Wikikutip
idwikiquote
https://id.wikiquote.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.3
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikikutip
Pembicaraan Wikikutip
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Dahlan Iskan
0
4985
52983
51921
2026-05-23T14:10:56Z
Niryhpr
19585
/* Kutipan */
52983
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
== Pranala luar ==
{{Wikipedia|Dahlan Iskan}}
g3mpbkq4ugr3sl93c2iowpi85beidb2
52984
52983
2026-05-23T14:11:17Z
Niryhpr
19585
/* Pranala luar */
52984
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
ql3xa87tcl03dq3k9mtj9kq8gq86sdu
52985
52984
2026-05-23T14:11:28Z
Niryhpr
19585
52985
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
{{Wikipedia|Dahlan Iskan}}
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
nv4akgklw95tbubqf2b376er16180e9
52986
52985
2026-05-23T14:13:47Z
Niryhpr
19585
/* Joko Intarto dan Pendirian Disway.id */
52986
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
{{Wikipedia|Dahlan Iskan}}
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Joko|last=Intarto|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
b9jrdhlctjhwwaho5uq570h9boi5lx5
52987
52986
2026-05-23T14:28:00Z
Niryhpr
19585
/* Jurnalisme */
52987
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
{{Wikipedia|Dahlan Iskan}}
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
* Tiba-tiba saya ingat tanggal 9 Februari. Saatnya Disway.id berulang tahun. Lima hari lagi. Berarti Disway.id akan berulang tahun yang keenam. Tidak terasa sudah enam tahun saya menulis artikel di Diaway.id. Setiap hari. Tanpa absen, pun sehari. Alhamdulillah. Berarti selama enam tahun itu pula saya tidak pernah sakit. Pernah. Kena Covid-19. Masuk RS selama satu minggu. Pernah. Sakit perut. Beberapa kali. Mencret-mencret. Sampai badan lemas sekali. Karena termakan makanan yang terlalu pedas. Mungkin karena sudah 17 tahun saya tidak punya organ empedu. Tapi sakit-sakit itu tidak membuat saya absen menulis. Bahkan dari rumah sakit itu lahir banyak tulisan --dua di antaranya viral luar biasa: soal D-dimer dan level vitamin D.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Ulang Tahun|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/760330/ulang-tahun|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=5 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Joko|last=Intarto|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
9l52o49q87o7u1w5w11s59rpckrt8ga
52988
52987
2026-05-23T14:28:20Z
Niryhpr
19585
/* Jurnalisme */
52988
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
{{Wikipedia|Dahlan Iskan}}
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
* Tiba-tiba saya ingat tanggal 9 Februari. Saatnya Disway.id berulang tahun. Lima hari lagi. Berarti Disway.id akan berulang tahun yang keenam. Tidak terasa sudah enam tahun saya menulis artikel di Disway.id. Setiap hari. Tanpa absen, pun sehari. Alhamdulillah. Berarti selama enam tahun itu pula saya tidak pernah sakit. Pernah. Kena Covid-19. Masuk RS selama satu minggu. Pernah. Sakit perut. Beberapa kali. Mencret-mencret. Sampai badan lemas sekali. Karena termakan makanan yang terlalu pedas. Mungkin karena sudah 17 tahun saya tidak punya organ empedu. Tapi sakit-sakit itu tidak membuat saya absen menulis. Bahkan dari rumah sakit itu lahir banyak tulisan --dua di antaranya viral luar biasa: soal D-dimer dan level vitamin D.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Ulang Tahun|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/760330/ulang-tahun|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=5 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Joko|last=Intarto|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
it5cyk53jpzo7xqz7nvhfkglonkegp0
52989
52988
2026-05-23T14:31:34Z
Niryhpr
19585
/* Jurnalisme */
52989
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
{{Wikipedia|Dahlan Iskan}}
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
* Tiba-tiba saya ingat tanggal 9 Februari. Saatnya Disway.id berulang tahun. Lima hari lagi. Berarti Disway.id akan berulang tahun yang keenam. Tidak terasa sudah enam tahun saya menulis artikel di Disway.id. Setiap hari. Tanpa absen, pun sehari. Alhamdulillah. Berarti selama enam tahun itu pula saya tidak pernah sakit. Pernah. Kena Covid-19. Masuk RS selama satu minggu. Pernah. Sakit perut. Beberapa kali. Mencret-mencret. Sampai badan lemas sekali. Karena termakan makanan yang terlalu pedas. Mungkin karena sudah 17 tahun saya tidak punya organ empedu. Tapi sakit-sakit itu tidak membuat saya absen menulis. Bahkan dari rumah sakit itu lahir banyak tulisan --dua di antaranya viral luar biasa: soal D-dimer dan level vitamin D. Selama enam tahun itu rasanya hanya dua atau tiga kali saya sangat frustrasi: sampai ingin sekali berhenti menulis. Frustrasinya muncul malam hari --mendekati pukul 21.00. Itulah jam deadline saya: sudah harus kirim naskah ke admin. Dua atau tiga kali itu saya belum menemukan ide tulisan. Padahal sudah mendekati pukul 21.00. Judeg. Buntu. Mondar-mandir. Tetap buntu. Lalu muncul pertanyaan: kenapa sih harus menulis? Kenapa harus menyiksa diri seperti ini? Apa salahnya sesekali tidak menulis? Siapa sih yang mengharuskan? Kan tidak ada? Sulitnya lagi saya harus menjaga mutu tulisan. Kalau mudah bersikap menurunkan mutu tulisan itu berbahaya: akan menjadi kebiasaan. Buruk sekali. <ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Ulang Tahun|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/760330/ulang-tahun|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=5 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Joko|last=Intarto|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
7clly7amzyuuec5qz8o51roorkzhdjw
52990
52989
2026-05-23T15:04:16Z
Niryhpr
19585
/* Jurnalisme */
52990
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
{{Wikipedia|Dahlan Iskan}}
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Saya masih ingat zaman itu: bagaimana membuat berita tanpa kertas, tanpa pulpen, tanpa mesin ketik, tanpa komputer. Zaman itu saya menulis berita dengan menyusun huruf-huruf yang terbuat dari timah. Tangan berlumuran tinta campur bensin. Kadang tinta itu sampai ke pipi –kalau tanpa sadar harus menepuk nyamuk yang hinggap di pipi. Wartawan seumuran saya, di Jawa, tidak akan mengalami teknologi menulis berita paling kuno seperti itu. <ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=260 Disway|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/805868/260-disway|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=27 Juli 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
* Tiba-tiba saya ingat tanggal 9 Februari. Saatnya Disway.id berulang tahun. Lima hari lagi. Berarti Disway.id akan berulang tahun yang keenam. Tidak terasa sudah enam tahun saya menulis artikel di Disway.id. Setiap hari. Tanpa absen, pun sehari. Alhamdulillah. Berarti selama enam tahun itu pula saya tidak pernah sakit. Pernah. Kena Covid-19. Masuk RS selama satu minggu. Pernah. Sakit perut. Beberapa kali. Mencret-mencret. Sampai badan lemas sekali. Karena termakan makanan yang terlalu pedas. Mungkin karena sudah 17 tahun saya tidak punya organ empedu. Tapi sakit-sakit itu tidak membuat saya absen menulis. Bahkan dari rumah sakit itu lahir banyak tulisan --dua di antaranya viral luar biasa: soal D-dimer dan level vitamin D. Selama enam tahun itu rasanya hanya dua atau tiga kali saya sangat frustrasi: sampai ingin sekali berhenti menulis. Frustrasinya muncul malam hari --mendekati pukul 21.00. Itulah jam deadline saya: sudah harus kirim naskah ke admin. Dua atau tiga kali itu saya belum menemukan ide tulisan. Padahal sudah mendekati pukul 21.00. Judeg. Buntu. Mondar-mandir. Tetap buntu. Lalu muncul pertanyaan: kenapa sih harus menulis? Kenapa harus menyiksa diri seperti ini? Apa salahnya sesekali tidak menulis? Siapa sih yang mengharuskan? Kan tidak ada? Sulitnya lagi saya harus menjaga mutu tulisan. Kalau mudah bersikap menurunkan mutu tulisan itu berbahaya: akan menjadi kebiasaan. Buruk sekali. <ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Ulang Tahun|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/760330/ulang-tahun|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=5 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Joko|last=Intarto|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
<references />
glu07cp1zno5hvl4i4fq7kygjf0h102
Daftar negara
0
7505
52993
40231
2026-05-24T07:45:05Z
~2026-30979-93
21038
/* C */
52993
wikitext
text/x-wiki
Ini adalah daftar negara sesuai abjad A-Z.
== A ==
* [[Amerika Serikat]]
* [[Australia]]
* [[Austria]]
* [[Armenia]]
* [[Andorra]]
* [[Arab Saudi]]
* [[Albania]]
* [[Afganistan]]
* [[Azerbaijan]]
* [[Aljazair]]
* [[Argentina]]
* [[Antigua dan Burbuda]]
* [[Afrika Selatan]]
* [[Angola]]
* [[Kepulauan Åland]]
* [[Algeria]]
== B ==
* [[Belanda]]
* [[Belgia]]
* [[Burundi]]
* [[Bhutan]]
* [[Brasil]]
* [[Brunei Darussalam]]
* [[Barbados]]
* [[Bahrain]]
* [[Bangladesh]]
* [[Kepulauan Bahama]]
* [[Belarusia]]
* [[Burkina Faso]]
* [[Benin]]
* [[Bolivia]]
* [[Bulgaria]]
* [[Bosnia dan Herzegovina]]
* [[Belize]]
* [[Britania Raya]]
== C ==
* [[Chili]]
* [[Chad]]
* [[Ceko]]
* China
* Colombia
* California
== D ==
* [[Denmark]]
* [[Djibouti]]
* [[Dominika]]
* [[Republik Dominika]]
== E ==
* [[Etiopia]]
* [[Estonia]]
* [[El Salvador]]
* [[Ekuador]]
* [[Eritrea]]
== F ==
* [[Fiji]]
* [[Filipina]]
* [[Finlandia]]
== G ==
* [[Guatemala]]
* [[Gambia]]
* [[Ghana]]
* [[Greenland]]
* [[Georgia]]
* [[Guyana]]
* [[Guam]]
== H ==
* [[Haiti]]
* [[Honduras]]
* [[Hungaria]]
* [[Hong Kong]]
== I ==
* [[Indonesia]]
* [[India]]
* [[Irlandia]]
* [[Inggris]]
* [[Islandia]]
* [[Italia]]
* [[Irak]]
* [[Iran]]
== J ==
* [[Jamaika]]
* [[Jepang]]
* [[Jerman]]
== K ==
* [[Kamerun]]
* [[Kanada]]
* [[Kazakhstan]]
* [[Kenya]]
* [[Kirgistan]]
* [[Kiribati]]
* [[Kaledonia Baru]]
* [[Kepulauan Cocos]]
* [[Kepulauan Faroe]]
* [[Kepulauan Marshal]]
* [[Kolombia]]
* [[Kongo]]
* [[Korea Utara]]
* [[Korea Selatan]]
* [[Kosovo]]
* [[Kuwait]]
* [[Kroasia]]
* [[Kamboja]]
* [[Kosta Rika]]
== L ==
* [[Laos]]
* [[Lebanon]]
* [[Latvia]]
* [[Libya]]
* [[Lithuania]]
* [[Luksemburg]]
* [[Liberia]]
* [[Lesotho]]
* [[Liechtenstein]]
== M ==
* [[Malaysia]]
* [[Mesir]]
* [[Monako]]
* [[Moldova]]
* [[Mongolia]]
* [[Montenegro]]
* [[Maroko]]
* [[Meksiko]]
* [[Madagaskar]]
* [[Myanmar]]
* [[Malawi]]
* [[Mali]]
* [[Malta]]
* [[Mauritania]]
* [[Mozambik]]
* [[Mauritius]]
== N ==
* [[Norwegia]]
* [[Nepal]]
* [[Namibia]]
* [[Niger]]
* [[Nigeria]]
* [[Nikaragua]]
* [[Nauru]]
== O ==
* [[Oman]]
== P ==
* [[Pakistan]]
* [[Pantai Gading]]
* [[Polandia]]
* [[Panama]]
* [[Paraguay]]
* [[Papua Nugini]]
* [[Prancis]]
* [[Peru]]
* [[Palestina]]
* [[Portugal]]
* [[Palau]]
== Q ==
* [[Qatar]]
== R ==
* [[Rumania]]
* [[Rusia]]
* [[Rwanda]]
== S ==
* [[Saint Kitts dan Nevis]]
* [[Saint Lucia]]
* [[Saint Pierre dan Miquelon]]
* [[Saint Vincent dan Grenadines]]
* [[Samoa]]
* [[San Marino]]
* [[Sao Tome dan Principe]]
* [[Selandia Baru]]
* [[Senegal]]
* [[Serbia]]
* [[Seychelles]]
* [[Sierra Leone]]
* [[Singapura]]
* [[Siprus]]
* [[Slovakia]]
* [[Slovenia]]
* [[Somalia]]
* [[Spanyol]]
* [[Sri Lanka]]
* [[Sudan]]
* [[Sudan Selatan]]
* [[Suriah]]
* [[Swedia]]
* [[Swiss]]
* [[Suriname]]
== T ==
* [[Taiwan]]
* [[Tajikistan]]
* [[Tanjung Verde]]
* [[Tanzania]]
* [[Thailand]]
* [[Timor Leste]]
* [[Tiongkok]]
* [[Togo]]
* [[Tokelau]]
* [[Tonga]]
* [[Trinidad dan Tobago]]
* [[Tunisia]]
* [[Turki]]
* [[Turkmenistan]]
== U ==
* [[Uganda]]
* [[Ukraina]]
* [[Uzbekistan]]
* [[Uni Emirat Arab]]
* [[Uruguay]]
== V ==
* [[Vietnam]]
* [[Vatikan]]
* [[Venezuela]]
* [[Vanuatu]]
== W ==
* [[Wales]]
== X ==
''Tidak ada.''
== Y ==
* [[Yordania]]
* [[Yaman]]
* [[Yunani]]
== Z ==
* [[Zimbabwe]]
* [[Zambia]]
f4iby5lz9b6nw33wofgvp43jqujq4nj
52994
52993
2026-05-24T10:31:22Z
Radramboo
18348
tidak ada nama negara "California"
52994
wikitext
text/x-wiki
Ini adalah daftar negara sesuai abjad A-Z.
== A ==
* [[Amerika Serikat]]
* [[Australia]]
* [[Austria]]
* [[Armenia]]
* [[Andorra]]
* [[Arab Saudi]]
* [[Albania]]
* [[Afganistan]]
* [[Azerbaijan]]
* [[Aljazair]]
* [[Argentina]]
* [[Antigua dan Burbuda]]
* [[Afrika Selatan]]
* [[Angola]]
* [[Kepulauan Åland]]
* [[Algeria]]
== B ==
* [[Belanda]]
* [[Belgia]]
* [[Burundi]]
* [[Bhutan]]
* [[Brasil]]
* [[Brunei Darussalam]]
* [[Barbados]]
* [[Bahrain]]
* [[Bangladesh]]
* [[Kepulauan Bahama]]
* [[Belarusia]]
* [[Burkina Faso]]
* [[Benin]]
* [[Bolivia]]
* [[Bulgaria]]
* [[Bosnia dan Herzegovina]]
* [[Belize]]
* [[Britania Raya]]
== C ==
* [[Chili]]
* [[Chad]]
* [[Ceko]]
== D ==
* [[Denmark]]
* [[Djibouti]]
* [[Dominika]]
* [[Republik Dominika]]
== E ==
* [[Etiopia]]
* [[Estonia]]
* [[El Salvador]]
* [[Ekuador]]
* [[Eritrea]]
== F ==
* [[Fiji]]
* [[Filipina]]
* [[Finlandia]]
== G ==
* [[Guatemala]]
* [[Gambia]]
* [[Ghana]]
* [[Greenland]]
* [[Georgia]]
* [[Guyana]]
* [[Guam]]
== H ==
* [[Haiti]]
* [[Honduras]]
* [[Hungaria]]
* [[Hong Kong]]
== I ==
* [[Indonesia]]
* [[India]]
* [[Irlandia]]
* [[Inggris]]
* [[Islandia]]
* [[Italia]]
* [[Irak]]
* [[Iran]]
== J ==
* [[Jamaika]]
* [[Jepang]]
* [[Jerman]]
== K ==
* [[Kamerun]]
* [[Kanada]]
* [[Kazakhstan]]
* [[Kenya]]
* [[Kirgistan]]
* [[Kiribati]]
* [[Kaledonia Baru]]
* [[Kepulauan Cocos]]
* [[Kepulauan Faroe]]
* [[Kepulauan Marshal]]
* [[Kolombia]]
* [[Kongo]]
* [[Korea Utara]]
* [[Korea Selatan]]
* [[Kosovo]]
* [[Kuwait]]
* [[Kroasia]]
* [[Kamboja]]
* [[Kosta Rika]]
== L ==
* [[Laos]]
* [[Lebanon]]
* [[Latvia]]
* [[Libya]]
* [[Lithuania]]
* [[Luksemburg]]
* [[Liberia]]
* [[Lesotho]]
* [[Liechtenstein]]
== M ==
* [[Malaysia]]
* [[Mesir]]
* [[Monako]]
* [[Moldova]]
* [[Mongolia]]
* [[Montenegro]]
* [[Maroko]]
* [[Meksiko]]
* [[Madagaskar]]
* [[Myanmar]]
* [[Malawi]]
* [[Mali]]
* [[Malta]]
* [[Mauritania]]
* [[Mozambik]]
* [[Mauritius]]
== N ==
* [[Norwegia]]
* [[Nepal]]
* [[Namibia]]
* [[Niger]]
* [[Nigeria]]
* [[Nikaragua]]
* [[Nauru]]
== O ==
* [[Oman]]
== P ==
* [[Pakistan]]
* [[Pantai Gading]]
* [[Polandia]]
* [[Panama]]
* [[Paraguay]]
* [[Papua Nugini]]
* [[Prancis]]
* [[Peru]]
* [[Palestina]]
* [[Portugal]]
* [[Palau]]
== Q ==
* [[Qatar]]
== R ==
* [[Rumania]]
* [[Rusia]]
* [[Rwanda]]
== S ==
* [[Saint Kitts dan Nevis]]
* [[Saint Lucia]]
* [[Saint Pierre dan Miquelon]]
* [[Saint Vincent dan Grenadines]]
* [[Samoa]]
* [[San Marino]]
* [[Sao Tome dan Principe]]
* [[Selandia Baru]]
* [[Senegal]]
* [[Serbia]]
* [[Seychelles]]
* [[Sierra Leone]]
* [[Singapura]]
* [[Siprus]]
* [[Slovakia]]
* [[Slovenia]]
* [[Somalia]]
* [[Spanyol]]
* [[Sri Lanka]]
* [[Sudan]]
* [[Sudan Selatan]]
* [[Suriah]]
* [[Swedia]]
* [[Swiss]]
* [[Suriname]]
== T ==
* [[Taiwan]]
* [[Tajikistan]]
* [[Tanjung Verde]]
* [[Tanzania]]
* [[Thailand]]
* [[Timor Leste]]
* [[Tiongkok]]
* [[Togo]]
* [[Tokelau]]
* [[Tonga]]
* [[Trinidad dan Tobago]]
* [[Tunisia]]
* [[Turki]]
* [[Turkmenistan]]
== U ==
* [[Uganda]]
* [[Ukraina]]
* [[Uzbekistan]]
* [[Uni Emirat Arab]]
* [[Uruguay]]
== V ==
* [[Vietnam]]
* [[Vatikan]]
* [[Venezuela]]
* [[Vanuatu]]
== W ==
* [[Wales]]
== X ==
''Tidak ada.''
== Y ==
* [[Yordania]]
* [[Yaman]]
* [[Yunani]]
== Z ==
* [[Zimbabwe]]
* [[Zambia]]
ihmgr0j8i1yh293vvds8zr2lzl9cgac
Pengguna:Senininibiru
2
10698
52991
43998
2026-05-24T00:43:23Z
Rachmat04
4778
Rachmat04 memindahkan halaman [[Pengguna:Salmaafifahafif]] ke [[Pengguna:Senininibiru]]: Secara otomatis memindahkan halaman ketika mengganti nama pengguna "[[Special:CentralAuth/Salmaafifahafif|Salmaafifahafif]]" menjadi "[[Special:CentralAuth/Senininibiru|Senininibiru]]"
43998
wikitext
text/x-wiki
Haloo!
{| class="wikitable"
|+Partisipasi
| {{Pengguna Kelas SheSaid 2025}}
|-
| {{Pengguna Tantangan Wikikutip SheSaid 2025}}
|}
rvxfizep4zwzyhusumityyxrvbh2l4v
Pengguna:Salmaafifahafif
2
14390
52992
2026-05-24T00:43:23Z
Rachmat04
4778
Rachmat04 memindahkan halaman [[Pengguna:Salmaafifahafif]] ke [[Pengguna:Senininibiru]]: Secara otomatis memindahkan halaman ketika mengganti nama pengguna "[[Special:CentralAuth/Salmaafifahafif|Salmaafifahafif]]" menjadi "[[Special:CentralAuth/Senininibiru|Senininibiru]]"
52992
wikitext
text/x-wiki
#ALIH [[Pengguna:Senininibiru]]
2mkydtust9bqoml5t3xf21qrnenz05c