Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.2
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/10
104
67064
296168
193882
2026-05-19T02:44:16Z
Sarieffe
26994
296168
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Laindan" /></noinclude>jang dapat bersuara njaring. Habis panah, menjusul suara sangat riuh dari kiri dan kanan, ialah teriakan² dari ribuan serdadu tersembunji.
Tjeng Loen memang tengah uring²an, karena ia bersusah hati dan mendongkol berbareng disebabkan kedudukannja jang sulit itu.
Mendengar panah dan sorak-sorai itu, hatinja mendjadi panas. Ia meraup peluru apinja, menimpuk kerimba dikiri dan kanannja itu, Ia ingin rimba itu terbakar.
Diluar sangkaan, pihak sana sudah bersiap-sedia. Selekas ada serangan, disitu muntjul dua sampai tigapuluh orang, tangan mereka membawa sematjam benda seperti djala, Dengan alat itu mereka membekap api itu. Agaknja djala itu terisi pasir, maka peluru api tidak sempat menjala, Sedang disitu, diwaktu begitu, tidak ada rontokan daun² kering, dan daun basah sukar tjepat terbakar,
Perlawanan itu belum semua. Menjusul dipunahkannja peluru api itu, dari dalam rimba terdengar berisiknja suara dar-der-dor
dari senapan, Semua tembakan ditudjukan keudara, bukan kepada rombongan ‘piauwsoe itu.
Achirnja terdengarlah suara membentak : ,,Tjian Tjeng Loen! Djikalau kau tidak simpan peluru apimu jang mendjadi mustikamu
itu, awas, terpaksa kami akan membalas hormat kepadamu dengan sendjata apiku ini!”
Hay Djiak Toodjin lantas sadja tarik tangan piauwsoe kepala itu. Ia menari': dengan pelahan seraja memberi tanda untuk menghentikan penjerangannja.
Tjeng Loen mendjadi mendongkol, Ia lempar busurnja ketanah, berlompat turun dan menghunus goloknja, golok Gan-leng-too, Ia
segera madju melewati semua kawannja, Sambil merangkap kedua tangannja, ia memberi hormat sambil memutar tubuh keempat pendjuru.
»sahabat², terimalah hormatku !” ia mempercdengarkan suaranja jang njaring, suara jang menandakan kemurkaannja, ,,Aku ini Tjian Tjeng Loen dari Ban Seng Piauw Kiok dari Thay-Tjhong. Aku telah diberi hidup lebih banjak tahun, Adalah maksudku untuk tidak lagi memuntjulkan diri didalam dunia pergaulan, tapi apa latjur, bulan jang lalu aku telah dipedajakan orang, Diluar keinsafanku, aku telah menerima tanggungdjawab dari wedana dari Souwtjioe, jang menjerahkan kepadaku limaribu tail emas. Aku {{hws|ang|angkut}}<noinclude>{{rh|||131}}</noinclude>
r85uc2ytoccj2ahg1ke36gmabrdi5ip
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/9
104
67078
296167
267773
2026-05-19T02:42:13Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296167
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>Piauwsoe kepala Tin Wan Piauw Kiok, jaitu Kim-pa-tjoe Siang Beng si Matjan tutul Indah, bersahabat sangat erat dengan Tjian Tjeng Loen. Siang Beng memberikan bantuannja kepada piauwsoe kepala dari Ban Seng Piauw Kiok itu. Ketjuali kedua piauwsoe Kho Kie dan Tjie Tjiat, ia pilihkan lagi sepuluh pegawainja jang muda dan dapat diandalkan, Maka besoknja pagi waktu Tjeng Loen berangkat, rombongannja mendjadi terdiri dari sembilan belas orang.
Hay Djiak Toodjin mengusulkan memantjar bendera² piauwkie dari piauwkioknja Tjeng Loen dan dari Tin Wan Piauw Kiok, masing-masing dipantjar atas sebatang tombak, dan masing² seorang membawa satu, untuk berdjalan dimuka, Usul ini diterima baik, sebab maksud pengibaran bendera itu ialah rombongan ini hendak berlaku setjara terbuka.
Ditengah djalan, Ban Tjiong memberi saran lagi, untuk mana, ia bitjara dengan Kho Kie dan Tjie Tjiat, Kedua piauwsoe ini mupakat, maka lantas diambil putusan memetjah satu rombongan ketjil, jaitu Yo Kong Tie dan Ang Soe Sioe mengikuti Tjie Tjiat untuk berdjalan terlebih dulu. Maksudnja ketjuali untuk membuka djalan, djuga agar umpama rombongan besar dipegat mereka bertiga dapat kembali untuk menggentjet musuh.
Begitulah, dengan mengaburkan kuda mereka, ketiga orang itu mendahului pergi.
Rombongan besar, sebagaimana biasa, berdjalan dengan tenang.
Kira² setelah perdjalanan satu djam, rombongan mulai memasuki mulut selat. Dikiri-kanan terdapat tumpukan kaki gunung, makin kedalam makin tinggi. Djalanan djuga mulai sempit dan berliku². Baru biluk kekiri, lalu mesti mengkol kekanan, demikian seterusnja, Tanahnja djuga banjak batu koralnja, besar ketjil, dengan
diantaranja ada jang terseling pohon rumput atau ojot dan duri, jang bisa membikin kaki keserimpat. Bukan tjuma orang, kuda pun sukar berdjalan disitu,
„Kho Piauwtauw, apakah kita sudah sampai ?” Kok Ban Tjiong menanja sesudah mereka djalan pula sekian lama, setelah ia memasang mata kesekitarnja, Menurut penglihatannja, tempat itu tepat untuk orang turun tangan.
Belum sempat Kho Kie mendjawab atau djawaban luar biasa datang dari arah depan dan belakang, dari antara pepohonan lebat ditepi djalanan, berupa melesatnja dua batang panah, jang lewat diatas kepala mereka, lewat berseling. Itu adalah panah hiang-tjian,<noinclude>{{rh|130}}</noinclude>
bbslrwrs16m1sbw2wyobc02byu5ge0o
Halaman:Isteri Islam Jang Berarti.djvu/17
104
67618
296196
245294
2026-05-19T04:51:28Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296196
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" />{{rh|| - 15 - }}</noinclude>{|
| <div lang="ar" dir="rtl"> ويَرحَمُهُنَّ ويَكفُلُهُنَّ وجبَتْ له
الجنَّةُ البتَّةَ، قيل يا رسولَ اللهِ:
فإنْ كانتِ اثنتَيْنِ؟ قال: وإنْ كانتِ
اثنتَيْنِ، قال: فرَأى بعضُ القومِ
أنْ لو قالوا له: واحدةً، لقال: واحدةً.
«رواد احمد باسناد جيدد والطبرانى
في الاوسء وزاد: وَيُزَوِّجُهُنَّ»
</div>
|{{hwe|liharanja|dipeliharanja}}, disajanginja dan dididiknja tentulah mendapat sjurga, tidak boleh tidak. Ada jang menanja: „Ja Rasulullah, bagaimana kalau dua?” Djawab beliau: „Kalau dua pun djuga”. Maka sebagian golongan berpendapatan, umpama, ia menanjakan „Kalau satu?” tentulah didjawab „kalau satu pun djuga”. (Diriwajatkan oleh Ahmad dengan sanad yang kuat, begitu djuga oleh Thabarani didalam kitab Al-Ausath dengan ditambah: „dan dikawinkannja”).
|}
Begitupun kepada perempuan jang sudah tua, terutama bundanja dan saudara ibu jang perempuan serta sekalian kerabat kaum ibu, dihormatilah diberikan hak-haknja.
{{c|Bersabda djundjungan Nabi Muhammad s.a.w. :}}
{|
|<div lang="ar" dir="rtl"> اِتَّقُوا الله فِى النِّسَاءِ وَمَا مَلَكَت اَيْمَانُكُم </div>
|Takutlah kamu kepada Allah ditentang urusan kaum ibu dan budak-budakmu jang kemerdekaannja di tanganmu.
|}
Tersebut didalam Hadits jang diriwajatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa ada seorang datang kepada djundjungan Nabi dengan katanja: „Saja telah berbuat dosa jang besar, apakah saja dapat ampunan?” „Sahut Nabi s.a.w.: „Apakah kau punja ibu?”. Djawabnya: „Tidak”, „Apakah kau punja chalah (saudara ibu jang perempuan)?” Djawabnya: „Ada”. Maka bersabda beliau: „Berbakti dan berbuat baiklah kepadanja karena chalah itu sebagai ibu”.<noinclude></noinclude>
2l3gtmdq6yyv7wnwt3u4qvj880ajoiv
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/11
104
69930
296169
267774
2026-05-19T02:51:05Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296169
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{hwe|kut|angkut}} piauw itu belum melewati sungai Tiang Kang atau aku telah kena dipegat To-tjoe Yan Tjoe Hoei, jang telah merampas semua uang emas itu. Perampasan sematjam itu adalah umum untuk kalangan kang-ouw, inilah aku mengerti. Aku djuga berterima kasih, bahwa aku telah diberi muka, ialah padaku didjandjikan dan diberi tempo satu bulan untuk datang meminta kembali piauw itu. Djumlah itu terlalu besar, aku tidak sanggup menggantinja, maka aku datang beberapa sahabat kekal, untuk dengan menebalkan muka, berangkat ke Sia Yang Ouw, guna memenuhi djandji pertemuan dengan Yan Totjoe itu. Kedjadian ini adalah kedjadian jang umum diantara pihak piauwkiok dan Rimba Hidjau. Hanja aku tidak tahu, didalam hal apa aku telah berlaku tak selajaknja terhadap tuan². Sekarang ditengah djalan ini, tuan² mengambil sikap ini ! Jang lebih heran, djuga Tong San Siang Koay dan Tjie-tjioe Soe Kiat telah turut tertjantum namanja didalam surat undangan. Tetapi sekarang mereka bersembunji, tak satu djuga diantaranja jang nampak......”
„Tutup mulut !” demikian suara teriakan jang datang dari atas tandjakan, sebelum piauwsoe itu berhemti bitjara. Menjusul suara itu, bagaikan terbangnja burung, tampak seorang muntjul, terus lompat turun dari tandjakan itu, hinnga saat lain dia sudah berdiri tegak dihadapan si piauwsoe kepala.
Rombongan piauwsoe pertjaja orang itu mestinja liehay, menjaksikan kelintjahannja sadja sudah tjukup mengagumkan. Orang itu bertubuh tinggi lebih daripada enam kaki, mukanja berewokan, romannja keren sekali. Ditangan kirinja ada sepasang tombak pendek mirip rujung, modelnja seperti tombak tjagak dari Tian Wie, itu pahlawannja Tjo Tjoh dari djaman Sam Kok. Terang sudah sendjata itu berat timbangannja.
Diantara rombongan adalah Hay Djiak Toodjin jang mengenali ini pemegat. Ia lantas menarik belakang badju Tjian Tjeng Loen sambil berkata dengan perlahan : „Tong San Siang Koay telah datang.........”
Orang itu tertawa dingin, terus berkata, suaranja njaring : „Tjian Tjongpiawutauw, untuk apa kau bawa adat disini ? Bukankah tentang asal-usul uang emas lima ribu tail itu telah Yan Tjoe Hoei djelaskan kepadamu sendiri ? Kenapa kau masih mentjoba mengundang orang² kosen hingga dengan begitu kau membikin urusan mendjadi bertambah besar ? Ketjewa kau mendjadi seorang tjianpwee dalam dunia piauwkiok !”<noinclude>{{rh|132}}</noinclude>
1ytk7cyghi0t8oxtff7cm3y58yw9qk5
Halaman:Macao Po.pdf/77
104
89039
296159
255541
2026-05-18T12:48:45Z
On Risanti
23075
/* Tervalidasi */
296159
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="On Risanti" />{{rh|'{{sp|MACAO-PO}}'||75}}</noinclude>ambil ketetepan boeat toetoerken sadja pada ajahnja apa jang soedah terdjadi semalem dan apa jang. Ia soedah saksiken di dalem itoe roemah. Ia pikir iapoenja papa tentoe soeká toeloeng padanja boeat bisa lolosken itoe anak gadis dari tjangkremannja itoe kawanan tengkoelak manoesia, kerna ia taoe dengen pasti jang ajahnja ada mempoenjai hoeboengan jang rapet dengen orang-orang politie dari pangkat jang tinggi, hingga dengen begitoe ada sanget mengampangken iapoenja pekerdja'an boeat toeloengin itoe machloek jang lemah.
Betoel ia ada mempoenjain perasa'an maloe jang besar terhadep pada ajahnja, aken toetoerken dengen sedjelasnja jang ia semalem soedah masoek di roemah pelatjoeran, tapi perasa'an prikemanoesia'an dan perasa'an ingin menoeloeng pada itoe gadis, telah menangken itoe semoea.
Begitoelah seabisnja sarapan, sang ajah laloe menoedjoe ka kantorannja boeat isep seroetoe atawa batja soerat-soerat jang semalem dateng.
King-san laloe memboentoeti ajahnja sampe di kamar toelis itoe dan sesoedahnja ia berhadepan dengen itoe orang toea ia laloe berkata dengen plahan:
„Papa........ akoe ingin bitjara dengen papa........”
„Kedjadian apakah jang kaoe ingin bitjaraken padakoe itoe, San?”
„Papa........ soekalah kaoe ma'afken akoe, kaloe akoe bitjara dengen teroes terang apa jang akoe semalem soedah alamken?”
„Bitjaralah, akoe nanti dengerken........”
King-san dengen roepa sangsi laloe tjeritaken sedjelas-djelasnja pada sang ajah apa jang soedah terdjadi semaleman, hingga ia tida poelang roemah<noinclude></noinclude>
fkks4s9hhx7go0d5kdm3ke7ng4qdbuu
Halaman:Macao Po.pdf/78
104
90167
296160
258400
2026-05-18T12:51:23Z
On Risanti
23075
/* Tervalidasi */
296160
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="On Risanti" />{{rh|76||TJERITA ROMAN}}</noinclude>di waktoe jang betoel.
Ntjik Lotia waktoe denger itoe semoea penoetoeran laloe keroetken djidjatnja dan paras moekanja kliatan sebentar merah dan sebentar poetjet. Ia roepanja sanget terprandjat jang poetranja soedah alamken itoe hal jang tida enak didengernja, tapi dengen tetep dan moekanja dibikin angker Ntjik Kiang-seng laloe berkata pada King-san:
„O, itoe ada perboeatan jang keterlaloean............dan apa jang kaoe berboeat kemoedian?”
„Njata itoe gadis, jang roepanja ada prempoean dari Hongkong dengen paksa'an soedah di djaring masoek dalem itoe roemah, jang boekan laen ada roemah pelatjoeran. Ia ada minta akoe poenja pertoeloengan boeat akoe bisa lepasken ia dari itoeroemah, jang ia anggep ada sebagi noraka. Boeat berapa kali ia soedah dipoekoelin dan dirangket dengen heibat oleh orang jang mendjadi koeasanja itoe roemah pelatjoeran, kaloe ia tida maoe menoeroet pada itoe orang boeat ia soeka trima tetamoe-tetamoe jang aken menodahken iapoenja kehormatan............” King-san brenti sebentaran kerna iapoenja hati seperti dibakar kaloe teringet apa jang soedah ditoetoerken oleh itoe gadis........ „Akoe harep papa soeka beriken bantoeannja boeat toeloengin pada itoe prempoean jang tjilaka, jang ternjata soedah terdjoeal dalem tangannja itoe kawanan manoesia andjing.”
„Itoe ada perboeatan jang sanget rendah dari itoe orang-orang,” sang ajah berkata lagi. Tapi kaloe orang perhatiken betoel-betoel keada'annja itoe ajah, orang dapetken jang iapoenja paras moeka ada menandaken satoe kekoeatiran besar dengen apa jang soedah ditoetoerken oleh sang poetra. Ia<noinclude></noinclude>
e16bx3rq4xpnbox6qcnbzyr5iqv68nj
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/12
104
92098
296170
267775
2026-05-19T03:00:17Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296170
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{rata|Tjeng Loen tidak dapat mengendalikan diri}}
„Houyan Pa !“ ia membentak sambil menuding, „kau hendak merintangi perdjalananku ini, terpaksa aku tak dapat menghormati kau lagi !“
Orang itu tidak gusar, sebaliknja, tertawa ter-bahak<sup>2</sup>.
„Baik, tak usah kau memainkan lidahmu !“ dia membalas membentak. „Tuanmu jang kedua, Houyan Pioe, akan andalkan sepasang tombaknja ini untuk menghalang ditengah perdjalananmu ini!“
Segera siluman jang kedua dari Tong San itu menggerakkan kedua tombak tjagaknja, jang satu diteruskan menikam kedada si piauwsoe. Udjung tombak itu tadjam-mengkilap.
Tjeng Loen mundur setengah tindak sambil menarik kempes perutnja, untuk menghindarkan diri dari bahaja, berbareng dengan itu, tangannja menjambar, untuk dengan goloknja — golok Ganleng–too — membabat pinggang penjerangnja jang galak itu.
Hou–Yan Pioe berkelit kesamping, tangan kanannja dipakai menangkis, tangan kirinja berbareng menjerang.
Tjeng Loen tidak berani membentur sendjata lawannja itu, jang mestinja berat, maka itu, ia melajani dengan kelintjahannja, dengan memainkan djurus<sup>2</sup> dari Ngo Houw Toan-boen-too. Dengan begitu ia sekalian ingin mengurung lawannja itu.
Houyan Pioe benar bernjali besar. Didalam kurungan, ia dapat tertawa lebar. Sembari tertawa, ia melajani dengan tak kurang dahsjatnja. Sepasang tombaknja berputaran menutupi tubuhnja.
Sesudah melalui banjak djurus, Tjian Tjeng Loen mengerti liehaynja Siluman nomor dua dari Tong San itu. Karenanja ia tahu, tidak gampang baginja untuk segera merebut kemenangan. Lalu ia mentjoba mendesak, beruntun dengan tiga batjokan saling-susul setelah batjokannja jang pertama dan jang kedua kena ditangkis.
„Bagus !“ berseru Houyan Pioe, jang mundur dengan kaki kanannja untuk batjokan jang terachir dari lawannja. Sambil mundur, kedua tangannja bekerdja, tangan kiri dengan gerakan „Kie hwee siauw thian“ atau „Dengan obor membakar langit“ dan tangan kanan dengan „Pek hoo liang tjie“ atau „Burung Hoo mementang sajap“. Terutama tombak kanan itu menerbitkan samberan angin jang keras.
Tjeng Loen berlaku sebat tetapi ia masih tak keburu menjingkirkan goloknja, maka kedua sendjata beradu dengan keras. Sewaktu lelatu api masih muntjrat berhamburan, ia pun terperandjat {{hws|men| }}<noinclude>{{Rh|||133}}</noinclude>
3xow5ttpq3c0ech3pq67v4rl9vlkomh
296171
296170
2026-05-19T03:01:04Z
Sarieffe
26994
296171
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{rata|Tjeng Loen tidak dapat mengendalikan diri}}
„Houyan Pa !“ ia membentak sambil menuding, „kau hendak merintangi perdjalananku ini, terpaksa aku tak dapat menghormati kau lagi !“
Orang itu tidak gusar, sebaliknja, tertawa ter-bahak<sup>2</sup>.
„Baik, tak usah kau memainkan lidahmu !“ dia membalas membentak. „Tuanmu jang kedua, Houyan Pioe, akan andalkan sepasang tombaknja ini untuk menghalang ditengah perdjalananmu ini!“
Segera siluman jang kedua dari Tong San itu menggerakkan kedua tombak tjagaknja, jang satu diteruskan menikam kedada si piauwsoe. Udjung tombak itu tadjam-mengkilap.
Tjeng Loen mundur setengah tindak sambil menarik kempes perutnja, untuk menghindarkan diri dari bahaja, berbareng dengan itu, tangannja menjambar, untuk dengan goloknja — golok Ganleng–too — membabat pinggang penjerangnja jang galak itu.
Hou–Yan Pioe berkelit kesamping, tangan kanannja dipakai menangkis, tangan kirinja berbareng menjerang.
Tjeng Loen tidak berani membentur sendjata lawannja itu, jang mestinja berat, maka itu, ia melajani dengan kelintjahannja, dengan memainkan djurus<sup>2</sup> dari Ngo Houw Toan-boen-too. Dengan begitu ia sekalian ingin mengurung lawannja itu.
Houyan Pioe benar bernjali besar. Didalam kurungan, ia dapat tertawa lebar. Sembari tertawa, ia melajani dengan tak kurang dahsjatnja. Sepasang tombaknja berputaran menutupi tubuhnja.
Sesudah melalui banjak djurus, Tjian Tjeng Loen mengerti liehaynja Siluman nomor dua dari Tong San itu. Karenanja ia tahu, tidak gampang baginja untuk segera merebut kemenangan. Lalu ia mentjoba mendesak, beruntun dengan tiga batjokan saling-susul setelah batjokannja jang pertama dan jang kedua kena ditangkis.
„Bagus !“ berseru Houyan Pioe, jang mundur dengan kaki kanannja untuk batjokan jang terachir dari lawannja. Sambil mundur, kedua tangannja bekerdja, tangan kiri dengan gerakan „Kie hwee siauw thian“ atau „Dengan obor membakar langit“ dan tangan kanan dengan „Pek hoo liang tjie“ atau „Burung Hoo mementang sajap“. Terutama tombak kanan itu menerbitkan samberan angin jang keras.
Tjeng Loen berlaku sebat tetapi ia masih tak keburu menjingkirkan goloknja, maka kedua sendjata beradu dengan keras. Sewaktu lelatu api masih muntjrat berhamburan, ia pun terperandjat {{hws|men|mendapatkan}}<noinclude>{{Rh|||133}}</noinclude>
aezel9yo33ebjspv3hajg1t94sh1ouo
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/59
104
92099
296187
267771
2026-05-19T04:07:08Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296187
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{Rata|dua atau tigapuluh lie dari telaga Tay Tjiong Ouw, Kangpak daerah tandus, akan tetapi disini ada tjabang<sup>2</sup> sungai jang seperti malang melintang, jang ditanami banjak pohon yanglioe, maka setiap habis turun hudjan, pemandangan alam disini mirip djuga dengan pemandangan di Kanglam. Demikian Say Hiang Hoei, ia kasi ketika keledainja djalan sesukanja, malah kemudian ia turun dari punggung keledai. Sesudah djalan terus dua hari setengah malam, manusia dan binatang merasa lelah djuga.
Adalah maksud Goat Hoa untuk tambat keledainja, guna duduk beristirahat ketika tiba² ia dengar tindakan kuda lari kearahnja. Dengan sebat ia sembunji dibelakang sebuah pohon, matanja dipasang.
Jang datang itu dua penunggang kuda, jang satu djalan dimuka, Karena kuda dilarikan keras, debu mengepul naik disebelah belakang mereka. Kedua penunggang kuda itu bertubuh besar. Mereka mengangkat tubuh, mata mereka tjelingukan, seperti sedang mentjari apa<sup>2</sup>. Tepat didepan rimba, mereka berhenti, Masih mereka melihat kekiri dan kanan, melongok kedalam rimba. Agaknja mereka heran.
„Tidakkah mengherankan, Lao Kiong ?“ berkata jang pertama, „Masa baru sadja berkelebat sudah lenjap ?“
Sang kawan, jang dipanggil Lao Kiong, ialah Kiong situa, menggaruk-garuk kepalanja.
„Mungkinkah perempuan itu mengerti ilmu membikin bumi mendjadi tjiut ?“ katanja. „Tidak, aku tidak pertjaja. ! Boleh djadi dia telah memotong djalan! Mari kita berpentjaran untuk mentjari !“
Ia lantas hendak menarik les kudanja, tapi kawannja menahannja.
„Lao Kiong, kau hendak tjari mampusmu ?“ dia menegur. „Ingat orang itu adalah djago wanita dari Boe Tong Pay ! Walaupun kita berdua, apakah kau sangka aku masih ingin mentjoba menempur dia ? Mari dengar perkataanku, Kita pulang untuk memberi laporan kepada djie-tong-kee“, dan ia mendahului memutar kudanja, jang terus dilarikan kearah djalanan dari mana mereka tadi datang. Karena itu, si orang she Kiong mengikuti tanpa membuka suara.
Goat Hoa segera mengerti bahwa ada orang menguntit. Ia tidak takut, tetapi ia belum tahu sidpa mereka. Ada baiknja, pikirnja,}}<noinclude>{{Rh|150}}</noinclude>
3ppz73oaf28buj2ad83jq6wr6yis2rw
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/58
104
92419
296186
267772
2026-05-19T04:02:38Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296186
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{Rata|menjusuti air matanja dia terus mengatakan : sajang satu anak muda umur tigapuluh tahun mesti mati tidak keruan.......”
Hati Goat Hoa mendjadi tidak tenteram, Lantas ia pergi keluar, akan tjari Lao Ong, tukang pakai perahu, untuk minta keterangan.
Lao Ong menetapkan, waktu si imam baru sampai, dia memang mengatakan demikian, hanja dia pesan supaja hal itu tidak diberitahukan siapa djuga, supaja keluarga Sim djangan bersusah hati.
Goat Hoa merasa aneh sekali. Tapi ia dapat berlaku tenang. Ia lantas menemui ipar dan ibunja djuga, untuk menghibur mereka, kemudian ia undurkan diri, untuk beristirahat didalam kamarnja. Disini ia berpikir, guna mengambil keputusan.
Adalah biasa bagi Goat Hoa, kalau ia melakukan perdjalanan, tidak pernah ia naik kereta. Ia biasa melakukan perdjalanan malam, dengan lari keras menuruti ilmu mengentengkan tubuh. Akan tetapi, kali ini ia mesti pergi djauh dan untuk urusan jang agaknja sulit. Ia tidak dapat memastikan kapan ia bakal kembali, maka ia mau menjimpang dari kebiasaan itu. Untung baginja, baru empat atau lima, hari jang lalu paman gurunja, jaitu Hay-Liong-Sin Tjia Kiam si Malaikat Naga diwaktu lewat di Tjong-beng, sudah mampir dan telah menitipkan keledai kesajangannja — seekor keledai jang sudah dipelihara bertahun<sup>2</sup>, djinak dan mengerti — maka ia hendak pindjam pakai keledai itu jang katanja kuat djalan dan tjepat larinja.
Waktu sang malam telah lewat dan sang pagi tiba, Goat Hoa lantas ber-kemas<sup>2</sup>. Ia dandan dan menjediakan buntalannja jang singkat, Selain pedangnja, ia bekal kantong piauw terisi tigapuluh-enam thie-lian-tjie atau teratai besi. Ia telah titahkan Lao Ong roskam keledainja, lantas ia pamitan dari ibu dan iparnja untuk memulai perdjalanannja. Ia lantas melarikan keledainja keras.
Hari itu djam sin-pay, djam 3-4 lohor, Goat Hoa telah tiba di Kie-lin-tin, Kangpak.
Hay Djiak Toodjin sudah mendahului kembali ke Sia Yang Ouw. Ia perlu sampai terlebih dulu, untuk bekerdja terlebih djauh. Ta tidak ingin Goat Hoa nanti bertemu dan berbitjara dengan Yan Tjoe Hoei atau kawan<sup>2</sup>nja si Walet Terbang. Ia ingin supaja begitu bertemu, kedua pihak lantas bertempur, agar salah mengertj men djadi mendalam, Tentu sekali inilah diluar dugaan nona she Sim itu.
Dihari ketiga pagi, Goat Hoa telah tiba disebuah rimba di Djie-long-pa disebelah utara ketjamatan Tongtay. Tempat ini terpisah}}<noinclude>{{Rh|||179}}</noinclude>
n7kp47xt0i9dcevhmoejlx09lezksw8
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/13
104
93847
296172
264273
2026-05-19T03:04:41Z
Sarieffe
26994
296172
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|dapatkan|mendapatkan}} goloknja kena terbangkol tjagak tombak musuh itu. Ia merasakan sakit pada telapakan tangannja, goloknja hampir lepas
dari tjekalan. Maka dengan mengerahkan tenaganja, ia menarik dengan satu gentakan. Ia berhasil meloloskan goloknja itu, tetapi tubuhnja sendiri mendjerunuk.
,,Tjelaka !" serunja dalam hatinja karena kaget. Terpaksa ia
menekan dengan udjung goloknja ketanah sambil mentjoba menantjapkan kedua kakinja, supaja ia tak usah menubruk tanah.
Houvan Pioe telah memikir untuk merobohkan piauwsoe kenamaan ini. Ia tidak sudi menjia.njiakan saatnja jang baik itu. Dengan telengas ia mengajun gegamannja, menghadjar batok kepala lawannja. Tapi djusteru itu terdengar samberan angin dibelakangnja. Ia
mengerti datangnja serangan. Sambil memutar diri, gerakan tangannja berubah, membatalkan menjerang Tjeng Loen, tapi diteruskan menangkis serangan dibelakangnja itu.
Serangan itu datang dari sebatang samtjiat-koen, tongkat bersambung tiga. Begitu siluman dari Tong San ini menangkis, tongkat itu telah ditarik pulang, hingga serangan tidak memberi hasil, tangkisan djuga tidak mengenai sasarannja.
Dalam saat jang baik itu, Tjeng Loen sudah berhasil memperbaiki dirinja, hingga ia tahu orang jang menolongi padanja adalah saudara-angkatnja sendiri, Sim Teng Yang alias Pek Ngo.
Sebenarnja Teng Yang bersendjatakan toja kuningan, tetapi didalam perdjalanan ini, sendjatą jang pandjang itu merepotkan, maka ia hanja membekal sadja samtjiat-koen. Segera setelah pembokongannja itu, jang melainkan gertakan sadja, ia mengawasi Houyan Pioe dan berkata:,,Sudah lama aku dengar nama besar dari Tong San Siang Koay. Hari ini barulah aku dapat ketika untuk menemui. Aku Sim Teng Yang, adalah seorang rendah dari pulau Tjong Beng To, tetapi aku ingin mentjoba beberapa gebrak dengan orang kenamaan !"
Houyan Pioe mengangguk.
,,Kiranja kau adalah Sim Pek Ngo dari Tjong Beng To !" katanja. ,,Memang pernah aku dengar seorang dengan namamu ini. Kebetulan sekali sendjatamu besi seperti djuga sendjataku ini, Marilah kita main<sup>2</sup> !"
Waktu masih berbitjara, Houyan Pioe sudah lantas menggerakkan kakinja, madju mendekati, kedua tangannja bergerak saling-<noinclude>{rh|134}}</noinclude>
5xsexydctk3uwsdjx2afdzyckuh7jg7
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/37
104
93874
296184
264304
2026-05-19T03:48:47Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296184
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>Dipihak Ban Tjiong, Tjiat Djin dan Tjeng Loen djuga mentjoba mandjat. Si orang she Tjie mentjoba beberapa kali, saban² gagal. Ia selalu dirintangi sedang kakinja sakit, hingga ia kehilangan kegesitannja. Tjeng Loen djuga mendapat rintangan, akan tetapi setelah mainkan goloknja dibantu dengan panah-apinja, ia berhasil djuga tiba diatas, tjuma ia tidak dapat membantu kakak misannja, sebab ia segera dipegat dan dikepung dua lawan, jang masing² bergegaman tombak dan sepasang kampak.
Ban Tjiong dapat melihat Tjeng Loen tidak dapat madju, ia menjesal dan mendongkol. Ia djuga penasaran atas sikap Yan Tjoe Hoei. Kenapa mereka dirintangi setjara begini dan semua musuh agaknja telengas sekali? Karena hilang sabar, ia lajanį ketiga musuhnja dengan ilmu silat pedang Pat-sian-kiam atau Delapan Dewa dari Siauw Lim Pay.
Lawannja Tjian Tjeng Loen tidak hebat, Bertempur belum beberapa lama, golok Tjeng Loen telah dapat melukai musuh jang memegang kampak, Musuh jang satunja lantas ber-ulang² memperdengarkan siulan njaring. Rupanja memberi isjarat rahasia kepada kawananja, untuk memohon bantuan.
Tidak lama muntjul lagi seorang, jang kemudian ternjata adalah satu paderi, sebagaimana ternjata dari kepalanja jang gundul-litjin, Hanja tak nampak tegas wadjahnja. Setibanja paderi ini, orang jang bersendjatakan tombak itu terus sadja lompat mundur.
Tjeng Loen sedang panas hatinja, Ia tidak perdulikan segala apa, maka setelah muntjulnja sipaderi, ia mendahului madju menjerang. Paderi itu tidak menghunus sendjata, ia berkelahi dengan kedua tangan kosong.
Tjeng Loen bertjekat hatinja menjaksikan orang berani melajaninja tanpa sendjata. Baru sadja tiga djurus, ia mendjadi bergelisah. Ia lantas merasakan bahwa gerak-geriknja mendjadi ku-rang leluasa, Paderi itu sangat gesit, dia berkelit sana berkelit sini, berputaran, hingga sukar untuk membatjok dia.
„Hebat", Tjeng Loen berpikir. Karenanja, ia mengharap Ban Tjiong lekas memukul mundur musuhnja, agar kakak misan itu datang memberikan bantuannja.
Kok Ban Tjiong, dengan sebatang pedangnja, melajani tiga musuh jang bersendjatakan berlainan, lemas, pandjang dan pendek. Ia pun tidak dengar apa² dipihaknja Tjeng Loen, ia mendjadi heran. Ia mulai mendapat firasat kurang baik, Karena ini, ia lantas mentjoba mendesak.<noinclude>{{rh|158}}</noinclude>
hp2xovq3gfmuj5mfv15ug6987p18nxq
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/38
104
93875
296173
264308
2026-05-19T03:15:10Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296173
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>Dengan satu lompatan, ketua Mauw San Tjit Yoe merangsak musuhnja jang memegang pedang. Ia menikam, Lawan itu berkelit, lantas dia membalas menikam kearah tenggorokan, Ban Tjiong membebaskan diri dengan mendak, pedangnja dilondjorkan dibawah, membarengi menikam kearah iga.
Lawan itu gesit. Dia menarik pulang pedangnja seraja menggeser tubuh kesamping. Ketika ini digunakan oleh orang jang mentjekal toja, jang merabu kebawah dalam gerakannja „Kauw liong pa bwee", atau Ular naga menggojang ekor".
Dengan udjung kedua kakinja, Kok Ban Tjiong mendjedjak tanah, membuat tubuhnja mentjelat tinggi kira² satu kaki. Setjara begitu, ia meloloskan diri dari sapuan. Ketika ia turun, ia mulai lagi membalas menjerang.
,,Djangan kabur!" bentaknja, Tjepat luar biasa, ia mendesak, hingga musuh dengan sendjata toja ditangan itu mendjadi kewalahan, lalu sambil mendjerit, dia roboh, dua kawannja sampai tak sempat melihat dia terluka bahagian anggauta badannja jang mana. Lekas² mereka itu madju, guna menghalangi musuhnja.
Ban Tjiong memikirkan keselamatan Tjeng Loen, Ia tidak hendak mensiasiakan ketika lagi. Ia tidak lajani kedua musuh ini, Dengan pedangnja, ia hanja papak mereka dengan dua batang paku rahasianja, paku Sam.tjay-teng.
Kedua pihak berada dekat sekali satu dengan lain, sambaran paku itu sukar dihindarkan, maka itu, dengan memperdengarkan djeritan, dua musuh itu rubuh saling susul.
Orang jang memegang tombak, jang tadi menempur Tjian Tjeng Loen, sedjak tadi berdiri menonton. Apabila ia lihat sepak-terdjang si orang she Kok demikian hebat, diam² ia lompat seraja menikam bebokong djago dari Mauw San ini.
Kok Ban Tjiong masih sempat melihat serangan itu, jang mirip dengan serangan gelap. Sambil berlompat berbalik, ia menangkis dengan pedangnja. Keras tangkisannja jang membuat tangan si penjerang kesakitan, Hampir tombaknja terlepas dari tjekalan. Dengan terpaksa, dia lompat mundur untuk menjingkir.
Pertempuran ini dapat dilihat si hweeshio jang sedang melajani Tjeng Loen, Dia lompat untuk meninggalkan piauwsoe lawannja itu, sebaliknja, dia ulur tangannja untuk merampas pedangnja Ban Tjiong, sedang dengan tangannja jang kanan, dengan dua djari, dia menotok djalan darah.<noinclude>{{rh|||159}}</noinclude>
onyc4dlxl0huzprexy1vyfgklc0urkr
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/7
104
93883
296166
267362
2026-05-19T01:33:04Z
Moel81
25980
memperbaiki sedikit kesalahan tulis di paragraf akhir
296166
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Moel81" /></noinclude>nantikan terlambat datangnja, aku minta djiewie berangkat sadja lebih dulu, nanti aku menjusul”.
{{c|'''VII'''
'''BERTARUNG DISELAT HANTU'''}}
Tjian Tjeng Loen telah melakukan pedjalanan bersama Mauw San Tjit Yoe jang pertama, kedua, keempat, kelima, dan keenam dengan tudjuan kota Yamshia. Telah dipikir pada mulanja untuk singgah satu atau dua hari, guna menjelidiki hal Yan Tjoe Hoei, untuk kemudian, setelah minta dua saudara Siang mentjari beberapa pembantu jang kenal baik daerah Kangpak, baru menudju ke Sia Yang Ouw. Tapi setiba mereka, baru sadja duduk diruang kantoran, Siang Tjeng telah menurunkan kantong surat jang digantung ditembok, untuk menarikkeluar seputjuk surat.
„Tjian Toako, tjoba lihat ini dulu”, katanja sambil mengasurkan surat itu. „Kelihatannja urusan tak sesederhana seperti semula disangka ......”
Tjeng Loen menjambuti, ia menarik keluar sehelai kertas merah jang ada tulisannja. Begitu ia membatja, wadjahnja berubah, lalu berulangkali ia perdengarkan: „Hm ! Hm !”
Orang jang duduk paling dekat dengan piauwsoe ini adalah Kok Ban Tjiong. Mauw San Tjit Yoe jang pertama ini turut melihat isi tulisan kertas merah itu, Ia membatja :
{{hii|1|0}}
<b>
<poem>
„Untuk menemui Yan Tjoe Hoei,
Datang dahulu ke Kwie Klan Tjioe.
Karena mentjari kawan dibanjak pendjuru,
Njata Hwee-Poankoan tak mati hatinja.
Tapi matanja tidak ada bidjinja,
Dia rela mendjadi budaknja pembesar !
Setelah memastikan tinggi dan rendah,
Baru tahu ketangguhan Rimba Hidjau”.
</poem>
</b>
{{Div end}}
Dibawahnja terdapat tanda-tangan Tong-San Siang Koay serta Tjie-tjioe Soe Kiat, ialah Sepasang Siluman dari Tong San dan Empat Djago dari Tjie-tjioe. Semua nama itu dikenal oleh Kok Ban Tjiong, Lauw Hay Djiak dan Ban-lie-peng Thian Hioe, karena {{hws|me|mereka}}<noinclude>{{rh|128||}}</noinclude>
hwclxe08e2ifbcctatq6eyx3ikp2dqm
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/41
104
93884
296174
266440
2026-05-19T03:20:20Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296174
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>Oleh karena hatinja tergerak, Kok Ban Tjiong lantas memperhatikan empang itu, jang ia awasi kelilingnja. Begitulah dibahagian utara, ia dapatkan sebuah ranggon, jang nampaknja rapi. Sekitarnja adalah lorong peranti berangin atau memandangi pengempangan itu. Pula, dari djendela, terlihat sinar api guram. Tidak sembarang mata dapat melihat sinar itu.
Dengan berdiri diam, Ban Tjiong mengawasi terus ranggon itu. Adalah kemudian baru ia mengambil putusan, untuk menghampirinja. Ia tidak menghadapi kesulitan, sebab ia mengerti ilmu mengentengkan tubuh „Teng-peng touw soei atau „Menjeberang sungai dengan mengindjak kapu<sup>2</sup>”.
Sebentar sadja ia sudah sampai diranggon. Untuk berlaku waspada, ia terus naik keatas genteng. Disini ia mendekam, untuk tempel kupingnja kegenteng, guna mendengarkan sesuatu.
Benar<sup>2</sup> ranggon itu ada penghuninja, karena terdengar suara tindakan kaki mondar-mandir. Suara itu pelahan, tetapi Tjit-pou Twie Hoen dapat mendengarnja. Diwaktu tengah malam seperti itu, suasana memang sangat sunji. Adalah aneh djuga, mengapa diwaktu begitu orang masih belum tidur. Ia toh bukan tinggal dikota jang ramai ?
Oleh karena tjuriga, Ban Tjiong terus memasang kuping.
Tak lama kemudian terdengarlah daun pintu dibuka setjara keras, lalu terlihat satu bajangan tinggi-besar berkelebat keluar. Pintu itu adalah pintu jang menghubungi ranggon itu ketepian.
Tanpa dapat menduga lebih dulu, ketua Mauw San Tjit Yoe mengenali bajangan itu adalah Tjeng Loen 'adanja. Ia telah lantas dapat melihat gandewa ditangan kanan dan golok Gan-lengtoo ditangan kiri orang itu. Karena ini, dengan hati<sup>2</sup> ia lompat turun dari atas genteng.
Tjeng Loen baru sadja keluar dari dalam ranggon ketika melihat bajangan berkelebat. Belum sempat mengenali siapa dia itu, ia lantas menjerang dengan goloknja.
„Loo-piauwtee, inilah aku !” berkata Ban Tjiong seraja berkelit.
Tjeng Loen terkedjut, ia tidak mengulangi serangannja.
Ban Tjiong segera tanja, kenapa adik misan itu bisa berada diranggon itu.
Tjeng Loen memberi keterangan bahwa ia kedjar si paderi tanpa hasil. Liehay larinja paderi itu. Dia selalu memberikan djarak enam-tudjuh tombak kepada piauwsoe ini, sampai didekat pengempangan paderi itu menghilang. Karena ia lihat pengempangan dan<noinclude>{{rh|162}}</noinclude>
8xtsuwuctnbtfrg7egzogn21adt7pxk
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/42
104
93885
296175
266441
2026-05-19T03:25:32Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296175
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>ranggonnja, ia lantas memasukinja. Njatanja ranggon itu tidak ada penghuninja. Ia sudah lantas menerdjang masuk karena ia tak sesabar Ban Tjiong. Siasia sadja ia memeriksa ranggon, maka djuga ia djadi djalan mondar-mandir, sampai tibanja kakak misan itu.
Ban Tjiong pun berpikir.
„Kita telah sampai disini, biarlah aku masuk, untuk me-lihat²!” kemudian kata ketua Mauw San Tjit Yoe.
Tjeng Loen, jang tetap heran, mengiringi kakak ini,
Ban Tjiong bertindak beda daripada si piauwsoe. Sebelum memasuki pintu, ia periksa dulu bahagian luar. Ia meng-gedruk² dengan kakinja, untuk memeriksa lantai, kemudian baru ia hunus pedangnja — pedang Giok-liong-Kiam, si Naga Kumala, — untuk mengetok² beberapa kali kepada pintu jang bermodel rembulan, Ia baru bertindak masuk dipintu setelah ia tidak dapatkan apa² jang mentjurigakan.
Tjeng Loen ikut masuk pula, ia malah mendahului.
Dimuka pintu, ada sebuah sekosol, dan dibelakangnja terlihatlah seluruh ruangan jang lebar tiga tombak dan dalam dua tombak, ditiga pendjurunja masing² terdapat sebuah djendela. Apabila daun djendela dipentang, orang dapat memandang telaga. Perabotan ruang itu sedikit, ketjuali nempel pada tembok ada sebuah hoedkam tinggi setombak lebih, jang tjita-tedengannja diturunkan hingga tak terlihat, patung apa jang dipudja disitu. Diatas medja didepan hoedkam itu, disediakan biolouw dan lain keperluan beribadat. Didepan medja ditaro tempat duduk peranti berdoa atau bersemedhi, entah terbuat dari apa karena mengkilap dan empuk. Dikedua sisi ada empat buah kursi serta sebuah lemari besar.
Ban Tjiong telah melihat sinar api keluar dari kamar itu. Itulah api jang dipantjarkan oleh sebuah pelita pandjang jang digantung didepan hoedkam itu. Karena ini djuga, seluruh ruang pun nampaknja remang².
„Lihat, piauwko !” berkata Tjeng Loen, jang keras tabiatnja. „Lihat kamar ini, Kalau dikatakan disini tidak ada orangnja, apa perlunja pelita itu ? Siapa jang memasang itu ? Kalau mau dikata ada, dimana bersembunjinja si penghuni? Tidakkah ini aneh?”
Ban Tjiong telah membuka lemari ketika ia ditanja. Didalam situ terdapat beberapa djilid kitab. Ia masih me-nusuk² dengan pedangnja, tanpa ada hasilnja.
Tjeng Loen lantas pentang ketiga djendela, hingga ia bisa me-<noinclude>{{rh|||163}}</noinclude>
0y4a0ukjk9t0y04n53aa8k0cs4fhloi
296176
296175
2026-05-19T03:26:30Z
Sarieffe
26994
296176
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>ranggonnja, ia lantas memasukinja. Njatanja ranggon itu tidak ada penghuninja. Ia sudah lantas menerdjang masuk karena ia tak sesabar Ban Tjiong. Siasia sadja ia memeriksa ranggon, maka djuga ia djadi djalan mondar-mandir, sampai tibanja kakak misan itu.
Ban Tjiong pun berpikir.
„Kita telah sampai disini, biarlah aku masuk, untuk me-lihat²!” kemudian kata ketua Mauw San Tjit Yoe.
Tjeng Loen, jang tetap heran, mengiringi kakak ini,
Ban Tjiong bertindak beda daripada si piauwsoe. Sebelum memasuki pintu, ia periksa dulu bahagian luar. Ia meng-gedruk² dengan kakinja, untuk memeriksa lantai, kemudian baru ia hunus pedangnja — pedang Giok-liong-Kiam, si Naga Kumala, — untuk mengetok² beberapa kali kepada pintu jang bermodel rembulan, Ia baru bertindak masuk dipintu setelah ia tidak dapatkan apa² jang mentjurigakan.
Tjeng Loen ikut masuk pula, ia malah mendahului.
Dimuka pintu, ada sebuah sekosol, dan dibelakangnja terlihatlah seluruh ruangan jang lebar tiga tombak dan dalam dua tombak, ditiga pendjurunja masing² terdapat sebuah djendela. Apabila daun djendela dipentang, orang dapat memandang telaga. Perabotan ruang itu sedikit, ketjuali nempel pada tembok ada sebuah hoedkam tinggi setombak lebih, jang tjita-tedengannja diturunkan hingga tak terlihat, patung apa jang dipudja disitu. Diatas medja didepan hoedkam itu, disediakan biolouw dan lain keperluan beribadat. Didepan medja ditaro tempat duduk peranti berdoa atau bersemedhi, entah terbuat dari apa karena mengkilap dan empuk. Dikedua sisi ada empat buah kursi serta sebuah lemari besar.
Ban Tjiong telah melihat sinar api keluar dari kamar itu. Itulah api jang dipantjarkan oleh sebuah pelita pandjang jang digantung didepan hoedkam itu. Karena ini djuga, seluruh ruang pun nampaknja remang².
„Lihat, piauwko !” berkata Tjeng Loen, jang keras tabiatnja. „Lihat kamar ini, Kalau dikatakan disini tidak ada orangnja, apa perlunja pelita itu ? Siapa jang memasang itu ? Kalau mau dikata ada, dimana bersembunjinja si penghuni? Tidakkah ini aneh?”
Ban Tjiong telah membuka lemari ketika ia ditanja. Didalam situ terdapat beberapa djilid kitab. Ia masih me-nusuk² dengan pedangnja, tanpa ada hasilnja.
Tjeng Loen lantas pentang ketiga djendela, hingga ia bisa {{hws|me|memandang}}<noinclude>{{rh|||163}}</noinclude>
phglqhvs71plskz9hfsdtsotw47alt6
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/43
104
93886
296177
266442
2026-05-19T03:30:46Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296177
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>{{hwe|mandang|memandang}} keluar, kesekitar ranggon, tetapi tetap ia tidak dapatkan siapa pun disitu.
„Mari, piauwko !”, ia mengadjak, kakinja dibanting beberapa kali. „Si bangsat gundul tentu sudah lari kedepan, mari kita susul dia !”
Belum lagi Ban Tjiong mendjawab adik misan itu, kebetulan angin menghembus masuk dari djendela, hingga kain-tedengan dari hoedkam ber-gerak². Ia dapat melihat itu, tiba² rasa tjuriganja timbul.
„Tunggu !” djawabnja pada adik misannja itu, sambil menggunakan udjung pedangnja menjontek tjita-tedengan, untuk disingkap, guna melihat kedalam hoedkam.
Patung disitu bukannja patung dari Djie Lay atau Koan Im, hanja patungnja satu Loohan atau Arhat, tinggal kira² lima atau enam kaki, hingga berimbang dengan tinggi manusia.
Diantara sinar remang² dari pelita, Ban Tjiong mengawasi patung itu, terutama mukanja. Ia lantas sadja berdiri tertjengang. Ia dpatkan sebuah patung sebagai manusia hidup. Dari kepala sampai dikaki, tidak ada jang tidak mirip, tidak ada bekas pahatan. Istimewa adalah wadjah si Arhat, jang lembut dan pengasih, mirip dengan roman seorang paderi sutji. Saking heran, ia rabah djubah patung itu untuk di-pentjet²{{...|6}}
Tjeng Loen perhatikan bahagian belakang patung, dimana ada ruang kosong, akan tetapi disitu ia tidak dapatkan apa djuga jang mentjurigakan.
Sampai sekian lama, baharulah Ben Tjiong lepaskan tangannja, lalu bersama si piauwsoe, ia keluar dari ruang atau kamar itu. Hati mereka pepat, sebab hasil pemeriksaan nihil dan Tjie Tjiat Djin lenjap tidak keruan.
„Piauwko, kita rubuh !{{...|6}}” kata Tjeng Loen seraja menghela napas setibanja mereka diluar ranggon air itu.
Ban Tjiong tidak menjahuti, ia berdjalan terus hingga dua — atau tigapuluh tindak. Disini baharulah ia menjahuti seraja menggeleng² kepalanja : „Belum tentu, piauwtee{{...|6}} Hanja kita harus kembali ketempat asal kita, untuk mentjari dahulu Tjie Piauwtauw. Dia telah terluka, dia tidak mau pulang, dia tetap hendak membantu kita, maka tidak selajaknja kita membiarkan dia {{...|9}}”
Tjeng Loen mengangguk.
„Baik !” sahutnja.
Lalu keduanja berlari-lari balik.<noinclude>{{rh|164}}</noinclude>
9upwd2ofjj0xfc1a1mlft9d5r3067a5
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/47
104
93887
296178
266443
2026-05-19T03:37:45Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296178
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>Diserang setjara demikian, si paderi djuga berputaran terus, untuk mengimbangi lawannja. Ia tidak segera membalas menjerang, hanja kedua tangannja dikibaskan ber-ulang², hingga lengan badjunja menjambar², untuk menghalau setiap serangan.
Pertempuran ini berdjalan tjepat sekali.
Setelah belasan djurus, nampak kegesitan Ban Tjiong mendjadi bertambah, kedua tangannja pun diulur dan ditarik pulang sama tjepatnja. Ia bukan menjerang setjara biasa. Setiap ada ketikanja, ia menotok dengan Shatjaplak-tjioe Tiat-hiat-hoat, mentjari tudjuh-puluh-dua djalan darah lawan. Ia tidak tjari djalan darah kematian, jang membuktikan hatinja jang mulia.
Sebagai seorang liehay, si paderi lantas djuga mengenali lawannja berkelahi dengan ilmu silat apa, malah ia djuga tahu nama kedua ilmu silat itu. Ia merasakan kepandaian Ban Tjiong berimbang dengan kepandaiannja, sedang ilmu silat mereka ada dari satu pokok, Karena ini, mereka seperti djuga soeheng dan soetee sedang berlatih. Tapi ia berlaku hati², ia tahu Ban Tjiong bersilat dengan sungguh, maka itu tidak sudi ia kesalahan tangan dan roboh karenanja. Ia pun berlaku sama sungguh²nja. Ia menggunakan Pat-kwa Imyang Lian-hoan-tjiang berikut tiam-hiat-hoat dan gie-koet-Foat, dua jang belakangan ini adalah ilmu menotok dan melepaskan tulang lawan. Maka itu, keduanja bertempur seru sekali.
Tjeng Loen kagum menonton pertempuran itu. Ia seperti melihat dua bajangan orang berkelebatan, bagai kilat saling sambar, hingga sukar sekali untuk melihat tegas serangan kedua pihak.
{{c|'''IX'''}}
{{c|'''TIPU-DAJA KEDJI'''}}
Adalah umum bahwa seorang ahli silat mengenal, atau gampang mengenali, ilmu silat orang lain, atau lawannja dengan siapa dia bertempur. Demikian djuga dengan Kok Ban Tjiong. Ia tahu pasti si paderi adalah murid Siauw Lim Pay bahagian Selatan, atau mungkin dia adalah Kak Beng Hweeshio, kakak seperguruan Thong Beng Heng-thio, kepala Siauw Lim Hee-ih di Pouw-thian propinsi Hokkian. Sebaliknja paderi itu menduga Ban Tjiong mestinja murid dari Tek Gouw Siangdjin atau Tee Han Hoat-soe, Maka mereka sama tingkat-deradjatnja. Jang beda adalah jang satu mendjadi<noinclude>{{rh|168}}</noinclude>
5z5r9s4i7ggbx0zl2i2e8ldddrsttvu
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/48
104
93888
296183
266444
2026-05-19T03:42:12Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296183
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>orang sutji, jang lain tetap orang biasa, dan karena masing² tinggal di Selatan dan Utara, mereka djadi belum pernah saling bertemu. Karenanja, keduanja djadi sama² berpikir tidak berniat menurunkan tangan djahat, atau salah satu mesti bertjelaka, atau mereka djadi bermusuhan hingga nanti sukar didamaikan.
Selagi mereka bertempur terus, Tjeng Loen djuga tetap menonton, hanja selang lagi sekian lama. piauwsoe itu mendjadi habis sabar. Sampai kapan mereka itu akan bertempur ? Mana ia dapat berdiam sadja menonton terus ? Maka ia lantas mengambil putusan untuk membantu Ban Tjiong. Untuk itu ia segera siapkan peluru apinja, sambil memasang mata, guna menunggu lowongan. Diwaktu gelap seperti itu, ia pertjaja bakal berhasil. Tapi ia pun masih memikir, tidak mau sembarang menjerang. Ia pilih kaki si paderi, dibagian mata kaki, Hebatnja, peluru itu ketjil, djarak mereka dekat satu dengan lain, tjuatja guram.
Hweeshio itu tapi liehay sekali. Bukankah ia sedang bertempur seru? Mungkinkah ia selalu waspada ? Ketika peluru menjambar, dengan sebat ia, ambil kesempatan menjambut peluru itu, untuk ditangkap. Hanja setelah ini, gesit sekali ia berlompat kesamping djauhnja beberapa kaki. Ketika ia telah menaruh kakinja, ia lantas perdengarkar. tertawa dingin.
„Tjian Tjongpiauwtauw, perbuatanmu ini tidaklah dapat dipudji !” ia menegur. „Aku dengan Kok Looenghiong ini asal satu rumah perguruan, Kita sedang berlatih, Adakah kau berchawatir aku akan melukainja ?”
„Loosiansoe benar !” Ban Tjiong segera berkata, mendahului sahabatnja. „Kita ada sama² murid² dari Siauw Lim Pay, tidak nanti kita bertempur setjara matian! Sekarang ini sang waktu telah larut, aku pikir baiklah kita menjudahi sampai disini.
Paderi itu mengangguk.
„Kok Loo-enghiong”, katanja, „umpama kata kau sudi berhenti sebentar, hendak aku bitjara denganmu. Kau sendiri, Tjian Tjong-piauwtuw, seandainja kau tidak sudi mendengarnja, silahkan kau berangkat terlebih dahulu. Aku tanggung, sebelum fadjar menjingsing, akan aku antar Kok Loo-enghiong kembali ke Lioe-lim-tjhung!”
Ban Tjiong dan Tjeng Loen saling mengawasi, mata mereka memain.
„Loosiansoe hendak mengatakan apa, silahkan !” kata Ban<noinclude>{{rh|||169}}</noinclude>
od4d8mm28xnpzb6ht0dde602lfbmomn
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/57
104
93889
296185
267768
2026-05-19T03:57:02Z
Sarieffe
26994
/* Tervalidasi */
296185
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sarieffe" /></noinclude>Sembari bitjara, Hay Djiak lirik wadjah orang. Ia dapatkan orang tunduk sadja, rupanja lagi berpikir, maka ia lantas bitjara terus.
„Maafkan aku, toasiotjia, hendak aku berangkat lebih dulu !" katanja sengadja. Adikmu dalam bentjana, tidak dapat aku berlaku lambat. Aku hendak pergi mentjari beberapa sahabat guna menolongi dia, Aku tahu siapa musuh dan dimana sarangnja. Aku dapat memberitahukan semua itu kepadamu, tetapi, aku pikir, kau baiklah tinggal dirumah, untuk menanti kabar lebih djauh dari aku.....”
Begitu habis berkata, Hay Djiak berbangkit, untuk bertindak keluar.
Sampai disitu, Sim Goat Hoa tidak dapat bersangsi lagi. Ia lantas bangkit menjusul.
„Lauw Tootiang, terima kasih untuk kebaikanmu ini”, katanja. „Tentang adikku itu, aku pertjaja aku punja daja, djadi tidak usah-lah kau pergi ke-mana², Baiklah kau tjari suatu pondokan didalam kota, besok aku akan kundjungi kau, Aku pertjaja, paling lambat tidak sampai djam lima atau enam, kita sudah dapat berangkat bersama”.
Hay Djiak masih memainkan peranannja. Ia menggojangkan tangan ber-ulang².
„Toasiotjia, kau pergi atau tidak, tidak ada soalnja”, ia berkata, „tetapi aku, mesti aku pergi mentjari bantuan. Kakakku djuga tidak dapat duduk diam sadja. Aku minta sukalah kau bersikap tenang, Selama masih ada Mauw San Tjit Yoe, pasti mesti ada adikmu”.
Lantas ia bertindak pergi.
Sim Goat Hoa tidak memaksa menahan, ia hanja masuk kedalam kamarnja. Urusan adiknja itu ia tidak dapat memberitahukan ibunja dan isterinja si adik. Maka ia berpikir seorang diri. Ia sedang berpikir waktu mendadak ia dengar suara menangis didalam kamar ibunja, lalu ia kenal itulah tangisan iparnja, Poei-sie, la pun lantas dengar suara Ibunja tengah membudjuki njonja mantu itu.
Kata si mertua „Djangan kau kuatir, Goat Hoa diam sadja, mungkin itu kabar bohong”.
Tetapi sang njonja mantu menangis terus, Ia kata: „Lao Ong omong djelas sekali, Ketika si imam turun dari kudanja, dengan<noinclude>{{rh|178}}</noinclude>
6dum1dt1w7jhe4llr0ur4ozm1r6q44g
Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/11
104
104686
296161
2026-05-18T13:49:45Z
Moel81
25980
/* Telah diuji baca */
296161
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{larger|{{right|'''INDO-921'''}}}}
{{Block right|align=center|<u>'''PENERBITAN CHUSUS</u><br>34'''|offset=4em}}
'''''Beberapa fikiran dan pandangan:'''''
{{c|{{x-larger|'''DUA PEDJUANG INDONESIA'''}}}}
{{C|'''INDONESIA {{--}} YUGOSLAVIA'''}}
<br>
{{c|{{x-larger|'''Josip Broz-Tito {{--}} Dr Ir Hadji Soekarno'''}}}}
<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
{{c|'''KEMENTERIAN PENERANGAN R.I.'''}}<noinclude></noinclude>
rcisjqz4zme5vtv85ml3ec8qul53rco
Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/60
104
104687
296162
2026-05-18T14:14:46Z
Moel81
25980
/* Telah diuji baca */
296162
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{c|{{sp|'''ISI'''}}}}
'''''Pandangan Josip Broz Tito tentang:'''''
{{Dotted TOC page listing|1=1.|2=Kolonialisme dan perkembangan-perkembangan di Timur Tengah dan Timur Djauh|3=3}}
{{Dotted TOC page listing|1=2.|2=Penjelasan soal-soal internasional|3=10}}
{{Dotted TOC page listing|1=3.|2=Pidato Kampanje Pemilihan|3=22}}
<br />
'''''Pandangan Presiden Soekarno tentang:'''''
{{Dotted TOC page listing|1=1.|2=Pantja Sila dan Piagam P.B.B.|3=37}}
{{Dotted TOC page listing|1=2.|2=Tentang politik Luar Negeri kita|3=40}}
{{Dotted TOC page listing|1=3.|2=Pembelaan dalam proses politik|3=42}}
{{Dotted TOC page listing|1=4.|2=Demokrasi untuk Indonesia Merdeka|3=46}}
<br>
<br>
{{c|________}}<noinclude></noinclude>
4dpi7qjp7r9lvmxomb3llkqcejs6hh6
Pengguna:Dani Safa Adi Nugraha
2
104688
296163
2026-05-18T17:02:45Z
Dani Safa Adi Nugraha
26156
←Membuat halaman berisi 'Dani Safa Adi Nugraha'
296163
wikitext
text/x-wiki
Dani Safa Adi Nugraha
0ug8ps6j6p4ktxqtazh1d3wjh1ym2g8
Halaman:Bahwa Inilah Hikajat Binatang.pdf/42
104
104689
296164
2026-05-19T01:16:07Z
Moel81
25980
/* Telah diuji baca */
296164
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||24}}</noinclude>dan kegemarannja, ja-itoe doerijan. Adapon orang hoetan itoe djika dipeliharaken dari moeda, djinaklah ija, maka djika diberi kain atau karoeng maka dipakainjalah bagi selimoet, maka tidoerlah ija berselimoet, ragamnja seperti manoesija.
{{Custom rule|sp|100|fy1|40|sp|100}}
{{c|{{x-larger|{{sp|Kanggoeroe.}}}}}}
{{Custom rule|sp|100|sp|100|sp|40}}
Adapon kanggoeroe itoe gambarnja, ja-itoe jang dibawah zarrafat itoe. Maka kakinja jang dibelakang terlaloe amat pandjangnja dan kakinja jang dihadapan amat pandak. Maka jang betina adalah pada koelit peroetnja soewatoe tempat seperti kantoeng, tempat ija menaroh anaknja. Maka pandjangnja badannja ada empat kaki, dan ekornja tiga kaki, dan tingginja
djika ija doedoek, empat kaki, tetapi djika ija berdiri dengan mengangkat kakinja jang dihadapan, maka adalah toedjoh kaki tingginja. Adapon kanggoeroe itoe tempatnja dibenoewa Australië.
{{Custom rule|sp|100|fy3|40|sp|100}}<noinclude>{{rule}}{{rule|height=0.2em}}</noinclude>
4tdr9ax7c5axz6xl4of3ftz81egv789
Halaman:Bahwa Inilah Hikajat Binatang.pdf/41
104
104690
296165
2026-05-19T01:22:40Z
Moel81
25980
/* Telah diuji baca */
296165
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||23}}</noinclude>kangkangkennja kakinja. Maka soekarlah djika ija hendak memakan roempoet jang pandak-pandak ditanah; maka oleh karana itoelah maka tempatnja binatang itoe pada tempat jang ada pohon-pohonan dan toemboh-toembohan, maka daoennja itoelah makanannja. Maka terlaloe amat soesahnja menangkap zarrafat itoe, sabab sangat lijarnja, tijada boleh didekati orang. Tetapi djikalau dapat ditangkap dan dipeliharaken, lekas djinak.
{{Custom rule|sp|100|fy1|40|sp|100}}
{{c|{{x-larger|Kera dan orang hoetan.}}}}
{{Custom rule|sp|100|sp|100|sp|40}}
Maka pada pata jang keënam, tempat gambar zarrapat itoe adalah gambar kera doewa ekor, dan orang hoetan doewa ekor. Adapon kera itoe banjak ditanah Djawa dan pada tempat lain-lain djoega dalam tanah Hindija. Akan tetapi orang hoetan itoe tempatnja dipoelau Kelemantan dan dipoelau Pertjasahadja, pada tempat lain-lain tijada ada binatang itoe. Maka boeloenja merah orang hoetan itoe, tetapi moekanja tijada berboeloe; dan peroetnja sangat besar, lehernja pandak. Maka djalannja merangkak dan mengesoet, maka tijadalah tjepat djalannja; tetapi djikalau diatas pohon kajoe tijada terhingga tjepatnja,sabab kaki tangannja boleh memegang, dan lagi tangannja pandjang, maka moedahlah ija mengajoenken dirinja, dan mentjapai dahan-dahan. Maka tempatnja dalam hoetan jang lebat-lebat, dan makanannja boewah-boewah kajое,<noinclude>{{rule}}{{rule|height=0.2em}}</noinclude>
lgmml4zftvw157951p93tlcsk6en56j
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/3
104
104691
296179
2026-05-19T03:41:33Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296179
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/4
104
104692
296180
2026-05-19T03:41:44Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296180
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/5
104
104693
296181
2026-05-19T03:41:53Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296181
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/6
104
104694
296182
2026-05-19T03:42:01Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296182
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 300.2.2-2138 Tahun 2025.pdf/3927
104
104695
296188
2026-05-19T04:18:05Z
~2026-30025-01
27125
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '3.927 D.c. Rincian Kode dan Data Pulau Per Kabupaten/Kota Per Provinsi Seluruh Indonesia D.c.6) Provinsi Sumatera Selatan Kode Pulau Nama Provinsi, Kabupaten/Kota, Pulau 16 16.00.40001 Sumatera Selatan Pulau Meba 16.02 16.02.40001 16.03 16.07 16.07.40001 16.07.40002 16.07.40003 16.07.40004 16.07.40005 16.07.40006 16.07.40007 16.07.40008 16.07.40009 16.07.40010 16.07.40011 16.07.40012 16.07.40013 16.07.40014 16.07.40015 16.07.40016 16.07.400...
296188
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="103.121.18.66" />{{rh||3927|}}</noinclude>3.927
D.c. Rincian Kode dan Data Pulau Per Kabupaten/Kota Per Provinsi Seluruh Indonesia
D.c.6) Provinsi Sumatera Selatan
Kode Pulau
Nama Provinsi, Kabupaten/Kota, Pulau
16
16.00.40001
Sumatera Selatan
Pulau Meba
16.02
16.02.40001
16.03
16.07
16.07.40001
16.07.40002
16.07.40003
16.07.40004
16.07.40005
16.07.40006
16.07.40007
16.07.40008
16.07.40009
16.07.40010
16.07.40011
16.07.40012
16.07.40013
16.07.40014
16.07.40015
16.07.40016
16.07.40017
16.07.40018
16.07.40019
16.07.40020
16.71
16.71.40001
16.71.40002
Kabupaten Ogan Komering Ilir
Pulau Maspari
Kabupaten Muara Enim
Pulau Meba
Kabupaten Banyuasin
Pulau Betet
Pulau Borang
Pulau Brendam
Pulau Burung
Pulau Deltaaersalek
Pulau Deltaaersugihan
Pulau Deltatelang
Pulau Deltaupang
Pulau Gundul
Pulau Kalong
Pulau Kramat
Pulau Lopak Besak
Pulau Lopak Kecik Pulo
Pulau Payung
Pulau Salahnamo
Pulau Selatcemara
Pulau Singgris
Pulau Srijaya
Pulo Alanggantang
Pulo Alangtikus
Kota Palembang
Pulau Kemaro
Pulau Pulokerto
Jumlah
Koordinat
Luas
(Km 2 )
BP/TBP
Keterangan
1
03°02'14.61" S 104°37'12.15" T
TBP
Alokasi pulau semula berada di Kabupaten Muara Enim.
Perubahan nama pulau semula Pulau Selatpunai.
1
03°13'09.99" S 106°13'01.99" T
0.2505
BP
0
03°02'14.61" S 104°37'12.15" T
TBP
Alokasi pulau pindah ke Provinsi Sumatera Selatan
20
01°45'41.00" S
02°54'38.99" S
02°31'54.99" S
02°51'43.05" S
02°29'33.00" S
02°24'12.22" S
02°36'04.00" S
02°33'49.00" S
02°39'52.99" S
02°36'12.70" S
02°31'07.66" S
02°21'33.99" S
02°21'36.01" S
02°22'16.00" S
02°57'29.00" S
02°31'51.84" S
02°33'47.00" S
03°02'12.99" S
01°55'41.99" S
02°19'58.72" S
104°31'14.00" T
104°52'50.00" T
104°25'19.99" T
104°53'55.16" T
104°58'21.00" T
105°04'13.55" T
104°52'23.99" T
104°56'35.99" T
104°56'34.00" T
104°21'10.41" T
104°56'07.44" T
104°42'23.00" T
104°42'09.31" T
104°55'09.59" T
104°52'16.00" T
104°56'03.39" T
104°55'50.00" T
104°31'23.65" T
104°34'10.99" T
104°45'55.42" T
37.1545
0.6394
0.0261
159.3856
3.7781
TBP
BP
TBP
TBP
BP
BP
BP
BP
TBP
TBP
BP
TBP
TBP
TBP
BP
TBP
BP
TBP
TBP
TBP
2
02°58'45.99" S 104°49'16.00" T
03°01'58.00" S 104°39'41.00" T
BP
BP
Perubahan nama pulau semula Pulau Kerto<noinclude></noinclude>
jqxvdmra6qh7a7qkw14dbffjtuzbkpy
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/7
104
104696
296189
2026-05-19T04:22:54Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
296189
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>MAR 31 1916</big>
{{c|
<big><big><big>VERHANDELINGEN</big></big></big>
VAN HET
<big><big><big><big><big><big><big>BATAVIAASCH GENOOTSCHAP</big></big></big></big></big></big></big>
VAN
<big><big>KUNSTEN EN WETENSCHAPPKN</big></big>
DEEL LIV
}}
{{Col-begin}}
{{Col-2}}
BATAVIA,
ALBRECHT & Co.
{{Col-2}}
'S HAGE,
M. NIJHOFF.
{{Col-end}}
1904.<noinclude></noinclude>
cdyjh4483ndbin9p36f1r4tshz41mcc
296190
296189
2026-05-19T04:24:00Z
Link PB
26772
296190
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>MAR 31 1916</big>
{{c|
<big><big><big>VERHANDELINGEN</big></big></big>
VAN HET
<big><big><big><big><big>BATAVIAASCH GENOOTSCHAP</big></big></big></big></big>
VAN
<big><big>KUNSTEN EN WETENSCHAPPKN</big></big>
<big>DEEL LIV</big>
}}
{{Col-begin}}
{{Col-2}}
BATAVIA,<br>
ALBRECHT & Co.
{{Col-2}}
'S HAGE,<br>
M. NIJHOFF.
{{Col-end}}
{{c|
1904.}}<noinclude></noinclude>
foh0n5wnwqost450qj9iunpfd9bc0jb
296191
296190
2026-05-19T04:24:23Z
Link PB
26772
296191
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>MAR 31 1916</big>
{{c|
<big><big><big>VERHANDELINGEN</big></big></big>
VAN HET
<big><big><big><big><big>BATAVIAASCH GENOOTSCHAP</big></big></big></big></big>
VAN
<big><big>KUNSTEN EN WETENSCHAPPKN</big></big>
<big>DEEL LIV</big>
{{Col-begin}}
{{Col-2}}
BATAVIA,<br>
ALBRECHT & Co.
{{Col-2}}
'S HAGE,<br>
M. NIJHOFF.
{{Col-end}}
1904.}}<noinclude></noinclude>
dqwuk9spfso4373gmz7paoyc9hiuqtv
296192
296191
2026-05-19T04:24:52Z
Link PB
26772
296192
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>MAR 31 1916</big>
{{c|
<big><big><big>VERHANDELINGEN</big></big></big>
VAN HET
<big><big><big><big><big>BATAVIAASCH GENOOTSCHAP</big></big></big></big></big>
VAN
<big><big>KUNSTEN EN WETENSCHAPPKN</big></big>
<big>DEEL LIV</big>
{{Col-begin}}
{{Col-2}}
{{c|BATAVIA,<br>
ALBRECHT & Co.}}
{{Col-2}}
{{c|'S HAGE,<br>
M. NIJHOFF.}}
{{Col-end}}
1904.}}<noinclude></noinclude>
nth7a3pj5107wpukjgrljgjmkdi8spw
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/8
104
104697
296193
2026-05-19T04:25:52Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296193
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude>V<noinclude></noinclude>
6w1i3ssjdsh5ly9ispb3oet9fpvzj0b
296194
296193
2026-05-19T04:26:11Z
Link PB
26772
←Mengosongkan halaman
296194
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf/1
104
104698
296195
2026-05-19T04:43:40Z
Sarieffe
26994
/* Telah diuji baca */
296195
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sarieffe" /></noinclude>[[Berkas:Warisan Seorang Pangeran 03.pdf|pus|jmpl|Warisan Seorang Pangeran Djilid 3 P.T. SAKAWIDYA]]<noinclude></noinclude>
q0t037ehshbfeklik84zj5t4adjycnp
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/10
104
104699
296197
2026-05-19T06:43:17Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296197
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude>.<noinclude></noinclude>
hav57nlmbznfxgm4lcia38ixhrpfitc
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/12
104
104700
296198
2026-05-19T06:43:52Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296198
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen (IA verhandelinge54190204bata).pdf/14
104
104701
296199
2026-05-19T06:44:08Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296199
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Indeks:Nagarakertagama.pdf
102
104702
296200
2026-05-19T07:32:51Z
~2026-30064-77
27126
←Membuat halaman berisi ''
296200
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=Negarakertagama
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=
|Key=
|ISBN=
|Source=PDF
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
1z9k0vcll72zkw67t2e6m3808rq7e1y
Halaman:Nagarakertagama.pdf/1
104
104703
296201
2026-05-19T07:33:27Z
~2026-30064-77
27126
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'MAR 31 1916, NAGARAKRETAGAMA. LOFDIGHT VAN PRAPANJTSA OP KONING RASADJANAGARA, HAJAM WORUK, YAN MADJAPAHIT, UITERGRVEN DOOR Dr. J. BRANDES, NAAR HET EENIGE DAARVAN BEXENDE HANDSCHRIFT, AANGETROFFEN IN DE PURI TE TJARRANAGARA OP LOMBOK. VERHANDELINGEN VAN HET BATAVIAASCH GENOOTSCHAP VAN KUNSTEN EN WETENSCHAPPEN. DEEL Liv, rsTUE BATAVIA : 'a HAGE LANDSDRUKKERIS. * M. NIJHOFF. 1902.'
296201
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="~2026-30064-77" /></noinclude>MAR 31 1916,
NAGARAKRETAGAMA.
LOFDIGHT VAN PRAPANJTSA OP KONING RASADJANAGARA,
HAJAM WORUK, YAN MADJAPAHIT,
UITERGRVEN DOOR
Dr. J. BRANDES,
NAAR HET EENIGE DAARVAN BEXENDE HANDSCHRIFT, AANGETROFFEN IN DE
PURI TE TJARRANAGARA OP LOMBOK.
VERHANDELINGEN
VAN HET
BATAVIAASCH GENOOTSCHAP
VAN
KUNSTEN EN WETENSCHAPPEN.
DEEL Liv,
rsTUE
BATAVIA : 'a HAGE
LANDSDRUKKERIS. * M. NIJHOFF.
1902.<noinclude></noinclude>
rzoqh54kal51umuo2nrqt4m9wmyjme8
Halaman:Kamus Banjar-Indonesia.pdf/64
104
104704
296202
2026-05-19T07:37:11Z
Link PB
26772
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'awas, bisa -- bisa: -- ku tampiling ikam ni awaS, kutempeleng kau mi; 2. gemar, suka: aku kada -- makan apal, saya tak gelnar makanapel; hajuk tusuk; bahajuk bersetubuh: kucing ni hingga - gaw2n kucing ml selalu bersetubuh keijanya); mahajuk menusuk, menyetubuhi hak hak. hakekat (BK) 1. hakikat; 2. niat -- hatiniathati hakiin hakim. hakon (BK) bersedia, mau: kada -- at unda tak maulah saya; bahakonan plith-pilihan •- baik hidup /ua pada mad pili...
296202
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Link PB" /></noinclude>awas, bisa -- bisa: -- ku tampiling ikam ni awaS, kutempeleng
kau mi; 2. gemar, suka: aku kada
-- makan apal, saya tak gelnar makanapel;
hajuk tusuk;
bahajuk bersetubuh: kucing ni
hingga - gaw2n kucing ml selalu
bersetubuh keijanya);
mahajuk menusuk, menyetubuhi
hak hak.
hakekat (BK) 1. hakikat; 2. niat
-- hatiniathati
hakiin hakim.
hakon (BK) bersedia, mau: kada
-- at unda tak maulah saya;
bahakonan plith-pilihan •- baik
hidup /ua pada mad pilih-pilihan baik hidup juga daripada
mat!;
mahakonakan menyatakan bersedia, menyatakan mau: samalam
sudah -- kemarin sudah menyatakan bersedia;
pahakonan (sf mau diru" apa
saja).
hakun (BH) 1mb. Hakon.
hal hal;
maulah hal membuat gara-gara.
hats! (Bli) helai;
bahalal sarung wanita.
halal halal.
halalang (BH) alang-alang, lalang
halam (BH) dahulu, semalam, kemarin: -- aku datang kemarin saya
datang; waktu -- kadada utu
didni waktu dahulu tak ada oto
di sin!.
halainan 1. pekarangan; 2. halaman
(buku).
halang I halang, lintang;
bahalang melintang: - ditangah
jalan melintang di tengah j alan;
mahahngi menghalangi;
tahalang terbelintang: jukung -perahu terbelintang.
halang H (BH) elang: bu,ung
burung elang.
halangan halangan, rintangan.
Iralapat celah, belahan: -- lantal
celah bntai.
kalar (BH) sayap: -- butting sayap
burung.
halarat
balsalarat selamatan nasi ketan;
mahalarati mengadakan selarnat.an.
halas ikblas: kada -- tidak ikhlas.
halat batas;
bahalat 1. berbatasan: -- falan
berbatizsan jalan; 2. bers&ang: -dua rumah berselang dua ruinab;
mahalat memisah, melerai -.
urang bakalahi memisah org berkelahi
palsalatan batas, perbatasan;
panghalat penolak jampi-jampi:
baulah -- membuat pen olak jampijampi;
urang halat org terhormat, tamu;
tawing halat (dinding pemisah ruang tamu dg bg dalam path
rumah-rumah Banjar).
haiayung (BH) (se pohon spt pinang)
halian (BH) juga, selain dart itu:
ikam -- kau juga; -- aku ni haur
/ua selain dari itu saya im sibuk
juga.
hauling (sej siput terdapat di sungai).
halilipan (BH) lipan.
halimanyar (bnt) kelemayar.
halimatak (sej serangga).
hatimbatar (ulat tanah).
halimpalul (BH) mengganggu.
halimpaur bergelimpangam
hali'un kabut (tdk kena panas
matahaii km lindung daun p0hon).
hahn apa boleh buat;
mahalini mengganggu, menghalangi: -. /alan menghalangi jalan;
hatinan suka terganggu, sukar (utk
melahirkan);
kanapa jadi -. banar ikam ni
mengapa jadi sukar benar (melahirkan) kau ml.
halaung hindari;
bahaliung menghindar; bila mali
hatku jazth4auh sudah -- inya
bila melihat .saya jauh-jauh sudah
mengbindar dla;
halu alu.
haluan haluan.
73<noinclude></noinclude>
8n009w7q4dy52wceiju8mmbdqvg1m0w
Halaman:Nagarakertagama.pdf/2
104
104705
296203
2026-05-19T08:48:02Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296203
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 2015.pdf/144
104
104706
296204
2026-05-19T08:58:41Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
296204
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br><br>
{{Missing image}}
{{c|
<big>KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA</big><br>
<big>DIREKTORAT JENDERAL STRATEGI PERTAHANAN</big>
Jalan Medan Merdeka Barat No. 13-14 Jakarta 10110
}}<noinclude></noinclude>
bn6tvet6n1u1bjz0ogewd7gv9ul2mg8
296205
296204
2026-05-19T08:59:18Z
Link PB
26772
296205
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><br><br><br><br><br>
{{Missing image}}
{{c|
<big>KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA</big><br>
<big>DIREKTORAT JENDERAL STRATEGI PERTAHANAN</big><br>
Jalan Medan Merdeka Barat No. 13-14 Jakarta 10110
}}<noinclude></noinclude>
3hqdu5xsge9ul2l3o3lweztmtdx6lg0
Halaman:BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 2015.pdf/143
104
104707
296206
2026-05-19T08:59:50Z
Link PB
26772
/* Tanpa teks */
296206
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Link PB" /></noinclude><noinclude></noinclude>
rdttl2wf0351a804ncacb3gq2845nf2
Halaman:BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 2015.pdf/142
104
104708
296207
2026-05-19T09:13:22Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
296207
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude><big>"Kutitipkan bangsa dan<br>negara ini kepamu."</big>
{{Missing image}}
{{r|-Soekarno}}
{{r|''1st Presiden Of Indonesia''}}
{{gap}}{{gap}}''Bangunlhah Jiwanya ...''
{{gap}}{{gap}}{{gap}}''Bangunlhah Badannya ...''
{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}''Untuk Indonesia Raya ...''<noinclude>
{{rh|'''130''' BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
300sbfe9scj8n335rsdnq9f1m6dm6de
296208
296207
2026-05-19T09:13:55Z
Link PB
26772
296208
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{r|<big>"Kutitipkan bangsa dan<br>negara ini kepamu."</big>}}
{{Missing image}}
{{r|-Soekarno<br>''1st Presiden Of Indonesia''}}
{{gap}}{{gap}}''Bangunlhah Jiwanya ...''
{{gap}}{{gap}}{{gap}}''Bangunlhah Badannya ...''
{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}''Untuk Indonesia Raya ...''<noinclude>
{{rh|'''130''' BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
k68ubsfchsmsuxgmgommnl991pln4pf
296209
296208
2026-05-19T09:15:02Z
Link PB
26772
296209
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{r|<big>"Kutitipkan bangsa dan<br>negara ini kepamu."</big>}}
{{Missing image}}
{{r|-Soekarno<br>''1st Presiden Of Indonesia''}}
{{gap}}{{gap}}''Bangunlhah Jiwanya ...''
{{gap}}{{gap}}{{gap}}''Bangunlhah Badannya ...''
{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}''Untuk Indonesia Raya ...''<noinclude>
{{rh|130 BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
rs02lebrctq34uxzth5l7ym3v2hkepm
Halaman:BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 2015.pdf/141
104
104709
296210
2026-05-19T09:28:54Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
296210
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{| class="infobox" style="float: right; width: 250px; background-color: #005544; border: 1px solid #005544; padding: 10px; margin-left: 15px;"
! style="text-align: center; background-color: #eaecf0;" | <big><big>Bab</big></big> <big><big><big><big><big>11</big></big></big></big></big>
|}
{{c|PENUTUP}}
{{dropinitial|B}}uku Putih Pertahanan ini merupakan dokumen Pemerintah di bidang pertahanan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan sebagaimana diamanatkan dalam UndangUndang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Isi dalam buku ini merupakan rangkuman produk-produk strategis pertahanan negara untuk memberikan gambaran secara umum tentang kebijakan pertahanan negara, strategi pertahanan negara, dan pembangunan postur pertahanan negara. Buku Putih ini berlaku di lingkungan Kemhan, TNI, K/L di luar bidangpertahanan dalam rangka penyelenggaraan pertahanan negara, serta disebarluaskan kepada masyarakat umum, baik domestik maupun internasional.
{{c|Jakarta, 20 November 2015
MENTERI PERTAHANAN,
{{Missing image}}
RYAMIZARD RYACUDU}}<noinclude>
{{rh|||129 BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
gy4igrpdbbyhifpyl670oxphjy0w6ib
296211
296210
2026-05-19T09:29:40Z
Link PB
26772
296211
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{| class="infobox" style="float: right; width: 250px; background-color: #005544; border: 1px solid #005544; padding: 10px; margin-left: 15px;"
! style="text-align: center; background-color: #eaecf0;" | <big><big>Bab</big></big> <big><big><big><big><big>11</big></big></big></big></big>
|}
<br>
{{c|PENUTUP}}
{{dropinitial|B}}uku Putih Pertahanan ini merupakan dokumen Pemerintah di bidang pertahanan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan sebagaimana diamanatkan dalam UndangUndang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Isi dalam buku ini merupakan rangkuman produk-produk strategis pertahanan negara untuk memberikan gambaran secara umum tentang kebijakan pertahanan negara, strategi pertahanan negara, dan pembangunan postur pertahanan negara. Buku Putih ini berlaku di lingkungan Kemhan, TNI, K/L di luar bidangpertahanan dalam rangka penyelenggaraan pertahanan negara, serta disebarluaskan kepada masyarakat umum, baik domestik maupun internasional.
{{c|Jakarta, 20 November 2015
MENTERI PERTAHANAN,
{{Missing image}}
RYAMIZARD RYACUDU}}<noinclude>
{{rh|||BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 129}}</noinclude>
16udjezftu2762csrxbhqrua8rkzbxv
Halaman:BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 2015.pdf/140
104
104710
296212
2026-05-19T09:30:47Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
296212
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}}
Buku Putih ini merupakan pernyataan kebijakan pertahanan negara secara menyeluruh dan sebagai pedoman bagi penyelenggaraan fungsi pertahanan negara serta disebarluaskan kepada masyarakat umum, baik domestik maupun internasional.<noinclude>
{{rh|128 BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
rwhc5n1gkcg0gffr0dqo026t4f6x8ml
296213
296212
2026-05-19T09:31:08Z
Link PB
26772
296213
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{Missing image}}
''Buku Putih ini merupakan pernyataan kebijakan pertahanan negara secara menyeluruh dan sebagai pedoman bagi penyelenggaraan fungsi pertahanan negara serta disebarluaskan kepada masyarakat umum, baik domestik maupun internasional.''<noinclude>
{{rh|128 BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
owqskoz5ep1s2lxuynru2x0tj8jtp5a
Halaman:BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 2015.pdf/139
104
104711
296214
2026-05-19T09:32:59Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
296214
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|||ANGGARAN<br>
PERTAHANAN NEGARA}}</noinclude>{{Missing image}}<noinclude>
{{rh|||BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 127}}</noinclude>
l8d0bhpk0t4m6ihrjtmdsjhp3fv5vdr
Halaman:BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA 2015.pdf/138
104
104712
296215
2026-05-19T09:52:20Z
Link PB
26772
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{Missing image}} <small>Kebutuhan anggaran pertahanan akan terus meningkat seiring dengan kualitas ancaman yang dihadapi termasuk kebutuhan pemeliharaan dan operasional Alutsista yang semakin modern.</small> :berimplikasi terhadap meningkatnya berbagai bentuk ancaman, baik nyata maupun belum nyata sehingga membutuhkan alokasi anggaran pertahanan yang proporsional. 10.1 Proyeksi Anggaran :Pembangunan pertahanan difokuskan pada peningkatan pr...
296215
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Link PB" />{{rh|ANGGARAN<br>
PERTAHANAN NEGARA}}</noinclude>{{Missing image}}
<small>Kebutuhan anggaran pertahanan akan terus meningkat seiring dengan kualitas ancaman yang dihadapi termasuk kebutuhan pemeliharaan dan operasional Alutsista yang semakin modern.</small>
:berimplikasi terhadap meningkatnya berbagai bentuk ancaman, baik nyata maupun belum nyata sehingga membutuhkan alokasi anggaran pertahanan yang proporsional.
10.1 Proyeksi Anggaran
:Pembangunan pertahanan difokuskan pada peningkatan profesionalisme prajurit dan kesiapan Alutsista, dengan prioritas merealisasikan kekuatan pokok pertahanan. Proyeksi anggaran pertahanan diarahkan mencapai di atas 1% dari PDB secara bertahap dalam sepuluh tahun ke depan untuk mendukung operasional dan modernisasi alutsista. Peningkatan anggaran ini disesuaikan dengan perbaikan ekonomi nasional dan bertujuan membangun kemampuan pertahanan yang berdaya tangkal demi stabilitas dan kelancaran pembangunan nasional.<noinclude>
{{rh|126 BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
p662vqp8uuomhu6q4ktlxpdm6rlf2nq
296216
296215
2026-05-19T10:00:19Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
296216
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" />{{rh|ANGGARAN<br>
PERTAHANAN NEGARA}}</noinclude>{{Missing image}}
<small>Kebutuhan anggaran pertahanan akan terus meningkat seiring dengan kualitas ancaman yang dihadapi termasuk kebutuhan pemeliharaan dan operasional Alutsista yang semakin modern.</small>
::berimplikasi terhadap meningkatnya berbagai bentuk ancaman, baik nyata maupun belum nyata sehingga membutuhkan alokasi anggaran pertahanan yang proporsional.
10.1 Proyeksi Anggaran
::Menghadapi tantangan pertahanan, pembangunan difokuskan pada peningkatan profesionalisme prajurit dan penyediaan Alutsista yang memadai, dengan target kekuatan pokok yang mendesak. Proyeksi anggaran pertahanan diarahkan mencapai di atas 1% dari PDB secara bertahap dalam sepuluh tahun ke depan.
::Kebutuhan anggaran pertahanan akan terus meningkat seiring dengna kualitas ancaman yang dihadapi termasuk kebutuhan pemelihaan dan operasional Alutsista myang semakin modern. Alokasi anggaran akan semarin meningkat seiring denan perbaikan perekonomian nasional. Pemenuhan anggaran pertahan negara pada rasio yang proporsional akan membangun kemampuan pertahan negara yang berdaya tangkal sekaligus memberikan efek terhadap stabilitas nesional, sehingga berdampak terhadap kelancaran pembangunan nasional.<noinclude>
{{rh|126 BUKU PUTIH PERTAHANAN INDONESIA}}</noinclude>
estfstkjh0o1p0t40n9huescczrshql