Wikikutip
idwikiquote
https://id.wikiquote.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.12
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikikutip
Pembicaraan Wikikutip
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Dahlan Iskan
0
4985
55572
55484
2026-07-24T10:17:18Z
Niryhpr
19585
/* Indonesia */
55572
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Dahlan Iskan.jpg|jmpl|Dahlan Iskan]]
'''Dahlan Iskan''' (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar.
== Kutipan ==
=== Indonesia ===
* Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!
* Para pejabat kelihatannya memang mengalami kesulitan mencari cara menyimpan uang. Saking banyaknya. Saking gelap asal-usulnya. Mau ditaruh di bawah bantal takut leher istrinya patah –saking tingginya. Dititipkan ke orang takut dihabiskan orang itu. Mau ditaruh di luar negeri harus pakai nama orang lain –bisa hilang juga. Apalagi kalau orang yang dipakai namanya itu meninggal dunia.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Bawah Bantal|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/956730/bawah-bantal|website=disway.id|language=id|access-date=12 Juli 2026|date=12 Juli 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
* Soal batu bara. Nilainya Rp 5 triliun. Yang menurut Irjen Pol Totok menjadi penyebab black out –mati lampu– di berbagai daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Polisi menemukan kejahatan dua perusahaan itu: kirim batu bara ke PLN tidak sesuai dengan kontrak. Batu bara yang dikirim berkalori rendah: 3.000-an GAR. Padahal seharusnya 4.400-an GAR. PLTU-2 PLN memang dirancang untuk dijalankan dengan batu bara kalori 4.400 GAR ke atas. Kalau diberi ''makan'' jenis 3.000-an GAR ibarat perut Yuni Shara atau Syifa Hadju dikasih makan gaplek mentah. PLTU yang seharusnya, misalnya, menghasilkan listrik 1.000 MW hanya menghasilkan 600 MW. Produksi listrik berkurang banyak. Akibat buruk lainnya: secara teknis PLTU terus bermasalah. Rusak dan rusak lagi. Sudah sejak enam tahun terakhir batu bara yang berkalori 4.000 ke atas memang diekspor habis-habisan. Harga ekspor memang sangat tinggi. PLTU di dalam negeri tinggal dapat ''sampah'' nya. Secara fisik sering sudah tidak terlihat seperti batu bara. Sudah seperti tanah –yang kalau terkena hujan seperti lumpur. Memang ada pertanyaan besar: mengapa PLN mau menerima batu bara yang kualitasnya rendah. Kenapa tidak ditolak. Jawabnya ada tiga pilihan: (a) petugas bagian penerimaan kena sogok, (b) dipaksa kekuatan luar untuk menerima, (c) PLN terpaksa menerima karena tidak ada batu bara lagi –yang kalau tidak diterima berarti listrik padam total. Kelihatannya kombinasi jawaban ''b'' dan ''c'' yang terjadi. Indikasinya: meski batu bara yang dikirim 3.000 kalori, tagihannya ke PLN 4.000 kalori. Perbedaan kadar kalori yang begitu tinggi tidak bisa disembunyikan. Sistem komputer PLN mencatat: mengapa jumlah (tonase) pemakaian batu bara sama tapi hasil listriknya turun drastis. Bagian keuangan PLN pasti tidak akan mau bayar batu bara kalori 3.000 dengan harga kalori 4.000. Tapi mengapa terjadi. Berarti ada kekuatan besar di baliknya.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Orang Kuat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/957049/orang-kuat|website=disway.id|language=id|access-date=18 Juli 2026|date=14 Juli 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
* Dulu kita sering marah ke Singapura: mengapa Singapura tidak kunjung mau menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Indonesia. Ternyata ada alasan yang masuk akal: apakah hukum di Indonesia sudah berlaku sebagaimana layaknya.<ref>{{Cite web|date=2023-06-20|title=Badai Berlalu|url=https://radarbekasi.id/2023/06/20/badai-berlalu/|website=Radarbekasi.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Maka kebijakan pemerintah yang baru ini justru sangat mulia. Agar sumber daya alam kita tidak dikuras semau-mau pengusaha. Dua tahun terakhir Disway mencatat drama pengurasan sumber alam ini. Seorang pengusaha tambang batubara tiba-tiba bisa untung Rp 2 triliun sebulan. Lalu mendadak jadi orang terkaya di Indonesia. Maka penataan ulang ini harus didukung. Pemerintah bisa menyeimbangkan pasar. Jangan sampai pasokan jauh lebih besar dari permintaan. Harga bisa nyungsep. Penerimaan pajak negara bisa babak belur. Tentu, yang penting, kebutuhan batubara dalam negeri harus tercukupi. Jangan sampai produksi direm tapi kebutuhan dalam negeri dikalahkan. Sayang, kebijakan yang begitu baik, hancur oleh lambatnya pelayanan dan buruknya komunikasi. Tujuan mulianya tidak tersampaikan ke publik. Justru iklim bisnis yang menjadi sangat negatif.<ref name="fdi">{{Cite web|last=disway.id|title=FDI Purbaya|url=https://disway.id/read/928541/fdi-purbaya|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ditanya dalam satu forum bahasa Inggris. Soal Foreign Direct Investment. Apakah dalam persepsi seperti itu bisa diharap modal asing akan mau masuk ke Indonesia. Saya sangat setuju dengan jawaban Purbaya. "Kalau ekonomi Indonesia bisa tumbuh enam, tujuh, delapan persen, modal asing akan datang sendiri ke Indonesia. Saya tidak mau ngemis-ngemis ke mereka di saat ekonomi kita not good". Itu benar sekali. Buktinya, modal asing tetap membanjir ke Tiongkok. Termasuk modal dari negara kampiun demokrasi. Padahal, Tiongkok, yang mereka sebut sebagai otoriter, harusnya mereka benci. Tetapi karena ekonomi Tiongkok baik, mereka pun mengabaikan kebencian itu. Maka Purbaya bertekad menumbuhkan ekonomi dengan kekuatan sendiri dulu. Ia optimistis bisa. Asal swasta digerakkan. Di zaman Jokowi, katanya, swasta tidak bisa bergerak. Akibatnya ekonomi berhenti tumbuh di lima persen. Padahal proyek dibangun di mana-mana. Besar-besaran. Di zaman SBY, katanya, pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ekonomi bisa tumbuh enam persen. Itu karena swasta bergerak.<ref name="fdi"/>
* Saya membayangkan bagaimana hebatnya agama ini kalau penghayatan atas larangan mencuri juga diterapkan sampai sedalam itu. Khususnya soal mencuri uang rakyat.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Tarim Duduk|url=https://disway.id/read/929770/tarim-duduk|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* Tahun 1978 ekonomi Indonesia mulai booming. Berkat kebijakan orde baru. Yang menggariskan ekonomi sebagai panglima. Pertumbuhan sebagai lokomotifnya. Menggantikan kebijakan orde lamanya Bung Karno. Yang politik jadi panglima. Konfrontasi jadi agitasinya. Sejak 1978 itu ekonomi meledak. Deregulasi bank dilakukan. Pengusaha boleh mendirikan bank kapan saja. Hanya dengan modal Rp 10 miliar. Semua grup punya bank sendiri. Memberi kredit ke perusahaannya sendiri. Dari dana deposito masyarakat. Bank berlomba memberi pinjaman. Umumnya kurang hati-hati. Bisa menerima tanah kuburan. Sebagai jaminan. Tanpa dicek bahwa itu tanah kuburan. Saking mudahnya. Ekonomi seperti balon. Dindingnya tidak kokoh. Dipompa terus. Menggelembung besar. Meledak. Dilakukanlah Tight Money Policy (TMP). Pada tahun 1988. Suasananya seperti mobil yang lagi lari kencang. Tiba-tiba direm. Mendadak. Kelimpungan. Banyak perusahaan yang selip. Atau terguling. Masuk jurang. Dua tahun lamanya ekonomi seperti berhenti.<ref name="lubang">{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Tiap 10 Tahun di Lubang Yang Sama|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/1679/tiap-10-tahun-di-lubang-yang-sama|website=disway.id|language=id|access-date=3 Juni 2026|date=4 September 2018|publisher=Harian Disway}}</ref>
* "Tahun 2007 ekonomi meledak-ledak lagi. Terutama di Amerika. Inflasi sangat rendah. Bank menggelontorkan dana lagi. Banyak yang salah analisa: inflasi rendah saat itu dikira hasil efisiensi. Sehingga tidak bahaya. Kalau dana murah terus digelontorkan. Maka terjadilah krisis tahun 2008. Indonesia selamat saat itu. Berkat bail out. Untuk menyelamatkan perbankan. Yang sekarang --10 tahun kemudian-- disalah-salahkan itu. Sekarang baru disadari: inflasi rendah menjelang tahun 2008 itu bukan karena efisiensi. Karena apa? Karena membanjirnya barang murah. Ke seluruh pasar dunia. Yang asalnya dari negeri panda."<ref name="lubang"/>
* "Tentu diberhentikannya "teman baik" Presiden Prabowo bisa jadi cermin bagi teman-teman Prabowo lainnya yang kini banyak menjabat apa saja di mana saja. Kinerja tetaplah nomor satu. Niat baik menolong teman ada kalanya bikin susah yang menolong." <ref name="deyang">{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Agus Deyang|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/950236/agus-deyang|website=disway.id|language=id|access-date=4 Juni 2026|date=4 Juni 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
* "Kasus terakhir di Bea Cukai seharusnya bisa menyadarkan Presiden Prabowo bahwa tidak semua temannya bisa diajak bekerja ikhlas membangun negeri. Padahal pengangkatan temannya menjadi pejabat baru dirjen Bea Cukai itu diniatkan untuk bersih-bersih Bea Cukai habis-habisan. Ia tentara. Kopassus. Bintang tiga. Kurang apa. Setelah setahun menjabat ketahuanlah cerita ulangan di instansi basah itu. Kini berarti sudah tiga teman kepercayaan Prabowo yang mengecewakannya –juga mengecewakan Anda. Padahal waktu tidak berhenti berlari. Sebentar lagi Presiden Prabowo pun sudah akan kehilangan waktu dua tahun. Tinggal dua tahun lagi pemerintahannya efektif. Di tahun kelima sudah banyak urusan pemilu dan pilpres tahun 2029."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Mati Besok|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/952431/mati-besok|website=disway.id|language=id|access-date=17 Juni 2026|date=17 Juni 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
* MBG kini di tangan anak muda yang pintar, cerdas, tegas, dan dekat dengan Presiden Prabowo. Dalam pisau analisis politik, Sudaryono berada di kelompok ”Hambalang Boys”: kader sejati Prabowo yang rumahnya di Hambalang dekat Sentul. Sebagai ”Hambalang Boys”, Sudaryono tahu persis keinginan Prabowo di MBG: anak-anak dapat makan bergizi seperti dirinya di waktu kecil. Lalu ekonomi rakyat bergerak. Setelah tahu yang ”naik” ke jabatan itu Sudaryono saya menilai pengunduran diri Deyang adalah baik. Deyang telah memberi jalan kepada orang yang lebih muda dan lebih potensial. Setidaknya Deyang telah jadi tukang bongkar-bongkar di saat menjabat wakil kepala BGN. Sampai-sampai orang seperti Sufmi Dasco Ahmad, salah satu tokoh andalan Prabowo, mengenang Deyang sebagai orang yang rajin keliling dapur MBG untuk melihat apa yang tidak benar. Maka orang seperti Jendral Polisi Sony Sonjaya, wakil kepala BGN yang kini jadi tersangka, menilai Deyanglah yang menjebloskan mereka ke tahanan.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Anak Telur|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/958878/anak-telur|website=disway.id|language=id|access-date=24 Juli 2026|date=24 Juli 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Jurnalisme ===
* Saya begitu ingin kembali menjadi wartawan. Untuk mengungkap yang bukan kulit-kulitnya saja. Atau saya ingin kembali menjadi pemimpin redaksi: yang bisa mengerahkan wartawan. Dengan membekalinya pertanyaan. Anak pertanyaan. Cucunya. Ponakannya. Mendiskusikan pertanyaan itu. Dan melahirkan pertanyaan baru. Saya ingin kembali menjadi editornya. Untuk menuliskan peristiwa itu: bukan kulitnya, tapi featurenya.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Lebaran di Rumah Sakit|url=https://disway.id/read/1590/lebaran-di-rumah-sakit|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* Jawa Pos adalah koran pertama di Indonesia yang fotonya berwarna. Kompas ngotot terbit hitam putih. Koran berwarna dianggap terlalu pop. Murahan. Koran hitam putih lebih elegan. Bermutu. Saya ingat salah satu alasan bertahan yang dipakai Kompas: "New York Times saja tetap hitam putih". NYT adalah koran paling bergengsi di dunia. Dianggap murahan, saya pun ''tersinggung''. Saya terbang ke Amerika. Ke New York. Saya ingin tahu: apa alasan New York Times tetap terbit hitam putih. Sedangkan harian USA Today sudah berwarna. Saya pun dapat jawabnya: percetakan NYT itu sangat besar. Tidak mudah mengubahnya jadi berwarna. Begitu banyak mesin yang harus ''dibuang''. Begitu mahal kalau harus membeli mesin berwarna dalam jumlah besar sekaligus. Bahkan harus membeli tanah baru. Membangun gedung baru. Gedung lama sudah penuh dengan mesin hitam putih. Lima tahun kemudian NYT terbit berwarna. Pun Kompas. Saya tersenyum dengan penuh kemenangan yang ternyata, kemenangan itu, kelak, juga tidak ada gunanya.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Bawah Tanah|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/954574/bawah-tanah|website=disway.id|language=id|access-date=29 Juni 2026|date=29 Juni 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
* Saat Imron naik pangkat menjadi redaktur ekonomi di Jawa Pos, saya memberinya modal Rp 100 juta. Cukup besar saat itu. Dengan uang itu, saya minta Imron bermain saham. Beneran. Di bursa efek Indonesia. Syaratnya hanya satu. Diskusikan dengan semua wartawan ekonomi yang jadi anak buahnya. Yakni saham mana yang harus dibeli. Kapan harus dijual untuk dibelikan saham lagi. Saya ingin wartawan ekonomi tidak hanya menulis tentang saham, tetapi juga mengerti seluk beluk permainan di dalamnya. Mempraktikkannya. Semua keputusan saya serahkan sepenuhnya kepada Imron. Misalkan rugi tidak apa-apa. Ludes pun tidak masalah. Itu seperti uang kuliah.<ref name="i">{{Cite web|last=disway.id|title=Imron Djatmika|url=https://disway.id/read/928818/imron-djatmika|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-10}}</ref>
* "Saya bukan bos [https://id.wikipedia.org/wiki/Nanik_Sudaryati_Deyang Deyang]. Hanya saja, ketika dia menjadi wartawan dia sering mewawancarai saya, khususnya soal sepak bola. Dia wartawan yang amat militan. Tidak takut risiko apa pun. Atasannya, katanya, hanya Tuhan. Kalau sudah memuncak dia pilih salat malam lebih lama. Kalau dibentak, Deyang balas membentak. Dia wartawan Harian Surya, Surabaya, salah satu anggota kelompok Kompas Gramedia."<ref name="deyang"/>
* Saya masih ingat zaman itu: bagaimana membuat berita tanpa kertas, tanpa pulpen, tanpa mesin ketik, tanpa komputer. Zaman itu saya menulis berita dengan menyusun huruf-huruf yang terbuat dari timah. Tangan berlumuran tinta campur bensin. Kadang tinta itu sampai ke pipi –kalau tanpa sadar harus menepuk nyamuk yang hinggap di pipi. Wartawan seumuran saya, di Jawa, tidak akan mengalami teknologi menulis berita paling kuno seperti itu. <ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=260 Disway|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/805868/260-disway|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=27 Juli 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>
* Sebenarnya saya sudah cukup gigih merayu Prija agar tetap bekerja di Jawa Pos. Artinya, tinggalkan pekerjaan dosen di UB. Ia sudah tujuh tahun bekerja di Jawa Pos. Sudah meliput banyak peristiwa besar. Sudah menjadi pemred mingguan Gugat di bawah koordinasi Imawan Mashuri. Sudah sering ditugaskan ke luar negeri. Sudah beberapa kali diinterogasi aparat hukum dan keamanan soal kerasnya isi tulisannya.<ref name="i"/>
* Di awal magangnya itu Prija hanya bertugas menjadi tukang kliping. Tiap hari ia menggunting koran yang menulis kasus-kasus hukum. Kliping itu ia edarkan ke semua pengacara LBH. Prija sudah rajin membaca sejak kuliah, di Perpustakaan Unair. Menjadi tukang kliping hanya kelanjutan dari kegemarannya membaca. Dengan hilangnya koran sekarang ini saya tidak tahu bagaimana magangis bekerja. Bagaimana cara kliping berita model online? Dulu berita kredibel atau tidak ditentukan oleh koran. Kini begitu sulit menyaring mana berita yang kredibel dan mana yang seolah kredibel.<ref name="i"/>
* Tiba-tiba saya ingat tanggal 9 Februari. Saatnya Disway.id berulang tahun. Lima hari lagi. Berarti Disway.id akan berulang tahun yang keenam. Tidak terasa sudah enam tahun saya menulis artikel di Disway.id. Setiap hari. Tanpa absen, pun sehari. Alhamdulillah. Berarti selama enam tahun itu pula saya tidak pernah sakit. Pernah. Kena Covid-19. Masuk RS selama satu minggu. Pernah. Sakit perut. Beberapa kali. Mencret-mencret. Sampai badan lemas sekali. Karena termakan makanan yang terlalu pedas. Mungkin karena sudah 17 tahun saya tidak punya organ empedu. Tapi sakit-sakit itu tidak membuat saya absen menulis. Bahkan dari rumah sakit itu lahir banyak tulisan --dua di antaranya viral luar biasa: soal D-dimer dan level vitamin D. Selama enam tahun itu rasanya hanya dua atau tiga kali saya sangat frustrasi: sampai ingin sekali berhenti menulis. Frustrasinya muncul malam hari --mendekati pukul 21.00. Itulah jam deadline saya: sudah harus kirim naskah ke admin. Dua atau tiga kali itu saya belum menemukan ide tulisan. Padahal sudah mendekati pukul 21.00. Judeg. Buntu. Mondar-mandir. Tetap buntu. Lalu muncul pertanyaan: kenapa sih harus menulis? Kenapa harus menyiksa diri seperti ini? Apa salahnya sesekali tidak menulis? Siapa sih yang mengharuskan? Kan tidak ada? Sulitnya lagi saya harus menjaga mutu tulisan. Kalau mudah bersikap menurunkan mutu tulisan itu berbahaya: akan menjadi kebiasaan. Buruk sekali. <ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Ulang Tahun|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/760330/ulang-tahun|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=5 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Perjalanan ===
* Saya berpisah lagi dengan istri di Makkah. Hampir selalu begitu. Setelah menemani ibadah umrah, saya harus pergi ke negara lain. Kali ini ke negara yang dekat, tapi belum pernah saya kunjungi. Yaman. Mobil yang membawa saya ke bandara pun tiba. Saatnya saya ke terminal haji Jeddah. Di situlah Yemeni Airways berpangkalan. Ini kali pertama saya ke Yaman. Kali pertama naik pesawat Yemeni. Doa saya satu. Jangan ada roket nyasar di penerbangan di atas Yaman yang belum selesai perang ini. Kalaupun ada, berikan saya selamat. Agar bisa menulis pengalaman itu untuk Disway.<ref>{{Cite web|last=disway.id|title=Berpisah Istri|url=https://disway.id/read/929028/berpisah-istri|website=disway.id|language=id|access-date=2026-02-14}}</ref>
* "Sejak kapan banyak mobil begini?" tanya saya kepada sahabat Disway di sana yang mengantarkan saya ke Mukalla (Yaman). "Sejak tahun 2014. Sejak Al Qaeda berkuasa di Mukalla," katanya. Al Qaeda hanya setahun berkuasa di Mukalla. Tahun 2015 sudah diusir dari ibukota provinsi Hadramaut itu. Tapi selama berkuasa setahun itu, Al Qaeda sempat membebaskan pajak impor. Termasuk impor mobil. Sejak itu harga mobil di Hadramaut murah sekali. Dengan uang setara Rp 75 juta sudah bisa membeli Toyota Noah. Banyak sekali Noah di Mukalla. Juga Toyota Voxy. Pokoknya mobil apa saja di Mukalla mereknya Toyota. Hanya sedikit yang Nissan. Atau Hyundai dan KIA.<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Amang Amat|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/937713/amang-amat|website=disway.id|language=id|access-date=30 Maret 2026|date=28 Maret 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Majalah TEMPO ===
* "Yekape adalah perusahaan real estate yang awalnya yayasan YKP di Surabaya. YKP fokus menyediakan rumah kredit untuk karyawan dan pegawai negeri. Rumah pertama saya pun ada di YKP. Di Tenggilis Mejoyo. Saya membelinya secara mencicil. Status ekonomi saya masih wartawan honorer di majalah TEMPO. Yang besarnya penghasilan disesuaikan dengan banyaknya tulisan yang dimuat di TEMPO. Maka saya pilih blok yang ukuran rumahnya paling kecil : 6 x 12 meter. Rumah itu masih ada sekarang. Sudah lebih besar. Kelak di tahun 1990-an rumah sebelah dijual, lalu saya jadikan satu."<ref>{{Cite web|first=Dahlan|last=Iskan|title=Cari Muka|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/940899/cari-muka|website=disway.id|language=id|access-date=14 April 2026|date=14 April 2026|publisher=Harian Disway}}</ref>
=== Lainnya ===
* "Siapa pun akan tergiur. Ibaratnya: ambil kreditnya, tukarkan ke rupiah, pinjamkan ke pengusaha lain, sudah untung. Gak usah kerja! Saya tidak tergiur. Saya ini orang bodoh. Yang punya prinsip: cari uang itu harus dengan bekerja. Banyak teman saya membodoh-bodohkan saya. Biar saja."<ref name="lubang"/>
== Kutipan mengenai Dahlan Iskan ==
=== Joko Intarto dan Pendirian Disway.id ===
{{Cquote|Saat saya datangi di apartemennya di SCBD untuk memintanya menulis lagi. Ia tak goyah. "Saya sudah tidak mau menulis lagi," jawabnya pada kunjungan pertama. Saya tahu. Dari nadanya, ia kurang suka. Tapi saya tidak menyerah. Terus mencari akal agar ia setuju menulis lagi. Sedikit muter-muter tidak masalah.
Saya ganti topik. Cerita tentang teman-teman saya wartawan senior yang kebanyakan stroke. "Iya, kok banyak wartawan saat tua kena stroke ya?" kata Pak Dahlan. "Kemungkinan karena mereka stres. Biasanya menulis. Tiba-tiba tidak menulis lagi karena tidak punya media," jawab saya asal saja. "Masuk akal. Sebagai wartawan mereka mengelola banyak informasi. Sudah pensiun pun narasumbernya masih banyak yang memberi info. Pasti ingin menulis. Tapi tidak punya media. Stres," sahut Pak Dahlan. "Abah harus hati-hati. Jangan sampai kena stroke karena tidak mau menulis lagi," kata saya dengan keyakinan penuh, Abah menolak berarti skakmat! "Saya sudah tidak punya koran. Mau menulis di mana?’’ tanya Pak Dahlan setelah diam cukup lama. "Abah, hari gini mosok masih mau nulis di koran? Berapa orang yang masih mau baca koran? Hari ini zamannya membaca koran digital. Menulislah di website," jawab saya. "Saya tidak punya website," jawab Pak Dahlan. Kali ini nadanya mulai tinggi. Pertanda tidak senang. Tapi posisi catur masih open skak. "Saya yang membuatkan website-nya. Saya yang mengelola. Abah saja yang menulis. Saya yang mengedit," jawab saya. Pak Dahlan akhirnya benar-benar menyerah. "Carikan nama website yang bagus. Kalau saya setuju, saya menulis. Kalau tidak setuju berarti saya tidak akan menulis lagi," jawabnya.
Saya pulang dari apartemen itu dengan perasaan nano-nano. Senang tapi juga senep. Gagal menemukan nama yang disukai berarti mimpi saya untuk menikmati tulisan Pak Dahlan setiap hari harus dikubur dalam-dalam. Sudah hari ketiga. Nama website itu tak kunjung saya dapatkan. Habis Magrib harus sudah sampai apartemen Pak Dahlan. Mempresentasikan konsep website dengan filosofi namanya. Saat salat Asar, pikiran saya tidak konsen. Salat tapi pikiran ke mana-mana. Tiba-tiba terlintas nama: Disway. Dahlan Iskan Way. Cerita jalan hidup dan jalan pikiran Dahlan Iskan. Seperti judul buku: The Toyota Way. Itu saja yang disodorkan. Segera saya kontak Mas Zaini mengabarkan nama Disway. Saya ingatkan agar segera siap-siap ketemu Pak Dahlan lagi. Agar lebih lancar, saya belikan oleh-oleh kesukaannya. Seekor ingkung utuh: ayam kremes presto dari di Restoran Ny Lina.
"Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan. "Makan dulu Abah. Nanti setelah makan saya akan jelaskan. Pokoknya nama website ini saya temukan di tengah-tengah salat Asar," kata saya. Pak Dahlan tiba-tiba tertawa. Mungkin jawaban saya lucu. "Berarti Anda tidak salat dengan khusuk," komentarnya.
Siasat berhasil. Pak Dahlan makan malam dengan lahapnya. Walau dengan porsi yang sangat sedikit. Saya dan Mas Zaini yang harus menghabiskan semuanya. "Apa nama website-nya?" tanya Pak Dahlan lagi. "Disway. Dahlan Iskan Way. Seperti The Toyota Way,’’ jawab saya. "Nama lainnya apa?" sahutnya. "Ada yang lain, tapi saya menjagokan Disway saja. Kalau tidak setuju, apa boleh buat," jawab saya. "Oke setuju!" jawab Pak Dahlan. "Saya bisa menulis mulai kapan?" tanyanya.
"Dua minggu lagi. Tunggu website jadi dulu," jawab saya. "Tidak bisa. Tanggal 9 Februari pukul 09.00 website harus sudah online,’’ katanya. "Waktunya hanya dua hari. Sanggup nggak?" tanya saya kepada Mas Gepeng dan Mas Nawie melalui WhatsApp. "Oke. Dua hari lagi website siap tayang," mereka kompak.
Tepat pada tanggal 9 Februari pukul 09.00, Pak Dahlan mengumumkan sudah mulai menulis lagi di website baru: Disway. Pengumuman dilakukan di sela-sela peringatan Hari Pers Nasional di Padang. Tiga puluh menit setelah pengumuman, website yang baru berisi satu artikel itu down. Jumlah pengakses begitu banyaknya. Sementara server-nya masih gratisan.<ref>{{Cite web|first=Joko|last=Intarto|title=Disway Gratis|url=https://disway.id/catatan-harian-dahlan/761064/disway-gratis|website=disway.id|language=id|access-date=23 Mei 2026|date=8 Februari 2024|publisher=Harian Disway}}</ref>}}
== Referensi ==
{{Reflist}}
== Pranala luar ==
{{Wikipedia}} {{Commons}} {{tokoh}}
[[Kategori:Politikus]]
[[Kategori:Tokoh Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Indonesia]]
[[Kategori:Pejabat Negara]]
gj0xtb6djtevuagr3z890u73ciovf77
Carol Gilligan
0
11881
55570
46096
2026-07-24T00:46:25Z
JumadilM
13443
added [[Category:Psikolog Amerika Serikat]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
55570
wikitext
text/x-wiki
'''Carol Gilligan''' (lahir 28 November 1936) adalah seorang feminis, ahli etika, dan psikolog asal Amerika Serikat seorang psikolog perkembangan Amerika yang terkenal karena penelitiannya tentang perkembangan moral anak perempuan dan wanita. Ia adalah dosen di bidang Humaniora dan Psikologi Terapan di Universitas New York dan adalah dosen tamu di Pusat Studi Kajian Gender dan Jesus College di Universitas Cambridge hingga tahun 2009.<ref>{{Cite web|last=Maitreyawira.ac.id|title=Maitreyawira.ac.id - Sekolah Tinggi Agama Buddha Pekanbaru Indonesia|url=https://www.maitreyawira.ac.id/content/pendidikan/248-carol-gilligan|website=www.maitreyawira.ac.id|language=en|access-date=2025-12-06}}</ref><ref>{{Cite web|title=Feminist Voices - Carol Gilligan|url=https://feministvoices.com/profiles/carol-gilligan|website=Feminist Voices|language=en|access-date=2025-12-06}}</ref>
[[Berkas:Carol Gilligan P1010970 - cropped.jpg|jmpl]]
== Kutipan ==
# ''“Caring requires paying attention, seeing, listening, responding with respect. Its logic is contextual, psychological. Care is a relational ethic, grounded in a premise of interdependence. But it is not selfless.”'' Artinya: "Kepedulian membutuhkan perhatian, pandangan, pendengaran, dan respons yang penuh rasa hormat. Logikanya kontekstual dan psikologis. Kepedulian adalah etika relasional yang didasarkan pada premis saling ketergantungan. Namun, kepedulian bukanlah tanpa pamrih."<ref name=":0">{{Cite web|title=Carol Gilligan Quotes (Author of In a Different Voice)|url=https://www.goodreads.com/author/quotes/51565.Carol_Gilligan|website=www.goodreads.com|access-date=2025-12-06}}</ref>
# ''“Women's deference is rooted not only in their social subordination but also in the substance of their moral concern. Sensitivity to the needs of others and the assumption of responsibility for taking care lead women to attend to voices other than their own and to include in their judgement other points of view.”'' Artinya: "Rasa hormat perempuan berakar tidak hanya pada subordinasi sosial mereka, tetapi juga pada substansi kepedulian moral mereka. Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dan tanggung jawab untuk merawat mendorong perempuan untuk memperhatikan suara-suara selain suara mereka sendiri dan memasukkan sudut pandang lain ke dalam penilaian mereka."<ref name=":0" />
# ''“Living at once inside and outside the framework, Hester is able to see the frame.”'' Artinya: “Hidup di dalam dan di luar kerangka kerja, Hester mampu melihat kerangka tersebut.”<ref name=":0" />
# ''“This knotted dilemma lies at the center of women's development. How can girls both enter and stay outside of, be educated in and then try to change, what for millennia has been a man's world?”'' Artinya: "Dilema rumit ini terletak di inti perkembangan perempuan. Bagaimana anak perempuan bisa masuk dan tetap berada di luar, mendapatkan pendidikan, dan kemudian mencoba mengubah, apa yang selama ribuan tahun merupakan dunia laki-laki?"<ref name=":0" />
== Referensi ==
[[Kategori:Psikolog Amerika Serikat]]
8ofi6vom3taomukip9dlee5lc2mwr1n
55571
55570
2026-07-24T00:47:11Z
JumadilM
13443
menyederhanakan penulisan kalimat pada paragraf pembuka
55571
wikitext
text/x-wiki
'''Carol Gilligan''' (lahir 28 November 1936) adalah seorang feminis, ahli etika, dan psikolog asal Amerika Serikat yang terkenal karena penelitiannya tentang perkembangan moral pada anak perempuan dan wanita. Ia adalah dosen di bidang Humaniora dan Psikologi Terapan di Universitas New York dan adalah dosen tamu di Pusat Studi Kajian Gender dan Jesus College di Universitas Cambridge hingga tahun 2009.<ref>{{Cite web|last=Maitreyawira.ac.id|title=Maitreyawira.ac.id - Sekolah Tinggi Agama Buddha Pekanbaru Indonesia|url=https://www.maitreyawira.ac.id/content/pendidikan/248-carol-gilligan|website=www.maitreyawira.ac.id|language=en|access-date=2025-12-06}}</ref><ref>{{Cite web|title=Feminist Voices - Carol Gilligan|url=https://feministvoices.com/profiles/carol-gilligan|website=Feminist Voices|language=en|access-date=2025-12-06}}</ref>
[[Berkas:Carol Gilligan P1010970 - cropped.jpg|jmpl]]
== Kutipan ==
# ''“Caring requires paying attention, seeing, listening, responding with respect. Its logic is contextual, psychological. Care is a relational ethic, grounded in a premise of interdependence. But it is not selfless.”'' Artinya: "Kepedulian membutuhkan perhatian, pandangan, pendengaran, dan respons yang penuh rasa hormat. Logikanya kontekstual dan psikologis. Kepedulian adalah etika relasional yang didasarkan pada premis saling ketergantungan. Namun, kepedulian bukanlah tanpa pamrih."<ref name=":0">{{Cite web|title=Carol Gilligan Quotes (Author of In a Different Voice)|url=https://www.goodreads.com/author/quotes/51565.Carol_Gilligan|website=www.goodreads.com|access-date=2025-12-06}}</ref>
# ''“Women's deference is rooted not only in their social subordination but also in the substance of their moral concern. Sensitivity to the needs of others and the assumption of responsibility for taking care lead women to attend to voices other than their own and to include in their judgement other points of view.”'' Artinya: "Rasa hormat perempuan berakar tidak hanya pada subordinasi sosial mereka, tetapi juga pada substansi kepedulian moral mereka. Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dan tanggung jawab untuk merawat mendorong perempuan untuk memperhatikan suara-suara selain suara mereka sendiri dan memasukkan sudut pandang lain ke dalam penilaian mereka."<ref name=":0" />
# ''“Living at once inside and outside the framework, Hester is able to see the frame.”'' Artinya: “Hidup di dalam dan di luar kerangka kerja, Hester mampu melihat kerangka tersebut.”<ref name=":0" />
# ''“This knotted dilemma lies at the center of women's development. How can girls both enter and stay outside of, be educated in and then try to change, what for millennia has been a man's world?”'' Artinya: "Dilema rumit ini terletak di inti perkembangan perempuan. Bagaimana anak perempuan bisa masuk dan tetap berada di luar, mendapatkan pendidikan, dan kemudian mencoba mengubah, apa yang selama ribuan tahun merupakan dunia laki-laki?"<ref name=":0" />
== Referensi ==
[[Kategori:Psikolog Amerika Serikat]]
kla8fuf5vt2vv5a5xp6fwp4ne9n68r7
Adhisty Zara
0
12149
55569
46561
2026-07-24T00:45:07Z
JumadilM
13443
added [[Category:Penyanyi Indonesia]] using [[Help:Gadget-HotCat|HotCat]]
55569
wikitext
text/x-wiki
'''Adhisty Zara Sundari Kusumawardhani''' (lahir 21 Juni 2003) adalah penyanyi dan pemeran Indonesia. Ia merupakan mantan anggota JKT48 yang tergabung dalam Tim T sejak 1 Desember 2016 sampai lulus pada 4 Desember 2019.<ref>{{Cite book|date=2025-12-06|url=https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Adhisty_Zara&oldid=28668731|title=Adhisty Zara|language=id}}</ref>
== Kutipan ==
# Jadi aku itu selalu belajar akting dari ''acting coach'' yang dikasih. Jadi ''acting class''-nya itu selalu dikasih dari proyek-proyek yang aku dapetin pada awal-awal. Nah, beruntungnya aku tuh di situ.<ref name=":0">{{Cite web|last=Priwiratu|first=Elizabeth Chiquita Tuedestin|date=2023-08-30|title=Adhisty Zara Spills Riders hingga Ambisinya Sebagai Aktris|url=https://www.idntimes.com/hype/entertainment/wawancara-adhisty-zara-soal-riders-dan-ambisinya-sebagai-aktris-00-hwff8-qs804n|website=IDN Times|language=id|access-date=2025-12-08}}</ref>
# Aku pengin bisa main film internasional, sih.<ref name=":0" />
# Jadi lebih ke diskusi sih sebenernya untuk bangun karakter biar beda sama sebelumnya.<ref>{{Cite web|last=Liputan6.com|date=2020-04-28|title=Adhisty Zara Beruntung Punya Chemistry dengan Angga Yunanda Sebelum Main di Film Mariposa|url=https://www.liputan6.com/showbiz/read/4239485/adhisty-zara-beruntung-punya-chemistry-dengan-angga-yunanda-sebelum-main-di-film-mariposa|website=liputan6.com|language=id|access-date=2025-12-08}}</ref>
== Referensi ==
<references />
[[Kategori:Penyanyi Indonesia]]
mv8tww5a4tcxk4a2wsujjk56d7uxzx9