Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.16
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Indeks:Tjinta dan pengorbanan.pdf
102
51402
314878
301966
2026-08-20T05:42:11Z
Quraeni
22485
koreksi kapital judul
314878
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=Q123309849
|Title=[[Tjinta dan Pengorbanan]]
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=
|Key=
|ISBN=
|Source=PDF
|Image=2
|Progress=T
|Pages=<pagelist
1="–"
2="Cover"
3="Iklan-1"
4="2-3"
5="4-5"
6="6-7"
7="8-9"
8="10-11"
9="12-13"
10="14-15"
11="16-17"
12="18-19"
13="20-21"
14="22-23"
15="24-25"
16="26-27"
17="28-29"
18="30-31"
19="32-33"
20="34-35"
21="36-37"
22="38-39"
23="40-41"
24="42-43"
25="44-45"
26="46-47"
27="48-49"
28="50-51"
29="52-53"
30="54-55"
31="56-57"
32="58-59"
33="60-61"
34="62-63"
35="64-65"
36="66-67"
37="68-69"
38="70-71"
39="Iklan-72"
40="73-74"
41="75-76"
42="77-78"
43="79-80"
44="81-82"
45="83-84"
46="85-86"
47="87-88"
48="89-90"
49="91-92"
50="93-94"
51="95-96"
52="97-98"
53="99-100"
54="101-102"
55="103-104"
56="105-106"
57="107-108"
58="109-110"
59=111
/>
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=buku
}}
l0ual6q0dy3zyynzr5wm3rnv5mv7vdn
Halaman:Pantja-Sila oleh H. Rosin.pdf/20
104
66923
314965
202741
2026-08-20T08:55:18Z
Alicya-
21994
314965
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Najla Khairani Siregar" /></noinclude><section begin="2" />{{c|II}}
{{c|PANTJA-SILA DARI SUDUT KEMERDEKAAN.}}
Pengakuan ke-Tuhanan Jang Maha Esa sebagai dasar pertama
dari Undang-undang Dasar mengadjak kita, bahkan berseru kepada
kita, untuk berkata tentang Tuhan sebagai sumber kemerdekaan.
Tuhan itu merdeka dan memerdekakan. Ia adalah jang membebaskan dan melepaskan. Akan tetapi dengan tjara, jang djauh melampaui batas segala pikiran dan akal kita. Tempat jang kita sediakan
untuk Dia, dibiarkanNja kosong. Didalam ke-Tuhanan jang Maha
Esa, Ia tidak terdapat. Rupa-rupanja sedikit perhatianNja terhadap agama, terhadap religi. Ia djuga sebagai jang atjuh tak atjuh terhadap peraturan-peraturan peri-kemanusiaan. Perdjuangan kemerdekaan nasional tidak diatjuhkanNja. Ia berdiam Diri sadja dalam pembangunan suatu Negara jang demokratis. Seolah-olah Ia tidak mengenal soal-soal dan masaalah-masaalah kita, seolah-olah Ia sibuk dengan perkara jang lain. Dan djika achir-achirnja kita menemukan Dia — pada beberapa orang, kepada siapa ditjeriterakanNja suatu perumpamaan tentang seorang anak jang hilang, pada beberapa orang jang berpenjakit lepra, pada beberapa orang jang murtad, pada beberapa orang jang miskin, pada beberapa orang jang tidak tahu lagi, dimana Tuhan Allah ada, — apakah jang akan kita katakan dan kita tanjakan? „Keadilan sosial” — alangkah besarnja perkataan untuk hal jang dikerdjakan orang ini!
Namun demikian, orang ini adalah Allah, jang telah datang dalam daging! Dalam daging: djadi djuga dalam soal-soal dan masaalah-masaalah kita, dan djuga dalam soal-soal dan masaalah-masaalah jang dihadapkan oleh Pantja-Sila kepada kita. Tetapi Ia memperhatikan soal-soal dan masaalah-masaalah kita itu menurut tjaraNja sendiri jaag berdaulat. Ia sedang memperhatikan kita satu persatu: saja dan saudara-saudara. Ia sedang memperhatikan ketjelakaan kita jang paling dalam, jaitu kenjataan, bahwa kita tidak mempunjai Tuhan dan sesama kita manusia lagi! Karena itu Ia adalah Immanuel, „Allah beserta kita”, dalam rupa sesama kita manusia. Ia mendjadi sesama kita dalam tjara, bahwa Ia atas kerelaan<noinclude>{{rh|16}}</noinclude>
lq1g34bodwu15g3d5abnk0vmb2ypmgb
Halaman:Pantja-Sila oleh H. Rosin.pdf/26
104
69655
314966
202760
2026-08-20T08:55:50Z
Alicya-
21994
314966
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Najla Khairani Siregar" /></noinclude>Peri-kemanusiaanlah, jang menempatkan politik internasional diatas gerakan tenaga-tenaga dan kekuasaan-kekuasaan dan jang membawa bangsa-bangsa kepada kerdja-sama jang lebih erat. ,Kita bukan sadja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menudju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.” (Presiden Soekarno dalam „Lahirnja Pantja-Sila”.)
5) ''Tuhan merdeka dan memerdekakan''. la adalah sumber segala kemerdekaan jang sesungguhnja. Peri kemanusiaan tulen, kebangsaan tulen, kerakjatan tulen, keadilan tulen, datangnja dari pada Dia,
Pemberi segala anugerah. Karena itu prinsip Ke-Tuhanan jang Maha Esa hanja mempunjai arti jang begini: Membiarkan Tuan Allah dalam mentjari manusia dan membiarkan ''manusia'' dalam mentjari Tuhan Allah. Kemerdekaan itu lama-kelamaan tidak dapat tetap, bilamana kemerdekaan itu pada dasarnja bukan kemerdekaan rohani, dan itu berarti: kebebasan agama, keinsafan batin dan pikiran. Makin kuat Negara itu, makin bebas ia dalam hal ini. Ia melindungi perdjuangan rohani akan kebenaran, karena perdjuangan
ini membawa udara bebas dan segar. Hanjalah dalam udara ini sadja, kemerdekaan Negara itu dapat berdiri terus.
<section end="2" />
<section begin="3" />
{{rh||III.}}
{{rh||PANTJA-SILA}}
{{rh||DARI SUDUT PERDAMAIAN DAN KESEDJAHTERAAN.}}
Djika kita menghubungkan isi pengertian-pengertian „damai” dan „sedjahtera” dan kemudian menambahkan kata-kata „selamat sentausa” (lihatlah alinea kedua dari pada Mukaddimah!), „aman” dan „makmur”, maka kita mendekati isi jang kaja dan luas dari sebuah kata dalam Alkitab: ''„sjalôm”''. Kalau kita sekarang dalam
hubungan ini memakai terutama kata-kata „damai” dan „sedjahtera” atau „perdamaian” dan „kesedjahteraan”, maka kita selalu maksudkan lebih dari pada „damai” sadja atau „sedjahtera” sadja. Kita maksudkan
„sjalôm”!
Tentang „sjalôm” ini, jang meliputi segala-sesuatu, dikatakan oleh Alkitab, bahwa Tuhan Allah sumbernja dan Chaliknja, bahkan, bahwa Ia sendiri „sjalôm” ini dan bahwa Ia telah mengangkat seorang<noinclude>{{rh|22}}</noinclude>
880qt7vry8bw05qyld6t1jkr7lkbear
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/59
104
75510
315037
224944
2026-08-20T10:03:57Z
Alicya-
21994
315037
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Herryz" />{{rh||— 111 —|}}</noinclude>:kahan jang Tjeng Giok soeda lakoeken sama Nora di Batavia, sewaktoe"ia (Keng Sin) dalem sesat.
:{{gap}}Lantaran Nora ada anak satoe-satoenja, dan Keng Sin sendiri tida poenjaken anak lelaki, selaennja begitoe poen ia soeda masoek oesia toewa, maka moelai dari abis menikah, djedjaka kita tida balik lagi di Batavia, boeat landjoetken itoe kerdjahan jang ia masih pegang, hanja tinggal teroes dalem itoe gedong di Seteran, kerna sedari itoe waktoe Lim Tjeng Giok diangkat djadi koeasa dari antero peroesaha'annja" entjek Keng Sin.
:{{gap}}Selagi Tjeng Giok dan Nora hadepken itoe penghidoepan jang goemilang, adalah Henri Tjoe moesti itjipken itoe matjem penghidoepan dari orang boeangan, kerna landraad Soerabaja dengen boekti jang tjoekoep terang soeda bisa bikin terboeka sapoeloeh perkara gelap, dalem mana sebagian besar Henri ada pegang rol teroetama. Ini noda soeda tjemarken kahormatannja familie Tjoe, maka tida heran berselang brapa lama kamoedian ajahnja Hoe djedjaka pemogor brangkat ka laen doenia saking tida tahan maloe.
:{{gap}}Penghidoepan jang penoeh kaberoentoengan dan kasenangan dirasaken oleh itoe sepasang merpati jang saling menjinta dengen toeloes dan soetji. Satoe satengah taon kamoedian iaorang dikoerniaken satoe anak lelaki dan satoe anak prampoean jang dilahirken dengen kembar.
{{c|'''<big>T A M A T.</big>'''}}
<section end="10" /><noinclude></noinclude>
91kizlgbwtymgujlguwl724tqmuyrsb
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/32
104
75607
315008
221367
2026-08-20T09:31:20Z
Alicya-
21994
315008
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Syurida" />{{rh||-56-|}}</noinclude>
<div style="text-align: justify;">
„bididadarimoe“, bila kaoe koekoeh tida maoe seboet namanja?“
Tjeng Giok dengen tida pikir doeloe soeda lantes djawab: „Boeat bandingken itoe „bidadari“ sasoenggoenja soeker, kerna dalem doenia ini melaenken ada satoe sadja jang sama betoel, dan ini bandingan tjoema ada kaoe sendiri, nona. Ma’aflah kaloe saja soeda berlakoe begitoe lantjang.“
Maski permoela Nora ada ingin dan harep sekali boeat denger itoe omongan jang merdoeh, toch kapan sekarang kadoea telinganja soeda denger dengen njata, ia djadi kemekmak dan separo merasa djengah, sabaliknja Tjeng Giok sendiri poen merasa maloe. Lantaran ini itoe kadoea pemoeda djadi sama-sama tinggal boengkem. Achirnja itoe djedjaka pamitan poelang, baroelah antara iaorang ada terdenger lagi bebrapa perkata’an jang dioetjapken.
</div>
<section end="5" />
<section begin="6" />
{{center|'''VI'''}}
{{center|'''PENGAROEHNJA HARTA DOENIA'''}}
{{center|'''____________'''}}
<div style="width: 50%; text-align: right; margin-left: 50%;">
Harta doenia ada benda jang sanget berkoeasa,
Kakedjian dan katjoerangan ada djadi iapoenja bisah,
Boekan heran kaloe satoe kali diroe-boehken oleh itoe kakoeasahan,
Orang djadi tida bisa kenal kabedjikan dan sifat kamanoesiaan.
</div>
<div style="text-align: justify;">
Entjek Keng Sin sadjek gadisnja dilamar orang, moelai poenjaken perasa’an apa-apa, jaug mengantjem perhoeboengannja iapoenja poetri dengen Tjeng Giok.
{{rh||-59-|}}
Apa poela pelamarnja ada saorang jang hartawan, dan ia sendiri djoestroe gampang sekali dibikin „silo“ oleh goemilangnja barang permata.
Doea hari berselang sedari itoe hari ia kedatengan itoe tetamoe dari Soerabaja, entjek Keng Sin laloe bermoefaketan dengen istri dan soedara toewanja boeat berempoek dalem itoe oeroesan lamaran.
Sepandjang pembitjara‘an dilakoeken njonja Keng Sin melaenken tinggal boengkem, adalah Keng Tong jang bersama’an satoe kwaliteit dengen soedaranja, soeda kasi voorstel boeat trima baek itoe lamaran, dengen alesan bahoea dengen berbesan sama itoe millionnair dari Soerabaja, boekan sadja namanja Keng Sin kamoedian bisa djadi semingkin di’indahken, malah iapoenja anak di kamoedian hari bakal hadepken satoe penghidoepan jang serba tjoekoep dan serba senang.
Ini alesan jang dimadjoeken oleh itoe soedara toewa, entjek Keng Sin poen anggep bener, sebaliknja njonja Keng Sin koetika liat soeaminja maoe ambil tindakan terboeroe napsoe, soeda kasi peringetan dan njataken pikirannja, baek soepaja ini oeroesan ditoenda sabegitoe lama, sampe soeda ditimbang mateng, agar kamoedian tida terbitken kamenjeselan.
Kaloe entjim Keng Sin ambil ini sikep, sebagimana djoega soeda dioendjoek dalem bagian sabelah depan, itoelah ada disebabken kerna ini iboe koeatir kaloe itoe „harta doenia“ tida bisa dianggep satoe sebab boeat pernikahan bisa djadi beroentoeng, lebih lagi ia taoe kaloe poetrinja ada berbeda dengen laen-laen gadis kaoem hartawan, jang lebih oetamaken barang permata dari pada satoe soeami jang aseli.
Tetapi entjek Keng Sin, maski itoe koetika soeda njataken moefaket boeat timbang lebih djaoeh itoe
</div><noinclude></noinclude>
m1nh80b6jc71kfxoe9hh71nmwkbiycx
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/3
104
75667
314997
221355
2026-08-20T09:16:27Z
Alicya-
21994
314997
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Syurida" /></noinclude>{{border|maxwidth=75%|align=left|
<big>{{c|THE MONTHLY STORIES<br>
<big><big>'''„GOEDANG TJERITA”'''</big></big>}}</big>
{{rule}}
<big>{{c|Redacteur:<br>
<big><big>'''KWO LAY YEN'''</big></big>}}</big>
{{rule}}
{{c|Terbit tetap saban tanggal 15 dari<br>
boelan Masehi.}}
{{c|――――◇――――}}
{{c|<big>'''Harga Abonnement:'''</big><br>
Satoe kwartaal (3 boelan) f 1.50<br>
Boeat langganannja maandblad „Library”}}
{{c|<big>'''tjoema f 1.--'''</big><br>
Pembajaran lebih doeloe.<br>
<br>
<big>Administratie:</big><br>
Grootepostweg 296 - Telefoon No 2534<br>
<big>BANDOENG.</big>}}
}}
<br>
{{c|- 1 -}}
<section begin="1" />
{{border|maxwidth=75%|align=left|
<big>{{c|<big>'''„KAPAN SAMPE DI POENTJAKNJA”'''</big><br>
ATAWA<br>
<big>'''TJINTA DAN PENGORBANAN'''</big><br>
OLEH:<br>
DAHLIA.}}}}
{{c|<big>'''I.'''</big><br>
<big>'''DALEM PERDJAMOEAN THEE.'''</big>}}
{{rule|width=4em}}
{{PUU-konsideran|
{{r|Sinar mata-hari kapan waktoe sedeng<br>
gilang-goemilang,<br>
Antero boeroeng samboet dengen pe-<br>
noeh rasa girang,<br>
Tapi itoe kagirangan gambang bero-<br>
bah dan tenggelem,<br>
Bila di sabelah koelon mata-hari pergi<br>
boeat silem.}}}}
<div style='text-align: justify;'>
{{gap}}Pada satoe malem di satoe gedong jang besar dan penoeh sama tjahaja penerangan jang indah, jang dari prabotannja kenjatahan kaloe toean roemahnja ada orang hartawan besar, keliatan banjak sekali berkoempoel tetamoe, jang masing-masing pada doedoek memoeterin medja. Kapan diliat dari djoemlahnja sakean banjak glas minoeman jang terletak di hadepan masing-<noinclude></noinclude>
scb9ge3s0c4p2bnuum37e4rf4ax62uu
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/38
104
76217
315010
225008
2026-08-20T09:33:08Z
Alicya-
21994
315010
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-70-|-71-|}}</noinclude>sekali papa nanti goenaken itoe hak sebagi ajah boeat paksa kaoe toeroet itoe kahendak, dan bila perloe papa nanti „stop“ kaoe poenja peladjaran dengen begitoe semoea djadi beres.”
Nora tinggal boengkem, tetapi iapoenja mata jang mengembeng aer mata, soeda memaksa boeat ia menjingkir dari sitoe. Sebaliknja njonja Keng Sin jang dari setadian dengerin itoe „debat“ sekarang madjoe ka depan boeat gantiken gadisnja.
Sebagi iboe jang poenjaken pikiran lebih „dingin“ dan perasa'an jang bisa mengimbangin, njonja Keng Sin itoe waktoe lantes kasi mengarti pada soeaminja, bagimana ia moesti beroeroesan dengen anak jang soeda gadis, dalem hal minta ia timbang soeal perdjodoan. Lebih djaoeh ia ada madjoeken pikiran soepaja soeaminja soeka bales itoe soerat soesoelan dari Soerabaja berhoeboeng dengen itoe pelamaran, bahoea lantaran Nora masih dalem sekola, maka kepastian dalem ini dikabarken laen kali, bila itoe anak soeda loeloes dalem oedjiannja jang pengabisan.
Ini voorstel permoela oleh entjek Keng Sin tentoe sekali tida disetoedjoein dan sebagi alesan ia bilang itoe penoenda'an nanti mendjadi sebab, aken itoe pelamaran ditarik kombali, sebab temponja terlaloe lama. Tetapi koetika istrinja menjemprot, dan kasi djengekan pedes, bahoea itoe tjara berkoeatir ada sebagi orang jang „kelaparan“ sama kekajahan, achirnja lantaran merasa maloe ia menoeroet djoega.
Moelai itoe waktoe entjek Keng Sin tida mendesek lagi, tetapi tida oeroeng Nora rasaken apa-apa jang mengantjem pada peroentoengannja, maka dalem soerat-soeratnja pada Tjeng Giok ia terangken dengen djelas sasoeatoe hal jang ia koeatirken.
<section end="6" />
<section begin="7" />
{{c|{{x-larger|VII.}}}}
{{c|{{x-larger|'''GOENAKAN AKAL KEDJI.'''}}}}
{{rule|width=6em}}
<div style="width: 50%; text-align: right; margin-left: 50%;">
Kaloe apa jang diingin tida bisa didapet.
Dan segala moeslihat soeda djadi keepepet.
Akal kedji tentoe sigra orang goenaken.
Pada orang jang saroepa Hoe djoeloeken
„Siauwdjin“ diberiken.
</div>
Soeatoe sore koetika matahari soeda soeroep di podjokan doenia sabelah koelon, dan tjoeatja soeda djadi ampir gelap, sebagi tanda bahoea hari aken terganti oleh malem, dimana pekarangan dari satoe gedong jang indah di Kapassari ada brenti satoe auto Chrysler sportmodel, dengen kapnja jang terboeka.
Dari ini kandara'an tida brapa lama poela ada toeroen, satoe djedjaka sembari tangan kanannja menenteng racket, dan tangan laennja mcnjingtjing satoe badjoe djas gabardine warna aboe-aboe. Dari iapoenja tjelana flanel jang warnanja koening dan sepatoe karet serta badannja jang melaenken pake satoe kemedja dengen schillerkraag jang keliatan basah oleh kringet, lantes sadja kita bisa taoe kaloe ia baroe abis maen tennis.
Itoe djedjaka boekan laen dari Henri Tjoe jang di bagian depan ada diperkenalken pada pembatja, sebagi sala satoe saingan dari Tjeng Giok, atawa lebih teges itoe orang jang dibikin terdendem oleh Nora poenja paras jang eilok, koetika ini nona koendjoengin itoe pesta pertoendangan dari sobatnja.<noinclude></noinclude>
rewl2pauzwbpciqzghw80g4v7r68ae8
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/7
104
76357
314998
221358
2026-08-20T09:17:55Z
Alicya-
21994
314998
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Syurida" />{{rh|― 8 ―||― 9 ―}}</noinclude>Ini hal oleh orang banjak ada dikatahoei, maka tida heran kaloe ia soeda dapet itoe poedjian sebagi anak jang berbakti. Boeat boektiken poela bagimana berbaktinja itoe djedjaka kita bisa bajangken dengen menilik pada apa itoe waktoe ia sedeng pikirken.
Tjeng Giok taoe bahoea dirinja dalem kalangan voetbal ada sanget disohorin, dan tenaganja ada perloe boeat perkoempoelannja, tetapi Tjeng Giok boekan djadi poeas dengen itoe poedjian, hadia'an dan kahormatan jang ia soeda dapetken, hanja dalem hatinja ia simpen satoe harepan, aken ini kepandeannja dalem permaenan voetbal, nanti, bisa kasi koetika baek boeat ia bisa perbaekin nasibnja.
Sasoedanja simpen betoel itoe angen-angen dan harepan dalem hatinja Tjeng Giok baroe rebahken diri di pembaringan dan, mengaso dari kalelahannja.
Dengen ini ada njata sekali kaloe djedjaka kita maski sekarang soeda djatoh dalem itoe matjem penghidoepan jang miskin, toch ia ada poenjaken ambekan jang besar, aken bikin dirinja djadi machloek jang bergoena dalem ini doenia. Kaloe, ia soeda tanem itoe matjem harepan, boekan sekali menandaken kaloe ia ada manoesia jang serakah, tetapi tida lebih tjoema tersoeroeng oleh nasibnja jang masi perloe diperbaekin. Dengen koempoelken oewang kalebihan gadjinja, achirnja Tjeng Giok soeda bisa djoega poenjaken kapitaal doea atawa tigaratoes roepiah, jang ia kasiken pada ade prampoeannja boeat digoenaken poko dagangan etjeran. Ini djoega ada, berarti satoe djalan boeat itoe roemah-tangga djadi tida terlaloe berat dipikoel oleh djedjaka kita.
Tetapi apa itoe djedjaka sama sekali tida taoe bahoea dirinja diam-diam diperhatiken oleh itoe gadis?
Sabetoelnja berbeda dengen laen djedjaka saoemoemnja, jang kapan taoe dirinja ada dapet perhatian banjak gadis-gadis boeat iapoenja kepandean, soeka lantes mangkak, adalah Tjeng Giok sebaliknja djadi koeatir, kerna ia taoe bahoea itoe hal dalem keada'annja sebagi sekarang tida lebih tjoema ratjoen belaka.
Boekan djarang Tjeng Giok mendapet senjoemannja gadis-gadis jang sering saksiken iapoenja permaenan dimana lapangan, kapan ia berpapasan dengen marika itoe di djalanan, tetapi djedjaka kita tinggal dingin seperti djoega saldjoe di koetoeb doenia.
Sedeng terhadep Nora biar poen ia belon perna berkenalan, tapi sering memperhatiken dan achirnja ia dapetken ada satoe orang jang pendiam dan tida sekali bisa berlakoe sombong atawa angkoeh, samentara iapoenja perangi ada haloes dan hatinja sanget lemah-lemboet hingga kaloe maoe di boeat oekoeran, itoe pribasa: „kalemahannja hati satoe orang boediman, bisa rasa kasian pada moesoehnja jang paling besar,” ada satoe oekoeran jang setimpal sekali dengen boedi perketinja itoe nona.
<section end="1 />
<section begin="2" />
{{C|{{larger|'''II.'''}}}}
{{C|{{xx-larger|'''ALIRANNJA RASA KESIAN.'''}}}}
{{rule|6em}}
<poem>
{{R|Tioepannja angin jang bagoes bikin
praoe semingkin ladjoe,
Hingga bisa lekas sampe di tempat
jang hendak ditoedjoe.
Tapi itoe keladjoean bikin karang-
karang lebih kerep mengandang,
Maka tida djarang praoe kandas oleh
itoe roepa penghalang.}}
</poem><noinclude></noinclude>
6hx1frwqsu5ckv2kfo7qwj5221sr8my
314999
314998
2026-08-20T09:19:05Z
Alicya-
21994
314999
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Syurida" />{{rh|― 8 ―||― 9 ―}}</noinclude>Ini hal oleh orang banjak ada dikatahoei, maka tida heran kaloe ia soeda dapet itoe poedjian sebagi anak jang berbakti. Boeat boektiken poela bagimana berbaktinja itoe djedjaka kita bisa bajangken dengen menilik pada apa itoe waktoe ia sedeng pikirken.
Tjeng Giok taoe bahoea dirinja dalem kalangan voetbal ada sanget disohorin, dan tenaganja ada perloe boeat perkoempoelannja, tetapi Tjeng Giok boekan djadi poeas dengen itoe poedjian, hadia'an dan kahormatan jang ia soeda dapetken, hanja dalem hatinja ia simpen satoe harepan, aken ini kepandeannja dalem permaenan voetbal, nanti, bisa kasi koetika baek boeat ia bisa perbaekin nasibnja.
Sasoedanja simpen betoel itoe angen-angen dan harepan dalem hatinja Tjeng Giok baroe rebahken diri di pembaringan dan, mengaso dari kalelahannja.
Dengen ini ada njata sekali kaloe djedjaka kita maski sekarang soeda djatoh dalem itoe matjem penghidoepan jang miskin, toch ia ada poenjaken ambekan jang besar, aken bikin dirinja djadi machloek jang bergoena dalem ini doenia. Kaloe, ia soeda tanem itoe matjem harepan, boekan sekali menandaken kaloe ia ada manoesia jang serakah, tetapi tida lebih tjoema tersoeroeng oleh nasibnja jang masi perloe diperbaekin. Dengen koempoelken oewang kalebihan gadjinja, achirnja Tjeng Giok soeda bisa djoega poenjaken kapitaal doea atawa tigaratoes roepiah, jang ia kasiken pada ade prampoeannja boeat digoenaken poko dagangan etjeran. Ini djoega ada, berarti satoe djalan boeat itoe roemah-tangga djadi tida terlaloe berat dipikoel oleh djedjaka kita.
Tetapi apa itoe djedjaka sama sekali tida taoe bahoea dirinja diam-diam diperhatiken oleh itoe gadis?
Sabetoelnja berbeda dengen laen djedjaka saoemoemnja, jang kapan taoe dirinja ada dapet perhatian banjak gadis-gadis boeat iapoenja kepandean, soeka lantes mangkak, adalah Tjeng Giok sebaliknja djadi koeatir, kerna ia taoe bahoea itoe hal dalem keada'annja sebagi sekarang tida lebih tjoema ratjoen belaka.
Boekan djarang Tjeng Giok mendapet senjoemannja gadis-gadis jang sering saksiken iapoenja permaenan dimana lapangan, kapan ia berpapasan dengen marika itoe di djalanan, tetapi djedjaka kita tinggal dingin seperti djoega saldjoe di koetoeb doenia.
Sedeng terhadep Nora biar poen ia belon perna berkenalan, tapi sering memperhatiken dan achirnja ia dapetken ada satoe orang jang pendiam dan tida sekali bisa berlakoe sombong atawa angkoeh, samentara iapoenja perangi ada haloes dan hatinja sanget lemah-lemboet hingga kaloe maoe di boeat oekoeran, itoe pribasa: „kalemahannja hati satoe orang boediman, bisa rasa kasian pada moesoehnja jang paling besar,” ada satoe oekoeran jang setimpal sekali dengen boedi perketinja itoe nona.
<section end="1" />
<section begin="2" />
{{C|{{larger|'''II.'''}}}}
{{C|{{xx-larger|'''ALIRANNJA RASA KESIAN.'''}}}}
{{rule|6em}}
<poem>
{{R|Tioepannja angin jang bagoes bikin
praoe semingkin ladjoe,
Hingga bisa lekas sampe di tempat
jang hendak ditoedjoe.
Tapi itoe keladjoean bikin karang-
karang lebih kerep mengandang,
Maka tida djarang praoe kandas oleh
itoe roepa penghalang.}}
</poem><noinclude></noinclude>
i8judselvq9msjcv6nc1r2z89vw8k5d
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/14
104
76666
315001
224973
2026-08-20T09:25:07Z
Alicya-
21994
315001
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-22-|-23-|}}</noinclude><div style="text-align: justify>
poela: „Biarlah boeat tetepken kapertjajahanmoe, saja soempah demi segala leloehoer, bahoea saja poenja kelambatan ini boekan disebabken oleh kerna saja lakoeken perboeatan tida pantes jang kaoe selaloe tjegah. Och, papa, ma'afkenlah boeat saja poenja kelambatan baroesan{{...|7}}”
„Kaoe sala mengarti, anak,” memotong Kim Yoe dengen lebih terharoe kerna ia merasa kaloe dengen iapoenja kaperihan baroesan soeda bikin itoe poetra djadi tertoesoek, tetapi berbareng ia djadi girang djoega,
kerna ia dapet kenjatahan kaloe Tjeng Giok sesoenggoenja ada itoe poetra jang berbakti sekali. „Apa jang baroesan saja pikirken, Giok, tida laen tjoema itoe nasib jang kaoe alamken, hingga kaoe moesti didjemoer begitoe lama. Kapan kaoe masi djadi Tjeng Giok di lima taon jang laloe, nistjaja ini matjem „samboetan” dari itoe toean roemah kaoe tida bakal impiken. Besarkenlah hatimoe, anak, Allah ada moerah dan adil, kaoe poenja kebaktian nanti bikin kaoe diberkahken oleh Toehan.”
Seabisnja kata demikian ia laloe masoek ka roeangan dalem dengen diboentoetin oleh Tjeng Giok, jang itoe waktoe lantes soeroe adenja djagain itoe dagangan.
Begitoe abis dahar ia laloe nongkrong depan itoe waroeng roko, agar Tjeng Nio bisa dapetken giliran tangsel peroetnja, dan mengobrol sama itoe ajah dengen serba goembira, kerna dalem ini pembitjara'an ia selaloe dapet nasehat. Tjoema kadang-kadang iapoenja pikiran djadi sanget kaloet. Ia merasa tida boleh djadi sekali kaloe entjek Keng Sin ada poenjaken itoe keangkoehan sebagimana ada disangka oleh ajahnja, dan ini ia tjoema anggep lantaran kepoelesan. Kapan pikir sampe disini, iapoenja hati djadi berdebar-debar, kerna ia jakin sekali, bahoea menoedoeh orang dengen zonder alesan ada berarti satoe kedosahan.
Tapi sabelonnja ia bisa pikir lebih djaoe, ajahnja soeda keboeroe tanjaken iapoenja oeroesan jang dibitjaraken sama entjek Keng Sin. Kamoedian koetika Tjeng Giok soeda terangken sadjelasnja, itoe ajah djadi girang sekali, sebagi djoega ia maoe bilang, kaloe Allah soeda berkahken poetranja, hingga bisa djadi saorang jang madjoe betoel dalem penghidoepannja.
<section end="2" />
<section begin="3" />
{{c|{{x-larger|III.}}}}
{{c|{{x-larger|'''TOCH ACHIRNIA TIDA TERLOEPOET.......'''}}}}
{{rule|width=4em}}
{{r|Maski bagimana tebel itoe saldjoe di<br>
koetoeb doenia,<br>
Toch achirnja loemer kaloe mata-hari<br>
kasi sorotannja :<br>
Apa poela hati saloe gadis, jang per-<br>
moela rasa kasian,<br>
Tentoe sekali gampang deketin itoe<br>
tjinta dari kasoeljian.}}
Koetika semoea orang soeda berada dalem masing-masing impiannja, Tjeng Giok itoe waktoe masi teroes batja boekoenja. Tetapi berbeda dari sari-sarinja ini kali pemoeda kita rasaken matanja berkoenang-koenang kapan ditoedjoeken pada itoe garisan letter-letter, hingga boekan djarang ia tida inget lagi apa jang di sabelah atas ia soeda batja.
Tjeng Giok djadi heran kenapa itoe satoe djam jang digoenaken boeat tempo membatja oleh ia soeda diliwatken dengen zonder bisa abis batja sepoeloeh lembaran boekoe, dan ia lebih heran lagi kenapa</div><noinclude></noinclude>
rrdwws59ndyyxy5ae6tc0hn2djmuq9q
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/20
104
76790
315003
224987
2026-08-20T09:26:58Z
Alicya-
21994
315003
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-34-|-35-|}}</noinclude>bangoen, tetapi ia tida teroesken hanja doedoek kombali. Dalem pikirannja di itoe waktoe sekali poen telah berniat boeat menanjaken pada Nora, tetapi koetika ia melirik itoe katja dan nampak itoe gadis sedeng asik batja boekoe, ia djadi oeroengken maksoednja.
Lantaran iseng ia tjoba intjarken matanja pada Nora jang sedeng doedoek membatja, kamoedian lama kelama'an ia djadi loepa kaloe ia itoe waktoe doedoek dengen terpekoer, sabaliknja Nora jang dari setadian mengintip dengen lirikannja, sekarang djadi taoe betoel, kaloe diam-diam Tjeng Giok poen soeda moelai taro perhatian padanja.
Sasoedahnja brapa meniet telah liwat dengen itoe keada'an begitoe roepa, jalah itoe djedjaka doedoek bengong sembari mengawasin, sedeng itoe gadis poera-poera batja boekoe sembari ngintip gerakannja itoe djedjaka di katja, mendadak njonja Keng Sin jang dari sore doedoek ngobrol sama sala satoe sobatnja, itoe waktoe kaloear boeat anterken itoe sobat jang hendak poelang.
Hal itoe soeda bikin Nora lantes bangoen dari tempat doedoeknja dan toeroet menganter sampe dimana pekarangan roemah kamoedian begitoe itoe auto berlaloe, Tjeng Giok poen lantes kaloear dari kamar toelisnja. la paranin rjonja Keng Sin dan toetoerken bahoea kerdjahan jang ia moesti beresken soeda beres, maka ia tanja apa baek ia poelang atawa toenggoe sampe datengnja entjek Keng Sin sendiri.
Sebab pikir itoe waktoe soeda malem djoega, maka njonja Keng Sin kasi advies baek Tjeng Giok poelang sadja, samentara kapan ada kaperloean, itoe njonja anggep, entjek Keng Sin masih bisa poeter telefoon di besokan paginja.
Tjeng Giok laloe permisie pada itoe njonja, demikian poen pada itoe gadis, jang djoega ini kali poen tida loepa hadiaken senjoemannja. Tjeng Giok toenggangin fietsnja dan berlaloe.
Soeda tida perloe diterangken lagi bahoea ini pertemoean, baek bagi fihaknja itoe gadis maoepoen fihaknja Tjeng Giok, soeda terdjadi geteran-geteran dalem hatinja masing-masing. Kerna Nora sekarang semingkin tetap pertjaja jang itoe djedjaka sasoenggoenja ada satoe orang jang sopan dan berprangi baek, serta kenal apa artinja „struggle for life” berbareng dengen itoe, rasa kasiannja djadi semingkin besar; adalah Tjeng Giok diam-diam kagoemin lebih sanget pada itoe gadis, melebihin dari apa jang ia bermoela ada anoet; malah itoe geteran hati bikin ia poenja soemanget jang paling dalem dihinggapin oleh soeatoe perasa'an, jang ia sendiri belon bisa terangken apa adanja.
Demikianpoen dengen pertemoean - pertemoean laennja, jang terdjadi beroentoen sadjek itoe waktoe, selama Tjeng Giok bekerdja di roemahnja entjek Keng Sin boeat beresken itoe boekoe dagang di penoetoep taon.
Tjoema sadja bisa ditambahken, bahoea semingkin lama perkenalan antara itoe djedjaka dan itoe gadis djadi semingkin kekel, hingga seringkali maski soeda klaar kerdjahannja, tetapi bila kabetoelan entjek Keng Sin sedeng mengobrol dengen tetamoe laennja atawa kaloear boeat soeatoe kaperloean, Tjeng Giok tida lantes poelang, hanja doedoek mengobrol. Malah ada waktoe djoega dalem pembitjara'an jang marika lakoeken, oetjapan-oetjapannja djadi moelai menjimpang, samentara dewi Amor poen moelai kasi liat bajangannja.
<section end="3" /><noinclude></noinclude>
pc5njjjkpkk69iu3a01fld043nxpanr
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/21
104
76797
315005
224992
2026-08-20T09:28:21Z
Alicya-
21994
315005
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-36-|-37-|}}</noinclude><section begin="4" />
{{c|{{x-larger|IV.}}}}
{{c|{{x-larger|'''DATENGNJA SATOE SAINGAN.'''}}}}
{{rule|width=6em}}
{{r|Kaloe itoe boenga oleh koepoe-koe-<br>
poe jang djadi harepannja,<br>
Soeda bisa dimentjlokin di antara sa-<br>
kean lembarannja,<br>
Soeda tentoe sekali sang Koembang<br>
poen djadi tetoeroetan,<br>
Hingga itoe tempat achirnja djadi itoe<br>
barang reboetan.}}
Lontjeng mengoetaraken poekoel toedjoe sore, itoe waktoe di antero straat di kota Semarang soeda djadi terang benderang dengen panerangannja lampoe-lampoe electric, hingga membikin itoe kota djadi semingkin indah.
Di depan satoe gedong besar jang letaknja di Seteran ada menoenggoe satoe auto Packard tjet coffie jang diboeka antero kapnja. Tida lama kamoedian dari dalem itoe gedong keliatan kaloear satoe gadis jang parasnja tjantik sekali dengen pakean rok warna biroe toewa, dan berbareng di blakangnja ada djalan satoe pemoeda jang maski berpakean amat saderhana, jaitoe open-jas dari flanel poetih dan dasi warna oengoe, toch ada amat sembabat dan tida koerang kerennja dengen itoe nona
Kaloe orang tjoba bandingken itoe doea pemoeda, ia tentoe aken mengakoe, bahoea marika sasoenggoenja ada amat setimpal satoe sama laen.
Itoe doea pemoeda boekan laen pembatja dari kita poenja kenalan lama Tjeng Giok dan Nora. Marika samperin itoe auto, dan Nora pegang stuur, samentara Tjeng Giok doedoek di sabelahnja. Rodanja auto sigra djoega moelai mengglinding, dan teroes di lariken menoedjoe ka djoeroesan prapatan, dari mana kamoedian dibiloekin ka djoeroesan Plampitan dengen meliwatin Kranggan, kamoedian dibrentiken di depannja satoe gedong besar jang terkoeroeng oleh pager djeroedji besi.
Tjeng Giok lantes toeroen doeloean dengen memboeka pintoenja auto. Marika laloe menoedjoe ka pekarangan itoe gedong, tapi baroe sadja berdjalan brapa tindak, Tjeng Giok lantes merandek, hingga bikin Nora djadi heran dan menanja :
„Engko kenapatah kaoe brentiken tindakanmoe, marilah kita masoek.”
„Saja merasa sedikit tida enak, kerna saja tida kenal pada toean roemah, dan apatah kedatengan saja tida djadi halangan bagi marika?”
„Ach tida bisa djadi, engko Tjeng Giok, kerna saja soeda kenal baek pada entjek dan entjim Tjoan Bie, demikian djoega pada poetrinja, Nelly, jang semoeanja ada amat manis boedi, kendati terhadep tetamoe jang belon dikenal.”
Satelah dapetken ini djawaban, baroelah djedjaka kita landjoetken poela tindakannja, dan marika laloe menoedjoe ka dalem itoe gedong.
Tetapi baroe sadja sampe di depan rorak roemah, dari serambi depan, keliatan mendatengin satoe nona moeda, dengen pakean japon merah-dadoe, samentara ramboetnja jang dibobbed tersisir dengen rapi, dan boeat tambahken itoe ketjantikan djadi semingkin gilang-goemilang, satoe liontine berliant mata satoe, tergantoeng di lehernja jang djoengdjang; sapasang<noinclude></noinclude>
mfd05w38jh6rqme05l5yrozx8cg6nyd
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/25
104
76819
315006
225002
2026-08-20T09:29:18Z
Alicya-
21994
315006
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-44-|-45-|}}</noinclude>dengen toendangannja toch menginget sama persobatannja, terpaksa Fredie terangken, sabegitoe djaoeh jang ia taoe dari Nelly, tentang Nora dan Tjeng Giok.
Henri djadi girang sekali koetika dapet kenjatahan bahoea itoe djedjaka penganter tida lebih dari penggawe pamannja itoe gadis tapi toch tida oeroeng dalem itoe kagirangan ada terselip djoega kakoeatiran, kapan ia inget bagimana Nora dan Tjeng Giok bergaoel begitoe rapet.
Dengen zonder oendjoek gerakan satoe apa jang bisa djadi kentara boeat itoe sobat, Henri tinggal diam; koetika itoe auto sampe, dengen lebih doeloe permisie ia laloe masoek ka kamar paviljoen, jang memang disediaken boeat ianja, selama ia berdiam di itoe kota.
Sebaliknja dari Fredie jang lantes tidoer poeles dengen dapetken impian-impian jang moeloek, adalah Henri itoe malem bisa dibilang tida sakedjepan bisa tidoer poeles, kerna iapoenja pikiran teroes terganggoe oleh parasnja itoe nona rok biroe toewa.
Tetapi begitoe itoe otak soeda djadi panas lantaran itoe pikiran, begitoe djoega iapoenja ingetan jang lebih gampang dipengaroehken oleh kedjahatan dari pada kebaekan, lantes timboel niatan-niatan jang kedji.
„Kaloe Tjeng Giok oepamanja lebih broentoeng hingga bisa tempatin hatinja itoe nona, toch saja masih poenjaken harta, jang dengen itoe saja bisa bikin „doenia” djadi terbalik. Misalnja saja masih bisa pengaroehken orang-toewanja dengen sorotnja berliant, dan kaniaja itoe djedjaka dengen segala tipoe dan moeslihat”. Dengen ini poetoesan baroe Henri bisa merasa poeas dalem hatinja.
Pada besokan paginja sasoedanja mata-hari naek tinggi, baroe itoe pemoeda bangoen dari tidoernja. Dari salembar soerat jang diselipin di sela daon pintoe, ia dapet kenjatahan kaloe Fredie soeda brangkat satoe djam berselang ka roemahnja Nelly. Koetika ia menoleh pada lontjeng kamar, ia dapet kenjatahan kaloe itoe waktoe soeda djam satengah sembilan.
Dengen zonder ajal lagi dan sebagi djoega itoe poetoesan semalem soeda pasti, ia lantes mandi dan salin pakeannja. Kamoedian begitoe beres ia laloe. katemoein entjek dan entjim Kim Beng, sama siapa ia toetoerken, lantaran ada kaperloean jang ia baroe inget maka ia terpaksa moesti brangkat itoe hari djoega ka Soerabaja. Sasoedanja permisie ia laloe pake autonja Fredie jang itoe waktoe menoenggoe di pekarangan, dan dengen ini kandara'an ia angkoet antero koffer pakeannja boeat dibawa ka station Pontjol, tetapi lebih doeloe ia mampir di Plampitan boeat pamitan sama Fredie.
Itoe waktoe kreta api jang bakal bawa ia ka Soerabaja kabetoelan tida lama lagi aken brangkat, maka ia tida oesah djemoer diri terlaloe lama boeat menoenggoe di itoe station.
<section end="4" />
<section begin="5" />
{{c|{{x-larger|V.}}}}
{{c|{{x-larger|'''SATOE LAMARAN.'''}}}}
{{rule|width=6em}}
{{r|Ada hari dimana oedjan toeroen me-<br>
nakoelin.<br>
Tapi ada hari djoega mata-hari ber-<br>
sinar goemilang,<br>
Demikian adanja nasib manoesia jang<br>
soeda dipasti'in.<br>
Dalem itoe boekoe Takdir boeat ma-<br>
sing-masing orang.}}<noinclude></noinclude>
6d2erwqobgc050l9a2gv4liipu3fraq
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/45
104
76880
315013
222141
2026-08-20T09:36:36Z
Alicya-
21994
315013
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Anisah Muzammil" />{{rh||-83-|-84-|}}</noinclude><div style="text-align: justify>
Koetika lontjeng soeda oetaraken ampir djam doeablas malem, Henri baroe kaloear dari sarangnja, dan sembari kasi tanda pada Hing Bie ia lantes berlaloe dengen autonja.
Di moeloet gang Djagalan itoe kandara'an dibrentiken, sasoedanja Hing Bie toeroen, Henri lantes lariken lagi itoe kandara'an boeat poelang di roemahnja.
<section end="7" />
<section begin="8" />
{{c|VIII.<br>'''KORBAN'''.}}
{{rule|width=4em}}
{{r|Nasib manoesia bisa berobah zonder<br>
katentoean,<br>
Orang sering mengeloe tindesannja<br>
itoe kaboeasan,<br>
Lebih lagi sering manoesia jang tida<br>
poenja kadosahan,<br>
Toch oleh Nasib dipaksa trima itoe<br>
siksahan.}}
Besokan paginja dengen bekel satoe piso blati jang soeda terasah tadjem dan satoe revolver Hing Bie brangkat bikin itoe perdjalanan ka Semarang, dimana ia diwadjibken bikin itoe pemboenoehan atas dirinja Tjeng Giok.
Tiga hari berselang, Henri Tjoe doedoek di roemah sembari batja satoe soerat-kabar harian dalem mana ia dibikin ketarik oleh satoe kabar-kawat jang kalimatnja pake letter besar, boenjinja: „Satoe penjerangan jang pengetjoet,” dan dengen pake letter-letter cursief ada diloekisken di bawahnja: {{sp|Satoe Bintang voetbal kelanggar peloeroe.}} Sedeng boenjinja itoe kabaran ada seperti brikoet:
„Malem tadi sapoelangnja dari vergadering Djin Gie Hwee, Liem Tjeng Giok, bintang dari Djin Gie Hwee, telah diserang dari blakang oleh saorang jang roepanja ada satoe pengetjoet. Itoe penjerangan dilakoeken dengen revolver, di satoe tempat gelap di tikoengan Djagalan Sebandaran. Dengen loeka berat itoe korban diangkoet ka C. B. Z. Politie lagi oesoet itoe perkara.”
Membatja ini kabar kawat jang ringkes Henri lantes bisa taoe kaloe iapoenja titah soeda didjalanken dengen betoel. Tetapi itoe waktoe hatinja tida oeroeng ada dalem kakoeatiran — maskipoen ia ada saorang jang berprangi kedjem — dan ini kakoeatiran tida laen melaenken takoet kaloe penjerangnja tertangkep, hingga ada kans boeat rembet dirinja.
Di hari esokannja saharian ia tida bisa tentremken hatinja, kerna iapoenja kakoeatiran menjoeroeng boeat ia taoe lebih djaoeh bagimana boentoetnja itoe penjerangan. Samentara waktoe sorenja ia toenggoein soerat kabar jang terbit itoe hari, kerna ia pertjaja itoe dagblad nanti moeat verslag jang lebih lengkep tentang itoe kedjadian.
Kira djam lima sore, koetika looper koran baroe sadja masoek di pekarangan roemahnja, lantes sadja ia prentah Simin boeat samboetin itoe koran, kamoedian dengen penoeh perhatian ia preksa sasoeatoe lembaran. Achirnja di lembar kadoea ia nampak satoe kabaran dalem roewangan kabar Indonesia, jang pake titel: „BOENTOETNJA ITOE PENJERANGAN”.
Kabaran mana dengen djelas ada terangken, bahoea itoe malem sakira djam sabelas seabisnja vergadering, berhoeboeng bakal diadakennja Stedenwedstrijd {{hws|Tiong|Tionghoa}}</div><noinclude></noinclude>
pxg3wwq3cqum1k7m6l80gwgq8k25cgj
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/49
104
76892
315015
225009
2026-08-20T09:41:11Z
Alicya-
21994
315015
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-91-|-92-|}}</noinclude>Kioe, jang sering dateng di roemahnja, sebagi satoe kawan jang paling rapet dari anaknja.
Sebaliknja di roemah sakit pada Tjeng Oiok ia toetoerken, bahoea sebab inget keada'an di roemah sakit ada mengeseiken hati, maka ia djadi bawa djoega bebrapa boekoe batja'an, dan ini tentoe sadja oleh djedjaka kita ditrima dengen girang, kerna ia sama sekali tida mendoesin kaloe itoe sobat ada palsoe.
Lantaran adanja ini perboeatan hianat, begitoe lekas Tjeng Giok kaloear dari roemah sakit, tida selang brapa hari kamoedian, ia dapet soerat mentega dari madjikannja, jang goenaken alesan bahoea lantaran Tjeng Giok bikin telantar kerdjahannja, maka ia tida bisa dipake lebih djaoeh di itoe peroesaha'an dari entjek Keng Tong.
Ini kedjadian jang begitoe mendadak soeda tentoe sadja terbitken kagemperan antara kawan kawannja, jang semoea tida mendoesin apa sebabnja itoe pemetjatan, apa poela katerangan jang marika dapetken dari entjek Keng Tong sama sekali tida memoeasken, kerna itoe madjikan njataken bahoea itoe pemetjatan ada disebabken lantaran ia tida perloe pake Tjeng Giok lebih lama.
Tetapi apa jaóg sabetoelnja terdjadi, jalah tida lebih dari berhasilnja itoe tipoe kedji dari Henri Tjoe, jang pembatja soeda taoe koetika ini lagi diatoer bersama Hing Bie.
Boeat terangken lebih djelas kita bisa tambahken djoega, bahoea sewaktoe besokannja Tjeng Giok bakal poelang kombali di roemahnja, kerna iapoenja sakit soeda semboeh betoel, Lie Tjioe Kioe, itoe sobat palsoe, di satoe sore telah dateng di roemahnja entjek Keng Sin, sama siapa ia toetoerken apa jang ia taoe tentang perhoeboengan Nora.
Permoela ini perboeatan hianat oleh Keng Sin tida begitoe dipertjaja, maskipoen ia sendiri sabetoelnja soeda merasa tjoeriga, koetika Iiat poetrinja rapet sekali bergaoel dengen itoe djedjaka jang dimaksoedken. Toch kapan Tjioe Kioe soeda kaloearken itoe soerat soeratnja Ncora. disini baroe itoe ajah mendoesin dan djadi goesar sekali.
Kaloe Nora oepamanja belon perna dilamar oleh itoe millionnair dari Soerabaja, dan bila di fihaknja itoe pelamar tida ambil sikep tida senang, sebagi sekarang, tetapi {{...|5}} ini waktoe entjek Keng Sin jakin betoel bahoea sia-sianja itoe kalls boeat djadi besannja satoe millionnair, tida laen kema gara·garanja Tjeng Giok.
Koetika itoe penghianat berlaloe, entjek Keng Sin tida masoek di kamar toelisnja, dimana djoestroe itoe waktoe ada mengintip Nora, jang dari setadian dengerken apa jang dibitjaraken, hanja teroes ka dalem dan poeter telefoon pada Keng Tong.
{{c|{{x-larger|IX}}}}
{{c|{{x-larger|'''GOENAKEN PAKSA'AN'''.}}}}
{{rule|width=6em}}
<div style="width: 50%; text-align: right; margin-left: 50%;">
Kaloe rintangan sampe di poentjak.
Jang seringkali soeker boeat orang
menandjak.
Di siloe baroe ada itoe oedjian jang
pengabisan.
Boeat orang mengoendjoek pengorbanan
dengen katoeloesan.
</div>
Pada waktoe kita loekisken itoe hal di bagian sabelah atas, had soeda djadi menggerib dan tida lama<noinclude></noinclude>
ctzcrp9wzu9y5bm4t3lzje9hlrdqtbd
315028
315015
2026-08-20T09:52:43Z
Alicya-
21994
315028
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-91-|-92-|}}</noinclude>Kioe, jang sering dateng di roemahnja, sebagi satoe kawan jang paling rapet dari anaknja.
Sebaliknja di roemah sakit pada Tjeng Oiok ia toetoerken, bahoea sebab inget keada'an di roemah sakit ada mengeseiken hati, maka ia djadi bawa djoega bebrapa boekoe batja'an, dan ini tentoe sadja oleh djedjaka kita ditrima dengen girang, kerna ia sama sekali tida mendoesin kaloe itoe sobat ada palsoe.
Lantaran adanja ini perboeatan hianat, begitoe lekas Tjeng Giok kaloear dari roemah sakit, tida selang brapa hari kamoedian, ia dapet soerat mentega dari madjikannja, jang goenaken alesan bahoea lantaran Tjeng Giok bikin telantar kerdjahannja, maka ia tida bisa dipake lebih djaoeh di itoe peroesaha'an dari entjek Keng Tong.
Ini kedjadian jang begitoe mendadak soeda tentoe sadja terbitken kagemperan antara kawan kawannja, jang semoea tida mendoesin apa sebabnja itoe pemetjatan, apa poela katerangan jang marika dapetken dari entjek Keng Tong sama sekali tida memoeasken, kerna itoe madjikan njataken bahoea itoe pemetjatan ada disebabken lantaran ia tida perloe pake Tjeng Giok lebih lama.
Tetapi apa jaóg sabetoelnja terdjadi, jalah tida lebih dari berhasilnja itoe tipoe kedji dari Henri Tjoe, jang pembatja soeda taoe koetika ini lagi diatoer bersama Hing Bie.
Boeat terangken lebih djelas kita bisa tambahken djoega, bahoea sewaktoe besokannja Tjeng Giok bakal poelang kombali di roemahnja, kerna iapoenja sakit soeda semboeh betoel, Lie Tjioe Kioe, itoe sobat palsoe, di satoe sore telah dateng di roemahnja entjek Keng Sin, sama siapa ia toetoerken apa jang ia taoe tentang perhoeboengan Nora.
Permoela ini perboeatan hianat oleh Keng Sin tida begitoe dipertjaja, maskipoen ia sendiri sabetoelnja soeda merasa tjoeriga, koetika Iiat poetrinja rapet sekali bergaoel dengen itoe djedjaka jang dimaksoedken. Toch kapan Tjioe Kioe soeda kaloearken itoe soerat soeratnja Ncora. disini baroe itoe ajah mendoesin dan djadi goesar sekali.
Kaloe Nora oepamanja belon perna dilamar oleh itoe millionnair dari Soerabaja, dan bila di fihaknja itoe pelamar tida ambil sikep tida senang, sebagi sekarang, tetapi {{...|5}} ini waktoe entjek Keng Sin jakin betoel bahoea sia-sianja itoe kalls boeat djadi besannja satoe millionnair, tida laen kema gara·garanja Tjeng Giok.
Koetika itoe penghianat berlaloe, entjek Keng Sin tida masoek di kamar toelisnja, dimana djoestroe itoe waktoe ada mengintip Nora, jang dari setadian dengerken apa jang dibitjaraken, hanja teroes ka dalem dan poeter telefoon pada Keng Tong.
<section end="8" />
<section begin="9" />
{{c|{{x-larger|IX}}}}
{{c|{{x-larger|'''GOENAKEN PAKSA'AN'''.}}}}
{{rule|width=6em}}
<div style="width: 50%; text-align: right; margin-left: 50%;">
Kaloe rintangan sampe di poentjak.
Jang seringkali soeker boeat orang
menandjak.
Di siloe baroe ada itoe oedjian jang
pengabisan.
Boeat orang mengoendjoek pengorbanan
dengen katoeloesan.
</div>
Pada waktoe kita loekisken itoe hal di bagian sabelah atas, had soeda djadi menggerib dan tida lama<noinclude></noinclude>
jden952j08hb8l8ecz36tdcf11027rm
Halaman:Tjinta dan pengorbanan.pdf/54
104
76922
315035
225018
2026-08-20T10:02:30Z
Alicya-
21994
315035
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Muhnurtaufiq" />{{rh||-101-|-102-|}}</noinclude>Tapi Nora poen bisa madjoeken alesannja, achirnja lantaran kewalahan Tjeng Giok trima baek itoe hal, apa poela ia pikir itoe kerdjahan jang hendak ditjari ada dalem kalangan roemah pergoeroean.
„Tapi engko Tjeng Giok,“ kata Nora sasoedanja ia beres dengen pembitjara'annja, „saja heran sekali bagimana kaoe soeda lantes sadja pergi ka sini, sedeng di Semarang masih ada laen peroesaha'an jang minta kaoe poenja tenaga. Malah saja denger entjek Keng Tong soeda terpaksa robah niatannja, dan maoe tjoba panggil balik padamoe, koetika ia mendoesin bahoea dengen berlakoe demikian ia soeda berboeat satoe kadosahan.“
„Kaoe tida mengarti doedoeknja hal, Nora, kaloe. saja soeda paksaken berlaloe dari Semarang, kendati dengen begitoe saja poenja orang toewa djadi terpisa dari saja poenja pandangan, itoelah kerna saja anggep pertjoema tinggal di itoe iboe-kota dari Djawa Tengah jang penoeh dengen peringetan doeka. Kaoe poenja paman soeda minta saja balik kerdja kombali dalem peroesaha'annja, tetapi saja tolak itoe, sebab saja tida soedi balik poela pada satoe madjikan jang bermoela bisa berlakoe botjengli pada diri saja.”
Waktoe itoe sepasang merpati mengobrol, di sabelah loear kabetoelan madjikannja Tjeng Giok poelang dengen autonja bersama istrinja. Dengen lantes djedjaka kita perkenalken Nora pada itoe toean dan njonja.
Antara laen Nora ada toetoerken djoega dengen djelas doedoeknja hal jang bikin ia ada di itoe tempat, lebih djaoeh ia njataken djoega harepannja jang ia kandoeng.
Itoe madjikan, kendati boekan bangsanja, ada taro sympathie sekali pada Tjeng Giok dan pada Nora, maka ia njataken sedia boeat membantoe dalem itoe oeroesan, saoepamanja terbitken karewelan.
<section end="9" />
<section begin="10" />
{{c|{{x-larger|X.}}}}
{{c|{{x-larger|'''PENOETOEP.'''}}}}
{{rule|width=6em}}
<div style="width: 50%; text-align: right; margin-left: 50%;">
Aer kali mengalir dengen katetepan.
Dari goenoeng tinggi toeroen di aer
laoetan,
Maski rintangan mengandang zonder
ada poetoesnja.
Katjintahan jang keras achir-achir bisa
dapetken maksoednja.
</div>
Di harian koetika Nora lakoeken perdjalanannja ka Batavia, Keng Sin dan njonjanja djadi iboek sekali, kerna iapoenja poetri jang satoe-satoenja soeda melariken diri. Keng Sin bermoela kira kaloe Nora soeda mengoempet di roemah sala satoe temennja, tetapi sasoedanja ditjari oebek-oebekan ternjata tida ada, maka achirnja dengen sendirinja ia dateng di roemahnja Tjeng Giok, dimana ia tanjaken pada ajahnja djedjaka kita, dan disini djoega tentoe sekali tida kedapetan, kerna itoe ajah poen sama sekali tida taoe itoe oeroesan.
Kapan siang soeda terganti oleh malem, dan Nora masih belon dikatemoeken, di sitoe entjek Keng Sin rapportken itoe hal pada politie, dan minta toeloeng boeat tjariken poetrinja di Batavia, ka mana ia doega Nora soeda pergi, kerna Tjeng Giok ada berdiam di sana.
Satoe penggawe politie Blanda dan doea orang sabawahannja soeda lantes brangkat ka Batavia boeat<noinclude></noinclude>
heikbva8kbf9vqahg5gvojgpwl3mntf
Tjinta dan Pengorbanan
0
84649
315039
245733
2026-08-20T10:18:56Z
Alicya-
21994
315039
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{Header|title=Tjinta dan Pengorbanan|author=Dahlia|section=|previous=|next=|notes=|year=1930}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" include=2 />
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|title=Daftar Isi|
# [[/Bab 1|Bab 1]]
# [[/Bab 2|Bab 2]]
# [[/Bab 3|Bab 3]]
# [[/Bab 4|Bab 4]]
# [[/Bab 5|Bab 5]]
# [[/Bab 6|Bab 6]]
# [[/Bab 7|Bab 7]]
# [[/Bab 8|Bab 8]]
# [[/Bab 9|Bab 9]]
# [[/Bab 10|Bab 10]]
}}
{{DP-ID-lama}}
juahhoxn8kl90gimrtrka8ucggdxpll
Acara:Tantangan WikiPandu/Berkas
1728
111286
314879
314736
2026-08-20T05:49:20Z
Quraeni
22485
/* Halaman untuk Ditransklusi */ menambahkan berkas
314879
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Logo WikiPandu.svg|150px|center|frameless]]
{| class="wikitable" style="width:100%; text-align:center; background:#006699; font-size:150%; font-weight:bold; color:white;"
|-
| Tantangan WikiPandu
|}
{| border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"
|- style="white-space: nowrap; font-size: 150%; font-family:Monospace, sans-serif;"
| style="{{#ifeq: {{FULLPAGENAME}} | Acara:Tantangan WikiPandu | | border-bottom: 8px #f2b9df solid; text-align: center; padding: 1em 0em; }}" | [[Image:Home Icon by Lakas.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu| Beranda]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
| style="{{#ifeq: {{#titleparts: {{FULLPAGENAME}} | 2 }} | Acara:Tantangan WikiPandu/Ketentuan | | border-bottom: 8px #f2b9df solid; }}" | [[Image:Checklist Noun project 5166.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu/Ketentuan|<span style="color: #0645ad;">Ketentuan</span>]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
| style="{{#ifeq: {{#titleparts: {{FULLPAGENAME}} | 2 }} | Acara:Tantangan WikiPandu/Berkas | | border-bottom: 8px #f2b9df solid; }}" | [[Image:Documents icon - noun project 5020.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu/Berkas|<span style="color: #0645ad;">Buku</span>]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
| style="{{#ifeq: {{#titleparts: {{FULLPAGENAME}} | 2 }} | Acara:Tantangan WikiPandu/Hasil| | border-bottom: 8px #f2b9df solid;}}" | [[Image:SVG Trophy Star.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu/Hasil|<span style="color: #0645ad;">Hasil</span>]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
|}
__NOTOC__
{{ambox
| type = notice
| image = [[File:Noto Emoji Pie 1f4e2.svg|40px]]
| text = Panitia menyediakan buku-buku untuk diuji-baca dan ditransklusi. Selain yang tercantum di bawah, kontribusi Anda tidak akan dicatat sebagai bagian dari kontribusi Tantangan WikiPandu. Panitia akan menambah jumlah buku jika diperlukan.
}}
== Berkas untuk Diujibaca ==
Penghitungan kontribusi menggunakan perkakas khusus. Halaman yang telah diujibaca disetorkan melalui [https://fountain.toolforge.org/editathons/wp-ujibaca Fountain di sini.]
{| class="wikitable" {{ts|wa}}
! style="text-align: center;" |No
! style="text-align: center;" |Halaman depan
! style="text-align: center;" |Judul buku
! style="text-align: center;" |Halaman indeks
! style="text-align: center;" |Catatan khusus
|-
|1.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No.1.pdf|100px]]
| [[Anna Karenine 1]]
| [[Indeks:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No.1.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|2.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No. 2.pdf|100px]]
| [[Anna Karenine 2]]
| [[Indeks:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No. 2.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|3.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:CIVICS, Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia.pdf|100px]]
| [[Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia (Civics)]]
| [[Indeks:CIVICS, Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia.pdf]]
|
|-
|4.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf|100px]]
| [[Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan]]
| [[Indeks:Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf]]
|
|-
|5.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Perkembangan situasi politik di Indonesia proloog dan epiloog Gestapu PKI.pdf|100px]]
| [[Perkembangan Situasi Politik di Indonesia Proloog dan Epiloog Gestapu PKI]]
| [[Indeks:Perkembangan situasi politik di Indonesia proloog dan epiloog Gestapu PKI.pdf]]
| Sudah selesai dujibaca
|-
|6.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:San min chu i.pdf|100px]]
| [[San Min Chu I]]
| [[Indeks:San min chu i.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|7.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Menudju Republik Indonesia (Edisi 1962).pdf|100px]]
| [[Menudju Republik Indonesia]]
| [[Indeks:Menudju Republik Indonesia (Edisi 1962).pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|8.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Sair rempah rempah.pdf|100px]]
| [[Sair rempah rempah]]
| [[Indeks:Sair rempah rempah.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|9.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Dari Puncak Bukit Talang.pdf|100px]]
| [[Dari Puncak Bukit Talang]]
| [[Indeks:Dari Puncak Bukit Talang.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|10.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Rencana Ekonomi Berjuang-Tan Malaka.pdf|100px]]
| [[Rencana Ekonomi Berjuang]]
| [[Indeks:Rencana Ekonomi Berjuang-Tan Malaka.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|11.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Korban Boedi.pdf|100px]]
| [[Korban Boedi]]
| [[Indeks:Korban Boedi.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|12.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Demokrasi Terpimpin.pdf|100px]]
| [[Demokrasi Terpimpin ]]
| [[Indeks:Demokrasi Terpimpin.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|13.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Raden Mas Djojo Koesomo.pdf|100px]]
| [[Raden Mas Djojo Koesomo]]
| [[Indeks:Raden Mas Djojo Koesomo.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|14.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Raden-Adjeng Karmiati.pdf|100px]]
| [[Raden-Adjeng Karmiati]]
| [[Indeks:Raden-Adjeng Karmiati.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|15.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf|100px]]
| [[Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia]]
| [[Indeks:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf]]
|
|-
|16.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Revoloesi Nasional dan Mei.pdf|100px]]
| [[Revoloesi Nasional dan Mei]]
| [[Indeks:Revoloesi Nasional dan Mei.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|17.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Kewadjiban dan Hak.pdf|100px]]
| [[Kewadjiban dan Hak]]
| [[Indeks:Kewadjiban dan Hak.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|18.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Perdjandjian dengan Setan.pdf|100px]]
| [[Perdjandjian dengan Setan]]
| [[Indeks:Perdjandjian dengan Setan.pdf]]
|
|-
|19.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Gerpolek.pdf|100px]]
| [[Gerpolek]]
| [[Indeks:Gerpolek.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|20.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Boenga rampai.djvu|100px]]
| [[Boenga rampai]]
| [[Indeks:Boenga rampai.djvu]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|21.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Janie.pdf|100px]]
| [[Janie]]
| [[Indeks:Janie.pdf]]
|
|-
|22.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf|100px]]
| [[Tjerita Roman Pengorbanan]]
| [[Indeks:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf]]
|
|-
|23.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Mimbar Indonesia 33.pdf|100px]]
| [[Mimbar Indonesia 33]]
| [[Indeks:Mimbar Indonesia 33.pdf]]
|
|-
|24.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Sakit Hati.pdf|100px]]
| [[Sakit Hati]]
| [[Indeks:Sakit Hati.pdf]]
|
|-
|25.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Selina.pdf|100px]]
| [[Selina]]
| [[Indeks:Selina.pdf]]
|
|-
|26.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:The Belle of Menado.pdf|100px]]
| [[The Belle of Menado]]
| [[Indeks:The Belle of Menado.pdf]]
|
|-
|27.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Auto setan.pdf|100px]]
| [[Auto setan]]
| [[Indeks:Auto setan.pdf]]
|
|}
== Halaman untuk Ditransklusi ==
Penghitungan kontribusi menggunakan perkakas khusus. Halaman yang telah ditransklusi disetorkan melalui [https://fountain.toolforge.org/editathons/wp-transklusi Fountain di sini].
{| class="wikitable" {{ts|wa}}
! style="text-align: center;" |No
! style="text-align: center;" |Halaman Transklusi (Utama)
! style="text-align: center;" |Halaman indeks
! style="text-align: center;" |Catatan khusus
|-
|1.
| [[Revolusi Desember '45 Di Atjeh]]
| [[Indeks:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf]]
| Transklusi per sub-bab/judul
|-
|2.
| [[Amandemen IV UUD 1945]]
| [[Indeks:Amandemen IV UUD 1945.djvu]]
|
|-
|3.
| [[Aku Ini Binatang Jalang]]
| [[Indeks:Aku Ini Binatang Jalang.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|4.
| [[Misteri Rimba Mangkisi]]
| [[Indeks:ADH 0005 A. Damhoeri - Misteri Rimba Mangkisi.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|5.
| [[Kaba Si Domba Ameh]]
| [[Indeks:ADH 0002 A. Damhoeri - Kaba - Si Domba Ameh.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|6.
| [[Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina]]
| [[Indeks:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|7.
| [[Beberapa fikiran dan pandangan]]
| [[Indeks:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|8.
| [[Bwee Hoa]]
| [[Indeks:Bwee Hoa.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|9.
| [[Tjerita Perang dari Kadoea Fihak Negri Japan dan Taijwan]]
| [[Indeks:Tjerita Perang dari Kadoea Fihak Negri Japan dan Taijwan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|10.
| [[40 Tahun PKI]]
| [[Indeks:40 Tahun PKI.djvu]]
| Transklusikan per periode
|-
|11.
| [[Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan]]
| [[Indeks:Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|12.
| [[Demokrasi Terpimpin]]
| [[Indeks:Demokrasi Terpimpin.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|13.
| [[Raden-Adjeng Karmiati]]
| [[Indeks:Raden-Adjeng Karmiati.pdf]]
|
|-
|-
|14.
| [[Revoloesi Nasional dan 1 Mei]]
| [[Indeks:Revoloesi Nasional dan Mei.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab (tingkat pertama & kedoea)
|-
|15.
| [[Korban Boedi]]
| [[Indeks:Korban Boedi.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|-
|16.
| [[Perdjandjian dengan Setan]]
| [[Indeks:Perdjandjian dengan Setan.pdf]]
| Transklusikan per sub-judul
|-
|17.
| [[Janie]]
| [[Indeks:Janie.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|18.
| [[Pengorbanan]]
| [[Indeks:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|19.
| [[San Min Chu I]]
| [[Indeks:San min chu i.pdf]]
| Transklusikan per uraian
|-
|20.
| [[Raden Mas Djojo Koesomo]]
| [[Indeks:Raden Mas Djojo Koesomo.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|21.
| [[Bangsawan dan Pengemis]]
| [[Indeks:Bangsawan dan Pengemis.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|22.
| [[Pantja-Sila]]
| [[Indeks:Pantja-Sila oleh H. Rosin.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|23.
| [[Tjinta dan Pengorbanan]]
| [[Indeks:Tjinta dan pengorbanan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|}
7f456s6l5dmh02bdzi8qth53tdawnaq
314929
314879
2026-08-20T08:01:09Z
Quraeni
22485
/* Berkas untuk Diujibaca */
314929
wikitext
text/x-wiki
[[Berkas:Logo WikiPandu.svg|150px|center|frameless]]
{| class="wikitable" style="width:100%; text-align:center; background:#006699; font-size:150%; font-weight:bold; color:white;"
|-
| Tantangan WikiPandu
|}
{| border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center"
|- style="white-space: nowrap; font-size: 150%; font-family:Monospace, sans-serif;"
| style="{{#ifeq: {{FULLPAGENAME}} | Acara:Tantangan WikiPandu | | border-bottom: 8px #f2b9df solid; text-align: center; padding: 1em 0em; }}" | [[Image:Home Icon by Lakas.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu| Beranda]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
| style="{{#ifeq: {{#titleparts: {{FULLPAGENAME}} | 2 }} | Acara:Tantangan WikiPandu/Ketentuan | | border-bottom: 8px #f2b9df solid; }}" | [[Image:Checklist Noun project 5166.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu/Ketentuan|<span style="color: #0645ad;">Ketentuan</span>]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
| style="{{#ifeq: {{#titleparts: {{FULLPAGENAME}} | 2 }} | Acara:Tantangan WikiPandu/Berkas | | border-bottom: 8px #f2b9df solid; }}" | [[Image:Documents icon - noun project 5020.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu/Berkas|<span style="color: #0645ad;">Buku</span>]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
| style="{{#ifeq: {{#titleparts: {{FULLPAGENAME}} | 2 }} | Acara:Tantangan WikiPandu/Hasil| | border-bottom: 8px #f2b9df solid;}}" | [[Image:SVG Trophy Star.svg|none|75px]] [[Acara:Tantangan WikiPandu/Hasil|<span style="color: #0645ad;">Hasil</span>]]
| style="width: 1em; border-bottom: 1px transparent;" |
|}
__NOTOC__
{{ambox
| type = notice
| image = [[File:Noto Emoji Pie 1f4e2.svg|40px]]
| text = Panitia menyediakan buku-buku untuk diuji-baca dan ditransklusi. Selain yang tercantum di bawah, kontribusi Anda tidak akan dicatat sebagai bagian dari kontribusi Tantangan WikiPandu. Panitia akan menambah jumlah buku jika diperlukan.
}}
== Berkas untuk Diujibaca ==
Penghitungan kontribusi menggunakan perkakas khusus. Halaman yang telah diujibaca disetorkan melalui [https://fountain.toolforge.org/editathons/wp-ujibaca Fountain di sini.]
{| class="wikitable" {{ts|wa}}
! style="text-align: center;" |No
! style="text-align: center;" |Halaman depan
! style="text-align: center;" |Judul buku
! style="text-align: center;" |Halaman indeks
! style="text-align: center;" |Catatan khusus
|-
|1.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No.1.pdf|100px]]
| [[Anna Karenine 1]]
| [[Indeks:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No.1.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|2.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No. 2.pdf|100px]]
| [[Anna Karenine 2]]
| [[Indeks:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No. 2.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|3.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:CIVICS, Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia.pdf|100px]]
| [[Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia (Civics)]]
| [[Indeks:CIVICS, Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia.pdf]]
|
|-
|4.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf|100px]]
| [[Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan]]
| [[Indeks:Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf]]
|
|-
|5.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Perkembangan situasi politik di Indonesia proloog dan epiloog Gestapu PKI.pdf|100px]]
| [[Perkembangan Situasi Politik di Indonesia Proloog dan Epiloog Gestapu PKI]]
| [[Indeks:Perkembangan situasi politik di Indonesia proloog dan epiloog Gestapu PKI.pdf]]
| Sudah selesai dujibaca
|-
|6.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:San min chu i.pdf|100px]]
| [[San Min Chu I]]
| [[Indeks:San min chu i.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|7.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Menudju Republik Indonesia (Edisi 1962).pdf|100px]]
| [[Menudju Republik Indonesia]]
| [[Indeks:Menudju Republik Indonesia (Edisi 1962).pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|8.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Sair rempah rempah.pdf|100px]]
| [[Sair rempah rempah]]
| [[Indeks:Sair rempah rempah.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|9.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Dari Puncak Bukit Talang.pdf|100px]]
| [[Dari Puncak Bukit Talang]]
| [[Indeks:Dari Puncak Bukit Talang.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|10.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Rencana Ekonomi Berjuang-Tan Malaka.pdf|100px]]
| [[Rencana Ekonomi Berjuang]]
| [[Indeks:Rencana Ekonomi Berjuang-Tan Malaka.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|11.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Korban Boedi.pdf|100px]]
| [[Korban Boedi]]
| [[Indeks:Korban Boedi.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|12.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Demokrasi Terpimpin.pdf|100px]]
| [[Demokrasi Terpimpin ]]
| [[Indeks:Demokrasi Terpimpin.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|13.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Raden Mas Djojo Koesomo.pdf|100px]]
| [[Raden Mas Djojo Koesomo]]
| [[Indeks:Raden Mas Djojo Koesomo.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|14.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Raden-Adjeng Karmiati.pdf|100px]]
| [[Raden-Adjeng Karmiati]]
| [[Indeks:Raden-Adjeng Karmiati.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|15.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf|100px]]
| [[Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia]]
| [[Indeks:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf]]
|
|-
|16.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Revoloesi Nasional dan Mei.pdf|100px]]
| [[Revoloesi Nasional dan 1 Mei]]
| [[Indeks:Revoloesi Nasional dan Mei.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|17.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Kewadjiban dan Hak.pdf|100px]]
| [[Kewadjiban dan Hak]]
| [[Indeks:Kewadjiban dan Hak.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|18.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Perdjandjian dengan Setan.pdf|100px]]
| [[Perdjandjian dengan Setan]]
| [[Indeks:Perdjandjian dengan Setan.pdf]]
|
|-
|19.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Gerpolek.pdf|100px]]
| [[Gerpolek]]
| [[Indeks:Gerpolek.pdf]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|20.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Boenga rampai.djvu|100px]]
| [[Boenga rampai]]
| [[Indeks:Boenga rampai.djvu]]
| Sudah selesai diujibaca
|-
|21.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Janie.pdf|100px]]
| [[Janie]]
| [[Indeks:Janie.pdf]]
|
|-
|22.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf|100px]]
| [[Pengorbanan]]
| [[Indeks:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf]]
|
|-
|23.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Mimbar Indonesia 33.pdf|100px]]
| [[Mimbar Indonesia 33]]
| [[Indeks:Mimbar Indonesia 33.pdf]]
|
|-
|24.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Sakit Hati.pdf|100px]]
| [[Sakit Hati]]
| [[Indeks:Sakit Hati.pdf]]
|
|-
|25.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Selina.pdf|100px]]
| [[Selina]]
| [[Indeks:Selina.pdf]]
|
|-
|26.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:The Belle of Menado.pdf|100px]]
| [[The Belle of Menado]]
| [[Indeks:The Belle of Menado.pdf]]
|
|-
|27.
| style="text-align: center;" | [[Berkas:Auto setan.pdf|100px]]
| [[Auto setan]]
| [[Indeks:Auto setan.pdf]]
|
|}
== Halaman untuk Ditransklusi ==
Penghitungan kontribusi menggunakan perkakas khusus. Halaman yang telah ditransklusi disetorkan melalui [https://fountain.toolforge.org/editathons/wp-transklusi Fountain di sini].
{| class="wikitable" {{ts|wa}}
! style="text-align: center;" |No
! style="text-align: center;" |Halaman Transklusi (Utama)
! style="text-align: center;" |Halaman indeks
! style="text-align: center;" |Catatan khusus
|-
|1.
| [[Revolusi Desember '45 Di Atjeh]]
| [[Indeks:Revolusi Desember '45 Di Atjeh.pdf]]
| Transklusi per sub-bab/judul
|-
|2.
| [[Amandemen IV UUD 1945]]
| [[Indeks:Amandemen IV UUD 1945.djvu]]
|
|-
|3.
| [[Aku Ini Binatang Jalang]]
| [[Indeks:Aku Ini Binatang Jalang.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|4.
| [[Misteri Rimba Mangkisi]]
| [[Indeks:ADH 0005 A. Damhoeri - Misteri Rimba Mangkisi.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|5.
| [[Kaba Si Domba Ameh]]
| [[Indeks:ADH 0002 A. Damhoeri - Kaba - Si Domba Ameh.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|6.
| [[Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina]]
| [[Indeks:Harta jang Terpendem atawa Tjeritanja Njai Marsina.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|7.
| [[Beberapa fikiran dan pandangan]]
| [[Indeks:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|8.
| [[Bwee Hoa]]
| [[Indeks:Bwee Hoa.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|9.
| [[Tjerita Perang dari Kadoea Fihak Negri Japan dan Taijwan]]
| [[Indeks:Tjerita Perang dari Kadoea Fihak Negri Japan dan Taijwan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|10.
| [[40 Tahun PKI]]
| [[Indeks:40 Tahun PKI.djvu]]
| Transklusikan per periode
|-
|11.
| [[Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan]]
| [[Indeks:Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab/judul
|-
|12.
| [[Demokrasi Terpimpin]]
| [[Indeks:Demokrasi Terpimpin.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|13.
| [[Raden-Adjeng Karmiati]]
| [[Indeks:Raden-Adjeng Karmiati.pdf]]
|
|-
|-
|14.
| [[Revoloesi Nasional dan 1 Mei]]
| [[Indeks:Revoloesi Nasional dan Mei.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab (tingkat pertama & kedoea)
|-
|15.
| [[Korban Boedi]]
| [[Indeks:Korban Boedi.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|-
|16.
| [[Perdjandjian dengan Setan]]
| [[Indeks:Perdjandjian dengan Setan.pdf]]
| Transklusikan per sub-judul
|-
|17.
| [[Janie]]
| [[Indeks:Janie.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|18.
| [[Pengorbanan]]
| [[Indeks:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|19.
| [[San Min Chu I]]
| [[Indeks:San min chu i.pdf]]
| Transklusikan per uraian
|-
|20.
| [[Raden Mas Djojo Koesomo]]
| [[Indeks:Raden Mas Djojo Koesomo.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|21.
| [[Bangsawan dan Pengemis]]
| [[Indeks:Bangsawan dan Pengemis.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|22.
| [[Pantja-Sila]]
| [[Indeks:Pantja-Sila oleh H. Rosin.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|23.
| [[Tjinta dan Pengorbanan]]
| [[Indeks:Tjinta dan pengorbanan.pdf]]
| Transklusikan per sub-bab
|-
|}
4e8ga5dkurni5hmkj6ygnekecby635d
Halaman:San min chu i.pdf/17
104
111417
315034
309990
2026-08-20T09:56:22Z
Cgjkldn
22445
/* Tanpa teks */
315034
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Cgjkldn" /></noinclude><noinclude></noinclude>
9ew03a0jbf26tqnaiakc0hdchuosjw9
Halaman:San min chu i.pdf/88
104
111479
314839
310081
2026-08-19T12:21:32Z
Ichi Ocha
26099
314839
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ichi Ocha" />{{rh||83}}</noinclude>an, dan pandangan hidup bangsa Tionghoa pada dewasa ini diliputi oleh tjita-tjita jang demikian itu. Tuanpun mengadakan peperangan ini guna mentjapai perdamaian kekal. Pada mulanja kami seia sekata dengan Tuan, tetapi kemudian ternjata bahwa Tuan bukan membitjarakan perdamaian tetapi peperangan dan bukan keadilan tetapi pemaksaan. Saja memandang kesukaan Tuan akan peperangan sebagai suatu kebuasan jang tak ada taranja. Turutilah hawa nafsu Tuan dan berperanglah, tetapi djanganlah diharapharapkan bahwa kami akan mengikuti Tuan. Apabila Tuan sudah djemu dan pajah berperang, dan pada suatu ketika insaf dan ingin membitjarakan perdamaian jang sungguh-sungguh, maka barulah kami akan memilih fihak Tuan serta mengusahakan bersama-sama dengan Tuan suatu perdamaian bagi seluruh dunia. Ada lagi suatu alasan jang kuat, mengapa kami tidak mau diseret dalam peperangan serta mengirimkan tentara, ialah karena kami bangsa Tionghoa tidak ingin mempunjai negara atau pemerintahan jang lalim seperti pemerintah Tuan. Kalau kami turut adjakan Tuan dan menggabungkan diri dengan Negara-negara Entente, tentu Tuan sanggup mengirimkan opsir-opsir pelatih ke Tiongkok; dibawah pimpinan opsir-opsir Tuan jang berpengalaman serta dengan memakai alat-alat peperangan jang lengkap, dalam tempoh enam bulan sadja tentulah Tuan dapat melatih sedjumlah tiga sampai limaratus ribu pradjurit jang dapat dikirim ke Eropah buat memerangi Djerman. Lalu Tuan akan sangat pajah".
..Mengapa pajah? " tanja konsol Inggeris tersebut. Maka saja djawab : „Sungguhpun negara Tuan telah memadjukan beberapa djuta pradjurit dimedan pertempuran dan berperang bertahun-tahun lamanja, Djerman tak dapat djuga Tuan taklukkan, meskipun begitu Tuan mengira bahwa bantuan beberapa ratus ribu
pradjurit Tionghoa akan mengakibatkan kehantjurannja. Akibat jang sungguh-sungguh akan terdjadi, ialah bangunnja semangat ketentaraan dikalangan rakjat Tiongkok; tentara jang beberapa ratus ribu ini, akan berkembang mendjadi tentara Tiongkok jang berdjuta-djuta djumlahnja dan keadaan jang demikian itu tentu akan sangat memajahkan Tuan. Sekarang Djepang memihak Tuan, dan telah mendjadi sebuah negara besar didunia; dengan kekuatan tentaranja ia menguasai seluruh Asia. Politiknja tak berbeda dengan negara-negara imperialisme lainnja dan Tuan sangat chawa-<noinclude></noinclude>
3it4czv8cnd2vowbbwncy6okwq4npx5
Halaman:San min chu i.pdf/90
104
111490
314838
310109
2026-08-19T12:19:22Z
Ichi Ocha
26099
314838
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ichi Ocha" />{{rh||85}}</noinclude>dan dinamakan anarchisme dan komunisme, bukan barang asing bagi Tiongkok; misalnja, filsafat politik dari Hwang-Lao' 1) sesungguhnjalah anarchisme, dan angan2 atau impian Lieh-Tze 2) tentang masjarakat bangsa-bangsa Hua-Hsü jang tidak mempunjai pemerintahan dan undang-undang bukankah suatu matjam anarchisme jang lain ? Pemuda-pemuda modern bangsa kita jang kurang teliti mempeladjari teori-teori Tiongkok jang kuno ini, mengira bahwa tjita-tjita mereka baru sekarang ini disiarkan di Tiongkok. Mereka tidak insjaf, bahwa adjaran-adjaran ini sudah hidup beribu-ribu tahun di Tiongkok tetapi sebaliknja baru sekarang tersiar di Eropah. Apa jang dilaksanakan Rusia, bukan komunisme murni, akan tetapi Marxisme; Marxisme bukan komunisme sedjati. Komunisme jang semurni-murninja, ialah buah fikiran Proudhon dan Bakunin. Komunisme dinegara negara lain masih sadja djadi soal perbantahar; komunisme murni belum pernah dipraktekkan sepenuhnja. Akan tetapi di Tiongkok adjaran ini sudah dilaksanakan dalam zaman Hung-Hsiu-Ch'uan ; sistim ekonominja adalah komunisme sedjati dan bukan merupakan teori belaka.
Ketinggian Eropah bukan terletak dalam lapangan filsafat politik, akan tetapi semata-mata dalam kemadjuan peradaban materinja. Berkat kemadjuan Eropah dalam peradaban materi itu, semua kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, makanan keperluan rumah tangga dan alat-alat perhubungan amat mudah dibuat dan tak memerlukan banjak waktu serta alat-alat perang gas beratjun dsb mendjadi lebih dahsjat dan mengerikan. Semua pendapatan-pendapatan serta alat-alat sendjata jang baru ini, diketemukan sedjak perkembangan dan kemadjuar. ilmu pengetahuan. Jakni sesudah abad ke-17 dan ke-18, dikala Bacon, Newton dan orang-orang tjerdik pandai lainnja mulai membuat pertjobaan-pertjobaan dan penjelidikan-penjelidikan untuk mengenal dan mengetahui segala barang sesuatu hingga semua ini mengakibatkan lahirnja ilmu pengetahuan. Karena itu, kalau kita memperbintjangkan kemadjuan ilmu pengetahuan, dan peradaban materi dari bangsa Eropah, kita harus insjaf, bahwa kita membitjarakan barang sesuatu jang baru mempunjai sedjarah 200 tahun. Beberapa ratus tahun jang lalu,<noinclude>1) Hwangti dan Laotze.
2) Nama seorang filsuf dalam keradjaan Chow.</noinclude>
1yd3k2oq2ebjq3xt433wf4m33rynjbn
Halaman:San min chu i.pdf/91
104
111495
314837
310116
2026-08-19T12:16:55Z
Ichi Ocha
26099
314837
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ichi Ocha" />{{rh||86}}</noinclude>
Eropah tak mungkin membandingi Tiongkok, karena itu kalau kita sekarang mau beladjar dari Eropah, marilah kita mengedjar kekurangan kita - ilmu pengetahuan - dan sekali-kali bukan filsafat politik. Tuan sekalian mengetahui bahwa orang-orang terpandai pada dewasa ini diketemukan di Djerman. Meskipun begitu orang-orang Djerman masih djuga mempeladjari filsafat Tionghoa dan asas-asas adjaran Buddha dari India untuk menambah kekurangan mereka dalam ilmu pengetahuan. Kosmopolitisme di Eropah baru berkembang selama angkatan baru ini, akan tetapi di Tiongkok sudah diperbintjangkan dua ribu tahun jang silam. Bangsa-bangsa Eropah belum dapat menjelami peradaban kuno kita, sedangkan dikalangan bangsa kita sudah banjak jang memikir dan merentjanakan masalah-masalah peradaban politik dunia ; dan berkenaan dengan moral dunia, empat ratus djuta rakjat kita menganut asasasas perdamaian dunia. Akan tetapi karena lenjapnja semangat nasionalisme kita, moral dan peradaban kita jang kuno itupun tak dapat memperlihatkan diri dan sekarang semakin mundur. Kosmopolitisme jang digembar-gemborkan oleh bangsa Eropah sekarang ini, sebenarnja satu asas jang ditundjang oleh kekerasan dengan tidak mengenal keadilan. Pepatah Inggeris jang berbunji :
,,Kekuasaan adalah kebenaran", menundjukkan, bahwa peperangan untuk merampas dianggapnja adil. Bargsa Tionghoa belum pernah mengatakan, bahwa menduduki negeri orang dengan djalan kekuatan sendjata adalah kebenaran ; mereka tetap beranggapan bahwa peperangan dengan tentara merupakan tindakan diluar peri kemanusiaan. Moral perdamaian inilah jang mendjadi djiwa asli adjaran kosmopolitisme. Berdasarkan apakah djiwa serupa ini dapat kita pertahankan dan bangunkan? Berdasarkan nasionalisme. Bangsa Rusia jang berdjumlah 150 djuta mendjadi sendi bagi kosmopolitisme Eropah, dan penduduk Tiongkok jang berdjumlah 400 djuta mendjadi sendi kosmopolitisme Asia. Sebagai langkah pertama untuk melaksanakannja, haruslah nasionalisme didahulukan sebelum kosmopolitisme dipersoalkan. Mereka jang bertjita-tjita mentjapai perdamaian dunia terlebih dahulu harus memerintah negaranja sendiri". Karena itu, marilah kita hidupkan kembali nasionalisme kita jang sudah lenjap itu dan setelah tudjuan ini tertjapai, barulah akan kita perbintjangkan soal internasionalisme.<noinclude></noinclude>
5bwoesllk441vbz661l9sybbcaxhqia
San Min Chu I
0
112282
314899
311329
2026-08-20T06:48:00Z
Quraeni
22485
314899
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = San Min Chu I (Tiga Asas Pokok Rakjat)
| author = Sun Yat-sen
| translator = Azinar Ibrahim
| section =
| previous =
| next =
| year = 1951
| notes =
}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=6/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=7/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=8/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=9/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=10/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=38/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=129/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=285/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=287/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=288/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=394/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=395/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=396/>
{{pb|label=}}
<pages index="San min chu i.pdf" include=397/>
2pxv9u8ekx1nzs68unxztln04x147zw
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/4
104
112286
314967
311333
2026-08-20T08:59:36Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314967
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: center; margin-top: 3em;">
Gambar kulit dan hiasan :<br />
'''DJANAIN'''
</div>
<div style="text-align: center; margin-top: 12em; font-weight: bold;">
HAK PENGARANG<br />
DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
</div>
<div style="text-align: right; margin-top: 10em;">
''Tjetakan pertama, Nopember 1964.''
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
PERTAMA
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
1
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''TJAHAJA''' matahari sore djatuh melajap menimpa dataran rendah jang membentang djauh disebelah timur, mendjadikan kota Solok jang ketjil itu bagaikan suatu tamasja jang bermandi warna-aneka, kemilau merah kekuning-kuningan, jang sebentar² bertukar seperti sedang berpesta-ria. Sementara itu desa Koto Hilalang lindap dibawah bajangan bukit jang memagarnja disebelah barat.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Suasana ini ikut melukiskan perbedaan jang njata antara kedua tempat itu. Di Solok sedang meluap kegembiraan, karena kota itu telah dibebaskan dari kekuasaan kaum pemberontak, sedangkan desa Koto Hilalang telah mendjadi tempat pelarian dan persembunjian, dimana kechawatiran dan ketjemasan sedang mengembangkan tangannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pasukan² APRI jang berkedudukan dikota Solok, sudah mulai melakukan operasi ke-desa² sekitarnja, termasuk desa Koto Hilalang. Kesatuan² pemberontak, didera oleh kelesuan dan kehilangan semangat, berusaha menghindarkan pertempuran atau kontak sendjata.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Biasanja bila hari sudah berangkat sore, desa Koto Hilalang ramai dengan manusia. Anggota² pasukan PRRI jang bersembunji disekitar desa itu, turun ke-tengah² desa dan menghabiskan waktu dengan omong² diantara mereka. Tapi sebaliknja dipagi hari, desa itu merupakan desa jang mati. Anggota² pasukan pemberontak atau pengikut²nja, hanja berani memasuki desa itu bila matahari sudah tjondong kesebelah barat. Mereka tidak berani keluar dari tempat persembunjian mereka pada waktu pagi, karena takut akan berpapasan dengan
</div>
<p align="right">5</p>
</div><noinclude></noinclude>
0ah0cp229gfb4h9n09iebrhjozchtg0
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/5
104
112287
314968
311334
2026-08-20T08:59:52Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314968
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
pasukan APRI jang sedang melantjarkan operasi. Pengalaman mereka menundjukkan, bahwa pihak APRI umumnja memulai gerakannja semendjak tengah malam dan mengachirinja kira² djam sepuluh siang hari.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Seperti tikus jang ber-hati² keluar dari sarangnja, Munandar melangkah menudju desa itu. Ia tinggal disebuah pondok di Parak Gatah kepunjaan Malin Birin, jang terletak kuranglebih satu kilometer dari pusat desa itu. Dipondok ini tidur enam atau delapan orang pengikut² PRRI atau orang² jang tidak tahu apa jang sebenarnja telah terdjadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar berdjalan menempuh djalan-setapak, melewati pematang sawah, kemudian mendaki kesebuah bukit lainnja dari mana pemandangan meluas keseluruh desa Koto Hilalang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang mulai ramai di-tengah² desa itu. Hal itu menghilangkan ke-ragu²an Munandar. Hatinja merasa gembira. Ia ingin berada di-tengah² orang ramai itu, untuk ikut mengomong dengan kawan²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sebelum ia sampai di-tengah² desa itu, tiba² ia tertegun. Hatinja mendjadi ragu², karena diantara gerombolan orang ramai itu dilihatnja seorang lelaki jang rasanja baru beberapa hari ini berbitjara pandjang-lebar dengan dia di Solok. Tapi kini, mengapa ia sampai kemari ? Munandar mendjadi heran.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, tak mungkin, — katanja dalam hatinja. — Bukankah dia sudah menegaskan kepadaku, bahwa ia tak mau ikut dengan PRRI ? Tapi kini ia berada di-tengah² orang banjak itu, diantara kaum pemberontak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Terngiang kembali ditelinganja apa jang diutjapkan oleh laki² itu. — Saja tidak mau berchianat dua kali, katanja beberapa hari jang lalu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar berdjalan terus dengan perasaan ragu². Tanpa sadarnja, djalannja mendjadi lebih tjepat. Sekarang semakin pasti kepadanja, bahwa lelaki itu memang tak lain daripada Karnain, jang kini setengah berlari menjongsongnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Karnain ! Hai, kenapa kau sampai disini ?
</div>
<p align="left">6</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain tidak segera menjahut. Senjumnja mentjoba djelaskan perasaan hatinja. Dan bila mereka sudah bertemu, Karnain memegang tangan Munandar dan menariknja, membawanja ketempat jang agak terpisah dari orang ramai itu. Walaupun kelihatannja agak gugup, tapi Munandar tahu, bahwa Karnain ingin berbitjara dengan dia. Dan pembitjaraan itu barangkali harus dirahasiakan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sudah semendjak tadi aku me-nunggu²mu, — kata Karnain memulai. — Kutanjakan kepada orang² disekitar sini, tapi mereka mengatakan tidak mengetahui dimana kau tinggal.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak mudah mengetahui tempat tinggal kawan² lain disini. Tiap malam terdjadilah pergeseran tempat merebahkan diri, dengan maksud supaja terhindar dari pendadakan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain memahami maksud pembitjaraan Munandar. Setiap orang merasa tjuriga kalau² pondoknja diketahui oleh orang lain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sangat heran, kenapa kau achirnja datang djuga kemari ? tanja Munandar. Ia sudah sangat ingin mengetahui persoalan apa jang telah merobah pendirian kawannja ini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Begini bung ! Memang aku tidak pernah berniat untuk mengikuti djedjak pemberontakan ini, seperti jang sudah kuterangkan dulu. Tapi ............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa jang telah terdjadi ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pada malam sebelum APRI memasuki kota, aku didatangi ............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Siapa ? tanja Munandar tak sabar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, djangan terlalu keras bung, nanti mereka itu djadi tjuriga, — kata Karnain seraja melajangkan pandangannja kepada orang banjak itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Siapa jang datang ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tak usahlah kusebutkan orangnja. Toh tak akan ada gunanja lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sebaliknja tak djuga ada salahnja kalau kau tundjukkan kepadaku.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain ber-pikir² sedjurus. Ia agak ragu² untuk menundjuk-
</div>
<p align="right">7</p>
</div><noinclude></noinclude>
cwksv0iuy5c5adpon5cdvipp576af44
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/6
104
112288
314969
311335
2026-08-20T09:00:00Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314969
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
kan orang jang datang kerumahnja itu, karena orang jang dimaksudkannja itu sekarang berada di-tengah² orang banjak itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tundjukkan sadjalah ! — Munandar mendesak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Achirnja Karnain menjebutkan djuga siapa manusianja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Junus ! Kau kenal dia bukan ? Lihatlah, jang kepalanja diikat dengan handoek ketjil itu, — kata Karnain tanpa memandang kepada orang² jang sedang berkumpul di-tengah² desa itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, Junus ! ? Masa aku tak kenal siapa dia. Apa jang dikatakannja kepadamu malam itu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia menerangkan kepadaku, bahwa petugas² PRRI sedang mengintai langkahku. Katanja, orang mulai tjuriga kepadaku, karena aku masih belum djuga ber-siap² untuk menjingkir, padahal semua pegawai lain dan militer sudah pindah keluar kota.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dan apa djawabmu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku tidak berkata apa². Utjapannja makin lama makin bersifat mengantjam. Dikatakannja kepadaku, bahwa rumahku selalu dikelilingi oleh orang² PRRI. Aku mendapat kesan jang mengerikan. Dan Junus mengandjurkan supaja aku segera menjingkir keluar kota, ketjuali kalau aku ingin bermain dengan maut. Aku mendjandjikan kepadanja, bahwa aku akan segera menjingkir, karena aku memang belum ingin mati. Tapi di-samping keinginan untuk hidup, aku djuga tidak ingin mendjadi pengchianat sekali lagi. Dalam keadaan pikiran jang katjau, takut, ngeri, antjaman dan bajangan maut, achirnja aku memilih untuk hidup dan bertekad untuk hidup tanpa berchianat. Aku tahu, bahwa keadaanku akan sulit, tapi aku djuga pertjaja, bahwa kesulitan itu akan dapat diatasi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah dengan membantu PRRI, kau lantas djadi pengchianat ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dari sudut PRRI tentu tidak. Tapi aku tidak memandangnja dari pendjuru jang demikian. Aku memandangnja dari sudut Republik Indonesia. Maafkanlah aku, andaikata sampai
</div>
<p align="left">8</p>
<div style="text-align: justify;">
hari ini dan untuk selamanja, pikiran jang demikian akan tetap mendjadi pikiranku jang teguh. Aku sudah ber-kali² menerangkan kepadamu, bahwa pengchianatan jang aku lakukan diwaktu perang dengan Belanda dulu, masih mewarnai sedjarah hidupku dengan noda jang sukar dihilangkan. Dan apakah djadinja, kalau hari ini noda itu kuperbuat lagi ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sebenarnja tidak usah kita perdebatkan lagi. Aku sudah mengerti dengan pendirianmu, dan kaupun sudah paham pula dengan pendirianku. Lebih baik kau tjeritakan sadja, bagaimana pengalaman selandjutnja setelah diantjam oleh Junus itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Junus menegaskan ber-kali², bahwa keselamatanku bisa terantjam, apabila aku tidak segera menjingkir. Dan setelah dia meninggalkan rumahku, aku mendjadi bertambah ketjut. Aku memang mempunjai darah jang lemah dan djantungku tak pula tjukup kuat.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah Alida tahu maksud kedatangan Junus ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Setelah Junus pergi, se-gala²nja aku djelaskan kepadanja. Dia menangis ter-sedu², tapi djalan lain tak tampak lagi dimataku. Ia mendjadi sangat chawatir kalau² mereka membunuhku. Tapi setelah tangisnja agak reda, kami mentjoba mentjari djalan keluar. Achirnja kami mengambil suatu putusan. Aku harus menjingkir supaja terlepas dari antjaman Junus dan kawan²nja dan dengan harapan dapat lekas bertemu denganmu, sedangkan Alida tetap tinggal dikota.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar mengikuti tjerita itu dengan penuh perhatian, sambil sekali² melihat kepada kumpulan orang ramai di-tengah² desa itu. Dari sana, kadang² terhambur tertawa jang riuh, se-olah² mereka sedang merajakan pesta kemenangan. Tapi kegembiraan itu hanjalah sebagai penghibur hati belaka, untuk melupakan sedjenak segala penderitaan jang mulai menundjukkan garis naik.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pagi² aku melihat beberapa orang tentara PRRI lewat didjalanandimuka rumahku. Mereka se-olah² tidak menoleh kerumahku, tapi sebenarnja mereka sedang mengintai langkah-
</div>
<p align="right">9</p>
</div><noinclude></noinclude>
jba4atm24ucj2dcnkz3mat4veipe8jl
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/7
104
112289
314970
311336
2026-08-20T09:00:32Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314970
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
ku. Aku memperhatikan gerak-gerik mereka dari balik katja djendela. Dan pada waktu itu aku sudah mendapat kesimpulan jang tegas, bahwa djiwaku sedang terantjam. Dan lebih kuchawatirkan lagi karena pada waktu ini Alida sedang mengandung. Sudah tiga bulan !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dan kau berangkat pagi itu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, aku menudju kampung Tanah Garam. Dibelakangku tampak beberapa orang berpakaian preman. Aku tjuriga kepada mereka, dan tentulah orang² ini adalah anak-buah Junus keparat itu. Dalam bajangan sematjam inilah aku terus ke Pintjuran Gadang. Aku kehilangan akal, apakah jang harus kuperbuat. Dan sorenja, pasukan APRI telah memasuki kota Solok. Aku mengetahui peristiwa itu, karena hebatnja tembakan jang dilantjarkan kearah kota. Dan pada waktu itu pula kelihatan pasukan PRRI kutjar-katjir. Mereka berserakan, sebahagian diantaranja menudju bukit Pajo, dan sebahagian lagi lari ke Ketaping didaerah desa Selajo.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mengapa kau tak mempergunakan kesempatan itu untuk masuk kekota ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak bisa ! — djawab Karnain. — Didaerah Pintjuran Gadang djuga banjak berkeliaran pasukan PRRI jang terpukul mundur dari Solok. Bahkan Junus laknat itu djuga berada disana. Dan ketika pasukan itu berangkat ke Koto Hilalang ini, Junus langsung mengadjakku. Sebenarnja aku sudah mendjadi tawanannja. Kalau aku tidak mau ikut, tentulah dia akan mengambil tindakan keras jang akibatnja dapat kau bajangkan sendiri. Dan itulah sebabnja mengapa aku sampai disini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar terharu mendengarkan tjerita kawannja itu. Ia dapat menghormati pendirian Karnain, karena Karnain adalah sahabatnja jang setia semendjak ber-tahun². Ia tidak mau mentjela pendirian kawannja itu, dan ketika Karnain menjatakan kepadanja dengan terus-terang, bahwa ia tidak akan ikut dengan PRRI, Munandar tidak marah. Ia menghargai sikap kawannja itu. Tapi kini, kenjataan telah menundjukkan hal jang lain, hal jang sama sekali tidak diduganja lebih dahulu.
</div>
<p align="left">10</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimana rentjanamu sekarang ? — tanja Munandar tiba².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain melajangkan pandangannja kepada kelompok orang² jang sedang ramai mengobrol di-tengah² desa itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku takut, kalau² Junus memperhatikan kita, — katanja kepada Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau tak perlu takut. Selama kau bersamaku, dia tidak akan berani berbuat apa². Dengan orang² fanatik sematjam itu memang susah berbitjara. Tenteramkanlah hatimu !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kata² Munandar ini menimbulkan perasaan tjerah dihati Karnain. Dia mendapatkan apa jang diharapkannja dari seorang teman jang bersedia membentangkan dadanja demi persahabatan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah kau masih mempunjai keinginan untuk kembali ke Solok ? — tanja Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pertanjaan itu sebenarnja tidak perlu kudjawab, — kata Karnain sambil tersenjum kepada Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Keduanja terdiam sedjurus.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah akibatnja kalau aku kembali ? — tanja Karnain memetjah keheningan diantara mereka.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Akibatnja gampang sadja mendjelaskannja. Kalau kau ikut bersamaku, tapi kemudian kau melarikan diri, maka aku akan mendjadi pusat ketjurigaan kawan² lainnja. Mereka akan menuduhku bersekongkol denganmu. Mereka tak dapat tidak pasti akan mengira, bahwa kita mempunjai rentjana tertentu. Dengan gampang mereka akan mengatakan, bahwa aku sengadja membiarkanmu kembali kekota untuk membuat hubungan dengan musuh, dan mereka tentu akan jakin, bahwa aku sendiri akan segera menjusulmu. Didalam keadaan seperti ini, njawa hampir tidak berharga. Itulah djawab dari pertanjaanmu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau begitu, berarti keselamatan djiwamu terantjam ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Begitulah kira² !
</div>
<p align="right">11</p>
</div><noinclude></noinclude>
eylbolcj73le1jzqcevkmocvljz7u79
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/8
104
112290
314971
311337
2026-08-20T09:00:42Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314971
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain berdiam diri kembali. Ia dapat memahami apa jang dimaksud oleh Munandar. Sekarang ia merasa berada diantara persoalan jang serba sulit. Ia harus berlindung kepada Munandar, tapi ia tidak suka kepada PRRI. Kalau ia kembali kekota begitu sadja, adalah sulit, karena tentulah Junus akan terus membajanginja. Tapi kalau ia berlindung kepada Munandar, boleh djadi Junus memang tidak merasa perlu lagi mengintai setiap langkah Karnain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau kau ikut denganku, — kata Munandar bersungguh-sungguh, — tahulah kau, bahwa mereka pasti akan datang meminta pertanggungandjawabku. Mereka akan meminta djaminan kepadaku, bahwa engkau memang tidak akan lari kekota dan tidak akan mengchianati perdjoangan kami. Djaminannja tidak berupa uang, atau berupa benda, tapi kau akan maklum sendiri. Djaminannja adalah djiwaku sendiri. Artinja, kalau ternjata kau melarikan diri, mereka pasti akan melenjapkanku. Itulah soalnja jang harus kau pikirkan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi aku tidak sanggup terus-menerus dalam bajangannja. Wadjahnja sadja kelihatan seperti seekor harimau jang haus darah. Sebaliknja, aku mengerti apa akibatnja buatmu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, tjobalah kau pikir benar baik² ! Aku tidak keberatan mendjaminmu. Achir²nja, demi persahabatan dan budi baikmu kepadaku pada waktu jang sudah², akupun bersedia memberikan djaminan dengan djiwaku sendiri. Barangkali itulah jang harus aku lakukan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Suasana hening meliputi mereka seketika. Sementara itu seorang anggota pasukan PRRI lewat dimuka mereka. Dibahunja tersandang seputjuk sendjata jang pada udjungnja terikat sepotong kain merah, hingga kelihatannja lebih seram. Ketika ia lewat, Munandar dan Karnain mentjoba mengalihkan pembitjaraan mereka kepada soal² keluarga, supaja tidak ketahuan apa jang sebenarnja mereka bitjarakan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimana dengan Alida ? — tanja Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia saja suruh ketempat isterimu. Biar dia tinggal bersama Martini.
</div>
<p align="left">12</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, untunglah kalau begitu. Kalau ada kesulitan, dapatlah beban itu mereka bagi dua supaja lebih ringan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Setelah anggota tentara PRRI itu lewat beberapa langkah, mereka kembali menjambung pembitjaraan tadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nah, sekarang kau sudah harus mengambil kesimpulan dan menentukan sikap. Kalau sekali kau telah memutuskan untuk ikut dengan aku, berarti kau harus selamanja ikut, ketjuali kalau kau ingin mengorbankanku dengan sia².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Lama Karnain berdiam diri memikirkan soal itu. Pikirannja mendjadi ter-petjah². Ia diombang-ambingkan oleh perasaan² aneh jang menjusup kedalam dadanja. Belum pernah ia mengalami kebimbangan jang sehebat seperti sekarang ini. Dia merasa berada diantara dua api jang membakarnja dengan djilatan jang maha pedih. Kalau dia tidak ikut bersama Munandar, tentulah ia akan terus mendjadi tawanan Junus, ia akan selalu dibajangi oleh lelaki itu dan setiap waktu akan memperhatikan setiap gerak-geriknja. Bila sedikit sadja ia memperlihatkan tanda² jang mentjurigakan, barangkali ia sudah harus berurusan dengan maut. Dia tidak mau memikul resiko jang begitu berat. Sebaliknja, kalau ia ikut bersama Munandar, berarti ia akan mengikuti seorang kawan jang memperdjoangkan suatu tjita² jang ditentangnja djauh didasar hatinja. Sedangkan dia sudah bertekad untuk tidak membantu perdjoangan jang demikian. Dan kalau kemudian ia lari dari Munandar, berarti ia mempertaruhkan djiwa sahabatnja itu diatas pintu kubur, padahal dia pernah menyelamatkan djiwa Munandar dari bahaja maut. Dan dia menolong Munandar dahulunja itu, bukanlah untuk mengorbankannja lagi dihari kini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pikiran jang demikian sangat menekan djiwanja. Tekanan itu begitu kuatnja, sehingga tanpa disadarinja airmatanja berlinangan. Ia tersedu dalam hatinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar merasakan pergolakan apa jang sedang terdjadi didalam djiwa Karnain. Tapi ia tidak mempunjai djalan lain untuk membebaskan kawannja itu dari kesulitan. Dia ingin
</div>
<p align="right">13</p>
</div><noinclude></noinclude>
lj0s3skar6xliwtd4cewyip2z5f6y1r
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/9
104
112291
314972
311338
2026-08-20T09:00:59Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314972
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
menolongnja, dan itulah satu²nja tjara jang dapat dilakukannja. Dengan mendjamin Karnain, ia merasa telah mempertaruhkan djiwanja sendiri, taruhan jang pasti merupakan taruhan jang termahal sepandjang hidupnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nah, tak usahlah terlalu dalam merasakan dan memikirkan soal itu. Barangkali baiklah kita pergi menemui kawan² itu, — sambil ia menundjuk kepada kumpulan orang² jang sedang mengobrol disimpang tiga djalan desa. Barangkali mereka ada chabar baru mengenai perkembangan terachir.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dekat sendja, orang² jang mengobrol didesa itu berangkat ketempat masing², jang ter-pisah² diantara pondok² ladang atau pondok² baru jang mereka bangun setjara rahasia.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar djuga bersiap untuk pergi. Karnain memandang kepadanja dengan sinar mata mengharap.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku ikut dengan kau, — katanja hampir berbisik.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar mengangguk dan mereka berdjalan menudju pondok di Parak Gatah, dimana Munandar tidur. Dan dengan demikian, Karnain telah mengambil keputusan. Keputusan itu berarti, bahwa ia akan ikut bersama Munandar, entah kemana, dia sendiri tidak tahu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Langit sendja mulai menggelap. Koto Hilalang berangsur mendjadi sunji, tidur dalam kesenjapan hutan² disekitarnja, untuk bangun esok pagi dengan suatu harapan dihatinja.
</div>
<p align="left">14</p>
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
KEDUA
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
2
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''SEMENDJAK''' kepergian Karnain, Alida merasa sangat gelisah, chawatir dan dirundung sedih. Hal itu tidaklah se-mata² disebabkan perpisahan dengan suami jang ditjintainja, tapi lebih² lagi lantaran ketjemasan memikirkan nasib Karnain. Ia mengharapkan kepergian Karnain itu demi untuk menyelamatkan njawa, tapi siapa tahu barangkali kepergiannja itu adalah untuk se-lama²nja. Kalau nasib buruk menimpa Karnain, tentulah dia akan dilenjapkan oleh Junus dan kawan²nja sesaat setelah kesatuan APRI memasuki kota Solok.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka memang dapat mentjari dalih untuk menghantjurkan Karnain, karena Karnain dulunja bekas pengchianat. Sedjarahnja jang hitam karena bekerdjasama dengan Belanda, dapat mereka djadikan alasan untuk membunuh Karnain. Mereka tentu akan menuduh Karnain berchianat sekali lagi, karena tidak mau memihak PRRI. Bagi mereka, PRRI adalah suatu pemerintahan jang sah, jang akan memperdjoangkan nilai² kemerdekaan sedjati. Karena itu, mereka memaksakan Karnain untuk mendukungnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Bagi mereka, Pemerintah Republik Indonesia adalah suatu pemerintahan jang telah menjeleweng, suatu pemerintahan tirani jang harus ditantang dengan segala kekuatan. Untuk itu dimasukkan sendjata² gelap dari luar-negeri, supaja kehendak dan tjinta² itu bisa tertjapai.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida tidak dapat memahami, betapa mungkin manusia berlaku sepintjang dan seganas itu. Kehidupan rumahtangganja jang tenteram dan damai, tiba² direnggutkan oleh tangan² kasar jang tak kenal belas-kasihan. Ia menangis sendirian, me-
</div>
<p align="right">15</p>
</div><noinclude></noinclude>
70lo1ijquvtnzau7rjm342x6a5f64hg
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/10
104
112292
314973
311339
2026-08-20T09:01:14Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314973
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
ngenangkan masa² bahagia disamping suaminja, masa jang kini barangkali tidak akan kembali lagi untuk se-lama²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ditutupnja matanja, dalam tangisnja ia diburu oleh ketakutan dan bajangan suram dari nasib suaminja. Rasa² tampak diruang matanja, bagaimana Junus melepaskan tembakan kepada Karnain, dan Karnain mendjerit minta ampun, tetapi peluru telah memetjah kepalanja. O, kalau semuanja ini terdjadi atas lelaki ketjintaannja itu, masih bisakah dia hidup didunia ini dalam keadaan duka dan sunji-sepi ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kota Solok ber-angsur² ramai kembali. Kesatuan² APRI terus melakukan pengedjaran ke-desa², membersihkan kampung demi kampung dari tangan pemberontak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pemerintahan mulai berdjalan. Orang² jang tidak setudju dengan PRRI, kembali kekota dengan menempuh djalan jang sulit. Anggota pasukan pemberontak, mulai melaporkan diri seorang demi seorang ke-pos² APRI. Dari sehari-kesehari djumlah mereka semakin banjak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tapi disamping itu pertempuran² masih terus berketjamuk diluar kota. Pasukan² PRRI mentjoba melakukan penghadangan di-djalan², atau menahan patroli² APRI. Api peperangan mulai merah-menjala, mengepulkan asap jang hitam diselang-seling oleh letusan berentetan jang me-lajang² mentjari korbannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida bertambah kurus dari biasa. Ia mentjoba menghubungi orang² jang baru kembali dari daerah PRRI. Hasratnja untuk mengetahui nasib suaminja, melebihi dari hasrat apa djuga jang pernah bersemi dalam hatinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tapi ia ketjewa dan tangisnja tak dapat dihentikannja. Orang² jang dihubunginja sama menerangkan, bahwa mereka tidak pernah bertemu dengan Karnain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tidak ada kepastian !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dan selama itu pula Alida remuk oleh perasaan sedih. Sekali² ia datang kerumah Martini, isteri Munandar, untuk
</div>
<p align="left">16</p>
<div style="text-align: justify;">
mentjeritakan perasaan hatinja. Tapi Martini tidak dapat berbuat apa², ketjuali berusaha menjabarkan Alida.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau kau tidak bisa tinggal sendirian, baiklah pindah kerumahku ini, supaja hatimu tidak terlalu sepi, — kata Martini membudjuk. — Kau harus pertjaja, bahwa nasib manusia berada ditangan Tuhan. Belum tentu dia dibunuh orang, tapi kau sudah menderita ketjemasan jang bisa mendjadikan dirimu seperti bangkai. Ingatlah, kau sedang mengandung !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida terus ter-sedu². Dalam sedunja ia berkata :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Karnain memang menjuruhku tinggal bersamamu, tapi ............., — air matanja membandjir lagi, dan ia tak dapat meneruskan pembitjaraannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sabarlah kau ! Kalau benar dia menjingkir kearah Pintjuran Gadang, dia pasti akan bertemu dengan Munandar. Dia akan selamat, pertjajalah ! Munandar akan rela mengorbankan apa sadja untuk membela Karnain. Sabarlah !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida mentjoba menahan tangisnja. Ia mulai sedikit tenang mendengar kata² Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sebenarnja Martini sendiri djuga didera oleh keketjewaan. Semendjak Munandar pergi, hatinja senantiasa murung. Ia telah mentjoba menghalangi suaminja supaja tidak ikut-ikutan dengan PRRI, tapi perdebatan itu berachir tanpa merobah pendirian Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sebagai seorang isteri, kau boleh menasihatiku, kata Munandar dulu. — Tapi se-kali² djangan tjoba menghalangiku. Aku ikut dengan PRRI adalah karena kejakinanku sendiri, karena aku melihat, bahwa PRRI berdiri dipihak jang benar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, kau terlalu keras ! Kebenaran itu dapat diputar-balikkan. Kau hanja akan tertipu, pertjajalah !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar tidak senang mendengarkan kata² isterinja jang seperti itu. Dengan suara membentak, ia berkata :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, tahu apa kau dengan politik ? Tinggallah pada keperempuananmu sadja. Serahkanlah memikirkan persoalan ini kepadaku.
</div>
<p align="right">17</p>
</div><noinclude></noinclude>
fcntjcmla9p0gppuzygkuzgeru01cat
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/11
104
112293
314974
311340
2026-08-20T09:01:26Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314974
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini takut kalau² pertengkaran itu mendjadi hebat. Dia diam sadja, dan tidak mau melandjutkan lagi. Sementara itu Munandar mendjadi lebih bersemangat :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau tahu, kelaliman Pemerintah Pusat itu tidak bisa dibiarkan sadja. Mereka selalu menganak-tirikan daerah, padahal dari daerah inilah mereka mendapat nafas. Mereka asjik ber-senang², sedangkan kita disini bertitik-keringat, sedikitpun tidak ada perhatian mereka. Siapakah jang akan menghadjar mereka, kalau bukan kita. Kadang² djalan revolusi ini memang menempuh tjara² jang demikian, dan untuk itu aku menjediakan diri. Kau harus jakin, bahwa mereka tidak akan menang. Bagaimanakah mereka bisa menang menghadapi persendjataan PRRI jang begitu hebat.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dengan perasaan berat, tapi ketjewa, Martini terpaksa membiarkan Munandar pergi. Dia tidak tahu, apakah masih bisa diharapkannja kedatangan suaminja kembali, atau disanalah achir perkawinannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika kesatuan² APRI memasuki kota Solok, Martini merasa, bahwa pikirannja adalah benar. Ia melihat kekeliruan suaminja jang meng-agung²kan sendjata, padahal sendjata jang serba modern itu belum tentu bisa mendjamin kemenangan. Jang penting ialah orang jang memegang sendjata itu. Dan lebih dari semuanja itu, ialah untuk kepentingan tjita² jang matjam manakah sendjata itu digunakan. Pikiran ini sudah sama tuanja dengan sedjarah manusia, tapi rupanja Munandar tidak mengetahuinja. Itulah jang amat disesalkan dan jang mengetjewakan Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kini dihadapannja duduk Alida, isteri Karnain, sahabat suaminja, jang djuga adalah sahabatnja. Matanja kujup karena tangis. Seharusnja ia dapat membudjuk perempuan itu dengan kata² jang manis, namun apakah jang bisa diutjapkannja untuk membelai perasaan Alida, padahal dia sendiri dirundung pula oleh kesedihan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ia terseret dan bangkit karena kesedihan jang dirasakan Alida. Ia ingat suaminja jang dengan sikap keras telah me-
</div>
<p align="left">18</p>
<div style="text-align: justify;">
ninggalkannja, menurutkan kehendak hatinja. Ia telah mentjoba melunakkan hati Munandar, suaminja jang tertjinta, tapi Munandar se-akan² seorang gila jang tak dapat ditenangkan. Ia mengedjek Martini, perempuan jang buta politik, dan jang untuknja tersedia rumah tempat tinggal dari pagi sampai malam.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sesungguhnja hanja tjinta se-mata²lah jang masih mengingatkannja kepada Munandar. Pandangan hidupnja, sikap jang diambilnja untuk memihak PRRI, sama sekali tidak disukai oleh Martini. Dan tjinta itu akan meluap bila keduanja telah berpisah. Geloranja akan semakin hebat, bila keduanja berdjauhan. Tapi tidak ada gelora jang tidak reda, tidak ada panas jang takkan dingin kembali. Saat jang demikian akan datang mendjelang, sebagai sesuatu jang tidak akan dapat dihalangi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sebab² mengapa sang suami berangkat meninggalkan isteri mereka, mempunjai perbedaan. Munandar berangkat dari rumahnja atas kemauannja sendiri. Sedangkan Karnain meninggalkan isterinja lantaran diseret oleh suatu paksaan jang ia tak dapat menantangnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Perbedaan sebab jang demikian tidak mendjadi halangan atas keakraban persahabatan antara Alida dan Martini. Mereka saling mengerti apa jang membawa mereka kepada keadaan seperti sekarang ini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini duduk tenang menghadapi Alida. Tiba² terdengar bunji langkah diluar, berderak bunji sepatu memidjak kerikil dipekarangan rumah itu. Bunji itu terdengar makin lama makin dekat. Martini memandang kepada Alida dengan sinar mata jang tjemas ber-tanja². Kemudian keduanja berdiri dan memandang keluar. Darah mereka tersirap. Debaran djantung mereka bertambah keras, dibarengi oleh perasaan tjemas. Mereka saling berpandangan untuk sedjurus lamanja. Tidak seorangpun jang berbitjara, ketjuali mata mereka jang saling berpandangan dalam ketjemasan. Sesuatu jang aneh terasa dihati Martini, karena dia tahu, bahwa suaminja terang-terangan memihak PRRI.
</div>
<p align="right">19</p>
</div><noinclude></noinclude>
8414s8v1163p2qp6pbefppuk3ufsd47
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/12
104
112294
314975
311341
2026-08-20T09:01:39Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314975
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kedatangan seorang anggota tentara jang tidak di-duga² sebelumnja dalam keadaan jang seperti itu, kadang² mentjemaskan djuga, apalagi buat Martini. Semua orang tahu, bahwa suaminja ikut dengan pemberontak. Ia mendjadi takut, kalau² kepadanja akan diminta berbagai keterangan tentang suaminja, padahal kasih-sajangnja terhadap Munandar masih belum sanggup membuka hatinja untuk mentjeritakan seluruh rahasia pribadi suaminja itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Lelaki jang berbadan tegap itu, gagah dalam pakaian seragam hidjau, dengan seputjuk pistol dipinggangnja, berdiri dimuka pintu. Ia tahu, bahwa njonja rumah berada diruangan depan. Dengan segera pintu diketoknja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketokan itu dirasakan oleh Martini hampir sebagai pukulan pada hatinja, keras dan menjakitkan. Tapi ia insaf, bahwa kedatangan seorang tamu seperti itu, haruslah diterima dengan baik. Ia berusaha mengekang perasaannja, melenjapkan prasangka jang tumbuh dihatinja. Dengan langkah jang pasti, ia menudju kepintu dan membukanja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Selamat siang njonja, — tegur jang datang dengan sopan diiringi senjum manis, hingga menimbulkan kesan jang baik pada Martini. Ke-ragu²an dan ketakutannja se-akan² mendapat obat oleh sikap tamunja itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Selamat siang, — sahut Martini, — apa chabar pak let ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, ......... — katanja sambil membuka topinja. — Chabar baik sadja. Aku ingin ketemu dengan isteri nja saudara ......... Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Akulah isterinja, — kata Martini lembut tapi agak gugup, — silakan masuk !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Lelaki itu masuk keruangan itu. Ketika matanja tertumbuk kepada Alida, ia melepaskan sedjemput senjum manis sambil mengulurkan tangannja ;
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Perkenalkan, — katanja. — Sudarno.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida merasa agak kaku menjambut perkenalan itu. Kemudian ketiganja duduk dizitje.
</div>
<p align="left">20</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno mendapat chabar dari orang² lain, bahwa Munandar ikut kehutan. Ia djuga mendengar chabar, bahwa Martini berkeberatan atas tindakan Munandar itu. Kini ia datang dengan satu maksud, jaitu ingin membantu perempuan itu kalau² Munandar dapat dipanggil kembali kedjalan jang benar. Bukan hanja Martini sadja jang akan dibantunja, tapi ia ingin menolong setiap orang jang mendjadi korban akibat peperangan. Ia mengerti kesulitan mereka, dan dengan sepenuh hati ia berusaha mengulurkan tangannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno memandang sekeliling ruangan itu, se-olah² mentjari sesuatu. Tapi ia tidak menemukan apa². Dinding itu telandjang sadja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Lho, 'kok ada jang barusan 'nangis ja ? — katanja tersenjum. Pertanjaan ini se-mata² untuk melenjapkan perasaan jang bukan² dihati njonja rumah dan untuk membangkitkan suasana jang ringan diantara mereka.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida tidak berkutik mendengar sindiran itu. Tapi sebaliknja Martini, jang mulai agak berani, segera sadja memberikan djawaban.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, pak, dalam keadaan sematjam ini, banjak jang menjebabkan airmata harus tertumpah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sekali lagi letnan Sudarno tersenjum. Lalu katanja :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, aku bisa mengerti dan dapat memahamindja. Itulah sebabnja aku sengadja datang kerumah njonja, kalau² aku dapat membantu njonja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Suatu pertanjaan bergetar dihati Martini : — Dia akan membantuku ? Mungkinkah itu ? Padahal dia adalah musuh suamiku. Tapi ......... soal perang bukanlah soal pribadi .........
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini masih berdiam diri, digoda oleh perasaan jang tak terarahkan. Tiba² letnan Sudarno meneruskan :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Banjak rumahtangga jang harus berantakan. Suami berpisah dari isteri. Anak² ditinggalkan oleh ajahnja. Begitulah kalau perang sudah datang. Kematian mengantjam di-mana². Setiap saat kita bertarung dengan dua kemungkinan : hidup atau mati ! Peperangan selamanja demikian, kedjam, ganas,
</div>
<p align="right">21</p>
</div><noinclude></noinclude>
6mj936a5pce1sqvpzgzp8chxfgspx5j
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/13
104
112295
314976
311342
2026-08-20T09:01:51Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314976
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
dan mengerikan. Tapi anehnja, walaupun orang tahu apa akibat perang itu, namun masih sadja ada orang² jang memantjing supaja perang berketjamuk seperti sekarang ini. Tjobalah bajangkan, andaikata perang tidak ada, barangkali njonja ini tidak akan perlu menangis, — katanja sambil menoleh kepada Alida.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida agak malu, karena apa jang ditangiskannja, memanglah sesuatu jang timbul sebagai akibat perang itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Suami njonja djuga ikut kehutan bersama suami njonja ........., o, ja, saja belum tahu siapa nama njonja ini, — katanja sambil memandang kepada Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Martini, namanja Martini, — kata Alida menerangkan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, bersama suami njonja Martini bukan ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak, mereka tidak ber-sama². Barangkali suamiku sudah mati, — djawab Alida dengan suara jang rendah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimana njonja tahu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Semendjak ia pergi, tidak pernah aku mendengar chabar-berita tentang dirinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sudahkah njonja selidiki betul² ? Barangkali dia masih disekitar desa² sebelah barat sana, — kata letnan Sudarno sambil mengatjungkan telundjuknja kearah desa Koto Hilalang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi dia pergi kehutan bukan karena mendukung perdjuangan PRRI.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Lho, itu aneh !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia dipaksa pak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dipaksa ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja ! Seorang pengikut PRRI jang fanatik, telah datang kerumah kami dan memaksa dengan kekerasan supaja suamiku menjingkir kehutan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Siapa orang jang datang itu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Namanja Junus. Dia termasuk orang jang sangat setia kepada PRRI. Untuk PRRI ia bersedia mendjalankan kekerasan kepada orang² jang dirasanja tidak akan membantu perdjuang-
</div>
<p align="left">22</p>
<div style="text-align: justify;">
annja. Dia datang kerumah kami, dan mengantjam suamiku, walaupun dengan kata² jang manis di-buat², agar suamiku segera menjingkir. Dia mengatakan, bahwa orang² PRRI tjuriga kepada suamiku.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mungkinkah mereka membunuhnja ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Itulah jang tidak kuketahui.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kemana mereka bawa suami njonja ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak tahu. Tapi mereka tidak memperlakukannja seperti memperlakukan seorang tahanan. Mereka mengawasi rumah kami semendjak pagi sampai suamiku meninggalkan rumah. Tentulah suamiku mereka iringkan terus, entah kemana, aku tidak tahu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno meng-angguk²kan kepalanja dan mendengarkan kata² Alida dengan penuh perhatian. Ia djuga melihat, betapa airmata perempuan itu tergenang dan kemudian berguling djatuh membasahi pipinja. Dapat dirasakannja, bagaimana beratnja tekanan jang menghimpit hati perempuan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi aku andjurkan, — kata letnan Sudarno, — agar njonja tidak usah terlalu chawatir dengan persoalan itu. Ingatlah akan kata² orang tua² : sebelum adjal tidak seorangpun jang akan mati. Barangkali dia masih berada disekitar bukit² ini, atau mungkin sudah bertemu dengan suami njonja Martini, bukan ? — kata letnan Sudarno seraja berpaling kepada Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mungkin djuga, — kata Martini. — Tapi akupun tidak pernah menerima chabar dari suamiku.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimana sikap njonja, kalau suatu kali kelak njonja mendapat chabar tentang dia, atau dapat berhubungan dengan dia ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini merasa sulit untuk mendjawab pertanjaan letnan Sudarno itu. Ia berfikir, kalau sekiranja ada hubungannja dengan suaminja, dan bila hubungan itu diketahui oleh jang berwadjib, mungkin dia akan mendapat kesulitan se-tidak²nja mungkin akan diminta keterangannja.
</div>
<p align="right">23</p>
</div><noinclude></noinclude>
ms3dntl6036056gykizglyujlje4hqf
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/14
104
112296
314977
311343
2026-08-20T09:02:05Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314977
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku tidak akan mengadakan hubungan dengan dia, — kata Martini tiba².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno mengerti apa sebabnja Martini mendjawab demikian itu. Untuk menenangkan perasaan Martini dan untuk melenjapkan prasangka perempuan itu, letnan Sudarno mendjelaskan :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Rupanja njonja agak tjuriga kepadaku, — katanja sambil tersenjum. — Njonja bersikap sangat hati² untuk mendjawab pertanjaanku, se-olah² kedatanganku kemari adalah untuk memasang perangkap kedalam mana njonja hendak aku djerumuskan. Pikiran njonja itu sangat keliru. Njonja tidak akan mendapat keuntungan apa² dengan djalan berbohong atau bersembunji. Kedatanganku kemari se-mata² hendak menolong njonja, kalau² bantuanku dapat meringankan kesusahan njonja. Oleh sebab itu njonja tidak usah merasa sangsi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini maklum apa jang dimaksud oleh letnan itu. Tapi ia masih memperlihatkan sikap agak ragu².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sungguh² aku tidak akan berhubungan dengan dia, — katanja menjusul.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, utjapan njonja itu pasti berlawanan dengan hati-ketjil njonja. Aku tidak akan mendjerat njonja apabila njonja berterus-terang. Dan sama sekali aku tidak merasa perlu memasang perangkap. Aku menghormati pendirian orang lain, tapi djuga sebagai seorang alat negara, aku harus mengabdi kepada tugasku. Dibalik badju-hidjauku ini, adalah diriku sendiri jang mempunjai pandangan tersendiri sebagai suatu pribadi. Oleh sebab itu, aku hendak berbitjara dengan njonja dari pribadi kepada pribadi. Aku menjesali suami njonja, ikut kehutan, karena menurut pendapatku, dia telah menempuh djalan jang salah. Dan setjara pribadi pula, aku ingin supaja ia kembali kedjalan jang benar. Aku tidak mempunjai hubungan apa² dengan dia, tapi sebagai seorang manusia jang sebangsa dan tanah-air, aku ingin supaja dia kembali dari kekeliruannja. Untuk itu aku minta bantuan njonja, isterinja sendiri.
</div>
<p align="left">24</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini tidak menjelingi kata² letnan Sudarno itu, tapi duduk terpaku mendengarkannja. Sementara itu letnan Sudarno meneruskan :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah njonja tidak suka kalau ia kembali kepada njonja ? Apakah njonja tidak menghendaki agar ia tidak terlalu djauh tenggelam dalam laut tjita² jang tidak tentu udjung-pangkalnja itu ? Tjobalah njonja djawab !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini memandang kepada letnan Sudarno dengan sinar mata jang dingin.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, aku menghendaki supaja dia pulang, — kata Martini. Suaranja tjukup djelas untuk melukiskan perasaan jang ada didalam hatinja. — Tapi apakah dajaku ? Aku tidak bisa mentjarinja. Kalau aku mempunjai kesanggupan untuk memegang lengannja, aku akan meraung se-keras²nja meminta dia kembali. Kini aku sangat merasakan betapa sepinja kehilangan dia.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nah, kalau begitu sudah djelas pendirian njonja. Baik njonja, maupun njonja Alida, akan kubantu dengan sekuat tenaga, sesuai dengan kesanggupan jang ada padaku. Kita harus berusaha, supaja dia kembali. Aku akan memikirkan djalan jang se-baik²nja, bagaimana tjaranja supaja ia bisa kembali.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tolonglah kami letnan ! — kata Alida.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Njonja tjukup pertjaja kepadaku bukan ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pertjaja !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sebenarnja aku tidak menduga, bahwa njonja akan begitu lekas dapat menerimaku, sebab menurut kenjataannja, aku adalah orang baru terhadap njonja berdua. Mestinja njonja akan menaruh ketjurigaan jang besar terhadapku. Sudah ada tiga atau empat orang jang kudatangi dengan tjara jang sama, tapi mereka tidaklah sedjudjur njonja berdua. Mereka selalu mentjari dalih, supaja pembitjaraan tidak tertumbuk kepada keluarga mereka jang ikut kehutan. Tapi disini, aku mendapat perlakuan jang lain, perlakuan jang wadjar. Oleh sebab itu, njonja boleh jakin, bahwa aku tidak bermaksud untuk menjusahkan njonja, seperti jang sudah kukatakan, tapi berusaha
</div>
<p align="right">25</p>
</div><noinclude></noinclude>
2yym84c4h3yt9i0oxdzis1v91iz2b5b
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/15
104
112297
314978
311344
2026-08-20T09:02:19Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314978
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
membantu njonja dengan tenaga dan kesanggupan jang ada padaku. Lain kali, persoalan ini akan dapat kita bitjarakan lagi setjara lebih dalam. Sebagai pertemuan perkenalan, aku merasa gembira, karena kedatanganku tidak disambut dengan ketjurigaan. Niat baikku tidak dipandang sebagai tipu-muslihat, melainkan diterima sebagai kedatangan anggota keluarga sendiri. Mudah-mudahan perkenalan kita ini akan mendjadi lebih berharga dan berguna dikemudian hari, — kata letnan Sudarno ber-sungguh².
</div>
<p align="left">26</p>
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
KETIGA
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
3
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''BUKIT''' Talang, terletak agak keutara desa Koto Hilalang. Dari puntjak bukit itu pemandangan meluas djauh dibawah. Sawah² menghampar digenangi air, bagaikan katja besar jang ber-petak² memantulkan tjahaja matahari pagi jang lembut-kemilau.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Rumah² jang kelihatan sajup² didesa Selajo dan kota Solok membangkitkan kerinduan kepada kaum-keluarga jang ditinggalkan oleh mereka jang kini ikut melakukan pemberontakan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Se-kali² terdengar deru suara kendaraan jang meluntjur disepandjang djalan raja melintasi desa Selajo. Dari puntjak bukit Talang, kendaraan² itu kelihatan seperti sebuah bola jang meluntjur kentjang sekali diatas sebuah garis putih, kemudian hilang dibalik rimbunan pepohonan disepandjang desa. Suara deru jang ditimbulkan kendaraan itu mendatangkan perasaan ketjut dihati kaum pemberontak, se-olah² suara itu meretas tali djantung mereka dan sekaligus memperlihatkan kenjataan, bahwa urat-nadi lalu-lintas sudah dikuasai sepenuhnja oleh APRI.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dibukit itu terdapat sebuah pondok kepunjaan nenek Boge, orang tua jang baik hati, jang selalu memandang setiap soal sebagai lelutjon. Nenek Boge boleh dikatakan tidak pernah marah dan selalu riang. Wadjahnja ber-seri², kumisnja pandjang dan sebentar² disapunja dan dipilinnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang tua ini sebenarnja tidak tahu apa jang terdjadi, ketjuali perang. Dan apa sebab peperangan itu timbul, dan untuk apa pula dia lari kehutan, baginja tidak terang sama sekali.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika kota Solok mulai ribut² menghadapi saat jang genting, ia berangkat ke Koto Hilalang untuk menengok tjutjunja jang
</div>
<p align="right">27</p>
</div><noinclude></noinclude>
h8diw9vqj0dwjbrdq9rsft78r9hhawt
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/16
104
112298
314979
311345
2026-08-20T09:02:31Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314979
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
mendjadi guru Sekolah Rakjat didesa itu. Dan sebelum ia sempat kembali kekota, peperangan benar² sudah meletus. Kota Solok diduduki oleh APRI. Pasukan² PRRI mundur ke Koto Hilalang serta ke-desa² lainnja. Dan semendjak itulah nenek Boge tidak berniat lagi untuk kembali kekota. Ia menjingkir bersama tjutjunja kebukit Talang, dimana ia membangun sebuah pondok.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pondok itu sedemikian rupa letaknja, hingga djika dilihat dari desa Koto Hilalang, tidak ada tanda², bahwa disana terdapat sebuah pondok. Ia dinaungi oleh pohon² jang rimbun, sedangkan dari puntjak bukit itu pemandangan meluas dengan djelas ke-daerah² sekitarnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Semendjak pondok itu dibangun, Munandar dan Karnain seringkali tidur disana. Nenek Boge senang kepada mereka, karena orang tua itu memang selalu merasa bertambah gembira djika beramai-ramai. Tidak lama kemudian, dibangun pula beberapa pondok lainnja disekitar bukit itu, hingga mendjadi lebih ramai.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau kita semakin ramai disini, — kata Munandar kepada nenek Boge, — djangan² ketahuan oleh musuh.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, kau sangat pengetjut, — djawab nenek Boge. — Aku bermaksud hendak memindahkan kota Solok kebukit ini. Biar mendjadi lebih ramai.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar tersenjum mendengar djawaban orang tua itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi kalau kita sudah bertambah ramai, djangan² keselamatan tjutju nenek tidak terdjamin, — kata Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Siapa jang berani mengganggunja ? Aku patahkan batang lehernja ! Siapa jang mentjoba ber-main², akan ku hantam batang hidungnja, — djawab nenek Boge sambil mengusap kumisnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djadi tidak boleh ber-main² dengan dia, nek ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Akan kupetjahkan kepalanja, — kata orang tua itu keras.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau ber-sungguh², bagaimana nek ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ha, itu soal lain. Kalau kau ada minat, akan kupikirkan dulu. Tapi awas, sebelum ada keputusanku, kau djangan tjoba
</div>
<p align="left">28</p>
<div style="text-align: justify;">
main mata dengan dia. Aku berani mentjukil kedua matamu, pertjajalah !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar tersenjum lagi mendengarkan kata² orang tua itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pada pagi hari itu, Munandar duduk dibawah pohon kemiri dekat pondok itu, seraja melajangkan pandangannja ke-sawah² jang tergenang air, ke-rumah² jang seperti batu besar² dikedjauhan, pohon² kelapa jang memagari desa Selajo dan kota Solok. Pikirannja sedang gundah. Perasaannja merasa amat aneh, rindu dan gelisah. Ia teringat kepada isterinja Martini, jang tinggal dikota. Dia mentjoba mem-banding²kan kehidupanja semasa dikota dengan kehidupan jang kini dialaminja. Andaikata ia tidak terseret mengikuti PRRI, tentulah ia dapat menikmati hidup ini dengan segala kemeriahannja bersama Martini. Tapi masa itu telah berlalu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Hai Munandar ! — tiba² terdengar suara nenek Boge memanggilnja. Munandar menoleh kebelakang dan tampak olehnja nenek Boge ketawa lebar, ketawa jang hampir tak pernah diselingi oleh kesusahan dan kesedihan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pagi² sudah bermenung, — orang tua itu melandjutkan. — Mana bisa PRRI-mu menang dengan bermenung. Tak ada perang jang dapat dimenangkan dengan menung, pertjajalah ! Ajo, marilah makan, nasi sudah sedia.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Hidangan sekedarnja memang sudah disiapkan oleh Kartina, tjutju nenek Boge. Mereka biasanja selalu makan pagi², supaja semuanja beres menghadapi apa jang akan terdjadi. Kalau tidak makan pagi² dan andaikata datang patroli APRI, tentulah mereka akan terpaksa menjingkir dengan perut kosong.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kartina duduk disebeleh nenek Boge. Ia kelihatan rapi sekali, sederhana dan menarik. Munandar duduk disamping lain dan Karnain disebeleh Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nah, marilah kita serbu ! — kata orang tua itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Hati² dengan kumis nenek, — Munandar menjela.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Nenek Boge mengusap kumisnja dan memilinnja, lalu katanja :
</div>
<p align="right">29</p>
</div><noinclude></noinclude>
1fcg62187ydynouizcjyiwc23ob2gg4
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/17
104
112299
314980
311346
2026-08-20T09:02:47Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314980
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ada apa, kumisku tidak mengganggu.
</div>
<div style="text-align: justify;">
Kartina tersenjum manis, tapi ia tidak melihat kepada siapa².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Gulai ini pasti enak, tjobalah Munandar ! O, ja Karnain, djangan malu². Ini masakan tjutjuku, pasti enak ! — nenek Boge mengadjak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nenek ini matjam² sadja, — kata Kartina ke-malu²an.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar mentjurikan pandangannja pada gadis itu. Hatinja membenarkan, bahwa Kartina memang menarik dalam sikapnja jang sederhana. Ia segera membawa wadjah gadis itu kepada bajangan Martini, isterinja jang kini berada di Solok.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djangan ngelamun lagi Munandar, — kata nenek Boge seraja menjenggolnja dengan sikunja. Munandar agak terkedjut, dan mulai mengambil nasi.
</div>
<center>
<div style="margin-top: 1.5em; margin-bottom: 1.5em;">*</div>
</center>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang² jang tinggal dibukit Talang berusaha menjibukkan dirinja dengan pekerdjaannja, untuk melupakan suasana perang jang mebrandang. Untuk perintang-rintang hati, mereka menolong nenek Boge bekerdja diladang jang dibangunnja tidak berapa djauh dari pondok itu. Se-kali² datanglah keluarga mereka dari desa Selajo atau Koto Baru untuk menemui mereka, membawakan beras dan rokok. Mereka berhasil sampai kedesa Koto Hilalang itu dengan tjara menjelundup diluar pengetahuan APRI. Djika ketahuan, tentulah mereka tidak akan diizinkan menghubungi keluarga mereka, ketjuali kalau dengan maksud jang pasti untuk mendjemput suami atau anak² mereka jang telah melarikan diri kehutan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dari orang² jang berhasil sampai dihutan ini, dapatlah mereka ketahui apa jang terdjadi di-desa² jang sudah dibebaskan oleh APRI seperti desa Selajo dan Koto Baru. Tapi tjerita² mereka tidaklah selamanja benar, karena pandangan mereka dalam menilai keadaan sangat ber-beda².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Disamping orang² jang dapat menjelundup kehutan ini, bukan tak mungkin pula pihak APRI sengadja mengirim anggota²
</div>
<p align="left">30</p>
<div style="text-align: justify;">
penjelidiknja untuk mengetahui di-mana² persembunjian kaum pemberontak dan apa² jang mereka lakukan. Walaupun anggota² pemberontak itu sangat waspada terhadap hal jang demikian, tapi mereka tidak dapat membendung arus rahasia ini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketjurigaan antara seorang dengan lainnja segera pula tumbuh. Isteri² jang datang dari daerah APRI untuk mengundjungi suaminja, selalu diamat-amati, kalau² mereka mengadjak suami mereka pulang kekampung.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Melalui orang² jang datang dari daerah APRI ini pulalah kaum pemberontak mentjoba menghubungi keluarga mereka, walaupun mereka tetap menaruh tjuriga terhadap orang² itu. Tapi djalan lain untuk dapat berhubungan kedaerah APRI, tidak ada. Itulah satu²nja djalan jang mau tidak mau harus mereka tempuh.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandarpun mentjoba menghubungi isterinja melalui orang² jang pulang-pergi kedaerah jang telah dibebaskan oleh APRI.
</div>
<p align="right">31</p>
</div><noinclude></noinclude>
j3u8uju7wjz37z9v74g7il926ikvvuf
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/18
104
112301
314981
311348
2026-08-20T09:03:00Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314981
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
KEEMPAT
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
4
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''PERASAAN''' Munandar sedikit lega, ketika ada orang jang mau menolongnja membawakan surat kepada Martini. Tapi setelah orang itu pergi, timbul ketjemasannja. Kalau orang itu tidak djudjur kepadanja, boleh djadi surat itu akan djatuh ketangan APRI, dan djangan² Martini mendapat kesukaran karena perbuatannja. Tapi achirnja ia tidak mendapatkan pilihan lain, ketjuali menjerahkan keadaan itu kepada kemauan takdir. Kalau nasib buruk, tentulah surat itu akan djatuh kepada orang jang tidak diingininja, tapi kalau nasib baik, mudah-mudahan sampailah surat itu kepada Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Biasanja dua hari kemudian balasan dari kota sudah dapat diharapkan. Munandar menunggu dengan perasaan harap-tjemas. Setiap ada orang jang berhasil menjelundup kehutan, dan singgah dipuntjak bukit Talang, tentu akan ditanjakannja, kalau² ada chabar dari Martini. Pada hari jang keempat, ia mendjadi ketjewa, karena surat itu tidak mendapat djawaban apa².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang kepada siapa ia minta tolong tempo hari, tidak pula muntjul². Munandar tidak tahu, bahwa surat itu tidak pernah disampaikan oleh orang itu, melainkan telah hantjur mendjadi tanah. Ketika orang itu kembali kedaerah APRI, surat² jang dibawanja telah dibenamkannja kedalam lumpur sawah. Ia tidak mau mendapat kesusahan karena menolong orang lain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar merasa sangat gelisah dan berketjil hati. Berbagai tuduhan jang bukan² dilemparkannja kepada Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Barangkali ia tidak memerlukan chabar dari saja, — katanja dalam hatinja. — Barangkali ia telah mabuk karena senang dikota, sedangkan saja hidup disini dalam pelarian.
</div>
<p align="left">32</p>
<div style="text-align: justify;">
Munandar menggerutu dan kesal bukan main.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika malam sudah datang, ia hampir tak dapat memedjamkan matanja. Pikirannja penuh kemelut dan katjau-balau. Walaupun sebelum tidur, nenek Boge selalu membuat lelutjon, tapi tidak berhasil meneduhkan perasaan Munandar.
</div>
<center>
<div style="margin-top: 1.5em; margin-bottom: 1.5em;">*</div>
</center>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dalam pada itu, di Koto Hilalang telah ditempatkan satu kompi pasukan PRRI. Anakbuahnja umumnja terdiri dari peladjar² dan orang² sukarela. Baik peladjar² maupun sukarelawan itu, tidaklah begitu faham akan pertjaturan politik. Mereka ikut mengangkat sendjata terutama didorong oleh gelora darah-muda. Perang buat mereka adalah suatu pengalaman hebat, lain tidak !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pasukan ini diperlengkapi dengan sendjata² modern. Sungguhpun demikian karena orang² jang berdiri dibelakang sendjata itu belum berpengalaman, mereka hanja se-olah² menjediakan diri untuk mendjadi umpan peluru sadja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang² jang tidur dibukit Talang agak merasa lega sedikit, karena adanja pasukan jang ditempatkan disekitar Koto Hilalang. Kelegaan itu disebabkan mereka tidak perlu melakukan pengawalan seperti biasa, karena tentulah anggota pasukan itu akan selalu lebih ber-hati². Djika terdjadi pendadakan, mereka mengharapkan, bahwa pasukan PRRI itu akan memberikan perlawanan, se-tidak²nja melepaskan tembakan² untuk membangunkan penduduk desa itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dan Munandar baru tertidur setelah dekat djam satu malam. Pikirannja ditutupnja dengan harapan, semoga besok siang datanglah orang dari kota, dan mudah-mudahan orang itu akan membawa pesan dan kiriman dari Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika pagi telah datang, keadaan dibukit Talang tiba² berobah. Kabut jang tebal menjelimuti bukit itu. Udara dingin seakan membeku. Munandar dan kawan²nja serta nenek Boge masih tidur njenjak dalam pondok. Bungkusan atau ransel
</div>
<p align="right">33</p>
</div><noinclude></noinclude>
6pj02ft4l3mnpd77jbkaro98swpohl0
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/19
104
112302
314982
311349
2026-08-20T09:03:15Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314982
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
masing² berada dekat kepala, atau didjadikan bantal-guling. Djika terdjadi apa² mereka siap lari dengan barang² jang sudah terkumpul mendjadi satu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tiba² sebuah letusan terdengar tidak berapa djauh dari pondok itu. Nenek Boge biasanja sigap sekali. Dia bangun tapi masih belum membangunkan jang lain. Letusan itu segera berentetan, makin lama makin ramai.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang² dalam pondok itu terbangun semuanja, dan melompat keluar. Tapi tiba² terdengar suara jang memerintahkan djangan lari. Suara itu menimbulkan suasana jang mendidih. Orang² tidak dapat menahan kakinja, melompat kebelakang, menggelintjir kedalam lembah, kemudian mentjoba melarikan diri diantara semak-belukar. Peluru² berdesingan menembusi pondok itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar beserta seluruh isi pondok itu berhasil lari sebelum pondok itu mendjadi sasaran. Letusan jang besar² mulai terdengar, jaitu suara tembakan bazooka jang dituangkan oleh pasukan PRRI. Mereka menghamburkan peluru tanpa arah sambil mengundurkan diri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pertempuran telah terdjadi dipagi buta itu. Masing² berusaha menyelamatkan diri. Nenek Boge telah lari entah kemana, jang lain² begitu pula. Diselang-seling oleh suara tembakan, terdengar teriak Kartina ketakutan. Munandar melihat gadis itu berlari kebelakang dan men-djerit². Dan setjepat kilat Munandar menjambar tangan Kartina. Tak ada suara jang keluar. Kartina berhenti mendjerit dan berlari mengikuti Munandar. Tembakan terdengar lagi entah dari pihak mana, tidak dapat diketahui.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tiarap ! — perintah Munandar sambil menarik tangan gadis itu. Kartina mengikuti perintah itu dengan tak punja kesempatan untuk berpikir. Keduanja melata ditanah. Seketika mendjadi hening. Dengan sangat hati² Munandar dan Kartina mejelusup diantara belukar. Mereka merajap hati², sampai kedasar lembah jang berselokan. Hari sudah mulai agak terang, remang² pagi. Dilembah itu dapat diketahuinja, bahwa kawan²
</div>
<p align="left">34</p>
<div style="text-align: justify;">
lainnja telah lebih dahulu melarikan diri menjusur selokan itu arah kehulunja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar terus memegang tangan Kartina dan membawanja menjusur selokan itu mengikuti djedjak orang² lainnja. Kartina kelihatan putjat sekali. Nafasnja terdengar turun-naik dengan kentjangnja. Peluh dingin mengalir ditubuhnja. Ini adalah pengalamannja jang pertama bertarung dengan maut.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tidak berapa djauh, kemudian Munandar membawa Kartina kebawah sepohon kaju. Didudukkannja Kartina ditempat itu. Dihapusnja peluh jang memandikan wadjah gadis itu. Diluar sudah hening. Hari sudah terang dan letusan mulai berhenti. Matahari mulai mengintip dari tjelah² dedaunan, dibawah mana Munandar dan Kartina sedang duduk dalam keadaan letih.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Barangkali pertempuran sudah berhenti, — kata Munandar. Kartina memandang saju kepada Munandar. Ia tidak mendjawab, tapi airmatanja tampak menggenang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dimana nenek ? — tanjanja lembut. Airmata meleleh dipipinja. Ia teringat kepada nenek Boge jang entah hidup ataukah mati.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sabarlah ! — kata Munandar membudjuk. — Beliau barangkali sudah terus arah keatas sana, — sambung Munandar sambil menundjuk kearah hulu selokan itu. — Kalau keadaan sudah agak aman, aku akan segera mentjari beliau.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kartina masih terus menangis. Ia terlalu tjemas menghadapi keadaan jang setegang itu. Untunglah ada Munandar jang menolongnja. Djika sekiranja tidak ada laki² itu, apakah jang akan terdjadi atas dirinja. Ia tidak dapat membajangkan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Rambut Kartina terurai, terlepas pada punggungnja. Sambil ter-isak², diperbaikinja rambutnja, disanggulnja dengan menggulungkannja, kemudian ia memandang kepada Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tenanglah, — kata Munandar sekali lagi. — Kita harus berusaha tidak banjak berbitjara. Tangismu akan lebih djelas terdengarnja karena sipongang lembah ini. Kalau suaramu terdengar, djangan² kita diikuti kesini oleh musuh.
</div>
<p align="right">35</p>
</div><noinclude></noinclude>
7xudd02v0spfsj4excu5qdekquv2kdx
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/20
104
112305
314983
311354
2026-08-20T09:03:29Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314983
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Utjapan ini dibenarkan oleh Kartina dan dia berusaha menghentikan sedunja. Keduanja kini duduk berdiam diri tanpa berbitjara apa². Se-kali² Munandar mentjoba mentjuri dengan matanja. Kartina kelihatan lebih manis dari biasa, mungkin karena keadaannja jang tidak di-tambah² dengan dandanan, keadaan jang sewadjarnja sadja. Hatinja berbitjara sendirian : — Sungguh tjantik wanita ini, — Tapi dalam keadaan jang seperti ini, adalah terlalu rendah perbuatannja, djika ia mentjoba mengganggu perempuan itu. — Tidak, — katanja pada dirinja, — aku tidak akan berbuat sesuatu jang tidak sopan terhadapnja. Aku harus menundjukkan kepada Kartina, bahwa aku adalah lelaki jang mempunjai pribadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Satu djam telah berlalu. Keadaan sekitar sudah terang-benderang. Letusan sudah sepi, alamat perang telah berhenti. Tangis Kartina sudah reda pula. Gadis itu duduk ditanah, begitu djuga Munandar. Munandar memandang sekilas kepada Kartina, se-olah² hendak menandjakan perasaan gadis itu. Kartina membuang muka sambil tersenjum, senjum seribu bahasa.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimana perasaanmu kini ? — tanja Munandar lembut.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau telah menyelamatkanku, — djawab gadis itu pendek. Kemudian ia tersenjum lagi mengiringi utjapan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djika kau tak ada, barangkali aku sudah mati kena peluru kesasar, — sambungnja. Dipagi buta seperti itu tentu tak dapat dibedakan lelaki dan perempuan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, itu hanja soal nasib sadja. Kebetulan nasib kita baik, aku dapat melarikanmu. Tapi untung, karena aku tidak melarikan untuk se-lama²nja ......... — Munandar tertawa berkelakar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Masa begitu, — balas Kartina lembut disertai pandangan jang menggairahkan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar memandang kesekitar. Hutan dan semak-belukar, sunji, tak ada manusia lain, ketjuali mereka berdua. — Kalau aku mendekatinja, lalu ........., ah, — katanja dalam hatinja, — mengapakah aku harus berbuat sekasar dan sedjahat itu ? Tidak ! Aku tidak akan merusakkan kepertjadjaan gadis ini.
</div>
<p align="left">36</p>
<div style="text-align: center; font-style: italic; margin-left: 2em; margin-right: 2em;">
Munandar memandang sekilas kepada Kartina, se-olah² hendak menandjakan perasaan gadis itu. Kartina membuang muka sambil tersenjum, senjum seribu bahasa.
</div>
<p align="right">37</p>
</div><noinclude></noinclude>
fmrg6u6m830tlhrnr3yvwaqt804k3bh
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/21
104
112306
315017
311355
2026-08-20T09:49:46Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315017
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau bukan engkau jang menolongku, entah bagaimana djadinja aku sekarang. Kau sungguh baik-hati, — kata Kartina. Kalimat² ini menjadarkan Munandar dari lamunannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, tak usah kau ulang lagi. Kau menimbangnja terlalu berat. Bukankah semuanja ini terdjadi setjara kebetulan sadja ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Gadis itu memandang sekali lagi kepadanja. Sinar matanja saju menghadapi Munandar. Keduanja tidak berbitjara apa². Diam dan sepi ! Sekitarnja djuga demikian. Tiba², dengan tak disadarinja, tangan Munandar bergerak dan didjatuhkannja lambat² diatas tangan gadis itu. Kartina diam sadja. Lembut ! Kartina tidak menolak pegangan itu. Ia tetap memandang kepada Munandar dengan pandangan mengharap, supaja dia djangan diganggu. Munandar mengerti apa jang diutjapkan oleh sinar mata jang lemah itu. Ia segera sadar kembali. Ia tidak patut berbuat sesuatu jang djahat. Ia harus menolong, walaupun hatinja bergelora oleh suatu perasaan jang tak dapat diberi nama, perasaan jang melupakannja kepada isterinja sendiri Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kartina bukan tak merasakan sesuatu dalam hatinja. Ia memandang Munandar sebagai seorang lelaki jang menjenangkan, tjekatan dan djudjur. Kalau bukan karena ketangkasannja, barangkali Kartina sudah tertangkap dan dibawa ke Solok, atau boleh djadi djuga sudah mati ditembus peluru jang bersimpang-siur.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar segera melemparkan perasaannja jang tidak baik itu. Dengan suara lunak ia berkata :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Baiklah kutindjau keluar sebentar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djangan ! Tunggulah agak satu djam lagi. Barangkali musuh belum berangkat, djangan² dipegangnja batang lehermu dari belakang, — kata Kartina melarang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar duduk kembali. Kali ini ia memilih tempat disebelah Kartina. Mereka harus menunggu lagi, sampai keadaan tjukup aman untuk keluar dari persembunjian itu. Selama keduanja duduk dibawah pohon kaju itu, tidak banjak jang
</div>
<p align="left">38</p>
<div style="text-align: justify;">
mereka bitjarakan. Mereka lebih banjak berbitjara melalui perasaan jang membisu, namun pasti ada sesuatu jang mulai berkembang dihati mereka.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tiba² terdengar suara ber-teriak² me-manggil². Suara itu seperti suara nenek Boge jang selalu ritjuh dan ribut. Tapi mereka tidak segera keluar ketika mendengar suara itu. Kartina melarang :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tunggulah dulu ! — katanja. — Djangan² nenek sudah tertangkap dan dipaksa oleh tentara Pusat untuk memanggil kawan². Mungkin bila kita sudah keluar semua dari persembunjian, lantas ditangkap dan dibawa ke Solok.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Benar pula, — kata Munandar seraja duduk kembali. — Mungkin ada diantara kawan² jang sudah tertangkap atau mati kena peluru.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mudah-mudahan semuanja selamat.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka memasang telinga masing² dengan penuh perhatian. Tidak lama kemudian, kedengaran suara bertambah ramai. Rupanja orang² jang lari kehulu selokan dilembah itu sudah kembali. Mereka menghilirkan selokan itu menudju kepondok. Munandar dan Kartina mengintip diam² dari tempat persembunjiannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika keduanja sudah jakin benar², bahwa keadaan sudah aman, merekapun keluarlah dari belukar itu dan berdjalan lambat² mendaki kepunggung bukit menudju pondok dipuntjak bukit Talang. Dipondok itu sudah terdengar suara kawan² lainnja ramai ber-tjakap² mentjeritakan pengalaman masing².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika Munandar muntjul diiringkan oleh Kartina, nenek Boge langsung berteriak dengan suaranja jang lutju itu :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ha, itu dia ! Kemana kalian tadi ? — seru nenek Boge. Belum sempat Munandar mendjawab, orang tua itu melandjutkan :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Munandar, kau sungguh² litjin. Pandai kau menggunakan kesempatan untuk berpatjaran dengan tjutjuku. — Nenek Boge ter-kekeh².
</div>
<p align="right">39</p>
</div><noinclude></noinclude>
jslxncnx1l36wklsv9gi8kzuu4b4i4s
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/22
104
112308
315018
311358
2026-08-20T09:50:01Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315018
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Itulah nenek, — djawab Munandar. — Asal awak selamat, biar tjutju ditinggalkan sendirian. Untung tak disambar elang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Karnain mana ?
</div>
<div style="text-align: justify;">
Belum habis pertanjaan itu, dalam keadaan jang agak lesu, Karnain muntjul dari belakang pondok.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ini saja ! — djawabnja.
</div>
<div style="text-align: justify;">
Munandar memandang kepadanja. Dilihatnja sahabatnja itu agak letih dalam pelarian maut jang baru sadja berlangsung.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa kau selamat ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Selamat !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ada jang mati nek ? — tanja Munandar kembali kepada nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak tahulah !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mudah-mudahan tidak ada.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Hai Kartina ! Mana barang²mu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tak tahu dimana tertjetjernja. Njawa sadja selamat sudah untung.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, anak tjelakalah kau kiranja. Dimana bisa didapatkan kain-badju sekarang ini ? Kenapa kau buang barang²mu tak karuan ?
</div>
<div style="text-align: justify;">
Sehabis pembitjaraan itu, nenek Boge langsung mentjari barang² Kartina kebelakang pondok itu. Untunglah semuanja masih utuh. Dan ketika orang tua itu kembali, nenek Boge mengadjukan pertanjaan :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nah, apa jang harus kita perbuat sekarang ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa lagi selain memasak ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, ja, aku lupa, bahwa perutku sedang kosong, — kata nenek Boge. — Ajo, Kartina ! Uruslah dapur ! Kalau perut sudah diisi, nanti akan kuatur penjerangan ke Solok.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nenek ! Omongan nenek sangat besar. Sedangkan ke-tengah² desa Koto Hilalang sadja nenek malah tidak berani, apalagi ke Solok, — kata Kartina seraja menudju dapur.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau aku ikut perang, wah, dalam sehari sadja tentara Pusat itu bisa angkat kaki dari Solok. Tidakkah kau tahu, bahwa aku punja ilmu gaïb. Kalau aku batjakan mentera, maka
</div>
<p align="left">40</p>
<div style="text-align: justify;">
kota Solok akan diserang oleh lebah jang sangat banjak sekali. Lebah² itu akan menjengat tentara Pusat, dan tentu sadja mereka akan lari tunggang-langgang meninggalkan kota.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mengapa tidak nenek lakukan tadi pagi ? — tanja Munandar mengedjek.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, tadi aku dalam ketakutan, mana bisa mempan ilmu gaïb matjam itu.
</div>
<div style="text-align: justify;">
Munandar tertawa mendengarkan kelakar orang tua itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Daripada mengomong demikian, lebih baik nenek ambilkan beras. Dimana nenek sembunjikan ?
</div>
<div style="text-align: justify;">
Nenek Boge serta-merta masuk kedalam belukar tanpa mendjawab pertanjaan Munandar. Beras untuk persiapan disembunjikan oleh nenek Boge didalam belukar itu. Hanja orang tua itu sadja jang tahu tempatnja. Hal itu adalah untuk mendjamin keselamatan beras itu. Kalau diketahui oleh orang lain, tentulah beras itu akan ditjurinja. Kalau diletakkan dalam pondok, tentu ada kemungkinan tertinggal ketika melarikan diri seperti jang terdjadi subuh itu. Selain dari beras jang disembunjikan itu, masing² orang selalu membawa persediaan beras dalam ranselnja, se-tidak²nja satu atau dua kilogram. Persiapan pribadi itu perlu ada, sebab bukan tak mungkin mereka harus berada didalam hutan sampai dua hari menunggu keadaan aman kembali. Beras itulah jang didjadikan tjadangan.
</div>
<center>
<div style="margin-top: 1.5em; margin-bottom: 1.5em;">*</div>
</center>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''SEMENDJAK''' peristiwa itu, bukit Talang telah ditinggalkan. Penghunidnja pindah ke Katjukah, sebuah perkampungan baru jang dibangun oleh orang² pelarian, jang terletak dipinggir hutan, masih dalam lingkungan desa Koto Hilalang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pondok² sudah banjak dibangun disekitar Katjukah itu. Pondok itu dibangun dari bambu. Atapnja djuga dari bambu jang dibelah dua, jang disusun bergonta-ganti, sebuah ditelungkupkan, dan sebuah lagi ditelentangkan, hingga merupakan saluran-saluran air seperti atap seng. Di-pondok² sematjam inilah
</div>
<p align="right">41</p>
</div><noinclude></noinclude>
c0jlu44f8ezijoy4zdg3uyyezq9tfjo
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/23
104
112311
315019
311363
2026-08-20T09:50:16Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315019
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
pemberontak² diam, menunggu kalau² sang nasib datang membawa chabar baik.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Katjukah terletak diantara dua buah bukit. Di-tengah²nja mengalir batang Gagauan jang berair djernih. Suara air ini mengegau-menggema ke-bukit² dikiri-kanannja, menggegar melompati batu² besar dengan aliran jang tjukup deras.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Bersama dengan nenek Boge dan rombongannja, Munandar dan Karnain djuga pindah kesana. Mereka membangun pondok baru disebuah lereng, jang tersembundji dibalik belukar. Dari luar tidak kelihatan pondok itu, sebaliknja dari pondok itu orang dapat melihat apa jang terdjadi disepandjang aliran batang Gagauan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mula² Kartina mempunjai keinginan jang keras untuk pulang ke Solok. Ia sangat terpukul oleh pengalaman ngeri jang menimpanja dibukit Talang itu. Tapi sehari dua kemudian, keinginannja itu sudah berkurang. Munandar selalu berusaha menghiburnja. Boleh djadi djuga kata² Munandar inilah jang telah mengurangi tekanan dihatinja. Disamping itu nenek Boge tidak membenarkan tjutjunja berangkat ke Solok.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa benar jang kau tjari ke Solok itu ? — kata orang tua itu. — Kalau PRRI menang, ke Djakarta kau akan saja izinkan, apalagi ke Solok. Tinggallah disini. Ibumu tidak apa², ia pasti sehat² sadja. Tapi ingat, kita sekarang dalam keadaan perang ! Perang itu kedjam !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kartina berusaha menjabarkan hatinja setelah mendengar kata² Munandar dan nasihat neneknja. Ia mentjoba kembali tenang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kartina sudah lama tak mengadjar, sebab semendjak beberapa waktu, Sekolah Rakjat di Kota Hilalang sudah ditutup. Kesepiannja tinggal dihutan kini diisi oleh Munandar. Lelaki itu sering ber-tjerita² dengan gadis itu mengenai soal apa sadja jang bisa menarik hati gadis itu, soal jang bisa melupakannja kepada beban perasaannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar kini merupakan lelaki jang disenangi oleh Kartina. Perhatiannja terhadap lelaki itu semakin besar. Didalam pan-
</div>
<p align="left">42</p>
<div style="text-align: justify;">
dangannja, laki² itu adalah seorang jang patut dibanggakan. Ketulusan hati Munandar telah mendapat udjian ketika Kartina terpaksa harus bersembunji berdua sadja dalam hutan-belukar disaat terdjadinja pendadakan APRI dibukit Talang. Peristiwa itu tidak pernah hilang dihati Kartina, se-olah² bekas jang ada dalam hatinja akan mendjadi saksi untuk se-lama²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar tidak mau tinggal ber-sama² dengan nenek Boge. Ia takut kalau² akan mendjadi buah bibir orang² lain. Ia takut akan ditjemoohkan oleh kawan²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Walaupun Munandar tidak tidur dipondok nenek Boge itu, tapi dua kali sehari ia datang kesana untuk makan. Kartinalah jang memasakkan makanan untuknja. Kartina merasa senang dapat membantu Munandar, laki² jang telah menolongnja dari bahaja maut.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sekali datang tanja dihati Munandar : — Apakah aku telah djatuh tjinta kepada Kartina ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pertanjaan itu dianggapnja pertanjaan gila, karena ia sadar kembali, bahwa pertolongannja kepada gadis itu adalah pertolongan jang wadjar sadja. Dia tidak berhak meminta balasan atasnja. Sementara itu Kartina memperlihatkan sikap jang lebih manis, sikap jang menawan dan menjedukkan, tidak sadja karena ia memang seorang wanita jang baik, tapi karena dihatinja terasa, bahwa dia telah berhutang budi kepada Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Djika Munandar muntjul dipondok itu dengan Karnain, Kartina menjambutnja dengan senjum jang indah. Disediakannja kopi untuk Munandar dan Karnain. Dibereskannja keperluan mereka, bahkan nenek Boge pulalah jang mengadjak Munandar makan dipondok itu. Djika bukan demikian, ia akan merasa malu datang kepondok itu, sebab ia tahu bahwa ia bukan djedjaka lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pada waktu itu, soal beras belumlah merupakan soal jang mengchawatirkan, karena desa Koto Hilalang dan desa Gantung Tjiri serta beberapa desa lainnja dibahagian barat kota
</div>
<p align="right">43</p>
</div><noinclude></noinclude>
cy520op7r1qzfm2naff5xfkxlojbxod
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/24
104
112313
315020
311365
2026-08-20T09:50:31Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315020
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
Solok, masih belum dibebaskan oleh APRI. Perbekalan untuk pasukan PRRI dan untuk pegawai² sipilnja masih boleh dikatakan tjukup, walaupun semuanja langsung diambilkan dari rakjat.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dilembah Katjukah orang² PRRI melihat matahari terbit diwaktu pagi dan menjaksikannja terbenam dikala sendja, diantara mana mereka menggantungkan harapan akan hari esok jang belum dapat diramalkan. Diantara orang² itu terdapatlah Munandar, lelaki jang tidak tahu, apakah ingatannja kepada isterinja setjara ber-angsur² telah digantikan oleh Kartina.
</div>
<p align="left">44</p>
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
KELIMA
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
5
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''KOTA''' Solok jang pada permulaan masuknja APRI merupakan kota jang sepi, kini telah mulai bangun kembali. Penduduknja dari sehari-kesehari sudah bertambah banjak. Orang² jang melarikan diri dari daerah PRRI mulai mengalir kekota. Sementara itu pertempuran telah mendjauh, sajup² terdengar di-lereng² bukit ditepi hutan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tiap² pendatag baru ini, membawa bersama mereka berbagai tjerita jang terdjadi didaerah jang dikuasai PRRI. Sebahagian dari tjerita² itu memang benar adanja, tapi tidak kurang pula banjaknja jang merupakan tjerita² dongeng, chabar-angin atau isapan djempol. Sungguhpun demikian, tjerita-tjerita sematjam itu tjepat sekali berkembangnja, meluas bagaikan penjakit tjatjar, berpindah dari seorang kepada jang lain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Diantara tjerita² itu terdapatlah tjerita tentang diri Munandar. Orang mulai membitjarakan lelaki itu, bahwa dia sudah kawin lagi di Koto Hilalang. Jang pertama kali mendjadi sasaran berita jang seperti itu, tentulah Martini dan kaum-familinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika Martini mendengar tjerita tentang suaminja itu, ia berusaha membuat dirinja sedemikian rupa, sehingga tidak tampak perobahan diwadjahnja, se-olah² hatinja tidak berkutik sedikitpun. Ia berlagak tidak pertjaja dan tidak mengatjuhkannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku tahu siapa Munandar, — katanja dengan bangga. — Aku tahu dan kenal betul pribadi suamiku. Ia tidak akan sebodoh itu mengambil seorang gadis kampung untuk isterinja. Dan aku tahu, bahwa dia mentjintaiku.
</div>
<p align="right">45</p>
</div><noinclude></noinclude>
esg2u566brw0q304g2bn2x8lpezmjvq
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/25
104
112314
315021
311367
2026-08-20T09:50:46Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315021
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Makin lama makin banjak orang ber-tanja² kepadanja. Betulkah suaminja sudah ketjantol didesa Koto Hilalang ? Ataukah chabar itu hanjalah suatu isapan djempol jang di-buat² untuk merusakkan hati perempuan itu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini menganggap pertanjaan itu sebagai sesuatu jang tidak patut diatjuhkan. Mungkin djadi chabar itu dimaksudkan orang sebagai pantjingan terhadapnja, kalau² dia mempunjai hubungan tetap dengan suaminja. Ia ingin menundjukkan, bahwa semendjak Munandar pergi ke Solok, ia tidak pernah berhubungan apa² dengan suaminja itu. Dan benarlah, bahwa dia tidak pernah mendapat djalan untuk menghubungi Munandar, walaupun senantiasa diingininja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orangtuanja serta keluarganja jang terdekat, djuga datang kepadanja dengan pertanjaan jang sama. Martini berusaha tetap tenang dan mengatakan, bahwa dia tidak pernah mengetahui hal itu setjara pasti.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Lama² timbul djuga pertanjaan dalam hatinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tanpa angin, bagaimanakah pohon-kaju bisa bergojang ? Djika tidak ada apa²nja, tidak mungkin orang akan menjebarkan berita jang bukan². Inilah jang mendjadi bibit dalam hatinja untuk memulai suatu sjak-wasangka. Ia mulai disiksa oleh pikiran jang bukan² terhadap suaminja. Bukan tak mungkin di-desa² jang djauh terpentjil itu, tumbuh bunga-alam jang indah, jang hidup dengan daja dan kemurahan alam sendiri. Ketjantikannja kadang² melebihi bunga² jang dipelihara dengan teliti disebuah taman ditengah kota. Dan bukan tak mungkin pula Munandar telah menemui bunga jang demikian itu, seperti jang kini dibitjarakan oleh orang² jang kenal kepadanja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini mendjadi lebih gelisah. Tidurnja sudah sering diganggu oleh chajalan² jang tidak enak, kadangkala diikuti oleh mimpi jang tidak menjenangkan. Dihatinja mulai bersemi sedikit demi sedikit kepertjadjaan, bahwa Munandar telah mengchianatinja.
</div>
<p align="left">46</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau ia benar² masih ingat kepadamu, — kata kawan²nja, — tentulah ia tidak akan sampai hati berbuat demikian. Tjobalah kau pikir, sudah sekian lama kau ditinggalkannja, tapi pernahkah kau menerima berita apa² dari dia, sekedar untuk menjatakan kepadamu, bahwa dia tetap setia kepadamu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Lelaki adalah lelaki, — kata jang lain. — Ia hanjalah suami kita didalam rumah. Bila lelaki sudah meninggalkan anak-tangga terachir dari rumah kita, ia bukanlah suami kita lagi. Ia akan merasa dirinja sebagai seorang djaka. Ia akan lupa, bahwa dirumahnja ada seorang wanita jang sedang me-nunggunja. Apalagi Munandar pergi entah untuk berapa lama.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mengapakah suamimu itu tidak pernah memberimu chabar, padahal orang lain dapat belaka berhubungan dengan keluarganja. O, boleh djadi ia takut, kalau² kau mengetahui, bahwa dia sudah mendapatkan gantinja jang lain. Barangkali seorang gadis jang lebih tjantik.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Suara² jang demikian datang silih-berganti kepadanja setiap hari. Kadang² ditantangnja orang² jang berbitjara seperti itu, tapi apabila ia sudah kembali seorang diri, kata² dan utjapan orang² itu mulai mendjadi buah pemikirannja. Lambat-laun ketangguhan hatinja untuk menjembunjikan perasaan jang sebenarnja, mulai gontjang. Ia mulai terpengaruh oleh utjapan kawan²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Hari²nja kini dipenuhi oleh pikiran kepada Munandar. Dunianja serasa gojah, hatinja menanggung kepedihan jang timbul lantaran tjerita² jang didengarnja. Kadang² perasaan hatinja bangkit, mendesaknja untuk menempuh djalan langsung mentjari Munandar, meminta pertanggungandjawab lelaki itu. Tapi kemana ? Kemana suaminja akan ditjarinja ? Pikiran dan perasaannja jang bergedjolak itu terpaksa dipadamkannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ditangisinja nasibnja jang malang. Dikutukinja suaminja jang telah begitu sampai-hati mengchianatinja, padahal dia menunggu dirumah dengan tjinta jang tetap menjala. Martini dapat melenjapkan perbedaan pandangan antara dia dan suaminja dalam menghadapi pergolakan jang sedang terdjadi se-
</div>
<p align="right">47</p>
</div><noinclude></noinclude>
lh0nu12wbxgqr2iq1471kuhjsx0hogg
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/26
104
112315
315022
311369
2026-08-20T09:51:03Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315022
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
karang ini. Walaupun ia tidak setudju suaminja ikut kehutan dan berdjuang dipihak PRRI, tapi demi tjinta, ia bisa melupakan perbedaan² itu dengan harapan ia akan kembali kedjalan jang benar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kini datanglah soal jang dirasanja lebih berat dari himpitan sebuah gunung sekalipun. Perempuan manakah jang bisa tinggal tenteram bila mendengar chabar, bahwa suaminja telah mengambil perempuan lain jang akan menggantikan tempatnja ? Ia tidak mau tjinta suaminja itu ter-bagi², walaupun sebesar pasir sekalipun.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Hati dan pikirannja dibajangi oleh kemelut jang sangat hebat. Maulah rasanja ia mati disaat jang seperti itu, tapi sang maut tidaklah tjukup pemurah untuk datang mengundjunginja. Dengan begitu, Martini mendekam suatu luka dihatinja, jang keperihannja hampir tak tertanggungkan.
</div>
<center>
<div style="margin-top: 1.5em; margin-bottom: 1.5em;">*</div>
</center>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''LETNAN SUDARNO''' djuga mendengar berita itu. Dengan segera ia langsung menemui Martini. Ia ingin tahu, apakah berita itu mengandung kebenaran atau se-mata² berita bohong. Tentulah Martini akan lebih tahu mengenai soal ini, pikirnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Semendjak kedatangannja jang pertama, letnan Sudarno sudah sering berkundjung kerumah Martini. Letnan jang masih muda itu, dengan sifat² kelelakian jang menarik hati, peramah dan tak suka berbitjara kotor, dengan tjepat dapat merebut simpati orang² jang mula berkenalan dengan dia.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kedatangan letnan Sudarno kali ini, disertai dengan hasrat ingin tahu. Tapi ia selalu bersikap hati², supaja perasaan Martini tidak tersinggung.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika letnan Sudarno muntjul diambang-pintu rumah Martini, dilihatnja ruangan depan sepi sadja. Biasanja Martini senang duduk² disana, mendjahit atau membatja. Tapi kali ini letnan Sudarno tidak melihat perempuan itu.
</div>
<p align="left">48</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ia sudah dapat me-reka² apa kira² jang sedang dirasakan oleh Martini. Dengan suara jang tidak begitu keras, dipanggilnja njonja rumah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dari dalam kedengaran suara menjahut. Suara itu sedikit sendat, tjukup bagi letnan Sudarno untuk mendapat kejakinan, bahwa Martini memang sedang berada didunia jang penuh kemelut.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dia langsung duduk dizitje sambil menunggu njonja rumah. Dari dalam kedengaran langkah menudju kedepan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, pak Sudarno ! ? — kata Martini menegur dengan gaja jang agak dimaniskan untuk menjembunjikan perasaannja sendiri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa kabar pak Darno ? — susul perempuan itu seraja duduk dizitje dihadapan letnan Sudarno.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno tersenjum manis, se-olah² dia tidak membawa sesuatu jang agak gandjil untuk dibitjarakannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Chabar baik sadja, — djawabnja pendek.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno dapat mengetahui dari sikap Martini, bahwa perempuan itu memang sedang menanggungkan sesuatu. Sungguhpun demikian, ia tidak mau langsung membitjarakan soal jang mengenai diri Munandar. Ia mentjari djalan berkeliling, supaja perasaan Martini djangan sampai tersinggung.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kota sudah berangsur ramai kembali, — kata letnan Sudarno.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, tampaknja orang² dari desa sudah mengalir kemari, — djawab Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Memang ! Orang² dari desa² Muara Panas, Koto Anau, Tjupak, Koto Baru dan Koto Hilalang, sudah ramai masuk kota. Mereka mengatakan, bahwa penghidupan didaeraha PRRI sudah semakin sulit.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tentu sadja ! — kata Martini menegaskan. — Kalau perang sudah datang, se-gala²nja djadi sulit.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Adakah diantara mereka jang kau kenal ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak ! — djawab Martini pendek.
</div>
<p align="right">49</p>
</div><noinclude></noinclude>
pbz7mwisnvyrpfethap801to7eimu77
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/27
104
112317
314984
311371
2026-08-20T09:06:53Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314984
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Matjam² tjerita jang mereka bawa dari daerah PRRI, — kata letnan Sudarno jang sudah mulai menjinggung soal jang hendak diketahuinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sebanjak orang, sebanjak itu pula tjeritanja, — kata Martini, se-akan² hendak melepaskan diri dari pantjingan letnan Sudarno.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah tidak ada diantara tjerita itu jang mengenai diri Munandar ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak ! Aku tidak pernah dengar, — djawab Martini jang mulai merasakan, bahwa letnan Sudarno sudah mengetahui berita² tentang kawinnja Munandar di Koto Hilalang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku ada mendengar tjerita tentang dia, — kata letnan itu sambil memandang sekilas kepada Martini. Dari pandangan itu, ia tahu bahwa Martini maklum apa jang dimaksudnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah dia kena tembak ? — tanja Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bukan !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Lalu, apa jang pernah letnan dengar ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Chabarnja ........., — letnan Sudarno memandang sekali lagi kepada Martini. Kini njata terlihat, bahwa muka Martini lebih merah dari semula. — Chabarnja, dia sekarang berada di Koto Hilalang, — kata letnan itu melandjutkan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Keduanja berdiam diri sedjurus. Martini tidak hendak memulai pembitjaraan itu. Dia diam sadja dan tampaknja agak gelisah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Benarkah dia di Koto Hilalang ? — tanja letnan Sudarno.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Entahlah ! Bagaimana pula aku bisa mengetahuinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah kau tidak pernah mendengar chabar apa² tentang dia ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini menundukkan kepalanja. Kini apa jang sangat dienggankannja datang mendesaknja. Ia bermaksud tidak hendak mentjeritakan hal itu kepada letnan Sudarno, tapi sekarang ia terdesak kesuatu podjok, karena letnan Sudarno rupanja sudah mengetahuinja. Martini tidak dapat bersembunji lagi.
</div>
<p align="left">50</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Maksud pak Darno, chabar tentang apa ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Umpamanja tentang ............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bahwa dia sudah kawin lagi ? — tukas Martini dengan tjepat memutus kalimat letnan Sudarno itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno memandang tadjam kepada Martini, kemudian ia meng-angguk²kan kepalanja lambat² sambil tersenjum.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, orang mentjeritakan kepadaku, bahwa Munandar sudah kawin lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah kau pertjaja berita² sematjam itu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Adakah alasan buatku untuk tidak pertjaja ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno kembali berdiam diri. Ia melajangkan pandangannja kesekeliling ruangan itu. Martini tertunduk.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Boleh djadi orang ingin mengganggu perasaanmu, — kata letnan Sudarno memulai. — Kau haruslah ber-hati² menerima berita jang sematjam itu. Barangkali ada orang lain jang mempunjai kepentingan atas keruntuhan rumahtanggamu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kata² letnan Sudarno itu tidak berhasil meringankan perasaan Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sebaliknja, — kata perempuan itu, — boleh djadi djuga berita itu memang benar. Orang mungkin dengan sengadja menjampaikannja kepadaku, djustru karena orang tidak ingin melihatku mendjadi korban dari kedjalangan suamiku.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah kau tidak jakin akan kasih-sajangnja kepadamu ?
</div>
<div style="text-align: justify;">
Martini tidak segera mendjawab pertanjaan itu. Matanja jang mulai ber-katja² memandang kepada letnan Sudarno. Kemudian dengan suara jang lunak, perempuan itu berkata :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimanakah aku bisa mengetahuinja, padahal kami sudah berpisah tanpa mendapat chabar-berita dari dia ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, — kata letnan Sudarno sambil mengeluh. — Aku harap kau tidak akan segera sadja mengambil kesimpulan jang tidak² dalam soal sematjam ini. Aku pernah mendjadi korban fitnahan, djustru karena aku tidak mau bersabar dan melakukan penjelidikan dengan kepala jang dingin.
</div>
<p align="right">51</p>
</div><noinclude></noinclude>
c8kb8jqe4fgp7pxhap3hp7a4hs0m9eo
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/28
104
112319
314985
311374
2026-08-20T09:07:08Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314985
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, letnan kena fitnah ? Itu merupakan tjerita baru, — kata Martini. Perasaan Martini tiba² berpaling kepada apa jang dikatakan oleh letnan Sudarno itu. Ia ingin tahu, fitnahan matjam apakah jang pernah mengorbankan letnan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, saja pernah mendjadi korban fitnahan seperti jang kau alami sekarang, — kata letnan Sudarno jang ber-siap² hendak mentjeritakannja kepada Martini. Tapi agak lama djuga ia baru dapat memulainja, karena tiba² perasaannja dipenuhi oleh kenangan kepada masa² jang telah silam, ketika hidupnja beruntung dan berbahagia dengan isterinja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku dan isteriku hidup tenteram, — kata letnan Sudarno dengan suara jang rendah penuh perasaan. — Aku mentjintai dia dengan sepenuh hatiku, dan tahu bahwa diapun mentjintaiku. Tapi rupanja ada² sadja jang meremukkan kebahagiaan itu. Ketika aku bertugas ke Djawa Barat menghadapi DI, dia tinggal sendirian dirumah. Dan ketika aku kembali, aku dengar tjerita dari mulut-kemulut, bahwa selama dia tinggal, dia tidak menundjukkan kesetiaannja lagi kepadaku. Kata orang, dia telah berhubungan dengan seorang perwira lain, kebetulan adalah sahabatku pula. Hatiku mendidih karena marah, tapi untunglah aku tidak sampai menembaknja. Dia melarikan diri kepada orangtuanja, dan dengan tidak banjak pikir, surat tjerai segera kukirimkan. Dengan begitu, berachirlah perkawinan kami. Kini dia sudah hidup beruntung dengan lelaki lain, sedangkan aku hidup sunji seorang diri. Aku sungguh menjesal telah berbuat sesuatu kekeliruan, karena kemudian terbukti, bahwa tuduhan dan tjerita² orang lain itu ternjata fitnahan belaka. Kuharap, tidak akan banjak orang seperti aku, dan harapan itu djuga kutudjukan kepadamu. Pikirlah baik², supaja tidak mendjadi penjesalan dikemudian hari. Djanganlah terlalu lekas terpengaruh.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini agak terkedjut mendengarkan tjerita letnan Sudarno itu. Ia tidak pernah mengira, bahwa letnan Sudarno mengalami nasib jang seperti itu. Selama mereka berkenalan, belum pernah pembitjaraan mereka terbelok kepada soal² keluarga letnan
</div>
<p align="left">52</p>
<div style="text-align: center; font-style: italic; margin-left: 2em; margin-right: 2em;">
Martini mentjoba memahamkan kata² jang diutjapkan oleh letnan Sudarno. Ia merasa bertambah jakin, bahwa letnan Sudarno adalah seorang lelaki jang tulus dan djudjur.
</div>
<p align="right">53</p>
</div><noinclude></noinclude>
3wies4tls76w86d4zc0uux0o78isys1
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/29
104
112320
314986
311375
2026-08-20T09:07:23Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314986
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
Sudarno. Tiba² kini Martini mengetahui, bahwa letnan Sudarno hidup membudjang seorang diri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini tidak segera memberikan reaksi, walaupun dihatinja timbul berbagai soal, baik mengenai dirinja sendiri, maupun sekitar soal kehidupan letnan Sudarno.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau begitu, mengapa letnan tidak kawin sadja dengan perempuan lain, — kata Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kawin sih, mudah ! Tapi mentjari atau menemukan seorang wanita jang tjotjok dipikiran dan dihati, itulah jang sulit. Aku insaf, bahwa aku tidak akan bisa hidup membudjang terus-menerus, tapi aku tidak dapat berbuat lain, ketjuali menunggu datangnja sang takdir untuk mempertemukanku dengan seorang perempuan ............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno memandang sekilas kepada Martini, kemudian melajangkan pandangannja kesepandjang loteng sambil menjandarkan dirinja seenaknja kesandaran zitje. Martini dilamun oleh soal jang merusak hatinja, dan oleh tjerita baru jang tiba² didengarnja dari letnan Sudarno.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Baiklah ! Akan kuturutkan nasihat letnan. Aku akan bersabar menerima chabar² tentang suamiku. Tapi kalau dalam sebulan-dua ini tidak djuga ada berita jang pasti dari dia sendiri, aku akan mengambil djalan sendiri ............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pokoknja, djanganlah terlalu lekas berburuk sangka. Sebenarnja, djika aku memikirkan suamimu sebagai seorang jang berchianat terhadap negara, aku tidak usah menghiraukan apapun jang akan diperbuatnja dan bagaimanapun perasaanmu. Tapi aku tidak dapat selamanja berpikir sebagai alat-negara. Adakalanja aku harus berpikir sebagai pribadiku sendiri, jang mempunjai hubungan persahabatan dengan manusia lain. Karena berpikir seperti manusia pribadi inilah, maka aku berani berbitjara begitu kepadamu. Dan aku jakin, bahwa utjapan dan nasihatku itu, tidak akan kau terima dengan tjuriga, walaupun karena alasan² politik, aku adalah musuh dari suamimu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Keduanja kembali berdiam diri. Martini mentjoba memahamkan kata² jang diutjapkan oleh letnan Sudarno. Ia merasa
</div>
<p align="left">54</p>
<div style="text-align: justify;">
bertambah jakin, bahwa letnan Sudarno adalah seorang lelaki jang tulus dan djudjur. Kedjudjuran ini telah menjebabkan Martini tidak merasa berhadapan dengan seorang tamu, tapi dengan seorang lelaki jang rasanja sudah dikenalnja semendjak ber-tahun².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Disatu pihak, Martini melihat letnan Sudarno sebagai seorang kawan jang berhati ichlas, jang dengan susah-pajah berusaha membuatnja tenang terhadap persoalan jang sedang dihadapinja. Dipihak lain ia berhadapan dengan Munandar, suaminja, sebagai seorang laki² jang mementingkan diri sendiri. Begitu rela ia pergi meninggalkan Martini seorang diri, padahal kasih-sajang perempuan itu sangat besar kepadanja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Djika dia bukan seorang jang mementingkan diri sendiri, tentulah suaminja tidak akan sampai-hati meninggalkannja ter-nanti² sepandjang hari tanpa sepatah beritapun jang akan didjadikannja penawar dahaga kerinduannja. Dan kini tersiarlah chabar jang tidak enak didengar dan tidak nikmat untuk dirasakan. Kalaulah suaminja sedikit memikirkan Martini, tentulah dia tidak akan mau berangkat kehutan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ah, terngiang ditelinga Martini kata² jang dulu pernah diutjapkan Munandar sewaktu mereka berdebat :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau tahu apa dengan politik ! ? Serahkanlah soal itu kepadaku. Tinggallah pada keperempuananmu !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kata² itu kini terasa djauh lebih pedih daripada ketika ia diutjapkan oleh Munandar dulu itu. Kepedihan itu digarami oleh berita² jang menjakitkan hati, bahwa Munandar telah kawin lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Persetan ! —, katanja tiba² dalam hatinja. Giginja gemertak karena kesal dan marah. Mukanja merah menahan perasaan. — Biarlah dia mampus dalam hutan, dimakan oleh harimau atau setan. Laki² tak punja perasaan ! ! !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tapi tiba² pula perasaannja mendjadi kendur. Dia terombang-ambing oleh perasaan jang silih-berganti. Airmatanja
</div>
<p align="right">55</p>
</div><noinclude></noinclude>
lbodpgtbmaris9k3legf6u40livsv7c
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/30
104
112322
314987
311377
2026-08-20T09:07:37Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314987
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
berlinangan dan dengan tjepat dihapusnja karena malu kepada letnan Sudarno. Letnan Sudarno mengerti apa jang sedang dirasakan oleh Martini, tapi ia ber-pura² tidak tahu sadja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Lambat-laun Martini merasa dibantingkan oleh keketjewaan. Kini ia jakin se-penuh²nja, bahwa suaminja Munandar telah mengambil gadis lain jang akan menggantikan tempatnja dihati lelaki itu. Ia tidak bisa membiarkan tindakan suaminja ini. Ia harus mengambil sikap jang tegas terhadap persoalan ini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Walaupun letnan Sudarno mentjoba membudjuk Martini supaja djangan ter-buru² mengambil putusan, namun nasihat itu tidak banjak artinja bagi Martini. Hatinja merasa luka jang mengojak bertambah lebar. Pedihnja hampir tak tertanggungkan. Djalan satu²nja ialah mengambil suatu putusan sendiri untuk menyelamatkan perasaannja sendiri pula.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Putusan itu segera dipilihnja. Ia tidak ragu² lagi. Dalam hatinja kini, ia merasa tidak mempunjai hubungan apa² lagi dengan Munandar. Orangtuanja membenarkan sikapnja itu, karena merekapun jakin, bahwa Munandar telah melemparkan anaknja begitu sadja. Mereka tidak suka melihat anaknja teraniaja. Mereka ingin melihat anaknja hidup senang dan bahagia. Untuk apa bersuamikan orang jang tidak mempunjai perasaan tanggung-djawab terhadap isterinja.
</div>
<p align="left">56</p>
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
KEENAM
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
6
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''MARTINI''' mentjari dunia jang lebih segar, melenjapkan kenangannja kepada Munandar. Letnan Sudarno sering datang kerumahnja, lebih sering daripada biasa. Persahabatan mereka telah berkembang terus-menerus, tumbuh di-tengah² simpang-siur berita jang menjakitkan hati perempuan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau akan menjesal nantinja, — kata letnan Sudarno memperingatkan. — Kau tak usah ter-buru² mengambil putusan jang seperti itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku tidak akan menjesal, — djawab Martini tegas. — Orangtuaku sudah mendjetudjui. Dan memangnja tidak ada djalan lain, ketjuali mengambil sikap jang njata terhadap suami jang sematjam itu. Kalau sekiranja dia tidak berbuat sesuatu apa, mestinja sudah ada agak sepatah kata jang dikirimkannja kepadaku, sekedar untuk membuktikan, bahwa dia masih ingin mendjadi suamiku. Orang lain hampir semuanja sudah dapat menghubungi isterinja, mengapa dia tidak ? Mengapa dia berdiam diri ? Kalau djelas benar dia sudah mati, dapatlah pula dipandjatkan doa, semoga dia selamat didalam kubur. Tapi tidak ! Aku kini memang pertjaja kepada berita² itu. Orang tidak akan sia² menjampaikannja kepadaku, djika peristiwa itu tidak ada. Dan memang banjak lelaki lain jang telah menempuh djalan seperti itu, beristeri dihutan untuk melupakannja dari perasaan iseng terhadap keluarga jang ditinggalkannja. Untunglah aku tidak punja anak. Djika aku punja anak, dan dia berlaku seperti itu, entah apa jang akan terdjadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno maklum betapa pedihnja perasaan Martini terhadap suaminja. Tapi setjara hati², ia tidak terburu memperlihatkan minatnja terhadap perempuan itu. Ia tidak mau
</div>
<p align="right">57</p>
</div><noinclude></noinclude>
s3hafhfjj9lmmm7langcnfrslld2v3l
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/31
104
112324
314988
311379
2026-08-20T09:07:53Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314988
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
mendjadi sebab, kalau² Martini melemparkan suaminja, djustru karena merasa tjenderung kepada dirinja. Letnan Sudarno tidak mau mendjadi biangkeladi. Ia datang kesana semula dengan niat jang baik, dan ia ingin mempertahankan niatnja itu. Ber-kali² sudah ditjobanja melunakkan hati Martini, supaja djangan mengambil sikap jang keras. Ia mengandjurkan supaja perempuan itu bersabar hati, tapi sarannja ini tidak dihiraukan oleh Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djika kau tidak suka melihatku mengambil sikap jang demikian, — kata Martini, — tinggallah pada ketidak sukaanmu itu, namun aku akan tetap bersikap demikian. Aku merasa tidak mempunjai hubungan apa² lagi dengan dia, dan aku akan mengadjukan persoalan ini kepada Pengadilan Agama. Aku jakin, bahwa Pengadilan Agama akan membenarkan sikapku.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Achirnja letnan Sudarno gagal membendung perasaan perempuan itu. Ia membiarkan Martini bertindak semaunja. Lagi pula, apa gunanja ia menghalangi perempuan itu, padahal persoalan itu bukanlah urusannja. Berpidjak pada pendirian jang demikian, letnan Sudarno tidak mau lagi mengutik-ngutik masaalah itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dan Martini benar² mengadjukan pengaduan kepada Pengadilan Agama. Pengadilan Agama menerima pengaduannja dan membenarkan sikap Martini, djustru karena Munandar telah melakukan pengchianatan terhadap negara dengan melakukan pemberontakan. Semendjak itu, Martini merasa tidak terikat lagi kepada perkawinannja dengan Munandar. Ia bebas sudah. Ia boleh memilih dunianja sendiri dan mendadjung kehidupannja kearah mana sadja jang disukainja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno, laki² jang baik hati itu, jang senantiasa berbitjara dengan hati jang djudjur setjara pribadi, diterima oleh Martini lebih hanja dari pada seorang sahabat belaka. Kedatangannja kerumah Martini disambut dengan tjara wadjar, sikap jang manis, bahkan sangat disenangi. Dan letnan itu sadar, bahwa udara sekitarnja telah berobah, tapi ia tidak
</div>
<p align="left">58</p>
<div style="text-align: justify;">
bermaksud untuk lari dari kenjataan itu. Ia berbitjara dengan dirinja sendiri, dan dia jakin, bahwa banjak-sedikitnja, hatinja telah tjenderung kepada perempuan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini memandang letnan Sudarno sebagai seorang lelaki satu²nja kini jang akan sanggup menggantikan tempat Munandar. Perempuan itu akan merasa puas, andaikata segalanja terdjadi menurut semestinja, sebagai balasan atas perbuatan Munandar. Sakit hatinja merasa mendapat imbalan jang tjukup, dan dia mengharapkan kelak, agar Munandar bisa melihat, bahwa dia bukanlah seorang perempuan jang akan merendahkan dirinja dibawah telapak sepatu suami jang tidak setia.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno merasakan dorongan itu mendjurus kepadanja, dan dia sendiri tahu, bahwa hatinja mulai mendekati perempuan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku hampir tak pertjaja, bahwa semuanja akan berlandjut seperti ini, — kata letnan Sudarno kepada Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sedjarah tidak pernah mengikuti suatu garis jang lurus, — balas Martini. — Kalau bukan kemauan sang nasib, aku rasa kita takkan pernah berkenalan. Dan perkenalan kita ini rupanja ditakdirkan mendjadi suatu perkenalan abadi. Apakah kau keberatan ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno agak segan² membenarkan utjapan Martini, walaupun didalam hatinja sendiri sudah berkembang suatu perasaan jang gandjil.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Barangkali orang² sekitar sini akan menganggapku sebagai seorang lelaki jang mentjari keuntungan di-tengah² keruntuhan rumahtangga orang lain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Itu tidak mendjadi soal. Jang penting ialah, bahwa kau tidak mentjoba berdusta dengan dirimu sendiri. Kalau kau hanja menginginkan aku dianiaja oleh suamiku, maka soal ini sebenarnja tidak usah kita bitjarakan lagi. Tapi aku jakin, bahwa kau tidak menginginkan hal jang demikian. Oleh sebab itu, sudah tiba saatnja, dimana kau harus berani mengambil sikap jang sesuai dengan kata hatimu sendiri. Bagaimana pen-
</div>
<p align="right">59</p>
</div><noinclude></noinclude>
ea822tcij8np0zpdk3xdi3go207eakf
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/32
104
112327
314989
311384
2026-08-20T09:08:07Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314989
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
dapat orang lain, tidak usah terlalu dihiraukan. Dulu kau pernah menasihatiku, supaja djangan terlalu mengatjuhkan utjapan orang lain, maka sekarang nasihat itu berlaku djuga untuk dirimu sendiri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Letnan Sudarno tidak dapat mengelak lagi. Ia harus bersikap djudjur dan sungguh². Ia tidak kuasa melawan kata hatinja sendiri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djika seorang perempuan seperti aku, sudah berbitjara setjara tulus, mengapakah kau tidak akan berbuat demikian ? — kata Martini mendesak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tentu orang² sekitar ini akan mengedjekmu, karena kau ............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Maksudmu, karena aku bersuamikan orang Djawa ?
</div>
<div style="text-align: justify;">
Letnan Sudarno mengangguk.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Perasaan kedaerahanmu rupanja terlalu besar. Kau tahu bukan, bahwa salah satu sebab mengapa terdjadi pemberontakan ini, adalah karena perasaan kedaerahan jang berlebihan. Bila kau memandang Indonesia ini sebagai suatu kesatuan, kita tak usah me-njebut² Djawa atau bukan Djawa .....
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orangtua Martini menjerahkan sadja persoalan ini kepada anaknja itu, karena mereka menganggap, bahwa Martini sudah tjukup dewasa. Satu²nja keinginan mereka ialah, supaja anaknja ini hidup berbahagia se-lama²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Martini merasa sudah matang dengan keputusannja itu. Ia menjatakan hal itu setjara terbuka kepada letnan Sudarno. Dan achirnja letnan Sudarno terpaksa berbitjara setjara terus-terang pula. Martini berhasil mengisi kekosongan hatinja dengan perwira muda jang gagah itu. Ia menghadapi hari depannja dengan harapan, bahwa letnan Sudarno benar² akan sanggup menggantikan Munandar.
</div>
<p align="left">60</p>
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
KETUDJUH
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
7
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''PADA''' permulaan tahun 1960, setelah dua tahun lamanja mentjoba bertahan, kenjataan menundjukkan, bahwa kedudukan pasukan PRRI sudah bertambah lemah. Masa gelap jang mengerikan merajap kesepandjang perbukitan dan hutan-rimba dimana pasukan itu mengambil tempat. Keadaan mereka sudah semakin menjedihkan. Peluru sudah hampir habis. Makanan dan pakaian telah mentjapai taraf jang sangat buruk. Dan serentak dengan itu, semangat tempur pasukan ini merosot terus-menerus.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Walaupun demikian, pemimpin² PRRI masih tetap berusaha mengatasi kesulitan ini dengan berbagai akal. Pada permulaan tahun itu, mereka mengumumkan berdirinja negara ,,Republik Persatuan Indonesia" sebagai negara federal untuk menggantikan PRRI jang hampir ambruk itu. Pengumuman ini diharapkan untuk mendjelmakan udara baru kepada pedjuang² mereka. Tapi perobahan nama tidaklah sekaligus merupakan perobahan isi. Nama itu boleh diganti sepuluh kali dalam sehari, namun isinja akan tetap itu djuga.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pengumuman berdirinja RPI itu tidak memperbaiki keadaan dan kedudukan pasukan² pemberontak. Djika ada perobahan, maka perobahan itu mendjurus kepada djurang jang lebih dalam.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Peristiwa itu tidak sedikit akibatnja kepada anggota pasukan pemberontak. Mereka mendjadi bertambah lemah dan memandang hari depan mereka sebagai suatu bajangan gelap jang penuh dengan kekalutan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sementara itu kesatuan² patroli APRI terus-menerus menggasak kedudukan pasukan² pemberontak. Pertempuran ber-
</div>
<p align="right">61</p>
</div><noinclude></noinclude>
gzworkib5szorkr4xvt6s03e13s5nvy
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/33
104
112336
314990
311395
2026-08-20T09:08:22Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314990
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
tukar mendjadi pengedjaran² jang siang malam dilantjarkan ber-ganti² oleh kesatuan demi kesatuan jang dikerahkan oleh APRI setjara teratur.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Desa Koto Hilalang terus-menerus pula dihudjani dengan tembakan meriam, bahkan kadang² sampai seratus kali dalam sehari. Ditanah merajap pasukan² tempur jang membangkitkan kepanikan disekitar desa itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pasukan² pemberontak menghilang kedalam lembah dan hutan, bersembunji. Sebahagian diantaranja mengelipat kebukit Lasung, djaitu bukit jang mendjadi pagar lembah Katjukah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dilereng bukit Lasung disebelah Selatan desa Koto Hilalang mereka dirikan tiga buah pondok jang letaknja ter-pentjar². Masing² pondok didiami oleh satu regu pasukan pemberontak bersendjata lengkap tapi kekurangan peluru.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pada suatu malam, dibawah lindungan tjahaja bulan jang samar² disaput awan, bergeraklah satu kesatuan patroli APRI kearah Koto Hilalang. Mereka naik kedesa itu melalui batang Gagauan jang melintasi pinggir desa Koto Hilalang. Tudjuan kesatuan tempur ini ialah lereng bukit Lasung sebelah kanan lembah Katjukah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pasukan² pemberontak jang tinggal dipondok itu tidak jakin, bahwa malam itu akan terdjadi penjergapan. Mereka bernjanji bergembira sampai djauh malam, kemudian tertidur njenjak sekali. Dua orang diantaranja bertugas mengadakan pengawalan. Tapi jang berdua inipun tidak ber-hati² dan tidak mengira, bahwa mereka akan mengalami nasib buruk.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kesatuan APRI sudah mendekati pondok itu. Mereka segera membeku didalam semak, menunggu perintah dari komandan mereka. Sebahagian diantaranja, dengan melalui djalan lain, memulai gerakan pengepungan kepada dua buah pondok lainnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tapi rupanja, kedua orang pengawal pemberontak ini tiba² merasa tjuriga, karena dilihatnja ada jang ber-gerak² dalam
</div>
<p align="left">62</p>
<div style="text-align: justify;">
belukar itu. Dengan pandangan jang awas, mereka memperhatikan dan turun ketanah sambil meniarap dan mengarahkan laras sendjata mereka kepada gerakan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika sang bulan muntjul dari balik tirai awan, kilas tjahaja-nja memantul pada topi-badja pasukan APRI itu dan pantulan ini segera memastikan, bahwa pondok mereka telah berada dalam kepungan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka tidak sabar lagi, lalu segera berteriak serta melepaskan tembakan kedalam belukar itu. Tembakan ini membangunkan seluruh isi pondok itu. Mereka berlompatan keluar, tapi pada saat itu djuga hudjan peluru telah dituangkan kedjendela dan pintu dan seluruh bahagian pondok itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Selama setengah djam letusan tak henti²nja. Suaranja menggema sampai kelembah Katjukah, membangunkan orang² jang sedang tidur.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Teriakan dan pekikan jang dahsjat mengalun dari pondok itu, kemudian lenjap di-tengah² keluasan hutan. Letusan segera berhenti. Tembakan² tak kedengaran lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika tjahaja fadjar pagi sudah samar² dilangit timur, pasukan APRI mendekati pondok itu. Ternjata seluruhnja telah mendjadi majat. Diantara isi pondok itu, hanja dua orang pengawal itu sadja jang dapat menyelamatkan diri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sendjata² pemberontak itu dipungut oleh APRI. Mereka menjaksikan korban jang djatuh jang terdiri dari anak² muda jang belum berpengalaman. Lantai pondok itu kujup oleh darah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dua buah pondok lainnja bebas dari serangan, karena nasib baik telah menyelamatkan mereka. Ketika letusan telah terdengar, kesatuan² jang harus mengepung pondok jang dua itu masih dalam perdjalanan menudju pondok² itu. Dengan demikian, penghuni pondok itu sempat menyelamatkan diri, meluntjur kedalam lembah dan menghilang kutjar-katjir dimalam jang remang².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Delapan orang anggota pasukan pemberontak tewas didalam pondok jang pertama. Mereka tidak sempat melakukan tem-
</div>
<p align="right">63</p>
</div><noinclude></noinclude>
b4ai1w4gflip9ipeb0ogd3ciugd4fqg
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/34
104
112339
314991
311398
2026-08-20T09:08:38Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314991
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
bakan balasan, karena ketika mereka mentjoba melompat keluar, hudjan peluru telah menjambar njawa mereka.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Besok siangnja, petjahlah berita jang mengerikan itu keseluruh desa Koto Hilalang dan Gantung Tjiri. Penghuni lembah Katjukah panik dan bingung. Mereka saling berpandangan dengan sinar mata penuh tanja. Penduduk Koto Hilalang hari itu beramai-ramai turun kekota, karena mereka tidak kuasa menerima bentjana sematjam itu. Dan desa itu se-akan² mendjadi desa jang diserang wabah, sepi dan mengerikan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Komandan pasukan jang mengalami nasib buruk itu marah bukan main. Anakbuahnja jang masih hidup, djuga berpanas hati. Mereka tidak rela menerima korban jang begitu banjak diantara kawan² mereka. Tapi jang mendjadi soal bukanlah tjara bagaimana seharusnja membalaskan sakit hati itu, bagaimana tjaranja melakukan serangan balasan kepos APRI, melainkan mereka mentjari kambing-hitam, djaitu orang jang disangka telah melakukan pengchianatan terhadap mereka.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau tidak ada musang berbulu ajam, — kata komandan pasukan itu, — masakan musuh bisa mengetahui dengan pasti asrama kita. Orang jang telah mengchianati kita itu, harus ditjari. Kalau ternjata, kita tidak segan² mengirimnja keachirat.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Utjapan komandan pasukan itu terdengar dengan lantangnja sampai kepada penghuni lembah Katjukah. Penghuni lembah sempit itu sudah tahu, bahwa diantara mereka disangka ada seseorang jang telah mengchianati pasukan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sesudah peristiwa itu orang² dari desa Kota Baru dan Selajo sudah agak ramai pula menjelundup kedaerah pemberontakan untuk mendjemput kaum-keluarga mereka. Mereka tahu, bahwa pihak APRI akan melantjarkan serangan terus-menerus dan akan memukul hantjur setiap kaum pemberontak. Penduduk desa² jang sudah dibebaskan oleh APRI itu sadar, bahwa bahaja maut sedang mengantjam famili mereka. Oleh sebab itu, mereka tjepat² berusaha se-keras²nja untuk dapat menghubungi keluarga mereka dan membawanja pulang kembali.
</div>
<p align="left">64</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ramainja lalu-lintas antara daerah jang dibebaskan APRI dengan hutan² daerah pemberontak, menimbulkan berbagai kemungkinan. Salah satu kemungkinan itu ialah, bahwa dichawatirkan ada orang² jang mengirimkan laporan² rahasia kepada APRI, menundjukkan tempat² jang didiami oleh pasukan pemberontak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Siapakah orang jang di-tjari² itu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dalam keadaan jang seperti ini, muntjullah Junus, seorang tokoh pemberontak jang hatinja gelap oleh perasaan tjuriga kepada hampir setiap orang, se-olah² pemberontakan jang didukungnja itu adalah sesuatu jang maha sutji. Ketjurigaannja jang sudah tumbuh terhadap Karnain semendjak dari Solok, kini hidup kembali.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Walaupun atas usaha Munandar untuk melindungi diri sahabatnja itu, Karnain sudah lama bertugas sebagai anggota kepolisian pemberontak, namun Junus tidak pernah pertjaja sungguh² kepadanja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Monjet tidak akan berobah mendjadi manusia, walaupun dia berpakaian serba hebat, — katanja pada dirinja. — Pengchianat akan tetap pengchianat, — begitulah pendiriannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ia merasa dirinja sebagai seorang jang sutji, seorang jang diberi tugas oleh perdjuangan jang didukungnja dengan segala kehormatan atas dirinja. Ia merasa mempunjai kewadjiban sutji untuk menghantjurkan siapa jang dianggapnja tidak menjokong perdjuangan itu dengan ber-sungguh². Sikapnja jang fanatik terus bertumbuh melawan arus kenjataan jang sedang mengalir dihadapannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Junus segera menemui komandan pasukan pemberontak itu. Kedatangannja memperlihatkan lagak jang di-sungguh²kan se-olah² peristiwa itu langsung mengenai dirinja. Ia turut aktif mentjari kambing-hitam jang akan dikorbankan untuk membalaskan sakit hati atas penumpasan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dengan tjaranja jang litjik, Junus mempengaruhi komandan itu. Pengaruhnja tjepat diterima, karena komandan itu bukan-
</div>
<p align="right">65</p>
</div><noinclude></noinclude>
a3ddvmkmsehbx5ukgg4n5o5y1tkicxx
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/35
104
112340
314992
311400
2026-08-20T09:09:26Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314992
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
lah seorang jang terpeladjar dan berpengalaman luas. Ia mendjadi komandan, kebetulan karena keberaniannja jang hebat tanpa perhitungan. Ia pernah seperti seekor babi jang sedang luka, mengamuk dalam suatu pertempuran. Hanja itu sadja alasan, mengapa kemudian ia diangkat oleh kawan²nja mendjadi komandan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku pertjaja, — kata Junus mejakinkan komandan itu, — bahwa Karnainlah jang telah mengchianati pasukan kita. Kau tahu, dia adalah bekas Nica jang dulunja mengchianati perdjuangan Kemerdekaan dan berpihak kepada Belanda. Dan ia berada dihutan ini, adalah karena terpaksa. Akulah jang menjeretnja dari Solok, sehingga kemudian ia sampai di Koto Hilalang ini. Munandar telah melindungi laki² keparat itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi dia sudah bertugas dalam perdjuangan kita ini, — kata komandan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kita tidak usah terlalu pertjaja, Itu hanja topeng sadja. Siapa tahu, barangkali dialah jang telah mengirimkan peta lengkap tempat persembunjian anakbuahmu, sehingga musuh dapat langsung ketempat itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Komandan itu masih ragu² untuk membenarkan tuduhan Junus. Tapi Junus terus melantjarkan pengaruhnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ingatlah kepada pribahasa orang tua², — katanja melandjutkan. — Andjing akan tetap andjing, akan tetap makan tahi, walaupun ia diberi berantai emas.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Komandan itu mulai agak pertjaja, bahwa Karnain mungkin orang jang telah melakukan pengchianatan terhadap mereka.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Orang tidak mudah berobah, — kata Junus meneruskan. — Bagi manusia sematjam Karnain itu, tidak ada artinja perdjuangan kita ini, padahal kita telah membentengkan dada, memberikan korban djiwa dan harta kita. Aku sebenarnja sudah lama ingin melenjapkannja, tapi si Munandar itu selalu me-lindunginja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dapatkah kau membuktikan, bahwa dialah jang telah mengchianati kita ?
</div>
<p align="left">66</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bukti ? O, kau rupanja masih berpikir seperti pada waktu keadaan normal. Siapa pula jang akan dapat memberikan bukti. Dia tentu melakukan pengchianatan itu dengan tjara ber-hati². Dan tidak mudah menundjukkan bukti terhadap perbuatan sematjam itu. Bukti satu²nja ialah : kejakinan. Kita harus jakin, bahwa dia seorang pengchianat, bahwa dia tetap tidak mendjetudjui perdjuangan kita. Kalau dia setia kepada perdjuangan ini, sudah tentu setjara langsung ia akan mengundurkan diri kehutan ketika musuh akan memasuki Solok. Tapi tidak ! Dia berada dihutan ini hanjalah karena terpaksa, karena takut, bukan karena sadar. Kiranja hal itu sudah tjukup sebagai bukti, ketjuali kalau kau relakan sadja kematian anakbuahmu jang begitu banjak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Junus kini merasa, bahwa pengaruhnja mulai masuk dihati komandan itu. Dengan suara jang mengandung kegembiraan ia berkata :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nah, kita harus bertindak tegas !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau kita mengambil tindakan kepadanja, djangan² Munandar akan membela, — kata komandan itu jang tampaknja masih agak ragu².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah kau takut kepada Munandar ? Dia tidak bersendjata. Lagi pula, apakah tugasnja Munandar itu ? Lain tidak hanjalah mendjadi pengawal tjutju nenek Boge. Barangkali kalau gadis itu tidak ada, sudah lama Munandar masuk kota, menjerah ! Tapi karena ada jang akan digembalakannja, dia masih disini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Komandan itu mentjoba memikirkan, apakah kata² Junus itu mengandung kebenaran atau tidak. Tapi pikirannja tidak tjukup tadjam untuk memberikan pertimbangan atas persoalan itu. Ia mudah diombang-ambingkan. Dengan suara jang lebih tegas dan bersemangat, Junus berkata lagi :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa djuga jang kau ragukan ? Kau tahu, aku tidak mempunjai permusuhan pribadi dengan dia. Aku tahu betul², bahwa djauh didalam hatinja, ia selalu berdoa supaja perdjuangan kita ini berachir dengan kekalahan. Apakah kita harus mem-
</div>
<p align="right">67</p>
</div><noinclude></noinclude>
d07g9fopjy8wplbk21xb0lmij65on9o
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/36
104
112344
314993
311404
2026-08-20T09:10:01Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314993
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
biarkan orang seperti dia ? Kalau kau takut, biarlah aku jang mempertanggungdjawabkannja nanti dimuka Tuhan, kalau sekiranja mengambil tindakan terhadap orang jang sematjam itu merupakan suatu dosa.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku tidak ragu, — djawab komandan itu. — Tapi rasanja tidak pernah sepatah katapun jang keluar dari mulutnja jang bersifat memusuhi perdjuangan kita.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau terlalu lembek berpikir. Itulah tokoh seorang jang bermuka dua. Dia pasti kelihatan lebih bersemangat dari orang² jang benar² mendukung perdjuangan kita ini. Maling akan lebih alim sikapnja dari ulama sekalipun, supaja kedoknja tidak terbuka. Bertindaklah setjara tegas, ketjuali kalau kau mau seluruh anak buahmu mati konjol. Melenjapkan seorang pengchianat, lebih besar artinja daripada menghantjurkan sebuah bataljon musuh, pertjajalah !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika Junus melihat pada air-muka komandan itu, bahwa kata²nja mulai menjelusup kedalam perhatiannja, Junus meneruskan :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kesalahan kita selama ini ialah, bahwa kita selalu lalai. Kadang² kita membiarkan dengan sadar musuh² kita berkeliaran mentjari keterangan² tentang kekuatan dan tempat persembunjian kita. Kita tidak tjukup unggul dalam menghadapi mata² musuh. Kau tentu tahu, bahwa baru² ini didesa Paninggahan, duabelas orang anggota pasukan kita telah mati. Semua sendjatanja djatuh ketangan musuh. Sekarang aku ingin bertanja. Apakah sebabnja maka semuanja ini bisa terdjadi ? Kenapa musuh sampai berhasil mengetahui tempat pasukan kita itu, padahal letaknja djauh dipuntjak bukit ? Djalan kesana begitu sukar, tapi toh dengan gampang ditjapai oleh musuh bahkan ditengah malam buta ? Siapa jang menundjukkan semuanja ini kalau bukan orang² jang berchianat kepada kita ? Sesudah peristiwa itu, menjusul peristiwa di Udjung Ladang. Tiga orang anggota pasukan kita mati disana. Sebuah senapan mesin anti pesawat udara djatuh ketangan musuh. Mengapa mereka sampai begitu sukses ? Lain tidak ialah,
</div>
<p align="left">68</p>
<div style="text-align: justify;">
karena petundjuk² jang lengkap dari kakitangan mereka, djaïtu orang² jang membentji perdjuangan kita, tapi djustru hidup di-tengah² kita.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidakkah kau merasa bertanggung-djawab untuk menjelamatkan anak buahmu jang masih hidup dan membalaskan dendam atas kematian mereka jang malang itu ? Djika tidak ........., ja, dengan segala senang hati aku akan meninggalkan tempat ini. Tapi djika kau merasa bertanggung-djawab, aku akan membantumu sekuat tenaga.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Komandan pasukan itu achirnja tunduk kepada kemauan Junus. Junus adalah seorang jang pandai menghadapi orang² jang harus dipengaruhinja. Tjaranja ber-kata², lengkap dengan gaja dan suara jang tinggi kadang² rendah, mejakinkan komandan itu. Komandan itu mulai berpendapat, bahwa kematian anakbuahnja jang delapan orang itu, tentulah karena pengchianatan. Dan pengchianatan itu dilakukan oleh orang² jang berada disekitar Koto Hilalang. Dan orang itu ialah Karnain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dengan perasaan puas, Junus meninggalkan komandan itu setelah komandan itu mengatakan, bahwa ia akan segera mengambil tindakan terhadap orang jang ditjurigai itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Junus kembali kelembah Katjukah. Ia lewat dimuka pondok nenek Boge untuk mengetahui, apakah Karnain dan Munandar masih berada dipondok itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kebetulan sekali, karena Munandar dan Karnain sedang duduk² dimuka pondok itu bersama nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Selamat sore ! — kata Junus menegur mereka. Suaranja kedengaran agak di-manis²kan dan diiringi senjum hambar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, selamat sore ! Datang dari mana, — kata Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dari tempat kawan !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mampirlah dulu, — teriak nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Terimakasih nek, karena aku agak terburu. Ada urusan penting !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Urusan ! ? Apakah hanja kau sadja jang punja urusan penting dalam perdjuangan ini ? Kau sangka perang ini akan
</div>
<p align="right">69</p>
</div><noinclude></noinclude>
8f15wvu64x1abh11aip2mmkv4licmvs
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/37
104
112345
314994
311405
2026-08-20T09:12:10Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314994
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
dapat kau memangkan seorang diri ? Kalau besok aku pulang kekota, PRRI pasti akan kalah, — kata nenek Boge berkelakar diiringi ketawa lebar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Junus tersenjum pahit mendengarkan utjapan nenek Boge. Ia menahan perasaannja sambil memandang aneh kepada Karnain, orang jang hendak didjadikannja mangsa.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain membalas senjuman itu, tapi sesuatu jang gandjil dirasakannja pada sinar mata Junus jang tadjam itu. Ia agak sedikit gugup.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mampirlah dulu, bung Junus, — tegur Karnain menghilangkan kegugupannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Terimakasih sadjalah. Lain kali aku akan mampir, — djawab Junus.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Lelaki itu meneruskan perdjalanannja, meunuruni lereng dan lenjap diantara semak-belukar jang tebal.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Agak lain agaknja kini, — kata Karnain kepada Munandar setelah Junus tidak kelihatan lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia 'kan biasa begitu. Dia menjangka, bahwa perdjuangan ini adalah miliknja. Kau 'kan sudah tahu siapa Junus. Apa pula jang diherankan, — kata Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Perasaanku mendjadi terganggu melihat gelagatnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau ini terlalu pengetjut, — sela nenek Boge. — Apa pula jang kau takutkan kepadanja. Dia 'kan tidak punja sendjata. Kau bisa memindjam sendjata pada komandanmu. Kalau dia mengganggu, tembak sadja, habis perkara.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Biasanja aku tidak merasa apa² bertemu dengan Junus. Tapi kali ini agak lain perasaanku.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Perasaan tidak dapat dipertjaja, — kata Munandar me-mbantah. — Banjak jang kita rasakan, tapi tidak semua perasaan kita itu benar. Kau tak usah takut kepadanja, tapi tidak ada salahnja kalau kita selalu ber-hati².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Perasaanku bukan tidak beralasan, — kata Karnain. — Kau tentu sudah mendengar dari mulut-kemulut bahwa komandan pasukan jang dibukit Lasung itu telah melemparkan
</div>
<p align="left">70</p>
<div style="text-align: justify;">
utjapan, bahwa kematian anakbuahnja jang delapan orang itu adalah akibat pengchianatan dari dalam. Ia tjuriga kepada kita disini, se-olah² ada diantara kita jang telah melaporkan dengan terperintji dimana pasukan itu bersembunji. Djangan² Junus tjampur-tangan dalam soal ini untuk menghasut komandan itu, se-olah² akulah jang telah melakukan pengchianatan itu, karena dia memang tidak merasa senang terhadap diriku semendjak dari Solok dulu. Perasaan bentjinja kemudian bertambah hebat ketika kau turun tangan melindungiku. Ia tetap menganggapku sebagai seorang pengchianat, karena dulu aku pernah bekerdja dengan Nica.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar dan nenek Boge kini dapat memahami ketakutan jang tumbuh dihati Karnain. Sementara itu Karnain meneruskan :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Komandan polisi dimana aku menggabung, djuga pernah dihasutnja, hingga komandan itu mula² agak ber-hati² kepadaku. Beberapa kali aku sudah diudjinja, ditjobainja. Kalau aku diizinkan memakai sendjata, pastilah ada anggota kepolisian lainnja jang membuntutiku setjara rahasia. Maksudnja ialah : kalau aku lari kedaerah APRI, aku akan ditembak dari belakang. Tapi untunglah aku tidak pernah berniat demikian, karena aku tahu kesulitan apa jang akan menimpa dirimu, apabila aku bertindak nekat. Kedjudjuran persahabatan kita melarangku berbuat pekerdjaan jang sematjam itu. Dan achirnja, komandanku itu pertjaja kepadaku. Ketjurigaannja hilang, lebih² setelah setjara langsung aku mendjaminkan kepadanja, bahwa aku tidak akan mengchianatinja. Komandan itupun kemudian terbuka hatinja. Dia mentjeritakan kepadaku, bagai mana Junus menghasutnja supaja djangan mempertjajaiku. Sjukurlah komandan itu tidak mudah dihasut begitu sadja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau begitu komandanmu itu sudah tahu, bahwa Junus bentji kepadamu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sudah ! Sudah lama ia tahu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ku rasa, — kata Munandar seterusnja, — ada baiknja kalau kau datang kembali kepada komandanmu itu. Tjerita-
</div>
<p align="right">71</p>
</div><noinclude></noinclude>
ch7alw670fcumq11ehgynqosd77illi
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/38
104
112349
314995
311409
2026-08-20T09:12:26Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314995
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
kanlah perasaanmu itu kepadanja dan pindjam sendjata. Aku rasa dia tidak akan keberatan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Itulah djalan jang se-baik²nja, — tukas nenek Boge seraja memilin kumisnja jang meranting itu. — Kalau dia berbuat djahat, pasang sadja. Djangan diberi ampun, biar si keparat itu mampus.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi djangan nenek sebut² pula soal ini kepada Kartina. Djangan² pikirannja mendjadi katjau mendengarkannja, — kata Munandar melarang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau kira aku ini anak ketjil ! ? Ha ! Kau kira aku ini tidak tahu apa jang harus diutjapkan dan apa harus disimpan ? — kata nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bukan begitu nek. Aku hanja sekedar memperingatkan sadja. Lupa², diingatkan ! Bukankah begitu pepatah orang tua² ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bolehlah ! — kata nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain sependapat dengan Munandar untuk segera menemui komandannja sendja itu. Karnain mentjeritakan terus-terang bahwa perasaannja tidak tenteram, se-akan² ada bahaja jang memburunja. Komandannja pertjaja, bahwa Karnain tidak akan melarikan sendjata, andaikata sendjata itu dipindjamkan kepada Karnain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi djangan kau salah gunakan, — kata komandan polisi PRRI itu menasihatkan. — Kau hanja boleh menembak, apabila kau diserang,
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Hanja untuk membela diri sadja, komandan, — kata Karnain menegaskan. — Aku tidak bermaksud untuk mentjari musuh. Tapi kalau djiwaku terantjam, tentu akan kupergunakan sendjata ini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djangan banjak² menembak. Peluru hanja dua puluh butir sadja jang dapat kuberikan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, sudah lebih dari tjukup. Barangkali sebutirpun tak usah dibuang, ketjuali djika memang bahaja mengantjam.
</div>
<p align="left">72</p>
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
kedelapan
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
8
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''MALAM''' telah berangsur larut. Tjahaja bulan remang² menembus udara dingin jang berkabut disepandjang lembah Katjukah. Sekitarnja sunji belaka, ketjuali senandung batang Gagauan jang menggema diantara dua bukit jang memagar lembah jang sempit itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dari bukit Lasung, bergeraklah kesatuan ketjil pasukan pemberontak jang berdjumlah lima orang bersendjata lengkap, langsung dipimpin oleh komandannja jang sudah mendapat pengaruh dari Junus.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dari lereng bukit Lasung, mereka meunuruni djalan setapak diantara semak-belukar, menudju kedasar lembah Katjukah, berdjalan dipinggir batang Gagauan dibawah sinar bulan jang samar². Mereka menudju arah kehulu sungai, kemudian membelok kekanan, menjeberangi sungai jang ber-batu² besar itu dan mendaki lagi kebukit jang berhadapan dengan bukit Lasung. Tudjuan mereka sudah pasti, djaitu pondok dimana Karnain biasanja tidur.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain dan Munandar malam itu sangat waspada. Perasaan tidak tenteram jang me-londjak² didada Karnain, bertambah hebat djuga. Ia tidak dapat tidur, dan sedjak semula ia memang tidak bermaksud untuk memedjamkan matanja. Firasat buruk mengganggunja semendjak sore tadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka se-olah² mendapat bisikan suara gaïb untuk tidak tidur dipondok itu pada malam bentjana ini. Mereka pindah kepondok lain, tidak berapa djauh dari pondok itu jang djuga ditempati oleh kawan² mereka. Kawan² bertanja, mengapa
</div>
<p align="right">73</p>
</div><noinclude></noinclude>
d3m00yw8ipynnane4y69xo7sexmj6cg
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/39
104
112353
314996
311413
2026-08-20T09:12:43Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
314996
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
Munandar dan Karnain datang kepondok mereka, padahal mereka mempunjai pondok sendiri. Djarang sekali keduanja tidur dipondok orang lain, ketjuali kalau ada berita² jang mengatakan, bahwa APRI akan melantjarkan serangan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika pasukan ketjil itu sampai dipondok jang biasanja ditempati Karnain dan Munandar, mereka langsung mengepung pondok itu dan membangunkan orang² lain jang tidur disana. Dipondok itu masih ada empat orang lainnja, tapi Munandar dan Karnain tidak ada.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mana Karnain, — kata komandan itu dengan suara mengantjam.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia tidak pernah datang kemari sedjak sendja tadi, — djawab salah seorang diantaranja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalian berdusta. Barangkali kalian sembunjikan. Ajo, bangun semua !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Semua bangun dan segera memasang lampu minjak. Tapi ternjata Karnain ataupun Munandar tidak ada.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dimana biasanja mereka tidur ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Biasanja disini, — djawab mereka, — tapi malam ini kebetulan sadja mereka tidak datang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kami perlu berurusan dengan Karnain. Kalian harus tahu, bahwa Karnain itulah jang telah melaporkan kepada APRI asrama pasukan kita, sehingga musuh dapat mengepung tempat itu dengan korban dipihak kita, — kata komandan itu se-olah² hendak mejakinkan orang² itu, bahwa benar² Karnainlah jang telah melakukan pekerdjaan mata² itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau nanti dia datang kemari, djangan kalian bilang, bahwa kami mentjari dia, mengerti bukan ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang² itu mendjawab dengan sikap jang malas karena mengantuk.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidurlah kembali ! — kata komandan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka tidak segera tidur. Setelah pasukan itu meninggalkan pondok itu, mereka berbitjara ber-bisik². Umumtsja mereka
</div>
<p align="left">74</p>
<div style="text-align: justify;">
tidak pertjaja, bahwa Karnain jang telah membuatkan peta dan menundjukkan persembunjian pasukan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pasukan itu merasa ketjewa karena tidak menemui Karnain jang hendak didjadikan mangsa. Tapi keketjewaan itu pulalah jang mendorong mereka bertambah jakin, bahwa benarlah Karnain jang melakukan pekerdjaan mata² itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djika bukan dia, tentu dia akan tetap tidur disana seperti biasa. Barangkali dia tahu, bahwa rahasianja sudah terbongkar, sehingga dia harus menjingkir tjepat², — kata komandan itu mejakinkan anak-buahnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau ketemu nanti, djangan ditembak, komandan, — tukas jang lain. — Biar disembelih sadja seperti lembu, supaja ia tahu betapa sakitnja mati.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Biar aku jang menjembelih, — kata jang lain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka sekarang akan melakukan pemeriksaan ke-tiap² pondok jang lain, kalau² Karnain menompang dan menjembunjikan diri dipondok itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain masih sadja diganggu oleh perasaan jang tidak enak. Ia di-buru² oleh bajangan jang mengerikan. Karabennja terisi penuh. Ia siap untuk menembak, andaikata terdjadi hal² jang akan mengantjam djiwanja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tenang sadjalah ! — bisik Munandar. — Djika terdjadi apa²nja dapatlah kita menghadapinja dengan tjara jang se-baik²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Baiklah kita tidur diluar pondok, — kata Karnain. Djika mereka datang, kita tentu tidak akan terdjobak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Usul itu dapat diterima oleh Munandar dan mereka bersiap untuk meninggalkan pondok itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Hai, mau kemana kalian ini ? — tanja salah seorang penghuni pondok itu jang kebetulan belum tertidur.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kami buang air sebentar. Tidur sadjalah kau ! — kata Munandar.
</div>
<p align="right">75</p>
</div><noinclude></noinclude>
tthrf9omdj8qw0dw9khjll99o2k1ab8
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/40
104
112356
315016
311416
2026-08-20T09:48:20Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315016
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka segera berdiri dan menudju pintu. Munandar membuka pintu pondok itu. Dibelakangnja menjusul Karnain. Ketika Munandar sudah sampai dibawah, Karnain masih diambang pintu. Tiba² suatu suara jang mendadak terdengar :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Siapa ! ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku, Munandar, — djawab Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mana Karnain ! ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain merasa dirinja sudah tidak didunia ini lagi. Rohnja serasa melajang. Pemandangannja mendjadi ber-kunang². Kemudian ia insaf kembali, bahwa ia harus mempertahankan njawanja. Orang jang bertanja itu tampil kedepan dengan sendjata terisi. Dibelakangnja tampak beberapa orang lainnja mengiringkan, djuga bersendjata lengkap. Tjahaja bulan jang remang², kini agak kabur ditutup awan. Udara makin mendjadi dingin, sedang angin malam berembus disepandjang lereng bukit itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Karnain melompat kebawah. Ketika ia sampai ditanah, sebuah tembakan menggagarkan kesunjian malam. Karnain berhasil menembak dengan tepat komandan pasukan itu. Komandan itu meraung kesakitan, kemudian hening dan melenjap. Dia tewas ! Anak buahnja semuanja tiarap dan mengarahkan tembakan kepada Karnain. Nasib baik masih menyelamatkan Karnain, karena tidak sebuahpun peluru jang mengenai dirinja. Sementara itu Munandar telah melompat arah kesamping pondok itu, berlindung pada sebuah batu besar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tembakan masih terdengar terus-menerus. Karnain tidak tinggal diam. Dia memberikan perlawanan jang gigih. Tapi lawan terlalu banjak. Ketika ia melompat menjusul Munandar, sebuah peluru menembus pahanja, remuk, dan dia tak dapat bergerak lagi. Teriakannja menjajat hati. Ia meraung kesakitan. Suaranja mengerikan, kemudian lenjap pula. Ia tewas. Munandar berhasil memungut sendjata Karnain, tapi dia tidak melepaskan tembakan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Diantara kelima anggota pasukan itu, hanja tiga orang jang masih hidup. Mereka mendjadi semakin gila. Salah seorang
</div>
<p align="left">76</p>
<div style="text-align: justify;">
diantaranja melepaskan tembakan gentjar kearah Karnain, kemudian dengan tjepat berlari kearah tubuh itu terkapar. Dia bermaksud hendak mengambil kembali sendjata Karnain, jang diketahuinja sudah rebah ketanah. Tapi apa jang terdjadi ? Ketika ia baru sadja sampai dekat madjat Karnain, Munandar melepaskan tembakan jang djitu. Anggota pasukan itu tersungkur ketanah diiringi teriakan jang mengerikan. Barulah kemudian Munandar mengundurkan diri, menjelusup diantara semak-belukar itu menudju kebawah, kebatang Gagauan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Disaat letusan sudah menghening, salah seorang diantara anggota pasukan itu naik kepondok itu. Sikapnja njata sekali sangat menakutkan. Ditangannja terpegang erat sendjata jang siap untuk membunuh siapa jang dianggapnja sebagai musuhnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bangun semua ! -- teriaknja keras. Orang² itu bangun lambat² dan memandang dalam kegelapan pondok kearah datangnja suara itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pasang lampu ! — perintahnja keras. Dengan tjepat pula lampu segera dipasang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kenapa kalian izinkan keparat itu tidur disini ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kami tidak tahu soalnja, — djawab salah seorang diantara penghuni pondok itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tak tahu ! ? Bodoh ! Tak tahu kalian, bahwa si Karnain andjing itu, adalah mata² musuh. Dialah jang telah melaporkan tempat persembunjian kami dibukit Lasung.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Masja Allah .............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa masja Allah ! Kalian tolol semuanja. Ataukah kalian semuanja ini djuga kaki-tangan musuh ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak ! Tidak !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ajo, turun semua ! Lihatlah apa jang terdjadi diluar !
</div>
<div style="text-align: justify;">
Perintah itu diikuti dengan patuh oleh penghuni pondok itu. Mereka menjaksikan sendiri, tubuh² jang tidak bernjawa, rebah berlumuran darah. Dilangit bulan masih bertjahaja. Sinarnja lemah sampai dibumi, se-olah² mengantar peristiwa itu sampai keudjungnja.
</div>
<p align="right">77</p>
</div><noinclude></noinclude>
luwgsfemwuy722nmy42kh6b4xetqaf4
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/41
104
112358
315023
311418
2026-08-20T09:51:20Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315023
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
KESEMBILAN
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
9
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''KEDJADIAN''' itu memukul hati Munandar se-hebat²nja. Dia tidak mempunjai pilihan lain, ketjuali meninggalkan majat sahabatnja terbaring berlumur darah, dan ia menjelinap diantara semak-belukar, meluntjur kebawah, hingga mentjapai batang Gagauan. Suara air mengalir jang riuh itu, terasa terlalu keras sampai dihatinja. Tenaganja telah banjak berkurang, takut, tjemas dan kehilangan kepertjadjaan. Ia melihat tindakan se-wenang² telah berlaku setjara gila. Ia tidak dapat membenarkan kedjadian itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sendjata Karnain masih tetap dibawanja, masih berisi tiga butir peluru. Ia tidak menghabiskan peluru itu, tapi akan digunakannja pada taraf terachir apabila kepadanja dihadapkan antjaman maut.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar masih mentjoba ber-lari² andjing menghilirkan sungai itu, mengikuti djalan jang ter-putus², kemudian menjeberanginja. Ia sekarang mendaki kelereng bukit, menudju pondok nenek Boge. Nafasnja sesak karena kepajahan. Ia berusaha mentjapai pondok itu dengan sisa tenaga jang masih ada padanja. Tapi ia tidak berhasil. Pemandangannja mendjadi ber-kunang². Sekitarnja terasa menggelap dan mentjengkamnja tanpa ampun. Munandar tak sadarkan dirinja lagi, terbaring ditanah. Nafasnja masih turun-naik dengan kekuatan jang sangat ketjil.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika Munandar sadar kembali, sekitarnja sudah mulai berangsur terang. Pagi telah diambang hari. Ia teringat kembali peristiwa ngeri jang baru dialaminja beberapa djam jang lalu. Bulu tengkuknja tegak, tapi sebentar kemudian digertakkannja
</div>
<p align="left">78</p>
<div style="text-align: justify;">
giginja, berdiri dari duduk dan mengumpulkan tenaganja untuk tjepat² menudju pondok nenek Boge. Ia sudah sampai kepada kesimpulan, bahwa keadaan tidak bisa dipertahankan lagi. Dia jakin, bahwa sisa pasukan itu akan mentjarinja dan barangkali akan membunuhnja sebagai balasan sakit-hati kepada Karnain. Dia tidak bisa menerima hukum rimba !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sedjenak pikirannja melajang kepada masa silam dari persahabatannja dengan Karnain. Dia sangat berhutang budi kepada sahabatnja itu. Betapa tidak ! Andaikata bukan karena pertolongan Karnain, dia sudah lama tak ada didunia ini. Ketika peperangan melawan Belanda sedang hebat²nja, Munandar tertangkap. Padanja ditemukan seputjuk pistol. Tentara Belanda sangat marah kepada Munandar, dan mereka memutuskan untuk menembak Munandar. Ketika putusan itu diketahui oleh Karnain jang waktu itu bekerdja dengan Belanda, dia tjepat² datang kepada komandan pasukan Belanda itu. Dia memohon, supaja Munandar dibebaskan. Dia mendjamin, bahwa Munandar tidak akan melarikan diri kedaerah Republik. Dia membentengkan dirinja, dan berani ditembak, djika orang jang didjaminnja itu melakukan perlawanan lagi terhadap Belanda. Karena komandan tentara Belanda itu pertjaja kepada Karnain, maka djaminannja diterima. Munandar dibebaskan. Semendjak waktu itu, Munandar merasa sangat berhutang budi kepada Karnain. Mereka mendjadi sahabat jang akrab sekali.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Itulah sebabnja, mengapa Munandar tidak mau memaksa Karnain memihak kepada PRRI.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Terserah kepadamu, — kata Munandar dulu. — Aku tidak akan memaksamu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Aku tidak mau berchianat dua kali, — Karnain. — Biarlah aku tetap tinggal dikota, dan djika kau mau memilih PRRI, akupun tidak hendak menghalangimu. Biarlah pembitjaraan kita ini tidak diketahui orang lain, dan tjukup hingga kita berdua sadja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Begitulah dahulu ! Kini Karnain telah mendjadi majat. Kini Karnain sudah tak ada lagi. Ia telah berusaha sekuat tenaga
</div>
<p align="right">79</p>
</div><noinclude></noinclude>
jzfh6vv7jjexzquxusf83lhq8r8li4e
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/42
104
112360
315024
311420
2026-08-20T09:51:36Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315024
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
jang ada padanja untuk membela dan membentengi sahabatnja itu. Bahkan dia sudah pula mengusahakan, supaja Karnain mendapat tugas jang tertentu dalam PRRI. Dimasukkannja mendjadi anggota kepolisian, se-mata² supaja ketjurigaan orang kepadanja bisa dipadamkan. Karnain mau masuk kedalam kesatuan polisi PRRI itu, bukan karena ia setudju dengan PRRI, tetapi se-mata² untuk memenuhi nasihat Munandar, untuk berlindung agar orang lain, terutama Junus, djangan terlalu berlantas angan kepadanja. Atas djaminan Munandar, Karnain diterima dalam kepolisian itu. Tapi kini semuanja tidak berguna lagi. Kematian telah berhasil memburunja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika ia sampai dipondok nenek Boge, orang tua itu sudah bangun. Orang tua itu sebenarnja tidak pernah dapat tertidur semendjak letusan terdengar dimalam itu. Pikirannja mendjadi katjau. Ketjemasan datang kepadanja seperti suatu deraan jang dahsjat. Ia chawatir kalau² Munandar dan Karnain telah dihantam oleh Junus atau oleh komandan pasukan dibukit Lasung itu. Pembitjaraan siang kemarinnja, teringat kembali oleh nenek Boge. Dan hal itu menambah kechawatirannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kartina djuga tak dapat tidur. Pikirannja hampir tak terbelok kepada jang lain, ketjuali kepada Munandar dan Karnain. Dia menjangka, bahwa tembakan itu datangnja dari APRI jang melakukan pendadakan lagi. Ketjemasannja begitu hebatnja, hingga airmatanja tak dapat dibendungnja lagi. Dia mendoa kepada Tuhan, semoga Munandar dan Karnain terhindar dari marabahaja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tiba² diluar terdengar suara me-manggil² :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Nenek ! Bangunlah ! Bersiaplah ! Kita dalam bahaja !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Nenek Boge dan Kartina tidak ragu² lagi dengan suara itu. Mereka sudah tjukup kenal suara itu. Mereka segera menjiapkan barang² dan dengan tjepat turun dari pondok itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ada apa Munandar ? — tanja nenek Boge tjemas.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ikuti aku ! Djangan banjak tanja ! Kita harus meninggalkan tempat ini.
</div>
<p align="left">80</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Nenek Boge dan Kartina mengikuti Munandar dari belakang. Mereka sebenarnja ingin tahu apa jang telah terdjadi, tapi tidak mendapat kesempatan untuk bertanja, karena Munandar tidak bersedia mendjawab.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Soal apa jang terdjadi, nanti akan kuterangkan. Sekarang ikutilah aku. Djangan main² ! — perintah Munandar. Nenek Boge dan Kartina mengikuti perintah itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketiganja menghilirkan batang Gagauan seraja berhati², kalau² mereka ditjegat dari kedua-belah bukit jang mengapit lembah Katjukah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika matahari dengan pasti telah bersinar dari puntjak² bukit sebelah timur, mereka telah sampai di-tengah² desa Koto Hilalang. Desa itu hening dan sepi. Rumah² penduduk telah sama datar dengan tanah akibat pertempuran beberapa waktu jang lalu. Penduduk telah menjingkir kekota, lebih² setelah peristiwa dibukit Lasung. Kini desa itu merupakan desa jang mati, desa jang ditinggalkan. Tidak ada sesuatu jang terdengar, ketjuali desauan air batang Gagauan jang sajup² menggema kedesa itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka terlalu pajah untuk meneruskan perdjalanan, karena baru sadja berhasil meninggalkan lembah maut itu. Ketiganja kini berhenti sedjenak dibawah pohon beringin di-tengah² desa itu, dimuka balairung adat jang hampir runtuh. Mereka ingin mendapatkan tenaga baru untuk meneruskan perdjalanan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa jang telah terdjadi ? — tanja nenek Boge tak sabar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kita harus pulang ke Solok, nek, — djawab Munandar seraja memandang kepada orang tua itu dengan pandangan jang mengandung kechawatiran.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah PRRI sudah menang ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar terpaksa tersenjum pahit mendengar pertanjaan orang tua itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bukan soal menang atau kalah, nek.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djadi, mengapa kita kembali ke Solok ? — tanja Kartina jang tak kurang herannja mendengar djawaban Munandar itu.
</div>
<p align="right">81</p>
</div><noinclude></noinclude>
kqq27luuzvzcfkro095dpb2mj5dpwpi
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/43
104
112362
315025
311423
2026-08-20T09:51:50Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315025
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tjeritakanlah kepada kami apa jang telah terdjadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau mendengar tembakan tadi malam ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ada, — djawab Kartina serentak dengan djawaban nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Komandan pasukan jang dibukit Lasung itu sudah mati, — kata Munandar meneruskan. Wadjahnja kelihatan tegang karena berdjuang menjimpan sesuatu jang hendak dirahasiakannja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau jang menembaknja ? — tanja Kartina dengan hasrat jang lebih keras untuk mengetahui persoalan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bukan ! Karnain jang menembaknja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dan Karnain sendiri ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ia akan menjusul kita. Aku terpaksa melarikan diri, karena beberapa orang anakbuah komandan itu djuga terbunuh. Karnain menjelinap kedalam belukar dan menghilang. Kami terpentjar satu sama lain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djadi rupanja apa jang kita bitjarakan sore kemarin, memang tepat menurut dugaan Karnain, — kata nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tepat ! Mereka datang sepasukan, ingin melenjapkan Karnain. Tapi kami merasa mendapat ilham untuk menjingkir. Ketika mereka melihat kami, Karnain tjepat² menembak. Komandannja rebah disaat itu djuga.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dipondok mana peristiwa itu terdjadi ? — tanja Kartina.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dipondok Mustafa !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimana orang² lain dipondok itu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kukira mereka selamat. Aku tidak tahu lagi apa jang terdjadi, karena aku harus tjepat² melarikan diri. Mereka mengedjar kami dengan tembakan² jang gentjar. Tapi aku dapat melepaskan diri, sedang Karnain menghindar entah kemana.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Barangkali ia sudah tewas, — keluh Kartina.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mudah-mudahan dia selamat !
</div>
<div style="text-align: justify;">
Seketika lamanja mereka tidak berbitjara lagi. Satu sama lain saling berpandangan, se-olah² ada sesuatu jang belum terdjawab.
</div>
<p align="left">82</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ajo, baiklah kita segera berangkat ! — seru Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify;">
— Kalau kita main², djangan² anakbuahnja memburu kita.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Baiklah kita tunggu Karnain dulu, — djawab Kartina, jang tampaknja pertjaja bahwa Karnain masih hidup.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia pasti akan menjusul kita, — kata Munandar menegaskan. — Menunggu, berarti maut ! Lebih baik di Solok sadja kita tunggu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bagaimana kalau kau dipendjarakan ? — tanja Kartina dengan nada suara rendah jang mengandung ketjemasan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak djadi soal apakah aku akan menghuni pendjara atau tidak. Pendjara akan lebih baik daripada harus mendjalani hukum rimba jang kedjam ini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kalau begitu, baiklah kita tjepat² berangkat, — tukas nenek Boge. — Kalau kita harus dipendjarakan, akupun tidak keberatan, — kata orang tua itu bersemangat.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Mereka segera berangkat, mengikuti djalan kampung jang menghubungkan desa itu dengan desa Selajo dalam djarak tiga kilometer. Djalan itu hampir tak pernah dilalui lagi selama pemberontakan berketjamuk. Rumput²nja telah pandjang. Semak-belukar dikiri-kanan djalan itu hampir bertaut karena tak pernah dibersihkan. Djalan itu membudjur melalui penurunan jang sepi, jang merupakan suatu dunia jang penghuninja sudah tak ada lagi, ketjuali mereka bertiga.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sebelum meunuruni djalan itu, Kartina berhenti sedjenak dan memandang kebukit Talang jang menempel dihutan lebat di-utara desa Koto Hilalang. Munandar terpaksa pula berhenti. Keduanja memandang kebukit itu, kemudian mereka saling berpandangan pula. Ada sesuatu jang tak terkatakan diantara mereka kini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Matahari telah berangkat naik. Tjahanja terasa tjerah sekali, setjerah hati mereka menghadapi kehidupan baru didalam kota. Didada mereka berkembang sekuntum harapan, tersenjum riang menghadapi dunia jang terbentang dihadapan mereka.
</div>
<p align="right">83</p>
</div><noinclude></noinclude>
72hejfk7e26f1cssr05r6vskm0jdz5f
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/44
104
112364
315026
311425
2026-08-20T09:52:03Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315026
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: right; font-size: 85%; font-weight: bold;">
kesepuluh
</div>
<div style="text-align: right; font-size: 200%; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em;">
10
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''APA''' jang dichawatirkan oleh Munandar, nenek Boge dan Kartina sepandjang perdjalanan pulang ke Solok, kini telah lenjap. Mereka bukannja didjebloskan kedalam pendjara, atau disiksa seperti jang sering digambarkan orang selama dihutan, melainkan disuruh pulang kerumah masing² untuk menikmati kemerdekaan. Mereka diterima dengan sikap jang ramah penuh perasaan maaf, se-olah² mereka tidak pernah berbuat sesuatu pengchianatan apa². Kawan² lama, sanak-famili atau kaum-keluarga, menjambut mereka dengan kegembiraan penuh gelora, karena ,,si anak hilang telah kembali".
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Politik Pemerintah untuk menerima dengan wadjar tanpa balas dendam terhadap setiap pemberontak jang sadar, tapi bertindak tegas terhadap mereka jang masih membangkang, benar² telah didjalankan. Semuanja ini adalah diluar dugaan Munandar. Ia bagaikan tersentak dari suatu mimpi dan melihat kenjataan lain dihadapannja. Dunia sekitarnja seolah tersenjum dan mengembangkan tangannja menjambut kedatangannja seraja mengharap supaja kesalahan jang sudah² dapatlah didjadikan peladjaran untuk menghadapi hidup baru. Hidup itu kini membentang dihadapannja dengan naungan langit jang djernih.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Benar kepadanja telah dilakukan sekedar pemeriksaan, tapi kemudian ketiganja dibebaskan kembali dengan djandji, bahwa mereka tidak lagi akan melakukan pengchianatan terhadap bangsa dan negara dan menjatakan kesanggupan untuk membantu APRI dimana perlu, guna mepmertjepat pulihnja keamanan. Mereka berdjandji pada diri sendiri untuk mematuhi undang² dan setia kepada negara.
</div>
<p align="left">84</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kenang-kenangan pahit jang baru sadja dialaminja disekitar lembah Katjukah, masih sadja melekat dihati Munandar. Ia teringat betapa malam jang penuh malapetaka itu datang dengan seringai maut. Tuhanlah jang telah menyelamatkannja, tapi majat Karnain jang tertinggal dimuka pondok itu entah bagaimana keadaannja. Ia tidak dapat melepaskan pikirannja dari sahabatnja itu, walaupun telah diusahakannja. Ia tidak tahu, bahwa sisa pasukan PRRI jang mengepungnja malam itu, kemudian terus memburunja kepondok nenek Boge, tapi mereka sangat ketjewa karena pondok itu telah kosong. Sebagai pantulan dari rasa ketjewa itu, pondok jang tidak bersalah itu mereka bakar sampai musnah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kini ia telah berada ditengah-tengah kaum-keluarganja. Kartina dan nenek Boge telah kembali pula kerumahnja. Gadis itu mengharapkan supaja apa jang di-rasa²kannja selama ini, moga² tjepat mendjadi kenjataan. Tapi sebaliknja, ia melihat kesulitan lain jang mendjurangi hubungannja dengan Munandar. Bagaimanakah dengan Martini, isteri lelaki itu.
</div>
<center>
<div style="margin-top: 1.5em; margin-bottom: 1.5em;">*</div>
</center>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ketika Munandar pulang kerumah ibunja, kaum-keluarganja menjambut dengan gembira dan sukatdjita. Tapi keriahan perasaan mereka tiba² berhenti. Mereka saling berpandangan satu-sama lain, se-olah² ada sesuatu jang mereka rahasiakan. Kemudian seorang demi seorang segera mengundurkan diri, se-olah² ada suatu kechawatiran dihati mereka. Munandar merasakan hal ini dan ia heran, kenapa sikap mereka tiba² sadja mendjadi aneh.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Bila orang² itu sudah tak ada lagi, datanglah ibunja mendekati Munandar. Pada wadjah orang tua itu mudah dibatja perasaan menjesal jang tersurat melalui garis² ketuaan pada keningnja. Tapi apakah sebenarnja jang harus disesalkan, apabila segala sesuatu telah berdjalan menurut garis jang sewadjarnja. Achirnja orang hanja bisa mengeluh, tapi tidak akan
</div>
<p align="right">85</p>
</div><noinclude></noinclude>
ar1zlbcn9irmuf3hvxu42havliioihw
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/45
104
112371
315027
311432
2026-08-20T09:52:16Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315027
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
sanggup membelokkan djarum sedjarah, karena hal itu berada diluar kemampuan mereka.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kenapa ibu tiba² kelihatan muram sadja, — kata Munandar memulai. — Apakah kedatanganku kembali tidak menjenangkan hati ibu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Ibunja terdiam. Matanja berlinang karena sesuatu desakan jang datang dari dasar kalbunja. Ia takut kalau² anaknja akan sangat ketjewa apabila ia harus berbitjara, harus mentjeritakan sesuatu jang mungkin kurang menjenangkan untuk didengar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa jang telah terdjadi ? — tanja Munandar mendesak.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak apa² ! — djawab ibunja. — Kami mengharapkan, supaja kau menganggap kepulanganmu ini diatas dari segala-galanja. Bila engkau merasa ketjewa, hendaknja keketjewaan itu dapatlah kau hapus dengan kebahagiaan jang kau rasakan sekarang, karena kau sehat-selamat sadja kembali ke-tengah² kami.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apakah jang ibu anggap akan mengetjewakanku ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— 'Kan sudah kau lihat sendiri, bahwa isterimu Martini tidak pernah datang kemari, padahal orang² lain telah mendjengukmu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kenapa ia tidak datang ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Itulah jang hendak kudjelaskan, — kata ibunja bersungguh².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa jang ibu maksudkan ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Benarkah kau telah kawin di Koto Hilalang ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kawin ? — tanja Munandar terkedjut. — Siapa jang mengatakan ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Seluruh kota ini sudah tahu, — djawab ibunja pendek.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Berita itu bohong se-mata² !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi kami pertjaja. Kalau kau tidak kawin, tentu se-tidak²nja agak sekali, pastilah kau akan memberi chabar kepada Martini.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ada ! Mengapa tidak. Aku pernah mengirim surat untuknja, tapi dia diam sadja. Barangkali dialah jang berpikiran lain.
</div>
<p align="left">86</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau djangan marah kepadanja. Dia tidak bersalah. Dan kalau begitu, akupun dapat mengatakan bahwa kau djuga tidak bersalah.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djadi, siapa jang salah kini ? — tanja Munandar jang setjara samar² mulai memahami apa jang terdjadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Entahlah ! Aku tidak tahu, — djawab ibunja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mengapa dia tidak datang kemari. Apakah dia tidak tahu, bahwa aku sudah pulang ? Atau memang dia tidak merasa perlu lagi berhubungan denganku ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia tidak ada disini, — djawab ibunja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak ada ? — mata Munandar agak terbelalak mendengarkan djawaban ibunja itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, dia sudah pergi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Pergi ? Kemana ! ? — tanja Munandar jang kelihatannja sudah tak sabar ingin tahu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia sudah berangkat ke Djawa bersama suaminja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Hoi ........., — Munandar bingung mendengarkan kata² ibunja. Ia hampir tidak pertjaja apa jang diutjapkan oleh ibunja. Betapa ia akan pertjaja, karena dalam pikirannja, Martini masih isterinja, masih menunggu dikota. Walaupun disampingnja ada seorang gadis lain, namun perasaannja terhadap isterinja bangkit lagi ketika ia mengindjakkan kaki dikota Solok. Tapi kini ternjata semuanja telah berlaku setjara lain.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia sudah meminta pertimbangan Pengadilan Agama untuk memutuskan hubungannja dengan kau. Dan aku bisa menerima alasannja, karena menurut chabar jang kami dengar, kau sudah kawin di Koto Hilalang. Tidak ada seorang perempuanpun jang bisa tetap sabar mendengar berita matjam itu. Itulah sebabnja mengapa ia memilih djalan jang demikian. Aku tidak bisa dan tidak mau menghalanginja, karena sebagai seorang perempuan, aku bisa memahaminja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djadi ia kawin lagi ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, — djawab ibunja. — Dia kawin dengan letnan Sudarno, lelaki jang menurut pandanganku adalah seorang jang baik hati. Aku tahu, bahwa pertemuan mereka itu adalah suatu
</div>
<p align="right">87</p>
</div><noinclude></noinclude>
3ywr2hfmm2jej0cin53tw4d36jx2ow7
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/46
104
112380
315029
311441
2026-08-20T09:53:02Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315029
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
hal jang sangat kebetulan sadja, lahir diatas kesadaran masing². Tjoba kau pikir, betapa pahitnja bagi Martini ketika mendengar berita, bahwa kau sudah kawin di Koto Hilalang. Ia datang kepadaku menandjakan hal itu, tapi akupun tidak dapat memberikan djawaban karena tidak tahu. Dia berusaha menghubungimu, namun sia² belaka, sedangkan orang² jang datang dari daerah pemberontakan membenarkan berita² itu. Aku bisa membenarkan tindakannja, karena kepahitan jang ditanggungkannja memang tjukup besar. Bila kau seorang wanita, kau tentu akan bisa merasakannja. Sungguhpun demikian, aku harap kau tidak akan menjesali semua jang telah terdjadi itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar tertunduk mendengarkan kata² ibunja. Ia merasakan kini, betapa berbagainja tjorak peristiwa jang timbul akibat pemberontakan. Ia teringat kepada Martini, teringat kepada Karnain, kepada Junus, kepada komandan dibukit Lasung dan kepada anakbuahnja jang mati dibukit itu. Semuanja kini datang sebagai kabut jang ber-gumpal², ber-pusing² memberat turun pada pikirannja. Kemudian ia menjadari, bahwa dalam keadaan perang jang sedemikian, berbagai hal bisa terdjadi. Bahkan bagaimanakah dia harus merumuskan pertemuannja dengan Kartina, gadis jang kini sudah mendapat tempat dihatinja. Ia mengeluh dalam djiwanja, tapi kemudian ia berkata pada dirinja sendiri : — Barangkali kepergian Martini adalah suatu pendjelesaian selandjutnja dari persoalan jang sedang aku hadapi dengan Kartina.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar achirnja tersenjum aneh dan sekali lagi berkata, tapi tidak lagi dalam hatinja, melainkan dalam suatu utjapan sesungguhnja, jang membuat ibunja heran :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Rupanja tidak ada malang jang semudjur ini, ja bu ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kenapa kau berkata demikian ? — tanja ibunja heran. Ibunja tidak tahu, bahwa ada sangkut-pautnja antara anaknja dengan Kartina tjutju nenek Boge.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ah, tak apa², — djawabnja pendek.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kenapa Karnain tak ikut-serta denganmu ?
</div>
<p align="left">88</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Dia akan menjusul. Kami sudah merundingkannja dihutan, — djawab Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Pertanjaan ibunja itu dimadjukannja, karena kebetulan dilihatnja Alida, isteri Karnain menudju kerumahnja. Ibunja segera memberitahukan kedatangan Alida kepada Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar memandang keluar. Kini wadjahnja tegang dan mengandung ketjemasan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida kelihatan sangat ter-gesa² se-olah² tidak sabar lagi hendak mendengarkan nasib jang menimpa suaminja. Sudah terang suatu pertanjaan bergema dihatinja : ,,Mengapa Karnain tidak ikut-serta pulang ber-sama² Munandar ? Sudah matikah dia ? Ataukah masih hidup ? Kalau masih hidup, mengapa Munandar meninggalkannja ?"
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Perempuan itu megeras naik kerumah itu. Munandar sangat bingung kini. Masih segar dalam ingatannja, betapa Karnain merintih kesakitan kena tembakan dan rebah ketanah bermandi darah. Tiba² ia harus berhadapan dengan Alida, isteri jang telah ter-nanti² semendjak lama. Disamping itu, ia baru sadja merasakan kehilangan isterinja sendiri, Martini. Dan bagaimana pula dengan Kartina.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mana Karnain ? — tanja Alida. Airmata perempuan itu segera sadja djatuh berderai, se-olah² ia dapat merasakan dan menangkap nasib matjam apa jang telah menimpa suaminja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar memandang kepada perempuan itu. Ia tidak kuasa ber-pura². Airmata perempuan itu telah berhasil memantjing airmatanja sendiri. Ia tidak dapat menahan perasaannja dan menangis tersedu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida mengerti kini apa jang telah terdjadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, kau telah pulang dengan selamat, kenapa Karnain tidak kau bawa, — ratapnja sendu. — Biar majatnja sekalipun, kenapa kau tinggalkan. Itukah tjorak persahabatanmu dengan dia ? O, mengapa ......... — tangisnja melebat dan suaranja memenuhi ruangan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Tetangga sebelah menjebelah terkedjut mendengar suara
</div>
<p align="right">89</p>
</div><noinclude></noinclude>
1qq4ndgoz84in97bied65krnq68r76r
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/47
104
112393
315030
311454
2026-08-20T09:53:17Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315030
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
Alida jang meratap-mendaju itu. Mereka mendekati rumah itu, ingin tahu apa jang terdjadi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tenanglah Alida, — kata Munandar jang djuga turut menangis. — Kau harus sabar menerima segala tjobaan ! Kita semua harus sabar !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mengapa kau tinggalkan dia ? Antarkanlah aku kesana. Biarlah dia dikuburkan dihalaman rumah kami. O, anaknja akan tumbuh dewasa. Siapakah jang akan membela kami. Siapakah jang akan membimbing anaknja. Dia belum pernah bertemu dengan ajahnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Sabarlah kau ! Selama aku masih hidup, aku akan membantumu, sabarlah !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orang² mulai menaiki tangga, memandang dengan mata jang ber-tanja², apakah jang telah terdjadi. Tapi kemudian mereka dengan mudah sadja dapat mengetahui, bahwa Karnain sudah tak ada lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Orangtua Munandar mentjoba membudjuk Alida, menjuruhnja bersabar, tapi perempuan itu telah kemasukan setan. Ia ber-guling² disepandjang ruangan itu, meratap, menangis, dan me-raung². Munandar sendiri tidak dapat menguasai keadaan. Bahkan ia ikut menangis ter-sedu² seperti anak ketjil, karena hatinja ditekan oleh kenangan kepada sahabatnja itu, sahabat jang kini sudah tak ada lagi.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Beberapa lamanja Alida berlaku seperti orang gila, kadang² ber-teriak² memanggil Karnain, kadang² ber-guling² dan meng-hempas², hingga achirnja ia kehilangan tenaga, tak sadarkan dirinja untuk beberapa waktu lamanja.
</div>
<center>
<div style="margin-top: 1.5em; margin-bottom: 1.5em;">*</div>
</center>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
'''SEMUANJA''' kini sudah mendjadi djelas. Karnain takkan hidup lagi. Munandar jang mula² tidak mau mentjeritakan soal itu kepada nenek Boge dan Kartina, tanpa disadarinja, kini terpaksa berterus-terang. Ia tidak berhasil merahasiakan bentjana jang telah menimpa sahabatnja itu. Semula ia bermaksud
</div>
<p align="left">90</p>
<div style="text-align: justify;">
untuk mentjeritakan persoalan itu setjara ber-angsur² dan lambat-laun, tapi rentjananja itu telah gagal.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Keadaan telah berangsur pulih. Pasukan² pemberontak gelombang demi gelombang telah melaporkan diri kepada APRI dengan persendjataan mereka. Mereka berdjandji akan patuh kepada Undang-undang Negara dan bersumpah akan mengachiri pengchianatan itu untuk se-lama²nja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Perasaan Munandar jang selama ini luka oleh berbagai sebab, kini sudah bertambah sembuh. Ia telah dapat menerima kenjataan tentang isterinja Martini. Ia dapat memahami segala sesuatu jang telah memutuskan hubungan mereka. Ia tidak marah atau menjesal kepada siapa djuga, baik kepada Martini ataupun kepada letnan Sudarno. Bahkan ia berdoa, semoga mereka hidup bahagia untuk se-lama²nja sebagai sepasang suami-isteri jang telah dipertemukan takdir. Hatinja tidak rusak oleh kedjadian itu. Dan disamping itu, ia ber-angsur² dapat mententeramkan hatinja dari kenangan Katjukah, lebih² setelah penduduk lembah Katjukah mulai mengalir kekota. Dari mereka inilah Munandar mendapat keterangan, bahwa Junus jang selalu mem-buru² Karnain, telah mati tertembak. Dia ditembak oleh sisa pasukan jang dibukit Lasung, karena kemudian mereka mengetahui, bahwa Junuslah jang telah menghasut komandan mereka untuk membunuh Karnain, dimana komandan mereka sendiri djuga mati terbunuh. Untuk membalaskan sakit hati atas kematian komandan mereka ini, Junus achirnja mereka tjulik dan mereka bunuh.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Hati Alida sudah mulai pula berangsur mendapat obat. Ia sering² datang kerumah Munandar dan lelaki itu terus-menerus berusaha supaja Alida djangan terlalu banjak memikirkan Karnain. Munandar berusaha sekeras mungkin, supaja Alida kembali seperti biasa, hidup dengan tenteram dan melupakan luka dihatinja. Alida memang dapat melupakan Karnain, walaupun sesering itu pula ia digoda oleh keketjewaan. Munandar dianggapnja sebagai lelaki jang patut mendjadi temannja, lelaki
</div>
<p align="right">91</p>
</div><noinclude></noinclude>
9x3hog7xe6odhatfwrvsoil3kp01jls
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/48
104
112404
315032
311465
2026-08-20T09:53:36Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315032
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
jang sanggup mendjadikan kepedihannja berkurang dan membuatnja berperasaan aman.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kalau Alida datang, Munandar menerimanja dengan baik. Ia sering membawa anaknja jang raut mukanja hampir sama dengan Karnain. Anak ketjil itu mengingatkan Munandar pada almarhum sahabatnja itu. Ia mendjadi begitu dekat kepada anak itu. Ia merasa mendjadi sebahagian dari hidup anak itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Alida sendiri merasakan hatinja disentuh oleh sesuatu jang aneh. Ia memandang Munandar tidak sadja sebagai sahabat almarhum suaminja, tapi lebih dari itu, dalam pandangannja Munandar adalah seorang pelindung, dibawah mana ia merasa tenteram. Kalaulah Munandar dapat senantiasa berada disampingnja, ia pertjaja bahwa jang hilang telah berganti. Apa jang dirasakannja itu, kemudian dikemukakannja kepada Munandar. Mula² dengan ragu², tapi achirnja dengan tegas dikatakannja, bahwa lelaki jang sanggup diterimanja sebagai ganti Karnain, hanjalah satu orang sadja, dan orang itu tidak lain dari Munandar.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar tidak terkedjut mendengar penjataan itu, djustru karena ia bisa merasakan sendiri, bahwa sajangnja kepada perempuan itu dan kepada anaknja, memang bukannja suatu perasaan jang palsu. Tapi ia insaf, bahwa kedatangan nenek Boge kepadanja bukanlah kedatangan jang tidak ada artinja pula.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Nenek Boge bertekad keras untuk membawa Munandar kelingkungan keluarganja. Kartina tidak dapat mengalihkan hatinja dari lelaki itu jang dikenalnja untuk pertama kali di-tengah² hudjan peluru, dipuntjak bukit Talang.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar mengerti persoalan jang dihadapinja. Ia bukan tak mentjintai Kartina dan bukan tak menjajangi Alida. Antara tjinta dan sajang, antara sajang dan tjinta, tidak mudah untuk menarik garis pemisahnja. Munandar mendjadi bingung. Ia berdiri dipersimpangan djalan.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Hanja engkaulah tempat kami berlindung, — kata Alida pada suatu kali. — Djika tidak kau buka hatimu terhadap kami,
</div>
<p align="left">92</p>
<div style="text-align: justify;">
siapakah jang akan kami harapkan. Kasihanilah kami ! Anak ketjil ini belum pernah berdjumpa dengan ajahnja, dan takkan pernah untuk se-lama²nja. Kami mengharap, supaja engkaulah jang akan ganti ajahnja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Sementara itu nenek Boge mendesak pula :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Apa lagi jang kau pikirkan, — kata orang tua itu. — Apakah tjutju sadja tidak tjukup tjantik, ataukah kau ingin melihat dia bunuh diri ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Munandar tersenjum mendengar utjapan orang tua itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Bunuh diri matjam mana, nek ? — tanjanja.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ja, djawab orang tua itu. — Kau sangka aku ini tidak pernah merasa muda dahulu. Kau kira aku melompat sadja djadi tua ? Dahulu aku bertekad demikian. Kalau patjarku tidak mau kawin denganku, aku pasti bunuh diri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tapi 'kan nenek tidak djadi kawin dengan patjar nenek itu bukan ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Memang tidak !
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Mengapa nenek tidak bunuh diri ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— O, kau sangka enak mati itu ? Aku ingin hidup lama.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Ha, kalau begitu nenek membohongi diri nenek sendiri.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Tidak djadi soal. Jang tidak boleh 'kan membohongi orang lain. Seperti kau sekarang ! Kalau kau tak djadi kawin dengan tjutjuku, itu berarti kau membohongi dia. Kau pendusta. Dan kau tahu, tjutjuku mati-matian setengah gila djatuh tjinta kepadamu. Barangkali kau pakai guna² ja ?
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Begitulah, nenek Boge sering datang menggugah Munandar dengan olok²nja, tapi dibalik olok² itu ada perasaan jang sungguh².
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Kebimbangan dihatinja ber-gumpal² seperti mendung jang bergerak dilangit tinggi. Ia ingin mentjari pendjelesaian se-baik²nja. Ia ingin berlalu diantara kedua persoalan itu.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Korbankanlah sedikit perasaanmu, — kata Alida pada kesempatan lain. — Aku tahu, bahwa Kartina itu telah berhasil merebut hatimu selama dihutan. Dan untuk itu telah kau bajar
</div>
<p align="right">93</p>
</div><noinclude></noinclude>
s4yqdh2ldru3zj3b87t8zqgr85ccvtv
Halaman:Dari Puncak Bukit Talang.pdf/49
104
112409
315033
311470
2026-08-20T09:53:53Z
Cgjkldn
22445
/* Belum diuji baca */
315033
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Cgjkldn" /></noinclude><div class="pagedata">
<div style="text-align: justify;">
dengan harga jang mahal, djaitu perginja Martini dari sampingmu. Tapi kini, tidakkah kau kasihan melihat kami jang ditinggalkan pergi oleh Karnain, oleh sahabatmu, untuk se-lama²nja ? Atau antarkanlah kami kekuburnja, supaja kami lenjap bersama dia, supaja kau dapat meneruskan perkawinanmu dengan perawan itu ............
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Dipihak lain Kartina mendesak pula : — Apakah jang kau-tunggu², se-olah² masih ada sesuatu jang kau sembunjikan dibalik hatimu ? O, soal Alida ? Aku bukan tak mengetahui persoalan itu. Ditindjau dari segi kemanusiaan, memang sewadjarnja apabila kau terus-menerus membantunja, menjadjangi keluarga jang malang itu. Itu adalah kewadjibanmu, bahkan djuga akan mendjadi kewadjibanku. Kita harus menolong kawan, sahabat jang begitu setia kepadamu. Tapi haruskah segala pertolongan itu disangkut-pautkan dengan perkawinan. Apakah kalau kau tidak mengawininja, lantas tidak ada artinja kau menolong dia ? Persahabatan adalah persahabatan. Tjinta adalah tjinta. Djangan kau tjampur-adukkan antara keduanja itu. Ambillah keputusan, segeralah menentukan sikap jang njata, karena aku hampir tak sanggup menanggungkan perasaan jang sematjam ini. Sudah ber-kali² nenek datang kepadamu, tapi kau masih ber-tangguh² djuga.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
Utjapan Kartina ini menimbulkan pikiran baru kepada Munandar. Ia se-olah² mendapat suatu petundjuk, suatu kenjataan diatas dasar mana ia harus mengambil suatu sikap jang djelas. Dan ketika Alida datang lagi kepadanja dengan tangis dan sendunja, Munandar berkata :
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Alida ! Kau djangan salah terima. Kau djangan salah sangka. Aku bukan tak menjayangimu, anakmu, dan segala sesuatu mengenai dirimu. Sajangku kepada keluargamu, adalah sajang jang tak di-buat². Tapi kau harus tahu, bahwa sajang jang demikian lahir se-mata² karena persahabatanku dengan suamimu, dengan Karnain. Aku dan Karnain se-olah² dua saudara jang tak dapat dipisahkan. Kini, dalam kesadaran jang ada didadaku, Karnain masih hidup, masih berada di-tengah²
</div>
<p align="left">94</p>
<div style="text-align: justify;">
kita. Itulah jang menghalangiku, mengapa aku tak dapat me-nerimamu sebagai isteriku. Aku tahu, bahwa keputusanku ini akan merosakkan hatimu, ketjuali bila kau mau berpikir se-tjara baik. Djangan terlalu kau turutkan perasaanmu. Andaikata rasa persahabatan itu telah mati dalam hatiku, aku tentu akan memandangmu sebagai orang lain jang patut aku kawini. Tapi tidak ! Karnain masih segar-bugar diantara kita. Aku tidak berani memenuhi keinginanmu. Bila aku berpikir, bahwa aku harus mengawinimu, pada saat itu terbanglah Karnain dihadapanku, se-olah² ia merasa dilukai, se-olah² persahabatan itu harus dibadjar dengan mengawini isterinja. Tulang-belulangnja akan menggeliat kesakitan bila berita perkawinan kita sampai keliang kuburnja. Biarkanlah persahabatan antara kami hidup terus setjara abadi, dan biarkanlah aku menjajangimu dan anakmu seperti menjadjangi sahabatku sendiri, djaitu Karnain. Djanganlah kiranja persahabatan jang mulia itu kita nodai dengan perkawinan jang mengandung segi kelamin itu. Karena itu kau djangan salah anggapan terhadapku.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Kau pandai bitjara ! — kata Alida. — Kau pandai menghelah, karena sebenarnja kau tidak bisa me-nerimaku, lantaran aku bukan perawan seperti Kartina.
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 2em;">
— Djanganlah berbitjara dengan perasaan, — djawab Munandar. — Batas antara perawan dan tidak perawan adalah dekat sekali. Sebenarnja untuk mendapatkan kehidupan jang sungguh-sungguh, untuk memperoleh bahagia jang di-tjita²kan, orang tidak perlu memandang keperawanan sebagai suatu sjarat. Kalau kita bersikap demikian, kita telah memilih tjara berpikir jang salah. Bagaimanakah nasibnja dengan djanda² jang ditinggalkan suaminja ? Apakah mereka harus mendjadi korban seumur hidup lantaran tidak perawan lagi ? Dan apakah hanja gadis² remadja sadja jang berhak mendapat suami ? Aku kira tidak ! Pada saatnja, kau akan mendapat ganti jang tjotjok, jang benar² sanggup mendjadi suamimu. Selama masa itu belum tiba, aku akan tetap membantumu, aku akan tetap
</div>
<p align="right">95</p>
</div><noinclude></noinclude>
j41d63jx9890z7oeyxx7tx84uhm3yaj
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/61
104
113203
315050
312890
2026-08-20T11:34:13Z
Ammachemist
27288
315050
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>isterinja. „Dan djika aku tidak kuat makan ketela rebus seperti anak²ku sendiri, biarlah aku terkubur dikamar ini!", katanja lebih landjut.
„Tetapi kau sedang sakit, ingatlah! Sakitmu sangat pajah. Bagaimanapun djuga kau harus makan nasi bubur".
„Dan untuk memasak bubur, darimana kita memperoleh berasnja?", tanjanja.
Lelaki itu kembali terdiam dan tunduk sementara lamanja. Kemudian, tiba² dia memandang tadjam kémata isterinja, namun mulutnja tetap terkuntji.
Si-isteri mengerti makna pandangan suaminja. Dia bertanja tjepat:
„Kau akan memindjam beras lagi?".
Lama lelaki itu tetap diam terpaku dengan pandang matanja jang tersiksa seperti seekor lembu dihadapan tukang potong, tapi achirnja dia menganggukkan kepalanja djuga:
„Ja", suaranja pelan hampir² tak kedengaran.
„Djangan!", tjepat isterinja menjahut. „Kita sudah berulang-kali merepotkan tetangga². Betapapun kita tanggung derita ini. Kita kuatkan djiwa kita, dan kita turutkan sampai dimana arus duka akan membawa diri kita".
Wanita itu memang tahu martabat keluarga, lagi pula radjin dan setia. Dia mempunjai kejakinan bahwa setiap orang ini hidupnja telah digariskan oleh Tuhan, hingga mereka tidak akan dapat keluar dari rel jang telah dipastikan dan tak mungkin mampu merubah takdirnja. Itulah sebabnja dalam keadaan bagaimanapun djuga dia senantiasa menjerah kepada nasib, tidak pernah ketjewa dengan hidup jang sedang didjalaninja dan tidak pernah menjesali kesialannja.
Sedjak kawin dengan Karsosentono — suaminja jang sangat pengasih itu — sampai mempunjai ampat orang anak, dia selalu kerdja keras membantu suaminja, bekerdja disawah dan ditegalan, atau berdjualan sajur-majur dipasar untuk sekedar mentjari tambahan penghasilan.
Sisuami mengerti benar bahwa isterinja adalah seorang wanita jang berdjiwa badja. Belum sekalipun isterinja rewel menuntut ini dan itu walaupun didalam rumah-tangganja sering terdjadi kekurangan². Bahkan, ketika mereka baru beberapa bulan kawin, pernah sekali hasil panennja sangat<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude>
bvudmbgvjlccy66tatyu9kti1yiquru
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/62
104
113205
315053
312892
2026-08-20T11:37:51Z
Ammachemist
27288
315053
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>merosot, sebab lebih separo dari panen padinja jang hanja beberapa petak itu habis dimakan hama. Akibatnja dalam waktu beberapa bulan sadja persediaan berasnja habis sebelum panen kedua datang, hingga berminggu lamanja kedua suami-isteri itu hanja makan ketela dan sajur2an jang dipetik dari kebunnja sendiri. Namun, sampai sebegitu djauh isterinja tidak pernah mengeluh. „Djangan disesali hasil panenmu, perut orang desa dapat menerima apa sadja jang tumbuh ditanah!", katanja djika dia melihat suaminja meng-umpat² karena kesialan sawahnja.
Sisuami tahu bahwa isterinja — sungguhpun dalam keadaan sakit — tak akan mau meminta makanan jang lebih baik daripada makanan jang dimakan oleh suami dan anak²nja. Namun lelaki jang malang itu merasa sangat kasihan melihat tubuh isterinja jang kian kurus dan demikian lemah, hingga dia dengan djalan apapun djuga berusaha agar isterinja setidaknja dapat makan bubur nasi jang entjer tjampur bajam. Dia ingat bahwa padinja jang telah menguning sebentar lagi sudah bisa dituai, bahkan beberapa tetangganja ada jang sudah mulai memetik hasil sawahnja. Maka, setelah pikirannja me-nimbang² sedjenak, diapun berkata kepada isterinja dengan nada jang lemah-lembut sebagaimana seorang suami jang bidjaksana:
„Beberapa minggu lagi padi kita sudah dapat dituai. Hasilnja memang tidak sebanjak musim jang lalu, sebab panen kali ini sebagian dirusakkan tikus dan hama. Tetapi tidak begitu buruk seperti tahun² jang lalu, hal ini berkat adanja bantuan obat² tanaman jang kita terima dari pemerintah".Dia berhenti sedjenak se-akan² takut mengeluarkan maksud hatinja jang sesungguhnja, hingga dia terlandjur berbitjara ber-putar² tentang tikus dan obat² tanaman jang pasti tidak menarik perhatian bagi isterinja. Kemudian dengan bibir agak gemetar dia berkata lagi:
„Aku tahu, dan engkaupun tahu pula, bagaimana pentingnja engkau makan bubur agar kekuatan tubuhmu lekas pulih kembali. Aku akan memindjam beras lagi barang dua liter.Kita akan mengembalikannja, segera setelah panen nanti". Perkataannja sudah diaturnja sedemikian rupa. Dia bukan bermaksud akan meminta pertimbangan isterinja, tetapi {{hws|seke|sekedar}}<noinclude>{{rh|60}}</noinclude>
1p2ofguzotrdh9n5xadgp1b049dmyna
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/63
104
113206
315055
312893
2026-08-20T11:41:12Z
Ammachemist
27288
315055
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>{{hwe|dar|sekedar}} memberi-tahukan maksudnja jang telah mendjadi keputusan hatinja.
Mendengar ini, dengan lesu isterinja mendjawab:
„Kalau kemauanmu memang begitu, usahakanlah se-baik²nja, tetapi djangan terlalu me-ngemis² seperti orang hina. Semoga tetangga² mengetahui kesulitan jang sedang kita derita".
Ada tjahaja gembira jang membias dari mata lelaki itu. Tangan kanannja sebentar membelai rambut didahi isterinja, kemudian pelan² dia bangkit dari duduknja dan keluar dari bilik.
Sore itu udara masih terasa gersang dan angin kering bertiup deras. Dengan langkah² jang pasti Karsosentono menudju kerumah tetangga disebelahnja jang hanja dipisahkan oleh pagar bambu. Ketika dia memasuki halaman tetangganja, dilihatnja didalam rumah ada seorang tamu, Tetapi tetangga jang ramah itu segera keluar menjambutnja setelah dia mengetahui kedatangannja.
„Masuklah, kang Karso. Tamu ini famili saja sendiri, djangan malu?!", kata tuan rumah seraja menundjuk pada tamunja jang duduk bersila, walaupun duduknja diatas kursi.
Karsosentono menghampiri tamu itu dan mendjabat tangannja dengan rasa hormat.
„Ini Pak Djarkasi, famili saja dari Ponorogo", kata tuan rumah lebih landjut. Karsosentono meng-angguk² sambil tersenjum memandang Pak Djarkasi.
Karena ada orang lain, sekalipun orang lain itu adalah famili tetangganja sendiri, namun ada rasa bimbang dan keengganan dalam hati Karsosentono untuk menjatakan maksud kedatangannja. Tetapi tuan rumah rupanja tahu perasaan² jang dikandungnja. Dengan ramahnja, seperti kebiasaan keluarga disana, tuan rumah bertanja:
„Kedatangan kang Karso ada keperluan² tertentu? Djika ada kesulitan² jang mendesak, katakanlah segera! Barangkalisaja bisa membantu".
„Ja. Kedatangan saja kemari ingin memindjam beras lagi", katanja setengah menunduk. Ada rasa malu membajang pada wadjahnja waktu dia mengutjapkan permintaannja itu.
„Berapa banjak keperluannja?".<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude>
jco8vnmo2zbhtfua8yz8idgtjhi5bju
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/64
104
113207
315058
312894
2026-08-20T11:43:52Z
Ammachemist
27288
315058
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>„Kalau ada, lima liter. Djika tidak, seberapa sadja adanja. Saja segera akan mengembalikannja sesudah panen".
„Baiklah. Kang Karso tidak perlu tjepat² mengembalikan djika memang belum punja", kata tetangga jang baik budi itu. Kemudian tuan rumah berkata lagi, ditudjukan kepada familinja sendiri — Pak Djarkasi itu:
„Isteri pak Karsosentono sudah dua bulan lamanja sakit, sedang anak2nja masih ketjil². Setiap hari, sedjak pagi² sampai malam mendjelang tidur, dia bekerdja seorang diri sadja mengurusi isteri dan ke-ampat anaknja".
Pak Djarkasi memandang wadjah Karsosentono dengan rasa haru.
„Bagaimana sawahmu? Baikkah panennja nanti?", tanja tuan rumah lagi kepada tetangganja jang sedang didera kesusahan itu.
„Tidak begitu buruk, hanja sebagian dirusak hama lagi seperti musim² jang lalu. Tanah sial! Mau rasanja saja memakan tikus² dan hama itu!", keluhnja.
Sebentar² Pak Djarkasi memperhatikan tamu barunja itu se-akan² ada jang mau diutjapkan. Tetapi dia tetap belum berbitjara sepatah katapun, hingga sikapnja ini mengesankan seorang jang angkuh.
Tuan rumah bangkit dari duduknja seraja berkata:
„Berasnja akan kuambil dulu. Kang Karso tentunja segera memerlukannja", dan diapun menjelinap masuk kedapur.
Sebentar itu suasana sunji, tapi tiba² dipetjahkan oleh pertanjaan Pak Djarkasi:
„Berapa lebar sawahmu?"
„Hanja beberapa petak, pak", djawab Karsosentono dengan penuh hormat. „Biar panenku baik, namun dimakan untuk sekeluargapun belum pula tjukup. Setiap musimnja, hasil sawah dan tegalan selalu tidak bersisa, hingga saja tidak mampu membelikan pakaian untuk anak², apalagi untuk memperbaiki rumah tua jang sudah dojong² hampir roboh itu!".
„Apa keadaan keluargamu benar² kekurangan dan seburuk itu?", tanja Pak Djarkasi dengan angkuh bagaikan seorang radja jang pemurah jang akan menganugerahkan barang² berharga kepada hambanja.<noinclude></noinclude>
79kwemtcyww8k1viled5gdyo47w1swq
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/65
104
113208
315061
312897
2026-08-20T11:46:44Z
Ammachemist
27288
315061
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>„Bukan lagi kekurangan dan kelaparan jang menimpa keluarga kami, tetapi kami sudah seperti terkubur hidup² dalam rumah jang bobrok itu!", djawabnja kesal.
Karena kemelaratannja, Karsosentono dengan tiada sadar seringkali mengutjapkan kata² umpatan dan sesalan, seperti nalurinja menggugat nasib buruknja. Utjapan² itu begitu sadja meluntjur dari bibirnja tanpa melalui proses pemikiran.
„Tuhan tak djemu²nja menimpakan kutukan, hingga kami sekeluarga bagai machluk tak berguna jang telah dilemparkan kedalam djurang gelap", katania lebih landjut sesudah keduanja diam sementara lamanja.
„Engkau ingin kaja?", tanja Pak Djarkasi tiba².
Seketika Karsosentono memandang tadjam kewadjah orang dihadapannja. Lama dia termangu dengan pandang matanja jang kosong dan tidak mengerti.
„Engkau ingin kaja apa tidak?", tanja Djarkasi lagi. „Bitjaraku ini tidak main². Djika engkau betul² ingin kaja, aku bersedia menolongmu".
Petani miskin itu masih ter-mangu² dan mulutnja terkuntji. Hatinja digulati kesangsian. Betapa tidak? Dia baru kali ini kenal Pak Djarkasi, dan tiba² orang itu akan memberikan kekajaan. Dia sangsi didunia ini ada orang sebaik itu. Achirnja sesudah didesak sekali lagi barulah dia mendjawab, itupun diutjapkan terputus² karena keraguannja:
„Tentu sadja semua orang tidak menolak kekajaan, termasuk saja! Tetapi bapak tahu, saja tidak memiliki modal untuk usaha dagang atau usaha² lainnja seperti membeli sawah dan kerbau umpamanja. Dan sajapun tidak mempunjai benda² berharga sebagai tanggungan pindjaman modal, bah — benda² apa jang bisa saja miliki didunia ini selain rumah bobrok dan tanah sial beberapa petak itu? Djadi, bagaimana bapak pertjaja akan memindjamkan uang bapak kepada saja?".
Djarkasi tersenjum, dia merasa puas
„Semuanja tidak memakai tanggungan barang² berharga. Kekajaan itu akan diberikan kepadamu dengan ichlas djika engkau benar² menghendakinja!".
Karsosentono makin heran mendengar djawaban orang dihadapannja. Dia kian memandang tadjam kewadjah famili<noinclude>{{rh|||63}}</noinclude>
jc1lgs4815r5g5kc7m96c2xusq9enji
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/66
104
113209
315062
312898
2026-08-20T11:49:34Z
Ammachemist
27288
315062
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>tetangganja jang tampak aneh itu.
„Diberikan dengan ichlas?", pekiknja penuh kesangsian, „Tuhanpun tidak pernah berbuat sebaik itu!", landjutnja lagi.
„Barangkali Tuhan memang djarang berbuat baik terhadap manusia² jang masih hidup. Mungkin Tuhan hanja baik bagi orang² jang sudah mati, mengadili dan menimbang perbuatan²nja ketika mereka hidup didunia. Tetapi kita semua tidak mengetahui bagaimana hari achir kita, sebab hingga kini alam baqa masih merupakan tanda tanja. Tentang kekajaan jang akan diberikan kepadamu itu, ada satu hal jang harus kau ketahui. Jaitu: kekajaan itu bukan datang dariku, bukan milikku".
„Djadi, dari siapa?", tanjanja tjepat.
Sedjurus lamanja Djarkasi memperhatikan petani itu jang menunggu djawabannja dengan tjemas. Kemudian diapun berkata pelan² seraja menoleh kearah lain se-akan² dia tidak ingin melihat reaksi jang timbul dari hati orang didepannja.
„Dari......... dari setan perewangan. Seluruh harta kekajaan itu akan diberikan oleh setan-pesugihan kepadamu, dirumahmu!".
Petani miskin itu seketika melolot matanja. Ada kengerian jang tiba² menjelinap kedalam hatinja.
„Setan? Oh......, setan?", suaranja dengan bibir gemetar. Mengutjapkan kata,,setan" sadja sudah terasa berat bagi bibirnja.
Djarkasi bersikap tak atjuh dan sengadja tidak melihat orang jang gemetar dihadapannja.
„Tidak! Saja takut!", pekiknja.
„Takut?", tanja Djarkasi.
„Ja", djawab petani miskin itu sangat pelan sambil menganggukkan kepalanja. Tubuhnja lunglai se-akan² dia sedang tertimpa mala-petaka jang maha hebat.
„Apa jang kau takutkan?".
„Saja takut acherat......... Saja takut hari mati saja".
Djarkasi tertawa mengedjek, tetapi dia tidak berani tertawa keras², barangkali takut terdengar tuan rumah.
„Tidak seorangpun didunia ini jang mengetahui dengan pasti, matjam apa acherat itu! Kau pikir, hidupmu jang kau katakan sendiri bagai hidup jang terkutuk dan telah {{hws|dilem|dilemparkan}}<noinclude>{{rh|64}}</noinclude>
emfzt9fe72vb1a3f6n38dnrtbhey786
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/67
104
113210
315063
312899
2026-08-20T11:54:05Z
Ammachemist
27288
315063
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>{{hwe|parkan|dilemparkan}} Tuhan kedalam djurang jang gelap itu pasti akan mendapat tempat diacherat? Sedang masih hiduppun sudah dikutuk dan sengsara, apa pula jang terdjadi sesudah mati nanti? Semua itu persoalan orang mati jang serba belum pasti, dan bukan persoalan kita jang masih hidup. Jang sudah pasti dan bisa kau rasakan sendiri ialah bahwa pada saat ini engkau sekeluarga hidup sengsara dan melarat, dan kebetulan ada djalan baik dan mudah untuk bisa mendjadi kaja. Akan kau tolakkah kesempatan ini? Betulkah suara hatimu lebih suka memilih hidup melarat dan sengsara selama²nja dengan mempertahankan tanah sial jang makin lama akan menjeret keluargamu dan dirimu sendiri kedalam bentjana jang makin besar dan mengerikan? Tidakkah perbuatanmu itu malah berarti akan membunuh anak-isterimu setjara lambat²? Bagi seorang ajah jang tidak sanggup berbuat apa² dan tidak mampu memperdjuangkan nasib keluarganja, lebih baik djika dia membunuh anak nja seketika daripada membunuhnja lambat². Ini lebih berperikemanusiaan! Tjamkan, beginilah keadaanmu jang sesungguhnja. Kau bebas memilih".
Ada gontjangan² perubahan dalam diri Karsosentono. Kata² jang meluntjur deras dari bibir Djarkasi membekas dalam hatinja, se-akan² baru kali inilah matanja terbuka lebar² hingga sekarang dia dapat melihat hakekat dan kenjataan hidup jang sesungguhnja.
Bajangan² buruk segera muntjul mengabuti pikirannja. Ingatannja membajangkan suasana rumahnja, bagaimana isterinja terbaring dalam bilik jang kotor dan tak terurus, kurus dan lemah. Dia membutuhkan banjak uang untuk membawa isterinja kedukun dan untuk mendjaga makan isterinja setjara teratur dan baik. Ketika bajangan buruk tentang diri isterinja ini belum lenjap, dalam ingatannja tiba² muntjul ke-ampat orang anaknja jang masih ketjil² jang selalu merenek² karena kekurangan makan. Betulkah sikapnja selama ini berarti akan membunuh anaknja sendiri setjara lambat² seperti kata Djarkasi? Apakah hal ini bukan hanja karena nasibnja jang malang, jang sesungguhnja berada diluar kekuasaannja? Dan djika manusia ini terpaksa harus mempersoalkan nasib, sebab dia pertjaja bahwa nasib setiap orang ini sudah ditentukan sedjak dia lahir dari rahim ibunja, {{hws|kena|kenapa}}<noinclude></noinclude>
m2bfwd83beeyyxv4e5zw4zmdsaw98zb
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/68
104
113211
315064
312900
2026-08-20T11:56:27Z
Ammachemist
27288
315064
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>{{hwe|pa|kenapa}} Tuhan mem-beda²kannja demikian menjolok dan menjakitkan, memberikan nasib jang baik kepada seseorang dan menjerahkan nasib jang demikian buruk kepada jang lainnja? Dimana kemurahan dan keadilan Tuhan? Benarkah Tuhan menentukan dan menggariskan hidup setiap orang? Benarkah Tuhan akan mengadili setiap orang jang sudah mati? Bagaimana perbuatan jang baik menurut mata Tuhan jang tidak melanggar hukum² ke-Tuhan-an? Berdosakah djika seseorang ingin merubah nasibnja seperti kata Djarkasi, sedang nasibnja sendiri adalah demikian buruk dan sengsara? Djika berdosa, kenapa orang mesti menjerah pada nasib jang djelek? Orang jang bagaimana jang bisa memasuki acherat — djika memang acherat itu ada — menurut pandangan Tuhan? Berbagai tanja jang muntjul dan saling bertentangan itu berbaur dalam pikiran dan hatinja, hingga dia bagai tenggelam dalam lautan bajangan. Dia tetap membungkam dan termenung, sebab dia belum menemukan djawabnja.
Karsosentono tersentak dan mendjadi sadar waktu Djarkasi itu berkata kepadanja:
„Saja harapkan segala utjapan saja tidak mendjadi beban jang memberati pikiranmu. Engkau dapat mengkikis habis dan membuangnja djauh². Saja hanja ingin menolongmu menundjukkan djalan. Djika engkau menerima, artinja djika engkau memang benar² ingin kaja untuk merubah nasib burukmu, saja bersedia menghubungkan dirimu dengan setan-pesugihan jang akan memberimu harta-kekajaan. Djika engkau menolak, — jah, tidak apa! Saja hanja menawarkan diri sebagai penghubung sadja".
Kebimbangan menggojah dirinja. Waktu ini dia benar² membutuhkan uang, untuk merawat isterinja agar lekas sembuh, untuk makan anak²nja supaja tidak dituduh sebagai pembunuh jang kedjam seperti tuduhan Djarkasi, untuk memperbaiki rumahnja jang sudah hampir roboh, dan masih banjak lagi keperluan² lainnja. Semuanja ini membutuhkan uang, uang dan uang! Akan ditolaknjakah tawaran sebaik itu? Ingin dia menjetudjui dan menerima pertolongan jang diulurkan oleh Hadji Djarkasi, tapi djika diinggat bahwa untuk segalanja itu dia harus memelihara „pesugihan", maka rasa takut dan ngeri kembali menjelinap kedalam hatinja, dan<noinclude>{{rh|66}}</noinclude>
ta937glq9xrhebg9tklde08ja0o9unl
Halaman:Perdjandjian dengan Setan.pdf/5
104
113315
314883
313062
2026-08-20T06:14:57Z
Lemonwithices
26124
314883
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>{{C|{{sp|ISI BUKU}}}}
{{Sp|PRAKATA.}}
{{R|Hal.}}
{{Daftarisi dtt|1|[[Perdjandjian dengan Setan/SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER|SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER]]|9}}
{{Daftarisi dtt|2|[[Perdjandjian dengan Setan/PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN|PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN]]|19}}
{{Daftarisi dtt|3|[[Perdjandjian dengan Setan/TANGIS DARI KUBURAN|TANGIS DARI KUBURAN]]|27}}
{{Daftarisi dtt|4|[[Perdjandjian dengan Setan/NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA|NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA]]|35}}
{{Daftarisi dtt|5|[[Perdjandjian dengan Setan/RUMAH KOSONG|RUMAH KOSONG]]|45}}
{{Daftarisi dtt|6|[[Perdjandjian dengan Setan/SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN|PERDJANDJIAN DENGAN SETAN]]|53}}
{{Daftarisi dtt|7|[[Perdjandjian dengan Setan/BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS|BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS]]|79}}
{{Daftarisi dtt|8|[[Perdjandjian dengan Setan/PENDJAGA KUBURAN|PENDJAGA KUBURAN]]|86}}
{{Daftarisi dtt|9|[[Perdjandjian dengan Setan/SEORANG SAMURAI DARI KYOTO|SEORANG SAMURAI DARI KYOTO]]|95}}
{{asterism}}<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude>
pt7a7h87w7dv6zbarv8claw3rbk0may
314884
314883
2026-08-20T06:15:45Z
Lemonwithices
26124
/* Tervalidasi */
314884
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Lemonwithices" /></noinclude>{{C|{{sp|ISI BUKU}}}}
{{Sp|[[Perdjandjian dengan Setan/PRAKATA.|PRAKATA.]]}}
{{R|Hal.}}
{{Daftarisi dtt|1|[[Perdjandjian dengan Setan/SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER|SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER]]|9}}
{{Daftarisi dtt|2|[[Perdjandjian dengan Setan/PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN|PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN]]|19}}
{{Daftarisi dtt|3|[[Perdjandjian dengan Setan/TANGIS DARI KUBURAN|TANGIS DARI KUBURAN]]|27}}
{{Daftarisi dtt|4|[[Perdjandjian dengan Setan/NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA|NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA]]|35}}
{{Daftarisi dtt|5|[[Perdjandjian dengan Setan/RUMAH KOSONG|RUMAH KOSONG]]|45}}
{{Daftarisi dtt|6|[[Perdjandjian dengan Setan/SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN|PERDJANDJIAN DENGAN SETAN]]|53}}
{{Daftarisi dtt|7|[[Perdjandjian dengan Setan/BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS|BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS]]|79}}
{{Daftarisi dtt|8|[[Perdjandjian dengan Setan/PENDJAGA KUBURAN|PENDJAGA KUBURAN]]|86}}
{{Daftarisi dtt|9|[[Perdjandjian dengan Setan/SEORANG SAMURAI DARI KYOTO|SEORANG SAMURAI DARI KYOTO]]|95}}
{{asterism}}<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude>
0f8u4iaxzvfnvohvzhh8nfvpxoi7fns
Halaman:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf/103
104
113702
314918
313904
2026-08-20T07:52:24Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314918
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||{{Bold|{{sp|PENGORBANAN}}}}|||101}}</noinclude>{{C|{{bold|VII}}}}
{{right|{{smaller|„Oh, Oh ....." ntjim Hing-bie laloe melonggong. „Diboewang atas laoetan, ditaroh di atasnja satoe praoe ketjil dengen dibekelin oewang seratoes ringgit serta satoe soerat : 'Piaralah Ini anak dan ambil ini oewang'?"}}}}
{{di|S}}ABAGIMANA oemoemnja terdjadi dalem kita poenja pergaoelan hidoep, apabila satoe hartawan meninggal doenia, di sitoe laloe terbit kakaloetan. Begitoepoen terdjadi atas milik, harta dan peroesahannja 'ntjik Hwie-bing, laloe hadepin bahaja brantakan. Tapi soekoer kaboeroe Yong-han menikah sama Pik, ningga ia masih kaboeroe menjegah mendjalarnja itoe kakaloetan lebih djaoe.
Maski ia hidoep dalem broentoeng, tapi Yong-han belon pernah loepaken sama Gwat. Boekan sedikit oewang dan barang-barang dagangan Yong-han telah oeloerin sama Swie-tik, soeaminja Gwat, hingga pelahan-pelahan Swie-tik djadi kaja. Samentara Swie-tik jang tida taoe apa-apa tjoema bisa bilang bahoea Yong-han ada kliwat baek sekali.
Ada banjak sekali kadjadian-kadjadian atawa pertemoean-pertemoean jang penting tjoema terdjadi dalem tempo jang kabetoelan sadja.
Rembang soeda biasa boeat saban taoen adaken karamean gwan-siauw atawa tjap-go-me.
Di maleman itoe karamean, mendadak matanja Yonghan jang tadjem telah dapet menampak Gwat, 'ntjik Hing-bie dan istrinja ada bertjampoeran antara itoe rombongan orang-orang jang seperti semoet.
„Pik, sabentar di sini sama 'nio; akoe maoe kasana sabentaran," katanja Yong-han, laloe tinggalken Pik dan<noinclude></noinclude>
oc5uwy1calo5053dgx3m17rvftdstyc
314919
314918
2026-08-20T07:52:49Z
Ammachemist
27288
314919
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh||{{Bold|{{sp|PENGORBANAN}}}}|||101}}</noinclude>{{C|{{bold|VII}}}}
{{right|{{smaller|„Oh, Oh ....." 'ntjim Hing-bie laloe melonggong. „Diboewang atas laoetan, ditaroh di atasnja satoe praoe ketjil dengen dibekelin oewang seratoes ringgit serta satoe soerat : 'Piaralah Ini anak dan ambil ini oewang'?"}}}}
{{di|S}}ABAGIMANA oemoemnja terdjadi dalem kita poenja pergaoelan hidoep, apabila satoe hartawan meninggal doenia, di sitoe laloe terbit kakaloetan. Begitoepoen terdjadi atas milik, harta dan peroesahannja 'ntjik Hwie-bing, laloe hadepin bahaja brantakan. Tapi soekoer kaboeroe Yong-han menikah sama Pik, ningga ia masih kaboeroe menjegah mendjalarnja itoe kakaloetan lebih djaoe.
Maski ia hidoep dalem broentoeng, tapi Yong-han belon pernah loepaken sama Gwat. Boekan sedikit oewang dan barang-barang dagangan Yong-han telah oeloerin sama Swie-tik, soeaminja Gwat, hingga pelahan-pelahan Swie-tik djadi kaja. Samentara Swie-tik jang tida taoe apa-apa tjoema bisa bilang bahoea Yong-han ada kliwat baek sekali.
Ada banjak sekali kadjadian-kadjadian atawa pertemoean-pertemoean jang penting tjoema terdjadi dalem tempo jang kabetoelan sadja.
Rembang soeda biasa boeat saban taoen adaken karamean gwan-siauw atawa tjap-go-me.
Di maleman itoe karamean, mendadak matanja Yonghan jang tadjem telah dapet menampak Gwat, 'ntjik Hing-bie dan istrinja ada bertjampoeran antara itoe rombongan orang-orang jang seperti semoet.
„Pik, sabentar di sini sama 'nio; akoe maoe kasana sabentaran," katanja Yong-han, laloe tinggalken Pik dan<noinclude></noinclude>
5733k3ewd3jlo1a0ebhywwuy0uwauz9
Halaman:Tjerita Roman Pengorbanan.pdf/104
104
113703
314925
313905
2026-08-20T07:58:33Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314925
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|102|{{Bold|TJERITA ROMAN}}}}</noinclude>kamoedian menjamperin di Gwat ada tertampak.
Gwat bersama ajah dan iboenja jang lagi awasin orang maenin itoe liong diadi kaget koetika dengen mendadak Yong-han telah menjelak tengah.
„Gwat, ‘nijik dan ‘nijim Hing-bie!” begitoelah Yong-han berseroeh.
Gwot diadi terkedjoet koetika menampak Yong-han.
„Sama sekali ekoe tide doegah kaloe kau orang dateng,” katanja Yong-han poelah. „Kaloe taoe tentoe akoe semboet kau orang lebih siang. Tapi, biarlah; nanti sadja kau orang mampir akoe poenja roemah.Kau tentoe soeka, Gwat?"
Gwat tida menjaoet, tapi goetit tangan ajahnja boeat menolak. Tapi ‘ntjik Hing-bie salah-mengerti.
„Bolehlah, kite sendiri poen memang kapingin mampir nanti hari esoek, kaloe sadja tida merepotken padamoe,” saoetnja ‘ntjik Hing-bie.
Yong-hen tertawa dan laloe adjak marika sama-sama djalan boeat samperin iapoenja rombongan familienja jang ditinggel.
'Nijim Hwie-bing koetike liat Gwat, iapoenja kepala laloe terbit roepa-roepa doegahan dan saben-saben memandeng dan memandeng padanja tida abisnja, hingga Gwat sampe djadi kamaloean.
„Akoe merasa ia ada anak’koe seni,” begitoelah ‘ntjim Hwie-bing laloe kota dalem hati.
Djalan poenja djalan, achirnja marika sampe di gedongnja ‘ntjim Hwie-bing.
„'Ntjim Hwie-bing laloe adjak ‘ntjim Hing -bie bitjara ampat mata.
„Ntji, opakah itoe Gwat ada anakmoe sendiri?" ‘nijim Hwie-bing menanjah.<noinclude></noinclude>
5jnn9leefypdhgarrrs2ieaon3st423
Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan
0
113909
314847
314672
2026-08-19T13:06:29Z
Lemonwithices
26124
314847
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan
| author =
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[Kata Pengantar]]
| year =
| notes = '''Hasil transklusi kurang tepat, tidak menampilkan daftar isi'''
}}
<pages index="Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf" from="1" to="2" />
<pages index="Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan.pdf" from=265 to=266/>
{{pb|label=}}
0uhvo29bfuaj82r4gd6p4ciy53mndsa
Halaman:Janie.pdf/24
104
113922
314900
314310
2026-08-20T06:49:08Z
Ammachemist
27288
314900
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|42|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''JANIE.'''}}|||43}}</noinclude>{{C|{{bold|V.}}}}
{{di|K}}{{sp|APAN}} Soendjata brangkat ka station, hari masih pagi sekali dan hawa amat dingin, Ia naek pada spoor jang kesatoe. Ia doedoek dalem itoe kreta api jang bawak dirinja dengen pikiran koesoet, kerna semalem ia tida dapet tidoer, otaknja penoeh dengen roepa-roepa impian dan pikiran.
Kapan ia sedikit longoken kepalanja di djendela kreta, ia laloe dapet meliat goenoeng Soembing dan Sindara jang berdiri berdjedjeran sebagi sepasang kemanten baroe. Matahari masih belon kloear hanja tjoema sedikit dari sedikit telah kloearken tjahjanja jang semoe merah.
„Oh, goenoeng Sindara senantiasa bersanding dengen goenoeng Soembing,” begitoelah Soendjata laloe ngelamoenken pikirannja, „Sindara itoe boleh dioepamaken Janie jang agoeng. Tapi siapakah Soembing, Janta atawakah Soendjata?”
Kaloe pikir sampe di sitoe, ia laloe merasa djeloes pada Janta, Tapi kemoedian ia bantras sendiri itoe perasa’an, kerna dengen itoe berarti ia aken perkosa angen-angennja satoe gadis jang soetji?
Janie belon mendjadi istri dari Janta, tapi roepanja iapoenja kesetia'an pada itoe djedjaka telah memboektiken lebih dari brapa istri setiawan dirangkep mendjadi satoe.
„Tida, akoe tida haroes meroesaken kebroentoengannja Janie,” kamoedian Soendjata ngelamoen lebih djaoe. „Akoe menjinta padanja dengen segenep djiwa, tapi hatinja ia telah dikasiken laen orang, inilah ada akoe poenja nasib badan dan tida haroeslah akoe meroesak kebroentoengannja.”
Kapan telah sampe di Betawie, Soendjata tinggal menoempang pada sala-satoe familienja.
Esoeknja Soendjata laloe pergi ka G. H. S. menanjaken tentang Drijanta pada bebrapa student di sitoe. Tapi dari marika ia dapet keterangan bahoea soedah berselang satoe taoen Drijanta tida ada masoek sekolah lagi dan tida ketaoean bagimana kabarnja.
Soendjata berlaloe dari sitoe dengen penoeh keheranan. Roepa-roepa pertanjakan laloe mengadoek dalem otaknja. Kemana Janta telah pergi dan apa sebabnja ia berlaloe dengen zonder kabar?
Itoe pemoeda laloe pergi ka pondokan jang bekas ditempatin oleh Janta. Dari toean-roemahnja itoe pondokan Soendjata dapet taoe bahoea sekarang Drijanta telah pindah di Bandoeng.
Dengen tida boeang banjak tempo lagi Soendjata laloe pergi ka Bandoeng dan koendjoengin pada adres jang dioendjoeken. Di sitoe betoelah ada bertinggal Drijanta, Kerna itoe ada roemah....... mertoeanja Janta. Tapi Janta tida berada di roemah, hanja masih berada di Palembang, berdagang di sana.
„Esoek ia dengen istrinja aken toeroen ai Priok,” katanja itoe orang toea. „Akoe telah trima iapoenja soerat bahoea ia aken dateng kemari.”
Soendjata rada tertjenggang koetika denger penoetoerannja toe orang-toea, kerna semoea apa jang ditoetoerken ada di loear iapoenja doega’an.
Kapan ditanjak, Soendjata tida kasi djawaban jang betoel tentang maksoed iapoenja kedatengan.
Soendjata kemoedian berpamitan dan boeroe-boeroe kombali ka Betawie.<noinclude></noinclude>
013dnu8xy60rx3k6gljk89d4ra3w1t5
Halaman:Auto setan.pdf/30
104
113954
314843
314344
2026-08-19T12:53:26Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314843
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|54|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}|||55}}</noinclude>tida salah jang dipake oleh itoe kawanan pendjahat, ia kenalin betoel”.
„Bagoes sekali!” saoet Inspector Dullea dengen goembira. „Sekarang akoe poen soedah beroleh laen katerangan jang penting. Verne Doran, siapa jang pindjem itoe automobiel koetika Djoemahat malem jang laloe, berkontjo dengen saorang nama Albert Tinnin. Marika ternjata kloear berdoea'an pada Djoemahat malem terseboet. Verne Doran poenja nama soeda ada dalem boekoe politie dan ini ada katerangan tentang Albert Tinnin”.
Detective McGinn laloe madjoe bebrapa tindak mendeketin pada krosinja Inspector Dullea, di sitoe ia liat salembar poriret. Dalem itoe portret ia saksiken romannja saorang lelaki beroesia kira tiga-poeloeh-lima taon, ramboetnja disisir terbelah sama tengah, berparas galak dan kedjem. , Albert Tinnin, alias Robert Knight,” demikian toelisan di bawahnja itoe foto berboenji. Lebih djaoeh diseboetken bahoea Tinnin perna didakwa tersangkoet dalem pertjoba'an memboenoeh Marjory Cockroff di Corning, California, dalem taon 1918.
Menoeroet tjatetan politie ada diterangin sekali bahoea Tinnin telah perna berloendangan aken sigra menikah sama tjoetjoenja njonja djanda Mrs. Cockroff jang hartawan. ltoe tjoetjoe aken dapet warisan kapan itoe njonja djanda mati banjaknja $ 100,000. Tinnin soedah tjoba boeat ratjoenin itoe njonja djanda tapi telah tida berhasil. Ia soedah perna dihoekoem sakean lama dan dalem boelan Februari 1932 ia kloear.
„Soenggoeh itoe 2 orang sanget djahat, Doran dan Tinnin!” Inspector Dullea berkata dengen soeara rada mendongkol kerna perboeatan {{hws|mari|marika}}
{{hwe|ka|marika}} jang membikin poesing politie di San Francisco. „Akoe poen soedah menilik tentang ka-ada‘anja njonja Jessie, kanjata’an ia ada mempoenjai sadjoemblah oewang jang besar djoega. Per radio akoe soedah titahken penjiaran ka sa-antero secties politie di berbagi tempat aken bekoek dengen lekas sabisanja pada itoe doea orang, jang pegang rol penting dalem perkara ini. Kita moesti dapetin marika berdoea dalem tempo jang tjepet!"
Detective McGinn dan Mr. Francis X. kamoedian berlaloe dari itoe kantoor; Inspector Dullea tinggal sendirian sambil teroes memikirin boeat berdaja bekoek itoe doea pendjahat jang termasoek dalem iapoenja tanggoengan. la pertjaja bahoea jang boenoeh njonja Jessie moesti ada salah satoe dari marika, satoe tjara pemboenoehan jang kedjem jang bisa tergolong perna terdjadi dalem kota San Francisco.
Sa'at-sa'at berlaloe dengen tjepet, Inspector Dullea bangoen dari krosinja, djalan moendar-mandir di roeangan itoe kantoor jang lebar. Tiba-tiba ia merandak di depan satoe djendela dan dari mana kliatan pemandengan malem jang indah dari Chinnatown (kota-Tionghoa) di atas Portsmouth Square. Tida lama berselang kadengeran bel telefoon jang sigra ia samperin.
„Hallo!” terdenger treakan dalem telefon dengen soeara jang begitoe keras serta goemeter.
„Akoe ini ada Frank Egan. Ini orang-orang maoein dirikoe!”
„Siapa maoein kaoe?” bales berseroeh Inspector Dullea dengen kaget.
„Ini....... ini ........ orang - orang”, {{hws|Ter|Ternjata}}<noinclude></noinclude>
lerx37k4p5uwghylly4qa8jz47dsvzn
Halaman:Auto setan.pdf/31
104
113955
314844
314403
2026-08-19T12:53:31Z
Ammachemist
27288
314844
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|56|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}|||57}}</noinclude>{{hwe|njata|Ternjata}} itoe ada soearanja Mr. Frank Egan, itoe Advocaat Oemoem jang berboedi, jang soeka djadi pembela kaoem lemah dan miskin, sobat dari njonja Jessie jang paling baek, sebagimana telah ditoetoerken di seblah atas. Kamoedian itoe soeara kadengeran poela dengen terpoetoes-poetoes: „Ia orang-orang paksa soepaja akoe telefoonin apa-apa pada istrikoe dan tapi akoe tida maoe menoeroet hingga telefoonin kaoe sebagi gantinja. Akoe sekarang berada di atas gedong Ferry Building ......... ia orang lagi mendatengin boeat ... akoe........".
Mendadak itoe soeara dari Mr. Frank Egan terpoetoes, laen soeara brisik serta treakan seperti ada terdjadi pergoeletan terdenger saolah-olah mendadak Mr. Frank Egan dipoekoel tergoeling dari itoe pekakas bitjara. Lebih djaoeh lantas tida kadengeran satoe titik soeara apa poen.
Dengen hati .berdebar - debar Inspector Dullea lontjat dari iapoenja krosi, lari memboeroe ka djoeroesan pintoe .
{{di|b}}EGITOE tjepet Inspector Dollea berlari kloear dari iapoenja kantoor menoedjoe ka laen departement, di mana sadjoembla detectives dan laen orang politie berkoempoel aken djalanken marika poenja dienst malem. ltoe Inspector poenja treakan membikin marika pada terkedjoet.
„Hajo ........... bersiap kaoe semoea!” ia berseroeh dengen parasnja jang poetjet dan dengen zonder terangin poela doedoeknja perkara ia berlari teroes samperin lift aken toeroen ka bawah. Itoe laen-laen politie poen mengikoetin dari belakang, dan koetika soedah beramé berada di ping-
gir automobiel ia orang semoea menaek ka dalem itoe kandaran motor.
„Pergi ka gedong Ferry Building”, memerentah Inspector Dullea dengen tergoepoe-goepoe pada sopir.
Dengen vollegas itoe auto politie dilariken ka djoeroesan Kearny Street, biloek ka kiri di California Street, dari mana itoe lampoe-lampoe electris jang gilang-goemilang dari Ferry Building jang tinggi tertampak indah sekali. Sang chauffeur teroes kandarken itoe auto dengen memoeter bebraa kali di djalanan prapatan jang ramé sahingga kamoedian dibrentiken di pintoe paling moeka dari Ferry Building jang besar. Semoea orang lontjat toeroen dari itoe kandaran aken bersedia menoenggoe orders lebih djaoeh.
Tjepet seperti andjing pemboeroe jang oeloeng, laloe Inspector Dullea berdiri di samping iapoenja auto. lantas ia kloearken titah oentoek bagimana iapoenja „orang - orang” koedoe berboeat selandjoetnja:
„Berpentjar — samperin pada sasoeatoe kiosk telefoon. Perhatiken ka-ada’annja sasoeatoe kiosk brangkali ada tanda-tanda bekas perklaian seroeh, dan djoega tanjak pada segala orang jang dikatemoeken apa ada dapet liat Mr. Frank Egan baroesan”.
Inspector Dullea berseria iapoenja orang-orang sampe di tempat jang tertoedjoe sasoedahnja djam sembilan malem. ltoe Ferry Building adalah sebagi station boeat publiek menjebrang soengei besar dari satoe tepi ka laen tepi jang senantiasa ramé, dengen digoenaken motor-boot-motor-boot jang loeas. Kapan itoe sakean detective jang ber-<noinclude></noinclude>
a53h9ep6qj1kyuzzqzmr2qmlv1oqv7r
Halaman:Auto setan.pdf/50
104
114133
314875
314774
2026-08-20T04:20:38Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314875
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|92|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||93}}</noinclude>Tinnin poen dikenalin oleh saksi terseboet, tapi atas adviesnja iapoenja Advocaat ia tolak boeat djawab segala pertanja’an. Idem terdjadi dengen Doran jang selaloe toetoep moeloet. Kamoedian sampe gilirannja Frank Egan aken toetoerken iapoenja pengakoehan — apa ia maoe bitjara? Atas adviesnja iapoenja pembela ia djoega menolak boeat mendjawab ini - itoe.
{{di|S}}ELAGI pembesar Pengadilan enz. dengen asik preksa laen pemandengan jang tersangkoet sama kamatian njonja Jessie, Frank Egan dengen diam-diam bangoen dari krosinja dan bertindak kloear. Lantaran ia tida diperlakoeken sebagi pesakitan jang dipreventief maka tida sa‘orang perhatiken iapoenja gerakan, hingga ia terpandeng sebagi saksi jang merdika dalem Pengadilan. Papreksa’an dilandjoetken dan kamoedian Jury kloearken poetoesan bahoea Frank Egan dan Verne Doran '''moesti''' djawab pertanja'an-pertanjaan jang dimadjoeken padanja dalem Persidangan jang kadoea, dalem mana Hakim President jang lengkep nanti pimpin djalannja Raad. Teroetama ia tida boleh toetoep moeloet teroes dalem hal-hal jang dirasa ia taoe terhadep itoe pemboenoehan njonja Jessie.
Egan ditiik oleh Mayor Rossi bagi segala pakerdja’annja sebagi Advocaat Oemoem sadjek ia ternjata mempoenjain sangkoetan dalem perkara njonja Jessie. Doran dan Tinnin dibawak balik ka dalem pendjara sahingga Raad preksa poela marika. Egan dengen merdika boleh poelang ka roemahnja seperti ia ditahan di loear sadja. Seperti dibilang, sabetoelnja Egan tida moesti dapet itoe
kalonggaran tapi oleh kerna roepanja Justitie imbangin sama iapoenja dradjat, kadoedoekan serta pengaroehnja dalem sociaal di San Francisco, maka ia tida sigra ditahan dalem preventief kendati dalem bebrapa hal politie tjoerigaken ia. Belakangan District Attorney madjoeken voorstel soepaja Egan poen dikerem dalem kamar tahanan.
Saben-saben dalem perkara terseboet moentjoel hal-hal baroe jang mengantjem heibat. Politie kamoedian dapet tjioem baoe jang djiwanja Verne Doran terantiem keras. Satoe party jang tegen padanja gerakan satoe komplotaan aken boenoeh padanja kerna ia terang tersangka ambil bagian penting dalem pemboenoehan itoe njonja djanda. Lantaran apa ia dipindahken dalem satoe pendjara speciaal serta terdjaga lebih keras.
Bebrapa hari telah liwat. Inspector Dullea bersama detective McGinn lagi berada dalem kantoornja sa-abisnja marika menilik ka-ada’an Verne Doran dan Albert Tinnin.
„Pergilah kace ka roemahnja Egan!" mendadak ia berbisik pada McGinn. „Lebih lekas kaoe sampe di sana ada lebih baek!”
Sasoedah detective McGinn berlaloe, Inspector Dullea djatohken dirinja dalem korsi. Ia dengen tjepet ambil satoe potlood, toelis bebrapa derek perkata’an sebagi copie bulletin jang ia aken siarken. Itoe copie berboenji seperti berikoet:
„Perkara Pemboenoehan! Di minta tangkep dan bawak pada politie Frank J: Egan!” demikian permoela’an dari itoe copie berboenji.
Malem poekoel delapan tanggal 4 Juni. Seperti biasa Inspector Dullea berada dalem {{hws|kantoor|kantoornja}}<noinclude></noinclude>
i69uer40nhqrw5g14yl2z98yhodq6c3
Halaman:Auto setan.pdf/49
104
114134
314874
314775
2026-08-20T04:06:04Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314874
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|90|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}|||91}}</noinclude>koekoeh seperti kontjonja Albert Tinnin. — Politie kliwat bohwat terhadep ini pemoeda jang nakal.
Ia diantjem aken dilever kombali ka dalem pendjara boeat teroesin hoekoemannja jang doeloe dengen perdjandjian bilah ia sampe beroeroesan poela dengen perlanggaran wet negri. Tapi_ia tetep tida maoe loeloesken kamaoean politie. Satoe prentah dikloearken dan Doran dikirim poela sebagi persakitan ka dalem pendjara San Quentin. Dengen pakean persakitan ia dianter kombali ka itoe Koeroengan Besar, samentara iapoenja_ramboet ditjoekoer bersi.
Sampe sakean lama ia tetep tida mace bilang soeatoe apa dalem perkara njonja Jessie.
Boelan Mei tanggal 20 Frank Egan soedah boleh dikata semboeh dari sakitnja dan di-idzinken oleh dokter boeat orang boleh bikin interview padanja. Sadjoemblah journalist dateng di iapoenja kamar boeat interview Egan di atas iapoenja pembaringan. Egan poenja bitjara ada tjoekoep lantjar dan terang dan pada achirnja ia bilang: „Pengidoepankoe ada dengen boekoe terboeka”. Hal-hal jang berhoeboeng dengen perkara pemboenoehan njonja Jesies itoe koetika tida diseboetken.
Satelah Frank Egan soedah semboeh betoel, pembesar Justitie kaloearken soerat offcieel bahoea ia haroes mengadep dalem Pengadilan pada tanggal satoe Juni aken didenger pengakoeannja. Politie staf semoea soedah bikin beres soerat soerat jang berhoeboeng dengen Frank Egan, publiek menoenggoe datengnja itoe hari aken toeroet saksiken itoe papreksa'an jang menggemperken orang soedah mendoega.
Satoe machloemat telah disiarken oleh Mayor Rossi dari San Francisco siape menjataken bahoea Egan haroes membantoe politie, boeat bikin terang itoe pemboenoehan jang heibat dan bri penoetoeran jang lengkep hal ia sendiri poenja perboeatan koetika itoe malem ketok telefoon pada Inspector Dullea boeat wartaken satoe kabar berbahaja jang menerkem dirinja. Lantaran perboeatan mana membikin banjak poesing pada politie djadi satoe soeal jang orang ingin sekali taoe bagimana dan apa lantarannja.
Kapan hari jang ditentoeken tanggal 1 Juni telah sampe, Pengadilan boeka persidangan pertama aken preksa itoe bebrapa orang: Frank Egan, Verne Doran dan Albert Tinnin serta saksi-saksi. Doran dibawak dari pemboeian San Quentin dengen teranter oleh doea detectives. Egan, tida titahan dalem boei dan dalem itoe roeangan Pengadilan ia doedoek di seblahnja iapoenja pembelah jang masih moeda, Mr. Vincent Hallinan:
Vice-voorzitter jang mewakilken Raad Mr. T. B. W. Leland moelain boeka itoe papreksa’an. Dari djalannja papreksa’an ternjata orang-orang jang tersangka tjampoer tangan dalem pemboenoehan njonja Jessie terang dosanja, teroetama Verne Doran telah dikenalken betoel oleh njonja Little, Ini njonja jang mendijadi tetangganja njonja Jessie tetepken iapoenja kasaksian bahoea itoe orang jang ia dapet liat doedoek dalem itoeautomobiel Lincoln-Phaeton koetika hari Djoemahat lohor di depan roemah njonja Jessie betoel mirip seperti Verne Doran, ia masih kenalin roepanja dengen baek<noinclude></noinclude>
1hysv8cv0ojxv7i4ndl3izsq3fn3ymb
Halaman:Auto setan.pdf/53
104
114141
314876
314783
2026-08-20T04:27:54Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314876
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|98|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}|||99}}</noinclude>{{hwe|blah|seblah}} kanan koempoelan poehoen - poehen, tapi tida teges apa jang dioetjapken kendati itoe soeara bebrapa kali dioelangken. Koetika marika pasang koeping soeara itoe tida lama lagi ilang dan teroes tida terdenger soeatoe apa poela. Baek waktoe datengnja atawa perginja soeara itoe ada satjara aneh kadengerannja jang membikin timboel katjoeriga’an orang.
„Apakah itoe?” menanja Nieri dengen heran.
{{di|K}}APAN toe soeara tida terdenger poela, Sheriff McGrath poen kendorken djarinja jang menempel di trekker iapoenja pistol. Lama djoega ia berdiri di tempat terseboet sahingga saking gegetoen dengen soeara tadi membikin ia tida saoetin pertaja’an dari Undersheriff Nieri, iapoenja assistent. Dalem kagelapan itoe ia melaenken merasaken napasnja Nieri mengenahken iapoenja belakang leher.
Kamoedian McGrath moelain bertindak lagi, toeroen dengen ati-ati_ di atas tanah jang moedoen dan bebrapa poeloeh meter dari sitoe terletak itoe pasanggrahan termaksoed. Ia bertindak teroes sambil tjekel gagang pistol dengen tangan kanannja, sedeng iapoenja pikiran tetep bekerdja boeat doega-doega dari siapa datengnja soeara jang aneh itoe. la berasa seperti ia taoe kenapa itoe soeara moentjoel, tjoema ia tida bisa: tentoeken terlaloe pasti
Kamoedian marika sampe di satoe djalan jang membelok ka kanan dan tida djaoeh dari marika terliat satoe bajangan jang lebih gelap dari itoe malem jang soenji. „Itoe ada pasanggrahannja
Hallinan", McGrath berkata seraja madjoe samperin.
Marika sekarang telah sampe di pintoenja itoe pasanggrahan jang paling depan, marika berdiam di sitoe sambil berpikir bagimana jang paling betoel marika doeloe berboeat. Mendadak itoe soeara kadengeran kombali dari seblah dalem roemah. Ini kali tioema sebagi orang menggroetoe. Sheriff McGrath berpaling pada pembantoenja, deketin iapoenja poendak sembari berbisik:
„Radio”
Selang bebrapa minuut marika djalan lebih djaoeh menoedioe ka satoe dijendela jang koetika didorong lanias terpentang kerna tida terkoentji. Marika masoek ka dalem dari itoe lobang djendela. Sheriff McGrath dan Nieri djalan preksa ka-ada’an pasanggrahan itoe jang tida ada kadapetan satoe manoesia, Sekoetika Jama marika berdoea berdiri sambil memandeng koeliling dengen napas tertahan. Apa jang terdenger melaenken ketak-ketik bandoelan lontjeng dan itoe soeara grendeng dari radio, jang dateng dari satoe podjokan dan satoe sinar koening ketjil kliatan di sitoe. Kombali McGrath bisikin kawannja:
„Njalahken battery”.
Satelah disoeloein ternjata itoe roewangan kosong sama sekali. Di itoe tempat podjokan bener ada kadapetan satoe toestel radio dengen lampoenja berwarna koening. Dengen tjepet dari sitoe McGrath menoedjoe ka pintoe belakang jang ia liat soedah terboeka, seperti baroesan sadja ada jang kloear dengen ambil dialan dari pintoe itoe.
Sheriff McGrath berpaling ka sana - sini, {{hws|ka|kamoedian}}<noinclude></noinclude>
1j83n7huqw06nlfygo2nz1rsryo86ti
Halaman:Auto setan.pdf/71
104
114166
314840
2026-08-19T12:37:43Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314840
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|134|||'''TJERITA ROMAN'''}}</noinclude>corps San Francisco jang soedah bakerdja dalem perkara jang begini soelit. Akoe pertjaja pendoedoek dari kota ini berasa sanget bertrima kasi bagi kaoe orang poenja pakerdja’an — marika beroentoeng pada kace semoea. Biarlah akoe harep marika hargaken kaoe poenja tenaga jang begitoe bergoena".
Sabelon orang boebaran, Hakim terseboet jang pegang prika-adilan sedjati oetjapken lagi sedikit perkata’an pada Doran:
„Bagimana nantinja ada kaoe poenja nasib penghidoepan itoe bergantoeng sama kaoe sendiri. Kaoe masih moeda, kaoe masih bisa perbaekin segala kaoe poenja tjatjat, asal maoe. Demikian ada akoe poenja nasehat jang paling achir, dan akoe rasa tjoekoep sabegitoe.
„Akoe oelangin apa jang itoe penjair Tennyson bilang: ‘Bahoea manoesia jang tersasar boekan tida bisa kombali ka djalanan bener, asal sadja ia maoe mentjari itoe’. Perhatikenlah itoe bebrapa perkata’an boeat kaoe”’.
Sampe di sini papreksa’an Justitie telah selesih dalem perkara pemboenoehan njonja Jessie, Kombali Hakim hatoerken banjak trima kasi atas djasa-djasanja Inspector Captain Dullea, Politie Chef Mr Quinn, jang soedah pimpin djalannja pengoesoetan sahingga memoeasken. Satoe pernjata’an oemoem seria hadia jang berharga dibriken pada itoe doea Kepala Politie oleh Publiek dan Pamerentah, idem sekalian staf pembantoeanja
{{larger|{{center|{{sp|'''TAMAT.'''}}}}}}
{{rule|width=5em}}
{{right|Apatah pembatja merasa tjoekoep <br/> poewas dengen „TJERITA ROMAN”}}
{{larger|{{bold|Maandblad}}}}
{{C|{{sp|{{xxx-larger|'''LIBERTY'''}}}}}}
{{bold|Ada soedara toewanja, jang saben kali <br/> soegoeken Tjerita-tjerita jang tida kala <br/> menariknja.}}
{{C|MINTAKLAH PROEFNUMMER}}
{{right|Adm. „Maandblad Liberty” <br/> & Tjerita Roman <br/> Post box 45 <br/> {{sp|SOERABAIA}}}}<noinclude></noinclude>
cexxhdjdrc0regceaahvwl2b9y2lnk4
Halaman:Auto setan.pdf/73
104
114167
314841
2026-08-19T12:45:52Z
Ammachemist
27288
/* Tanpa teks */
314841
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Ammachemist" /></noinclude><noinclude></noinclude>
kginar3ns9d2qnc9d4hpw8a58x8ah1i
Halaman:Auto setan.pdf/74
104
114168
314842
2026-08-19T12:46:10Z
Ammachemist
27288
/* Tanpa teks */
314842
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Ammachemist" /></noinclude><noinclude></noinclude>
kginar3ns9d2qnc9d4hpw8a58x8ah1i
Halaman:The Belle of Menado.pdf/16
104
114169
314845
2026-08-19T12:54:35Z
Arunika Darsana
27443
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '22 TJERITA ROMAN Boeat sakoetika lamanja Tjhiang-in bertoendoek, Pertama ia tida ingin ladeni, sebab itoe ada satoe perkara ed'an, tapi dasar ia sendi ri mengalir darah moedah, dan ia kwatir orang nanti ketawain dirinja, maka sembari bersenjoem oeroeng ia lantas berkata : "Saia tida tema ha dengen itoe hadia jang kau sediaken, dan djoega saia tida sajang kloearken itoe djoemblah tarohan ... .. . " " ........... . Tegesnja ,kau tida brani 1" m...
314845
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Arunika Darsana" /></noinclude>22
TJERITA ROMAN
Boeat sakoetika lamanja Tjhiang-in bertoendoek, Pertama ia tida ingin ladeni, sebab itoe ada satoe perkara
ed'an, tapi dasar ia sendi ri mengalir darah moedah, dan
ia kwatir orang nanti ketawain dirinja, maka sembari
bersenjoem oeroeng ia lantas berkata : "Saia tida tema ha dengen itoe hadia jang kau sediaken, dan djoega
saia tida sajang kloearken itoe djoemblah tarohan ... .. .
"
" ........... . Tegesnja ,kau tida brani 1" memotong
jang roepanja tambah dapet hati dari Tiong-
~oe-kway
sin.
"Kau ada terlaloe keboeroe napsoe, anak manis I"
mendjawab itoe anak moeda dari Sourabaya. "Saia
poenja pembitjara'an belon abis kau soeda bikin poetoes. Boekan sa ia ta koet, tjoema lebih doeloe saia ma oe
tegesken jang, kaloe saia maoe trima baek kau poenja
tawaran, boekan saia dasarken boeat itoe djoemblah
f 500.-, hanja saia dasarken atas sifatnja satoe lelalki
jang tida mandah boeat terpandeng pengetjoet."
"Djadi kau maoe trima baek 1" mendesk Koe-kway
den gen hati penasaran. Ia I:antas bikin itoe toelisan
djadi doea copies dan lantas sama-sama ditandain tangan dengen disaksiken oleh Tek-lok dan Hian-ling, sementara Tiong-sin tinggal liatin sama mendongkol dan
penasaran.
"Kapan saia boleh moelai 1" tanja Tjhiang-in, "Apa
saia moesti moela i sekarang 1"
Koe-kway tida bisa Jantas mendjawab hanja berparing pada Tiong-sin siapa lantas memberi tanda dengen
manggoetken kepala, jang kamoed ian Koe-kway berkata: "Kau boleh moela i ini malem, ini djam .. .. .... .".
Berbareng itoe sa'at soeara piano ada kadengeran
dengen pelahan. Semoea mata memandeng kadjoeroesan dalem dan dimana marika dapet liat itoe Ratoe
THE BELLE of MENADO
••
••
••
••
23
Kembang dari Menado maenken djari-djarinja jang ei- '
10k di atas itoe instrument ........ .. .. Tiong-sin ma soek
kadalem.
"Kau boleh moelai sekarêlng I" berseroe poel a Koekway.
"Itoelah tida atoeran," membela Tek-Iok, "ia toch
masih maen piano ............... "
" Maen of tida itoe ada diloear soerat perdjandjian '
jang ditekend .. ................ "
Selagi marika bereboet omong, Tjhiang-in sigra berdiri dan berkata : "Memang ini menute ada saia poenja tempo boeat penoeh ken apa jang saia soeda djandji, saia tida nanti lari boeat ini, my friends' , ia bertindak ma soek dengen moeka berseri, tapi tra oeroeng ia
merasa likat tatkala sampe diroewangan dalem, dari
mana, tida djaoe dari sitoe, ia liat njata bagimana
tjantik itoe roman, bagimana eilok itoe d'jari-djari jang
terhias dengen tjintjin brilliant dimoeka itoe piano. Ia
liat djoega Tiong-sin ada berd iri disitoe, tapi berlaga
tida tengok dirinja.
Tjhiang-in ada satoe anak moeda jang tida bisa menjerah sama hati ta'koet atawa sangsi, tjoema itoe roman
jang bükin ia sedikit bingoeng .......... .. ... Oh, itoe
roman jang djarang terdapet 1
la sigra angkat tindakannja lebih deket dan lebih
deket hingga tjoema tinggal terpisah 3 .meter dari
itoe nona jang terpoedja. Dan koetika ia masih belon
taoe perkata'an apa jang ia moesti oetjapken, itoe nona lantas berpaling dan itoe soeara piano mendadak
lantas terpoetoes .... .. ...... . Doea pasang sorot mata
saling beradoe, saling memandeng .. . ".". tapi satoe
'sama laen membawa arti jang bertentangan .. .. , .. .. , ..
' Itoe soeara piano jang brenti dengen mendadak te J ,<noinclude></noinclude>
l2mhx7w6l8xo1rvw92nu3g3tavky3s9
Halaman:The Belle of Menado.pdf/17
104
114170
314846
2026-08-19T12:54:49Z
Arunika Darsana
27443
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '2t TJERITA ROMAN THE BELLE of MENADO lah bi'kin semoea tetamoe memandeng ka itoe djoeroesan dengen moto menanjo ., ' .. " ..... ". 111 JHIANG - IN tida bisa omong, gorokannjo di rosaT ken seperti tertahan oleh sorotnjo itoe mata jan 91 terang dan gesit, tapi djoestroe ia dalem keada'an begitoe, itoe nona lantas baliken poelah bodannja dan hendak moela i poelah sama itoe lagoe jang baroe di~ainken kapan Tj'hiang-in soeda memboeroe disampingnl...
314846
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Arunika Darsana" /></noinclude>2t
TJERITA ROMAN
THE BELLE of MENADO
lah bi'kin semoea tetamoe memandeng ka itoe djoeroesan dengen moto menanjo ., ' .. " ..... ".
111
JHIANG - IN tida bisa omong, gorokannjo di rosaT
ken seperti tertahan oleh sorotnjo itoe mata jan 91
terang dan gesit, tapi djoestroe ia dalem keada'an
begitoe, itoe nona lantas baliken poelah bodannja dan
hendak moela i poelah sama itoe lagoe jang baroe di~ainken kapan Tj'hiang-in soeda memboeroe disampingnla sembori berkata: "Kau mainken itoelagoeh ada
terlaloe pelohan, kaloe sedikit keras, tentoe ~asi soeara
lebih merdoe .. :.. .. .... ,"
Liang-nio menengok kablakang, tapi romannja mengoendjoeken tida seneng, dan zonder menjaoet ia
lantas berdiri dan tinggalken itoe anak moeda send irian.
Soeara ketawa dari Koe-kway ada kadengeran diloear, sementara Tiong-sin mesem dengen kagirangan.
Dalem itoe roewangan orang saling berbisik dengen
membilang iang itoe tetamoe dari SOl:Jrabaya soeda
bikin marah itoe Ratoe Kembang Menado.
Tjhiang-in tida perdoelilken itoe semoea. Ia ambil
itoe boekoe note dan preksa isinja. Kamoedian ia
broentoeng dapet pili satoe lagoeh : "T0 The Rose of
My Heart". Kombal i itoe roewangan jang berisik
sama soearania orang jang berbisik lantas terganti
dengen itoe lagoeh jang moeloe,k, aloes dan merdoe.
Koe-kway djadi melongo, sementara Tiong-sin merasa irih hati dan penasaran. Liang-nio, jang itoe waktoe
ada berdiri sedikit djaoeh, djadi kesima tatkala itoe
lagoeh jang dipoekoel kasi soeara begitoe rOElpa, tepi
iapoenja mata tida memandeng dimana Tjhiang-in ada.
,
.
.. ..
.'.
••
25
berdoedoek hanja menengok kalain djoeroesan. Tiongsin hampirin padanja dan berkato:
"Ma'afken itoe satoe tetomoe jMg tido taoe adot.
Soia harep kau sekorang so9<a main lagi, sa ia nanti
oesir padanja .......... .. "
" ...... ... .. . Oh, djangan, ia sepoeloe koli lebih panda dari saia t " djawabnja dengan soeara lemah, "Iaginja saia tida ada ingetan boeat main ,kombali .. .. .. "
"Tapi bagimana djoega saia maoe anggep ia ada
satoe orang jang tida poenja atoeran," berkata poelah
itoe poetra ,hartawan. "Sabetoelnja ia boe kan anak
disini, ia" anak dari Sourabaya dan maoe main oe galoegalan.
"Kau moesti ma'afken padanja, ia toch bantoe ramehken ini pesta," berkata itoe nona sambil bersenjoem.
"Tapi saia koerang seneng kaloe lain orang lakoe'ken
kau koerang sopan, apalagi ia boekan djadi kau atawa
saia poenja sobat ............ "
"Abis, siapa jang oendang ia kemari?"
"Ajah. Ia ada sobat dari ajah berhoeboeng oeroesan
dagang."
Kapan itoe pembitjara'an sampe disitoe, itoe lagoeh
jang dimainken sampe dibagian " ... .. .. .. ... I gave my
love into your keeping; dear Rose .. .. .... ." = Saia
briken tjintakoe dalem kau poenja pamelihara'an,
Boengah.
Tida lama itoe note sampe dipaling achir, tepok
tangan ada terdenger rioe teroetama Hian-ling dan
Tek-Iok, lantaran sangking girangnja,sampe bikin djato
doea glas jang isihnja menimpah pangkoeannja Koekway dan siapa itoe waktoe sedeng merengoet.
"Dimana okau poenja mata?" ia menegor.<noinclude></noinclude>
hx6iz3ifx004lkcn1f5ottxuacj124v
Halaman:Auto setan.pdf/7
104
114171
314848
2026-08-19T14:23:51Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314848
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|8|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||9}}</noinclude>Itoe sepasang soeami - istri moeda tinggal di wijk Kenwood Way dalem bilangan Mount Davindson Manor, satoe bagian dari San Francisco jang tjantik. Wijk tempat kadiaman marika adalah satoe wijk baroe dari kota San Francisco, dengen segala apanja terbikin serba bagoes, modern, baek iapoenja straat-straat, park-park, atawa villa-villa di sitoe jang disertain kebon - kebon indah berikoet bebrapa Lawn Tennis Court sekali. Sasoenggoehnja dalem wijk baroe itoe sanget menarik pikiran, melegahken pemandengan, menghiboerken otak jang jjape sa-abis poelang kerdja.
Oewap halimoen dari lacetan Pacific sering kali menioep dengen santer di atasnja Mount Davidson Manor itoe, tapi djoestroe pada maleman terseboet sang halimoen ada tipis dan melajang di antara mega - mega jang tinggi. Tapi hawanja ada dingin sebagimana biasa saben permoela'an moesim Winter. Tida disangka, tida dinjana, kaada’an oedara jang begitoe djernih achirnja terdjadi apa-apa jang sanget mengagetken — mengedjoetken antero San Francisco !
Dengen enak toean serta njonja Louw berdjalan teroes di mana garisan pinggir sambil dikipasin oleh angin pasisir jang menjegerken. Tiba-tiba satoe automobiel liwatken ia orang. Kamoedian itoe automobiel balik meliwatin poela dan kombali begitoe lagi. Mr. Louw ada saorang jang mengarti baek tentang automobiel, ia ada satoe mechanic, maka dengen lantas ia bisa taoe auto bagimana matjem itoe jang bebrapa kali meliwatin padanja. Ia sigra taoe bahoea automobiel itoe ada satoe Lincoln-phaeton dengen memake satoe spotlight (lentera penjoeloe) di atas iapoenja radiator. {{hws|Kom|Kombali}}
{{hwe|bali|Kombali}} belon selang bebrapa minuut itoe auto liwatin poela Mr. & Mrs. Louw boeat ka-ampat kalinja hingga maoe atawa tida Mr. Louw djadi tjoeriga sambil pasang mata betoel-betoel boeat kenalin. pengandarnja.
„Soenggoeh akoe heran apa maksoednja si pengandar auto beroelang-oelang seperti mengoentit kita, berpoeter - poeter di sini sadja?” menggrendeng ia pada sang istri.
Baroe sadja abis ia mengoetjap laloe koenjoeng-koenjoeng spotlight jang berada di atasnja radiator dikasih menjalah terang, menjoroiken kean-kemari dengen sanget membikin silo orang poenja mata. Berbareng mana itoe Lincoln-phaeton dilatiken dengen full speed, dengen pesat sekali roen ka satoe djalanan moedoen dan sigra linjap seperti setan dari pemandengan Mr. dan Mrs.Louw.
Teroes toean serta njonja Louw landjoetken marika poenja perdjalanan aken poelang ka roemah. Tatkala itoe marika tinggal kira-kira 200 kaki lagi sampe di roemahnia jang terletak di No. 129 Kenwood Way. Belon djalan sapoeloeh langka lebih djaoeh tiba - tiba njonja Louw satjara goegoep pegang tangan soeaminja, iapoenja napas sengal-sengal. Ia bertreak: „Apa itoe jang menggletak di pinggir strat seblah sana?
Mr. Louw samperin boeat meliat lebih terliti. „Toenggoe:sabentar”, ia berkata sambil tinggalken sang istri.
Di pinggir djalan kadapetan menggletak badannja saorang prempoean dengen tengkoerep, samentara iapoenja kadoea tangan melondjor lempeng. Lantas toean Louw ambil iapoenja {{hws|korek|korekapi}}<noinclude></noinclude>
g61i8twd2i09ypn9rvc7pm7hqlg7jq8
Halaman:Auto setan.pdf/8
104
114172
314849
2026-08-19T14:29:22Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314849
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>{{hwe|api|korekapi}}, ia soeloein moekanja itoe badan manoesia satelah ia tjelentangken dengen ati-ati.
Hola! Ia ada satoe prempoean toea, iapoenja aermoeka kliatan sanget sympathiek serta ramboetnja soedah poetih semoea, beramboet pendek, dan ia berpakean japon dari wool warna merah moeda jang tebel. Moekanja soedah djadi kotor sama aboe atawa laen barang dan berlepotan darah. Iapoenja toeboeh dirasaken dingin sekali.
Soedah tentoe Mr. Louw djadi kliwat kaget menampak itoe pemandengan jang ngeri. Ia masoekin poela iapoenja doos korek-api ka dalem sakoe. Ia mengawasin ka sana-sini tapi tida terdape laen manoesia. Dengen moeka poetjet, napas memboeroe ia bertreak:
„Katjilaka’an | Ia soedah lindes mati orang dan lari!!"
{{Asterism}}
Besok_paginja koetika Captain Inspector Charles W. Dullea dateng di iapoenja kantoor dalem Hall of Justice di Kearny Street. Dengen lantas iapoenja mata djadi katarik pada salembar soerat-kabar pagi, kerna di hoofdpagina lembaran ka-satoe dengen letter-letter besar ada dipasang kalimat tentang katjilaka'an auto dari saorang prempoean toea jang tida terkenal, jang kadapetan di pinggir straat. Sa-abis membatja pekabaran itoe, tida lama doea orang politie poen masoek serahken padanja satoe rapport pri-hal itoe korban serta penoeloeran dari Mr. Warren Louw, siapa katemoeken sang korban paling pertama lagi samalem dan dari ia djoega politie irima pengadoean.
Menoeroet boenjinja rapport terseboet ada menoetoerken bahoea si porean ada satoe prempoean jang berbadan sedeng, iapoenja gigi atas dan bawah memaké slongsong mas dan di mana salah satoe djari dari tangan kiri apa paké satoe tjintjin kawin model koeno. Bagian dalem dari tjintjin kawin itoe tertoelis bebrapa perkata’an seperti begini: „Dari Joe boeat Jessie’. Lebih djaoeh dalem itoe rapport ditoelis bahoea itoe Automobiel-Setan telah liwatin sampe ampat kali pada toean dan njonja Warren Louw, dan kamoedian dengen tjepet mengilang; kapan badannja korban itoe didapetken semoea soedah djadi dingin dengen tida bernapas poela.
Satelah selesih perhatiken itoe rapport dan laen katerangan jang berhoeboeng dengen itoe korban dari Automobiel-Setan, lantas inggalken kantoor, bertindak tjepet menoedjoe ka satoe djalanan dari itoe gedong jang besar aken pergi ka roewangan dari kantoor hoofdkwartier politie. Boeat sampeken itoe kwartier politie jang terletak di seblah bawah ia moesti goenaken lift (tangga electrisch), jang telah bawak ia dengen tjepet ka sitoe dalem bebrapa seconde sadja.
Iapoenja paras tertampak sanget bersoenggoeh, ja tida perdoeliken bebrapa orang jang berpapasan padanja poenja pertanja‘an - pertanja'an biasa, itoe mengoendjoek bahoea iapoenja antero pikiran katarik sanget keras sama itoe perkara pemboenoehan gelap jang loear biasa ka-ada'annja.
Terdjadinja itoe perkara djiwa sabetoelnja Inspector Dullea telah dikabarken dengen ringkes lagi tadi malem, bebrapa diam berselang sedari Mr. Louw katemoeken mait itoe. Tapi dengen begitoe<noinclude></noinclude>
goeae7teanbettbd16x17q5to2er6c5
314850
314849
2026-08-19T14:29:54Z
Ammachemist
27288
314850
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|10|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||11}}</noinclude>{{hwe|api|korekapi}}, ia soeloein moekanja itoe badan manoesia satelah ia tjelentangken dengen ati-ati.
Hola! Ia ada satoe prempoean toea, iapoenja aermoeka kliatan sanget sympathiek serta ramboetnja soedah poetih semoea, beramboet pendek, dan ia berpakean japon dari wool warna merah moeda jang tebel. Moekanja soedah djadi kotor sama aboe atawa laen barang dan berlepotan darah. Iapoenja toeboeh dirasaken dingin sekali.
Soedah tentoe Mr. Louw djadi kliwat kaget menampak itoe pemandengan jang ngeri. Ia masoekin poela iapoenja doos korek-api ka dalem sakoe. Ia mengawasin ka sana-sini tapi tida terdape laen manoesia. Dengen moeka poetjet, napas memboeroe ia bertreak:
„Katjilaka’an | Ia soedah lindes mati orang dan lari!!"
{{Asterism}}
Besok_paginja koetika Captain Inspector Charles W. Dullea dateng di iapoenja kantoor dalem Hall of Justice di Kearny Street. Dengen lantas iapoenja mata djadi katarik pada salembar soerat-kabar pagi, kerna di hoofdpagina lembaran ka-satoe dengen letter-letter besar ada dipasang kalimat tentang katjilaka'an auto dari saorang prempoean toea jang tida terkenal, jang kadapetan di pinggir straat. Sa-abis membatja pekabaran itoe, tida lama doea orang politie poen masoek serahken padanja satoe rapport pri-hal itoe korban serta penoeloeran dari Mr. Warren Louw, siapa katemoeken sang korban paling pertama lagi samalem dan dari ia djoega politie irima pengadoean.
Menoeroet boenjinja rapport terseboet ada menoetoerken bahoea si porean ada satoe prempoean jang berbadan sedeng, iapoenja gigi atas dan bawah memaké slongsong mas dan di mana salah satoe djari dari tangan kiri apa paké satoe tjintjin kawin model koeno. Bagian dalem dari tjintjin kawin itoe tertoelis bebrapa perkata’an seperti begini: „Dari Joe boeat Jessie’. Lebih djaoeh dalem itoe rapport ditoelis bahoea itoe Automobiel-Setan telah liwatin sampe ampat kali pada toean dan njonja Warren Louw, dan kamoedian dengen tjepet mengilang; kapan badannja korban itoe didapetken semoea soedah djadi dingin dengen tida bernapas poela.
Satelah selesih perhatiken itoe rapport dan laen katerangan jang berhoeboeng dengen itoe korban dari Automobiel-Setan, lantas inggalken kantoor, bertindak tjepet menoedjoe ka satoe djalanan dari itoe gedong jang besar aken pergi ka roewangan dari kantoor hoofdkwartier politie. Boeat sampeken itoe kwartier politie jang terletak di seblah bawah ia moesti goenaken lift (tangga electrisch), jang telah bawak ia dengen tjepet ka sitoe dalem bebrapa seconde sadja.
Iapoenja paras tertampak sanget bersoenggoeh, ja tida perdoeliken bebrapa orang jang berpapasan padanja poenja pertanja‘an - pertanja'an biasa, itoe mengoendjoek bahoea iapoenja antero pikiran katarik sanget keras sama itoe perkara pemboenoehan gelap jang loear biasa ka-ada'annja.
Terdjadinja itoe perkara djiwa sabetoelnja Inspector Dullea telah dikabarken dengen ringkes lagi tadi malem, bebrapa diam berselang sedari Mr. Louw katemoeken mait itoe. Tapi dengen begitoe<noinclude></noinclude>
t1v0a5c0f5hbge6wuoys8uifa46o1ia
Halaman:Auto setan.pdf/9
104
114173
314851
2026-08-19T14:40:07Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314851
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|12|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||13}}</noinclude>mendadak ia tida dapet kasempetan aken memereksa dengen tjoekoep, dan jang paling teroetama itoe malem djoega per telefon dan radio-cars soedah dikloearken titah pada sa-antero corps politie dan detectives aken tjari atawa bekoek kaloe dapet liat satoe Lincoln-phaeton automobiel dengen spotlight di radiator sebagimana diliat oleh Mr. Louw.
Sesampenja Inspector Dullea di itoe Kwartier politie dengen lantas ia moelain lakoeken segala kawadjibannja. Mait dari itoe korban kliatan diletakin dalem kamar speciaal dari itoe politie kwartier, di atas mana ditoetoepin oleh salembar kaen selimoet,
Ia samperin itoe mait jang soedah kakoe. Ia boeka toetoepan moekanja dan bagian - bagian anggota jang ia ingin preksa. Dengen matanja jang tadjem ia menilik betoel-betoel apa-apa jang perloe. Mendadak selagi ia memereksa dengen penoeh perhatian iapoenja tangan ia toeroenken ka bawah sambil golengken kepala jang menandaken ia sedeng hadepin satoe soeal soel jang soeker dipertjajaken. Sakoetika lama ia peloek tangan, mengawasin badannja itoe korban jang soedah djadi mait, saolah-olah ia lagi pasang concentratie keras aken tjara bagimana ia haroes mengoesoet agar pemboencehnja jang ternjata sanget litjin bisa satjepetnja dapet dibekoek.
Kapan ia asik memikirin soeal jang berada di depan matanja, dengen lantas itoe pintoe tertolak dari loear. Saorang tinggi besar sambil menengteng koffer laloe berdiri di hadepannja dan ia ada Dr. Adolphus Berger, dokter specialist politie jang ternama. Dengen lekas Dr. itoe djalanken iapoenja
kawadjiban aken preksa ka-ada’an si korban sambil disaksiken oleh kita poenja Inspector.
„Apa jang kaoe dapetken, Dokter?” Inspector Dullea menanjak kamoedian.
„Ia soedah terboenoeh mati”, saoet sang dokter sembari awasin badannja itoe prempoean dengen bidji matanja jang berwarna aboe - aboe. „Kaoe taoe, ini prempoean poenja kamatian menoeroet pendapetankoe lantaran terlindes oleh roda kandaran jang berat jang giles bagian dadahnja serta bagian bawah peroet. Di iapoenja atas poendak kiri terdapet tanda-tanda merah seperti tergosok oleh barang keras atawa satoe pergoeletan sengit dari tangan jang koeat jang menjebabken tanda-tanda itoe. Lebih djaoeh bisa dipastiken tatkala ia tergiles oleh itoe roda kandaran ia sedeng tjelentag dan berada di atas tempat jang rata bagian belakangnja. Samentara itoe loeka-loeka beset di moekanja tida salah lagi lantaran tjangkreman jang keras — dan itoe loeka - loeka di atas toelang djanggoet seblah kanan sampe di atasan mata kanan ada terlebih heibat poela roepanja”.
„Ja, akoe poen accoord dengen kace poenja katerangan”, djawab Inspector Dullea dengen tjepet. „Tapi itoe loeka di bagian mata dari djanggoet kanan ada jang paling heibat. Tjoba kaoe njataken padakoe loeka-loeka demikian dari apakah lantarannja jang paling bisa djadi?”
Sakean lama itoe dokter berdiam dan saben-saben mengawasin pada Inspector Dullea seperti ia ingin akoerken satoe sama laen poenja pendapetan apa tjotjok atawa tida, dan ia orang sama- {{hws|sa|sama}}<noinclude></noinclude>
qowu8ow0vfwhj3f3vf8w8t87hlccl0i
Halaman:Auto setan.pdf/10
104
114174
314852
2026-08-19T21:17:40Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314852
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|14|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||15}}</noinclude>{{hwe|ma|sama}} ada teritoeng experts politie dalem perkara-perkara pemboenoehan soelit.
„Tanda - tanda loeka itoe”, saoet Dr. Berger dengen pelahan, „moesti disebabken dari poekoelan dengen kepelan jang keras”.
„Bener sekali!” menetepken Dulles. „Begitoepoen ada doega’ankoe satelah pertama kali akoe meliat sang korban. Djika ia sawadjarnja lagi djalan di straat dan diseroedoek atuomobiel hingga djatoh tjelentang itoe loeka di bagian moeka aken laen sifatnja, tida seperti begini. Betoelkah?”
Dr. Berger manggoetken kepala. „Ja, akoe tetepken kaoe poenja pendapetan”, ia menjaoet kamoedian.
Sasoedah bitjara selesih sama itoe dokter laloe Inspector Dullea toetoepin poela sang mait dengen selimoet tadi. „Biarlah akoe preksa sekarang kaada’annja iapoenja pakean”, ia berkata dan sigra djalan kloear.
Bersama-sama marika masoek ka laen kamar, di mana pakean si korban telah dibeber di atas satoe medja poetih. Paling doeloe Inspector Dullea ambil doea bidji kaos kaki dari soetra; ia tilik itoe di tempat terang, liat sasoeatoe bagiannja satjara tertip. Itoe kaos kaki soetra ternjata soedah djadi letjek dan di bebrapa tempat kadapetan’ petjah-petjah seperti bekas kenah tergosok-gosok. Djoega iapoenja sapasang sepatoe di bagian oedjoengnja terdapet tanda-tanda jang njata bekas kabentoer apa-apa, seperti bekas bentrokan-bentrokan jang terdjadi sebab tendangan beroelang - oelang. Kamoedian Inspector Dullea preksa badjoe kaos soetra warna koening toea dan japon dari si korban dengen kleur merah moeda.
Badjoe kaos itoe tinggal bersi ka-ada’annja, tida mengoendjoek tanda-tanda dari bekas gilesan band auto. Tapi tanda-tanda item kentara sekali bisa diliat terdapet di mana itoe japon merah moeda. Itoe tanda-tanda bekas band mobiel kaliatan tjoekoep teges jang meliwatin dari bagian dadah sampe di bagian bawah peroet dari japon. Itoe, hingga orang bisa bajangken tjara bagimana itoe korban kagiling dengen roda auto.
Sepandjang bikin papreksa’an pada sang korban poenja potongan-potongan pakean, Inspector Dullea poenja sinar mata saben-saben berobah, sabentar iapoenja roman ada kalm dan sabentar ia kliatan serious memahamken itoe tragedy jang kedjem. Koetika Dr. Berger poenja kawadjiban soedah klaar dan aken tinggalken itoe kamar, Inspector Dullea laloe hatoerken trima kasi.
„Bagimana kaoe poenja pikiran dalem ini perkara, sir?” tiba-tiba itoe dokter menanjak sabelon ia bertindak kloear pintoe.
„Akoe belon bisa bilang apa-apa sekarang, jang ini perkara ada soelit itoelah haroes diakoeh”, ia kasi penjacetan dan laloe masing - masing berpisahan.
Dengen tjepet Inspector Dullea balik kombali ka iapoenja kantoor. Ia sigra angkat handle telefoon boeat bitjara Francis X. Latulipe, Jr., satoe criminologist, achli dalem hal kadjahatan, dari kota San Francisco jang terkenal katjakepannja.
„Frank’’, Inspector Dullea bitjara, ,,akoe telah titahken boeat sampeken padamoe bebrapa potong pakean kapoenja'an itoe korban saorang prempoean toea jang kadapetan terboenoeh mati di Kenwood Way tadi malem. Di atas itoe japon<noinclude></noinclude>
hju7z4hcmyi2s537al3ktdpuapdb93n
Halaman:Auto setan.pdf/11
104
114175
314853
2026-08-19T21:25:29Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314853
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|16|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||17}}</noinclude>warna merah moeda terdapet tanda-tanda jang njata seperti bekes gilingan band mobiel jang meneken keras. Nanti toeloenglah kaoe bikinken foto jang soedah dibesarin dari itoe tanda-tanda, kita perloe sekali boeat oesoet ini perkara gelap. Dan lebih djaoeh harep kaoe preksa ka-adaan segala bagian dari itoe pakean — kaloe-kaloe ada kadapetan laen-laen tanda jang penting".
{{di|I}}NSPECTOR DULLEA lantas tjangelken poela di tempatnja itoe handle telefoon, tangannja merogo ka dalem sakoe badjoe dari mana ia ambil satoe sigaret jang ia sigra soeloet. Ia sedot itoe batang sigaret beroelang - oelang sambil mengeboelken asep jang poetih moeloek naek ka atas iapoenja kepala. la tinggal bengong sakoetika lama dengen awasin itoe goeloengan asep, sedeng bebrapa orang jang bekerdja di depannja sa-aken aken ia tida liat kerna iapoenja antero pikiran sedeng ditoedjoeken sama. perkara jang ia oeroes. Sampe bebrapa minuut ia tida bergerak, ia tinggal tetep laksana patoeng serta matanja poen zonder berkesip: ia sedeng ngelamoen pada itoe pemandengan dalem kamar papreksa’an di hoofdkwartier politie tadi dengen banjak pertanja’an dalem iapoenja otak: „Siapakah jang soedah memboenoeh mati pada itoe njonja toea jang berparas sabar — dan apakah sebabnja?”
Sakoenjoeng - koenjoeng ia dibikin terkedjoet satoe ketokan pintoe terdenger dari loear. Koetika ia boekain laloe masoek saoreng lelaki degen ramboet kriting, tinggi diangkoeng, berparas keren dan berpakean djas kleur aboe-aboe berdjoempah padanja. Ia boekan len orang hanja
ada Inspector Allen McGinn, pemimpin kepala dari dienst penjelidikan boeat perkara pemboenoehan. Di belakang ia mengikoetin Louis Linss, satoe detective sebagi pembantoe jang terseboet doedoean
„Soedahkah kaoe preksa maitnja itoe korban?” McGinn tiba-tiba madjoeken pertaja‘an.
„Soedah, Akoe soedah preksa dengen terliti dan djoega itoe bebrapa potong pakean. Dan akoe telah mempoenjain kapastian tentang itoe Korban. Ia boekannja dapet katjilaka’an auto se‘bagimana roepanja itoe pemboenoeh hendak klaboein politie dengen sengadja giles badannja itoe njonja toea”.
„Djadi boekan katjilaka’an biasa?”
„Ja, itoe ada pemboenoehan jang dipikir mateng lebih doeloe”
Lebih djaoeh Inspector itoe toetoerken apa-apa dengen soeara pelahan jang didengerin oleh McGinn dan Linns dengen perhatian. Perkata’an-perkata'an demikian soedah sering terdenger di sakiter itoe tembokan kamar dan boekan perkara baroe lagi. Satelah Inspector Dullea abis bitjara keliatan McGinn mangoetken kepala sambil berkata:
„Akoe berdoea Linss poen berpendapetan ampir saroepa dengen kaoe, tatkala kita saksiken pemandengan di mana itoe kadjahatan terdjadi. Samalem dengen lantas kita pergi tengok tempat terseboet, katemoeken toean Warren Louw, dan laen-laen tetangga jang tinggal di itoe wijk boeat diminta ia orang satoe per satoe poenja katerangan apa jang ia orang taoe. Tapi tida satoe orang jang tinggal berdampingan deket sitoe ada<noinclude></noinclude>
aifm2vtwsog612u8nb21jffeg4re0jo
Halaman:Auto setan.pdf/12
104
114176
314854
2026-08-20T00:23:53Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314854
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|18|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||19}}</noinclude>dapet denger treakan atawa laen. Dijoega tida saorang jang dapet denger soeara bentoeran, petjahan glas enz. Di tempat di mana itoe korban menggletak tida kadapetan sapotong barang, baek gan petjahan glas atawa laen-laen boekti. Tegesnja di antero straat di mana itoe automobiel liwat tida ada tanda-tanda sama sekali jang boleh dipoengoet.
„Meliat ka-ada’an di straat dan sang korban ada demikian roepa, maka boekan moestail bisa didoejang itoe njonja dibikin tida berdaja di laen tempat dan kamoedian orang bawak padanja ka sitoe dan dilemparken. Jang paling aneh tida ada saorang kenal sama itoe njonja di sakiter tempat terseboet, dan lagi memang sanget tida masoek di akal saorang toea dalem hawa oedara begitoe dingin maoe kloear di djalan zonder ada keperloeannja.
„Apa itoe ada satoe taktiek pemboenoehan atawa betoel satoe penoebroekan auto jang terdjadi di laen tempat dan sang korban kamoedian di bawak ka sitoe dan di lempar dari dalem automobiel — soenggoeh bisa membikin orang djadi sangsi boeat mendoega”’
Denger oetjapan paling belakang Inspector Dullea gojang-gojangken kepalanja dengen roepa jang soenggoeh.
„Tentang penoebroekan auto sama sekali tida bisa djadi, itoe theorie soedah njata moestail” ia tetepken dengen soeara pasti. „Djika bener itoe njonja katoebroek auto iapoenja loeka-loeka di bagian kepala dan moeka aken djadi laen sifatnja. Bilah auto jang bentoer padanja itoe loeka aken terpetjah lebih besar serta otaknja moesti tergerak heibat.
„Dan lagi ada laen boekti jang mengoendjoek doega’ankoe beralesan. lapoenja japon merah moeda di bagian dadah terdapet tanda-tanda bekas band outo, tapi anehnja iapoenja badjoe kaos pendek soetra jang ia pake di seblah loear sekali tida ada nodahnja soeatoe apa. Dengen begitoe djadi masoek di akal kaloe kita tetepken bahoea itoe '''badjoe kaos baroe dipakein di badannja satelah ia diboenoeh mati”.'''
{{di|I}}NSPECTOR McGINN dan detective Linss dengerin dengen penoeh memikir apa jang itoe Inspector Dullea toetoerken, dan lambat-lacen marika poenja pikiran mace pertjaja bahoea pembilangannja Dullea sanget boleh djadi. Kombali tiba-tiba Inspector Dullea mengoetjap boeat landjoetken poela iapoenja theorie terhadep itoe tragedy jang loear biasa:
„Tida bisa salah lagi jang itoe ada soeal pemboenoehan; malah satoe pemboenoehan jang soedah diatoer plannja lebih doeloe oleh toekang-toekang jang tjerdik dan oeloeng. Marika sengadja maoe bikin boeat klaboein politie soepaja kaliatannja sebagi terdjadi katjialaka’an auto biasa. Sekarang kita poenja kerdja’an jang teroetama boeat tjari taoe siapa adanja itoe njonja toea jang mendjadi korban. Kadoea, moesti kita dapetin itoe automobiel Lincoln-phaeton sebagimana telah diliat oleh toean Louw lagi samalem. itoe automobiel perloe didapetin kerna dalem sitoe terletak koentjinja ini resia”’.
Baroe sadja Inspector Dullea abis berkata sigra terdenger soeara orang di seblah loear kamar<noinclude></noinclude>
r2gsnps6r35pu198xpjizrqmvwwjera
Halaman:Auto setan.pdf/13
104
114177
314855
2026-08-20T00:45:35Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314855
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|20|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||21}}</noinclude>itoe. Kamoedian itoe pintoe terboeka, satoe detective masoek ka dalem.
„Di loear ada dateng satoe orang boeat katemoein kaoe, Captain. lapoenja nama Kane. Ia rasa jang ia bisa kenalin siapa adanja itoe orang prempoean jang binasa kagiling auto tadi malem”, menerangin itoe detective pada iapoenja chef.
„Titaken ia masoek", saoet Dullea sambil berdiri.
Dengen tjepet itoe tetamoe masoek ka dalem kantoornja Inspector Dullea sambil membawak lembaran courant pagi. Ia soedah beroesia satengah toea dan berpakean djas biroe moeda.
„Apa kaoe Captain Inspector Dullea?” ia menanjak dengen lantas. „Akoe baroesan membatja di ini courant pri-hal terdjadinja itoe katjilaka‘an auto samalem. Menoeroet ini courant ada dibilang tanda jang bisa diterangin tentang itoe korban antara laen terdapet satoe tjintjin kawin mas dengen dalemnja tertoelis: ‘Dari Joe boeat Jessie'.”
Inspector Dullea memanggoet. „Betoel, itoe warta ada bener”.
„Well" Mr. Kane meneroesin, „akoe bisa doega pasti bilah begitoe nama terseboet moesti ada Mrs. (njonja) Jessie Scott Hughes. Soeaminja poenja nama memang adalah Joe. Akoe kenal lama sama njonja toea itoe dengen baek sekali. Iapoenja soeami, Mr. Joe, soedah meninggal doenia. Doeloe, njonja Jessie pernah kasih oendjoek itoe tjintjin kawin pada istrikoe dan akoe sendiri jang dalemnja akoe masih inget tertoelis itoe bebrapa perkata'an”.
Mendenger katerangan Mr. Kane lantas Inspector Dullea titahken pada Inspector McGinn sambil
memesen: „Adjak Mr. Kane toeroen ka bawah boeat kenalin maitnja itoe njonja, kamoedian anter kombali ka sini boeat ditanjak lebih djaoeh”.
Koetika itoe tetamoe bertindak kloear Dullea awasin padanja.
„Hughes”, ia berkata sendirian dan ia seperti perna denger itoe nama diseboet orang ia loepa oleh siapa dan kapan. Ia berbangkit dan djalan menoedjoe ka lobang djendela, di mana ia pandeng ka-ada'an di Portsmouth Square dengen pikiran melajang djaoeh. Tiba-tiba ia kombali doedoek di iapoenja krosi tempat kerdja dan ambil boekoe telefoon. Ia boeka boekoe itoe di bagian hoeroef. H. aken tjari nama terseboet. Tida lama ia toetoep poela
Mr. Kane dan itoe doea detectives soedah balik kombali satelah saksiken maitnja itoe njonja toea jang terbinasa satjara memiloeken hati.
„Betoel, tida salah ia ada njonja Jessie Scott Hughes”, berkata Kane pada Inspector Dullea. Itoe tetamoe poenja paras moeka tertampak berdoeka.
„Tida kliroe, toean?” menegesin Inspector Dullea
„Tida, akoe brani pastiken betoel!’” saoet Mr. Kane sambil boeka iapoenja topi vilt dan goeloeng itoe. „Iapoenja roemah ada di Lakewood Avenue nummer — tjoba akoe permisie liat ......"
„Nummer ampatpoeloeh satoe”, saoet Dullea koenjoeng - koenjoeng.
„Bagimana kaoe taoe itoe?” Mr. Kane menanjak dengen heran.
Dullea bersenjoem. „Akoe soedah preksa boekoe telefoon selagi kaoe toeroen ka bawah”, ia menerangken. „Toean, sekarang baeklah tjeritaken<noinclude></noinclude>
d8ixjoltd4nft1bhxaokd5yb94m7cc1
Halaman:Auto setan.pdf/14
104
114178
314856
2026-08-20T00:52:43Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314856
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|22|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||23}}</noinclude>segala apa padakoe apa jang kaoe taoe tentang itoe njonja jang bertjilaka”’
„Well, itoe tempat di mana iapoenja badan terletak tjoema terpisa sedikit djaoeh bebrapa derekan roemah dari iapoenja tempat tinggal. Njonja Jessie ada saorang prempoean jang manis boedi, dan ia ada mempoenjain sadjoemblah oewang simpenan jang loemajan djoega serta itoe villa jang indah ada poenjanja sendiri. Tapi sajang njonja itoe ada poenjaken penjakit zenuw jang terkadang ganggoe iapoenja penghidoepan jang soenji dan sadjek ia djadi djanda ia tinggal sendirian dalem gedongnja jang loeas itoe. Ia ada mempoenjain satoe soedara lelaki nama Ambrose Scott, tinggal di oedikan, kaloe tida salah di Rio Vista”.
„Kaoe bilang njonja Jessie tinggal sendirian, Apakah dalem itoe roemah tida dipiara boedjang-boedjang?” menanjak Inspector Dullea dengen gegetoen.
„Oh, boedjang - boedjang itoelah ada, masa ia moesti oeroes segala apa sendirian sadja”, djawab Mr. Kane sambil bersenjoem
Sampe di sitoe pembitjara'an antara Mr. Kane dan Inspector Dullea telah berachir. Kamoedian ia pangil satoe klerk boeat kirim satoe soerat panggilan per telegram pada Abrose Scott, soedara lelaki dari njonja Jessie. Beres atoer apa jang perloe laloe Inspector Dullea ambil iapoenja topi dan overcoat kerna ia hendak kloear. Pada Mr. Kane ia kasi tangan sembari oetjapken banjak trimakasi boeat iapoenja bantoean mengasi katerangan.
„Mr. McGinn dan Linss”, berkata Inspector Dullea sambil pake topinja, „marilah kita pergi {{hws|ka|kaloear}}
{{hwe|loear|kaloear}} bersama-sama”.
Dengen tjepet ia orang bertiga toeroen dari itoe gedong jang tinggi dari Hall of Justice dan sesampenja di bawah ia orang naek ka dalem satoe auto politie. la orang bertiga ambil tempat doedoek di bangkoe belakang, itoe auto distuur oleh satoe chauffeur jang dengen pesat ditoedjoeken ka djoeroesan Selatan teroes ka Kearny Street, biloek ka Barat dan dilariken kloear Market Street.
Tjahajanja mata-hari jang goerem_pentjarken sinarnja di sabagian dari poesat kota San Francisco, tapi kapan itoe auto politie sampe di djalanan deket pinggiran laoet goeloengan halimoen tebel menoetoepin oedara. Poentjaknia goenoeng Twin Peaks itoe tatkala tida kliatan laen salaennja megah-megah jang berwarna aboe-aboe gelap melawan sorotan Batara Soeria jang saben-saben hendak tjoba meneboesin. Itoe waktoe baroe kira-kira djam 9 dari hari Saptoe pagi.
Achirnja auto jang ditoempangin oleh itoe tiga detectives sampe dalem bilangan district Mount Davidson Manor. Halimoen jang menoetoepin moeka boemi djadi bertambah tebel. Djalenan-djalanan di sepandjang itoe wijk basa anteronja hingga sang sopir koedoe berati-ati boeat stuur iapoenja auto. Kerna tebelnja oewap derekan gedong-gedong ampir tida kliatan sama sekali, hingga seperti setan-setan jang sabentar moentjoel dan linjap di pemandengan mata manoesia.
Koetika sang outo sampe di wijk Lakewood Avenue sigra Inspector Dullea tondjolken iapoenja kepala boeat liat ka seblah loear. „Pelahan, tida djaoeh lagi dari sini”, ia berkata, „letaknja di seblah kiri kita”.<noinclude></noinclude>
827c51j6z89d0ktx3c4bb384cr85wu0
Halaman:Auto setan.pdf/15
104
114179
314857
2026-08-20T01:03:08Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314857
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|24|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||25}}</noinclude>„Stop!" ia memerentah dan sang atuo sigra brenti di pinggiran trottoir. Itoe tiga detectives laloe toeroen dari dalem marika poenja kandaran, di depan marika berdiri saboeah roemah villa jang indah den gen menarik marika poenja perhatian. Villa terseboet ada model California jang terkapoer poetih serta tertoetoep sama genteng warna merah jang mengkilap; di pakarangan depan terdapet satoe kebon boenga ketjil dengen roempoetnja jang idjo jang ternjata dirawat sanget netjes; di iapoenja ampat djendela dari roewangan depan ada toemboeh merembet poehoen kembang jang sarat boenganja boeat membikin tedoeh sorotan mata-hari waktoe moesim panas. Pintoe pranti masoek ka dalem pakarangan terletak di seblah kanan dan jang seblah kiri ada pintoe boeat kloear - masoeknja kandaran dengen ada satoe garage.
Di kepalaken oleh Inspector Dullea marika lantas masoek ka dalem itoe pakarangan roemah . Djalan bebrapa belas tindak marika soedah berdiri di depan pintoe dari villa itoe jang ternjata terkoentji. Djoega djendela 2 depan semoea terkoentji rapet. Sigra marika berlaloe dan djalan mengiterin sampingnja itoe villa boeat bikin papreksa'an' lebih djaoeh pada sasoeatoe djendela saniping, pintoe belakang dan sebaginja. Tapi baek pintoe jang mana sadja, idem semoea djendela, tida satoe jang tida dikoentji.
Meliat tida ada djalan boeat masoek ka dalem itoe villa jang antero pintoe dan djendelanja tertoetoep rapet, lantas dete'ctive McGinn pandjat satoe djendela boeat melongok dari raam katja ka sablah dalem.
„Baeklah kita petjahin sadja ini satoe raam katja djendela boeat masoek", ia menjataken pikirannja jang disetoedjoein oleh kawan -kawannja.
Boeat sampeken itoe maksoed detective linss moesti pasang badannja sebagi tangga jang dinaekin oleh sang kawan. Satelah berada di atas ping giran satoe katja djendela laloe McGinn dobrak itoe raam katja dengen gagang senapan jang ia ada bawak. Itoe katja djendela sigra antjoer berarakan dengen menerbitken soeara brisik kabentoer djoebin. Ia masoekin seblah lengan tangannja dari 10bang djendela boeat boeka engsel di seblah dalem hingga antero itoe daon djendela djadi terpentang lebar. Dengen laloeasa marika bertiga masoek ka dalem itoe villa boeat landjoetken niatannja .
{{di|B}}EGITOE marika toeroen dari itoe lobang djendela ternjata marika berada di satoe roewangen kamar makan jang terhias dengen satoe medja oval di tengah-tengah dan saderekan krosi di bagian pinggiran deket tem bok. Pemandengan dalem itoe kamar makan ada goerem sebab di loear oedara katoetoepan oleh pedoet jang tebel sedari tadi, malah banjak oewap masoek dari itoe lobang dj ende la satelah terboeka. Sakean lama bertiga bengong memandeng ka sakoeliling itoe roewangan kamar jang soenji boeat mengamatamati apa jang marika koedoe lakoeken paling pertamba. Kamoedian marika denger soeitannja boeroeng-boeroeng jang rasanja berdeketan dari tempat marika berada. Inspector Dullea lantas bertindak menjamperin kamar depan jang terletaktida sebrapa djaoeh dari itoe kamar makan.<noinclude></noinclude>
pvfn52ykl9q6i5h4c6cpsxye5lbecen
Halaman:Auto setan.pdf/16
104
114180
314858
2026-08-20T01:08:35Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314858
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|26|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||27}}</noinclude>Di sana ia dapetken sadjoemblah koeroengan boeroeng jang tergantoeng dan terletak di atas bebrapa medja ketjil. Itoe ada boeroeng-boeroeng kenari jang eilok dengen boeloeh warna koening poetih, dan sang boeroeng roepanja kaget dengen itoe koendjoengan mendadak. Satelah liat itoe bebrapa boeroeng Inspector Dullea poenja mata djadi katarik sama laen pemandengan jaitoe tjaranja pintoe paling depan dari itoe villa dikoentji. Ternjata itoe daon pintoe dikoentji sanget koeat dan loear biasa dengen goenaken rante serta doea slot besar jang tegoeh.
„Soenggoeh loear biasa”, berkata Dullea dengen tjepet. „Mengapa itoe pintoe dislot sampe begitoe koeat saolah-olah njonja Jessie telah dapet taoe bakal ada bahaja jang aken menjoesahken padanja.
Bersama iapoenja kawan ia preksa itoe pintoe berserta slot-slotnja. Kamoedian marika berlaloe dari sitoe boeat preksa satoe per satoe ka-ada'an pintoe dari villa terseboet jang soedah djadi kosong. Pintoe belakang poen terkoentji tapi koentjinja tinggal menjantel di lobang tempat koentji. Samentara pintoe boeat toeroen ka bawah dari tangga loteng tertoetoep tapi dikoentji tioema dirapetin sadja. Tida sebrapa djaoeh toeroen di tangga loteng terdapet poela satoe pintoe jang mendjoeroes ka perkarangan belakang. Ini pintoe tertoetoep rapet dan terkoentji dengen anak koentjinjatertinggal di sitoe.
Sampe di sini Inspector Dullea jang pimpin ini penjelidikan merandek.
„Sekarang baek kita balik ka atas boeat preksa lebih djaoeh antero kamar-kamar jang terdapet di
bagian atas loteng”, ia berkata. „Menilik ka-ada'an pintoe-pintoe kita bisa pastiken jang ia tentoe boekan kloear dari itoe bebrapa pintoe jang kita soedah saksiken. Kerna itoe bebrapa pintoe semoea terkoentji atawa dislot dari seblah dalem. Ia tentoenja kloear dengen ambil djalan dari salah satoe ini tangga loteng, toeroen sampe ka bawah sekali dan laloe kloear dari itoe garege (kamar auto). Itoe melaenken ada djalan jang satoe-satoe boeat ia kloear’’.
Sigra marika bersama balik ka atas kombali dari mana baroesan marika masoek dari lobang djendela. Di roewangan loteng jang loewas itoe terdapet doea kamar tidoer, dapoer, kamar makan dan satoe kamar depan. Dalem salah satoe dari itoe kamar tidoer di atas randjang marika dapetken satoe dompet oewang boeat prempoean, jang di dalemnja terisi doeit sembilanbelas cents dan satoe rentjengan bidji tasbe jang biasa dipake oleh pendita boeat mengitoeng waktoe sembajang. Dalem kamar dapoer kadapetan doea bakoel terisi sajoeran dan satoe karoeng jang tersisi gandoem. Itoe karoeng gandoem soedah terboeka petjah, sedeng sedikit dari gandoem itoe soedah ditarok dalem satoe pantji jang terisi aer.
„Boleh djadi ia mendadak terganggoe selagi ia sedeng masak aken goena makan soré”, berkata detective McGinn.
„Boleh djadi sekali”, Inspecteur Dullea bales menjaoet. „Itoe kadjadian moesti antara djam lima dan anem soré”.
Sakoetika lama Inspector Dullea berdiam sambil itoeng - itoeng djari tangannja. „Tatkala itoe njonja poenja badan didapetken soedah djadi mait<noinclude></noinclude>
lth3u1c9p17edroavgk7m1bqzmb1y9z
Halaman:Auto setan.pdf/17
104
114181
314859
2026-08-20T01:17:35Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314859
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|28|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||29}}</noinclude>jang kakoe dan ding in", kombali ia berkata. „Meliat begitoe boleh djadi itoe pemboenoehan dilakoeken antara poekoel lima dan delapan malem".
Dari sitoe marika sigra balik poela ka itoe kamar makan, tarik-tarik satoe per satoe latji buffet jang ditarok di pinggir tembok. Dalem satoe latji marika dapetken lagi satoe dompet prempoean jang terisi oewang $ 5.75 serta satoe koentji. Inspector Dullea pegang dan letakkin itoe koentji di atas telapakan tangannja sambil memandeng terliti.
„Ini koentji tentoe moesti boeat pintoenja itoe gagage", ia berkata sambil berpikir. „Hm, ini ada boekti jang penting". Lantas ia masoekin koentji itoe ka dalem iapoenja sakoe seraja mengoetjap poela : „Oh, akoe dapetken satoe pinkiran laén".
Dengen tjepet Inspecteur Dullea hampirin pada, toestel telefoon jang ternjata masih bekerdja baek, jang terletak di atas medja knaap tida djaoeh dari itoe buffet. Ia angkat handle telefoon terseboet boeat minta disamboeng pada hoofdbureau van politie aken mengasih instructies apa-apa. Kamoedian bersama jang laen ia toeroen ka bagian bawah dari villa njonja Jessie itoe boeat bikin pengoesoetan terlebih djaoeh.
Marika sampe di dalem satoe kamar jang besar dan gelap kerna antero djendela tertoetoep rapet. Itoe kamar roepanja sedeng direparatie atawa baroe dibikin betoei belon klaar. Batoe-batoe djoebinnja masih baroe sekali dan dari kwaliteit mahal. Itoe roewangan bawah ternjata ada roewangan jang loeas dari itoe villa kerna di satoe samping dibikin boeat auto garage, jang laen boeat kamar pranti tjoetji pakean enz., dan satoe lagi oentoek
goedang. Bebrapa djendela ketjil jang kadapetan di sitoe katjanja dialingin dengen toetoepan dan kaen réndah poetih.
Inspector Dullea madjoe aken teroesin iapoenja papreksa'an, tapi mendadak ia brenti bertindak kerna kadengeran soeara treakan dalem itoe roewangan bawah jang penoeh resia. Satoe soeara treakan jang keras memenoehin itoe kamar.
„Apakah itoe 7" menanjak detective McGinn dengen kaget.
Inspector Dollea tjelingoekan ka sana sini ka seoeroe itoe roewangan jang gelap boeat tjari dari mana datengnja soeara tadi.
„Itoe, di sana - di podjokan!"
{{di|S}}AMBIL berkata ia madjoe samperin. Ada apa-apa jang brontak - brontak dalem satoe koeroengan kajoe. Ia melongok lebih deket apakah isinja itoe koeroengan jang baroesan membikin orang terkedjoet.
„Hola, tjoema satoe .boeroeng gowak - jang tentoe djadi salah satoe dari sakean banjak binaiang - binatang piara'annja njonja Jessie", tiba-tiba ia berkata . „Baek boeka itoe pintoe-pintoe garage soepaja kita bisa dapetken tjahaja terang di sini.
Detective McGinn' bertindak boeat boeka itoe pintoe garage pertama dari itoe roewangan dan satoe lagi jang teroes ka loear pekarangan" Satelah berdiri deket pintoe ia liat pintoe itoe dislot tapi tida betoel hingga dengen gampang dapet, diboeka. Tinggal jang satoe, jang tida kliatan di slot dan tedoetoep rapet sekali.
Boeroe-boeroe Inspector Dullea menghamperin,<noinclude></noinclude>
6nhycnk3amazp6y8sd3welxz44negwh
Halaman:Auto setan.pdf/18
104
114182
314860
2026-08-20T02:00:01Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314860
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|30|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||31}}</noinclude>ambil dari sakoenja itoe kontji jang tadi ia dapetken dalem latji buffet di atas loteng. Ia masoekin itoe koentji ka dalem lobang koentji dari pintoe garage auto terseboet dan betoel sadja tjotjok!
„Ini tentoe ada _berarti apa-apa!” ia berseroeh dengen girang. „Sasoeatoe pintoe dalem ini villa jang kita soedah preksa semoea terslot dan terkoentji dari seblah dalem, tapi ini satoe jang terkatjoeali, Dan lagi anehnja kenapa djoestroe ini anak koeniji dari pintoe ini garage berada dalem dompetnja njonja Jessie sendiri!”
Inspector Bullea berpaling pada detective McGinn sambil berkata: „Tjoba kaoe liat bagimana adjaib adanja ini kadjadian? Njonja Jessie saolah-olah soedah ditoetoepin pintoe dengen terkoentji di loear; dalem ka-ada‘an demikian tentoelah ia (njonja Jessie) tida merdika boeat gampang kloear dari sembarangan pintoe katjoeali dari itoe pintoe garage auto. Tapi djoestroe koentjinja itoe garage kenapa ditinggal di dalem dompet di atas buffet di loteng, dari mana moestinja baroe ia bisa masoek ka dalem villanja. Hal hal itoe pemboenoeh bikin satoe kakliroean jang besar sekali dan ......"”
Koenjoeng - koenjoeng Inspector Dullea dapet, denger toeter auto di straat. la melongok ka loear dari itoe pintoe garege dan dapet liat detectives Harry Husted dan Paddy Wafer masoek ka dalem pekarangan. Kadatengan marika memang ada atas panggilan Inspector Dullea baroesan pertefoon dari itoe hoofdbureau van politie.
„Akoe minta kace berdoea dateng kemari”, berkata Inspector Dullea, „perloenja oentoek menanjak pada semoea tetangga njonja Jessie jang terboenoeh, jaitoe apakah ia orang bisa kasi {{hws|kate|katerangan}}
{{hwe|rangan|katerangan}} apa njonja Jessie mempoenjain auto prive ia kasi idzin dalem garagenja disimpen automobiel laen orang. Djoega tjoba tjari katerangan apakah ia orang dapet saksiken bebrapa hati paling belakang waktoe soré ada dateng tetamoe atawa tida padanja. Djoega tjari taoe brangkali ada jang bisa membri katerangan tentang kaada’an njonja Jessie lagi semalem dari waktoe menggerip sampe djam sapoeloeh bagimana”.
Dengen trima itoe prentah itoe doea detective sigra manggoetken kepalanja sambil bertindak djalan ka loear boeat bikin onderzoek. Mendadak detective McGinn pegang tangannja Inspector Dullea. „Tengok, Captain”, ia berkata altoe terdapet tanda-tanda bekas band auto di sini sampe di loear ini garage. Dan malah di sana deket pipa soeloeran aer dalem garage tertampak tanda jang lebih njata sebab djoebinnja basah serta banjak loempoer”.
Lantas Inspector Dulles bersama kawannja samperin itoe tempat jang dioendjoek sambil djongkok boeat liat teges tanda-tanda band itoe.
Itoe tanda bekas band ada kira-kira delapan kaki pasegi lebarnja, jang njata sekali roda band auto bekas meliwatin di atasnja. Tapi itoe tanda-tanda bekas band tida semoea sama roepanja, satoe dan laen ada berbeda’an. Djoega di seblah loear itoe garage kadapetan itoe matjem tanda-tanda bekas band jang sama seperti di seblah dalem.
Dengen sanget tertip Inspector Dullea preksa itoe semoea boekti.
„Ini pendapetan kombali seperti: membilangin djalannja_perkara, jang semingkin toentoen kita djadi lebih deket aken boeka ini resia {{hws|pemboenoe|pemboenoehan}}<noinclude></noinclude>
k8uod1iyjzv21s2kyfij9c53bfkuamp
Halaman:Auto setan.pdf/19
104
114183
314861
2026-08-20T02:07:59Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314861
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|32|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||33}}</noinclude>{{hwe|han|pemboenoehan}}, ia' berkata kamoedian. „Soedah pasti jang satoe automobiel berada dalem ini garage lagi semalem. Djoebinnja ini garage telah ditjoetji semalem di itoe bagian sadja sabelon sang auto brangkat kloear, kerna tanda-tanda mengoendjoek begitoe. Tjoema apakah itoe automobiel kapoenja‘an njonja Jessie atawa boekan? Anehnja kenapa tjoema satoe bagian tempat sadja jang dibikin bersih waktoe malem sa-olah-olah hendak semboeniken apa-apa? Atawa dengen laen perkata‘an apa tida bisa djadi njonja Jessie diboenoeh di sini, dalem iapoenja garage? Dan kamoedian iapoenja mait diangkoet dalem automobiel dan dilemparin di straat Kenwood Way sebagimana telah dikatemoeken oleh Mr. Warren Louw?”
Zonder toenggoe lagi boeat denger bagimana pikirannja detective McGinn, lantas Inspector Dullea naek poela ka atas loteng ka itoe kamar makan boeat ketok telefoon pada Francis Latulipe, satoe criminologist atawa achli boeat mengoesoet tanda-tanda pendjahat.
„Frank", ia bitjara di telefoon, ,akoe harep kaoe sekarang dateng ka roemahnja njonja Jessie jang terboenoeh semalem di No. 41 Lakewood Avenue. Kita perloe boeat ambil foto'snja bebrapa bekas tanda-tanda band auto jang kadapetan di dalem iapoenja garage dan di seblah loear. Lebih djaoeh akoe harep soepaja kaoe sasoedahnja dateng preksa ka-ada’an di sitoe dengen terliti boeat kaloe bisa dapetin laen-laen bekas lagi jang penting”,
Baroe sadja Inspector Dullea abis lakoeken pembitjara’an telefoon, sigra dateng samperin padanja detectives Wafer dan Husted, jang tadi {{hws|diti|dititahken}}
{{hwe|tahken|diti}} mentjataken katerangan pada tetangga-tetangganja njonja Jessie. Marika poenja roepa kaliatan marika seperti soedah dapetken apa-apa jang sanget penting boeat ditoetoerken.
„Kita beroentoeng dapetin apa-apa, Captain”, detective Wafer permoela mengoetjap. „Itoe tetangga-tetangga bilang bahoea njonja Jessie sama sekali tida poenja automobiel dan tida perna sewahken atawa kasi idzin laen auto pake iapoenja garage. Ia orang njataken lebih djaoeh bahoea njonja Jessie belon perna kapan kloear roemah tida pake topi dan badjoe loear (overcoal). Malah katanja kendati waktoe bekerdja dalem iapoenja kebon atawa djemoerin iapoenja bebrapa potong barang tjoetjian ia moesti senantiasa pake topi dan overcoat itoe. Tetangga-tetangga itoe poen merasa heran mengapa semalem njonja Jessie kloear roemah dalem dandanan demikian, tjoema pake japon dan badjoe kaos sadja dus berlaenan sekali dengen iapoenja kabiasa’an.
„Kombali laen katerangan kita beroleh. Saorang prempoean nama njonja Albert E. Jacks, siapa tinggal di No. 25 Lakewood, semalem djoega mendapet liat ada doea orang lelaki kandarken satoe auto kloear dari njonja Jessie poenja garage kira-kira djam 9.30. toe sa'at kabetoelan njonja Jacks sedeng kloear di depan roemahnja boest kasi slamet djalan pada iapoenja bebrapa tetamoe jang aken poelang, dan tiba-tiba ia denger soeara riboet dari djoeroesannja njonja Jessie poenja villa. la bilang itoe waktoe djoega ia ingin preksa boeat tjari taoe.
„Percies selagi ia menjamperin ka villanja njonja Jessie, mendadak ia liat pintoe dari itoe {{hws|gara|garage}}<noinclude></noinclude>
4dt028vgikai04aadzhwbw9pbks7nlg
Halaman:Auto setan.pdf/20
104
114184
314862
2026-08-20T02:19:25Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314862
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|34|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||35}}</noinclude>{{hwe|ge|garage}} terboeka semoea dan satoe touring-car sembari moendoer kloear dari garage. Kamoedian sa‘orang lelaki dengen pake badjoe djas warna koening djoega kloear dari itoe garage jang sigra naek ka dalem auto terseboet, Samentara saorang laen kawannja berdiri di atas tangga deket roda. Itoe auto teroes didjalanin moendoer sahingga sampe di straat dan dengen pesat dilariken tida taoe ka mana".
„Apa ia kenalin bagimana roman moekanja itoe doea orang?” Inspector Dullea menanjak.
„Tida begitoe deket ia liat romannja ia orang’, saoet Wafer, „tapi apabilah ia katemoe kombali sama itoe doea orang ia rasa masih bisa dikenalin".
„Bagoes,” sacet Dullea. „Apa jang kaoe dapetken, Husted?”
„Bagimana roepanja itoe automobiel jang koendjoengin njonja Jessie”, djawab detective Husted, ada dipetahken oleh laen tetangga jang mengakoe nama njonja Little. Ia bilang kemaren lohor djam ampat ia djalan liwat di depan ini villa dan dapet liat satoe Lincoln touring-car brenti di depan pintoe. Lantaran biasanja njonja Jessie djarang sanget trima koendjoengan tetamoe maka ia ingin perhatiken sambil beroelang - oelang mengawasin ka dalem. Ia liat saorang lelaki di depan stuur, tapi kapan itoe lelaki liat ada orang awasin mendadak ia toetoepin djidatnja lebih dalem sama iapoenja topi vilt. Ia menjataken jang ia masih bisa kenalin kapan berdjoempah poela sama orang itoe”
Denger katerangan di atas Inspector Dullea kaliatan girang, ia merasa bahoea itoe resia {{hws|pemboe|pemboenoehan}}
{{hwe|noehan|pemboenoehan}} sabagian soeda dapet dibikin terang. Dengen begitoe ia pertjaja tida sebrapa lama lagi ia bisa bekoek itoe sekalian pendjahat.
„Dengen begini kita soedah dapet banjak pengoendjoekan boekti jang penting’, ia berkata dengen bersenjoem, „djalannja ini perkara moesti koerang-lebih menoeroet akoe poenja doega’an: Njonja Jessie tentoe lagi maoe masak iapoenja makanan soré dalem itoe dapoer kapan tiba-tiba dateng doea orang dengen itoe Lincoln touring-car. Dengen kelakoean jang tjerdik marika soedah membikin njonja roemah tida tjoeriga atas marika poenja kadatengan dan ia idzinken itoe auto ditarok dalem garage seraja marika menenamoe. Dengen akal aloes marika bikin njonja Jessie toeroen ka itoe garage, lantas bri poekoelan keras di kepalanja hingga itoe njonja djatoh pangsan, kamoedian marika sengadja lindes itoe njonja dengen autonja sahingga binasa. Satelah lakoeken pemboenoehan, marika boeroe-boeroe tjoetji djoebinnja itoe garage, ini berboekti dengen bekas-bekas aer jang kadapetan di satoe tempat dalem garage. Sasoedahnja njonja Jessie djadi mait marika laloe pakein satoe badjoe kaos soepaja orang doega bahoea njonja Jessie djalan-djalan kloear itoe soré boeat makan angin. Kerna kaloepa’an saking kasoesoe, itoe pemboenoeh soedah tida pakein njonja Jessie topi serta overcoat menoeroet iapoenja kabiasa’an. Begitoelah agar bisa klaboein politie marika lempar itoe korban di pinggir straat dan marika sendiri mengilang dengen itoe Lincoln-phaeton.
„Koetika toean dan njonja Warren Louw dapet liat itoe Lincoln-phaeton, itoe doea pendjahat {{hws|roe|roepanja}}<noinclude></noinclude>
93uiohhk0yxx122qyuerzqtv7vljeb2
Halaman:Auto setan.pdf/21
104
114185
314863
2026-08-20T02:28:29Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314863
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" /></noinclude>{{hwe|panja|roepanja}} sedeng tjari tempat jang tjotjok boeat boewang maitnja sang korban — satoe tempat jang sepih agar tida dapet diliat oleh siapa djoega. Marika soedah pikir dengen tjerdik boeat bikin soepaja kamatiannja njonja Jessie djadi beroepa '''katjilaka’an auto,''' tjoema sajang marika koerang terliti boeat perhatiken bebrapa soeal laen jang perloe. Pertama, sang korban maitnja soedah dingin dan tida terdapet tanda-tanda heibat sebagimana biasa kaloe orang loeka ditoebroek oleh auto. Kadoea, itoe tanda-tanda gilesan band boekannja terdapet di mana itoe badjoe kaos jang dipake paling loear tapi di atas japonnja jang berwarna merah moeda. Tapi jang teroetama penting itoe pemboenoeh soedah loepaken tentang itoe koentji jang kita dapetin dalem dompet di latji buffet”.
{{di|K}}OMBALI Inspector Dullea, pemimpin dari itoe penjelidikan ambil itoe koentii pintoe garage dan pandeng sadjoeroes poela.
„Hm! Ini koentji ketjil jang kadapetan di dalem roemah jang semoea pintoe - pintoenja terkoentji soenggoeh kliwat tida masoek di akal”, „ia berkata sambil bersenjoem, dengen begitoe antero taktieknja itoe bangsat dapet dibikin petjah. Haroes diakoeh marika memang kacem badjingan jang tierdik dan oeloeng. Sekarang perloe kita moesti dapetin itoe auto Lincoln-phaeton hingga semoea resia aken terbeber terang, dengen gampang antero pemboenoehnja aken dapet ditangkep. Kita moesti seret lehernja marika ka hadepan pengadilan”.
Itoe sa’at soedah lohor, oewap pedoet jang sedari pagi menoetoepin oedara di atas San {{hws|Francis|Francisco}}
{{hwe|co|Franscisco}} telah koerangan. Inspector Dullea dengen kawannja sigra kloear dari itoe villa, naek itoe auto politie dan berlaloe dari sitoe dengen lekas. Di perdjalanan sesampenja di tengah kota Inspector Dullea dapet liat courant-courant jang baroe terbit dengen letter-letter besar di pagina moeka pasang ini kaliat: „Itoe Korban Katjilaka’an Auto Soedah Dikenalin".
Dalem kantoor dari hoofdbureau politie Inspector Dullea paling doeloe berdjoempa sama Chef Politie Kota Mr. Quinn. Pada siapa ia toetoerken semoea kasoedahan dari iapoenja onderzoek tentang itoe pemboenoehan jang menggemperken San Francisco. Mr. Quinn denger antero penoetoeran terseboet dengen soenggoeh hingga achirnja ia berkata:
„Terang sekali jang itoe ada satoe '''pemboenoehan sengadja,''' soedah tida bisa disangkal lagi. Tapi, apa kaoe soedah preksa segala apa dengen baek dalem itoe villa, brangkali bisa kadapetan sadjoemblah oewang jang ia tinggalken? Atawa brangkali ada tersimpen soerat - soerat berharga atawa documents hingga oendjoekin laen penerangan prihal itoe kadjahatan?”
„Tida, boeat itoe tida didapetken sama sekali”, djawab Inspector Dullea. „Apa jang kita dapetken boekti-boekti dalem papreksa’an tadi dalem itoe roemah hanja terang betoel di sana soedah dilakoeken pemboenoehan atas dirinja njonja Jessie. Apa lantarannja orang boenoeh padanja masih djadi soeal. Njonja Jessie tentoe diboenoeh oleh satoe atawa doea orang jang kandarken itoe Lincoln-phaeton. Satoe antara njonja Jessie poenja tetangga, njonja Jacks, dapet liat doea orang, {{hws|ta|tapi}}<noinclude></noinclude>
qinsnwjg9zl9waa83tdx3zg1i1ax2io
314864
314863
2026-08-20T02:29:00Z
Ammachemist
27288
314864
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|36|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||37}}</noinclude>{{hwe|panja|roepanja}} sedeng tjari tempat jang tjotjok boeat boewang maitnja sang korban — satoe tempat jang sepih agar tida dapet diliat oleh siapa djoega. Marika soedah pikir dengen tjerdik boeat bikin soepaja kamatiannja njonja Jessie djadi beroepa '''katjilaka’an auto,''' tjoema sajang marika koerang terliti boeat perhatiken bebrapa soeal laen jang perloe. Pertama, sang korban maitnja soedah dingin dan tida terdapet tanda-tanda heibat sebagimana biasa kaloe orang loeka ditoebroek oleh auto. Kadoea, itoe tanda-tanda gilesan band boekannja terdapet di mana itoe badjoe kaos jang dipake paling loear tapi di atas japonnja jang berwarna merah moeda. Tapi jang teroetama penting itoe pemboenoeh soedah loepaken tentang itoe koentji jang kita dapetin dalem dompet di latji buffet”.
{{di|K}}OMBALI Inspector Dullea, pemimpin dari itoe penjelidikan ambil itoe koentii pintoe garage dan pandeng sadjoeroes poela.
„Hm! Ini koentji ketjil jang kadapetan di dalem roemah jang semoea pintoe - pintoenja terkoentji soenggoeh kliwat tida masoek di akal”, „ia berkata sambil bersenjoem, dengen begitoe antero taktieknja itoe bangsat dapet dibikin petjah. Haroes diakoeh marika memang kacem badjingan jang tierdik dan oeloeng. Sekarang perloe kita moesti dapetin itoe auto Lincoln-phaeton hingga semoea resia aken terbeber terang, dengen gampang antero pemboenoehnja aken dapet ditangkep. Kita moesti seret lehernja marika ka hadepan pengadilan”.
Itoe sa’at soedah lohor, oewap pedoet jang sedari pagi menoetoepin oedara di atas San {{hws|Francis|Francisco}}
{{hwe|co|Franscisco}} telah koerangan. Inspector Dullea dengen kawannja sigra kloear dari itoe villa, naek itoe auto politie dan berlaloe dari sitoe dengen lekas. Di perdjalanan sesampenja di tengah kota Inspector Dullea dapet liat courant-courant jang baroe terbit dengen letter-letter besar di pagina moeka pasang ini kaliat: „Itoe Korban Katjilaka’an Auto Soedah Dikenalin".
Dalem kantoor dari hoofdbureau politie Inspector Dullea paling doeloe berdjoempa sama Chef Politie Kota Mr. Quinn. Pada siapa ia toetoerken semoea kasoedahan dari iapoenja onderzoek tentang itoe pemboenoehan jang menggemperken San Francisco. Mr. Quinn denger antero penoetoeran terseboet dengen soenggoeh hingga achirnja ia berkata:
„Terang sekali jang itoe ada satoe '''pemboenoehan sengadja,''' soedah tida bisa disangkal lagi. Tapi, apa kaoe soedah preksa segala apa dengen baek dalem itoe villa, brangkali bisa kadapetan sadjoemblah oewang jang ia tinggalken? Atawa brangkali ada tersimpen soerat - soerat berharga atawa documents hingga oendjoekin laen penerangan prihal itoe kadjahatan?”
„Tida, boeat itoe tida didapetken sama sekali”, djawab Inspector Dullea. „Apa jang kita dapetken boekti-boekti dalem papreksa’an tadi dalem itoe roemah hanja terang betoel di sana soedah dilakoeken pemboenoehan atas dirinja njonja Jessie. Apa lantarannja orang boenoeh padanja masih djadi soeal. Njonja Jessie tentoe diboenoeh oleh satoe atawa doea orang jang kandarken itoe Lincoln-phaeton. Satoe antara njonja Jessie poenja tetangga, njonja Jacks, dapet liat doea orang, {{hws|ta|tapi}}<noinclude></noinclude>
mnph14ddn4nuuz54ry69y6qtv87w923
Halaman:Auto setan.pdf/22
104
114186
314865
2026-08-20T02:41:25Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314865
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|38|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||39}}</noinclude>{{hwe|pi|tapi}} toean serta njonja Warren Louw tjoema liat saorang sadja dalem automobiel terseboet.”
„Brangkali akoe bisa doega betoel bagimana djalannja itoe perboeatan”’, kata itoe Chef Politie. Bagoes jang njonja Jessie diboenoeh dalem itoe garage dari roemahnja sendiri, sebagimana kaoe pertjaja pasti, dan djoega djadi menggampangken oeroesan jang marika angkoet maitnja sang korban dalem itoe auto-mobiel hingga kerna apa tentoe mait itoe ditarok di bangkoe belakang.
„Dan djika memang marika soedah niat boeat lempar itoe mait dari dalem auto ka straat, bisa di doega pasti bahoea salah satoe dari marika koedoe doedoek sekali di bangkoe belakang boeat djaga mait itoe. Akoe kira tida meleset moesti demikian adanja marika poenja plan dan pantes koetika marika poenja auto berpapasan pada toean serta njonja Warren Louw, itoe soeami - istri hanja meliat saorang sadja si penjetuur automobiel itoe”.
Inspecteur Dullea sambil bermesem akoehin pendapetannja itoe Chef Politie. „Boleh djadi sekali, boekan moestail begitoe, Sire!" ia menjataken. „Kaoe soesah mengasi theorie jang percies.”
Sa-abis berkata-kata Inspector Dullea sigra berpamitan dari itoe Kepala Politie Mr. Quinn. Selagi ia mace bertindak lebih djaoeh dalem satoe djalan prapatan aken samperin tangga electris boeat kombali ka iapoenja kantoor sendiri tiba-tiba satoe detective samperin padanja boeat britaoe apa-apa. Itoe detective laloe ikoetin padanja teroes naek ka atas di mana iapoenja kantoor berada.
„Advocaat Oemoem Mr. Frank Egan sedeng menoenggoeh boeat minta bitjara dengen kaoe,
Captain,” ia berkata satelah sampe dalem kantoor Inspector Dullea. „Ia telah batja dalem soerat-kabar prihal kamatiannja njonja Jessie, dan ia ada sobat lama dari itoe njonja almarhoem. la menjataken ingin oeroes maitnja itoe njonja sebagimana moesti boeat dibawak ka tempatnja privé dan sebaginja”.
„All right”, djawab Inspector Dullea seraja doedoek di krosi depan medja toelisnja. „Boleh ia bawak kerna papreksa’an dokter soedah klaar dilakoeken. Di mana sekarang Mr. Egan ada?”
„Di bawah di kamar tetamoe baroesan akoe berdjoempah”, menjacet itoe detective.
„Well, kasih taoe ia bahoea akoe aken selekasnja toeroen ka bawah boeat bertemoe. Akoe maoe kerdjaken apa-apa sedikit doeloe di sini”, djawab itoe Inspector sambil preksa soerat-soerat.
Dengen tjepet itoe detective bertindak pergi dari kantoornja Inspector Dullea. Satelah membatja bebrapa soerat rapport penting lantas ia doedoek sambil bengong di atas iapoenja krosi rotan.
Ia pikir tentang Mr. Frank Egan, Advocaat Oemoem jang termashoer di San Francisco dan daerahnja.
Mr. Egan haroes diakoeh ada saorang Advocaat jang sanget populair di kalangan jang loeas antara publiek di itoe kota; ia goenaken iapoenja kapandean sebagi Advocaat boekan meloeloe boeat garoek doewit sadja tapi sebagian besar ia korbanken temponja oentoek membela ratoesan orang-orang miskin, lelaki atawa prempoean, marika jang tida mampoe boeat bajar Advocaat goena belaken dirinja di hadepan Pengadilan. Teroetama boeat perkara-perkara jang ia taoe tida adil menimpah poendaknja orang - orang miskin jang<noinclude></noinclude>
fk0rtfj4bdxmsk6bzjm7jey9cohqimg
Halaman:Auto setan.pdf/23
104
114187
314866
2026-08-20T02:50:19Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314866
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|40|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||41}}</noinclude>lemah, Mr. Frank Egan tentoe sodorken tangannja membri pertoeloengan. la kenal banjak sekali pendoedoek dari berbagi golongan dari kota San Francisco djika dibandingin dengen laen-laen orang ternama, maka tida kliwat heran kapan ia djoega kenal baek sama njonja Jessie.
Sasoedah berpikir sakean lama ia lantas teken satoe knop bell electris dan tida lama satoe secretaris dateng padanja.
„Sekarang kaoe siarken warta per radio” ia memerentah, ,boeat semoea orang-orang politie di seloeroe kota aken bantoe mentjari pada automobiel Lincoln-phaeton jang tersangkoet sama perkaranja njonja Jessie. Dan apa kaoe soedah kirim itoe telegram pada Ambrose Scott, soedara lelaki dari njonja Jessie, di desa Rio Vista, boeat brikabar tentang kamatiannja iapoenja soedara prempoean sambil minta ia dateng ka sini?”
„Ja", sacet itoe secretaris. ‘Akoe soedah kirim itoe telegram sebagimana kaoe inginken bebrapa sa'at berselang”.
Daon pintoe kadengeran terketok, itoe secretaris sigra memboeroe boeat boeka itoe pintoe. Saorang tingi djangkoeng koeroes dengen djidatnja jang lebar serta sorot mata jang manis-boedi sambil pake overcoat dan topi vilt jang lemes, kliatan masoek ka dalem. Orang itoe poenja aer- moeka roepanja berdoeka.
„Good morning, Captain Dullea,” ia mengoetjap dengen soeara lemboet. „Akoe baroesan dateng dari roewangan bawah. Ada terdjadi satoe dan laen hal jang heibat, toean”.
Inspector Captain itoe bangkit dari krosinja boeat membri hormat pada iapoenja tetamoe. „Ja, Mr.
Egan, betoel sekali katamoe. Akoe djoestroe hendak toeroen ka bawah boeat berdjoempa padamoe aken bitjaraken itoe oeroesan. Satoe antara orangkoe telah britace kaoe poenja kadatengan dan kaoe ada kenal katanja sama njonja Jessie”
Mr. Egan doedoek di krosi jang disediaken boeat ia. samentara itoe secretaris berlaloe dari itoe kantoor.
„Betoel akoe kenal ia dengen baek”, Mr. Egan moelai bitjara. ,,Njonja Jessie ada salah satoe antara sobat-sobatkoe jang paling baek. Akoe kasi taoe kaoe bahoea sasoenggoehnja ia ada saorang prempoean toea jang bertabeat manis boedi, saderhana serla boediman. Soenggoeh terlaloe kedjem ia moesti alamin itoe matiem kadjadian!”
Abis menoetoer begitoe Mr. Egan senderan di krosinja, memandeng ka djoeroesan djendela. „Akoe soedah kenal njonja Jessie sadjek doeapoeloeh anem taon berselang dengen menjenengken”, ia landjoetken tjeritanja. „Baeklah akoe bilangin kaoe satoe riwajat. Pada satoe hari dari itoe kadjadian gempah boemi dari taon 1906, selagi api mengamoek dengen keras, sedengnja antero pendoedoek repot melariken diri ka loear kota. Di sa‘at-sa'at mana akoe lagi kandarken satoe kandaran di sepandjangnja Mission Street dan mendadak akoe menampak saorang prempoean djalan di pinggir straat sambil menoentoen satoe anak lelaki jang masih ketjil dengen satoe tangannja, samentara tangannja jang laen menengteng satoe koffer.
„Akoe sigra brentiken kreta-koe itoe dan toeroen boeat membri pertoeloengan padanja. Akoe naekin itoe anak ketjil (lelaki) serta itoe koffer ka<noinclude></noinclude>
jxx07oe4c1d8ddxr0yv67d6wvn5hxqn
Halaman:Auto setan.pdf/24
104
114188
314867
2026-08-20T02:59:23Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314867
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|42|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||43}}</noinclude>dalem kretakoe, dan djoega itoe orang prempoean jang akoe kasi tempat doedoek di seblah depan. Kamoedian akoe bawak marika ka roemahnja akoe poenja soedara prempoean jang terletak sedikit di loear kota. Soedarakoe trima marika serta rawat dengen segala seneng hati sebagi sanak famili sendiri. „Itoe prempoean adalah njonja Jessie berserta iapoenja anak”.
Bitjara sampe di sini Mr. Egan kaliatan bersedih. Matanja itoe Advocaat djadi goerem dalem mana mengembeng iapoenja aer-mata dari hati jang terharoe atas binasanja sang sobat.
„Taon - taon telah liwat dan itoe anak lelaki samingkin besar”, meneroesin Mr. Egan. „Tapi soenggoeh latjoer, sedikit taon kamoedian apamaoe itoe anak telah binasa kerna katoebroek automobiel. Ia mati lantaran itoe katjilaka’an, Aneh, boekan?”
Inspector Dullea dengerken toe tjerita dengen penoeh perhatian dan kamoedian Mr. Egan bangoen berdiri. Ia tida menoetoer lebih djaoeh, ia kasih tangan boeat berpamitan dan berlaloe dari hadepannja Inspector Dullea
{{di|P}}ENJELIDIKAN jang soedah dilakoeken oleh sekalian politie dan detectives boeat oesoet itoe Automobiel-Setan jang menggemperken kota San Francisco, sabegitoe djaoeh dalem itoe minggoe tida membawak hasil sebagimana diharep. Samentara soerat-soerat kabar ramé bitjaraken itoe perkara pemboenoehan dengen moeatken kateragan - katerangan jang langkeh tentang njonja Jessie poenja kamatian, dan toetoerken sekali bagimana japoenja tetangga-tetangga poenja {{hws|penga|pengakoean}}
{{hwe|koean|pengakoean}} pada politie. Ratoesan politie serta detectives repot satiap hari, wara-wiri kean kemari oentoek tangkep pendjahatnja serta itoe auto Lincoln phaeton. Orang - orang jang kabetoelan mempoenjain auto's samatjem merk terseboet semoea dipreksa terliti en toch tida membawak hasil soeatoe apa. ltoe antero auto's jang dipreksa tida mengoendjoek bekas-bekas sama sekali jang boleh diboeat boekti.
Sepandjang itoe waktoe, politie poenja achli crimineel (kadjahatan), Mr. Francis X. Latulipe soedah bikin pengoesoetan dalem villa dan garagenja njonj...a Jessie, dan ia dapetken laen - laen boekti penting sekali jang membikin terlebih gampang oentoek tjioem baoe dalem ini perkara soelit
Pada satoe pagi dari hari Minggoe Inspector Dullea seperti biasa telah dateng di iapoenja kantoor dan pertamah preksa rapport-rapport tentang penjelidikan jang dilakoeken boeat dapetin itoe auto Lincoln-phaeton. Kamoedian ia bersama Chef Politie Mr. Quinn pergi koendjoegin laboratorium Mr. Francis X. jang terletak di bagian atasan dari itoe gedong besar Hall of Justice.
Di hari Minggoe ka-ada'an dalem itoe gedong
jang loeas ada soenji. ltoe doea orang politie teroesin marika poenja_tindakan menjamperin lift aken naek ka atas di loteng ka-anem. Dengen tjepet marika soedah sampe dan masoek ka dalem satoe kamar besar dan terang sekali segala apa tertampak di dalemnja. Di satoe podjokan dari itoe kamar laboratorium saorang jang berkoelit poetih serta djangkoeng, paké badjoe poetih pandjang sedeng toendoekin kepala di depan glas {{hws|mi|microscoop}}<noinclude></noinclude>
3a83cqhm3ivgp5zumq140hb54jtjsi4
Halaman:Auto setan.pdf/25
104
114189
314868
2026-08-20T03:08:31Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314868
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|44|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||45}}</noinclude>{{hwe|croscoop|microscoop}}. Sadjoemblah bebrapa poeloeh portret portret tersebar di atas laen medja pandjang. Banjak antara portret-portret terseboet meloekisken tanda-tanda jang langkah jang pasti tida berarti soeatoe apa bagi orang-orang jang boekan achli dalem oeroesan demikian.
„Bagimana kaoe poenja pendapetan, Frank?” menanjak Inspector Dullea koenjoeng - koenjoeng sambil mengawasin pada itoe gambar - gambar foto's di atas medja.
Mr. Francis X. angkat iapoenja kepala dari itoe katja miscroscoop. „Sanget memoeasken,” ia mendjawab dengen pendek. Mr. Francis X. terkenal sebagi saorang jang pendiam sebagimana biasanja satoe scientist jang soenggoe. Hari - hari waktoe diam bakerdja ia lakoeken kawadjibannja dengen penoeh goembira boeat bongkor resia-resianja sekalian pendjahat jang kawakan dari San Francisco. Lagi memang soedah termashoer bahoea itoe Laboratorium Politie dari kota San Francisco paling soelit, dan dalem sakean lama boekan sedikit resia-resia pendjahat dapet dibikin terang dalem itoe kamar jang loeas dan terang dari Mr. Francis X.
„Akoe soedah preksa dengen baek njonja Jessie poenja pakean”, ia menjataken poela, „dan dari sitoe akoe telah dapetken boekti-boekti jang penting. Di ates poendak kiri dari pakeannja terdapet tanda-tanda jang loear biasa. Di sini ada ia-
poenja fotograaf.
„Kombali ini ada laen boekt: Akoe soedah preksa itoe tanda-tanda bekas band auto jang kemaren kaoe telah katemoeken di loear dan di dalem itoe garage. ltoe tanda-tanda band jang {{hws|kadape|kadapetan}}
{{hwe|tan|kadapetan}} dalem garage mengoendjoek njata paling sedikit itoe auto didjalanken moendoer-madjoe boeat tiga kali beroelang - oelang. Tapi betoel-betoel adjaib itoe band -band jang dipake di itoe automobiel semoea dari berlaenan model, ampat roda semoea memake ampat matjem band berlaenan jang satoe mempoenjain matjem tadjem seperti gosokan brilliant, satoe lagi bandnja soedah litjin saking toeanja, satoenja poela beroepa seperti model besi kaki koeda, dan laennja berstreep² miring. '''Djoestroe ini band jang berstreep² miring jang akoe dapetken tanda-tanda bekasnja di atas japon jang terpake oleh njonja Jessie".'''
„Good!” berseroeh Inspector Dullea. „Itoe djadi mengoewatken anggepan kita bahoea njonja Jessie telah betoel terboenoeh mati dalem itoe garage. Laen-laen lagi apa?”
Ia, ada lagi”, djawab Mr. Francis X. „barang jang ketjil tapi tida koerang faedahnja — ramboet. Di tengah-tengah dari itoe garage ada terdapet satoe toetoepan got dari besi model pasegi. Kira-kira tiga kaki dari sitoe akoe telah poengoet lima matiem lembaran ramboet. Ampat roepanja poetih dan jang satoe berwarna koening moeda. ltoe bebrapa lembar ramboet ada percies roepanja sebagimana jang akoe goenting dari kepalanja njonja Jessie boeat kapentingannja papreksa’an”’.
„Apa kaoe rasa pasti itoe ramboet - ramboet jang kaoe dapetin di dalem itoe garage berasal dari kepalanja njonja Jessie?” Mr. Quinn sigra menanjak.
Francis X. bersenjoem. „Terlaloe memastiken itoelah akoe tida bisa”, ia djawab dengen sabar,<noinclude></noinclude>
87mgu47jsa4wxxtdv0k58fxu811m7a4
Halaman:Auto setan.pdf/26
104
114190
314869
2026-08-20T03:35:59Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314869
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|46|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||47}}</noinclude>„tapi_ menoeroet anggepankoe boleh djadi sekali ada begitoe. Tentang ramboet ada soeker sekali boeat ditetepken siapa-siapa jang poenja kerna barang begitoe soeker dikenalin, tapi melaenken kita bisa akoerin sampe di mana percentagenja ada sama. Ini ada photomicrographs (portret-portret) dari ramboet-ramboet terseboet; tjoba kaoe liat satoe per satoe”’.
Laloe Mr. Quinn dan Inspector Dullea preksa lima gambar portret jang soedah dibesarin (vergroot), bebrapa dari itoe portret soedah divergroot boeat lima ratoes kali dengen pekakas microscoop. ltoe lembaran ramboet jang soedah dibikin ratoesan kali besarnja terliat seperti pongkot poehoen atawa tjaling gadja. Mr. Francis X. jang berdiri di belakang marika lantas mengoetjap bebrapa perkata’an aken menerangin sambil menoendjoek sama iapoenja djari di atas gambar terseboet.
„Liat itoe satoe. Perhatiken iapoenja oedjoeng sekalian jang njata itoe ramboet seperti terpoetoes dengen terpaksa sebab terpetjah roepanja. Dan ini lagi iapoenja oedjoeng dengen akarnja jang berwarna poetih toeroet tertjaboet sama sekali Semoea rontoknja itoe ramboet - ramboet mengoendjoek jang itoe soedah diperlakoeken satjara amat kasar; tida bisa salah ramboet terseboet semoea soedah didjambak tiopot dari koelit kepala dengen amat koewat.” (Liat portret dari ramboet itoe jang soedah dibesarin).
Dengen pertoeloengan_ laboratorium politie di bawah pimpinan Mr. Francis X. segala bagian-bagian boekti jang paling aloes dari pemboenoehan njonja Jessie telah dapet diterangin.
Science (ilmoe pengataoean) soedahmembantoe
boekan sedikit dalem banjak hal boeat bekoek pendjahat - pendjahat Amerikaansch jang terkenal sanget litjin.
Satelah memandeng sakean lama lantas Inspector Dullea berkata: „Kasihken akoe bebrapa lembar dari itoe portret-portret bekas tanda-tanda band. Akoe aken titahken boeat afdruk lebih baKoetika segala apa soedah beres, Inspector Dullea bersama Chef Politie Mr. Quinn berlaloe dari itoe laboratorium.
Hari Senen pagi satoe kadjadian penting jang menoentoen aken terboekanja itoe resia pemboenoehan mendadak moentjoel. Satoe detective dapetken satoe auto merk Lincoln-phaeton di dalem garage di Turk dan Masonic Street jang roepanja mirip sama itoe portret. Itoe automobiel mendjadi kapoenja‘annja Lieutenant Oscar Postel jang bakerdja dalem dienst brandweer (pompa kabakaran), termasoek dalem companie No. 21. Menoeroet pendjaga itoe garage, itoe Lincoln-phaeton koetika Djoemahat malem, tanggal 29 April, dipake kloear djoestroe terdjadinja itoe pemboenoehan pada malem terseboet. Inspector Dullea jang dibritaoe tentang adanja auto itoe sigra titahken itoe detective djaga itoe, auto aken menoenggoe iapoenja kadatengan.
Dengen lekas Inspector Dullea bersama detective McGinn pergi ka itoe tempat jang dioendjoek, di dienst brandweer, companie No. 21. {{hws|Se|Sesampenja}}<noinclude></noinclude>
g5cqdyaqb0po0tsggjmzsckuyf4oaai
314870
314869
2026-08-20T03:36:23Z
Ammachemist
27288
314870
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|46|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||47}}</noinclude>„tapi menoeroet anggepankoe boleh djadi sekali ada begitoe. Tentang ramboet ada soeker sekali boeat ditetepken siapa-siapa jang poenja kerna barang begitoe soeker dikenalin, tapi melaenken kita bisa akoerin sampe di mana percentagenja ada sama. Ini ada photomicrographs (portret-portret) dari ramboet-ramboet terseboet; tjoba kaoe liat satoe per satoe”’.
Laloe Mr. Quinn dan Inspector Dullea preksa lima gambar portret jang soedah dibesarin (vergroot), bebrapa dari itoe portret soedah divergroot boeat lima ratoes kali dengen pekakas microscoop. ltoe lembaran ramboet jang soedah dibikin ratoesan kali besarnja terliat seperti pongkot poehoen atawa tjaling gadja. Mr. Francis X. jang berdiri di belakang marika lantas mengoetjap bebrapa perkata’an aken menerangin sambil menoendjoek sama iapoenja djari di atas gambar terseboet.
„Liat itoe satoe. Perhatiken iapoenja oedjoeng sekalian jang njata itoe ramboet seperti terpoetoes dengen terpaksa sebab terpetjah roepanja. Dan ini lagi iapoenja oedjoeng dengen akarnja jang berwarna poetih toeroet tertjaboet sama sekali Semoea rontoknja itoe ramboet - ramboet mengoendjoek jang itoe soedah diperlakoeken satjara amat kasar; tida bisa salah ramboet terseboet semoea soedah didjambak tiopot dari koelit kepala dengen amat koewat.” (Liat portret dari ramboet itoe jang soedah dibesarin).
Dengen pertoeloengan_ laboratorium politie di bawah pimpinan Mr. Francis X. segala bagian-bagian boekti jang paling aloes dari pemboenoehan njonja Jessie telah dapet diterangin.
Science (ilmoe pengataoean) soedahmembantoe
boekan sedikit dalem banjak hal boeat bekoek pendjahat - pendjahat Amerikaansch jang terkenal sanget litjin.
Satelah memandeng sakean lama lantas Inspector Dullea berkata: „Kasihken akoe bebrapa lembar dari itoe portret-portret bekas tanda-tanda band. Akoe aken titahken boeat afdruk lebih baKoetika segala apa soedah beres, Inspector Dullea bersama Chef Politie Mr. Quinn berlaloe dari itoe laboratorium.
Hari Senen pagi satoe kadjadian penting jang menoentoen aken terboekanja itoe resia pemboenoehan mendadak moentjoel. Satoe detective dapetken satoe auto merk Lincoln-phaeton di dalem garage di Turk dan Masonic Street jang roepanja mirip sama itoe portret. Itoe automobiel mendjadi kapoenja‘annja Lieutenant Oscar Postel jang bakerdja dalem dienst brandweer (pompa kabakaran), termasoek dalem companie No. 21. Menoeroet pendjaga itoe garage, itoe Lincoln-phaeton koetika Djoemahat malem, tanggal 29 April, dipake kloear djoestroe terdjadinja itoe pemboenoehan pada malem terseboet. Inspector Dullea jang dibritaoe tentang adanja auto itoe sigra titahken itoe detective djaga itoe, auto aken menoenggoe iapoenja kadatengan.
Dengen lekas Inspector Dullea bersama detective McGinn pergi ka itoe tempat jang dioendjoek, di dienst brandweer, companie No. 21. {{hws|Se|Sesampenja}}<noinclude></noinclude>
r9fyagh7xslx62e3igk6y02szdw8xkl
Halaman:Auto setan.pdf/27
104
114191
314871
2026-08-20T03:44:48Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314871
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|48|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||49}}</noinclude>48 TJERITA ROMAN
{{hwe|sampenja|Sesampenja}} di sana marika masoek ka dalem itoe roemah sambil minta katemoe sama Mr. Postel. Koetika toean roemah kloear laloe Inspector Dullea terangin iapoenja maksoed perkoendjoengan.
„Boleh”, saoet Mr. Postel sambil persilahken apa jang diminta, „betoel akoe ada poenja satoe Lincoln-car. Kace boleh pergi ka garage boeat preksa ka-ada'annja auto itoe. Tida salah, lagi Djoemahat malem itoe auto dipake kloear; di sini ada toean Lynch, orang brandweer, siapa jang kloearin itoe auto sebab dipindjem oleh orang".
Inspector Dullea perhatiken roepanja Lieutenant Postel dan djoega Charles Lynch, jang bersama pegana kerdja'an dalem itoe dienst pompa kabakaran.
„Siapa jang pindjem auto itoe?" ia menanjak kamoedian. ,Apa jang soedah terdjadi?”
„Apa jang akoe bisa toetoerken”’, djawab Lynch, „jalah saorang soedah dateng kemari koetika hari Djoemahat siang kira-kira djam sabelas. Ia ada saorang moeda, pantes sopan romannja, minta berdjoempah dengen kita poenja Lieutenant”.
„Iapoenja nama ada Verne Doran”, Lieutenant Postel samboeng itoe bitjara. „Akoe kenal padanja. Ia menjataken bahoea ia hendak pindjem-akoe poenja_Lincoln-phaeton aken adjak iapoenja temen sedikit djalan-djalan. Akoe sebagi sobat dengen lantas bilang ‘Baek’. Itoe waktoe djoega akoe lantas titahken Lynch boeat anter Verne Doran ka garage aken kasi kloear auto itoe.
„Doran bawak itoe kreta sendiri dan kombaliken poela di itoe malem djoega. Akoe sendiri tida taoe djam brapa itoe auto ia kasi kombali, kerna tatkala akoe pergi di garage taoe - taoe itoe auto soedah
ada dan akoe liat lontjeng poekoel sabelas koerang saperampat. Hari Saptoe pagi ia dateng poela padakoe sambil kasiken akoe oewang satoe dollar satengah sebagi penggantian karoegian oewang benzine jang ia soedah pake, ia membilang”.
„Verne Doran”, Inspector Dullea mengoetjap sembari memikir. Itoe nama seperti ia soedah perna denger diseboet orang. Tapi ia loepa oleh siapa, kapan dan di mana. Tiba-tiba ia berpaling pada detective McGinn sambil mengoetjap sedikit perkata'an:
„Mari, baek kita berlaloe doeloe”.
Marika berdoea bertindak kloear menoedjoe ka pintoe pekarangan. Kapan marika sampe di pinggiran autonja sendiri Inspector Dullea berkaia lagi:
Baek kaoe tjari satoe taxi, akoe maoe kombali ka hoofdbureau dan kaoe toenggoe djaga itoe auto di garage. Akoe hendak kirim Francis X. boeat preksa bandnja auto terseboet”’
Tida lama satoe taxi soedah didapetken oleh McGinn. Inspector Dullea naekin itoe kandaran jang sigra bawak ia menoedjoe ka Hall of Justice.
Kapan ia sampe dalem iapoenja kantoor mendadak bel telefoon berboenji. la pegang itoe pekakas bitjara. Kadengeran detective McGinn poenja soeara:
„Itoe Lincoln-phaeton akoe telah tioba preksa baroesan. Iapoenja band kliatan mirip sekali dengen itoe tanda-tanda jang kita dapetken di atas djoebinnja njonja Jessie poenja garage. Akoe rasa lebih baek bawak itoe auto ka Richmond Police Station dan biar Mr. Francis X. lakoeken penjelidikannja di sana. Akoe?”
„Okay", saoet Inspector Dullea sambil gantoeng<noinclude></noinclude>
8a27n8krhpafilv0gii218ktoh526mo
Halaman:Auto setan.pdf/28
104
114192
314872
2026-08-20T03:54:03Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314872
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|50|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||51}}</noinclude>gagang telefoon. Lantas ia titahken iapoenja pembantoe boeat britaoe pada Francis X. soepaja koendjoengin ka tempat di mana detective McGinn menoenggoe. Djoega ia minta dari departement statistick pendjahat-pendjahat tentang namanja Verne Doran. Dalem tempo lima minuut katerangan tentang Verna Doran soedah terletak di atas iapoenja medja; doega’annja Inspector itoe semoea tida meleset.
Dalem itoe nota dengen pake portret ada terloekis roepanja Verna Doran, perna djadi persakitan nummer 41327, nama penoehnja Verne L. Doran, beroesia 21 taon, dan beroman baek. Di bawah itoe portret lebih djaoeh tertoelis katerangan: Dihoekoem dalem pendjara San Quentin sebab merampok dalem taon 1930 boeat 15 taon. Ini waktoe ia soedah kloear dengen perdjandjian”.
Siapa Verna Doran poenja familie poen diterangin sekali di atas itoe nota. iapoenja iboe, njonja Ora Carpenter, dan iapoenja soedara prempoean, njonja Lurline Anderson, tinggal di Frederick Street No. 576.
Katerangan-katerangan di atas memang kliwat penting bagi Inspector Dullea poenja onderzoek. Lantas ia pangil detective Paddy Water stof dari perlindoengan politie kota, bersama siapa ia kloear dari iapoenja kantoor. Marika naek ka dalem auto politie dan ditoedjoeken ka itoe Frederick Street No. 576.
„Bilah sadja sabentar kita bisa bekoek Verne Doran, banjak pengoendjoekan penting aken kita beroleh lebih compleet”, ia berkata dalem auto itoe. „Kaoe tentoe inget bahoea njonja Jacks, tetangga dari njonja Jessie, perna mengakoe ia {{hws|da|dapet}}
{{hwe|pet|dapet}} liat doea orang dalem toe Lincoln-phaeton. Nanti djika ternjata Doran ada salah satoe orang jang diliat oleh njonja Jacks, tinggal satoe lagi itoe jang laen?”
Auto jang bawak Inspector Dullea dan detective sampe di depan roemah di Frederick Street No. 576. Marika toeroen dari itoe kandaran motor masoek ka dalem dan kamoedian pentjet satoe bel di pinggiran tiang pintoe. Saorang prempoean moeda jang berparas loemajan boeka daon pintoe dan Inspector Dullea sigra perkenalken siapa dirinja.
„Akoe ada njonja Anderson”, itoe prempoean menjaoet. Ja, akoe ada Verne Doran poenja soedara prempoean. Betoel, Doran ada tinggal bersama kita di ini roemah, tapi sekarang ia tida ada. Akoe sendiri tida taoe ka mana ia soedah pergi”.
Inspector Dullea awasin itoe prempoean. „Apa kaoe tida taoe di mana biasanja kaoe poenja soedara liwatken temponja?” ia menanjak. „Ia tentoe ada poenja bebrapa tempat speciaal jang ia soeka koendjoengin, di mana kaoe kira jang kita bisa djoempahin padanja?”
Itoe prempoean moeda bersenjoem sambil golengken kepalanja. „Tida, menjesel akoe tida bisa bilangin kaoe. Verne Doran selaloe tida perna kasi taoe iapoenja hal padakoe. Ia boleh djadi berada sama Mr. Tinnin, tapi akoe tida taoe di mana kadiamannja toean itoe. Boleh djadi djoega di hotel-hotel di loear kota, akoe kira”.
„Tinnin", mengoelangin Inspector Dullea dan ia tasanja inget sama itoe nama. Tiba-tiba detective Wafer koetik iapoenja tangan.
„Ada kaoe taoe bagimana iapoenja nama selengkepnja?” tanjak poenja Dullea.<noinclude></noinclude>
mspg0rc9rs9k6m4pij6vcldia2ifri6
Halaman:Auto setan.pdf/29
104
114193
314873
2026-08-20T04:00:59Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314873
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|52|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||53}}</noinclude>„Albert, kaloe tida salah".
Inspector Dullea manggoetken kepalanja. „Dan apa kaoe poenja soedara Doran sering berkoendjoeng pada Mr. Albert Tinnin itoe?” ia menanjak lagi.
Itoe prempoean tida sigra mendjawab, ia kliatan bersangsi. „Ja, boleh dikata sering djoega selama ini. Akoe rasa belon lama ia pergi ka sana pada Mr. Tinnin’’
„Apa kaoe poen taoe jang soedaramoe brangkali koendjoengin Tinnin koetika hari Djoemahat baroesan berselang?” Inspector Dullea madjoeken pertanja’an jang tandes.
„Ja, akoe inget ia ka sana di itoe hari”, saoet prempoean moeda itoe atawa njonja Anderson. Di iapoenja mata masih tertampak iapoenja rasa koeatir. „Mr. Tinnin pada itoe hari Djoemahat kita-kira lohor ia ada dateng ka sini dan Verne kamoedian bersama ia berlaloe. Akoe pertjaja ia dengen Mr. Tinnin antero soré dari itoe hari Djoemahat berada bersama-sama.”
„Oh, banjak trima kasi!" mengoetjap Inspector Dullea seraja berpamitan pada prempoean itoe.
Sakloearnja marika dari roemah soedara prempoeannja Verne Doran, terpisah bebrapa poeloeh meter, marika mampir di satoe toko obat. Inspector Dullea minta pindjem telefoon dan ia bitjara pada kantoor politie minta dikirim spion dengen pakean vrijman boeat intip itoe roemah di Fredetick street No. 576 aken awasin kaloe-kaloe Verne Doran nanti poelang. Dari itoe toko obat marika kombali ka hoofdbureau.
Djam delapan dari itoe soré — hari Senen, Penjelidikan tentang pemboenoehan njonja Jessie
kaliatan samingkin dapet pengoendjoekan jang memoeasken. Pada djam terseboet detective McGinn dan Mr. Francis X. dengen boeroe - boeroe dateng ka kantoornja Inspector Dullea boeat membawak rapport. Itoe sa’at kabetoelan Inspector Dullea sedeng doedoek mengadepin medja toelisnja dengen ada mengletak 1 portret politie.
Papreksa’an kita berdjalan baek!” Mr. Francis X. mendadak berseroeh. „Kita bawak itoe Lincolnphaeton ka satoe tempat sepih di podjokan straat di Golden Gate Park. Akoe soedah portret auto itoe dan sekalian iapoenja band-band. Itoe tanda-tanda band ternjata percies sebagimana jang kita dapetin di atas djoebin dari garagenja njonja Jessie.
„Djoega, di bawah tempat tarok kaki dari bangkoe, akoe beroentoeng katemoeken delapan lembar ramboet jang berarakan. Itoe ramboet-ramboet semoea mirip sekali dengen ramboetnja njonja Jessie jang kita telah dapetin dalem iapoenja garage!”
Inspector itoe kliatan girang sekali mendenger verslagnja Mr. Francis X. Kamoedian detective McGinn poen tjeritaken iapoenja pengalaman.
„Sasoedah kita preksa itoe auto”, ia moelain, „lantas kita pergi dengen auto itoe djoega ka tempat di mana badannja sang korban dikatemoeken. Kita adjak Mr. Warren Louw bersama-sama ka sana. Di depannja kita sengadja bebrapa kali pergi dateng liwatin padanja sambil lampoe-lampoe sabentar dipademken dan dinjalahken, percies kita toeroetin sebagimana Mr. Louw itoe malem poenja kasaksian. ltoe pertjoba’an mengasi katetepan pada Mr. Louw bahoea auto terseboet memang<noinclude></noinclude>
frbjt088j98amgsklauhw6ggelkrzsq
Halaman:The Belle of Menado.pdf/31
104
114194
314877
2026-08-20T04:56:44Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314877
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|52|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''THE BELLE of MENADO'''}}||53}}</noinclude>Liang-nio baroe tace kaloe mata tintjinnja terlepas tatkale ia maoe dahar tengeh-hari. Ia tida begitoe terkedjoet seperti orang nanti ada kira kendati itoe barang boskan berharga ketjil. Dengen sabar ia panggil baboenja dan tanjah brangkali ada katemoeken toe barang waktoe menjapoe. Itoe baboe karoean sadja djedi melongo dan katakoetan, tapi itoe gadis sigra. pegang orang poenja poendak dengen bersenjoem.
„Kau djangan takoet, Alima,” ia kata, „saia tida mendoegah kau jang ambil, tjoema kau nanti boleh hati-hati kaloe menjapoeh di bawah."
Sedeng itoe baboe masth goegoep, Liang-nio berkata poela : „Nou, marih bantoe saia tjari."
Brapa menutes iaorang mengoebek dalem mah tapi tida katemoeken apa jang ditjari, Liang-nio soeda males kapan ia liat ajahnja menghampirin dari dalem.
„Apa jang setadian kau tjari?" tanjah ioe orang toea.
„Oh, saia poenja mata tjintjin terlepas ileng,” djawabnja dengen aloes dan sabar seperti djoega tida kadjadian apa-apa.
„Ilang ? Ach, kau memang teledor, koerang hati-hati berkata poelah itoe ajah sembari pegang dan liat itoe djeridji jang ketjil di mana itoe mata tjintjin tadinja ada berlengket.
„Patahnja toelang dari tempatnja orang bisa mendjaga, tapi boeat metanja #jintjin jang mace terlepas dari iketannja siapa bisa taoe?" itoe gadis mendjawab sambil ketawa. „Apa saben hari saja moesti pegengin tangan dan djaga itoe tjintjin? Kaloe begitoe lebih baek saja tida pake barang ape-apa ......”
Itoe ajah bersenjoem.
{{di|K}}APAN matahari soeda gantiken kwadjibannja kalaen benoeah, Liang-nio kombali terkenang pada itoe anak moeda jang soeda kasi ia banjak peringetan, satoe peringetan jang selamanja ia bakal tida pernah loepaken. Itoe roman jang tjakep selaloe berbajang, toe koemandangnja soeara jang njaring masih kadengeran. Kaloe itoe orang, jang lagi brapa hari bakel mengilang dari Menado, ada berlakoe lemah-lemboot seperti Tiong-sin terhadep padanja, oh, bagimana girang boeat ia bisa ......... bersobat, boeat oendang siapa dateng roemahnja dan pladjarin dirinja maen piano ......... Tapi, tapi, oh, itoelah ada satoe pikiran gelo ..............!
Sapoelangnja dari roemahnja Liang-nio, Tjhiang-in teroes kombali di tempat mana ia ada menginep. Seperti itoe nona ia djoega selaloe doedoek diam dengen termenoeng. Ia seselken kalemahannja dan ambi hiboeran dengen batja boekoe, tapi itoe semoea tida menoeloeng. Ia masih rasaken dan dibikin terkenang oleh sedepnja itoe baoe jang ia dapet tjoeri. Tadinja ia tjoema maoe poeasken iapoenja pertarohan, tapi siapa njana berobah mendjadi satoe bibit jang menindes masoek pintoenja iapoenja soemanget.
Iapoenja dateng di Menado tjoema ada niat boeat liat pemandengan sembari senengken hati, tida taoenia iapoenja pikiran sekarang ada tergado.
Iapoenja terkenang pada romannja itoe Ratoe Kembang ada sedikit koerangan kapan iapoenja sobat Teklok dan Hian-ling adjak ia pasiar pergi ka tempat pemandian atawa ka plaboean, tapi begitoe lekas ia berdiam sendiri kombali ia terkenang — itoe rasa terkenang lebih dateng mendesek!
Satoe pikiran mendadak dateng : Ia salekasnja moesti kombali poelang, terpisah oleh laoet boleh djadi ia<noinclude></noinclude>
t5spm5xlur8r678lpny9sy5p84p0z7u
Korban Boedi
0
114195
314880
2026-08-20T06:05:31Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Korban Boedi | author = Monsieur Hsu | translator = | section = | previous = | next = | year = 1932 | notes = }} <pages index="Korban Boedi.pdf" include="1" /> {{pb|label=}} <pages index="Korban Boedi.pdf" include="2" /> {{pb|label=}}'
314880
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Korban Boedi
| author = Monsieur Hsu
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1932
| notes =
}}
<pages index="Korban Boedi.pdf" include="1" />
{{pb|label=}}
<pages index="Korban Boedi.pdf" include="2" />
{{pb|label=}}
tewpik1yj5jro0anp1nw2r4djuct08m
314881
314880
2026-08-20T06:07:24Z
Lemonwithices
26124
314881
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Korban Boedi
| author = Monsieur Hsu
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1932
| notes =
}}
<pages index="Korban Boedi.pdf" include="1" />
{{pb|label=}}
<pages index="Korban Boedi.pdf" include="2" />
{{pb|label=}}
<pages index="Korban Boedi.pdf" from=3 to=7 />
{{pb|label=}}
rbf8wr3prwe90fijnyc8quimig0dhzv
Perdjandjian dengan Setan
0
114196
314882
2026-08-20T06:11:27Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = | previous = | next = | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" include="1" /> {{pb|label=}} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=3 to=4 /> {{pb|label=}}'
314882
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" include="1" />
{{pb|label=}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=3 to=4 />
{{pb|label=}}
1tenurk9acclpynmh58x5e0180s1gpp
314895
314882
2026-08-20T06:33:31Z
Lemonwithices
26124
314895
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" include="1" />
{{pb|label=}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=3 to=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" include=5 />
{{pb|label=}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" include=108 />
{{pb|label=}}
n2g9zl7xj9eboag01zv7zj6pd503xy4
Perdjandjian dengan Setan/PRAKATA.
0
114197
314885
2026-08-20T06:19:36Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = PRAKATA. | previous = | next = [[../SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER|SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=7 to=9 /> {{pb|label=}}'
314885
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = PRAKATA.
| previous =
| next = [[../SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER|SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=7 to=9 />
{{pb|label=}}
ik4yfjo1871jmq0v8dfnr2f0spsi3mi
Perdjandjian dengan Setan/SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER
0
114198
314886
2026-08-20T06:24:03Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER | previous = [[../PRAKATA.|PRAKATA.]] | next = [[../PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN|PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=11 to=20 /> {{pb|label=}}'
314886
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER
| previous = [[../PRAKATA.|PRAKATA.]]
| next = [[../PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN|PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=11 to=20 />
{{pb|label=}}
9f9ov6aft92z4af7ynkjlt1o9ooiotl
Perdjandjian dengan Setan/PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN
0
114199
314887
2026-08-20T06:24:58Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN | previous = [[../SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER|SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER]] | next = [[../TANGIS DARI KUBURAN|TANGIS DARI KUBURAN]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=21 to=28 /> {{pb|label=}}'
314887
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN
| previous = [[../SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER|SUARA² DALAM KAMAR TUAN DOKTER]]
| next = [[../TANGIS DARI KUBURAN|TANGIS DARI KUBURAN]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=21 to=28 />
{{pb|label=}}
76afichjhl6ifumac4l96pjr7z1fifp
Perdjandjian dengan Setan/TANGIS DARI KUBURAN
0
114200
314888
2026-08-20T06:25:37Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = TANGIS DARI KUBURAN | previous = [[../PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN|PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN]] | next = [[../NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA|NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=29 to=36 /> {{pb|label=}}'
314888
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = TANGIS DARI KUBURAN
| previous = [[../PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN|PENUMPANG MISTERI DALAM KERETA-API PENGHABISAN]]
| next = [[../NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA|NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=29 to=36 />
{{pb|label=}}
4fuq7xpph441xo9pmy8gr1g0npfklnz
Perdjandjian dengan Setan/NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA
0
114201
314889
2026-08-20T06:29:49Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA | previous = [[../TANGIS DARI KUBURAN|TANGIS DARI KUBURAN]] | next = [[../RUMAH KOSONG|RUMAH KOSONG]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=37 to=46 /> {{pb|label=}}'
314889
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA
| previous = [[../TANGIS DARI KUBURAN|TANGIS DARI KUBURAN]]
| next = [[../RUMAH KOSONG|RUMAH KOSONG]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=37 to=46 />
{{pb|label=}}
r0x5vhkwrrw3f214w74s78xx74su2du
Perdjandjian dengan Setan/RUMAH KOSONG
0
114202
314890
2026-08-20T06:29:51Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = RUMAH KOSONG | previous = [[../NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA|NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA]] | next = [[../SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN|SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=47 to=54 /> {{pb|label=}}'
314890
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = RUMAH KOSONG
| previous = [[../NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA|NJANJIAN ROH JANG MENGEMBARA]]
| next = [[../SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN|SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=47 to=54 />
{{pb|label=}}
sjhq8hq04jh9e87kw5wt2gd7x0w7cow
Perdjandjian dengan Setan/SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN
0
114203
314891
2026-08-20T06:29:54Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN | previous = [[../RUMAH KOSONG|RUMAH KOSONG]] | next = [[../BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS|BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=55 to=80 /> {{pb|label=}}'
314891
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN
| previous = [[../RUMAH KOSONG|RUMAH KOSONG]]
| next = [[../BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS|BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=55 to=80 />
{{pb|label=}}
5yu47143a4jmyeefo5qu42jgj44s5uj
Perdjandjian dengan Setan/BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS
0
114204
314892
2026-08-20T06:31:29Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS | previous = [[../SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN|SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN]] | next = [[../PENDJAGA KUBURAN|PENDJAGA KUBURAN]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=81 to=87 /> {{pb|label=}}'
314892
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS
| previous = [[../SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN|SPERDJANDJIAN DENGAN SETAN]]
| next = [[../PENDJAGA KUBURAN|PENDJAGA KUBURAN]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=81 to=87 />
{{pb|label=}}
mc1cek89ev9j2f0fgyk3a13zhcoza0y
Perdjandjian dengan Setan/SEORANG SAMURAI DARI KYOTO
0
114205
314893
2026-08-20T06:31:56Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = SEORANG SAMURAI DARI KYOTO | previous = [[../PENDJAGA KUBURAN|PENDJAGA KUBURAN]] | next = | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=98 to=105 /> {{pb|label=}}'
314893
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = SEORANG SAMURAI DARI KYOTO
| previous = [[../PENDJAGA KUBURAN|PENDJAGA KUBURAN]]
| next =
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=98 to=105 />
{{pb|label=}}
jgvwk0muw54n97ergy2cvlsomenlaz5
Perdjandjian dengan Setan/PENDJAGA KUBURAN
0
114206
314894
2026-08-20T06:32:05Z
Lemonwithices
26124
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Perdjandjian dengan Setan | author = Elanda Rosi DS. | translator = | section = PENDJAGA KUBURAN | previous = [[../BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS|BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS]] | next = [[../SEORANG SAMURAI DARI KYOTO|SEORANG SAMURAI DARI KYOTO]] | year = 1962 | notes = }} <pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=88 to=97 /> {{pb|label=}}'
314894
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Perdjandjian dengan Setan
| author = Elanda Rosi DS.
| translator =
| section = PENDJAGA KUBURAN
| previous = [[../BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS|BUKU HARIAN SEORANG PELUKIS]]
| next = [[../SEORANG SAMURAI DARI KYOTO|SEORANG SAMURAI DARI KYOTO]]
| year = 1962
| notes =
}}
<pages index="Perdjandjian dengan Setan.pdf" from=88 to=97 />
{{pb|label=}}
bjxbd1kljso613whf0wuadavllvlvxo
Halaman:The Belle of Menado.pdf/32
104
114207
314896
2026-08-20T06:34:03Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314896
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|54|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''THE BELLE of MENADO'''}}||55}}</noinclude>nanti bisa loepaken. Kabetoelan besoek loesa ada kapal belojar ka Sourabaya, dan boeat ia lebih lekas menjingkir ada lebih slamet.
Pintoe kamar tersoeroeng, Tek-lok masoek.
„Apa jang kau inget sempe doedoek diam sebagi boneka?" Tek-lok menegor tatkala ia pergokin sikepnja itoe kawan.
Orang jang ditanjah bersenjoem dan silahken itoe sobat doedoek seraja berkata: „Besoek loesa saia aken kombali sama kapal Van Cloon .........?"
„ ........Eh! kenapa begitoe keboeroe?” Tek-lok memoetoes dengen terkedjoet.
„Kau djangan tanjah lebih djaoe," djawabnja, ,tjoema saia minta kau poenja pertoeloengan boeat beresken saia poenja pertarohan.”
„Bagimana saia moesti bikin?"
„Kau tida boewang tenaga terlaloe banjak. Saia nanti tinggalken kau ''f'' 500.— boeat kasnja Siauw-lian Hwee ........"
„Kau mash ade tempo 3 hari, kenapa kau soeda poetoes harepan? kau boleh tjoba lagi.”
„Saia rasa pertjoema, laginja saia tida ingin boeat tjoba poelah.”
„Saia toeroet menjesel atas itoe hal. Kaloe begitoe besoek sore saia adjak ‘nko Diiet-tjing dan Kiem-sing, president den penningmeester dari S.LH, boeat dateng kamari den trima sendiri itoe oewang,”
„Apa kau poenja soeka. Dan ini siang saia minta kau toeloeng pergi ka roomahnja itoe prempoean jang gelarken dirinja sebagi Ratoenja Kembang Menado ......."
sambil paksa bersenjoem.
„ ......... Ada kaperloean apa?" tanjah Tek-lok dengen heren.
Tjhiang-in tide mendjawab hanja ambil satoe {{hws|boeng|boengkoesan}}
{{hwe|koesan|boengkoesan}} di bawah bantal. Ia boeka dan liat kombali isihnja, kamoedian ia boengkoes lagi dengen rapi. Itoelah ada Liang-nio poenja mata tjintjin jang ia katemoeken.
„Kau boleh trimaken sendiri padanja ini boengkoesan, dan kau tida perloe bitjara apa-apa," menerang Ken Tjhiang-in lebih djaoe.
Tek-lok samboetin itoe berang dengen tida tanjah apa isihnja.
„Ape saia tida bisa serahken sama laen orang, iapoenja ajah atawa baboenja?"
„Kaloe bisa djangan, kau trimaken sadja dalem iapoenja tangan sendiri.”
Tek-lok teroes brangkat dan menoedjoe di tempat mana itoe Ratoe Kembang dari Menado ada tinggal. Iapoenja dateng pertama disamboet oleh baboe dan pada siapa ia minta boeat djoempahin Liang-nio sendiri. Ia disilahken doedoek menanti di kamar tetamoe, jang tida lama ia denger soeara tindakan kasoet, kamoedian Liang-nio kliatan mendatengin.
„Saia hatoerken kau slamet siang," Tek-lok berkata sembari berdiri dan memanggoet. „Saia dateng kamari boeat sampeken sedikit oeroesan, saia harep tida mengganggoe kau poenja waktoe mengasoh."
„Oh, tida," djawabnja sambil silahken tetamoenja doedoek kombali. „Apa brangkali kau perloe djoega Katemoe sama ajah, ia kabetoelan masih tidoer.”
„Saia poenja kamari tjoema ada kaperloean sama kau boeat serahken ini barang jang ‘nko Tjhiang-in minta saia serahken sendiri pada kau."
Liang-nio denger itoe nama ada merasa terkedjoet tertjampoer heran dan berbareng itoe djoega iapoenja djidat berobeh warna merah. „Apa ada isihnja ini<noinclude></noinclude>
ckhodijtxf5w9vutre9b5sl24akhuht
Raden Mas Djojo Koesomo
0
114208
314897
2026-08-20T06:40:39Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Raden Mas Djojo Koesomo | author = Marjoorie | translator = | section = | previous = | next = | year = | notes = }} <pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=1/> {{pb|label=}} <pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=2/> {{pb|label=}} <pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=3/> {{pb|label=}} <pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=4/> {{pb|label=}} <pages inde...'
314897
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Raden Mas Djojo Koesomo
| author = Marjoorie
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year =
| notes =
}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=6/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=7/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=8/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=9/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=10/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=11/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=12/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=13/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=14/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=15/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=16/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=17/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=18/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=19/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=20/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=21/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=22/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=23/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=24/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=25/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=26/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=27/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=28/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=29/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=30/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=31/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=32/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=33/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=34/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=35/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=36/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=37/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=38/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=39/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=40/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=41/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=42/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=43/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=44/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=45/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=46/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=47/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=48/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=49/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=50/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=51/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=52/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=53/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=54/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=55/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=56/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=57/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=58/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=59/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=60/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=61/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=62/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=63/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=64/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=65/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=66/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=67/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=68/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=69/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=70/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=71/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=72/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=73/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=74/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=75/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=76/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=77/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=78/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=79/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=80/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=81/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=82/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=83/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=84/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=85/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=86/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=87/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=88/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=89/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=90/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=91/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=92/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=93/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=94/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=95/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=96/>
a7ymyqph0c3in3h673p35l7j7atmq3j
314898
314897
2026-08-20T06:46:12Z
Quraeni
22485
314898
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Raden Mas Djojo Koesomo
| author = Marjoorie
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year =
| notes =
}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=6/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=7/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=8/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=9/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=10/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=11/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=12/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=13/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=14/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=15/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=16/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=17/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=18/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=19/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=20/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=21/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=22/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=23/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=24/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=25/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=26/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=27/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=28/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=29/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=30/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=31/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=32/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=33/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=34/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=35/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=36/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=37/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=38/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=39/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=40/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=41/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=42/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=43/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=44/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=45/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=46/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=47/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=48/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=49/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=50/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=51/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=52/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=53/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=54/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=55/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=56/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=57/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=58/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=59/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=60/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=61/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=62/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=63/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=64/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=65/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=66/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=67/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=68/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=69/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=70/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=71/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=72/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=73/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=74/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=75/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=76/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=77/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=78/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=79/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=80/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=81/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=82/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=83/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=84/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=85/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=86/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=87/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=88/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=89/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=90/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=91/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=92/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=93/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=94/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=95/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=96/>
3k0n2h762wg5l9ndubsf76v1wx37m3l
314903
314898
2026-08-20T07:04:46Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
314903
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Raden Mas Djojo Koesomo
| author = Marjoorie
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year =
| notes =
}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=6/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=7/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=8/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=9/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=10/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=11/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=12/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=13/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=14/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=15/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=16/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=17/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=18/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=19/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=20/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=21/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=22/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=23/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=24/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=25/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=26/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=27/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=28/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=29/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=30/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=31/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=32/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=33/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=34/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=35/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=36/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=37/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=38/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=39/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=40/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=41/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=42/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=43/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=44/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=45/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=46/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=47/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=48/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=49/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=50/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=51/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=52/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=53/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=54/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=55/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=56/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=57/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=58/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=59/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=60/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=61/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=62/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=63/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=64/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=65/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=66/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=67/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=68/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=69/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=70/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=71/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=72/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=73/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=74/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=75/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=76/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=77/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=78/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=79/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=80/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=81/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=82/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=83/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=84/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=85/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=86/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=87/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=88/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=89/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=90/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=91/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=92/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=93/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=94/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=95/>
{{pb|label=}}
<pages index="Raden Mas Djojo Koesomo.pdf" include=96/>
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
0596u8lvb0mqsm7csb4z5910nivns03
Janie
0
114209
314901
2026-08-20T06:52:29Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Janie | author = Roro Paloepie | translator = | section = | previous = | next = | year = 1937 | notes = }} <pages index="Janie.pdf" include=1/> {{pb|label=}} <pages index="Janie.pdf" include=2/> {{pb|label=}} <pages index="Janie.pdf" include=3/> {{pb|label=}} <pages index="Janie.pdf" include=4/> {{pb|label=}} <pages index="Janie.pdf" include=5/> {{pb|label=}} <pages index="Janie.pdf" include=6/> {{pb|...'
314901
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Janie
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1937
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=6/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=7/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=8/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=9/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=10/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=11/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=12/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=13/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=14/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=15/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=16/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=17/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=18/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=19/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=20/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=21/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=22/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=23/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=24/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=25/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=26/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=27/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=28/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=29/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=30/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=31/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=32/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=33/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=34/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=35/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=36/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=37/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=38/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=39/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=40/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=41/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=42/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=43/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=44/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=45/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=46/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=47/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=48/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=49/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=50/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=51/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=52/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=53/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=54/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=55/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=56/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=57/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=58/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=59/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=60/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=61/>
bawrgcpf5xsiiwj4bvfqj5pruowyyv5
314902
314901
2026-08-20T06:58:32Z
Quraeni
22485
314902
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Janie
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1937
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=6/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=7/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=8/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=9/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=10/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=11/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=12/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=13/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=14/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=15/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=16/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=17/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=18/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=19/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=20/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=21/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=22/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=23/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=24/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=25/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=26/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=27/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=28/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=29/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=30/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=31/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=32/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=33/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=34/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=35/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=36/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=37/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=38/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=39/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=40/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=41/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=42/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=43/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=44/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=45/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=46/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=47/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=48/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=49/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=50/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=51/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=52/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=53/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=54/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=55/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=56/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=57/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=58/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=59/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=60/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=61/>
rdm6il06r0x1xm4dg1cms85ii4qa4no
314904
314902
2026-08-20T07:07:25Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
314904
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Janie
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1937
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=6/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=7/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=8/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=9/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=10/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=11/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=12/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=13/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=14/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=15/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=16/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=17/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=18/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=19/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=20/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=21/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=22/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=23/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=24/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=25/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=26/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=27/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=28/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=29/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=30/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=31/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=32/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=33/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=34/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=35/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=36/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=37/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=38/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=39/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=40/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=41/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=42/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=43/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=44/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=45/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=46/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=47/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=48/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=49/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=50/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=51/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=52/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=53/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=54/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=55/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=56/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=57/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=58/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=59/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=60/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=61/>
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
jcd454ovcpsa3yww98ectwxxy17o90m
315040
314904
2026-08-20T11:01:30Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
315040
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Janie
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1937
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|title=Daftar Isi|
# [[/Bab 1|I]]
# [[/Bab 2|II]]
# [[/Bab 3|III]]
# [[/Bab 4|IV]]
# [[/Bab 5|V]]
# [[/Bab 6|VI]]
# [[/Bab 7|VII]]
# [[/Bab 8|VIII]]
# [[/Bab 9|XI]]
# [[/Bab 10|X]]
}}
{{DP-ID-lama}}
k5a4q7kpmn9yo0c3cnzct2fqy1504ij
315042
315040
2026-08-20T11:09:48Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
315042
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Janie
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Halaman Depan
| previous =
| next = [[Janie/Bab 1|I]]
| year = 1937
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|title=Daftar Isi|
# [[/Bab 1|I]]
# [[/Bab 2|II]]
# [[/Bab 3|III]]
# [[/Bab 4|IV]]
# [[/Bab 5|V]]
# [[/Bab 6|VI]]
# [[/Bab 7|VII]]
# [[/Bab 8|VIII]]
# [[/Bab 9|XI]]
# [[/Bab 10|X]]
}}
{{DP-ID-lama}}
mq4yvk2eft65ux3fk689fs1w7zb2ykg
315057
315042
2026-08-20T11:42:45Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
315057
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Janie
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Halaman Depan
| previous =
| next = [[Janie/Bab 1|I]]
| year = 1937
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" include=1/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=2/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=3/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=4/>
{{pb|label=}}
<pages index="Janie.pdf" include=5/>
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|title=Daftar Isi|
# [[/Bab 1|I]]
# [[/Bab 2|II]]
# [[/Bab 3|III]]
# [[/Bab 4|IV]]
# [[/Bab 5|V]]
# [[/Bab 6|VI]]
# [[/Bab 7|VII]]
# [[/Bab 8|VIII]]
# [[/Bab 9|IX]]
# [[/Bab 10|X]]
}}
{{DP-ID-lama}}
kglmmnhuhwj9pd206j4n0f7tlvto1s6
Pengorbanan
0
114210
314905
2026-08-20T07:08:13Z
Alicya-
21994
halaman baru
314905
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Pengorbanan
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1931
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" include="5" />
{{pb|label=}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" include="7" />
nhcbs0r2mn5ygew5lzipypqdm53b7yo
314917
314905
2026-08-20T07:32:08Z
Alicya-
21994
314917
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Pengorbanan
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1931
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" include="5" />
{{pb|label=}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" include="7" />
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|title=Daftar Isi|
# [[/I|I]]
# [[/II|II]]
# [[/III|III]]
# [[/IV|IV]]
# [[/V|V]]
# [[/VI|VI]]
# [[/VII|VII]]
}}
{{DP-ID-lama}}
02xneaurxatnohfmss4617y87u88n2r
Pengorbanan/I
0
114211
314906
2026-08-20T07:28:24Z
Alicya-
21994
halaman baru
314906
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = I
| previous = [[/|Halaman depan]]
| next = [[/II|II]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=9 to=16 />
hedxtomj326ff4py1x1xuihyo1adz79
314908
314906
2026-08-20T07:29:02Z
Alicya-
21994
314908
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = I
| previous = [[../|Halaman depan]]
| next = [[/II|II]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=9 to=16 />
5wca6jkhl8wq7oxj046k0se0l246s70
314910
314908
2026-08-20T07:30:29Z
Alicya-
21994
314910
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = I
| previous = [[../|Halaman depan]]
| next = [[../II|II]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=9 to=16 />
m5fjqm3ouegzz7uqatcwpsvfl4qmbtv
Halaman:The Belle of Menado.pdf/33
104
114212
314907
2026-08-20T07:28:39Z
Ammachemist
27288
/* Telah diuji baca */
314907
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ammachemist" />{{rh|56|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''THE BELLE of MENADO'''}}||57}}</noinclude>boengkoesan?" ia menanjah dan merase sangsi boeat boeka.
„Saia tida taoe dan ia djoega tida maoe kasi taoe fjeema minta jang ini barang moesti ditrimaken dalem kau poenja tengan sendiri, Hida boleh laen orang.”
Itoe gadis djadi lebih heran.
„Saia boekan iapoenja sobat,” katanja dengen toendoek, „saia inget tida poenja oeroesan apa-apa padanja dan saia merasa tida poenja kwadjiban boeat trima ini kiriman, lebih baek kau bawa kombali.”
Tek-lok djadi bingoeng. „Tida, kau moesti trima. Boleh djadi kau tida maoe kenal padanja, tepi boekan ada perkara djelek kapan ia ada kirim ini dan kau trima,”
Boeat brapa sa'at pendengeran ada soenji. Liang-nio poenja hati ada berdebar, samentara Tek-lok memandeng itoe roman dengen saben-saben menelen loedah, dan dalem iapoenja pikiran ada bilang jang Tjhiang-in ada betoel tida maoe bikin pertjoba'an lebi djaoe, kerna maski sampe bagimana lama tida nanti itoe kawan bisa menangken hatinja itoe nona jang sekarang ada di hadepannja dengen membawa itoe ka'angkoehan sebagi Ratoe Makota.
„Sekarang ada tempo boeat saia poelang," ia berkata sembari berbangkit. Apa kau tida ada sedikit perkata'an boeat disampeken padanja?"
Orang jang ditanjah berdiam, kamoedian berkata : „Seia tide ade perkata'an apa-apa boeat ja.”
„Apa kau tida soeka boeat kirim doea perkata'an? Ia besoek loesa bakel kombali poelang ka Sourabaya, brangkali kau soeka boeat kasi ia slamet djalan? saia nanti sampeken itoe.”
Kombali itoe gadis tida mendjawab, dan ini kali iapoenja sorot mata ada mengoendjoeken rasa terkedjoet dan doeka. Bibimja ada kliatan goemeter boeat tjoba loskisken perkata'an, dan betoel djoega tida brapa sa'at satoe soeara lemah ada kadengeran :
„Sampeken saia poenja slamet dialan."
„Trima kasi boeat ia," Tek-lok djawab dengen hati legah. „Ia nanti bersoekoer kau ada itoe kamoerahan hati."
Tida brapa menute kamoedian ia soeda berdjalan poelang dengen masih membawa gontjangnja hati jang keras.
Liang-nio lantas boeka iketannja itoe boengkossan tatkala iapoenja tetamoe soeda kaloear. Iapoenja tangan goemeter dan hatinja berdebar keras. Begitoe lekas delem sitoe ia dapetken satoe soerat brikoet japoenja mata tjintjin jang terlepas. Astaga! apakah artinja itoe ?
Boeroe-boeroe ia batja itoe soerat :
: {{smaller|Nona Liang-nio, bersama ini saia kisim kombali kau poonja mata tjintjin. Itoe barang ade terlepas djatoh, saia katemoeken di moeka pintoe dari kau poonja roemah. Moestinja saia lantas kasi kombali, tapi oh, satoe pengrusa'an ada menjegah. Saia sajang boeat berpisah sama itoe bareng seperti saia merasa berat menjingkir dori hadepannja itoe orang jang poonja (sampe di sini Liang-nio poenja roman berobah merah dan dadanja semingkin bordebar). Tapi sekarang kaada’an kasi saia taoe jang selekasnja saia moesti menjingkir dari Menado atawa saia nanti dapat pengalaman jang lebih pait. Kau tra perloe taoe apa sebabnja.}}
: {{smaller|„Saia tida minta kau poonja ma‘af sama apa jang saia pernah berboeat itoe malem. Saia taoe kau poenja ma'af ada mahal seperti besarnja kau poenja ka'angkoehan, djadi saia tide brani boeat dapetien itoe, tapi djoega saia tida takoet boeat kau mati, kau tjatji selagi masih ada di sini.}}<noinclude></noinclude>
qpud1lb6c0yu42irxsnovkofwwb5sh2
Pengorbanan/II
0
114213
314909
2026-08-20T07:29:26Z
Alicya-
21994
halaman baru
314909
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = II
| previous = [[/I|I]]
| next = [[/III|III]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=17 to=31 />
bl9qai4abhp7ien59xc9p78y6v8tqo4
314911
314909
2026-08-20T07:30:43Z
Alicya-
21994
314911
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = II
| previous = [[../I|I]]
| next = [[../III|III]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=17 to=31 />
9aoa9zf8wi9kiojc25mtdrc0r3yeqdg
Pengorbanan/III
0
114214
314912
2026-08-20T07:30:59Z
Alicya-
21994
halaman baru
314912
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = III
| previous = [[../II|II]]
| next = [[../IV|IV]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=32 to=51 />
nbzpitc6rpc2x2dfu9rb2drk8nlic9h
Pengorbanan/IV
0
114215
314913
2026-08-20T07:31:12Z
Alicya-
21994
halaman baru
314913
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = IV
| previous = [[../III|III]]
| next = [[../V|V]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=52 to=66 />
2lnk8gdepemy032lnddj4sfvm4tlmvr
Pengorbanan/V
0
114216
314914
2026-08-20T07:31:27Z
Alicya-
21994
halaman baru
314914
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = V
| previous = [[../IV|IV]]
| next = [[../VI|VI]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=67 to=83 />
f2dfhsfb6x6lw22kgyz9mr5s13vfoyc
Pengorbanan/VI
0
114217
314915
2026-08-20T07:31:40Z
Alicya-
21994
halaman baru
314915
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = VI
| previous = [[../V|V]]
| next = [[../VII|VII]]
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=84 to=102 />
cogvb2pok9b6h0j776xotxqpb054z45
Pengorbanan/VII
0
114218
314916
2026-08-20T07:31:59Z
Alicya-
21994
halaman baru
314916
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Liem Khing Hoo
| translator =
| section = VII
| previous = [[../VI|VI]]
| next =
| notes =
}}
<pages index="Tjerita Roman Pengorbanan.pdf" from=103 to=106 />
d3x069aenixvm7qfphssev9hymel4fh
Bangsawan dan Pengemis/Bab 1
0
114219
314920
2026-08-20T07:54:22Z
Alicya-
21994
halaman baru
314920
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 1
| previous = [[../|Halaman depan]]
| next = [[../Bab 2|Bab 2]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=3 to=11 />
9nmb8y0y1qzhs3uert7nr2qqbf9hkea
Bangsawan dan Pengemis/Bab 2
0
114220
314921
2026-08-20T07:55:11Z
Alicya-
21994
halaman baru
314921
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 2
| previous = [[../Bab 1|Bab 1]]
| next = [[../Bab 2|Bab 2]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=12 to=20 />
p8xmctmslloevqsbp4qznfwts35q3wb
314922
314921
2026-08-20T07:55:25Z
Alicya-
21994
314922
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 2
| previous = [[../Bab 1|Bab 1]]
| next = [[../Bab 3|Bab 3]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=12 to=20 />
cdq0wiyvj3gyzt2rsnhq5rex55xk4ia
Bangsawan dan Pengemis/Bab 3
0
114221
314923
2026-08-20T07:56:29Z
Alicya-
21994
halaman baru
314923
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 3
| previous = [[../Bab 2|Bab 2]]
| next = [[../Bab 4|Bab 4]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=21 to=26 />
rg94gb6ajxktw2kyp5rcn2j5rcroay8
Bangsawan dan Pengemis/Bab 4
0
114222
314924
2026-08-20T07:57:35Z
Alicya-
21994
halaman baru
314924
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 4
| previous = [[../Bab 3|Bab 3]]
| next = [[../Bab 5|Bab 5]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=27 to=33 />
aoj5vua8tsx21ry8izlik5n0z5f7hir
Bangsawan dan Pengemis/Bab 5
0
114223
314926
2026-08-20T07:58:35Z
Alicya-
21994
halaman baru
314926
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 5
| previous = [[../Bab 4|Bab 4]]
| next = [[../Bab 6|Bab 6]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=34 to=42 />
1rbsfgpk2sswvdovn01d3kc918q9ghb
Bangsawan dan Pengemis/Bab 6
0
114224
314927
2026-08-20T07:59:42Z
Alicya-
21994
halaman baru
314927
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 6
| previous = [[../Bab 5|Bab 5]]
| next = [[../Bab 7|Bab 7]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=43 to=48 />
1nw9kugfq3gbairwd59r0v8l53ykdol
Bangsawan dan Pengemis/Bab 7
0
114225
314928
2026-08-20T08:00:32Z
Alicya-
21994
halaman baru
314928
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 7
| previous = [[../Bab 6|Bab 6]]
| next = [[../Bab 8|Bab 8]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=49 to=58 />
8jgh86v3h1rcg92k71vq3vveg6pjtho
Bangsawan dan Pengemis/Bab 8
0
114226
314930
2026-08-20T08:01:29Z
Alicya-
21994
halaman baru
314930
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 8
| previous = [[../Bab 7|Bab 7]]
| next = [[../Bab 9|Bab 9]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=59 to=66 />
kni2knem3n706ks2rw3o9lkctd2a0a7
Bangsawan dan Pengemis/Bab 9
0
114227
314931
2026-08-20T08:02:29Z
Alicya-
21994
halaman baru
314931
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 9
| previous = [[../Bab 8|Bab 8]]
| next = [[../Bab 10|Bab 10]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=67 to=75 />
fkjn38flinb90u8ztblm9ab42hf7n1b
Bangsawan dan Pengemis/Bab 10
0
114228
314932
2026-08-20T08:03:35Z
Alicya-
21994
halaman baru
314932
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 10
| previous = [[../Bab 9|Bab 9]]
| next = [[../Bab 11|Bab 11]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=76 to=81 />
qr85c5t3edphpwz9iv3wdfva8w2rzdt
Bangsawan dan Pengemis/Bab 11
0
114229
314933
2026-08-20T08:04:27Z
Alicya-
21994
halaman baru
314933
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 11
| previous = [[../Bab 10|Bab 10]]
| next = [[../Bab 12|Bab 12]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=82 to=91 />
m5v1tmrg5x55o1u3d9g8rqezkq556ny
Bangsawan dan Pengemis/Bab 12
0
114230
314934
2026-08-20T08:05:32Z
Alicya-
21994
halaman baru
314934
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 12
| previous = [[../Bab 11|Bab 11]]
| next = [[../Bab 13|Bab 13]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=92 to=102 />
8skn3hcxyzsfuffwxxodtiq4ewk8fsh
Bangsawan dan Pengemis/Bab 13
0
114231
314935
2026-08-20T08:06:54Z
Alicya-
21994
halaman baru
314935
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 13
| previous = [[../Bab 12|Bab 12]]
| next = [[../Bab 14|Bab 14]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=103 to=108 />
fbbswsjegmw7cgkxu9thdox2c54linf
Bangsawan dan Pengemis/Bab 14
0
114232
314936
2026-08-20T08:08:05Z
Alicya-
21994
halaman baru
314936
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 14
| previous = [[../Bab 13|Bab 13]]
| next = [[../Bab 15|Bab 15]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=109 to=114 />
t7xi7tksbdxo39t3f1fubmvpx0rtdfx
Bangsawan dan Pengemis/Bab 15
0
114233
314937
2026-08-20T08:09:08Z
Alicya-
21994
halaman baru
314937
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 15
| previous = [[../Bab 14|Bab 14]]
| next = [[../Bab 16|Bab 16]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=115 to=124 />
dj764fs59ap1t4a5r6av5eu2t3a8k85
Bangsawan dan Pengemis/Bab 16
0
114234
314938
2026-08-20T08:10:17Z
Alicya-
21994
halaman baru
314938
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 16
| previous = [[../Bab 15|Bab 15]]
| next = [[../Bab 17|Bab 17]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=125 to=141 />
pc05nh0hamxz4ut8wro1oqzo735xpzd
Bangsawan dan Pengemis/Bab 17
0
114235
314939
2026-08-20T08:12:05Z
Alicya-
21994
halaman baru
314939
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 17
| previous = [[../Bab 16|Bab 16]]
| next = [[../Bab 18|Bab 18]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=142 to=149 />
ib6gag01etdb3tntuzq8n89rk3o5jqb
Bangsawan dan Pengemis/Bab 18
0
114236
314940
2026-08-20T08:13:00Z
Alicya-
21994
halaman baru
314940
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 18
| previous = [[../Bab 17|Bab 17]]
| next = [[../Bab 19|Bab 19]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=150 to=156 />
54lrosnqolj18obpahbb6zxp31oohx2
Bangsawan dan Pengemis/Bab 19
0
114237
314941
2026-08-20T08:14:06Z
Alicya-
21994
halaman baru
314941
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 19
| previous = [[../Bab 18|Bab 18]]
| next = [[../Bab 20|Bab 20]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=157 to=166 />
7r4rplzdt7ln4p6asslj0k6poadz78v
Bangsawan dan Pengemis/Bab 20
0
114238
314942
2026-08-20T08:14:54Z
Alicya-
21994
halaman baru
314942
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 20
| previous = [[../Bab 19|Bab 19]]
| next = [[../Bab 21|Bab 21]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=167 to=173 />
ohjwui58ta75dlgag332ezd7s7kszm4
Bangsawan dan Pengemis/Bab 21
0
114239
314943
2026-08-20T08:15:56Z
Alicya-
21994
halaman baru
314943
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 21
| previous = [[../Bab 20|Bab 20]]
| next = [[../Bab 22|Bab 22]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=174 to=180 />
py48n0otiv2b0tsq2jkrhlh84y0k43t
Bangsawan dan Pengemis/Bab 22
0
114240
314944
2026-08-20T08:16:54Z
Alicya-
21994
halaman baru
314944
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 22
| previous = [[../Bab 21|Bab 21]]
| next = [[../Bab 23|Bab 23]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=181 to=187 />
jpgxkhwvgpbcvgazkzbcnlje7d7sfjl
Bangsawan dan Pengemis/Bab 23
0
114241
314945
2026-08-20T08:17:38Z
Alicya-
21994
halaman baru
314945
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 23
| previous = [[../Bab 22|Bab 22]]
| next = [[../Bab 24|Bab 24]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=188 to=197 />
gd6d22oa9fucly3jyvplon3qduow9i8
Bangsawan dan Pengemis/Bab 24
0
114242
314946
2026-08-20T08:18:41Z
Alicya-
21994
halaman baru
314946
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 24
| previous = [[../Bab 23|Bab 23]]
| next = [[../Bab 25|Bab 25]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=197 to=204 />
pk4j5o5kd1f2dj1nsc23lbp468jf904
Bangsawan dan Pengemis/Bab 25
0
114243
314947
2026-08-20T08:19:56Z
Alicya-
21994
halaman baru
314947
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 25
| previous = [[../Bab 24|Bab 24]]
| next = [[../Bab 26|Bab 26]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=205 to=212 />
krcz8tqqfxjvtw1y5ydcryob0ch1yul
Bangsawan dan Pengemis/Bab 26
0
114244
314948
2026-08-20T08:21:11Z
Alicya-
21994
halaman baru
314948
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 26
| previous = [[../Bab 25|Bab 25]]
| next = [[../Bab 27|Bab 27]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=213 to=223 />
38kz0fj5iksc3vcom6jxoezopr1r7wv
Bangsawan dan Pengemis/Bab 27
0
114245
314949
2026-08-20T08:22:30Z
Alicya-
21994
halaman baru
314949
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 27
| previous = [[../Bab 26|Bab 26]]
| next = [[../Bab 28|Bab 28]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=224 to=233 />
qs9493hq8rvqq5nvfg7ftbk5ac3q5df
Bangsawan dan Pengemis/Bab 28
0
114246
314950
2026-08-20T08:23:32Z
Alicya-
21994
halaman baru
314950
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 28
| previous = [[../Bab 27|Bab 27]]
| next = [[../Bab 29|Bab 29]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=234 to=243 />
e6vejedm9eyxp3045sa4vpfsf5ph47j
Bangsawan dan Pengemis/Bab 29
0
114247
314951
2026-08-20T08:24:25Z
Alicya-
21994
halaman baru
314951
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 29
| previous = [[../Bab 28|Bab 28]]
| next = [[../Bab 30|Bab 30]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=244 to=254 />
c815k0mlkjrr3jobwkt4qgnhanr04t9
Bangsawan dan Pengemis/Bab 30
0
114248
314952
2026-08-20T08:25:22Z
Alicya-
21994
halaman baru
314952
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 30
| previous = [[../Bab 29|Bab 29]]
| next = [[../Bab 31|Bab 31]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=255 to=264 />
32rfhtwvw9rxuniauuubr74xt3z7ft1
Bangsawan dan Pengemis/Bab 31
0
114249
314953
2026-08-20T08:26:16Z
Alicya-
21994
halaman baru
314953
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 31
| previous = [[../Bab 30|Bab 30]]
| next = [[../Bab 32|Bab 32]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=265 to=271 />
2ktwsysq71nc8a3hjwu2xolk0krwq7w
Bangsawan dan Pengemis/Bab 32
0
114250
314954
2026-08-20T08:27:50Z
Alicya-
21994
halaman baru
314954
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 32
| previous = [[../Bab 31|Bab 31]]
| next = [[../Bab 33|Bab 33]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=272 to=282 />
fv1714cgnfentkshryn8jvvmwzeualy
Bangsawan dan Pengemis/Bab 33
0
114251
314955
2026-08-20T08:28:37Z
Alicya-
21994
halaman baru
314955
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 33
| previous = [[../Bab 32|Bab 32]]
| next = [[../Bab 34|Bab 34]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=283 to=294 />
bm4lxvmaxdtdh51qzmmgml299aqweiu
Bangsawan dan Pengemis/Bab 34
0
114252
314956
2026-08-20T08:29:44Z
Alicya-
21994
halaman baru
314956
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 34
| previous = [[../Bab 33|Bab 33]]
| next = [[../Bab 35|Bab 35]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=295 to=301 />
qacjvpuhwv3c0q2g6929vcgs0w4h2t4
Bangsawan dan Pengemis/Bab 35
0
114253
314957
2026-08-20T08:31:07Z
Alicya-
21994
halaman baru
314957
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 35
| previous = [[../Bab 34|Bab 34]]
| next = [[../Bab 36|Bab 36]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=302 to=309 />
o54bfltr6mcshpoug12j7mr2rt9t23p
Bangsawan dan Pengemis/Bab 36
0
114254
314958
2026-08-20T08:32:08Z
Alicya-
21994
halaman baru
314958
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 36
| previous = [[../Bab 35|Bab 35]]
| next = [[../Bab 37|Bab 37]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=310 to=325 />
4rfwejcknjfclszw6v06svhpjwew28l
Bangsawan dan Pengemis/Bab 37
0
114255
314959
2026-08-20T08:33:10Z
Alicya-
21994
halaman baru
314959
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 37
| previous = [[../Bab 36|Bab 36]]
| next = [[../Bab 38|Bab 38]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=326 to=336 />
43ewohvjyxlh2q6stoawg2u8mzmne4i
Bangsawan dan Pengemis/Bab 38
0
114256
314960
2026-08-20T08:34:07Z
Alicya-
21994
halaman baru
314960
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 38
| previous = [[../Bab 37|Bab 37]]
| next = [[../Bab 39|Bab 39]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=337 to=342 />
0pdx67g91sjqyrqdl7hskx6msmm75b5
Bangsawan dan Pengemis/Bab 39
0
114257
314961
2026-08-20T08:35:26Z
Alicya-
21994
halaman baru
314961
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 39
| previous = [[../Bab 38|Bab 38]]
| next = [[../Bab 40|Bab 40]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=343 to=352 />
086msrmkdfnn37vmqybfot47iz7j3p0
Bangsawan dan Pengemis/Bab 40
0
114258
314962
2026-08-20T08:36:27Z
Alicya-
21994
halaman baru
314962
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 40
| previous = [[../Bab 39|Bab 39]]
| next = [[../Bab 41|Bab 41]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=353 to=364 />
1in9bgiwn16qjzf13xhrjlj3nu7w2rb
Bangsawan dan Pengemis/Bab 41
0
114259
314963
2026-08-20T08:37:48Z
Alicya-
21994
halaman baru
314963
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 41
| previous = [[../Bab 40|Bab 40]]
| next = [[../Bab 42|Bab 42]]
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=365 to=372 />
6lo1ibjbzp7ck6u2c2l63u2fvg1j519
Bangsawan dan Pengemis/Bab 42
0
114260
314964
2026-08-20T08:39:18Z
Alicya-
21994
halaman baru
314964
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author =
| translator =
| section = Bab 42
| previous = [[../Bab 41|Bab 41]]
| next =
| notes =
}}
<pages index="Bangsawan dan Pengemis.pdf" from=373 to=384 />
7ghh947az52g5cap1i91zt7zqj5mc92
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 1
0
114261
315000
2026-08-20T09:21:38Z
Alicya-
21994
halaman baru
315000
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 1
| previous = [[../|Halaman depan]]
| next = [[../Bab 2|Bab 2]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=3 fromsection="1" to=7 tosection="1" />
mrh0yagxyf921k5x1ce9jz96l2zl2yd
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 2
0
114262
315002
2026-08-20T09:25:35Z
Alicya-
21994
halaman baru
315002
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 2
| previous = [[../Bab 1|Bab 1]]
| next = [[../Bab 3|Bab 3]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=7 fromsection="2" to=14 tosection="2" />
onlduu7dvdoagtj25lzaf0ucskhps3s
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 3
0
114263
315004
2026-08-20T09:27:34Z
Alicya-
21994
halaman baru
315004
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 3
| previous = [[../Bab 2|Bab 2]]
| next = [[../Bab 4|Bab 4]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=14 fromsection="3" to=20 tosection="3" />
bcho23196y5y82znhcnmw57fdbdxnnp
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 4
0
114264
315007
2026-08-20T09:29:43Z
Alicya-
21994
halaman baru
315007
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 4
| previous = [[../Bab 3|Bab 3]]
| next = [[../Bab 5|Bab 5]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=21 fromsection="4" to=25 tosection="4" />
mehdmbbvqedihl6zlpwf7degfomii2q
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 5
0
114265
315009
2026-08-20T09:31:37Z
Alicya-
21994
halaman baru
315009
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 5
| previous = [[../Bab 4|Bab 4]]
| next = [[../Bab 6|Bab 6]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=25 fromsection="5" to=32 tosection="5" />
nxbb1b7cgtuzwi2rvi33g6vgegm2sir
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 6
0
114266
315011
2026-08-20T09:34:18Z
Alicya-
21994
halaman baru
315011
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 6
| previous = [[../Bab 1|Bab 1]]
| next = [[../Bab 3|Bab 3]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=32 fromsection="6" to=38 tosection="6" />
iscxt5rhcq2x90g4mc720prjl1glh05
315012
315011
2026-08-20T09:34:37Z
Alicya-
21994
315012
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 6
| previous = [[../Bab 5|Bab 5]]
| next = [[../Bab 7|Bab 7]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=32 fromsection="6" to=38 tosection="6" />
bes0x0j56v49af0uxw37fwwhldrg28c
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 7
0
114267
315014
2026-08-20T09:40:07Z
Alicya-
21994
halaman baru
315014
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 7
| previous = [[../Bab 6|Bab 6]]
| next = [[../Bab 8|Bab 8]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=38 fromsection="7" to=45 tosection="7" />
6mtdbp8vyohw98gq8a5hcvhmhqwhfri
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 8
0
114268
315031
2026-08-20T09:53:23Z
Alicya-
21994
halaman baru
315031
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 8
| previous = [[../Bab 7|Bab 7]]
| next = [[../Bab 9|Bab 9]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=45 fromsection="8" to=49 tosection="8" />
hwdan9e1wiog1x6ti8hxdv01x6rhcsy
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 9
0
114269
315036
2026-08-20T10:03:21Z
Alicya-
21994
halaman baru
315036
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 9
| previous = [[../Bab 8|Bab 8]]
| next = [[../Bab 10|Bab 10]]
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=49 fromsection="9" to=54 tosection="9" />
4qxz51oo4yt1x1f2x895jlrvv8uttw1
Tjinta dan Pengorbanan/Bab 10
0
114270
315038
2026-08-20T10:04:45Z
Alicya-
21994
halaman baru
315038
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Dahlia
| translator =
| section = Bab 10
| previous = [[../Bab 9|Bab 9]]
| next =
| notes =
}}
<pages index="Tjinta dan pengorbanan.pdf" from=54 fromsection="10" to=59 tosection="10" />
pqyjxcxb256jsje3magegsi02nejqij
Janie/Bab 1
0
114271
315041
2026-08-20T11:06:52Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 1 | previous = [[../|Halaman depan]] | next = [[../Bab 2|II]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=5 fromsection="1" to=9 tosection="1" />'
315041
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 1
| previous = [[../|Halaman depan]]
| next = [[../Bab 2|II]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=5 fromsection="1" to=9 tosection="1" />
533xx6b89d2iqpapsr1aggf9lmg13w2
Janie/Bab 2
0
114272
315043
2026-08-20T11:12:21Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 2 | previous = [[../|Bab 1|I]] | next = [[../Bab 3|III]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=9 fromsection="1" to=15 tosection="1" />'
315043
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 2
| previous = [[../|Bab 1|I]]
| next = [[../Bab 3|III]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=9 fromsection="1" to=15 tosection="1" />
rr9iszxlqw77smoad7wfys1rbppbheh
315044
315043
2026-08-20T11:14:00Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
315044
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 2
| previous = [[../Bab 1|I]]
| next = [[../Bab 3|III]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=9 fromsection="1" to=15 tosection="1" />
s18dklfpcgsb01mpg4r7u10caeqtaqk
Janie/Bab 3
0
114273
315045
2026-08-20T11:23:25Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 3 | previous = [[../Bab 2|II]] | next = [[../Bab 4|IV]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=15 fromsection="1" to=18 tosection="1" />'
315045
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 3
| previous = [[../Bab 2|II]]
| next = [[../Bab 4|IV]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=15 fromsection="1" to=18 tosection="1" />
askuqhfmqd364fygiv1yp745oukoa8e
Janie/Bab 4
0
114274
315046
2026-08-20T11:25:19Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 4 | previous = [[../Bab 3|III]] | next = [[../Bab 5|V]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=17 fromsection="1" to=23 tosection="1" />'
315046
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 4
| previous = [[../Bab 3|III]]
| next = [[../Bab 5|V]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=17 fromsection="1" to=23 tosection="1" />
dcu0alv7sqpd1i9ryr0s6t1rngy5tmn
Janie/Bab 5
0
114275
315047
2026-08-20T11:28:10Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 5 | previous = [[../Bab 4|IV]] | next = [[../Bab 6|VI]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=23 fromsection="1" to=30 tosection="1" />'
315047
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 5
| previous = [[../Bab 4|IV]]
| next = [[../Bab 6|VI]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=23 fromsection="1" to=30 tosection="1" />
d77ko4opekw5osgutta0nq0seys7mr5
Janie/Bab 6
0
114276
315048
2026-08-20T11:31:29Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 6 | previous = [[../Bab 5|V]] | next = [[../Bab 7|VII]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=29 fromsection="1" to=33 tosection="1" />'
315048
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 6
| previous = [[../Bab 5|V]]
| next = [[../Bab 7|VII]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=29 fromsection="1" to=33 tosection="1" />
rqfho3emx4f3inyt67nh4w15yqod4lh
Janie/Bab 7
0
114277
315049
2026-08-20T11:33:21Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 7 | previous = [[../Bab 6|VI]] | next = [[../Bab 8|VIII]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=33 fromsection="1" to=36 tosection="1" />'
315049
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 7
| previous = [[../Bab 6|VI]]
| next = [[../Bab 8|VIII]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=33 fromsection="1" to=36 tosection="1" />
nip5u6y9mn45s8ofl3w39kjq3k471zh
Janie/Bab 8
0
114278
315051
2026-08-20T11:34:44Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 8 | previous = [[../Bab 7|VII]] | next = [[../Bab 9|IX]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=36 fromsection="1" to=40 tosection="1" />'
315051
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 8
| previous = [[../Bab 7|VII]]
| next = [[../Bab 9|IX]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=36 fromsection="1" to=40 tosection="1" />
7cldz1wj4yai162gtqbm64er09aaojv
Janie/Bab 9
0
114279
315052
2026-08-20T11:36:28Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 9 | previous = [[../Bab 8|VIII]] | next = [[../Bab 10|X]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=39 fromsection="1" to=43 tosection="1" />'
315052
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 9
| previous = [[../Bab 8|VIII]]
| next = [[../Bab 10|X]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=39 fromsection="1" to=43 tosection="1" />
993jsj6myp842i0oj8lq7meesbnrfxb
Janie/Bab 10
0
114280
315054
2026-08-20T11:40:08Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Bab 10 | previous = [[../Bab 9|IX]] | next = [[../Halaman belakang|Halaman belakang]] | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=42 fromsection="1" to=47 tosection="1" />'
315054
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 10
| previous = [[../Bab 9|IX]]
| next = [[../Halaman belakang|Halaman belakang]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=42 fromsection="1" to=47 tosection="1" />
nd71uh0770org4rsbvwomha9m4hlj67
315059
315054
2026-08-20T11:44:19Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
315059
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 10
| previous = [[../Bab 9|IX]]
| next = [[../|Halaman belakang]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=42 fromsection="1" to=47 tosection="1" />
1ar6fr7f3ls5an5jba3n6gx9zjf1xph
315060
315059
2026-08-20T11:45:00Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
315060
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Bab 10
| previous = [[../Bab 9|IX]]
| next = [[../Halaman belakang|Halaman belakang]]
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=42 fromsection="1" to=47 tosection="1" />
nd71uh0770org4rsbvwomha9m4hlj67
Janie/Halaman belakang
0
114281
315056
2026-08-20T11:41:24Z
Ogidzatul Azis Sueb
25874
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[../]] | author = Roro Paloepie | translator = | section = Halaman belakang | previous = [[../Bab 10|X]] | next = | notes = }} <pages index="Janie.pdf" from=47 fromsection="1" to=61 tosection="1" />'
315056
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[../]]
| author = Roro Paloepie
| translator =
| section = Halaman belakang
| previous = [[../Bab 10|X]]
| next =
| notes =
}}
<pages index="Janie.pdf" from=47 fromsection="1" to=61 tosection="1" />
nhzty0z4lafzyur92nbpjv7zyt69t51