Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.23
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/20
104
53754
319968
152661
2026-10-07T10:23:45Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319968
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>tjukup ? Kenapa si oppas sampai mestj dibinasakan ? Orang she Lioe itu terang seorang sahabat baru dalam kalangan Rimba Hidjau, ia terlalu sembrono, Dengan perbuatannja itu, ia membuat urusan mendjadi hebat. Apakah kau kira pembesar seatasan nanti mau sudah sadja ? Kalau ia ditjari setjara keras, achirnja mesti ia masuk kedalam djaring ......”
„Sebenarnja ia dari kalangan mana ?” tanja Ang Soe Sioe. „Apakah toako tidak pernah dengar tentang dia ?”
Kok Ban Tjiong hirup dulu araknja.
„Kau tahu sendiri, biasanja aku tidak pedulikan segala urusan diluaran”, sahutnja dengan pelahan. „Adalah djie-tee, ketika ia dapat tahu di Peng-san-tjoen ada seorang baru jang gerak-geriknja aneh, pernah ia mentjari tahu. Tetapi ia tidak peroleh kabar banjak. Dapat diduga orang she Lioe itu adalah pentjuri tetapi tak ketahuan sarangnja. Menurut keterangan beberapa tetangganja, selama beberapa tahun, ia tidak pernah kedatangan tetamu asal luar daerah. Baru pada musim dingin tahun jang baru lalu serta bulan ketiga tahun ini, dua orang dari Kim-tan datang mentjari padanja. Jang satu seorang guru sekolah, katanja she Sie, dan jang lainnja seorang anak muda jang dandan sebagai seorang tani, entah shenja. Djietee sendiri tidak hertemu dengan mereka itu. Tentu sekali, tak perlu kita ambil peduli kepada mereka itu. Kau lihat sadja nanti, ngo-tee. Ia bekerdja setjara terang*an, ia berani tantangi pembesar negeri, achirnja ia mesti merasakannja sendiri ......”
Tiauw Lan tenggak araknja, ia mengangguk ber-ulang².
Ang Soe Sioe mau pertjaja benarnja pandangan toakonja itu, karenanja, ia berkuatir djuga untuk keselamatan orang she Lioe itu jang sepakterdjangnja telah memberi kesan baik padanja.
Mereka ini berpandangan berlainan, mereka sebaliknja tidak hendak memikirkan bahwa pembesar negeri didjamannja itu, mengenai perkara sulit seperti itu, tidak nanti mau bekerdja sungguh². Sebaliknja, kalau ada kesempatannja, djusteru ada angin, mereka hendak membantu meniupi api, supaja mereka mendapat hasil. Sikap ini membuat Kok Ban Tjiong telah mendjadi sasaran intjaran atau intaian mereka, Orang she Kok ini bukan hartawan besar, tetapi untuk di Mauw San, ia tjukup menjolok mata, Karena ia tidak mempunjai sesuatu gelar atau pangkat, dan djuga tidak ada handai taulannja diantara pembesar negeri, ia adalah buah jang lezat untuk hamba? negeri setempat. Demikian ia telah di-amat²i.<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude>
ih6bz3sfsgawe67xw7o6b2mk65mnott
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/21
104
53759
319969
152668
2026-10-07T10:24:03Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319969
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Peristiwa dua keluarga Ong dan Touw itu terlalu hebat untuk pembesar² jang bersangkutan, Sangat sebat dan sempurna Lioe Hong Hoa bekerdja. Sesudah Kwee Liok dibawa menjingkir, rumahnja sendiri dibakarnja habis, hingga tidak ada bekas²nja lagi jang dapat didjadikan bahan penjelidikan. Maka penguea mendjadi buntu.
Wedana dari Kangleng dan tjamat dari Kie-yong, terutama orang² polisi sebawahan mereka, sudah bekerdja beberapa hari, hasilnja tidak ada. Mereka sudah kewalahan, ditambah mereka djuga mendjadi menghadapi kesulitan. Waktu itu di-propinsi² Shoatang, Hoolam dan An-hoei, keamanan terganggu oleh huru-hara dari apa jang dinamakan pemberontak Liam-koen, sedang sepakterdjang Lioe Hong Hoa itu dipandang hebat. Biasanja pembesar negeri bentji berbarengpun takut terhadap perbuatan pendjahat jang main rampok, bakar dan bunuh. Maka djuga kedua pembesar itu didesak hampir setiap hari oleh atasan mereka, supaja perkara lekas dibikin terang.
Demikianlah, sesudah habis daja, sedang desakan tak henti²nja datang, orang mengambil djalan menangkap ikan diair keruh. Untuk ini, mereka tak peduli pertimbangan apa djuga. Tak apa mereka terdesak kalau karenanja, saku mereka bisa diisi padat, dan asal perkara dapat diredakan, Tindakan mereka ini adalah pemerasan !
Kok Ban Tjiong berharta, tetapi tanpa tulang punggung; diapun tengah diintjar, maka kali ini dia jang didjadikan sasaren. Memang ada djuga hal² jang bisa didjadikan alasan, ialah Ban Tjiong mengerti silat, anak²nja, lelaki dan perempuan pada mejakinkan ilmu itu. Siapa mengerti silat, ia mesti radjin melatih diri, dan diwaktu melatih, latihannja itu mesti diketahui orang. Demikian djuga sudah terdjadi dengan keluarga Kok ini. Disamping itu, saudara-angkat Ban Tjiong terdiri darj pelbagai golongan: ada imam, ada piauwsoe, ada guru silat, djuga jang membuka rumah perguruan atau menerima murid, sedang sahabat²nja asal lain tempat, terdiri dari matjam² orang, jang sering datang berkundjung. Didesa seperti itu, tidaklah itu semua menjolok mata ?
Maka datanglah suatu hari jang naas, walaupun sebenarnja itu adalah hari raja, ialah Toan Yang Tijiat, harian pesta Peh-tjoen untuk memperingati djasa Koet Goan. Seperti semua orang lain, Ban Tjiong pun merajakan hari besar itu, malah didua tempat {{hws|ber|berbareng}}<noinclude>{{rh|18||}}</noinclude>
3gztlmczzfsfxglx0jj7vh54pwdlhfk
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/22
104
53765
319970
152674
2026-10-07T10:24:29Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319970
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|bareng|berbareng}} : dirumahnja dan di Taman Bunga Toh. Dirumahnja diantara anggota² keluarga, ditaman bersama sahabat²nja,
Bagaikan turun dari langit, demikian bahaja telah datang menimpa, Dalam djumlah empatpuluh djiwa lebih, orang² polisi dan serdadu dari kewedanaan dan ketjamatan meluruk kekedua tempat Ban Tjiong itu.
Ketika itu Ban Tjiong berada divillanja. Ia lihat suasana buruk, ia biarkan orang melakukan penggeledahan. Ia tjuma bisa berlaku merendah, bitjara dengan manis terhadap hamba² negeri itu, sedang saudara²nja ia budjuk untuk bersabar, Ia anggap, dengan berlaku sabar dan menurut, urusan bisa dapat disudahi setjara gampang. Ia tahu, ia tidak bersalah.
Akan tetapi ia lagi diintjar. Sesudah penggeledahan, sehingga banjak perabotnja petjah-rusak dan tak sedikit jang dirampas, ia sendiri hendak dirantai, untuk digiring kekantor.
Hampir Say-Phoa-An Ang Soe Sioe tak dapat kendalikan diri lagi. Sjukur Tie Tiauw Lan jang sabar dan berpandangan djauh, bisa mentjegah ia dan membudjuk dia, Dikatakannja bahwa sesampai dikantor tjamat, sesudah berbitjara, pastilah kakaknja itu dapat pulang dengan tidak kurang suatu apa ......
Selagi divilla terdjadi penggeledahan dan penangkapan atas diri Ban Tjiong, dirumahnja keadaan terlebih katjau-balau. Bukankah disitu tidak ada tuan rumahnja dan jang ada semua keluarga peremppuan ? Maka kesudahannja hebat luar biasa.
Ibu Ban Tjiong sudah tua — usianja sudah delapanpuluh tahun — dan berpenjakitan. Ibu ini berdiam disebuah rumah ketjil terpisah dari rumah besar, Ia sedang rebah beristirahat ketika ia mendjadi kaget mendengar suara berisik hamba² negeri itu jang berlaku kasar dan galak, jang memaksa masuk menggeledah. Karena terlalu kaget, njonja tua itu djadi pingsan, hampir dia tak sadarkan diri lagi.
Kedjadian itu telah membuat meluap hawa amarah seorang anak muda, jang kebetulan berada dirumah itu dan menjaksikan kebiadaban kawanan hamba negeri itu. Memang ia sudah merasa tidak puas, Malah ia tidak setudju sikap lemah dari Ban Tjiong, jang terlalu mengutamakan keselamatan diri sendiri hingga kehormatan mereka seperti diabaikan. Maka itu, ia hendak memberikan adjaran.
Djie Ie adalah pemuda, itu, umurnja baru duapuluh-empat tahun. Ia murid Oey Yap Toodjin dari Boe Tong Pay. Disamping ilmu silat umum, ia mejakinkan Tjoe-see-tjiang, Tangan Merah, hingga {{hws|ta|tangannja}}<noinclude>{{rh||19}}</noinclude>
11kenq0xxpashenk1s9e0zk2wrrhj8v
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/63
104
53768
320011
152703
2026-10-07T10:36:51Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320011
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|djati|sedjati}}. Setelah kau omong tjukup djelas, pastilah emasmu itu bakal didapat pulang........."
Kata² ini beralasan, akan tetapi berat bagi Tjeng Loen untuk melakukannja. Tidakkah menurunkan deradjat dan memalukan untuk ia memohon maaf dari perampas piauwnja itu? Apakah ia tidak bakal ditertawai kaum Rimba Persilatan ?
Siorang tua, mengawasi. Apabila ia lihat orang diam sadja, ia pun membungkam.
Sekian lama keduanja tidak berbitjara, lalu Tjeng Loen merasa bahwa orang telah bitjara dengan suatu kepastian. Itu artinja tidak ada lagi pembitjaraan. Dan karena ia merasa sulit untuk merendahkan diri seperti diusulkan siorang tua ia tidak dapat banjak omong lagi. Begitulah ia berbangkit, sambil menghaturkan terima kasih, ia memohon diri.
Siorang tua tidak mentjegah, dia malah mengantarkan.
Tjeng Loen bertindak dengan tindakan tetap. Waktu ia mendekati pintu, tiba siorang tua berkata kepadanja:,,Djangan terburu², Tjian Tjongpiauwtauw! Tadi kau memberi aku duaratus uang tang-tjhie! Ada pepatah mengatakan bahwa tanpa djasa, djanganlah menerima hadiah, oleh karena itu, sukalah kau menerima kembali uangmu ini !"
Piauwsoe itu segera berpaling. Ia lihat siorang tua menjodorkan uangnja, jang merupakan satu rentjengan, jang didjepit diantara dua djari tangan. Tjeng, Loen seorang sembrono dan djudjur, ia tidak menjangka apa, maka ia ulur tangannja untuk menjambut.
,,Aku menjesal", ia masih dapat berkata menghaturkan maafnja. Segera ia mendjadi terperandjat. Ketika ia pegang uang itu untuk ditarik, ia tak dapat menariknja.
Orang tua itu memandang sambil bersenjum.
Baru sekarang Tjeng Loen insaf bahwa ia sedang ditjoba. Karenanja, ia menarik dengan tenaga delapan bahagian. Ia pertjaja, umpamakata ia tidak berhasil seluruhnja tali rentjengan uang itu bakal putus. Untuk keheranannja, ia dapatkan uang itu tak bergeming ditangan siorang tua. Ia mendjadi malu dan penasaran, tak sudi ia,,djatuh merek", maka ia menarik pula, dengan sepuluh bahagian tenaganja, sambil menggertak gigi. Kali ini ia tidak gagal, walaupun tidak berhasil sepenuhnja. Ia dapat menarik putus, sebagian!<noinclude>{{rh|60}}</noinclude>
i2xqts89333zhnbt5axmnb08673wpgl
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/37
104
53771
319985
152683
2026-10-07T10:29:42Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319985
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|ngan|dengan}} begitu sadja. Sebaliknja, piauw mesti dibawa terus, apa djuga mengantjam dihadapan mereka.
„Dia litjik, dia mesti dikasi sedikit adjaran ...... ” Djin Tjoen berpikir. Maka ia lantas menggertak pula, akan achirnja bilang : „Sekarang setelah keadaan terlandjur begini, kita harus berlaku tenang. Kau sabar sadja, hendak aku berdamai dengan guruku”.
Lantas piauwsoe muda ini keluar, untuk tjari gurunja, agar mereka berdua dapat melakukan perundingan, ‘supaja piauw itu dapat Laiieks aman dibawa ke Haytjioe.
Tjeng Loen masih mendongkol, ia mengutuk kalang kabutan.
„Djin Tjoen, benar² hebat !" katanja kemudian. „Kau tahu, selama duapuluh tahun lebih, belum pernah aku mengantar piauw gelap. Tjoba kau bilang, diperdjalanan kita ini, siapakah orang jang baru muntjul ?"
Murid itu mengkerutkan keningnja.
„Soehoe", katanja tjepat, „tentunja soehoe ketahui baik suasana selama tiga-empat tahun ini. Benar kota Lamkhia telah dipukul djatuh Tjan Kok Hoan, tetapi saudara Ang Sioe Tjoan banjak jang telah terpentjar kesegala pendjuru dan dikedua tepi sungai Tiang Kang tak sedikit muntjul orang baru kaum Rimba Hidjau, jang semuanja memelihara rambut pandjang. Djikalau mereka itu ketahui tentang harta besar Ie Tiehoe dari Souw-tjioe ini, mana mereka sudi melepaskannja? Kelihatannja, soehoe, sukar diharap jang kita bakal dapat lewat dengan tak kurang suatu apa......"
Tak ragu² murid ini mengutarakan ketjemasannja.
„Dasar tjelaka !" seru Tjeng Loen dengan sengit, tangan kirinja mengenai keras sepasang bidji toh jang litjin-mengkilap dan tangan kanannja menarik djanggutnja hingga dia mirip seekor harimau dalam kerangkeng......
Boe Djin Tjoen berdiam, tetapi otaknja bekerdja. Kemudian ia berkata:
„Mulanja kita menduga tiehoe rakus itu sangat menjajangi puterinja, jang ia kuatir nanti dapat tjelaka ditengah djalan, maka ia suruh sisoeya mendesak kita untuk melindunginja. Begitulah kita berangkat tanpa menaikkan bendera, tanpa membawa seorang pegawai djuga".
„Memang untuk mengantar satu nona, buat apa kita pakai segala aturan piauwkiok? Sekarang semua sudah mendjadi djelas.<noinclude>{{rh|34}}</noinclude>
hh1ixfrg8wh496vwgrrfsbr92ktdfs0
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/23
104
53774
319971
152686
2026-10-07T10:24:45Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319971
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|ngannja|tangannja}} liehay sekali. Ia adalah piauwtee, adik misan, dari Kok Ban Tjiong, dan dalam Mauw San Tjit Yoe, ia adalah saudara jang ketudjuh, jang termuda. Maka hubungan mereka mendjadi bertambah erat. Djie Ie tidak turut pesta di Taman Bunga Toh, karena itu ia ada dirumah.
Dalam murkanja, Djie Ie menghampiri Thio Tian-soe, pembesar polisi jang pegang pimpinan. Dia menegur dan minta supaja tiansoe itu kendalikan orang²nja.
Thio Tiansoe mengawasi pemuda itu, jang kurus-kering tubuhnja bagaikan sebatang kaju kering. Pakaiannja tidak mentereng, pakaian biasa sadja, ditambah romannja djuga tidak keren atau agung, hingga ia djadi tidak memandang sebelah mata. Ia berpaling untuk tidak ambil mumat teguran itu.
„Tuan, aku telah memberi peringatan kepadamu !“ Djie Ie ulangi tegurannja.
Dua pouwtauw, atau kepala polisi, dari Kangleng, memang tidak puas hatinja sebab njonja rumah, jaitu isteri Kok Ban Tjiong, tidak melakukan tugasnja sebagai njonja rumah jang ramah-tamah. Ia tidak menjuguhkan teh atau arak, mereka tidak disambut dengan baik, djuga mereka tidak dengar suara samar² bahwa mereka bakal diberi uang djalan, maka mereka gusar terhadap anak muda itu.
„He, botjah, kau tjampur-tangan urusan ini, kau tentunja bukan machluk baik² !“ demikian satu diantaranja membentak. „Mungkin kau sipendjahat dirumah dua keluarga Ong dan Touw ! Mari, kau turut kami kekantor“.
Habis membentak, diikuti rekannja, ia ulur tangannja, untuk tjekuk tangan Djie Ie, guna ditelikung kebelakang. Mereka bengis, mereka kerahkan tenaga mereka. Kalau orang lain jang diperlakukan demikian, pastilah tangannja sudah tertekuk patah. Tidak demikian dengan sianak muda.
„Kurang adjar !“ Ia berseru. Ia pun kerahkan dua tangannja, jang dikibaskan, hingga terlepaslah tjekalan kedua kepala polisi itu dan tubuh mereka terpental lima-enam tindak. Muka mereka mendjadi merah.
Pendjahat jang bernjali besar, kau berani melawan polisi ?” mereka membentak pula, Mereka tampak belum kapok. „Saudara², madju !“
Orang² polisi itu tak tahu Selatan. Atas titah itu, mereka merangsek, masing² dengan golok, thie-tjio, tombak dan rantai mereka,<noinclude>{{rh|20||}}</noinclude>
hhqb5yga45wbyf8pilwow1k36fbf3nt
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/24
104
53779
319972
152696
2026-10-07T10:25:02Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319972
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>untuk menjerang dan membelenggu. Mereka djuga perdengarkan bentakan bengis.
Sengit Djie Ie menjaksikan semua itu. Sambil berdongko, ia papaki mereka. Ia gaet kaki mereka itu, sedang tangannja menjambar tombak jang ditikamkan kepadanja. Tidak ampun lagi, robohlah beberapa oppas jang madju didepan sedang tombaknja kena dirampas, tombak mana terus dipatahkan, dilemparkan kelantai !
Dua kepala polisi itu adalah Koei Soe dan Tio In Siang, keduanja tjutju-murti. dari Seng Tiat Hoet, pouwtauw kenamaan untuk wilajah Kanglam. Mereka djadi penasaran walaupun mereka tahu sekarang, orang tidak dapat dipandang enteng. Dihadapan orang banjak itu, mereka hendak djaga kehormatan mereka. Maka mereka lantas madju pula, kali ini dengan sendjatanja masing² In Siang dengan toja, Koei Soe dengan golok, satu didepan, satu dibelakang.
Djie Ie menangkis toja seraja teruskan mentjekalnja. Sambil menangkis, ia memutar tubuh untuk kelit golok. Lalu ia meneruskan menarik toja dengan keras, hingga In Siang terdjerumus, hampir sadja ia mendjadi korban golok rekannja.
Masih kedua musuh itu penasaran, mereka madju pula.
Djie Ie sebal untuk melajani mereka. Ia lompat kepada Thio Tian-soe, tangannja ia sambar tanpa pembesar polisi itu dapat berdaja, terus ia kerahkan tenaganja.
Tidak tempo lagi, pembesar itu men-djerit² seperti babi disembelih.
Sambil tjekal terus sipembesar, Djie Ie tuding kedua kepala polisi jang mengawasi dengan kesangsian, Dengan pemimpinnja terdjatuh ditangan lawan, mereka tidak berani lantjang bertindak.
„Kamu tentu tidak mau mengerti, begitu djuga aku !“ kata Djie Ie. „Sekarang djangan kamu pikir untuk lari, hendak aku kirim kamu pulang kerumah nenek mojangmu !“
„Djangan, djangan turun tangan !......“ berseru Thio Tiansoe dengan muka meringis saking kesakitan. Ia masih ditjekal keras². „Tuan, tuan, tolong lepaskan tanganmu ......“ ia minta kepada sianak muda. „Aku mohon djangan kau berpendapat sama tjupat sebagai kami. Bukankah kita masih dapat berdamai ? ......“
Djie Ie bersenjum tawar, tangannja dilondjorkan kedepan, hingga Thio Tiansoe, jang terlepas dari tjekalan, terhujung tubuhnja dan terus roboh terkerusuk. Ia kesakitan dan me-ringis². Sianak muda sendiri lompat kesebuah pohon dipintu kedua. Pohon itu ia<noinclude>{{rh||21|}}</noinclude>
0ignfad232l68h1l720rqntj20lh65d
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/64
104
53781
320012
152699
2026-10-07T10:37:11Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320012
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Siorang tua tertawa, terus ia buka tangannja, untuk melemparkan uang ketanah. Jang sangat mengherankan ialah, uang tangtjhie itu telah hantjur belarakan. Ia telah menggunakan tenaga besar akan tetapi wadjahnja tetap wadjar.
Airmuka Tjeng Loen mendjadi merah, Segera ia memutar tubuh, tanpa bilang suatu apa, ia buka tindakan lebar.
,,Bagus, Tjian Tjongpiauwtauw !" berkata siorang tua, sebelum orang bertindak. ,,Kau memang hebat, namamu bukan nama kosong belaka ! Tjoba bukan aku, tetapi seorang lain, ia tentu telah roboh ditanganmu! Dengan memandang tenagamu itu jang besar
beberapa ratus kali, baiklah, aku siorang tua suka menundjukkan suatu djalan! Mari, mari, ka idjinkanlah aku mengantarkan kau naik kuda !" Dan ia lantas djalan mendahului tetamunja itu.
Sekarang Tjeng Loen tidak berani melakukan sesuatu jang melewati batas sopan-santun. Ia pegangi les kudanja, tapi tidak segera lompat naik. Tidak berani ia naik kuda dengan dibantu si-orang tua.
Orang tua itu usut djenggotnja jang seperti djenggot kambing
gunung. Ia tertawa! ,,Aku menjesal, tidak dapat aku terlalu membeber rahasia orang !" katanja. ,,Aku hanja dapat memberitahukan kepadamu, sahabat jang melajani kau dengan bersendjatakan tjambuk kuda itu, adalah murid kaum Sian-Thian Tjiang Hong Pay. Gurunja adalah Pek Tim Loodjin jang diberi gelar orang kangouw Wie Tin Pathong......"
Tjeng Loen terkedjut hingga ia mendjerit.
,,Pantaslah!" serunja.,, Sekian lama aku lajani dia, tidak djuga aku dapat tahu dia asal persilatan kaum mana, kiranja dia adalah murid pandai dari orang tua itu! Bagus, rubuhku, rubuh berharga !"
Piauwsoe ini kenal baik nama Pek Tim Loodjin itu, si Djago
Delapan Pendjuru — Wie Tin Pat-hong.
Siorang tua tertawa pula menjaksikan kelakuan orang, lalu ia
tepuk pundak Tjeng Loen sambil berkata: ,,Andaikata kau tidak
dapat mentjari orang jang sudi membantu padamu, atau pembantu
itu tidak dapat membereskan urusanmu ini, kau bilang begini padanja "Touw_tiong tjioe-ie Kouw In Hoei mengirim tabe kepada mereka guru dan murid".
Baru sekarang orang tua itu perkenalkan dirinja, akan tetapi hanja sekian kata²nja. Tjuma itulah satu²nja petundjuknja.<noinclude>{{r|61}}</noinclude>
fb85ergzab9jfvl0bi5j4ro9wvr0y6s
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/38
104
53782
319986
152700
2026-10-07T10:30:11Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319986
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Aku sangsi bahwa nona itu betul² puterinja sendiri. Bukankah dia lebih berarti daripada emasnja itu ? Benar² sulit keadaan kita sekarang. Kita sudah membuat perdjandjian, tidak dapat kita membatalkan sepihak. Kalau sahabat² Djalan Hitam ketahui keadaan kita ini, itu lebih sulit pula......"
Tjeng Loen tidak sabaran, ia memotong dengan berseru: „Sebenarnja, apakah jang kau pikir ? Kenapa kau ngotjeh sadja !"
Djin Tjoen menjeringai. Ia dapat memaklumi gurunja itu, maka ia berlaku sabar.
„Teetjoe tjuma lihat dua djalan", ia menjahut. „Ialah, kau buka djalan terus dengan tjara terang, tapi tentu tetap dengan menggelap. Bagian jang terang, biarlah teetjoe jang mendjadi pegawai, untuk membawa bendera, buat djalan dimuka. Teetjoe membawa bendera kita jang ketjil. Kalau kita tetap djalan seperti sekarang ini, itulah namanja piauw gelap......"
Walaupun ia aseran, Tjeng Loen dapat membedakan piauw terang dan piauw gelap. Dengan piauw gelap, apabila terdjadi sesuatu, keadaannja djadi semakin sulit. Itu artinja ia mesti benterok dengan kaum Rimba Hidjau.
„Ja, memang tidak ada djalan lain lagi, anak", katanja kemudian. „Baiklah kau bertjape-lelah kali ini. Mulai besok pagi², kau beber bendera kita. Untuk didepan buat singgah, buat menjerahkan kartjis nama, aku serahkan semua kepadamu. Urusan dibelakang, semua adalah bagianku. Entahlah bagaimana achirnja, terserah! Sekarang mengertilah aku, semua mereka jang mendjadi orang berpangkat tidak ada orang baik²!"
Guru dan murid ini mengambil putusan sendiri, malah mereka tidak memberitahukannja kepada sisoeya litjin, maka betapa terperandjatnja tuan sekertaris tiehoe itu sewaktu fadjar baru menjingsing esok harinja, Tjian Tjeng Loen sudah membuka pintu disertai suaranja jang njaring dan ber-ulang² membangunkan nona puteri tiehoe, budak² perempuan, sisoeya sendiri dan semua serdadu pengiring, untuk berangkat, katanja, sehingga ia menerbitkan suara sangat berisik.
In Soeya mendusin dengan kaget. Baru ia kutjak² matanja dan hendak menanja atau sipiauwsoe sudah berkata dengan keras: „Bukankah kau telah serahkan orang dan harta kepada kami? Nah, sekarang kami hendak berangkat! Soeya, mengertilah kau, mengiringi piauw bukannja pekerdjaan main² ! Kamu menjajangi harta,<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude>
rx6mhec4v1uov5hgnj7jjso0lzf5yby
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/25
104
53786
319973
152710
2026-10-07T10:25:21Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319973
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>sabet dengan tangan kanannja hingga putus seperti terpapas kampak, dan rubuhnja pohon mendatangkan suara keras dan berisik. Kawanan oppas mendjadi kaget dan lompat menjingkir, supaja tak sampai kena ditimpa.
Dengan sebat Djie Ie menjangga pohon jang rubuh itu, jang beratnja ratusan kati. Ia peluk pohon itu dan mengangkatnja, hingga orang tersengsam untuk kesebatan dan tenaganja jang besar itu; kemudian dengan sabar, ia menurunkannja kembali.
In Siang melengak, lidahnja diulur keluar.
„Sekarang tjoba kamu timbang²!“ Djie Ie berseru kepada kawanan polisi itu. „Tjoba pikir apakah kepala andjingmu sekuat pohon ini? Djikalau aku lajani kamu dengan menggunakan sendjata tadjam, itulah berlebihan, Maka hendak aku lawan kamu dengan tanganku jang kosong ini ! Hajo, siapa jang madju? Apa kau, dua tuan kepala polisi?“
Koei Soe simpan goloknja, ia lantas memberi hormat; pada wadjahnjapun tersungging senjum litjiknja.
„Djangan gusar, tuan“, katanja dengan pelahan. „Kami sedang mendjalankan titah, terpaksa kami berbuat begini. Sekarang tugas kami sudah selesai, kami mohon pamitan“. Ia lantas putar tubuhnja, tangannja memberi tanda : „Lekas berangkat ! Untuk apa kamu berdiam sadja? Eh, apakah kamu tidak dengar?“ Terus ia sendiri dengan adjak In Siang, ngelojor keluar
Thio Tian-soe mendjura ber-ulang² kepada Djie Ie, ia menghaturkan maaf.
„Kami sudah memeriksa, disini tidak ada orang djahat“, katanja, „sebentar kami pulang, akan kami ee ke hal jang sebenarnja. Aku tanggung segala apa beres!“
„Hm!“ Djie Ie perdengarkan edjekannja. Ta bukan hendak melawan negeri, karena itu, ia biarkan rombongan itu angkat kaki.
„Tjit-siok hebat kau punja Tjoe-see-tjiang!“ memudji anak² Ban Tijiong.
Djie Ie tjuma bersenjum.
„Sekarang kita mesti lekas bekerdja!“ katanja. Akan tetapi ia terlambat.
Thio Tian-soe dan rombongannja lari pulang untuk segera bekerdja. Ia beri laporan di-buat² kepada tjamat dari Kieyong, lalu tjamat ini melaporkan terlebih djauh pada wedana, untuk timpakan kesalahan pada Kok Ban Tjiong, jang dituduh sebagai pembunuh dari dua keluarga Ong dan Touw. Wedana, jaitu tiehoe, dari {{hws|Kang|Kangleng}}<noinclude>{{rh|22||}}</noinclude>
9ilrlo59tl54rhlf7c8hkmimxthnclm
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/44
104
53788
319993
152714
2026-10-07T10:31:57Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319993
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Tjian Tjeng Loen lantas turun tangan. Dengan goloknja, golok Gan-leng-too, ia keluarkan ilmu silatnja, Tjo-pek-too. Ia berlompatan gesit ke-empat pendjuru, guna mentjegah serbuan. Dua tiga musuh sudah lantas terluka. Sajang untuknja, serdadu² pengiring dari Souwtjioe tidak berguna sama sekali; mereka terdesak musuh. Ia mendjadi mendongkol, maka ia pikir untuk berlaku telangas. Begitulah ia lompat keluar kalangan, mengundurkan diri, dan setelah tantjap goloknja dibebokongnja, ia menggantinja dengan peluru apinja.
Hebat peluru istimewa ini. Siapa kana ditimpuk, dia terus terbakar. Asal mengenai sasarannja, peluru petjah dan mengeluarkan api. Korban, atau korban, jang tidak segera mendjatuhkan diri bergulingan ditanah, djangan harap dia selamat.
Nampak pihaknja keteter, musuh jang mengganti sendjata tombak itu sudah lantas bersiul pula, halus dan njaring, lalu muntjul lagi enam atau tudjuh kawannja dari tempat jang lebat disekitarnja. Mereka ini bersendjatakan tameng dan tombak gaetan seperti arit, untuk melajani peluru api.
Menjaksikan sikap musuh itu, Tjeng Loen tertawa terbahak². Kali ini ia merogoh keluar belasan peluru jang istimewa dari kantungnja, jang udjungnja tadjam seperti djarum. Begitu ditimpuki dan mengenai tameng, dimana sendjata itu seperti nantjap, peluru petjah dan apinja menjala, tidak sadja apinja muntjrat, tamengnjapun turut terbakar! Terpaksa beberapa musuh itu, jang mendjadi kelabakan, melemparkan tameng mereka.
Lagi sekali Tjeng Loan menjerang dengan peluru-apinja jang biasa. Ia membuat musuh takut berbareng panas hatinja, sehingga sambil lari, mereka mentjatji kalang-kabutan. Musuh jang melajani Djin Tjoen pun terpaksa turut menjingkir.
Boe Djin Tjoen lantas mengumpulkan orang nja. Dengan menghunus pedangnja, ia djalan dimuka, untuk melandjutkan perdjalanan mereka. Tjeng Loen berdjalan dipaling belakang. Beberapa kali ia mengantjam dengan peluru apinja, untuk mentjegah orang mengedjar atau mengikuti rombongannja.
Belum tjuatja mendjadi gelap ketika achirnja rombongan ini tiba didusun Tiang-keng-tin.
In Soeya lantas pudji Tjeng Loen guru dan muridnja. Ia kata: „Sungguh bukan tjerita kosong belaka bahwa Tjian Tjong-piauw-tauw disohorkan gagah, begitupun Siauw piauiwtauw! Sekarang<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude>
4yzt6mqmkwmqqrc8tn4favj3w8ok36u
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/45
104
53792
319994
152718
2026-10-07T10:32:13Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319994
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>ini, apa lagi jang mesti dibuat takut ? Asal siotjia dapat diantar dengan selamat, entah bagaimana terang mukaku siorang she In"
Tjeng Loen puas mendengar pudjian itu, Djin Tjoen sebaliknja ber-pura tidak mendengar. Ia hanja repot mentjari hotel, karena ia insaf, kesukaran masih belum habis. Tidak nanti musuh sudah sadja dengan kegagalannja jang pertama itu.
Hotel jang dipilih adalah Hotel Wan Lay didjalan sebelah Timur. Pihak hotel kenal baik Ban Seng Piauw Kiok, malah ada beberapa pegawainja jang kenal langsung pada Tjeng Loen, Mereka memberi beberapa kamar kelas satu serta melajani dengan baik.
Habis bersantap dengan perkenan gurunja, Boe Djin Tjoen pergi keluar untuk merondai sekitar hotel, guna melihat kalau ada orang jang sikapnja mentjurigakan.
Tiangkeng-tin bukannja sebuah kota besar, tetapi disebut hidup. Untuk daerah Kanglam, dapatlah disebut sebuah pelabuhan darat dan air. Banjak saudagar jang berlalu-lintas disini. Maka, hotel Wan Lay penuh dengan tetamu, prija dan wanita serta anak, tak kurang daripada duaratus tetamu.
Djin Tjoen mesti perhatikan demikian banjak tamu itu. Ia tidak mentjurigai siapa djuga, ketjuali heran atas satu botjah umur delapan atau sembilan tahun, jang bertempat disebuah kamar diruang Barat. Botjah itu gesit sekali. Dia rupanja mengerti silat. Sebab dia seorang botjah, dia tidak diperhatikan terlebih djauh.
Malam itu, selagi kebanjakan tetamu belum tidur pules, mendadak terdengar djeritan wanita minta tolong. Djeritan itu tadjam, datangnja dari kamar dibelakang kamar Tjeng Loen. Menjusuli itu terdengar suara2 sangat berisik, diantaranja ada teriakan: „Ada orang dibunuh! Ada orang dibunuh!"
Sambil membawa sepasang bidji tohnja, Tjeng Loen keluar dari kamarnja, untuk menjaksikan kedjadian itu. Sebagai seorang gagah, tak dapat ia berdiam sadja. Tapi sikap Boe Djin Tjoen beda. Ia lebih teliti dan sabar. Dia sambar pedangnja, niatnja pergi kekamar In Soeya, guna melindungi empat peti kulit merah. Baharu dia melangkah keluar dari pintu kamarnja, atau seorang jang tubuhnja ketjil djangkung membentur lengannja dengan keras sambil membisiki:,,Hai, sahabat menampa benang, kau hunus bidji hidjaumu, mari kita bertanding main""! Setelah itu, orang itu terus lompat naik keatas genting didepannja. Gerakannja gesit sekali.<noinclude>{{rh|42}}</noinclude>
7rnsj24v928d5l4u14vpvcblpjyra58
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/26
104
53793
319974
152720
2026-10-07T10:25:41Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319974
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|leng|Kangleng}}, sudah lantas bertindak, Waktu suatu pasukan polisi dan tentara dikirim ke Peng-san-tjoen, Kok Ban Tjiong lantas diangkut, untuk ditahan.
Ban Tjiong tidak melawan, ia tjuma menjangkal dan mohon pertolongan.
„Biarlah aku pergi kekota untuk berurusan dengan tiekoan!“ kata Djie Ie.
„Djangan sembrono“, Tie Tiauw Lan mentjegah.
Njonja Kok djuga tidak setudju melawan dengan tjara keras. Ia ingin kirim orang jang bisa bitjara dengan tiekoan (tjamat), supaja suaminja dibebaskan.
Ang Soe Sioe muda dan keras hati, akan tetapi ia djuga berpendapat djangan lawan keras dengan keras.
„Mari kita tjoba tjari orang perantara“, berkata Mauw San Tjit Yoe jang nomor dua, ialah koan-tjoe atau imam dari kuil Hian Hie Koan di Kouw-sie-po. Ia bernama Lauw Hay Djiak. Aku punja sanak pernah ko-thio, seorang she Tong lepasan Siang-sie, „jang tinggal di Kangleng. Kalau ia suka membantu, harapannja besar“.
Pikiran ini disetudjui, lalu Hay Djiak diminta bekerdja.
Esok harinja Lauw Hay Djiak berangkat ke Kangleng, sedang Tjit Yoe jang ke-enam, jaitu Bek-Kie-lin Yo Kong Tie, si Kielin Hitam, dengan membekal uang, pergi kekantor tiekoan Kie-yong, guna mendajakan pembebasan Ban Tjiong dan supaja selama ditahan, kakak itu tidak mengalami gangguan.
Tapi kenaasan tidak berhenti sampai disitu. Ibu Ban Tjiong Jang sudah tua dan sakitan, jang baru sadja mengalami kaget, mendjadi sangat berduka karena puteranja dapat perkara dan ditahan. Ia tidak kuat menahan dukanja, dan sebelum sampai Ban Tjiong dapat ditolong, ia telah menutup mat. Karenanja, disamping repot dengan perkabungan, orang terus berdaja.
Mengesankan sekali adalah sikap semua tetangga Kok Ban Tjiong, dengan dikepalai beberapa orang. Mereka itu sudah memberikan bantuan, lantas dengan djalan menulis surat kepada pembesar negeri menuturkan, bahwa Kok Ban Tjiong adalah penduduk baik², dan benterokan dengan Thio Tiansoe disebabkan karena tiansoe itu bertindak terlalu keras, sampai karencnja ibu Ban Tjiong meninggal dunia.
Tiekoan dari Kie-yong telah terima uang seribu limaratus tail dari keluarga Kok, iapun lihat urusan djadi berubah hebat, maka<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude>
l8uvlq67bjll3mu6uwc4zvz6fhu2z5d
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/65
104
53794
320013
152721
2026-10-07T10:37:24Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320013
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Tjeng Loen tidak mengerti maksud kata² „Touwtiong tjioe-ie” itu atau „Hudjan lama dikota radja”, akan tetapi ia insaf, pertjuma ia menanjakan terlebih djauh. Ia djuga tidak ada muka untuk bersikap terlalu menebal. Maka ia tjuma menghaturkan terima kasihnja ber-ulang², lalu setelah memberi hormat dengan mendjura dalam-dalam, ia tuntun kudanja berlalu dari rumah itu. Setibanja ditikungan, baru ia lompat naik atas kudanja untuk pulang ke Yamshia.
Waktu Siang Tjeng mengetahui tentang kegagalan piauwsoe ini, ia menjesalkan kesembronoan sipiauwsoe. Tapi ia sendiri tidak dapat berdaja, karena waktu tadi ia pergi mengundjungi Tjoe Sioetjay belum habis ia memberi keterangan, sioetjay itu sudah menolak dengan getas. Dia tak sudi mendjadi orang perantara untuk sipiauwsoe. Itulah bukti bahwa Ban-lie Twie Hong bukannja orang jang dapat sembarang diundang !
Hari itu Tjeng Loen berbitjara dengan piauwsoe² dari Tin Wan Piauw Kiok. Ia mohon keterangan perihal sarangnja Yan Tjoe Hoei, si Walet Terbang itu. Tidak ada piauwsoe jang bisa memberi keterangan djelas. Dugaan adalah sarang sinona itu mesti terletak di dekat atau sekitar telaga Sia Yang Ouw. Dan apa jang orang ketahui, ialah telinga Yan Tjoe Hoei sangat tadjam. Asal ada orang asing ditempat seratus tindak lebih didalam wilajahnja, dia tentu lantas dapat ketahui. Bahwa djika dikehendaki si Walet, tak usah orang pergi tjari dia, dia akan mentjari sendiri untuk menemui pengundjungnja. Pula tersiar omongan, si Walet mungkin punja tjabang atau markas lainnja didaerah Gie San atau Sek San diwilajah Kanglam. Djadi dia bukan bersarang di Kangpak sadja.
Kanglam adalah daerah Selatan Sungai Besar dan Kangpak daerah Utaranja. Jang rata orang dapat simpulkan, tidak sukar untuk piauwsoe dari Ban Seng Piauw Kiok ini mentjari sinona : Bukankah nona itu telah mendjandjikan pertemuan di Kangpak dalam tempo satu bulan ?
„Dia masih berusia muda, tetapi dia sudah kenamaan sekali......” pikir Tjeng Loen mengenai Yan Tjoe Hoei. Ini djuga anggapan banjak piauwsoe itu.
{{r|(BERSAMBUNG).}}<noinclude>{{rh|62}}</noinclude>
o5p10rgutehu179bb7bze484b5om1jm
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/27
104
53797
319975
152726
2026-10-07T10:25:55Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319975
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>ia menukar haluan. Ia suka meredakannja. Oleh karena ini, iapun djadi berlaku manis terhadap Tong Siang-sie.
Achirnja, sesudah ditahan duapuluh hari lebih dan menghabiskan uang tiga empat ribu tail perak, Ban Tjiong dapat pulang kerumahnja dengan merdeka. Ia masgul dan mendongkol tetapi ia terima nasib. Ia tidak mengambil sesuatu tindakan.
Tidak demikian dengan Djie Ie dan Ang Sioe. Hati. mereka ini mendjadi panas, Tanpa dapat ditjegah lagi, mereka mulai pula dengan tjara hidupnja didunia Kangouw.
Lauw Hay Djiak bersama Tie Tiauw Lan dan Jo Kong Tie tetap sependapat dengan Kok Ban Tjiong. Begitupun Thian Hioe, Tjit Yoe jang ke-empat. Mereka sesalkan dengan sangat Lioe Hong Hoa jang bertindak hebat didalam daerah mereka, Mereka penasaran dan djadi membentji, Berbareng dengan itu, mereka pun merasa, tjara hidup mereka sendiri menjolok mata, Tidak heran mereka menarik perhatian hamba² negeri. Karena ini, mereka pikir lebih djauh, haruslah mereka menjembunjikan diri.........
Kok Ban Tjiong lantas bertindak, Dia merusakkan ruang peranti beladjar silat dirumahnja dan divillanja, Untuk melatih diri, ia berkorban waktu dan tenaga dengan mengadjak anek² dan keponakannja pergi kebagian gunung jang sunji. Ia djuga hersikap tawar terhadap sahabat¢nja kaum kangouw jang berkundjung kerumahnja, hingga pergaulan mereka djadi tawar dan berkurang.
Ban Tjiong pertjaja, dengan tjara hidup baru ini, ia selandjutnja akan bebas dari gangguan lainnja, tetapi ia tidak sangka sama sekali, pada suatu hari, ia toh mesti sambut kundjungan suatu piauwsoe kenamaan dari Kanglam, ialah Hwee Poan-koan Tjian Tjeng Loen si Hakim Api, Piauwsoe itu telah datang untuk lilit batang lehernja dengan suatu perkara besar dan sukar. Dan sulitnja, tidak dapat ia elakkan Giri dari itu...............
{{c|'''II'''
'''Roboh !'''}}
Tjian ‘Tjeng Loen itu adalah orang asal kota Siong-kang. Mulai dari ajah besarnja, ia hidup sebagai piauwsce, dengan membuka piauwkiok, jaitu kantor jang mengurus pengangkutan barang dan perlindungan keselamatan orang jang pepergian dari satu kelain tempat.<noinclude>{{rh|24||}}</noinclude>
9xmx6e32yntl59io7ymdctv3177ee5v
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/28
104
53800
319976
152736
2026-10-07T10:26:13Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319976
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Sebagai turunan piauwsoe, dari ketjil ia sudah beladjar silat dibawah pimpinan ajahnja sendiri. Ia mengutamakan ilmu golok Tjo-pek-too. Belum sampai umur tigapuluh, ia sudah dapat nama. Isterinja adalah Tjioe-sie. Isteri itu sendiri bukan ahli silat, tetapi ia punja seorang engkoe atau ipar jang kesohor, ialah Kioe-bwee-ho Koan Kong Tiauw si Rase Ekor Sembilan, jang pandai menggunakan sendjata berapi. Kong Tiauw adalah guru silat kenamaan di kota Tjeelam, Shoatang. Kepada ipar itu Tjeng Loen beladjar tiga tahun lamanja hingga iapun dapat menggunakan sendjata api itu, ialah Siauw-hong Hoei-tan, peluru terbang jang dapat meledak, jang digunakannja dengan sebatang gendewa, Hebatnja, peluru api itu bukan hanja satu matjam, dan sulit untuk ditangkis dengan tameng atau karung terisi pasir.
Dengan mengandalkan dua rupa sendjatanja, belasan tahun sudah ia mendjadi piauwsoe dan pernah ia mendjeladjah Selatan dan Utara Sungai Besar serta wilajah propinsi Anhoei dan Shoa-tang, Selama itu, belum pernah ia nampak kegagalan. Maka, ia bukan sadja telah angkat nama Ban Seng Piauw Kiok, ia djuga memperoleh gelarnja, Hwee Poan-koan si Hakim Api. Tjatjad satu²nja, atau kelemahannja, ialah sangat bertabiat keras. Apa jang dikatakannja, apa jang dikehendakinja, mesti dilakukan, diudjudkan.
Sekarang, dalam usia empat-puluh tahun lebih, Tjeng Loen tetap masih mendjadi tjong-piauwtauw, piauwsoe utama, dari Ban Seng Kiok, Tjuma sekarang tak usah ia jang mengantar sendiri sesuatu piauw atau angkutan, tjukup dengan wakilnja, asal pada piauw itu ditantjapkan bendera Liat Hwee Piauw-kie, bendera „Api Berkobar“. Itulah lentjana jang serupa dengan sendjata apinja, dengan tabiatnja djuga.
Sudah tentu Tjeng Loen gagah. Ia djuga mendapat bantuan banjak dari pergaulannja. Ia djudjur dan berhati. murah. Ia memandang enteng kepada uang. Dalam hal mengadakan pesta atau mengantar bingkisan, ia bertangan terlepas, Maka itu, selama duapuluh tahun, banjak sekali sahabatnja.
DENGAN tidak usah turun tangan sendiri, Tjeng Loen banjak waktunja andaikata ia suka pulang kekampung-halamannja di Siongkang, untuk beristirahat, hidup tenang dan berbahagia. Tetapi ini tidak dilakukannja. Ia pulang hanja sekedarnja. Ia telah menjatakan, lagi kira2 sepuluh tahun, setelah djangkap usianja enampuluh, baru ia hendak undurkan diri dengan tutup djuga {{hws|piauwkiok|piauwkioknja}}<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude>
p2qn7ku2vd7yb7arbdpe2xposm586n0
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/46
104
53802
319995
152739
2026-10-07T10:32:27Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319995
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Djin Tjoen mendjadi gusar karena orang tantang ia setjara menghina. Orang itu menggunakan kata² kaum kang-ouw istimewa. „Sahabat menampa benang” berarti piauwsu, dan „bidji hidjau” ialah sendjata. Tapi ia bersangsi untuk menjambut tantangan itu, karena kuatir nanti kena terpedaja tipu muslihat „Memantjing haimau meninggalkan gunung”.
Tengah ia bersangsi terdengarlah suara „blak!” suara njaring diarah balakangnja. Apabila ia menoleh dengan tjepat, ia tampak satu bajangan lompat keluar dari kamarnja. Suara itu ialah suara dari terbukanja djendela. Djin Tjoen mendjadi kaget sekali. Tanpa memperdulikan lagi sipenantang, ia memutar tubuh, lari masuk kekamarnja.
Tjahaja lampu menerangi kamar itu. Tidak terlihat apa² jang kurang atau tidak beres ataupun bekas api dinjalakan. Maka itu, piauwsoe muda ini mandjadi heran. Tengah ia mendjublak, Tjeng Loen lari masuk dengan roman bingung, dan terus sadja ketua itu tanja: „Eh, anak, apakah ada terdjadi sesuatu? Dibelakang itu rupanja orang main gila, untuk memantjing orang datang.........”
„Disinipun terdjadi hal aneh”, djawab Djin Tjoen jang tuturkan pengalamannja barusan.
Tjeng Loen segera memandang kesekitar kamar, dari bawah keatas. Waktu sinar matanja tiba diarah tembok Timur, ia berdiri tertjengang. Kedua matanja dibuka lebar!
Djin Tjoen segera memandang kearah itu, dan segera mengeluarkan djeritan tertahan : „Soehoe, mana busurmu Kimpwee Tiat. tay-kiong?"
Setelah ia sadar, Tjeng Loen periksa kantung pelurunja, jang ternjata hilang djuga, hingga kembali ia melengak, akan achirnja mendjadi sangat mendongkol, gusar dan menjesal !
Piauwsoe she Tjian ini tidak bebas dari sematjam tjatjad ahli silat umumnja, ialah sifat suka menjembunjikan sesuatu, supaja pihak lain tidak mandapat tahu. Dia berhasil membuat peluru api itu, tapi dia merahasiakannja, ketjuali dua anaknja, masing² prija dan wanita, tiga muridnja tak ada satu djua jang diwariskan. Djin Tjoen diadjarkan panah tangan, tapi panah api itu, tidak. Kesulitannja, kini, ialah bahan adukannja istimewa, dan panah api itupun tak dapat dibikin dalam tempo jang pendek. Inilah sebabnja kenapa Tjeng Loen mendjadi bingung, seperti sipengemis jang kehilangan ularnja. Tanpa panah api itu, tidak tenteram dia {{hws|mela|melakukan}}<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude>
q2s8uds7m3rb9kl5mno55mncvwfxyew
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/29
104
53804
319977
152741
2026-10-07T10:26:27Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319977
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|nja|piauwkioknja}} itu, Maka sajang sekali, bagus rentjananja itu, kenjataannja tidak demikian.
Pada suatu hari, datanglah urusan jang ia tidak harapkan, jang ia tidak menginginkannja, tetapi toh jang ia mesti terima......
Hari itu sehabis bersantap tengah hari Tjeng Loen berniat pergi keluar bersama. puterinja jang baru berumur sepuluh tahun, Memang biasanja ia suka pergi kewarung teh mendengarkan tjetjatur situkang tjeritera. Hanja, belum sampai ia tuntun puterinja itu, tiba² ia dengar suara kaki kuda diluar rumahnja, lalu murid kepalanja, jang bernama Boe Djin Tjoen, datang masuk bersama satu tetamu umur tigapuluh tahun kurang-lebih, jang mulutnja
lantjip dan kulit pipinja tipis. Dari roman dan lagak-lagunja, ia mirip satu soeya, sekertaris dari suatu kantor pembesar negeri. Soeya itupun bertugas sebagai penaschat atau djuru-pemikir.
NAMPAK orang lantjang, tanpa menunggu sampai murid dan tetamunja memasuki ruang, hanja dari djendelanja, Tjeng Loen sudah menegur muridnja itu: „He, kenapa kau bawa tetamu kerumahku?“
Djin Tjoen tahu tabiat guru itu, ia persilakan tetamunja masuk terus, sikapnja sangat menghormat, Kepada gurunja, ia kata: „Soehoe, ini In Soeya dari Souwtjioe. Soeya bilang ia mempunjai urusan sangat penting, jang tak dapat tidak dibitjarakan dengan Soehoe sendiri, maka ia memaksa tee-tjoe aaah kepada soehoe.........“ Ia bitjara sambil tertawa.
In Soeya tidak tunggu sampai tuan rumahnja membuka mulut, ia sudah lantas memberi hormatnja dengan mendjura dalam serta kedua tangannja dirangkap rapat dan berulangkali ia mengutjapkan pudjiannja kepada tuan rumah itu.
Suatu piauwkiok harus bisa melajani tetamu, walaupun ia bertabiat keras. Tjeng Loen tahu itu, maka djusteru ia dengar orang adalah seorang soeya, terpaksa ia mengendalikan diri dan menjambut dengan hormat.
Soeya ini pandai berkata². Ia rupanja djuga fois dapat menerka tabiat orang, Habis minum tehnja, jang tjangkirnja segera ia turunkan, lantas ia mulai bitjara. Setjara langsung ia mengutarakan kedatangannja.
„Tiehoe kami, jaitu To Taydjin, mempunjai seorang puteri, jalah puteri jang nomor dua“, demikian katanja. „Nona ini sudah ditunangkan dengan Tio Kongtjoe, putera Tio Hanlim di Hay-an, Kangpak. Sekarang ini Tio Kongtjoe itu lagi sakit, tetapi Tio {{hws|Han|Hanlim}}<noinclude>{{rh|26||}}</noinclude>
2yz0svpnlhcfehlklxrh0euzey7au1m
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/50
104
53805
319999
152742
2026-10-07T10:33:30Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319999
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Dengan tjepat keduanja bergebrak. Baru tiga-empat djurus, Tjeng Loen sebagai ahli silat segera mengerti, sinona bukan sembarang orang, hingga ia djadi berkelahi dengan waspada. Nona itu
memainkan ilmu pedang Thay Kek Kiam, dan tentunja mempunjai latihan belasan tahun.
Dengan bertempurnja rombongan pertama itu, lalu menjusul rombongan jang kedua, dimulai oleh satu murid sinona, jang lompat menjerang Boe Djin Tjoen, hingga piauwsoe muda ini terpaksa
mesti melajani, sedang sebenarnja ia masih ingin menempuh djalan berunding.
Sipenunggang kuda berdiri tetap diatas kudanja, jang ia tidak djalankan. Dengan perhatian wadjar ia tonton pertempuran itu.
Yan Tjoe Hoei tidak dapat merobohkan sipiauwsoe, iapun agak kikuk dalam melajani ilmu silat Tjo-pek-too lawannja, tangan kiri, sedang permainan golok piauwsoe itu adalah djurus Liok-hap.too jang telah terlatih sempurna. Disamping itu ia selalu memasang mata kepada tangan kanan sipiauwsoe, jang memegang busur peluru. Ia kuatir nanti kena dipanah atau didjepret .............
Segera djuga Tjian Tjen Loen dapat menerka hati sinona dan ia ingin lekas menjudahi pertempuran ini dengan djalan kegetasan, ialah dengan berlaku keras dan bengis. Paling dulu ia hendak sampok terlepas golok sinona, lalu ia gunakan pelurunja. Akan tetapi sekarang ini, ia telah memikir terlambat. Tiba sadja sipenunggang kuda madjukan kudanja, terus ia lompat turun melajang kesisi sinona. Entah tanda apa jang dua orang itu pakai, hanja sinona
mendadak meninggalkan musuhnja, lompat keluar kalangan !
Setelah itu, rupanja untuk mentjegah sipiauwsoe lompat mengedjar, pemuda itu segera madju menghalang, menggantikan sinona membuat perlawanan !
Tjeng Loen mendjadi sangat mendongkol. Ia tertawa dingin dan tanpa bilang suatu apa, ia menjerang dengan sengit.
Pemuda itu berkelahi dengan menggunakan tjambuknja jang pendek. Diluar dugaan, tjambuk itu merupakan sendjata jang berharga, jang banjak gunanja, jaitu dapat dipakai sebagai djoan-pian
atau tjambuk lemas, sebagai penotok djalan-darah, dan djuga sebagai toja dengan ilmu toja Siauw Lim Pay! Masih ada lagi jang luar biasa, ialah walaupun ia melajani berkelahi, sipemuda tidak bersikap sama bengisnja seperti sipiauwsoe.
Tjian Tjeng Loen berkepala besar, seumurnja iapun belum pernah roboh. Sekarang ia mesti melawan satu anak muda, jang<noinclude>{{r|47}}
{{rh|Warisan Seorang Pangeran — 4}}</noinclude>
kt3xmnf0otu4bk0pa1xhgcg5lpt9an6
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/47
104
53806
319996
152744
2026-10-07T10:32:43Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319996
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|kukan|melakukan}} perdjalanannja. Tapi iapun harus segera melanjutkan perdjalanan dari Tiangkeng-tin itu. Ia tidak dapat berdiam sadja dikota itu. Dia pasti hilang muka kalau dia mutar di Tiangkeng tin.
Maka guru dan murid ini mengeram diri didalam kamarnja. Sampai waktu lama, mereka tidak memperoleh akal. Ketika datang hari kedua, terpaksa siguru menuruti pikiran muridnja. Pagi² sekali, Tjeng Loen keluar dari hotel, pergi kebengkel alat sendjata, untuk membeli duaratus peluru serta sebatang busurnja. Untuk sementara, terpaksa mesti dipakai sendjata biasa itu.
„Mari kita berangkat !" Tjeng Loen mengadjak rombongannja. Kali ini, ia berlaku sangat waspada. Perdjalanan djuga dilakukan dengan tjepat. Hal ini membuat In Soeya dan jang lainnja menggerutu, sebab mereka hampir tak dapat bernapas......
Tjeng Loen dan muridnja membiarkan orang pentang batjot. Ia ingin tiba di Kang-im sebelum langit mendjadi gelap. Hampir tengah.hari, ia masih djalan terus, hingga In Soeya dan kawan nja letih dan lapar, bukan main penasaran mereka terhadap piauwsoe itu.
Rombongan ini berdjalan terus sampai mereka tiba disebuah djalanan jang makin lama makin sempit dan dikiri dan kanan banjak pepohonannja. Itulah Hek-hie-pouw, tempat tersohor dimana suka ada begal muntjul. Dan memang tiba sadja terdengar mengaungnja dua batang panah-njaring, jang dilepaskan dari dalam rimba!
Boe Djin Tjoen ajun tjambuknja, untuk mengaburkan kudanja. guna kabur terus, supaja bisa melintasi tempat berbahaja itu. Tapi Tjeng Loen sebaliknja menahan kudanja. Dia lompat turun sambil berseru „Kenapa kau tidak hendak lekas turun dari kudamu ? Apakah kau telah lupa aturan kaum kang-ouw ?"
Ditegur begitu, Djin Tjoen batal mengaburkan kudanja, ia malah menahannja, dan segera bendera piauw ditangannja, digojangkan hingga tiga kali, kemudian dengan mata djelilatan, ia memperdengarkan suaranja: Sahabat² sedjalan, terimalah hormat kami! Kami adalah rombongan Thay-tjhong Ban Seng Piauw Kiok. Kami mohon sahabat suka memberi muka kepada kami, untuk kami lewat disini, nanti lain hari kami akan membuat kundjungan!"
Tjeng Loen sendiri sudah mengumpulkan rombongannja. Ia berdiri didepan mereka itu, matanja dipasang, sendjatanja siap sedia.<noinclude>{{rh|44}}</noinclude>
hjep9zs55ow87tu4i7c53cnnm6g7g4p
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/30
104
53807
319978
152747
2026-10-07T10:26:45Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319978
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|lim|Hanlim}} suami-isteri ingin nikahkan ia, katanja sebagai kias, To Tiehoe mempunjai hanja satu puteri ini, jang ia sangat sajang, maka itu, ia kuatir untuk mengantar puterinja pergi menikah ke Kangpak. Orang tabu, sekarang ini keamanan ditengah djalan banjak terganggu. Karena itu, Tjongpiauwtauw, aku sudah lantas pudjikan Ban Seng Piauw Kiok, Aku bilang pisuwtauw gagah dan ternama, Dengan kau jang melindungi, tichoe tidak usah kuatirkan apa² lagi“. ,
Belum lagi tiehoe mengambil putusan, apamau ia telah dengar omongan iseng diluaran, katanja ada orang Rimba Hidjau jang mau tjari piauwtauw untuk mengadu kepandaian, maka berbahaja untuk pakai Ban Seng Piauw Kiok. Katanja lebih baik pakai lain piauwkiok sadja. Tiehoe mendjadi bersangsi karenanja. Atas itu, aku desak ia, sampai aku ngomong keras, Aku kata, tidak nanti Tjongpiauwtauw hendak membikin rusak dan mendjatuhkan nama baikmu. Aku bilang djuga, suka aku pergi sendiri mengundang piauwtauw. Hanja aku telah tegaskan, adalah soal lain apakah piauwtauw sudi menerima undangan ini atau tidak. Aku sendiri tidak dapat memaksa. Achirnja tiehoe mupakat. Demikian ia telah utus aku kemari. Sekarang aku mengharap djawaban dari piauwtauw“.
Bisa sekali soeya ini atur kata²nja. Ia mengangkat, ia djuga memantjing dan menasehati orang.
Boe Djin Tjcen, jang mendengarkan pembitjaraan itu, segera merasa pasti bahwa. orang ini sangat litjin, dan mungkin, orang mengandung maksud jang tidak baik, Kenapa gurunja dipudjikan ? Lalu kenapa gurunja diangkat terus dipantjing, dibikin panas hatinja ? Mungkin adalah djusta bahwa tiehoe hendak antar puterinja menikah. Oleh karena ini, beberapa kali ia lirik gurunja. Ia mengedipi mata, untuk minta guru itu berhati².
TAPI benar² Tjeng Loen aseran. Begitu dengar ada orang hendak mengudjinja, ia lantas keprak medja.
„Tidak kusangka masih ada sahabat baik jang demikian memandang mata kepadaku!“ katanja sengit. „In Soeya, tjukup dengan singkat sadja! Kau serahkan Nona To kepadaku! Kalau ada orang ganggu selembar sadja rambut nona itu, aku Tjian Tjeng. Loen, aku akan pertaruhkan selembar djiwaku! Nah, kapan kita berangkat ? Kau bilang!“
Djin Tjoe terperandjat.
„Soehoe“, ia menjela, „untuk menjembelih ajam tidak usah<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude>
3gxqlnt2cx5chmqmspr4yx27s8xjdoq
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/54
104
53808
320003
152746
2026-10-07T10:34:40Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320003
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>„Soehoe tidak usah berketjil hati. Umpamakata peristiwa ini tersiar, soehoe tidak akan mendapat malu. Chalajak ramai kaum kang-ouw tentu bisa memberikan pertimbangannja. Sebenarnja,
siapakah jang berani mempermainkan piauwkiok kita ?”
Tjeng Loen mengerti seperti muridnja itu. Adalah sipenunggang kuda putih, jang romannja sebagai seorang mahasiswa, jang membuatnja berpikir keras. Siapa pemuda itu, jang demikian
liehay?
Sore itu, selagi Tjeng Loen tungkuli diri didalam kamarnja, satu djongos hotel datang masuk dan menjerahkan kepadanja satu bungkusan.
„Seorang pemuda jang menunggang kuda, menjampaikan ini, katanja untuk dipulangkan kepada Tjian Piauwtauw”, djongos itu menerangkan.
Tanpa membuka lagi bungkusan itu, Tjeng Loen sudah lantas mengutuk tak habisnja. Bungkusan itu berisikan panah berikut kantong piauwnja.
Diam² Djin Tjoen mengagumi pihak musuh, jang sudah mengudji gurunja itu. Rupanja dengan mengembalikan panah dan piauw itu, musuh tidak djeri lagi. Inilah sebabnja kenapa musuh menan-
tang dalam satu bulan.
Tadinja murid ini mengusulkan untuk susul sianak muda untuk tjari tahu tempat kediamannja, akan tetapi Tjeng Loen tidak setudju, katanja pertjuma sadja, mereka toh bakal bertemu nanti di Kangpak.
Setelah dapat menenangkan diri, Tjeng Loen berkata pada muridnja : „Besok kau turut sisoeya tjelaka itu pulang ke Souw-tjioe. Kau biarkan sadja umpama kata tiehoe hendak menawan
anak-isteriku dan mensita rumahku atau piauwkiok! Anak, inilah nasib, maka kalau nanti kau mesti mengerem beberapa bulan didalam pendjara kau toh tidak bakal sesalkan aku, bukan ?”
„Djangan mengutjap begitu, soehoe !” kata Djin Tjoen dengan tjepat. „Untuk soehoe, djangan kata baharu dipendjarakan, dibunuhpun aku rela. Hanja sekarang ini kemana kiranja soehoe berniat pergi ?”
Tjeng Loen memainkan dua bidji tohnja sebelum ia memberikan djawaban.
„Segera setelah hari terang, besok hendak aku pergi ke Yam_shia”, ia djawab muridnja. „Disana ada sahabatku jang aku hendak minta bantuannja”.<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
oqhlyjqo9zj2cjzitbs680k5ccwqbm4
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/48
104
53809
319997
152750
2026-10-07T10:32:59Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319997
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Kali ini pembegal turun dengan berlompatan dari atas pohon ; semua gesit gerakannja, djatuh ditanah tanpa menerbitkan suara Jang aneh, mereka semua adalah bangsa wanita. Pakaian mereka seragam ialah badju putih ditimpali tjelana hitam dan ikat kepala. sutera hitam djuga, sedang sepatu mereka berlapis besi.
Menampak demikian, Boe Djin Tjoen mengeluh. Lekas² ia hunus pedangnja.
Dari pihak rombongan wanita itu, seorang jang berumur kurang lebih duapuluh tahun madju dimuka kawan'nja. Ia berdiri tepat ditengah djalan, tangannja menjekal sebatang pedang jang berkilauan diantara tjahaja matahari. Pedang itu dihiasi dengan sepasang runtje warna kuning telur.
Tjeng Loen tertawa waktu ia sudah mengawasi rombongan wanita itu.
„Eh, eh, kamu hendak berbuat apa ?" ia tanja mereka seraja menuding. „Apakah kamu hendak main dangsu ?"
Boe Djin Tjoen berkuatir mendengar suara dan melihat sikap gurunja itu. Ia tahu, karena djarang keluar, guru ini tidak tahu banjak lagi perihal angkatan muda.
„Soehoe", ia lekas berkata, „selama beberapa tahun ini, kau djarang keluar, karenanja kau rupanja tidak ketahui tentang Yan-tjoe-hoei Yan Kouw-nio jang kenamaan dari Kanglam", demikian Djin Tjoen pada gurunja, kemudian ia melandjutkan pada wanita itu: „Yan Kouw.nio, aku jang rendah adalah Boe Djin Tjoen dari Thay-tjhong Ban Seng Piauw Kiok, dan inilah guruku, Tjongpiauw-tauw Tjian Tjeng Loen. Silahkan djiewie berkenalan !"
Nona jang dipanggil Yan Kouw-nio itu — artinja Nona Yan — jang disebutkan djuga gelarnja, Yan Tjoe Hoei atau si Walet Terbang, sudah lantas mendjura kepada kedua piauwsoe itu; ia pun bersenjum, hingga tampak sikapnja jang ramah-tamah.
Tjian Tjeng Loen tidak berani lagi berlaku sembrono apabila ia telah dengar keterangan muridnja dan melihat sikap orang itu.
Belum sempat kedua pihak membuka pembitjaraan, dari arah belakang rombongan piauwsoe itu terdengar bunji kelenengan kuda, lalu dari djalan perapatan terlihat mendatangi seorang penunggang kuda. Kuda itu putih, tinggi dan besar, bulunja putih mulus. Sipenunggang sendiri adalah seorang mahasiswa umur kira² tiga puluh tahun, mukanja putih, tangannja mentjekal tjambuk pendek, romannja sangat tenang. Dibebokongnja, dia tidak mempunjai buntalan jang berisikan sendjata. Kudanja sangat djinak dan menurut.<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
04lm5ga56gdllfnd7j1fs9bcs4nzmmn
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/51
104
53811
320000
152758
2026-10-07T10:33:45Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320000
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>seperti memandang enteng terhadapnja, maka ia lekas djuga tidak dapat menguasai diri. Begitulah ia merogo pelurunja, untuk segera memperlihatkan kepandaiannja menggunakan peluru itu. Ia membatjok dan mendjepret dengan berbareng !
„Sungguh liehay!” berseru sianak muda, jang berkelit dari dua² serangan itu. Karena ini, ia lantas bergerak dengan gesit sekali. Waktu sipiauwsoe hadjar ia pula dengan peluru, saling-susul beberapa kali, selainnja berkelit, iapun menanggapi peluru itu dgn. tangannja.
Dipihak sana, Boe Djin Tjoen telah mesti mengeluh sendirinja. Ia telah lantas bermandikan keringat. Mulanja ia lawan murid sinona, beruntun sampai tiga murid bergantian, tapi setelah sinona mundur dari hadapan Tjeng Loen, sekarang dia datang padanja. Maka sebentar sadja, ia mendjadi kewalahan.
Murid² Yan Tjoe Hoei tidak menonton sadja. Setelah mendapat kenjataan pihaknja menang diatas angin, dengan satu seruan, mereka menjerbu kearah kereta. Tidak susah untuk mereka pukul
bujar serombongan serdadu pengiring itu, lalu mereka paksa kuli mengangkut pergi petikulit jang berharga itu, buat dibawa kedalam rimba bambu jang lebat disebelah Timur.
Boe Djin Tjoen sedang sangat terdesak, ia tidak bisa berbuat suatu apa tidak demikian dengan Tjian Tjeng Loen. Dalam murkanja, ia berteriak keras, ia lompat meninggalkan lawannja, untuk
mentjegah murid'nja sinona. Ia baru berlompat atau musuhnja sudah berlompat djuga, untuk menjusul padanja.
„Djangan kabur”, anak muda itu memperdengarkan suaranja, berbareng dengan mana, dengan tjambuknja ia menotok kearah djalan darah thian-kioe-hiat sipiauwsoe.
Tjeng Loen memutar tubuh, malah dengan ketjerdikannja, ia tunggu sampai udjung tjambuk hampir mengenai sasaran, baru ia berkelit kekiri seraja memutar tubuh, sambil berkelit, ia memapas,
untuk membalas menjerang.
Pemuda itu liehay sekali, matanja awas, gesit gerakannja. Ia batalkan serangannja, iapun mengegos tubuh, guna menjingkir dari antjaman golok. Ia hanja tidak lompat djauh, tjuma kesamping lawannja, maka lekas djuga ia dapat menjerang pula, kali ini pun tetap dengan totokan, hanja totokan tangan kiri, dengan dua djeridji tangan, telundjuk dan tengah. Dengan tipusilat „Sian-djin tjie louw” atau „Dewa menundjuki djalanan”, ia arah djalan darah samlie-hiat dibahu sipiauwsoe.<noinclude>{{rh|48}}</noinclude>
pdsqo95x431lqnvv8ldcqrocplcyv0j
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/52
104
53812
320001
152753
2026-10-07T10:34:02Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320001
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Disaat serangannja sudah berlangsung, sulit buat Tjeng Loen menarik pulang, guna membatalkan, akan tetapi permainan goloknja, Liok-hap.too mahir, maka itu ia berkelit, seraja menurunkan
bahunja, lantas ia menekuk lengannja sebatas sikut, untuk goloknja dipakai menjerang bahu kiri silawan. Inilah kelitan sambil menjerang, suatu perbuatan nekat.
Sianak muda djuga liehay. Dengan tjambuknja, ia hadjar golok musuh itu.
Tjeng Loen tertawa besar, ia geser kaki kirinja, goloknja bekerdja pula. Hebat sekali batjokan ini, sampai gelang golok digagangnja mendjadi berbunji berkontrangan, Sasarannja kali ini ada.
lah leher atau dada. Berbareng dengan itu, dengan bebasnja tangannja jang kanan, tiga kali beruntun ia melepaskan pelurunja. Ia sangat mengharap jang kali ini ia akan berhasil merobohkan sianak muda.
Tapi anak muda itu berlaku sangat gesit dan sebat. Dengan memutar tubuh, ia berkelit dari golok dan peluru, tetapi tubuhnja berputar, bukan ia menjingkir djauh, ia djusteru datang mendekati lawan, dibelakangnja. Ia terus menjerang pula, dengan tjambuk kelengan kanan, dan dengan djari kiri, ia menotok djalan darah lengtay-hiat.
Tjian Tjeng Loen terantjam bahaja. Goloknja. tertahan tjambuk, golok itu tidak dapat dipakai membatjok lagi. Selagi begitu, musuh berada sangat dekat padanja, hingga sulit untuk berkelit.
Sebagai djago tua, ia nampaknja mesti djatuh mereknja. Tapi tiba²:
„Engko Hoa, sudah! Kita tjuma saling towel sadja !”
Itulah satu suara halus dan sedap, jang datangnja dari dekat mereka.
Sianak muda djuga segera lompat mundur sambil menjahut : „Baiklah !” Maka batallah serangan jang berbahaja itu, dan sianak muda sudah lantas menjingkir lima-enam tindak.
Tjeng Loen mendjadi tertjengang. Waktu ia berpaling, ia mendapat kenjataan, jang berseru manis itu adalah Nona Yan atau Yan Tjoe Hoei si Walet Terbang. Muka Tjeng Loen mendjadi
bersemu merah, sebab ia djuga tampak, Boe Djin Tjoen berdiri diam seperti dia, wadjahnja merah djuga, pedangnja sudah tidak ada ditangannja. Ia mendjadi malu dan berduka. Tapi disaat seperti itu, ia mesti bitjara. Ia masih mesti antar To Siotjia dan In Soeya, lalu ia mesti berdaja lagi, untuk dapat merampas pulang piauwnja itu. Tapi ia didului oleh sinona begal ......<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude>
pmwg4d1gqzkoggeur0v8jnq1jpjjcv9
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/31
104
53813
319979
152754
2026-10-07T10:26:59Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319979
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>pakai golok peranti potong kerbau. Maka untuk tjuma mengantarkan satu nona, dengan pesalinnja berharga hanja beberapa ribu tail perak, kau suruh aku sadja jang berangkat !“
Murid ini insjaf, tidak dapat ia mentjegah, maka ia ingin mentjegah gurunja turun tangan sendiri.
Mendengar itu, In Soeya meng-geleng² kepalanja. Ia terus tertawa.
„Benar²“, piauwsoe muda ini pandjang sekali pikirannja! katanja. „Memang ini hanja urusan ketjil sekali. Djikalau karena kedjadian ini Tjongpiauwtauw, karam perahunja didalam solokan, sungguh tidak dapat aku bertanggungdjawab! Baik, baiklah, mari kita turut pikiran piauwsoe muda ini! Untuk aku, aku tidak ambil peduli piauwsoe jang mana jang suka bertjape-lelah. Dengan orang lain jang pergi mengantar, nama besarmu itu, Tjongpiauwtauw, djadi dapat dilindungi!“
Kata² itu mengandung dua fealeud- th Soeya keluarkan kata² itu karena ia pertjaja betul, piauwsoe she Tjian itu harus dibuat mendongkol dan murka, untuk membakar hatinja. Dengan begitu, akan dapat ditjegah Boe Djin Tjoen jang nanti pergi mengantar.
Dan betul sadja, Tjian Tjeng Loen Kena dipermainkan. Dengan mata melotot, ia pandang muridnja.
„Botjah, kenapa kau pandang gurumu begini tidak berharga?“ ia menegur. A„pakah kau hendak menakut²i gurumu ? Kau ngelindur!“.
Melihat guru itu kumat adatnja, Djin Tjoen tutup mulut.
Sebaliknja bukan main gembiranja In Soeya jang telah berhasil maksud hatinja.
„Bagus, Tjongpiauwtauw!“ katanja. „Kau memang gagah, tidak nanti kau tarik pulang kata²mu!“
Nasi sudah mendjadi bubur, tidak dapat Djin Tjoen berbuat apa² lagi, Meski begitu, diwaktu ada kesempatannja, jaitu selagi berada berduaan sadja dengan gurunja itu, ia toh mentjoba menjadarkan sang guru bahwa urusan ini terlalu mentjurigakan, bahwa In Soeya mestinja main gila. Seseorang jang benar² mengundang piauwsoe, tidak nanti omong putar-balik begitu rupa.
„Maka itu harap soehoe berlaku hati?, apevienn Sampai kita tertipu“, murid ini berkata achirnja.
Setelah tenang pikirannja, Tjeng Loen bisa djuga berpikir. Biar bagaimana, ia adalah seorang piauwsoe dengan banjak pengalaman.<noinclude>{{rh|28||}}</noinclude>
m7h2x9mx5yvam548kjkzunsl3i1opsw
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/49
104
53816
319998
152759
2026-10-07T10:33:14Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319998
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Waktu dia memperdengarkan suatu suara pelahan, kuda itu lantas menghentikan tindakannja, tepat kurang lebih tiga-empat tindak dari rombongan piauwsoe itu.
Tjeng Loen heran atas kedatangan orang itu, tepat pada waktu matjam itu. Ia menoleh dan mengawasi sedjenak. Ia melihat orang itu seperti tidak mengerti ilmu silat. Iapun lihat orang itu tidak kenal sinona, maka hatinja mendjadi lega.
Boe Djin Tjoen djuga tidak perhatikan penunggang kuda itu. Ia hanja merangkap kedua tangannja, untuk berkata kepada si Nona Yan „Yan Kouw-nio, maafkan kami. Sungguh kami tidak tahu tempat kediaman nona adalah disini, hingga kami belum mempunjai kesempatan untuk membuat kundjungan. Akupun hendak mendjelaskan, keluarnja kami kali ini adalah karena sangat ter-
paksa, sebab leher kami seperti sudah dikalungi. Mau atau tidak,kami mesti melakukan perdjalanan. Kouw-nio, sudilah kau memandang kepada sesama kaum Rimba Persilatan, supaja kau suka memberi perkenan kami lewat disini ?”
Kata itu sangat merendah, mendengar itu, si Nona Yan mengangguk seraja terus tertawa.
„Djikalau demikian adanja,” ia menjahut, „silakan Boe Piauwtauw tinggalkan itu lima-ribu tali emas lembaran jang sipembesar djahat itu berniat mengirimkan sebagai persembahan kekota radja!”
Mendengar perkataan sinona, panas hati Tjeng Loen. Memang ia sudah tidak puas terhadap muridnja, jang bitjara setjara demikian rendah, jang ia anggap sangat menurunkan deradjatnja. Ia lompat kedepan sambil menggerakkan goloknja.
„Enak sekali kau bitjara !" ia menegur. „Djikalau limaribu tail emas ini kamu ambil, habis dengan apa aku menggantinja nanti ? Rupanja bitjara sadja tidak ada artinja, dari itu, marilah kita mengambil keputusan dengan djalan tinggi dan rendahnja kepandaian kita!"
„Bagus!" djawab sinona, tapi sikapnja tetap tenang, malah pedangnja dari tangan kiri ia tidak geser ketangan kanannja.
Tanpa sungkan lagi, Tjian Tjeng Loen bertindak lebih djauh. Udjung goloknja terus mengarah dada sinona.
Nona itu berlaku sabar, baru setelah udjung golok hampir tiba, ia mengegos kesamping dan pedangnja menjambar, guna membalas menjerang.<noinclude>{{rh|46}}</noinclude>
ifq7qwxxv0a1jkoi8r27venh9vq8g2g
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/53
104
53817
320002
152761
2026-10-07T10:34:24Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320002
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>„Tjian Loopiauwtauw, aku harap kau sudi ketahui”, demikian nona itu,,,Emas ini sebenarnja adalah emas Tiong-ong-Lie Sioe Seng jang telah disimpan didalam Tiong-ong-hoe, istananja. Sipembesar djahat telah mendapatkannja, dia lantas mengangkangi, untuk dipersembahkan kepada pemerintah Boan, untuk mengambil hati! Maka itu, bisalah dimengerti djikalau kaum Rimba Hidjau
di Selatan dan Utara Sungai Besar mesti mendapatkan harta ini, tidak peduli dengan djalan apa ! Tentang kesulitanmu, kami telah dapat ketahuinja. Kau tidak tahu duduknja hal, kau kena didjual sipembesar djahat, Sekarang maafkan kami, tidak dapat kami temani kau lebih lama lagi, akan tetapi, didalam tempo satu bulan, bolehlah kau pergi ke Kangpak untuk mentjari kami!”
{{c|'''MONDAR-MANDIR.....'''}}
Tjian Tjeng Loen bungkam, ia mendongkol bukan main. Mau atau tidak, ia mesti adjak rombongannja kembali ke Tiangkeng-tin, kerumah penginapan. Disini ia segera diganggu In Soeya. Sekertaris tiehoe itu segera mendesak dengan pertanjaannja berulang² apa jang hendak dilakukannja ? Ia pun diintili sadja, se-olah2 sisekertaris takut Tjeng Loen nanti melarikan diri ...........
Satu kali piauwsoe ini habis sabar. Ia tjekuk pundak sisekertaris, ia pentang pintu kamarnja dan mendorongnja dengan keras, hingga terpelanting, lalu ia tutup pintu dengan digabruki !
Setelah ini barulah In Soeya tidak terlalu mendesak lagi. Ia mau mengerti kesulitan Tjeng Loen bahwa djuga piauwsoe itu adalah orang jang memegang kehormatan. Tapi ia sendiri tidak bisa
diam sadja, maka ia utus satu serdadu, untuk segera pulang ke Souwtjioe, guna menjampaikan laporan kepada To Tichoe.
Tjeng Loen dan muridnja bingung bukan kepalang. Walaupun ia dibudjuk dan didesak pada waktu ia menerima tugas melindungi angkutan emas dan puteri tiehoe itu, ia toh telah berdjandji
dan telah memberi tanggungan, maka sekarang, dengan hilangnja emas jang berdjumlah sangat besar itu, ia sukar lolos dari tanggung djawabnja. Apa ia mesti bikin sekarang ? Dalam saat pikirannja ruwet, ia tidak dapat berentjana, demikian djuga muridnja.
Achir²nja Boe Djin Tjoen menghibur: „Djika peluru api soehoe tidak hilang tertjuri, hari ini tidak nanti kita nampak kegagalan. Mereka itu menggunakan akal-muslihat, perbuatan mereka tidak bagus.<noinclude>{{rh|50}}</noinclude>
jo2h8pvr5iolpepzlarkfms0lu0rcog
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/55
104
53820
320004
152766
2026-10-07T10:35:02Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320004
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Djin Tjoen tidak bilang sesuatu apapun, ia tidak mentjegah. Iapun tutup mulutnja terhadap In Soeya, maka sewaktu sisekertaris dapat tahu piauwsoe itu telah pergi, Tjeng Loen sudah pergi djauh. Dalam mendongkolnja, ia desak piauwsoe muda ini lekas kembali ke Souwtjioe.
To Tiehoe kaget, menjesal dan mendongkol. Ia segera tahan Boe Djin Tjoen dan kirim orang pergi kekantor Ban Seng Piauw Kiok, guna desak wakilnja Tjeng Loen, untuk lekas tjari piauw jang hilang itu. Orang pun dikirim ke Siongkang, guna tangkap anak-isteri Tjeng Loen jang berdjumlah lima orang.
Di Ban Seng Piauw Kiok, orang mendjadi kaget dan heran. Disana masih ada beberapa murid serta piauwsoe undangan, jang diadjak bekerdja sama. Tentu sadja mereka mendjadi bingung dan repot, untuk memikirkan daja pertolongan.
Tjeng Loen sendiri jang pergi mentjari bantuan bukannja tidak menemukan kesulitan. Ia telah tiba di Yam-shia, untuk mentjari sahabatnja jang mendjadi pemilik Tin Wan Piauw Kiok. Piauwsoe itu adalah Kim-pa-tjoe Siang Beng si Mantjantutul Belang. Pada kira sembilan tahun jang lampau, pernah mereka berdua melindungi piauw. Mereka menghadapi bahaja tapi piauw achirnja dapat dirampas pulang, karena itu, perhubungan mereka mendjadi erat dan keduanja angkat saudara. Dalam hal ilmu-silat, Siang Beng kalah, tetapi dia pandai bergaul dan banjak kenalannja, dia dapat diharap untuk minta bantuan sahabat²nja itu.
Sajang, Tjeng Loen datang menubruk tempat kosong. Baru pada bulan jang lewat, Siang Beng telah berangkat ke Kwangwa bersama sahabatnja dan mungkin empat atau limapuluh hari lagi baru akan pulang kembali. Tjeng Loen djadi masgul hingga ia banting kaki, sehingga beberapa piauwsoe dari Tin Wan Piauw Kiok merasa tak enak hati.
Satu malam, Tjeng Loen nginap di Tin Wan Piauw Kiok, besoknja ia mau berangkat ke Hangtjioe. Disana ada satu soeheng, atau kakak seperguruan dari ajahnja, jaitu Tiat-tah Tjhio Tjong Sian si Menara Besi, jang ia harap bisa diminta bantuannja. Ketika ia memohon diri, ia ditjegah oleh Siang Tjeng, adik Siang Beng. Sebagai wakil tuan rumah, Siang Tjeng mengundang Tjeng Loen bersantap dan pesiar. Karena malu hati, Tjeng Loen melajani hingga setengah harian, tetapi ia masih ditahan djuga.
„Urusanku sangat penting”, Tjeng Loen bilang. Karena terpaksa, ia tuturkan hal terampasnja piauwnja.<noinclude>{{rh|52}}</noinclude>
5i23h5xaj4jq1ctjdwg9n2waktw8ql0
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/32
104
53821
319980
152769
2026-10-07T10:27:15Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319980
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Ia merasa muridnja, „masih hidjau ini“, ada benarnja. Tapi ia telah menerima baik, ia tidak bisa membatalkan.
„Baiklah“, katanja kemudian, „kalau kau bertjuriga, mari kita waspada, kita djangan berpisah satu sama lain !“
Demikian guru dan murid berkemas, lalu bersama² In Soeya, mereka berangkat ke Souwtjioe.
Begitu lekas ia memasuki kantor tie-hoe, timbul tjuriga Tjeng Loen. Ia lihat suasana sepi, tak ada miripnja orang jng sedang bersiap² untuk suatu hadjad walaupun benar pesta nikah bukan akan dilakukan dikantor itu.
In Soeya rupanja hendak menjingkirkan ketjurigaan orang. Ia bilang, sebab pernikahan akan dilangsungkan setjara terpaksa, persiapannja pun tak dibikin setjara umumnja.
Mengenai ini, Tjeng Loen tidak bilang suatu apa, ia tidak menanja melit.
Tibalah hari keberangkatan, Diam² guru dan murid mentjuri lihat sinona puteri tiehoe. Mereka kembali bertjuriga, Nona itu berpakaian mewah, pantas dandanannja untuk seorang puteri wedana, hanja usianja sudah tidak muda lagi dan gerak-geriknja kasar, tidak halus seperti umumnja nona kalangan atas. Pengiringnja djuga tjuma satu budak perempuan. Adalah pengantar laki², pengiring dan serdadu, berdjumlah tigapuluh orang lebih.
Boe Djin Tjoen pernah hendak menanjakan sesuatu, tetapi ia tidak diberi kesempatan bitjara oleh To Tiehoe dan In Soeya, jang melajani dia dan gurunja dengan sangat manis dan telaten. Ada sadja jang mereka utjapkan.
Untuk dahar, tiga kali dalam satu hari, mereka disuguhkan barang hidangan kelas satu. Sebagai pelajan adalah beberapa orang jang sangat radjin, jang tak pernah djauh², Pada setiap penjuguhan arak dan teh, kelakuan mereka sangat hormat, seperti orang melajani pembesar tinggi.
Tjian Tjeng Loen puas dengan pelajanan ini. Ia seperti lupa segala pertanjaannja jang hendak dimadjukan, Tjuma Djin Tjoen sendiri jang masgul hatinja.
Pada saat tibanja djam berangkat, To Tie-hoe sendiri jang mengantar sampai diruang hoa-thia, Tiga kali ia bersodja. Pesannja : „Tjongpiauwtauw, hee-khoa harap kau nanti pandang anakku itu seperti anakmu sendiri, dengan begitu tenteramlah hatiku. Disini<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude>
sjvztjg1ygrbe0m2egwwyae0vqejrt1
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/33
104
53823
319981
152776
2026-10-07T10:27:29Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319981
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>hee-khoa menantikan kembalinja Tjongpiauwtauw berdua murid. Nanti akan heekhoa memberi hadiah lagi kepadamu“.
Wedana ini benar? sangat merendah. Ia membahasakan dirinja — „hee-khoa“ — pembesar jang rendah. Ia anggap diri sebagai pembesar sebawahan.
„Soehoe!“ katanja, memperingatkan gurunja itu, „kewadjiban kita masih belum selesai didjalankan. Dalam tjatatan kita, sudah ditulis djelas nama orang dan djumlah pesalinnja jang kita mesti lindungi, Akan tetapi sinona sendiri membawa demkian banjak peti, semuanja berat timbangannja, semua itu tidak didjelaskan barang apa, tidak dimasukkan kedalam tjatatan jang termasuk dalam tanggungan kita, Soehoe, pera kita memeriksanja dulu, baru kita berangkat !“
„Siauw-piauwtauw, untuk apa kau perteliti sampai begini ?“ berkata In Soeya sambil tertawa, mendahului Tieng Loen. Ia memanggil siauw-piauwtauw — piauwsoe muda — kepada murid itu. „Barang² nona ini tidak lain hanja barang perhiasan emas dan mutiara, diperiksa djuga tak ada perlunja ! Aku sendiri turut dalam perdjalanan ini, anak kuntji semua peti ada padaku. Umpama kau hendak memeriksanja, setiap waktu dapat kau lakukan itu. Sekarang ini jang perlu ialah kita segera berangkat !“
Tjeng Loen tidak bilang suatu apa kepada muridnja itu, karenanja, Djin Tjoen tidak berani terlalu memaksa.
Demikian mereka berangkat keluar dari kota Souwtjioe, menudju kepelabuhan besar dari Selatan sungai Tiang Kang.
Ditengah perdjalanan Tjian Tjeng Loen mau djuga memperhatikan kisikan muridnja, jang memperingatkan padanja setjara diam². Ia perhatikan tindakan kaki para kuli jang menggotong peti. Ia dapat kenjataan, mereka menjebabkan mengepulnja debu melebihi tindakan orang² biasanja. Teranglah, peti² itu bukan terisi barang perhiasan sadja, Barang demikian berat, apakah itu ?
Heran dan terkedjutlah piauwsoe ini. Ia memikirkan hal itu, ia men-duga², tetapi tidak dapat ia menerka. Maka itu, malamnja, selagi singgah pada malam pertama, ia berbitjara dengan In Soeya untuk meminta keterangan.
Sikap sekertaris tiehoe itu kali ini luar biasa. Ia lantas perlihatkan air-muka keren. Dan ketika ia memberikan penjahutannja, suaranja pun dingin.<noinclude>{{rh|30||}}</noinclude>
lpftqgzjzmvg237xtzm90gd0ep8a50n
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/56
104
53825
320005
152779
2026-10-07T10:35:16Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320005
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Siang Tjeng terperandjat. Segera ia berpikir.
„Tjian Toako, djangan kau berangkat dulu!” katanja kemudian.„Aku nanti pikirkan daja untukmu !”
Tjeng Loen awasi orang, jang ia tahu adalah seorang saudagar jang lemah dan selama berdiam di piauwkiok tjuma mengurusi buku perusahaan. Apa jang orang sematjam ini dapat lakukan untuknja?
Akan tetapi Siang Tjeng dapat memperkenalkan seorang istimewa. Memang dalam halnja atau mengenai ilmu silat, ia tidak tahu suatu apa, akan tetapi ia banjak dengar, ia tahu perihal orang jang kosen. Demikian kali ini, ia ingat suatu nama.
Tidak djauh dari Yam-shia ada sebuah tempat jang dipanggil Pek-tjoei-po. Disanalah tinggal siorang jang Siang Tjeng hendak perkenalkan— itu seorang she Kouw nama In Hoei dan djulukannja Ban lie Twie Hong atau si Pengedjar angin Selaksa lie. Tapi untuk penduduk disekitarnja, ia dikenal sebagai Kouw Thay-soe, si achli ilmu alam dan djuru-hikajat, sebab dia pandai bersjair dan bernjanji, pandai karang-mengarang, hingga kepandaian silatnja djadi seperti dilupakan, sedang ia sendiri hampir tak sudi bitjara urusan ilmu silat. Adalah kehidupannja belasan tahun jang telah lalu jang membuatnja kesohor sebagai Ban-lie Twie Hong.
Kim-pa-tjoe Siang Beng liehay pendengarannja. Ia dapat tahu siapa In Hoei sebenarnja, maka ia ingin beladjar kenal, tetapi ia tidak mau berlaku sembrono, ia memakai siasat.
Dikota Yamshia itu ada satu sioetjay miskin she Tjoe, jang hidup sebagai tukang tulis surat dan melukis gambar. Ia suruh adiknja pergi kepada sisioetjay, untuk berdamai, setelah mana ia minta sioetjay itu pergi kepada Kouw In Hoei, untuk berkenalan, buat minta pengadjaran ilmu menulis dan menggambar. Untuk ini, Tjoe Sioetjay tidak membajar dengan uang atau mengantar barang, hanja setiap hari raja barulah ia menghaturkan barang jang terkenal keluaran lain kota atau bunga jang istimewa, katanja sebagai
penghargaan sadja. Kemudian barulah— kadang² sadja— Siang Beng ikut Tjoe Sioetjay membuat kundjungan, hingga ia pun bisa beladjar kenal dan bersahabat dengan In Hoei itu. Ia djuga tidak berani bitjara perihal piauwkiok atau ilmu silat. Sesudah lewat lagi empat-lima tahun, baru In Hoei insaf sendirinja, sebagai piauwsoe, Siang Beng hendak bersahabat dengannja, sedang dilain pihak Siang Beng sendiri mendapat tahu In Hoei benar² kosen. Tentang<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude>
pqv0n6h07e1elpg1cy0btwgc82ryn1t
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/34
104
53827
319982
152783
2026-10-07T10:27:44Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319982
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>„Tjongpiauwtauw terang sekali kau hendak bergurau denganku!“ demikian katanja. „Adakah kau omong dengan sungguh² ? Tjoba kau pikir! Nona kami adalah puteri seorang wedana. Djikalau barang² perhiasannja, atau pesalinnja, bukan barang² jang berharga, apakah ia masih mendjadi puteri seorang ningrat jang agung ? Kalau begitu, bukankah tak ada perlunja aku undang piauwsoe jang kenamaan untuk melindungj dia ? Dan perlu apa aku sengadja djauh² dari Souwtjioe pergi ke Siongkang untuk mengundang kamu ? Kita sama? orang kang-ouw. Mustahil dalam hal inj kau masih tidak mengerti ?“
Tidak sedap didengarnja djawaban itu, hingga Tjeng Loen mentjelat bangun dari kursinja Ia memang aseran. Ia segera pentang mulut lebar.
„Bilang ! Bilang !“ katanja. „Bilang, barang² berharga apakah isinja peti? itu ?“
In soeya tidak mendjadi djeri karena orang bersikap keren itu. Ia berlaku tenang.
„Tidak ada barang² berharga apa², tjuma limaribu tail emas lempengan !“ djawabnja dengan dingin. „Taydjin kita sudah memangku pangkat selama tigapuluh tahun, dia tjuma dapat mengumpulkan sedikit harta. Oleh karena kota Souwtjioe tidak aman, kebetulan berbareng dengan pernikahan puterinja, dia djadi hendak kirim emas itu ke ......“
Belum habis kata² itu diutjapkan, piauwsoe itu dan muridnja sudah tergugu, keduanja saling mengawasi.
Lima-ribu tail emas! Didjaman itu, itulah berharga duapuluh laksa tail perak! Semua itu merupakan lempengan! Pada waktu keamanan terganggu sebagai itu, harta besar itu mesti dibawa dalam perdjalanan dengan perlindungan hanja beberapa puluh serdadu jang tidak berarti !
Tanpa merasa, guru dan murid itu mengeluarkan peluh dingin ...
„Bagaimana, tjongpiauwtauw ?“ tanja In Soeya selagi orang masih berdiam sadja. Adakah kau menjesal ? Tapi sekarang sudah terlambat ! Surat perdjandjian jang mendjadi tanggung-djawabmu, sudah berada didalam tangan taydjin kita! Sekarang, djika kau sudi, kau mesti mengantarnja dan djika kau tidak sudi, kau mesti mengantarkan djuga ! Sekarang aku omong terus-terang kepadamu ! Emas sudah berada ditengah djalan. Itu berarti, kau mengantar atau tidak, andaikata terdjadi sesuatu, kau tidak bakal lolos dari<noinclude>{{rh|||31}}
{{rh|{{X-smaller|Warisan Seorang Pangeran — 3}}||}}</noinclude>
7dhk3a0ch7fh8i2dqp93xi63grep8w3
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/57
104
53829
320006
152785
2026-10-07T10:35:33Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320006
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>maksudnja itu, tetap Siang Beng tidak berani lantjang mengutarakannja, dan In Hoei sebaliknja, berdiam sadja. Maka djuga, kedua pihak tjuma menjimpan perasaannja itu didalam hati masing².
Sekarang, dengan muntjulnja Tjeng Loen, Siang Tjeng ingatKouw Thaysoe itu. Begitulah ia sebut namanja Ban-lie Twie Hong.Tapi ia beritahukan tabiat orang jang luar biasa itu, maka ia memberi pikiran, untuk minta bantuan, perlu didapatkan dulu bantuan Tjoe Sioetjay.
Tjeng Loen suka minta bantuan In Hoei, tetapi untuk mohon perantaraan Tjoe Sioetjay, ia tidak setudju, sebab ialah ia tak sabar dan urusannja djuga tak dapat dilawan dengan berajal. Ia pikir „Aku tahu Pek-tjoei-po, kenapa aku tidak mau pergi sendiri kesana”, dan lantas ia bertindak. Selagi Siang Tjeng pergi kepada Tjoe Sioe-tjay, ia lompat atas kudanja dan seorang diri kabur keluar kota,menudju langsung ke Pek-tjoei-po. Disini tak sulit baginja untukmentjari rumah Kouw Thaysoe, jang setiap penduduk ketahui de-
ngan baik.
Sebentar sadja Tjeng Loen telah tiba diperapatan dimana ada sebuah rumah besar, ialah rumah orang she Kouw itu, hanja ketika ia turun dari kudanja, didepan pintu pekarangan, pintu ditutup rapat. Disitu tidak ada pengawalnja. Ia mengetok pintu hingga beberapa kali, tidak djuga ada orang jang membuka pintu atau menjahut. Ia mendjadi heran, dan mulai mendjadi tak sabar. Disitu djuga tidak ada orang jang berlalu-lintas, hingga tidak ada jang dapat dimintai keterangannja. Tjuma tak djauh dari situ, disebuah
sumur, ada seorang tua asjik mentjutji. Orang tua itu berada disitu sedjak ia datang. Mungkin pandangannja kurang baik, karena ia tidak pernah menoleh atau menjapa.
Karena terpaksa, Tjeng Loen menghampiri orang tua itu.
„Eh, orang tua, apakah ini rumah Kouw Thaysoe ?„ ia tanja, suaranja keras. Ia pun tekan bebokong orang dengan udjung tjam buknja.
Orang tua itu mengangguk dengan pelahan. Ia tidak menoleh, hanja ia mentjutji terus, mentjutji dua potong badju.
„Ada orang atau tidak didalam rumahnja ?„ Tjeng Loen tanja pula, suaranja tetap keras.
Orang tua itu kembali mengangguk, tetapi tetap tidak membuka mulut.
Piauwsoe itu mulai habis sabarnja. Ia mendekati satu tindak.
„Apakah kau pegawai keluarga Kouw ?” tanjanja.<noinclude>{{rh|54}}</noinclude>
6e1pwa3bdor04v6dbngfs4zu96qsz5c
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/58
104
53831
320007
152788
2026-10-07T10:35:48Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320007
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Orang tua itu mengangguk pula. Kali ini ia putar tubuhnja pelahan, dan memandang sipiauwsoe dengan kedua matanja terbuka sedikit lebar.
Tjeng Loen melihat orang mengenakan pakaian tua, orangnja sendiri bertubuh ketjil dan kurus, kepalanja botak, romannja lojo. Ia pertjaja, orang ini adalah pegawai tua dari Kouw In Hoei. Ia lantas sodorkan tjambuknja sambil berkata dengan keras: „Aku datang dari Yam-shia, untuk tjari madjikanmu! Kau tambat dulu kudaku itu, lalu lekas kau antar aku kedalam !" Ia rogo sakunja dan bertentangan dengan hatinja, ia keluarkan ratusan uang tang-
tjhie dibelesekkan kedalam tangan siorang tua, seraja menambahkan Kawan tua, lekasan sedikit! Ini untukmu minum teh !"
Orang tua itu tidak menampik. Ia masukkan uang itu kedalamsakunja. Ia bergerak dengan sangat lambat. Mulanja ia tuntun kuda, untuk ditambat, lalu ia angkat pakaiannja jang basah itu, begitupun paso airnja. Sesudah lewat sekian lamanja, baru ia adjak Tjeng Loen kebelakang rumah. Disini ia letakkan dulu pasonja, baru ia keluarkan sebuah anak kuntji jang besar dari sakunja, untuk membuka pintu belakang itu.
Kesabaran Tjeng Loen hilang. Baharu daun pintu terbuka, ia sudah mendahului bertindak masuk. Ia rupanja pikir, semasuknja kepekarangan dalam, sendirinja ia bisa pergi keruang depan. Tapi ia ketjele. Didepannja sekarang ada lagi tembok pekarangan, dengan dua buah pintu ketjil jang diberi warna merah. Kedua pintu itu djuga dikuntji. Jang mengetjilkan hati, pintu itu berdebu, tanda sudah lama tak pernah dibuka. Disebelah kanan tidak ada pintu lainnja, sedang disebelah kiri ada sebuah tembok lowong bagaikan mulut guha, jang tertutup mulai putih. Nampaknja tjuma itulah pintu masuk lainnja. Tanpa membuang tempo lagi, ia bertindak kesitu, untuk singkap gorden itu.
Hai, sahabat piauwsoe, tahan !" berseru siorang tua. „Apa maksudmu, ha? Siapakah tidak punja anak ketjil ? Kau telah sampai diruang dalam, kenapa kau lantjang masuk? Kenapa kau tidak main tanja2 dulu? Kau toh sudah berusia limapuluh tahun? Mustahil kau tidak tahu aturan ?"
Tjeng Loen menoleh, ia heran sekali, Kali ini, siorang tua mirip dengan manusia benar, buka seperti tadi, bagaikan orang tolol. Setelah mengawasi orang tua itu, ia awasi pula tembok lowong itu, melihat kesebelah dalamnja.<noinclude>{{rh|||55}}</noinclude>
5daxn1q8umqad3xsocu6q743vltmk6t
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/59
104
53833
320008
152790
2026-10-07T10:36:03Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320008
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Ruang didalamnja persegi pandjang, dikirinja ada dapur dengan dua buah liangnja. Dipodjokan ada tumpukan kaju bakar, Di tengah² ada sebuah medja dengan enam kursinja jang kate jang dipakaikan batu marmer. Memang medja dan kursi itu sudah tua tetapi sebab terbuat dari kaju garu merah, taklah tepat ditempatkan diruang seperti itu. Lantai tak berpermadani dan tidak rata tetapi djuga bersih. Dikiri, nempel pada tembok, ada dua buah almari, jang satunja terkuntji, entah apa isinja, Menjender dekat mulut pintu ada sebuah lagi, jang pintunja terpentang, hingga tampak empat tingkat susunannja, jang tiga penuh dengan pelbagai kitab, jang paling bawah terisi kusut dengan piring-mangkok, peles, botol minjak dan beras.........
Walaupun ia tampak semua itu, Tjeng Loen masih tidak dapat menerka, pengisi rumah itu ialah budjang atau madjikannja. Maka ia mendjadi men-duga² terus.
Siorang tua sudah meletakkan paso dan badjunja, Sambil menepuk² kursi ia berkata seperti djuga kepada dirinja sendiri: „Duduklah, habis beristirahat baru bitjara !" Dan ia terus djatuhkan diri disebuah kursi.
Tanpa bersangsi Tjeng Loen seret sebuah kursi untuk berduduk, tepat menghadapi siorang tua itu. Kebetulan mereka sama² angkat kepala dan saling memandang. Tiba piauwsoe itu bertjekat hatinja, hingga ia berpikir: „Tidak kusangka, orang tua selojo ini, matanja bersinar tadjam sekali......". Karena ini, ia segera berbangkit, untuk rangkap kedua tangannja, guna memberi hormat.
„Kouw Lootjianpwee, kau benar siorang budiman jang tak menondjolkan diri !" ia berkata. „Kau membuat aku malu, siorang kasar dan sembrono! Tadi aku telah berlaku kurang adjar, sekarang aku mohon sudilah kau memberi maaf padaku......"
Iapun beritahukan namanja.
Orang tua itu menggeleng kepala, sinar matanja jang tadjam lenjap. Ia menjangkal bahwa ia adalah Kouw In Hoei. Ia menjangkal terus walaupun Tjeng Loen menjebut² Tjoe Sioetjay dan Tin Wan Piauw Kiok dan hal persahabtan kaum kangouw.
Pertjaja bahwa ia tidak keliru, Tjeng Loen berkeras terus. Ia seperti djuga ngotjeh seorang diri ketika ia tuturkan hal-ichwalnja mengiring piauw, jang kena dirampas. Dengan sangat ia memohon siorang tua suka bantu padanja.
Agaknja orang tua itu tertarik untuk kedjudjuran piauwsoe ini<noinclude>{{rh|56}}</noinclude>
dxht2akg69t12l8w2i8w2wb8lldu2ey
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/60
104
53835
320009
152793
2026-10-07T10:36:19Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320009
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Wadjahnja tak lagi tolol an seperti semula. Dengan pelahan ia berbangkit menghampiri dapur.
„Kelihatannja kau djudjur", katanja, suaranja kurang djelas.
„Kau datang dari tempat djauh mari, silakan dahar dulu!" Terus ia masak nasi, ia matangi sajur. Sekarang ia bergerak sebat, beda daripada waktu ia mentjutji pakaian tadi.
Tjeng Loen hendak membantunja, tapi ia menampik.
„Kau lihat kitab sadja", katanja. Dan dari almarinja, ia tarik keluar dua djilid kitab sjair.
Kasihan piauwsoe she Tjian ini. Karena terlalu repot dengan perusahaannja, ia tak sempat beladjar surat, hingga untuk menulis seputjuk surat sadja, ia tidak mampu, Kini terpaksa ia berdiam menantikan. Ia duduk atau djalan mundar-mandir. Sekarang ia tidak berani angkat kaki, ia kuatir membuat hilang ketika jang baik ini. Sebaliknja kalau ia menunggu, ia pun kuatir orang tolak permintaannja........
Achir²nja, matanglah nasi dan sajurnja, dan siorang tua menjadjikannja diatas medja. Tapi, dalam keadaan seperti itu, mana Tjeng Loen bernafsu bersantap? Kemudian berubah pula sikap siorang tua. Sambil atur piring. mangkok dan sumpit, ia perlihatkan roman riang-gembira. Ia tertawa.
„Lao-hia, lekas dahar, lekas dahar !" dia mengundang. „Nasi ini bertjampur gandum. Bila didahar panas² harum baunja dan pulen, gampang ditjernakan. Hanja kalau sudah dingin, mendjadi tak enak dimakan. Kau lihat, bukankah masakanku tak ada tjelanja? Nasiku ini termasuk tidak keras dan tidak lodo, tidak basah dan tidak kekeringan! Ketika Sie Djin Koei mendjadi hwee. tauwkoen, situkang masak, dia tak dapat masak seperti aku ini !"
Habis berkata, dia tertawa berkakakan, terus dia ambil mangkoknja, untuk menjendok nasi itu.
Tjeng Loen tidak berani menghilangkan kegembiraan orang, walaupun dengan likat, iapun turut angkat mangkoknja, turut menjendok nasi. Ia tidak sangka, benar² nasi itu harum, hingga dengan sendirinja ia suap itu masuk kedalam mulutnja. Waktu ia lihat teman nasi, ia tampak satu piring terisi masakan empat ekor ikan ketjil, jang digoreng, sedang mangkoknja, jang besar, muat masakan tauwhoe tjampur sajuran, minjaknja kental.
Sirang tua angkat sumpit.<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude>
5np8rbpiivwvwxmj1xiau03rkei5o6z
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/61
104
53838
320010
152874
2026-10-07T10:36:35Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320010
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>„Lao-hia, mari tjoba dulu ikan ini", katanja, untuk berpidato seperti tentang berasnja barusan. „Djanganlah kau memandang enteng masakanku ini. Walaupun ini hanja ikan dipakaikan garam, aku tanggung tak dapat disamakan dengan masakan lain orang. Djangan kau anggap bahwa kau adalah piauwsoe dari puluhan tahun, jang telah ulung dalam pengembaraan dalam dunia kangouw, tetapi ikan sematjam ini, aku tanggung, belum pernah kau memakannja!"
Tjeng Loen tidak bilang suatu apa, ia hanja adjukan sumpitnja, berniat mendjepit ikan itu, atau ia tampak siorang tua sudah dului ia. Orang tua itu lepaskan sumpitnja, sebagai gantinja, ia pakai djeridji tangannja, mendjemput se-ekor, untuk segera ditjubiti untuk didahar. Sambil menggajam, ia buka pula suaranja: „Ketika aku beli ikan ini, aku tidak berlaku sembrono. Aku memilih jang paling segar, jang ditangkapnja tak lebih lima hari jang lalu, dan begitu diangkat dari dalam air, segera direndam kedalam air garam. Setjara begini, barulah ikan tetap segar dan garamnja meresap betul! Ikan sematjam ini, aku tidak menghendaki jang besar. Jang paling pandjang djuga tak boleh lebih daripada delapan dim. Diwaktu habis dibeli, setibanja dirumah, ikan mesti lantas ditjutji, ditjutji dan dibilasi paling sedikit sampai empat kali, selesai ditjutji, terus ditusuk untuk didjemur, didjemurnja mulai bulan ketiga atau bulan keempat, lamanja belasan hari. Diwaktu mendjemur, mesti didjaga, sebelum matahari turun ke Barat mesti lekas² diangkat, untuk disimpan. Ikan ini mesti didjemur kering sekali sehingga keras bagaikan sehelai papan. Sesudahnja disimpan didalam gutji, dan mulut gutji mesti ditutup rapat dengan kertas jang terbuat dari babakan murbei. Ikan asin sematjam ini bisa disimpan sampai dua atau tiga tahun, tidak akan mendjadi busuk. Diwaktu menggorengnja untuk didahar, kita djuga mesti kenal aturan menggorengnja, jaitu djangan terlalu tjepat diangkat, djangan terlalu lama, nanti mendjadi hangus! Lao-hia, untuk dahar pun orang mesti tahu aturannja!........
Belum habis siorang tua dengan pidatonja itu, Tjeng Loen sudah hadjar habis seekor ikannja itu, dihadjar berikut tulang²nja.
Siorang tua lihat itu, ia girang bukan buatan, ia tertawa besar. „Akur !" ia berseru. „Memang, untuk dahar, orang mesti dahar dengan bernafsu ! Hari ini aku kasi kau makan seekor, aku sendiri makan se-ekor djuga! Masih ada lagi, lao-hia. Ini semangkok tauwhoe, tjara masaknja djuga istimewa, dan tjampurannja
{{nop}}<noinclude>{{rh|58}}</noinclude>
3tt265rac7qpf00sb6fgl736fdo9a4l
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/18
104
53879
319965
152866
2026-10-07T10:22:42Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319965
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>mendjadi kontjo pendjahat. Dia malah mesti dibawa kekota Kang-feng. Dilain pihak, dengan pakai nama ibunja, ia suruh budjang képertjajaannja membawa djoli, untuk sambut A Hong, untuk A Hong tengok suaminja, katanja. Sebenarnja, simanis itu langsung dibawa kerumahnja.
Walaupun ia melarat, A Hong pegang teguh kesutjian dirinja. Ia menghormati dan mentjintai suaminja. Ia tolak kehendak Ong Kam-seng dan tidak menghiraukan djandji muluk². Malam itu, Ong Kam-seng kewalahan djuga, hingga ia tidak bisa lantas dapat akal untuk mendapatkan njonja jang dirindui itu. Djusteru itu turunlah marahbentjana dari langit .........
Dengan tiba² muntjullah seorang pemuda jang mukanja putih dan dandan sebagai mahasiswa, bersama katjungnja. Mereka itu turun dari atas genting dan memasuki djendela dengan tjara paksa. Tanpa banjak susah, mereka bunuh Ong ‘Kam-seng serumah-tangga, lantas mereka bawa lari A Hong serta analnja.
Ketika itu dirumah Ong Kam-seng ada kakak-misannja, jang bertenaga besar, malah dia seorang boe-sioetjay. Dengan goloknja, dia membuat perlawanan. Anehnja, dia kena dirobohkan botjah itu, terus dikempit, dibawa naik keatas sebuah pohon dimana dia diikat ditjabang jang paling tinggi. Sampai besoknja dengan banjak susah, baru orang dapat menolong dia.
Diantara orang²nja Ong Kam-seng, ada jang mengenali pemuda muka putih itu serta katjungnja, tetapi mereka setudju perbuatan kedua orang itu. Mereka tutup mulut. Tidak ada satu jang sudi memberikan keterangan, hingga perkara mendjadi gelap. Penduduk Peng-san-tjoen, jang pun bisa menduga, semua djuga tak ada jang mau membuka rahasia. Sebaliknja, mereka puas dan bersjukur.
Tiga hari kemudian, dari kota datang seorang pembesar polisi bersama tiga puluh serdadu. Mereka datang tengah malam buta. Mereka datangi rumah Lioe Hong Hoa, katanja untuk menawan pendjahat besar. Tapi mereka menubruk tempat kosong. Djangan kata Lioe Hong Hoa dan katjungnja, dirumahnja pun tidak ada, tinggal bekasnja.
Setelah ini, penduduk lantas dapat tahu bahwa djuga didalam kota, Lioe Siangkong sudah bekerdja, ialah membinasakan Touw Wan-gwee sekeluarga. Wan-gwee itu memang terkenal sebagai lintah darat dan pemeras. Habis membunuh keluarga Touw, jang lutju,<noinclude>{{rh|||15}}
{{rh|Warisan Seorang Pangeran-2}}</noinclude>
cqvoq5bytai4lqv5gnkoikmtztk9cp7
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/19
104
53880
319966
152865
2026-10-07T10:23:08Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319966
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Lioe Siangkong pergi kegedung tjamat dimana ia mengutungi kuntjir tjamat, hingga tjamat itu malu untuk muntjul dikantornja !
Sebenarnja, Ong Kam-seng sudah pesan dua orang polisi jang membawa Ho Siang ke Kangleng, untuk membinasakan Ho Siang ditengah djalan. Apa mau Tjouw Po telah dapat susul mereka ditelaga Tjek San Ouw. Ketika mereka hendak turun tangan, Tjouw Po lantas hadjar mereka dengan panah-tangan, hingga keduanja terbinasa. Diwaktu angkat kaki, dengan mengadjak Ho Siang, Tjouw Po tinggalkan kartjis nama dengan tertjetak nama Lioe Hong Hoa.
Tak usah diterangkan lagi, bahwa semua itu merupakan kedjadian-kedjadian jang sangat menggemparkan. Kabar beritanja segera tersiar kesegala pendjuru, sampai Mauw San Tjit Yoe, tudjuh sahabat dari Mau San jang berdiam di villa Taman Bunga Toh digunung Mauw San, mendapat dengar djuga.
Demikian pada suatu malam, di villanja itu, Kok Ban Tjiong membitjarakan peristiwa jang menggemparkan itu, jang terdjadi belasan hari jang lalu, bersama dua sahabatnja, atau saudara angkatnja, jaitu Im-yang-kiam Tie Tiauw Lan si Pedang Imyang, adik jang ketiga, dan Ang Soe Sioe, adiknja jang kelima, jang orang juluki Say Phoa An, karena romannja jang tjakap melebihi Phoa An, itu prija tjakap-ganteng di djaman dulu. Ketika itu mereka pasang omong sambil menenggak arak kao-liang jang kesohor, hingga
sedikitnja pengaruh air keras itu telah bekerdja diotak mereka .....
Menurut Ang Soe Sioe, perbuatan Lioe Hong Hoa itu sangat memuaskan. Dengan mengadjak pergi Kwee Liok sekeluarga, pertolongan itu sempurna sekali, tidak setengah².
Tie Tiauw Lan, jang usianja lebih landjut, jang perangainja halus, berkata: Orang she Lioe itu bertindak terlalu telengas. A Hong benar telah diperdajai Ong Kam-seng, akan tetapi dia belum sampai ditjemarkan kehormatannja, dan Kwee Ho Siang djuga tidak mati. Kenapa Ong Kam-seng mesti dibunuh serumah tangganja ? Kenapa Touw Wan-gwee djuga mesti dibinasakan sekeluarga ? Perbuatan itu bertentangan dengan hukum Tuhan.....
Anggapan Kok Ban Tjiong tidak beda djauh dari anggapan Tiauw Lan itu. Iapun menganggap adalah tidak sempurna untuk membinasakan dua orang polisi jang mengantarkan Ho Siang itu. Sambil berkata demikian, ia tjaplok sepotong daging. Ia menambahkan ; „Kalau orang ditolong dengan dibawa lari, tidakkah itu sudah<noinclude>{{rh|16}}</noinclude>
p3w07qb1fklawd1d75ejwzk7yqat7bb
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/35
104
53882
319983
152887
2026-10-07T10:29:08Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319983
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>tanggung-djawabmu! Tjian tjongpiauwtauw, kau kenamaan, kau punja rumah-tangga, aku minta djanganlah kau keliru berpikir !”
Tjeng Loen kertak giginja untuk mengendalikan diri, Ia sudah berniat menghadjar sekertaris wedana jang litjin ini, untuk bikin mampus !
Boe Djin Tjoen kutik gurunja. Murid ini sabar dan sadar, Is mengerti baik sekali, kuntjir mereka telah orang tjekal erat², tidak dapat mereka berkeras mengahadapi soeya itu.
„Tenang, soehoe“ liéhay. Melihat orang telah buntu djalan ia ubah wadjahnja. Dari keren dan dingin, sekarang ia bersenjum berseri².
„Walaupun duduknja hal begini rupa, tjongpiauwtauw," katanja, sabar dan manis,
„Tak usah kau buat pikiran. Selekas kita sampai dengan selamat di Haytjioe, taydjin kami akan ingat baik² kepadamu. Dia pun orang jang punja pikiran. Lagipula, pekerdjaan kita ini adalah pekerdjaan jang terahasia. Ketjuali kita berempat, tidak ada orang lain jang mengetahui. Tjukup asal kita berhati². Dengan mengandalkan kepandaian jang liehay sekali, aku pertjaja kau bakal dapat melewatkan saat² jang berbahaja, kau bakal dapat
menempuhnja ! Kau tahu, aku sendiri djuga ada punja anak-isteri, tidak sudi aku membiarkan diriku dalam bahaja ......“
Berkali² Tjeng Loen memperdengarkan suara „Hm !” Bukan main panas hatinja. Hampir ia mementang batjot, untuk mendamprat. Sjukur ia masih dapat mengendalikan diri. Ia sambar tehkoan teh, ia gelogoki isinja kedalam mulutnja, lantas tanpa menoleh lagi kepada muridnja, ia ngelojor keluar !
Boe Djin Tjoen djuga mesti menguatkan hati untuk dapat menguasai dirinja sendiri. Dengan paksakan menenangkan diri, ia berkata dengan sungguh² kepada sekertaris tiehoe itu: „Soeya, dengan perbuatanmu ini, kau membuat dua kesalahan berbareng ! Djangan soeya anggap kau sangat tjerdik; bahwa dengan tipu-muslihatmu jang litjik ini, kau telah bisa lepaskan tanggung djawab dan sebaliknja menumplekkannja diatas pundak kami. Kau mesti tahu sendiri, kami kaum pengusaha piauwkiok mempunjai aturan kami sendiri jang khusus. Pengangkutan kita sekarang ini ialah jang dinamakan piauw gelap. Untuk piauw gelap, tidak dapat kami berbuat sesuka kami, asal bilang berangkat, lantas berangkat. Untuk itu kita mesti mempersiapkan persediaan dengan, seksama. Sangat beda.<noinclude>{{rh|32}}</noinclude>
b9uaxnhgdgtezjylnvdgjyjbys6al8m
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/36
104
53885
319984
152886
2026-10-07T10:29:22Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319984
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>sekali dengan piauw terang ! Aku bilang, soeya, tak dapat kau merasa puas sendiri! Kau harus ketahui djuga, ilmu silat itu tidak ada batasnja, Bukankah diluar langit ada langit lagi, diatas orang ada lagi jang terlebih atas ?
Baik aku djelaskan. Sedjak dulu kala sehingga sekarang ini, tidak ada satu piauwsoe jang hidup selamat melulu dengan andalkan sadja ilmu silatnja. Padanja itu mesti terangkap apa jang dinamakan kehormatan dan pergaulan. Persahabatan itu mesti dibeli. Seorang piauwsoe mesti bersahabat dengan golongan Rimba Hidjau, dengan begitu barulah kaum Rimba Hidjau dapat memberi mukanja, dengan begitu barulah kami peroleh keselamatan kami. Pada waktu mengiring angkutan, kami mesti menantjap bendera, orang² kami tiap kali mesti memperdengarkan suaranja disepandjang djalan. Apakah artinja itu ? Tidak lain untuk memberitahukan kepada sahabat? Rimba Hidjau perihal tiba atau kedatangan kami. Itulah untuk piauw terang.
Untuk piauw gelap, lain lagi. Untuk piauw gelap, kami mesti menjerbu dengan andalkan kepandaian, kami mesti melakukan perdjalanan dengan diam², kami tidak andalkan persahabatan. Dipihak sana, kaum Rimba Hidjau djuga tidak sungkan² lagi terhadap piauw gelap, tidak peduli siapa sipiauwsoe pelindungnja ! Lain halnja kalau orang tidak tahu lewatnja piauw gelap. Tapi asal orang dapat ketahui, mesti dia turun tangan ! Soeya, kau ada seorang tjerdas, maka tjobalah kau memikirkannja ! Bukankah benar dengan akalmu jang litjik ini bukan melulu kau tjelakai kita, hanja djuga kau
tjelakai dirimu sendiri ? Kami guru dan murid adalah orang² tidak berarti. Walaupun kami punja rumah tangga, tak tjukup itu untuk mengganti kerugian madjikanmu. Itu emas lima ribu tail.....
In Soeya melengak, hingga lenjaplah senjumnja jang tawar, roman dari kepuasannja. Benar² ia tidak ketahui keadaan dalam dari kaum piauwsoe itu. Benar² ia telah bermain api. Bagaimana sekarang ?
„Habis bagaimana sekarang ?” achirnja ia tanja. Mau atau tidak ia mesti berlaku merendah terhadap piauwsoe muda ini, jang njata adalah terlebih berpengalaman daripada Tjian Tjeng Loen.
Pasti sekali Boe Djin Tjoen djuga telah insaf, bahwa sesudah piauw berada ditengah perdjalanan sematjam ini, itu artinja nasi sudah mendjadi bubur, tidak dapat piauw dibawa balik pulang {{hws|de|dengan}}<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude>
mzo3kklzmo3tmmddgt8ma3o5hfzfjhx
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/39
104
53901
319987
152911
2026-10-07T10:30:27Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319987
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>kami djiwa! Djadi kita tak dapat bertindak sembarangan ! Sebentar sebelum langit mendjadi gelap kita sudah mesti sampai di Tiang-keng, maka sekarang djuga kita mesti berangkat !”
In Soeya bengong mengawasi. Apabila ia tampak mata orang mendelik dan wadjahnja perongosan, tidak berani ia banjak omong lagi, Ia lantas bangun, terus dandan guna ikut berangkat !
Boe Djin Tjoen djuga telah salin pakaian. Ia dandan dengan singsat, kepalanja dibungkus dengan pelangi hidjau, dibebokongnja tertantjap goloknja. Dengan tangan kanannja, ia pegangi piauwkie, benderanja jang ketjil, sebab bendera jang besar tidak ada. Ia berada dipaling depan. Tepat dimuka pekarangan hotel, ia berseru : „Berangkat !”
Dan berangkatlah rombongan itu, tidak setjara diam² sekian lama, hanja dengan berterang.
Tjeng Loen berdjalan paling belakang, tangannja memegang goloknja, golok Gan-leng-to, Ia jang atur djoli dan kuli? tukang gotong serta serdadu pengiring, jang dibagi mendjadi dua barisan. Dengan duduk atas keledainja, ia ambil tempat ditengah². Tetapi Parsons dilakukan dengan pelahan.
Tidak lama keluarlah mereka dari batas kota Eaten Siang-siok.
Dasar daerah makmur, walaupun habis perang, keramaian masih ada bekas²nja. Sampai kira² duapuluh lie diluar kota, tempat tak mendjadi sunji-senjap, disitu masih ada lalu-lintas orang dan kereta.
Tjeng Loen bertjokol diatas keledainja dengan matanja diarahkan ke-empat pendjuru. Ia. mentjoba menenangkan diri, akan tetapi tak dapat ia singkirkan pikirannja tentang perbuatan litjik In Soeya. Ia heran untuk kedjadian kali ini. Sudah banjak tahun ia tidak pernah keluar sendiri, tahun? sekarang ia mendjadi korban soeya itu. Ia melindungi harta besar, tapi membawa pengiring sedikit, malah tanpa satupun pegawanja. Sjukur kalau ia selamat sampai ditempat tudjuan, kalau tidak, entahlah......
„Aku tjuma berdua, apabila terdjadi sesuatu, dapatkah salah satu pulang untuk membawa warta ?.....” ia ngelamun.
Sementara itu, tanpa merasa, orang tiba dikota ketjil tempat singgah, Djin Tjoen minta dua buah ruang dirumah penginapan terbesar, satu disebelah dalam, satunja lagi disebelah luar. Jang dalam untuk sinona bersama empat peti-kulit jang besar jang bermuatkan
{{Left|36}}<noinclude></noinclude>
mr16jl5yjafslf62ms89yg4x6ovx5j0
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/40
104
53916
319988
152929
2026-10-07T10:30:51Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319988
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>
emas itu, jang diluar untuk ia dan gurunja serta sisoeya. Semua serdadu dan kuli dibiarkan menangsal perut diruang makan.
Selama bersantap, guru dan murid tetap waspada, sendjata\mereka tak pernah terpisah dari tubuh mereka.
Habis bersantap dan beristirahat sebentar, perdjalanan sudah jantas dilandjutkan.
Tengah-hari, mereka mesti melewati dua tempat dimana bersarang kaum Rimba Hidjau. Jang satu dikepalai oleh Hoeigan Lie Eng Lok si Mata Terbang, jang berkedok membuka rumah djudi. Jang lainnja dipimpin Tjoan-Thian Auw-tjoe Lauw Hong si Elang Menembusi Langit serta kira? limapuluh anak-buahnja; mereka ini tjabang dari Pek See Pang, partai Pasir Putih. Mereka itu —dua²–nja —kenal Ban Seng Piauw Kiok, maka itu, Boe Djin Tjoen sudah lantas mengundjungi mereka, hingga kesudahannja rombongan piauwkiok ini dapat lewat dengan baik dan aman.
Lewat lohor, rombongan sudah mendekati Tiang-keng, tinggal lagi tak ada sepuluh lie, Tjian Tjeng Loen tengah menghisap hoentjwee tatkala ia dengar tindakan kaki kuda mendatangi dari arah belakang, Kuda itu djempol, debunja sampai mengepul tinggi. Sebentar sadja penunggang kuda itu tiba dan lewat. Kelihatan sipenunggang itu, jang berkeredong mantel, menjoren pedang. Dia lewat disamping tanpa menoleh kepada mereka — rombongan piauwsoe itu.
Diam² Tjeng Loen rabah goloknja.
Boe Djin Tjoen menoleh kepada gurunja, ia tidak bilang suatu apa.
Tak lama kemudian penunggang kuda itu sudah lari balik. Karenanja, guru dan murid itu menahan binatang tunggangan mereka dipinggiran, Mereka mengawasi.
Penunggang kuda itu menahan kudanja kira? lagi lima-enam tindak darj kedua piauwsoe itu, matanja menjapu. Agaknja dia lalu hendak berbitjara kepada Djin Tjoen, tapi lantas mengawasi Tjeng Loen.
Piauwsoe ini mendjadi tidak senang. Ia buka kedua matanja.
„Apa ? Apa kau hendak bitjara dengan siorang she Tjian ?” ia menegur. „Baik ! Aku memang menantimu ! Tapi baik kau buka dulu matamu lebar², kami pihak Ban Seng Piauw Kiok lewat disini bukan baru satu atau dua kali!’
{{r|37}}<noinclude></noinclude>
ha8bydqsbc8q0sqr91vfm2s4gobrqk8
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/41
104
53925
319990
153106
2026-10-07T10:31:05Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319990
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Penunggang kuda itu memandang kepada bendera piauw, ia mengangguk, lalu tertawa.
,,Sungguh suatu bendera Liat Hwee Piauw-kie jang bagus !" katanja tenang. ,,Boleh dibilang beruntung djuga aku satu boe_beng siauw tjoet, hari ini untung bertemu muka dengan Tjian Loo-piauwtauw jang kenamaan. Loopiauwtauw, tidak lain hendak aku menebalkan muka untuk bitjara terus-terang denganmu ! Saudara2 kami tak bakal hidup, maka aku ingin mohon bantuanmu ......"
,,Hm !" edjek Tjeng Loen. ,,Baik, sahabat, silahkan ! Asal tenagaku sanggup, suka aku membantu padamu, supaja kamu dapat kepuasan !"
Penunggang kuda itu bersenjum. Ia angkat tangannja, menundjuk kepada empat peti kulit warna merah.
,,Baik, Tjian Piauwtauw", katanja. ,,Kita adalah sahabat2 tak usah kita berbitjara mutar2. Aku tidak meminta lainnja, hanja peti2 itu dimana ada simpan lima ribu tail emas, agar diberikan untuk aku bawa pergi!............."
Boe Djin Tjoen lompat turun dari kudanja, ia menjela :
,,Sahabat", katanja ,,kau seharusnja sudah mengetahuinja. Kami orang piauwkiok, mana kami mempunjai uang sedemikian banjak? Harta itu ada pemiliknja jang lain !"
,,Baik !" kata sipenunggang kuda. ,,hendak aku tanja sipemilik itu !" dan ia lompat turun dari kudanja.
Orang ini berumur kuranglebih tigapuluh tahun, tubuhnja tinggi enam kaki, mukanja berewokan, dadanja lebar, pinggangnja tjeking, tampaknja ia gagah. Ia dekati Djin Tjoen tiga-empat tindak, ia berdiri menghadapi piauwsoe muda itu. Boe Djin Tjoen membekal pedang Songboen_kiam. Sekedjap sadja, pedang itusudah terhunus ditangan kanannja.
Penunggang kud aitu mengkerutkan alis. Ia lihat orang dandan sebagai pegawai piauwkiok, tetapi buktinja, orang sangat gesit. Tentu sadja ia mendjadi heran.
Djin Tjoen tertawa tawar.
,,Sahabat, kau rupanja seorang baru !" tegurnja. ,,Kenapa kau tidak kenal sedikit djuga aturan kaum kang-ouw ? Untuk berbitjara dengan sipemilik, kau mesti lebih dahulu menanja aku !"
Penunggang kuda itu memperlihatkan roman memandang enteng.
,,Apakah kau dapat mewakili sipemilik?" ia menegaskan.
Tjeng Loen tidak sabar. Ia lompat turun dari keledainja, dan<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude>
49be8uje4yigbjkhmh9of3mkjfqzt5s
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/42
104
53932
319991
152988
2026-10-07T10:31:22Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319991
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>hendak madju, tetapi Djin Tjoen lirik dia Jalu mengedipkan mata padanja.
„Untuk menjembelih ajam apa ‘perlu pakai golok kerbau?” berkata murid ini. ,,Soehoe, biarkan teetjoe jang madju!” Ia lantas menuding dengan pedangnja dan berkata : „Kau hendak tanja aku dapat mewakili sipemilik atau tidak ? Nah, kau tanjalah dulu dia ini!” Dia menundjuk pedangnja itu.
Penunggang kuda itu terbangun bulu alisnja. Ia buka mantelnja lalu lemparkannja, tetapi berbareng dengan itu ia memperdengarkan siulan njaring, Siulan ini mendapat sambutan dari empat pendjuru, dari mana lantas muntjul belasan orang : ada jang menunggang kuda, ada jang berdjalan kaki, semuanja berdandan ringkas dan membekal sendjata tadjam.
Tidak ketjewa Tjeng Loen mendjadi piauwsoe ulung. Suasana sangat mengantjam, tapi ia dapat berlaku tenang. Dengan sebat ia perintahkan semua serdadu dan kuli berkumpul membentuk satu. lingkaran dengan didalamnja sinona puteri tiehoe terkurung berikut semua petikulit dan barang lainnja. Dengan tjekal goloknja dan mengepal-ngepal bidji buah tohnja, ia berdiri diluar kurungan.
In Soeya silitjin dan litjik berdjongkok ditanah, mukanja putjat sekali.
Boe Djin Tjoen dan sipenunggang kuda sudah lantas bergebrak. Setelah beberapa djurus, mendadak begal itu menikam lengan kanan sipiauwsoe, Sebat serangannja itu.
Djin Tjoen berkelit setengah kaki, sambil perkelit, ia menangkis, dalam gerakan ,,harimau mendjaga pintu”.
„Bagus !” berseru silawan, jang terus hensulanei tikamannja, kali ini kedada, Ia geser kaki Rename untuk nwonagisiblect tikamannja itu.
Djin Tjoen berkelit kekanan, terus ia overuntes tubuh, pedangnja dipakai membabat kearah leher. Tapi lawan itu, sambil mendak, bisa menangkis, maka kedua pedang benterok satu dengan lain, keras dan njaring suranja. Menjusul itu, keduanja sama2 lompat memisahkan diri.
Djin Tjoen periksa pedangnja. Untuk kagetnja udjung pedang gompal.
Sipenunggang kuda, jang djuga memeriksa sendjatanja, agaknja pun terkedjut.
Kemudian keduanja saling mengawasi, untuk madju pula, Kali ini Djin Tjoen keluarkan ilmu pedang ,,Kieboen Sipsam-kian”, {{hws|ka|karena}}<noinclude>{{r|39}}</noinclude>
90jp49t3a2gxo5am57xu28sodldyufo
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 01.pdf/43
104
53933
319992
152970
2026-10-07T10:31:37Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
319992
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{hwe|rena|karena}} ia hendak lajani sungguh² begal itu jang tak dapat ia pandang enteng.
Pertempuran berdjalan seru. Untuk sesaat itu, tak tahu siapa bakal menang atau kalah.
Tjian Tjeng Loen menjaksikan sekian lama, ia mendjadi tidak sabar. Ia tentu sudah lantas turun tangan kalau ia tidak segera dengar suara benteroknja sendjata dan berkelebatnja suatu sinar putih mengkilap. Itulah sebilah pedang, jang seperti terbang melajang, terpental djatuh kesawah gandum. Menjusul itu sipenunggang kuda mentjelat kebelakang, rupanja hendak lompat naik keatas kudanja. Sebaliknja Boe Djin Tjoen, dengan kertak gigi, telah lantas lompat menjusul,, udjung pedangnja diarahkan tjepat kebelakang lawannja dibagian pinggang.
Orang itu tidak mendjadi kaget atau bingung agen susulan itu. Dia masih sempat menggeser tubuhnja kesamping kiri, hampir berbareng dengan mana, kaki kanannja terangkat naik, melajang kearah lengan Djin Tjoen jang mentjekal pedang itu.
Dalam keadaan seperti itu, Djin Tjoen tidak berdaja untuk mundur atau njamping : ia menarik pulang tangan kanannja sambil dengan tangan kirinja mentjoba menangkap kaki kanan silawan, untuk terus ditolak keras dibarengi dengan suatu seruan.
Kali ini penunggang kuda itu tak dapat berdaja lagi. Ia roboh terdjengkang djauhnja tudjuh atau delapan kaki.
Tjeng Loen girang’ menjaksikan muridnja menang. Sambil tertawa, dengan temberang, ia menantang. ,,Dengan kepandaian matjam jini kamu hendak mendjadi begal! Hm! Hajo, diantara kamu belasan orang, adakah jang berani madju pula ?”
„Djangan temberang dahulu, sahabat!” suatu suara menjambut selagi suard piauwsoe itu belum lagi sirap, lalu satu tubuh jang besar lompat kearah Boe Djin Tjoen jang segera diserang dengan bee-geetjie, itu sendjata sematjam roskam kuda.
Bee-gee–tjie itu adalah sendjata istimewa dari Tian Tjoen, guru silat kenamaan dari Tjhong-Tjioe. Adalah kemudian, setelah tju-tjunja, Tan Tiauw Hoan merantau kekota Pakkhia dan sekitarnja, baru ilmu silat itu tersiar diantara orang Iuar.
Segera djuga Boe Djin Tjoen kena terdesak. Ia merasa sulit melajani sendjata jang djarang ada itu, ditambah petjundangnja tadi, jang telah merajap bangun, madju menjerbu pula, Dia sekarang memegang sebatang tombak pandjang dan dia madju bersama kawan²nja.<noinclude>{{left|40}}</noinclude>
neoe2q1xxnns93thxfh170ffptljst6
Halaman:Perahu Madura.pdf/48
104
71487
319937
205540
2026-10-07T05:54:59Z
Empat Tilda
13539
/* Tervalidasi */
319937
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Empat Tilda" /></noinclude>{{c|[[gambar:Jukung Gambringan.jpg|250px]]}}
'''{{c|Gambar 29}}'''
Jukung Gambringan di Sapudi banyak didapatkan di Kalowang mencapai 15 buah, sedang di Gili Yang hanya singgah saja. Apabila jukung ini disebut "pancingan" artinya sampan untuk mancing. Pan singkatan dari Sampan.
# JUKUNG PAGUR
Jukung Pagur (ada juga yang menyebut Pakor) adalah jukung kecil yang diberi cadik pada sebelah sisinya saja. Jadi cadik sebelah ini sekaligus menjadi cirikhasnya. Jadi yang sebelah lagi tidak bercadik.
Istilah Maduranya "kater salaja".
Jukong Pagur hanya untuk memancing atau menjaring, baik menangkap ikan ataupun udang didekat pantai. Karena ber "kater salaja", imbangan berat, layar, ataupun muatan kearah cadiknya. Jukong Pagur pada umumnya dipakai untuk 2 orang saja. Bentuk jukung Pagur sebagai berikut:
{{c|[[gambar:Jukung Pagur.jpg|250px]]}}
'''{{c|Gambar 30}}'''<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude>
h54aq5z4vh9wzpig9qg41u8zbrncleh
Halaman:137 To Padoe.djvu/10
104
115996
319900
2026-10-06T12:00:34Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319900
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
977. woelå<br>
979. tīmara<br>
981. poengkasī<br>
982. kōmalē<br>
984. halō<br>
985. paloe<br>
986. tonrōha<br>
987. kasī<br>
988. halō mōtaha<br>
989. mō'aha<br>
991. <51><br>
992. mō'oengkē mō'īkōnō <52><br>
993. mēmō'ikō<br>
994. mēdànrī (mēsakōī)<br>
995. padàngka <53><br>
996. poempēlērē<br>
999. walī<br>
1000. walī<br>
1001. raha pē'ōlīja <53><br>
1002. ōloe<br>
1003. mē'ōlī<br>
1004. aga aga īnasa<br>
<br>
1005. seoe<br>
1007. ōlī<br>
1008. ōlējo<br>
1009. roegī<br>
1010. mō'ōlī<br>
1011. masoelī<br>
1012. masēmbō<br>
1013. pasoewa<br>
1014. mōnsīnga<br>
1015. mōbara<br>
1016. mō'asa<br>
1017/<br>
1018. mō'oeta<br>
1019. mē'ējo<br>
1020. tīnawarī<br>
1021. mōmpē'īnījakō<br>
1022. māntawarī <54><br>
1025. katī<br>
1026. <55><br>
1029. kàpàlà padàngka
{{multicol-break}}
1030. kàpàlà īwalī<br>
1031. kàpàlà apī<br>
1032. sīkōsīkōtjī<br>
1033. bàngka <56<br>
1035. lōlōsoe<br>
1037. somba <57><br>
1038. oelī<br>
1040. daēloe<br>
1041/<br>
1042. ēngaroe, mō'ēngaroe<br>
1043. mēbōsē<br>
1049. balàngō<br>
1050. bàngka rī nàngkē<br>
1051. pēlaboea<br>
1052. modompa, tēlōlō<br>
1053. pagōra rī tahī<br>
1058. pagōra mīja<br>
1060. mōbara pasoea<br>
1061. làngkaī<br>
1062. ōtēdē<br>
1063. onraoe<br>
1064. tēhīnē<br>
1065. ōwōwa<br>
1066. saraī<br>
1067. mēwalō<br>
1068. mōkapa<br>
1070. mōnīpī<br>
1071. mōroengkoe<br>
1072-<br>
1074. mēwalō<br>
1075. tēkō tēkō nanō<br>
1076. mīja ōtēdē<br>
1079. mōkoea<br>
1080/<br>
1081. làmpoe<br>
1082. mōkōkō'ī<br>
1083/<br>
1084. oenralō<br>
1085/<br>
1086. ōwōwa<br>
1087. onraoe<br>
1088. ōwōwa<br>
1089. mōlējō
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
gq1yq0cleeaqk03c566owforf9hvfr0
Halaman:137 To Padoe.djvu/9
104
115997
319901
2026-10-06T12:12:23Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319901
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
851. tēhoe wana<br>
852. tēhoe<br>
854. ǎnggaha <39><br>
861. gala <40><br>
865. lēndo<br>
866. koetoe<br>
869. koetoe ambaoe<br>
870. koetoe dahoe<br>
871. kangga<br>
872. lalē<br>
877. tīpōrō<br>
878. pōlå-pōlå<br>
879. oelē-oelē<br>
881. kōlēmpē<br>
884. kala-kala <41><br>
885. anē<br>
886. oelē <42><br>
888. ōlīpa<br>
891. oelē wīta<br>
892. bongko<br>
893. boengka<br>
894. kēha<br>
896. tongko<br>
898. tita<br>
899. kīmbohoe<br>
900. boewaēja<br>
901/<br>
902. kōlōpoea<br>
905. làngī<br>
906. mata ōlējo<br>
907. tēpōtowo woela ōlējō<br>
908. woela<br>
910. woela<br>
911. tepōtowo woela ōlējō<br>
912. tonggīmō <43><br>
917. wīta <44><br>
919. oesa<br>
920. ngōloe<br>
921. sēroe<br>
923. tōrōoewē<br>
924. roendoe<br>
925. ngīsī ngkōlīkī
{{multicol-break}}
927. lēloe<br>
928. oemangī<br>
929. mēlahoemōa<br>
930. wōī<br>
931. tahī<br>
932. wōī mōarē<br>
934. wōī oerē<br>
935. poewē<br>
936. ngīsī poewē<br>
937. lēngkōno<br>
938. mēwīwīntahē<br>
940. ōnē onraoe<br>
941. watoe tēnsīja <45><br>
942. wawōmbīta<br>
943. īnīja<br>
944. noeha<br>
945. ngongono wita<br>
946. tapoeno<br>
947. tamoengkoe<br>
948. tamoetamoengkoe<br>
950. mētī, mōntīndoeloe <46><br>
951. lēmbōno<br>
952. tīkōno<br>
955. wana <47><br>
957. wana <48><br>
959. sala<br>
960. lōmboe<br>
961. hànga karoe<br>
962. tīda<br>
963. la <49><br>
964. tētē<br>
965. tahaī<br>
966. īlo'aī<br>
967. mata wōī / oeloe wōī<br>
968. mowo<br>
969. watoe<br>
970. wīta<br>
971. ōnē<br>
973. laboe<br>
974. tambaga <50><br>
975. gasa<br>
976. salaka
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
jxrrjrnfdllpr3m7fj2jo45p3ua7zjt
Halaman:137 To Padoe.djvu/8
104
115998
319902
2026-10-06T12:17:31Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319902
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
712. gampoe sēra <28><br>
713. langsa<br>
716. poentī<br>
717. poentī bàngē<br>
720. lēmō tjīna <10><br>
721. lēmo bēnoe<br>
722. lēmō nīpī <29><br>
723. kawa<br>
724. poe'oe gawoe<br>
725. gawoe<br>
726. gata<br>
727. koedoe<br>
728. toewīla<br>
729. koenī<br>
731. laoerō<br>
732. toelambatoe<br>
733. rōboe<br>
734. kejoe<br>
737. <30><br>
739/<br>
740. tangkē<br>
741. oentono<br>
742-<br>
744. haka <31><br>
746. lēwē<br>
748. koelīngkejoe<br>
750. poeloe<br>
752. mīnama<br>
753. lēwēnō<br>
754. hoeloe<br>
755. hoeloe<br>
757. ànàngkejoe<br>
758. sīsī<br>
759. woea<br>
761. koelī<br>
763. woekoe<br>
764. īhī<br>
765. pa'a<br>
766. bōka<br>
770. sēkō<br>
771. sēkō<br>
772. lē
{{multicol-break}}
773. oerahō<br>
774. oelēnō wīta<br>
775. mōngoera <32><br>
778. īkī<br>
779. karoe<br>
780. koekoe<br>
781. koekoe<br>
786. panī<br>
787. woeloe<br>
789. tōroeī<br>
790. soe'oeloewī<br>
794. bontī<br>
797. mō'oro<br>
799. bēmbē <10><br>
800-<br>
802. ambaoe<br>
803. oenoewa waī<br>
804. oenoewa lakī<br>
805. koemī <33><br>
806. mē'āngēlī<br>
807. ngara <34><br>
808. mōoenī ngara<br>
809. roesa<br>
811. dahoe<br>
812. hoemōpa<br>
813. ngēgo<br>
824. <35><br>
814. mengejolī<br>
825. kaka-kaka <36><br>
826. manoe<br>
827. sīo-sīo <37><br>
828. manoe waī<br>
830. manoe lakī<br>
831. lēngkē tarēja<br>
834. kēja-kēja<br>
835. koeloerī lahoemōa<br>
836. manoe2 lahoemōa<br>
840. koro<br>
843. sīngkō<br>
844. manoe manoe<br>
846. manoe2 mōnakō woe <38><br>
847. pōnīkī
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
53k885pp4n84zwry77utrb05o6q0bgj
Halaman:137 To Padoe.djvu/2
104
115999
319903
2026-10-06T12:24:29Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319903
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. TO PADOÉ LIST'''
{{multicol}}
1. kōrōī<br>
2. oeloe<br>
3. roepa<br>
4. ra'ī<br>
5. bangko oeloe<br>
6. woe<br>
8. palēlo<br>
9. bīrī<br>
11. mata<br>
15. gīrē<br>
17. wôī mata<br>
18. ēngē<br>
20. ngoeroe<br>
21. kōmpīsī<br>
22. wīwī<br>
25. wīwī<br>
27. woeloe soеmī<br>
28. danggo<br>
29. asē<br>
30. ganggo<br>
31. ēlo<br>
32. doko2<br>
33. ngīsī<br>
34. pōngaī<br>
35. sangīra<br>
33/<br>
35. ngīsī<br>
37. boeroko<br>
38. wē'oe<br>
41. oewo<br>
42. oewo<br>
45. tapoe oewo<br>
46. wōī oewo<br>
48. mō'oewo<br>
50. woeko ōraha<br>
52. larō<br>
53. harō kōmpō<br>
54. kōmpō<br>
56. atē<br>
57. we mōrīnī
{{multicol-break}}
61. poehē<br>
62. poehē onraoe<br>
63. boengkoe<br>
66. ōwējah<br>
68. woekoempoerī<br>
69. woekoempoerī<br>
70. dēngoe²<br>
72. tēta’ī<br>
73. ta’ī<br>
75. tēboe<br>
76. mēwô<br>
77. lahoe<br>
78. bīja<br>
82. tē'ēmē<br>
83. ēmē<br>
84. karoe<br>
86. karoe<br>
88. lēdoe<br>
90. pà'a<br>
91. ōlōntôe<br>
93. wītī<br>
94. larī<br>
95. kaē<br>
97. kaē<br>
99. kēkē<br>
100. hī<br>
102. pēling kaē<br>
105. gamō kaē<br>
107. koekoe<br>
108. īnē ngkaē<br>
109. tō nīsō kaē<br>
110. datoe ngkaē<br>
111. kae pesīngsia<br>
112. ànà ngkaē<br>
115. woekoe<br>
116. rēja<br>
117. īhī<br>
118. oerē<br>
121. koelī<br>
122. woeloe2
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
6yukpksih1l9shovaxnx7ls09zilytw
Halaman:137 To Padoe.djvu/3
104
116000
319904
2026-10-06T12:59:58Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319904
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
123. woeloe²<br>
124. mōkō īsō<br>
125. oenoewī<br>
126. hēnggē<br>
127. mēnâ<br>
128. mōngka<br>
129. mōkōnīnggō<br>
130. mō'īnō<br>
131. mōlàngoe<br>
132. mōkōrō'oe<br>
133. mōwōhī<br>
134. mōwōhī<br>
137. mōntēlē<br>
138. mōtoerī<br>
139. īpī<br>
140. mō'īpī<br>
144. mentadē<br>
145. mēlēmpa<br>
146. kōlēnga-lēnga<br>
147. mē'ōpō<br>
148. mēlēndō-lēndō<br>
149. mēntōrō<br>
150. mēntōrō to loewoe <1><br>
151. mentōrō mēlēpa <2><br>
152. mētanda-tanda<br>
153. noemangī<br>
154. mēdōlō<br>
156. parē'ēlō<br>
157. mēhēnggē<br>
158. nganga<br>
159. mōparō<br>
160. kōra-kōra<br>
161. mēngingīsī<br>
163. mēbê<br>
165. kōmōmō<br>
166. mēna langkaī<br>
167. oenoewī<br>
169. atīho<br>
170. mēhēnggē-hēnggē<br>
172. mōhōdoe<br>
173. mōhōdoe
{{multicol-break}}
174. tēgomo olo<br>
176. mōmâ<br>
177. mē'īnroe<br>
182. toewoe<br>
183. matē<br>
188. mīja matē<br>
191. kōboeroe<br>
192. mēpatē, pīnē patē<br>
193. malaoe tampoe'oe<br>
194. tampoe'oe <3><br>
196. bēla<br>
197. bōbō<br>
198. lara<br>
199. mahakī<br>
200. mahakī<br>
202. mōtēja-tēja<br>
203. kàmba<br>
205. makoela<br>
207. mahakī kōmpō<br>
209. mōrēngkē<br>
210. wēoewē<br>
211. oewē rombo<br>
214. bōbō<br>
219. mahakī oeloe<br>
220. mōngīloe<br>
222. hōpoenō<br>
223. mōnggē<br>
224. mōkaloe<br>
225. nahīpōlī<br>
227. bēbē<br>
228. màbongo<br>
229. mōdōlē<br>
231. sīmparērē<br>
232. motējaòmò<br>
234. pakoelī <4><br>
235. sànrō<br>
236. mīja<br>
237. mīja<br>
238. mīja<br>
239. nē<br>
240. pēnēja
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
cf1huu9igl5cg5kzu6wumctmih4py9n
Halaman:137 To Padoe.djvu/4
104
116001
319905
2026-10-06T13:04:26Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319905
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
241. tama<br>
242. tīna<br>
243. tama<br>
244. lakī² <5><br>
245. īrōwaī<br>
246. waīnō<br>
248. mōloewale<br>
250. ànà tama<br>
252. ànà īrowaī<br>
255. ama<br>
256. īnē<br>
257. ambà ànà<br>
258. ànà tōmpasoesoe<br>
261. ànà tama<br>
262. ànà īrōwaî<br>
263. wē tama<br>
264. wē īrōwaī<br>
266. wē<br>
267. wē<br>
268. pētīja tama<br>
269. pētīja īrōwaī<br>
270. àka tama<br>
271. àka īrōwaî<br>
272. wai tama<br>
273. wai īrōwaī<br>
274. wē<br>
275. mama rī ama<br>
276. mama rī īnē<br>
277. mama rī ama<br>
278. mama rī ama<br>
279. mama rī ine<br>
280. mama rī ine<br>
281. naīna rī ama<br>
282. naīna rī īnē<br>
283. naīna rī ama<br>
284. naīna rī ama<br>
285. naīna rī īnē<br>
286. naīna rī īnē<br>
287/<br>
290. lakī'ànà tama<br>
291-<br>
294. lakī'ànà īrōwaī
{{multicol-break}}
295. pōtē hampō hōna tama<br>
296. pōtē hampō hōna īrōwaī<br>
297. pōnī<br>
298. pōlēlē<br>
299. pōnī<br>
300. pōnī<br>
302. pōrō ànà tama<br>
303. pōrō ànà īrōwaī<br>
302/<br>
303. pōrō ànà<br>
304. <6><br>
305. ānā pīnōtoewoe<br>
306-<br>
309. ōlēō tama<br>
310. ōlēō tama<br>
311-<br>
314. ōlēō irawaī<br>
315. pē'ētoe<br>
316. nahī pē'ētoe<br>
317. sōmbōrīkoe<br>
318. sōmbōrīkoe<br>
320. walī<br>
323. mīja hawō<br>
324. mīja hawē, mīja soesoewa<br>
326. īnīja<br>
327. īnīja (īnīja tampoe'oe)<br>
329. īnīja ōtēdē<br>
330. mīja<br>
331. sànrō<br>
332. tīnangkī<br>
333. tīnangkī<br>
334. tīnangkī<br>
337. pēlahoemōa<br>
338. soеī<br>
339. pōpō <7><br>
340. sangea<br>
341. oenītoe <8><br>
343/<br>
344. pēnā<br>
345. lahoemōa <9><br>
347. mēsomba<br>
351. oekī <10><br>
353. sanggalēja
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
tu3g36oum4tkkqezti9nwec1knxa9wb
Halaman:PDIKM 700-06 Majalah Aboean Goeroe-Goeroe Juni 1931.pdf/1
104
116002
319906
2026-10-06T13:10:30Z
Tegar Adi Pranata
27732
/* Bermasalah */
319906
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Tegar Adi Pranata" /></noinclude>TAHOEN Xi.
JUNI 1931
Nomoi< 6.
Orgaan oentoek pemadjoekan Onderwijs, bahasa dan bangsa.
RED.kC rEUR :
MAHJOE'DDIN
Ngaraiweg-FORT DE KOCK.
ADMINISTRATI2
SOETAN SA
Stormparkweg—
MAWAR.
MINAW
Koentjoep terboeka,
Disinar pagi ;
Machloek berdoeka,
Goenoeng didaki.
Sebatang rnawar,
Diatas goenoeng ;
Mengharoem tawar,
Koembang merenoeng.
Banjak sengsara,
Menanggoeng lara ;
Mendaki goenoeng,
Mawar ditenoeng.
Kaki dikait,
Onak dan doeri ;
Kehidoepan pahit,
Menelan diri.
Mawar dipetik,
Soentingan boediman ;
Haroem mengetik,
Negara aman.
Koentoem dipeloek,
Pokok dipoepoek ;
Dirongga hati,
Tersimpoel mati.
YOGI<noinclude></noinclude>
ne1px8w261r2v8oklasfzu4bcitwkej
Halaman:137 To Padoe.djvu/5
104
116003
319907
2026-10-06T13:14:22Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319907
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
354. soera<br>
355. bōō <10><br>
356. oemana<br>
358. manī<br>
359. nanīno<br>
362. <11><br>
363. <11><br>
364. <11><br>
365. īhī īnīja<br>
366. ōlējō lēmboeī<br>
367. mōmbē wēòè (mō'īkō)<br>
368. mēpōpalī<br>
369. mē'oepalī<br>
370. oepālī<br>
371. sanrō tama<br>
372. sanrō īrōwaī<br>
374. lōbō<br>
375. pō'ijanganō sangīja<br>
377. bàntaja<br>
378. oewētō <12><br>
381. pongkījarī<br>
382. pō ījangō mē'ōnitoe<br>
386. mahōla<br>
388. ànà oewētō<br>
389. mīja mōtoe'a<br>
390. poempōnga'è<br>
391. mēoera<br>
392. ōerēsaoe<br>
393. īhī īnīja<br>
394. àta<br>
396. gaoe<br>
397. mīja ntēhala<br>
399. mōmpēhala <13><br>
400. dōsa<br>
401. sabī<br>
402. mīja toemō'orījo īnīja<br>
403. àta mēpasōewa<br>
404. pētējōwa <14><br>
407/<br>
408. mērīsō<br>
410. tepoewoe'ōlī<br>
411. somba
{{multicol-break}}
412. mēsambōra<br>
413. mē'ànà<br>
414. sanrō mề nànà<br>
415. ōsoewī<br>
416. sōdīlō<br>
417. mīja monsadō <15><br>
418. saroengka<br>
419. santoe <16><br>
420. sīlōlī<br>
421. sīngkala<br>
422. boerō-boerō<br>
424. nīnīntī<br>
428. monsadō<br>
430. sīnggoeroe<br>
432. mēpalīpalīndō<br>
433. hoelē<br>
437. raha<br>
438. la'īla'īka<br>
440. pētoewoe<br>
441/<br>
442. atō<br>
446. kahō<br>
449. tondo<br>
451. pētangōa<br>
452. tompa<br>
453. ēnsa<br>
454. ēnsa <17><br>
456. hora balō<br>
457. horo kejoe<br>
458. rērē dōpī<br>
459. rērē balō<br>
461. karoe<br>
462. tambē<br>
464. rērē rērē<br>
465. pōtoerīa<br>
468. ompe<br>
469. pa'oeloewa<br>
470. dasa dasa<br>
471. toto<br>
472. toekē<br>
473. tapâ<br>
474. awoe
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
6fokhwfy7aq9qjro98p2374amo3r6s2
Halaman:Seroehan dan peringetan oentoek marika jang masih tetep menghargain Sam Kauw atawa agama Tionghoa.pdf/5
104
116004
319908
2026-10-06T13:18:22Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319908
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude> '''TOEDJOEANNJA INI BOEKOE.'''
Dalem taon-taon jang paling belakang ini, berhoeboeng dengen kerasnja gerakan dari beberapa kaoem agama jang hendak mentjari penganoet antara orang Tionghoa, pada golongan jang masih soedjoet pada Sam Kauw atawa Agama dari loeloehoerja sendiri ada timboel kainginan aken perkoeatken dan memadjoeken Agama Tionghoa soepaja tida terdesek kabelakang. Tapi sampe sabagitoe djoe iaorang belon bisa ambil satoe tindakan jang tetep dan tjotjok goena sampeken itoe maksoed.
Maka itoe kita merasa perloe boeat terbitken ini bokoe ketjil dalem mana ada dimoeat beberapa katerangan dan pengoendjoekan ka itoe djoeroesan, dengen pengharepan kaloe-kaloe ada goenanja bagi siapa jang berkepentingan.
K. T. H.
Tjitjoeroeg; 15-9-'41.
<big>Oentoek Marika Jang Masih Tetep Menghargain San Kauw atawa Agama Tionghoa</big>
Soedara sekalian!
Ini toelisan boekan ditoedjoeken pada siapa jang tidanperna mperhatikan soeal agama, oepatjara dan adat-istiadat toeroen-menoereon, boeat mana masing-masing orang ada merdika memake atoeran dan pikiran sendiri.
Djoega boekan boeat disampeken pada orang jang soedah menganoet atawa merasa ketarik pada Kristen, Islam, atawa agama laen lagi, jang menjebabken marika merasa tida perloe perhatiken pada Agama Tionghoa jang berasal dari leloehoernja sendiri.
1<noinclude></noinclude>
g9mh5r2tcvzv09bn80swx6uo08quqca
Halaman:137 To Padoe.djvu/6
104
116005
319909
2026-10-06T13:23:19Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319909
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
475. apī<br>
476. mēngka apī<br>
477. mōmpōtoe apī<br>
478. mēpatējō apī<br>
482. ahoe<br>
483. awoe<br>
484. kejoe toenoewa<br>
485. <18><br>
486. mēpatējō <19><br>
487. toto (nraha)<br>
488. koelamboe<br>
489. pō'ījanga mēntōrō<br>
493. pamoetoe laboe<br>
494. pamoetoe wīta<br>
495/<br>
496. koerō mala,<br>{{gap}}koerō wīta <20><br>
497. sēmpē<br>
498. kàngkīrī<br>
499. gōlēta<br>
501. sēmpē wīta langkaī<br>
502. sēmpē wīta ātēdē<br>
503. sēmpē mala<br>
505. pīsō <21><br>
506. ōwoe <22><br>
507. tobo<br>
508. kawali<br>
509. nramoe<br>
510. sīroe(k)<br>
511. hōloewē<br>
513. mō'ala wāī<br>
514. <23><br>
515. lantēra<br>
516. soemboe<br>
517. hoeloekī<br>
519. tabala<br>
520. tabala<br>
522. koesī pīnda<br>
524. koesī<br>
525-<br>
527. mātaha<br>
528. mōbētē<br>
{{multicol-break}}<br>
529. mōtoenō<br>
530. mōntapoē<br>
534. kanga<br>
535. tahīnē<br>
536. pongka<br>
537. īnahoe<br>
539. baoe momata<br>
540. īnomba<br>
541. bō'oe<br>
543. paè<br>
544. mōrīna<br>
545. kīnâ<br>
546. paè<br>
547. poepoe<br>
548. tangkē paè<br>
549. sī'ē<br>
550. nōhoe<br>
551. aloe<br>
553. doekoe<br>
554. ōta<br>
555. mōlēloe<br>
561. pīne'oewō<br>
562. mārītja<br>
563. ōhīja<br>
565. hawoe<br>
567. saloeara <10><br>
569/<br>
570. lamboe-lamboe<br>
571/<br>
572. pasapoe <10><br>
573. kàngkalī<br>
576. sīngsī<br>
577/<br>
578. ōhōngkadoe<br>
579. bala-bala<br>
580. langkō<br>
582. ǎmbīlī-bīlī<br>
583. tole-tolē<br>
586. pakàmba<br>
588. wē'ē<br>
589. balatoe ǎntōrå,<br>{{gap}}balatoe
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
gi6w7tnaqnkmya144uhbv9yw3px0b65
319910
319909
2026-10-06T13:23:57Z
Thersetya2021
15831
319910
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
475. apī<br>
476. mēngka apī<br>
477. mōmpōtoe apī<br>
478. mēpatējō apī<br>
482. ahoe<br>
483. awoe<br>
484. kejoe toenoewa<br>
485. <18><br>
486. mēpatējō <19><br>
487. toto (nraha)<br>
488. koelamboe<br>
489. pō'ījanga mēntōrō<br>
493. pamoetoe laboe<br>
494. pamoetoe wīta<br>
495/<br>
496. koerō mala,<br>{{gap}}koerō wīta <20><br>
497. sēmpē<br>
498. kàngkīrī<br>
499. gōlēta<br>
501. sēmpē wīta langkaī<br>
502. sēmpē wīta ātēdē<br>
503. sēmpē mala<br>
505. pīsō <21><br>
506. ōwoe <22><br>
507. tobo<br>
508. kawali<br>
509. nramoe<br>
510. sīroe(k)<br>
511. hōloewē<br>
513. mō'ala wāī<br>
514. <23><br>
515. lantēra<br>
516. soemboe<br>
517. hoeloekī<br>
519. tabala<br>
520. tabala<br>
522. koesī pīnda<br>
524. koesī<br>
525-<br>
527. mātaha<br>
528. mōbētē
{{multicol-break}}
529. mōtoenō<br>
530. mōntapoē<br>
534. kanga<br>
535. tahīnē<br>
536. pongka<br>
537. īnahoe<br>
539. baoe momata<br>
540. īnomba<br>
541. bō'oe<br>
543. paè<br>
544. mōrīna<br>
545. kīnâ<br>
546. paè<br>
547. poepoe<br>
548. tangkē paè<br>
549. sī'ē<br>
550. nōhoe<br>
551. aloe<br>
553. doekoe<br>
554. ōta<br>
555. mōlēloe<br>
561. pīne'oewō<br>
562. mārītja<br>
563. ōhīja<br>
565. hawoe<br>
567. saloeara <10><br>
569/<br>
570. lamboe-lamboe<br>
571/<br>
572. pasapoe <10><br>
573. kàngkalī<br>
576. sīngsī<br>
577/<br>
578. ōhōngkadoe<br>
579. bala-bala<br>
580. langkō<br>
582. ǎmbīlī-bīlī<br>
583. tole-tolē<br>
586. pakàmba<br>
588. wē'ē<br>
589. balatoe ǎntōrå,<br>{{gap}}balatoe
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
a289rgeq7h3e18o8l72a9kixlj9ln0q
Halaman:137 To Padoe.djvu/7
104
116006
319911
2026-10-06T13:29:44Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319911
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
590. pasēlē<br>
593. toemanoe<br>
594. daka<br>
595. walīda<br>
596. bana<br>
597. bana īhī<br>
600. mōmpīnī<br>
601. mōngkōlōrō<br>
602. kōlōrō<br>
603. bana<br>
604. mōnsīra gala, mōmpe oeloe<br>
608. pōnaī<br>
609. tampī<br>
611. talombo<br>
612. soempī<br>
613. bingkō2<br>
614. koloro<br>
615. lahoe<br>
616. po'ijanga <24><br>
617. kanta<br>
619. marīja gasa<br>
620. bàdīlī<br>
621. sadawa<br>
622. pēloeroe<br>
623. mēbàdīlī<br>
624. pangkōlēwatoe<br>
626. pēwalīja<br>
627. īwalī<br>
628. marīja<br>
629. mō'ala oeloe<br>
630. mōmbēwē mō'īkōnō <25><br>
631. bèntè<br>
634. kēnangī<br>
635. mōnangī<br>
636. mīja nīnangī<br>
637. tīnēna<br>
639. pōmpēlangkaī<br>
640. tīnàngkī<br>
645. tasoe<br>
648. saīra<br>
651. sàwì
{{multicol-break}}
652. bīngkoe<br>
653. lērē<br>
654. galoe <10><br>
655. lērē<br>
657. parīkī<br>
659. wala<br>
660. pīnō pahō<br>
662/<br>
663. mōhawī<br>
664. sīnēsa, wae īnahoe <26><br>
668. mōtaha<br>
669. mōmata<br>
671/<br>
672. mēsāwi, mōmaroe<br>
674. solēdawa<br>
677. lawoe'ē<br>
679. soewaī<br>
681. tambakō<br>
682. tāwoe<br>
684. lasoena<br>
685. takoe2<br>
686. kandora<br>
688. kasoebī<br>
690. lada<br>
691. poe'oe bēnoe<br>
692. benoe<br>
695. kanaoe<br>
696. lontara<br>
697. sīnarī mō'ahī<br>
698. soeka <27><br>
700. woī mō'ahī<br>
701. gōla<br>
702. lolēka<br>
703. poe'oe rōmbīja<br>
704. rōmbīja<br>
705. pīrangoe<br>
706. kawoe kawoe<br>
707. ponra<br>
708. taīpa<br>
709. nangka<br>
710. wīlatoe<br>
711. loerīa
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
cfqtjbzhrgupkcngcmt75y6gqpg7ijd
Halaman:137 To Padoe.djvu/16
104
116007
319912
2026-10-06T13:35:38Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319912
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="23"> bakī, bakī langkaī, bakī ātēdē<br>{{gap}} gambar{{gap}}the basket is round<br>
# go: koloro bingkō bīngkō etc.<br>
# to make peace<br>
# sinēsa (of rice)<br>woea inahoe (of vegetables and fruit)<br>
# = vinegar<br>
# = djamboe batoe<br>djamboe ajer: woea oesa<br>djamboe bol: woea soemonda<br>
# djeroek nipis<br>
# in a tree, into a house: mē'ēka<br>climb a mountain: mōrakē<br>
# one distinguishes only between large roots: haka langkaī, and small roots: haka ōtēdē<br>
# anaàmbaoe = buffalo calf, ànà ngara, ànà manoe etc.<br>
# sound made by deer<br>
# formerly one did not have horses<br>
# cinnamon <coloured?> pigeon: poete'a<br>large green pigeon (in Batavia: drěgěm): ta'oera<br>wood pigeon (děrooq = těkoekoer): oero-oero<br>small green pigeon: wēgī<br>
# = crow<br>
# sīo-sīo: newly hatched chick<br>
# bird which steals hair <?><br>
# koeoeh (a kind of marsupial) koehē<br>There is only one kind of monkey, viz., a black one with grey coloured lower arms and lower part of the body, and with a very short tail. There are also greyish-white ones, but they belong to the same species.<noinclude></noinclude>
fnic4mqfs83dayj0qyatdqviue8fulc
Halaman:Seroehan dan peringetan oentoek marika jang masih tetep menghargain Sam Kauw atawa agama Tionghoa.pdf/6
104
116008
319913
2026-10-06T14:22:29Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319913
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude> '''SAM KAUW'''
Kita poenja maksoed adalah boeat bitjara pada soedara-soedara jang masih memelok, menghargaken dan mendjoengjoeng tinggi Sam Kauw, jaitoe peladjaran dari Khong Tjoe, Loo Tjoe dan Buddha, atawa pada kapertjaja'an agama, atoeran, oepatjara dan peradatan jang berada dalem lingkoengan Agama Tionghoa.
Djikaloe kaoe, soedara, masih termasoek dalem ini golongan, kita moehoen dengen hormat soepaja soeka memboeang sedikit tempo boeat batja dan timbang apa jang dibilang di bawah ini:
Soedara soedah memegang atawa memelok satoe agama atawa Peladjaran Batin dari lantaran merasa ada baek, bener, berfaedah dan mendateng keberkahan.
2
<big>BOEAT JANG HAROAIN AGAMA TIONOHOA.</big>
Lantaran ada kandoeng itoe perasa'an, maka pantes dan sawadjarnja djikaloe soedara ingin laen-laen orang, atawaq sedikitnja poen jang tinggal di dalem soedara poenja roemah,-istri, anak, tjoetjoe dan laen-laen familie di atas siapa soedara ada poenja pengaroeh - nanti bisa toeroet itjipin itoe. Seperti djikaloe soedara ada soeka pada samatjem makanan lantaran taoe ada baek, lezad dan bergoena oentoek kesehatan, sedikinja soedara ingin bagi atawa poedtjiken pada familie dan sobat-sobat jang tertjinta soepaja marika poen bisa toeroet mendahar dan menarik djoega kafaedahannja.
Tapi orang Tionghoa jang soedjoet Agama leloehoernja banjak jang boekan sadja tida soeka poedji-
3<noinclude></noinclude>
j3zgyjttlwtphmnrthldy523klomsll
319914
319913
2026-10-06T14:23:25Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319914
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude> '''SAM KAUW'''
Kita poenja maksoed adalah boeat bitjara pada soedara-soedara jang masih memelok, menghargaken dan mendjoengjoeng tinggi Sam Kauw, jaitoe peladjaran dari Khong Tjoe, Loo Tjoe dan Buddha, atawa pada kapertjaja'an agama, atoeran, oepatjara dan peradatan jang berada dalem lingkoengan Agama Tionghoa.
Djikaloe kaoe, soedara, masih termasoek dalem ini golongan, kita moehoen dengen hormat soepaja soeka memboeang sedikit tempo boeat batja dan timbang apa jang dibilang di bawah ini:
Soedara soedah memegang atawa memelok satoe agama atawa Peladjaran Batin dari lantaran merasa ada baek, bener, berfaedah dan mendateng keberkahan.
2
<big>BOEAT JANG HAROAIN AGAMA TIONOHOA.</big>
Lantaran ada kandoeng itoe perasa'an, maka pantes dan sawadjarnja djikaloe soedara ingin laen-laen orang, atawaq sedikitnja poen jang tinggal di dalem soedara poenja roemah,-istri, anak, tjoetjoe dan laen-laen familie di atas siapa soedara ada poenja pengaroeh - nanti bisa toeroet itjipin itoe. Seperti djikaloe soedara ada soeka pada samatjem makanan lantaran taoe ada baek, lezad dan bergoena oentoek kesehatan, sedikinja soedara ingin bagi atawa poedtjiken pada familie dan sobat-sobat jang tertjinta soepaja marika poen bisa toeroet mendahar dan menarik djoega kafaedahannja.
Tapi orang Tionghoa jang soedjoet Agama leloehoernja banjak jang boekan sadja tida soeka poedji-
3<noinclude></noinclude>
hlfsnnplq5qpcwhf0qwqevqx6ssn66d
319915
319914
2026-10-06T14:24:25Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319915
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude> '''SAM KAUW'''
Kita poenja maksoed adalah boeat bitjara pada soedara-soedara jang masih memelok, menghargaken dan mendjoengjoeng tinggi Sam Kauw, jaitoe peladjaran dari Khong Tjoe, Loo Tjoe dan Buddha, atawa pada kapertjaja'an agama, atoeran, oepatjara dan peradatan jang berada dalem lingkoengan Agama Tionghoa.
Djikaloe kaoe, soedara, masih termasoek dalem ini golongan, kita moehoen dengen hormat soepaja soeka memboeang sedikit tempo boeat batja dan timbang apa jang dibilang di bawah ini:
Soedara soedah memegang atawa memelok satoe agama atawa Peladjaran Batin dari lantaran merasa ada baek, bener, berfaedah dan mendateng keberkahan.
2
<big>BOEAT JANG HARGAIN AGAMA TIONGHOA.</big>
Lantaran ada kandoeng itoe perasa'an, maka pantes dan sawadjarnja djikaloe soedara ingin laen-laen orang, atawaq sedikitnja poen jang tinggal di dalem soedara poenja roemah,-istri, anak, tjoetjoe dan laen-laen familie di atas siapa soedara ada poenja pengaroeh - nanti bisa toeroet itjipin itoe. Seperti djikaloe soedara ada soeka pada samatjem makanan lantaran taoe ada baek, lezad dan bergoena oentoek kesehatan, sedikinja soedara ingin bagi atawa poedtjiken pada familie dan sobat-sobat jang tertjinta soepaja marika poen bisa toeroet mendahar dan menarik djoega kafaedahannja.
Tapi orang Tionghoa jang soedjoet Agama leloehoernja banjak jang boekan sadja tida soeka poedji-
3<noinclude></noinclude>
5vm0g0c38sypjuvpm64ehdob4wxj8ra
319916
319915
2026-10-06T14:26:31Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319916
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude> <big>SAM KAUW</big>
Kita poenja maksoed adalah boeat bitjara pada soedara-soedara jang masih memelok, menghargaken dan mendjoengjoeng tinggi Sam Kauw, jaitoe peladjaran dari Khong Tjoe, Loo Tjoe dan Buddha, atawa pada kapertjaja'an agama, atoeran, oepatjara dan peradatan jang berada dalem lingkoengan Agama Tionghoa.
Djikaloe kaoe, soedara, masih termasoek dalem ini golongan, kita moehoen dengen hormat soepaja soeka memboeang sedikit tempo boeat batja dan timbang apa jang dibilang di bawah ini:
Soedara soedah memegang atawa memelok satoe agama atawa Peladjaran Batin dari lantaran merasa ada baek, bener, berfaedah dan mendateng keberkahan.
2
<big>BOEAT JANG HARGAIN AGAMA TIONGHOA.</big>
Lantaran ada kandoeng itoe perasa'an, maka pantes dan sawadjarnja djikaloe soedara ingin laen-laen orang, atawaq sedikitnja poen jang tinggal di dalem soedara poenja roemah,-istri, anak, tjoetjoe dan laen-laen familie di atas siapa soedara ada poenja pengaroeh - nanti bisa toeroet itjipin itoe. Seperti djikaloe soedara ada soeka pada samatjem makanan lantaran taoe ada baek, lezad dan bergoena oentoek kesehatan, sedikinja soedara ingin bagi atawa poedtjiken pada familie dan sobat-sobat jang tertjinta soepaja marika poen bisa toeroet mendahar dan menarik djoega kafaedahannja.
Tapi orang Tionghoa jang soedjoet Agama leloehoernja banjak jang boekan sadja tida soeka poedji-
3<noinclude></noinclude>
ljvy927pkrsma45vvo2klzwmvg3phjf
Halaman:Seroehan dan peringetan oentoek marika jang masih tetep menghargain Sam Kauw atawa agama Tionghoa.pdf/7
104
116009
319917
2026-10-06T15:04:09Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319917
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude><big>SAM KAUW.</big>
ken dan andjoerin pada laen orang soepaja perhatikan itoe, malah pada familie atawa sobat jang tinggal dalem roemahnja poen banjak jang tida perna beri keterangan tentang maksoed dan toedjoeannja itoe agama jang ia anoet. Ini ka'alpa'an sabagian dari lantaran ''males'', sabagian lagi dari ''tida mengarti''.
Boeat golongan jang tida mengarti, kita maoe kasih taoe, bahoea sekarang ini soedah terbit boekoe-boekoe dan madjallah jang menerangken roepa-roepa hal jang berhoeboeng dengen Agama Tionghoa, dan Khong Tjoe, Loo Tjoe, kwan Im dan laen-laen lagi, dari mana orang bisa ''tambahken pengertiannja''. Djikaloe sendiri tida soeka atawa tida ada tempo aken mem-
4
<big>BOEAT JANG HARGAIN AGAMA TIONGHOA</big>
batja, boleh kasihken itoe boeat dibajta oleh orang-orang di dalem roemah dan sobat-sobat jang belon taoe. Dengen begitoe maski sendirianja tida poenja pengartian dan tida bisa tjerita apa-apa tentang itoe agama jang dipegang, ia poen bisa bantoe beri katerangan atas apa jang orang haroes taoe, malah dengen lebih djelas dari-pada djikaloe ia tjoba omong sendiri. Jang perloe hanja ia moesti ''ada poen'' itoe boekoe-boekoe tentang Sam Kauw dan Agama Tionghoa (seperti sasoeatoe orang Kristen ada Poenja Bijbel), boeat mana orang moesti kaloerken oewang. Tapi itoelah soedah moesti dan djamaknja. Orang Islam moesti kaloear oewang Poeasa dan Lebaran ; orang Kristen boeat Kerstmis dan laen-laen hari-raja
5<noinclude></noinclude>
bgtz00zu83y3lkr7j309w3wblvpws4k
319918
319917
2026-10-06T15:05:12Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319918
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude> <big>SAM KAUW.</big>
ken dan andjoerin pada laen orang soepaja perhatikan itoe, malah pada familie atawa sobat jang tinggal dalem roemahnja poen banjak jang tida perna beri keterangan tentang maksoed dan toedjoeannja itoe agama jang ia anoet. Ini ka'alpa'an sabagian dari lantaran ''males'', sabagian lagi dari ''tida mengarti''.
Boeat golongan jang tida mengarti, kita maoe kasih taoe, bahoea sekarang ini soedah terbit boekoe-boekoe dan madjallah jang menerangken roepa-roepa hal jang berhoeboeng dengen Agama Tionghoa, dan Khong Tjoe, Loo Tjoe, kwan Im dan laen-laen lagi, dari mana orang bisa ''tambahken pengertiannja''. Djikaloe sendiri tida soeka atawa tida ada tempo aken mem-
4
<big>BOEAT JANG HARGAIN AGAMA TIONGHOA</big>
batja, boleh kasihken itoe boeat dibajta oleh orang-orang di dalem roemah dan sobat-sobat jang belon taoe. Dengen begitoe maski sendirianja tida poenja pengartian dan tida bisa tjerita apa-apa tentang itoe agama jang dipegang, ia poen bisa bantoe beri katerangan atas apa jang orang haroes taoe, malah dengen lebih djelas dari-pada djikaloe ia tjoba omong sendiri. Jang perloe hanja ia moesti ''ada poen'' itoe boekoe-boekoe tentang Sam Kauw dan Agama Tionghoa (seperti sasoeatoe orang Kristen ada Poenja Bijbel), boeat mana orang moesti kaloerken oewang. Tapi itoelah soedah moesti dan djamaknja. Orang Islam moesti kaloear oewang Poeasa dan Lebaran ; orang Kristen boeat Kerstmis dan laen-laen hari-raja
5<noinclude></noinclude>
f4tg6flwtnt84vgu57p3zrnhtq120me
319919
319918
2026-10-06T15:06:06Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319919
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude> <big>SAM KAUW.</big>
ken dan andjoerin pada laen orang soepaja perhatikan itoe, malah pada familie atawa sobat jang tinggal dalem roemahnja poen banjak jang tida perna beri keterangan tentang maksoed dan toedjoeannja itoe agama jang ia anoet. Ini ka'alpa'an sabagian dari lantaran ''males'', sabagian lagi dari ''tida mengarti''.
Boeat golongan jang tida mengarti, kita maoe kasih taoe, bahoea sekarang ini soedah terbit boekoe-boekoe dan madjallah jang menerangken roepa-roepa hal jang berhoeboeng dengen Agama Tionghoa, dan Khong Tjoe, Loo Tjoe, kwan Im dan laen-laen lagi, dari mana orang bisa ''tambahken pengertiannja''. Djikaloe sendiri tida soeka atawa tida ada tempo aken mem-
4
<big>BOEAT JANG HARGAIN AGAMA TIONGHOA</big>
batja, boleh kasihken itoe boeat dibajta oleh orang-orang di dalem roemah dan sobat-sobat jang belon taoe. Dengen begitoe maski sendirianja tida poenja pengartian dan tida bisa tjerita apa-apa tentang itoe agama jang dipegang, ia poen bisa bantoe beri katerangan atas apa jang orang haroes taoe, malah dengen lebih djelas dari-pada djikaloe ia tjoba omong sendiri. Jang perloe hanja ia moesti ''ada poen'' itoe boekoe-boekoe tentang Sam Kauw dan Agama Tionghoa (seperti sasoeatoe orang Kristen ada Poenja Bijbel), boeat mana orang moesti kaloerken oewang. Tapi itoelah soedah moesti dan djamaknja. Orang Islam moesti kaloear oewang Poeasa dan Lebaran ; orang Kristen boeat Kerstmis dan laen-laen hari-raja
5<noinclude></noinclude>
a6fed7gevgyr5btplxtr3w19oo668za
Halaman:Seroehan dan peringetan oentoek marika jang masih tetep menghargain Sam Kauw atawa agama Tionghoa.pdf/8
104
116010
319920
2026-10-06T15:48:48Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319920
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude><big>SAM KAUW.</big>
Agama. Orang Tionghoa biasa odolin banjak oewang boeat sembahjang leloehoer tiga atawa ampat kalih satiap taon. Mengapakah soedara moesti merasa sajang dan keberatan sanget boeat kaloear goena membeli bokoe atawa madjallah (maandblad) jang memberinketerangan tentang itoe agama jang soedara pegang dan djoengdjoeng tinggi?
Terhadap golongan jang tida maoe bergerak atawa bertindak apa-apa boeat menjiarken atawa memberi keterangan tentang Agama Tionghoa tjoemah dari lantaran malesnja atawa tida maoe ambil poesing, kita hendak oendjoek disini bagaimana djelek kasoedahan dari itoe matjem sikep. Lantaran jang djadi kepala tinggal antepin dan tida maoe beriken penjoeloeh ata-
6
<big>BOEAT JANG HARGAIN AGAMA TIONGHOA</big>
wa pimpinan dalem oeroesan ka'agamaan, maka iapoenja istri dan anak-anak djadi gampang sekalih kena ''terboed'' atawa ''ketarik'' pada laen-laen agama jang penganoet-penganoet sanget radjin dan giat boeat bikin belon kenal tentang kabaekannja marika poenja agama. Begitoelah sekarang di mana-mana ada banjak sekalih orang Tionghoa, lelaki dan prampoen, jang soedah masoek Islam atawa Kristen, dan balikin belakang pada Agama dari leloehoernja, jang soedjoet dan pertjaja pada itoe Agama Tionghoa, tida meoe berdaja apa-apa boeat beri pimpinan dan kasihken katerangan.
7<noinclude></noinclude>
4dquq9gnog9oegm9ro791crqbztn9pa
319921
319920
2026-10-06T15:49:17Z
Aji Pratama 1A Agri
27770
/* Telah diuji baca */
319921
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Aji Pratama 1A Agri" /></noinclude><big>SAM KAUW.</big>
Agama. Orang Tionghoa biasa odolin banjak oewang boeat sembahjang leloehoer tiga atawa ampat kalih satiap taon. Mengapakah soedara moesti merasa sajang dan keberatan sanget boeat kaloear goena membeli bokoe atawa madjallah (maandblad) jang memberinketerangan tentang itoe agama jang soedara pegang dan djoengdjoeng tinggi?
Terhadap golongan jang tida maoe bergerak atawa bertindak apa-apa boeat menjiarken atawa memberi keterangan tentang Agama Tionghoa tjoemah dari lantaran malesnja atawa tida maoe ambil poesing, kita hendak oendjoek disini bagaimana djelek kasoedahan dari itoe matjem sikep. Lantaran jang djadi kepala tinggal antepin dan tida maoe beriken penjoeloeh ata-
6
<big>BOEAT JANG HARGAIN AGAMA TIONGHOA</big>
wa pimpinan dalem oeroesan ka'agamaan, maka iapoenja istri dan anak-anak djadi gampang sekalih kena ''terboed'' atawa ''ketarik'' pada laen-laen agama jang penganoet-penganoet sanget radjin dan giat boeat bikin belon kenal tentang kabaekannja marika poenja agama. Begitoelah sekarang di mana-mana ada banjak sekalih orang Tionghoa, lelaki dan prampoen, jang soedah masoek Islam atawa Kristen, dan balikin belakang pada Agama dari leloehoernja, jang soedjoet dan pertjaja pada itoe Agama Tionghoa, tida meoe berdaja apa-apa boeat beri pimpinan dan kasihken katerangan.
7<noinclude></noinclude>
qtlvavuix3xce06x778awygkpdq7ldc
Halaman:Cheng Ho Bahariawan Muslim Tangguh dari Tionghoa.pdf/1
104
116011
319922
2026-10-06T16:25:11Z
Arjuna Wahyu Saputra
27787
/* Telah diuji baca */
319922
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Arjuna Wahyu Saputra" /></noinclude>Dalam catatan sejarah Islam, nama Cheng Ho hampir saja terlupakan. Bahkan, dalam Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) tak terdapat sepatah kata pun yang menyinggung moyang Cheng Ho, kecuali kata-kata; "Cheng Ho berasal dari Provinsi Yunnan, dikenal sebagai Kasim San Bao". Padahal, ia adalah seorang bahariwan (pelayar) muslim terbesar pada masanya, bahkan sampai sekarang. Ada kesan kalau namanya sengaja ditenggelamkan oleh penguasa tertentu, sehingga generasi mendatang tidak bisa mengenalnya. Percay-akah Anda, jika dia adalah salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw.?
Menurut beberapa seja-rawan Tiongkok mo-dern, sebagai salah se-orang bahariwan dan laksama-na besar, Cheng Ho kurang di-perhatikan oleh para sejarawan pada dinasti feodal Tiongkok. Hal ini terjadi karena Cheng Ho adalah kasim (pelayan), dan kasim umumnya tak begitu dihargai di Tiongkok pada masa silam.
BIOGRAFI DAN PELAYARANNYA KE WILAYAH NUSANTARA
Cheng Ho berasal dari marga Ma, suku Hui yang mayoritas beragama Is-lam dan salah satu bangsa minoritas Tionghoa. Dia dilahirkan di desa He Dai, Kabupaten Kunyang. Propinsi Yunnan.<noinclude></noinclude>
a2kur49rfkih2anwv2aph975jaxcxl3
Halaman:Cheng Ho Bahariawan Muslim Tangguh dari Tionghoa.pdf/2
104
116012
319923
2026-10-06T17:04:46Z
Arjuna Wahyu Saputra
27787
/* Telah diuji baca */
319923
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Arjuna Wahyu Saputra" /></noinclude>ah, kakek, buyut dan seluruh’
“ song min yang ih mera He
kan ibadah haji.
sekarang, ec dp tng Sa
penganut agama Islam yang taat.
Menurnt catatan nisan yang dibuat oleh
Li Zhigang, ayah Cheng Ho bernama Ma
Haji (1344-1382) dan ibunya bernama Oen
Iperorarcawenea all ctene tal scala se
orang pelaut. Cheng Ho adalah anak ketiga
dari enam bersaudara. Satu lagi saudara laki-
Jaki Cheng Ho bemama Ma Wenming dan
sisanya adalah saudara perempuan. Dalam
ees
a mening: -
makamkan di Kam- [[Pengguna:Arjuna Wahyu Saputra|Arjuna Wahyu Saputra]] ([[Pembicaraan Pengguna:Arjuna Wahyu Saputra|bicara]])
Riles menemui rintangan, seperti hujan
‘berbeda-beda dari satu dae-
ere ke aaertl ia dan adat istiadat yang
beraneka ragam dani suku-suku bangsa yan;
pernah dilewatinya. Pengalaman sang ay:
inilah menjadi cambuk dan acuan moral yang
besar artinya bagi Cheng Ho di kemudian
hari,
Ketika usia Cheng Ho 12 tahun, Propinsi
‘Yunnan berhasil dikuasai oleh tentara Dinasti
Ming Thai Chu dari penguasa Raja Liang,
Dinasti Yuan (1206-1368). Pada saat itu
Cheng Ho dan sejumlah anak muda lainnya
ditawan. Delgen cara Kesar tay en see
dikebiri oleh tentara Ming. Cheng Ho lalu
mya ce ane Pri kasim atau sida-
sida intern di ista-
‘sering me-
nolong orang mis- |
kin. Karena itu ia sa~-
ngat disegani oleh
penduduk sekam-
Tatheng oad
‘seorang wanita yang
digunakan Grange ‘aan beeen
na. Tak lama ke-
mudian dia dise~
rahkan oleh Zhu
kaisar
pertama Dinasti ’
Ming kepada Zhu
Weieapt yang
sebagai
uh, Sejak itu)
Cheng Ho meman-
bertempur hingga
terjadinya pepe-
ramah tamah dan a
berbudi baik. rangan antara pihak Zhu Di dengan penguasa
Cheng Ho sendiri berwajah lebar dengan
hidung alis mata tegak, bermata
nen eee earpest harman
Jebih dari 10 j Hela Bain ayn:
i ya besar. Berotak tajam
Me SoratTS a
erjalanan naik haji ayahnya
aan
elama dalam perjalanan naik haji, ayz
pusat Dinasti Ming, Kaisar Zhu Yunwen.
Dalam pertempuran antara Zhu Di de-
ngan Zhu Yunwen, Cheng Ho berhasil me-
nunjukkan kepiawaiannya dalam berperang.
Karena jasanya, ia lalu diangkat sebagai kepa-
la kasim intern yang bertugas membangun
istana, menyediakan alat-alat istana, gudang
esdan lain sebagainya. ~
Pada awal abad ke-15, Kaisar Zhu Di me-
merintah anak buahnya supaya melakukan
pelayaran-pelayatan ke Samudra Hindia (Ba-
a), demi F memajukan persahabatan dan<noinclude></noinclude>
hr2dgbcx7j42iemgnfjxymd29xa01hy
Halaman:Permenakertrans 2-2012.pdf/26
104
116013
319924
2026-10-06T17:13:31Z
~2026-53847-26
27802
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Sebanyak 9 (sembilan) program kementerian untuk menunjang 4 (empat) prioritas nasional serta 2 (dua) prioritas bidang dirancang sejalan dengan kebijakan di RPJM 2010-2014 dengan pendanaan sebesar Rp. 18,833 trilliun selama periode 2010-2014. Melalui review Renstra ini dapat terlihat bahwa 9 (sembilan) program tersebut memiliki fleksibilitas dalam mengakomodasikan berbagai perubahan yang terjadi dan cukup mempengaruhi pembangunan bidang ketenagak...
319924
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="140.213.10.3" /></noinclude>Sebanyak 9 (sembilan) program kementerian untuk menunjang 4 (empat) prioritas
nasional serta 2 (dua) prioritas bidang dirancang sejalan dengan kebijakan di
RPJM 2010-2014 dengan pendanaan sebesar Rp. 18,833 trilliun selama periode
2010-2014. Melalui review Renstra ini dapat terlihat bahwa 9 (sembilan) program
tersebut memiliki fleksibilitas dalam mengakomodasikan berbagai perubahan
yang terjadi dan cukup mempengaruhi pembangunan bidang ketenagakerjaan
dan ketransmigrasian. Namun demikian, demi mempercepat pencapaian tujuan
tersebut diperlukan beberapa perbaikan dan untuk memenuhi kebutuhan seperti
itu, maka review Renstra ini disusun. Dengan adanya review Renstra ini,
diharapkan program dan kegiatan dapat dilaksanakan sesuai dengan target yang
telah ditentukan dan memberikan kontribusi kepada pembangunan bidang
ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 11 Januari 2012
MENTERI
TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
Drs. H. A. MUHAIMIN ISKANDAR, M.Si.
26<noinclude></noinclude>
d8xzzztv0xrkt5800blur9qeuabvt83
Halaman:Pandji Poestaka 1942-1943.pdf/38
104
116014
319925
2026-10-06T19:04:40Z
Tegar Adi Pranata
27732
/* Telah diuji baca */
319925
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Tegar Adi Pranata" /></noinclude> Holmes melémparkan tali lés kepada saja, dan melompat kebawah. ..Toeanlah jang kami kehendaki. Mana nona Violet Smith?" tanjanja.
,,Itoe poelalah jang hendak saja tanjakan kepada toean. Toean ada didalam kaharnja. Toean haroes tahoe, dimana dia sekarang ini."
,,Kahar ini bertemoe oléh ka mi ditengah djalan. Seorangpoen ta ada didalamnja. Kami berkendaraan balik kembali akan menolong perempoean itoe."
..Ja Allah jang mahamoerah! Ja Allah! apa 'akal saja," seroe orang itoe dengan poetoes asa. ,,Anak gadis itoe didalam tangan meréka soedah, didalam tangan Woodley binatang dan pendėta bangsat itoe. Marilah, kawan, marilah, djikalau sesoenggoehnja toean sahabat perempoean itoe. Ikoetlah saja dan kita haroes menolongnja, walau badan saja akan tinggal di Charlington Hall itoe."
Dengan segera ia berlari ke-dalam loebang dipagar itoe, sambil memegang pistol djoega ditangannja. Holmes mengikoet dia, dan sajapoen, sesoedah saja biarkan koeda makan roempoet ditepi djalan, menoeroet poela dibelakang Holmes.
,,Kesini dia laloe," katanja serta menoendjoekkan beberapa boeah djedjak.,,Hai kawan, berhentilah sebentar, siapakah jang terbaring didalam semak ini?"
Adapoen jang terbaring itoe ialah seorang anak jang ber'oemoer kira-kira enam belas tahoen. Ia berpakaian sebagai seorang toekang koeda. Ia me-nangkoep keboemi, loetoetnja diangkatnja keatas, dan dikepаlanja ada loeka besar. Anak itoe pingsan, tetapi masih hidoep. 1 Demi saja perhatikan loekanja itoe, njata kepada saja, bahwa toelangnja tiada kena.
,,Itoe si Peter, sais," kata orang itoe. Dialah jang mem-bawa anak gadis itoe. Nistjaja ia disérét oléh manoesia binatang itoe dan disakitinja demikian. Biarkanlah dia terbaring disitoe dahoeloe, sebab kita ta'kan djoe-ga dapat menolong dia sekarang ini. Akan tetapi anak perawan itoe barangkali dapat kita tolong dari pada bahaja jang sebesar-besarnja, jang dapat menimpa seorang perempoean."
Kami berlari sepandjang dja-lan ketjil, jang berkélok-kélok diantara pokok-pokok kajoe. Ke-tika kami telah sampai kedekat semak beloekar, jang mengeli-lingi roemah itoe, pada ketika itoe Holmespoen tegak berhenti, serta berkata :
,,Meréka itoe tiada poelang keroemah itoe. Ini djedjaknja kekiri---ni, dekat rimba ini!" kiri
,,Ha, itoe telah terpikir djoega oléh saja."
Sambil berkata demikian ter-dengarlah djerit seorang perem-djerit, jang gemetar ka-rena hébatnja, sampai kepada kami dari dalam pohon-pohon jang amat lebat. Tiba-tiba djerit itoe bertoekar dengan soeara jang perlahan-lahan.
,,Kesini, kesini, meréka itoe ada didjalan kebelakang itoe," seroe orang itoe, serta masoek kedalam semak beloekar...Ja. andjing jang penakoet! Ikoet saja, toean-toean! Terlambat, terlambat, ja Allah!"
Kami sampai ketempat jang lapang, jang dikelilingi oléh po-hon jang besar-besar. Pada sisi jang djaoeh sekali dibawah po-hon djati jang besar lagi rindang berdirilah tiga orang, jang gandjil roepanja. Seorang perem-poean, jaïtoe nona Smith, jang hampir hilang 'akal karena moe-loetnja ditoetoep dengan sapoe tangan. Dihadapannja berdiri se-orang bangsat, bedebah, sambil memasoekkan tangannja jang sebelah kedalam kotjéknja. Dan dengan tangannja jang sebelah lagi dipoetar-poetarnja seboeah tjamboek kahar jang berat. Dari segenap sikapnja njata kekasaran dan kesombongannja. Diantara kedoea meréka itoe berdiri seo-rang-orang toea, jang poetih tjambangnja, dan berpakaian hi-tam. Tentoe sadja kedoea meréka itoe telah dinikahkannja, sebab ketika kami datang itoe, dima-soekkannja boekoe chotbahnja kedalam kotjéknja, sambil mene-poek-nepoek poenggoeng mem-pelai laki-laki dan memohonkan bahagia baginja.
,,Merėka itoe telah kawin!" kata saja dengan gagap.
..Ajoeh," kata penoendjoek djalan kami, ajoeh!" Ia berlari dipétak roempoet dengan Holmes dan saja mengikoet dibelakang-nja. Ketika kami datang dekat itoe, perempoean jang moeda itoe bersandar kepokok pohon djati. Williamson, bekas pendéta itoe, memberi hormat kepada kami dengan édjéknja dan Woodley datang kepada kami, sambil tertawa gelak-gelak.
..Boléh kau tanggali tjambang-moe itoe, Bob," katanja. Boe-kankah akoe kenal kepadamoe. Benar, engkau dan kawan-ka-wanmoe itoe kebetoelan datang pada waktoenja, akan berkenal-an dengan njonja, Woodley."
Djawab penoendjoek djalan kami itoe tiada disangka-sangka. Tjambang hitam, jang mengoe-bahkan roepanja itoe, direng-goetkannja dan dilémparkannja ketanah. Sekarang tampaklah moekanja jang pandjang, poetjat dan bertjoekoer litjin-litjin itoe. Dengan segera diatjoekannja pis-tolnja kepada bangsat itoe, jang datang kepadanja dengan meme-gang tjamboek jang berbahaja itoe.
108 (Akan disamboeng).<noinclude></noinclude>
q26gy917ekagevrywn0x6opseca3fkn
Halaman:Pandji Poestaka 1942-1943.pdf/36
104
116015
319926
2026-10-06T19:21:10Z
Tegar Adi Pranata
27732
/* Telah diuji baca */
319926
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Tegar Adi Pranata" /></noinclude>FEUILLETON
_____________
_____________
ANAK PERAWAN DIDJALAN SOENJI
Karangan
A. CONAN DOYLE dimela orkan oleh N. St. ISKANDAR
3)
,,Roepanja anak gadis itoe di-dalam kesoesahan," kata Holmes. ketika ditoetoepnja soerat itoe. ..Perkara itoe makin mendjadi lebih soelit dari pada jang telah saja sangkakan. Akan tetapi saja ta'kan oendoer karena itoe, me-lainkan saja berniat hendak per-gi hari ini kesana dan hendak melihat, benar tidaknja theorie jang telah saja rėka didalam hati saja."
Pada hari itoe laroet malam baharoe Holmes balik keroe-mahnja di Baker-Street kembali. 'Adjaib, bibirnja petjah, moeka-nja bengkak-bengkak dan pa-kaiannja berloemoer loempoer. Akan tetapi roepanja ia riang sekali akan halnja sedemikian. dan beberapa kali ia tertawa sedang bertjeritera.
,,Engkau tahoe," katanja,
,,bahwa saja pandai bermain sport, jaïtoe bergoemoel. Kadang-kadang kepandaian itoe ada djoe-ga goenanja, oempamanja hari ini tentoe akan sedih kesoedahannja, djikalau sekiranja saja tidak pandai bergoemoel."
Saja minta kepadanja akan mentjeriterakan, apa jang terdjadi atas dirinja itoe.
..Saja sampai kekedai minoem-minocman didocsoen itoe, ja'ni kedai jang telah saja katakan ke-padamoe. Disitoe saja bertanja-tanjakan ini dan itoe. Tengah saja doedoek, diterangkan oléh orang kedai itoe kepada saja segala jang saja kehendaki, se-bab mémang ia soeka bertjakap-tjakap. Katanja, Williamson itoe bertjambang poetih dan ia hanja tinggal dengan beberapa orang pelajan sahadja didalam roemah itoe. Petjah kabar, bahwa ia itoe seorang pendéta, atau dahoeloe ia djadi pendéta, akan tetapi se-mendjak ia tinggal disitoe adalah beberapa kedjadian jang tiada baik bagi orang jang mendjabat pangkat jang moelia itoe. Dari pada pemeriksaan jang telah saja lakoekan, dapatlah saja ketahoei, bahwa sanja dahoeloe ada se-orang pendéta jang bernama Williamson dan dipetjat karena djahat kelakoeannja. Lain dari pada itoe ditjeriterakan oléh orang kedai itoe kepada saja, bahwa tiap-tiap hari Sabtoe te-tap ada datang kesana beberapa orang djamoe, orang jang kasar 'adatnja, toean --- lebih-lebih seorang toean jang mérah misai-nja, Woodley namanja, jang se-laloe bersama-sama dengan me-réka itoe. Baharoe hingga itoe pertjakapan kami, tiba-tiba ma-soeklah seorang-orang kedalam. Roepanja ia soedah minoem bir, dan segala pertjakapan kami itoe terdengar kepadanja. Dan ia ta' lain dari pada orang jang dite-rangkan orang kedai itoe.,,Siapa saja? Apa kehendak saja? Apa artinja segala pertanjaan itoe?" katanja dengan tiada berkepoе-toesan. Achirnja perkataannja itoe disoedahinja dengan tjoetji maki dan poekoelan, jang ta dapat saja élakkan belaka. Se-soedah itoe lebih énak lagi. Ka-mi. berkelahi, seorang lawan se-orang. Hasil perkelahian itoe bagi saja, sebagai kau lihat se-karang inilah, akan tetapi toean Woodley poelang dengan kahar.Demikianlah kesoedahan perdja-lanan saja. Dan saja haroes mengakoe, bahwa pendapatan saja ta' berapa lebihnja dari pada pendapatanmoe."
Hari Raboe kami beroléh soe-rat sepoetjoek lagi dari pada anak gadis itoe.
,,Toean ta'kan héran, toean Holmes," katanja didalam soerat itoe,,,mendengar, bahwa saja ta'kan bekerdja lagi diroemah toean Carruthers itoe. Gadji jang besarpoen ta' dapat menjenang-kan hati saja didalam keadaan saja sekarang ini. Hari Sabtoe saja pergi kekota dan ta' berniat lagi hendak balik kembali. Se-karang toean Carruthers telah mempoenjaï seboeah kahar; ma-ka bahaja didjalan jang soenji itoe laloe soedah, itoepoen djika sebenarnja ada bahaja disitoe.
Apa sebabnja jang teroetama maka saja berhenti, boekan ka-rena dengan perhoeboengan toean Carruthers, itoe tiada pen-ting benar, melainkan karena toean Woodley jang kebentjian itoe telah datang poela. Ia sela-loe kebentjian orang, tetapi saja lebih bentji lagi rasanja dari pada jang soedah-soedah, sebab roepanja ia telah beroléh tjelaka, dan segenap moekanja biroe lebam. Saja lihat dia dari djen-déla, akan tetapi saja bersenang hati sekali tiada bertemoe dengan dia. Lama betoel ia bertjakap-tjakap dengan toean Carruthers; dan achirnja toean Carruthers djadi amarah sangat. Roepanja Woodley semalam itoe tiada djaoeh dari tempat kami; ia tiada tidoer diroemah toean Car-ruthers, akan tetapi pagi tahadi dia telah kelihatan poela oléh saja, berdjalan melaloei keboen.Saja lebih soeka dilepaskan orang binatang liar dari pada mengetahoei, bahwa ia mengin-tai-intai disitoe. Saja amat bentji dan amat takoet kepadanja. Ba-gaimana toean Carruthers dapat menderita orang sematjam itoe barang seketika sahadja? Akan tetapi segala kekoeatiran hati saja itoe akan habis pada hari Sabtoe ini."
106<noinclude></noinclude>
3bu451gcsmg7wph8qx01tlngp2dpaae
Halaman:136 Sarmi.djvu/2
104
116016
319927
2026-10-07T02:19:57Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319927
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. SARMI LIST'''
{{multicol}}
1. těndir - dáforeh<br>
2. dárboem - sĕrráh<br>
3. somfoh<br>
4. rámom - sĕreh <sĕrah ?><br>
5. dárboem - sěrah tíwoh<br>
6. dáboem - ráoew<br>
8. dáboem - bosèsèh<br>
9. didémraw <1><br>
11. såhmǎnám <2><br>
12. sok - áhdieh<br>
13. soh - fiēdoh<br>
15. sómfīdoh<br>
17. somránih<br>
18. soemdárèh<br>
19. soem - fěnoh<br>
20. soemdár foh<br>
21. mǎtǎm - rápoh<br>
22. wárimfěná 'un<br>
25. wárimséwoh <síwoh ?><br>
27. wárim siwáfoh<br>
28. tarbom maih - fédoh<br>
29. tarbóm maih<br>
30. tarbom maih - fédoh<br>
31. madám támoh<br>
32. sěsnim bětérih<br>
34. sésnim - bětérih<br>
33/<br>
35. iwoem - mǎtá sáróh<br>
37. brohnimai<br>
38. bråhnimaih<br>
41. sisoh<br>
42. sisoh - rěbáhr<br>
45. sisoh - bádoh<br>
46. sisoh - ránih<br>
48. amoes sisoh - ránih<br>
50. kréh tiwoh<br>
52. fátioem - mǎfåh<br>
53. rāhrbòm<br>
54. měrohdiem<br>
56. běrbrōm<br>
57. nǎfsoehm
{{multicol-break}}
61. bǐsoem tíboh<br>
62. sináwrèh - wárioh<br>
63. dámtiwaih<br>
66. dajoem - sěráh<br>
68. sohjoemmai<br>
69. ikoemmai - rábih<br>
70. bitímtiwai<br>
71. <3><br>
72. těmin - teprá'ïh<br>
73. těprárieh<br>
75. dráhdiem<br>
76. tánierséh<br>
77. wátih (wáhtieh) <4><br>
78. fiem - fienoh <5><br>
79. boeáhfoh<br>
80/<br>
81. ǎféhjámoe<br>
82. téihmé (té-ïhmé)<br>
83. té-ïhmé - ráhnih<br>
84. ohjoemmai<br>
86. ohjoemmai - béhbahr<br>
88. ohjoemmat - bénoh<br>
90. íhpoem <i'poem ?><br>
91. ohjoemmai - dáhboe<br>
93. ohjoemmai - fíhroh<br>
94. ohjoemmai - dárih<br>
95. ímiem<br>
97. imiem - párah<br>
99. atém - fěnoh<br>
100. ímiem - bíkoh<br>
102. imiem - běbáh<br>
105. pārah <6><br>
107. básah <6><br>
108. ímiem - běfooeh<br>
109. mônmouw<br>
110. éhsohn<br>
111. ĕndĕhdéhsohn<br>
112. sáróh<br>
115. tanim - tíwoh <7><br>
116. dáhráh<br>
117. tanim - máhnam <7>
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
o18qmgq5ycjnm2xjweuqva3lhzem2ae
Halaman:136 Sarmi.djvu/3
104
116017
319928
2026-10-07T02:33:34Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319928
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
118. tessiew - wáhdoh<br>
121. tanim - wádih<br>
122. tanim - fidoh<br>
123. fídoh<br>
124. mensíoh<br>
125. warim - ráneh<br>
126. aráhsahr<br>
127. móhfóh<br>
128. kīhn, kīen<br>
129. ěmmóhr<br>
130. ǎmoes<br>
132. sáhrǎhpar<br>
133. ěddráh<br>
134. ěhděrráh<br>
137. ámnier<br>
138. mohnieh<br>
139/<br>
140. môhnieh - sāréh<br>
144. rádiersah<br>
145. ǎsáhdih<br>
147. mohdfsén - ǎdǎh<br>
148. ásoefahr<br>
149. amahro'ïs<br>
150. ǎdǎhrmier<br>
151. ohímaih - ádrôt<br>
152. ohimaih - ǎhrémsah<br>
153. ájas<br>
154. ássedēs<br>
156. īdah - těmbómjah<br>
158. íhdiem<br>
159. rhéhrěrpar<br>
160. ásim - matéhtih<br>
161. ámérmiet<br>
163. áhtān<br>
165. wárrihsínoh ĕnrohn<br>
166. fěngôh - moh - fénfieh<br>
167. fěrfoíh - bárôh<br>
169. měrtí - oh<br>
170. něnráwéh<br>
172. nondieh<br>
173. átnôhtoe <atnohtoi ?><br>
174. ěhtéhm
{{multicol-break}}
176. máh<br>
177. ábrŏrséh<br>
178. fāsoes<br>
180. wohbás<br>
182. éndihdámmar<br>
183. éhpéhr<br>
184. nísam - bětop - réhrprehr<br>
188. tánih - difoh<br>
191. dipéh<br>
192. áfoehm<br>
193. éjoehr - fébeh<br>
194. ěnjoemnai - béhnier<br>
196. wómārdoes<br>
197. wómār - darèsseh<br>
198. wómār - fárreh<br>
199. ěnjéffeïn<br>
200. ěnjéhféjar<br>
202. tanfffiah<br>
203. sáninah<br>
205. mésā'ïh<br>
207. brohdim - sásīrtan<br>
209. débrarèh - ráneh<br>
210. máhroe'éssoer<br>
214. mědéssoh<br>
219. dáboem - sěrǎhfárfehr<br>
220. měmkárèh<br>
222. dárfoh<br>
223. ěssírtan<br>
224. ohjoemai - ĕrbétnah<br>
225. émrauw<br>
226. ěhwôh káhgrésseh<br>
227. ĭdím - tápseh<br>
228. dĭdáfnôh - minmin<br>
229. somanam - tápseh<br>
231. sohkitkidéssèh<br>
232. tánih - fíah<br>
234. méssow<br>
235. rěmnás; méssów<br>
236. fánioh - tésěsěh <tésěsĭh ?><br>
237. fánioh - séfar <8><br>
238. fánioh<br>
239. ásīm
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
cqkh4z783xl3csnvqjx57ux0gojbxoz
Halaman:136 Sarmi.djvu/4
104
116018
319929
2026-10-07T02:46:35Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319929
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
241. těmtorih<br>
242. měhfěndīh<br>
244. möhnoh<br>
246. měhfěnéh<br>
248/<br>
249. měhfěnéh běráf<br>
250. nátoem - těmtoh<br>
252. nátoem - fěnéh<br>
255. téhmān<br>
256. dihnān<br>
257. nátoem warfáwmoh<br>
258. nátoem tásin<br>
261. jáběnátôh - těmtoh<br>
262. jáběnátôh - měhfěnéh<br>
263. tápoen<br>
264. tápoen - měhfěnéh<br>
266. tápoen - dehbásies<br>
267. táhnim máhěroh<br>
268. dáfoem - těmtoh<br>
269. dáfoem měhfěnéh<br>
270. těmtoh jākih<br>
271. jáïh - měhfěnéh<br>
272. tásim - těmtoh<br>
273. béksih tánèh - měhfěnéh<br>{{gap}}<béhrih ?><br>
275. ěhwōm<br>
276. wáh-wáh<br>
281. ěhwōm nábaih<br>
282. tanim máhěroh<br>
287. tásin nátoen<br>
288. tásin nátoen<br>
289. dáfoem nátoen<br>
290. dáfoem nátoen<br>
291. náran nátoen měhfěnéh<br>
292. náran nátoem měhfěnéh<br>
293. dáfoem nátoem měhfěnéh<br>
294. dáfoem nátoem měhfěnéh<br>
297. éhnān, dámōn <9><br>
299. étawih ǎhrieh<br>
300. ěbéhson<br>
302/<br>
303. éhjāf<br>
305. jábeh - jáwaih
{{multicol-break}}
306- <br>
309. ǐfáhn<br>
311-<br>
314. ǐfáhn - měhfěnéh<br>
315. jábeh tanír - máhěroh<br>
316. jáhdoewar - běrihbéh<br>
317. ěsón dĕhdoe<br>
318. měhfěnéh - éhitěmtôh<br>
320. ǎssěhdohn <10><br>
324. ǎssěhdohn <10><br>
327. sār<br>
329. sáběhnántoeh<br>
330. fěníoh-does<br>
331. néhbot<br>
332. groehsěmbóhr<br>
333. fátoh-féntih<br>
338. dědómmānih<br>
339. <11><br>
341. tǎnněhnátoeh <12><br>
342. náhpoh <13><br>
343/<br>
344. téndiábdoh<br>
356. féntih<br>
358. dároh - idámměnôh<br>
359. dároh - mábikoh<br>
362. éwoh - bémawar<br>
364. éwoh - bémawar<br>
366. éwoh - bémawar<br>
368. fiehsĭhráhrih <14><br>
369. <15><br>
370. <15><br>
374. mádieh / máhdieh<br>
377. piriáhjoh <16><br>
378. koráno <17><br>
381. kěhdohri <18><br>
389. fihōrmoaw<br>
390. měréhfieh<br>
391. fiámmow<br>
392. sirhkárreh<br>
394. měráhráh<br>
396. nárnier<br>
397. ĕnfé'ïh - sirrhárhi<br>
401. áròhm
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
bmig39jwouij4fsx9lox5hh51nzlkmh
Halaman:136 Sarmi.djvu/5
104
116019
319930
2026-10-07T03:13:01Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319930
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
404. imieh - rěfohroeh
407/
408. éjih
410. éfokpáreh
411. énirséronoh
412. ébrohr - dédwor
413. máro'ïs <19>
415. <20>
416. nonsoen - měhfěnéh
418. rětártir - ǎnhfèh <21>
420. bảnoh, áwit <22
421. áftèh
426. tíhkoh, měrfaih <23>
428. ǎssāt
430. tāhbohr
432. sáhre'ïh <24>
433. dohmóaffor <25>
437. dímoh
438. něnsoh - dímoh <diwoh ?>
439. átoh - rǎwáffoh
440. sinōssaroh <siwossaroh ?>
441. átoh
446. átoaih
449. sāram - tán <ráram - tản ?
451. námtan
453. těrbároh
454. tǎtéh
456/
457. sǐnoh <26
458/
459. bédmèh <27>
461. <28>
462. bědáreh
465. měsdoh - mónsèh <29>
468. wohrohrá'oew
469. <30>
473. fādah
474. dǐrkèh
475. jāfoh
476. raijtiehboh
477. áttráhnih - jāfoh
478. áffomfoen-nih - jāfoh
482. mětárfèh
{{multicol-break}}
483. děssáhr
484. aissíwoh - jāfoh
485. ǎnántan
486. ǎffoemfoen
487. dimoh - fáh
489. pāpoh
493. sábih <31>
494. sábih <31>
499. ráhboh
501-
503. tiehwésbaih <32>
505. <33>
506. nōhbah <34>
507. <33>
509. fěrráh <35>
510. <36>
511. ǎjássaih
513. áwoh - ájas – ránih
514. <37>
517. nǐwéhrauw - mětah
519. dohsih <38>
520. eipapoh <38>
522. sábih <39>
524. bohsih <39>
525-
527. ǎnnás
528. <40>
530. ånảntān
534. bānah
535. bánah - fienniah
537. aiïhrauw
539. mārhnásseh
540. mārhnásseh ǎttoen dedwoh
539/
540. mārhnásseh essóh dědwôh <41>
541. ínāhr
558. ássièh <42>
561. ássièh
563. měhráti <43>
565. <44>
567. <44>
569/
570. <44>
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
5gfsitz7n0xdr8h5a5my949avr8lh7n
319931
319930
2026-10-07T03:14:01Z
Thersetya2021
15831
319931
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
404. imieh - rěfohroeh<br>
407/<br>
408. éjih<br>
410. éfokpáreh<br>
411. énirséronoh<br>
412. ébrohr - dédwor<br>
413. máro'ïs <19><br>
415. <20><br>
416. nonsoen - měhfěnéh<br>
418. rětártir - ǎnhfèh <21><br>
420. bảnoh, áwit <22<br>
421. áftèh<br>
426. tíhkoh, měrfaih <23><br>
428. ǎssāt<br>
430. tāhbohr<br>
432. sáhre'ïh <24><br>
433. dohmóaffor <25><br>
437. dímoh<br>
438. něnsoh - dímoh <diwoh ?><br>
439. átoh - rǎwáffoh<br>
440. sinōssaroh <siwossaroh ?><br>
441. átoh<br>
446. átoaih<br>
449. sāram - tán <ráram - tản ? <br>
451. námtan<br>
453. těrbároh<br>
454. tǎtéh<br>
456/<br>
457. sǐnoh <26<br>
458/<br>
459. bédmèh <27><br>
461. <28><br>
462. bědáreh<br>
465. měsdoh - mónsèh <29><br>
468. wohrohrá'oew<br>
469. <30><br>
473. fādah<br>
474. dǐrkèh<br>
475. jāfoh<br>
476. raijtiehboh<br>
477. áttráhnih - jāfoh<br>
478. áffomfoen-nih - jāfoh<br>
482. mětárfèh
{{multicol-break}}
483. děssáhr<br>
484. aissíwoh - jāfoh<br>
485. ǎnántan<br>
486. ǎffoemfoen<br>
487. dimoh - fáh<br>
489. pāpoh<br>
493. sábih <31><br>
494. sábih <31><br>
499. ráhboh<br>
501-<br>
503. tiehwésbaih <32><br>
505. <33><br>
506. nōhbah <34><br>
507. <33><br>
509. fěrráh <35><br>
510. <36><br>
511. ǎjássaih<br>
513. áwoh - ájas – ránih<br>
514. <37><br>
517. nǐwéhrauw - mětah<br>
519. dohsih <38><br>
520. eipapoh <38><br>
522. sábih <39><br>
524. bohsih <39><br>
525-<br>
527. ǎnnás<br>
528. <40><br>
530. ånảntān<br>
534. bānah<br>
535. bánah - fienniah<br>
537. aiïhrauw<br>
539. mārhnásseh<br>
540. mārhnásseh ǎttoen dedwoh<br>
539/<br>
540. mārhnásseh essóh dědwôh <41><br>
541. ínāhr<br>
558. ássièh <42><br>
561. ássièh<br>
563. měhráti <43><br>
565. <44><br>
567. <44><br>
569/<br>
570. <44>
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
df4a3lqb95ln8ariknuyluz7icxbd3v
Indeks:Keris (2014).pdf
102
116020
319932
2026-10-07T04:00:35Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
319932
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=Q141662129
|Title=Keris (2014)
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=[[Unggul Sudrajat dan Dony Satryo]]
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=[[Gilang Tri Subekti|Gilang Tri Subekti]]
|Publisher=Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan<br>Badan Penelitian dan Pengembangan<br>Kementerian Pendidikan dan KebudayaanPustaka Pelajar
|Address=[[Yogyakarta]]
|Printer=
|Year=
|Key=
|ISBN=
|Source=pdf
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
o1p34d0szfyswjg26dlr47jmdqo8egc
Halaman:136 Sarmi.djvu/6
104
116021
319933
2026-10-07T04:53:03Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319933
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
573. nároh <45><br>
575. ohnoen <46><br>
577. defoemjádeh - mokieh <47><br>
579. mokieh <48><br>
579/<br>
580. těbof <49><br>
582. wárehnan <50><br>
583. bánôh - tíboh <50><br>
588. sébohr; měmdáh <51><br>
589. kain <52><br>
600. ájòhr<br>
601. dáhmostáh<br>
602. táhdieh<br>
603. ǎnéh dándon<br>
604. sēhsieh<br>
606. tojèh <53><br>
609. sarong <54><br>
611. aihmětáh <55><br>
613. běrtíniah<br>
614. běrwádoh<br>
615. báhri'ëh<br>
620. báhdai<br>
621. bádai - áfoh <56><br>
622. bádai - áfoh <56><br>
623. áfoh - pār <57><br>
626. ríhtoet / ěhrítoet<br>
627. ríběh - jěníōh<br>
629. ádoes - dáboehsěráh<br>
630. poe'ëh - árir <58><br>
636. měráhrák<br>
639. táwoh - dihmohdon<br>
645. johsoh<br>
653. oehtéhdōn<br>
657. sěněhdoaih <59><br>
659. béhrimfan<br>
662/<br>
663. děhmostan<br>
664. áfoh<br>
665. áhfas<br>
668. máhsos<br>
669. tánih - toroh<br>
671/<br>
672. <60>
{{multicol-break}}
674. míloe <61><br>
677. kátjang <62><br>
681. siáhwēhnah<br>
682. táfieh<br>
685. wíbohsěráh <63><br>
686. sáhpoessah<br>
688. siáffoeh<br>
690. mětréhnahfoh, rítsāh <64><br>
691. niwéh - difon<br>
692. niwéh měhráh, miwéh<br>{{gap}}ǎdéndén <65><br>
702. mětméhra'oew <66><br>
703. pámoh - difōh<br>
704. <67><br>
707. wohrohrá'oew <68><br>
712. ánsǎhmoh <69><br>
716. fiéroh<br>
717. běréh - fiéroh<br>
722. sěmkai áfoh <70><br>
728. wiehboh<br>
731. běrwáhdoh <71><br>
732. bánoh, áwréh <72<br>
734. dífon<br>
736. ǎssáhwoh<br>
737. aihtíssah<br>
739/<br>
740. dědnáh<br>
741. báhdoh<br>
742-<br>
744. ároh<br>
746. rá'owe/rá'oeh<br>
748. wádih<br>
749. pǎmohfehtam<br>
750. éihsfiedáh<br>
751. nátoh<br>
752. boe'ëh (boe'ëh difŏh) <73><br>
753. <74><br>
754. năráh - nátoh<br>
755. sětiánah<br>
757. johtieh<br>
758. mjiáhdin <75><br>
759. áhfon<br>
761. wádih
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
4dfanr3medlsw9deiici24u0u9y8uxq
Halaman:136 Sarmi.djvu/20
104
116022
319934
2026-10-07T05:02:59Z
Thersetya2021
15831
/* Tanpa teks */
319934
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Thersetya2021" /></noinclude><noinclude></noinclude>
30jx1lygruprj5alacv96idkwiji99b
Halaman:136 Sarmi.djvu/19
104
116023
319935
2026-10-07T05:15:25Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319935
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="29">bundle (boengkoes) = ǎmponn<br>
# sea-cucumber = bé'ihsohr<br>
# tadpole = jáhmofǎbieh<br>
# to smoke tobacco = ěhmoestan siáhwēhnah<br>
# cigarette = rǎhdoer<br>
# cigarette paper = fiehroh - rá'oew (banana leaf)<br>
# malo'a (a fruit tree) = táh<br>
# the fruit of 35 = táh - áffoh or táffoh<br>
# behind = bǐhtihmó'ah<br>
# black palm = bá'ïh - difōh<br>
# grass from .....<?> = arakbǎraih<br>
# coral (karang) = dědráhjèh<br>
# to receive (dapat) = jěhmoer<br>
# today we shall go from here to the beach = ásséhte'ih jaman sité'ih - séh jáwoh wānéh<br>
# you can come with (us) but you won't get any food = ǎtǎréjah<br>daitáwoh pánah jěhtáwar bĕtáb<noinclude></noinclude>
3k37cmqsgjmt97ashr449z2asqmqzp4
Halaman:136 Sarmi.djvu/18
104
116024
319936
2026-10-07T05:23:28Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319936
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''4. ADDITIONAL DATA'''
# white grubs of large beetle (in dead wood). Considered a delicacy when roasted = méhsīeh<br>
# pigsty = ĕhdíer<br>
# blinjoe = wŏe'átah<br>
# pawpaw = ǐhwar werrah<br>
# kangaroo = drāhpoeh<br>
# bristles of pig = mǎhjohrauw<br>
# fishing spear = rohméh<br>
# plant used to poison fish = dāhkik<br>
# afraid, frightened = hěnrám <něnrám ?><br>
# naughty (children) = mènmèn<br>
# good (of children) = fi'ah<br>
# to smell = ārséh<br>
# to put or store something underneath (the house, a bed, etc.) = ǎnnānsih<br>
# to follow, accompany = daihtáwoh<br>
# menstruation = tánehsǐddáh <táneksǐddáh ?><br>
# to sing dirges; to wail = nágrèh<br>
# to choke (on large piece of food) = ǎsārnot<br>
# sleepy = mohniérfoen<br>
# to massage (pidjit) = ǎttĕrtoer<br>
# flying squirrel (marsupial) = márrihr<br>
# asthma = wéhram<br>
# glaucoma = sohmǎnám sěhsěhroh<br>
# to retrieve (some)one's soul <Dutch: zielestof> = áwohkih<br>
# <ennemen ?> (toy with a rope) = méhděnnéh<br>
# caseus = māhnih<br>
# to dry tobacco leaves = ǎjáhsoeh siáhwēhnah<br>
# large hook hanging from a ceiling beam, used to hand up bags, baskets, etc. = tětŏwnéh<br>
# small s-shaped hook, hanging from a ceiling beam and used to hang up bags, baskets, etc. = áihdědědnah<noinclude></noinclude>
nvam6h2i4mrnx2otgqov5s5ladub8v5
Halaman:136 Sarmi.djvu/17
104
116025
319938
2026-10-07T06:14:49Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319938
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="102"> large seaworthy canoe = wěhrohbet - náma<br>small canoe = měhrátti - werōh<br>canoe decoration = wěrôh àrfèh<br>to make a canoe = áfé'ïh wěroh<br>to drag a canoe ashore = rároh - něssáh<br>to drown = ĕttroh<br>to capsize (canoe) = árispār<br>sailing ship = wěhrôh - ráwmah<br>
# head wind = márôh dén měttáh <dénmĕttáh ?><br>wind from the side = márôh den ihpoh<br>tail wind = márôh den bittéh<br>wind spout = ĕndorriat<br>
# (imported)<br>
# (in contrast to: flat)<br>
# (not strong)<br>
# ǎttĕrtoer = to press; ǎrrhöhnèh = to squeeze<br>
# to burn forest, gardens<br>
# (sádih if the ship has already <...? (Dutch: mast)>)<br>
# (wohre = +, plus); one usually does not count numbers higher than 10 or 20, but now and then one expresses higher values by repetition of sěnáhfoet, e.g. 30 = sěnánfoet - wohre - sěnáhfoet - wôhre - sěnáhfoet (while showing the ten fingers at each repetition); etc.<br>
# fourth = tǎráh - få'oew, etc. up to tenth<br>
# by the suffix bếh, as in fiáh béh (more beautiful)<br>
# by the suffix mów, as in fiáh - mów<br>
# noon = woehséhdow - mónmouw<br>
# midnight = pánĭh - měnmoh<br>
# warm (=east) monsoon = séséhr<br>cold, rainy (=west) monsoon = mronfieh<br>
# there is not (tiada ada)<br>
# is indicated by contrast<noinclude></noinclude>
jfr9qls1xoikzpfb4m3i6h53cbua1is
Halaman:136 Sarmi.djvu/16
104
116026
319939
2026-10-07T07:10:35Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319939
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="85"> flying squirrel (marsupial)<br>
# opossum = něnsá'oew<br>
# = scoop-net (the only kind of net used)<br>
# agas = (sandflies) sārdih <sārdèh ?><br>
# large black ant = děndwohsieh<br>small, black, with strong smell (in the forest) = démsěnôh<br>large, black, with painful sting = děbohrih<br>small, black, with painful sting = pědíahdem - sénòh<br>large, red and black ones, bite is very painful = ártih<br>
# short, brown-black (so-called mata boeta) = bohwīh<br>long and thin, black, greyish white speckles on the back <on ?><br>white fráhwieh-soeloh<br>± 1.5m long; highly poisonous snake = gěněhsáhnah<br>
# large python = áhwĭkjáh<br>small, light green python with white spots = sé'ĭhnahröh<br>
# (land snail)<br>
# hermit crab = koe'ákmès<br>
# sěrábnèh = tortoise<br>shell (of the turtle) = ássěhdai<br>
# the first month of the year = demáhr - mádoh<br>the second month of the year = ádmiréh - děmahr - mádoh<br>the third month of the year (when the turtles lay their eggs) = dápoeh - mádoh<br>the fourth month of the year = mádóh - fa'oew<br>the fifth month of the year = mádoh - diem<br>
# morning star = tronbah <br>pleiades = rárah bětoéwéh; sea-star = áhrtéh<br>
# a person who sells goods<br>
# (to barter)<br>
# (made of a bone of the flying fox)<br>
# to weigh, to assess the weight (by holding it in the hand) = ángkir - kih<br>to measure (also by approximation) = ěnjiánkir<br>one fathom = médáseh (měhdáseh)<br>
# (= fire)<noinclude></noinclude>
jpmse4s7idagve6rdeibc4r9nvpayxd
Halaman:136 Sarmi.djvu/15
104
116027
319940
2026-10-07T07:24:10Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319940
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="67"> to scrape/pound sago pith = átat<br>to wash sago pith = ádahmoes<br>sago scraper = ihjók<br>sago pith = bārah<br>raw sago = báhwoh<br>sago porridge = ássieh<br>sago, rolled in a leaf and roasted, bread-like = sōhméh<br>sago, rolled in a leaf, mixed with grated coconut = sohméh - niwéhma<br>to burn or roast superficially, as meat which one has to eat quickly = áttoen<br>sago forest = běrsáhra'oen<br>
# (rá'oew = leaves)<br>
# (djamboe ajer)<br>
# sěmkai = lemon tree<br>
# běrwádoh áfoh = rattan fruit<br>
# bánoh = thin; áwréh = thick<br>
# very small, wild kind of areca = sěrŏraihkíah<br>middle-sized wild kind of areca = bohroh<br>large wild kind of areca = aihbiakdāh<br>
# naiwádoh (plant) naih - ra'oew (leaves)<br>naih - áfoh (fruit)<br>
# hibiscus (kembang sepatoe) = díoh<br>
# (same as 'fruit')<br>
# fieroh wátih tés = one bunch of bananas<br>
# added to the name of the animal, e.g. bádoen - n'tioh<br>(pig = bádon; bádoh; soeohdièh - n'tioh; dráhpóen'tioh)<br>
# tail of furry animals = ikoeh<br>
# pig = bádoh; domesticated pig = sǎbbádoh<br>
# goura pigeon = běrtoh; large grey pigeon = tárroh (koem-koem)<br>
# (not indigenous)<br>
# white heron<br>
# yellow bird of paradise = wohwáhwar<br>ptiloris magnificus = áihsoehmáhni<br>bieinnurus regius = froh = máhmi <bilinnurus ?><br>diphyllodes speciosa = bĕrwádoh - máhni<br>selencides alba = féhjohneh<br>white cockatoo = teihwéhnáma<br>black cockatoo = sěrĭhkoeátih<noinclude></noinclude>
luqbamce6isjrvofswod9enfod2pgvt
Halaman:136 Sarmi.djvu/14
104
116028
319941
2026-10-07T07:29:36Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319941
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="42">to boil sago porridge = áfèh - jássieh<br>
# (salt water)<br>
# no names for parts of clothing; only for clothing as a whole : měhmémbáh<br>
# bamboo comb = áwréh - nároh<br>áwréh = bamboo<br>
# made of turtle shell or sago fruit<br>
# waistband of plaited rattan<br>
# made of plaited rattan<br>
# = calfband, made of plaited bark<br>
# short, decorated bamboo cylinder<br>
# sébohr (0); memdáh ( + )<br>
# formerly sometimes the same word as for clothing in general = měhmémbáh<br>0 to put on the pubic cover = ássertan měmdáh<br> + to put on the pubic cover = ohnoen sébohr<br>
# of men as well as women; small ones and big ones<br>plaited bag or basket for sago = sĕrpaih<br>very large plaited bag for garden produce and firewood = aj - tojèh<br>
# introduced word<br>
# = large spear used when hunting turtles<br>
# = ammunition<br>
# shoot with bow and arrow = ǎfántar<br>
# = to make peace<br>
# water duct (as used when making sago)<br>
# is expressed by: to go and fetch the fruit = awoh (go), kiēt (fetch)<br>
# Ternatese word<br>
# imported<br>
# also: lime container<br>
# mětréhnahfoh = rawit<br>rítsah = large<br>
# niwéh měhráh : old coconut<br>niwéh adéhdéh: young coconut<br>
# black palm = bá'ïh - difoh<noinclude></noinclude>
8ki7y8xna3kscg15zinb3wzkq047q45
Halaman:136 Sarmi.djvu/13
104
116029
319942
2026-10-07T07:44:15Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319942
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="19"> abortus = nátoen - ĕtfohsih<br>
# warrhawieh - měnfenéh ( 0 )<br>warrhawieh - těmtôh (+)<br>
# a dance in which the dancers wear masks<br>
# to blow the sacred flutes = bánoh<br>sacred bamboo flute used in ceremonies in the temple = áwit<br>
# play the jew's harp<br>
# (children's play)<br>
# top (toy)<br>
# made of slats of palm wood<br>
# made of the midribs of palm fronds<br>
# mědohríssih<br>fáfoeánfoh<br>fówaih<br>rariaih{{gap}} } four different kinds of main posts<br>
# on the floor, a leaf sheath of the areca palm = baih<br>a mat of pandanus leaves = wohrohráoew<br>bed under the temple = bětnáh<br>
# headrest (round piece of wood or bamboo) = frǎhdéijoh<br>
# are imported (made by the Sabernih tribes)<br>
# = trough or vessel made of areca leaf sheath, used for water or sago<br>
# steel knife (imported) = sěpdèh<br>knife or dagger of cassowary bone = ěmmoh<br>kind of reeds used to make arrow shafts = mǎrfá'ïh<br>
# imported<br>
# stone axe, as used in the past = assár<br>
# one uses a shell as spoon<br>
# made of the leaf sheath of areca palm or black palm : small<br>basket = běnnáh - nátoeh; large basket = tiehwésbai<br>
# (imported word)<br>
# (imported)<br>
# is not done, as fat or grease is not used<br>
# = boiled meat<noinclude></noinclude>
rc2kt9kikqgwqur18lamd9fqt0hvqtq
Halaman:136 Sarmi.djvu/12
104
116030
319943
2026-10-07T07:52:41Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319943
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''3. NOTES'''<br>
# hole in pierced earlobe : tidem - fěnoh<br>
# pupil (of the eye) = sohwǎnám fěhménôh<br>
# anus : tébrem fěnoh<br>
# scrotum : báweh - wátih<br>pubic hair : wátih - fídoh<br>sperm wátih - těbréh<br>
# female genitalia: féhrieh<br>clitoris : fiem - séngĕrah<br>pubic hair : fiem - fídon<br>
# pārah<br>bāsah <fingers> } imiem ohjoemmai<br>
# tanim means : filled with blood, flesh, bones, etc.<br>
# séfar = many people<br>
# éhnan = father-in-law; dámōn = mother-in-law<br>
# friends from other villages who come to visit you<br>bosom friend = dráktárèh<br>
# to steal somebody's shadow in order to weaken his soul = márrihsèh<br>shadow (of a person) = tánim - níwen<br>
# When encountered in the dark, the spirit has the form of a small luminescent body, like a star. If it gives you a fright, your soul becomes terribly weak, and when you have returned home you will become ill.<br>
# (Soeangi)<br>
# (salah)<br>
# forbidden (pantang) for menstruating women = ěnjoh sǐhráhsih<br>(ěnjoh) (meaning: that is not good (sihrahsih))<br>forbidden (pantang) in general = ǎmáh (e.g. one is not allowed when at sea, to mention the name of any part of the canoe such as a paddle. One has to refer to such things obliquely, e.g. by calling a paddle "that piece of wood", etc. Also it is forbidden to mention the name of the <?...>. All this is ǎmáh.<br>
# (house where the men meet)<br>
# = chief (imported title)<br>
# (the one who goes in front)<noinclude></noinclude>
cgme78b57rtst3p2m3lemki48lruyg4
Halaman:Antologi Cerita Rakyat Jawa Timur.pdf/6
104
116031
319944
2026-10-07T08:06:01Z
Jak84u
27809
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'DAFTAR ISI Asal Usul Banyuwangi Sang Danding Anak Janda Miskin Raden Bagus Assrah Pendiri Bondowoso Pemberontakan Arya Gledek Asal Usul Sumur Gumuling Legenda Watu Ulo Menak Koncar Asal Usul Aksara Jawa Cerita Sendang Air Manis Cerita Arya Bambang Situbondo Legenda Dewi Rengganis Tetjadinya Gunung Batok Tetjadinya Telaga Ranu Grati Asal Usul Caban Rondo Legenda Gunung Wukir Legenda Sarip Tambak Oso Asal Usul Tradisi Nyadran di Desa Ketingan Jaka...
319944
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Jak84u" /></noinclude>DAFTAR ISI
Asal Usul Banyuwangi
Sang Danding Anak Janda Miskin
Raden Bagus Assrah Pendiri Bondowoso
Pemberontakan Arya Gledek
Asal Usul Sumur Gumuling
Legenda Watu Ulo
Menak Koncar
Asal Usul Aksara Jawa
Cerita Sendang Air Manis
Cerita Arya Bambang Situbondo
Legenda Dewi Rengganis
Tetjadinya Gunung Batok
Tetjadinya Telaga Ranu Grati
Asal Usul Caban Rondo
Legenda Gunung Wukir
Legenda Sarip Tambak Oso
Asal Usul Tradisi Nyadran di Desa Ketingan
Jaka Berek
Asal Usul Surabaya
Legenda Kolam Segaran
Asal Usul Nama Majapahit
Sekepel
Muntreng
Asal Usul Sedudo
Cerita Si Gemuk dan si Kurus
Laskar Banci
Asal Mula Desa Tiron
Asal Mula Nama Ngawi
Legenda Sendang Tawun
Tetjadinya Telaga Sarangan
Legenda Desa Grabahan
Ki Ageng Kalak
Ceprotan
Asal Usul Nama Desa Bendungan
Bambang Widyaka
Kiai Pacet
Rara Kembang Sore
Rebut Payung Aryo Blitar
Asal Usul Warga Nggolan Pantang Menikah dengan Warga Mirah
Asal Usul Reog
1
5
9
15
19
23
25
29
33
37
43
47
51
55
59
61
65
71
75
79
83
87
93
99
103
107
111
115
119
123
127
131
135
139
143
145
149
153
159
165
v<noinclude></noinclude>
effpv3sy15qjl6mmz9xidrzosdxarvt
Halaman:136 Sarmi.djvu/7
104
116032
319945
2026-10-07T08:08:58Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319945
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
763. áfoh <76><br>
764. máhnah<br>
765. wátih - tés <77><br>
766. me'ïhpén<br>
770. prá'ïh<br>
771. prá'ïh - pontieh<br>
772. sěsfāhn<br>
773. mohfoe'éh<br>
774. ĕnjoh - sěhrárih<br>
775. n'tioh <78><br>
778. bihtéffihdon <79><br>
779. oh'jaih<br>
780. ǐhmáh - báhsah<br>
781. mětáhriehdon<br>
786. pohwaih<br>
787. máhnih - fiedoh<br>
789. déhdoewoh<br>
790. máhnih - béhnoh<br>
794. bádoh, sǎbbádoh <80><br>
797. īdáh (bádoh īdáh)<br>
811. nāhnih<br>
812. tárróhr<br>
819. māhnih<br>
823. sŏeohdieh<br>
824. <81><br>
825. wěhnihjóhrah<br>
826-<br>
831. ajam <82><br>
840. bárfoh - báhroh <83><br>
842. boe'éhrahr<br>
843. běhtěmoh<br>
844. máhnintioh <84><br>
845. márrihr <85><br>
846. koekoéma<br>
847. wěndáhmoh<br>
851. oboehr<br>
852. méhmǐátsèh <86><br>
861. těběhdéh (tǎbǎdéh) <87><br>
864. kwéhdáhbohmah<br>
865. ěnjáhmah<br>
866. oehtéh<br>
869. woĕ'érpah
{{multicol-break}}
870. ǎdoe'éwteh<br>
871. dáhbennoh<br>
872. tátoe'éhdar<br>
877. náhmoe <88><br>
878. woě'éndáboh<br>
879. měmsoffiedoh<br>
881. sěnsárroh<br>
884. <89><br>
885. sěhféhdwoh<br>
886. máhtoh <90><br>
887. <91><br>
888. niemféhrom<br>
890. mǎssīhpah <92><br>
891. nemnohmòh<br>
892. ássěhdéh <93><br>
893. mětnárah<br>
894. sémběsih<br>
896. wéhtrow<br>
898. běbdoh<br>
899. ǎsdéhmah<br>
900. jārméh<br>
901. sěhnáriáh<br>
902. ráhrmah<br>
901/<br>
902. sěrábnèh <94><br>
903. fěníoh - wǎríhdon<br>
905. mětáhwǎdieh<br>
906. fěroh<br>
907. rāhrmoh<br>
908. mádóh<br>
910. mádóh - tēs <95><br>
911. mǎtármoh<br>
912. bětoewéh <96><br>
913. rěhráhrmoh<br>
917. fěníoh<br>
919. měhrofiah<br>
920. ǐhpŏhráhnie<br>
921. fěnír - méhnoh<br>
923. nǎrrǎh - sérpaih<br>
924. ári'ëh<br>
926. mětáhdědāh/(doh ?)<br>
927. óhnohfoeh
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
2t48fkjpya4j32cfluf2xhhi29e0o7c
Halaman:136 Sarmi.djvu/8
104
116033
319946
2026-10-07T08:24:57Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319946
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
928. mároh<br>
929. bémah - mároh<br>
930. ránih<br>
931. měhráti<br>
932. dǎriáh - toe<br>
934. dári - ĕdót<br>
935. reŭkmoh<br>
936. běrtéhmah<br>
937. ěsóh - sěsěhroh<br>
938. wǎhnáhfon<br>
939. mówmouw<br>
940. ǎttrot<br>
941. méhsěroh<br>
944. nénsoh<br>
945. rărǎh - foe'ar<br>
946. sároh<br>
947. sádoh<br>
948. sádoh - tíboh<br>
949. aitis - sádoh<br>
950. áppohr<br>
951. feurěsdāhr<br>
952. édó'ïhpar<br>
955. ětmá'ǐhfoeh<br>
957. āngrán<br>
959. ráhráh<br>
960. běrsáhrōh<br>
961. ohjaihfárěh<br>
962. ráhrníh<br>
963. wo'ïh<br>
964. těrbǎroh<br>
965. dábòah<br>
966. onjáiwar<br>
967. ísoeh - dědrohmeh<br>
968. běhtěmoh
{{multicol-break}}
995. rěftiéhrihr <97><br>
999. tárǎhwa<br>
1003. jěftie'ëhwèh <98><br>
1004. ěnjohsěhrohnôh<br>
1005. ándohmoe <99><br>
1007. ěnjoh - wéhjan<br>
1008. é'ïtfiah<br>
1009. e'ït - sěhráhrieh<br>
1010. jéftie'ëhwèh<br>
1011. sěměnéh<br>
1012. táfeh - sěměnéh<br>
1013. dáb - ǎdóhdoermah<br>
1015. dondoer<br>
1016. jéftie'ëhwèh<br>
1017/<br>
1018. jéwaïh - toehfén<br>
1019. jéftie'ëhwèh<br>
1022. měmdoer - johfieh<br>
1026-<br>
1028. <100><br>
1031. kapal jáfôh <101><br>
1033. <102><br>
1035. féhrah<br>
1036. rauw<br>
1037. ajoh - rauw <103><br>
1038. wěroh - bíteh<br>
1040. fásoh<br>
1041/<br>
1042. dohroh<br>
1043. rhéhdar<br>
1049. djanker <104><br>
1050. báhdah <báhdeh ?><br>
1051. ǎhmársor<br>
1052. ǎddráh<br>
969. fáhtieh<br>
970. wáhnèh <br>
971. wánèh - déssah<br>
984. méhnôh<br>
989. ájoh<br>
991. ětáh wěhsěh<br>
992. fěntíh - fiehámmoh<br>
993. poe'ëh - árir<br>
1053. árimfĕnroh - wŏrwáffoeh<br>
1061. wohmioh<br>
1062. běnna'nátoeh<br>
1063. mědáh<br>
1064. dǎhréhséh<br>
1065. tīhbohssèn<br>
1066. notmássèh<br>
1067. mánoh<br>
1068. mí'oh
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
gs6pvuzxcsixtjzuvzf7yepabk9a2wm
319947
319946
2026-10-07T08:25:46Z
Thersetya2021
15831
319947
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
928. mároh<br>
929. bémah - mároh<br>
930. ránih<br>
931. měhráti<br>
932. dǎriáh - toe<br>
934. dári - ĕdót<br>
935. reŭkmoh<br>
936. běrtéhmah<br>
937. ěsóh - sěsěhroh<br>
938. wǎhnáhfon<br>
939. mówmouw<br>
940. ǎttrot<br>
941. méhsěroh<br>
944. nénsoh<br>
945. rărǎh - foe'ar<br>
946. sároh<br>
947. sádoh<br>
948. sádoh - tíboh<br>
949. aitis - sádoh<br>
950. áppohr<br>
951. feurěsdāhr<br>
952. édó'ïhpar<br>
955. ětmá'ǐhfoeh<br>
957. āngrán<br>
959. ráhráh<br>
960. běrsáhrōh<br>
961. ohjaihfárěh<br>
962. ráhrníh<br>
963. wo'ïh<br>
964. těrbǎroh<br>
965. dábòah<br>
966. onjáiwar<br>
967. ísoeh - dědrohmeh<br>
968. běhtěmoh
969. fáhtieh<br>
970. wáhnèh <br>
971. wánèh - déssah<br>
984. méhnôh<br>
989. ájoh<br>
991. ětáh wěhsěh<br>
992. fěntíh - fiehámmoh<br>
993. poe'ëh - árir<br>
{{multicol-break}}
995. rěftiéhrihr <97><br>
999. tárǎhwa<br>
1003. jěftie'ëhwèh <98><br>
1004. ěnjohsěhrohnôh<br>
1005. ándohmoe <99><br>
1007. ěnjoh - wéhjan<br>
1008. é'ïtfiah<br>
1009. e'ït - sěhráhrieh<br>
1010. jéftie'ëhwèh<br>
1011. sěměnéh<br>
1012. táfeh - sěměnéh<br>
1013. dáb - ǎdóhdoermah<br>
1015. dondoer<br>
1016. jéftie'ëhwèh<br>
1017/<br>
1018. jéwaïh - toehfén<br>
1019. jéftie'ëhwèh<br>
1022. měmdoer - johfieh<br>
1026-<br>
1028. <100><br>
1031. kapal jáfôh <101><br>
1033. <102><br>
1035. féhrah<br>
1036. rauw<br>
1037. ajoh - rauw <103><br>
1038. wěroh - bíteh<br>
1040. fásoh<br>
1041/<br>
1042. dohroh<br>
1043. rhéhdar<br>
1049. djanker <104><br>
1050. báhdah <báhdeh ?><br>
1051. ǎhmársor<br>
1052. ǎddráh<br>
1053. árimfĕnroh - wŏrwáffoeh<br>
1061. wohmioh<br>
1062. běnna'nátoeh<br>
1063. mědáh<br>
1064. dǎhréhséh<br>
1065. tīhbohssèn<br>
1066. notmássèh<br>
1067. mánoh<br>
1068. mí'oh
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
drwyl8huaflkfpjg5enrjct5ra0hrm4
Halaman:136 Sarmi.djvu/9
104
116034
319948
2026-10-07T08:40:35Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319948
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1067/<br>
1068. mědīh <105><br>
1070. fáhměněnsèh<br>
1071. ěfsoh<br>
1072. mánoh<br>
1075. ěssáh - rhahrosseh<br>
1076. ohjá'ïh - tíboh<br>
1079. fáhbidohtāb<br>
1080/<br>
1081. áhjāf<br>
1082. méněh<br>
1083/<br>
1084. ǎtméjoh<br>
1085/<br>
1086. (j)/fŏhmémsah<br>
1087. mědáh<br>
1088. tīhbosseh<br>
1089. dětméffiah<br>
1090. énjjāt<br>
1095. máhfoh<br>
1096. féhpēhběbbrāh<br>
1097. běrkípar<br>
1098. měhtáh<br>
1101. sěmměnéh<br>
1102. fěhbidohtab<br>
1104/<br>
1105. máffĕhnāh<br>
1106/<br>
1107. sěhbréh<br>
1109/<br>
1110. féhměrbohseh<br>
1112. áděnih - démsir<br>
1113. běrbáhr<br>
1115. sěffrāf<br>
1116. měráh<br>
1117. biéhdoem<br>
1118. biéhdoem tápseh <106><br>
1119. kíhdoh<br>
1121. wahsoh<br>
1125. sáhrhar<br>
1127. měhkĕnīh<br>
1130. fiāhr<br>
1132. messoe'oh - běh<br>
1133. messoe'oh - běh
{{multicol-break}}
1134. messoe'oh - běh<br>
1135. fiāhr<br>
1136. foh - měmroh<br>
1137. foh - měmroh<br>
1138. foh - měmroh<br>
1139. sĭrrháhrih<br>
1142. máhmoesseh<br>
1143. ĕndĕrráh<br>
1146/<br>
1147. ěhdráttan<br>
1148/<br>
1149. ěhfohrárrih<br>
1150. mohroe<br>
1152. těrpohseh<br>
1153. fohfohoen<br>
1154. ĕnjohtāb<br>
1155. ěnjoer - fiáhrieh<br>
1156. měhfáteh<br>
1157. séssiah<br>
1158. tôhnsěssěh<br>
1159. fongomoh - tápseh<br>
1160. wōmnás - wōmséhr<br>
1161. ǎmfiróhfiah<br>
1162. měhrāssieh<br>
1163. rěmbárróh<br>
1164. ĕrpétnah / ĕrjétnah<br>
1166. fěhměmráhtieh<br>
1167. fájwěnāmah<br>
1168. fěhméhnoh<br>
1169. fěhdárah<br>
1170. tánih - rǎhrohfan<br>
1171. johnéh<br>
1172. ājroh - mómtah<br>
1173. fěssôhwójnja<br>
1174. ásséhpar<br>
1175. johrōem<br>
1176. ǎttáhwéh, jěhtáwar<br>
1178. johwēhdědwôh<br>
1180. ǎhwohkit<br>
1193. jěmnās<br>
1194. fěngohmoh - <fé-ïh ?> fé±ïh<br>
1195. jémnās
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
92k6s3t6xlwqykgi01qrkl6m3gxnvui
Halaman:136 Sarmi.djvu/10
104
116035
319949
2026-10-07T09:19:57Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319949
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1196. fěngohmoh - fé'ïh<br>
1197. átir - ětbákpar<br>
1198. jeúrorbahr<br>
1199. jeúbrohr<br>
1200. édemtápseh<br>
1202. árim - fěntíh<br>
1203. ádor - dárroh<br>
1206. áhsiem<br>
1208. woemnās - oeffiáh<br>
1210. áfféh - njerséhjah<br>
1211. ájerfāhr<br>
1212. ánan - dáboem<br>
1213. ǎtáboet - wāhdoh<br>
1214. áswohr (ásoewohr)<br>
1215. áhsěnsohn<br>
1216. ǎtáboet - áhoftan<br>
1220. ábab (áhbab)<br>
1221. ádot<br>
1223. márōs - éhnon<br>
1224. ǎhdráhdāh<br>
1227. áffěhdah<br>
1228. ǎhrōm<br>
1229. ǎhjástan<br>
1234. dārfoeh<br>
1236/<br>
1237. ássěn - sēn<br>
1238. ébrohr (?)<br>
1239. árǎreh - johfí'oe<br>
1240. siwéhrpohr<br>
1242. jébrohr<br>
1245. ǎffohr<br>
1246. áttertit<br>
1251. ěffrohn<br>
1253-<br>
1255. ĕrrhér<br>
1259. ǎttěrtoer, ǎrrhohnèh <107><br>
1260/<br>
1261. jārfé'ïh<br>
1262/<br>
1263. ěhwohpah/(-jah)<br>
1264. ǎffauw<br>
1265. ámnihnar<br>
1266. ǎrréhfoh
{{multicol-break}}
1267. áhsiem - táreh, ǎssimtáreh<br>
1268. éhbrohr<br>
1269. johsíhmeh<br>
1271. se'ïhbauwbèh<br>
1272. wǎrímsoerihr<br>
1276. ǎttoen<br>
1277. ěhbro'ïh<br>
1276/<br>
1277. ǎhměhrén <108><br>
1278. rǎhrétwáhneh<br>
1284. ěhmáh<br>
1286. áwoh/sádih <109><br>
1290. ǎfáhroeh/(roer)<br>
1291. áffihr<br>
1292. áït - wéhjan<br>
1293. tēs<br>
1294. daíhdoeh<br>
1295. touw<br>
1296. fá'oew<br>
1297. diem<br>
1298. diem - mǎ - tēs<br>
1299. diem - mǎ - doeh<br>
1300. diem - wǎ - touw<br>
1301. diem - mǎ - fá'oew<br>
1302. sěnáhfoet<br>
1303. sěnáhfoet - tēs<br>
1304. sěnáhfoet - doeh<br>
1305. sěnáhfoet - touw<br>
1306. sěnáhfoet - fá'oew<br>
1307. sěnáhfoet - diem<br>
1312. wohrěsnáhfoet / sěnáhfoet - <br>{{gap}}wohre - sěnáhfoet <110><br>
1326. diffŏhsien<br>
1330/<br>
1331. sěhsěhráhmow<br>
1332/<br>
1333. tărǎh - dáidoeh<br>
1334/<br>
1335. tǎráh - touw <111><br>
1338. měnāihfah<br>
1339. sēhfah<br>
1340. dǎsmáhdoes<br>
1347. béh <112>
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
k1w95w1ot4cjtued5pw13xrg6pjykkc
Halaman:136 Sarmi.djvu/11
104
116036
319950
2026-10-07T09:30:43Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319950
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1348. mów <113><br>
1349. ĕndās<br>
1350. běnjīhr<br>
1356. féh - tēstēs<br>
1357. jāhbeh<br>
1358. jěhwáhsier<br>
1359. oehsiem<br>
1362. béhnier - séh<br>
1363. éhběféh<br>
1365. jauw<br>
1366. jěhwáhsier<br>
1364/<br>
1367/<br>
1368. éhběféh<br>
1369/<br>
1370. jābeh - njoh<br>
1373/<br>
1374. oehbéh<br>
1378. ēhbéh<br>
1379. oědiem sana<br>
1380. sǎmpáhna<br>
1385. dénnonteh<br>
1386. énnontó'ïh<br>
1388. sité'ïh<br>
1389. sito'ïh<br>
1394. fěhnjéhmihr <114><br>
1398. mědah<br>
1402. rāhrmoe'étkieh <115><br>
1406. děmáhr - tēs<br>
1407. <116><br>
1408. ásséhte'ïh<br>
1409. ēndās<br>
1411. mětāhn<br>
1412. sohnifó'ar<br>
1413. mětāhn<br>
1418. mǎri'oh - másséh<br>
1419. not - másséh<br>
1420. ahsettéïh<br>
1422. ahrmihr<br>
1423. déhjoh<br>
1425. měhríow<br>
1427. sámôh - sěmfáhnah<br>
1428. de'ïhmouw
{{multicol-break}}
1429. tāhfoen<br>
1431. oendihtojoh<br>
1432. íhpoh/(-joh)<br>
1433. sei'ïhméh<br>
1434. ǎwěndieh<br>
1435. sǎhwědéh<br>
1436. ihmáhmouw<br>
1437. jātséh<br>
1439. dènni'āt séh<br>
1440. foehséh<br>
1441. ěmfoehséh<br>
1447. tôhbánfoh<br>
1450. wǎríhdon<br>
1451. sáwahríhdōn<br>
1452. dáhroersèh<br>
1453. réhněwoh<br>
1454. ǎjáhdĕmah<br>
1460. ěnsíhfar (-par ?)<br>
1461. fěhfáh<br>
1462. fěhsákkih<br>
1465. ĕnnjéhféjah<br>
1466. měrmouw<br>
1467. ei'iihsáhkèh<br>
1469. joh - wèn<br>
1470. énjét<br>
1471. johrorpar<br>
1472. jáhbéh<br>
1474. témtŏhtáb<br>
1475. báhrěnáh<br>
1473-<br>
1475. tāpséh <117><br>
1477. ahrèn<br>
1478. ráhròkseh<br>
1479. <118><br>
1481. <118><br>
1486. tap - tēs
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
spgo9hzjijgx9kvse2ug614fj4nuq9m
Indeks:141a Jabi.djvu
102
116037
319951
2026-10-07T09:32:43Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
319951
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=141a Jabi
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1983
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
jzrj5uu3xkkyzaka4n4u16zrysiuzuk
Indeks:141b Irsam.djvu
102
116038
319952
2026-10-07T09:33:25Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
319952
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=141b Irsam
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1983
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
rn7pfkxisa0ry4edz57e0d2dasdjxgu
Indeks:142a Saberri.djvu
102
116039
319953
2026-10-07T09:34:12Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
319953
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=142a Saberri
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1983
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
ds5lrb2xglrmvay209vtfbf64zsvshp
Indeks:142b Armatti.djvu
102
116040
319954
2026-10-07T09:34:51Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
319954
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=142b Armatti
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1983
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
rpts5eoybyzvzlsp0m49bq0a1fez4zx
Indeks:143a Tomajo.djvu
102
116041
319955
2026-10-07T09:35:34Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
319955
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=143a Tomajo
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1983
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
oiqc4s5rrt9bjela7343eqdm2l00r4r
Indeks:143b Apauwar.djvu
102
116042
319956
2026-10-07T09:36:08Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
319956
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=143b Apauwar
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1983
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
b33lo515nh3m5noerf6lttxt4z9ownl
Halaman:143b Apauwar.djvu/4
104
116043
319957
2026-10-07T09:44:02Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319957
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
877. pitinia<br>
886. īsi<br>
905. mitjim<br>
906. habitsj<br>
908. keiba <heiba ?><br>
912. komměta<br>
917. kwaha<br>
919. hana<br>
924. pènama<br>
927. mihape<br>
928. nanan <nanau ?><br>
930. biiti<br>
931. makatièwinèri<br>
938. nanim<br>
947. tima'<br>
959. nari<br>
960. kwaka<br>
963. piti<br>
965. abitananaberè<br>
966. artonabitei<br>
968. èwitsj<br>
969. kowiet<br>
1019. tatahan<br>
1050. wartabe<br>
1083/<br>
1084. ori<br>
1085/<br>
1086. kasi<br>
1194. ikwiatsj<br>
1197. oekiata
{{multicol-break}}
1200. ikwi<br>
1202. nèboekwoi<br>
1203. simara<br>
1206. kera<br>
1211. aukwerèt<br>
1212. aukwerèta<br>
1213. ahauliet<br>
1214. akoewihoèteris<br>
1215. takwèhiwitirees<br>
1216. tatoeaäkoerèt<br>
1220. tatamoeahirèt<br>
1221. sigoehètahoekoerèt<br>
1238. owihamoen<br>
1267. akwanitsj<br>
1268. hèkitam<br>
1293. abat<br>
1294. ineen<br>
1295. isiri<br>
1296. kian<br>
1297. toenoep<br>
1298. abat<br>
1299. ineen <inan ?><br>
1394. tjarari <2><br>
1402. kwitim <3><br>
1418. assièta<br>
1419. assiwèta<br>
1420. mŏrŏ<br>
1422. èsi<br>
1423. auworro
{{multicol-end}}
'''3. NOTES'''<br>
1. goura pigeon = marisi<br>wood pigeon = hamisim<br>
2. morning = kitim<br>noon = niwerrahètĕtam<br>afternoon = kwitim<br>
3. midnight = kanoba<noinclude></noinclude>
g0yc7x3zu656p6howm7oqxjy3nndslt
Halaman:143b Apauwar.djvu/3
104
116044
319958
2026-10-07T09:53:14Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319958
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
160. akwaniaäitsj<br>
161. simitje<br>
163. nèboekwe<br>
167. terakwari<br>
169. terisam<br>
170. kasiaam<br>
173. mètaan<br>
174. natika<br>
176. moinisa<br>
177. patja<br>
183. tjawakwar<br>
191. adjakwar<br>
192. owakan<br>
196. ikwiti<br>
197. èsèta<br>
200. sahari<br>
205. oembebaän<br>
207. èbisa<br>
219. foeakabom<br>
227. tètimien<br>
228. ate<br>
229. noemkwitjiriem<br>
231. nebihaam<br>
234. aharies<br>
239. foetji<br>
241. ana'<br>
242. esa'<br>
248/<br>
249. mahèdsje<br>
250. ana merah<br>
255. tahata<br>
256. aja<br>
257/<br>
258. ananam<br>
317. kainam<br>
318. eemě<br>
320. kanam<br>
329. jatifa<br>
355. èsiwe<br>
356. nebikwe<br>
407/<br>
408. keinam
{{multicol-break}}
413. ananam<br>
428. awerries<br>
437. tara<br>
438. tarakei<br>
440. atim<br>
441/<br>
442. awitsj<br>
449. nènima<br>
469. warimam<br>
475. sira<br>
477. agara<br>
478. aterawerries<br>
482. inèwe<br>
484. warran<br>
505. mammerasi<br>
509. tauwena<br>
525-<br>
527. atěteï<br>
530. minowatĕtei<br>
535. nari<br>
539/<br>
540. watikam<br>
541. kawisi<br>
623. djahan<br>
627. sorogueen<br>
681. sabok<br>
682. assam<br>
691-<br>
693. radji<br>
703. nakoei<br>
704. pania<br>
716-<br>
718. hwaam<br>
734. kwamana<br>
737. awabin<br>
746. tawaram<br>
786. iwīaam<br>
787. niherim<br>
794. nēsa <něsa ?<br>>
811. ikwi<br>
823. kamase<br>
824. <1><br>
844. inīni
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
bv3woyiqp60l5d7dw6c0mscfod5kv19
Halaman:143b Apauwar.djvu/2
104
116045
319959
2026-10-07T09:57:15Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319959
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. APAUWAR LIST'''
{{multicol}}
2. nebara<br>
4. nokaka'<br>
5. nebara<br>
6. nihirihiet<br>
8. sawaridiona<br>
9. sadji<br>
11. negoe<br>
15. nokherien<br>
17. nèboekoe<br>
18. hodinoen <hådinoen ?><br>
21. mobiën<br>
22. mauwe<br>
25. mona<br>
29. assiekaka<br>
30. bězien<br>
31. atteri<br>
32. kwoiteri<br>
34. kwoina<br>
33/<br>
35. kwoina<br>
38. narokaka<br>
41. mema'<br>
42. mema'<br>
45. mema'<br>
46. mema'<br>
50. temaram<br>
52. tabena<br>
61. horoboebien<br>
63. ossaan<br>
66. pitjèm<br>
69. ija'<br>
72. midjied<br>
76. tjowa<br>
77. tauwa<br>
78. tauwa<br>
82. saroekwe<br>
84. kaka<br>
86. tinitsj<br>
88. teenkaka<br>
90. mohokwi<br>
91. somonakaka
{{multicol-break}}
93. habotai<br>
94. kaka<br>
95. bikaka<br>
97. tadjè<br>
99. takaukiana<br>
100. tagaga<br>
102. tadjè<br>
105. tadje<br>
107. tabide<br>
108. tanebera<br>
109. tadje<br>
110. tadje<br>
111. tadje<br>
112. tadje<br>
116. saaja <saaje ?><br>
117. mèteka<br>
121. korem<br>
122. nihirihiet<br>
123. nihirihiet<br>
125. kèwa<br>
127. nanafa<br>
128. ambanan<br>
130. abehin<br>
134. aidjawanan<br>
137. tabenam<br>
138. karra'<br>
139/<br>
140. hinisaikaimar<br>
144. akwiwèta<br>
145. pakwoi<br>
146. koseiradjarakwan<br>
147. kwopabibbarakwam<br>
148. karadjarakwam<br>
149. matedjimomonam<br>
150. mokwitahanam<br>
151. totorehèbomonam<br>
152. toterijamoen<br>
153. takworra<br>
154. ikwinem<br>
156. aöttan<br>
158. akwama
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
qeq78j7t9aa8lrnoavd08rloagvzunr
Halaman:143a Tomajo.djvu/4
104
116046
319960
2026-10-07T10:10:23Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319960
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
908. mawiowana<br>
912. kometa<br>
917. koteia<br>
919. saboetana<br>
924. pènenaa<br>
927. pitojiwia<br>
928. pamoetia<br>
930. èwèhèna<br>
931. èwinèri<br>
938. nabowisia<br>
947. tikinèhèma<br>
959. nahara<br>
960. koteihia<br>
963. oebia<br>
965. awitō<br>
966. arretè<br>
968. èwisia<br>
969. owèta<br>
1019. pètahis ia <pètahisia ?><br>
1050. wartabia<br>
1083/<br>
1084. oerisia<br>
1085/<br>
1086. kahisia<br>
1194. noebihèta<br>
1197. oebiata<br>
1200. ibia<br>
1202. foferra
{{multicol-break}}
1203. arisia<br>
1206. keikera<br>
1211. hohoehoessi <hokoehoessi ?><br>
1212. nèwerèhotiaat<br>
1213. hoewèwièta<br>
1214. hoewiwitihies<br>
1215. himètihies<br>
1216. jana oetia<br>
1220. tatamèhiète<br>
1221. fisioewètahoeiet<br>
1238. wowiwiama<br>
1267. hotowèta<br>
1268. hèkidakowin<br>
1293. noha<br>
1294. ènète<br>
1295. isike<br>
1296. orohèteni<br>
1297. těněp<br>
1298. noha<br>
1299. èněte<br>
1394. siarahies <2><br>
1402. kitimies <3><br>
1418. errisiari<br>
1419. auwedoe<br>
1420. mŏrŏ<br>
1422. èsi<br>
1423. auwoedoe
{{multicol-end}}
'''3. NOTES'''<br>
1. goura pigeon = mahisia<br>wood pigeon = womeria<br>
2. morning = kitimisia<br>noon = niwerriaitat<br>afternoon = kitimiwitèha<br>
3. midnight = kèrora<noinclude></noinclude>
ekg2j957wqnfp011al3b5tmyadgk9kx
319961
319960
2026-10-07T10:10:53Z
Thersetya2021
15831
319961
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
908. mawiowana<br>
912. kometa<br>
917. koteia<br>
919. saboetana<br>
924. pènenaa<br>
927. pitojiwia<br>
928. pamoetia<br>
930. èwèhèna<br>
931. èwinèri<br>
938. nabowisia<br>
947. tikinèhèma<br>
959. nahara<br>
960. koteihia<br>
963. oebia<br>
965. awitō<br>
966. arretè<br>
968. èwisia<br>
969. owèta<br>
1019. pètahis ia <pètahisia ?><br>
1050. wartabia<br>
1083/<br>
1084. oerisia<br>
1085/<br>
1086. kahisia<br>
1194. noebihèta<br>
1197. oebiata<br>
1200. ibia<br>
1202. foferra
{{multicol-break}}
1203. arisia<br>
1206. keikera<br>
1211. hohoehoessi <hokoehoessi ?><br>
1212. nèwerèhotiaat<br>
1213. hoewèwièta<br>
1214. hoewiwitihies<br>
1215. himètihies<br>
1216. jana oetia<br>
1220. tatamèhiète<br>
1221. fisioewètahoeiet<br>
1238. wowiwiama<br>
1267. hotowèta<br>
1268. hèkidakowin<br>
1293. noha<br>
1294. ènète<br>
1295. isike<br>
1296. orohèteni<br>
1297. těněp<br>
1298. noha<br>
1299. èněte<br>
1394. siarahies <2><br>
1402. kitimies <3><br>
1418. errisiari<br>
1419. auwedoe<br>
1420. mŏrŏ<br>
1422. èsi<br>
1423. auwoedoe
{{multicol-end}}
'''3. NOTES'''<br>
# goura pigeon = mahisia<br>wood pigeon = womeria<br>
# morning = kitimisia<br>noon = niwerriaitat<br>afternoon = kitimiwitèha<br>
# midnight = kèrora<noinclude></noinclude>
kfmdwm0obfkdarp9j1e1wmetrqm3e0d
Halaman:143a Tomajo.djvu/2
104
116047
319962
2026-10-07T10:16:23Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319962
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>2. TOMAJO LIST
{{multicol}}
2. nebara<br>
4. nokkerina<br>
5. nebara<br>
6. nihirisima<br>
8. tisionama<br>
9. matimia<br>
11. noebia<br>
15. nobinirisia<br>
17. hawoebia<br>
18. nokwoika<br>
21. hisiètèta<br>
22. mokerria<br>
25. moina<br>
27. essiamanimisia<br>
29. esseètimia<br>
30. essiamanimisia<br>
31. piara<br>
32. goena'<br>
34. poenanimimia<br>
33/<br>
35. poena'<br>
38. narokwoika<br>
41. mèma'<br>
42. mèma'<br>
50. temaram<br>
52. pětikèka<br>
61. roemia<br>
63. tikaka<br>
66. awissina<br>
69. namèma<br>
72. meta<br>
76. moesiwa<br>
77. tauwa<br>
78. tauwa<br>
82. akoeroebiá<br>
84. morara<br>
86. tenema<br>
88. tenebekkera<br>
90. mohobia<br>
91. hobisiakaka<br>
93. affotaija
{{multicol-break}}
94. morara<br>
95. abrèha<br>
97. jana<br>
99. tawaha<br>
100. trobabinjama<br>
102. jana<br>
105. hekěrena<br>
107. tamimia<br>
108. těněhimia<br>
109. heuněna<br>
110. simimarinja<br>
111. neněmarinja<br>
112. noha<br>
116. komissia<br>
117. mèteka<br>
121. korema<br>
122/<br>
123. nihirisima<br>
125. mèfa<br>
127. nanafa<br>
128. honan<br>
130. hobbehin<br>
134. ahessawan<br>
137. hauwetebin<br>
138. karra<br>
139/<br>
140. hinikarreka<br>
144. wiritia<br>
145. roebi<br>
146. hitimiradiat<br>
147. hoebarabararabiat<br>
148. karohorabiat<br>
149. mometihamona<br>
150. homakwitit<br>
151. toterihamam<br>
152. toterihamam<br>
153. takwora<br>
154. awawa<br>
156. hotoekwan<br>
158. hotowèrip<br>
160. hatowètap
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
b80gzgcqo489m10sxz5r844ucd5b74u
319963
319962
2026-10-07T10:16:36Z
Thersetya2021
15831
319963
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. TOMAJO LIST'''
{{multicol}}
2. nebara<br>
4. nokkerina<br>
5. nebara<br>
6. nihirisima<br>
8. tisionama<br>
9. matimia<br>
11. noebia<br>
15. nobinirisia<br>
17. hawoebia<br>
18. nokwoika<br>
21. hisiètèta<br>
22. mokerria<br>
25. moina<br>
27. essiamanimisia<br>
29. esseètimia<br>
30. essiamanimisia<br>
31. piara<br>
32. goena'<br>
34. poenanimimia<br>
33/<br>
35. poena'<br>
38. narokwoika<br>
41. mèma'<br>
42. mèma'<br>
50. temaram<br>
52. pětikèka<br>
61. roemia<br>
63. tikaka<br>
66. awissina<br>
69. namèma<br>
72. meta<br>
76. moesiwa<br>
77. tauwa<br>
78. tauwa<br>
82. akoeroebiá<br>
84. morara<br>
86. tenema<br>
88. tenebekkera<br>
90. mohobia<br>
91. hobisiakaka<br>
93. affotaija
{{multicol-break}}
94. morara<br>
95. abrèha<br>
97. jana<br>
99. tawaha<br>
100. trobabinjama<br>
102. jana<br>
105. hekěrena<br>
107. tamimia<br>
108. těněhimia<br>
109. heuněna<br>
110. simimarinja<br>
111. neněmarinja<br>
112. noha<br>
116. komissia<br>
117. mèteka<br>
121. korema<br>
122/<br>
123. nihirisima<br>
125. mèfa<br>
127. nanafa<br>
128. honan<br>
130. hobbehin<br>
134. ahessawan<br>
137. hauwetebin<br>
138. karra<br>
139/<br>
140. hinikarreka<br>
144. wiritia<br>
145. roebi<br>
146. hitimiradiat<br>
147. hoebarabararabiat<br>
148. karohorabiat<br>
149. mometihamona<br>
150. homakwitit<br>
151. toterihamam<br>
152. toterihamam<br>
153. takwora<br>
154. awawa<br>
156. hotoekwan<br>
158. hotowèrip<br>
160. hatowètap
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
4xy3w147qs6uulv273ixyvv3bfiwf1c
Halaman:143a Tomajo.djvu/3
104
116048
319964
2026-10-07T10:19:51Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319964
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
161. hometia <kometia ?><br>
163. habobia<br>
167. terawitaat<br>
169. asiaha<br>
170. peradisia<br>
173. momèna<br>
174. natihia<br>
176. djanènata<br>
177. oeta<br>
183. awoboeda<br>
191. awoboeda<br>
192. rohan<br>
196. hadia<br>
197. kaninisia<br>
200. hèhèna<br>
205. sina<br>
207. kittisia<br>
219. foeaka<br>
227. fitimia<br>
228. homatiede<br>
229. noemgesjari<br>
231. honobihaat<br>
234. hoharies<br>
239. sita<br>
241. anak<br>
242. isia<br>
248/<br>
249. maitenana<br>
250. anak kaihihimia<br>
255. tata<br>
256. aja<br>
257/<br>
258. ananema'<br>
317. kenama<br>
318. inimisia<br>
320. kanama<br>
329. jatifa<br>
355. èsiwe<br>
356. noebibia<br>
407/<br>
408. howè<br>
413. ananama
428. pèrisèma <pèrisima ?>
{{multicol-break}}
437. tara<br>
438. tarakanana<br>
440. tisionama<br>
441/<br>
442. ihitia<br>
449. inimèta<br>
475. èsira<br>
477. fokarra<br>
478. terawihies<br>
482. inigwe<br>
484. hafe<br>
505. brasia<br>
509. tauwena<br>
525-<br>
527. pedais<br>
530. makatiwewatahis<br>
535. nerrowè<br>
539/<br>
540. watikama<br>
541. tamèta<br>
623. hawa<br>
627. horakena<br>
681. saria<br>
682. naba<br>
691-<br>
693. kakawena<br>
703. nawia<br>
704. maja<br>
716-<br>
718. wankena <waukena ?><br>
734. ahafa<br>
737. fowohowonies<br>
746. tawarama<br>
786. iwiwies<br>
787. nirisima<br>
794. nimeidia<br>
811. nibia<br>
823. siwirika<br>
824. mahisia, womeria <1><br>
844. ininisia<br>
877. pitinia<br>
886. ihisia<br>
905. mètama<br>
906. harisia
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
fwbc3qv52ta4kk2hiotilifzx7vnrc4
Halaman:142b Armatti.djvu/4
104
116049
319967
2026-10-07T10:23:43Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319967
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="7"> cuscus = ma'ben'no<br>
# kind of hairdo consisting of rattan <strips ?> intertwined with the hair {{gap}} gambar {{gap}} = nou'wa'tou<br>
# ironwood tree = kwar'djou<noinclude></noinclude>
js9n70ffvjrolnkuncyhrdr53888nr0
Halaman:142b Armatti.djvu/3
104
116050
319989
2026-10-07T10:30:51Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
319989
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''3. NOTES'''<br>
# earlobe = pari; hole in earlobe = Sa'dja'ma<br>
# second toe = nenno'manna; third toe = ě si ni; fourth toe = ě si ni<br>
# burial platform<br>
# post of house = bě'ri<br>
# fire maker <?> <Dutch: vuurmaker> = it'te'ta<br>bamboo fire tongs = te'kwaadzj<br>
# knife used to split coconuts<br>
# = sago basket<br>
# a different kind = sè'ga<br>made of plaited rattan = ta'ta'kwěn<br>
# pubic cover of women = ē'bi'ta<br>female genitalia = gau<br>
# ta'kwa = string bag<br>bag used to carry pups = ta'gwō'na<br>
# arrow shaft = oe'te'gwoe na<br>arrow with bamboo point = pě'sa jě<br>point of black palm wood = o'ta'war<br>four prongs of black palm wood = a'tim{{gap}} } <Saberri / Armatti ?><br>
# sago fruit = nam'gwěl<br>
# areca palm = mau'wes<br>
# goura pigeon ma'ri'si'a<br>hornbill = kwō'naadzj<br>
# of coconut shell {{gap}} gambar<br>
# the same as the names of the fingers; the closed hand, with the word 'taadzj' following the name of the little finger = five
'''4. ADDITIONAL DATA'''<br>
# sago storage place outside the house = i'din'nitrj {{gap}} gambar<br>
# fork = ka'dja (kaadj'a); made of sago twigs<br>
# utensil to stir sago = kai'te<br>
# sago scraper = tjaadzj<br>
# cylindrical container used to keep tobacco = ba'sa'botti<br>
# kangaroo = kō'se'misfe<noinclude></noinclude>
ktrcef2m5cg0cthkubbm9iwxjez5s4t
Halaman:142b Armatti.djvu/2
104
116051
320014
2026-10-07T10:41:03Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320014
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. ARMATTI LIST'''
{{multicol}}
2. Djagam (Djoe a gam)<br>
4. nè'bi'nja<br>
5. ner'rie'dja<br>
9. Njaram (Njirram) <1><br>
11. Noek (Noe'kwe)<br>
18. oek<br>
21. mai'ga'ga<br>
22. monna<br>
25. monna<br>
29. mo'en'na<br>
30. mai'soe'ger<br>
31. mě we<br>
33/<br>
35. kwan'na<br>
37. paṙdjan<br>
45. mem'ma<br>
54. a'be'ro'na<br>
61. a'roe'ma<br>
63. kō'sa'na<br>
66. biedzje<br>
68. e'bora<br>
77. tou'wa<br>
86. ten'dzje'goem<br>
88. ta'ra'noe'gwa<br>
90. mē'kwa<br>
91. soe'mon na<br>
93. kwenna<br>
96. ta'ra ra<br>
97. taadzj<br>
98. pa'na<br>
100. ta'ra'noe'gwa<br>
108. ou'ri'as<br>
109. nen'no'manna<br>
110. ě'si'ni<br>
111. 'si'ni<br>
112. mě má tan<br>
113. ma rě'si'ni <2><br>
114. a ta ba je<br>
191. ka'rar'ra <3><br>
318. kwa'dzjě<br>
374. khoon, koé ěn
{{multicol-break}}
437. tjou'wa <4><br>
441/<br>
442. ē'redzj<br>
454. kwa'tē'ra<br>
477. si'ra <5><br>
483. boe'dzjěn<br>
484. wor'rěn<br>
505. wèn <6><br>
510. na'nou'wī'a<br>
514. ka' na 'wa'ra <7><br>
579/<br>
580. ta'ta'kwěn <8><br>
588. zā'ni'we <9><br>
606. ta'gwa, ta'kwa <10><br>
615. o'toe'gwa <11><br>
613-<br>
616. ta'ba'ta<br>
685. tie 'berra<br>
694. ta'mies'ge<br>
704. pen'ně'wo <12><br>
716. ka'sa'na<br>
728. moe'moeridzja<br>
731. tjzaauw<br>
752. wa'rē'nà <13><br>
753. ě'tou'won<br>
811. o'gwē<br>
823. a'mas'fe<br>
824. <14><br>
872. o'kwa'nam<br>
881. Sē'wang'kan<br>
884. a'mei'za<br>
900. tji'rem, dzji'ram<br>
906. ā'bie'dzje<br>
908. a'moer'ri'a<br>
912. on'na<br>
960. ka'ni'ka<br>
1041. taar'dzje <15><br>
1293. <16><br>
1294. <16><br>
1295. <16><br>
1296. <16><br>
1297. <16>
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
90a8r5spe4c1sw98t45zvrkg4ewkguq
Halaman:142a Saberri.djvu/2
104
116052
320015
2026-10-07T10:54:31Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320015
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. SABERRI LIST'''
{{multicol}}
2. Oewenā<br>
4. nō'bi'na<br>
5. Oewenā<br>
6. Bi'bi'si ra <Bī'bī'si ra ?><br>
9. Sā'djā'mā<br>
11. Noe'we'ra<br>
15. noe'tĕ'tam<br>
17. noe'we'ra'b<u>oe</u><br>
18. ti'ja<br>
20. ai'na<br>
21. Sō'wa<br>
22. moe'na<br>
25. moe'na<br>
27. mar'reba<br>
28. mar'reba<br>
29. en'no'wa<br>
30. mar'reba<br>
31. mè'moe<br>
32. a'dja'fie'ba<br>
33/<br>
35. wan'na<br>
37. poi'wè'ba<br>
41/<br>
42. a'sie<br>
46. a'sie'o'wē ra<br>
54. tō'na<br>
61. ti'mè'pi<br>
63. war'mi'a'wa<br>
66. nie'ba'fa<br>
69. we'ti<br>
72. oe'warra<br>
77. dof'fa <l><br>
78. kar'rie (krie)<br>
82. si<br>
84. ten'nie<br>
86. ten'nie<br>
88. oe'rĕ'ra<br>
90. noe'soe'ma<br>
91. na'bo'ně fā<br>
93. tie'berra<br>
94. sa'ie'fa(siefa)
{{multicol-break}}
95. tja'na<br>
97. tja'na<br>
99. Sor'rě'brē<br>
100. a-te'tro'we na<br>
102. tja'na<br>
105. tja'na<br>
122/<br>
123. <u>ie</u>'sa'<u>ta</u>'ta<br>
126. meffa<br>
128. fi'fri'na<br>
129. fi'to<br>
130. ně'sa<br>
132. wai'nō'ma<br>
138. ně sa boe'rana<br>
145. Soe'soe'wě<br>
149. ma me nafa<br>
161. ie<br>
163. oe <2><br>
166. nam'ja'wa<br>
167. mě'fa<br>
169. Ai'si'a<br>
170. kě'kerisfa<br>
176. en'ne wa'wa<br>
178. ō'rō'tō ma <ō'-rō'tō ma ?> <3><br>
185. kě kě ra na<br>
191. wa'war'ra <4><br>
192. sě-sě'na<br>
198. i'so'wa<br>
207. tō'na'sa'si na<br>
219. Oewena'frasi<br>
228. Sa'dja'ma re'a<br>
229. Wer-fa'fa ka<br>
241. èh<br>
242. Awi<br>
250. tera'kenana<br>
252. ma'he tenana<br>
255. ta'kė(ta'ki)<br>
256. a'dja'ke<br>
257/<br>
258. mahèta ke na'na<br>
268. A'na'fa'ně'sa
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
jgym3mppig96277nz8i8i6efpz59r41
Halaman:142a Saberri.djvu/3
104
116053
320016
2026-10-07T11:33:17Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320016
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
269. A'na'fa'ně'sa<br>
270/<br>
271. a'ka<br>
272/<br>
273. i'to'beja<br>
324. Amberri<br>
245. Jamèh<br>
274. Amari<br>
407/<br>
408. wě'wa'roena<br>
413. wa'wa'ris'fa<br>
420. <5><br>
421. fa'ti'a<br>
428. fa'ti'a ri tiai<br>
437. Såw, souw<br>
441. a'si ta<br>
445. pa tě'na <6><br>
449. en'na<br>
454. oei'wi tra<br>
456/<br>
457. ta'ta'we'na <7><br>
462. tō'ta'ra<br>
469. tar'fo'na <8><br>
470. nē'oepara<br>
474. rā'rī<br>
477. a'nie'wa <9><br>
482. nō'ti<br>
483. na'sa<br>
484. Wa'rarra<br>
493. pan toe'toe <10><br>
501-<br>
503. itō'tō'wa <ll><br>
505. mě mě, ra sia <12><br>
506. ie'tě'ra<br>
510. isi'seberrō<br>
513. boe bos si rè<br>
525-<br>
527. bò'boe'roe<br>
530. sā'sou'na <13><br>
539. ne'ma'ja<br>
541. a'wi'si<br>
565. ka'jan <14><br>
571/<br>
572. ir're bo'ka <15>
{{multicol-break}}
573. i'ta'ra<br>
579/<br>
580. Sō<br>
582. Wa'ri ně'ně <16><br>
588. Sa'nē<br>
606. Ta'wa(tou'wa) <17><br>
614. saipoéna = Sě boe'na<br>
615. sa'parra<br>
613-<br>
616. topa to'ba<br>
620. pa'dai <18><br>
621. obat <18><br>
622. sa'kel <19><br>
653. mā'ge'na<br>
681. tha'ba'ki<br>
688. thi'a'foe<br>
689. fa'fainē<br>
691-<br>
693. ai'fa<br>
694. tō'mi<br>
702. na'sa'moe'a <20><br>
703. na'fa<br>
704. Soe'mē, sō mē<br>
716. A'mi<br>
728. Oe'ra <21><br>
731. i'ri'wa<br>
732. na'nou<br>
746. fi<br>
752. Soe'rē<br>
753. na'moe'ē'ra<br>
772. Soe'roe'moe ně<br>
787. a'brě sĕ'ta'ta<br>
790. ā'fa<br>
794. Wě'bi<br>
811. na'na<br>
812. ĕ'me'ra'ra<br>
823. a'si'ri<br>
824. wa'mai'ro <22><br>
834. fi'ri<br>
844. sai <23><br>
870. brè(bra)<br>
871. asi'di'nafé<br>
872. oe'noe'noe
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
inwu6zwjzd3pitr42dyj1sv3037a8az
Halaman:142a Saberri.djvu/4
104
116054
320017
2026-10-07T11:37:58Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320017
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
874. ri'ri'bi<br>
881. Pi'pi na wiet<br>
884. ie'frie<br>
886. pā'go'ra<br>
894. Kriek-sě'bo'a<br>
900. ĕ'ri'a<br>
906. So'bē<br>
908. na'wa'dja<br>
912. oe'mē'ta<br>
919. boe<br>
928. i'fi'a<br>
930. boe<br>
931. Pie'na<br>
938. Wenni(wě'ně)<br>
947. te ni'na<br>
955. Oe<br>
959. ra'ra<br>
960. oewa'sa<br>
963. boe <24><br>
969. pa'ti<br>
970. oe<br>
987. a-fi ta<br>
989. ta'ta'fré'na<br>
1019. wě'dja'na<br>
1033. ni tou <25><br>
1041. ta'ri <26><br>
1061. wi'soe<br>
1062. kě'na'na<br>
1065/<br>
1066. te'ti'si<br>
1083/<br>
1084. Oe'ri'a<br>
1085/<br>
1086. te'ti'si<br>
1087. ta'bi-toffa<br>
1104/<br>
1105. nō'ma
{{multicol-break}}
1106/<br>
1107. ni'ni'fa<br>
1156. na'mi'a'wa<br>
1176. Ma<br>
1180. A'ri'soe<br>
1202. Sa'rifarou<br>
1203. i'ti'ai<br>
1206. po'mor'ré<br>
1227. mai'tě'ji<br>
1228. bo'wa're<br>
1272. paro²<br>
1291. bi'bi'sai'na<br>
1293. mě'rē<br>
1294. nā'bě'gě<br>
1295. na'bě'sar<br>
1296. kō'kra (ko'kar)<br>
1297. oe'wa'na<br>
1298. tja'mě rē mě rē<br>
1299. tjā mě rē na'bě gē<br>
1300. tja'me'rěna běsa<br>
1301. tja'me rē kokra<br>
1302. tja'na bob<br>
1312. tjanabob, tennibob <27><br>
1357. Ou<br>
1358. Ou<br>
1359. Mi'oe<br>
1365. Ou<br>
1378. bě'hě'mě'gě<br>
1388. moei'fa mō'iffa<br>
1389. nai'sō<br>
1402. pi'ni <28><br>
1418. ē'wa<br>
1422. ē'wa<br>
1471. pai(fai) <29><br>
1473-<br>
1475. pai
{{multicol-end}}
'''3. NOTES'''<br>
1. scrotum = rā'so<br>
2. oe waré djaré = why are you crying?<br>
3. pregnant women = ō-rō'tō ma <ō'-rō'tō ma ?><noinclude></noinclude>
batts4dfhad2ana327zci4of5d86moz
Halaman:142a Saberri.djvu/5
104
116055
320018
2026-10-07T11:41:09Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320018
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="4"> = burial platform<br>
# to whistle = mō'fé'a<br>sacred flute = a'si'na<br>
# = midrib of palm frond<br>
# made of slats of black palm wood<br>
# of wood<br>
# fire maker = fofoka<br>
# (imported)<br>
# gambar<br>
# imported kitchen knives<br>knife used to split open coconuts = isise'ba<br>
# to roast meat<br>
# = kain<br>
# headband made of shells<br>headband made of sago fruit = nafera<br>
# gambar {{gap}} made of shell<br>
# used to carry young dogs<br>
# imported<br>
# = (buck) shot<br>
# = black palm<br>
# lime gourd = oe'ra bai<br>gambar{{gap}}gambar<br>
# large wood pigeon<br>
# = bird of paradise<br>
# (water)<br>
# small dugout used to cross rivers<noinclude></noinclude>
8geizu25woqfnjhhlqnb0yvk0af921i
Halaman:142a Saberri.djvu/6
104
116056
320019
2026-10-07T11:44:30Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320019
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="26">gambar {{gap}}made of coconut shell<br>
# tjanabob tennibon = two hands and two feet<br>
# pi'ni ka me rena = it is already dark<br>
# negation
'''4. ADDITIONAL DATA'''<br>
# broom : ti'te na<br>
# gambar {{gap}} made of sago leaf ribs. fork : ita'ra<br>
# sago stirrer = tē'ra<br>
# sago scraper = fa'si<br>
# small basket for sago = tèpè<br>
# piece of bamboo used as a speaking tube : faī<br>
# blinjoe : a'o'ta<br>
# to scratch : mě'moe'roe'sě<br>
# moei'ī nē = come here!<br>
# fi fi ra pai = not so fast!<br>
# si'si na pai = don't be afraid!<br>
# itch : sen'sā'na<br>
# footprint = krō<br>
# storage place outside the house, for sago = Sa'pi'ra {{gap}} gambar<br>
# kind of hairdo 'of braided rattan through the hair' <?> = Sě sa re'ra {{gap}} gambar<noinclude></noinclude>
dguplid8fw0prb4w1vw7lq8zmwi7hmm
Halaman:141b Irsam.djvu/6
104
116057
320020
2026-10-07T11:47:52Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320020
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="25"> by compounding ?<br>
# morning : meharinamoně<br>afternoon : arrehèrowaně<br>evening or early part of the night : nettohirě<br>
# early part of the night : nettohirě<br>midnight : oriharoemana<br>latter part of the night : manaäuboean<br>
# two days before yesterday: mojaoto - moja
'''4. ADDITIONAL DATA'''<br>
# to stream : oerarema<br>
# layer : ipapepa<br>
# kangaroo : nahija<br>
# mirror : kahija<br>
# to gnaw at : ariha<br>
# to skin : aboeari<br>
# a misser : oenaditadione<br>
# a hit : meraoenini<noinclude></noinclude>
pp8cnxt9kioihvz6cnfs7xyziuqmzmw
Halaman:141b Irsam.djvu/5
104
116058
320021
2026-10-07T11:50:48Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320021
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''3. NOTES'''<br>
# instep of foot : inijone<br>
# with stretched legs: akoeranii<br>
# spirit<br>
# married ijepye<br>unmarried : magweine<br>
# also: birth<br>
# on poles : ajahiwei<br>large house : powa<br>small house : ajahoenia<br>
# = lean-to<br>
# (raised floor)<br>
# rooms<br>
# (aboe)<br>
# as sold by traders<br>
# akoewaha = stone axe<br>bohani = iron axe<br>
# beads<br>
# to smoke tobacco : aboeme<br>
# goura pigeon: mariapoe<br>falenggo : paärmanah<br>
# hornbill : kankoengmana<br>bird of paradise : manatota<br>
# waguemě : large<br>anini : small<br>
# full moon : koekara<br> new moon : madiama<br>
# thunderstorm : arita<br>
# uphill : aguiroea<br>downhill : attobia<br>
# to mislay : akmare djara<br>
# thick tree<br>
# thin tree<br>
# as eleven, etc.<noinclude></noinclude>
pbmkunq33wumny6x5a55umbpu8sr5ze
Halaman:141b Irsam.djvu/2
104
116059
320022
2026-10-07T11:56:21Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320022
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. IRSAM LIST'''
{{multicol}}
2. ikaone<br>
4. korahe<br>
6. naraoeroekwoi<br>
8. inaraoeroegoea<br>
9. tanabome<br>
11. ihoera<br>
15. ikabibara<br>
17. soerorarema<br>
18. itoewagně<br>
21. ikaone<br>
22. iněpahe<br>
25. ikapire<br>
27. kapireoeroegwoi<br>
29. irègue<br>
30. irègue oeroegwoi<br>
31. njamene<br>
32. inibague<br>
34. inije<br>
33/<br>
35. inijě<br>
38. ikaropahe<br>
41. tebaboea<br>
42. isoesoegoi<br>
45. isoesoegoi<br>
46. jogadiaä<br>
50. iroewènè owara<br>
52. iniaoekwoi<br>
54. hinapoewoi<br>
61. iboebe<br>
63. ihoměna<br>
66. darogwoihě, idijarogwoihe<br>
69. ipèbine<br>
72. ahoewahira<br>
75. ahiete<br>
77. isijore<br>
78. kamone<br>
82. marae<br>
84. inekijě<br>
86. iniëne <1><br>
88. iaboewoi<br>
90. matire
{{multicol-break}}
91. iniboegwoi<br>
93. pèradia<br>
94. obara<br>
95. ibaï<br>
97. baone<br>
99. nareridja<br>
100. baboekwoi<br>
101. bahaboegwoi<br>
102. baëne<br>
105. ibarope<br>
106. inirope<br>
107. ibaropepoewoi<br>
108. ibarope<br>
109. ibarope<br>
110. ibarope<br>
111. ibarope<br>
112. ibarope<br>
116. rara<br>
117. kladia<br>
121. apokoewoi<br>
122. inioeroekwoi<br>
123. inioeroekwoi<br>
124. mohaté indié<br>
125. nibaibare<br>
127. iroetoewe tamenagne<br>{{gap}}<tamenague ?><br>
128. agoeana<br>
130. imane<br>
134. sinamarihi<br>
137. itiori<br>
138. akamia<br>
144. tadioha<br>
145. nara <nera ?><br>
146. itoehamana diria<br>
147. inoewahoba<br>
148. igwene<br>
149. najio<br>
150. baniora<br>
151. idiatemiboegwoi <2><br>
152. tehetene<br>
153. hipatoewine
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
ml56hzovrwmtmnnzgq5r76c4i66gebo