Wikisumber idwikisource https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.13 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikisumber Pembicaraan Wikisumber Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Pengarang Pembicaraan Pengarang Indeks Pembicaraan Indeks Halaman Pembicaraan Halaman Portal Pembicaraan Portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Wikisumber:Warung kopi 4 49 309399 307588 2026-08-03T16:31:22Z MediaWiki message delivery 6352 /* Migration to Parsoid */ bagian baru 309399 wikitext text/x-wiki {{process header |title=Warung kopi |previous=[[Wikisource:Indeks/Komunitas|Halaman komunitas]] |next=[[Wikisource:Warung kopi/Arsip|Arsip]]/[[Wikisource:Warung kopi/Pesan global|Pesan global]] }} {{introkopi}} == Perlukah menyimpan RUU jika UU-nya sudah jadi? == Contoh: [[Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008]] (masih teks mentah) * [[Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Anti Pornografi (2003)]] * [[Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Anti Pornografi dan Pornoaksi (2006)]] * [[Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Pornografi (2008)]] dan [https://id.wikisource.org/w/index.php?title=Istimewa:Pencarian&search=rancangan+undang-undang&go=Lanjut&ns0=1&ns100=1&ns102=1&ns104=1 rancangan-rancangan] yang lain. <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 25 Maret 2026 09.47 (UTC) :Saya berpendapat untuk tetap mempertahankannya. Tambahan koleksi naskah juga di Wikisumber. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 26 Maret 2026 09.17 (UTC) :Simpan saja. Boleh jadi perbandingan mana yang diubah andai ada. [[Pengguna:Hadithfajri|Hadithfajri]] ([[Pembicaraan Pengguna:Hadithfajri|bicara]]) 26 Maret 2026 10.48 (UTC) :Saya rasa bisa disimpan, seperti yang disebutkan di atas. —[[Pengguna:NikolasKHF|NikolasKHF]] ([[Pembicaraan Pengguna:NikolasKHF|🗪]]) 31 Maret 2026 09.55 (UTC) :Saya berberbeda pendapat dengan teman-teman sebelumnya, saya menilai RUU adalah sebuah naskah yang tidak/belum sah. Ibarat buku, RUU ini masih naskah buku yang tidak diterbitkan dan tidak ada penerbitnya. Sehingga lebih baik dihapus saja. :Kecuali jika kita mengijinkan naskah buku juga disimpan di WSID. Dan menurut saya ini juga salah, karena naskah buku yang belum terbit sebaiknya disiman di Wikibuku. [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 2 April 2026 15.18 (UTC) ::Sependapat dengan Anda. <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 18 April 2026 14.28 (UTC) :Melanjutkan diskusi ini. Setelah melihat beberapa pendapat, bagaimana jika halamannya dibiarkan, tetapi berisi semacam pengalihan menuju UU yang sudah jadi? Jika UU nya belum ada, maka RUU nya tetap dapat dimasukkan ke Wikisumber sebagai sejarah atau sebagai referensi. Tetapi jika dirasa terlalu banyak pekerjaan yang perlu dibuat (mengingat penyunting di WSID juga tidak sebanyak itu), maka kita bisa membuat konsensus untuk tidak menerima RUU sama sekali dan menunggu UU-nya selesai dan disahkan. [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 10 Mei 2026 08.21 (UTC) ::Saya setuju untuk membuat konsensus. [[Pengguna:Cgjkldn|Cgjkldn]] ([[Pembicaraan Pengguna:Cgjkldn|bicara]]) 21 Juni 2026 07.30 (UTC) ::sepertinya memang perlu diadakan konsensus untuk hal ini. [[Pengguna:Devi 4340|Devi 4340]] ([[Pembicaraan Pengguna:Devi 4340|bicara]]) 22 Juni 2026 05.13 (UTC) ::{{Vote}} sebaiknya dibuatkan konsensus [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 4 Juli 2026 15.51 (UTC) == Milestone == Pencapaian terbaru: * 10.000 halaman konten * 100.000 jumlah halaman (akan) * 300.000 total suntingan (1 Juli) <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 5 Juni 2026 18.02 (UTC) :Wow! :Cara tahunya bagaimana, Mas? Apakah hanya pengurus yang bisa mengecek itu? @[[Pengguna:Bennylin|Bennylin]] :[[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 22 Juni 2026 07.23 (UTC) ::[[Istimewa:Statistik]] <small><br />[[Pembicaraan Pengguna:Bennylin|&#x2712;]] [[Pengguna:Bennylin|Bennylin]]</small> 22 Juni 2026 17.56 (UTC) == Undang-Undang Tanpa Sumber == 3 naskah terbaru adalah Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang tidak memiliki sumber. Apakah ini bisa dipertahankan atau harus memasukkan naskah sumbernya? * [[Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0206/O/1980]] * [[Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0507/O/1989]] * [[Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 030/U/1979]] [[Pengguna:Cgjkldn|Cgjkldn]] ([[Pembicaraan Pengguna:Cgjkldn|bicara]]) 21 Juni 2026 01.42 (UTC) :* 0507/O/1989: https://file.data.kemendikdasmen.go.id/sk/935183-579298-515214-113612456-1067390692.pdf :[[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 21 Juni 2026 08.57 (UTC) :menurut saya, sebaiknya disediakan sumbernya juga. [[Pengguna:Devi 4340|Devi 4340]] ([[Pembicaraan Pengguna:Devi 4340|bicara]]) 22 Juni 2026 04.42 (UTC) :Sumber dari ketiga surat keputusan (SK) tersebut sudah saya cantumkan di bagian paling bawah halaman tersebut di dalam kode berupa <code><nowiki><!-- Sumber: ... --></nowiki></code> jika dibuka dalam mode penyuntingan (bagian "Lihat pula" atau dengan mengetuk "sunting halaman penuh"). Sebagian besar isi dari sumber tersebut menampilkan batang tubuhnya secara utuh, sedangkan untuk lampirannya masih ada yang halamannya hilang, terpotong, ataupun tidak utuh sehingga perlu dicari lagi dari sumber yang lain. [[Pengguna:Rafka Aditia|Rafka Aditia]] ([[Pembicaraan Pengguna:Rafka Aditia|bicara]]) 23 Juni 2026 04.40 (UTC) ::Terima kasih. Saya rasa perlu diberikan sumber dan coba diujibaca ulang (atau disalin tempel ke ruang nama Halaman:). Untuk bagian lampiran, bisa menggunakan sumber lain jika sudah ditemukan halaman yang utuh. [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 1 Juli 2026 10.34 (UTC) == RFC about AI-generated content in Wikimedia Commons == <bdi lang="en" dir="ltr">Apologies for writing in English, please help translate this message to your language. You are invited to participate in a [[c:Commons:Requests for comment/Policy update for AI content|request for comment on Wikimedia Commons about a policy update for AI content]]. This may affect files that are uploaded to Wikimedia Commons for use on this project. Thank you. [[m:User:Codename Noreste|Codename Noreste]] ([[m:User talk:Codename Noreste|bicara]])</bdi> 23 Juni 2026 17.12 (UTC) <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:Codename Noreste@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=Distribution_list/Global_message_delivery&oldid=30513860 --> == Penerapan halaman kontak Legal dan Keamanan di bagian bawah wiki Anda == <section begin="Message"/> '''Kontak Legal dan Keamanan''' Halo, rekan-rekan kontributor! Wikimedia Foundation telah menyediakan [[wmf:Special:MyLanguage/Legal:Wikimedia Foundation Legal and Safety Contact Information|halaman kontak legal dan keamanan]] yang akan ditambahkan di bagian bawah wiki. Halaman tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, dan sebagainya. Untuk bahasa lainnya akan segera tersedia. Silakan kunjungi [[m:Special:MyLanguage/Wikimedia_Foundation_Legal_and_Safety_Contacts_FAQ|halaman proyek]] untuk informasi selengkapnya, serta kami harapkan kesediaannya untuk meninggalkan komentar di bawah ini atau di [[m:Special:MyLanguage/Talk:Wikimedia Foundation Legal and Safety Contacts FAQ|halaman pembicaraan]]. <section end="Message"/> -- [[User:Sannita (WMF)|User:Sannita (WMF)]] ([[User talk:Sannita (WMF)|talk]]) 25 Juni 2026 13.31 (UTC) <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:Sannita (WMF)@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=User:Sannita_(WMF)/Mass_sending_test&oldid=30731267 --> == Usulan penghapusan == Saya melihat [[:Kategori:Usulan penghapusan]] baru ditambah hari ini oleh @[[Pengguna:Ulumarifah|Ulumarifah]] untuk beberapa indeks berikut: * [[Indeks:Peraturan Menteri keuangan No. 82.pdf]] * [[Indeks:Peraturan Menteri Keuangan Nomor 8 tahun 2026.pdf]] * [[Indeks:PMK 83.pdf]] * [[Indeks:PMK 84.pdf]] * [[Indeks:PMK 85.pdf]] * [[Indeks:PMK 86.pdf]] * [[Indeks:PMK 87.pdf]] * [[Indeks:PMK 88.pdf]] * [[Indeks:PMK 89 2025.pdf]] Melihat dari salah satu [[Pembicaraan Indeks:Peraturan Menteri Keuangan Nomor 8 tahun 2026.pdf|halaman pembicaraan]], alasan usulan tersebut adalah "''doubel indeks''". Saya ingin mengonfirmasi sebelum menghapus indeks-indeks tersebut. Terima kasih! [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 1 Juli 2026 10.42 (UTC) :Saya rasa kita perlu alur usulan penghapusan yang lebih baik. Mungkin menggunakan sistem seperti di idwiki, tetapi perlu ada beberapa penyesuaian, khususnya di halaman indeks dan sebagainya. [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 1 Juli 2026 10.43 (UTC) ::Sebenarnya sudah dicanangkan di [[Wikisumber:Kebijakan penghapusan]], tinggal konsensus untuk pelaksanaan saja. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 17 Juli 2026 02.28 (UTC) :Halaman indeks tersebut dibuat oleh pengguna baru yang masih belajar. Sebelumnya terdapat kesalahan dalam penamaan indeks, alih-alih memilih untuk dialihkan, pengguna tersebut memilih membuat indeks baru, sehingga terdapat duplikasi indeks untuk file yang sama. Mohon bantuannya untuk penghapusan. Terima kasih. [[Pengguna:Ulumarifah|Ulumarifah]] ([[Pembicaraan Pengguna:Ulumarifah|bicara]]) 1 Juli 2026 10.48 (UTC) ::Baik, terima kasih banyak konfirmasinya! [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 1 Juli 2026 10.54 (UTC) :Halo Bang Admin @[[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] mau ikut usul penghapusan halaman indeks berkas [[Indeks:Lima poeloe toedjoe dongeng dari binatang.pdf|ini]] karena duplikat dengan [[Indeks:Lima Poeloe Toedjoe Dongeng dari Binatang.pdf|berkas ini, yang lebih dulu terunggah dan sudah dilengkapi dengan butir wikidata.]] terima kasih. [[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 2 Juli 2026 06.22 (UTC) ::Halo, kak @[[Pengguna:Quraeni|mojumoya]], saya lihat, justru [[Indeks:Lima poeloe toedjoe dongeng dari binatang.pdf]] yang memiliki butir Wikidata, dan bukan [[Indeks:Lima Poeloe Toedjoe Dongeng dari Binatang.pdf]]. Mungkin boleh dipindah terlebih dahulu butir Wikidata-nya ke indeks yang lebih lama. Selain itu, saya rasa di Commons juga ada duplikat, ya? Mungkin bisa mengusulkan penghapusan juga di sana kalau dokumennya sama persis dan bedanya hanya judul berkas. Terima kasih! [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 2 Juli 2026 06.27 (UTC) :::@[[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] saya sudah ubah di wikidata [[d:Q140305748|Q140305748]] saya gunakan halaman Indeksnya yang [[Indeks:Lima_Poeloe_Toedjoe_Dongeng_dari_Binatang.pdf]] untuk memudahkan saya gunakan pula, sementara saya gunakan tautan WSID di wikidata dengan halaman indeks. :::Di halaman [[Indeks:Lima poeloe toedjoe dongeng dari binatang.pdf]] butir wikidatanya juga sudah saya pindahkan dan saya tambahkan kategori usulan penghapusan. :::Salam. [[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ([[Pembicaraan Pengguna:Empat Tilda|bicara]]) 4 Juli 2026 15.48 (UTC) ::::Terima kasih banyak, bung @[[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]]! Indeks yang diusulkan sudah saya hapus. Terima kasih! [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 4 Juli 2026 16.02 (UTC) :::::Halo, Bang @[[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] mau [[Indeks:Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29 Tahun 2026|usul penghapusan lagi, berkas yang ini]], karena [[Indeks:Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29 Tahun 2026.pdf|duplikat dengan halaman indeks yang ini]]. terima kasih. :::::[[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 10 Juli 2026 16.30 (UTC) ::::::Selesai, kak! Maaf atas keterlambatan saya menanggapi. [[Pengguna:OwlyKnight|OwlyKnight]] ([[Pembicaraan Pengguna:OwlyKnight|bicara]]) 12 Juli 2026 15.07 (UTC) ::::Terima kasih banyak sudah dibantu! @[[Pengguna:Empat Tilda|Empat Tilda]] ::::[[Pengguna:Quraeni|mojumoya]] ([[Pembicaraan Pengguna:Quraeni|bicara]]) 10 Juli 2026 16.28 (UTC) == Pengubahan istilah == Pada templat {{tl|indeks utama}}, istilah yang tertera saat ini adalah "Jurnal". Di Wikisource Inggris, istilah "Terbitan berkala" digunakan dan rasanya tepat penggunaannya di sini juga. Alasannya adalah isinya tidak hanya jurnal, tetapi juga majalah; kecuali memang memisahnya dari indeks atau kategorisasi itu sendiri. [[Pengguna:Mnam23|Mnam23]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mnam23|bicara]]) 17 Juli 2026 02.30 (UTC) == Request for comment (the future of Abstract Wikipedia) == <bdi lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr"> Apologies if this has not yet been translated into your wiki's language. {{int:Please-translate}} You are invited to voice your opinions in a [[:m:Requests for comment/The future of Abstract Wikipedia|request for comment about the future of Abstract Wikipedia]]. {{Int:Feedback-thanks-title}} [[:m:User:Kowal2701|Kowal2701]] ([[:m:User talk:Kowal2701|talk]]) 24 Juli 2026 12.25 (UTC) </bdi> <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:DreamRimmer@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=Distribution_list/Global_message_delivery&oldid=30513860 --> == <span lang="en" dir="ltr">Migration to Parsoid</span> == <div lang="en" dir="ltr"> <section begin="announcement-content" /> <em>[[m:Special:MyLanguage/Wikimedia Foundation/Product and Technology/Parsoid Read Views/Read View Announcement|Read this in another language]]</em> Hello everyone! I am glad to inform you that as the next step in the [[mw:Special:MyLanguage/Parsoid/Parser Unification|Parser Unification]] project, Parsoid will soon be turned on as the default article renderer on your wiki. We are gradually increasing the number of wikis using Parsoid, with the intention of making it the default wikitext parser for MediaWiki's next long-term support release. This will make our wikis more reliable and consistent for editors, readers, and tools to use, as well as making the development of future wikitext features easier. If this disrupts your workflow, don’t worry! You can still opt out through a user preference or turn Parsoid off on the current page using the Tools submenu, as described in the [[mw:Special:MyLanguage/Help:Extension:ParserMigration|Extension:ParserMigration]] documentation. There is [[mw:Special:MyLanguage/Parsoid/Parser Unification/Confidence Framework|more information about our roll-out strategy]] available, including the testing done before we turn on Parsoid for a new wiki. To report bugs and issues, please look at our [[mw:Special:MyLanguage/Parsoid/Parser Unification/Known Issues|known issues]] documentation and if you found a new bug please create a phab ticket and tag the [[phab:project/view/5846|Content Transform Team in Phabricator]]. <section end="announcement-content" /> </div> [[mw:User:MSantos (WMF)|Content Transform Team]] 3 Agustus 2026 16.31 (UTC) <!-- Pesan dikirim oleh Pengguna:MSantos (WMF)@metawiki dengan menggunakan daftar di https://meta.wikimedia.org/w/index.php?title=Distribution_list/Global_message_delivery/Wikisource&oldid=28221043 --> tqluqmv66e87231ie2485a8zge9laag Indeks:Indjil MATTHEOES.pdf 102 85898 309400 249636 2026-08-04T02:31:26Z Mbee-wiki 5975 309400 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Type=book |wikidata_item= |Title=Wasiat Jang Baroe/Mattheoes |Subtitle=Kitab Indjil Soetji jang Tertoelis olih Mattheoes |Language=ms |Volume= |Edition= |Author= |Co-author1= |Co-author2= |Co-author3= |Translator=Hillebrandus Cornelius Klinkert |Co-translator1= |Co-translator2= |Editor= |Co-editor1= |Co-editor2= |Illustrator= |Publisher= |Address= |Printer= |Year=1863 |Key= |ISBN= |Source=pdf |Image=3 |Progress=V |Pages=<pagelist 1="Sampul" 2="Daftar Isi" 3=1 /> |Volumes= |Remarks= |Notes= |Header= |Footer= }} [[Kategori:Alkitab]] [[Kategori:Bahasa Melayu]] b893jjuklkx4lm26r1b94m1vfcp5ord Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/42 104 91786 309418 296653 2026-08-04T06:55:06Z Aldiperkasa 25632 /* Tervalidasi */ 309418 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aldiperkasa" /></noinclude>Sekar Arum menangis dan berkata kepada dayang pengasuhnya, "Bibi ke mana lagi kita mencari suamiku? Aku sudah tidak kuat lagi." "Tuan Putri, sebaiknya kita beristirahat di sini," kata sang dayang sambil memapah Dewi Sekar Amm mencari tempat duduk. Baru saja mereka hendak duduk, tiba-tiba lewat Sunan Patok dan dua punakawannya yang akan menuju Besuki. Sunan Patok merasa iba melihat seorang putri dan dayangnya yang tampak keletihan. "Siapakah Tuan Putri? Mengapa berada di hutan ini? Apakah Tuan Putri tersesat?" "Saya sedang mencari suarni saya yang hilang. Apakah kiranya tuanku pemah melihatnya?" "Kebehilan saya bam sampai di tempat ini, kalau tidak keberatan saya akan membantu Tuan Putri mencarinya." "Terima kasih atas budi baik Tuan," jawab Dewi Sekar Arum. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sunan Patok pun mengambil setangkai daun yang ada di sampingnya. Daun itu dijadikannya seekor burung sebagai penunjuk jalan. Kemudian dikisahkan, kerajaan Besuki diperintah oleh Prabu Selomukti dengan pemainsuri bemama Dewi Sambi. Mereka dikanmiai seorang putra bemama Raden Jaya Taruna yang beristrikan Dewi Manjasari. Selain Raden Jaya Tanma, ada salah seorang keponakan Prabu Selomukti yang tidak lain adalah Raden Panji anak Pangeran Puger. Raden Panji adalah suami Dewi Sekar Arum. Ketika sedang melaksanakan persidangan dengan para patih dan putra-putranya, tibatiba datang Prabu Sabrang Wetan. "Kakanda, dalam persidangan ini, saya mohon izin untuk melaksanakan perayaan perkawinan keponakan saya, Jaya Taruna dengan Dewi Manjasari, karena pada waktu pernikahan mereka saya tidak bisa hadir. Saya ingin membuatkan pesta perayaan di kerajaan Sumber Waru izinkan saya mengajak mereka ke kerajaan Sumber Waru". "Oh, Paman. Kapan Paman datang? Terima kasih Paman akan membuatkan pesta untukku," kata Raden Jaya Taruna. Atas persetujuan para peserta sidang, Prabu Sabrang Wetan pun diizinkan mengajak Raden Jaya Tanma dan Dewi Manjasari ke kerajaan Sumber Waru. Dalam perjalanan menuju Sumber Waru, tiba-tiba Dewi Manjasari mengalami sakit perut karena hamil dan kehausan. Sumber Waru, tiba-tiba Mereka kesulitan mencari pertolongan karena berada di tengah hutan. "Raden Jaya Taruna sebaiknya engkau segera mencari air dan obat-obatan di sekitar hutan ini. Aku akan menjaga istrimu dari gangguan binatang buas." Tanpa rasa curiga pada pamanya, Raden Jaya Taruna pun segera pergi mencari air dan ramuan daun-daunan untuk menolong istrinya. Prabu Sabrang Wetan tersenyum penuh kemenangan karena akal liciknya berhasil mengecoh raden Jaya Taruna. Ia memanfaatkan kepergian Raden Jaya Taruna untuk merayu Dewi Manjasari, perempuan yang telah hadir dalam mimpinya. Meskipun dengan alasan memenuhi wangsit, Dewi Manjasari tetap menolak rayuan paman mertuanya itu. Saat Prabu Sabrang Wetan berusaha memerkosa Dewi Manjasari, tiba-tiba Raden Jaya Taruna datang. "Paman! Apa yang Paman lakukan pada istri saya?" "Oh ... oh ... tidak ... tidak ...istrimu tadi merasa kesakitan. Paman hendak menolongnya," jawab Prabu Sabrang Wetan tergagap.<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> swi2vq92sqt0okdw5usunpur42qzhja Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/96 104 104830 309419 296820 2026-08-04T06:55:55Z Aldiperkasa 25632 /* Tervalidasi */ 309419 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aldiperkasa" /></noinclude>"Maaf sahabatku, kalau boleh tahu berapa besar tudung dan batangmu?" tanya Muntreng hati-hati. "Oalah Muntreng, Muntreng. Namaku saja jamur Cempaki, jamur kayu yang hanya sebesar lidi, sedangkan tudungku hanya selebar kancing baju," jawab jamur Cempaki. "Aduh maaf kalau begitu, bukan kamu yang aku cari. Ibu tiriku minta jamur raksasa yang batangnya ''seglugu'' 'batang kelapa' dan tudungnya ''sepayung agung'' 'payung kebesaran para raja'," kata Muntreng menerangkan. "Kalau begitu berjalanlah ke arah timur laut. Di sana kamu akan menjumpai mega berarak. Di situlah jamur raksasa berada." "Terima kasih sahabatku jamur Cempaki." "Sama-sama Muntreng. Selamat jalan!" Munteng pun melanjutkan perjalanan sesuai arah yang ditunjukkan jamur Cempaki. Sambil berjalan, ia kembali bersenandung. ''Muntreng...Muntreng...Muntreng! ''Sayur jamur-sayur jamur ''Tudungnya sepayung agung ''Batangnya seglugu gemantung'' ''Kegemaran ibu tiri'''...!'' '' Muntreng meneruskan perjalanan memasuki hutan yang dikenal cukup angker. ''Jalma mara jalma mati sato mara sato mati'' 'artinya siapapun yang berani memasuki hutan larangan itu akan menemui ajal alias menjemput maut'. Muntreng kembali dikejutkan suara di pokok kayu kering. "Muntreng, Muntreng, akulah jamur yang kamu cari. Namaku Jamur Barat sangat disuka seluruh rakyat...." "Jamur Barat? Maaf kalau boleh tahu sebesar apa batangmu dan selebar apa tudungmu?" tanya Muntreng. "Batangku sejempol kaki dan tudungku selebar tatakan cangkir kopi," jamur Barat menerangkan. "Kalau begitu bukan kamu yang aku cari. Maaf ya sahabat Jamur Barat. Aku hanya mencari jamur raksasa." "Baiklah Muntreng, tidak apa-apa. Aku hanya kasihan melihatmu. Berangkatlah ke sarang jamur raksasa di bawah naungan mega berarak!" saran jamur Barat. "Terimakasih atas infonya jamur Barat." "Sama-sama Muntreng. Selamat jalan...!" Muntreng dan jamur Barat saling memberi hormat. Sebagai perintang waktu Muntreng terus bersenandung. Suaranya membangunkan celoteh merdu burung emprit dan sikatan yang hinggap di pucuk-pucuk pohon kemuning. Suaranya merdu menentramkan hati. Tepat menjelang senja Muntreng tiba di tempat yang ia cari. Tampak mega berarak membentuk bayangan tubuh raksasa. Muntreng agak ketakutan. Tiba-tiba muncul angin ribut meluluh-lantakkan pohon-pohon di sekitar Muntreng. "Ha...ha...ha...Muntreng jangan takut. Akulah jamur yang kamu cari. Jamur raksasa berbatang ''seglugu gemantung'', bertudung ''sepayung agung''. Jangan ragu tebaskan belatimu ke semak-semak di depanmu tiga kali. Kamu akan menemukanku!"<noinclude>{{rh|94}}</noinclude> evia0d8i4jxz08t7vjkcwqs6vljqxqf Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/19 104 104853 309417 296733 2026-08-04T06:54:20Z Aldiperkasa 25632 /* Tervalidasi */ 309417 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aldiperkasa" /></noinclude>dapat memberikan kenyamanan dan ketentraman batinnya, Ki Ronggo I akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Adipati Bondowoso. Pada suatu hari Mas Ngabehi Astrotruno mengadakan pertemuan dengan para abdi dan putra-putranya untuk membicarakan peralihan kekuasaan. "Ada apa Ayahanda memanggil kami?" tanya salah seorang putranya. "Wahai anak-anakku dan para patih sekalian, Kadipaten Bondowoso ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Untuk itu diperlukan seorang pemimpin muda yang mau bekerja keras dan bersemangat tinggi agar dapat mengikuti tuntutan zaman. Sudah waktunya Kadipaten Bondowoso dipimpin oleh pemimpin yang muda dan memiliki semangat untuk membangun kadipaten ini agar berkembang lebih baik lagi. Aku sudah tua dan sudah cukup lama memerintah kadipaten ini. Aku merasa sudah waktunya untuk mengundurkan diri." "Apakah tidak terlalu tergesa-gesa, Adipati? Rakyat masih setia pada Adipati, mengapa harus mengundurkan diri?" tanya seorang patihnya. "Justn1 karena rakyat sangat baik, maka aku harus memberikan yang terbaik untuk mereka. Yang terbaik untuk mereka adalah mendapat pemimpin muda yang mau bekerja keras dan bersemangat tinggi untuk menjawab tantangan zaman." "Apakah Kanjeng Adipati sudah tahu siapa orangnya?" "Itu adalah tugas kalian. Kalian yang hams menentukan siapa pemimpin yang terbaik untuk rakyat Bondowoso ini. Aku sudah memberikan kriterianya." Setelah pengunduran diri itu, para pemimpin di Kadipaten Bondowoso melakukan musyawarah untuk menentukan dan mengangkat pengganti Ki Ronggo I. Musyawarah akhimya menyepakati Djoko Sridin, yang pada waktu itu masih menjabat sebagai patih di Probolinggo dengan gelar M. Ng. Kertokusumo, menjadi Adipati Bondowoso dengan predikat Ki Ronggo II. Sementara itu, setelah mengundurkan diri, Ronggo I (Raden Mas Ngabehi Astrotruno atau Mas Ngabehi Kertonegoro atau Raden Bagus Assrah) giat menekuni bidang dakwah agama Islam. Kemudian, ia mengembangkan pengaruhnya sebagai pendakwah dengan bermukim di Kebundalem atau Tanggulkuripan (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Jember). Ki Ronggo I meninggal dunia dan dimakamkan di bukit Asta Tinggi di Desa Sekarputih, Bondowoso. {{rh|||13}}<noinclude></noinclude> 86fjv9ogseksz9axikxnhnjex3w63xy Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/16 104 104854 309416 296734 2026-08-04T06:53:46Z Aldiperkasa 25632 /* Tervalidasi */ 309416 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Aldiperkasa" /></noinclude>"Tidak mengapa Patih Alus. Terima kasih sudah memberi kepercayaan kepada putraku. Bagaimana dengan yang lain. Sekiranya ada usulan yang lebih baik, silakan Paman-paman Patih," kata Adipati Suroadikusumo san1bil memandang patilmya satu per satu. Kanjeng Adipati Suroadikusumo adalah orang yang sangat bijaksana. Meskipun anak angkatnya memang hebat, ia tidak serta merta memilihnya. Kesempatan diberikan kepada seluruh rakyatnya secara adil. la tidak akan mendahulukan keluarganya. Setelah ditunggu selama beberapa waktu ternyata tidak ada yang mengusulkan nama lain. Tampaknya semua yang hadir dapat menerima usulan Patih Alus. Oleh karena itu, musyawarah pun diakhiri dengan keputusan memberikan tugas kepada Raden Mas Astrotruno. "Baiklah Paman-paman Patih, saya akan segera memerintahkan Mas Astrotruno untuk menjalankan tugas ini." "Mohon maaf sekali lagi, Kanjeng Adipati. Bagaimana kalau sebelum melaksanakan tugasnya, Raden Mas dinikahkan dulu dengan putri Adipati Probolinggo. Pemikahan ini akan membantu Raden Mas dalam melaksanakan tugasnya." "Usul yang baik, Paman. Mengapa tidak terpikirkan olehku? Lagi pula putraku juga sudah kenail dengan putri Adipati Probolinggo, mudah-mudahan putraku tidak menolak." Sebagai anak, Raden Mas Astrotruno pun merasa terhormat diberi kepercayaan oleh ayahnya dan para pembantunya. Apalagi ia juga senang tantangan dan senang beketja keras. Tanpa berpikir panjang, ia menerima tugas itu dengan penuh tanggung jawab. Usul untuk menikahi putri Adipati Probolinggo pun diterima dengan baik karena Raden Mas Suroadikusumo sudah mengenal baik Roro Sadiyah, putri Adipati Probolinggo yang bernama Joyolelono. "Baiklah Ayahanda, demi kemakmuran rakyat Kadipaten Besuki, ananda akan melaksanakan semua perintah dan tugas ini sebaik-baiknya." Setelah dilakukan lamaran, perikahan pun segera dilangsungkan. Sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya, mertua Mas Astrotruno, yaitu Prabu Joyolelono menghadiahkannya seekor kerbau. "Anakku Astrotruno, sekarang kamu sudah menjadi menantu dan juga anakku, terimalah kerbau putih ini sebagai hadiah pernikahanmu. Kerbau ini yang akan menemanimu dalam perjalanan. Percayalah, walaupun dongkol (tanduknya melengkung ke bawah), ia dapat dijadikan teman petjalanan dan penuntun untuk menemukan daerah-daerah yang subur." Karena warnanya putih mulus, kerbau itu diberi nama Melati. Mas Astrotruno pun menerima hadiah itu dengan sangat gembira. la merasakan perhatian, kepercayaan, dan dukungan tidak hanya dari ayah angkatnya, tetapi juga dari ayah mertuanya. "Terima kasih. Dengan senang hati, ananda menerima hadiah ini, dan ananda mohon doa restu Ayah agar dapat melaksanakan tugas ini dengan lancar. Selain bertujuan mengembangkan wilayah, ananda juga ingin kelak penduduk daerah itu menjadi penganut Islam yang baik." Keesokan harinya, Mas Astrotruno melaksanakan tugasnya dengan dibantu empat orang punakawan, yaitu Puspo Driyo, Jatireto, Wirotruno, dan Jiwo Truno. Dengan berbekal peralatan seadanya, mereka melanjutkan perjalanan ke arah selatan, menerobos pegunungan sekitar Arak-arak, yang kemudian hari sering disebut Jalan Nyi Melas. Kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan ke arah timur sampai di Dusun Wringin dengan melewati gerbang yang disebut Lawang Seketeng. Sepanjang perjalanan, Mas Astrotruno melalui beberapa desa atau dusun, yaitu Wringin, Kupang, Poler, dan Mandiro. Mas Astrotruno selalu {{rh|10}}<noinclude></noinclude> soj465uw4ulqy3h1iwy28iyiuzdt9be Mustikarasa/Lodeh Nangka Muda 0 108455 309403 307832 2026-08-04T03:32:11Z Lemonwithices 26124 309403 wikitext text/x-wiki {{header | title = [[../]] | author = | translator = | section = Lodeh Nangka Muda | previous = [[Mustikarasa/Lodeh Kol|Lodeh Kol]] | next = [[Mustikarasa/Lodeh Plontjo|Lodeh Plontjo]] | notes = }} <pages index="Mustikarasa.pdf" from=272 fromsection="lodehnangkamuda" to=273 tosection="lodehnangkamuda"/> kon72p5fknslv5n5rq0iomvl37e747g Halaman:Boekoe tjerita Sam Kok (Jilid ke 41-48).pdf/84 104 111031 309401 309128 2026-08-04T03:22:45Z Ammachemist 27288 /* Telah diuji baca */ 309401 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||— 3380 —}}</noinclude>lima angkat Kwan Peng mendjadi Hoe Tjiang, Ma Liang dan le Tjek mendjadi Tjham Bouw aken brangkat ka medan prang bersama-sama ia poenja barisan besar. Pada waktoe Hoei Sie berpamitan hendak brangkat poelang, Kwan Kong ada titaken Ouw Pan, anaknja Ouw Hoa, jang doeloe soeda perna toeloeng ia poenja djiwa dan jang soeda sakean lama berdiam di kota Keng Tjioe toeroet pada itoe oetoesan pergi ka kota Sé Tjhoan boeat trima djabatan dari Han, Tiong Ong. Salama Ouw Pan ada di kota Keng Tjioe, Kwan Kong senantiasa berlakoe manis padanja, sebab ini panglima tiada bisa loepaken itoe pertoeloengan jang doeloe doeloe ia telah oendjoek. Tempo Hoei Sie dan Ouw Pan soeda berlaloe begitoe djoega sasoeda sembajangken ia poenja bendera prang, dari sebab ngantoek kerna sema. Jem ia tiada dapet tidoer sama sekali, Kwan Kong laloe berbaring di dalem tenda. N. B. Dalem boekoe SAM KOк djilid ''ka'ampat poeloe doea'' nanti ditjeritaken, begimana Bang Tek jang dikoerniaken djabatan Sian Hong bawa peti-mait ka medan prang boeat bertempoer mati-matian pada Kwan Kong. Bang Tek berboeat demikian dari sebab bermoela ia tiada begitoedipertjaja boeat pangkoe itoe djabatan. Tapi kamoedian ia ditangkep oleh Tjioe Tjhong di aer bandjir dan diboenoe oleh Kwang Kong, jang moelai dari itoe wak toe namanja djadi lebi termashoer dari jang soeda soeda.<noinclude>{{rh|||''(Ada Samboengannja.)''}}</noinclude> hvb6q1sqvt29ofal9n6jrn35wozoi9p Pembicaraan:Mustikarasa/Lodeh Nangka Muda 1 111113 309402 2026-08-04T03:29:16Z Mbee-wiki 5975 /* Header */ bagian baru 309402 wikitext text/x-wiki == Header == Halo @[[Pengguna:Lemonwithices|Lemonwithices]], terima kasih sudah berkontribusi di WS ID :) Terdapat kesalahan kecil pada header baris <code>previous=</code> semestinya diisi dengan <code>Mustikarasa/Lodeh Kol</code> alih-alih <code>Mustikarasa/Lodeh Nangka Muda</code> yang sebetulnya judul halaman ini. Terima kasih :) [[Pengguna:Mbee-wiki|Mbee-wiki]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mbee-wiki|bicara]]) 4 Agustus 2026 03.29 (UTC) id91v2o1xhrqfr5dfptjj11hwnfy5gh 309404 309402 2026-08-04T03:33:12Z Lemonwithices 26124 /* Header */ Balas 309404 wikitext text/x-wiki == Header == Halo @[[Pengguna:Lemonwithices|Lemonwithices]], terima kasih sudah berkontribusi di WS ID :) Terdapat kesalahan kecil pada header baris <code>previous=</code> semestinya diisi dengan <code>Mustikarasa/Lodeh Kol</code> alih-alih <code>Mustikarasa/Lodeh Nangka Muda</code> yang sebetulnya judul halaman ini. Terima kasih :) [[Pengguna:Mbee-wiki|Mbee-wiki]] ([[Pembicaraan Pengguna:Mbee-wiki|bicara]]) 4 Agustus 2026 03.29 (UTC) :halo @[[Pengguna:Mbee-wiki|Mbee-wiki]] baik terimakasih koreksiannya, sudah diperbaiki [[Pengguna:Lemonwithices|Lemonwithices]] ([[Pembicaraan Pengguna:Lemonwithices|bicara]]) 4 Agustus 2026 03.33 (UTC) ffavxxj94msa0duk8b4krgimcepyvwv Halaman:Boekoe tjerita Sam Kok (Jilid ke 41-48).pdf/7 104 111114 309405 2026-08-04T04:22:01Z Ammachemist 27288 /* Telah diuji baca */ 309405 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||— 3303 —}}</noinclude>Pada itoe ponggawa prang Tio In menanja dengen swara angker:,,Di manatah adanja balatentara Sé Siok?" „O, marika itoe soeda dibasmi hingga moesna sama sekali!" menjaoet Tjiauw Peng. Itoe penjaoetan telah membikin Tio In djadi sanget moerka, hingga sigra djoega ia menerdjang dan menikem pada Tjiauw Peng, jang lantas terdjoengkel dari atas sela serta linjap njawanja. Kamoedian Tio In oendoerken balatentara moesoe jang ada di itoe tempat dan teroes menerdjang sampe di kaki boekit Pak San, dimana ia liat Thio Kap dan Tjhie Long lagi keroeboetin pada Hong Tiong jang terkepoeng di sama tenga, sedeng balatentaranja ini panglima toea poen soeda bánjak jang lela lantaran bebrapa djem lamanja dikoeroeng oleh moesoe. Sambil menggerang seperti matjan, Tio In lantas menjerang masoek ka dalem itoe barisan, dimana sabentar ia menerdjang ka kiri, sabentar menoebroek ka kanan serta terpoeter-poeter membasmi moesoe. Di mana djoega Tio In toedjoeken koedanja, tida ada orang jang brani pegat ia poenja djalan, hingga boleh dioepamaken seperti djoega di itoe tempat tida ada manoesianja. ia poenja sabatang toembak jang naek-toeroen dan menjamber ka sana-sini ada saoepama toeroennja saldjoe jang kapoekoel angin, hingga ampir orang tiada bisa liat ia poenja badan<noinclude></noinclude> 7z7hmh4tro7eiygm3x1af5i35yk95r8 Halaman:Boekoe tjerita Sam Kok (Jilid ke 41-48).pdf/8 104 111115 309406 2026-08-04T04:25:44Z Ammachemist 27288 /* Telah diuji baca */ 309406 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||— 3304 —}}</noinclude>Thio Kap dan Tjhie Long djoega tiada brani tangkis datengnja Tio In, kerna baroe sadja meliat begimana ini panglima poeter toembaknja, lantas djoega iaorang poenja njali djadi mengkerat. Lantaran tiada dapet banjak tjegahan, sigra djoega Tio In soeda bisa adjak Hong Tiong kaloear dari itoe kepoengan jang berlapis-lapis, tapi sambil lari kaloear tiada loepoet iaorang moesti singkirken djoega moesoe jang mengandang di tenga djalan. Tjo Tjho, jang itoe waktoe ada berdiam di soeatoe tempat tinggi, satelah dapet liat itoe panglima jang menjerang masoek ka dalem itoe barisan di mana Hong Tiong ada terkepoeng serta tida ada satoe orang jang brani pegat perdjalanannja, dengen terkedjoet lantas ia menanja pada bebrapa ponggawa prang jang ada di dampingnja: „Apa kau orang kenal siapa itoe jang menjerang ka dalem itoe barisan ?" „Itoe orang, jalah Siang San Tio Tjoe Liong," menjaoet sala satoe antara itoe ponggawa jang ditanja dan jang kenal pada itoe panglima. „Soenggoe itoe panglima ada gaga sekali!" kata poela Tjo Tjho:,,Begimana doeloe di Tong Jang Tiang Pan ia telah oendjoek, njatalah sampe sekarang kagagahannja masi blon beroba." Sedeng boeat djaga soepaja tiada banjak ponggawa jang nanti djadi binasa dalem tangannja itoe panglima, Tjo Tjho lantas kaloearken tita boeat<noinclude></noinclude> j5g59kirp0fjdz48gj04ajtunvjb39s Halaman:Boekoe tjerita Sam Kok (Jilid ke 41-48).pdf/9 104 111116 309407 2026-08-04T04:33:11Z Ammachemist 27288 /* Telah diuji baca */ 309407 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||— 3305 —}}</noinclude>bri taoe pada sekalian panglima prang, djangan bertempoer sembarangan pada Tio In, baek di mana djoega iaorang ketemoe pada ini panglima. Itoelah ada soeatoe djalan jang lebi baek lagi boeat Tio In, kerna dengen tiada oesa goenaken banjak tenaga, ia dan Hong Tiong soeda bisa kaloear dari itoe kepoengan. Kendatipoen begitoe, tapi Tio In tiada bisa sigra poelang ka pasanggrahannja, sebab baroe ia kaloear dari itoe barisan, lantas ada bebrapa soldadoe jang berkata padanja sambil menoendjoek ka soeatoe fihak:„Di sitoe, di djoeroesan Salatan Timoer, ada berkoempoel barisan moesoe, sedeng orang jang terkepoeng dalem itoe barisan, tentoelah djoega ada kita-orang poenja Hoe Tjiangkoen, Thio Tie." Inilah jang mendjadi sebab, maka Tio In lantas madjoe ka itoe djoeroesan boeat toeloeng itoe ponggawa. Boeat lepasken Thio Tie dari itoe kepoengan poen, Tio In tiada oesa kaloear banjak tenaga; sebab apabila moesoe dapet liat ia poenja bendera, dimana ada terloekis ampat hoeroef „Siang San Tio In," bertamba poela marika itoe soeda kenal kagagahannja tempo prang di Tong Jang Tiang Pan, sigra djoega jang satce sampeken itoe hal pada jang laen, hingga zonder berprang lagi moesoe lantas oendoerken diri. Dengen begitoe, Thio Tie jang dikepoeng moesoe lantas bisa kaloear dari pager sendjata.<noinclude></noinclude> sv39a4hb0wok1w83vn5ujal6n5ad2h9 Halaman:Boekoe tjerita Sam Kok (Jilid ke 41-48).pdf/10 104 111117 309408 2026-08-04T04:37:53Z Ammachemist 27288 /* Telah diuji baca */ 309408 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||— 3306 —}}</noinclude>Tapi itoe perkara soeda membikin Tjo Tjho djadi sanget moerka, kamoerkaän mana soeda terbit, dari sebab ia liat, baek di mana djoega Tio In menerdjang atawa menoedjoe, salaloe ia tiada dapet lawanan. Betoel baroesan ia sendiri telah kaloearken tita boeat melarang sekalian panglima prang bertempoer pada Tio In dengen sembarangan, tapi sekarang, lantaran meliat sasoedanja menoeloeng Hong Tiong kaloear dari kepoengan, kombali itoe panglima soeda lepasken pada Thio Tie, hingga saolah-olah ia poenja panglima sama sekali tiada bergoena, maka ia djadi sanget moerka dan kaloe bisa, di itoe saät djoega ia kapingin binasaken djiwanja Tio In. Dari sebab begitoe djoega. maka dengen sigra itoe dorna sendiri lantas madjoeken sekalian ponggawa prang boeat mengedjer pada Tio In, jang itoe waktoe soeda ampir sampe di pasanggrahannja. Sasampenja di ini benteng. Tio In disamboet. oleh Thio Tie, jang satelah dapet liat di soeatoe tempat jang djaoe djoega ada aboe mengeboel, lantaran mana ia dapet taoe moesoe dateng mengedjer, lantas berkata pada itoe panglima: Tjiangkoen, moesoe jang mengedjer soeda semingkin deket, maka baek Tjiangkoen lantas prenta balatentara toetoep pintoe benteng serta naek di loteng boeat perlindoengken ini pasanggrahan dari panjerangan moesoe."<noinclude></noinclude> 69thgzybwsmn9uglm3f9m9weru7kx4g Halaman:Boekoe tjerita Sam Kok (Jilid ke 41-48).pdf/11 104 111118 309409 2026-08-04T04:40:53Z Ammachemist 27288 /* Telah diuji baca */ 309409 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||— 3307 —}}</noinclude>„Tida!" menjataken Tio In: Pintoe benteng djangan ditoetoep. Apatah kau tiada taoe, tempo prang di Tiang Pan Kio akoe pandang Tjo Tjho poenja dlapan poeloe tiga laksa balatentara seperti roempoet jang tiada bergoena, sedeng itoe koetika akoe melaenken toenggang saekor koeda bersama sabatang toembak di tangan? Apalagi sekarang, salaennja balatentara, akoe poen ada poenja ponggawa prang. lantaran begitoe, perloe apatah akoe moesti takoet lagi pada moesoe?" Saäbisnja berkata demikian, Tio In lantas atoer balatentara jang bersendjata pana semboeni di tepi soeloeran aer di loear benteng, sedeng segala bendera dan alat sendjata jang ada di dalem itoe pasanggrahan semoea dibikin ringkes serta dilarang soldadoe boenjiken tetaboean prang, soepaja djadi sepi kaliatannja. Kamoedian dengen menoenggang koeda dan sabatang toembak di tangan Thio In berdiri di depan benteng boeat toenggoe datengnja moesoe. Tiada antara lama Thio Kap dan Tjhie Long jang mengedjer pada Tio In paling doeloe telah sampe di depan itoe pasanggrahan, tapi sebab itoe waktoe soeda menggrip, bertamba poela iaorang liat segala bendera dalem itoe pasanggrahan dibikin ringkes serta sepi sekali, kerna sama sekali tiada diboenjiken tetaboean prang, lebi lagi lantaran marika liat Tio In jang menoenggang koeda<noinclude></noinclude> sxifz73l53rejid9cpnn19y45f4kd0d Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/24 104 111119 309410 2026-08-04T05:02:22Z Aldiperkasa 25632 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Meskipun demikian, pengejaran terhadap sisa-sisa pasukan Arya Gledek tidak berhenti. Ki Patih Kertonegoro memerintahkan pasukannya untuk terus mengejar. "Kita harus menghabisi sisa-sisa pasukan Ki Arya Gledek supaya kelak tidak ada pemberontakan lagi." Tiba-tiba di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Patih Puger yang berpura-pura menyerah itu. Patih Puger menghaturkan sembah kepada Ki Patih Kertonegoro. "Maafkan atas keteledoran hamba s... 309410 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Aldiperkasa" /></noinclude>Meskipun demikian, pengejaran terhadap sisa-sisa pasukan Arya Gledek tidak berhenti. Ki Patih Kertonegoro memerintahkan pasukannya untuk terus mengejar. "Kita harus menghabisi sisa-sisa pasukan Ki Arya Gledek supaya kelak tidak ada pemberontakan lagi." Tiba-tiba di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Patih Puger yang berpura-pura menyerah itu. Patih Puger menghaturkan sembah kepada Ki Patih Kertonegoro. "Maafkan atas keteledoran hamba sehingga Puger sampai jatuh ke tangan pemberontak." "Ki Patih Puger, terimalah hadiah dariku ...," kata Ki Patih Kertonegoro sambil menghunuskan pedang Tunggul Wulung buatan Ki Bawean. Melihat kemarahan Ki Patih Kertonegoro, Ki Patih Puger dengan cepat berlutut sambil menyembah dan mohon ampun serta mengutarakan alasan yang sebenarnya dirinya menyerah kepada Arya Gledek. Mendengar alasan yang diutarakan Patih Puger, kemarahan Ki Patih Kertonegoro sedikit-demi sedikit reda dan Ki Patih Puger pun dimaafkan. Akhirnya Ki Patih Puger dan pasukan Ki Patih Kertonegoro melanjutkan pengejaran terhadapemberontak dengan menyisir wilayah Puger untuk membebaskan mereka yang ditawan dan membawa pasukan pemberontak yang menyerah ke Bondowoso agar dapat diadili. Mereka akan diserahkan ke Residen Besuki untuk menjalani pengadilan lebih lanjut. Pemberontak yang melawan diputuskan dibuang ke Banjarmasin. Setelah sisa-sisa pasukan pemberontak Arya Gledek berhasil ditumpas, rakyat dikumpulkan di alun-alun Bondowoso. Dengan disaksikan rakyat Bondowoso, kepala Arya Gledek dan Abdulrrasid ditanam di tengah alun-alun dengan upacara resmi. Ki Ronggo memberikan sambutan. "Wahai rakyatku sekalian, hari ini kita telah berhasil menumpas para pemberontak yang akan mengacaukan Kadipaten Bondowoso. Kita telah menang melawan orang-orang yang akan memaksakan kehendaknya. Ini adalah pengalaman dan pelajaran berharga untuk kita semua. Barang siapa mengancam, berkata sombong, berbuat melanggar perintah agama, dan hendak mengganggu serta menggulingkan pemerintahan Bondowoso yang sah, maka ia akan bernasib sama seperti Arya Gledak dan Abdurrasid." Semenjak kemenangan itu, kehidupan masyarakat Bondowoso aman dan sejahtera karena tidak ada lagi yang berani melakukan pemberontakan. Wilayah Puger pun dilepaskan menjadi Kademangan di bawah kekuasaan Ronggo Kertonegoro Bondowoso.<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> 8mxz7o6nx1bgh8ejpnkahv0bu3y7zra 309411 309410 2026-08-04T05:02:56Z Aldiperkasa 25632 /* Telah diuji baca */ 309411 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aldiperkasa" /></noinclude>Meskipun demikian, pengejaran terhadap sisa-sisa pasukan Arya Gledek tidak berhenti. Ki Patih Kertonegoro memerintahkan pasukannya untuk terus mengejar. "Kita harus menghabisi sisa-sisa pasukan Ki Arya Gledek supaya kelak tidak ada pemberontakan lagi." Tiba-tiba di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Patih Puger yang berpura-pura menyerah itu. Patih Puger menghaturkan sembah kepada Ki Patih Kertonegoro. "Maafkan atas keteledoran hamba sehingga Puger sampai jatuh ke tangan pemberontak." "Ki Patih Puger, terimalah hadiah dariku ...," kata Ki Patih Kertonegoro sambil menghunuskan pedang Tunggul Wulung buatan Ki Bawean. Melihat kemarahan Ki Patih Kertonegoro, Ki Patih Puger dengan cepat berlutut sambil menyembah dan mohon ampun serta mengutarakan alasan yang sebenarnya dirinya menyerah kepada Arya Gledek. Mendengar alasan yang diutarakan Patih Puger, kemarahan Ki Patih Kertonegoro sedikit-demi sedikit reda dan Ki Patih Puger pun dimaafkan. Akhirnya Ki Patih Puger dan pasukan Ki Patih Kertonegoro melanjutkan pengejaran terhadapemberontak dengan menyisir wilayah Puger untuk membebaskan mereka yang ditawan dan membawa pasukan pemberontak yang menyerah ke Bondowoso agar dapat diadili. Mereka akan diserahkan ke Residen Besuki untuk menjalani pengadilan lebih lanjut. Pemberontak yang melawan diputuskan dibuang ke Banjarmasin. Setelah sisa-sisa pasukan pemberontak Arya Gledek berhasil ditumpas, rakyat dikumpulkan di alun-alun Bondowoso. Dengan disaksikan rakyat Bondowoso, kepala Arya Gledek dan Abdulrrasid ditanam di tengah alun-alun dengan upacara resmi. Ki Ronggo memberikan sambutan. "Wahai rakyatku sekalian, hari ini kita telah berhasil menumpas para pemberontak yang akan mengacaukan Kadipaten Bondowoso. Kita telah menang melawan orang-orang yang akan memaksakan kehendaknya. Ini adalah pengalaman dan pelajaran berharga untuk kita semua. Barang siapa mengancam, berkata sombong, berbuat melanggar perintah agama, dan hendak mengganggu serta menggulingkan pemerintahan Bondowoso yang sah, maka ia akan bernasib sama seperti Arya Gledak dan Abdurrasid." Semenjak kemenangan itu, kehidupan masyarakat Bondowoso aman dan sejahtera karena tidak ada lagi yang berani melakukan pemberontakan. Wilayah Puger pun dilepaskan menjadi Kademangan di bawah kekuasaan Ronggo Kertonegoro Bondowoso.<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> 7a3mcfd0mdqmzeo18peel9idv2rgqcn Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/26 104 111120 309412 2026-08-04T05:30:56Z Aldiperkasa 25632 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Kekalahan di pihak Adipati Puger pun tidak membuat mereka jera. Setelah sembuh dari lukanya, Adipati Puger kembali menyerang pasukan Kadipaten Kotablater dengan membawa pasukan berlipat ganda. Serangan Adipati Puger membuat pasukan Kotablater yang dipimpin oleh Aryo Blater kewalahan karena jumlah pasukannya kalah banyak. Pasukan Kotablater tercerai berai melarikan diri, termasuk Aryo Blater. Dengan sembunyi-sembunyi, Aryo Blater menyusup ke des... 309412 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Aldiperkasa" /></noinclude>Kekalahan di pihak Adipati Puger pun tidak membuat mereka jera. Setelah sembuh dari lukanya, Adipati Puger kembali menyerang pasukan Kadipaten Kotablater dengan membawa pasukan berlipat ganda. Serangan Adipati Puger membuat pasukan Kotablater yang dipimpin oleh Aryo Blater kewalahan karena jumlah pasukannya kalah banyak. Pasukan Kotablater tercerai berai melarikan diri, termasuk Aryo Blater. Dengan sembunyi-sembunyi, Aryo Blater menyusup ke desa-desa agar tidak diketahui oleh Adipati Puger dan pasukannya. Setelah berjalan berhari-hari, sampailah ia di sebuah desa benama Desa Sumberrejo. Desa itu masih termasuk wilayah Kadipaten Kotablater meskipun jauh dari ibukota kadipaten. Karena berada di pedalaman, bukan jalur yang dilalui oleh prajurit Puger, desa itu relatif masih aman. Rumah-rumah masih berdiri tegak, hanya suasananya yang terlihat sepi. Mungkin mereka mendengar ada pembakaran dan perusakan yang dilakukan oleh prajurit Puger sehingga mereka memilih bersembunyi di dalam rumah. Rumah-rumah jadi tampak tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa ekor ayam mematuk-matuk tanah di jalanan. Sambil menahan dahaga, Aryo Blater berjalan mengelilingi desa berharap menemukan warga yang dapat dimintai tolong. Akan tetapi, desa itu benar-benar seperti desa mati, rumah-rumah tertutup rapat pintu dan jendelanya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena sudah tidak sanggup menahan dahaganya, Aryo Blater pun menyelinap masuk ke rumah salah seorang penduduk. "''Kulanuwun''...permisi...apa di dalam ada orang?" Aryo Blater melongok-longok ke dalam rumah, terlihat sangat sepi. Ia pun mengulangi salamnya sambil terus masuk. "''Kulanuwun''...permisi..." Tiba-tiba muncul seorang lelaki setengah baya dari dalam sebuah bilik. Tatapan matanya penuh curiga dan rasa tidak senang. "Siapakah engkau berani masuk rumah orang?"tanya penduduk tersebut. "Maafkan aku, Paman. Aku sudah keliling desa ini, tapi tak ada satu pun orang di luar." "Mereka ketakutan karena ada peperangan. Engkau siapa?" "Aku Aryo Blater, putra Adipati Kotablater," kata Aryo Blater berharap penduduk itu akan membantunya karena ia merupakan anak penguasa wilayah itu. "Aku minta bantuanmu, Paman. Aku haus, aku minta seteguk air," kata Arya Blater sambil menahan dahaga. "Aku tidak punya air, pergilah dari sini. Aku takut kepada Gusti Adipati Puger dan anak buahnya. Kalau engkau masih di sini, aku dan keluargaku akan dibunuhnya." "Apakah pasukan Puger sudah sampai kemari. Bukankah desa ini masih wilayah Kadipaten Kotablater?" "Tapi Kadipaten Kotablater sudah kalah, sekarang kami ikut Kadipaten Puger. Kami dilarang membantu siapa pun yang berasal dari Kadipaten Kotablater. Kami tidak mau mati sia-sia. Pergilah." "Baiklah, Paman. Saya tidak ingin menyusahkan Paman." Aryo Blater pun pindah ke rumah yang ada di sebelahnya berharap mendapat pertolongan. Di sini, ia juga mendapat jawaban yang hampir sama. Dari pintu ke pintu, Aryo Blater meminta bantuan sambil berharap masih ada yang menghargainya sebagai putra Adipati Kotablater, tetapi tampaknya warga lebih takut pada prajurit Puger. Tidak ada seorang pun penduduk Desa Sumberrejo yang berani memberinya makanan dan minuman.<noinclude>{{rh|20}}</noinclude> iqv8amd8mm05vw8qsayspodcailb1bh 309413 309412 2026-08-04T05:34:20Z Aldiperkasa 25632 /* Telah diuji baca */ 309413 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aldiperkasa" /></noinclude>Kekalahan di pihak Adipati Puger pun tidak membuat mereka jera. Setelah sembuh dari lukanya, Adipati Puger kembali menyerang pasukan Kadipaten Kotablater dengan membawa pasukan berlipat ganda. Serangan Adipati Puger membuat pasukan Kotablater yang dipimpin oleh Aryo Blater kewalahan karena jumlah pasukannya kalah banyak. Pasukan Kotablater tercerai berai melarikan diri, termasuk Aryo Blater. Dengan sembunyi-sembunyi, Aryo Blater menyusup ke desa-desa agar tidak diketahui oleh Adipati Puger dan pasukannya. Setelah berjalan berhari-hari, sampailah ia di sebuah desa benama Desa Sumberrejo. Desa itu masih termasuk wilayah Kadipaten Kotablater meskipun jauh dari ibukota kadipaten. Karena berada di pedalaman, bukan jalur yang dilalui oleh prajurit Puger, desa itu relatif masih aman. Rumah-rumah masih berdiri tegak, hanya suasananya yang terlihat sepi. Mungkin mereka mendengar ada pembakaran dan perusakan yang dilakukan oleh prajurit Puger sehingga mereka memilih bersembunyi di dalam rumah. Rumah-rumah jadi tampak tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa ekor ayam mematuk-matuk tanah di jalanan. Sambil menahan dahaga, Aryo Blater berjalan mengelilingi desa berharap menemukan warga yang dapat dimintai tolong. Akan tetapi, desa itu benar-benar seperti desa mati, rumah-rumah tertutup rapat pintu dan jendelanya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena sudah tidak sanggup menahan dahaganya, Aryo Blater pun menyelinap masuk ke rumah salah seorang penduduk. "''Kulanuwun''...permisi...apa di dalam ada orang?" Aryo Blater melongok-longok ke dalam rumah, terlihat sangat sepi. Ia pun mengulangi salamnya sambil terus masuk. "''Kulanuwun''...permisi..." Tiba-tiba muncul seorang lelaki setengah baya dari dalam sebuah bilik. Tatapan matanya penuh curiga dan rasa tidak senang. "Siapakah engkau berani masuk rumah orang?"tanya penduduk tersebut. "Maafkan aku, Paman. Aku sudah keliling desa ini, tapi tak ada satu pun orang di luar." "Mereka ketakutan karena ada peperangan. Engkau siapa?" "Aku Aryo Blater, putra Adipati Kotablater," kata Aryo Blater berharap penduduk itu akan membantunya karena ia merupakan anak penguasa wilayah itu. "Aku minta bantuanmu, Paman. Aku haus, aku minta seteguk air," kata Arya Blater sambil menahan dahaga. "Aku tidak punya air, pergilah dari sini. Aku takut kepada Gusti Adipati Puger dan anak buahnya. Kalau engkau masih di sini, aku dan keluargaku akan dibunuhnya." "Apakah pasukan Puger sudah sampai kemari. Bukankah desa ini masih wilayah Kadipaten Kotablater?" "Tapi Kadipaten Kotablater sudah kalah, sekarang kami ikut Kadipaten Puger. Kami dilarang membantu siapa pun yang berasal dari Kadipaten Kotablater. Kami tidak mau mati sia-sia. Pergilah." "Baiklah, Paman. Saya tidak ingin menyusahkan Paman." Aryo Blater pun pindah ke rumah yang ada di sebelahnya berharap mendapat pertolongan. Di sini, ia juga mendapat jawaban yang hampir sama. Dari pintu ke pintu, Aryo Blater meminta bantuan sambil berharap masih ada yang menghargainya sebagai putra Adipati Kotablater, tetapi tampaknya warga lebih takut pada prajurit Puger. Tidak ada seorang pun penduduk Desa Sumberrejo yang berani memberinya makanan dan minuman.<noinclude>{{rh|20}}</noinclude> 0ykv3qb8p5q6mneo7nhtac0ispx7123 Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/27 104 111121 309414 2026-08-04T05:50:30Z Aldiperkasa 25632 /* Telah diuji baca */ 309414 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aldiperkasa" /></noinclude>"Raden, sudahlah, kita tinggalkan desa ini saja," kata seorang pembantunya memberi saran. "Tapi apakah Paman tidak haus? Kita sudah berjalan berhari-hari tanpa makan dan minum yang cukup. Kasihan para prajurit." "Benar Raden, tapi mereka tidak mungkin mau membantu kita. Sia-sia saja kita berlama-lama di sini. Jangan-jangan nanti malah mereka melaporkan keberadaan kita ke prajurit Puger." "Ah, Paman benar. Mari kita keluar dari desa ini." Dengan perasaan sedih, Aryo Blater meninggalkan Desa Sumberrejo. Ia dan para prajuritnya yang tersisa tiba di pinggir desa tersebut. Sambi! beristirahat dan berteduh, ia duduk di bawah pohon asam. Matahari semakin terik dan rasa haus di kerongkongannya semakin tidak tertahankan, begitu pula pengikutnya. Mereka berusaha untuk tetap semangat demi membela wilayahnya. Apalagi mereka yakin bahwa tidak lama lagi pasukan Majapahit akan datang untuk membantu. Majapahit tidak akan mau kehilangan gudang beras yang ada di Kadipaten Puger kalau sampai kadipaten itu memisahkan diri. Pikiran Aryo Blater semakin terbang melayang kian kemari. Tiba-tiba ia teringat kepada adiknya, Purbasari. "Bagaimana nasib Purbasari? Kasihan dia. Semoga ia selamat," gumam Aryo Blater. Tiba-tiba ia bangkit dengan geramnya. "Kurang ajar. Kurang ajar!" teriaknya geram sambil mengepalkan tangan membuat para pembantu dan prajuritnya terbangun. "Ada apa, Raden?" tanya seorang pembantunya. "Penduduk Desa Sumberrejo, Paman. Ternyata pengikut Adipati Puger, mereka bermuka dua." "Hamba juga tidak mengira kalau mereka telah menjadi pengikut Adipati Puger Gusti. Desa ini sebelumnya cukup setia pada Kanjeng Adipati. Mereka tidak pernah terlambat membayar upeti," kata salah seorang pengiring Aryo Blater. "Itulah yang menjadi pikiranku Paman," jawab Aryo Blater. "Mereka seperti air di daun talas, tidak punya pendirian. Kemana angin bertiup, ke sanalah ia condong." Aryo Blater berjalan mondar-mandir gelisah seakan-akan memikirkan sesuatu. Matanya diarahkan ke wilayah sekitar seperti mencari-cari sesuatu. Tidak lama kemudian wajahnya tampak gembira. "Ah... ah....Aku melihat sumur, Paman," dengan riangnya Aryo Blater berteriak kepada pengawalnya, "mari kita ke sana Paman." "Sumur? Di mana Raden? Paman tidak melihatnya." "Itu...itu...di dekat rumah paling ujung." "Itu hanya gerumbul semak, Raden. Kalau ada sumur tentu semak-semaknya tidak akan setinggi itu. Raden istirahat saja supaya tidak semakin haus." "Tidak, Paman. Aku yakin kalau itu sumur. Biar kucoba melihatnya. Biar Paman tunggu di sini saja." Dugaannya benar. Ia segera berteriak memanggil para prajuritnya. Setibanya di sumur tersebut, mereka kebingungan karena tidak ada timbanya. "Ternyata dugaan Raden benar. Kita tidak akan kehausan lagi," kata pembantunya. "Tapi, Raden, bagaimana kita mengambil airnya, sedang di sini tidak ada timba," kata seorang prajurit. "Iya, bagaimana ya?"<noinclude>{{rh|||21}}</noinclude> sdb75ib68a89s7f6m7ljwjc2x3icjde Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/9 104 111122 309415 2026-08-04T06:15:18Z Aldiperkasa 25632 /* Telah diuji baca */ 309415 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Aldiperkasa" /></noinclude>Sang istri merasa tugas itu hanyalah akal-akalan Raja Silahadikrama untuk menyingkirkan suaminya karena ia berkali-kali menolak rayuan dan godaan Sang Raja. "Kanda, tugas itu terlalu berat. Alas Purwo terkenal sangat wingit. Tidak ada orang yang dapat keluar hidup-hidup dari Alas Purwo. Sebaiknya Kanda jangan pergi," kata Sri Tanjung berusaha mencegah kepergian suaminya. "Dinda, ini tugas kerajaan. Sudah kewajiban Kakanda sebagai patih menjalankan perintah Paduka demi kemakmuran rakyat Blambangan," tukas Patih Sidapeksa berusaha menenteramkan hati istrinya. "Tapi, Kanda. Mengapa Kanda harus pergi seorang diri? Tiadakah prajurit yang mengawal? Aku khawatir terjadi sesuatu pada Kanda. Ingat Kanda, aku sedang hamil." "Tidak usah khawatir, Dinda. Kanda akan menjaga diri dan pulang dengan selamat. Dinda juga harus menjaga diri dan menjaga bayi kita baik-baik. Sebelum empat puluh hari Kanda pasti sudah kembali." "Tapi...," kata Sri Tanjung dengan wajah cemas. "Ini tugas kerajaan untuk kepentingan rakyat, Dinda." "Baiklah, Kanda. Tapi...Kanda harus hati-hati dan selalu waspada. Aku akan menunggu Kanda." Patih Sidapeksa meninggalkan rumah diiringi tatapan sedih dan perasaan khawatir istrinya. Ia ingin memberi tahu perlakuan Raja Silahadikrama kepadanya, tetapi takut membuat suaminya khawatir. Di samping itu, suaminya juga sangat setia pada kerajaan Blambangan dan Raja Silahadikrama sehingga tidak mungkin memercayai perkataannya. Seteiah suaminya pergi, Sri Tanjung merasa sangat takut karena Raja Silahadikrama pasti akan merayunya Iagi. Kekhawatiran dan ketakutan Sri Tanjung akhirnya terbukti. Beberapa saat setelah Patih Sidapeksa pergi, diam-diam Raja Silahadikrama datang ke rumahnya. Berbagai cara dilakukan untuk merayu Sri Tanjung agar mau diperistri, tetapi selalu ditolak. Selama Patih Sidapeksa pergi, Raja Silahadikrama selalu berusaha membujuk dan merayu Sri Tanjung, namun tetap tidak berhasil. Raja Silahadikrama sangat kesal dan kecewa pada keteguhan dan kesetiaan istri patihnya itu. Kekesalan itu bertambah manakala Patih Sidapeksa kembali ke istana dengan selamat sambil membawa emas ''sak gelung'' dan ''gumbala telung plengkung''. Raja tidak menyangka bahwa Patih Sidapeksa dapat melaksanakan tugas tipuan itu dengan baik. Di tengah rasa kesal dan kecewa akibat keberhasilan patihnya, tiba-tiba Raja Silahadikrama menemukan aka! Iicik untuk membalas sakit hati dan dendamnya kepada istri patih. Ia akan memanfaatkan kesetiaan dan kepercayaan Patih Sidapeksa terhadap kerajaan Blambangan untuk menyingkirkan Sri Tanjung. Maka, dibuatlah cerita fitnah terhadapnya. "Patih, kau telah berhasil membawa tuah keberkahan untuk kerajaan Blambangan. Jasamu sangat besar untuk rakyat negeri ini. Mereka pasti akan sangat berterima kasih padamu," puji Raja Silahadikrama beberapa saat setelah Patih Sidapeksa menghadap dan menyerahkan emas ''sak gelung'' dan ''gumbala telung plengkung''. "Semua ini berkat kepercayaan Paduka kepada hamba." "Kau memang patihku yang setia. Aku senang mendengamya." "Hamba juga senangjika Paduka merasa senang." "Ya, aku sangat senang. Senang sekali, Patihku yang setia," kata Raja Silahadikrama berpura-pura gembira.<noinclude>{{rh|2}}</noinclude> kwbdmamobs8ptvgcv5hzg3cv11c5dqq Halaman:Lima Jagoan vol.22.pdf/24 104 111123 309420 2026-08-04T08:06:25Z On Risanti 23075 /* Telah diuji baca */ 309420 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="On Risanti" /></noinclude>menyerahkan surat pernyataan penaklukan, dan barang2 upeti.<br> M nerima laporan itu Sun siu benar2 merasa sangat heran dan curiga.<br> ― Baru saja Kim cee lewat, kenapa negeri See liauw mengirimkan utusan pula untuk menyusul ?Kalau hendak menyerahkan surat pernyataan menakluk dan mengirimkan barang2 upeti, mengapa tidak dibawakan kepada Thio ciangkun ? Hmm dalam hal ini pasti ada apa2nya. Peribahasa bilang, ada udang dibalik batu ....<br> Baiklah aku menerimanya dan mengadakan pemeriksaan dengan teliti, berpikir Sun siu. Para pembaca yg budiman, semenjak kota Sam koau di jaga oleh Sun siu, keadaannya jauh berbeda dengan mesa di pegang oleh jenderal Yo cong poo almarhum atau jenderal Tek ceng.<br> Setelah Sun siu memegang kota itu, keadaannya jadi kacau dan jauh merosot.<br> Perjudian merajalela, pelacuran. kejahatan, pemerasan, pungli pangnat ( mumpung enak ) <br> Pokoknya kota Sam koan berubah menjadi kota yg tak aman, selalu mengebul kemelut kekalutan dan kekacauan.<br> Akan tetapi Sub siu sama sekali tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki dan memajukan kotanya.<noinclude>{{rh|21}}</noinclude> fw8n7bkvxxywfb3ymxouke9lc67yvhw Halaman:Lima Jagoan vol.22.pdf/27 104 111124 309421 2026-08-04T08:11:32Z On Risanti 23075 /* Telah diuji baca */ 309421 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="On Risanti" /></noinclude>rimkan kau sebagai KIM CEE (UTUSAN KAI SAR)? — Siauw ciang berpangkat Tay ciang (Jenderal) dan nama siauw ciang adalah Tut liong gie. Mendengar perutusan itu berpangkat jenderal Sun-siu memonyongtan mulutnya dan mementangkan matanya lebar lebar. Ia mengawasi Tut liong gie dari ujung rambut sampai ketapak kaki dan dari tapak kaki kembali mêranyap naik sampai keujung rambut. Tingkab, sikap dan gayanya yg tengik itu tentu saja membuat perasaan Tut liong gie amat mendongkol dan sakit hati.<br> Dalam hati Tut liong gie berpikir., . Hmmm Sun siu, Sun siu manusia licin yg berpotongan kepala seperti tikus celurut. Apabila kelak usaha kami berhasil, Bang kok siang berhasil melenyapkan jiwa Tek ceng, maka negeri kami akan mengirimkan angkatan perangnya untuk menaklukkan Tay song Tiauw. Kota pertama yg akan kami serbu adal h Sam köan dan manusia telur busuk yg pertama tama hendak kami rejam adalah cecungurmu ! — Kau adalah Tay clang dari negeri See liauw? Hmmm,.. dan apa maksudmu datang kenegeri kami ?<noinclude>{{rh|27}}</noinclude> kqbwi3au7miu9fsb2rjlv07zoqijo25 309422 309421 2026-08-04T08:15:14Z On Risanti 23075 309422 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="On Risanti" /></noinclude>rimkan kau sebagai KIM CEE (UTUSAN KAI SAR)? — Siauw ciang berpangkat Tay ciang (Jenderal) dan nama siauw ciang adalah Tut liong gie. Mendengar perutusan itu berpangkat jenderal Sun-siu memonyongtan mulutnya dan mementangkan matanya lebar lebar. Ia mengawasi Tut liong gie dari ujung rambut sampai ketapak kaki dan dari tapak kaki kembali mêranyap naik sampai keujung rambut. Tingkab, sikap dan gayanya yg tengik itu tentu saja membuat perasaan Tut liong gie amat mendongkol dan sakit hati.<br> Dalam hati Tut liong gie berpikir., . Hmmm Sun siu, Sun siu manusia licin yg berpotongan kepala seperti tikus celurut. Apabila kelak usaha kami berhasil, Bang kok siang berhasil melenyapkan jiwa Tek ceng, maka negeri kami akan mengirimkan angkatan perangnya untuk menaklukkan Tay song Tiauw. Kota pertama yg akan kami serbu adal h Sam köan dan manusia telur busuk yg pertama tama hendak kami rejam adalah cecungurmu ! — Kau adalah Tay clang dari negeri See liauw? Hmmm,.. dan apa maksudmu datang kenegeri kami ?<noinclude>{{right|27}}</noinclude> nd4i7eb71oflcxw4abn6y1hzyq4v6eg 309423 309422 2026-08-04T08:17:25Z On Risanti 23075 309423 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="On Risanti" /></noinclude>rimkan kau sebagai KIM CEE (UTUSAN KAI SAR)? — Siauw ciang berpangkat Tay ciang (Jenderal) dan nama siauw ciang adalah Tut liong gie. Mendengar perutusan itu berpangkat jenderal Sun-siu memonyongkan mulutnya dan mementangkan matanya lebar lebar. Ia mengawasi Tut liong gie dari ujung rambut sampai ketapak kaki dan dari tapak kaki kembali mêranyap naik sampai keujung rambut. Tingkah, sikap dan gayanya yg tengik itu tentu saja membuat perasaan Tut liong gie amat mendongkol dan sakit hati.<br> Dalam hati Tut liong gie berpikir., . Hmmm Sun siu, Sun siu manusia licin yg berpotongan kepala seperti tikus celurut. Apabila kelak usaha kami berhasil, Bang kok siang berhasil melenyapkan jiwa Tek ceng, maka negeri kami akan mengirimkan angkatan perangnya untuk menaklukkan Tay song Tiauw. Kota pertama yg akan kami serbu adal h Sam köan dan manusia telur busuk yg pertama tama hendak kami rejam adalah cecungurmu ! — Kau adalah Tay clang dari negeri See liauw? Hmmm,.. dan apa maksudmu datang kenegeri kami ?<noinclude>{{right|27}}</noinclude> ourlav83mps9xyh4uwh9eo27h1raouh Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/12 104 111125 309424 2026-08-04T09:42:37Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309424 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 1242-<br> 1244. haga, haṟap <br> 1245. ingka'<br> 1246. kěbo'<br> 1251. kenna<br> 1253-<br> 1255. pělo', pětjoh<br> 1259. kelpa'<br> 1260/<br> 1261. moeak<br> 1262/<br> 1263. peṟadoean, oentjoe'ni<br> 1264. karoe', iko'<br> 1265/<br> 1266. <37><br> 1267. soelih, oelih-oelih<br> 1268. timbal<br> 1269. ngoelih-oelih<br> 1270. masoeṟo'<br> 1271. boehoeng, beboehoengan<br> 1272. boehoeng<br> 1276/<br> 1277. soeah, katoetoengan<br> 1278. ngekoṟ, ngali<br> 1284. ṟatong<br> 1286. mit, mi'<br> 1291. <38><br> 1292. bàkàsoemat<br> 1293. sai<br> 1294. ṟoewa<br> 1295. telloe<br> 1296. pa'<br> 1297. lima<br> 1298. nam<br> 1299. pitoe<br> 1300. waloe<br> 1301. siwa<br> 1302. poeloeh<br> 1303. seblas<br> 1304. ṟoewa belas<br> 1305. telloe belas<br> 1310. waloe belas<br> 1311. siwa belas<br> 1312. roeampoeloeh {{multicol-break}} 1313. salikor<br> 1315. salawi<br> 1316. teloengampoeloeh<br> 1317. pa' ngampoeloeh<br> 1318. lima ngampoeloeh<br> 1319. nam ngampoeloeh<br> 1323. seṟatoes<br> 1324. saṟiboe<br> 1325. poeloeh ṟiboe<br> 1326. těngah<br> 1327. sapaṟapat<br> 1328. pinsan<br> 1329. mandoea<br> 1330/<br> 1331. sai moea<br> 1332/<br> 1333. kaṟoea<br> 1336/<br> 1337. peṟadoeanni, pěngeko'anni<br> 1338. piṟa<br> 1339. goemah, lamon<br> 1340. tjoeti'<br> 1341. oengga'<br> 1347/<br> 1348. lijoe, lebih<br> 1349. koeṟang<br> 1350. soenjinnie<br> 1356. sai gawoh<br> 1357. sikindoewa<br> 1358. <39><br> 1359. nikoe<br> 1362. koeti, ketti<br> 1363. ija, ia<br> 1365. něṟam<br> 1366. sěkam<br> 1364/<br> 1367/<br> 1368. tian<br> 1369/<br> 1370. nja' koe<br> 1373/<br> 1374. <40><br> 1375/<br> 1376. <41><br> 1378. ba' ni<br> 1379. sapa {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> ox45wlz2nj9djngvpnknnzqx6kyvh49 309425 309424 2026-08-04T09:44:51Z Thersetya2021 15831 309425 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 1242-<br> 1244. haga, haṟap <br> 1245. ingka'<br> 1246. kěbo'<br> 1251. kenna<br> 1253-<br> 1255. pělo', pětjoh<br> 1259. kelpa'<br> 1260/<br> 1261. moeak<br> 1262/<br> 1263. peṟadoean, oentjoe'ni<br> 1264. karoe', iko'<br> 1265/<br> 1266. <37><br> 1267. soelih, oelih-oelih<br> 1268. timbal<br> 1269. ngoelih-oelih<br> 1270. masoeṟo'<br> 1271. boehoeng, beboehoengan<br> 1272. boehoeng<br> 1276/<br> 1277. soeah, katoetoengan<br> 1278. ngekoṟ, ngali<br> 1284. ṟatong<br> 1286. mit, mi'<br> 1291. <38><br> 1292. bàkàsoemat<br> 1293. sai<br> 1294. ṟoewa<br> 1295. telloe<br> 1296. pa'<br> 1297. lima<br> 1298. nam<br> 1299. pitoe<br> 1300. waloe<br> 1301. siwa<br> 1302. poeloeh<br> 1303. seblas<br> 1304. ṟoewa belas<br> 1305. telloe belas<br> 1310. waloe belas<br> 1311. siwa belas<br> 1312. roeampoeloeh {{multicol-break}} 1313. salikoṟ<br> 1315. salawi<br> 1316. teloengampoeloeh<br> 1317. pa' ngampoeloeh<br> 1318. lima ngampoeloeh<br> 1319. nam ngampoeloeh<br> 1323. seṟatoes<br> 1324. saṟiboe<br> 1325. poeloeh ṟiboe<br> 1326. těngah<br> 1327. sapaṟapat<br> 1328. pinsan<br> 1329. mandoea<br> 1330/<br> 1331. sai moea<br> 1332/<br> 1333. kaṟoea<br> 1336/<br> 1337. peṟadoeanni, pěngeko'anni<br> 1338. piṟa<br> 1339. goemah, lamon<br> 1340. tjoeti'<br> 1341. oengga'<br> 1347/<br> 1348. lijoe, lebih<br> 1349. koeṟang<br> 1350. soenjinnie<br> 1356. sai gawoh<br> 1357. sikindoewa<br> 1358. <39><br> 1359. nikoe<br> 1362. koeti, ketti<br> 1363. ija, ia<br> 1365. něṟam<br> 1366. sěkam<br> 1364/<br> 1367/<br> 1368. tian<br> 1369/<br> 1370. nja' koe<br> 1373/<br> 1374. <40><br> 1375/<br> 1376. <41><br> 1378. ba' ni<br> 1379. sapa {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> kjr1bvn6s7wpei58xt7or6dooiju8ps Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/7 104 111126 309426 2026-08-04T10:38:01Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309426 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 622. paloeroe<br> 623. nimba'<br> 624. oemban tali<br> 626. pĕṟang<br> 627. moesoeh<br> 628. maṟiam<br> 629. ngating boewo', njagia’ bawak<br> 630. sakitji' badamai<br> 631. benteng<br> 634. kalah<br> 635. měnang<br> 636. tabanan<br> 637. kakajoenan<br> 639. oepěti<br> 640. tjoeki<br> 642. badja'<br> 643. mata badja'<br> 644. sike'<br> 645. toegal<br> 648. soegoe, ketam<br> 649. sabit<br> 650. sabit<br> 651. getas<br> 652. patjoel<br> 653. kěbon<br> 654/<br> 655. daṟa'<br> 656. penoempon, pěmělang<br> 657. lampai<br> 659. koeta<br> 660. tetanaman<br> 662/<br> 663. ngeṟap<br> 664. moelan<br> 665. nanam<br> 668. měsa'<br> 669. matah<br> 671/<br> 672. <20><br> 674. djagoeng<br> 677. ṟeta', gĕtas<br> 679. lepang<br> 681. těmbakoe {{multicol-break}} 682. měmis<br> 683. <21><br> 684. djangkoel<br> 685. tau<br> 686. oebi mantok<br> 688. katila<br> 689. talos<br> 690. tjabi<br> 691. batang kalapa<br> 692. boeah kalapa<br> 695. batang hanau<br> 696. lontarbooin<br> 697/<br> 698. měmis<br> 700. siṟoep<br> 701. goela<br> 702. nipah<br> 703. ṟoentan<br> 704. sagoe<br> 705. ṟamba'<br> 706. kapoek<br> 707. ladangan pandan<br> 708. kapĕlam<br> 709. malasa<br> 710. hahoejam, ramboetan<br> 711. doeṟian<br> 712. djamboe<br> 713. lansa'<br> 716. poenti<br> 717. gajau<br> 720. limau<br> 721. limau toch, limau toṟ<br> 722. limau těloei<br> 723. koffi, kahwa<br> 724. taloem<br> 725. segoe ni taloem<br> 726. seplot, gamber<br> 727. mangkoedoe<br> 728. hapoei, kapoṟ<br> 729. koendjeṟ<br> 731. hoewi<br> 732. pĕring, boeloeh<br> 733. boeng {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> 4njx5m7d552hbwa1wwhzjeau1irj8r0 Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/8 104 111127 309427 2026-08-04T10:44:33Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309427 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 734. batang <br> 737. tjaka'<br> 739/<br> 740. pampang<br> 741. tias<br> 742-<br> 744. <22><br> 746. boeloeng<br> 748. bawa'<br> 750. nos<br> 752. boeah, oeṟai<br> 753. tjambai<br> 754. damaṟ<br> 755. damaṟ<br> 757. toenas<br> 758. koembang<br> 759. boeah<br> 761. ngoeba'<br> 763. kamoeṟa<br> 764. lěmoet<br> 765. sanganggoṟ, sanga toendoen<br> 766. minja'<br> 770. djoekoe'<br> 771. djoekoe', djoekoe'an<br> 772. lijoh<br> 773. těbioe<br> 774. binatang<br> 775. tjemoendi<br> 778. goendang<br> 779. tjoekoet<br> 780. tanggai<br> 781. tanggai<br> 786. kěpi'<br> 787. boeloe<br> 789. salai<br> 790. těloei<br> 794. <23><br> 797. ngahěrong<br> 799. kambing<br> 800-<br> 802. kěbaú<br> 803. djawi běbai<br> 804. djawi bakas {{multicol-break}} 805. be'<br> 806. ngioeng<br> 807. koeda<br> 808. mangènge'<br> 809. kantjil<br> 811. katji, asoe<br> 812. ngabesok, ngangĕgoek<br> 813. koetjing<br> 814. mangijau<br> 815. alimaoeng<br> 816. maherong<br> 817. gemoel<br> 818. choejan, ṟoejan<br> 822. waski<br> 823. casuaris<br> 824. <24><br> 825. kěka'<br> 827. alibambang<br> 828. manoek bēbai<br> 830. manoe 'bakas<br> 831. manoe 'pati'<br> 834. papagaai<br> 835. serindi'<br> 836. lajang-lajang<br> 840. djoenggoe'<br> 843. kěnoei<br> 844. boeroeng<br> 845. lalanggaṟ toepai<br> 846. <25><br> 847. kahebang<br> 849. kidjang<br> 850. kantjil<br> 851. moendoe<br> 852. tikoes, moendoe<br> 853. antoelĕgoe, talgoe<br> 854. benalat keṟa, tjigoek tjětjah<br> 861. ṟatjit ṟatjit<br> 864. pai, djoewang<br> 865. <26><br> 866. koetoe, toema<br> 869. lěsa<br> 870. tělema {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> k0lkl4gqwdtmr59j9egn9lgq0nl7mq5 Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/9 104 111128 309428 2026-08-04T10:50:58Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309428 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 871. lawah<br> 872. lalaṟ<br> 877. agas<br> 878. halibambang<br> 879. kiman<br> 881. sĕndalai<br> 884. <27><br> 886. oelai <28><br> 888. haloepan, njělai<br> 891. gělong, bědi’<br> 892. oeṟang, ṟěboen<br> 893. gaṟa'<br> 894. <29><br> 896. <30><br> 898. <31><br> 899. aloe, badjoe ṟambing<br> 900. boeha<br> 901/<br> 902. <32><br> 903. alam<br> 905. langit<br> 906. mataṟani<br> 907. hadangau mataṟani<br> 908. boelan<br> 910. <33><br> 911. hadangan boelan<br> 912. <34><br> 917. boemi<br> 919. laboeng<br> 920. imboen<br> 921. pěpětong<br> 923. ṟoenih<br> 924. gĕṟo' <br> 925. toe' ni(goentoeh) goentoṟ<br> 927. koekoe'<br> 928. angin<br> 929. angin kědo'<br> 930. wai<br> 931. lawO'<br> 932. wai soeṟoet<br> 934. wai tangkada'<br> 935. aloen, galoembang {{multicol-break}} 936. hoemba'<br> 937. likoe' těloe'<br> 938. hami<br> 939. hahělo'<br> 940. gaboewa<br> 941. karang<br> 942. daratan<br> 943. negeri<br> 944. poelau<br> 945. galah tanoh<br> 946. tjoekoeh<br> 947. pematang<br> 948. pematang<br> 950. ṟegah<br> 951. dantaṟ<br> 952. ṟoelah<br> 955. poelan<br> 957. poelan ngoeṟa<br> 958. goenoeng baapoei<br> 959. ṟanglaja, babatan<br> 960. lita'<br> 961. kastalapa'<br> 962. langau<br> 963. batang aṟi<br> 964. djeṟambah<br> 965. moengga'<br> 966. mědoh<br> 967. oeloe wai<br> 968. wai bara', wai balak<br> 969. batoe<br> 970. tanoh<br> 971. henni<br> 973. běsi<br> 974. lantjoeng<br> 975. těmbaga<br> 976. sělaka<br> 977. ĕmas<br> 978. timah kerang<br> 979. timah boejoe<br> 980. bĕrilang<br> 981. toekang běsi<br> 982. ṟang batepa {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> kjmst4wq9xd2qp8vg3m39pxea0ady5z Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/10 104 111129 309429 2026-08-04T10:56:00Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309429 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 984. haṟang<br> 985. pamaloe<br> 986. ṟandasan, landasan<br> 987. angkoe'<br> 988. baja²<br> 989. haṟing<br> 991. pangěni<br> 992. mewarahkon<br> 993. mepebeti'<br> 994. njani kitjian<br> 995. saudagar<br> 996. djalma padaṟa'<br> 999. pengiṟing<br> 1000. djalma noeloeng<br> 1001. kědai<br> 1002. pekan, pasar<br> 1003. badagang<br> 1004. dagangan<br> 1005. sĕro'<br> 1007. ṟěgani<br> 1008. laba<br> 1009. ṟoegi<br> 1010. beli<br> 1011. kahoed<br> 1012. moerah<br> 1013. oetang<br> 1014. nagih<br> 1015. bajaṟ<br> 1016. djoeal<br> 1017/<br> 1018. ngindjam, selang<br> 1019. toekoṟ<br> 1020. tawaṟ<br> 1021. njanggal<br> 1022. tawaṟ<br> 1025. timbangan<br> 1026-<br> 1028. <35><br> 1029. kapal dagang<br> 1030. kapal perang<br> 1031. kapal aso'<br> 1032. sěkoetji<br> 1035. tihang {{multicol-break}} 1037. lajaṟ<br> 1038. kàmoedi<br> 1040. pangajoeh, dajoeng<br> 1041/<br> 1042. njoedoe<br> 1043. bàdajoeng<br> 1049. sawoh, sipoe<br> 1050. ṟaki'<br> 1051. laboehan<br> 1052. kasat, sangkat<br> 1053. badjau<br> 1058. djalma pànjamoen<br> 1060. těboes<br> 1061. balak<br> 1062. loeni'<br> 1063/<br> 1064. kědjoeng, tangih<br> 1065/<br> 1066. boenta'<br> 1067/<br> 1068. gěno' kědol<br> 1070. nipis<br> 1071. ṟiki'<br> 1072-<br> 1074. gĕmoe'<br> 1075. langkai<br> 1076. maṟěbah<br> 1079. marino'<br> 1080/<br> 1081. ṟial, kelaṟ<br> 1082. liam<br> 1083/<br> 1084. chilanĭ, ṟělam<br> 1085/<br> 1086. kěkah<br> 1087. langgaṟ ṟanggal<br> 1088. chenoh, ṟěbah<br> 1089. loeṟoes<br> 1090. boengkoe', bengkong<br> 1096. woewah, hampang<br> 1097. gintjing<br> 1098. tadjam<br> 1101. tiha<br> 1102. kekoe', loeja' {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> hucjqojo9mhgclpkfk6tw6z41ye7sk3 Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/11 104 111130 309430 2026-08-04T11:02:24Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309430 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 1104/<br> 1105. panas<br> 1106/<br> 1107. ngison<br> 1109/<br> 1110. boentoṟ, boelat<br> 1112. pa'pasagi<br> 1113. beṟa'<br> 1115. choepi', roepi'<br> 1116. lapang<br> 1117. koeat<br> 1118. lěmoh<br> 1119. bani<br> 1121. malas<br> 1125. lango'<br> 1127. gěboek basoh<br> 1130. beti'<br> 1132-<br> 1135. hělau, beti'<br> 1136-<br> 1139. boeṟa', djal<br> 1142. bangkang<br> 1143. latap<br> 1146/<br> 1147. mělěko', tìkaroe'<br> 1148/<br> 1149. gaṟoèlang, loenggar<br> 1150. toeha<br> 1152. ngoeṟa<br> 1153. moewak, ampai<br> 1154. medjeṟih, naraka<br> 1155. sělamat<br> 1156. pajoh<br> 1159. boegoe<br> 1160. tjerdi', nalam<br> 1161. mettoṟ<br> 1162. pĕros<br> 1163. pahi'<br> 1164. kělot<br> 1166. masin<br> 1167. handa'<br> 1168. halam<br> 1169. soeloeh<br> 1170. soeloeh toeha, soeloeh kàhalaman {{multicol-break}} 1171. koendjeṟ<br> 1172. běloe<br> 1173. hoedjau<br> 1174. njěpo'<br> 1175. hahaloean<br> 1176. konni, djoe'<br> 1179. akoe'<br> 1180. kitai<br> 1193. pandai<br> 1194. pikiṟ<br> 1195. pandai<br> 1196. ingo'<br> 1197. ma’-te'-ingo'<br> 1198. moengkiṟ<br> 1199. ngakoe<br> 1200. mĕṟano<br> 1201. beroetjoet<br> 1202. tjawa-tjawa<br> 1203. bělagoe<br> 1206. oeṟau<br> 1208. dapo'<br> 1210. goewai<br> 1211. noenggang<br> 1212. tjoentjoen<br> 1213. tjintjing koehtai<br> 1214. selimpang<br> 1215. sĕṟdang<br> 1216. tjating, kating<br> 1220. njoehoen<br> 1221. taban<br> 1222-<br> 1224. mindja, toenggoe<br> 1225. njěnap, maseṟ<br> 1227. dengi<br> 1228. ngalija'<br> 1229. <36><br> 1233. ngahiroes<br> 1234. ngimboeskon iroeng<br> 1236/<br> 1237. sijoem, aro'<br> 1238. màkahoet<br> 1239. měnjowoh<br> 1240. seseṟa {{multicol-end}}<noinclude></noinclude> ckqxu4tnlhmqq64uryzuu174oresphy Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/16 104 111131 309431 2026-08-04T11:02:55Z Thersetya2021 15831 /* Tanpa teks */ 309431 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Thersetya2021" /></noinclude><noinclude></noinclude> 30jx1lygruprj5alacv96idkwiji99b Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/13 104 111132 309432 2026-08-04T11:10:48Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309432 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 1380. api<br> 1382. sai sepa<br> 1383. indji<br> 1385/<br> 1386. sěno, ano<br> 1388. <42><br> 1389. idja<br> 1394. kabijan<br> 1398. damaṟ palita<br> 1402. nambi<br> 1406. moesim, tahoen<br> 1407. moesim, tahoen<br> 1408. tàno<br> 1409. kanah, nanti<br> 1411. sekědji<br> 1412/<br> 1413. hadapan, měna<br> 1416. ampai kaṟoe<br> 1418. nambi<br> 1419. kaṟoewa<br> 1420. ṟani indji<br> 1422. djěmoh pagi<br> 1423. ka' sawai<br> 1426. tanno kapanija<br> 1427. kapan<br> 1428. ṟadoe<br> 1429. ma' koeng<br> 1431. oetaṟa<br> 1432. selatan<br> 1433. timoṟ<br> 1434. baṟat<br> 1435. kiṟi<br> 1436. kanan<br> 1437. di atas<br> 1439. dja' atas<br> {{multicol-break}} 1440. di bah<br> 1441. dja' bah<br> 1442/<br> 1443. dja'- sampai<br> 1445. pědok<br> 1446. dja'<br><br> 1447. sampai<b<br>r> 1448. di<br> 1449. kapada, pada 1450. dellam<br> 1451. loeaṟ<br> 1452. pědok<br> 1453. djawoh, andau<br> 1454. ganaloengan<br> 1460. dipa<br> 1461. cheppapi', repa pi'<br> 1462. indjoe' ṟědi, indjoe' ṟĕdji<br> 1465. api ngěba<br> 1466. tanno, jàdo<br> 1467. halo'<br> 1469. ri'<br> 1470. djama<br> 1471. mawat<br> 1472. těmon, ja<br> 1474. lain, ain<br> 1475. dang<br> 1476. selamat, beti'<br> 1477. ma' baṟeh<br> 1478. pědok, tjikan<br> 1479. kidang<br> 1481. kidang<br> 1482. djoega<br> 1486. ma' dědo' {{multicol-end}} '''No. 78''' # <li value="1522"> kapan dara' indji tipandoekon (titoegalkon)<br> # pari koedo sai haga titoegalkon di dja<br> # ki' rěno̠ goemahni ma' nja' haga ngembajaṟ<br> # koekěni tembakoe gawoh pembajaṟni<br> # djoealkondo baṟang sěno djama sěkam<noinclude></noinclude> c1vi00pcakceb4aiijfyxyhrfawaw02 309433 309432 2026-08-04T11:11:42Z Thersetya2021 15831 309433 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}} 1380. api<br> 1382. sai sepa<br> 1383. indji<br> 1385/<br> 1386. sěno, ano<br> 1388. <42><br> 1389. idja<br> 1394. kabijan<br> 1398. damaṟ palita<br> 1402. nambi<br> 1406. moesim, tahoen<br> 1407. moesim, tahoen<br> 1408. tàno<br> 1409. kanah, nanti<br> 1411. sekědji<br> 1412/<br> 1413. hadapan, měna<br> 1416. ampai kaṟoe<br> 1418. nambi<br> 1419. kaṟoewa<br> 1420. ṟani indji<br> 1422. djěmoh pagi<br> 1423. ka' sawai<br> 1426. tanno kapanija<br> 1427. kapan<br> 1428. ṟadoe<br> 1429. ma' koeng<br> 1431. oetaṟa<br> 1432. selatan<br> 1433. timoṟ<br> 1434. baṟat<br> 1435. kiṟi<br> 1436. kanan<br> 1437. di atas<br> 1439. dja' atas<br> {{multicol-break}} 1440. di bah<br> 1441. dja' bah<br> 1442/<br> 1443. dja'- sampai<br> 1445. pědok<br> 1446. dja'<br> 1447. sampai<br> 1448. di<br> 1449. kapada, pada<br> 1450. dellam<br> 1451. loeaṟ<br> 1452. pědok<br> 1453. djawoh, andau<br> 1454. ganaloengan<br> 1460. dipa<br> 1461. cheppapi', repa pi'<br> 1462. indjoe' ṟědi, indjoe' ṟĕdji<br> 1465. api ngěba<br> 1466. tanno, jàdo<br> 1467. halo'<br> 1469. ri'<br> 1470. djama<br> 1471. mawat<br> 1472. těmon, ja<br> 1474. lain, ain<br> 1475. dang<br> 1476. selamat, beti'<br> 1477. ma' baṟeh<br> 1478. pědok, tjikan<br> 1479. kidang<br> 1481. kidang<br> 1482. djoega<br> 1486. ma' dědo' {{multicol-end}} '''No. 78''' # <li value="1522"> kapan dara' indji tipandoekon (titoegalkon)<br> # pari koedo sai haga titoegalkon di dja<br> # ki' rěno̠ goemahni ma' nja' haga ngembajaṟ<br> # koekěni tembakoe gawoh pembajaṟni<br> # djoealkondo baṟang sěno djama sěkam<noinclude></noinclude> 4qfhfui6snpjhfwcct8mpaxd0p8fzjs Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/14 104 111133 309434 2026-08-04T11:18:27Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309434 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="1527">di beli tian kamĕno dja' sěkam<br> # sapa sai di tětopkon oelih ni sabatin, sai djadi kajoen-kajoenan ni<br> # piṟa mok ni djalma sai di peṟintah sai batin<br> # wai sindji ma' sapo' tě lajaṟi<br> # piṟa sakani bělajaṟ maṟi sampai di lawa'<br> # do`èdi mawat dědo' djambatan, rěpa pikoe njabĕṟang<br> # oenggal ṟani ṟamkoeṟoe' poèlan njěpo' boeah-boeahan<br> # nja' koe haga njěpo' oelamni koedakoe<br> # ṟadoe piṟa ṟani mawat laboeng<br> # hal sěkam sai ṟadoe di tjawakon tian ma' těmon<br> # ṟang laja indji ngalimpang sepa titoetoek ṟam<br> # sapa sai dapo' ngoesoeng pěti sindji<br> # akoe' kon wai haga měpoh bekaṟa koe<br> # kiloekon pai manoe' djama ia ṟoewa ngamboelat, halo' di kěnnini<br> # sapa sai mawat dapo' noetoeknja' koe tinggaldo didja<br> # koe tinggalkon ṟoewa bakas didja<br> # kati ṟadoeni sai batin mati maṟi peṟang<br> # sapado sai měnang dělam pĕṟang sěno<br> # oelihni apido ngĕbani tian indji bahaban<br> # wat sai djalma sai dapo' ngoebati nikoe '''3. NOTES''' # haban - djal - kěpapan<br> # bapa' djama ina tiṟi<br> # djalma sanga negeṟi<br> # hantoe boengkoes, hantoe tinggi, hantoe poentianak<br> # toehan jang maha besar<br>toehan jang koeasa<br> (àlla taäla)<br>toehan sai koeasa<br> # lampis boemi di bah<br> # lampis boemi di atas<br> # bagoena, tanggam, tanggom<br> # ṟang sai kětjah<br> # ṟadja sai batin<br> # djalma bapi' sani<br> # rebana, geĕṟĕntjeng, teṟbangan<br> # djan mata noenggal<br> # ngahoeṟi' apoei njěboe<br> # sěboe do damaṟ<noinclude></noinclude> 38kuvmopuaxvuht1dl4krh8umi6ac7h Halaman:078 Lampong, Krui.djvu/15 104 111134 309435 2026-08-04T11:27:26Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309435 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="16">image<br> # sasak, tjandoeng, landap<br> # sap, soemboe', bakoel<br>bakoel {{gap}}{{gap}} sap<br> # belida, koeṟoen, soewal, kalendong, pematang<br> # moesim badaṟa', amboe', boeah-boeahan<br> # katjang tanah ṟeta' goeṟing<br> # baka' lanang, baka' baka' raboe<br> # baboei, chebah, ṟěbah<br> # poenai, banjah teṟgam, beṟkoe' poenai badjoe<br> # tigal, lalawai, saloewang<br> # pěloer, lindoeng, seṟoeling<br> # sěṟam halam, seṟam kětanam, seṟam tjělatong, sěram langgan, sĕṟam goela, seṟam saki', ligoh, hani # oelai wai, oelai sawa, oelai lang, oelai poenti, oelai tedoeng, loehoe', tedoeng aloe, tedoeng koembang # gěling, lamis, kĕṟang<br> # kanintja', pěṟa', kankoeng<br> # kitja', koeke', gĕga'<br> # baning, pěnjoe, katoeng, oetik, kira<br> # almahram, mahram, sapar, muloet, rabioel achir, djamadil awal, djamadil achir, rědjab, roewah, poeasa - ramoelan, sawal, zoelkaidah, hadji<br> # bintang soedjoemami, bintang timoeṟ, tepoeṟoe, bintang baboei, bintang tahoen<br> # oekoṟan ṟis' timbangan<br>kepas, panjeloer, hasta, rěkang, tangkap djari, koela', tjoepa', koepoe', pikoel kati tail<br> # sijoem, aro', imbau<br> # sěgo', boehkon, djěmoetkon<br> # balat, bětoe, tětoe, tětoe'<br> # nja' (tanggalan) nanggalan<br> # sěkam, perkam, pasaroempo'<br> # tian sai keba', ba' ni tian<br> # soeddi, oedi, oedo<noinclude></noinclude> nm3lbhjnxqxabil5k1939x9vrqvf8oe Halaman:Lima Jagoan vol.23.pdf/5 104 111135 309436 2026-08-04T11:31:00Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309436 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>:::::::''Kupersembahkan !'' <poem> ''Untuk ayah dan ibu yang kuhormati'' ''Istriku Lilik Kirana Dewi yang kucintal'' ''Puteri pertamaku Cendrayani'' ''Putera keduaku Onny Dahana'' ''dan teman2 Korps Kesenian Genta Budaya'' </poem> <poem> :::''Ulat sutera musim semi tak pernah lelah'' ::''tetap memintal harapannya siang dan malam'' :::''musnahnya mereka tak menjadi soal apa-apa'' ::::''karena bukankah cinta tak pernah lenyap?'' </poem><noinclude></noinclude> 13llfisywm11wqxeg3zzvufeongxfa4 Halaman:Lima Jagoan vol.23.pdf/6 104 111136 309437 2026-08-04T11:33:16Z Thersetya2021 15831 /* Telah diuji baca */ 309437 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{Dropinitial|A}}YAH, tidakkah ayah mengingat bahwa Hui liong kiongcu dahulu disembunyikan oleh menteri Yoto dan berasal dari gedung Sian ya ini ? Semua penduduk kota raja tak seorangpun yg tidak mengetahuinya.<br> Kini setelah ada utusan dari negeri Seeliauw lalu ayah meng ungkit2 kembali soal itu, bukannya ayah akan berhasil mencelakakan Tek ceng sebaliknya kedudukan ayah akan lebih berat.<br> Inilah background atau latar belakangnya sehingga hayji berani mengatakan bahwa bencana itu akan segera datang. Bang hong ter-menung2 mendengar kata2 sang putera. Akan tetapi dasar manusia berjiwa busuk, bagaimanapun yg dipikirkan selalu hal2 yg kotor dan jahat.<noinclude>{{rh|6}}</noinclude> ldgigwvh13tygzpskxtf8njbluzzija