Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.18
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Horison 12 1986.pdf/5
104
114638
316828
316822
2026-09-01T13:49:16Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
316828
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>Wawancara
<big><big>
''Menutup''<br>
''Pusat Pembinaan Dan''<br>
''Pengembangan''<br>
''Bahasa:''<br>
''Apa Salahnya?''</big></big>
<i>Jum'at 17 Oktober 1986, setelah hari pertama TEMU BUDAYA '86 di Taman Ismail Marzuki, hampir
semua surat kabar di Jakarta memberitakan, bahwa S. Takdir Alisjahbana menuntut agar Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa ditutup. Malahan ada yang mengatakan dibubarkan saja. Berita yang sama
tentu juga dimuat dalam surat kabar di kota-kota dan daerah-daerah lain di Indonesia. Sehubungan
dengan itu, majalah HORISON menugaskan M. Nasruddin Anshory Ch untuk menemui Prof. Sutan Takdir
Alisjahbana dan mewawancarainya secara langsung. Wawancara ini dititik beratkan perihal bulan
bahasa. Berikut ini hasil wawancaranya:
</i>
T: Dalam mengucapkan pemikirannya di Taman
Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 16 Oktober
1986, pak Takdir menyatakan kekesalan dan
kegemasan akan lambatnya perkembangan bahasa
Indonesia menjadi bahasa modern yang dewasa seperti
bahasa Inggris dan teristimewa seperti bahasa
Jepang. Lalu gagasan apa yang akan pak Takdir
tawarkan untuk mempercepat perkembangan dan
memperbaiki mutu bahasa Indonesia?
J: Sebelum menjawab pertanyaan saudara,
saya akan bertanya lebih dulu. Kalian di HORISON
itu membaca karangan saya apa nggak? Yang saya
tulis di harian PRIORITAS dan SUARA KARYA?
Di sana sudah saya jelaskan beberapa permasala
hannya. Nah, pertama kali kalian mesti baca itu
dulu dong. Itu, terutama sekali berdasarkan penciptaan
kata-kata yang terus menerus yang dilakukan
oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Itu semua sebenarnya mengacau bahasa Indonesia.
Perkataan seperti ''monitor'' misalnya, buat apa
musti diganti dengan ''pantau''. Buat apa? Malahan
mereka mau mengganti perkataan ''efisien'' menjadi
''mangkus''. Mereka juga membuat suatu perkataan
''anjang karya'', yang berarti berkunjung sambil
menjalankan tugas. ''Discolor'' menjadi ''awawarna''.
Kemudian itu, ''disarm'' menjadi ''awasenjata''. Padahal
itu kan sudah ada artinya semua. Nah, yang beginibegini
ini banyak betul. Dan kalau kalian masih
mau tahu, silahkan baca yang diterbitkan di lembar
KOMUNIKASI oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa. Mereka itu terus menerus menelorkan
kata-kata. Terutama bagian-bagian itu, bahasa
Indonesia sekarang sudah janggal.
Apa kalian di HORISON tidak mengalami kesulitan?
Itu di universitas-universitas nggak ada. Jadi,
pekerjaan membuat kata-kata yang begini ini hanya
mengacaukan. Sekarang ini, sudah tiba waktunya
kaum arsitek kita juga sekolah atau belajar bahasa
Indonesia. Sebab arsitektur di Bandung diajarkan
dalam bahasa Indonesia. Kalau seandainya mereka
menemukan kata-kata baru, serahkan saja pada
mereka sendiri. Jangan di sini lalu Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa membuat kata-kata
baru yang nggak karu-karuan. Kalau kaum kedok<noinclude>
-HORISON/XXI/401-</noinclude>
77jbj7pad490dhah6dh3nedlvzgfz71
Halaman:Horison 12 1986.pdf/6
104
114639
316829
316823
2026-09-01T13:54:01Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
316829
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>teran juga menemukan kata-kata baru misalnya,
atau para ahli hukum, mereka itu akan bingung
sendiri nantinya.
Lain halnya dulu, waktu Jepang masuk ke Indonesia,
bahasa Indonesia belum dipakai di sekolah
menengah. Sedang bahasa Belanda dilarang. Sebelum
itu memang bahasa Belanda yang dipakai di
sekolah menengah. Sedangkan bahasa Jepang
sendiri belum bisa dipakai, oleh karena orang Indonesia
belum ada yang pandai bahasa Jepang. Saat
itulah tak ada lain kemungkinan daripada bahasa
Indonesia.
Di sekolah menengah atas waktu itu, seorang
guru musti mengajarkan ilmu kimia. Dan belum
seorang guru pun di Indonesia yang mengajarkan
nya dalam bahasa Indonesia. Coba pikirkan. Belum
ada seorang guru pun di Indonesia yang mengajar
kan ilmu tumbuh-tumbuhan memakai bahasa Indonesia.
Nah, pada saat Jepang masuk itulah guru-guru
ini mencoba memakai bahasa Indonesia. Waktu
itu, kebetulan saya sebagai kepala tata bahasa. Lalu
saya minta kepada semua SMA agar memilih katakata
yang musti dipakai, untuk selanjutnya kita
buat ''card system'' dan kita pilih mana di antara kata-kata
itu yang baik yang akan dipakai. Jadi misalnya
sejarah untuk kata ''vessels'', ada yang menyebut
daging. Ada yang menyebut otot. Ada juga yang
menyebut urat. Lalu kita putuskan otot dipakai
untuk menyebut ''vessels''. Urat untuk apa ? Urat
saraf. Urat darah kita namakan pembuluh. Urat
akar kita namakan akar.
Nah, ketika kita sudah buat istilah-istilah itu,
kita panggil guru-guru SMA untuk mencatat. Sesudahnya
kita buat suatu daftar untuk masa yang
akan datang di SMA, agar kata ini dipakai. Dan kita
perbanyak itu, sebarkan ke seluruh Indonesia. Dalam
waktu yang cepat semua sekolah di Indonesia
memakai kata-kata yang sama. Lain dengan sekarang.
Anak-anak sekarang sudah tahu apa kata
kata yang dipakai di SMA, dan mereka tidak raguragu
lagi memakainya. Jadi, pada dasarnya, istilah
istilah kita sudah ada. Tidak perlu ada yang baru.
Toh seperti monitor itu, apa salahnya dikatakan
monitor? Ha? Kenapa musti pantau ? Siapa yang
menjamin bahwa pantau itu dulu artinya betul-betul
sama dengan monitor dalam dunia modern
seperti sekarang. Dan sekarang perkataan efisien
mau diganti. Memang, nenek moyang kita dulu
tidak menggunakan perkataan efisien. Jadi, maksud
saya berkata begini, kita nggak perlu harus menelorkan
kata-kata baru. Lebih perlu menerjemahkan
semua buku. Supaya orang kita lebih dapat membaca.
Seperti anak-anak SMA sekarang, juga mahasiswa-mahasiswanya,
tidak banyak yang bisa bahasa
Inggris. Lalu berapa banyak buku yang mereka
baca? Buku apa? Coba anak-anak SMA dan mahasiswa-mahasiswa
itu suruh datang ke perpustakaan
saya. Mereka tidak bisa membaca apa-apa. Semua
bukunya berbahasa asing. Saya katakan orang
Indonesia yang hanya pandai bahasa Indonesia,
dibandingkan dengan orang Indonesia yang
menguasai bahasa Inggris, itu orang bodoh. Sebab
dalam bahasa Indonesia sekarang ini, tidak ada
buku-buku yang penting dan bermutu tentang
ilmu dan kemajuan dunia moderen, maupun perkembangan
sejarah umat manusia. Lain dengan
bahasa Inggris. Semua buku dari bangsa-bangsa
di dunia ada. Ilmu yang paling maju ada. Juga pemikiran-pemikiran
yang bagaimanapun bentuknya
ada.
Sekarang ini bangsa Indonesia lebih penting
menerjemahkan buku-buku. Dan kalau datang
istilah nanti, bisa lebih jelas sesamanya. Dan satu
lagi, membuat kata-kata begini, seperti yang dilakukan
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
dengan tidak berunding dengan Malaysia,
Brunai dan Singapura, akan menjauhkan bahasa
kita dari bahasa Melayu. Untuk itu saya usulkan,
adanya reorganisasi Pusat-Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa menjadi beberapa lembaga,
yaitu :
I. Sebagian daripadanya dipusatkan pada Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, ditambah
dengan ahli-ahli pendidikan bahasa, untuk membantu
DEPDIKBUD merancang pelajaran bahasa
Indonesia yang lebih baik. Juga untuk mendapatkan
buku-buku pelajaran yang mampu memperbaiki
pelajaran bahasa Indonesia dari Sekolah Dasar
hingga Sekolah Menengah Atas.
II. Sebagian lagi, yang tidak kalah pentingnya,
disatukan dengan Balai Pustaka yang mengatur
penerjemahan yang sistematis dan seluas-luasnya
dengan bantuan penerbit, Departemen-Departemen
Pemerintah, serta Instansi-Instansi lain supaya sebagian
pekerjaan yang terbesar itu selesai pada
akhir abad ke XX ini. Sehingga, bahasa Indonesia
dapat mencapai kedudukan yang boleh dikatakan
sama dengan bahasa Perancis, Jerman dan Jepang
dalam memasuki abad ke XXI. Seperti di ketahui,
kalau setiap satu tahun Indonesia dapat menerjemahkan
seribu judul buku, maka akhir abad ke
XX ini kita telah dapat menerjemahkan lima belas
ribu judul buku. Ini memerlukan biaya 'sekitar!
15 x 3½ milyar = 52½ milyar.
III. Sebagian dari ahli-ahli bahasa yang bergabung
dalam Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa, dimasukkan dalam satu lembaga baru yang<noinclude>
-HORISON/XX1/402</noinclude>
1qq2lq7244wob4lga7vo824powaym9j
Halaman:Horison 12 1986.pdf/7
104
114640
316824
2026-09-01T13:34:39Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'terdiri dari 20 orang ahli bahasa. Sebagian dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina dan Thailand, yang bersama-sama menyelidiki, memikirkan dan mengkordinasi perkembangan bahasa Melayu Indonesia-mulai sehingga saling mendekati, dan akhirnya lebih bersatu dari Malay- sia sekarang untuk masa yang akan datang. Lemba- ga ini, antara lain dapat menyiapkan penerjemahan Encyclopedia Britannica untuk Asia Tenggara seperti yang dilakukan Je...
316824
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>terdiri dari 20 orang ahli bahasa. Sebagian dari
Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina
dan Thailand, yang bersama-sama menyelidiki,
memikirkan dan mengkordinasi perkembangan
bahasa Melayu Indonesia-mulai sehingga saling
mendekati, dan akhirnya lebih bersatu dari Malay-
sia sekarang untuk masa yang akan datang. Lemba-
ga ini, antara lain dapat menyiapkan penerjemahan
Encyclopedia Britannica untuk Asia Tenggara
seperti yang dilakukan Jepang beberapa tahun
yang lalu.
IV. Pekerjaan menyelidiki dan mengadakan
deskripsi bahasa-bahasa daerah dapat diserahkan
kepada LIPI sebagai pusat ilmu sosial yang bekerja
sama dengan universitas di pusat, di daerah mau-
pun di luar negeri.
Kalian di HORISON selalu melihat apa kata
kata itu ? Nggak? Ini mubazir. Membuat kata-kata
yang hanya mengacaukan. Dan ini hanya menjauh
kan dari Malaysia, Brunei dan Singapura. Mustinya
didirikan satu badan yang terdiri dari tiga bahasa,
yaitu bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan bahasa
Malaysia. Sebab ketiga-tiga bahasa ini menghadapi
modernisasi.
Kalau kita di Indonesia menerjemahkan perka-
taan efisien dengan mangkus, Malaysia bagaimana?
Nah, kalau kita mengambil perkataan monitor,
Malaysia pasti juga memakai istilah monitor. Kita
memakai istilah pantau dengan tidak berunding
dengan Malaysia, dengan Singapura dan Brunei
kan mengacaukan. Pemandangan orang-orang yang
hanya bisa menelorkan kata-kata baru itu terlam-
pau picik. Hanya melihat kegirangan sendiri men-
ciptakan kata-kata, dan tidak melihat kebodohan
masyarakat. Dan takut dengan bahasa Inggris.
Apa mereka tidak tahu bahwa bahasa Inggris itu
bahasa kita yang kedua ?
T: Bagaimana dengan bahasa Indonesia yang
ada sekarang? Bahasa di koran-koran, di sekolah
sekolah, maupun di TV?
J: Yang ada sekarang? Saya kira cukup baik.
Toh saya membaca majalah HORISON tidak
mengalami kesulitan. Saya mengajar di kampus
ini para mahasiswa juga tidak mengalami kesulit.
an.....
T: Maksud saya, apa tidak mungkin diadakan
perbaikan ?
J: Mau diperbaiki ? Tentu bisa saja. Tapi seka-
rang ini bahasa Indonesia sudah memadai sebagai
bahasa resmi, bahasa mass media dan bahasa
pengantar di sekolah. Terus terang, dalam lebih se-
tengah abad ini kita dapat bergirang hati, bahwa
kita yang hidup dalam negara yang paling terpecah-
pecah di dunia, yaitu yang terdiri dari 13.000 pu-
lau besar dan kecil, yang didiami oleh lebih dari
400 suku bangsa, masing-masing dengan bahasa
dan kebudayaannya, dapat menciptakan kesatuan
dan persatuan bangsa dan bahasa untuk 170 juta
manusia. Nah, ini suatu hasil kerja yang besar di-
lihat dari jurusan linguistik maupun dari jurusan
social and cultural engineering, yaitu pembinaan
masyarakat dan kebudayaan maupun dari jurusan
nation building, pembinaan suatu nation atau ke-
satuan kebangsaan.
Dibanding negara-negara lain seperti India, Ci-
na, Spanyol, Srilangka, serta negara lainnya lagi,
dalam hal ini Indonesia mengalahkan. Sehubungan
dengan itu, saya berani berkata,bahwa ilmu sosio-
linguistik yang menjelma dalam language planning
atau language engineering, yaitu perancangan
dan pembinaan bahasa dipelopori, berkembang
dan mencapai puncak keberhasilannya di Indonesia
dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tetapi,
kata-kata saya ini bukan berarti bahwa bahasa
Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah
sempurna, kritik selalu ada dan musti diadakan da-
lam berbagai hal.
T: Oke, tadi bapak mengatakan bahwa bahasa
Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah
sempurna. Tapi kenyataannya, bangsa Indonesia
belum sepenuhnya mampu mensiasati kebodohan
dan keterbelakangannya. Pertanyaan saya apa
titik kelemahan dari bahasa Indonesia dibanding-
kan dengan bahasa asing, Inggris atau Jepang
misalnya?
J: Tidak ada bukunya, titik ! Sedangkan kalian
semua bodoh! Tidak banyak yang menguasai baha-
sa Inggris. Tidak dapat membaca buku tentang
Einstein, bagaimana hukum-hukum yang dipakai
untuk membuat bom atom. Hanya satu dua yang
bisa. Dan yang berbahasa Indonesia nggak ada.
Yang paling penting buku. Isi otak orang Indonesia
itu hanya untuk asal ngomong aja. Tapi omongan
itu musti berisi. Nah, isinya itu di Indonesia nggak
ada. Saya tidak mengerti bahwa menteri Pendi-
dikan dan Kebudayaan sampai 41 tahun ini tidak
ada yang mengerti mengapa Jepang menerjemah-
kan semua buku-buku. Dan kalian angkatan muda
musti berteriak-teriak keras-keras. "Sengaja ini mau
menahan kami bodoh?" Pendirian saya ini jelas.
T: Bagaimana pembinaan bahasa di negara -
negara asing yang pak Takdir ketahui ? Di Inggris,
Perancis, Jerman, atau Jepang?
J: Di Inggris, di Perancis, di Jepang, di Jerman,
semua pembinaan bahasanya di sekolah mantap.
Lain sekali dengan pembinaan bahasa melalui
pelajaran sekolah di Indonesia...
T: Kesalahan yang terjadi sebenarnya terletak
dalam pemakaian kata-kata dan idiom serta pema-
-HORISON/XXI/403-<noinclude></noinclude>
46a2jys7h606zll2m0q1ss5tz9620ru
316832
316824
2026-09-01T14:11:18Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
316832
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>terdiri dari 20 orang ahli bahasa. Sebagian dari
Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina
dan Thailand, yang bersama-sama menyelidiki,
memikirkan dan mengkordinasi perkembangan
bahasa Melayu Indonesia-mulai sehingga saling
mendekati, dan akhirnya lebih bersatu dari Malaysia
sekarang untuk masa yang akan datang. Lembaga
ini, antara lain dapat menyiapkan penerjemahan
Encyclopedia Britannica untuk Asia Tenggara
seperti yang dilakukan Jepang beberapa tahun
yang lalu.
IV. Pekerjaan menyelidiki dan mengadakan
deskripsi bahasa-bahasa daerah dapat diserahkan
kepada LIPI sebagai pusat ilmu sosial yang bekerja
sama dengan universitas di pusat, di daerah maupun
di luar negeri.
Kalian di HORISON selalu melihat apa kata
kata itu ? Nggak? Ini mubazir. Membuat kata-kata
yang hanya mengacaukan. Dan ini hanya menjauh
kan dari Malaysia, Brunei dan Singapura. Mustinya
didirikan satu badan yang terdiri dari tiga bahasa,
yaitu bahasa Melayu, bahasa Indonesia dan bahasa
Malaysia. Sebab ketiga-tiga bahasa ini menghadapi
modernisasi.
Kalau kita di Indonesia menerjemahkan perkataan
efisien dengan mangkus, Malaysia bagaimana?
Nah, kalau kita mengambil perkataan monitor,
Malaysia pasti juga memakai istilah monitor. Kita
memakai istilah pantau dengan tidak berunding
dengan Malaysia, dengan Singapura dan Brunei
kan mengacaukan. Pemandangan orang-orang yang
hanya bisa menelorkan kata-kata baru itu terlampau
picik. Hanya melihat kegirangan sendiri menciptakan
kata-kata, dan tidak melihat kebodohan
masyarakat. Dan takut dengan bahasa Inggris.
Apa mereka tidak tahu bahwa bahasa Inggris itu
bahasa kita yang kedua ?
T: Bagaimana dengan bahasa Indonesia yang
ada sekarang? Bahasa di koran-koran, di sekolah
sekolah, maupun di TV?
J: Yang ada sekarang? Saya kira cukup baik.
Toh saya membaca majalah HORISON tidak
mengalami kesulitan. Saya mengajar di kampus
ini para mahasiswa juga tidak mengalami kesulit.
an.....
T: Maksud saya, apa tidak mungkin diadakan
perbaikan ?
J: Mau diperbaiki ? Tentu bisa saja. Tapi sekarang
ini bahasa Indonesia sudah memadai sebagai
bahasa resmi, bahasa mass media dan bahasa
pengantar di sekolah. Terus terang, dalam lebih setengah
abad ini kita dapat bergirang hati, bahwa
kita yang hidup dalam negara yang paling terpecahpecah
di dunia, yaitu yang terdiri dari 13.000 pulau
besar dan kecil, yang didiami oleh lebih dari
400 suku bangsa, masing-masing dengan bahasa
dan kebudayaannya, dapat menciptakan kesatuan
dan persatuan bangsa dan bahasa untuk 170 juta
manusia. Nah, ini suatu hasil kerja yang besar dilihat
dari jurusan linguistik maupun dari jurusan
social and cultural engineering, yaitu pembinaan
masyarakat dan kebudayaan maupun dari jurusan
nation building, pembinaan suatu nation atau kesatuan
kebangsaan.
Dibanding negara-negara lain seperti India, Cina,
Spanyol, Srilangka, serta negara lainnya lagi,
dalam hal ini Indonesia mengalahkan. Sehubungan
dengan itu, saya berani berkata,bahwa ilmu sosiolinguistik
yang menjelma dalam language planning
atau language engineering, yaitu perancangan
dan pembinaan bahasa dipelopori, berkembang
dan mencapai puncak keberhasilannya di Indonesia
dalam perkembangan bahasa Indonesia. Tetapi,
kata-kata saya ini bukan berarti bahwa bahasa
Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah
sempurna, kritik selalu ada dan musti diadakan dalam
berbagai hal.
T: Oke, tadi bapak mengatakan bahwa bahasa
Indonesia sebagai alat komunikasi umum sudah
sempurna. Tapi kenyataannya, bangsa Indonesia
belum sepenuhnya mampu mensiasati kebodohan
dan keterbelakangannya. Pertanyaan saya apa
titik kelemahan dari bahasa Indonesia dibandingkan
dengan bahasa asing, Inggris atau Jepang
misalnya?
J: Tidak ada bukunya, titik ! Sedangkan kalian
semua bodoh! Tidak banyak yang menguasai bahasa
Inggris. Tidak dapat membaca buku tentang
Einstein, bagaimana hukum-hukum yang dipakai
untuk membuat bom atom. Hanya satu dua yang
bisa. Dan yang berbahasa Indonesia nggak ada.
Yang paling penting buku. Isi otak orang Indonesia
itu hanya untuk asal ngomong aja. Tapi omongan
itu musti berisi. Nah, isinya itu di Indonesia nggak
ada. Saya tidak mengerti bahwa menteri Pendidikan
dan Kebudayaan sampai 41 tahun ini tidak
ada yang mengerti mengapa Jepang menerjemahkan
semua buku-buku. Dan kalian angkatan muda
musti berteriak-teriak keras-keras. "Sengaja ini mau
menahan kami bodoh?" Pendirian saya ini jelas.
T: Bagaimana pembinaan bahasa di negara negara
asing yang pak Takdir ketahui ? Di Inggris,
Perancis, Jerman, atau Jepang?
J: Di Inggris, di Perancis, di Jepang, di Jerman,
semua pembinaan bahasanya di sekolah mantap.
Lain sekali dengan pembinaan bahasa melalui
pelajaran sekolah di Indonesia...
T: Kesalahan yang terjadi sebenarnya terletak
dalam pemakaian kata-kata dan idiom serta pema<noinclude>
-HORISON/XXI/403-</noinclude>
49jpeynftcn6qzoisx9tm3mk0v8pnu2
Halaman:Horison 12 1986.pdf/8
104
114641
316825
2026-09-01T13:36:31Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'kaian tatabahasa. Tentang yang pertama, sering dibicarakan oleh Prof Dr Yus Badudu di siaran TV serta dalam tulisan-tulisannya. Menurut pak Takdir, apa tindakan itu masih efektif? J: Pekerjaan menyempurnakan pemakaian kata, idiom dan aturan tatabahasa yang baku ada lah pada hakekatnya pekerjaan sekolah, yang tanggungjawabnya dipegang oleh Departemen Pen- didikan dan Kebudayaan. Yang diperlukan seka- rang ini, adalah ahli bahasa dan pengajar baha...
316825
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>kaian tatabahasa. Tentang yang pertama, sering
dibicarakan oleh Prof Dr Yus Badudu di siaran
TV serta dalam tulisan-tulisannya. Menurut pak
Takdir, apa tindakan itu masih efektif?
J: Pekerjaan menyempurnakan pemakaian
kata, idiom dan aturan tatabahasa yang baku ada
lah pada hakekatnya pekerjaan sekolah, yang
tanggungjawabnya dipegang oleh Departemen Pen-
didikan dan Kebudayaan. Yang diperlukan seka-
rang ini, adalah ahli bahasa dan pengajar bahasa
yang berpandangan luas dan mengerti soal-soal
perkembangan bahasa moderen yang menjelmakan
cara berpikir maju. Nah, merekalah yang musti
memimpin guru-guru bahasa di sekolah. Yang da-
pat memakai buku-buku dasar tatabahasa, pelajar-
an bahasa disertai buku-buku bacaan yang luas de-
ngan bahasa yang telah diperbaiki, dalam berbagai
lapangan ilmu, sastera, sejarah, kebudayaan, dan
lain-lain. Sehingga, orang yang menamatkan SMA
itu cakap dan boleh dikatakan seragam memakai
bahasa baku.
Buku pelajaran bahasa Indonesia yang dipakai
di sekolah SMA sekarang mutunya rendah dan tak
mencukupi. Saya berharap, hendaknya penulisan
dan penerbitannya jangan dimonopoli oleh Depar
temen Pendidikan dan Kebudayaan saja, yang me-
nerbitkan dan menyusun buku pelajaran bahasa
berpuluh juta jumlahnya. Nah, Departemen Pendi-
dikan dan Kebudayaan ini, mustinya menyerahkan
penulisan dan penerbitan buku pelajaran bahasa di
sekolah-sekolah, terutama SMA, kepada penulis
dan penerbit swasta di bawah petunjuk dan pim-
pinan ahli-ahlinya di DEPDIKBUD yang tadi saya
sebut?
T: Tapi buku-buku terjemahan kita kayaknya
belum mencapai bobot penerjemahannya. Apa
itu juga tidak mengacau bahasa Indonesia pak ?
J: Itu tidak penting. Kalau dia seorang dokter,
dan yang diterjemahkan buku-buku kedokteran se-
jelek-jeleknya masih baik. Memangnya dulu orang
Jepang menerjemahkan buku-buku itu sudah pada
ahli-ahli semua? Ha? Itu omong kosong. Tidak
ada satu orang pun yang bisa sempurna menerje-
mahkan buku, persis seperti yang dikehendaki
pengarangnya. Kalau Anton Moeljono sendiri me-
nerjemahkan buku, suruh periksa orang lain pasti
ada-ada saja yang bisa diperbaiki. Tidak ada dua
orang yang menerjemahkan buku sama. Yang
terpenting, hendaknya semua pembaca dapat
mengerti apa yang dimaksud dalam buku-buku
itu.
T: Di bawah pengaruh aliran-aliran sosiologi,
seperti Emil Durkheim (Perancis), G.Simmel (Jer-
man), W.G. Sumner, E.A. Ross, serta V.H. Cooley
(Amerika) bahasa dianggap peristiwa sosial yang
murni dan berstruktur, yang ada karena dirinya
sendiri, bebas dari penjelmaan individu, dan hanya
tunduk pada hukum proses masyarakat. Sejajar de-
ngan usaha-usaha dalam ilmu sosiologi, banyak
ahli-ahli linguistik moderen yang memusatkan
usahanya untuk menciptakan suatu aliran linguistik
yang berdiri sendiri, yang mempunyai obyek dan
metoda, yang bebas dari obyek dan metoda psiko-
logi, logika, dan sebagainya. Pertanyaan saya : apa
komentar pak Takdir tentang itu dan apa pula
kritik bapak atas linguistik moderen?
J: Salah satu daripada akibat nyata dari sikap
dan aliran itu ialah, ilmu linguistik moderen amat
sedikit minatnya kepada proses dinamik pembina-
an bahasa atau language engineering, yang berlaku
di negara-negara Asia dan Afrika beberapa puluh
tahun terakhir ini. Ia gagal melihat, bahwa pengka-
jian bahasa-bahasa kebangsaan yang baru di Asia
dan Afrika dapat begitu besar kegunaanya bagi
ilmu bahasa. Sebab dalam mencoba ilmu bahasa
untuk proses perubahan bahasa yang terbesar dan
tercepat ini, ilmu itu akan dapat menguji kebenar-
an dan kegunaan konsep-konsepnya, proposisi-
proposisinya dan metoda-metodanya serta mem-
perhitungkan kembali seluk beluknya dengan
masyarakat dan kebudayaan.
ilmu
Dan yang terpenting adalah, bahwa
linguistik moderen agak terlalu berlebih-lebihan
reaksinya terhadap "konsep tatabahasa umum"
di masa lalu, yang berdasarkan model-model Yuna-
ni-Latin dan terhadap konsep universal, yaitu
pengertian dan aturan-aturan umum dalam bahasa
dan pikiran manusia.
atau
Akhirnya ilmu linguistik moderen terlampau
sedikit minatnya kepada peranan bahasa dalam
pelajaran, yaitu proses pemasyarakatan
pengebudayaan yang terpenting di zaman kita. Se-
hingga, pengaruhnya dalam membentuk bahasa
sekolah, yaitu bahasa yang paling teratur bentuk-
bentuknya dalam tiap-tiap bahasa, adalah sangat
terbatas. Menurut pikiran saya, jika ilmu linguistik
moderen dengan sungguh-sungguh menghadapi
bahasa standar di sekolah, pastilah akan terlepas
dari kecenderungannya akan anarki dan kege-
marannya yang berlebih-lebihan akan bahasa lisan.
Dalam karangan saya yang berjudul The Failure
of Modern Linguistik in the face of linguistik pro-
blems of the twentieth century, saya tunjukkan se-
mua tentang kegagalan linguistik moderen. Kalian
dari HORISON ini pernah baca buku itu belum?
Ha?
T: Sekarang ini, katakanlah Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa masih mengacaukan,
meminjam istilah pak Takdir, tapi apa bisa diba-
yangkan kalau lembaga itu tidak ada? Akan jadi
-HORISON/XXI/404-<noinclude></noinclude>
hb4ys2744i3g1nrkqxlaizuebmb900o
316833
316825
2026-09-01T14:15:44Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
316833
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>kaian tatabahasa. Tentang yang pertama, sering
dibicarakan oleh Prof Dr Yus Badudu di siaran
TV serta dalam tulisan-tulisannya. Menurut pak
Takdir, apa tindakan itu masih efektif?
J: Pekerjaan menyempurnakan pemakaian
kata, idiom dan aturan tatabahasa yang baku ada
lah pada hakekatnya pekerjaan sekolah, yang
tanggungjawabnya dipegang oleh Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Yang diperlukan sekarang
ini, adalah ahli bahasa dan pengajar bahasa
yang berpandangan luas dan mengerti soal-soal
perkembangan bahasa moderen yang menjelmakan
cara berpikir maju. Nah, merekalah yang musti
memimpin guru-guru bahasa di sekolah. Yang dapat
memakai buku-buku dasar tatabahasa, pelajaran
bahasa disertai buku-buku bacaan yang luas dengan
bahasa yang telah diperbaiki, dalam berbagai
lapangan ilmu, sastera, sejarah, kebudayaan, dan
lain-lain. Sehingga, orang yang menamatkan SMA
itu cakap dan boleh dikatakan seragam memakai
bahasa baku.
Buku pelajaran bahasa Indonesia yang dipakai
di sekolah SMA sekarang mutunya rendah dan tak
mencukupi. Saya berharap, hendaknya penulisan
dan penerbitannya jangan dimonopoli oleh Depar
temen Pendidikan dan Kebudayaan saja, yang menerbitkan
dan menyusun buku pelajaran bahasa
berpuluh juta jumlahnya. Nah, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan ini, mustinya menyerahkan
penulisan dan penerbitan buku pelajaran bahasa di
sekolah-sekolah, terutama SMA, kepada penulis
dan penerbit swasta di bawah petunjuk dan pimpinan
ahli-ahlinya di DEPDIKBUD yang tadi saya
sebut?
T: Tapi buku-buku terjemahan kita kayaknya
belum mencapai bobot penerjemahannya. Apa
itu juga tidak mengacau bahasa Indonesia pak ?
J: Itu tidak penting. Kalau dia seorang dokter,
dan yang diterjemahkan buku-buku kedokteran sejelek-jeleknya
masih baik. Memangnya dulu orang
Jepang menerjemahkan buku-buku itu sudah pada
ahli-ahli semua? Ha? Itu omong kosong. Tidak
ada satu orang pun yang bisa sempurna menerjemahkan
buku, persis seperti yang dikehendaki
pengarangnya. Kalau Anton Moeljono sendiri menerjemahkan
buku, suruh periksa orang lain pasti
ada-ada saja yang bisa diperbaiki. Tidak ada dua
orang yang menerjemahkan buku sama. Yang
terpenting, hendaknya semua pembaca dapat
mengerti apa yang dimaksud dalam buku-buku
itu.
T: Di bawah pengaruh aliran-aliran sosiologi,
seperti Emil Durkheim (Perancis), G.Simmel (Jerman),
W.G. Sumner, E.A. Ross, serta V.H. Cooley
(Amerika) bahasa dianggap peristiwa sosial yang
murni dan berstruktur, yang ada karena dirinya
sendiri, bebas dari penjelmaan individu, dan hanya
tunduk pada hukum proses masyarakat. Sejajar dengan
usaha-usaha dalam ilmu sosiologi, banyak
ahli-ahli linguistik moderen yang memusatkan
usahanya untuk menciptakan suatu aliran linguistik
yang berdiri sendiri, yang mempunyai obyek dan
metoda, yang bebas dari obyek dan metoda psikologi,
logika, dan sebagainya. Pertanyaan saya : apa
komentar pak Takdir tentang itu dan apa pula
kritik bapak atas linguistik moderen?
J: Salah satu daripada akibat nyata dari sikap
dan aliran itu ialah, ilmu linguistik moderen amat
sedikit minatnya kepada proses dinamik pembinaan
bahasa atau language engineering, yang berlaku
di negara-negara Asia dan Afrika beberapa puluh
tahun terakhir ini. Ia gagal melihat, bahwa pengkajian
bahasa-bahasa kebangsaan yang baru di Asia
dan Afrika dapat begitu besar kegunaanya bagi
ilmu bahasa. Sebab dalam mencoba ilmu bahasa
untuk proses perubahan bahasa yang terbesar dan
tercepat ini, ilmu itu akan dapat menguji kebenaran
dan kegunaan konsep-konsepnya, proposisiproposisinya
dan metoda-metodanya serta memperhitungkan
kembali seluk beluknya dengan
masyarakat dan kebudayaan.
Dan yang terpenting adalah, bahwa
linguistik moderen agak terlalu berlebih-lebihan
reaksinya terhadap "konsep tatabahasa umum"
di masa lalu, yang berdasarkan model-model Yunani-Latin
dan terhadap konsep universal, yaitu
pengertian dan aturan-aturan umum dalam bahasa
dan pikiran manusia.
Akhirnya ilmu linguistik moderen terlampau
sedikit minatnya kepada peranan bahasa dalam
pelajaran, yaitu proses pemasyarakatan
pengebudayaan yang terpenting di zaman kita. Sehingga,
pengaruhnya dalam membentuk bahasa
sekolah, yaitu bahasa yang paling teratur bentuk-bentuknya
dalam tiap-tiap bahasa, adalah sangat
terbatas. Menurut pikiran saya, jika ilmu linguistik
moderen dengan sungguh-sungguh menghadapi
bahasa standar di sekolah, pastilah akan terlepas
dari kecenderungannya akan anarki dan kegemarannya
yang berlebih-lebihan akan bahasa lisan.
Dalam karangan saya yang berjudul The Failure
of Modern Linguistik in the face of linguistik problems
of the twentieth century, saya tunjukkan semua
tentang kegagalan linguistik moderen. Kalian
dari HORISON ini pernah baca buku itu belum?
Ha?
T: Sekarang ini, katakanlah Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa masih mengacaukan,
meminjam istilah pak Takdir, tapi apa bisa dibayangkan
kalau lembaga itu tidak ada? Akan jadi<noinclude>-HORISON/XXI/404</noinclude>
s6g202vk7zp1ja5xohgoll8vivccide
Halaman:Horison 12 1986.pdf/9
104
114642
316826
2026-09-01T13:37:18Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'apa bahasa kita? J: Apa salahnya? Ha? Buat yang lebih baik. Artinya, seperti yang sudah saya katakan tadi, se- bagian pindahkan ke Balai Pustaka dekat penerbit, sehingga dapat menerjemahkan buku-buku baru dan terus diterbitkan. Bekerjasama dengan semua penerbit-penerbit. Kerahkan semua pekerjaan yang lebih besar. Daripada hanya main-main menelorkan kata-kata yang macam-macam. Mereka menulis ten- tang sastra lagi. Sastra itu serahkan pada univers...
316826
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>apa bahasa kita?
J: Apa salahnya? Ha? Buat yang lebih baik.
Artinya, seperti yang sudah saya katakan tadi, se-
bagian pindahkan ke Balai Pustaka dekat penerbit,
sehingga dapat menerjemahkan buku-buku baru
dan terus diterbitkan. Bekerjasama dengan semua
penerbit-penerbit. Kerahkan semua pekerjaan yang
lebih besar. Daripada hanya main-main menelorkan
kata-kata yang macam-macam. Mereka menulis ten-
tang sastra lagi. Sastra itu serahkan pada universi-
tasnya dan pekerjanya dong. Mereka menyelidiki
bahasa daerah lagi. Bahasa daerah itu serahkan
pada LIPI untuk bekerjasama dengan universitas
yang ada di daerah-daerah. Kenapa mereka tidak
bisa berpikir begitu? Semua universitas musti di-
pakai. Bahasa Bali? Serahkan Udayana dong. Ja-
ngan di sini. Kenapa sih?
remeh.
T: Lah, untuk memperkaya bahasa...
J Memperkaya bahasa? Mau apa ? Apa mo-
nitor diganti pantau itu kaya? Apa tambah satu
kata itu kaya? Memperkaya bahasa itu, seperti se-
karang ini lihat, pengetahuan mahasiswa-mahasiswa
itu miskin karena tidak bisa berbahasa Inggris. Se-
dangkan buku ilmu pengetahuan yang penting ti-
dak ada yang berbahasa Indonesia. Memperkaya
bahasa itu, ribut semua ilmu pengetahuan dunia
dan masukkan ke dalam bahasa Indonesia. Itu orang
Indonesia nggak mengerti. Itu dilakukan Jepang.
Seperti saudara lihat sekarang ini, dengan Ilmu
Pengetahuan seluruh dunia, maka Jepang mampu
menguasai dunia. Jadi orang-orang Indonesia ini
termasuk orang-orang bodoh. Universitas kita itu,
kebanyakan hanya universitas-universitasan. Maha-
T: Lalu apa yang dimaksud dengan kata siswanya tidak dapat membaca. Bahasa Indonesia
"Asing" di dalam bahasa Indonesia?
J: Kata asing? Ya semuanya itu asing. Kata
Sansekerta itu asing. Kata Jawa itu asing. Jadi mi-
salnya, trampil. Trampil itu kata Jawa. Kalau kata
Indonesia, terampil. Saya kasih (e). Kalau dapat
awalan me, maka dibaca menerampilkan. Bukan
mentrampilkan. Nah, trima misalnya. Trima itu
bahasa Jawa. Terima itu baru bahasa Indonesia.
Kalau dikatakan nrimo, itu bahasa Jawa. Kalau
bahasa Indonesianya, me...ne. . . ri. . . ma...
Artinya, disesuaikan dengan suasana bahasa Indo-
nesia.
dan
T: Kembali ke soal Pusat Pembinaan
Pengembangan Bahasa. Begini pak, misalkan Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu betul-
betul dibubarkan, alternatif apa yang pak Takdir
tawarkan untuk pembinaan dan pengembangan
bahasa kita?
J: Dibubarkan itu kan namanya saja. Bisa di
ganti ini itu. Terus orang-orangnya dipindah
kan.... Pekerjaannya dibuat lebih baik, lebih ber-
mutu, lebih intensif. Kalian takut mendengar kata
dibubarkan ? Ha? Dibubarkan itu, artinya pekerja
an yang sekarang, yang hanya menelorkan perkata-
an-perkataan yang mengacaukan itu, musti diper-
baiki. Lalu diadakan di sana, diangkat 20 orang
dari Malaysia, dari Brunei, dari Singapura, untuk
membuat kesepakatan tentang kata-kata dan me-
nerjemahkan buku-buku.
Sekarang ini, kalau kalian mengerti, tugas yang
dikerjakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembang-
an Bahasa itu terlalu remeh dan hanya mengacau-
kan perkembangan bahasa. Hubungan dengan Ma-
laysia cuma dua kali setahun. Tanpa ada dialog
yang tuntas. Jadi, menurut saya, kerja Pusat Pem-
binaan dan Pengembangan bahasa itu hanya main
main. Pekerjaan mereka itu terlampau kecil dan
nggak cukup, sebab nggak ada buku-bukunya yang
bermutu. Bahasa Inggris nggak ada bukunya yang
sampai di Indonesia, atau kalau ada mereka nggak
pandai bahasa Inggris. Ya? Saya itu blak-blakan
saja.
T: Untuk mensiasati kecenderungan semacam
itu, kira-kira apa yang hendak bapak lakukan?
J: Usulkan saja pada pemerintah. Adakan satu
rancangan. . . minta uang pada pemerintah tiga
setengah milyar dan seribu buku diterjemahkan
setiap tahunnya.
Dan lagi saya katakan, dalam Undang-Undang
Dasar tertulis, bahasa negara ialah bahasa Indone-
sia. Larang orang berbahasa daerah di kantor-kan-
tor pemerintahan. Konsekuen ndak itu? Ha? Baha-
sa negara satu-satunya bahasa Indonesia. Tapi ma-
sih banyak orang-orang yang di kantor negara me-
makai bahasa daerah. Namanya nasionalis ?
Daerahis itu namanya. Nah, itu HORISON musti
menyerang habis-habisan. HORISON kan nggak
memakai bahasa daerah. HORISON musti bertang-
gung jawab dong. Bagaimana itu. . . ha... ha...
haaa...
T: Barangkali ada yang masih ingin pak Takdir
sampaikan sehubungan dengan bulan bahasa ini ?
J: Yang jelas saya tidak setuju kalau perkataan
monitor diganti pantau. Efisien misalnya diganti
mangkus. Atau canggih untuk mengartikan sophis-
ticated. Lain sekali arti sophisticated dengan cang-
gih. Bisa juga arti sophisticated itu dibikin kam-
bing. Kalau kita setuju semua... Wah ini karangan
yang "kambing" sekali.... ha.... ha...ha...
Sebab kata dan arti itu tidak ada hubungannya
sama sekali. Dalam bahasa Indonesia ini meja. Da-
lam bahasa Jerman Tisch. Dalam bahasa Inggris
table. Lah, antara meja, Tisch dan table ini tidak
ada hubungannya sama sekali. ***
HORISON/XXI/405-<noinclude></noinclude>
2s3z3mgdp6dy7wpcm9awohrpzv0666a
316830
316826
2026-09-01T14:07:48Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
316830
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>apa bahasa kita?
J: Apa salahnya? Ha? Buat yang lebih baik.
Artinya, seperti yang sudah saya katakan tadi, sebagian
pindahkan ke Balai Pustaka dekat penerbit,
sehingga dapat menerjemahkan buku-buku baru
dan terus diterbitkan. Bekerjasama dengan semua
penerbit-penerbit. Kerahkan semua pekerjaan yang
lebih besar. Daripada hanya main-main menelorkan
kata-kata yang macam-macam. Mereka menulis tentang
sastra lagi. Sastra itu serahkan pada universitasnya
dan pekerjanya dong. Mereka menyelidiki
bahasa daerah lagi. Bahasa daerah itu serahkan
pada LIPI untuk bekerjasama dengan universitas
yang ada di daerah-daerah. Kenapa mereka tidak
bisa berpikir begitu? Semua universitas musti dipakai.
Bahasa Bali? Serahkan Udayana dong. Jangan
di sini. Kenapa sih?
T: Lalu apa yang dimaksud dengan kata
"Asing" di dalam bahasa Indonesia?
J: Kata asing? Ya semuanya itu asing. Kata
Sansekerta itu asing. Kata Jawa itu asing. Jadi misalnya,
trampil. Trampil itu kata Jawa. Kalau kata
Indonesia, terampil. Saya kasih (e). Kalau dapat
awalan me, maka dibaca menerampilkan. Bukan
mentrampilkan. Nah, trima misalnya. Trima itu
bahasa Jawa. Terima itu baru bahasa Indonesia.
Kalau dikatakan nrimo, itu bahasa Jawa. Kalau
bahasa Indonesianya, me...ne. . . ri. . . ma...
Artinya, disesuaikan dengan suasana bahasa Indonesia.
T: Kembali ke soal Pusat Pembinaan
Pengembangan Bahasa. Begini pak, misalkan Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu betulbetul
dibubarkan, alternatif apa yang pak Takdir
tawarkan untuk pembinaan dan pengembangan
bahasa kita?
J: Dibubarkan itu kan namanya saja. Bisa di
ganti ini itu. Terus orang-orangnya dipindah
kan.... Pekerjaannya dibuat lebih baik, lebih bermutu,
lebih intensif. Kalian takut mendengar kata
dibubarkan ? Ha? Dibubarkan itu, artinya pekerja
an yang sekarang, yang hanya menelorkan perkataan-perkataan
yang mengacaukan itu, musti diperbaiki.
Lalu diadakan di sana, diangkat 20 orang
dari Malaysia, dari Brunei, dari Singapura, untuk
membuat kesepakatan tentang kata-kata dan menerjemahkan
buku-buku.
Sekarang ini, kalau kalian mengerti, tugas yang
dikerjakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa itu terlalu remeh dan hanya mengacaukan
perkembangan bahasa. Hubungan dengan Malaysia
cuma dua kali setahun. Tanpa ada dialog
yang tuntas. Jadi, menurut saya, kerja Pusat Pembinaan
dan Pengembangan bahasa itu hanya main
main. Pekerjaan mereka itu terlampau kecil dan
remeh.
T: Lah, untuk memperkaya bahasa...
J Memperkaya bahasa? Mau apa ? Apa monitor
diganti pantau itu kaya? Apa tambah satu
kata itu kaya? Memperkaya bahasa itu, seperti sekarang
ini lihat, pengetahuan mahasiswa-mahasiswa
itu miskin karena tidak bisa berbahasa Inggris. Sedangkan
buku ilmu pengetahuan yang penting tidak
ada yang berbahasa Indonesia. Memperkaya
bahasa itu, ribut semua ilmu pengetahuan dunia
dan masukkan ke dalam bahasa Indonesia. Itu orang
Indonesia nggak mengerti. Itu dilakukan Jepang.
Seperti saudara lihat sekarang ini, dengan Ilmu
Pengetahuan seluruh dunia, maka Jepang mampu
menguasai dunia. Jadi orang-orang Indonesia ini
termasuk orang-orang bodoh. Universitas kita itu,
kebanyakan hanya universitas-universitasan.
Mahasiswanya tidak dapat membaca. Bahasa Indonesia
nggak cukup, sebab nggak ada buku-bukunya yang
bermutu. Bahasa Inggris nggak ada bukunya yang
sampai di Indonesia, atau kalau ada mereka nggak
pandai bahasa Inggris. Ya? Saya itu blak-blakan
saja.
T: Untuk mensiasati kecenderungan semacam
itu, kira-kira apa yang hendak bapak lakukan?
J: Usulkan saja pada pemerintah. Adakan satu
rancangan. . . minta uang pada pemerintah tiga
setengah milyar dan seribu buku diterjemahkan
setiap tahunnya.
Dan lagi saya katakan, dalam Undang-Undang
Dasar tertulis, bahasa negara ialah bahasa Indonesia.
Larang orang berbahasa daerah di kantor-kantor
pemerintahan. Konsekuen ndak itu? Ha? Bahasa
negara satu-satunya bahasa Indonesia. Tapi masih
banyak orang-orang yang di kantor negara memakai
bahasa daerah. Namanya nasionalis ?
Daerahis itu namanya. Nah, itu HORISON musti
menyerang habis-habisan. HORISON kan nggak
memakai bahasa daerah. HORISON musti bertanggung
jawab dong. Bagaimana itu. . . ha... ha...
haaa...
T: Barangkali ada yang masih ingin pak Takdir
sampaikan sehubungan dengan bulan bahasa ini ?
J: Yang jelas saya tidak setuju kalau perkataan
monitor diganti pantau. Efisien misalnya diganti
mangkus. Atau canggih untuk mengartikan sophisticated.
Lain sekali arti sophisticated dengan canggih.
Bisa juga arti sophisticated itu dibikin kambing.
Kalau kita setuju semua... Wah ini karangan
yang "kambing" sekali.... ha.... ha...ha...
Sebab kata dan arti itu tidak ada hubungannya
sama sekali. Dalam bahasa Indonesia ini meja. Dalam
bahasa Jerman Tisch. Dalam bahasa Inggris
table. Lah, antara meja, Tisch dan table ini tidak
ada hubungannya sama sekali. ***<noinclude>
HORISON/XXI/405</noinclude>
jztl3n7nh1dk2u6f9xer4tlu6vvemdy
Majalah Horison/1986/Nomor 12/Wawancara
0
114643
316827
2026-09-01T13:42:19Z
Hadithfajri
15274
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Wawancara dengan H. Soeman HS | author = M. Nasruddin Anshory Ch | translator = | section = | previous = [[../Catatan Kebudayaan|Catatan Kebudayaan]] | next = [[../Madu dan Racun Teather]] | notes = }} <pages index="Horison 12 1986.pdf" from=5 to=9/>'
316827
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Wawancara dengan H. Soeman HS
| author = M. Nasruddin Anshory Ch
| translator =
| section =
| previous = [[../Catatan Kebudayaan|Catatan Kebudayaan]]
| next = [[../Madu dan Racun Teather]]
| notes =
}}
<pages index="Horison 12 1986.pdf" from=5 to=9/>
3h5hzbc3d0lsl0m18c9o4kvbv47aasg
316831
316827
2026-09-01T14:08:43Z
Hadithfajri
15274
316831
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Wawancara dengan H. Soeman HS
| author = M. Nasruddin Anshory Ch
| translator =
| section =
| previous = [[../Catatan Kebudayaan|Catatan Kebudayaan]]
| next = [[../Madu dan Racun Teather|Madu dan Racun Teather]]
| notes =
}}
<pages index="Horison 12 1986.pdf" from=5 to=9/>
a84taz9i67xpz4gijam7l1vduhpol1y
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/41
104
114644
316834
2026-09-02T03:38:31Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
316834
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>kerbau atau sebanyak biaya untuk mengangkat gelar Datuk itu. Demikian pula agaknya Adityawarman, apalagi ia seorang raja yang dimulyakan, sudah barang tentu tidak berani lagi menyebut nama aslinya. Kedua, kenyataan-kenyataan yang menyebutkan asal-usulnya berasal dari kerajaan Majapahit sengaja dihilangkan, kemudian sebagai penggantinya, asal-usulnya dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain dengan maksud, seperti telah disebutkan dari uraian di atas untuk mengagungkan dan memulyakannya dari pandangan masyarakat. Inilah pula salah satu ciri penulis naskah lama berisi sejarah. Geneologi raja-raja tidak cocok, hal-hal yang penting diselubungi dengan maksud memulyakan raja itu.
=== 3. Kesimpulan ===
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, agaknya dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut :
# Iskandar Zulkarnain dalam Tambo Minangkabau merupakan tokoh legendaris. Sama halnya, Iskandar Zulkarnain dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh dan Bustanussalatin.
# Salah satu maksud penulis Tambo Minangkabau dan penulis naskah berisi sejarah lainnya menghubung-hubungkan geneologi rajanya dengan Iskandar Zulkarnain tidak lain, agar kedudukan rajanya dalam pandangan masyarakat disamakan dengan kedudukan raja agung yang sudah terkenal kebesarannya di dunia. Inilah salah satu cara untuk memulyakan raja.
# Yang dimaksud dengan raja Minangkabau yang pertama dalam Tambo Minangkabau Maharaja Diraja itu, ialah yang dari sumber sejarah lainnya biasa disebut Adityawarman.
Demikian kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambil dari pembicaraan pertama dari Tambo Minangkabau, khusus mengenai episode Iskandar Zulkarnain yang dianggap sebagai asal raja Minangkabau yang pertama.
{{center|<nowiki>****************</nowiki>}}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude>
150kjkg562v7yk4f999c8oe6svg21b9
316835
316834
2026-09-02T03:39:52Z
Link PB
26772
316835
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>kerbau atau sebanyak biaya untuk mengangkat gelar Datuk itu. Demikian pula agaknya Adityawarman, apalagi ia seorang raja yang dimulyakan, sudah barang tentu tidak berani lagi menyebut nama aslinya. Kedua, kenyataan-kenyataan yang menyebutkan asal-usulnya berasal dari kerajaan Majapahit sengaja dihilangkan, kemudian sebagai penggantinya, asal-usulnya dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain dengan maksud, seperti telah disebutkan dari uraian di atas untuk mengagungkan dan memulyakannya dari pandangan masyarakat. Inilah pula salah satu ciri penulis naskah lama berisi sejarah. Geneologi raja-raja tidak cocok, hal-hal yang penting diselubungi dengan maksud memulyakan raja itu.
=== 3. Kesimpulan ===
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, agaknya dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut :
<ol type="1" start="1">
<li>Iskandar Zulkarnain dalam Tambo Minangkabau merupakan tokoh legendaris. Sama halnya, Iskandar Zulkarnain dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh dan Bustanussalatin.</li>
<li>Salah satu maksud penulis Tambo Minangkabau dan penulis naskah berisi sejarah lainnya menghubung-hubungkan geneologi rajanya dengan Iskandar Zulkarnain tidak lain, agar kedudukan rajanya dalam pandangan masyarakat disamakan dengan kedudukan raja agung yang sudah terkenal kebesarannya di dunia. Inilah salah satu cara untuk memulyakan raja.</li>
<li>Yang dimaksud dengan raja Minangkabau yang pertama dalam Tambo Minangkabau Maharaja Diraja itu, ialah yang dari sumber sejarah lainnya biasa disebut Adityawarman.</li>
</ol>
Demikian kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambil dari pembicaraan pertama dari Tambo Minangkabau, khusus mengenai episode Iskandar Zulkarnain yang dianggap sebagai asal raja Minangkabau yang pertama.
{{center|<nowiki>****************</nowiki>}}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude>
jwz468kesbxis4iwsv7a4nodaecpepw
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/42
104
114645
316836
2026-09-02T03:40:54Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
316836
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>* ''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.
* Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.
* Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.
*: "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422.
* Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.
* Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.
* Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.
* Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.
* Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.
* L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.
* Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.
* Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.
* Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.
* Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.
* Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.
* Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude>
a1ow0h47wfnd8hq1mm66xogyp01i0bt
316837
316836
2026-09-02T03:42:12Z
Link PB
26772
316837
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.
Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.
Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.
: "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422.
Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.
Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.
Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.
Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.
Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.
L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.
Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.
Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.
Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.
Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.
Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.
Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude>
kee3q2cpv33dsdnxha9pgyrxwked809
316838
316837
2026-09-02T03:48:07Z
Link PB
26772
316838
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.}}
Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.
Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.
: "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422.
Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.
Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.
Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.
Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.
Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.
L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.
Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.
Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.
Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.
Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.
Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.
Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude>
3vj2mqkavnmayimb3je4w9ps3e6dfif
316839
316838
2026-09-02T03:50:16Z
Link PB
26772
316839
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.}}
{{hanging indent|Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.
{{hanging indent|Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.}}
: "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422.
{{hanging indent|Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.}}
{{hanging indent|Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.}}
{{hanging indent|Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}}
{{hanging indent|Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.}}
{{hanging indent|Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.}}
{{hanging indent|L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.}}
{{hanging indent|Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.}}
{{hanging indent|Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.}}
{{hanging indent|Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.}}
{{hanging indent|Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.}}
{{hanging indent|Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.}}
{{hanging indent|Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.}}<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude>
669ycvmzfs1mivb53fhl333b0ocgyyq
316840
316839
2026-09-02T03:50:28Z
Link PB
26772
316840
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.}}
{{hanging indent|Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}}
{{hanging indent|Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.}}
: "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422.
{{hanging indent|Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.}}
{{hanging indent|Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.}}
{{hanging indent|Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}}
{{hanging indent|Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.}}
{{hanging indent|Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.}}
{{hanging indent|L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.}}
{{hanging indent|Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.}}
{{hanging indent|Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.}}
{{hanging indent|Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.}}
{{hanging indent|Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.}}
{{hanging indent|Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.}}
{{hanging indent|Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.}}<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude>
ntkzdd8i2ed5y45flhe31uhzroeoh97
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/43
104
114646
316841
2026-09-02T03:52:47Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
316841
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>{{hanging indent|Sitomorang, T.D. dan A. Teeuw, ''Sedjarah Melayu'', Djakarta, Djambatan cetakan II, 1958.}}
{{hanging indent|Slametmulyana, ''Sriwidjaja'', Ende-Flores, Arnaldus, tanpa tahun.}}
{{hanging indent|Steinberg, S.H., (editor), ''Cassel's Encyclopaedia of World Literature I'', New York, Funk & Wagnalls Company, 1953.}}
{{hanging indent|Soedjatmoko and Mohammad Ali, G.J. Resink and G. Mct, Kahin (editors) ''An Introduction to Indonesian Historiography'', Ithaca, New York, Cornell University Press, 1968.}}
{{hanging indent|Teeuw, A., Wyatt, ''Hikayat Petani'', The Hague, Martinus Nijhoff, 1970.}}
{{hanging indent|Winstedt. Sir Richard, ''A History of Classical Malay Literature'', Kuala Lumpur, Oxford University Press, 1969.}}
{{hanging indent|Winstedt, R.O., "The Date, Authorship, Contens and some Mss. of the Malay Romance of Alexander the Great", ''JMBRAS'', XVI, (11), 1938.}}
NASKAH-NASKAH DARI MUSEUM PUSAT JAKARTA :
* Asal-Usul Bengkahulu, (2 naskah) Ml. 143 dan Ml. 148.
* Hikayat Aceh, Ml. 196.
* Hikayat Negeri Johor, w. 192
* Peraturan Lambang dalam negeri Bengkahulu, Ml. 144.
* Sejarah Raja-raja Riau, w. 62.
* Sejarah Tembesi (2 naskah) Ml. 100A dan Ml. 100 B.
* Tambo Minangkabau Ml. 439, Ml. 489.
{{center|************}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude>
98p2dc6uentk5t117srrj0r4jkblfhb
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/44
104
114647
316842
2026-09-02T03:53:59Z
Link PB
26772
/* Telah diuji baca */
316842
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Link PB" /></noinclude>'''''L A M P I R A N'''''
<center>
'''TRANSKRIPSI EPIDOSE ISKANDAR ZULKARNAIN'''
'''TAMBO MINANGKABAU ML. 439 HAL. 27–32.'''
</center>
Adapun tatkala bumi akan berkembang, tatkala Adam akan ditimpakan menunggui isi dunia, ialah anak cucu Adam alaihissalam datang akan jadi raja, ialah anak cucu Adam yang bungsu. Adapun anak Adam alaihissalam tiga puluh sembilan orang, maka bernikah satu anak daripada satu anak. Maka tiadalah beroleh isteri anak yang bungsu, maka dilarikan oleh segala malaikat kepada hawang-gumawang, maka heranlah Adam dengan Siti Hawa dan segala anak-anak. Maka bertiuplah angin dari dalam sorga maka dipalu gendang dan serunai serta nobat dan kecapi, terkenanglah payung ubur-ubur, maka menarilah segala anak-anakan bidadari di dalam sorga, karena suka melihat anak Adam yang bungsu di awang gumawang itu. Maka terhamburlah segala bau-bauan dari dalam sorga dan turunlah segala malaikat pergi kepada anak Adam itu, maka sama-samalah mengepal tangannya dan kakinya, maka memandanglah Adam serta Siti Hawa anak beranak kepada langit, maka dilihat mereka itu anak itu bertanduk emas senjata jati namanya, maka takutlah mereka itu melihat dia. Maka terdengarlah suatu suara dari puncak bukit Kaf, maka memandanglah anak beranak kepada bukit Kaf itu.
Maka melihat Adam akan putranya terdiri di atas bukit itu seperti buih di laut putihnya, maka heranlah Adam serta Siti Hawa anak beranak. Meminta doa ia Adam kepada Allah Taala, "Ya robbul a'lamin, pertemukan hamba dengan anak cucu hamba".
Maka hampirlah turun ke dunia, maka lautpun berombak, maka ikan yang bernama Nur menyemburkan dirinya, maka bergeraklah semuanya antah berantah rasanya alam, sebab itulah maka bernama tanah Ruhum. Maka berkatalah segala anak Adam laki-laki serta ibu Bapak, maka sopan kita melihat rupanya. Maka malaikat itupun menurunkan anak Adam itu kepada bumi yang suci, antara Pasira dan Pasiri, antara masyrik dan magrib, antara timur dan selatan, antara bukit Siguntang Panjaringan ialah yang dinamanya tanah Ruhum. Maka dikeluarkanlah anak Indojati selapan orang bernama Jati Rono Sudah, lagi baik manis mulutnya. Itulah nan jadi angkat-angkatan sembah Adam itu semuanya.
Maka berkata anak Adam kepada saudaranya, katanya, takut kami akan tanduk. Maka digugurkan tanduk itu sekali sekerat menjadi mengkuta sanggani singgasana dan sekati sekerat menjadi leher orang tempuk hari kuning bercampur merah warnanya bertatahkan intan, sekali jadi lembing lamiri. Maka turunlah malaikat daripada langit yang ketujuh menamai tanduk itu ialah bernama Zulkarnain artinya mempunyai dua kerat tanduk, artinya masyrik dan magrib. Maka dinamai oleh malaikat Raja Iskandar namanya Zulkarnain gelarnya. Maka berkata anak Adam semuanya, "Demikianlah kami ikut barang katanya".<noinclude>{{rh|40||}}</noinclude>
01dnlgxypmn2u2j6pynko8sovu5eh6b
Halaman:Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 45 PK.03.03 KESRA.pdf
104
114648
316843
2026-09-02T03:56:34Z
~2026-47643-74
27566
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi ''
316843
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="180.253.253.173" /></noinclude><noinclude><references/></noinclude>
iwy8n53gq4u08n34cch81jbbhtnn1sp