut lancip ialah sudut yang kurang dari 90 derajat. # sudut siku-siku ialah sudut yang sama dengan 90 derajat. # sudut tumpul ialah sudut yang lebih dari 90 derajat. sudut penyiku (sudut komplemen) adalah jumlah sudut-sudut tersebut adalah 90 derajat. sudut pelurus (sudut suplemen) adalah jumlah sudut-sudut tersebut adalah 180 derajat. sudut refleks adalah sudut yang antara 180 derajat dan 360 derajat. sudut elavasi adalah sudut yang dibentuk arah pandang dan arah horisontal jika kita memandang ke atas sedangkan sudut depresi adalah sudut yang dibentuk arah pandang dan arah horisontal jika kita memandang ke bawah. besar sudut pusat lingkaran adalah dua kali dari besar sudut keliling lingkaran. == Besar sudut pada segi-n == : <math>\frac{(n-2) \times 180}{n}</math> {| class="wikitable" |+ Daftar besar sudut pada segi-n |- ! Segi-n !! Tiap sudut !! Total sudut |- | 3 || 60 || 180 |- | 4 || 90 || 360 |- | 5 || 108 || 540 |- | 6 || 120 || 720 |- | 7 || 128,57 || 900 |- | 8 || 135 || 1080 |- | 9 || 140 || 1260 |- | colspan=3| dst |} == Pengukuran besar sudut jarum jam == Rumus besar sudut ; cara 1 : jarum panjang: <math>y \cdot 30^\circ</math> (y: ukuran panjang) : jarum pendek: <math>x(y/60 \cdot 30^\circ)</math> (x: y: ukuran pendek & y: ukuran panjang (dalam menitan)) : total tergantung pada nilai besar sudutnya sesuatu jarum jam : kurang dari 180° adalah besar sudut terkecil dan lebih dari 180° adalah besar sudut terbesar : istimewa: x x 30° (utk 15°, 30° serta 45° dan sesuai dengan gambar jam uang ditunjuk) ; cara 2 : <math>\theta = |\frac{11}{2}M-30J|</math> contoh soal Tentukan besar sudut terkecil pada jam * 07.00 * 08.30 * 09.15 * 10.45 * 04.25 * 04.50 * 04.07 * 04.34 jawaban :* 5 x 30° = 150° :* 2,5 x 30° = 75° atau 6 x 30° = 180° dan 8 (30/60) x 30° = 255° jadi 255°-180° = 75° :* 6,25 x 30° = 187,5° kemudian 360°-187,5°= 172,5° atau 3 x 30° = 90° dan 9 (15/60) x 30° = 277,5° jadi 277,5°-90° = 187,5° kemudian 360°-187,5°= 172,5° :* 1,75 x 30° = 52,5° atau 9 x 30° = 270° dan 10 (45/60) x 30° = 322,5° jadi 322,5°-270° = 52,5° :* 5 x 30° = 150° dan 4 (25/60) x 30° = 132,5° jadi 150°-132,5° = 17,5° :* 10 x 30° = 300° dan 4 (50/60) x 30° = 145° jadi 300°-145° = 155° :* 1 2/5 x 30° = 46° dan 4 (7/60) x 30° = 123,5° jadi 123,5°-46° = 77,5° :* 6 4/5 x 30° = 204° dan 4 (34/60) x 30° = 137° jadi 204°-137° = 67° [[Kategori:Soal-Soal Matematika]] i3y0vg7hq15yv124mgn016qzdgnhhwd 121049 121048 2026-10-17T21:57:26Z Akuindo 8654 /* Pengukuran besar sudut jarum jam */ 121049 wikitext text/x-wiki pengukuran sudut terdiri dari tiga jenis yaitu # sudut lancip ialah sudut yang kurang dari 90 derajat. # sudut siku-siku ialah sudut yang sama dengan 90 derajat. # sudut tumpul ialah sudut yang lebih dari 90 derajat. sudut penyiku (sudut komplemen) adalah jumlah sudut-sudut tersebut adalah 90 derajat. sudut pelurus (sudut suplemen) adalah jumlah sudut-sudut tersebut adalah 180 derajat. sudut refleks adalah sudut yang antara 180 derajat dan 360 derajat. sudut elavasi adalah sudut yang dibentuk arah pandang dan arah horisontal jika kita memandang ke atas sedangkan sudut depresi adalah sudut yang dibentuk arah pandang dan arah horisontal jika kita memandang ke bawah. besar sudut pusat lingkaran adalah dua kali dari besar sudut keliling lingkaran. == Besar sudut pada segi-n == : <math>\frac{(n-2) \times 180}{n}</math> {| class="wikitable" |+ Daftar besar sudut pada segi-n |- ! Segi-n !! Tiap sudut !! Total sudut |- | 3 || 60 || 180 |- | 4 || 90 || 360 |- | 5 || 108 || 540 |- | 6 || 120 || 720 |- | 7 || 128,57 || 900 |- | 8 || 135 || 1080 |- | 9 || 140 || 1260 |- | colspan=3| dst |} == Pengukuran besar sudut jarum jam == Rumus besar sudut ; cara 1 : jarum panjang: <math>y \cdot 30^\circ</math> (y: ukuran panjang) : jarum pendek: <math>x(y/60) \cdot 30^\circ</math> (x: y: ukuran pendek & y: ukuran panjang (dalam menitan)) : total tergantung pada nilai besar sudutnya sesuatu jarum jam (sudut terbesar-sudut terkecil) : kurang dari 180° adalah besar sudut terkecil dan lebih dari 180° adalah besar sudut terbesar : istimewa: x x 30° (utk 15°, 30° serta 45° dan sesuai dengan gambar jam uang ditunjuk) ; cara 2 : <math>\theta = |\frac{11}{2}M-30J|</math> contoh soal Tentukan besar sudut terkecil pada jam * 07.00 * 08.30 * 09.15 * 10.45 * 04.25 * 04.50 * 04.07 * 04.34 jawaban :* 5 x 30° = 150° :* 2,5 x 30° = 75° atau 6 x 30° = 180° dan 8 (30/60) x 30° = 255° jadi 255°-180° = 75° :* 6,25 x 30° = 187,5° kemudian 360°-187,5°= 172,5° atau 3 x 30° = 90° dan 9 (15/60) x 30° = 277,5° jadi 277,5°-90° = 187,5° kemudian 360°-187,5°= 172,5° :* 1,75 x 30° = 52,5° atau 9 x 30° = 270° dan 10 (45/60) x 30° = 322,5° jadi 322,5°-270° = 52,5° :* 5 x 30° = 150° dan 4 (25/60) x 30° = 132,5° jadi 150°-132,5° = 17,5° :* 10 x 30° = 300° dan 4 (50/60) x 30° = 145° jadi 300°-145° = 155° :* 1 2/5 x 30° = 46° dan 4 (7/60) x 30° = 123,5° jadi 123,5°-46° = 77,5° :* 6 4/5 x 30° = 204° dan 4 (34/60) x 30° = 137° jadi 204°-137° = 67° [[Kategori:Soal-Soal Matematika]] 1e9p2kxs5tz8kdd42h3y5zgf0zls7q9 Mainan Papan Tradisiunal di Indunisia 0 24302 121135 98900 2026-10-18T04:37:45Z Wadaihangit 36203 added [[Category:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121135 wikitext text/x-wiki Mainan papan (''board game'') sasain rami dimainakan lawan kakanak wayahini. Di Indunisia, popularitas mainan ngini sasain dipinandui rahatan tahun 2015, wayah Kompas bakungsi lawan Kummara (parusahaan mainan) gasan maulah turai Board Game Challenge.<ref>Deliusno (Februari 2015). Kompas Adakan Lomba Desain "Board Game". Kompas.com diakses dari <nowiki>https://tekno.kompas.com/read/2015/02/26/1536007/Kompas.Adakan.Lomba.Desain.Board.Game.?page=all</nowiki> </ref> Turai nigini juwa salajur mamadahakan bahwa kakanak Indunisia kada hanya batindak sawagai kunsumin di industri mainan papan, tagal juwa hingkat batindak sawagai tukang ulah. Tahun 2017, mainan papan mudirin batima kabudayaan Indunisia hudah mulai diparkanalkan di tingkat antarbangsa rahatan pamiran mainan papan pangganalnya di dunia.<ref>Ritonga, M W (Oktober 2021). Wajah Indonesia di "Board Game". Kompas.id diakses dari <nowiki>https://www.kompas.id/baca/muda/2021/10/17/wajah-indonesia-di-board-game</nowiki> </ref> Tagal hudah banyak mainan papan mudirin tumatan Indunisia nang cungulan, banyak urang kada manyamatan bahwa Indunisia baisi mainan papan tradisiunalnya saurang. Sasain mangubasakan prusis maminandui matan kakanak ka kakanak maulah istapit pawarisan mainan tradisiunal ngini tapagat. Tagal, mainan tradisiunal baisi panciri atawa nilai budaya nang dianut masarakat disitu wan panting gasan ditarusakan ka kakanak paimbahnya. <ref>Khamadi; Senoprabowo, Adi (2018). Adaptasi Permainan Tradisional Mul-mulan ke dalam Peracangan Game Design Document. Andharupa, Vol. 04, No. 01. </ref> Pahalatan maklumat parihal mainan tradisiunal mangalihi sarusupan gasan mangatahui siapa panamu mainan ngitu wan wayah pabila mainan ngitu mulai dipinandui banyak urang. Tagal, bardasarkan arsip-arsip kabudayaan nang hudah dikikih, Indunisia baisi labih pada 10 ngaran mainan papan tradisiunal nang manjalar di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan sampai ka Nusa Tenggara Barat. Di sasala mainan nang ditamui, sapalih baisi panciri nang mahirip duwa cara bamainan antara sabuting dairah lawan dairah lainnya. Tagal, rajin ada haja nang di mudip rahatan aturan mainan atawa makna nang disasuaiakan lawan panciri has dairah masing-masing. Sahdan, mainan papan tradisiunal di Indunisia kawa haja di babak baasa gasan dimainakan pada mainan papan mudirin. Kada nangkaya mainan papan mudirin nang musti manukar sasit mainan lawan haraga nang larang, mainan papan tradisiunal kawa dimainakan mamakai bahan-bahan nang nyaman ditamui di mana haja.<ref>Khamadi; Senoprabowo, Adi (2016). Model Adaptasi Permainan Papan Tradisional Macanan ke dalam Peracangan Permainan Digital. Andharupa, Vol. 02, No. 02. </ref> Papan mainan kawa mamakai kartas, tanah atawa lantai nang hudah digambari pula mainannya.<ref>Widiarti, 2012. Permainan Anak Tradisional Jawa di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. (Skripsi): Universitas Negeri Yogyakarta. </ref> Tagal, bidaknya kawa mamakai big buah, karikil, batu, pacahan hatap, wan sawagainya. Mainan papan tradisiunal kawa dimainakan lawan samunyaan umur lawan tingkat ngalihan nang bamacam. Jumlah pamain nang dikahandaki pun kada tapi banyak nangkaya kabanyakan mainan tradisiunal lainnya. Mainan papan tradisiunal kawa dimainakan lawan jumlah pamain saikitnya 2 urang. == Daptar ngaran mainan Papan tradisiunal == <gallery mode="nolines" widths="400" heights="400"> Berkas:Persebaran Permainan Papan di Indonesia.png|Peta manjalarnya mainan papan tradisiunal di Indunisia </gallery> # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Macanan (Yogyakarta)|Macanan (Yogyakarta)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Catoe (Aceh)|Catoe (Aceh)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Catur Harimau (Sumatera Barat)|Catur Harimau (Sumatera Barat)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Dam-daman (Jawa)|Dam-daman (Jawa)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Derek Enem Olas (Lombok)|Derek Enem Olas (Lombok)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Damdas 16 Batu (Betawi)|Damdas 16 Batu (Betawi)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Damdas 3 Batu (Betawi)|Damdas 3 Batu (Betawi)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Bas-basan Sepur (Yogyakarta)|Bas-basan Sepur (Yogyakarta)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Surakarta (Solo)|Surakarta (Solo)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Ding-dingan (Bengkulu)|Ding-dingan (Bengkulu)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Mul-mulan (Pulau Jawa)|Mul-mulan (Jawa)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Derek Dua Olas (Lombok)|Derek Dua Olas (Lombok)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Lelempengan (Jawa Barat)|Lelempengan (Jawa Barat)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Bakujur (Kabupaten Banjar)|Bakujur (Kabupaten Banjar)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Derek Telu (Lombok)|Derek Telu (Lombok)]] # [[Mainan Tradisiunal "Catur" di Indunisia/Catur Karo (Medan)|Catur Karo (Medan)]] == Manpaat mainan Papan tradisiunal == Sama haja nangkaya lawan mainan nang lain, mainan tradisiunal mambarii asa himung lawan pamainnya. Mainan ngini kawa jadi parumusan gasan mangurangi asa langu wan mambari himung tadih. Tagal lamun dibandingkan mainan mudirin, mainan tradisiunal bahubungan banar lawan kahingkatan pasal susial (''emotional intelligence''). Hal ngini nang maulah mainan tradisiunal dijadikan sawagai wadah gasan maulah adab kakanak dudinya. Wayah main, buhan pamain musti bapandiran lawan musuhnya. Saban pamain baisi tujuan asing-asingnya nang musti dituju dalam mainan ini, jadinya hal ngini malatih pamainnya gasan main jujur-jujuran. Salaya ngitu, pamain juwa musti baimpati wan manghargai musuhnya wayah mamarlukan waktu gasan bapikir.<ref>Laksmiyanti, Evania Ulya (2017). Rekayasa Permainan Tradisional Dam-daman Digital. (Skripsi): Universitas Negeri Semarang. </ref> lamun mahadapi kakalahan, pamain musti tatap gigih gasan tatap main di partandingan dudinya.<ref>Adi, Banu Setyo; Sudaryanti; Muthmainnah (2020). Implementasi Permainan Tradisional dalam Pembelajaran Anak Usia Dini sebagai Pembentuk Karakter Bangsa. Jurnal Pendidikan Anak, Vol 9 (1), pp 33 – 39. </ref> Mainan nang mamakai papan bamanpaat gasan malatih pukus kunsintrasi wan maasah hingkat kadanya gasan manyusun rumus. Katarampilan bapikir ngini pisit kaitannya lawan hingkat kadanya gasan maambil kaputusan. Maka, mainan papan dinilai sawagai salah sabuting cara nang bagus gasan maningkatakan katarampilan pamain dalam pangambilan kaputusan.<ref>Indarti (2015). Efektivitas Permainan Tradisional Bas-Basan Sepur untuk Meningkatkan Keterampilan Pengambilan Keputusan pada Siswa Kelas VI SDN Panjang 03 Ambarawa. (Skripsi): Universitas Sebelas Maret. </ref> Wayah rumusan hudah disusun, pamain dituntut gasan baisi rasa parcaya diri wan wani gasan manjalanakan kaputusan nang hudah diambilnya.<ref>Sari, Nur’Lindah (2021). Pengaruh Media Pembelajaran Permainan Tradisional Damdas Terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Tematik Melalui Metode Course Review Horay di Kecamatan Tallo Kota Makassar. (Thesis): Universitas Bosowa. </ref> Mainan tradisiunal papan kawa dijadikan midia gasan pambalajaran hususnya mata palajaran Barikin.<ref>Wibowo, Sigit; Anggraini, Sandra Prilia; Sunaryo; Sugevin, Wecya; Nirwana, Cahya Rima; Yuniawatika (2022). Program ''Mathematic Etnic Learning'' untuk Meningkatkan Minat Belajar Matematika Siswa SDN 1 Kauman. Jurnal Abdinus: Jurnal Pengabdian Nusantara, 6 (2), pp. 520 – 530. </ref> Panyisipan mainan tradisiunal kawa manumbuhakan antusias siswa dalam prusis balajar maajar. Salaya ngitu, adanya mainan tradisiunal kawa mambantu siswa gasan mambangun kunstruksi pamahaman lawan palajaran nang diajarakan.<ref>Muslihatun, Ana; Sugiman (2022). Pembelajaran Bangun Datar Menggunakan Permainan Anak Tradisional Indonesia. Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, Vol. 11, No. 3, pp. 2131 - 2141.</ref> Sapalih panelitian nang digawi gasan mamakai mainan tradisiunal sawagai midia pembelajaran, yaitu: # Mmainan damdas 16 batu gasan maningkatkan hingkat kadanya panjumlahan deret matan siswa tunarungu.<ref>Hasibuan, Siti Hardiyanti; Damri (2020). Efektifitas Permainan Tradisional dalam Meningkatkan Kemampuan Penjumlahan Deret ke Samping bagi Siswa Tunarungu. Journal of Multidisciplinary Research and Development, Vol 2, Issue 2.  </ref> # Mainan dam-daman gasan pambalajaran bantuk wan kunsip luas bangun datar.<ref>Anugerah; Nur’aeni, Epon; Hodidjah (2018). Desain Didaktis Konsep Luas Daerah Persegi melalui Permainan Tradisional Dam-daman di Sekolah Dasar. Pedadidaktika: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Vol. 5, No.4 </ref> # Mainan bas-basan sepur gasan mampalajari giumitri wan paluang.<ref>Putri, Anindiati Praminto (2016). Geometri dan Peluang dalam Permainan Bas-basan Sederhana. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Terapannya.  </ref> == Jujuhutan == [[Kategori:Naskah berbahasa Banjar]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] kut8w4jfwtno6fb0y42wxqr9v7mkwrv Kategori:Naskah berbahasa Banjar 14 24316 121136 98901 2026-10-18T04:38:04Z Wadaihangit 36203 added [[Category:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121136 wikitext text/x-wiki Kategorisasi naskah berbahasa Banjar ini merupakan upaya untuk menginventarisasi naskah-naskah baru berbahasa Banjar yang ditulis oleh para kontributor Wikibuku. Usaha yang dilakukan harapannya dapat mengembangkan proyek Wikibuku di Indonesia dan melestarikan bahasa daerah. [[Kategori:Bahasa Banjar]] kq1eet0of8ddy68il1tevq76cybftl0 Pengguna:Radramboo 2 25774 121055 108576 2026-10-18T03:15:17Z Radramboo 39183 menambahkan templat 121055 wikitext text/x-wiki Blogger sejak 2013 == WikiBuku saya == [[Catatan Radramboo]]{{peserta WikiCitaRasa}}{{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} ftjv9061yz1yox8sikc69meojw4nx7l Pengguna:Mia Sulisnawati 2 25776 121057 107457 2026-10-18T03:15:32Z Mia Sulisnawati 39574 121057 wikitext text/x-wiki Halo, nama saya Mia. Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin|<nowiki>Banjarmasin]]|tgl</nowiki>]]<nowiki>=18 Oktober 2026}} </nowiki>{{Peserta WikiCitaRasa}} 0kvmil3lr0c51e8e6lwoxwueoagpng5 121061 121057 2026-10-18T03:17:25Z Mia Sulisnawati 39574 121061 wikitext text/x-wiki Halo, nama saya Mia. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}{{Peserta WikiCitaRasa}} lfs0ben84vhuczbq9x6v28sdt6s9od3 Pengguna:Riky Mandai 2 26190 121064 110118 2026-10-18T03:18:16Z Riky Mandai 41791 Membuat halaman pengguna 121064 wikitext text/x-wiki '''Riky Mandai''' adalah seorang ''penggiat sastra dan kesenian yang aktif dalam mengembangkan ruang-ruang kreatif di tingkat komunitas.'' Berangkat dari ketertarikannya pada cerita rakyat dan tradisi lisan, ia mulai menulis puisi, cerpen, dan esai budaya. Selain menulis, Riky ''terlibat dalam berbagai kegiatan seni, mulai dari diskusi buku, pementasan teater komunitas, hingga pameran seni rupa kolaboratif.'' Baginya, '''kesenian adalah sarana untuk merawat identitas''' sekaligus '''membangun dialog lintas generasi'''. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} qip5i22pqjr1er3y2ujik0qyxhrztq8 Pengguna:Nursari Mulia 2 26781 121073 115135 2026-10-18T03:18:54Z Nursari Mulia 42208 121073 wikitext text/x-wiki Halo, perkenalkan nama saya Rifa. Saya berasal dari kota Banjarmasin. Saya suka jalan-jalan ke tempat-tempat yang sedang have asalkan ada temannya. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} kzsurxm6nxfdphc3sgs832ko7icvwnx Pengguna:Wadaihangit 2 27537 121044 116231 2026-10-17T12:07:19Z Wadaihangit 36203 tes 121044 wikitext text/x-wiki Salam kenal. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} t44gk9uec8jzehsqwiez1tlus0xkomq Pengguna:Malamilai 2 28098 121058 118641 2026-10-18T03:15:43Z Malamilai 43778 Menambahkan tamplate pengguna 121058 wikitext text/x-wiki Hai, semuanya. Sebut saja '''iLai''', nama penaku. Aku suka menulis segala hal yang terjadi sekarang. Selain itu, aku suka makan mi ayam yang pentolnya banyak, dan suka kucing yang lucu-lucu. <nowiki>{{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}</nowiki> ehlftz2dmxmpyq3s3byyv31e51xbgbs 121067 121058 2026-10-18T03:18:22Z Malamilai 43778 /* */ Memperbaiki tamplate peserta WikiLatih 121067 wikitext text/x-wiki Hai, semuanya. Sebut saja '''iLai''', nama penaku. Aku suka menulis segala hal yang terjadi sekarang. Selain itu, aku suka makan mi ayam yang pentolnya banyak, dan suka kucing yang lucu-lucu. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} l1j0pljojobvsv9x2y78ymiyxil4985 Pengguna:Nabilaaprisanti 2 28518 121046 120234 2026-10-17T17:23:34Z Rachmat04 19796 Rachmat04 memindahkan halaman [[Pengguna:Nblprsnt27]] ke [[Pengguna:Nabilaaprisanti]]: Secara otomatis memindahkan halaman ketika mengganti nama pengguna "[[Special:CentralAuth/Nblprsnt27|Nblprsnt27]]" menjadi "[[Special:CentralAuth/Nabilaaprisanti|Nabilaaprisanti]]" 120234 wikitext text/x-wiki Halo! Aku nabila seorang freelancer content writer, copywriter, dan learning designer. Jika kamu ingin berkolaborasi, bisa hubungi: nabilaaprisanti@gmail.com! 4i9kp4p2gk79e9k6kxjya0i95saon69 Kategori:Pengguna peserta WikiLatih tanggal 18 Oktober 2026 14 28766 121045 2026-10-17T12:08:11Z Wadaihangit 36203 tes 121045 wikitext text/x-wiki Daftar peserta pelatihan menyunting WikiBuku di proyek WikiCarita edisi buku 1: Banjarmasin pi3id4o2thv00g7nlolzic41fycn1ch Pengguna:Nblprsnt27 2 28767 121047 2026-10-17T17:23:34Z Rachmat04 19796 Rachmat04 memindahkan halaman [[Pengguna:Nblprsnt27]] ke [[Pengguna:Nabilaaprisanti]]: Secara otomatis memindahkan halaman ketika mengganti nama pengguna "[[Special:CentralAuth/Nblprsnt27|Nblprsnt27]]" menjadi "[[Special:CentralAuth/Nabilaaprisanti|Nabilaaprisanti]]" 121047 wikitext text/x-wiki #ALIH [[Pengguna:Nabilaaprisanti]] mwp6nglfbg1wkh2g6a3h4mbu7bmb2bf Kata untuk Dia 0 28768 121050 2026-10-17T23:19:48Z Raihankakicak 41526 ←Membuat halaman berisi ''''Kata Untuk Dia''' Terbangun dalam kedinginan Saat khayalan terasa kenyataan Gendahan terasa gempa Hujan deras nyatanya percikan air beras "Ayo bangunan" Ucap seorang pahlawan Ya Jika orang luar menyebut Iron Man, Spiderman, Batman, sebagai pahlawan Aku tidak Jika orang sini menyebut Gundala, Si Pitung, Buta dari Gua Hantu, sebagai pahlawan Aku tidak juga Jika orang berperikemanusiaan menyebut guru, sebagai pahlawan Mungkin masih belum Jika oran...' 121050 wikitext text/x-wiki '''Kata Untuk Dia''' Terbangun dalam kedinginan Saat khayalan terasa kenyataan Gendahan terasa gempa Hujan deras nyatanya percikan air beras "Ayo bangunan" Ucap seorang pahlawan Ya Jika orang luar menyebut Iron Man, Spiderman, Batman, sebagai pahlawan Aku tidak Jika orang sini menyebut Gundala, Si Pitung, Buta dari Gua Hantu, sebagai pahlawan Aku tidak juga Jika orang berperikemanusiaan menyebut guru, sebagai pahlawan Mungkin masih belum Jika orang berbudi luhur menyebut teman yang sering membantu saat susah, sebagai pahlawan Bisa diperhitungkan Menurutku? Ayahku Coba imajinasikan siapa yang mampu bekerja sepanjang hari? Tidak peduli musim panas, dingin, salju, gugur, durian, bahkan musim kawin Turun dari rumah, berjaket bolong Disalimi istrinya dengan tangan yang begitu kinclong, walaupun bekal yang diberikan sebatas lauk kosong. [[Kategori:Puisi]] bprdzya6ebvkf8uw0otfjid0m4fq9e1 Pengguna:Amatbanjar 2 28769 121051 2026-10-18T02:26:46Z Amatbanjar 44088 ←Membuat halaman berisi 'nagran ulun akhmad abdilah' 121051 wikitext text/x-wiki nagran ulun akhmad abdilah svf4dm9x2bfe0ui61wxlfvoc1jk9d5q 121053 121051 2026-10-18T03:12:45Z Amatbanjar 44088 121053 wikitext text/x-wiki ngaran ulun akhmad abdillah 87o2i52myph0pcx5kq74lf4suqj828g 121071 121053 2026-10-18T03:18:47Z Amatbanjar 44088 121071 wikitext text/x-wiki halo saya dillah. {{Peserta WikiLatih|di[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} 411rab25eyheyee8pdafkd2mmxaak7o Pengguna:Jaelani58 2 28770 121052 2026-10-18T03:12:06Z Jaelani58 44090 ←Membuat halaman berisi 'Hallo, perkenalkan saya Jaelani58. Saya suka membaca dan setelahnya menuliskan apa yang saya pikirkan.' 121052 wikitext text/x-wiki Hallo, perkenalkan saya Jaelani58. Saya suka membaca dan setelahnya menuliskan apa yang saya pikirkan. ct6mjagal8fp1n10rp0d42jcoks8onu 121056 121052 2026-10-18T03:15:22Z Jaelani58 44090 121056 wikitext text/x-wiki Hallo, perkenalkan saya Jaelani58. Saya suka membaca dan setelahnya menuliskan apa yang saya pikirkan. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} mrdius6z7nqs1taiqdzv4hn1z5xohjf Pengguna:Rijuuqo744 2 28771 121054 2026-10-18T03:14:48Z Rijuuqo744 44091 /* */ 121054 wikitext text/x-wiki {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} ir8q5rcfdxo17jlsq0wkuqvgw3s1gqs 121062 121054 2026-10-18T03:17:59Z Rijuuqo744 44091 /* */ 121062 wikitext text/x-wiki {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}yo whatsapp guys gue rijuuqo744 dan untuk kedepannya saya akan berkontribusi secara random see you next time nfjbcikql1gj1xsj2cmon3qnprdgtwn Pengguna:Aulia Noor Naima 2 28772 121059 2026-10-18T03:15:47Z Aulia Noor Naima 44064 ←Membuat halaman berisi 'Aulia Noor Naima, suka makanan asin, manis, dan asam. Tidak terlalu tahan terhadap rasa pedas. Gemar menulis cerita anak-anak. Ulun urang banjar tulin, mun bapandir jua belagu. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}' 121059 wikitext text/x-wiki Aulia Noor Naima, suka makanan asin, manis, dan asam. Tidak terlalu tahan terhadap rasa pedas. Gemar menulis cerita anak-anak. Ulun urang banjar tulin, mun bapandir jua belagu. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} ldx5fab5t8st3vf8jvi67ahavupxhq8 Pengguna:WidyaNorjanah 2 28773 121060 2026-10-18T03:16:45Z WidyaNorjanah 44080 ←Membuat halaman berisi 'Halo, perkenalkan nama saya Widya {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}' 121060 wikitext text/x-wiki Halo, perkenalkan nama saya Widya {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} dvo5kw4hvk2f59gqgqbyme1xq0oazmo Pengguna:Labilublue 2 28774 121063 2026-10-18T03:18:07Z Labilublue 44078 ←Membuat halaman berisi 'Halo, saya Blueblue. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}' 121063 wikitext text/x-wiki Halo, saya Blueblue. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} kuv1fbhugs3jtlf94kujix3iq44ztgb Pengguna:Irwin Humaniora 2 28775 121065 2026-10-18T03:18:18Z Irwin Humaniora 43818 membuat halaman pengguna 121065 wikitext text/x-wiki Pengguna ialah Irwin Humaniora, seorang freelance dari Kota Banjarmasin. Lebih lanjut bisa mengunjungi Instagram saya @Erwin_R.F {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} nc3v5o4qjqyne0zfa1sir3ktnsdie8k Pengguna:Rraaylin 2 28776 121066 2026-10-18T03:18:21Z Rraaylin 44077 ←Membuat halaman berisi 'Halo, perkenalkan saya rara. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}' 121066 wikitext text/x-wiki Halo, perkenalkan saya rara. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} 1nw67xfp09w1vqidl4wdocepwyr6h4w Pengguna:Sari Nur Aisyah 2 28777 121068 2026-10-18T03:18:30Z Sari Nur Aisyah 44072 ←Membuat halaman berisi 'Assalamu'alaikum, ahlan wa sahlan. saya Sari {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}' 121068 wikitext text/x-wiki Assalamu'alaikum, ahlan wa sahlan. saya Sari {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} sgk9qvgeaf6im3eqjmwvfy76g46xvvt Pengguna:Suci Az zahra 2 28778 121069 2026-10-18T03:18:37Z Suci Az zahra 44071 ←Membuat halaman berisi 'Assalamualaikum, ahlan wa sahlan, saya Suci {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}' 121069 wikitext text/x-wiki Assalamualaikum, ahlan wa sahlan, saya Suci {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} t700qisd035h7dcxxn9xqaayybybmdu Pembicaraan Pengguna:Coretan.kecil19 3 28779 121070 2026-10-18T03:18:37Z Coretan.kecil19 44065 ←Membuat halaman berisi 'Halo, perkenalkan saya Nina. Saya seorang pengajar dan penulis pemula dan akan membuat buku-buku mengenai berbagai hal {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} ~~~~' 121070 wikitext text/x-wiki Halo, perkenalkan saya Nina. Saya seorang pengajar dan penulis pemula dan akan membuat buku-buku mengenai berbagai hal {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} [[Pengguna:Coretan.kecil19|Coretan.kecil19]] ([[Pembicaraan Pengguna:Coretan.kecil19|bicara]]) 18 Oktober 2026 03.18 (UTC) rjiw2qru8sml4airy4z0nnbosgzl92h Pengguna:Hilman Gashat 2 28780 121072 2026-10-18T03:18:52Z Hilman Gashat 44076 Membuat halaman pengguna 121072 wikitext text/x-wiki Pemuda introvert yang kerap disapa Hilman ini sengaja lahir pada hari Ahad di kota Seribu Sungai, dan sekarang tengah bekerja sebagai seorang pekerja lepas yang kelepasan. Selain hobi menonton film, membaca buku, menulis ide-ide absurd, dan mengoleksi mainan yang diinginkan sedari kecil, ia juga senang bergelut dengan dunia perfilman sejak menduduki bangku kuliah. {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} ltkhtfvcx3nh97g9xh8f2pdcdtqbyfi Pengguna:GAnganwaLUH 2 28781 121074 2026-10-18T03:18:58Z GAnganwaLUH 44089 ←Membuat halaman berisi ' Assalamualaikum, Wr.Wb Halo perkenalkan nama saya Ira Septiani, saya lulusan Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}}' 121074 wikitext text/x-wiki Assalamualaikum, Wr.Wb Halo perkenalkan nama saya Ira Septiani, saya lulusan Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} 0u1zi2dn1rmsirq05i2joepngwzang5 Cerita Pohon 0 28782 121075 2026-10-18T03:31:43Z Radramboo 39183 menuliskan judul baru 121075 wikitext text/x-wiki Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri. Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang. Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu. Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga. Bunga mekar di antara daun dengan cantik. Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul. Buah kecil terus tumbuh. Di dalam buah itu lama-lama muncul biji. Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru. Biji bibit dari buah jatuh ke tanah. Dari biji bibit muncul pohon baru. Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang. nvayqq5cksjwgdhulfi2nxuhwy29jmu 121080 121075 2026-10-18T03:35:11Z Radramboo 39183 menyunting format 121080 wikitext text/x-wiki Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri. </br> Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang. </br> Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu. </br> Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga. </br> Bunga mekar di antara daun dengan cantik. </br> Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul. </br> Buah kecil terus tumbuh. </br> Di dalam buah itu lama-lama muncul biji. </br> Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru. </br> Biji bibit dari buah jatuh ke tanah. </br> Dari biji bibit muncul pohon baru. </br> Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang. ojvpxejubivtc2xvht5letmbehk04q9 121089 121080 2026-10-18T03:45:49Z Radramboo 39183 menambahkan gambar 121089 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded Albizia Saman (rain tree) in the Mekong.jpg|jmpl|416x416px|Sebatang pohon di tengah air]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri. <br> Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang. <br> Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu. <br> Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga. <br> Bunga mekar di antara daun dengan cantik. <br> Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul. <br> Buah kecil terus tumbuh. <br> Di dalam buah itu lama-lama muncul biji. <br> Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru. <br> Biji bibit dari buah jatuh ke tanah. <br> Dari biji bibit muncul pohon baru. <br> Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang. 5zb726cgyclxeep8gcp0t624kqeim49 121099 121089 2026-10-18T03:51:40Z Radramboo 39183 121099 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded Albizia Saman (rain tree) in the Mekong.jpg|jmpl|189x189px|Sebatang pohon di tengah air]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri. <br> Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang. <br> Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu. <br> Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga. <br> Bunga mekar di antara daun dengan cantik. <br> Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul. <br> Buah kecil terus tumbuh. <br> Di dalam buah itu lama-lama muncul biji. <br> Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru. <br> Biji bibit dari buah jatuh ke tanah. <br> Dari biji bibit muncul pohon baru. <br> Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang. 0o3yl8dizw5tcsl61zqhxguli21v738 121101 121099 2026-10-18T03:52:26Z Radramboo 39183 121101 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded_Albizia_Saman_(rain_tree)_in_the_Mekong.jpg|189x189px]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri. <br> Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang. <br> Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu. <br> Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga. <br> Bunga mekar di antara daun dengan cantik. <br> Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul. <br> Buah kecil terus tumbuh. <br> Di dalam buah itu lama-lama muncul biji. <br> Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru. <br> Biji bibit dari buah jatuh ke tanah. <br> Dari biji bibit muncul pohon baru. <br> Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang. kby4iepg7k44mif7sxhm5bmu8gijtqc 121111 121101 2026-10-18T03:54:30Z Radramboo 39183 121111 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded_Albizia_Saman_(rain_tree)_in_the_Mekong.jpg|pus|6720x6720px]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri. <br> Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang. <br> Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu. <br> Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga. <br> Bunga mekar di antara daun dengan cantik. <br> Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul. <br> Buah kecil terus tumbuh. <br> Di dalam buah itu lama-lama muncul biji. <br> Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru. <br> Biji bibit dari buah jatuh ke tanah. <br> Dari biji bibit muncul pohon baru. <br> Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang. fcz9u63p3anb8psah6h6g2j6mfyccyj 121144 121111 2026-10-18T05:09:55Z Radramboo 39183 mengubah ukuran gambar 121144 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded_Albizia_Saman_(rain_tree)_in_the_Mekong.jpg|pus|511x511px]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri. <br> Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang. <br> Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu. <br> Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga. <br> Bunga mekar di antara daun dengan cantik. <br> Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul. <br> Buah kecil terus tumbuh. <br> Di dalam buah itu lama-lama muncul biji. <br> Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru. <br> Biji bibit dari buah jatuh ke tanah. <br> Dari biji bibit muncul pohon baru. <br> Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang. sdd0jjhai0b6bze3adkhop2csy9hdlz 121166 121144 2026-10-18T05:29:10Z Radramboo 39183 menambahkan referensi 121166 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded_Albizia_Saman_(rain_tree)_in_the_Mekong.jpg|pus|511x511px]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri.<br>Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang.<br>Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu.<br>Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga.<br>Bunga mekar di antara daun dengan cantik.<br>Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul.<br>Buah kecil terus tumbuh.<br>Di dalam buah itu lama-lama muncul biji.<br>Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru.<br>Biji bibit dari buah jatuh ke tanah.<br>Dari biji bibit muncul pohon baru.<br>Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang.<ref>Bookbot.2024.[https://api.bookbotkids.workers.dev/books/bdede94f-ac43-41b7-87dd-a6754eb3d6e3/Cerita%20Pohon.pdf Cerita Pohon].Bookbot. </ref> == Referensi == {{Reflist}} 2z1v2hjp20zfr7z3g04lsuh8p5rk76t 121175 121166 2026-10-18T05:29:45Z Radramboo 39183 mengubah format referensi 121175 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded_Albizia_Saman_(rain_tree)_in_the_Mekong.jpg|pus|511x511px]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri.<br>Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang.<br>Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu.<br>Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga.<br>Bunga mekar di antara daun dengan cantik.<br>Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul.<br>Buah kecil terus tumbuh.<br>Di dalam buah itu lama-lama muncul biji.<br>Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru.<br>Biji bibit dari buah jatuh ke tanah.<br>Dari biji bibit muncul pohon baru.<br>Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/bdede94f-ac43-41b7-87dd-a6754eb3d6e3/Cerita%20Pohon.pdf</ref> == Referensi == {{Reflist}} bdtexudffaj2vgl2uvymcoec1uuaof4 121186 121175 2026-10-18T05:34:18Z Radramboo 39183 menambahkan kategori 121186 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded_Albizia_Saman_(rain_tree)_in_the_Mekong.jpg|pus|511x511px]] Ada sebatang pohon di hutan yang hidup sendiri.<br>Pohon itu tumbuh besar dan ada cabang muncul di seluruh batang.<br>Pada cabang, ada ranting yang tumbuh. Daun perlahan muncul dari ranting-ranting itu.<br>Tidak alam setelah itu, dari antara daun itu muncul bunga.<br>Bunga mekar di antara daun dengan cantik.<br>Di antara bunga-bunga yang mekar, buah kecil muncul.<br>Buah kecil terus tumbuh.<br>Di dalam buah itu lama-lama muncul biji.<br>Biji-biji dari dalam buah menjadi bibit pohon yang baru.<br>Biji bibit dari buah jatuh ke tanah.<br>Dari biji bibit muncul pohon baru.<br>Pohon besar tidak sendiri lagi sekarang.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/bdede94f-ac43-41b7-87dd-a6754eb3d6e3/Cerita%20Pohon.pdf</ref> == Referensi == {{Reflist}} [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Cerita Anak]] lqei7afltu3vi448qsq0unxlzt9tlzi Kebakaran Hutan 0 28783 121076 2026-10-18T03:32:44Z Amatbanjar 44088 ←Membuat halaman berisi 'Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena...' 121076 wikitext text/x-wiki Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan permasalahan ini membutuhkan kerja sama antarlembaga dan koordinasi lintas wilayah. Berdasarkan pemberitaan resmi Pemerintah Kota Banjarmasin pada 8 September 2026, dampak karhutla menjadi perhatian pemerintah kota karena asap dari wilayah sekitar berpotensi masuk ke Banjarmasin mengikuti arah angin. Pemerintah Kota Banjarmasin membahas sejumlah langkah penanganan dalam rapat koordinasi, antara lain pengendalian kebakaran lahan, pembagian masker, kesiapan layanan kesehatan, penyesuaian kegiatan belajar, serta rencana pembentukan posko lapangan. Dalam pemberitaan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran lahan di wilayah kota dilakukan melalui kolaborasi BPBD, pemadam kebakaran swasta, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Selanjutnya, pada 22 September 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin melaporkan bahwa BPBD Kota Banjarmasin turut membantu penanganan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan pemadam kebakaran. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak selalu terbatas pada wilayah administrasi satu daerah, melainkan dapat membutuhkan dukungan dan koordinasi antardaerah sesuai kondisi di lapangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, koordinasi memiliki peran penting untuk menyelaraskan tugas, kewenangan, sumber daya, dan informasi dari setiap instansi yang terlibat. Tanpa koordinasi yang jelas, penanganan suatu permasalahan publik berpotensi menghadapi hambatan, seperti ketidaksamaan informasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau keterlambatan dalam menentukan tindakan. Namun, hambatan-hambatan tersebut perlu dibuktikan melalui data dan informasi yang diperoleh dari sumber terkait, bukan hanya diasumsikan terjadi. daoxszzomnjucq7vlmw3kw4ugsbl6fl 121100 121076 2026-10-18T03:51:49Z Amatbanjar 44088 121100 wikitext text/x-wiki Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan permasalahan ini membutuhkan kerja sama antarlembaga dan koordinasi lintas wilayah. Berdasarkan pemberitaan resmi Pemerintah Kota Banjarmasin pada 8 September 2026, dampak karhutla menjadi perhatian pemerintah kota karena asap dari wilayah sekitar berpotensi masuk ke Banjarmasin mengikuti arah angin. Pemerintah Kota Banjarmasin membahas sejumlah langkah penanganan dalam rapat koordinasi, antara lain pengendalian kebakaran lahan, pembagian masker, kesiapan layanan kesehatan, penyesuaian kegiatan belajar, serta rencana pembentukan posko lapangan. Dalam pemberitaan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran lahan di wilayah kota dilakukan melalui kolaborasi BPBD, pemadam kebakaran swasta, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Selanjutnya, pada 22 September 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin melaporkan bahwa BPBD Kota Banjarmasin turut membantu penanganan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan pemadam kebakaran. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak selalu terbatas pada wilayah administrasi satu daerah, melainkan dapat membutuhkan dukungan dan koordinasi antardaerah sesuai kondisi di lapangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, koordinasi memiliki peran penting untuk menyelaraskan tugas, kewenangan, sumber daya, dan informasi dari setiap instansi yang terlibat. Tanpa koordinasi yang jelas, penanganan suatu permasalahan publik berpotensi menghadapi hambatan, seperti ketidaksamaan informasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau keterlambatan dalam menentukan tindakan. Namun, hambatan-hambatan tersebut perlu dibuktikan melalui data dan informasi yang diperoleh dari sumber terkait, bukan hanya diasumsikan terjadi. amyb4dfirr7h7den7xktjh38qicbdne 121121 121100 2026-10-18T04:00:59Z Amatbanjar 44088 121121 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg|jmpl|'''Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg''' ]] Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan permasalahan ini membutuhkan kerja sama antarlembaga dan koordinasi lintas wilayah. Berdasarkan pemberitaan resmi Pemerintah Kota Banjarmasin pada 8 September 2026, dampak karhutla menjadi perhatian pemerintah kota karena asap dari wilayah sekitar berpotensi masuk ke Banjarmasin mengikuti arah angin. Pemerintah Kota Banjarmasin membahas sejumlah langkah penanganan dalam rapat koordinasi, antara lain pengendalian kebakaran lahan, pembagian masker, kesiapan layanan kesehatan, penyesuaian kegiatan belajar, serta rencana pembentukan posko lapangan. Dalam pemberitaan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran lahan di wilayah kota dilakukan melalui kolaborasi BPBD, pemadam kebakaran swasta, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Selanjutnya, pada 22 September 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin melaporkan bahwa BPBD Kota Banjarmasin turut membantu penanganan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan pemadam kebakaran. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak selalu terbatas pada wilayah administrasi satu daerah, melainkan dapat membutuhkan dukungan dan koordinasi antardaerah sesuai kondisi di lapangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, koordinasi memiliki peran penting untuk menyelaraskan tugas, kewenangan, sumber daya, dan informasi dari setiap instansi yang terlibat. Tanpa koordinasi yang jelas, penanganan suatu permasalahan publik berpotensi menghadapi hambatan, seperti ketidaksamaan informasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau keterlambatan dalam menentukan tindakan. Namun, hambatan-hambatan tersebut perlu dibuktikan melalui data dan informasi yang diperoleh dari sumber terkait, bukan hanya diasumsikan terjadi. c2x6aqbob1vfeo0m9c6c7lbmn6ml444 121216 121121 2026-10-18T05:38:45Z Amatbanjar 44088 added [[Category:Referensi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121216 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg|jmpl|'''Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg''' ]] Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan permasalahan ini membutuhkan kerja sama antarlembaga dan koordinasi lintas wilayah. Berdasarkan pemberitaan resmi Pemerintah Kota Banjarmasin pada 8 September 2026, dampak karhutla menjadi perhatian pemerintah kota karena asap dari wilayah sekitar berpotensi masuk ke Banjarmasin mengikuti arah angin. Pemerintah Kota Banjarmasin membahas sejumlah langkah penanganan dalam rapat koordinasi, antara lain pengendalian kebakaran lahan, pembagian masker, kesiapan layanan kesehatan, penyesuaian kegiatan belajar, serta rencana pembentukan posko lapangan. Dalam pemberitaan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran lahan di wilayah kota dilakukan melalui kolaborasi BPBD, pemadam kebakaran swasta, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Selanjutnya, pada 22 September 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin melaporkan bahwa BPBD Kota Banjarmasin turut membantu penanganan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan pemadam kebakaran. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak selalu terbatas pada wilayah administrasi satu daerah, melainkan dapat membutuhkan dukungan dan koordinasi antardaerah sesuai kondisi di lapangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, koordinasi memiliki peran penting untuk menyelaraskan tugas, kewenangan, sumber daya, dan informasi dari setiap instansi yang terlibat. Tanpa koordinasi yang jelas, penanganan suatu permasalahan publik berpotensi menghadapi hambatan, seperti ketidaksamaan informasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau keterlambatan dalam menentukan tindakan. Namun, hambatan-hambatan tersebut perlu dibuktikan melalui data dan informasi yang diperoleh dari sumber terkait, bukan hanya diasumsikan terjadi. [[Kategori:Referensi]] qhd5fpg6rewm43p21h3l31bhv64ier5 121221 121216 2026-10-18T05:39:18Z Amatbanjar 44088 /* */ 121221 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg|jmpl|'''Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg''' ]] Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan permasalahan ini membutuhkan kerja sama antarlembaga dan koordinasi lintas wilayah. Berdasarkan pemberitaan resmi Pemerintah Kota Banjarmasin pada 8 September 2026, dampak karhutla menjadi perhatian pemerintah kota karena asap dari wilayah sekitar berpotensi masuk ke Banjarmasin mengikuti arah angin. Pemerintah Kota Banjarmasin membahas sejumlah langkah penanganan dalam rapat koordinasi, antara lain pengendalian kebakaran lahan, pembagian masker, kesiapan layanan kesehatan, penyesuaian kegiatan belajar, serta rencana pembentukan posko lapangan. Dalam pemberitaan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran lahan di wilayah kota dilakukan melalui kolaborasi BPBD, pemadam kebakaran swasta, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Selanjutnya, pada 22 September 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin melaporkan bahwa BPBD Kota Banjarmasin turut membantu penanganan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan pemadam kebakaran. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak selalu terbatas pada wilayah administrasi satu daerah, melainkan dapat membutuhkan dukungan dan koordinasi antardaerah sesuai kondisi di lapangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, koordinasi memiliki peran penting untuk menyelaraskan tugas, kewenangan, sumber daya, dan informasi dari setiap instansi yang terlibat. Tanpa koordinasi yang jelas, penanganan suatu permasalahan publik berpotensi menghadapi hambatan, seperti ketidaksamaan informasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau keterlambatan dalam menentukan tindakan. Namun, hambatan-hambatan tersebut perlu dibuktikan melalui data dan informasi yang diperoleh dari sumber terkait, bukan hanya diasumsikan terjadi. [[Kategori:]] 0spvlpvzolatcfv08wh5e3sbcytao4q 121231 121221 2026-10-18T05:40:14Z Amatbanjar 44088 +[[Kategori:WikiCarita]]; +[[Kategori:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121231 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg|jmpl|'''Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg''' ]] Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan permasalahan ini membutuhkan kerja sama antarlembaga dan koordinasi lintas wilayah. Berdasarkan pemberitaan resmi Pemerintah Kota Banjarmasin pada 8 September 2026, dampak karhutla menjadi perhatian pemerintah kota karena asap dari wilayah sekitar berpotensi masuk ke Banjarmasin mengikuti arah angin. Pemerintah Kota Banjarmasin membahas sejumlah langkah penanganan dalam rapat koordinasi, antara lain pengendalian kebakaran lahan, pembagian masker, kesiapan layanan kesehatan, penyesuaian kegiatan belajar, serta rencana pembentukan posko lapangan. Dalam pemberitaan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran lahan di wilayah kota dilakukan melalui kolaborasi BPBD, pemadam kebakaran swasta, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Selanjutnya, pada 22 September 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin melaporkan bahwa BPBD Kota Banjarmasin turut membantu penanganan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan pemadam kebakaran. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak selalu terbatas pada wilayah administrasi satu daerah, melainkan dapat membutuhkan dukungan dan koordinasi antardaerah sesuai kondisi di lapangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, koordinasi memiliki peran penting untuk menyelaraskan tugas, kewenangan, sumber daya, dan informasi dari setiap instansi yang terlibat. Tanpa koordinasi yang jelas, penanganan suatu permasalahan publik berpotensi menghadapi hambatan, seperti ketidaksamaan informasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau keterlambatan dalam menentukan tindakan. Namun, hambatan-hambatan tersebut perlu dibuktikan melalui data dan informasi yang diperoleh dari sumber terkait, bukan hanya diasumsikan terjadi. [[Kategori:]] [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] 1kcsrg3d8nc95uaibu35sp61d0lqncf 121238 121231 2026-10-18T05:42:14Z Amatbanjar 44088 /* */ 121238 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg|jmpl|'''Kebakaran Hutan di Tanah Bumbu 2026.jpg''' ]] Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang membutuhkan perhatian pemerintah karena dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kabut asap, gangguan kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Di Kota Banjarmasin, penanganan karhutla menjadi persoalan yang perlu dikaji dari sudut pandang pemerintahan, terutama karena dampak asap dapat berasal dari kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Oleh karena itu, penanganan permasalahan ini membutuhkan kerja sama antarlembaga dan koordinasi lintas wilayah. Berdasarkan pemberitaan resmi Pemerintah Kota Banjarmasin pada 8 September 2026, dampak karhutla menjadi perhatian pemerintah kota karena asap dari wilayah sekitar berpotensi masuk ke Banjarmasin mengikuti arah angin. Pemerintah Kota Banjarmasin membahas sejumlah langkah penanganan dalam rapat koordinasi, antara lain pengendalian kebakaran lahan, pembagian masker, kesiapan layanan kesehatan, penyesuaian kegiatan belajar, serta rencana pembentukan posko lapangan. Dalam pemberitaan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarmasin juga menjelaskan bahwa penanganan kebakaran lahan di wilayah kota dilakukan melalui kolaborasi BPBD, pemadam kebakaran swasta, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan. Selanjutnya, pada 22 September 2026, Pemerintah Kota Banjarmasin melaporkan bahwa BPBD Kota Banjarmasin turut membantu penanganan kebakaran lahan di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala. Penanganan tersebut melibatkan sejumlah unsur, termasuk BPBD, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, dan relawan pemadam kebakaran. Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak selalu terbatas pada wilayah administrasi satu daerah, melainkan dapat membutuhkan dukungan dan koordinasi antardaerah sesuai kondisi di lapangan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, koordinasi memiliki peran penting untuk menyelaraskan tugas, kewenangan, sumber daya, dan informasi dari setiap instansi yang terlibat. Tanpa koordinasi yang jelas, penanganan suatu permasalahan publik berpotensi menghadapi hambatan, seperti ketidaksamaan informasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau keterlambatan dalam menentukan tindakan. Namun, hambatan-hambatan tersebut perlu dibuktikan melalui data dan informasi yang diperoleh dari sumber terkait, bukan hanya diasumsikan terjadi. [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] kldvdiw1ccomdfwsl56rgycno6pmh26 Baca Buku, Yuk! 0 28784 121077 2026-10-18T03:33:37Z WidyaNorjanah 44080 ←Membuat halaman berisi 'Anak-anak ini tinggal di wilayah kumuh sekitar pinggiran kota. Mereka hidup serba kekurangan. Meskipun begitu, mereka selalu membantu untuk bersih-bersih. Pada satu pagi di hari minggu, ada satu orang Kakak datang. Kakak itu membawa satu kotak besar, penuh berisi buku. Anak-anak itu tak mampu membeli buku. Jadi, mereka tak pernah baca buku. Mereka juga tak bisa baca. Tapi tunggu, buku-buku ini penuh dengan gambar! Kakak itu rutin datang pada hari Minggu untuk...' 121077 wikitext text/x-wiki Anak-anak ini tinggal di wilayah kumuh sekitar pinggiran kota. Mereka hidup serba kekurangan. Meskipun begitu, mereka selalu membantu untuk bersih-bersih. Pada satu pagi di hari minggu, ada satu orang Kakak datang. Kakak itu membawa satu kotak besar, penuh berisi buku. Anak-anak itu tak mampu membeli buku. Jadi, mereka tak pernah baca buku. Mereka juga tak bisa baca. Tapi tunggu, buku-buku ini penuh dengan gambar! Kakak itu rutin datang pada hari Minggu untuk mengajar mereka membaca. Mereka memanggil Kakak dengan nama 'Kakak Murah Hati'. Karena Kakak itu sangat baik. Anak-anak senang sekali! Dengan penuh semangat, mereka membersihkan satu pojok untuk tempat membaca bersama. Tapi, Kakak Murah Hati tak pernah datang lagi. Anak-anak jadi tak bisa membaca. Mereka cuma bisa menebak cerita dari gambar-gambar pada buku mereka. Mereka pun pergi ke kota untuk mencari Kakak Murah Hati. Tapi, bagaimana caranya? Tak ada petunjuk tentang Kakak Murah Hati. Tunggu! Mereka melihat petunjuk! Apa kamu bisa tebak? Ya, itu selendang Kakak! Ternyata Kakak sakit, sehingga tak bisa datang ke tempat tinggal mereka. Kakak gembira sekali karena anak-anak itu menjenguk dan menghiburnya. Setelah Kakak Murah Hati sembuh, Kakak datang lagi ke tempat tinggal mereka. Kini, seluruh anak-anak di tempat itu sudah bisa membaca. Terima kasih, Kakak Murah Hati! 3pt2co7uojkrw0oi4ffootifm35o902 121088 121077 2026-10-18T03:43:55Z WidyaNorjanah 44080 121088 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Membaca Buku|jmpl]] Anak-anak ini tinggal di wilayah kumuh sekitar pinggiran kota. Mereka hidup serba kekurangan. Meskipun begitu, mereka selalu membantu untuk bersih-bersih. Pada satu pagi di hari minggu, ada satu orang Kakak datang. Kakak itu membawa satu kotak besar, penuh berisi buku. Anak-anak itu tak mampu membeli buku. Jadi, mereka tak pernah baca buku. Mereka juga tak bisa baca. Tapi tunggu, buku-buku ini penuh dengan gambar! Kakak itu rutin datang pada hari Minggu untuk mengajar mereka membaca. Mereka memanggil Kakak dengan nama 'Kakak Murah Hati'. Karena Kakak itu sangat baik. Anak-anak senang sekali! Dengan penuh semangat, mereka membersihkan satu pojok untuk tempat membaca bersama. Tapi, Kakak Murah Hati tak pernah datang lagi. Anak-anak jadi tak bisa membaca. Mereka cuma bisa menebak cerita dari gambar-gambar pada buku mereka. Mereka pun pergi ke kota untuk mencari Kakak Murah Hati. Tapi, bagaimana caranya? Tak ada petunjuk tentang Kakak Murah Hati. Tunggu! Mereka melihat petunjuk! Apa kamu bisa tebak? Ya, itu selendang Kakak! Ternyata Kakak sakit, sehingga tak bisa datang ke tempat tinggal mereka. Kakak gembira sekali karena anak-anak itu menjenguk dan menghiburnya. Setelah Kakak Murah Hati sembuh, Kakak datang lagi ke tempat tinggal mereka. Kini, seluruh anak-anak di tempat itu sudah bisa membaca. Terima kasih, Kakak Murah Hati! 0bz6pna9lfid8iuvlgdluwh5fve6tmr 121105 121088 2026-10-18T03:52:37Z WidyaNorjanah 44080 Membuat buku baru 121105 wikitext text/x-wiki [[Berkas:13-11-02-olb-by-RalfR-03.jpg|jmpl|Buku Jendela Dunia]] Anak-anak ini tinggal di wilayah kumuh sekitar pinggiran kota. Mereka hidup serba kekurangan. Meskipun begitu, mereka selalu membantu untuk bersih-bersih. Pada satu pagi di hari minggu, ada satu orang Kakak datang. Kakak itu membawa satu kotak besar, penuh berisi buku. Anak-anak itu tak mampu membeli buku. Jadi, mereka tak pernah baca buku. Mereka juga tak bisa baca. Tapi tunggu, buku-buku ini penuh dengan gambar! Kakak itu rutin datang pada hari Minggu untuk mengajar mereka membaca. Mereka memanggil Kakak dengan nama 'Kakak Murah Hati'. Karena Kakak itu sangat baik. Anak-anak senang sekali! Dengan penuh semangat, mereka membersihkan satu pojok untuk tempat membaca bersama. Tapi, Kakak Murah Hati tak pernah datang lagi. Anak-anak jadi tak bisa membaca. Mereka cuma bisa menebak cerita dari gambar-gambar pada buku mereka. Mereka pun pergi ke kota untuk mencari Kakak Murah Hati. Tapi, bagaimana caranya? Tak ada petunjuk tentang Kakak Murah Hati. Tunggu! Mereka melihat petunjuk! Apa kamu bisa tebak? Ya, itu selendang Kakak! Ternyata Kakak sakit, sehingga tak bisa datang ke tempat tinggal mereka. Kakak gembira sekali karena anak-anak itu menjenguk dan menghiburnya. Setelah Kakak Murah Hati sembuh, Kakak datang lagi ke tempat tinggal mereka. Kini, seluruh anak-anak di tempat itu sudah bisa membaca. Terima kasih, Kakak Murah Hati! cw8v5qbd7y9kuspingf4mgq9open2wi 121213 121105 2026-10-18T05:38:29Z WidyaNorjanah 44080 Menambah referensi 121213 wikitext text/x-wiki [[Berkas:13-11-02-olb-by-RalfR-03.jpg|jmpl|Buku Jendela Dunia]] Anak-anak ini tinggal di wilayah kumuh sekitar pinggiran kota. Mereka hidup serba kekurangan. Meskipun begitu, mereka selalu membantu untuk bersih-bersih. Pada satu pagi di hari minggu, ada satu orang Kakak datang. Kakak itu membawa satu kotak besar, penuh berisi buku. Anak-anak itu tak mampu membeli buku. Jadi, mereka tak pernah baca buku. Mereka juga tak bisa baca. Tapi tunggu, buku-buku ini penuh dengan gambar! Kakak itu rutin datang pada hari Minggu untuk mengajar mereka membaca. Mereka memanggil Kakak dengan nama 'Kakak Murah Hati'. Karena Kakak itu sangat baik. Anak-anak senang sekali! Dengan penuh semangat, mereka membersihkan satu pojok untuk tempat membaca bersama. Tapi, Kakak Murah Hati tak pernah datang lagi. Anak-anak jadi tak bisa membaca. Mereka cuma bisa menebak cerita dari gambar-gambar pada buku mereka. Mereka pun pergi ke kota untuk mencari Kakak Murah Hati. Tapi, bagaimana caranya? Tak ada petunjuk tentang Kakak Murah Hati. Tunggu! Mereka melihat petunjuk! Apa kamu bisa tebak? Ya, itu selendang Kakak! Ternyata Kakak sakit, sehingga tak bisa datang ke tempat tinggal mereka. Kakak gembira sekali karena anak-anak itu menjenguk dan menghiburnya. Setelah Kakak Murah Hati sembuh, Kakak datang lagi ke tempat tinggal mereka. Kini, seluruh anak-anak di tempat itu sudah bisa membaca. Terima kasih, Kakak Murah Hati!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/0bc055c4-ea5f-457e-becc-db1265e5798b/Baca%20Buku,%20Yuk!.pdf</ref> == Referensi == 75jv4nkbk6spdg3dox3w8n3qx6y9niq 121229 121213 2026-10-18T05:39:52Z WidyaNorjanah 44080 Menambah kategori 121229 wikitext text/x-wiki [[Berkas:13-11-02-olb-by-RalfR-03.jpg|jmpl|Buku Jendela Dunia]] Anak-anak ini tinggal di wilayah kumuh sekitar pinggiran kota. Mereka hidup serba kekurangan. Meskipun begitu, mereka selalu membantu untuk bersih-bersih. Pada satu pagi di hari minggu, ada satu orang Kakak datang. Kakak itu membawa satu kotak besar, penuh berisi buku. Anak-anak itu tak mampu membeli buku. Jadi, mereka tak pernah baca buku. Mereka juga tak bisa baca. Tapi tunggu, buku-buku ini penuh dengan gambar! Kakak itu rutin datang pada hari Minggu untuk mengajar mereka membaca. Mereka memanggil Kakak dengan nama 'Kakak Murah Hati'. Karena Kakak itu sangat baik. Anak-anak senang sekali! Dengan penuh semangat, mereka membersihkan satu pojok untuk tempat membaca bersama. Tapi, Kakak Murah Hati tak pernah datang lagi. Anak-anak jadi tak bisa membaca. Mereka cuma bisa menebak cerita dari gambar-gambar pada buku mereka. Mereka pun pergi ke kota untuk mencari Kakak Murah Hati. Tapi, bagaimana caranya? Tak ada petunjuk tentang Kakak Murah Hati. Tunggu! Mereka melihat petunjuk! Apa kamu bisa tebak? Ya, itu selendang Kakak! Ternyata Kakak sakit, sehingga tak bisa datang ke tempat tinggal mereka. Kakak gembira sekali karena anak-anak itu menjenguk dan menghiburnya. Setelah Kakak Murah Hati sembuh, Kakak datang lagi ke tempat tinggal mereka. Kini, seluruh anak-anak di tempat itu sudah bisa membaca. Terima kasih, Kakak Murah Hati!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/0bc055c4-ea5f-457e-becc-db1265e5798b/Baca%20Buku,%20Yuk!.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] rbxft5zs6o7qcvb9nsz511osg5nm4g8 Kisah Peniup Seruling 0 28785 121078 2026-10-18T03:33:57Z Rraaylin 44077 ←Membuat halaman berisi 'Alunan serulingnya sangat menyentuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya terpejam. Air matanya berlinang. Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya gugur. Angin membawa daun-daun itu terbang menyentuh awan. Tetesan air hujan pun jatuh ke taman. Di tengah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil itu. Hujan pun reda. Bunga-bunga bertanya kepada Lebah, "Wahai, Lebah, kau tahu kenapa dia memainkan lagu meny...' 121078 wikitext text/x-wiki Alunan serulingnya sangat menyentuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya terpejam. Air matanya berlinang. Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya gugur. Angin membawa daun-daun itu terbang menyentuh awan. Tetesan air hujan pun jatuh ke taman. Di tengah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil itu. Hujan pun reda. Bunga-bunga bertanya kepada Lebah, "Wahai, Lebah, kau tahu kenapa dia memainkan lagu menyayat hati?" Lebah menggeleng. Dia terbang ke angkasa. Lebah bertemu dengan si Burung Biru. "Kenapa tiupan serulingnya terasa sangat lara, ya?" tanya Lebah. "Aku tidak tahu," jawab si Burung Biru. Dia menghampiri Kelinci. "Kelinci, mengapa lagunya terdengar sangat menyedihkan?" tanya si Burung Biru. Kelinci terdiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik berhenti. Gadis kecil itu membuka matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Aku rindu ayah dan ibuku, tapi mereka telah tiada," katanya sambil menangis tersedu. Para penghuni taman terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang. Satu per satu mendekat ke arah gadis kecil itu dan memeluknya. Dia kaget dan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman. 0i80rsberfe6z8ubwm4j61agwo2uopk 121092 121078 2026-10-18T03:47:03Z Rraaylin 44077 121092 wikitext text/x-wiki Alunan serulingnya sangat menyentuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya terpejam. Air matanya berlinang. Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya gugur. Angin membawa daun-daun itu terbang menyentuh awan. Tetesan air hujan pun jatuh ke taman. Di tengah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil itu. Hujan pun reda. Bunga-bunga bertanya kepada Lebah, "Wahai, Lebah, kau tahu kenapa dia memainkan lagu menyayat hati?" Lebah menggeleng. Dia terbang ke angkasa. Lebah bertemu dengan si Burung Biru. "Kenapa tiupan serulingnya terasa sangat lara, ya?" tanya Lebah. "Aku tidak tahu," jawab si Burung Biru. Dia menghampiri Kelinci. "Kelinci, mengapa lagunya terdengar sangat menyedihkan?" tanya si Burung Biru. Kelinci terdiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik berhenti. Gadis kecil itu membuka matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Aku rindu ayah dan ibuku, tapi mereka telah tiada," katanya sambil menangis tersedu. Para penghuni taman terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang. Satu per satu mendekat ke arah gadis kecil itu dan memeluknya. Dia kaget dan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman. 8fqd7irzewm0d8id8gitl9wp02lg9ml 121098 121092 2026-10-18T03:51:12Z Rraaylin 44077 Kisah Peniup Seruling 121098 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flute with musicial notes.jpg|jmpl|Seruling]] Alunan serulingnya sangat menyentuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya terpejam. Air matanya berlinang. Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya gugur. Angin membawa daun-daun itu terbang menyentuh awan. Tetesan air hujan pun jatuh ke taman. Di tengah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil itu. Hujan pun reda. Bunga-bunga bertanya kepada Lebah, "Wahai, Lebah, kau tahu kenapa dia memainkan lagu menyayat hati?" Lebah menggeleng. Dia terbang ke angkasa. Lebah bertemu dengan si Burung Biru. "Kenapa tiupan serulingnya terasa sangat lara, ya?" tanya Lebah. "Aku tidak tahu," jawab si Burung Biru. Dia menghampiri Kelinci. "Kelinci, mengapa lagunya terdengar sangat menyedihkan?" tanya si Burung Biru. Kelinci terdiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik berhenti. Gadis kecil itu membuka matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Aku rindu ayah dan ibuku, tapi mereka telah tiada," katanya sambil menangis tersedu. Para penghuni taman terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang. Satu per satu mendekat ke arah gadis kecil itu dan memeluknya. Dia kaget dan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman. j5w30yt0ndivsk6bo5hqacji96m24k3 121107 121098 2026-10-18T03:52:51Z Rraaylin 44077 Membuat buku baru 121107 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flute with musicial notes.jpg|jmpl|Seruling]] Alunan serulingnya sangat menyentuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya terpejam. Air matanya berlinang. Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya gugur. Angin membawa daun-daun itu terbang menyentuh awan. Tetesan air hujan pun jatuh ke taman. Di tengah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil itu. Hujan pun reda. Bunga-bunga bertanya kepada Lebah, "Wahai, Lebah, kau tahu kenapa dia memainkan lagu menyayat hati?" Lebah menggeleng. Dia terbang ke angkasa. Lebah bertemu dengan si Burung Biru. "Kenapa tiupan serulingnya terasa sangat lara, ya?" tanya Lebah. "Aku tidak tahu," jawab si Burung Biru. Dia menghampiri Kelinci. "Kelinci, mengapa lagunya terdengar sangat menyedihkan?" tanya si Burung Biru. Kelinci terdiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik berhenti. Gadis kecil itu membuka matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Aku rindu ayah dan ibuku, tapi mereka telah tiada," katanya sambil menangis tersedu. Para penghuni taman terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang. Satu per satu mendekat ke arah gadis kecil itu dan memeluknya. Dia kaget dan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman. r7ui30e7kgn8iqfcjd2fkidsh2imcsf 121237 121107 2026-10-18T05:42:14Z Rraaylin 44077 121237 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flute with musicial notes.jpg|jmpl|Seruling]] Alunan serulingnya sangat menyentuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya terpejam. Air matanya berlinang. Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya gugur. Angin membawa daun-daun itu terbang menyentuh awan. Tetesan air hujan pun jatuh ke taman. Di tengah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil itu. Hujan pun reda. Bunga-bunga bertanya kepada Lebah, "Wahai, Lebah, kau tahu kenapa dia memainkan lagu menyayat hati?" Lebah menggeleng. Dia terbang ke angkasa. Lebah bertemu dengan si Burung Biru. "Kenapa tiupan serulingnya terasa sangat lara, ya?" tanya Lebah. "Aku tidak tahu," jawab si Burung Biru. Dia menghampiri Kelinci. "Kelinci, mengapa lagunya terdengar sangat menyedihkan?" tanya si Burung Biru. Kelinci terdiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik berhenti. Gadis kecil itu membuka matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Aku rindu ayah dan ibuku, tapi mereka telah tiada," katanya sambil menangis tersedu. Para penghuni taman terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang. Satu per satu mendekat ke arah gadis kecil itu dan memeluknya. Dia kaget dan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman.<ref>Medinah, E. (2024). Kisah Peniup Seruling. Bookbot</ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Fiksi Mini]] nb9ovyi03gz98v137q1zxk3bb9w05t3 121242 121237 2026-10-18T05:43:43Z Rraaylin 44077 121242 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flute with musicial notes.jpg|jmpl|Seruling]] Alunan serulingnya sangat menyentuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya terpejam. Air matanya berlinang. Pohon-pohon pun merasa pilu mendengar lagu itu, hingga daun-daunnya gugur. Angin membawa daun-daun itu terbang menyentuh awan. Tetesan air hujan pun jatuh ke taman. Di tengah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil itu. Hujan pun reda. Bunga-bunga bertanya kepada Lebah, "Wahai, Lebah, kau tahu kenapa dia memainkan lagu menyayat hati?" Lebah menggeleng. Dia terbang ke angkasa. Lebah bertemu dengan si Burung Biru. "Kenapa tiupan serulingnya terasa sangat lara, ya?" tanya Lebah. "Aku tidak tahu," jawab si Burung Biru. Dia menghampiri Kelinci. "Kelinci, mengapa lagunya terdengar sangat menyedihkan?" tanya si Burung Biru. Kelinci terdiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik berhenti. Gadis kecil itu membuka matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan. "Aku rindu ayah dan ibuku, tapi mereka telah tiada," katanya sambil menangis tersedu. Para penghuni taman terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang. Satu per satu mendekat ke arah gadis kecil itu dan memeluknya. Dia kaget dan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman.<ref>Medinah, E. (2024). Kisah Peniup Seruling. Bookbot</ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Fiksi Mini]] iqlkj5xrpn4ndces7lpui06v6i7ame3 Meniti Punggung Meratus: Dari Balai Adat Balawaian ke Balai Adat Hayangin 0 28786 121079 2026-10-18T03:34:30Z Irwin Humaniora 43818 membuat halaman wikibuku 121079 wikitext text/x-wiki Di siang yang terik dan berdebu, saya melangkah dengan hati yang senang dan semangat. Perjalanan ke Balai Adat Hayangin sempat bimbang, lantaran informasi aruh yang simpang siur. Dini hari mendapat informasi bahwa aruh adat akan diselenggarakan. Hari ini impian itu akan menjadi kenyataan. *** Keindahan alam terhampar di sepanjang jalan yang berkelok-kelok. Langit biru terhampar luas di atasnya, sementara pepohonan menjulang tinggi di kanan-kiri, menari-nari dengan gemulai ketika angin lembut menerpa. Langkah demi langkah memasuki lorong waktu yang akan mengantarkan pada perjalanan yang tak terlupakan. Bukit-bukit menjulang gagah di kejauhan, menyapu awan putih dengan keindahan yang memukau. Hutan-hutan yang rimbun mengundang untuk melangkah lebih dalam ke dalam kehidupan alam liar yang harmonis. Nuansa jalur jalan Perbukitan Meratus Sumber: dokumentasi pribadi. Sesampainya di balai adat, disambut oleh tetua kampung, penghulu adat, dan beberapa masyarakat sekitarnya. Diperkenankan memasuki balai tersebut. Wajah-wajah mereka yang agak berkeriput cukup menjadi bukti hidup berumur panjang dengan senantiasa melestarikan aruh yang turun-temurun. Kemudian berjabat tangan bersalaman dan ramah-tamah dengan penduduk setempat, mereka sambil bercerita tentang mitos dan legenda yang mengiringi perkembangan masyarakat setempat, memberi wawasan baru tentang akar budaya yang kuat. Aku dan Ayah bercengkrama dengan penghulu adat, bendahara desa, panitia pelaksana aruh, dan beberapa remaja serta masyarakat Desa Hayangin sambil menunggu pergelaran aruh dilakukan. *** Aroma nasi yang panas memikat selera para tamu undangan. Dipersilakan para tamu undangan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan oleh para emak-emak balai adat tersebut. Gepulan asap kayu bakar dan asap rokok mulai menyelimuti area balai, membuat atmosfer menjadi kabut yang sedikit mengganggu alat indra. Para tamu undangan pun makin malam semakin ramai dan bertambah banyak. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai desa. Balai ini terletak di pinggir jalan raya, tidak jauh dari perkampungan warga sekitar. Sehingga balai ini mudah diakses oleh berbagai masyarakat desa lainnya. Arsitektur balai sudah terkontaminasi oleh gaya modernisasi. Bangunan balai sejatinya hanya dibuat dari kayu, bambu, dan daun rumbia. Bahan bangunan diambil dari alam sekitar. Kayu digunakan untuk tiang dan kerangka bangunan, sedangkan bambu digunakan untuk lantai dan dinding. Daun rumbia dijadikan atapnya. Lambat laun balai tersentuh modernisasi, lantaran seiring perkembangan zaman. Material yang digunakan untuk membangun balai juga berubah. Meskipun kayu masih tetap setia dipakai, tidak dengan bambu serta daun rumbia. Atapnya tidak lagi memakai rumbia, tetapi memakai seng. Dinding dan lantai diganti dengan papan kayu, bahkan ada pula yang memakai kalsiboard. Foto Balai Adat Hayangin Sumber: dokumentasi pribadi. Terdapat 1 ruang induk di tengah balai, 1 dapur umum, dan 4 buah kamar. Aruh di balai ini diselenggarakan selama 3 hari 3 malam. Balai ini berukuran sedikit lebih kecil daripada Balai Adat Balawaian, sedangkan ukuran Balai Adat Balawaian itu sekitar 10 meter x 12 meter. Saya amati ukuran balai tersebut kurang lebih seperti ukuran rumah tipe 72 (8 meter x 9 meter), karena memiliki ukuran tersebut, membuat para tamu undangan sedikit kesulitan dalam menyantap hidangan. Akan tetapi, itu tidak dipermasalahkan. Hal ini umum terjadi ketika balai adat berukuran kecil. Meskipun begitu, tidak memudarkan jiwa semangat gotong royong mereka. Sangat wajarlah jika hari pertama pada aruh, para hadirin sangat banyak. Bagaikan supporter bola yang hadir mendukung klub kesayangan. Mereka hadir dengan sangat antusias, tidak sabar ingin menyaksikan berbagai ritual yang diselenggarakan. Mereka melebur dalam suatu keharmonisan dan kesederhanaan, karena itu, ciri khas dari orang-orang Meratus. Saat aku sedang termenung, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri dan menyalami tanganku. Aku terkejut saat menyadari bahwa anak tersebut adalah yang pernah aku foto di Balai Adat Balawaian. Momen itu sangat mengharukan dan menyentuh perasaan hatiku yang dingin. Suasana aruh yang dihadiri oleh masyarakat sekitar Sumber: dokumentasi pribadi. Duduk di sudut balai dengan Ayah sambil memandang riuh-riuh bincangan dari masyarakat setempat. Mereka berbincang dengan ceria dan tertawa. Aku termenung melihat fenomena tersebut. Melihat kekerabatan mereka yang begitu kuat dan harmonis. Selagi menunggu ritual dimulai, beberapa pidato dan sambutan disampaikan oleh pemerintah dan panitia pelaksana. Balai adat bergemuruh melantunkan bunyi-bunyi dari bincang-bincang warga setempat. Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan bahwa di Desa Hayangin yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas aspal Desa Hayangin. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam semakin dingin. Pergelaran di balai ini sangat ramah bagi anak-anak. Ruangan yang sedikit kecil justru menciptakan suasana yang menyenangkan sebagai arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakraban antara manusia dan lingkungannya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di ruangan balai yang berhias dengan beragam sangkar. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bersenda gurau. Mereka sebaiknya tahu bahwa masa kanak-kanak adalah momen yang hanya datang sekali. Sekitar larut malam, ritual dimulai Balian merapalkan mamang aruh Sumber: dokumentasi pribadi. Ritual pertama yang diselenggarakan ialah kalangkang mantit merupakan ritual pembuka aruh, pada ritual tersebut balian membawa semacam burung yang terbuat dari daun hanau. Uniknya, ada sedikit perbedaan dari ritus suci ini yang diselenggarakan di Balai Adat Hayangin, yakni di belakang, tepatnya di dapur umum. Jika waktu di Balai Adat Balawaian, diselenggarakan di muka halaman balai. Akan tetapi, itu tidak menjadi permasalahan, karena sebenarnya proses ritus suci itu harus dilaksanakan di luar balai, baik di belakang maupun di muka, bahkan di samping, tidak dipermasalahkan. Proses ritual ini sama pada umumnya dengan sebanyak 3 kali mamang diutarakan, kemudian ditaburkan beras kuning sebanyak 3 kali oleh para balian maupun pinjulang, dan ada juga beberapa dari masyarakat sekitar yang ingin membantu pada proses aruh tersebut. Prosesi ritual aruh di Balai Adat Hayangin Sumber: dokumentasi pribadi. Kemudian disusul dengan ritual selanjutnya: bapapincuk, mambuka lawang, bapanaikan, manggantung tali rimbunan, mawagang tatak, bakaribut kawalu, dan terakhir bahantu. Setiap tahapan dalam ritual aruh ini memiliki makna mendalam yang menghubungkan manusia dengan alam, serta apa yang dipuja mereka (barangkali leluhur mereka/roh/orang keramat). Konsep kepercayaan lama bertemu dengan kepercayaan Hindu-Islam dapat terlihat ketika kita menyaksikan ritual aruh dengan cermat dan teliti. Pada saat aruh balian selalu menghiau (mengundang) para puja-pujaan mereka. Barangkali secuil ini saya dapat memberi keterangan dalam setiap prosesi aruh dengan nama-nama ritualnya. Bapapincuk sebagai pembuka jalan menggambarkan upaya membuka diri terhadap berkah yang akan datang. Mambuka lawang, artinya membuka pintu menuju dunia spiritual, mengundang roh-roh baik untuk turun dan memberkati masyarakat hingga suksesnya acara aruh yang diselenggarakan. Bapanaikan, mengangkat persembahan ke hadapan para leluhur, melambangkan rasa syukur dan penghormatan. Ritual berlanjut dengan menggantung tali rimbunan, sebuah simbol pengikatan hubungan yang erat antara manusia dan alam. Mawagang tatak, menandai komitmen masyarakat untuk tetap setia pada adat dan tradisi. Bakaribut kawalu, disimbolisasikan memuja roh angin agar pada saat behuma (bertani) tidak mendapati kesialan dan marabahaya (bala) yang dapat merusak atau mengganggu masyarakat. Angin malam mulai berhembus kencang, diiringi suara gemerincing alat musik tradisional, menciptakan suasana mistis yang menggetarkan jiwa. Akhirnya, bahantu menjadi penutup yang sakral, sebuah upacara untuk menyempurnakan semua doa dan harapan yang telah dipanjatkan selama aruh. Dan juga dalam ritual ''Bahantuan'' Balian juga akan memuja atau memohon kepada seluruh hantu-hantu yang dipercaya oleh masyarakat setempat maupun Balian itu sendiri agar tidak mengganggu warga dengan mengirim penyakit atau membuat gagal panen dalam bertani. Semua ini merupakan penafsiran dari saya pribadi ketika tanya-tanya dengan balian dan beberapa masyarakat yang mengerti arti dari proses aruh atau nama aruh tersebut. Dalam keheningan malam, setelah semua ritual terlaksana, rasa damai menyelimuti setiap orang yang hadir, seolah-olah semua doa telah sampai ke alam leluhur dan diterima dengan tangan terbuka. Ritual aruh di Balai Adat Hayangin dilaksanakan 3 hari 3 malam, berbeda dengan aruh di Balai Adat Balawaian yang dilaksanakan 5 hari 5 malam. Akan tetapi, prosesi ritualnya sama saja, jika ada perbedaan, tidak memengaruhi esensi dari aruh tersebut. Hanya saja itu bagian dari modifikasi sang balian yang menjadikan proses ritual aruh di setiap balai itu ada yang berbeda. Sayangnya, saya hanya menikmati dan melihat prosesi aruh di Balai Adat Hayangin selama 1 malam saja. Besoknya akan kembali pulang ke Banjarmasin. Dengan tubuh yang mulai lelah dan rasa kantuk yang semakin berat, aku menyadari betapa kuatnya ikatan spiritual antara masyarakat dan leluhur mereka. Ritual aruh di hari pertama dilakukan sampai ritual bahantu, ritualnya akan dilanjutkan keesokan hari sampai hari terakhir. Perlahan, aku menghela napas panjang, bersyukur telah menjadi saksi dari tradisi yang begitu kaya dan bermakna. Di bawah naungan bintang-bintang dan cahaya bulan yang tenang, aku pun terlelap di pinggir sudut balai. g5nqpzt0xn0pyeo1ktf7fenly6quyn5 121087 121079 2026-10-18T03:42:59Z Irwin Humaniora 43818 121087 wikitext text/x-wiki Di siang yang terik dan berdebu, saya melangkah dengan hati yang senang dan semangat. Perjalanan ke Balai Adat Hayangin sempat bimbang, lantaran informasi aruh yang simpang siur. Dini hari mendapat informasi bahwa aruh adat akan diselenggarakan. Hari ini impian itu akan menjadi kenyataan. *** Keindahan alam terhampar di sepanjang jalan yang berkelok-kelok. Langit biru terhampar luas di atasnya, sementara pepohonan menjulang tinggi di kanan-kiri, menari-nari dengan gemulai ketika angin lembut menerpa. Langkah demi langkah memasuki lorong waktu yang akan mengantarkan pada perjalanan yang tak terlupakan. Bukit-bukit menjulang gagah di kejauhan, menyapu awan putih dengan keindahan yang memukau. Hutan-hutan yang rimbun mengundang untuk melangkah lebih dalam ke dalam kehidupan alam liar yang harmonis. Sesampainya di balai adat, disambut oleh tetua kampung, penghulu adat, dan beberapa masyarakat sekitarnya. Diperkenankan memasuki balai tersebut. Wajah-wajah mereka yang agak berkeriput cukup menjadi bukti hidup berumur panjang dengan senantiasa melestarikan aruh yang turun-temurun. Kemudian, mereka berjabat tangan dan bersalaman dengan penduduk setempat, sambil bercerita tentang mitos dan legenda yang mengiringi perkembangan masyarakat setempat, memberi wawasan baru tentang akar budaya yang kuat. Aku dan Ayah bercengkrama dengan penghulu adat, bendahara desa, panitia pelaksana aruh, dan beberapa remaja serta masyarakat Desa Hayangin sambil menunggu pergelaran aruh dilakukan. *** Aroma nasi yang panas memikat selera para tamu undangan. Dipersilakan para tamu undangan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan oleh para emak-emak balai adat tersebut. Gepulan asap kayu bakar dan asap rokok mulai menyelimuti area balai, membuat atmosfer menjadi kabut yang sedikit mengganggu alat indra. Para tamu undangan pun makin malam semakin ramai dan bertambah banyak. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai desa. Balai ini terletak di pinggir jalan raya, tidak jauh dari perkampungan warga sekitar. Sehingga balai ini mudah diakses oleh berbagai masyarakat desa lainnya. Arsitektur balai sudah terkontaminasi oleh gaya modernisasi. Bangunan balai sejatinya hanya dibuat dari kayu, bambu, dan daun rumbia. Bahan bangunan diambil dari alam sekitar. Kayu digunakan untuk tiang dan kerangka bangunan, sedangkan bambu digunakan untuk lantai dan dinding. Daun rumbia dijadikan atapnya. Lambat laun balai tersentuh modernisasi, lantaran seiring perkembangan zaman. Material yang digunakan untuk membangun balai juga berubah. Meskipun kayu masih tetap setia dipakai, tidak dengan bambu serta daun rumbia. Atapnya tidak lagi memakai rumbia, tetapi memakai seng. Dinding dan lantai diganti dengan papan kayu, bahkan ada pula yang memakai kalsiboard. Terdapat 1 ruang induk di tengah balai, 1 dapur umum, dan 4 buah kamar. Aruh di balai ini diselenggarakan selama 3 hari 3 malam. Balai ini berukuran sedikit lebih kecil daripada Balai Adat Balawaian, sedangkan ukuran Balai Adat Balawaian itu sekitar 10 meter x 12 meter. Saya amati ukuran balai tersebut kurang lebih seperti ukuran rumah tipe 72 (8 meter x 9 meter), karena memiliki ukuran tersebut, membuat para tamu undangan sedikit kesulitan dalam menyantap hidangan. Akan tetapi, itu tidak dipermasalahkan. Hal ini umum terjadi ketika balai adat berukuran kecil. Meskipun begitu, tidak memudarkan jiwa semangat gotong royong mereka. Sangat wajarlah jika hari pertama pada aruh, para hadirin sangat banyak. Bagaikan supporter bola yang hadir mendukung klub kesayangan. Mereka hadir dengan sangat antusias, tidak sabar ingin menyaksikan berbagai ritual yang diselenggarakan. Mereka melebur dalam suatu keharmonisan dan kesederhanaan, karena itu, ciri khas dari orang-orang Meratus. Saat aku sedang termenung, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri dan menyalami tanganku. Aku terkejut saat menyadari bahwa anak tersebut adalah yang pernah aku foto di Balai Adat Balawaian. Momen itu sangat mengharukan dan menyentuh perasaan hatiku yang dingin. Duduk di sudut balai dengan ayah sambil memandang riuh-riuh bincangan dari masyarakat setempat. Mereka berbincang dengan ceria dan tertawa. Aku termenung melihat fenomena tersebut. Melihat kekerabatan mereka yang begitu kuat dan harmonis. Selagi menunggu ritual dimulai, beberapa pidato dan sambutan disampaikan oleh pemerintah dan panitia pelaksana. Balai adat bergemuruh melantunkan bunyi-bunyi dari bincang-bincang warga setempat. Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan bahwa di Desa Hayangin yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas aspal Desa Hayangin. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam semakin dingin. Pergelaran di balai ini sangat ramah bagi anak-anak. Ruangan yang sedikit kecil justru menciptakan suasana yang menyenangkan sebagai arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakraban antara manusia dan lingkungannya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di ruangan balai yang berhias dengan beragam sangkar. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bersenda gurau. Mereka sebaiknya tahu bahwa masa kanak-kanak adalah momen yang hanya datang sekali. Sekitar larut malam, ritual dimulai Ritual pertama yang diselenggarakan ialah kalangkang mantit merupakan ritual pembuka aruh, pada ritual tersebut balian membawa semacam burung yang terbuat dari daun hanau. Uniknya, ada sedikit perbedaan dari ritus suci ini yang diselenggarakan di Balai Adat Hayangin, yakni di belakang, tepatnya di dapur umum. Jika waktu di Balai Adat Balawaian, diselenggarakan di muka halaman balai. Akan tetapi, itu tidak menjadi permasalahan, karena sebenarnya proses ritus suci itu harus dilaksanakan di luar balai, baik di belakang maupun di muka, bahkan di samping, tidak dipermasalahkan. Proses ritual ini sama pada umumnya dengan sebanyak 3 kali mamang diutarakan, kemudian ditaburkan beras kuning sebanyak 3 kali oleh para balian maupun pinjulang, dan ada juga beberapa dari masyarakat sekitar yang ingin membantu pada proses aruh tersebut. Kemudian disusul dengan ritual selanjutnya: bapapincuk, mambuka lawang, bapanaikan, manggantung tali rimbunan, mawagang tatak, bakaribut kawalu, dan terakhir bahantu. Setiap tahapan dalam ritual aruh ini memiliki makna mendalam yang menghubungkan manusia dengan alam, serta apa yang dipuja mereka (barangkali leluhur mereka/roh/orang keramat). Konsep kepercayaan lama bertemu dengan kepercayaan Hindu-Islam dapat terlihat ketika kita menyaksikan ritual aruh dengan cermat dan teliti. Pada saat aruh balian selalu menghiau (mengundang) para puja-pujaan mereka. Barangkali secuil ini saya dapat memberi keterangan dalam setiap prosesi aruh dengan nama-nama ritualnya. Bapapincuk sebagai pembuka jalan menggambarkan upaya membuka diri terhadap berkah yang akan datang. Mambuka lawang, artinya membuka pintu menuju dunia spiritual, mengundang roh-roh baik untuk turun dan memberkati masyarakat hingga suksesnya acara aruh yang diselenggarakan. Bapanaikan, mengangkat persembahan ke hadapan para leluhur, melambangkan rasa syukur dan penghormatan. Ritual berlanjut dengan menggantung tali rimbunan, sebuah simbol pengikatan hubungan yang erat antara manusia dan alam. Mawagang tatak, menandai komitmen masyarakat untuk tetap setia pada adat dan tradisi. Bakaribut kawalu, disimbolisasikan memuja roh angin agar pada saat behuma (bertani) tidak mendapati kesialan dan marabahaya (bala) yang dapat merusak atau mengganggu masyarakat. Angin malam mulai berhembus kencang, diiringi suara gemerincing alat musik tradisional, menciptakan suasana mistis yang menggetarkan jiwa. Akhirnya, bahantu menjadi penutup yang sakral, sebuah upacara untuk menyempurnakan semua doa dan harapan yang telah dipanjatkan selama aruh. Dan juga dalam ritual ''Bahantuan'' Balian juga akan memuja atau memohon kepada seluruh hantu-hantu yang dipercaya oleh masyarakat setempat maupun Balian itu sendiri agar tidak mengganggu warga dengan mengirim penyakit atau membuat gagal panen dalam bertani. Semua ini merupakan penafsiran dari saya pribadi ketika tanya-tanya dengan balian dan beberapa masyarakat yang mengerti arti dari proses aruh atau nama aruh tersebut. Dalam keheningan malam, setelah semua ritual terlaksana, rasa damai menyelimuti setiap orang yang hadir, seolah-olah semua doa telah sampai ke alam leluhur dan diterima dengan tangan terbuka. Ritual aruh di Balai Adat Hayangin dilaksanakan 3 hari 3 malam, berbeda dengan aruh di Balai Adat Balawaian yang dilaksanakan 5 hari 5 malam. Akan tetapi, prosesi ritualnya sama saja, jika ada perbedaan, tidak memengaruhi esensi dari aruh tersebut. Hanya saja itu bagian dari modifikasi sang balian yang menjadikan proses ritual aruh di setiap balai itu ada yang berbeda. Sayangnya, saya hanya menikmati dan melihat prosesi aruh di Balai Adat Hayangin selama 1 malam saja. Besoknya akan kembali pulang ke Banjarmasin. Dengan tubuh yang mulai lelah dan rasa kantuk yang semakin berat, aku menyadari betapa kuatnya ikatan spiritual antara masyarakat dan leluhur mereka. Ritual aruh di hari pertama dilakukan sampai ritual bahantu, ritualnya akan dilanjutkan keesokan hari sampai hari terakhir. Perlahan, aku menghela napas panjang, bersyukur telah menjadi saksi dari tradisi yang begitu kaya dan bermakna. Di bawah naungan bintang-bintang dan cahaya bulan yang tenang, aku pun terlelap di pinggir sudut balai. 6qbbtg87q7yyct66vkryfocs1hb2l8z 121119 121087 2026-10-18T03:57:16Z Irwin Humaniora 43818 tata tulis 121119 wikitext text/x-wiki Di siang yang terik dan berdebu, saya melangkah dengan hati yang senang dan semangat. Perjalanan ke Balai Adat Hayangin sempat bimbang, lantaran informasi aruh yang simpang siur. Dini hari mendapat informasi bahwa aruh adat akan diselenggarakan. Hari ini impian itu akan menjadi kenyataan. ----Keindahan alam terhampar di sepanjang jalan yang berkelok-kelok. Langit biru terhampar luas di atasnya, sementara pepohonan menjulang tinggi di kanan-kiri, menari-nari dengan gemulai ketika angin lembut menerpa. Langkah demi langkah memasuki lorong waktu yang akan mengantarkan pada perjalanan yang tak terlupakan. Bukit-bukit menjulang gagah di kejauhan, menyapu awan putih dengan keindahan yang memukau. Hutan-hutan yang rimbun mengundang untuk melangkah lebih dalam ke dalam kehidupan alam liar yang harmonis. Sesampainya di balai adat, disambut oleh tetua kampung, penghulu adat, dan beberapa masyarakat sekitarnya. Diperkenankan memasuki balai tersebut. Wajah-wajah mereka yang agak berkeriput cukup menjadi bukti hidup berumur panjang dengan senantiasa melestarikan aruh yang turun-temurun. Kemudian, mereka berjabat tangan dan bersalaman dengan penduduk setempat, sambil bercerita tentang mitos dan legenda yang mengiringi perkembangan masyarakat setempat, memberi wawasan baru tentang akar budaya yang kuat. Aku dan Ayah bercengkrama dengan penghulu adat, bendahara desa, panitia pelaksana aruh, dan beberapa remaja serta masyarakat Desa Hayangin sambil menunggu pergelaran aruh dilakukan. ----Aroma nasi yang panas memikat selera para tamu undangan. Dipersilakan para tamu undangan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan oleh para emak-emak balai adat tersebut. Gepulan asap kayu bakar dan asap rokok mulai menyelimuti area balai, membuat atmosfer menjadi kabut yang sedikit mengganggu alat indra. Para tamu undangan pun makin malam semakin ramai dan bertambah banyak. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai desa. Balai ini terletak di pinggir jalan raya, tidak jauh dari perkampungan warga sekitar. Sehingga balai ini mudah diakses oleh berbagai masyarakat desa lainnya. Arsitektur balai sudah terkontaminasi oleh gaya modernisasi. Bangunan balai sejatinya hanya dibuat dari kayu, bambu, dan daun rumbia. Bahan bangunan diambil dari alam sekitar. Kayu digunakan untuk tiang dan kerangka bangunan, sedangkan bambu digunakan untuk lantai dan dinding. Daun rumbia dijadikan atapnya. Lambat laun balai tersentuh modernisasi, lantaran seiring perkembangan zaman. Material yang digunakan untuk membangun balai juga berubah. Meskipun kayu masih tetap setia dipakai, tidak dengan bambu serta daun rumbia. Atapnya tidak lagi memakai rumbia, tetapi memakai seng. Dinding dan lantai diganti dengan papan kayu, bahkan ada pula yang memakai kalsiboard. Terdapat 1 ruang induk di tengah balai, 1 dapur umum, dan 4 buah kamar. Aruh di balai ini diselenggarakan selama 3 hari 3 malam. Balai ini berukuran sedikit lebih kecil daripada Balai Adat Balawaian, sedangkan ukuran Balai Adat Balawaian itu sekitar 10 meter x 12 meter. Saya amati ukuran balai tersebut kurang lebih seperti ukuran rumah tipe 72 (8 meter x 9 meter), karena memiliki ukuran tersebut, membuat para tamu undangan sedikit kesulitan dalam menyantap hidangan. Akan tetapi, itu tidak dipermasalahkan. Hal ini umum terjadi ketika balai adat berukuran kecil. Meskipun begitu, tidak memudarkan jiwa semangat gotong royong mereka. Sangat wajarlah jika hari pertama pada aruh, para hadirin sangat banyak. Bagaikan supporter bola yang hadir mendukung klub kesayangan. Mereka hadir dengan sangat antusias, tidak sabar ingin menyaksikan berbagai ritual yang diselenggarakan. Mereka melebur dalam suatu keharmonisan dan kesederhanaan, karena itu, ciri khas dari orang-orang Meratus. ----Saat aku sedang termenung, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri dan menyalami tanganku. Aku terkejut saat menyadari bahwa anak tersebut adalah yang pernah aku foto di Balai Adat Balawaian. Momen itu sangat mengharukan dan menyentuh perasaan hatiku yang dingin. Duduk di sudut balai dengan ayah sambil memandang riuh-riuh bincangan dari masyarakat setempat. Mereka berbincang dengan ceria dan tertawa. Aku termenung melihat fenomena tersebut. Melihat kekerabatan mereka yang begitu kuat dan harmonis. Selagi menunggu ritual dimulai, beberapa pidato dan sambutan disampaikan oleh pemerintah dan panitia pelaksana. Balai adat bergemuruh melantunkan bunyi-bunyi dari bincang-bincang warga setempat. Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan bahwa di Desa Hayangin yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas aspal Desa Hayangin. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam semakin dingin. Pergelaran di balai ini sangat ramah bagi anak-anak. Ruangan yang sedikit kecil justru menciptakan suasana yang menyenangkan sebagai arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakraban antara manusia dan lingkungannya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di ruangan balai yang berhias dengan beragam sangkar. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bersenda gurau. Mereka sebaiknya tahu bahwa masa kanak-kanak adalah momen yang hanya datang sekali. ----'''Sekitar larut malam, ritual dimulai''' Ritual pertama yang diselenggarakan ialah ''kalangkang mantit'' merupakan ritual pembuka aruh, pada ritual tersebut balian membawa semacam burung yang terbuat dari daun hanau. Uniknya, ada sedikit perbedaan dari ritus suci ini yang diselenggarakan di Balai Adat Hayangin, yakni di belakang, tepatnya di dapur umum. Jika waktu di Balai Adat Balawaian, diselenggarakan di muka halaman balai. Akan tetapi, itu tidak menjadi permasalahan, karena sebenarnya proses ritus suci itu harus dilaksanakan di luar balai, baik di belakang maupun di muka, bahkan di samping, tidak dipermasalahkan. Proses ritual ini sama pada umumnya dengan sebanyak 3 kali mamang diutarakan, kemudian ditaburkan beras kuning sebanyak 3 kali oleh para balian maupun pinjulang, dan ada juga beberapa dari masyarakat sekitar yang ingin membantu pada proses aruh tersebut. Kemudian disusul dengan ritual selanjutnya: ''bapapincuk'', ''mambuka lawang'', ''bapanaikan'', ''manggantung tali rimbunan'', ''mawagang tatak'', ''bakaribut kawalu'', dan terakhir ''bahantu''. Setiap tahapan dalam ritual aruh ini memiliki makna mendalam yang menghubungkan manusia dengan alam, serta apa yang dipuja mereka (barangkali leluhur mereka/roh/orang keramat). Konsep kepercayaan lama bertemu dengan kepercayaan Hindu-Islam dapat terlihat ketika kita menyaksikan ritual aruh dengan cermat dan teliti. Pada saat aruh balian selalu menghiau (mengundang) para puja-pujaan mereka. Barangkali secuil ini saya dapat memberi keterangan dalam setiap prosesi aruh dengan nama-nama ritualnya. ''Bapapincuk'' sebagai pembuka jalan menggambarkan upaya membuka diri terhadap berkah yang akan datang. ''Mambuka lawang'', artinya membuka pintu menuju dunia spiritual, mengundang roh-roh baik untuk turun dan memberkati masyarakat hingga suksesnya acara aruh yang diselenggarakan. ''Bapanaikan'', mengangkat persembahan ke hadapan para leluhur, melambangkan rasa syukur dan penghormatan. Ritual berlanjut dengan ''menggantung tali rimbunan'', sebuah simbol pengikatan hubungan yang erat antara manusia dan alam. ''Mawagang tatak'', menandai komitmen masyarakat untuk tetap setia pada adat dan tradisi. ''Bakaribut kawalu'', disimbolisasikan memuja roh angin agar pada saat ''behuma'' (bertani) tidak mendapati kesialan dan marabahaya (bala) yang dapat merusak atau mengganggu masyarakat. Angin malam mulai berhembus kencang, diiringi suara gemerincing alat musik tradisional, menciptakan suasana mistis yang menggetarkan jiwa. Akhirnya, ''bahantu'' menjadi penutup yang sakral, sebuah upacara untuk menyempurnakan semua doa dan harapan yang telah dipanjatkan selama aruh. Dan juga dalam ritual ''Bahantuan'' Balian juga akan memuja atau memohon kepada seluruh hantu-hantu yang dipercaya oleh masyarakat setempat maupun Balian itu sendiri agar tidak mengganggu warga dengan mengirim penyakit atau membuat gagal panen dalam bertani. Semua ini merupakan penafsiran dari saya pribadi ketika tanya-tanya dengan balian dan beberapa masyarakat yang mengerti arti dari proses aruh atau nama aruh tersebut. Dalam keheningan malam, setelah semua ritual terlaksana, rasa damai menyelimuti setiap orang yang hadir, seolah-olah semua doa telah sampai ke alam leluhur dan diterima dengan tangan terbuka. Ritual aruh di Balai Adat Hayangin dilaksanakan 3 hari 3 malam, berbeda dengan aruh di Balai Adat Balawaian yang dilaksanakan 5 hari 5 malam. Akan tetapi, prosesi ritualnya sama saja, jika ada perbedaan, tidak memengaruhi esensi dari aruh tersebut. Hanya saja itu bagian dari modifikasi sang balian yang menjadikan proses ritual aruh di setiap balai itu ada yang berbeda. Sayangnya, saya hanya menikmati dan melihat prosesi aruh di Balai Adat Hayangin selama 1 malam saja. Besoknya akan kembali pulang ke Banjarmasin. Dengan tubuh yang mulai lelah dan rasa kantuk yang semakin berat, aku menyadari betapa kuatnya ikatan spiritual antara masyarakat dan leluhur mereka. Ritual aruh di hari pertama dilakukan sampai ritual bahantu, ritualnya akan dilanjutkan keesokan hari sampai hari terakhir. Perlahan, aku menghela napas panjang, bersyukur telah menjadi saksi dari tradisi yang begitu kaya dan bermakna. Di bawah naungan bintang-bintang dan cahaya bulan yang tenang, aku pun terlelap di pinggir sudut balai. 7ezook8pbu06vu8tr8qzov9clac3o7y 121211 121119 2026-10-18T05:38:17Z Irwin Humaniora 43818 menambahkan kategori 121211 wikitext text/x-wiki Di siang yang terik dan berdebu, saya melangkah dengan hati yang senang dan semangat. Perjalanan ke Balai Adat Hayangin sempat bimbang, lantaran informasi aruh yang simpang siur. Dini hari mendapat informasi bahwa aruh adat akan diselenggarakan. Hari ini impian itu akan menjadi kenyataan. ----Keindahan alam terhampar di sepanjang jalan yang berkelok-kelok. Langit biru terhampar luas di atasnya, sementara pepohonan menjulang tinggi di kanan-kiri, menari-nari dengan gemulai ketika angin lembut menerpa. Langkah demi langkah memasuki lorong waktu yang akan mengantarkan pada perjalanan yang tak terlupakan. Bukit-bukit menjulang gagah di kejauhan, menyapu awan putih dengan keindahan yang memukau. Hutan-hutan yang rimbun mengundang untuk melangkah lebih dalam ke dalam kehidupan alam liar yang harmonis. Sesampainya di balai adat, disambut oleh tetua kampung, penghulu adat, dan beberapa masyarakat sekitarnya. Diperkenankan memasuki balai tersebut. Wajah-wajah mereka yang agak berkeriput cukup menjadi bukti hidup berumur panjang dengan senantiasa melestarikan aruh yang turun-temurun. Kemudian, mereka berjabat tangan dan bersalaman dengan penduduk setempat, sambil bercerita tentang mitos dan legenda yang mengiringi perkembangan masyarakat setempat, memberi wawasan baru tentang akar budaya yang kuat. Aku dan Ayah bercengkrama dengan penghulu adat, bendahara desa, panitia pelaksana aruh, dan beberapa remaja serta masyarakat Desa Hayangin sambil menunggu pergelaran aruh dilakukan. ----Aroma nasi yang panas memikat selera para tamu undangan. Dipersilakan para tamu undangan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan oleh para emak-emak balai adat tersebut. Gepulan asap kayu bakar dan asap rokok mulai menyelimuti area balai, membuat atmosfer menjadi kabut yang sedikit mengganggu alat indra. Para tamu undangan pun makin malam semakin ramai dan bertambah banyak. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai desa. Balai ini terletak di pinggir jalan raya, tidak jauh dari perkampungan warga sekitar. Sehingga balai ini mudah diakses oleh berbagai masyarakat desa lainnya. Arsitektur balai sudah terkontaminasi oleh gaya modernisasi. Bangunan balai sejatinya hanya dibuat dari kayu, bambu, dan daun rumbia. Bahan bangunan diambil dari alam sekitar. Kayu digunakan untuk tiang dan kerangka bangunan, sedangkan bambu digunakan untuk lantai dan dinding. Daun rumbia dijadikan atapnya. Lambat laun balai tersentuh modernisasi, lantaran seiring perkembangan zaman. Material yang digunakan untuk membangun balai juga berubah. Meskipun kayu masih tetap setia dipakai, tidak dengan bambu serta daun rumbia. Atapnya tidak lagi memakai rumbia, tetapi memakai seng. Dinding dan lantai diganti dengan papan kayu, bahkan ada pula yang memakai kalsiboard. Terdapat 1 ruang induk di tengah balai, 1 dapur umum, dan 4 buah kamar. Aruh di balai ini diselenggarakan selama 3 hari 3 malam. Balai ini berukuran sedikit lebih kecil daripada Balai Adat Balawaian, sedangkan ukuran Balai Adat Balawaian itu sekitar 10 meter x 12 meter. Saya amati ukuran balai tersebut kurang lebih seperti ukuran rumah tipe 72 (8 meter x 9 meter), karena memiliki ukuran tersebut, membuat para tamu undangan sedikit kesulitan dalam menyantap hidangan. Akan tetapi, itu tidak dipermasalahkan. Hal ini umum terjadi ketika balai adat berukuran kecil. Meskipun begitu, tidak memudarkan jiwa semangat gotong royong mereka. Sangat wajarlah jika hari pertama pada aruh, para hadirin sangat banyak. Bagaikan supporter bola yang hadir mendukung klub kesayangan. Mereka hadir dengan sangat antusias, tidak sabar ingin menyaksikan berbagai ritual yang diselenggarakan. Mereka melebur dalam suatu keharmonisan dan kesederhanaan, karena itu, ciri khas dari orang-orang Meratus. ----Saat aku sedang termenung, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri dan menyalami tanganku. Aku terkejut saat menyadari bahwa anak tersebut adalah yang pernah aku foto di Balai Adat Balawaian. Momen itu sangat mengharukan dan menyentuh perasaan hatiku yang dingin. Duduk di sudut balai dengan ayah sambil memandang riuh-riuh bincangan dari masyarakat setempat. Mereka berbincang dengan ceria dan tertawa. Aku termenung melihat fenomena tersebut. Melihat kekerabatan mereka yang begitu kuat dan harmonis. Selagi menunggu ritual dimulai, beberapa pidato dan sambutan disampaikan oleh pemerintah dan panitia pelaksana. Balai adat bergemuruh melantunkan bunyi-bunyi dari bincang-bincang warga setempat. Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan bahwa di Desa Hayangin yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas aspal Desa Hayangin. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam semakin dingin. Pergelaran di balai ini sangat ramah bagi anak-anak. Ruangan yang sedikit kecil justru menciptakan suasana yang menyenangkan sebagai arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakraban antara manusia dan lingkungannya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di ruangan balai yang berhias dengan beragam sangkar. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bersenda gurau. Mereka sebaiknya tahu bahwa masa kanak-kanak adalah momen yang hanya datang sekali. ----'''Sekitar larut malam, ritual dimulai''' Ritual pertama yang diselenggarakan ialah ''kalangkang mantit'' merupakan ritual pembuka aruh, pada ritual tersebut balian membawa semacam burung yang terbuat dari daun hanau. Uniknya, ada sedikit perbedaan dari ritus suci ini yang diselenggarakan di Balai Adat Hayangin, yakni di belakang, tepatnya di dapur umum. Jika waktu di Balai Adat Balawaian, diselenggarakan di muka halaman balai. Akan tetapi, itu tidak menjadi permasalahan, karena sebenarnya proses ritus suci itu harus dilaksanakan di luar balai, baik di belakang maupun di muka, bahkan di samping, tidak dipermasalahkan. Proses ritual ini sama pada umumnya dengan sebanyak 3 kali mamang diutarakan, kemudian ditaburkan beras kuning sebanyak 3 kali oleh para balian maupun pinjulang, dan ada juga beberapa dari masyarakat sekitar yang ingin membantu pada proses aruh tersebut. Kemudian disusul dengan ritual selanjutnya: ''bapapincuk'', ''mambuka lawang'', ''bapanaikan'', ''manggantung tali rimbunan'', ''mawagang tatak'', ''bakaribut kawalu'', dan terakhir ''bahantu''. Setiap tahapan dalam ritual aruh ini memiliki makna mendalam yang menghubungkan manusia dengan alam, serta apa yang dipuja mereka (barangkali leluhur mereka/roh/orang keramat). Konsep kepercayaan lama bertemu dengan kepercayaan Hindu-Islam dapat terlihat ketika kita menyaksikan ritual aruh dengan cermat dan teliti. Pada saat aruh balian selalu menghiau (mengundang) para puja-pujaan mereka. Barangkali secuil ini saya dapat memberi keterangan dalam setiap prosesi aruh dengan nama-nama ritualnya. ''Bapapincuk'' sebagai pembuka jalan menggambarkan upaya membuka diri terhadap berkah yang akan datang. ''Mambuka lawang'', artinya membuka pintu menuju dunia spiritual, mengundang roh-roh baik untuk turun dan memberkati masyarakat hingga suksesnya acara aruh yang diselenggarakan. ''Bapanaikan'', mengangkat persembahan ke hadapan para leluhur, melambangkan rasa syukur dan penghormatan. Ritual berlanjut dengan ''menggantung tali rimbunan'', sebuah simbol pengikatan hubungan yang erat antara manusia dan alam. ''Mawagang tatak'', menandai komitmen masyarakat untuk tetap setia pada adat dan tradisi. ''Bakaribut kawalu'', disimbolisasikan memuja roh angin agar pada saat ''behuma'' (bertani) tidak mendapati kesialan dan marabahaya (bala) yang dapat merusak atau mengganggu masyarakat. Angin malam mulai berhembus kencang, diiringi suara gemerincing alat musik tradisional, menciptakan suasana mistis yang menggetarkan jiwa. Akhirnya, ''bahantu'' menjadi penutup yang sakral, sebuah upacara untuk menyempurnakan semua doa dan harapan yang telah dipanjatkan selama aruh. Dan juga dalam ritual ''Bahantuan'' Balian juga akan memuja atau memohon kepada seluruh hantu-hantu yang dipercaya oleh masyarakat setempat maupun Balian itu sendiri agar tidak mengganggu warga dengan mengirim penyakit atau membuat gagal panen dalam bertani. Semua ini merupakan penafsiran dari saya pribadi ketika tanya-tanya dengan balian dan beberapa masyarakat yang mengerti arti dari proses aruh atau nama aruh tersebut. Dalam keheningan malam, setelah semua ritual terlaksana, rasa damai menyelimuti setiap orang yang hadir, seolah-olah semua doa telah sampai ke alam leluhur dan diterima dengan tangan terbuka. Ritual aruh di Balai Adat Hayangin dilaksanakan 3 hari 3 malam, berbeda dengan aruh di Balai Adat Balawaian yang dilaksanakan 5 hari 5 malam. Akan tetapi, prosesi ritualnya sama saja, jika ada perbedaan, tidak memengaruhi esensi dari aruh tersebut. Hanya saja itu bagian dari modifikasi sang balian yang menjadikan proses ritual aruh di setiap balai itu ada yang berbeda. Sayangnya, saya hanya menikmati dan melihat prosesi aruh di Balai Adat Hayangin selama 1 malam saja. Besoknya akan kembali pulang ke Banjarmasin. Dengan tubuh yang mulai lelah dan rasa kantuk yang semakin berat, aku menyadari betapa kuatnya ikatan spiritual antara masyarakat dan leluhur mereka. Ritual aruh di hari pertama dilakukan sampai ritual bahantu, ritualnya akan dilanjutkan keesokan hari sampai hari terakhir. Perlahan, aku menghela napas panjang, bersyukur telah menjadi saksi dari tradisi yang begitu kaya dan bermakna. Di bawah naungan bintang-bintang dan cahaya bulan yang tenang, aku pun terlelap di pinggir sudut balai. [[Kategori:WikiCarita]] 5q76x30bn81casulaw7b5sdroh12weo 121244 121211 2026-10-18T05:45:24Z Irwin Humaniora 43818 menngkoreksi tambahan kategori 121244 wikitext text/x-wiki Di siang yang terik dan berdebu, saya melangkah dengan hati yang senang dan semangat. Perjalanan ke Balai Adat Hayangin sempat bimbang, lantaran informasi aruh yang simpang siur. Dini hari mendapat informasi bahwa aruh adat akan diselenggarakan. Hari ini impian itu akan menjadi kenyataan. ----Keindahan alam terhampar di sepanjang jalan yang berkelok-kelok. Langit biru terhampar luas di atasnya, sementara pepohonan menjulang tinggi di kanan-kiri, menari-nari dengan gemulai ketika angin lembut menerpa. Langkah demi langkah memasuki lorong waktu yang akan mengantarkan pada perjalanan yang tak terlupakan. Bukit-bukit menjulang gagah di kejauhan, menyapu awan putih dengan keindahan yang memukau. Hutan-hutan yang rimbun mengundang untuk melangkah lebih dalam ke dalam kehidupan alam liar yang harmonis. Sesampainya di balai adat, disambut oleh tetua kampung, penghulu adat, dan beberapa masyarakat sekitarnya. Diperkenankan memasuki balai tersebut. Wajah-wajah mereka yang agak berkeriput cukup menjadi bukti hidup berumur panjang dengan senantiasa melestarikan aruh yang turun-temurun. Kemudian, mereka berjabat tangan dan bersalaman dengan penduduk setempat, sambil bercerita tentang mitos dan legenda yang mengiringi perkembangan masyarakat setempat, memberi wawasan baru tentang akar budaya yang kuat. Aku dan Ayah bercengkrama dengan penghulu adat, bendahara desa, panitia pelaksana aruh, dan beberapa remaja serta masyarakat Desa Hayangin sambil menunggu pergelaran aruh dilakukan. ----Aroma nasi yang panas memikat selera para tamu undangan. Dipersilakan para tamu undangan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan oleh para emak-emak balai adat tersebut. Gepulan asap kayu bakar dan asap rokok mulai menyelimuti area balai, membuat atmosfer menjadi kabut yang sedikit mengganggu alat indra. Para tamu undangan pun makin malam semakin ramai dan bertambah banyak. Mereka datang berbondong-bondong dari berbagai desa. Balai ini terletak di pinggir jalan raya, tidak jauh dari perkampungan warga sekitar. Sehingga balai ini mudah diakses oleh berbagai masyarakat desa lainnya. Arsitektur balai sudah terkontaminasi oleh gaya modernisasi. Bangunan balai sejatinya hanya dibuat dari kayu, bambu, dan daun rumbia. Bahan bangunan diambil dari alam sekitar. Kayu digunakan untuk tiang dan kerangka bangunan, sedangkan bambu digunakan untuk lantai dan dinding. Daun rumbia dijadikan atapnya. Lambat laun balai tersentuh modernisasi, lantaran seiring perkembangan zaman. Material yang digunakan untuk membangun balai juga berubah. Meskipun kayu masih tetap setia dipakai, tidak dengan bambu serta daun rumbia. Atapnya tidak lagi memakai rumbia, tetapi memakai seng. Dinding dan lantai diganti dengan papan kayu, bahkan ada pula yang memakai kalsiboard. Terdapat 1 ruang induk di tengah balai, 1 dapur umum, dan 4 buah kamar. Aruh di balai ini diselenggarakan selama 3 hari 3 malam. Balai ini berukuran sedikit lebih kecil daripada Balai Adat Balawaian, sedangkan ukuran Balai Adat Balawaian itu sekitar 10 meter x 12 meter. Saya amati ukuran balai tersebut kurang lebih seperti ukuran rumah tipe 72 (8 meter x 9 meter), karena memiliki ukuran tersebut, membuat para tamu undangan sedikit kesulitan dalam menyantap hidangan. Akan tetapi, itu tidak dipermasalahkan. Hal ini umum terjadi ketika balai adat berukuran kecil. Meskipun begitu, tidak memudarkan jiwa semangat gotong royong mereka. Sangat wajarlah jika hari pertama pada aruh, para hadirin sangat banyak. Bagaikan supporter bola yang hadir mendukung klub kesayangan. Mereka hadir dengan sangat antusias, tidak sabar ingin menyaksikan berbagai ritual yang diselenggarakan. Mereka melebur dalam suatu keharmonisan dan kesederhanaan, karena itu, ciri khas dari orang-orang Meratus. ----Saat aku sedang termenung, tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri dan menyalami tanganku. Aku terkejut saat menyadari bahwa anak tersebut adalah yang pernah aku foto di Balai Adat Balawaian. Momen itu sangat mengharukan dan menyentuh perasaan hatiku yang dingin. Duduk di sudut balai dengan ayah sambil memandang riuh-riuh bincangan dari masyarakat setempat. Mereka berbincang dengan ceria dan tertawa. Aku termenung melihat fenomena tersebut. Melihat kekerabatan mereka yang begitu kuat dan harmonis. Selagi menunggu ritual dimulai, beberapa pidato dan sambutan disampaikan oleh pemerintah dan panitia pelaksana. Balai adat bergemuruh melantunkan bunyi-bunyi dari bincang-bincang warga setempat. Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan bahwa di Desa Hayangin yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas aspal Desa Hayangin. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam semakin dingin. Pergelaran di balai ini sangat ramah bagi anak-anak. Ruangan yang sedikit kecil justru menciptakan suasana yang menyenangkan sebagai arena bermain. Cahaya bulan mencipta keakraban antara manusia dan lingkungannya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di ruangan balai yang berhias dengan beragam sangkar. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bersenda gurau. Mereka sebaiknya tahu bahwa masa kanak-kanak adalah momen yang hanya datang sekali. ----'''Sekitar larut malam, ritual dimulai''' Ritual pertama yang diselenggarakan ialah ''kalangkang mantit'' merupakan ritual pembuka aruh, pada ritual tersebut balian membawa semacam burung yang terbuat dari daun hanau. Uniknya, ada sedikit perbedaan dari ritus suci ini yang diselenggarakan di Balai Adat Hayangin, yakni di belakang, tepatnya di dapur umum. Jika waktu di Balai Adat Balawaian, diselenggarakan di muka halaman balai. Akan tetapi, itu tidak menjadi permasalahan, karena sebenarnya proses ritus suci itu harus dilaksanakan di luar balai, baik di belakang maupun di muka, bahkan di samping, tidak dipermasalahkan. Proses ritual ini sama pada umumnya dengan sebanyak 3 kali mamang diutarakan, kemudian ditaburkan beras kuning sebanyak 3 kali oleh para balian maupun pinjulang, dan ada juga beberapa dari masyarakat sekitar yang ingin membantu pada proses aruh tersebut. Kemudian disusul dengan ritual selanjutnya: ''bapapincuk'', ''mambuka lawang'', ''bapanaikan'', ''manggantung tali rimbunan'', ''mawagang tatak'', ''bakaribut kawalu'', dan terakhir ''bahantu''. Setiap tahapan dalam ritual aruh ini memiliki makna mendalam yang menghubungkan manusia dengan alam, serta apa yang dipuja mereka (barangkali leluhur mereka/roh/orang keramat). Konsep kepercayaan lama bertemu dengan kepercayaan Hindu-Islam dapat terlihat ketika kita menyaksikan ritual aruh dengan cermat dan teliti. Pada saat aruh balian selalu menghiau (mengundang) para puja-pujaan mereka. Barangkali secuil ini saya dapat memberi keterangan dalam setiap prosesi aruh dengan nama-nama ritualnya. ''Bapapincuk'' sebagai pembuka jalan menggambarkan upaya membuka diri terhadap berkah yang akan datang. ''Mambuka lawang'', artinya membuka pintu menuju dunia spiritual, mengundang roh-roh baik untuk turun dan memberkati masyarakat hingga suksesnya acara aruh yang diselenggarakan. ''Bapanaikan'', mengangkat persembahan ke hadapan para leluhur, melambangkan rasa syukur dan penghormatan. Ritual berlanjut dengan ''menggantung tali rimbunan'', sebuah simbol pengikatan hubungan yang erat antara manusia dan alam. ''Mawagang tatak'', menandai komitmen masyarakat untuk tetap setia pada adat dan tradisi. ''Bakaribut kawalu'', disimbolisasikan memuja roh angin agar pada saat ''behuma'' (bertani) tidak mendapati kesialan dan marabahaya (bala) yang dapat merusak atau mengganggu masyarakat. Angin malam mulai berhembus kencang, diiringi suara gemerincing alat musik tradisional, menciptakan suasana mistis yang menggetarkan jiwa. Akhirnya, ''bahantu'' menjadi penutup yang sakral, sebuah upacara untuk menyempurnakan semua doa dan harapan yang telah dipanjatkan selama aruh. Dan juga dalam ritual ''Bahantuan'' Balian juga akan memuja atau memohon kepada seluruh hantu-hantu yang dipercaya oleh masyarakat setempat maupun Balian itu sendiri agar tidak mengganggu warga dengan mengirim penyakit atau membuat gagal panen dalam bertani. Semua ini merupakan penafsiran dari saya pribadi ketika tanya-tanya dengan balian dan beberapa masyarakat yang mengerti arti dari proses aruh atau nama aruh tersebut. Dalam keheningan malam, setelah semua ritual terlaksana, rasa damai menyelimuti setiap orang yang hadir, seolah-olah semua doa telah sampai ke alam leluhur dan diterima dengan tangan terbuka. Ritual aruh di Balai Adat Hayangin dilaksanakan 3 hari 3 malam, berbeda dengan aruh di Balai Adat Balawaian yang dilaksanakan 5 hari 5 malam. Akan tetapi, prosesi ritualnya sama saja, jika ada perbedaan, tidak memengaruhi esensi dari aruh tersebut. Hanya saja itu bagian dari modifikasi sang balian yang menjadikan proses ritual aruh di setiap balai itu ada yang berbeda. Sayangnya, saya hanya menikmati dan melihat prosesi aruh di Balai Adat Hayangin selama 1 malam saja. Besoknya akan kembali pulang ke Banjarmasin. Dengan tubuh yang mulai lelah dan rasa kantuk yang semakin berat, aku menyadari betapa kuatnya ikatan spiritual antara masyarakat dan leluhur mereka. Ritual aruh di hari pertama dilakukan sampai ritual bahantu, ritualnya akan dilanjutkan keesokan hari sampai hari terakhir. Perlahan, aku menghela napas panjang, bersyukur telah menjadi saksi dari tradisi yang begitu kaya dan bermakna. Di bawah naungan bintang-bintang dan cahaya bulan yang tenang, aku pun terlelap di pinggir sudut balai. [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Cerita Pendek]] 15dksjfh0bvizzd10lpebev2nep93dw Kenangan yang Berharga 0 28787 121081 2026-10-18T03:36:41Z Rijuuqo744 44091 sebuah tulisan random 121081 wikitext text/x-wiki ‎Terdengar suara panggilan di mushola yang menandakan jam 4 pagi, dan aku bangun dari tidurku sambil membaca doa. Terasa badan sangat kaku dikarenakan habis kena hukuman akibat terlambat masuk ke mushola kemarin. Setelah siap, waktu masih tersisa 10 menit yang ditandai dengan pembacaan Sifat 20, yang selesai satu kali pembacaan sekitar 1 menit. Kulihat beberapa temanku masih terlelap di dipan karena mereka juga kena hukuman sepertiku. Aku berusaha membangunkan mereka, dan ada dua orang yang tidak kunjung bangun walau apa pun usahaku. Waktu tinggal 2 menit, sedangkan jarak dari asrama ke mushola memakan waktu 1 menit jika berlari. Tanpa mempedulikan mereka yang belum bangun, aku langsung berlari menuju mushola. Pasalnya, 10 menit sebelum adzan Subuh kami harus tadarus, dan yang tidak sempat ikut biasanya akan kena hukuman berupa push-up disertai dipukul dengan sajadah oleh kakak-kakak asrama. 9dcawep18u0dz8kamdrpigwjt2wy43c 121227 121081 2026-10-18T05:39:46Z Rijuuqo744 44091 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121227 wikitext text/x-wiki ‎Terdengar suara panggilan di mushola yang menandakan jam 4 pagi, dan aku bangun dari tidurku sambil membaca doa. Terasa badan sangat kaku dikarenakan habis kena hukuman akibat terlambat masuk ke mushola kemarin. Setelah siap, waktu masih tersisa 10 menit yang ditandai dengan pembacaan Sifat 20, yang selesai satu kali pembacaan sekitar 1 menit. Kulihat beberapa temanku masih terlelap di dipan karena mereka juga kena hukuman sepertiku. Aku berusaha membangunkan mereka, dan ada dua orang yang tidak kunjung bangun walau apa pun usahaku. Waktu tinggal 2 menit, sedangkan jarak dari asrama ke mushola memakan waktu 1 menit jika berlari. Tanpa mempedulikan mereka yang belum bangun, aku langsung berlari menuju mushola. Pasalnya, 10 menit sebelum adzan Subuh kami harus tadarus, dan yang tidak sempat ikut biasanya akan kena hukuman berupa push-up disertai dipukul dengan sajadah oleh kakak-kakak asrama. [[Kategori:WikiCarita]] tr3lgmqx33tl6aw4yrbljirgimoynp9 Kehidupan 0 28788 121082 2026-10-18T03:36:51Z Labilublue 44078 ←Membuat halaman berisi 'Pelangi sembunyi lagi, melirik takut pada awan hitam yang menguasai langit muram, sedang hujan kian cepat berlari memeluk bumi. Tanah enggan dibasahi, tapi tak ada tempat yang mampu melindungi. Para kupu-kupu menepi ke bawah dedaunan rimbun, mencari tempat hangat untuk beristirahat sejenak. Bunga-bunga membuka kelopaknya, membiarkan air berlinang di sana. Thea mengerti dengan semesta, tapi semesta enggan untuk mengerti dirinya. Thea menyukai alam ini, tapi alam...' 121082 wikitext text/x-wiki Pelangi sembunyi lagi, melirik takut pada awan hitam yang menguasai langit muram, sedang hujan kian cepat berlari memeluk bumi. Tanah enggan dibasahi, tapi tak ada tempat yang mampu melindungi. Para kupu-kupu menepi ke bawah dedaunan rimbun, mencari tempat hangat untuk beristirahat sejenak. Bunga-bunga membuka kelopaknya, membiarkan air berlinang di sana. Thea mengerti dengan semesta, tapi semesta enggan untuk mengerti dirinya. Thea menyukai alam ini, tapi alam tak menyukainya kembali. Thea tahu bahwa tak semua pertanyaan berujung pada pernyataan, tapi tak ada salahnya terus berharap, 'kan? Thea tahu, hidupnya sangat sulit, tapi dia masih bisa makan teratur setiap hari, masih bisa memandang mentari di pagi hari, masih bisa mendengar kicauan burung saat sore datang. Itu cukup, sangat. Dilahirkan dari seorang wanita yang menganggap ia adalah sebuah kesalahan bukanlah kemauannya, ditelantarkan di depan pintu panti saat masih berusia lima juga bukan inginnya. Itu semua memang sudah tertulis sebagai jalan hidup: takdir. Setidaknya, Thea masih bersyukur karena sang ibu tidak membunuhnya saat masih janin. Sedikit saja, ada sedikit rasa hangat ketika mengingat bahwa dirinya juga diberi ASI sampai usia dua, meskipun sang ibu melakukan itu dengan setengah hati. Besar dan tumbuh di panti tidak membuat Thea malu sama sekali, dia punya banyak saudara di sana, banyak orang tua dan teman sebaya. Dia senang, tidak menyesali apapun yang sudah terjadi, lagi pula itu tiada guna. Panti memberi mereka makanan yang layak, pakaian, juga pendidikan. Selama dua belas tahun berada di dalam sana adalah kenangan membahagiakan yang tak ingin ia lupakan sampai kapanpun. Kasih sayang yang ia dapat dari para pengurus begitu banyak dan berlimpah, canda tawa juga sering bergema dalam ruang itu. Sekarang, diusianya yang ke tujuh belas menuju delapan belas, berakhir sudah masanya berada dalam pengawasan, dia harus mandiri. Bermodal ijazah SMA, meski tidak bisa kuliah dia tetap bisa mencari kerja. Kerja yang mudah saja, gajinya tak seberapa juga tak apa, yang penting cukup untuk makan sehari-hari dan biaya kontrakan, mungkin akan ditabung sedikit jika ada sisa. Hidup sendiri itu susah. Namun, susah bukan berarti tak bisa, 'kan? Dia bisa bersandar pada Tuhannya, bisa meminta doa sebanyak-banyaknya. Tidak apa sendiri, tanpa orang tua pun dia bisa mengurus diri sendiri, seperti yang sudah-sudah. Kepada para pengurus dan kepala panti, Thea berterimakasih sebanyak-banyaknya. Kepada Adinatya, Thea bersyukur bertemu teman sebaik itu. Kepada semesta, Thea senang dibiarkan menginjak bumi dan memandang keindahan dunia. Ini bukan akhir, tapi awal dari sebuah buku baru berjudul kehidupan. Thea akan mengisi lembar demi lembar dengan cerita hidupnya, mungkin jurnal atau puisi, bisa juga hanya ungkapan hati saja. Sembari berharap mendapatkan ending yang sempurna. Dia akan berusaha bahagia, tidak, dia akan bahagia. oz9p8a91w2bya44bfurv9pdb8u075r6 121097 121082 2026-10-18T03:51:10Z Labilublue 44078 Menambahkan gambar 121097 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Ranch style home in Salinas, California.JPG|jmpl|Ilustrasi Rumah]] Pelangi sembunyi lagi, melirik takut pada awan hitam yang menguasai langit muram, sedang hujan kian cepat berlari memeluk bumi. Tanah enggan dibasahi, tapi tak ada tempat yang mampu melindungi. Para kupu-kupu menepi ke bawah dedaunan rimbun, mencari tempat hangat untuk beristirahat sejenak. Bunga-bunga membuka kelopaknya, membiarkan air berlinang di sana. Thea mengerti dengan semesta, tapi semesta enggan untuk mengerti dirinya. Thea menyukai alam ini, tapi alam tak menyukainya kembali. Thea tahu bahwa tak semua pertanyaan berujung pada pernyataan, tapi tak ada salahnya terus berharap, 'kan? Thea tahu, hidupnya sangat sulit, tapi dia masih bisa makan teratur setiap hari, masih bisa memandang mentari di pagi hari, masih bisa mendengar kicauan burung saat sore datang. Itu cukup, sangat. Dilahirkan dari seorang wanita yang menganggap ia adalah sebuah kesalahan bukanlah kemauannya, ditelantarkan di depan pintu panti saat masih berusia lima juga bukan inginnya. Itu semua memang sudah tertulis sebagai jalan hidup: takdir. Setidaknya, Thea masih bersyukur karena sang ibu tidak membunuhnya saat masih janin. Sedikit saja, ada sedikit rasa hangat ketika mengingat bahwa dirinya juga diberi ASI sampai usia dua, meskipun sang ibu melakukan itu dengan setengah hati. Besar dan tumbuh di panti tidak membuat Thea malu sama sekali, dia punya banyak saudara di sana, banyak orang tua dan teman sebaya. Dia senang, tidak menyesali apapun yang sudah terjadi, lagi pula itu tiada guna. Panti memberi mereka makanan yang layak, pakaian, juga pendidikan. Selama dua belas tahun berada di dalam sana adalah kenangan membahagiakan yang tak ingin ia lupakan sampai kapanpun. Kasih sayang yang ia dapat dari para pengurus begitu banyak dan berlimpah, canda tawa juga sering bergema dalam ruang itu. Sekarang, diusianya yang ke tujuh belas menuju delapan belas, berakhir sudah masanya berada dalam pengawasan, dia harus mandiri. Bermodal ijazah SMA, meski tidak bisa kuliah dia tetap bisa mencari kerja. Kerja yang mudah saja, gajinya tak seberapa juga tak apa, yang penting cukup untuk makan sehari-hari dan biaya kontrakan, mungkin akan ditabung sedikit jika ada sisa. Hidup sendiri itu susah. Namun, susah bukan berarti tak bisa, 'kan? Dia bisa bersandar pada Tuhannya, bisa meminta doa sebanyak-banyaknya. Tidak apa sendiri, tanpa orang tua pun dia bisa mengurus diri sendiri, seperti yang sudah-sudah. Kepada para pengurus dan kepala panti, Thea berterimakasih sebanyak-banyaknya. Kepada Adinatya, Thea bersyukur bertemu teman sebaik itu. Kepada semesta, Thea senang dibiarkan menginjak bumi dan memandang keindahan dunia. Ini bukan akhir, tapi awal dari sebuah buku baru berjudul kehidupan. Thea akan mengisi lembar demi lembar dengan cerita hidupnya, mungkin jurnal atau puisi, bisa juga hanya ungkapan hati saja. Sembari berharap mendapatkan ending yang sempurna. Dia akan berusaha bahagia, tidak, dia akan bahagia. pn0t1ihc4h2xqmb013t904cw76ahb23 121210 121097 2026-10-18T05:38:10Z Labilublue 44078 Menambahkan kategori 121210 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Ranch style home in Salinas, California.JPG|jmpl|Ilustrasi Rumah]] Pelangi sembunyi lagi, melirik takut pada awan hitam yang menguasai langit muram, sedang hujan kian cepat berlari memeluk bumi. Tanah enggan dibasahi, tapi tak ada tempat yang mampu melindungi. Para kupu-kupu menepi ke bawah dedaunan rimbun, mencari tempat hangat untuk beristirahat sejenak. Bunga-bunga membuka kelopaknya, membiarkan air berlinang di sana. Thea mengerti dengan semesta, tapi semesta enggan untuk mengerti dirinya. Thea menyukai alam ini, tapi alam tak menyukainya kembali. Thea tahu bahwa tak semua pertanyaan berujung pada pernyataan, tapi tak ada salahnya terus berharap, 'kan? Thea tahu, hidupnya sangat sulit, tapi dia masih bisa makan teratur setiap hari, masih bisa memandang mentari di pagi hari, masih bisa mendengar kicauan burung saat sore datang. Itu cukup, sangat. Dilahirkan dari seorang wanita yang menganggap ia adalah sebuah kesalahan bukanlah kemauannya, ditelantarkan di depan pintu panti saat masih berusia lima juga bukan inginnya. Itu semua memang sudah tertulis sebagai jalan hidup: takdir. Setidaknya, Thea masih bersyukur karena sang ibu tidak membunuhnya saat masih janin. Sedikit saja, ada sedikit rasa hangat ketika mengingat bahwa dirinya juga diberi ASI sampai usia dua, meskipun sang ibu melakukan itu dengan setengah hati. Besar dan tumbuh di panti tidak membuat Thea malu sama sekali, dia punya banyak saudara di sana, banyak orang tua dan teman sebaya. Dia senang, tidak menyesali apapun yang sudah terjadi, lagi pula itu tiada guna. Panti memberi mereka makanan yang layak, pakaian, juga pendidikan. Selama dua belas tahun berada di dalam sana adalah kenangan membahagiakan yang tak ingin ia lupakan sampai kapanpun. Kasih sayang yang ia dapat dari para pengurus begitu banyak dan berlimpah, canda tawa juga sering bergema dalam ruang itu. Sekarang, diusianya yang ke tujuh belas menuju delapan belas, berakhir sudah masanya berada dalam pengawasan, dia harus mandiri. Bermodal ijazah SMA, meski tidak bisa kuliah dia tetap bisa mencari kerja. Kerja yang mudah saja, gajinya tak seberapa juga tak apa, yang penting cukup untuk makan sehari-hari dan biaya kontrakan, mungkin akan ditabung sedikit jika ada sisa. Hidup sendiri itu susah. Namun, susah bukan berarti tak bisa, 'kan? Dia bisa bersandar pada Tuhannya, bisa meminta doa sebanyak-banyaknya. Tidak apa sendiri, tanpa orang tua pun dia bisa mengurus diri sendiri, seperti yang sudah-sudah. Kepada para pengurus dan kepala panti, Thea berterimakasih sebanyak-banyaknya. Kepada Adinatya, Thea bersyukur bertemu teman sebaik itu. Kepada semesta, Thea senang dibiarkan menginjak bumi dan memandang keindahan dunia. Ini bukan akhir, tapi awal dari sebuah buku baru berjudul kehidupan. Thea akan mengisi lembar demi lembar dengan cerita hidupnya, mungkin jurnal atau puisi, bisa juga hanya ungkapan hati saja. Sembari berharap mendapatkan ending yang sempurna. Dia akan berusaha bahagia, tidak, dia akan bahagia. [[Kategori:WikiCarita]] itzfw4hb4ph86j4j3kqyqdq5148m22h 121219 121210 2026-10-18T05:39:03Z Labilublue 44078 Menambahkan kategori 121219 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Ranch style home in Salinas, California.JPG|jmpl|Ilustrasi Rumah]] Pelangi sembunyi lagi, melirik takut pada awan hitam yang menguasai langit muram, sedang hujan kian cepat berlari memeluk bumi. Tanah enggan dibasahi, tapi tak ada tempat yang mampu melindungi. Para kupu-kupu menepi ke bawah dedaunan rimbun, mencari tempat hangat untuk beristirahat sejenak. Bunga-bunga membuka kelopaknya, membiarkan air berlinang di sana. Thea mengerti dengan semesta, tapi semesta enggan untuk mengerti dirinya. Thea menyukai alam ini, tapi alam tak menyukainya kembali. Thea tahu bahwa tak semua pertanyaan berujung pada pernyataan, tapi tak ada salahnya terus berharap, 'kan? Thea tahu, hidupnya sangat sulit, tapi dia masih bisa makan teratur setiap hari, masih bisa memandang mentari di pagi hari, masih bisa mendengar kicauan burung saat sore datang. Itu cukup, sangat. Dilahirkan dari seorang wanita yang menganggap ia adalah sebuah kesalahan bukanlah kemauannya, ditelantarkan di depan pintu panti saat masih berusia lima juga bukan inginnya. Itu semua memang sudah tertulis sebagai jalan hidup: takdir. Setidaknya, Thea masih bersyukur karena sang ibu tidak membunuhnya saat masih janin. Sedikit saja, ada sedikit rasa hangat ketika mengingat bahwa dirinya juga diberi ASI sampai usia dua, meskipun sang ibu melakukan itu dengan setengah hati. Besar dan tumbuh di panti tidak membuat Thea malu sama sekali, dia punya banyak saudara di sana, banyak orang tua dan teman sebaya. Dia senang, tidak menyesali apapun yang sudah terjadi, lagi pula itu tiada guna. Panti memberi mereka makanan yang layak, pakaian, juga pendidikan. Selama dua belas tahun berada di dalam sana adalah kenangan membahagiakan yang tak ingin ia lupakan sampai kapanpun. Kasih sayang yang ia dapat dari para pengurus begitu banyak dan berlimpah, canda tawa juga sering bergema dalam ruang itu. Sekarang, diusianya yang ke tujuh belas menuju delapan belas, berakhir sudah masanya berada dalam pengawasan, dia harus mandiri. Bermodal ijazah SMA, meski tidak bisa kuliah dia tetap bisa mencari kerja. Kerja yang mudah saja, gajinya tak seberapa juga tak apa, yang penting cukup untuk makan sehari-hari dan biaya kontrakan, mungkin akan ditabung sedikit jika ada sisa. Hidup sendiri itu susah. Namun, susah bukan berarti tak bisa, 'kan? Dia bisa bersandar pada Tuhannya, bisa meminta doa sebanyak-banyaknya. Tidak apa sendiri, tanpa orang tua pun dia bisa mengurus diri sendiri, seperti yang sudah-sudah. Kepada para pengurus dan kepala panti, Thea berterimakasih sebanyak-banyaknya. Kepada Adinatya, Thea bersyukur bertemu teman sebaik itu. Kepada semesta, Thea senang dibiarkan menginjak bumi dan memandang keindahan dunia. Ini bukan akhir, tapi awal dari sebuah buku baru berjudul kehidupan. Thea akan mengisi lembar demi lembar dengan cerita hidupnya, mungkin jurnal atau puisi, bisa juga hanya ungkapan hati saja. Sembari berharap mendapatkan ending yang sempurna. Dia akan berusaha bahagia, tidak, dia akan bahagia. [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Fiksi]] [[Kategori:Fiksi Mini]] orsaxmisiysxnm89pyfar74cjt7l1b2 Jangan mati di telan liang lahat 0 28789 121083 2026-10-18T03:37:27Z Suci Az zahra 44071 ←Membuat halaman berisi 'Malam itu langit tampak muram tanpa kehadiran bulan, hanya bintang yang berusaha menghibur langit ketika kehilangan cahayanya. Di tepian sungai, hewan mungil yang bagai lampu kecil itu memenuhi pohon rambai. Kakek pernah mengatakan cahaya kecil yang indah itu di percaya oleh sebagian orang berasal dari kuku hantu. Aku tak pernah tahu itu benar atau tidak, yang kutahu setiap kali cahaya mungil itu berkelap-kelip di pohon rambai, rasanya kakek masih duduk bersama k...' 121083 wikitext text/x-wiki Malam itu langit tampak muram tanpa kehadiran bulan, hanya bintang yang berusaha menghibur langit ketika kehilangan cahayanya. Di tepian sungai, hewan mungil yang bagai lampu kecil itu memenuhi pohon rambai. Kakek pernah mengatakan cahaya kecil yang indah itu di percaya oleh sebagian orang berasal dari kuku hantu. Aku tak pernah tahu itu benar atau tidak, yang kutahu setiap kali cahaya mungil itu berkelap-kelip di pohon rambai, rasanya kakek masih duduk bersama ku seperti malam itu di sini. Sehabis isya, tepatnya setelah acara pembacaan malam satu syuro aku pulang dari mushola. Memang rencana ku dari awal agar malam ini menginap di rumah kakek. Aroma solar dan kayu ulin yang kental tercium dari rumah tua yang kakek tinggali seorang diri. Selain besar, rumah kakek juga tinggi. Dulunya tiang sepanjang 12 meter ini sesuai dengan kondisi daerah yang di juluki kota seribu sungai. Namun, sekarang hampir tidak ada yang membuat rumah seperti ini lagi. Selain karna orang-orang suka rumah dengan gaya minimalis, kayu ulin pun kini di jual dengan harga yang mahal saking berharganya. Malam itu kakek meminta ku cepat tidur agar tidak bangun kesiangan, serta tidak menontoninya yang sedang menjahit lunta. Aku hanya berharap bisa ikut menjahit lunta dan menangkap ikan bersama di sungai barito besok. Tetapi besok hari senin dan besok aku harus pawai di sekolah untuk acara satu muharam. Pagi harinya burung pikaka lebih dahulu berbunyi bersahutan di iringi lantunan takbir di bandingkan alarm yang ku pasang. “Allahu akbar, jam berapa sudah nih. Ae hp-nya mati?” kuguncang-guncang lempengan besi tipis yang seharusnya menyala itu, rupanya setelah dilihat stopkontak nya belum kuhidupkan saat mengisi daya. Matahari kini tampak bahagia dengan sinarnya yang hampir menyinari seluruh desa, tetapi aku justru panik saat tak kunjung kutemukan sorban yang akan kupakai hari ini. Kemudian kudapati kakek tertidur pulas di atas sajadahnya sehabis sholat subuh, aku masuk ke kamarnya mengambil selembar sorban dengan langkah pelan agar derit kayu ulin tidak berteriak saat kuinjak. Sebelum berangkat, kusempatkan mengambil sebuah pisang di padu agar perutku tidak ikutan berteriak. Matahari sepertinya tidak ingin berteman dengan awan hari ini, rasanya dahiku dipanggangnya tanpa ampun. Dalam perjalanan pulang dari kejauhan ramai orang-orang di depan rumah kakek, awalnya kukira mereka menyadari keberadaan langka rumah bumbungan tinggi dan datang untuk belajar kepada kakek. Namun, sepertinya pikiranku terlalu positif. “Nang! anang! Ambilkan kain kuning di lemari” Panggil ibuku. “Sagin apa ma?” Dalam keadaan bingung aku bertanya, mencoba membaca lembaran detik dan menit yang baru saja lewat. “Ikam nih salang betakun, kada malihat kah urang rami dimuka rumah kai tuh beapa?” awalnya aku bisa saja mengira orang yang mengenakan baju muslim itu ingin pawai di kampung, tapi aku tau apa arti kain kuning yang akan ku pasang sebagai bendera. “Kai meninggal kah ma?!” tak ada jawaban setelah itu, diam nya ibu mengiyakan semua kebingunan yang terus berputar sejak tadi. Setelah itu, ibu sibuk mempersiapkan hal lain untuk persiapan pemakaman. “Baru tadi pagi aku bersama kakek, atau memang sejak tadi pagi ya?”. Tanyaku dalam hati yang masih tidak percaya kakek telah pergi. Sudah empat puluh hari setelah kematian kakek, tak usai-usai perdebatan tanah dan warisan yang sudah dibagikan jauh hari sebelum kakek meninggal. Utuh kalung kerabat jauh kakek, bersikeras bahwa tanah yang di atasnya berdiri rumah khas banjar itu sudah di jual tanah padanya. Memang patut diberi penghargaan karena wajah tebalnya yang tak tahu malu, berkali-kali ia memaksa membeli tanah beserta rumah dengan harga yang cukup menggelitik dompet. Rumah itu milik kakek dan juga saudaranya. Namun, memang sejak lama kakek yang menjaganya sepenuh hati, sesuai wasiat datu. Rumah itu dominan ulin khususnya tiang utama, gelagar dan beberapa bagian rumah lainnya. Ayah takkan pernah mau menjualnya, karena ini bukan hanya tentang warisan keluarga maupun kayunya yang mahal, tetapi warisan budaya Banjar. Karena jika rumah ini tidak ada, maka ia hanya akan menjadi dongeng layaknya cerita-cerita rakyat yang sering dibaca anak-anak. Tapi ayah tahu, ia tidak bisa merawat rumah itu maupun membuat yang baru. Karena dulu ia lebih suka bermain musik di banding sekolah dan pergi meninggalkan desa. Setelah tenggelam dalam gemerlap lampu perkotaan ia akhirnya kembali pulang dalam keadaan yang kurang lebih sama saat ia pergi tetapi kali ini ia membawa aku dan ibu. Nenek tetap menerima ayah meski ia pulang bersama kami, Bahkan memberikan segala nya agar bisa memulai hidup yang baru di desa. Walaupun hubungan ayah tidak begitu baik dengan kakek, tetapi kakek tidak pernah membenci ku maupun ibu. Sekarang, ayah terus saja didesak untuk menjual rumah itu kepada utuh kalung. “Jual haja rumah tuh, kadanya ikam kawa menggaduh. Atap rumah ikam tuh ja seng nya banyak banar tambalannya, lamun siang nangkaya bintang. Karicikan cahaya matahari tambus, nang kaya itu handak menggaduh rumah nang atapnya pakai sirap, sawat balumut” ledek utuh kalung sambil tertawa. Ayah hanya diam, selain karena lelah menyanggah orang yang tak ada habis nya bicara. Ayah juga berpikir bagaimana menjaga rumah itu jika tak ingin menjualnya, siapa yang bisa merawatnya sekarang. Sebenarnya bisa saja diserahkan ke pemerintah daerah maupun dinas kebudayaan. tapi bagaimana orang-orang itu kemari jika kai jor, tetua kampung disini mengangkat parang hanya karena ada orang luar yang ingin menancapkan tiang listrik di desa. Namun, kurasa beliau terlalu keras memegang adat. Baginya, setiap perubahan yang masuk kedesa berpotensi merusak warisan leluhur. Beberapa hari yang lalu, pernah aku mendatangi beliau dan meminta bantuan untuk sama-sama merawat rumah kakek, karena beliau pun pasti tahu caranya. Paling tidak, izinnya orang-orang luar itu untuk mengurus rumahnya. Tetapi perselisihan yang lama antara kakek dan kai johor membuatku pulang tanpa sebuah jawaban maupun harapan. “Gasan apa aku menggaduhi rumah kai ikam tuh? gaduh sorang!”. Tampak ia tak peduli, dendamnya jauh lebih kental dari darah Banjar yang mengalir dalam dirinya. Hari berikutnya kujepret foto rumah dari berbagai sudut. Depan, samping dan belakang hingga dalamnya. Aku mencoba mendokumentasikan rumah dan menuliskan bagian-bagian rumah yang masih kukenal berdasarkan penjelasan yang pernah kakek sampaikan, kukumpukan artikel-artikel maupun informasi yang memuat tentang rumah itu secara lebih rinci. Namun, masih ada beberapa hal tentang rumah bumbungan tinggi yang tidak kuingat mapun kutemukan. Foto dan tulisan yang telah kuunggah di berbagai platform, ku harap banyak menarik simpati dari berbagai kalangan dan ada yang mengetahui informasi tentang jamang yang menghiasi pucuk rumah tua itu, tidak hanya tentang cara membuatnya tetapi juga filosofinya. Aku juga berharap generasi saat ini maupun generasi masa depan, tidak hanya mengenal. tapi benar-benar melestarikan rumah bumbungan tinggi kedepannya. Beberapa minggu setelah dokumentasi itu diunggah banyak orang dari dinas budaya mencoba meminta izin memasuki desa dan menjadikannya sebagai destinasi wisata sekaligus membantu merawat itu. Akan tetapi tetap saja kai johar dengan sebilah parangnya. Pada suatu hari ada seorang dokter dan jurnalistik yang datang kerumah kai johar, dan ku lihat kai johar yang biasa nya tak percaya dengan dokter kini diam saja saat di periksa. Rupanya itu adalah galuh yang merupakan anak semata wayang kai johar, galuh pergi jauh kekota tanpa restu kai johar dan sudah lama tak pulang karena ingin membuktikan tak ada ilmu yang tak berguna untuk di pelajari. Galuh datang tak di sambut hangat oleh kai johar, tetapi mata nya tidak bisa berbohong. Di balik tatapan nya yang sedingin es, matanya menyala membakar rindu yang sudah lama membeku, hanya saja hati nya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa yang dulu ia katakan pada galuh hanyalah isi pikiran yang merupakan buah dari keegoisan. Adat istiadat maupun budaya di desa memang tetap harus di lestarikan tetapi kita tidak bisa tuli maupun bisu terhadap dunia. Kini galuh lah yang merawat kai johar yang sudah sakit-sakitan semenjak ia pergi meeninggalkan desa. Namun, kai johar selalu menganggap sakit nya itu ada karena unsur mistis yang erat dengan persantetan, ia pergi keorang yang tak jelas asalnya dari pada pergi kedokter. “Pasti ngini bakas unda menabang pohon ganal samalam, habis am asa merinyut batis wan kapala heh”.Padahal ia tak sadar bahwa usianya yang tak muda lagi untuk seenaknya makan-makanan yang berlemak, tetapi malah menyalahkan pohon yang di duganya ada yang berdiam disana. Terlebih lagi saat itu ia makan tapai dari rumah kemudian memakan kuini tepat setelah pohon itu di tebang. Wajar saja dia bermalam di kebun dan di gotong keesokan harinya. Setiap hari galuh memberikan pola makan yang sehat, vitamin dan obat-obatan. Hingga kai johar merasakan perubahannya sendiri. Hati nya kini mulai luluh selain karena menyadari dirinya selama ini bagai katak dalam tempurung, ia juga berprasangka buruk pada saudaranya sendiri. Saat bara api di dada sudah mulai padam, kemudian angin meniup percikan harapan yang lekas membelalakan mata yang melihatnya. “Nah catatan nya, hagan ikam. Tesarah ja handak di julung lawan bebuhan ngitu atau ikam yang handak menyimpaninya. Mun ada apa-apa bepadah ja ka rumah lah, kai minta rela lah”. Rasa nya gemuruh di kepala ku kini hening, lega rasanya melihat warisan kali ini tidak ikut mati bersamaan gelapnya liang lahat. Catatan usang yang berisi filosofi hingga bahan rumah itu ku serahkan ke dinas kebudayaan bersamaan dengan rumah nya juga, dan tentunya semua atas izin kai johar dan ahli waris. Kini catatan terkait rumah itu bisa terus di liat dan di ketahui banyak orang hingga rumah bumbungan tinggi tak akan lenyap meskipun dirinya sudah tak mampu berdiri dan berlari bersama waktu. cz7gftxvz7q4edv86dxcpn0jcj8b2ic 121113 121083 2026-10-18T03:54:42Z Suci Az zahra 44071 Saya mengedit tulisan ini 121113 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi 1.jpg|jmpl|Rumah Banjar]] Malam itu langit tampak muram tanpa kehadiran bulan, hanya bintang yang berusaha menghibur langit ketika kehilangan cahayanya. Di tepian sungai, hewan mungil yang bagai lampu kecil itu memenuhi pohon rambai. Kakek pernah mengatakan cahaya kecil yang indah itu di percaya oleh sebagian orang berasal dari kuku hantu. Aku tak pernah tahu itu benar atau tidak, yang kutahu setiap kali cahaya mungil itu berkelap-kelip di pohon rambai, rasanya kakek masih duduk bersama ku seperti malam itu di sini. Sehabis isya, tepatnya setelah acara pembacaan malam satu syuro aku pulang dari mushola. Memang rencana ku dari awal agar malam ini menginap di rumah kakek. Aroma solar dan kayu ulin yang kental tercium dari rumah tua yang kakek tinggali seorang diri. Selain besar, rumah kakek juga tinggi. Dulunya tiang sepanjang 12 meter ini sesuai dengan kondisi daerah yang di juluki kota seribu sungai. Namun, sekarang hampir tidak ada yang membuat rumah seperti ini lagi. Selain karna orang-orang suka rumah dengan gaya minimalis, kayu ulin pun kini di jual dengan harga yang mahal saking berharganya. Malam itu kakek meminta ku cepat tidur agar tidak bangun kesiangan, serta tidak menontoninya yang sedang menjahit lunta. Aku hanya berharap bisa ikut menjahit lunta dan menangkap ikan bersama di sungai barito besok. Tetapi besok hari senin dan besok aku harus pawai di sekolah untuk acara satu muharam. [[Berkas:Field-of-fireflies-wilkes-ecology-preserve-photo-by-tyler-savitski.jpg|jmpl|kunang-kunang]] Pagi harinya burung pikaka lebih dahulu berbunyi bersahutan di iringi lantunan takbir di bandingkan alarm yang ku pasang. “Allahu akbar, jam berapa sudah nih. Ae hp-nya mati?” kuguncang-guncang lempengan besi tipis yang seharusnya menyala itu, rupanya setelah dilihat stopkontak nya belum kuhidupkan saat mengisi daya. Matahari kini tampak bahagia dengan sinarnya yang hampir menyinari seluruh desa, tetapi aku justru panik saat tak kunjung kutemukan sorban yang akan kupakai hari ini. Kemudian kudapati kakek tertidur pulas di atas sajadahnya sehabis sholat subuh, aku masuk ke kamarnya mengambil selembar sorban dengan langkah pelan agar derit kayu ulin tidak berteriak saat kuinjak. Sebelum berangkat, kusempatkan mengambil sebuah pisang di padu agar perutku tidak ikutan berteriak. Matahari sepertinya tidak ingin berteman dengan awan hari ini, rasanya dahiku dipanggangnya tanpa ampun. Dalam perjalanan pulang dari kejauhan ramai orang-orang di depan rumah kakek, awalnya kukira mereka menyadari keberadaan langka rumah bumbungan tinggi dan datang untuk belajar kepada kakek. Namun, sepertinya pikiranku terlalu positif. “Nang! anang! Ambilkan kain kuning di lemari” Panggil ibuku. “Sagin apa ma?” Dalam keadaan bingung aku bertanya, mencoba membaca lembaran detik dan menit yang baru saja lewat. “Ikam nih salang betakun, kada malihat kah urang rami dimuka rumah kai tuh beapa?” awalnya aku bisa saja mengira orang yang mengenakan baju muslim itu ingin pawai di kampung, tapi aku tau apa arti kain kuning yang akan ku pasang sebagai bendera. “Kai meninggal kah ma?!” tak ada jawaban setelah itu, diam nya ibu mengiyakan semua kebingunan yang terus berputar sejak tadi. Setelah itu, ibu sibuk mempersiapkan hal lain untuk persiapan pemakaman. “Baru tadi pagi aku bersama kakek, atau memang sejak tadi pagi ya?”. Tanyaku dalam hati yang masih tidak percaya kakek telah pergi. Sudah empat puluh hari setelah kematian kakek, tak usai-usai perdebatan tanah dan warisan yang sudah dibagikan jauh hari sebelum kakek meninggal. Utuh kalung kerabat jauh kakek, bersikeras bahwa tanah yang di atasnya berdiri rumah khas banjar itu sudah di jual tanah padanya. Memang patut diberi penghargaan karena wajah tebalnya yang tak tahu malu, berkali-kali ia memaksa membeli tanah beserta rumah dengan harga yang cukup menggelitik dompet. Rumah itu milik kakek dan juga saudaranya. Namun, memang sejak lama kakek yang menjaganya sepenuh hati, sesuai wasiat datu. Rumah itu dominan ulin khususnya tiang utama, gelagar dan beberapa bagian rumah lainnya. Ayah takkan pernah mau menjualnya, karena ini bukan hanya tentang warisan keluarga maupun kayunya yang mahal, tetapi warisan budaya Banjar. Karena jika rumah ini tidak ada, maka ia hanya akan menjadi dongeng layaknya cerita-cerita rakyat yang sering dibaca anak-anak. Tapi ayah tahu, ia tidak bisa merawat rumah itu maupun membuat yang baru. Karena dulu ia lebih suka bermain musik di banding sekolah dan pergi meninggalkan desa. Setelah tenggelam dalam gemerlap lampu perkotaan ia akhirnya kembali pulang dalam keadaan yang kurang lebih sama saat ia pergi tetapi kali ini ia membawa aku dan ibu. Nenek tetap menerima ayah meski ia pulang bersama kami, Bahkan memberikan segala nya agar bisa memulai hidup yang baru di desa. Walaupun hubungan ayah tidak begitu baik dengan kakek, tetapi kakek tidak pernah membenci ku maupun ibu. Sekarang, ayah terus saja didesak untuk menjual rumah itu kepada utuh kalung. “Jual haja rumah tuh, kadanya ikam kawa menggaduh. Atap rumah ikam tuh ja seng nya banyak banar tambalannya, lamun siang nangkaya bintang. Karicikan cahaya matahari tambus, nang kaya itu handak menggaduh rumah nang atapnya pakai sirap, sawat balumut” ledek utuh kalung sambil tertawa. Ayah hanya diam, selain karena lelah menyanggah orang yang tak ada habis nya bicara. Ayah juga berpikir bagaimana menjaga rumah itu jika tak ingin menjualnya, siapa yang bisa merawatnya sekarang. Sebenarnya bisa saja diserahkan ke pemerintah daerah maupun dinas kebudayaan. tapi bagaimana orang-orang itu kemari jika kai jor, tetua kampung disini mengangkat parang hanya karena ada orang luar yang ingin menancapkan tiang listrik di desa. Namun, kurasa beliau terlalu keras memegang adat. Baginya, setiap perubahan yang masuk kedesa berpotensi merusak warisan leluhur. Beberapa hari yang lalu, pernah aku mendatangi beliau dan meminta bantuan untuk sama-sama merawat rumah kakek, karena beliau pun pasti tahu caranya. Paling tidak, izinnya orang-orang luar itu untuk mengurus rumahnya. Tetapi perselisihan yang lama antara kakek dan kai johor membuatku pulang tanpa sebuah jawaban maupun harapan. “Gasan apa aku menggaduhi rumah kai ikam tuh? gaduh sorang!”. Tampak ia tak peduli, dendamnya jauh lebih kental dari darah Banjar yang mengalir dalam dirinya. Hari berikutnya kujepret foto rumah dari berbagai sudut. Depan, samping dan belakang hingga dalamnya. Aku mencoba mendokumentasikan rumah dan menuliskan bagian-bagian rumah yang masih kukenal berdasarkan penjelasan yang pernah kakek sampaikan, kukumpukan artikel-artikel maupun informasi yang memuat tentang rumah itu secara lebih rinci. Namun, masih ada beberapa hal tentang rumah bumbungan tinggi yang tidak kuingat mapun kutemukan. Foto dan tulisan yang telah kuunggah di berbagai platform, ku harap banyak menarik simpati dari berbagai kalangan dan ada yang mengetahui informasi tentang jamang yang menghiasi pucuk rumah tua itu, tidak hanya tentang cara membuatnya tetapi juga filosofinya. Aku juga berharap generasi saat ini maupun generasi masa depan, tidak hanya mengenal. tapi benar-benar melestarikan rumah bumbungan tinggi kedepannya. Beberapa minggu setelah dokumentasi itu diunggah banyak orang dari dinas budaya mencoba meminta izin memasuki desa dan menjadikannya sebagai destinasi wisata sekaligus membantu merawat itu. Akan tetapi tetap saja kai johar dengan sebilah parangnya. Pada suatu hari ada seorang dokter dan jurnalistik yang datang kerumah kai johar, dan ku lihat kai johar yang biasa nya tak percaya dengan dokter kini diam saja saat di periksa. Rupanya itu adalah galuh yang merupakan anak semata wayang kai johar, galuh pergi jauh kekota tanpa restu kai johar dan sudah lama tak pulang karena ingin membuktikan tak ada ilmu yang tak berguna untuk di pelajari. Galuh datang tak di sambut hangat oleh kai johar, tetapi mata nya tidak bisa berbohong. Di balik tatapan nya yang sedingin es, matanya menyala membakar rindu yang sudah lama membeku, hanya saja hati nya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa yang dulu ia katakan pada galuh hanyalah isi pikiran yang merupakan buah dari keegoisan. Adat istiadat maupun budaya di desa memang tetap harus di lestarikan tetapi kita tidak bisa tuli maupun bisu terhadap dunia. Kini galuh lah yang merawat kai johar yang sudah sakit-sakitan semenjak ia pergi meeninggalkan desa. Namun, kai johar selalu menganggap sakit nya itu ada karena unsur mistis yang erat dengan persantetan, ia pergi keorang yang tak jelas asalnya dari pada pergi kedokter. “Pasti ngini bakas unda menabang pohon ganal samalam, habis am asa merinyut batis wan kapala heh”.Padahal ia tak sadar bahwa usianya yang tak muda lagi untuk seenaknya makan-makanan yang berlemak, tetapi malah menyalahkan pohon yang di duganya ada yang berdiam disana. Terlebih lagi saat itu ia makan tapai dari rumah kemudian memakan kuini tepat setelah pohon itu di tebang. Wajar saja dia bermalam di kebun dan di gotong keesokan harinya. Setiap hari galuh memberikan pola makan yang sehat, vitamin dan obat-obatan. Hingga kai johar merasakan perubahannya sendiri. Hati nya kini mulai luluh selain karena menyadari dirinya selama ini bagai katak dalam tempurung, ia juga berprasangka buruk pada saudaranya sendiri. Saat bara api di dada sudah mulai padam, kemudian angin meniup percikan harapan yang lekas membelalakan mata yang melihatnya. “Nah catatan nya, hagan ikam. Tesarah ja handak di julung lawan bebuhan ngitu atau ikam yang handak menyimpaninya. Mun ada apa-apa bepadah ja ka rumah lah, kai minta rela lah”. Rasa nya gemuruh di kepala ku kini hening, lega rasanya melihat warisan kali ini tidak ikut mati bersamaan gelapnya liang lahat. Catatan usang yang berisi filosofi hingga bahan rumah itu ku serahkan ke dinas kebudayaan bersamaan dengan rumah nya juga, dan tentunya semua atas izin kai johar dan ahli waris. Kini catatan terkait rumah itu bisa terus di liat dan di ketahui banyak orang hingga rumah bumbungan tinggi tak akan lenyap meskipun dirinya sudah tak mampu berdiri dan berlari bersama waktu. awdkr9rltcdyzvins9sak43zqqatdnv 121230 121113 2026-10-18T05:40:04Z Suci Az zahra 44071 nambah kategori 121230 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi 1.jpg|jmpl|Rumah Banjar]] Malam itu langit tampak muram tanpa kehadiran bulan, hanya bintang yang berusaha menghibur langit ketika kehilangan cahayanya. Di tepian sungai, hewan mungil yang bagai lampu kecil itu memenuhi pohon rambai. Kakek pernah mengatakan cahaya kecil yang indah itu di percaya oleh sebagian orang berasal dari kuku hantu. Aku tak pernah tahu itu benar atau tidak, yang kutahu setiap kali cahaya mungil itu berkelap-kelip di pohon rambai, rasanya kakek masih duduk bersama ku seperti malam itu di sini. Sehabis isya, tepatnya setelah acara pembacaan malam satu syuro aku pulang dari mushola. Memang rencana ku dari awal agar malam ini menginap di rumah kakek. Aroma solar dan kayu ulin yang kental tercium dari rumah tua yang kakek tinggali seorang diri. Selain besar, rumah kakek juga tinggi. Dulunya tiang sepanjang 12 meter ini sesuai dengan kondisi daerah yang di juluki kota seribu sungai. Namun, sekarang hampir tidak ada yang membuat rumah seperti ini lagi. Selain karna orang-orang suka rumah dengan gaya minimalis, kayu ulin pun kini di jual dengan harga yang mahal saking berharganya. Malam itu kakek meminta ku cepat tidur agar tidak bangun kesiangan, serta tidak menontoninya yang sedang menjahit lunta. Aku hanya berharap bisa ikut menjahit lunta dan menangkap ikan bersama di sungai barito besok. Tetapi besok hari senin dan besok aku harus pawai di sekolah untuk acara satu muharam. [[Berkas:Field-of-fireflies-wilkes-ecology-preserve-photo-by-tyler-savitski.jpg|jmpl|kunang-kunang]] Pagi harinya burung pikaka lebih dahulu berbunyi bersahutan di iringi lantunan takbir di bandingkan alarm yang ku pasang. “Allahu akbar, jam berapa sudah nih. Ae hp-nya mati?” kuguncang-guncang lempengan besi tipis yang seharusnya menyala itu, rupanya setelah dilihat stopkontak nya belum kuhidupkan saat mengisi daya. Matahari kini tampak bahagia dengan sinarnya yang hampir menyinari seluruh desa, tetapi aku justru panik saat tak kunjung kutemukan sorban yang akan kupakai hari ini. Kemudian kudapati kakek tertidur pulas di atas sajadahnya sehabis sholat subuh, aku masuk ke kamarnya mengambil selembar sorban dengan langkah pelan agar derit kayu ulin tidak berteriak saat kuinjak. Sebelum berangkat, kusempatkan mengambil sebuah pisang di padu agar perutku tidak ikutan berteriak. Matahari sepertinya tidak ingin berteman dengan awan hari ini, rasanya dahiku dipanggangnya tanpa ampun. Dalam perjalanan pulang dari kejauhan ramai orang-orang di depan rumah kakek, awalnya kukira mereka menyadari keberadaan langka rumah bumbungan tinggi dan datang untuk belajar kepada kakek. Namun, sepertinya pikiranku terlalu positif. “Nang! anang! Ambilkan kain kuning di lemari” Panggil ibuku. “Sagin apa ma?” Dalam keadaan bingung aku bertanya, mencoba membaca lembaran detik dan menit yang baru saja lewat. “Ikam nih salang betakun, kada malihat kah urang rami dimuka rumah kai tuh beapa?” awalnya aku bisa saja mengira orang yang mengenakan baju muslim itu ingin pawai di kampung, tapi aku tau apa arti kain kuning yang akan ku pasang sebagai bendera. “Kai meninggal kah ma?!” tak ada jawaban setelah itu, diam nya ibu mengiyakan semua kebingunan yang terus berputar sejak tadi. Setelah itu, ibu sibuk mempersiapkan hal lain untuk persiapan pemakaman. “Baru tadi pagi aku bersama kakek, atau memang sejak tadi pagi ya?”. Tanyaku dalam hati yang masih tidak percaya kakek telah pergi. Sudah empat puluh hari setelah kematian kakek, tak usai-usai perdebatan tanah dan warisan yang sudah dibagikan jauh hari sebelum kakek meninggal. Utuh kalung kerabat jauh kakek, bersikeras bahwa tanah yang di atasnya berdiri rumah khas banjar itu sudah di jual tanah padanya. Memang patut diberi penghargaan karena wajah tebalnya yang tak tahu malu, berkali-kali ia memaksa membeli tanah beserta rumah dengan harga yang cukup menggelitik dompet. Rumah itu milik kakek dan juga saudaranya. Namun, memang sejak lama kakek yang menjaganya sepenuh hati, sesuai wasiat datu. Rumah itu dominan ulin khususnya tiang utama, gelagar dan beberapa bagian rumah lainnya. Ayah takkan pernah mau menjualnya, karena ini bukan hanya tentang warisan keluarga maupun kayunya yang mahal, tetapi warisan budaya Banjar. Karena jika rumah ini tidak ada, maka ia hanya akan menjadi dongeng layaknya cerita-cerita rakyat yang sering dibaca anak-anak. Tapi ayah tahu, ia tidak bisa merawat rumah itu maupun membuat yang baru. Karena dulu ia lebih suka bermain musik di banding sekolah dan pergi meninggalkan desa. Setelah tenggelam dalam gemerlap lampu perkotaan ia akhirnya kembali pulang dalam keadaan yang kurang lebih sama saat ia pergi tetapi kali ini ia membawa aku dan ibu. Nenek tetap menerima ayah meski ia pulang bersama kami, Bahkan memberikan segala nya agar bisa memulai hidup yang baru di desa. Walaupun hubungan ayah tidak begitu baik dengan kakek, tetapi kakek tidak pernah membenci ku maupun ibu. Sekarang, ayah terus saja didesak untuk menjual rumah itu kepada utuh kalung. “Jual haja rumah tuh, kadanya ikam kawa menggaduh. Atap rumah ikam tuh ja seng nya banyak banar tambalannya, lamun siang nangkaya bintang. Karicikan cahaya matahari tambus, nang kaya itu handak menggaduh rumah nang atapnya pakai sirap, sawat balumut” ledek utuh kalung sambil tertawa. Ayah hanya diam, selain karena lelah menyanggah orang yang tak ada habis nya bicara. Ayah juga berpikir bagaimana menjaga rumah itu jika tak ingin menjualnya, siapa yang bisa merawatnya sekarang. Sebenarnya bisa saja diserahkan ke pemerintah daerah maupun dinas kebudayaan. tapi bagaimana orang-orang itu kemari jika kai jor, tetua kampung disini mengangkat parang hanya karena ada orang luar yang ingin menancapkan tiang listrik di desa. Namun, kurasa beliau terlalu keras memegang adat. Baginya, setiap perubahan yang masuk kedesa berpotensi merusak warisan leluhur. Beberapa hari yang lalu, pernah aku mendatangi beliau dan meminta bantuan untuk sama-sama merawat rumah kakek, karena beliau pun pasti tahu caranya. Paling tidak, izinnya orang-orang luar itu untuk mengurus rumahnya. Tetapi perselisihan yang lama antara kakek dan kai johor membuatku pulang tanpa sebuah jawaban maupun harapan. “Gasan apa aku menggaduhi rumah kai ikam tuh? gaduh sorang!”. Tampak ia tak peduli, dendamnya jauh lebih kental dari darah Banjar yang mengalir dalam dirinya. Hari berikutnya kujepret foto rumah dari berbagai sudut. Depan, samping dan belakang hingga dalamnya. Aku mencoba mendokumentasikan rumah dan menuliskan bagian-bagian rumah yang masih kukenal berdasarkan penjelasan yang pernah kakek sampaikan, kukumpukan artikel-artikel maupun informasi yang memuat tentang rumah itu secara lebih rinci. Namun, masih ada beberapa hal tentang rumah bumbungan tinggi yang tidak kuingat mapun kutemukan. Foto dan tulisan yang telah kuunggah di berbagai platform, ku harap banyak menarik simpati dari berbagai kalangan dan ada yang mengetahui informasi tentang jamang yang menghiasi pucuk rumah tua itu, tidak hanya tentang cara membuatnya tetapi juga filosofinya. Aku juga berharap generasi saat ini maupun generasi masa depan, tidak hanya mengenal. tapi benar-benar melestarikan rumah bumbungan tinggi kedepannya. Beberapa minggu setelah dokumentasi itu diunggah banyak orang dari dinas budaya mencoba meminta izin memasuki desa dan menjadikannya sebagai destinasi wisata sekaligus membantu merawat itu. Akan tetapi tetap saja kai johar dengan sebilah parangnya. Pada suatu hari ada seorang dokter dan jurnalistik yang datang kerumah kai johar, dan ku lihat kai johar yang biasa nya tak percaya dengan dokter kini diam saja saat di periksa. Rupanya itu adalah galuh yang merupakan anak semata wayang kai johar, galuh pergi jauh kekota tanpa restu kai johar dan sudah lama tak pulang karena ingin membuktikan tak ada ilmu yang tak berguna untuk di pelajari. Galuh datang tak di sambut hangat oleh kai johar, tetapi mata nya tidak bisa berbohong. Di balik tatapan nya yang sedingin es, matanya menyala membakar rindu yang sudah lama membeku, hanya saja hati nya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa yang dulu ia katakan pada galuh hanyalah isi pikiran yang merupakan buah dari keegoisan. Adat istiadat maupun budaya di desa memang tetap harus di lestarikan tetapi kita tidak bisa tuli maupun bisu terhadap dunia. Kini galuh lah yang merawat kai johar yang sudah sakit-sakitan semenjak ia pergi meeninggalkan desa. Namun, kai johar selalu menganggap sakit nya itu ada karena unsur mistis yang erat dengan persantetan, ia pergi keorang yang tak jelas asalnya dari pada pergi kedokter. “Pasti ngini bakas unda menabang pohon ganal samalam, habis am asa merinyut batis wan kapala heh”.Padahal ia tak sadar bahwa usianya yang tak muda lagi untuk seenaknya makan-makanan yang berlemak, tetapi malah menyalahkan pohon yang di duganya ada yang berdiam disana. Terlebih lagi saat itu ia makan tapai dari rumah kemudian memakan kuini tepat setelah pohon itu di tebang. Wajar saja dia bermalam di kebun dan di gotong keesokan harinya. Setiap hari galuh memberikan pola makan yang sehat, vitamin dan obat-obatan. Hingga kai johar merasakan perubahannya sendiri. Hati nya kini mulai luluh selain karena menyadari dirinya selama ini bagai katak dalam tempurung, ia juga berprasangka buruk pada saudaranya sendiri. Saat bara api di dada sudah mulai padam, kemudian angin meniup percikan harapan yang lekas membelalakan mata yang melihatnya. “Nah catatan nya, hagan ikam. Tesarah ja handak di julung lawan bebuhan ngitu atau ikam yang handak menyimpaninya. Mun ada apa-apa bepadah ja ka rumah lah, kai minta rela lah”. Rasa nya gemuruh di kepala ku kini hening, lega rasanya melihat warisan kali ini tidak ikut mati bersamaan gelapnya liang lahat. Catatan usang yang berisi filosofi hingga bahan rumah itu ku serahkan ke dinas kebudayaan bersamaan dengan rumah nya juga, dan tentunya semua atas izin kai johar dan ahli waris. Kini catatan terkait rumah itu bisa terus di liat dan di ketahui banyak orang hingga rumah bumbungan tinggi tak akan lenyap meskipun dirinya sudah tak mampu berdiri dan berlari bersama waktu. [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Cerita pendek]] 1cwlvggx4veuz1cpgxbfzq1qg898oik Warna-Warna Indah 0 28790 121084 2026-10-18T03:37:39Z Sari Nur Aisyah 44072 ←Membuat halaman berisi 'Pada suatu masa, semua burung berwarna putih. “Jadikan aku cantik, wahai Kakek Sihir,” pinta Burung Pelatuk. “Baiklah, aku akan memberi kamu warna yang indah,” kata Kakek Sihir. Burung Pelatuk kini berwarna merah. Seekor burung kecil memandangi Burung Pelatuk. Dia juga ingin terlihat cantik. “Ini bunga kesukaanku,” kata Burung Kecil kepada Kakek Sihir, “maukah kau membuat warnaku seperti warna bunga ini?" Kakek Sihir mengecat Burung Kecil dengan war...' 121084 wikitext text/x-wiki Pada suatu masa, semua burung berwarna putih. “Jadikan aku cantik, wahai Kakek Sihir,” pinta Burung Pelatuk. “Baiklah, aku akan memberi kamu warna yang indah,” kata Kakek Sihir. Burung Pelatuk kini berwarna merah. Seekor burung kecil memandangi Burung Pelatuk. Dia juga ingin terlihat cantik. “Ini bunga kesukaanku,” kata Burung Kecil kepada Kakek Sihir, “maukah kau membuat warnaku seperti warna bunga ini?" Kakek Sihir mengecat Burung Kecil dengan warna kuning yang indah. Burung Kecil menemui Burung Pelatuk. “Lihat, Burung Pelatuk! Aku cantik sekali, kan?” ujarnya. “Tidak, tidak! Aku lebih cantik darimu,” bantah Burung Pelatuk. fguqay7lz5qe29y2odhm18bzew71quf 121115 121084 2026-10-18T03:55:11Z Sari Nur Aisyah 44072 membuat cerita 121115 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Warna Warni Ondel Ondel.jpg|jmpl]] Pada suatu masa, semua burung berwarna putih. “Jadikan aku cantik, wahai Kakek Sihir,” pinta Burung Pelatuk. “Baiklah, aku akan memberi kamu warna yang indah,” kata Kakek Sihir. Burung Pelatuk kini berwarna merah. Seekor burung kecil memandangi Burung Pelatuk. Dia juga ingin terlihat cantik. “Ini bunga kesukaanku,” kata Burung Kecil kepada Kakek Sihir, “maukah kau membuat warnaku seperti warna bunga ini?" Kakek Sihir mengecat Burung Kecil dengan warna kuning yang indah. Burung Kecil menemui Burung Pelatuk. “Lihat, Burung Pelatuk! Aku cantik sekali, kan?” ujarnya. “Tidak, tidak! Aku lebih cantik darimu,” bantah Burung Pelatuk. Burung Kepodang mencoba membuat mereka tenang dan berhenti bertengkar. Tapi, sewaktu mereka bertengkar, warna kuning dari Burung Kecil tercampur dengan warna merah dari Burung Pelatuk. Kepodang menjadi jingga! “Kepodang Jingga! Jingga seperti bulir buah jeruk! Kepodang Jeruk!” burung-burung nuri menggoda Kepodang. Kepodang mengejar mereka dengan marah. “Oh, Kakek Sihir!” seru para nuri, “tolong kami!” “Baiklah, biar aku mengecat kalian dengan warna hijau!" Nuri Hijau pamer warna barunya ke Burung Raja-Udang. “Dari mana kalian dapat warna cantik ini, Nuri?” “Mintalah kepada Kakek Sihir!” kicau mereka. Raja-Udang menyukai warna langit. Kakek Sihir pun mengubahnya menjadi biru. Burung Raja-Udang bertemu Burung Pelatuk. Ketika mereka mengobrol, Burung Merpati jatuh menimpa mereka. “Oh, tidak!" Sedikit merah dari Burung Pelatuk bercampur dengan sedikit biru dari Burung Raja-Udang. Burung Merpati memandangi pulasan ungu di badannya. “Ungu akan tampak cantik di tubuhku,” pikirnya. Ketika Kakek Sihir memberi Burung Merpati warna ungu, semua burung lain bergabung dengannya. Sungguh warna-warna yang indah! 3ax8l576tu5a6sk6300i2ssaowodohg 121236 121115 2026-10-18T05:42:13Z Sari Nur Aisyah 44072 menambah kategori 121236 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Warna Warni Ondel Ondel.jpg|jmpl]] Pada suatu masa, semua burung berwarna putih. “Jadikan aku cantik, wahai Kakek Sihir,” pinta Burung Pelatuk. “Baiklah, aku akan memberi kamu warna yang indah,” kata Kakek Sihir. Burung Pelatuk kini berwarna merah. Seekor burung kecil memandangi Burung Pelatuk. Dia juga ingin terlihat cantik. “Ini bunga kesukaanku,” kata Burung Kecil kepada Kakek Sihir, “maukah kau membuat warnaku seperti warna bunga ini?" Kakek Sihir mengecat Burung Kecil dengan warna kuning yang indah. Burung Kecil menemui Burung Pelatuk. “Lihat, Burung Pelatuk! Aku cantik sekali, kan?” ujarnya. “Tidak, tidak! Aku lebih cantik darimu,” bantah Burung Pelatuk. Burung Kepodang mencoba membuat mereka tenang dan berhenti bertengkar. Tapi, sewaktu mereka bertengkar, warna kuning dari Burung Kecil tercampur dengan warna merah dari Burung Pelatuk. Kepodang menjadi jingga! “Kepodang Jingga! Jingga seperti bulir buah jeruk! Kepodang Jeruk!” burung-burung nuri menggoda Kepodang. Kepodang mengejar mereka dengan marah. “Oh, Kakek Sihir!” seru para nuri, “tolong kami!” “Baiklah, biar aku mengecat kalian dengan warna hijau!" Nuri Hijau pamer warna barunya ke Burung Raja-Udang. “Dari mana kalian dapat warna cantik ini, Nuri?” “Mintalah kepada Kakek Sihir!” kicau mereka. Raja-Udang menyukai warna langit. Kakek Sihir pun mengubahnya menjadi biru. Burung Raja-Udang bertemu Burung Pelatuk. Ketika mereka mengobrol, Burung Merpati jatuh menimpa mereka. “Oh, tidak!" Sedikit merah dari Burung Pelatuk bercampur dengan sedikit biru dari Burung Raja-Udang. Burung Merpati memandangi pulasan ungu di badannya. “Ungu akan tampak cantik di tubuhku,” pikirnya. Ketika Kakek Sihir memberi Burung Merpati warna ungu, semua burung lain bergabung dengannya. Sungguh warna-warna yang indah!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/329459e4-7058-4d8e-bdb5-44a478808f43/Warna-Warna%20Indah.pdf</ref> == referensi == [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Indonesia]] n6kds11erf51gy4j9a7yk67814d4al7 121240 121236 2026-10-18T05:43:28Z Sari Nur Aisyah 44072 121240 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Warna Warni Ondel Ondel.jpg|jmpl]] Pada suatu masa, semua burung berwarna putih. “Jadikan aku cantik, wahai Kakek Sihir,” pinta Burung Pelatuk. “Baiklah, aku akan memberi kamu warna yang indah,” kata Kakek Sihir. Burung Pelatuk kini berwarna merah. Seekor burung kecil memandangi Burung Pelatuk. Dia juga ingin terlihat cantik. “Ini bunga kesukaanku,” kata Burung Kecil kepada Kakek Sihir, “maukah kau membuat warnaku seperti warna bunga ini?" Kakek Sihir mengecat Burung Kecil dengan warna kuning yang indah. Burung Kecil menemui Burung Pelatuk. “Lihat, Burung Pelatuk! Aku cantik sekali, kan?” ujarnya. “Tidak, tidak! Aku lebih cantik darimu,” bantah Burung Pelatuk. Burung Kepodang mencoba membuat mereka tenang dan berhenti bertengkar. Tapi, sewaktu mereka bertengkar, warna kuning dari Burung Kecil tercampur dengan warna merah dari Burung Pelatuk. Kepodang menjadi jingga! “Kepodang Jingga! Jingga seperti bulir buah jeruk! Kepodang Jeruk!” burung-burung nuri menggoda Kepodang. Kepodang mengejar mereka dengan marah. “Oh, Kakek Sihir!” seru para nuri, “tolong kami!” “Baiklah, biar aku mengecat kalian dengan warna hijau!" Nuri Hijau pamer warna barunya ke Burung Raja-Udang. “Dari mana kalian dapat warna cantik ini, Nuri?” “Mintalah kepada Kakek Sihir!” kicau mereka. Raja-Udang menyukai warna langit. Kakek Sihir pun mengubahnya menjadi biru. Burung Raja-Udang bertemu Burung Pelatuk. Ketika mereka mengobrol, Burung Merpati jatuh menimpa mereka. “Oh, tidak!" Sedikit merah dari Burung Pelatuk bercampur dengan sedikit biru dari Burung Raja-Udang. Burung Merpati memandangi pulasan ungu di badannya. “Ungu akan tampak cantik di tubuhku,” pikirnya. Ketika Kakek Sihir memberi Burung Merpati warna ungu, semua burung lain bergabung dengannya. Sungguh warna-warna yang indah!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/329459e4-7058-4d8e-bdb5-44a478808f43/Warna-Warna%20Indah.pdf</ref> == referensi == [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Indonesia]] [[Kategori:Cerita pendek]] 9arzizs40q0prfzqda3rw3v7xklqpuf Kurengkuh 2000 Bintang 0 28791 121085 2026-10-18T03:42:18Z Aulia Noor Naima 44064 ←Membuat halaman berisi ' Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_' 121085 wikitext text/x-wiki Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ 3xkgdjchaekk74a87ugogi9bsjaa2ee 121090 121085 2026-10-18T03:46:05Z Aulia Noor Naima 44064 Saya menambahkan gambar 121090 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst in NGC 4449 (captured by the Hubble Space Telescope).jpg|jmpl]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ hutqiy41jgvy512cbigna3u1o8hb9rs 121094 121090 2026-10-18T03:48:44Z Aulia Noor Naima 44064 121094 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst in NGC 4449 (captured by the Hubble Space Telescope).jpg|jmpl]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ 08n4k517s1c9bwhrrkxrqfgwuukd6eh 121095 121094 2026-10-18T03:49:38Z Aulia Noor Naima 44064 121095 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst in NGC 4449 (captured by the Hubble Space Telescope).jpg|jmpl]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ gieq0t975kc2p3udbefmw6zz7m775n9 121096 121095 2026-10-18T03:50:40Z Aulia Noor Naima 44064 121096 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst in NGC 4449 (captured by the Hubble Space Telescope).jpg|jmpl|216x216px]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ 3oryf1wmx0cvj2ul11x8lx901zbz1pb 121108 121096 2026-10-18T03:53:04Z Aulia Noor Naima 44064 121108 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst in NGC 4449 (captured by the Hubble Space Telescope).jpg|jmpl|216x216px|nir]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ rux7u4udl4rr6qo5f5zatj0acyam7wp 121110 121108 2026-10-18T03:54:17Z Aulia Noor Naima 44064 121110 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst_in_NGC_4449_(captured_by_the_Hubble_Space_Telescope).jpg|216x216px]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ 0jh0ib9m53aop55x7oe4xblphl1czbd 121112 121110 2026-10-18T03:54:41Z Aulia Noor Naima 44064 121112 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst_in_NGC_4449_(captured_by_the_Hubble_Space_Telescope).jpg|352x352px]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas<br> memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ s9qn6t5u59jy8itx01rms9zvywldge0 121118 121112 2026-10-18T03:57:09Z Aulia Noor Naima 44064 121118 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Starburst_in_NGC_4449_(captured_by_the_Hubble_Space_Telescope).jpg|352x352px]] Kurengkuh 2000 bintang di balik fajar<br> Betapa aku bermimpi untuk bersatu dengan cintaku Apalah arti segelintir bintang ini<br> ketika manik matamu bebas memandang miliaran kilau lain<br> yang mendekam di kubah sunyi sana Oh, betapa kokohnya tekad ini<br> untuk merengkuh 2000 bintang<br> berserta satu roh, iyalah dirimu -BJM, 14 Okt 2026 Penulis: Aulia Noor Naima<br> Instagram: @aulxchk_ j6h4el0y1vr00tx9352jswrzxsovle0 Anjing dan Kucing 0 28792 121086 2026-10-18T03:42:55Z Malamilai 43778 Membuat buku baru 121086 wikitext text/x-wiki Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si .Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda. 82xfurijmp3l81uw6lridazw5omd5pc 121091 121086 2026-10-18T03:46:20Z Malamilai 43778 Memperbaiki tulisan 121091 wikitext text/x-wiki Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda. hzrhxtx844lfl33cf7o0ahha4cxurf4 121159 121091 2026-10-18T05:25:46Z Malamilai 43778 Menambahkan referensi 121159 wikitext text/x-wiki <gallery> File:Anjing_Penjaga.jpg.jpg|Judul1 File:Cat_November_2010-1a.jpg|Judul2 </gallery> Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda. <ref>[https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf/ Teks pranala], teks tambahan.</ref> k16c6acb9dmmkr960lvz05t4bmdn4u4 121162 121159 2026-10-18T05:27:05Z Malamilai 43778 121162 wikitext text/x-wiki <gallery> File:Anjing_Penjaga.jpg.jpg|Judul1 File:Cat_November_2010-1a.jpg|Judul2 </gallery> Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda. <ref>[https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf/ Teks pranala].</ref> ta90l5sg6mt38dj76y9otfrllx6at7q 121179 121162 2026-10-18T05:30:49Z Malamilai 43778 121179 wikitext text/x-wiki <gallery> Berkas:Cat November 2010-1a.jpg|Kucing </gallery> Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda. <ref>[https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf/ Teks pranala].</ref> <references /> a8lt1x2wzgfizbnlkrfv680v2fcqeg8 121185 121179 2026-10-18T05:34:07Z Malamilai 43778 Memperbaiki referensi dan menambahkan kategori 121185 wikitext text/x-wiki <gallery> Berkas:Cat November 2010-1a.jpg|Kucing </gallery> Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Sastra]] lyx7mjqmk0qb8zgb4r7r95zdpgh1tq2 121222 121185 2026-10-18T05:39:23Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121222 wikitext text/x-wiki <gallery> Berkas:Cat November 2010-1a.jpg|Kucing </gallery> Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Sastra]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] t7vczgbsupgytijlbb28cuqr1r4m7gg 121224 121222 2026-10-18T05:39:32Z Malamilai 43778 added [[Category:Fabel]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121224 wikitext text/x-wiki <gallery> Berkas:Cat November 2010-1a.jpg|Kucing </gallery> Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Sastra]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] 4aougiep4n1vtqlo5a8v0v97i1hbeh6 121226 121224 2026-10-18T05:39:42Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Mini]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121226 wikitext text/x-wiki <gallery> Berkas:Cat November 2010-1a.jpg|Kucing </gallery> Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Sastra]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] [[Kategori:Cerita Mini]] nupvffsog2b4s47h9ngdf9c24my7vsa 121241 121226 2026-10-18T05:43:41Z Malamilai 43778 Menambahkan gambar 121241 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Cat November 2010-1a.jpg|jmpl|Kucing]] [[Berkas:Anjing Penjaga.jpg|jmpl|Anjing]] Anjing dan Kucing berteman akrab. Mereka selalu bersama. Bahkan, mereka tidur di kandang yang sama. Mereka juga selalu makan bersama dengan akrab. Mereka suka leyeh-leyeh bersama di bawah pohon. Kucing selalu merasa aman ketika Anjing berada di dekatnya. Kadang, ada sedikit drama dalam pertemanan mereka. Tapi, mereka selalu berdamai setelahnya. Pada satu hari, si pemilik rumah melihat Kucing memburu Tikus. Pemilik Rumah jadi lebih menyayangi si Kucing. Kini, si Kucing lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tidur di dalam rumah, dan bercanda bersama si pemilik rumah. Anjing rindu pada si Kucing, teman akrabnya. Esok hari, ketika Kucing sedang jalan-jalan, Anjing menghampirinya. Anjing protes karena Kucing sudah tak peduli padanya lagi. Anjing dan Kucing bertengkar. Anjing mengejar Kucing dengan brutal. Hap! Anjing sampai melompat pagar untuk mengejar Kucing sambil menggonggong kencang! Kucing benar-benar takut. Kucing berhasil kabur dan masuk ke dalam rumah. Si Kucing bisa merasa aman, walaupun begitu lelah. Dahulu, Kucing dan Anjing selalu bisa berdamai kembali. Tapi, kali ini sepertinya mereka tak akan bisa berteman akrab seperti dulu. Kini, mereka menyukai hal yang berbeda.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Sastra]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] [[Kategori:Cerita Mini]] r53edi2doykpjrs3wkqx44rc0as8sm3 Dunia Rahasia Sam 0 28793 121093 2026-10-18T03:48:17Z Nursari Mulia 42208 ←Membuat halaman berisi '[[ [[File:Ambigram Magic Dream - mirror symmetry with a handheld pattern giving a reversed shadow on a blue wall.jpg|Ambigram_Magic_Dream_-_mirror_symmetry_with_a_handheld_pattern_giving_a_reversed_shadow_on_a_blue_wall]]|jmpl]] Namaku Sam, umurku sepuluh tahun. Aku tidak suka pergi ke sekolah. Ketika aku sikat gigi, ada ide tiba di kepala. Jika leherku melar sepuluh kali, aku bisa berada di mana? Jika kakiku bisa melar, aku bisa jadi raksasa. Jika aku kekar, ak...' 121093 wikitext text/x-wiki [[ [[File:Ambigram Magic Dream - mirror symmetry with a handheld pattern giving a reversed shadow on a blue wall.jpg|Ambigram_Magic_Dream_-_mirror_symmetry_with_a_handheld_pattern_giving_a_reversed_shadow_on_a_blue_wall]]|jmpl]] Namaku Sam, umurku sepuluh tahun. Aku tidak suka pergi ke sekolah. Ketika aku sikat gigi, ada ide tiba di kepala. Jika leherku melar sepuluh kali, aku bisa berada di mana? Jika kakiku bisa melar, aku bisa jadi raksasa. Jika aku kekar, aku bisa bawa Ibu. Jika gigiku besar, aku bisa makan permen besar sesuka hati. Jika perutku benar-benar bundar, teman-teman dapat melompat. Mereka bisa mental dari perutku. Jika telingaku besar dan lebar, aku dapat dengar apapun. Jika aku berpikir, tapi ibu minta aku ke sekolah. Dari tadi, aku masih sikat gigi. Dunia rahasia tadi cuma ada di kepala. l08856g5kx5stpkrkacz4esmhdt3xet 121117 121093 2026-10-18T03:55:51Z Nursari Mulia 42208 membuat buku baru 121117 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Magician idris floating currency.png|jmpl]] Namaku Sam, umurku sepuluh tahun. Aku tidak suka pergi ke sekolah. Ketika aku sikat gigi, ada ide tiba di kepala. Jika leherku melar sepuluh kali, aku bisa berada di mana? Jika kakiku bisa melar, aku bisa jadi raksasa. Jika aku kekar, aku bisa bawa Ibu. Jika gigiku besar, aku bisa makan permen besar sesuka hati. Jika perutku benar-benar bundar, teman-teman dapat melompat. Mereka bisa mental dari perutku. Jika telingaku besar dan lebar, aku dapat dengar apapun. Jika aku berpikir, tapi ibu minta aku ke sekolah. Dari tadi, aku masih sikat gigi. Dunia rahasia tadi cuma ada di kepala. 9lu95nqy3tex8393pf0zub4pmn6j5je 121168 121117 2026-10-18T05:29:19Z Nursari Mulia 42208 menambah referensi 121168 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Magician idris floating currency.png|jmpl]] Namaku Sam, umurku sepuluh tahun. Aku tidak suka pergi ke sekolah. Ketika aku sikat gigi, ada ide tiba di kepala. Jika leherku melar sepuluh kali, aku bisa berada di mana? Jika kakiku bisa melar, aku bisa jadi raksasa. Jika aku kekar, aku bisa bawa Ibu. Jika gigiku besar, aku bisa makan permen besar sesuka hati. Jika perutku benar-benar bundar, teman-teman dapat melompat. Mereka bisa mental dari perutku. Jika telingaku besar dan lebar, aku dapat dengar apapun. Jika aku berpikir, tapi ibu minta aku ke sekolah. Dari tadi, aku masih sikat gigi. Dunia rahasia tadi cuma ada di kepala.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/2142b10b-96ef-4f80-8c85-a1a0055c34b0/Dunia%20Rahasia%20Sam.pdf</ref> == Referensi == n0luyfr4n9dpv7nrfw0xf8zs2u2pu0e 121228 121168 2026-10-18T05:39:49Z Nursari Mulia 42208 menambah kategori 121228 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Magician idris floating currency.png|jmpl]] Namaku Sam, umurku sepuluh tahun. Aku tidak suka pergi ke sekolah. Ketika aku sikat gigi, ada ide tiba di kepala. Jika leherku melar sepuluh kali, aku bisa berada di mana? Jika kakiku bisa melar, aku bisa jadi raksasa. Jika aku kekar, aku bisa bawa Ibu. Jika gigiku besar, aku bisa makan permen besar sesuka hati. Jika perutku benar-benar bundar, teman-teman dapat melompat. Mereka bisa mental dari perutku. Jika telingaku besar dan lebar, aku dapat dengar apapun. Jika aku berpikir, tapi ibu minta aku ke sekolah. Dari tadi, aku masih sikat gigi. Dunia rahasia tadi cuma ada di kepala.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/2142b10b-96ef-4f80-8c85-a1a0055c34b0/Dunia%20Rahasia%20Sam.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Pendek]] lw9ynux9cy2tn3eqx3pavac52jo9ktr Penjual Topi 0 28794 121102 2026-10-18T03:52:32Z Mia Sulisnawati 39574 Membuat buku baru 121102 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Topi Keren.jpg|jmpl|'''Penjual Topi''']] == Cerita Pendek "Penjual Topi" == Bapak Topi ini penjual topi di desa Setelah berjalan lama, Bapak Topi lelah. Bapak Topi tidur pulas di bawah pohon. Kera turun dari pohon dan melihat lebih dekat. Ada topi di tas Bapak Topi. Kera lalu menari. Tiba-tiba Bapak Topi sadar, dan kera kaget. Bapak Topi marah pada kera Bapak Topi berpikir keras cara ambil topi. Bapak Topi melepas topi dan melempar ke kera. Kera balas melepas topi ke Bapak Topi. Bapak Topi tertawa dan pergi bawa topi. p2z9c7oo3o2e37ohmw2or7kbxthc4ps 121182 121102 2026-10-18T05:33:45Z Mia Sulisnawati 39574 menambah referensi 121182 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Topi Keren.jpg|jmpl|'''Penjual Topi''']] == Cerita Pendek "Penjual Topi" == Bapak Topi ini penjual topi di desa Setelah berjalan lama, Bapak Topi lelah. Bapak Topi tidur pulas di bawah pohon. Kera turun dari pohon dan melihat lebih dekat. Ada topi di tas Bapak Topi. Kera lalu menari. Tiba-tiba Bapak Topi sadar, dan kera kaget. Bapak Topi marah pada kera Bapak Topi berpikir keras cara ambil topi. Bapak Topi melepas topi dan melempar ke kera. Kera balas melepas topi ke Bapak Topi. Bapak Topi tertawa dan pergi bawa topi.<ref>Ananta Prasad Wagle dan Promina Shreshtha, 2024, Penjual Topi, <nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/d05f4d74-05c1-4254-a2f9-e75c50c422b9/Penjual%20Topi.pdf</nowiki>, Bookbot.id</ref> == Referensi == <references /> lqz9hf6ycwox19f8qn7b5dziv6r6ulo 121184 121182 2026-10-18T05:33:58Z Mia Sulisnawati 39574 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121184 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Topi Keren.jpg|jmpl|'''Penjual Topi''']] == Cerita Pendek "Penjual Topi" == Bapak Topi ini penjual topi di desa Setelah berjalan lama, Bapak Topi lelah. Bapak Topi tidur pulas di bawah pohon. Kera turun dari pohon dan melihat lebih dekat. Ada topi di tas Bapak Topi. Kera lalu menari. Tiba-tiba Bapak Topi sadar, dan kera kaget. Bapak Topi marah pada kera Bapak Topi berpikir keras cara ambil topi. Bapak Topi melepas topi dan melempar ke kera. Kera balas melepas topi ke Bapak Topi. Bapak Topi tertawa dan pergi bawa topi.<ref>Ananta Prasad Wagle dan Promina Shreshtha, 2024, Penjual Topi, <nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/d05f4d74-05c1-4254-a2f9-e75c50c422b9/Penjual%20Topi.pdf</nowiki>, Bookbot.id</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] 2wkzp699sg2pcshhle0ayodfy88do0j ISTISQA 0 28795 121103 2026-10-18T03:52:33Z Hilman Gashat 44076 Membuat buku baru 121103 wikitext text/x-wiki ‘Berdering ….’ Teks itu muncul di layar ponsel seorang remaja yang tengah menunggu jawaban dari panggilan tersebut. Sambil menatapnya, ia duduk di atas sajadah yang menghampar di sebuah kamar. Meskipun sekilas terlihat terang, sebenarnya kamar itu hanya diterangi oleh sinar matahari yang memancar dari balik jendela dan memantul di lantai keramik putih. Tidak hanya cahayanya, sinar itu juga membawa teriknya sang surya ke dalam kamar yang pas-pasan itu. Terlihat dari baju kaos tangan pendek yang dikenakan remaja barusan yang sedikit basah akibat keringat di punggungnya. Di luar jendela, tampak pepohonan sedang bergoyang bersama tiupan angin sepoi-sepoi yang mengiringi cuitan burung yang saling bersahutan Cukup lama menunggu, teks ‘berdering’ pun berganti menjadi durasi waktu yang menunjukkan panggilan telah dijawab. “Assalamu'alaikum ka, mama abah mana?” tanya remaja bernama Lidin itu, seraya menempelkan ponsel ke telinga kanannya. “Wa’alaikumsalam, ada ai, nih, lagi bahuma,” suara lelaki yang agak berat menjawab pertanyaan itu, “handak bepandir, kah?” tanyanya balik dari lahan sawah di seberang sana. [[Berkas:Tortuous dirt road in wet paddy fields and green hills in Vang Vieng, Laos.jpg|center|jmpl|Ilustrasi]] “Inggih, handak bekisah, nah,” sahutnya sambil menanggalkan peci yang ia kenakan saat salat dzuhur sebelumnya. “Ma! Si Bungsu handak bepandir nah!” teriak Ikip, kakak laki-laki Lidin, memanggil ibunya yang jauh dari tempatnya berdiri. Ingin sekali ia mengisyaratkan dengan tangan kirinya, sayang organ tubuh satu itu sedang membopong cangkul berlumpur di pundaknya. “Hah! Siapa, Kip!” teriakan ibunya samar-samar terdengar di kuping Lidin. “Si Bungsu, Ma! Lidin!” sahut kakaknya sambil menyalakan loudspeaker. “Halo?” ibunya mengecek ombak setelah Ikip menghadapkan ponsel itu ke arah ibunya. “Assalamu'alaikum, Ma … kyapa habar?” tanya Lidin. Mendengar suara dari sosok yang ia idam-idamkan, senyum bahagia dari wajah mahasiswa semester 5 itu mulai terbentuk perlahan. “Alhamdulillah sehat wal afiat haja mama di kampung, Nak ai. Handak bekisah nang apa tadih jadi nelponi mama?” begitupun dengan ibunya, rasa senangnya terpancar dari nada riang yang ia lontarkan bersamaan dengan kabar baik. “Ini, Ma, nilai ulun. Alhamdulillah bebagus pada semester semalam, tebanyak lah A+ nang ada ni,” jelas Lidin sumringah, “Untung dosennya jua kada pemalar membari nilai,” timpalnya. “Himungnya ai mama mendangar nilai kam bebagus, kada nang isinya C haja baracap,” kabar gembira yang diterima kali ini tidak hanya menumbuhkan rasa bangga, tetapi juga meruntuhkan setiap lelah yang diemban, “UKT pebila bayar? Duit ulanja pang, habis kah?” spontan ibunya penasaran. “Duit ada ja lagi, mun UKT parak ai dah. Baras banar am nang handak habis,” Seketika sang ibu terdiam, lalu saling tatap dengan putra sulungnya yang sedari tadi memegangi telepon genggam, mengingat ada kabar tidak mengenakkan yang tidak boleh sampai ke kuping putra bungsunya di perantauan itu. Telepon pun terasa kosong sesaat, tiada dialog yang mengisi kecuali hembusan angin dari persawahan tempat ibunya memaku. Kekosongan itupun memicu rasa heran Lidin dan membuatnya melanjutkan pembicaraan. “Ma?” “Ah hiih, ee ... Anu, bila apa-apa habari ja lah, nyaman mama anu akan,” bagi Lidin ucapannya terdengar seolah sedang bersandiwara dengan kualitas akting yang di bawah rata-rata, meski begitu, ia menolak untuk berburuk sangka. “Inggih, M--” “Ayja, Nak lah, Mama handak bahuma lagi, nah,” ibunya buru-buru ingin mengakhiri percakapan hangat di tengah teriknya cuaca, “kasian Abah ikam bepaluhan banar tuh di pendopo, Salamu’alaikum.” “Wa’alaikumsa--” Tut … Tut … Tut … Sayang sekali, omongan Lidin harus terpotong oleh kepanikan ibunya yang hampir keceplosan, bahkan sebelum ia mengiyakan kalimat penenang dan penutup itu. Lidin memandangi ponsel dengan kening yang mengerut dan penuh keringat. Ia keheranan, tidak biasanya ibunya gelagapan. Tapi daripada larut dalam kebingungan, Lidin lebih memilih beranjak ke kamar mandi sambil membawa baskom berisi segumpal pakaian kotor untuk dicuci. Di depan baskom yang dipenuhi buih, ia mengucek lembar demi lembar pakaian. Di depannya lagi, sebuah kran berbahan plastik sedang mengalirkan air untuk mengisi bak mandi yang jumlah airnya kurang dari setengah ukuran bak mandi itu. Meski sudah bergaul dengan air, cuaca saat ini tetap mampu melepas keringat hingga membasahi sebagian anggota tubuhnya yang tak tersentuh air. Lidin pun menuju jemuran untuk menjemur cuciannya yang sudah diperas sebelumnya. Setiap dua lembar cucian digantung, punggung tangannya selalu mengelap keringat yang menetes di bawah dagunya. BROOTT!!! Sebuah ledakan gas beracun memenuhi udara di kamar kecil tempat Lidin jongkok sekarang. Tidak hanya bunyinya, bahkan aroma busuknya juga bocor ke luar toilet. Setelah lama berusaha bertahan hidup dalam ruangan tanpa oksigen, Lidin kembali ke jemuran untuk mengambil baskom yang ia tinggalkan akibat buru-buru membuang senyawa kimia berbahaya yang sempat meronta-ronta di dalam perutnya. Belum sampai di jemuran, dari kejauhan di dalam rumah kontrakan itu, ia melihat cucian yang menggantung tampak berhenti meneteskan air, warna gelap yang menjadi penanda basah biasanya pun lenyap seketika. Sambil mengernyitkan jidat ia mempercepat langkah mendekati jemuran dan menyentuh cucian itu satu per satu, memastikan semuanya hanya fatamorgana, tapi nyatanya tidak. Semuanya kering seolah ada yang menyetrikanya di samping lahar gunung merapi. Tidak ada reaksi lain selain garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Hari pun silih berganti, namun cuaca masih sama seperti sebelumnya. Sepulang kuliah, Lidin mendapati bungkus plastik besar berwarna merah di teras. Bungkusan itu berisi beberapa bungkus mi instan, sarden kalengan, dan telur ayam yang dilapisi wadah plastik. Di tengah-tengah tumpukan, Lidin menemukan selembar amplop kertas berwarna putih bertuliskan ‘DUIT ULANJA WAN UKT SEMESTER INI’. “Tumben duitnya ja, rajin wan baras sekarung,” gumamnya sambil membuka-buka isi amplop, terlihat isinya beberapa lembar rupiah berwarna biru, “Ah, biar am, asal ada ha,” sambil mengantongi amplop itu lalu melepas sepatunya. Senyum di wajahnya pun perlahan terukir setelah ia menerima rezeki usai melewati perkuliahan 5 jam non-stop. “Paling kena nyusul ai,” seraya melangkah ke dalam dengan membawa bungkusan itu, Lidin berusaha berprasangka baik dengan situasi buruk yang tanpa ia ketahui tengah menghadangnya. Waktu ke waktu, stok makanan Lidin mulai menipis, namun ia tidak takut dengan mi instan maupun sarden yang hampir habis, melainkan dengan sekarung kecil beras yang sebelumnya penuh kini tersisa kurang dari sepuluh mug. Beberapa minggu kemudian, sepulang kuliah Lidin tidak langsung melangkah ke dalam rumah, ia berdiri di ambang pintu sejenak sambil menggulirkan layar ponselnya. Ia mencari kontak yang biasanya dihubungi jika menyangkut urusan perut, yaitu kakaknya. “Assalamu'alaikum, Ka, mama abah mana?” Lidin membuka percakapan setelah teleponnya diangkat. “Wa'alaikumsalam, ada ai, tuh,” sahut pria yang memiliki selisih brojol tujuh tahun dengannya. “Baras ulun sudah dikirim kah, Ka?” Mendengar pertanyaan bernada kekhawatiran dari satu-satunya saudara, Ikip menghela nafas sesaat. Ada breaking news yang harus ia sampaikan sekarang kepada Si Bungsu. “Kyini, Din, ai ... Tahun ini pahumaan lagi kada baik, jadi mama abah kada kawa ngirimi ikam baras dulu.” Ikip kembali menarik nafas sejenak, namun Lidin langsung menyela. “Imbah tu pang ulun kyapa? Pian tau sorang lho ulun kada kawa makan selain baras rumah,” “Hiih tahu… Ikam garing gara-gara makan selain baras rumah nang bepengawet wan pemutih gin tahu… Tapi nang ngarannya musibah kada kawa ai, musim panas manggantang kyini iwak karing gin benaung, maginnya ai banih. Karing lalu. Gunung fuji nang di Jepang tu, nah, nang suhunya dingin tu, tahun ini ja saljunya telambat! Maginnya ai kita urang banjar nang mataharinya sebuting sorang!” Mulut Ikip seakan berbuih membacakan deskripsi panjang lebar kepada adiknya yang kini krisis bahan pokok. Si Bungsu menghela nafas berat nan panjang. “Besabar ai dulu, bawa sembahyang istisqa kah, aku gin di sini menggawinya jua,” sambungnya. Lidin terperanjat, alisnya naik sebelah. BYUR … BYUR … BYURR … Suara percikan air terdengar menggema di tempat biasa Lidin berwudhu. Sambil bersiap untuk shalat Istisqa, ia mengingat-ingat kembali percakapan dengan putra sulung di telepon sebelumnya. “Sembahyang Istisqa'? Kyapa tuh?” tanyanya penasaran, ini pertama kalinya ia mendengar nama ibadah itu. “Ituuu sembahyang minta hujan,” Lidin menghamparkan sajadahnya menghadap kiblat. “Emm … Kyapa bacaannya?” Lidin memposisikan kedua kaki agar sejajar dengan bahunya. “Bacaannya ….” “Ushalli sunnatal istisqa'i, rak'ataini lillahi ta'ala,” gestur mulut Lidin membaca niat yang sama itu beriringan dengan ucapan yang diajarkan Ikip. “Alla … hu akbar,” Lidin mengangkat takbir “Hmmmm ….” “Sembahyangnya kaya sembahyang sunah rajin ai, 2 raka'at ja, paling betambah takbir banar am, 7 kali takbir pas raka'at pertama, 5 kali takbir pas raka'at kedua, imbahnya banyaki beistighfar ai lagi, sambil bedoa mudahan turun hujan di pahumaan,” jelas Ikip. Lidin tampak mengangkat takbir beberapa kali. “Jangan kada ingat jua, pakai baju buruk rahatan sembahyang tu,” tambahnya. “Baju buruk? Sah gerang mun kyitu?” Lidin keheranan. “Malahan itu lagi sunahnya, tapi baju buruknya nang masih layak lah, jangan nang rabit muka belakang,” “Ohh ….” Di setiap gerakan shalatnya, sarung dan baju yang Lidin kenakan tak pernah sama, selalu berganti. Begitupun dengan kalender yang menjadi saksi bahwa ia melakukan shalat ini rutin setiap hari. Hingga di suatu sore, bertepatan dengan Lidin yang baru pulang dari kampus, ia melihat beberapa genangan air di pinggir aspal yang gelap dan lembab karena basah. Hari itu hembusan angin terasa lebih dingin dari biasanya, namun ia tak menyangka akan turunnya hujan deras di sekitar kontrakannya. Ia pun berharap semoga permohonannya disetujui oleh sang pemilik semesta. Tak lama kemudian, ponsel andalannya berdering di saku celananya. Sontak ia mengambilnya dan melihat layarnya yang menampilkan nama kontak ‘Ka Ikip’. “Assalamu’alaikum, Din!” Lidin mengangkatnya dan langsung menaruhnya ke telinga kanan, “Alhamdulillah! Hujan daras, nah!” ia mendengarnya, suara atap seng yang diguyur miliaran tetesan air dari langit, petir yang menggelegar, juga rasa syukur dengan nada yang penuh semangat dari Ikip. Semuanya mengisyaratkan kabar gembira yang dibawakan sang kakak dari kampung halaman. Setiap doa dan harapan yang selama ini senantiasa ia panjatkan pun tak berakhir sia-sia. Senyum Lidin perlahan menyeringai lebar. – SELESAI – phez5gmqjdemoz6obcqjtu114cm76ht 121225 121103 2026-10-18T05:39:39Z Hilman Gashat 44076 Penambahan kategori 121225 wikitext text/x-wiki ‘Berdering ….’ Teks itu muncul di layar ponsel seorang remaja yang tengah menunggu jawaban dari panggilan tersebut. Sambil menatapnya, ia duduk di atas sajadah yang menghampar di sebuah kamar. Meskipun sekilas terlihat terang, sebenarnya kamar itu hanya diterangi oleh sinar matahari yang memancar dari balik jendela dan memantul di lantai keramik putih. Tidak hanya cahayanya, sinar itu juga membawa teriknya sang surya ke dalam kamar yang pas-pasan itu. Terlihat dari baju kaos tangan pendek yang dikenakan remaja barusan yang sedikit basah akibat keringat di punggungnya. Di luar jendela, tampak pepohonan sedang bergoyang bersama tiupan angin sepoi-sepoi yang mengiringi cuitan burung yang saling bersahutan Cukup lama menunggu, teks ‘berdering’ pun berganti menjadi durasi waktu yang menunjukkan panggilan telah dijawab. “Assalamu'alaikum ka, mama abah mana?” tanya remaja bernama Lidin itu, seraya menempelkan ponsel ke telinga kanannya. “Wa’alaikumsalam, ada ai, nih, lagi bahuma,” suara lelaki yang agak berat menjawab pertanyaan itu, “handak bepandir, kah?” tanyanya balik dari lahan sawah di seberang sana. [[Berkas:Tortuous dirt road in wet paddy fields and green hills in Vang Vieng, Laos.jpg|center|jmpl|Ilustrasi]] “Inggih, handak bekisah, nah,” sahutnya sambil menanggalkan peci yang ia kenakan saat salat dzuhur sebelumnya. “Ma! Si Bungsu handak bepandir nah!” teriak Ikip, kakak laki-laki Lidin, memanggil ibunya yang jauh dari tempatnya berdiri. Ingin sekali ia mengisyaratkan dengan tangan kirinya, sayang organ tubuh satu itu sedang membopong cangkul berlumpur di pundaknya. “Hah! Siapa, Kip!” teriakan ibunya samar-samar terdengar di kuping Lidin. “Si Bungsu, Ma! Lidin!” sahut kakaknya sambil menyalakan loudspeaker. “Halo?” ibunya mengecek ombak setelah Ikip menghadapkan ponsel itu ke arah ibunya. “Assalamu'alaikum, Ma … kyapa habar?” tanya Lidin. Mendengar suara dari sosok yang ia idam-idamkan, senyum bahagia dari wajah mahasiswa semester 5 itu mulai terbentuk perlahan. “Alhamdulillah sehat wal afiat haja mama di kampung, Nak ai. Handak bekisah nang apa tadih jadi nelponi mama?” begitupun dengan ibunya, rasa senangnya terpancar dari nada riang yang ia lontarkan bersamaan dengan kabar baik. “Ini, Ma, nilai ulun. Alhamdulillah bebagus pada semester semalam, tebanyak lah A+ nang ada ni,” jelas Lidin sumringah, “Untung dosennya jua kada pemalar membari nilai,” timpalnya. “Himungnya ai mama mendangar nilai kam bebagus, kada nang isinya C haja baracap,” kabar gembira yang diterima kali ini tidak hanya menumbuhkan rasa bangga, tetapi juga meruntuhkan setiap lelah yang diemban, “UKT pebila bayar? Duit ulanja pang, habis kah?” spontan ibunya penasaran. “Duit ada ja lagi, mun UKT parak ai dah. Baras banar am nang handak habis,” Seketika sang ibu terdiam, lalu saling tatap dengan putra sulungnya yang sedari tadi memegangi telepon genggam, mengingat ada kabar tidak mengenakkan yang tidak boleh sampai ke kuping putra bungsunya di perantauan itu. Telepon pun terasa kosong sesaat, tiada dialog yang mengisi kecuali hembusan angin dari persawahan tempat ibunya memaku. Kekosongan itupun memicu rasa heran Lidin dan membuatnya melanjutkan pembicaraan. “Ma?” “Ah hiih, ee ... Anu, bila apa-apa habari ja lah, nyaman mama anu akan,” bagi Lidin ucapannya terdengar seolah sedang bersandiwara dengan kualitas akting yang di bawah rata-rata, meski begitu, ia menolak untuk berburuk sangka. “Inggih, M--” “Ayja, Nak lah, Mama handak bahuma lagi, nah,” ibunya buru-buru ingin mengakhiri percakapan hangat di tengah teriknya cuaca, “kasian Abah ikam bepaluhan banar tuh di pendopo, Salamu’alaikum.” “Wa’alaikumsa--” Tut … Tut … Tut … Sayang sekali, omongan Lidin harus terpotong oleh kepanikan ibunya yang hampir keceplosan, bahkan sebelum ia mengiyakan kalimat penenang dan penutup itu. Lidin memandangi ponsel dengan kening yang mengerut dan penuh keringat. Ia keheranan, tidak biasanya ibunya gelagapan. Tapi daripada larut dalam kebingungan, Lidin lebih memilih beranjak ke kamar mandi sambil membawa baskom berisi segumpal pakaian kotor untuk dicuci. Di depan baskom yang dipenuhi buih, ia mengucek lembar demi lembar pakaian. Di depannya lagi, sebuah kran berbahan plastik sedang mengalirkan air untuk mengisi bak mandi yang jumlah airnya kurang dari setengah ukuran bak mandi itu. Meski sudah bergaul dengan air, cuaca saat ini tetap mampu melepas keringat hingga membasahi sebagian anggota tubuhnya yang tak tersentuh air. Lidin pun menuju jemuran untuk menjemur cuciannya yang sudah diperas sebelumnya. Setiap dua lembar cucian digantung, punggung tangannya selalu mengelap keringat yang menetes di bawah dagunya. BROOTT!!! Sebuah ledakan gas beracun memenuhi udara di kamar kecil tempat Lidin jongkok sekarang. Tidak hanya bunyinya, bahkan aroma busuknya juga bocor ke luar toilet. Setelah lama berusaha bertahan hidup dalam ruangan tanpa oksigen, Lidin kembali ke jemuran untuk mengambil baskom yang ia tinggalkan akibat buru-buru membuang senyawa kimia berbahaya yang sempat meronta-ronta di dalam perutnya. Belum sampai di jemuran, dari kejauhan di dalam rumah kontrakan itu, ia melihat cucian yang menggantung tampak berhenti meneteskan air, warna gelap yang menjadi penanda basah biasanya pun lenyap seketika. Sambil mengernyitkan jidat ia mempercepat langkah mendekati jemuran dan menyentuh cucian itu satu per satu, memastikan semuanya hanya fatamorgana, tapi nyatanya tidak. Semuanya kering seolah ada yang menyetrikanya di samping lahar gunung merapi. Tidak ada reaksi lain selain garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Hari pun silih berganti, namun cuaca masih sama seperti sebelumnya. Sepulang kuliah, Lidin mendapati bungkus plastik besar berwarna merah di teras. Bungkusan itu berisi beberapa bungkus mi instan, sarden kalengan, dan telur ayam yang dilapisi wadah plastik. Di tengah-tengah tumpukan, Lidin menemukan selembar amplop kertas berwarna putih bertuliskan ‘DUIT ULANJA WAN UKT SEMESTER INI’. “Tumben duitnya ja, rajin wan baras sekarung,” gumamnya sambil membuka-buka isi amplop, terlihat isinya beberapa lembar rupiah berwarna biru, “Ah, biar am, asal ada ha,” sambil mengantongi amplop itu lalu melepas sepatunya. Senyum di wajahnya pun perlahan terukir setelah ia menerima rezeki usai melewati perkuliahan 5 jam non-stop. “Paling kena nyusul ai,” seraya melangkah ke dalam dengan membawa bungkusan itu, Lidin berusaha berprasangka baik dengan situasi buruk yang tanpa ia ketahui tengah menghadangnya. Waktu ke waktu, stok makanan Lidin mulai menipis, namun ia tidak takut dengan mi instan maupun sarden yang hampir habis, melainkan dengan sekarung kecil beras yang sebelumnya penuh kini tersisa kurang dari sepuluh mug. Beberapa minggu kemudian, sepulang kuliah Lidin tidak langsung melangkah ke dalam rumah, ia berdiri di ambang pintu sejenak sambil menggulirkan layar ponselnya. Ia mencari kontak yang biasanya dihubungi jika menyangkut urusan perut, yaitu kakaknya. “Assalamu'alaikum, Ka, mama abah mana?” Lidin membuka percakapan setelah teleponnya diangkat. “Wa'alaikumsalam, ada ai, tuh,” sahut pria yang memiliki selisih brojol tujuh tahun dengannya. “Baras ulun sudah dikirim kah, Ka?” Mendengar pertanyaan bernada kekhawatiran dari satu-satunya saudara, Ikip menghela nafas sesaat. Ada breaking news yang harus ia sampaikan sekarang kepada Si Bungsu. “Kyini, Din, ai ... Tahun ini pahumaan lagi kada baik, jadi mama abah kada kawa ngirimi ikam baras dulu.” Ikip kembali menarik nafas sejenak, namun Lidin langsung menyela. “Imbah tu pang ulun kyapa? Pian tau sorang lho ulun kada kawa makan selain baras rumah,” “Hiih tahu… Ikam garing gara-gara makan selain baras rumah nang bepengawet wan pemutih gin tahu… Tapi nang ngarannya musibah kada kawa ai, musim panas manggantang kyini iwak karing gin benaung, maginnya ai banih. Karing lalu. Gunung fuji nang di Jepang tu, nah, nang suhunya dingin tu, tahun ini ja saljunya telambat! Maginnya ai kita urang banjar nang mataharinya sebuting sorang!” Mulut Ikip seakan berbuih membacakan deskripsi panjang lebar kepada adiknya yang kini krisis bahan pokok. Si Bungsu menghela nafas berat nan panjang. “Besabar ai dulu, bawa sembahyang istisqa kah, aku gin di sini menggawinya jua,” sambungnya. Lidin terperanjat, alisnya naik sebelah. BYUR … BYUR … BYURR … Suara percikan air terdengar menggema di tempat biasa Lidin berwudhu. Sambil bersiap untuk shalat Istisqa, ia mengingat-ingat kembali percakapan dengan putra sulung di telepon sebelumnya. “Sembahyang Istisqa'? Kyapa tuh?” tanyanya penasaran, ini pertama kalinya ia mendengar nama ibadah itu. “Ituuu sembahyang minta hujan,” Lidin menghamparkan sajadahnya menghadap kiblat. “Emm … Kyapa bacaannya?” Lidin memposisikan kedua kaki agar sejajar dengan bahunya. “Bacaannya ….” “Ushalli sunnatal istisqa'i, rak'ataini lillahi ta'ala,” gestur mulut Lidin membaca niat yang sama itu beriringan dengan ucapan yang diajarkan Ikip. “Alla … hu akbar,” Lidin mengangkat takbir “Hmmmm ….” “Sembahyangnya kaya sembahyang sunah rajin ai, 2 raka'at ja, paling betambah takbir banar am, 7 kali takbir pas raka'at pertama, 5 kali takbir pas raka'at kedua, imbahnya banyaki beistighfar ai lagi, sambil bedoa mudahan turun hujan di pahumaan,” jelas Ikip. Lidin tampak mengangkat takbir beberapa kali. “Jangan kada ingat jua, pakai baju buruk rahatan sembahyang tu,” tambahnya. “Baju buruk? Sah gerang mun kyitu?” Lidin keheranan. “Malahan itu lagi sunahnya, tapi baju buruknya nang masih layak lah, jangan nang rabit muka belakang,” “Ohh ….” Di setiap gerakan shalatnya, sarung dan baju yang Lidin kenakan tak pernah sama, selalu berganti. Begitupun dengan kalender yang menjadi saksi bahwa ia melakukan shalat ini rutin setiap hari. Hingga di suatu sore, bertepatan dengan Lidin yang baru pulang dari kampus, ia melihat beberapa genangan air di pinggir aspal yang gelap dan lembab karena basah. Hari itu hembusan angin terasa lebih dingin dari biasanya, namun ia tak menyangka akan turunnya hujan deras di sekitar kontrakannya. Ia pun berharap semoga permohonannya disetujui oleh sang pemilik semesta. Tak lama kemudian, ponsel andalannya berdering di saku celananya. Sontak ia mengambilnya dan melihat layarnya yang menampilkan nama kontak ‘Ka Ikip’. “Assalamu’alaikum, Din!” Lidin mengangkatnya dan langsung menaruhnya ke telinga kanan, “Alhamdulillah! Hujan daras, nah!” ia mendengarnya, suara atap seng yang diguyur miliaran tetesan air dari langit, petir yang menggelegar, juga rasa syukur dengan nada yang penuh semangat dari Ikip. Semuanya mengisyaratkan kabar gembira yang dibawakan sang kakak dari kampung halaman. Setiap doa dan harapan yang selama ini senantiasa ia panjatkan pun tak berakhir sia-sia. Senyum Lidin perlahan menyeringai lebar. – SELESAI – [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Indonesia]] [[Kategori:Cerpen slice of life]] [[Kategori:Cerita Pendek]] ese55eqw7p06u68gw3mixlviaafy8dg Buah Manjur Siluman Hambayang 0 28796 121104 2026-10-18T03:52:34Z Riky Mandai 41791 Membuat buku baru 121104 wikitext text/x-wiki [[Berkas:MET 2015 441 1 F.jpg|jmpl|508x508px|'''MET 2015 441 1 F.jpg''']] = Buah Manjur Siluman Hambayang = Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang makmur bernama Kerajaan Puspa Langit, hiduplah seorang raja yang terkenal kaya raya dan berkuasa. Baginda memiliki istana megah, emas bertumpuk, serta prajurit yang setia menjaga setiap sudut kerajaan. Namun, di balik kemewahannya, baginda menyimpan satu kegelisahan. Dia ingin menemukan kekayaan yang tak akan pernah habis hingga tujuh turunan. Suatu hari, seorang pengembara tua datang menghadap ke istana. Jubahnya lusuh, tongkatnya bengkok, tetapi matanya memancarkan cahaya misterius. ''“Ampun, Baginda,”'' ucap pengembara itu sambil bersujud. ''“Hamba membawa kabar tentang sebuah buah sakti yang tersembunyi di Hutan Hambayang. Namanya Buah Manjur Siluman Hambayang, buah simalakama yang konon menjadi ampunnya baginda.”'' Mendengar perkataan itu, baginda langsung bangkit dari singgasananya. ''“Duhai tuturan pengembara entah berantah, buah apakah itu?”'' tanya baginda dengan penuh rasa ingin tahu. Pengembara tua menjawab, ''“Jika mereka memakannya, kaya terjamin tujuh turunan. Hilir perlahan... harta mengalir tanpa henti, emas memenuhi gudang, dan keturunan tak akan mengenal kemiskinan.”'' Mata baginda berbinar-binar. Tanpa berpikir panjang, ia memerintahkan panglima kerajaan untuk mengumpulkan para prajurit terbaik dan segera berangkat menuju Hutan Hambayang. == Rahasia di Balik Buah Sakti == Hutan Hambayang bukanlah hutan biasa. Pepohonannya menjulang tinggi, kabutnya tak pernah benar-benar menghilang, dan suara-suara aneh terdengar dari balik semak-semak. Konon, hutan itu dijaga oleh siluman yang mampu menjelma menjadi manusia, hewan, bahkan benda mati. Setelah berjalan selama tiga hari tiga malam, rombongan baginda akhirnya menemukan sebuah pohon besar dengan batang berwarna hitam keperakan. Di antara dedaunannya bergelantungan buah-buah berwarna merah keemasan yang memancarkan cahaya lembut. ''“Itulah Buah Manjur Siluman Hambayang!”'' seru sang pengembara. Baginda segera mendekati pohon itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh salah satu buah, terdengar suara menggelegar dari segala penjuru. ''“Berhenti, wahai manusia yang dikuasai keserakahan!”'' Tiba-tiba muncul sesosok makhluk tinggi berjubah hitam. Wajahnya menyerupai manusia, tetapi matanya menyala seperti bara api. ''“Aku adalah Penjaga Buah Hambayang. Siapa pun yang ingin memakan buah ini harus menjawab satu pertanyaan,”'' katanya. Baginda menelan ludah, lalu menjawab dengan angkuh'', “Katakanlah! Aku seorang raja. Tak ada pertanyaan yang tak mampu kujawab.”'' ''Sang siluman tersenyum tipis.'' ''“Jika buah ini benar-benar menjamin kekayaan tujuh turunan, tetapi setiap buah yang dimakan akan menghilangkan rasa kasih sayang dalam hati, apakah engkau tetap ingin memakannya?”'' Baginda terdiam. Ia membayangkan istananya yang semakin megah, gudangnya yang dipenuhi emas, serta keturunannya yang hidup dalam kemewahan. Namun, ia juga teringat wajah permaisuri dan anak-anaknya yang selalu menyambutnya dengan senyum tulus. Untuk pertama kalinya, baginda merasa takut kehilangan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan emas. == Buah Simalakama == ''“Bukankah engkau mengatakan bahwa buah ini membuat pemakannya kaya tujuh turunan?”'' tanya baginda. ''“Benar,”'' jawab siluman. ''“Namun, kekayaan tanpa kasih sayang akan melahirkan keserakahan. Anak-anakmu mungkin mewarisi emas, tetapi mereka akan kehilangan kebahagiaan. Mereka akan saling berebut warisan, mengkhianati saudara, bahkan melupakan orang tua mereka sendiri.”'' Sang siluman mengangkat tangannya. Seketika, di hadapan baginda muncul bayangan masa depan. Ia melihat keturunannya tinggal di istana megah, tetapi saling bermusuhan. Kakak mengusir adik, saudara mengkhianati saudara, dan setiap orang hanya memikirkan harta warisan. Baginda tersentak. Keringat dingin membasahi dahinya. ''“Jadi, inilah buah simalakama,”'' gumamnya. ''“Dimakan membawa petaka, tidak dimakan membuatku kehilangan kesempatan menjadi kaya raya.”'' ''“Bukan buahnya yang menentukan nasibmu, wahai Baginda,”'' kata siluman''. “Melainkan pilihan dan niat dalam hatimu.”'' Baginda menundukkan kepala. Setelah sekian lama mengejar kekayaan, akhirnya ia menyadari bahwa keinginannya telah membuatnya lupa akan tanggung jawab sebagai seorang raja. ''“Aku tidak akan memakan buah ini,”'' putusnya. ''“Lebih baik rakyatku hidup berkecukupan dan keluargaku saling menyayangi daripada keturunanku bergelimang emas tetapi kehilangan hati nurani.”'' Mendengar keputusan itu, siluman tertawa lembut. Cahaya keemasan menyelimuti seluruh hutan, dan sosoknya perlahan berubah menjadi seorang lelaki tua berpakaian putih. ''“Engkau telah lulus ujian, Baginda. Kekayaan sejati bukanlah harta yang diwariskan tanpa batas, melainkan kebijaksanaan yang ditanamkan dari generasi ke generasi.”'' Pohon Hambayang kemudian menjatuhkan beberapa buahnya. Namun, buah-buah itu tidak lagi berwarna merah keemasan. Semuanya berubah menjadi benih kecil berwarna hijau. ''“Bawalah benih ini ke negerimu. Tanamlah di setiap desa. Buahnya tidak akan membuat seseorang kaya dalam semalam, tetapi jika dirawat dengan kerja keras, kejujuran, dan kebersamaan, hasilnya akan mencukupi kehidupan banyak orang.”'' Baginda menerima benih-benih itu dengan penuh hormat. == Kekayaan Tujuh Turunan == Setibanya di kerajaan, baginda memerintahkan agar benih Hambayang ditanam di seluruh wilayah. Ia membangun lumbung pangan, membuka ladang, memperbaiki saluran air, serta mengajarkan rakyatnya berdagang dengan jujur. Ia juga mengubah aturan kerajaan agar kekayaan tidak hanya menumpuk di istana, tetapi dapat membantu rakyat yang membutuhkan. Tahun demi tahun berlalu. Kerajaan Puspa Langit semakin makmur. Anak-anak tumbuh dengan pendidikan yang baik, para petani menikmati hasil panen, dan para pedagang memperoleh keuntungan dari usaha yang jujur. Ketika putra mahkota bertanya mengapa ayahnya dahulu menolak Buah Manjur Siluman Hambayang, baginda tersenyum. ''“Anakku, jika kita hanya mewariskan emas, suatu hari emas itu akan habis. Namun, jika kita mewariskan ilmu, kejujuran, dan kasih sayang, kekayaan itu dapat bertahan hingga tujuh turunan, bahkan lebih.”'' Sejak saat itu, kisah Buah Manjur Siluman Hambayang menjadi legenda yang diceritakan dari generasi ke generasi. Orang-orang percaya bahwa buah simalakama itu benar-benar ada, tersembunyi di Hutan Hambayang. Namun, hanya mereka yang mampu mengalahkan keserakahan dalam diri... yang dapat memahami rahasia sesungguhnya. === '''Pesan moral''' === Kekayaan sejati tidak semata-mata berasal dari harta benda, tetapi dari kerja keras, kebijaksanaan, dan nilai-nilai baik yang diwariskan kepada keturunan. Sebab, ''harta dapat habis dalam sekejap, sedangkan budi pekerti yang baik mampu menghidupi tujuh turunan.'' o934ocqm37psx74rsjn5n6aueq22ly1 121116 121104 2026-10-18T03:55:33Z Riky Mandai 41791 Membuat buku baru 121116 wikitext text/x-wiki [[Berkas:MET 2015 441 1 F.jpg|jmpl|508x508px|'''MET 2015 441 1 F.jpg''']] === Cerpen Anak - Bab 1 === Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang makmur bernama Kerajaan Puspa Langit, hiduplah seorang raja yang terkenal kaya raya dan berkuasa. Baginda memiliki istana megah, emas bertumpuk, serta prajurit yang setia menjaga setiap sudut kerajaan. Namun, di balik kemewahannya, baginda menyimpan satu kegelisahan. Dia ingin menemukan kekayaan yang tak akan pernah habis hingga tujuh turunan. Suatu hari, seorang pengembara tua datang menghadap ke istana. Jubahnya lusuh, tongkatnya bengkok, tetapi matanya memancarkan cahaya misterius. ''“Ampun, Baginda,”'' ucap pengembara itu sambil bersujud. ''“Hamba membawa kabar tentang sebuah buah sakti yang tersembunyi di Hutan Hambayang. Namanya Buah Manjur Siluman Hambayang, buah simalakama yang konon menjadi ampunnya baginda.”'' Mendengar perkataan itu, baginda langsung bangkit dari singgasananya. ''“Duhai tuturan pengembara entah berantah, buah apakah itu?”'' tanya baginda dengan penuh rasa ingin tahu. Pengembara tua menjawab, ''“Jika mereka memakannya, kaya terjamin tujuh turunan. Hilir perlahan... harta mengalir tanpa henti, emas memenuhi gudang, dan keturunan tak akan mengenal kemiskinan.”'' Mata baginda berbinar-binar. Tanpa berpikir panjang, ia memerintahkan panglima kerajaan untuk mengumpulkan para prajurit terbaik dan segera berangkat menuju Hutan Hambayang. == Rahasia di Balik Buah Sakti == Hutan Hambayang bukanlah hutan biasa. Pepohonannya menjulang tinggi, kabutnya tak pernah benar-benar menghilang, dan suara-suara aneh terdengar dari balik semak-semak. Konon, hutan itu dijaga oleh siluman yang mampu menjelma menjadi manusia, hewan, bahkan benda mati. Setelah berjalan selama tiga hari tiga malam, rombongan baginda akhirnya menemukan sebuah pohon besar dengan batang berwarna hitam keperakan. Di antara dedaunannya bergelantungan buah-buah berwarna merah keemasan yang memancarkan cahaya lembut. ''“Itulah Buah Manjur Siluman Hambayang!”'' seru sang pengembara. Baginda segera mendekati pohon itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh salah satu buah, terdengar suara menggelegar dari segala penjuru. ''“Berhenti, wahai manusia yang dikuasai keserakahan!”'' Tiba-tiba muncul sesosok makhluk tinggi berjubah hitam. Wajahnya menyerupai manusia, tetapi matanya menyala seperti bara api. ''“Aku adalah Penjaga Buah Hambayang. Siapa pun yang ingin memakan buah ini harus menjawab satu pertanyaan,”'' katanya. Baginda menelan ludah, lalu menjawab dengan angkuh'', “Katakanlah! Aku seorang raja. Tak ada pertanyaan yang tak mampu kujawab.”'' ''Sang siluman tersenyum tipis.'' ''“Jika buah ini benar-benar menjamin kekayaan tujuh turunan, tetapi setiap buah yang dimakan akan menghilangkan rasa kasih sayang dalam hati, apakah engkau tetap ingin memakannya?”'' Baginda terdiam. Ia membayangkan istananya yang semakin megah, gudangnya yang dipenuhi emas, serta keturunannya yang hidup dalam kemewahan. Namun, ia juga teringat wajah permaisuri dan anak-anaknya yang selalu menyambutnya dengan senyum tulus. Untuk pertama kalinya, baginda merasa takut kehilangan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan emas. == Buah Simalakama == ''“Bukankah engkau mengatakan bahwa buah ini membuat pemakannya kaya tujuh turunan?”'' tanya baginda. ''“Benar,”'' jawab siluman. ''“Namun, kekayaan tanpa kasih sayang akan melahirkan keserakahan. Anak-anakmu mungkin mewarisi emas, tetapi mereka akan kehilangan kebahagiaan. Mereka akan saling berebut warisan, mengkhianati saudara, bahkan melupakan orang tua mereka sendiri.”'' Sang siluman mengangkat tangannya. Seketika, di hadapan baginda muncul bayangan masa depan. Ia melihat keturunannya tinggal di istana megah, tetapi saling bermusuhan. Kakak mengusir adik, saudara mengkhianati saudara, dan setiap orang hanya memikirkan harta warisan. Baginda tersentak. Keringat dingin membasahi dahinya. ''“Jadi, inilah buah simalakama,”'' gumamnya. ''“Dimakan membawa petaka, tidak dimakan membuatku kehilangan kesempatan menjadi kaya raya.”'' ''“Bukan buahnya yang menentukan nasibmu, wahai Baginda,”'' kata siluman''. “Melainkan pilihan dan niat dalam hatimu.”'' Baginda menundukkan kepala. Setelah sekian lama mengejar kekayaan, akhirnya ia menyadari bahwa keinginannya telah membuatnya lupa akan tanggung jawab sebagai seorang raja. ''“Aku tidak akan memakan buah ini,”'' putusnya. ''“Lebih baik rakyatku hidup berkecukupan dan keluargaku saling menyayangi daripada keturunanku bergelimang emas tetapi kehilangan hati nurani.”'' Mendengar keputusan itu, siluman tertawa lembut. Cahaya keemasan menyelimuti seluruh hutan, dan sosoknya perlahan berubah menjadi seorang lelaki tua berpakaian putih. ''“Engkau telah lulus ujian, Baginda. Kekayaan sejati bukanlah harta yang diwariskan tanpa batas, melainkan kebijaksanaan yang ditanamkan dari generasi ke generasi.”'' Pohon Hambayang kemudian menjatuhkan beberapa buahnya. Namun, buah-buah itu tidak lagi berwarna merah keemasan. Semuanya berubah menjadi benih kecil berwarna hijau. ''“Bawalah benih ini ke negerimu. Tanamlah di setiap desa. Buahnya tidak akan membuat seseorang kaya dalam semalam, tetapi jika dirawat dengan kerja keras, kejujuran, dan kebersamaan, hasilnya akan mencukupi kehidupan banyak orang.”'' Baginda menerima benih-benih itu dengan penuh hormat. == Kekayaan Tujuh Turunan == Setibanya di kerajaan, baginda memerintahkan agar benih Hambayang ditanam di seluruh wilayah. Ia membangun lumbung pangan, membuka ladang, memperbaiki saluran air, serta mengajarkan rakyatnya berdagang dengan jujur. Ia juga mengubah aturan kerajaan agar kekayaan tidak hanya menumpuk di istana, tetapi dapat membantu rakyat yang membutuhkan. Tahun demi tahun berlalu. Kerajaan Puspa Langit semakin makmur. Anak-anak tumbuh dengan pendidikan yang baik, para petani menikmati hasil panen, dan para pedagang memperoleh keuntungan dari usaha yang jujur. Ketika putra mahkota bertanya mengapa ayahnya dahulu menolak Buah Manjur Siluman Hambayang, baginda tersenyum. ''“Anakku, jika kita hanya mewariskan emas, suatu hari emas itu akan habis. Namun, jika kita mewariskan ilmu, kejujuran, dan kasih sayang, kekayaan itu dapat bertahan hingga tujuh turunan, bahkan lebih.”'' Sejak saat itu, kisah Buah Manjur Siluman Hambayang menjadi legenda yang diceritakan dari generasi ke generasi. Orang-orang percaya bahwa buah simalakama itu benar-benar ada, tersembunyi di Hutan Hambayang. Namun, hanya mereka yang mampu mengalahkan keserakahan dalam diri... yang dapat memahami rahasia sesungguhnya. === '''Pesan moral''' === Kekayaan sejati tidak semata-mata berasal dari harta benda, tetapi dari kerja keras, kebijaksanaan, dan nilai-nilai baik yang diwariskan kepada keturunan. Sebab, ''harta dapat habis dalam sekejap, sedangkan budi pekerti yang baik mampu menghidupi tujuh turunan.'' 6ns1is47p40gjlzgc12wum4264ormpv 121217 121116 2026-10-18T05:38:50Z Riky Mandai 41791 menambahkan kategori 121217 wikitext text/x-wiki [[Berkas:MET 2015 441 1 F.jpg|jmpl|508x508px|'''MET 2015 441 1 F.jpg''']] === Cerpen Anak - Bab 1 === Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang makmur bernama Kerajaan Puspa Langit, hiduplah seorang raja yang terkenal kaya raya dan berkuasa. Baginda memiliki istana megah, emas bertumpuk, serta prajurit yang setia menjaga setiap sudut kerajaan. Namun, di balik kemewahannya, baginda menyimpan satu kegelisahan. Dia ingin menemukan kekayaan yang tak akan pernah habis hingga tujuh turunan. Suatu hari, seorang pengembara tua datang menghadap ke istana. Jubahnya lusuh, tongkatnya bengkok, tetapi matanya memancarkan cahaya misterius. ''“Ampun, Baginda,”'' ucap pengembara itu sambil bersujud. ''“Hamba membawa kabar tentang sebuah buah sakti yang tersembunyi di Hutan Hambayang. Namanya Buah Manjur Siluman Hambayang, buah simalakama yang konon menjadi ampunnya baginda.”'' Mendengar perkataan itu, baginda langsung bangkit dari singgasananya. ''“Duhai tuturan pengembara entah berantah, buah apakah itu?”'' tanya baginda dengan penuh rasa ingin tahu. Pengembara tua menjawab, ''“Jika mereka memakannya, kaya terjamin tujuh turunan. Hilir perlahan... harta mengalir tanpa henti, emas memenuhi gudang, dan keturunan tak akan mengenal kemiskinan.”'' Mata baginda berbinar-binar. Tanpa berpikir panjang, ia memerintahkan panglima kerajaan untuk mengumpulkan para prajurit terbaik dan segera berangkat menuju Hutan Hambayang. == Rahasia di Balik Buah Sakti == Hutan Hambayang bukanlah hutan biasa. Pepohonannya menjulang tinggi, kabutnya tak pernah benar-benar menghilang, dan suara-suara aneh terdengar dari balik semak-semak. Konon, hutan itu dijaga oleh siluman yang mampu menjelma menjadi manusia, hewan, bahkan benda mati. Setelah berjalan selama tiga hari tiga malam, rombongan baginda akhirnya menemukan sebuah pohon besar dengan batang berwarna hitam keperakan. Di antara dedaunannya bergelantungan buah-buah berwarna merah keemasan yang memancarkan cahaya lembut. ''“Itulah Buah Manjur Siluman Hambayang!”'' seru sang pengembara. Baginda segera mendekati pohon itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh salah satu buah, terdengar suara menggelegar dari segala penjuru. ''“Berhenti, wahai manusia yang dikuasai keserakahan!”'' Tiba-tiba muncul sesosok makhluk tinggi berjubah hitam. Wajahnya menyerupai manusia, tetapi matanya menyala seperti bara api. ''“Aku adalah Penjaga Buah Hambayang. Siapa pun yang ingin memakan buah ini harus menjawab satu pertanyaan,”'' katanya. Baginda menelan ludah, lalu menjawab dengan angkuh'', “Katakanlah! Aku seorang raja. Tak ada pertanyaan yang tak mampu kujawab.”'' ''Sang siluman tersenyum tipis.'' ''“Jika buah ini benar-benar menjamin kekayaan tujuh turunan, tetapi setiap buah yang dimakan akan menghilangkan rasa kasih sayang dalam hati, apakah engkau tetap ingin memakannya?”'' Baginda terdiam. Ia membayangkan istananya yang semakin megah, gudangnya yang dipenuhi emas, serta keturunannya yang hidup dalam kemewahan. Namun, ia juga teringat wajah permaisuri dan anak-anaknya yang selalu menyambutnya dengan senyum tulus. Untuk pertama kalinya, baginda merasa takut kehilangan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan emas. == Buah Simalakama == ''“Bukankah engkau mengatakan bahwa buah ini membuat pemakannya kaya tujuh turunan?”'' tanya baginda. ''“Benar,”'' jawab siluman. ''“Namun, kekayaan tanpa kasih sayang akan melahirkan keserakahan. Anak-anakmu mungkin mewarisi emas, tetapi mereka akan kehilangan kebahagiaan. Mereka akan saling berebut warisan, mengkhianati saudara, bahkan melupakan orang tua mereka sendiri.”'' Sang siluman mengangkat tangannya. Seketika, di hadapan baginda muncul bayangan masa depan. Ia melihat keturunannya tinggal di istana megah, tetapi saling bermusuhan. Kakak mengusir adik, saudara mengkhianati saudara, dan setiap orang hanya memikirkan harta warisan. Baginda tersentak. Keringat dingin membasahi dahinya. ''“Jadi, inilah buah simalakama,”'' gumamnya. ''“Dimakan membawa petaka, tidak dimakan membuatku kehilangan kesempatan menjadi kaya raya.”'' ''“Bukan buahnya yang menentukan nasibmu, wahai Baginda,”'' kata siluman''. “Melainkan pilihan dan niat dalam hatimu.”'' Baginda menundukkan kepala. Setelah sekian lama mengejar kekayaan, akhirnya ia menyadari bahwa keinginannya telah membuatnya lupa akan tanggung jawab sebagai seorang raja. ''“Aku tidak akan memakan buah ini,”'' putusnya. ''“Lebih baik rakyatku hidup berkecukupan dan keluargaku saling menyayangi daripada keturunanku bergelimang emas tetapi kehilangan hati nurani.”'' Mendengar keputusan itu, siluman tertawa lembut. Cahaya keemasan menyelimuti seluruh hutan, dan sosoknya perlahan berubah menjadi seorang lelaki tua berpakaian putih. ''“Engkau telah lulus ujian, Baginda. Kekayaan sejati bukanlah harta yang diwariskan tanpa batas, melainkan kebijaksanaan yang ditanamkan dari generasi ke generasi.”'' Pohon Hambayang kemudian menjatuhkan beberapa buahnya. Namun, buah-buah itu tidak lagi berwarna merah keemasan. Semuanya berubah menjadi benih kecil berwarna hijau. ''“Bawalah benih ini ke negerimu. Tanamlah di setiap desa. Buahnya tidak akan membuat seseorang kaya dalam semalam, tetapi jika dirawat dengan kerja keras, kejujuran, dan kebersamaan, hasilnya akan mencukupi kehidupan banyak orang.”'' Baginda menerima benih-benih itu dengan penuh hormat. == Kekayaan Tujuh Turunan == Setibanya di kerajaan, baginda memerintahkan agar benih Hambayang ditanam di seluruh wilayah. Ia membangun lumbung pangan, membuka ladang, memperbaiki saluran air, serta mengajarkan rakyatnya berdagang dengan jujur. Ia juga mengubah aturan kerajaan agar kekayaan tidak hanya menumpuk di istana, tetapi dapat membantu rakyat yang membutuhkan. Tahun demi tahun berlalu. Kerajaan Puspa Langit semakin makmur. Anak-anak tumbuh dengan pendidikan yang baik, para petani menikmati hasil panen, dan para pedagang memperoleh keuntungan dari usaha yang jujur. Ketika putra mahkota bertanya mengapa ayahnya dahulu menolak Buah Manjur Siluman Hambayang, baginda tersenyum. ''“Anakku, jika kita hanya mewariskan emas, suatu hari emas itu akan habis. Namun, jika kita mewariskan ilmu, kejujuran, dan kasih sayang, kekayaan itu dapat bertahan hingga tujuh turunan, bahkan lebih.”'' Sejak saat itu, kisah Buah Manjur Siluman Hambayang menjadi legenda yang diceritakan dari generasi ke generasi. Orang-orang percaya bahwa buah simalakama itu benar-benar ada, tersembunyi di Hutan Hambayang. Namun, hanya mereka yang mampu mengalahkan keserakahan dalam diri... yang dapat memahami rahasia sesungguhnya. === '''Pesan moral''' === Kekayaan sejati tidak semata-mata berasal dari harta benda, tetapi dari kerja keras, kebijaksanaan, dan nilai-nilai baik yang diwariskan kepada keturunan. Sebab, ''harta dapat habis dalam sekejap, sedangkan budi pekerti yang baik mampu menghidupi tujuh turunan.'' [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Indonesia]] [[Kategori:Sastra]] [[Kategori:Cerita pendek]] fs7jelgfxgqo4upbkdn7ufqrtnc4qpw 121239 121217 2026-10-18T05:43:09Z Riky Mandai 41791 removed [[Category:Cerita pendek]]; added [[Category:Cerita pendek anak]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121239 wikitext text/x-wiki [[Berkas:MET 2015 441 1 F.jpg|jmpl|508x508px|'''MET 2015 441 1 F.jpg''']] === Cerpen Anak - Bab 1 === Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan yang makmur bernama Kerajaan Puspa Langit, hiduplah seorang raja yang terkenal kaya raya dan berkuasa. Baginda memiliki istana megah, emas bertumpuk, serta prajurit yang setia menjaga setiap sudut kerajaan. Namun, di balik kemewahannya, baginda menyimpan satu kegelisahan. Dia ingin menemukan kekayaan yang tak akan pernah habis hingga tujuh turunan. Suatu hari, seorang pengembara tua datang menghadap ke istana. Jubahnya lusuh, tongkatnya bengkok, tetapi matanya memancarkan cahaya misterius. ''“Ampun, Baginda,”'' ucap pengembara itu sambil bersujud. ''“Hamba membawa kabar tentang sebuah buah sakti yang tersembunyi di Hutan Hambayang. Namanya Buah Manjur Siluman Hambayang, buah simalakama yang konon menjadi ampunnya baginda.”'' Mendengar perkataan itu, baginda langsung bangkit dari singgasananya. ''“Duhai tuturan pengembara entah berantah, buah apakah itu?”'' tanya baginda dengan penuh rasa ingin tahu. Pengembara tua menjawab, ''“Jika mereka memakannya, kaya terjamin tujuh turunan. Hilir perlahan... harta mengalir tanpa henti, emas memenuhi gudang, dan keturunan tak akan mengenal kemiskinan.”'' Mata baginda berbinar-binar. Tanpa berpikir panjang, ia memerintahkan panglima kerajaan untuk mengumpulkan para prajurit terbaik dan segera berangkat menuju Hutan Hambayang. == Rahasia di Balik Buah Sakti == Hutan Hambayang bukanlah hutan biasa. Pepohonannya menjulang tinggi, kabutnya tak pernah benar-benar menghilang, dan suara-suara aneh terdengar dari balik semak-semak. Konon, hutan itu dijaga oleh siluman yang mampu menjelma menjadi manusia, hewan, bahkan benda mati. Setelah berjalan selama tiga hari tiga malam, rombongan baginda akhirnya menemukan sebuah pohon besar dengan batang berwarna hitam keperakan. Di antara dedaunannya bergelantungan buah-buah berwarna merah keemasan yang memancarkan cahaya lembut. ''“Itulah Buah Manjur Siluman Hambayang!”'' seru sang pengembara. Baginda segera mendekati pohon itu. Namun, sebelum tangannya menyentuh salah satu buah, terdengar suara menggelegar dari segala penjuru. ''“Berhenti, wahai manusia yang dikuasai keserakahan!”'' Tiba-tiba muncul sesosok makhluk tinggi berjubah hitam. Wajahnya menyerupai manusia, tetapi matanya menyala seperti bara api. ''“Aku adalah Penjaga Buah Hambayang. Siapa pun yang ingin memakan buah ini harus menjawab satu pertanyaan,”'' katanya. Baginda menelan ludah, lalu menjawab dengan angkuh'', “Katakanlah! Aku seorang raja. Tak ada pertanyaan yang tak mampu kujawab.”'' ''Sang siluman tersenyum tipis.'' ''“Jika buah ini benar-benar menjamin kekayaan tujuh turunan, tetapi setiap buah yang dimakan akan menghilangkan rasa kasih sayang dalam hati, apakah engkau tetap ingin memakannya?”'' Baginda terdiam. Ia membayangkan istananya yang semakin megah, gudangnya yang dipenuhi emas, serta keturunannya yang hidup dalam kemewahan. Namun, ia juga teringat wajah permaisuri dan anak-anaknya yang selalu menyambutnya dengan senyum tulus. Untuk pertama kalinya, baginda merasa takut kehilangan sesuatu yang tak bisa dibeli dengan emas. == Buah Simalakama == ''“Bukankah engkau mengatakan bahwa buah ini membuat pemakannya kaya tujuh turunan?”'' tanya baginda. ''“Benar,”'' jawab siluman. ''“Namun, kekayaan tanpa kasih sayang akan melahirkan keserakahan. Anak-anakmu mungkin mewarisi emas, tetapi mereka akan kehilangan kebahagiaan. Mereka akan saling berebut warisan, mengkhianati saudara, bahkan melupakan orang tua mereka sendiri.”'' Sang siluman mengangkat tangannya. Seketika, di hadapan baginda muncul bayangan masa depan. Ia melihat keturunannya tinggal di istana megah, tetapi saling bermusuhan. Kakak mengusir adik, saudara mengkhianati saudara, dan setiap orang hanya memikirkan harta warisan. Baginda tersentak. Keringat dingin membasahi dahinya. ''“Jadi, inilah buah simalakama,”'' gumamnya. ''“Dimakan membawa petaka, tidak dimakan membuatku kehilangan kesempatan menjadi kaya raya.”'' ''“Bukan buahnya yang menentukan nasibmu, wahai Baginda,”'' kata siluman''. “Melainkan pilihan dan niat dalam hatimu.”'' Baginda menundukkan kepala. Setelah sekian lama mengejar kekayaan, akhirnya ia menyadari bahwa keinginannya telah membuatnya lupa akan tanggung jawab sebagai seorang raja. ''“Aku tidak akan memakan buah ini,”'' putusnya. ''“Lebih baik rakyatku hidup berkecukupan dan keluargaku saling menyayangi daripada keturunanku bergelimang emas tetapi kehilangan hati nurani.”'' Mendengar keputusan itu, siluman tertawa lembut. Cahaya keemasan menyelimuti seluruh hutan, dan sosoknya perlahan berubah menjadi seorang lelaki tua berpakaian putih. ''“Engkau telah lulus ujian, Baginda. Kekayaan sejati bukanlah harta yang diwariskan tanpa batas, melainkan kebijaksanaan yang ditanamkan dari generasi ke generasi.”'' Pohon Hambayang kemudian menjatuhkan beberapa buahnya. Namun, buah-buah itu tidak lagi berwarna merah keemasan. Semuanya berubah menjadi benih kecil berwarna hijau. ''“Bawalah benih ini ke negerimu. Tanamlah di setiap desa. Buahnya tidak akan membuat seseorang kaya dalam semalam, tetapi jika dirawat dengan kerja keras, kejujuran, dan kebersamaan, hasilnya akan mencukupi kehidupan banyak orang.”'' Baginda menerima benih-benih itu dengan penuh hormat. == Kekayaan Tujuh Turunan == Setibanya di kerajaan, baginda memerintahkan agar benih Hambayang ditanam di seluruh wilayah. Ia membangun lumbung pangan, membuka ladang, memperbaiki saluran air, serta mengajarkan rakyatnya berdagang dengan jujur. Ia juga mengubah aturan kerajaan agar kekayaan tidak hanya menumpuk di istana, tetapi dapat membantu rakyat yang membutuhkan. Tahun demi tahun berlalu. Kerajaan Puspa Langit semakin makmur. Anak-anak tumbuh dengan pendidikan yang baik, para petani menikmati hasil panen, dan para pedagang memperoleh keuntungan dari usaha yang jujur. Ketika putra mahkota bertanya mengapa ayahnya dahulu menolak Buah Manjur Siluman Hambayang, baginda tersenyum. ''“Anakku, jika kita hanya mewariskan emas, suatu hari emas itu akan habis. Namun, jika kita mewariskan ilmu, kejujuran, dan kasih sayang, kekayaan itu dapat bertahan hingga tujuh turunan, bahkan lebih.”'' Sejak saat itu, kisah Buah Manjur Siluman Hambayang menjadi legenda yang diceritakan dari generasi ke generasi. Orang-orang percaya bahwa buah simalakama itu benar-benar ada, tersembunyi di Hutan Hambayang. Namun, hanya mereka yang mampu mengalahkan keserakahan dalam diri... yang dapat memahami rahasia sesungguhnya. === '''Pesan moral''' === Kekayaan sejati tidak semata-mata berasal dari harta benda, tetapi dari kerja keras, kebijaksanaan, dan nilai-nilai baik yang diwariskan kepada keturunan. Sebab, ''harta dapat habis dalam sekejap, sedangkan budi pekerti yang baik mampu menghidupi tujuh turunan.'' [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Indonesia]] [[Kategori:Sastra]] [[Kategori:Cerita pendek anak]] bmjgzute7qpkz5jd3rbypzy5kbms0m3 Tradisi di Kalimantan Selatan/Batajak Sarubung 0 28797 121106 2026-10-18T03:52:51Z Jaelani58 44090 Membuat buku 121106 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Talkoot Ylimuonio.JPG|jmpl|Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dalam tradisi Kalimantan Selatan, pada pernikahan atau kematian, ada budaya gotong royong, salah satunya batajak sarubung (memasang tenda)]] Sarawin himung kahada sakira. Isuk inya pacangan maminang Atia. Rancana buhannya, akad nikah balangsung di Masigit Hasanuddin Madjedie. Sarawin nang handak baakad di sana. Sasuai janjinya wan tuan guru nang ditamuinya batahun silam. Tuan Guru ngitu tamasuk urang nang maubah hidup Sarawin. <br> Wayah ngitu Sarawin hanyar madam matan kampung. Saurangan, kadada kawal, kadada patuhan. Inya dalas hangit bacabur. Tulak, imbah tapahual lawan julaknya di kampung.<br> “Kaina imak babulik ka kampung imbah babini. Akad haja dahulu di masigit ngini,” pinta Tuan Guru nang hampai ari ini, Sarawin kada dibariakan tahu ngaran hidin. <br> “Ulun mancatu ampun, mancatu ridho, barelaan lawan pian. Napa marganya damintu?”Sarawin batakun. <br> “Kaina amun dasaran wayahnya, imak tahu saurang,” takarinyum Tuan Guru malihat Sarawin bagaruk kapala.<br> Balalu Sarawin bajanji lawan Tuan Guru. Hidin jua kaina nang jadi panghulunya. <br> Panambaian kaluarga Atia hakun ai bakawinan di kampung Sarawin haja han. Rancak jua hudah bakawinan di kampung buhannya. Handak jua marasani ka kampung urang jar abahnya Atia. Sabujurannya jarang babanaran baacaraan nang undasnya ngitu wadah lalakian. Tagal jar abahnya Atia, Sarawin ngini yatim piatu, kadada salahnya salajur-manyalajur marakatakan kula. <br> Tagal pulang, ujar Sarawin babuangan hintalu sabuku, tutuha badik kada kawa ditangguh. <br> Han ngitu pang imbah tatamu Tuan Guru, racap banar Sarawin maipii paribasa nang disambat hidin. Sarawin mamakai banar han paribasa ngitu jadi papadah hagan inya bahaluan hidup.<br> Imbah akad, Sarawin wan Atia baacaraan hulu di kampung Atia. Balalah saminggu Sarawin ngini balaki-bini, jar urang babulan madu. <br> Niat buhannya imbah talah babulan madu, hanyar am bakarasmin di kampung Sarawin. <br> “Maraham lingis tabungan, biar ha kada bahirian,” jar Sarawin bapadah ka Atia. <br> Atia jua satuju haja ujar nang laki tadih.<br> *** Talah babulan madu, Sarawin wan Atia batulakan ka kampung Sarawin. Abah, Uma Atia wan kula buhannya nang lain manyusul saminggu nang dihadap.<br> Tuju ka hulu sungai, malihat kertak baaspal hotmix marinyut hati Sarawin. Bahari kertak nang dilaluinya hibak lubang, kahada saikit jua kertak nang rumbih tahantak. Kada karasaan. Asa hanyar kamarian, kuciak Sarawin dalam hati. <br> Taganang Sarawin kisahnya bahari. <br> Tumatan tulak matan kampung sapuluh tahun nang lalu, kada suah Sarawin babulik manjanguk kampung parian sahari dua. Sabujurannya Sarawin maraju. Julaknya manyambati tarus, manyariki inya kada sing ampihan. Dasarannya jua pang Sarawin ngini han. Di kampung gawiannya haur balalah ka karasmin. Ngitu haja, kadada nang lain. Lamun parai karasmin, guring inya han. <br> Ditagur hudah jua, dipapadahi masuk talinga kiwa kaluar talinga kanan. Nasi dimakan jadi tahi.<br> “Asah siku kawatun,” surak julaknya Sarawin. Bahari ngitu dasar kahada paham lalu han. <br> Lamun maingat ngitu Sarawin rancak tatawa saurangan. Dikiranya te han dasar disuruh maasah sikunya ka watun. Diumpatinya ai. Lingsak siku dapatnya. <br> Harau magin bamamai nang julak. <br> Julak Sarawin ngitu bangaran Utuh Bular. Mata hidin dasar bular matan ranak. <br> Utuh Bular lawan Abah Sarawin badua baading. Imbah kuitan Sarawin maninggal kaduanya, Sarawin badaas wadah nininya. Julaknya ngitu bujang lapuk, kahada hakun babini. Badiam jua am di rumah nang tuha. Sayang babanaran Utuh Bular ngitu lawan Sarawin. Maksud hati Utuh Bular, Sarawin cuba hinamakan kadiri saurang. Kahada lalu pariannya juriat buhannya siringan atawa parazakian, jaka tu jua batagas tugul bacari nang kamanakan nih. <br> Kada hakun jua Sarawin maasi. Utuh Bular mahayaakan banar Sarawin kahada jadi napa-napa. Padahal han maksud nang julak, lamun handak baisian bamacam barajin ai pariannya bagawi wan bausaha.<br> Cilakanya Sarawin wayah ngitu kadada kahandak nang lain. Makan guring, hudah am. Tanang hidup.<br> “Sadang dah. Maulah parigal banar Sarawin. Dimapa akal? Pina kahada tanang arwah kuitannya. Lamun kahada ulun jua nang bakaras sakali ngini,” surak Utuh Bular ka nininya Sarawin.<br> “Napang te kahandak ikam?” takun Nini Sarawin. “Ulun antar inya ka punduk, wadah tuan guru Syihab. Ada jua sahibar bailmu agama.”<br> Mandangar ngitu, bukah Sarawin. Talu hari hilang. Bapatak inya, banaik ka puhun kariwaya. <br> Sakampungan habut Sarawin hilang. <br> Bagandah nyiru nininya, kahada jua bulik nang cucu. Tagal urang kampung tahu babanaran. Kahada ngalih maulah Sarawin cungul. Kahada batagas inya hakun maarit. Di mana han ada karasmin, nang hibak wan makanan, bilang pintung Sarawin talihat batang hidungnya.<br> “Isuk dihadap, ba’da ashar. Di masigit. Basyukuran manang main bal kampung kita,” surak kaum masigit kampung Sarawin. Sangaja dinyaringi buhannya sapeker masigit.<br> Mandangar bamakanan, laju pada hadangan tu pang Sarawin. Rahatan bajalan tuju ka masigit, bakajutan cungul Utuh Bular. Sawat basasahan lawan Sarawin. Imbahnya bakalahi muntung, bacakut, parak Utuh Bular manampar Sarawin.<br> “Kahada usah lagi ikam badiam di kampung ngini. Mambari supan juriat,” surak Utuh Bular maundurakan Sarawin. <br> Asa manyasal jua nang julak baucap.<br> Kahada manyahut lagi. Bukah Sarawin ka muhara kampung. <br> Bajalan tarus inya matan kampungnya hinggan ka Pantai Hambawang. Ngitu pang hintadi tabiasa Sarawin dasar kahada tahu disupan. Mangawai inya ka mutur di kertak ganal. Bapuluh mutur balalu haja han. Parak magrip timbul singgah mutur trak malihat tangan Sarawin mangawai, padahal hudah taduduk, tatunduk kapala Sarawin tadih.<br> “Handak tuju ka mana, pian?” supir trak batakun.<br> “Kawa leh, Paman, ulun umpat bamara ka Banjar?” balas Sarawin. “Ayu ha. Lakasi naik. Kaina singgah kita bamagrip satumat, lah.” “Inggih, Paman. Akur haja ulun.”<br> Singgahan ai Sarawin lawan supir trak tadih. Maras pinanya hidin malihat Sarawin nang kaya pasakitan lalu. Awak pina lamah, mata calung. Napa talu hari bapatak di puhun kariwaya kada sing makanan. Tagal dasar kuat Sarawin maharit, marga hati sangkal jua han, kada karasaan jua bisa wayah ngitu.<br> Supir truk ngitu maras jua mandangar kisah Sarawin. Dibayari hidin makan. <br> Imbahnya bakisahan tarus Sarawin kada sing ampihan. Karamian buhannya bakisah. Kisah mahalabio, mamalui, dasar ngitu pang kabisaan Sarawin. <br> Supir truk nang bangaran Usman banyak jua baisi kisah sakalinya han. Baadu palui buhannya badua. Usman ngini nang awalnya maulah Sarawin sadar.<br> “Kita ngitu hidup haram panjang tulang balikat. Biar paribasanya bamudal sapuluh jari, napa nang kawa digawi, gawi tarus kada baampihan. Sakali haja kita hidup, kadada nang ngarannya dua kali.” <br> Sarawin nang kada pahamaman, lalu batakun napa arti pamandiran Usman. Dikira Sarawin handak mahalabio pulang.<br> Bagamatan Usman manarangakan. Ngalih banar. Puntul pada timpakul. “Ikam ngitu kaya jukung patah pananjak. Marga kadada lagi kuitan, balalu hidup kadada tujuan,” tarang Usman.<br> Mulai janak pikiran Sarawin. Hampai ka Banjar. Usman basinggah ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Bagana samalaman kahandak Usman nih. Lawan jua hidin bingung kayaapa Sarawin, ka mana mambawa kakanak ngini.<br> “Ulun di sia haja, Paman. Kadapapa. Makasih banyak pian baikan banar. Mudahan ada razakinya ulun mambalas.” Sarawin kada tahu sabujurannya kayaapa inya imbah ngini. Bamudal yakin. Bamudal sapuluh jari tadih. Bagana di masigit, baharap harakat matan Allah Ta’ala.<br> Sakalinya bauntung babanaran Sarawin tasangkut ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Tatamu wan Tuan Guru nang katuju mamuruk kupiah jangang. <br> Buhan masigit pinanya paasian banar lawan Tuan Guru ngitu. Maasi banar tu pang napa jar hidin. <br> Sakali hidin bapandir, Sarawin diunjuki buhannya kamar halus dihiga masigit, hitungannya jadi kaum. Imbah dilajari, bungas banar suara Sarawin sakalinya wayah inya adzan. Hanyut nang mandangar. Nang kada handak sumbahyang gin, baancap baudu. Ampat tahun, Sarawin badiam di masigit. Napa haja hakun digawinya. Sumangat banar inya, bisa laju pada humbayangnya saurang rahatan inya bagawi. Paribasanya hati barikit di masigit. Buhannya katuju banar jua, marga Sarawin harat banar bakisah. Hampai tuan guru mulai malajari inya badagang. Disuruh hidin badagang gaguduh pisang wan tiwadak. <br> Hakun ai Sarawin. Payu banar inya bajualan. Usman nang rancak singgah di masigit ngitu lamun rahatan datang matan hulu sungai, malajari Sarawin manabung. Dikumpulakan jar hidin jua. Kaina lamun cukup mudalnya, bausaha nang lain ikam. Matan situ Sarawin bamula badagang iwak, baju, hampai baisian tuku bangunan saurang. *** Panambaian hampai di kampungnya, Sarawin takajut malihat kampungnya wahini bahindang bahindala. Rami. Matan muhara kampung tadi hinggan ka hadapan rumah nininya hibak warung bajual marning wan samu papuyu. Di muhara kampung batulisan ‘Kampung Marning Samu Papuyu’.<br> Pinanya nininya bajualan jua samu papuyu. Napa baandak tuplis baisi samu di ambin. Sarawin ingat banar samu ulahan nininya panyamannya sakampungan. Kadada nang kawa mangalahi. <br> “Assalamualaikum.” Sarawin maucap salam.<br> “Waalaikumussalam,” sahut Nini Sarawin matan dalam rumah. Dikira hidin urang handak manukar samu. Baancap ai maambil ipuk angsulan. Sakali hampai muhara lawang. Takajut banar hidin. Asa lamah paparutan. <br> “Bujuran ikam kah ngitu, cu?” tagur Nini Sarawin.<br> “Inggih. Ulun Sarawin. Kayapa habar pian ni. Wagas haja leh, Pian?” bamara Sarawin maragap nininya. Diciumnya tangan nininya. Tatangis Sarawin. Pancar banyumata. <br> “Nini wagas haja. Kayaini pang. Ikam pang kayapa jua. Pina balamak leh. Alhamdulillah banar, cu.”<br> Atia nang malihat ngitu gin kada tahan. Taumpat limbui, tatangis jua. <br> Nini Sarawin hudahnya. Kada sing ampihan hidin manangis. Cucu nang hilang, kadada habar saujung kuku, cungul di hadapan hidin. “Ni, ulun minta ampun banar lawan pian. Barelaan. Baampun maap, minta ridho pian dunia akhirat,” jar Sarawin, magun lilihan banyu mata.<br> “Hudah, kahada usah dipandirakan lagi. Nang hudah, hudah aja. Ngitu siapa pang jadi umpat manangis inya,” takun Nini Sarawin malihat binian bungas langkar umpat manangis jua.<br> Tasintak Sarawin. Saking tabawa suasana jar urang tuh, parak kada ingat lawan bini saurang. “Ngini Atia, Ni. Inya bini ulun.” “Subhanallah. Alhamdulillah.” Himung kada sakira Nini Sarawin. Cucunya bulik mambawa bini. *** Habar Sarawin bulik wan hudah baisi bini satumat haja tasiar hampai ka hujung kampung. Langsung jua buhannya basiap bakarasmin. Nini Sarawin bakiauan, bapadah lawan pambakal. Rami tu pang sakampungan. <br> Atia nang hanyar malihat gin bingung. Panambaian marabuk buhan biniannya. Bamacam bumbu tu pang. Masak habang, karih, bistik, wan bumbu hagan soto banjar. <br> Isuknya buhan nang lalakian batungkih kayu. Ngini nang katuju banar Atia maitihi. Marganya di kuta, lamun kada mamasan katring, kumpur gas tu pang handalan. <br> “Raminya lah, Ni,” jar Atia. “Lusa kaina rami am lagi. Suah ikam malihat mangawah leh?” sahut Nini Sarawin. Takarinyum haja Sarawin mandangar nang bini lawan nininya basurah. Tagal sauting nang Sarawin magun am mangganjal di hati. Julaknya, Utuh Bular, hampai damini kadada cungul. Sarik banar luku hidin. Wayah Sarawin batakun ka nininya, ka mana Julak Bular, nininya manyahut tarus, “Kaina ikam tahu haja,” pandir Nini Sarawin manahan tangis. Ditakuni Sarawin lawan urang kampung, saikung-dua kadada nang tahu jar. Kada nyaman hati Sarawin. *** Ari baganti ari, rahatan musim karing. Panas banar arinya. Di rumah Atia bakipas haja. Sarawin bakunjang bakaliling kampung, salajur manyaru nang balum tasaru hagan resepsi pangantinannya. Kahada nyaman tu pang lamun ada kula nang tatinggal disaru. Ngini Sarawin saurang nang hudah paham nang kayaapa hidup sabujurannya.<br> Sarawin magun haja tapikir di mana han julaknya. Nininya kada hakun bakisah. Kaluarga subalah umanya jua badiam haja. “Busia julak babini hudah leh, tagal kanapa maka kadada nang hakun mangisahakan,” Sarawin bagarunum saurangan. “Lamung maninggal te katia kadada gambar julak dipasang nini di rumah nang kaya gambar abah,” jar Sarawin bagarunum kada sing ampihan.<br> Tunggal utingan Sarawin mandatangi nang balum disaru. Kawalannya bahari jua didatanginya. Inya sangaja kada manyuruh urang basaruan sabarataan. Inya sudah maminta tulung lawan busunya, sapupu mamanya nang paling halus hagan manyarui buhan nang tatuhanya. Sarawin takutan salah bapandir lamun lawan nang tuha. Sisanya ngini inya basaruan manyalajur handak basilahturahmi lawan urang kampung. <br> “Isuk kita batajak sarubung. Datangan lah han buhan pian,” jar Sarawin bapadah ka barataan. <br> *** Matan subuh hibakan dah urang. Lalakian wan binian asing-asingnya bagawian. Buhan nang lakian tadih, dikumandui busunya Sarawin, bamula manajak sarubung. Sarawin umpatan jua han.<br> Rahatan mancatuk paku, Sarawin takipik malihat julaknya umpat jua manajak kayu hagan sarubung. <br> Marudai riuh urang kampung maitihi julak wan kamanakan tatamu jua akhiranya. <br> Kaduanya balihatan. Handak tapancar banyu mata. Kada tahan lagi, Sarawin badahulu bamara, maragap julaknya, basujud mancatu ampun, bahari inya malawan banar wan kada maasi papadah julaknya.<br> Utuh Bular handak kada kawa bapandir. Basasigan. <br> “Julak baampun maap jua lawan ikam lah Sarawin. Bahari hilap, tabawa hati maundurakan ikam,” Utuh Bular manyahut.<br> Atia wan Nini Sarawin taharu banar malihat julak lawan kamanakan bamaapan. <br> Utuh Bular balalu bakisah ka Sarawin. <br> Sakalinya te, wayah Sarawin tulak matan kampung, Utuh Bular bahinip tarus di pahumaan. Ujar urang inya malindap babanaran di luhuk hati. Dada barasak, asa basalah maundurakan kamanakan.<br> Utuh Bular bulik sahibar maantar banih atawa pamulaan handak batanam banih. <br> Hampai haja inpu ka inya wayah Sarawin bulik mambawa bini, handak bakarasmin di kampung. <br> Tagal magun sangkal. Handak disariki, katia sudah nikah. Napa am lagi.<br> Utuh Bular takutan jua Sarawin lawan Atia nang kaya kudung hanyar ba utas. Kahada rasuk babilangannya. <br> Pambakal Mungkur baastilah mandatangi ka pahumaan. “Kada handak kah ikam batamu lawan Sarawin,” jar Pambakal Mungkur batakun. “Dirikin jua kah babilangan buhannya tuh,” Utuh Bular bakasah kaduh lawan Pambakal Mungkur. Balum sawat Pambakal Mungkur manyahut. Cungul Tuan Guru Kupiah Jangang. “Kada usah gair. Dasar hampai hudah pancuhnya.” Sakalinya tuan guru ngitu bakawan banar lawan Utuh Bular wan Pambakal Mungkur. <br> Dasar urang kampung buhannya jua, tagal madam matan anum. Imbah tahu kisahnya kayaapa Sarawin damini wan salawas diam di Banjar, ampih sangkal Utuh Bular. Nang kaya mambuang kalimpanan. Ngitu pang balakas Utuh Bular manyasah bulik ka rumah tadih subuh. <br> “Marga baimusi haja matan anum, timbul saikit-ikit tapahuya,” sambat Pambakal Mungkur.<br> “Nang iyanya jua, sawat haja te umpat batajak sarubung,” jar Tuan Guru Kupiah Jangang. Banjarmasin, 31 Juli 2026 t9umf8wal3dd4a5m9y3zi2wexw01y2w 121156 121106 2026-10-18T05:20:28Z Jaelani58 44090 Memasukkan referensi 121156 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Talkoot Ylimuonio.JPG|jmpl|Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dalam tradisi Kalimantan Selatan, pada pernikahan atau kematian, ada budaya gotong royong, salah satunya batajak sarubung (memasang tenda)]]<ref>Kisdap ulahan JH. Tanujaya</ref>Sarawin himung kahada sakira. Isuk inya pacangan maminang Atia. Rancana buhannya, akad nikah balangsung di Masigit Hasanuddin Madjedie. Sarawin nang handak baakad di sana. Sasuai janjinya wan tuan guru nang ditamuinya batahun silam. Tuan Guru ngitu tamasuk urang nang maubah hidup Sarawin. <br> Wayah ngitu Sarawin hanyar madam matan kampung. Saurangan, kadada kawal, kadada patuhan. Inya dalas hangit bacabur. Tulak, imbah tapahual lawan julaknya di kampung.<br> “Kaina imak babulik ka kampung imbah babini. Akad haja dahulu di masigit ngini,” pinta Tuan Guru nang hampai ari ini, Sarawin kada dibariakan tahu ngaran hidin. <br> “Ulun mancatu ampun, mancatu ridho, barelaan lawan pian. Napa marganya damintu?”Sarawin batakun. <br> “Kaina amun dasaran wayahnya, imak tahu saurang,” takarinyum Tuan Guru malihat Sarawin bagaruk kapala.<br> Balalu Sarawin bajanji lawan Tuan Guru. Hidin jua kaina nang jadi panghulunya. <br> Panambaian kaluarga Atia hakun ai bakawinan di kampung Sarawin haja han. Rancak jua hudah bakawinan di kampung buhannya. Handak jua marasani ka kampung urang jar abahnya Atia. Sabujurannya jarang babanaran baacaraan nang undasnya ngitu wadah lalakian. Tagal jar abahnya Atia, Sarawin ngini yatim piatu, kadada salahnya salajur-manyalajur marakatakan kula. <br> Tagal pulang, ujar Sarawin babuangan hintalu sabuku, tutuha badik kada kawa ditangguh. <br> Han ngitu pang imbah tatamu Tuan Guru, racap banar Sarawin maipii paribasa nang disambat hidin. Sarawin mamakai banar han paribasa ngitu jadi papadah hagan inya bahaluan hidup.<br> Imbah akad, Sarawin wan Atia baacaraan hulu di kampung Atia. Balalah saminggu Sarawin ngini balaki-bini, jar urang babulan madu. <br> Niat buhannya imbah talah babulan madu, hanyar am bakarasmin di kampung Sarawin. <br> “Maraham lingis tabungan, biar ha kada bahirian,” jar Sarawin bapadah ka Atia. <br> Atia jua satuju haja ujar nang laki tadih.<br> *** Talah babulan madu, Sarawin wan Atia batulakan ka kampung Sarawin. Abah, Uma Atia wan kula buhannya nang lain manyusul saminggu nang dihadap.<br> Tuju ka hulu sungai, malihat kertak baaspal hotmix marinyut hati Sarawin. Bahari kertak nang dilaluinya hibak lubang, kahada saikit jua kertak nang rumbih tahantak. Kada karasaan. Asa hanyar kamarian, kuciak Sarawin dalam hati. <br> Taganang Sarawin kisahnya bahari. <br> Tumatan tulak matan kampung sapuluh tahun nang lalu, kada suah Sarawin babulik manjanguk kampung parian sahari dua. Sabujurannya Sarawin maraju. Julaknya manyambati tarus, manyariki inya kada sing ampihan. Dasarannya jua pang Sarawin ngini han. Di kampung gawiannya haur balalah ka karasmin. Ngitu haja, kadada nang lain. Lamun parai karasmin, guring inya han. <br> Ditagur hudah jua, dipapadahi masuk talinga kiwa kaluar talinga kanan. Nasi dimakan jadi tahi.<br> “Asah siku kawatun,” surak julaknya Sarawin. Bahari ngitu dasar kahada paham lalu han. <br> Lamun maingat ngitu Sarawin rancak tatawa saurangan. Dikiranya te han dasar disuruh maasah sikunya ka watun. Diumpatinya ai. Lingsak siku dapatnya. <br> Harau magin bamamai nang julak. <br> Julak Sarawin ngitu bangaran Utuh Bular. Mata hidin dasar bular matan ranak. <br> Utuh Bular lawan Abah Sarawin badua baading. Imbah kuitan Sarawin maninggal kaduanya, Sarawin badaas wadah nininya. Julaknya ngitu bujang lapuk, kahada hakun babini. Badiam jua am di rumah nang tuha. Sayang babanaran Utuh Bular ngitu lawan Sarawin. Maksud hati Utuh Bular, Sarawin cuba hinamakan kadiri saurang. Kahada lalu pariannya juriat buhannya siringan atawa parazakian, jaka tu jua batagas tugul bacari nang kamanakan nih. <br> Kada hakun jua Sarawin maasi. Utuh Bular mahayaakan banar Sarawin kahada jadi napa-napa. Padahal han maksud nang julak, lamun handak baisian bamacam barajin ai pariannya bagawi wan bausaha.<br> Cilakanya Sarawin wayah ngitu kadada kahandak nang lain. Makan guring, hudah am. Tanang hidup.<br> “Sadang dah. Maulah parigal banar Sarawin. Dimapa akal? Pina kahada tanang arwah kuitannya. Lamun kahada ulun jua nang bakaras sakali ngini,” surak Utuh Bular ka nininya Sarawin.<br> “Napang te kahandak ikam?” takun Nini Sarawin. “Ulun antar inya ka punduk, wadah tuan guru Syihab. Ada jua sahibar bailmu agama.”<br> Mandangar ngitu, bukah Sarawin. Talu hari hilang. Bapatak inya, banaik ka puhun kariwaya. <br> Sakampungan habut Sarawin hilang. <br> Bagandah nyiru nininya, kahada jua bulik nang cucu. Tagal urang kampung tahu babanaran. Kahada ngalih maulah Sarawin cungul. Kahada batagas inya hakun maarit. Di mana han ada karasmin, nang hibak wan makanan, bilang pintung Sarawin talihat batang hidungnya.<br> “Isuk dihadap, ba’da ashar. Di masigit. Basyukuran manang main bal kampung kita,” surak kaum masigit kampung Sarawin. Sangaja dinyaringi buhannya sapeker masigit.<br> Mandangar bamakanan, laju pada hadangan tu pang Sarawin. Rahatan bajalan tuju ka masigit, bakajutan cungul Utuh Bular. Sawat basasahan lawan Sarawin. Imbahnya bakalahi muntung, bacakut, parak Utuh Bular manampar Sarawin.<br> “Kahada usah lagi ikam badiam di kampung ngini. Mambari supan juriat,” surak Utuh Bular maundurakan Sarawin. <br> Asa manyasal jua nang julak baucap.<br> Kahada manyahut lagi. Bukah Sarawin ka muhara kampung. <br> Bajalan tarus inya matan kampungnya hinggan ka Pantai Hambawang. Ngitu pang hintadi tabiasa Sarawin dasar kahada tahu disupan. Mangawai inya ka mutur di kertak ganal. Bapuluh mutur balalu haja han. Parak magrip timbul singgah mutur trak malihat tangan Sarawin mangawai, padahal hudah taduduk, tatunduk kapala Sarawin tadih.<br> “Handak tuju ka mana, pian?” supir trak batakun.<br> “Kawa leh, Paman, ulun umpat bamara ka Banjar?” balas Sarawin. “Ayu ha. Lakasi naik. Kaina singgah kita bamagrip satumat, lah.” “Inggih, Paman. Akur haja ulun.”<br> Singgahan ai Sarawin lawan supir trak tadih. Maras pinanya hidin malihat Sarawin nang kaya pasakitan lalu. Awak pina lamah, mata calung. Napa talu hari bapatak di puhun kariwaya kada sing makanan. Tagal dasar kuat Sarawin maharit, marga hati sangkal jua han, kada karasaan jua bisa wayah ngitu.<br> Supir truk ngitu maras jua mandangar kisah Sarawin. Dibayari hidin makan. <br> Imbahnya bakisahan tarus Sarawin kada sing ampihan. Karamian buhannya bakisah. Kisah mahalabio, mamalui, dasar ngitu pang kabisaan Sarawin. <br> Supir truk nang bangaran Usman banyak jua baisi kisah sakalinya han. Baadu palui buhannya badua. Usman ngini nang awalnya maulah Sarawin sadar.<br> “Kita ngitu hidup haram panjang tulang balikat. Biar paribasanya bamudal sapuluh jari, napa nang kawa digawi, gawi tarus kada baampihan. Sakali haja kita hidup, kadada nang ngarannya dua kali.” <br> Sarawin nang kada pahamaman, lalu batakun napa arti pamandiran Usman. Dikira Sarawin handak mahalabio pulang.<br> Bagamatan Usman manarangakan. Ngalih banar. Puntul pada timpakul. “Ikam ngitu kaya jukung patah pananjak. Marga kadada lagi kuitan, balalu hidup kadada tujuan,” tarang Usman.<br> Mulai janak pikiran Sarawin. Hampai ka Banjar. Usman basinggah ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Bagana samalaman kahandak Usman nih. Lawan jua hidin bingung kayaapa Sarawin, ka mana mambawa kakanak ngini.<br> “Ulun di sia haja, Paman. Kadapapa. Makasih banyak pian baikan banar. Mudahan ada razakinya ulun mambalas.” Sarawin kada tahu sabujurannya kayaapa inya imbah ngini. Bamudal yakin. Bamudal sapuluh jari tadih. Bagana di masigit, baharap harakat matan Allah Ta’ala.<br> Sakalinya bauntung babanaran Sarawin tasangkut ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Tatamu wan Tuan Guru nang katuju mamuruk kupiah jangang. <br> Buhan masigit pinanya paasian banar lawan Tuan Guru ngitu. Maasi banar tu pang napa jar hidin. <br> Sakali hidin bapandir, Sarawin diunjuki buhannya kamar halus dihiga masigit, hitungannya jadi kaum. Imbah dilajari, bungas banar suara Sarawin sakalinya wayah inya adzan. Hanyut nang mandangar. Nang kada handak sumbahyang gin, baancap baudu. Ampat tahun, Sarawin badiam di masigit. Napa haja hakun digawinya. Sumangat banar inya, bisa laju pada humbayangnya saurang rahatan inya bagawi. Paribasanya hati barikit di masigit. Buhannya katuju banar jua, marga Sarawin harat banar bakisah. Hampai tuan guru mulai malajari inya badagang. Disuruh hidin badagang gaguduh pisang wan tiwadak. <br> Hakun ai Sarawin. Payu banar inya bajualan. Usman nang rancak singgah di masigit ngitu lamun rahatan datang matan hulu sungai, malajari Sarawin manabung. Dikumpulakan jar hidin jua. Kaina lamun cukup mudalnya, bausaha nang lain ikam. Matan situ Sarawin bamula badagang iwak, baju, hampai baisian tuku bangunan saurang. *** Panambaian hampai di kampungnya, Sarawin takajut malihat kampungnya wahini bahindang bahindala. Rami. Matan muhara kampung tadi hinggan ka hadapan rumah nininya hibak warung bajual marning wan samu papuyu. Di muhara kampung batulisan ‘Kampung Marning Samu Papuyu’.<br> Pinanya nininya bajualan jua samu papuyu. Napa baandak tuplis baisi samu di ambin. Sarawin ingat banar samu ulahan nininya panyamannya sakampungan. Kadada nang kawa mangalahi. <br> “Assalamualaikum.” Sarawin maucap salam.<br> “Waalaikumussalam,” sahut Nini Sarawin matan dalam rumah. Dikira hidin urang handak manukar samu. Baancap ai maambil ipuk angsulan. Sakali hampai muhara lawang. Takajut banar hidin. Asa lamah paparutan. <br> “Bujuran ikam kah ngitu, cu?” tagur Nini Sarawin.<br> “Inggih. Ulun Sarawin. Kayapa habar pian ni. Wagas haja leh, Pian?” bamara Sarawin maragap nininya. Diciumnya tangan nininya. Tatangis Sarawin. Pancar banyumata. <br> “Nini wagas haja. Kayaini pang. Ikam pang kayapa jua. Pina balamak leh. Alhamdulillah banar, cu.”<br> Atia nang malihat ngitu gin kada tahan. Taumpat limbui, tatangis jua. <br> Nini Sarawin hudahnya. Kada sing ampihan hidin manangis. Cucu nang hilang, kadada habar saujung kuku, cungul di hadapan hidin. “Ni, ulun minta ampun banar lawan pian. Barelaan. Baampun maap, minta ridho pian dunia akhirat,” jar Sarawin, magun lilihan banyu mata.<br> “Hudah, kahada usah dipandirakan lagi. Nang hudah, hudah aja. Ngitu siapa pang jadi umpat manangis inya,” takun Nini Sarawin malihat binian bungas langkar umpat manangis jua.<br> Tasintak Sarawin. Saking tabawa suasana jar urang tuh, parak kada ingat lawan bini saurang. “Ngini Atia, Ni. Inya bini ulun.” “Subhanallah. Alhamdulillah.” Himung kada sakira Nini Sarawin. Cucunya bulik mambawa bini. *** Habar Sarawin bulik wan hudah baisi bini satumat haja tasiar hampai ka hujung kampung. Langsung jua buhannya basiap bakarasmin. Nini Sarawin bakiauan, bapadah lawan pambakal. Rami tu pang sakampungan. <br> Atia nang hanyar malihat gin bingung. Panambaian marabuk buhan biniannya. Bamacam bumbu tu pang. Masak habang, karih, bistik, wan bumbu hagan soto banjar. <br> Isuknya buhan nang lalakian batungkih kayu. Ngini nang katuju banar Atia maitihi. Marganya di kuta, lamun kada mamasan katring, kumpur gas tu pang handalan. <br> “Raminya lah, Ni,” jar Atia. “Lusa kaina rami am lagi. Suah ikam malihat mangawah leh?” sahut Nini Sarawin. Takarinyum haja Sarawin mandangar nang bini lawan nininya basurah. Tagal sauting nang Sarawin magun am mangganjal di hati. Julaknya, Utuh Bular, hampai damini kadada cungul. Sarik banar luku hidin. Wayah Sarawin batakun ka nininya, ka mana Julak Bular, nininya manyahut tarus, “Kaina ikam tahu haja,” pandir Nini Sarawin manahan tangis. Ditakuni Sarawin lawan urang kampung, saikung-dua kadada nang tahu jar. Kada nyaman hati Sarawin. *** Ari baganti ari, rahatan musim karing. Panas banar arinya. Di rumah Atia bakipas haja. Sarawin bakunjang bakaliling kampung, salajur manyaru nang balum tasaru hagan resepsi pangantinannya. Kahada nyaman tu pang lamun ada kula nang tatinggal disaru. Ngini Sarawin saurang nang hudah paham nang kayaapa hidup sabujurannya.<br> Sarawin magun haja tapikir di mana han julaknya. Nininya kada hakun bakisah. Kaluarga subalah umanya jua badiam haja. “Busia julak babini hudah leh, tagal kanapa maka kadada nang hakun mangisahakan,” Sarawin bagarunum saurangan. “Lamung maninggal te katia kadada gambar julak dipasang nini di rumah nang kaya gambar abah,” jar Sarawin bagarunum kada sing ampihan.<br> Tunggal utingan Sarawin mandatangi nang balum disaru. Kawalannya bahari jua didatanginya. Inya sangaja kada manyuruh urang basaruan sabarataan. Inya sudah maminta tulung lawan busunya, sapupu mamanya nang paling halus hagan manyarui buhan nang tatuhanya. Sarawin takutan salah bapandir lamun lawan nang tuha. Sisanya ngini inya basaruan manyalajur handak basilahturahmi lawan urang kampung. <br> “Isuk kita batajak sarubung. Datangan lah han buhan pian,” jar Sarawin bapadah ka barataan. <br> *** Matan subuh hibakan dah urang. Lalakian wan binian asing-asingnya bagawian. Buhan nang lakian tadih, dikumandui busunya Sarawin, bamula manajak sarubung. Sarawin umpatan jua han.<br> Rahatan mancatuk paku, Sarawin takipik malihat julaknya umpat jua manajak kayu hagan sarubung. <br> Marudai riuh urang kampung maitihi julak wan kamanakan tatamu jua akhiranya. <br> Kaduanya balihatan. Handak tapancar banyu mata. Kada tahan lagi, Sarawin badahulu bamara, maragap julaknya, basujud mancatu ampun, bahari inya malawan banar wan kada maasi papadah julaknya.<br> Utuh Bular handak kada kawa bapandir. Basasigan. <br> “Julak baampun maap jua lawan ikam lah Sarawin. Bahari hilap, tabawa hati maundurakan ikam,” Utuh Bular manyahut.<br> Atia wan Nini Sarawin taharu banar malihat julak lawan kamanakan bamaapan. <br> Utuh Bular balalu bakisah ka Sarawin. <br> Sakalinya te, wayah Sarawin tulak matan kampung, Utuh Bular bahinip tarus di pahumaan. Ujar urang inya malindap babanaran di luhuk hati. Dada barasak, asa basalah maundurakan kamanakan.<br> Utuh Bular bulik sahibar maantar banih atawa pamulaan handak batanam banih. <br> Hampai haja inpu ka inya wayah Sarawin bulik mambawa bini, handak bakarasmin di kampung. <br> Tagal magun sangkal. Handak disariki, katia sudah nikah. Napa am lagi.<br> Utuh Bular takutan jua Sarawin lawan Atia nang kaya kudung hanyar ba utas. Kahada rasuk babilangannya. <br> Pambakal Mungkur baastilah mandatangi ka pahumaan. “Kada handak kah ikam batamu lawan Sarawin,” jar Pambakal Mungkur batakun. “Dirikin jua kah babilangan buhannya tuh,” Utuh Bular bakasah kaduh lawan Pambakal Mungkur. Balum sawat Pambakal Mungkur manyahut. Cungul Tuan Guru Kupiah Jangang. “Kada usah gair. Dasar hampai hudah pancuhnya.” Sakalinya tuan guru ngitu bakawan banar lawan Utuh Bular wan Pambakal Mungkur. <br> Dasar urang kampung buhannya jua, tagal madam matan anum. Imbah tahu kisahnya kayaapa Sarawin damini wan salawas diam di Banjar, ampih sangkal Utuh Bular. Nang kaya mambuang kalimpanan. Ngitu pang balakas Utuh Bular manyasah bulik ka rumah tadih subuh. <br> “Marga baimusi haja matan anum, timbul saikit-ikit tapahuya,” sambat Pambakal Mungkur.<br> “Nang iyanya jua, sawat haja te umpat batajak sarubung,” jar Tuan Guru Kupiah Jangang. Banjarmasin, 31 Juli 2026 tw3sfmruanigi39vjuddndh6flalvo2 121164 121156 2026-10-18T05:29:06Z Jaelani58 44090 Membuat Penyuntingan 121164 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Talkoot Ylimuonio.JPG|jmpl|Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dalam tradisi Kalimantan Selatan, pada pernikahan atau kematian, ada budaya gotong royong, salah satunya batajak sarubung (memasang tenda)]]<ref>Kisdap ulahan JH. Tanujaya</ref>Sarawin himung kahada sakira. Isuk inya pacangan maminang Atia. Rancana buhannya, akad nikah balangsung di Masigit Hasanuddin Madjedie. Sarawin nang handak baakad di sana. Sasuai janjinya wan tuan guru nang ditamuinya batahun silam. Tuan Guru ngitu tamasuk urang nang maubah hidup Sarawin. <br> Wayah ngitu Sarawin hanyar madam matan kampung. Saurangan, kadada kawal, kadada patuhan. Inya dalas hangit bacabur. Tulak, imbah tapahual lawan julaknya di kampung.<br> “Kaina imak babulik ka kampung imbah babini. Akad haja dahulu di masigit ngini,” pinta Tuan Guru nang hampai ari ini, Sarawin kada dibariakan tahu ngaran hidin. <br> “Ulun mancatu ampun, mancatu ridho, barelaan lawan pian. Napa marganya damintu?”Sarawin batakun. <br> “Kaina amun dasaran wayahnya, imak tahu saurang,” takarinyum Tuan Guru malihat Sarawin bagaruk kapala.<br> Balalu Sarawin bajanji lawan Tuan Guru. Hidin jua kaina nang jadi panghulunya. <br> Panambaian kaluarga Atia hakun ai bakawinan di kampung Sarawin haja han. Rancak jua hudah bakawinan di kampung buhannya. Handak jua marasani ka kampung urang jar abahnya Atia. Sabujurannya jarang babanaran baacaraan nang undasnya ngitu wadah lalakian. Tagal jar abahnya Atia, Sarawin ngini yatim piatu, kadada salahnya salajur-manyalajur marakatakan kula. <br> Tagal pulang, ujar Sarawin babuangan hintalu sabuku, tutuha badik kada kawa ditangguh. <br> Han ngitu pang imbah tatamu Tuan Guru, racap banar Sarawin maipii paribasa nang disambat hidin. Sarawin mamakai banar han paribasa ngitu jadi papadah hagan inya bahaluan hidup.<br> Imbah akad, Sarawin wan Atia baacaraan hulu di kampung Atia. Balalah saminggu Sarawin ngini balaki-bini, jar urang babulan madu. <br> Niat buhannya imbah talah babulan madu, hanyar am bakarasmin di kampung Sarawin. <br> “Maraham lingis tabungan, biar ha kada bahirian,” jar Sarawin bapadah ka Atia. <br> Atia jua satuju haja ujar nang laki tadih.<br> *** Talah babulan madu, Sarawin wan Atia batulakan ka kampung Sarawin. Abah, Uma Atia wan kula buhannya nang lain manyusul saminggu nang dihadap.<br> Tuju ka hulu sungai, malihat kertak baaspal hotmix marinyut hati Sarawin. Bahari kertak nang dilaluinya hibak lubang, kahada saikit jua kertak nang rumbih tahantak. Kada karasaan. Asa hanyar kamarian, kuciak Sarawin dalam hati. <br> Taganang Sarawin kisahnya bahari. <br> Tumatan tulak matan kampung sapuluh tahun nang lalu, kada suah Sarawin babulik manjanguk kampung parian sahari dua. Sabujurannya Sarawin maraju. Julaknya manyambati tarus, manyariki inya kada sing ampihan. Dasarannya jua pang Sarawin ngini han. Di kampung gawiannya haur balalah ka karasmin. Ngitu haja, kadada nang lain. Lamun parai karasmin, guring inya han. <br> Ditagur hudah jua, dipapadahi masuk talinga kiwa kaluar talinga kanan. Nasi dimakan jadi tahi.<br> “Asah siku kawatun,” surak julaknya Sarawin. Bahari ngitu dasar kahada paham lalu han. <br> Lamun maingat ngitu Sarawin rancak tatawa saurangan. Dikiranya te han dasar disuruh maasah sikunya ka watun. Diumpatinya ai. Lingsak siku dapatnya. <br> Harau magin bamamai nang julak. <br> Julak Sarawin ngitu bangaran Utuh Bular. Mata hidin dasar bular matan ranak. <br> Utuh Bular lawan Abah Sarawin badua baading. Imbah kuitan Sarawin maninggal kaduanya, Sarawin badaas wadah nininya. Julaknya ngitu bujang lapuk, kahada hakun babini. Badiam jua am di rumah nang tuha. Sayang babanaran Utuh Bular ngitu lawan Sarawin. Maksud hati Utuh Bular, Sarawin cuba hinamakan kadiri saurang. Kahada lalu pariannya juriat buhannya siringan atawa parazakian, jaka tu jua batagas tugul bacari nang kamanakan nih. <br> Kada hakun jua Sarawin maasi. Utuh Bular mahayaakan banar Sarawin kahada jadi napa-napa. Padahal han maksud nang julak, lamun handak baisian bamacam barajin ai pariannya bagawi wan bausaha.<br> Cilakanya Sarawin wayah ngitu kadada kahandak nang lain. Makan guring, hudah am. Tanang hidup.<br> “Sadang dah. Maulah parigal banar Sarawin. Dimapa akal? Pina kahada tanang arwah kuitannya. Lamun kahada ulun jua nang bakaras sakali ngini,” surak Utuh Bular ka nininya Sarawin.<br> “Napang te kahandak ikam?” takun Nini Sarawin. “Ulun antar inya ka punduk, wadah tuan guru Syihab. Ada jua sahibar bailmu agama.”<br> Mandangar ngitu, bukah Sarawin. Talu hari hilang. Bapatak inya, banaik ka puhun kariwaya. <br> Sakampungan habut Sarawin hilang. <br> Bagandah nyiru nininya, kahada jua bulik nang cucu. Tagal urang kampung tahu babanaran. Kahada ngalih maulah Sarawin cungul. Kahada batagas inya hakun maarit. Di mana han ada karasmin, nang hibak wan makanan, bilang pintung Sarawin talihat batang hidungnya.<br> “Isuk dihadap, ba’da ashar. Di masigit. Basyukuran manang main bal kampung kita,” surak kaum masigit kampung Sarawin. Sangaja dinyaringi buhannya sapeker masigit.<br> Mandangar bamakanan, laju pada hadangan tu pang Sarawin. Rahatan bajalan tuju ka masigit, bakajutan cungul Utuh Bular. Sawat basasahan lawan Sarawin. Imbahnya bakalahi muntung, bacakut, parak Utuh Bular manampar Sarawin.<br> “Kahada usah lagi ikam badiam di kampung ngini. Mambari supan juriat,” surak Utuh Bular maundurakan Sarawin. <br> Asa manyasal jua nang julak baucap.<br> Kahada manyahut lagi. Bukah Sarawin ka muhara kampung. <br> Bajalan tarus inya matan kampungnya hinggan ka Pantai Hambawang. Ngitu pang hintadi tabiasa Sarawin dasar kahada tahu disupan. Mangawai inya ka mutur di kertak ganal. Bapuluh mutur balalu haja han. Parak magrip timbul singgah mutur trak malihat tangan Sarawin mangawai, padahal hudah taduduk, tatunduk kapala Sarawin tadih.<br> “Handak tuju ka mana, pian?” supir trak batakun.<br> “Kawa leh, Paman, ulun umpat bamara ka Banjar?” balas Sarawin. “Ayu ha. Lakasi naik. Kaina singgah kita bamagrip satumat, lah.” “Inggih, Paman. Akur haja ulun.”<br> Singgahan ai Sarawin lawan supir trak tadih. Maras pinanya hidin malihat Sarawin nang kaya pasakitan lalu. Awak pina lamah, mata calung. Napa talu hari bapatak di puhun kariwaya kada sing makanan. Tagal dasar kuat Sarawin maharit, marga hati sangkal jua han, kada karasaan jua bisa wayah ngitu.<br> Supir truk ngitu maras jua mandangar kisah Sarawin. Dibayari hidin makan. <br> Imbahnya bakisahan tarus Sarawin kada sing ampihan. Karamian buhannya bakisah. Kisah mahalabio, mamalui, dasar ngitu pang kabisaan Sarawin. <br> Supir truk nang bangaran Usman banyak jua baisi kisah sakalinya han. Baadu palui buhannya badua. Usman ngini nang awalnya maulah Sarawin sadar.<br> “Kita ngitu hidup haram panjang tulang balikat. Biar paribasanya bamudal sapuluh jari, napa nang kawa digawi, gawi tarus kada baampihan. Sakali haja kita hidup, kadada nang ngarannya dua kali.” <br> Sarawin nang kada pahamaman, lalu batakun napa arti pamandiran Usman. Dikira Sarawin handak mahalabio pulang.<br> Bagamatan Usman manarangakan. Ngalih banar. Puntul pada timpakul. “Ikam ngitu kaya jukung patah pananjak. Marga kadada lagi kuitan, balalu hidup kadada tujuan,” tarang Usman.<br> Mulai janak pikiran Sarawin. Hampai ka Banjar. Usman basinggah ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Bagana samalaman kahandak Usman nih. Lawan jua hidin bingung kayaapa Sarawin, ka mana mambawa kakanak ngini.<br> “Ulun di sia haja, Paman. Kadapapa. Makasih banyak pian baikan banar. Mudahan ada razakinya ulun mambalas.” Sarawin kada tahu sabujurannya kayaapa inya imbah ngini. Bamudal yakin. Bamudal sapuluh jari tadih. Bagana di masigit, baharap harakat matan Allah Ta’ala.<br> Sakalinya bauntung babanaran Sarawin tasangkut ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Tatamu wan Tuan Guru nang katuju mamuruk kupiah jangang. <br> Buhan masigit pinanya paasian banar lawan Tuan Guru ngitu. Maasi banar tu pang napa jar hidin. <br> Sakali hidin bapandir, Sarawin diunjuki buhannya kamar halus dihiga masigit, hitungannya jadi kaum. Imbah dilajari, bungas banar suara Sarawin sakalinya wayah inya adzan. Hanyut nang mandangar. Nang kada handak sumbahyang gin, baancap baudu. Ampat tahun, Sarawin badiam di masigit. Napa haja hakun digawinya. Sumangat banar inya, bisa laju pada humbayangnya saurang rahatan inya bagawi. Paribasanya hati barikit di masigit. Buhannya katuju banar jua, marga Sarawin harat banar bakisah. Hampai tuan guru mulai malajari inya badagang. Disuruh hidin badagang gaguduh pisang wan tiwadak. <br> Hakun ai Sarawin. Payu banar inya bajualan. Usman nang rancak singgah di masigit ngitu lamun rahatan datang matan hulu sungai, malajari Sarawin manabung. Dikumpulakan jar hidin jua. Kaina lamun cukup mudalnya, bausaha nang lain ikam. Matan situ Sarawin bamula badagang iwak, baju, hampai baisian tuku bangunan saurang. *** Panambaian hampai di kampungnya, Sarawin takajut malihat kampungnya wahini bahindang bahindala. Rami. Matan muhara kampung tadi hinggan ka hadapan rumah nininya hibak warung bajual marning wan samu papuyu. Di muhara kampung batulisan ‘Kampung Marning Samu Papuyu’.<br> Pinanya nininya bajualan jua samu papuyu. Napa baandak tuplis baisi samu di ambin. Sarawin ingat banar samu ulahan nininya panyamannya sakampungan. Kadada nang kawa mangalahi. <br> “Assalamualaikum.” Sarawin maucap salam.<br> “Waalaikumussalam,” sahut Nini Sarawin matan dalam rumah. Dikira hidin urang handak manukar samu. Baancap ai maambil ipuk angsulan. Sakali hampai muhara lawang. Takajut banar hidin. Asa lamah paparutan. <br> “Bujuran ikam kah ngitu, cu?” tagur Nini Sarawin.<br> “Inggih. Ulun Sarawin. Kayapa habar pian ni. Wagas haja leh, Pian?” bamara Sarawin maragap nininya. Diciumnya tangan nininya. Tatangis Sarawin. Pancar banyumata. <br> “Nini wagas haja. Kayaini pang. Ikam pang kayapa jua. Pina balamak leh. Alhamdulillah banar, cu.”<br> Atia nang malihat ngitu gin kada tahan. Taumpat limbui, tatangis jua. <br> Nini Sarawin hudahnya. Kada sing ampihan hidin manangis. Cucu nang hilang, kadada habar saujung kuku, cungul di hadapan hidin. “Ni, ulun minta ampun banar lawan pian. Barelaan. Baampun maap, minta ridho pian dunia akhirat,” jar Sarawin, magun lilihan banyu mata.<br> “Hudah, kahada usah dipandirakan lagi. Nang hudah, hudah aja. Ngitu siapa pang jadi umpat manangis inya,” takun Nini Sarawin malihat binian bungas langkar umpat manangis jua.<br> Tasintak Sarawin. Saking tabawa suasana jar urang tuh, parak kada ingat lawan bini saurang. “Ngini Atia, Ni. Inya bini ulun.” “Subhanallah. Alhamdulillah.” Himung kada sakira Nini Sarawin. Cucunya bulik mambawa bini. *** Habar Sarawin bulik wan hudah baisi bini satumat haja tasiar hampai ka hujung kampung. Langsung jua buhannya basiap bakarasmin. Nini Sarawin bakiauan, bapadah lawan pambakal. Rami tu pang sakampungan. <br> Atia nang hanyar malihat gin bingung. Panambaian marabuk buhan biniannya. Bamacam bumbu tu pang. Masak habang, karih, bistik, wan bumbu hagan soto banjar. <br> Isuknya buhan nang lalakian batungkih kayu. Ngini nang katuju banar Atia maitihi. Marganya di kuta, lamun kada mamasan katring, kumpur gas tu pang handalan. <br> “Raminya lah, Ni,” jar Atia. “Lusa kaina rami am lagi. Suah ikam malihat mangawah leh?” sahut Nini Sarawin. Takarinyum haja Sarawin mandangar nang bini lawan nininya basurah. Tagal sauting nang Sarawin magun am mangganjal di hati. Julaknya, Utuh Bular, hampai damini kadada cungul. Sarik banar luku hidin. Wayah Sarawin batakun ka nininya, ka mana Julak Bular, nininya manyahut tarus, “Kaina ikam tahu haja,” pandir Nini Sarawin manahan tangis. Ditakuni Sarawin lawan urang kampung, saikung-dua kadada nang tahu jar. Kada nyaman hati Sarawin. *** Ari baganti ari, rahatan musim karing. Panas banar arinya. Di rumah Atia bakipas haja. Sarawin bakunjang bakaliling kampung, salajur manyaru nang balum tasaru hagan resepsi pangantinannya. Kahada nyaman tu pang lamun ada kula nang tatinggal disaru. Ngini Sarawin saurang nang hudah paham nang kayaapa hidup sabujurannya.<br> Sarawin magun haja tapikir di mana han julaknya. Nininya kada hakun bakisah. Kaluarga subalah umanya jua badiam haja. “Busia julak babini hudah leh, tagal kanapa maka kadada nang hakun mangisahakan,” Sarawin bagarunum saurangan. “Lamung maninggal te katia kadada gambar julak dipasang nini di rumah nang kaya gambar abah,” jar Sarawin bagarunum kada sing ampihan.<br> Tunggal utingan Sarawin mandatangi nang balum disaru. Kawalannya bahari jua didatanginya. Inya sangaja kada manyuruh urang basaruan sabarataan. Inya sudah maminta tulung lawan busunya, sapupu mamanya nang paling halus hagan manyarui buhan nang tatuhanya. Sarawin takutan salah bapandir lamun lawan nang tuha. Sisanya ngini inya basaruan manyalajur handak basilahturahmi lawan urang kampung. <br> “Isuk kita batajak sarubung. Datangan lah han buhan pian,” jar Sarawin bapadah ka barataan. <br> *** Matan subuh hibakan dah urang. Lalakian wan binian asing-asingnya bagawian. Buhan nang lakian tadih, dikumandui busunya Sarawin, bamula manajak sarubung. Sarawin umpatan jua han.<br> Rahatan mancatuk paku, Sarawin takipik malihat julaknya umpat jua manajak kayu hagan sarubung. <br> Marudai riuh urang kampung maitihi julak wan kamanakan tatamu jua akhiranya. <br> Kaduanya balihatan. Handak tapancar banyu mata. Kada tahan lagi, Sarawin badahulu bamara, maragap julaknya, basujud mancatu ampun, bahari inya malawan banar wan kada maasi papadah julaknya.<br> Utuh Bular handak kada kawa bapandir. Basasigan. <br> “Julak baampun maap jua lawan ikam lah Sarawin. Bahari hilap, tabawa hati maundurakan ikam,” Utuh Bular manyahut.<br> Atia wan Nini Sarawin taharu banar malihat julak lawan kamanakan bamaapan. <br> Utuh Bular balalu bakisah ka Sarawin. <br> Sakalinya te, wayah Sarawin tulak matan kampung, Utuh Bular bahinip tarus di pahumaan. Ujar urang inya malindap babanaran di luhuk hati. Dada barasak, asa basalah maundurakan kamanakan.<br> Utuh Bular bulik sahibar maantar banih atawa pamulaan handak batanam banih. <br> Hampai haja inpu ka inya wayah Sarawin bulik mambawa bini, handak bakarasmin di kampung. <br> Tagal magun sangkal. Handak disariki, katia sudah nikah. Napa am lagi.<br> Utuh Bular takutan jua Sarawin lawan Atia nang kaya kudung hanyar ba utas. Kahada rasuk babilangannya. <br> Pambakal Mungkur baastilah mandatangi ka pahumaan. “Kada handak kah ikam batamu lawan Sarawin,” jar Pambakal Mungkur batakun. “Dirikin jua kah babilangan buhannya tuh,” Utuh Bular bakasah kaduh lawan Pambakal Mungkur. Balum sawat Pambakal Mungkur manyahut. Cungul Tuan Guru Kupiah Jangang. “Kada usah gair. Dasar hampai hudah pancuhnya.” Sakalinya tuan guru ngitu bakawan banar lawan Utuh Bular wan Pambakal Mungkur. <br> Dasar urang kampung buhannya jua, tagal madam matan anum. Imbah tahu kisahnya kayaapa Sarawin damini wan salawas diam di Banjar, ampih sangkal Utuh Bular. Nang kaya mambuang kalimpanan. Ngitu pang balakas Utuh Bular manyasah bulik ka rumah tadih subuh. <br> “Marga baimusi haja matan anum, timbul saikit-ikit tapahuya,” sambat Pambakal Mungkur.<br> “Nang iyanya jua, sawat haja te umpat batajak sarubung,” jar Tuan Guru Kupiah Jangang. Banjarmasin, 31 Juli 2026 == '''Referensi''' == 76cjczqly01ksohr7jlmrzlqrtecy1y 121188 121164 2026-10-18T05:34:42Z Jaelani58 44090 Menambahkan Kategori 121188 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Talkoot Ylimuonio.JPG|jmpl|Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dalam tradisi Kalimantan Selatan, pada pernikahan atau kematian, ada budaya gotong royong, salah satunya batajak sarubung (memasang tenda)]]<ref>Kisdap ulahan JH. Tanujaya</ref>Sarawin himung kahada sakira. Isuk inya pacangan maminang Atia. Rancana buhannya, akad nikah balangsung di Masigit Hasanuddin Madjedie. Sarawin nang handak baakad di sana. Sasuai janjinya wan tuan guru nang ditamuinya batahun silam. Tuan Guru ngitu tamasuk urang nang maubah hidup Sarawin. <br> Wayah ngitu Sarawin hanyar madam matan kampung. Saurangan, kadada kawal, kadada patuhan. Inya dalas hangit bacabur. Tulak, imbah tapahual lawan julaknya di kampung.<br> “Kaina imak babulik ka kampung imbah babini. Akad haja dahulu di masigit ngini,” pinta Tuan Guru nang hampai ari ini, Sarawin kada dibariakan tahu ngaran hidin. <br> “Ulun mancatu ampun, mancatu ridho, barelaan lawan pian. Napa marganya damintu?”Sarawin batakun. <br> “Kaina amun dasaran wayahnya, imak tahu saurang,” takarinyum Tuan Guru malihat Sarawin bagaruk kapala.<br> Balalu Sarawin bajanji lawan Tuan Guru. Hidin jua kaina nang jadi panghulunya. <br> Panambaian kaluarga Atia hakun ai bakawinan di kampung Sarawin haja han. Rancak jua hudah bakawinan di kampung buhannya. Handak jua marasani ka kampung urang jar abahnya Atia. Sabujurannya jarang babanaran baacaraan nang undasnya ngitu wadah lalakian. Tagal jar abahnya Atia, Sarawin ngini yatim piatu, kadada salahnya salajur-manyalajur marakatakan kula. <br> Tagal pulang, ujar Sarawin babuangan hintalu sabuku, tutuha badik kada kawa ditangguh. <br> Han ngitu pang imbah tatamu Tuan Guru, racap banar Sarawin maipii paribasa nang disambat hidin. Sarawin mamakai banar han paribasa ngitu jadi papadah hagan inya bahaluan hidup.<br> Imbah akad, Sarawin wan Atia baacaraan hulu di kampung Atia. Balalah saminggu Sarawin ngini balaki-bini, jar urang babulan madu. <br> Niat buhannya imbah talah babulan madu, hanyar am bakarasmin di kampung Sarawin. <br> “Maraham lingis tabungan, biar ha kada bahirian,” jar Sarawin bapadah ka Atia. <br> Atia jua satuju haja ujar nang laki tadih.<br> *** Talah babulan madu, Sarawin wan Atia batulakan ka kampung Sarawin. Abah, Uma Atia wan kula buhannya nang lain manyusul saminggu nang dihadap.<br> Tuju ka hulu sungai, malihat kertak baaspal hotmix marinyut hati Sarawin. Bahari kertak nang dilaluinya hibak lubang, kahada saikit jua kertak nang rumbih tahantak. Kada karasaan. Asa hanyar kamarian, kuciak Sarawin dalam hati. <br> Taganang Sarawin kisahnya bahari. <br> Tumatan tulak matan kampung sapuluh tahun nang lalu, kada suah Sarawin babulik manjanguk kampung parian sahari dua. Sabujurannya Sarawin maraju. Julaknya manyambati tarus, manyariki inya kada sing ampihan. Dasarannya jua pang Sarawin ngini han. Di kampung gawiannya haur balalah ka karasmin. Ngitu haja, kadada nang lain. Lamun parai karasmin, guring inya han. <br> Ditagur hudah jua, dipapadahi masuk talinga kiwa kaluar talinga kanan. Nasi dimakan jadi tahi.<br> “Asah siku kawatun,” surak julaknya Sarawin. Bahari ngitu dasar kahada paham lalu han. <br> Lamun maingat ngitu Sarawin rancak tatawa saurangan. Dikiranya te han dasar disuruh maasah sikunya ka watun. Diumpatinya ai. Lingsak siku dapatnya. <br> Harau magin bamamai nang julak. <br> Julak Sarawin ngitu bangaran Utuh Bular. Mata hidin dasar bular matan ranak. <br> Utuh Bular lawan Abah Sarawin badua baading. Imbah kuitan Sarawin maninggal kaduanya, Sarawin badaas wadah nininya. Julaknya ngitu bujang lapuk, kahada hakun babini. Badiam jua am di rumah nang tuha. Sayang babanaran Utuh Bular ngitu lawan Sarawin. Maksud hati Utuh Bular, Sarawin cuba hinamakan kadiri saurang. Kahada lalu pariannya juriat buhannya siringan atawa parazakian, jaka tu jua batagas tugul bacari nang kamanakan nih. <br> Kada hakun jua Sarawin maasi. Utuh Bular mahayaakan banar Sarawin kahada jadi napa-napa. Padahal han maksud nang julak, lamun handak baisian bamacam barajin ai pariannya bagawi wan bausaha.<br> Cilakanya Sarawin wayah ngitu kadada kahandak nang lain. Makan guring, hudah am. Tanang hidup.<br> “Sadang dah. Maulah parigal banar Sarawin. Dimapa akal? Pina kahada tanang arwah kuitannya. Lamun kahada ulun jua nang bakaras sakali ngini,” surak Utuh Bular ka nininya Sarawin.<br> “Napang te kahandak ikam?” takun Nini Sarawin. “Ulun antar inya ka punduk, wadah tuan guru Syihab. Ada jua sahibar bailmu agama.”<br> Mandangar ngitu, bukah Sarawin. Talu hari hilang. Bapatak inya, banaik ka puhun kariwaya. <br> Sakampungan habut Sarawin hilang. <br> Bagandah nyiru nininya, kahada jua bulik nang cucu. Tagal urang kampung tahu babanaran. Kahada ngalih maulah Sarawin cungul. Kahada batagas inya hakun maarit. Di mana han ada karasmin, nang hibak wan makanan, bilang pintung Sarawin talihat batang hidungnya.<br> “Isuk dihadap, ba’da ashar. Di masigit. Basyukuran manang main bal kampung kita,” surak kaum masigit kampung Sarawin. Sangaja dinyaringi buhannya sapeker masigit.<br> Mandangar bamakanan, laju pada hadangan tu pang Sarawin. Rahatan bajalan tuju ka masigit, bakajutan cungul Utuh Bular. Sawat basasahan lawan Sarawin. Imbahnya bakalahi muntung, bacakut, parak Utuh Bular manampar Sarawin.<br> “Kahada usah lagi ikam badiam di kampung ngini. Mambari supan juriat,” surak Utuh Bular maundurakan Sarawin. <br> Asa manyasal jua nang julak baucap.<br> Kahada manyahut lagi. Bukah Sarawin ka muhara kampung. <br> Bajalan tarus inya matan kampungnya hinggan ka Pantai Hambawang. Ngitu pang hintadi tabiasa Sarawin dasar kahada tahu disupan. Mangawai inya ka mutur di kertak ganal. Bapuluh mutur balalu haja han. Parak magrip timbul singgah mutur trak malihat tangan Sarawin mangawai, padahal hudah taduduk, tatunduk kapala Sarawin tadih.<br> “Handak tuju ka mana, pian?” supir trak batakun.<br> “Kawa leh, Paman, ulun umpat bamara ka Banjar?” balas Sarawin. “Ayu ha. Lakasi naik. Kaina singgah kita bamagrip satumat, lah.” “Inggih, Paman. Akur haja ulun.”<br> Singgahan ai Sarawin lawan supir trak tadih. Maras pinanya hidin malihat Sarawin nang kaya pasakitan lalu. Awak pina lamah, mata calung. Napa talu hari bapatak di puhun kariwaya kada sing makanan. Tagal dasar kuat Sarawin maharit, marga hati sangkal jua han, kada karasaan jua bisa wayah ngitu.<br> Supir truk ngitu maras jua mandangar kisah Sarawin. Dibayari hidin makan. <br> Imbahnya bakisahan tarus Sarawin kada sing ampihan. Karamian buhannya bakisah. Kisah mahalabio, mamalui, dasar ngitu pang kabisaan Sarawin. <br> Supir truk nang bangaran Usman banyak jua baisi kisah sakalinya han. Baadu palui buhannya badua. Usman ngini nang awalnya maulah Sarawin sadar.<br> “Kita ngitu hidup haram panjang tulang balikat. Biar paribasanya bamudal sapuluh jari, napa nang kawa digawi, gawi tarus kada baampihan. Sakali haja kita hidup, kadada nang ngarannya dua kali.” <br> Sarawin nang kada pahamaman, lalu batakun napa arti pamandiran Usman. Dikira Sarawin handak mahalabio pulang.<br> Bagamatan Usman manarangakan. Ngalih banar. Puntul pada timpakul. “Ikam ngitu kaya jukung patah pananjak. Marga kadada lagi kuitan, balalu hidup kadada tujuan,” tarang Usman.<br> Mulai janak pikiran Sarawin. Hampai ka Banjar. Usman basinggah ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Bagana samalaman kahandak Usman nih. Lawan jua hidin bingung kayaapa Sarawin, ka mana mambawa kakanak ngini.<br> “Ulun di sia haja, Paman. Kadapapa. Makasih banyak pian baikan banar. Mudahan ada razakinya ulun mambalas.” Sarawin kada tahu sabujurannya kayaapa inya imbah ngini. Bamudal yakin. Bamudal sapuluh jari tadih. Bagana di masigit, baharap harakat matan Allah Ta’ala.<br> Sakalinya bauntung babanaran Sarawin tasangkut ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Tatamu wan Tuan Guru nang katuju mamuruk kupiah jangang. <br> Buhan masigit pinanya paasian banar lawan Tuan Guru ngitu. Maasi banar tu pang napa jar hidin. <br> Sakali hidin bapandir, Sarawin diunjuki buhannya kamar halus dihiga masigit, hitungannya jadi kaum. Imbah dilajari, bungas banar suara Sarawin sakalinya wayah inya adzan. Hanyut nang mandangar. Nang kada handak sumbahyang gin, baancap baudu. Ampat tahun, Sarawin badiam di masigit. Napa haja hakun digawinya. Sumangat banar inya, bisa laju pada humbayangnya saurang rahatan inya bagawi. Paribasanya hati barikit di masigit. Buhannya katuju banar jua, marga Sarawin harat banar bakisah. Hampai tuan guru mulai malajari inya badagang. Disuruh hidin badagang gaguduh pisang wan tiwadak. <br> Hakun ai Sarawin. Payu banar inya bajualan. Usman nang rancak singgah di masigit ngitu lamun rahatan datang matan hulu sungai, malajari Sarawin manabung. Dikumpulakan jar hidin jua. Kaina lamun cukup mudalnya, bausaha nang lain ikam. Matan situ Sarawin bamula badagang iwak, baju, hampai baisian tuku bangunan saurang. *** Panambaian hampai di kampungnya, Sarawin takajut malihat kampungnya wahini bahindang bahindala. Rami. Matan muhara kampung tadi hinggan ka hadapan rumah nininya hibak warung bajual marning wan samu papuyu. Di muhara kampung batulisan ‘Kampung Marning Samu Papuyu’.<br> Pinanya nininya bajualan jua samu papuyu. Napa baandak tuplis baisi samu di ambin. Sarawin ingat banar samu ulahan nininya panyamannya sakampungan. Kadada nang kawa mangalahi. <br> “Assalamualaikum.” Sarawin maucap salam.<br> “Waalaikumussalam,” sahut Nini Sarawin matan dalam rumah. Dikira hidin urang handak manukar samu. Baancap ai maambil ipuk angsulan. Sakali hampai muhara lawang. Takajut banar hidin. Asa lamah paparutan. <br> “Bujuran ikam kah ngitu, cu?” tagur Nini Sarawin.<br> “Inggih. Ulun Sarawin. Kayapa habar pian ni. Wagas haja leh, Pian?” bamara Sarawin maragap nininya. Diciumnya tangan nininya. Tatangis Sarawin. Pancar banyumata. <br> “Nini wagas haja. Kayaini pang. Ikam pang kayapa jua. Pina balamak leh. Alhamdulillah banar, cu.”<br> Atia nang malihat ngitu gin kada tahan. Taumpat limbui, tatangis jua. <br> Nini Sarawin hudahnya. Kada sing ampihan hidin manangis. Cucu nang hilang, kadada habar saujung kuku, cungul di hadapan hidin. “Ni, ulun minta ampun banar lawan pian. Barelaan. Baampun maap, minta ridho pian dunia akhirat,” jar Sarawin, magun lilihan banyu mata.<br> “Hudah, kahada usah dipandirakan lagi. Nang hudah, hudah aja. Ngitu siapa pang jadi umpat manangis inya,” takun Nini Sarawin malihat binian bungas langkar umpat manangis jua.<br> Tasintak Sarawin. Saking tabawa suasana jar urang tuh, parak kada ingat lawan bini saurang. “Ngini Atia, Ni. Inya bini ulun.” “Subhanallah. Alhamdulillah.” Himung kada sakira Nini Sarawin. Cucunya bulik mambawa bini. *** Habar Sarawin bulik wan hudah baisi bini satumat haja tasiar hampai ka hujung kampung. Langsung jua buhannya basiap bakarasmin. Nini Sarawin bakiauan, bapadah lawan pambakal. Rami tu pang sakampungan. <br> Atia nang hanyar malihat gin bingung. Panambaian marabuk buhan biniannya. Bamacam bumbu tu pang. Masak habang, karih, bistik, wan bumbu hagan soto banjar. <br> Isuknya buhan nang lalakian batungkih kayu. Ngini nang katuju banar Atia maitihi. Marganya di kuta, lamun kada mamasan katring, kumpur gas tu pang handalan. <br> “Raminya lah, Ni,” jar Atia. “Lusa kaina rami am lagi. Suah ikam malihat mangawah leh?” sahut Nini Sarawin. Takarinyum haja Sarawin mandangar nang bini lawan nininya basurah. Tagal sauting nang Sarawin magun am mangganjal di hati. Julaknya, Utuh Bular, hampai damini kadada cungul. Sarik banar luku hidin. Wayah Sarawin batakun ka nininya, ka mana Julak Bular, nininya manyahut tarus, “Kaina ikam tahu haja,” pandir Nini Sarawin manahan tangis. Ditakuni Sarawin lawan urang kampung, saikung-dua kadada nang tahu jar. Kada nyaman hati Sarawin. *** Ari baganti ari, rahatan musim karing. Panas banar arinya. Di rumah Atia bakipas haja. Sarawin bakunjang bakaliling kampung, salajur manyaru nang balum tasaru hagan resepsi pangantinannya. Kahada nyaman tu pang lamun ada kula nang tatinggal disaru. Ngini Sarawin saurang nang hudah paham nang kayaapa hidup sabujurannya.<br> Sarawin magun haja tapikir di mana han julaknya. Nininya kada hakun bakisah. Kaluarga subalah umanya jua badiam haja. “Busia julak babini hudah leh, tagal kanapa maka kadada nang hakun mangisahakan,” Sarawin bagarunum saurangan. “Lamung maninggal te katia kadada gambar julak dipasang nini di rumah nang kaya gambar abah,” jar Sarawin bagarunum kada sing ampihan.<br> Tunggal utingan Sarawin mandatangi nang balum disaru. Kawalannya bahari jua didatanginya. Inya sangaja kada manyuruh urang basaruan sabarataan. Inya sudah maminta tulung lawan busunya, sapupu mamanya nang paling halus hagan manyarui buhan nang tatuhanya. Sarawin takutan salah bapandir lamun lawan nang tuha. Sisanya ngini inya basaruan manyalajur handak basilahturahmi lawan urang kampung. <br> “Isuk kita batajak sarubung. Datangan lah han buhan pian,” jar Sarawin bapadah ka barataan. <br> *** Matan subuh hibakan dah urang. Lalakian wan binian asing-asingnya bagawian. Buhan nang lakian tadih, dikumandui busunya Sarawin, bamula manajak sarubung. Sarawin umpatan jua han.<br> Rahatan mancatuk paku, Sarawin takipik malihat julaknya umpat jua manajak kayu hagan sarubung. <br> Marudai riuh urang kampung maitihi julak wan kamanakan tatamu jua akhiranya. <br> Kaduanya balihatan. Handak tapancar banyu mata. Kada tahan lagi, Sarawin badahulu bamara, maragap julaknya, basujud mancatu ampun, bahari inya malawan banar wan kada maasi papadah julaknya.<br> Utuh Bular handak kada kawa bapandir. Basasigan. <br> “Julak baampun maap jua lawan ikam lah Sarawin. Bahari hilap, tabawa hati maundurakan ikam,” Utuh Bular manyahut.<br> Atia wan Nini Sarawin taharu banar malihat julak lawan kamanakan bamaapan. <br> Utuh Bular balalu bakisah ka Sarawin. <br> Sakalinya te, wayah Sarawin tulak matan kampung, Utuh Bular bahinip tarus di pahumaan. Ujar urang inya malindap babanaran di luhuk hati. Dada barasak, asa basalah maundurakan kamanakan.<br> Utuh Bular bulik sahibar maantar banih atawa pamulaan handak batanam banih. <br> Hampai haja inpu ka inya wayah Sarawin bulik mambawa bini, handak bakarasmin di kampung. <br> Tagal magun sangkal. Handak disariki, katia sudah nikah. Napa am lagi.<br> Utuh Bular takutan jua Sarawin lawan Atia nang kaya kudung hanyar ba utas. Kahada rasuk babilangannya. <br> Pambakal Mungkur baastilah mandatangi ka pahumaan. “Kada handak kah ikam batamu lawan Sarawin,” jar Pambakal Mungkur batakun. “Dirikin jua kah babilangan buhannya tuh,” Utuh Bular bakasah kaduh lawan Pambakal Mungkur. Balum sawat Pambakal Mungkur manyahut. Cungul Tuan Guru Kupiah Jangang. “Kada usah gair. Dasar hampai hudah pancuhnya.” Sakalinya tuan guru ngitu bakawan banar lawan Utuh Bular wan Pambakal Mungkur. <br> Dasar urang kampung buhannya jua, tagal madam matan anum. Imbah tahu kisahnya kayaapa Sarawin damini wan salawas diam di Banjar, ampih sangkal Utuh Bular. Nang kaya mambuang kalimpanan. Ngitu pang balakas Utuh Bular manyasah bulik ka rumah tadih subuh. <br> “Marga baimusi haja matan anum, timbul saikit-ikit tapahuya,” sambat Pambakal Mungkur.<br> “Nang iyanya jua, sawat haja te umpat batajak sarubung,” jar Tuan Guru Kupiah Jangang. Banjarmasin, 31 Juli 2026 == '''Referensi''' == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] 1yp2mi29eri94ocoluvajn43nvkjlio 121215 121188 2026-10-18T05:38:43Z Jaelani58 44090 Menambahkan Kategori 121215 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Talkoot Ylimuonio.JPG|jmpl|Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dalam tradisi Kalimantan Selatan, pada pernikahan atau kematian, ada budaya gotong royong, salah satunya batajak sarubung (memasang tenda)]]<ref>Kisdap ulahan JH. Tanujaya</ref>Sarawin himung kahada sakira. Isuk inya pacangan maminang Atia. Rancana buhannya, akad nikah balangsung di Masigit Hasanuddin Madjedie. Sarawin nang handak baakad di sana. Sasuai janjinya wan tuan guru nang ditamuinya batahun silam. Tuan Guru ngitu tamasuk urang nang maubah hidup Sarawin. <br> Wayah ngitu Sarawin hanyar madam matan kampung. Saurangan, kadada kawal, kadada patuhan. Inya dalas hangit bacabur. Tulak, imbah tapahual lawan julaknya di kampung.<br> “Kaina imak babulik ka kampung imbah babini. Akad haja dahulu di masigit ngini,” pinta Tuan Guru nang hampai ari ini, Sarawin kada dibariakan tahu ngaran hidin. <br> “Ulun mancatu ampun, mancatu ridho, barelaan lawan pian. Napa marganya damintu?”Sarawin batakun. <br> “Kaina amun dasaran wayahnya, imak tahu saurang,” takarinyum Tuan Guru malihat Sarawin bagaruk kapala.<br> Balalu Sarawin bajanji lawan Tuan Guru. Hidin jua kaina nang jadi panghulunya. <br> Panambaian kaluarga Atia hakun ai bakawinan di kampung Sarawin haja han. Rancak jua hudah bakawinan di kampung buhannya. Handak jua marasani ka kampung urang jar abahnya Atia. Sabujurannya jarang babanaran baacaraan nang undasnya ngitu wadah lalakian. Tagal jar abahnya Atia, Sarawin ngini yatim piatu, kadada salahnya salajur-manyalajur marakatakan kula. <br> Tagal pulang, ujar Sarawin babuangan hintalu sabuku, tutuha badik kada kawa ditangguh. <br> Han ngitu pang imbah tatamu Tuan Guru, racap banar Sarawin maipii paribasa nang disambat hidin. Sarawin mamakai banar han paribasa ngitu jadi papadah hagan inya bahaluan hidup.<br> Imbah akad, Sarawin wan Atia baacaraan hulu di kampung Atia. Balalah saminggu Sarawin ngini balaki-bini, jar urang babulan madu. <br> Niat buhannya imbah talah babulan madu, hanyar am bakarasmin di kampung Sarawin. <br> “Maraham lingis tabungan, biar ha kada bahirian,” jar Sarawin bapadah ka Atia. <br> Atia jua satuju haja ujar nang laki tadih.<br> *** Talah babulan madu, Sarawin wan Atia batulakan ka kampung Sarawin. Abah, Uma Atia wan kula buhannya nang lain manyusul saminggu nang dihadap.<br> Tuju ka hulu sungai, malihat kertak baaspal hotmix marinyut hati Sarawin. Bahari kertak nang dilaluinya hibak lubang, kahada saikit jua kertak nang rumbih tahantak. Kada karasaan. Asa hanyar kamarian, kuciak Sarawin dalam hati. <br> Taganang Sarawin kisahnya bahari. <br> Tumatan tulak matan kampung sapuluh tahun nang lalu, kada suah Sarawin babulik manjanguk kampung parian sahari dua. Sabujurannya Sarawin maraju. Julaknya manyambati tarus, manyariki inya kada sing ampihan. Dasarannya jua pang Sarawin ngini han. Di kampung gawiannya haur balalah ka karasmin. Ngitu haja, kadada nang lain. Lamun parai karasmin, guring inya han. <br> Ditagur hudah jua, dipapadahi masuk talinga kiwa kaluar talinga kanan. Nasi dimakan jadi tahi.<br> “Asah siku kawatun,” surak julaknya Sarawin. Bahari ngitu dasar kahada paham lalu han. <br> Lamun maingat ngitu Sarawin rancak tatawa saurangan. Dikiranya te han dasar disuruh maasah sikunya ka watun. Diumpatinya ai. Lingsak siku dapatnya. <br> Harau magin bamamai nang julak. <br> Julak Sarawin ngitu bangaran Utuh Bular. Mata hidin dasar bular matan ranak. <br> Utuh Bular lawan Abah Sarawin badua baading. Imbah kuitan Sarawin maninggal kaduanya, Sarawin badaas wadah nininya. Julaknya ngitu bujang lapuk, kahada hakun babini. Badiam jua am di rumah nang tuha. Sayang babanaran Utuh Bular ngitu lawan Sarawin. Maksud hati Utuh Bular, Sarawin cuba hinamakan kadiri saurang. Kahada lalu pariannya juriat buhannya siringan atawa parazakian, jaka tu jua batagas tugul bacari nang kamanakan nih. <br> Kada hakun jua Sarawin maasi. Utuh Bular mahayaakan banar Sarawin kahada jadi napa-napa. Padahal han maksud nang julak, lamun handak baisian bamacam barajin ai pariannya bagawi wan bausaha.<br> Cilakanya Sarawin wayah ngitu kadada kahandak nang lain. Makan guring, hudah am. Tanang hidup.<br> “Sadang dah. Maulah parigal banar Sarawin. Dimapa akal? Pina kahada tanang arwah kuitannya. Lamun kahada ulun jua nang bakaras sakali ngini,” surak Utuh Bular ka nininya Sarawin.<br> “Napang te kahandak ikam?” takun Nini Sarawin. “Ulun antar inya ka punduk, wadah tuan guru Syihab. Ada jua sahibar bailmu agama.”<br> Mandangar ngitu, bukah Sarawin. Talu hari hilang. Bapatak inya, banaik ka puhun kariwaya. <br> Sakampungan habut Sarawin hilang. <br> Bagandah nyiru nininya, kahada jua bulik nang cucu. Tagal urang kampung tahu babanaran. Kahada ngalih maulah Sarawin cungul. Kahada batagas inya hakun maarit. Di mana han ada karasmin, nang hibak wan makanan, bilang pintung Sarawin talihat batang hidungnya.<br> “Isuk dihadap, ba’da ashar. Di masigit. Basyukuran manang main bal kampung kita,” surak kaum masigit kampung Sarawin. Sangaja dinyaringi buhannya sapeker masigit.<br> Mandangar bamakanan, laju pada hadangan tu pang Sarawin. Rahatan bajalan tuju ka masigit, bakajutan cungul Utuh Bular. Sawat basasahan lawan Sarawin. Imbahnya bakalahi muntung, bacakut, parak Utuh Bular manampar Sarawin.<br> “Kahada usah lagi ikam badiam di kampung ngini. Mambari supan juriat,” surak Utuh Bular maundurakan Sarawin. <br> Asa manyasal jua nang julak baucap.<br> Kahada manyahut lagi. Bukah Sarawin ka muhara kampung. <br> Bajalan tarus inya matan kampungnya hinggan ka Pantai Hambawang. Ngitu pang hintadi tabiasa Sarawin dasar kahada tahu disupan. Mangawai inya ka mutur di kertak ganal. Bapuluh mutur balalu haja han. Parak magrip timbul singgah mutur trak malihat tangan Sarawin mangawai, padahal hudah taduduk, tatunduk kapala Sarawin tadih.<br> “Handak tuju ka mana, pian?” supir trak batakun.<br> “Kawa leh, Paman, ulun umpat bamara ka Banjar?” balas Sarawin. “Ayu ha. Lakasi naik. Kaina singgah kita bamagrip satumat, lah.” “Inggih, Paman. Akur haja ulun.”<br> Singgahan ai Sarawin lawan supir trak tadih. Maras pinanya hidin malihat Sarawin nang kaya pasakitan lalu. Awak pina lamah, mata calung. Napa talu hari bapatak di puhun kariwaya kada sing makanan. Tagal dasar kuat Sarawin maharit, marga hati sangkal jua han, kada karasaan jua bisa wayah ngitu.<br> Supir truk ngitu maras jua mandangar kisah Sarawin. Dibayari hidin makan. <br> Imbahnya bakisahan tarus Sarawin kada sing ampihan. Karamian buhannya bakisah. Kisah mahalabio, mamalui, dasar ngitu pang kabisaan Sarawin. <br> Supir truk nang bangaran Usman banyak jua baisi kisah sakalinya han. Baadu palui buhannya badua. Usman ngini nang awalnya maulah Sarawin sadar.<br> “Kita ngitu hidup haram panjang tulang balikat. Biar paribasanya bamudal sapuluh jari, napa nang kawa digawi, gawi tarus kada baampihan. Sakali haja kita hidup, kadada nang ngarannya dua kali.” <br> Sarawin nang kada pahamaman, lalu batakun napa arti pamandiran Usman. Dikira Sarawin handak mahalabio pulang.<br> Bagamatan Usman manarangakan. Ngalih banar. Puntul pada timpakul. “Ikam ngitu kaya jukung patah pananjak. Marga kadada lagi kuitan, balalu hidup kadada tujuan,” tarang Usman.<br> Mulai janak pikiran Sarawin. Hampai ka Banjar. Usman basinggah ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Bagana samalaman kahandak Usman nih. Lawan jua hidin bingung kayaapa Sarawin, ka mana mambawa kakanak ngini.<br> “Ulun di sia haja, Paman. Kadapapa. Makasih banyak pian baikan banar. Mudahan ada razakinya ulun mambalas.” Sarawin kada tahu sabujurannya kayaapa inya imbah ngini. Bamudal yakin. Bamudal sapuluh jari tadih. Bagana di masigit, baharap harakat matan Allah Ta’ala.<br> Sakalinya bauntung babanaran Sarawin tasangkut ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Tatamu wan Tuan Guru nang katuju mamuruk kupiah jangang. <br> Buhan masigit pinanya paasian banar lawan Tuan Guru ngitu. Maasi banar tu pang napa jar hidin. <br> Sakali hidin bapandir, Sarawin diunjuki buhannya kamar halus dihiga masigit, hitungannya jadi kaum. Imbah dilajari, bungas banar suara Sarawin sakalinya wayah inya adzan. Hanyut nang mandangar. Nang kada handak sumbahyang gin, baancap baudu. Ampat tahun, Sarawin badiam di masigit. Napa haja hakun digawinya. Sumangat banar inya, bisa laju pada humbayangnya saurang rahatan inya bagawi. Paribasanya hati barikit di masigit. Buhannya katuju banar jua, marga Sarawin harat banar bakisah. Hampai tuan guru mulai malajari inya badagang. Disuruh hidin badagang gaguduh pisang wan tiwadak. <br> Hakun ai Sarawin. Payu banar inya bajualan. Usman nang rancak singgah di masigit ngitu lamun rahatan datang matan hulu sungai, malajari Sarawin manabung. Dikumpulakan jar hidin jua. Kaina lamun cukup mudalnya, bausaha nang lain ikam. Matan situ Sarawin bamula badagang iwak, baju, hampai baisian tuku bangunan saurang. *** Panambaian hampai di kampungnya, Sarawin takajut malihat kampungnya wahini bahindang bahindala. Rami. Matan muhara kampung tadi hinggan ka hadapan rumah nininya hibak warung bajual marning wan samu papuyu. Di muhara kampung batulisan ‘Kampung Marning Samu Papuyu’.<br> Pinanya nininya bajualan jua samu papuyu. Napa baandak tuplis baisi samu di ambin. Sarawin ingat banar samu ulahan nininya panyamannya sakampungan. Kadada nang kawa mangalahi. <br> “Assalamualaikum.” Sarawin maucap salam.<br> “Waalaikumussalam,” sahut Nini Sarawin matan dalam rumah. Dikira hidin urang handak manukar samu. Baancap ai maambil ipuk angsulan. Sakali hampai muhara lawang. Takajut banar hidin. Asa lamah paparutan. <br> “Bujuran ikam kah ngitu, cu?” tagur Nini Sarawin.<br> “Inggih. Ulun Sarawin. Kayapa habar pian ni. Wagas haja leh, Pian?” bamara Sarawin maragap nininya. Diciumnya tangan nininya. Tatangis Sarawin. Pancar banyumata. <br> “Nini wagas haja. Kayaini pang. Ikam pang kayapa jua. Pina balamak leh. Alhamdulillah banar, cu.”<br> Atia nang malihat ngitu gin kada tahan. Taumpat limbui, tatangis jua. <br> Nini Sarawin hudahnya. Kada sing ampihan hidin manangis. Cucu nang hilang, kadada habar saujung kuku, cungul di hadapan hidin. “Ni, ulun minta ampun banar lawan pian. Barelaan. Baampun maap, minta ridho pian dunia akhirat,” jar Sarawin, magun lilihan banyu mata.<br> “Hudah, kahada usah dipandirakan lagi. Nang hudah, hudah aja. Ngitu siapa pang jadi umpat manangis inya,” takun Nini Sarawin malihat binian bungas langkar umpat manangis jua.<br> Tasintak Sarawin. Saking tabawa suasana jar urang tuh, parak kada ingat lawan bini saurang. “Ngini Atia, Ni. Inya bini ulun.” “Subhanallah. Alhamdulillah.” Himung kada sakira Nini Sarawin. Cucunya bulik mambawa bini. *** Habar Sarawin bulik wan hudah baisi bini satumat haja tasiar hampai ka hujung kampung. Langsung jua buhannya basiap bakarasmin. Nini Sarawin bakiauan, bapadah lawan pambakal. Rami tu pang sakampungan. <br> Atia nang hanyar malihat gin bingung. Panambaian marabuk buhan biniannya. Bamacam bumbu tu pang. Masak habang, karih, bistik, wan bumbu hagan soto banjar. <br> Isuknya buhan nang lalakian batungkih kayu. Ngini nang katuju banar Atia maitihi. Marganya di kuta, lamun kada mamasan katring, kumpur gas tu pang handalan. <br> “Raminya lah, Ni,” jar Atia. “Lusa kaina rami am lagi. Suah ikam malihat mangawah leh?” sahut Nini Sarawin. Takarinyum haja Sarawin mandangar nang bini lawan nininya basurah. Tagal sauting nang Sarawin magun am mangganjal di hati. Julaknya, Utuh Bular, hampai damini kadada cungul. Sarik banar luku hidin. Wayah Sarawin batakun ka nininya, ka mana Julak Bular, nininya manyahut tarus, “Kaina ikam tahu haja,” pandir Nini Sarawin manahan tangis. Ditakuni Sarawin lawan urang kampung, saikung-dua kadada nang tahu jar. Kada nyaman hati Sarawin. *** Ari baganti ari, rahatan musim karing. Panas banar arinya. Di rumah Atia bakipas haja. Sarawin bakunjang bakaliling kampung, salajur manyaru nang balum tasaru hagan resepsi pangantinannya. Kahada nyaman tu pang lamun ada kula nang tatinggal disaru. Ngini Sarawin saurang nang hudah paham nang kayaapa hidup sabujurannya.<br> Sarawin magun haja tapikir di mana han julaknya. Nininya kada hakun bakisah. Kaluarga subalah umanya jua badiam haja. “Busia julak babini hudah leh, tagal kanapa maka kadada nang hakun mangisahakan,” Sarawin bagarunum saurangan. “Lamung maninggal te katia kadada gambar julak dipasang nini di rumah nang kaya gambar abah,” jar Sarawin bagarunum kada sing ampihan.<br> Tunggal utingan Sarawin mandatangi nang balum disaru. Kawalannya bahari jua didatanginya. Inya sangaja kada manyuruh urang basaruan sabarataan. Inya sudah maminta tulung lawan busunya, sapupu mamanya nang paling halus hagan manyarui buhan nang tatuhanya. Sarawin takutan salah bapandir lamun lawan nang tuha. Sisanya ngini inya basaruan manyalajur handak basilahturahmi lawan urang kampung. <br> “Isuk kita batajak sarubung. Datangan lah han buhan pian,” jar Sarawin bapadah ka barataan. <br> *** Matan subuh hibakan dah urang. Lalakian wan binian asing-asingnya bagawian. Buhan nang lakian tadih, dikumandui busunya Sarawin, bamula manajak sarubung. Sarawin umpatan jua han.<br> Rahatan mancatuk paku, Sarawin takipik malihat julaknya umpat jua manajak kayu hagan sarubung. <br> Marudai riuh urang kampung maitihi julak wan kamanakan tatamu jua akhiranya. <br> Kaduanya balihatan. Handak tapancar banyu mata. Kada tahan lagi, Sarawin badahulu bamara, maragap julaknya, basujud mancatu ampun, bahari inya malawan banar wan kada maasi papadah julaknya.<br> Utuh Bular handak kada kawa bapandir. Basasigan. <br> “Julak baampun maap jua lawan ikam lah Sarawin. Bahari hilap, tabawa hati maundurakan ikam,” Utuh Bular manyahut.<br> Atia wan Nini Sarawin taharu banar malihat julak lawan kamanakan bamaapan. <br> Utuh Bular balalu bakisah ka Sarawin. <br> Sakalinya te, wayah Sarawin tulak matan kampung, Utuh Bular bahinip tarus di pahumaan. Ujar urang inya malindap babanaran di luhuk hati. Dada barasak, asa basalah maundurakan kamanakan.<br> Utuh Bular bulik sahibar maantar banih atawa pamulaan handak batanam banih. <br> Hampai haja inpu ka inya wayah Sarawin bulik mambawa bini, handak bakarasmin di kampung. <br> Tagal magun sangkal. Handak disariki, katia sudah nikah. Napa am lagi.<br> Utuh Bular takutan jua Sarawin lawan Atia nang kaya kudung hanyar ba utas. Kahada rasuk babilangannya. <br> Pambakal Mungkur baastilah mandatangi ka pahumaan. “Kada handak kah ikam batamu lawan Sarawin,” jar Pambakal Mungkur batakun. “Dirikin jua kah babilangan buhannya tuh,” Utuh Bular bakasah kaduh lawan Pambakal Mungkur. Balum sawat Pambakal Mungkur manyahut. Cungul Tuan Guru Kupiah Jangang. “Kada usah gair. Dasar hampai hudah pancuhnya.” Sakalinya tuan guru ngitu bakawan banar lawan Utuh Bular wan Pambakal Mungkur. <br> Dasar urang kampung buhannya jua, tagal madam matan anum. Imbah tahu kisahnya kayaapa Sarawin damini wan salawas diam di Banjar, ampih sangkal Utuh Bular. Nang kaya mambuang kalimpanan. Ngitu pang balakas Utuh Bular manyasah bulik ka rumah tadih subuh. <br> “Marga baimusi haja matan anum, timbul saikit-ikit tapahuya,” sambat Pambakal Mungkur.<br> “Nang iyanya jua, sawat haja te umpat batajak sarubung,” jar Tuan Guru Kupiah Jangang. Banjarmasin, 31 Juli 2026 == '''Referensi''' == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] qfknpypusxrssjgffxi4o6ipxcza92w 121246 121215 2026-10-18T05:45:38Z Jaelani58 44090 Menghapus Referensi 121246 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Talkoot Ylimuonio.JPG|jmpl|Gambar hanya sebagai ilustrasi. Dalam tradisi Kalimantan Selatan, pada pernikahan atau kematian, ada budaya gotong royong, salah satunya batajak sarubung (memasang tenda)]]Sarawin himung kahada sakira. Isuk inya pacangan maminang Atia. Rancana buhannya, akad nikah balangsung di Masigit Hasanuddin Madjedie. Sarawin nang handak baakad di sana. Sasuai janjinya wan tuan guru nang ditamuinya batahun silam. Tuan Guru ngitu tamasuk urang nang maubah hidup Sarawin. <br> Wayah ngitu Sarawin hanyar madam matan kampung. Saurangan, kadada kawal, kadada patuhan. Inya dalas hangit bacabur. Tulak, imbah tapahual lawan julaknya di kampung.<br> “Kaina imak babulik ka kampung imbah babini. Akad haja dahulu di masigit ngini,” pinta Tuan Guru nang hampai ari ini, Sarawin kada dibariakan tahu ngaran hidin. <br> “Ulun mancatu ampun, mancatu ridho, barelaan lawan pian. Napa marganya damintu?”Sarawin batakun. <br> “Kaina amun dasaran wayahnya, imak tahu saurang,” takarinyum Tuan Guru malihat Sarawin bagaruk kapala.<br> Balalu Sarawin bajanji lawan Tuan Guru. Hidin jua kaina nang jadi panghulunya. <br> Panambaian kaluarga Atia hakun ai bakawinan di kampung Sarawin haja han. Rancak jua hudah bakawinan di kampung buhannya. Handak jua marasani ka kampung urang jar abahnya Atia. Sabujurannya jarang babanaran baacaraan nang undasnya ngitu wadah lalakian. Tagal jar abahnya Atia, Sarawin ngini yatim piatu, kadada salahnya salajur-manyalajur marakatakan kula. <br> Tagal pulang, ujar Sarawin babuangan hintalu sabuku, tutuha badik kada kawa ditangguh. <br> Han ngitu pang imbah tatamu Tuan Guru, racap banar Sarawin maipii paribasa nang disambat hidin. Sarawin mamakai banar han paribasa ngitu jadi papadah hagan inya bahaluan hidup.<br> Imbah akad, Sarawin wan Atia baacaraan hulu di kampung Atia. Balalah saminggu Sarawin ngini balaki-bini, jar urang babulan madu. <br> Niat buhannya imbah talah babulan madu, hanyar am bakarasmin di kampung Sarawin. <br> “Maraham lingis tabungan, biar ha kada bahirian,” jar Sarawin bapadah ka Atia. <br> Atia jua satuju haja ujar nang laki tadih.<br> *** Talah babulan madu, Sarawin wan Atia batulakan ka kampung Sarawin. Abah, Uma Atia wan kula buhannya nang lain manyusul saminggu nang dihadap.<br> Tuju ka hulu sungai, malihat kertak baaspal hotmix marinyut hati Sarawin. Bahari kertak nang dilaluinya hibak lubang, kahada saikit jua kertak nang rumbih tahantak. Kada karasaan. Asa hanyar kamarian, kuciak Sarawin dalam hati. <br> Taganang Sarawin kisahnya bahari. <br> Tumatan tulak matan kampung sapuluh tahun nang lalu, kada suah Sarawin babulik manjanguk kampung parian sahari dua. Sabujurannya Sarawin maraju. Julaknya manyambati tarus, manyariki inya kada sing ampihan. Dasarannya jua pang Sarawin ngini han. Di kampung gawiannya haur balalah ka karasmin. Ngitu haja, kadada nang lain. Lamun parai karasmin, guring inya han. <br> Ditagur hudah jua, dipapadahi masuk talinga kiwa kaluar talinga kanan. Nasi dimakan jadi tahi.<br> “Asah siku kawatun,” surak julaknya Sarawin. Bahari ngitu dasar kahada paham lalu han. <br> Lamun maingat ngitu Sarawin rancak tatawa saurangan. Dikiranya te han dasar disuruh maasah sikunya ka watun. Diumpatinya ai. Lingsak siku dapatnya. <br> Harau magin bamamai nang julak. <br> Julak Sarawin ngitu bangaran Utuh Bular. Mata hidin dasar bular matan ranak. <br> Utuh Bular lawan Abah Sarawin badua baading. Imbah kuitan Sarawin maninggal kaduanya, Sarawin badaas wadah nininya. Julaknya ngitu bujang lapuk, kahada hakun babini. Badiam jua am di rumah nang tuha. Sayang babanaran Utuh Bular ngitu lawan Sarawin. Maksud hati Utuh Bular, Sarawin cuba hinamakan kadiri saurang. Kahada lalu pariannya juriat buhannya siringan atawa parazakian, jaka tu jua batagas tugul bacari nang kamanakan nih. <br> Kada hakun jua Sarawin maasi. Utuh Bular mahayaakan banar Sarawin kahada jadi napa-napa. Padahal han maksud nang julak, lamun handak baisian bamacam barajin ai pariannya bagawi wan bausaha.<br> Cilakanya Sarawin wayah ngitu kadada kahandak nang lain. Makan guring, hudah am. Tanang hidup.<br> “Sadang dah. Maulah parigal banar Sarawin. Dimapa akal? Pina kahada tanang arwah kuitannya. Lamun kahada ulun jua nang bakaras sakali ngini,” surak Utuh Bular ka nininya Sarawin.<br> “Napang te kahandak ikam?” takun Nini Sarawin. “Ulun antar inya ka punduk, wadah tuan guru Syihab. Ada jua sahibar bailmu agama.”<br> Mandangar ngitu, bukah Sarawin. Talu hari hilang. Bapatak inya, banaik ka puhun kariwaya. <br> Sakampungan habut Sarawin hilang. <br> Bagandah nyiru nininya, kahada jua bulik nang cucu. Tagal urang kampung tahu babanaran. Kahada ngalih maulah Sarawin cungul. Kahada batagas inya hakun maarit. Di mana han ada karasmin, nang hibak wan makanan, bilang pintung Sarawin talihat batang hidungnya.<br> “Isuk dihadap, ba’da ashar. Di masigit. Basyukuran manang main bal kampung kita,” surak kaum masigit kampung Sarawin. Sangaja dinyaringi buhannya sapeker masigit.<br> Mandangar bamakanan, laju pada hadangan tu pang Sarawin. Rahatan bajalan tuju ka masigit, bakajutan cungul Utuh Bular. Sawat basasahan lawan Sarawin. Imbahnya bakalahi muntung, bacakut, parak Utuh Bular manampar Sarawin.<br> “Kahada usah lagi ikam badiam di kampung ngini. Mambari supan juriat,” surak Utuh Bular maundurakan Sarawin. <br> Asa manyasal jua nang julak baucap.<br> Kahada manyahut lagi. Bukah Sarawin ka muhara kampung. <br> Bajalan tarus inya matan kampungnya hinggan ka Pantai Hambawang. Ngitu pang hintadi tabiasa Sarawin dasar kahada tahu disupan. Mangawai inya ka mutur di kertak ganal. Bapuluh mutur balalu haja han. Parak magrip timbul singgah mutur trak malihat tangan Sarawin mangawai, padahal hudah taduduk, tatunduk kapala Sarawin tadih.<br> “Handak tuju ka mana, pian?” supir trak batakun.<br> “Kawa leh, Paman, ulun umpat bamara ka Banjar?” balas Sarawin. “Ayu ha. Lakasi naik. Kaina singgah kita bamagrip satumat, lah.” “Inggih, Paman. Akur haja ulun.”<br> Singgahan ai Sarawin lawan supir trak tadih. Maras pinanya hidin malihat Sarawin nang kaya pasakitan lalu. Awak pina lamah, mata calung. Napa talu hari bapatak di puhun kariwaya kada sing makanan. Tagal dasar kuat Sarawin maharit, marga hati sangkal jua han, kada karasaan jua bisa wayah ngitu.<br> Supir truk ngitu maras jua mandangar kisah Sarawin. Dibayari hidin makan. <br> Imbahnya bakisahan tarus Sarawin kada sing ampihan. Karamian buhannya bakisah. Kisah mahalabio, mamalui, dasar ngitu pang kabisaan Sarawin. <br> Supir truk nang bangaran Usman banyak jua baisi kisah sakalinya han. Baadu palui buhannya badua. Usman ngini nang awalnya maulah Sarawin sadar.<br> “Kita ngitu hidup haram panjang tulang balikat. Biar paribasanya bamudal sapuluh jari, napa nang kawa digawi, gawi tarus kada baampihan. Sakali haja kita hidup, kadada nang ngarannya dua kali.” <br> Sarawin nang kada pahamaman, lalu batakun napa arti pamandiran Usman. Dikira Sarawin handak mahalabio pulang.<br> Bagamatan Usman manarangakan. Ngalih banar. Puntul pada timpakul. “Ikam ngitu kaya jukung patah pananjak. Marga kadada lagi kuitan, balalu hidup kadada tujuan,” tarang Usman.<br> Mulai janak pikiran Sarawin. Hampai ka Banjar. Usman basinggah ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Bagana samalaman kahandak Usman nih. Lawan jua hidin bingung kayaapa Sarawin, ka mana mambawa kakanak ngini.<br> “Ulun di sia haja, Paman. Kadapapa. Makasih banyak pian baikan banar. Mudahan ada razakinya ulun mambalas.” Sarawin kada tahu sabujurannya kayaapa inya imbah ngini. Bamudal yakin. Bamudal sapuluh jari tadih. Bagana di masigit, baharap harakat matan Allah Ta’ala.<br> Sakalinya bauntung babanaran Sarawin tasangkut ka Masigit Hasanuddin Madjedie. Tatamu wan Tuan Guru nang katuju mamuruk kupiah jangang. <br> Buhan masigit pinanya paasian banar lawan Tuan Guru ngitu. Maasi banar tu pang napa jar hidin. <br> Sakali hidin bapandir, Sarawin diunjuki buhannya kamar halus dihiga masigit, hitungannya jadi kaum. Imbah dilajari, bungas banar suara Sarawin sakalinya wayah inya adzan. Hanyut nang mandangar. Nang kada handak sumbahyang gin, baancap baudu. Ampat tahun, Sarawin badiam di masigit. Napa haja hakun digawinya. Sumangat banar inya, bisa laju pada humbayangnya saurang rahatan inya bagawi. Paribasanya hati barikit di masigit. Buhannya katuju banar jua, marga Sarawin harat banar bakisah. Hampai tuan guru mulai malajari inya badagang. Disuruh hidin badagang gaguduh pisang wan tiwadak. <br> Hakun ai Sarawin. Payu banar inya bajualan. Usman nang rancak singgah di masigit ngitu lamun rahatan datang matan hulu sungai, malajari Sarawin manabung. Dikumpulakan jar hidin jua. Kaina lamun cukup mudalnya, bausaha nang lain ikam. Matan situ Sarawin bamula badagang iwak, baju, hampai baisian tuku bangunan saurang. *** Panambaian hampai di kampungnya, Sarawin takajut malihat kampungnya wahini bahindang bahindala. Rami. Matan muhara kampung tadi hinggan ka hadapan rumah nininya hibak warung bajual marning wan samu papuyu. Di muhara kampung batulisan ‘Kampung Marning Samu Papuyu’.<br> Pinanya nininya bajualan jua samu papuyu. Napa baandak tuplis baisi samu di ambin. Sarawin ingat banar samu ulahan nininya panyamannya sakampungan. Kadada nang kawa mangalahi. <br> “Assalamualaikum.” Sarawin maucap salam.<br> “Waalaikumussalam,” sahut Nini Sarawin matan dalam rumah. Dikira hidin urang handak manukar samu. Baancap ai maambil ipuk angsulan. Sakali hampai muhara lawang. Takajut banar hidin. Asa lamah paparutan. <br> “Bujuran ikam kah ngitu, cu?” tagur Nini Sarawin.<br> “Inggih. Ulun Sarawin. Kayapa habar pian ni. Wagas haja leh, Pian?” bamara Sarawin maragap nininya. Diciumnya tangan nininya. Tatangis Sarawin. Pancar banyumata. <br> “Nini wagas haja. Kayaini pang. Ikam pang kayapa jua. Pina balamak leh. Alhamdulillah banar, cu.”<br> Atia nang malihat ngitu gin kada tahan. Taumpat limbui, tatangis jua. <br> Nini Sarawin hudahnya. Kada sing ampihan hidin manangis. Cucu nang hilang, kadada habar saujung kuku, cungul di hadapan hidin. “Ni, ulun minta ampun banar lawan pian. Barelaan. Baampun maap, minta ridho pian dunia akhirat,” jar Sarawin, magun lilihan banyu mata.<br> “Hudah, kahada usah dipandirakan lagi. Nang hudah, hudah aja. Ngitu siapa pang jadi umpat manangis inya,” takun Nini Sarawin malihat binian bungas langkar umpat manangis jua.<br> Tasintak Sarawin. Saking tabawa suasana jar urang tuh, parak kada ingat lawan bini saurang. “Ngini Atia, Ni. Inya bini ulun.” “Subhanallah. Alhamdulillah.” Himung kada sakira Nini Sarawin. Cucunya bulik mambawa bini. *** Habar Sarawin bulik wan hudah baisi bini satumat haja tasiar hampai ka hujung kampung. Langsung jua buhannya basiap bakarasmin. Nini Sarawin bakiauan, bapadah lawan pambakal. Rami tu pang sakampungan. <br> Atia nang hanyar malihat gin bingung. Panambaian marabuk buhan biniannya. Bamacam bumbu tu pang. Masak habang, karih, bistik, wan bumbu hagan soto banjar. <br> Isuknya buhan nang lalakian batungkih kayu. Ngini nang katuju banar Atia maitihi. Marganya di kuta, lamun kada mamasan katring, kumpur gas tu pang handalan. <br> “Raminya lah, Ni,” jar Atia. “Lusa kaina rami am lagi. Suah ikam malihat mangawah leh?” sahut Nini Sarawin. Takarinyum haja Sarawin mandangar nang bini lawan nininya basurah. Tagal sauting nang Sarawin magun am mangganjal di hati. Julaknya, Utuh Bular, hampai damini kadada cungul. Sarik banar luku hidin. Wayah Sarawin batakun ka nininya, ka mana Julak Bular, nininya manyahut tarus, “Kaina ikam tahu haja,” pandir Nini Sarawin manahan tangis. Ditakuni Sarawin lawan urang kampung, saikung-dua kadada nang tahu jar. Kada nyaman hati Sarawin. *** Ari baganti ari, rahatan musim karing. Panas banar arinya. Di rumah Atia bakipas haja. Sarawin bakunjang bakaliling kampung, salajur manyaru nang balum tasaru hagan resepsi pangantinannya. Kahada nyaman tu pang lamun ada kula nang tatinggal disaru. Ngini Sarawin saurang nang hudah paham nang kayaapa hidup sabujurannya.<br> Sarawin magun haja tapikir di mana han julaknya. Nininya kada hakun bakisah. Kaluarga subalah umanya jua badiam haja. “Busia julak babini hudah leh, tagal kanapa maka kadada nang hakun mangisahakan,” Sarawin bagarunum saurangan. “Lamung maninggal te katia kadada gambar julak dipasang nini di rumah nang kaya gambar abah,” jar Sarawin bagarunum kada sing ampihan.<br> Tunggal utingan Sarawin mandatangi nang balum disaru. Kawalannya bahari jua didatanginya. Inya sangaja kada manyuruh urang basaruan sabarataan. Inya sudah maminta tulung lawan busunya, sapupu mamanya nang paling halus hagan manyarui buhan nang tatuhanya. Sarawin takutan salah bapandir lamun lawan nang tuha. Sisanya ngini inya basaruan manyalajur handak basilahturahmi lawan urang kampung. <br> “Isuk kita batajak sarubung. Datangan lah han buhan pian,” jar Sarawin bapadah ka barataan. <br> *** Matan subuh hibakan dah urang. Lalakian wan binian asing-asingnya bagawian. Buhan nang lakian tadih, dikumandui busunya Sarawin, bamula manajak sarubung. Sarawin umpatan jua han.<br> Rahatan mancatuk paku, Sarawin takipik malihat julaknya umpat jua manajak kayu hagan sarubung. <br> Marudai riuh urang kampung maitihi julak wan kamanakan tatamu jua akhiranya. <br> Kaduanya balihatan. Handak tapancar banyu mata. Kada tahan lagi, Sarawin badahulu bamara, maragap julaknya, basujud mancatu ampun, bahari inya malawan banar wan kada maasi papadah julaknya.<br> Utuh Bular handak kada kawa bapandir. Basasigan. <br> “Julak baampun maap jua lawan ikam lah Sarawin. Bahari hilap, tabawa hati maundurakan ikam,” Utuh Bular manyahut.<br> Atia wan Nini Sarawin taharu banar malihat julak lawan kamanakan bamaapan. <br> Utuh Bular balalu bakisah ka Sarawin. <br> Sakalinya te, wayah Sarawin tulak matan kampung, Utuh Bular bahinip tarus di pahumaan. Ujar urang inya malindap babanaran di luhuk hati. Dada barasak, asa basalah maundurakan kamanakan.<br> Utuh Bular bulik sahibar maantar banih atawa pamulaan handak batanam banih. <br> Hampai haja inpu ka inya wayah Sarawin bulik mambawa bini, handak bakarasmin di kampung. <br> Tagal magun sangkal. Handak disariki, katia sudah nikah. Napa am lagi.<br> Utuh Bular takutan jua Sarawin lawan Atia nang kaya kudung hanyar ba utas. Kahada rasuk babilangannya. <br> Pambakal Mungkur baastilah mandatangi ka pahumaan. “Kada handak kah ikam batamu lawan Sarawin,” jar Pambakal Mungkur batakun. “Dirikin jua kah babilangan buhannya tuh,” Utuh Bular bakasah kaduh lawan Pambakal Mungkur. Balum sawat Pambakal Mungkur manyahut. Cungul Tuan Guru Kupiah Jangang. “Kada usah gair. Dasar hampai hudah pancuhnya.” Sakalinya tuan guru ngitu bakawan banar lawan Utuh Bular wan Pambakal Mungkur. <br> Dasar urang kampung buhannya jua, tagal madam matan anum. Imbah tahu kisahnya kayaapa Sarawin damini wan salawas diam di Banjar, ampih sangkal Utuh Bular. Nang kaya mambuang kalimpanan. Ngitu pang balakas Utuh Bular manyasah bulik ka rumah tadih subuh. <br> “Marga baimusi haja matan anum, timbul saikit-ikit tapahuya,” sambat Pambakal Mungkur.<br> “Nang iyanya jua, sawat haja te umpat batajak sarubung,” jar Tuan Guru Kupiah Jangang. Banjarmasin, 31 Juli 2026 == '''Referensi''' == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] nx7dmb6l95svo6612qei5mng6qojd8b Qoutes refleksi 0 28798 121109 2026-10-18T03:53:06Z Coretan.kecil19 44065 ←Membuat halaman berisi 'AKU IZIN MERASA Berhenti sebentar. Izinkan dirimu merasa. Di sini, kamu cukup apa adanya. Nina Nisa - Yang juga berjuang untuk berdamai Day 1: Mengakui Luka * Tidak apa-apa menerima pelan-pelan, karena tidak semua hal harus dipaksakan sekarang. * Setidaknya mengakui jauh lebih baik daripada terus menyalahkan diri sendiri. * Bukti self-love adalah menerima, bukan terus berontak pada kerapuhan jiwa. * Mengakui bukan berarti kalah, tapi bukti bahwa kita ma...' 121109 wikitext text/x-wiki AKU IZIN MERASA Berhenti sebentar. Izinkan dirimu merasa. Di sini, kamu cukup apa adanya. Nina Nisa - Yang juga berjuang untuk berdamai Day 1: Mengakui Luka * Tidak apa-apa menerima pelan-pelan, karena tidak semua hal harus dipaksakan sekarang. * Setidaknya mengakui jauh lebih baik daripada terus menyalahkan diri sendiri. * Bukti self-love adalah menerima, bukan terus berontak pada kerapuhan jiwa. * Mengakui bukan berarti kalah, tapi bukti bahwa kita mampu menghadapinya. * Menerima bukan untuk menghilangkan luka, tapi untuk mengubahnya menjadi pelajaran agar lebih baik. Day 2: Boleh Nggak Baik Aja * Kamu berhak istirahat sejenak. Tak perlu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik aja. Dunia nggak akan runtuh kok, kalau kamu jeda sebentar. * Istirahat bukan kelemahan. Ingatlah, kamu manusia, bukan robot. Baterai aja butuh di-charger, apalagi hatimu yang habis dihantam badai. * Nangis itu valid, bukan cengeng. Tangisan bikin hati lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena sesaknya ikut keluar bersama air mata. * Semua orang punya masalah. Bedanya cuma di topeng yang mereka pakai untuk menutupinya. * Bertahan aja udah hebat. Nggak harus produktif dulu, nggak harus ceria. Hari ini kamu milih nggak nyerah, itu udah satu langkah lebih maju. Day 3: Diam Dulu * Diam bukan berarti lemah, tapi memberi jeda untuk berpikir. Karena kadang, otak butuh sepi agar bisa mendengarkan suara hati yang paling jujur. * Nggak semua luka butuh dijelasin ke orang. Ada yang cukup kamu peluk sendiri. Nggak semua orang harus paham prosesmu. * Berhenti menjelaskan diri ke dunia yang bising. Simpan energimu. Nggak semua pertanyaan butuh jawaban, nggak semua komentar butuh reaksi. Diam itu cara jaga waras. * Diam itu juga bentuk perlawanan. Melawan standar "harus cepet sembuh". Karena kamu berhak pulih dengan tempo kamu sendiri. * Dalam diam, kamu sedang bertumbuh. Sebagaimana bambu butuh 5 tahun mengakar dulu sebelum tumbuh tinggi. Tenang aja, akarmu lagi dikuatin. [[ [[File:Flor de Brugmansia o Trompeta de ángel.jpg|Flor_de_Brugmansia_o_Trompeta_de_ángel]]|jmpl]] 0s5uqjbhgr020uomw7spkzwvmfz7ob8 121114 121109 2026-10-18T03:54:56Z Coretan.kecil19 44065 121114 wikitext text/x-wiki AKU IZIN MERASA Berhenti sebentar. Izinkan dirimu merasa. Di sini, kamu cukup apa adanya. _Yang juga berjuang untuk berdamai_ Day 1: Mengakui Luka * Tidak apa-apa menerima pelan-pelan, karena tidak semua hal harus dipaksakan sekarang. * Setidaknya mengakui jauh lebih baik daripada terus menyalahkan diri sendiri. * Bukti self-love adalah menerima, bukan terus berontak pada kerapuhan jiwa. * Mengakui bukan berarti kalah, tapi bukti bahwa kita mampu menghadapinya. * Menerima bukan untuk menghilangkan luka, tapi untuk mengubahnya menjadi pelajaran agar lebih baik. Day 2: Boleh Nggak Baik Aja * Kamu berhak istirahat sejenak. Tak perlu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik aja. Dunia nggak akan runtuh kok, kalau kamu jeda sebentar. * Istirahat bukan kelemahan. Ingatlah, kamu manusia, bukan robot. Baterai aja butuh di-charger, apalagi hatimu yang habis dihantam badai. * Nangis itu valid, bukan cengeng. Tangisan bikin hati lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena sesaknya ikut keluar bersama air mata. * Semua orang punya masalah. Bedanya cuma di topeng yang mereka pakai untuk menutupinya. * Bertahan aja udah hebat. Nggak harus produktif dulu, nggak harus ceria. Hari ini kamu milih nggak nyerah, itu udah satu langkah lebih maju. Day 3: Diam Dulu * Diam bukan berarti lemah, tapi memberi jeda untuk berpikir. Karena kadang, otak butuh sepi agar bisa mendengarkan suara hati yang paling jujur. * Nggak semua luka butuh dijelasin ke orang. Ada yang cukup kamu peluk sendiri. Nggak semua orang harus paham prosesmu. * Berhenti menjelaskan diri ke dunia yang bising. Simpan energimu. Nggak semua pertanyaan butuh jawaban, nggak semua komentar butuh reaksi. Diam itu cara jaga waras. * Diam itu juga bentuk perlawanan. Melawan standar "harus cepet sembuh". Karena kamu berhak pulih dengan tempo kamu sendiri. * Dalam diam, kamu sedang bertumbuh. Sebagaimana bambu butuh 5 tahun mengakar dulu sebelum tumbuh tinggi. Tenang aja, akarmu lagi dikuatin. [[ [[File:Flor de Brugmansia o Trompeta de ángel.jpg|Flor_de_Brugmansia_o_Trompeta_de_ángel]]|jmpl]] ts5wzdvbo2q7mnie4wakwp2x2g80wic Pensil Warna 0 28799 121120 2026-10-18T04:00:03Z GAnganwaLUH 44089 membuat buku baru 121120 wikitext text/x-wiki Pensil Warna Diilustrasikan oieh YOUM KOSAI [[Berkas:Colored pencils in holder.jpg|jmpl|pensil warna]] Ibu membeli sekotak pensil warna. Toto sangat senang. “Terima kasih, Bu!” ujar Toto. Pensil-pensil warna di dalam kotak merasa takut. Ada yang takut sakit dan tumpul. “Aku juga takut, sih,” sambung Pensil Biru. “Tapi, bagaimana kalau kita keluar dulu?" gfk8i8l2l2bf6e1bl3ldivex867gkyl 121145 121120 2026-10-18T05:12:23Z GAnganwaLUH 44089 membuat buku baru 121145 wikitext text/x-wiki Pensil Warna Diilustrasikan oieh YOUM KOSAI [[Berkas:Colored pencils in holder.jpg|jmpl|pensil warna]] Ibu membeli sekotak pensil warna. Toto sangat senang. “Terima kasih, Bu!” ujar Toto. Pensil-pensil warna di dalam kotak merasa takut. Ada yang takut sakit dan tumpul. “Aku juga takut, sih,” sambung Pensil Biru. “Tapi, bagaimana kalau kita keluar dulu?" Di luar kotak, para pensil warna melihat Buku Mewarnai di atas meja. Mereka suka. “Tanpa pensil warna seperti kalian, gambar-gambar ini tidak ada warnanya.” kata Buku Mewarnai. Para pensil warna kembali ke kotak. Toto memakai pensil dengan lembut untuk mewarnai gambar-gambar di Buku Mewarnai. Setelah Toto pergi, para pensil warna melihat gambar-gambar yang sudah diwarnai. Indah sekali. Semua pensil warna berkata, "Kami ingin semua gambar di dunia ini punya warna-warna cantik seperti ini!" 4bxylyliy4baj713kzl57nmc1kowl3s 121151 121145 2026-10-18T05:17:30Z GAnganwaLUH 44089 membuat buku baru 121151 wikitext text/x-wiki Pensil Warna Diilustrasikan oieh YOUM KOSAI [[Berkas:Colored pencils in holder.jpg|jmpl|pensil warna]] Ibu membeli sekotak pensil warna. Toto sangat senang. “Terima kasih, Bu!” ujar Toto. Pensil-pensil warna di dalam kotak merasa takut. Ada yang takut sakit dan tumpul. “Aku juga takut, sih,” sambung Pensil Biru. “Tapi, bagaimana kalau kita keluar dulu?" Di luar kotak, para pensil warna melihat Buku Mewarnai di atas meja. Mereka suka. “Tanpa pensil warna seperti kalian, gambar-gambar ini tidak ada warnanya.” kata Buku Mewarnai. Para pensil warna kembali ke kotak. Toto memakai pensil dengan lembut untuk mewarnai gambar-gambar di Buku Mewarnai. Setelah Toto pergi, para pensil warna melihat gambar-gambar yang sudah diwarnai. Indah sekali. Semua pensil warna berkata, "Kami ingin semua gambar di dunia ini punya warna-warna cantik seperti ini!" Buku-buku Bookbot merupakan buku yang mengajarkan pada anak tentang huruf, bunyi, dan kata-kata sederhana berdasarkan urutan bunyi atau buku fonik berkualitas yang diperkenalkan oleh Cakupan dan Urutan dalam Bookbot. Buku-buku ini bisa didapatkan secara cuma-cuma di perpustakaan Bookbot. Kami sangat senang dapat menawarkannya pada Anda untuk mengunduh dan mencetaknya tanpa biaya apa pun. Namun, kami akan sangat menghargai jika Anda dapat memberikan tautan balik ke halaman situs web kami di bookbot.id/buku-anak-gratis pada situs web sekolah Anda agar lebih banyak anak dan orang tua yang dapat menikmati dan belajar dari buku-buku gratis yang kami sediakan. Kami percaya bahwa dengan menciptakan pustaka buku-buku fonik dengan jumlah koleksi yang besar akan menginspirasi dan menumbuhkan kepercayaan diri anak dalam proses mereka belajar membaca. Anda dapat membaca lebih banyak tentang misi kami di bookbot.id. bgjr4wj8yc063ihjzthg20akgctmg9o 121223 121151 2026-10-18T05:39:24Z GAnganwaLUH 44089 menambah referensi 121223 wikitext text/x-wiki Pensil Warna Diilustrasikan oieh YOUM KOSAI [[Berkas:Colored pencils in holder.jpg|jmpl|pensil warna]] Ibu membeli sekotak pensil warna. Toto sangat senang. “Terima kasih, Bu!” ujar Toto. Pensil-pensil warna di dalam kotak merasa takut. Ada yang takut sakit dan tumpul. “Aku juga takut, sih,” sambung Pensil Biru. “Tapi, bagaimana kalau kita keluar dulu?" Di luar kotak, para pensil warna melihat Buku Mewarnai di atas meja. Mereka suka. “Tanpa pensil warna seperti kalian, gambar-gambar ini tidak ada warnanya.” kata Buku Mewarnai. Para pensil warna kembali ke kotak. Toto memakai pensil dengan lembut untuk mewarnai gambar-gambar di Buku Mewarnai. Setelah Toto pergi, para pensil warna melihat gambar-gambar yang sudah diwarnai. Indah sekali. Semua pensil warna berkata, "Kami ingin semua gambar di dunia ini punya warna-warna cantik seperti ini!" Buku-buku Bookbot merupakan buku yang mengajarkan pada anak tentang huruf, bunyi, dan kata-kata sederhana berdasarkan urutan bunyi atau buku fonik berkualitas yang diperkenalkan oleh Cakupan dan Urutan dalam Bookbot. Buku-buku ini bisa didapatkan secara cuma-cuma di perpustakaan Bookbot. Kami sangat senang dapat menawarkannya pada Anda untuk mengunduh dan mencetaknya tanpa biaya apa pun. Namun, kami akan sangat menghargai jika Anda dapat memberikan tautan balik ke halaman situs web kami di bookbot.id/buku-anak-gratis pada situs web sekolah Anda agar lebih banyak anak dan orang tua yang dapat menikmati dan belajar dari buku-buku gratis yang kami sediakan. Kami percaya bahwa dengan menciptakan pustaka buku-buku fonik dengan jumlah koleksi yang besar akan menginspirasi dan menumbuhkan kepercayaan diri anak dalam proses mereka belajar membaca. Anda dapat membaca lebih banyak tentang misi kami di bookbot.id.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/edce7a50-121a-495a-a925-1f99ea6741b6/Pensil%20Warna.pdf</ref> == Referensi == lk95e4kucnob5r55u3wyew082qzck63 Di Mana Kucingku 0 28800 121122 2026-10-18T04:08:08Z Malamilai 43778 Membuat buku baru 121122 wikitext text/x-wiki Kit, kamu di mana? Kit adalah kucing saya. Kit suka sekali petak umpet. Kit, kamu ada di mana? Apa Kit tadi ada di sini, ya? Aku pikir aku dengar Kit dari sini tadi. Kit juga tidak di sini, ya? Padahal Kit sering tidur di sini. Kenapa hari ini tidak ada, ya? Apa Kit di belakang pot sini, ya? Kit tidak ada juga di sini. Kit, di mana kamu? Apa Kit pergi ke belakang rumah? Kit tidak ada di sini juga. Kit, di mana kamu? Oh, aku seperti mendengar Kit dari depan rumah! Ah, Kit juga tidak ada di sana. Apa mungkin Kit ada di dalam rumah? Di bawah lemari juga tidak ada. Apa Kit di atas lemari? Cepat-cepat aku ambil bangku supaya bisa melihat ke atas. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Apa mungkin Kit ke sini? Kit tidak terlihat juga di sekitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat tidur? Kit suka tidur di sana karena di sana sangat hangat dan aman. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Aku harus lakukan apa sekarang? Apa aku harus minta tolong kepada Ibu? Apa itu yang bergerak di dalam selimut? Oh, itu Kit! Wah, lega sekali karena Kit sudah aku temukan sekarang. kbxgxxgliqk5zikvpx8914mwl1k0mk8 121245 121122 2026-10-18T05:45:37Z Malamilai 43778 Menambahkan referensi dan gambar 121245 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, kamu di mana? Kit adalah kucing saya. Kit suka sekali petak umpet. Kit, kamu ada di mana? Apa Kit tadi ada di sini, ya? Aku pikir aku dengar Kit dari sini tadi. Kit juga tidak di sini, ya? Padahal Kit sering tidur di sini. Kenapa hari ini tidak ada, ya? Apa Kit di belakang pot sini, ya? Kit tidak ada juga di sini. Kit, di mana kamu? Apa Kit pergi ke belakang rumah? Kit tidak ada di sini juga. Kit, di mana kamu? Oh, aku seperti mendengar Kit dari depan rumah! Ah, Kit juga tidak ada di sana. Apa mungkin Kit ada di dalam rumah? Di bawah lemari juga tidak ada. Apa Kit di atas lemari? Cepat-cepat aku ambil bangku supaya bisa melihat ke atas. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Apa mungkin Kit ke sini? Kit tidak terlihat juga di sekitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat tidur? Kit suka tidur di sana karena di sana sangat hangat dan aman. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Aku harus lakukan apa sekarang? Apa aku harus minta tolong kepada Ibu? Apa itu yang bergerak di dalam selimut? Oh, itu Kit! Wah, lega sekali karena Kit sudah aku temukan sekarang.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> 66eyawjwv3zqrzff5d27ldg9pjj2sis 121248 121245 2026-10-18T05:47:53Z Malamilai 43778 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121248 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, kamu di mana? Kit adalah kucing saya. Kit suka sekali petak umpet. Kit, kamu ada di mana? Apa Kit tadi ada di sini, ya? Aku pikir aku dengar Kit dari sini tadi. Kit juga tidak di sini, ya? Padahal Kit sering tidur di sini. Kenapa hari ini tidak ada, ya? Apa Kit di belakang pot sini, ya? Kit tidak ada juga di sini. Kit, di mana kamu? Apa Kit pergi ke belakang rumah? Kit tidak ada di sini juga. Kit, di mana kamu? Oh, aku seperti mendengar Kit dari depan rumah! Ah, Kit juga tidak ada di sana. Apa mungkin Kit ada di dalam rumah? Di bawah lemari juga tidak ada. Apa Kit di atas lemari? Cepat-cepat aku ambil bangku supaya bisa melihat ke atas. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Apa mungkin Kit ke sini? Kit tidak terlihat juga di sekitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat tidur? Kit suka tidur di sana karena di sana sangat hangat dan aman. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Aku harus lakukan apa sekarang? Apa aku harus minta tolong kepada Ibu? Apa itu yang bergerak di dalam selimut? Oh, itu Kit! Wah, lega sekali karena Kit sudah aku temukan sekarang.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] jopx5hsualpt3082i8wvs8han7d2d9b 121249 121248 2026-10-18T05:48:06Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121249 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, kamu di mana? Kit adalah kucing saya. Kit suka sekali petak umpet. Kit, kamu ada di mana? Apa Kit tadi ada di sini, ya? Aku pikir aku dengar Kit dari sini tadi. Kit juga tidak di sini, ya? Padahal Kit sering tidur di sini. Kenapa hari ini tidak ada, ya? Apa Kit di belakang pot sini, ya? Kit tidak ada juga di sini. Kit, di mana kamu? Apa Kit pergi ke belakang rumah? Kit tidak ada di sini juga. Kit, di mana kamu? Oh, aku seperti mendengar Kit dari depan rumah! Ah, Kit juga tidak ada di sana. Apa mungkin Kit ada di dalam rumah? Di bawah lemari juga tidak ada. Apa Kit di atas lemari? Cepat-cepat aku ambil bangku supaya bisa melihat ke atas. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Apa mungkin Kit ke sini? Kit tidak terlihat juga di sekitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat tidur? Kit suka tidur di sana karena di sana sangat hangat dan aman. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Aku harus lakukan apa sekarang? Apa aku harus minta tolong kepada Ibu? Apa itu yang bergerak di dalam selimut? Oh, itu Kit! Wah, lega sekali karena Kit sudah aku temukan sekarang.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] s4rq3glkfl6f67yc4pvoddi6bnbx97f 121250 121249 2026-10-18T05:48:16Z Malamilai 43778 added [[Category:Fabel]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121250 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, kamu di mana? Kit adalah kucing saya. Kit suka sekali petak umpet. Kit, kamu ada di mana? Apa Kit tadi ada di sini, ya? Aku pikir aku dengar Kit dari sini tadi. Kit juga tidak di sini, ya? Padahal Kit sering tidur di sini. Kenapa hari ini tidak ada, ya? Apa Kit di belakang pot sini, ya? Kit tidak ada juga di sini. Kit, di mana kamu? Apa Kit pergi ke belakang rumah? Kit tidak ada di sini juga. Kit, di mana kamu? Oh, aku seperti mendengar Kit dari depan rumah! Ah, Kit juga tidak ada di sana. Apa mungkin Kit ada di dalam rumah? Di bawah lemari juga tidak ada. Apa Kit di atas lemari? Cepat-cepat aku ambil bangku supaya bisa melihat ke atas. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Apa mungkin Kit ke sini? Kit tidak terlihat juga di sekitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat tidur? Kit suka tidur di sana karena di sana sangat hangat dan aman. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Aku harus lakukan apa sekarang? Apa aku harus minta tolong kepada Ibu? Apa itu yang bergerak di dalam selimut? Oh, itu Kit! Wah, lega sekali karena Kit sudah aku temukan sekarang.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] hctaol3l3v0xjmdiwa2qn8t3aibu934 121251 121250 2026-10-18T05:48:27Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Mini]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121251 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, kamu di mana? Kit adalah kucing saya. Kit suka sekali petak umpet. Kit, kamu ada di mana? Apa Kit tadi ada di sini, ya? Aku pikir aku dengar Kit dari sini tadi. Kit juga tidak di sini, ya? Padahal Kit sering tidur di sini. Kenapa hari ini tidak ada, ya? Apa Kit di belakang pot sini, ya? Kit tidak ada juga di sini. Kit, di mana kamu? Apa Kit pergi ke belakang rumah? Kit tidak ada di sini juga. Kit, di mana kamu? Oh, aku seperti mendengar Kit dari depan rumah! Ah, Kit juga tidak ada di sana. Apa mungkin Kit ada di dalam rumah? Di bawah lemari juga tidak ada. Apa Kit di atas lemari? Cepat-cepat aku ambil bangku supaya bisa melihat ke atas. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Apa mungkin Kit ke sini? Kit tidak terlihat juga di sekitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat tidur? Kit suka tidur di sana karena di sana sangat hangat dan aman. Tapi Kit tidak ada juga di sana. Aku harus lakukan apa sekarang? Apa aku harus minta tolong kepada Ibu? Apa itu yang bergerak di dalam selimut? Oh, itu Kit! Wah, lega sekali karena Kit sudah aku temukan sekarang.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] [[Kategori:Cerita Mini]] dit2hbynv3cnyee0x6t05cbdg2ikip5 Carita Puun 0 28801 121123 2026-10-18T04:12:06Z Radramboo 39183 membuat buku terjemahan bahasa banjar baru 121123 wikitext text/x-wiki Ada sabuting puun di hutan nang hidup sorangan. Puun ngitu baganal wan ada cabang nang cungul di batangnya. Di cabangnya, ada ranting nang tumbuh. Daun bagemetan cungul matan ranting-ranting ngitu. Kada lawas imbah itu, matan sasala daun ngitu cungul kambang, Kambangnya makar di sasala daun jadi bungas. Di sasala kambang-kambang nang makar ngitu, ada buah halus nang cungul. Di dalam buah ngitu, lawas-lawas cungul biji. Biji-biji matan dalam buang ngitu jadi bibit puun nang hanyar. Biji-biji matan buah gugur ka tanah. Matan biji bibit muncul puun nang hanyar. Puun ganal kada lagi sorangan wahini. joyqfk30eb2e4ljtyp2nqwxluzvosas 121124 121123 2026-10-18T04:14:34Z Radramboo 39183 menambahkan gambar 121124 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded Albizia Saman (rain tree) in the Mekong.jpg|pus|464x464px]] Ada sabuting puun di hutan nang hidup sorangan. Puun ngitu baganal wan ada cabang nang cungul di batangnya. Di cabangnya, ada ranting nang tumbuh. Daun bagemetan cungul matan ranting-ranting ngitu. Kada lawas imbah itu, matan sasala daun ngitu cungul kambang, Kambangnya makar di sasala daun jadi bungas. Di sasala kambang-kambang nang makar ngitu, ada buah halus nang cungul. Di dalam buah ngitu, lawas-lawas cungul biji. Biji-biji matan dalam buang ngitu jadi bibit puun nang hanyar. Biji-biji matan buah gugur ka tanah. Matan biji bibit muncul puun nang hanyar. Puun ganal kada lagi sorangan wahini. 5cbxd5rp7ax6p65wjcxolpi82dke4nv 121191 121124 2026-10-18T05:35:51Z Radramboo 39183 menambahkan kategori 121191 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flooded Albizia Saman (rain tree) in the Mekong.jpg|pus|464x464px]] Ada sabuting puun di hutan nang hidup sorangan. Puun ngitu baganal wan ada cabang nang cungul di batangnya. Di cabangnya, ada ranting nang tumbuh. Daun bagemetan cungul matan ranting-ranting ngitu. Kada lawas imbah itu, matan sasala daun ngitu cungul kambang, Kambangnya makar di sasala daun jadi bungas. Di sasala kambang-kambang nang makar ngitu, ada buah halus nang cungul. Di dalam buah ngitu, lawas-lawas cungul biji. Biji-biji matan dalam buang ngitu jadi bibit puun nang hanyar. Biji-biji matan buah gugur ka tanah. Matan biji bibit muncul puun nang hanyar. Puun ganal kada lagi sorangan wahini. [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] jvj9vwrhi5k6oiwnn5388zymq0qyq63 Lakasi mambacaan Buku! 0 28802 121125 2026-10-18T04:18:59Z WidyaNorjanah 44080 ←Membuat halaman berisi 'Kakanakan ngini badiam di dairah nang sabak parak higa Kuta.buhannya hidup saraba kada cukup. Biar nang kaitu, buhannya manganii tarus gasan babarasih. Wayah baisukan hari ahad, ada saurang dingsanak nang datang. Dingsanak nitu mambawa sabuting wadah nang ganal, hibak baisi buku. Kakanakan ngitu kada kawa manukar buku. Jadi, buhannya kada suah mambaca buku.buhannya jua kada bisa mambaca. Tapi hadang, buku-buku ngini hibak baisi gambar! Dingsanak nitu datang tar...' 121125 wikitext text/x-wiki Kakanakan ngini badiam di dairah nang sabak parak higa Kuta.buhannya hidup saraba kada cukup. Biar nang kaitu, buhannya manganii tarus gasan babarasih. Wayah baisukan hari ahad, ada saurang dingsanak nang datang. Dingsanak nitu mambawa sabuting wadah nang ganal, hibak baisi buku. Kakanakan ngitu kada kawa manukar buku. Jadi, buhannya kada suah mambaca buku.buhannya jua kada bisa mambaca. Tapi hadang, buku-buku ngini hibak baisi gambar! Dingsanak nitu datang tarus wayah hari minggu gasan malajari buhannya mambaca. Buhannya mangiyau dingsanak ngitu pakai ngaran "kaka nang baikan", ulih sidin nitu baikan banar. Kakanakan himung banar! Liwar samangat, buhannya mambarasihi sabuting buncu gasan wadah mambaca baimbaian. Tapi, Kaka nang baikan kada suah datang lagi. tak pernah datang lagi. Anak-anak jadi tak bisa membaca. Mereka cuma bisa menebak cerita dari gambar-gambar pada buku mereka. Mereka pun pergi ke kota untuk mencari Kakak Murah Hati. Tapi, bagaimana caranya? Tak ada petunjuk tentang Kakak Murah Hati. Tunggu! Mereka melihat petunjuk! Apa kamu bisa tebak? Ya, itu selendang Kakak! Ternyata Kakak sakit, sehingga tak bisa datang ke tempat tinggal mereka. Kakak gembira sekali karena anak-anak itu menjenguk dan menghiburnya. Setelah Kakak Murah Hati sembuh, Kakak datang lagi ke tempat tinggal mereka. Kini, seluruh anak-anak di tempat itu sudah bisa membaca. Terima kasih, Kakak Murah Hati! 8n3m6cmslic46z4oz8d67vv0ddoi74p 121143 121125 2026-10-18T05:09:02Z WidyaNorjanah 44080 Mambaiki kisah 121143 wikitext text/x-wiki [[Berkas:13-11-02-olb-by-RalfR-03.jpg|jmpl]] Kakanakan ngini badiam di dairah nang sabak parak higa Kuta.buhannya hidup saraba kada cukup. Biar nang kaitu, buhannya manganii tarus gasan babarasih. Wayah baisukan hari ahad, ada saurang dingsanak nang datang. Dingsanak nitu mambawa sabuting wadah nang ganal, hibak baisi buku. Kakanakan ngitu kada kawa manukar buku. Jadi, buhannya kada suah mambaca buku.buhannya jua kada bisa mambaca. Tapi hadang, buku-buku ngini hibak baisi gambar! Dingsanak nitu datang tarus wayah hari minggu gasan malajari buhannya mambaca. Buhannya mangiyau dingsanak ngitu pakai ngaran "kaka nang baikan", ulih sidin nitu baikan banar. Kakanakan himung banar! Liwar samangat, buhannya mambarasihi sabuting buncu gasan wadah mambaca baimbaian. Tapi, Kaka nang baikan kada suah datang lagi. Kakanakan jadi kada bisa mambaca. Buhannya bisa manangguhi kisah matan gambar nang Di buku haja. Buhannya tulak ka Kuta gasan mancari kaka nang baikan. Tapi nang kayapa caranya?. Kadada patujuk gasan kaka nang baikan. Hadang! Buhannya malihat patunjuk! Kawalah ikam manangguhi? Ya, ngitu kakamban kaka! Sakalinya kaka garing, jadi kada kawa datang ka wadah badiam buhannya. Kaka liwar himung ulih kakanakan ngitu manjinguki lawan mahibur sidin. Imbah kaka nang baikan wigas, kaka datang pulang ka wadah buhannya bagana. Wahini, barataan kakanakandi wadah ngitu sudah bisa mambaca.Tarima kasih, kaka nang baikan! jhxr0oii60wzmuz27dk0xrti7vryncq 121167 121143 2026-10-18T05:29:18Z WidyaNorjanah 44080 Menambah referensi 121167 wikitext text/x-wiki [[Berkas:13-11-02-olb-by-RalfR-03.jpg|jmpl]] Kakanakan ngini badiam di dairah nang sabak parak higa Kuta.buhannya hidup saraba kada cukup. Biar nang kaitu, buhannya manganii tarus gasan babarasih. Wayah baisukan hari ahad, ada saurang dingsanak nang datang. Dingsanak nitu mambawa sabuting wadah nang ganal, hibak baisi buku. Kakanakan ngitu kada kawa manukar buku. Jadi, buhannya kada suah mambaca buku.buhannya jua kada bisa mambaca. Tapi hadang, buku-buku ngini hibak baisi gambar! Dingsanak nitu datang tarus wayah hari minggu gasan malajari buhannya mambaca. Buhannya mangiyau dingsanak ngitu pakai ngaran "kaka nang baikan", ulih sidin nitu baikan banar. Kakanakan himung banar! Liwar samangat, buhannya mambarasihi sabuting buncu gasan wadah mambaca baimbaian. Tapi, Kaka nang baikan kada suah datang lagi. Kakanakan jadi kada bisa mambaca. Buhannya bisa manangguhi kisah matan gambar nang Di buku haja. Buhannya tulak ka Kuta gasan mancari kaka nang baikan. Tapi nang kayapa caranya?. Kadada patujuk gasan kaka nang baikan. Hadang! Buhannya malihat patunjuk! Kawalah ikam manangguhi? Ya, ngitu kakamban kaka! Sakalinya kaka garing, jadi kada kawa datang ka wadah badiam buhannya. Kaka liwar himung ulih kakanakan ngitu manjinguki lawan mahibur sidin. Imbah kaka nang baikan wigas, kaka datang pulang ka wadah buhannya bagana. Wahini, barataan kakanakandi wadah ngitu sudah bisa mambaca.Tarima kasih, kaka nang baikan!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/0bc055c4-ea5f-457e-becc-db1265e5798b/Baca%20Buku,%20Yuk!.pdf</ref> == Referensi == f37ibgidtwsf90rtbg132c4x9zrs6ya 121190 121167 2026-10-18T05:35:24Z WidyaNorjanah 44080 Menambah kategori 121190 wikitext text/x-wiki [[Berkas:13-11-02-olb-by-RalfR-03.jpg|jmpl]] Kakanakan ngini badiam di dairah nang sabak parak higa Kuta.buhannya hidup saraba kada cukup. Biar nang kaitu, buhannya manganii tarus gasan babarasih. Wayah baisukan hari ahad, ada saurang dingsanak nang datang. Dingsanak nitu mambawa sabuting wadah nang ganal, hibak baisi buku. Kakanakan ngitu kada kawa manukar buku. Jadi, buhannya kada suah mambaca buku.buhannya jua kada bisa mambaca. Tapi hadang, buku-buku ngini hibak baisi gambar! Dingsanak nitu datang tarus wayah hari minggu gasan malajari buhannya mambaca. Buhannya mangiyau dingsanak ngitu pakai ngaran "kaka nang baikan", ulih sidin nitu baikan banar. Kakanakan himung banar! Liwar samangat, buhannya mambarasihi sabuting buncu gasan wadah mambaca baimbaian. Tapi, Kaka nang baikan kada suah datang lagi. Kakanakan jadi kada bisa mambaca. Buhannya bisa manangguhi kisah matan gambar nang Di buku haja. Buhannya tulak ka Kuta gasan mancari kaka nang baikan. Tapi nang kayapa caranya?. Kadada patujuk gasan kaka nang baikan. Hadang! Buhannya malihat patunjuk! Kawalah ikam manangguhi? Ya, ngitu kakamban kaka! Sakalinya kaka garing, jadi kada kawa datang ka wadah badiam buhannya. Kaka liwar himung ulih kakanakan ngitu manjinguki lawan mahibur sidin. Imbah kaka nang baikan wigas, kaka datang pulang ka wadah buhannya bagana. Wahini, barataan kakanakandi wadah ngitu sudah bisa mambaca.Tarima kasih, kaka nang baikan!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/0bc055c4-ea5f-457e-becc-db1265e5798b/Baca%20Buku,%20Yuk!.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] ik89uelqca9rxnc4gqw0s43a71bgp3p 121193 121190 2026-10-18T05:36:22Z WidyaNorjanah 44080 Menambah kategori 121193 wikitext text/x-wiki [[Berkas:13-11-02-olb-by-RalfR-03.jpg|jmpl]] Kakanakan ngini badiam di dairah nang sabak parak higa Kuta.buhannya hidup saraba kada cukup. Biar nang kaitu, buhannya manganii tarus gasan babarasih. Wayah baisukan hari ahad, ada saurang dingsanak nang datang. Dingsanak nitu mambawa sabuting wadah nang ganal, hibak baisi buku. Kakanakan ngitu kada kawa manukar buku. Jadi, buhannya kada suah mambaca buku.buhannya jua kada bisa mambaca. Tapi hadang, buku-buku ngini hibak baisi gambar! Dingsanak nitu datang tarus wayah hari minggu gasan malajari buhannya mambaca. Buhannya mangiyau dingsanak ngitu pakai ngaran "kaka nang baikan", ulih sidin nitu baikan banar. Kakanakan himung banar! Liwar samangat, buhannya mambarasihi sabuting buncu gasan wadah mambaca baimbaian. Tapi, Kaka nang baikan kada suah datang lagi. Kakanakan jadi kada bisa mambaca. Buhannya bisa manangguhi kisah matan gambar nang Di buku haja. Buhannya tulak ka Kuta gasan mancari kaka nang baikan. Tapi nang kayapa caranya?. Kadada patujuk gasan kaka nang baikan. Hadang! Buhannya malihat patunjuk! Kawalah ikam manangguhi? Ya, ngitu kakamban kaka! Sakalinya kaka garing, jadi kada kawa datang ka wadah badiam buhannya. Kaka liwar himung ulih kakanakan ngitu manjinguki lawan mahibur sidin. Imbah kaka nang baikan wigas, kaka datang pulang ka wadah buhannya bagana. Wahini, barataan kakanakandi wadah ngitu sudah bisa mambaca.Tarima kasih, kaka nang baikan!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/0bc055c4-ea5f-457e-becc-db1265e5798b/Baca%20Buku,%20Yuk!.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] inohdmhhjy3fswclwmk7673rqovxt1w Warnaan Nang Bungas 0 28803 121126 2026-10-18T04:20:21Z Sari Nur Aisyah 44072 membuat cerita baru 121126 wikitext text/x-wiki Pada suatu masa,samunya burung barwarna putih. "jadikan ulun bungas, kai sihir" pinta burung pelatuk. "baiklah, kai handak maulah pian jadi burung nang bamacam-macam warna nang bungas," ujar kai sihir. burung pelatuk wayahini bewarna habang ozpeg1aqziwhooxx6c4e4esm16bwz48 121153 121126 2026-10-18T05:19:31Z Sari Nur Aisyah 44072 121153 wikitext text/x-wiki Pada suatu masa,sabarataan burung bawarna putih. "jadikan ulun bungas, kai sihir" pinta burung pelatuk. "baiklah, kai handak maulah pian jadi burung nang bamacam-macam warna nang bungas," ujar kai sihir. burung pelatuk wahini bawarna habang. saikung burung halus malihati burung pelatuk.inya jua handak kalihatan bungas. "bunga ngini bunga nang paling ulun sukai" ujar burung halus lawan kai sihir, "kada kawa kah pian maulah warna bulu ulun kaya warna bunga ngini?" kai sihir mancati burung halus lawan warna kuning nang bungas. burung halus batamuan lawan burung pelatuk ql82tvjjw062qbvzecsrb7ox7wu2gxc 121173 121153 2026-10-18T05:29:27Z Sari Nur Aisyah 44072 menambahkan referensi 121173 wikitext text/x-wiki Pada suatu masa,sabarataan burung bawarna putih. "jadikan ulun bungas, kai sihir" pinta burung pelatuk. "baiklah, kai handak maulah pian jadi burung nang bamacam-macam warna nang bungas," ujar kai sihir. burung pelatuk wahini bawarna habang. saikung burung halus malihati burung pelatuk.inya jua handak kalihatan bungas. "bunga ngini bunga nang paling ulun sukai" ujar burung halus lawan kai sihir, "kada kawa kah pian maulah warna bulu ulun kaya warna bunga ngini?" kai sihir mancati burung halus lawan warna kuning nang bungas. burung halus batamuan lawan burung pelatuk<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/329459e4-7058-4d8e-bdb5-44a478808f43/Warna-Warna%20Indah.pdf</ref> == referensi == h3b60bnuzo5ziqlp3jk3ckw6xzbccf7 121206 121173 2026-10-18T05:37:19Z Sari Nur Aisyah 44072 nambah kategori 121206 wikitext text/x-wiki Pada suatu masa,sabarataan burung bawarna putih. "jadikan ulun bungas, kai sihir" pinta burung pelatuk. "baiklah, kai handak maulah pian jadi burung nang bamacam-macam warna nang bungas," ujar kai sihir. burung pelatuk wahini bawarna habang. saikung burung halus malihati burung pelatuk.inya jua handak kalihatan bungas. "bunga ngini bunga nang paling ulun sukai" ujar burung halus lawan kai sihir, "kada kawa kah pian maulah warna bulu ulun kaya warna bunga ngini?" kai sihir mancati burung halus lawan warna kuning nang bungas. burung halus batamuan lawan burung pelatuk<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/329459e4-7058-4d8e-bdb5-44a478808f43/Warna-Warna%20Indah.pdf</ref> == referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] dpjmwtaqv9myyhl6kwy64mxo2w76x4j Jangan mati di taguk liang lahat 0 28804 121127 2026-10-18T04:20:28Z Suci Az zahra 44071 membuat cerita baru 121127 wikitext text/x-wiki Malam itu langit kalihatan muru karna bulan kada hadir, bintang haja nang barusaha mahibur langit bila kahilangan cahaya. Dihiga sungai, hewan halus kaya lampu nang halus hibak dipohon rambai. Kai suah bapandir cahaya halus nang bagus ngitu iy7mzpnwi3ivizbxnftygk81wmtebdw 121149 121127 2026-10-18T05:16:26Z Suci Az zahra 44071 121149 wikitext text/x-wiki Malam itu langit kalihatan muru karna bulan kada hadir, bintang haja nang barusaha mahibur langit bila kahilangan cahaya. Dihiga sungai, hewan halus kaya lampu nang halus hibak dipohon rambai. Kai suah bapandir cahaya halus nang bagus ngitu dipacayai sabagian urang asalnya dari kukunya hantu. Ulun kada tahu itu bujur atau salah, nanng ulun tahu setiap kali cahaya halus nang kidip-kidip di pohon rambai rasanya kai masih duduk lawan ulun kaya malam ngitu disini. Imbah isya, imbah acara pambacaan malam satu syuro ulun bulik dari mushola. Dasar sudah rancana matan pamulaan kalo malam ini hanak bamalam di rumah kai. Bau solar lawan kayu ulin kaciuman banar dari rumah kai nang diganai nya sorangan.Selain ganal,rumah kai juga tinggi. Dahulu panjang tiang nya 12 meter nang sasuai lawan kondisi daerah nang dijuluki kota saribu sungai. Tapi, wahini banyak kadaan lagi nang meolah rumah nangkaya ini. Salain f8f68bhm3ojdafiocrwj047d11phz3u 121172 121149 2026-10-18T05:29:26Z Suci Az zahra 44071 nambah reverensi 121172 wikitext text/x-wiki Malam itu langit kalihatan muru karna bulan kada hadir, bintang haja nang barusaha mahibur langit bila kahilangan cahaya. Dihiga sungai, hewan halus kaya lampu nang halus hibak dipohon rambai. Kai suah bapandir cahaya halus nang bagus ngitu dipacayai sabagian urang asalnya dari kukunya hantu. Ulun kada tahu itu bujur atau salah, nanng ulun tahu setiap kali cahaya halus nang kidip-kidip di pohon rambai rasanya kai masih duduk lawan ulun kaya malam ngitu disini. Imbah isya, imbah acara pambacaan malam satu syuro ulun bulik dari mushola. Dasar sudah rancana matan pamulaan kalo malam ini hanak bamalam di rumah kai. Bau solar lawan kayu ulin kaciuman banar dari rumah kai nang diganai nya sorangan.Selain ganal,rumah kai juga tinggi. Dahulu panjang tiang nya 12 meter nang sasuai lawan kondisi daerah nang dijuluki kota saribu sungai. Tapi, wahini banyak kadaan lagi nang meolah rumah nangkaya ini. Salain == Referensi == dsvayppq92j7yzk7kpaiuw6j87k72sm 121201 121172 2026-10-18T05:36:51Z Suci Az zahra 44071 nambah kategori 121201 wikitext text/x-wiki Malam itu langit kalihatan muru karna bulan kada hadir, bintang haja nang barusaha mahibur langit bila kahilangan cahaya. Dihiga sungai, hewan halus kaya lampu nang halus hibak dipohon rambai. Kai suah bapandir cahaya halus nang bagus ngitu dipacayai sabagian urang asalnya dari kukunya hantu. Ulun kada tahu itu bujur atau salah, nanng ulun tahu setiap kali cahaya halus nang kidip-kidip di pohon rambai rasanya kai masih duduk lawan ulun kaya malam ngitu disini. Imbah isya, imbah acara pambacaan malam satu syuro ulun bulik dari mushola. Dasar sudah rancana matan pamulaan kalo malam ini hanak bamalam di rumah kai. Bau solar lawan kayu ulin kaciuman banar dari rumah kai nang diganai nya sorangan.Selain ganal,rumah kai juga tinggi. Dahulu panjang tiang nya 12 meter nang sasuai lawan kondisi daerah nang dijuluki kota saribu sungai. Tapi, wahini banyak kadaan lagi nang meolah rumah nangkaya ngitu. Salain [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] tox467uoyf0wqnf1ctnseqeyurf6bzk Carita Panjual Topi 0 28805 121128 2026-10-18T04:21:14Z Mia Sulisnawati 39574 Maulah buku hanyar 121128 wikitext text/x-wiki Abah Topi ngini padagang topi di kampung Imbah bajalan lawas, Abah topi kauyuhan Abah topi guring nyanyak di bawah pohon Warik turub matan pohon lawan malihat labih parak Ada topi di tas Abah topi Warik habistu Manari Tiba- tiba abah topi sadar wan takajut Abah topi sarik lawan warik Abah topi bapikir bahimat, cara maambil topi Abah topi malapas topi wan manimbai topi ka warik Warik mambalas malapas topi ke Abah topi Abah topi tatawa wan mambawa topi bulik rmry4kr8madh5tv7lr43ergxitf7qix 121132 121128 2026-10-18T04:29:10Z Mia Sulisnawati 39574 121132 wikitext text/x-wiki Abah Topi ngini padagang topi di kampung Imbah bajalan lawas, Abah topi kauyuhan Abah topi guring nyanyak di bawah pohon Warik turub matan pohon lawan malihat labih parak Ada topi di tas Abah topi Warik habistu Manari Tiba- tiba abah topi sadar wan takajut Abah topi sarik lawan warik Abah topi bapikir bahimat, cara maambil topi Abah topi malapas topi wan manimbai topi ka warik Warik mambalas malapas topi ke Abah topi Abah topi tatawa wan mambawa topi bulik o62xl0d6vrm1lygrw13z78eturo519k 121165 121132 2026-10-18T05:29:07Z Mia Sulisnawati 39574 Manambah Referensi 121165 wikitext text/x-wiki Abah Topi ngini padagang topi di kampung Imbah bajalan lawas, Abah topi kauyuhan Abah topi guring nyanyak di bawah pohon Warik turub matan pohon lawan malihat labih parak Ada topi di tas Abah topi Warik habistu Manari Tiba- tiba abah topi sadar wan takajut Abah topi sarik lawan warik Abah topi bapikir bahimat, cara maambil topi Abah topi malapas topi wan manimbai topi ka warik Warik mambalas malapas topi ke Abah topi Abah topi tatawa wan mambawa topi bulik<ref>Ananta Prasad Wagle dan Promina Shreshtha, 2024, Penjual Topi, https://api.bookbotkids.workers.dev/books/d05f4d74-05c1-4254-a2f9-e75c50c422b9/Penjual%20Topi.pdf, Bookbot.id</ref> == Referensi == <references /> 625okk8a70bgpoj5zls3sh808iittny 121181 121165 2026-10-18T05:32:02Z Mia Sulisnawati 39574 added [[Category:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121181 wikitext text/x-wiki Abah Topi ngini padagang topi di kampung Imbah bajalan lawas, Abah topi kauyuhan Abah topi guring nyanyak di bawah pohon Warik turub matan pohon lawan malihat labih parak Ada topi di tas Abah topi Warik habistu Manari Tiba- tiba abah topi sadar wan takajut Abah topi sarik lawan warik Abah topi bapikir bahimat, cara maambil topi Abah topi malapas topi wan manimbai topi ka warik Warik mambalas malapas topi ke Abah topi Abah topi tatawa wan mambawa topi bulik<ref>Ananta Prasad Wagle dan Promina Shreshtha, 2024, Penjual Topi, https://api.bookbotkids.workers.dev/books/d05f4d74-05c1-4254-a2f9-e75c50c422b9/Penjual%20Topi.pdf, Bookbot.id</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:Bahasa Banjar]] czsknrzueajfsz4xozi12ttzdztysvx 121187 121181 2026-10-18T05:34:20Z Mia Sulisnawati 39574 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121187 wikitext text/x-wiki Abah Topi ngini padagang topi di kampung Imbah bajalan lawas, Abah topi kauyuhan Abah topi guring nyanyak di bawah pohon Warik turub matan pohon lawan malihat labih parak Ada topi di tas Abah topi Warik habistu Manari Tiba- tiba abah topi sadar wan takajut Abah topi sarik lawan warik Abah topi bapikir bahimat, cara maambil topi Abah topi malapas topi wan manimbai topi ka warik Warik mambalas malapas topi ke Abah topi Abah topi tatawa wan mambawa topi bulik<ref>Ananta Prasad Wagle dan Promina Shreshtha, 2024, Penjual Topi, https://api.bookbotkids.workers.dev/books/d05f4d74-05c1-4254-a2f9-e75c50c422b9/Penjual%20Topi.pdf, Bookbot.id</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:WikiCarita]] molvcgh6o6nlqigu2u3l5f8mgiz6uv5 Pantun Banjar/Hidup Baahlak 0 28806 121129 2026-10-18T04:25:50Z Jaelani58 44090 Membuat buku 121129 wikitext text/x-wiki PANTUN-PANTUN JH TANUJAYA ka Marabahan maanyam purun<br> maitihi buhaya di pantai muhara<br> mari bakawal mari bapantun<br> bagaduhan aksara maharagu sastra<br> maithi buhaya di pantai muhara<br> manukari buah ka Luk Baintan<br> bagaduhan aksara maharagu sastra<br> budaya bakisah ulah taladan<br> manukari nangka ka Luk Baintan<br> daun bakuncup buah kalangkala<br> kisah babudaya ulah taladan<br> paduman hidup baadab mulia<br> daun bakuncup buah kalangkala<br> katupat Kandangan di hatas tungku<br> paduman hidup baadab mulia<br> satia bakawan bungas balaku<br> katupat Kandangan di hatas tungku<br> manimbai jala ka Bati-bati<br> satia bakawan bungas balaku<br> suka wan duka kawal sahati<br> manimbai jala ka Bati-Bati<br> kuntau basilat baadu jimat<br> suka wan duka kawal sahati<br> maulah basahabat dunia akhirat<br> kuntau basilat lastari adat<br> bagulak kulung haruan bakunyungan<br> bakawalan dunia akhirat<br> tulung manulung baumuran<br> bagulak kulung haruan bakunyungan<br> amparan tatak bakarat-karat<br> tulung manulung bakasih sayang<br> hidup baahlak manjunjung sahabat<br> Banjarmasin, 26 Desember 2025 q21ti5et8fmv4gtk3g0xjmba81vgsck 121131 121129 2026-10-18T04:28:16Z Jaelani58 44090 Membuat buku 121131 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Francis Opancia Cannon.jpg|jmpl|Gambar ini hanya ilustrasi. Hidup Berakhlak Menjunjung Sahabat]] PANTUN-PANTUN JH TANUJAYA ka Marabahan maanyam purun<br> maitihi buhaya di pantai muhara<br> mari bakawal mari bapantun<br> bagaduhan aksara maharagu sastra<br> maithi buhaya di pantai muhara<br> manukari buah ka Luk Baintan<br> bagaduhan aksara maharagu sastra<br> budaya bakisah ulah taladan<br> manukari nangka ka Luk Baintan<br> daun bakuncup buah kalangkala<br> kisah babudaya ulah taladan<br> paduman hidup baadab mulia<br> daun bakuncup buah kalangkala<br> katupat Kandangan di hatas tungku<br> paduman hidup baadab mulia<br> satia bakawan bungas balaku<br> katupat Kandangan di hatas tungku<br> manimbai jala ka Bati-bati<br> satia bakawan bungas balaku<br> suka wan duka kawal sahati<br> manimbai jala ka Bati-Bati<br> kuntau basilat baadu jimat<br> suka wan duka kawal sahati<br> maulah basahabat dunia akhirat<br> kuntau basilat lastari adat<br> bagulak kulung haruan bakunyungan<br> bakawalan dunia akhirat<br> tulung manulung baumuran<br> bagulak kulung haruan bakunyungan<br> amparan tatak bakarat-karat<br> tulung manulung bakasih sayang<br> hidup baahlak manjunjung sahabat<br> Banjarmasin, 26 Desember 2025 9r0clejkr1gywn4b18pbkbvvnga65y5 121194 121131 2026-10-18T05:36:22Z Jaelani58 44090 Menambahkan Kategori 121194 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Francis Opancia Cannon.jpg|jmpl|Gambar ini hanya ilustrasi. Hidup Berakhlak Menjunjung Sahabat]] PANTUN-PANTUN JH TANUJAYA ka Marabahan maanyam purun<br> maitihi buhaya di pantai muhara<br> mari bakawal mari bapantun<br> bagaduhan aksara maharagu sastra<br> maithi buhaya di pantai muhara<br> manukari buah ka Luk Baintan<br> bagaduhan aksara maharagu sastra<br> budaya bakisah ulah taladan<br> manukari nangka ka Luk Baintan<br> daun bakuncup buah kalangkala<br> kisah babudaya ulah taladan<br> paduman hidup baadab mulia<br> daun bakuncup buah kalangkala<br> katupat Kandangan di hatas tungku<br> paduman hidup baadab mulia<br> satia bakawan bungas balaku<br> katupat Kandangan di hatas tungku<br> manimbai jala ka Bati-bati<br> satia bakawan bungas balaku<br> suka wan duka kawal sahati<br> manimbai jala ka Bati-Bati<br> kuntau basilat baadu jimat<br> suka wan duka kawal sahati<br> maulah basahabat dunia akhirat<br> kuntau basilat lastari adat<br> bagulak kulung haruan bakunyungan<br> bakawalan dunia akhirat<br> tulung manulung baumuran<br> bagulak kulung haruan bakunyungan<br> amparan tatak bakarat-karat<br> tulung manulung bakasih sayang<br> hidup baahlak manjunjung sahabat<br> Banjarmasin, 26 Desember 2025 [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] qa0z17h8pqdnehdhjwu3taxqp7zkbjq Kanangan nang Baharaga 0 28807 121130 2026-10-18T04:27:38Z Rijuuqo744 44091 bahasa banjar version 121130 wikitext text/x-wiki Tadangar kariauan di Mushola nang manandakan jam 4 pagi wan unda tabangun rahatan baca doa,awak rasa ringkut banar gara-gara kana hukuman lambat masuk mushola semalam. ‎ ‎ Limbah unda siap wan tasisa waktu 10 menit tandanya pembacaan sifat 20 tuntung 1x kira-kira semenit,limbah kulihat kakawanan masih haruk guring di dipan gara-gara buhannya kana hukuman sama wan unda. ‎ ‎  Buhannya nang masih haruk unda garak tasisa 2 lagi kada bangun tuhuk unda manggarak buhannya,gara-gara nintuh badua sisa 2 manit lagi wan dari asrama ka Mushola 1 manit nintuh gin bukah,kada tahu ae lagi bukah unda. ‎Bukah langsung unda ka mushola gara-gara 10 manit sebelum adzan shubuh kami tadarus wan nang kada sampat umpat tadarus biasanya kana hukuman push up sambil dipukul dengan sajadah oleh buhan senior marangkap kaka asrama. ai8ibmr8u713x6fsuvtu9er19m2ki73 121207 121130 2026-10-18T05:37:20Z Rijuuqo744 44091 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121207 wikitext text/x-wiki Tadangar kariauan di Mushola nang manandakan jam 4 pagi wan unda tabangun rahatan baca doa,awak rasa ringkut banar gara-gara kana hukuman lambat masuk mushola semalam. ‎ ‎ Limbah unda siap wan tasisa waktu 10 menit tandanya pembacaan sifat 20 tuntung 1x kira-kira semenit,limbah kulihat kakawanan masih haruk guring di dipan gara-gara buhannya kana hukuman sama wan unda. ‎ ‎  Buhannya nang masih haruk unda garak tasisa 2 lagi kada bangun tuhuk unda manggarak buhannya,gara-gara nintuh badua sisa 2 manit lagi wan dari asrama ka Mushola 1 manit nintuh gin bukah,kada tahu ae lagi bukah unda. ‎Bukah langsung unda ka mushola gara-gara 10 manit sebelum adzan shubuh kami tadarus wan nang kada sampat umpat tadarus biasanya kana hukuman push up sambil dipukul dengan sajadah oleh buhan senior marangkap kaka asrama. [[Kategori:WikiCarita]] pnmbbd248u7nwukpcflxvy8gyfoca9y 121209 121207 2026-10-18T05:37:51Z Rijuuqo744 44091 added [[Category:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121209 wikitext text/x-wiki Tadangar kariauan di Mushola nang manandakan jam 4 pagi wan unda tabangun rahatan baca doa,awak rasa ringkut banar gara-gara kana hukuman lambat masuk mushola semalam. ‎ ‎ Limbah unda siap wan tasisa waktu 10 menit tandanya pembacaan sifat 20 tuntung 1x kira-kira semenit,limbah kulihat kakawanan masih haruk guring di dipan gara-gara buhannya kana hukuman sama wan unda. ‎ ‎  Buhannya nang masih haruk unda garak tasisa 2 lagi kada bangun tuhuk unda manggarak buhannya,gara-gara nintuh badua sisa 2 manit lagi wan dari asrama ka Mushola 1 manit nintuh gin bukah,kada tahu ae lagi bukah unda. ‎Bukah langsung unda ka mushola gara-gara 10 manit sebelum adzan shubuh kami tadarus wan nang kada sampat umpat tadarus biasanya kana hukuman push up sambil dipukul dengan sajadah oleh buhan senior marangkap kaka asrama. [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] 0sav46rlzba4gcpz2pmal3l6ermaqit Di Mana Di Mana Kucingku 0 28808 121133 2026-10-18T04:29:15Z Malamilai 43778 Membuat buku baru berbahasa Banjar 121133 wikitext text/x-wiki Kit, Ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak cukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana karena di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini. dgwikkdsmde4kyrwyiikl89gvbnfpk1 121134 121133 2026-10-18T04:30:11Z Malamilai 43778 /* */ memperbaiki kata 121134 wikitext text/x-wiki Kit, Ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana karena di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini. 08dujjnbjoliqv66ahwn419rslhltjw 121152 121134 2026-10-18T05:18:17Z Malamilai 43778 /* */ memperbaiki tulisan 121152 wikitext text/x-wiki Kit, Ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana maraga di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini. so7dp082nxg90kygsbnz9fd3mobhtg7 121247 121152 2026-10-18T05:47:25Z Malamilai 43778 Menambahkan referensi dan gambar 121247 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana maraga di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> ogdgukl883wnt53wy4d6v8b1hx1m9u1 121252 121247 2026-10-18T05:48:40Z Malamilai 43778 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121252 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana maraga di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] 6co9g3br8aw17a69am2zgcg5zg9as7h 121253 121252 2026-10-18T05:48:53Z Malamilai 43778 added [[Category:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121253 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana maraga di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] 2ypknoig4t9uj3d7fqsk9a7pca7lyvh 121254 121253 2026-10-18T05:49:09Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121254 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana maraga di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] 9xxirxqe2dt1nge2pvscls3xn1jp7xp 121255 121254 2026-10-18T05:49:27Z Malamilai 43778 added [[Category:Fabel]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121255 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana maraga di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] o6viwpoz0jvkg7kdbt9xop92t6gz9gt 121256 121255 2026-10-18T05:49:44Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Mini]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121256 wikitext text/x-wiki [[Berkas:20231125 housecat south meadows PD100306.jpg|jmpl|Kucing]] Kit, ikam di mana di mana? Kit adalah kucingku. Kit katuju banar ajak tukup. Kit, Ikam ada di mana di mana? Apa Kit tadi di sini tadi, kah? Aku pikir aku mandangar Kit matan sini tadi. Kit jua kadada di sini, kah? Tagal am Kit rancak guring di sini. Kanapa ari ngini kadada, lah? Apa Kit di balakang wadah tanaman di sini, kah? Kit kadada jua di sini. Kit, di mana di mana Ikam? Apa Kit tulak ka balakang rumah? Kit kadada di sana jua. Kit, di mana di mana Ikam? Uh, aku kaya mandangar Kit matan muha rumah! Ah, Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ada di dalam rumah? Di bawah lamari jua kadada. Apa Kit di atas lamari? Balakas-lakas aku maambil bangku supaya kawa maitihi ka atas. Tagal Kit kadada jua di sana. Apa kayanya Kit ka sana? Apa Kit kada taitihi jua di sakitar rak buku. Apa Kit di bawah tempat guring? Kit katuju guring di sana maraga di sana nyaman wan aman. Tagal Kit kadada jua di sana. Aku harus gawi napa wayahini? Apa aku musti maminta tulung lawan Uma? Apa ngitung nang bagarak di bawah salimut? Nah, ngitu Kit! Wah, santai banar Karana Kit hudah aku gagai wayahini.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/099126e2-8ed0-4f6b-b0f1-0f7a3834ce18/Di%20Mana%20Kucingku?.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] [[Kategori:Cerita Mini]] 8q61zh2638uh7nc1r6yoizxdpevue6p Kategori:Bahasa Banjar 14 28809 121137 2026-10-18T04:38:58Z Wadaihangit 36203 baru 121137 wikitext text/x-wiki [[Kategori:Bahasa]] [[Kategori:Indonesia]] m9gs9b88fwkg6wcy6jd4p2wi0n7j6jd Carita Si Paniup Suling 0 28810 121139 2026-10-18T04:42:55Z Rraaylin 44077 ←Membuat halaman berisi 'Bunyi sulingnya manyantuh hati banar. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya bapijim. Baganangan banyu matanya. Pohon-pohon gin marasa pilu mandengar lagu ngitu, sampai daun-daunnya guguran. Angin mambawa daun-daun ngitu tarabang manjapai awan. Titikan banyu hujan guguran ke taman. Di tangah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil ngitu. Hujan pun reda. Kambang-kambang betakun ke Lebah, "Wahai Lebah, ikam tahulah kanapa inya memain ak...' 121139 wikitext text/x-wiki Bunyi sulingnya manyantuh hati banar. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya bapijim. Baganangan banyu matanya. Pohon-pohon gin marasa pilu mandengar lagu ngitu, sampai daun-daunnya guguran. Angin mambawa daun-daun ngitu tarabang manjapai awan. Titikan banyu hujan guguran ke taman. Di tangah rintik hujan, para penghuni taman terpaku menatap gadis kecil ngitu. Hujan pun reda. Kambang-kambang betakun ke Lebah, "Wahai Lebah, ikam tahulah kanapa inya memain akan lagu nang menyayat hati?" Lebah menggeleng. Inya tarabang ke angkasa. Lebah betamu lawan si Burung Biru. "Kanapa tiupan sulingnya terasa sangat lara, yo?" takun Lebah. "Aku kada tahu," ujar si Burung Biru. Inya mendatangi Kelinci. "Kelinci, kenapa lagunya pina sedih banar?" takun si Burung Biru. Kelinci tediam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik berhenti. Gadis kecil ngitu mambuka matanya. Awaknya menggigil kedinginan. "Aku kaganangan abah wan umaku, tapi mereka sudah kadeda," ujarnya sambil manangis. Para penghuni taman terkejut mendengarnya. Mereka saling pandang. Satu per satu mendekat ke arah gadis kecil itu dan memeluknya. Dia kaget dan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman. mkm2y6yaqcuz0tkapb68ss3t86chri6 121177 121139 2026-10-18T05:30:15Z Rraaylin 44077 Menambahkan Referensi 121177 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flute with musicial notes.jpg|jmpl|suling]] Bunyi sulingnya manyantuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya bapijim. Baganangan banyu matanya. Pohon-pohon gin rasa pilu mandengar lagu ngitu, sampai daun-daunnya guguran. Angin mambawa daun-daun ngitu tarabang manjapai awan. Titikan banyu hujan guguran ke taman. Di tangah rintik hujan, bubuhan penghuni taman terpaku malihat gadis kecil ngitu. Hujan pun taduh. Kambang-kambang betakun lawan Lebah, "Lebah, ikam tahulah kanapa inya memain akan lagu nang menyayat hati?" Lebah menggeleng. Inya tarabang ke angkasa. Lebah betamu lawan si Burung Biru. "Kanapa tiupan sulingnya rasa sedih banar, yo?" takun Lebah. "Aku kada tahu," ujar si Burung Biru. Inya mendatangi Kelinci. "Kelinci, kenapa lagunya pina lara banar?" takun si Burung Biru. Kelinci tadiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik tuntung. Gadis kecil ngitu mambuka matanya. Awaknya menggigil kedinginan. "Aku kaganangan abah wan umaku, tapi kuitanku kadada dah," ujarnya sambil manangis. Bubuhan penghuni taman takajut mandangarnya. Buhannya balalihatan. Satu per satu memaraki gadis kecil ngitu, habis itu meragap inya. Inya tekajut wan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum senang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus para penghuni taman. <ref>Medinah, E. (2024). Kisah Peniup Seruling, Bookbot.</ref> == Referensi == fzkl6smhtwye09pz0gr3aq1269aden7 121198 121177 2026-10-18T05:36:40Z Rraaylin 44077 121198 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flute with musicial notes.jpg|jmpl|suling]] Bunyi sulingnya manyantuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya bapijim. Baganangan banyu matanya. Pohon-pohon gin rasa pilu mandengar lagu ngitu, sampai daun-daunnya guguran. Angin mambawa daun-daun ngitu tarabang manjapai awan. Titikan banyu hujan guguran ke taman. Di tangah rintik hujan, bubuhan penghuni taman terpaku malihat gadis kecil ngitu. Hujan pun taduh. Kambang-kambang betakun lawan Lebah, "Lebah, ikam tahulah kanapa inya memain akan lagu nang menyayat hati?" Lebah menggeleng. Inya tarabang ke angkasa. Lebah betamu lawan si Burung Biru. "Kanapa tiupan sulingnya rasa sedih banar, yo?" takun Lebah. "Aku kada tahu," ujar si Burung Biru. Inya mendatangi Kelinci. "Kelinci, kanapa lagunya pina lara banar?" takun si Burung Biru. Kelinci tadiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik tuntung. Gadis kecil ngitu mambuka matanya. Awaknya menggigil kedinginan. "Aku kaganangan abah wan umaku, tapi kuitanku kadada dah," ujarnya sambil manangis. Bubuhan penghuni taman takajut mandangarnya. Buhannya balalihatan. Satu per satu memaraki gadis kecil ngitu, habis itu meragap inya. Inya tekajut wan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum sanang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus bubuhan penghuni taman. <ref>Medinah, E. (2024). Kisah Peniup Seruling, Bookbot.</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] kumeivmr80iib3kpy271brncezvp9ur 121205 121198 2026-10-18T05:37:19Z Rraaylin 44077 Menambahkan kategori 121205 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Flute with musicial notes.jpg|jmpl|suling]] Bunyi sulingnya manyantuh hati. Nada-nada kerinduan mengalun pelan. Matanya bapijim. Baganangan banyu matanya. Pohon-pohon gin rasa pilu mandengar lagu ngitu, sampai daun-daunnya guguran. Angin mambawa daun-daun ngitu tarabang manjapai awan. Titikan banyu hujan guguran ke taman. Di tangah rintik hujan, bubuhan penghuni taman terpaku malihat gadis kecil ngitu. Hujan pun taduh. Kambang-kambang betakun lawan Lebah, "Lebah, ikam tahulah kanapa inya memain akan lagu nang menyayat hati?" Lebah menggeleng. Inya tarabang ke angkasa. Lebah betamu lawan si Burung Biru. "Kanapa tiupan sulingnya rasa sedih banar, yo?" takun Lebah. "Aku kada tahu," ujar si Burung Biru. Inya mendatangi Kelinci. "Kelinci, kanapa lagunya pina lara banar?" takun si Burung Biru. Kelinci tadiam sambil menatap si Gadis Kecil. Musik tuntung. Gadis kecil ngitu mambuka matanya. Awaknya menggigil kedinginan. "Aku kaganangan abah wan umaku, tapi kuitanku kadada dah," ujarnya sambil manangis. Bubuhan penghuni taman takajut mandangarnya. Buhannya balalihatan. Satu per satu memaraki gadis kecil ngitu, habis itu meragap inya. Inya tekajut wan terharu. Rasa rindunya seakan hilang. Si Gadis Kecil pun tersenyum sanang. Mentari perlahan bersinar terang. Udara kembali menghangat. Hati gadis kecil itu pun menjadi hangat, sehangat uluran kasih tulus bubuhan penghuni taman. <ref>Medinah, E. (2024). Kisah Peniup Seruling, Bookbot.</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] f560m58zc2vec8w8pld2vt4hcin1j6r Kanangan nang ulun bawa dalam diam 0 28811 121140 2026-10-18T05:05:56Z Coretan.kecil19 44065 ←Membuat halaman berisi ' Ada kanangan nang kada pernah bujur-bujur hilang. Waktu mungkin maulah rasa jauh, tapi lain artinya barataan sudah hilang. Babarapa kanangan malah batahan labih lawas pada nang kita kahandaki, tasimpan di hujung hati wan muncul pulang wayah kita mulai maingat parjalanan nang suah dilalui. Bagi Cacha, masa bahari lain sakadar kumpulan kisah atawa wadah nang suah inya singgahi. Di dalamnya tasimpan parihal kaluarga nang manguras parasaan, pengabdian nang kada...' 121140 wikitext text/x-wiki Ada kanangan nang kada pernah bujur-bujur hilang. Waktu mungkin maulah rasa jauh, tapi lain artinya barataan sudah hilang. Babarapa kanangan malah batahan labih lawas pada nang kita kahandaki, tasimpan di hujung hati wan muncul pulang wayah kita mulai maingat parjalanan nang suah dilalui. Bagi Cacha, masa bahari lain sakadar kumpulan kisah atawa wadah nang suah inya singgahi. Di dalamnya tasimpan parihal kaluarga nang manguras parasaan, pengabdian nang kada bajalan sasuai harapan, kakawanan nang maninggalakan luka, lawan dunia maya nang suah inya jadiakan wadah balindung matan kanyataan. Imbah manuntungakan pandidikan di pasantrin, Cacha mamilih sagan malanjutakan pengabdian di wadah nang salama ini manjadi bagian panting dalam hidupnya. Inya manjalani masa pengabdian dengan harapan dapat mengamalakan ilmu nang talah dipelajarinya sakaligus mambarikan manfaat sagan urang lain. Inya handak mambalas kabaikan bubuhan guru dan manurasakan nilai-nilai nang suah diajarakan kapadanya. n7qt810v0e45vohd5fdd7dmwj89dau1 121146 121140 2026-10-18T05:12:54Z Coretan.kecil19 44065 121146 wikitext text/x-wiki [[ [[File:Beskid Wyspowy - panorama z Jaworzynki.JPG|Beskid_Wyspowy_-_panorama_z_Jaworzynki]]|jmpl]] Ada kanangan nang kada pernah bujur-bujur hilang. Waktu mungkin maulah rasa jauh, tapi lain artinya barataan sudah hilang. Babarapa kanangan malah batahan labih lawas pada nang kita kahandaki, tasimpan di hujung hati wan muncul pulang wayah kita mulai maingat parjalanan nang suah dilalui. Bagi Cacha, masa bahari lain sakadar kumpulan kisah atawa wadah nang suah inya singgahi. Di dalamnya tasimpan parihal kaluarga nang manguras parasaan, pengabdian nang kada bajalan sasuai harapan, kakawanan nang maninggalakan luka, lawan dunia maya nang suah inya jadiakan wadah balindung matan kanyataan. Imbah manuntungakan pandidikan di pasantrin, Cacha mamilih sagan malanjutakan pengabdian di wadah nang salama ini manjadi bagian panting dalam hidupnya. Inya manjalani masa pengabdian dengan harapan dapat mengamalakan ilmu nang talah dipelajarinya sakaligus mambarikan manfaat sagan urang lain. Inya handak mambalas kabaikan bubuhan guru dan manurasakan nilai-nilai nang suah diajarakan kapadanya. m6917asl8yfencox6nyobd9lp7gyweh Pengguna:Coretan.kecil19 2 28812 121141 2026-10-18T05:07:40Z Coretan.kecil19 44065 ←Membuat halaman berisi 'Halo, perkenalkan saya Nina. Saya seorang pengajar dan penulis pemula dan akan membuat buku-buku mengenai berbagai hal {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} [[Pengguna:Coretan.kecil19|Coretan.kecil19]] ([[Pembicaraan Pengguna:Coretan.kecil19|bicara]]) 18 Oktober 2026 03.18 (UTC)' 121141 wikitext text/x-wiki Halo, perkenalkan saya Nina. Saya seorang pengajar dan penulis pemula dan akan membuat buku-buku mengenai berbagai hal {{Peserta WikiLatih|di=[[Banjarmasin]]|tgl=18 Oktober 2026}} [[Pengguna:Coretan.kecil19|Coretan.kecil19]] ([[Pembicaraan Pengguna:Coretan.kecil19|bicara]]) 18 Oktober 2026 03.18 (UTC) rjiw2qru8sml4airy4z0nnbosgzl92h Pinsil Warna 0 28813 121142 2026-10-18T05:07:58Z GAnganwaLUH 44089 membuat buku baru 121142 wikitext text/x-wiki Pinsil Warna Diilustrasiakan ulih YOUM KOSAI [[Berkas:Colored pencils in holder.jpg|jmpl|pinsil warna]] Mama manukar sakutak pinsil warna. Toto himung banar. “Tarima kasih, Ma!” jar Toto. Pinsil-pinsil warna di dalam kutak asa takutan. Ada nang takutan sakit wan tumpul. “ulun jua takutan, pang,” jar Pinsil Biru. “Tagal, kayapa kalu kita kaluar hulu?" Di luar kutak, bubuhan pinsil warna maliat Buku Mawarnai di atas meja. buhannya katuju. “Amun kadada pinsil warna nangkaya buhan ikam, gambar-gambar ngini kadada warnanya.” ujar Buku Mawarnai. Bubuhan pinsil warna babulikkan ka kutak. Toto mamakai pinsil bagamatan hagan mawarnai gambar-gambar di Buku Mawarnai. Imbah Toto tulak, bubuhan pinsil warna maitihi gambar-gambar nang tuntung diwarnai. langkar banar. Samunyaan pinsil warna baucap, "Kami handak samunyaan gambar di dunia ngini baisi warna-warna bungas nangkaya ini!" irua2xg3noy381tv89rw3bgp98jn7yt 121169 121142 2026-10-18T05:29:20Z GAnganwaLUH 44089 menambah referensi 121169 wikitext text/x-wiki Pinsil Warna Diilustrasiakan ulih YOUM KOSAI [[Berkas:Colored pencils in holder.jpg|jmpl|pinsil warna]] Mama manukar sakutak pinsil warna. Toto himung banar. “Tarima kasih, Ma!” jar Toto. Pinsil-pinsil warna di dalam kutak asa takutan. Ada nang takutan sakit wan tumpul. “ulun jua takutan, pang,” jar Pinsil Biru. “Tagal, kayapa kalu kita kaluar hulu?" Di luar kutak, bubuhan pinsil warna maliat Buku Mawarnai di atas meja. buhannya katuju. “Amun kadada pinsil warna nangkaya buhan ikam, gambar-gambar ngini kadada warnanya.” ujar Buku Mawarnai. Bubuhan pinsil warna babulikkan ka kutak. Toto mamakai pinsil bagamatan hagan mawarnai gambar-gambar di Buku Mawarnai. Imbah Toto tulak, bubuhan pinsil warna maitihi gambar-gambar nang tuntung diwarnai. langkar banar. Samunyaan pinsil warna baucap, "Kami handak samunyaan gambar di dunia ngini baisi warna-warna bungas nangkaya ini!"<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/edce7a50-121a-495a-a925-1f99ea6741b6/Pensil%20Warna.pdf</ref> == Referensi == bv3p1kr08r38c3xcba9ra7v4vbja38f 121199 121169 2026-10-18T05:36:43Z GAnganwaLUH 44089 menambah kategori 121199 wikitext text/x-wiki Pinsil Warna Diilustrasiakan ulih YOUM KOSAI [[Berkas:Colored pencils in holder.jpg|jmpl|pinsil warna]] Mama manukar sakutak pinsil warna. Toto himung banar. “Tarima kasih, Ma!” jar Toto. Pinsil-pinsil warna di dalam kutak asa takutan. Ada nang takutan sakit wan tumpul. “ulun jua takutan, pang,” jar Pinsil Biru. “Tagal, kayapa kalu kita kaluar hulu?" Di luar kutak, bubuhan pinsil warna maliat Buku Mawarnai di atas meja. buhannya katuju. “Amun kadada pinsil warna nangkaya buhan ikam, gambar-gambar ngini kadada warnanya.” ujar Buku Mawarnai. Bubuhan pinsil warna babulikkan ka kutak. Toto mamakai pinsil bagamatan hagan mawarnai gambar-gambar di Buku Mawarnai. Imbah Toto tulak, bubuhan pinsil warna maitihi gambar-gambar nang tuntung diwarnai. langkar banar. Samunyaan pinsil warna baucap, "Kami handak samunyaan gambar di dunia ngini baisi warna-warna bungas nangkaya ini!"<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/edce7a50-121a-495a-a925-1f99ea6741b6/Pensil%20Warna.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] rl3ah0mvdwcdxj7d4338z80syp7rz6o Dunia Rahasia Sam / Banjar 0 28814 121147 2026-10-18T05:14:18Z Nursari Mulia 42208 tulisan hanyar 121147 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Magician idris floating currency.png|jmpl]] Ngaranku Sam. Umurku sapuluh tahun. Aku kada katuju tulak ka sakulahan. Susubuhan rahatan aku basikat gigi, ada te akal di kupala. Amunnya pingguluku kawa ba panjang, kikira aku kawa manjanguk sampai ka mana? Amunnya batisku kuat wan wigas, aku kawa bukah laju-laju balalah jauh-jauh. Amunnya aku ada ba utut, aku kawa mahambin urang tuha. Amunnya gigiku ganal-ganal, aku kawa mamakan gulaan sakahandak. Amunnya talingaku kawa ba urak, aku kawa manalinga pandiran kakawanan. Tapi ngintu tadih hahayalan haja, tatap ai umaku manyuruh tulak ka sakulahan. h7cog01rafecafowljr00m702b3slam 121189 121147 2026-10-18T05:35:23Z Nursari Mulia 42208 menambah referensi 121189 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Magician idris floating currency.png|jmpl]] Ngaranku Sam. Umurku sapuluh tahun. Aku kada katuju tulak ka sakulahan. Susubuhan rahatan aku basikat gigi, ada te akal di kupala. Amunnya pingguluku kawa ba panjang, kikira aku kawa manjanguk sampai ka mana? Amunnya batisku kuat wan wigas, aku kawa bukah laju-laju balalah jauh-jauh. Amunnya aku ada ba utut, aku kawa mahambin urang tuha. Amunnya gigiku ganal-ganal, aku kawa mamakan gulaan sakahandak. Amunnya talingaku kawa ba urak, aku kawa manalinga pandiran kakawanan. Tapi ngintu tadih hahayalan haja, tatap ai umaku manyuruh tulak ka sakulahan.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/2142b10b-96ef-4f80-8c85-a1a0055c34b0/Dunia%20Rahasia%20Sam.pdf</ref> == Referensi == [[Kategori:WikiCarita]] k3npvgpy2rhzpspw0udm6rurzzzujsv 121196 121189 2026-10-18T05:36:27Z Nursari Mulia 42208 menambah kategori 121196 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Magician idris floating currency.png|jmpl]] Ngaranku Sam. Umurku sapuluh tahun. Aku kada katuju tulak ka sakulahan. Susubuhan rahatan aku basikat gigi, ada te akal di kupala. Amunnya pingguluku kawa ba panjang, kikira aku kawa manjanguk sampai ka mana? Amunnya batisku kuat wan wigas, aku kawa bukah laju-laju balalah jauh-jauh. Amunnya aku ada ba utut, aku kawa mahambin urang tuha. Amunnya gigiku ganal-ganal, aku kawa mamakan gulaan sakahandak. Amunnya talingaku kawa ba urak, aku kawa manalinga pandiran kakawanan. Tapi ngintu tadih hahayalan haja, tatap ai umaku manyuruh tulak ka sakulahan.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/2142b10b-96ef-4f80-8c85-a1a0055c34b0/Dunia%20Rahasia%20Sam.pdf</ref> == Referensi == [[Kategori:WikiCarita]] <references /> [[Kategori:Bahasa Banjar]] cah5c1etk0029gb135u7w37nm6z6pwz 121233 121196 2026-10-18T05:41:17Z Nursari Mulia 42208 menambah kategori 121233 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Magician idris floating currency.png|jmpl]] Ngaranku Sam. Umurku sapuluh tahun. Aku kada katuju tulak ka sakulahan. Susubuhan rahatan aku basikat gigi, ada te akal di kupala. Amunnya pingguluku kawa ba panjang, kikira aku kawa manjanguk sampai ka mana? Amunnya batisku kuat wan wigas, aku kawa bukah laju-laju balalah jauh-jauh. Amunnya aku ada ba utut, aku kawa mahambin urang tuha. Amunnya gigiku ganal-ganal, aku kawa mamakan gulaan sakahandak. Amunnya talingaku kawa ba urak, aku kawa manalinga pandiran kakawanan. Tapi ngintu tadih hahayalan haja, tatap ai umaku manyuruh tulak ka sakulahan.<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/2142b10b-96ef-4f80-8c85-a1a0055c34b0/Dunia%20Rahasia%20Sam.pdf</ref> == Referensi == [[Kategori:WikiCarita]] <references /> [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Pendek]] ctde2aovc188jtjpn5l1e2ufl2txanv Kuyuk wan Kucing 0 28815 121148 2026-10-18T05:15:53Z Malamilai 43778 Membuat buku baru berbahasa Banjar 121148 wikitext text/x-wiki Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida. oy7zb3yrmcy4id19ib4h1nk0jv2psy3 121203 121148 2026-10-18T05:37:07Z Malamilai 43778 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121203 wikitext text/x-wiki Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida. [[Kategori:WikiCarita]] 1ei0aomrnsxr5ies5xw53yx75q25f73 121208 121203 2026-10-18T05:37:26Z Malamilai 43778 added [[Category:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121208 wikitext text/x-wiki Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida. [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] py955lzk6bp2ud0dscx0qocv34g6ky5 121212 121208 2026-10-18T05:38:24Z Malamilai 43778 Menambahkan referensi dan kategori 121212 wikitext text/x-wiki Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] 3tzslbaudopsyqy19cdwaca62fal5z1 121214 121212 2026-10-18T05:38:41Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Fiksi]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121214 wikitext text/x-wiki Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] 4ryl56e0v4zemj3b49ergh8c5yq0bpz 121218 121214 2026-10-18T05:38:51Z Malamilai 43778 added [[Category:Fabel]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121218 wikitext text/x-wiki Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] ly31nkw35mt0onm46vqknvjurmj7qji 121220 121218 2026-10-18T05:39:06Z Malamilai 43778 added [[Category:Cerita Mini]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121220 wikitext text/x-wiki Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] [[Kategori:Cerita Mini]] s3wopctv7cbklpfou9k3cf25406mu7q 121235 121220 2026-10-18T05:42:04Z Malamilai 43778 Menambahkan gambar 121235 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Cat November 2010-1a.jpg|jmpl|Kucing]] [[Berkas:Anjing Penjaga.jpg|jmpl|Kuyuk]] Kuyuk wan Kucing bakawanan banar kaya dingsanak. Bubuhannya badua tarus. Mbah, bubuhannya guring di kandang nang sama. Bubuhannya jua makan badua tarus lawan kaya dingsanak. Bubuhannya katuju santai-santai di bawah puhun. Kucing marasa aman tarus wayah Kuyuk di paraknya. Takadang, ada sedikit drama dalam bakawanan bubuhannya. Tagal, bubuhannya badamai tarus imbahnya. Wayah ari ngitu, nang baisi rumah maitihi Kucing memburu Tikus. Nang baisi rumah jadi sayang banar lawan si Kucing. Wayahini, si Kucing katuju banar mahabisakan waktu di dalam rumah, guring di dalam rumah, wan bagayaan lawan si baisi rumah. Kuyuk karindangan lawan lawan si Kucing, kawan kaya dingsanak. Baisukan ari, wayah Kucing lagi bakunjang, Kuyuk mamarakinya. Kuyuk kada tarima maraga Kucing kada paduli lawan inya lagi. Kuyuk wan Kucing bakalahian. Kuyuk manyasahi Kucing banar. Hiat! Kuyuk sampai baluncat pagar gasan manyasahi Kucing wan jua mangguguk tarus! Kucing takutan banar. Kucing kawa bukah wan masuk ka dalam rumah. Si Kucing kawa marasa aman, tagal uyuh banar jua. Bahari, Kucing wan Kuyuk kawa badamai tarus. Tagal, wayahini kayanya bubuhannya kada akan kawa bakawanan kaya dingsanak kaya bahari. Wayahini, bubuhannya katuju hiwal nang babida.<ref><nowiki>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/09cbc815-d638-4d18-802b-75d199e178a1/Anjing%20dan%20Kucing.pdf</nowiki></ref> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerita Fiksi]] [[Kategori:Fabel]] [[Kategori:Cerita Mini]] 9mgqzq6imlkg48vsmk7eplu0j4atoiv Kada usah bajauh-jauh 0 28816 121150 2026-10-18T05:17:21Z Hilman Gashat 44076 Membuat buku baru berbahasa banjar 121150 wikitext text/x-wiki "Pian ada meliat kunci motor Scoopy lah, ka?" Nah iya ja pang, jarku dalam hati nih, rahatan basimpun handak tutup cafe, maka ada customer nang kahilangan kunci kandaraan. "Kunci Scoopy? Kadada maitih pang," aku singhaja kada menakuni 'sudah dicarii kah di baju, tas, kantong' atau napa, kalo ai sudah dicariinya tagal kada dapat, jadi ku biar akan ai inya kipuh sorangan mancarinya di bakas inya duduk tadi. Napang hanyar banar kusimpuni bakas wadah inya tu, kadada lalu kuitih kunci bahantangan. "Pas befoto tadi pang ada malapas lah? Kalo ai rahatan bafotoan tadi talapas," sambil kutakuni sambil kuganii jua mancari bakikih kasana kamari. "Kadada jua ka ai," masih kujuk-kujuk inya, imbah anu manalipun kaluarganya nang bulik badahulu, kalo pina tabawa buhannya. Maras ha kuitih muhanya, kutakuni ai takunan nang harusnya kutakuni mulai awal. "Di kantong baju pang sudah lah dicek? Kalo ai tasilip di baju kah, salawar kah, tas kah ..." Napang aku suah jua kaitu, pina kipuh bacari kunci kandaraan, handak tatangis-tangis dah, harau sakalinya tasilip di kantong salawar, tuhuk to bahahar dah. Imbah kutakuni tu lalu ai inya bacaluk kantong baju, kada seapa takurihing. Nah lo, salahlah aku, jarku manggarunum. Hanyar inya bukah kaluar. - Tuntung - 3to4nuhmbz9mpie1u9a0t68oelkwyj3 121178 121150 2026-10-18T05:30:27Z Hilman Gashat 44076 Diedit dikit 121178 wikitext text/x-wiki "Pian ada meliat kunci motor Scoopy lah, ka?" Nah iya ja pang, jarku dalam hati nih, rahatan basimpun handak tutup cafe, maka ada customer nang kahilangan kunci kandaraan. "Kunci Scoopy? Kadada maitih pang," aku singhaja kada menakuni 'sudah dicarii kah di baju, tas, kantong' atau napa, kalo ai sudah dicariinya tagal kada dapat, jadi ku biar akan ai inya kipuh sorangan mancarinya di bakas inya duduk tadi. Napang hanyar banar kusimpuni bakas wadah inya tu, kadada lalu kuitih kunci bahantangan. Asa gair jua aku dituduh manyimpani, kuganii ai mancari. "Pas befoto tadi pang ada malapas lah? Kalo ai rahatan bafotoan tadi talapas," sambil kutakuni sambil bakikih kasana kamari. "Kadada jua ka ai," masih kujuk-kujuk inya, imbah anu manalipun kaluarganya nang bulik badahulu, kalo pina tabawa buhannya. Maras ha kuitih muhanya, kutakuni ai takunan nang harusnya kutakuni mulai awal. "Di kantong baju pang sudah lah dicek? Kalo ai tasilip di baju kah, salawar kah, tas kah ..." Napang aku suah jua kaitu, pina kipuh bacari kunci kandaraan, handak tatangis-tangis dah, harau sakalinya tasilip di kantong salawar, tuhuk to bahahar dah. Imbah kutakuni tu lalu ai inya bacaluk kantong baju, kada seapa takurihing. Nah lo, salahlah aku, jarku manggarunum. Hanyar inya bukah kaluar. - Tuntung - px261ly2ovtuybx2qvaz5kn9itvf9ya 121204 121178 2026-10-18T05:37:14Z Hilman Gashat 44076 Penambahan kategori 121204 wikitext text/x-wiki "Pian ada meliat kunci motor Scoopy lah, ka?" Nah iya ja pang, jarku dalam hati nih, rahatan basimpun handak tutup cafe, maka ada customer nang kahilangan kunci kandaraan. "Kunci Scoopy? Kadada maitih pang," aku singhaja kada menakuni 'sudah dicarii kah di baju, tas, kantong' atau napa, kalo ai sudah dicariinya tagal kada dapat, jadi ku biar akan ai inya kipuh sorangan mancarinya di bakas inya duduk tadi. Napang hanyar banar kusimpuni bakas wadah inya tu, kadada lalu kuitih kunci bahantangan. Asa gair jua aku dituduh manyimpani, kuganii ai mancari. "Pas befoto tadi pang ada malapas lah? Kalo ai rahatan bafotoan tadi talapas," sambil kutakuni sambil bakikih kasana kamari. "Kadada jua ka ai," masih kujuk-kujuk inya, imbah anu manalipun kaluarganya nang bulik badahulu, kalo pina tabawa buhannya. Maras ha kuitih muhanya, kutakuni ai takunan nang harusnya kutakuni mulai awal. "Di kantong baju pang sudah lah dicek? Kalo ai tasilip di baju kah, salawar kah, tas kah ..." Napang aku suah jua kaitu, pina kipuh bacari kunci kandaraan, handak tatangis-tangis dah, harau sakalinya tasilip di kantong salawar, tuhuk to bahahar dah. Imbah kutakuni tu lalu ai inya bacaluk kantong baju, kada seapa takurihing. Nah lo, salahlah aku, jarku manggarunum. Hanyar inya bukah kaluar. - Tuntung - [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] 0rndh95hpizveiccvj4zh5fg5suczlt Kananak Lawan Gulaan 0 28817 121154 2026-10-18T05:20:12Z Labilublue 44078 Membuat Buku Baru 121154 wikitext text/x-wiki Bahari ada kakanak ngarannya Siti, inya katuju banar lawan sabarataan nang manis. Pabila hari pas inya lagi bajalanan dari rumahnya manuju ka hutan gasan mancari kayu bakar, inya malihat ada wadah halus nang tarang, kalihatan isinya, warnanya habang anum bantuk hati. “Ngapa ngitu?” ujarnya, imbahtu maambil wadahnya ngitu. “Umay manisnya nangini.” Inya mambuka bungkusnya maraga inya handak tahu isinya nangapa, imbahnya dijapainya isinya tuh. “baunya manis nangkaya gulaan!” Inya mencoba mamakannya tagal pina kada yakin, tapi tatap ai inya rasai. Imbahnya inya marasa manis wan nyaman banar. Siti bingung nangapa barang nang kalihatan kaya gulaan ni datangnya dari mana, wan kayanya inya kada suah malihat ngitu sabalumnya. Karena gulaan ngitu sakalinya datang matan kayna, lain di jaman wahini. Di wadah Siti belum ada lagi gulaan nang bantuknya kaytu. Nah, sakalinya di jaman imbahnya tu, ada kakanak nang lagi bacarian gulaannya nang hilang bakajutan sambil manangis. s9210apfb6x0tzzbkbo6ytow4x9irz1 121170 121154 2026-10-18T05:29:21Z Labilublue 44078 Menambahkan referensi 121170 wikitext text/x-wiki Bahari ada kakanak ngarannya Siti, inya katuju banar lawan sabarataan nang manis. Pabila hari pas inya lagi bajalanan dari rumahnya manuju ka hutan gasan mancari kayu bakar, inya malihat ada wadah halus nang tarang, kalihatan isinya, warnanya habang anum bantuk hati. “Ngapa ngitu?” ujarnya, imbahtu maambil wadahnya ngitu. “Umay manisnya nangini.” Inya mambuka bungkusnya maraga inya handak tahu isinya nangapa, imbahnya dijapainya isinya tuh. “baunya manis nangkaya gulaan!” Inya mencoba mamakannya tagal pina kada yakin, tapi tatap ai inya rasai. Imbahnya inya marasa manis wan nyaman banar. Siti bingung nangapa barang nang kalihatan kaya gulaan ni datangnya dari mana, wan kayanya inya kada suah malihat ngitu sabalumnya. Karena gulaan ngitu sakalinya datang matan kayna, lain di jaman wahini. Di wadah Siti belum ada lagi gulaan nang bantuknya kaytu. Nah, sakalinya di jaman imbahnya tu, ada kakanak nang lagi bacarian gulaannya nang hilang bakajutan sambil manangis.<ref>https://www.instagram.com/p/CJ4twz4Hbbu/?utm_source=ig_web_copy_link&mdxt=MzRlODBiNWFlZA==&srtk=MzRlODBiNWFlZA==</ref> == Referensi == ol7q16jc4jb8z67ijernmr793ypanj2 121202 121170 2026-10-18T05:36:58Z Labilublue 44078 Menambahkan kategori 121202 wikitext text/x-wiki Bahari ada kakanak ngarannya Siti, inya katuju banar lawan sabarataan nang manis. Pabila hari pas inya lagi bajalanan dari rumahnya manuju ka hutan gasan mancari kayu bakar, inya malihat ada wadah halus nang tarang, kalihatan isinya, warnanya habang anum bantuk hati. “Ngapa ngitu?” ujarnya, imbahtu maambil wadahnya ngitu. “Umay manisnya nangini.” Inya mambuka bungkusnya maraga inya handak tahu isinya nangapa, imbahnya dijapainya isinya tuh. “baunya manis nangkaya gulaan!” Inya mencoba mamakannya tagal pina kada yakin, tapi tatap ai inya rasai. Imbahnya inya marasa manis wan nyaman banar. Siti bingung nangapa barang nang kalihatan kaya gulaan ni datangnya dari mana, wan kayanya inya kada suah malihat ngitu sabalumnya. Karena gulaan ngitu sakalinya datang dari alam subalah nang hanyar jamannya, lain di jaman wahini intang Siti ngitu. Di wadah Siti belum ada lagi gulaan nang kaytu. Nah, sakalinya di alam subalahnya tu, ada kakanak nang lagi bacarian gulaannya nang hilang bakajutan sambil manangis.<ref>https://www.instagram.com/p/CJ4twz4Hbbu/?utm_source=ig_web_copy_link&mdxt=MzRlODBiNWFlZA==&srtk=MzRlODBiNWFlZA==</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] mwmw5igb64pnfxlv4q5ojq8sgfhpu3t Kulaan Ulun 0 28818 121155 2026-10-18T05:20:12Z Riky Mandai 41791 ←Membuat halaman berisi ' Hari ini rumah ulun ada beacaraan nang panting banar. Ulun harus umpat membantui jua. Jadi lakasi, begagas ulun meambil sapida behancap bulik! Ulun malihat uma lagi di padu lagi menyanga wadai untuk. Uma ulun pina sanang banar. Pasti sudah masakannya makin banyaman. Ulun kada lawas melihat abah umpat membantui. Abah pina haur maniup galambungan. Ada galambungan bigi ramania, biru, lawan habang muda. Ulun hanya bisa mangucapakan samangat gasan abah! Ulun malih...' 121155 wikitext text/x-wiki Hari ini rumah ulun ada beacaraan nang panting banar. Ulun harus umpat membantui jua. Jadi lakasi, begagas ulun meambil sapida behancap bulik! Ulun malihat uma lagi di padu lagi menyanga wadai untuk. Uma ulun pina sanang banar. Pasti sudah masakannya makin banyaman. Ulun kada lawas melihat abah umpat membantui. Abah pina haur maniup galambungan. Ada galambungan bigi ramania, biru, lawan habang muda. Ulun hanya bisa mangucapakan samangat gasan abah! Ulun malihat kaka umpat jua membantui. Sidin menempalakan galambungan ke dingding palataran tamu. Umaa, dingdingnya barubah indah banar! Ulun meitihi jua nini lagi manjahit baju di kamar. Bajunya bawarna habang. Bengkeng banar bajunya! l8w418sleskmqc6tuvqhnj2kjzh1roe 121171 121155 2026-10-18T05:29:23Z Riky Mandai 41791 menambahkan referensi 121171 wikitext text/x-wiki Hari ini rumah ulun ada beacaraan nang panting banar. Ulun harus umpat membantui jua. Jadi lakasi, begagas ulun meambil sapida behancap bulik! Ulun malihat uma lagi di padu lagi menyanga wadai untuk. Uma ulun pina sanang banar. Pasti sudah masakannya makin banyaman. Ulun kada lawas melihat abah umpat membantui. Abah pina haur maniup galambungan. Ada galambungan bigi ramania, biru, lawan habang muda. Ulun hanya bisa mangucapakan samangat gasan abah! Ulun malihat kaka umpat jua membantui. Sidin menempalakan galambungan ke dingding palataran tamu. Umaa, dingdingnya barubah indah banar! Ulun meitihi jua nini lagi manjahit baju di kamar. Bajunya bawarna habang. Bengkeng banar bajunya! Aku malihat Kai jua umpat harubus membantui. Kai harubus lawan sapida nang pinuh balun. Kada lawas aku malihat Julak datang membantui sambil mambawa kado. Wayahini kami handak baramian. Hari ini ada acara ulang tahun kaka. Baju habang kaka itu hasil jahitan Nini. Hiih, kami saling tulung manulung gasan acara ulang tahun. Ahayyy, salamat ulang tahun, Ka! <ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/e78082fa-5c66-46fb-ae23-0b00cbebddd6/Keluarga%20Kami.pdf</ref> == Referensi == 9v42gh3z9xiwu2qmrqoen7lnk7lmbxa 121200 121171 2026-10-18T05:36:49Z Riky Mandai 41791 121200 wikitext text/x-wiki Hari ini rumah ulun ada beacaraan nang panting banar. Ulun harus umpat membantui jua. Jadi lakasi, begagas ulun meambil sapida behancap bulik! Ulun malihat uma lagi di padu lagi menyanga wadai untuk. Uma ulun pina sanang banar. Pasti sudah masakannya makin banyaman. Ulun kada lawas melihat abah umpat membantui. Abah pina haur maniup galambungan. Ada galambungan bigi ramania, biru, lawan habang muda. Ulun hanya bisa mangucapakan samangat gasan abah! Ulun malihat kaka umpat jua membantui. Sidin menempalakan galambungan ke dingding palataran tamu. Umaa, dingdingnya barubah indah banar! Ulun meitihi jua nini lagi manjahit baju di kamar. Bajunya bawarna habang. Bengkeng banar bajunya! Aku malihat Kai jua umpat harubus membantui. Kai harubus lawan sapida nang pinuh balun. Kada lawas aku malihat Julak datang membantui sambil mambawa kado. Wayahini kami handak baramian. Hari ini ada acara ulang tahun kaka. Baju habang kaka itu hasil jahitan Nini. Hiih, kami saling tulung manulung gasan acara ulang tahun. Ahayyy, salamat ulang tahun, Ka! <ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/e78082fa-5c66-46fb-ae23-0b00cbebddd6/Keluarga%20Kami.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] 3b1sfku7cvhklp98fsuabd0usaut3s3 Kaganangan nang ulun bawa dalam diam 0 28819 121157 2026-10-18T05:21:24Z Coretan.kecil19 44065 ←Membuat halaman berisi 'Kanangan nang Ulun Bawa Dalam Diam Ada kanangan nang kada pernah bujur-bujur hilang. Waktu mungkin maulah rasa jauh, tapi lain artinya barataan sudah hilang. Babarapa kanangan malah batahan labih lawas pada nang kita kahandaki, tasimpan di hujung hati wan muncul pulang wayah kita mulai maingat parjalanan nang suah dilalui. Bagi Cacha, masa bahari lain sakadar kumpulan kisah atawa wadah nang suah inya singgahi. Di dalamnya tasimpan parihal kaluarga nang mangur...' 121157 wikitext text/x-wiki Kanangan nang Ulun Bawa Dalam Diam Ada kanangan nang kada pernah bujur-bujur hilang. Waktu mungkin maulah rasa jauh, tapi lain artinya barataan sudah hilang. Babarapa kanangan malah batahan labih lawas pada nang kita kahandaki, tasimpan di hujung hati wan muncul pulang wayah kita mulai maingat parjalanan nang suah dilalui. Bagi Cacha, masa bahari lain sakadar kumpulan kisah atawa wadah nang suah inya singgahi. Di dalamnya tasimpan parihal kaluarga nang manguras parasaan, pengabdian nang kada bajalan sasuai harapan, kakawanan nang maninggalakan luka, lawan dunia maya nang suah inya jadiakan wadah balindung matan kanyataan. Imbah manuntungakan pandidikan di pasantrin, Cacha mamilih sagan malanjutakan pengabdian di wadah nang salama ini manjadi bagian panting dalam hidupnya. Inya manjalani masa pengabdian dengan harapan dapat mengamalakan ilmu nang talah dipelajarinya sakaligus mambarikan manfaat sagan urang lain. Inya handak mambalas kabaikan bubuhan guru dan manurasakan nilai-nilai nang suah diajarakan kapadanya. [[ [[File:Beskid Wyspowy - panorama z Jaworzynki.JPG|Beskid_Wyspowy_-_panorama_z_Jaworzynki]]|jmpl]] akfr1epccre1vkq7yvc31a5btlqyd7k 121161 121157 2026-10-18T05:26:14Z Coretan.kecil19 44065 Typo 121161 wikitext text/x-wiki Kanangan nang Ulun Bawa Dalam Diam Ada kanangan nang kada pernah bujur-bujur hilang. Waktu mungkin maulah tarasa jauh, tapi lain artinya barataan sudah hilang. Babarapa kanangan malah batahan labih lawas pada nang kita kahandaki, tasimpan di hujung hati wan muncul pulang wayah kita mulai maingat parjalanan nang suah dilalui. Bagi Cacha, masa bahari lain sakadar kumpulan kisah atawa wadah nang suah inya singgahi. Di dalamnya tasimpan parihal kaluarga nang manguras parasaan, pengabdian nang kada bajalan sasuai harapan, kakawanan nang maninggalakan luka, lawan dunia maya nang suah inya jadiakan wadah balindung matan kanyataan. Imbah manuntungakan pandidikan di pasantrin, Cacha mamilih sagan malanjutakan pengabdian di wadah nang salama ini manjadi bagian panting dalam hidupnya. Inya manjalani masa pengabdian dengan harapan dapat mengamalakan ilmu nang talah dipelajarinya sakaligus mambarikan manfaat sagan urang lain. Inya handak mambalas kabaikan bubuhan guru dan manurasakan nilai-nilai nang suah diajarakan kapadanya. [[ [[File:Beskid Wyspowy - panorama z Jaworzynki.JPG|Beskid_Wyspowy_-_panorama_z_Jaworzynki]]|jmpl]] epriiylsyz0pqy42wpj4aus85hseh71 121232 121161 2026-10-18T05:40:33Z Coretan.kecil19 44065 Ralat karena ada yang typo 121232 wikitext text/x-wiki Kanangan nang Ulun Bawa Dalam Diam Ada kanangan nang kada pernah bujur-bujur hilang. Waktu mungkin maulah tarasa jauh, tapi lain artinya barataan sudah hilang. Babarapa kanangan malah batahan labih lawas pada nang kita kahandaki, tasimpan di hujung hati wan muncul pulang wayah kita mulai maingat parjalanan nang suah dilalui. Bagi ulun masa bahari lain sakadar kumpulan kisah atawa wadah nang suah inya singgahi. Di dalamnya tasimpan parihal kaluarga nang manguras parasaan, pengabdian nang kada bajalan sasuai harapan, kakawanan nang maninggalakan luka, lawan dunia maya nang suah inya jadiakan wadah balindung matan kanyataan. Imbah manuntungakan pandidikan di pasantrin, ulun mamilih sagan malanjutakan pengabdian di wadah nang salama ini manjadi bagian panting dalam hidupnya. Inya manjalani masa pengabdian dengan harapan dapat mengamalakan ilmu nang talah dipelajarinya sakaligus mambarikan manfaat sagan urang lain. Inya handak mambalas kabaikan bubuhan guru dan manurasakan nilai-nilai nang suah diajarakan kapadanya. [[ [[File:Beskid Wyspowy - panorama z Jaworzynki.JPG|Beskid_Wyspowy_-_panorama_z_Jaworzynki]]|jmpl]] 2sbb1cq7kgdvxe4jrfradm3fanxlz1k Transpurtasi 0 28820 121158 2026-10-18T05:22:13Z Amatbanjar 44088 ←Membuat halaman berisi 'ulun baisi Sapida mainan. Abah bisa ae menaiki sapida Ganal.ulun Baharap bisa menaiki sapida wan umpat abah bausaha. Ini Kandaraan,dibawa laju bisa labih ancap daripada Sapida. Ada Baisi mutur di jalan jua.sapida kawa menyasahi mutur. Ulun handak lakas menyupir mutur. Ulun handak bajalanan. Disebelah tuh apa gerang? Ada mutur ganal. Ulun bakainginan menyupir bis! Bis bisa membawai urang labih daripada sapuluh. Ada gawian tuh nah pakai alat ganal di jalan....' 121158 wikitext text/x-wiki ulun baisi Sapida mainan. Abah bisa ae menaiki sapida Ganal.ulun Baharap bisa menaiki sapida wan umpat abah bausaha. Ini Kandaraan,dibawa laju bisa labih ancap daripada Sapida. Ada Baisi mutur di jalan jua.sapida kawa menyasahi mutur. Ulun handak lakas menyupir mutur. Ulun handak bajalanan. Disebelah tuh apa gerang? Ada mutur ganal. Ulun bakainginan menyupir bis! Bis bisa membawai urang labih daripada sapuluh. Ada gawian tuh nah pakai alat ganal di jalan. Wayah ini ulun kawa menyupir alat ganal ngarannya eksavator jua. Ada yang lagi beramian di sungai pakai ski. Ujar urang pang lah, ulun nih kawa haja manungkar eskavator lawan jet ski tuh. Kami bahurupan! Urang tuh nah menyupir eskavator ulun manyupir pakai jet ski. Jet ski nih lakas pang. Ulun nih kawa haja menyupir sampai ke kelotok tuh. Ulun sudah tuntung nih,jadi bayar haja lagi.pakai kelotok tapi labih santai. Habis nih pakai kelotok labih ganal lagi di tangah tuh. Ulun dikelotok yang lebih ganal nah, disinih pang tempat abah ulun bagawi. Ulun nih membayangkan sampai ditampat gawian abah. Abah tuh tetawa te mandangar kisah ulun yang kada tapi jalasnih. Ulun nih pakai banyak kandaraan labih dari pada sabuting. Kandaraanya lakas ja pang bejalan jauh. Nah pian, katuju kandaraan yang mana haja? hwsq4ip4h89l8i8o0sqhg2fu3vdduty 121160 121158 2026-10-18T05:26:01Z Amatbanjar 44088 /* */ 121160 wikitext text/x-wiki ulun baisi Sapida mainan. Abah bisa ae menaiki sapida Ganal.ulun Baharap bisa menaiki sapida wan umpat abah bausaha. Ini Kandaraan,dibawa laju bisa labih ancap daripada Sapida. Ada Baisi mutur di jalan jua.sapida kawa menyasahi mutur. Ulun handak lakas menyupir mutur. Ulun handak bajalanan. Disebelah tuh apa gerang? Ada mutur ganal. Ulun bakainginan menyupir bis! Bis bisa membawai urang labih daripada sapuluh. Ada gawian tuh nah pakai alat ganal di jalan. Wayah ini ulun kawa menyupir alat ganal ngarannya eksavator jua. Ada yang lagi beramian di sungai pakai ski. Ujar urang pang lah, ulun nih kawa haja manungkar eskavator lawan jet ski tuh. Kami bahurupan! Urang tuh nah menyupir eskavator ulun manyupir pakai jet ski. Jet ski nih lakas pang. Ulun nih kawa haja menyupir sampai ke kelotok tuh. Ulun sudah tuntung nih,jadi bayar haja lagi.pakai kelotok tapi labih santai. Habis nih pakai kelotok labih ganal lagi di tangah tuh. Ulun dikelotok yang lebih ganal nah, disinih pang tempat abah ulun bagawi. Ulun nih membayangkan sampai ditampat gawian abah. Abah tuh tetawa te mandangar kisah ulun yang kada tapi jalasnih. Ulun nih pakai banyak kandaraan labih dari pada sabuting. Kandaraanya lakas ja pang bejalan jauh. Nah pian, katuju kandaraan yang mana haja?<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/db91fc18-c611-4a9a-8dd5-a91cc4c3be3c/Transportasi.pdf</ref> l3cm0f6hi5nmcp070kp1cy7aji6aj6l 121163 121160 2026-10-18T05:28:53Z Amatbanjar 44088 /* */ 121163 wikitext text/x-wiki ulun baisi Sapida mainan. Abah bisa ae menaiki sapida Ganal.ulun Baharap bisa menaiki sapida wan umpat abah bausaha. Ini Kandaraan,dibawa laju bisa labih ancap daripada Sapida. Ada Baisi mutur di jalan jua.sapida kawa menyasahi mutur. Ulun handak lakas menyupir mutur. Ulun handak bajalanan. Disebelah tuh apa gerang? Ada mutur ganal. Ulun bakainginan menyupir bis! Bis bisa membawai urang labih daripada sapuluh. Ada gawian tuh nah pakai alat ganal di jalan. Wayah ini ulun kawa menyupir alat ganal ngarannya eksavator jua. Ada yang lagi beramian di sungai pakai ski. Ujar urang pang lah, ulun nih kawa haja manungkar eskavator lawan jet ski tuh. Kami bahurupan! Urang tuh nah menyupir eskavator ulun manyupir pakai jet ski. Jet ski nih lakas pang. Ulun nih kawa haja menyupir sampai ke kelotok tuh. Ulun sudah tuntung nih,jadi bayar haja lagi.pakai kelotok tapi labih santai. Habis nih pakai kelotok labih ganal lagi di tangah tuh. Ulun dikelotok yang lebih ganal nah, disinih pang tempat abah ulun bagawi. Ulun nih membayangkan sampai ditampat gawian abah. Abah tuh tetawa te mandangar kisah ulun yang kada tapi jalasnih. Ulun nih pakai banyak kandaraan labih dari pada sabuting. Kandaraanya lakas ja pang bejalan jauh. Nah pian, katuju kandaraan yang mana haja?<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/db91fc18-c611-4a9a-8dd5-a91cc4c3be3c/Transportasi.pdf</ref> Referensi 5dswr19nlepgw19euc2j4wzjzaeqw0x 121176 121163 2026-10-18T05:29:58Z Amatbanjar 44088 /* */ 121176 wikitext text/x-wiki ulun baisi Sapida mainan. Abah bisa ae menaiki sapida Ganal.ulun Baharap bisa menaiki sapida wan umpat abah bausaha. Ini Kandaraan,dibawa laju bisa labih ancap daripada Sapida. Ada Baisi mutur di jalan jua.sapida kawa menyasahi mutur. Ulun handak lakas menyupir mutur. Ulun handak bajalanan. Disebelah tuh apa gerang? Ada mutur ganal. Ulun bakainginan menyupir bis! Bis bisa membawai urang labih daripada sapuluh. Ada gawian tuh nah pakai alat ganal di jalan. Wayah ini ulun kawa menyupir alat ganal ngarannya eksavator jua. Ada yang lagi beramian di sungai pakai ski. Ujar urang pang lah, ulun nih kawa haja manungkar eskavator lawan jet ski tuh. Kami bahurupan! Urang tuh nah menyupir eskavator ulun manyupir pakai jet ski. Jet ski nih lakas pang. Ulun nih kawa haja menyupir sampai ke kelotok tuh. Ulun sudah tuntung nih,jadi bayar haja lagi.pakai kelotok tapi labih santai. Habis nih pakai kelotok labih ganal lagi di tangah tuh. Ulun dikelotok yang lebih ganal nah, disinih pang tempat abah ulun bagawi. Ulun nih membayangkan sampai ditampat gawian abah. Abah tuh tetawa te mandangar kisah ulun yang kada tapi jalasnih. Ulun nih pakai banyak kandaraan labih dari pada sabuting. Kandaraanya lakas ja pang bejalan jauh. Nah pian, katuju kandaraan yang mana haja?<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/db91fc18-c611-4a9a-8dd5-a91cc4c3be3c/Transportasi.pdf</ref> ==Referensi== ix5welxxiap1nae0i7ngxdrogxawqc4 121183 121176 2026-10-18T05:33:57Z Amatbanjar 44088 added [[Category:WikiCarita]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121183 wikitext text/x-wiki ulun baisi Sapida mainan. Abah bisa ae menaiki sapida Ganal.ulun Baharap bisa menaiki sapida wan umpat abah bausaha. Ini Kandaraan,dibawa laju bisa labih ancap daripada Sapida. Ada Baisi mutur di jalan jua.sapida kawa menyasahi mutur. Ulun handak lakas menyupir mutur. Ulun handak bajalanan. Disebelah tuh apa gerang? Ada mutur ganal. Ulun bakainginan menyupir bis! Bis bisa membawai urang labih daripada sapuluh. Ada gawian tuh nah pakai alat ganal di jalan. Wayah ini ulun kawa menyupir alat ganal ngarannya eksavator jua. Ada yang lagi beramian di sungai pakai ski. Ujar urang pang lah, ulun nih kawa haja manungkar eskavator lawan jet ski tuh. Kami bahurupan! Urang tuh nah menyupir eskavator ulun manyupir pakai jet ski. Jet ski nih lakas pang. Ulun nih kawa haja menyupir sampai ke kelotok tuh. Ulun sudah tuntung nih,jadi bayar haja lagi.pakai kelotok tapi labih santai. Habis nih pakai kelotok labih ganal lagi di tangah tuh. Ulun dikelotok yang lebih ganal nah, disinih pang tempat abah ulun bagawi. Ulun nih membayangkan sampai ditampat gawian abah. Abah tuh tetawa te mandangar kisah ulun yang kada tapi jalasnih. Ulun nih pakai banyak kandaraan labih dari pada sabuting. Kandaraanya lakas ja pang bejalan jauh. Nah pian, katuju kandaraan yang mana haja?<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/db91fc18-c611-4a9a-8dd5-a91cc4c3be3c/Transportasi.pdf</ref> ==Referensi== [[Kategori:WikiCarita]] oh4un8ldbaj7ifqbsrft8wkd3es8vez 121192 121183 2026-10-18T05:36:03Z Amatbanjar 44088 added [[Category:Bahasa Banjar]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]] 121192 wikitext text/x-wiki ulun baisi Sapida mainan. Abah bisa ae menaiki sapida Ganal.ulun Baharap bisa menaiki sapida wan umpat abah bausaha. Ini Kandaraan,dibawa laju bisa labih ancap daripada Sapida. Ada Baisi mutur di jalan jua.sapida kawa menyasahi mutur. Ulun handak lakas menyupir mutur. Ulun handak bajalanan. Disebelah tuh apa gerang? Ada mutur ganal. Ulun bakainginan menyupir bis! Bis bisa membawai urang labih daripada sapuluh. Ada gawian tuh nah pakai alat ganal di jalan. Wayah ini ulun kawa menyupir alat ganal ngarannya eksavator jua. Ada yang lagi beramian di sungai pakai ski. Ujar urang pang lah, ulun nih kawa haja manungkar eskavator lawan jet ski tuh. Kami bahurupan! Urang tuh nah menyupir eskavator ulun manyupir pakai jet ski. Jet ski nih lakas pang. Ulun nih kawa haja menyupir sampai ke kelotok tuh. Ulun sudah tuntung nih,jadi bayar haja lagi.pakai kelotok tapi labih santai. Habis nih pakai kelotok labih ganal lagi di tangah tuh. Ulun dikelotok yang lebih ganal nah, disinih pang tempat abah ulun bagawi. Ulun nih membayangkan sampai ditampat gawian abah. Abah tuh tetawa te mandangar kisah ulun yang kada tapi jalasnih. Ulun nih pakai banyak kandaraan labih dari pada sabuting. Kandaraanya lakas ja pang bejalan jauh. Nah pian, katuju kandaraan yang mana haja?<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/db91fc18-c611-4a9a-8dd5-a91cc4c3be3c/Transportasi.pdf</ref> ==Referensi== [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] tdzjyvr3dxhlfpah5vzcc5qc65m8loi Hujan, Hujan 0 28821 121174 2026-10-18T05:29:33Z Irwin Humaniora 43818 WikiLatih, menambahkan referensi 121174 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Purple rain on roof.jpg|jmpl|Hujan]] [[Berkas:Awan Mendung Di Wilayah Kebumen.jpg|jmpl|awan mendung]] Awan lagi malayang maumpati arah angin nang betiup "Awan, jangan tarabang pang ka sana! Ulun parlu hujan di sakitaran kandang ulun!" ujar Burung Marak. "Awan, jangan malayang ka Bukit. Tulung turunanakan hujan ka sia. Kulam ngini kakurangan banyu!" ujar Iwak. "Awan, jangan tarabang ka Gunung. Tulung turunakan hujan di pahumaan Ulun haja. Pahumaan karing banar!" ujar urang nang bahuma. "Awan, jangan tarabang ka sana. Tulung turunakan hujan ka sia. Ulun wan kakawalan handak baramian di baruh," ujar Danang. Awan himung banar. Barataan urang, binatang, wan tumbuhan parlu hujan! Ka sia, Burung Mirak nang langkar! Pacangan ulun turunakan hujan di sakitar kandang pian. Himunglah pian wahini? Ka sia. iwak nang lincah! Pacangan ulun turunakan hujan di sakitar kulam pian Himunglqh pian wahini? Ka sia, urang bahuma nang cangkal! Pacangan ulun turunkan hujan di sakitar pahumaan pian. Himunglah pian wahini? Ka sia, Danang dan kakawalan! Pacangan ulun turunakan hujan di saktar baruh nitu. Himunglah ikam lawan kakawalan wahini? Barataan himung. Awan gen himung jua!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/f7d9fe1c-bacd-48b1-aa93-123c845e65bd/Hujan,%20Hujan.pdf</ref> ---- == Referensi == hntlq02cw92eanmnbtb83d95fv4szha 121197 121174 2026-10-18T05:36:37Z Irwin Humaniora 43818 menambahkan kategori 121197 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Purple rain on roof.jpg|jmpl|Hujan]] [[Berkas:Awan Mendung Di Wilayah Kebumen.jpg|jmpl|awan mendung]] Awan lagi malayang maumpati arah angin nang betiup "Awan, jangan tarabang pang ka sana! Ulun parlu hujan di sakitaran kandang ulun!" ujar Burung Marak. "Awan, jangan malayang ka Bukit. Tulung turunanakan hujan ka sia. Kulam ngini kakurangan banyu!" ujar Iwak. "Awan, jangan tarabang ka Gunung. Tulung turunakan hujan di pahumaan Ulun haja. Pahumaan karing banar!" ujar urang nang bahuma. "Awan, jangan tarabang ka sana. Tulung turunakan hujan ka sia. Ulun wan kakawalan handak baramian di baruh," ujar Danang. Awan himung banar. Barataan urang, binatang, wan tumbuhan parlu hujan! Ka sia, Burung Mirak nang langkar! Pacangan ulun turunakan hujan di sakitar kandang pian. Himunglah pian wahini? Ka sia. iwak nang lincah! Pacangan ulun turunakan hujan di sakitar kulam pian Himunglqh pian wahini? Ka sia, urang bahuma nang cangkal! Pacangan ulun turunkan hujan di sakitar pahumaan pian. Himunglah pian wahini? Ka sia, Danang dan kakawalan! Pacangan ulun turunakan hujan di saktar baruh nitu. Himunglah ikam lawan kakawalan wahini? Barataan himung. Awan gen himung jua!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/f7d9fe1c-bacd-48b1-aa93-123c845e65bd/Hujan,%20Hujan.pdf</ref> ---- == Referensi == <references /> [[Kategori:Alam]] [[Kategori:Cerita anak]] [[Kategori:Kartun]] [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] rt30cf2k8h4fcu0oyiab7vx56h19j9h Samut nang Hauran 0 28822 121180 2026-10-18T05:31:00Z Aulia Noor Naima 44064 Membuat halaman referensi 121180 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Leaf-cutter ant (Atta cephalotes) Belize.jpg|147x147px]] Samut nang Hauran Uy, ulun samut numur ampat nah dalam barisan ngini. Kawakah pian malihat ulun? Kawalah pian marikin akan barisan kami, nih? Kasi, cubai rikin akan! Kahulu, kahilir, kahulu, kahilir. Kami babaris bararanai, ja. Kawakah pian mandangar lingkang kami? Nyataai kada, lo! Batis kami nih liwar halui. Wan lingkang batis kada kadangaran. Ulun tadapat ide. Ulun banaik ka kasut ba ruda, supaya lakas sampai ka tujuan nang jauh. Tapi sapunya kaganalan liwar. Kami barataan kada abut nang kaya binatang lain. Kami nih, mun bapandir bahidung, bapakai bau. Nah, kawalah buhan pian mandangar suara duyu. Hujar bau nyaman, "Umpati aku kasi, ada makanan nyaman." Nah, damintu ti pang kami mancari makanan. Mulai hidung halui kami nang kicut nih. Bau nang balain-lain bapadah, "Uy! Jangan baparak ada bala." Amunnya ada bala, kami balalakas bajauh. Rajin kami bagana satumat, bahtu bajauh dari bala tuh. Ulun katuju wadai wan barataan nang manis, kaya pian. Pian gin katuju nang manis-manis, lo. Handaklah malihat tuah ulun? Ulun sar kicut, tapi ulun ini batuah banar. Ulun cangkal banar bagawian. Pian pang, cangkal jua, lo mun balajar? Biar lawang bakancing. ulun bisa manyarusup. Mancungul. Bauntung banar ulun, lah, baisi awak kicut. Gasan nyaman ulun ka mana haja. Pacayakah kada kah, kami nih hidup sanang hati bagarumbul. Kami saling mambantu wan kada ada nang kulir bagawian. Kami banaik bakakawanan, wan turun bakakawan jua. <ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/45cbe21d-e9ae-4db5-8333-0ff051f8718b/Semut%20yang%20Sibuk.pdf</ref> == Referensi == t80zhawkyd5rl17q1ufmd3k1tqp0wxx 121195 121180 2026-10-18T05:36:26Z Aulia Noor Naima 44064 121195 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Leaf-cutter ant (Atta cephalotes) Belize.jpg|147x147px]] '''Samut nang Hauran''' Uy, ulun samut numur ampat nah dalam barisan ngini. Kawakah pian malihat ulun? Kawalah pian marikin akan barisan kami, nih? Kasi, cubai rikin akan! Kahulu, kahilir, kahulu, kahilir. Kami babaris bararanai, ja. Kawakah pian mandangar lingkang kami? Nyataai kada, lo! Batis kami nih liwar halui. Wan lingkang batis kada kadangaran. Ulun tadapat ide. Ulun banaik ka kasut ba ruda, supaya lakas sampai ka tujuan nang jauh. Tapi sapunya kaganalan liwar. Kami barataan kada abut nang kaya binatang lain. Kami nih, mun bapandir bahidung, bapakai bau. Nah, kawalah buhan pian mandangar suara duyu. Hujar bau nyaman, "Umpati aku kasi, ada makanan nyaman." Nah, damintu ti pang kami mancari makanan. Mulai hidung halui kami nang kicut nih. Bau nang balain-lain bapadah, "Uy! Jangan baparak ada bala." Amunnya ada bala, kami balalakas bajauh. Rajin kami bagana satumat, bahtu bajauh dari bala tuh. Ulun katuju wadai wan barataan nang manis, kaya pian. Pian gin katuju nang manis-manis, lo. Handaklah malihat tuah ulun? Ulun sar kicut, tapi ulun ini batuah banar. Ulun cangkal banar bagawian. Pian pang, cangkal jua, lo mun balajar? Biar lawang bakancing. ulun bisa manyarusup. Mancungul. Bauntung banar ulun, lah, baisi awak kicut. Gasan nyaman ulun ka mana haja. Pacayakah kada kah, kami nih hidup sanang hati bagarumbul. Kami saling mambantu wan kada ada nang kulir bagawian. Kami banaik bakakawanan, wan turun bakakawan jua. <ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/45cbe21d-e9ae-4db5-8333-0ff051f8718b/Semut%20yang%20Sibuk.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerpen anak]] [[Kategori:Terjemahan Bahasa Banjar]] gd1cj6y08pjmds3denacrl414ejedn8 121243 121195 2026-10-18T05:44:26Z Aulia Noor Naima 44064 Memperbaiki 121243 wikitext text/x-wiki [[Berkas:Leaf-cutter ant (Atta cephalotes) Belize.jpg|147x147px]] Uy, ulun samut numur ampat nah dalam barisan ngini. Kawakah pian malihat ulun? Kawalah pian marikin akan barisan kami, nih? Kasi, cubai rikin akan! Kahulu, kahilir, kahulu, kahilir. Kami babaris bararanai, ja. Kawakah pian mandangar lingkang kami? Nyataai kada, lo! Batis kami nih liwar halui. Wan lingkang batis kada kadangaran. Ulun tadapat ide. Ulun banaik ka kasut ba ruda, supaya lakas sampai ka tujuan nang jauh. Tapi sapunya kaganalan liwar. Kami barataan kada abut nang kaya binatang lain. Kami nih, mun bapandir bahidung, bapakai bau. Nah, kawalah buhan pian mandangar suara duyu. Hujar bau nyaman, "Umpati aku kasi, ada makanan nyaman." Nah, damintu ti pang kami mancari makanan. Mulai hidung halui kami nang kicut nih. Bau nang balain-lain bapadah, "Uy! Jangan baparak ada bala." Amunnya ada bala, kami balalakas bajauh. Rajin kami bagana satumat, bahtu bajauh dari bala tuh. Ulun katuju wadai wan barataan nang manis, kaya pian. Pian gin katuju nang manis-manis, lo. Handaklah malihat tuah ulun? Ulun sar kicut, tapi ulun ini batuah banar. Ulun cangkal banar bagawian. Pian pang, cangkal jua, lo mun balajar? Biar lawang bakancing. ulun bisa manyarusup. Mancungul. Bauntung banar ulun, lah, baisi awak kicut. Gasan nyaman ulun ka mana haja. Pacayakah kada kah, kami nih hidup sanang hati bagarumbul. Kami saling mambantu wan kada ada nang kulir bagawian. Kami banaik bakakawanan, wan turun bakakawan jua. <ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/45cbe21d-e9ae-4db5-8333-0ff051f8718b/Semut%20yang%20Sibuk.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] [[Kategori:Cerpen anak]] [[Kategori:Terjemahan Bahasa Banjar]] 3c6l83jlj42il6unk19d14m26a4e8t6 Pembicaraan Pengguna:Rijuuqo744 3 28823 121234 2026-10-18T05:41:17Z Rijuuqo744 44091 ←Membuat halaman berisi '[[Kategori:WikiCarita]]' 121234 wikitext text/x-wiki [[Kategori:WikiCarita]] qn5hyjqj220awbb5qkiaeaviln998e7 Pengguna:Pommegrains 2 28824 121257 2026-10-18T06:03:49Z Pommegrains 41828 ←Membuat halaman berisi ''''Pommegrains'''. I have a fondness for the little things that make the world more colourful, from watching flowers bloom to collecting trivia and putting thoughts into words. Curious by nature, I often find myself wandering down internet rabbit holes in search of something new to learn.' 121257 wikitext text/x-wiki '''Pommegrains'''. I have a fondness for the little things that make the world more colourful, from watching flowers bloom to collecting trivia and putting thoughts into words. Curious by nature, I often find myself wandering down internet rabbit holes in search of something new to learn. cc8m3hnlt0fiymfc62z33d2j1onckxn 121259 121257 2026-10-18T06:21:56Z Pommegrains 41828 121259 wikitext text/x-wiki '''Pommegrains'''. I have a fondness for the little things that make the world more colourful, from watching flowers bloom to collecting trivia and putting thoughts into words. 6griekt7sv8krpzrymrqk7y3u5o6knn Doli dan Payung Merah 0 28825 121258 2026-10-18T06:09:24Z Radramboo 39183 menambahkan buku baru 121258 wikitext text/x-wiki Doli si Bebek tidak bisa pisah dengan payung merah kecil. Payung itu dari Nenek. Panas dan hujan, Doli selalu membawa payung itu. Di hari hujan, Doli akan pergi ke rumah nenek. Tapi, payung merah ada di mana? Apakah Kiki si Tupai melihat payung merah Doli? Tapi, Kiki tidak melihat payung merah Doli. Doli terus mencari. Mimo si Katak sedang duduk di sebatang kayu. Tapi, Mimo juga tidak melihat payung merah Doli. Toto si Tikus baru saja datang. Tapi, Toto juga tidak melihat payung merah Doli. Doli sedih dan menangis. Tiba-tiba, hujan berhenti. Ada Nenek datang dengan payung merah kecil Doli. Waktu ke rumah nenek, Doli lupa membawa pulang payung. Kini, Doli gembira lagi. 27qtyen8k9cyz4k4oj7fl6644jzbusx Tumi Tulak ka Taman 0 28826 121260 2026-10-18T08:24:44Z GAnganwaLUH 44089 membuat buku baru 121260 wikitext text/x-wiki TUMi PeRgi ke TAMAN Diilustrasikan oleh Nyambura Kariuki Aku Tumi. Aku akan pergi ke taman untuk bermain. Ada apa di sana? Aku ingin mencoba naik itu. Apakah aku berani? Wih! Aku meluncur! Seru sekali rasanya. Aku mau naik lagi. Aku sudah berputar sepuluh kali, Mama! Aku bisa main sambil berhitung. Mama tersenyum bahagia melihat aku. Aku dapat teman baru. Kami bisa main jungkat-jungkit bersama. Oh, seru sekali! Aku bisa terbang tinggi! Aku melihat bak pasir. Ayo, kita bangun istana pasir. Istana besar yang bisa menjulang tinggi sampai di langit. Mama, aku ingin foto bersama istana pasir dan teman baru! Pose bagaimana yang bagus, ya? Hari sudah sore. Kita harus pulang. Besok aku bisa bermain ke taman lagi. Sampai jumpa lagi besok. Aku bahagia sekali, Mama! Terima kasih sudah bawa aku ke taman bermain. Mama memang paling terbaik di seluruh dunia! lywpxp482bwzurdxumal4fliomt8bls 121261 121260 2026-10-18T08:58:15Z GAnganwaLUH 44089 membuat buku baru 121261 wikitext text/x-wiki TUMI Tulak ka TAMAN Diilustrasiakan ulih Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku tulak ka taman supaya kawa bamainan. Ada napa di sanalah? Aku handak mancubai naik nangitu. Apakah aku wani? Wih! Aku maluncur! Asa rami sakalinya. Aku handak naik lagi. Ulun sudah baputar sapuluh kali, Ma ai! Aku kawa main sambil bahitung. Mama lihum himung sidin maliat aku. Aku dapat kawan hanyar. Kami kawa main jungkat-jungkit basamaan. Uh, rami banar! Aku kawa tarabang tinggi! Aku maliat bak pasir. Ayo, kita ulah istana pasir. Istana ganal nang kawa manjulang tinggi sampai ka langit. Mama, ulun handak futu barsama istana pasir wan kawan hanyar! Bagaya kayapa nang bengkenglah? Arinya sudah kamarian. Kita musti bulikan. Isuk aku kawa bamainan ka taman lagi. Sampai jumpa kina Isuk. Ulun himung banar, Mama! Tarima kasih sudah mambawai ulun ka taman barmain. Mama dasar nang paling tarbaik sadunia! dnanrhsh36odjtiq4o99tkfc9mry0ip 121262 121261 2026-10-18T09:01:14Z GAnganwaLUH 44089 menambah referensi 121262 wikitext text/x-wiki TUMI Tulak ka TAMAN Diilustrasiakan ulih Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku tulak ka taman supaya kawa bamainan. Ada napa di sanalah? Aku handak mancubai naik nangitu. Apakah aku wani? Wih! Aku maluncur! Asa rami sakalinya. Aku handak naik lagi. Ulun sudah baputar sapuluh kali, Ma ai! Aku kawa main sambil bahitung. Mama lihum himung sidin maliat aku. Aku dapat kawan hanyar. Kami kawa main jungkat-jungkit basamaan. Uh, rami banar! Aku kawa tarabang tinggi! Aku maliat bak pasir. Ayo, kita ulah istana pasir. Istana ganal nang kawa manjulang tinggi sampai ka langit. Mama, ulun handak futu barsama istana pasir wan kawan hanyar! Bagaya kayapa nang bengkenglah? Arinya sudah kamarian. Kita musti bulikan. Isuk aku kawa bamainan ka taman lagi. Sampai jumpa kina Isuk. Ulun himung banar, Mama! Tarima kasih sudah mambawai ulun ka taman barmain. Mama dasar nang paling tarbaik sadunia!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/e89e6425-44c3-4d5e-9bbe-afd569368704/Tumi%20Pergi%20ke%20Taman.pdf</ref> mpjx826mqgpuy7u0qsqn2x9s3yava6h 121263 121262 2026-10-18T09:02:56Z GAnganwaLUH 44089 menambah referensi 121263 wikitext text/x-wiki TUMI Tulak ka TAMAN Diilustrasiakan ulih Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku tulak ka taman supaya kawa bamainan. Ada napa di sanalah? Aku handak mancubai naik nangitu. Apakah aku wani? Wih! Aku maluncur! Asa rami sakalinya. Aku handak naik lagi. Ulun sudah baputar sapuluh kali, Ma ai! Aku kawa main sambil bahitung. Mama lihum himung sidin maliat aku. Aku dapat kawan hanyar. Kami kawa main jungkat-jungkit basamaan. Uh, rami banar! Aku kawa tarabang tinggi! Aku maliat bak pasir. Ayo, kita ulah istana pasir. Istana ganal nang kawa manjulang tinggi sampai ka langit. Mama, ulun handak futu barsama istana pasir wan kawan hanyar! Bagaya kayapa nang bengkenglah? Arinya sudah kamarian. Kita musti bulikan. Isuk aku kawa bamainan ka taman lagi. Sampai jumpa kina Isuk. Ulun himung banar, Mama! Tarima kasih sudah mambawai ulun ka taman barmain. Mama dasar nang paling tarbaik sadunia!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/e89e6425-44c3-4d5e-9bbe-afd569368704/Tumi%20Pergi%20ke%20Taman.pdf</ref> == Referensi == 59a3hhricf5hhd66ytknwjze1gkca4h 121267 121263 2026-10-18T09:12:46Z GAnganwaLUH 44089 menambah kategori 121267 wikitext text/x-wiki TUMI Tulak ka TAMAN Diilustrasiakan ulih Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku tulak ka taman supaya kawa bamainan. Ada napa di sanalah? Aku handak mancubai naik nangitu. Apakah aku wani? Wih! Aku maluncur! Asa rami sakalinya. Aku handak naik lagi. Ulun sudah baputar sapuluh kali, Ma ai! Aku kawa main sambil bahitung. Mama lihum himung sidin maliat aku. Aku dapat kawan hanyar. Kami kawa main jungkat-jungkit basamaan. Uh, rami banar! Aku kawa tarabang tinggi! Aku maliat bak pasir. Ayo, kita ulah istana pasir. Istana ganal nang kawa manjulang tinggi sampai ka langit. Mama, ulun handak futu barsama istana pasir wan kawan hanyar! Bagaya kayapa nang bengkenglah? Arinya sudah kamarian. Kita musti bulikan. Isuk aku kawa bamainan ka taman lagi. Sampai jumpa kina Isuk. Ulun himung banar, Mama! Tarima kasih sudah mambawai ulun ka taman barmain. Mama dasar nang paling tarbaik sadunia!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/e89e6425-44c3-4d5e-9bbe-afd569368704/Tumi%20Pergi%20ke%20Taman.pdf</ref> == Referensi == <references /> [[Kategori:WikiCarita]] [[Kategori:Bahasa Banjar]] f6o7x13l7uewug67x2curchd1zgde0s Tumi Pergi ke Taman 0 28827 121264 2026-10-18T09:09:07Z GAnganwaLUH 44089 ←Membuat halaman berisi 'TUMi PeRgi ke TAMAN Diilustrasikan oleh Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku akan pergi ke taman untuk bermain. Ada apa di sana? Aku ingin mencoba naik itu. Apakah aku berani? Wih! Aku meluncur! Seru sekali rasanya. Aku mau naik lagi. Aku sudah berputar sepuluh kali, Mama! Aku bisa main sambil berhitung. Mama tersenyum bahagia melihat aku. Aku dapat teman baru. Kami bisa main jungkat-...' 121264 wikitext text/x-wiki TUMi PeRgi ke TAMAN Diilustrasikan oleh Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku akan pergi ke taman untuk bermain. Ada apa di sana? Aku ingin mencoba naik itu. Apakah aku berani? Wih! Aku meluncur! Seru sekali rasanya. Aku mau naik lagi. Aku sudah berputar sepuluh kali, Mama! Aku bisa main sambil berhitung. Mama tersenyum bahagia melihat aku. Aku dapat teman baru. Kami bisa main jungkat-jungkit bersama. Oh, seru sekali! Aku bisa terbang tinggi! Aku melihat bak pasir. Ayo, kita bangun istana pasir. Istana besar yang bisa menjulang tinggi sampai di langit. Mama, aku ingin foto bersama istana pasir dan teman baru! Pose bagaimana yang bagus, ya? Hari sudah sore. Kita harus pulang. Besok aku bisa bermain ke taman lagi. Sampai jumpa lagi besok. Aku bahagia sekali, Mama! Terima kasih sudah bawa aku ke taman bermain. Mama memang paling terbaik di seluruh dunia! 2zfxl6uqp42ql93xk919zivq5o8jjl6 121265 121264 2026-10-18T09:10:37Z GAnganwaLUH 44089 menambah referensi 121265 wikitext text/x-wiki TUMi PeRgi ke TAMAN Diilustrasikan oleh Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku akan pergi ke taman untuk bermain. Ada apa di sana? Aku ingin mencoba naik itu. Apakah aku berani? Wih! Aku meluncur! Seru sekali rasanya. Aku mau naik lagi. Aku sudah berputar sepuluh kali, Mama! Aku bisa main sambil berhitung. Mama tersenyum bahagia melihat aku. Aku dapat teman baru. Kami bisa main jungkat-jungkit bersama. Oh, seru sekali! Aku bisa terbang tinggi! Aku melihat bak pasir. Ayo, kita bangun istana pasir. Istana besar yang bisa menjulang tinggi sampai di langit. Mama, aku ingin foto bersama istana pasir dan teman baru! Pose bagaimana yang bagus, ya? Hari sudah sore. Kita harus pulang. Besok aku bisa bermain ke taman lagi. Sampai jumpa lagi besok. Aku bahagia sekali, Mama! Terima kasih sudah bawa aku ke taman bermain. Mama memang paling terbaik di seluruh dunia!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/e89e6425-44c3-4d5e-9bbe-afd569368704/Tumi%20Pergi%20ke%20Taman.pdf</ref> 1ix3e7n2rlcjvdxz0iaeo672g4g6q3i 121266 121265 2026-10-18T09:11:22Z GAnganwaLUH 44089 menambah referensi 121266 wikitext text/x-wiki TUMi PeRgi ke TAMAN Diilustrasikan oleh Nyambura Kariuki [[Berkas:Taman Bermain di Taman Hutan Raya Abdul Latief.jpg|jmpl|Taman Bermain]] Aku Tumi. Aku akan pergi ke taman untuk bermain. Ada apa di sana? Aku ingin mencoba naik itu. Apakah aku berani? Wih! Aku meluncur! Seru sekali rasanya. Aku mau naik lagi. Aku sudah berputar sepuluh kali, Mama! Aku bisa main sambil berhitung. Mama tersenyum bahagia melihat aku. Aku dapat teman baru. Kami bisa main jungkat-jungkit bersama. Oh, seru sekali! Aku bisa terbang tinggi! Aku melihat bak pasir. Ayo, kita bangun istana pasir. Istana besar yang bisa menjulang tinggi sampai di langit. Mama, aku ingin foto bersama istana pasir dan teman baru! Pose bagaimana yang bagus, ya? Hari sudah sore. Kita harus pulang. Besok aku bisa bermain ke taman lagi. Sampai jumpa lagi besok. Aku bahagia sekali, Mama! Terima kasih sudah bawa aku ke taman bermain. Mama memang paling terbaik di seluruh dunia!<ref>https://api.bookbotkids.workers.dev/books/e89e6425-44c3-4d5e-9bbe-afd569368704/Tumi%20Pergi%20ke%20Taman.pdf</ref> == Referensi == bl63i5zik7tra7tlv94e55pmy0fvyia