Wikisumber idwikisource https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama MediaWiki 1.47.0-wmf.18 first-letter Media Istimewa Pembicaraan Pengguna Pembicaraan Pengguna Wikisumber Pembicaraan Wikisumber Berkas Pembicaraan Berkas MediaWiki Pembicaraan MediaWiki Templat Pembicaraan Templat Bantuan Pembicaraan Bantuan Kategori Pembicaraan Kategori Pengarang Pembicaraan Pengarang Indeks Pembicaraan Indeks Halaman Pembicaraan Halaman Portal Pembicaraan Portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Pembicaraan Acara Halaman:Horison 12 1986.pdf/5 104 114638 316828 316822 2026-09-01T13:49:16Z Hadithfajri 15274 /* Telah diuji baca */ 316828 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>Wawancara <big><big> ''Menutup''<br> ''Pusat Pembinaan Dan''<br> ''Pengembangan''<br> ''Bahasa:''<br> ''Apa Salahnya?''</big></big> <i>Jum'at 17 Oktober 1986, setelah hari pertama TEMU BUDAYA '86 di Taman Ismail Marzuki, hampir semua surat kabar di Jakarta memberitakan, bahwa S. Takdir Alisjahbana menuntut agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditutup. Malahan ada yang mengatakan dibubarkan saja. Berita yang sama tentu juga dimuat dalam surat kabar di kota-kota dan daerah-daerah lain di Indonesia. Sehubungan dengan itu, majalah HORISON menugaskan M. Nasruddin Anshory Ch untuk menemui Prof. Sutan Takdir Alisjahbana dan mewawancarainya secara langsung. Wawancara ini dititik beratkan perihal bulan bahasa. Berikut ini hasil wawancaranya: </i> T: Dalam mengucapkan pemikirannya di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 16 Oktober 1986, pak Takdir menyatakan kekesalan dan kegemasan akan lambatnya perkembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern yang dewasa seperti bahasa Inggris dan teristimewa seperti bahasa Jepang. Lalu gagasan apa yang akan pak Takdir tawarkan untuk mempercepat perkembangan dan memperbaiki mutu bahasa Indonesia? J: Sebelum menjawab pertanyaan saudara, saya akan bertanya lebih dulu. Kalian di HORISON itu membaca karangan saya apa nggak? Yang saya tulis di harian PRIORITAS dan SUARA KARYA? Di sana sudah saya jelaskan beberapa permasala hannya. Nah, pertama kali kalian mesti baca itu dulu dong. Itu, terutama sekali berdasarkan penciptaan kata-kata yang terus menerus yang dilakukan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Itu semua sebenarnya mengacau bahasa Indonesia. Perkataan seperti ''monitor'' misalnya, buat apa musti diganti dengan ''pantau''. Buat apa? Malahan mereka mau mengganti perkataan ''efisien'' menjadi ''mangkus''. Mereka juga membuat suatu perkataan ''anjang karya'', yang berarti berkunjung sambil menjalankan tugas. ''Discolor'' menjadi ''awawarna''. Kemudian itu, ''disarm'' menjadi ''awasenjata''. Padahal itu kan sudah ada artinya semua. Nah, yang beginibegini ini banyak betul. Dan kalau kalian masih mau tahu, silahkan baca yang diterbitkan di lembar KOMUNIKASI oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Mereka itu terus menerus menelorkan kata-kata. Terutama bagian-bagian itu, bahasa Indonesia sekarang sudah janggal. Apa kalian di HORISON tidak mengalami kesulitan? Itu di universitas-universitas nggak ada. Jadi, pekerjaan membuat kata-kata yang begini ini hanya mengacaukan. Sekarang ini, sudah tiba waktunya kaum arsitek kita juga sekolah atau belajar bahasa Indonesia. Sebab arsitektur di Bandung diajarkan dalam bahasa Indonesia. Kalau seandainya mereka menemukan kata-kata baru, serahkan saja pada mereka sendiri. Jangan di sini lalu Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa membuat kata-kata baru yang nggak karu-karuan. Kalau kaum kedok<noinclude> -HORISON/XXI/401-</noinclude> 77jbj7pad490dhah6dh3nedlvzgfz71 Halaman:Horison 12 1986.pdf/6 104 114639 316829 316823 2026-09-01T13:54:01Z Hadithfajri 15274 /* Telah diuji baca */ 316829 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>teran juga menemukan kata-kata baru misalnya, atau para ahli hukum, mereka itu akan bingung sendiri nantinya. Lain halnya dulu, waktu Jepang masuk ke Indonesia, bahasa Indonesia belum dipakai di sekolah menengah. Sedang bahasa Belanda dilarang. Sebelum itu memang bahasa Belanda yang dipakai di sekolah menengah. Sedangkan bahasa Jepang sendiri belum bisa dipakai, oleh karena orang Indonesia belum ada yang pandai bahasa Jepang. Saat itulah tak ada lain kemungkinan daripada bahasa Indonesia. Di sekolah menengah atas waktu itu, seorang guru musti mengajarkan ilmu kimia. Dan belum seorang guru pun di Indonesia yang mengajarkan nya dalam bahasa Indonesia. Coba pikirkan. Belum ada seorang guru pun di Indonesia yang mengajar kan ilmu tumbuh-tumbuhan memakai bahasa Indonesia. Nah, pada saat Jepang masuk itulah guru-guru ini mencoba memakai bahasa Indonesia. Waktu itu, kebetulan saya sebagai kepala tata bahasa. Lalu saya minta kepada semua SMA agar memilih katakata yang musti dipakai, untuk selanjutnya kita buat ''card system'' dan kita pilih mana di antara kata-kata itu yang baik yang akan dipakai. Jadi misalnya sejarah untuk kata ''vessels'', ada yang menyebut daging. Ada yang menyebut otot. Ada juga yang menyebut urat. Lalu kita putuskan otot dipakai untuk menyebut ''vessels''. Urat untuk apa ? Urat saraf. Urat darah kita namakan pembuluh. Urat akar kita namakan akar. Nah, ketika kita sudah buat istilah-istilah itu, kita panggil guru-guru SMA untuk mencatat. Sesudahnya kita buat suatu daftar untuk masa yang akan datang di SMA, agar kata ini dipakai. Dan kita perbanyak itu, sebarkan ke seluruh Indonesia. Dalam waktu yang cepat semua sekolah di Indonesia memakai kata-kata yang sama. Lain dengan sekarang. Anak-anak sekarang sudah tahu apa kata kata yang dipakai di SMA, dan mereka tidak raguragu lagi memakainya. Jadi, pada dasarnya, istilah istilah kita sudah ada. Tidak perlu ada yang baru. Toh seperti monitor itu, apa salahnya dikatakan monitor? Ha? Kenapa musti pantau ? Siapa yang menjamin bahwa pantau itu dulu artinya betul-betul sama dengan monitor dalam dunia modern seperti sekarang. Dan sekarang perkataan efisien mau diganti. Memang, nenek moyang kita dulu tidak menggunakan perkataan efisien. Jadi, maksud saya berkata begini, kita nggak perlu harus menelorkan kata-kata baru. Lebih perlu menerjemahkan semua buku. Supaya orang kita lebih dapat membaca. Seperti anak-anak SMA sekarang, juga mahasiswa-mahasiswanya, tidak banyak yang bisa bahasa Inggris. Lalu berapa banyak buku yang mereka baca? Buku apa? Coba anak-anak SMA dan mahasiswa-mahasiswa itu suruh datang ke perpustakaan saya. Mereka tidak bisa membaca apa-apa. Semua bukunya berbahasa asing. Saya katakan orang Indonesia yang hanya pandai bahasa Indonesia, dibandingkan dengan orang Indonesia yang menguasai bahasa Inggris, itu orang bodoh. Sebab dalam bahasa Indonesia sekarang ini, tidak ada buku-buku yang penting dan bermutu tentang ilmu dan kemajuan dunia moderen, maupun perkembangan sejarah umat manusia. Lain dengan bahasa Inggris. Semua buku dari bangsa-bangsa di dunia ada. Ilmu yang paling maju ada. Juga pemikiran-pemikiran yang bagaimanapun bentuknya ada. Sekarang ini bangsa Indonesia lebih penting menerjemahkan buku-buku. Dan kalau datang istilah nanti, bisa lebih jelas sesamanya. Dan satu lagi, membuat kata-kata begini, seperti yang dilakukan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dengan tidak berunding dengan Malaysia, Brunai dan Singapura, akan menjauhkan bahasa kita dari bahasa Melayu. Untuk itu saya usulkan, adanya reorganisasi Pusat-Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menjadi beberapa lembaga, yaitu : I. Sebagian daripadanya dipusatkan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ditambah dengan ahli-ahli pendidikan bahasa, untuk membantu DEPDIKBUD merancang pelajaran bahasa Indonesia yang lebih baik. Juga untuk mendapatkan buku-buku pelajaran yang mampu memperbaiki pelajaran bahasa Indonesia dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. II. Sebagian lagi, yang tidak kalah pentingnya, disatukan dengan Balai Pustaka yang mengatur penerjemahan yang sistematis dan seluas-luasnya dengan bantuan penerbit, Departemen-Departemen Pemerintah, serta Instansi-Instansi lain supaya sebagian pekerjaan yang terbesar itu selesai pada akhir abad ke XX ini. Sehingga, bahasa Indonesia dapat mencapai kedudukan yang boleh dikatakan sama dengan bahasa Perancis, Jerman dan Jepang dalam memasuki abad ke XXI. Seperti di ketahui, kalau setiap satu tahun Indonesia dapat menerjemahkan seribu judul buku, maka akhir abad ke XX ini kita telah dapat menerjemahkan lima belas ribu judul buku. Ini memerlukan biaya 'sekitar! 15 x 3½ milyar = 52½ milyar. III. Sebagian dari ahli-ahli bahasa yang bergabung dalam Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dimasukkan dalam satu lembaga baru yang<noinclude> -HORISON/XX1/402</noinclude> 1qq2lq7244wob4lga7vo824powaym9j Halaman:Horison 12 1986.pdf/7 104 114640 316824 2026-09-01T13:34:39Z Hadithfajri 15274 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'terdiri dari 20 orang ahli bahasa. Sebagian dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina dan Thailand, yang bersama-sama menyelidiki, memikirkan dan mengkordinasi perkembangan bahasa Melayu Indonesia-mulai sehingga saling mendekati, dan akhirnya lebih bersatu dari Malay- sia sekarang untuk masa yang akan datang. Lemba- ga ini, antara lain dapat menyiapkan penerjemahan Encyclopedia Britannica untuk Asia Tenggara seperti yang dilakukan Je... 316824 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>terdiri dari 20 orang ahli bahasa. Sebagian dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina dan Thailand, yang bersama-sama menyelidiki, memikirkan dan mengkordinasi perkembangan bahasa Melayu Indonesia-mulai sehingga saling mendekati, dan akhirnya lebih bersatu dari Malay- sia sekarang untuk masa yang akan datang. Lemba- ga ini, antara lain dapat menyiapkan penerjemahan Encyclopedia Britannica untuk Asia Tenggara seperti yang dilakukan Jepang beberapa tahun yang lalu. IV. Pekerjaan menyelidiki dan mengadakan deskripsi bahasa-bahasa daerah dapat diserahkan kepada LIPI sebagai pusat ilmu sosial yang bekerja sama dengan universitas di pusat, di daerah mau- pun di luar negeri. Kalian di HORISON selalu melihat apa kata kata itu ? Nggak? Ini mubazir. Membuat kata-kata yang hanya mengacaukan. Dan ini hanya menjauh kan dari Malaysia, Brunei dan Singapura. Mustinya didirikan satu badan yang terdiri dari tiga bahasa, yaitu bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. Sebab ketiga-tiga bahasa ini menghadapi modernisasi. Kalau kita di Indonesia menerjemahkan perka- taan efisien dengan mangkus, Malaysia bagaimana? Nah, kalau kita mengambil perkataan monitor, Malaysia pasti juga memakai istilah monitor. Kita memakai istilah pantau dengan tidak berunding dengan Malaysia, dengan Singapura dan Brunei kan mengacaukan. Pemandangan orang-orang yang hanya bisa menelorkan kata-kata baru itu terlam- pau picik. Hanya melihat kegirangan sendiri men- ciptakan kata-kata, dan tidak melihat kebodohan masyarakat. Dan takut dengan bahasa Inggris. Apa mereka tidak tahu bahwa bahasa Inggris itu bahasa kita yang kedua ? T: Bagaimana dengan bahasa Indonesia yang ada sekarang? Bahasa di koran-koran, di sekolah sekolah, maupun di TV? J: Yang ada sekarang? Saya kira cukup baik. Toh saya membaca majalah HORISON tidak mengalami kesulitan. Saya mengajar di kampus ini para mahasiswa juga tidak mengalami kesulit. an..... T: Maksud saya, apa tidak mungkin diadakan perbaikan ? J: Mau diperbaiki ? Tentu bisa saja. Tapi seka- rang ini bahasa Indonesia sudah memadai sebagai bahasa resmi, bahasa mass media dan bahasa pengantar di sekolah. Terus terang, dalam lebih se- tengah abad ini kita dapat bergirang hati, bahwa kita yang hidup dalam negara yang paling terpecah- pecah di dunia, yaitu yang terdiri dari 13.000 pu- lau besar dan kecil, yang didiami oleh lebih dari 400 suku bangsa, masing-masing dengan bahasa dan kebudayaannya, dapat menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa dan bahasa untuk 170 juta manusia. Nah, ini suatu hasil kerja yang besar di- lihat dari jurusan linguistik maupun dari jurusan social and cultural engineering, yaitu pembinaan masyarakat dan kebudayaan maupun dari jurusan nation building, pembinaan suatu nation atau ke- satuan kebangsaan. Dibanding negara-negara lain seperti India, Ci- na, Spanyol, Srilangka, serta negara lainnya lagi, dalam hal ini Indonesia mengalahkan. Sehubungan dengan itu, saya berani berkata,bahwa ilmu sosio- linguistik yang menjelma dalam language planning atau language engineering, yaitu perancangan dan pembinaan bahasa dipelopori, berkembang dan mencapai puncak keberhasilannya di Indonesia dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tetapi, kata-kata saya ini bukan berarti bahwa bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah sempurna, kritik selalu ada dan musti diadakan da- lam berbagai hal. T: Oke, tadi bapak mengatakan bahwa bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah sempurna. Tapi kenyataannya, bangsa Indonesia belum sepenuhnya mampu mensiasati kebodohan dan keterbelakangannya. Pertanyaan saya apa titik kelemahan dari bahasa Indonesia dibanding- kan dengan bahasa asing, Inggris atau Jepang misalnya? J: Tidak ada bukunya, titik ! Sedangkan kalian semua bodoh! Tidak banyak yang menguasai baha- sa Inggris. Tidak dapat membaca buku tentang Einstein, bagaimana hukum-hukum yang dipakai untuk membuat bom atom. Hanya satu dua yang bisa. Dan yang berbahasa Indonesia nggak ada. Yang paling penting buku. Isi otak orang Indonesia itu hanya untuk asal ngomong aja. Tapi omongan itu musti berisi. Nah, isinya itu di Indonesia nggak ada. Saya tidak mengerti bahwa menteri Pendi- dikan dan Kebudayaan sampai 41 tahun ini tidak ada yang mengerti mengapa Jepang menerjemah- kan semua buku-buku. Dan kalian angkatan muda musti berteriak-teriak keras-keras. "Sengaja ini mau menahan kami bodoh?" Pendirian saya ini jelas. T: Bagaimana pembinaan bahasa di negara - negara asing yang pak Takdir ketahui ? Di Inggris, Perancis, Jerman, atau Jepang? J: Di Inggris, di Perancis, di Jepang, di Jerman, semua pembinaan bahasanya di sekolah mantap. Lain sekali dengan pembinaan bahasa melalui pelajaran sekolah di Indonesia... T: Kesalahan yang terjadi sebenarnya terletak dalam pemakaian kata-kata dan idiom serta pema- -HORISON/XXI/403-<noinclude></noinclude> 46a2jys7h606zll2m0q1ss5tz9620ru 316832 316824 2026-09-01T14:11:18Z Hadithfajri 15274 /* Telah diuji baca */ 316832 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>terdiri dari 20 orang ahli bahasa. Sebagian dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina dan Thailand, yang bersama-sama menyelidiki, memikirkan dan mengkordinasi perkembangan bahasa Melayu Indonesia-mulai sehingga saling mendekati, dan akhirnya lebih bersatu dari Malaysia sekarang untuk masa yang akan datang. Lembaga ini, antara lain dapat menyiapkan penerjemahan Encyclopedia Britannica untuk Asia Tenggara seperti yang dilakukan Jepang beberapa tahun yang lalu. IV. Pekerjaan menyelidiki dan mengadakan deskripsi bahasa-bahasa daerah dapat diserahkan kepada LIPI sebagai pusat ilmu sosial yang bekerja sama dengan universitas di pusat, di daerah maupun di luar negeri. Kalian di HORISON selalu melihat apa kata kata itu ? Nggak? Ini mubazir. Membuat kata-kata yang hanya mengacaukan. Dan ini hanya menjauh kan dari Malaysia, Brunei dan Singapura. Mustinya didirikan satu badan yang terdiri dari tiga bahasa, yaitu bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia. Sebab ketiga-tiga bahasa ini menghadapi modernisasi. Kalau kita di Indonesia menerjemahkan perkataan efisien dengan mangkus, Malaysia bagaimana? Nah, kalau kita mengambil perkataan monitor, Malaysia pasti juga memakai istilah monitor. Kita memakai istilah pantau dengan tidak berunding dengan Malaysia, dengan Singapura dan Brunei kan mengacaukan. Pemandangan orang-orang yang hanya bisa menelorkan kata-kata baru itu terlampau picik. Hanya melihat kegirangan sendiri menciptakan kata-kata, dan tidak melihat kebodohan masyarakat. Dan takut dengan bahasa Inggris. Apa mereka tidak tahu bahwa bahasa Inggris itu bahasa kita yang kedua ? T: Bagaimana dengan bahasa Indonesia yang ada sekarang? Bahasa di koran-koran, di sekolah sekolah, maupun di TV? J: Yang ada sekarang? Saya kira cukup baik. Toh saya membaca majalah HORISON tidak mengalami kesulitan. Saya mengajar di kampus ini para mahasiswa juga tidak mengalami kesulit. an..... T: Maksud saya, apa tidak mungkin diadakan perbaikan ? J: Mau diperbaiki ? Tentu bisa saja. Tapi sekarang ini bahasa Indonesia sudah memadai sebagai bahasa resmi, bahasa mass media dan bahasa pengantar di sekolah. Terus terang, dalam lebih setengah abad ini kita dapat bergirang hati, bahwa kita yang hidup dalam negara yang paling terpecahpecah di dunia, yaitu yang terdiri dari 13.000 pulau besar dan kecil, yang didiami oleh lebih dari 400 suku bangsa, masing-masing dengan bahasa dan kebudayaannya, dapat menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa dan bahasa untuk 170 juta manusia. Nah, ini suatu hasil kerja yang besar dilihat dari jurusan linguistik maupun dari jurusan social and cultural engineering, yaitu pembinaan masyarakat dan kebudayaan maupun dari jurusan nation building, pembinaan suatu nation atau kesatuan kebangsaan. Dibanding negara-negara lain seperti India, Cina, Spanyol, Srilangka, serta negara lainnya lagi, dalam hal ini Indonesia mengalahkan. Sehubungan dengan itu, saya berani berkata,bahwa ilmu sosiolinguistik yang menjelma dalam language planning atau language engineering, yaitu perancangan dan pembinaan bahasa dipelopori, berkembang dan mencapai puncak keberhasilannya di Indonesia dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tetapi, kata-kata saya ini bukan berarti bahwa bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah sempurna, kritik selalu ada dan musti diadakan dalam berbagai hal. T: Oke, tadi bapak mengatakan bahwa bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah sempurna. Tapi kenyataannya, bangsa Indonesia belum sepenuhnya mampu mensiasati kebodohan dan keterbelakangannya. Pertanyaan saya apa titik kelemahan dari bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa asing, Inggris atau Jepang misalnya? J: Tidak ada bukunya, titik ! Sedangkan kalian semua bodoh! Tidak banyak yang menguasai bahasa Inggris. Tidak dapat membaca buku tentang Einstein, bagaimana hukum-hukum yang dipakai untuk membuat bom atom. Hanya satu dua yang bisa. Dan yang berbahasa Indonesia nggak ada. Yang paling penting buku. Isi otak orang Indonesia itu hanya untuk asal ngomong aja. Tapi omongan itu musti berisi. Nah, isinya itu di Indonesia nggak ada. Saya tidak mengerti bahwa menteri Pendidikan dan Kebudayaan sampai 41 tahun ini tidak ada yang mengerti mengapa Jepang menerjemahkan semua buku-buku. Dan kalian angkatan muda musti berteriak-teriak keras-keras. "Sengaja ini mau menahan kami bodoh?" Pendirian saya ini jelas. T: Bagaimana pembinaan bahasa di negara negara asing yang pak Takdir ketahui ? Di Inggris, Perancis, Jerman, atau Jepang? J: Di Inggris, di Perancis, di Jepang, di Jerman, semua pembinaan bahasanya di sekolah mantap. Lain sekali dengan pembinaan bahasa melalui pelajaran sekolah di Indonesia... T: Kesalahan yang terjadi sebenarnya terletak dalam pemakaian kata-kata dan idiom serta pema<noinclude> -HORISON/XXI/403-</noinclude> 49jpeynftcn6qzoisx9tm3mk0v8pnu2 Halaman:Horison 12 1986.pdf/8 104 114641 316825 2026-09-01T13:36:31Z Hadithfajri 15274 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'kaian tatabahasa. Tentang yang pertama, sering dibicarakan oleh Prof Dr Yus Badudu di siaran TV serta dalam tulisan-tulisannya. Menurut pak Takdir, apa tindakan itu masih efektif? J: Pekerjaan menyempurnakan pemakaian kata, idiom dan aturan tatabahasa yang baku ada lah pada hakekatnya pekerjaan sekolah, yang tanggungjawabnya dipegang oleh Departemen Pen- didikan dan Kebudayaan. Yang diperlukan seka- rang ini, adalah ahli bahasa dan pengajar baha... 316825 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>kaian tatabahasa. Tentang yang pertama, sering dibicarakan oleh Prof Dr Yus Badudu di siaran TV serta dalam tulisan-tulisannya. Menurut pak Takdir, apa tindakan itu masih efektif? J: Pekerjaan menyempurnakan pemakaian kata, idiom dan aturan tatabahasa yang baku ada lah pada hakekatnya pekerjaan sekolah, yang tanggungjawabnya dipegang oleh Departemen Pen- didikan dan Kebudayaan. Yang diperlukan seka- rang ini, adalah ahli bahasa dan pengajar bahasa yang berpandangan luas dan mengerti soal-soal perkembangan bahasa moderen yang menjelmakan cara berpikir maju. Nah, merekalah yang musti memimpin guru-guru bahasa di sekolah. Yang da- pat memakai buku-buku dasar tatabahasa, pelajar- an bahasa disertai buku-buku bacaan yang luas de- ngan bahasa yang telah diperbaiki, dalam berbagai lapangan ilmu, sastera, sejarah, kebudayaan, dan lain-lain. Sehingga, orang yang menamatkan SMA itu cakap dan boleh dikatakan seragam memakai bahasa baku. Buku pelajaran bahasa Indonesia yang dipakai di sekolah SMA sekarang mutunya rendah dan tak mencukupi. Saya berharap, hendaknya penulisan dan penerbitannya jangan dimonopoli oleh Depar temen Pendidikan dan Kebudayaan saja, yang me- nerbitkan dan menyusun buku pelajaran bahasa berpuluh juta jumlahnya. Nah, Departemen Pendi- dikan dan Kebudayaan ini, mustinya menyerahkan penulisan dan penerbitan buku pelajaran bahasa di sekolah-sekolah, terutama SMA, kepada penulis dan penerbit swasta di bawah petunjuk dan pim- pinan ahli-ahlinya di DEPDIKBUD yang tadi saya sebut? T: Tapi buku-buku terjemahan kita kayaknya belum mencapai bobot penerjemahannya. Apa itu juga tidak mengacau bahasa Indonesia pak ? J: Itu tidak penting. Kalau dia seorang dokter, dan yang diterjemahkan buku-buku kedokteran se- jelek-jeleknya masih baik. Memangnya dulu orang Jepang menerjemahkan buku-buku itu sudah pada ahli-ahli semua? Ha? Itu omong kosong. Tidak ada satu orang pun yang bisa sempurna menerje- mahkan buku, persis seperti yang dikehendaki pengarangnya. Kalau Anton Moeljono sendiri me- nerjemahkan buku, suruh periksa orang lain pasti ada-ada saja yang bisa diperbaiki. Tidak ada dua orang yang menerjemahkan buku sama. Yang terpenting, hendaknya semua pembaca dapat mengerti apa yang dimaksud dalam buku-buku itu. T: Di bawah pengaruh aliran-aliran sosiologi, seperti Emil Durkheim (Perancis), G.Simmel (Jer- man), W.G. Sumner, E.A. Ross, serta V.H. Cooley (Amerika) bahasa dianggap peristiwa sosial yang murni dan berstruktur, yang ada karena dirinya sendiri, bebas dari penjelmaan individu, dan hanya tunduk pada hukum proses masyarakat. Sejajar de- ngan usaha-usaha dalam ilmu sosiologi, banyak ahli-ahli linguistik moderen yang memusatkan usahanya untuk menciptakan suatu aliran linguistik yang berdiri sendiri, yang mempunyai obyek dan metoda, yang bebas dari obyek dan metoda psiko- logi, logika, dan sebagainya. Pertanyaan saya : apa komentar pak Takdir tentang itu dan apa pula kritik bapak atas linguistik moderen? J: Salah satu daripada akibat nyata dari sikap dan aliran itu ialah, ilmu linguistik moderen amat sedikit minatnya kepada proses dinamik pembina- an bahasa atau language engineering, yang berlaku di negara-negara Asia dan Afrika beberapa puluh tahun terakhir ini. Ia gagal melihat, bahwa pengka- jian bahasa-bahasa kebangsaan yang baru di Asia dan Afrika dapat begitu besar kegunaanya bagi ilmu bahasa. Sebab dalam mencoba ilmu bahasa untuk proses perubahan bahasa yang terbesar dan tercepat ini, ilmu itu akan dapat menguji kebenar- an dan kegunaan konsep-konsepnya, proposisi- proposisinya dan metoda-metodanya serta mem- perhitungkan kembali seluk beluknya dengan masyarakat dan kebudayaan. ilmu Dan yang terpenting adalah, bahwa linguistik moderen agak terlalu berlebih-lebihan reaksinya terhadap "konsep tatabahasa umum" di masa lalu, yang berdasarkan model-model Yuna- ni-Latin dan terhadap konsep universal, yaitu pengertian dan aturan-aturan umum dalam bahasa dan pikiran manusia. atau Akhirnya ilmu linguistik moderen terlampau sedikit minatnya kepada peranan bahasa dalam pelajaran, yaitu proses pemasyarakatan pengebudayaan yang terpenting di zaman kita. Se- hingga, pengaruhnya dalam membentuk bahasa sekolah, yaitu bahasa yang paling teratur bentuk- bentuknya dalam tiap-tiap bahasa, adalah sangat terbatas. Menurut pikiran saya, jika ilmu linguistik moderen dengan sungguh-sungguh menghadapi bahasa standar di sekolah, pastilah akan terlepas dari kecenderungannya akan anarki dan kege- marannya yang berlebih-lebihan akan bahasa lisan. Dalam karangan saya yang berjudul The Failure of Modern Linguistik in the face of linguistik pro- blems of the twentieth century, saya tunjukkan se- mua tentang kegagalan linguistik moderen. Kalian dari HORISON ini pernah baca buku itu belum? Ha? T: Sekarang ini, katakanlah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa masih mengacaukan, meminjam istilah pak Takdir, tapi apa bisa diba- yangkan kalau lembaga itu tidak ada? Akan jadi -HORISON/XXI/404-<noinclude></noinclude> hb4ys2744i3g1nrkqxlaizuebmb900o 316833 316825 2026-09-01T14:15:44Z Hadithfajri 15274 /* Telah diuji baca */ 316833 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>kaian tatabahasa. Tentang yang pertama, sering dibicarakan oleh Prof Dr Yus Badudu di siaran TV serta dalam tulisan-tulisannya. Menurut pak Takdir, apa tindakan itu masih efektif? J: Pekerjaan menyempurnakan pemakaian kata, idiom dan aturan tatabahasa yang baku ada lah pada hakekatnya pekerjaan sekolah, yang tanggungjawabnya dipegang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yang diperlukan sekarang ini, adalah ahli bahasa dan pengajar bahasa yang berpandangan luas dan mengerti soal-soal perkembangan bahasa moderen yang menjelmakan cara berpikir maju. Nah, merekalah yang musti memimpin guru-guru bahasa di sekolah. Yang dapat memakai buku-buku dasar tatabahasa, pelajaran bahasa disertai buku-buku bacaan yang luas dengan bahasa yang telah diperbaiki, dalam berbagai lapangan ilmu, sastera, sejarah, kebudayaan, dan lain-lain. Sehingga, orang yang menamatkan SMA itu cakap dan boleh dikatakan seragam memakai bahasa baku. Buku pelajaran bahasa Indonesia yang dipakai di sekolah SMA sekarang mutunya rendah dan tak mencukupi. Saya berharap, hendaknya penulisan dan penerbitannya jangan dimonopoli oleh Depar temen Pendidikan dan Kebudayaan saja, yang menerbitkan dan menyusun buku pelajaran bahasa berpuluh juta jumlahnya. Nah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini, mustinya menyerahkan penulisan dan penerbitan buku pelajaran bahasa di sekolah-sekolah, terutama SMA, kepada penulis dan penerbit swasta di bawah petunjuk dan pimpinan ahli-ahlinya di DEPDIKBUD yang tadi saya sebut? T: Tapi buku-buku terjemahan kita kayaknya belum mencapai bobot penerjemahannya. Apa itu juga tidak mengacau bahasa Indonesia pak ? J: Itu tidak penting. Kalau dia seorang dokter, dan yang diterjemahkan buku-buku kedokteran sejelek-jeleknya masih baik. Memangnya dulu orang Jepang menerjemahkan buku-buku itu sudah pada ahli-ahli semua? Ha? Itu omong kosong. Tidak ada satu orang pun yang bisa sempurna menerjemahkan buku, persis seperti yang dikehendaki pengarangnya. Kalau Anton Moeljono sendiri menerjemahkan buku, suruh periksa orang lain pasti ada-ada saja yang bisa diperbaiki. Tidak ada dua orang yang menerjemahkan buku sama. Yang terpenting, hendaknya semua pembaca dapat mengerti apa yang dimaksud dalam buku-buku itu. T: Di bawah pengaruh aliran-aliran sosiologi, seperti Emil Durkheim (Perancis), G.Simmel (Jerman), W.G. Sumner, E.A. Ross, serta V.H. Cooley (Amerika) bahasa dianggap peristiwa sosial yang murni dan berstruktur, yang ada karena dirinya sendiri, bebas dari penjelmaan individu, dan hanya tunduk pada hukum proses masyarakat. Sejajar dengan usaha-usaha dalam ilmu sosiologi, banyak ahli-ahli linguistik moderen yang memusatkan usahanya untuk menciptakan suatu aliran linguistik yang berdiri sendiri, yang mempunyai obyek dan metoda, yang bebas dari obyek dan metoda psikologi, logika, dan sebagainya. Pertanyaan saya : apa komentar pak Takdir tentang itu dan apa pula kritik bapak atas linguistik moderen? J: Salah satu daripada akibat nyata dari sikap dan aliran itu ialah, ilmu linguistik moderen amat sedikit minatnya kepada proses dinamik pembinaan bahasa atau language engineering, yang berlaku di negara-negara Asia dan Afrika beberapa puluh tahun terakhir ini. Ia gagal melihat, bahwa pengkajian bahasa-bahasa kebangsaan yang baru di Asia dan Afrika dapat begitu besar kegunaanya bagi ilmu bahasa. Sebab dalam mencoba ilmu bahasa untuk proses perubahan bahasa yang terbesar dan tercepat ini, ilmu itu akan dapat menguji kebenaran dan kegunaan konsep-konsepnya, proposisiproposisinya dan metoda-metodanya serta memperhitungkan kembali seluk beluknya dengan masyarakat dan kebudayaan. Dan yang terpenting adalah, bahwa linguistik moderen agak terlalu berlebih-lebihan reaksinya terhadap "konsep tatabahasa umum" di masa lalu, yang berdasarkan model-model Yunani-Latin dan terhadap konsep universal, yaitu pengertian dan aturan-aturan umum dalam bahasa dan pikiran manusia. Akhirnya ilmu linguistik moderen terlampau sedikit minatnya kepada peranan bahasa dalam pelajaran, yaitu proses pemasyarakatan pengebudayaan yang terpenting di zaman kita. Sehingga, pengaruhnya dalam membentuk bahasa sekolah, yaitu bahasa yang paling teratur bentuk-bentuknya dalam tiap-tiap bahasa, adalah sangat terbatas. Menurut pikiran saya, jika ilmu linguistik moderen dengan sungguh-sungguh menghadapi bahasa standar di sekolah, pastilah akan terlepas dari kecenderungannya akan anarki dan kegemarannya yang berlebih-lebihan akan bahasa lisan. Dalam karangan saya yang berjudul The Failure of Modern Linguistik in the face of linguistik problems of the twentieth century, saya tunjukkan semua tentang kegagalan linguistik moderen. Kalian dari HORISON ini pernah baca buku itu belum? Ha? T: Sekarang ini, katakanlah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa masih mengacaukan, meminjam istilah pak Takdir, tapi apa bisa dibayangkan kalau lembaga itu tidak ada? Akan jadi<noinclude>-HORISON/XXI/404</noinclude> s6g202vk7zp1ja5xohgoll8vivccide Halaman:Horison 12 1986.pdf/9 104 114642 316826 2026-09-01T13:37:18Z Hadithfajri 15274 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'apa bahasa kita? J: Apa salahnya? Ha? Buat yang lebih baik. Artinya, seperti yang sudah saya katakan tadi, se- bagian pindahkan ke Balai Pustaka dekat penerbit, sehingga dapat menerjemahkan buku-buku baru dan terus diterbitkan. Bekerjasama dengan semua penerbit-penerbit. Kerahkan semua pekerjaan yang lebih besar. Daripada hanya main-main menelorkan kata-kata yang macam-macam. Mereka menulis ten- tang sastra lagi. Sastra itu serahkan pada univers... 316826 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>apa bahasa kita? J: Apa salahnya? Ha? Buat yang lebih baik. Artinya, seperti yang sudah saya katakan tadi, se- bagian pindahkan ke Balai Pustaka dekat penerbit, sehingga dapat menerjemahkan buku-buku baru dan terus diterbitkan. Bekerjasama dengan semua penerbit-penerbit. Kerahkan semua pekerjaan yang lebih besar. Daripada hanya main-main menelorkan kata-kata yang macam-macam. Mereka menulis ten- tang sastra lagi. Sastra itu serahkan pada universi- tasnya dan pekerjanya dong. Mereka menyelidiki bahasa daerah lagi. Bahasa daerah itu serahkan pada LIPI untuk bekerjasama dengan universitas yang ada di daerah-daerah. Kenapa mereka tidak bisa berpikir begitu? Semua universitas musti di- pakai. Bahasa Bali? Serahkan Udayana dong. Ja- ngan di sini. Kenapa sih? remeh. T: Lah, untuk memperkaya bahasa... J Memperkaya bahasa? Mau apa ? Apa mo- nitor diganti pantau itu kaya? Apa tambah satu kata itu kaya? Memperkaya bahasa itu, seperti se- karang ini lihat, pengetahuan mahasiswa-mahasiswa itu miskin karena tidak bisa berbahasa Inggris. Se- dangkan buku ilmu pengetahuan yang penting ti- dak ada yang berbahasa Indonesia. Memperkaya bahasa itu, ribut semua ilmu pengetahuan dunia dan masukkan ke dalam bahasa Indonesia. Itu orang Indonesia nggak mengerti. Itu dilakukan Jepang. Seperti saudara lihat sekarang ini, dengan Ilmu Pengetahuan seluruh dunia, maka Jepang mampu menguasai dunia. Jadi orang-orang Indonesia ini termasuk orang-orang bodoh. Universitas kita itu, kebanyakan hanya universitas-universitasan. Maha- T: Lalu apa yang dimaksud dengan kata siswanya tidak dapat membaca. Bahasa Indonesia "Asing" di dalam bahasa Indonesia? J: Kata asing? Ya semuanya itu asing. Kata Sansekerta itu asing. Kata Jawa itu asing. Jadi mi- salnya, trampil. Trampil itu kata Jawa. Kalau kata Indonesia, terampil. Saya kasih (e). Kalau dapat awalan me, maka dibaca menerampilkan. Bukan mentrampilkan. Nah, trima misalnya. Trima itu bahasa Jawa. Terima itu baru bahasa Indonesia. Kalau dikatakan nrimo, itu bahasa Jawa. Kalau bahasa Indonesianya, me...ne. . . ri. . . ma... Artinya, disesuaikan dengan suasana bahasa Indo- nesia. dan T: Kembali ke soal Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa. Begini pak, misalkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu betul- betul dibubarkan, alternatif apa yang pak Takdir tawarkan untuk pembinaan dan pengembangan bahasa kita? J: Dibubarkan itu kan namanya saja. Bisa di ganti ini itu. Terus orang-orangnya dipindah kan.... Pekerjaannya dibuat lebih baik, lebih ber- mutu, lebih intensif. Kalian takut mendengar kata dibubarkan ? Ha? Dibubarkan itu, artinya pekerja an yang sekarang, yang hanya menelorkan perkata- an-perkataan yang mengacaukan itu, musti diper- baiki. Lalu diadakan di sana, diangkat 20 orang dari Malaysia, dari Brunei, dari Singapura, untuk membuat kesepakatan tentang kata-kata dan me- nerjemahkan buku-buku. Sekarang ini, kalau kalian mengerti, tugas yang dikerjakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembang- an Bahasa itu terlalu remeh dan hanya mengacau- kan perkembangan bahasa. Hubungan dengan Ma- laysia cuma dua kali setahun. Tanpa ada dialog yang tuntas. Jadi, menurut saya, kerja Pusat Pem- binaan dan Pengembangan bahasa itu hanya main main. Pekerjaan mereka itu terlampau kecil dan nggak cukup, sebab nggak ada buku-bukunya yang bermutu. Bahasa Inggris nggak ada bukunya yang sampai di Indonesia, atau kalau ada mereka nggak pandai bahasa Inggris. Ya? Saya itu blak-blakan saja. T: Untuk mensiasati kecenderungan semacam itu, kira-kira apa yang hendak bapak lakukan? J: Usulkan saja pada pemerintah. Adakan satu rancangan. . . minta uang pada pemerintah tiga setengah milyar dan seribu buku diterjemahkan setiap tahunnya. Dan lagi saya katakan, dalam Undang-Undang Dasar tertulis, bahasa negara ialah bahasa Indone- sia. Larang orang berbahasa daerah di kantor-kan- tor pemerintahan. Konsekuen ndak itu? Ha? Baha- sa negara satu-satunya bahasa Indonesia. Tapi ma- sih banyak orang-orang yang di kantor negara me- makai bahasa daerah. Namanya nasionalis ? Daerahis itu namanya. Nah, itu HORISON musti menyerang habis-habisan. HORISON kan nggak memakai bahasa daerah. HORISON musti bertang- gung jawab dong. Bagaimana itu. . . ha... ha... haaa... T: Barangkali ada yang masih ingin pak Takdir sampaikan sehubungan dengan bulan bahasa ini ? J: Yang jelas saya tidak setuju kalau perkataan monitor diganti pantau. Efisien misalnya diganti mangkus. Atau canggih untuk mengartikan sophis- ticated. Lain sekali arti sophisticated dengan cang- gih. Bisa juga arti sophisticated itu dibikin kam- bing. Kalau kita setuju semua... Wah ini karangan yang "kambing" sekali.... ha.... ha...ha... Sebab kata dan arti itu tidak ada hubungannya sama sekali. Dalam bahasa Indonesia ini meja. Da- lam bahasa Jerman Tisch. Dalam bahasa Inggris table. Lah, antara meja, Tisch dan table ini tidak ada hubungannya sama sekali. *** HORISON/XXI/405-<noinclude></noinclude> 2s3z3mgdp6dy7wpcm9awohrpzv0666a 316830 316826 2026-09-01T14:07:48Z Hadithfajri 15274 /* Telah diuji baca */ 316830 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>apa bahasa kita? J: Apa salahnya? Ha? Buat yang lebih baik. Artinya, seperti yang sudah saya katakan tadi, sebagian pindahkan ke Balai Pustaka dekat penerbit, sehingga dapat menerjemahkan buku-buku baru dan terus diterbitkan. Bekerjasama dengan semua penerbit-penerbit. Kerahkan semua pekerjaan yang lebih besar. Daripada hanya main-main menelorkan kata-kata yang macam-macam. Mereka menulis tentang sastra lagi. Sastra itu serahkan pada universitasnya dan pekerjanya dong. Mereka menyelidiki bahasa daerah lagi. Bahasa daerah itu serahkan pada LIPI untuk bekerjasama dengan universitas yang ada di daerah-daerah. Kenapa mereka tidak bisa berpikir begitu? Semua universitas musti dipakai. Bahasa Bali? Serahkan Udayana dong. Jangan di sini. Kenapa sih? T: Lalu apa yang dimaksud dengan kata "Asing" di dalam bahasa Indonesia? J: Kata asing? Ya semuanya itu asing. Kata Sansekerta itu asing. Kata Jawa itu asing. Jadi misalnya, trampil. Trampil itu kata Jawa. Kalau kata Indonesia, terampil. Saya kasih (e). Kalau dapat awalan me, maka dibaca menerampilkan. Bukan mentrampilkan. Nah, trima misalnya. Trima itu bahasa Jawa. Terima itu baru bahasa Indonesia. Kalau dikatakan nrimo, itu bahasa Jawa. Kalau bahasa Indonesianya, me...ne. . . ri. . . ma... Artinya, disesuaikan dengan suasana bahasa Indonesia. T: Kembali ke soal Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa. Begini pak, misalkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu betulbetul dibubarkan, alternatif apa yang pak Takdir tawarkan untuk pembinaan dan pengembangan bahasa kita? J: Dibubarkan itu kan namanya saja. Bisa di ganti ini itu. Terus orang-orangnya dipindah kan.... Pekerjaannya dibuat lebih baik, lebih bermutu, lebih intensif. Kalian takut mendengar kata dibubarkan ? Ha? Dibubarkan itu, artinya pekerja an yang sekarang, yang hanya menelorkan perkataan-perkataan yang mengacaukan itu, musti diperbaiki. Lalu diadakan di sana, diangkat 20 orang dari Malaysia, dari Brunei, dari Singapura, untuk membuat kesepakatan tentang kata-kata dan menerjemahkan buku-buku. Sekarang ini, kalau kalian mengerti, tugas yang dikerjakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu terlalu remeh dan hanya mengacaukan perkembangan bahasa. Hubungan dengan Malaysia cuma dua kali setahun. Tanpa ada dialog yang tuntas. Jadi, menurut saya, kerja Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa itu hanya main main. Pekerjaan mereka itu terlampau kecil dan remeh. T: Lah, untuk memperkaya bahasa... J Memperkaya bahasa? Mau apa ? Apa monitor diganti pantau itu kaya? Apa tambah satu kata itu kaya? Memperkaya bahasa itu, seperti sekarang ini lihat, pengetahuan mahasiswa-mahasiswa itu miskin karena tidak bisa berbahasa Inggris. Sedangkan buku ilmu pengetahuan yang penting tidak ada yang berbahasa Indonesia. Memperkaya bahasa itu, ribut semua ilmu pengetahuan dunia dan masukkan ke dalam bahasa Indonesia. Itu orang Indonesia nggak mengerti. Itu dilakukan Jepang. Seperti saudara lihat sekarang ini, dengan Ilmu Pengetahuan seluruh dunia, maka Jepang mampu menguasai dunia. Jadi orang-orang Indonesia ini termasuk orang-orang bodoh. Universitas kita itu, kebanyakan hanya universitas-universitasan. Mahasiswanya tidak dapat membaca. Bahasa Indonesia nggak cukup, sebab nggak ada buku-bukunya yang bermutu. Bahasa Inggris nggak ada bukunya yang sampai di Indonesia, atau kalau ada mereka nggak pandai bahasa Inggris. Ya? Saya itu blak-blakan saja. T: Untuk mensiasati kecenderungan semacam itu, kira-kira apa yang hendak bapak lakukan? J: Usulkan saja pada pemerintah. Adakan satu rancangan. . . minta uang pada pemerintah tiga setengah milyar dan seribu buku diterjemahkan setiap tahunnya. Dan lagi saya katakan, dalam Undang-Undang Dasar tertulis, bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Larang orang berbahasa daerah di kantor-kantor pemerintahan. Konsekuen ndak itu? Ha? Bahasa negara satu-satunya bahasa Indonesia. Tapi masih banyak orang-orang yang di kantor negara memakai bahasa daerah. Namanya nasionalis ? Daerahis itu namanya. Nah, itu HORISON musti menyerang habis-habisan. HORISON kan nggak memakai bahasa daerah. HORISON musti bertanggung jawab dong. Bagaimana itu. . . ha... ha... haaa... T: Barangkali ada yang masih ingin pak Takdir sampaikan sehubungan dengan bulan bahasa ini ? J: Yang jelas saya tidak setuju kalau perkataan monitor diganti pantau. Efisien misalnya diganti mangkus. Atau canggih untuk mengartikan sophisticated. Lain sekali arti sophisticated dengan canggih. Bisa juga arti sophisticated itu dibikin kambing. Kalau kita setuju semua... Wah ini karangan yang "kambing" sekali.... ha.... ha...ha... Sebab kata dan arti itu tidak ada hubungannya sama sekali. Dalam bahasa Indonesia ini meja. Dalam bahasa Jerman Tisch. Dalam bahasa Inggris table. Lah, antara meja, Tisch dan table ini tidak ada hubungannya sama sekali. ***<noinclude> HORISON/XXI/405</noinclude> jztl3n7nh1dk2u6f9xer4tlu6vvemdy Majalah Horison/1986/Nomor 12/Wawancara 0 114643 316827 2026-09-01T13:42:19Z Hadithfajri 15274 ←Membuat halaman berisi '{{header | title = Wawancara dengan H. Soeman HS | author = M. Nasruddin Anshory Ch | translator = | section = | previous = [[../Catatan Kebudayaan|Catatan Kebudayaan]] | next = [[../Madu dan Racun Teather]] | notes = }} <pages index="Horison 12 1986.pdf" from=5 to=9/>' 316827 wikitext text/x-wiki {{header | title = Wawancara dengan H. Soeman HS | author = M. Nasruddin Anshory Ch | translator = | section = | previous = [[../Catatan Kebudayaan|Catatan Kebudayaan]] | next = [[../Madu dan Racun Teather]] | notes = }} <pages index="Horison 12 1986.pdf" from=5 to=9/> 3h5hzbc3d0lsl0m18c9o4kvbv47aasg 316831 316827 2026-09-01T14:08:43Z Hadithfajri 15274 316831 wikitext text/x-wiki {{header | title = Wawancara dengan H. Soeman HS | author = M. Nasruddin Anshory Ch | translator = | section = | previous = [[../Catatan Kebudayaan|Catatan Kebudayaan]] | next = [[../Madu dan Racun Teather|Madu dan Racun Teather]] | notes = }} <pages index="Horison 12 1986.pdf" from=5 to=9/> a84taz9i67xpz4gijam7l1vduhpol1y Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/41 104 114644 316834 2026-09-02T03:38:31Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 316834 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>kerbau atau sebanyak biaya untuk mengangkat gelar Datuk itu. Demikian pula agaknya Adityawarman, apalagi ia seorang raja yang dimulyakan, sudah barang tentu tidak berani lagi menyebut nama aslinya. Kedua, kenyataan-kenyataan yang menyebutkan asal-usulnya berasal dari kerajaan Majapahit sengaja dihilangkan, kemudian sebagai penggantinya, asal-usulnya dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain dengan maksud, seperti telah disebutkan dari uraian di atas untuk mengagungkan dan memulyakannya dari pandangan masyarakat. Inilah pula salah satu ciri penulis naskah lama berisi sejarah. Geneologi raja-raja tidak cocok, hal-hal yang penting diselubungi dengan maksud memulyakan raja itu. === 3. Kesimpulan === Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, agaknya dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut : # Iskandar Zulkarnain dalam Tambo Minangkabau merupakan tokoh legendaris. Sama halnya, Iskandar Zulkarnain dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh dan Bustanussalatin. # Salah satu maksud penulis Tambo Minangkabau dan penulis naskah berisi sejarah lainnya menghubung-hubungkan geneologi rajanya dengan Iskandar Zulkarnain tidak lain, agar kedudukan rajanya dalam pandangan masyarakat disamakan dengan kedudukan raja agung yang sudah terkenal kebesarannya di dunia. Inilah salah satu cara untuk memulyakan raja. # Yang dimaksud dengan raja Minangkabau yang pertama dalam Tambo Minangkabau Maharaja Diraja itu, ialah yang dari sumber sejarah lainnya biasa disebut Adityawarman. Demikian kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambil dari pembicaraan pertama dari Tambo Minangkabau, khusus mengenai episode Iskandar Zulkarnain yang dianggap sebagai asal raja Minangkabau yang pertama. {{center|<nowiki>****************</nowiki>}}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> 150kjkg562v7yk4f999c8oe6svg21b9 316835 316834 2026-09-02T03:39:52Z Link PB 26772 316835 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>kerbau atau sebanyak biaya untuk mengangkat gelar Datuk itu. Demikian pula agaknya Adityawarman, apalagi ia seorang raja yang dimulyakan, sudah barang tentu tidak berani lagi menyebut nama aslinya. Kedua, kenyataan-kenyataan yang menyebutkan asal-usulnya berasal dari kerajaan Majapahit sengaja dihilangkan, kemudian sebagai penggantinya, asal-usulnya dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain dengan maksud, seperti telah disebutkan dari uraian di atas untuk mengagungkan dan memulyakannya dari pandangan masyarakat. Inilah pula salah satu ciri penulis naskah lama berisi sejarah. Geneologi raja-raja tidak cocok, hal-hal yang penting diselubungi dengan maksud memulyakan raja itu. === 3. Kesimpulan === Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, agaknya dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut : <ol type="1" start="1"> <li>Iskandar Zulkarnain dalam Tambo Minangkabau merupakan tokoh legendaris. Sama halnya, Iskandar Zulkarnain dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh dan Bustanussalatin.</li> <li>Salah satu maksud penulis Tambo Minangkabau dan penulis naskah berisi sejarah lainnya menghubung-hubungkan geneologi rajanya dengan Iskandar Zulkarnain tidak lain, agar kedudukan rajanya dalam pandangan masyarakat disamakan dengan kedudukan raja agung yang sudah terkenal kebesarannya di dunia. Inilah salah satu cara untuk memulyakan raja.</li> <li>Yang dimaksud dengan raja Minangkabau yang pertama dalam Tambo Minangkabau Maharaja Diraja itu, ialah yang dari sumber sejarah lainnya biasa disebut Adityawarman.</li> </ol> Demikian kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambil dari pembicaraan pertama dari Tambo Minangkabau, khusus mengenai episode Iskandar Zulkarnain yang dianggap sebagai asal raja Minangkabau yang pertama. {{center|<nowiki>****************</nowiki>}}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> jwz468kesbxis4iwsv7a4nodaecpepw Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/42 104 114645 316836 2026-09-02T03:40:54Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 316836 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>* ''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970. * Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969. * Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233. *: "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422. * Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970. * Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105. * Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969. * Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966. * Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959. * L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970. * Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970. * Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965. * Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963. * Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968. * Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909. * Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude> a1ow0h47wfnd8hq1mm66xogyp01i0bt 316837 316836 2026-09-02T03:42:12Z Link PB 26772 316837 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970. Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969. Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233. : "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422. Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970. Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105. Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969. Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966. Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959. L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970. Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970. Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965. Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963. Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968. Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909. Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude> kee3q2cpv33dsdnxha9pgyrxwked809 316838 316837 2026-09-02T03:48:07Z Link PB 26772 316838 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.}} Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969. Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233. : "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422. Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970. Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105. Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969. Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966. Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959. L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970. Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970. Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965. Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963. Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968. Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909. Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude> 3vj2mqkavnmayimb3je4w9ps3e6dfif 316839 316838 2026-09-02T03:50:16Z Link PB 26772 316839 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.}} {{hanging indent|Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969. {{hanging indent|Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.}} : "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422. {{hanging indent|Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.}} {{hanging indent|Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.}} {{hanging indent|Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}} {{hanging indent|Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.}} {{hanging indent|Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.}} {{hanging indent|L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.}} {{hanging indent|Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.}} {{hanging indent|Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.}} {{hanging indent|Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.}} {{hanging indent|Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.}} {{hanging indent|Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.}} {{hanging indent|Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.}}<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude> 669ycvmzfs1mivb53fhl333b0ocgyyq 316840 316839 2026-09-02T03:50:28Z Link PB 26772 316840 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.}} {{hanging indent|Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}} {{hanging indent|Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.}} : "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422. {{hanging indent|Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.}} {{hanging indent|Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.}} {{hanging indent|Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}} {{hanging indent|Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.}} {{hanging indent|Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.}} {{hanging indent|L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.}} {{hanging indent|Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.}} {{hanging indent|Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.}} {{hanging indent|Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.}} {{hanging indent|Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.}} {{hanging indent|Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.}} {{hanging indent|Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.}}<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude> ntkzdd8i2ed5y45flhe31uhzroeoh97 Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/43 104 114646 316841 2026-09-02T03:52:47Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 316841 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|Sitomorang, T.D. dan A. Teeuw, ''Sedjarah Melayu'', Djakarta, Djambatan cetakan II, 1958.}} {{hanging indent|Slametmulyana, ''Sriwidjaja'', Ende-Flores, Arnaldus, tanpa tahun.}} {{hanging indent|Steinberg, S.H., (editor), ''Cassel's Encyclopaedia of World Literature I'', New York, Funk & Wagnalls Company, 1953.}} {{hanging indent|Soedjatmoko and Mohammad Ali, G.J. Resink and G. Mct, Kahin (editors) ''An Introduction to Indonesian Historiography'', Ithaca, New York, Cornell University Press, 1968.}} {{hanging indent|Teeuw, A., Wyatt, ''Hikayat Petani'', The Hague, Martinus Nijhoff, 1970.}} {{hanging indent|Winstedt. Sir Richard, ''A History of Classical Malay Literature'', Kuala Lumpur, Oxford University Press, 1969.}} {{hanging indent|Winstedt, R.O., "The Date, Authorship, Contens and some Mss. of the Malay Romance of Alexander the Great", ''JMBRAS'', XVI, (11), 1938.}} NASKAH-NASKAH DARI MUSEUM PUSAT JAKARTA : * Asal-Usul Bengkahulu, (2 naskah) Ml. 143 dan Ml. 148. * Hikayat Aceh, Ml. 196. * Hikayat Negeri Johor, w. 192 * Peraturan Lambang dalam negeri Bengkahulu, Ml. 144. * Sejarah Raja-raja Riau, w. 62. * Sejarah Tembesi (2 naskah) Ml. 100A dan Ml. 100 B. * Tambo Minangkabau Ml. 439, Ml. 489. {{center|************}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude> 98p2dc6uentk5t117srrj0r4jkblfhb Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/44 104 114647 316842 2026-09-02T03:53:59Z Link PB 26772 /* Telah diuji baca */ 316842 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>'''''L A M P I R A N''''' <center> '''TRANSKRIPSI EPIDOSE ISKANDAR ZULKARNAIN''' '''TAMBO MINANGKABAU ML. 439 HAL. 27–32.''' </center> Adapun tatkala bumi akan berkembang, tatkala Adam akan ditimpakan menunggui isi dunia, ialah anak cucu Adam alaihissalam datang akan jadi raja, ialah anak cucu Adam yang bungsu. Adapun anak Adam alaihissalam tiga puluh sembilan orang, maka bernikah satu anak daripada satu anak. Maka tiadalah beroleh isteri anak yang bungsu, maka dilarikan oleh segala malaikat kepada hawang-gumawang, maka heranlah Adam dengan Siti Hawa dan segala anak-anak. Maka bertiuplah angin dari dalam sorga maka dipalu gendang dan serunai serta nobat dan kecapi, terkenanglah payung ubur-ubur, maka menarilah segala anak-anakan bidadari di dalam sorga, karena suka melihat anak Adam yang bungsu di awang gumawang itu. Maka terhamburlah segala bau-bauan dari dalam sorga dan turunlah segala malaikat pergi kepada anak Adam itu, maka sama-samalah mengepal tangannya dan kakinya, maka memandanglah Adam serta Siti Hawa anak beranak kepada langit, maka dilihat mereka itu anak itu bertanduk emas senjata jati namanya, maka takutlah mereka itu melihat dia. Maka terdengarlah suatu suara dari puncak bukit Kaf, maka memandanglah anak beranak kepada bukit Kaf itu. Maka melihat Adam akan putranya terdiri di atas bukit itu seperti buih di laut putihnya, maka heranlah Adam serta Siti Hawa anak beranak. Meminta doa ia Adam kepada Allah Taala, "Ya robbul a'lamin, pertemukan hamba dengan anak cucu hamba". Maka hampirlah turun ke dunia, maka lautpun berombak, maka ikan yang bernama Nur menyemburkan dirinya, maka bergeraklah semuanya antah berantah rasanya alam, sebab itulah maka bernama tanah Ruhum. Maka berkatalah segala anak Adam laki-laki serta ibu Bapak, maka sopan kita melihat rupanya. Maka malaikat itupun menurunkan anak Adam itu kepada bumi yang suci, antara Pasira dan Pasiri, antara masyrik dan magrib, antara timur dan selatan, antara bukit Siguntang Panjaringan ialah yang dinamanya tanah Ruhum. Maka dikeluarkanlah anak Indojati selapan orang bernama Jati Rono Sudah, lagi baik manis mulutnya. Itulah nan jadi angkat-angkatan sembah Adam itu semuanya. Maka berkata anak Adam kepada saudaranya, katanya, takut kami akan tanduk. Maka digugurkan tanduk itu sekali sekerat menjadi mengkuta sanggani singgasana dan sekati sekerat menjadi leher orang tempuk hari kuning bercampur merah warnanya bertatahkan intan, sekali jadi lembing lamiri. Maka turunlah malaikat daripada langit yang ketujuh menamai tanduk itu ialah bernama Zulkarnain artinya mempunyai dua kerat tanduk, artinya masyrik dan magrib. Maka dinamai oleh malaikat Raja Iskandar namanya Zulkarnain gelarnya. Maka berkata anak Adam semuanya, "Demikianlah kami ikut barang katanya".<noinclude>{{rh|40||}}</noinclude> 01dnlgxypmn2u2j6pynko8sovu5eh6b Halaman:Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 45 PK.03.03 KESRA.pdf 104 114648 316843 2026-09-02T03:56:34Z ~2026-47643-74 27566 /* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '' 316843 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="180.253.253.173" /></noinclude><noinclude><references/></noinclude> iwy8n53gq4u08n34cch81jbbhtnn1sp