Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.23
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf/23
104
25242
320894
73333
2026-10-11T09:03:21Z
Cgjkldn
22445
320894
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ulumarifah" /></noinclude><section begin="KERAMIK ASING" />Sailendra.
{{hii|2|-2}}Raja-raja di pedalaman karena tak lagi menikmati hasil perdagangan itu terpaksa pindah ke Jawa Timur, tetapi menetapnya mereka di sana belum berarti bahwa mereka dapat mengembangkan perdagangan dengan kepulauan di sebelah timur pulau Jawa, yang menghasilkan rempah dan cendana. Ada kemungkinan besar bahwa para pangeran di pantai utara Jawa Tengah menghalangi kapal-kapal dari Jawa Timur untuk berlayar ke pulau-pulau itu . Kapal-kapal dari Jawa Tengahlah yang masih membawa komoditi ke Sriwijaya yang mengirim perutusan-perutusan ke Cina. Karena memang sejak tahun 873 tidak ada lagi perutusan dari Jawa. (tidak lama setelah Balaputra diusir dari Jawa). Terhentinya perdagangan antara Jawa dan Cina berlangsung sampai ke tahun 992 ketika seorang pedagang Cina sampai di Cina bersama tiga orang duta Jawa dan rombongannya.
{{hii|2|-2}}Utusan pertama sejak lebih dari satu abad rupa-rupanya jatuh pada masa ketika Raja Dhannawangsa memperlihatkan agresinya lawan Sriwijaya. Seorang duta dari Sriwijaya yang kebetulan ada di Cina tak sempat kembali ke negerinya karena diduduki oleh tentara Jawa antara tahun 990—992. Para duta dari Jawa yang tiba di Cina pada tahun 992 mengatakan kepada tuan rumahnya bahwa negara mereka dan San- fo- ts'i selalu berperang.
{{hii|2|-2}}Hilangnya satu abad dari medan perdagangan dengan Cina mungkin disebabkan oleh monopoli para pangeran di bandar-bandar Utara Jawa Tengah yang menjadi sekutu Sriwijaya. Inilah sebabnya pecahan-pecahan keramik berasal dari masa sekitar abad ke sepuluh sampai ke abad ke 17. Seandainya seluruh perdagangan itu pindah ke Jawa Timur pada abad ke 10 bersama
pusat kekuasaan, pecahan-pecahan itu tak akan memperlihatkan kesinambungan yang demikian.{{div end}}<br>
<section end="KERAMIK ASING" />
<section begin="KESIMPULAN" />'''KESIMPULAN'''
{{hii|2|-2}}Banyaknya pecahan keramik pada sesuatu tempat berarti bahwa ada banyak penduduk dan mungkin sudah ada pecinaan.
{{hii|2|-2}}Tidak adanya pecahan keramik pada abad-abad sebelum dinasti Sung ( 1127 - 1278) seperti misalnya di Sumatra tidak berarti bahwa tidak ada permukiman karena orang Indonesia memakai bambu, batok kelapa, kayu, labu air dan kerang untuk alat-alat rumah tangganya. Seperti pernah dikatakan oleh orang Cina tentang P'o-ni: karena tidak ada tanah liat penduduk memasak dalam bambu dan daun palem. (Krom 1931, h. 236).
{{hii|2|-2}}Melihat kenyataan-kenyataan di atas, teranglah bahwa pecahan-pecahan keramik sangat berguna untuk menetapkan angka tahun situs-situs permukiman, bahkan untuk menemukan hubungan-hubungan dagang dan politik.
{{hii|2|-2}}Pemakaian keramik lokal maupun asing pada upacara-upacara berarti bahwa penduduk Indonesia menganggap benda-benda itu sebagai penolak bahaya dan dalam hal keramik asing sebagai status-symbol.
<section end="KESIMPULAN" /><noinclude>{{rh|||19}}</noinclude>
m4vd3cpi4fhw27jcgzho8utkixugb0h
Halaman:Anak Siapa.pdf/5
104
33658
320619
255421
2026-10-11T02:38:32Z
Agus Damanik
15946
320619
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Syurida" /></noinclude><section begin="title" />
{{rule|width=8em}}
<section begin="s1" />{{c|I.}}
{{font-size|249%|{{rh||'''ANAK SIAPA?'''}}}}
{{font-size|120%|{{rh||Satoe tjerita jang betoel kedjadian}}}}
{{font-size|120%|{{rh||di tana Djawa.}}}}
{{font-size|120%|{{rh||terkarang oleh :}}}}
{{font-size|120%|{{rh||THIO TJIN BOEN.}}}}
{{cr|co|6|co|6|co|6|crl|10|co|6|co|6|co|6}}
<section end="title" />
<section begin="s1" />
{{rh||'''I.'''}}
{{rh||'''Apa itoe koerang pikir ?'''}}
„Sianseng kira sadja begifoe. Tapi inget, Ban
doeng sama Pekalongan ada laen."
„Apa bedanja? Saja rasa sama sadja, Prampoean Boemipoetra ada lebi banjak pandang
oewang, oepama kata, asal kita bisa pake ongkos
besar, kendati prampoean jat g mar,a djoega kita
boleh dapet."
„Sianseng kliroe! Di Bandoeng bisa djadi ada
hegitoe, dan toch saja tida bisa pertjaja kaloe
dengen oewang sadja kita lantas tentoeken bfsa
dapet segala pTampoean Boemipoetra disana, sekalipoen saja d^jbega taoe oemoernnja prampoean
Soenda itoe dalem perkara kesopanan dan kesoetjian ada rendah sekali. Sebaliknja di Djasva
Tenga dan Wetan, Sianseng tida boleh samaken
dengen di Preanger."<noinclude></noinclude>
n46fzthbxnuwe3xz1y12n3zpotri9nx
320646
320619
2026-10-11T02:59:22Z
Agus Damanik
15946
320646
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Syurida" /></noinclude><section begin="title" />
{{rule|width=8em}}
<section begin="s1" />{{c|I.}}
{{font-size|249%|{{rh||'''ANAK SIAPA?'''}}}}
{{font-size|120%|{{rh||Satoe tjerita jang betoel kedjadian}}}}
{{font-size|120%|{{rh||di tana Djawa.}}}}
{{font-size|120%|{{rh||terkarang oleh :}}}}
{{font-size|120%|{{rh||THIO TJIN BOEN.}}}}
{{cr|co|6|co|6|co|6|crl|10|co|6|co|6|co|6}}
<section end="title" />
<section begin="C1" />
{{rh||'''I.'''}}
{{rh||'''Apa itoe koerang pikir ?'''}}
„Sianseng kira sadja begifoe. Tapi inget, Ban
doeng sama Pekalongan ada laen."
„Apa bedanja? Saja rasa sama sadja, Prampoean Boemipoetra ada lebi banjak pandang
oewang, oepama kata, asal kita bisa pake ongkos
besar, kendati prampoean jat g mar,a djoega kita
boleh dapet."
„Sianseng kliroe! Di Bandoeng bisa djadi ada
hegitoe, dan toch saja tida bisa pertjaja kaloe
dengen oewang sadja kita lantas tentoeken bfsa
dapet segala pTampoean Boemipoetra disana, sekalipoen saja d^jbega taoe oemoernnja prampoean
Soenda itoe dalem perkara kesopanan dan kesoetjian ada rendah sekali. Sebaliknja di Djasva
Tenga dan Wetan, Sianseng tida boleh samaken
dengen di Preanger."<noinclude></noinclude>
ihuny5gkxw4k5z2mqd2s6fkok8jcdrs
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
0
33878
320624
192785
2026-10-11T02:43:16Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320624
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/5|Judul]]
|notes=
}}
{{bagi}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{DP-ID-pemerintah}}
kdd8f5uun6eivfaph0qd5z5g1yfdwag
320626
320624
2026-10-11T02:44:44Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320626
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/2|BEBERAPA CATATAN TENTANG
PEMAKAIAN BENDA-BENDA KERAMIK
DI INDONESIA]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{DP-ID-pemerintah}}
p2m80gbljfriptjoxpo2xppw9gcjclj
320640
320626
2026-10-11T02:55:12Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320640
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/5|Pendahuluan]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{DP-ID-pemerintah}}
hkcb9ybfc43bjbbj6exre57s4ea84ls
320651
320640
2026-10-11T03:02:15Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320651
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{DP-ID-pemerintah}}
8zq8k8jnpenzlanogywpo0gyfqb2oe1
320673
320651
2026-10-11T03:22:27Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320673
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{TOC-tambahan|
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Keramik Asing]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpulan|Kesimpulan]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan|Catatan]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Introduction]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Local Ceramics]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Foreign Ceramics]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Notes]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Bibliography|Bibliography]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Profile|Profile]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-pemerintah}}
h5d4khm8daglrr7b6zjk7czzw2bk164
320674
320673
2026-10-11T03:23:01Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320674
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{TOC-tambahan|
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Keramik Asing]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpulan|Kesimpulan]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan|Catatan]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Introduction|Introduction]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Local Ceramics]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Foreign Ceramics]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Notes]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Bibliography|Bibliography]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Profile|Profile]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-pemerintah}}
qevoyqppbfdluwhowadj3zh2ccwmgrk
320727
320674
2026-10-11T03:58:39Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320727
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{TOC-tambahan|
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Keramik Asing]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpulan|Kesimpulan]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan|Catatan]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Introduction|Introduction]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Local Ceramics|Local Ceramics]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Foreign Ceramics|Foreign Ceramics]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Notes]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Bibliography|Bibliography]]
# [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Profile|Profile]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-pemerintah}}
hfyhi1ns7edswxz1k72ysekw7dqp0h7
Pengguna:Cgjkldn
2
38133
320671
297976
2026-10-11T03:20:50Z
Cgjkldn
22445
320671
wikitext
text/x-wiki
{{userboxtop|Kotak Pengguna}}
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2023}}
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2024}}
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2025}}
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=24 November 2024}}
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
{{User id}}
{{Peserta WikiPandu}}
{{userboxbottom}}
Sedang berusaha berkontribusi di proyek Wikimedia.
==Proyek==
===Utama===
Merapikan Wikidata berdasarkan [[:Wikidata:Wikidata:WikiProject_Books]] untuk proyek berikut:
# [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2020|Kompetisi Wikisource 2020]]
# [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2021|Kompetisi Wikisource 2021]]
# [[Wikisumber:Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021|Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021]]
# [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2022|Kompetisi Wikisource 2022]]
# [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2023/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2023]]
# [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2024/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2024]]
# [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2025/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2025]]
# [[:Commons:Category:Proyek Sedelinggam|Proyek Sedelinggam]]
Rencana Kegiatan
* Memastikan P31 sudah sesuai dengan yang bisa dibaca untuk Wikisource App Reader
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2020|Kompetisi Wikisource 2020]]●
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2021|Kompetisi Wikisource 2021]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021|Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2022|Kompetisi Wikisource 2022]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2023/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2023]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2024/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2024]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2025/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2025]]○
** [[:Commons:Category:Proyek Sedelinggam|Proyek Sedelinggam]]●
* Menambahkan sitelink
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2020|Kompetisi Wikisource 2020]]●
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2021|Kompetisi Wikisource 2021]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021|Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2022|Kompetisi Wikisource 2022]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2023/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2023]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2024/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2024]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2025/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2025]]○
** [[:Commons:Category:Proyek Sedelinggam|Proyek Sedelinggam]]○
* Menambah gambar
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2020|Kompetisi Wikisource 2020]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2021|Kompetisi Wikisource 2021]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021|Kompetisi Ulang Tahun Wikisource 2021]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2022|Kompetisi Wikisource 2022]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2023/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2023]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2024/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2024]]○
** [[Wikisumber:Kompetisi Wikisource 2025/Daftar buku|Kompetisi Wikisource 2025]]○
** [[:Commons:Category:Proyek Sedelinggam|Proyek Sedelinggam]]○
guaiksryc1dvrdtdynb0gmgb3enicdc
Halaman:Anak Siapa.pdf/16
104
49032
320647
255264
2026-10-11T02:59:52Z
Agus Damanik
15946
320647
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Najla Khairani Siregar" />{{rh||- 12 -|}}</noinclude>{{hwe|dah-moedahan|moedah-moedahan}} ia nanti bisa dapetken itoe prampoean, jang ia niat boekan boeat maen-maen, dan kaloe tida dapet djoega, ia nanti trima sala dihadepannja Oey, jang tida oeroeng Oey nanti lebi girang, dan...apa salanja bikin orang djadi lebi girang?
Lantaran terhiboer begitoe roepa, ia bisa djoega tidoer dengen satoe 'niatan tetep, jang ia nanti lakoeken biar begimana djoega.
<section end="C1" />
{{c|{{bar}}}}
{{c|II.}}
{{c|Pertjobaän pertama.}}
Pagi-pagi sekali Tjan soeda mendoesin dan sigra djoega ia pergi mandi dan sembari doedoek isep roko ia awasin Soekmi, jang lagi njapoe. Sekalipoen itoe tempo belon terang betoel, tetapi Tjan bisa liat teges dan baroelah ia pertjaja, sesoenggoenja Soekmi ada poenja roepa, jang boleh menarik hati lelaki, boekan eilok, tetapi tegep.
„Kaloe ia ada gadis Tionghoa," pikir Tjan, „tentoe iboenja tida ada kebratan boeat lamarken dia djadi bininja."
Sekoetika lamanja Tjan berpikir, achir-achir tempo Soekmi dateng lebi deket dengen toendoek sadja menjapoe, lantas ia tegorin dengen soeara manis<noinclude></noinclude>
1njf17di5em4a0wmq9wxoj560rgxnaa
Halaman:Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf/13
104
60346
320688
171662
2026-10-11T03:30:02Z
Niswinwin
27110
320688
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Bknsenjaa" /></noinclude>{{hwe|lihat|melihat}} tandangnya orang-orang Bali yang begitu sakti di peperangan, apalagi raja-raja yang dimintai tolong oleh orang-orang Bali.
<section end="C1" />
<poem>
II. Lagu Asmaradana, 32 bait.
Bait ke 1 baris 1, dan baris 1 dan akhir dari bait ke-32.
Baris 1, dari bait ke 1;
Mangkana Srinarapati,
Baris 1 dan akhir dari bait ke-32;
Tan tumama ing jejampi,
sewu siwuhen srinata.
</poem>
Terjemahan
Waktu itu Raja Majapahit Srinarapati Brawijaya sangat susah memikirkannya, perihal kekalahan wadyabala Majapahit menghadapi orang-orang dari Bali Agung beserta sekutu-sekutunya. Demikian pula Mahapatih Gajahmada, sedih pula memikirkan kekalahan-kekalahan Majapahit menghadapi orang-orang Bali.
Konon Sri Brawijaya berusaha mengadakan sayembara, berbunyi "Siapa saja yang dapat menolong kesulitan Negara Majapahit, dapat mengundurkan dan atau mengalahkan musuh dari Negara Bali Agung dan sekutu-sekutunya, dia akan diambil menantu oleh Raja Majapahit Sang Prabu Brawijaya".
Dia akan diperjodohkan dengan putri raja yang sulung. Konon sesudah sayembara diundangkan, banyak pula raja-raja yang berusaha membantu raja dalam berperang melawan Raja Bali Agung. Maksudnya tak lain akan mengharapkan dapat diperjodohkan dengan putri Prabu Brawijaya yang sulung tadi.
Kecantikan sang putri dari Majalengka memang bagaikan Dewi Supraba, konon Sri Handayaningrat dari Pajang Pengginglah yang memasuki sayembara Raja Majapahit, menang dalam peperangannya. Kalahlah musuhnya dari Nungsa Kambangan.
Raja Bali menyerah kalah, dilanjutkan pula Sri Handayaningrat pergi berlayar ke Timur untuk menaklukkan Pulo Sembawa. Akhirnya Raja Sembawa pun menyerah kalah. Dilanjutkan pelayarannya ke Pulau Praguwa, Raja Praguwa<noinclude>{{rvh|11}}</noinclude>
3pi5szm2rc9gso20vgdvg4sgwg49wek
320706
320688
2026-10-11T03:38:18Z
Niswinwin
27110
320706
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Bknsenjaa" /></noinclude>
{{hwe|lihat|melihat}} tandangnya orang-orang Bali yang begitu sakti di peperangan, apalagi raja-raja yang dimintai tolong oleh orang-orang Bali.
<section end="C1" />
<section begin="C2" />
<poem>
II. Lagu Asmaradana, 32 bait.
Bait ke 1 baris 1, dan baris 1 dan akhir dari bait ke-32.
Baris 1, dari bait ke 1;
Mangkana Srinarapati,
Baris 1 dan akhir dari bait ke-32;
Tan tumama ing jejampi,
sewu siwuhen srinata.
</poem>
Terjemahan
Waktu itu Raja Majapahit Srinarapati Brawijaya sangat susah memikirkannya, perihal kekalahan wadyabala Majapahit menghadapi orang-orang dari Bali Agung beserta sekutu-sekutunya. Demikian pula Mahapatih Gajahmada, sedih pula memikirkan kekalahan-kekalahan Majapahit menghadapi orang-orang Bali.
Konon Sri Brawijaya berusaha mengadakan sayembara, berbunyi "Siapa saja yang dapat menolong kesulitan Negara Majapahit, dapat mengundurkan dan atau mengalahkan musuh dari Negara Bali Agung dan sekutu-sekutunya, dia akan diambil menantu oleh Raja Majapahit Sang Prabu Brawijaya".
Dia akan diperjodohkan dengan putri raja yang sulung. Konon sesudah sayembara diundangkan, banyak pula raja-raja yang berusaha membantu raja dalam berperang melawan Raja Bali Agung. Maksudnya tak lain akan mengharapkan dapat diperjodohkan dengan putri Prabu Brawijaya yang sulung tadi.
Kecantikan sang putri dari Majalengka memang bagaikan Dewi Supraba, konon Sri Handayaningrat dari Pajang Pengginglah yang memasuki sayembara Raja Majapahit, menang dalam peperangannya. Kalahlah musuhnya dari Nungsa Kambangan.
Raja Bali menyerah kalah, dilanjutkan pula Sri Handayaningrat pergi berlayar ke Timur untuk menaklukkan Pulo Sembawa. Akhirnya Raja Sembawa pun menyerah kalah. Dilanjutkan pelayarannya ke Pulau Praguwa, Raja Praguwa<noinclude>{{rvh|11}}</noinclude>
61lecwoq8tvhymxiquoea7p9gusznj8
Halaman:Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf/22
104
60384
320724
171678
2026-10-11T03:53:57Z
Niswinwin
27110
320724
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Bknsenjaa" /></noinclude>untuk menghapusnya noda-noda hitam tadi. Raden Jaka Prabangkara memohon maaf kepada raja, atas kekhilafannya itu. Namun raja tetap murka, di dalam benaknya tetap memikirkan adanya noda-noda hitam digambar Ratu Mas Dwarawati, apalagi noda hitam itu dekat dengan kelaminnya Ratu Mas Dwarawati. Dalam hati, raja berpikir apakah Jaka Prabangkara memang sesungguhnya mengetahui, bahwasanya pada alat kelamin Ratu Mas Dwarawati memang ada noda hitamnya?
Raja Brawijaya menyadari, bahwasanya memang permaisurinya ialah Ratu Mas Dwarawati berciri pada alat kelaminnya "tahi-lalat" yang hijau warnanya. Manapula tanda itu tepat benar letaknya pada lukisan Raden Jaka Prabangkara, ingat hal itu Raja bertambah murka adanya.
Dalam hati Raja Brawijaya berkata, "Kalau benar demikian adanya, apakah Jaka Prabangkara sudah mengadakan sanggama dengan adinda Mas Dwarawati? Mengapa pula kalau melakukan hubungan kelamin, Jaka Prabangkara tahu benar akan ciri-ciri istri saya? Berani dan jahat benar Jaka Prabangkara itu, sudah keterlaluan berani mengadakan hubungan kelamin dengan istriku Ratu Mas Dwarawati, anak yang tidak tahu balas budi. Segala kebajikanku, dibalasnya dengan perbuatan bersenggama dengan istriku?"
Tiada luntur amarahnya terhadap Jaka Prabangkara, lamakelamaan malahan menjadi-jadi. Setiap saat tampak oleh raja Jaka Prabangkara, seakan-akan api menjadi-jadi berkobar-kobar urubnya. Demikian pula akan halnya Raja Brawijaya, setiap melihat rupa Jaka Prabangkara menjadi-jadi pula luapan amarahnya. Keputusan Raja Brawijaya terhadap Jaka Prabangkara, Jaka Prabangkara akan dibunuhnya saja.
<section end="C3" />
<section begin="C4" />
<poem>
IV. Lagu Dandanggula, 27 bait.
Baris ke-1, dari bait ke-1 dan baris 1 dan akhir dari bait ke-27.
Baris 1, dari bait ke-1;
Kyana Patih Gajahmada prapti,
Baris 1 dan akhir, dari bait ke-27;
Srinarendra anjetung tan angling,
</poem><noinclude>{{rvh|20}}</noinclude>
anhsplrguzfspuxphcs5xwu9zfsoyc9
Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
0
61354
320592
173178
2026-10-11T02:13:05Z
Niswinwin
27110
320592
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|notes=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=5 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=358 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
o65w8ewdfdo09ql39mcx86jnd9q7yxt
320656
320592
2026-10-11T03:05:12Z
Niswinwin
27110
320656
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|notes=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula,]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil|V. Lagu Mijil]]
}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=5 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=358 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
bflf6fg03k1femvj2adtuu1bibxwhst
320663
320656
2026-10-11T03:10:33Z
Niswinwin
27110
320663
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|notes=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I. Lagu Dandanggula|I. Lagu Dandanggula]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula,]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil|V. Lagu Mijil]]
}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=5 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=358 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
1mg7xc62g9egrojwtkuvzk4k3f4ziht
320665
320663
2026-10-11T03:11:07Z
Niswinwin
27110
320665
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|notes=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula,]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil|V. Lagu Mijil]]
}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=5 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=358 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
bflf6fg03k1femvj2adtuu1bibxwhst
320668
320665
2026-10-11T03:16:59Z
Niswinwin
27110
320668
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|notes=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula,]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil|V. Lagu Mijil]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/VII. Lagu Pocung|VII. Lagu Pocung]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/VII. Lagu Kinanti|VII. Lagu Kinanti]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/X. Lagu Megatruh|X. Lagu Megatruh]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/XI. Lagu Sinom|XI. Lagu Sinom]]
}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=5 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=358 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
0m5pbhgrmmdkxjw2xc0fz4f3k89y353
320677
320668
2026-10-11T03:25:01Z
Niswinwin
27110
320677
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|notes=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I.Lagu Dandanggula]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II.Lagu Asmaradana]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III.Lagu Sinom]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula,]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil|V. Lagu Mijil]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/VII. Lagu Pocung|VII. Lagu Pocung]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/VII. Lagu Kinanti|VII. Lagu Kinanti]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/X. Lagu Megatruh|X. Lagu Megatruh]]
# [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/XI. Lagu Sinom|XI. Lagu Sinom]]
}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=5 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=358 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
s634n89qztefeqgxm37z81r4mraqqua
Bidadari Binal
0
66645
320603
192522
2026-10-11T02:23:21Z
Naufalfr Muhammad
27837
320603
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next = colophon
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
1nx87uajo37zuq3d6nucfo7pwz0i9qw
320604
320603
2026-10-11T02:26:42Z
Naufalfr Muhammad
27837
320604
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[colophon/colophon]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
dtjg04v51ala7gb3raqfq5jsbi8mekj
320607
320604
2026-10-11T02:27:50Z
Naufalfr Muhammad
27837
320607
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[colophon/Menyunting Bidadari Binal]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
3bslo43mfrn5x08jbtcizqm6p9o3wba
320612
320607
2026-10-11T02:33:51Z
GAnganwaLUH
27839
320612
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[Bidadari Binal/colophon]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
2lbt0zl9m4z8ovmnwmpnh94r92rr6ok
320719
320612
2026-10-11T03:49:48Z
GAnganwaLUH
27839
320719
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[Bidadari Binal/colophon|colophon]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Bidadari Binal/colophon|colophon]]
# [[Bidadari Binal/Kepada TJERITA ROMAN'S|Kepada TJERITA ROMAN'S]]
# [[Bidadari Binal/Inti Chajal|Inti Chajal]]
# [[Bidadari Binal/Rahasia dalam Rahasia| Rahasia dalam rahasia]]
# [[Bidadari Binal/Puisi|Puisi]]
# [[Bidadari Binal/Isi|Isi]]
# [[Bidadari Binal/Iklan|Iklan]]
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
1uky0bmsoznzvtx91k349bynjx0naet
320723
320719
2026-10-11T03:51:36Z
GAnganwaLUH
27839
320723
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[Bidadari Binal/colophon|colophon]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Bidadari Binal/colophon|colophon]]
# [[Bidadari Binal/Kepada TJERITA ROMAN'S|Kepada TJERITA ROMAN'S]]
# [[Bidadari Binal/Inti Chajal|Inti Chajal]]
# [[Bidadari Binal/Rahasia dalam Rahasia| Rahasia dalam rahasia]]
# [[Bidadari Binal/Puisi|Puisi]]
# [[Bidadari Binal/Isi|Isi]]
# [[Bidadari Binal/Iklan|Iklan]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
8faw418o2s61nww72404aoo5z1bogie
Pengguna:Radramboo
2
69597
320691
268858
2026-10-11T03:31:11Z
Cgjkldn
22445
320691
wikitext
text/x-wiki
Lagi sering ngumpulin peraturan-peraturan pemerintah republik indonesia yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan infrastruktur. kemungkinan yang dikerjain di sini akan banyak hubungannya sama hal itu juga.
==Sedang Diuji Baca==
# [[Indeks:Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.pdf|Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.pdf]]
#[[Indeks:Perpres Nomor 5 Tahun 2025.pdf|Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025]]
==Selesai Diuji Baca/Butuh validasi==
Ini buku yang butuh validasi dari kelen, ya! Kasih validasi seikhlasnya udah makasih banget ini, mah!
# [[Indeks:Keputusan_Menteri_Negara_Lingkungan_Hidup_No._48_Tahun_1996_Tentang_Baku_Tingkat_Kebisingan.pdf|Kepmen LH No. 48 Tahun 1996]]
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2025}}
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
f9joxlctzun2khtrdoyytike1vw27nw
Halaman:Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf/1
104
70083
320599
201779
2026-10-11T02:22:12Z
Raihanazakira
25793
/* Telah diuji baca */
320599
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Raihanazakira" /></noinclude>5671
Djilid ka 2.
1 Djilid f 0.90 cent.
TIERITA
ANAK PRAMPOEAN DI BIKIN
SEBAGI PARIT MAS
ATAWA
IBOE JANG DOERHAKA.
OLEH
KWEE SENG TJOAN
(Penoelia Penganten jang Djinaka dan
Tiga Gadis Kota Betawi).
Soeatoe hal jang soeda kedjadian di Batavia
berselang lima blas taon lamanja.
DJILID KA-DOEA.
Het auteursrecht op dit verhaal, is aan de stellers en
nitgevers voorbehouden.
Dikeloearken dan di djoeal oleh
KWEE SENG TJOAN & Co.
Mangga Besar
Batavia.
WP KHO TJENG BIN. - SATAUM<noinclude></noinclude>
054x2ffllwp0vvaz9f52ngu26no7fz3
320608
320599
2026-10-11T02:31:56Z
Radramboo
23710
/* Tervalidasi */
320608
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Radramboo" /></noinclude>5671
Djilid ka 2.
1 Djilid f 0.90 cent.
TJERITA
ANAK PRAMPOEAN DI BIKIN
SEBAGI PARIT MAS
ATAWA
IBOE JANG DOERHAKA.
OLEH
KWEE SENG TJOAN
(Penoelis Penganten jang Djinaka dan
Tiga Gadis Kota Betawi).
Soeatoe hal jang soeda kedjadian di Batavia
berselang lima blas taon lamanja.
DJILID KA-DOEA.
Het auteursrecht op dit verhaal, is aan de stellers en
nitgevers voorbehouden.
Dikeloearken dan di djoeal oleh
KWEE SENG TJOAN & Co.
Mangga Besar
Batavia.
WP KHO TJENG BIN. - SATAUM<noinclude></noinclude>
jij4wskl2ezisbq1sucer5xau3mq2nc
Halaman:Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf/2
104
70084
320610
201780
2026-10-11T02:32:59Z
Raihanazakira
25793
320610
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude>{| width=500px style="margin: auto; border: 3px solid black; padding: 2px; font-family: serif;"
|
{{C|BAROE TERBIT}}
<br>
Bokoe jang sekean lama ditoenggoe oleh orang banjak jaitoe :
<br>
DMALAY-ENGLISH
<br>ICTIONARY
KITAB-LOGAT DARI BAHASA
<br>MELAJOE-INGGRIS
<br>
{{R|OLEH :<br>
KWEE SENG TJOAN<br>
BATAVIA}}
Ini Kitab-Logat ada sanget perloe sekali boeat orang jang ingin bisa lekas madjoe didalem peladjaran Inggris.
Dengen meliat ada hoeroef Melajoe dari Letter A sampe Z. orang bisa dapetkan horoef Inggris jang tjotjok maksoeknja sebagaimana itoe hoeroef Melajoe.
Satoe djilid harga f 0,75 jaitoe harga jang amat moera sekali djika maoe dibandingken harganja dengen laen-laen Kitab-Logat. Kita bisa djoeal dengan harga begitoe oleh kerna kita soeroe tjiltak ini boekoe pada satoe Kantoor Tjitak jang paling besar di Shanghai. Dan rapi isinja dan tjitakannja, kita troesa poedji lagi, tetapi bole saksiken sadja sendiri.
<br>{{c|Boekoe jang terseboet boleh dapet beli pada:}}
<br>
|
|TAN TJIO NIO | |TAN PENG LIM
|Handel in Leten | |Handel in Loten
|''Djembatan-Batoe Batavia'' | |''Gang-Ribald Batavia''
|}<noinclude></noinclude>
m4fci860v34xs6pgfs329aubobtgwuj
Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas
0
70271
320690
247047
2026-10-11T03:30:43Z
Naufalfr Muhammad
27837
320690
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=
|next=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas/IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN|IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas.pdf" include="1" fromsection="title" tosection="title" />
{{pb|label=}}
dlhn0f22apvnipsj8wzamlphdw0nu8k
320694
320690
2026-10-11T03:33:53Z
Naufalfr Muhammad
27837
320694
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=
|next=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01/IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN|IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01.pdf" include="1" fromsection="title" tosection="title" />
{{pb|label=}}
nf9xmjb56skjd75jj31u928scglvlnh
320699
320694
2026-10-11T03:34:46Z
Naufalfr Muhammad
27837
320699
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=
|next=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01/IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN|IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01.pdf" include="1"/>
{{pb|label=}}
4qo1b9zvqzje3363ct149dgf0ijlo8n
Amai Cilako
0
70886
320594
247052
2026-10-11T02:20:52Z
Miftahul Janah 09
25811
320594
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous =
| next = [[Amai Cilako/Kata Pengantar|KATA PENGANTAR]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" include="2" />
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=14 to=84 step=2 />
== Ringkasan cerita ==
<pages index="Amai Cilako.pdf" include="86" />
{{CC-BY-SA-4.0}}
kz8dtknywwuijjlfv1bzmrx2acmvth6
320653
320594
2026-10-11T03:02:33Z
Miftahul Janah 09
25811
320653
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous =
| next = [[Amai Cilako/Kata Pengantar|KATA PENGANTAR]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" include="2" />
== Ringkasan cerita ==
<pages index="Amai Cilako.pdf" include="86" />
{{CC-BY-SA-4.0}}
hbt42qupsbxiszl9yi3buw2mo0bn1hs
320700
320653
2026-10-11T03:35:27Z
Cgjkldn
22445
320700
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous =
| next = [[Amai Cilako/Kata Pengantar|KATA PENGANTAR]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" include="2" />
{{pb|label=}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" include="10" />
{{pb|label=}}
== Ringkasan cerita ==
<pages index="Amai Cilako.pdf" include="86" />
{{CC-BY-SA-4.0}}
2lkvrjprxqu5ou5ogafqw8k23na2mvj
Pengguna:Ilham Mufti Laksono
2
72476
320675
268924
2026-10-11T03:23:36Z
Ilham Mufti Laksono
21678
Menambah templat
320675
wikitext
text/x-wiki
Halo. Nama saya Ilham Mufti Laksono dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Saya suka menjadi kontributor di berbagai proyek-proyek Wiki.
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2025}}
{{Peserta Kompetisi Wikisource 2026}}
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
kgz28ofcxab2ujw18nvkulc9k11ok4v
Anak Siapa
0
85436
320614
255333
2026-10-11T02:36:40Z
Agus Damanik
15946
320614
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Siapa
|author=Thio Tjin Boen
|section=
|previous=
|next=[[Anak Siapa/Bab 1|Bab 1]]
|notes=}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Anak Siapa/Bab 1|I.Apa itoe koerang pikir ?]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
70bzwobm9elu2c9omgoqc87h3bl2i7g
320631
320614
2026-10-11T02:47:38Z
Agus Damanik
15946
320631
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Siapa
|author=Thio Tjin Boen
|section=
|previous=
|next=[[Anak Siapa/Judul|Judul]]
|notes=}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Anak Siapa/Bab 1|I.Apa itoe koerang pikir ?]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
tpa2ez483v6igjwp5mrzx05x9u62u35
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/46
104
112939
320570
312483
2026-10-10T15:50:33Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320570
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Pengurus organisasi ini silih berganti sesuai dengan perkembangan organisasi dan perdjuangannja. Pertama jang terpilih sebagai pengurus antara lain ialah : Djured Luthan sebagai ketua, Ajun Sabiran sebagai Sekretaris, Mu'az Muchtar Yahja, H.N. Thaher sebagai komisaris.
Persatuan Murid Danijjah School mempunjai madjalahnja sendiri jang diberi nama ”Tunas Danijjah” dibawah asuhan Dewan Redaksi Djured Luthan, Ajun Sabiran, dan Tadjudin M.S. Pada tahun 1927 madjalah ini mengubah namanja mendjadi ”SUARA MURID”.
Dalam tahun berikutnja pengurus P.M.D.S. berganti dan terdiri dari pemuda : M. Jatim Latif sebagai ketua, Djamaluddin Ibrahim sebagai Sekretaris, dan anggota pengurus lainnja Djamarin, Djamaluddin Basir, dan Darwissah.
P.M.D.S. ini sedjak berdirinja sudah mendjadi perhatian pemerintah kolonial Belanda, karena organisasi ini lahir sebagai tjetusan ide progresif pada djamannja. Tidak djarang, guru dari Danijjah School jang pada umumnja djuga mendjadi pengasuh organisasi pemuda itu, dipanggil oleh penguasa setempat untuk diminta keterangannja tentang organisasi itu. Djuga sekali peristiwa pernah terdjadi bahwa dalam pertemuan dengan guru-guru Danijjah School, asisten residen Padang Pandjang mengemukakan bahwa segala keruwetan sebenarnja berpusat pada P.M.D.S. itu. Tidak djarang penguasa setempat memberikan tekanan dan intimidasi terhadap P.M.D.S. Namun demikian, pemuda-pemuda itu dengan gigih melandjutkan kegiatan organisasinja.
P.M.D.S. adalah organisasi jang menghimpun peladjar-peladjar Pemuda dari rakjat jang luas jang belum terorganisasi. Seiring dengan meningkatnja kesadaran nasional dalam kalangan pemuda, maka sangat terasa perlu adanja organisasi pemuda jang dapat menghimpun pemuda-pemuda dari kalangan rakjat jang luas itu. Dan karena itu, maka ketjuali organisasi pemuda P.M.D.S., pada tahun 1924 dengan berpusat di Padang Pandjang djuga berdiri suatu organisasi pemuda jang bersifat umum, jaitu ”BARISAN MUDA”.
Organisasi pemuda ini menghimpun semua pemuda dengan tidak membedakan pendidikan, dan kedudukan sosialnja. Dalam waktu jang sangat singkat sekali Barisan Muda meluas, baik keanggotaan maupun organisasinja.
Dalam salah satu pertemuan wakil Barisan Muda dari berbagai tempat di Sumatera Barat jang mengambil tempat di salah satu Sekolah Rakjat di Padang Pandjang, telah disahkan berdirinja organisasi itu<noinclude>{{rh|40}}</noinclude>
ajo6uhzg1fohndbch47ojo9olnbdlxx
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/49
104
112954
320573
312503
2026-10-10T15:51:32Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320573
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{Missing image}}
{{c|{{Smaller|''Pendiri-pendiri Pemuda Indonesia di Nederland.<br> Dari kiri kekanan : G. Mangunkusumo, Moh. Hatta, 1. Kusuma Sumantri, R. Sastro Muljono dan R.M. Sartono.''}}}}
pergerakan demokratis di Eropa, mendirikan organisasinja sendiri jaitu Indische Vereeniging ( Perhimpunan Hindia ) pada tahun 1908. Pada tahun 1922, sesuai dengan perkembangan pergerakan ditanah air, namanja diubah mendjadi Indonesische Vereeniging, jang pada tahun 1924 diubah mendjadi Perhimpunan Indonesia atau disingkat dengan P.I.
Azas dan tudjuan P.I. sebagaimana jang dinjatakan dalam ”Beginsel Verklaring” pada tahun 1925, jaitu suatu peraturan dasar jang telah mengalami beberapa kali perubahan, adalah sebagai berikut : 1. hanja dengan dirinja merasa sebagai orang Indonesia, dapat menjisihkan pertentangan grup, dapat mematahkan kekuasaan jang berkuasa ; 2. tudjuan bersama kemerdekaan Indonesia memerlukan adanja suatu kesadaran, berdasarkan kekuatannja sendiri mengadakan aksi massa jang bersifat nasional ; 3. ikut sertanja semua lapisan rakjat Indonesia kedalam perhimpunan perdjuangan kemerdekaan ini adalah sjarat jang sangat mutlak untuk mentjapai tudjuan itu ; 4. masalah jang menentukan dan jang terpokok dalam setiap masalah kenegaraan ialah ''pertentangan kepentingan'' antara ''jang berkuasa'' dan ''jang dikuasai''. Ketjenderungan politik dari jang berkuasa ialah mengaburkan dan menutupi masalah ini harus didjawab dari pihak jang dikuasai dengan ''mempertadjam'' dan menekankan semua<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude>
kw6445dakzfgvdrafs923at0lccunkr
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/52
104
112960
320577
312513
2026-10-10T15:52:45Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320577
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{Missing image}}
{{c|{{Smaller|''Utusan Pemuda-pemuda Indonesia dalam salah satu pertemuan internasional anti — fasis di Paris — al: Sudjarwo Tjondronegoro dan Suripno''}}}}
Ini disebabkan karena P.I. melakukan perdjuangan jang ulet dalam menjebarkan ide-ide revolusioner, ide Indonesia Merdeka, dan dalam usaha merealisasi ide itu. Untuk menjebarkan ide-ide itu P.I. djuga „menjelundupkan” madjalah-madjalah dengan melalui buruh-buruh laut ke Indonesia. Mereka djuga membantu perdjuangan pelaut-pelaut Indonesia.
Pemuda-pemuda peladjar Indonesia diberbagai negeri lain, seperti di Mesir (Kairo), India (New Delhi), di Djepang (Tokio), di Amerika djuga mendirikan organisasinja sendiri. Di Kairo organisasi mereka ini mula-mula dinamakan Djamiah Chairian jang dipimpin antara lain oleh Mochtar Luthfie, Abdul Kahar Muzakar, dan jang pada tahun 1927 berubah namanja mendjadi Perkumpulan Pemuda Indonesia Malaja (Perpindom), di New Delhi namanja Persindom, di Mekah namanja Pertindom, di Bagdad namanja Makindom.
Pengaruh Perhimpunan Indonesia jang disebabkan sikap politiknja jang tegas menuntut Indonesia Merdeka, lepas dari negeri Belanda, sangat besar di Indonesia. Peladjar-peladjar ibukota Indonesia Djakarta jang waktu itu bernama Batavia, jang sadar akan tugas djamannja mengikuti djedjak Perhimpunan Indonesia.<noinclude>{{rh|46}}</noinclude>
55bgv7nd6xb2rbkxefw19yaqditnq13
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/47
104
113094
320571
313085
2026-10-10T15:50:56Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320571
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>beserta Anggaran Dasar dan Rumah Tangganja. Pertemuan djuga memilih pengurus Barisan Muda Sumatera Barat jang terdiri dari pemuda revolusioner; Rustam sebagai ketua, Leon Salim sebagai Sekretaris, Moh. Thaib sebagai bendahara, Nazarudin, Or. Djuneid, M. Dunoa, Bustami sebagai komisaris.
Barisan Muda djuga mempunjai madjalahnja sendiri, dengan diberi nama ”SIGNAAL”. Sedangkan lagu-lagunja jang terkenal antara lain lagu revolusioner ”Ditimur Matahari Mulai Bertjahaja”. Barisan Muda menghimpun banjak murid sekolah-sekolah jang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, seperti H.I.S. (Hollandsche Inlandsche School), murid-murid sekolah rakjat jang menggunakan bahasa daerah, dan peladjar Sumatra Thawalib dan Danijjah School. Djuga surau dan langgar-langgar mendjadi tempat berkumpul pemuda Islam jang mendjadi anggota Barisan Muda. Pemimpin Barisan Muda ini djuga kerapkali mengadakan pertemuan didesa-desa atau negeri. Pidato-pidato pemuda-pemuda jang baru berumur belasan tahun ini sangat menarik perhatian pendengar-pendengarnja jang tua-tua...
Dalam tahun 1925 organisasi Barisan Muda diubah mendjadi organisasi kepanduan jang diberi nama: ”INTERNATIONALE PADVINDERIJ ORGANISATIE” atau disingkat (I.P.O.).
Dengan dirubahnja organisasi Barisan Muda mendjadi organisasi kepanduan, maka pengurus-pengurusnja djuga diubah sbb.: Amirchan sebagai Ketua, Leon Salim sebagai Penulis, M. Junus Kotjek sebagai Bendahara, Djamaluddin Ibrahim, Nazarudin, Asasudin Kimin, Saidin Basjir sebagai Komisaris-komisaris.
Dengan berdirinja I.P.O. ini maka dimana-mana kelihatan anak-anak pandu dengan berkatju merah berlatih baris dan berolah raga, mengadakan rapat umum jang djuga dihadiri oleh orang-orang tua. Pidato berapi-api jang penuh dengan semangat patriotisme muda ini meresap dihati orang-orang tua.
Pemuda jang mendjadi anggota kepanduan I.P.O. ini djuga mempunjai peranan jang besar dalam pemberontakan tahun 1927 jang meletus di Sumatera Barat. Pemuda-pemuda ini ikut serta membuat sendjata, granat, mendjadi penghubung dan lain-lain. Dengan pemberontakan ini banjak pemimpin² pemuda baik dari Danijjah School maupun dari I.P.O. ditangkap, dipendjarakan dan ada pula jang dibuang ke Digul. Sedangkan ada djuga jang menghindarkan diri dari penangkapan dengan pergi kelain daerah atau keluar negeri. Mereka jang masih tinggal tak menghentikan kegiatannja walaupun sementara waktu terpaksa tidak dapat dengan terang-terangan.<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude>
nylks40jptc0nfqmw6k0uda1y0tan2b
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/57
104
113301
320583
315865
2026-10-10T15:54:53Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320583
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>pemuda dari berbagai sukubangsa, selandjutnja dengan didorong oleh makin meningkatnja perdjuangan nasional rakja Indonesia pada tahun 1920 keatas, maka tumbuhlah ide persatuan dikalangan pemuda jaitu meningkatnja kesadaran perlu adanja satu organisasi pemuda.
Sebenarnja adanja satu organisasi pemuda bagi seluruh pemuda Indonesia sudah disadari djauh sedjak tahun pertama didirikan Tri Koro Dharmo. Pendiri organisasi ini Dr. Satiman Wirjosandjojo, pernah mengemukakan bahwa ”perkumpulan Tri Koro Dharmo harus memakai sifat buat sementara, supaja dikemudian hari boleh dirubah mendjadi suatu perkumpulan buat pemuda-pemuda Indonesia seumumnja”.
Tahun-tahun 1920 ― 1926 ― 1927 adalah terkenal sebagai tahun pertjobaan dan serangan pertama rakjat Indonesia terhadap imperialisme Belanda. Hal ini ditandai dengan makin serunja perlawanan jang terwudjud dalam pemogokan-pemogokan buruh, pemberontakan tani, dan protes-protes dari berbagai golongan rakjat.
Sebagai akibat penindasan, tekanan, dan provokasi jang dilantjarkan ''oleh'' pemerintah kolonial Belanda, maka meletuslah pemberontakan rakjat Indonesia pada bulan Nopember 1926 di Djawa, dan pada bulan Djanuari 1927 di Sumatera.
Meningkatnja perdjuangan rakjat Indonesia ini sudah tentu mempunjai gema dan pengaruhnja terhadap organisasi pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia makin mendjadi matang dalam politik dan organisasi, mereka mengemukakan tuntutannja makin terang jaitu Indonesia Merdeka. Dalam bidang organisasi mereka makin menjadari perlunja ada satu organisasi pemuda bagi seluruh pemuda Indonesia jang seazas agar makin dapat menjatukan kekuatannja guna mentjapai tjita-tjitanja.
Ide mempersatukan organisasi pemuda ini dilaksanakan dalam Kongres I Pemuda Indonesia pada tanggal 30 April 1926 s/d 2 Mei 1926 di Djakarta.
Kongres ini dihadiri oleh wakil-wakil dari organisasi-organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatra. Jong Ambon. Jong Minahasa. Jong Islamieten Bond, dan Jeugd-vereeniging van Theosofen (Himpunan Pemuda Teosofi).
Kongres ini diselenggarakan oleh suatu komite jang dibentuk sebelumnja dan bertugas membentuk badan sentral jang bertudjuan : a. memadjukan faham persatuan kebangsaan; b. mengeratkan hubungan antara semua perkumpulan-perkumpulan pemuda kebangsaan.*<ref>{{rule|align=left|6em}}Dari buku ”Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia”<br>Mr. A.K. Pringgodigdo, hl. 116.</ref> Djalan untuk .<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
0zxch6oie66943lveyeyhz4efdw8gqu
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/55
104
113304
320581
315866
2026-10-10T15:54:17Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320581
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Jong Islamieten Bond tidak mendukung ide ikut fusi untuk mendirikan satu organisasi Pemuda Indonesia. Pemimpin-pemimpin J.I.B. jang diputuskan oleh kongres tersebut antara lain terdiri dari Raden Sam, Wiwoho, dan lain-lainnja.
Dengan berdirinja Jong Islamieten Bond ini mendorong pemuda-pemuda dari agama lain membentuk organisasinja sendiri-sendiri. Dalam tahun berikutnja berdirilah organisasi Pemuda Muhamadijah, Pemuda Kristen, dan Pemuda Katholik, dan djuga kemudian lahir organisasi Pemuda Muslimin jang didirikan pada tahun 1928.
{{C|{{larger|BERBAGAI ORGANISASI PEMUDA LAINNJA.}}}}
Kelahiran Tri Koro Dharmo, bukan hanja mendorong pemuda dari suku Sumatera berorganisasi, tetapi djuga mendjadi perangsang dan pendorong pemuda-pemuda dari suku bangsa lain untuk segera mendirikan organisasinja sendiri.
Dikalangan pemuda-pemuda dari suku bangsa jang lain, terutama jang sedang beladjar di Djawa, setelah mengetahui manfaatnja organisasi pemuda Tri Koro Dharmo dalam usaha mengeratkan persatuan antara pemuda-pemuda, maka tumbuhlah hasrat dan kesadaran untuk membentuk organisasinja sendiri. Pemuda dari suku Ambon, Minahasa dan Sulawesi segera berusaha terbentuknja organisasi mereka sendiri.
Tahun 1918 ― 1919 adalah tahun kelahiran organisasi-organisasi mereka ini. Dalam tahun ini berdirilah organisasi pemuda Minahasa dengan nama ”Jong Minahasa”, organisasi Ambon dengan nama ”Jong Ambon” dan organisasi pemuda Sulawesi dengan nama ”Jong Celebes”. Djuga dalam tahun berikutnja lahir organisasi pemuda dari suku Batak, dengan nama ”Jong Batak”.
Azas dan tudjuan organisasi pemuda-pemuda ini umumnja sama dengan azas dan tudjuan Tri Koro Dharmo (Jong Java) dan Jong Sumatranen Bond. Kechususannja ialah, bahwa mereka menjatukan dan mengeratkan ikatan pemuda peladjar dari suku mereka masing-masing.
Organisasi pemuda ini umumnja berpusat di Djawa, karena di Djawalah pemuda-pemuda dari suku itu beladjar disekolah menengah. Ini tidak berarti bahwa pengaruh kegiatan organisasi mereka hanja di Djawa, tetapi sampai djuga didaerah kelahiran mereka masing-masing, didaerah suku bangsa mereka. Hal ini terbukti dengan terbentuknja grup-grup pemuda jang madju diberbagai daerah jang mendukung ide-ide untuk mengeratkan persatuan, meningkatkan deradjat kebudajaan dari pemuda-pemuda suku bangsa mereka masing-masing.<noinclude>{{rh|{{smaller|Sedjarah Perdjuangan{{gap}}4}}||49}}</noinclude>
9uxxtkace5f07sszfi0v4cq5f66s3vn
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/54
104
113307
320580
313042
2026-10-10T15:54:02Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320580
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>daerah lain seperti di Solo, Jogja dan Madiun djuga dilakukan propaganda untuk mendirikan organisasi ini.
Tudjuan Jong Islamieten Bond ini sebagaimana jang dinjatakan dalam Anggaran Dasarnja jang telah disahkan dalam Kongresnja jang pertama ialah : 1. mempeladjari dan mendorong hidupnja kembali agama Islam ; 2. memupuk dan menaikkan simpati terhadap pemeluk agama Islam dan pengikut-pengikutnja disamping kesabaran terhadap golongan lain : a. mengorganisasi kursus-kursus Islam, darma-wisata, sport dan dengan menggunakan alat agama Islam ; 4. meningkatkan kemadjuan djasmani dan rochani anggota-anggotanja dengan djalan menahan diri sendiri dan sabar.
Untuk mentjapai tudjuan ini dilakukan berbagai usaha jang antara lain : a. mengorganisasi kursus-kursus Islam, darma-wisata, sport dan kesenian ; b. mengadakan tjeramah-tjeramah dan perdebatan, mendirikan klub studi dan perdebatan ; c. menerbitkan madjalah, buku dan brosur, mendirikan bibliotik dan lain-lain djalan.*<ref>Dari buku ”De Nationalistische Beweging in Nederlandsch-Indie” J. Th. Petrus Blumberger, hl. 173.</ref>
Jong Islamieten Bond melangsungkan Kongresnja jang pertama pada bulan Desember 1925 di Jogjakarta. Kongres ini masih menggunakan bahasa Belanda. Kongres ini djuga dihadiri oleh tokoh-tokoh gerakan nasional, antara lain H.O.S. Tjokroaminoto, Surjopranoto, Dwidjose wojo, Suwardi Surjaningrat, Hadji Agus Salim, Hadji Fahrudin dari Muhammadijah, dan Mirza Wali Ahmad Beij seorang propagandis gerakan Ahmadijah.
Raden Sam, Ketua J.I.B. antara lain mengandjurkan agar dalam mempeladjari agama Islam orang menggunakan intelek, dan harus mempeladjarinja dengan kritis dan djangan menerima sadja tanpa pengertian.
Organisasi ini tidak mentjampuri politik praktis, tapi anggota²nja diperbolehkan ikut dalam gerakan politik, J.I.B. sendiri berusaha meningkatkan pengertian politik anggota-anggotanja.
Seiring dengan meningkatnja gerakan rakjat Indonesia, maka pengaruh Sosialisme djuga merasuk kedalam kalangan kaum Islam. Kaum kolonialis Belanda berusaha keras untuk memetjah persatuan nasional rakjat Indonesia termasuk persatuan gerakan pemuda Indonesia. Dalam hubungan ini perlu disebut kongres J.I.B. tahun 1926 dimana Hadji Agus Salim memberikan tjeramah tentang ”Islam dan Sosialisme”. Setelah kongres ini, hubungan antara J.I.B. dengan organisasi pemuda lainnja makin kurang erat.
{{rule|align=left|6em}}<noinclude>{{rh|48}}</noinclude>
653td5xeiu4bgk5maumi5ei9fw0394t
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/53
104
113311
320579
313047
2026-10-10T15:53:13Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320579
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Pada tahun 1925 sedjumlah pemuda peladjar di Djakarta mendirikan sematjam lingkaran, jang berkembang hingga pada tahun 1926 berbentuk organisasi dengan nama ”Perhimpunan Peladjar-Peladjar Indonesia (P. P. P. I.).
Azas dan tudjuan P.P.P.I. sangat menjerupai azas dan tudjuan P.I. di Nederland ialah : Berdasarkan pertentangan kolonial dan bertjita-tjita mendidik anggotanja untuk menjadari kewadjibannja kemudian dalam masjarakat, jaitu : ”Berdjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia Raja Merdeka”. P.P.P.I. mempunjai kegiatan jang besar dalam mempersatukan organisasi pemuda Indonesia. Ia adalah pengusul untuk menjatakan organisasi Pemuda dengan djalan fusi jang diterima oleh banjak organisasi pemuda jang besar di Indonesia.
Peranan memimpin dari P.P.P.I. ini karena umumnja anggota P.P.P.I. djuga mendjadi anggota-anggota organisasi pemuda lainnja. P.P.P.I. djuga mempunjai peranan jang besar baik dalam kongres ke-II Pemuda-pemuda Indonesia, maupun kegiatan pemuda dalam tahun berikutnja.
{{C|{{larger|JONG — ISLAMIETEN — BOND}}}}
{{C|(Himpunan Pemuda Islam)}}
Dalam perkembangan organisasi pemuda pada tingkat pertama ini djuga berlangsung proses penggolongan berdasarkan aliran agama. Pemuda jang beragama Islam jang semula bergabung dalam Jong Java merasa dirinja lebih tepat kalau mendirikan organisasinja sendiri. Pemisahan ini antara lain disebabkan karena usul Raden Sam, Ketua Jong Java pada waktu itu, untuk membagi anggota biasa mendjadi dua golongan, seperti jang sudah diterangkan didepan, tidak diterima. Sementara dari pemuda-pemuda itu berusaha mendirikan organisasi jang berdasarkan kepertjajaan agama Islam.
Dalam suatu ”manifes” jang diedarkan pada tanggal 1 Djanuari 1925 di Djakarta, menjerukan kepada pemuda Islam untuk membentuk satu organisasinja sendiri jang berdasarkan agama Islam. Dalam manifest itu djuga dinjatakan bahwa organisasi baru itu bertudjuan untuk memperdalam pengetahuan agama Islam dan mengeratkan persatuan dikalangan kaum Muslimin. Djuga dinjatakan bahwa jang diperkenankan mendjadi anggota organisasi itu ialah pemuda-pemuda jang berumur 14-30 th.
Pada hari-hari pertama terbentuknja organisasi itu, sudah terdaftar 250 anggota di Djakarta. Dan tak lama kemudian djuga didirikan bagian wanitanja dengan nama Jong-Islamictische Meisjes Bond. Di daerah-<noinclude>{{rh|||47}}</noinclude>
9qnptueqfredgy5mliihrls4dezmmlo
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/51
104
113312
320575
313055
2026-10-10T15:52:09Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320575
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>pertentangan ini ; 5. karena adanja pengaruh jang merusak dan demoralisasi dari jang berkuasa terhadap djiwa dan raga kehidupan Indonesia, perlu adanja usaha untuk menormalisasi perbandingan djiwa dan materiil *<ref>{{rule|align=left|6em}}
Dari buku ”De Nationalistische Beweging in Nederlandsch-Indie” J. Th. Petrus Blumberger, hl. 188. </ref>.
Dalam program kerdjanja antara lain dinjatakan : a. lebih intensif mempropagandakan dasar organisasi, tak terketjuali di Indonesia ; b. membawa persoalan Indonesia kedalam gelanggang internasional ; c. membangkitkan perhatian anggota-anggotanja terhadap masalah-masalah internasional dengan djalan tjeramah-tjeramah, perdjalanan beladjar ; d. usaha keuangan untuk berbagai tudjuan, dan lain-lain ** <ref> idem, hl. 189.</ref>.
Dalam usahanja untuk mempopulerkan perdjuangan rakjat Indonesia digelanggang internasional, dan seraja itu djuga menarik perhatian dan sokongan dari kekuatan progresif internasional, P.I. ambil bagian aktif dalam organisasi internasional. Ia mendjadi anggota dari Liga Anti Kolonial (Pebruari 1927), dan djuga mengirimkan utusan-utusan keberbagai sidang organisasi internasional jang progresif.
Pemimpin Perhimpunan Indonesia antara lain terdiri dari Iwa Kusuma Sumantri, L.B. Sitanala, Mohamad Hatta (pada tahun 1929 dipetjat oleh P.I.), Mr. Sastromuljono, Sartono, Nasir Pamuntjak, Ali Sastroamidjojo, D. Mangunkusumo, A.I.Z. Mononutu, Surono, Moh. Nasir, Amir, Moh. Jusuf, Abdulmadjid, Maruto Darusman, Setiadjit dan lain-lainnja. Mereka ini silih berganti memimpin P.I.
Kemudian karena di Nederland djuga timbul berbagai organisasi peladjar Indonesia lainnja, maka dibentuklah suatu badan jang dapat menjatukan mereka, jaitu Rukun Peladjar Indonesia, dengan disingkat — Rupi. Pemimpin-pemimpin Rupi antara lain ialah Sunito, Sudjarwo Tjondronegoro, Maruto Darusman dan lain-lain.
Perhimpunan Indonesia mempunjai pengaruh jang besar dalam proses perkembangan gerakan nasional dan gerakan pemuda ditanah air Indonesia. Pengaruh P.I. ini antara lain tampak dalam hal penggunaan nama Indonesia, misalnja nama Perserikatan Komunis Hindia pada tahun 1920 diubah mendjadi Partai Komunis Indonesia pada tahun 1924. Ia djuga mendorong lebih matangnja kesadaran nasional rakjat Indonesia. Dalam organisasi pemuda ia terutama mendorong pemuda-pemuda peladjar di Djakarta untuk mendirikan organisasinja sendiri.<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
ch72i2cq0vj9yv60a1syilfxsk76ku1
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/48
104
113322
320572
313086
2026-10-10T15:51:12Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320572
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Dengan semangat pemuda jang patriotik pemuda jang tidak tertangkap berusaha untuk melandjutkan dan menghidupkan organisasinja. Pada pertengahan tahun 1927, dengan bertempat diruangan sekolah Danijjah School didjalan Pasar Usang, Padang Pandjang, sebelas pemuda mengadakan pertemuan dan mengadakan sumpah untuk meneruskan perdjuangannja. Mereka ini ialah pemuda M. Junus Kotjek, Leon
Salim, Hasan Junus, Zubir Adin, Hasannudin, Luthan Gani, Malik Nuh,
Djunaid Samad, Mahjudin Tarek, D. Damanhuri, dan Baheramsjah Tamin dan lain-lain.
Sebenarnja dalam pertemuan itu diundang 30 orang tetapi ternjata jang sanggup datang hanja 11 orang pemuda. Tetapi tekad mereka itu dalam waktu jang singkat diikuti oleh pemuda-pemuda jang lain. Mereka mengadakan kegiatan-kegiatan dalam olah raga, mengadakan pertemuan-pertemuan untuk mendengarkan tjerita-tjerita kepahlawanan, mengadakan klub-klub musik, mengadakan taman batjaan dan lain-lain.
Dalam waktu kurang lebih tiga bulan usaha mereka ini telah meluas dan mulai membangkitkan daja djuang dalam kalangan pemuda. Dalam waktu jang singkat P.M.D.S. berdiri lagi dibanjak sekolah Danijjah School. Pada pertengahan tahun 1927 P.M.D.S. berhasil mengadakan kongresnja, jang memilih pengurus-pengurusnja baru jang terdiri dari : Munis Rahimy sebagai Ketua, Baheramsjah sebagai Sekretaris, Luthan Gani, Dhanlar Zainudin, Latif sebagai anggota pengurus.
Dalam melakukan kegiatan organisasi P.M.D.S. djuga mengadakan kongres-kongres dalam tahun 1928. 1929 dsb.-nja. Pengurus-pengurusnja djuga silih berganti dipilih oleh Kongres sesuai dengan perkembangan dan keadaannja..
{{c|{{sp|PEMUDA INDONESIA<br>DI<br>NEDERLAND}}}}
Sifat dinamis dari pemuda bukan hanja tertjermin dari peristiwa-peristiwa gerakan pemuda ditanah airnja sendiri, tetapi djuga pada pemuda-pemuda jang diluar negeri. Pemuda Indonesia jang sedang beladjar diluar negeri djuga tak hendak ketinggalan dengan pemuda-pemuda jang berada ditanah airnja.
Seiring dengan berdirinja Budi Utomo, jang dipelopori oleh pemuda-pemuda peladjar STOVIA, djuga pemuda-pemuda peladjar dinegeri Belanda jang mengikuti dan mengalami setjara langsung perkembangan-<noinclude>{{rh|42}}</noinclude>
8fjgtfwl7hozostlo2e68yrvciay4w5
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/56
104
113323
320582
313088
2026-10-10T15:54:33Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320582
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>Dalam tahun 1920-an, djuga berdiri sebuah organisasi pemuda dari suku Sunda jang berkedudukan di Djakarta ― ”Sekar Rukun”. Pada pokoknja azas dan tudjuannja sama dengan organisasi pemuda jang telah ada lainnja.
Di Djakarta, jang pada waktu itu terkenal djuga dengan nama Batawi timbul organisasi Pemuda Batawi, jang dipimpin antara lain oleh pemuda Husni Thamrin.
{{gambar hilang}}
Ketjuali itu. pada tahun 1920 djuga berdiri organisasi pemuda dari golongan Kristen, jaitu Muda Kristen Djawi (M.K.D.). Muda Kristen Djawi ini menggunakan bahasa Djawa sebagai bahasa pengantar pergaulan, dan seiring dengan meningkatnja gerakan dan kesadaran nasional M.K.D. mengubah namanja mendjadi Perkumpulan-perkumpulan Pemuda Kristen (P.P.P.K.) dan menggunakan bahasa Indonesia. Dalam kongresnja pada tahun-tahun setelah sumpah pemuda, djuga menjanjikan lagu Indonesia Raja, hal mana mendapat tentangan dari Zending Belanda.
Tumbuh dan perkembangan organisasi pemuda itu mempunjai peranan jang penting dalam meningkatkan kesadaran nasional dalam kalangan pemuda chususnja dan gerakan rakjat dikalangan suku bangsa-suku bangsa di Indonesia. Karena dengan melalui merekalah ide persatuan, dan ide perdjuangan kemerdekaan sampai pada rakjat, pemuda suku mereka masing-masing.
Organisasi pemuda ini didalam perkembangan selandjutnja djuga mendukung ide terbentuknja satu organisasi pemuda Indonesia, dan achirnja baniak diantaranja jang bersama-sama dengan Jong Java dan Jong Sumatranen Bond meleburkan diri kedalam Indonesia Muda.
{{c|HASRAT BERSATU DIKALANGAN PEMUDA}}
Segala sesuatu senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan dari jang sederhana ke jang pelik, dari jang kurang sempurna mendjadi sempurna dan lebih sempurna dsb. Demikianlah djuga perkembangan organisasi pemuda di Indonesia.
Mula-mula berdiri organisasi pemuda nasional jang pertama Tri Koro Dharmo (Jong Java) kemudian disusul lahirnja berbagai organisasi<noinclude>{{rh|50}}</noinclude>
fom8md5m5dc05hra1uyb2kvyy6xwd5v
Halaman:Sedjarah perdjuangan pemuda Indonesia.pdf/50
104
113371
320574
313440
2026-10-10T15:51:53Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
320574
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" /></noinclude>{{gambar hilang}}
{{Center|
''Kenang²an anggauta-anggauta P.I. di Den Haag bulan Djuni 1924''
}}<noinclude></noinclude>
bv869mp5nwhvciv6vs2qn5qoyy82gct
Halaman:Auto setan.pdf/6
104
113773
320591
318879
2026-10-11T02:02:41Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320591
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" /></noinclude><section begin="autosetan" />{{xxx-larger|{{C|{{sp|'''AUTO SETAN'''}}}}}}
{{x-larger|{{C|JANG MENGEMPERKEN SELOEROE<br>
SAN FRANCISCO.<br>
Oleh: H. MORELAND<br>
T. D. M.'s INVESTIGATOR.<br>
Terkoetib oleh: {{Sp|AONIS Sr.}}}}}}
{{dropinitial|'''„A'''}}UTOMOBIEL-SETAN !”
Katjilaka'an jang terdjadi sanget ngeri !”
Begitoe orang pada dibikin gemper di sana-sini, di seloeroe plosok kota San Francisco jang ramé dan besar.
Toean dan njonja Warren Louw baroesan sadja kloear dari pintoenja gedong bioscope El Rey Theater, dan marika djalan sambil bergandengan tangan di sepandjangnja Lakewood Avenue menoedjoe boeat poelang ka roemahnja. Sepandjang perdjalanan mana marika dengen asik sedeng bitjaraken itoe gambar talkie jang tadi marika telah saksiken dalem gedong bioscope terseboet, jang roepanja menarik hati sekali.
Itoe waktoe baroe kira kira djam 9.30 malem, hari Djoemahat, tanggal 29 April taon 1932.
<section end="autosetan" /><noinclude></noinclude>
i52cxn3ymd67hxe1sr00do1pp2xnqss
320715
320591
2026-10-11T03:48:10Z
Volstand
14289
320715
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" /></noinclude><section begin="autosetan" />{{xxx-larger|{{C|{{sp|'''AUTO SETAN'''}}}}}}
{{x-larger|{{C|JANG MENGEMPERKEN SELOEROE<br>
SAN FRANCISCO.<br>
Oleh: H. MORELAND<br>
T. D. M.'s INVESTIGATOR.<br>
Terkoetib oleh: {{Sp|AONIS Sr.}}}}}}
<section begin="s1" />{{c|I.}}
{{dropinitial|'''„A'''}}UTOMOBIEL-SETAN !”
Katjilaka'an jang terdjadi sanget ngeri !”
Begitoe orang pada dibikin gemper di sana-sini, di seloeroe plosok kota San Francisco jang ramé dan besar.
Toean dan njonja Warren Louw baroesan sadja kloear dari pintoenja gedong bioscope El Rey Theater, dan marika djalan sambil bergandengan tangan di sepandjangnja Lakewood Avenue menoedjoe boeat poelang ka roemahnja. Sepandjang perdjalanan mana marika dengen asik sedeng bitjaraken itoe gambar talkie jang tadi marika telah saksiken dalem gedong bioscope terseboet, jang roepanja menarik hati sekali.
Itoe waktoe baroe kira kira djam 9.30 malem, hari Djoemahat, tanggal 29 April taon 1932.
<section end="autosetan" /><noinclude></noinclude>
k0b0p70bp1936xp25n9yxovo66meckn
320730
320715
2026-10-11T04:03:03Z
Volstand
14289
320730
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" /></noinclude><section begin="autosetan" />{{xxx-larger|{{C|{{sp|'''AUTO SETAN'''}}}}}}
{{x-larger|{{C|JANG MENGEMPERKEN SELOEROE<br>
SAN FRANCISCO.<br>
Oleh: H. MORELAND<br>
T. D. M.'s INVESTIGATOR.<br>
Terkoetib oleh: {{Sp|AONIS Sr.}}}}}}
<section begin="C1" />
{{dropinitial|'''„A'''}}UTOMOBIEL-SETAN !”
Katjilaka'an jang terdjadi sanget ngeri !”
Begitoe orang pada dibikin gemper di sana-sini, di seloeroe plosok kota San Francisco jang ramé dan besar.
Toean dan njonja Warren Louw baroesan sadja kloear dari pintoenja gedong bioscope El Rey Theater, dan marika djalan sambil bergandengan tangan di sepandjangnja Lakewood Avenue menoedjoe boeat poelang ka roemahnja. Sepandjang perdjalanan mana marika dengen asik sedeng bitjaraken itoe gambar talkie jang tadi marika telah saksiken dalem gedong bioscope terseboet, jang roepanja menarik hati sekali.
Itoe waktoe baroe kira kira djam 9.30 malem, hari Djoemahat, tanggal 29 April taon 1932.
<section end="autosetan" /><noinclude></noinclude>
lj1kztdaoyo0yht617yos6agjq0db75
Halaman:Auto setan.pdf/7
104
114171
320595
315970
2026-10-11T02:21:22Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320595
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" />{{rh|8|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||9}}</noinclude>Itoe sepasang soeami - istri moeda tinggal di wijk Kenwood Way dalem bilangan Mount Davindson Manor, satoe bagian dari San Francisco jang tjantik. Wijk tempat kadiaman marika adalah satoe wijk baroe dari kota San Francisco, dengen segala apanja terbikin serba bagoes, modern, baek iapoenja straat-straat, park-park, atawa villa-villa di sitoe jang disertain kebon - kebon indah berikoet bebrapa Lawn Tennis Court sekali. Sasoenggoehnja dalem wijk baroe itoe sanget menarik pikiran, melegahken pemandengan, menghiboerken otak jang jjape sa-abis poelang kerdja.
Oewap halimoen dari lacetan Pacific sering kali menioep dengen santer di atasnja Mount Davidson Manor itoe, tapi djoestroe pada maleman terseboet sang halimoen ada tipis dan melajang di antara mega - mega jang tinggi. Tapi hawanja ada dingin sebagimana biasa saben permoela'an moesim Winter. Tida disangka, tida dinjana, kaada’an oedara jang begitoe djernih achirnja terdjadi apa-apa jang sanget mengagetken — mengedjoetken antero San Francisco !
Dengen enak toean serta njonja Louw berdjalan teroes di mana garisan pinggir sambil dikipasin oleh angin pasisir jang menjegerken. Tiba-tiba satoe automobiel liwatken ia orang. Kamoedian itoe automobiel balik meliwatin poela dan kombali begitoe lagi. Mr. Louw ada saorang jang mengarti baek tentang automobiel, ia ada satoe mechanic, maka dengen lantas ia bisa taoe auto bagimana matjem itoe jang bebrapa kali meliwatin padanja. Ia sigra taoe bahoea automobiel itoe ada satoe Lincoln-phaeton dengen memake satoe spotlight (lentera penjoeloe) di atas iapoenja radiator. Kombali belon selang bebrapa minuut itoe auto liwatin poela Mr. & Mrs. Louw boeat ka-ampat kalinja hingga maoe atawa tida Mr. Louw djadi tjoeriga sambil pasang mata betoel-betoel boeat kenalin. pengandarnja.
„Soenggoeh akoe heran apa maksoednja si pengandar auto beroelang-oelang seperti mengoentit kita, berpoeter-poeter di sini sadja?” menggrendeng ia pada sang istri.
Baroe sadja abis ia mengoetjap laloe koenjoeng-koenjoeng spotlight jang berada di atasnja radiator dikasih menjalah terang, menjoroiken kean-kemari dengen sanget membikin silo orang poenja mata. Berbareng mana itoe Lincoln-phaeton dilatiken dengen full speed, dengen pesat sekali roen ka satoe djalanan moedoen dan sigra linjap seperti setan dari pemandengan Mr. dan Mrs.Louw.
Teroes toean serta njonja Louw landjoetken marika poenja perdjalanan aken poelang ka roemah. Tatkala itoe marika tinggal kira-kira 200 kaki lagi sampe di roemahnia jang terletak di No. 129 Kenwood Way. Belon djalan sapoeloeh langka lebih djaoeh tiba - tiba njonja Louw satjara goegoep pegang tangan soeaminja, iapoenja napas sengal-sengal. Ia bertreak: „Apa itoe jang menggletak di pinggir strat seblah sana?
Mr. Louw samperin boeat meliat lebih terliti. „Toenggoe:sabentar”, ia berkata sambil tinggalken sang istri.
Di pinggir djalan kadapetan menggletak badannja saorang prempoean dengen tengkoerep, samentara iapoenja kadoea tangan melondjor lempeng. Lantas toean Louw ambil iapoenja {{hws|korek|korekapi}}<noinclude></noinclude>
fhewvepq9v6laqoxqalym002n7y7vb9
Halaman:Auto setan.pdf/8
104
114172
320596
315969
2026-10-11T02:21:37Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320596
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" />{{rh|10|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||11}}</noinclude>{{hwe|api|korekapi}}, ia soeloein moekanja itoe badan manoesia satelah ia tjelentangken dengen ati-ati.
Hola! Ia ada satoe prempoean toea, iapoenja aermoeka kliatan sanget sympathiek serta ramboetnja soedah poetih semoea, beramboet pendek, dan ia berpakean japon dari wool warna merah moeda jang tebel. Moekanja soedah djadi kotor sama aboe atawa laen barang dan berlepotan darah. Iapoenja toeboeh dirasaken dingin sekali.
Soedah tentoe Mr. Louw djadi kliwat kaget menampak itoe pemandengan jang ngeri. Ia masoekin poela iapoenja doos korek-api ka dalem sakoe. Ia mengawasin ka sana-sini tapi tida terdape laen manoesia. Dengen moeka poetjet, napas memboeroe ia bertreak:
„Katjilaka’an | Ia soedah lindes mati orang dan lari!!"
{{Asterism}}
Besok paginja koetika Captain Inspector Charles W. Dullea dateng di iapoenja kantoor dalem Hall of Justice di Kearny Street. Dengen lantas iapoenja mata djadi katarik pada salembar soerat-kabar pagi, kerna di hoofdpagina lembaran ka-satoe dengen letter-letter besar ada dipasang kalimat tentang katjilaka'an auto dari saorang prempoean toea jang tida terkenal, jang kadapetan di pinggir straat. Sa-abis membatja pekabaran itoe, tida lama doea orang politie poen masoek serahken padanja satoe rapport pri-hal itoe korban serta penoeloeran dari Mr. Warren Louw, siapa katemoeken sang korban paling pertama lagi samalem dan dari ia djoega politie irima pengadoean.
Menoeroet boenjinja rapport terseboet ada menoetoerken bahoea si porean ada satoe prempoean jang berbadan sedeng, iapoenja gigi atas dan bawah memaké slongsong mas dan di mana salah satoe djari dari tangan kiri apa paké satoe tjintjin kawin model koeno. Bagian dalem dari tjintjin kawin itoe tertoelis bebrapa perkata’an seperti begini: „Dari Joe boeat Jessie’. Lebih djaoeh dalem itoe rapport ditoelis bahoea itoe Automobiel-Setan telah liwatin sampe ampat kali pada toean dan njonja Warren Louw, dan kamoedian dengen tjepet mengilang; kapan badannja korban itoe didapetken semoea soedah djadi dingin dengen tida bernapas poela.
Satelah selesih perhatiken itoe rapport dan laen katerangan jang berhoeboeng dengen itoe korban dari Automobiel-Setan, lantas inggalken kantoor, bertindak tjepet menoedjoe ka satoe djalanan dari itoe gedong jang besar aken pergi ka roewangan dari kantoor hoofdkwartier politie. Boeat sampeken itoe kwartier politie jang terletak di seblah bawah ia moesti goenaken lift (tangga electrisch), jang telah bawak ia dengen tjepet ka sitoe dalem bebrapa seconde sadja.
Iapoenja paras tertampak sanget bersoenggoeh, ja tida perdoeliken bebrapa orang jang berpapasan padanja poenja pertanja‘an - pertanja'an biasa, itoe mengoendjoek bahoea iapoenja antero pikiran katarik sanget keras sama itoe perkara pemboenoehan gelap jang loear biasa ka-ada'annja.
Terdjadinja itoe perkara djiwa sabetoelnja Inspector Dullea telah dikabarken dengen ringkes lagi tadi malem, bebrapa diam berselang sedari Mr. Louw katemoeken mait itoe. Tapi dengen begitoe<noinclude></noinclude>
73rrbw0tbppyt856o0hkbavbr7unryv
Halaman:Auto setan.pdf/9
104
114173
320597
315971
2026-10-11T02:21:49Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320597
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" />{{rh|12|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||13}}</noinclude>mendadak ia tida dapet kasempetan aken memereksa dengen tjoekoep, dan jang paling teroetama itoe malem djoega per telefon dan radio-cars soedah dikloearken titah pada sa-antero corps politie dan detectives aken tjari atawa bekoek kaloe dapet liat satoe Lincoln-phaeton automobiel dengen spotlight di radiator sebagimana diliat oleh Mr. Louw.
Sesampenja Inspector Dullea di itoe Kwartier politie dengen lantas ia moelain lakoeken segala kawadjibannja. Mait dari itoe korban kliatan diletakin dalem kamar speciaal dari itoe politie kwartier, di atas mana ditoetoepin oleh salembar kaen selimoet,
Ia samperin itoe mait jang soedah kakoe. Ia boeka toetoepan moekanja dan bagian - bagian anggota jang ia ingin preksa. Dengen matanja jang tadjem ia menilik betoel-betoel apa-apa jang perloe. Mendadak selagi ia memereksa dengen penoeh perhatian iapoenja tangan ia toeroenken ka bawah sambil golengken kepala jang menandaken ia sedeng hadepin satoe soeal soel jang soeker dipertjajaken. Sakoetika lama ia peloek tangan, mengawasin badannja itoe korban jang soedah djadi mait, saolah-olah ia lagi pasang concentratie keras aken tjara bagimana ia haroes mengoesoet agar pemboencehnja jang ternjata sanget litjin bisa satjepetnja dapet dibekoek.
Kapan ia asik memikirin soeal jang berada di depan matanja, dengen lantas itoe pintoe tertolak dari loear. Saorang tinggi besar sambil menengteng koffer laloe berdiri di hadepannja dan ia ada Dr. Adolphus Berger, dokter specialist politie jang ternama. Dengen lekas Dr. itoe djalanken iapoenja kawadjiban aken preksa ka-ada’an si korban sambil disaksiken oleh kita poenja Inspector.
„Apa jang kaoe dapetken, Dokter?” Inspector Dullea menanjak kamoedian.
„Ia soedah terboenoeh mati”, saoet sang dokter sembari awasin badannja itoe prempoean dengen bidji matanja jang berwarna aboe - aboe. „Kaoe taoe, ini prempoean poenja kamatian menoeroet pendapetankoe lantaran terlindes oleh roda kandaran jang berat jang giles bagian dadahnja serta bagian bawah peroet. Di iapoenja atas poendak kiri terdapet tanda-tanda merah seperti tergosok oleh barang keras atawa satoe pergoeletan sengit dari tangan jang koeat jang menjebabken tanda-tanda itoe. Lebih djaoeh bisa dipastiken tatkala ia tergiles oleh itoe roda kandaran ia sedeng tjelentag dan berada di atas tempat jang rata bagian belakangnja. Samentara itoe loeka-loeka beset di moekanja tida salah lagi lantaran tjangkreman jang keras — dan itoe loeka - loeka di atas toelang djanggoet seblah kanan sampe di atasan mata kanan ada terlebih heibat poela roepanja”.
„Ja, akoe poen accoord dengen kace poenja katerangan”, djawab Inspector Dullea dengen tjepet. „Tapi itoe loeka di bagian mata dari djanggoet kanan ada jang paling heibat. Tjoba kaoe njataken padakoe loeka-loeka demikian dari apakah lantarannja jang paling bisa djadi?”
Sakean lama itoe dokter berdiam dan saben-saben mengawasin pada Inspector Dullea seperti ia ingin akoerken satoe sama laen poenja pendapetan apa tjotjok atawa tida, dan ia orang sama- {{hws|sa|sama}}<noinclude></noinclude>
nhnz6fp0i3i2att6fuy2q47pcyblfgs
Halaman:Auto setan.pdf/10
104
114174
320598
315972
2026-10-11T02:22:03Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320598
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" />{{rh|14|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||15}}</noinclude>{{hwe|ma|sama}} ada teritoeng experts politie dalem perkara-perkara pemboenoehan soelit.
„Tanda - tanda loeka itoe”, saoet Dr. Berger dengen pelahan, „moesti disebabken dari poekoelan dengen kepelan jang keras”.
„Bener sekali!” menetepken Dulles. „Begitoepoen ada doega’ankoe satelah pertama kali akoe meliat sang korban. Djika ia sawadjarnja lagi djalan di straat dan diseroedoek atuomobiel hingga djatoh tjelentang itoe loeka di bagian moeka aken laen sifatnja, tida seperti begini. Betoelkah?”
Dr. Berger manggoetken kepala. „Ja, akoe tetepken kaoe poenja pendapetan”, ia menjaoet kamoedian.
Sasoedah bitjara selesih sama itoe dokter laloe Inspector Dullea toetoepin poela sang mait dengen selimoet tadi. „Biarlah akoe preksa sekarang kaada’annja iapoenja pakean”, ia berkata dan sigra djalan kloear.
Bersama-sama marika masoek ka laen kamar, di mana pakean si korban telah dibeber di atas satoe medja poetih. Paling doeloe Inspector Dullea ambil doea bidji kaos kaki dari soetra; ia tilik itoe di tempat terang, liat sasoeatoe bagiannja satjara tertip. Itoe kaos kaki soetra ternjata soedah djadi letjek dan di bebrapa tempat kadapetan’ petjah-petjah seperti bekas kenah tergosok-gosok. Djoega iapoenja sapasang sepatoe di bagian oedjoengnja terdapet tanda-tanda jang njata bekas kabentoer apa-apa, seperti bekas bentrokan-bentrokan jang terdjadi sebab tendangan beroelang - oelang. Kamoedian Inspector Dullea preksa badjoe kaos soetra warna koening toea dan japon dari si korban dengen kleur merah moeda.
Badjoe kaos itoe tinggal bersi ka-ada’annja, tida mengoendjoek tanda-tanda dari bekas gilesan band auto. Tapi tanda-tanda item kentara sekali bisa diliat terdapet di mana itoe japon merah moeda. Itoe tanda-tanda bekas band mobiel kaliatan tjoekoep teges jang meliwatin dari bagian dadah sampe di bagian bawah peroet dari japon. Itoe, hingga orang bisa bajangken tjara bagimana itoe korban kagiling dengen roda auto.
Sepandjang bikin papreksa’an pada sang korban poenja potongan-potongan pakean, Inspector Dullea poenja sinar mata saben-saben berobah, sabentar iapoenja roman ada kalm dan sabentar ia kliatan serious memahamken itoe tragedy jang kedjem. Koetika Dr. Berger poenja kawadjiban soedah klaar dan aken tinggalken itoe kamar, Inspector Dullea laloe hatoerken trima kasi.
„Bagimana kaoe poenja pikiran dalem ini perkara, sir?” tiba-tiba itoe dokter menanjak sabelon ia bertindak kloear pintoe.
„Akoe belon bisa bilang apa-apa sekarang, jang ini perkara ada soelit itoelah haroes diakoeh”, ia kasi penjacetan dan laloe masing - masing berpisahan.
Dengen tjepet Inspector Dullea balik kombali ka iapoenja kantoor. Ia sigra angkat handle telefoon boeat bitjara Francis X. Latulipe, Jr., satoe criminologist, achli dalem hal kadjahatan, dari kota San Francisco jang terkenal katjakepannja.
„Frank’’, Inspector Dullea bitjara, „akoe telah titahken boeat sampeken padamoe bebrapa potong pakean kapoenja'an itoe korban saorang prempoean toea jang kadapetan terboenoeh mati di Kenwood Way tadi malem. Di atas itoe japon<noinclude></noinclude>
8hh2hp0bzryl7xftvnp0wabztdctsff
Halaman:Auto setan.pdf/11
104
114175
320618
315973
2026-10-11T02:38:22Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320618
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" />{{rh|16|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||17}}</noinclude>warna merah moeda terdapet tanda-tanda jang njata seperti bekes gilingan band mobiel jang meneken keras. Nanti toeloenglah kaoe bikinken foto jang soedah dibesarin dari itoe tanda-tanda, kita perloe sekali boeat oesoet ini perkara gelap. Dan lebih djaoeh harep kaoe preksa ka-adaan segala bagian dari itoe pakean — kaloe-kaloe ada kadapetan laen-laen tanda jang penting".
{{di|I}}NSPECTOR DULLEA lantas tjangelken poela di tempatnja itoe handle telefoon, tangannja merogo ka dalem sakoe badjoe dari mana ia ambil satoe sigaret jang ia sigra soeloet. Ia sedot itoe batang sigaret beroelang - oelang sambil mengeboelken asep jang poetih moeloek naek ka atas iapoenja kepala. la tinggal bengong sakoetika lama dengen awasin itoe goeloengan asep, sedeng bebrapa orang jang bekerdja di depannja sa-aken aken ia tida liat kerna iapoenja antero pikiran sedeng ditoedjoeken sama. perkara jang ia oeroes. Sampe bebrapa minuut ia tida bergerak, ia tinggal tetep laksana patoeng serta matanja poen zonder berkesip: ia sedeng ngelamoen pada itoe pemandengan dalem kamar papreksa’an di hoofdkwartier politie tadi dengen banjak pertanja’an dalem iapoenja otak: „Siapakah jang soedah memboenoeh mati pada itoe njonja toea jang berparas sabar — dan apakah sebabnja?”
Sakoenjoeng - koenjoeng ia dibikin terkedjoet satoe ketokan pintoe terdenger dari loear. Koetika ia boekain laloe masoek saoreng lelaki degen ramboet kriting, tinggi diangkoeng, berparas keren dan berpakean djas kleur aboe-aboe berdjoempah padanja. Ia boekan len orang hanja ada Inspector Allen McGinn, pemimpin kepala dari dienst penjelidikan boeat perkara pemboenoehan. Di belakang ia mengikoetin Louis Linss, satoe detective sebagi pembantoe jang terseboet doedoean.
„Soedahkah kaoe preksa maitnja itoe korban?” McGinn tiba-tiba madjoeken pertaja‘an.
„Soedah, Akoe soedah preksa dengen terliti dan djoega itoe bebrapa potong pakean. Dan akoe telah mempoenjain kapastian tentang itoe Korban. Ia boekannja dapet katjilaka’an auto se‘bagimana roepanja itoe pemboenoeh hendak klaboein politie dengen sengadja giles badannja itoe njonja toea”.
„Djadi boekan katjilaka’an biasa?”
„Ja, itoe ada pemboenoehan jang dipikir mateng lebih doeloe”
Lebih djaoeh Inspector itoe toetoerken apa-apa dengen soeara pelahan jang didengerin oleh McGinn dan Linns dengen perhatian. Perkata’an-perkata'an demikian soedah sering terdenger di sakiter itoe tembokan kamar dan boekan perkara baroe lagi. Satelah Inspector Dullea abis bitjara keliatan McGinn mangoetken kepala sambil berkata:
„Akoe berdoea Linss poen berpendapetan ampir saroepa dengen kaoe, tatkala kita saksiken pemandengan di mana itoe kadjahatan terdjadi. Samalem dengen lantas kita pergi tengok tempat terseboet, katemoeken toean Warren Louw, dan laen-laen tetangga jang tinggal di itoe wijk boeat diminta ia orang satoe per satoe poenja katerangan apa jang ia orang taoe. Tapi tida satoe orang jang tinggal berdampingan deket sitoe ada<noinclude></noinclude>
l6jonagnhxncbdr8s4t3xxuygj3z9xi
320718
320618
2026-10-11T03:49:15Z
Volstand
14289
320718
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" />{{rh|16|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||17}}</noinclude>warna merah moeda terdapet tanda-tanda jang njata seperti bekes gilingan band mobiel jang meneken keras. Nanti toeloenglah kaoe bikinken foto jang soedah dibesarin dari itoe tanda-tanda, kita perloe sekali boeat oesoet ini perkara gelap. Dan lebih djaoeh harep kaoe preksa ka-adaan segala bagian dari itoe pakean — kaloe-kaloe ada kadapetan laen-laen tanda jang penting".
{{c|II.}}
{{di|I}}NSPECTOR DULLEA lantas tjangelken poela di tempatnja itoe handle telefoon, tangannja merogo ka dalem sakoe badjoe dari mana ia ambil satoe sigaret jang ia sigra soeloet. Ia sedot itoe batang sigaret beroelang - oelang sambil mengeboelken asep jang poetih moeloek naek ka atas iapoenja kepala. la tinggal bengong sakoetika lama dengen awasin itoe goeloengan asep, sedeng bebrapa orang jang bekerdja di depannja sa-aken aken ia tida liat kerna iapoenja antero pikiran sedeng ditoedjoeken sama. perkara jang ia oeroes. Sampe bebrapa minuut ia tida bergerak, ia tinggal tetep laksana patoeng serta matanja poen zonder berkesip: ia sedeng ngelamoen pada itoe pemandengan dalem kamar papreksa’an di hoofdkwartier politie tadi dengen banjak pertanja’an dalem iapoenja otak: „Siapakah jang soedah memboenoeh mati pada itoe njonja toea jang berparas sabar — dan apakah sebabnja?”
Sakoenjoeng - koenjoeng ia dibikin terkedjoet satoe ketokan pintoe terdenger dari loear. Koetika ia boekain laloe masoek saoreng lelaki degen ramboet kriting, tinggi diangkoeng, berparas keren dan berpakean djas kleur aboe-aboe berdjoempah padanja. Ia boekan len orang hanja ada Inspector Allen McGinn, pemimpin kepala dari dienst penjelidikan boeat perkara pemboenoehan. Di belakang ia mengikoetin Louis Linss, satoe detective sebagi pembantoe jang terseboet doedoean.
„Soedahkah kaoe preksa maitnja itoe korban?” McGinn tiba-tiba madjoeken pertaja‘an.
„Soedah, Akoe soedah preksa dengen terliti dan djoega itoe bebrapa potong pakean. Dan akoe telah mempoenjain kapastian tentang itoe Korban. Ia boekannja dapet katjilaka’an auto se‘bagimana roepanja itoe pemboenoeh hendak klaboein politie dengen sengadja giles badannja itoe njonja toea”.
„Djadi boekan katjilaka’an biasa?”
„Ja, itoe ada pemboenoehan jang dipikir mateng lebih doeloe”
Lebih djaoeh Inspector itoe toetoerken apa-apa dengen soeara pelahan jang didengerin oleh McGinn dan Linns dengen perhatian. Perkata’an-perkata'an demikian soedah sering terdenger di sakiter itoe tembokan kamar dan boekan perkara baroe lagi. Satelah Inspector Dullea abis bitjara keliatan McGinn mangoetken kepala sambil berkata:
„Akoe berdoea Linss poen berpendapetan ampir saroepa dengen kaoe, tatkala kita saksiken pemandengan di mana itoe kadjahatan terdjadi. Samalem dengen lantas kita pergi tengok tempat terseboet, katemoeken toean Warren Louw, dan laen-laen tetangga jang tinggal di itoe wijk boeat diminta ia orang satoe per satoe poenja katerangan apa jang ia orang taoe. Tapi tida satoe orang jang tinggal berdampingan deket sitoe ada<noinclude></noinclude>
3zyp288kh5asdpokpaf0gessxig0idb
320733
320718
2026-10-11T04:08:32Z
Volstand
14289
320733
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" />{{rh|16|||'''TJERITA ROMAN'''|{{sp|'''„AUTO SETAN"'''}}||17}}</noinclude>warna merah moeda terdapet tanda-tanda jang njata seperti bekes gilingan band mobiel jang meneken keras. Nanti toeloenglah kaoe bikinken foto jang soedah dibesarin dari itoe tanda-tanda, kita perloe sekali boeat oesoet ini perkara gelap. Dan lebih djaoeh harep kaoe preksa ka-adaan segala bagian dari itoe pakean — kaloe-kaloe ada kadapetan laen-laen tanda jang penting".
<section end="C1" />
{{di|I}}NSPECTOR DULLEA lantas tjangelken poela di tempatnja itoe handle telefoon, tangannja merogo ka dalem sakoe badjoe dari mana ia ambil satoe sigaret jang ia sigra soeloet. Ia sedot itoe batang sigaret beroelang - oelang sambil mengeboelken asep jang poetih moeloek naek ka atas iapoenja kepala. la tinggal bengong sakoetika lama dengen awasin itoe goeloengan asep, sedeng bebrapa orang jang bekerdja di depannja sa-aken aken ia tida liat kerna iapoenja antero pikiran sedeng ditoedjoeken sama. perkara jang ia oeroes. Sampe bebrapa minuut ia tida bergerak, ia tinggal tetep laksana patoeng serta matanja poen zonder berkesip: ia sedeng ngelamoen pada itoe pemandengan dalem kamar papreksa’an di hoofdkwartier politie tadi dengen banjak pertanja’an dalem iapoenja otak: „Siapakah jang soedah memboenoeh mati pada itoe njonja toea jang berparas sabar — dan apakah sebabnja?”
Sakoenjoeng - koenjoeng ia dibikin terkedjoet satoe ketokan pintoe terdenger dari loear. Koetika ia boekain laloe masoek saoreng lelaki degen ramboet kriting, tinggi diangkoeng, berparas keren dan berpakean djas kleur aboe-aboe berdjoempah padanja. Ia boekan len orang hanja ada Inspector Allen McGinn, pemimpin kepala dari dienst penjelidikan boeat perkara pemboenoehan. Di belakang ia mengikoetin Louis Linss, satoe detective sebagi pembantoe jang terseboet doedoean.
„Soedahkah kaoe preksa maitnja itoe korban?” McGinn tiba-tiba madjoeken pertaja‘an.
„Soedah, Akoe soedah preksa dengen terliti dan djoega itoe bebrapa potong pakean. Dan akoe telah mempoenjain kapastian tentang itoe Korban. Ia boekannja dapet katjilaka’an auto se‘bagimana roepanja itoe pemboenoeh hendak klaboein politie dengen sengadja giles badannja itoe njonja toea”.
„Djadi boekan katjilaka’an biasa?”
„Ja, itoe ada pemboenoehan jang dipikir mateng lebih doeloe”
Lebih djaoeh Inspector itoe toetoerken apa-apa dengen soeara pelahan jang didengerin oleh McGinn dan Linns dengen perhatian. Perkata’an-perkata'an demikian soedah sering terdenger di sakiter itoe tembokan kamar dan boekan perkara baroe lagi. Satelah Inspector Dullea abis bitjara keliatan McGinn mangoetken kepala sambil berkata:
„Akoe berdoea Linss poen berpendapetan ampir saroepa dengen kaoe, tatkala kita saksiken pemandengan di mana itoe kadjahatan terdjadi. Samalem dengen lantas kita pergi tengok tempat terseboet, katemoeken toean Warren Louw, dan laen-laen tetangga jang tinggal di itoe wijk boeat diminta ia orang satoe per satoe poenja katerangan apa jang ia orang taoe. Tapi tida satoe orang jang tinggal berdampingan deket sitoe ada<noinclude></noinclude>
63cxxb99ltxm3xaiqevvm5kdetf2z9z
Halaman:Auto setan.pdf/5
104
114475
320590
315486
2026-10-11T02:02:16Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320590
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" /></noinclude>{{c|
DITJITAK OLEH:<br>
DRUKKERIJ HAHN & Co.<br>
KAMP. DORO 1-3 SB.
}}
{{Block center|
{{Rule}}
{{sp|SEDIKIT OETJAPAN}}<br>
{{Dropinitial|P}}ENDJAHAT bisa lebih tjerdik dari politie, tapi kadjahatan tida dilindoengin oleh kaslametan.<br>
{{Right|{{sp|ROMANO}}.}}
{{Rule}}
}}<noinclude></noinclude>
b9nftz6rsy23q64krr1r3a9hntifdtk
Halaman:Auto setan.pdf/4
104
114523
320589
316033
2026-10-11T02:01:58Z
Volstand
14289
/* Tervalidasi */
320589
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Volstand" /></noinclude>{{dropinitial|'''AUTO SETAN'''}}{{larger|'''JANG MENGGEMPERKEN'''<br>
<u>'''SELOEROE SAN FRANCISCO'''</u>}}
{{larger|'''Oleh : H. Moreland'''}}
{{C|'''Terkoetib oleh: Adonis Sr.'''}}
{{larger|{{sp|AUTEURSRECHT<br>
VOOR BEHOUDEN}}}}
{{C|{{Sp|'''TJERITA ROMAN'''}}}}
di terbitken tetep saben tanggal 20 boelan Masehi ABONNEMENT ƒ 1 ― PER KWARTAAL.
KANTOOR
{|
|Administratie:
|{{gap}}{{gap}} Suikerstraat 3, Postbox 45,
|-
|{{gap}}
|{{gap}}{{gap}}Tel. 1929 N. SOERABAIA.
|-
|Redactie:
|{{gap}}{{gap}} TOSARI (Pasoeroean)
|}<noinclude></noinclude>
pxxemxwao3utcwu5fppim8kr69b4lew
Halaman:Auto setan.pdf/3
104
114528
320601
316132
2026-10-11T02:22:21Z
Volstand
14289
/* Telah diuji baca */
320601
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Volstand" /></noinclude>{{xx-larger|{{c|GOOD COUNCIL IS ABOVE ALL PRICE}}}}
{{c|(Nasehat jang baek lebi beharga dari Mas)}}
{{xx-larger|{{c|{{sp|SIAPA}}}}}}
{{c|jang begitoe sampoerna dan tida perloe<br>dengen nasehat-nasehat baek.}}
{{xx-larger|{{c|{{sp|???}}}}}}
Keradja'an paling besar di doenia, bahasa paling banjak di goenaken, ― ada Inggris. Apa pembatja tida ingin taoe nasehat² apa iaorang poenja poedjonggo² sedari poerbakala ada beriken pada bangsanja ?
{{sp|BAROE SEKARANG}} bisa di dapet koempoelan dari ini nasehat² dalem satoe boekoe :
{{larger|{{c|„KATJERDIKAN BANGSA INGGRIS”}}}}
{{right|'''Harga f 3.50'''}}
{{Right|'''onkost kirim tambah „ 0.08'''}}
{{right|'''aangeteekend „ „ 0.28'''}}
minta pada:
{{Right|Drukkerij HAHN & Co.}}
{{Right|Kp. Doro 3 ― Soerabaia}}
TJERITA.
ROMAN
NUMMERS lANG SOEDA TERBIT
No.
No.
No.
No.
No.
No. 78
25
37
49
t/m
t/m
t/m
t/m
t/m
24
36
48
60
61 "JEHOL"
oleh Madonna
62 "Kembang menoeroe dari Mina·
(°l
63 "KEMBANG POEKOEL AMPAT"
(°l
(°l
b4
65
66
(°l
67
68
69
70
71
72
hasa" " Monsieur d'Amour
" K. N. K.
"BERDJOANG"
" Uem Khing Hoo
"Bidadari dari Telaga Toba"
"Soe Ue Piet
"Raden Adjeng MOERHIA"
"Nio e Cheong Seng
"Pembalesannja saorang miskin" " Soe Ue Piet
"TIENTSIN EXPRESS"
" Cyrus
"YIN LAN"
" Chen Wen Zwan
"BIDADARI 7"
" Anak Pedeesoenan
"Djadi Pendita
" Soe Ue Piet
"BRANGTI"
"ROMANO
(°l
(°l
(°l
(°l
(°l
1935
73 ,,0 E WAN G"
74 "SITI DJENAR"
75
76
77
78
atawa Dra·
ma Prampok Madioen
"Penghidóepan dalem Peng·
hidoepan
"LEJ A K"
"TJINGGALABI AOEAH"
"AUTO SETAN"
oleh Chen Wen Zwan
Pouw Kioe An
Gan San Hok
" Soe Ue Piet
" "Monsieur d'Amour"
ADO NIS Sr.
(°l
(°l
(°l
(°l
(' I
(°l
JANG PAKE TANDA (°l MASIH ADA.
HARGA KETENGAN PER COPY F 0.50 ct.
PESENAN HAREP DISERTAKEN HARGANJA.<noinclude></noinclude>
kz7abcrsh3gb2ctvcm1wxoambnv0wdh
Halaman:Pengertian jang tiada dimengerti atau Keterangan bagaimana adanja akal-alam-agama-Allah.pdf/23
104
116292
320514
320351
2026-10-10T14:15:48Z
IndriElya (1A)
27812
320514
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="IndriElya (1A)" /></noinclude> -17-
Segala perkenalan akal, yang telah tersebut dengan ringkas di atas ini, tjockoelah kiranja akan menerandjelaskan bagaimana deradjat manoesia dengan hewan jang sama-sama bernjawa. Oleh karena itoe jang tidak baik, hanjalah baiknja sadja.
Marilah sekarang kita mulai tjoba oedi kita poenja akal, soepaja sedar dan insaf sampai dimana watas kekoeatannja. Lebih daholoe kita moesti pikir tentang adanja alam-djagad jang didapati oleh pemandangan panca-indria, karena kalau kita moesti periksa apa djoega jang memang kita belom kenal, nistjaja lebih soesah dipikirnja.
Lagi sekali hendaklah pembatja pahamkan benar-benar keterangannja segala definisi jang tersebut diatas itoe, soepaja pembatja jang kira-kira moendapat kepandjaian keras pada pelajaran-pelajaran filsafat dan oelama-oelama agama, atau moendjadi oelama jang terpeladjar, tjapeklah memikirkan pikiran ini baik dengan akal jang bersih dan segala pengetahuan. Lebih tegas lagi, oetjapkanlah pembatja memikirkan persoalan maknanja kitab ini sampai pada achirnja.-<noinclude></noinclude>
14593sawrlz2dz1ckoduqm112nyv891
Halaman:155,242 Tolelaki, Kendari.djvu/12
104
116335
320487
2026-10-10T12:38:48Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320487
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1276. hoemoenoei<br>
1277. hoenoei, 155: hoenoi<br>
1278. mekeke / mekalihi<br>
1284. doenggoe<br>
1286. ketolako / noonggolako<br>
1291. langgoe, melanggoe<br>
1292. tewada / tewolohi<br>
1293. aso<br>
1294. roeo<br>
1295. toloe<br>
1296. ompa, 155: opa<br>
1297. limo<br>
1298. ono<br>
1299. pitoe<br>
1300. hoaloe<br>
1301. ho sio<br>
1302. ho poelo / poeloa<br>
1303. hopoelo aso<br>
1304. hopoelo roeo<br>
1305. hopoelo toloe<br>
1310. hopoelo hoaloe<br>
1311. hopoelo hosio<br>
1312. hopoelo roea'm poelo<br>{{gap}}155: roeampoelo<br>
1313. roea'm poelo aso<br>{{gap}}155: roeamaso<br>
1315. roea'm poelo limo<br>{{gap}}155: roeamlimo<br>
1316. toloe'm poelo<br>{{gap}}155: toloempoelo<br>
1317. pato'm poelo<br>{{gap}}155: opatompoelo<br>
1318. lima'm poelo<br>{{gap}}155: limampoelo<br>
1319. onoma poelo<br>{{gap}}155: omomapoelo<br>
1323. aso etoe<br>
1324. aso sowoe<br>
1325. aso lasa<br>
1326. aso dia<br>
1328. monggoaso<br>
1329. monggoroea<br>
1330/<br>
1331. belesoeno
{{multicol-break}}
1332/<br>
1333. ton<br>darino<br>
1336/<br>
1337. peremboeino<br>
1338. hopio<br>
1339. dadio<br>
1340. teësi<br>
1341. wawono<br>
1347/<br>
1348. tepokoelalo<br>{{gap}}155: tepokoelano<br>
1349. teësi / koeraï<br>
1350. loewoeako<br>
1356. asoka<br>
1357. inakoe, 155: inaoee<br>
1358. dowongokoe<br>
1359. inggoo, 155: inggoö<br>
1362. inggomioe<br>
1363. giroö<br>
1365. loewoeako mami<br>{{gap}}155: loewoeakonami<br>
1366. I gami, 155: inggawi<br>
1367/<br>
1368. giroro, 155: giroo<br>
1369. koe<br>
1370. mami<br>
1371. moe<br>
1372. mijoe<br>
1375/<br>
1376. ro <20><br>
1378. no <21><br>
1379. inai<br>
1380. o hapo<br>
1382. n beto, 155: inbeto<br>
1383. niino, 155: nijno<br>
1385. niïno, 155: nino<br>
1386. gitoeo<br>
1388. keni<br>
1389. kitoe<br>
1394. leo <22><br>
1398. mengga<br>
1402. wingi / saroroma <23><br>
1406. taoe<br>
1407. tempo
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
9n581vtai70h66trwx5t4uqgh79y6r8
Indeks:158 Palu.djvu
102
116336
320488
2026-10-10T12:41:01Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
320488
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=158 Palu
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1984
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
inhpuvn11zvkcwcyqk724kgt8ixq9ld
Indeks:157 Elpaputih, Seram.djvu
102
116337
320489
2026-10-10T12:41:39Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
320489
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=157 Elpaputih, Seram
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1981
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
21q93ljgfpjxvht5rc6gdqybmqekk6c
Indeks:159 Banggai.djvu
102
116338
320490
2026-10-10T12:42:31Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
320490
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=159 Banggai
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1985
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
4bnuxi1hsoq7lp2i5i2zx2i9zzc93q2
Indeks:160 Banggai Islands.djvu
102
116339
320491
2026-10-10T12:43:11Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
320491
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=160 Banggai Islands
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1985
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
sn7a2ip1ej7no1ijv9x240qxswk53qp
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/14
104
116340
320492
2026-10-10T12:51:16Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320492
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''3. NOTES'''<br>
# e.g. assoe boeloeno<br>
# pie: gone to sleep (limb)<br>piet: ticklish feeling caused by ants on the body<br>
# if it has to be specified whose parents-in-law, then add: malane boine<br>
# mosigi: moham<br>Koesolie: pagan<br>
# I. mijon<br>II. lokis<br>III. adat<br>
# (tree ladder)<br>
# belojon, djali, timbanon<br>
# (boiled)<br>
# cotton cloth: poepoet<br>woven material: kapos<br>
# goto, kopo, teon<br>
# balon, bande, aga<br>
# boejoe²k, momat, talangke<br>
# matano = salt<br>bago mata = salty, brine<br>
# bakidoeng, baoebe, baoekeke<br>
# soewajo, soewakene, boekajo<noinclude></noinclude>
n7y5gu45l7ghygntmzty4hjfvl5e4p5
Halaman:Empat Kebenaran Delapan Djalan Utama Seri 1.pdf/2
104
116341
320493
2026-10-10T12:53:34Z
Hadithfajri
15274
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '3f / ~ KEBENARAN DEL4. DJALA N UTAMA SERI 1. QROEP I WISDOM AND INGSIGHT Perihal : Djalan Tengah Adanja kasangsaraan Schab adanja itu kasangsaraan, Hapusnja itu Kasangsaraan 1. Pengertian Benar TJERA MAH ke 1 - 7'
320493
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Hadithfajri" /></noinclude>3f
/
~ KEBENARAN DEL4.
DJALA N UTAMA
SERI 1.
QROEP I
WISDOM AND INGSIGHT
Perihal :
Djalan Tengah
Adanja kasangsaraan
Schab adanja itu kasangsaraan,
Hapusnja itu Kasangsaraan
1.
Pengertian Benar
TJERA MAH ke 1 -
7<noinclude></noinclude>
96gr3abx6ksgtoles8d6uqe140x6vp0
Halaman:Empat Kebenaran Delapan Djalan Utama Seri 1.pdf/78
104
116342
320494
2026-10-10T12:54:22Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
320494
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>Idzin Sementar a Peperda Pedarmilda<br>
No 123/S/4/SK-Id/1961<noinclude></noinclude>
jawpig6obqwcyh1aur4sbxcqj07jtxb
Halaman:Empat Kebenaran Delapan Djalan Utama Seri 1.pdf/77
104
116343
320495
2026-10-10T12:55:16Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
320495
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>ngertian, jang memberi ketenteraman kebebasan.
Apa sebabnja, diantara manusia jang terpe1adjar, berotak
tadjam, pintar , tjerdik, dan banjak akalnja, dalam satu soal
ini telah berlaku alpa? Tjobabh pikirkan!
{{rule|2em}}<noinclude>148</noinclude>
g3xyku753l3vuhd91mpww7ntfzustvx
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/13
104
116344
320496
2026-10-10T12:56:33Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320496
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1448. dai<br>
1449. dai<br>
1451. dai sambeleng<br>
1452. lalanis<br>
1453. odoan<br>
1454. tikoeme<br>
1460. daija<br>
1461. boeloa<br>
1478. kabie<br>
1462/ boedomo<br>
1465. oiloa kasabapo<br>
1466. tantoe<br>
1467. oegoot
{{multicol-break}}
1469. maka<br>
1470. toekon<br>
1471. akie<br>
1472. ijo<br>
1474/<br>
1475. balikon<br>
1476. toetoe<br>
1477. tong, tollong<br>
1479. bai<br>
1481/ bai<br>
1482. maoe<br>
1486. maoemeng
{{multicol-end}}
'''No. 160'''<br>
# <li value="1522"> Tempo oila kasinaka kon, doi komboenganija?<br>
# Oila kaposinakakon doi komboeng<br>
# Aki koejase koebajare boedo koedano<br>
# Koebajare balang tigo<br>
# Baloe kene poepoet noko, doi kaminija<br>
# Napai mengolie, poepoet kolie kaliangano<br>
# Ilee kobinatokan doi tomoendo djadi oetoesan<br>
# Boelaä kopo tomoendo, namijan pinarentah<br>
# Nia paisoe nija batango aki namo lah, lolo kodoangan<br>
# Boelaa kolim bito moelolo doangan maka moepollong doi toboei<br>
# Aki kotetean boelaä, komola, koepintas, doi paisoe batango.<br>
# Badoe, badoenggal olojo kami anpa kon mengampolie kaoe saono doi boelalongo<br>
# Koejase mengompollie boeloeng koebaijo pangakon noanggoe adjaran<br>
# Oija korono ko olojo aki ko oedan<br>
# Aki natotoe be oila mijan doona binitjara kon, doi kami<br>
# Loloana popongoei jan doijo kongga niloloij<br>
# Ilee, koöng kolojo tangkoenge nija boroewa nija<br>
# Mangkabi paisoe maka boesake nanggoe pakejan<br>
# Mangkabi doijana, loewa, kaitoloe komanoek, oegaat nabenah<br>
# Ilee koaki namola aki naong kolojo, lolo akoe saboleh bolehna doang die iembaä<br>
# Kamon tinggal die iembaä mijan loewa ila?<br>
# Lapamo kona matean koto moende maka nadjadi doijo pawakatean doo<br>
# Ilee komolong koei doi powaka tean doo<br>
# Doi oila maka nija mijan nia nama sakit<br>
# Danako mijan meng wotoija mampakoellie iekoo<noinclude></noinclude>
ak1ypq7tqpuvo4mzt81pik4w61s3i0t
Halaman:Pandji Poestaka 1942-1943.pdf/1
104
116345
320497
2026-10-10T12:57:19Z
Tegar Adi Pranata
27732
/* Telah diuji baca */
320497
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Tegar Adi Pranata" /></noinclude>Ppppp<noinclude></noinclude>
ijw9u9qmwvgf547om0ajfluuf25goxt
320499
320497
2026-10-10T12:58:14Z
Tegar Adi Pranata
27732
/* Belum diuji baca */
320499
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Tegar Adi Pranata" /></noinclude><noinclude></noinclude>
r6zbqutqatpor358s47bsjovje9w5hq
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/12
104
116346
320498
2026-10-10T12:58:06Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320498
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1301. sio
1302. songoelo
1303. songoelo meng
1304. songoelo loewa
1305. songoelo toloe
1310. songoelo pitoe roebion
1311. songoelo sio
1312. loewa karono
1313. loewa karono meng
1315. loewa karono lima
1316. taloe karono
1317. songkap karono
1318. lima karono
1319. noom karono
1323. sakat
1324. salalaan
1325. songoelo kalalaan
1326. sembeleng pintongono
1327. sing ejat
1328. sing ejat
1329. loewa loenggon
1330/
1331. toembe toembeno
1332/
1333. kaloewakon
1336/
1337. maka boessan
1338. boelaa
1339. badaang
1340. soisiek
1341. dai
1347. lobiǎn
1349. koerang
1350. sai sai bino
1357. jakoe
1358. jakoe soensoe sengo
1359. ikoo
1362. iko moejoe
1363. ijanoe
1365. kami
1368. lipoe dailoa
1369/
1370. nanggoewano
{{multicol-break}}
1378. kona
1379. ilĕe
1380. oloa
1382. ija
1385/
1386. dojodo
1388. diembaa
1389. iedaa
1394. olojo
1398. bilot
1402. kinoebion
1406. taoen
1407. tempo oedan
1408. napa
1409. tilio
1411. loloe
1412/
1413. lalaloek
1416. tododdon
1418. kaloe babie
1419. kajoewon
1420. olojo nia
1422. mainaa
1423. majoean
1426. sidoe sidoetoe
1427. tempo oiloa
1428. lapamo
1429. akion
1431. limbiet
1432. lolong
1433. napa
1434. tarisse
1435. bobo
1436. bakalingan
1437. dai bobo
1439. dai boengkoe koeno
1440. dai boelid
1441. dai boelid toetoeoe
1442/
1443. dimbaa pollong indoo
1445. dai inset kakoelon
1446. dai
1447. pollong
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
ht6ja48srya0mjguxf3cftxj0v032zn
320500
320498
2026-10-10T12:58:54Z
Thersetya2021
15831
320500
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1301. sio<br>
1302. songoelo<br>
1303. songoelo meng<br>
1304. songoelo loewa<br>
1305. songoelo toloe<br>
1310. songoelo pitoe roebion<br>
1311. songoelo sio<br>
1312. loewa karono<br>
1313. loewa karono meng<br>
1315. loewa karono lima<br>
1316. taloe karono<br>
1317. songkap karono<br>
1318. lima karono<br>
1319. noom karono<br>
1323. sakat<br>
1324. salalaan<br>
1325. songoelo kalalaan<br>
1326. sembeleng pintongono<br>
1327. sing ejat<br>
1328. sing ejat<br>
1329. loewa loenggon<br>
1330/<br>
1331. toembe toembeno<br>
1332/<br>
1333. kaloewakon<br>
1336/<br>
1337. maka boessan<br>
1338. boelaa<br>
1339. badaang<br>
1340. soisiek<br>
1341. dai<br>
1347. lobiǎn<br>
1349. koerang<br>
1350. sai sai bino<br>
1357. jakoe<br>
1358. jakoe soensoe sengo<br>
1359. ikoo<br>
1362. iko moejoe<br>
1363. ijanoe<br>
1365. kami<br>
1368. lipoe dailoa<br>
1369/<br>
1370. nanggoewano<br>
{{multicol-break}}<br>
1378. kona<br>
1379. ilĕe<br>
1380. oloa<br>
1382. ija<br>
1385/<br>
1386. dojodo<br>
1388. diembaa<br>
1389. iedaa<br>
1394. olojo<br>
1398. bilot<br>
1402. kinoebion<br>
1406. taoen<br>
1407. tempo oedan<br>
1408. napa<br>
1409. tilio<br>
1411. loloe<br>
1412/<br>
1413. lalaloek<br>
1416. tododdon<br>
1418. kaloe babie<br>
1419. kajoewon<br>
1420. olojo nia<br>
1422. mainaa<br>
1423. majoean<br>
1426. sidoe sidoetoe<br>
1427. tempo oiloa<br>
1428. lapamo<br>
1429. akion<br>
1431. limbiet<br>
1432. lolong<br>
1433. napa<br>
1434. tarisse<br>
1435. bobo<br>
1436. bakalingan<br>
1437. dai bobo<br>
1439. dai boengkoe koeno<br>
1440. dai boelid<br>
1441. dai boelid toetoeoe<br>
1442/<br>
1443. dimbaa pollong indoo<br>
1445. dai inset kakoelon<br>
1446. dai<br>
1447. pollong
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
og5x2k10m0m1kidm7lqychl3valpx9l
320501
320500
2026-10-10T12:59:17Z
Thersetya2021
15831
320501
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1301. sio<br>
1302. songoelo<br>
1303. songoelo meng<br>
1304. songoelo loewa<br>
1305. songoelo toloe<br>
1310. songoelo pitoe roebion<br>
1311. songoelo sio<br>
1312. loewa karono<br>
1313. loewa karono meng<br>
1315. loewa karono lima<br>
1316. taloe karono<br>
1317. songkap karono<br>
1318. lima karono<br>
1319. noom karono<br>
1323. sakat<br>
1324. salalaan<br>
1325. songoelo kalalaan<br>
1326. sembeleng pintongono<br>
1327. sing ejat<br>
1328. sing ejat<br>
1329. loewa loenggon<br>
1330/<br>
1331. toembe toembeno<br>
1332/<br>
1333. kaloewakon<br>
1336/<br>
1337. maka boessan<br>
1338. boelaa<br>
1339. badaang<br>
1340. soisiek<br>
1341. dai<br>
1347. lobiǎn<br>
1349. koerang<br>
1350. sai sai bino<br>
1357. jakoe<br>
1358. jakoe soensoe sengo<br>
1359. ikoo<br>
1362. iko moejoe<br>
1363. ijanoe<br>
1365. kami<br>
1368. lipoe dailoa<br>
1369/<br>
1370. nanggoewano
{{multicol-break}}
1378. kona<br>
1379. ilĕe<br>
1380. oloa<br>
1382. ija<br>
1385/<br>
1386. dojodo<br>
1388. diembaa<br>
1389. iedaa<br>
1394. olojo<br>
1398. bilot<br>
1402. kinoebion<br>
1406. taoen<br>
1407. tempo oedan<br>
1408. napa<br>
1409. tilio<br>
1411. loloe<br>
1412/<br>
1413. lalaloek<br>
1416. tododdon<br>
1418. kaloe babie<br>
1419. kajoewon<br>
1420. olojo nia<br>
1422. mainaa<br>
1423. majoean<br>
1426. sidoe sidoetoe<br>
1427. tempo oiloa<br>
1428. lapamo<br>
1429. akion<br>
1431. limbiet<br>
1432. lolong<br>
1433. napa<br>
1434. tarisse<br>
1435. bobo<br>
1436. bakalingan<br>
1437. dai bobo<br>
1439. dai boengkoe koeno<br>
1440. dai boelid<br>
1441. dai boelid toetoeoe<br>
1442/<br>
1443. dimbaa pollong indoo<br>
1445. dai inset kakoelon<br>
1446. dai<br>
1447. pollong
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
q2iy05zg3cgh5qqabibuvmowgpvh4bm
Halaman:Riwajat dan Perdjoeangan Teankoe Imam Bonjol.pdf/23
104
116347
320502
2026-10-10T12:59:32Z
Hadithfajri
15274
/* Bermasalah */
320502
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Hadithfajri" /></noinclude>lasjkar bantoean oentoek be'kerdja meagembangkaa
agama Islam 'disel'oeroeh negeri Alahan P a n ~ d j a n ,me~,
noeroet dasar dan kejakinan Paderi.
Setiba di Alahan Pandjang, sebagai mengikat ,persatoean, mengambil ~ e r k e n a l a ndan menangmikan tali
~ e r s a u d a r a a n antara jang datang dan jang menanti,
diadaikanlah ~ e r h a l a t a n didalam kampoeng Bondjol,
mendjamoe orang-orang ibantoean itoe, dengan menjembel& kerbau dipateri dengan do'a, dan oentoek memenoehi peratoeran gerakan Paderi. Dilmasa itoe ,poelalah
ditanam Toeankoe Nan Baram'pelà dengan gelaran :
l . Toeankoe Imam (pemoeka)
2. Toean'koe Nan Gapoek
3. Toean'koe Chalwaft
4. Toeanlzoe Hitam.
Toeankoe2 nan Baram'pek, menoeroet pepatah adat,
, N a n tinggi taimpak djaoeh, nan dakek djolong tasoeo"
pemoeka dan pemimpin oentoeik bekerdja menjampaikait
segala tjita-tjita gerakan itoe, menanggoeng djawa.b
didalaim segala hal, memadjoekan, dan mendjaga keselamataa party.
Kalau dibawa kemasa sekarang, Toeankoe nan
Barampe'k, Toean'koe Imamlah sebagai ,pcmoekanja.
Dengan ,soesoenan itoelah Toeankoe Imam memoelai
mendjalankan plan gerakan Pa'deri, menanamkaa bibit
ke-Islaman kepada pendoedoek seloeroeh Alahan Pandjang,
Segala tindakannja memadjoekan partynja, mengaadoeng semangat Islam, setrnata -'mata. toedjoeannja
jang oetama, mengoesahakan soepaja anak negeri memeloek agama Islam menoeroet soeroehaa lang benar.
Mereka lebih soeka damai d a n pada mempergoenaikan
sendjata. Tiap-tiap negeri jang alkan dimasoekinja, sebeloem ~mempergoenakan ~en~dja'ta
lebi'h dahoeloe memadjoeikan pertanjaan kepada isi negeri :
,,Apakalh Mereka soeka memeloek agama Islam
menoeroet Quran dan Soennah ?"
Pertanjaan in-ilah jang meroqaakan satoe antjaman
d a n gera,kan .Paderi, satoe pertanjaan jan'g d'ipergoenakannja sabagai anak koentji oentoek memasoeki tiaptiap negeri,
Pertanjaan ini mesti .didjawab satoe dalam doea,
soeka atau tidak.
1
-
20
f
TOEANKOE IMAM BONDJOL.
Bila mcndapat djawaban soeka, tidaklah akan terdjadi penjerangan.
~Dengan pertanjaan jang ringkas itoelah kaoem
paden memasoeki tiap-tiap negeri, menjoeroehkan pendoedoeknja 'menidjalankan agama Islam menoeroet toentoetan jang benar.
Ganggo Hilir, adalah negeri jarig moela-moela menerima koendjoengan kaoem paderi dibawah pimpinan
T. Imam. setelah ldiiperlengikap dengan la'sjkar bantoean
ifcoe. Soedah itoe baroe G. Moedik. Moelanja ~ e n q i k o e t
pengikoet ikaoem Hitam, bertahan di Bondjol-Hitam,
satoe tempat pertahanan dari party itoe. Pertahanan
if-oe da'pat di tem boe ska^^ oleh '-"o?-l'deri jan9
l.
achirnja ter,palzsa me^i
akan mengerdjakav
Setelah ker1
barisan gera1djang anoJ
-
T t -<noinclude></noinclude>
baquf6sxdve7eu4jm7ekkgz5qswxnsd
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/2
104
116348
320503
2026-10-10T13:04:29Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320503
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. BANGGAI ISLANDS LIST'''
{{multicol}}
1. dielie<br>
2. oeloe<br>
3. doedoeso<br>
4. bonggotto<br>
5. oeloeno tobongo<br>
6. boek<br>
8. piojoek<br>
9. talingaino<br>
11. matano<br>
15. olliniano<br>
17. matano lelo<br>
18. songano<br>
20. bongoel<br>
21. papaino<br>
22. babano<br>
25. bie bielo<br>
27. soempiel<br>
28. djangkoet paoeno<br>
29. adinno<br>
30. djambang<br>
31. aleppo<br>
32. langas<br>
33. ngoliengo<br>
34. bagang<br>
35. pantiesso<br>
37. boeloengo<br>
38. boelongo<br>
41/<br>
42. soesoeno<br>
45. soesoeno Tapoeko<br>
46. sapi soesoeno<br>
48. Koedoepe<br>
50. dasolo<br>
52. poelo polosono<br>
53. kombongo babasal<br>
54. kombongo<br>
56. ateno<br>
57. Kajoeno<br>
61. poesoeino<br>
62. loeloekono<br>
63. tongkoeloengo
{{multicol-break}}
66. bosse bosseno<br>
68. pie dieno<br>
69. ponkoe<br>
70. soeloebie<br>
72. timme<br>
73. tai<br>
75. poek<br>
76. bone<br>
77. lossono<br>
78. pe en<br>
82. timpoisoe<br>
83. timpoissoe<br>
84. aino<br>
86. aino<br>
88. aino boekoeno<br>
90. babano<br>
92. toelo<br>
93. bieties<br>
94. tompie deno<br>
95. botokono<br>
97. limano<br>
99. Kelekko<br>
100. sie Koeno<br>
102. limano palalappo<br>
105. limano soono<br>
107. limano oeloengoeno<br>
108. limano toemboeno<br>
109. pantoedoeno<br>
110. limano tonosso<br>
111. limano timbalie lieso<br>
112. limano timbalie lieso<br>
115. boekoeno<br>
116. saoe<br>
117. antok<br>
118. babasal<br>
121. koelito<br>
122. Onoong<br>
123. boeloeno <1><br>
124. motomos<br>
125. ieloel
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
4ag7go28j1csgqnvh7tu5b0gzu9i3n4
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/3
104
116349
320504
2026-10-10T13:07:40Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320504
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
126. ngeak<br>
127. asaang<br>
128. kaan<br>
129. malaal<br>
130. monginoem<br>
131. malangoe<br>
132. malaoe<br>
133. bobossoel<br>
134. bobossoel<br>
137. lomos lemmis<br>
138. molo<br>
139. kokondong<br>
140. olloemon<br>
144. inol loemonggon<br>
145. anpakon<br>
146. tetelingan<br>
147. ngonggaloep<br>
148. ngol, long?<br>
149. doedoek<br>
150. talatie bie<br>
151. tataan keleng,<br>{{gap}}mamandie boma mangkat<br>
153. kojok<br>
154. mansooe<br>
156. kakano<br>
157. talip<br>
158. lalalo<br>
159. makalek<br>
160. ngalo<br>
161. kokoembiet<br>
163. kokiel<br>
165. boi boit<br>
166. asaang boe <?><br>
167. toepe<br>
169. semba ing<br>
170. songkoton<br>
172. tokok<br>
173. sololoot<br>
174. tologojok / tolokojok<br>
176. mamo ap<br>
177. tiepo<br>
182. toeboan
{{multicol-break}}
183. moele<br>
184. kamatian<br>
188. Onitoe<br>
191. koeboer<br>
192. akateo<br>
193. mantarimo poesoko<br>
194. poesoko<br>
196. pokollon<br>
197. mbalana<br>
198. pakiet<br>
199. masakit<br>
200. masakit<br>
202. senang<br>
203. bissoel<br>
205. maligoot<br>
207. tompoes<br>
210. kampanang<br>
211. bobos<br>
214. noekapapan<br>
219. sakit oeloe<br>
220. bantoe bantoet<br>
222. bongoelon<br>
223. pie, piet <2><br>
224. bantoet<br>
225. kepang<br>
227. pongoh<br>
228. bobongol<br>
229. mopiet<br>
231. padieda masala komatono<br>
232. padida<br>
234. bapilogot<br>
233/<br>
234. pakoelie<br>
235. sando<br>
236. Bangkapi manoesia<br>
237. mijan mian<br>
238. Lipoedo liepoedo<br>
239. samboe<br>
240. satoe maij<br>
241. malane<br>
242. boine<br>
248/<br>
249. paoe boine<br>
267
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
3tvmnx4gxqx2ojix3vm2rli1gecrzc5
320505
320504
2026-10-10T13:08:05Z
Thersetya2021
15831
320505
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
126. ngeak<br>
127. asaang<br>
128. kaan<br>
129. malaal<br>
130. monginoem<br>
131. malangoe<br>
132. malaoe<br>
133. bobossoel<br>
134. bobossoel<br>
137. lomos lemmis<br>
138. molo<br>
139. kokondong<br>
140. olloemon<br>
144. inol loemonggon<br>
145. anpakon<br>
146. tetelingan<br>
147. ngonggaloep<br>
148. ngol, long?<br>
149. doedoek<br>
150. talatie bie<br>
151. tataan keleng,<br>{{gap}}mamandie boma mangkat<br>
153. kojok<br>
154. mansooe<br>
156. kakano<br>
157. talip<br>
158. lalalo<br>
159. makalek<br>
160. ngalo<br>
161. kokoembiet<br>
163. kokiel<br>
165. boi boit<br>
166. asaang boe <?><br>
167. toepe<br>
169. semba ing<br>
170. songkoton<br>
172. tokok<br>
173. sololoot<br>
174. tologojok / tolokojok<br>
176. mamo ap<br>
177. tiepo<br>
182. toeboan
{{multicol-break}}
183. moele<br>
184. kamatian<br>
188. Onitoe<br>
191. koeboer<br>
192. akateo<br>
193. mantarimo poesoko<br>
194. poesoko<br>
196. pokollon<br>
197. mbalana<br>
198. pakiet<br>
199. masakit<br>
200. masakit<br>
202. senang<br>
203. bissoel<br>
205. maligoot<br>
207. tompoes<br>
210. kampanang<br>
211. bobos<br>
214. noekapapan<br>
219. sakit oeloe<br>
220. bantoe bantoet<br>
222. bongoelon<br>
223. pie, piet <2><br>
224. bantoet<br>
225. kepang<br>
227. pongoh<br>
228. bobongol<br>
229. mopiet<br>
231. padieda masala komatono<br>
232. padida<br>
234. bapilogot<br>
233/<br>
234. pakoelie<br>
235. sando<br>
236. Bangkapi manoesia<br>
237. mijan mian<br>
238. Lipoedo liepoedo<br>
239. samboe<br>
240. satoe maij<br>
241. malane<br>
242. boine<br>
248/<br>
249. paoe boine<br>
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
jdt7qmdjo0ueew9k6nx7mk5rz1nqx8j
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/4
104
116350
320506
2026-10-10T13:29:00Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320506
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
250. paoe malane<br>
252. paoe boine<br>
255. tamano<br>
256. tienano<br>
257/<br>
258. paoe<br>
261. paoe malane<br>
262. paoe boine<br>
263. taoewa<br>
266. tokkon malane,<br>{{gap}}tokkon boine<br>
268. oetoes malane<br>
269. oetoes boine<br>
270. oetoes babasal<br>
271. oetoes boine babasal<br>
272. oetoeso pooeno<br>
273. oetoeso boine pooeno<br>
274. toemboe<br>
275/<br>
276. pil notomma<br>
281/<br>
282. pienotiena<br>
287-<br>
290. pienanak<br>
291-<br>
294. Pienanak boine<br>
295. tolie donsoesoe<br>
296. tolie dan soesoe<br>
297/<br>
298. Mon nian nang <3><br>
299. man nian nang<br>
300. man nian nang<br>
302/<br>
303. sie labo<br>
304. sie labo<br>
305. paoe toebo<br>
306-<br>
309. solo iba<br>
310. daoek<br>
315. montol oetoes<br>
316. bolikon ah alie<br>
317. langkai<br>
318. Bangkele, boine bolokkie<br>
320. toeloondo
{{multicol-break}}
324. passoeoeng<br>
326. tanoh<br>
327. lipoe babasal<br>
329. lipoe poi poeisi<br>
331. talopoe<br>
332. adjima<br>
333. pallamondo<br>
334. baoelinie<br>
337. sosol<br>
338. alamat<br>
339. makaoe<br>
340. djien menendok (pilogot)<br>
342. kalong<br>
343/<br>
344. aloes<br>
345. temeneo<br>
347. menjemba<br>
352. hoeroef<br>
353. kartos<br>
354. soerat<br>
355. boek (kitab)<br>
356. banoenoet banti bantilon<br>
358. bosoerat<br>
359. bongoejoe<br>
362. pokon<br>
364. timboe<br>
365. tanoh<br>
366. Rog<br>
367. nondok<br>
368. lokkies<br>
369. harem<br>
370. dosso<br>
371. Imam<br>
374. mosigi, koesolie <4><br>
375. kamolie<br>
377. tatapan babasal<br>
378. tomoende<br>
380. babotoh<br>
382. modossŏon<br>
386. kapala<br>
388. anak bangsa
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
a6tkkp4njhd4kcajznim3dn89qy4p2j
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/5
104
116351
320507
2026-10-10T13:38:43Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320507
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
389. poeroedjoe<br>
390. soeroedado<br>
391. oentoeng<br>
392. tjelaka<br>
393. mijon poi paisi<br>
394. atoa<br>
396. <5><br>
397. adat mijon lakies<br>
399. Linoekoe<br>
400. inoetang<br>
401. saksie<br>
402. tamengemo<br>
403. tabangkas<br>
404. toeroen tonoh<br>
407/<br>
408. assoon<br>
410. potinggal<br>
411. soi<br>
412. perdjandjian<br>
413. monsoeoeng<br>
414. sondok<br>
415. baloloa<br>
416. soendel<br>
419. biola<br>
420. poei poei<br>
421. tamboeroe<br>
422. bobollon<br>
423. gandang<br>
424. gong<br>
426. torompeta<br>
428. tjakalele ossolin<br>
430. bososombot<br>
432. malolobok<br>
433. sosoel<br>
437. bonoewa<br>
438. simpoet<br>
440. langan<br>
441/<br>
442. sogoelono<br>
446. kasooe<br>
449. tatapon<br>
451. monto tilean
{{multicol-break}}
452. pasoe<br>
453. tepeken<br>
454. ieting <6><br>
456. sooan peling<br>
457. sooan dapie<br>
458. popopot<br>
459. popopot dopie / popopot aoek<br>
461. bong oenon tinano<br>
462. ballek<br>
464. tabil<br>
465. moloan<br>
468. <7><br>
469. tanggonon<br>
470. dego²<br>
472/<br>
473. pamerokan / lompong ? ompoelon<br>
475. bilot<br>
476. namosoea<br>
477. baoe koitie<br>
478. posojo kobilot<br>
482. tibolon<br>
483. aboe<br>
484. kaoe pongo koitie<br>
485. soewajo kolompoe,<br>{{gap}}soewajo kobilot<br>
486. posojo kolompoe<br>
487. soekon<br>
488. koelamboe tobie<br>
489. soepopa bongko²<br>
495. taboenan kololoek<br>
496. taboenan tanah<br>
497. pienggang<br>
498. mangkok<br>
499. monginoeman<br>
501. siboewa<br>
502. lessa lessa<br>
503. badoean koeloloek<br>
505. pisaoe, pakoe<br>
506. bakokko<br>
507. tobok<br>
508. gojong<br>
509. oloan
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
fdn01f3npxllqudxdz43tb4cehdbg80
Halaman:Pengertian jang tiada dimengerti atau Keterangan bagaimana adanja akal-alam-agama-Allah.pdf/24
104
116352
320508
2026-10-10T13:42:17Z
IndriElya (1A)
27812
/* Telah diuji baca */
320508
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="IndriElya (1A)" /></noinclude>BAHAGIAN II.
ALAM ATAU DJAGATTRAJA.
Sebeloemnja kita pikirkan bagaimana keadaan A 1 a m perloe kita priksa lebih dahoeloe apakah jang dikata
soepaja nanti lebih gampang
kita tjoba andai-andaikan dengan tegas keadaan alam
Oemoemnja dinamai lapang kaloe kita poenja peman
dangan mata boleh d jalan teroes tiada dihalangi oleh benda
ditOTff^h^
adanja lapang, apabila kita
Sîf f! r;, +T
"ia»dang keatas dan disepoetarnja diri
£no^ terlihatlah diantara kita dengan langit atau diantara binSriff
sebagai kosong, maka jang kita kira
kosong itoe lapang namanja. Dari sebab itoe, kita poenia
pendapatan tentoelah lapang itoe ada soeatoe keloeasan dimana
mf bSpï"?"^ T
(remboelan) dan matahari dan boemi boleh bergerak atau berdjalan dengan tiada dihalangi.
^®tapi soesah sekali akan menentoekan apakah lapane
tPrlT
(hempa), atau apakah berisi dengan
nSii
toeroet pemandangan mata.
mSflW;
h- r
sedang ismja ialah boemi, boelan,
nin f
T™
adalah sebagai
watas penghabisannja lapang. Akan tetapi kaloe kita soedah
ti^sÏÏiS^ k?t!rV
sampai beberapa djaoeh
rr 1
menentoekan bahoea lapang itoe
kita tfelaD
dan bagai
kaloe
^ botol
botol k
kosong didalam aer lantas boleh njata
mana oedara jang didalam botol keloear melanggar aèr
Oedara itoe semat jam dzat jang semangkin djaoeh dari moeka
hingga semangkin kendor menindS h 1
sebabnja kaloe orang terbang tinggi
t r
tingginja dengan tiada mengoekoer dehfn oäara
dengan pakai perkakas timbangan dari tindii) J a g a t,
Dan lagi kaloe oepamanja tiada oedara, nistjaia tiada ada
"«'"W"«' Parana tiada
na,tetapi orang tiada tahoe, apakah oedara teroes sam
pai dilangit seblah atas sekali dari boemi, maka tkS boTh
"^oî-anî- Xlp?
djoega dilipoeti oleh oedara.
r,r.vv,
^ boleh bikin kosong oedara dengan pertoeloensran
pompa, maka lapang jang kosong bagitoe diseboet vacuum
akan tetapi maskipoen demikian, beloem boleh dikata kosonj?
lagi azat jang lebih haloes dan oedara, dan ini dzat dinamai
atoom jang tiada boleh dipetjah lagi, saking haloesnja.<noinclude></noinclude>
884tp0dpxv6eywtqr1vruqtmz9ihjnc
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/6
104
116353
320509
2026-10-10T13:46:41Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320509
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
510. posioek<br>
511. patooek, tataloek<br>
513. mengaoek<br>
515. lampoe<br>
516. soeloe<br>
517. totinggal booe<br>
519. bongkeng soemolang<br>
520. boeroewang<br>
522. martaboon<br>
524. goembong<br>
525-<br>
527. mompoeoel<br>
528. basinonga<br>
529. panal kene doi aboe<br>
530. pini lalang<br>
534. kokouwan, kinaan<br>
535. mandoe<br>
536. papanas<br>
537. kooe lono<br>
539. saie<br>
540. topa<br>
539/<br>
540. papanas <8><br>
541. soesoem<br>
543. laboee<br>
544. laboee antokko<br>
545. monjoo<br>
546. Laboee<br>
547. laboee batango<br>
548. djoeso<br>
549. longga<br>
550. toetoekan<br>
551. patoetoek<br>
553. kijapan<br>
554. mejongo<br>
555. toetoek<br>
562. maritjatoe<br>
563. timoesson<br>
565. toik<br>
567. saloewal<br>
569/<br>
570. bakoekoem
{{multicol-break}}
571/<br>
572. toeala<br>
573. sidoe<br>
576. soisol, loet<br>
577/<br>
578. baganio, pabakkang<br>
579. paseda<br>
580. palandoeng<br>
582. nganting²<br>
583. djalieng<br>
586. selel<br>
588. dingiet, kait<br>
589. poepoet, kapos <9><br>
590. soeteroa<br>
593. tonoem<br>
594. sisir<br>
595. tarattie<br>
596. tonoenan<br>
597. bibita<br>
594-<br>
597. tonoenan<br>
600. menganam<br>
601. bapoetar<br>
602. poetor<br>
603. banaang<br>
604. mankooet<br>
605. pao pao<br>
608. tololaki, tampiel<br>
609. kobiet sipada<br>
611. sosoedoek<br>
612. soempitan<br>
617. tompide<br>
619. lela<br>
620. sinapan<br>
621. obat<br>
622. batoe sinapan<br>
623. penapis<br>
624. simpolong, kala² binta<br>
626. pawakate<br>
627. moesoeh<br>
628. marijom<br>
629. mengala <oeloe?>
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
mz7fqvjpyjviyq918bi8rggk3lr31nk
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/7
104
116354
320510
2026-10-10T13:50:42Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320510
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
630. poko nondokko waka<br>
631. kotta<br>
634. <10><br>
635. molong koei<br>
636. tinabon<br>
637. babatakon (oetoessan)<br>
639. sabeak<br>
640. loeloe<br>
645. soean<br>
651. kalapinie<br>
652. badoeng<br>
653. komboeng<br>
654/<br>
655. komboeng loboee<br>
657. sinelet<br>
659. pogge<br>
660. tatanaman<br>
662/<br>
663. binoeboelie<br>
664. innokkie<br>
665. mansakakon<br>
668. motikas<br>
669. mata<br>
671. padi<br>
672. podok<br>
674. bakinde<br>
677. kaloepe<br>
679. balonko, atimoen<br>
681. tigo<br>
682. toboe<br>
683. sang goreng<br>
684. babang<br>
685. dikat (laboe)<br>
686. bakoe<br>
688. kasoebie<br>
690. maritja<br>
691. potiel oeno<br>
692. potiel saoeno<br>
695. kanare<br>
696. lontar<br>
697. tjoka manis malongoe<br>
701. goela
{{multicol-break}}
702. nipa<br>
703. sago batango<br>
704. sago<br>
705. kapas<br>
706. kawoe kawoe<br>
707. belajan<br>
708. toipa<br>
709. nanakan<br>
711. boloesoekon<br>
712. tetek, tombos mokkobot<br>
713. papidolong<br>
716-<br>
718. loka<br>
722. papissie<br>
723. kopie<br>
724. popollo<br>
725. dilom<br>
726. gambir<br>
727. bangkoedoe<br>
728. tielon<br>
729. sani<br>
731. bonggoan<br>
732. aoek<br>
733. soempol<br>
734. kaoe oeno<br>
737. tolibo<br>
739/<br>
740. kaoe pangono<br>
741. talas<br>
742-<br>
744. anggalo, angkoto<br>
746. lono<br>
748. kaoe koelito<br>
750. kaoe lelo<br>
752. pasos<br>
753. sogang<br>
754. kaoe kampoelo<br>
755. damak<br>
757. sapino<br>
758. boenga<br>
759. saono<br>
761. koelit
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
g8gjcqnks0nvl1n4zothu10d68lijam
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/11
104
116355
320511
2026-10-10T13:55:05Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320511
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1164. mongiloe<br>
1166. matano, bago mata <13><br>
1167. mate<br>
1168. mapook<br>
1169. memela<br>
1170. memela motikas<br>
1171. mosonnie<br>
1172. biroe<br>
1173. idjo<br>
1174. ampale<br>
1175. nilato<br>
1176. bena<br>
1179. alojo<br>
1180. denge<br>
1193. toijo<br>
1194. pikir pikir kene<br>
1195. toijo<br>
1196. toboeka kene, tanandojo!<br>
1197. totollie mio<br>
1198. basangkal<br>
1199. mengakoe<br>
1200. monong kita<br>
1201. pallamoendo<br>
1202. mosin sale<br>
1203. <14><br>
1206. oewang<br>
1208. molo<br>
1210. balimang<br>
1211. tinangkong<br>
1212. ienonsoen<br>
1213. kanggeo<br>
1214. lambele<br>
1215. oebojo<br>
1216. lambele doi kombongo<br>
1220. kelek kio<br>
1221. ngoenggoeme<br>
1223. bangoen<br>
1224. djagaijo<br>
1225. monsappitie<br>
1227. lingele<br>
1228. kitajo
{{multicol-break}}
1229. ofok kijo<br>
1233. saloe doepe<br>
1234. bom bongoel kon<br>
1236/<br>
1237. soengoet<br>
1238. pojeij as<br>
1239. mosiki tene<br>
1240. monsosoenoij<br>
1242-<br>
1244. toenonggon<br>
1245. boekajo<br>
1251. kona<br>
1253-<br>
1255. mompasso<br>
1259. pisi bitio<br>
1260/<br>
1261. tampoene<br>
1262/<br>
1263. ngakko<br>
1264. babaijo<br>
1265. binoenie<br>
1266. sapiet<br>
1267. sodoijo<br>
1268. bolossie<br>
1269. sodoijo<br>
1270. mottongot<br>
1271. mongollie<br>
1272. boedie<br>
1276/<br>
1277. <15><br>
1278. kalio<br>
1284. polong<br>
1286. loewe<br>
1291. mantobos, oembas<br>
1292. bateng gene<br>
1293. meng<br>
1294. loewa<br>
1295. toloe<br>
1296. sangkap<br>
1297. lima<br>
1298. noom<br>
1299. pitoe<br>
1300. pitoe roebiǒn
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
bxwu3rn9ilbbkoieyzq2vw1zwd0vixw
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/10
104
116356
320512
2026-10-10T13:58:50Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320512
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1025. kattie<br>
1029/<br>
1030. kapal<br>
1032. koeti koeti<br>
1033. doeangan<br>
1035. pelelean<br>
1037. kadoet<br>
1038. oeling<br>
1040. akal<br>
1042. pataoek<br>
1043. riemba<br>
1049. tapoe<br>
1050. lanting<br>
1051. laboean<br>
1052. kajol, sol<br>
1053. bogorok<br>
1058. monikoe mijon<br>
1060. berdikajo<br>
1061. babassal<br>
1062. pai paisiek<br>
1063. boeloessan<br>
1064. malimbit<br>
1065. polo lobo<br>
1066. mosobit<br>
1067. malanak<br>
1068. bondollong<br>
1070. manipi<br>
1071. malassoek<br>
1072-<br>
1074. mominak<br>
1075. maloempe<br>
1076. ngattie<br>
1079. mananam<br>
1080/<br>
1081. basallo<br>
1082. mamaan<br>
1083/<br>
1084. atean<br>
1085/<br>
1086. boboan<br>
1087. tatandog<br>
1088. peda pedal<br>
1089. malajas
{{multicol-break}}
1090. pandingkoel<br>
1096. tarang<br>
1097. mamangan<br>
1098. tombieng<br>
1101. moenting<br>
1102. moejoek<br>
1104/<br>
1105. monas<br>
1106/<br>
1107. mimmie<br>
1109/<br>
1110. moti papak<br>
1112. nanggopot sangkap<br>
1113. bebeloi<br>
1115. bot<br>
1116. molowal<br>
1117. boekoewan<br>
1118. mimboes<br>
1119. beronie<br>
1121. bantala<br>
1125. moetoeoel<br>
1127. timboes<br>
1130. monondok<br>
1132-<br>
1135. djamaan<br>
1136-<br>
1139. lokisso<br>
1142. longkong<br>
1143. mono<br>
1146/<br>
1147. lompat<br>
1148/<br>
1149. selangkat<br>
1150. matikas<br>
1152. sioekon<br>
1153. sodo<br>
1154. talalais<br>
1155. kassa<br>
1156. pakodok<br>
1159. bodo<br>
1160. titikan<br>
1161. mamis<br>
1162. mele<br>
1163. masappat
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
efhy5of3pqlwmcs1hzu68psyr4feqv0
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/8
104
116357
320513
2026-10-10T14:03:59Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320513
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
763. batoeno<br>
764. antakko<br>
765. <sengem?><br>
766. ollississon<br>
770. boeloeng<br>
771. boeloeng<br>
772. padang<br>
773. totombol<br>
774. binatang <?><br>
8778. poeso<br>
779. aino<br>
780. topongas<br>
781. al, longoeno<br>
786. kapielo<br>
787. boeloeno<br>
789. nean<br>
790. ngalooe<br>
794. baboeie<br>
797. ngoenggoek<br>
799. bembek<br>
800-<br>
802. karambooe<br>
803/<br>
804. sapi<br>
805. mbŏkan<br>
807. adjaran<br>
808. nohi hikon<br>
809. mennjangan<br>
811. assoe<br>
812. todoeng<br>
813. sasa<br>
814. ngaoek ngaoek<br>
824. marapatie<br>
826. monoek<br>
827. monoek paoeno<br>
828. monoek pantinoa<br>
830. tankolok<br>
831. monoek nopooe / basaboeng<br>
834. gatala<br>
835. kalek<br>
836. papinies<br>
840. kloon mate
{{multicol-break}}
843. keddeng², koojong<br>
844. manoek manoek<br>
846. oenikie<br>
847. kaloeang<br>
851. boekottie<br>
852. pongka<br>
854. <11><br>
864. bebelai, limbeloeng<br>
865. pande, toboi podde paisoe<br>
866. koetoe, pejo2<br>
869. liesa<br>
870. sesene<br>
871. loa<br>
872. pos<br>
877. <12><br>
878. kalitata<br>
879. ting kadang<br>
881. bitotok / bittik tingkoe<br>
884. kamassiek<br>
886. bindana<br>
888. manda<br>
891. oeloi<br>
892. apon<br>
893. boengkang<br>
894. sese<br>
896. soempok<br>
898. kalisossok<br>
899. biaak<br>
900. boeweja<br>
901. membeno<br>
902. totossan<br>
903. alom<br>
905. timboe<br>
906. olojo<br>
907. limowon<br>
908. bitoeon<br>
911. bitoeon limowon<br>
912. bitoeon paoeno<br>
917. doenia<br>
919. oedan<br>
920. soiloe
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
exijf0af9no37zboyqt4fdrhuvqw84u
Halaman:160 Banggai Islands.djvu/9
104
116358
320515
2026-10-10T14:16:48Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320515
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
921. boenon<br>
923. tondolo<br>
924. ngoeloek<br>
925. selesse ngolingo<br>
927. menombol<br>
928. momboel<br>
929. antong<br>
930. paisoe<br>
931. taboei<br>
932. atie<br>
934. sio<br>
935. bokol<br>
936. solong solong<br>
937. laboean<br>
938. bone<br>
939. lolono<br>
940. pasik<br>
941. soloan<br>
942/<br>
943. tonoh<br>
944. togong<br>
945. tanah noE aton<br>
946. loewokong<br>
947. boengkoeko<br>
950. tokoloe<br>
951. tanah patal<br>
952. pepe loko<br>
955. balalongo<br>
957. pandal<br>
959. loloon<br>
960. petok<br>
961. loal<br>
962. kalalattan<br>
963. paisoe batango<br>
964. tetean<br>
965. togol<br>
966. hilil<br>
967. paisoe matano<br>
968. lomba<br>
969. batoe<br>
970. tanatoe<br>
971. bonoe
{{multicol-break}}
973. besi<br>
974. koelaloek<br>
975. bai bai<br>
976. salaka<br>
977. masonnie<br>
979. ngaloeng<br>
981. pandai bessi<br>
984. alojong<br>
985. marteloe (paloe)<br>
986. tandassan<br>
987. sapiet besi<br>
988. bala<br>
989. basŏi<br>
991. pobee<br>
992. sangadja<br>
993. pinakonandok kikon<br>
994. pinotonggon<br>
995. dagang<br>
996. mijon bahamboeng<br>
999. tatalain<br>
1000. tombong<br>
1001. toko babassal<br>
1002. laboton<br>
1003. badagang<br>
1004. poepoet<br>
1005. pakaoet<br>
1007. sarono<br>
1008. allino<br>
1009. roegi (moetoewang)<br>
1010. mongoallie<br>
1011. maling<br>
1012. moeda<br>
1013. samaja<br>
1014. basinga<br>
1015. bajare<br>
1016. baloe kene<br>
1017/<br>
1018. babingkat<br>
1019. sabal lio<br>
1020. kalio<br>
1021. bagade<br>
1022. mabasio
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
j1501iilaikymhpy5c8kg6do4xuik9o
Halaman:159 Banggai.djvu/14
104
116359
320516
2026-10-10T14:18:06Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320516
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude><noinclude></noinclude>
7wa62a3b4f4mn1li85pwnrovaa485ll
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/88
104
116360
320517
2026-10-10T14:19:30Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
320517
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />RABINDRA NATH TAGORE.
{{rule}}</noinclude>gimana keras dan soenggoe hati, soedah tida
dapet maksoednja. Tapi itoe penolakan tjoemah
djadi samatjem peladjaran boeat bikin ia djadi
sampoerna, tida kepalang tanggoeng pengartian
dan kasoetjiannja. Kapan baroe mengenal Toehan
(Kabeneran) sedikit sadja [antes ditrima, (diberi
berkah), orang poen djadi males beladjar lebih
djaoe, kerna hatinja soedah merasa poeas. Itoe
penolakan jang tetep selamanja djoestroe nanti
memberi andjoeran soepaja orang singkirken
atawa lepasken itoe segala matjem kainginan
sia-sia jang terdjedjel penoeh dalem hawa nafsoenja, sampe tjoemah katinggalan jang paling
bersih, moelia dan soetji, jang saroepa dengen
sifatnja Toehan sendiri, jang membikin ia ter
bebas dari segala kalemahan dan kainginan jang
tida tentoe. [Ajat 3-4).
{{center|XV.}}
1. Akoe beräda disini boeat kasih kaoe denger satoe njanjian. Dalem kaoe poenja roangan astana ini, akoe ada poenja satoe tempat
doedoek di podjokan.
2 . Dalem kaoe poenja doenia akoe tida poenja
pakerdja'an apa-apa boeat dilakoeken ; kahidoepankoe jang tida bergoena tjoemah bisa lahirken njanjian jang tida mengandoeng maksoed.
3. Kapan itoe lontjeng berboenji aken memoedja kaoe dalem klenteng jang gelap di waktoe
malem, titahkenlah, Toeankoe, padakoe boeat
berdiri menjanji di hadepanmoe.
4. Kapan di dalem oedara pagi itoe ketjapi
dari emas soedah ditjotjokin soearanja, berilah
kahormatan padakoe dengen titah boeat dateng
rnengadep,<noinclude>{{center|78}}</noinclude>
cultwa0g2ug3vgits19rz4pfd63em9h
320524
320517
2026-10-10T14:39:51Z
Hadithfajri
15274
320524
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />RABINDRA NATH TAGORE.
{{rule}}</noinclude>gimana keras dan soenggoe hati, soedah tida
dapet maksoednja. Tapi itoe penolakan tjoemah
djadi samatjem peladjaran boeat bikin ia djadi
sampoerna, tida kepalang tanggoeng pengartian
dan kasoetjiannja. Kapan baroe mengenal Toehan
(Kabeneran) sedikit sadja lantes ditrima, (diberi
berkah), orang poen djadi males beladjar lebih
djaoe, kerna hatinja soedah merasa poeas. Itoe
penolakan jang tetep selamanja djoestroe nanti
memberi andjoeran soepaja orang singkirken
atawa lepasken itoe segala matjem kainginan
sia-sia jang terdjedjel penoeh dalem hawa
nafsoenja, sampe tjoemah katinggalan jang paling
bersih, moelia dan soetji, jang saroepa dengen
sifatnja Toehan sendiri, jang membikin ia
terbebas dari segala kalemahan dan kainginan jang
tida tentoe. [Ajat 3-4).
{{center|XV.}}
1. Akoe beräda disini boeat kasih kaoe denger satoe njanjian. Dalem kaoe poenja roangan astana ini, akoe ada poenja satoe tempat
doedoek di podjokan.
2 . Dalem kaoe poenja doenia akoe tida poenja
pakerdja'an apa-apa boeat dilakoeken ; kahidoepankoe jang tida bergoena tjoemah bisa lahirken njanjian jang tida mengandoeng maksoed.
3. Kapan itoe lontjeng berboenji aken memoedja kaoe dalem klenteng jang gelap di waktoe
malem, titahkenlah, Toeankoe, padakoe boeat
berdiri menjanji di hadepanmoe.
4. Kapan di dalem oedara pagi itoe ketjapi
dari emas soedah ditjotjokin soearanja, berilah
kahormatan padakoe dengen titah boeat dateng
mengadep.<noinclude>{{center|78}}</noinclude>
hh7uqgo3dy0tvx386j8pi6rgcayee1x
320551
320524
2026-10-10T15:32:35Z
Hadithfajri
15274
320551
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />RABINDRA NATH TAGORE.
{{rule}}</noinclude><section begin="XIV" />gimana keras dan soenggoe hati, soedah tida
dapet maksoednja. Tapi itoe penolakan tjoemah
djadi samatjem peladjaran boeat bikin ia djadi
sampoerna, tida kepalang tanggoeng pengartian
dan kasoetjiannja. Kapan baroe mengenal Toehan
(Kabeneran) sedikit sadja lantes ditrima, (diberi
berkah), orang poen djadi males beladjar lebih
djaoe, kerna hatinja soedah merasa poeas. Itoe
penolakan jang tetep selamanja djoestroe nanti
memberi andjoeran soepaja orang singkirken
atawa lepasken itoe segala matjem kainginan
sia-sia jang terdjedjel penoeh dalem hawa
nafsoenja, sampe tjoemah katinggalan jang paling
bersih, moelia dan soetji, jang saroepa dengen
sifatnja Toehan sendiri, jang membikin ia
terbebas dari segala kalemahan dan kainginan jang
tida tentoe. (Ajat 3-4).
<section end="XIV" />
<section begin="XV" />{{center|XV.}}
1. Akoe beräda disini boeat kasih kaoe denger satoe njanjian. Dalem kaoe poenja roangan astana ini, akoe ada poenja satoe tempat
doedoek di podjokan.
2 . Dalem kaoe poenja doenia akoe tida poenja
pakerdja'an apa-apa boeat dilakoeken ; kahidoepankoe jang tida bergoena tjoemah bisa lahirken njanjian jang tida mengandoeng maksoed.
3. Kapan itoe lontjeng berboenji aken memoedja kaoe dalem klenteng jang gelap di waktoe
malem, titahkenlah, Toeankoe, padakoe boeat
berdiri menjanji di hadepanmoe.
4. Kapan di dalem oedara pagi itoe ketjapi
dari emas soedah ditjotjokin soearanja, berilah
kahormatan padakoe dengen titah boeat dateng
mengadep.
<section end="XV" /><noinclude>{{center|78}}</noinclude>
8k2aqtso4ayrub6wm9zfe3t1ubh38m3
Halaman:159 Banggai.djvu/13
104
116361
320518
2026-10-10T14:21:19Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320518
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude># <li value="6"> korong: black heron<br>konai white heron<br>
# boeani (castnet); poekat%3B daboor, castnet with wooden floats<br>
# podi eel (saltwater eel)<br>
# soon: small red ant<br>laga: large red ant<br>limontik: large black ant<br>
# soekat, katian, takal<br>
# of people<br>
# (rokop - tangkap) rampok<br>
# to kiss, the European way: monosop<br>
# poolon, koesaijon, oembas
'''4. ADDITIONAL DATA'''<br>
# viper: mboeloeng<noinclude></noinclude>
dcpkn8xopzybkdvbfu4p3dlpaauk2wh
Halaman:159 Banggai.djvu/12
104
116362
320519
2026-10-10T14:24:56Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320519
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1411. oeloe-oeloekoen<br>
1412. na oeloekoen<br>
1413. oeloekoen<br>
1416. oemboā<br>
1418. rimbeerie<br>
1419. rimpoean<br>
1420. lio kainie-ie<br>
1422. leeloa<br>
1423. iepoean<br>
1426. pensan<br>
1427. ipie<br>
1428. nokko<br>
1429. koppo<br>
1433. betteean<br>
1434. soppokan<br>
1435. kawie<br>
1436. oewanan<br>
1437. kawia-a<br>
1439. kanda-mori<br>
1440. kawio-o<br>
1442/<br>
1443. na-tokka'<br>
1445. tia<br>
1446. na<br>
1447. takka na
{{multicol-break}}
1448. oegana-na<br>
1450. lalom na<br>
1451. oemoearmoe<br>
1452. karani<br>
1454. nie-iwie-iwie<br>
1460. ija<br>
1461. haoepa bajaā<br>
1462. indo-indo<br>
1465. mengoepa<br>
1466. (toetoe) dawaai<br>
1467. kakai<br>
1469. tia<br>
1470. tiaija<br>
1471. sian<br>
1472. indo<br>
1474. tassi<br>
1475. alia<br>
1476. toetoe<br>
1477. tongko<br>
1478. berani<br>
1441. kawio-o mori<br>
1479. kassee<br>
1480. kassee<br>
1481. kassee<br>
1482. kassee<br>
1486. sian ta saangoe
{{multicol-end}}
'''3. NOTES'''<br>
# of people: koelit<br>
# (yellow: mosongi)<br>
# gambar<br>
# bakasan, kaleolong, matana, solongan<br>
# bala thick, heavy hedge/fence<br>
bentee: thin hedge, light fence<noinclude></noinclude>
6mrdxt3z2wvxvxa9x5azrmqyy3cg7nc
320520
320519
2026-10-10T14:25:33Z
Thersetya2021
15831
320520
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1411. oeloe-oeloekoen<br>
1412. na oeloekoen<br>
1413. oeloekoen<br>
1416. oemboā<br>
1418. rimbeerie<br>
1419. rimpoean<br>
1420. lio kainie-ie<br>
1422. leeloa<br>
1423. iepoean<br>
1426. pensan<br>
1427. ipie<br>
1428. nokko<br>
1429. koppo<br>
1433. betteean<br>
1434. soppokan<br>
1435. kawie<br>
1436. oewanan<br>
1437. kawia-a<br>
1439. kanda-mori<br>
1440. kawio-o<br>
1441. kawio-o mori<br>
1442/<br>
1443. na-tokka'<br>
1445. tia<br>
1446. na<br>
1447. takka na
{{multicol-break}}
1448. oegana-na<br>
1450. lalom na<br>
1451. oemoearmoe<br>
1452. karani<br>
1454. nie-iwie-iwie<br>
1460. ija<br>
1461. haoepa bajaā<br>
1462. indo-indo<br>
1465. mengoepa<br>
1466. (toetoe) dawaai<br>
1467. kakai<br>
1469. tia<br>
1470. tiaija<br>
1471. sian<br>
1472. indo<br>
1474. tassi<br>
1475. alia<br>
1476. toetoe<br>
1477. tongko<br>
1478. berani<br>
1479. kassee<br>
1480. kassee<br>
1481. kassee<br>
1482. kassee<br>
1486. sian ta saangoe
{{multicol-end}}
'''3. NOTES'''<br>
# of people: koelit<br>
# (yellow: mosongi)<br>
# gambar<br>
# bakasan, kaleolong, matana, solongan<br>
# bala thick, heavy hedge/fence<br>
bentee: thin hedge, light fence<noinclude></noinclude>
tgizng8t109p4l8sfm4y1480pyxs7ue
Halaman:159 Banggai.djvu/11
104
116363
320521
2026-10-10T14:30:14Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320521
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1259. memboengkirkon<br>
1260/<br>
1261. mentoembeeie<br>
1262/<br>
1263. kaboes<br>
1264. paroet<br>
1265. noa oepa' (namian)<br>
1266. mengenaa oewakong<br>
1267. pikiror<br>
1268. walossi<br>
1269. mamaassee<br>
1270. dowokkon<br>
1271. mangakali<br>
1272. borrik<br>
1278. mengkekkee<br>
1284. takkamoe<br>
1286. roemingkat<br>
1291. <14><br>
1293. saangoe<br>
1294. karoea<br>
1295. totoloe<br>
1296. papaat<br>
1297. lima<br>
1298. nonom<br>
1299. pitoe<br>
1300. oewaloe<br>
1301. sio<br>
1302. sompoeloh<br>
1303. sompoeloh saangoe<br>
1304. sompoeloh karoea<br>
1312. roeampoeloh<br>
1313. roeampoeloh saangoe<br>
1316. toloempoeloh<br>
1317. paatoempoeloh<br>
1318. limaampoeloeh<br>
1319. nomoempoeloeh<br>
1323. saatoe<br>
1324. solollon<br>
1325. sompoeloh lollon<br>
1326. sangkollon<br>
1328. pen saan<br>
1329. pindoean
{{multicol-break}}
1330/<br>
1331. oeloekoen<br>
1332/<br>
1333. koroeana<br>
1336/<br>
1337. komboerie<br>
1338. piepie<br>
1339. bijai<br>
1340. itoekoet<br>
1347/<br>
1348. maassa toe<br>
1349. kolalapian<br>
1350. iewie2 (wiewiena)<br>
1356. saangoe2<br>
1357. ijakoe<br>
1358. ijaka soengkoe<br>
1359. koe<br>
1362. koe mian<br>
1363. ija<br>
1365. kai<br>
1366. kai<br>
1367/<br>
1368. ija mian<br>
1369/<br>
1370. ijakoe tombono<br>
1373/<br>
1374. komoe tombono<br>
1375/<br>
1376. ija tombono<br>
1378. ija tombono<br>
1379. iemee<br>
1380. aoepa / oepa<br>
1382. ija<br>
1383. kanie-ie / kaja-a<br>
1385. kanie-ie<br>
1386. oloaā<br>
1388. kaja-a<br>
1389. katoeo<br>
1394. ilio<br>
1398. mateda<br>
1402. (malom) rondom<br>
1406. loe-oeno<br>
1408. sakodi<br>
1409. koienie-ie
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
le27q2n9p5vvp1zxjmkrfhpk5j6zm2g
Halaman:159 Banggai.djvu/10
104
116364
320522
2026-10-10T14:33:44Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320522
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
1098. matadom<br>
1101. makadong<br>
1102. maloesa<br>
1104/<br>
1105. mapanas<br>
1106/<br>
1107. mapoeoet<br>
1109/<br>
1110. malimboeng<br>
1117. boekoean<br>
1118. meloepoe<br>
1119. berani<br>
1121. meloeloe<br>
1125. metoeor<br>
1127. mintak<br>
1130. maamat<br>
1132-<br>
1134. tingkai / maamat<br>
1135. maāmat<br>
1142. lensee<br>
1143. boekee<br>
1146/<br>
1147. medodor<br>
1148/<br>
1149. kakaai-jan<br>
1150. metoewo<br>
1152. loempa <11><br>
1153. oeoeroe<br>
1154. tatalais<br>
1155. malessie<br>
1156. mamalee<br>
1159. boddon<br>
1160. pintar<br>
1161. ma-assien<br>
1162. makaran<br>
1163. mapakkat<br>
1166. mottee-ee<br>
1167. meboelak<br>
1168. moietom <moiktom?><br>
1169. moemeja<br>
1171. songi<br>
1172. melalas<br>
1174. sarak (mensarak)<br>
1175. <12>
{{multicol-break}}
1176. tereijon<br>
1179. mengala<br>
1193. mongintiï<br>
1194. pinowakon<br>
1195. mongintiri<br>
1196. mongintiri<br>
1197. kalimpoe<br>
1198. popowoeni<br>
1199. mangakoe<br>
1200. rokok<br>
1201. marra, moengoe<br>
1202. bisara<br>
1203. mogijoo<br>
1206. loloe<br>
1210. baliman-printah, powalos<br>
1211. pasaan<br>
1212. soeoen<br>
1213. tanton (lambe)<br>
1214. sampipit<br>
1215. ipit<br>
1216. tonton<br>
1220. oeba<br>
1221. tawan<br>
1223. miewangoen<br>
1224. momboerarie<br>
1225. mansapitie<br>
1227. ronggor<br>
1228. pilee<br>
1229. monggok<br>
1233. minsiroeroek<br>
1234. minsoppoen<br>
1236. mongokki <13><br>
1237. monsonggoet<br>
1238. moengkua<br>
1239. masso<br>
1240. koerang noana<br>
1242-<br>
1244. mingkira, moh-oes<br>
1245. bongkatti<br>
1246. omporrie<br>
1251. kana<br>
1253-<br>
1255. pitjak-koppoppok
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
dtnyhddi97x3ddzpr7ospmywk1rst37
Halaman:159 Banggai.djvu/9
104
116365
320523
2026-10-10T14:37:47Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320523
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
961. raōr<br>
962. kotonan<br>
963. wer balaki<br>
964. djambatan<br>
965. soemansang<br>
966. lolo wer<br>
967. matana wer<br>
968. waā<br>
969. watoe<br>
970. tano<br>
971. bone<br>
973. dolos<br>
974. koelaloek<br>
976. salaka<br>
977. masoni<br>
978. sosor<br>
979. sosor<br>
981. toemoetoek<br>
984. anig<br>
985. ponoetoek<br>
986. tandasan<br>
987. asip<br>
989. mboiti<br>
996. mangkaé<br>
999. doedoek<br>
1002. labotan<br>
1004. baloek-baloek<br>
1005. pakaoet<br>
1007. ilina<br>
1008. oentoeng<br>
1009. roegi<br>
1010. ili<br>
1011. maal<br>
1012. mamoeda<br>
1013. samaja<br>
1015. bajar<br>
1016, baloekon<br>
1017/<br>
1018. pobolos<br>
1019. bolosi<br>
1020. ria bolosi moe kita<br>
1021. gadej
{{multicol-break}}
1022. tawarijon<br>
1025. takalan<br>
1026-<br>
1028. <10><br>
1033. doeangan<br>
1035. pelelan<br>
1037. kadoet<br>
1038. tolopoesan<br>
1040. bose<br>
1041/<br>
1042. tataoek<br>
1043. babase<br>
1049. tapoeh<br>
1050. akian<br>
1051. laboean<br>
1060. tolosi<br>
1061. balaki<br>
1062. itikoet<br>
1063. alajo<br>
1064. manaoe<br>
1065/<br>
1066, ampoedoek<br>
1067. malongo malompo<br>
1068. balaki<br>
1070. manipis<br>
1071. magentoeng<br>
1072-<br>
1074. malompo, malongo<br>
1075. pore<br>
1079. manaam<br>
1080/<br>
1081. malela<br>
1082, makamaā<br>
1083/<br>
1084. alalom<br>
1085/<br>
1086. letek<br>
1087. alajo<br>
1088. sobo<br>
1089. maloōs<br>
1090. madengkoeng<br>
1095. merawat<br>
1096. malaai<br>
1097. tombiing, dedengker
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
9iktifumsk4xdn6utmo0uvgzss20xff
Halaman:159 Banggai.djvu/8
104
116366
320525
2026-10-10T14:42:28Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320525
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
813. sasa<br>
814. mongeok<br>
824. merampati<br>
825. papaa<br>
826. manoek (siō)<br>
827. manoek ngamea<br>
828. manoek bingkele<br>
830. manoek kaki<br>
826-<br>
831. manoek<br>
834. kakatoea<br>
836. tetikkee<br>
840. korong, konai <6><br>
843. belana<br>
844. sapoe<br>
845. dooe<br>
846. poniki mori<br>
847. poniki<br>
852. bokotik<br>
852. pongka<br>
853. taranan<br>
854. koto<br>
861. <7><br>
864. beebeelai<br>
865. pason, podi <8><br>
866. koetoe<br>
869. toema<br>
870. boeloetigon<br>
871. lowa<br>
872. lale<br>
877. poōs<br>
878. balambang<br>
879. oele<br>
881. koelilik<br>
884. <9><br>
885. araka<br>
886. bintana, salansang<br>
888. olipan<br>
891. oele<br>
892. oerang<br>
893. boengkang<br>
894. paisoean
{{multicol-break}}
896. berea, botom<br>
898. rorot<br>
899. boebang<br>
900. boeaja<br>
901/<br>
902. rea, boko2<br>
905. langit<br>
906. ilijo<br>
907. ilijo sabakon<br>
908. woelan<br>
910. bitoehoen<br>
911. woelan sabakon<br>
912. bitoeön<br>
917. lejala<br>
919. oesan<br>
920. seroe<br>
921. antong<br>
923. tandalo<br>
924. kokoeroeng = bolosa<br>
925. watoena golosa<br>
927. lili<br>
928. momboel<br>
929. bojoes<br>
930. wer<br>
931. ndalangon<br>
932. moöti<br>
934. sijoh<br>
935. lalong<br>
936. bokol<br>
938. mosoöle<br>
939. ola'<br>
940. maleos<br>
941. pasik<br>
942. lipoe<br>
944. togong<br>
946. tadoena<br>
947. boeoena<br>
948. boeoena<br>
951. rempana<br>
955. alas<br>
959. salan<br>
960. gitak
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
kp2sc38jdiphl0fy3kx4f3g0qrlvxh9
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/89
104
116367
320526
2026-10-10T14:45:07Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
320526
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" /></noinclude>ÀRTIANNJA OITANJALI.
{{asterisme}}
1 . „Kaoe poenja roangan astana" = Tempel
atawa gredjanja Toehan.
2. „Njanjian jang tida mengandoeng maksoed"
= dowa-dowa atawa pakerdja'an goena Toehan
jang tida artinja.
3. „Lontjeng berboenji" = Dateng temponja.
„Klenteng jang gelap di waktoe malem" boleh
diartiken „kamatian", boleh djoega diartiken
„kasoenjian."
4. „Oedara pagi" boleh diartian kalahiran,
boleh djoega „dalem karamean." Itoe „ketjapi
dari emas" brangkalih dimaksoedken sinar matahari jang baroe terpantjar.
{{***}}
Djelasnja kira-kira begini :
Akoe terlahir ka doenia boeat melakoeken
satoe pakerdja'an aken memoeliaken kabesaranmoe, oh Toehan ! Dalem kaoe poenja gredja,
maski djoega tjoemah di podjokan, akoe ada
poenja satoe tempat doedoek. (Ajat 1).
Dalem kaoe poenja pakerdja'an jang besar
akoe tida mampoe aken toeroet ambil bagian,
tjoemah akoe bisa menoelis sedikit aken siarken
kaoe poenja kabesaran dan kakoeasa'an, atawa
lakoeken sadja pakerdja'an jang tida berarti aken
goenamoe. (Ajat 2).
Baek di tengah ma'em jang soenji dan gelap
goelita, maoe poen waktoe pagi hari jang indah
koetika matahari soedah bersedia aken siarken
sinarnja, akoe bersiap aken mengadep padamoe boeat kasih denger akoe poenja dowa poedjian dan kasih liat akoe poenja sedikit pakerdja'an, kaloe sadja diberi kasempetan boeat
pertoendjoekken itoe.<noinclude>{{center|79}}</noinclude>
f28pr2lznwcaulku9zgyejpamtizios
320553
320526
2026-10-10T15:33:09Z
Hadithfajri
15274
320553
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />ÀRTIANNJA OITANJALI.</noinclude><section begin="XV" />{{asterisme}}
1 . „Kaoe poenja roangan astana" = Tempel
atawa gredjanja Toehan.
2. „Njanjian jang tida mengandoeng maksoed"
= dowa-dowa atawa pakerdja'an goena Toehan
jang tida artinja.
3. „Lontjeng berboenji" = Dateng temponja.
„Klenteng jang gelap di waktoe malem" boleh
diartiken „kamatian", boleh djoega diartiken
„kasoenjian."
4. „Oedara pagi" boleh diartian kalahiran,
boleh djoega „dalem karamean." Itoe „ketjapi
dari emas" brangkalih dimaksoedken sinar matahari jang baroe terpantjar.
{{***}}
Djelasnja kira-kira begini :
Akoe terlahir ka doenia boeat melakoeken
satoe pakerdja'an aken memoeliaken kabesaranmoe, oh Toehan ! Dalem kaoe poenja gredja,
maski djoega tjoemah di podjokan, akoe ada
poenja satoe tempat doedoek. (Ajat 1).
Dalem kaoe poenja pakerdja'an jang besar
akoe tida mampoe aken toeroet ambil bagian,
tjoemah akoe bisa menoelis sedikit aken siarken
kaoe poenja kabesaran dan kakoeasa'an, atawa
lakoeken sadja pakerdja'an jang tida berarti aken
goenamoe. (Ajat 2).
Baek di tengah ma'em jang soenji dan gelap
goelita, maoe poen waktoe pagi hari jang indah
koetika matahari soedah bersedia aken siarken
sinarnja, akoe bersiap aken mengadep padamoe boeat kasih denger akoe poenja dowa poedjian dan kasih liat akoe poenja sedikit pakerdja'an, kaloe sadja diberi kasempetan boeat
pertoendjoekken itoe.
<section end="XV" /><noinclude>{{center|79}}</noinclude>
ria6btw7ahn8kf962prlfaaf67h7dah
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/74
104
116368
320527
2026-10-10T14:46:25Z
Zhilal Darma
10833
/* Telah diuji baca */
320527
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
kaoe poenja hadia dari tangannja jang mesoem.
Trima sadja apa jang disoegoehin oleh katjinta'an jang soetji.
1. Itoe orang jang diseboet „gendêng" dan
"pengemis" ada manoesia jang hendak tjari ka-
selametan dengen mengandel pada pertoeloeng-
annja machloek-machloek soetji.
2. la jang bisa tanggoeng segala apa" ada
itoe Toehan jang bertempat dalem diri manoesia.
3. Apinja itoe lampoe," Seng, Noer Illahi,
Sri Krishna enz. jang mendjadi manoesia poenja
diri sedjati.
Kabanjakan manoesia kapan hadepken kasoe-
sahan, atawa mengandoeng kainginan jang tida
kasampean, laloe sembahjang, berdowa dan
memoedja pada Toehan, dewa, toapekong, roh
leloehoer, kramat atawa laen-laen lagi jang di-
anggep soetji dan berkoeasa, soepaja diberi
karinganan dan diloeloesken pengharepannja.
Ini matjem sikep sabetoelnja ada sia-sia, kerna
sasoeatoe orang ada memegang koeasa atas
nasifnja dan apa djega jang ia aken alamken
samoea ada bergantoeng atas perboeatan dan
pri-lakoenja sendiri. lapoenja senang atawa
soesah, selamet atawa tjilaka, djadi soetji atawa
boesoek, itoe samoea boekan dari gandjaran
atawa hoekoeman jang diberiken oleh Toehan
atawa laen-laen machloek soetji, hanja ada dari
lampah dan perboeatannja sendiri. Maka siapa
hendak tjoba meminta-minta toeloeng soepaja
diringanken kasoesahannja atawa diloeloesken
kainginannja, ialah sama djoega hendak soeroe
poendaknja sendiri aken pikoel iapoenja toeboeh,<noinclude>{{rh||64}}</noinclude>
prg0x5u5dbo6urrlkp2swli3y25byvc
320529
320527
2026-10-10T14:46:58Z
Zhilal Darma
10833
320529
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
kaoe poenja hadia dari tangannja jang mesoem.
Trima sadja apa jang disoegoehin oleh katjinta'an jang soetji.
1. Itoe orang jang diseboet „gendêng" dan
"pengemis" ada manoesia jang hendak tjari ka-
selametan dengen mengandel pada pertoeloeng-
annja machloek-machloek soetji.
2. la jang bisa tanggoeng segala apa" ada
itoe Toehan jang bertempat dalem diri manoesia.
3. Apinja itoe lampoe," Seng, Noer Illahi,
Sri Krishna enz. jang mendjadi manoesia poenja
diri sedjati.
Kabanjakan manoesia kapan hadepken kasoe-
sahan, atawa mengandoeng kainginan jang tida
kasampean, laloe sembahjang, berdowa dan
memoedja pada Toehan, dewa, toapekong, roh
leloehoer, kramat atawa laen-laen lagi jang di-
anggep soetji dan berkoeasa, soepaja diberi
karinganan dan diloeloesken pengharepannja.
Ini matjem sikep sabetoelnja ada sia-sia, kerna
sasoeatoe orang ada memegang koeasa atas
nasifnja dan apa djega jang ia aken alamken
samoea ada bergantoeng atas perboeatan dan
pri-lakoenja sendiri. lapoenja senang atawa
soesah, selamet atawa tjilaka, djadi soetji atawa
boesoek, itoe samoea boekan dari gandjaran
atawa hoekoeman jang diberiken oleh Toehan
atawa laen-laen machloek soetji, hanja ada dari
lampah dan perboeatannja sendiri. Maka siapa
hendak tjoba meminta-minta toeloeng soepaja
diringanken kasoesahannja atawa diloeloesken
kainginannja, ialah sama djoega hendak soeroe
poendaknja sendiri aken pikoel iapoenja toeboeh,<noinclude>{{rh||64}}</noinclude>
6wpmvrgagbkocbs4xl9lmzogldeoiaa
320557
320529
2026-10-10T15:35:51Z
Zhilal Darma
10833
320557
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}}
kaoe poenja hadia dari tangannja jang mesoem.
Trima sadja apa jang disoegoehin oleh katjinta'an jang soetji.
1. Itoe orang jang diseboet „gendêng" dan
"pengemis" ada manoesia jang hendak tjari ka-
selametan dengen mengandel pada pertoeloeng-
annja machloek-machloek soetji.
2. la jang bisa tanggoeng segala apa" ada
itoe Toehan jang bertempat dalem diri manoesia.
3. Apinja itoe lampoe," Seng, Noer Illahi,
Sri Krishna enz. jang mendjadi manoesia poenja
diri sedjati.
Kabanjakan manoesia kapan hadepken kasoe-
sahan, atawa mengandoeng kainginan jang tida
kasampean, laloe sembahjang, berdowa dan
memoedja pada Toehan, dewa, toapekong, roh
leloehoer, kramat atawa laen-laen lagi jang di-
anggep soetji dan berkoeasa, soepaja diberi
karinganan dan diloeloesken pengharepannja.
Ini matjem sikep sabetoelnja ada sia-sia, kerna
sasoeatoe orang ada memegang koeasa atas
nasifnja dan apa djega jang ia aken alamken
samoea ada bergantoeng atas perboeatan dan
pri-lakoenja sendiri. lapoenja senang atawa
soesah, selamet atawa tjilaka, djadi soetji atawa
boesoek, itoe samoea boekan dari gandjaran
atawa hoekoeman jang diberiken oleh Toehan
atawa laen-laen machloek soetji, hanja ada dari
lampah dan perboeatannja sendiri. Maka siapa
hendak tjoba meminta-minta toeloeng soepaja
diringanken kasoesahannja atawa diloeloesken
kainginannja, ialah sama djoega hendak soeroe
poendaknja sendiri aken pikoel iapoenja toeboeh,<noinclude>{{rh||64}}</noinclude>
smexuj9jkoahiblvgl5cmtsbbvoorfd
320559
320557
2026-10-10T15:36:57Z
Zhilal Darma
10833
320559
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" />{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}}</noinclude>
kaoe poenja hadia dari tangannja jang mesoem.
Trima sadja apa jang disoegoehin oleh katjinta'an jang soetji.
1. Itoe orang jang diseboet „gendêng" dan
"pengemis" ada manoesia jang hendak tjari ka-
selametan dengen mengandel pada pertoeloeng-
annja machloek-machloek soetji.
2. la jang bisa tanggoeng segala apa" ada
itoe Toehan jang bertempat dalem diri manoesia.
3. Apinja itoe lampoe," Seng, Noer Illahi,
Sri Krishna enz. jang mendjadi manoesia poenja
diri sedjati.
Kabanjakan manoesia kapan hadepken kasoe-
sahan, atawa mengandoeng kainginan jang tida
kasampean, laloe sembahjang, berdowa dan
memoedja pada Toehan, dewa, toapekong, roh
leloehoer, kramat atawa laen-laen lagi jang di-
anggep soetji dan berkoeasa, soepaja diberi
karinganan dan diloeloesken pengharepannja.
Ini matjem sikep sabetoelnja ada sia-sia, kerna
sasoeatoe orang ada memegang koeasa atas
nasifnja dan apa djega jang ia aken alamken
samoea ada bergantoeng atas perboeatan dan
pri-lakoenja sendiri. lapoenja senang atawa
soesah, selamet atawa tjilaka, djadi soetji atawa
boesoek, itoe samoea boekan dari gandjaran
atawa hoekoeman jang diberiken oleh Toehan
atawa laen-laen machloek soetji, hanja ada dari
lampah dan perboeatannja sendiri. Maka siapa
hendak tjoba meminta-minta toeloeng soepaja
diringanken kasoesahannja atawa diloeloesken
kainginannja, ialah sama djoega hendak soeroe
poendaknja sendiri aken pikoel iapoenja toeboeh,<noinclude>{{rh||64}}</noinclude>
jtf7iy06ljjdzfe8uhux6kdyvd45mlv
Halaman:159 Banggai.djvu/7
104
116369
320528
2026-10-10T14:46:37Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320528
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
677. tamboewe<br>
679. katimoen<br>
681. tigo<br>
682. tombong<br>
683. doepandang<br>
684. babang<br>
685. tagama<br>
686. oei<br>
688. kella, kasabi<br>
690. marisa<br>
691. poeoena noer<br>
692. wo'na noer<br>
691-<br>
693. noer<br>
695. topong-bobak<br>
697. soeka<br>
701. goela<br>
702. nipa<br>
703. poeoena roembia<br>
704. popoeroen<br>
705. kapas<br>
706. kaboe-baboeng<br>
708. baang<br>
709. sawoh<br>
711. boloesoekon<br>
712. tombos meleoepa<br>
713. baboeno<br>
716. loka<br>
717. boekoe<br>
722. lemo<br>
723. kopi<br>
726. gamber<br>
727. wangkoedoe<br>
728. tiilon<br>
729. songi<br>
731. ae<br>
732. timbo<br>
733. roebong2 soempo<br>l
734. poeoen<br>
737. loemopon<br>
739/<br>
740. panga
{{multicol-break}}
742-<br>
744. wakat<br>
746. ron<br>
748. koeang<br>
752. wo'<br>
753. rona<br>
755. bolobak<br>
757. soempe<br>
758. boerak<br>
759. bo' (wo')<br>
761. koeang<br>
763. watoe<br>
764. ontok<br>
766. likison<br>
770. rakoet<br>
771. kaar<br>
772. padang<br>
773. borang<br>
774. binatang<br>
775. oeror<br>
778. wolo<br>
779. sarat<br>
780. tadoeng<br>
781. ngoeroen<br>
786. lai<br>
787. woeloe<br>
789. peta<br>
790. opoебe<br>
794. baoe (bokijoe)<br>
797. monggegek<br>
799. bembe<br>
800-<br>
802. karbouw<br>
803. sapi<br>
804. sapi<br>
805. kombebe<br>
806. mongkakaroo<br>
807. adaran<br>
808. mingkoeliling<br>
809. donga<br>
811. aoete<br>
812. mangalaai
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
gee3p0jhck41lnckkdyyhvoe4dtbwe6
Halaman:159 Banggai.djvu/6
104
116370
320530
2026-10-10T14:49:26Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320530
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
524. goembang<br>
525-<br>
527. mangka apoe<br>
528. songar<br>
529. mababoeng<br>
530. topa<br>
534. kokaan<br>
535. mantoe<br>
536. mantoerangie<br>
537. nitom-gala<br>
539. antok mamata<br>
540. antok motoeör<br>
541. soesoem<br>
543. poe<br>
544. poe<br>
545. poe<br>
543-<br>
545. poe<br>
546. pae poeoen<br>
547. kaoena<br>
548. kojengna<br>
549. alang (talok)<br>
550/<br>
551. lesoeng pemeso<br>
553. ikiran<br>
554. ottana<br>
555. mimijodok<br>
561. koelawoe<br>
562. marisa dawa<br>
563. tmioeson<br>
565. baakan<br>
567. dengko<br>
569/<br>
570. bokoekoem<br>
571/<br>
572. tali (pasapoe)<br>
573. doka<br>
576. sinsim<br>
578. danio<br>
579. boesso<br>
580. golang<br>
582. dalin<br>
583. dalin
{{multicol-break}}
586. selel<br>
588. saping<br>
590. soetera<br>
593. tonoen<br>
600. mangamam<br>
601. mongkotolon<br>
602. kololon<br>
603. kapas<br>
604. mangkaoet<br>
608. tinembel<br>
609. goema<br>
611. soesoedoek<br>
612. sopoet<br>
613-<br>
616. <4><br>
617. kalijaoe<br>
619. lela<br>
620. panapi<br>
621. oebat<br>
622. watoe<br>
623. manapi<br>
624. babalok<br>
626. potoemboeri<br>
627. moesoe<br>
630. pokaamat<br>
651. kalapini<br>
652. passol<br>
653. bangkal<br>
654/<br>
655. rabbe<br>
656. kekke<br>
657. salanawer<br>
659. bala, bentee <5><br>
660. boetta<br>
662/<br>
663. mamaǎs<br>
664. wine<br>
665. soean<br>
668. mataak<br>
669. mamatta<br>
671/<br>
672. dadi=sida<br>
674. ossale
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
gu3twqk0qerkhjdm9oftujh1x1isl7u
Halaman:159 Banggai.djvu/5
104
116371
320531
2026-10-10T14:53:08Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320531
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
402. paoebasal<br>
403. baloekon<br>
404. mobaloe<br>
407/<br>
408. minsoeo (moesamba)<br>
410. powoöli<br>
411. kowei<br>
412. perdandi<br>
413. doemompoek<br>
414. mopopodompoek<br>
415. koroe-roe<br>
416. pasoendel<br>
417. badoedee<br>
418. meme emeena<br>
419. reba<br>
420. moeroe moeri<br>
421. karatoen<br>
422. bobolon<br>
424. gong<br>
426. poei-poei<br>
427. talnido<br>
428. oemosoelen<br>
430. tangki2<br>
432. mombori<br>
433. ngolong<br>
437. laigong<br>
438. sooep<br>
440. woengan<br>
441. atap<br>
442. ndaring2<br>
446. lelean<br>
449. sopan<br>
451. lawang<br>
452. soesoena<br>
453. ansar<br>
454. wantangi<br>
455. dasar timbo<br>
456. dasar dopi<br>
457. bombong dopi<br>
458. bombong timbo<br>
461. orii<br>
462. parawawo
{{multicol-break}}
464. koelamboe<br>
465. tokolan<br>
468. ampas<br>
469. tangonan<br>
470. pangka-pangkat<br>
472. parawawo
473. tapaǎn
474. papoer
476. mansoewap (kotoenoe)<br>
477. momotoede opoe<br>
478. poroi<br>
482. tiboek<br>
483. awoeh<br>
484. ponsoeli apoe<br>
485. roeari<br>
486. poroi<br>
487. intoe<br>
488. koelamboe<br>
489. bangko<br>
493. kawali<br>
494. koeren<br>
495. koeren koelali<br>
496. koeren tanoh<br>
497. lean<br>
498. sasangkir<br>
499. timbo2<br>
501. padaila (ndoeloen2)<br>
502. padaila (ndoeloen2)<br>
505. tojoemoe <3><br>
506. bakoka<br>
507. tobok<br>
508. gajang<br>
509. oesong<br>
510. soesoeroeh<br>
511. tataoek<br>
513. mondolo wer<br>
514. karandang<br>
515. kandaraǎn (lampoe)<br>
516. soeboe<br>
517. tingkar<br>
519. naan (itoekoet)<br>
520. peti (bongkang)
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
i7yb8sas7t96q2oqlsgolhym0nyfsgk
320532
320531
2026-10-10T14:54:36Z
Thersetya2021
15831
320532
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
402. paoebasal<br>
403. baloekon<br>
404. mobaloe<br>
407/<br>
408. minsoeo (moesamba)<br>
410. powoöli<br>
411. kowei<br>
412. perdandi<br>
413. doemompoek<br>
414. mopopodompoek<br>
415. koroe-roe<br>
416. pasoendel<br>
417. badoedee<br>
418. meme emeena<br>
419. reba<br>
420. moeroe moeri<br>
421. karatoen<br>
422. bobolon<br>
424. gong<br>
426. poei-poei<br>
427. talnido<br>
428. oemosoelen<br>
430. tangki2<br>
432. mombori<br>
433. ngolong<br>
437. laigong<br>
438. sooep<br>
440. woengan<br>
441. atap<br>
442. ndaring2<br>
446. lelean<br>
449. sopan<br>
451. lawang<br>
452. soesoena<br>
453. ansar<br>
454. wantangi<br>
455. dasar timbo<br>
456. dasar dopi<br>
457. bombong dopi<br>
458. bombong timbo<br>
461. orii<br>
462. parawawo
{{multicol-break}}
464. koelamboe<br>
465. tokolan<br>
468. ampas<br>
469. tangonan<br>
470. pangka-pangkat<br>
472. parawawo<br>
473. tapaǎn<br>
474. papoer<br>
476. mansoewap (kotoenoe)<br>
477. momotoede opoe<br>
478. poroi<br>
482. tiboek<br>
483. awoeh<br>
484. ponsoeli apoe<br>
485. roeari<br>
486. poroi<br>
487. intoe<br>
488. koelamboe<br>
489. bangko<br>
493. kawali<br>
494. koeren<br>
495. koeren koelali<br>
496. koeren tanoh<br>
497. lean<br>
498. sasangkir<br>
499. timbo2<br>
501. padaila (ndoeloen2)<br>
502. padaila (ndoeloen2)<br>
505. tojoemoe <3><br>
506. bakoka<br>
507. tobok<br>
508. gajang<br>
509. oesong<br>
510. soesoeroeh<br>
511. tataoek<br>
513. mondolo wer<br>
514. karandang<br>
515. kandaraǎn (lampoe)<br>
516. soeboe<br>
517. tingkar<br>
519. naan (itoekoet)<br>
520. peti (bongkang)
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
kc5m4jnq3n8wbauaum1jo30shplfd5b
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/90
104
116372
320533
2026-10-10T14:55:44Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
320533
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />I^AßiNDRA NATH TAüORE.</noinclude>Laen artian :
Biar poen akoe soedah meninggal dan beräda
di dalem koeboer, atawa poen nanti akoe terlahir
kombali ka doenia, akoe seialoe menantikan
kaoe poenja titah boeat mengadep dan berboeat
apa-apak aken kegoenaanmoe, oh Toehan! (Ajat 3,4).
{{center|XVI.}}
1. Akoe soedah dapet ondangan boeat koendjoengin ini doenia poenja pesta, dan dengen
begitoe kahidoepankoe djadi mendapet berkah.
Matakoe telali meüat dan koepingkoe telah
mendenger.
2. Ada djadi bagiankoe dalem ini pesta aken
boefijiken akoe poenja tetaboean, dan akoe te
lah lakoeken apa jang akoe sanggoep.
3. Sekarang, akoe menanja, apakah soedah
dateng itoe tempo jang sakean lama akoe nantiken, soepaja akoe boleh dapet idjin masoek
ka dalem aken liat parasmoe dan hatoerken
akoe poenja sembah-soedjoet jang tida bersoeara?
{{asterisme}}
1. „Dapet ondangan boeat koendjoengin ini
doenia poenja pesta," = Ditakdirken boeat ter
lahir kombali ka ini doenia.
2. „Boenjiken akoe poenja tetaboean." =
Djalanken akoe poenja rol atawa kawadjiban.
3. „Masoek ka dalem dan liat parasmoe." —
Bisa dapetken persatoeaw dengen jang Maha
Soetji.
{{***}}
Dengen didjoeroengken boeat terlahir ka<noinclude></noinclude>
5k1uc097cqqf4pfjthk5wucvbhted1d
320554
320533
2026-10-10T15:33:50Z
Hadithfajri
15274
320554
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />I^AßiNDRA NATH TAüORE.</noinclude><section begin="XV" />Laen artian :
Biar poen akoe soedah meninggal dan beräda
di dalem koeboer, atawa poen nanti akoe terlahir
kombali ka doenia, akoe seialoe menantikan
kaoe poenja titah boeat mengadep dan berboeat
apa-apak aken kegoenaanmoe, oh Toehan! (Ajat 3,4).
<section end="XV" />
<section begin="XVI" />{{center|XVI.}}
1. Akoe soedah dapet ondangan boeat koendjoengin ini doenia poenja pesta, dan dengen
begitoe kahidoepankoe djadi mendapet berkah.
Matakoe telali meüat dan koepingkoe telah
mendenger.
2. Ada djadi bagiankoe dalem ini pesta aken
boefijiken akoe poenja tetaboean, dan akoe te
lah lakoeken apa jang akoe sanggoep.
3. Sekarang, akoe menanja, apakah soedah
dateng itoe tempo jang sakean lama akoe nantiken, soepaja akoe boleh dapet idjin masoek
ka dalem aken liat parasmoe dan hatoerken
akoe poenja sembah-soedjoet jang tida bersoeara?
{{asterisme}}
1. „Dapet ondangan boeat koendjoengin ini
doenia poenja pesta," = Ditakdirken boeat ter
lahir kombali ka ini doenia.
2. „Boenjiken akoe poenja tetaboean." =
Djalanken akoe poenja rol atawa kawadjiban.
3. „Masoek ka dalem dan liat parasmoe." —
Bisa dapetken persatoeaw dengen jang Maha
Soetji.
{{***}}
Dengen didjoeroengken boeat terlahir ka
<section end="XVI" /><noinclude></noinclude>
ckayusyetshvvftcpy2gy11lqux8t7t
Halaman:159 Banggai.djvu/4
104
116373
320534
2026-10-10T14:58:41Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320534
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
248/<br>
249. boenga<br>
250. anak moroänē<br>
252. anak wiwine (landoewe)<br>
255. tama<br>
256. sina<br>
257. anak balakina<br>
258. anak itikoetna<br>
261. anak moroänē<br>
262. anak wiwinē<br>
263. kakai<br>
264. kokki<br>
266. toempoe<br>
267. toempoe<br>
268. oetoes moroänē<br>
269. oetoes wiwinē<br>
270. oetoes moroänē balakina<br>
271. oetoes wiwinē balakina<br>
272. oetoes moroänē itikoetna<br>
273. oetoes wiwinē itikoetna<br>
274. toempoe<br>
275/<br>
276. babo<br>
277/<br>
279. babo langkai<br>
278/<br>
280. babo itikoetna<br>
281-<br>
286. naoeng<br>
295. ponoanakkon moroönē<br>
296. ponoanakkan wiwinē<br>
299. anak natakai<br>
300. anak natakai<br>
302/<br>
303. silaboh<br>
304. silaboh<br>
305. tinoanak<br>
306-<br>
309. dawok<br>
310. andalan<br>
311-<br>
314. andalan<br>
315. topenoan<br>
316. tasi topenoan
{{multicol-break}}
317. langkai<br>
318. borokki<br>
324. mian, sawe<br>
326. lipoe<br>
330. poelimai<br>
331. bolian<br>
332. sima2<br>
333. doa<br>
335. kitab<br>
338. apor<br>
339. nena, santoewo<br>
340. karamat<br>
341. stan<br>
343/<br>
344. nawa<br>
353. kartaas<br>
354. soerat<br>
356. toendoenan<br>
358. mongieoeh<br>
359. lagoe<br>
360. langit<br>
362. doenia nalalomna tanoh<br>
364. doenia naliwaka langit<br>
368. bea<br>
369. haram<br>
370. daso<br>
371. boelian<br>
372. boelian<br>
374. koesali<br>
375. manoesia<br>
378. tamoendo<br>
382. podosoan<br>
386. tonggol<br>
390. manaam popate<br>
391. oentoeng<br>
392. silaka<br>
394. atta<br>
396. batasan<br>
397. mian salah<br>
399. mengoekoem<br>
400. oetang<br>
401. tokisi
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
bxyce0zcc15unxgily18z6km7d6x4y8
Halaman:159 Banggai.djvu/3
104
116374
320535
2026-10-10T15:03:21Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320535
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{multicol}}
126. mengoloewa <2><br>
127. minowa<br>
128. koemaan<br>
129. mololoe<br>
130. monginoem<br>
131. malangoe<br>
132. morode<br>
133. benteng (bentoe papager)<br>
134. benteng<br>
137. poellon<br>
138. matokol<br>
139/<br>
140. mongipi<br>
144. kekerer<br>
145. pinsalan<br>
146. toemetelengan<br>
147. roemaraoep<br>
148. mingkai tokolan<br>
149. omoroeang<br>
150. menoempelang<br>
151. oemorimpo<br>
152. soemosogang<br>
153. loemangoe<br>
154. moloop<br>
156. tataoendok<br>
157. mangkotiel<br>
158. woeroeng<br>
159. sojok<br>
160. mangkakaro<br>
161. mototowa<br>
163. wiri mantangais<br>
165. belles<br>
166. polōn<br>
167. minor<br>
169. sombaing<br>
170. kakajon todok<br>
172. laineedoe<br>
174. torooendei<br>
176. mingowap<br>
177. oendoekon<br>
182. toemoewo<br>
183. mate
{{multicol-break}}
184. pate<br>
188. bibii<br>
191. baleanan<br>
192. papatei<br>
194. poesaka<br>
196. bela<br>
197. barroet<br>
198. pakkit<br>
199. mepollos<br>
202. pooree<br>
203. bisoel<br>
205. mobarang<br>
207. mapalos kompong<br>
209. topoes<br>
210. balaā (kasoedian)<br>
211. boboos<br>
214. oenap<br>
219. mapolos takala<br>
220. mangiloe<br>
222. maoewong<br>
223. singkaloeng<br>
224. singkaloeng (loendong)<br>
225. loendeng<br>
227. oemoe<br>
228. mabongol<br>
229. mampisok<br>
231. sibai<br>
232. naanoemo<br>
234. tawar<br>
235. sando<br>
236. mian<br>
237. mian<br>
238. mian<br>
239. ngaan<br>
240. ngawan sambana<br>
241. morosanē<br>
242. wiwinē<br>
243. manoesia moroänē<br>
244. binatang<br>
245. manoesia wiwinē<br>
246. binatang
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
gibpp4iulxhmjuraehtvrssuu6ch8mx
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/83
104
116375
320536
2026-10-10T15:03:43Z
Syurida
23894
/* Telah diuji baca */
320536
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
{{c|XIII.}}
1. Itoe njanjian jang akoe hendak njanjiken
tinggal tida terlahir sampe sekarang.
2. Akoe soedah goenaken banjak hari boeat
kentjengin dan kendorin tali-talinja akoe poenja
tetaboean.
3. Temponja jang betoel masih belon moentjoel, perkata'an perkata'annja itoe njanjian masih
belon bisa diatoer rapih; tjoemah ada sadja tindesannja hawa nafsoe kainginan di dalem hatikoe.
4. Itoe boenga masih belon megar; tjoemah.
itoe angin ada menarik napas sedih di ampirnja.
5. Akoe belon bisa liat iapoenja roepa, dan
tida perna mendapet denger iapoenja soeara;
jang kadengeran tjoemah tindakan aloes dari
kakinja pada itoe djalanan di moeka akoe poenja
roemah.
6. Itoe hari jang pandjang telah diliwatken
tjoemah boeat gelarin tiker tempat doedoeknja
di atas lantei; tetapi itoe lampoe masih belon
disoeloet dan akoe tida bisa ondang padanja
boeat masoek ka dalem akoe poenja roemah..
7. Akoe hidoep dengen kandoeng harepan
aken bertemoe padanja; tapi ini perlemoean masih belon bisa terdjadi.
{{asterisme}}
Inilah ada satoe dari fatsal-fatsal paling indah
jang terdapet dalem ''Gitanjali.''
1. ,,Njanjian" = Pakerdja'an aken goena Toe-
han.
2. ,,Tetaboean" = Pengartian atawa peladjaran
batin.
3. ,,Perkataan-perkata'annja itoe njanjian"=<noinclude>{{c|73}}</noinclude>
9lratf9olfci6bx3dmxk2rzi98jgt8t
320537
320536
2026-10-10T15:04:32Z
Syurida
23894
320537
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
{{c|XIII.}}
1. Itoe njanjian jang akoe hendak njanjiken
tinggal tida terlahir sampe sekarang.
2. Akoe soedah goenaken banjak hari boeat
kentjengin dan kendorin tali-talinja akoe poenja
tetaboean.
3. Temponja jang betoel masih belon moentjoel, perkata'an perkata'annja itoe njanjian masih
belon bisa diatoer rapih; tjoemah ada sadja tindesannja hawa nafsoe kainginan di dalem hatikoe.
4. Itoe boenga masih belon megar; tjoemah.
itoe angin ada menarik napas sedih di ampirnja.
5. Akoe belon bisa liat iapoenja roepa, dan
tida perna mendapet denger iapoenja soeara;
jang kadengeran tjoemah tindakan aloes dari
kakinja pada itoe djalanan di moeka akoe poenja
roemah.
6. Itoe hari jang pandjang telah diliwatken
tjoemah boeat gelarin tiker tempat doedoeknja
di atas lantei; tetapi itoe lampoe masih belon
disoeloet dan akoe tida bisa ondang padanja
boeat masoek ka dalem akoe poenja roemah..
7. Akoe hidoep dengen kandoeng harepan
aken bertemoe padanja; tapi ini perlemoean masih belon bisa terdjadi.
{{asterisme}}
Inilah ada satoe dari fatsal-fatsal paling indah
jang terdapet dalem ''Gitanjali.''
1. ,,Njanjian" = Pakerdja'an aken goena Toe-
han.
2. ,,Tetaboean" = Pengartian atawa peladjaran
batin.
3. ,,Perkataan-perkata'annja itoe njanjian"=<noinclude>{{c|73}}</noinclude>
acmd5uzviez75e1fcvpn6hi24vm0gc8
320539
320537
2026-10-10T15:04:49Z
Syurida
23894
320539
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
{{c|XIII.}}
1. Itoe njanjian jang akoe hendak njanjiken
tinggal tida terlahir sampe sekarang.
2. Akoe soedah goenaken banjak hari boeat
kentjengin dan kendorin tali-talinja akoe poenja
tetaboean.
3. Temponja jang betoel masih belon moentjoel, perkata'an perkata'annja itoe njanjian masih
belon bisa diatoer rapih; tjoemah ada sadja tindesannja hawa nafsoe kainginan di dalem hatikoe.
4. Itoe boenga masih belon megar; tjoemah.
itoe angin ada menarik napas sedih di ampirnja.
5. Akoe belon bisa liat iapoenja roepa, dan
tida perna mendapet denger iapoenja soeara;
jang kadengeran tjoemah tindakan aloes dari
kakinja pada itoe djalanan di moeka akoe poenja
roemah.
6. Itoe hari jang pandjang telah diliwatken
tjoemah boeat gelarin tiker tempat doedoeknja
di atas lantei; tetapi itoe lampoe masih belon
disoeloet dan akoe tida bisa ondang padanja
boeat masoek ka dalem akoe poenja roemah..
7. Akoe hidoep dengen kandoeng harepan
aken bertemoe padanja; tapi ini perlemoean masih belon bisa terdjadi.
{{asterisme}}
Inilah ada satoe dari fatsal-fatsal paling indah
jang terdapet dalem ''Gitanjali.''
1. ,,Njanjian" = Pakerdja'an aken goena Toe-
han.
2. ,,Tetaboean" = Pengartian atawa peladjaran
batin.
3. ,,Perkataan-perkata'annja itoe njanjian"=<noinclude>{{c|73}}</noinclude>
53nmqq63nmehicu0koej6tu323l45yf
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/78
104
116376
320538
2026-10-10T15:04:48Z
~2026-54675-87
27836
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{c|RABINDRA NATU TAGORE}} {{rule}} Toehan poenja djalanan, lantaran ia tertahan oleh ka'angkoean dan kasombongan, hingga maski ia berdaja bagimana djoega, dari Toehan ia tinggal terasing teroes. {{c|XI.}} 1. Tinggalinlah ini dowa poedjian dan njanjian dan mengitoeng bidji tasbe ! Siapatah jang kaoe hendak tjari di ini podjokan jang gelap dan soenji dari satoe gredja dengen pintoe-pintoenja sarnoea tertoetoep? Boekalah matamoe dan liatlah, ka...
320538
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="182.4.71.76" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATU TAGORE}}
{{rule}}
Toehan poenja djalanan, lantaran ia tertahan
oleh ka'angkoean dan kasombongan, hingga
maski ia berdaja bagimana djoega, dari Toehan
ia tinggal terasing teroes.
{{c|XI.}}
1. Tinggalinlah ini dowa poedjian dan njanjian dan mengitoeng bidji tasbe ! Siapatah jang
kaoe hendak tjari di ini podjokan jang gelap
dan soenji dari satoe gredja dengen pintoe-pintoenja sarnoea tertoetoep? Boekalah matamoe
dan liatlah, kaoe poenja Toehan tida beräda
di hadepanmoe !
2. Toehan beräda di itoe tempat dimana
toekang kebon lagi patjoelin tanah jang keras
dan dimana toekang bikin djalan lagi petjahin
batoe-batoe. Toahan berada dengen marika jang
kapanasan dan kaoedjanan dan pakeannja Toe
han tertoetoep sama deboe. Boekalah kaoe
poenja mantel soetji dan toeroetlah toeladannja
Toehan aken toeroen ka tanah jang banjak
deboenja !
3. Kabebasan ? Di manatah itoe kabebasan bi
sa didapet? Kita poenja Goeroe-Soetji sendiri
dengen girang soedah trima iketan dari penjipta'an, dan ia tertjangfjang dengen kita-orang
boeat salama-lamanja.
4. Berlaloelah dari kaoe poenja tempat tepakoer
dan singkirkenlah itoe kembang-kembang dan
doepa jang wangi! Apakah bahajanja kaloe kaoe
poenja pakean djadi robek dan kotor? Ketemoeinlah pada Toehan dan berdirilah di sabelahnja da
lem pakerdja'an jang berat dengen koetjoerken
kringet dari djidafmoe.
{{c|68}}<noinclude></noinclude>
l3vgux1ss8wkp3jgsjuvfjjbd4zdfid
320576
320538
2026-10-10T15:52:22Z
Happywu
25668
/* Telah diuji baca */
320576
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATU TAGORE}}
{{rule}}
Toehan poenja djalanan, lantaran ia tertahan
oleh ka'angkoean dan kasombongan, hingga
maski ia berdaja bagimana djoega, dari Toehan
ia tinggal terasing teroes.
{{c|XI.}}
1. Tinggalinlah ini dowa poedjian dan njanjian dan mengitoeng bidji tasbe ! Siapatah jang
kaoe hendak tjari di ini podjokan jang gelap
dan soenji dari satoe gredja dengen pintoe-pintoenja sarnoea tertoetoep? Boekalah matamoe
dan liatlah, kaoe poenja Toehan tida beräda
di hadepanmoe !
2. Toehan beräda di itoe tempat dimana
toekang kebon lagi patjoelin tanah jang keras
dan dimana toekang bikin djalan lagi petjahin
batoe-batoe. Toahan berada dengen marika jang
kapanasan dan kaoedjanan dan pakeannja Toe
han tertoetoep sama deboe. Boekalah kaoe
poenja mantel soetji dan toeroetlah toeladannja
Toehan aken toeroen ka tanah jang banjak
deboenja !
3. Kabebasan ? Di manatah itoe kabebasan bi
sa didapet? Kita poenja Goeroe-Soetji sendiri
dengen girang soedah trima iketan dari penjipta'an, dan ia tertjangfjang dengen kita-orang
boeat salama-lamanja.
4. Berlaloelah dari kaoe poenja tempat tepakoer dan singkirkenlah itoe kembang-kembang dan doepa jang wangi! Apakah bahajanja kaloe kaoe poenja pakean djadi robek dan kotor? Ketemoeinlah pada Toehan dan berdirilah di sabelahnja dalem pakerdja'an jang berat dengen koetjoerkenkringet dari djidafmoe.<noinclude>{{c|68}}</noinclude>
67pj1ws4ryicd1oavbq2gwru5cdil2s
Halaman:159 Banggai.djvu/2
104
116377
320540
2026-10-10T15:07:31Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320540
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>'''2. (THE) BANGGAI (LANGUAGE) LIST'''
{{multicol}}
1. waka<br>
2. takala<br>
3. rooеp<br>
4. ngere<br>
6. woekoe na takala<br>
6. woeoek<br>
8. limboeboewan<br>
9. tilinga<br>
11. mata<br>
15. koliki<br>
17. lolloe<br>
18. ngor<br>
20. mongor<br>
21. kasoempi<br>
22. nganga<br>
25. wewer<br>
27. boloen soengit<br>
28. soempir<br>
29. asi<br>
30. soempir<br>
31. silla<br>
32. ngaras<br>
33. wesse<br>
34. wagang<br>
35. iggos<br>
37. gogorong<br>
38. gogorong<br>
41/<br>
42. saraan (soesoe)<br>
45. takalana soesoe<br>
46. werna soesoe<br>
48. sosop<br>
50. roesoek<br>
52. soelloo<br>
53. kompong balaki<br>
54. kompong<br>
56. atte<br>
57. koloealoewa makoeam<br>
61. poessē<br>
62. toonie<br>
63. tongkoeroeng
{{multicol-break}}
66. paparoek<br>
68. pagi<br>
69. pelle<br>
70. kekedoet<br>
72. moteë<br>
73. tai<br>
75. mopoеoe<br>
76. basik<br>
77. lao'<br>
78. parra<br>
82. motidi<br>
83. tidi<br>
84. sarat<br>
86. palaa<br>
88. bokoelali<br>
90. paā<br>
91. toeoer<br>
93. wittis<br>
94. kaliwoeloe<br>
95. langoele<br>
97. lima<br>
99. kelek<br>
100. sikoe<br>
102. palaa na lima<br>
105. rangkoem<br>
107. ngoeroen<br>
108. katoempoe<br>
109. siniso<br>
110. timindoō<br>
111. bolikaka<br>
112. kaān siling<br>
115. woekoe<br>
116. rara<br>
117. antok<br>
118. oerat<br>
121. koeang <1><br>
122. woeōek<br>
123. woeloe<br>
124. oegot (mesoong)<br>
125. inoer
{{multicol-end}}<noinclude></noinclude>
r7jo8wf0gw9n38xyn7n3g7rcjo56r94
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/91
104
116378
320541
2026-10-10T15:09:39Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
320541
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />ÂRT1ÂNNJA OITANJÂLI.</noinclude>doenia aken alamken segala gontjangan dan
manis-paitnja, manoesia nanti bisa dapetken
kaberkahan jang beroepa kamadjoean rohani;
matanja djadi awas dan koepingnja tadjem. (Ajat 1).
Terlahir dengen teriket oleh Karma dan Dharma
(kawadjiban), orang poen haroes lakoeken
segala kaharoesannja menoeroet apa jang ia
sanggoep dengen sabaek-baeknja, soepaja bisa
bantoe membikin ini kahidoepan jang penoeh
sangsara dan gontjangan mendjadi ringan bagi
samoea machloek. (Ajat 2).
Sasoedah bekerdja dan bergoelet keras sakean
lama aken naek ka tingkatan lebih tinggi dalem
kasoetjian, apakah soedah datengtemponjaaken
dapetken itoe persatoean pada Kabeneran jang
paling berkoeasa, soepaja bisa oendjoek kahormatan dengen diam-diam?
Jang dinamaken „kahormatan dengen diam-diam"
jaitoe boekan dengen bikin sembahjang
besar dan sembah-soedjoet di moeka oemoem,
hanja bantoe siarken itoe Kabeneran Ulahi beroe
pa toeladan dan perboeatan jang selaloe tjotjok
dengen sifat dan kahendaknja Toehan. {Ajat 3).
{{center|XVII.}}
1. Akoe tjoemah toenggoein datengnja
katjinta'an aken serahken dirikoe pada achirnja
ka daLem iapoenja tangan. Itoelah sebabnja ke
napa akoe berlakoe begitoe lambat dan kenapa
akoe telah bersalah dengen djaoeken diri padanja.
2. Itoe orang-orang dateng bersama marika
poenja wet-wet dan atoeran-atoeran boeat
ringkoes padakoe sakeras-kerasnja ; tetapi selaloe
akoe djaoeken diri dari marika, sebab akoe tjoe<noinclude>81</noinclude>
co5ni1ir5ygyyylwiw9k7g2jcxatmbb
320555
320541
2026-10-10T15:34:27Z
Hadithfajri
15274
320555
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />ÂRT1ÂNNJA OITANJÂLI.</noinclude><section begin="XVI" />doenia aken alamken segala gontjangan dan
manis-paitnja, manoesia nanti bisa dapetken
kaberkahan jang beroepa kamadjoean rohani;
matanja djadi awas dan koepingnja tadjem. (Ajat 1).
Terlahir dengen teriket oleh Karma dan Dharma
(kawadjiban), orang poen haroes lakoeken
segala kaharoesannja menoeroet apa jang ia
sanggoep dengen sabaek-baeknja, soepaja bisa
bantoe membikin ini kahidoepan jang penoeh
sangsara dan gontjangan mendjadi ringan bagi
samoea machloek. (Ajat 2).
Sasoedah bekerdja dan bergoelet keras sakean
lama aken naek ka tingkatan lebih tinggi dalem
kasoetjian, apakah soedah datengtemponjaaken
dapetken itoe persatoean pada Kabeneran jang
paling berkoeasa, soepaja bisa oendjoek kahormatan dengen diam-diam?
Jang dinamaken „kahormatan dengen diam-diam"
jaitoe boekan dengen bikin sembahjang
besar dan sembah-soedjoet di moeka oemoem,
hanja bantoe siarken itoe Kabeneran Ulahi beroe
pa toeladan dan perboeatan jang selaloe tjotjok
dengen sifat dan kahendaknja Toehan. {Ajat 3).
<section end="XVI" />
<section begin="XVII" />{{center|XVII.}}
1. Akoe tjoemah toenggoein datengnja
katjinta'an aken serahken dirikoe pada achirnja
ka daLem iapoenja tangan. Itoelah sebabnja ke
napa akoe berlakoe begitoe lambat dan kenapa
akoe telah bersalah dengen djaoeken diri padanja.
2. Itoe orang-orang dateng bersama marika
poenja wet-wet dan atoeran-atoeran boeat
ringkoes padakoe sakeras-kerasnja ; tetapi selaloe
akoe djaoeken diri dari marika, sebab akoe tjoe<section end="XVII" /><noinclude>81</noinclude>
1jg4zvmem36dn1m32u72ohgpxvxy608
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/92
104
116379
320542
2026-10-10T15:16:49Z
Hadithfajri
15274
/* Telah diuji baca */
320542
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />RABINDRA NATH TAGORE.</noinclude>mah toenggoein datengnja katjinta'an aken
serahken dirikoe pada achirnja ka dalem iapoenja
tangan.
3 . Orang banjak salahin akoe dan namain
akoe saorang jang tida soeka perdoeliken apa-apa;
akoe tida bersangsi jang dalem penjaiahannja
marika ada bener.
4. Itoe hari pasaran soedah abis dan samoea
pakerdja'an dari itoe orang-orang jang karepotan soedah djadi selèsè. Marika jang dengen
sia-sia dateng panggil padakoe soedah baljk
poelang dengen goesar. Akoe tjoemah toeng
goein datengnja katjinia'an aken serahken dirikoe
pada achirnja ka dalem iapoenja tangan.
{{asterisme}}
1 . „Katjinta'an" (Love) sabenernja tida ber
beda dengen Truth (Kabeneran), kerna siapa
kenal Kebenaran ia moesti menjinta pada sasama machloek.
„Serahken dirikoe ka dalem iapoenja tangan" =
Bersatoe kapada Toehan.
2. Itoe orang-orang jang dateng dengen bawa
wet-wet dan atoeran-atoeran, ada dimaksoedken
kaoem agama jang koekoeh sama boenjinja
kitab-kitab soetji dan segala matjem adat-istiadat
dan oepatjara jang haroes dipegang tegoeh dan
ditoeroet satjara memboeta, hingga dengen perhatiken itoe perhiasan loear sadja orang mendjadi loepa atawa terhalang boeat bersatoe de
ngen Toehan atawa Kabeneran, boeat mana
orang haroes mengenal Katjinta'an.
4. „Hari Pasaran" = Oesia di waktoe mana
orang bekerdja actief.
„Orang-orang jang karepotan." = Orang jang<noinclude></noinclude>
qjcrrvtfrqfrszj7r9vjiqyfyydkk9c
320556
320542
2026-10-10T15:34:52Z
Hadithfajri
15274
320556
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Hadithfajri" />RABINDRA NATH TAGORE.</noinclude><section begin="XVII" />mah toenggoein datengnja katjinta'an aken
serahken dirikoe pada achirnja ka dalem iapoenja
tangan.
3 . Orang banjak salahin akoe dan namain
akoe saorang jang tida soeka perdoeliken apa-apa;
akoe tida bersangsi jang dalem penjaiahannja
marika ada bener.
4. Itoe hari pasaran soedah abis dan samoea
pakerdja'an dari itoe orang-orang jang karepotan soedah djadi selèsè. Marika jang dengen
sia-sia dateng panggil padakoe soedah baljk
poelang dengen goesar. Akoe tjoemah toeng
goein datengnja katjinia'an aken serahken dirikoe
pada achirnja ka dalem iapoenja tangan.
{{asterisme}}
1 . „Katjinta'an" (Love) sabenernja tida ber
beda dengen Truth (Kabeneran), kerna siapa
kenal Kebenaran ia moesti menjinta pada sasama machloek.
„Serahken dirikoe ka dalem iapoenja tangan" =
Bersatoe kapada Toehan.
2. Itoe orang-orang jang dateng dengen bawa
wet-wet dan atoeran-atoeran, ada dimaksoedken
kaoem agama jang koekoeh sama boenjinja
kitab-kitab soetji dan segala matjem adat-istiadat
dan oepatjara jang haroes dipegang tegoeh dan
ditoeroet satjara memboeta, hingga dengen perhatiken itoe perhiasan loear sadja orang mendjadi loepa atawa terhalang boeat bersatoe de
ngen Toehan atawa Kabeneran, boeat mana
orang haroes mengenal Katjinta'an.
4. „Hari Pasaran" = Oesia di waktoe mana
orang bekerdja actief.
„Orang-orang jang karepotan." = Orang jang
<section end="XVII" /><noinclude></noinclude>
dwknr7rp5en1pqj1jvndc6jcqvynleb
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/84
104
116380
320543
2026-10-10T15:18:26Z
Syurida
23894
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}} {{rule}} Tjara-tjaranja itoe pakerdja'an jang hendak dilakoeken. 4. ,,Boenga belon megar" = Angen-angen belon kasampean atawa belon bisa diwoedjoetken. 5. Belon bisa ketemoe dan kenalin Toehan, tjoemah bisa liat tjaranja Toehan bekerdja seperti jang satiap hari tertampak di dalem natuur. 6. ,,Gelarin tiker di lantei" = Bersoedjoet dan bikin meditatie boeat mengenal pada Toehan. Itoe lampoe masih belon disoeloet" =...
320543
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Syurida" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}}
Tjara-tjaranja itoe pakerdja'an jang hendak dilakoeken.
4. ,,Boenga belon megar" = Angen-angen belon kasampean atawa belon bisa diwoedjoetken.
5. Belon bisa ketemoe dan kenalin Toehan,
tjoemah bisa liat tjaranja Toehan bekerdja seperti jang satiap hari tertampak di dalem natuur.
6. ,,Gelarin tiker di lantei" = Bersoedjoet dan
bikin meditatie boeat mengenal pada Toehan.
Itoe lampoe masih belon disoeloet" = Hati masih tinggal gelap, belon dapet itoe penerangan
boeat bisa bersatoe sama Toehan.
{{asterisme}}
Dengen goenaken pelambang jang sanget aloes
dan indah, Tagore loekisken sama oedjar-oedjar
jang kaliatannja sanget saderhana tapi amat dalem
maksoednja, pertjoba'an jang masih belon berhatsil dari saorang jang hendak mentjari Toehan.
la ada kandoeng banjak angen-angen aken
bekerdja goena Toehan dengen djalan toentoet
penghidoepan jang bersih dan serahken diri
oentoek kabaekan sesama manoesia seperti
jang dikahendaki oleh Toehan, tetapi sampe
sabagitoe djaoe itoe angen-angen masih belon
berwoedjoet, hanja satiap hari ia ripoeh aken
fahamken roepa-roepa pengartian batin jang dikira bisa bantoe memberi pengoendjoekan bagimana ia haroes berlakoe, dan dari moed sampe toea ia atoer persedia'an tida brentinja, seperti toekang muziek bikin rapih dan tjotjokin tali-tali dari iapoenja ketjapi, zonder maenken saroepa lagoe (''Ajat 1, 2'').
Inilah ia anggep ada dari lantaran temponja
boeat tjeboerken diri dalem itoe pakerdja'an masih belon sampe, masih tertjegah oleh roepa-<noinclude>{{c|74}}</noinclude>
am9a9iiun1uyphfp186b5iwd0fitfar
320544
320543
2026-10-10T15:18:56Z
Syurida
23894
/* Telah diuji baca */
320544
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}}
Tjara-tjaranja itoe pakerdja'an jang hendak dilakoeken.
4. ,,Boenga belon megar" = Angen-angen belon kasampean atawa belon bisa diwoedjoetken.
5. Belon bisa ketemoe dan kenalin Toehan,
tjoemah bisa liat tjaranja Toehan bekerdja seperti jang satiap hari tertampak di dalem natuur.
6. ,,Gelarin tiker di lantei" = Bersoedjoet dan
bikin meditatie boeat mengenal pada Toehan.
Itoe lampoe masih belon disoeloet" = Hati masih tinggal gelap, belon dapet itoe penerangan
boeat bisa bersatoe sama Toehan.
{{asterisme}}
Dengen goenaken pelambang jang sanget aloes
dan indah, Tagore loekisken sama oedjar-oedjar
jang kaliatannja sanget saderhana tapi amat dalem
maksoednja, pertjoba'an jang masih belon berhatsil dari saorang jang hendak mentjari Toehan.
la ada kandoeng banjak angen-angen aken
bekerdja goena Toehan dengen djalan toentoet
penghidoepan jang bersih dan serahken diri
oentoek kabaekan sesama manoesia seperti
jang dikahendaki oleh Toehan, tetapi sampe
sabagitoe djaoe itoe angen-angen masih belon
berwoedjoet, hanja satiap hari ia ripoeh aken
fahamken roepa-roepa pengartian batin jang dikira bisa bantoe memberi pengoendjoekan bagimana ia haroes berlakoe, dan dari moed sampe toea ia atoer persedia'an tida brentinja, seperti toekang muziek bikin rapih dan tjotjokin tali-tali dari iapoenja ketjapi, zonder maenken saroepa lagoe (''Ajat 1, 2'').
Inilah ia anggep ada dari lantaran temponja boeat tjeboerken diri dalem itoe pakerdja'an masih belon sampe, masih tertjegah oleh roepa-<noinclude>{{c|74}}</noinclude>
68h4whyin8r840is6oabm9pedvt6trs
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/79
104
116381
320545
2026-10-10T15:19:28Z
Happywu
25668
/* Telah diuji baca */
320545
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI}}
{{Rule}}
Ini fatsal soedah diinoeat, dibitjaraken dan
diterangken maksoednja dalem pagina 29. Sabetoelnja ia ada djadi sambceiîgan dari fatsal X
di atas ini, jang mengoendjoek Toehan beräda
dalem orang-orang dari golongan paling rendah,
paling miskin dan bersangsara.
Dalem ini fatsal sekarang Tagore maoe cendjoek, menijari kasoetjian dengen asingin diri
dari orang banjak boekan ada djalan jang betoel boeat ketemoeken Toelian, sebab Toehan
boekan beräda dalem tempe! alawa gredja jang
penoeh dengen asepnja doepa atawa semarboek
sama wanginja kembang-kembang, hanja ia ber
diam di antara orang-orang jang tida djidji melakoeken pakerdja'aii rendah dan kasar tetapberfaedah oentoek orang banjak, seperti oesahaken ietaneman, membikin djalanan dan sabaginja.
Oesahaken tetaneman bisa diartiken djoega
menjebar bibit dari pengartian batin, dan petjahin batoe aken bikin djalan besar ada berärti
mernboeka djalanan atawa peiigataoean soepaja
orang bisa bertindak aken menoedjoe ka arah
kasampoerna'an.
Lebih djaoe batjalah arlian jang soedah dirnoeat dalem pagina 29.
{{c|XII.}}
1. Perdjalanankoe mengambil tempo lama dan
itoe djalan ada djaoe.
2. Akoe berangkat kaloear di aias kreta dari
sinar terang jang pertama, dan landjoetken pelajarankoe melintasi itoe tempat kosong dari
doenia-doenia dengen rneninggali akoe poenja
tapak di atas banjak bintang dan planeet.
3 . Toedjoean jang paling ;Jjaoe itoelah ada
jang paling deket padamoe, dan peladjaran jang<noinclude>{{c|69}}</noinclude>
l5yo8m6xn1sc3mfx7n8zwl1j4cuozgp
320546
320545
2026-10-10T15:23:27Z
Happywu
25668
320546
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI}}
{{Rule}}
Ini fatsal soedah diinoeat, dibitjaraken dan
diterangken maksoednja dalem pagina 29. Sabetoelnja ia ada djadi sambceiîgan dari fatsal X di atas ini, jang mengoendjoek Toehan beräda dalem orang-orang dari golongan paling rendah, paling miskin dan bersangsara.
Dalem ini fatsal sekarang Tagore maoe oendjoek, menijari kasoetjian dengen asingin diri dari orang banjak boekan ada djalan jang betoel boeat ketemoeken Toelian, sebab Toehan
boekan beräda dalem tempe! alawa gredja jang
penoeh dengen asepnja doepa atawa semarboek
sama wanginja kembang-kembang, hanja ia ber
diam di antara orang-orang jang tida djidji melakoeken pakerdja'aii rendah dan kasar tetapberfaedah oentoek orang banjak, seperti oesahaken ietaneman, membikin djalanan dan sabaginja.
Oesahaken tetaneman bisa diartiken djoega
menjebar bibit dari pengartian batin, dan petjahin batoe aken bikin djalan besar ada berärti mernboeka djalanan atawa peiigataoean soepaja orang bisa bertindak aken menoedjoe ka arah kasampoerna'an.
Lebih djaoe batjalah arlian jang soedah dirnoeat dalem pagina 29.
{{c|XII.}}
1. Perdjalanankoe mengambil tempo lama dan
itoe djalan ada djaoe.
2. Akoe berangkat kaloear di aias kreta dari
sinar terang jang pertama, dan landjoetken pelajarankoe melintasi itoe tempat kosong dari
doenia-doenia dengen rneninggali akoe poenja
tapak di atas banjak bintang dan planeet.
3 . Toedjoean jang paling ;Jjaoe itoelah ada
jang paling deket padamoe, dan peladjaran jang<noinclude>{{c|69}}</noinclude>
7q9692r6buso71ccs8fnrgkp7fbhn0p
320549
320546
2026-10-10T15:24:28Z
Happywu
25668
320549
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI}}
{{Rule}}
Ini fatsal soedah diinoeat, dibitjaraken dan
diterangken maksoednja dalem pagina 29. Sabetoelnja ia ada djadi sambceiîgan dari fatsal X di atas ini, jang mengoendjoek Toehan beräda dalem orang-orang dari golongan paling rendah, paling miskin dan bersangsara.
Dalem ini fatsal sekarang Tagore maoe oendjoek, menijari kasoetjian dengen asingin diri dari orang banjak boekan ada djalan jang betoel boeat ketemoeken Toelian, sebab Toehan
boekan beräda dalem tempe! alawa gredja jang
penoeh dengen asepnja doepa atawa semarboek
sama wanginja kembang-kembang, hanja ia ber
diam di antara orang-orang jang tida djidji melakoeken pakerdja'aii rendah dan kasar tetapberfaedah oentoek orang banjak, seperti oesahaken ietaneman, membikin djalanan dan sabaginja.
Oesahaken tetaneman bisa diartiken djoega
menjebar bibit dari pengartian batin, dan petjahin batoe aken bikin djalan besar ada berärti mernboeka djalanan atawa peiigataoean soepaja orang bisa bertindak aken menoedjoe ka arah kasampoerna'an.
Lebih djaoe batjalah arlian jang soedah dirnoeat dalem pagina 29.
{{c|XII.}}
1. Perdjalanankoe mengambil tempo lama dan
itoe djalan ada djaoe.
2. Akoe berangkat kaloear di aias kreta dari
sinar terang jang pertama, dan landjoetken pelajarankoe melintasi itoe tempat kosong dari
doenia-doenia dengen rneninggali akoe poenja
tapak di atas banjak bintang dan planeet.
3 . Toedjoean jang paling djaoe itoelah ada
jang paling deket padamoe, dan peladjaran jang<noinclude>{{c|69}}</noinclude>
pxj330tg2q7t5mxtgyrphcoi6tdqzvv
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/85
104
116382
320547
2026-10-10T15:24:05Z
Syurida
23894
/* Telah diuji baca */
320547
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
roepa halangan dan kawadjiban jang membikin
itoe angen-angen tertoenda. Hatinja tjoemah
merasa sedih tertindes oleh kainginan jang
amat keras, tapi ia belon bisa ambil satoe haloean jang tetep dan teratoer rapih boeat lantes
moelai bekerdja. Ka'ada'annja seperti itoe boenga jang belon megar, tjoemah di deketnja āda
menioep itoe angin jang menarik napas sedih
aken toenggoein datengnja itoe tempo boeat
ia terboeka dan siarken kaharoemannja pada
doenia. (''Ajat 3,4'').
Itoe Toehan jang disoedjoetin, dipoedja dan
ditjari sakean lama, masih belon terdapet, parasnja tida bisa terliat, soearanja tida terdenger.
la tjoemah taoe dari adanja Toehan-itoe
kakoeasa'an jang Maha Besar sendiri dari
apa jang tertampak di dalem Natuur, jang terbèbèr satiap hari di depan matanja, jang mengasih liat satoe pakerdja'an aloes, rapih, indah
dan moelia, jang diatoer oleh satoe tangan
pande jang tida kaliatan, tapi toch pakerdja'annja
sanget kentara dan menjolok mata bagi siapa
jang bisa meliat dan memikir. (Ajat 5).
Banjak taon telah diliwatken tjoemah boeat
atoer persediaan aken menjamboet kadatengannja itoe Toehan jang ditoenggoe dan ditjari;
tapi lantaran sang hati belon bisa dapetken
itoe penerangan, belon kenal pada itoe Pri Kabeneran, maka ia poen tida brani harepken
jang itoe Toehan nanti dateng bertempat dalem
dirinja, jang masih belon mempoenjai itoe kasampoerna'an boeat bersatoe dengen Toehan.
Begitoelah achirnja ia hidoep tjoemah dengen
kandoeng harepan boeat satoe waktoe bertemoé
dengen Toehan, satoe pengharepan jang sampe
sabagitoe djaoe masih belon kasampean,<noinclude>{{c|75}}</noinclude>
17bjwmu1rsg59stw97grl37nndmvfgj
320548
320547
2026-10-10T15:24:22Z
Syurida
23894
320548
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
roepa halangan dan kawadjiban jang membikin
itoe angen-angen tertoenda. Hatinja tjoemah
merasa sedih tertindes oleh kainginan jang
amat keras, tapi ia belon bisa ambil satoe haloean jang tetep dan teratoer rapih boeat lantes
moelai bekerdja. Ka'ada'annja seperti itoe boenga jang belon megar, tjoemah di deketnja āda
menioep itoe angin jang menarik napas sedih
aken toenggoein datengnja itoe tempo boeat
ia terboeka dan siarken kaharoemannja pada
doenia. (''Ajat 3,4'').
Itoe Toehan jang disoedjoetin, dipoedja dan
ditjari sakean lama, masih belon terdapet, parasnja tida bisa terliat, soearanja tida terdenger.
la tjoemah taoe dari adanja Toehan-itoe
kakoeasa'an jang Maha Besar sendiri dari
apa jang tertampak di dalem Natuur, jang terbèbèr satiap hari di depan matanja, jang mengasih liat satoe pakerdja'an aloes, rapih, indah
dan moelia, jang diatoer oleh satoe tangan
pande jang tida kaliatan, tapi toch pakerdja'annja
sanget kentara dan menjolok mata bagi siapa
jang bisa meliat dan memikir. (Ajat 5).
Banjak taon telah diliwatken tjoemah boeat
atoer persediaan aken menjamboet kadatengannja itoe Toehan jang ditoenggoe dan ditjari;
tapi lantaran sang hati belon bisa dapetken
itoe penerangan, belon kenal pada itoe Pri Kabeneran, maka ia poen tida brani harepken
jang itoe Toehan nanti dateng bertempat dalem
dirinja, jang masih belon mempoenjai itoe kasampoerna'an boeat bersatoe dengen Toehan.
Begitoelah achirnja ia hidoep tjoemah dengen
kandoeng harepan boeat satoe waktoe bertemoé
dengen Toehan, satoe pengharepan jang sampe sabagitoe djaoe masih belon kasampean,<noinclude>{{c|75}}</noinclude>
ablj2lq0t5lpr8qyf3ftgc2dhl1vphj
320550
320548
2026-10-10T15:26:31Z
Syurida
23894
320550
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
roepa halangan dan kawadjiban jang membikin
itoe angen-angen tertoenda. Hatinja tjoemah merasa sedih tertindes oleh kainginan jang amat keras, tapi ia belon bisa ambil satoe haloean jang tetep dan teratoer rapih boeat lantes moelai bekerdja. Ka'ada'annja seperti itoe boenga jang belon megar, tjoemah di deketnja āda menioep itoe angin jang menarik napas sedih aken toenggoein datengnja itoe tempo boeat ia terboeka dan siarken kaharoemannja pada doenia. (''Ajat 3,4'').
Itoe Toehan jang disoedjoetin, dipoedja dan ditjari sakean lama, masih belon terdapet, parasnja tida bisa terliat, soearanja tida terdenger. la tjoemah taoe dari adanja Toehan-ito kakoeasa'an jang Maha Besar sendiri dari apa jang tertampak di dalem Natuur, jang terbèbèr satiap hari di depan matanja, jang mengasih liat satoe pakerdja'an aloes, rapih, indah dan moelia, jang diatoer oleh satoe tangan pande jang tida kaliatan, tapi toch pakerdja'annja sanget kentara dan menjolok mata bagi siapa jang bisa meliat dan memikir. (Ajat 5).
Banjak taon telah diliwatken tjoemah boeat atoer persediaan aken menjamboet kadatengannja itoe Toehan jang ditoenggoe dan ditjari; tapi lantaran sang hati belon bisa dapetken itoe penerangan, belon kenal pada itoe Pri Kabeneran, maka ia poen tida brani harepken jang itoe Toehan nanti dateng bertempat dalem dirinja, jang masih belon mempoenjai itoe kasampoerna'an boeat bersatoe dengen Toehan. Begitoelah achirnja ia hidoep tjoemah dengen kandoeng harepan boeat satoe waktoe bertemoé dengen Toehan, satoe pengharepan jang sampe sabagitoe djaoe masih belon kasampean,<noinclude>{{c|75}}</noinclude>
44bk1mfosfhruzy1elubc5rblogv0ij
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/86
104
116383
320552
2026-10-10T15:32:47Z
Syurida
23894
/* Telah diuji baca */
320552
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}}
XIV.
1. Kainginankoe ada banjak dan treakankoe menjedihken, tetapi kaoe selaloe selametken akoe dengen penolakan jang bengis; dan ini belas-kasihan jang keras soedah didjoeroengin masoek ka dalem kahidoepankoe teroes-meneroes
2. Satiap hari kaoe bikin dirikoe djadi lebih tjotjok boeat trima itoe pengasihan jang saderhana tapi sanget berharga jang kaoe sodorin zonder diminta ini langit dan sinar terang, ini badan dengen kahidoepan dan pengartian hingga dengen begitoe kaoe toeloeng padakoe dari bahaja jang timboel lantaran kandoeng terlaloe banjak kainginan.
3. Terkadang ada dateng satoe tempo jang akoe dengen lemah telah membêlêr dan ada djoega tempo jang akoe berbangkit dengen kesoesoe aken mentjari akoe poenja pintoe toedjoean; tetapi dengen kedjem kaoe oempetken
diri dari akoe.
4. Tambah hari kaoe bikin dirikoe tambah berharga boeat ditrima olehmoe sapenoeh-penoehnja dengen djalan menolak padakoe boeat selama-lamanja, hingga dengen begitoe kaoe toeloeng padakoe dari bahaja-bahaja jang timboel dari kalemahan dan kainginan jang tida tetep.
{{asterisme}}
1. Kainginannja manoesia ada amat banjak dan tida bisa abis; kapan Toehan selaloe loeloesken apa jang diminta, kasoedahannja tjoemah membikin ia semingkin djaoe dari Toehan, sebab terlibet oleh pri kadoenia'an. Maka itoe biar poen manoesia bertreak dan meratap dengen sedih dan soeara mengenesken, Toehan tinggal menolak dengen bengis, boekan sebab<noinclude>{{c|76}}</noinclude>
6w8svwb4d98lgjfs0gokxh1zcpg0b3t
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/80
104
116384
320558
2026-10-10T15:36:43Z
Happywu
25668
/* Telah diuji baca */
320558
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{Rule}}
paling roewet itoelah jang menganter pada lagoe jang paling sampoerna dalom kasaderhana'annja.
4. itoe orang pelantjongan moesti ketok sasoeatoe pintoe jang asing boeat bisa sampe ka moeka pintoe roemahnja sendiri, dan orang
moesti bergelandangan melintasi doenia-doenia
sabelah loear boeat achirnja bisa sampeken itoetempat soetji jang paling dalera ietaknja.
5. Matakoe menjasar ka tempat-tempat jang
dijaoe dan loeas sabelonnja akoe meremken dan
berkata „Disinilah kaoe a d a ! "
6. Itoe pertanja'an dan treakan „Oh, dimana ?"
soedah loemèr mendjadi aer-mata jang mengoetjoer dalem sariboe soengei dan merendem doenia
dengen bandjiran dari kapastian ,,Inilah akoe!"
inilah ada satoe dari fatsal-fatsai paling gelap dan amat dalem artinja jang Tagore perna toelis dalem itoe boekoe, kerna boeat mengarti
sapenoehnja orang poen moesti faham betoel
agama, philosofie dan kapertja'an Hindoe dan
Buddhist
1. ,,Perdjalanan lama dan djaoe," = Evolutie
manoesia boeat sampe pada kasampoerna'an
moesti meiTgambil tempo bermillioenan taon.
2. ,,Kaloear di atas kreta dari sinar terang
jang pertam a , " " Itoe roh soedah moentjoel sa dari koetika ini alam moelai tertjipta. ,,Meninggali akoe poenja tapak di atas banjak bintang dan planeet." = Sabelonnja terlahir di ini boemi, lebih doeloe itoe roh perna mendjelma dan
mendiamin djoega laen-laen planeet atawa bin
tang.
3. Boeat ketemoeken Toehan orang moesti<noinclude>{{c|70}}</noinclude>
pguo1gq2z73s7d4it2itxdaf2svgvtu
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/73
104
116385
320560
2026-10-10T15:40:01Z
Zhilal Darma
10833
/* Telah diuji baca */
320560
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" />{{C|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{RULE}}</noinclude>
Toedjoeannja ada sama dengen fatsal VII di
sabelah atas. Soepaja mendjadi lengkep, di
bawah ini kita moeatken lagi pametjahan dari
artinja ini fatsal:
Saorang jang terlaloe didjedjel dengen segala
matjem atoeran jang melilit dan roewet, segala
matjem pantangan dan oepatjara agama, achir-
nja tida nanti bisa bikin dirinja bergoena dalem
penghidoepan, kerna itoe samoea tjoemah djadi
halangan bagi sasoeatoe tindakannja. (Ajat 1).
Lantaran koeatir kasoetjiannja djadi tertjemer.
maka ia djaoeken diri dari doenia dan takoet
bikin atawa tjampoer gerakan apa-apa. (A jat 2).
Goeroe-goeroe agama! tida bergoena kaoe
terlaloe koekoeh aken ringkoes moerid-moerid-
moe dengen segala atoeran, oepatjara, pantangan,
dan kamoestian-kamoestian boeat bikin iaorang
djadi kaliatan moelja dan soetji kaloe Gengen
adanja itoe semoea, kaoe bikin iaorang djadi
terpisah dengen pergaoelan di ini doenia dan
iaorang djadi asing dalem penghidoepan jang
biasa dari manoesia. (Ajat 3).
IX.
1. Oh, gêndêng, maoe tjoba panggoel kaoe
poenja badan di atas poendakmoe sendiri! Oh.
pengemis, dateng meminta-minta di depan pintoe
dari kaoe sendiri poenja roemah!
2. Serahken kaoepoenja semoea beban atas
tangan dari ia jang bisa tanggoeng segala apa,
dan djangan menoleh ka belakang dengen rasa
menjesel.
3. Kaoe poenja kainginan dengen sigrah telah
bikin padem apinja itoe lampoe jang ia kena
langgar dengen hawa napasnja. Itoelah ada
perboeatan jang tida bersih. djangan trima<noinclude>{{rh||63}}</noinclude>
4p7u2xbb0g69ox02mozuxfwkgy6fyd6
320561
320560
2026-10-10T15:40:36Z
Zhilal Darma
10833
320561
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" />{{C|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}</noinclude>
Toedjoeannja ada sama dengen fatsal VII di
sabelah atas. Soepaja mendjadi lengkep, di
bawah ini kita moeatken lagi pametjahan dari
artinja ini fatsal:
Saorang jang terlaloe didjedjel dengen segala
matjem atoeran jang melilit dan roewet, segala
matjem pantangan dan oepatjara agama, achir-
nja tida nanti bisa bikin dirinja bergoena dalem
penghidoepan, kerna itoe samoea tjoemah djadi
halangan bagi sasoeatoe tindakannja. (Ajat 1).
Lantaran koeatir kasoetjiannja djadi tertjemer.
maka ia djaoeken diri dari doenia dan takoet
bikin atawa tjampoer gerakan apa-apa. (A jat 2).
Goeroe-goeroe agama! tida bergoena kaoe
terlaloe koekoeh aken ringkoes moerid-moerid-
moe dengen segala atoeran, oepatjara, pantangan,
dan kamoestian-kamoestian boeat bikin iaorang
djadi kaliatan moelja dan soetji kaloe Gengen
adanja itoe semoea, kaoe bikin iaorang djadi
terpisah dengen pergaoelan di ini doenia dan
iaorang djadi asing dalem penghidoepan jang
biasa dari manoesia. (Ajat 3).
IX.
1. Oh, gêndêng, maoe tjoba panggoel kaoe
poenja badan di atas poendakmoe sendiri! Oh.
pengemis, dateng meminta-minta di depan pintoe
dari kaoe sendiri poenja roemah!
2. Serahken kaoepoenja semoea beban atas
tangan dari ia jang bisa tanggoeng segala apa,
dan djangan menoleh ka belakang dengen rasa
menjesel.
3. Kaoe poenja kainginan dengen sigrah telah
bikin padem apinja itoe lampoe jang ia kena
langgar dengen hawa napasnja. Itoelah ada
perboeatan jang tida bersih. djangan trima<noinclude>{{rh||63}}</noinclude>
gcla745bkkt5n3enfknsrvdpbmx3dn6
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/87
104
116386
320562
2026-10-10T15:40:46Z
Syurida
23894
/* Telah diuji baca */
320562
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Syurida" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
berhati kedjem, hanja aken toelocngin manoesia dari itoe katjilaka'an (kena pegang barang jang fana) seperti djoega penolakan satoe ajah dan iboe pada perminta'an dari anaknja jang inginken barang permaenan atawa makanan jang berbahaja. Begitoelah dengen iapoenja penolakan jang teroes-meneroes pada manoesia poenja kainginan, Toehan bikin ia djadi mendoesin atas kaperloeannja aken mengoerangin itoe kainginan dan berlakoe satjara paling saderhana.
(''A jat 1'').
2. Maski Toehan teroes-meneroes menolak manoesia poenja kainginan-kainginan jang njasar dan serakah, tetapi dengen diam-diam la soedah beriken pada manoesia pengasihan jang besar tetapi saderhana, jaitoe iapoénja toeboeh dan kahidoepan, itoe langit dan sinar terang, itoe pengartian boeat menimbang dan beladjar tjari taoe segala apa, pemberian mana manoesia tida begitoe taro perhatian, hanja kedjer segala matjem kainginan sia-sia jang kasoedahannja tjoemah timboelken kasangsara'an dan kasedihan bagi dirinja sendiri. Djadinja dengen djalan menolak, tida loeloesken itoe perminta'an. Toehan bikin manoesia djadi insjaf dan hargain itoe pemberian sanget penting jang ia soedah dapet, hingga bisa kenalin pada kaindalannja Natuur, bisa goenaken pengartiannja boeat mentjari apa-apa jang lebih tinggi dan bersifat kekel, jaitoe bikin sampoerna kahidoepannja, bersatoe dengen ito e sinar terang dari langit jang mendjadi woedjoet dari kabesarannja Toehan, dan tindes itoe
segala matjem hawa nafsoe dan kainginan jang serakah dan kouwkati. (''A jat 2'').
Banjak orang jang hendak mentjari Toehan dan mengenal Kabeneran, maski berichtiar ba-<noinclude>{{c|77}}</noinclude>
rwg5639xbe5wmor8fs38k38ni2ns18o
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/81
104
116387
320563
2026-10-10T15:42:32Z
Happywu
25668
/* Telah diuji baca */
320563
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}
mentjari djaoe dan ambil tempo lama, tapiToehan ada deket. Orang beiadjar segala matjem ilmoe kabatinan jang roewet tetapi kaloe soedah faham betoel tida aken dipake, kerna ümoe jang paling tinggi tida laen dari kasaderhana'an.
4. Orang biasa anoet segala roepa peladjaran dan poedja segala matjem machloek soetji
sedeng sabenernja itoe T o e h a n ada dalem dirinja
sendiri, dan manoesia itoelah Toekan adanja.
5. Dengen mentjari Toehan ka mana-mana
sama kakoeatannja mata, orang tida nanti bisa
ketemoe padanja ; tetapi dengen niêrêm, pikir
dan rasa, Toehan nanti kaliatan.
6 . Manoesia jang hendak mentjari atavva bersatoe dengen Toehan, moesti liwatken banjak
penghidoepan sangsara jang pait dan getir serta
toempahken aer mata jang banjaknja sama djoega
aer dari sariboe soengei jang rnerendem pada
doenia, sabelonnja bisa sampe pada apa jang
ditoedjoe. Kapan soedah dapetken kasampoerna'an baroelah ia insjaf jang Toehan beräda
dalem dirinja.
Dalem ini fatsl Tagore loekisken dengen
ringkes. tapi djitoe, sifatnja evolutie manoesia jang, sadari ini alam moelai tertjipta, soedah
moelai mendjelma dalem roepa rcepa woedjoet,
seperti logam, tetoemboean, binatang-binatang
dan teroes djadi manoesia, boeat mana ia moesti liwatken bermillioen-millioen taon sabelonnja
djadi sampoerna dan sama sifatnja seperti Toehan sendiri. (Ajat 1 dan 2).
Komoedian Tagore kasih liat oetjapan ber
tentangan (paradoxical) jang rnirip seperti oedjaroedjarnja Lao Tze : — Perdjalanan sangsara dari
manoesia jang begitoe lama dan djaoe tjoemah<noinclude>{{c|71}}</noinclude>
a7rtyuyc8iippcj4ufbuvxjfb6p6hev
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/75
104
116388
320564
2026-10-10T15:42:58Z
Zhilal Darma
10833
/* Telah diuji baca */
320564
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" />{{C|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}</noinclude>atawa dateng mengemis di hadepan ia sendiri
poenja pintoe roemah! (Ajat 1).
Dalem ini doenia jang penoeh kasangsara'an,
orang tida perloe moesti bergoelet aken meno-
lak apa jang tida bisa dilawan, atawa sedihin
dan pikirin apa jang telah gagal atawa tida bisa
kasampean, kerna nasif dari sasoeatoe orang
ada bergantoeng pada iapoenja karma jang ter-
bit dari perboeatannja sendiri dalem kahidoepan-
kahidoepan jang laloe. Dari pada brontak dan
oendjoek penasaran, ada lebih baek kaloe orang
berlakoe tentrem, kerna itoe Toehan jang ber-
tempat dalem dirinja ada poenja tjoekoep ka-
koeasa'an boeat memberi hiboeran dan kakoeatan
terhadep segala ganggoeannja doenia, kaloe
sadja itoe orang djangan soeka mengoerêk dan
kasih dirinja dipengaroehin oleh segala matjem
kadoeka'an dan kasedihan jang telah liwat, soepa-
ja ia bisa trima dan hargain sapenoehnja pada
kaberoentoengan jang aken dateng. (Ajat 2).
Timboelnja itoe kasoesahan dan kadoeka'an
ada beratsal dari manoesia sendiri poenja segala
matjem kainginan. Lantaran terlipoet oleh ber-
lapis-lapis kainginan jang tida abisnja maka itoe
sinar terang dari Toehan jang bertempat dalem
dirinja tida bisa memberi tjahaja, malah sama
djoega terpadem oleh tioepannja itoe hawa jang
mendesek dari nafsoenja. Maka apa jang didapet
dari hawa nafsoe ada seperti hadia jang kotor,
hingga orang tida haroes gegabah boeat trima,
katjoeali kaloe itoe pengasih ada dateng dari
welas-asih jang bersifat soetji, kerna itoe ada
tjotjok sama wateknja Katochanan. (Ajat 3).
X.
1. Disini ada kaoe poenja djedjodok, dan kaoe<noinclude>{{rh||65}}</noinclude>
q2dmed1ovrrr12h1jejmv3ssm0vpx36
320565
320564
2026-10-10T15:43:20Z
Zhilal Darma
10833
320565
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" />{{C|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}</noinclude>atawa dateng mengemis di hadepan ia sendiri
poenja pintoe roemah! (Ajat 1).
Dalem ini doenia jang penoeh kasangsara'an,
orang tida perloe moesti bergoelet aken meno-
lak apa jang tida bisa dilawan, atawa sedihin
dan pikirin apa jang telah gagal atawa tida bisa
kasampean, kerna nasif dari sasoeatoe orang
ada bergantoeng pada iapoenja karma jang ter-
bit dari perboeatannja sendiri dalem kahidoepan-
kahidoepan jang laloe. Dari pada brontak dan
oendjoek penasaran, ada lebih baek kaloe orang
berlakoe tentrem, kerna itoe Toehan jang ber-
tempat dalem dirinja ada poenja tjoekoep ka-
koeasa'an boeat memberi hiboeran dan kakoeatan
terhadep segala ganggoeannja doenia, kaloe
sadja itoe orang djangan soeka mengoerêk dan
kasih dirinja dipengaroehin oleh segala matjem
kadoeka'an dan kasedihan jang telah liwat, soepa-
ja ia bisa trima dan hargain sapenoehnja pada
kaberoentoengan jang aken dateng. (Ajat 2).
Timboelnja itoe kasoesahan dan kadoeka'an
ada beratsal dari manoesia sendiri poenja segala
matjem kainginan. Lantaran terlipoet oleh ber-
lapis-lapis kainginan jang tida abisnja maka itoe
sinar terang dari Toehan jang bertempat dalem
dirinja tida bisa memberi tjahaja, malah sama
djoega terpadem oleh tioepannja itoe hawa jang
mendesek dari nafsoenja. Maka apa jang didapet
dari hawa nafsoe ada seperti hadia jang kotor,
hingga orang tida haroes gegabah boeat trima,
katjoeali kaloe itoe pengasih ada dateng dari
welas-asih jang bersifat soetji, kerna itoe ada
tjotjok sama wateknja Katochanan. (Ajat 3).
X.
1. Disini ada kaoe poenja djedjodok, dan kaoe<noinclude>{{rh||65}}</noinclude>
0mu86ltdwrn7n4jnnu07b9smi3i5j4w
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/76
104
116389
320566
2026-10-10T15:45:29Z
Zhilal Darma
10833
/* Telah diuji baca */
320566
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" />{{C|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}}</noinclude>poenja kaki menjender pada tempat dimana
ada hidoep orang-orang jang paling miskin,
jang paling hina dan jang bersangsara.
2. Kapan akoe tjoba mendjoerah padamoe,
toendoeknja kepalakoe tida bisa sampe begitoe
bawah dan dalem seperti dimana kakimoe ada
bertempat di antara golongan jang paling mis-
kin, paling hina dan bersangsara.
3. Ka'angkoean tida nanti bisa sampeken
itoe tempat dimana kaoe berdjalan dalem pakean
dari orang rendah di antara golongan jang pa-
ling miskin, paling hina, dan bersangsara.
4. Hatikoe tida nanti bisa kelemoeken dja-
lanan ka itoe tempat dimana kaoe berkawan
dengen orang-orang jang tida mempoenjai kawan
di antara golongan jang paling miskin, jang
paling hina, dan jang bersangsara.
1. Djedjodok tempat kadoedoekan Toehan.
2. Mendjoerah padamoe," menghormat de-
ngen djalan meniroe sifat dan pakerdja'annja
Toehan.
3. Pakean dari orang rendah,"= sifat Toe-
han jang saderhana.
4. Tida sembarang orang bisa meniroe sifat
dan pakerdja'annja Toehan, jang paling kentara.
dan bisa dikenalin di dalem kalangan orang-
orang jang hidoep soesalı.
Jesus Kristus, dalem iapoenja Chotbah di atas
Boekit, antara laen-laen ada membilang djoega:
,,Selametlah orang-orang jang rohnja miskin,
sebab marika aken dapetken itoe Karadja'an
Sorga.<noinclude>{{rh||66}}</noinclude>
ei2xcwez7ckxt6kfgyk8fvjxkfjz2on
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/77
104
116390
320567
2026-10-10T15:47:27Z
Zhilal Darma
10833
/* Telah diuji baca */
320567
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Zhilal Darma" />{{C|ARTIANNJA GITANJALI.}}
{{rule}}</noinclude>
,Selametlah orang-orang jang berkaboeng,
sebab marika aken terhiboer.
,,Selametlah orang-orang jang lemah-lemboet,
sebab marika aken trima warisan doenia.
,Selametlah orang orang jang lapar dan aoes
sama kabeneran, sebab marika aken dapet ka-
poeasan."
Kapan orang soedah mengarti maksoednja
ini oedjar-oedjar, ia poen gampang dapet bade
toedjoeannja toelisan di atas. Sifat dan paker-
dja'annja Toehan ada lebih gampang dimengar-
ti oleh orang-orang jang miskin, hina dan ber-
sangsara, jang soedah tida harep apa-apa lagi
dari doenia, sebab kakaja'an, kabesaran, kakoea-
sa'an dan kasenangan, tjoemah membikin orang
djadi djaoe dan loepaken pada Toehan lantaran
halinja soedah terlibet pada pri kadoenia'an.
(Ajat 1).
Manoesia, maskipoen bagimana keras bersoe-
djoet pada Toehan dan hendak ikoetin segala
afoeran dan pakerdja'annja, tida nanti sanggoep
tiroe Toehan poenja kamoerahan dan djalanken
itoe dengen sapenoch penoehnja. Sabegitoe
lama orang masih mempoenjai sifat angkoe dan
sombong, ia tida bisa indjek itoe djalanan dari
Toehan jang beroepa kasaderhana'an, boeat
bekerdja di kalangan rendah, miskin dan sang-
sara. (Ajat 2-3).
Dari sebab Toehan beräda di antara orang-
orang jang hidoep sendirian dengen tida mem-
poenjai kawan dan sobat-ande, jang ber-
deradjat rendah, paling miskin dan hidoep
sangsara, maka siapa hendak mengenal dan
mengikoeti tindakannja Toehan ia poen haroes
djangan djidji pada kamiskinan, karendahan dan
kasangsara'an. Tapi manoesia tida bisa ikoetin<noinclude>{{rh||67}}</noinclude>
o6fu2vcvyrpwpoqd27nfdbzgcwrdvu8
Halaman:Rabindra Nath Tagore.pdf/82
104
116391
320568
2026-10-10T15:49:03Z
Happywu
25668
/* Telah diuji baca */
320568
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}
boeat tjari pada jang paling deket, jaitoe boeat
kenalin pada Toehan jang beräda dalem dirinja
sendiri. Peladjaran paling roewet dan soeker
jang orang fahamken teroes-meneroes, tjoemah
boeat bisa dapetken katjotjokan sama natuur
wet [Tao] jang begitoe gampang dan saderhana
atoerannja. Roepa-roepa agama, phiiosofiedan
peladjaran moraal orang telah fahamken; banjak
machloek soetji jang diseboet Allah, God, Toe
han, Siang Te, Brahma dan iaen-laen orang telah
soedjoetin dan poedja, dan banjak tempat-tempat
soetji orang telah koendjoengin, tapi toch achirnja
itoe semoea orang nanti dapet, dan ada terletak,
didalem hatinja sendiri ! [Ajat 3 dan 4).
Tetapi itoe segala ichtiar dan pertjoba'an
dari manoesia boekan berarti sia-siaken tempo
dan tenaga dengen pertjoemah, kerna „roh ma
noesia djadi mateng dalem tangisan." Zonder
dapet tjoekoep pengalaman — itoe pengalaman
jang pait dan getir — manoesia tida bisa insjaf
pada iapoenja toedjoean hidoep jang sabenernja.
Sabagitoe lama ia tjoba tjari Toehan di loear,
dan memandang ka sapoeter djagad boeat me
liat sifatnja Toehan, ia tida na«iti dapet maksoednja. Toehan tida bisa diliat, dirabah dan
difahamken dengen pake katadjeman otak, hanja
dengen mêrêmken mata, memikir, rnerasain dan
mengeningken tjipta, baroelah orang bisa me
ngarti bahoea Toehan beräda dalem dirinja
sendiri. Semoea pertjoba'an dan pergoeletan
dari orang-orang soetji dan termoelja dari djeman doeloe sampe sekarang, kasoedahannja tida laen, tjoemah memberi kasaksian bahoea ini doenia ada terlipoet oleh, kakoeasa'an Toehan jang menempati djoega batinnja manoesia dan sekalian benda dan machloek jang hidoep. {Ajat 5 dan 6).<noinclude>{{c|72}}</noinclude>
h4ai1i3brcszvu2w9sjaanh91p6w9do
320569
320568
2026-10-10T15:49:21Z
Happywu
25668
320569
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Happywu" /></noinclude>{{c|RABINDRA NATH TAGORE.}}
{{rule}}
boeat tjari pada jang paling deket, jaitoe boeat
kenalin pada Toehan jang beräda dalem dirinja
sendiri. Peladjaran paling roewet dan soeker
jang orang fahamken teroes-meneroes, tjoemah
boeat bisa dapetken katjotjokan sama natuur
wet [Tao] jang begitoe gampang dan saderhana
atoerannja. Roepa-roepa agama, phiiosofiedan
peladjaran moraal orang telah fahamken; banjak
machloek soetji jang diseboet Allah, God, Toe
han, Siang Te, Brahma dan iaen-laen orang telah
soedjoetin dan poedja, dan banjak tempat-tempat
soetji orang telah koendjoengin, tapi toch achirnja
itoe semoea orang nanti dapet, dan ada terletak,
didalem hatinja sendiri ! [Ajat 3 dan 4).
Tetapi itoe segala ichtiar dan pertjoba'an
dari manoesia boekan berarti sia-siaken tempo
dan tenaga dengen pertjoemah, kerna „roh ma
noesia djadi mateng dalem tangisan." Zonder
dapet tjoekoep pengalaman — itoe pengalaman
jang pait dan getir — manoesia tida bisa insjaf
pada iapoenja toedjoean hidoep jang sabenernja.
Sabagitoe lama ia tjoba tjari Toehan di loear,
dan memandang ka sapoeter djagad boeat me
liat sifatnja Toehan, ia tida na«iti dapet maksoednja. Toehan tida bisa diliat, dirabah dan
difahamken dengen pake katadjeman otak, hanja
dengen mêrêmken mata, memikir, rnerasain dan
mengeningken tjipta, baroelah orang bisa me
ngarti bahoea Toehan beräda dalem dirinja
sendiri. Semoea pertjoba'an dan pergoeletan
dari orang-orang soetji dan termoelja dari djeman doeloe sampe sekarang, kasoedahannja tida laen, tjoemah memberi kasaksian bahoea ini doenia ada terlipoet oleh, kakoeasa'an Toehan jang menempati djoega batinnja manoesia dan sekalian benda dan machloek jang hidoep. {Ajat 5 dan 6).<noinclude>{{c|72}}</noinclude>
pky7e2n3esgmvb9vuyepkpg9ui8az5c
Rabindra Nath Tagore/Bab VI/XV
0
116392
320578
2026-10-10T15:52:49Z
Hadithfajri
15274
←Membuat halaman berisi '{{header | title = XV | author = Rabindranath Tagore | translator = Kwee Tek Hoay | section = | previous = [[../XIV|II]] | next = [[../XVI|XVI]] | notes = }} <pages index="Rabindra Nath Tagore.pdf" from=88 to=90 onlysection=XV/> [[en:Gitanjali/15]] [[bn:গীতাঞ্জলি (১৯১৩)/২৩]]'
320578
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = XV
| author = Rabindranath Tagore
| translator = Kwee Tek Hoay
| section =
| previous = [[../XIV|II]]
| next = [[../XVI|XVI]]
| notes = }}
<pages index="Rabindra Nath Tagore.pdf" from=88 to=90 onlysection=XV/>
[[en:Gitanjali/15]]
[[bn:গীতাঞ্জলি (১৯১৩)/২৩]]
ny9wml26vd1gv59840ljrdud941chbl
320584
320578
2026-10-10T15:57:48Z
Hadithfajri
15274
320584
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = XV
| author = Rabindranath Tagore
| translator = Kwee Tek Hoay
| section =
| previous = [[../XIV|II]]
| next = [[../XVI|XVI]]
| notes = }}
<pages index="Rabindra Nath Tagore.pdf" from=88 to=90 onlysection=XV/>
[[en:Gitanjali/15]]
[[bn:গীতবিতান/পূজা/২৩]]
ezda0sria7subjt09zsppnyi4yr5yv4
Rabindra Nath Tagore/Bab VI/XVI
0
116393
320585
2026-10-10T16:07:04Z
Hadithfajri
15274
←Membuat halaman berisi '{{header | title = XVI | author = Rabindranath Tagore | translator = Kwee Tek Hoay | section = | previous = [[../XV|XVI]] | next = [[../XVII|XVII]] | notes = }} <pages index="Rabindra Nath Tagore.pdf" from=90 to=93 onlysection=XVI/> [[en:Gitanjali/16]] [[bn:গীতবিতান/পূজা/৩১৭]]'
320585
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = XVI
| author = Rabindranath Tagore
| translator = Kwee Tek Hoay
| section =
| previous = [[../XV|XVI]]
| next = [[../XVII|XVII]]
| notes = }}
<pages index="Rabindra Nath Tagore.pdf" from=90 to=93 onlysection=XVI/>
[[en:Gitanjali/16]]
[[bn:গীতবিতান/পূজা/৩১৭]]
cokb37ng329dti0hdanaj9j85zbsfjg
Halaman:Sam Po Toa Lang.pdf/5
104
116394
320586
2026-10-10T17:47:00Z
Abdisaverio
26326
/* Telah diuji baca */
320586
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdisaverio" /></noinclude>{{c|'''Sam Po Toa Lang'''}}
{{c|<small>Ditjeritakan kembali oleh:</small>}}
{{c|'''Monsieur KEKASIH'''}}
----
{{c|'''I'''}}
,,Mustika adjaib apatah itu ,Giokmito”?
,,Giokmito itu bukan laen dari tjap keradjaan atawa pusaka negeri. Kemustadjabannja, menurut dugaanku, melebihkan dari itu semua barang-barang hantaran jang, Seri Baginda telah dapat terima sebagi hadiahan dari Radja-radja negeri ketjil jang telah menaluk pada keradjaan Beng Tiauw."
Baginda Beng Seng Tjouw, keizer ka tiga dari dynastie Beng, jang mulai bertachta sedari tahun Masehi 1403, kini sedang duduk bertjakap-tjakap dengan menterinja, Thio Thian Soe. (Thian Soe berarti ,,Guru Langit").
Menteri ini ada seorang iman atawa tosoe dari gunung
Lionghouwsan. Ia berilmu tinggi dan dapat gelaran Inhoa Tjindjin. Kini ia sedang bangunkan perhatiannja Baginda Beng Seng Tjouw, Jang lebih terkenal dengan nama Eng Lok Koen, pada itu mustika adjaib jang dinamakan Giokmito.
Ia kemukakan soal adanja barang adjaib ini, karena ia ada kandung satu maksyd, satu rentjana, jang ia ingin djalankan dalam praktik.
Baginda Eng Lok Koen ada turunan dari almarhum Baginda Taji Tio, jalah Tjoe Gwan Tjiang, jang telah rebut kembali negeri Tiongkok dari tangannja bangsa Mongool, di bawah pemerentahannja Soen Tee Koen dari dynastie Goan.
Sesudahnja Tiongkok berada pula dalam tangannja bangsa Han, pelan-pelan negeri djadi aman dan santausa. Tetapi menurut pendapatnja menteri Thio Thian Soe: tida tjukup hanja negeri-negeri ketjil di sekitarnja Tiongkok menaluk<noinclude>{{rh|||3}}</noinclude>
i5rqouu9o0biot9zigdj2q0mw5kx68o
Halaman:Sam Po Toa Lang.pdf/6
104
116395
320587
2026-10-10T17:59:07Z
Abdisaverio
26326
/* Telah diuji baca */
320587
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdisaverio" /></noinclude>dengan membajar upeti. Tiongkok perlu memperlihatkan gigi pada negeri-negeri laen, baek di tanah daratan jang letaknja djauh dari Tiongkok, maupun di kepulauan jang bisa disampaikan dengan armadanja, jang pada masa itu terdiri dari kapal-kapal lajar. Maksudnja Thio Thian Soe meluwaskan pengaruhnja Tiongkok upama kata „sampai di udjung langit”!
Dan mustika adjaib Giokmito itu harus mendjadi „djambatan” akan bangunkan perhatiannja Baginda, supaja dapat diwudjutkan tjita-tjita jang ia tida njatakan.
„Kalu hanja kebagusannja Giokmito melebihkan laen-laen barang jang Tim sudah punjakan dan kini termasuk dalam bendahara negeri, Tim sudah merasa puwas dengan barang-barang itu jang di antaranja ada jang mempunjai chiasat!”
Djustru chasiatnja Giokmito ada luar biasa, adjaib, aneh, gaib dan mustadjab! Giokmito berriwajat dalam kehongtean berabad-abad lamanja, dari satu ka laen dynastie ………”
„Apatah Keng suka tjeritakan riwajatnja Giokmito itu? Tim djadi gegetun mendengarkan Keng pudjikan barang adjaib itu setinggi langit.”
„Sungguhan, Pintjeng tida berdjusta, Ban Swee Ya!” saut Thio Thian Soe. „Giokmito, itu tjap negeri, telah dipakni turun-menurun sedari djaman Tjian Kok, djaman purbakala., Kalu sedari bertachta Baginda tida ada lihat tjap itu, adalah karena Giokmito sudah dibawa lari oleh se-ekor gadja putih ka negeri Seehoan, di sebelah Barat dari Tiongkok.”
Giokmito asalnja Giok jang terbaek dalam satu batu di gunung Kengsan, didapatkan oleh seorang warganegara Tiongkok, bernama Pian Ho, di djaman Liatkok, waktu Tjioe Boe Ong duduk bertachta, jalah kira-kira 1100 tahun sebelon terlahirnja Nabi Jezus Christus.
Makanja Pian Ho duga, jang dalam itu batu musti ada Giok, sebab di atasnja ia dapatkan sebutir telor burung Hong, sematjam burung jang tida mau mentjlok di sembarangan tempat, apapula untuk bertelor, kalu bukan di tempat-tempat baek jang mendapat sarinja alam.
Dua kali batu ini dipersembahkan olehnja: pertama pada Baginda Tjioe Boe Ong dan ka dua kalinja pada Baginda Tjioe Boen Ong, tetapi selalu tukang-tukang gosok batu telah keliru dan kata: batu ini bukan Giok, hanja batu biasa.<noinclude>{{rh|4}}</noinclude>
rhe5lcqbz2cfxsvt1sch8r2b1j4ly21
Halaman:Sam Po Toa Lang.pdf/7
104
116396
320588
2026-10-10T18:05:28Z
Abdisaverio
26326
/* Telah diuji baca */
320588
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdisaverio" /></noinclude>Radja djadi marah dan anggap Pian Ho mau permaenkan Baginda. Dan Pian Ho dihukum potong kaki kanannja dan belakangan dikutungin lagi kaki kirinja. Dengan sedih ia bawa kembali batu itu ka tempat asalnja. Siang-malam ia menangis, aer matanja keluar seperti darah.
Waktu Tjioe Tjong Ong bertachta, radja ini suruh orang pergi ambil itu batu dan sesudah digosok oleh laen tukang jang terlebih pandai, ternjata benar dalamnja ada Bigiok, jang sinarnja terang berkilau-kilauan. Bigiok ada pualam jang terbaek, melebihkan laen-laen Giok, maka harganja tak dapat ditaksir.
Sesudah keradjaan berganti-ganti dari satu pinda ka laen tangan, belakangan sesudah Tjin Sie Ong sapu habis anam negeri, Giok itu dibikin djadi tiga potong; satu antaranja dibikin tjap keradjaan dengan terukir delapan huruf.
Giokmito berupa ampat pesegi, tingginja anam 'joen, atasnja dibikinin se-ekor naga di dalam piring. Rupanja bukan sadja bagus dan agung, tetapi djuga mulia.
Pada duapuluh delapan tahun kemudian, kutika Tjin Sie Ong belajar keluar negeri, melewatkan Tongtengho, mendadak turun taufan dan bergelombangnja ombak ada besar sekali, hingga kapalnja ampir kelebuh. Tapi setelah Giokmito di-ikat dan dilepas ka dalam aer, angin djadi sirap dan lautan pun tenang kembali, inilah ada chasiat terutama jang telah terbukti.
Keizer Eng Lok ketarik dengan penuturan ini, sementara Thio Thian Sioe teruskan tjeritanja:
Di belakang hari dengan dapatkan Giokmito, pada tahun 201 sebelon ada Tarich Masehi, Lauw Pang dapat dirikan keradjaan Han turun-menurun.
Belakangan waktu Ong Bong djatohkan keradjaan Han dan bertachta sebagi Hongte dari keradjaan Sian, jalah dalam tahun Masehi ka 9, ibusuri telah pukul Ong Bong dengan itu tjap, jang telah djatoh dan rengat pinggirannja.
Tapi kemudian oleh Souw Yam di-ikatin mas buat soempe. Kendati begitu, keagungan dan pamornja tida mendjadi kurang.
Sesungguhnja, Giokmito sebagi tjap negeri mendjadi tumbalnja keradjaan, karena telah terbukti, bahua Soen Tjhek di djaman Sam Kok sebagi pemegang dari Giokmito, dapat dirikan keradjaan di Tonggouw. Belakangan Tjo Tjam jang<noinclude>{{rh|||5}}</noinclude>
h46txldf13j20rgapwhgaxrcf47m20e
Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR
0
116397
320593
2026-10-11T02:19:09Z
Niswinwin
27110
←Membuat halaman berisi '{{Header |title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang |author = Moelyono Sastronaryatmo |section = |previous= |next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]] |notes=}} <pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 /> {{pb|label=}} <pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=4 to=5 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320593
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|notes=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=4 to=5 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
i9bblu02oj47xnd34696761yb59jsvf
320600
320593
2026-10-11T02:22:18Z
Niswinwin
27110
320600
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=4 to=5 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
9d9oq5z5u9mtxrxn26pjavxsrca4x46
320622
320600
2026-10-11T02:41:33Z
Niswinwin
27110
320622
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang|JUDUL]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=4 to=5 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
b6l0zd35ihh5h5e8xnxomrnl85arema
Amai Cilako/Kata Pengantar
0
116398
320602
2026-10-11T02:22:58Z
Miftahul Janah 09
25811
←Membuat halaman berisi '{{bagi}} {{header | title = Amai Cilako | author = Syamsuddin St. Rajo Endah | translator = Krisnawati | section = | previous = [[Amai Cilako|Amai Cilako]] | next = | year = | notes = }} <pages index="Amai Cilako.pdf" from=4 to=5/> {{CC-BY-SA-4.0}}'
320602
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako|Amai Cilako]]
| next =
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=4 to=5/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
1pz72mei0y1zvre5w335dzxa8hgxm3v
320605
320602
2026-10-11T02:26:52Z
Miftahul Janah 09
25811
320605
wikitext
text/x-wiki
{{bagi}}
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako|Amai Cilako]]
| next = [[Amai Cilako/ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN|ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=4 to=5/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
enj5agmbtkjy6u2quany6871832r663
Halaman:Anak Siapa.pdf/1
104
116399
320606
2026-10-11T02:27:36Z
Agus Damanik
15946
/* Telah diuji baca */
320606
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Agus Damanik" /></noinclude>[[File:Anak Siapa (page 1 crop).jpg|400px|Mustikarasa (page 1 crop)|center]]<noinclude></noinclude>
c7vn6boryj4mq0h5mrqfd801wdopqc6
Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula
0
116400
320609
2026-10-11T02:32:20Z
Niswinwin
27110
←Membuat halaman berisi '{{Header |title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang |author = Moelyono Sastronaryatmo |section = |previous= |next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]] |notes=}} {{pb|label=}} <pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=13 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320609
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=13 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
fft64qay5bru8v9xal25ty4km4alrio
320611
320609
2026-10-11T02:33:10Z
Niswinwin
27110
320611
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=13 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
9k77z71v2sv1l89vgxx2vzl5gpwmdd6
320623
320611
2026-10-11T02:43:09Z
Niswinwin
27110
320623
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang|KATA PENGANTAR]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=13 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
7iwhmismqkworwrjx7v50qbgg77rumf
320641
320623
2026-10-11T02:55:34Z
Niswinwin
27110
320641
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=7 to=13 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
l02yf0cmync4fdiclq2vie9p2af4fnn
320695
320641
2026-10-11T03:34:01Z
Niswinwin
27110
320695
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from="7" fromsection="C1" to="13" tosection="C1" />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
fyx7ksr60uegseq7ewsmvcdl0m7cxyb
320697
320695
2026-10-11T03:34:25Z
Niswinwin
27110
320697
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/KATA PENGANTAR|KATA PENGANTAR]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from="7" to="13" tosection="C1" />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
7sl6se9bmhv8it5rzri0f13x5fudd03
Amai Cilako/ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN
0
116401
320613
2026-10-11T02:34:31Z
Miftahul Janah 09
25811
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Amai Cilako | author = Syamsuddin St. Rajo Endah | translator = Krisnawati | section = | previous = [[Amai Cilako/Kata Pengantar|Kata Pengantar]] | next = | year = | notes = }} <pages index="Amai Cilako.pdf" from=6 to=8/> {{CC-BY-SA-4.0}}'
320613
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/Kata Pengantar|Kata Pengantar]]
| next =
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=6 to=8/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
i6wss72pe0rrk4mq7wn17l0ue69kiph
320617
320613
2026-10-11T02:38:12Z
Miftahul Janah 09
25811
320617
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/Kata Pengantar|Kata Pengantar]]
| next = [[Amai Cilako/Daftar Isi|Daftar Isi]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=6 to=8/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
peuliuvoyk16bpumeju5ejqiro0s3p6
Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana
0
116402
320615
2026-10-11T02:36:57Z
Niswinwin
27110
←Membuat halaman berisi '{{Header |title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang |author = Moelyono Sastronaryatmo |section = |previous= |next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]] |notes=}} {{pb|label=}} <pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=13 to=16 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320615
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=13 to=16 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
1rwtydfc26a7dij2zixpv7kmjcp8sdm
320627
320615
2026-10-11T02:45:01Z
Niswinwin
27110
320627
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=13 to=16 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
6nkm8ka9ixh2yxynkvnhy11ddys7j4l
320639
320627
2026-10-11T02:54:09Z
Niswinwin
27110
320639
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=13 to=16 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
sb5b3rjt0mmbu9wgo6kyxnj4uko8jbl
320710
320639
2026-10-11T03:40:22Z
Niswinwin
27110
320710
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/I Lagu Dandanggula|I Lagu Dandanggula]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=13 fromsection="C2" to=16 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
jc4i20fcfmy0bchsu4cm6a8jkycpvkx
Bidadari Binal/colophon
0
116403
320616
2026-10-11T02:37:22Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next = [[Bidadari Binal/colophon]] | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" include=2 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320616
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[Bidadari Binal/colophon]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=2 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
htcfe5z3wcf7rpti6sjs6ieek41fobk
320629
320616
2026-10-11T02:46:52Z
GAnganwaLUH
27839
320629
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/KepadaTJERITA ROMAN'S|Kepada TJERITA ROMAN'S]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=2 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
ko3vf9vkbu1dezu87utac013k0yewgt
Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom
0
116404
320620
2026-10-11T02:39:30Z
Niswinwin
27110
←Membuat halaman berisi '{{Header |title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang |author = Moelyono Sastronaryatmo |section = |previous= |next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula]] |notes=}} {{pb|label=}} <pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=16 to=22 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320620
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous=
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=16 to=22 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
5x16ihll3v1gbywzq3y7vsawkt1pq3b
320630
320620
2026-10-11T02:47:28Z
Niswinwin
27110
320630
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III. Lagu Sinom|III. Lagu Sinom]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=16 to=22 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
pb4g2f7c4bm7aucr6e1vdm8h7ozzzu9
320636
320630
2026-10-11T02:53:22Z
Niswinwin
27110
320636
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=16 to=22 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
5c05wxrlxyzwotsd0tw1gmkpdu7m954
320714
320636
2026-10-11T03:47:23Z
Niswinwin
27110
320714
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/II. Lagu Asmaradana|II. Lagu Asmaradana]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=17 to=22 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
ckmqq2z0lv5vuvloiaqx4xdkz1e4dzp
Auto Setan
0
116405
320621
2026-10-11T02:41:20Z
Volstand
14289
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Auto Setan | author = Moreland H, Adonis | translator = | section = | previous = | next = [[Auto Setan: Jang Menggemperken Seloeroe San Francisco|Bab 1]] | notes = }} <pages index="Auto setan.pdf" from=4 to=5/> {{pb|label=}} {{TOC-tambahan| # [[Auto Setan: Jang Menggemperken Seloeroe San Francisco|Jang Menggemperken Seloeroe San Francisco]] }} {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320621
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Auto Setan
| author = Moreland H, Adonis
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[Auto Setan: Jang Menggemperken Seloeroe San Francisco|Bab 1]]
| notes =
}}
<pages index="Auto setan.pdf" from=4 to=5/>
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Auto Setan: Jang Menggemperken Seloeroe San Francisco|Jang Menggemperken Seloeroe San Francisco]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
l2bdptkrayrbprg3quagtaw29ygr46n
320669
320621
2026-10-11T03:17:33Z
Volstand
14289
320669
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Auto Setan
| author = Moreland H, Adonis
| translator =
| section =
| previous =
| next = [[Auto Setan: Jang Menggemperken Seloeroe San Francisco|Bab 1]]
| notes =
}}
<pages index="Auto setan.pdf" from=4 to=5/>
{{pb|label=}}
{{TOC-tambahan|
# [[Page:Auto setan.pdf/6|AUTOMOBIEL-SETAN !]]
# [[Page:Auto setan.pdf/11|INSPECTOR DULLEA]]
}}
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
jxa1ofrfc9itwh6hrx4sg33picobwpw
Bidadari Binal/Tjilik Roman's
0
116406
320625
2026-10-11T02:44:36Z
Naufalfr Muhammad
27837
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[Bidadari Binal]] | author = M. d'Amor | translator = | section = Bab 1 | previous = | next = [[Bidadari Binal/Tjilik Roman's|Tjilik Roman's]] | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320625
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[Bidadari Binal]]
| author = M. d'Amor
| translator =
| section = Bab 1
| previous =
| next = [[Bidadari Binal/Tjilik Roman's|Tjilik Roman's]]
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=1 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
nyv818d1cvvb4pm4sss9otxnh3mto35
320655
320625
2026-10-11T03:04:22Z
Naufalfr Muhammad
27837
320655
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[Bidadari Binal]]
| author = M. d'Amor
| translator =
| section = Warta Redaksi
| previous = Halaman Depan
| next = [[Bidadari Binal/kepada|kepada]]
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=2 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
m37cl62cml0nktcqvooo8n2is8whntl
320657
320655
2026-10-11T03:05:26Z
Naufalfr Muhammad
27837
320657
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[Bidadari Binal]]
| author = M. d'Amor
| translator =
| section = Warta Redaksi
| previous = [[Bidadari Binal/Halaman Depan|Halaman Depan]]
| next = [[Bidadari Binal/kepada|kepada]]
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=2 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
4924c9uvkp7q4prjjvklentmyucmvv3
Amai Cilako/Daftar Isi
0
116407
320628
2026-10-11T02:45:40Z
Miftahul Janah 09
25811
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Amai Cilako | author = Syamsuddin St. Rajo Endah | translator = Krisnawati | section = | previous = [[Amai Cilako/ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN|ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN]] | next = [[Amai Cilako/Amai Tjilako|Amai Tjilako]] | year = | notes = }} <pages index="Amai Cilako.pdf" include=10/> {{CC-BY-SA-4.0}}'
320628
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN|ULASAN TIM KONSULTAN PENERJEMAHAN]]
| next = [[Amai Cilako/Amai Tjilako|Amai Tjilako]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" include=10/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
kdjc7g4puzavmexnhispcicebfuqmb3
Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
0
116408
320632
2026-10-11T02:50:08Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous= |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Halaman Penerbit|Halaman Penerbit]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" include="1"/> {{pb|label=}}'
320632
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Halaman Penerbit|Halaman Penerbit]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" include="1"/>
{{pb|label=}}
ki9wxxuq033y2sgy1pdttaphkx3fztc
Anak Siapa/Judul
0
116409
320633
2026-10-11T02:51:26Z
Agus Damanik
15946
←Membuat halaman berisi '<pages index="Anak Siapa.pdf" include="5" fromsection="title" tosection="title" />'
320633
wikitext
text/x-wiki
<pages index="Anak Siapa.pdf" include="5" fromsection="title" tosection="title" />
jwzqf693wm0zyhozk5nbjh513ltzjnu
320638
320633
2026-10-11T02:53:56Z
Agus Damanik
15946
320638
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Siapa
|author=Thio Tjin Boen
|section= Judul
|previous=[[../|Halaman depan]]
|next=[[../|I.Apa itoe koerang pikir ?]]
|notes=}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" include="5" fromsection="title" tosection="title" />
pn4a1uwo2f1xmoirjt01qe67wshzelv
320705
320638
2026-10-11T03:38:01Z
Agus Damanik
15946
320705
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Siapa
|author=Thio Tjin Boen
|section= Judul
|previous=[[../|Halaman depan]]
|next=[[../I.Apa itoe koerang pikir ?|I.Apa itoe koerang pikir ?]]
|notes=}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" include="5" fromsection="title" tosection="title" />
sqsyr4zqzd58tei6pnesg3j36ftncag
320707
320705
2026-10-11T03:38:26Z
Agus Damanik
15946
320707
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Siapa
|author=Thio Tjin Boen
|section= Judul
|previous=[[../|Halaman depan]]
|next=[[../Bab 1|I.Apa itoe koerang pikir ?]]
|notes=}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" include="5" fromsection="title" tosection="title" />
mehq1t9o91k64jxixqr7vusbjrzwtze
Bidadari Binal/Kepada TJERITA ROMAN'S
0
116410
320634
2026-10-11T02:51:49Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next =[[Bidadari Binal/Inti Chajal|Inti Chajal]] | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" include=4 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320634
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Inti Chajal|Inti Chajal]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=4 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
2f8hx4osfeg2t9ls0h7yfla124oy8pz
Amai Cilako/Amai Tjilako
0
116411
320635
2026-10-11T02:53:09Z
Miftahul Janah 09
25811
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Amai Cilako | author = Syamsuddin St. Rajo Endah | translator = Krisnawati | section = | previous = [[Amai Cilako/Daftar Isi|Daftar Isi]] | next = [[Amai Cilako/AMAI CILAKO|AMAI CILAKO]] | year = | notes = }} <pages index="Amai Cilako.pdf" include=13/> {{CC-BY-SA-4.0}}'
320635
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/Daftar Isi|Daftar Isi]]
| next = [[Amai Cilako/AMAI CILAKO|AMAI CILAKO]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" include=13/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
sunytfhrbo66t6bz73n413zpsbfy0ve
Bidadari Binal/KepadaTJERITA ROMAN'S
0
116412
320637
2026-10-11T02:53:51Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next =[[Bidadari Binal/Kepada TJERITA ROMAN'S|Kepada TJERITA ROMAN'S]] | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" include=3 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320637
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Kepada
TJERITA ROMAN'S|Kepada
TJERITA ROMAN'S]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
1980ljddnzcigjoe3dy7v2jev8mninj
320662
320637
2026-10-11T03:09:24Z
Naufalfr Muhammad
27837
320662
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Kepada TJERITA ROMAN'S
|Kepada
TJERITA ROMAN'S]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=3 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
gswtfx7f21s0exwcp8e6lubdlmnf0ry
Anak Siapa/Bab 1
0
116413
320642
2026-10-11T02:56:53Z
Agus Damanik
15946
←Membuat halaman berisi '{{header | title = [[Pembalesan Kedji]] | author = Hauw San Liang | translator = | section = Bab 1 | previous = [[../|Judul]] | next = [[../Bab 1|Bab 1]] | notes = }} <pages index="Pembalesan Kedji.pdf" from="5" fromsection="s1" to="16" />'
320642
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[Pembalesan Kedji]]
| author = Hauw San Liang
| translator =
| section = Bab 1
| previous = [[../|Judul]]
| next = [[../Bab 1|Bab 1]]
| notes =
}}
<pages index="Pembalesan Kedji.pdf" from="5" fromsection="s1" to="16" />
63ttfrq4l4a7qrvpdv5fwzb5m8a4zxz
320643
320642
2026-10-11T02:57:12Z
Agus Damanik
15946
320643
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[Pembalesan Kedji]]
| author = Hauw San Liang
| translator =
| section = Bab 1
| previous = [[../|Judul]]
| next = [[../Bab 1|Bab 1]]
| notes =
}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" from="5" fromsection="s1" to="16" />
jzb9vt2pmx87shqlci2g1xoe4nvl0ta
320648
320643
2026-10-11T03:00:11Z
Agus Damanik
15946
320648
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[Pembalesan Kedji]]
| author = Hauw San Liang
| translator =
| section = Bab 1
| previous = [[../|Judul]]
| next = [[../Bab 1|Bab 1]]
| notes =
}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" from="5" fromsection="C1" to="16" />
3xhm2wkfujwntzby0meux17cfjof678
320650
320648
2026-10-11T03:01:47Z
Agus Damanik
15946
320650
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = [[Pembalesan Kedji]]
| author = Hauw San Liang
| translator =
| section = Bab 1
| previous = [[../|Judul]]
| next = [[../Bab 1|Bab 1]]
| notes =
}}
<pages index="Anak Siapa.pdf" from="5" fromsection="C1" to="16" tosection="C1" />
6jlcyroexwstvwm8iws32etfd9uyfqg
Amai Cilako/AMAI CILAKO
0
116414
320644
2026-10-11T02:58:42Z
Miftahul Janah 09
25811
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Amai Cilako | author = Syamsuddin St. Rajo Endah | translator = Krisnawati | section = | previous = [[Amai Cilako/AMAI CILAKO|AMAI CILAKO]] | next = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]] | year = | notes = }} <pages index="Amai Cilako.pdf" from=14 to=20/> {{CC-BY-SA-4.0}}'
320644
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/AMAI CILAKO|AMAI CILAKO]]
| next = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=14 to=20/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
k0fpaih1kfoqbg5zm9i0yrr5tixqxp9
320649
320644
2026-10-11T03:00:34Z
Miftahul Janah 09
25811
320649
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/Amai Tjilako|Amai Tjilako]]
| next = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=14 to=20/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
r5o2y8smcm7pb0hxzkwuzh2vwgpduba
Bidadari Binal/Inti Chajal
0
116415
320645
2026-10-11T02:58:55Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next =[[Bidadari Binal/Rahasia dalam Rahasia|Rahasia dalam Rahasia]] | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" from=5 to=6/> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320645
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Rahasia dalam Rahasia|Rahasia dalam Rahasia]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" from=5 to=6/>
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
rv30i7p98yhnf7utc5h3nwrnffz7a1k
Bidadari Binal/Rahasia dalam Rahasia
0
116416
320652
2026-10-11T03:02:23Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next =[[Bidadari Binal/Bidadari Binal” M. d'AMOUR|Bidadari Binal” M. d'AMOUR]] | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" include=7 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320652
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Bidadari Binal”
M. d'AMOUR|Bidadari Binal”
M. d'AMOUR]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" include=7 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
9dmziyyel7js9ze7lyokvjn4efhdzc0
320666
320652
2026-10-11T03:13:33Z
Naufalfr Muhammad
27837
320666
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/insan|insan]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" from=5 to=20/>
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
6qu8mr3quo5zexxr3nsuouu5qm8tv60
320672
320666
2026-10-11T03:22:25Z
GAnganwaLUH
27839
320672
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Puisi|Puisi]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" from=5 to=6/>
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
t6aydyifjx11sf727s8zh7xeqhkkqv1
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar
0
116417
320654
2026-10-11T03:03:06Z
Ilham Mufti Laksono
21678
Menambah
320654
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="5" />
{{ppb}}
3iva0qnz239lxs5lt2ilu528kosdrxf
320659
320654
2026-10-11T03:05:38Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320659
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Judul|Judul]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="5" />
{{ppb}}
c9qfdhxti8fnk9j9p40g5b5g9xix25q
320661
320659
2026-10-11T03:08:42Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320661
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7|Judul]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="5" />
{{ppb}}
qi092xs0qldd5fy5uhjpan8zujidbtf
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Halaman Penerbit
0
116418
320658
2026-10-11T03:05:27Z
Radramboo
23710
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02|Cover]] |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Prolog|Prolog]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" include="2"/> {{pb|label=}}'
320658
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02|Cover]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Prolog|Prolog]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" include="2"/>
{{pb|label=}}
3r95v5kkjih9thpaoq0a9q54kwwnn27
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Judul
0
116419
320660
2026-10-11T03:07:18Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" /> {{ppb}} {{DP-ID-pemerintah}}'
320660
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous=
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="1" />
{{ppb}}
{{DP-ID-pemerintah}}
8zq8k8jnpenzlanogywpo0gyfqb2oe1
Amai Cilako/Si Rombok ka Medan
0
116420
320664
2026-10-11T03:10:57Z
Miftahul Janah 09
25811
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Amai Cilako | author = Syamsuddin St. Rajo Endah | translator = Krisnawati | section = | previous = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]] | next = [[Amai Cilako/SI ROMBOK KE MEDAN|SI ROMBOK KE MEDAN]] | year = | notes = }} <pages index="Amai Cilako.pdf" from=22 to=26/> {{CC-BY-SA-4.0}}'
320664
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]]
| next = [[Amai Cilako/SI ROMBOK KE MEDAN|SI ROMBOK KE MEDAN]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=22 to=26/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
hfuaqefebj7usz1wnlm7wpqxcusqt3c
320708
320664
2026-10-11T03:38:45Z
Miftahul Janah 09
25811
320708
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/SI ROMBOK KE MEDAN|SI ROMBOK KE MEDAN]]
| next = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=22 to=26/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
o8up7aeutbl45ygvah430tezhpmui8n
320722
320708
2026-10-11T03:50:37Z
Miftahul Janah 09
25811
320722
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/AMAI CILAKO|AMAI CILAKO]]
| next = [[Amai Cilako/SI ROMBOK KE MEDAN|SI ROMBOK KE MEDAN]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=22 to=26/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
he3wy8wjq1t8dd3wxalabzs9cyouft7
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Prolog
0
116421
320667
2026-10-11T03:15:55Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Halaman Penerbit|Halaman Penerbit]] |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 6|Bab 6]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=3 to=4/> {{pb|label=}}'
320667
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Halaman Penerbit|Halaman Penerbit]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 6|Bab 6]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=3 to=4/>
{{pb|label=}}
ljj464ty36g1nk05n2l0jd578a6905v
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 6
0
116422
320670
2026-10-11T03:17:57Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Halaman Penerbit|Halaman Penerbit]] |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 6|Bab 6]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=3 to=4/> {{pb|label=}}'
320670
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Halaman Penerbit|Halaman Penerbit]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 6|Bab 6]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=3 to=4/>
{{pb|label=}}
ljj464ty36g1nk05n2l0jd578a6905v
320681
320670
2026-10-11T03:28:27Z
Radramboo
23710
320681
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Prolog|Prolog]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 7|Bab 7]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=7 to=19/>
{{pb|label=}}
8yg8rw3n1hogyneezafcrzybf9aimx1
Bidadari Binal/Puisi
0
116423
320676
2026-10-11T03:23:39Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next =[[Bidadari Binal/Puisi|Puisi]] | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" Include=7 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320676
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Puisi|Puisi]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" Include=7 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
dp1dgl5yxl8x0gwxvcnvrycicpjxex6
320683
320676
2026-10-11T03:28:42Z
GAnganwaLUH
27839
320683
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Isi|Isi]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" Include=7 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
5jy0hb8z4458ut54udue8luyxguzgli
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal
0
116424
320678
2026-10-11T03:27:19Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Asing]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="6-9" /> {{ppb}}'
320678
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Asing]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="6-9" />
{{ppb}}
tib2cvsgzm9awn5t404yiuqur3pl8jt
320679
320678
2026-10-11T03:27:46Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320679
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Pengantar|Pengantar]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Keramik Asing]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="6-9" />
{{ppb}}
03v0h4yxjdm73nkll1y46cw8ax0g2w2
Pengguna:Niswinwin
2
116425
320680
2026-10-11T03:28:18Z
Cgjkldn
22445
←Membuat halaman berisi '{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}'
320680
wikitext
text/x-wiki
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
gmabkjntx3dvvmz1x89b0f24di493fj
Pengguna:GAnganwaLUH
2
116426
320682
2026-10-11T03:28:40Z
Cgjkldn
22445
←Membuat halaman berisi '{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}'
320682
wikitext
text/x-wiki
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
gmabkjntx3dvvmz1x89b0f24di493fj
Pengguna:Naufalfr Muhammad
2
116427
320684
2026-10-11T03:29:02Z
Cgjkldn
22445
←Membuat halaman berisi '{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}'
320684
wikitext
text/x-wiki
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
gmabkjntx3dvvmz1x89b0f24di493fj
Amai Cilako/SI ROMBOK KE MEDAN
0
116428
320685
2026-10-11T03:29:10Z
Miftahul Janah 09
25811
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Amai Cilako | author = Syamsuddin St. Rajo Endah | translator = Krisnawati | section = | previous = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]] | next = [[Amai Cilako/Pantjaraian Aminah dengan Sutan Djamaris|Pantjaraian Aminah dengan Sutan Djamaris]] | year = | notes = }} <pages index="Amai Cilako.pdf" from=22 to=26/> {{CC-BY-SA-4.0}}'
320685
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Amai Cilako
| author = Syamsuddin St. Rajo Endah
| translator = Krisnawati
| section =
| previous = [[Amai Cilako/Si Rombok ka Medan|Si Rombok ka Medan]]
| next = [[Amai Cilako/Pantjaraian Aminah dengan Sutan Djamaris|Pantjaraian Aminah dengan Sutan Djamaris]]
| year =
| notes =
}}
<pages index="Amai Cilako.pdf" from=22 to=26/>
{{CC-BY-SA-4.0}}
cb7taiucbt5vrkgybs0plep456x247d
Kategori:Pengguna peserta WikiLatih tanggal 11 Oktober 2026
14
116429
320686
2026-10-11T03:29:22Z
Cgjkldn
22445
←Membuat halaman berisi 'Peserta Wikilatih Wikisource Mahir di Banjarmasin'
320686
wikitext
text/x-wiki
Peserta Wikilatih Wikisource Mahir di Banjarmasin
3cqsdq2cuai9e9hg9egrfzqn340xf9i
Pengguna:Miftahul Janah 09
2
116430
320687
2026-10-11T03:29:59Z
Cgjkldn
22445
←Membuat halaman berisi '{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}'
320687
wikitext
text/x-wiki
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
gmabkjntx3dvvmz1x89b0f24di493fj
Pengguna:Raihanazakira
2
116431
320689
2026-10-11T03:30:25Z
Cgjkldn
22445
←Membuat halaman berisi '{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}'
320689
wikitext
text/x-wiki
{{Peserta WikiLatih|di=Banjarmasin|tgl=11 Oktober 2026}}
gmabkjntx3dvvmz1x89b0f24di493fj
Bidadari Binal/Isi
0
116432
320692
2026-10-11T03:31:13Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next =[[Bidadari Binal/Isi|Isi]] | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" from=8 to=114 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320692
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Isi|Isi]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" from=8 to=114 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
ianpmkk1ynkh5fe25jddfrvdmuym5sb
320698
320692
2026-10-11T03:34:35Z
GAnganwaLUH
27839
320698
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =[[Bidadari Binal/Iklan|Iklan]]
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" from=8 to=114 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
3assn8u0s0eewjnkiuq8rx52pkpndwa
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 7
0
116433
320693
2026-10-11T03:31:48Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 6|Bab 6]] |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 8|Bab 8]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=19 to=26/> {{pb|label=}}'
320693
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 6|Bab 6]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 8|Bab 8]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=19 to=26/>
{{pb|label=}}
i84ial3dncs7x06grs3rrrla17ysemv
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 8
0
116434
320696
2026-10-11T03:34:16Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 7|Bab 7]] |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 9|Bab 9]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=26 to=40/> {{pb|label=}}'
320696
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 7|Bab 7]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 9|Bab 9]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=26 to=40/>
{{pb|label=}}
tpzvzwgchqugedn7m2bvx0xi11icslu
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 9
0
116435
320701
2026-10-11T03:35:51Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 8|Bab 8]] |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 10|Bab 10]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=40 to=54/> {{pb|label=}}'
320701
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 8|Bab 8]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 10|Bab 10]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=40 to=54/>
{{pb|label=}}
2cu9fldy3416jot3xclwkbjlje5damg
Bidadari Binal/Iklan
0
116436
320702
2026-10-11T03:36:04Z
GAnganwaLUH
27839
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Bidadari Binal | author = M. d'Amor | translator = | section = | previous = | next = | year = 1950 | notes = }} <pages index="Bidadari Binal.pdf" from=115 to=116 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320702
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Bidadari Binal
| author = M. d'Amor
| translator =
| section =
| previous =
| next =
| year = 1950
| notes =
}}
<pages index="Bidadari Binal.pdf" from=115 to=116 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
qtk0eqb1h9mgz004e2b2x56osm6dczn
Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01/IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN
0
116437
320703
2026-10-11T03:37:39Z
Naufalfr Muhammad
27837
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous= |next=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01/ANAK PRAMPOEAN DI BIKIN SEBAGI PARIT MAS ATAWA IBOE JANG DOERHAKA|NAK PRAMPOEAN DI BIKIN SEBAGI PARIT MAS ATAWA IBOE JANG DOERHAKA]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01.pdf" include="1"/> {{pb|label=}}'
320703
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=
|next=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01/ANAK PRAMPOEAN DI BIKIN SEBAGI PARIT MAS ATAWA
IBOE JANG DOERHAKA|NAK PRAMPOEAN DI BIKIN SEBAGI PARIT MAS ATAWA
IBOE JANG DOERHAKA]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01.pdf" include="1"/>
{{pb|label=}}
bwo2nj7eaf603o25ely862tjfobe4yk
320711
320703
2026-10-11T03:43:28Z
Naufalfr Muhammad
27837
320711
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=
|next=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01/IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN|IBOE PEMENTOPAN DAN AJAH PEMADATAN]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01.pdf" from="5" to "15"/>
{{pb|label=}}
jk35pld3ruvoqjbx83oldtn1um8gaxh
320728
320711
2026-10-11T04:01:56Z
Naufalfr Muhammad
27837
320728
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous= Cover
|next=[[Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01/SARANG DJOEDI.|SARANG DJOEDI.]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 01.pdf" from="16" to "28"/>
{{pb|label=}}
td8deh667knk9km3cc5gfg8yd59b7zb
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 10
0
116438
320704
2026-10-11T03:37:39Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 9|Bab 9]] |next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 11|Bab 11]] |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=54 to=82/> {{pb|label=}}'
320704
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 9|Bab 9]]
|next=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 11|Bab 11]]
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=54 to=82/>
{{pb|label=}}
kw7ytoc2ye96t8im5lyot3kb8yp9g6f
Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 11
0
116439
320709
2026-10-11T03:39:23Z
Raihanazakira
25793
←Membuat halaman berisi '{{Header |title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02 |author=Kwee Seng Tjoan |section= |previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 10|Bab 10]] |next= |notes=}} <pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=82 to=84/> {{pb|label=}}'
320709
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title= Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02
|author=Kwee Seng Tjoan
|section=
|previous=[[Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02/Bab 10|Bab 10]]
|next=
|notes=}}
<pages index="Anak Prampoean di Bikin sebagi Parit Mas - 02.pdf" from=82 to=84/>
{{pb|label=}}
c4bmcv7ir5hia21lta88745nrrqun78
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing
0
116440
320712
2026-10-11T03:44:34Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/KKesimpuan|Kesimpulan]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" from="10" to="23"/> {{ppb}}'
320712
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/KKesimpuan|Kesimpulan]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" from="10" to="23"/>
{{ppb}}
ia1ujofsqg1ngm0zrtqx0wnvhaw1itk
320713
320712
2026-10-11T03:46:45Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320713
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpuan|Kesimpulan]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" from="10" to="23"/>
{{ppb}}
tk4ocdokcu59lfeyvdo9fa2e0yfwcpq
320720
320713
2026-10-11T03:50:15Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320720
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Lokal|Keramik Lokal]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpulan|Kesimpulan]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" from="10" to="23"/>
{{ppb}}
kxeo82lt1beyjb2gad3c5vpbp9n056e
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpulan
0
116442
320721
2026-10-11T03:50:28Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Keramik Asing]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan|Catatan]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="23" /> {{ppb}}'
320721
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Keramik Asing|Keramik Asing]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan|Catatan]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="23" />
{{ppb}}
ta176fdbwpgthxs2q0033wikcculwk9
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan
0
116443
320725
2026-10-11T03:56:05Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpulan|Kesimpulan]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Introduction|Introduction]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="24-27" /> {{ppb}}'
320725
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Kesimpulan|Kesimpulan]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Introduction|Introduction]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="24-27" />
{{ppb}}
scy02x0w257s28eeelmxydn9b7hi8x6
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Introduction
0
116444
320726
2026-10-11T03:58:23Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan|Catatan]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Local Ceramics|Local Ceramics]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="28" /> {{ppb}}'
320726
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Catatan|Catatan]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Local Ceramics|Local Ceramics]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="28" />
{{ppb}}
jaut92xi437d3vwfo9s9u37itnhl4u2
Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula
0
116445
320729
2026-10-11T04:02:39Z
Niswinwin
27110
←Membuat halaman berisi '{{Header |title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang |author = Moelyono Sastronaryatmo |section = |previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III.Lagu Sinom|III.Lagu Sinom]] |next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil|V. Lagu Mijil]] |notes=}} {{pb|label=}} <pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=22 to=28 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320729
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/III.Lagu Sinom|III.Lagu Sinom]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil|V. Lagu Mijil]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=22 to=28 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
fy45ey40k27stdboxo252in8lxuyqbs
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Local Ceramics
0
116446
320731
2026-10-11T04:03:25Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Introduction|Introduction]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Foreign Ceramics|Foreign Ceramics]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="29-31" /> {{ppb}}'
320731
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Introduction|Introduction]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Foreign Ceramics|Foreign Ceramics]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="29-31" />
{{ppb}}
lmu76g49u41k9wkml21tgv1alsqdma5
Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/V. Lagu Mijil
0
116447
320732
2026-10-11T04:06:15Z
Niswinwin
27110
←Membuat halaman berisi '{{Header |title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang |author = Moelyono Sastronaryatmo |section = |previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula,]] |next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/VII. Lagu Pocung|VII. Lagu Pocung]] |notes=}} {{pb|label=}} <pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=28 to=33 /> {{pb|label=}} {{DP-ID-lama}}'
320732
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title = Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang
|author = Moelyono Sastronaryatmo
|section =
|previous= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/IV. Lagu Dandanggula|IV. Lagu Dandanggula,]]
|next= [[Babad Jaka Tingkir: Babad Pajang/VII. Lagu Pocung|VII. Lagu Pocung]]
|notes=}}
{{pb|label=}}
<pages index="Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang.pdf" from=28 to=33 />
{{pb|label=}}
{{DP-ID-lama}}
568a26ao3pg9xxrriry1qcacj8oiftq
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Foreign Ceramics
0
116448
320734
2026-10-11T04:08:46Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Local Ceramics|Local Ceramics]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="32-43" /> {{ppb}}'
320734
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Local Ceramics|Local Ceramics]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="32-43" />
{{ppb}}
fcx151wgth3mi3j8qjkt7bg7oddllh4
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion
0
116449
320735
2026-10-11T04:10:30Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Foreign Ceramics|Foreign Ceramics]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Notes]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="43" /> {{ppb}}'
320735
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Foreign Ceramics|Foreign Ceramics]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Notes]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="43" />
{{ppb}}
2de4scm81t0wnntdfh0sp904wiph7sa
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes
0
116450
320736
2026-10-11T04:14:00Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Biobliography]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="44-47" /> {{ppb}}'
320736
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Biobliography]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="44-47" />
{{ppb}}
pwxz4wcehzo38vtcm3x8ccwr70fp6nn
320737
320736
2026-10-11T04:14:35Z
Ilham Mufti Laksono
21678
320737
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Conclusion|Conclusion]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Bibliography|Bibliography]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="44-47" />
{{ppb}}
2tkht0ewwa0zjjm0rvga9qz24ti1sc1
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Bibliography
0
116451
320738
2026-10-11T04:18:19Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Notes]] |next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Profile|Profile]] |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="48-50" /> {{ppb}}'
320738
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Notes|Notes]]
|next= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Profile|Profile]]
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="48-50" />
{{ppb}}
pi59cjs2jtrp17omw8912c6ehgelcvc
Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Profile
0
116452
320739
2026-10-11T04:19:04Z
Ilham Mufti Laksono
21678
←Membuat halaman berisi '{{Header |title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7 |author=Satyawati Suleiman |year=1980 |section= |previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Bibliography|Bibliography]] |next= |notes= }} <pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="51" /> {{ppb}}'
320739
wikitext
text/x-wiki
{{Header
|title=Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7
|author=Satyawati Suleiman
|year=1980
|section=
|previous= [[Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 7/Bibliography|Bibliography]]
|next=
|notes=
}}
<pages index="Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf" include="51" />
{{ppb}}
dwpjge8y7ls2evyd7up6kin2jj4lo0o
Halaman:Kang Lam Yan V.01.pdf/54
104
116453
320740
2026-10-11T05:42:05Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi ''
320740
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh||{{sp|KANG LAM JAN}}|51}}</noinclude><noinclude></noinclude>
f7g0mast4w8oobc6siap0rymmk4svrl
320741
320740
2026-10-11T05:43:21Z
Pijri Paijar
19487
320741
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh||{{sp|KANG LAM JAN}}|51}}</noinclude>minta kaoe poenja perkenan aken bikin pertanjahan-pertanjahan lebi djaoe pada kaoe poenja boedjang-boedjang dalem ini roema.
Permintahannja detective itoe roepanja soeda membikin toean roema merasa tida seneng hati, tapi toch ia soeda loeloesken djoega dengen sanget kepaksa.
..Kaloe dirasa ada berfaeda bagi penjelidikan
jang kaoe bakal lakoeken," demikian achir-achir.
sasoeda diam sabentaran, toean roema telab
berkata ..akoe tida kaberatan boeat loeloesken
itoe permintahan."
Boedjang-boedjangnja familie Soen jang se-
moea tjoema berdjoembla ampat orang (Louw
Eng kira-kira soeda beroemoer 60 taon lebi,
dji-ma. toekang masak dan itoe boedjang ketjil)
lantas dikoempoelken djadi satoe. laorang ka-
liatan sanget koeatir dan takoet sekali meliat
keangkerannja itoe detective.
Dengen soeara keren sang detective lantas
moelai madjoeken roepa- roepa pertanjahan pada
Louw Eng. itoe toekang masak dan boedjang
ketjil, tapi senantiasa ia dapet djawaban ..tida
taoe, sebab akoe lagi tidoer enz. enz."
Dji-ma jang kamarnja ada berdeketan sama
kamar madjikannja, jang teroetama telah ditjoe-
rigain dan ia ditanja lebi melilit; lebi djaoe
ada seperti brikoet' di bawa ini :
Apatah
-Dii-ma
sasoeda tidoer, maski
tjoema satoe kali atawa sabentaran sadja kaoe
tida sedar atawa mendoesin denger soeara apa-<noinclude></noinclude>
547yzk6cgsx2bvz1rt3uq4dqhqgmi9x
320742
320741
2026-10-11T05:45:17Z
Pijri Paijar
19487
320742
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh||{{sp|KANG LAM JAN}}|51}}</noinclude>minta kaoe poenja perkenan aken bikin pertanjahan-pertanjahan lebi djaoe pada kaoe poenja boedjang-boedjang dalem ini roema.
Permintahannja detective itoe roepanja soeda membikin toean roema merasa tida seneng hati, tapi toch ia soeda loeloesken djoega dengen sanget kepaksa.
„Kaloe dirasa ada berfaeda bagi penjelidikan jang kaoe bakal lakoeken,“ demikian achir-achir. sasoeda diam sabentaran, toean roema telah berkata „akoe tida kaberatan boeat loeloesken itoe permintahan.“
Boedjang-boedjangnja familie Soen jang se-
moea tjoema berdjoembla ampat orang (Louw
Eng kira-kira soeda beroemoer 60 taon lebi,
dji-ma. toekang masak dan itoe boedjang ketjil)
lantas dikoempoelken djadi satoe. laorang ka-
liatan sanget koeatir dan takoet sekali meliat
keangkerannja itoe detective.
Dengen soeara keren sang detective lantas
moelai madjoeken roepa- roepa pertanjahan pada
Louw Eng. itoe toekang masak dan boedjang
ketjil, tapi senantiasa ia dapet djawaban ..tida
taoe, sebab akoe lagi tidoer enz. enz."
Dji-ma jang kamarnja ada berdeketan sama
kamar madjikannja, jang teroetama telah ditjoe-
rigain dan ia ditanja lebi melilit; lebi djaoe
ada seperti brikoet' di bawa ini :
Apatah
-Dii-ma
sasoeda tidoer, maski
tjoema satoe kali atawa sabentaran sadja kaoe
tida sedar atawa mendoesin denger soeara apa-<noinclude></noinclude>
ja8bz4flww4fesx6mj0ujj2y5fwn4c5
320743
320742
2026-10-11T05:46:32Z
Pijri Paijar
19487
320743
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh||{{sp|KANG LAM JAN}}|51}}</noinclude>minta kaoe poenja perkenan aken bikin pertanjahan-pertanjahan lebi djaoe pada kaoe poenja boedjang-boedjang dalem ini roema.
Permintahannja detective itoe roepanja soeda membikin toean roema merasa tida seneng hati, tapi toch ia soeda loeloesken djoega dengen sanget kepaksa.
„Kaloe dirasa ada berfaeda bagi penjelidikan jang kaoe bakal lakoeken,“ demikian achir-achir. sasoeda diam sabentaran, toean roema telah berkata „akoe tida kaberatan boeat loeloesken itoe permintahan.“
Boedjang-boedjangnja familie Soen jang semoea tjoema berdjoembla ampat orang (Louw Eng kira-kira soeda beroemoer 60 taon lebi, dji-ma. toekang masak dan itoe boedjang ketjil) lantas dikoempoelken djadi satoe. laorang kaliatan sanget koeatir dan takoet sekali meliat keangkerannja itoe detective.
Dengen soeara keren sang detective lantas
moelai madjoeken roepa- roepa pertanjahan pada
Louw Eng. itoe toekang masak dan boedjang
ketjil, tapi senantiasa ia dapet djawaban ..tida
taoe, sebab akoe lagi tidoer enz. enz."
Dji-ma jang kamarnja ada berdeketan sama
kamar madjikannja, jang teroetama telah ditjoe-
rigain dan ia ditanja lebi melilit; lebi djaoe
ada seperti brikoet' di bawa ini :
Apatah
-Dii-ma
sasoeda tidoer, maski
tjoema satoe kali atawa sabentaran sadja kaoe
tida sedar atawa mendoesin denger soeara apa-<noinclude></noinclude>
9uw1yo5qzru32u9v1oyrtpri3z8c1h2
320744
320743
2026-10-11T05:48:34Z
Pijri Paijar
19487
320744
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh||{{sp|KANG LAM JAN}}|51}}</noinclude>minta kaoe poenja perkenan aken bikin pertanjahan-pertanjahan lebi djaoe pada kaoe poenja boedjang-boedjang dalem ini roema.
Permintahannja detective itoe roepanja soeda membikin toean roema merasa tida seneng hati, tapi toch ia soeda loeloesken djoega dengen sanget kepaksa.
„Kaloe dirasa ada berfaeda bagi penjelidikan jang kaoe bakal lakoeken,“ demikian achir-achir. sasoeda diam sabentaran, toean roema telah berkata „akoe tida kaberatan boeat loeloesken itoe permintahan.“
Boedjang-boedjangnja familie Soen jang semoea tjoema berdjoembla ampat orang (Louw Eng kira-kira soeda beroemoer 60 taon lebi, dji-ma. toekang masak dan itoe boedjang ketjil) lantas dikoempoelken djadi satoe. laorang kaliatan sanget koeatir dan takoet sekali meliat keangkerannja itoe detective.
Dengen soeara keren sang detective lantas moelai madjoeken roepa- roepa pertanjahan pada Louw Eng. itoe toekang masak dan boedjang ketjil, tapi senantiasa ia dapet djawaban „tida taoe, sebab akoe lagi tidoer enz. enz.“
Dji-ma jang kamarnja ada berdeketan sama
kamar madjikannja, jang teroetama telah ditjoe-
rigain dan ia ditanja lebi melilit; lebi djaoe
ada seperti brikoet' di bawa ini :
Apatah
-Dii-ma
sasoeda tidoer, maski
tjoema satoe kali atawa sabentaran sadja kaoe
tida sedar atawa mendoesin denger soeara apa-<noinclude></noinclude>
lfzr9m03ayc6p9wehcwqangwtbxa3nh
320745
320744
2026-10-11T05:49:31Z
Pijri Paijar
19487
320745
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh||{{sp|KANG LAM JAN}}|51}}</noinclude>minta kaoe poenja perkenan aken bikin pertanjahan-pertanjahan lebi djaoe pada kaoe poenja boedjang-boedjang dalem ini roema.
Permintahannja detective itoe roepanja soeda membikin toean roema merasa tida seneng hati, tapi toch ia soeda loeloesken djoega dengen sanget kepaksa.
„Kaloe dirasa ada berfaeda bagi penjelidikan jang kaoe bakal lakoeken,“ demikian achir-achir. sasoeda diam sabentaran, toean roema telah berkata „akoe tida kaberatan boeat loeloesken itoe permintahan.“
Boedjang-boedjangnja familie Soen jang semoea tjoema berdjoembla ampat orang (Louw Eng kira-kira soeda beroemoer 60 taon lebi, dji-ma. toekang masak dan itoe boedjang ketjil) lantas dikoempoelken djadi satoe. laorang kaliatan sanget koeatir dan takoet sekali meliat keangkerannja itoe detective.
Dengen soeara keren sang detective lantas moelai madjoeken roepa- roepa pertanjahan pada Louw Eng. itoe toekang masak dan boedjang ketjil, tapi senantiasa ia dapet djawaban „tida taoe, sebab akoe lagi tidoer enz. enz.“
Dji-ma jang kamarnja ada berdeketan sama kamar madjikannja, jang teroetama telah ditjoerigain dan ia ditanja lebi melilit; lebi djaoe ada seperti brikoet' di bawa ini :
Apatah
-Dii-ma
sasoeda tidoer, maski
tjoema satoe kali atawa sabentaran sadja kaoe
tida sedar atawa mendoesin denger soeara apa-<noinclude></noinclude>
mrhqfixvelsrkvgwfmxskf4v45hv79r
320746
320745
2026-10-11T05:51:56Z
Pijri Paijar
19487
/* Telah diuji baca */
320746
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" />{{rh||{{sp|KANG LAM JAN}}|51}}</noinclude>minta kaoe poenja perkenan aken bikin pertanjahan-pertanjahan lebi djaoe pada kaoe poenja boedjang-boedjang dalem ini roema.
Permintahannja detective itoe roepanja soeda membikin toean roema merasa tida seneng hati, tapi toch ia soeda loeloesken djoega dengen sanget kepaksa.
„Kaloe dirasa ada berfaeda bagi penjelidikan jang kaoe bakal lakoeken,“ demikian achir-achir. sasoeda diam sabentaran, toean roema telah berkata „akoe tida kaberatan boeat loeloesken itoe permintahan.“
Boedjang-boedjangnja familie Soen jang semoea tjoema berdjoembla ampat orang (Louw Eng kira-kira soeda beroemoer 60 taon lebi, dji-ma. toekang masak dan itoe boedjang ketjil) lantas dikoempoelken djadi satoe. laorang kaliatan sanget koeatir dan takoet sekali meliat keangkerannja itoe detective.
Dengen soeara keren sang detective lantas moelai madjoeken roepa- roepa pertanjahan pada Louw Eng. itoe toekang masak dan boedjang ketjil, tapi senantiasa ia dapet djawaban „tida taoe, sebab akoe lagi tidoer enz. enz.“
Dji-ma jang kamarnja ada berdeketan sama kamar madjikannja, jang teroetama telah ditjoerigain dan ia ditanja lebi melilit; lebi djaoe ada seperti brikoet di bawa ini :
„Dji-ma ! Apakah sasoeda tidoer, maski tjoema satoe kali atawa sabentaran sadja kaoe tida sedar atawa mendoesin denger soeara apa-<noinclude></noinclude>
88ga6bz73ym1mh04kd9uqu52ybn4r32
Halaman:Kang Lam Yan V.01.pdf/55
104
116454
320747
2026-10-11T05:53:08Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi ''
320747
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh|52|{{sp|''PENGHIDOEPAN''}}|}}</noinclude><noinclude></noinclude>
cx7zfyplzy9fgtir49ie0mzrr5syq5i
320748
320747
2026-10-11T05:53:50Z
Pijri Paijar
19487
320748
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" />{{rh|52|{{sp|''PENGHIDOEPAN''}}|}}</noinclude>
apa jang menjoerigaken?“
,Sama sekali tida. Semalem akoe rasaken
tidoer jang paling enak dan sanget njenjak."
-Apa kaoe memang ada seorang jang sa-
nget dojan tidoer?"
-
21
Tida Tida saben malem akoe bisa tidoer
begitoe njenjak."
-,,Tapi apa semalem kaoe tida dapet de-
nger soeara treakannja kaoe poenja njonja
madjikan?"
,,Tida."
,,Betoel-betoel kaoe tida denger? Sacepa-
manja njonja madjikanmoe benar-benar betreak,
apa kiranja kaoe bisa dapet denger?"
-
...Akoe rasa tentoe bisa denger djoega,
kerna antara kamarkoe dan kamarnja madjikan
tjoema kealingan satoe dinding tembok sadja."
Sampe di sitoe roepanja Sioe Kin soeda ilang
sabar dan laloe menegor sang detective dengen
soeara jang mengoendjoek koerang seneng :
,,Ach! Toean! Boekankah tadi pagi kaoe
soeda bikin pertanjahan-pertanjahan dengen te-
rang satoe per satoe: sedeng semoea kamar
djoega kaoe soeda preksa dengen teliti.
sekarang kombali kaoe maoe bikin pertanjahan-
pertanjahan lagi jang lebi melilit-lilit. Ada fae-
danja apa dalem itoe pengoesoetan?"
,,Maäf toean!" itoe detective berkata,,Maka
akoe kombali madjoeken poela itoe pertanja-
han-pertanjahan dengen lebi tjeriwis, sebab
akoe perloe ingin dapet taoe lebi banjak doe-<noinclude></noinclude>
hha8mrutmxec52o0vt4u750ufpuzhe5
Halaman:Keris (2014).pdf/73
104
116455
320749
2026-10-11T06:20:18Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320749
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>2.3.2 Budaya
Bilah keris Jawa memuat beberapa gagasan yang disematkan oleh
kebudayaan Jawa, sejak dari zaman Mataram kuno dan dilanjutkan oleh
dinasti-dinasti keraton Jawa hingga Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Telah
disinggung di atas bahwa ide awal fungsi keris adalah untuk senjata tusuk yang
pada mulanya dipergunakan dalam pertarungan jarak dekat. Selain untuk senjata
bertarung, seiring perkembangan zaman bilah keris juga mendapat tambahan
makna berturut-turut yang memperkaya gagasan pembuatan keris dalam
kebudayaan Jawa.
Bilah keris kuno yang ditemukan masih berupa senjata tusuk yang
gemuk pendek, tajam pada kedua sisinya, dan agak melengkung ke depan,
untuk memudahkan titik berat bilah memberi tekanan ketika digunakan untuk
menusuk. Bentuk itu lalu berkembang dengan tambahan bagian ganja, yang
ditengarai untuk melindungi genggaman tangan agar tidak terluka oleh kedua
sisi tajam bilahnya. Kemudian muncul ricikan awal pada bilah berupa pèjètan
dan gandhik, yang disusul oleh hadirnya ricikan tikel alis, dan sogokan.
Perbedaan bentuk bilah dengan tambahan ricikan-ricikan itu menyebabkan
timbulnya khazanah dhapur dalam perkerisan. Bentuk awal keris tersebut di atas
dikenal dengan dhapur Brojol Buda, kemudian setelah kemunculan ganja disebut
dhapur Sepang Buda, lalu bilah kuno yang gemuk dengan gandhik pèjètan dan
tikel alis dinamai dhapur Bethok Buda, sedangkan yang menggunakan tambahan
sogokan disebut dhapur Jalak Buda. Kata buda, yang menyertai nama-nama
bentuk awal dhapur keris tersebut, mengacu kepada dinasti Mataram Budha
Syailendra yang berkuasa di Jawa sekitar abad 8-9 M. Ditengarai pada masa
Mataram Budha, awal pemuliaan keris mulai berkembang, hingga penyebutan
untuk nama-nama dhapur keris zaman kuno diimbuhi kata buda (Budha).
(Harsrinuksmo, 1988; 19).
Tidak diketahui dengan jelas, kapan munculnya ricikan-ricikan tersebut
di atas dan apa makna simbol semiotiknya masing-masing, namun diperkirakan
sezaman dengan munculnya ide penambahan pamor pada bilah keris. Pamor adalah
aspek ide gagasan terpenting yang dijumpai dalam bilah keris, ialah berarti sebuah
unsur yang disatukan dengan unsur yang berbeda untuk kemudian bercampur
dalam satu bilah. Ide penambahan pamor pada bilah dipercaya mengacu pada
kepercayaan kuno yang menekankan pada keselarasan dua unsur kutub yang
berlawanan namun tetap harus ada dan sejalan (Rwa Bhineda, lingga-yoni).<noinclude>66 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris</noinclude>
nyub7bddln0kld3tf9t9rkpu4bggrv4
320809
320749
2026-10-11T07:23:33Z
VidiDhemas21
24365
320809
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>2.3.2 Budaya
Bilah keris Jawa memuat beberapa gagasan yang disematkan oleh
kebudayaan Jawa, sejak dari zaman Mataram kuno dan dilanjutkan oleh
dinasti-dinasti keraton Jawa hingga Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Telah
disinggung di atas bahwa ide awal fungsi keris adalah untuk senjata tusuk yang
pada mulanya dipergunakan dalam pertarungan jarak dekat. Selain untuk senjata
bertarung, seiring perkembangan zaman bilah keris juga mendapat tambahan
makna berturut-turut yang memperkaya gagasan pembuatan keris dalam
kebudayaan Jawa.
Bilah keris kuno yang ditemukan masih berupa senjata tusuk yang
gemuk pendek, tajam pada kedua sisinya, dan agak melengkung ke depan,
untuk memudahkan titik berat bilah memberi tekanan ketika digunakan untuk
menusuk. Bentuk itu lalu berkembang dengan tambahan bagian ganja, yang
ditengarai untuk melindungi genggaman tangan agar tidak terluka oleh kedua
sisi tajam bilahnya. Kemudian muncul ricikan awal pada bilah berupa pèjètan
dan gandhik, yang disusul oleh hadirnya ricikan tikel alis, dan sogokan.
Perbedaan bentuk bilah dengan tambahan ricikan-ricikan itu menyebabkan
timbulnya khazanah dhapur dalam perkerisan. Bentuk awal keris tersebut di atas
dikenal dengan dhapur Brojol Buda, kemudian setelah kemunculan ganja disebut
dhapur Sepang Buda, lalu bilah kuno yang gemuk dengan gandhik pèjètan dan
tikel alis dinamai dhapur Bethok Buda, sedangkan yang menggunakan tambahan
sogokan disebut dhapur Jalak Buda. Kata buda, yang menyertai nama-nama
bentuk awal dhapur keris tersebut, mengacu kepada dinasti Mataram Budha
Syailendra yang berkuasa di Jawa sekitar abad 8-9 M. Ditengarai pada masa
Mataram Budha, awal pemuliaan keris mulai berkembang, hingga penyebutan
untuk nama-nama dhapur keris zaman kuno diimbuhi kata buda (Budha).
(Harsrinuksmo, 1988; 19).
Tidak diketahui dengan jelas, kapan munculnya ricikan-ricikan tersebut
di atas dan apa makna simbol semiotiknya masing-masing, namun diperkirakan
sezaman dengan munculnya ide penambahan pamor pada bilah keris. Pamor adalah
aspek ide gagasan terpenting yang dijumpai dalam bilah keris, ialah berarti sebuah
unsur yang disatukan dengan unsur yang berbeda untuk kemudian bercampur
dalam satu bilah. Ide penambahan pamor pada bilah dipercaya mengacu pada
kepercayaan kuno yang menekankan pada keselarasan dua unsur kutub yang
berlawanan namun tetap harus ada dan sejalan (Rwa Bhineda, lingga-yoni).
{{rule}}
{{rh|66|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
44wvih3nfojrmsen6eubfdgtywt7wla
Halaman:Keris (2014).pdf/1
104
116456
320750
2026-10-11T06:30:47Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'MATERI MUATAN LOKAL BIDANG KEBUDAYAAN KERIS Unggu l Sudrajat Dony Satryo Wibowo'
320750
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>MATERI MUATAN LOKAL BIDANG KEBUDAYAAN
KERIS
Unggu l Sudrajat
Dony Satryo Wibowo<noinclude></noinclude>
j6xh5fy9g2pkl5l8kx386vibsez1u65
320751
320750
2026-10-11T06:31:16Z
Pijri Paijar
19487
320751
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>MATERI MUATAN LOKAL BIDANG KEBUDAYAAN
KERIS
Unggu l Sudrajat
Dony Satryo Wibowo<noinclude></noinclude>
aasbm6i2jujwe0ea2u09zynje4dt4xs
320752
320751
2026-10-11T06:31:52Z
Pijri Paijar
19487
/* Telah diuji baca */
320752
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>MATERI MUATAN LOKAL BIDANG KEBUDAYAAN
KERIS
Unggul Sudrajat
Dony Satryo Wibowo<noinclude></noinclude>
fnrc7tlu26cs6ozwdqy10dbssxk5gt8
320761
320752
2026-10-11T06:38:42Z
Pijri Paijar
19487
320761
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>MATERI MUATAN LOKAL BIDANG KEBUDAYAAN
<font size="30">'''Keris'''</font>
Unggul Sudrajat<br>
Dony Satryo Wibowo<noinclude></noinclude>
asco2u686wqtpuudco7j1r5a7xe5lzc
320802
320761
2026-10-11T07:20:30Z
VidiDhemas21
24365
/* Tervalidasi */
320802
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="VidiDhemas21" /></noinclude>MATERI MUATAN LOKAL BIDANG KEBUDAYAAN
<font size="30">'''Keris'''</font>
Unggul Sudrajat<br>
Dony Satryo Wibowo<noinclude></noinclude>
dd7bumivd29by438melezdqqqunk0wl
Halaman:Keris (2014).pdf/42
104
116457
320753
2026-10-11T06:33:28Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320753
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>Keris yang dibuat dengan jenis dhapur yang sama namun dibuat pada zaman yang berbeda dan dibuat di tempat yang berbeda, tentunya akan menghasilkan tampilan fisik bilah keris yang berbeda pula. Penampilan bilah keris dengan gaya zaman dan gaya kedaerahan tertentu disebut dengan istilah tangguh. Boleh jadi sebilah keris dengan ciri tangguh tertentu memang benar dibuat pada zaman dan daerah tangguh itu, tapi bisa juga sebenarnya hanya putran (duplikat), yang dibuat di zaman sesudahnya dan di daerah pembuatan yang berbeda.
Pengetahuan yang khusus memandu tentang tangguh keris sering disebut kawruh bab panangguhing dhuwung, biasanya bersumber dari tulisan-tulisan tertentu. Tulisan tentang tangguh keris yang menonjol adalah karya Mas Ngabehi Wirasoekadga, seorang abdi dalem mantri pandhé Kadipatèn Anom di Keraton Kasunanan Surakarta. Penaksiran tampilan dari suatu bilah keris, biasanya
digunakan deskripsi dan candra (di-candra) untuk memperoleh kepastian dari sikutan keris, yang disebut dengan pasikutan. Dengan demikian pasikutan berkaitan dengan telaah kritis terhadap bentuk, keserasian dan keindahan, keanggunan atau kemeriahan dari bilah keris, juga ketegasan penciptaan dari bilah, kesesuaian dengan pola, serta ketepatan dari kelengkapan-kelengkapan yang ada pada permukaan bilah keris.
Istilah untuk pasikutan yang biasa digunakan untuk menilai tampilan dari suatu bilah keris. Misalnya, penampilan yang kaku (janggal), wingit (angker), prigel (tangkas), sedheng (sedang), dhèmes (rapi mengesankan), wagu (kurang serasi), odhol/agal (kasar), kemba (hambar), tanpa semu (tidak berkesan), sereng (keras, galak), dan bagus (tampan). Keris-keris dengan tampilan semacam ini dianggap menggambarkan kreativitas karya-karya para empu, yang dapat dikelompokkan menurut zaman atau wilayah, kemudian bentukan-bentukannya yang terlihat menonjol yang oleh para ahli keris dibakukan dan dianggap sebagai suatu pola yang normatif.
Pembakuan penilaian ciri seperti itu tampaknya di samping dilakukan dengan cara menonjolkan ciri-ciri dari kemampuan garap tiap individu (maupun kolektif dari kelompok) empu pembuatnya, juga dianggap merepresentasikan karakter keris dari tangguh masing-masing 'wilayah'-nya itu (secara politik dan kultural). Tangguh merupakan suatu perkiraan yang berasal dari proses penerapan metode pasikutan, dengan memeriksa keadaan pembuatan ricikan
dan dhapur, serta dari tampilan lukisan motif gambar pamor, serta bahan logam besi dan baja yang digunakan.<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|35}}</noinclude>
a4z834chzzerwakfi1dzwl4tbce9gtp
320770
320753
2026-10-11T06:44:40Z
Dvnfit
20067
320770
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>Keris yang dibuat dengan jenis dhapur yang sama namun dibuat pada zaman yang berbeda dan dibuat di tempat yang berbeda, tentunya akan menghasilkan tampilan fisik bilah keris yang berbeda pula. Penampilan bilah keris dengan gaya zaman dan gaya kedaerahan tertentu disebut dengan istilah tangguh. Boleh jadi sebilah keris dengan ciri tangguh tertentu memang benar dibuat pada zaman dan daerah tangguh itu, tapi bisa juga sebenarnya hanya putran (duplikat), yang dibuat di zaman sesudahnya dan di daerah pembuatan yang berbeda.
Pengetahuan yang khusus memandu tentang tangguh keris sering disebut kawruh bab panangguhing dhuwung, biasanya bersumber dari tulisan-tulisan tertentu. Tulisan tentang tangguh keris yang menonjol adalah karya Mas Ngabehi Wirasoekadga, seorang abdi dalem mantri pandhé Kadipatèn Anom di Keraton Kasunanan Surakarta. Penaksiran tampilan dari suatu bilah keris, biasanya
digunakan deskripsi dan candra (di-candra) untuk memperoleh kepastian dari sikutan keris, yang disebut dengan pasikutan. Dengan demikian pasikutan berkaitan dengan telaah kritis terhadap bentuk, keserasian dan keindahan, keanggunan atau kemeriahan dari bilah keris, juga ketegasan penciptaan dari bilah, kesesuaian dengan pola, serta ketepatan dari kelengkapan-kelengkapan yang ada pada permukaan bilah keris.
Istilah untuk pasikutan yang biasa digunakan untuk menilai tampilan dari suatu bilah keris. Misalnya, penampilan yang kaku (janggal), wingit (angker), prigel (tangkas), sedheng (sedang), dhèmes (rapi mengesankan), wagu (kurang serasi), odhol/agal (kasar), kemba (hambar), tanpa semu (tidak berkesan), sereng (keras, galak), dan bagus (tampan). Keris-keris dengan tampilan semacam ini dianggap menggambarkan kreativitas karya-karya para empu, yang dapat dikelompokkan menurut zaman atau wilayah, kemudian bentukan-bentukannya yang terlihat menonjol yang oleh para ahli keris dibakukan dan dianggap sebagai suatu pola yang normatif.
Pembakuan penilaian ciri seperti itu tampaknya di samping dilakukan dengan cara menonjolkan ciri-ciri dari kemampuan garap tiap individu (maupun kolektif dari kelompok) empu pembuatnya, juga dianggap merepresentasikan karakter keris dari tangguh masing-masing 'wilayah'-nya itu (secara politik dan kultural). Tangguh merupakan suatu perkiraan yang berasal dari proses penerapan metode pasikutan, dengan memeriksa keadaan pembuatan ricikan
dan dhapur, serta dari tampilan lukisan motif gambar pamor, serta bahan logam besi dan baja yang digunakan.
{{Rule}}<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|35}}</noinclude>
en433qyh8dhyi7lzvolczaldgvn39vl
320805
320770
2026-10-11T07:21:29Z
Dvnfit
20067
320805
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>Keris yang dibuat dengan jenis dhapur yang sama namun dibuat pada zaman yang berbeda dan dibuat di tempat yang berbeda, tentunya akan menghasilkan tampilan fisik bilah keris yang berbeda pula. Penampilan bilah keris dengan gaya zaman dan gaya kedaerahan tertentu disebut dengan istilah tangguh. Boleh jadi sebilah keris dengan ciri tangguh tertentu memang benar dibuat pada zaman dan daerah tangguh itu, tapi bisa juga sebenarnya hanya putran (duplikat), yang dibuat di zaman sesudahnya dan di daerah pembuatan yang berbeda.
Pengetahuan yang khusus memandu tentang tangguh keris sering disebut kawruh bab panangguhing dhuwung, biasanya bersumber dari tulisan-tulisan tertentu. Tulisan tentang tangguh keris yang menonjol adalah karya Mas Ngabehi Wirasoekadga, seorang abdi dalem mantri pandhé Kadipatèn Anom di Keraton Kasunanan Surakarta. Penaksiran tampilan dari suatu bilah keris, biasanya digunakan deskripsi dan candra (di-candra) untuk memperoleh kepastian dari sikutan keris, yang disebut dengan pasikutan. Dengan demikian pasikutan berkaitan dengan telaah kritis terhadap bentuk, keserasian dan keindahan, keanggunan atau kemeriahan dari bilah keris, juga ketegasan penciptaan dari bilah, kesesuaian dengan pola, serta ketepatan dari kelengkapan-kelengkapan yang ada pada permukaan bilah keris.
Istilah untuk pasikutan yang biasa digunakan untuk menilai tampilan dari suatu bilah keris. Misalnya, penampilan yang kaku (janggal), wingit (angker), prigel (tangkas), sedheng (sedang), dhèmes (rapi mengesankan), wagu (kurang serasi), odhol/agal (kasar), kemba (hambar), tanpa semu (tidak berkesan), sereng (keras, galak), dan bagus (tampan). Keris-keris dengan tampilan semacam ini dianggap menggambarkan kreativitas karya-karya para empu, yang dapat dikelompokkan menurut zaman atau wilayah, kemudian bentukan-bentukannya yang terlihat menonjol yang oleh para ahli keris dibakukan dan dianggap sebagai suatu pola yang normatif.
Pembakuan penilaian ciri seperti itu tampaknya di samping dilakukan dengan cara menonjolkan ciri-ciri dari kemampuan garap tiap individu (maupun kolektif dari kelompok) empu pembuatnya, juga dianggap merepresentasikan karakter keris dari tangguh masing-masing 'wilayah'-nya itu (secara politik dan kultural). Tangguh merupakan suatu perkiraan yang berasal dari proses penerapan metode pasikutan, dengan memeriksa keadaan pembuatan ricikan dan dhapur, serta dari tampilan lukisan motif gambar pamor, serta bahan logam besi dan baja yang digunakan.
{{Rule}}<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|35}}</noinclude>
peftmw9txion31yoguj2vz8p8n6ywqe
Halaman:Keris (2014).pdf/2
104
116458
320754
2026-10-11T06:34:00Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan Keris Unggul Sudrajat Dony Satryo Wibowo {c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan PUSTAKA PELAJAR}'
320754
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan
Keris
Unggul Sudrajat
Dony Satryo Wibowo
{c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
PUSTAKA PELAJAR}<noinclude></noinclude>
78au23ukke8mwdsc8xr4ibbn509lobt
320756
320754
2026-10-11T06:34:23Z
Pijri Paijar
19487
320756
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan
Keris
Unggul Sudrajat
Dony Satryo Wibowo
{{c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
PUSTAKA PELAJAR}}<noinclude></noinclude>
3qbg1a1valjoac4z9hj742exvt4ghgn
320757
320756
2026-10-11T06:35:30Z
Pijri Paijar
19487
320757
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan
<font size="30">Keris</font>
Unggul Sudrajat
Dony Satryo Wibowo
{{c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
PUSTAKA PELAJAR}}<noinclude></noinclude>
n5yio5s5dgzjace65fguckyo0loj3c1
320758
320757
2026-10-11T06:37:05Z
Pijri Paijar
19487
/* Telah diuji baca */
320758
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan
<font size="28">Keris</font>
Unggul Sudrajat<br>
Dony Satryo Wibowo<br>
{{c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan<br>
Badan Penelitian dan Pengembangan<br>
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan<br>
PUSTAKA PELAJAR}}<noinclude></noinclude>
mkym11e5oxbxrtklwaww5np8tsdpkwo
320759
320758
2026-10-11T06:37:49Z
Pijri Paijar
19487
320759
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan
<font size="28">'''Keris'''</font>
Unggul Sudrajat<br>
Dony Satryo Wibowo<br>
{{c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan<br>
Badan Penelitian dan Pengembangan<br>
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan<br>
PUSTAKA PELAJAR}}<noinclude></noinclude>
09oy7gidb0ui67xfqc7p40vegq4wavq
320760
320759
2026-10-11T06:38:12Z
Pijri Paijar
19487
320760
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan
<font size="28">Keris</font>
Unggul Sudrajat<br>
Dony Satryo Wibowo<br>
{{c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan<br>
Badan Penelitian dan Pengembangan<br>
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan<br>
PUSTAKA PELAJAR}}<noinclude></noinclude>
mkym11e5oxbxrtklwaww5np8tsdpkwo
Halaman:Keris (2014).pdf/64
104
116459
320755
2026-10-11T06:34:08Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320755
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Jejeran nunggak semi Surakarta memiliki beberapa ragam wanda. Wanda
dalam seni rupa tradisional Jawa adalah pencirian karakter fisik antara satu jenis
bentuk dengan bentuk yang lainnya. Kerap perbedaan antar wanda sedemikian
detil hingga baru nampak bila disandingkan. Selain pada jejeran keris, wanda
juga dapat ditemui dalam wayang kulit purwa.
Di bawah ini adalah beberapa jenis wanda jejeran Surakarta.
1. Marasèba, disebut juga Gathutkaca Sèba, adalah jejeran yang paling menunduk
bagian kepalanya, yang mencerminkan sikap hormat bawahan pada atasannya,
atau anak muda kepada yang lebih tua. Jejeran ini biasa dipakai oleh para
pinisepuh yang sudah menjauhi duniawi dan abdi dalem yang menghadap
rajanya.
2. Pakubuwanan, bentuknya sedikit lebih tegak dari wanda Marasèba, dan melihat
dari namanya kemungkinan diciptakan pada awal dinasti Pakubuwanan (awal
abad ke-18). Wanda ini cocok dipadukan dengan warangka gayaman untuk
acara tidak formal.
3. Yudawinatan, adalah wanda yang paling populer dengan penampilan yang
elegan hingga pantas dikenakan oleh siapa saja, baik kurus maupun gemuk,
dari semua usia dan tingkatan sosial. Bentuk ini dibuat atas prakarsa Pangeran
Yudawinata pada pemerintahan Paku Buwana IX, dan cocok dirangkai dengan
warangka ladrang Kadipatèn atau gayaman.
4. Salembaran, yang juga agak menunduk tetapi tidak seekstrim wanda Marasèba,
dan berasal dari gaya jejer daerah Salembaran, Kotamadya Surakarta.
5. Cantheng, berbentuk khas dengan bagian kepalanya yang besar seperti ibu
jari yang membengkak (canthengen), dan sebaiknya dipadu dengan warangka
ladrang.
6. Longok, bentuknya agak mendongak hingga menampilkan kesan kekar dan
percaya diri. Wanda ini sebaiknya dipakai oleh para muda yang enerjik dan
bertubuh kekar.
7. Rajamala, adalah stilasi dari kepala wayang Rajamala yang dipakai di ujung
haluan perahu pesiar milik Keraton Surakarta.
8. Samba Keplayu, adalah jejeran yang paling mendongak hingga menampilkan
kesan ramping dan angkuh serta cocok dirangkai dengan warangka ladrang
Kacir. Bentuk ini sebaiknya dipakai oleh anak muda yang ramping dan aktif,
dan jangan dipakai oleh para sepuh yang sudah purnabakti.<noinclude>Sekilas Tentang Keris | 57</noinclude>
28k7dokf5sfqxe7jvi9c8zzewzblm4u
Halaman:Keris (2014).pdf/33
104
116460
320762
2026-10-11T06:40:10Z
Suga Widi
25678
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Sang Sultan terheran dan menanyakan tuah keris tersebut, lalu oleh Empu Galeng dipersilahkan menuju pengadilan. Sesampai di pengadilan, tersebutlah seorang terdakwa yang semula diam seribu bahasa menghadapi tuduhan jaksa, saat Sang Sultan hadir dengan keris pusaka barunya, terdakwa menjadi gempita seketika mengakui segala kejahatannya dengan kata-kata yang riuh dan gamblang, yang dalam bahasa Jawa disebut ngumyang/ngomyang. Sejak saat itu keris...
320762
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sang Sultan terheran dan menanyakan tuah keris tersebut, lalu oleh Empu Galeng dipersilahkan menuju pengadilan. Sesampai di pengadilan, tersebutlah seorang terdakwa yang semula diam seribu bahasa menghadapi tuduhan jaksa, saat Sang Sultan hadir dengan keris pusaka barunya, terdakwa menjadi gempita seketika mengakui segala kejahatannya dengan kata-kata yang riuh
dan gamblang, yang dalam bahasa Jawa disebut ngumyang/ngomyang. Sejak saat itu keris tersebut dinamakan keris Kiyai Umyang, dan Sang Empu Galeng mendapat julukan baru sebagai Empu Umyang. Namun ada sebagian pendapat
yang mengatakan bahwa keris Umyangpun tidak dapat disebut berkelok genap, karena luk pertamanya dimulai dari wadidang belakang, dan di sisi wadidang depan langsung membuncit tidak membentuk lekuk.
Berikut jenis dhapur keris luk, seperti disarikan dari Serat Centhini, (Harsrinuksmo, 2004;137-141), seperti di bawah ini:
a. Keris Lekuk 3-luk:
# Jangkung pacar dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambé gajah, kembang kacang, jénggot, sogokan panjang;
# Mahésa soka memiliki bentuk badan lebar dengan panjang sedang, dengan
kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambe gajah, kembang kacang, sogokan panjang, jenggot;
# Mahesa nempuh memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: greneng;
# Dhuwung memiliki bentuk badan keris bagian belakang membenjol, nglimpa sampai ujung bilah, dengan tan pa kelengkapan ciri ricikan;
# Mayat memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang, sogokan, sraweyan, ri pandhan, greneng;
# Jangkung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang,
gula milir, sogokan, ri pandhan;
# Tebu sauyun dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sraweyan, greneng;
# Baugo dholog memiliki gigir belakang bilah yang tumpul, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: lambe gajah susun, kembang kacang;
# Lar monga dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik naga gajah, lar paksi, pethit naga, ri pandhan susun;<noinclude>{{rh|26 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan:Keris}}</noinclude>
70bx1cqzenhhsjss3attx9zkbm0w0px
320769
320762
2026-10-11T06:44:21Z
Suga Widi
25678
320769
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sang Sultan terheran dan menanyakan tuah keris tersebut, lalu oleh Empu Galeng dipersilahkan menuju pengadilan. Sesampai di pengadilan, tersebutlah seorang terdakwa yang semula diam seribu bahasa menghadapi tuduhan jaksa, saat Sang Sultan hadir dengan keris pusaka barunya, terdakwa menjadi gempita seketika mengakui segala kejahatannya dengan kata-kata yang riuh
dan gamblang, yang dalam bahasa Jawa disebut ngumyang/ngomyang. Sejak saat itu keris tersebut dinamakan keris Kiyai Umyang, dan Sang Empu Galeng mendapat julukan baru sebagai Empu Umyang. Namun ada sebagian pendapat
yang mengatakan bahwa keris Umyangpun tidak dapat disebut berkelok genap, karena luk pertamanya dimulai dari wadidang belakang, dan di sisi wadidang depan langsung membuncit tidak membentuk lekuk.
Berikut jenis dhapur keris luk, seperti disarikan dari Serat Centhini, (Harsrinuksmo, 2004;137-141), seperti di bawah ini:
a. Keris Lekuk 3-luk:
# Jangkung pacar dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambé gajah, kembang kacang, jénggot, sogokan panjang;
# Mahésa soka memiliki bentuk badan lebar dengan panjang sedang, dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambe gajah, kembang kacang, sogokan panjang, jenggot;
# Mahesa nempuh memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: greneng;
# Dhuwung memiliki bentuk badan keris bagian belakang membenjol, nglimpa sampai ujung bilah, dengan tan pa kelengkapan ciri ricikan;
# Mayat memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang, sogokan, sraweyan, ri pandhan, greneng;
# Jangkung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, gula milir, sogokan, ri pandhan;
# Tebu sauyun dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sraweyan, greneng;
# Baugo dholog memiliki gigir belakang bilah yang tumpul, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: lambe gajah susun, kembang kacang;
# Lar monga dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik naga gajah, lar paksi, pethit naga, ri pandhan susun;<noinclude>{{rh|26 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan:Keris}}</noinclude>
flzac2618ly75br9s3p2e2tmu389p1m
320774
320769
2026-10-11T06:48:51Z
Suga Widi
25678
/* Telah diuji baca */
320774
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sang Sultan terheran dan menanyakan tuah keris tersebut, lalu oleh Empu Galeng dipersilahkan menuju pengadilan. Sesampai di pengadilan, tersebutlah seorang terdakwa yang semula diam seribu bahasa menghadapi tuduhan jaksa, saat Sang Sultan hadir dengan keris pusaka barunya, terdakwa menjadi gempita seketika mengakui segala kejahatannya dengan kata-kata yang riuh
dan gamblang, yang dalam bahasa Jawa disebut ngumyang/ngomyang. Sejak saat itu keris tersebut dinamakan keris Kiyai Umyang, dan Sang Empu Galeng mendapat julukan baru sebagai Empu Umyang. Namun ada sebagian pendapat
yang mengatakan bahwa keris Umyangpun tidak dapat disebut berkelok genap, karena luk pertamanya dimulai dari wadidang belakang, dan di sisi wadidang depan langsung membuncit tidak membentuk lekuk.
Berikut jenis dhapur keris luk, seperti disarikan dari Serat Centhini, (Harsrinuksmo, 2004;137-141), seperti di bawah ini:
a. Keris Lekuk 3-luk:
# Jangkung pacar dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambé gajah, kembang kacang, jénggot, sogokan panjang;
# Mahésa soka memiliki bentuk badan lebar dengan panjang sedang, dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambé gajah, kembang kacang, sogokan panjang, jénggot;
# Mahésa nempuh memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: greneng;
# Dhuwung memiliki bentuk badan keris bagian belakang membenjol, nglimpa sampai ujung bilah, dengan tanpa kelengkapan ciri ricikan;
# Mayat memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang, sogokan, srawéyan, ri pandhan, greneng;
# Jangkung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, gula milir, sogokan, ri pandhan;
# Tebu sauyun dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: srawéyan, greneng;
# Baugo dholog memiliki gigir belakang bilah yang tumpul, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: lambé gajah susun, kembang kacang;
# Lar monga dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik naga gajah, lar paksi, pethit naga, ri pandhan susun;<noinclude>{{rh|26 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan:Keris}}</noinclude>
rbn90bd41zjh77s8rr7b0a2q70kan0h
320843
320774
2026-10-11T07:37:06Z
Suga Widi
25678
320843
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sang Sultan terheran dan menanyakan tuah keris tersebut, lalu oleh Empu Galeng dipersilahkan menuju pengadilan. Sesampai di pengadilan, tersebutlah seorang terdakwa yang semula diam seribu bahasa menghadapi tuduhan jaksa, saat Sang Sultan hadir dengan keris pusaka barunya, terdakwa menjadi gempita seketika mengakui segala kejahatannya dengan kata-kata yang riuh
dan gamblang, yang dalam bahasa Jawa disebut ngumyang/ngomyang. Sejak saat itu keris tersebut dinamakan keris Kiyai Umyang, dan Sang Empu Galeng mendapat julukan baru sebagai Empu Umyang. Namun ada sebagian pendapat
yang mengatakan bahwa keris Umyangpun tidak dapat disebut berkelok genap, karena luk pertamanya dimulai dari wadidang belakang, dan di sisi wadidang depan langsung membuncit tidak membentuk lekuk.
Berikut jenis dhapur keris luk, seperti disarikan dari Serat Centhini, (Harsrinuksmo, 2004;137-141), seperti di bawah ini:
a. Keris Lekuk 3-luk:
# Jangkung pacar dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambé gajah, kembang kacang, jénggot, sogokan panjang;
# Mahésa soka memiliki bentuk badan lebar dengan panjang sedang, dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambé gajah, kembang kacang, sogokan panjang, jénggot;
# Mahésa nempuh memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: greneng;
# Dhuwung memiliki bentuk badan keris bagian belakang membenjol, nglimpa sampai ujung bilah, dengan tanpa kelengkapan ciri ricikan;
# Mayat memiliki bentuk badan sedang, dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang, sogokan, srawéyan, ri pandhan, greneng;
# Jangkung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, gula milir, sogokan, ri pandhan;
# Tebu sauyun dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: srawéyan, greneng;
# Baugo dholog memiliki gigir belakang bilah yang tumpul, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: lambé gajah susun, kembang kacang;
# Lar monga dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik naga gajah, lar paksi, pethit naga, ri pandhan susun;<noinclude>{{rh|26 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan:Keris}}</noinclude>
bsxreolsj0t9q7nyc0xsjxq2wt9t9eu
Halaman:Keris (2014).pdf/3
104
116461
320763
2026-10-11T06:41:10Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris Tim Penulis:<br> Unggul Sudrajat<br> Dony Satryo Wibowo<br> Cetakan pertama, Desember 2014 Desain & Layout:<br> Gilang Tri Subekti<br> Narasumber: Ir. Haryono Haryoguritno<br> Yayasan Damartaji Cakra Wira Wiyata, ST., MM.<br> SNKI Dr. Sumiyati<br> Puskurbuk Toni Junus<br> Panji Nusantara Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apa pu...
320763
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris
Tim Penulis:<br>
Unggul Sudrajat<br>
Dony Satryo Wibowo<br>
Cetakan pertama, Desember 2014
Desain & Layout:<br>
Gilang Tri Subekti<br>
Narasumber:
Ir. Haryono Haryoguritno<br>
Yayasan Damartaji
Cakra Wira Wiyata, ST., MM.<br>
SNKI
Dr. Sumiyati<br>
Puskurbuk
Toni Junus<br>
Panji Nusantara
Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apa pun untuk keperluan komersial tanpa izin tertulis dari penerbit
Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
bekerja sama dengan
PUSTAKA PELAJAR
ISBN: 978-602-229-448-1<noinclude></noinclude>
t42q3c9hktypptetm0t7aune0ed0fh6
320766
320763
2026-10-11T06:42:15Z
Pijri Paijar
19487
/* Telah diuji baca */
320766
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris
Tim Penulis:<br>
Unggul Sudrajat<br>
Dony Satryo Wibowo<br>
Cetakan pertama, Desember 2014
Desain & Layout:<br>
Gilang Tri Subekti<br>
Narasumber:
Ir. Haryono Haryoguritno<br>
Yayasan Damartaji
Cakra Wira Wiyata, ST., MM.<br>
SNKI
Dr. Sumiyati<br>
Puskurbuk
Toni Junus<br>
Panji Nusantara
Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apa pun untuk keperluan komersial tanpa izin tertulis dari penerbit
{{c|Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan<br>
Badan Penelitian dan Pengembangan<br> Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
bekerja sama dengan<br>
PUSTAKA PELAJAR<br>
ISBN: 978-602-229-448-1}}<noinclude></noinclude>
211bui4ut834khac3rv0ea9xyx8oyy7
Halaman:Keris (2014).pdf/75
104
116462
320764
2026-10-11T06:41:35Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320764
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Salah satu ritual nayuh, dengan meletakkan keris di bawah bantal diyakini
seorang pe-nayuh benar-benar mendapat gambaran karakter yoni melalui
media mimpi, walaupun mungkin memang harus dilakukan berulang kali.
Tayuh melalui mimpi tetap mengandung risiko, dengan kemungkinan bahwa
yang didapatnya itu sebenarnya bukan informasi asli dari yoni keris, melainkan
bisa juga dari makhluk halus maupun roh yang kebetulan mampir di situ, atau
mungkin hanya sugesti pribadinya saja (Koesni, Pakem Pengetahuan tentang
Keris, 2003; 16-17).
Cara lain untuk mengetahui cocok tidaknya yoni keris dengan calon
pemiliknya, biasanya dilakukan dengan mengukur bilah keris dengan jempol
ibu jari. Panjang bilah keris diukur mulai dari pangkal hingga ujungnya, dengan
satuan lebar ibu jari tangan calon pemilik, secara bergantian kiri dan kanan,
sambil dihitung berapa kali ibu jari itu menjejak hingga ujung runcingnya.
Jumlah hitungan menggunakan ibu jari itu, kemudian dikurangi kelipatan lima,
lalu sisanya dilihat menurut pètungan (perhitungan) di bawah ini:
1. Siti: berarti pusaka itu baik dan teduh untuk dimilikinya, serta mendapatkan
izin dari Tuhan untuk mendapat manfaatnya.
2. Sengkali: berarti pusaka itu diizinkan oleh Tuhan untuk dapat menolongnya,
namun bila pemiliknya marah akan membahayakan.
3. Arjuna Mangan Ati: berarti pusaka itu diizinkan Tuhan sangat hebat
kesaktiannya, namun membawa sifat pemarah.
4. Randha Tunggu Donya: berarti pusaka itu diizinkan Tuhan dapat
memudahkannya dalam mencapai kemakmuran.
5. Dhandhang Tunggu Nyawa: berarti pemiliknya akan mandapat efek buruk
dari pusaka itu. (Romo RDS Ranoewidjojo, Primbon Masa Kini, 2009; 120).
Perlakuan khusus secara berkala diperlukan juga untuk membersihkan
dan merawat bilah keris dari kotoran dan karat yang membahayakan keutuhan
bilah. Biasanya pemberian minyak keris pada saat-saat tertentu tiap selapan (35
hari) sekali, diniatkan untuk mencegah korosi karat dan kotoran. Pemilihan hari,
dapat mengambil hari pasaran Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon yang dipercaya
memiliki makna khusus bagi orang Jawa. (Ranoewidjojo, 2009; 22-23). Namun
waktu pemberian minyak dan sesaji, dapat juga memilih hari pasaran dari weton
kelahiran si pemilik sendiri.<noinclude>68 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris</noinclude>
e6dhqunybhcgwmyczymxeyrkpptewmc
320811
320764
2026-10-11T07:24:12Z
VidiDhemas21
24365
320811
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Salah satu ritual nayuh, dengan meletakkan keris di bawah bantal diyakini
seorang pe-nayuh benar-benar mendapat gambaran karakter yoni melalui
media mimpi, walaupun mungkin memang harus dilakukan berulang kali.
Tayuh melalui mimpi tetap mengandung risiko, dengan kemungkinan bahwa
yang didapatnya itu sebenarnya bukan informasi asli dari yoni keris, melainkan
bisa juga dari makhluk halus maupun roh yang kebetulan mampir di situ, atau
mungkin hanya sugesti pribadinya saja (Koesni, Pakem Pengetahuan tentang
Keris, 2003; 16-17).
Cara lain untuk mengetahui cocok tidaknya yoni keris dengan calon
pemiliknya, biasanya dilakukan dengan mengukur bilah keris dengan jempol
ibu jari. Panjang bilah keris diukur mulai dari pangkal hingga ujungnya, dengan
satuan lebar ibu jari tangan calon pemilik, secara bergantian kiri dan kanan,
sambil dihitung berapa kali ibu jari itu menjejak hingga ujung runcingnya.
Jumlah hitungan menggunakan ibu jari itu, kemudian dikurangi kelipatan lima,
lalu sisanya dilihat menurut pètungan (perhitungan) di bawah ini:
1. Siti: berarti pusaka itu baik dan teduh untuk dimilikinya, serta mendapatkan
izin dari Tuhan untuk mendapat manfaatnya.
2. Sengkali: berarti pusaka itu diizinkan oleh Tuhan untuk dapat menolongnya,
namun bila pemiliknya marah akan membahayakan.
3. Arjuna Mangan Ati: berarti pusaka itu diizinkan Tuhan sangat hebat
kesaktiannya, namun membawa sifat pemarah.
4. Randha Tunggu Donya: berarti pusaka itu diizinkan Tuhan dapat
memudahkannya dalam mencapai kemakmuran.
5. Dhandhang Tunggu Nyawa: berarti pemiliknya akan mandapat efek buruk
dari pusaka itu. (Romo RDS Ranoewidjojo, Primbon Masa Kini, 2009; 120).
Perlakuan khusus secara berkala diperlukan juga untuk membersihkan
dan merawat bilah keris dari kotoran dan karat yang membahayakan keutuhan
bilah. Biasanya pemberian minyak keris pada saat-saat tertentu tiap selapan (35
hari) sekali, diniatkan untuk mencegah korosi karat dan kotoran. Pemilihan hari,
dapat mengambil hari pasaran Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon yang dipercaya
memiliki makna khusus bagi orang Jawa. (Ranoewidjojo, 2009; 22-23). Namun
waktu pemberian minyak dan sesaji, dapat juga memilih hari pasaran dari weton
kelahiran si pemilik sendiri.
{{rule}}
{{rh|68|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
f6fez4aujgbjruttv55o8epb5h512jr
Halaman:Keris (2014).pdf/41
104
116463
320765
2026-10-11T06:41:43Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320765
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>h. Keris lekuk 17-luk:
# Ngamperbuta dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: dua kembang kacang, satu lambé gajah;
# Lancingan dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang, sor-soran pinekak;
i. Keris Lekuk 19-luk:
# Trimurda dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: tikel alis
j. Keris Lekuk 21-luk:
# Kala tinantang dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambé gajah, sogokan, greneng;
# Trisirah dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu lambé gajah, tikel alis, sogokan
k. Keris Lekuk 25-luk:
# Bima kurdha dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, sogokan, ri pandhan.
l. Keris Lekuk 27-luk:
# Tagawirun dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, sogokan, ri pandhan.
m. Keris 29-luk:
# Kala bendu dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, sogokan, ri pandhan.
{{Rule}}<noinclude>{{rh|34|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keriseriseris}}</noinclude>
cbq5dcylspxhms610z6cmhhiasiizra
320767
320765
2026-10-11T06:43:42Z
Dvnfit
20067
320767
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>h. Keris lekuk 17-luk:
# Ngamperbuta dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: dua kembang kacang, satu lambé gajah;
# Lancingan dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang, sor-soran pinekak;
i. Keris Lekuk 19-luk:
# Trimurda dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: tikel alis
j. Keris Lekuk 21-luk:
# Kala tinantang dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambé gajah, sogokan, greneng;
# Trisirah dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu lambé gajah, tikel alis, sogokan
k. Keris Lekuk 25-luk:
# Bima kurdha dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, sogokan, ri pandhan.
l. Keris Lekuk 27-luk:
# Tagawirun dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, sogokan, ri pandhan.
m. Keris 29-luk:
# Kala bendu dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, sogokan, ri pandhan.
{{Rule}}<noinclude>{{rh|34|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
pw5fpr1bjf2s5zvvfjulzddjf9rk2xs
Halaman:Keris (2014).pdf/141
104
116464
320768
2026-10-11T06:43:51Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '{{Missing image}} Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014) {{Missing image}} Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014) {{Missing image}} Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014) 1321'
320768
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>{{Missing image}}
Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu
(capture video bahan ajar keris ,2014)
{{Missing image}}
Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka
dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)
{{Missing image}}
Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel
(capture video bahan ajar keris ,2014)
1321<noinclude></noinclude>
6c783cc6j7t3jt0pih8vpjidtq780g9
320771
320768
2026-10-11T06:46:25Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */
320771
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>{{Missing image}}
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude></noinclude>
qklrsdtnx8zokrexqr2eocowl99iaqg
320773
320771
2026-10-11T06:48:07Z
Pijri Paijar
19487
/* Telah diuji baca */
320773
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>{{Missing image}}
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|{{sp|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}|}}</noinclude>
94zavys2h2ddw8gokatx4rlauxes8di
320775
320773
2026-10-11T06:48:52Z
Pijri Paijar
19487
320775
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>{{Missing image}}
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|{{c|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}|}}</noinclude>
iqkjkqdgk8dbabhfnceg36exm6u1627
320776
320775
2026-10-11T06:49:23Z
Pijri Paijar
19487
320776
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>{{Missing image}}
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
efcsvlvnnbxgahk1zwpyvx9uunnzzab
320784
320776
2026-10-11T07:07:48Z
Pijri Paijar
19487
320784
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
pmofkglyvzj8bo2wuep3gz4q2md9zxh
320786
320784
2026-10-11T07:08:45Z
Pijri Paijar
19487
320786
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|thumb|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
0m4et5svhbtrptqjshpjd55abz9ghjt
320787
320786
2026-10-11T07:09:09Z
Pijri Paijar
19487
320787
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
imt2xj3ts2qsn1xo7q0p0dkjdwlgt40
320788
320787
2026-10-11T07:09:49Z
Pijri Paijar
19487
320788
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
gaugij7ewjbi277nqzc2dp56ofassxj
320790
320788
2026-10-11T07:11:27Z
Pijri Paijar
19487
320790
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[Keris (2014) (page 141 crop) 2.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
5v5niju6preufdbwzbyvbe6u7m50i93
320792
320790
2026-10-11T07:11:44Z
Pijri Paijar
19487
320792
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 2.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Missing image}}
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
5ck330dyseuy44qq87s5x7udglyry18
320794
320792
2026-10-11T07:13:39Z
Pijri Paijar
19487
320794
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 2.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 3.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
0lvrx8untepcrhq9yig9kvw7o1lra4w
320830
320794
2026-10-11T07:31:21Z
Pijri Paijar
19487
320830
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 2.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 3.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Rule}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
msgfr3b4pb7eqsycy7zlw67ek8v2fqd
320831
320830
2026-10-11T07:32:04Z
Pijri Paijar
19487
320831
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 2.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 3.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Rule}}<noinclude>{{rh||132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
3aqdleplw99jxqigximp1fkff89cm45
320837
320831
2026-10-11T07:34:26Z
Pijri Paijar
19487
320837
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 2.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 3.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Rule}}<noinclude>{{rh||132||Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
qihxgj2tc5ntw2e5alhn43vo64r91i0
320839
320837
2026-10-11T07:34:51Z
Pijri Paijar
19487
320839
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 141 crop).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 107. Penggambaran pola warangka keris pada bahan kayu (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 2.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 108. Pemotongan bahan kayu sesuai gambar pola warangka dengan menggunakan gergaji. (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Keris (2014) (page 141 crop) 3.jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 109. Penghalusan bentuk warangka dengan menggunakan pethel (capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Rule}}<noinclude>{{rh|132|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
msgfr3b4pb7eqsycy7zlw67ek8v2fqd
Halaman:Keris (2014).pdf/76
104
116465
320772
2026-10-11T06:47:43Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320772
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Perawatan jangka panjang dengan jamasan disertai proses marangi,
dibutuhkan untuk pemulihan kondisi bilah yang sudah kotor dan berkarat, supaya
kembali baru seperti dulu saat dilahirkan dari besalen oleh sang empu keris.
Jamasan pusaka, yang biasa dilakukan setahun sekali pada tiap tanggal 1 Sura
tahun Jawa, digunakan untuk menjaga kondisi bilah sebagai lingga yang menjadi
tempat kediaman yoni keris, selain untuk menampilkan kembali kekontrasan
warna hitam dan putih antara besi dan pamor sebagai simbol penyatuan lingga
dan yoni dalam keris.
Tiap awal tahun baru Jawa, keris disucikan selain untuk keperluan pembersihan
bilah dan pelestarian yoni, juga untuk refleksi diri bagi pemiliknya. Kesalahan dan
kekurangan yang dilakukan pemilik keris selama setahun ke belakang, dapat teringat
secara detail saat meneliti noda karat dan kotoran yang melekat pada bilah. Introspeksi
dan pencarian kembali kemumian yang suci terinspirasikan ketika proses jamasan
dan marangi dilakukan. Saat bilah kembali bersih dengan warna pamor yang putih
bersih, kontras dengan warna hitam besi, pemilik telah mendapatkan dukungan
sugesti untuk menghadapi masa setahun ke depan, dan memberi kepercayaan atas
kemampuan dirinya mengenali hitam dan putih kehidupan.
Bilah keris dengan karakter yoni tertentu biasa dinamai dengan julukan
khusus yang disesuaikan dengan karakteryoni keris, jenis dhapur, atau pamor-nya.
Pemberian nama dapat dilakukan langsung oleh empu pembuatnya atau pemilik
pertamanya. Namun dapat juga diberi nama baru, yang disusulkan oleh pemilik
berikutnya, atau atas kehendak raja dan bangsawan tinggi yang memegang titah.
Umumnya penamaan keris pusaka memakai gelar 'kyai' di depan namanya, dan
dapat juga memakai gelar 'nyai' apabila yoni yang ada di dalam keris dipercaya
berkarakter perempuan. Pusaka-pusaka tertentu di dalam lingkungan keraton
berhak menyandang gelar istimewa, dengan penyantuman 'kanjeng kyai' di
depan namanya. Untuk pusaka yang paling tinggi kedudukannya dalam tradisi
keraton, maka disematkan gelar 'kanjeng kyai ageng' di depan namanya.
Dua bilah keris dengan yoni yang saling melengkapi biasanya dapat
dikatakan sejodoh atau seperti suami isteri. Pasangan pusaka dengan yoni yang
berhubungan, dapat sengaja dipasangkan oleh empu yang membuat dua bilah
sekaligus, atau belakangan dijodohkan oleh para linuwih yang mengetahui
tentang rahasia yoni. Pusaka yang dianggap sejodoh ini biasanya memiliki nama
yang sama dan hanya dibedakan dengan gelar 'kyai' clan 'nyai' saja. Namun
ada juga yang nama 'kyai'-nya berbeda dengan nama keris yang menjadi 'nyai'.
Penjodohan pusaka dapat berupa dua keris yang benar-benar kembar wujud
dhapur dan pamor-nya, atau dapat juga antara dua keris yang berbeda sama
sekali dhapur dan pamor-nya, yang memang sengaja dipasangkan untuk saling<noinclude>Sekilas Tentang Keris | 69</noinclude>
g8lr7jxgdkjeshajp1jsujlh52ny1r6
320813
320772
2026-10-11T07:25:05Z
VidiDhemas21
24365
320813
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Perawatan jangka panjang dengan jamasan disertai proses marangi,
dibutuhkan untuk pemulihan kondisi bilah yang sudah kotor dan berkarat, supaya
kembali baru seperti dulu saat dilahirkan dari besalen oleh sang empu keris.
Jamasan pusaka, yang biasa dilakukan setahun sekali pada tiap tanggal 1 Sura
tahun Jawa, digunakan untuk menjaga kondisi bilah sebagai lingga yang menjadi
tempat kediaman yoni keris, selain untuk menampilkan kembali kekontrasan
warna hitam dan putih antara besi dan pamor sebagai simbol penyatuan lingga
dan yoni dalam keris.
Tiap awal tahun baru Jawa, keris disucikan selain untuk keperluan pembersihan
bilah dan pelestarian yoni, juga untuk refleksi diri bagi pemiliknya. Kesalahan dan
kekurangan yang dilakukan pemilik keris selama setahun ke belakang, dapat teringat
secara detail saat meneliti noda karat dan kotoran yang melekat pada bilah. Introspeksi
dan pencarian kembali kemumian yang suci terinspirasikan ketika proses jamasan
dan marangi dilakukan. Saat bilah kembali bersih dengan warna pamor yang putih
bersih, kontras dengan warna hitam besi, pemilik telah mendapatkan dukungan
sugesti untuk menghadapi masa setahun ke depan, dan memberi kepercayaan atas
kemampuan dirinya mengenali hitam dan putih kehidupan.
Bilah keris dengan karakter yoni tertentu biasa dinamai dengan julukan
khusus yang disesuaikan dengan karakteryoni keris, jenis dhapur, atau pamor-nya.
Pemberian nama dapat dilakukan langsung oleh empu pembuatnya atau pemilik
pertamanya. Namun dapat juga diberi nama baru, yang disusulkan oleh pemilik
berikutnya, atau atas kehendak raja dan bangsawan tinggi yang memegang titah.
Umumnya penamaan keris pusaka memakai gelar 'kyai' di depan namanya, dan
dapat juga memakai gelar 'nyai' apabila yoni yang ada di dalam keris dipercaya
berkarakter perempuan. Pusaka-pusaka tertentu di dalam lingkungan keraton
berhak menyandang gelar istimewa, dengan penyantuman 'kanjeng kyai' di
depan namanya. Untuk pusaka yang paling tinggi kedudukannya dalam tradisi
keraton, maka disematkan gelar 'kanjeng kyai ageng' di depan namanya.
Dua bilah keris dengan yoni yang saling melengkapi biasanya dapat
dikatakan sejodoh atau seperti suami isteri. Pasangan pusaka dengan yoni yang
berhubungan, dapat sengaja dipasangkan oleh empu yang membuat dua bilah
sekaligus, atau belakangan dijodohkan oleh para linuwih yang mengetahui
tentang rahasia yoni. Pusaka yang dianggap sejodoh ini biasanya memiliki nama
yang sama dan hanya dibedakan dengan gelar 'kyai' clan 'nyai' saja. Namun
ada juga yang nama 'kyai'-nya berbeda dengan nama keris yang menjadi 'nyai'.
Penjodohan pusaka dapat berupa dua keris yang benar-benar kembar wujud
dhapur dan pamor-nya, atau dapat juga antara dua keris yang berbeda sama
sekali dhapur dan pamor-nya, yang memang sengaja dipasangkan untuk saling
{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|69}}<noinclude>Sekilas Tentang Keris | 69</noinclude>
d4q3yny4ow15zgl0ily933ij94prkm2
320814
320813
2026-10-11T07:25:18Z
VidiDhemas21
24365
320814
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Perawatan jangka panjang dengan jamasan disertai proses marangi,
dibutuhkan untuk pemulihan kondisi bilah yang sudah kotor dan berkarat, supaya
kembali baru seperti dulu saat dilahirkan dari besalen oleh sang empu keris.
Jamasan pusaka, yang biasa dilakukan setahun sekali pada tiap tanggal 1 Sura
tahun Jawa, digunakan untuk menjaga kondisi bilah sebagai lingga yang menjadi
tempat kediaman yoni keris, selain untuk menampilkan kembali kekontrasan
warna hitam dan putih antara besi dan pamor sebagai simbol penyatuan lingga
dan yoni dalam keris.
Tiap awal tahun baru Jawa, keris disucikan selain untuk keperluan pembersihan
bilah dan pelestarian yoni, juga untuk refleksi diri bagi pemiliknya. Kesalahan dan
kekurangan yang dilakukan pemilik keris selama setahun ke belakang, dapat teringat
secara detail saat meneliti noda karat dan kotoran yang melekat pada bilah. Introspeksi
dan pencarian kembali kemumian yang suci terinspirasikan ketika proses jamasan
dan marangi dilakukan. Saat bilah kembali bersih dengan warna pamor yang putih
bersih, kontras dengan warna hitam besi, pemilik telah mendapatkan dukungan
sugesti untuk menghadapi masa setahun ke depan, dan memberi kepercayaan atas
kemampuan dirinya mengenali hitam dan putih kehidupan.
Bilah keris dengan karakter yoni tertentu biasa dinamai dengan julukan
khusus yang disesuaikan dengan karakteryoni keris, jenis dhapur, atau pamor-nya.
Pemberian nama dapat dilakukan langsung oleh empu pembuatnya atau pemilik
pertamanya. Namun dapat juga diberi nama baru, yang disusulkan oleh pemilik
berikutnya, atau atas kehendak raja dan bangsawan tinggi yang memegang titah.
Umumnya penamaan keris pusaka memakai gelar 'kyai' di depan namanya, dan
dapat juga memakai gelar 'nyai' apabila yoni yang ada di dalam keris dipercaya
berkarakter perempuan. Pusaka-pusaka tertentu di dalam lingkungan keraton
berhak menyandang gelar istimewa, dengan penyantuman 'kanjeng kyai' di
depan namanya. Untuk pusaka yang paling tinggi kedudukannya dalam tradisi
keraton, maka disematkan gelar 'kanjeng kyai ageng' di depan namanya.
Dua bilah keris dengan yoni yang saling melengkapi biasanya dapat
dikatakan sejodoh atau seperti suami isteri. Pasangan pusaka dengan yoni yang
berhubungan, dapat sengaja dipasangkan oleh empu yang membuat dua bilah
sekaligus, atau belakangan dijodohkan oleh para linuwih yang mengetahui
tentang rahasia yoni. Pusaka yang dianggap sejodoh ini biasanya memiliki nama
yang sama dan hanya dibedakan dengan gelar 'kyai' clan 'nyai' saja. Namun
ada juga yang nama 'kyai'-nya berbeda dengan nama keris yang menjadi 'nyai'.
Penjodohan pusaka dapat berupa dua keris yang benar-benar kembar wujud
dhapur dan pamor-nya, atau dapat juga antara dua keris yang berbeda sama
sekali dhapur dan pamor-nya, yang memang sengaja dipasangkan untuk saling
{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|69}}<noinclude></noinclude>
26j4lrzuitb5l3xg1pc9w2osiz3ozdu
Halaman:Keris (2014).pdf/43
104
116466
320777
2026-10-11T06:52:48Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320777
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>Berikut di bawah ini adalah pengelompokan tangguh keris keris berdasarkan wilayah dan zaman dengan ciri-ciri dari tampilan, bahan-bahan yang digunakan, dan teknik pembuatannya berdasarkan uraian Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (2004; 460-463), dan S. Lumintu dalam Tangguh dan Nama Empu keris (2002; 3-10).
a. Tangguh Pejajaran, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan kaku, dasar besi kering, keluarnya pamor tancep pandhes dan lembut;
b. Tangguh Majapahit, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan wingit, berkesan prigel, lumer, dasar besi kering kebiruan, pamor tancep pandhes;
c. Tangguh Blambangan, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan rapi mengesankan, besi seakan basah, pamor nggajih tetapi tancep pandhes;
d. Tangguh Sedayu, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan sedikit rapi mengesankan, besi basah kurang guwaya, pamor kurang tancep dan mengambang;
e. Tangguh Tuban, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan sedang, besi gangsing, pamor pandhes mungal, dan patut;
f. Tangguh Sendhang, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan kurang serasi, besi terasa basah, pamor mengambang;
g. Tangguh Demak, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan wingit, besi basah, pamor mengambang;
h. Tangguh Pajang, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan kemba, besi odhol gangsing, pamor tidak berhasil berkembang secara baik;
i. Tangguh Koripan, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan kemba tidak berkesan, hbesi gangsing, pamor adeg kebanyakan nyanak;
j. Tangguh Madura, dengan gejala ciri tampilan: pasikutan dhemes pantes, besi kengkeng matang ladak, pamor mungal banyak yang nggalih, keras dan tajam jika diraba, dengan watak kurang tua, dikhawatirkan akan dapat patah jika terkena serangan (tan watak kurang sepuh, para tugel lamun tinempuh pakewuh);
k. Tangguh Mataram ada dua bentuk. Pada Mataram Senapaten dengan ciri pasikutan prigel dan bagus, besi agak kebiruan, besi kering halus, pamor tancep pandhes, ngawat, kencang dan keras. Bentuk lainnya adalah Mataram Sultanagungan dengan gejala ciri, pasikutan dhemes bagus, besi agak mentah, pamor kebanyakan mubyar putih.
{{Rule}}<noinclude>{{rh|36|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
joz7i41m8lcdu3wvne45fdkdasn9f1a
Halaman:Keris (2014).pdf/28
104
116467
320778
2026-10-11T06:54:09Z
Ony3345
26456
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada clan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br> <p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;"> Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di...
320778
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada clan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;">
Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di wilayah Surakarta hanya memakai 54 macam dhapur keris yang kemudian dibakukan di daerah itu. Menurut Raffles yang lebih meneliti wilayah Yogyakarta,dan hasil penelitiannya yang dituangkan dalam bukunya The History of Java, ia hanya mendapati 52 jenis dhapur keris. Sebenarnya banyak sekali ditemukan macam dhapur pada jenis bentuk keris lurus, yang jika dikumpulkan dapat mencapai 380 macam dhapur. Namun ada beberapa nama dhapur keris lurus yang tertulis di dalam kitab-kitab sastra Jawa yang menjadi patokan dalam pakem budaya keris, terutama yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana yang tercantum di dalam 'Serat Centhini', Ngabei Ranggasutrasna,
Centhini, Tambangraras-Amongraga, Jilid Ill, (Pupuh 236; bait 1-36).</p>
<br>
Macam-macam bentuk keris bilah lurus setelah disarikan adalah sebagai berikut:
{{Ordered list | list_style_type=lower-alpha | Bethok memiliki bentuk awak-awakan keris yang pendek clan lebar, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang (bentuknya kurang menyenangkan), tikel alis pendek. | Brojol bentuk bilahnya lugu clan polos, sehingga hanya dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : pejetan; | Condhong campur dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan : lambe
gajah, kembang kacang, greneng, gusen, dua sogokan sampai ujung bilah; | Jaka Iola memperlihatkan ujung bilah ke depan, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan : sogokan depan, greneng; | Jaka tuwa dengan awak-awakan bentuk tilam upih , dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: tikel alis clan sogokan; | Jalak dhindhing dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, pejetan,
thingil; | Jalak ngore dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan yaitu: sraweyan, greneng; | Jalak nguwuh dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gusen, ada-ada,
pejetan (belakang), thingil; | Jalak sangu tumpeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan,
sraweyan, thingil;}}<noinclude>Sekilas Tentang Keris
21</noinclude>
c21ln4wysj1bh0jqa84qep0hjsr2nsn
320782
320778
2026-10-11T07:03:40Z
Ony3345
26456
320782
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada clan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;">
Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di wilayah Surakarta hanya memakai 54 macam dhapur keris yang kemudian dibakukan di daerah itu. Menurut Raffles yang lebih meneliti wilayah Yogyakarta,dan hasil penelitiannya yang dituangkan dalam bukunya The History of Java, ia hanya mendapati 52 jenis dhapur keris. Sebenarnya banyak sekali ditemukan macam dhapur pada jenis bentuk keris lurus, yang jika dikumpulkan dapat mencapai 380 macam dhapur. Namun ada beberapa nama dhapur keris lurus yang tertulis di dalam kitab-kitab sastra Jawa yang menjadi patokan dalam pakem budaya keris, terutama yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana yang tercantum di dalam 'Serat Centhini', Ngabei Ranggasutrasna,
Centhini, Tambangraras-Amongraga, Jilid Ill, (Pupuh 236; bait 1-36).</p>
<br>
Macam-macam bentuk keris bilah lurus setelah disarikan adalah sebagai berikut:
{{Ordered list | list_style_type=lower-alpha | Bethok memiliki bentuk awak-awakan keris yang pendek clan lebar, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang (bentuknya kurang menyenangkan), tikel alis pendek. | Brojol bentuk bilahnya lugu clan polos, sehingga hanya dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : pejetan; | Condhong campur dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan : lambe
gajah, kembang kacang, greneng, gusen, dua sogokan sampai ujung bilah; | Jaka Iola memperlihatkan ujung bilah ke depan, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan : sogokan depan, greneng; | Jaka tuwa dengan awak-awakan bentuk tilam upih , dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: tikel alis clan sogokan; | Jalak dhindhing dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, pejetan,
thingil; | Jalak ngore dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan yaitu: sraweyan, greneng; | Jalak nguwuh dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gusen, ada-ada,
pejetan (belakang), thingil; | Jalak sangu tumpeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan,
sraweyan, thingil;}}<noinclude>{{rule}}
Sekilas Tentang Keris
21
{{center | Sekilas Tentang Keris}}{{right | 21}}</noinclude>
l68eaj9q35wu23qqhmdoeqln4ssuiqj
320793
320782
2026-10-11T07:13:33Z
Ony3345
26456
320793
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada clan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;">
Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di wilayah Surakarta hanya memakai 54 macam dhapur keris yang kemudian dibakukan di daerah itu. Menurut Raffles yang lebih meneliti wilayah Yogyakarta,dan hasil penelitiannya yang dituangkan dalam bukunya The History of Java, ia hanya m
Kaki (tanpa inklusi):endapati 52 jenis dhapur keris. Sebenarnya banyak sekali ditemukan macam dhapur pada jenis bentuk keris lurus, yang jika dikumpulkan dapat mencapai 380 macam dhapur. Namun ada beberapa nama dhapur keris lurus yang tertulis di dalam kitab-kitab sastra Jawa yang menjadi patokan dalam pakem budaya keris, terutama yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana yang tercantum di dalam 'Serat Centhini', Ngabei Ranggasutrasna,
Centhini, Tambangraras-Amongraga, Jilid Ill, (Pupuh 236; bait 1-36).</p>
<br>
Macam-macam bentuk keris bilah lurus setelah disarikan adalah sebagai berikut:
{{Ordered list | list_style_type=lower-alpha | Bethok memiliki bentuk awak-awakan keris yang pendek clan lebar, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang (bentuknya kurang menyenangkan), tikel alis pendek. | Brojol bentuk bilahnya lugu clan polos, sehingga hanya dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : pejetan; | Condhong campur dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan : lambe
gajah, kembang kacang, greneng, gusen, dua sogokan sampai ujung bilah; | Jaka Iola memperlihatkan ujung bilah ke depan, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan : sogokan depan, greneng; | Jaka tuwa dengan awak-awakan bentuk tilam upih , dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: tikel alis clan sogokan; | Jalak dhindhing dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, pejetan,
thingil; | Jalak ngore dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan yaitu: sraweyan, greneng; | Jalak nguwuh dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gusen, ada-ada,
pejetan (belakang), thingil; | Jalak sangu tumpeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan,
sraweyan, thingil;}}<noinclude>{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|21}}</noinclude>
d22kgoy807f3xglrw5v7h1bwtpnb59w
320798
320793
2026-10-11T07:19:33Z
Ony3345
26456
320798
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada clan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: left;">
Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di wilayah Surakarta hanya memakai 54 macam dhapur keris yang kemudian dibakukan di daerah itu. Menurut Raffles yang lebih meneliti wilayah Yogyakarta,dan hasil penelitiannya yang dituangkan dalam bukunya The History of Java, ia hanya mendapati 52 jenis dhapur keris. Sebenarnya banyak sekali ditemukan macam dhapur pada jenis bentuk keris lurus, yang jika dikumpulkan dapat mencapai 380 macam dhapur. Namun ada beberapa nama dhapur keris lurus yang tertulis di dalam kitab-kitab sastra Jawa yang menjadi patokan dalam pakem budaya keris, terutama yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana yang tercantum di dalam 'Serat Centhini', Ngabei Ranggasutrasna,
Centhini, Tambangraras-Amongraga, Jilid Ill, (Pupuh 236; bait 1-36).</p>
<br>
Macam-macam bentuk keris bilah lurus setelah disarikan adalah sebagai berikut:
{{Ordered list | list_style_type=lower-alpha | Bethok memiliki bentuk awak-awakan keris yang pendek clan lebar, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang (bentuknya kurang menyenangkan), tikel alis pendek. | Brojol bentuk bilahnya lugu clan polos, sehingga hanya dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : pejetan; | Condhong campur dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan : lambe
gajah, kembang kacang, greneng, gusen, dua sogokan sampai ujung bilah; | Jaka Iola memperlihatkan ujung bilah ke depan, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan : sogokan depan, greneng; | Jaka tuwa dengan awak-awakan bentuk tilam upih , dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: tikel alis clan sogokan; | Jalak dhindhing dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, pejetan,
thingil; | Jalak ngore dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan yaitu: sraweyan, greneng; | Jalak nguwuh dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gusen, ada-ada,
pejetan (belakang), thingil; | Jalak sangu tumpeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan,
sraweyan, thingil;}}<noinclude>{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|21}}</noinclude>
czkdsbwgyw3xnjhvgoiwdw9napw7rv9
320832
320798
2026-10-11T07:32:51Z
Ony3345
26456
320832
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada dan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: left;">
Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di wilayah Surakarta hanya memakai 54 macam dhapur keris yang kemudian dibakukan di daerah itu. Menurut Raffles yang lebih meneliti wilayah Yogyakarta,dan hasil penelitiannya yang dituangkan dalam bukunya The History of Java, ia hanya mendapati 52 jenis dhapur keris. Sebenarnya banyak sekali ditemukan macam dhapur pada jenis bentuk keris lurus, yang jika dikumpulkan dapat mencapai 380 macam dhapur. Namun ada beberapa nama dhapur keris lurus yang tertulis di dalam kitab-kitab sastra Jawa yang menjadi patokan dalam pakem budaya keris, terutama yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana yang tercantum di dalam 'Serat Centhini', Ngabei Ranggasutrasna,
Centhini, Tambangraras-Amongraga, Jilid III, (Pupuh 236; bait 1-36).</p>
<br>
Macam-macam bentuk keris bilah lurus setelah disarikan adalah sebagai berikut:
{{Ordered list | list_style_type=lower-alpha | Bethok memiliki bentuk awak-awakan keris yang pendek dan lebar, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang (bentuknya kurang menyenangkan), tikel alis pendek. | Brojol bentuk bilahnya lugu dan polos, sehingga hanya dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : pejetan; | Condhong campur dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan : lambe
gajah, kembang kacang, greneng, gusen, dua sogokan sampai ujung bilah; | Jaka lola memperlihatkan ujung bilah ke depan, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng; | Jaka tuwa dengan awak-awakan bentuk tilam upih, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: tikel alis dan sogokan; | Jalak dhindhing dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, pejetan,
thingil; | Jalak ngoré dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan yaitu: srawéyan, greneng; | Jalak nguwuh dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gusèn, ada-ada,
pejetan (belakang), thingil; | Jalak sangu tumpeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan, srawéyan, thingil;}}<noinclude>{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|21}}</noinclude>
f0vktl8mvagyl3qv28fp9qygkp6klqb
320840
320832
2026-10-11T07:34:55Z
Ony3345
26456
320840
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada dan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: left;">
Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di wilayah Surakarta hanya memakai 54 macam dhapur keris yang kemudian dibakukan di daerah itu. Menurut Raffles yang lebih meneliti wilayah Yogyakarta,dan hasil penelitiannya yang dituangkan dalam bukunya The History of Java, ia hanya mendapati 52 jenis dhapur keris. Sebenarnya banyak sekali ditemukan macam dhapur pada jenis bentuk keris lurus, yang jika dikumpulkan dapat mencapai 380 macam dhapur. Namun ada beberapa nama dhapur keris lurus yang tertulis di dalam kitab-kitab sastra Jawa yang menjadi patokan dalam pakem budaya keris, terutama yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana yang tercantum di dalam 'Serat Centhini', Ngabei Ranggasutrasna,
Centhini, Tambangraras-Amongraga, Jilid III, (Pupuh 236; bait 1-36).</p>
<br>
Macam-macam bentuk keris bilah lurus setelah disarikan adalah sebagai berikut:
{{Ordered list | list_style_type=lower-alpha | Bethok memiliki bentuk awak-awakan keris yang pendek dan lebar, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang (bentuknya kurang menyenangkan), tikel alis pendek. | Brojol bentuk bilahnya lugu dan polos, sehingga hanya dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : pejetan; | Condhong campur dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan : lambé
gajah, kembang kacang, greneng, gusèn, dua sogokan sampai ujung bilah; | Jaka lola memperlihatkan ujung bilah ke depan, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng; | Jaka tuwa dengan awak-awakan bentuk tilam upih, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: tikel alis dan sogokan; | Jalak dhindhing dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, pèjètan,
thingil; | Jalak ngoré dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan yaitu: srawéyan, greneng; | Jalak nguwuh dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gusèn, ada-ada,
pejetan (belakang), thingil; | Jalak sangu tumpeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan, srawéyan, thingil;}}<noinclude>{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|21}}</noinclude>
1s0jw7ylayueg0v9dpzjrn71h7a0ycf
320844
320840
2026-10-11T07:37:31Z
Ony3345
26456
/* Telah diuji baca */
320844
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ony3345" /></noinclude>di masyarakat, lebih berupa sekumpulan cerita yang bersifat dongeng. Kendati berbau mitos, nama-nama dhapur yang diceritakan memang sungguh-sungguh ada dan menjadi baku dalam pengetahuan perkerisan.<br>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: left;">
Buku "Gambar Dhoewoeng" gubahan F.L. Winter mencatat 158 macam dhapur yang terdiri dari 54 keris lurus dan 104 keris luk. Masih menurut buku tersebut, keris di wilayah Surakarta hanya memakai 54 macam dhapur keris yang kemudian dibakukan di daerah itu. Menurut Raffles yang lebih meneliti wilayah Yogyakarta,dan hasil penelitiannya yang dituangkan dalam bukunya The History of Java, ia hanya mendapati 52 jenis dhapur keris. Sebenarnya banyak sekali ditemukan macam dhapur pada jenis bentuk keris lurus, yang jika dikumpulkan dapat mencapai 380 macam dhapur. Namun ada beberapa nama dhapur keris lurus yang tertulis di dalam kitab-kitab sastra Jawa yang menjadi patokan dalam pakem budaya keris, terutama yang ada di kalangan masyarakat Jawa. Sebagaimana yang tercantum di dalam 'Serat Centhini', Ngabei Ranggasutrasna,
Centhini, Tambangraras-Amongraga, Jilid III, (Pupuh 236; bait 1-36).</p>
<br>
Macam-macam bentuk keris bilah lurus setelah disarikan adalah sebagai berikut:
{{Ordered list | list_style_type=lower-alpha | Bethok memiliki bentuk awak-awakan keris yang pendek dan lebar, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang (bentuknya kurang menyenangkan), tikel alis pendek. | Brojol bentuk bilahnya lugu dan polos, sehingga hanya dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : pèjètan; | Condhong campur dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan : lambé
gajah, kembang kacang, greneng, gusèn, dua sogokan sampai ujung bilah; | Jaka lola memperlihatkan ujung bilah ke depan, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng; | Jaka tuwa dengan awak-awakan bentuk tilam upih, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: tikel alis dan sogokan; | Jalak dhindhing dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, pèjètan,
thingil; | Jalak ngoré dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan yaitu: srawéyan, greneng; | Jalak nguwuh dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gusèn, ada-ada,
pejetan (belakang), thingil; | Jalak sangu tumpeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan, srawéyan, thingil;}}<noinclude>{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|21}}</noinclude>
c1ybri9bu6185dt0re7f36f8luq6amg
Halaman:Keris (2014).pdf/32
104
116468
320779
2026-10-11T06:55:18Z
Suga Widi
25678
Sedang uji baca
320779
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Banyak berkembang macam-macam jenis dari bentuk dhapur keris lekuk, yang bila dikumpulkan, jumlahnya dapat mencapai 439 jenis. Secara pakem, terdapat beberapa nama dari bentuk keris lekuk/luk yang dianggap sebagai bagian dari pedoman keris Jawa, sehingga sering menjadi dasar untuk dijadikan
tolok ukur bagi penentuan kategori dan nama dari suatu bilah keris.
Penentuan jumlah banyaknya luk dihitung mulai dari lekuk pertama di atas gandhik, yang disebut dengan wadidang depan, kemudian hitungan dilanjutkan ke lekuk selanjutnya, hingga luk terakhir yang habis di ujung bilah. Walaupun sisi wadidang belakang, yaitu di atas ekor ganja, terlihat seakan-akan membentuk lekuk, tetapi tidak dapat dihitung sebagai lekuk/luk pertama. Jumlah luk haruslah ganjil, karenanya ujung bilah keris berkelok selalu menunjuk ke depan. Bila jumlah luk keris genap, maka ujung bilah akan berakhir menunjuk ke belakang, dan sebagai sebuah senjata tikam maka keris tersebut tidak dapat dipakai untuk menusuk.
Biasanya keris dengan jumlah luk genap adalah keris tua yang sudah rusak ujungnya karena
terkikis karat. Namun ada keris yang dikatakan berkelok ganjil, yaitu keris Umyang, yang diciptakan oleh Empu Kodhok (Empu Galeng) dari
zaman kerajaan Demak-Pajang. Sang Empu dititah oleh Sultan Pajang untuk menggubah keris ampuh yang belum pernah ada sebelumnya. Alhasil, terciptalah keris yang agak janggal bentuknya,
ialah dengan ujung luk terakhir menghadap ke belakang.
Gambar 12. Keris dhapur Sepang
(koleksi foto Eko Supriyono)<noinclude>{{rh||| Sekilas Tentang Keris | 25}}</noinclude>
2cxkr2kdd218ibh4w0dba8khxdo659u
320835
320779
2026-10-11T07:33:33Z
Suga Widi
25678
/* Telah diuji baca */
320835
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Banyak berkembang macam-macam jenis dari bentuk dhapur keris lekuk, yang bila dikumpulkan, jumlahnya dapat mencapai 439 jenis. Secara pakem, terdapat beberapa nama dari bentuk keris lekuk/luk yang dianggap sebagai bagian dari pedoman keris Jawa, sehingga sering menjadi dasar untuk dijadikan
tolok ukur bagi penentuan kategori dan nama dari suatu bilah keris.
Penentuan jumlah banyaknya luk dihitung mulai dari lekuk pertama di atas gandhik, yang disebut dengan wadidang depan, kemudian hitungan dilanjutkan ke lekuk selanjutnya, hingga luk terakhir yang habis di ujung bilah. Walaupun sisi wadidang belakang, yaitu di atas ekor ganja, terlihat seakan-akan membentuk lekuk, tetapi tidak dapat dihitung sebagai lekuk/luk pertama. Jumlah luk haruslah ganjil, karenanya ujung bilah keris berkelok selalu menunjuk ke depan. Bila jumlah luk keris genap, maka ujung bilah akan berakhir menunjuk ke belakang, dan sebagai sebuah senjata tikam maka keris tersebut tidak dapat dipakai untuk menusuk.
Biasanya keris dengan jumlah luk genap adalah keris tua yang sudah rusak ujungnya karena
terkikis karat. Namun ada keris yang dikatakan berkelok ganjil, yaitu keris Umyang, yang diciptakan oleh Empu Kodhok (Empu Galeng) dari
zaman kerajaan Demak-Pajang. Sang Empu dititah oleh Sultan Pajang untuk menggubah keris ampuh yang belum pernah ada sebelumnya. Alhasil, terciptalah keris yang agak janggal bentuknya,
ialah dengan ujung luk terakhir menghadap ke belakang.
[[File:Keris (2014) (page 32 crop).jpg|200px|Keris (2014) (page 32 crop)]]
Gambar 12. Keris dhapur Sepang
(koleksi foto Eko Supriyono)<noinclude>{{rh||| Sekilas Tentang Keris | 25}}</noinclude>
3vn83v6wfhcu12gjz48dk16tje1foax
320836
320835
2026-10-11T07:33:56Z
Suga Widi
25678
320836
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Banyak berkembang macam-macam jenis dari bentuk dhapur keris lekuk, yang bila dikumpulkan, jumlahnya dapat mencapai 439 jenis. Secara pakem, terdapat beberapa nama dari bentuk keris lekuk/luk yang dianggap sebagai bagian dari pedoman keris Jawa, sehingga sering menjadi dasar untuk dijadikan
tolok ukur bagi penentuan kategori dan nama dari suatu bilah keris.
Penentuan jumlah banyaknya luk dihitung mulai dari lekuk pertama di atas gandhik, yang disebut dengan wadidang depan, kemudian hitungan dilanjutkan ke lekuk selanjutnya, hingga luk terakhir yang habis di ujung bilah. Walaupun sisi wadidang belakang, yaitu di atas ekor ganja, terlihat seakan-akan membentuk lekuk, tetapi tidak dapat dihitung sebagai lekuk/luk pertama. Jumlah luk haruslah ganjil, karenanya ujung bilah keris berkelok selalu menunjuk ke depan. Bila jumlah luk keris genap, maka ujung bilah akan berakhir menunjuk ke belakang, dan sebagai sebuah senjata tikam maka keris tersebut tidak dapat dipakai untuk menusuk.
Biasanya keris dengan jumlah luk genap adalah keris tua yang sudah rusak ujungnya karena
terkikis karat. Namun ada keris yang dikatakan berkelok ganjil, yaitu keris Umyang, yang diciptakan oleh Empu Kodhok (Empu Galeng) dari
zaman kerajaan Demak-Pajang. Sang Empu dititah oleh Sultan Pajang untuk menggubah keris ampuh yang belum pernah ada sebelumnya. Alhasil, terciptalah keris yang agak janggal bentuknya,
ialah dengan ujung luk terakhir menghadap ke belakang.
[[File:Keris (2014) (page 32 crop).jpg|200px|Keris (2014) (page 32 crop)]]
Gambar 12. Keris dhapur Sepang
(koleksi foto Eko Supriyono)<noinclude>{{rh||| Sekilas Tentang Keris | 25}}</noinclude>
h2sxhai60s77s971oac4a4l6cwb2w0k
320838
320836
2026-10-11T07:34:36Z
Suga Widi
25678
320838
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Banyak berkembang macam-macam jenis dari bentuk dhapur keris lekuk, yang bila dikumpulkan, jumlahnya dapat mencapai 439 jenis. Secara pakem, terdapat beberapa nama dari bentuk keris lekuk/luk yang dianggap sebagai bagian dari pedoman keris Jawa, sehingga sering menjadi dasar untuk dijadikan
tolok ukur bagi penentuan kategori dan nama dari suatu bilah keris.
Penentuan jumlah banyaknya luk dihitung mulai dari lekuk pertama di atas gandhik, yang disebut dengan wadidang depan, kemudian hitungan dilanjutkan ke lekuk selanjutnya, hingga luk terakhir yang habis di ujung bilah. Walaupun sisi wadidang belakang, yaitu di atas ekor ganja, terlihat seakan-akan membentuk lekuk, tetapi tidak dapat dihitung sebagai lekuk/luk pertama. Jumlah luk haruslah ganjil, karenanya ujung bilah keris berkelok selalu menunjuk ke depan. Bila jumlah luk keris genap, maka ujung bilah akan berakhir menunjuk ke belakang, dan sebagai sebuah senjata tikam maka keris tersebut tidak dapat dipakai untuk menusuk.
Biasanya keris dengan jumlah luk genap adalah keris tua yang sudah rusak ujungnya karena
terkikis karat. Namun ada keris yang dikatakan berkelok ganjil, yaitu keris Umyang, yang diciptakan oleh Empu Kodhok (Empu Galeng) dari
zaman kerajaan Demak-Pajang. Sang Empu dititah oleh Sultan Pajang untuk menggubah keris ampuh yang belum pernah ada sebelumnya. Alhasil, terciptalah keris yang agak janggal bentuknya,
ialah dengan ujung luk terakhir menghadap ke belakang.
[[File:Keris (2014) (page 32 crop).jpg|200px|Keris (2014) (page 32 crop)]]
Gambar 12. Keris dhapur Sepang<br>(koleksi foto Eko Supriyono)<noinclude>{{rh||| Sekilas Tentang Keris | 25}}</noinclude>
g7k27r7cuc7cbe3l6qf4ssa30gefrx8
Halaman:Keris (2014).pdf/22
104
116469
320780
2026-10-11T06:58:12Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320780
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>(burung, artinya bisa menikmati keindahan/rekreasi), dan curiga (keris, untuk membela diri dan negara). Bagi orang Jawa keris sebagai senjata tusuk (landhep) bisa diinterpretasikan maknanya sebagai kecerdasan, ke-waskitha-an, ketajaman perasaan, intuisi, dan ilmu pengetahuan. Seperti yang dikatakan Solyom dalam bukunya ''The World of The Javanese Keris'' (1988; 5).
Ungkapan dan pemaknaan seperti tersebut di atas, menunjukkan bahwa, keris telah terbebaskan dari batasan fungsinya sebagai senjata praktis dalam kehidupan orang Jawa. Keris bukan lagi semata-mata senjata tusuk, tetapi telah berkembang fungsinya menjadi tanda bermakna. Suatu tanda yang dapat digunakan untuk menyatakan atau mengungkapkan nilai-nilai, konsep-konsep filosofis, dan atau pegangan hidup yang dianggap luhur.
Keris Jawa yang lengkap mempunyai bagian-bagian sebagai berikut. Pertama bagian ukiran (hulu keris), kedua bagian mendhak (hiasan di bawah ukiran), ketiga bagian wilah (an) atau bilah keris, keempat bagian warangka atau sarung keris, dan kelima bagian pendhok atau pembungkus warangka. Bilah keris sendiri mempunyai bagian-bagian yang biasa disebut ricikan bilah keris. Sebenarnya, yang disebut keris itu hanya bilahnya saja, tetapi dalam perkembangannya kesatuan dari keseluruhan itu akhirnya dinamakan keris.
Seorang pembuat bilah keris secara tradisional disebut empu (empu juga untuk menyebut para ahli di bidang budaya yang lain), pembuat warangka dan ukiran disebut mranggi. Bilah keris tanpa bagian-bagian lain yang disebut perabot keris, dianggap tidak lengkap. Saat keris itu dilihat secara keseluruhan dengan warangkanya, maka akan tampak kesatuan yang harmonis antara manusia yang digambarkan menaiki perahu mengarungi samudera Kehidupan). Demikian juga bila diamati hiasanhiasan keris, baik pada ukiran (hulu), warangka, maupun pada
wilahan (bilah) dan pendhok adalah suatu karya seni tinggi yang memerlukan keahlian dan keterampilan yang sempurna.
Pembahasan tentang makna dan simbol pada keris sangat berkaitan dengan dhapur yang berarti ketentuan bentuk atau wujud. Khazanah perkerisan mengenal dua bentuk umum keris yaitu lurus dan luk, serta perlengkapan detail atau ricikan yang disandangnya. Dengan demikian keris lurus atau luk tertentu dengan ricikan tertentu punya nama dhapur tertentu. Timbul Haryono, dalam bukunya Seni Pertunjukan dan Seni Rupa dalam Perspektif Arkeologi Seni (2008;50) mengatakan bahwa salah satu hal yang membuat keris melebihi senjata tajam jenis lain ialah keris mempunyai pamor. Pamor berupa lapisan-lapisan logam berwarna lebih terang dari warna logam besi bahan bilah yang 'menempel' pada kiri kanan bilah keris melapisi bahan baja slorok keris, membentuk motif tertentu seolah menghiasi permukaan bilah keris.<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|15}}</noinclude>
cknsfgk7zios4lqqk1ubj2x5ptfv0vb
Halaman:Keris (2014).pdf/31
104
116470
320781
2026-10-11T06:59:22Z
Suga Widi
25678
Sedang uji baca
320781
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Gambar 11. Keris lurus dhapur Brojol (koleksi foto Unggul Sudrajat)
I<noinclude>{{rh|24 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
ouksq8gp5utz0pleldlfs27a2v127py
320801
320781
2026-10-11T07:20:27Z
Suga Widi
25678
/* Telah diuji baca */
320801
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 31 crop).jpg|thumb|Keris (2014) (page 31 crop)]]
Gambar 11. Keris lurus dhapur Brojol (koleksi foto Unggul Sudrajat)<noinclude>{{rh|24 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
0suregp2giz6oakdprm8jn7vz197lpl
320806
320801
2026-10-11T07:21:38Z
Suga Widi
25678
320806
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>[[File:Keris (2014) (page 31 crop).jpg|200px|Keris (2014) (page 31 crop)]]
Gambar 11. Keris lurus dhapur Brojol (koleksi foto Unggul Sudrajat)<noinclude>{{rh|24 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
7l1hdaao9bsei8i9vtf1cnfzqda0kx9
Halaman:Keris (2014).pdf/77
104
116471
320783
2026-10-11T07:04:02Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320783
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>melengkapi dan saling menyelaraskan. Misalnya, keris dengan yoni yang memiliki
angsar (pengaruh) 'panas', akan dijodohkan dengan keris berisi yoni berkarakter
'dingin'. Begitu juga dengan keris yang ber-yoni 'lembut' dan 'kalem', maka harus
dipasangkan dengan keris yang memiliki yoni berkarakter dapat mengajak untuk
'kreatif' dan 'cekatan'.
Penjodohan dalam perkerisan dapat terjadi dalam bentuk selain penyatuan
dua bilah keris sebagai satu pasangan. Pemindahan kepemilikan keris pun
biasa disebut dengan peristiwa penjodohan keris. Atas dasar, bahwa keris
bukan sekedar bilah senjata profan yang dapat diperlakukan seenaknya, maka
pengalihan kepemilikan keris menghindari istilah jual-beli, karena keris bukan
seperti benda dagangan biasa yang dapat diperjual belikan.
Selain mengandung makna harmonisasi antara lingga clan yoni (Rwa
bhineda), keris juga melambangkan konstalasi makrokosmos dan mikrokosmos
yang digambarkan dengan empat penjuru mata angin dan pusat sebagai posisi
yang kelima (sadulur papat, kalima pancer). Hal tersebut diwujudkan dalam sisi
ke-'tajam'-an keris yang berjumlah lima. Pertama ujung runcing bilah sebagai
titik tengah, kemudian kedua sisi tepi bilah adalah ke-'tajam'-an yang ke-dua
dan ke-tiga, lalu kedua sisi permukaan bilah keris yang berkontur tajam karena
kontrasnya garis pamor dengan besi ialah ke-'tajaman'-an yang ke-empat dan
ke-lima. Oleh kerenanya keris sering dikatakan mempunyai tiga dimensi tajam,
yaitu pucuk untuk menikam, kedua tepi untuk menyayat dan kedua permukaan
untuk melukai seperti kinerja batang kikir yang bergurat. Strategi kebudayaan yang
menyeluruh perlu dijalankan untuk menjaga sekaligus memperkuat kebudayaan,
khususnya berkaitan dengan detil budaya keris, dalam memperkokoh kebangsaan.
Kita dapat berefleksi kepada Cina, Jepang dan Korea, sesama bangsa Asia yang
sukses mengembangkan dan menyebarkan kebudayaannya hingga mendunia.
Dibandingkan senjata pedang di Jepang, Cina, Eropa dan Arab, tosan aji perkerisan
mempunyai kesulitan metalurgi yang lebih rumit dan kedalaman serta keluasan
makna yang adi luhung. Namun demikian popularitas pusaka tradisi kita jauh
dibawah senjata-senjata dari luar negeri. Hal tersebut terjadi karena bangsa kita
hanya menjadi penerima dari strategi populer budaya asing, untuk dijadikan alat
pengeruk devisa mereka dan dasar superior mereka terhadap bangsa kita. Budaya
asli kita belum dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Anak-anak muda dewasa ini, contohnya, lebih mengenal pedang katana
Jepang dan memahami budaya serta sejarah Jepang dari komik, kartun dan
drama Jepang. Begitu pula dengan budaya dari Arab, padahal yang berbau Arab
belum tentu terkait dengan agama Islam. Hal yang sering dikaitkan dengan keris
adalah kemusyrikan, bahwa tindakan meyimpan keris adalah syirik. Padahal<noinclude>70 | Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris</noinclude>
t7uswc035zw4gp5k58y3wf0l3kapg54
320819
320783
2026-10-11T07:26:41Z
VidiDhemas21
24365
320819
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>melengkapi dan saling menyelaraskan. Misalnya, keris dengan yoni yang memiliki
angsar (pengaruh) 'panas', akan dijodohkan dengan keris berisi yoni berkarakter
'dingin'. Begitu juga dengan keris yang ber-yoni 'lembut' dan 'kalem', maka harus
dipasangkan dengan keris yang memiliki yoni berkarakter dapat mengajak untuk
'kreatif' dan 'cekatan'.
Penjodohan dalam perkerisan dapat terjadi dalam bentuk selain penyatuan
dua bilah keris sebagai satu pasangan. Pemindahan kepemilikan keris pun
biasa disebut dengan peristiwa penjodohan keris. Atas dasar, bahwa keris
bukan sekedar bilah senjata profan yang dapat diperlakukan seenaknya, maka
pengalihan kepemilikan keris menghindari istilah jual-beli, karena keris bukan
seperti benda dagangan biasa yang dapat diperjual belikan.
Selain mengandung makna harmonisasi antara lingga clan yoni (Rwa
bhineda), keris juga melambangkan konstalasi makrokosmos dan mikrokosmos
yang digambarkan dengan empat penjuru mata angin dan pusat sebagai posisi
yang kelima (sadulur papat, kalima pancer). Hal tersebut diwujudkan dalam sisi
ke-'tajam'-an keris yang berjumlah lima. Pertama ujung runcing bilah sebagai
titik tengah, kemudian kedua sisi tepi bilah adalah ke-'tajam'-an yang ke-dua
dan ke-tiga, lalu kedua sisi permukaan bilah keris yang berkontur tajam karena
kontrasnya garis pamor dengan besi ialah ke-'tajaman'-an yang ke-empat dan
ke-lima. Oleh kerenanya keris sering dikatakan mempunyai tiga dimensi tajam,
yaitu pucuk untuk menikam, kedua tepi untuk menyayat dan kedua permukaan
untuk melukai seperti kinerja batang kikir yang bergurat. Strategi kebudayaan yang
menyeluruh perlu dijalankan untuk menjaga sekaligus memperkuat kebudayaan,
khususnya berkaitan dengan detil budaya keris, dalam memperkokoh kebangsaan.
Kita dapat berefleksi kepada Cina, Jepang dan Korea, sesama bangsa Asia yang
sukses mengembangkan dan menyebarkan kebudayaannya hingga mendunia.
Dibandingkan senjata pedang di Jepang, Cina, Eropa dan Arab, tosan aji perkerisan
mempunyai kesulitan metalurgi yang lebih rumit dan kedalaman serta keluasan
makna yang adi luhung. Namun demikian popularitas pusaka tradisi kita jauh
dibawah senjata-senjata dari luar negeri. Hal tersebut terjadi karena bangsa kita
hanya menjadi penerima dari strategi populer budaya asing, untuk dijadikan alat
pengeruk devisa mereka dan dasar superior mereka terhadap bangsa kita. Budaya
asli kita belum dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Anak-anak muda dewasa ini, contohnya, lebih mengenal pedang katana
Jepang dan memahami budaya serta sejarah Jepang dari komik, kartun dan
drama Jepang. Begitu pula dengan budaya dari Arab, padahal yang berbau Arab
belum tentu terkait dengan agama Islam. Hal yang sering dikaitkan dengan keris
adalah kemusyrikan, bahwa tindakan meyimpan keris adalah syirik. Padahal
{{rule}}
{{rh|70|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
hgntlkbwwkg1qx1ixqmc93v6botnvn7
Halaman:Keris (2014).pdf/5
104
116472
320785
2026-10-11T07:08:02Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320785
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>{{c|KATA SAMBUTAN}}
{{c|Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan}}
Keris Indonesia telah diakui oleh UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Dunia pada tanggal 25 November 2005, yang kemudian terinskripsi dalam Representative List of Humanity UNESCO pada tahun 2009. Penilaian Unesco tersebut didasarkan pada aspek non bendawi yang melingkupi sebilah keris, meliputi aspek Sejarah, Tradisi, Seni, Falsafah, Simbolisme dan Mistik. Aspek-aspek inilah yang menjadikan keris diakui sebagai Warisan Dunia Tak Benda dari Indonesia. Pengakuan keris oleh Unesco telah menjadikan perkembangan dunia perkerisan beserta budaya yang melingkupinya semakin pesat dan signifikan. Hingga saat ini, beragam rencana aksi telah disusun dan dilaksanakan sebagai tindak lanjut pengakuan dari UNESCO. Untuk itu, persoalan pelestarian budaya perkerisan menjadi tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, maupun perseorangan. Pelestarian budaya perkerisan akan menjadikan budaya perkerisan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Buku Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: KERIS karya Unggul Sudrajat dan Dony Satryo Wibowo ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan bekerjasama dengan paguyuban keris Mertikarta Yogyakarta dalam rangka melakukan rencana aksi unsur budaya takbenda Indonesia yang telah menerima inskripsi dari UNESCO, yaitu menyusun materi bahan ajar muatan lokal bidang kebudayaan bagi siswa Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan. Pada Tahun Anggaran 2014 ini, Puslitbang Kebudayaan menyusun 3 (tiga) bahan ajar yang telah diinskripsi oleh UNESCO, yaitu Wayang Indonesia, Keris Indonesia dan Batik Indonesia. Melalui kegiatan penyusunan bahan ajar tersebut, diharapkan akan menjadi bahan pedoman bagi guru, siswa dan alat evaluasi penguasaan pembelajaran dalam rangka menciptakan peserta didik yang berkualitas, profesional dan berbudaya.
{{rh|||Kepala}}
{{rh|||Dr. Hurip Danu Ismadi, Mpd}}
{{Rule}}<noinclude>{{rh||iv}}</noinclude>
qxlf3xvrrrbvd9c4hh19nmb6fgk3yky
Halaman:Keris (2014).pdf/23
104
116473
320789
2026-10-11T07:10:47Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320789
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>Teknologi pengolahan logam termasuk 'extractive technology' yaitu teknologi dengan prosesnya 'mengurangi', dari bahan dasar kemudian direduksi sampai menjadi bentuk artefak. Diawali dari tahap pengadaan bahan mentah, dari penambangan bijih logam, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan untuk mendapatkan bahan siap pakai, sampai kemudian menjadi artefak. Proses rumit itulah yang kemudian melahirkan pengetahuan 'metalurgi'. sebagai revolusi pencapaian manusia, karena manusia telah mampu meningkatkan pengetahuan teknologi api yaitu dengan menghasilkan suhu panas yang sangat tinggi untuk dapat melebur bijih besi (titik lebur besi adalah 15350 Celcius). Pada awalnya metalurgi lebih dianggap sebagai seni daripada ilmu/sains, namun dalam perkembangannya kemudian metalurgi menjadi sains dalam pengertian bahwa metalurgi lebih berhubungan erat dengan ilmu-ilmu eksakta. Sekarang ini metalurgi dapat di pandang sebagai seni sekaligus sains.
Estetika keris muncul bila diasosiasikan dengan keampuhan atau kesaktian keris. Namun tidak mudah mengaitkan keampuhan dengan keindahan keris. Seandainya dapat ditemukan petunjuk bahwa keampuhan keris memang berhubungan dengan keindahannya, maka diperkirakan keampuhan keris disebabkan oleh daya pengaruh psikologis yang menggugah rasa pesona. Sebuah keris dikatakan ampuh karena mampu menampilkan pesona keindahan, sehingga keampuhan keris sekaligus juga berarti keindahannya.
Keris oleh orang Jawa juga dipandang sebagai benda seni yang bersejarah, merupakan benda pusaka, azimat, yang melambangkan kejujuran, sifat ksatria, sifat menepati janji, sifat pantang menyerah, dan lain sebagainya. Kebanyakan pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, dan lain-lainya dalam berbagai dokumen sejarah selalu tampak terlihat atau digambarkan menyandang keris di pinggangnya. Atas dasar makna tersebut, keris sebagai pusaka dapat dan pernah menjadi sumber inspirasi bagi perlawanan-perlawanan orang Jawa terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Perlawanan terhadan penjajahan Belanda pada saat itu, sepertinya didasarkan pada kultus pusaka atau keris. Walaupun demikian tampak bahwa dalam karya-karya sastra zaman penjajahan telah mengalami semacam tindakan pembredelan karena dikhawatirkan dapat menyulut perlawanan. Sebagai akibatnya, untuk mendapatkan informasi tentang kultus pusaka atau keris dan nenek moyang berdasarkan penulisan zaman penjajahan sangat kecil kemungkinannya. Namun demikian hal tersebut justru mengindikasikan bahwa keris sebagai pusaka mempunyai muatan nilai-nilai atau semangat kepahlawanan untuk melawan penjajah dan ketidakadilan. Keris seakan-akan telah menjadi wadah atau sarana bagi pewarisan nilai-nilai semacam itu dari nenek moyang<noinclude>{{rh|16||Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
ltmufibpst5ixqweqxahj75fju9q06e
Halaman:Keris (2014).pdf/78
104
116474
320791
2026-10-11T07:11:43Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320791
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>yoni yang terdapat dalam keris adalah berkah Tuhan yang dimintakan empu
pembuatnya dengan doa yang dipanjatkan. Berkenaan dengan berkah dari doa
yang dipintakan bersemayam pada suatu materi benda sudah diteliti oleh seorang
ilmuan Jepang, bernama Dr. Masaru Emoto, yang menyandingkan dua wadah
air dari sumber sama, yang satu didoakan di segala tempat suci ibadah berbagai
agama, sedangkan yang satu lagi dimaki dan dikutuk-kutuk, kemudian kristal es
kedua air tersebut setelah dibekukan menghasilkan fakta yang mencengangkan.
Air yang dimintakan berkah melalui doa memiliki kristal sempurna yang
bermanfaat menyembuhkan, sedangkan air yang dikutuk dengan makian keji
menghasilkan kristal es yang tak sempurna clan berdaya merusak kesehatan.
Bila air yang bersifat liquid (cair) saja mampu menjadi wahana penerima
berkah melalui doa-doa, bahan logam yang bersifat solid dan lebih permanen
bentuknya dari pada air menurut logika tentu lebih lebih hebat daripada air
dalam menjadi wahana penerima berkah dari sugesti doa. Bahan logam keris
sejak dari tambang dan pabriknya sudah disematkan doa-doa oleh orang yang
mengolahnya agar kelak menjadi manfaat clan basil dari pekerjaannya itu dapat
membahagiakan keluarga serta orang yang nanti menggunakannya. Kemudian
di dalam besalen bahan logam besi, baja dan pamor tersebut mendapat doa-doa
khusus yang memang dimintakan untuk kebaikan pemiliknya nanti, belum lagi
ditambah dengan doa selamat dari api dan pukulan palu serta Iuka dari pahat,
yang tak henti dilafalkan oleh empu dan para panjak selama pembuatan keris.
Pastinya bilah keris yang dihasilkan penuh dengan berkah yang dimintakan oleh
empu pandhè sekerabat panjak-nya.
Bila pedang Jepang dan pedang Arab yang sama-sama dibuat dengan
ritual clan doa khusus, serta sama-sama mengalami penghormatan yang luhur
dengan diberi perawatan dan penamaan khusus, dapat menjadi populer dan
tidak disematkan predikat syirik, mengapa keris harus dipaksakan syirik supaya
dibenci oleh para pewarisnya sendiri. Sementara Nabi Muhammad junjungan
umat Islam juga menyimpan pedang-pedang pusaka warisan leluhur berbilah
memiliki patern damascene mirip dengan pola pamor kita juga, dengan nama-
nama penghormatan khusus dan dihiasi dengan perabot yang mewah berbahan
logam mulia dan bertahtakan permata.
Selain itu, kebanggaan terhadap budaya tosan aji dalam budaya keris,
patutnya dikembangkan, karena proses pembuatan rumit jauh lebih rumit dari
pembuatan Katana Jepang dan pedang Damaskus Arab. Sementara pedang Arab
dibuat dari baja tunggal berpatern dibuat memakai besi dicampur karbon dan
kuarsa dalam tekanan tanur yang tinggi, sedangkan pembuatan katana adalah
dengan masuh besi dengan dilipat berulang kali sampai menjadi baja, adapun<noinclude>Sekilas Tentang Keris | 71</noinclude>
k22rue6pm4cla29blp5zxfw3pdvckt9
320820
320791
2026-10-11T07:27:30Z
VidiDhemas21
24365
320820
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>yoni yang terdapat dalam keris adalah berkah Tuhan yang dimintakan empu
pembuatnya dengan doa yang dipanjatkan. Berkenaan dengan berkah dari doa
yang dipintakan bersemayam pada suatu materi benda sudah diteliti oleh seorang
ilmuan Jepang, bernama Dr. Masaru Emoto, yang menyandingkan dua wadah
air dari sumber sama, yang satu didoakan di segala tempat suci ibadah berbagai
agama, sedangkan yang satu lagi dimaki dan dikutuk-kutuk, kemudian kristal es
kedua air tersebut setelah dibekukan menghasilkan fakta yang mencengangkan.
Air yang dimintakan berkah melalui doa memiliki kristal sempurna yang
bermanfaat menyembuhkan, sedangkan air yang dikutuk dengan makian keji
menghasilkan kristal es yang tak sempurna clan berdaya merusak kesehatan.
Bila air yang bersifat liquid (cair) saja mampu menjadi wahana penerima
berkah melalui doa-doa, bahan logam yang bersifat solid dan lebih permanen
bentuknya dari pada air menurut logika tentu lebih lebih hebat daripada air
dalam menjadi wahana penerima berkah dari sugesti doa. Bahan logam keris
sejak dari tambang dan pabriknya sudah disematkan doa-doa oleh orang yang
mengolahnya agar kelak menjadi manfaat clan basil dari pekerjaannya itu dapat
membahagiakan keluarga serta orang yang nanti menggunakannya. Kemudian
di dalam besalen bahan logam besi, baja dan pamor tersebut mendapat doa-doa
khusus yang memang dimintakan untuk kebaikan pemiliknya nanti, belum lagi
ditambah dengan doa selamat dari api dan pukulan palu serta Iuka dari pahat,
yang tak henti dilafalkan oleh empu dan para panjak selama pembuatan keris.
Pastinya bilah keris yang dihasilkan penuh dengan berkah yang dimintakan oleh
empu pandhè sekerabat panjak-nya.
Bila pedang Jepang dan pedang Arab yang sama-sama dibuat dengan
ritual clan doa khusus, serta sama-sama mengalami penghormatan yang luhur
dengan diberi perawatan dan penamaan khusus, dapat menjadi populer dan
tidak disematkan predikat syirik, mengapa keris harus dipaksakan syirik supaya
dibenci oleh para pewarisnya sendiri. Sementara Nabi Muhammad junjungan
umat Islam juga menyimpan pedang-pedang pusaka warisan leluhur berbilah
memiliki patern damascene mirip dengan pola pamor kita juga, dengan nama-
nama penghormatan khusus dan dihiasi dengan perabot yang mewah berbahan
logam mulia dan bertahtakan permata.
Selain itu, kebanggaan terhadap budaya tosan aji dalam budaya keris,
patutnya dikembangkan, karena proses pembuatan rumit jauh lebih rumit dari
pembuatan Katana Jepang dan pedang Damaskus Arab. Sementara pedang Arab
dibuat dari baja tunggal berpatern dibuat memakai besi dicampur karbon dan
kuarsa dalam tekanan tanur yang tinggi, sedangkan pembuatan katana adalah
dengan masuh besi dengan dilipat berulang kali sampai menjadi baja, adapun
{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|71}}<noinclude></noinclude>
09wwzuzu99n9xwkpn1qeeq8ai795ghq
Halaman:Keris (2014).pdf/6
104
116475
320795
2026-10-11T07:14:28Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320795
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>{{c|KATA PENGANTAR}}
{{c|Membumikan Keris Indonesia}}
Pengakuan Keris Indonesia sebagai Karya Agung Dunia Warisan Kemanusiaan oleh UNESCO pada tanggal 25 Nopember 2005 memiliki dampak yang luas terhadap budaya perkerisan di Indonesia. Perkembangan ini tentu saja harus didukung dengan terus menggiatkan kajian-kajian mengenai pemahaman terhadap ilmu perkerisan. Untuk itu, kita memerlukan kerisologi: sebuah ilmu perkerisan yang menyangkut berbagai disiplin ilmu seperti; sejarah, sosiologi, antropologi, arkeologi, etnografi, metalurgi, seni rupa, kepercayaan, falsafah, dan mistik. Krisologi diharapkan sebagai bekal yang layak untuk melestarikan dan menghadirkan budaya keris baik di dalam negeri maupun di dunia internasional sejak hari ini dan seterusnya.
Keris tidak sekedar hasil kriya logam atau senjata fungsional seperti benda-benda lainnya. Dua aspek yang melingkupi keris baik bendawi maupun non bendawi membuat keris berbeda dengan seni kriya logam lain yang berbentuk senjata. Dari sifat bendawinya (tangible) keris terbuat dari bahan-bahan terpilih, ditempa dengan cara yang rumit, dan dibentuk serta dipahat ukir dengan keahlian yang tinggi. Selain itu, keris juga memiliki nilai-nilai non bendawi (intangible). Nilai non bendawi inilah yang perlu untuk terus dikaji dan dikembangkan sebagai pewarisan budaya bagi masyarakat. Aspek-aspek non bendawi yang meliputi; sejarah, tradisi, fungsi sosial, aspek seni, falsafah, simbolisme dan unsur istik inilah yang menjadikan keris diakui oleh UNESCO. Pengakuan tersebut menjadikan bangsa Indonesia berbesar hati, bahwa karya agung nenek moyang kita sudah diakui oleh dunia.
Untuk itu, perlu komitmen dan gerakan dari semua pihak terkait, baik pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk bersama-sama terus melestarikan keris Indonesia. Salah satu upaya yang sedang dibangun adalah melalui penerbitan buku materi muatan lokal bidang kebudayaan yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan paguyuban keris Mertikarta Yogyakarta. Buku ini merupakan upaya strategis untuk mengajarkan pengetahuan perkerisan melalui jalur pendidikan kepada peserta didik pada tingkatan sekolah menengah atas/ sekolah menengah kejuruan. Melalui buku ini juga, diharapkan ke depan akan semakin banyak lahir generasi yang mampu terus merawat dan melestarikan keris sehingga keris Indonesia terus lestari dan berkembang. Selamat membaca.
{{rh|||Haryono Haryoguritno}}
{{rh|||Maestro Keris Indonesia}}
{{Rule}}<noinclude>{{rh||v}}</noinclude>
tq6lfm36703uoc6sdl43hjssxtvqgo9
Halaman:Keris (2014).pdf/25
104
116476
320796
2026-10-11T07:16:05Z
Iin60m3k
27038
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Warna besi dan wujud keris biasanya dikaitkan dengan keampuhan, tuah, zaman pembuatan, serta pembawaan empu yang menciptakannya dari pada dikaitkan dengan keindahan keris. Namun tidak berarti bahwa keris sama sekali tidak mengandung persoalan estetik. Sesuai dengan perkembangan zaman, pembuatan keris secara tradisional makin berkurang dikarenakan kemajuan teknologi...
320796
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iin60m3k" /></noinclude><p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Warna besi dan wujud keris biasanya dikaitkan dengan keampuhan, tuah,
zaman pembuatan, serta pembawaan empu yang menciptakannya dari pada
dikaitkan dengan keindahan keris. Namun tidak berarti bahwa keris sama sekali
tidak mengandung persoalan estetik. Sesuai dengan perkembangan zaman,
pembuatan keris secara tradisional makin berkurang dikarenakan kemajuan
teknologi sehingga keris dapat dibuat dalam jumlah banyak. Pada zaman dahulu
pembuatan sebuah keris oleh seorang empu akan memakan waktu sekitar
beberapa bulan sampai satu tahun atau lebih, sesuai dengan kaidah pembuatan
keris secara tradisional.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Masyarakat Jawa memandang keris sebagai pusaka berawal dari
kepercayaan masyarakat bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di
dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu menyatunya secara harmonis unsur
lelaki dengan unsur perempuan. Tuhan menciptakan makhluk dalam dua jenis
kelamin yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhtumbuhan. Kepercayaan pada filsafat agraris ini sangat mendasar di lingkungan
keluarga besar keraton di Jawa, seperti keraton Kasunanan Surakarta dan
Kasultanan Yogyakarta. Kepercayaan itu mulanya dari lingga-yoni Hinduisme
yang pernah dianut oleh masyarakat di Jawa, yaitu kepercayaan tentang 'bapa
angkasa' dan 'ibu bumi pertiwi'. Kepercayaan tersebut terwujud dalam bentuk
upacara 'kirab pusaka' tiap tanggal satu bulan Sura dalam kalender Jawa dengan
mengkirabkan pusaka unggulan keraton yang terdiri dari senjata pusaka seperti
keris dan tombak.</p>
2.1.3 Ragam Dhapur Keris
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Keris Jawa dibangun berdasarkan anatomi tubuh yang telah dipakemkan
sejak zaman dahulu. Bangun tubuh keris dibagi dalam beberapa bagian yang tiaptiap bagiannya memiliki bentuk dan kontribusi fungsi tersendiri walaupun tetap
selalu menjadi suatu kesatuan bilah keris. Sebuah keris harus lengkap dengan
bagian anatomi tubuhnya. Bila ada yang kurang, maka tidak dapat disebut sebagai
keris yang utuh. Masing-masing bagian anatomi tubuh bilah keris memiliki bagian
yang lebih detail lagi sebagai unsur pendukung yang memperkaya keadaannya.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Detail-detail bagian keris yang dapat diletakkan pada bagian tubuh keris
disebut dengan ricikan. Anatomi tubuh bilah keris berfungsi sebagai wadah
dasar untuk menyematkan unsur ricikan pada bagian tertentu pada bilah keris.
Perbedaan ricikan yang dimiliki oleh bilah keris akan mempengaruhi penamaan
dhapur-nya, karena dhapur keris memang tergantung pada ricikan yang dimiliki
dalam tiap bagian anatomi tubuh bilah keris.</p>
{{rule}}
{{rh|18|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
g3lwdbbt86isikvez9qhnxggfnr93ud
320803
320796
2026-10-11T07:20:34Z
Iin60m3k
27038
320803
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iin60m3k" /></noinclude><p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Warna besi dan wujud keris biasanya dikaitkan dengan keampuhan, tuah,
zaman pembuatan, serta pembawaan empu yang menciptakannya dari pada
dikaitkan dengan keindahan keris. Namun tidak berarti bahwa keris sama sekali
tidak mengandung persoalan estetik. Sesuai dengan perkembangan zaman,
pembuatan keris secara tradisional makin berkurang dikarenakan kemajuan
teknologi sehingga keris dapat dibuat dalam jumlah banyak. Pada zaman dahulu
pembuatan sebuah keris oleh seorang empu akan memakan waktu sekitar
beberapa bulan sampai satu tahun atau lebih, sesuai dengan kaidah pembuatan
keris secara tradisional.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Masyarakat Jawa memandang keris sebagai pusaka berawal dari
kepercayaan masyarakat bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di
dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu menyatunya secara harmonis unsur
lelaki dengan unsur perempuan. Tuhan menciptakan makhluk dalam dua jenis
kelamin yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhtumbuhan. Kepercayaan pada filsafat agraris ini sangat mendasar di lingkungan
keluarga besar keraton di Jawa, seperti keraton Kasunanan Surakarta dan
Kasultanan Yogyakarta. Kepercayaan itu mulanya dari lingga-yoni Hinduisme
yang pernah dianut oleh masyarakat di Jawa, yaitu kepercayaan tentang 'bapa
angkasa' dan 'ibu bumi pertiwi'. Kepercayaan tersebut terwujud dalam bentuk
upacara 'kirab pusaka' tiap tanggal satu bulan Sura dalam kalender Jawa dengan
mengkirabkan pusaka unggulan keraton yang terdiri dari senjata pusaka seperti
keris dan tombak.</p>
<Big>2.1.3 Ragam Dhapur Keris
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Keris Jawa dibangun berdasarkan anatomi tubuh yang telah dipakemkan
sejak zaman dahulu. Bangun tubuh keris dibagi dalam beberapa bagian yang tiaptiap bagiannya memiliki bentuk dan kontribusi fungsi tersendiri walaupun tetap
selalu menjadi suatu kesatuan bilah keris. Sebuah keris harus lengkap dengan
bagian anatomi tubuhnya. Bila ada yang kurang, maka tidak dapat disebut sebagai
keris yang utuh. Masing-masing bagian anatomi tubuh bilah keris memiliki bagian
yang lebih detail lagi sebagai unsur pendukung yang memperkaya keadaannya.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Detail-detail bagian keris yang dapat diletakkan pada bagian tubuh keris
disebut dengan ricikan. Anatomi tubuh bilah keris berfungsi sebagai wadah
dasar untuk menyematkan unsur ricikan pada bagian tertentu pada bilah keris.
Perbedaan ricikan yang dimiliki oleh bilah keris akan mempengaruhi penamaan
dhapur-nya, karena dhapur keris memang tergantung pada ricikan yang dimiliki
dalam tiap bagian anatomi tubuh bilah keris.</p>
{{rule}}
{{rh|18|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
n77a0g7azpuv79xxsn0wbc7rj9lgqnc
320875
320803
2026-10-11T07:56:57Z
Iin60m3k
27038
/* Telah diuji baca */
320875
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iin60m3k" /></noinclude><p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Warna besi dan wujud keris biasanya dikaitkan dengan keampuhan, tuah,
zaman pembuatan, serta pembawaan empu yang menciptakannya dari pada
dikaitkan dengan keindahan keris. Namun tidak berarti bahwa keris sama sekali
tidak mengandung persoalan estetik. Sesuai dengan perkembangan zaman,
pembuatan keris secara tradisional makin berkurang dikarenakan kemajuan
teknologi sehingga keris dapat dibuat dalam jumlah banyak. Pada zaman dahulu
pembuatan sebuah keris oleh seorang empu akan memakan waktu sekitar
beberapa bulan sampai satu tahun atau lebih, sesuai dengan kaidah pembuatan
keris secara tradisional.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Masyarakat Jawa memandang keris sebagai pusaka berawal dari
kepercayaan masyarakat bahwa awal mula eksistensi mahkluk di bumi atau di
dunia bersumber dari filsafat agraris, yaitu menyatunya secara harmonis unsur
lelaki dengan unsur perempuan. Tuhan menciptakan makhluk dalam dua jenis
kelamin yaitu lelaki dan perempuan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhtumbuhan. Kepercayaan pada filsafat agraris ini sangat mendasar di lingkungan
keluarga besar keraton di Jawa, seperti keraton Kasunanan Surakarta dan
Kasultanan Yogyakarta. Kepercayaan itu mulanya dari lingga-yoni Hinduisme
yang pernah dianut oleh masyarakat di Jawa, yaitu kepercayaan tentang 'bapa
angkasa' dan 'ibu bumi pertiwi'. Kepercayaan tersebut terwujud dalam bentuk
upacara 'kirab pusaka' tiap tanggal satu bulan Sura dalam kalender Jawa dengan
mengkirabkan pusaka unggulan keraton yang terdiri dari senjata pusaka seperti
keris dan tombak.</p>
<Big>2.1.3 Ragam Dhapur Keris
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Keris Jawa dibangun berdasarkan anatomi tubuh yang telah dipakemkan
sejak zaman dahulu. Bangun tubuh keris dibagi dalam beberapa bagian yang tiaptiap bagiannya memiliki bentuk dan kontribusi fungsi tersendiri walaupun tetap
selalu menjadi suatu kesatuan bilah keris. Sebuah keris harus lengkap dengan
bagian anatomi tubuhnya. Bila ada yang kurang, maka tidak dapat disebut sebagai
keris yang utuh. Masing-masing bagian anatomi tubuh bilah keris memiliki bagian
yang lebih detail lagi sebagai unsur pendukung yang memperkaya keadaannya.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Detail-detail bagian keris yang dapat diletakkan pada bagian tubuh keris
disebut dengan ricikan. Anatomi tubuh bilah keris berfungsi sebagai wadah
dasar untuk menyematkan unsur ricikan pada bagian tertentu pada bilah keris.
Perbedaan ricikan yang dimiliki oleh bilah keris akan mempengaruhi penamaan
dhapur-nya, karena dhapur keris memang tergantung pada ricikan yang dimiliki
dalam tiap bagian anatomi tubuh bilah keris.</p>
{{rule}}
{{rh|18|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
cj0pxln3pyslghfa4d7tisi6vhpvmfa
Halaman:Keris (2014).pdf/80
104
116477
320797
2026-10-11T07:18:17Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320797
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Seyogyanya, pemahaman atas budaya perkerisan tidak boleh menjauh dari
pakem yang ditetapkan keraton sebagai pusat kebudayaan. Bahwa ada lebih dari
satu keraton sebagai pusat kebudayaan dan dinamika kebudayaan keris pasti terus
berkembang, hal itu pun harus selalu disadari sebagai bagian dari pendalaman
dan pengembangan budaya perkerisan. Kesadaran bahwa budaya perkerisan
adalah amanah titipan dunia yang harus dijaga dan dikembangkan oleh para
pewaris akar budayanya adalah keharusan yang mutlak. Di sisi lain, budaya keris
agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri terhadap kebudayaan senjata dari
luar negeri pun harus ditegakkan, sehingga turut menjadi unsur pemerkokoh
ketahanan identitas kebudayaan Nusantara terhadap infiltrasi budaya asing yang
melemahkan dan merugikan keberlangsungan kejayaan bangsa.
2.3.3 Ekonomi
Kemampuan membuat keris pacla masa lalu dirahasiakan, tertutup dan
kebanyakan dilakukan dilingkungan keraton. Pada awalnya keris yang dibuat
berpamor sederhana dan terbuat dengan tidak sengaja karena lipatan-lipatan
penempaan keris. Kemudian karena keindahannya, unsur simbolik dan magis
yang ditanamkan oleh empu pembuatnya maka pamor itu berkembang dan
direncanakan sehingga sesuai dengan simbol-simbol yang ingin dicapai. Sejarah,
legenda, mitos tentang keris dan pembuatannya menjadikan keris bukan hanya
sebagai senjata tetapi fungsinya bertambah antara lain sebagai status sosial,
tanda jasa, kelengkapan busana, simbolis, pusaka, falsafah dan lain-lain. Secara
simbolis salah satu unsur fungsi simbolis adalah sebagai benda cenderamata.
Kebutuhan dan permintaan akan terus bertambah, sedangkan proses pembuatan
keris tradisional oleh empu yang sulit, mahal, memakan waktu dan tenaga
mengakibatkan bermunculannya perajin-perajin keris yang membuat keris
dengan cara mudah dan murah.
Keris yang dibuat di masa kini mirip dengan produk yang dibuat secara
tradisional namun bila diperhatikan dari segi mutu bahan dan pamor akan terlihat
perbedaannya. Kebanyakan orang, dikarenakan ketidaktahuannya tentang keris
banyak mendapatkan keris cenderamata yang dibuat bukan secara tradisional,
dikarenakan murah harganya. Keris yang dibuat secara tradisional pada zaman
dahulu, pembuatan keris dan kelengkapan perabotnya pun masih menggunakan
alat yang sederhana, berbeda dengan pembuatan masa kini.<noinclude>Sekilas Tentang Keris | 73</noinclude>
nn1qzr13w6wjkt9cbtjhwqhil4osw0q
320822
320797
2026-10-11T07:28:32Z
VidiDhemas21
24365
320822
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Seyogyanya, pemahaman atas budaya perkerisan tidak boleh menjauh dari
pakem yang ditetapkan keraton sebagai pusat kebudayaan. Bahwa ada lebih dari
satu keraton sebagai pusat kebudayaan dan dinamika kebudayaan keris pasti terus
berkembang, hal itu pun harus selalu disadari sebagai bagian dari pendalaman
dan pengembangan budaya perkerisan. Kesadaran bahwa budaya perkerisan
adalah amanah titipan dunia yang harus dijaga dan dikembangkan oleh para
pewaris akar budayanya adalah keharusan yang mutlak. Di sisi lain, budaya keris
agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri terhadap kebudayaan senjata dari
luar negeri pun harus ditegakkan, sehingga turut menjadi unsur pemerkokoh
ketahanan identitas kebudayaan Nusantara terhadap infiltrasi budaya asing yang
melemahkan dan merugikan keberlangsungan kejayaan bangsa.
2.3.3 Ekonomi
Kemampuan membuat keris pacla masa lalu dirahasiakan, tertutup dan
kebanyakan dilakukan dilingkungan keraton. Pada awalnya keris yang dibuat
berpamor sederhana dan terbuat dengan tidak sengaja karena lipatan-lipatan
penempaan keris. Kemudian karena keindahannya, unsur simbolik dan magis
yang ditanamkan oleh empu pembuatnya maka pamor itu berkembang dan
direncanakan sehingga sesuai dengan simbol-simbol yang ingin dicapai. Sejarah,
legenda, mitos tentang keris dan pembuatannya menjadikan keris bukan hanya
sebagai senjata tetapi fungsinya bertambah antara lain sebagai status sosial,
tanda jasa, kelengkapan busana, simbolis, pusaka, falsafah dan lain-lain. Secara
simbolis salah satu unsur fungsi simbolis adalah sebagai benda cenderamata.
Kebutuhan dan permintaan akan terus bertambah, sedangkan proses pembuatan
keris tradisional oleh empu yang sulit, mahal, memakan waktu dan tenaga
mengakibatkan bermunculannya perajin-perajin keris yang membuat keris
dengan cara mudah dan murah.
Keris yang dibuat di masa kini mirip dengan produk yang dibuat secara
tradisional namun bila diperhatikan dari segi mutu bahan dan pamor akan terlihat
perbedaannya. Kebanyakan orang, dikarenakan ketidaktahuannya tentang keris
banyak mendapatkan keris cenderamata yang dibuat bukan secara tradisional,
dikarenakan murah harganya. Keris yang dibuat secara tradisional pada zaman
dahulu, pembuatan keris dan kelengkapan perabotnya pun masih menggunakan
alat yang sederhana, berbeda dengan pembuatan masa kini.
{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|73}}<noinclude></noinclude>
pvt4alcnp5xpbtqgoaz8i8qkxxinvsi
Halaman:Keris (2014).pdf/24
104
116478
320799
2026-10-11T07:19:42Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
320799
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>kepada keturunannya. Jadi dalam hal ini penciptaan dan pemilikan keris dapat memiliki arti sebagai suatu sosialisasi nilai-nilai historis dalam memperjuangkan keberlangsungan bangsa.
Keris adalah salah satu benda budaya, terlebih lagi sebagai karya seni keris memenuhi unsur kebudayaan karena benda itu lahir dari akal budi dan pikiran manusia, sementara itu budaya keris sendiri sangat akrab hubungannya dengan unsur budaya yang lainnya, seperti tata busana adat, upacara, dan berbagai kebiasaan serta tradisi dalam masyarakat. Sir Thomas Stamford Raffles, dalam bukunya, The History of Java (Raffles, 2008), mengatakan senjata keris mendapat kedudukan istimewa pada prajurit Jawa. Mereka umumnya menyandang tiga buah keris sekaligus, yaitu keris yang di sebelah kiri berasal dari mertua, keris di sebelah kanan dari orang tua, keris di belakang adalah keris miliknya sendiri.
{{c|[[File:Keris (2014) (page 24 crop).jpg|200px|Keris (2014) (page 24 crop)]]}}<br>Gambar 8. Prajurit Jawa dengan tombak, pedang dan dua buah keris.(http://www.christies.com/lotfinder/books-manuscripts/raffles-thomas-stamford-the-history-of-5281545-details.aspx)}}<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|17}}</noinclude>
9iuml0jis3jkzo74nh8iuthx0bx6qiq
320828
320799
2026-10-11T07:30:58Z
Thersetya2021
15831
320828
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>kepada keturunannya. Jadi dalam hal ini penciptaan dan pemilikan keris dapat memiliki arti sebagai suatu sosialisasi nilai-nilai historis dalam memperjuangkan keberlangsungan bangsa.
Keris adalah salah satu benda budaya, terlebih lagi sebagai karya seni keris memenuhi unsur kebudayaan karena benda itu lahir dari akal budi dan pikiran manusia, sementara itu budaya keris sendiri sangat akrab hubungannya dengan unsur budaya yang lainnya, seperti tata busana adat, upacara, dan berbagai kebiasaan serta tradisi dalam masyarakat. Sir Thomas Stamford Raffles, dalam bukunya, The History of Java (Raffles, 2008), mengatakan senjata keris mendapat kedudukan istimewa pada prajurit Jawa. Mereka umumnya menyandang tiga buah keris sekaligus, yaitu keris yang di sebelah kiri berasal dari mertua, keris di sebelah kanan dari orang tua, keris di belakang adalah keris miliknya sendiri.
{{c|[[File:Keris (2014) (page 24 crop).jpg|200px|Keris (2014) (page 24 crop)]]<br>Gambar 8. Prajurit Jawa dengan tombak, pedang dan dua buah keris.(http://www.christies.com/lotfinder/books-manuscripts/raffles-thomas-stamford-the-history-of-5281545-details.aspx)}}<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|17}}</noinclude>
1hhuncw1qjax5an3x54jrqo3ju8o2ax
Halaman:Keris (2014).pdf/45
104
116479
320800
2026-10-11T07:19:56Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320800
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>Mas Ngabehi Wirasoekadga dalam Serat Pananggoehing Dhoewoeng (1936;36-40), mengemukakan 19 kelompok periode dari tangguh keris dengan ciri masing-masing karya dari para empu, yang tiap-tiap karyanya disimpulkan dengan candra sesuai tampilannya dengan rinci dan ketat. Pengelompokannya adalah sebagai berikut.
a. Tangguh Pejajaran: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Keleng; Ki Kuwung; Ki Loning; Ki Angga; para empu di Pagelen; Ki Sikir di desa Tapan; Ki Siung Wanara (Arya Banyakwidé).
b. Tangguh Tuban: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Panekti; Ki Suratman; Ki Modin; Ki Galaita; Ki Bekel Jati; Ki Supadriya; Ni Mbok Sombro; Ki Jirak.
c. Tangguh Madura: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Kasa; Ki Macan; Ki Kacang: Empu Tuju Madura.
d. Tangguh Blambangan: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Mendhung; Ki Tembarok; Ki Supagati; Pangeran Pitrang.
e. Tangguh Majapahit: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Supadriya; Ki Supagati; Ki Jaka Supa; Ki Jigja; Ki Angga Cuwiri; Ki Singkir Wanabaya; Empu Pekelun (Perkumpulan dari para Empu di negara Majapahit, seperti Desa Taruwangsa, Majasta, Banyubiru, Tembayat,Serangg, dan sebagainya).
f. Tangguh Sedayu: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Pangeran Sedayu; Empu panjak Sedayu (yang dikelola oleh Pangeran Sedayu), atau para sahabat lainnya.
g. Tangguh Jenu (letaknya berdekatan dengan Jipang): merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Adipati Jenu, yakni Ki Jaka Sura.
h. Tangguh Tiris Dayu: merupakan pengelompokan dari para empu keris dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Siki.
i. Tangguh Sétra-Banyu (dari Desa Tesih): merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Setra.
j. Tangguh Madiun: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Kodhok (Ki Supa Nom), serta karya para sahabatnya.
{{Rule}}<noinclude>{{rh|38|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
5m2wwecugi360f81lzcovtvnh6sqcjy
Halaman:Keris (2014).pdf/142
104
116480
320804
2026-10-11T07:21:17Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]] {{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014)}} Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014) Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris (capture video bahan ajar keris ,2...
320804
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)
Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)
Proses Pembuatan Warangka<noinclude></noinclude>
52inc3xr6x2d4g27zam8r5fmlhews4e
320808
320804
2026-10-11T07:22:00Z
Pijri Paijar
19487
320808
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)
Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)
Proses Pembuatan Warangka<noinclude></noinclude>
84labdu9jye4s9ricwcfo4sj84dovib
320810
320808
2026-10-11T07:23:53Z
Pijri Paijar
19487
320810
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)
Proses Pembuatan Warangka<noinclude></noinclude>
d8od7ig7og27lb8thttluq9oooxbcd6
320817
320810
2026-10-11T07:25:57Z
Pijri Paijar
19487
320817
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|centhaer|200px]]
{{c|Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
Proses Pembuatan Warangka<noinclude></noinclude>
onaiqs27btwmkuyaozeunzf7ozc2r9m
320818
320817
2026-10-11T07:26:38Z
Pijri Paijar
19487
320818
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude></noinclude>
57sczvzm88h9onxnwax76gjwgvta0km
320821
320818
2026-10-11T07:27:41Z
Pijri Paijar
19487
/* Telah diuji baca */
320821
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh|||133|Proses Pembuatan Warangka|}}</noinclude>
5yuknjoieoofdtliie0v8hygyfhuqwu
320825
320821
2026-10-11T07:29:49Z
Pijri Paijar
19487
320825
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}<noinclude>{{rh||Proses Pembuatan Warangka|133}}</noinclude>
l4khx2zdbl8k2641dvrk9be51i2m8wf
320826
320825
2026-10-11T07:30:17Z
Pijri Paijar
19487
320826
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{ruler}}<noinclude>{{rh||Proses Pembuatan Warangka|133}}</noinclude>
m404vne7c1qvlfxf2d910kn5y3uko6e
320827
320826
2026-10-11T07:30:53Z
Pijri Paijar
19487
320827
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>[[File:Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 110. Pembentukan detil warangka dengan menggunakan pangot
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 111. Penghalusan detil warangka dengan menggunakan rempelas
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
[[File:Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris (capture video bahan ajar keris ,2014).jpg|center|200px]]
{{c|Gambar 112. Pembentukan gandar yang disesuaikan dengan bilah keris
(capture video bahan ajar keris ,2014)}}
{{Rule}}<noinclude>{{rh||Proses Pembuatan Warangka|133}}</noinclude>
9wyq92nnd4jv5vmzojae695q8asjjux
Halaman:Keris (2014).pdf/101
104
116481
320807
2026-10-11T07:21:48Z
Bennylin
334
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Menurut Empu Djeno Harumbrodjo, sesaji pembuatan keris terdiri dari hasil bumi mentah atau olahan, dan benda-benda yang bermakna magis, seperti kemenyan. Sebenarnya, sejak sebelum persiapan, ritual doa dan laku tertentu pun telah dilakukan untuk mendapatkan petunjuk untuk keris yang cocok sesuai pesanan, kemudian dilanjutkan dengan memilih hari baik untuk memulai penempaan dan ritual permohonan kepada Tuhan agar menurunkan berkah-Nya menjadi yon...
320807
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bennylin" /></noinclude>Menurut Empu Djeno Harumbrodjo, sesaji pembuatan keris terdiri
dari hasil bumi mentah atau olahan, dan benda-benda yang bermakna magis,
seperti kemenyan. Sebenarnya, sejak sebelum persiapan, ritual doa dan laku
tertentu pun telah dilakukan untuk mendapatkan petunjuk untuk keris yang
cocok sesuai pesanan, kemudian dilanjutkan dengan memilih hari baik untuk
memulai penempaan dan ritual permohonan kepada Tuhan agar menurunkan
berkah-Nya menjadi yoni keris yang baik. Pada masa lalu, terutama untuk keriskeris yang diharapkan menjadi pusaka khusus, permohonan itu dilakukan jauh
sebelumnya, yaitu dengan menjalani laku rohani berupa tirakat, berpuasa, dan
lain sebagainya, baik oleh empu maupun pemesan keris. Selain itu, lazim pula
penggunaan petung, yaitu perhitungan waktu dan saat dimulainya pekerjaan,
menurut perhitungan primbon. (Harsrinuksmo, 1988; 23).
Pada umumnya, dasar utama pemikiran untuk memilih hari baik dalam
pembuatan keris adalah dengan menghindari hari naas, terutama hari kematian
para empu ternama di masa lalu. (S. Lumintu, 2004; 18). Ki Empu Djeno
Harumbrojo sebagai empu keris, contohnya, memantang hari Setu Kliwon dan
Senin Pahing untuk pembuatan keris karena kedua hari itu merupakan dina
geblag atau hari kematian kakek dan ayahnya. (Sumintarsih, 1990; 74).
4.2 Penempaan Dasar
Penempaan dasar merupakan pekerjaan pandhe (pandai besi) dalam
mempersiapkan besi bahan keris, yaitu dengan cara diimpal (dipesu/mesu) .
Tujuan pekerjaan ini adalah menghasilkan besi bahan murni yang disebut wesi
wasuhan, yang berfungsi menjadi media bentuk sekaligus untuk media pengikat
lapisan pamor. Kata wasuhan berasal dari kata wasuh (basuh) yang berarti 'cuci'.
Wesi wasuhan adalah besi yang sudah dimurnikan dari unsur karat, kotoran,
ataupun mineral lainnya dengan proses bakar, tempa, ulur, lipat, rekat, bakar
dan seterusnya berulang kali. Proses pengerjaan besi seperti inilah yang disebut
mesu atau mbesot. Semua jenis besi yang ditempa harus dimurnikan pada
temperatur sekitar 1100° Celcius. Dengan pe-mesu-an ini (pengimpalan), tidak
hanya didapatkan manfaat teknis pemurnian bahan, dari 8 kg besi menjadi 4 kg,
tetapi juga munculnya serat-serat besi yang kelak bisa memperindah penampilan
bilah keris. Kemudian, besi wasuhan ini disiapkan dalam dua lempengan untuk
mengapit bahan pamor.
94
Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris<noinclude></noinclude>
t0npczhopb62ry4njwxusta5a5k9bt0
320852
320807
2026-10-11T07:39:52Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
320852
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>Menurut Empu Djeno Harumbrodjo, sesaji pembuatan keris terdiri
dari hasil bumi mentah atau olahan, dan benda-benda yang bermakna magis,
seperti kemenyan. Sebenarnya, sejak sebelum persiapan, ritual doa dan laku
tertentu pun telah dilakukan untuk mendapatkan petunjuk untuk keris yang
cocok sesuai pesanan, kemudian dilanjutkan dengan memilih hari baik untuk
memulai penempaan dan ritual permohonan kepada Tuhan agar menurunkan
berkah-Nya menjadi yoni keris yang baik. Pada masa lalu, terutama untuk keris-keris yang diharapkan menjadi pusaka khusus, permohonan itu dilakukan jauh
sebelumnya, yaitu dengan menjalani laku rohani berupa tirakat, berpuasa, dan
lain sebagainya, baik oleh empu maupun pemesan keris. Selain itu, lazim pula
penggunaan pétung, yaitu perhitungan waktu dan saat dimulainya pekerjaan,
menurut perhitungan primbon. (Harsrinuksmo, 1988; 23).
Pada umumnya, dasar utama pemikiran untuk memilih hari baik dalam
pembuatan keris adalah dengan menghindari hari naas, terutama hari kematian
para empu ternama di masa lalu. (S. Lumintu, 2004; 18). Ki Empu Djeno
Harumbrojo sebagai empu keris, contohnya, memantang hari Setu Kliwon dan
Senin Pahing untuk pembuatan keris karena kedua hari itu merupakan dina
geblag atau hari kematian kakek dan ayahnya. (Sumintarsih, 1990; 74).
4.2 Penempaan Dasar
Penempaan dasar merupakan pekerjaan pandhé (pandai besi) dalam
mempersiapkan besi bahan keris, yaitu dengan cara diimpal (dipesu/mesu).
Tujuan pekerjaan ini adalah menghasilkan besi bahan murni yang disebut wesi
wasuhan, yang berfungsi menjadi media bentuk sekaligus untuk media pengikat
lapisan pamor. Kata wasuhan berasal dari kata wasuh (basuh) yang berarti 'cuci'.
Wesi wasuhan adalah besi yang sudah dimurnikan dari unsur karat, kotoran,
ataupun mineral lainnya dengan proses bakar, tempa, ulur, lipat, rekat, bakar
dan seterusnya berulang kali. Proses pengerjaan besi seperti inilah yang disebut
mesu atau mbesot. Semua jenis besi yang ditempa harus dimurnikan pada
temperatur sekitar 1100° Celcius. Dengan pe-mesu-an ini (pengimpalan), tidak
hanya didapatkan manfaat teknis pemurnian bahan, dari 8 kg besi menjadi 4 kg,
tetapi juga munculnya serat-serat besi yang kelak bisa memperindah penampilan
bilah keris. Kemudian, besi wasuhan ini disiapkan dalam dua lempengan untuk
mengapit bahan pamor.<noinclude></noinclude>
gsciwcm7lvwovcsy9xwkv3hrk09zo8y
Halaman:Keris (2014).pdf/100
104
116482
320812
2026-10-11T07:24:54Z
Bennylin
334
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'BAB IV PROSES PEMBUATAN KERIS 4.1 Persiapan Persiapan ini terdiri dari persiapan gagasan, teknis, spiritual clan persiapan seremonial. Persiapan gagasan, adalah ide clan rancangan empu dalam berkreasi memilih jenis dhapur, pola pamor, serta cara pengerjaannya. Terkadang para empu menentukan pilihan berdasarkan ilham atau wangsit yang diterimanya dari alam gaib saat m elakukan tirakat sebelum mengerjakan keris yang dipesan tersebut. Setidaknya,...
320812
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bennylin" /></noinclude>BAB IV
PROSES PEMBUATAN KERIS
4.1 Persiapan
Persiapan ini terdiri dari persiapan gagasan, teknis, spiritual clan persiapan
seremonial. Persiapan gagasan, adalah ide clan rancangan empu dalam berkreasi
memilih jenis dhapur, pola pamor, serta cara pengerjaannya. Terkadang para
empu menentukan pilihan berdasarkan ilham atau wangsit yang diterimanya
dari alam gaib saat m elakukan tirakat sebelum mengerjakan keris yang dipesan
tersebut. Setidaknya, jika dirasa tidak perlu untuk melaksanakan laku spiritual,
m aka keputusan tentang bentuk dhapur clan jenis pamor yang diambil merujuk
pada aspek estetis clan semiotis sesuai dengan keinginan pemesan keris (raja,
bangsawan, pembesar, atau orang biasa). Dalam teknis pelaksanaannya,
perancangan keris mengarah pada pemolaan pamor, kemudian baru ke arah
pemolaan bentuk dhapur yang dianggap berkaitan dengan pola pamor tersebut.
Selama proses pembuatan, ada kemungkinan sang empu mengubah pemilihan
pamor clan dhapur keris, karena pertimbangan teknis atau mendapat ilham baru.
Persiapan teknis adalah persiapan segala macam kebutuhan pelaksanaan,
mulai dari tempat, alat-alat, bahan-bahan, hingga· petugas-petugas yang terlibat
di dalamnya, seperti telah disinggung di muka. Persia pan spiritual clan seremonial
berada di dalam satu konsep pemikiran, yaitu dilakukan dengan harapan agar
pembuatan keris itu berjalan lancar clan dapat mencapai hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Caranya adalah dengan melakukan pembacaan doa, mantra, dan
menyediakan sajen tertentu sebelum pekerjaan dimulai.
Gambar 51. Sesajen pembuatan keris. (Unggul Sudrajat dan Mulyadi, 2012)
Proses Pembuatan Keris
I
93<noinclude></noinclude>
axt35p0ksczjoagy1grj5wnp7ex9wrn
320841
320812
2026-10-11T07:35:57Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
320841
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>{{C|BAB IV<br>
PROSES PEMBUATAN KERIS}}
4.1 Persiapan
Persiapan ini terdiri dari persiapan gagasan, teknis, spiritual dan persiapan
seremonial. Persiapan gagasan, adalah ide dan rancangan empu dalam berkreasi
memilih jenis dhapur, pola pamor, serta cara pengerjaannya. Terkadang para
empu menentukan pilihan berdasarkan ilham atau wangsit yang diterimanya
dari alam gaib saat melakukan tirakat sebelum mengerjakan keris yang dipesan
tersebut. Setidaknya, jika dirasa tidak perlu untuk melaksanakan laku spiritual,
maka keputusan tentang bentuk dhapur dan jenis pamor yang diambil merujuk
pada aspek estetis dan semiotis sesuai dengan keinginan pemesan keris (raja,
bangsawan, pembesar, atau orang biasa). Dalam teknis pelaksanaannya,
perancangan keris mengarah pada pemolaan pamor, kemudian baru ke arah
pemolaan bentuk dhapur yang dianggap berkaitan dengan pola pamor tersebut.
Selama proses pembuatan, ada kemungkinan sang empu mengubah pemilihan
pamor dan dhapur keris, karena pertimbangan teknis atau mendapat ilham baru.
Persiapan teknis adalah persiapan segala macam kebutuhan pelaksanaan,
mulai dari tempat, alat-alat, bahan-bahan, hingga petugas-petugas yang terlibat
di dalamnya, seperti telah disinggung di muka. Persiapan spiritual dan seremonial
berada di dalam satu konsep pemikiran, yaitu dilakukan dengan harapan agar
pembuatan keris itu berjalan lancar dan dapat mencapai hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Caranya adalah dengan melakukan pembacaan doa, mantra, dan
menyediakan sajen tertentu sebelum pekerjaan dimulai.
[[Berkas:keris (2014) (page 100).jpg|Gambar 51. Sesajen pembuatan keris. (Unggul Sudrajat dan Mulyadi, 2012)]]<noinclude></noinclude>
i6y9htx99h7l52w4zgyn1zftfmedf61
320855
320841
2026-10-11T07:41:48Z
Bennylin
334
320855
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>{{C|BAB IV<br>
PROSES PEMBUATAN KERIS}}
4.1 Persiapan
Persiapan ini terdiri dari persiapan gagasan, teknis, spiritual dan persiapan
seremonial. Persiapan gagasan, adalah ide dan rancangan empu dalam berkreasi
memilih jenis dhapur, pola pamor, serta cara pengerjaannya. Terkadang para
empu menentukan pilihan berdasarkan ilham atau wangsit yang diterimanya
dari alam gaib saat melakukan tirakat sebelum mengerjakan keris yang dipesan
tersebut. Setidaknya, jika dirasa tidak perlu untuk melaksanakan laku spiritual,
maka keputusan tentang bentuk dhapur dan jenis pamor yang diambil merujuk
pada aspek estetis dan semiotis sesuai dengan keinginan pemesan keris (raja,
bangsawan, pembesar, atau orang biasa). Dalam teknis pelaksanaannya,
perancangan keris mengarah pada pemolaan pamor, kemudian baru ke arah
pemolaan bentuk dhapur yang dianggap berkaitan dengan pola pamor tersebut.
Selama proses pembuatan, ada kemungkinan sang empu mengubah pemilihan
pamor dan dhapur keris, karena pertimbangan teknis atau mendapat ilham baru.
Persiapan teknis adalah persiapan segala macam kebutuhan pelaksanaan,
mulai dari tempat, alat-alat, bahan-bahan, hingga petugas-petugas yang terlibat
di dalamnya, seperti telah disinggung di muka. Persiapan spiritual dan seremonial
berada di dalam satu konsep pemikiran, yaitu dilakukan dengan harapan agar
pembuatan keris itu berjalan lancar dan dapat mencapai hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Caranya adalah dengan melakukan pembacaan doa, mantra, dan
menyediakan sajen tertentu sebelum pekerjaan dimulai.
[[Berkas:keris (2014) (page 100).jpg|thumb|Gambar 51. Sesajen pembuatan keris. (Unggul Sudrajat dan Mulyadi, 2012)]]<noinclude></noinclude>
72koibnoav6l3nylwp3j9h9h4j4hnd2
Halaman:Keris (2014).pdf/46
104
116483
320815
2026-10-11T07:25:40Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320815
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>k. Tangguh Demak, para empu pembuatnya tidak diketahui (anonim), dengan ciri tampilan: ganja keris umumnya rata, gulu mèlèd kecil, sirah cecak ngluncup, bangkèkan singset, buntut urang papak, seblakanipun ruruh, wasuhan pamor muyek menarik hati, besi berwarna kuning terasa kemba, posisi bilah andhekung kidhung, jika memakai kembang kacang nyantheng, jalèn mayat sumungkem, lambé gajah moncèr dan panjang, pèjètan dalam sempit, sogokan panjang kèder lebet, awak-awakan ngruwing, tetapi terlihat kendho, jika menggunakan rojèhan ri pandhan ngetumbar, jika keris lurus posisi membungkuk, jika menggunakan gandhik, gandhiknya sedang keder, tikel alis jugag.
l. Tangguh Cirebon (anonim), ganja umumnya merata biasanya iras, gulu mèlèd pendek, sirah cecak buweng, buntut urang methit, seblakipun keras ampang, wasuhan madya, pamor kurang lulut, kembang kacang seperti kecambah, keris kebanyakan kecil-kecil dan pendek, termasuk besi yang berdampingan iras dengan bilah, keris lurus atau luk kelihatannya sama, sogokan gatra panjang kèder lebet, dhapur kurang ntapan, seperti dhapur seking.
m. Tangguh Kudus (anonim), ganja umumnya merata, gulu mèlèd menggik pendek, sirah cecak lancip pendek, buntut urang papak, seblak lunyu, wasuhan pamor kurang lulut, pamor lamat-lamat, nujèn sajak semburat, kebanyakan keris sempit, keris lurus maupun luk rasanya mempunyai lagu yang sama, semu nujen.
n. Tangguh Pajang: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Umyang, dan para sahabatnya.
o. Tangguh Pajang Mataram: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Arya Japan.
p. Tangguh Mataram: merupakan pengelompokan dari para empu dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Umaji; Ki Legi; Ki Guling; Ki Nom; Ki Pangeran Sendhang.
q. Tangguh Ngèntha-èntha di Mataram berasal dari nama Empu Henthawayang, dengan ciri penampilan: ganja umumnya merata, gulu mèlèd macam-macam, sirah cecak juga demikian, bangkèkan warna-warna, buntut urang lancip, embatnya warna-warna, awak-awakan ganja tipis, seblakan kemba, wasuhan pamor kurang lulut, keris yang baik adalah yang seperti puh, sereng grengseng mathentheng kemba.
r. Tangguh Kartasura: merupakan pengelompokan dari buatan para empu keris dengan ciri karya masing-masing, di antaranya: Ki Lujuguna; Ki Macan; Ki Brajaguna I.
{{Rule}}<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|39}}</noinclude>
lmb0g6wldoflzjzz3qdcp1u59y9i3w0
Halaman:Keris (2014).pdf/104
104
116484
320816
2026-10-11T07:25:42Z
Bennylin
334
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '4.3. l Penempaan pola pamor Proses pembuatan pola pamor meliputi penanaman bahan pamor pada besi wasuhan yang menjadi media pengikat clan pembentuk, clan diteruskan dengan pengolahan melalui rekayasa tertentu untuk menghasilkan sebuah saton yang menjadi dasar pemunculan pola pamor tertentu pada bilah keris. Kata saton bermakna 'satuan ', maksudnya adalah sebuah bahan keris pada suatu fase proses tertentu yang menjadi hasil penyatuan dari dua a...
320816
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bennylin" /></noinclude>4.3. l Penempaan pola pamor
Proses pembuatan pola pamor meliputi penanaman bahan pamor pada
besi wasuhan yang menjadi media pengikat clan pembentuk, clan diteruskan
dengan pengolahan melalui rekayasa tertentu untuk menghasilkan sebuah saton
yang menjadi dasar pemunculan pola pamor tertentu pada bilah keris.
Kata saton bermakna 'satuan ', maksudnya adalah sebuah bahan keris pada suatu
fase proses tertentu yang menjadi hasil penyatuan dari dua atau tiga bahan
awal. Terdapat dua penyebutan saton, yaitu saton awal yang disebut saton wesipamor (besi+pamor) clan saton akhir yang disebut saton wesi-pamor-waja
(besi+pamor+baja) yang sudah berbentuk kodhokan. Sejak majunya industri
logam di dunia, bahan pamor mulai memakai nikel yang siap pakai dalam
bermacam bentuk, ada yang berupa lempengan-lempengan a tau batangan kawat.
Bila untuk pusaka-pusaka unggulan, keraton masih menggunakan batu meteor
Prambanan sebagai bahan pamor-nya.
Gambar 55. Pandai keris sedang menempa keris
(Unggul Sudrajat clan Mulyadi, 2012)
Proses Pembuatan Keris
97<noinclude></noinclude>
0crj8zi9gb3gkr8kwpfwvx0rymi3bkz
320864
320816
2026-10-11T07:49:42Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
320864
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>4.31 Penempaan pola pamor
Proses pembuatan pola pamor meliputi penanaman bahan pamor pada
besi wasuhan yang menjadi media pengikat dan pembentuk, dan diteruskan
dengan pengolahan melalui rekayasa tertentu untuk menghasilkan sebuah saton
yang menjadi dasar pemunculan pola pamor tertentu pada bilah keris.
Kata saton bermakna 'satuan', maksudnya adalah sebuah bahan keris pada suatu
fase proses tertentu yang menjadi hasil penyatuan dari dua atau tiga bahan
awal. Terdapat dua penyebutan saton, yaitu saton awal yang disebut saton wesipamor (besi+pamor) dan saton akhir yang disebut saton wesi-pamor-waja
(besi+pamor+baja) yang sudah berbentuk kodhokan. Sejak majunya industri
logam di dunia, bahan pamor mulai memakai nikel yang siap pakai dalam
bermacam bentuk, ada yang berupa lempengan-lempengan atau batangan kawat.
Bila untuk pusaka-pusaka unggulan, keraton masih menggunakan batu meteor
Prambanan sebagai bahan pamornya.
[[Berkas:keris (2014) (page 104).jpg|thumb|
Gambar 55. Pandai keris sedang menempa keris
(Unggul Sudrajat clan Mulyadi, 2012)]]<noinclude></noinclude>
8lsz8tenrmml39aa2pb71nkmq5wcliw
Halaman:Keris (2014).pdf/47
104
116485
320823
2026-10-11T07:28:47Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320823
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>s. Tangguh Surakarta: merupakan pengelompokkan dari para empu keris dengan ciri karya masing-masing, di antaranya sebagai berikut.
# Ki Brajaguna II (Susuhunan Paku Buwana IV);
# Ki Brajaguna III (Susuhunan Paku Buwana V);
# Ki Tirta Dangsa di Mangkubumèn; Ki Brajaguna IV (Susuhunan VI-VII)
# Ki Brajaguna V, Ki Jayasukadga, Ki Japan, Ki Singawijaya, Ki Brajasetama (Susuhunan Paku Buwana IX);
# Ki Jayasukadga, Ki Wirasukadga, Ki Mangunmalela (Susuhunan Paku Buwana X)
Selain tangguh Surakarta, juga dikenal tangguh keris Yogyakarta. Surakarta dan Yogyakarta adalah dua kerajaan yang didirikan berdasarkan Perjanjian Giyanti tahun 1755, ialah pembelahan kerajaan Mataram Islam menjadi dua. Tangguh keris Yogyakarta dikembangkan oleh para empu yang terkenal dari keraton Yogyakarta, ialah: Empu R.M. Supajaya (zaman Hamengku Buwana I), Empu Japan II dan Empu Kartayuda (zaman Hamengku Buwana IV-V), Empu Lombang, Empu R. Panewu Kartawigena, Empu tumenggung Wangsawijaya, Empu Jayasemita, dan Empu Tumenggung Riyakusuma (zaman Hamengku Buwana IV-V), Empu R. Panewu Prawiradahana, Empu Wedana Prawirodipuro, (zaman Hamengku Buwana VII-VIII), Empu R. Bekel Tarunadahana (zaman Hamengku Buwana VIII).
Di wilayah Yogyakarta, di samping tangguh Istana Hamengku Buwana (HB), terdapat juga tangguh keris Pura Paku Alam (PA) dan tangguh Ngentha-entha lanjutan seperti karya Empu Supowinangun, Empu Harumbrojo dan Empu Sungkowo. Adapun di wilayah Surakarta hanya berkembang tangguh keris dari Istana Paku Buwana (PB) dan tangguh karya empu dalam lingkup Pangeran Mangkubumi (Mangkubumen), sedangkan Pura Kadipaten Mangkunegaran tidak mengembangkan tangguh keris karena sudah menjadi kesepakatan dalam Perjanjian Salatiga.
{{Rule}}<noinclude>{{rh|40|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
dhd8jzjz8chkpe0i6dynm4nzw8iqtpa
Halaman:Keris (2014).pdf/105
104
116486
320824
2026-10-11T07:29:36Z
Bennylin
334
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Pamor nikel pada contoh proses berikut ini adalah menggunakan yang berwujud kawat. Mula-mula, bahan pamor tersebut dilengkungkan dan dimasukkan ke dalam conthongan (besi pembungkus), lalu ditempatkan di antara kedua lempeng besi yang sudah diwasuh, dan dipijar bersama-sama, selanjutnya ditempa berbarengan hingga kedua lempengan itu lekat menjadi satu dengan bahan pamor yang sudah terapit di dalamnya. Proses semacam ini dikerjakan pada suhu ± l.l...
320824
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bennylin" /></noinclude>Pamor nikel pada contoh proses berikut ini adalah menggunakan yang
berwujud kawat. Mula-mula, bahan pamor tersebut dilengkungkan dan
dimasukkan ke dalam conthongan (besi pembungkus), lalu ditempatkan di antara
kedua lempeng besi yang sudah diwasuh, dan dipijar bersama-sama, selanjutnya
ditempa berbarengan hingga kedua lempengan itu lekat menjadi satu dengan
bahan pamor yang sudah terapit di dalamnya. Proses semacam ini dikerjakan
pada suhu ± l.l00°C, sedangkan titik lebur besi ± l.450°C.
Untuk mendapatkan sejumlah lapisan pamor, saton selanjutnya juga harus
dibuat berlapis. Caranya adalah dibesot seperti membuat besi wasuhan, yaitu:
pijar, tempa, ulur, lipat, dan rekat. Rangkap pelipatannya dapat dilakukan dalam
kelipatan dua atau tiga, dan pada suhu l.100°C, lalu dapat diulang beberapa
kali sesuai dengan jumlah lapisan pamor yang dikehendaki, dan tergantung
juga dengan efek tampilan pamor yang direncanakan, bisa kasar atau halus.
(Sumintarsih, 1990; 96-97).
Besi dengan pamor tersebut adalah yang selanjutnya disebut saton: besi
dan pamor yang nantinya akan diperuntukkan dalam pekerjaan udawadana yaitu
melekatkan pamor pada bilah, masuk ke golongan pamor jwalana atau pamor
anukarta. Untuk lebih jelasnya, sebelum membahas lebih lanjut tentang proses
pengimpalan pamor, maka akan dijabarkan dahulu mengenai pamor jwalana dan
pamor anukarta. B.P.H. Sumodiningrat, dalam bukunya Pamor - Keris (1983; 3).
Tutup
Conlhongan
Pamer
Bahan
Lempeng besi wasuhan yang disiapkan
khusus untuk melapisi bungkusan pamor
ukuran 12 x 5 x 0.75 cm. Berat seluruhnya 1 kg
Bungkusan pamor
Ditaruh di tengah
kedua lempeng besi
wasuhan dan
kemudian di-pijer
bersama-sama
Pamor bahan 2a02
dimasukan ke dalam
conthongan
r
MaSJng-masing
bahan pamor
dilekuk meniadi
seperti
-.iiiiiiiiiiii
huruf S dan ,;
dihi"l>lll<an
••lll•rl
Besi pada proses 2b03
dillJlupdeogan
conlhongan
(2b05) menjadi
semacam bungkus.an
Conlhongan
dibuat dan besi
wasuhan.
Bahan pamor berbentuk
ukuran ±10 x 5 cm.
kawat bef)umlah 2 batang,
tebal ±0.60 cm
berukuran maS1n9-masing ±30cm.
dengan gans tengah ±4nvn. dan berat kesefuruhan ±60 gram
Dalam proses ini bahan pamor yang cigunakan adalah kawat las listnk
(lenonickel alloy)
Besi be<-pamor
8esi bensi pamor hasil pijeran
pada proses 2b08
ukuran 23 x 4 x 0,75cm. beral 0.70kg
Gambar 56. Proses persiapan bahan pamor (Haryoguritno, 2006)
98
Materi Muatan Lokal Bidang Kebud ayaan: Keris<noinclude></noinclude>
p23bi3yqaljm9flemrl0y7k3nuuu32x
320867
320824
2026-10-11T07:51:22Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
320867
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>Pamor nikel pada contoh proses berikut ini adalah menggunakan yang
berwujud kawat. Mula-mula, bahan pamor tersebut dilengkungkan dan
dimasukkan ke dalam conthongan (besi pembungkus), lalu ditempatkan di antara
kedua lempeng besi yang sudah diwasuh, dan dipijar bersama-sama, selanjutnya
ditempa berbarengan hingga kedua lempengan itu lekat menjadi satu dengan
bahan pamor yang sudah terapit di dalamnya. Proses semacam ini dikerjakan
pada suhu ± 1.100°C, sedangkan titik lebur besi ± 1.450°C.
Untuk mendapatkan sejumlah lapisan pamor, saton selanjutnya juga harus
dibuat berlapis. Caranya adalah dibesot seperti membuat besi wasuhan, yaitu:
pijar, tempa, ulur, lipat, dan rekat. Rangkap pelipatannya dapat dilakukan dalam
kelipatan dua atau tiga, dan pada suhu 1.100°C, lalu dapat diulang beberapa
kali sesuai dengan jumlah lapisan pamor yang dikehendaki, dan tergantung
juga dengan efek tampilan pamor yang direncanakan, bisa kasar atau halus.
(Sumintarsih, 1990; 96-97).
Besi dengan pamor tersebut adalah yang selanjutnya disebut saton: besi
dan pamor yang nantinya akan diperuntukkan dalam pekerjaan udawadana yaitu
melekatkan pamor pada bilah, masuk ke golongan pamor jwalana atau pamor
anukarta. Untuk lebih jelasnya, sebelum membahas lebih lanjut tentang proses
pengimpalan pamor, maka akan dijabarkan dahulu mengenai pamor jwalana dan
pamor anukarta. B.P.H. Sumodiningrat, dalam bukunya Pamor - Keris (1983; 3).
Tutup
Conlhongan
Pamer
Bahan
Lempeng besi wasuhan yang disiapkan
khusus untuk melapisi bungkusan pamor
ukuran 12 x 5 x 0.75 cm. Berat seluruhnya 1 kg
Bungkusan pamor
Ditaruh di tengah
kedua lempeng besi
wasuhan dan
kemudian di-pijer
bersama-sama
Pamor bahan 2a02
dimasukan ke dalam
conthongan
MaSJng-masing
bahan pamor
dilekuk meniadi
seperti
-.iiiiiiiiiiii
huruf S dan ,;
dihi"l>lll<an
••lll•rl
Besi pada proses 2b03
dillJlupdeogan
conlhongan
(2b05) menjadi
semacam bungkus.an
Conlhongan
dibuat dan besi
wasuhan.
Bahan pamor berbentuk
ukuran ±10 x 5 cm.
kawat bef)umlah 2 batang,
tebal ±0.60 cm
berukuran maS1n9-masing ±30cm.
dengan gans tengah ±4nvn. dan berat kesefuruhan ±60 gram
Dalam proses ini bahan pamor yang cigunakan adalah kawat las listnk
(lenonickel alloy)
Besi be<-pamor
8esi bensi pamor hasil pijeran
pada proses 2b08
ukuran 23 x 4 x 0,75cm. beral 0.70kg
[[Berkas:keris (2014) (page 105).jpg|thumb|
Gambar 56. Proses persiapan bahan pamor (Haryoguritno, 2006)]]<noinclude></noinclude>
ijvp6m21rym9fa1np7sqv3f5wnkh31w
Halaman:Keris (2014).pdf/106
104
116487
320829
2026-10-11T07:31:15Z
Bennylin
334
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Pamor jwalana adalah teknik dasar pembuatan pola pamor dengan cara penempaan tanpa maksud membuat pola tertentu, cukup apa jadinya saja, hampir tanpa rekayasa. Cara membuatnya adalah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Dengan cara yang paling sederhana ini, hasil akhir pamor-nya yang non-figuratif, atau tanpa pola, sudah dapat dipastikan. Saton itu dipasang mendatar terhadap slorok baja, yaitu yang disebut pamor mlumah (horizontal) atau pamo...
320829
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Bennylin" /></noinclude>Pamor jwalana adalah teknik dasar pembuatan pola pamor dengan cara
penempaan tanpa maksud membuat pola tertentu, cukup apa jadinya saja, hampir
tanpa rekayasa. Cara membuatnya adalah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.
Dengan cara yang paling sederhana ini, hasil akhir pamor-nya yang non-figuratif,
atau tanpa pola, sudah dapat dipastikan. Saton itu dipasang mendatar terhadap
slorok baja, yaitu yang disebut pamor mlumah (horizontal) atau pamor methok
(frontal), hasilnya adalah pola pamor Beras Wutah atau Kulit Semangka. Jumlah
lapisan pamor-nya berkisar antara 16 untuk hasil yang kasar, dan 128 untuk hasil
yang halus. (Sumodiningrat, 1983; 4). Untuk mendapatkan pola pamor yang lebih
bervariasi, pamor jenis jwalana dapat diteruskan menjadi pamor anukarta yaitu
dengan cara: digedhag (dipukul sedemikian rupa hingga muncul efek seperti
garis), dikikir, didrip, dan lain semacamnya. Pekerjaan lanjutan tersebut dilakukan
sebagai rekayasa sesudah saton dibentuk menjadi kodhokan.
2 lempeng besi wasuhan
berat 1,75 kg
hasil proses 1a07
1 lempeng besi ber-pamor
berat 0.7 kg hasil
proses 2809
besi ber-pamor
diimpit 2 besi
wasuhan dan dipijeri
Hasil pijeran
besi bahan yang
berisi pamor
berat = 2,5 kg
Masing-masing dipotong bagian
ujungnya ± 2cm karena
tidak berisi pamor
Besi ini sudah berisi
pamor penuh sampai
ke ujung, berat ± 2.4 kg
Gambar 57. Proses penempatan pamor dalam besi wasuh
(Haryoguritno, 2006)
Proses Pembuatan Keris
99<noinclude></noinclude>
63yfwsolp2sg5r19db1wv7tvltbrzdw
320868
320829
2026-10-11T07:52:06Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
320868
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>Pamor jwalana adalah teknik dasar pembuatan pola pamor dengan cara
penempaan tanpa maksud membuat pola tertentu, cukup apa jadinya saja, hampir
tanpa rekayasa. Cara membuatnya adalah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.
Dengan cara yang paling sederhana ini, hasil akhir pamor-nya yang non-figuratif,
atau tanpa pola, sudah dapat dipastikan. Saton itu dipasang mendatar terhadap
slorok baja, yaitu yang disebut pamor mlumah (horizontal) atau pamor methok
(frontal), hasilnya adalah pola pamor Beras Wutah atau Kulit Semangka. Jumlah
lapisan pamor-nya berkisar antara 16 untuk hasil yang kasar, dan 128 untuk hasil
yang halus. (Sumodiningrat, 1983; 4). Untuk mendapatkan pola pamor yang lebih
bervariasi, pamor jenis jwalana dapat diteruskan menjadi pamor anukarta yaitu
dengan cara: digedhag (dipukul sedemikian rupa hingga muncul efek seperti
garis), dikikir, didrip, dan lain semacamnya. Pekerjaan lanjutan tersebut dilakukan
sebagai rekayasa sesudah saton dibentuk menjadi kodhokan.
2 lempeng besi wasuhan
berat 1,75 kg
hasil proses 1a07
1 lempeng besi ber-pamor
berat 0.7 kg hasil
proses 2809
besi ber-pamor
diimpit 2 besi
wasuhan dan dipijeri
Hasil pijeran
besi bahan yang
berisi pamor
berat = 2,5 kg
Masing-masing dipotong bagian
ujungnya ± 2cm karena
tidak berisi pamor
Besi ini sudah berisi
pamor penuh sampai
ke ujung, berat ± 2.4 kg
Gambar 57. Proses penempatan pamor dalam besi wasuh
(Haryoguritno, 2006)<noinclude></noinclude>
oq7qikpvmlvaa8ds83jg7gbf3bxn04m
Halaman:Keris (2014).pdf/82
104
116488
320833
2026-10-11T07:32:52Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320833
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>Cenderamata pada umumnya merupakan hasil seni kriya yang dibentuk
bersumber dari kebudayaan yang ada pada masyarakat tertentu. Produk tersebut
yang semula dimaksudkan untuk tujuan religius dan pemenuhan kebutuhan
hidup sehari-hari, berubah dan berkembang menjadi mata dagangan yang
komersialisasi. Sedangkan yang dimaksud komersialisasi seni kriya adalah
suatu bentuk kerajinan tangan yang dibuat disesuaikan dengan waktu dan
daya beli masyarakat, hal itu dilakukan secara sadar dan direncanakan karena
tujuan utamanya untuk memenuhi konsumsi masyarakat (Dirjen Industri Kecil
Departemen Perindustrian, "Peluang Industri Kerajinan Cenderamata dalam
Menunjang Tahun Kunjungan Indonesia 1991" 1991; 1-3).
Benda cenderamata yang banyak disukai oleh wisatawan asing umumnya
adalah: (1) Barang-barang kecil yang mudah dan ringan untuk dibawa; (2) Benda-
benda hiasan yang berbentuk benda seni serta mempunyai motif tradisional; (3)
Benda-benda yang dibuat dari hasil ketrampilan tangan atau alat-alat sederhana;
(4) Benda-benda yang mempunyai ciri khas daerah dan masyarakat tersebut;
(5) Benda-benda kuno (klasik); (6) Barang-barang kerajinan yang terbuat dari
bahan-bahan alami; (7) Barang-barang yang mempunyai sejarah.
Berdasarkan uraian di atas, keris dapat difungsikan juga sebagai cenderamata
dengan uraian sebagai berikut.
1. Barang-barangnya kecil, ringan dan mudah dibawa. Pada keris ukuran relatif
kecil, dari ukuran kurang lebih 4 cm sampai 45 cm, relatif ringan dan mudah
dibawa.
2. Sebagai benda hiasan berbentuk benda seni tradisional. Fungsi keris masa
kini telah berubah antara lain sebagai hiasan, dengan tetap menampilkan ciri
tradisionalnya berupa motif-motif ukiran pada warangka nya, pendhok, selut
maupun pada pamor keris tersebut.
3. Benda dari hasil keterampilan tangan dengan menggunakan alat sederhana.
Pembuatan keris sampai masa kini masih menggunakan alat-alat tradisional
yang sederhana walaupun ada beberapa peralatan masinal misalnya bor,
gerinda, dan las (pada pembuatan keris cenderamata oleh perajin secara
produksi massa). Pembuatan keris oleh empu masih dilakukan dengan cara
tradisional.
4. Keris mempunyai ciri khas daerah dan masyarakat khususnya pada
masyarakat Jawa Tengah. Semua bagian-bagian keris dapat diartikan sebagai
simbol-simbol atau makna dari budaya masyarakat Jawa misalnya pamor
pada bilah keris, dan bentuk warangka keris, mempunyai makna yang dapat
{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|75}}<noinclude></noinclude>
7jykmm3mozqkztg62hapnpi2u30wkrp
Halaman:Keris (2014).pdf/52
104
116489
320834
2026-10-11T07:33:30Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320834
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>b. Pamor Anukarta ialah pamor yang sengaja dibuat, dibentuk dan diatur oleh sang empu yang membuat keris, seperti: pamor Ron Kendhuru, pamor Blarak Ngirit, pamor Sekar Lampes, pamor Kenanga Ginubah, pamor Wiji Timun, pamor Udan Mas, pamor Beras Wutah, pamor Untu Walang, dan lain-lain.
2.2 Kelengkapan/ Perabot Keris
Bilah keris, sebagai karya budaya yang sempurna dari segi fungsi dan estetika, harus dilengkapi dengan hulu dan sarung. Hulu keris, disebut juga dengan jejeran, ukiran, atau deder. Sarung sebagai pelindung bilah disebut warangka. Selain itu, ada tambahan berupa cincin di bawah hulu yang disebut dengan mendhak (versi Surakarta) atau uwer (versi Yogyakarta), kadang masih ditambah dengan selut yang menutupi pangkal jejeran. Adapun warangka, sering diberi pendhok dari logam untuk melindungi bagian gandar. Semua kelengkapan bilah keris di atas, disebut perabot keris.
Proses pembuatan perabot keris, membutuhkan keahlian khusus untuk tiap kelengkapannya. Bila ahli pembuat keris disebut empu pandhé, perajin dederan dan warangka kayu disebut mranggi, perajin bahan emas dan perak disebut kemasan, perajin kuningan disebut gemblak, dan pengrajin tembaga disebut sayang. Penampilan keris yang lengkap adalah harmonisasi karya yang unggul dan optimal dari setiap perajin perabot dan empu pandhé pembuat bilah keris. Itulah yang membedakan keris dengan karya seni lain, terutama dengan seni modern dan kontemporer, karena tidak ada spontanitas dalam seni rupa keris. Pemilihan bahan dan penampilan alamiah keris, serta keunggulan penggarapan, menjadi unsur penentu kesempurnaan keindahan keris secara general.
2.2.1 Warangka
Bilah keris telanjang tanpa warangka tak dapat dikatakan sebagai keris secara utuh, demikian juga dengan warangka tanpa bilah bukanlah keris. Ada empat macam jenis warangka di daerah Surakarta dan Yogyakarta beserta wilayah kebudayaannya,yaitu sandhang walikat, penanggalan (wulan tumanggal), ladrang atau branggah, dan gayaman. Dalam perkembangannya, hanya tinggal warangka ladrang dan gayaman yang masih lazim dipakai.
{{Rule}}<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|45}}</noinclude>
61py8p4jdfq5xatuaglfz594h4swxa1
Halaman:Keris (2014).pdf/83
104
116490
320842
2026-10-11T07:36:00Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320842
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>menggambarkan nilai-nilai budaya setempat. Keris juga sebagai pelengkap
busana adat, untuk upacara perkawinan, kadang dapat juga menjadi pengganti
pengantin laki-laki apabila berhalangan hadir pada saat nikah.
5. Sebagai benda kuno (klasik), sampai masa kini keris masih banyak terdapat
dan diperjual-belikan sebagai benda antik bahkan banyak keris kuno yang
bagus dijual dan dibawa ke mancanegara.
6. Sebagai barang kerajinan yang bernilai seni tinggi, keris dibuat dari bahan-
bahan alami misalnya berbagai jenis logam dan kayu, namun ada juga perajin
yang membuat warangka secara produksi massa dengan menggunakan fibre
glass (dengan proses cetak).
7. Sebagai barang yang mempunyai arti sejarah, keris dapat mencerminkan sejarah
masa lalu dengan penampilan cirinya yang mewakili masa pembuatannya.
Peristiwa-peristiwa sejarah dan kepahlawanan dapat digambarkan melalui
keris-keris yang digunakan oleh pelaku sejarah itu sendiri.
Keris souvenir tidak harus keris baru tetapi dapat juga keris tua (kuno)
yang diolah ulang atau diberi perabot baru yang cemerlang. Hal ini dapat terjadi
karena banyak wisatawan atau penggemar keris yang mencari keris kuno karena
sejarahnya, walaupun harganya mahal dan barangnya sulit didapat. Namun
sebagaian besar keris cenderamata adalah buatan baru yang dibuat mirip dengan
keris tua dengan kualitas yang berbeda-beda. Demikian juga dengan kegunaannya
ada yang untuk hiasan, koleksi, pelengkap busana sampai dengan pembuka
amplop. Sesuai dengan kegunaannya maka bahan yang dipakai dan ukuran
disesuaikan dengan fungsinya, ada yang besar dan ada juga yang kecil (mini).
Di sisi lain, keuntungan sebagai pengekspor barang budaya, juga dapat
memperkenalkan dan mempopulerkan nama bangsa di kancah internasional.
Hal itu menyebabkan makin maraknya permintaan hubungan dagang dan
industri yang menguntungkan bagi Indonesia. Pembuatan keris-keris baru
bermutu tinggi, baik dari sisi seni yang unggul, maupun dari segi kepusakaan
yang berwibawa, dapat memajukan perekonomian para perajin, empu keris baru
dan para pedagang yang berkecimpung di dunia perkerisan.
Ironisnya, pengusaha asing dari negeri tetangga lah yang lebih banyak
menjual produk kerajinan keris yang dipesan dari perajin Indonesia, untuk
disebarluaskan ke segala penjuru dunia dengan harga mahal, dan tentunya
dengan ciri budaya negara mereka. Sudah seharusnya anak bangsa sendiri yang
mendapat kentungan dari budaya keris, dan memperkenalkan keris Indonesia
yang sudah diakui UNESCO ke kancah dunia.
{{rule}}
{{rh|76|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
3onjbmdix646ve0hh3iamfs42s5mfg4
Halaman:Keris (2014).pdf/143
104
116491
320845
2026-10-11T07:37:42Z
Pijri Paijar
19487
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Pelatihan pengenalan bentuk dhapur, tangguh, hulu dan warangka, serta pola-pola pamor, dapat dimulai dengan mengasah ketrampilan untuk menggambarnya di atas kertas. Tahap selanjutnya dapat dengan membuat replika dari papan triplek yang digergaji atau kayu yang diraut, dan juga dari malam lilin yang diolah dengan jemari tangan. Tahap berikutnya setelah cukup dalam mengenal seluk-beluk keris dan perabot kelengkapannya, dapat mulai membuatnya denga...
320845
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Pelatihan pengenalan bentuk dhapur, tangguh, hulu dan warangka, serta pola-pola pamor, dapat dimulai dengan mengasah ketrampilan untuk menggambarnya di atas kertas. Tahap selanjutnya dapat dengan membuat replika dari papan triplek yang digergaji atau kayu yang diraut, dan juga dari malam lilin yang diolah dengan jemari tangan. Tahap berikutnya setelah cukup dalam mengenal seluk-beluk keris dan perabot kelengkapannya, dapat mulai membuatnya dengan bahan dan alat yang sesungguhnya.
Ikhtisar
- Pengenalan Bentuk Warangka
Bentuk warangka Jawa terdiri dari warangka Sandhang Walikat, Wulan Tumanggal, Gayaman Yogyakarta dan Gayaman Surakarta, Branggah Yogyakarta serta Ladrang Surakarta. Masing-masing bentuk warangka (berikut juga deder) memiliki varian bentuk wanda yang kaya khazanahnya.
-Pembuatan Warangka Keris
Proses pembuatan warangka keris dimulai dengan pemilihan bahan kayu serta penerapan arah serat urat kayu. Kemudian digambar dengan pola pakem yang menjadi konvensi. Bahan kayu yang telah digambari pola lalu digergaji untuk mendapatkan bentuk kasar. Selanjutnya pola diperhalus bentuknya dengan menggunakan pethel. Pangot dan tatah digunakan lebih lanjut untuk membuat detil rumit dari warangka dan deder. Selanjutnya dirempelas hingga halus lalu diupam atau dipernis dengan pelitur sebagai penyempurnaan akhir.<noinclude>{{rh|134|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
3l37dob0hf2t5xuvnwmvvqs4153kg8j
320847
320845
2026-10-11T07:38:44Z
Pijri Paijar
19487
/* Telah diuji baca */
320847
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Pelatihan pengenalan bentuk dhapur, tangguh, hulu dan warangka, serta pola-pola pamor, dapat dimulai dengan mengasah ketrampilan untuk menggambarnya di atas kertas. Tahap selanjutnya dapat dengan membuat replika dari papan triplek yang digergaji atau kayu yang diraut, dan juga dari malam lilin yang diolah dengan jemari tangan. Tahap berikutnya setelah cukup dalam mengenal seluk-beluk keris dan perabot kelengkapannya, dapat mulai membuatnya dengan bahan dan alat yang sesungguhnya.
Ikhtisarc
- Pengenalan Bentuk Warangka<br>
Bentuk warangka Jawa terdiri dari warangka Sandhang Walikat, Wulan Tumanggal, Gayaman Yogyakarta dan Gayaman Surakarta, Branggah Yogyakarta serta Ladrang Surakarta. Masing-masing bentuk warangka (berikut juga deder) memiliki varian bentuk wanda yang kaya khazanahnya.
- Pembuatan Warangka Keris<br>
Proses pembuatan warangka keris dimulai dengan pemilihan bahan kayu serta penerapan arah serat urat kayu. Kemudian digambar dengan pola pakem yang menjadi konvensi. Bahan kayu yang telah digambari pola lalu digergaji untuk mendapatkan bentuk kasar. Selanjutnya pola diperhalus bentuknya dengan menggunakan pethel. Pangot dan tatah digunakan lebih lanjut untuk membuat detil rumit dari warangka dan deder. Selanjutnya dirempelas hingga halus lalu diupam atau dipernis dengan pelitur sebagai penyempurnaan akhir.<noinclude>{{rh|134|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
0gfu8jlg453hm10g4aodnvcqo8fn6ui
320849
320847
2026-10-11T07:39:10Z
Pijri Paijar
19487
320849
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Pelatihan pengenalan bentuk dhapur, tangguh, hulu dan warangka, serta pola-pola pamor, dapat dimulai dengan mengasah ketrampilan untuk menggambarnya di atas kertas. Tahap selanjutnya dapat dengan membuat replika dari papan triplek yang digergaji atau kayu yang diraut, dan juga dari malam lilin yang diolah dengan jemari tangan. Tahap berikutnya setelah cukup dalam mengenal seluk-beluk keris dan perabot kelengkapannya, dapat mulai membuatnya dengan bahan dan alat yang sesungguhnya.
Ikhtisar<br>
- Pengenalan Bentuk Warangka<br>
Bentuk warangka Jawa terdiri dari warangka Sandhang Walikat, Wulan Tumanggal, Gayaman Yogyakarta dan Gayaman Surakarta, Branggah Yogyakarta serta Ladrang Surakarta. Masing-masing bentuk warangka (berikut juga deder) memiliki varian bentuk wanda yang kaya khazanahnya.
- Pembuatan Warangka Keris<br>
Proses pembuatan warangka keris dimulai dengan pemilihan bahan kayu serta penerapan arah serat urat kayu. Kemudian digambar dengan pola pakem yang menjadi konvensi. Bahan kayu yang telah digambari pola lalu digergaji untuk mendapatkan bentuk kasar. Selanjutnya pola diperhalus bentuknya dengan menggunakan pethel. Pangot dan tatah digunakan lebih lanjut untuk membuat detil rumit dari warangka dan deder. Selanjutnya dirempelas hingga halus lalu diupam atau dipernis dengan pelitur sebagai penyempurnaan akhir.<noinclude>{{rh|134|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
b193xetq5m37y4gjrm768k2fivcfcw0
320850
320849
2026-10-11T07:39:38Z
Pijri Paijar
19487
320850
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Pijri Paijar" /></noinclude>Pelatihan pengenalan bentuk dhapur, tangguh, hulu dan warangka, serta pola-pola pamor, dapat dimulai dengan mengasah ketrampilan untuk menggambarnya di atas kertas. Tahap selanjutnya dapat dengan membuat replika dari papan triplek yang digergaji atau kayu yang diraut, dan juga dari malam lilin yang diolah dengan jemari tangan. Tahap berikutnya setelah cukup dalam mengenal seluk-beluk keris dan perabot kelengkapannya, dapat mulai membuatnya dengan bahan dan alat yang sesungguhnya.
Ikhtisar<br>
- Pengenalan Bentuk Warangka<br>
Bentuk warangka Jawa terdiri dari warangka Sandhang Walikat, Wulan Tumanggal, Gayaman Yogyakarta dan Gayaman Surakarta, Branggah Yogyakarta serta Ladrang Surakarta. Masing-masing bentuk warangka (berikut juga deder) memiliki varian bentuk wanda yang kaya khazanahnya.
- Pembuatan Warangka Keris<br>
Proses pembuatan warangka keris dimulai dengan pemilihan bahan kayu serta penerapan arah serat urat kayu. Kemudian digambar dengan pola pakem yang menjadi konvensi. Bahan kayu yang telah digambari pola lalu digergaji untuk mendapatkan bentuk kasar. Selanjutnya pola diperhalus bentuknya dengan menggunakan pethel. Pangot dan tatah digunakan lebih lanjut untuk membuat detil rumit dari warangka dan deder. Selanjutnya dirempelas hingga halus lalu diupam atau dipernis dengan pelitur sebagai penyempurnaan akhir.
{{Rule}}<noinclude>{{rh|134|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
3gipn33jqixk08g5gb5zgiu1mdffq9x
Halaman:Keris (2014).pdf/55
104
116492
320846
2026-10-11T07:38:39Z
Dvnfit
20067
/* Telah diuji baca */
320846
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Dvnfit" /></noinclude>2.2.2 Pendok
Hampir seluruh warangka keris Surakarta dan Yogyakarta dilengkapi dengan pendhok (kecuali warangka sandhang walikat). Pendhok adalah pelindung gandar yang terbuat dari logam. Biasanya logam pendhok berbahan dari kuningan dan tembaga, tetapi juga ada yang terbuat dari perunggu, perak, suasa, emas, dan besi berpamor. Secara umum, perbedaan pendhok Surakarta dan Yogyakarta adalah terletak terdapat pada pangkal (pertemuan warangka dengan gandar), bentuk batang pendhok, dan ujungnya. Pangkal pendhok Surakarta membentuk garis lurus bentuk tubuhnya gèpèng ramping, dan ujungnya lebar. Adapun, pangkal pendhok Yogyakarta membentuk garis lengkungan cembung ke arah warangka, bentuk tubuhnya gilig tebal, dan ujungnya bulat kecil.
Jenis-jenis pendhok adalah:
a. Blèwah, yang disengaja untuk memperlihatkan keutuhan kayu warangka dengan gandar (gandar iras) dan keindahan mutu bahan kayunya.
b. Blèwah Slorok, dengan sekeping logam tambahan yang disisipkan di bagian tengahnya (slorok). Biasanya pendhok jenis ini lebih populer dipakai di Yogyakarta.
c. Bunton (berasal dari kata buntu), yang digunakan untuk menutup keseluruhan gandar agar tidak terlihat sambungan kayunya dengan warangka, dan memang tidak dipakai untuk warangka gandar iras.
d. Topèngan, dengan hiasan yang menutupi sebagian warangka di atas sambungan gandar, dan biasanya bergambar makara atau lambang keraton. Pendhok jenis ini hanya dikenakan oleh para bangsawan keraton.
e. Krawangan Plong, dengan ukiran tembus di sisi depan, berpola hiasan tertentu, dan diberi lembaran logam di dasarnya (tempèl).
f. Krawangan Templèk, yang juga diukir tembus di sisi depannya, namun direkatkan paten di lembar logam yang ada di dasarnya (lemahan).
g. Rajawerdi, dengan penambahan manik monte berwarna yang dilelehkan merekat pada tekstur hiasan di sisi depan.
h. Kemalo atau Kemalon, dengan pemberian lapisan warna pada seluruh permukaan pendhok, yang hanya dipakai di kalangan bangsawan keraton, dan biasanya diberi slorok untuk hiasannya.
i. Trètès atau Ronyok (versi Yogyakarta), dengan pemberian batu permata pada seluruh hiasan di sisi depan.
j. Silih Asih, dengan bidang hiasan di sisi depan memakai dua jenis logam yang berbeda, hingga terlihat dengan dua warna yang kontras. Biasanya dipakai bahan perak dan suasa.
{{Rule}}<noinclude>{{rh|48|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
p84cgr3nigxmj0yi46n02akfja9pu8e
Halaman:Keris (2014).pdf/29
104
116493
320848
2026-10-11T07:39:08Z
Ony3345
26456
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'j. Jalak sumelang gandring dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan depan, sraweyan, thingil; k. Jalak tilam sari dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, kruwingan, thingil; I. Jamang murub memiliki bentuk badan sedikit panjang dengan lebar sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: sogokan pendek; m. Kalam munyeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu sogokan, sraweyan, ri pandhan; n. Kalamisani denga...
320848
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>j. Jalak sumelang gandring dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan
depan, sraweyan, thingil;
k. Jalak tilam sari dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, kruwingan,
thingil;
I. Jamang murub memiliki bentuk badan sedikit panjang dengan lebar sedang,
dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: sogokan pendek;
m. Kalam munyeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu sogokan,
sraweyan, ri pandhan;
n. Kalamisani dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua lambe gajah,
kembang kacang, tikel alis, sogokan, greneng, gusen, kruwingan;
o. Karno tinandhing dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua gandhik,
tikel alis, sogokan, pejetan, dua kembang kacang (depan belakang), greneng, ri
pandhan;
p. Kebo teki memiliki bentuk bilah pendek dan lebar, dengan kelengkapan tiga
macam ciri ricikan: kembang kacang, tiga lambe gajah, greneng;
q. Kelap lintah memiliki bentuk bilah yang kekar dan sederhana serta dengan
awak-awakan seperti tilam upih, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan:
gandhik panjang, sogokan;
r. Laler mengeng dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang
berlobang, kembang kacang pogok;
s. Mangkurat dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen ramping,
sogokan, ri pandan belakang depan;
t. Marak dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng;
u. Mayat miring memiliki badan bilah bongkok, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: gusen, sogokan belakang;
v. Mendarang dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang,
satu lambe gajah, sogokan, sraweyan, greneng;
w. Mesem dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang, lam be
gajah;
x. Panji anom dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: sogokan,
sraweyan, greneng, tikel alis.
y. Pasopati dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: lambe gajah, sogokan,
kembang kacang pogok, gusen, ri pandhan;
z. Pinarak memiliki badan buah seperti pedang suduk, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: gandhik panjang, dua sogokan;
22
I<noinclude>{{rh|22|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}</noinclude>
1bxzwuak14s2sxez2uqxba3ogtvzjpq
320851
320848
2026-10-11T07:39:44Z
Ony3345
26456
320851
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>j. Jalak sumelang gandring dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan
depan, sraweyan, thingil;
k. Jalak tilam sari dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, kruwingan,
thingil;
I. Jamang murub memiliki bentuk badan sedikit panjang dengan lebar sedang,
dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: sogokan pendek;
m. Kalam munyeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu sogokan,
sraweyan, ri pandhan;
n. Kalamisani dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua lambe gajah,
kembang kacang, tikel alis, sogokan, greneng, gusen, kruwingan;
o. Karno tinandhing dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua gandhik,
tikel alis, sogokan, pejetan, dua kembang kacang (depan belakang), greneng, ri
pandhan;
p. Kebo teki memiliki bentuk bilah pendek dan lebar, dengan kelengkapan tiga
macam ciri ricikan: kembang kacang, tiga lambe gajah, greneng;
q. Kelap lintah memiliki bentuk bilah yang kekar dan sederhana serta dengan
awak-awakan seperti tilam upih, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan:
gandhik panjang, sogokan;
r. Laler mengeng dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang
berlobang, kembang kacang pogok;
s. Mangkurat dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen ramping,
sogokan, ri pandan belakang depan;
t. Marak dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng;
u. Mayat miring memiliki badan bilah bongkok, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: gusen, sogokan belakang;
v. Mendarang dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang,
satu lambe gajah, sogokan, sraweyan, greneng;
w. Mesem dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang, lam be
gajah;
x. Panji anom dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: sogokan,
sraweyan, greneng, tikel alis.
y. Pasopati dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: lambe gajah, sogokan,
kembang kacang pogok, gusen, ri pandhan;
z. Pinarak memiliki badan buah seperti pedang suduk, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: gandhik panjang, dua sogokan;
22
I<noinclude>{{rule}}
{{rh|22|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
ixlvmyr32a4jiju7fmils2o97gu2evq
320857
320851
2026-10-11T07:45:16Z
Ony3345
26456
320857
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude><ol start="10" style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>Jalak sumelang gandring dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan depan, sraweyan, thingil;</li>
<li>Jalak tilam sari dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen, kruwingan, thingil;</li>
<li>Jamang murub memiliki bentuk badan sedikit panjang dengan lebar sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: sogokan pendek;</li>
</ol>
m. Kalam munyeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu sogokan,
sraweyan, ri pandhan;
n. Kalamisani dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua lambe gajah,
kembang kacang, tikel alis, sogokan, greneng, gusen, kruwingan;
o. Karno tinandhing dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua gandhik,
tikel alis, sogokan, pejetan, dua kembang kacang (depan belakang), greneng, ri
pandhan;
p. Kebo teki memiliki bentuk bilah pendek dan lebar, dengan kelengkapan tiga
macam ciri ricikan: kembang kacang, tiga lambe gajah, greneng;
q. Kelap lintah memiliki bentuk bilah yang kekar dan sederhana serta dengan
awak-awakan seperti tilam upih, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan:
gandhik panjang, sogokan;
r. Laler mengeng dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang
berlobang, kembang kacang pogok;
s. Mangkurat dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusen ramping,
sogokan, ri pandan belakang depan;
t. Marak dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng;
u. Mayat miring memiliki badan bilah bongkok, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: gusen, sogokan belakang;
v. Mendarang dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang,
satu lambe gajah, sogokan, sraweyan, greneng;
w. Mesem dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang, lam be
gajah;
x. Panji anom dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: sogokan,
sraweyan, greneng, tikel alis.
y. Pasopati dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: lambe gajah, sogokan,
kembang kacang pogok, gusen, ri pandhan;
z. Pinarak memiliki badan buah seperti pedang suduk, dengan kelengkapan dua
macam ciri ricikan: gandhik panjang, dua sogokan;
22
I<noinclude>{{rule}}
{{rh|22|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
lf91of3xcqtqiuvtpgnu2pbtzekncxm
320876
320857
2026-10-11T07:57:33Z
Ony3345
26456
320876
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude><ol start="10" style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>Jalak sumelang gandring dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan depan, srawéyan, thingil;</li>
<li>Jalak tilam sari dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusèn, kruwingan, thingil;</li>
<li>Jamang murub memiliki bentuk badan sedikit panjang dengan lebar sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: sogokan pendek;</li>
<li>Kalam munyeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu sogokan, srawéyan, ri pandhan;</li>
<li>Kalamisani dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, tikel alis, sogokan, greneng, gusèn, kruwingan;</li>
<li>Karno tinandhing dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua gandhik, tikel alis, sogokan, pèjètan, dua kembang kacang (depan belakang), greneng, ri pandhan;</li>
<li>Kebo teki memiliki bentuk bilah pendek dan lebar, dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: kembang kacang, tiga lambe gajah, greneng;</li>
<li>Kelap lintah memiliki bentuk bilah yang kekar dan sederhana serta dengan awak-awakan seperti tilam upih, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang, sogokan;</li>
<li>Laler mengeng dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang berlobang, kembang kacang pogok;</li>
<li>Mangkurat dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusèn ramping, sogokan, ri pandan belakang depan;</li>
<li>Marak dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng;</li>
<li>Mayat miring memiliki badan bilah bongkok, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gusen, sogokan belakang;</li>
<li>Mendarang dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambé gajah, sogokan, sraweyan, greneng;</li>
<li>Mesem dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang, lambé gajah;</li>
<li>Panji anom dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: sogokan, srawéyan, greneng, tikel alis.</li>
<li>Pasopati dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: lambé gajah, sogokan, kembang kacang pogok, gusèn, ri pandhan;</li>
<li>Pinarak memiliki badan buah seperti pedang suduk, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang, dua sogokan;</li>
</ol><noinclude>{{rule}}
{{rh|22|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
a1u56nnhye0fwf77rdgekmo55rus1fr
320877
320876
2026-10-11T07:58:01Z
Ony3345
26456
/* Telah diuji baca */
320877
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ony3345" /></noinclude><ol start="10" style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>Jalak sumelang gandring dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: sogokan depan, srawéyan, thingil;</li>
<li>Jalak tilam sari dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusèn, kruwingan, thingil;</li>
<li>Jamang murub memiliki bentuk badan sedikit panjang dengan lebar sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: sogokan pendek;</li>
<li>Kalam munyeng dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: satu sogokan, srawéyan, ri pandhan;</li>
<li>Kalamisani dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua lambé gajah, kembang kacang, tikel alis, sogokan, greneng, gusèn, kruwingan;</li>
<li>Karno tinandhing dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: dua gandhik, tikel alis, sogokan, pèjètan, dua kembang kacang (depan belakang), greneng, ri pandhan;</li>
<li>Kebo teki memiliki bentuk bilah pendek dan lebar, dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: kembang kacang, tiga lambe gajah, greneng;</li>
<li>Kelap lintah memiliki bentuk bilah yang kekar dan sederhana serta dengan awak-awakan seperti tilam upih, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang, sogokan;</li>
<li>Laler mengeng dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang berlobang, kembang kacang pogok;</li>
<li>Mangkurat dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: gusèn ramping, sogokan, ri pandan belakang depan;</li>
<li>Marak dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: sogokan depan, greneng;</li>
<li>Mayat miring memiliki badan bilah bongkok, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gusen, sogokan belakang;</li>
<li>Mendarang dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambé gajah, sogokan, sraweyan, greneng;</li>
<li>Mesem dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang, lambé gajah;</li>
<li>Panji anom dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: sogokan, srawéyan, greneng, tikel alis.</li>
<li>Pasopati dengan kelengkapan lima macam ciri ricikan: lambé gajah, sogokan, kembang kacang pogok, gusèn, ri pandhan;</li>
<li>Pinarak memiliki badan buah seperti pedang suduk, dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gandhik panjang, dua sogokan;</li>
</ol><noinclude>{{rule}}
{{rh|22|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}</noinclude>
9t333paz1or4epe38ieohqv9gcchoia
Halaman:Keris (2014).pdf/102
104
116494
320853
2026-10-11T07:41:20Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
320853
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>[[Berkas:keris (2014) (page 102a).jpg|thumb|
Gambar 52. Empu Yogyakarta sedang menempa calon bilah keris
(Jasper dan Pirngadie, 1930)]]
[[Berkas:keris (2014) (page 102b).jpg|thumb|
Gambar 53. Pandai keris sedang memijar besi untuk di tern pa.
(Unggul Sudrajat dan Mulyadi, 2012)]]<noinclude></noinclude>
9nayo1o0l6jv8ob7mcvfoea9obowm8a
Halaman:Keris (2014).pdf/89
104
116495
320854
2026-10-11T07:41:40Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320854
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>b. Meteorit adalah bahan pamor yang dianggap sebagai yang terbaik. Bahan
ini didapat dari pemurnian batu meteor yang sering disebut watu pamor.
Meteor adalah. benda angkasa dalam tata surya yang sewaktu-waktu dapat
jatuh di permukaan bumi karena pengaruh gravitasi, dan meteorit adalah
hasil pemurnian dari serpihan batu meteor yang jatuh itu. Bila dibandingkan
dengan bahan pamor yang lain, pamor meteorit adalah yang paling terkenal
dan selalu menjadi pilihan utama bagi para penggemar keris. Pamor meteorit
sering dipilih untuk alasan spiritual, karena meteor tersebut jatuh dari langit,
sehingga dianggap anugerah dari para dewa, dan menjadi pelengkap lambang
lingga dan yoni dalam bilah keris.
c. Bahan pamor yang berikutnya adalah nikel, dan baru dimulai penggunaannya
pada abad ke-19, sejak industri pabrik Eropa mulai berkembang. Bahan
pamor ini adalah jenis nikel campuran dengan kadar nikel antara 5 hingga 90
persen. Pada awal abad ke-20, beberapa empu di Surakarta dan Yogyakarta
kadang menggunakan uang logam lima sen sebagai bahan pamor karena uang
logam Hindia Belanda lima sen memang terbuat dari bahan campuran nikel.
Umumnya keris yang dibuat dengan pamor nikel, pada zaman dahulu dipakai
dalam keris untuk rakyat biasa atau sebagai tanda mata yang dianggap tidak
memiliki tuntutan spiritual tinggi. Pamor nikel berwarna putih mengkilap
yang monoton, dan bahan pamor jenis ini dapat diperoleh di toko-toko
logam. Namun, para empu dahulu juga membuat keris ber-pamor nikel untuk
kerajaan, atas perintah raja tentunya, yang mendapatkan inspirasi untuk
bereksperimen dari orang-orang Belanda. Isaac Groneman, dalam bukunya
Keris Jawa, Der Kris Der Javaner, Internationales Archiv Fur Ethnographie
(1996; 136-140).
d. Setelah pilihan bahan pamordiatas, baja anti karat juga dapat digunakan sebagai
bahan pamor meskipun penempaannya agak sulit dikarenakan kekerasannya.
Logam baja yang menjadi produk hasil industri ini mengandung krom, nikel,
mangan, vanadium, dan lain-lain. Jenis logam campurannya dapat disesuaikan
dengan kebutuhan, namun jelas pada awalnya memang tidak diperuntukkan
sebagai bahan pamor keris. Baja anti karat juga digunakan untuk pembuatan
pisau ber-pamor (damascene) di Eropa dan Amerika.
e. Bahan pamor yang paling sederhana adalah pamor sanak, yaitu jenis besi
campuran yang tidak jauh berbeda dari besi pengikatnya sehingga pada
akhir proses hanya timbul sedikit perbedaan tampilan warna pada bilahnya.
Karena perbedaannya yang kurang kontras, pamor ini juga disebut pamor
kelem (tenggelam), yakni pamor yang warnanya hampir sama dengan besi
pengikatnya. Bahan pamor sanak banyak dipakai pada keris sederhana yang
{{rule}}
{{rh|82|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
sc609mv99l5w95mdpd2v9neglv4pgrr
Halaman:Keris (2014).pdf/26
104
116496
320856
2026-10-11T07:43:02Z
Iin60m3k
27038
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Secara garis besar, keris Jawa dapat dibedakan dalam bentuk lurus dan berkelok. Perbedaan dua jenis bentuk keris tersebut memiliki konskuensi penamaan bagian anatomi yang berbeda pula. Keris lurus mempunyai empat pembagian anatomi, yaitu pucukan sebagai bagian keris yang paling ujung, awakawakan atau bagian tengah tubuh, bangkekan sebagai bagian pinggang keris bila...
320856
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iin60m3k" /></noinclude><p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Secara garis besar, keris Jawa dapat dibedakan dalam bentuk lurus dan
berkelok. Perbedaan dua jenis bentuk keris tersebut memiliki konskuensi
penamaan bagian anatomi yang berbeda pula. Keris lurus mempunyai empat
pembagian anatomi, yaitu pucukan sebagai bagian keris yang paling ujung, awakawakan atau bagian tengah tubuh, bangkekan sebagai bagian pinggang keris bila
dipersonifikasikan seperti manusia, dan terakhir adalah sor-soran yaitu bagian
yang terbawah dari bilah keris. Adapun keris berkelok hanya memiliki anatomi
pucukan, luk, dan sor-soran saja.</p>
Awak·awa~n
L.uk
Ban111«lkan
Sor·.sora.n
{{rh||Gambar 9. Anatomi Tubuh Bilah Keris. (Dok. Kri shna, 2009)}}
{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|19}}<noinclude></noinclude>
c5t1rwh6jh0witdivyyi4h9qayzi4bm
320881
320856
2026-10-11T08:05:39Z
Iin60m3k
27038
/* Telah diuji baca */
320881
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iin60m3k" /></noinclude><p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Secara garis besar, keris Jawa dapat dibedakan dalam bentuk lurus dan
berkelok. Perbedaan dua jenis bentuk keris tersebut memiliki konskuensi
penamaan bagian anatomi yang berbeda pula. Keris lurus mempunyai empat
pembagian anatomi, yaitu pucukan sebagai bagian keris yang paling ujung, awakawakan atau bagian tengah tubuh, bangkekan sebagai bagian pinggang keris bila
dipersonifikasikan seperti manusia, dan terakhir adalah sor-soran yaitu bagian
yang terbawah dari bilah keris. Adapun keris berkelok hanya memiliki anatomi
pucukan, luk, dan sor-soran saja.</p>
Awak·awa~n
L.uk
Ban111«lkan
Sor·.sora.n
{{rh||Gambar 9. Anatomi Tubuh Bilah Keris. (Dok. Kri shna, 2009)}}
{{rule}}
{{rh||Sekilas Tentang Keris|19}}<noinclude></noinclude>
tvcm0puie8z57962cvic9uk3ruv8usc
Halaman:Keris (2014).pdf/130
104
116497
320858
2026-10-11T07:47:30Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
/* Telah diuji baca */
320858
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>Ikhtisar
- Bahan W arangka Keris dari Kayu
Keris Jawa keban yakan memakai warangka berbahan kayu. Kayu yang
digunakan adalah kayu dari jenis pilihan, seperti kayu Timaha, Cendhana, Trembalo, Jati Gembol, dll. Pemilihan khazanah kayu ada yang mengedepankan pola belang pada kayu, dan ada pula yang mencari pola guratan urat kayu nganam yang seperti membentuk hologram (mberu t nginden) .
- Bahan Warangka Bukan Kayu
Bahan warangka yang terbuat dari gading gajah, logam mulia, tulang,
tanduk atau fosil graham gajah tidak lazim digunakan oleh kaum bangsawan Jawa, melainkan lebih sering digunakan oleh kaum sudagar. Namun dewasa ini, banyak produksi kreasi barn dengan bahan-bahan yang bervariasi terlepas dari
konvensi pakem.
- Alat-alat Pembuatan Warangka
Alat-alat pembuatan warangka meliputi alat-alat pertukangan kayu, terdiri dari alat untuk pengerjaan bentuk kasar (gergaji , kampak dan pethel) , dan alat penghalusan detil bentuk (pangot dan tatah/pahat).<noinclude></noinclude>
4eph1ulyocb4hz2v04czr7vaamyvmrw
320862
320858
2026-10-11T07:48:37Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
320862
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>Ikhtisar
- Bahan W arangka Keris dari Kayu
Keris Jawa keban yakan memakai warangka berbahan kayu. Kayu yang
digunakan adalah kayu dari jenis pilihan, seperti kayu Timaha, Cendhana, Trembalo, Jati Gembol, dll. Pemilihan khazanah kayu ada yang mengedepankan pola belang pada kayu, dan ada pula yang mencari pola guratan urat kayu nganam yang seperti membentuk hologram (mberu t nginden).
- Bahan Warangka Bukan Kayu
Bahan warangka yang terbuat dari gading gajah, logam mulia, tulang,
tanduk atau fosil graham gajah tidak lazim digunakan oleh kaum bangsawan Jawa, melainkan lebih sering digunakan oleh kaum sudagar. Namun dewasa ini, banyak produksi kreasi barn dengan bahan-bahan yang bervariasi terlepas dari
konvensi pakem.
- Alat-alat Pembuatan Warangka
Alat-alat pembuatan warangka meliputi alat-alat pertukangan kayu, terdiri dari alat untuk pengerjaan bentuk kasar (gergaji , kampak dan pethel) , dan alat penghalusan detil bentuk (pangot dan tatah/pahat).<noinclude></noinclude>
rakkw0qljdnn7aa0s55kqiyj6h6sorh
Halaman:Keris (2014).pdf/103
104
116498
320859
2026-10-11T07:47:38Z
Bennylin
334
/* Telah diuji baca */
320859
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>[[Berkas:keris (2014) (page 103).jpg|thumb
BESI BAHAN
4 lempeng besi bahan
ukuran 22 x 4 x 0,6cm
berat ± 4 kilogram
Masing-masing
lempeng
dipaju tengahnya
(tidak sampai putus)
Masing-masing
lempeng
ditekuk dengan bekas
palu mengarah keluar
4 lempeng besi
wasuhan hasil pijeran
BESI WASUHAN
2 lempeng besi wasuhan
masing-masing berukuran
23x4x2cm
dengan berat 1.75 kg
Lalu dihimpitkan
dan dipijeri (dijadikan satu
kesatuan) melalui proses
pembakaran 1300 C
dan penempaan
Besi wasuhan ini
disiapkan untuk
kemudian dipijeri
bersama dengan
besi pamor
[[Berkas:keris (2014) (page 103).jpg|thumb|
Gambar 54. Proses pemurnian besi (masuh) (Haryoguritno, 2006)]]
4.3 Pekerjaan Rekayasa
Pekerjaan rekayasa adalah kelanjutan dari proses penempaan dasar.
Pada fase ini segala sesuatu yang dikerjakan sudah mulai terkonsentrasi untuk
mendapatkan hasil yang diinginkan, dalam hal pola pamor dan bentuk dhapur
bilah. Pekerjaan fase ini terbagi atas dua tahap, yaitu: pengimpalan pola pamor
dan pembentukan bilah keris.<noinclude></noinclude>
aiflaxa2ez1yl0k79oh6zh1bno98exd
320861
320859
2026-10-11T07:48:05Z
Bennylin
334
320861
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Bennylin" /></noinclude>
BESI BAHAN
4 lempeng besi bahan
ukuran 22 x 4 x 0,6cm
berat ± 4 kilogram
Masing-masing
lempeng
dipaju tengahnya
(tidak sampai putus)
Masing-masing
lempeng
ditekuk dengan bekas
palu mengarah keluar
4 lempeng besi
wasuhan hasil pijeran
BESI WASUHAN
2 lempeng besi wasuhan
masing-masing berukuran
23x4x2cm
dengan berat 1.75 kg
Lalu dihimpitkan
dan dipijeri (dijadikan satu
kesatuan) melalui proses
pembakaran 1300 C
dan penempaan
Besi wasuhan ini
disiapkan untuk
kemudian dipijeri
bersama dengan
besi pamor
[[Berkas:keris (2014) (page 103).jpg|thumb|
Gambar 54. Proses pemurnian besi (masuh) (Haryoguritno, 2006)]]
4.3 Pekerjaan Rekayasa
Pekerjaan rekayasa adalah kelanjutan dari proses penempaan dasar.
Pada fase ini segala sesuatu yang dikerjakan sudah mulai terkonsentrasi untuk
mendapatkan hasil yang diinginkan, dalam hal pola pamor dan bentuk dhapur
bilah. Pekerjaan fase ini terbagi atas dua tahap, yaitu: pengimpalan pola pamor
dan pembentukan bilah keris.<noinclude></noinclude>
kwkf424hixipwkxn8h8rgowlitbo5jf
Halaman:Keris (2014).pdf/90
104
116499
320860
2026-10-11T07:47:45Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca, lalu ada kesalahan dibuku yang seharusnya tahun 1992, bukan 19992.
320860
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>biasanya murah harganya, dan hanya terbuat dari jari-jari roda, bekas plat
pengikat peti, dan lempeng pegas suspensi mobil.
f. Masih menurut Groneman, ada salah satu bahan yang dipakai untuk membuat
pamor pada keris, yaitu bahan pamor wangkil. Wangkil atau wangkiul atau
wadhung (bukan pisau wedhung), adalah alat pertanian kuno yang serupa
beliung atau cangkul kecil. Dipercaya pamor wangkil ini mengandung batu
meteor atau meteorit. Menurut pendapat Sultan Hamengkubuwana VII di
Yogyakarta yang bertahta saat itu (tahun 1910), kepada Residen Couperus
yang menjabat di Jogja, bahwa tidak jarang para pemesan pusaka menjadi
takut apabila niatnya memesan sebuah pusaka itu diketahui oleh pihak lain.
Setidaknya ketakutan itu terjadi jika niatnya itu diketahui oleh roh-roh jahat,
yang dapat merasuki pusakanya nanti, maka bahan pamor meteor dibuat
menjadi alat pertanian terlebih dahulu. Kemudian bila roh-roh jahat itu sudah
mengurungkan niatnya, barulah alat pertanian tersebut dipakai sebagai bahan
pamor untuk keris pusaka.
Secara tradisional, besi dan baja yang dihasilkan dari pengolahan sumber
besi dari alam, dapat dibedakan dari bunyi saat dipukul (dithinthing), dari
perabaan, dari baunya, dan dari proses lamat (pencarian karakter sugesti besi).
Hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh empu yang mumpuni. Jenis-jenis besi
yang dihasilkan dari bijih besi tambang juga berbeda-beda menurut pakem ilmu
keris tradisional. Ada besi kenur, malé!a, purasani, balitung, karangkijang, dan
sebagainya, yang perbedaannya dikenali dari watak, warna, dan suaranya ketika
dithinthing. (Darmosoegito, 1992; 52-67).
Pada bilah keris kadang ditemukan juga unsur logam titanium (Ti) dalam
kadar tertentu. Menurut hasil penelitian Haryono Arumbinang, pamor batu
meteor Prambanan mengandung titanium, di samping unsur Ca (kapur), Fe
(besi), Nb (nobium), dan Zr (zairkonium). Jadi menurut Arumbinang, bahan
utama pembangun pamor pada keris lama yang diunggulkan adalah unsur
Titanium. Hal itu berbeda sama sekali dengan hasil penelitian bangsa Belanda
pada masa silam, yang mengatakan bahwa bahan pamor keris bermutu pada
masa lalu hingga masa kerajaan pasca perjanjian Giyanti, adalah didominasi oleh
unsur nikel (Lumintu, 1985; 31).
Kehadiran unsur titanium meningkatkan mutu bilah keris. Bilah keris
menjadi lebih ringan, keras, kenyal, tahan panas, dan wulet. Titanium tidak
berkarat sehingga bilah keris menjadi lebih awet. Selain titanium, besi bahan
keris dapat juga mengandung unsur-unsur krom (Cr), tembaga (Cu), dan nikel
{{rule}}
{{rh||Bahan Baku dan Peralatan Pembuatan Keris|83}}<noinclude></noinclude>
ad1kuru0g3logkzqhlr3stcrryymci4
Halaman:Keris (2014).pdf/92
104
116500
320863
2026-10-11T07:48:55Z
Khusna Safira
26423
/* Telah diuji baca */
320863
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>pusaka pesanan raja. Hal itulah yang menyebabkan para empu memperlakukan
bahan pamor meteor Prambanan dengan seksama dan penuh penghormatan,
selain disebabkan unsur kesulitan karena kekerasannya. (Lumintu, 1985; 30).
Meteor yang paling terkenal di Indonesia adalah meteor Prambanan, karena
jatuh di daerah Prambanan (kira-kira sepuluh kilometer di sebelah timur kota
Yogyakarta), yang telah disinggung sebelumnya. Meteor tersebut pecah menjadi
dua bongkahan besar dengan ukuran yang berbeda serta berpuluh-puluh pecahan
kecil. Pada tahun 1784 bongkahan yang besar dibawa ke keraton Surakarta, di
zaman pemerintahan Paku Buwana III dan pada tahun 1797, zaman pemerintahan
Paku Buwana IV bongkah yang kecil dibawa lagi ke Surakarta. Pecahan-pecahan
kecil yang tertinggal diambil rakyat setempat dan diperdagangkan dengan harga
yang mahal. Jadi dapat difahami jika keris yang tidak berasal dari keraton pun
ada ya ng ber-pamor meteorit.
Secara tradisional bahan pamor ini kadang-kadang disebut wesi perak.
Nama ini sebenarnya tidak tepat, karena hanya mewakili warna keperakan
yang ditampilkan oleh pamor. Pamor Bugis, atau pamor Luwu, dari Sulawesi
Selatan, juga terdiri dari tiga mutu dagang, yang pertama disebut pamor waja,
yang kedua pamor perak, dan yang ketiga adalah pamor emas. Penyebutan yang
seperti itu, juga diambil dari kesan warna yang ditampilkan oleh masing-masing
bahan pamor. Bila dibandingkan dengan logam yang lain yang terkandung
dalam bilah keris, bahan pamor memang lebih tahan terhadap asam. Inilah yang
menyebabkan permukaan bilah keris tidak rata a tau menjadi bertekstur, sesudah
berkali-kali terkena larutan asam, unsur besinya akan terkikis sedangkan logam
pamor-nya cenderung masih utuh.
Pada tahun 1905 Groneman mengirimkan serpiha n meteor Prambanan
untuk dianalisis secara kimiawi di laboratorium Landbouw-Departement di
Buitenzorg (Departemen Pertanian di Bogor) , Jawa Barat. Hasilnya adalah
tercantum dalam surat direkturnya, Dr. Melchior Treub, yang menyebutkan
bahwa meteor Pramba nan mengandung 94,38% besi; 4,70% nikel; 0,53%
phosphor; dan beberapa unsur lain. Kesempatan lain, pemeriksaan pada pecahan
batu meteor Prambanan juga diajukan oleh J.R Couperus, Residen Yogyakarta
saat itu, pada jawatan laboratorium di Bogor tersebut. Hasil penelitiannya
menyebutkan, bahwa meteor Prambanan yang diteliti mengandung 49,38% besi;
4,7% nikel; dan 0,53% fosfor. Hasil penelitian batu meteor yang dilakukan oleh
Jasper dan Pirngadie, menunjukkan 22% besi nikel dan 97% senyawa silikon.
Dapat dikatakan, pada serpihan yang berbeda dari bagian meteor yang berbeda,
kandungan unsurnya pun berbeda pula. (Lum intu, 1985; 30).
Bahan Baku clan Peralatan Pembuatan Keri s
85<noinclude></noinclude>
k1mbg692cd6qglwqbg0ygxiwvv8eorq
320873
320863
2026-10-11T07:54:44Z
Khusna Safira
26423
/* Belum diuji baca */
320873
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>pusaka pesanan raja. Hal itulah yang menyebabkan para empu memperlakukan bahan pamor meteor Prambanan dengan seksama dan penuh penghormatan, selain disebabkan unsur kesulitan karena kekerasannya. (Lumintu, 1985; 30).
Meteor yang paling terkenal di Indonesia adalah meteor Prambanan, karena jatuh di daerah Prambanan (kira-kira sepuluh kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta), yang telah disinggung sebelumnya. Meteor tersebut pecah menjadi dua bongkahan besar dengan ukuran yang berbeda serta berpuluh-puluh pecahan kecil. Pada tahun 1784 bongkahan yang besar dibawa ke keraton Surakarta, di zaman pemerintahan Paku Buwana III dan pada tahun 1797, zaman pemerintahan Paku Buwana IV bongkah yang kecil dibawa lagi ke Surakarta. Pecahan-pecahan kecil yang tertinggal diambil rakyat setempat dan diperdagangkan dengan harga yang mahal. Jadi dapat difahami jika keris yang tidak berasal dari keraton pun ada yang ber-pamor meteorit.
Secara tradisional bahan pamor ini kadang-kadang disebut wesi perak. Nama ini sebenarnya tidak tepat, karena hanya mewakili warna keperakan yang ditampilkan oleh pamor. Pamor Bugis, atau pamor Luwu, dari Sulawesi Selatan, juga terdiri dari tiga mutu dagang, yang pertama disebut pamor waja,
yang kedua pamor perak, dan yang ketiga adalah pamor emas. Penyebutan yang
seperti itu, juga diambil dari kesan warna yang ditampilkan oleh masing-masing
bahan pamor. Bila dibandingkan dengan logam yang lain yang terkandung
dalam bilah keris, bahan pamor memang lebih tahan terhadap asam. Inilah yang
menyebabkan permukaan bilah keris tidak rata atau menjadi bertekstur, sesudah
berkali-kali terkena larutan asam, unsur besinya akan terkikis sedangkan logam
pamor-nya cenderung masih utuh.
Pada tahun 1905 Groneman mengirimkan serpihan meteor Prambanan
untuk dianalisis secara kimiawi di laboratorium Landbouw-Departement di
Buitenzorg (Departemen Pertanian di Bogor), Jawa Barat. Hasilnya adalah
tercantum dalam surat direkturnya, Dr. Melchior Treub, yang menyebutkan
bahwa meteor Prambanan mengandung 94,38 % besi; 4,70 % nikel; 0,53%
phosphor; dan beberapa unsur lain. Kesempatan lain, pemeriksaan pada pecahan
batu meteor Prambanan juga diajukan oleh J.R Couperus, Residen Yogyakarta
saat itu, pada jawatan laboratorium di Bogor tersebut. Hasil penelitiannya
menyebutkan, bahwa meteor Prambanan yang diteliti mengandung 49,38% besi;
4,7% nikel; dan 0,53% fosfor. Hasil penelitian batu meteor yang dilakukan oleh
Jasper dan Pirngadie, menunjukkan 22% besi nikel dan 97% senyawa silikon.
Dapat dikatakan, pada serpihan yang berbeda dari bagian meteor yang berbeda,
kandungan unsurnya pun berbeda pula. (Lumintu, 1985; 30).
Bahan Baku dan Peralatan Pembuatan Keris
85<noinclude></noinclude>
4surzgtkz15dni8xht2mmktlpgy4j36
320888
320873
2026-10-11T08:19:09Z
Khusna Safira
26423
/* Telah diuji baca */
320888
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>pusaka pesanan raja. Hal itulah yang menyebabkan para empu memperlakukan bahan pamor meteor Prambanan dengan seksama dan penuh penghormatan, selain disebabkan unsur kesulitan karena kekerasannya. (Lumintu, 1985; 30).
Meteor yang paling terkenal di Indonesia adalah meteor Prambanan, karena jatuh di daerah Prambanan (kira-kira sepuluh kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta), yang telah disinggung sebelumnya. Meteor tersebut pecah menjadi dua bongkahan besar dengan ukuran yang berbeda serta berpuluh-puluh pecahan kecil. Pada tahun 1784 bongkahan yang besar dibawa ke keraton Surakarta, di zaman pemerintahan Paku Buwana III dan pada tahun 1797, zaman pemerintahan Paku Buwana IV bongkah yang kecil dibawa lagi ke Surakarta. Pecahan-pecahan kecil yang tertinggal diambil rakyat setempat dan diperdagangkan dengan harga yang mahal. Jadi dapat difahami jika keris yang tidak berasal dari keraton pun ada yang ber-pamor meteorit.
Secara tradisional bahan pamor ini kadang-kadang disebut wesi perak. Nama ini sebenarnya tidak tepat, karena hanya mewakili warna keperakan yang ditampilkan oleh pamor. Pamor Bugis, atau pamor Luwu, dari Sulawesi Selatan, juga terdiri dari tiga mutu dagang, yang pertama disebut pamor waja, yang kedua pamor perak, dan yang ketiga adalah pamor emas. Penyebutan yang seperti itu, juga diambil dari kesan warna yang ditampilkan oleh masing-masing bahan pamor. Bila dibandingkan dengan logam yang lain yang terkandung
dalam bilah keris, bahan pamor memang lebih tahan terhadap asam. Inilah yang menyebabkan permukaan bilah keris tidak rata atau menjadi bertekstur, sesudah berkali-kali terkena larutan asam, unsur besinya akan terkikis sedangkan logam
pamor-nya cenderung masih utuh.
Pada tahun 1905 Groneman mengirimkan serpihan meteor Prambanan untuk dianalisis secara kimiawi di laboratorium Landbouw-Departement di Buitenzorg (Departemen Pertanian di Bogor), Jawa Barat. Hasilnya adalah tercantum dalam surat direkturnya, Dr. Melchior Treub, yang menyebutkan bahwa meteor Prambanan mengandung 94,38% besi; 4,70% nikel; 0,53% phosphor; dan beberapa unsur lain. Kesempatan lain, pemeriksaan pada pecahan batu meteor Prambanan juga diajukan oleh J.R Couperus, Residen Yogyakarta saat itu, pada jawatan laboratorium di Bogor tersebut. Hasil penelitiannya menyebutkan, bahwa meteor Prambanan yang diteliti mengandung 49,38% besi; 4,7% nikel; dan 0,53% fosfor. Hasil penelitian batu meteor yang dilakukan oleh Jasper dan Pirngadie, menunjukkan 22% besi nikel dan 97% senyawa silikon. Dapat dikatakan, pada serpihan yang berbeda dari bagian meteor yang berbeda, kandungan unsurnya pun berbeda pula. (Lumintu, 1985; 30).<noinclude>{{rh||Bahan Baku dan Peralatan Pembuatan Keris|85}}</noinclude>
leahxlektw83ithude9btf1icwc2xsv
Halaman:Keris (2014).pdf/138
104
116501
320865
2026-10-11T07:51:04Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
/* Telah diuji baca */
320865
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>Selain disungging, warangka juga diberi widheng. Widheng ditarnbahkan di atas persarnbungan gandar dan warangka di sisi kanan dan kiri depan. Widheng adalah garis ikal yang rnelengkung ke dalarn (spiral), yang diukirkan pada warangka bukan oleh mranggi warangka, melainkan oleh para pengrajin ukiran/jejeran. Widheng tidak ditemui pada warangka Yogyakarta, dan hanya dijumpai pada warangka Surakarta, yang diperuntukkan bagi para putra dan cucu raja sebagai pengukuhan kepangeranan.
6.2 Proses Pembuatan Warangka
Mernbuat warangka dimulai dengan pemilihan bahan (kayu) dan
penerawangan terhadap pola urat kayu. Harus dilihat bagaimanaa tampilan nuansa kayu yang akan dipilih untuk dikeluarkan. Pola-pola terbaik harus ditampilkan di bagian depan warangka, jangan sampai sebaliknya. Setelah memilih bahan , kayu diberi garis pola dengan garis tinta memakai cetakan pakem-pakem wanda warangka yang ada. Setelah itu, bahan kayu akan dibentuk kasar dengan kapak/ pethel, lalu dihaluskan detilnya dengan pahat clan pangot. Pekerjaan terakhir adalah mengamplasnya hingga halus lembut permukaan kayu warangka. Bila sudah halus dapat dipelitur ataupun pernolesan alami dengan digosok angkup
pohon nangka.<noinclude></noinclude>
akv1hzstvmfxdf6m6dw9b8h8rbbltat
320866
320865
2026-10-11T07:51:21Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
320866
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>Selain disungging, warangka juga diberi widheng. Widheng ditarnbahkan di atas persarnbungan gandar dan warangka di sisi kanan dan kiri depan. Widheng adalah garis ikal yang rnelengkung ke dalarn (spiral), yang diukirkan pada warangka bukan oleh mranggi warangka, melainkan oleh para pengrajin ukiran/jejeran. Widheng tidak ditemui pada warangka Yogyakarta, dan hanya dijumpai pada warangka Surakarta, yang diperuntukkan bagi para putra dan cucu raja sebagai pengukuhan kepangeranan.
6.2 Proses Pembuatan Warangka
Mernbuat warangka dimulai dengan pemilihan bahan (kayu) dan
penerawangan terhadap pola urat kayu. Harus dilihat bagaimanaa tampilan nuansa kayu yang akan dipilih untuk dikeluarkan. Pola-pola terbaik harus ditampilkan di bagian depan warangka, jangan sampai sebaliknya. Setelah memilih bahan , kayu diberi garis pola dengan garis tinta memakai cetakan pakem-pakem wanda warangka yang ada. Setelah itu, bahan kayu akan dibentuk kasar dengan kapak/ pethel, lalu dihaluskan detilnya dengan pahat clan pangot. Pekerjaan terakhir adalah mengamplasnya hingga halus lembut permukaan kayu warangka. Bila sudah halus dapat dipelitur ataupun pernolesan alami dengan digosok angkup
pohon nangka.<noinclude></noinclude>
f1tzh3v7bt22kwlj8l22f5df8ywysmh
Halaman:Keris (2014).pdf/40
104
116502
320869
2026-10-11T07:53:27Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
/* Telah diuji baca */
320869
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>10. Naga siluman m emiliki bentuk ganja kelap lintah, dengan kelengkapan satu
m acam ciri ricikan: gandhik dhapur naga tan pa pethit;
11. Bima kurdha dengan kelengkapan empat m acam ciri ricikan: sogokan susun, jenggot, ri pandhan susun , sraweyan.
g. Keris Lekuk 15-luk:
1. Carang buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambe gajah , kembang kacang, sraweyan, ri pandh an;
2. Sedhet dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah lamba, ke mbang kacang, sogokan, ri pandhan;
3. Ragawilah dengan kelen gkapan tiga macam ciri ricikan: sa tu lambe gajah, kembang kacang, greneng;
4. Ragapasung dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: tikel alis, greneng;
5. Mahesa nabrang dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : alis sampai ujung;
6. Carita buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang
kacang, jenggot, sraweyan, ri pandhan.
33<noinclude></noinclude>
0m0gquypt03r4jeg9gp1xajd425tes3
320870
320869
2026-10-11T07:54:14Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
320870
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>10. Naga siluman m emiliki bentuk ganja kelap lintah, dengan kelengkapan satu
m acam ciri ricikan: gandhik dhapur naga tan pa pethit;
11. Bima kurdha dengan kelengkapan empat m acam ciri ricikan: sogokan susun, jenggot, ri pandhan susun , sraweyan.
g. Keris Lekuk 15-luk:
1. Carang buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambe gajah , kembang kacang, sraweyan, ri pandh an;
2. Sedhet dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah lamba, ke mbang kacang, sogokan, ri pandhan;
3. Ragawilah dengan kelen gkapan tiga macam ciri ricikan: sa tu lambe gajah, kembang kacang, greneng;
4. Ragapasung dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: tikel alis, greneng;
5. Mahesa nabrang dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : alis sampai ujung;
6. Carita buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, jenggot, sraweyan, ri pandhan.
33<noinclude></noinclude>
87b0ccwcjz5s6ql7eivae9mgq93vvjv
320872
320870
2026-10-11T07:54:29Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
320872
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>10. Naga siluman m emiliki bentuk ganja kelap lintah, dengan kelengkapan satu
m acam ciri ricikan: gandhik dhapur naga tan pa pethit;
11. Bima kurdha dengan kelengkapan empat m acam ciri ricikan: sogokan susun, jenggot, ri pandhan susun , sraweyan.
g. Keris Lekuk 15-luk:
1. Carang buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambe gajah , kembang kacang, sraweyan, ri pandh an;
2. Sedhet dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah lamba, ke mbang kacang, sogokan, ri pandhan;
3. Ragawilah dengan kelen gkapan tiga macam ciri ricikan: sa tu lambe gajah, kembang kacang, greneng;
4. Ragapasung dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: tikel alis, greneng;
5. Mahesa nabrang dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : alis sampai ujung;
6. Carita buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, jenggot, sraweyan, ri pandhan.
33<noinclude></noinclude>
s4ahuw0n25g9uv3sbb4ubqox6hs7yvl
320874
320872
2026-10-11T07:55:09Z
Sekar Jarwo Soekarno
24995
320874
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sekar Jarwo Soekarno" /></noinclude>10. Naga siluman m emiliki bentuk ganja kelap lintah, dengan kelengkapan satu
m acam ciri ricikan: gandhik dhapur naga tan pa pethit;
11. Bima kurdha dengan kelengkapan empat m acam ciri ricikan: sogokan susun, jenggot, ri pandhan susun , sraweyan.
g. Keris Lekuk 15-luk:
1. Carang buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: satu lambe gajah , kembang kacang, sraweyan, ri pandh an;
2. Sedhet dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah lamba, ke mbang kacang, sogokan, ri pandhan;
3. Ragawilah dengan kelen gkapan tiga macam ciri ricikan: sa tu lambe gajah, kembang kacang, greneng;
4. Ragapasung dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: tikel alis, greneng;
5. Mahesa nabrang dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan : alis sampai ujung;
6. Carita buntala dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, jenggot, sraweyan, ri pandhan.
33<noinclude></noinclude>
j9440a2vqmnlr5a5571xrf4o1k19u80
Halaman:Keris (2014).pdf/27
104
116503
320871
2026-10-11T07:54:28Z
Iin60m3k
27038
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Sor-soran keris dilengkapi dengan bagian ganja, dan kadang ada yang berganja iras (utuh menyatu dengan bilah). Di bagian bawah sor-soran terdapat pesi, tepat di tengah-tengah titik imbang bilah. Pesi tersebut berfungsi sebagai penyatu antara bilah dengan hulu (jejeran) . Bagian sor-soran adalah tempat sebagian besar ricikan keris berada. Ada juga ricikan yang tidak...
320871
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iin60m3k" /></noinclude><p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Sor-soran keris dilengkapi dengan bagian ganja, dan kadang ada yang berganja iras (utuh menyatu dengan bilah). Di bagian bawah sor-soran terdapat
pesi, tepat di tengah-tengah titik imbang bilah. Pesi tersebut berfungsi sebagai
penyatu antara bilah dengan hulu (jejeran) . Bagian sor-soran adalah tempat
sebagian besar ricikan keris berada. Ada juga ricikan yang tidak berada di sorsoran, misalnya kruwingan. Ricikan jenis ini berada di atas sor-soran, terkadang
memanjang hingga pucuk bilah.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Seperti telah disinggung di atas, dasar pembentuk nama dhapur keris adalah
ricikan. Ricikan keris adalah detail -detail bagian keris yang berada pada anatomi
tubuh bilah keris. Secara umum, penempatan ricikan keris berada di bagian sorsoran. Hal itu ditengarai untuk tetap menjaga fungsi bilah keris yang dipakai
sebagai senjata tusuk, sehingga peletakan ricikan berada di bagian bawah dengan
maksud tidak menganggu fungsinya sebagai senjata saat dipakai untuk menusuk.
Penjelasan tentang pakem ricikan keris Jawa dapat dijumpai pada manuskrip
lama. Di antaranya adalah Serat Centhini, yang banyak diacu oleh tulisan-tulisan
lain tentang keris yang muncul sesudahnya. Berikut ini adalah gambar yang
disarikan dari Serat Centhini yang menjelaskan detail-detail ricikan keris.</p>
Kembang Kacang
...
{ <?:1"!'
Lambegajah
Pejeian
--4~-1-
J-_ _
._.....,.~-"
§ungkul
'J?ha'
{{rh||Gambar 10. Ricikan menurut Serat Centhini (Dok. Krishna, 2003)}}
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Penempatan ricikan-ricikan tertentu dalam bilah dan langgam
pembentukan bilah keris dibakukan menjadi ragam jenis dhapur. Dhapur
adalah penamaan dari bilah keris, menurut komposisi jenis bentuk dan ricikan
tertentu yang dimilikinya. Pengetahuan tentang sejarah dhapur yang beredar</p>
{{rule}}
{{20||rh||Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}<noinclude></noinclude>
6y2y7dkzkcuakd87dbgrj3ojo3t46mv
320889
320871
2026-10-11T08:19:39Z
Iin60m3k
27038
/* Telah diuji baca */
320889
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iin60m3k" /></noinclude><p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Sor-soran keris dilengkapi dengan bagian ganja, dan kadang ada yang berganja iras (utuh menyatu dengan bilah). Di bagian bawah sor-soran terdapat
pesi, tepat di tengah-tengah titik imbang bilah. Pesi tersebut berfungsi sebagai
penyatu antara bilah dengan hulu (jejeran) . Bagian sor-soran adalah tempat
sebagian besar ricikan keris berada. Ada juga ricikan yang tidak berada di sorsoran, misalnya kruwingan. Ricikan jenis ini berada di atas sor-soran, terkadang
memanjang hingga pucuk bilah.</p>
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Seperti telah disinggung di atas, dasar pembentuk nama dhapur keris adalah
ricikan. Ricikan keris adalah detail -detail bagian keris yang berada pada anatomi
tubuh bilah keris. Secara umum, penempatan ricikan keris berada di bagian sorsoran. Hal itu ditengarai untuk tetap menjaga fungsi bilah keris yang dipakai
sebagai senjata tusuk, sehingga peletakan ricikan berada di bagian bawah dengan
maksud tidak menganggu fungsinya sebagai senjata saat dipakai untuk menusuk.
Penjelasan tentang pakem ricikan keris Jawa dapat dijumpai pada manuskrip
lama. Di antaranya adalah Serat Centhini, yang banyak diacu oleh tulisan-tulisan
lain tentang keris yang muncul sesudahnya. Berikut ini adalah gambar yang
disarikan dari Serat Centhini yang menjelaskan detail-detail ricikan keris.</p>
Kembang Kacang
...
{ <?:1"!'
Lambegajah
Pejeian
--4~-1-
J-_ _
._.....,.~-"
§ungkul
'J?ha'
{{rh||Gambar 10. Ricikan menurut Serat Centhini (Dok. Krishna, 2003)}}
<p style="text-indent: 2em; margin-top: 0; margin-bottom: 0; text-align: justify;>Penempatan ricikan-ricikan tertentu dalam bilah dan langgam
pembentukan bilah keris dibakukan menjadi ragam jenis dhapur. Dhapur
adalah penamaan dari bilah keris, menurut komposisi jenis bentuk dan ricikan
tertentu yang dimilikinya. Pengetahuan tentang sejarah dhapur yang beredar</p>
{{rule}}
{{rh|20||Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris||}}<noinclude></noinclude>
adlu4fjs5t7aq2wmhaaajhe13nyygfn
Halaman:Keris (2014).pdf/30
104
116504
320878
2026-10-11T08:00:38Z
Ony3345
26456
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'aa. Puthut, memiliki tatahan bergambar pendeta (dwijawara), kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik memanjang, dengan ab. Regol dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: dua gandhik, thingil clan pejetan; ac. Ron teki dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik panjang, kembang kacang, lambe gajah rangkap, sogokan depan; ad. Semar pethak dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik tinatah lung-lungan, bawah gandhik berl...
320878
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>aa. Puthut, memiliki tatahan bergambar pendeta (dwijawara),
kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik memanjang,
dengan
ab. Regol dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: dua gandhik, thingil clan
pejetan;
ac. Ron teki dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik panjang,
kembang kacang, lambe gajah rangkap, sogokan depan;
ad. Semar pethak dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik tinatah
lung-lungan, bawah gandhik berlubang (tindhik);
ae. Semar tinandhu dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang
kacang bersusun, sogokan;
af. Sempaner dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: kembang kacang,
tikel alis, ri pandhan;
ag. Sinom dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: lam be gajah l , kembang
kacang, jenggot, tikel alis, sogokan, sraweyan, greneng;
ah. Sujen ampel wulu memiliki bentuk bilah agak tebal, dengan kelengkapan
empat macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambe gajah, jenggot
rangkap, ri pandhan rangkap;
ai. Tilam sari dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gusen, kruwingan;
aj. Tilam upih dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: tikel alis;
ak. Tumenggung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah,
kembang kacang, sraweyan, greneng;
al. Yuyu rumpung dengan bilah mirip pedang suduk clan ganja kelap lintah,
tidak memiliki kelengkapan ciri ricikan;
am . Worawari memiliki badan bilah sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gusèn rangkap.<noinclude>{{rule}}
{{rh|Sekilas Tentang Keris|23}}</noinclude>
5j9rf83i6f96y05f3v4p3h6fgn418ec
320879
320878
2026-10-11T08:01:12Z
Ony3345
26456
320879
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude>aa. Puthut, memiliki tatahan bergambar pendeta (dwijawara),
kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik memanjang,
dengan
ab. Regol dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: dua gandhik, thingil clan
pejetan;
ac. Ron teki dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik panjang,
kembang kacang, lambe gajah rangkap, sogokan depan;
ad. Semar pethak dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik tinatah
lung-lungan, bawah gandhik berlubang (tindhik);
ae. Semar tinandhu dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang
kacang bersusun, sogokan;
af. Sempaner dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: kembang kacang,
tikel alis, ri pandhan;
ag. Sinom dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: lam be gajah l , kembang
kacang, jenggot, tikel alis, sogokan, sraweyan, greneng;
ah. Sujen ampel wulu memiliki bentuk bilah agak tebal, dengan kelengkapan
empat macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambe gajah, jenggot
rangkap, ri pandhan rangkap;
ai. Tilam sari dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gusen, kruwingan;
aj. Tilam upih dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: tikel alis;
ak. Tumenggung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah,
kembang kacang, sraweyan, greneng;
al. Yuyu rumpung dengan bilah mirip pedang suduk clan ganja kelap lintah,
tidak memiliki kelengkapan ciri ricikan;
am . Worawari memiliki badan bilah sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gusèn rangkap.<noinclude>{{rule}}
{{rh| |Sekilas Tentang Keris|23}}</noinclude>
q8x2yccmo5vlu3d9fekunz2u4j0q59m
320886
320879
2026-10-11T08:17:52Z
Ony3345
26456
320886
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Ony3345" /></noinclude><ol start="27" style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>Puthut, memiliki tatahan bergambar pendeta (dwijawara), dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik memanjang,</li>
<li>Regol dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: dua gandhik, thingil dan pèjètan;</li>
<li>Ron teki dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik panjang, kembang kacang, lambe gajah rangkap, sogokan depan;</li>
<li>Semar pethak dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik tinatah lung-lungan, bawah gandhik berlubang (tindhik);</li>
<li>Semar tinandhu dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang bersusun, sogokan;
af. Sempaner dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: kembang kacang, tikel alis, ri pandhan;</li>
<li>Sinom dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: lambé gajah 1, kembang kacang, jenggot, tikel alis, sogokan, srawéyan, greneng;</li>
<li>Sujen ampel wulu memiliki bentuk bilah agak tebal, dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambé gajah, jenggot rangkap, ri pandhan rangkap;</li>
<li>Tilam sari dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gusèn, kruwingan;</li>
<li>Tilam upih dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: tikel alis;</li>
<li>Tumenggung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah, kembang kacang, sraweyan, greneng;</li>
<li>Yuyu rumpung dengan bilah mirip pedang suduk clan ganja kelap lintah, tidak memiliki kelengkapan ciri ricikan;</li>
<li>Worawari memiliki badan bilah sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gusèn rangkap.</li>
</ol>
am .<noinclude>{{rule}}
{{rh| |Sekilas Tentang Keris|23}}</noinclude>
rq5jq4hugg5b2x8l1p9wikjduxw9ynl
320887
320886
2026-10-11T08:18:26Z
Ony3345
26456
/* Telah diuji baca */
320887
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Ony3345" /></noinclude><ol start="27" style="list-style-type: lower-alpha;">
<li>Puthut, memiliki tatahan bergambar pendeta (dwijawara), dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik memanjang,</li>
<li>Regol dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: dua gandhik, thingil dan pèjètan;</li>
<li>Ron teki dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: gandhik panjang, kembang kacang, lambe gajah rangkap, sogokan depan;</li>
<li>Semar pethak dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gandhik tinatah lung-lungan, bawah gandhik berlubang (tindhik);</li>
<li>Semar tinandhu dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: kembang kacang bersusun, sogokan;
af. Sempaner dengan kelengkapan tiga macam ciri ricikan: kembang kacang, tikel alis, ri pandhan;</li>
<li>Sinom dengan kelengkapan tujuh macam ciri ricikan: lambé gajah 1, kembang kacang, jenggot, tikel alis, sogokan, srawéyan, greneng;</li>
<li>Sujen ampel wulu memiliki bentuk bilah agak tebal, dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: kembang kacang, satu lambé gajah, jenggot rangkap, ri pandhan rangkap;</li>
<li>Tilam sari dengan kelengkapan dua macam ciri ricikan: gusèn, kruwingan;</li>
<li>Tilam upih dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: tikel alis;</li>
<li>Tumenggung dengan kelengkapan empat macam ciri ricikan: lambe gajah, kembang kacang, sraweyan, greneng;</li>
<li>Yuyu rumpung dengan bilah mirip pedang suduk clan ganja kelap lintah, tidak memiliki kelengkapan ciri ricikan;</li>
<li>Worawari memiliki badan bilah sedang, dengan kelengkapan satu macam ciri ricikan: gusèn rangkap.</li>
</ol><noinclude>{{rule}}
{{rh| |Sekilas Tentang Keris|23}}</noinclude>
jqpr78qp0wtgq3k2iqt70dg6e2lo57l
Halaman:Keris (2014).pdf/91
104
116505
320880
2026-10-11T08:04:17Z
VidiDhemas21
24365
/* Telah diuji baca */ Telah diuji baca.
320880
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="VidiDhemas21" /></noinclude>(Ni). Tetapi, tidak berarti bahwa setiap keris memiliki unsur-unsur itu, dan
tidak selalu dalam kadar yang sama, karena memang hanya dalam keris pusaka
pilihan saja yang dibuat dengan bahan pilihan yang biasanya mengandung titanium.
Penelitian tentang besi juga dilakukan oleh Weihrauch (1996) dan Drescher
(1997), yang diadakan pada akhir abad ke-20. Tidak kurang dari 500 kg pasir
besi dari pantai Cilacap, Jawa Tengah, dicor untuk mendapatkan bijih besi.
Pengecoran secara tradisional itu dilaksanakan di Surakarta dengan hasil mereka
memperoleh sekitar 25 kg besi spons dan balls bahan tempa keris.
Setelah besi itu ditempa di besalèn menjadi sebilah keris, terbukti bahwa
pasir besi dari pantai Cilacap (atau pantai selatan Jawa lainnya), ternyata adalah
bahan baku keris yang sangat bermutu. Terlihat, bahwa besi dari pantai Cilacap
itu dapat digunakan sebagai bahan pamor yang menjadi indah bila ditampakkan
dalam keris, meskipun tidak seindah jika memakai bahan pamor meteorit
Prambahan. Hasil dari percobaan yang telah dilakukan tersebut menimbulkan
perkiraan, bahwa keris-keris yang selama ini diduga ber-pamor Luwu, boleh jadi dahulu sebagiannya juga berasal dari pasir besi pantai Cilacap atau pantai selatan
Pulau Jawa. Mereka pun membuktikan bahwa pasir besi yang mereka jadikan
bahan percobaan utu mempunyai kadnungan titanium, krom, vanadium, dan
beberapa unsur lain. Jadi, keris lama yang ditemukan mengandung titanium,
belum tentu karena berasal dari pamor-nya, bisa jadi memang karena bahan
besinya sudah memiliki kandungan titanium (Haryoguritno, 2006; 92)
Pamor batu meteor yang sering digunakan untuk bahan pamor keris-
keris pusaka kerajaan, memang memenuhi syarat visual yang baik. Komposisi
bangun kristal dari bahan meteorit yang heterogen menampakkan variasi warna
terang kelabu pada permukaan bilah keris hingga memancarkan kesan yang
sangat indah dan berwibawa. Bahan pamor meteor didapt dari benda yang jatuh
angkasa, seperti pecahan asteroid atau benda angkasa lainnya. Secara teknis,
meteorit memang paling banyak memenuhi syarat sebagai bahan pencampur
dalam pembuataan keris karena sifatnya yang sangat keras dan kokoh.
Sifat kekerasan yang dimiliki batu meteor itu, menyulitkan para empu dalam
mengolah batu meteorit menjadi bahan pamor. Demi mensugestikan diri untuk
mendapatkan kemudahan dalam mengolah meteor, para empu lalu mengadakan
berbagai sesaji dan upacara ritual, termasuk harus mengenakan samping gajah
ngoling (sejenis untaian bunga yang disematkan pada daun telinga). Apalagi,
batu meteor yang terkenal untuk membuat pamor keris pusaka kerajaan adalah
meteor Prambanan, yang jatuh pada tahun 1710 Jawa atau 1784 Masehi, yang
dimuliakan ke keraton Surakarta sebagai pusaka. Batu meteor pusaka tersebut
lalu dinamakan Kyai Pamor, dan digunakan untuk membuat pamor pada keris
{{rule}}
{{rh|84|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris|}}<noinclude></noinclude>
900h1uc19gosew872wbrs55jfl9thyg
Halaman:Keris (2014).pdf/59
104
116506
320882
2026-10-11T08:09:32Z
Khusna Safira
26423
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi '2.2.3 Mendhak Mendhak atau uwer, adalah sebentuk cincin yang melingkari pesi di bawah bagian bungkul jejeran, di atas ganja bilah. Ada teori yang menyatakan bahwa mendhak dan selut adalah perkembangan dari karah, yaitu cincin logam yang memperkuat pangkal hulu sabit atau parang agar tidak mudah pecah, kemudian para perajin perabot keris mempertinggi mutu bahan dan garapannya. Semula dari besi yang di-warangi, lalu berubah menjadi besi dilapis em...
320882
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>2.2.3 Mendhak
Mendhak atau uwer, adalah sebentuk cincin yang melingkari pesi di bawah
bagian bungkul jejeran, di atas ganja bilah. Ada teori yang menyatakan bahwa
mendhak dan selut adalah perkembangan dari karah, yaitu cincin logam yang
memperkuat pangkal hulu sabit atau parang agar tidak mudah pecah, kemudian
para perajin perabot keris mempertinggi mutu bahan dan garapannya. Semula
dari besi yang di-warangi, lalu berubah menjadi besi dilapis emas, tembaga
disepuh emas, perak disepuh emas, suasa, kemudian yang termewah adalah
emas murni yang berhias batu mulia. Demikian juga dengan mutu garapannya
menjadi semakin rumit dan indah, lalu fungsinya pun bergeser dari karah menjadi
mendhak dan selut yang lebih mementingkan keselarasan estetika.
Mendhak Surakarta dan Yogyakarta (uwer), walau sepintas terlihat sama,
tetap memperlihatkan kekhasan masing-masing. Di Surakarta populer dengan
bentuk Parijatha, sedangkan di Yogyakarta dengan bentuk Bejen. Secara um um,
mendhak terdiri dari bagian meniran, ungkat-ungkatan, untu walang, mata, ri
pandhan, dan meniran sor-soran.
Macam-macam mendhak, antara lain:
1. Parijatha: lingkar teratas dan yang di bawahnya terdiri dari meniran yang
sama besarnya, dan lingkar tengah berisi meniran yang lebih besar, berjumlah
8-10 butir, berselang-seling di antara untu walang.
2. Tumbaran atau Tumbar Pecah: seperti Parijatha namun dengan guratan
vertikal pada meniran utamanya.
3. Widhengan: hanya ada di Surakarta, dengan isian plethuk (meniran/granula
kecil) yang membentuk pola gambar widheng.
4. Kendhit: bagian tengah dihiasi permata putih yang melingkar selapis.
5. Segara Muncar: berhiaskan permata dua lapis yang melingkar.
6. Bejen: di Yogyakarta berisi meniran yang disusun melingkar, sedangkan di
Surakarta berisi permata tiga lapis yang melingkar.
7. Robyong: dengan hiasan permata atau rubi, bila tidak terbuat dari emas dan
permata asli, disebut Rujak Wuni Sabetan.
8. Sekar Setaman: hiasan mata terdiri dari minimal tiga jenis permata yang
berbeda warna.
9. Lugas: seluruh permukaannya rata tanpa hiasan.
52
Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keri s<noinclude></noinclude>
1pavmgzspv8szpilsvkws97ewhtmfcy
320885
320882
2026-10-11T08:12:25Z
Khusna Safira
26423
/* Bermasalah */
320885
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Khusna Safira" /></noinclude>2.2.3 Mendhak
Mendhak atau uwer, adalah sebentuk cincin yang melingkari pesi di bawah
bagian bungkul jejeran, di atas ganja bilah. Ada teori yang menyatakan bahwa
mendhak dan selut adalah perkembangan dari karah, yaitu cincin logam yang
memperkuat pangkal hulu sabit atau parang agar tidak mudah pecah, kemudian
para perajin perabot keris mempertinggi mutu bahan dan garapannya. Semula
dari besi yang di-warangi, lalu berubah menjadi besi dilapis emas, tembaga
disepuh emas, perak disepuh emas, suasa, kemudian yang termewah adalah
emas murni yang berhias batu mulia. Demikian juga dengan mutu garapannya
menjadi semakin rumit dan indah, lalu fungsinya pun bergeser dari karah menjadi
mendhak dan selut yang lebih mementingkan keselarasan estetika.
Mendhak Surakarta dan Yogyakarta (uwer), walau sepintas terlihat sama,
tetap memperlihatkan kekhasan masing-masing. Di Surakarta populer dengan
bentuk Parijatha, sedangkan di Yogyakarta dengan bentuk Bejen. Secara um um,
mendhak terdiri dari bagian meniran, ungkat-ungkatan, untu walang, mata, ri
pandhan, dan meniran sor-soran.
Macam-macam mendhak, antara lain:
1. Parijatha: lingkar teratas dan yang di bawahnya terdiri dari meniran yang
sama besarnya, dan lingkar tengah berisi meniran yang lebih besar, berjumlah
8-10 butir, berselang-seling di antara untu walang.
2. Tumbaran atau Tumbar Pecah: seperti Parijatha namun dengan guratan
vertikal pada meniran utamanya.
3. Widhengan: hanya ada di Surakarta, dengan isian plethuk (meniran/granula
kecil) yang membentuk pola gambar widheng.
4. Kendhit: bagian tengah dihiasi permata putih yang melingkar selapis.
5. Segara Muncar: berhiaskan permata dua lapis yang melingkar.
6. Bejen: di Yogyakarta berisi meniran yang disusun melingkar, sedangkan di
Surakarta berisi permata tiga lapis yang melingkar.
7. Robyong: dengan hiasan permata atau rubi, bila tidak terbuat dari emas dan
permata asli, disebut Rujak Wuni Sabetan.
8. Sekar Setaman: hiasan mata terdiri dari minimal tiga jenis permata yang
berbeda warna.
9. Lugas: seluruh permukaannya rata tanpa hiasan.
52
Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keri s<noinclude></noinclude>
k7mv6u0ea41zuid9mvqqo4euwcvmz8n
Halaman:Keris (2014).pdf/71
104
116507
320883
2026-10-11T08:10:48Z
Khusna Safira
26423
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Keraton Jawa memiliki tradisi pemilihan putera mahkota yang akan melanjutkan menjadi dengan pemberian sebuah keris pusaka kerajaan sebagai pengukuhannya. Kesultanan Yogyakarta, mempunyai tradisi atas sebuah keris pusaka yang bernama Kanjeng Kyai Jaka Piturun, yang akan diberikan oleh sultan pendahulunya kepada sultan baru yang akan naik tahta. Zaman dahulu, ketika seorang patih yang memakai gelar nama Danureja mas ih menjabat sebagai patih di Ke...
320883
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>Keraton Jawa memiliki tradisi pemilihan putera mahkota yang akan
melanjutkan menjadi dengan pemberian sebuah keris pusaka kerajaan sebagai
pengukuhannya. Kesultanan Yogyakarta, mempunyai tradisi atas sebuah keris
pusaka yang bernama Kanjeng Kyai Jaka Piturun, yang akan diberikan oleh sultan
pendahulunya kepada sultan baru yang akan naik tahta. Zaman dahulu, ketika
seorang patih yang memakai gelar nama Danureja mas ih menjabat sebagai patih
di Kesultanan Yogyakarta, masing-masing Patih Dan ureja akan menyandang
keris Kanjeng Kyai Purbaniyat, yang juga akan diserah -terimakan kepada patih
penggantinya. (Ham engku Buwana X dalam buku Kraton Jogja: The History and
Cultural Heritage, 2002; 145- 146).
Pemakaian keris juga menjadi ciri dari kesatuan prajurit keraton, beserta
kepangkatannya. Seorang perwira tinggi dapat menyandang tiga buah keris
sekaligus. Masing-masing satu di pinggang bagian belakang (mangking), satu di
samping paha kiri (nganggar), dan satu diselipkan agak tersembunyi di muka
sisi perutnya (nyothe). Perwira menengah hanya menyandang dua buah keris,
tanpa yang di sisi perut. Prajurit rendahan mengenakan sebuah keris saja serta
membawa tombak atau pedang. Dalam pertempuran, senjata yang digun akan
oleh para prajurit memang berupa tombak, pedang, atau panah dan senapan.
Fungsi keris hanya digunakan untuk pertarungan jarak dekat, seperti fungsi
bayonet pada tentara masa kini.
Masyarakat Jawa berstruktur sesuai dengan tatanan yang ditetapkan
keraton sebagai pusat kebudayaan Jawa, maka keris pun dijadikan sara na
penanda masyarakat yang aristokratis. Tradisi keraton Jawa, menyatakan aturan
khusus tentang keris, yang mengacu pada kedudukan, pangkat, dan status sosial
seseorang. Dalam tradisi keraton Surakarta misaln ya, penanda itu terdapat dalam
aturan pendhok. Pendhok kemalo abrit (merah ), diperuntukkan khusus bagi raja
dan kerabatnya, hingga yang berpangkat bupati. Pendhok kemalo ijem (hijau)
diperuntukkan bagi para bekel dan yang sederajat. Pendhok kemalo cemeng
(hitam ) boleh dipakai oleh para abdi dalem rendah dan rakyat biasa.
Terdapat juga fenomen a sosial pada ke ris yang menunjuk ke pemberian
keris khusus, saat seseorang dinaikkan pangkatnya oleh raj a, sebagai tanda pangkat
yang baru. Oeder (h ulu keris) juga berkaitan dengan status sosial pemiliknya.
Raffles mengatakan tentang kebiasan Raja Yogyakarta yang menghadiahi
seseorang abdi dalem -nya saat naik pangkat dengan sebilah keris yang dedernya ber-wanda lebih tegak dari sebelumnya, sesuai pangkatnya yang baru disertai
tikar untuk duduk dan sh alat. (T.S. Raffles, The History ofJava, 2008; 213)
64
Materi Muatan Lokal Bida ng Kebudayaa n: Keris<noinclude></noinclude>
f31a1vj3qwdxokzyke5tbzxuhlbbzd6
320893
320883
2026-10-11T08:40:47Z
Khusna Safira
26423
/* Telah diuji baca */
320893
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Keraton Jawa memiliki tradisi pemilihan putera mahkota yang akan melanjutkan menjadi dengan pemberian sebuah keris pusaka kerajaan sebagai pengukuhannya. Kesultanan Yogyakarta, mempunyai tradisi atas sebuah keris pusaka yang bernama Kanjeng Kyai Jaka Piturun, yang akan diberikan oleh sultan pendahulunya kepada sultan baru yang akan naik tahta. Zaman dahulu, ketika seorang patih yang memakai gelar nama Danureja masih menjabat sebagai patih di Kesultanan Yogyakarta, masing-masing Patih Danureja akan menyandang keris Kanjeng Kyai Purbaniyat, yang juga akan diserah-terimakan kepada patih penggantinya. (Hamengku Buwana X dalam buku Kraton Jogja: The History and Cultural Heritage, 2002; 145-146).
Pemakaian keris juga menjadi ciri dari kesatuan prajurit keraton, beserta kepangkatannya. Seorang perwira tinggi dapat menyandang tiga buah keris sekaligus. Masing-masing satu di pinggang bagian belakang (mangking), satu di samping paha kiri (nganggar), dan satu diselipkan agak tersembunyi di muka sisi perutnya (nyothé). Perwira menengah hanya menyandang dua buah keris, tanpa yang di sisi perut. Prajurit rendahan mengenakan sebuah keris saja serta membawa tombak atau pedang. Dalam pertempuran, senjata yang digunakan oleh para prajurit memang berupa tombak, pedang, atau panah dan senapan. Fungsi keris hanya digunakan untuk pertarungan jarak dekat, seperti fungsi
bayonet pada tentara masa kini.
Masyarakat Jawa berstruktur sesuai dengan tatanan yang ditetapkan keraton sebagai pusat kebudayaan Jawa, maka keris pun dijadikan sarana penanda masyarakat yang aristokratis. Tradisi keraton Jawa, menyatakan aturan khusus tentang keris, yang mengacu pada kedudukan, pangkat, dan status sosial seseorang. Dalam tradisi keraton Surakarta misalnya, penanda itu terdapat dalam
aturan pendhok. Pendhok kemalo abrit (merah), diperuntukkan khusus bagi raja dan kerabatnya, hingga yang berpangkat bupati. Pendhok kemalo ijem (hijau)
diperuntukkan bagi para bekel dan yang sederajat. Pendhok kemalo cemeng (hitam) boleh dipakai oleh para abdi dalem rendah dan rakyat biasa.
Terdapat juga fenomena sosial pada keris yang menunjuk ke pemberian keris khusus, saat seseorang dinaikkan pangkatnya oleh raja, sebagai tanda pangkat yang baru. Deder (hulu keris) juga berkaitan dengan status sosial pemiliknya. Raffles mengatakan tentang kebiasan Raja Yogyakarta yang menghadiahi seseorang abdi dalem-nya saat naik pangkat dengan sebilah keris yang dedernya ber-wanda lebih tegak dari sebelumnya, sesuai pangkatnya yang baru disertai tikar untuk duduk dan shalat. (T.S. Raffles. The History of Java, 2008; 213)<noinclude>{{rh|64|Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris}}</noinclude>
ddskezyck56r3y6ny74hj7ft5e4arcb
Halaman:Keris (2014).pdf/72
104
116508
320884
2026-10-11T08:11:28Z
Khusna Safira
26423
/* Belum diuji baca */ ←Membuat halaman berisi 'Tradisi keris dalam kehidupan Jawa bahkan masuk ke dalam sebuah ikatan perkawinan. Jika seseorang menikahi seorang perempuan Jawa, maka ayah pengantin wanita akan memberikan sebuah keris sebagai pengikat tali keluarga, yang biasa disebut dengan keris kancing gelung atau cundhuk ukel. Keris itu menjadi simbol penyerahan tanggung jawab dari sang ayah mertua kepada menantu yang untuk selanjutnya berkewajiban menjaga puterinya tersebut. Jika pernika...
320884
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>Tradisi keris dalam kehidupan Jawa bahkan masuk ke dalam sebuah ikatan
perkawinan. Jika seseorang menikahi seorang perempuan Jawa, maka ayah
pengantin wanita akan memberikan sebuah keris sebagai pengikat tali keluarga,
yang biasa disebut dengan keris kancing gelung atau cundhuk ukel. Keris itu
menjadi simbol penyerahan tanggung jawab dari sang ayah mertua kepada
menantu yang untuk selanjutnya berkewajiban menjaga puterinya tersebut.
Jika pernikahan itu berujung pada perceraian, maka isteri yang diceraikannya
itu dipulangkan kembali beserta keris yang menjadi tanda kancing gelung.
(Harsrinuksmo, 1993; 13).
Penghormatan kepada yang lebih tua, terlihat dalam etika yang mengatur
cara mengulungkan keris kepada orang lain. Bila seseorang yang lebih muda
usianya atau yang lebih rendah status sosialnya hendak ngulungke keris kepada
yang lebih tua atau yang lebih tinggi pangkatnya, maka ia harus mengarahkan
bagian warangka clan pangkal gandar terlebih dahulu, namun jika sebaliknya,
maka cukup ujung gandar bawah saja yang diarahkan kepadanya. Penyimpanan
keris yang baik, yaitu di tempat yang tinggi clan bersih, adalah salah satu dari
bentuk penghormatan kepada orangtua atau leluhur yang mewariskan keris
tersebut, clan menghormati yoni berkah yang ada di dalamnya.
Dewasa ini, keris memasuki ranah sosial yang lebih kompleks dalam
kehidupan masyarakat Jawa. Pergeseran makna sosial yang merupakan
perubahan dari dinamika masyarakat, mau tidak mau menjadi kenyataan
perkembangan masyarakat Jawa. Dominasi kekuasaan yang berpindah dari
politik monarki kepada para pemegang kuasa elit modern clan pengusaha kaya,
mempengaruhi tradisi sosial dalam budaya keris Jawa. Penanda-penanda sakral
status kebangsawanan tinggi dalam detil keris dapat dimilik oleh siapapun yang
mampu membelinya, padahal pada zaman berlakunya keraton sebagai pusat
budaya, saudagar kaya sekalipun tidak boleh memiliki detil penanda-penanda
tersebut walau ia mampu membelinya. Selain itu, kepemilikan atas pusaka-pusaka
bergengsi tinggi juga dianggap sebagai pengangkat status sosial dalam kehidupan
masyarakat masa kini, sedangkan pada masa lalu kepemilikan seperti itu harus
atas idzin keraton clan yang diharapkan lebih pada kewibawaan tradisional
daripada prestige sosial modern.
Fenomena unik terjadi dalam dunia para kolektor keris, yaitu adanya
asosiasi tertentu akan selera kepemilikan jenis pusaka keris atas pribadi seorang
kolektor. Contohnya, kolektor A dikenal gemar menyimpan keris tangguh
Majapahit, sedangkan kolektor B diketahui senang mengkoleksi keris tangguh
Mataram. Selera penyimpanan koleksi kadang juga bertautan dengan jenis
dhapur tertentu atau pada selera jenis pamor-pamor unik.
Sekilas Tentang Keris
65<noinclude></noinclude>
a9e4xodc2he2jc93juzhi9p12yijbt2
320890
320884
2026-10-11T08:26:19Z
Khusna Safira
26423
/* Telah diuji baca */
320890
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Tradisi keris dalam kehidupan Jawa bahkan masuk ke dalam sebuah ikatan perkawinan. Jika seseorang menikahi seorang perempuan Jawa, maka ayah pengantin wanita akan memberikan sebuah keris sebagai pengikat tali keluarga, yang biasa disebut dengan keris kancing gelung atau cundhuk ukel. Keris itu menjadi simbol penyerahan tanggung jawab dari sang ayah mertua kepada menantu yang untuk selanjutnya berkewajiban menjaga puterinya tersebut. Jika pernikahan itu berujung pada perceraian, maka isteri yang diceraikannya itu dipulangkan kembali beserta keris yang menjadi tanda kancing gelung. (Harsrinuksmo, 1993; 13).
Penghormatan kepada yang lebih tua, terlihat dalam etika yang mengatur cara mengulungkan keris kepada orang lain. Bila seseorang yang lebih muda usianya atau yang lebih rendah status sosialnya hendak ngulungke keris kepada yang lebih tua atau yang lebih tinggi pangkatnya, maka ia harus mengarahkan bagian warangka dan pangkal gandar terlebih dahulu, namun jika sebaliknya, maka cukup ujung gandar bawah saja yang diarahkan kepadanya. Penyimpanan keris yang baik, yaitu di tempat yang tinggi dan bersih, adalah salah satu dari bentuk penghormatan kepada orangtua atau leluhur yang mewariskan keris tersebut, dan menghormati yoni berkah yang ada di dalamnya.
Dewasa ini, keris memasuki ranah sosial yang lebih kompleks dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pergeseran makna sosial yang merupakan perubahan dari dinamika masyarakat, mau tidak mau menjadi kenyataan perkembangan masyarakat Jawa. Dominasi kekuasaan yang berpindah dari politik monarki kepada para pemegang kuasa elit modern dan pengusaha kaya, mempengaruhi tradisi sosial dalam budaya keris Jawa. Penanda-penanda sakral status kebangsawanan tinggi dalam detil keris dapat dimilik oleh siapapun yang mampu membelinya, padahal pada zaman berlakunya keraton sebagai pusat budaya, saudagar kaya sekalipun tidak boleh memiliki detil penanda-penanda tersebut walau ia mampu membelinya. Selain itu, kepemilikan atas pusaka-pusaka bergengsi tinggi juga dianggap sebagai pengangkat status sosial dalam kehidupan masyarakat masa kini, sedangkan pada masa lalu kepemilikan seperti itu harus atas idzin keraton dan yang diharapkan lebih pada kewibawaan tradisional daripada prestige sosial modern.
Fenomena unik terjadi dalam dunia para kolektor keris, yaitu adanya asosiasi tertentu akan selera kepemilikan jenis pusaka keris atas pribadi seorang kolektor. Contohnya, kolektor A dikenal gemar menyimpan keris tangguh Majapahit, sedangkan kolektor B diketahui senang mengkoleksi keris tangguh Mataram. Selera penyimpanan koleksi kadang juga bertautan dengan jenis dhapur tertentu atau pada selera jenis pamor-pamor unik.<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|65}}</noinclude>
a6d561pf1bgmqvvwkat5mgdivtliwc0
320891
320890
2026-10-11T08:27:41Z
Khusna Safira
26423
320891
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Tradisi keris dalam kehidupan Jawa bahkan masuk ke dalam sebuah ikatan perkawinan. Jika seseorang menikahi seorang perempuan Jawa, maka ayah pengantin wanita akan memberikan sebuah keris sebagai pengikat tali keluarga, yang biasa disebut dengan keris kancing gelung atau cundhuk ukel. Keris itu menjadi simbol penyerahan tanggung jawab dari sang ayah mertua kepada menantu yang untuk selanjutnya berkewajiban menjaga puterinya tersebut. Jika pernikahan itu berujung pada perceraian, maka isteri yang diceraikannya itu dipulangkan kembali beserta keris yang menjadi tanda kancing gelung.(Harsrinuksmo, 1993; 13).
Penghormatan kepada yang lebih tua, terlihat dalam etika yang mengatur cara mengulungkan keris kepada orang lain. Bila seseorang yang lebih muda usianya atau yang lebih rendah status sosialnya hendak ngulungke keris kepada yang lebih tua atau yang lebih tinggi pangkatnya, maka ia harus mengarahkan bagian warangka dan pangkal gandar terlebih dahulu, namun jika sebaliknya, maka cukup ujung gandar bawah saja yang diarahkan kepadanya. Penyimpanan keris yang baik, yaitu di tempat yang tinggi dan bersih, adalah salah satu dari bentuk penghormatan kepada orangtua atau leluhur yang mewariskan keris tersebut, dan menghormati yoni berkah yang ada di dalamnya.
Dewasa ini, keris memasuki ranah sosial yang lebih kompleks dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pergeseran makna sosial yang merupakan perubahan dari dinamika masyarakat, mau tidak mau menjadi kenyataan perkembangan masyarakat Jawa. Dominasi kekuasaan yang berpindah dari politik monarki kepada para pemegang kuasa elit modern dan pengusaha kaya, mempengaruhi tradisi sosial dalam budaya keris Jawa. Penanda-penanda sakral status kebangsawanan tinggi dalam detil keris dapat dimilik oleh siapapun yang mampu membelinya, padahal pada zaman berlakunya keraton sebagai pusat budaya, saudagar kaya sekalipun tidak boleh memiliki detil penanda-penanda tersebut walau ia mampu membelinya. Selain itu, kepemilikan atas pusaka-pusaka bergengsi tinggi juga dianggap sebagai pengangkat status sosial dalam kehidupan masyarakat masa kini, sedangkan pada masa lalu kepemilikan seperti itu harus atas idzin keraton dan yang diharapkan lebih pada kewibawaan tradisional daripada prestige sosial modern.
Fenomena unik terjadi dalam dunia para kolektor keris, yaitu adanya asosiasi tertentu akan selera kepemilikan jenis pusaka keris atas pribadi seorang kolektor. Contohnya, kolektor A dikenal gemar menyimpan keris tangguh Majapahit, sedangkan kolektor B diketahui senang mengkoleksi keris tangguh Mataram. Selera penyimpanan koleksi kadang juga bertautan dengan jenis dhapur tertentu atau pada selera jenis pamor-pamor unik.<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|65}}</noinclude>
8zown809k4r7bcl7tp2g8hsgaurferc
320892
320891
2026-10-11T08:28:00Z
Khusna Safira
26423
320892
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Tradisi keris dalam kehidupan Jawa bahkan masuk ke dalam sebuah ikatan perkawinan. Jika seseorang menikahi seorang perempuan Jawa, maka ayah pengantin wanita akan memberikan sebuah keris sebagai pengikat tali keluarga, yang biasa disebut dengan keris kancing gelung atau cundhuk ukel. Keris itu menjadi simbol penyerahan tanggung jawab dari sang ayah mertua kepada menantu yang untuk selanjutnya berkewajiban menjaga puterinya tersebut. Jika pernikahan itu berujung pada perceraian, maka isteri yang diceraikannya itu dipulangkan kembali beserta keris yang menjadi tanda kancing gelung. (Harsrinuksmo, 1993; 13).
Penghormatan kepada yang lebih tua, terlihat dalam etika yang mengatur cara mengulungkan keris kepada orang lain. Bila seseorang yang lebih muda usianya atau yang lebih rendah status sosialnya hendak ngulungke keris kepada yang lebih tua atau yang lebih tinggi pangkatnya, maka ia harus mengarahkan bagian warangka dan pangkal gandar terlebih dahulu, namun jika sebaliknya, maka cukup ujung gandar bawah saja yang diarahkan kepadanya. Penyimpanan keris yang baik, yaitu di tempat yang tinggi dan bersih, adalah salah satu dari bentuk penghormatan kepada orangtua atau leluhur yang mewariskan keris tersebut, dan menghormati yoni berkah yang ada di dalamnya.
Dewasa ini, keris memasuki ranah sosial yang lebih kompleks dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pergeseran makna sosial yang merupakan perubahan dari dinamika masyarakat, mau tidak mau menjadi kenyataan perkembangan masyarakat Jawa. Dominasi kekuasaan yang berpindah dari politik monarki kepada para pemegang kuasa elit modern dan pengusaha kaya, mempengaruhi tradisi sosial dalam budaya keris Jawa. Penanda-penanda sakral status kebangsawanan tinggi dalam detil keris dapat dimilik oleh siapapun yang mampu membelinya, padahal pada zaman berlakunya keraton sebagai pusat budaya, saudagar kaya sekalipun tidak boleh memiliki detil penanda-penanda tersebut walau ia mampu membelinya. Selain itu, kepemilikan atas pusaka-pusaka bergengsi tinggi juga dianggap sebagai pengangkat status sosial dalam kehidupan masyarakat masa kini, sedangkan pada masa lalu kepemilikan seperti itu harus atas idzin keraton dan yang diharapkan lebih pada kewibawaan tradisional daripada prestige sosial modern.
Fenomena unik terjadi dalam dunia para kolektor keris, yaitu adanya asosiasi tertentu akan selera kepemilikan jenis pusaka keris atas pribadi seorang kolektor. Contohnya, kolektor A dikenal gemar menyimpan keris tangguh Majapahit, sedangkan kolektor B diketahui senang mengkoleksi keris tangguh Mataram. Selera penyimpanan koleksi kadang juga bertautan dengan jenis dhapur tertentu atau pada selera jenis pamor-pamor unik.<noinclude>{{rh||Sekilas Tentang Keris|65}}</noinclude>
a6d561pf1bgmqvvwkat5mgdivtliwc0