Wikisumber idwikisource https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.7 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikisumber Pembicaraan Wikisumber Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Pengarang Pembicaraan Pengarang Indeks Pembicaraan Indeks Halaman Pembicaraan Halaman Portal Pembicaraan Portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Kokki Bitja 1864 0 30212 298289 137173 2026-06-17T07:04:36Z Empat Tilda 13539 298289 wikitext text/x-wiki {{header | title = Kokki Bitja | author = Nonna Cornelia | translator = | section = | previous = | next = [[/Sampul|Sampul]] | year = 1864 | notes = }} {{Engine|Kokki Bitja|placeholder=Cari resep|break=no}} <pages index="Kokki Bitja 1864.pdf" include="6" /> {{pb|label=}} <pages index="Kokki Bitja 1864.pdf" include="8" /> {{pb|label=}} <pages index="Kokki Bitja 1864.pdf" from="226" to="233" /> {{pb|label=}} {{DP-lama}} kriaegztx7xpmih8rfgpl894a4g0pze Halaman:Perahu Madura.pdf/9 104 69824 298273 201149 2026-06-17T03:35:11Z Empat Tilda 13539 /* Tervalidasi */ 298273 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Empat Tilda" /></noinclude>dan seterusnya. Bahasan yang lebih dalam sangat penting untuk mendapat pengertian dan pengetahuan yang lebih luas mengenai perahu Madura itu. Bahasa gambar akan lebih mampu memperjelas pengertian, yang akan penulis sajikan melalui beberapa contoh bentuk atau jenis perahu saja. Memberi gambaran tentang perahu Madura yang menyeluruh tidak terlalu ilmiah akan mengandung bahasan secara sederhana dalam bentuk uraian, gambar-gambar, serta foto-foto. Dalam uraian tentang perahu Madura ini apabila terdapat istilah-istilah daerah, dimaksudkan agar "lebih akrab" dengan Madura, dengan artinya dapat dicari pada daftar kata dan istilah yang dilampirkan. Namun apabila di dalam daftar kata dan istilah tidak tercantum, masih dapat dicari pengertiannya dalam penjelasan gambargambar bagian perahu pada bab IV. Kesulitan dalam penyusunan istilah-istilah "keperahuan" di Madura, justru disebabkan banyaknya istilah yang berbeda walaupun bendanya sama. Kesulitan tersebut penulis sadari karena istilah istilah yang dimaksud tidak terdapat dalam kamus kamus. Baik dalam kamus Bahasa Madura karangan H.N. Kiliaan, P. Peninga dan H. Hendriks, bahkan dalam kamus " Bahasa Madura-Indonesia" karangan Bapak Asis Safiudin, SH. Kata-kata atau istilah-istilah "keperahuan" tersebut jarang sekali dimasukkan, untuk tidak mengatakan "memang tidak ada". Oleh karena itu, semoga gambar-gambar dengan penjelasannya dapat lebih memberikan pengertian. '''Bobot penyajian''' Dalam buku "Perahu Madura" ini uraiannya bersifat datar, dalam pengertian hanya bersifat umum serta kurang mendetail. Lagi pula tentang perahu Madura telah banyak dikenal umum, dan banyak peneliti-peneliti dari berbagai lembaga, bahkan ada peneliti Barat yang mengkhususkan diri pada perahu Kaci' Talang. Tetapi sayangnya seperti biasa, tidak satupun hasil penelitiannya tersimpan di Madura. Pembahasan lebih mendetail jelas tidak bisa dihindari pada beberapa bagian tertentu , termasuk dalam pembahasan aspek magis spiritual dalam pembuatan perahu Madura, seperti ukuran-ukuran yang pasti dan segala mantranya dimana setiap tukang yang ahli akan memahaminya. Penulis tidak akan menuliskan masalah ini dalam buku, sebab selain penulis hanya mengetahui sebagian kecil dari lautan rahasia tadi , menurut etikanya penulis belum " diberi ijin" untuk me-<noinclude>{{Left|4}}</noinclude> 0a2zsbnzt7n64qb2il8gcnp3j0vmat3 Halaman:Perahu Madura.pdf/8 104 71438 298271 297942 2026-06-17T03:32:06Z Empat Tilda 13539 /* Tervalidasi */ 298271 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Empat Tilda" /></noinclude>ngan keberasalan oang Madura sendiri. Bila kita ikuti penyebaran orang Madura itu tidak saja tersebar di Jawa Timur, bahkan lebih jauh dari itu. Oleh karena itu permasalahan yang kedua ini akan menemukan kesulitan dalam pencaharian data bermukimnya orang Madura tersebut di setiap pantai yang menghasilkan perahu. Penulis tidak melakukan pencarian data ini. Masalah ketiga menyangkut bendanya, yaitu perahu itu sendiri. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ’’ciri-ciri Madura’’ kalau dibahas mendalam pengertiannya akan menjadi kabur, lebih-lebih kalau beranjak dari studi perbandingan, yang kiranya akan terdapat persamaan dengan perahu dari Asia Tenggara lainnya. Dimana kemungkinan itu jelas ada, karena penduduk Nusantara berasal dari Hindia Belakang. Langkah yang penulis lalui adalah mengambil secara umum. Jadi secara umum pengertian ’perahu Madura” ialah perahu-perahu yang terdapat di Madura dengan segala ciri-ciri tertentu yang dihasilkan oleh orang Madura atau keturunannya sejak beratus tahun, Ciri-ciri kemaduraan ini misalnya terdapat pada ’’lokeran”’ atau ’’cetongan” yang akan dibahas secara lebih mendalam pada bab-bab berikutnya. Secara khusus istilah ’parao Madura’an” (perahu Madura) adalah sejenis perahu yang terdapat di Pasongsongan, yaitu perahu yang ''berlenggi'' lebar dengan ornamen dan ''andangan'' yang khas. Soal andangan akan dipaparkan lebih lanjut kemudian. Istilah "parao” (berarti: perahu) bagi orang Madura memiliki pengertian khusus, yaitu perahu yang berukuran besar, biasanya untuk pengangkutan perdagangan jarak jauh. Sedang perahu yang kecil disebut "sampan’’. Sampan dipergunakan untuk mencari atau menangkap ikan, atau pengangkutan jarak dekat. Istilah-istilah lain yang terdapat di Madura ialah: "parao-majang" untuk perahu penangkap ikan, “parao lajar’’ untuk perahu yang memakai layar. Jukong (jukung) adalah sampan yang dibuat dari kayu utuh dilubangi di tengahnya. '''Ruang lingkup''' Menyadari akan apa yang telah diuraikan terdahulu, betapa luas perkembangan perahu Madura, maka penulis akan membatasi lingkup pembicaraan, hanya pada jenis-jenis perahu lokal saja, Misalnya seperti: Sampan polangan di Sepulu, jukung tiga roda di Sapeken, jukong Pajangan di Salopeng, sampan eder di Tanjung, parao kaci’ di Talang<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> mb4jvthj7wpwzi6b0lx3qri3670g02w 298272 298271 2026-06-17T03:32:46Z Empat Tilda 13539 298272 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Empat Tilda" /></noinclude>ngan keberasalan oang Madura sendiri. Bila kita ikuti penyebaran orang Madura itu tidak saja tersebar di Jawa Timur, bahkan lebih jauh dari itu. Oleh karena itu permasalahan yang kedua ini akan menemukan kesulitan dalam pencaharian data bermukimnya orang Madura tersebut di setiap pantai yang menghasilkan perahu. Penulis tidak melakukan pencarian data ini. Masalah ketiga menyangkut bendanya, yaitu perahu itu sendiri. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ’’ciri-ciri Madura’’ kalau dibahas mendalam pengertiannya akan menjadi kabur, lebih-lebih kalau beranjak dari studi perbandingan, yang kiranya akan terdapat persamaan dengan perahu dari Asia Tenggara lainnya. Dimana kemungkinan itu jelas ada, karena penduduk Nusantara berasal dari Hindia Belakang. Langkah yang penulis lalui adalah mengambil secara umum. Jadi secara umum pengertian ’perahu Madura” ialah perahu-perahu yang terdapat di Madura dengan segala ciri-ciri tertentu yang dihasilkan oleh orang Madura atau keturunannya sejak beratus tahun, Ciri-ciri kemaduraan ini misalnya terdapat pada ’’lokeran”’ atau ’’cetongan” yang akan dibahas secara lebih mendalam pada bab-bab berikutnya. Secara khusus istilah ’parao Madura’an” (perahu Madura) adalah sejenis perahu yang terdapat di Pasongsongan, yaitu perahu yang ''berlenggi'' lebar dengan ornamen dan ''andangan'' yang khas. Soal andangan akan dipaparkan lebih lanjut kemudian. Istilah "parao” (berarti: perahu) bagi orang Madura memiliki pengertian khusus, yaitu perahu yang berukuran besar, biasanya untuk pengangkutan perdagangan jarak jauh. Sedang perahu yang kecil disebut "sampan’’. Sampan dipergunakan untuk mencari atau menangkap ikan, atau pengangkutan jarak dekat. Istilah-istilah lain yang terdapat di Madura ialah: "parao-majang" untuk perahu penangkap ikan, “parao lajar’’ untuk perahu yang memakai layar. Jukong (jukung) adalah sampan yang dibuat dari kayu utuh dilubangi di tengahnya. '''Ruang lingkup''' Menyadari akan apa yang telah diuraikan terdahulu, betapa luas perkembangan perahu Madura, maka penulis akan membatasi lingkup pembicaraan, hanya pada jenis-jenis perahu lokal saja, Misalnya seperti: Sampan polangan di Sepulu, jukung tiga roda di Sapeken, jukong Pajangan di Salopeng, sampan eder di Tanjung, parao kaci’ di Talang<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude> 5uuwfn6w3fcbdemm70jpi7235f3lrs2 Halaman:Perahu Madura.pdf/10 104 71439 298274 205489 2026-06-17T03:37:45Z Empat Tilda 13539 /* Tervalidasi */ 298274 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Empat Tilda" /></noinclude>masuki dunia ilmu dimaksud. Apabila dalam buku ini penulis memberi juga beberapa contoh dalam hal tersebut, karena hal tersebut. bersifat umum yang boleh diketahui oleh setiap orang. Doa-doa mantra ini tiap daerah berlainan atau ada perbedaan-perbedaan yang telah turun temurun dipegang. Oleh karena itu aspek magis dalam pembuatan perahu ini tentunya merupakan buku tak tersurat”’. Dan untuk menuliskannya seharusnya menyelami ilmu tukang perahu serta dengan ilmu pelautnya. Oleh karena itu penulisan buku ’’Perahu Madura” ini tidak banyak melebar dari keadaan apa adanya, ditambah pengetahuan penulis dari berbagai cerita dan wawancara yang telah penulis kumpulkan dalam *’Apresiasi Kebudayaan Daerah Madura’. Rekaman berupa foto-foto sangat terbatas, karena sering sulit mendapatkan waktu yang tepat di saat perahu-perahu tersebut berlabuh. '''Peta''' Untuk dapat mengikuti uraian dimana tempat-tempat perahu ter- sebut berada, perlu memperhatikan peta "Madura Daratan’’ dan ’’Madura Kepulauan’’, yang telah disesuaikan dengan peta ’’keperahuan”’, sehingga titik berat daerah pantai mendominir peta tersebut. {{c|{{bar}}}}<noinclude>{{right|5}}</noinclude> ixe2hlycrc6qubv0l4bx3cowgz35tyk Halaman:Perahu Madura.pdf/11 104 71440 298275 205491 2026-06-17T03:41:46Z Empat Tilda 13539 /* Tervalidasi */ 298275 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Empat Tilda" /></noinclude>{{c|'''BAB I''' '''LATAR BELAKANG SEJARAH, ASAL-USUL DAN PERSEBARANNYA'''}} Menelusuri sejarah perahu berarti menelusuri persebaran suatu bangsa. Asal suatu bangsa sedikit banyak dapat memberi gambaran dengan sarana apa ia dapat sampai ke tempat tujuan. Untuk tidak terjaring kepada beberapa teori tentang persebaran penduduk ini, yang data-datanya diambil dari istilah-istilah benda budaya, sampai kepada pembuktian perjalanan atau expedisi seperti yang dilakukan oleh Thor Heyerdhal, dan seterusnya, maka singkatnya kita ambil kesimpulan saja bahwa selain penduduk aseli maka nenek moyang kita adalah merupakan pendatang juga. Apabila perahu-perahu nenek moyang bangsa Indonesia dari Hindia Belakang, dapat dimengerti karena penyebaran mereka ke kepulauan Nusantara ini, daiam beberapa tulisan disebutkan, bahwa mereka itu ada yang datang memakai rakit dan ada pula yang memakai "perahu bersayap”’. Sedang sebab berpindahnya karena peperangan dan sebab lainnya. Maka kiranya jelaslah, bahwa Madura akan mengalami hal yang demikian pula. Dalam sejarah Madura sendiri, digambarkan bahwa penghuni awal Madura yaitu Raden Sagoro (Radin Sagara), artinya orang yang berdarah lautan. Raden Sagoro adalah putra seorang puteri raja Giling Wesi yang masih gadis. Raden Sagoro sampai ke Madura mendarat di Gunung Geger dengan naik getek (gitek) yang diperkirakan berlangsung pada tahun 929 atau sebelumnya. Dapat ditambahkan, karena Raden Sagoro kemudian hari mempergunakan senjata "ular raksasa” si Nenggolo dan si Alugoro dalam menaklukkan musuh, maka sampai sekarang banyak perahu-perahu yang dihias atau bercangga lajar motip ular naga untuk "tolak bala” Walaupun kebenaran cerita tersebut belum dapat dipertanggung jawabkan, namun di Madura sampai kini tidak diketemukan bukti-bukti baru bahwa sebelum tahun tersebut ada benda atau perahu jenis lain selain getek, sebagaimana yang dipergunakan oleh Raden Sagoro. Memang ada dongeng bahwa banyak orang yang bisa naik "karocok-manggar", yaitu seludang bunga kelapa, misalnya datangnya Adipoday ke Sepudi dan cerita Empu Bageno ke Arosbaya sebagai pemeluk agama Islam pertama yang naik karocok. Tetapi walau diperkirakan terjadi pada abad ke-15, kesemuanya hanya merupakan<noinclude></noinclude> kxw3n9sfnjcn0k1u1o7t9fs2iwys7u5 Indeks:Madilog.pdf 102 90533 298276 259363 2026-06-17T03:45:21Z Empat Tilda 13539 298276 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item=Q22673993 |Title=Madilog |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author=Tan Malaka |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year= |Key= |ISBN= |Source=PDF |Image=1 |Progress=OCR |Pages=<pagelist 1="Cover" 2="ToC" 3=2 /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} s0nqzlcp905c5bnvq7vkvt4vv3yascp Pengguna:Lutfiyatun 2 96303 298281 298055 2026-06-17T06:29:53Z Lutfiyatun 26681 298281 wikitext text/x-wiki Halooo namaku Lutfiyatun {{Peserta WikiPandu}} sjkohil033in2x663szjpp6ue0hmb0e Pengguna:Cristina Gelora 2 105522 298297 297750 2026-06-17T07:38:25Z Cristina Gelora 27235 298297 wikitext text/x-wiki Halo! Saya Cristina Gelora, peserta lokakarya berjudul 'Merawat Naskah Historis di Wikisource' yang diadakan pada Sabtu, 13 Juni 2026 di PDS H.B. Jassin. sa91b3v08009ozg7t1qxtwrr63p5k6v Halaman:Sarinah.pdf/193 104 105605 298263 297921 2026-06-17T01:14:40Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298263 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>millioenen zwoegen en sloven, uit de wereld helpen, zult gij het raadseloplossen van de sfinx der prostitutie? Neen, dat alles zult gij niet! Al dit vrouwelijden zit vast aan de burgerlijke maatschappijvorm, aan het kapitalistisch stelsel van voort-brenging”.''' Salinannya pun saya berikan lagi: '''“Berilah kepada wanita hak pemilihan, hapuskan semua aturan-aturan yang membelakangkan mereka dari laki-laki dan merintang-rintangi kemerdekaannya, bukakan pintu bagi mereka kepada semua jawatan dan perusahaan, buatkan pendidikannya jadi sederajat dengan pendidikan laki-laki sehingga mereka mendapat kesempatan yang sama luasnya, -apakah Tuan dengan itu akan dapat memperbaiki nasib kaum buruh wanita upahan yang berjuta-juta itu, akan dapat mengangkat mereka dari kesengsaraan proletar, -akan dapat membasmi industri -di rumah yang tidak sehat dan rendah- upah itu yang di dalamnya berkeluh-kesah pula miliun-miliunan wanita lain, -akan dapat memecahkan rahasia hantu persundalan? Tidak, Tuan tidak akan dapat semua itu! Semua kesengsaraan wanita ini adalah terikat kepada bentuk masyarakat yang burgerlijk, kepada cara produksi yang sistimnya kapitalistis!” Demikianlah memang, yang juga selalu diajarkan dan diperingatkan oleh Clara Zetkin, oleh Rosa Luxemburg dan pemimpin-pemimpin wanita sosialis lain, kepada semua wanita yang menghendaki perbaikan keadaan. '''Hak pemilihan hanyalah satu fase perjoangan saja.''' Dan memang Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, beserta pengikut-pengikutnya yang berjuta-juta itupun, tidak lantas diam, tidak lantas berhenti berjoang sesudah hak pemilihan tercapai, -mereka malah '''mempergunakan''' hak pemilihan itu untuk memperhebatkan perjoangannya menjadi perjoangan yang lebih besar, yaitu perjoangan menggempur kapitalisme, mendatangkan susunan masyarakat baru yang lebih adil. Di dalam perjoangan yang lebih besar inilah Rosa Luxemburg menemui ajalnya. Bersama dengan kawannya Karl Liebknecht, pada tanggal 15 Januari 1919, ia dibunub oleh musuh. Pada saat itu ia berusia 49 tahun, sedang kuat-kuatnya dan sedang tangkas-tangkasnya. Ia mati sebagai satu Srikandi kaum<noinclude>{{rh|||193}}</noinclude> 2f8tft3cm44vgw0e8rpx41u24snoa5z 298270 298263 2026-06-17T02:35:37Z Yogismemeth Al fakir 27267 298270 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>millioenen zwoegen en sloven, uit de wereld helpen, zult gij het raadseloplossen van de sfinx der prostitutie? Neen, dat alles zult gij niet! Al dit vrouwelijden zit vast aan de burgerlijke maatschappijvorm, aan het kapitalistisch stelsel van voort-brenging”. Salinannya pun saya berikan lagi: “Berilah kepada wanita hak pemilihan, hapuskan semua aturan-aturan yang membelakangkan mereka dari laki-laki dan merintang-rintangi kemerdekaannya, bukakan pintu bagi mereka kepada semua jawatan dan perusahaan, buatkan pendidikannya jadi sederajat dengan pendidikan laki-laki sehingga mereka mendapat kesempatan yang sama luasnya, -apakah Tuan dengan itu akan dapat memperbaiki nasib kaum buruh wanita upahan yang berjuta-juta itu, akan dapat mengangkat mereka dari kesengsaraan proletar, -akan dapat membasmi industri -di rumah yang tidak sehat dan rendah- upah itu yang di dalamnya berkeluh-kesah pula miliun-miliunan wanita lain, -akan dapat memecahkan rahasia hantu persundalan? Tidak, Tuan tidak akan dapat semua itu! Semua kesengsaraan wanita ini adalah terikat kepada bentuk masyarakat yang burgerlijk, kepada cara produksi yang sistimnya kapitalistis!” Demikianlah memang, yang juga selalu diajarkan dan diperingatkan oleh Clara Zetkin, oleh Rosa Luxemburg dan pemimpin-pemimpin wanita sosialis lain, kepada semua wanita yang menghendaki perbaikan keadaan. Hak pemilihan hanyalah satu fase perjoangan saja. Dan memang Clara Zetkin, Rosa Luxemburg, beserta pengikut-pengikutnya yang berjuta-juta itupun, tidak lantas diam, tidak lantas berhenti berjoang sesudah hak pemilihan tercapai, -mereka malah '''mempergunakan''' hak pemilihan itu untuk memperhebatkan perjoangannya menjadi perjoangan yang lebih besar, yaitu perjoangan menggempur kapitalisme, mendatangkan susunan masyarakat baru yang lebih adil. Di dalam perjoangan yang lebih besar inilah Rosa Luxemburg menemui ajalnya. Bersama dengan kawannya Karl Liebknecht, pada tanggal 15 Januari 1919, ia dibunub oleh musuh. Pada saat itu ia berusia 49 tahun, sedang kuat-kuatnya dan sedang tangkas-tangkasnya. Ia mati sebagai satu Srikandi kaum<noinclude>{{rh|||193}}</noinclude> jq6lp3t5uv04jk349iyaks7ivd1pwte Halaman:Sarinah.pdf/195 104 105713 298262 298108 2026-06-17T01:06:17Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298262 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>yang terakhir, dialah yang membukanya: pada waktu itu ia telah berusia 80 tahun, satu usia yang manusia biasa kebanyakannya sudah rapuh dan sudah tiada tenaga semangat. Di dalam pidato pembukaannya, lbu Revolusi ini menghantamkan serangannya kepada kaum Nazi. Atas anjuran kawan-kawannya, ia melolos-kan diri dari Jermania ke Rusia, agar tidak menjadi mangsa kezaliman Hitler. Akhirnya, ia dipanggil pulang kerakhmatullah, dalam usia yang amat tinggi. Demikianlah pergerakan wanita tingkat ketiga di Jermania. Bagaimana di negeri-negeri lain? Saya kira tidak begitu perlu saya ceritakan pergerakan tingkat ketiga di negeri-negeri lain itu satu-persatu. Yang perlu bagi pembaca hanyalah mengetahui '''garisnya''' tingkat ketiga ini. Sebagai rempahrempah akan saya berikan saja nanti beberapa ucapanucapan pemimpin-wanita tingkat ketiga ini yang ulung-ulung dari beberapa negeri. Tentang “sejarahnya” cukuplah yang dari Jermania saja menjadi contoh. Memang sebagai tadi telah saya katakan: pergerakan di Jermania itu dulu adalah satu “model” bagi pergerakan-pergerakan di negeri lain. Memang di Jermania organisasinya paling sempurna, pengalasan teorinya paling mendalam, sepak-terjangnya paling tangkas. Negerinegeri yang lain selalu memandangkan matanya kepada Jermania itu. Siapa yang ingin mengetahui lebih banyak tentang pergerakan wanita tingkat ketiga di negeri-negeri lain, haraplah mentelaahnya sendiri dalam perpustakaan sosialisme yang bergudang-gudang. Terutama bagi Rusia Baru saya minta perhatian istimewa, oleh karena kedudukan Rusia dalam soalperempuan memang satu kedudukan yang istimewa. Rusia, yang belum lama yang lalu wanitanya masih bodoh, miliunan tak dapat membaca dan menulis, miliunan hidup dalam tahyul yang mendirikan bulu, yang puluhan miliun rakyat wanitanya yang berbangsa Asia dulu belum pernah mendapat sinar kemodernan sedikit pun juga, belum pernah mencapai tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat ternak dan tingkat benda, belum pernah merasakan diri terlepas dari ekses-ekses patriarchat. Rusia itu telah berhasil memetik buah yang amat banyak di lapangan memperbaiki kedudukan wanita. Fasal 195<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude> q8nomhk7korh9s95m85m88mxnl4oyz9 Indeks:Salindia WikiPandu - Cara Unggah Naskah dan Membuat Indeks di Wikisource.pdf 102 105760 298244 298164 2026-06-17T00:06:43Z Mnam23 12152 298244 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item=Q140246855 |Title= |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author= |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator= |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year= |Key= |ISBN= |Source=pdf |Image=1 |Progress=X |Pages=<pagelist 1="Cover" 2=1 /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} [[Kategori:WikiPandu]] dxtd4zrcaewbv6cbrfm346ivc07gup0 Halaman:Sarinah.pdf/217 104 105786 298192 2026-06-16T11:59:05Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298192 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Demikianlah misalnya, bantuan masyarakat kepada pekerjaan Sarinah sebagai Ibu. Dengan bantuan itu maka kebahagiaan somah menjadi kebahagiaan yang sebenar-benar-nya. Jikalau benar ada kekeramatan somah, maka beginilah somah itu menjadi keramat sekeramat-keramatnya! Sesungguhnya! Alangkah munafiknya pembela-pembela sistim masyarakat yang sekarang! Mereka “mengeramatkan” somah, mereka katanya melindungi somah, mereka menolak percampuran tangan dari masyarakat ke dalam urusan somah, tetapi justru sistim masyarakat yang mereka bela itu memecahkan kebahagiaan somah habis-habisan! Justru sistim masyarakat yang mereka ikuti itu mengisi somah dengan kepahitan-kepahitan yang tiada bilangan. Justru sistim masyarakat kapitalistis itu mengusir Sarinah pagi-pagi benar ke luar dari sarangnya, somah memeras dia laksana kain basah dalam pekerjaan budak sepanjang hari, mengembalikan dia jauh-jauh sore atau jauh-jauh malam dalam keadaan lelah badan dan lelah jiwa kepada somah, dan kemudian melabrak dia lagi dengan cambuknya pekerjaanpekerjaan rumah tangga yang bermacam-macam ragam sampai dia ambruk di tempat pembaringan, entah jam berapa di tengah malam? Inikah kekeramatan somah yang mereka hendak pertahankan? Sekali lagi: hanya bilamana batas antara somah dan pekerjaan tidak lagi tajam dan tidak lagi keras, hanya bilamana somah dan pekerjaan isi-mengisi satu sama lain, maka somah dapat menjadi keramat sejatinya keramat. Hanya bilamana demikian, maka somah benar-benar menjadi satu sarang. Sarangnya Orang, sarang Manusia! Wanita sebagai Ibu memelihara anak, wanita sebagai Isteri dan Ibu memasak penganan ekstra atau memasak sendiri semua makanan kalau ia mau, wanita sebagai Isteri dan Ibu menjalankan rumah tangga, semuanya itu dalam kesenangan dan dengan kemerdekaan memilih, semuanya itu sebagai amal kasih dan amal bahagia. Semuanya itu sebagai amal kasih dan amal bahagia, berkat bantuan masyarakat, berkat percampuran tangan masyarakat yang berupa pengoperan sebagian besar fungsi-fungsi somah oleh masyarakat, dan berkat alat-alat teknik yang diasakan ke dalam somah oleh masyarakat itu. Tidakkah keramat sarang yang demikian itu? 217<noinclude>{{rh|||217}}</noinclude> 5lw8rr0jj1v0wrj4pu0r5jrccxmot2r Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/1 104 105787 298193 2026-06-16T12:01:23Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298193 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{border|maxwidth=30em|bstyle=double|bthickness=8px|align=center|padding=20px| <br> <br> <br> {{rule|10em}} {{rule|10em}} {{center|{{xx-larger|TANAH AIR}}}} {{center|OLEH}} {{center|{{larger|M. JAMIN}}}} {{rule|10em}} {{rule|10em}} <br> <br> <br> }}<noinclude></noinclude> 5qd4vbsau1p28be7y2c8prgwczg2uca Halaman:Sarinah.pdf/218 104 105788 298194 2026-06-16T12:01:51Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298194 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Sarang bahagia, dan bukan sarang ketidak-bahagiaan sebagai sediakala? Sarang bahagia, dari mana pada waktu pagi Sarinah dapat terbang keluar untuk dengan hak penuh mengembangkan kepribadiannya dalam masyarakat, dan kemana ia pada waktu sore dapat terbang kembali untuk dengan hak penuh mengembangkan dharmanya sebagai yang diberikan oleh kodrat alam kepadanya? Henriette Roland Holst menamakan Dunia yang akan menjelmakan keadaan ini satu “sarang orang-orang yang bersahabat”, satu “nest van genoten”. Satu Sarang Besar dari orang-orang yang bersahabat! Dan di dalam Sarang Besar itu, demikianlah penglihatan saya, ribuan, milyunan sarang-sarang kecil. Sarang-sarang kecil Manusia! Sarang-sarang kecil Wanita Merdeka! Mungkinkah Indonesia menjadi Sarang Besar yang demikian itu? 218<noinclude>{{rh|||218}}</noinclude> afwt4au42gx70etbwbnbnxsiuzn1l1c Halaman:Sarinah.pdf/219 104 105789 298195 2026-06-16T12:03:48Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298195 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>BAB VI SARINAH DALAM PERJOANGAN REPUBLIK INDONESIA Siapa yang memperhatikan benar-benar tingkat-tingkat pergerakan wanita sebagai yang saya gambarkan di muka tadi, akan dapat menentukan tepat pergerakan wanita Indonesia di derajat mana: Terutama sekali di zaman sebelum pecahnya perang Pasifik sebagian besar daripada pergerakan wanita Indonesia barulah menduduki tingkatan yang kesatu, -tingkat main puteri-puterian- yang telah dianggap basi di negeri lain berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dan sebagian kecil menduduki tingkat yang kedua, yang di negeri lain pun telah menjadi tingkat yang telah lalu. Di zaman kolonial Belanda, maka hasil yang dicapai oleh pergerakan wanita Indonesia itu sungguh amat kecil: di dalam tahun 1941 diadakan hak pemilihan buat haminte yang sangat sekali terbatas, dan itu pun dengan aturan ... “vrije aangifte”. Hasil ini amat kecil, jika dibandingkan dengan hasil hak pemilihan yang dicapai oleh wanita di negeri lain. Apakah ini mengherankan? Sudah tentu tidak! Sebab pemerintah Belanda adalah pemerintah Belanda, dan aksi wanita di Indonesia, jikalau dibandingkan dengan aksi suffragette di Inggeris misalnya, atau aksi Panitia-panitia Penyedar di Jermania, adalah laksana kucing dibandingkan dengan harimau. Manakala wanita Indonesia mengira, bahwa mereka dengan pergerakannya itu dulu telah ikut serta secara “hebat” di dalam perjoangan evolusi kemanusiaan, baiklah mereka mencerminkan pergerakan mereka itu dalam kaca benggala pergerakan wanita di negeri lain. Alangkah kecil nampaknya! Alangkah jauh terbelakangnya! Alangkah tiada adanya ideologi sosial yang berkobar-kobar di dalam dadanya. Sekarang kita telah merdeka. Kita telah mempunyai Negara. Kita telah mempunyai epublik. Bagaimanakah aktivitas wanita di dalam Republik kita itu, bagaimanakah harusnya aktivitas wanita di dalam perjoangan Republik kita itu? Inilah soal yang amat penting, yang harus diinsyafi sungguhsungguh oleh semua pemimpin wanita Indonesia. Malahan bila mungkin, jangan ada seorang wanita pun yang tidak insyaf, jangan ada seorang pun di antara mereka yang 219<noinclude>{{rh|||219}}</noinclude> caxebkos141f2ly40lh7j9agbkae574 Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/2 104 105790 298196 2026-06-16T12:06:40Z Moel81 25980 /* Tanpa teks */ 298196 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Moel81" /></noinclude><noinclude></noinclude> b6vsv7x4cso9loi655ra12c81tzym2p Halaman:Sarinah.pdf/226 104 105791 298197 2026-06-16T12:07:02Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298197 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam satu Undang-undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: ke Tuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, mukadammah undang-undang dasar kita ini dengan nyata menegaskan bahwa Republik diadakan untuk penyelenggaraan satu tujuan sosial yang revolusioner. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah satu langkah yang pertama, kata saya tadi, ke arah penyelenggaraan satu tujuan sosia1 yang revolusioner! Dan langkah pertama ke arah penjelenggaraan satu tujuan yang revolusioner, adalah revolusioner! Dan penyelenggaraan tujuan itu, -dari langkah pertamanya sampai kepada ujung akhirnya-, adalah pula revolusioner! Tetapi kecuali daripada itu, peristiwa menjadi merdekanya suatu bangsa yang tadinya dijajah oleh imperialisme bangsa lain, -merdeka betul-betul merdeka, dan bukan merdeka boneka, -adalah satu peristiwa revolusioner, oleh karena peristiwa itu tidak dapat dihidangkan secara konstitusionil: Tidak dapat “diatur”, “disedia-sediakan”, “dihadiahkan” secara konstitusionil menurut hukum, pada jam itu dan hari itu, dalam bulan sekian dan tahun sekian. Merdekanya sesuatu bangsa yang tadinya dijajah oleh imperialisme, adalah satu peristiwa yang sama sekali bersangkut-paut dengan situasisituasi revolusioner. Dan situasi-situasi revolusioner itu tidak dapat diatur atau disedia-sediakan lebih dulu secara konstitusionil. Dan tidak akan -tidak mungkin!- sengaja diatur atau disediakan secara konstitusionil. Sapi dan kerbau harus bisa terbang lebih dahulu, sebelum sesuatu negara imperialis mengatur dan menyedia-nyediakan dengan sengaja situasisituasi revolusioner untuk memungkinkan kemerdekaan bangsa yang daripadanya ia menghisap zat-zat untuk hidupnya atau kesejahteraannya! “Tak pernah sesuatu kelas dengan suka-rela melepaskan kedudukannya yang berlebih”, demikianlah ucapan Marx yang terkenal. Oleh karena itulah 226<noinclude>{{rh|||226}}</noinclude> 65klfzxo4lk05papbj8fq0hvdorjgql Halaman:Sarinah.pdf/243 104 105792 298198 2026-06-16T12:14:39Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Belum diuji baca */ 298198 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>bersama-sama: Ialah, supaya bangsa yang satu ini hidup sebagai bangsa yang merdeka, tersusun di dalam satu Negara yang merdeka, bernaung di bawah satu Bendera Sang Merah Putih yang merdeka. Empat puluh tahun hampir, kita bersama-sama berjoang, bersama-sama menderita, bersamasama berkorban, untuk mencapai cita-cita kebangsaan kita itu. Dan hasil pertama yang besar daripada perjoangan bersama, penderitaan bersama, pengorbanan bersama kita itu ialah Republik Indonesia ini! Republik Indonesia, yang kini hendak dihancurkan oleh Be1anda, Republik adalah milik kita bersama, milik seluruh bangsa Indonesia. Republik bukan miliknya orang Indonesia yang berdiam di Jawa dan Sumatera saja, Republik adalah juga miliknya saudara-saudara yang berdiam di Borneo, di Sulawesi, di Kepulauan Sunda Kecil; di Maluku, di Papua. Darah saudara-saudara ikut membasahi tanah tatkala kita menjelmakan Republik ini! Republik haruskita anggap sebagai modal kita sekalian, untuk meneruskan perjoangan kita mengejar cita-cita kebangsaan kita, yakni Negara Kesatuan Indonesia. Peliharalah modal ini, belalah modal ini, pertahan-kanlah modal ini!” Ya, ini barangkali memang berbau idealisme, barangkali memang berbau romantik. Saya memang dapat berlinanglinang air mata pada saat mengelamunkan persatuan Indonesia itu. Tetapi saya mengucap suka-syukur kepada Tuhan, bahwa jiwa saya tidak kosong daripada idealisme dan romantik yang demikian itu. Saya merasa iba kepada orangorang, yang tidak mempunyai “Romantik Indonesia” itu. Saya merasa bahagia dalam keyakinan, bahwa “romantik” saya itu bukan romantik yang merindukan sesuatu hal yang mustahil, tetapi merindukan sesuatu hal yang saya yakin dapat tercapai dan malahan pasti akan tercapai pula. Tetapi saya tidak mau “ber-romantik” sambil memeluk tangan. Saya mau bertindak aktif. Saya mau berjoang, dan mengajak Massa berjoang. Sebab saya adalah termasuk golongan orang-orang, yang berpendapat bahwa keharusan-keharusan sosial politik dalam masyarakat manusia itu menjelmanya sebagai “kejadian” ialah selalu, bilamana anasir-anasir obyektif mendapat cetusan Wahyu Cakraningratnya anasir-anasir subyektif yang sehebat-hebatnya dan semassal-massalnya. Karena itulah maka saya gemar menjadi agitator, yang dengan 243<noinclude>{{rh|||243}}</noinclude> t6z35b8b38g0ce23we9g6s2l69sptdr 298199 298198 2026-06-16T12:16:43Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298199 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>bersama-sama: Ialah, supaya bangsa yang satu ini hidup sebagai bangsa yang merdeka, tersusun di dalam satu Negara yang merdeka, bernaung di bawah satu Bendera Sang Merah Putih yang merdeka. Empat puluh tahun hampir, kita bersama-sama berjoang, bersama-sama menderita, bersamasama berkorban, untuk mencapai cita-cita kebangsaan kita itu. Dan hasil pertama yang besar daripada perjoangan bersama, penderitaan bersama, pengorbanan bersama kita itu ialah Republik Indonesia ini! Republik Indonesia, yang kini hendak dihancurkan oleh Be1anda, Republik adalah milik kita bersama, milik seluruh bangsa Indonesia. Republik bukan miliknya orang Indonesia yang berdiam di Jawa dan Sumatera saja, Republik adalah juga miliknya saudara-saudara yang berdiam di Borneo, di Sulawesi, di Kepulauan Sunda Kecil; di Maluku, di Papua. Darah saudara-saudara ikut membasahi tanah tatkala kita menjelmakan Republik ini! Republik haruskita anggap sebagai modal kita sekalian, untuk meneruskan perjoangan kita mengejar cita-cita kebangsaan kita, yakni Negara Kesatuan Indonesia. Peliharalah modal ini, belalah modal ini, pertahan-kanlah modal ini!” Ya, ini barangkali memang berbau idealisme, barangkali memang berbau romantik. Saya memang dapat berlinanglinang air mata pada saat mengelamunkan persatuan Indonesia itu. Tetapi saya mengucap suka-syukur kepada Tuhan, bahwa jiwa saya tidak kosong daripada idealisme dan romantik yang demikian itu. Saya merasa iba kepada orangorang, yang tidak mempunyai “Romantik Indonesia” itu. Saya merasa bahagia dalam keyakinan, bahwa “romantik” saya itu bukan romantik yang merindukan sesuatu hal yang mustahil, tetapi merindukan sesuatu hal yang saya yakin dapat tercapai dan malahan pasti akan tercapai pula. Tetapi saya tidak mau “ber-romantik” sambil memeluk tangan. Saya mau bertindak aktif. Saya mau berjoang, dan mengajak Massa berjoang. Sebab saya adalah termasuk golongan orang-orang, yang berpendapat bahwa keharusan-keharusan sosial politik dalam masyarakat manusia itu menjelmanya sebagai “kejadian” ialah selalu, bilamana anasir-anasir obyektif mendapat cetusan Wahyu Cakraningratnya anasir-anasir subyektif yang sehebat-hebatnya dan semassal-massalnya. Karena itulah maka saya gemar menjadi agitator, yang dengan 243<noinclude>{{rh|||243}}</noinclude> 0m1hl5qmj6ig33p0pza9p25siszhcib Halaman:Sarinah.pdf/244 104 105793 298200 2026-06-16T12:19:20Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298200 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>senjata idealisme, dengan senjata “pengalamunan”, kalau perlu dengan senjata romantik, aktif menggugah massa, aktif membangkitkan Massa! Apa sebab saya mengatakan, bahwa Negara Nasional Indonesia satu Keharusan social politik? Dus satu hal, yang tidak boleh tidak kelak pasti akan terjadi? Saya tidak berkata, bahwa Negara Nasional Indonesia itu pasti akan terjadi sekarang. Di dalam pidato saya pada 17 Augustus 1947 itupun dengan tegas saya katakan, bahwa Republik (Jawa dan Sumatera) adalah modal bagi kita sekalian, untuk meneruskan perjoangan kita mengejar Negara Indonesia. Tercapainya Negara Indonesia itu entah akan terjadi kapan; entah besok entah lusa, entah sewindu lagi entah dua windu lagi, tetapi ia pasti, tidak boleh tidak, pasti akan terjadi. Apa sebab? -saudara menanya lagi? Sebabnya ialah bahwa terbentuknya Negara-Negara Nasional itu memang termasuk dalam tingkatan-tingkatan pertumbuhan masyarakat burgerlijk. Di dalam alam masyarakat burgerlijk yang sedang subur, ada dua tendenz yang nyata dan terang: pertama tendenz tergabungnya negara-negara kecil menjadi negaranegara besar, kedua tendenz terjadinya segala macam perhubungan-perhubungan antara negara-negara dan bangsabangsa. Yang pertama dus tendenz terbangunnya negaranegara nasional, yang kedua tendenz terhapusnya batas-batas nasional. Yang pertama terjadinya ialah pada waktu kapitalisme hendak menyubur, yang kedua terjadinya ialah bilamana kapitalisme telah jadi subur. Kapan negara-negara kecil di Jermania -Pruisen, Saksen, Beieren, dan lain-lain sebagainya-, kapan negara-negara kecil itu digabungkan menjadi negara nasional Jermania, dan Raja Pruisen dijadikan Kaisarnya? Pada tahun 1871, tatkala kapitalisme di Jermania hendak menaik. Kapan negara-negara kecil di Italia di bawah pimpinan Mazzini, Garibaldi, Cavour digabungkan menjadi negara nasional Italia? Pada kira-kira waktu itu pula, tatkala kapitalisme di Italia hendak menyubur. Kapan daimyo-daimyo Jepang menyerahkan negara-negara kecilnya kepada Meiji Tenno, sehingga terbangun Dai Nippon Teikoku? Pada waktu kapitalisme Jepang hendak berkembang. 244<noinclude>{{rh|||244}}</noinclude> ez3knad185yh3ieofa04ycev7mhh293 Halaman:Sarinah.pdf/245 104 105794 298201 2026-06-16T12:21:25Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298201 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Demikian pula, maka di lain-lain daerah di muka bumi ini didirikanlah negara-negara nasional, sebagai gelanggang usahanya kapitalisme yang hendak menyubur. Negara-negara kecil yang feodal tidak dapat menjadi gelanggang penyuburan itu, negara-negara kecil itu perlu digabungkan menjadi satu, agar dapat menjadi padang usaha yang mencukupi segala syarat-syarat kapitalisme nasional. Negara-negara multifeodal diluluh menjadi Negara Nasional! Dan tatkala kapitalisme-kapitalisme nasional itu telah terbangun, tatkala produksi di masing-masing negara telah menaik, tatkala produksi itu membangunkan export dan import yang membubung tinggi, terbangunlah satu perlalulintasan dan perdagangan internasional yang amat giat, terlahirlah satu ekonomi yang bukan lagi ekonomi nasional tetapi ekonomi dunia, terhapuslah pagar-pagar yang seram memisahkan negara yang satu dari negara yang lain. Demikianlah berlaku dialektik dalam alam kapitalisme itu: di satu pihak membangunkan negara-negara nasional, di lain pihak, memecah-kan batas-batas yang memisahkan antara negaranegara nasional. Dialektik ini di Indonesia pun akan berlaku! Saya tidak berkata bahwa kapitalisme nasional di Indonesia akan membubung tinggi, tetapi Negara Nasional Indonesia akan terjadi. Sebab evolusi menuju kepada “industrialisme”. Dan industrialisme membutuhkan negara nasional itu. Tetapi, apakah Negara Nasional Indonesia itu akan berupa Negara Kesatuan yang benar-benar Kesatuan (unitaristis), atau akan berupa Negara Kesatuan yang bersifat Negara Gabungan, itu akan membukti sendiri di hari kemudian. Segala sesuatu akan berlaku secara proses, dan proses itu berlaku menuruti geraknya faktor-faktor obyektif di daerahdaerah Indonesia masing-masing. Tetapi nyata sudah, bahwa untuk menjadi “padang-usaha” industrialisme, seluruh daerah Indonesia harus ekonomis menjadi satu, dan supaya ekonomis menjadi satu, maka seluruh daerah Indonesia itu politis harus menjadi satu pula. Atau lebih benar: Kalau ekonomis menjadi satu, maka politis juga menjadi satu. Menilik syarat-syarat yang diperlukan untuk industrialisme, 245<noinclude>{{rh|||245}}</noinclude> h5e3u9nejrb9rsivnenedlh8i3mryej Halaman:Sarinah.pdf/246 104 105795 298202 2026-06-16T12:23:58Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'maka industrialisme itu tidak dapat berkembang di atas daerah ekonomis di Indonesia sepulau demi sepulau. Seluruh Kepulauan Indonesia membutuhkan diri satu sama lain, seluruh kepulauan Indonesia barulah dapat menjadi satu dasar ekonomis yang kuat bagi industrialisme, jika bergandengan ekonomis satu sama lain, isi mengisi satu sama lain, bantu-membantu satu sama lain. Dari manakah misalnya Jawa dapat memperoleh besi dan batu bara jika tidak dari... 298202 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>maka industrialisme itu tidak dapat berkembang di atas daerah ekonomis di Indonesia sepulau demi sepulau. Seluruh Kepulauan Indonesia membutuhkan diri satu sama lain, seluruh kepulauan Indonesia barulah dapat menjadi satu dasar ekonomis yang kuat bagi industrialisme, jika bergandengan ekonomis satu sama lain, isi mengisi satu sama lain, bantu-membantu satu sama lain. Dari manakah misalnya Jawa dapat memperoleh besi dan batu bara jika tidak dari pulau lain, dan dari manakah Kalimantan dapat memperoleh tenaga manusia jika tidak dari Jawa? Tidak! Buat membangunkan industrialisme yang luas, tidak ada satu pulau di Indonesia yang dapat berdiri sendiri! Jikalau di Indonesia akan tumbuh industrialisme yang kuat, -dan garis evolusi masyarakat pasti menuju ke situ, dan buat melaksanakan sosialisme pun dibutuhkan satu minimum industrialisme, sebagai saya terangkan tadi-, jikalau akan tumbuh di sini industrialisme yang kuat, maka Indonesia ekonomis harus menjadi satu, dan jikalau Indonesia ekonomis harus menjadi satu, maka Indonesia politis pun pasti menjadi satu. lni adalah satu kepastian, satu keharusan sosialekonomis dan sosial-politis, -bukan lagi satu pengelamunan, atau satu cita-cita semata-mata, atau satu romantik. Dan bukan pula yang orang namakan “imperialisme Jawa” atau “imperialisme Sumatera” atau “imperialisme Republik”! Alangkah piciknya orang yang menuduh Republik “imperialistis” (hendak “mencaplok” Indonesia Timur, atau “meng-anschluss” Borneo Barat), oleh karena Republik bercita-citakan persatuan Indonesia! Persatuan Indonesia kelak, ekonomis dan politis, adalah nul hubungannya dengan sesuatu nafsu imperialisme, sama dengan persatuannya Pruisen dan Beieren dalarn negara Jer-mania, atau persatuannya Texas dan California dalam negara Amerika, juga nul hubungannya dengan sesuatu nafsu imperialisme. Persatuan Indonesia itu ditentukan oleh garis-garis social ekonomis. Malah bukan saja industrialism yang membutuhkan persatuan. Indonesia itu, perdagangan yang memperdagangkan hasil industrialisme itu, (dus satu anasir daripada industrialisme itu), itupun membutuhkan persatuan Indonesia itu. Kaum perdagangan Indonesia sudah tentu ingin mempunjai “pasar sendiri” yang seluas-luasnya dan 246<noinclude>{{rh|||246}}</noinclude> l690ge1zzz97bbjc2irkih9pxq2gnpi 298203 298202 2026-06-16T12:24:22Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298203 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>maka industrialisme itu tidak dapat berkembang di atas daerah ekonomis di Indonesia sepulau demi sepulau. Seluruh Kepulauan Indonesia membutuhkan diri satu sama lain, seluruh kepulauan Indonesia barulah dapat menjadi satu dasar ekonomis yang kuat bagi industrialisme, jika bergandengan ekonomis satu sama lain, isi mengisi satu sama lain, bantu-membantu satu sama lain. Dari manakah misalnya Jawa dapat memperoleh besi dan batu bara jika tidak dari pulau lain, dan dari manakah Kalimantan dapat memperoleh tenaga manusia jika tidak dari Jawa? Tidak! Buat membangunkan industrialisme yang luas, tidak ada satu pulau di Indonesia yang dapat berdiri sendiri! Jikalau di Indonesia akan tumbuh industrialisme yang kuat, -dan garis evolusi masyarakat pasti menuju ke situ, dan buat melaksanakan sosialisme pun dibutuhkan satu minimum industrialisme, sebagai saya terangkan tadi-, jikalau akan tumbuh di sini industrialisme yang kuat, maka Indonesia ekonomis harus menjadi satu, dan jikalau Indonesia ekonomis harus menjadi satu, maka Indonesia politis pun pasti menjadi satu. lni adalah satu kepastian, satu keharusan sosialekonomis dan sosial-politis, -bukan lagi satu pengelamunan, atau satu cita-cita semata-mata, atau satu romantik. Dan bukan pula yang orang namakan “imperialisme Jawa” atau “imperialisme Sumatera” atau “imperialisme Republik”! Alangkah piciknya orang yang menuduh Republik “imperialistis” (hendak “mencaplok” Indonesia Timur, atau “meng-anschluss” Borneo Barat), oleh karena Republik bercita-citakan persatuan Indonesia! Persatuan Indonesia kelak, ekonomis dan politis, adalah nul hubungannya dengan sesuatu nafsu imperialisme, sama dengan persatuannya Pruisen dan Beieren dalarn negara Jer-mania, atau persatuannya Texas dan California dalam negara Amerika, juga nul hubungannya dengan sesuatu nafsu imperialisme. Persatuan Indonesia itu ditentukan oleh garis-garis social ekonomis. Malah bukan saja industrialism yang membutuhkan persatuan. Indonesia itu, perdagangan yang memperdagangkan hasil industrialisme itu, (dus satu anasir daripada industrialisme itu), itupun membutuhkan persatuan Indonesia itu. Kaum perdagangan Indonesia sudah tentu ingin mempunjai “pasar sendiri” yang seluas-luasnya dan 246<noinclude>{{rh|||246}}</noinclude> a76poiafxbgsbskgaibc2kkngnonejr Halaman:Sarinah.pdf/247 104 105796 298204 2026-06-16T12:26:31Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298204 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>sesentausa-sentausanya, ingin mempunjai “home market” sendiri yang tidak dikuasai oleh persaingan asing. Dan “pasar sendiri” untuk hasil-hasil dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan lain sebagainya itu ialah kepulauan Indonesia, seluruh kepulauan Indonesia. Karena itulah maka perdagangan Indonesia, yang kelak dilahirkan oleh industrialisme Indonesia itu, membutuhkan dan tentu ikut melaksanakan Negara Indonesia itu. lni adalah satu macam nasionalisme, “nasionalisme perdagangan”, kalau Tuan mau-, tetapi satu nasionalisme yang benar pula, satu nasionalisme yang halal. Memang menurut salah seorang pemimpin Marxist yang besar “pasarlah sekolah di mana borjuasi belajar nasionalismenya pertama-tama”, -“the market is the first school in which the bourgeoisie learns its nationalism”. Orang-orang yang kukuh mau mengadakan negara-negara tersendiri di masing-masing pulau atau di masing-masing daerah, sungguh harus kita ibai. Mereka atau tidak berpengetahuan tentang tendenz evolusi masyarakat, atau sengaja menjadi alat durhaka imperialisme semata-mata yang selalu menjalankan politik memecah-belah. Tetapi tendenz evolusi masyarakat itu tidak dapat dipengaruhi oleh orangorang semacam itu, yang usahanya bertentangan dengan gerak anasir-anasir obyektif dalam masyarakat itu. Masyarakat berjalan terus menurut hukum-hukum evolusinya sendiri. Terus! Negara Nasional Indonesia pasti berdiri. Ya, Negara Nasional Indonesia pasti berdiri. Negara Nasional Indonesia itu ialah proyeksi politik daripada hasrat ekonomi daripada masyarakat Indonesia. Ia adalah ujung Revolusi Nasional kita, yang awalnya ialah terdirinya Republik. Ia belum tercapai, Revolusi Nasional kita memang belum selesai. Segenap Nasionalisme kita akan berkobar terus dan embinasa membangun terus, sampai Negara Nasional itu tercapai. Apakah yang dinamakan Nasionalisme kita itu? Segala macam rasa yang hebat dan mulia menjadi anasir Nasionalisme kita itu! Rasa cinta tanah-air yang indah dan permai, rasa cinta bangsa sendiri dan bahasa sendiri, rasa cinta kebudayaan yang telah menjadi irama jiwa sehari-hari, rasa cinta sejarah dahulu yang gilang-gemilang dan rasa ingin membangun sejarah baru yang gilang-gemilang pula, rasa 247<noinclude>{{rh|||247}}</noinclude> m7n4re0rj6bfjzed3n58s1pmata7q32 Halaman:Sarinah.pdf/227 104 105797 298205 2026-06-16T12:28:29Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298205 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>pula, maka merdekanya sesuatu bangsa jajahan adalah satu peristiwa revolusioner. Tergantung dari situasi-situasi revolusioner itulah, apakah lahirnya bayi merdeka itu disertai oleh pertumpahan darah yang banyak atau tidak. Bukan adanya atau tidak adanya pertumpahan darahlah yang menentukan sesuatu kejadian bersifat revolusioner atau tidak revolusioner, tetapi isinya kejadian itu! Sering kali banyak darah ditumpahkan justru oleh anasir-anasir reaksioner. Merdekanya sesuatu bangsa jajahan adalah satu peristiwa dalam proses revolusi kemerdekaan seluruh kemanusiaan, satu cincin dalam rantai revolusi kemerdekaan seluruh kemanusiaan. Ia dus revolusioner, ia tidak konstitusionil. Adakah Proklamasi 17 Agustus konstitusionil? Kaum reaksi malahan mencoba membatalkan kemerdekaan kita itu dengan alasan-alasan konstitusionil! Bumi dan langit ia goyangkan untuk mengeritiki kemerdekaan kita itu dengan alasan-alasan konstitusionil, segala kentongannya ia pukul untuk mengajak segala kaum reaksi sedunia untuk mereduksi soal Indonesia menjadi satu soal kecil “urusan dalam negeri” konstitusionil! Tetapi ia tidak akan berhasil, ia pasti akan kandas. Sebab memang bukan sesuatu pekerjaan konstitusionil, melainkan situasi-situasi revolusioner yang telah menelorkan kemerdekaan Indonesia itu, dan karenanya tiada kekuatan manusia apapun dapat menghapuskannya, tiada muslihat manusia apapun dapat meniadakannya. Di dalam tahun 1929 saya tahu bahwa situasi-situasi revolusioner itu akan datang, dan kemerdekaan Indonesia telah saya lihat menyingsing di cakrawala. - Dengan hati yang berdebar debar karena rasa kegembiraan yang tak tertahan, di dalam tahun 1929 itu terlepaslah dari mulut saya kalimat yang terkenal: “Kaum imperialisme, awaslah! Awas! Jikalau nanti geledek Perang Pasifik menyambar-nyambar dan membelah angkasa, jikalau nanti air Samudera Teduh menjadi merah, dan bumi di sekelilingnya menggempa karena ledakan bom dan dinamit, di situ rakyat Indonesia akan melepaskan belenggu-belenggunya, di situ rakyat Indonesia akan merdeka!” 227<noinclude>{{rh|||227}}</noinclude> 7phaoy64wbs9yvckqq0bene82p1uf8h Halaman:Sarinah.pdf/228 104 105798 298206 2026-06-16T13:11:17Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298206 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Ucapan ini bukan satu “nujuman”. Ia bukan pernyataan seorang-orang yang melihat gambar hari kemudian terlukis dalam rangkaian bintang-bintang di langit. Ia bukan pula keluar dari mulutku karena dorongan harapan berdasar “wishfull thinking”. Bukan pula sekedar hasutan kepada rakyat semata-mata, meskipun Belanda sudah barang tentu demikian menganggapnya dan melemparkan saya dalam penjara bertuhun-tahun. Ia adalah hasil perhitungan akan datangnya situasi-situasi revolusioner, dan perhitungan akan mempergunakan situasi-situasi revolusioner itu. Di dalam tahun 1929 itu sudah terang bagi saya, bahwa peperangan Pasifik pasti akan pecah. Tidak ada satu kekuatan duniawi pun dapat mengelakkannya. Kapitalisme yang makin lama makin memonopoli, lapangan persaingannya yang makin lama makin sesak sehingga laksana mencekek nafas, antiteseantitese yang laksana hendak merobek-robek dadanya, garis hidupnya yang makin lama makin menyatakan, bahwa ia telah turun (telah “im Niedergang”) dan megap-megap mencari nafas dan pasti akan mengalami bencana bilamana tidak dipecahkan kebuntuan yang mencekek nafas itu, usaha-usaha mati-matian untuk menyelamatkan kapitalisme itu dengan fasisme yang main labrak dengan cambuk konsentrasi kamp dan main drel dengan senapan mesin, -semua itu membuktikan, bahwa kapitalisme sedang mengalami krisis yang maha-maha hebat; dan bahwa krisis itu pasti akan mengklimaks dalam satu peperangan mati-matian yang seru dan seramnya belum pernah dialami oleh kemanusiaan, satu peperangan dunia yang tidak saja akan mempuingkan muka bumi di dunia Barat, tetapi juga akan menggeledek dan menghalilintar di dunia Timur. Pasti peperangan itu datang, segenap urat-urat dan saraf-saraf kapitalisme telah nampak menggeletar dan terpasang segenting-gentingnya, -pasti peperangan itu datang, hantuhantunya telah mengintai di cakrawala! Dan pasti, tiadaampun, -itu saya tahu-, imperialisme Belanda, akan terseretserta di dalam hamuknya taufan prahara peperangan itu, dan pasti pula, tiada ampun, ia akan terhantam remuk-redam 228<noinclude>{{rh|||228}}</noinclude> qim4leqttvdjqqcb3l8p0isnigjcl2m Halaman:Sarinah.pdf/229 104 105799 298207 2026-06-16T13:18:38Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298207 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>atau hamper godamnya! remuk-redam oleh hantaman palu-palu Dan jikalau nanti imperialisme Belanda telah remuk-redam atau hampir remuk-redam, maka itu adalah satu situasi revolusioner. Satu situasi revolusioner yang akan menjadi satu anasir-obyektif yang baik untuk melepaskan Indonesia dari cengkereman imperialisme Belanda itu. Manakala kita tidak cukup kekuatan untuk melepaskan diri kita dari cengkeraman imperialisme itu semasa ia masih segar bugar, maka haruslah kita menunggu kesempatan dan mempergunakan kesempatan yang ia berada di dalam keadaan lemah atau remuk. Tetapi untuk dapat mempergunakan kesempatan itu, kita sendiri harus kuat. Kita harus menyusun anasir subyektif untuk dapat mempergunakan kesempatan itu: kita harus menyusun tenaga-tenaga kita, menebalkan tekad kita, melatih ketangkasan kita, menggembleng barisan-barisan kita, mengkongkritkan kemauan nasional kita. Di samping situasi revolusioner yang obyektif yang berupa lemahnya atau remuknya imperialisme Belanda itu, harus dibangunkan (dan kita bangunkan) situasi revolusioner yang subyektif yang berupa penghebatan serta konkretisasi kemauan revolusioner dan tenaga revolusioner kita. Dan situasi revolusioner yang subyektif itu nanti harus kita gempurkan sehebat-hebatnya pada waktu situasi revolusioner yang obyektif sedang masak semasak-masaknya. Dan pada saat dua situasi revolusioner ini bertemu satu sama lain laksana cetusan antara dua poolnya lading elektris yang bertrilyun-trilyun volt, pada saat itu gugurlah dengan suara gemuruh yang terdengar dari ujung dunia yang satu sampai ke ujung dunia yang lain, kerajaan Belanda di dunia Timur. Pada saat itulah Banteng Indonesia akan meraung: Merdeka, Indonesia telah merdeka, Sekali merdeka, tetap merdeka! Demikianlah visiun kejadian yang akan datang yang saya lukiskan di dalam tahun 1929. Maka teranglah: Terjadinya situasi revolusioner obyektif itu tadi bukan satu hal konstitusionil, pembangunan situasi revolusioner subyektif itu pula sama sekali bukan satu perbuatan konstitusionil, dan 229<noinclude>{{rh|||229}}</noinclude> 9fl5cc006mfwvegicvz2uw8lyjyv52p Halaman:Sarinah.pdf/230 104 105800 298208 2026-06-16T13:21:15Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298208 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>pertemuan dua situasi revolusioner itu pun jauh daripada bersifat konstitusionil. Tidak, peristiwa merdekanya Indonesia adalah satu peristiwa revolusioner! Revolusioner di dalarn terjadinya, revo-lusioner di dalam kedukukannya, revolusioner di dalam tujuannya! Revolusioner di dalam tujuannya, oleh karena ia, sebagai tadi saya katakan, adalah satu langkah pertama ke arah penyelenggaraan satu tujuan sosial yang revolusioner, revolusioner pula di dalarn kedudukannya oleh karena ia (nanti saya jelaskan) satu bagian daripada satu proses dunia yang revolusioner. Revolusioner di dalam tujuannya! Di sinilah tempatnya saya meninjau soal: Tidakkah sekarang telah tiba saatnya untuk memulai Revolusi Sosial? Mengapa Revolusi Sosial itu masih dianggap tujuan? Belum dapatkah kita sekarang menjelmakannya, -merealisasikannya? Kaum wanita, yang membaca uraian-uraian saya di bab-bab yang di muka ini, sudah barang tentu ada yang tertarik oleh uraian tentang maksud dan tujuan pergerakan wanita tmgkat ketiga, dan berkeyakinan juga bahwa hanya di masyarakat sosialislah wanita dapat menjadi wanita yang merdeka. Memang, jikalau di antara pembaca-pembaca wanita ada yang memperoleh keyakinan demikian sebagai hasil membaca kitab saya ini, jikalau di antara pembaca-pembaca wanita itu sebagian besar lantas mengerti kekurangan-kekurangan feminisme atau neofeminisme dan mengerti, bahwa soal wanita hanyalah dapat memperoleh pemecahannya yang sempurna dalam Dunia Baru yang berkesejahteraan sosial, maka sayalah yang paling bersyukur, sayalah yang paling berbahagia. Memang untuk memberi keyakinan yang demikian itulah salah satu maksud tangan saya menggoyangkan pena! Tetapi saya pun sedar, bahwa saya masih harus menarik terus garis penerangan saya itu lebih jauh. Saya sedar, bahwa justru oleh karena tertarik oleh kebenaran pendirian “tingkat ketiga” itu, sebagian dari pembaca-pembaca lantas berfikiran: “Ha, tingkat ketigalah yang benar, tingkat ketigalah yang memberi pemecahan soal wanita yang memuaskan, marilah kita pusatkan segala perhatian kita dan keaktivan kita sekarang juga kepada Revolusi Sosialisme! Maka oleh karena itulah lantas mendesak kemuka soal: Sudahkah sekarang tiba 230<noinclude>{{rh|||230}}</noinclude> 1zkzq9memclld5rihhxdaip6rjn75f5 Halaman:Sarinah.pdf/231 104 105801 298209 2026-06-16T13:24:13Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298209 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>waktunya bagi kita untuk Revolusi Sosialisme? Untuk meniadakan tiap-tiap sesuatu yang berbau kapitalisme? Untuk membasmi borjuasi nasional? Untuk menghapuskan apa saja yang masih bercorak feodal? Untuk melabrak tiaptiap sesuatu yang masih belum bersifat sosialistis? “Kesejahteraan sosial”. Dua perkataan yang di dalam Revolusi kita ini telah amat termasyhur! Tetapi justru juga dua perkataan yang mewajibkan kita berfikir dalam-dalam. “Kesejahteraan sosial”! Ambillah misalnya pergaulan hidup dalam kelompok. Di dalam pergaulan hidup kelompok itu tentu tidak ada kapitalisme, tentu tidak ada borjuasi, tentu tidak ada feodalisme. Apakah pergaulan hidup kelompok itu “berkesejah-teraan sosial”? Atau ambillah pergaulan hidup dalam gens, di zamannya matriarchat. Juga di situ tidak ada kapitalisme, tidak ada borjuasi, tidak ada feodalisme. Malah di situ menurut pendapat Engels atau Muller Lyer ada “oercommunisme”. Tetapi adakah di situ kesejahteraan sosial? Apakah yang dinamakan kesejahteraan sosial? Apakah satu masyarakat, yang di dalamnya tidak ada kapitalisme, tidak ada borjuasi, tidak ada feodalisme, -yang di dalamnya ada “sama rasa sama rata”, tetapi yang di dalamnya misalnya orang harus berjalan kaki atau menaik gerobak kerbau kalau hendak pergi dari Bandung ke Surabaya, karena tidak ada oto atau kereta api; yang di dalamnya orang harus hidup dalam gelap gulita pada waktu malam karena tidak ada listrik ataupun minyak tanah; yang di dalamnya orang bodo plonga plongo karena tidak ada percetakan yang mencetak bukubuku atau surat-surat kabar; yang di dalamnya orang harus menderita banyak penyakit oleh karena tidak ada paberik yang membuat keperluan pengobatan; yang di dalamnya tiap-tiap tahun di tiap-tiap sungai orang harus lagi-lagi membuat bendungan-bendungan air - pengairan oleh karena di dalam tiap-tiap musim-hujan dam-dam semuanya dadal sebab tidak terbuat dari besi dan beton; yang di dalamnya produksi sawah paling mujur hanya padi sekian kwintal sebau, dan palawija sekian pikul sebau oleh karena pertanian masih dijalankan secara di zaman Nabi Adam, dan tidak ada alat-alat untuk mengolah sawah-sawah itu secara semanfaat-manfaatnya; pendek kata: satu masyarakat kuno-kuno-mbahnya-kuno 231 '''yogismemeth'''<noinclude>{{rh|||231}}</noinclude> d73loinh208zvxzjc6jp0ym6opu4lw7 298210 298209 2026-06-16T13:26:32Z Yogismemeth Al fakir 27267 298210 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>waktunya bagi kita untuk Revolusi Sosialisme? Untuk meniadakan tiap-tiap sesuatu yang berbau kapitalisme? Untuk membasmi borjuasi nasional? Untuk menghapuskan apa saja yang masih bercorak feodal? Untuk melabrak tiaptiap sesuatu yang masih belum bersifat sosialistis? “Kesejahteraan sosial”. Dua perkataan yang di dalam Revolusi kita ini telah amat termasyhur! Tetapi justru juga dua perkataan yang mewajibkan kita berfikir dalam-dalam. “Kesejahteraan sosial”! Ambillah misalnya pergaulan hidup dalam kelompok. Di dalam pergaulan hidup kelompok itu tentu tidak ada kapitalisme, tentu tidak ada borjuasi, tentu tidak ada feodalisme. Apakah pergaulan hidup kelompok itu “berkesejah-teraan sosial”? Atau ambillah pergaulan hidup dalam gens, di zamannya matriarchat. Juga di situ tidak ada kapitalisme, tidak ada borjuasi, tidak ada feodalisme. Malah di situ menurut pendapat Engels atau Muller Lyer ada “oercommunisme”. Tetapi adakah di situ kesejahteraan sosial? Apakah yang dinamakan kesejahteraan sosial? Apakah satu masyarakat, yang di dalamnya tidak ada kapitalisme, tidak ada borjuasi, tidak ada feodalisme, yang di dalamnya ada “sama rasa sama rata”, tetapi yang di dalamnya misalnya orang harus berjalan kaki atau menaik gerobak kerbau kalau hendak pergi dari Bandung ke Surabaya, karena tidak ada oto atau kereta api; yang di dalamnya orang harus hidup dalam gelap gulita pada waktu malam karena tidak ada listrik ataupun minyak tanah; yang di dalamnya orang bodo plonga plongo karena tidak ada percetakan yang mencetak bukubuku atau surat-surat kabar; yang di dalamnya orang harus menderita banyak penyakit oleh karena tidak ada paberik yang membuat keperluan pengobatan; yang di dalamnya tiap-tiap tahun di tiap-tiap sungai orang harus lagi-lagi membuat bendungan-bendungan air - pengairan oleh karena di dalam tiap-tiap musim-hujan dam-dam semuanya dadal sebab tidak terbuat dari besi dan beton; yang di dalamnya produksi sawah paling mujur hanya padi sekian kwintal sebau, dan palawija sekian pikul sebau oleh karena pertanian masih dijalankan secara di zaman Nabi Adam, dan tidak ada alat-alat untuk mengolah sawah-sawah itu secara semanfaat-manfaatnya; pendek kata: satu masyarakat kuno-kuno-mbahnya-kuno 231<noinclude>{{rh|||231}}</noinclude> 25my9m5l8lutn8wg12y9sv6c5dsm068 Halaman:Sarinah.pdf/232 104 105802 298211 2026-06-16T13:38:07Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298211 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>dengan tiada oto, dengan tiada kereta api, dengan tiada paberik-paberik, dengan tiada surat-surat kabar, dengan tiada radio, dengan tiada rumah-rumah sakit, dengan tiada kapalkapal, dengan tiada korek api, dengan tiada buku-buku, tiada aspal, tiada sepeda, tiada semen, tiada sekolah, tiada ya, entah tiada apapun namanya lagi, dapatkah masyarakat yang demikian itu, walaupun di dalamnya tidak ada kapitalisme, tidak ada borjuasi, tidak ada feodalisme, dan ada “sama rasa sama rata”, -dapatkah masyarakat yang demikian itu bernama masyarakat yang “berkesejahteraan sosial”? Sudah tentu tidak! Masyarakat yang demikian itu bukan masyarakat kesejahteraan sosial, masyarakat yang demikian itu bukan masyarakat sosialisme. Masyarakat yang demikian itupun tidak mungkin dapat berdiri teguh di dalam dunia kapitalistis yang sekarang. Ia segera akan menjadi mangsanya imperialisme, yang sedikitnya akan membanjiri dia dengan barang-barang modern buatan industrialismenya. Apakah arti sosialisme? Ya, saya menanya: “Apakah arti sosialisme?” Sosialismekah kalau orang masih harus berjalan kaki kalau bepergian jauh? Sosialismekah kalau produksi hanya sedikit dan distribusi tidak teratur sentral karena tidak ada banyak alat-alat transport yang mekanis? Sosialismekah kalau banyak obrolan omong kosong, karena hanya sedikit orang saja dapat membaca, menulis, mengetahui kabar dunia? Sosialisme kah kalau wanita di rumah lampunya lampu minyak kelapa atau lampu biji jarak, meniup-niup api di dapur tiap-tiap kali ia hendak menanak nasi, memintal dan menenun sendiri tiap-tiap jengkal bahan baju anaknya atau suaminya karena memang tidak ada paberik tenun yang menenun tekstil? Sosialisme berarti adanya paberik yang kolektif. Adanya industrialisme yang kolektif. Adanya produksi yang kolektif. Adanya distribusi yang kolektif. Adanja pendidikan yang kolektif. Sosialisme berarti adanya banyak otomobil, adanya 232<noinclude>{{rh|||232}}</noinclude> kif4xtxovzydrizail5z9h1do1o3wd3 Indeks:Perhentian Orang Koedoes (Yang Terkarang).pdf 102 105803 298212 2026-06-16T14:02:47Z Moel81 25980 ←Membuat halaman berisi '' 298212 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item= |Title=Perhentian Orang Koedoes: Jang Terkarang |Subtitle= |Language=id |Volume= |Edition= |Author=Richard Baxter |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator=W.H. Medhurst |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher=Batavia : Parapattan |Address= |Printer= |Year=1842 |Key= |ISBN= |Source=PDF |Image=1 |Progress=OCR |Pages=<pagelist /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} [[Kategori:Indeks]] [[Kategori:Indeks - Buku]] bb8szpmfdzd1o86dyaqxtxkq9i3u4ds Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/3 104 105804 298213 2026-06-16T14:23:17Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298213 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{block center|max-width=25em|{{xx-larger|'''TANAH AIR'''}}<br> <br> <br> <br> <br> <br> <br> <br> Dipersembahkan kedalam perdoepaan bahasa Melajoe oléh Moehammad Jamin D.I. semasa Perhoeboengan Pemoeda Pertja (Jong-Sumatranen-Bond) tjoekoep oesianja lima tahoen genap.}}<noinclude></noinclude> 3ekxyxyo27xbhs3bsw7xhfxip3lwe9r 298214 298213 2026-06-16T14:24:02Z Moel81 25980 298214 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{block center|max-width=25em|{{xx-larger|'''TANAH AIR'''}}<br> <br> <br> <br> <br> <br> <br> <br> ''Dipersembahkan kedalam perdoepaan bahasa Melajoe oléh Moehammad Jamin D.I. semasa Perhoeboengan Pemoeda Pertja (Jong-Sumatranen-Bond) tjoekoep oesianja lima tahoen genap.''}}<noinclude></noinclude> 781t5yz9ahfzbjebd0ufl1dt3216bvy Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/4 104 105805 298215 2026-06-16T14:24:26Z Moel81 25980 /* Tanpa teks */ 298215 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Moel81" /></noinclude><noinclude></noinclude> b6vsv7x4cso9loi655ra12c81tzym2p Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/5 104 105806 298216 2026-06-16T14:27:15Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298216 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{right|'''PENGANTAR.'''}} [Ketika ditaman berwarna-warna, terkenang dihati isinja Doepa. Bagaimanakah bitjara berésok kalanja, djikalau selagi merantau dipadang loeas, tiada mempersembahkan apa-apanja sepantoen anoegerah kedalem Doepa? Teroeslah béta, teroes berdjalan, melaloeï marga jang tak poetoes-toetoesnje, serta angkasa semerbaklah baoenja oléh soegandi kajoe Moedjari. Harilah malam, mendjalang siang; emboen dan fadjar bereboet-reboetan, berkat tjahaja Soerja hampirlah terbit. Ketika boelan hendakkan padam, terasa ditangan serangkai boenga: koebawa dia melaloei taman. dan dengan gembira alang-kepalang koemasoekkan gerangan kedalam Doepa. Badanpoen sadar haram tiada, entahlah boenga masih semerbak, karena kelopak dan sari soedahlah lajoe. Sebentar hatikoe goesar, tetapi disana dikaki langit, terdengar soeara Tjati Bilang Pandai: „Biarlah, Biarlah!”]<noinclude></noinclude> 5crw4so9zxj95cvbp5yh8y41u8u2igm Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/6 104 105807 298217 2026-06-16T14:27:37Z Moel81 25980 /* Tanpa teks */ 298217 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Moel81" /></noinclude><noinclude></noinclude> b6vsv7x4cso9loi655ra12c81tzym2p Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/7 104 105808 298218 2026-06-16T14:39:02Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298218 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{center|{{larger|'''<u>TANAH AIR.</u>'''}}}} {{ppoem|end=follow| {{dropinitial|D}}iatas batasan Boekit Barisan Memandang béta kebawah memandang: Tampaklah hoetan rimba dan ngarai Lagipoen sawah, telaga nan permai; Serta gerangan lihatlah poela Langit jang hidjau bertoekar warna Oléh poetjoek daoen kelapa; Itoelah tanah, tanah airkoe Soematera namanja toempah darahkoe. {{dropinitial|I}}ndah 'alam warna poealam Tempat mojangkoe njawa tertoempang; Walau berabad soedahlah lampau Menoetoepi Andalas diwaktoe nan silau Masih koebatja disegenap médjan Segala kebaktian seloeroeh zaman, Serta perboeatan jang moelia-hartawan Nan ditanam segala ninikkoe Dikorong kampoeng hak milikkoe. }}<noinclude></noinclude> 8ncn1mx1ymb5tlmvya7in7l4r53xpxs 298219 298218 2026-06-16T14:47:02Z Moel81 25980 298219 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{center|{{larger|'''<u>TANAH AIR.</u>'''}}}} {{left| <poem> {{dropinitial|D}}iatas batasan Boekit Barisan Memandang béta kebawah memandang: Tampaklah hoetan rimba dan ngarai Lagipoen sawah, telaga nan permai; Serta gerangan lihatlah poela Langit jang hidjau bertoekar warna Oléh poetjoek daoen kelapa; Itoelah tanah, tanah airkoe Soematera namanja toempah darahkoe. {{dropinitial|I}}ndah 'alam warna poealam Tempat mojangkoe njawa tertoempang; Walau berabad soedahlah lampau Menoetoepi Andalas diwaktoe nan silau Masih koebatja disegenap médjan Segala kebaktian seloeroeh zaman, Serta perboeatan jang moelia-hartawan Nan ditanam segala ninikkoe Dikorong kampoeng hak milikkoe.</poem>|25em}}<noinclude></noinclude> p9s3atfrl774i7dmek4irnodtw7avjg 298220 298219 2026-06-16T14:49:25Z Moel81 25980 298220 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{center|{{larger|'''<u>TANAH AIR.</u>'''}}}} {{left| <poem> {{dropinitial|D}}iatas batasan Boekit Barisan Memandang béta kebawah memandang: Tampaklah hoetan rimba dan ngarai Lagipoen sawah, telaga nan permai; Serta gerangan lihatlah poela Langit jang hidjau bertoekar warna Oléh poetjoek daoen kelapa; Itoelah tanah, tanah airkoe Soematera namanja toempah darahkoe. {{dropinitial|I}}ndah 'alam warna poealam Tempat mojangkoe njawa tertoempang; Walau berabad soedahlah lampau Menoetoepi Andalas diwaktoe nan silau Masih koebatja disegenap médjan Segala kebaktian seloeroeh zaman, Serta perboeatan jang moelia-hartawan Nan ditanam segala ninikkoe Dikorong kampoeng hak milikkoe.</poem>|offset=10em}}<noinclude></noinclude> d4mbo1jll4s2qsouxgazx7g1gwdgazv 298226 298220 2026-06-16T23:19:17Z Moel81 25980 298226 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{center|{{larger|'''<u>TANAH AIR.</u>'''}}}} {{Ppoem| {{dropinitial|D}}iatas batasan Boekit Barisan Memandang béta kebawah memandang: Tampaklah hoetan rimba dan ngarai Lagipoen sawah, telaga nan permai; Serta gerangan lihatlah poela Langit jang hidjau bertoekar warna Oléh poetjoek daoen kelapa; Itoelah tanah, tanah airkoe Soematera namanja toempah darahkoe. {{dropinitial|I}}ndah ’alam warna poealam Tempat mojangkoe njawa tertoempang; Walau berabad soedahlah lampau Menoetoepi Andalas diwaktoe nan silau Masih koebatja disegenap médjan Segala kebaktian seloeroeh zaman, Serta perboeatan jang moelia-hartawan Nan ditanam segala ninikkoe Dikorong kampoeng hak milikkoe.}}<noinclude></noinclude> ki75z6rzdroqm3n8z5owavpb4db8tod 298234 298226 2026-06-16T23:46:14Z Moel81 25980 298234 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{center|{{larger|'''<u>TANAH AIR.</u>'''}}}} <br> <br> {{Ppoem| {{dropinitial|D|margin-top=-0.5em}}iatas batasan Boekit Barisan Memandang béta kebawah memandang: Tampaklah hoetan rimba dan ngarai Lagipoen sawah, telaga nan permai; Serta gerangan lihatlah poela Langit jang hidjau bertoekar warna Oléh poetjoek daoen kelapa; Itoelah tanah, tanah airkoe Soematera namanja toempah darahkoe. <br> <br> {{dropinitial|I|margin-top=-0.5em}}ndah ’alam warna poealam Tempat mojangkoe njawa tertoempang; Walau berabad soedahlah lampau Menoetoepi Andalas diwaktoe nan silau Masih koebatja disegenap médjan Segala kebaktian seloeroeh zaman, Serta perboeatan jang moelia-hartawan Nan ditanam segala ninikkoe Dikorong kampoeng hak milikkoe.}}<noinclude></noinclude> sj1ou5fe5h8q7ial2nwrgitsdms0hcd Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/8 104 105809 298221 2026-06-16T14:55:53Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298221 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||2}}</noinclude>{{left| <poem> {{dropinitial|R}}indoe digoenoeng doedoek bermenoeng Terkenangkan masa jang soedah lindang: Sesoedah melihat pandang dan tilik Timoer dan Barat, hilir dan moedik, Teringatlah poelau tempat terdidik Diloemoeri darah bertitik-titik, Semasa poelai berpangkat naik : O, Bangsakoe, selagi tenaga Nan dipintanja berkenan djoega. {{dropinitial|G}}oenoeng dan boekit boekan sedikit Melengkoeng ditaman bergeloeng-geloeng Memagari dataran beberapa lembah; Disanalah pendoedoek tegak dan rebah Sedjak belioeng dapat merambah Sampai kezaman soedah beroebah : Sabas Andalas, boenga bergoebah Mari koedjoendjoeng, mari koesembah Hatikoe sedikit haram beroebah!</poem>|offset=10em}}<noinclude></noinclude> olh4rnay20zqikax2x9vrxilaol8tfo 298227 298221 2026-06-16T23:20:07Z Moel81 25980 298227 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||2}}</noinclude>{{Ppoem| {{dropinitial|R}}indoe digoenoeng doedoek bermenoeng Terkenangkan masa jang soedah lindang: Sesoedah melihat pandang dan tilik Timoer dan Barat, hilir dan moedik, Teringatlah poelau tempat terdidik Diloemoeri darah bertitik-titik, Semasa poelai berpangkat naik : O, Bangsakoe, selagi tenaga Nan dipintanja berkenan djoega. {{dropinitial|G}}oenoeng dan boekit boekan sedikit Melengkoeng ditaman bergeloeng-geloeng Memagari dataran beberapa lembah; Disanalah pendoedoek tegak dan rebah Sedjak belioeng dapat merambah Sampai kezaman soedah beroebah : Sabas Andalas, boenga bergoebah Mari koedjoendjoeng, mari koesembah Hatikoe sedikit haram beroebah!}}<noinclude></noinclude> 5om1i1qjui1r4ebsu7778ctybu5dagx 298235 298227 2026-06-16T23:46:57Z Moel81 25980 298235 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||2}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{dropinitial|R|margin-top=-0.5em}}indoe digoenoeng doedoek bermenoeng Terkenangkan masa jang soedah lindang: Sesoedah melihat pandang dan tilik Timoer dan Barat, hilir dan moedik, Teringatlah poelau tempat terdidik Diloemoeri darah bertitik-titik, Semasa poelai berpangkat naik : O, Bangsakoe, selagi tenaga Nan dipintanja berkenan djoega. <br> <br> {{dropinitial|G|margin-top=-0.5em}}oenoeng dan boekit boekan sedikit Melengkoeng ditaman bergeloeng-geloeng Memagari dataran beberapa lembah; Disanalah pendoedoek tegak dan rebah Sedjak belioeng dapat merambah Sampai kezaman soedah beroebah : Sabas Andalas, boenga bergoebah Mari koedjoendjoeng, mari koesembah Hatikoe sedikit haram beroebah!}}<noinclude></noinclude> 44low8ejqfu0cz2c1bowsyn2njss3ka Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/9 104 105810 298222 2026-06-16T15:00:58Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298222 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||3}}</noinclude>{{left| <poem> {{dropinitial|A}}nak Pertja kalboenja tjoeatja Apabila terkenang waktoe nan hilang, Karena kami anak Andalas Sedjak dahoeloe sampai keatas Akan seia sehidoep semati Sekata sekoempoel seikat sehati Senjawa sebadan soenggoeh sedjati, Baik didalam bersoeka raja Ataupoen diserang bala bahaja. {{dropinitial|H}}ilang bangsa bergantikan bangsa Loepoet masa timboellah masa .... Demikianlah poelaukoe mengikoetkan sedjar Sedjak doenia moela tersimbah Sampai kezaman bagoes, dan indah, Atau tenggelam bersama kelembah Menjerikan tjahaja penoeh dan limpah. Tetapi Andalas dizaman nan tiba Itoe bergantoeng ketoean dan hamba.</poem>|offset=10em}}<noinclude></noinclude> 64kw3rmw1m60vl8zga65xzkogf31xtg 298228 298222 2026-06-16T23:20:41Z Moel81 25980 298228 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||3}}</noinclude>{{Ppoem| {{dropinitial|A}}nak Pertja kalboenja tjoeatja Apabila terkenang waktoe nan hilang, Karena kami anak Andalas Sedjak dahoeloe sampai keatas Akan seia sehidoep semati Sekata sekoempoel seikat sehati Senjawa sebadan soenggoeh sedjati, Baik didalam bersoeka raja Ataupoen diserang bala bahaja. {{dropinitial|H}}ilang bangsa bergantikan bangsa Loepoet masa timboellah masa .... Demikianlah poelaukoe mengikoetkan sedjar Sedjak doenia moela tersimbah Sampai kezaman bagoes, dan indah, Atau tenggelam bersama kelembah Menjerikan tjahaja penoeh dan limpah. Tetapi Andalas dizaman nan tiba Itoe bergantoeng ketoean dan hamba.}}<noinclude></noinclude> ky5h1hmrlj2a944vzhegbb810j1pm8v 298236 298228 2026-06-16T23:47:36Z Moel81 25980 298236 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||3}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}nak Pertja kalboenja tjoeatja Apabila terkenang waktoe nan hilang, Karena kami anak Andalas Sedjak dahoeloe sampai keatas Akan seia sehidoep semati Sekata sekoempoel seikat sehati Senjawa sebadan soenggoeh sedjati, Baik didalam bersoeka raja Ataupoen diserang bala bahaja. <br> <br> {{dropinitial|H|margin-top=-0.5em}}ilang bangsa bergantikan bangsa Loepoet masa timboellah masa .... Demikianlah poelaukoe mengikoetkan sedjar Sedjak doenia moela tersimbah Sampai kezaman bagoes, dan indah, Atau tenggelam bersama kelembah Menjerikan tjahaja penoeh dan limpah. Tetapi Andalas dizaman nan tiba Itoe bergantoeng ketoean dan hamba.}}<noinclude></noinclude> lf9xmewy1sq736d7fw8q3pw94c1m6b4 Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/10 104 105811 298223 2026-06-16T15:08:50Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298223 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||4}}</noinclude>{{left| <poem> {{dropinitial|A}}wal berawal semoela asal Kami serikat berpagarkan ’adat, Tapi poelaukoe jang moelia raja Serta Soeboer, tanahnja kaja Mari koepagar serta koebilai Dengan Kemegahan sorak semarai Lagi ketinggian berbagai nilai. Karena disanalah darahkoe tertoempah Serta koepinta berkalangkan tanah. {{dropinitial|J}}akin pendapat akan sepakat ’Akibat Barisan manik seikat; Baikpoen hampir djaoeh dan dekat, Lamoen poelaukoe mari koeangkat Dengan tenaga kata moefakat Karena, bangsakoe, asal’lai serikat Mana jang djaoeh rasakan dekat Waktoe jang pandjang rasakan singkat, Dan Kemegahan tinggi tentoe ditingkat.</poem>|offset=10em}}<noinclude></noinclude> tsx2r6en3ok9d12t6nntcc00bkvweqe 298225 298223 2026-06-16T23:18:01Z Moel81 25980 298225 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||4}}</noinclude>{{Ppoem| {{dropinitial|A}}wal berawal semoela asal Kami serikat berpagarkan ’adat, Tapi poelaukoe jang moelia raja Serta Soeboer, tanahnja kaja Mari koepagar serta koebilai Dengan Kemegahan sorak semarai Lagi ketinggian berbagai nilai. Karena disanalah darahkoe tertoempah Serta koepinta berkalangkan tanah. {{dropinitial|J}}akin pendapat akan sepakat ’Akibat Barisan manik seikat; Baikpoen hampir djaoeh dan dekat, Lamoen poelaukoe mari koeangkat Dengan tenaga kata moefakat Karena, bangsakoe, asal’lai serikat Mana jang djaoeh rasakan dekat Waktoe jang pandjang rasakan singkat, Dan Kemegahan tinggi tentoe ditingkat.}}<noinclude></noinclude> jq4q56iha0plar8wwmoh8ognmgavvi5 298237 298225 2026-06-16T23:48:17Z Moel81 25980 298237 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||4}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}wal berawal semoela asal Kami serikat berpagarkan ’adat, Tapi poelaukoe jang moelia raja Serta Soeboer, tanahnja kaja Mari koepagar serta koebilai Dengan Kemegahan sorak semarai Lagi ketinggian berbagai nilai. Karena disanalah darahkoe tertoempah Serta koepinta berkalangkan tanah. <br> <br> {{dropinitial|J|margin-top=-0.5em}}akin pendapat akan sepakat ’Akibat Barisan manik seikat; Baikpoen hampir djaoeh dan dekat, Lamoen poelaukoe mari koeangkat Dengan tenaga kata moefakat Karena, bangsakoe, asal’lai serikat Mana jang djaoeh rasakan dekat Waktoe jang pandjang rasakan singkat, Dan Kemegahan tinggi tentoe ditingkat.}}<noinclude></noinclude> gl4bp2bnc68055ug230zhv6w214latc Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/11 104 105812 298224 2026-06-16T23:17:17Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298224 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||5}}</noinclude>{{Ppoem| {{dropinitial|O}}, tanah, wahai poelaukoe Tempat bahasa mengikat bangsa, Koeingat dihati siang dan malam Sampai semangatkoe soeram dan silam; Djikalau Soematera tanah moelia Meminta koerban bagi bersama Terboekalah hatikoe badankoe réda Memberikan koerban segala tenaga, Berbarang doea koeoendjoekkan tiga. {{dropinitial|E}}lok pemandangan kesana Barisan Kepihak Timoer pantai nan kaboer, Sela-bersela tamasa nan ramai Diselangi soengai jang amat permai: Dengan lambatnja seperti tak'kan sampai Menghalirlah ia hendak mentjapai Djaoeh disana teloek jang lampai; Dimana dataran soedah dibilai Tinggallah emas tiada ternilai.}}<noinclude></noinclude> s4a827vumhyizjmfrt4ch5o0nplz2tg 298233 298224 2026-06-16T23:44:48Z Moel81 25980 298233 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||5}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{dropinitial|O|margin-top=-0.5em}}, tanah, wahai poelaukoe Tempat bahasa mengikat bangsa, Koeingat dihati siang dan malam Sampai semangatkoe soeram dan silam; Djikalau Soematera tanah moelia Meminta koerban bagi bersama Terboekalah hatikoe badankoe réda Memberikan koerban segala tenaga, Berbarang doea koeoendjoekkan tiga. <br> <br> {{dropinitial|E|margin-top=-0.5em}}lok pemandangan kesana Barisan Kepihak Timoer pantai nan kaboer, Sela-bersela tamasa nan ramai Diselangi soengai jang amat permai: Dengan lambatnja seperti tak'kan sampai Menghalirlah ia hendak mentjapai Djaoeh disana teloek jang lampai; Dimana dataran soedah dibilai Tinggallah emas tiada ternilai.}}<noinclude></noinclude> epvghjyrm8v443ye1vjgelq48755e7n Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/12 104 105813 298229 2026-06-16T23:23:48Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298229 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||6}}</noinclude>{{Ppoem| {{Dropinitial|L}}amoen djasakoe kepada bangsakoe Sedjak semoela sampai ketoea Atau berpindah keboemi nan baka Meninggalkan ’alam bersifat fana. Biarlah hilang moedah-moedahan Sebagai koerban kepada Toehan Serta kesedjahteraan bangsa kemanoesiaan. O, Bangsakoe, pendoedoek Emas Mari bekerdja sampaikan bébas. {{Dropinitial|A}}dapoen darah daérah nan indah Disoearangkan ninik mendjadi milik, Tiadalah enggan toeroen tertoempah Mendjadi aliran dipermoekaan tanah Asal’lai kebesaran bersama didjalang; Karena poelaukoe hendaklah tjemerlang Dihiasi Ketinggian moelia terpandang; Di-Andalas gerangan tanah airkoe Poesaka moelia, tempat lahirkoe.}}<noinclude></noinclude> taruxadtg84jasuewkr8ts90j1a705e 298232 298229 2026-06-16T23:43:29Z Moel81 25980 298232 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||6}}</noinclude>{{Ppoem| {{Dropinitial|L|margin-top=-0.5em}}amoen djasakoe kepada bangsakoe Sedjak semoela sampai ketoea Atau berpindah keboemi nan baka Meninggalkan ’alam bersifat fana. Biarlah hilang moedah-moedahan Sebagai koerban kepada Toehan Serta kesedjahteraan bangsa kemanoesiaan. O, Bangsakoe, pendoedoek Emas Mari bekerdja sampaikan bébas. <br> <br> {{Dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}dapoen darah daérah nan indah Disoearangkan ninik mendjadi milik, Tiadalah enggan toeroen tertoempah Mendjadi aliran dipermoekaan tanah Asal’lai kebesaran bersama didjalang; Karena poelaukoe hendaklah tjemerlang Dihiasi Ketinggian moelia terpandang; Di-Andalas gerangan tanah airkoe Poesaka moelia, tempat lahirkoe.}}<noinclude></noinclude> r20gnury55urvy7yyhxeg2xwofwq007 298238 298232 2026-06-16T23:48:57Z Moel81 25980 298238 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||6}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|L|margin-top=-0.5em}}amoen djasakoe kepada bangsakoe Sedjak semoela sampai ketoea Atau berpindah keboemi nan baka Meninggalkan ’alam bersifat fana. Biarlah hilang moedah-moedahan Sebagai koerban kepada Toehan Serta kesedjahteraan bangsa kemanoesiaan. O, Bangsakoe, pendoedoek Emas Mari bekerdja sampaikan bébas. <br> <br> {{Dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}dapoen darah daérah nan indah Disoearangkan ninik mendjadi milik, Tiadalah enggan toeroen tertoempah Mendjadi aliran dipermoekaan tanah Asal’lai kebesaran bersama didjalang; Karena poelaukoe hendaklah tjemerlang Dihiasi Ketinggian moelia terpandang; Di-Andalas gerangan tanah airkoe Poesaka moelia, tempat lahirkoe.}}<noinclude></noinclude> gwjkzqura2cow4odsztjljaiijtfjmh Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/13 104 105814 298230 2026-06-16T23:40:24Z Moel81 25980 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{Ppoem| {{Dropinitial|H|margin-top=-0.5em}}ari nan datang soedah gemilang Tertera bagoes ditabir Soematera Sebagai boelan kilat kalmantang Poetih poernama berpagarkan bintang: Inilah djasanja pemoeda sekarang Menoeroet Darma kilau benderang Membawa tanahnja ketempat nan terang; Ketoempah-darah hatikoe setia Karena Soematera bagikoe moelia. <br> <br> {{Dropinitial|T|margin-top=-0.5em}}erdjatoeh pandangan kekaki Barisan Memandang kepantai teloek... 298230 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Moel81" />{{rh||7}}</noinclude>{{Ppoem| {{Dropinitial|H|margin-top=-0.5em}}ari nan datang soedah gemilang Tertera bagoes ditabir Soematera Sebagai boelan kilat kalmantang Poetih poernama berpagarkan bintang: Inilah djasanja pemoeda sekarang Menoeroet Darma kilau benderang Membawa tanahnja ketempat nan terang; Ketoempah-darah hatikoe setia Karena Soematera bagikoe moelia. <br> <br> {{Dropinitial|T|margin-top=-0.5em}}erdjatoeh pandangan kekaki Barisan Memandang kepantai teloek nan permai, Tampaklah air, air segala Itoelah laoet Semoedera Hindia; Tampaklah ombak gelombang pelbagai Memetjah kepasir laloe berderai Ia memekik berandai-randai: „Wahai Andalas poelau Soematera Haroemkan nama Selatan Oetara!”}}<noinclude></noinclude> rsb70mljmhxq5i8rgfuq5uv0y5fi6la 298231 298230 2026-06-16T23:40:39Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298231 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||7}}</noinclude>{{Ppoem| {{Dropinitial|H|margin-top=-0.5em}}ari nan datang soedah gemilang Tertera bagoes ditabir Soematera Sebagai boelan kilat kalmantang Poetih poernama berpagarkan bintang: Inilah djasanja pemoeda sekarang Menoeroet Darma kilau benderang Membawa tanahnja ketempat nan terang; Ketoempah-darah hatikoe setia Karena Soematera bagikoe moelia. <br> <br> {{Dropinitial|T|margin-top=-0.5em}}erdjatoeh pandangan kekaki Barisan Memandang kepantai teloek nan permai, Tampaklah air, air segala Itoelah laoet Semoedera Hindia; Tampaklah ombak gelombang pelbagai Memetjah kepasir laloe berderai Ia memekik berandai-randai: „Wahai Andalas poelau Soematera Haroemkan nama Selatan Oetara!”}}<noinclude></noinclude> 7exb49ct3lvqgyyfvay1xe2gfu1ujho 298239 298231 2026-06-16T23:49:35Z Moel81 25980 298239 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||7}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|H|margin-top=-0.5em}}ari nan datang soedah gemilang Tertera bagoes ditabir Soematera Sebagai boelan kilat kalmantang Poetih poernama berpagarkan bintang: Inilah djasanja pemoeda sekarang Menoeroet Darma kilau benderang Membawa tanahnja ketempat nan terang; Ketoempah-darah hatikoe setia Karena Soematera bagikoe moelia. <br> <br> {{Dropinitial|T|margin-top=-0.5em}}erdjatoeh pandangan kekaki Barisan Memandang kepantai teloek nan permai, Tampaklah air, air segala Itoelah laoet Semoedera Hindia; Tampaklah ombak gelombang pelbagai Memetjah kepasir laloe berderai Ia memekik berandai-randai: „Wahai Andalas poelau Soematera Haroemkan nama Selatan Oetara!”}}<noinclude></noinclude> ox58zg8gbs1rsmpnw6hbe7stdhwc3hs Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/14 104 105815 298240 2026-06-16T23:53:16Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298240 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||8}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}rah ke-Barat akoe melihat .. Memandang ’alam berdjandjang-djandjang Bertangga toeroen tiada terkira Sampai kepasir laoetan segara. Antara goenoeng djoerang dan ngarai Mengalir air berderai-derai Sepantoen permata keboemi berderai Memboeat djeram, riam nan ramai, Air memantjoer — pandangan permai .... <br> <br> {{Dropinitial|N|margin-top=-0.5em}}aoeng badankoe dipoelau indoeng Diléréng boekit berbelit-belit; Disana sini dikaki goenoeng Meneroes kelaoet beberapa tandjoeng Dipagari teloek beriak-riak, Tempat membanting beberapa ombak Serta menggoeloeng berboeih semerbak, Sepantoen semoeanja membawa pesanan „Pinta Soematera akan berkenan.”}}<noinclude></noinclude> 7yclw41k5v3lapojpt2vjs5t8cbka7x Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/15 104 105816 298241 2026-06-16T23:56:43Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298241 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||9}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}tjap berbelit berpagarkan boekit Terhampar dataran bertepi Barisan, Seperti jang terpakoe didjantoeng hatikoe, Tempat mengoerbankan segala baktikoe Kepada tanah jang koesantoeni: Siang dan malam, soeka dan soeni Dengan tenaga akoe bantoeni .... O, Barisan, kandoengkoe toean Itoelah gerangan 'alamat persatoean. <br> <br> {{Dropinitial|H|margin-top=-0.5em}}iasan moelia dikatistiwa Ialah Pertja alangkah bagoesnja; Disanalah berkoeboer dilembah dan loerah Ditedoehi kembodja ditanah nan mérah, Ditanam bangsakoe seasal sedarah Ditengah pesara dikelilingi daérah, Tempat berdjoeang kedjadian sedjarah Seperti jang dibajangkan dengan gairah Oléh iboekoe, bapa pitarah.}}<noinclude></noinclude> 3mbaz6s7dk7r909x2tsl16y5wqc9o69 Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/16 104 105817 298242 2026-06-17T00:00:17Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298242 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||10}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}pabila koeboeran tiada bermédjan Atau bersalib silang jang talib, Soekalah hati boekan sembarang Seperti menerima poesaka soearang; Kalau badankoe demikian berpoelang Sampaikan hantjoer toelang beloelang Balik keboemi beroepakan hilang: Bertjerailah badan dilembah dan djoerang Berderailah dia dipantai dan karang. <br> <br> {{Dropinitial|I|margin-top=-0.5em}}ngin djiwakoe meninggalkan poelaukoe Berkat gerangan dibimbing Djoendjoengan Membawa pesanan penjenangkan hati Kepada taulan diachirat menanti Atau ber’amanat meninggalkan poesaka Kepada jang hidoep semoean ja belaka: „Selama badankoe segenap ketika Selagi menoempang didoenia nan baka Koebawa Andalas kepadang merdéka.”}}<noinclude></noinclude> rwkpumu3wcfoa4gi32pdczk4p1eqw1u Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/17 104 105818 298243 2026-06-17T00:06:26Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298243 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||11}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|R|margin-top=-0.5em}}indoe dan rawan dipoentjak Barisan Mata menindjau kesebelah danau: Belit-berbelit beberapa soengai Mengalir kepantai jang amat landai Sepantoen langit hidjau-hidjauan Bertepikan tjahaja permata intan Berseri-seri silau kelihatan .... Ditanah demikian akoe terlahir Tempat bangsakoe bertanah air. <br> <br> {{Dropinitial|S|margin-top=-0.5em}}esajoep mata, hoetan semata Bergoenoeng boekit lembah sedikit; Djaoeh disana disebelah sitoe Dipagari goenoeng satoe persatoe Adalah gerangan seboeah soerga Boekannja djanat boemi kedoea ~ Firdaus Andalas diatas doenia! Itoelah tanah jang koesajangi Soematera namanja nan koedjoendjoengi.}}<noinclude></noinclude> k1vkfjal83qtmi5cz7db80ttk6obhdy Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/18 104 105819 298245 2026-06-17T00:11:19Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298245 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||12}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|O|margin-top=-0.5em}}elang-beroelang akoe memandang Melihat goenoeng tempat bernaoeng Mengeloearkan asap memboeboeng-boeboeng Dihiasi api keangkasa terlamboeng: Inilah bagia tanahkoe kandoeng Penjamboeng njawa masa'kan koedoeng, Tempat badankoe dahoeloe berlindoeng Semasa iboekoe sedang membadoeng Dihadiri mamak, ninik dan andoeng. <br> <br> {{Dropinitial|E|margin-top=-0.5em}}maslah Soematera soenggoeh sedjahtera Serta permai intan dan oerai, Mari koepinta menadahkan tangan Kepada Allah Toehan Begawan, Soepaja bangsakoe dipoelau Kenaka Sedang sentausa segenap ketika Lagi moelia lepas merdéka, Karena hatikoe haram’lai girang Kalau bangsakoe diindjakkan orang.}}<noinclude></noinclude> 2xoerhbz9k529h4dtsvucf24btv7wvb Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/19 104 105820 298246 2026-06-17T00:20:09Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298246 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||13}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|M|margin-top=-0.5em}}aksoed Andalas soedahlah djelas Hendak berdiri ditengah boemi Mengadang kema’moeran tiada berbanding Serta Kebesaran soekar berganding: Inilah petaroeh soeatoe djandji Dalam djantoengkoe soedah tersadji Mendjadi do’a sertakan poedji Kepada tanah nan menantikan kita Sebeloem berdagang keboemi nan lata. <br> <br> {{Dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}koe pintakan kepada Toehan Bagi Soematera ditoeroenkan tjinta. Soepaja poelaukoe tanah dan ladang Sertakan sawah, keboen berbidang Ditoeroenkan rahmat bersedang-sedang, Sehingga jang lemah, ketjil dan gedang Dapat bertedoeh dikajoe nan rindang. O, Toehan jang mahamoelia Limpahilah tanahkoe dengan Tjahaja.}}<noinclude></noinclude> bcxynebfxqaybci8xzz5d6qgerm5nj5 Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/20 104 105821 298247 2026-06-17T00:23:42Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298247 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||14}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|T|margin-top=-0.5em}}erang pandangan dipoentjak Barisan Memandang kezaman nan akan datang: Tampaklah ditjelah sibiran tanah Berdjalan didjoerang, ngarai dan ranah Soeatoe bangsa bersifat moelia Bertempat di’alam jang amat kaja Serta kepoelaunja tegoeh setia, Karena dihatinja wadjah dan moeka Berseri gerangan tjahaja merdéka. <br> <br> {{Dropinitial|E|margin-top=-0.5em}}ntah bak mana poela rasanja Nanti berdjalan kita berdandan Menoedjoe padang tinggi moeliawan Diiringkan gerangan bangsa perempoean, Karena tjintakoe kebangsa boenda Sedjakkan ketjil ber’oemoer moeda Sampai beroesia berganda-ganda, Koesimpan tinggi didalam dada Hening dan djernih beroebah tiada}}<noinclude></noinclude> 4o9fjj7u31jtuf19kixnwr5fjpeognr Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/21 104 105822 298248 2026-06-17T00:28:36Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298248 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" />{{rh||15}}</noinclude><br> <br> {{Ppoem| {{Dropinitial|R|margin-top=-0.5em}}iang hatikoe djika berlakoe Melihat bangsakoe berniatkan madjoe Toea dan moeda ketjil dan besar Hendak bergerak hendak berkisar Menoedjoe maksoed berhiaskan baidoeri Sebagai permainan setiap hari, Berkat disinari baoe moedjari. Demikianlah gerangan poelau Soematera Tanah airkoe ditepi Semoedera. <br> <br> {{Dropinitial|A|margin-top=-0.5em}}kan jang Éka, Toehan nan Esa Berdjandji badan berboeat bakti, Serta kalboekoe baroe berboedi Kalau berdjasa ketempatkoe djadi. Serta, Andalas, malam dan siang Kepada Dialah akoe sembahjang Serta kedjiwa ninik dan pojang, Segala nan hidoep soepaja selamat Lahir dan batin ditoeroenkan rahmat.}} {{c|”<br>” ”}} {{right|Tanah Pesoendan, 9 Dec. 1922.|offset=15em}}<noinclude></noinclude> a0suhofi2z5mp43ic5ggftk4069ghwa Halaman:Tanah Air (Poesi-Poesi).pdf/22 104 105823 298249 2026-06-17T00:28:48Z Moel81 25980 /* Tanpa teks */ 298249 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Moel81" /></noinclude><noinclude></noinclude> b6vsv7x4cso9loi655ra12c81tzym2p Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/17 104 105824 298250 2026-06-17T00:35:39Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298250 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>biasa terhadap nona ini, hingga pihak Houyan Pa mendjadi heran. Karenanja, Ma Tjoen tidak memaksakan undangannja itu. Diantara Say Hiang Hoei dan Pek Ma Sie-seng Lioe Hong Hoa, dua saudara seperguruan itu, ada lelakon jang istimewa. Mereka bukan melainkan erat perhubungan sebagai saudara serumah perguruan. Disamping ini, masih ada hubungan lain ...... {{c|'''XI'''}} {{c|'''TERUMBANG - AMBING ................'''}} Lioe Hong Hoa adalah anak sebatang kara, jang hidupnja bersengsara. Ia berguru kepada Pek Tim Loodjin sedjak umur tudjuh tahun, tetapi gurunja itu terus hidup berkelana. Dalam usia masih demikian muda, tidak leluasa bagi Pek Tim Loodjin untuk membawa<sup><small>2</small></sup> dia, maka ia dititipkan kepada So In Soe-thay digunung Boe Ie San, untuk sekalian paderi wanita itu mendidiknja. Tetapi djuga So In sering mengembara, maka selama ia tidak berada digunungnja, Hong Hoa diserahkan kepada tiga murid wanitanja, diantaranja Sim Goat Hoa adalah murid jang nomor dua. Nona Sim seorang jang halus budi-pekertinja dan lemah-lembut sikapnja. Ia suka kepada Hong Hoa, jang usianja lebih muda sembilan tahun, maka itu ia rawat dan didik anak titipan sebatangkara ini sebagai adik kandung sendiri. Kalau siang mereka berada bersama untuk Hong Hoa beladjar surat dan silat. Diwaktu malam mereka tidur bersama dalam sebuah kamar. Ketika itu mereka sama<sup><small>2</small></sup> masih ketjil. Sang tempo lewat dan suasana berubah. Demikian pula terdjadi dengan Goat Hoa dan Hong Hoa. Tadinja mereka adalah botjah<sup><small>2</small></sup>, selewatnja beberapa tahun, perlahan<sup><small>2</small></sup> mereka meningkat besar, perhubungan mereka djadi semakin erat, hingga mereka tak sudi dipisahkan lagi. Waktu usia Hong Hoa enambelas tahun, ia sudah lantas mengenal asmara, maka berubahlah pandangannja terhadap Goat Hoa, sang kakak seperguruan. Sementara itu, mereka telah tinggal berpisah. Hong Hoa sudah dapat mengikuti gurunja, maka setiap ada ketika ia lantas datang ke Boe Ie San, berkundjung kepada kakak<noinclude>{{rh|200}}</noinclude> 33fqe5nghvxaoxz840pbbgxl2mcqb5w Halaman:Sarinah.pdf/233 104 105825 298251 2026-06-17T00:42:24Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298251 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>radio, adanya telepon, adanya telegrap, adanya kereta api, adanya kapal udara, adanya aspal, adanya water leiding, adanya listrik, adanya gambar hidup, adanya buku-buku, adanya perpustakaan, adanya ilmu tabib, adanya aspirin, adanya sekolah rendah, adanya sekolah tinggi, adanya traktor, adanya irigasi, dll, semuanya secara mempunyai jumlah minimum, dan semuanya, (saya pinjam perkataan Bakounin, walaupun ia orang anarchist) “di dalam suasana kolektivitas”. Alat-alat teknik, dan terutama sekali semangat gotongroyong yang telah masak, itulah soko-gurunya pergaulan hidup sosialistis. Sosialisme adalah kecukupan berbagai kebutuhan dengan pertolongan modernisme yang telah dikolektivisasikan. Sosialisme adalah “keenakan hidup yang pantas” Kecukupan berbagai kebutuhan itu, adanya “keenakan hidup yang pantas” itu, hanyalah mungkin dengan adanya dan dipergunakannya “secara sosial” alat-alat teknik. Satu masyarakat yang belum dapat memenuhi syarat-syarat teknik itu sampai kepada sedikitnya satu tingkat minimum yang tertentu, tak mungkin mampu menjelmakan sosialisme! Sudahkah kemajuan masyarakat kita sekian jauhnya? Sudahkah masyarakat kita politik cukup merdeka, untuk menyediakan “syarat-syarat teknik” sampai kepada sedikitnya satu tingkat “minimum” itu? Pada saat saya menuliskan pertanyaan-pertanyaan ini, lampu yang menyinari kertas saya ialah lampu lilin, karena aliran listrik diputuskan Belanda di Tuntang, dan di berpuluh-puluh tempat dalam Republik, mortir dan bren-gun Belanda berdentam-dentam. Negara Indonesia dalam bahaya! Dapatkah satu Negara, yang sedang dikepung dan diserang oleh musuh, melaksanakan sosialisme? Dan andaikata Belanda tidak mengepung dan tidak menyerang negara kita, sekali lagi saya tanyakan, dapatkah kita sekarang, -sekarang!- , telah melaksanakan sosialisme? Negara Indonesia dalam bahaya. Memang bahaya ini adalah satu fase, satu tingkat, dalam usaha kita mendirikan Negara yang merdeka. Justru oleh karena proklamasi kemerdekaan kita satu kejadian yang tidak konstitusionil, justru oleh karena tindakan kita memerdekakan Indonesia itu satu 233<noinclude>{{rh|||233}}</noinclude> qviv8z01kggp2h4sr23a2jv0bj8dxix Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/18 104 105826 298252 2026-06-17T00:43:20Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298252 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>seperguruan itu. Sekarang ia selalu berdaja berbitjara tentang rasa hatinja itu. Mulanja Goat Hoa tidak tahu rahasia hati soeteenja, si adik seperguruan. Adalah kemudian, pelahan<small><sup>2</sup></small>, ia mengetahuinja. Ia pun bukannja tidak mempunjai sematjam perasaan, akan tetapi ia masih dapat mengendalikan diri disebabkan ia ingat perbedaan usia jang besar diantara mereka berdua. Perbedaan itu menjolok mata, tak tepat dan ia kuatir nanti orang mentertawainja. Meski begini, belum pernah ia menolaknja. Selama empat atau lima tahun, dua orang ini saling menjinta setjara demikian. Achirnja sikap mereka itu dapat diketahui So In serta kedua murid lainnja. So In tidak mupakat. Ia telah mendjadi orang sutji, ia tidak ingin penghidupan muridnja itu mendapat gangguan. Murid kepala dan murid ke-tiga dari paderi wanita ini sudah mendjadi paderi sebagaimana ia sendiri, tinggal Goat Hoa jang belum. Goat Hoa mensutjikan diri dengan masih tetap memelihara rambutnja. Goat Hoa bukannja tidak sudi mendjadi bhikshuni, adalah gurunja jang belum mengidjinkan meskipun guru ini menghendaki itu. Sebabnja ialah Goat Hoa tjantik sekali, tabiatnja halus. Sedjak dia naik gunung, masih belum ia melupakan penghidupan manusia biasa. Ia masih ketjil. Setiap tahun satu kali setjara tertentu ia pasti kerumahnja di Tjong-beng untuk mendjenguk ibu dan adiknja itu. Karena ini, mengingat hatinja belum tjukup keras, So In tidak mau lekas<small><sup>2</sup></small> mentjukuri rambut Goat Hoa. Hati Goat Hoa pun masih gontjang. Satu waktu ia ingin sekali mendjadi paderi sebab ia ketarik dengan penghidupan sunji dan tenang didalam kuil, tapi lain saat ia membajangkan penghidupan itu terlalu sepi dan sengsara, ia merasa tak sanggup menderita. Bisakah ia hidup hingga dihari tuanja dengan tjuma menungkuli pelita sutji ? Djuga, disamping itu, lantas sering berpeta bajangan Lioe Hong Hoa jang tampan. Oleh karena ini, selandjutnja ia tidak suka bitjara pada gurunja perihal ingin sutjikan diri ...... Setelah mengetahui Hong Hoa adalah salah satu penggoda bagi muridnja, pelahan<small><sup>2</sup></small> So In Soe-thay mendapatkan rasa tidak puas terhadap pemuda itu, maka kemudian, djikalau Hong Hoa datang berkundjung, akan mentjari Goat Hoa, ia lantas dirintangi. So In<noinclude>{{rh|||201}} {{rh|Warisan Seorang Pangeran djilid IV — 2}}</noinclude> je7t218vgbfli24775te8brr6tjr35x Halaman:Sarinah.pdf/234 104 105827 298253 2026-06-17T00:45:04Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298253 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>tindakan yang revolusioner, maka tidak boleh tidak Negara Indonesia harus melalui satu fase “dalam bahaya”. Tidakkah tadi telah saya sitirkan ucapan, bahwa tak pernah sesuatu kelas dengan sukarela melepaskan kedudukannya yang berlebih? Pekerjaan kita mendirikan negara belum selesai, Revolusi Nasional kita belum berakhir. Revolusi Nasional kita malah sedang menggelora-menggeloranya! Pekerjaan mendirikan negara itu sedikitnya harus selesai lebib dahulu, sebelum kita dapat memasuki fase sosialisme. Bangsa Indonesia sedang di dalam Revolusi. Tetapi Revolusi bukanlah sekedar satu “kejadian” belaka. Revolusi adalah satu proses. Puluhan tahun, kadang-kadang, berjalannya proses itu. Revolusi Perancis berjalan delapan puluh tahun, Revolusi Rusia empat puluh tahun, Revolusi Tiongkok sampai sekarang pun belum selesai. Revolusi kita pun tentu akan memakan waktu bertahun-tahun, kalau tidak berpuluh-puluh tahun juga. Pasang naik dan pasang surut akan kita alami bergantiganti, pasang naik dan pasang surut itulah yang dinamakan irama Revolusi! Tetapi geloranya samudra tidak berhenti, gelora samudra berjalan terus. Sejarah berjalan terus, dan klimaks sejarah (atau “inspirasi yang menghamuk” daripada sejarah) yang bernama Revolusi itu pun berjalan terus, melalui beberapa fase. Revolusi adalah “hamuknya” tenaga-tenaga masyarakat, tetapi tenaga-tenaga itu bukan hanya tenaga-tenaga yang menghantam, menggempur, menghancurleburkan saja, tenaga-tenaga itu ada pula yang menyusun, membina, membangun. Revolusi bukan hanya proses yang destruktif, ia juga satu tenaga besar yang konstruktif. Keadaan-keadaan dalam masyarakat yang telah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan-kebutuhan baru, ia hantam, ia matikan, ia hancurleburkan, -keadaan-keadaan baru yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan baru ia bangunkan. Dan di dalam tiaptiap fase Revolusi, maka tenaga-tenaga destruktif dan konstruktif itu bekerja serempak, bekerja simultan. Sebagaimana di dalam faIsafah Hindu destruktivismenya Syiwa dan konstruktivismenya Wisynu bekerja serempak simultan, maka demikian pula di dalam tiap-tiap fase daripada 234<noinclude>{{rh|||234}}</noinclude> d0uy5e2dfn38dgr44svl3xemd58vozc Halaman:Sarinah.pdf/235 104 105828 298254 2026-06-17T00:48:54Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298254 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Revolusi, destruksi berjalan serempak simultan. Apakah fase-fasenya Revolusi kita? Kita mengalami fase nasional, dan akan mengalami fase sosial: fase nasional dalam mana kita mendirikan Negara Nasional, dan fase social dalam mana kita mendirikan sosialisme. Dalam fase nasional tenaga-tenaga destruktif dan konstruktif bekerja simultan, dalam fase sosial pun tenaga-tenaga destruktif dan konstruktif bekerja simultan. Eposnya permainan bersama antara hamuknya tenaga-tenaga destruktif dan konstruktif itu sekarang sedang berjalan dengan dahsyatnya, gegapgempitalah permainan bersama itu hingga menggoncangkan seluruh dunia. Di dalam fase sekarang ini (fase nasional), maka dihantam digempur diremukredamkan rantai-rantai politik, belenggu-belenggu ekonomi, hukum-hukum penjajahan kolonial, tetapi simultan dengan itu digemblengdibangunkanlah Negara Baru. Pemerintahun Baru, hukumhukum dan anggapan-anggapan baru, alat-alat produksi baru, orang-orang produsen baru. Dan bukan saja untuk fase yang sekarang semata-mata! Tetapi di dalam fase yang sekarang ini akan mulai juga berangsur-angsur disiap-siapkan dan disediasediakan syarat-syarat untuk berlakunya fase sosial yang akan datang, sebagai misalnya alat-alat teknik dan alat-alat jiwa yang saya maksudkan di muka tadi. Demikian pula, maka di dalam fase sosial bukan saja akan dihancurkan dan dibinasakan segala anasir-anasir kapitalisme, serta dibangunkan dan disuburkan simultan dengan itu anasiranasir kesejahteraan sosial, tetapi juga akan dipelihara beberapa anasir yang telah terbentuk di dalam fase yang terdahulu, yaitu fase nasional. Fase yang satu dus tidak terpisah dari fase yang lain secara tajam laksana terpisahnya lautan dari daratan atau laksana terpisahnya bilik yang satu dari bilik yang lain, tetapi dua fase itu “sambung-sinambung” satu sama lain laksana “fase kanak-kanak” dan “fase dewasa” di dalam hidupnya manusia atau binatang. Perhatikan: laksana fase kanak-kanak dan fase dewasa dalam hidupnya manusia atau binatang! Artinya, dua fase ini sendiri-sendiri harus ada, dua fase ini yang satu mendahului yang lain, dan yang lain mengikuti yang satu, -tetapi tidak 235<noinclude>{{rh|||235}}</noinclude> 260cfyujgfeyu51qpzl94pl61gamrsf Halaman:Sarinah.pdf/236 104 105829 298255 2026-06-17T00:51:37Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298255 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>dapat dua fase ini terjadi berbareng sekaligus, tidak dapat fase dewasa terjadi dengan tidak didahului lebih dahulu oleh fase kanak-kanak. Fase Nasional dan fase Sosial daripada Revolusi kita ini dua-duanya sendiri-sendiri harus ada, tidak dapat Fase Sosial terjadi sebelum selesal lebih dahulu Fase Nasional, tidak dapat pula Fase Nasional dan Fase Sosial terjadi berbareng sekaligus. Ini harus dikemukakan di sini dengan tegas, sebab di dalam kalangan kaum pergerakan Indonesia masih ada orang-orang yang masih berpenglihatan kabur tentang hal ini. Tatkala Revolusi kita baru berlaku beberapa bulan saja, maka dari kalangan beberapa pemuda Indonesia, saya beberapa kali mendengar ucapan-ucapan yang isi maksudnya ialah: Nah, kita sekarang sudah merdeka, kita sekarang sudah ber-Republik, mari kita sekarang segera mulai mengadakan Revolusi sosial! Hantam-kromo saja mau segera mengadakan revolusi sosial? Seolah-olah sesuatu revolusi, -apa lagi revolusi sosial- dapat “diadakan”! Seolah-olah sesuatu revolusi dapat “dibikin” oleh seseorang pemimpin, dan misalnya disuruh mulai pada bulan sekian, hari tanggal sekian, jam sekian! Seolah-olah Marx tidak pernah berkata, bahwa sesuatu revolusi bukanlah anggitan seseorang revolusioner “pada suatu malam yang ia tak dapat tidur”! Seolah-olah revolusi bukan satu proses masyarakat yang digerakkan oleh tenaga-tenaga masyarakat itu sendiri, -bukan oleh si agitator, bukan oleh si demagoog, bukan oleh si penganjur, bukan oleh si pemimpin! Di dalam tahun 1927 dan 1928 saya mengalami kesulitankesulitan yang semacam dengan itu pula. Imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabula rasa di kalangan kaum komunis. Partai Komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkannya dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul. Untuk meneruskan perjoangan revolusioner, maka saya mendirikan Partai Nasional Indonesia. Beberapa Saudara komunis yang dapat menyelamatkan diri dari hamuk tabula rasanya pemerintah Belanda itu, di dalam perbantahan dalam kamar tertutup selalu mengemukakan kepada saya: “Saudara anti kapitalisme, saudara bercita-cita sosialis, kenapa saudara 236<noinclude>{{rh|||236}}</noinclude> bz8rwd1scdjdp5by202hvjuiw1tje7w Halaman:Sarinah.pdf/237 104 105830 298256 2026-06-17T00:53:55Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298256 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>tidak mulai sekarang saja mengadakan aksi sosialis, Mengapa saudara mengadakan pergerakan nasional lebih dahulu? Saudara mengadakan dua kali perjoangan Mengapa saudara tidak mengadakan satu kali perjoangan saja, supaya sosialisme lekas tercapai? Selalu saya menghadapi kenyataan, bahwa orang belum mengerti bahwa Revolusi adalah satu proses. Satu proses yang bertingkat-tingkatan, satu proses masyarakat yang timbul dari tenaga-tenaga immanent dalam masyarakat itu sendiri. Kita dapat meneruskan tingkatan revolusi yang satu kepada tingkatan revolusi yang lain, kita dapat menyambungkan tingkatan yang satu kepada tingkatan yang lain, tetapi kita tidak dapat melangkahi tingkatan revolusi yang satu, dan terus melompat saja ke tingkatan revolusi yang lain, atau memborong tingkatan revolusi yang satu berbarengan dengan tingkatan revolusi yang lain. Kita dapat mencoba mempercepat jalannya tingkatan revolusi yang satu, agar segera dapat disusul oleh tingkatan revolusi yang lain, kita malahan harus menganggap tingkatan revolusi yang satu itu sebagai ketentuan bagi (batu loncatan kepada) tingkatan revolusi yang lain, tetapi kita tidak dapat meniadakan tingkatan yang satu untuk segera mendapat tingkatan yang lain. Tingkatan yang satu mempunyai periode sendiri dan kewajiban sendiri, tingkatan yang lain pun mempunyai periode sendiri dan kewajiban sendiri. Tidak dapat kewajiban tingkatan yang kemudian disuruh menyelesaikan oleh tingkatan yang terdahulu, tidak dapat kewajiban tingkatan yang terdahulu ditunda kepada tingkatan yang kemudian. Siapa yang menginsyafi hal-hal ini semuanya dengan benar-benar, bertindak sesuai dengan keinsyafan itu, berjoang, membanting tulang mati-matian untuk mempercepatkan jalannya dan terlaksananya tingkatantingkatan revolusi itu, dia adalah benar-benar revolusioner, dan siapa yang tidak mengindahkan adanya tingkatantingkatan itu, dan mau main “radikal-radikalan” melompati sesuatu tingkatan atau memborong sekaligus semua tingkatan, dia, meski dengan suara yang menggeledek dan mengguntur dan muka merah padam seperti udang mengatakan dirinya revolusioner, dia tidak revolusioner. 237<noinclude>{{rh|||237}}</noinclude> 90xmh6tsr90lvo2oi0s3934ue48irq6 Halaman:Sarinah.pdf/238 104 105831 298257 2026-06-17T00:56:17Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298257 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Sebab dia hendak mengerjakan satu hal yang mustahil, hendak mengerjakan satu hal yang sosial -mustahil! Dan –dia tidak radikal pula, meskipun dia mengira bahwa dia radikal. Dia tidak revolusioner oleh karena tidak mengerti proses revolusi dan tidak berjoang menurut proses revolusi; dia tidak radikal, oleh karena tidak ada radikalisme sejati yang bertentangan dengan proses revolusi. Lilin di hadapan kertas saya tetap menyala! Satu simbul, bahwa Revolusi kita tetap berjalan. Paberik listrik di Tuntang boleh dikuasai oleh Belanda, -Revolusi kita dalam arti yang luas akan berkobar terus, rakyat kita akan berjoang terus memper-tahankan Negaranya. Satu hari akan datang yang Sang Merah Putih akan berkibar dengan tiada gangguan, di Tuntang, di Semarang, di Surabaya, di Jakarta, di Bandung, di tempat-tempat yang kini diduduki oleh Belanda, -di seluruh Indonesia! Satu hari akan datang, yang imperialisme di Indonesia betul-betul mati binasa, yang Negara kita tidak lagi dalam bahaya. Tetapi nyata lilin itu membuktikan bahwa Revolusi Nasional kita belum selesai, Revolusi Nasional kita kini sedang berjalan. Sedang berjalan, dengan gegap-gempitanya, dengan hebatnya, dengan dahsyatnya! Revolusi Nasional ini sebagai satu cambuk gaib mengaktifkan tiap-tiap atom daripada tubuhnya bangsa kita, memasangkan tiap-tiap urat kecil daripada badan-tenaganya rakyat kita, menggeletarkan tiap-tiap bagian daripada jiwa masyarakat kita, dan dia akan mengaktifkan terus, akan memasangkan terus, akan menggeletarkan terus, entah buat berapa tahun lamanya lagi, sampai kewajibannya tertunai. Sebab sebagai saya katakan tadi, tiap-tiap fase mempunyai periodenya sendiri dan mempunyai kewajibannya sendiri, dan tiap-tiap fase menunaikan periodenya sendiri dan menunaikan kewajibannya sendiri. Dan apakah kewajiban fase Revolusi Nasional kita ini? Apakah “tugas bersejarah”-nya Revolusi Nasional kita ini? Kewajiban atau tugas bersejarahnya Revolusi Nasional kita ini ialah mendirikan satu Negara Nasional Indonesia. Tugas bersejarah ini harus selesai lebih dahulu sebelum Revolusi Nasional itu minta diri, untuk diganti dengan Revolusi Sosial 238<noinclude>{{rh|||238}}</noinclude> sa4q1fj6od21sumoz5upjy7v6axa5vs Halaman:Sarinah.pdf/239 104 105832 298258 2026-06-17T00:58:59Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298258 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Dan berapa lamakah diperlukan untuk menyelesaikan tugas bersejarah itu? Entah berapa tahun, entah berapa windu, tetapi nyata bukan hanya beberapa bulan saja. Banyak air keringat kita masih harus mengucur, banyak keluhan kita masih harus terdengar, sebelum tugas bersejarahnya Revolusi Nasional kita itu tertunai. Samodera Hindia masih harus bergelora bertahun-tahun lagi, sebelum gelombanggelombangnya membanting membasahi pantai-pantaikepulauan Indonesia yang telah tergabung teguh dalam satu Negara Naional Indonesia. Ya, bertahun-tahun! Dua tahun lebih kita telah berada dalam kancah Revolusi Nasional, tetapi kesudahannya nyata belum tercapai. Memang, alangkah banyaknya, alangkah sukarnya dan hebat-hebatnya anasiranasir Revolusi Nasional yang harus kita selesaikan, anasiranasir “destruksi” dan anasir-anasir “konstruksi”! Merebut kekuasaan pemerintah dari tangan asing, menyusun angkatan perang nasional, membinasakan tiap-tiap kuman kolonialisme, menjalankan semua jawatan-jawatan dengan kekuatan sendiri, membuat peruangan Indonesia, mempersatukan semua kepulauan Indonesia dalam lingkungan-nya satu negara yang merdeka, membanteras kekacauan-kekacauan dari dalam, menyusun teknik Indonesia yang kuat dan modern, menjalankan diplomasi untuk mendapat pengakuan de jure internasional, menindas provinsialisme, menggembleng milyunan rakyat Indonesia menjadi satu bangsa yang berkesadaran nasional, berkesadaran negara, berkesadaran pemerintah, berkesadaran tentara, berkesadaran sosial, membuat pemerintah Nasional menjadi stable government ke luar dan ke dalam, dan lain-lain lagi, -semua itu harus dikerjakan, semua itu harus ditunaikan lebih dahulu, sebelum boleh dikatakan Revolusi Nasional selesai. Ini bukan pekerjaan kecil, ini bukan pekerjaan yang dapat kita selesaikan sambil goyang kaki beberapa hari. lni pekerjaan raksasa, yang membutuhkan pengerahan tenaga, keuletan kemauan, ukuran fikiran dan ukuran timbangan raksasa. Ini harus selesai lebih dahulu, sebelum kita dapat dengan sungguh-sungguh bercancut-taliwanda menggugurkan benteng-bentengnya kapitalisme di dalam pagar, menjusun 239<noinclude>{{rh|||239}}</noinclude> 6rihmjfwsane9u2e1qz5868vlvpyvpj Halaman:Sarinah.pdf/240 104 105833 298259 2026-06-17T01:01:35Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298259 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>Dan menggembleng berkesejahteraan sosial. Jangankan masyarakat “yang berkesejahteraan sosial”! Menyusun masyarakat yang “normal” saja pun tak mungkin, sebelum selesainya soal nasional. Tak mungkin sebelum selesainya soal politik! Dengarkanlah misalnya apa yang dikatakan oleh Giuseppe Mazzini, salah seorang pemimpin besar pembentuk Negara Nasional Italia beberapa puluh tahun yang lalu: “Menyusun tanah air ini, malahan satu keharusan. Anjuran-anjuran dan dayaupaya-dayaupaya yang kubicarakan tadi, hanyalah dapat diselenggarakan oleh tanah air yang bersatu dan merdeka. Perbaikan keadaan masyarakatmu hanyalah dapat diperoleh dengan ikut campurmu dalam pergaulan ketata-negaraan bangsa-bangsa. Jangan mengira, bahwa kamu akan dapat memperbaiki nasib hidupmu sebelum memecahkan soal nasional lebih dahulu. Ikhtiarmu akan sia-sia!” ... Sekali lagi, alangkah banyaknya, sukarnya, dan hebatnya anasir-anasir Revolusi Nasional yang harus kita tunaikan. Alangkah banyaknya isi yang harus kita “isikan” dalam katakata “destruksi” dan “konstruksi” yang simultan berlaku dalam tiap-tiap Revolusi, dus juga dalam Revolusi Nasional kita itu, sebelum dapat kita memasuki fase Revolusi yang kemudian! Dan bukan saja Revolusi Nasional ini harus selesai untuk memenuhi syarat-syarat dalam atau innerlijke voorwaarden untuk memungkinkan Revolusi Sasial, bukan saja Revolusi Nasional ini historis organis adalah satu cincin dalam satu proses masyarakat yang panjang laksana rantai -ia adalah pula satu usaha perlawanan untuk menentang bahaya yang datang dari luar. Seluruh dunia Timur sejak satu abad ini terkepung oleh raksasa-raksasa imperialisme dan kapitalisme, bahkan banyak yang telah dihinggapi dan diodal-adil perutnya oleh raksasa-raksasa itu, dan sebagai satu usaha perlawanan, maka bangsa-bangsa Asia berjoang mati-matian memerdekakan diri, dan di sana-sini berusaha habis-habisan untuk mendirikan negara-negara nasional. India berusaha 240<noinclude>{{rh|||240}}</noinclude> fec4itm4bp9koos6mhk96oz5heqf8kw Halaman:Sarinah.pdf/241 104 105834 298260 2026-06-17T01:03:44Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298260 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>untuk menjadi negara nasional (sementara gagal, karena berdirinya Pakistan), Tiongkok berusaha untuk menjadi negara nasional (sementara gagal pula), Indonesia berusaha untuk menjadi negara nasional. Philipina, Tiongkok, Siam, Indonesia, Indo-Cina, Burma, India, Afganistan, Iran, seluruh jazirah Arab, Mesir, semua itu masing-masing harus merdeka, untuk memungkinkan mereka menentang dengan efektif dan mengeliminir dengan efektif segala eksploatasi yang dating dari luar. Saya tidak berkata bahwa tiap-tiap bangsa yang telah merdeka telah pula terhindar dari eksploatasi dari luar! Tidak! Pembaca kenal nasib Siam, dan kenal nasib Iran, misalnya. Tetapi kemerdekaan politik itu adalah syarat mutlak untuk memungkinkan sesuatu bangsa menentang dengan tenaga maksimum segala eksploatasi dari luar. Karena itulah, maka Revolusi Nasional kita ini bukan saja satu fase yang seharusnya ada dalam pertumbuhan masyarakat kita didalam pagar, ia juga satu langkah pertahanan yang seharusnya ada untuk penolak bahaya yang datang dari luaran. Malah tegas, kita bukan hanya sekedar hendak merdeka, kita tegas berjoang mendirikan Negara Nasional. Kita bukan cuma menghendaki Jawa Merdeka (100 %), Sumatera Merdeka (100 %), Kalimantan Merdeka (100 %), Sulawesi Merdeka (100 %), Kepulauan Sunda Kecil Merdeka (100%), Maluku Merdeka (100%), tidak, kita menghendaki berdirinya Satu Negara Seluruh Indonesia (unitaristis atau federalistis) yang teguh kuat. Kita menghendaki Negara Nasional. Dan inipun bukan sekedar karena “cita-cita”, bukan sekedar karena “idealisme”. Cita-cita kebangsaan kita itu adalah satu hal yang tumbuh daripada keharusan-keharusan pertumbuhan masyarakat. Negara Nasional Indonesia bukan sekedar idam-idaman politikus-politikus yang berjiwa romantis, ia adalah satu keharusan sosial politik. Ya benar, sudah tentu ada cita-cita, sudah tentu ada idealisme; malahan barangkali sudah tentu ada romantik. Mungkinkah sesuatu perjoangan maha hebat dan maha sukar berjalan dengan cukup elan, jika tiada cita-cita, tiada idealisme, tiada 241<noinclude>{{rh|||241}}</noinclude> 5i1qtqpvr3xpm8x4cwkfvmhkj3scfwc Halaman:Sarinah.pdf/242 104 105835 298261 2026-06-17T01:05:30Z Yogismemeth Al fakir 27267 /* Tanpa teks */ 298261 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Yogismemeth Al fakir" /></noinclude>romantik? Ah, barangkali malahan saya sendiri terlalu sering memainkan kecapinya idealisme dan romantik! Dengarkanlah lagu yang misalnya saya nyanyikan dalam pidato “Lahirnya Pancasila” atau pidato 17 Agustus 1947: “Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan “Gemeinschaft”- nya dan perasaan orangnya. “l’ame et le desir”. Mereka hanya mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t. membuat peta dunia, menyusun peta dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana “kesatuan-kesatuan” itu. Seorang anak kecilpun, jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan, bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara dua lautan yang besar. Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, dan di antara dua benua, yaitu benua Asia dan benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmaheira, Kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan ... Natie Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu! ... Ke sinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nationale Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Papua”. “Seluruh Rakyat Indonesia, baik di daerah Republik, maupun di luar daerah Republik, seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Papua, seluruh Rakyat Indonesia yang merantau di manca negara, saya panggil kamu, untuk meneruskan perjoangan kita mempertahankan Republik sebagai pelopor daripada perjoangan seluruh bangsa Indonesia, sebagai lambang kemenangan Revolusi Indonesia terhadap imperialisme Belanda. Yakinlah, saudara-saudara di luar Jawa dan Sumatera dan Madura, -dengan hilangnya Republik akan hilang pula dibasmi oleh Belanda pergerakan kemerdekaan di luar Republik. Kita yang 70.000.000 jiwa ini, kita bangsa yang satu. Dan kita bangsa yang satu ini mempunjai cita-cita bangsa, mempunyai cita-cita kebangsaan 242<noinclude>{{rh|||242}}</noinclude> bl7ogfhel2t0fya5a9v6lurwx5wn2l1 Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/19 104 105836 298264 2026-06-17T01:37:35Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298264 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>selalu mentjari djalan untuk tidak mempertemukan muda-mudi ini. Sampai kalau ia mesti pergi mengundjungki Pek Tim, jang adalah kakak kandungnja, ia bahwa Goat Hoa, supaja setiap waktu ia bisa mengawasinja. Pernah Goat Hoa memikir akan memberitahukan Hong Hoa alamat rumahnja di Tjong-beng, tetapi ia tjuma bisa memikir, ia tidak berani mengutarakannja. Didjamannja itu, walaupun ia merdeka, sebagai anak gadis, tidak berani ia membuka mulut. Ia pun kuatir, djuga ibunja, jang sudah berusia limapuluh lebih, nanti tidak mendjetudjui sepakterdjangnja itu. Karena ini, pertemuan diantara mereka mendjadi sangat djarang. Pernah terdjadi pada suatu tahun dimusim tjoen — musim semi — Lioe Hong Hoa berangkat ketelaga Tjauw Ouw dipropinsi Anhoei membawa surat gurunja, Pek Tim Loodjin. Ia tidak dibatasi waktunja untuk pergi dan pulang, maka dengan gembira sekali ia gunakan temponja untuk mampir di Boe Ie San, Hokkian. Untuk ini ia tidak menghiraukan djalan mutar dan bahwa ia mesti melakukan perdjalanan lebih djauh dan lebih lama. Hanja, ketika ia tiba digunung Boe Ie San, ia mendjadi ketjele sekali. So In, jang hendak mentjegah, telah lantas tanja padanja : „Apa perlunja kau datang kemari ? Kau toh tidak membawa surat gurumu ?” Kakak seperguruan dari Goat Hoa bernama Tjeng Sioe. Hong Hoa dapat menemui kakak seperguruan itu. Ia lantas minta Tjeng Sioe mendajakan agar ia dapat berbitjara dengan Nona Sim. Tjeng Sioe tidak suka memberikan bantuannja, tetapi ia bukan menampik, ia melainkan bilang, Goat Hoa telah dititahkan gurunja pergi kepropinsi Inlam dan Koeitjioe mentjari obat<small><sup>2</sup></small>an ...... Oleh karena maksudnja tidak tertjapai, Lioe Hong Hoa mendjadi mendongkol, ia lantas turun gunung. Ditengah djalan, saking penasaran, datang kesangsiannja : Tidak mungkin Goat Hoa dikirim djauh ke Inlam atau Koeitjioe. Tapi, pertjuma ia kembali kalau ia tidak bertemu dengan patjarnja itu. Maka ia memikir untuk mentjari djalan. Hari itu Hong Hoa lewatkan dengan berdiam didalam rimba. Selekas tjuatja telah mendjadi gelap, ia mendaki pula puntjak — puntjak Loo Thian Hong. Ia tidak berani membawa sendjata maka djuga tjambuknja, tjambuk Pa-bwee Kong-pian berikut kantong<noinclude>{{rh|202}}</noinclude> 50vvjcu4wobetywz7othq3oyvjuv9xr Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/20 104 105837 298265 2026-06-17T01:40:54Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298265 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>piauw dan pisau belati, ia galikan lobang untuk dipendam. Dengan bertangan kosong, apabila ia kepergok So In Soethay, ia dapat alasan untuk berbitjara. Kelenteng Tjoei Tiok Am dimana So In Soe-thay tinggal, terletak dipuntjak paling tinggi. Mulanja kelenteng itu sudah tua dan rusak, kemudian musna terbakar, maka itu lantas didirikan jang baru. Usul diberikan oleh Hay-Liong-Sin Tjia Kiam si Malaikat Naga jang mendjadi adik seperguruannja. Untuk beajanja, satu pembesar rakus telah digerajangi lima ribu tail lebih. Maka berdirilah kelenteng jang besar itu. Oleh karena So In tidak ingin menerima pelantjong, kelenteng dibangun berbentuk rumah rakjat biasa, hingga kalau dipandang dari luar, orang tidak akan menjangka itu adalah tempat sutji. Hong Hoa bagaikan orang dalam. Ia ketahui baik seluk-beluk kelenteng itu. Ia tidak berani lantjang masuk. Lebih dulu ia pandjat sebuah pohon, untuk mengintai kedalam pekarangan. Diwaktu begitu, dengan pintu kelenteng telah dikuntji, pelbagai ruang sunji sekali. Baru selang sedjenak, dengan pelahan<small><sup>2</sup></small> ia menudju kesebelah barat. Tembok disini tinggi tak ada dua tombak. Tidak sukar untuk Hong Hoa lompat naik untuk melintasinja. Lebih dulu ia berdiam diatas tembok, untuk melihat kedalam pekarangan. Didekat kaki tembok ada beberapa kamar, jang nampaknja sunji. Inilah pertama kali Hong Hoa setjara diam<small><sup>2</sup></small> memasuki tempat djago Rimba Persilatan. Walaupun ia tidak bermaksud djahat, ia merasa djeri, maka ia berlaku hati<small><sup>2</sup></small> luar biasa. Begitulah untuk lompat turun ketanah, lebih dulu ia menimpuk tanah itu, supaja ia tidak terdjeblos. Dengan ber-indap<small><sup>2</sup></small>, Hong Hoa menudju kearah barat-daja, kemudian lompat naik keatas genteng. Menurut penglihatannja, ia berada diatas kamar tempat menjimpan kajubakar dan lainnja. Ia merajap kesebelah barat. Disini ia mendekam untuk memasang mata. Dibawah ada sebuah pekarangan luas, tanhanja rata, rupanja tanah jang berpasir keras, tempat beladjar silat. Disitu pun ada lima buah pelatuk kaju sebesar paha serta selembar papan lebar. Terang papan itu peranti melatih sendjata rahasia.<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude> 0y0cugjfqukc8reu4q6j58e59fcb6vz Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/21 104 105838 298266 2026-06-17T01:45:15Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298266 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>Semua ruang gelap ketjuali dikamar barat itu, jang ada sinar apinja remang<small><sup>2</sup></small>. Untuk lompat turun, Hong Hoa pergi keudjung utara. Sesampainja ditanah, baru ia kembali. Kamar barat ini terdiri dari tiga buah ruang. Disana benar ada api penerangannja, jang sekarang terlihat tegas. Ia melihat para<small><sup>2</sup></small> sendjata. „Disini orang belum tidur. Disinikah adanja Goat Hoa ?” ia berpikir. Disaat Hong Hoa memikir untuk lompat naik pula kegenteng, untuk mengintai dari pajon, ia dengar suara batuk<small><sup>2</sup></small> pelahan didalam kamar, lalu sero disingkap dan seorang bertindak keluar. Dia adalah satu paderi wanita, malah Hong Hoa kenali Tjeng Sioe. „Dia keluar begini hari, tentu dia mau melatih ilmu silatnja”, pikir si anak muda. „Ketika dulu aku tinggal disini, soe-thay jang pelit tidak mau adjarkan sendiri aku ilmu silatnja, maka sekarang hendak aku menjaksikan ilmunja kaum Boe Tong Pay”. Tjeng Sioe pergi kelapangan, lantas ia rapikan pakaiannja. Ia berdiri menghadap kearah Hong Hoa. Anak muda itu dalam mendekam, sampai ia tidak berani memperdengarkan suara apa<small><sup>2</sup></small>. Ia malah tutupi kepalanja dengan tangan badjunja, hingga tinggal matanja jang mengintai. Tjeng Sioe bersilat dengan ilmu silat Tiang Koen Sip-toan-kim, jang mendjadi pokok-dasar dari ilmu silat partai Boe Tong Pay. Njata ia belum mempunjai kuda<small><sup>2</sup></small> jang sempurna. Satu kali ia terhudjung, hampir ia djatuh. Hong Hoa hampir tertawa, karena ia anggap lutju tjara bersilatnja si nona pertapa itu. „Kiranja begini sadja ilmu silat Boe Tong Pay”, ia berpikir. „Mungkin So In tjuma kesohor namanja sadja ......” Tjeng Sioe kini sudah manjelesaikan djurus<small><sup>2</sup></small> Tiang Koen, lalu ia djalan mutar pelahan<small><sup>2</sup></small>, untuk merapikan djalan napasnja. Sesudah itu ia menjiapkan diri dengan kantung piauw. Djuga tjara si nona menggunakan piauw tidak mendatangkan penghargaan Hong Hoa. Dua kali dia menimpuk, sasarannja terkena tetapi lumajan sadja. Ketika piauw jang ketiga dilepaskan, Hong Hoa terus mengintai. Tapi kali ini ia kaget bukan main. Tengah ia mengawasi Tjeng Sioe, tiba<small><sup>2</sup></small> ia merasakan sakit dibelakang telapakan tangannja. Ia menarik tangannja setjara mendadak, {{hws|hing|hingga}}<noinclude>{{rh|204}}</noinclude> f3waleg70t8cql6ubtaz6l0vottd01z Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/22 104 105839 298267 2026-06-17T01:48:52Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298267 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>{{hwe|ga|hingga}} diluar tahunja, kakinja menekan keras pada genteng, sampai genteng itu petjah. Sjukur Tjeng Sioe lagi menimpuk piauw, dia djadi tidak dengar suara genteng itu. Hong Hoa memandang kesekitarnja. Ia tidak lihat siapa djuga, tidak ada gerakan apa pun. „Aneh, dari mana datangnja serangan gelap ini ?” ia tanja didalam hatinja. Ia merasa bahwa ada orang telah membokong, tetapi itu bukan dilakukan Tjeng Sioe, jang terus melatih diri. Tetap sunji disekitarnja. Tjeng Sioe telah habis menimpuk duabelas batang piauw. Ia tjabuti semua piauw itu dari papan batu, untuk disimpan pula. Kemudian, sembari ngotjeh seorang diri, untuk beristirahat, dia masuk kedalam kamar. „Kau beristirahat, tetapi aku ?” pikir Hong Hoa, jang masih mendekam sadja. Ia merabah tangannja, ia merasakan sakit. Terus ia melihat sekitarnja. Ia berpikir pula : „Apakah aku mesti datang kemari untuk siasia belaka ? Apakah aku mesti mundur karena serangan gelap ini ?” Ia mengawasi kearah belakangnja. Itulah arah utara. Disana ada dua undakan rumah besar lainnja. Dengan ber-hati<small><sup>2</sup></small>, Hong Hoa menggeser dari tempat sembunjinja. Ia turun ketanah dan djalan dilorong timur. Ia tiba disebuah pintu model rembulan. Ia melihat loneng ban-djie. Diatasnja ada pot<small><sup>2</sup></small> bunga. Dirumah utara, ia lihat sinar api menembus dari dalam. Rupanja penghuni kamar itu masih belum tidur. Keras niat Hong Hoa untuk menemui Goat Hoa, ia sampai melupakan kebengisan So In Soe-thay. Ia menudju kepaseban. Disitu suasana tetap sunji tetapi ia ber-indap<small><sup>2</sup></small> dibawah pajon. Mendadak kakinja keserimpat, hingga ia terhujung. Entah apa itu jang membentur kakinja. Disaat ia dapat menahan diri, ia dengar angin serangan dibelakangnja. Ia kaget sekali. Untuk menolong diri, ia berkelit kekiri, tubuhnja membungkuk. Ketika ia menoleh, ia lihat berkelebatnja satu bajangan orang, jang lenjap dengan tjepat sekali. Pemuda ini menduga kepada So In atau orang djahat dari luar. Supaja tidak tergentjet, ia hendak tjari tempat untuk pernahkan diri. Ia lantas berlompat, guna melewati loneng. Djusteru itu, ia merasakan kuntjirnja, jang dilibat dilehernja, ada jang tarik. Hal jang sebenarnja, ialah jang menarik sendiri karena ia berlompat<noinclude>{{rh|||205}}</noinclude> efzubf36mmouf3gx3rwujmjp8980aih Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/23 104 105840 298268 2026-06-17T01:52:32Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298268 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>sedangkan kuntjirnja ditahan seseorang. Ia kaget hingga ia berseru tertahan, tenggorokannja sakit. Untuk membebaskan diri, kedua tangannja digerakkan kebelakang, tubuhnja turut berbalik. Dengan tangan kiri ia mentjoba meloloskan kuntjirnja, dengan tangan kanan ia menjerang. Ia gesit tetapi orang itu berlaku lebih sebat. Ia mendjadi kaget, sebab tahu<small><sup>2</sup></small> orang itu timpuk mukanja dengan tanah jang bertjampur pasir, hingga ia mendjadi kelabakan. Sjukur matanja tidak kelilipan. Setelah susuti mukanja dan membuka mata, ia tidak lihat siapa djuga. Ia mendjadi mendongkol sekali, ia menjangka So In mengganggu padanja. Karena panas hatinja, ia djadi tidak memikir untuk mengundurkan diri. Keinginannja djadi semakin keras untuk dapat menemui Goat Hoa. Dengan mengikuti loneng atau lorong, ia pergi keudjung lorong itu. Ia memutar kebarat. Hingga ia berada dibawah djendela dari kamar jang menghadap utara. „Aku mesti melihat”, pikirnja. Ia baru mau angkat kakinja, atau datang timpukan tanah pasir seperti tadi. Sekarang ia bisa berkelit. Samar <small><sup>2</sup></small>ia lihat satu bajangan dilorong barat. Tidak bersangsi lagi, ia lompat untuk lari kearah barat itu. Ia panas hatinja dan penasaran sekali. Ia sampai ditempat bajangan tadi, tapi bajangannja tidak ada. Ia melihat kesekitarnja. Kembali terlihat bajangan samar<small><sup>2</sup></small> disebelah utara. Dalam penasarannja, ia lompat menjusul. Bajangan itu lenjap sebentaran, lalu muntjul pula. Djarak diantara mereka saban<small><sup>2</sup></small> sekira enam-tudjuh tombak. Agaknja sengadja bajangan itu memperlihatkan diri, mungkin untuk memantjing. Lagi sekali Hong Hoa menguber, hingga ia berada disebuah taman. Banjak pepohonan disitu, pekarangannja pun luas. Disana-sini terlihat bajangan pohon. Ditempat begitu, gampang orang dibokong. Tapi bajangan tadi lenjap pula. Mau atau tidak, pemuda ini bersangsi. Selagi tjelingukan, tiba<small><sup>2</sup></small> pipi kanan pemuda ini tertimpuk sepotong tanah. Ia lantas berpaling hingga ia lihat melesatnja satu tubuh terpisah darinja beberapa tombak. Bajangan itu kate dan ketjil dan berlompat naik keatas sebuah batu dimana dia berdiri atas sebuah kaki. Mungkin orang itu tertawa terhadapnja. Ia menjesal bukan main bahwa ia tidak membawa sendjata rahasianja.<noinclude>{{rh|206}}</noinclude> 9wtih0s5mhahnijtnckg6llaq3rd7v4 298269 298268 2026-06-17T01:52:57Z Moel81 25980 298269 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>sedangkan kuntjirnja ditahan seseorang. Ia kaget hingga ia berseru tertahan, tenggorokannja sakit. Untuk membebaskan diri, kedua tangannja digerakkan kebelakang, tubuhnja turut berbalik. Dengan tangan kiri ia mentjoba meloloskan kuntjirnja, dengan tangan kanan ia menjerang. Ia gesit tetapi orang itu berlaku lebih sebat. Ia mendjadi kaget, sebab tahu<small><sup>2</sup></small> orang itu timpuk mukanja dengan tanah jang bertjampur pasir, hingga ia mendjadi kelabakan. Sjukur matanja tidak kelilipan. Setelah susuti mukanja dan membuka mata, ia tidak lihat siapa djuga. Ia mendjadi mendongkol sekali, ia menjangka So In mengganggu padanja. Karena panas hatinja, ia djadi tidak memikir untuk mengundurkan diri. Keinginannja djadi semakin keras untuk dapat menemui Goat Hoa. Dengan mengikuti loneng atau lorong, ia pergi keudjung lorong itu. Ia memutar kebarat. Hingga ia berada dibawah djendela dari kamar jang menghadap utara. „Aku mesti melihat”, pikirnja. Ia baru mau angkat kakinja, atau datang timpukan tanah pasir seperti tadi. Sekarang ia bisa berkelit. Samar<small><sup>2</sup></small> ia lihat satu bajangan dilorong barat. Tidak bersangsi lagi, ia lompat untuk lari kearah barat itu. Ia panas hatinja dan penasaran sekali. Ia sampai ditempat bajangan tadi, tapi bajangannja tidak ada. Ia melihat kesekitarnja. Kembali terlihat bajangan samar<small><sup>2</sup></small> disebelah utara. Dalam penasarannja, ia lompat menjusul. Bajangan itu lenjap sebentaran, lalu muntjul pula. Djarak diantara mereka saban<small><sup>2</sup></small> sekira enam-tudjuh tombak. Agaknja sengadja bajangan itu memperlihatkan diri, mungkin untuk memantjing. Lagi sekali Hong Hoa menguber, hingga ia berada disebuah taman. Banjak pepohonan disitu, pekarangannja pun luas. Disana-sini terlihat bajangan pohon. Ditempat begitu, gampang orang dibokong. Tapi bajangan tadi lenjap pula. Mau atau tidak, pemuda ini bersangsi. Selagi tjelingukan, tiba<small><sup>2</sup></small> pipi kanan pemuda ini tertimpuk sepotong tanah. Ia lantas berpaling hingga ia lihat melesatnja satu tubuh terpisah darinja beberapa tombak. Bajangan itu kate dan ketjil dan berlompat naik keatas sebuah batu dimana dia berdiri atas sebuah kaki. Mungkin orang itu tertawa terhadapnja. Ia menjesal bukan main bahwa ia tidak membawa sendjata rahasianja.<noinclude>{{rh|206}}</noinclude> nv5c3pvwfjbp3dkk0ym2lnhm2q8mtgq Halaman:Madilog.pdf/203 104 105841 298277 2026-06-17T04:33:32Z Empat Tilda 13539 /* Telah diuji baca */ 298277 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Empat Tilda" />MADILOG, Tan Malaka (1943)#</noinclude>Persamaan diantara beberapa bukti atau kejadian itulah yang barangkali menjadi sebab: dari beberapa bukti atau kejadian tadi. Si Pemeriksa, menyususn beberapa bukti, yang diperolehnya tadi. Pertama: Nyamuk Anopheles, teguran hantu, makan rujak, semuanya disangka berkumpul dan disangka menimbulkan demam (dingin-panas). Mana yang menjadi sebab dari akibat, belum diketahui. Dia main formula: Nyamuk Anopheles itu dia pendekkan dengan huruf A dan akibatnya a (dia belum tahu, bahwa akibatnya itu demam). Teguran hantu dirimba atau ketika mandi hari panas itu H dan akibatnya h, makan rujak itu R dan akibatnya r. Kedua: Nyamuk Anopheles, Angin Malam, melangkahi kubur orang keramat, semuanyaberkumpul pula menimbulkan demam (panas). Mana yan jadi sebab, belum diketahui. Dia bikin formula lagi: Nyamuk seperti pada barisan ke 1 juga terus bernama A dan akibatnya yang belum diketahui itu terus bernama a. Angin Malam, calon sebab yang baru dia namai M dan akibatnya m. melangkahi kuburan orang keramat itu, dinamai K dan akibatnya k. Dua barisan (1 dan 2) dari calon sebab tadi dan akibatnya dia diajarkan pada dua baris ditinjau: Pertama: A H R akibatnya a h r: a itu ialah: demam, panas, dingin dan h r masing-masing penyakit satu. Kedua: A M K akibatnya a m k: a itu ialah demam, panas, dingin juga dan m k penyakit Satu-satu Pada dua jajar itu kita lihat akibat ialah demam selalu ada dan A diantara tiga ''antecedent'', yakni para calon-sebab juga, selalu ada. Sekarang dia periksa mulai dari akibat: demam panas (a) tak bisa disebabkan oleh H dan R, karena pada jajar kedua H/R tidak ada, tetapi akibatnya yakni demam itu sebaliknya ada. Juga M/K tidak bisa menerbitkan demam, karena pada jajar pertama M/K itu tidak ada, sedangkan sebaliknya demam-panas itu ada. Jadi nyatalah A yakni nyamuk Anopheles yang jadi sebab. Bukan H, hantu, R, rujak, M, angin malam atau K, yakni kuburan Sang Keramat. H/R dan M/K pada dua jajar itu boleh dibuang dengan tiada menggangu akibat.<noinclude>{{rh|||202}}</noinclude> 2gbaox97gmvyt97nid82gfwd8zyvyp4 Halaman:Madilog.pdf/205 104 105842 298278 2026-06-17T04:38:18Z Empat Tilda 13539 /* Telah diuji baca */ 298278 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Empat Tilda" />MADILOG, Tan Malaka (1943)#</noinclude>disana pula demam, dingin, panas tak ada. Pada jalan persamaan kita susul saja si Polan (calon sebab) itu pada beberapa jajar dimana si Polan selalu hadir dan akibat selalu ada. Pada jalan perbedaan kita bandingkan jajar yang berakibat dengan jajar lain, yang semuanya bersamaan dengan jajar pertama kecuali tak berakibat. Pada jalan persamaan si Polan yang dicurigai, jadi sebab itu sama pada dua (atau lebih 1) jajar, tetapi perkara yang lain H/R semua berlainan dengan M/K. Pada jalan perbedaan kedua jajar bersamaan semua perkaranya kecuali pada satu jajar “si Polan” itu ada dan pada jajar keuda si Polan “minggat" tak ada: Jajar ke-1 .................................................... A/H/R ahr. Jajar ke-2 .................................................... H/R hr. Si pemeriksa simpan saja dalam hatinya hal ini: Ketika Si Polan ada, akibatnya juga ada (seperti tuan Resersir pikir hal ini kalau “die vent” ada, maka selalu ada keributan). Coba saja periksa bagaimana jadinya, kalau dia tak ada. Kalau akibatnya tak ada pula, maka teranglah sudah, bahwa “die vent” si Polan itulah yang sebab. '''Pemeriksaan:''' kalau akibat ke-1 dari AHR itu ahr dan ke- 2 akibat dari HR itu hr sudahlah ternyata bahwa akibat dari A itu ialah a. Dimana A itu ada, akibatnya juga ada, ialah a (jajar ke-1) Dimana A tak ada disana, akibatnya a pun tak ada (Jajar ke-2). Teranglah A yang jadi sebab. Kalau nyamuk Anopheles, Hantu dan Rujak ada, maka akibatnya, ialah: deman, panas, ada. Tetapi jika Sang Nyamuk tak ada walaupun Hantu dan Rujak keduanya ada, demam panas tak ada. Tentulah Sang Nyamuk biang keladinya. Jadi A tak boleh dibuang, kalau dibuang akibatnya juga hilang. Boleh juga kita mulai dari belakang. Ke 1 kita susun akibat, yakni ahr, disebabkan AHR.<noinclude>{{rh|||204}}</noinclude> 3e0750be4prodb60gsorv8h3xnug4sz Halaman:Madilog.pdf/206 104 105843 298279 2026-06-17T04:41:52Z Empat Tilda 13539 /* Telah diuji baca */ 298279 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Empat Tilda" />MADILOG, Tan Malaka (1943)#</noinclude>Ke 2 akibat, hr, saja. Kalau dalam hal kedua ini antecedentnya calon sebabnya ialah HR, maka kita tahu, bahwa a pada jajar ke-1 itu dilahirkan oleh A, tidak oleh HR. Kalau kita tahu bahwa hr, umpamanya pusing kepal dan sakit perut itu diterbitkan oleh mandi hari panas (ditegur Hantu) dan makan rujak, maka yakinlah kita bahwa a, yakni demam panas disebabkan oleh A, Anopheles (nyamuk). '''3. Jalan Sisa (Residu).''' Jalan ini ada juga berhubungan dengan jalan diatas. Pada jalan ini kita cari sebab pada sisa, yaitu sisa dari semua sebab yang sudah kita ketahui. Umpamanya: ABC selalu diikuti oleh akibat abc. Pada Induction, pemeriksaan dahulu seudah kita ketahui bawah, akibat dari A ialah a, dari B ialah b. Sekrang kita kurangkan semua akibat dari abc dengan jumlah bc: kita peroleh sisanya: a. Kita tahu, bahwa akibat a ini mesti disebabkan oleh A. Aturan bekerjanya pada jalan ini ialah: Kurangkanlah semua sebab dengan jumlah-sebab yang sudah diketahui. Sisa dari pengurangan itulah yang jadi sebab dari sisa akibat. Contoh yang populer: Seorang mendapat demam, dingin, panas dari buku bacaan seorang dokter dan dukun. Dia kumpulkan semua calon sebab: nyamuk Anopheles, teguran Hantu dan makan Rujak, mandi dihari panas, ABC akibat abc. Dia tahu, bahwa akibat dari teguran Hantu B, cuma pusing kepala, b, dari makan rujak C, cuma sakit perut c. Jumlah sebab BC dan jumlah akibat ialah bc. Tinggal lagi akibat abc-bc = a. Dengan yakin dia putuskan, bahwa sakit demam, dingin-panas mesti dia peroleh dari nyamuk Anopheles (A). Jalan ini daam Ilmu Bintang banyak pakai dan banyak pula hasilnya.<noinclude>{{rh|||205}}</noinclude> pfb1dct7fsqdyirn3fvty1s293fdkt3 Halaman:Madilog.pdf/207 104 105844 298280 2026-06-17T04:43:29Z Empat Tilda 13539 /* Telah diuji baca */ 298280 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Empat Tilda" />MADILOG, Tan Malaka (1943)#</noinclude>Contoh: Saat bintang peredarannya tentulah dibentuk oleh beberapa bintang yang lain. Sudah diketahui beberapa bintang lain yang membentuk jalan peredarannya, umpamannya bintang ABC akibat abc. Tetapi masih ada akibat, x, misalnya yang belum diketahui bintang yang membentuk akibat x itu. Si Ahli bintang main hitung dan main teropong. Kemudian dia dapati bintang itu, x umpamanya. '''4. Jalan Perubahan Bersama (Concomitant variations).''' Sekarang kita berjumpakan “panas” ialah sebentuk kodrat yang menjadi barang pemeriksaan kita. Sepeti dahulu sudah dikatakan, kodrat itu tidak bisa dipisahkan dengan benda. Si Mistikus boleh dengan lancang, memang lidah tidak bertulang, bisa menceraikan jasmani dengan rohani itu. Tetapi scientist dalam laboratorium tak bisa memikirkan, apalgi menjalankan perceraian kodrat dengan benda. Kalau kita jajarkan beberapa contoh, yang bersamaan cuma dalam hal panas saja (A), dan semua hal lainnya, berbeda satu-persatu, maka kita bisa pakai jalan Persamaan. Disini panas sebagai sebab atau akibat bisa ditangkap dan diasingkan. Tetapi selainnya dari perkara panas semua contoh itu juga bersamaan dalam hal badan. Semua contoh itu punya badan. Tak ada barang yang mempunyai panas dan tak punya badan. Jadi jalan persaaam tak bisa dipakai. Kalau kita bisa jajarkan beberapa contoh pula, yang satu jajar mempunyai panas (A), jajar yang lain tiada mempunyai panas (A) itu, maka kita boleh pakai jalan perbedaan. Kalau pada jajar tak-ber-A itu, tak punya panas itu, akibat juga lenyap, maka nyatalah bahwa panas (a) itulah yang menjadi sebab. Tetapi keberatan diatas kita juga jumpai disini. Kita gampang susun pada satu jajar, beberapa benda yang sama-sama punya panas (A), tetapi mustahil mendapatkan benda pada jajar kedua yang tak-ber-panas. Pun jalan perbedaan juga tak bisa dipakai. Kalau kita bisa kurangkan jumlah semua sebab dengan jumlah sebab yang sudah diperalamkan ABC-BC = A dan sisanya cuma satu (A) ialah panas, maka kita bisa pakai jalan sisa. Kita tahu bahwa A, panas itulah yang menjadi sebabnya akibat (a). Tetapi sisanya tiada saja A (panas) tetapi juga badan, ialah badan yang perlu buat mengandung panas. Jadi kita tak bisa tahu, apakah panas ataukah badan yang menerbitkan akibat. Jadi jalan sisa-pun tak bisa dipakai. Untunglah ada lagi satu jalan. Walaupun calon sebab itu (disini panas) tak bisa sama sekali kita ceraikan dari bendanya,<noinclude>{{rh|||206}}</noinclude> 6q1vnjj0sh7qx8l1vkiw9111w7jz3le Pengguna:Dyalim 2 105845 298282 2026-06-17T06:40:39Z Dyalim 21704 ←Membuat halaman berisi 'Halo! {{Peserta WikiPandu}}' 298282 wikitext text/x-wiki Halo! {{Peserta WikiPandu}} o9t8e1e2jdqxy8vicmuknpa03cysagp 298283 298282 2026-06-17T06:45:01Z Dyalim 21704 298283 wikitext text/x-wiki Halo! Ini adalah buku favorite saya : [[Si Malin Kundang by Dahsinar]] {{Peserta WikiPandu}} ip438adsz2za2m3s34w4ydpsikuu84a 298284 298283 2026-06-17T06:45:30Z Dyalim 21704 298284 wikitext text/x-wiki Halo! Ini adalah buku favorite saya : [[Indeks:Si Malin Kundang by Dahsinar.pdf]] {{Peserta WikiPandu}} abkeoa4zto7z90c3lpben393zvcjzkr Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/104 104 105846 298285 2026-06-17T06:48:16Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298285 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>ISTERI PEMBERIAN IBOENJA</big>}} Diroemah Hanafi, di Solok, soenji senjap keadaannja. Siang malam pintoe dimoeka tidak diboeka, sedang lampoe diberanda moekapoen tidaklah pernah menjala. Dari djalan raja kelihatan roemah itoe sebagai roemah tinggal; seolah-olah boekan Hanafi sadja jang keloear, melainkan seisi roemahlah roepanja jang pergi temasa. Hanja keréta ketjil berisi Sjafé'i, jang ditolak oléh si Boejoeng setiap pagi dan petang kelihatan ditepi-tepi djalan, ada menandakan bahwakaoem keloearga Hanafi masih ada di Solok. Rapiah dan mentoeanja tidak pernah keloear roemah. Sekalian orang jang datang bertandang, soedah mengetahoei bahwa meréka ta' oesah lagi mengetoek pintoe diloear atau berseroe-seroe diberanda moeka, melainkan boléhlah teroes kebelakang sadja boeat menemoei orang roemah. Seorangpoen diantara segala sahabat Hanafi ta' datang keroemahnja, karena selama ini jang ditjari oléh meréka hanjalah Hanafi sadja, sedang ahli roemahnja jang lain hanjalah bergoena boeat menjediakan hidangan belaka. Kedoea perempoean, mentoea dengan menantoe, sedang 'asjik bekerdja didapoer. Sjafé'i tidoer njenjak dalam boeaian diberanda belakang, diajoen-ajoenkan oléh si Boejoeng. "Sebanjak itoe iboe menggoelai, seroepa ada tamoe jang dinanti makan", kata Rapiah dengan tersenjoem. — "Boeat orang berpoeasa, masih sedikit hidangan sebegini, Rapiah! Lihatlah jang baroe siap: ''anjang laoek sapi, koeraboe boenga kelikih, boboto''' tjara Padang, sedang jang hendak iboe siapkan tinggal lagi ''besenge''' dan ''kari Menggala''." "Iboe sendiri hanja gemar pada daoen-daoen kadjoe sadja, tapi iboe menjediakan daging sekian banjaknja. Siapakah jang hendak memakannja?" "Sebab engkau berpoeasa, Rapiah, tidak poeas hati iboe djika makananmoe koerang sepertinja. Meskipoen akan kaoumakan atau tidak, asal makanan tjoekoep sedia, hati iboepoen senang". "Soedah kedelapan kali Kamis ini akoe berpoeasa ''soenat'', iboe, dan selama itoe poela ajah Sjafé'i meninggalkan kita. Selama ia masih didalam perdjalanan, ta' akan ''roempangnja'' akoe berpoeasa soenat setiap hari Senin dan Kamis". "Berpoeasa soenat itoe besar manfa'atnja, Rapiah. Tapi sementara itoe wadjib benar bagimoe memelihara kewarasan toeboehmoe. Djangan roepamoe setjara ini, tinggal koelit pemaloet toelang sadja". "Benar sekali badankoe mendjadi koeroes, iboe. Tapi boekanlah koeroes itoe disebabkan oléh berpoeasa. Dan meskipoen koeroes, tetapi pada perasaan koe keséhatan toeboeh tiadalah terganggoe". "Sebab engkau tidak soeka merasakan, djadi pada sangkamoe tiadalah keséhatan toeboehmoe terganggoe, Rapiah! Tetapi djanganlah engkau loepa, bahwa keséhatanmoe itoe boekanlah bergoena boeat toeboehmoe sendiri, melainkan haroeslah kau bagi doea dengan Sjafé'i. Lihatlah poela keadaan anakmoe, soedah koening poetjat warna koelitnja".<noinclude></noinclude> cibco6ep091guh48jq4dvqac3p7pblj Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/105 104 105847 298286 2026-06-17T06:49:51Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298286 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ISTERI PEMBERIAN IBOENJA|89|}}</small></noinclude>"Soedah beberapa hari koepikirkan hendak mentjeraikan dia menjoesoe, boe! Anak-anak orang lain soedah lama ditjeraikan, bila ia soedah beroemoer satoe tahoen. Tapi Sjafé'i masih menjoesoe sadja. Hendak koetjeraikan menjoesoe, soenggoeh ta' sampai hatikoe, boe! Adjaib, tangisnja makin lama makin sedih". "Sebab toeboehnja koerang waras". "Boekan karena itoe sadja, boe. Atjap kali koetilik perangainja tengah-tengah malam. Dengan tidak sadar, melainkan didalam tidoer njenjak, biasa benar ia tersedoe-sedoe, sambil mentjoetjoerkan air matanja. Dengan seketika poela ia berhenti ''menghisak'', air matanja keringlah, laloe tidoer poelalah ia dengan njenjak". "Biasa djioea kanak-kanak berlakoe demikian didalam tidoernja, Rapiah". "Boléh djadi kebiasaan kanak-kanak seroepa itoe. Tetapi hatikoe tjemas-tjemas sadja. Roepanja atas diri ajah Sjafé'i soedah timboel sesoeatoe bentjana, boe. Hampir setiap malam akoe bermimpi jang boeroek-boeroek sadja. Djangan-djangan ajah Sjafé'i..." "Mimpi asalnja dari kenang-kenangan, Piah! Setia hari engkau mengenangkan Hanafi sadja, sampai toeboehmoe mendjadi koeroes, sedang anakmoepoen toeroet poela menanggoengkannja. Sesoenggoehnja hidoepmoe lebih aman, djika Hanafi tidak diroemah". Rapiah tidak menjahoet. Hanja darahnja menjesak naik kekepala, hingga ''daoen-daoen telinga'' dan kedoea belah pipinja berwarna mérah. Maka air santan jang diperahkannja dari tapisan kedalam seboeah belanga, dengan tidak sengadja soedah ditjoetjoerkannja kedalam seboeah pasoe bekas pentjoetji-tjoetji. Iboe Hanafi melihatkan perangai menantoenja jang sebagai tidak sedarkan diri itoe dengan amat belas kasihan. "Rapiah, Rapiah!" katanja. "Sekiranja Hanafi boekan anak kandoengkoe, tentoe koenasihati engkau, lebih baik kauminta ''talak tiga'' sadja, dari pada menghilangkan pikiran karena merindoekannja. Insaflah — kemanakah air santan itoe engkau perah?" Dengan terkedjoet Rapiah melihat perboeatannja itoe. Seketika itoe tapisan santanpoen soedah ditahankannja diatas belanga jang soedah berisi daging jang hendak dimasak. Tetapi dengan tidak dapat ditahantahannja lagi, menghilir dan berderai-derailah air matanja djatoeh ketanah. "Akan batal poeasamoe, djika hatimoe engkau petoeroetkan, Rapiah! Soedahlah — apatah jang engkau tangiskan? Soedah seboelan ia didjalan, sebentar lagi tentoe ia kembali poelang". "Boekan sadja pertjeraian ini jang akoe roesoehkan, iboe", sahoet Rapiah dengan sesak napas dan menghisak-hisak. "Entah apalah sebabnja, tetapi dalam seminggoe ini hatikoe soedah ta' senang-senang lagi. Entah alamat apa jang soedah datang pada dirikoe, akoe ta' dapat mengatakannja; tetapi perasaankoe soedah lain. Kata orang, kita tidak boléh pertjaja akan ''tahjoel'', tapi banjak poela orang berkata, djika sang-<noinclude></noinclude> rdzgbokm07dqzfxa2c0x0incixbgs2e Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/106 104 105848 298287 2026-06-17T06:51:06Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298287 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|90|ISTERI PEMBERIAN IBOENJA||}}</small></noinclude>sangoel ramboet terlepas sedang makan, 'alamat soeami hendak direboet orang. Benarkah demikian, boe?" "Oeah! Semata-mata tahjoel! Djika kita mesti memberi arti kepada segala pertandaan jang mendjadi kepertjajaan orang dahoeloe, nistjaja kita ta' kan dapat bersenang hati. Karena sepandjang hari ada sahadjalah pertandaan jang timboel. Lihat, belanga didjilat api, kata orang hendak kedatangan tamoe; marilah kita nantikan benar tidaknja. Perkara sanggoel terlepas itoe djanganlah engkau tjemaskan. Sebab engkau merindoekan soeamimoe, segala fi'ilmoe soedah beroebah. Selama ini kauperloekan benar berhias dan bersisir, sanggoelmoe selesai sadja dari pagi sampai malam. Tapi dimasa-masa jang achir ini roepandja kauharamkan benar tjermin dan sisir itoe. Bersisir dan berminjaklah, pasak sanggoel ramboetmoe setjara mestinja, tentoe ramboet itoe ta' akan memberi tanda-tanda boeroek lagi kepadamoe, Rapiah!" "Soedah tiga kali kangkoeng masoek kedalam roemah, boe!" "Apa poela artinja kangkoeng masoek roemah itoe?" "Tanda ada orang jang sedang melepas kebadji, soepaja bertjerai orang bersoeami-isteri!" "Oh, anakkoe! Kalau semoea kaujakini boeroeknja, tentoe toeboehmoe akan semakin koeroes!" Iboe Hanafi berkata demikian sambil tersenjoem. Tetapi didalam tersenjoem itoe iapoen tidak koeasa melindoengi kebimbangan, jang sedang tergambar pada wadjahnja. Karena sebenarnja orang toa itoepoen tidak poela loepoet dari tahjoel. Sebagai seorang perempoean kampoeng ia sangat poela mempergantoengi segala pertandaan itoe. Hanja sekadar hendak menjenangkan hati menantoenja, diselimoet-selimoetinja sadja segala gerak dan rasa, jang telah beberapa hari lamanja datang meroesakkan kesenangannja. Dari segala mimpinja iapoen jakin, bahwa atas diri Hanafi soedah timboel sesoeatoe bentjana jang menjedihkan. Dari pagipoen hatinja soedah tidak senang. Boekankah hari itoe hari Kamis, hari datangnja soerat-soerat dari Betawi? Selama Hanafi meninggalkan Solok, beloem pernah ia mengirim soerat kepada isteri atau iboenja. Hanja dari orang lain ada terdengar, bahwa Hanafi telah mengirimkan kartoe-kartoe pos jang bergambar kepada sekalian sahabatnja, menjatakan selamatnja sampai ke Betawi. Sepatah katapoen ta' ada berita, kadar menjampaikan salam kepada ahli roemahnja, atau boeat menitipkan iboe, isteri dan anaknja kepada mereka jang diseboetnja "sahabat karib" itoe dan sekali seminggoe minoem makan diroemahnja, dihidangkan oleh ahli roemah jang diloepa-loepakan itoe. Dari pagi iboe Hanafi soedah menerima gerak, bahwa ia akan mendapat kabar boeroek dari Hanafi. Dalam ia menghiboer-hiboerkan hati dan memberi nasihat menantoenja itoe, darahnja sendiripoen tidak senang. Itoelah sebabnja maka ia memasak sebanjak itoe. Soepaja boleh merintang-rintang hati didapoer. Dan — kalau hari Kamis soerat-soerat Betawi biasa datang, apa salah kalau anaknja sendiri jang poelang hari itoe? "Sabarlah, Rapiah!" katanja, setelah kedoea perempoean itoe berdiam<noinclude></noinclude> iu51yu6syrccgtxq6bf6b654g41rwtc Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/107 104 105849 298288 2026-06-17T06:53:07Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298288 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ISTERI PEMBERIAN IBOENJA|91|}}</small></noinclude>diri sedjoeroes lamanja. "Tenangkanlah hatimoe. Hari ini hari Kamis, hari datangnja soerat-soerat dari Betawi. Siapa tahoe, barangkali ada soerat dari Hanafi, atau ia sendiri poelang kembali". "Soedah tiga Kamis kita menanti-nanti, boe. Pada hari ini besar soenggoeh kejakinankoe, bahwa soerat itoe akan datang. Tetapi terlebih besar poela kejakinankoe, bahwa kabar boeroek jang akan kita terima". Rapiah tidak meneroeskan kata-katanja, karena Sjafé'i terdengar menangis dalam ''boeaian''. Dengan tidak mengindahkan boeatannja lagi, bangkitlah ia dari doedoeknja, laloe melompat mendapatkan anaknja, jang ''seketika djoega'' soedah dipangkoe laloe ditjioemnja. Maka berhamboeran poelalah air matanja keloear dengan ta' dapat ditahan-tahannja. Sambil menimang-nimang anak, melangkahlah ia keberanda tengah, laloe bernjanji dan berpantoen-pantoen: <poem> Djangan menggoolai bajam djoega, goelai gelinggang dibelanga. Djangan anak menangis djoega, bapa' merantau ta' kan lama. Roemah gedang bersendi pérak, beri bertonggak kajoe djati. Senang roepa badan ''terkoetjak'', menaroeh roesak dalam hati. Boekannja poentoeng nan berkélok, medang diloerah patah dahan. Boekannja oentoeng nan ta' élok, minta' ''soeratan'' bersalahan. Soengaipagoe air bertoemboek, simpangan djalan keLoeboekabai. Angan laloe ''paham tertoemboek'', dimana koesoet ''kan selesai''. Berpetik sambil berbedil, berboeroe sepandjang djalan. Memekik kami memanggil, ''meragoe'' toean nan berdjalan. Badjoe génggang tjelana génggang, kembang melati di Semarang. Doedoek bimbang berdiri bimbang, roesoeh hati makin ''berserang''. Manindjau padilah masak, batang kapas ''bertimbal'' djalan. Hati ''risau'' dibawa gelak, ba' panas mengandoeng hoedjan. </poem> Matahari soedah lama toeroen, siang sedang ''berdjawat'' dengan sendja. Rapiah dengan mentoeanja doedoek diberanda moeka. Sekali itoe pintoe dimoeka diboekalah, dan lampoe dipasang, karena kedoea perempoean itoe menanti-nantikan toekang pos. "Biasanja poekoel enam toekang pos soedah melintas", demikian kata iboe Hanafi. "Sekarang soedah setengah toedjoeh. Soedah djaoeh terlampau waktoe berboeka, Piah! Sebaik-baiknja hendaklah engkau pergi makan dahooloe". "Kalau ada soerat-soerat dari tanah Djawa, mémang pos itoe terlambat keloearnja dari biasa, boe. Tetapi sekarang soedah waktoenja datang. Tidakkan laloe air ''seregoek'' atau nasi sekepal dari rongkongan koe, sebeloem koeketahoei benar, ada ta' adanja soerat Hanafi..., o, itoelah toekang pos! Ah, bagai disengadjandja benar berdjalan ''gontai'' — tapi matanja memandang sahadja keroemah kita, ...ah, ia masoek kehalaman boe, dan ada soerat ditangannja — soerat Hanafi..., lekaslah pos, adakah soerat dari Betawi...?"<noinclude></noinclude> m9sogdwdzjomubaruwj42etxaandd8d 298290 298288 2026-06-17T07:13:18Z Link PB 26772 298290 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ISTERI PEMBERIAN IBOENJA|91|}}</small></noinclude>diri sedjoeroes lamanja. "Tenangkanlah hatimoe. Hari ini hari Kamis, hari datangnja soerat-soerat dari Betawi. Siapa tahoe, barangkali ada soerat dari Hanafi, atau ia sendiri poelang kembali". "Soedah tiga Kamis kita menanti-nanti, boe. Pada hari ini besar soenggoeh kejakinankoe, bahwa soerat itoe akan datang. Tetapi terlebih besar poela kejakinankoe, bahwa kabar boeroek jang akan kita terima". Rapiah tidak meneroeskan kata-katanja, karena Sjafé'i terdengar menangis dalam ''boeaian''. Dengan tidak mengindahkan boeatannja lagi, bangkitlah ia dari doedoeknja, laloe melompat mendapatkan anaknja, jang ''seketika djoega'' soedah dipangkoe laloe ditjioemnja. Maka berhamboeran poelalah air matanja keloear dengan ta' dapat ditahan-tahannja. Sambil menimang-nimang anak, melangkahlah ia keberanda tengah, laloe bernjanji dan berpantoen-pantoen: {{Col-begin}} {{Col-2}} Djangan menggoelai bajam djoega,<br/> Djangan anak menangis djoega,<br/> Roemah gedang bersendi pérak,<br/> Senang roepa badan ''terkoetjak'', Boekannja poentoeng nan berkélok,<br/> Boekannja oentoeng nan ta' élok, Soengaipagoe air bertoemboek,<br/> Angan laloe ''paham tertoemboek'', Berpetik sambil berbedil,<br/> Memekik kami memanggil, Badjoe génggang tjelana génggang,<br/> Doedoek bimbang berdiri bimbang, Manindjau padilah masak,<br/> Hati ''risau'' dibawa gelak, {{Col-2}} goelai gelinggang dibelanga.<br/> bapa' merantau ta' kan lama. beri bertonggak kajoe djati.<br/> menaroeh roesak dalam hati. medang diloerah patah dahan.<br/> minta' ''soeratan'' bersalahan. simpangan djalan keLoeboekabai.<br/> dimana koesoet 'kan selesai. berboeroe sepandjang djalan.<br/> ''meragoe'' toean nan berdjalan. kembang melati di Semarang.<br/> roesoeh hati makin berserang. batang kapas ''bertimbal'' djalan.<br/> ''ba''' panas mengandoeng hoedjan. {{Col-end}} Matahari soedah lama toeroen, siang sedang ''berdjawat'' dengan sendja. Rapiah dengan mentoeanja doedoek diberanda moeka. Sekali itoe pintoe dimoeka diboekalah, dan lampoe dipasang, karena kedoea perempoean itoe menanti-nantikan toekang pos. "Biasanja poekoel enam toekang pos soedah melintas", demikian kata iboe Hanafi. "Sekarang soedah setengah toedjoeh. Soedah djaoeh terlampau waktoe berboeka, Piah! Sebaik-baiknja hendaklah engkau pergi makan dahooloe". "Kalau ada soerat-soerat dari tanah Djawa, mémang pos itoe terlambat keloearnja dari biasa, boe. Tetapi sekarang soedah waktoenja datang. Tidakkan laloe air ''seregoek'' atau nasi sekepal dari rongkongan koe, sebeloem koeketahoei benar, ada ta' adanja soerat Hanafi..., o, itoelah toekang pos! Ah, bagai disengadjandja benar berdjalan ''gontai'' — tapi matanja memandang sahadja keroemah kita, ...ah, ia masoek kehalaman boe, dan ada soerat ditangannja — soerat Hanafi..., lekaslah pos, adakah soerat dari Betawi...?"<noinclude></noinclude> ledook4a453au8m02mrnnck55d1lwx6 298291 298290 2026-06-17T07:13:59Z Link PB 26772 298291 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ISTERI PEMBERIAN IBOENJA|91|}}</small></noinclude>diri sedjoeroes lamanja. "Tenangkanlah hatimoe. Hari ini hari Kamis, hari datangnja soerat-soerat dari Betawi. Siapa tahoe, barangkali ada soerat dari Hanafi, atau ia sendiri poelang kembali". "Soedah tiga Kamis kita menanti-nanti, boe. Pada hari ini besar soenggoeh kejakinankoe, bahwa soerat itoe akan datang. Tetapi terlebih besar poela kejakinankoe, bahwa kabar boeroek jang akan kita terima". Rapiah tidak meneroeskan kata-katanja, karena Sjafé'i terdengar menangis dalam ''boeaian''. Dengan tidak mengindahkan boeatannja lagi, bangkitlah ia dari doedoeknja, laloe melompat mendapatkan anaknja, jang ''seketika djoega'' soedah dipangkoe laloe ditjioemnja. Maka berhamboeran poelalah air matanja keloear dengan ta' dapat ditahan-tahannja. Sambil menimang-nimang anak, melangkahlah ia keberanda tengah, laloe bernjanji dan berpantoen-pantoen: {{Col-begin}} {{Col-2}} Djangan menggoelai bajam djoega,<br/> Djangan anak menangis djoega, Roemah gedang bersendi pérak,<br/> Senang roepa badan ''terkoetjak'', Boekannja poentoeng nan berkélok,<br/> Boekannja oentoeng nan ta' élok, Soengaipagoe air bertoemboek,<br/> Angan laloe ''paham tertoemboek'', Berpetik sambil berbedil,<br/> Memekik kami memanggil, Badjoe génggang tjelana génggang,<br/> Doedoek bimbang berdiri bimbang, Manindjau padilah masak,<br/> Hati ''risau'' dibawa gelak, {{Col-2}} goelai gelinggang dibelanga.<br/> bapa' merantau ta' kan lama. beri bertonggak kajoe djati.<br/> menaroeh roesak dalam hati. medang diloerah patah dahan.<br/> minta' ''soeratan'' bersalahan. simpangan djalan keLoeboekabai.<br/> dimana koesoet 'kan selesai. berboeroe sepandjang djalan.<br/> ''meragoe'' toean nan berdjalan. kembang melati di Semarang.<br/> roesoeh hati makin berserang. batang kapas ''bertimbal'' djalan.<br/> ''ba''' panas mengandoeng hoedjan. {{Col-end}} Matahari soedah lama toeroen, siang sedang ''berdjawat'' dengan sendja. Rapiah dengan mentoeanja doedoek diberanda moeka. Sekali itoe pintoe dimoeka diboekalah, dan lampoe dipasang, karena kedoea perempoean itoe menanti-nantikan toekang pos. "Biasanja poekoel enam toekang pos soedah melintas", demikian kata iboe Hanafi. "Sekarang soedah setengah toedjoeh. Soedah djaoeh terlampau waktoe berboeka, Piah! Sebaik-baiknja hendaklah engkau pergi makan dahooloe". "Kalau ada soerat-soerat dari tanah Djawa, mémang pos itoe terlambat keloearnja dari biasa, boe. Tetapi sekarang soedah waktoenja datang. Tidakkan laloe air ''seregoek'' atau nasi sekepal dari rongkongan koe, sebeloem koeketahoei benar, ada ta' adanja soerat Hanafi..., o, itoelah toekang pos! Ah, bagai disengadjandja benar berdjalan ''gontai'' — tapi matanja memandang sahadja keroemah kita, ...ah, ia masoek kehalaman boe, dan ada soerat ditangannja — soerat Hanafi..., lekaslah pos, adakah soerat dari Betawi...?"<noinclude></noinclude> 11rhq9z39ebmzqajfyxlo6xwq9qoyll Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/108 104 105850 298292 2026-06-17T07:17:08Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298292 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|92|ISTERI PEMBERIAN IBOENJA||}}</small></noinclude>Dengan perkataan demikian Rapiah soedah ''menghamboer'' toeroen ketanah, menemoei toekang pos, laloe menerima sehelaï kertas dari tangannja. "Panggilan soerat ''aangeteekend'', boe, dan — adres iboe!" demikian ia berkata dengan mengeloeh, sambil menjerahkan kertas itoe ketangan mentoeanja. Boekan boeatan sedih hatinja, waktoe ia mengoendjoekkan soerat panggilan itoe kepada mentoeanja. Pertama karena soedah njata benar, bahwa Hanafi tidak menjangka dia ada lagi. Sekali itoe ia berkirim soerat, itoepoen tidak poela kepada isterinja, melainkan kepada iboenja! Kedoea, soerat itoe baharoe keésokan harinja boléh diambil dari pos! "Apalah katanja, Piah?" "Entahlah, boe. Soerat ini beloemlah soerat ajah Sjafé'i, melainkan soerat dari kantor pos, menjatakan bahwa ada soerat Hanafi tersedia disitoe. Iboe haroes menanda-tangani soerat ini, baharoe ésok boléh diambil soerat Hanafi itoe dari kantor pos". "Banjak benar ''tjéngtjongnja'', Rapiah! Dan bagaimana poela iboe hendak menanda-tanganinja, iboe ta' bisa. Engkau sahadjalah menolong". "Tidak boléh akoe menanda-tanganinja, boe, karena adres soerat ialah kepada iboe. Soerat itoe dikirimnja dengan ''aangeteekend'', djadi roepanja penting benar". Maka mengeloehlah Rapiah. Makin jakinlah ia, bahwa kabar boeroek jang dibawa oléh soerat itoe. Iboe Hanafi poen toeroet mengeloeh. Iapoen sedang memenoengkan segala sesoeatoe jang menjedihkan hati menantoenja. Apakah sebabnja maka Hanafi tidak menepatkan soerat kepada isterinja, melainkan kepada iboenja? "Apakah daja kita karena iboe tidak bisa menoelis, Piah?" "Baiklah kita pergi ésok pagi bersama-sama kekantor pos, boe. Iboe pandai memboeboeh tanda-tangan dengan hoeroef Arab. Nanti dimoeka pegawai kantor pos sadja iboe lakoekan". "Ah, banjak tjéngtjong benar!" "Ja, dan baharoe ésok hari kita boléh mengetahoei isinja..." "Sabarlah kita, Piah! Sabar-sabarkan hatimoe. Dari pada ''mejakin-jakini'' sesoeatoe hal jang boeroek, lebih oetama djika mengambil kejakinan pada jang baik djoega. Allah ta'ala bersifat moerah, tidak 'kan ada takdir toeroen atas hambanja, jang tidak memberi manfa'at djoea kelak, meskipun pada awalnja toeroen bentjana". Sesoenggoehnja orang toea itoe berkata demikian, sekadar hendak menjenangkan hati Rapiah sadja. Kertas jang gementar tergenggam dalam tangannja, adalah memberi 'alamat, bahwa segala oerat ''saraf''nja sedang ''tergojang''. "Marilah kita makan, Piah! Pikirkanlah keséhatan toeboehmoe, karena anakmoepoen menoempang hidoep pada kewarasan toeboehmoe itoe". Dengan tidak berkata-kata lagi kedoeanjapoen masoek kedalam, laloe mendapatkan médja makan; disitoe soedah lama tersedia makanan.<noinclude></noinclude> ihtxwz6q0r3iranblcac7sbpjvt0vr0 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/109 104 105851 298293 2026-06-17T07:18:15Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298293 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ISTERI PEMBERIAN IBOENJA|93|}}</small></noinclude>Kedoeanja mentjoba-tjoba makan, tetapi masing-masing berasa, bahwa rongkongannja bagai terkoentji, dan tidak akan dapat melaloekan seboetir nasi. Dengan tidak berkata-kata, bangkitlah kedoeanja dari tempat doedoeknja, laloe menjimpan segala makanan kedalam lemari. Semalam-malaman itoe kedoeanja tidak tidoer sekedjap mata. Rapiah mendengar mentoeanja antara sebentar mengeloeh, sedang didalam dadanja sendiri menjergap sadja apa jang sedang dirasainja. Antara sebentar dihiboerkannja hatinja dengan pikiran jang njaman, jaitoe dibantahnja segala gerak-gerakan jang memberi ‘alamat akan datang bentjana itoe. Boekankah semoea itoe tahjoel belaka, demikian kata Rapiah dalam hatinja. Soeatoepoen ta’ ada boekti jang boleh dipergantoengi boeat mengekalkan kejakinan kepada jang boeroek-boeroek itoe. Hanafi baharoe seboelan meninggalkan roemah. Ia ke Betawi hendak berobat, boekan moestahil bila waktoe berobat itoe dilambatkan dari atoeran, karena semboeh penjakit itoe tidak dapat dipastikan waktoenja... Sekonjong-konjong terdengar Sjafé’i mendjerit dengan tidak tentoe apa sebabnja. Seketika itoe djoea iboe Hanafi soedah menghamboer dari kamar sebelah, laloe berdiri dimoeka tempat tidoer Rapiah. Sjafé’i sedang menggapai-gapaikan tangannja, sedang djeritnja semakin seni. Rapiah memangkoe anaknja, sambil menimang-nimang dan mentjioem kedoea belah pipinja. Sementara itoe mentoeanja sedang membalik-balik bantal serta mengirap-ngirapkan seperai dan memeriksaï selimoet, laloe didamari tempat tidoer itoe sampai keselat-selat kasoernja. "Tentoe ada jang menggigitnja, Piah! Tapi héran, seékorpoen ta’ ada binatang jang kedapatan”. Maka "diloeloesi” pakaian Sjafé’i, dan ditilik koelit seloeroeh badannja. Tidak kedapatan bekas gigit sedikit djoea. Sementara itoe Sjafé’i memeloek léhér iboenja dengan kedoea belah tangannja, sedang pekiknja jang seni-seni tadi telah beroebah mendjadi tangis sedih jang tersedoesedoe, bagaikan orang menjadari oentoengnja. "Meskipoen ia masih beloem berpengetahoean, tapi jang sedang dirasainja ta’kan djaoeh oebahnja dari jang sama kita rasaï, boe”, demikian kata Rapiah sambil menangis. Iboe Hanafi tidak menjahoet, melainkan iapoen menangis poela, mengeloearkan air mata jang soedah ta’ dapat ditahan-tahannja lagi. Hanja sebab tegoeh imannja sadja, maka kedoea perempoean itoe koeat menahan air matanja, jang dari siang tadi soedah timboel-timboel soeroet, dan tergenang-genang diroeangan matanja. Tetapi anak itoe, dengan tidak disengadjannja, soedah memboeka djalan bagi kedoea perempoean itoe boeat menoempahkan isi dada meréka, jang sekian lamanja dapat ditahan. Entah berapa lamanja ketiga meréka itoe bertangis-tangisan, tiadalah diketahoeinja. Haripoen soedah laroet malam. Setelah Sjafé’i letih dari pada menangis, maka terlajang poelalah ia diatas pangkoean iboenja. Baharoe sadja diletakkan, ia soedah menangis poela. Demikianlah berlakoe beberapa kali hingga hampir dekat waktoe<noinclude></noinclude> k3y43b9sr2lnhdm7rguqgtao40x7p1x Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/110 104 105852 298294 2026-06-17T07:21:10Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298294 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|94|ISTERI PEMBERIAN IBOENJA||}}</small></noinclude>soeboeh, setelah nénénknja mengawani tidoer, baharoelah anak itoe dapat tidoer njenjak. Setelah Rapiah membersihkan médja makan pada keésokan harinja, maka berhiaslah ia, dan mengadjak mentoeanja kekantor pos. "Engkau sahadjalah kekantor pos, Piah, apatah perloenja iboe dibawa-bawa", demikian kata iboenja. "Perloelah bibi' beserta, karena bibi' jang mesti menanda-tangani soerat ini", "Ah, iboe ta' pandai menoelis, engkau sahadjalah menékannja". "Bibi' pandai menoelis hoeroef koerän, akoe tidak boléh menékannja, karena soerat di'alamatkan kepada bibi'. Lekaslah, bi', hari soedah poekoel delapan". Sambil berkata demikian itoe Rapiah memandang dengan soedoet matanja kepada djam, jang baharoe menoendjoekkan setengah delapan koerang lima menit. "Sia-sia engkau berlakoe dengan tergesa-gesa setjara itoe, Piah", kata mentoeanja dengan tersenjoem. "Hari beloem setengah delapan, kantor pos beloem diboeka". "Toean chef soedah laloe dari tadi, bi', nanti akoe hendak minta tolong kepadanja boeat memberikan soerat itoe, meskipoen beloem waktoenja memboeka pos. Moestahil ia tidak soeka menolong, toean itoe orang baik''. Dengan ''enggan'' iboe Hanafi mengganti kain dan badjoenja, maka katanja: "Ah sebenarnja orang toea djanganlah dibawa-bawa ketempat seroepa itoe". "Apakah jang iboe segankan kekantor pos itoe?" "Ja — sebenarnja kami orang kampoeng takoet berdjoempa dengan orang Belanda. Kalau-kalau ada kelakoean kita jang bersalahan nampak oléhnja, laloe ''„diparadamnja”'' sadja". Rapiah mentjoba-tjoba tertawa didalam sedihnja. "Tidak semoea orang Belanda toekang „paradam”, bi'! Perkataan jang kasar itoe akan lebih banjak kita mendengar dari ajah Sjafé'i, dari pada keloear dari moeloet toean kantor pos itoe". "Benar, Piah, kalau Hanafi soedah mengeroetkan keningnja, dan kata-kata „paradam-parodom” itoe soedah bertali-tali keloear dari moeloetnja, gelaplah boemi Allah rasanja bagi iboe. Orang Belanda demikian sadjakah lakoenja sepandjang hari?" "Djaoeh dari itoe, boe. Orang Belanda jang sopan memantangkan benar perkataan itoe, apalagi dimoeka-moeka orang perempoean ta' boléh sekali-kali dikeloearkan". "Héran, Hanafi hanja gemar mengeloearkan perkataan itoe dimoeka ahli roemahnja sadja, tapi djika kepada tamoenja tidak pernah terdengar oléh iboe. Dari manakah anak itoe beladjar berkata-kata sekasar itoe? Benar-benar toean kantor pos tidak akan ''menghardik'' bibi' nanti, Piah?"<noinclude></noinclude> ra63u9op5u0xh1k8dmorqtcf2eoc5un Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/111 104 105853 298295 2026-06-17T07:23:28Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298295 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ISTERI PEMBERIAN IBOENJA|95|}}</small></noinclude>"Tidak, boe, tjobalah bibi! dekati orang Belanda itoe, nanti bibi' akan jakin, bahwa ia tidak pemakan orang". "Ah, alangkah moedahnja, bila soerat itoe di'alamatkannja kepada engkau sadja, Piah!" Dengan beroengoet ditoeroetkannja djoega menantoenja kekantor pos. Sesampai disana iboe Hanafi soedah menjesal poela menoeroetkan Rapiah itoe. Dengan tersenjoem toean chef kantor menjorongkan tempat dawat dan kalam kepadanja, laloe berkata: "Tekanlah ditempat ini, rangkaja!" Dengan kakoe tangannja digenggamnjalah kalam itoe, laloe ditjeloepkannja beroelang-oelang kedalam tempat dawat, dan dipandanginja njata-njata, kalau-kalau dawat itoe tidak melekat kepada kalam. "Soedah basah, bi'! Disinilah bibi' mesti tekan. Hoeroef koerän, dan seboenji nama bibi' sahadja". Waktoe kalam itoe hendak tertjatjah pada kertas, maka gementarlah tangannja sedjoeroes, hingga kalam itoe berlakoe seolah-olah paloe ketjil, jang sedang dipergoenakan oléh seorang toekang emas dalam pekerdjaannja. "Édjakanlah, Rapiah!" katanja dengan berbisik, "iboe soedah loepa-loepa ingat akan soesoenan hoeroef itoe. Zaman dahoeloe beloem banjak sekolah". Rapiah laloe mengédjakan: "Mim"... "alif"... "ra"... "ja"... "alif"... "mim"... nah, Mariam, tjoekoeplah, bi'!" "Nah bagoes, bagoes!" demikian kata toean kantor chef dengan tertawa, "rangkaja mengakoe bodoh, tapi sesoenggoehnja — saja sendiri tidak bisa menoelis seroepa itoe. Sekarang Rapiah, tékan disini, ...nah! saja sendiri tékan poela, bagoes, dan — inilah soerat Hanafi. Berat sekali, barangkali banjak oeang dalamja! Tabik rangkaja, tabik Rapiah!" "Ah, baik benar boedi toean itoe, Rapiah", demikian kata iboe Hanafi, setelah sampai keloear dan ia soedah menarik napas pandjang. "Benar, boe, semoea orang Belanda demikian 'adatnja, asal kita tidak bersalah". "Ja — tapi djika dilihat poela perangai Hanafi, jang berkata menoeroet tarékat Belanda, ragoe poelalah hati. Dari ketjil ia diasoeh oléh Belanda, tapi roepanja banjak jang boeroek dari pada jang baik soedah diperoléhnja". Rapiah tidak menjahoet, melainkan dipertjepatnjalah djalannja. "Sesak napas iboe menoeroetkan engkau, Piah. Lakoemoe sebagai orang jang hendak ketinggalan keréta api". Rapiah tersenjoem, sambil berhenti sebentar, menantikan mentoeanja. "Sjafé'i..." Perkataan itoe tidak diteroeskannja. Ia hendak berkata bahwasanja tjemas hatinja meninggalkan Sjafé'i, boeat melindoengi keinginan hatinja akan membatja soerat itoe selekas-lekasnja, tapi sedjoeroes poela telah teringat oléhnja, bahwa pada djam itoe Sjafé'i biasa didorong-dorong dalam keréta oléh si Boedjoeng didjalan besar, boeat "makan-makan panas".<noinclude></noinclude> az4c2f9gnn864z33zvodru9ktu2f8v0 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/112 104 105854 298296 2026-06-17T07:26:09Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298296 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|96|ISTERI PEMBERIAN IBOENJA||}}</small></noinclude>Achirnja sampailah meréka keroemah, laloe Rapiah menjoeroeh mentoeanja memboeka soerat itoe. "Boekalah, Piah, tolonglah batjakan. Tapi tegoehkanlah imanmoe. Boeroek baiknja kabar jang dibawa oléh soerat itoe, hendaklah kauterima dengan oetjapan soekoer kepada Toehan, jang senantiasa akan menoeroenkan rahim bagi hambanja". Setelah soerat itoe keloear dari boengkoesannja, maka termenoenglah Rapiah memandanginja sedjoeroes. "Batjakanlah, Rapiah! Boeroek atau baiknja hendak sama-sama kita dengar". Rapiah membatja: "Iboe jang tertjinta! "Sesoenggoehnja soerat ini haroeslah koe'alamatkan kepada Rapiah, tapi karena perempoean itoe koeperoléh dari iboe, kepada iboe poelalah ia hendak koepoelangkan". Rapiah menekankan pinggangnja jang sebelah kiri, karena sekonjong-konjong terasalah sakit oléhnja ditempat itoe. Air matanjapoen berhamboeran keloear, waktoe ia meneroeskan membatja: "....Baiklah koenjatakan dengan ringkas apa jang soedah terdjadi. "Sampai di Betawi, bertemuolah anakanda dengan seorang toean, bekas chef anakanda dahoeloe, jang sekarang berpangkat besar di ''Departement van Binnenlandsch Bestuur''. Toean itoe berkata, bahwa ada tempat Commies jang terboeka dikantornja, dan sekiranja anakanda harap akan pangkat itoe, haroeslah anakanda meminta seketika itoe djoega. Sebab kantor B.B. tidak dapat menanti lama, sedang jang meminta djabatan itoe boekan seorang doea orang. "Dengan pangkat ini djalan keatas seolah-olah soedah terboeka bagi anakanda, karena lambat laoennja anakanda akan dapat mentjapai djabatan Referendaris, asal sabar. "Djadi dengan tidak berpikir pandjang, anakanda soedah masoekkan soerat berhenti bersama ini, sedang sementara menanti angkatan, soedah empat belas hari lamanja anakanda bekerdja sebagai ''maandgelder'' dikantor B.B. "Gadji permoelaan hanja lebih sedikit dari di Solok, tapi harapan sangat besar, karena anakanda soedah poela memasoekkan soerat permohonan boeat dipersamakan dengan bangsa Belanda. "Boenda! Dengan persamaan kepada bangsa Belanda itoe anakanda seolah-olah soedah keloear dari bangsa dan dari "pajoeng" kita. Katakanlah kepada orang-orang dikampoeng, bahwa gelarkoe "Soetan Paménan" soedah koeletakkan, dan hendaklah meréka mengisarkannja kepada jang lain. Didalam segala "hitoengan dikampoeng" anakanda ta' oesah dibawa-bawanja lagi, karena dengan réla hati anakanda soedah keloear dari adat dan keloear<noinclude></noinclude> by9phf0i8upssar5i3ihqxvee2c0tz4 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/113 104 105855 298298 2026-06-17T08:24:20Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298298 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||ISTERI PEMBERIAN IBOENJA|97|}}</small></noinclude>dari bangsa. Hanja satoelah jang tidak akan poetoes, jaitoe antara anakanda dengan iboe, tentoe tidaklah akan beroebah-oebah keadaannja. "Hanja dengan Rapiah akan lain halnja. Sebenarnja hal Rapiah itoe mangkin mendjadi kebimbangan bagi anakanda. Rapiah mémang orang kampoeng benar. Deradjat dan martabat laki-laki akan naik atau toeroen dengan keadaan isterinja. Di Solok, dengan orang-orang Belanda jang hanja empat lima orang sadja, jang beloem boléh diseboetkan masoek lapisan atas, Rapiah soedah kakoe dan ketakoetan. "Kota Betawi tidak boléh disamakan dengan Solok. Disini jang mendjadi perempoean roemah itoe haroeslah orang terpeladjar, boléh dibawa ketengah dan kesegala médan pertandingan. Koki-koki Betawi sadja soedah patoet njonja roepanja, bila ia diperbandingkan dengan orang kampoeng kita. Apalagi djika anakanda soedah tentoe mendjadi orang Belanda, isteri anakanda itoe haroeslah jang berpatoetan benar dengan keadaan dan pergaoelan anakanda. "Djanganlah anakanda mengoempat-oempat djoega kepada Rapiah, sebab sebenarnja boekan salahnja maka ia seroepa itoe. Tapi sebaliknja djanganlah poela anakanda diberi djalan teroes-meneroes mendoerhaka kepada iboe. Segala bentjana dan "perasaan" jang anakanda tanggoeng selama mengikatkan diri kepada seorang isteri pemberian iboe itoe, tidaklah akan anakanda bangkit-bangkit lagi, melainkan iboe sahadjalah jang akan mema'loeminja. Oléh karena itoe iboe izinkanlah anakanda, boeat memoelangkan barang jang iboe berikan itoe ketangan iboe sendiri. "Sia-sia bagi Rapiah, boeat menanti-nantikan poelangkoe, dan sekali-kali djanganlah ia bertjita-tjita hendak datang ke Betawi". Sementara itoe si Boejoeng soedah datang mendorong keréta, sedang Sjafé'i menangis mendjerit-djerit didalamnja. "Bawalah ia berkeliling-keliling didalam keboen, Boejoeng", kata iboe Hanafi dengan gementar soearandja. "Sabarlah, Piah, tammatkan membatjanja". "Sabar sebentar, na"', kata Rapiah poela dengan sesak napas, hingga soewarnja hampir-hampir tidak keloear. "Sebentar lagi ma' ambil engkau". Maka diteroeskannjalah membatja sambil menghoedjankan air matanja: "...Selagi Rapiah masih moeda, tentoe akan besar pengharapannja akan bersoemi lagi. Anakanda tidak sampai hati boeat mengalangi maksoednja jang demikian, bahkan anakanda sertaïlah mengharap-harap, soepaja ia segera mendapat soeami jang sepadan dengan keadaannja. Dengan anakanda njatalah ia sebagai kata pepatah orang Melajoe: ''Seiring bertoekar djalan, sekandang tidak sebaoe." "Oléh karena itoe iboe serahkanlah ketangannja soerat anakanda, jang diboengkoes bersama ini. "Bilamanakah iboe dapat koesoeroeh datang ke Betawi? Entah- <small>7</small><noinclude></noinclude> j8vzpzwb21sha9ed0effpzpy6a62roi Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/114 104 105856 298299 2026-06-17T08:26:50Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298299 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|98|ISTERI PEMBERIAN IBOENJA||}}</small></noinclude>lah — karena setjara keadaan sekarang, dengan gadji seketjil ini, tentoe kehidoepan anakanda haroes berdikit-dikit. "Do'akanlah, boe, agar anakanda lekas sampai kepada jang ditjita-tjita. Akan Rapiah djanganlah iboe alang-alangi, bila ia hendak kembali kepada ajahnja. Hendaklah iboe batjakan soerat ini kepada iboe-bapanja, karena anakanda amat sempit pekerdjaan boeat menoelis-noelis soerat banjak. "Akan pakaian-pakaian anakanda jang masih ketinggalan hendaklah iboe kirimkan ke Betawi, barang-barang isi roemah baiklah dibawa ke Koto Anau, atau didjoeal, sekehendak iboelah. "Demikianlah soepaja boenda ma'loem. {{right|Sembah soedjoed anakanda,}} {{right|Hanafi".}} Dengan tidak berkata sepatah djoea, Rapiah laloe memboeka boengkoesan soerat jang "terselip" didalam soerat itoe, dan dimaksoed boeat Rapiah oléh Hanafi. "Soerat kepoetoesan", katanja dengan mengeloeh. {{right|A. {{smallcaps|Moies}}, ''Salah asoehan''.}}<noinclude></noinclude> da5z0lhczst7ssjwri5kqadqr7wwk4o Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/115 104 105857 298300 2026-06-17T08:31:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298300 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>KALAU TA' OENTOENG</big>}} Sesoedah Masroel beristeri, ditjobalah oléh Rasmani akan meloepakan orang jang ditjintaïnja itoe, akan menghapoeskan dari ingatannja. Tetapi alangkah soekarnja, karena Masroel ditjintaïnja sepenoeh hati. Dikoeranginja memboeat soerat, diélakkannja pertjakapan tentangan Masroel, dan dihindarkannja sesoeatoe jang boléh mengingatkan dia kepada Masroel. Karena ia seorang jang bekerdja, dan tjoekoep oeroesan jang akan merintang hatinja, dapatlah djoega menghilangkan wadjah Masroel jang selaloe terbajang-bajang dimatanja, lebih-lebih selama ia tinggal di Boekittinggi, negeri jang djaoeh lebih besar dari kampoengnja. Ditjarinja sahabat, disatoekannja hatinja kepada peker djaannja, dipeladjarinja bahasa Belanda, ditambahnja pengetahoeannja tentang mendjahit dan peladjaran agama, dibatjanja boekoe dan soerat chabar dan lain-lainnja. Dengan demikian loepalah ia kepada Masroel, dan hilanglah kemaoeannja akan bersoeami. Tetapi alangkah tertjengangnja menerima soerat Masroel mengatakan ia ta' beroentoeng dan menoendjoekkan tjintanja. Api jang telah hampir padam itoe, moelaïlah kembali memperlihatkan tjahajanja, menjala makin lama, makin besar. Dengan soesah pajah ia menghilangkan dan memerangi kata-kata hatinja, soepaja menoeroet pikirannja, menoeroet kemaoean 'akal dan adabnja. "Masakan saja dapat ditéwaskan hawa nafsoe, masakan saja akan lemah, biarlah 'kak Masroel lemah, saja ta'kan maoe mempertoeroetkan kehendaknja. Saja akan memperlihatkan kekoeatan saja, akan menoendjoekkan saja lebih koeat dari padanja!" Tetapi amat soesahnja ia menahan tjinta jang meresap kehati djantoengnja, sehingga hampir lalai ia akan kerdja dan kewadjibannja sehari-hari. Ia tahoe bahasa dengan sepatah kata ia akan mendapat Masroel kembali. Tetapi hal itoelah jang ta' disoekaïnja. Ia seorang perempoean jang telah mengetjap pengetahoean, meskipoen amat sedikit, ta' maoe berboeat seperti itoe, ta' maoe merampas soeami orang, merampas bapa anak orang. Ia ta' soeka namanja dan Masroel akan boeroek. Boekankah orang melihat jang diloear sadja, siapa jang tahoe batinnja, siapa jang tahoe bahasa Masroel menderita, dan bahasa ia maoe kepada Masroel, karena kasihan dan sebab tjintanja jang amat besar? Sebab itoe dimatikannja hatinja, diboeatnja soerat mengatakan Masroel ta' boléh meninggalkan isterinja dan lain-lain... Tetapi ketjéwa dan kesal djoega hatinja ketika soeratnja jang kedoea ta' dibalas Masroel. Kadang-kadang menjesal ia, karena telah berlakoe sekeras itoe kepada dirinja sendiri, kepada Masroel. Enam boelan soedah laloe, sesoedah ia memboeat soerat itoe, soetoepoen ta' ada jang terdjadi diatas dirinja, ketjoeli hatinja jang ber-<noinclude></noinclude> 0c6xnnk8qlbeyxstoxk3rqgrjhhy2nc Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/116 104 105858 298301 2026-06-17T08:33:29Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298301 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|100|KALAU TA' OENTOENG||}}</small></noinclude>tambah hantjoer dan fikirannja jang bertambah banjak memikirkan Masroel. Dan alangkah terkedjoetnja ia pada soeatoe petang; ketika ia melihat keloear roemah dan menampak seorang moeda menoedjoe keroemahnja. Dengan ta' diketahoeinja ia telah berdiri diambang pintoe, dan ketika Masroel berdiri ditangga terlompatlah moeloetnja: "Kak Masroel". "Ja 'dik, kakanda ini", kata Masroel sambil melompat keroemah dan mengambil tangan Rasmani dengan kedoea tangannja. Sebentar meréka berpandang-pandangan, dengan ta' berkata-kata sepatahpoen djoega. Kemoedian dihélanja tangannja lambat-lambat oléh Rasmani dari genggaman Masroel, dan dihaoesnja air matanja jang telah membasahi pipinja. Dengan kata-kata menahan tangis disilakannja Masroel doedoek, kemoedian pergilah ia kebelakang akan memberi tahoe iboenja tentang kedatangan Masroel. Iboenjapoen terkedjoet, dan berlari kemoeka akan menemoei Masroel. Pertemoean inipoen amat membesarkan hati kedoea belah pihak, sehingga iboe Rasmani ta' dapat poela menahan air matanja, lebih-lebih melihat air mata Masroel berlinang-linang. Lama Rasmani dibelakang akan menghilangkan tangisnja. Dadanja sesak dan hatinja pedih rasa diiris-iris. Pertemoeannja itoe amat mengedjoetkan dia, dan meloekaï hatinja jang telah roesak itoe. Ketika dipanggil iboenja baharoelah ia keloear kembali dan amat kesal hatinja, karena air matanja ta' hendak kering-keringnja, meskipoen telah pajah ia mentjoba akan tertawa. Sesoedah ia melihat kepada Masroel kembali, sesaklah poela dadanja dan dengan ta' tertahan-tahan berhamboeranlah poela air matanja. Diletakkannja tangannja diatas médja, ditekoekkannja kepalanja kesitoe, dan dengan ta' maloe-maloe kepada iboenja dan Masroel, menangislah ia tersedoe-sedoe. Iboenja dan Masroel menghapoes air matanja poela, dan melihat kepada Rasmani dengan ta' berkata sepatah djoega. Beloem pernah Rasmani merasaï dan mengetahoei berapa besar tjintanja kepada Masroel lebih dari diwaktoe itoe. Beloem pernah ia tahoe diarti tjinta jang sebenarnja. Ketika itoe terasa benar oléhnja, dan meresap kehati djantoengnja, lebih-lebih melihat moeka Masroel jang koeroes dan poetjat itoe, amat sedih hatinja. Pedih bagai diiris dengan sembiloe. Masroelpoen demikian. Ketika itoe terasa benar oléhnja berapa besar tjintanja kepada sahabatnja dari ketjil itoe. Dan menjesal ia dengan sesal jang ta' berkepoetoesan atas kesalahannja jang telah laloe, atas perboeatannja jang ta' dengan pertimbangan dahoeloe itoe. Beloem pernah ia merasaï sesal jang sebesar waktoe itoe, meskipoen telah lama terasa oléhnja bahasa ia telah sesat. Beloem pernah ia menderita seperti ketika itoe, walapoen telah bertahoen ia ta' mengetjap kesenangan dan bahagia. Tetapi harapan jang besar menimboelkan kekoeatannja dan dengan goegoep menahan hati berkatalah ia: "Soedahlah, Mani, djangan menangis lagi, kakak haoes benar, tjarilah air semangkoek".<noinclude></noinclude> ac2peq2nmjenkozk5fznti9hduq3u8p Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/117 104 105859 298302 2026-06-17T08:35:05Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298302 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KALAU TA' OENTOENG|101|}}</small></noinclude>Besar hati Rasmani boléh meninggalkan tempat itoe, karena ia telah merasa maloe memperlihatkan kelemahannja. Dengan ta' mendjawab sepatah djoea berdirilah ia dan pergi kebelakang sekali. Sementara menghidoepkan api dan memasak air itoe, melajanglah pikirannja kemana-mana. Kemasa dahoeloe ketika ia masih ketjil, masih dibangkoe sekolah, kepada empat tahoen jang laloe, ketika Masroel akan berangkat, kewaktoe Masroel beristeri dan lain-lain. Soedah itoe teringat poela oléhnja isi soerat-soerat Masroel dari moela sampai jang penghabisan. Bermatjam-matjam pertanjaan memenoehi kepalanja. "Mengapakah ia kemari? Témpohkah ia? Karena sakit? Alangkah koeroesnja! Poetjat sebagai majat. Dimanakah anak isterinja? Ja, Allah, apakah kiranja melihat akoe menangis? Akan kembalikah ia? Ah, apakah sebabnja maka ia ta' dapat menahan hatinja?" Sangat marah Rasmani kepada dirinja, karena berlakoe lemah itoe dan maloe ia kepada Masroel dan iboenja, karena ia telah memperlihatkan hatinja. Setelah sedia téh tiga mangkoek, diangkatlah keloear oléh Rasmani, diambilnja koé-koé dan ditjobanja tersenjoem sambil mempersilakan Masroel dan iboenja minoem. Dalam pada itoe iboe Rasmani bertanjalah apa sebabnja Masroel berada di Boekittinggi, dimana anak isterinja, dan lain-lain. Amat besar hati Rasmani mendengar pertanjaan itoe, karena sekarang akan berdjawab sekalian pertanjaan jang dikeloearkannja didapoer tadi. Amat soekar roepanja kepada Masroel akan mendjawabnja, karena lama ia termenoeng dan toendoek tengadah, baharoe keloear beberapa perkataan dari moeloetnja. "Saja telah berhenti, 'ték, dan anak isteri saja di Painan. Saja sekarang akan poelang kekampoeng". Mendengar itoe Rasmani terkedjoet dan melihat kepada Masroel. Masroel berkata-kata sambil menekoer, sehingga ta' dapat Rasmani melihat air moekanja. "Isteri saja telah saja tjeraikan", kata Masroel bata-bata, "dan ia sekarang dengan orang toeanja di Painan". Sesoedah ia berkata itoe melihat ia kepada Rasmani, dan tampaklah oléhnja air mata Rasmani telah berlinang-linang poela. Sebab itoe Masroel ta' dapat menjamboeng perkataannja lagi. "Apa sebabnja engkau berhenti dan mengapa isterimoe engkau tjeraikan?" tanja iboe Rasmani lagi. "Saja minta sendiri, 'ték, dan Moeslina saja tjeraikan karena beberapa perkara jang penting". Ia mengeloearkan perkataan itoe amat lambat dan goegoep. Iboe Rasmani jang 'arif itoe mengertilah bahasa Masroel ta' soeka bertjeriterakan hal itoe kepadanja dan ia tahoe bahasa hal itoe lebih perloe oentoek Rasmani dari oentoek dia sendiri. Karena itoe berdirilah ia dan pergi kebelakang akan sembahjang 'asar. Baharoe sadja iboenja berdiri bertanjalah Rasmani: "Apa sebabnja kaka' minta berhenti? Dan mengapa isteri kakak"<noinclude></noinclude> c3wwkyx63z7x31jfgoefcw5ni7gw23n Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/118 104 105860 298303 2026-06-17T08:36:32Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298303 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|102|KALAU TA' OENTOENG||}}</small></noinclude>kakak tjeraikan? Boekankah kakak telah berdjandji? Dan boekankah bapanja telah pensioen?" Masroel memandang sedjoeroes kemoeka Rasmani, kemoedian baharoe ia berkata: "Banjak benar pertanjaanmoe, Rasmani, biarlah satoe-satoe kakanda djawab. Mémang kakanda telah berdjandji dengan kau, ta' akan meninggalkan Moeslina. Besar Singgalang dan Merapi, lebih besar penderitaan kakanda, karena akan menepati djandji itoe; tetapi kakanda toeroet, kakanda tepati, karena itoe kehendak kau. Engkau soeka kakanda melarat, engkau soeka kakanda menanggoeng, sebab itoe kakanda serahkanlah nasib kakanda kepada keadaan itoe. Berat, Rasmani, amat berat, rasa akan roentoeh bahoe kakanda karena memikoel penderitaan itoe. Sekalian nasihatmoe jang baik itoe, sekalian tanda ketjintaan jang engkau toendjoekkan itoe, boekanlah mengoetkan kakanda membersihkan diri kakak, mendjadi setawar pengobat kakanda, melainkan sebaliknja. Ia telah mendjadi ratjoen jang bisa, jang telah membinasakan darah, benak dan hati kakanda. Kehidoepan kakanda bertambah boeroek, penderitaan kakanda bertambah besar. Isteri kakanda bertambah tjeréwét. Tjatji makinja bertambah banjak. Sekaliannja kakanda tanggoeng, karena itoelah jang kausoekaï. Peker djaan kakanda dikantor ta' berketentoean lagi. Badan selaloe ta' senang, perasaan ta' énak, kepala poesing pikiran berkatjau, makan dan tidoer amat koerang. Ja, apa boléh boeat, itoe kehendak adik saja, jang sangat kasih dan tjinta pada saja". Masroel berhenti dan melihat kepada Rasmani sedjoeroes. Rasmani menekoerkan kepalanja kemédja dan menopang kepala itoe dengan kedoea tangannja. Karena Rasmani ta' berkata apa-apa, diteroeskan Masroellah tjeriteranja. "Dalam pada itoe kakanda mendapat seorang sahabat jang sebenarnja toeloes dan ichlas. Ia goeroe kepala di Padang, naik dari goeroe bantoe di Painan. Engkoe Moehammad Rasad mentjoba memberi nasihat isteri kakanda, dan mendekatkan diri kepada kakanda, sehingga berkoeranglah boeroeknja kehidoepan kakanda. Kakanda telah banjak poela diroemah dan ta' berapa lagi pergi kekomidi gambar, roemah kopi dan lain-lain. Doeia boelan jang laloe kami dapat soerat mengatakan bapa Moeslina dapat pensioen, karena sakit-sakit dan iboenja penjakitan poela. Dengan taktik engkoe Rasad dapatlah ia menggerakkan hati Moeslina, soepaja poelang ke Painan akan mengoeroes orang toeanja jang sakit-sakit itoe. Sesoedah Moeslina poelang kakanda pindah keroemah engkoe Rasad. Meskipoen kehidoepan kakanda telah beroebah benar, tetapi karena badan kakanda sangat sakit-sakit dan pikiran ta' tetap djoea, pekerdjaan kakandapoen ta' baik djalannja. Kakanda takoet nama kakanda akan boeroek, karena selama ini boléh kakanda katakan, sekalian pekerdjaan kakanda baik dan sekalian indoek semang kakanda bersenang hati atas diri kakanda. Sebab itoelah kakanda<noinclude></noinclude> b1u76810i1x7ln22rdt4gs3ine3jgr8 Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/50 104 105861 298304 2026-06-17T09:24:51Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 298304 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>beliau adalah alumni S1 Teknik Geodesi ITB Bandung tahun 1983 dan S2 Airport ''Planning Management, Loughborough University of Technology'' London UK tahun 1992. ''Kelima,'' Marsekal Pertama TNI (Purn) Ir. Ruslan Effendy, M.Sc. adalah lulusan Sepawamil ABRI Angkatan 1987 penerima tanda kehormatan Bintang Swa Bhuana Paksa Nararya. Beliau menjabat sebagai kadisfaskonau ke-12 terhitung mulai tanggal 16 Agustus 2016 sampai tanggal 14 Februari 2018 menggantikan Marsma TNI (Purn) BR. Purba, M.Sc. Latar belakang pendidikan beliau adalah alumni S1 Teknik Arsitektur UI Jakarta tahun 1986 dan S2 Airport Planning di Inggris tahun 2002. ''Keenam'', Marsekal Pertama TNI Ir. Muchtar Mawardi, MM adalah lulusan Sepawamil ABRI Angkatan 1990 penerima tanda kehormatan Bintang Swa Bhuana Paksa Nararya. Beliau menjabat sebagai menjabat sebagai Kadisfaskonau ke-13 pada tahun terhitung mulai 14 Februari 2018 sampai bulan September 2019 menggantikan Marsma TNI (Purn) Ir. Ruslan Effendy, M.Sc. Latar belakang pendidikan beliau adalah alumni S1 Teknik Sipil ITS Surabaya tahun 1988 dan S2 Magister Manajemen tahun 2012. '''Penugasan OMP dan OMSP di Dalam dan Luar Negeri''' Terhitung mulai tahun 2008, personel Teknik Umum mendapat kesempatan untuk bergabung dengan misi perdamaian PBB melalui tes dan seleksi di Mabes TNI. Hingga saat ini, setiap tahun Disfaskonau masih mengirimkan personel perwira pertama dan anggota Teknik Umum terbaik untuk bergabung dengan Kontingen Garuda di Kongo maupun Lebanon di bawah Pusat Misi Penjaga Perdamaian (PMPP) Mabes TNI. Pada tahun 2014 dan 2015, personel Teknik Umum dilibatkan dalam kegiatan pelatihan bersama Air Force Engineer Officers Subject Matter Expert Exchange (SMEE) di Florida dan Guam, Amerika Serikat yang melibatkan beberapa negara. Sedangkan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), personel Korps Sus Teknik Umum setiap tahun dilibatkan dalam kegiatan Karya Bakti bidang fisik dalam rangka memperingati Hari Bhakti TNI Angkatan Udara, maupun terlibat langsung dalam kegiatan penanganan bencana alam seperti gempa Yogyakarta dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh akibat Tsunami tahun 2005-2008. Pada tahun 2018 saat terjadi gempa Lombok, personel Satharlan di kirim ke pulau Lombok untuk melaksanakan penelitian landasan yang mengalami<noinclude>{{rh|'''42 DINAS FASILITAS DAN KONSTRUKSI TNI AU'''}}</noinclude> tnkoa78y0ehihmn4gkmjby1avba0oij Halaman:Benteng Dirgantara Angkatan Udara.pdf/54 104 105862 298305 2026-06-17T09:30:25Z Suga Widi 25678 /* Telah diuji baca */ 298305 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Tahun 1985, kembali terjadi perubahan di jajaran Kodikau diantaranya perubahan nama Wingdik 3 menjadi Wingdiktekkal dan pendidikan personel Teknik Umum tetap berada di Skadron 303. Meskipun korps Teknik Umum telah dilebur ke dalam korps Dinas Khusus profesi Teknik Umum, namun dalam bidang pendidikan personel Teknik Umum tetap bergabung dengan jajaran Logistik, hal tersebut mengisyaratkan bahwa sejatinya personel Teknik Umum adalah bagian dari komunitas Logistik. '''Pemisahan Organisasi Wingdiktek dan Wingdikkal''' Perkembangan berikutnya adalah pemisahan Wingdikkal menjadi 2 Wingdik, yaitu Wingdiktek di Kalijati dan Wingdikkal di Tasikmalaya. Pada tanggal 22 Februari tahun 2019 bertempat dilapangan upacara Skadik 303 Wingdiktek Kalijati telah dilaksanakan upacara peresmian pemisahan Wing Pendidikan Teknik (Wingdiktek) dan Wing Pendidikan Pembekalan (Wingdikkal) sebagai tindak lanjut Instruksi Kasau nomor Ins/1/II/2018 tanggal 22 Februari 2019. Dalam sambutannya, Kasau Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E, M.M mengharapkan dengan pemisahan Wingdiktekkal menjadi Wingdiktek dan Wingdikkal, kedua lembaga pendidikan tersebut akan mampu mewadahi kepentingan pengembangan dan perubahan organisasi yang mengarah pada sentralisasi pelaksanaan pendidikan secara bertahap, berjenjang, berlanjut dan berkesinambungan. Bila hal tersebut dapat terwujud, maka prajurit TNI Angkatan Udara akan dapat berkembang dan mampu bersaing secara konsep maupun skill yang didasarkan pada peningkatan kualitas untuk menjawab tantangan TNI AU di masa mendatang. Sejalan dengan perkembangan lingkungan strategis serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat, perubahan dan pemisahan Wingdiktek manjadi Wingdiktek dan Wingdikkal merupakan langkah tepat untuk menjawab tantangan perkembangan zaman dan pengembangan organisasi guna menciptakan optimalisasi koordinasi dan inovasi dalam peningkatan profesionalisme prajurit. '''Momentum Pembentukan Skadik 304 Teknik Umum Wingdiktek''' Kadisfaskonau Marsma TNI Ir. Muchtar Mawardi, MM memandang pemisahan Wingdiktek dan Wingdikkal sebagai momentum yang tepat bagi personel Teknik Umum untuk meningkatkan kemampuan teknis dan profesionalisme melalui pembentukan Skadron Pendidikan Teknik Umum di jajaran Wingdiktek. Beliau segera membentuk Tim kecil yang terdiri dari Letkol Sus Junjunan Amirudin, ST, MT, Mayor Sus Harsoyo, ST, Mayor Sus Pardede, ST,<noinclude>{{rh|'''46 DINAS FASILITAS DAN KONSTRUKSI TNI AU'''}}</noinclude> 8cw9xgx792ocf8mrvkk46kn411nbl1k Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/119 104 105863 298306 2026-06-17T10:21:04Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298306 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KALAU TA' OENTOENG|103|}}</small></noinclude>minta berhenti, dan lima hari jang laloe kakanda terima soerat berhenti kakanda itoe. Ini dia! Kakanda diperhentikan dengan hormat. Ketika soerat permintaan itoe kakanda boeat, kakanda boeat poela soerat kepada Moeslina mentjeriterakan maksoed kakanda itoe. Moela-moela kakanda dapat soerat mengatakan ia sesoeai akan maksoed kakanda itoe, katanja baik oentoek kesehatan kakanda dan tiga hari jang laloe kakanda terima lagi soerat dari orang toeanja meminta Moeslina ditinggalkan, karena ta' moengkin ia akan menoeroet kakanda ke Bondjol, karena mentoea kakanda soeami isteri sakit-sakit. Kemarin kakanda boeatlah soerat tjerai oentoek Moeslina dan kakanda kirimkan ke Painan dan hari ini engkau lihat kakanda dihadapanmoe. Engkau lihat, Rasmani, bahasa kakanda ada menepati djandji dengan adinda itoe. Bésok akan kakanda oelang tjeritera ini dihadapan seseorang jang djoega mengakoe kasih akan kakanda dan berlakoe keras seperti engkau, jaitoe iboekoe. Rasmani, sekarang telah kaudengar semoeandja, dan katakanlah kepada kakanda apa pertimbanganmoe tentang perboeatan kakanda itoe". Rasmani ta' mendjawab sepatahpoen, dadanja sesak, hatinja penoeh menahan tangis jang ta' hendak berhenti-hentinja keloear. Amat ingin Masroel akan meminta Rasmani ketika itoe akan djadi isterinja, akan tetapi ditahannja hatinja, maloe ia kepada Rasmani dan kepada dirinja sendiri, karena ia ta' bepekerdjaan, sedang Rasmani sendiri makan gadji. Terasa oléhnja bahasa permintaanndja ta' akan ditolak Rasmani, tetapi itoelah jang hendak diélakkannja. Sebentar kemoedian keloearlah iboe Rasmani. Pertjakapan moelai baik djalannja. Rasmani dan Masroel moelai tertawa mendengar olok-olok iboe jang peramah itoe. Iboe itoe menanjakan dimana Masroel akan bermalam, karena Masroel tentoe tahoe bahasa iboe Rasmani ta' dapat meminta Masroel bermalam diroemahnja. Poekoel tengah sembilan malam sesoedah sembahjang dan makan malam, keloearlah Masroel dari roemah Rasmani dengan hati lapang, harapan baroe. Harapan akan bahagia jang menantinja. Ia pergi keroemah kenalannja orang Bondjol djoega akan menoempang bermalam. Pagi-pagi benar sebeloem Rasmani pergi kesekolah, Masroel soedah datang poela akan memberi selamat tinggal. Pertjeraian itoe biasa sadja, karena kedoeanja merasa bahasa ta' berapa lama lagi meréka akan bertemoe poela dan barangkali... Tetapi Rasmani amat héran, mengapakah Masroel ta' memboeka sedikit djoea tentangan tjintanja dan ta' sedikit djoea memperlihatkan bahasa ada pertalian meréka lain dari persahabatan dan persaudaraan. Karena ia seorang perempoean, didjaganja benar soepaja moeloet dan perboeatannja djangan telandjoer. {{right|{{smallcaps|Selasih}}, ''Kalau ta' oentoeng.''}}<noinclude></noinclude> 7x54h7ao5f1kdksmm4lmo1rbrvslppe Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/120 104 105864 298307 2026-06-17T10:23:48Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298307 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>KEHILANGAN MESTIKA</big>}} Peroesahaan kami di Palémbang djaoeh lebih madjoe dari pada di Betawi. Betawi, negeri jang terdesak oléh segala mata pentjaharian, sedang Palémbang negeri dagang jang kaja. Dalam pada itoe mertoesakoe soedah berkali-kali mengadjak soepaja kami pindah, tinggal seroemah dengan beliau, ipar-ipar dan biras. Moela-moela akoe ta’ maoe. Akan tetapi, sebab perkataan jang manis dan lemah-lemboet itoe anak koentji hati segala manoesia, hatikoe jang mémang ta’ berapa koeat koentjinja mendjadi terboeka. Setelah mendapat izin dari saudarakoe sendiri, pindahlah kami. Permoelaannja, sekalian kaoem kerabat soeamikoe baik dan manis lakoe kepadakoe. Lama-kelamaan, sebab maksoed meréka hendak mendjadikan akoe boedak meréka ta’ kesampaian, moesnalah sekalian perkataan dan perboetan jang manis itoe. Hanja mertoesakoe sadja jang ta’ beroebah. Roepanja kehidoepan soeami isteri tidak akan bertoentoeng, apabila meréka tinggal berkoempoel bersama-sama ipar dan biras. Meskipoen hatikoe pedih boekan boeatan sekaliannja itoe ta’ maoe akoe bajangkan. Akoe tahankan semoeanja. Akoe tertawa, bersoeka, dengan hati jang hantjoer loeloeh. Telah beberapa kali koekatakan kami akan pindah, tetapi mertoesakoe meminta dengan sangat soepaja dioeroengkan. Oentoenglah ta’ lama kemoedian bapa mertoesakoe meninggal doenia. Karena poesaka akan dibagi, tjerai-berailah anaknja dan akoe dapat menjampaikan maksoedkoe. Bersama dengan iboe mertoesakoe, pindahlah kami keseboeah roemah jang hanja tjoekoep oentoek kami bertiga sadja. Pada masa itoelah akoe merasa bertoentoeng sedikit, sebab akoe beroemah tangga sendiri. Akoe seolah-olah mendjadi ratoe keradjaan roemah tanggakoe itoe. Akoe jang mesti mendjaga tertib damai didalamnja. Impiankoe setjara seorang perempoean telah sampai. Oentoek menambah pendapatan, akoe bekerdja pada seboeah ''pergoeroean partikoelir''. Beberapa lamanja kami hidoep begitoe didalam keroekoenan dan kesenangan, moesim malaise bertambah hébat djoega. Boekan sedikit peroesahaan jang djatoeh. Riboean kaoem boeroeh djadi menganggoer. Peroesahaan ipar dan soeamikoe ta’ loepoet poela. Pendapatan makin sehari makin berkoerang. Reclame disebarkan, propaganda diloearkan, tetapi hasilnja ta’ djoega ada. Achir-achirnja terpaksa ditoetoep sadja. Soeamikoe mendjadi seorang penganggoer. Mertoesakoe selaloe sadja sakit-sakit hingga ongkos dokter dan obat amat besar. Sebab soeamikoe ada djoega mempoenjai soerat idjazah oentoek mengadjar, koeminta kepada pengoeroes pergoeroean tempatkoe bekerdja, soepaja akoe digantikan sadja oléh soeamikoe. Permintaankoe diperkenankan. Soeamikoe bekerdjalah sebagai seorang goeroe dengan gadji lima poeloeh roepiah. Oeang ini tentoe sadja djaoeh dari pada tjoekoep. Setiap boelan terpaksa kami mengeloearkan oeang simpanan oentoek menoetoep kekoerangan itoe. Moela-moela akoe bermaksoed akan kembali sadja ketempat kelahiran-<noinclude></noinclude> m45sewjbjc7hd04lehs7nkn9udhqae8 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/121 104 105865 298308 2026-06-17T10:25:15Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298308 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KEHILANGAN MESTIKA|105|}}</small></noinclude>koe, sebab ongkos dan keperloean hidoep disitoe djaoeh lebih sedikit dari pada di Palémbang. Tetapi mertoéakoe ta' maoe. Katanja ia terlahir, hidoep sampai toea teroes di Palémbang. Matinja djoega maoe disitoe. Kami minta soepaja ia tinggal sadja pada salah seorang anaknja jang lain, sedang ongkos hidoepnja tiap-tiap boelan kami kirimkan. Inipoen ta' disetoedjoeinja. Katanja ia maoe sehidoep semati dengan kami. Ja, alangkah soekarnja kami pada waktoe itoe. Tetapi, seperti telah mendjadi oendang-oendang 'alam, sesoedah hoedjan datang panas, setelah doekatjita tiba soekatjita, begitoelah poela halnja dengan kami. Dengan kehendak Toehan jang pengasih dan penjajang, meninggallah iboe mertoéakoe dan kami terlepas dari sekalian ikatan. Ta' berapa lama kemoedian dari pada itoe akoe mendapat kawat dari paman Ridhan meminta akoe datang kepadanja, sebab ia sakit keras dan ada sesoeatoe perkata jang amat penting akan dikatakannja kepadakoe. Akoe pergi, koedapati ia dalam keadaan jang mengoeatirkan. Ketika ia tahoe, bahasa akoe telah tiba, diboekakannja matanja dan dimintanja akoe dekat-dekat kepadanja. Orang lain dimintanja keloear semoenja. Kami tinggal berdoea sadja. Pada sa'at itoelah ia mengakoe kesalahannja. Ialah jang seolah-olah memboenoeh Ridhan, sebab karena perboatannjalah maka Ridhan meninggal. Sekarang ia menjesal benar dan sebab barangkali ia ta'kan lama lagi hidoep, dimintanja soepaja akoe soeka mema'afkan kesalahannja. Kemoedian dikeloearkannja dari dalam badjoenja sepoetjoek soerat, diberikannja kepadakoe. Didalamnja terseboet, bahwa sekelian peninggalan Ridhan diserahkannja kepadakoe. Poesaka jang koedapat itoe beroepa oeang kontan beberapa riboe roepiah dan roemah beberapa boeah. Tentoelah kami amat girang. Kami jang didalam kesempitan, tiba-tiba mendapat kekajaan jang sebanjak itoe. Ja... alangkah beroentoengnja. Dengan oeang itoe, kami tjoba lagi memboeka peroesahaan baroe. Roepanja bintang kami masih terang. Peroesahaan itoe madjoe. Didalam waktoe beberapa tahoen sadja, kami soedah boléh dikatakan mendjadi orang jang berada. . . . . . . . . . . . . . Bahagia soeami isteri tidak akan sempoerna, apabila meréka didalam perkawinan tidak mendapat anak. Anak jang akan mendjadi benih ketoeroenan, jang akan menggantikan hak orang toea didalam segala hal. Telah lebih dari sepoeloeh tahoen kami hidoep setjara soeami isteri, tetapi biar bagaimanapoen keinginan kami akan mendapat ketoeroenan, tidak djoega disampaikan Toehan. Soeamikoe soedah poela moelaï tjemas. Apakah goena sekalian kekajaan kita, djikalau ta' ada darah daging kita jang akan mewarisinja nanti. Roemah soenji, sebab ta' ada kedengaran soeara anak ketjil jang bergirang dan menangis. Makin sehari koerasa bahagia kami makin berkoerang. Tali jang akan mengekalkan kesenangan kami ta' ada. Moeka soeamikoe ta' penoeh lagi bertjahaja. Boekankah ia ingin mempoenjaï anak? Tetapi... ja, apa boléh boeat! Akoe ta' dapat mengadakan keinginannja itoe. Pada soeatoe hari ia datang kepadakoe. Ditjeriterakannja bagaimana<noinclude></noinclude> 4b35mxwbvpukj7r2lp6btdaew4yab8f Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/122 104 105866 298309 2026-06-17T10:27:40Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298309 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|106|KEHILANGAN MESTIKA||}}</small></noinclude>soesahnja nanti, apabila kita ta' ada berketoeroenan. Sebab itoe ia meminta kepadakoe akan kawin sekali lagi dengan maksoed akan mendapat anak. Setelah koepikir benar-benar koeizinkan permintaan nja itoe, asal sadja ia berdjandji anak itoe nanti diserahkannja kepada djagaankoe sedari lahirnja. Doea belah pihak setoedjoe dan ta' lama kemoedian kawinlah soeamikoe sekali lagi, dengan seorang gadis jang baroe sadja ber'oemoer toedjoeh belas tahoen. Permintaan soeamikoe akan membawa madoekoe itoe sama seroemah, koeperkenankan. Dengan demikian seminggoe sesoedah perkawinan itoe pindahlah ia keroemahkoe. Kawan-kawankoe ''kehéranan'' melihat perboeatankoe. Ada poela jang menanjakan bagaimana rasanja bermadoe. Bagikoe ta' seboeah djoega. Madoekoe itoe koepandang sebagai saudara boengsoekoe. Iapoen pandai poela membawakan dirinja sehingga akoe ta' sedikitpoen menaroeh hati bentji atau tjemboeroe kepadanja. Lebih koerang setahoen sesoedah perkawinannja, ia melahirkan seorang anak laki-laki jang amat séhat. Atas perdjandjian kami dahoeloe, akoelah jang mengoeroes baji itoe. Soeamikoe boekan boeatan girangnja. Tampak oléhkoe seolah-olah ia mendjadi bertambah moeda. Tetapi sekarang keadaan kami soedah moelai beroebah. Soeamikoe moelai ta' memperdoelikan dakoe. Madoekoepoen soedah poela maoe mengatasi. Akoe merasaï sekaliannja itoe, tetapi akoe ta' pedoeli. Koepikir akoe soedah toea. Ia masih moeda. Dengan begini perhoeboengan kami makin sehari makin genting. Jang menggirangkan dakoe, hanjalah anak tirikoe itoe sadja. Badannja makin sehari makin besar. Pergaoelannja lebih banjak dengan dakoe dari pada dengan iboenja sendiri. Tiap-tiap iboenja dan soeamikoe pergi pesiar kesana kemari, kami tinggal berdoea sadja diroemah. Setelah ia pandai berkata-kata manakala ditanjakan orang mana iboenja, akoelah jang ditoendjoekkannja, sehingga sekali-sekali apabila iboenja sendiri mendengar poela, ia memandang kepadakoe dengan pandang jang dapat menaikkan darah. Sekali-sekali akoe soedah pernah moelai bergadoeh. Makin lama makin kerap dan kesoedahannja sebab madoekoe ta' tahan lagi, ia pindah beroemah lain. Waktoe itoe anak tiri jang seakan-akan mendjadi anak kandoengkoe sendiri itoe telah ber'oemoer kira-kira empat tahoen. Ia ta' maoe menoeroet iboenja tetapi lebih soeka mengikoet akoe. Iboenjapoen ta' poela memaksa. Ja..., boléh djadi ia tahoe. Akoe ta' dapat berkoasa atas anak itoe. Sedang ia dimana perloe, boléh menggoenakan kekoasaannja. Soeamikoe, meskipoen ia beroemah doea, tetapi ia bersifat 'adil. Penghargaan dan hormatnja kepadakoe masih tetap sebagai semoela. Entah akoe mempoenjai sifat tjemboeroe atau tidak, ta' lah koeketahoei benar. Tetapi sekali-sekali manakala ia pergi keroemah madoekoe akoe merasaï sedih jang amat sangat. Lama-kelamaan sebab soeamikoe soedah moelai ta' memperdoelikan dakoe lagi, koepandang madoekoe itoe sebagai perempoean jang bengis, ta' tahoe akan ke'adilan, tamak, soeka merampas<noinclude></noinclude> dt3jwbw9l9kb6kon4swf42xmukjjapl Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/123 104 105867 298310 2026-06-17T10:29:48Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298310 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KEHILANGAN MESTIKA|107|}}</small></noinclude>hak orang lain. Hampir tiap-tiap hari ada orang datang keroemahkoe mentjeriterakan keadaannja. Hal itoe amat menjakitkan hatikoe. Ta' poela koerang jang mengandjoerkan, soepaja akoe meminta ditjeraikan. Karena akoe soedah tjinta kepada soeamikoe, sekalian perkataan itoe ta' koepoesingkan. Meskipoen beberapa tahoen pada permoelaan perkawinan kami akoe ta' sedikitpoen sajang kepadanja, tetapi dalam waktoe jang achir ini, akoe soedah dapat membinasakan tjintakoe kepada Idroes, dan pindah mengasihi dia. Sekarang, sesoedah kasih-sajang itoe lekat, selekat-lekatnja, datang poela bidadari doenia itoe merampasnja. Kadang-kadang akoe menjesali dirikoe amat sangat. Waktoe itoe poela kedengaran oléhkoe soeatoe soeara mengatakan: "Itoe salahmoe sendiri. Mengapa soeamimoe dahoeloe engkau izinkan beristeri lagi? Engkau jang memberikan kesempatan kepadanja oentoek beristeri poela. Betoel maksoednja dan maksoedmoe pada ketika itoe amat moelia, jaïtoe akan mendapat ketoeroenan, tetapi engkau loepa, manoesia itoe tinggal manoesia djoega. Ia dikoasaï oléh hawa nafsoe dan kemaoean doenia. Dengan sekedjap sadja hati dan pikirannja dapat bertoekar. Sebab itoe djangan engkau menjesal. Jang telah kedjadian tinggal kedjadian. Djaga sadja waktoe jang akan datang". Mendengar soeara ini koetetapkanlah hatikoe. Akoe ta' maoe lagi berhoeboengan dengan soeamikoe. Sebentar itoe djoega koetoelis soerat kepadanja, soepaja ia pada malam itoe datang kepadakoe, sebab ada soeatoe perkara penting jang akan dipoetoeskan pada malam itoe djoega. Koesoeroeh seorang gadjiankoe mengantarkan soerat itoe kepadanja. Kebetoelan sadja pada malamnja ia datang. Koeadjak ia masoek kekamar tetamoe dan disitoelah kami berbitjara. Beberapa lamanja kami berdiam diri sadja, tetapi kemoedian koeberanikan hatikoe, laloe berkata: "Roesli, sekarang akoe akan mengeloearkan pikirankoe. Engkau setoedjoei atau tidak akoe ta' pedoeli. Akoe merasa bahasa kita ta' dapat lagi hidoep bersama-sama sebagai soeami-isteri. Sebab itoe apa goenanja kita masing-masing membiarkan diri kita dikebati oléh tali perkawinan? Marilah kita berdamai, melepaskan diri kita dari ikatan jang telah kita boeat belasan tahoen jang laloe. Kita sama-sama menanggoeng. Kesenangan dirimoe ta' sempoerna. Akoepoen begitoe poela. Oléh karena itoe koeminta sekali lagi kepadamoe, soepaja kita membebaskan diri kita dengan damai". Sedjoeroes lamanja masing-masing kami berdiam diri, kemoedian berkatalah soeamikoe: "Mengapa engkau berkata begitoe? Sesoenggoehnjakah itoe jang kaukehendaki dari padakoe? Ja, akoe mémang telah memboeat soeatoe kesalahan. Dan sekarang, ta' poela akoe maoe mengikati engkau lagi. Sedjak dari sekarang engkau bébas dari kekoasaankoe. Engkau boléh berboeat sekehendak hatimoe, kalau sekiranja ini jang kaukehendaki. Segala jang ada diroemah ini, hakmoelah. Oeangmoe jang dahoeloe kita pakai oentoek modal, koekembalikan doea kali lipat. Dengan begini,<noinclude></noinclude> a0kioxfyzxfs5fmytuvgql413e8x3zs Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/124 104 105868 298311 2026-06-17T10:31:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298311 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|108|KEHILANGAN MESTIKA||}}</small></noinclude>akoe pertjaja kehidoepanmoe tidak akan terlantar. Esok pagi akoe pergi kepada penghoeloe mentjeriterakan hal ini. Bagaimana? Setoedjoekah engkau?" „Ja, koesetoedjoei sekaliannja", djawabkoe. „Akoe mengoetjapkan banjak terima kasih atas sekalian jang boléh koeterima". „Ta' perloe engkau meminta terima kasih, akoe jang banjak beroetang boedi kepadamoe", katanja poela. „Sekarang akoe minta permisi poelang". Ia toeroen, akoepoen masoek tidoer. Keésokan harinja sesoedah soerat tjeraikoe koeterima, berkemaslah akoe, sebab akoe mengambil kepoetoesan akan kembali sadja kenegerikoe. Sekalian barang-barangkoe koelélang. Setelah sekalian oeroesan selesai, berangkatlah akoe pada soeatoe petang Sabtoe dengan kapal Thedens ke... Muntok, negeri tempat kedjadiankoe. Bésoknja, pagi-pagi Minggoe sampailah. Karena akoe telah lebih dahoeloe berkirim soerat kepada seorang saudarakoe mentjeriterakan halkoe, maka banjak keloeargakoe jang datang mendjempoetkoe kepelaboehan. Masing-masing memandang kepadakoe dengan pandang jang mengandoeng kehéranan. Akan dakoe, koebesarkan hatikoe. Koetjoba mendjernihkan moekakoe. Akoe tersenjoem, membalas senjoem siapa sadja dengan ta' memperhatikan moekanja. Akoe bersoeka dengan hati didalam jang amat pedih, diiris oléh pertjeraian dengan soeami jang telah ditjinta dan anak tiri jang dikasihi. Ketika kami sampai diroemah, bermatjam-matjamlah pertanjaan orang kepadakoe, akan tetapi sekaliannja akoe élakkan dengan alasan akoe masih penat dan mengantoek, ingin hendak tidoer dahoeloe sebentar. Akoe berdjandji, bahwa nanti akan koetjeriterakan semoeandja. Tetapi biar bagaimanapoen koetjoba hendak tidoer, tidak djoega dapat. Matakoe terpedjam, hati dan pikirankoe terbang melajang, menjeberangi laoetan, mendaki goenoeng. Matjam-matjam sadja jang terlihat oléhkoe. Kesoedah-soedahannja, kira-kira poekoel empat petang, berangkatlah akoe, berlagak poera-poera seperti bangoen dari tidoer, teroes mandi bertoekar pakaian jang bersih. Orang jang datang akan melihat dan mendengar tjeriterakoe boekan sedikit. Ketika akoe keloear dari bilikkoe, koelihat Aniah datang bersama soeami dan anaknja laki-laki jang hampir se'oemoer dengan anak tirikoe jang koesajangi. Melihat itoe dengan ta' sengadja terkenang dan terlihat-lihat oléhkoe akan dia. Air matakoepoen mengalir dengan ta' diketahoei. Akoe kembali lagi kebilikkoe. Air matakoe koekeringkan baik-baik soepaja djangan kelihatan bekas menangis. Kemoedian akoe keloear poela dengan senjoem jang diboeat-boeat. Delapan belas tahoen akoe meninggalkan negerikoe dengan ta' pernah berkirim soerat kepada siapapoen. Menerima djoega ta' pernah. Roepandja dalam waktoe itoe banjak benar jang telah kedjadian. Anak-anak jang dahoeloe koetinggalkan masih ketjil-ketjil banjak jang soedah mendjadi iboe. Si Aniah jang ketika akoe berangkat dahoeloe baroe doedoek dikelas tiga H.C.S., sekarang telah beranak doea. Gadis-gadis baroe boekan sedikit ta' koe-<noinclude></noinclude> g8ti6g8rvwuec9mzge2yvj7p3e73a0p Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/125 104 105869 298312 2026-06-17T10:33:29Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298312 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||KEHILANGAN MESTIKA|109|}}</small></noinclude>kenal, sebab dahoeloe, ketika akoe dinegerikoe, meréka beloem terlahir. Dengan begini terasalah kepadakoe senjata-njatanja, bahasa akoe telah ber'oemoer... soedah masoek orang toea. {{right|{{smallcaps|Hamidah}}, ''Kehilangan mestika''.}}<noinclude></noinclude> afjm5mqhx1og266ttyl5fv0ppr62ona Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/126 104 105870 298313 2026-06-17T10:35:41Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298313 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{c|<big>HANJOET</big>}} Gelanggang akan diteroeskan sampai tiba waktoe kawin... Akan tetapi sorak-sorai orang tiada rioeh-rendah benar lagi. Saboeng karena bersoeka-ria, karena pelesir dan beriang-riang, makin lama makin berkoerang-koerang. Jang tinggal di gelanggang lagi hanjalah djoeara main sadja, — orang berdjoedi ''berhabis-habisan''. Radja-radja dan orang besar-besar soedah banjak jang ''bermohon diri'' poelang kenegeri masing-masing. Jang ketjéwa, jang ditolak permintaannja, berdjalan dengan sakit hati. Jang berasa disoekaï oléh poeteri Amboen Soeri, tetapi enggan membalas soeka atau tjinta itoe, berlakoe koerang pedoeli sadja. Enggan, — sesoenggoehnja takoet, karena ia telah mendengar kabar angin lebih dahoeloe, bahwa soeltan toea soedah menjoeroeh Moehammad Sjah meminang poeteri jang kaja itoe. Hawa nafsoe! Demi didengar poeteri Kemala Sari, isteri Moehammad Sjah, kabar pertoenangan itoe, boekan boeatan sakit hatinja. Ia sangat kasih kepada soeaminja. Tiba-tiba ia — soeami itoe — dereboet oléh perempoean lain... Pada pikirannja, tiada patoet sekali-kali poeteri Amboen Soeri berboeat demikian. Baik karena terpaksa, karena keras kehendak laki-laki, baik karena apa djoeapoen, pada perasaan dan pemandangannja Amboen Soeri bersalah dalam hal itoe: mereboet soeami orang! Apalagi poeteri Amboen Soeri boekan tiada kanal kepadanja. Semasa ketjil meréka sepermainan. ''Soedah sehina semaloe'', — tiba-tiba Amboen Soeri berlakoe bagai ''menggoenting dalam lipatan'' akan dia! Djika ia tahoe akan terdjadi seroepa itoe, nistjaja ia tiada maoe kawin dengan soeltan dahoeloe, walau ia ta’kan bersoeami selama-lamanja! "Sekarang apa dajakoe?" pikir Kemala Sari dengan masgoel bertjampoer geram. "Akan bermadoe dengan dia? Ta’ moengkin! Ia lebih kaja dari pada akoe, lebih berkoasa; ajahnja radja dalam negeri. Tentoe ia dilebihkan soeltan dari akoe, — meskipun akoe isteri toea! Lama-kelamaan tentoe akoe diboeangkan, ditjampakkan oléh soeltan. Wahai, apa dajakoe, karena orang toeakoe tiada berada, tiada kaja seperti ajahboendandja?" Ia termenoeng sebentar. "Akoe akan bertjerai dengan djoendjoengankoe?'' katanja poela dengan terperandjat dan bérang. "Tidak, ta’ ada maloe sebesar ini — soeami direboet orang! Ta’kan terderita oléhkoe. Akan tetapi apa ’akalkoe akan menghapoeskan maloe itoe?'' Sekonjong-konjong ia tersenjoem, tetapi amat boeroek ''kerenjoet'' bibirnja dan masam moekanja. Roepanja ada timboel soeatoe pikiran jang ta’ baik didalam kalboenja. Dengan segera ia tegak berdiri, pergi memboeka lemari besar, akan mengambil pakaian dan perhiasannja jang indah-indah. Ia berpakai-pakai dan berhias. Setelah selesai semoeanja, iapoen toeroen dengan semboenji-semboenji kehalaman dan berdjalan menoedjoe ke Kampoeng Hoeloe beserta seorang dajang kepertjajaan.<noinclude></noinclude> 7odno2s76jl1o1q8ose9z9rjjxrxrq2 Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/127 104 105871 298314 2026-06-17T10:37:01Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298314 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||HANJOET|111|}}</small></noinclude>Ia pergi keroemah poeteri Amboen Soeri, akan memperlihatkan hati jang soetji dan moeka jang djernih. Seakan-akan soeka-réla ia bermadoe dengan sahabat lama itoe. Maka iapoen diterima oléh Amboen Soeri dengan soekatjita dan manis. Dan karena baik toetoer kata Kemala Sari, karena ia amat pandai berminjak air dan menjimpan rahsia hatinja, sedikitpoen Amboen Soeri tiada menaroeh sjak wasangka kepadanja, sedikitpoen tiada beroebah rasa persahabatannja. Adjakan Kemala Sari akan pergi mandi berlangir ketepian diterima dengan besar hati dan riang. Sepeninggal djamoe itoe, dengan segera poeteri Amboen Soeri menjoeroeh Kembang Manis memanggil dajang-dajang empat poeloeh empat orang, akan mengiringkan dia ketepian pada keésokan harinja. Semalam-malaman sekalian dajang itoe 'asjik dengan kerdja masing masing. Ada jang mengerat limau, ada jang memipis kasai. Setengah bersoeka-soeka ramai, boenji gelaknja berderai-derai; setengah berpantoen berbalas-balasan, sedang boenji tjelémpoeng Djawa beragam-ragam dan boenji goeng berdengoet-dengoet. Tengah malam poeteri Amboen Soeri memberi ingat kepada Kembang Manis akan mendjagakan dia pagi-pagi benar, soepaja ia djangan moengkirkan djandji dengan poeteri Kemala Sari: hendak berlangir dan berlimau ketepian Oelak Damar. Tiada beberapa lama antaranja ajampoen berkokok bersahoet-sahoetan, — makin lama makin ramai. Fadjar telah menjingsing disebelah timoer. Baharoe sekali moerai berkitjau, berseroelah Kembang Manis kepada toeannja, jang tengah tidoer njenjak diatas andjoeng kemoeliaan: "O, ma' atji' hamba, djagalah; hari telah siang". Seketika Amboen Soeri terbangkit dari peradoeannja, laloe diboekanja pintoe andjoeng. Ia memandang kehalaman. Atap loemboeng katja kilau-kilauan kena sinar bintang timoer jang telah moelaï poedar. Hawa pagi jang sedjoek-segar bertioep kebadan lampai, jang berdiri laksana bidadari kajangan dimoeka pintoe itoe. Lapang dada Amboen Soeri rasanja, hilang sama sekali kantoek jang masih bergantoeng dikelopak matanja. Dengan tjepat, sehingga terdajoek pinggang jang lemah, poeteri djelita itoepoen berpaling kepada dajangnja. "Kembang, o adikkoe", katanja dengan senjoemnja, "ambil pakaian, sediakan kain badjoe dan tjintjin-gelangkoe. Kita berdjalan sekarang ini, sebeloem orang banjak datang. Kita akan laloe kegelanggang, teroes ketengah balai". Sementara Amboen Soeri mengenakan kain dan badjoenja, maka manik dan tjintjin, gelang dan soebangpoen soedah diletakkan oléh dajang jang tjekatan itoe dihadapannja. Setelah sempoerna lekat poela perhiasan jang indah-indah itoe, toeroenlah ia ketengah roemah. Dajang dajang jang empat poeloeh empat mengiring semoeanja. Langkah diandjoer kepangkal, laloe dimoelaï perdjalanan. Melénggang ia kekiri dan kekanan, menderinglah tjintjin didjari, tingkah bertingkah genta gelang dan menjambar elang ditjoetjoeran. Panas antara ada dengan tiada, hawa masih sedjoek rasanja, maka poeteri djelita itoepoen teroes<noinclude></noinclude> k3o5vr3irokd10acl4uqz2qo6jq8vfl Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/128 104 105872 298315 2026-06-17T10:39:23Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298315 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|112|HANJOET||}}</small></noinclude>berdjalan dalam lingkoengan gadis-gadis jang bersoeka-soekaan dengan tiada berkepoetoesan. Makin lama makin djaoeh perdjalanannja, hampir sampai pada soeatoe tempat perhentian. Ketika tiba di Ara Ketoenggalan, bertanja-tanjalah dajang-dajang sama sendirinja: "Siapakah jang doedoek disitoe? Beloem patoet ia doedoek seorang diri, berdoeapoen beloem lajak djoega; salah roman dipandang orang". Sesoenggoehnja ketika itoe adalah kelihatan seorang perempoean moeda jang indah parasnja doedoek dibawah sebatang pohon ara, seakan-akan bermenoeng roepanja. Kata poeteri Amboen Soeri: "Hai dajang-dajang, djangan kalian banjak seboet; itoelah poeteri Kemala Sari, dengan dia kita akan berdjalan". Sesa'at antaranja sampailah meréka kedekat poeteri itoe. Amboen Soeri bersalam dengan dia, sedang dajang-dajang menjembah dengan ta'zim. Meréka makan sirih sekapoer seorang, akan obat haoes kelaparan. Setelah itoe berkatalah poeteri Kemala Sari, oedjarnja: "Wahai poeteri Amboen Soeri, dengarkan pantoen dengan 'ibarat: Mengapa matahari ta' koendjoeng petang, mengapa kita berdjandji, adik ta' koendjoeng datang?" Djawab poeteri Amboen Soeri: :<poem> "Boekannja hari tiada petang, panggalan tidak koendjoeng pantai. Boekannja berdjandji tiada datang, berdjalan tidak koendjoeng sampai". </poem> Dengarkan seboeah lagi, Ka' Sari, soepaja doea pantoen seiring: :<poem> "Ara nan empat poeloeh batang, balam diatas telang danta. Hamba dinanti telah datang, élok berdjalan kita djoea". </poem> Sahoet Kemala Sari poela dengan tjerdiknja: "Kalau begitoe kata adik, dengarkanlah hamba katakan. Ada seboeah jang merasa dalam hati: salah angkoeh dan salah periksa, salah roman dipandang orang: adik berdjalan dengan pengiring, lengkap dengan dajang-dajang, tetapi hamba seorang diri sadja. Oléh sebab itoe nantikanlah hamba disini; hamba poelang dahoeloe mendjempoet si Kembang hamba poela". Amboen Soeri: "Ta' oesah ka' Sari berbalik poelang. Tentang pengiring itoe, ambillah pengiringkoe ini seperdoea". Poeteri Kemala Sari berdiam diri sedjoeroes. Ia mentjari daja-oepaja roepanja. "'Adat dilaoet jang seperti itoe: hidoep perdoea-memperdoeaï. Akan kita ini orang daratan, tiada bépakai 'adat sedemikian", katanja dengan agak tadjam. Amboen Soeri berpaling kepada dajang-dajangnja, seraja berkata: "Poelanglah kamoe sekalian; hingga ini sadja akoe diiringkan".<noinclude></noinclude> 7ic0l9zddd7qvio18amn1puh8iyoyfu 298316 298315 2026-06-17T10:40:02Z Link PB 26772 298316 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|112|HANJOET||}}</small></noinclude>berdjalan dalam lingkoengan gadis-gadis jang bersoeka-soekaan dengan tiada berkepoetoesan. Makin lama makin djaoeh perdjalanannja, hampir sampai pada soeatoe tempat perhentian. Ketika tiba di Ara Ketoenggalan, bertanja-tanjalah dajang-dajang sama sendirinja: "Siapakah jang doedoek disitoe? Beloem patoet ia doedoek seorang diri, berdoeapoen beloem lajak djoega; salah roman dipandang orang". Sesoenggoehnja ketika itoe adalah kelihatan seorang perempoean moeda jang indah parasnja doedoek dibawah sebatang pohon ara, seakan-akan bermenoeng roepanja. Kata poeteri Amboen Soeri: "Hai dajang-dajang, djangan kalian banjak seboet; itoelah poeteri Kemala Sari, dengan dia kita akan berdjalan". Sesa'at antaranja sampailah meréka kedekat poeteri itoe. Amboen Soeri bersalam dengan dia, sedang dajang-dajang menjembah dengan ta'zim. Meréka makan sirih sekapoer seorang, akan obat haoes kelaparan. Setelah itoe berkatalah poeteri Kemala Sari, oedjarnja: "Wahai poeteri Amboen Soeri, dengarkan pantoen dengan 'ibarat: Mengapa matahari ta' koendjoeng petang, mengapa kita berdjandji, adik ta' koendjoeng datang?" Djawab poeteri Amboen Soeri: :<poem> "Boekannja hari tiada petang, panggalan tidak koendjoeng pantai. Boekannja berdjandji tiada datang, berdjalan tidak koendjoeng sampai". </poem> Dengarkan seboeah lagi, Ka' Sari, soepaja doea pantoen seiring: "Ara nan empat poeloeh batang, balam diatas telang danta. Hamba dinanti telah datang, élok berdjalan kita djoea". Sahoet Kemala Sari poela dengan tjerdiknja: "Kalau begitoe kata adik, dengarkanlah hamba katakan. Ada seboeah jang merasa dalam hati: salah angkoeh dan salah periksa, salah roman dipandang orang: adik berdjalan dengan pengiring, lengkap dengan dajang-dajang, tetapi hamba seorang diri sadja. Oléh sebab itoe nantikanlah hamba disini; hamba poelang dahoeloe mendjempoet si Kembang hamba poela". Amboen Soeri: "Ta' oesah ka' Sari berbalik poelang. Tentang pengiring itoe, ambillah pengiringkoe ini seperdoea". Poeteri Kemala Sari berdiam diri sedjoeroes. Ia mentjari daja-oepaja roepanja. "'Adat dilaoet jang seperti itoe: hidoep perdoea-memperdoeaï. Akan kita ini orang daratan, tiada bépakai 'adat sedemikian", katanja dengan agak tadjam. Amboen Soeri berpaling kepada dajang-dajangnja, seraja berkata: "Poelanglah kamoe sekalian; hingga ini sadja akoe diiringkan".<noinclude></noinclude> 5r770skhmhz9s2alxk0k5hevtzkbwlf 298317 298316 2026-06-17T10:40:24Z Link PB 26772 298317 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|112|HANJOET||}}</small></noinclude>berdjalan dalam lingkoengan gadis-gadis jang bersoeka-soekaan dengan tiada berkepoetoesan. Makin lama makin djaoeh perdjalanannja, hampir sampai pada soeatoe tempat perhentian. Ketika tiba di Ara Ketoenggalan, bertanja-tanjalah dajang-dajang sama sendirinja: "Siapakah jang doedoek disitoe? Beloem patoet ia doedoek seorang diri, berdoeapoen beloem lajak djoega; salah roman dipandang orang". Sesoenggoehnja ketika itoe adalah kelihatan seorang perempoean moeda jang indah parasnja doedoek dibawah sebatang pohon ara, seakan-akan bermenoeng roepanja. Kata poeteri Amboen Soeri: "Hai dajang-dajang, djangan kalian banjak seboet; itoelah poeteri Kemala Sari, dengan dia kita akan berdjalan". Sesa'at antaranja sampailah meréka kedekat poeteri itoe. Amboen Soeri bersalam dengan dia, sedang dajang-dajang menjembah dengan ta'zim. Meréka makan sirih sekapoer seorang, akan obat haoes kelaparan. Setelah itoe berkatalah poeteri Kemala Sari, oedjarnja: "Wahai poeteri Amboen Soeri, dengarkan pantoen dengan 'ibarat: Mengapa matahari ta' koendjoeng petang, mengapa kita berdjandji, adik ta' koendjoeng datang?" Djawab poeteri Amboen Soeri: :<poem> "Boekannja hari tiada petang, panggalan tidak koendjoeng pantai. Boekannja berdjandji tiada datang, berdjalan tidak koendjoeng sampai". </poem> Dengarkan seboeah lagi, Ka' Sari, soepaja doea pantoen seiring: :<poem> "Ara nan empat poeloeh batang, balam diatas telang danta. Hamba dinanti telah datang, élok berdjalan kita djoea". </poem> Sahoet Kemala Sari poela dengan tjerdiknja: "Kalau begitoe kata adik, dengarkanlah hamba katakan. Ada seboeah jang merasa dalam hati: salah angkoeh dan salah periksa, salah roman dipandang orang: adik berdjalan dengan pengiring, lengkap dengan dajang-dajang, tetapi hamba seorang diri sadja. Oléh sebab itoe nantikanlah hamba disini; hamba poelang dahoeloe mendjempoet si Kembang hamba poela". Amboen Soeri: "Ta' oesah ka' Sari berbalik poelang. Tentang pengiring itoe, ambillah pengiringkoe ini seperdoea". Poeteri Kemala Sari berdiam diri sedjoeroes. Ia mentjari daja-oepaja roepanja. "'Adat dilaoet jang seperti itoe: hidoep perdoea-memperdoeaï. Akan kita ini orang daratan, tiada bépakai 'adat sedemikian", katanja dengan agak tadjam. Amboen Soeri berpaling kepada dajang-dajangnja, seraja berkata: "Poelanglah kamoe sekalian; hingga ini sadja akoe diiringkan".<noinclude></noinclude> 7ic0l9zddd7qvio18amn1puh8iyoyfu 298319 298317 2026-06-17T10:45:25Z Link PB 26772 298319 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|112|HANJOET||}}</small></noinclude>berdjalan dalam lingkoengan gadis-gadis jang bersoeka-soekaan dengan tiada berkepoetoesan. Makin lama makin djaoeh perdjalanannja, hampir sampai pada soeatoe tempat perhentian. Ketika tiba di Ara Ketoenggalan, bertanja-tanjalah dajang-dajang sama sendirinja: "Siapakah jang doedoek disitoe? Beloem patoet ia doedoek seorang diri, berdoeapoen beloem lajak djoega; salah roman dipandang orang". Sesoenggoehnja ketika itoe adalah kelihatan seorang perempoean moeda jang indah parasnja doedoek dibawah sebatang pohon ara, seakan-akan bermenoeng roepanja. Kata poeteri Amboen Soeri: "Hai dajang-dajang, djangan kalian banjak seboet; itoelah poeteri Kemala Sari, dengan dia kita akan berdjalan". Sesa'at antaranja sampailah meréka kedekat poeteri itoe. Amboen Soeri bersalam dengan dia, sedang dajang-dajang menjembah dengan ta'zim. Meréka makan sirih sekapoer seorang, akan obat haoes kelaparan. Setelah itoe berkatalah poeteri Kemala Sari, oedjarnja: "Wahai poeteri Amboen Soeri, dengarkan pantoen dengan 'ibarat: Mengapa matahari ta' koendjoeng petang, mengapa kita berdjandji, adik ta' koendjoeng datang?" Djawab poeteri Amboen Soeri: <div style="margin-left: 8em;"> "Boekannja hari tiada petang,<br/> panggalan tidak koendjoeng pantai.<br/> Boekannja berdjandji tiada datang,<br/> berdjalan tidak koendjoeng sampai". </div> Dengarkan seboeah lagi, Ka' Sari, soepaja doea pantoen seiring: <div style="margin-left: 8em;"> "Ara nan empat poeloeh batang,<br/> balam diatas telang danta.<br/> Hamba dinanti telah datang,<br/> élok berdjalan kita djoea". </div> Sahoet Kemala Sari poela dengan tjerdiknja: "Kalau begitoe kata adik, dengarkanlah hamba katakan. Ada seboeah jang merasa dalam hati: salah angkoeh dan salah periksa, salah roman dipandang orang: adik berdjalan dengan pengiring, lengkap dengan dajang-dajang, tetapi hamba seorang diri sadja. Oléh sebab itoe nantikanlah hamba disini; hamba poelang dahoeloe mendjempoet si Kembang hamba poela". Amboen Soeri: "Ta' oesah ka' Sari berbalik poelang. Tentang pengiring itoe, ambillah pengiringkoe ini seperdoea". Poeteri Kemala Sari berdiam diri sedjoeroes. Ia mentjari daja-oepaja roepanja. "'Adat dilaoet jang seperti itoe: hidoep perdoea-memperdoeaï. Akan kita ini orang daratan, tiada bépakai 'adat sedemikian", katanja dengan agak tadjam. Amboen Soeri berpaling kepada dajang-dajangnja, seraja berkata: "Poelanglah kamoe sekalian; hingga ini sadja akoe diiringkan".<noinclude></noinclude> cbynu8apl1563uui25x8ook1554xa2z Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/129 104 105873 298318 2026-06-17T10:43:58Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298318 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||HANJOET|113|}}</small></noinclude>Sekalian dajang itoe berbalik poelang dengan patihnja, ketjoeali si Kembang Manis. Maka kata Amboen Soeri poela: "Hari bertambah tinggi djoea, ka' Sari, marilah berangkat". "Pikir pendapatan hamba, Amboen Soeri", kata Kemala Sari seraja melajangkan pandang kepada Kembang Manis, jang tinggal ta' berteman lagi, "si Kembangpoen ta' goena mengikoet. Baik djoega dia berbalik poelang; dia penanti alat datang. Djika ia pergi djoega, datang djamoe djaoeh dan dekat, siapakah jang akan membelahkan pinang, siapakah jang akan membawakan sirih?" Dajang jang setia itoe terkedjoet, laloe memandang kepada toeannja dengan mata jang membajangkan perasaan kalboenja. Berat hatinja akan membiarkan Amboen Soeri pergi berdoea sadja dengan poeteri jang ta' loeroes itoe. Akan tetapi Amboen Soeri berboeat seolah-olah tiada mengetahoei perasaan dan kekoeatiran hati dajang jang 'arif itoe, sebab ia berkata dengan pende'k: "Ja, lebih baik engkau poelang djoega". "Ampoen hamba, atji"', sembah Kembang Manis, "ta' senang hati hamba berbalik, hamba hendak mengikoet djoega dengan atji"'. "Kembang", kata Amboen Soeri dengan bérang, "sekali akoe berkata, élok kautoeroetkan sadja. Djangan engkau berpandjang bitjara, melambatkan kami berdjalan". "Ampoen atji"', oedjar si Kembang poela dengan sesoenggoeh-soenggoeh hatinja, "hamba bermimpi malam tadi, mimpi hamba boeroek benar. Rasanja andjoeng kemoeliaan tenggelam, djoendjoengan sirih rebah, loemboeng tertangkoep dan kerbau besar mati". Amboen Soeri tersenjoem. "Pentjemas benar engkau ini, Kembang", katanja. "Mimpi baik kaukatakan boeroek. Pada hal mimpimoe itoe loeroes benar; ta'birnja: Andjoeng kemoeliaan ba' rasa tenggelam, 'alamat anak boeah kita akan naik, kembang biak; djoendjoengan sirih rebah dan loemboeng tertangkoep, tandanja padi akan mendjadi; kerbau besar mati, 'alamat kebesaran ada pada kita. Sebab itoe poelanglah engkau; oesah merintang akoe berangkat". "Wahai atji', dengarkan djoea kata hamba: <div style="margin-left: 8em;"> Selindit mati tertatal,<br/> mati terpoeloet dalam padi.<br/> Sedikit toean akan menjesal,<br/> djika ta' dimoeloet dalam hati. Hilir orang kegedoeng madat,<br/> padi bermanik-manik djoea.<br/> Orang 'lah njata beri'tikat<br/> atji' berbaik boedi djoea. Berbawal berpoenting tidak,<br/> berpepat oedjoeng penggalan.<br/> Awal ditentang achir tidak,<br/> moedarat djoea peker djaan. </div> <small>8</small><noinclude></noinclude> o8b6nqubcceztoqwdjihb9042kcijje Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/130 104 105874 298320 2026-06-17T10:48:28Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298320 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|114|HANJOET||}}</small></noinclude><div style="margin-left: 8em;"> Dari Roem kebenoea Tjina,<br/> kebarat djalan kebandar Padang.<br/> Seoekoer mata dengan telinga<br/> moedarat tidak atji' kenang''. </div> Poeteri Amboen Soeri merentak dan berkata dengan bérang: "Djangan meragoe engkau disini; ajoeh, poelang!" "Djika begitoe titah atji', masakan hamba akan ingkar! Apa boléh boeat". Maka iapoen menjembah, laloe berbalik poelang dengan hati koeatir dan tjemas. "Sekarang", kata Amboen Soeri kepada temannja, "mari kita berangkat, ka' Sari". Kedoea poeteri jang indah molék itoepoen berdjalan dari Ara Ketoenggalan, sambil bertjakap-tjakap dengan soeka dan riang. Bagaimana perasaan jang sebenar-benarnja didalam hati masing-masing, sedikitpoen tiada terbajang pada air moekanja jang tenang dan djernih. Moela-moela dilaloeinja kajoe jang besar, soedah itoe aoer jang koening dan setelah lampau poela dari gelapoeng tjondong, méréka itoepoen sampai ketempat jang ditoedjoenja: tepian Oelak Damar soedah terbentang dihadapannja. Dipinggirnja kelihatan batoe kerang mendjodjol, ditengahnja kerang melintang. Airnja keroeh bagai air kerak, warnanja senam 'alamat dalam. Setiba disitoe, méréka itoepoen moelaï meramas limau, laloe berlimau kedoeanja. "Amboen Soeri", kata poeteri Kemala Sari kepada temannja, "lebih baik berganti-ganti kita mandi. Gelanggang sedang ramai, bangsat banjak sekarang ini. Soepaja kita djangan binasa disini, biarlah hamba mandi dahoeloe; pandangi oléh toean bangsat laloe". Iapoen masoek kedalam air, mandi, serta berketjimpoeng kehilir dan kehoeloe dengan kaki tangannja. Amat deras dan ramai boenjinja, sehingga kedengaran sampai kegelanggang. Mémang, djoeara dan djenangpoen berbisik-bisik dengan senjoemnja: "Hm, kalau si tjongkak sedang mandi, kedengaran ketjimpoeng ditepian". Dan setelah poeas Kemala Sari mandi, iapoen keloear dan berkata kepada kawannja: <div style="margin-left: 8em;"> "Taroehlah padi dalam poean,<br/> sedang hamba berkain moeri.<br/> Mandi poela malah toean,<br/> soepaja hamba bermain boedi''. </div> Sahoet poeteri Amboen Soeri: <div style="margin-left: 8em;"> "Orang menjirat ditepian,<br/> soerat terletak dalam padi.<br/> Ingat-ingat merintang ikan,<br/> sementara hamba mandi''. </div> Dengan segera diloeroetnja tjintjin dari djarinja, dilipatnja kain dan badjoe, laloe disoesoennja didalam moendam semoeandja. Maka iapoen toeroen ketepian, mandi berketjimpoeng poela. Lebih hébat boenjinja<noinclude></noinclude> ggbkvbruzno55kkwe9uecgk883eqoih Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/131 104 105875 298321 2026-06-17T10:50:41Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298321 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||HANJOET|115|}}</small></noinclude>dan lebih banjak ragamnja dari pada ketjimpoeng poeteri Kemala Sari tadi. Ia berketjimpoeng tjara Bangkinang, jang disela-sela dengan ketjimpoeng Batanghari. Ada doea matjamnja, toeroen-naiknja: Kehilir ketjimpoeng kaki, terkedjoet lari ikan besar; kehoeloe ketjimpoeng tangan, berkeliaran lari garing, tertegoen renang ikan koelari, mendoedoe-doedoe anak pantau, hanjoet dibawa aloen keseberang. Sedang Amboen Soeri mandi sedemikian, sedang ia lalai-léngah diajoen diboeaikan boenji ketjimpoengnja jang beragam-ragam itoe, poeteri Kemala Sari mendjalankan 'akal-boedi dan tipoe-moeslihatnja. Ia hendak membinasakan bakal madoenja. Lambat-lambat ia berdjalan ketepi pasir, kedekat moendam Amboen Soeri terletak. Sekonjong-konjong ia berboeat seakan-akan tersandoeng: disépakkannja moendam itoe sekoeat-koeat toelangnja, laloe terlajang kedalam air. Hanjoet... Setelah itoe iapoen segera beralih tegak ketempat lain, keatas batoe kerang jang terdjodjol. Tiba-tiba darah Amboen Soeri tersirap, berdebar-debar hatinja. Dengan tjepat ia berlari keloear; maka dilihatnja moendam tidak ada lagi. Ia poetjat, sendi toelangnja gemetar, laloe berkata kepada kawannja, atau lebih baik dikatakan: moesoeh dalam selimoet itoe: "Hai, Ka' Sari! Kita sekampoeng sehalaman, kita sama besar sepermainan, mengapa kaka' berlakoe seperti itoe? Kemana moendamkoe tadi? Kalau tidak karena olah perangai kaka', ta' moengkin moendamkoe hilang-lenjap. Kita hanja berdoea disini". "Ha, ha", gelak Kemala Sari dengan kerenjoet bibirnja, sehingga hilang roepa katjantikannja. <div style="margin-left: 8em;"> "Loeroes-loeroes goenting tjelana,<br /> boekan ba' goenting sibar badjoe.<br /> Loeroes-loeroes mata da'wa,<br /> hamba mendjawab boléh tentoe". </div> Djawab Amboen Soeri dengan geram: <div style="margin-left: 8em;"> "Ta' tali ketaja lagi,<br /> bakau diladang rebah tegak.<br /> Ta' kami pertjaja lagi,<br /> kaka' bersoempah sambil gelak". </div> Kemala Sari: <div style="margin-left: 8em;"> "Anak boeaja didalam paja,<br /> mandi keloeboek batang air.<br /> Kalau adik tidak pertjaja,<br /> mari keloeboek berselam air". </div> Amboen Soeri: <center> "Betoeng seroempoen dihalaman,<br /> titian anak orang Djoedah.<br /> Kita sekampoeng sehalaman,<br /> menaroeh dendam tidak soedah". </div><noinclude></noinclude> cm3wjx6ty400y9qyve56kdbl0g56bg2 298322 298321 2026-06-17T10:50:54Z Link PB 26772 298322 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||HANJOET|115|}}</small></noinclude>dan lebih banjak ragamnja dari pada ketjimpoeng poeteri Kemala Sari tadi. Ia berketjimpoeng tjara Bangkinang, jang disela-sela dengan ketjimpoeng Batanghari. Ada doea matjamnja, toeroen-naiknja: Kehilir ketjimpoeng kaki, terkedjoet lari ikan besar; kehoeloe ketjimpoeng tangan, berkeliaran lari garing, tertegoen renang ikan koelari, mendoedoe-doedoe anak pantau, hanjoet dibawa aloen keseberang. Sedang Amboen Soeri mandi sedemikian, sedang ia lalai-léngah diajoen diboeaikan boenji ketjimpoengnja jang beragam-ragam itoe, poeteri Kemala Sari mendjalankan 'akal-boedi dan tipoe-moeslihatnja. Ia hendak membinasakan bakal madoenja. Lambat-lambat ia berdjalan ketepi pasir, kedekat moendam Amboen Soeri terletak. Sekonjong-konjong ia berboeat seakan-akan tersandoeng: disépakkannja moendam itoe sekoeat-koeat toelangnja, laloe terlajang kedalam air. Hanjoet... Setelah itoe iapoen segera beralih tegak ketempat lain, keatas batoe kerang jang terdjodjol. Tiba-tiba darah Amboen Soeri tersirap, berdebar-debar hatinja. Dengan tjepat ia berlari keloear; maka dilihatnja moendam tidak ada lagi. Ia poetjat, sendi toelangnja gemetar, laloe berkata kepada kawannja, atau lebih baik dikatakan: moesoeh dalam selimoet itoe: "Hai, Ka' Sari! Kita sekampoeng sehalaman, kita sama besar sepermainan, mengapa kaka' berlakoe seperti itoe? Kemana moendamkoe tadi? Kalau tidak karena olah perangai kaka', ta' moengkin moendamkoe hilang-lenjap. Kita hanja berdoea disini". "Ha, ha", gelak Kemala Sari dengan kerenjoet bibirnja, sehingga hilang roepa katjantikannja. <div style="margin-left: 8em;"> "Loeroes-loeroes goenting tjelana,<br /> boekan ba' goenting sibar badjoe.<br /> Loeroes-loeroes mata da'wa,<br /> hamba mendjawab boléh tentoe". </div> Djawab Amboen Soeri dengan geram: <div style="margin-left: 8em;"> "Ta' tali ketaja lagi,<br /> bakau diladang rebah tegak.<br /> Ta' kami pertjaja lagi,<br /> kaka' bersoempah sambil gelak". </div> Kemala Sari: <div style="margin-left: 8em;"> "Anak boeaja didalam paja,<br /> mandi keloeboek batang air.<br /> Kalau adik tidak pertjaja,<br /> mari keloeboek berselam air". </div> Amboen Soeri: <div style="margin-left: 8em;"> "Betoeng seroempoen dihalaman,<br /> titian anak orang Djoedah.<br /> Kita sekampoeng sehalaman,<br /> menaroeh dendam tidak soedah". </div><noinclude></noinclude> 2wng8qkftju51c942okyi70j1a21or2 Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/24 104 105876 298323 2026-06-17T10:51:50Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298323 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>„Harap tunggu !” katanja. Ia masih bersuara pelahan, tetapi terus ia lompat untuk mengedjar. Orang itu lompat, enteng gerakannja. Dia tiba ke-para<small><sup>2</sup></small> bunga disebelah kiri. Karena Hong Hoa mengedjar tjepat, ia lantas datang dekat. „Kali ini kemana kau hendak menjingkir !” katanja. Tapi waktu ia tiba, orang itu lenjap. „Dia tentu sembunji dipohon bunga”, pikirnja. Dengan berani ia lompat ke-para<small><sup>2</sup></small>. „Disini !” tiba<small><sup>2</sup></small> satu suara disebelah belakang. Hong Hoa terkedjut. Terang orang itu sudah putari dirinja. Maka ia lantas mendekam. Ia menduga pada serangan. Dugaan ini tepat. Karena ia berkelit, serangan itu mengenai tembok dibelakangnja, suaranja keras. Itulah serangan dengan sepotong batu ! „Djikalau aku tidak berkelit, kepalaku bisa petjah ! .............” pikirnja. Ia giris hati, iapun djengah sendirinja. Tapi ia pungut batu itu, ia lari kebelakang para<small><sup>2</sup></small>, untuk menguber. Orang itu lenjap. Hong Hoa bermandikan peluh, hingga ia mesti buka badju pandjangnja, untuk dilipat dan dibelitkan pada pundak dan tubuhnja, diikat keras didadanja. Ia tidak menjangka bakal djadi begini. Sedjak tadi ia tidak loloskan badjunja itu. Baru sekarang pemuda ini mendjadi tawar hatinja. Ia pun mendjadi djeri terhadap So In. Bhikshuni itu tentu gusar mengetahui ia sembrono masuk kekelentengnja itu. Bukankah So In pemimpin Boe Tong Pay ? Mana dapat dia mengidjinkan orang mundarmandir dikelentengnja tak setahunja ? „Anehnja, kenapa orang itu terus sembunjikan diri dan aku hanja dipermainkan ?” ia pikir sebaliknja. „Terlalu !” Masih ada sisa penasarannja. Ia tidak mau tanja dirinja, kenapa ia masuk setjara menggelap dan tidak mau menghadap So In setjara berterang. Dengan hati<small><sup>2</sup></small> Hong Hoa bertindak madju, sampai ia berada didepan sebuah peseban beratap. Ia mengawasi peseban itu. Ia pikir, kalau ia naik keatas wuwungan peseban, ia akan dapat melihat seluruh Tjoei Tiok Am. Karena ini, ia bertindak mendekati, lalu ia geraki dengkulnja untuk berlompat naik. Tiba<small><sup>2</sup></small> sadja ada serupa benda menjamber padanja. Ia mendjadi kaget sekali. Tidak dapat ia naik terus. Ia mentjoba berkelit. Karena ini, tubuhnja terhujung, terus ia roboh. Untung baginja, tanah disitu tidak keras dan ia pun bertubuh kuat. Begitu mengenai tanah, ia<noinclude>{{rh|||207}}</noinclude> 9vsoxt6oe94yxxku44uaf7jdp62lmww Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/132 104 105877 298324 2026-06-17T10:54:07Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298324 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh|116|HANJOET||}}</small></noinclude>"Tepat benar", oedjar Kemala Sari menjeringai, "menaroeh dendam... Tetapi siapa jang salah? <div style="margin-left: 8em;"> Poetih pinangnja orang Loempa,<br/> sepat diroemah radja toea.<br/> Poetih toelang hamba ta' loepa,<br/> sakit didoenia telah bersoea. </div> Soenggoeh! Hendak mengapa engkau sekarang?" katanja poela seraja menempoeh selangkah kemoeka. "Engkau pandai, akoe tjerdik. Engkau mengail dalam belanga, menohok kawan seiring. Ta' bermaloe! Tetapi ta'kan laloe djaroem engkau: <div style="margin-left: 8em;"> Mendjala ke Boekit Poetoes,<br/> kena oedang didjala rapat.<br/> Ditjentjang air ta'kan poetoes,<br/> Didjaring angin ta'kan dapat". </div> "Ka' Sari, mengapa kaka' begitoe benar? Moendamkoe, ka' Sari, kembalikan moendamkoe, soedah dingin akoe rasanja", kata Amboen Soeri selakoe hendak menangis karena menahan sakit hati. "Soedah gila engkau gerangan, menda'wa orang ta' keroean". "Moendamkoe", kata Amboen Soeri poela. "Ta' oesah lama berhandai handai, ka' Sari: <div style="margin-left: 8em;"> Ditjentjang daging tiga tjentjang,<br/> ditingkat tangga tiga tingkat.<br/> Direntang roending 'kan pandjang,<br/> élok dipoental soepaja singkat. </div> Wahai ka' Sari, malang tjelaka badan kami... Toendjoekkan dimana moendamkoe tadi, kaka'! Koesembah tapak kaki ka' Sari, tolong toendjoekkan!" "Hanjoet", kata Kemala Sari dengan tenang. "Hanjoet?" oedjar Amboen Soeri dengan sangat terkedjoet dan terperandjat, sehingga poetjat-pasi warna moekanja. "Mengapa tidak sedjak tadi kaka' katakan..." Iapoen bergerak hendak kehilir. "Dengarkan katakoe dahoeloe", kata Kemala Sari dengan tenang djoega; "boekan akoe ta' maoe mengatakan! Tatkala engkau berketjimpoeng tadi, akoe meningkah dengan njanjian. Tiba-tiba toeroen angin poentja belioeng, angin bertepoek kiri kanan, maka moendam itoepoen melajang masoek air. Akoe berseroe tidak sampai". "Apa dajakoe sekarang?" Kemala Sari mengangkat bahoe. "Biar koetjari kehilir", kata Amboen Soeri poela dengan soeara tetap. "Hanja seboeah permintaankoe kepada ka' Sari: sampaikan pesankoe kepada ka' toea Soetan Ali Akbar, soeroeh toeroeti hamba kehilir". Sambil berkata demikian iapoen berlari tjepat-tjepat kehilir menepi soengai, sebagai orang gila lakoenja: berkain basahan sehelai sahadja, sedang ramboetnja jang pandjang tergérai sampai ketoemitnja.<noinclude></noinclude> d3v6amsdp4p8nedspppvihn0g6h477x Halaman:A Modern Malay Reader with a Glosassary by G.W.J Drewes.pdf/133 104 105878 298325 2026-06-17T10:56:03Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 298325 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /><small>{{rh||HANJOET|117|}}</small></noinclude>"Rasakan!" kata Kemala Sari dengan besar hatinja. "Boeaja boléh engkau persoeami, ''namoen'' toean Moehammad Sjah ta' kan dapat oléhmoe". Ketika Amboen Soeri soedah djaoeh kehilir, iapoen berbalik poelang dengan rasa kemenangan. {{right|N. {{smallcaps|St}}. {{smallcaps|Iskandar}}, ''Hoeloebalang Radja''.}}<noinclude></noinclude> q65lxesa7xfspyifexgo923h9sagpo3 Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/25 104 105879 298326 2026-06-17T10:57:05Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298326 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>berlompat bangun pula. Ia bermandikan peluh. Ia dongak keatas, ia tidak dapat melihat penjerangnja. Sebaliknja, dibelakangnja, ia dengar suara : „Aku sudah letih ! Apakah ini belum tjukup ? Sekarang sudah tidak siang lagi, silahkan kau pulang !” Suara itu bernada edjekan. Dengan sebat Hong Hoa berpaling. Beberapa tombak terpisah darinja, dibawah para<small><sup>2</sup></small> pohon ojot, ia lihat sesosok tubuh orang jang mukanja tidak terlihat tegas. Orang itu bersuara halus, mungkin dia satu nona umur lima atau enambelas tahun, tubuhnja kate. Panas hatinja Hong Hoa. „Kau siapa ?” ia tanja. „Apakah kau muridnja soe-thay ?” Ia menduga kepada murid termuda dari So In. Orang itu, satu nona ketjil, tertawa manis. „Kau sendiri belum menjebutkan namamu, kenapa kau mendahului menandja namaku ?” ia berkata. „Aku bilang, sahabat, kau sudah mengatjau selama setengah malaman ini ! Kau bangsat bukannja bangsat, pentjuri bukannja pentjuri ! Kenapa kau membuat petjah genteng kami ? Sebenarnja kau hendak berbuat apa ? Djikalau kau ingin pindjam uang untuk beaja perdjalanan, mari aku pimpin kau kepada soe-thay ! Buat tiga sampai lima rentjeng uang, aku tanggung kau nanti ditolongi ! Kau harus djudjur, tahu ? Tentang ilmusilatmu, aku telah beladjar kenal, maka baiklah kau pulang kepada gurumu untuk beladjar lebih djauh lagi beberapa tahun {{...|12}}” Kata<small><sup>2</sup></small> itu sangat menusuk telinga Hong Hoa, ia mendjadi bertambah gusar. „Untuk apa kau mengatjo-belo ?” bentaknja. „Dengan pihak kamu, aku adalah orang jang dikenal ! Kenapa kau berpura² tidak mengetahuinja ? Kau pun harus ketahui, aku datang kemari tidak dengan maksud djahat. Kau lihat, aku tidak membekal sepotong besi djua {{...|12}}” Tanpa menanti orang bitjara habis, nona itu sudah memotong : „Djikalau kau orang jang dikenal, kenapa kau tidak datang siang hari ? Kenapa kau datang diwaktu malam, setjara diam<small><sup>2</sup></small>, lalu mundar-mandir disini ? Djikalau bukannja aku ketahui kau tidak bermaksud djahat, apakah kau kira dapat aku mengidjinkan kau berlalu dengan masih bernjawa ? Aku bilang, sahabat, kau mesti tahu diri sedikit ! Sekarang, lekas kau pergi ! Djikalau tidak, mungkin aku tidak dapat memberi maaf padamu ! {{...|12}}”<noinclude>{{rh|208}}</noinclude> hgaima7j5zrdmscvutqb0zoojegjpr3 Halaman:Warisan Seorang Pangeran 04.pdf/26 104 105880 298327 2026-06-17T11:02:07Z Moel81 25980 /* Telah diuji baca */ 298327 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Moel81" /></noinclude>Hong Hoa mengawasi nona itu, jang usianja masih terlalu muda. Ia mengharap dapat mengorek keterangan dari mulutnja. Ia madju mendekati dua tindak. „Soehoe ketjil”, ia kata dengan sabar, „tjoba kau beritahu padaku, entjie Sim kamu ada didalam kelenteng atau tidak ? Atau maukah kau menolongi aku menjampaikan pesan kepadanja ? Kau bilang Lioe Hong Hoa ingin bitjara padanja, supaja besok pagi<small><sup>2</sup></small> dia datang kerimba ditengah gunung ini untuk bertemu dengan aku. Maukah kau menolong aku ? Asal kau menjatakan suka, segera aku mengangkat kaki dari sini”. Nona itu sebaliknja tidak kena diakali. „Masihkah kau memikir jang bukan<small><sup>2</sup></small> ?” katanja keras. „Djikalau kau tidak hendak berlalu, kau lihatlah piauwku !” Kata<small><sup>2</sup></small> ini ditutup dengan terajunnja tangannja. Dengan lantas Hong Hoa berkelit. „Djangan takut ! Tidak ada piauw !” kata nona itu tertawa. „Aku tjuma hendak menghadiahkan kau sebuah bola tanah ! Awas !” Sekonjong<small><sup>2</sup></small> dia ajun pula tangannja. Kali ini benar<small><sup>2</sup></small> ada sendjata rahasia menjamber. Hong Hoa kurang perdata, ia mendjadi agak lambat berkelit, maka sendjata rahasia itu meleset dikupingnja, hampir ia terluka. Ia mendjadi mendongkol, maka ia pun mengajun tangannja. Nona itu tabah hatinja, ia berdiri tak bergeming. Menampak demikian, Hong Hoa benar<small><sup>2</sup></small> menjerang, dengan batu jang tadi ia dapat pungut. Batu itu melajang dengan menerbitkan suara angin. Nona itu terkedjut, dia merobohkan dirinja kekiri. „Ah, kau menjerang benar<small><sup>2</sup></small> ?” katanja. Hong Hoa girang, tanpa mempedulikan segala apa, ia lompat untuk menubruk. Ia ingin bekuk botjah nakal itu, untuk paksa dia membawanja kepada Goat Hoa. Mendadak nona itu bangun berdiri, tangan kanannja membarengi terajun. „Hahaha, tak kena !” katanja sambil tertawa. „Sekarang aku pulangkan untuk kau jang merasakannja !” Hebat serangan itu, Hong Hoa tak sempat berkelit. Ia mendjadi gusar sekali, segera ia lompat lebih djauh. Si nona sangat tjerdik dan lintjah. Belum lagi ia kena ditubruk, tubuhnja sudah lompat naik keatas para<small><sup>2</sup></small> bunga.<noinclude>{{rh|||209}}</noinclude> qjdn59o3eue0dsulj90p31iyevne7vq