Wikisumber
idwikisource
https://id.wikisource.org/wiki/Halaman_Utama
MediaWiki 1.47.0-wmf.24
first-letter
Media
Istimewa
Pembicaraan
Pengguna
Pembicaraan Pengguna
Wikisumber
Pembicaraan Wikisumber
Berkas
Pembicaraan Berkas
MediaWiki
Pembicaraan MediaWiki
Templat
Pembicaraan Templat
Bantuan
Pembicaraan Bantuan
Kategori
Pembicaraan Kategori
Pengarang
Pembicaraan Pengarang
Indeks
Pembicaraan Indeks
Halaman
Pembicaraan Halaman
Portal
Pembicaraan Portal
TimedText
TimedText talk
Modul
Pembicaraan Modul
Acara
Pembicaraan Acara
MediaWiki:Gadgets-definition
8
3474
321766
318533
2026-10-16T15:11:47Z
Maintenance script
8239
Remove deprecated targets option (Operator: Ladsgroup)
321766
wikitext
text/x-wiki
== general ==
* exlinks|exlinks.js
* UTCLiveClock[dependencies=mediawiki.util]|UTCLiveClock.js
* HotCat[rights=edit]|HotCat.js
* NavPopups[dependencies=mediawiki.user]|NavPopups.js
== editing-tools-for-Index-namespace ==
* Fill_Index[targets=desktop,mobile]|Fill_Index.js
* ImportPagelist[dependencies=mediawiki.util]|ImportPagelist.js
== editing-tools-for-Page-namespace ==
* NopInserter[default|dependencies=mediawiki.util]|NopInserter.js
* mark-proofread[dependencies=mediawiki.util]|mark-proofread.js|mark-proofread.css
* ocr|ocr.js
* pilcrowMarkers|pilcrowMarkers.css
* ImageUploader[dependencies=mediawiki.util]|ImageUploader.js
* Easy_LST|Easy_LST.js
* Preload_Page_Images|Preload_Page_Images.js
<!--* ShortUrlLink|ShortUrlLink.js-->
== interface ==
* PageNumbers|PageNumbers.js
* PageNumbers-core[hidden|dependencies=mediawiki.util,user,mediawiki.cookie]|PageNumbers-core.js|PageNumbers-core.css
* Site-styles[hidden|type=styles]|Site.css|SiteHeader.css|enwp-boxes.css|enwp-lists.css|enws-tweaks.css
== development ==
* TemplatePreloader|TemplatePreloader.js
== admin-gadget ==
* DiscussionArchiverjs[dependencies=mediawiki.api,mediawiki.util,mediawiki.user|rights=block,protect]|DiscussionArchiver-core.js|DiscussionArchiver-idwikisource.js
n2s9s15bn0d2zcyh42asji8ohstkfa8
Halaman:Perahu Madura.pdf/49
104
71488
321827
205881
2026-10-17T03:56:03Z
Empat Tilda
13539
/* Tervalidasi */
321827
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Empat Tilda" /></noinclude>Bentuk jukung Pagur sebenarnya banyak versi. Dalam uraian ini hanya digambarkan dua versi saja, yaitu Pagur Poday (Sapudi) dan Pagur Legung. Kedua pagur tersebut dapat dilihat dalam foto nomer: 6 dibelakang. Tampak pagur Legung hirus saja, seperti Losongan, sedang Pagur Poday menampakkan lenggi persegi dengan tonjolan pada
kedua ujungnya. Jukong Poday dalam banyak hal menampakkan kelebihan, yaitu dalam komponen dan konstruksinya.
Pagur bagian depannya agak membentuk persegi dengan gambaran seperti berikut:
{{c|[[Berkas:Tajuk Perahu Pagur.jpg|500px]]}}
'''{{c|Gambar 31}}'''
Pada gambar tersebut tampak "tajuk" tempat tambahan tali, dan bagaimana cadik sebelah itu "melekat". Tampak pula lesan cat berwarna hijau dan coklat ciri khasnya yang sekarang tak diikuti dengan cermat lagi. Apabila kita lihat dari depan tampaknya sebagai:
Pada gambar tersebut nampak bangun badan yang agak persegi.
Pada bagian belakang nampak "mangkrengan" untuk tempat pancer dan dayung ataupun apa saja yang akan dikeringkan
4. JUKUNG KATERAN
Jukung ini dengan nama "kateran" atau "katiran", adalah istilah Sapeken, sebenarnya dalam salah satu versi saja dari jukung Pagur. Hanya orang Sapeken tidak menamakan "pagur". lstilah "kateran"<noinclude>{{rh|44}}</noinclude>
90oib3pcm3ofalzt7oxigb7x69lsgfr
Halaman:Geografi Dialek Bahasa Minangkabau.pdf/42
104
104714
321837
296221
2026-10-17T09:41:24Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
321837
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" />{{rh||18}}</noinclude>Berdasarkan keterangan di atas, wilayah pemakaian bahasa Minangkabau di daerah Pesisir Selatan adalah semua wilayah yang termasuk ke dalam daerah Pesisir Selatan itu. Daerah ini di bagian selatan berbatas dengan Propinsi Bengkulu, di bagian timur dan tenggara berbatas dengan Propinsi Jambi dan Kabupaten Solok, dan di bagian utara berbatas dengan Kotamadya Padang, sedangkan di bagian barat berbatas dengan Lautan Indonesia.
'''2.3.2 Situasi Pemakaian'''
Kendatipun di daerah Pesisir Selatan tidak terjadi kesukaran berbahasa Minangkabau, tidaklah berarti bahwa semua penduduk Pesisir Selatan menggunakan bahasa Minangkabau yang persis sama. Bila dikuti dengan seksama percakapan penduduk di nagari-nagari memang terdengar perbedaan-perbedaan tertentu, apalagi bila kita ikuti orang-orang di bagian selatan, yakni nagari-nagari yang berbatasan dengan Propinsi Bengkulu dan Jambi. Hal ini mungkin disebabkan oleh kontak bahasa-bahasa dengan daerah-daerah lainnya atau mungkin juga karena perbedaan asal-usul penduduknya.
Sudah menjadi kisah yang turun-temurun bagi masyarakat di daerah itu bahwa nenek moyang penduduk nagari dalam Kecamatan Batang Kapas, Lengayang, Ramah Pesisir, dan Pancung Soal dahulu kala turun dari daerah Muata Labuh, Surian, dan Lubuk Gadang di bagian selatan Kabupaten Solok. Sementara itu, nenek moyang penduduk kecamatan IV Jurai, Bayang, dan Koto XI Tarusan turun dari daerah Alahan Panjang, Solok, Koto Enau, dan Muara Panas. Mereka turun ke daerah pesisir dalam rangka mencari tempat pemukiman baru berhubung dengan makin berkembangnya jumlah penduduk di daerah asal mereka. Dalam struktur pemerintahan Minangkabau lama daerah tempat pemukiman baru ini disebut "rantau" (Medan, 1980:33).
Perbedaan asal-usul penduduk ini dengan sendirinya memperlihatkan keragaman pemakaian bahasa. Hal ini lebih jelas dikemukakan di dalam bab-bab berikutnya.
'''2.3.3 Status dalanı Komunikasi'''
Seperti juga daerah-daerah lainnya penduduk Pesisir Selatan tergolong ke dalam masyarakat yang dwibahasawan, yakni antara bahasa Minangkabau dan bahasa Idonesia.
Razak (1976:8) melaporkan bahwa bahasa Minangkabau memiliki tradisi sastra baik lisan maupun tulisan dan bahasa Minangkabau itu juga sebagai bahasa pengantar di tingkat rendah sekolah dasar. Hal ini berarti bahwa {{hws|pe|penguasaan}}<noinclude></noinclude>
4t1pn4gvp1k3x3fsa8bfyr2sua2aill
Halaman:Geografi Dialek Bahasa Minangkabau.pdf/43
104
104718
321843
296258
2026-10-17T10:16:24Z
Sandi rambe
25813
/* Tervalidasi */
321843
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sandi rambe" />{{rh||19}}</noinclude>{{hwe|nguasaan|penguasaan}} bahasa Minangkabau dapat juga diperoleh melalui pendidikan formal.
Hal-hal yang memungkinkan bahasa Minangkabau dapat dipelajari melalui pendidikan formal karena bahasa itu memiliki kodifikasi seperti yang terdapat pada ragam bahasa baku. Suatu sanggar kerja (1976) yang diselenggarakan IKIP Padang bekerja sama dengan HPBI (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia) Cabang Daerah Sumatera Barat telah berhasil menyusun tata ejaan bahasa Minangkabau dalam rangka usaha pembakuannya. Pada kesempatan itu para peserta lokakarya telah berhasil menyusun "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Minangkabau".
Berdasarkan keterangan di atas dapat dikatakan bahwa di daerah status bahasa Minangkabau komunikusi masih menduduki status yang cukup tinggi secara regional, di samping status bahasa Indonesia yang bersifat nasional.
Apabila dihubungkan dengan pengkategorian bahasa daerah bahasa daerah yang ada di Indonesia dibedakan atas (1) bahasa daerah yang termasuk dialek bahasa Melayu, seperti bahasa Melayu Jakarta, Banjar, Bugis: (2) bahasa daerah besar dengan jutaan penutur aslinya serta memiliki tradisi sastra sendiri; serta (3) hahasa daerah kecil dengan penutur aslinya yang relatif kecil tidak memiliki tradisi sastra (Soepono, 1976), maka hal di atas dapat dipahami karena bahasa Minangkabau termasuk ke dalam bahasa daerah besar.
'''2.3.4 Kedudukan dan Fungsi'''
Dalam kedudukannya sebagai bahasa Indonesia, sebagaimana halnya dengan bahasa daerah-bahasa daerah di Indonesia, bahasa Minangkabau juga berfungsi sebagai:
<ol style="list-style-type: '(counter(list-item, decimal)')';">
<li> lambang kebanggaan daerah,</li>
<li> lambang idenitas daerah, </li>
<li>alat perhubungan dalam keluarga dan masyarakat daerah.</li></ol>
Di samping itu, bahasa Minangkabau dipergunakan sebagai alat komuikasi dalam keluarga dan dalam masyarakat itu sendiri (Isman. 1978:51) kadang-kadang dipakai dalam komunikasi resmi dan sepenuhnya dalam upacara adat (Medan, 1977:27), sering dipergunakan di lembaga-lembaga resmi dalam situasi tidak resmi (Rasyad. 1976) dan lebih utama lagi dalam relasi perorangan yang bersulat sangat pribadi, santai, dan akrab antara orang-orang Minangkabau (Razak, 1976:10), kedudukan dan fungsi bahasa Minangkabau tertera di atas juga berlaku di daerah Pesisir Selatan ini.<noinclude></noinclude>
99u9pifrqjs05ia7l1gzniesn5jotr4
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/1
104
112652
321833
312040
2026-10-17T06:58:42Z
Sabil Khoer Al Munawar
23983
/* Bermasalah */
321833
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Sabil Khoer Al Munawar" /></noinclude>{{Missing image}}<noinclude></noinclude>
e820pmlig9tu0jfmmglc7vq2yrdtzdx
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/12
104
113096
321765
312713
2026-10-16T14:18:45Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321765
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>empat buah naskah lain.
Pada tahun 1904, Datuk Garang dari Tanah Datar, menerbitkan Kaba ini dengan selengkapnya di Malaya. Edisi ini serupa dengan edisi Van der Toorn dan tertulis dalam huruf Arab (Jawi). Inilah edisi-edisi tertua, sekalipun sepanjang pengetahuan saya terdapat paling tidak 7 versi lain dari Kaba ini dalam bentuk tercetak.<sup>4)</sup>
Kata Kaba berasal dari kata bahasa Arab, ''akhbar'', yang kira-kira berarti pesan atau berita. Dalam sastra tradisionil Minangkabau, kaba kadang-kadang disebut sebagai ''curito'' atau ''carito'' atau historiographi tradisionil merupakan dua bentuk terpenting dari sastra prosa Minangkabau. Tambo umumnya berkenaan dengan perkembangan alam Minangkabau secara perlahan-lahan serta adat istiadatnya. Dalam tambo misalnya ditemukan keterangan bahwa raja-raja Minangkabau mula-mula keturunan dari Iskandar Zulkarnain, dan bahwa adat Minangkabau mula-mula dirumuskan oleh dua orang perumus adat, yaitu Datuk Ketemeggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.<sup>5)</sup>
Pada dasarnya suatu Kaba tidaklah mengisahkan asal usul adat, melainkan berkenaan dengan cara kehidupan yang dicita-citakan sesuai dengan aturan adat. Kaba bercerita mengenai suatu masyarakat yang tersusun teratur, kadang-kadang "diganggu" oleh tokoh-tokoh "bajingan" di dalam Kaba tersebut. Keterangan mengenai asal-usul masyarakat diberikan untuk menyokong sifat khidmat dari cita-cita adat dan bukan sebagai pokok utama yang dikisahkan.
Jika tambo menguraikan tradisi tentang terjadinya alam Minangkabau yang ideal, kaba kadang-kadang merupakan campuran antara konsepsi universil yang dicita-citakan dengan adat istiadat setempat. Ia dapat bersifat sastra belaka atau merupakan kisah tentang tokoh pahlawan setempat. Kaba Magek Djabang misalnya, mengisahkan adat setempat mengenai seorang bangsawan pesisir Barat di Tiku Pariaman.
Biasanya Kaba dikisahkan oleh seorang juru ceritera pengembara, yang setelah membakar dupa serta menggumamkan mantera menghidangkan kisah tersebut sebagai nyanyian sambil memetik sebuah rebab. Berlainan dengan sebagian besar Kaba lainnya, ''Kaba Tjindua Mato'' tidak didasarkan pada adat setempat, melainkan berkenaan dengan adat raja-raja Minangkabau. Kaba ini juga dapat digolongkan sebagai tambo dalam arti kata bahwa tokoh-tokoh utama dalam Kaba ini juga mengisahkan perihal perkembangan Minangkabau serta adatnya.
Ia merupakan ''mitos negara par excellence'' serta merupakan ''karya reference standard'' bagi para ahli teori adat Minangkabau dan pelindung-pelindungnya. Orang Minangkabau sendiri biasanya menganggap isinya sebagai lukisan tentang masa gemilang mereka dan oleh karena itu suatu pemeriksaan terhadap keaslian dari tokoh-tokoh utamanya kiranya penting sekali.<noinclude>{{rh|8||}}</noinclude>
lwilf7n82qqei118430lkh05xdaj1g1
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/13
104
113097
321764
312716
2026-10-16T14:17:48Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321764
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Akan tetapi dalam analisa ini, saya malah akan berusaha menafsirkan beberapa segi dari pandangan duniawi bangsa Minangkabau sebagai dipantulkan dalam Kaba ini. Apakah konsepsi dunia yang terkandung dalam Kaba ini? Bagaimanakah orang Minangkabau memandang diri mereka ditilik berdasarkan Kaba ini? Hampir seluruh Kaba berkenaan dengan adat Minangkabau, karya para ahli adat bangsa Indonesia, sedikit banyak didasarkan pada Kaba ''Tjindua Mato'', sebagaimana juga sebagian dari ucapan-ucapan adat. Jadi persoalan-persoalan tersebut di atas adalah juga berkenaan dengan soal-soal umum falsafah adat Minangkabau.
Sama dengan seluruh Kaba Minangkabau lainnya, Kaba ''Tjindua Mato'' dimulai dengan permintaan maaf secara upacara adat sebagai berikut:
:<poem>
::''Ampun, baribu ampun,''
::''Ampuni kami, Bundo Kanduang''
::''Ampuni kami, Dang Tuhanku''
::''Curito urang kami ulangi''
::''Duto urang kami indak sato.''
::(''Ampun, beribu ampun''
::''Ampun kami, Bunda Kandung''
::''Ampun kami, Dang Tuanku''
::''Ceritera orang lain kami kisahkan''
::''Dusta mereka kami tidak ikut.'')
</poem>
Dahulu kala Pagaruyung, ibukota Minangkabau, seorang ratu Bunda Kanduang (Ibu Kandung), "yang berdiri sendiri, diciptakan bersama-sama alam dunia ini (samo tajadi jo alamko)". Ia merupakan "sepih belahan Raja Benua Ruhum, <ref>sepih belahan raja tanah Cina dan sepihan belahan Raja Lautan".</ref>
Pada suatu hari Bundo Kanduang menyuruh Kembang Bendahari, dayang-dayang yang setia, membangunkan putranya Dang Tuanku yang sedang tidur di anjung (bagian tambahan gedung istana). Akan tetapi Kembang Bendahari menolak perintah ini karena Dang Tuanku bersifat sakti: "..... jika ia diingat hati akan meleleh, menyebut namanya akan mengelukan lidah, memandang sorotan matanya, mata akan diliputi kebutaan".
Dang Tuanku sebenarnya adalah Rajo Alam (Raja Alam). Bundo Kanduang sendiri lalu membangunkan-nya, sambil mengatakan bahwa Bendahara, salah seorang diantara keempat menteri utama Minangkabau (anggota-anggota dari ''Basa Ampek Balai'') sedang mengadakan gelanggang <ref>di nagarinya, Sungai Tarab, guna memilih suami bagi anak gadisnya.</ref>
Karena gelanggang akan dikunjungi oleh berbagai pangeran, para marah dan sutan (gelar-gelar kaum bangsawan tanah pesisir), serta putera-putera para "orang besar" maka Dang Tuanku dan...<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude>
8xc04ia9gho25eh0q47uf2wu1eakieo
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/14
104
113098
321767
312717
2026-10-16T15:21:11Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321767
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Cindua Mato hendaknya juga ikut didalamnya. Bunda Kanduang lalu menitahkan Dang Tuanku untuk menanyakan apakah Bendahara dapat menerima Cindua Mato sebagai suami bagi anak perempuannya, Putri Lenggo Geni. Setelah menerima petuah-petuah adat Minangkabau dari Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Cindua Mato, dan hulubalang-hulubalangya berangkat menuju Sungai Tarab. Sepanjang jalan rakyat terpesona memandang iringan raja ini.<sup>9)</sup>
Di Sungai Tarab mereka disambut oleh Bendahara. Setelah upacara-upacara sambutan, Dang Tuanku menanyakan apakah Bendahara berkenan menerima orang yang papa dan hina, Cindua Mato, sebagai menantunya. Karena sebenarnya Cindua Mato merupakan calon menantu idaman, pinangan segera diterima. Dang Tuanku lalu mengadakan pembicaraan dengan Bendahara sebagai wakil Basa Ampek-Balai, mengenai cita-cita adat Minangkabau serta apakah telah terjadi perubahan-perubahan dalam adat turun-temurun itu. Akan tetapi, menurut Bendahara, dasar-dasar prinsip yang diturunkan oleh para pendiri adat Datuk Ketemeggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, tidak mengalami perubahan.
Sementara itu, Cindua Mato telah menangkap desas-desus di pasar bahwa tunangan Dang Tuanku, Puti Bongsu, akan dikawinkan dengan Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, sebuah negeri di rantau Timur. Menurut desas-desus tersebut Dang Tuanku hidup terpencil karena diserang oleh suatu penyakit yang aib. Puti Bongsu adalah anak perempuan Rajo Mudo, saudara laki-laki Bundo Kanduang, yang memerintah sebagai wakil Pagaruyung di Sikalawi, daerah yang berbatas dengan Sungai Ngiang. Setelah mengetahui bahwa desas-desus ini ditiupkan oleh wakil-wakil Imbang Jayo, Cindua Mato mendesak Dang Tuanku agar minta diri kepada Sang Bendahara serta pulang kembali ke Pagarruyung. Desas-desus demikian merupakan penghinaan terhadap Raja Dunia.
Di Pagarruyung Cindua Mato menyampaikan apa yang telah didengarnya di pasar, kepada Dang Tuanku dan Bundo Kanduang. Bundo Kanduang amat gusar. Akan tetapi sebelum bertindak, ia harus minta pertimbangan Basa Ampek Balai. Pada rapat berikut para menteri berusaha mencapai kata sepakat antara Bundo Kanduang yang tak kuasa menerima penghinaan dari saudara lelakinya dengan Dang Tuanku yang mendapat sokongan Cindua Mato serta menghendaki ketenangan. Dang Tuanku berpendapat:
:<poem>
::''Urang pemberang kurang iman''
::''Kurang saba hilang pikiran.''
</poem>
Pertemuan berakhir dengan persetujuan bahwa Cindua Mato akan pergi ke Sikalawi sebagai utusan Bundo Kanduang dan Dang Tuanku, dengan membawa Sibinuang, kerbau putih sakti, sebagai hadiah perkawinan untuk Puti Bongsu. Secara diam-diam Dang Tuanku telah membuat rencana rahasia dengan Cindua Mato.<noinclude>{{rh|10||}}</noinclude>
4cj1ancfkirf8pcfjfetmm65kc40b4l
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/15
104
113099
321768
312718
2026-10-16T15:22:04Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321768
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Sambil menunggang kuda sakti, Sigumarang, dan dengan diiringi oleh Sibinuang, Cindua Mato menuju Sikalawi. Pada daerah perbatasan Timur, di Bukit Tambun Tulang, ia menemui tengkorak-tengkorak kepala manusia berserakan. Setelah membaca berbagai, mantera dan "berkat kesaktian Dang Tuanku", tengkorak-tengkorak tersebut dapat menyampaikan kisah mereka kepada Cindua Mato. Mereka adalah saudagar-saudagar yang melewati bukit tersebut. Mereka telah dibunuh oleh penyamun-penyamun dari Tambun Tulang dan mereka menasehati Cindua Mato agar jangan melanjutkan perjalanannya.
Tetapi Cindua Mato tabah hatinya. Tak lama setelah itu iapun diserang oleh sekawanan penyamun, tetapi dengan bantuan Sibinuang, mereka dikalahkan. Mereka mengatakan bahwa Imbang Jayo, Raja Sungai Ngiang, menggunakan tenaga mereka bukan hanya untuk memperkaya diri, melainkan juga guna memutuskan hubungan antara Pagarruyung dan Rantau Timur dan dengan demikian menjamin rencananya untuk mengawini Puti Bungsu. <sup>10)</sup>
Kedatangan Cindua Mato menggembirakan hati keluarga Rajo Mudo yang bersedih hati atas penyakit Dang Tuanku yang aib itu. Kehadiran Cindua Mato dianggap sebagai bukti restu Bundo Kanduang atas perkawinan yang telah direncanakan itu. Dengan sikap seolah-olah sedang kesurupan (kemasukan setan), Cindua Mato berhasil mengadakan pertemuan dengan seorang diri dengan Puti Bungsu tanpa menimbulkan rasa curiga keluarganya.
Cindua Mato menyampaikan kepadanya bahwa Dang Tuanku telah menugaskannya untuk membawa Puti Bungsu ke Pagarruyung karena ia telah diperuntukkan untuk dipersunting oleh Dang Tuanku. Pada kenduri perkawinan, waktu Imbang Jayo asyik menjalankan peranannya sebagai calon mempelai, Cindua Mato melaksanakan beberapa perbuatan mukjizat dan dalam kegaduhan yang timbul sebagai akibatnya, ia menculik Puti Bungsu. Puti Bungsu dibawanya ke Padang Gantiang, tempat kedudukan Tuan Kadhi, menteri pengadilan Agama.
Karena telah menculik Puti Bungsu, Cindua Mato sebenarnya telah melanggar hukum dan menyalahi tugasnya sebagai utusan Pagarruyung. Oleh karena itu Tuan Kadhi memanggil rekan-rekannya guna memperebutkan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh Cindua Mato, akan tetapi pada pertemuan tersebut Cindua Mato menolak untuk mengemukakan alasan untuk perbuatan-perbuatannya.
Basa Ampek Balai lalu memanggil Bundo Kanduang, yang sudah barang tentu murka sekali atas tindakan Cindua Mato. Namun Cindua Mato tetap berdiam diri. Keempat menteri tersebut akhirnya memutuskan untuk meminta pertimbangan dari "Rajo Duo Selo" (Raja Dua Kedudukan), yaitu "Raja Adat" dan "Raja Ibadat". Kedua tokoh ini, karena mengetahui sebab yang sebenarnya dan seluruh kejadian dengan tersenyum meminta keempat Menteri tersebut untuk menyerahkan keputusan Kepada Dang Tuanku, Raja Alam.<noinclude>{{rh|||11}}</noinclude>
7adsbj561kmq9e83azkldtbepwqguho
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/16
104
113100
321769
312719
2026-10-16T15:22:27Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321769
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Pada pertemuan berikutnya terjadi perdebatan antara Bundo Kanduang yang berpegang teguh pada "adat rajo-rajo" (adat para raja) dan putranya, yang menuntut pemeriksaan akan latar belakang kejadian-kejadian tersebut. Imbang Jayo telah menghina Dang Tuanku dengan jalan mencoba mengawini tunangannya dan menyebarkan berita bohong tentang dirinya. Sekarang giliran Imbang Jayolah untuk dihina; calon isterinya telah dilarikan. Apalagi, Imbang Jayo telah memperkaya dirinya dengan pertolongan penjahat-penjahat dan berusaha memutuskan hubungan antara Minangkabau dan Rantau Timur. Apakah karena itu, Cindua Mato, harus dihukum, padahal ia hanya menjadi alat dalam pelaksanaan hukum lama "bahwa" hutang malu dibayar malu".
Cindua Mato lalu dibebaskan dan rapat tersebut jadinya membicarakan rencana perkawinan Cindua Mato dengan Puti Lenggo Geni, serta perkawinan Dang Tuanku dengan Puti Bungsu, Setelah persiapan secukupnya, kedua pernikahan agung dilaksanakan di Pagarruyung, disusul oleh pesta besar-besaran yang dihadiri oleh berbagai pangeran dan raja dari seluruh daerah Pulau Perca (Pulau Sumatera).
Sementara itu, Imbang Jayo yang telah dihina oleh Cindua Mato, mempersiapkan peperangan dengan Pagarruyung. Berturut-turut ia menyerang nagari kerajaan itu dan dengan jalan menggunakan senjatanya "carmin taruih" (kaca gaib), dihancurkannya sebahagian dari Pagarruyung. Kaca tersebut akhirnya pecah oleh anak panah Cindua Mato. Sedangkan Imbang Jayo sibuk memperkuat barisan prajurit-prajuritnya, Bundo Kanduang dan Dang Tuanku mendesaknya untuk melarikan diri ke Inderapura, suatu daerah di rantau Barat dan dengan demikian menghilangkan alasan Imbang Jayo untuk melanjutkan perang dengan Pagarruyung. <ref>11)</ref>
Setelah usaha balas dendamnya gagal, Imbang Jayo menghadap Rajo Dua Selo, yaitu Rajo Adat dan Rajo Ibadat. Pada rapat yang dipimpin oleh kedua Raja tersebut dan dihadiri oleh Basa Ampek Balai, Imbang Jayo melontarkan tuduhan bahwa anggota keluarga raja telah menghina dirinya; memang suatu penghinaan yang tak dapat dimaafkan. Tetapi raja-raja tersebut bertanya,: Siapakah yang memulai penghinaan tersebut? Apakah tando-tando beti (bukti) atas tuduhan Imbang Jayo? Tuduhan terhadap anggota raja tidak dapat dibuktikan dengan nyata merupakan soal yang serius. Akhirnya dewan menyatakan bahwa Imbang Jayo sendiri yang bersalah melanggar adat rajo-rajo dan berdasarkan kesalahan ini Rajo Duo Selo menjatuhkan hukuman mati atas dirinya.
Ayahanda Imbang Jayo, Tiang Bungkuk yang kebal, setelah mendengar berita kematian puteranya oleh hukuman kedua Raja tersebut segera mengadakan persiapan untuk pembalasan dendam. Cindua Mato pulang kembali dari Inderapura dan Dang Tuanku menitahkannya untuk berjuang melawan Tiang Bungkuk Akan tetapi syaratnya adalah bahwa jika ia tak berhasil membunuhnya Cindua<noinclude>{{rh|12||}}</noinclude>
f238kfo4cocop0t9r7a2vvt60gnjko8
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/17
104
113101
321770
312720
2026-10-16T15:23:00Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321770
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Mato harus bersedia menjadi hamba sahaya Tiang Bungkuk, demi menyelamatkan Istana Pagarruyung.
Pada suatu malam menjelang serangan musuh, Dang Tuanku bermimpi bahwa seorang malaikat yang turun dari langit menyampaikan kepadanya bahwa ia, Bundo Kanduang dan Puti Bungsu sebaiknya meninggalkan dunia yang penuh gangguan dan kegaduhan ini. Esok paginya, Dang Tuanku menyampaikan isi mimpinya kepada Bundo Kanduang dan Basa Mpek Balai. Menyadari bahwa hitungan hari mereka telah sampai, mereka menobatkan Cindua Mato sebagai Rajo Mudo (Raja Muda) kerajaan itu.
Cindua Mato menunggu Tiang Bungkak di luar Pagarruyung, akan tetapi tak berhasil membunuhnya dalam pertempuran yang terjadi dan karena itu menyerahkan diri kepada pejuang yang kebal itu. Pada saat itu pula kelihatan sebuah kapal melayang diudara membawa keluarga raja menuju negeri yang tak dikenal.
Cindua Mato mengikuti Tiang Bungkuak ke Sungai Ngiang sebagai hambanya yang terpercaya. Pada suatu hari sedang Tiang Bungkuak tidur sebentar, Cindua Mato menjalankan sihir terhadapnya. Di bawah pengaruh sihir itu, Tiang Bungkuak mengungkapkan bahwa ia hanya dapat dibunuh dengan karih bungkuak, (keris bengkok) warisan nenek moyangnya yang terselip di atas tiang tengah rumah. Cindua Mato mencuri keris tersebut, lalu sengaja menimbulkan kejengkelan Tiang Bungkuak sehingga terjadi perkelahian dan Tiang Bungkuak dibunuh dengan keris itu.
Setelah Tiang Bungkuak tewas, pemuka-pemuka setempat mengangkat Cindua Mato menjadi Raja Sungai Ngiang. Kemudian iapun dijadikan Raja Sikalawi, waktu Rajo Mudo, ayah Puti Bungsu, mengundurkan diri. Cindua Mato lalu memperisteri Reno Bulan, adik perempuan Puti Bungsu. Dari perkawinan ini lahirlah seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Sutan Lembang Alam, tetapi kemudian setelah menggantikan Cindua Mato sebagai Raja Sungai Ngiang - Sikalawi, bernama Sutan Makrullah.
Setelah beberapa lama tinggal di rantau Timur, Cindua Mato kembali ke Pagarruyung untuk berkumpul kembali dengan isteri pertamanya, Puti Lenggo Geni, dan memerintah sebagai Raja Muda Minangkabau. Dari perkawinan ini ia memperoleh seorang anak laki-laki, Sutan Lenggang Alam. <sup>12)</sup>
Pada akhir masa pemerintahannya, Cindua Mato merupakan satu-satunya pemimpin Minangkabau. Rajo Duo Selo beserta Basa Ampek Balai telah meninggal semua. Cindua Mato jatuh sakit dan bermimpi Dang Tuanku mengatakan kepadanya bahwa setelah ia berpulang, seekor burung nuri gaib akan datang mengumumkan kedatangan seorang raja baru. Karena itu, waktu Cindua Mato meninggal, ia menugaskan puteranya sebagai penjaga negeri Minangkabau.
Sementara itu ''di langik katujuah'' (langit ketujuh) tempat menetap baru keluarga raja setelah meninggalkan Pagarruyung, Bunda Kanduang<noinclude>{{rh|||13}}</noinclude>
628ycl0x4emde1auoq1ch4zdst4mixd
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/18
104
113102
321771
312721
2026-10-16T15:23:26Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321771
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>telah berpulang serta masuk sarugo (surga). Puti Bungsu telah melahirkan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Pada hari ketujuh, setelah anak-anak dimandikan menurut upacara di sungai Mahayat, seekor burung nuri menunggu mereka di istana. Burung nuri itu mengatakan bahwa ia telah membawa nama dari surga untuk kedua anak itu. Sang putera harus diberi nama Sutan Alam Dunia dan sang puteri Puti Sri Dunia. Burung itu pun mengatakan bahwa tempat kedua anak itu bukanlah dilangit melainkan didunia karena "kini Cindua Mato lah maningga." (sekarang Cindua Mato telah wafat) dan tiada seorang raja di Minangkabau "tampek urang barajo" (tempat orang minta keadilan).
Setelah mencapai umur yang sesuai, mereka bersama burung nuri ditempatkan dalam sebuah "karando kaco" (keranda kaca). Dang Tuanku memberi nasehat kepada mereka berdua, lalu melaikat menerbangkan mereka ke Pagarruyung.
Tak lama setiba mereka, lembaga Basa Ampek Balai dan Angku Gadang (pemimpin tertinggi) diadakan kembali. Sutan Lenggang Alam, anak lelaki Cindua Mato diangkat menjadi Bendahara baru dan anak laki-laki Raja Duo Selo dahulu diangkat sebagai pengganti almarhum ayah mereka masing-masing. Sutan Alam Dunia dinobatkan sebagai Rajo Alam dengan gelar Rajo Nan Sati.
Setelah beberapa lama duduk di takhta, raja baru pergi ke Aceh untuk mengambil putri Raja Aceh jadi permaisurinya. Dari Pagarruyung rombongan raja memulai perjalanan melalui darat hingga di Natal dan sampai disitu naik kapal kerajaan. Sang raja tinggal selama beberapa tahun di Istana mertuanya. Ia lalu menceraikan isterinya, tetapi tidak memulangkan kembali mas kawin yang telah diperembukkan. Raja Aceh dengan murka sekali menuntut balasan. Basa Ampek Balai menerima tuntutan itu dan menghukum Raja dengan memaksanya, menyerahkan rantau Barat, wilayah Tiku - Pariaman, kepada raja Aceh. Sesuai dengan titah Dang Tuanku, Puti Sri Dunia dijadikan Ratu Rao, bagian Utara Minangkabau, Kaba Cindua Mato berakhir di sini.
Kaba Cindua Mato diakhiri dengan penyerahan rantau pesisir Barat Minangkabau kepada Sultan Aceh. Menurut sejarah peristiwa ini terjadi di dalam pertengahan pertama abad ke-17 selama pemerintahan raja termashur Aceh, Sultan Iskandar Muda (1607-1636).<ref>Isi catatan kaki atau sumber angka 13 di sini jika ada</ref> Jadi, Kaba dapat dianggap sebagai lukisan daerah Minangkabau pada abad ke-16 yang diidealisasi. Masa yang diliputi oleh Kaba ini tidaklah lebih dari dua angkatan (generasi), mulai dengan Dang Tuanku, diikuti oleh Cindua Mato dan berakhir dengan kecerobohan putera Dang Tuanku serta penobatan puterinya menjadi Ratu dari Rao.
Disebutnya dalam Kaba ini tentang Agama Islam, merupakan kunci lain mengenai masa terjadinya. Menurut Kaba ini Minangkabau waktu itu telah memasukkan Agama Islam ke dalam susunan politik maupun sosialnya, sebagai terpantul misalnya oleh Lembaga Rajo Tigo Selo. Kutipan paling tua oleh ahli Eropah tentang Raja Tigo Selo ditemukan dalam uraian Tome Pires. Menurut pelancong Portugis<noinclude>{{rh|14||}}</noinclude>
muqfga73wjc8m6yi34mdc5sjkatg5z7
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/19
104
113103
321772
312722
2026-10-16T15:24:08Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321772
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>dari abad ke-16 ini, raja-raja tersebut senantiasa saling berperang, "raja yang pertama, menurut khabar telah memeluk Agama Islam untuk beberapa waktu lamanya-hampir lima belas tahun; yang (dua) lainnya, katanya, masih kafir."<sup>14)</sup> Tiku dan Pariaman, "gerbang Minangkabau" juga masih "kafir".<sup>15)</sup> Uraian-uraian lain Portugis dari abad ke-16 juga menyatakan bahwa raja-raja Minangkabau masih kafir"<sup>16)</sup>
Laporan-laporan tentang permulaan abad ke-16 mengenai Minangkabau menunjukkan tanda-tanda bahwa proses Islamisasi telah bertumbuh dengan pesatnya. Walaupun pengetahuan tentang Minangkabau pada abad ke-16 langka sekali, boleh dianggap bahwa abad ini merupakan masa yang menentukan dalam sejarah wilayah ini, karena mencakup pelembagaan Agama Islam dalam anyaman masyarakat Minangkabau.<sup>17)</sup>
Tanggal yang tepat mengenai Kaba ini susah untuk ditentukan. Sebagai besar Kaba-kaba tradisionil ini senantiasa mengalami perubahan dengan berlakunya waktu. Sisipan-sisipan oleh orang-orang yang menyalinnya adalah hal biasa. Kaba itu sendiri mungkin merupakan suatu tradisi lisan yang kemudian dirumuskan dalam bentuk tulisan. Ia mungkin bermula diciptakan oleh satu orang atau lebih dari satu orang perumus adat yang termasuk aliran mistik lama yang terdapat di Minangkabau.<sup>18)</sup>
Walaupun terdapat berbagai perbedaan tertentu dalam edisi-edisi lama dari Kaba ini, namun semua mengandung gagasan-gagasas dasar yang sama.<sup>19)</sup> Guna menentukan tanggal dan masa Kaba itu, gagasan-gagasan dasar tersebut ditafsirkan. Kecuali persoalan tepat tidaknya tanggal penyerahan rantau pesisir Barat kepada Sultan Aceh, belum tentu Kaba ini berkenaan dengan bagian kedua abad ke-16; mungkin juga ia merupakan pola negara Minangkabau pada abad ke-17 atau permulaan abad ke-18. Kehidupan istana sebagai dipantulkan oleh Kaba ini misalnya, adalah sama dengan yang ditemukan oleh Thomas Dias, seorang Eropah pertama yang berhasil memasuki pusat negeri Minangkabau pada tahun 1684. Sekalipun ia tidak menyebutkan lembaga Raja Tigo Selo, Dias agaknya telah mengunjungi salah satu dari ketiga pusat, yaitu Buo, tempat bertahtanya Raja Adat.<sup>20)</sup> Akan tetapi sangkalan terhadap tanggal ini adalah berupa tiadanya sedikitpun sikap permusuhan Minangkabau terhadap Aceh waktu kunjungannya itu. Paling tidak hingga perempat ketiga abad ke-17, Minangkabau bersifat amat anti Aceh-baik dikalangan kepala-kepala di rantau darat maupun raja di darat.<sup>21)</sup>
Jadi, kira-kira dapat disimpulkan bahwa Kaba tersebut mencapai bentuknya yang sekarang baru setelah abad ke-17 atau permulaan abad ke-18. Hipotesa ini didukung oleh prinsip sosial yang menyolok yang dimaksudkan di dalam kaba ini "adat basandi pada sarak, sarak basandi pada adat" (Adat bersandar pada sarak, sarak bersandar pada<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude>
nonxmdlc2e662yjzz3s91ikf4b20s4h
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/20
104
113104
321773
312723
2026-10-16T15:24:27Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321773
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>adat). Dalam rangka isi tradisi Minangkabau mengenai peribahasa, jadinya ''Kaba'' ini meliputi tahap kedua peng-Islaman Minangkabau.<ref>Isi catatan kaki nomor 22</ref> Selama masa ini ulama-ulama Minangkabau mulai mengadakan perumusan baru adat agar menerangkan keadaan baru yang timbul dengan penerimaan agama Islam di wilayah ini berdasarkan fikiran. Ini berpangkal pada masa terjadinya pusat-pusat agama Islam di darat Minangkabau pada abad ke-17. Unsur-unsur mistik dalam ''Kaba Cinduo Mato'', dapat diterima, jika sebagaimana mungkin sekali demikian adanya — ia dikarang atau dirumuskan oleh guru-guru mistik ini.<ref>Isi catatan kaki nomor 24</ref>
''Kaba Cinduo Mato'' melukiskan suatu dunia yang teratur dan tertib dengan setiap aspek kehidupan diatur berdasarkan patokan-patokan pokok tertentu. Bencana timbul disebabkan ada para pemuka masa itu tidak mengindahkan patokan-patokan ini; akhirnya mereka dihancurkan atau dihina. Imbang Jayo tewas dan putera Dang Tuanku harus menyerahkan rantau Barat. Jalan ceritera menekankan betapa pentingnya peranan keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan serta kesabaran dalam pembawaan diri. ''Kaba'' juga memperlihatkan susunan politik dan sosial di Minangkabau secara ideal, dengan mufakat sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan. Jadi ''Kaba Cinduo Mato'' ini bukanlah sebuah mitos negeri belaka, melainkan suatu contoh pola yang ideal bagi monarchi Minangkabau. Hingga taraf tertentu ''Kaba'' ini termasuk tradisi ''Sejarah Melayu'' (The Malay Annals), yang juga dimaksud sebagai pedoman bagi kaum bangsawan.<ref>Isi catatan kaki nomor 25</ref>
''Kaba Cinduo Mato'' melukiskan letak geografi alam Minangkabau dan negeri-negeri tetangganya. Tak kurang dari 111 buah nagari disebut di dalamnya. Setiap bagian dari pakaian Dang Tuanku berasal dari setiap nagari tetangga Minangkabau yang penting dan pakaian Cinduo Mato berasal dari berbagai kerajaan pengantar seperti kepada Minangkabau. Tetapi apakah yang termasuk ke dalam "Alam Minangkabau"? ''Kaba Cinduo Mato'' mengisahkan betapa Bundo Kanduang "diciptakan bersama alam dunia". Dunianya adalah Minangkabau, salah satu diantara empat bagian alam semesta (sapian balahan ampek jurai) - "benua ruhum", "benua Cinta" dan dunia yang tak dikenal yaitu Kerajaan Laut. Pemimpin-pemimpin dari ketiga wilayah yang dikenal itu tiga-tiganya adalah keturunan Iskandar Zulkarnain.
Dunia Minangkabau terdiri dari dua bagian - pusat yang dinamakan luhak dan bagian pinggir atau wilayah rantau yang dikuasai oleh wakil-wakil keluarga raja. ''Kaba Cinduo Mato'' membedakan sistem-sistem politik Koto Piliang dan Bodi Chaniago yang membagi dunia Minangkabau dalam dua buah laras. Setiap laras mempunyai pusat adat-adatnya sendiri. Sungai Tarab, tempat kedudukan Sang Bendahara merupakan pusat adat Koto Piliang dan Lima Kaum bagi Bodi Chaniago. Pusat adat bagi seluruh dunia Minangkabau adalah Pariangan - Padang Panjang, tempat asal bangsa Minangkabau dan tempat dimana adat mereka dirumuskan.<ref>Isi catatan kaki nomor 26</ref><noinclude>{{rh|16||}}</noinclude>
5bnapftn16lm56zu5rrllwu58wqbsnw
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/21
104
113105
321774
312724
2026-10-16T15:24:46Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321774
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>''Kaba Cinduo Mato'' mengemukakan pola-pola susunan masyarakat. Sejak zaman purbakala, adat menentukan adanya hanya empat jenis susunan masyarakat pada pulau Emas (pulau Ameh ko) ini, yaitu taratak, dusun, koto dan nagari. Taratak hanyalah merupakan suatu susunan yang terdiri dari beberapa buah gubuk; dusun dan koto agak lebih luas dan pada pihak yang satu lagi terdapat nagari, yaitu suatu masyarakat yang telah berkembang dengan sepenuhnya, lengkap dengan balai adat, lapangan olah raga, dan sebagainya.<ref>...</ref> Bundo Kanduang mengadakan pembagian penduduk dalam 8 golongan yaitu kaum penghulu, kadi, manti, urang kayo, urang saudagar, utusan dan pandito, hulubalang nan barani (hulubalang yang gagah berani) dan handiko di kampuang (kepala kampung). Setiap golongan memiliki sifat-sifat dan kwalifikasi-kwalifikasi khusus. Seorang penghulu misalnya haruslah orang yang memiliki pengetahuan, bersifat adil, berada dan bersifat jujur; seorang hulubalang haruslah pemberani dan hati-hati pembawaannya.
Bagian yang paling penting dari ''Kaba Cinduo Mato'' adalah berkenaan dengan cara membawakan diri yang paling baik dalam kehidupan mengetahui apa yang layak dan pantas (alur dan patuik) dalam kehidupan masyarakat. Cara pembawaan diri yang layak adalah kemampuan untuk bertindak secara pantas serta menemukan tempat yang tepat; "kemenakan harus berajo pada mamak, mamak harus berajo pada penghulu, dan penghulu harus berajo pada kato mufakat". Konsensus dengan sendirinya juga harus berdasarkan kepada pengertian tentang alur dan patuik, karena ia identik dengan aturan alam maupun aturan masyarakat. Dang Tuanku berpendapat bahwa "nagari yang tidak beraturan mempunyai sarak yang lemah, raja yang lalim, anak nagari yang tidak setia, kampung yang sunyi, pasar yang sepi, adat dan limbago (lembaga) yang tidak dijalankan". Tanpa kelompok aturan yang dinyatakan dalam realisasi dari kesadaran akan kelayakan, masyarakat jadi kacau. Aturan berarti kesadaran bahwa "permulaan adalah permulaan dan bukan akhir; bahwa jiwa adalah jiwa, bukan raga; bahwa sarak adalah sarak, adat adalah adat....... hanya dengan kedua hal ini dapat dicapai kepantasan dan kejayaan. Karena adat bersandar kepada sarak, sarak bersandar kepada adat".
Untuk menyadari ini, manusia diberi akal, kemampuan untuk berfikir. Manusia harus dibimbing oleh akalnya bukan hanya dalam mengamati kejadian-kejadian yang nyata serta menentukan mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin, melainkan juga apa yang pantas dan apa yang tidak pantas. Akal yang dapat menentukan titik puncak dari apa yang patuik (pantas) dan mungkin dilakukan. Suatu hal yang mungkin dilakukan menurut akal pikiran seseorang, mungkin tidak pantas bagi masyarakatnya.<ref>28)</ref> Dengan demikian akal harus diiringi oleh suatu kesadaran akan tanggung-jawab; tanpa ini "orang yang pintar akan melalap orang yang bodoh."
Hanya yang budiman, orang yang bijaksana, yang "mengetahui apa yang patut, ahli dalam perundingan, bersifat bijaksana dengan<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude>
9ycd7v8vart6lvdx5ptbeqv2bm0iylv
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/22
104
113106
321775
312725
2026-10-16T15:25:04Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321775
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>akal sempurna." Akal sempurna seseorang yang budiman, didampingi oleh iman serta kesadaran sepenuhnya akan adanya tenaga gaib, Tuhan. Iman bukan hanya bertindak sebagai alat kontrol, melainkan untuk mempertajam kemampuan berfikir. Dengan demikian akal sempurna tidak hanya dapat mengamati kejadian-kejadian nyata beserta hakekat rahasia dari realitas, melainkan memiliki daya potensiil untuk memutar balikkan realitas itu sendiri. Dengan demikian "akal dapat bergerak, mundur maupun maju, menyelubungi dan bukan malah mengungkapkan." "bersembunyi di dalam sinar terang," "bersembunyi ditengah-tengah koto", "memisahkan tanpa mengeratnya".²⁹)
Jadi, akal itu sendiri dapat menentukan unsur-unsur yang paling berlawanan dalam realitas, seperti antara buruk dan baik, pangkal dan ujung, jiwa dan raga, ya dan tidak, ada dan tiada.³⁰) Akan tetapi, sebagai unsur aktif, akal juga harus melibatkan kesadaran akan perpaduan dari hal-hal yang mungkin dengan yang layak pada suatu titik yang sama serta menuju kepada relativisme dalam sistim logika Minangkabau. Relativisme jenis ini juga dipantulkan oleh tempat perorangan dalam masyarakat. Tempatnya sekarang dalam hubungan sosial menentukan peranannya.
Menurut Kaba akal dan iman juga mengatur hawa nafsu atau keinginan. Berulang-ulang Dang Tuanku mengingatkan ibunya, Bundo Kanduang, pada nasehat beliau sendiri agar akal dijalankan guna mengekang nafsu. Setelah mendengar Dang Tuanku difitnah, dalam kemarahannya Bundo Kanduang menuntut pembalasan dendam seketika. Sekalipun beliau berada dipihak yang benar, Dang Tuanku menasehati beliau agar lebih menggunakan akal. Cinduo Mato melanggar adat rajo-rajo dengan menculik putri bungsu, calon mempelai Imbang Jayo; Bundo Kanduang yang memiliki rasa keadilan yang mendalam sekali hampir terseret arus nafsu-amarahnya dan hendak menghukum Cinduo Mato. Kembali Dang Tuanku mengusulkan agar beliau menggunakan akal dan menyelidiki persoalannya secara mendalam.
Memang manusia tidak semua memiliki ketajaman akal dan iman yang sama. Bundo Kanduang dalam menasehati Dang Tuanku membagi manusia dalam 6 kategori atau golongan. Yang pertama adalah urang (orang) itu sebagaimana adanya manusia. Lalu urang-urang "laksana lukisan atau patung," yang disadari kehadirannya, tapi ia sendiri buta dan bisu terhadap kelilingnya. Ketiga tampan urang atau manusia khayal. Seperti melihat orang yang kelihatan di kejauhan, ia jelas merupakan manusia, tetapi mukanya tak jelas. Keempat, adalah angkuah-angkuah urang, "seperti sebuah ayunan; hanya jika didorong maka ia akan bergerak," Sesuatu yang pasif, tanpa prakarsa sedikitpun. Yang kelima adalah urang "yang tahu membedakan antara baik dan buruk, antara tinggi dan rendah." Dan akhirnya sabana urang, yaitu manusia yang merupakan manusia asli. Yang tahu membedakan jiwa dan raga, membedakan antara mahluk yang diciptakan dengan Sang Pencipta...... antara pangkal dan ujung ...... antara benar dan salah........ antara yang halal dan yang fardhu ³¹).......antara peraturan dan hukum."<noinclude>{{rh|18||}}</noinclude>
fz93k9ifydxreachwa1kszjod1dj3wp
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/23
104
113107
321776
312726
2026-10-16T15:25:21Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321776
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Permulaan dari Kaba Cinduo Mato meliputi pengagungan dari tokoh Bundo Kanduang. Bundo Kanduang adalah seorang ratu dengan kedudukan "yang tidak dibeli ataupun diminta", rajo usali yang "berdiri sendiri, diciptakan bersama alam (Minangkabau). Ia memberi pendidikan adat kepada Dang Tuanku, namun, sekalipun ia berkedudukan sebagai sumber kebijaksanaan, Bundo Kanduang tak dapat mengambil keputusan. Ia bukanlah seorang pewenang adat. Adat berada di bawah kekuasaan Rajo adat dan Sang Bendahara itu, pun ia bukan ahli perihal sarak, yang merupakan wewenang Rajo Ibadat dan Tuan Kadhi. Bundo Kanduang tak berkuasa karena tak memegang jabatan resmi dalam hierarchi sistim politik Minangkabau. Namun persetujuannya senantiasa diperlukan dalam hal manapun yang diputuskan oleh Rajo Duo Solo dan Balai Ampek Basa. Bundo Kanduang sendiri hanya merupakan sesuatu lembaga yang mengandung tenaga yang menyatakan diri dengan perantaraan para tokoh kebijaksanaan. Ia berdiri sendiri dan waktu meninggalkan dunia yang fana dan naik ke langit ketujuh, ia telah mewariskan kebijaksanaan turun-temurun dan malah sebenarnya merupakan lambang sendiri. Kebenaran juga berdiri, namun tak berkuasa jika tidak ada usaha manusia untuk mengaktifkannya.<ref>Teks catatan kaki nomor 32 Anda di sini</ref>
Jadi, pentingnya kedudukan Bundo Kanduang khususnya terdapat dalam kedudukannya sebagai "perantara" antara pengertian atau konsepsi tentang ke Tuhanan dan keluarga raja Minangkabau. Bahkan, Bundo Kanduang menceriterakan kepada Dang Tuanku dan Cinduo Mato bahwa khasanah kebijaksanaannya yang tiada taranya itu timbul setelah ia melahirkan Dang Tuanku. Ia mulai mengandung disebabkan oleh hawa nafsunya tak terbendung akan hal-hal yang tidak mungkin. Ia merasakan keinginan yang sangat akan lidah dari buaya dan lebih dari itu ia mendambakan ''nyiuia gadiang'' (kelapa gading). Ia menyuruh si Salamaik, "Ayah sebenarnya dari Cinduo Mato", untuk mencarikan sebuah kelapa gading. Setelah tiga bulan mengadakan penyelidikan dan setelah melalui bermacam-macam pengalaman, kelapa tersebut ditemukan. Bersama Kembang Bendahari, Bundo Kanduang meminum air kelapa gading tersebut, lalu kedua-duanya menjadi hamil.<ref>Teks catatan kaki nomor 33 Anda di sini</ref>
Pada suatu sore Bundo Kanduang tertidur, lalu mimpi bahwa penjaga Kaa'bah Mekah datang menemuinya. Ia seorang tua berjenggot panjang, badan yang memancarkan cahaya dan menyebarkan bau wangi, berpakaian jubah putih dan sorban putih. Orang tua ini berkata kepadanya, "jangan tidur saja, Puti (puteri raja). Kau sekarang sedang mengandung ''dang mutika'' (mestika) yang bernama Kemala Sati (Kemala Sakti). Di bakar ia tak luka. Di rendam, ia tak kan basah. Setelah dilahirkan ia akan jadi ganti Allah di dunia, seorang orang hidup yang sakti, raja yang harus disembah siang dan malam ...... Ia raja dalam dunianya (saalamnyo) yaitu alam Minangkabau, di pulau Perca ini." Orang tua itu juga memberi petunjuk tentang cara asuhan bayi tersebut setelah ia dilahirkan, kepada Bundo Kanduang. Ia harus diberi nama "Sutan Rumanduand, sapih (belahan) maharajo (maharaja) di Benua Ruhum, sapih maharaja negeri Cina dan sapih Raja Laut."<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude>
1b3mq0b2olj9qtken905c7tzldznuln
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/24
104
113108
321777
312727
2026-10-16T15:25:38Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321777
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Jadi Dang Tuanku tidak mempunyai bapak manusiawi. Ia putera dari Indo Jati, konsep purba Minangkabau tentang yang gaib. Walaupun asalnya gaib, namun Dang Tuanku juga mengalami proses pertumbuhan dari anak lelaki seorang ibu menjadi suatu pribadi yang mantap sakti. Proses ini tetap dialaminya, sekalipun ia telah ditakdirkan jadi Raja Dunia.
Cinduo Mato, tokoh utama dari Kaba ini bersifat manusia, baik dibandingkan dengan Bundo Kanduang maupun Dang Tuanku. Ia bersifat luar biasa pemberani namun penuh kelihaian; ia sanggup melaksanakan mukjizat tetapi kemampuan ini diperolehnya berkat "kesaktian Dang Tuanku". Dang Tuanku misalnya, merencanakan penculikan Puti Bungsu, tetapi Cinduo Mato yang menjalankan rencana itu. Malah lebih dari pada ini: mereka adalah ''tubuah duo nyawanya satu'' (berbadan dua, berjiwa satu). Sebelum Cinduo Mato berangkat ke Sikalawi, Dang Tuanku memberinya berbagai senjata gaib dan menyatakan bahwa sekalipun ia pergi "nyawamu, saudaraku, tinggal pada saya". Pun, waktu Dang Tuanku mengucapkan selamat jalan kepada Cinduo Mato sebelum bertolak Kelangit Ketujuh, ia berkata:
<poem>
:''Jika kita saling berpisah''
:''Kata kita satu''
:''Tubuh kita dua, nyawa kita satu''
:''Jika aku merasa kehilangan''
:''Kita bertemu di alam gaib''
:''Jika engkau kehilangan aku''
:''Agar aku dapat jadi kenyataan''
:''Lahiriyah engkau jadi raja''
:''Pada batinnya adalah aku.''
</poem>
Jadi pada satu pihak Cinduo Mato memiliki pribadinya sendiri dan dipihak lain ia merupakan manifestasi atau bentuk lahiriyah dari rohani Dang Tuanku. Ia sebagai manusia karena mempunyai bapa manusia dan sebagian mempunyai sifat keajaiban karena ibunya mulai mengandungnya setelah makan kelapa sakti bersama-sama Bundo Kanduang.
Sebagai dahulu telah disebut, asal-usul Bundo Kanduang sendiri adalah gaib dan Dang Tuanku merupakan putra dari hasil gaib itu, jadi dua-duanya merupakan manifestasi manusiawi dari prinsip yang sama. Tetapi, sebagai ternyata dari jalan ceritera Kaba, Bundo Kanduang tetap merupakan "gadis"; ia tak mempunyai suami karena tiada manusia yang setera dengannya. Maharaja Benua Ruhum dan Maharaja Negeri Cina sama-sama meminangnya, tetapi dua-duanya meninggal sebelum perkawinan terlaksana.
Bersamaan dengan itu kita temukan perubahan ke arah pemanusiaan menifestasi-manifestasi kegaiban yang bermula ada. Dang<noinclude>{{rh|20||}}</noinclude>
jtoi388nyx2lafnb5rv7aq5vmbyhwq2
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/25
104
113109
321778
312728
2026-10-16T15:25:59Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321778
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Tuanku dan Cinduo Mato berasal dari prinsip yang sama, tetapi Dang Tuanku bersifat lebih gaib dari pada Cinduo Mato. Proses pemanusiaan ini berlangsung terus hingga generasi kedua. Anak-anak Dang Tuanku lebih menonjol sifat manusianya, karena Puti Bungsu adalah anak manusia. Anak-anak Cinduo Mato juga kurang sifat gaibnya dibanding dengan ayah mereka. Putera Dang Tuanku cukup bersifat manusia untuk membuat kesalahan yang tragis yang mengakibatkan penghinaan bagi Minangkabau; sekalipun keluarga raja tetap bertahan, namun tidak lagi merupakan Pengganti Allah, dalam pengertian politik.
Inti cerita ''Kaba Cinduo Mato'' memantulkan pola-pola yang serupa dalam kesusasteraan lama Asia Tenggara. Bundo Kanduang sebagai tokoh ibu jadi tidak hanya ditafsirkan sebagai lambang tetap masyarakat matrilineal Minangkabau,<ref>Isi catatan kaki nomor 34 disini jika ada</ref> dalam keluarga raja yang menurut garis keturunan bapa,<ref>Isi catatan kaki nomor 35 disini jika ada</ref> melainkan dapat pula dianggap sebagai dasar lebih umum bagi penyesuaian kerajaan ini dengan Hukum Adat. Cinduo Mato, sekalipun asal-usulnya dari rakyat biasa, diangkat menjadi Raja Muda negeri Minangkabau karena ibunya minum air kelapa yang sama dengan Bundo Kanduang. Sekalipun asal-usul Rajo Duo Selo pertama serta Balai Ampek Basa tak diketahui, kedudukan anak laki-laki mereka masing-masing disahkan oleh cucu dari Bundo Kanduang. Konsepsi mengenai tokoh ibu, sebagaimana diterangkan oleh Schrieke dan Berg, juga penting di Pulau Jawa.<ref>Isi catatan kaki nomor 36 disini jika ada</ref>
Pengertian tentang raja sebagai manifestasi Tuhan di Dunia — Dang Tuanku sebagai "Pengganti Allah di Dunia" — adalah tema yang umum sekali dalam sistem-sistem politik Asia Tenggara dahulu kala.<ref>Isi catatan kaki nomor 37 disini jika ada</ref> Maka, ''Kaba Cinduo Mato'' dapat ditafsirkan sebagai usaha untuk memberi sifat kemanusiaan kepada konsepsi tentang hal raja. Dengan demikian Cinduo Mato sendiri menjadi tokoh peralihan utama dalam proses pemanusiaan ini. Anak-anak Dang Tuanku yang boleh dikatakan lebih bersifat manusia itu memerlukan bantuan mahluk gaib yaitu malaikat, guna membawa mereka ke dunia.
Pokok ceritera dalam ''Kaba Cinduo Mato'' dengan menyolok sekali mirip dengan tambo Minangkabau. Bundo Kanduang sendiri hanya memiliki potensi kebijaksanaan yang dimenefistasikan dengan pertolongan "politik" Dang Tuanku serta pengalaman-pengalaman Cinduo Mato. Tambo adat menyatakan :
<poem>
:''Tatkala semua belum''
:''Bumi belum langitpun belum''
:''Adat sudah ada''
</poem>
Ini adalah ''Adaik nan sabana adaik'' (adat yang sesungguh adat). Tetapi ini hanya merupakan kemungkinan. Menefistasinya sebagai tata-cara yang seksama hanya terlaksana melalui pengalaman-pengalaman, penyelidikan-penyelidikan serta kejadian-kejadian naas dari Datuk Ketemeggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, dua penegak adat yang tersohor sekali, dua orang saudara seibu. Ayah dari saudara yang tertua, Datuk Ketemeggungan, adalah seorang rajo,<noinclude>{{rh|||21}}</noinclude>
9obwuq0sbyzvr1jcg0jbdxyo4iznjt5
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/26
104
113110
321779
312729
2026-10-16T15:26:15Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321779
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>sedangkan Datuk Perpatih nan Sebatang hanyalah merupakan putra rakyat biasa. Sedangkan Datuk Ketemenggungan hampir seluruh kehidupannya tinggal di Minangkabau, Datuk Perpatih nan Sebatang merupakan contoh asli dari perantauan Minangkabau. Jadi menurut analogi, jika Dang Tuanku mewakili konsepsi gaib kerajaan, Cindua Mato yang juga dapat dipandang sebagai saudara seibunya merupakan tokoh peralihan kearah konsepsinya yang lebih bersifat manusia. Datuk Ketemenggungan dan Laras Koto-Piliangnya, mewakili tradisi kerajaan di dalam kehidupan politik Minangkabau, sedangkan Datuk Perpatih nan Sebatang, dan Laras Bodi-Caniago lebih bersifat demokrasi. Namun dua-duanya berasal dari dunia yang sama; mereka hidup sebagai suatu kesatuan sempurna. Akan tetapi, berlainan dengan hubungan antara Dang Tuanku dan Cindua Mato dengan Cindua Mato bertaraf agak lebih rendah daripada Dang Tuanku, menurut tambo, taraf kedudukan dari tradisi-tradisi Koto-Piliang dan Bodi-Caniago adalah sama.
Walaupun sifat gaibnya kelihatan seolah-olah merosot, kedudukan raja tetap memiliki sifat sakti terhadap alam duniawi. Raja yang baru bukanlah berasal dari dunia mistik, dari langit ketujuh. Dunia mistiknya hanyalah dunia yang lebih sakti dari kerajaan sementara itu. Maut dan kelahiran tetap terjadi alam itu belum termasuk alam baka. Akan tetapi, Bundo Kaduang memasuki alam baka itu dari Langit Ketujuh.<ref>38</ref>
Watak Islam - Melayu dari Kaba Tjindua Mato ternyata dari susunannya, Setiap tahap yang menentukan, biasanya didahului oleh suatu mimpi, yang bertamsil yang diimpikan oleh tokoh utamanya. Kelahiran Dang Tuanku didahului oleh mimpi Bundo Kanduang akan kunjungan "pemilik batu Kaabah". Sebelum Cindua Mato pergi ke Sikalawi guna menghadiri perristiwa pernikahan Putri Bungsu yang berakhir dengan buruknya, Bundo Kanduang mendapat mimpi yang beribarat. Berlawanan dengan mimpinya yang pertama yang jelas, serta meramalkan kedatangan Rajo Dunia yang sakti, mimpi kedua ini terputus-putus. Pada hakekatnya ia merupakan kiasan mengenai perang dan kehancuran yang dihadapinya. Tahap penentuan yang ketiga dari Kaba Tjindua Mato adalah hijrah keluarga raja Kelangit Ketujuh. Pada kesempatan ini Dang Tuanku yang mendapat bayangan terang tentang malaikat yang mendatanginya. Sebelum meninggal Cindua Mato melihat bayangan Dang Tuanku yang menceriterakan kepadanya bahwa anak-anak Dang Tuanku akan tiba untuk melanjutkan keturunan sah keluarga raja Minangkabau.<ref>39</ref>
Pengumuman dari mimpi sebagai cara untuk memungkinkan peralihan dari tahap yang satu kepada yang lain menunjukkan betapa peranan nasip dalam kehidupan bersifat menentukan dan juga betapa perlunya penguatan dari dunia gaib untuk mengesahkan raja-raja baru. Sekalipun Kaba mengakui betapa pentingnya peranan kekuasaan ke Tuhanan dalam penentuan tindakan-tindakan manusia, ia tidak mengemukakan konsepsi yang jelas mengenai hubungan antara Tuhan dan manusia. Bundo Kanduang dan Dang Tuanku tak dapat dianggap<noinclude>{{rh|22||}}</noinclude>
b6t8lgnehuf7cd8uis5f4zbp7rqti03
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/27
104
114624
321780
316805
2026-10-16T15:26:30Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321780
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>sebagai ciptaan Allah. Mereka berasal dari hakekat ke Tuhanan ; oleh karena itu mereka lebih bersifat pancaran dari hakekat Illahi dari pada ciptaan Allah. Baik Dang Tuanku maupun Bundo Kanduang pernah berkata mengenai penggunaan akal untuk memahami perbedaan antara "Pencipta" dan "Makluk-makluk ciptaan-NYA".<ref>Mengenai Sekolah Raja atau ''Kweekschool'' (Sekolah Pendidikan Guru), lihat : K.A. James, „De opleiding der Inlandsche Hoofden of de Buitenbezittingen", ''Indische Gids'', I (1908), hal. 16 -- 22.</ref> Suatu perbedaan penting terdapat antara keluarga raja yang merupakan pancaran dari hakekat Illahi dan yang lain-lain yang merupakan ciptaan Allah. Keluarga raja bukanlah bagian dari Tuhan, tetapi melalui mereka Allah menyampaikan beberapa dari kenyataan-kenyataanNYA. Mereka lebih merupakan kesatuan yang diamati daripada kesatuan yang benar-benar ada.<ref>Versi Bahasa Indonesia dari ''kaba Sabai Nan Aluih'', Dibuat oleh Tulis St. Sati (Jakarta, Balai Pustaka, 1956). Sandiwara mengenai ceritera Pahlawan ini ditulis oleh A.K. Gani, Pemimpin Nasional tahun 30-an. Lihat juga : Ph.S. van Ronkel, „Het Verhaal van den ondankbare : Kaba Sabaj nan Aloei," (''Tijdschrift Bataviaasch (TBG)''), LVI (1914), halaman 197 -- 232.</ref>)
Di samping watak ''Kaba Tjindua Mato'' yang jelas-jelas mistik itu, ia juga memberikan tekanan kepada pelembagaan daripada sarak (hukum agama) dalam susunan politik Minangkabau. Ada raja dan menteri-menteri yang berkuasa dalam hal agama. Perihal tingkah laku seseorang, yang lebih dipentingkan adalah usaha pemeliharaan keserasian atau harmonis antara kehidupan pribadi seseorang dan peraturan dunia; yang dicita-citakan dalam kehidupan masyarakat adalah keserasian yang wajar antara adat dan sarak. Segala ini kelihatan seolah-olah saling berkaitan.
Apakah ''Kaba Tjindua Mato'' merupakan suatu sejarah intern keluarga raja Minangkabau yang terselubung ataukah hidangan dari kejadian-kejadian yang sebenarnya terjadi bukanlah soal penting. ''Kaba Cindua Mato'' merupakan mitos utama negara Meningkabau. Ia mungkin merupakan perpindahan dari suatu karya "khayal" menjadi mitos, ataupun penjelmaan dari tokoh-tokoh sejarah.<ref>Pada teks asli terdapat angka penanda 42 dan 43 yang tampaknya terpotong atau merujuk pada catatan kaki halaman lain.</ref> ''Kaba Cindua Mato'' tidak saja berusaha "menghilangkan contoh logis yang dapat mengatasi suatu kontradiksi," ) seperti yang terdapat antara adat dan agama Islam, melainkan juga membubuhkan penguatan mistik kepada contoh bersangkutan.
<div style="text-align: right; margin-right: 20%;">
Diterjemahkan oleh :
''Mien Joebhaar''
</div>
== Catatan bawah ==
<references /><noinclude>{{rh|||23}}</noinclude>
dna8qxadleynpifdunsdhcwx31w858z
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/28
104
114625
321781
316806
2026-10-16T15:26:57Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321781
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>3). A. Johns, ''The Kaba Rantjak Dilabuah : A Specimen of Traditional Literature of Central Sumatra'' (Ithaca : Cornell Southeast Asia Program, 1958).
4) Edisi Datuk Garang didasarkan kepada suatu naskah kepunyaan suatu keluarga Tuanku — Laras (Kepala Distrik) di Minangkabau Timur. Pada halaman pertamanya terdapat suatu kembang yang distileer, dengan tulisan "Sultan Biladi, Simaharadja Diradja Ibn Sultan Iskandar DzulkarnainChalifatullah fil Alamsyah." Dua edisi lain adalah : Datuk Sangguno Diradjo (Bukittinggi, 1923), 2 jil. ; Datuk Sango Batuan (Pajakumbuh : Lembago, 1938) — kedua-duanya ditulis dalam bahasa Minangkabau tetapi dalam huruf Arab Latin adalah : St. Radjo Endah, ''Kaba Tjindua Mato'' (Bukittinggi : Pustaka Indah, 1960).
Juga ada dua sandiwara dalam bahasa Indonesia, yaitu : Abdul Muis, ''Cindua Mato'' (Weltevreden : Evolutie, 1924) dan sebuah lagi karya pengarang yang tak dikenal, ''Tjendera Mato'' (Padang; t.p., 1925) yang mencakup suatu ikhtisar dalam bahasa Belanda; dan dua versi prosa : A.Dt. Madjoindo, ''Tjindur Mata'' (Jakarta, Balai Pustaka, 1958) dan Datuk Mangulak Basa (Bukittinggi : Tsamaratulichwan, 1930?). Suatu versi yang lebih ringkas diterbitkan oleh Sutan R. Mas'ud, Panglima Chindur Mato : ''Hikayat Perang Minangkabau Menegakkan Kebenaran Hukum Dari Angkatan Kedzaliman'' (Kuala Lumpur; Pustaka Antara, 1962).
5) Perihal tambo, lihat : ,,Legende van de afkomst der Sumatranen en van tum instellinge, ''Tjidschrift Nederlandsch-Indie'', 21, i (1859); Datuk Sangano Diradjo, ''Kitab Tjuraj Paparan Adat Alam Minangkabau'' (Fort de Kock : Geb. Lie, 1919).
6) Berbagai contoh mengenai kepercayaan bahwa pelaku-pelakunya merupakan tokoh-tokoh sejarah dapat ditemukan. Pada tahun 1933 misalnya seorang tokoh politik terkemuka di Minangkabau mengatakan dalam sebuah pidato bahwa andaikata Indonesia merupakan sebuah negara merdeka, Presidennya haruslah Dang Tuanku, tokoh utama dalam ''Kaba Tjindua Mato''. dalam ''Jakarta Times'' (November 12, 1968) dimuat laporan mengenai seorang janda muda di Pekan Baru yang dikhabarkan kesurupan 12 macam roh, antara lain Umar Ibn Chatab (Khalifah Kedua) dan Bundo Kanduang, tokoh utama ''Kaba Tjindua Mato''.
7) Dengan ini mungkin dimaksud Romawi Timur Lama, Konstantinopel, tetapi umumnya diperkirakan bahwa dimaksud adalah negara "Turki".
8) Gelanggang adu ayam. Menurut tradisi Minangkabau setiap nagari paling tidak mempunyai sebuah balai (Balai Adat), Mesjid, tempat mandi umum, sebuah jalan raya dan sebuah gelanggang. Sewaktu Perang Padri, gelanggang demikian dihapus oleh gerakan fanatik agama Mencari menantu dengan mengadakan gelanggang adalah suatu kebiasaan di dunia Melayu. P.E. de Josselin de Jong, ''Minangkabau and sembilan'' (Den Haag : Nijhoff. 1952) halaman 73 – 9.
9) Ini juga merupakan kata-kata kias kesusasteraan klasik Minangkabau, yang juga terdapat dalam ''Hikayat Hang Tuah'', mengenai pahlawan legendaris dari kesultanan Malaka yang dipengaruhi oleh hikayat Islam<noinclude>{{rh|24||}}</noinclude>
nxbqvx4cvd1dfksz76929n4jni7k4pg
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/29
104
114626
321782
316807
2026-10-16T15:27:21Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321782
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>mengenai Nabi Jusuf. Lihat : R.O. Winsted, "A History of Malay Literature." ''JRASMB'', 17, iii (1939), halaman 44 – 48. Dalam ''Kaba Tjindua Mato'', ,,manusia melupakan Tuhan waktu mendengar lonceng Sigumarang (Kuda Sakti Raja).
10) Edisi Van der Toorn berakhir dengan ini.
11) Keluarga raja Indrapura sesudah itu menyatakan bahwa merekalah merupakan keturunan sah Cindua Mato. Pada permulaan abad ke-10 Sultan Indrapura melontarkan bahwa ialah yang merupakan ,,wakil sebenarnya keluarga utama Minangkabau." Lihat P.H. van der Kemp; ''Sumatra's Westkustnaar aanleiding van Londensch tractat van 13 Agustus 1814'' (Den Haag, A.P., 1894) Halaman 278 – 4.
12) Bagian terbesar dari edisi-edisi tersebut di atas berakhir dengan bagian ini. Sisa ceritera ini didasarkan pada risalah-risalah oleh Datuk Sangguno Diradjo dan Datuk Garang.
13) Das Gupta menyatakan bahwa perebutan wilayah Pesisir Barat terjadi antara tahun 1607 dan 1613. Arun Komar Das Gupta, ,,Acheh in Indonesia Trade and Politics : 1600 – 1641'' (Cornell University, Thesis Ph.D., 1962), halaman 91 – 2 Mungkin kekuasaan politik sesungguhnya orang-orang Acheh di Pesisir ini, khususnya di pelabuhan-pelabuhan lada Tiku dan periaman, hanya sedikit saja hingga tahun 1620. Pada tahun 1617, misalnya, V.O.C. dilaporkan membantu ,,Raja Tiku Dalam perjuangannya melawan Bangsa Acheh, H. Koeskamp, ''De Weskust en Minangkabau'' (Leiden : Disertasi, 1931), halaman 23.
14) A. Cortesao, ed. dan penterjemah. ''The Suma Oriental of Tome Pires 1512 – 1515'' (London The Hakluyt's Society, 1944), hal. 164.
15) ''Ibid.'', halaman 161.
16) Pada tahun 1514, bangsa Portugis yang baru mengalahkan Malaka berusaha memasuki daerah pedalaman Minangkabau dari pantai Timur menemui "raja agung" Minangkabau. F.M. Schnittger, ''Forgotten Kingdoms in Sumatera'' (Leiden : E.J. Brill, 1964), halaman 55.
17) Sebuah tradisi mengenai pengislaman Minangkabau mengisahkan bahwa ini diakibatkan oleh sejenis pertemuan intelektual antara wakil-wakil keluarga raja Minangkabau dengan ulama Islam di Bukit Marapalam, sebuah bukit antara Pagarruyung dan Lintau, Versi dari tradisi ini biasanya dikutip oleh ahli teori adat Minangkabau yang berlawanan dengan tradisi yang diterima oleh pimpinan agama, menyatakan bahwa "ulama-ulama ini merupakan pengikut dari Syech Panjang Janggut" dengan mesjid yang menghadap ke arah Barat," dan yang datang dari Siak, gerbang keluar di sebelah Timur. Lihat karangan-karangan Datoek Soetan Maharajo yang dimuat dalam ''Oetoesan Melayoe'', antara tahun 1912 dan 1921; dan suatu ikhtisar pendek yang ditulis oleh muridnya Datoek M.Alam, "Agama Islam di Minangkabau," ''Panji Islam'', 22 (2 Juni, 1941), halaman 9120 – 1.
18) Hamka, ''Dari Perbendaharaan Lama'' (Medan : Maju, 1963), halaman 154 – 157.<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude>
enpw8a1qtv14cu1z4bu2lolx59qdt5s
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/30
104
114627
321783
316809
2026-10-16T15:27:37Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321783
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>19) Pembicaraan mengenai Kaba ini dalam karangan ini didasarkan pada edisi Van der Toorn (1891); bagian terbesar dari kutipan-kutipan diambil dari edisi ini, serta edisi Datuk Garang (1904) dan Datoek Sangguno Diradjo (1923). Edisi-edisi yang lebih baru umumnya telah di-edit agar sesuai dengan Islam ortodoks.
20) Gubernur Belanda di Malaka telah mengirim Dias „untuk mengadakan tawar-menawar dengan ''Manicabers'' dari wilayah dataran tinggi." Sambutan terhadap Dias menimbulkan kesan bahwa dalam hal hubungan dengan dunia luar setiap raja Minangkabau bertindak sendiri-sendiri. F. de Haan, "Naar Midden Sumatra in 1684," ''TBG'', XXXIX (1897), halaman 327-366. Marsden melaporkan bahwa „setiap orang di antara mereka dalam pendahuluan surat mereka menggunakan pangkat-pangkat kerajaan tanpa memperhitungkan kemungkinan adanya tokoh lain pemegang pangkat yang sama." Marsden, ''The History of Sumatra'' (London, 1811) halaman 388.
21) Kroeskamp, ''De Westkust'', passim.
22) Menilik petatah-petitih ataupun peribahasa Minangkabau mengenai hubungan antara agama dan adat, watak proses pengislaman ini dapat diteliti Peri-bahasa tertua mengatakan „adat bersendi (bersandar) pada alur (sopan santun), sarak bersendi pada dalil," dan secara tersirat menyatakan bahwa adat dan sarak hanyalah terdapat berdamping-dampingan. Tahap kedua „adat bersendi pada sarak, sarak bersendi pada adat", menganggap bahwa adat dan agama merupakan satu bagian terpadu yang tak terpisah-pisahkan. Peribahasa terbaru yang sekarang diterima oleh seluruh unsur Minangkabau yaitu bahwa „adat bersendi pada sarak, sarak bersendi pada Kitabullah," berarti bahwa adat hanya merupakan penetapan kewajiban-kewajiban yang dikenakan oleh agama. Lihat karangan saya „Adat and Islam : an examination of conflicts in Minangkabau". ''Indonesia'', 2 (Oktober 1966), halaman 1–24.
23) Ph.S. van Ronkel, "Het Heiligdom te Oelakan," ''TBG'', LVI (1914), khususnya halaman 294; Mahmud Junus, ''Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia'' (Jakarta : Pustaka Mahmudiah, 1960) halaman 15–22.
24) Pada tahun 1917, pendiri partai adat pertama di Minangkabau, Datuk Sutan Maharaja, dalam perjuangan melawan gerakan modernisasi Islam menunjukkan bahwa adat Minangkabau dan Tasauf (mistik) merupakan dua bagian dari satu pandangan hidup yang terhormat: "Theosofie dan S.A.A.M.," ''Oetoesan Melajoe'', Juni 11, 1917.
25) Lihat, misalnya : Josselin de Jong, „The Character of the Malay Annals," dalam John Bastian dan R. Rolvink, eds, ''Malayan and Indonesian Studies'' (Oxford: University Press, 1964), halaman 235-41.
26) Mengenai persoalan pembagian adat ini : Ahmad Datuk Batuah dan A.Dt. Madjoindo, ''Tambo Minangkabau'' (Jakarta: Balai Pustaka, 1956); W.J. Lyeds, "Larasan in Minangkabau," ''Koloniale Studien'', X (1926), halaman 387–416.
27) Lihat: D.M. Datuk Maruhum Batuah dan H.D. Bagindo Tanameh, ''Hukum Adat dan Adat Minangkabau'' (Jakarta: Pustaka Aseli, 1956) Halaman 58–60.<noinclude>{{rh|26||}}</noinclude>
rycjzbfd3pm1v2z5x3crx5eljssmaoo
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/31
104
114628
321784
316810
2026-10-16T15:27:54Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321784
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>28) Contoh-contoh dari pemikiran demikian adalah antara lain :
:Memang mungkin untuk membuat sawah ladang dihalaman orang lain, tapi apakah ini patut
:Memang patut membuat sawah ladang dipuncak gunung, tetapi apakah ini mungkin ?
Beberapa orang ahli teori adat Minangkabau juga menyatakan bahwa akal seharusnya dibimbing oleh kesadaran hukum alam. Sebelum Islam masuk ke daerah ini peraturan masyarakat Minangkabau berdasarkan pada hukum akal dan hukum alam. Lihat misalnya, M. Nasrun, ''Dasar Falsafah Adat Minangkabau'' (Jakarta: Pasaman, 1957).
29) Keyakinan akan kemampuan akal untuk mempergunakan alam dengan bantuan iman yang kuat mungkin mengakibatkan pengabaian hukum alam. Insya Allah, ''alam indak babakeh;'' Sebelum ditakdirkan oleh Tuhan, orang tak akan mati, sekalipun telah ditembak oleh musuh. Ini menjadi dasar bagi ilmu kebal, pengetahuan tentang kekebalan diri. Ph. S. van Ronkel, ''Rapport betreffende de Godsdienstige verschijn selen ter Sumatra's Weskust'' (Verbaal, April 4, 1916, No. 54), Bylage V. Juga Hamka, ''Ayahku'' (Jakarta: Jayamurni, 1962), halaman 84 – 9. Kepercayaan ini terutama terdapat waktu pemberontakan anti pajak pada tahun 1908.
30) Mengenai ini lihat : Datoek Sangguno Diradjo, ''Kitab Tjurai.'' halaman 67; dan juga Datuk Batuah dan Datuk Madjoindo, ''Tambo Minangkabau'', halaman 133 – 135.
31) Ini merupakan dua di antara lima dasar tingkah laku orang sebagai diuraikan dalam: H.A.R. Gibb, ''Moehammedanism'' (London/New York: Oxford : 1953), halaman 100 – 101.
32) Cf. Batuah dan Madjoindo, ''Tambo Minangkabau'', halaman 40 dan juga ,,Artikelen van Datuk Soetan Maharaja in de Oetoesan Melajoe 1911 – 1913, ''"Adatrechtbundels'', 27 (1928) halaman 291 dst.
33) Orang-orang yang suka mengejek kadang-kadang menafsirkan ini sebagai suatu ,,skandal di lingkungan istana,'' yang terjadi waktu ,,masa gemilang Minangkabau''. Akan tetapi tafsiran ini hanya jika ''Kaba Tjindua Mato'' dianggap sebagai sejarah simbolis Minangkabau.
34) Mitos nenek moyang ''Negeri Sembilan'' sebagai yang dilaporkan oleh R.O Winstedt, ''The Malays, a Cultural History'' (London : Hutchinsons, 1960), halaman 56 – 57.
35) ,,Raja sebagai lembaga yang bulat berada di luar anak negeri ,'' C. Westenenk, ,,Opstellen van Minangkabau,'' ''TBG'', 55 (1913), halaman, 239. Suatu pembicaraan yang padat terdapat dalam P.E. de Josselin de Jong, ''Minangkabau and Negeri Sembilan'', Halaman 90 – 173.
36) C.C. Berg, ,,Javaansche Gescheidschrijving,'' dalam F.W. Stapel, ''Geschiedenis, van Nederlandsch – Indies'', (Den Haag : Joost van der Vondel, 1939), II; B. Schrieke ''Indonesian Sociological Studies'', (Bandung/The Hague : W. van Hoeve, 1956), halaman 70 – 74.
37) Lihat : Robert Heine-Geldern, ''Conceptions of State and Kingship in Southeast Asia'' (Ithaca: Cornell Southeast Asia Program, 1956).<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude>
tpz5n8oj5slnnk1yclh0s7k7htm1uzt
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/32
104
114629
321785
316812
2026-10-16T15:28:12Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321785
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>38) Konsepsi tentang langit sebagai tempat yang lebih sakti dan lebih berbahaya dari pada dunia yang fana ini juga terdapat dalam tradisi kesusasteraan Aceh Versi Minangkabau dari karya Aceh, ''Hikayat Malin Deman'', suatu kisah cinta antara seorang pangeran-anak manusia dengan puteri dari kayangan menjadi semakin populer sehingga kaba sanggahan dihasilkan pada masa Perang Padri. Kaba sanggahan ini yaitu ''Hikayat Putri Balukih'', atau Hikayat Puteri Balkis (Permaisuri Raja Sualaiman), menantang ''Hikayat Malin Deman'' ,,karena,, tidak didasarkan pada hadis nabi". Lihat D. Gerth van Wijck, ed. dan pent., "De Geschiedenistvan Prinses Balkis den Meleische verselling," ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', XLI (1881), halaman I-II Beberapa Kaba Minangkabau yang tidak terkenal juga mengandung konsepsi serupa mengenai langit, seperti ''Kaba Puti Talajang''.
39) mimpi memainkan peranan yang sangat berarti dalam tradisi filsafat dan kesusasteraan Islam, Lihat: Duncan Black Mac Donald, ''The Religious Attitude and Life in Islam'' (Beyrouth: Khyat Oriental Reprinits, 1965) halaman 70 – 94, G.E. von Gruenebaum dan Roger Caillols, eds. ''The Dream and Human Societies'' (Berkeley: University of California, 1966), khususnya halaman 3–21, 351–379. Dalam tradisi setempat Minangkabau mimpi juga memainkan peranan yang penting, seperti misalnya dalam ceritera rakyat seorang yang saleh Tuanku Imam dari Kota Gadang, yang kedatangannya diberitakan oleh salah seorang sekampungnya yang bermimpi bahwa seorang lelaki tua berjenggot putih yang panjang datang padanya untuk menyampaikan berita tentang asal gaib Tuanku Imam yang akan muncul yang seperti juga Dang Tuanku, merupakan putera dari Indo Jati. D. Gerth van Wijck,,, Een Minangkabausche Heilige, "TBG, XXIV(1877) halaman 224 \-- 232. Tak disangsikan lagi mimpi paling termashur dalam tradisi kesusasteraan Melayu adalah mimpi dari Marah Silu dalam ''Hikayat Radja-Radja Pasai''. Dalam mimpi ini ia bertemu dengan Nabi Muhammad dan waktu terbangun keesokan harinya ia dengan mudah sekali mengucapkan ayat-ayat Qur'an. Maka, demikian menurut sahibulhikayat, kerajaan Islam pertama terdapat di Pulau Sumatera.
40) R.A. Nicholson, ''The Mystics of Islam'' (London: G.G. Bell & Sons, 1914) hlm. 148–169.
41) Louis Massignon, "Al–Hallaj" dalam M.M. Sharif, Ed., ''A History of Muslim Philosophy'' (Wiesbaden : O. Harrassowits, 1963), Jil. I, hlm. 347–348.
42) Mireade Eliade, ''Cosmos and History. The Myth of Eternal Return'', New York : Harper, 1959), hlm. 34 – 48.
43) Claude Levi – Strauss, ''Structural Anthropology'' (New York: Basic Book, 1963), halaman 229.<noinclude>{{rh|28||}}</noinclude>
kavqyvhvi0fz66oqpymmtnhsvkoawjd
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/33
104
114630
321786
316813
2026-10-16T15:28:43Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321786
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude><center>
'''ISKANDAR ZULKARNAIN SEBAGAI ASAL<br />
KETURUNAN RAJA MINANGKABAU DALAM TAMBO<br />
MINANGKABAU'''<br />
Oleh : Drs. Edwar Djamaris.
</center>
=== A. PENDAHULUAN. ===
{{dropinitial|D}}alam karangan ini saya berusaha membicarakan salah satu episode dalam Tambo Minangkabau yang cukup menarik perhatian dan yang sering disebut-sebut, yaitu episode Iskandar Zulkarnain Dalam Tambo Minangkabau banyak masalah yang perlu dibicarakan secara panjang lebar. Untuk ini diperlukan waktu dan kesungguhan yang banyak pula. Pada kesempatan ini saya ingin membatasi penelitian dalam Tambo ini pada episode tersebut di atas saja. Karangan ini saya anggap sebagai usaha pertama untuk meneliti isi Tambo Minangkabau secara keseluruhan. Pada waktu ini belum ada rasanya kesempatan untuk membahas secara keseluruhan dan mendalam.
Iskandar Zulkarnain merupakan tokoh yang menarik dan terkemuka di dunia, terutama di Asia dan Eropa, dan banyak disebut-sebut dalam naskah-naskah Melayu berisi sejarah, seperti Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, Bustanussalatin dan sebagainya. Dalam Tambo Minangkabau ada satu episode mengenai Iskandar Zulkarnain ini. Dalam episode tersebut diceriterakan bahwa Sutan (Sultan) Sri Maharaja Diraja adalah raja Minangkabau yang pertama, anak bungsu dari Iskandar Zulkarnain itu. Diceritakan, bahwa Iskandar Zulkarnain anak Nabi Adam yang bungsu. Untuk isteri Iskandar Zulkarnain itu diambilkan oleh malaikat seorang bidadari dari sorga atas perintah Tuhan. Dari perkawinannya itulah lahir tiga orang putranya yaitu Sultan Sri Maharaja Alif yang jadi raja di Benua Rum, Sultan Sri Maharaja Dipang yang jadi raja di Benua Cina dan Sultan Sri Maharaja Diraja yang jadi raja di pulau Perca ini yang pusat pemerintahannya di Pagarruyung Minangkabau. Demikian garis besar cerita dari episode Iskandar Zulkarnain dalam Tambo Minangkabau, Ml. 439, halaman 27 — 32.
Cerita tersebut di atas tidak saja dapat kita jumpai dalam Tambo Minangkabau, tetapi juga terdapat dalam pengantar undang-undang Minangkabau, <ref>Djamaris (1970), halaman 87.</ref> sering diucapkan dalam pidato-pidato adat atau persembahan-persembahan untuk menunjukkan kebesaran kerajaan Minangkabau zaman dahulu. Ceritera ini amat populer dikalangan rakyat. Episode Iskandar Zulkarnain, tersebut telah menimbulkan suatu kepercayaan dalam masyarakat bahwa raja Minangkabau yang pertama itu berasal dari Iskandar Zulkarnain, raja Macedonia itu. Hal ini dapat kita baca dalam sebuah kertas kerja yang disusun oleh LKAAM
<references /><noinclude>{{rh|||29}}</noinclude>
ajr41fy3pykc59u7edtz45ra4qk9q82
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/34
104
114631
321787
316814
2026-10-16T15:29:07Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321787
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>(Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) yang berjudul "Sejarah Minangkabau" pada seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batu Sangkar 1970, halaman 2 dan dalam "Brosur Excursi" pada Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau halaman. 7, seperti tertera di bawah ini :
:"Pendatang yang mula-mula ialah Sri Maharaja Diraja keturunan Iskandar Zulkarnain yang berlayar dari sungai Indus, diperkirakan pada tahun 300 S.M. Pada masa kedatangan yang mula-mula itu sudah ditepatinya penghuni daerah Minangkabau"<ref>Brosur Exursi (1970), halaman 7. lihat juga LKAAM (1970) halaman 2.</ref>
Pendapat ini tentu didasarkan pada episode tersebut di atas. Yang jadi pokok masalah dari kutipan episode tersebut dan yang akan saya bicarakan dalam karangan ini, ialah mengenai tokoh Iskandar Zulkarnain sebagai asal keturunan raja Minangkabau itu dan Sutan Sri Maharaja Diraja, sebagai raja Minangkabau yang pertama.
Baiklah terlebih dahulu kita bicarakan secara singkat tokoh Iskandar Zulkarnain ini.
=== 1. Iskandar Zulkarnain. ===
Iskandar Zulkarnain merupakan tokoh historis dan legendaris yang sudah terkenal di dunia, terutama di Asia dan Eropa.Secara historis ia hidup dari tahun 356 – 323 S.M.<ref>Steinberg (1953) halaman 8.</ref> Ia menjadi raja Macedonia pada tahun 336 – 323 S.M. Kisahnya sebagai raja Macedonia ini telah disusun oleh Harold Lamb dalam sebuah buku yang berjudul Alexander of Macedon.<ref>Lihat : Lam (1959),</ref> Ia adalah ahli peperangan terbesar yang pernah hidup, penyelidik daerah-daerah yang tiada taranya dan memiliki kekaisaran yang mahajaya.
Riwayat hidupnya pada mulanya disusun oleh Callisthenes salah seorang pengiringnya. Kemudian riwayat hidupnya itu banyak dipalsukan orang, ditambah orang dengan ceritera-ceritera lain yang berisi banyak fantasi, sehingga riwayatnya yang sesungguhnya jadi kabur. Riwayatnya yang dipalsukan inilah yang disebut Pseudo Callisthenes. Riwayatnya itu kemudian merupakan berbagai legende yang terdapat dikalangan rakyat diberbagai daerah Asia dan Eropa.
Ceritera mengenai Iskandar ini diduga telah ada sejak tahun 300 S.M. dan ceriteranya secara lengkap kira-kira pada tahun 200 S.M. Di Barat ceritera mengenai Iskandar ini terdapat dalam bahasa Latin, Perancis kuno, Inggeris, Perancis, Belanda, Italia, Skandinavia dan Yunani Modern. Sedang di Timur cerita mengenai Iskandar ini terdapat dalam bahasa Syria, Parsi, Abbysinia, Ibrani, Turki, Urdu, Mesir Lama, Mongolia, Cina, Melayu kuno dan sebagainya.<ref>Hussain (1969), halaman XVIII.</ref>
P.J. van Leuwen pernah menyelidiki perkembangan hikayat Iskandar Zulkarnain ini yang disusunnya dalam bentuk disertasi,
=== Catatan kaki ===
<references /><noinclude>{{rh|30||}}</noinclude>
jyz8xxy1koot655dn533uibi2cvdahn
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/35
104
114632
321788
316816
2026-10-16T15:29:36Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321788
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>berjudul ; "De Maleische Alexander Roman", Utrecht, Meppel, 1937.
Di Museum Pusat Jakarta dapat kita jumpai 3 buah naskah yang berjudul Hikayat Iskandar Zulkarnain, yang berbahasa Melayu dengan tulisan Arab-Melayu. Masing-masing bernomor v.d.w. 112, v.d.w. 113 dan Ml. 1.<ref>Ronkel (1909), halaman 255 – 260.</ref> Untuk lebih jelasnya baiklah kami kutipkan permulaan dari Hikayat Iskandar Zulkarnain yang bernomor v.d.w. 113 berbunyi:
<blockquote>
"Wabihi nastainu billahi ala. Ini Raja Iskandar anak dari cucu Raja Bahman di negeri Rum yang telah disebutkan Allah Subhanahu wa Taala di dalam Kur'an al-azim ayatnya yang mempunyai dua tanduk diperbuatnya menikam. Maka firman Allah Subhanahu wa Taala "Yas alunaka an Zilkarnain, qala sattlu alaikum min Zilkarnain". Sebermula telah ditanyai segala Yahudi akan dikau ya Muhammad dari pada segala hikayat Zulkarnain perinya ia menjalani segala pihak, bumi dari magrib datang masyrik. Kata olehmu ya Muhammad, bagi akan aku hikayatkan kepada kamu ceriteranya peri menjalani segala bumi, kata alhadis sahaja ada hikayatnya pada kaum Yahudi dan kepada kaum ajam dan kuasa di dalam benua Rum. Maka lalu dihikayatkan oleh Nabi Allah segala hikayat barang tiada didalam hikayat mereka itu".
</blockquote>
Dari kutipan di atas dapat diketahui, bahwa kisah Iskandar Zulkarnain juga terdapat dalam Al Qur'an. Setelah kita selidiki ternyata, bahwa kisah Zulkarnain ini memang terdapat dalam Al Qur'an surat yang ke 18, yaitu surat Al Khafi ayat 83 sampai ayat 101. Agaknya ayat-ayat Al Qur'an inilah salah satu sumber untuk menyusun Hikayat Iskandar Zulkarnain itu seperti ternyata dari kutipan di atas. Iskandar Zulkarnain dianggap oleh orang Islam sebagai pahlawan pra Islam. Perhatikan permulaan kisah Zulkarnain ini dalam ayat 83 dan 84 Al Khafi ini, yang berbunyi :
: 83. "Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah, "Aku akan bacakan kepadamu tjerita-tjerita tentangnya.
: 84. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai segala sesuatu).<ref>Al Qur'an dan Terjemahannya (1970) halaman 456.</ref>
Demikianlah dua ayat dari 19 ayat ada dalam Al Qur'an tentang kisah Zulkarnain.
Naskah lain tentang Hikayat Iskandar Zulkarnain ini juga terdapat di perpustakaan Universitas Leiden, salah satu diantaranya berdasarkan micro-card bernomor Code x Orientalis 1996, telah diterbitkan di Kuala Lumpur atas usaha Khalid Hussain, penerbit Dewan Bahasa dan Pustaka, 1967 dalam hikayat ini diceriterakan bahwa Iskandar Zulkarnain ialah anak raja Darab Rumi, Raja Qilas dan Raja Dawab Persi. Suatu sumber yang lain menyebutkan bahwa ia anak Raja Qilas tuan Putri Safiya Arqiya. Nama Iskandar timbul dari nama daun kayu yang digunakan untuk mengobati penyakit tuan Putri Safiya Arqiya. Dalam menyebarkan agama Islam ia dibantu oleh Nabi Khidir. Ia berhasil mengislamkan seluruh negeri dari masyrik
<references /><noinclude>{{rh|||31}}</noinclude>
r6i1w6df2anj2ldwhz4qpv1fnrw3hpc
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/36
104
114633
321789
316817
2026-10-16T15:29:53Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321789
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>hingga magrib. Pada akhir pengembaraannya ia kawin dengan Putri Noraini.<ref>Husain (1970) halaman 369.</ref>
Seperti halnya dengan Tambo Minangkabau, dalam sejarah Melayu geneologi raja-rajanya juga dihubungkan dengan raja Iskandar Zulkarnain, karena bagi masyarakat Melayu Iskandar Zulkarnain dianggap sebagai raja agung. Perhatikan pula kutipan di bawah ini :
::"Adapun nama kami dan bangsa kami bukannja dari pada bangsa Djin dan peri. Bahwa kami ini, bangsa manusia, asal kami dari pada anak tjatju radja Iskandar Dzulkarnain, nisab kami daripada radja Nusirwan radja Masjrik dan magrib dan namanja ini Bitjitram Sjah dan nama seorang ini Nilam pahlawan dan orang ini Karna Pandita; dan pedang kami ini tjurik Semandang Kini namanja, dan lembing kami ini Lembuara namanja, jang satu tjapkaju Kempa namanja, dan apabila memberi surat pada radja-radja tjap inilah ditjapkan.<ref>Situmorang (1958) halaman 23 - 24</ref>
Begitu pula halnya dengan ''Hikayat Aceh'' juga menyebutkan, bahwa Iskandar Zulkarnainlah asal-usul mereka. Sebagai contoh dapat kita lihat dalam ''Hikayat Aceh'', sebuah naskah di Museum Pusat yang bernomor ML. 196,<ref>Ronkel (1909) halaman 279 - 280.</ref> yang pada halaman permulaan hikayat ini berbunyi :
::"Sifatnya yang tiada terperi kepujian, maka diketahui Raja Iskandar dengan kerabatnya, bahwasanya ialah raja yang turun temurun dan masyhur pada segala alam dan ialah anak cucu Iskandar Zulkarnain. Maka seharusnyalah kuambil titah kepadanya."
Sehubungan dengan ini juga dapat kita baca dalam buku ''Bustanus Salatin'', karangan Nuru'din ar. Raniri halaman 29, seperti tertera di bawah ini :
::"Maka pada masa yang berbahagia dan pada ketika yang mulia, maka paduka Sri. Sultan Iskandar Thani Allaudin Mughayat Shah pun datanglah dari negeri Pahang ke negeri Aceh Darus-salam. Tatkala itu, adalah umur baginda tujuh tahun. Demi ditilik Raja Iskandar Muda akan Sultan Allaudin Mughayat Shah, maka kelihatanlah cahaya segala kebahagiaan pada mukanya dan segala sifat yang tiada terperi kepujiannya. Maka diketahui Raja Iskandar Muda adalah dengan ilmu firasatnya; bahwasanya ialah Raja Ad-Diraja, yang turun temurun dan ialah yang termashur namanya pada segala alam dan ialah anak cucu Raja Iskandar Dzu'l-karnain. Maka seharusnyalah ialah kuambil akan anakku".<ref>Iskandar (1966), halaman 36.</ref>
Dari uraian di atas dapatlah kita menduga apa latar belakang pengarang-pengarang lama memasukkan legende Iskandar Zulkarnain dalam penulisan sejarah lama. Hal ini tidak lain keinginan menghubung-hubungkan kebesaran Raja Iskandar Zulkarnain dengan raja-raja mereka dan menyamakan kedudukannya dengan raja Rum dan negeri Cina, yang sudah terkenal sejak dahulu, seperti yang kita baca dalam Tambo Minangkabau tersebut di atas.
== Catatan Kaki ==
{{reflist}}<noinclude>{{rh|32||}}</noinclude>
gobmd8piqypd1ue33jyvak5d723bi6b
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/37
104
114634
321790
316818
2026-10-16T15:30:14Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321790
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Salah satu tujuan penulisan yang demikian, ialah untuk meng-agung-agungkan dan memulyakan kedudukan raja. Bahwa rajanya berasal dari keturunan raja besar di dunia, bahkan ada pula yang menghubungkan dengan dewa-dewa dari kayangan. Bagi masyarakat dulu geneologi memegang peranan penting. Keturunannya inilah yang menentukan posisinya dalam masyarakat. Dengan menceritakan garis keturunan raja yang istimewa ini raja dalam pandangan masyarakat dianggap sebagai orang yang istimewa dan luar biasa, karena memiliki garis keturunan yang tinggi, sehingga tidak ada orang lain yang menyamainya. Raja digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai magic power suatu kekuatan yang luar biasa, karena segala kekuasaan pada zaman dahulu terpusat pada diri raja. Raja harus didewa-dewakan, supaya ia memiliki wibawa dan moril yang tinggi di mata masyarakat, sehingga ia benar-benar dihormati oleh rakyatnya. Inilah salah satu tujuan penulis sejarah dalam naskah-naskah berisi sejarah.
Pembaca yang teliti ataupun penyelidik-penyelidik barat banyak yang kecewa meneliti naskah-naskah berisi sejarah ini. Salah satu di antaranya, karena geneologi raja-rajanya itu tidak cocok, peristiwa-peristiwa yang sungguh terjadi bercampur dengan legende. Akan tetapi hal itu sangat berharga, karena kita dapat mengetahui sikap mental, pandangan hidup, kepercayaan, cara berfikir, juga gambaran umum tentang perasaan dan angan-angan masyarakat pada waktu itu. Bahwa masyarakat pada waktu itu terlalu berpedoman pada garis keturunan yang nantinya melahirkan pula kasta-kasta atau golongan-golongan dalam masyarakat berdasarkan garis keturunan ini. Penulisan sejarah dalam naskah-naskah berisi sejarah ini disesuaikan dengan pandangan hidup masyarakat pada waktu itu.
=== 2. Sri Maharaja Diraja. ===
Setelah kita mengetahui, bahwa tujuan penulis Tambo Minangkabau, menggunakan nama Iskandar Zulkarnain untuk memulyakan dan meninggikan derajat Raja Sri Maharaja Diraja sebagai raja Minangkabau yang pertama, baiklah kita selidiki pula siapa yang dimaksud dengan tokoh Sri Maharaja Diraja itu. Untuk itu perlu kita hubungkan dengan naskah-naskah lain dan dari sumber-sumber sejarah yang lain.
Salah satu naskah yang jelas menyebutkan tokoh Sri Maharaja Diraja ini ialah sebuah naskah yang berjudul : Asal-usul Bangkahulu.<ref>Asal-usul Bangkahulu Ml. 143 dan Ml. 148. Tercatat dalam Katalogus Ronkel (1909), halaman 280–281.</ref> Dalam naskah ini tokoh Sri Maharaja Diraja sudah dikenal. Hal ini dapat kita baca pada kutipan di bawah ini :
{{blockquote|"Inilah yang dipertuan daulat Sultan Sri Maharaja Diraja bin Sultan Iskandar Zulkarnain saflil ya lillah fi alam sadarai mashur di dalam pulau Mas melimpahkan adat lembaga serta keadilannya kepada segala raja-raja di bawah tiap-tiap negeri ke atas angin ke barat dan ke timur, (sehingga) keturunan raja-raja yang dari Pagarruyung."<ref>Asal-usul Bengkahulu Ml. 143, halaman 4.</ref>}}
== Catatan Kaki ==
<references /><noinclude>{{rh|||33}}</noinclude>
mdnjt7t9gz05r0xxfgomya2vsh3ko35
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/38
104
114635
321791
316819
2026-10-16T15:30:32Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321791
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Selanjutnya disebutkan beberapa raja yang berada di bawah pemerintahan daulat Sultan Sri Maharaja Diraja dari kerajaan Pagarruyung ini yaitu; raja-raja di negeri Indragiri, Muko-Muko, Bintan, Palembang, Jambi, Indrapura dan sebagainya. Semuanya itu menunjukkan kekuasaan Sultan Sri Maharaja Diraja. Begitu juga halnya dengan asal-usul raja di Bangkahulu, ini diceritakan berasal dari seorang menteri dari kerajaan Pagarruyung pada waktu itu pemerintahan Sultan Sri Maharaja Diraja ini, yaitu yang bernama Maharaja Sakti. Asal-usul Maharaja Sakti ini dapat pula kita baca pada kutipan di bawah ini:
<blockquote>
"Adapun nama hamba Maharaja Sakti, nama negeri bamba Sungai Tarab Alam Minangkabau dan kami berjalan ini semuanya 15 orang, 4 hamba punya menteri, 9 anak buah yang membawa angkatan, 1 anak-anakan atau pahlawan. Adapun peraturan alam Minangkabau daulat di Pagarruyung, Bendahara di Sungai Tarab masuk kunci kampung alam. Selama terdiri daulat di Pagarruyung, selama terdiri Bendahara Sungai Tarab, Pagarruyung berpangkat Sultan, Sungai Tarab berpangkat wazir, (di) bawah itu ialah Ba(ng)sa Empat Balai; Kahdi di Padang Ganting, Makhudum di Sumanik, Andamo di di Saruaso, Tuan Gadang di Batipuh. Maka sungai Tarab bernama titah, karena apa-apa titah dari pada sultan turun kepada Bendahara, dari bendahara makanya limpah kepada menteri yang empat balai. Demikianlah adanya peraturan kerajaan Alam Minangkabau. Sultan-nya yang bernama Sri Maharaja Diraja."<ref>Asal-usul Bengkulu Ml. 148, halaman 21 - 22</ref>
</blockquote>
Maharaja Sakti inilah yang kemudian diangkat menjadi raja Bengkahulu yang pertama turun temurun karena besar jasanya menyelesaikan perselisihan antara pesirah-pesirah di negeri itu.
Dari sumber-sumber sejarah mengenai Minangkabau, dapat kita ketahui bahwa raja Minangkabau yang pertama ialah Adityawarman. Sebuah patung besar dekat pintu gerbang Museum Pusat Jakarta dikatakan, bahwa patung itu adalah patung Adityawarman. Di bawah patung itu tertulis; "Adityawarman raja pertama dari Minangkabau berupa Bhairawa Dharmapala, Padang Reco, Batang Hari 1350." Pada umumnya para ahli sejarah yang meneliti sejarah Minangkabau sependapat, bahwa Adityawarmanlah yang menjadi raja pertama di Minangkabau, Hal ini dapat kita ikuti pendapat Slametmuljono dalam bukunya Sriwijaya, Sanusi Pane dalam bukunya Sejarah Indonesia dan M.D. Mansoer Cs. dalam bukunya Sejarah Minangkabau. Begitu pula peneliti-peneliti asing seperti C.C. Berg dalam sebuah karangannya, "de Sadeng oorlog an de Mythe van Groot Majapahit", D.G.E. Hall dalam bukunya : ''A History of South-East Asia'', dan sebagainya. Hanya saja terdapat perbedaan mengenai waktu pemerintahan dan asal-usulnya.
Slametmulyana dalam bukunya Sriwijaya itu menulis sebagai berikut :
<blockquote>
"Nama lengkap Adityawarman seperti yang tercantum pada piagam Amoghapaca ialah Udayadityawarman Prtapaparskramajendra Mauliwarmadewa. Ia mengambil nama Mauliwarmadewa, karena ia keturunan raja Dharmacaraya Tribuwarnaraja Mauliwarmadewa. Adi-
</blockquote>
== Catatan Kaki ==
<references /><noinclude>{{rh|34||}}</noinclude>
gqv7f5fopf6lfo6izbv6vsg5ylt2iwm
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/39
104
114636
321792
316820
2026-10-16T15:31:04Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321792
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>tyawarman adalah tjutjunja. Pada tahun 1339, kira-kira pada waktu itu Adityawarman berumur ± 50 tahun, ketika kembali ke Sumatera dan mendirikan kerajaan Minangkabau."<ref>Slametmulyana (tt) halaman 234.</ref>
Slametmulyana dalam kutipan di atas mengatakan, bahwa Adityawarman mendirikan kerajaan Minangkabau tahun 1339, sedang Sanusi Pane<ref>Pane (1965) halaman 108</ref> cenderung menyebut tahun 1347 berdasarkan angka tahun yang terdapat pada punggung arca Amogapaca itu juga. Demikian juga dalam buku Sejarah Minangkabau<ref>Mansoer (1970), halaman 55.</ref> menyebut 1347 juga sebagai tahun permulaan Adityawarman, jadi raja di Minangkabau. Agaknya angka tahun inilah yang dipakai pada patung Adityawarman yang terdapat di Museum Pusat yang telah disebut di atas. Mengenai masa pemerintahan Adityawarman ini diperlukan penelitian lebih lanjut.
Mengenai asal-usulnya, juga terdapat beberapa pendapat, Stutterheim dan C.C. Berg masing-masing mempunyai pendapat yang amat berbeda mengenai asal-usul Adityawarman ini. Kedua pendapat Sarjana ini telah diikuti dan dibahas pula lebih lanjut oleh D.G.E. Hall dan Slametmulyana. Baiklah terlebih dahulu kita kutipkan pendapat Hall dalam bukunya A History of South-East Asia ini terlebih dahulu:
<blockquote>
"King Mauliwarmadewa, who was on the throne at this time, sent two princesses to Majapahit with the returning Pamalayu fleet. One of them, Dara Petak as we have already seen, married Kertarajasa and become the mother of Jayanagara. The other, whose name was Dara Jingga, was according to Stutterheim married to a member of the Javanese royal house and bare a son who succeeded Mauliwarmadewa as King of Malayu. Berg, however, suggest that she went through a Bhairava-ritual 'marriage with Kertarajasa, after which she was sent back to Malayu to be married to Visvarupakumara. the son and succesor of Maulivarmadewa. If one may accept his version of the story, their son was the Adityawarman, who later ruled over much of Sumatera, and by virtue of his mother's double marriage was regardaed as at the same time the eldest son of his Sumatran father and the youngest son of Kertarajasa."<ref>Hall (1968), halaman 87 — 88.</ref>
</blockquote>
Berbeda dengan apa yang telah dikemukakan oleh Hall tersebut, di atas, Slametmulyana<ref>Slametmulyana (tt), halaman 232 — 233.</ref> mengemukakan juga terlebih dahulu pendapat Stutterheim dalam T.B.G. 76 yang mengatakan, bahwa Adityawarman itu ialah putra dari Wismarupakumara yang kawin dengan Putri Melayu, sedang C.C. Berg dalam karangannya "De Sadeng Oorlog en de mythe van Groot Majapahit" itu mengatakan, bahwa Adityawarman adalah putra dari Dara Jingga (putri Kartanegara) dengan raja Melayu Maulivarmadewa. Kedua pendapat ini tidak disetujui oleh Slametmulyana, karena berbeda dengan keterangan dalam pararaton dan Panji Wijayakusuma. Dalam kedua buku itu diceritakan, bahwa Dara Petak dan Dara Jingga adalah putri Melayu yang dibawa oleh tentara Singosari di bawah pimpinan Kebo Anabrang ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada Sang Prabu. Se-
<references /><noinclude>{{rh|||35}}</noinclude>
q7euo65zek5tm5pe56uv1qlh3yrzqaa
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/40
104
114637
321793
316821
2026-10-16T15:31:19Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321793
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>lanjutnya dijelaskan oleh Slametmulyana, bahwa Dara Petak dan Dara Jingga adalah putri Tribuwana raja Mauliwarmadewa. Kedua putri itu diterima oleh Raden Wijaya. Dara Petak kawin dengan Kartanegara. Dari perkawinannya itu lahir Jayanegara. Dara Jingga pada mulanya tidak begitu jelas dengan siapa ia kawin, karena dikatakan, "Siraalaki dewa". Akan tetapi Adityawarman kemudian menyebut dirinya putra Adwaya. Maka dapat dipastikan, bahwa Dara Jingga kawin dengan Mahamenteri Adwaya. Dari perkawinannya inilah lahir Adityawarman. Adityawarman dan Jayanegara diasuh di istana Majapahit.
Dari uraian di atas agaknya pendapat Slamet Mulyana itu lebih dapat dipercaya, bahwa Adityawarman yang jadi raja pertama di Minangkabau itu putra dari Dara Jingga (putri Mauliwarmadewa) yang kawin dengan seorang menteri dari kerajaan Majapahit yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan yang dekat dengan raja Majapahit, sehingganya Adityawarman dan Jayanegara tidak saja dari pihak ibu bersaudara juga dari pihak bapaknya masih mempunyai hubungan yang dekat. Itulah sebabnya sejak kecil mereka diasuh bersama-sama di istana Majapahit.
Setelah kita dapat mengetahui dari sumber sejarah, bahwa Adityawarman adalah raja Minangkabau yang pertama, maka dapatlah pula kita mengambil kesimpulan, bahwa Sri Maharaja Diraja yang disebut-sebut dalam Tambo Minangkabau sebagai raja Minangkabau yang pertama itu tidak lain adalah Adityawarman itu sendiri. Maharaja Diraja itu sebenarnya adalah gelar dari Adityawarman. Dalam prasasti Pagarruyung ia menyebut dirinya Maharaja Diraja.<ref>Mansoer (1970), halaman 61; Slametmulyana (tt), halaman 122</ref> Begitu juga pada punggung area Amogapaca Adityawarman memakai gelar Maharaja Diraja sebagaimana yang dikutip oleh Sanusi Pane.<ref>Pane (1965), halaman 108.</ref> Dengan gelar itu menurut Sanusi Pane, ia rupanya hendak mengatakan, bahwa tidak ada raja di atasnya, bahwa ia lepas dari Majapahit. Kemudian pusat kerajaan dipindahkan ke Pagarruyung di Minangkabau, karena di situlah selanjutnya kedapatan maklumat-maklumat Adityawarman, bukan di daerah Sungai Langsat lagi.
Sekarang timbul pertanyaan, mengapa dalam Tambo Minangkabau itu tidak disebut-sebut nama Adityawarman dan mengapa asal-usulnya diselubungi atau dikaburkan. Pertama-tama, sebabnya dalam Tambo Minangkabau tidak disebut-sebut lagi nama aslinya atau nama kecilnya ialah, karena Adityawarman sendiri telah memaklumkan, bahwa gelarnya adalah Maharaja Diraja. Sudah barang tentu dan sudah menjadi tradisi di Minangkabau, apabila seseorang sudah mempunyai gelar, orang lain tidak berani lagi menyebut namanya yang asli atau masa kecilnya. Misalnya saja, seorang yang telah diangkat jadi Datuk (Kepala Suku) tidak boleh lagi disebut nama aslinya atau nama kecilnya. Apabila orang lain melanggarnya, maka orang itu didenda seekor
<references /><noinclude>{{rh|36||}}</noinclude>
mb1fgkojanrjxk4h7qds49az0epzogn
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/41
104
114644
321794
316835
2026-10-16T15:31:37Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321794
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>kerbau atau sebanyak biaya untuk mengangkat gelar Datuk itu. Demikian pula agaknya Adityawarman, apalagi ia seorang raja yang dimulyakan, sudah barang tentu tidak berani lagi menyebut nama aslinya. Kedua, kenyataan-kenyataan yang menyebutkan asal-usulnya berasal dari kerajaan Majapahit sengaja dihilangkan, kemudian sebagai penggantinya, asal-usulnya dihubungkan dengan Iskandar Zulkarnain dengan maksud, seperti telah disebutkan dari uraian di atas untuk mengagungkan dan memulyakannya dari pandangan masyarakat. Inilah pula salah satu ciri penulis naskah lama berisi sejarah. Geneologi raja-raja tidak cocok, hal-hal yang penting diselubungi dengan maksud memulyakan raja itu.
=== 3. Kesimpulan ===
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, agaknya dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut :
<ol type="1" start="1">
<li>Iskandar Zulkarnain dalam Tambo Minangkabau merupakan tokoh legendaris. Sama halnya, Iskandar Zulkarnain dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh dan Bustanussalatin.</li>
<li>Salah satu maksud penulis Tambo Minangkabau dan penulis naskah berisi sejarah lainnya menghubung-hubungkan geneologi rajanya dengan Iskandar Zulkarnain tidak lain, agar kedudukan rajanya dalam pandangan masyarakat disamakan dengan kedudukan raja agung yang sudah terkenal kebesarannya di dunia. Inilah salah satu cara untuk memulyakan raja.</li>
<li>Yang dimaksud dengan raja Minangkabau yang pertama dalam Tambo Minangkabau Maharaja Diraja itu, ialah yang dari sumber sejarah lainnya biasa disebut Adityawarman.</li>
</ol>
Demikian kesimpulan-kesimpulan yang bisa diambil dari pembicaraan pertama dari Tambo Minangkabau, khusus mengenai episode Iskandar Zulkarnain yang dianggap sebagai asal raja Minangkabau yang pertama.
{{center|<nowiki>****************</nowiki>}}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude>
e1akzhp26g5esfrof8n6r6e5fl897u6
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/42
104
114645
321795
316840
2026-10-16T15:31:55Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321795
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>{{hanging indent|''Al Qur'an dan Terjemahannya'', Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Qur'an, Jakarta, Departemen Agama Republik Indonesia, 1970.}}
{{hanging indent|Baharuddin, Jazamuddin, dengan kerja sama Jumsari Jusof dan Sudibjo, ''Katalog Naskah-Naskah lama Melayu didalam simpanan Museum Pusat Jakarta'', Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}}
{{hanging indent|Berg, C.C., "De Gescheden is van pril Majapahit", ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 193-233.}}
: "De Sadeng — erlog en de Mythe van Groot Majapahit", — ''Indonesia'' V, 1951-1952, halaman 385-422.
{{hanging indent|Brosur Excursi pada ; ''Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di batu Sangkar'', tanggal 1 s/d 8 Agustus 1970. Diterbitkan oleh Seksi Excursi Panitia Teknis Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau, Batu Sangkar, 1970.}}
{{hanging indent|Djamaris, Edwar, "Kitab Undang-Undang dalam Kesusasteraan Minangkabau" ''Manusia Indonesia'', IV/3 — 4, 1970, halaman 85-105.}}
{{hanging indent|Hussain, Khalid, ''Hikayat Iskandar Zulkarnain'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969.}}
{{hanging indent|Iskandar, T., ''Nuru'd-din air-Raniri-bustanu's Salatin, Bab II, Pasal 13'', Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966.}}
{{hanging indent|Lamb, Harold, ''Alexander Radja Macedonia'', terjemahan Heru Oetomo, Jakarta, P.T. Pembangunan, 1959.}}
{{hanging indent|L.K.A.A.M., ''Sedjarah Minangkabau'', (kertas kerja). Distensil oleh Panitia Seminar Sedjarah dan Kebudayaan Minangkabau, Padang, 1970.}}
{{hanging indent|Mansoer, M.D., Amrin Imran, Mardanas Safwan, Asmaniar Z. Idris, Sidi I. Buchari, ''Sedjarah Minangkabau'', Djakarta, Bharata, 1970.}}
{{hanging indent|Pane, Sanusi, ''Sedjarah Indonesia'', (2 jilid) I & II, Djakarta, Balai Pustaka, 1965.}}
{{hanging indent|Peach, L. Du Garde, ''Alexander the Great'', with illustration by John, Kenney, Loughborough, wills & Hepworth Ltd., 1963.}}
{{hanging indent|Ras, J.J., ''Hikayat Banjar, A Study in Malay Historiography'', The Hague, 1968.}}
{{hanging indent|Ronkel, Ph. S. van, "Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen", ''Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen'', I. 1909.}}
{{hanging indent|Saleh, Siti Hawa, ''Hikayat Merong Mahawangsa'', University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.}}<noinclude>{{rh|38||}}</noinclude>
oh0zonip8dltfrl6bmlj6ketjwh0wfk
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/43
104
114646
321796
316841
2026-10-16T15:33:03Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321796
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>{{hanging indent|Sitomorang, T.D. dan A. Teeuw, ''Sedjarah Melayu'', Djakarta, Djambatan cetakan II, 1958.}}
{{hanging indent|Slametmulyana, ''Sriwidjaja'', Ende-Flores, Arnaldus, tanpa tahun.}}
{{hanging indent|Steinberg, S.H., (editor), ''Cassel's Encyclopaedia of World Literature I'', New York, Funk & Wagnalls Company, 1953.}}
{{hanging indent|Soedjatmoko and Mohammad Ali, G.J. Resink and G. Mct, Kahin (editors) ''An Introduction to Indonesian Historiography'', Ithaca, New York, Cornell University Press, 1968.}}
{{hanging indent|Teeuw, A., Wyatt, ''Hikayat Petani'', The Hague, Martinus Nijhoff, 1970.}}
{{hanging indent|Winstedt. Sir Richard, ''A History of Classical Malay Literature'', Kuala Lumpur, Oxford University Press, 1969.}}
{{hanging indent|Winstedt, R.O., "The Date, Authorship, Contens and some Mss. of the Malay Romance of Alexander the Great", ''JMBRAS'', XVI, (11), 1938.}}
NASKAH-NASKAH DARI MUSEUM PUSAT JAKARTA :
* Asal-Usul Bengkahulu, (2 naskah) Ml. 143 dan Ml. 148.
* Hikayat Aceh, Ml. 196.
* Hikayat Negeri Johor, w. 192
* Peraturan Lambang dalam negeri Bengkahulu, Ml. 144.
* Sejarah Raja-raja Riau, w. 62.
* Sejarah Tembesi (2 naskah) Ml. 100A dan Ml. 100 B.
* Tambo Minangkabau Ml. 439, Ml. 489.
{{center|************}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude>
erev8ouyysd1uf1suts0amdcv5nvx4y
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/44
104
114647
321797
316842
2026-10-16T15:33:22Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321797
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>'''''L A M P I R A N'''''
<center>
'''TRANSKRIPSI EPIDOSE ISKANDAR ZULKARNAIN'''
'''TAMBO MINANGKABAU ML. 439 HAL. 27–32.'''
</center>
Adapun tatkala bumi akan berkembang, tatkala Adam akan ditimpakan menunggui isi dunia, ialah anak cucu Adam alaihissalam datang akan jadi raja, ialah anak cucu Adam yang bungsu. Adapun anak Adam alaihissalam tiga puluh sembilan orang, maka bernikah satu anak daripada satu anak. Maka tiadalah beroleh isteri anak yang bungsu, maka dilarikan oleh segala malaikat kepada hawang-gumawang, maka heranlah Adam dengan Siti Hawa dan segala anak-anak. Maka bertiuplah angin dari dalam sorga maka dipalu gendang dan serunai serta nobat dan kecapi, terkenanglah payung ubur-ubur, maka menarilah segala anak-anakan bidadari di dalam sorga, karena suka melihat anak Adam yang bungsu di awang gumawang itu. Maka terhamburlah segala bau-bauan dari dalam sorga dan turunlah segala malaikat pergi kepada anak Adam itu, maka sama-samalah mengepal tangannya dan kakinya, maka memandanglah Adam serta Siti Hawa anak beranak kepada langit, maka dilihat mereka itu anak itu bertanduk emas senjata jati namanya, maka takutlah mereka itu melihat dia. Maka terdengarlah suatu suara dari puncak bukit Kaf, maka memandanglah anak beranak kepada bukit Kaf itu.
Maka melihat Adam akan putranya terdiri di atas bukit itu seperti buih di laut putihnya, maka heranlah Adam serta Siti Hawa anak beranak. Meminta doa ia Adam kepada Allah Taala, "Ya robbul a'lamin, pertemukan hamba dengan anak cucu hamba".
Maka hampirlah turun ke dunia, maka lautpun berombak, maka ikan yang bernama Nur menyemburkan dirinya, maka bergeraklah semuanya antah berantah rasanya alam, sebab itulah maka bernama tanah Ruhum. Maka berkatalah segala anak Adam laki-laki serta ibu Bapak, maka sopan kita melihat rupanya. Maka malaikat itupun menurunkan anak Adam itu kepada bumi yang suci, antara Pasira dan Pasiri, antara masyrik dan magrib, antara timur dan selatan, antara bukit Siguntang Panjaringan ialah yang dinamanya tanah Ruhum. Maka dikeluarkanlah anak Indojati selapan orang bernama Jati Rono Sudah, lagi baik manis mulutnya. Itulah nan jadi angkat-angkatan sembah Adam itu semuanya.
Maka berkata anak Adam kepada saudaranya, katanya, takut kami akan tanduk. Maka digugurkan tanduk itu sekali sekerat menjadi mengkuta sanggani singgasana dan sekati sekerat menjadi leher orang tempuk hari kuning bercampur merah warnanya bertatahkan intan, sekali jadi lembing lamiri. Maka turunlah malaikat daripada langit yang ketujuh menamai tanduk itu ialah bernama Zulkarnain artinya mempunyai dua kerat tanduk, artinya masyrik dan magrib. Maka dinamai oleh malaikat Raja Iskandar namanya Zulkarnain gelarnya. Maka berkata anak Adam semuanya, "Demikianlah kami ikut barang katanya".<noinclude>{{rh|40||}}</noinclude>
ouvdfyvcdbasbewg7of1idmxvail3hz
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/45
104
115144
321798
318495
2026-10-16T15:33:38Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321798
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>Maka kata raja Iskandar itu kepada segala saudaranya, "Siapa akan jadi kaki tangan hamba, siapa akan mengiringkan hamba, siapalah akan membawa payung, siapalah melimpahkan kata hamba".
Maka segala saudaranyapun menjawab, katanya, "Hai sekalian, kami nan banyak ini akan memerintahkan kerajaan dalam alam ini". Berapa lamanya maka lautpun menyintak surut, maka ditumbuhkan Allah segala bukit akan pasak bumi, antara laut disambung ombak.
Maka raja hendak beristeri, maka diturunkanlah malaikat dari pada langit. Maka kedengaranlah di atas A'rasy Allah, demikian bunyinya, "Jikalau raja itu hendak beristeri dipanggilkan ke dalam sorga. Malaikatpun turun ke dunia, lalu ke dalam sorga. Maka tiba di dalam sorga didapati anak bidadari sedang bertenun kain sangsita.
Maka berkata malaikat Jibril kepada anak bidadari, "Hai anak bidadari, marilah kita kembali ke dunia, karena titah firman Allah Taala engkau akan jadi istri raja dalam dunia". Maka menangislah anak anakan bidadari semuanya dalam sorga, karena tiada boleh meminta janji. Maka dinikahkan oranglah dalam sorga buni-bunian, gempito bunyinya alam. Maka segala anak-anakan bidadaripun menarilah. Maka digulung tenun serta piso kecil itu, suka pula bergantung ditalinga kanan.
Demikianlah kata malaikat kepada anak-anakan bidadari itu, "Bawa olehmu segala pakaian ke dunia, supaya dapat tahu orang isi dunia". Maka bertemulah di tanah Ruhum. Maka diturunkan Allah empat orang akan jadi saksi dan mengawinkan raja itu.
Hatta dengan takdir Allah Taala berapa lamanya sesudah berkawin itu maka diturunkan Allah seekor unggas Nuri dari dalam sorga mehukum silang selisih didalam negeri, dari pada unggas itulah beroleh pengajaran segala hamba Allah dalam Ruhum itu.
Maka beranak raja itu tiga orang laki-laki, seorang namanya Sultan Maharaja Alif, seorang bernama Sultan Maharaja Diraja, seorang bernama maharaja Dipang. Maka sampailah bilang ketikanya, maka memandanglah ia daulat yang dipertuan ke masyrik, tentang itu semuanya rakyat aku, maka memandang ke magrib maka tentang itu rakyatku, maka memandang ianya ke selatan, tentang itu rakyatku, maka memandang ke utara tentang itu rakyatku.
Maka mufakat ketiganya kemana akan berjalan. Maka ia lalu ke magrib maka terbitlah api antara laut disambung ombak. Maka hendaklah daulat yang dipertuan akan berlayar. Maka bermufakatlah ketiga-tiganya di pulau Langkapuri antara bukit Siguntang, berlayarlah dalam laut Sailan. Maka seorang hendak mengkuta itu kedalam laut. Maka diperbuat satu cumbul kaca dan disuruh Jati Bilang Pandai. Maka dilihatnya mengkuto itu sudah dipalut ular bidai.
Maka daulat yang dipertuan tidur ketiganya. Jati Bilang Pandai daulat yang dipertuan bangun seorang ialah yang bernama Seri Maharaja Diraja. Maka berfikirlah Jati Bilang Pandai, maka dilihatnya emas sijata jati. Maka diperkuat mangkuto, rumah sudah tukang dibunuh,<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude>
gfuij2oebpockuqk0gx5r2nxpcmr4uk
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/46
104
115145
321799
318496
2026-10-16T15:33:58Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321799
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude>tidak boleh dihuni lagi. Maka heranlah raja yang berdua itu maka memerintahkan berlayar ialah nan bernama Seri Maharaja Dipang ialah ke benua Cina, kuda emas akar jati melompat-lompat lalu ke Utara, Nan seorang kembali pulang ke tanah Ruhum ialah Sultan Maharaja Alif yang mempunyai cukai Perancis dan Ulanda ialah orang nan diperintahkan Ruhum enam puluh ribu negeri yang besar yang memberi belanja alat pakaian didalam negeri itu semuanya, yakni Sultan Ruhum yang memberi upeti kepada Mekah dan Medinah.
Maka berlayarlah Sultan Maharaja Diraja kepada pulau Jawi serta orang pengiringnya, anjing yang mualim seekor, kucing siam seekor, kambing hutan seekor. Maka diperbuat perahu kayu jati. Maka berlayarlah dari sana maka tiba dipuncak pulau Emas maka pecahlah perahu itu terkarang, maka mupakat angkat-angkatan semuanya, karena takut pada titah raja. Maka berfikir Jati Bilang Pandai memperbuati perahu itu, maka bertitah daulat yang dipertuan kepada segala isi perahu itu, "Apabila baik perahu isi kembali pada tempatnya maka aku ambil engkau akan jadi menantuku".
Maka bekerjalah segala yang berakal membuat perahu itu kembali seperti bagaimana rupa dengan yang dahulu itu. Maka heranlah raja itu. Maka Allah Subhanahu wa Taala amat kasih kepada raja itu. Maka dijadikanlah Allah anak empat orang manusia, lima dengan anak raja itu. Maka berlayarlah raja ke pulau Jawi. Hatta dengan takdir Allah Taala maka berbalik dari negeri Jawi itu kembali kepada Gunung Berapi sendirinya maka sampai baliknya maka dinikahkannya anak itu dengan lima orang laki-laki yang memperbaiki perahu tadi.
{{center|************}}<noinclude>{{rh|42||}}</noinclude>
6tmnzkgjmjg2y8taje5ej84klbvc7xh
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/47
104
115146
321800
318497
2026-10-16T15:34:19Z
TyoAriSetiadi
26775
/* Tervalidasi */
321800
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="TyoAriSetiadi" /></noinclude><center>'''A D I T Y A W A R M A N'''<br><br>
'''(Tokoh Nasional Terbesar Sepanjang Zaman)'''<br><br>
Oleh: Zuber 'Usman<br><br>
''Karena kelahiran bangsawan usul sejati,''<br>
''karena perjuangan dihormati dan ditakuti.''</center>
{{dropinitial|B}}ertalian dengan penyelamatan dan pemindahan makam Sutan Alam Bagagar Syah, Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau terakhir dari pemakaman Mangga Besar ke Taman Pahlawan Kalibata, izinkanlah saya memaparkan sejarah perjuangan moyang Yang Dipertuan, Maharaja Adityawarman, seorang tokoh nasional terbesar dalam abad ke-XIV, di samping Gajah Mada dan Kartanegara. Kira-kira 50 tahun sebelum Adityawarman atau sebelum terjadi permufakatan tegasnya persekutuan Majapahit - Melayu untuk menyerang Palembang (antara 1377 - dan 1397). Kartanegara mengarahkan pandangan ke pulau Sumatera yang jaya dan kaya itu, dengan niat hendak mengadakan persatuan, untuk menciptakan suatu kekuatan yang baru di Asia Tenggara.
Sebelumnya ia telah bekerja keras mengadakan konsolidasi politik di pulau Jawa. Sriwijaya yang telah tua sejarahnya mungkin juga karena sebab yang lain yang tidak memberi harapan, Melayulah yang dapat diharapkan. Tetapi sebelum cita-citanya terwujud ajal telah mendahuluinya, kemudian diteruskan oleh Gajah Mada, yang disebutkan dalam sejarah, tidak jelas dari mana asal usulnya, tegasnya seorang pendatang dari luar pulau Jawa seperti tersebut dalam Pararaton; Sanangka akedik kari wong Tumapel, akeh kang katuduh maring Melayu. Kutipan ini memperlihatkan eratnya hubungan Melayu - Tumapel. Pada mulanya antara Gajah Mada dan Adityawarman selalu terdapat kerja sama yang akrab, boleh dikatakan seperti kuku dengan daging. Pernah keduanya sama-sama dikirim ke pulau Bali menjalankan tugas pemerintahan.
''Asal usul Adityawarman.''
Adityawarman tidak disangsikan lagi, dari pihak ibu ia keturunan raja-raja Melayu, ibunya Dara Jingga seorang putri Melayu, adik Dara Peta, yang kawin dengan salah seorang besar (Pangeran) istana Majapahit, pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Adityawarman, berbeda dengan tokoh Zainuddin dalam roman Hamka - Tenggelamnya Kapal van der Wijck, di Minangkabau ia diakui sebagai putra Minangkabau (Melayu) dan di Jawa ia diakui keturunan raja-raja Majapahit. Sebab itu dari sejak kecil baginda diakui dan dibesarkan di kalangan istana Majapahit. Karena kecakapannya dalam pemerintahan Adityawarman mencapai kedudukan jadi "mantri Praudhara"<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude>
cf1aazlhwyi571m69o7lyiob86l6tu0
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/48
104
115148
321824
318499
2026-10-16T16:17:00Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321824
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan. Yang menjadi raja Majapahit ketika itu ialah Tribhuana Tunggadewi Jayawisnuwardhani. Yang jadi Mapatih (=Perdana Menteri) ialah Gajah Mada sendiri. Karena itu antara kedua ahli negara itu terdapat kerjasama yang akrab dan sama-sama berhaluan menuju kesatuan dan persatuan nasional di Asia Tenggara, lebih dahulu hendak mempersatukan Jawa dan Sumatera.
''Pertempuran Palembang melawan Sriwijaya.''
Tidak dapat disangkal pada akhir kemegahan Sriwijaya, Palembang merupakan pangkalannya yang terbesar, menurut uraian O.W. Wolters - The Fall of Sriwijaya in Malay History, 20 tahun lamanya pelabuhan itu mendapat tekanan yang berat oleh Majapahit dengan bantuan penuh kerajaan Melayu, yang pernah dilanggar kedaulatannya oleh Sriwijaya sebelum berhasil memasukinya dalam abad ke-VIII. Mulai penggempuran sejak 1377 M dan akhirnya 1397 Palembang tidak berdaya sama sekali dan sejak waktu itu pula kegiatan pelayaran dan perdagangan lalu pindah ke pelabuhan Melayu, yaitu Jambi. Lama Palembang merupakan pelabuhan yang tidak berarti dan dalam istilah pelaut diingat dengan pelabuhan lama, karena kegiatan perdagangan dan pelayaran di Sumatera Selatan telah pindah ke muara aliran Batang Hari, sampai kemudian ketika Adityawarman memindahkan ibu kotanya ke pedalaman, ke Siguntur, tidak jauh dari sungai Dareh dengan nama Darmacraya dan dari sini lalu naik ke daratan tinggi Minangkabau, ke Pagar Ruyung yang sekarang.
''Persaingan Gajah Mada dengan Adityawarman.''
Persahabatan yang akrab selama ini, karena cara yang sudah berbeda dan keinginan yang telah berlainan serta suasana dunia yang telah berubah pula kendatipun tujuan masih tetap sama, ketika orang orang tokoh sejarah itu sama-sama memegang tampuk pemerintahan, mulai retaklah. Gajah Mada menghendaki kesatuan Nusantara yang dicita-citakan itu seharusnyalah di bawah kekuasaannya, sebaliknya Adityawarman yang merasa bangga akan daerah Singasari Tumapel - Melayulah menghendaki sebaliknya. Baginda juga bercita-cita hendak meluaskan kerajaan Melayu.
Pada masa Adityawarman termasuk di bawah kekuasaannya selain lembah Batang Hari, daerah Jambi (Melayu) seluruhnya, Minangkabau dan Riau - daratan.
''Keperatihan dan ketemeggungan di Minangkabau.''
Pepatah Minangkabau mengatakan : nagari bapanghulu, rantau barajo. Menurut hukum adat Minangkabau, negeri mereka dikuasai oleh penghulu-penghulu (datuk-datuk), kecuali di daerah rantau diperintah oleh raja. Raja-raja Jambi (Melayu) dan Bangkahulu dalam sejarahnya mereka berasal dari Minangkabau.
Menurut adat keperatihan segala sesuatu berdasarkan musyawarah dan keputusan diambil dengan mufakat, berbeda dengan adat ketemeggungan berlaku pula pepatah : bertangga naik berjenjang<noinclude>{{rh|44||}}</noinclude>
g9ivw0sdxef71ttnrj18l0dep04wyff
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/49
104
115149
321823
318500
2026-10-16T16:16:42Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321823
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>turun. Kehadiran Adityawarman di Minangkabau dalam abad ke-XIV dapat dipastikan sebelum penyerbuan Majapahit menggempur Palembang 1377 – 1397 M Adityawarman sendiri yang telah mengatur bantuan tentara Melayu. Dalam hikayat raja-raja Pasai nyata-nyata disebutkan dalam perundingan yang berhadapan Datuk Perpatih nan Sebatang dengan Gajah Mada bukan Adityawarman. Ini dapat ditafsirkan, sampai saat ini kekuasaan yang tertinggi masih dalam tangan Datuk Perpatih nan Sebatang. Jadi Adat ketemenggungan di Alam Minangkabau datang kemudian, yang lebih tua Adat Keperpatihan.
{{center|************}}<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
njjndcphkjjgeixbu6jxl3fohctqivx
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/50
104
115150
321822
318502
2026-10-16T16:15:18Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321822
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude><center>
'''MINANGKABAU DAN NEGERI SEMBILAN'''<br><br>
'''Pertalian Sejarah dan Kaitan Kebudayaannya'''<br><br>
'''O l e h'''<br><br>
'''DRS. MOHD. DAHLAN MANSOER'''<br>
'''UNIVERSITI MALAYA.'''
</center>
''Pendahuluan :''
Pada tahun 1970 YB Datuk Abdul Samad Idris telah menerbitkan sebuah buku kecil bertajuk "Hubungan Minangkabau Dengan Negeri Sembilan Dari Segi Sejarah Dan Kebudayaan", dikeluarkan oleh Pustaka Asas Negeri, Seremban. Pada masa menulis risalah singkat itu YB Datuk Abdul Samad Idris masih lagi menjabat Menteri Muda Pembangunan Negara dan Luar bandar. Risalah yang tersebut dimaksudkan untuk dibaca dimuka Seminar Adat Minangkabau, yang dilangsungkan di Batu Sangkar, Sumatera Barat, antara 1hb. hingga 8hb. Ogos, 1970 Pada muka 11 – 12, beliau menuliskan sebagai berikut :
::<small>Negeri Sembilan mempunyai seorang raja, yang disebutkan secara lengkap Duli Yang Maha Mulia yang dipertuan Besar Negeri Sembilan . . . . . dan empat orang Datuk-datuk Undang serta Tunku Besar Tampin. . . . . Sejak dahulu dan sampai sekarang, Negeri Sembilan mempunyai satu badan yang disebut Dewan Keadilan dan Undang, yang anggotanya terdiri dari Duli Yang Maha Mulia Raja Negeri Sembilan Ketua, empat orang Datuk Undang sebagai anggota, Tunku Besar Tampin, Datuk Shahbandar Sungai Ujong, Tunku Besar Sri Menanti dan beberapa orang anggota yang tidak resmi ditunjuk dan diangkat oleh raja dalam badan ini. Adapun tugas dari pada Dewan Keadilan Undang ini khusus untuk membincangkan Adat dan soal-soal yang bersangkutan dengan Agama Islam sahaja.</small>
Diantara perkara yang sangat menarik hati dari pada tulisan YB Datuk Abdul Samad Idris yang dikutip di atas ialah :
<ol type="1" start="1">
<li>Raja Negeri Sembilan disebut dengan nama "Duli Yang Maha Mulia yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan" dan "Duli Yang Maha Mulia Raja Negeri Sembilan". Digunakan dua istilah disini, yaitu "Yang Dipertuan Besar" dan "Raja" buat di DYMM Raja Negeri Sembilan.</li>
<li>Empat orang Datuk-Datuk Undang serta Tunku Besar Tampin dan empat datuk Undang (yaitu) Tunku Besar Tampin, Datuk Shahbandar Sungai Ujong, Tunku Besar Sri Menanti . . . . . . .</li>
</ol>
Yang amat menjadi pertanyaan buat kami ialah :
<ol type="1" start="1">
<li>Apakah gelaran yang sebenarnya kepada DYMM Raja Negeri Sembilan : Yang Dipertuan Besar kah atau Raja ?</li>
<li>Bermula dituliskan bahwa ada empat orang Datuk-Datuk Undang serta Tunku Besar Tampin sebagai ahli dari pada Dewan Keadilan dan Undang. Hal ini bermakna bahwa Dewan Keadilan mempunyai lima orang ahli. Kemudian dijelaskan bahwa Dewan</li>
</ol><noinclude>{{rh|46||}}</noinclude>
irjqfrs3j3lsiljezc4cyy7eq6ttlv4
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/51
104
115152
321821
318506
2026-10-16T16:14:56Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321821
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Keadilan dan Undang Negeri Sembilan itu anggotanya terdiri dari DYMM Raja Negeri Sembilan sendiri sebagai Ketua dan dan empat orang Datuk-Datuk Undang sebagai anggota. Yang beliau sebut hanya tiga orang Datuk Undang saja, yaitu Tunku Besar Tampin, Datuk Shahbandar Sungai Ujong dan Tunku Besar Sri Menanti. Jadinya :
i) Apakah Dewan Keadilan dan Undang ini terdiri atas: DYMM Raja Negeri Sembilan sebagai anggota dan Ketua dengan empat orang Datuk Undang sebagai anggota, dan oleh karena itu punya lima orang ahli, termasuk DYMM Raja Negeri Sembilan sebagai Ketua, ataukah
ii) Beranggotakan enam orang, dengan DYMM Raja Negeri Sembilan sebagai Ketua, empat orang Datuk Undang serta Tunku Besar Tampin (dengan tidak mengikut sertakan beberapa orang anggota yang tidak resmi yang ditunjuk dan diangkat oleh DYMM Raja Negeri Sembilan)?
<ol type="1" start="3">
<li>Perkara terakhir yang sangat menarik hati kami ialah tugas dari pada Dewan Keadilan dan Undang, yang terhadap kepada "khusus membincangkan adat istiadat dan soal-soal yang bersangkutan dengan Agama Islam sahaja".</li>
</ol>
''{{sp|GelaranRaja:}}''
Adapun ada kaitan kekeluargaan antara keluarga diraja Negeri Sembilan masa kini dengan keluarga diraja Minangkabau di Pagarruyang dijelaskan di dalam risalah yang tersebut di dalam bab "Asal Usul Dan Kedatangan Raja-Raja Negeri Sembilan" (muka 22–30). Perkara ini cukup diketahui di Negeri Sembilan dan tidak payahkan kami membentangkannya semula di sini.
YB Datuk Abdul Samad Idris telah menuliskan bahwa "Raja Pagarruyang telah berkenan mengirimkan seorang putranya ke Negeri Sembilan bernama Raja Mahmud, yang kemudian dipanggilkan dengan Raja Melewar, Raja Melewar ditabalkan atau dinobatkan menjadi Raja yang pertama (di Negeri Sembilan) dalam tahun 1773 dan 23 tahun kemudian yakni pada tahun 1795 Raja Melewar mangkat."
Mengikut hemat kami, ada sesuatu kekeliruan dalam ayat tersebut di atas. Yang disebut raja Pagarruyang sejak akhir abad ke 17 tidak mempunyai kuasa politik apa-apa di Minangkabau. Raja Pagarruyang bukanlah tokoh politik sebagaimana halnya dengan raja-raja di Eropah ataupun raja-raja di Jawa umpamanya dalam kurun yang sama. Raja Minangkabau sejak akhir kurun ke 17 atau awal kurun ke 18 hanya merupakan lambang sahaja dan tidak memainkan peranan politik apapun juga lagi. Jawatan raja dipecah tiga, yaitu:
::''Raja Alam di Pagarruyang''
::''Raja Adat di Buo, dan''
::''Raja Ibadat di Kumanih.''
Inilah yang dinamai "Raja Nan Tigo Selo". Pembagi jawatan diraja atas tiga orang itu adalah sebagai akibat dari perang Saudara yang rupanya telah melanda Minangkabau pada akhir kurun ke 17.<noinclude>{{rh|||47}}</noinclude>
dzvh8g5oclfbkikw033kwdnenxxo8hz
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/52
104
116760
321819
321502
2026-10-16T16:14:00Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321819
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude><center>
'''MINANGKABAU DAN NEGERI SEMBILAN'''
'''Pertalian Sejarah dan Kaitan Kebudayaannya'''
O l e h
'''DRS. MOHD. DAHLAN MANSOER'''
'''UNIVERSITI MALAYA.'''
</center>
''Pendahuluan :''
{{dropinitial|P}}ada tahun 1970 YB Datuk Abdul Samad Idris telah menerbitkan sebuah buku kecil bertajuk "Hubungan Minangkabau Dengan Negeri Sembilan Dari Segi Sejarah Dan Kebudayaan", dikeluarkan oleh Pustaka Asas Negeri, Seremban. Pada masa menulis risalah singkat itu YB Datuk Abdul Samad Idris masih menjabat Menteri Muda Pembangunan Negara dan Luar bandar. Risalah yang tersebut dimaksudkan untuk dibaca dimuka Seminar Adat Minangkabau, yang dilangsungkan di Batu Sangkar, Sumatera Barat, antara 1hb. hingga 8hb. Ogos, 1970 Pada muka 11 - 12, beliau menuliskan sebagai berikut :
::Negeri Sembilan mempunyai seorang raja, yang disebutkan secara lengkap Duli Yang Maha Mulia yang dipertuan Besar Negeri Sembilan..... dan empat orang Datuk-datuk Undang serta Tunku Besar Tampin...... Sejak dahulu dan sampai sekarang, Negeri Sembilan mempunyai satu badan yang disebut Dewan Keadilan dan Undang, yang anggotanya terdiri dari Duli Yang Maha Mulia Raja Negeri Sembilan sebagai Ketua, empat orang Datuk Undang sebagai anggota, Tunku Besar Tampin, Datuk Shahbandar Sungai Ujong, Tunku Besar Sri Menanti dan beberapa orang anggota yang tidak resmi ditunjuk dan diangkat oleh raja dalam badan ini. Adapun tugas dari pada Dewan Keadilan undang ini khusus untuk membincangkan Adat dan soal-soal yang bersangkutan dengan Agama Islam sahaja.
Diantara perkara yang sangat menarik hati dari pada tulisan YB Datuk Abdul Samad Idris yang dikutip di atas ialah :
# Raja Negeri Sembilan disebut dengan nama "Duli Yang Maha Mulia Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan" dan "Duli Yang Maha Mulia Raja Negeri Sembilan". Digunakan dua istilah disini, yaitu "Yang Dipertuan Besar" dan "Raja" buat di DYMM Raja Negeri Sembilan.
# Empat orang Datuk-Datuk Undang serta Tunku Besar Tampin dan empat datuk Undang (yaitu) Tunku Besar Tampin, Datuk Shahbandar Sungai Ujong, Tunku Besar Sri Menanti..........
:Yang amat menjadi pertanyaan buat kami ialah :
# Apakah gelaran yang sebenarnya kepada DYMM Raja Negeri Sembilan : Yang Dipertuan Besar kah atau Raja ?
# Bermula dituliskan bahwa ada empat orang Datuk-Datuk Undang serta Tunku Besar Tampin sebagai ahli pada Dewan Keadilan dan Undang. Hal ini bermakna bahwa Dewan Keadilan mempunyai lima orang ahli. Kemudian dijelaskan bahwa Dewan<noinclude>{{rh|46||}}</noinclude>
5wizlv6ophd2699wn57e3k5gpmne8yr
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/53
104
116762
321820
321506
2026-10-16T16:14:23Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321820
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Keadilan dan Undang Negeri Sembilan itu anggotanya terdiri dari DYMM Raja Negeri Sembilan sendiri sebagai Ketua dan empat orang Datuk-Datuk Undang sebagai anggota. Yang beliau sebut hanya tiga orang Datuk Undang saja, yaitu Tunku Besar Tampin, Datuk Shahbandar Sungai Ujong dan Tunku Besar Sri Menanti. Jadinya :
i) Apakah Dewan Keadilan dan Undang ini terdiri atas: DYMM Raja Negeri Sembilan sebagai anggota dan Ketua dengan empat orang Datuk Undang sebagai anggota, dan oleh karena itu punya lima orang ahli, termasuk DYMM Raja Negeri Sembilan sebagai Ketua, ataukah
ii) Beranggotakan enam orang, dengan DYMM Raja Negeri Sembilan sebagai Ketua, empat orang Datuk Undang serta Tunku Besar Tampin (dengan tidak mengikut sertakan beberapa orang anggota yang tidak resmi yang ditunjuk dan diangkat oleh DYMM Raja Negeri Sembilan)?
3)— Perkara terakhir yang sangat menarik hati kami ialah tugas dari pada Dewan Keadilan dan Undang, yang terhadap kepada "khusus membincangkan adat istiadat dan soal-soal yang bersangkutan dengan Agama Islam sahaja".
''{{sp|GelaranRaja :}}''
Adapun ada kaitan kekeluargaan antara keluarga diraja Negeri Sembilan masa kini dengan keluarga diraja Minangkabau di Pagaruyung dijelaskan di dalam risalah yang tersebut di dalam bab "Asal Usul Dan Kedatangan Raja-Raja Negeri Sembilan" (muka 22--30). Perkara ini cukup diketahui di Negeri Sembilan dan tidak payahkan kami membentangkannya semula di sini.
YB Datuk Abdul Samad Idris telah menuliskan bahwa "Raja Pagarruyung telah berkenan mengirimkan seorang putranya ke Negeri Sembilan bernama Raja Mahmud, yang kemudian dipanggilkan dengan Raja Melewar, Raja Melewar ditabalkan atau dinobatkan menjadi Raja yang pertama (di Negeri Sembilan) dalam tahun 1773 dan 23 tahun kemudian yakni pada tahun 1795 Raja Melewar mangkat."
Mengikut hemat kami, ada sesuatu kekeliruan dalam ayat tersebut di atas. Yang disebut raja Pagarruyung sejak akhir abad ke 17 tidak mempunyai kuasa politik apa-apa di Minangkabau. Raja Pagarruyung bukanlah tokoh politik sebagaimana halnya dengan raja-raja di Eropah ataupun raja-raja di Jawa umpamanya dalam kurun yang sama. Raja Minangkabau sejak akhir kurun ke 17 atau awal kurun ke 18 hanya merupakan lambang sahaja dan tidak memainkan peranan politik apapun lagi. Jawatan raja dipecah tiga, yaitu:
:''Raja Alam di Pagaruyung''
:''Raja Adat di Buo, dan''
:''Raja Ibadat di Kumanih.''
Inilah yang dinamai "Raja Nan Tigo Selo". Pembagi jawatan diraja atas tiga orang itu adalah sebagai akibat dari perang Saudara yang rupanya telah melanda Minangkabau pada akhir kurun ke 17.<noinclude>{{rh|||47}}</noinclude>
deuur3uy3f9b58osg3995yvtwxxckvo
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/54
104
116764
321818
321509
2026-10-16T16:13:05Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321818
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Bahwasanya ada perang saudara itu boleh kita baca dalam "Daghregister" tahun 1680. Daghregister adalah merupakan buku catatan harian VOC di Batavia yang menceriterakan segala kejadian yang dihantar oleh wakil-wakil Lembaga Perniagaan Belanda itu dari daerah-daerah Indonesia, Malaysia, Siam, Jepun, Cina dan lain-lain lagi. Demikian pula, biarpun adanya kenyataan yang tidak sangat jelas dapat kita baca dalam tambo-tambo Minangkabau mengenai adanya perang saudara yang mengakibatkan terbagi tiga jawatan raja Minangkabau itu.
Dalam buku "Mustiko Adat Alam Minangkabau" yang disusun oleh Dt. Sangguno Dirajo (Perpustakaan Perguruan Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Jakarta 1955), muka 77 dituliskan (dengan terjemahan secara bebas dalam bahasa Malaysia) sebagai berikut :
Lamalah pula antaranya, bermufakat isi laras nan dua, yaitu Laras Koto--Piliang dan Laras Bodi Caniago, mengadap ke bunga setangkai, memohon kepada raja disitu supaya mau beliau berpindah, yaitu ke Bukit Batu Patah, sebab karena raja itu sangat keras perintahnya, dalam sungai Tarab. Sebab permintaan orang banyak, jadilah pindah raja itu dari negeri sungai Tarab yang bernama Bunga Setangkai beralih tempat ke Bukit Batu Patah . . . . . . . . . Tidak berapa lamanya hamillah tuan puteri Jamilan, isteri raja tadi, sampai pula lahir anaknya; maka berpesan raja itu ke dalam negeri Sungai Tarab meminta ruyung anak dan isteri baginda sebab pada ketika itu banyak buaya dihulu sungai itu, lalu dipagar hulu sungai itu, jadi bernama ia raja yang berpagar ruyung.
Demikianlah keterangan asal mula nama Pagar ruyung. Pada masa kini pekan Pagarruyung dekat bandar Batusangkar lagi ada di bawah bukit Batu Patah, dan dinamai Gudam Tiga Balai. Letak pekan itu sangat terpencil. Sungai yang mengalir dekat pekan itu dangkal airnya dan tidaklah mungkin kiranya ada buaya disana. Apabila kutipan di atas kita bandingkan dengan berita Belanda di dalam Daghregister 1880, yang lebih kurang berbunyi :
Berita-berita yang diterima dari mereka yang datang dari pada daerah pegunungan membenarkan bahwa disekitar istana Minangkabau sedang berlangsung perlawanan dan perang di bawah pimpinan Tuan Regen Sungai Tarab dan Butipuh, karena mereka tidak hendak' mengakui dan menerima raja baharu itu sebagai Dipertuan mereka.
Akan jelaslah bahwa perpindahan raja yang sangat keras perintahnya itu dari Sungai Tarab ke Pagarruyung, bukanlah atas permintaan orang ramai dan dengan sukarela tetapi oleh karena dipaksa. Golongan adat di bawah pimpinan Regen Sungai Tarab, Penghulu Adat Perpatih nan Sebatang dan Regen Butipuh - Tanah Datar, Penghulu Adat Datuk Ketemenggungan memaksa raja berpindah ke Pagarruyung Gudam Tigo Balai masa kini.
Lalu terjadilah satu sistem politik "balance of power" yang sangat unik dalam sejarah Minangkabau. Untuk menghindarkan rajaraja Minangkabau pada masa yang datang "sangat keras perintahnya",<noinclude>{{rh|48||}}</noinclude>
80hwp0p2toto2olevyb077ja06w7fyy
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/55
104
116765
321816
321510
2026-10-16T16:11:37Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321816
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>jawatan raja dipecah tiga, dinamai "Rajo nan Tigo Selo". Mereka masing-masing tidak mempunyai kuasa politik apa-apa hanya merupakan lambang sahaja.
Disamping raja nan tigo selo itu dibentuk pula semacam Dewan Keadilan dan Undang, pemegang kuasa politik yang sebenar. Ahli-ahlinya terdiri dari Titah Sungai Tarab, Tuan Kadi di Padang Ganting, Indomo di Suroaso, Makhudum di Sumanik dan Tuan Gadang di Batipuh.
Dewan ini dinamai "Basa nan Ampek Balai". Tuan Gadang di Batipuh menjawat semacam turus angkatan perang tetapi tidak punya tentara. Politik "Balance of power" ini berlaku pula di dalam Dewan nan Ampek Balai sendiri. Kepada raja-raja Minangkabau diberikan gelaran yang dipertuan disingkatkan kepada Yamtuan. Dalam bahasa Minangkabau perkataan "tuan" bermakna "abang". Kepada raja Minangkabau yang bertiga itu diberi gelar dapat penghormatan sebagai abang, lain tidak. Dalam istilah asingnya, "primusinterpares" yang bermakna "yang pertama di antara yang sama". Artinya orang yang didahulukan selangkah dan didudukkan setingkat lebih tinggi.
Kepada Dewan Basa nan Ampek Balai itulah utusan dari sembilan puak orang asa! dari Minangkabau pada awal abad ke 10 datang mengadap meminta diberi seorang penghulu, yang akan bertindak sebagai pemimpin mereka ditanah Melayu ini. Kepada putra raja Alam di Pagarruyung yang ditunjuk oleh Dewan Basa nan Ampek Balai dan kemudian dikenal sebagai raja Melewar pada tahun 1773 diletakkan gelar yamtuan pula, bukan raja. Beliau bertindak dan dianggap sebagai abang oleh penghulu yang sembilan di Tanah Melayu. Gelaran Yamtuan itulah yang turun temurun hingga kepada masa kini. Kami yakin gelaran DYMM Raja Negeri Sembilan bukanlah Raja, tetapi Yang Dipertuan.
Dewan Keadilan dan Undang :
Penghulu-penghulu penduduk tanah Melayu asal Minangkabau di negeri Sembilan kemudian disusun jumlah ahlinya serupa dengan yang di Minangkabau, yaitu terdiri atas empat orang serta dengan Tunku Besar Tampin. Beliau memainkan peranan yang kira-kira sebanding dengan peranan Tuan Gadang Batipuh di Minangkabau. Serupa pula keadaannya dengan Dewan Basa nan Ampek Balai di Minangkabau. Di Negeri Sembilan Dewan Keadilan dan Undanglah yang memainkan peranan politik pada mulanya.
Akibat perang Padri di Minangkabau (lebih kurang 1822 - 37) keluarga diraja dan Basa nan Ampek Balai mati terbunuh semuanya, tertinggal yang dinegeri Sembilan masa kini saja lagi. Penghulu terakhir dari keluarga diraja Minangkabau yang tiba dinegeri Sembilan pada awal abad ke 19 dengan gelaran Yamtuan terputus hubungannya dengan Pagarruyung. Jawatan beliau jadi turun temurun, tetapi dengan pengertian bahwa apabila beliau mangkat, Dewan Keadilan dan Undanglah yang berwenang untuk menunjuk dan mengangkat siapa diantara kerabat baginda yang boleh menggantikan sebagai Yamtuan.<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude>
gpmypxbyzscjklea1uwlx7r4a8mod3h
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/56
104
116772
321817
321518
2026-10-16T16:12:21Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321817
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Negeri Sembilan. Tradisi dan kebiasaan ini dipegang teguh di Negeri Sembilan hingga sekarang.
Perkembangan sejarah ditanah Melayu sejak menjelang akhir abad ke 19 merubah kedudukan dan membatasi kuasa Dewan Keadilan dan Undang. Dewan ini hanya khusus untuk membincangkan adat istiadat dan soal-soal yang bersangkutan dengan agama Islam sahaja. Kuasa politik yang dipunyai oleh Dewan Keadilan itu sejak awal berpindah kepada Lembaga Negara yang lain.
Yang Dipertuan Agung :
Institusi Raja didampingi oleh Dewan Keadilan dan Undang dinegeri Sembilan selepas tanah Melayu bebas dari kuasa Inggeris diambil alih oleh Kerajaan Federal. Majelis Raja-raja Melayu dibentuk yang berperan sedikit sebanyak sebagai Dewan Keadilan dan Undang yang berperanan sedikit sebanyak sebagai Dewan Keadilan dan Undang dinegeri Sembilan. Salah seorang dari pada raja-raja menganggotai Majelis raja-raja dipilih sebagai ketua negara untuk masa yang terhad. Kepada baginda diberi gelar Yang Dipertuan Agung, maknanya baginda yang dijadikan raja tertua diantara raja-raja. Kedudukan Yang Dipertuan Agung tidaklah turun temurun dari ayah ke anak. Apabila dinegeri Sembilan Dewan Keadilan dan Undanglah dengan jalan mufakat menentukan siapa diantara putra-putra dan kerabat Yang Dipertuan Agung akan ditunjuk sebagai Yamtuan Negeri Sembilan. Majelis Raja-raja Melayu dengan jalan menyurat pula memilih dan menentukan bersama siapa diantara Raja-raja Melayu yang akan dipilih dan ditunjuk sebagai Yang Dipertuan Agung. Selepas masa perkhidmatan Yang Dipertuan Agung yang terdahulu selesai sama baginda wafat atau tamat tempohnya.
Samalah keadaannya dengan Dewan Keadilan dan Undang Negeri Sembilan yang diketuai oleh DYMM Yang Dipertuan Besar dan kuasanya terhad kepada membincangkan hal-hal berkenaan dengan soal-soal adat dan agama Islam sahaja. Majelis Raja-raja pula yang diketuai oleh DYMM Yang Dipertuan Agung tugasnya terhad kepada soal-soal adat dan agama Islam sahaja.
Apabila di Minangkabau institusi Raja nan Tigo Selo dan Dewannan Basa Ampek Balai dihapuskan oleh perang Padri di Malaysia masa kini institusi yang berasal dari Minangkabau itu dihidupkan terus. Dinegeri Sembilan dalam bentuk Dewan Keadilan beranggotakan empat orang datuk Undang serta Tunku Besar Tampin yang diketuai oleh DYMM Yang Dipertuan Besar, dalam Kerajaan Federal di Malaysia institusi itu dilanjutkan dalam bentuk Majelis Raja-raja, diketuai oleh DYMM Yang Dipertuan Agung.
{{sp|Kesimpulan :}}
Hubungan sejarah yang menurut Datuk Abdul Samad Idris sudah ada antara Minangkabau dengan Negeri Sembilan sejak abad ke 15 lagi diikuti oleh hubungan kebudayaan dan pertalian darah telah mengakibatkan terjalin erat hubungan jiwa dan hubungan perasaan.<noinclude>{{rh|50||}}</noinclude>
nujca14td072dluogvb59c6pgsyuuxq
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/57
104
116773
321815
321519
2026-10-16T16:10:48Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321815
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>antara penduduk Melayu asal Minangkabau di negeri Sembilan dengan penduduk di Minangkabau.
Hubung-hubungan di atas dipererat dengan adanya kaitan kekeluargaan antara keluarga diraja Negeri Sembilan dengan Pagarruyung sejak bahagian kedua kurun ke 18. Gelaran Yang Dipertuan Agung buat raja dinegeri Sembilan berasal dari gelaran Raja di Minangkabau di Pagarruyung, Buo, dan Kumanih, yang dihapuskan di Minangkabau akibat perang Padri. Institusi Dewan Keadilan dan Undang dinegeri Sembilan pada dasarnya serupa dengan institusi Dewan Basa nan Ampek Balai di Minangkabau sebelum ianya dihapuskan. Institusi itu pada peringkat kerajaan Federal dinamai Majelis Raja-raja yang diketua oleh DYMM Yang Dipertuan Agung. Jawatan DYMM Yang Dipertuan Agung pada dasarnya serupa dengan jawatan DYMM Yang Dipertuan Besar negeri Sembilan.
Yang tersebut di atas inilah satu diantara warisan kebudayaan Minangkabau dinegeri Sembilan dan di Malaysia amnya yang lagi hidup hingga kepada masa kini.
Diucapkan di Majelis Makan Malam anjuran Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Negeri Sembilan (Bahagian Kuala Pilah), di Dewan Bendahara Kuala Pilah pada 10hb. November, 1973.-
{{center|*******}}<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
k8nd2t80v7qe4pqgkfxxrev1znpruxt
Halaman:176 Samosir, Toba Batak.djvu/20
104
116858
321763
321676
2026-10-16T13:22:09Z
Thersetya2021
15831
321763
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>5.4. Malay<br>
5.5.1. No<br>
5.5.2. No<br>
5.5.3. No<br>
5.6 Only the teeth are filed, but not so generally as among the Karo Batak.<br>
5.8. Word medial n and m, if directly followed by a consonant
<in the Batak spelling?> assimilate to this consonant in the spoken language, thus an-sim (see nr 1166) is pronounced as-sim.<br>
5.10. Yes, as in Malay: nēnēk = long e<br>
5.11. short e<br>
5.12. short o<br>
5.13. e<br>
5.14. .. and k <VV><br>
5.15. oe<br>
5.16. In bisyllabic words the last syllable carries the stress;
in words of three or more syllables the second syllable is stressed.
{{c|[[File:176 Samosir, Toba Batak (page 20 crop).jpg|300px|176 Samosir, Toba Batak (page 20 crop)]]<br><br>Samosir and Tapanuli}}<noinclude></noinclude>
hayko40kxjtocxg7ztugjbnaj3uiqfu
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/59
104
116882
321814
321726
2026-10-16T16:10:11Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321814
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Kemudian penulisnya sampai kepada beberapa kesimpulan yang antara lain menyatakan bahwa, kecendrungan merantau suku Minangkabau disebabkan antara lian satu aspek pribadi dan karakter yang merupakan sikap mental dalam reaksinya terhadap lingkungan alamnya. Komplek kejiwaan yang tak pernah terselesaikan merupakan dorongan kecendrungan merantau itu. Sedangkan kecendrungan merantau itu telah terlihat gejalanya sepanjang sejarah sejak periode sebelum Adityawarman, kedatangan Islam, pengaruh kebudayaan Barat sampai dengan sekarang.
Sebagai akibat merantau itu beberapa aspek kehidupan orang Minangkabau baik yang tinggal di kampung maupun yang di rantau mengalami penyesuaian dan perubahan kebudayaan secara evolusi.
Di bagian akhir, dalam rangka menghadapi problem merantau dewasa ini, penulisnya menyarankan suatu pola perencanaan, di mana lapangan kerja baru terutama bagi tenaga-tenaga muda yang sifatnya praktis, operasionil dan pragmatis dapat diciptakan.
<center>******</center><noinclude>{{rh|||53}}</noinclude>
cvswrhx0b14ogu7ehtjnejiw3tfoijt
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/60
104
116883
321812
321728
2026-10-16T16:09:13Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321812
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude><center>
'''PERANAN KEPEMIMPINAN INFORMIL DALAM PROSES PEMBANGUNAN REGIONAL.'''<br>
Oleh : Rustian Kamaluddin<br>
''Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang''<br>
''Suatu Case Study Sumatera Barat. Dikutip dari Majalah Management dan usaha Indonesia. Edisi 8, November 1973.''<br>
</center>
''P e n d a h u l u a n.''
''Daerah Sumatera Barat merupakan salah satu dari dua puluh enam buah propinsi yang terdapat di Indonesia. Luas propinsi ini adalah kira-kira 46 ribu km² atau 3,26% dari luas Indonesia, yang terletak di pulau Sumatera yang membujur dari Utara ke Selatan.''
''Propinsi ini terdiri dari 8 buah kabupaten dan 6 buah kotamadya yang kesemuanya meliputi 80 buah kecamatan dan kecamatan-kecamatan ini keseluruhannya terdiri dari 543 buah negari atau desa.''
''Pendapatan regional dari propinsi ini pada tahun 1969 kira-kira Rp. 53.447 juta, yaitu kira-kira 2,5% dari jumlah pendapatan nasionalnya. Dan dalam pembentukan pendapatan ini sektor yang memegang peranan utama adalah sektor pertanian (47%), kemudian menyusul sektor perdagangan (26%), pemerintahan (7%), industri (6%) dan seterusnya. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa kehidupan ekonomi dan sosialnya terletak pada sektor pertanian, sedangkan sektor-sektor lainnya adalah berkaitan dan erat hubungannya dengan pertanian tersebut.''
''Penduduk daerah ini berjumlah 2.793 ribu jiwa, kira-kira 2,34% dari jumlah penduduk Indonesia, dan hampir keseluruhan penduduknya terdiri dari orang-orang yang bersuku bangsa Minangkabau. Masyarakat Minangkabau ini hampir keseluruhannya (97%) beragama Islam, dan pada umumnya hidup dalam lingkungan adat Minangkabau yang berlaku matrineal dan communal yang memiliki jiwa gotong royong. Kehidupan Sosial Minangkabau inilah yang mendasari berkembangnya unsur-unsur kepemimpinan disini yang meliputi 3 unsur kepemimpinan yang utama, yaitu ninik mamak (adat), alim ulama (agama) dan cerdik pandai (Intelektuil).''
'''1. Peranan Leadership Diantara Faktor-Faktor Sosial Ekonomis Lainnya.'''
Pada masa ini negara Indonesia, khususnya propinsi Sumatera Barat, sedang menjalankan proses pembangunan ekonomi dan sosial dalam rangka rencana pembangunan lima tahunnya yang bertahap-tahap. Dalam era pembangunan ini untuk merencanakan, menggerakkan dan mengatur pengarahan segala faktor-faktor sosial ekonomisnya adalah besar sekali peranannya faktor kepemimpinan.
Pengalaman dinegara ini sebagaimana kebanyakan negara-negara lainnya menunjukan bahwa sungguhpun modal cukup tersedia betapa<noinclude>{{rh|54||}}</noinclude>
3lzryxfnshkgdhad3v3468g3udift3s
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/61
104
116884
321813
321729
2026-10-16T16:09:39Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321813
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>pun besarnya sumber-sumber kekayaan alam, betapapun banyaknya potensi tenaga kerja, dan sebagainya, kesemuanya ini tidak akan banyak artinya, apabila tak cukup tersedia tenaga kepemimpinannya. Yaitu kepemimpinan yang mempunyai keahlian, dedikasi dan "committed" terhadap pembangunan.
Berpangkal tolak pada masyarakat, pendapat bahwa faktor manusia dengan segala tingkah lakunya, ketrampilan dan keahliannya, dan sebagainya adalah merupakan unsur yang menentukan berhasil tidaknya suatu negara atau daerah dalam melaksanakan pembangunan untuk mencapai tujuannya. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa kepemimpinan dari faktor manusia inilah yang sangat besar artinya dan peranannya dalam proses pembangunan.
Dalam hubungan dengan apa yang dikemukakan diatas bagi daerah propinsi Sumatera Barat dapat dikemukakan suatu contoh yang dialami beberapa tahun terakhir ini. Dua buah kabupaten, yaitu Tanah Datar dan Agam, dapat dikatakan mempunyai potensi dan unsur-unsur ekonomis sosial yang kira-kira hampir sama. Tetapi perbedaannya ialah terletak pada unsur kepemimpinannya, khususnya pimpinan formilnya. Karena Bupati Tanah Datar dengan kepemimpinannya berjalan dengan baik dan efektif, sedangkan Bupati Agam dengan kepemimpinannya kurang menunjukan efektivitasnya. Maka dari itu perkembangan dan pembangunan Kabupaten Tanah Datar berjalan jauh lebih baik dan berhasil ibandingkan dengan Kabupaten Agam. Sehingga pada tahun 1973 Bupati Tanah Datar tersebut dipromosikan untuk menduduki jabatan Sekretaris Daerah sebagai orang kedua dibawah Gubernur, sedangkan Bupati Agam diberhentikan dari jabatannya untuk selanjutnya hanya bertugas sebagai staf pembantu pada kantor Gubernur. Dari contoh ini terlihat betapa besarnya peranan kepemimpinan daerah bagi berhasil tidaknya usaha-usaha yang dilakukan dalam pembangunan daerahnya.
'''2. Kelompok Elite Yang Menjalankan Fungsi Leadership.'''
Pada dasarnya kepemimpinan dianggap terletak pada golongan elite, yaitu orang-orang yang terpilih atau mereka yang berpengaruh dikalangan masyarakat. Jadi didalam setiap bidang dalam masyarakat, seperti bidang-bidang politik, ekonomi, sosial, agama, pemerintahan adat dan sebagainya terdapat sekelompok orang-orang yang dianggap "elite"nya.
Diantara kelompok "elite" ini sebagian ada yang tidak mempunyai "impact" sosial untuk mencukupi sebagian besar anggota masyarakatnya. Akan tetapi ada pula sebagian kelompok "elite" tertentu yang dengan pendapat dan tindakan-tindakannya mempunyai akibat yang penting dan menentukan bagi kehidupan anggota masyarakat yang bersangkutan. Kelompok yang terakhir ini yang disebut sebagai strategic elites, yang kriteria strategisnya itu terletak pada bidangnya masing-masing dan juga pada jumlah besar anggota masyarakat yang dibawah pengaruhnya.<noinclude>{{rh|||55}}</noinclude>
srb3e0130l5whes6kcvnbet5ek33lu1
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/62
104
116885
321811
321730
2026-10-16T16:08:14Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321811
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Dengan demikian didalam suatu masyarakat dan negara atau daerah, terdapat golongan "elite" ini khususnya yang berupa "strategic elites" yang memegang peranan fungsi "leadership". Dan jika kita perhatikan dari segi legitimasinya, segi pengesahannya, kepemimpinan ini ada yang bersifat "formal leadership" dan ada pula yang "informal leadership". Dalam hal "formal leadership" pimpinan yang bersangkutan diangkat atau dikukuhkan dengan surat keputusan dari pemerintah, misalnya; kepala-kepala daerah, pimpinan pimpinan bank, kepala kepala dinas/jawatan, dan sebagainya. Sedangkan informal leadership adalah berupa kepemimpinan tidak resmi yang timbul atau tercipta dikalangan masyarakat sendiri. Mereka diakui kepemimpinannya karena kriteria-kriteria atau unsur-unsur tradisional, seperti; keturunan, senioritas, adat, agama, dan lain-lain. Dan juga ada diantaranya yang didasarkan atas kriteria obyektif, seperti; pendidikan, keahlian dan ketrampilan dalam bidang yang dipimpin mereka masing-masing.
Di daerah Sumatera Barat yang memegang fungsi formal leadership dalam bidang pemerintahan ialah Gubernur dan staf, Bupati dan staf, Camat-camat dan Kepala-kepala Negari (Desa). Dan juga pimpinan dinas dan lembaga pemerintahan lainnya, seperti; Direktur-direktur Bank, Kepala-kepala Jawatan, dan sebagainya. Sedangkan yang memegang peranan informal leadership adalah pimpinan atau pemuka masyarakat yang terdapat dikalangan masyarakat adat (disebut ninik mamak), pada golongan agama (disebut alim ulama) dan dilingkungan kaum intelektuil (disebut cerdik pandai). Baik formal leaders maupun informal leaders yang terdapat didaerah ini dalam batas-batas wewenang dan pengaruhnya masing-masing sama-sama memegang peranan sebagai kepemimpinan masyarakat.
'''3. Pengaruh Kelompok-kelompok Kepemimpinan Informil.'''
Dalam melaksanakan fungsinya dibidang pemerintahan dan pembangunan daerah, terdapat keterbatasan-keterbatasan dari kepemimpinan formil dalam menjalankan tugasnya. Selain daripada wewenang mereka terbatas dalam bidang dan lingkungannya masing-masing, keterbatasan atau hambatan lainnya ialah dalam hal kepemimpinannya yang tidak efektif. Tidak efektifnya kepemimpinan mereka ini terutama antara lain karena respons dan partisipasi dari masyarakat didaerahnya. Dengan demikian dalam usaha-usaha mereka untuk melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan, mereka kurang mendapat dukungan dari masyarakat. Dan sering kali pula masyarakat kurang mengerti atau kurang dapat menerima kepemimpinannya, sehingga masyarakat dilingkungannya bersikap pasif dan apatis terhadap kebanyakan usaha-usahanya.
Hal-hal yang dikemukakan diatas itu dasarnya terjadi karena adanya jurang pemisah atau gap antara masyarakat luas yang merupakan masanya. Untuk menghilangkan gap tersebut atau untuk mendekatkan para pemimpin formil dengan massanya, diperlukan "perantara", yang dalam hal ini adalah pemimpin-pemimpin masyarakat, yang merupakan kepemimpinan informil. Mereka ini diharapkan<noinclude>{{rh|56||}}</noinclude>
izahan5bs3z7ajcudyq08sq4fgzuge3
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/63
104
116886
321810
321731
2026-10-16T16:07:25Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321810
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>akan dapat menginterpretasikan segala rencana dan kebijaksanaan pemerintah dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh masyarakat.
Pendekatan-pendekatan yang disebutkan diatas dapat dilakukan oleh pimpinan informil yang berupa pimpinan tingkat menengah dan tingkat bawah, yang lebih dekat dan langsung hidup ditengah-tengah masyarakat.
Pendekatan-pendekatan yang disebutkan diatas dapat dilakukan oleh pimpinan informil yang berupa pimpinan tingkat menengah dan tingkat bawah, yang lebih dekat dan langsung hidup ditengah-tengah masyarakat.
Karena pengaruh unsur-unsur tradisionil dan keagamaan yang telah berakar dikalangan masyarakat, maka umumnya mereka ini lebih didengar, dimengerti dan dipatuhi oleh masyarakat luas.
Sehubungan dengan apa yang telah dikemukakan diatas, di Sumatera Barat golongan pemimpin informil ini adalah berupa; ninik mamak (adat), alim-ulama (agama) dan cerdik pandai (intelektuil). Akan tetapi karena bagian terbesar masyarakat disini masih hidup didaerah rural, pada umumnya kelompok ninik mamak dan alim ulama lebih berpengaruh dan memegang peranan besar dalam kehidupan masyarakat.
Menyadari kenyataan demikian ini, maka pemerintah daerah propinsi Sumatera Barat sejak tahun 1966 yang lalu telah mendorong dan mensuport terciptanya wadah-wadah yang secara kelembagaan mengkoordinir golongan adat ini dengan LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau) dan kelompok agama dengan lembaga-lembaga Keagamaan seperti BKPUI (Badan Kontak Perjuangan Ummat Islam), YARSI — (Yayasan Rumah Sakit Islam), dan sebagainya. Dengan pembangunan wadah-wadah dan lembaga-lembaga ini telah cukup menampakkan hasilnya dalam pembangunan, terutama dibidang sosial, ekonomi dan agama.
Sungguhpun telah ada usaha-usaha yang demikian itu masih terbatas pada pengumpulan dana dan daya untuk pembangunan bidang sosial, seperti rumah sakit, poliklinik dan balai adat serta pembangunan bidang keagamaan, seperti mesjid, surau, sekolah agama, dan sebagainya. Memang juga ada partisipasi dan kegotong-royongan masyarakat dengan melalui bantuan golongan ninik-mamak dan alim ulama dengan menggerakkan massanya dalam hal pembangunan bidang ekonomi, seperti; jalan, tali bandar untuk pengairan, dan sebagainya. Akan tetapi usaha-usaha ini relatif masih sedikit dan pada umumnya pembangunan bidang ekonomi dan sosial itu dilakukan pemerintah melalui koordinasi oleh pimpinan formil daerah. Bagi daerah-daerah dimana semakin besar partisipasi pimpinan masyarakat serta massanya, pembangunan yang dilakukan menjadi jauh lebih berhasil.
Yang jadi masalah utama dalam menggerakkan kepemimpinan informil ini untuk keperluan pembangunan ialah bahwa mereka kebanyakan masih terbelakang dalam pendidikan dan pengetahuan umum. Pada umumnya mereka berpengetahuan cukup baik hanya<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude>
leb7l00yzvzryo9qdfy30l6ajv2mkbm
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/64
104
116887
321809
321732
2026-10-16T16:06:48Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321809
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>terbatas pada pengetahuan sosial, seperti; hukum adat, tata tertib dan kehidupan sosial beragama, ajaran-ajaran agama tentang dunia akhirat, dan sebagainya. Untuk pembangunan perlu pengetahuan yang lebih dari pada ini, perlu pengetahuan dibidang ekonomi dan kemasyarakatan yang dapat menunjang pembangunan.
'''4. Komunikasi Antar Pimpinan Dalam Menggerakan Partisipasi Massa.'''
Sebagaimana yang telah diuraikan dimuka bahwa terdapat kesukaran pemerintah dalam menerangkan konsepsi dan kebijaksanaan pembangunan karena terdapatnya gap komunikasi antara pemimpin-pemimpin atasan dengan massa rakyat keseluruhannya.
Dalam hubungan ini yang terjadi bukan hanya itu saja melainkan pula terdapat kesukaran atau kelemahan lain dalam hal kepemimpinan ini, yaitu kurangnya komunikasi dan koordinasi antara pemimpin-pemimpin, baik dari pimpinan tingkat menengah dan bawah maupun diantara pimpinan masyarakat dalam tingkat yang setaraf.
Kurang adanya pengertian dan saling menunjang diantara para pemimpin tersebut, terutama karena sungguhpun ada komunikasi dan koordinasi hanyalah berlangsung secara formil saja tanpa adanya komunikasi dan dialog yang langsung, bebas dan terbuka diantara sesama mereka. Sehingga akibatnya banyak terjadi kesalahan pengertian serta hambatan-hambatan psikologis dalam melaksanakan usaha-usaha pembangunan.
Pengalaman didaerah Sumatera Barat khususnya menunjukkan bahwa adanya komunikasi yang baik menyebabkan terdapatnya pula support dan partisipasi yang lebih baik dalam melaksanakan pembangunan yang datang dari pimpinan informil beserta segenap lapisan masyarakatnya.
Sebagai contoh dapat dikemukakan pada dewasa ini tentang pembangunan yang sedang dilakukan di kotamadya Padang yang dipimpin oleh Walikotanya yang sekarang, karena adanya komunikasi yang lebih baik dengan pimpinan informil masyarakatnya, maka dapat dicapai hasil yang lebih baik dibandingkan dengan periode pimpinan Walikota yang lama dimana kerja sama dan komunikasi dengan para pimpinan lainnya tidak terjalin dengan baik. Demikian juga halnya dengan pembangunan yang terjadi di kabupaten Tanah Datar berhasil dengan relatif lebih baik dibandingkan dengan pada kebanyakan daerah-daerah tingkat II lainnya, antara lain adalah sebagai akibat adanya kepemimpinan serta komunikasi yang berjalan dengan baik.
Sunggupun demikian indikasi yang ada menunjukan bahwa komunikasi antara pimpinan dari tingkat atas sampai tingkat bawah maupun antar para pemimpin yang setingkat dalam banyak hal kurang dapat berjalan dengan harmonis, terbuka dan terkoordinir. Hal inilah yang menjadi faktor penyebab utama kenapa kurang adanya respons, partisipasi dan dedikasi dari segenap lapisan masyarakat, sehingga banyak usaha-usaha pembangunan yang dilakukan tidak mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan.<noinclude>{{rh|58||}}</noinclude>
rd9k6tz8d3cbnyhcru1e1tzbz7sezjo
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/65
104
116888
321808
321733
2026-10-16T16:06:04Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321808
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>'''5. Penilaian Umum dan Rekomendasi.'''
Dalam masa pembangunan, disamping pemimpin-pemimpin formilnya, maka peranan pemimpin-pemimpin informil adalah cukup penting sebagai tenaga yang akan menggerakkan dan pendorong untuk berhasilnya pembangunan dan modernisasi. Di propinsi Sumatera Barat pemimpin informil pada tingkat menengah dan tingkat bawah terdiri dari ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai. Karena cukup besarnya pengaruh dan massa mereka dikalangan masyarakat, maka mereka dapat dijadikan "perantara" oleh pimpinan pemerintah daerah untuk menggerakkan partisipasi massa dalam proses pembangunan. Dalam hubungan ini mereka dapat berperan dalam berkomunikasi dengan massanya melalui lembaga dan kerapatan adat, melalui lingkungan kelompok adatnya dalam masyarakat, melalui mesjid, surau-surau dan madrasah-madrasah, melalui sekolah-sekolah serta lembaga-lembaga pendidikan dan lain-lainnya.
Yang menjadi masalah dalam pemanfaatan pemimpin informil ini ialah dari segi pendidikan dan pengetahuan umum mereka yang masih serba kurang. Karena itu pengertian dan pengetahuan mereka dibidang adat dan keagamaan perlu dilengkapi dengan ilmu pengetahuan, ketrampilan dan pengertian yang diperlukan dan berorientasi pada pembangunan. Untuk pengembangan ini perlu dilakukan berbagai rupa kursus (upgrading) membagi kesempatan kepada para pemimpin tersebut untuk melakukan peninjauan ke daerah-daerah atau kota-kota lain yang kehidupan ekonomi sosialnya telah maju atau yang telah berhasil pembangunannya, dan sebagainya.
Dengan demikian mereka yang berpandangan picik dan pengetahuan yang masih terbatas itu dengan upgrading dan peninjauan tersebut akan dapat terbuka matanya, pengertiannya, dan akan menjadi berpandangan luas. Dengan demikian potensi kepemimpinan informil itu betul-betul akan dapat dimanfaatkan sebagai tenaga pembaharu, sebagai agen dari modernisasi dan pembangunan bagi daerah serta lingkungan masyarakatnya masing-masing.
Disamping hal-hal yang dikemukakan di atas, dari segi kepemimpinan ini terdapat pula hambatan atau kekurangan lainnya. Yaitu kekurangan komunikasi dan koordinasi antara sesama unsur-unsur kepemimpinan, formil dan informil, baik komunikasi dari tingkat atas ke tingkat bawah maupun komunikasi dari tingkat antar pemimpin yang setingkat. Kesemuanya perlu diatasi dan diperbaiki sedikit demi sedikit dengan mengadakan usaha-usaha komunikasi, konsultasi, dan koordinasi secara periodik dan teratur. Hal ini dapat dilakukan, baik secara formil melalui pendidikan, rapat dan konferensi kerja maupun pertemuan-pertemuan informil diantara pemimpin-pemimpin pada berbagai kesempatan dilingkungan masyarakat.
Dalam hubungan ini kepala daerah masing-masing dapat memainkan peranan penting dengan memberikan sarana iklim dan dorongan serta anjuran kearah terciptanya komunikasi dan koordinasi yang baik diantara para pemimpin tersebut. Dengan demikian akan lebih banyak terjadi dialog, sikap terbuka dan ketidak kakuan diantara<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude>
itez2nibfylwbylzoots5d7du14vqne
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/66
104
116889
321807
321736
2026-10-16T16:05:27Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321807
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>mereka serta saling hormat menghormati dan saling pengertian akan dapat tercipta pula. Kesemuanya ini dapat menjadi landasan yang baik untuk terciptanya kondisi dan iklim yang menguntungkan bagi keperluan pembangunan.
{{sp|Kepustakaan.}}
<ol type="1" start="1">
<li>Moly G. Tan dan Koentjaraningrat,</li><br>
:"Masalah Kepemimpinan Dalam Pembangunan Nasional", Perkembangan Sosial Budaya Dalam Pembangunan Nasional, Hasil Seminar LIPI, tanggal 20--24 Januari 1970 di Jakarta, 1970.<br>
<li>Universitas Andalas Padang,</li><br>
:Hasil-Hasil Perumusan Seminar Pembangunan Daerah Sumatera Bahagian Tengah, (Khusus tentang Agama dan Adat), yang diadakan di Padang, tanggal 12--18 Desember 1971.<br>
<li>Rustian Kamaluddin,</li><br>
:"Sikap Masyarakat dan Proses Modernisasi", Majalah EKONOMI, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Jakarta, 1972.<br>
<li>Suzanne Keller,</li><br>
:Beyond the Ruling Class, Strategic Elites in Modern Society, New York, Ran House, 1964.
</ol>
{{center|************}}<noinclude>{{rh|60||}}</noinclude>
fdrzuicvskmbz87j87usf2tz7vdtmic
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/67
104
116890
321806
321737
2026-10-16T16:04:50Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321806
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude><center>
'''Pemindahan Makam'''
'''SULTAN ALAM BAGAGAR SYAH'''
</center>
{{Dropcap|A}}rtikel yang ditulis oleh Drs. H. Amura berjudul "RAJA PAGARRUYUNG TERAKHIR" yang dimuat dalam Majalah Kebudayaan Minangkabau No. 1 (Januari 1974) telah mendapat sambutan dan tanggapan yang baik. Mula pertama Prof. Dr. Hamka telah berwawancara dengan wartawan harian "PELITA" yang dimuat dalam suratkabar itu pada tanggal 18 Juli 1974. Dalam wawancara itu Buya Hamka mengusulkan agar makam Sultan Alam Bagagarsyah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dari pekuburan Mangga Dua. Selanjutnya beliau mengusulkan agar kepada almarhum Sultan Alam Bagagarsyah diberikan gelar Pahlawan Nasional, karena sebelum meninggal beliau pernah berjuang melawan penjajahan Belanda dan kemudian dibuang ke Jakarta serta meninggal dalam pembuangan.
Untuk melengkapi argumentasinya itu, Buya Hamka telah menulis secara berturut-turut dalam harian "PELITA" sebanyak enam kali terbit sejak tanggal 27 Juli 1974. Dalam tulisannya itu Buya Hamka menyingkapkan secara luas siapa Sultan Alam Bagagarsyah, anak cucunya yang berkembang biak dan masih hidup, serta perjuangannya bersama Tuanku Imam Bonjol dan Sentot Ali Basya. Dari tulisannya itu pula sekali gus Buya Hamka mengemukakan fakta-fakta bahwa pada saat-saat terakhir, kaum adat yang dalam hal ini diwakili oleh Sultan Alam Bagagarsyah dan kaum agama yang diwakili oleh Tuanku Imam Bonjol membentuk front bersama menantang penjajahan Belanda.
Sebagai akibat dari penyingkapan fakta-fakta sejarah itu, maka pada bulan Agustus 1974 berkumpullah sejumlah anggota keluarga turunan Sultan Alam Bagagarsyah di Jakarta bersama dengan para ulama, cendekiawan dan sarjana sejarah untuk membicarakan persoalan makam Sultan Alam Bagagarsyah. Pertemuan itu menghasilkan terbentuknya sebuah panitia persiapan untuk menyelamatkan makam Sultan Alam Bagagarsyah di Mangga Dua yang akan digusur oleh Pemerintah D.K.I. Jaya. Panitia Sementara yang diketaui oleh Prof. Dr. Hamka itu mula pertama telah dapat menarik perhatian pers ibukota dan kemudian memperoleh kesempatan bertemu dengan Wakil Gubernur D.K.I. Jaya, Urip Widodo S.H. Pemerintah D.K.I. Jaya menyambut baik lahirnya Panitia itu dan bersedia membantu usaha-usahanya untuk memindahkan makam Sultan Alam Bagagarsyah itu ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Juga Wk. Gubernur D.K.I. Jaya menyarankan agar Panitia itu disempurnakan untuk dapat mengintensifkan usaha penelitiannya.
Atas dorongan moril yang diperoleh dari Wk. Gubernur D.K.I. Jaya itu, Panitia Sementara telah menyempurnakan dirinya dan dijadikan Panitia Besar Penyelamat Makam SULTAN ALAM BAGAGAR SYAH yang masih diketuai oleh Prof. Dr. Hamka. Panitia Besar ini<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude>
bdc0460ygd29db1cv6m5arfyohknwoi
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/68
104
116891
321805
321738
2026-10-16T16:04:24Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321805
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>telah bekerja secara terus menerus menggali bahan-bahan yang bertalian dengan perjuangan Sultan Alam Bagagarsyah. Suatu Team telah berangkat ke Sumatera Barat melakukan penyelidikan dan menemui pejabat-pebarat tinggi di daerah itu. Sementara itu di Jakarta telah dilakukan pula penyelidikan di Arsip Nasional. Kemudian terkumpullah bahan-bahan yang cukup lengkap yang membuktikan bahwa Sultan Bagagarsyah Alam memang telah melakukan pemberontakan terhadap penjajah Belanda dan kemudian ditangkap serta dibuang ke Jakarta. Beliau telah hidup dalam pembuangan sejak tahun 1833 sampai tahun 1849 tanpa merubah pendirian dan sikap politiknya menantang penjajahan Belanda.
Berdasarkan bukti-bukti yang nyata itulah Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) dengan suratnya No. B.039/LKAAM SB/11-74 tanggal 20 Nopember 1974 kepada Gubernur KDH Prop. Sumatera Barat selaku Ketua Badan Pembina Pahlawan Daerah mengusulkan agar mengambil langkah-langkah yang perlu agar Sultan Alam Bagagarsyah mendapat tempat yang wajar ditengah para Pahlawan Nasional lainnya. Gubernur Sumatera Barat Drs. Harun Zain selaku Ketua Badan Pembina Pahlawan Daerah Propinsi Sumatera Barat menyambut baik saran itu yang bertitik tolak dari usaha-usaha yang dilakukan oleh Panitia Besar Penyelamat Makam Sultan Alam Bagagarsyah. Dengan suratnya No. Humas 24/16-74 tanggal 21 Nopember 1974, yang ditunjukkan kepada Menteri Sosial R.I. selaku Ketua Badan Pembina Pahlawan Pusat, Gubernur Sumatera Barat mengusulkan agar almarhum Sultan Alam Bagagarsyah diakui sebagai Pahlawan dan makam almarhum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Proses usaha pemindahan makam almarhum Sultan Alam Bagagar-syah dan pemberian gelar Pahlawan kepada beliau berjalan cepat sekali. Pada tanggal 13 Desember 1974 dengan suratnya No. K. 324/BPPP/XII/74, Sekretaris Jenderal Departemen Sosial R.I. selaku Ketua Harian Badan Pembina Pahlawan Pusat, yang ditujukan kepada Presiden R.I. mengajukan permohonan izin pemindahan makam almarhum Sultan Alam Bagagarsyah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Dalam waktu yang relatif singkat, permohonan itu telah dijawab oleh Presiden R.I. dengan menyetujuinya.
Semula Prof. Dr. Hamka mengemukakan hipotesa bahwa almarhum Sultan Alam Bagagarsyah wafat pada tgl. 21 Maret 1849. Tetapi setelah dilakukan penelitian dari dokumen-dokumen yang otentik pada Arsip Nasional, diketemukanlah bahwa hari meninggal beliau jatuh pada tanggal 12 Pebruari 1849. Dengan keterangan yang mempunyai bukti terkuat ini, maka rencana pemindahan makam beliau yang semula direncanakan pada tanggal 21 Maret 1975, dimajukan menjadi tanggal 12 Pebruari 1975. Oleh karena itu Panitia Besar Penyelamat Makam Sultan Alam Bagagarsyah segera membentuk Panitia Pelaksana Pemindahan Makam Sultan Alam Bagagarsyah yang khusus menghadapi persoalan pemindahan makam itu.<noinclude>{{rh|62||}}</noinclude>
2wkab5pj21kgwnf4i1iy7gkcerwafmj
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/69
104
116892
321804
321739
2026-10-16T16:03:41Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321804
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Sementara itu dari pihak Pemerintah D.K.I. Jaya dan Pemerintah R.I. telah pula berkenan membentuk Panitia Negara untuk tujuan penyelenggaraan pemindahan makam Sultan Alam Bagagarsyah dengan upacara kenegaraan. Atas kesepakatan bersama Panitia Pelaksana Pemindahan Makam S.A.B. itu menggabungkan diri dengan Panitia Negara untuk bersama-sama menyelenggarakan upacara pemindahan Makam S.A.B. secara adat Minangkabau dan menurut tatacara Kenegaraan R.I. pada tgl. 12 Pebruari 1975. (H.A.)
<center>***********************</center><noinclude>{{rh|||63}}</noinclude>
p8rytssq40yc7nexph8oiv3e1c6lpj4
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/70
104
116893
321803
321740
2026-10-16T16:03:04Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321803
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>telah bekerja secara terus menerus menggali bahan-bahan yang bertalian dengan perjuangan Sultan Alam Bagagarsyah. Suatu Team telah berangkat ke Sumatera Barat melakukan penyelidikan dan menemui pejabat-pebarat tinggi di daerah itu. Sementara itu di Jakarta telah dilakukan pula penyelidikan di Arsip Nasional. Kemudian terkumpullah bahan-bahan yang cukup lengkap yang membuktikan bahwa Sultan Bagagarsyah Alam memang telah melakukan pemberontakan terhadap penjajah Belanda dan kemudian ditangkap serta dibuang ke Jakarta. Beliau telah hidup dalam pembuangan sejak tahun 1833 sampai tahun 1849 tanpa merubah pendirian dan sikap politiknya menantang penjajah Belanda.
Berdasarkan bukti-bukti yang nyata itulah Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) dengan suratnya No. B.039/LKAAM SB/11-74 tanggal 20 Nopember 1974 kepada Gubernur KHD Prop. Sumatera Barat selaku Ketua Badan Pembina Pahlawan Daerah mengusulkan agar mengambil langkah-langkah yang perlu agar Sultan Alam Bagagarsyah mendapat tempat yang wajar ditengah para Pahlawan Nasional lainnya. Gubernur Sumatera Barat Drs. Harun Zain selaku Ketua Badan Pembina Pahlawan Daerah Propinsi Sumatera Barat menyambut baik saran itu yang bertitik tolak dari usaha-usaha yang dilakukan oleh Panitia Besar Penyelamat Makam Sultan Alam Bagagarsyah. Dengan suratnya No. Humas 24/16-74 tanggal 21 Nopember 1974, yang ditujukan kepada Menteri Sosial R.I. selaku Ketua Badan Pembina Pahlawan Pusat, Gubernur Sumatera Barat mengusulkan agar almarhum Sultan Alam Bagagarsyah diakui sebagai Pahlawan dan makam almarhum dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Proses usaha pemindahan makam almarhum Sultan Alam Bagagar-syah dan pemberian gelar Pahlawan kepada beliau berjalan cepat sekali. Pada tanggal 13 Desember 1974 dengan suratnya No. K. 324/BPPP/XII/74, Sekretaris Jenderal Departemen Sosial R.I. selaku Ketua Harian Badan Pembina Pahlawan Pusat, yang ditujukan kepada Presiden R.I. mengajukan permohonan izin pemindahan makam almarhum Sultan Alam Bagagarsyah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Dalam waktu yang relatif singkat, permohonan itu telah dijawab oleh Presiden R.I. dengan menyetujuinya.
Semula Prof. Dr. Hamka mengemukakan hipotesa bahwa almarhum Sultan Alam Bagagarsyah wafat pada tgl. 21 Maret 1849. Tetapi setelah dilakukan penelitian dari dokumen-dokumen yang otentik pada Arsip Nasional, diketemukanlah bahwa hari meninggal beliau jatuh pada tanggal 12 Pebruari 1849. Dengan keterangan yang mempunyai bukti terkuat ini, maka rencana pemindahan makam beliau yang semula direncanakan pada tanggal 21 Maret 1975, dimajukan menjadi tanggal 12 Pebruari 1975. Oleh karena itu Panitia Besar Penyelamat Makam Sultan Alam Bagagarsyah segera membentuk Panitia Pelaksana Pemindahan Makam Sultan Alam Bagagarsyah yang khusus menghadapi persoalan pemindahan makam itu.<noinclude>{{rh|62||}}</noinclude>
bj320j4xw8wmx6z7mfirhqa7668gr9f
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/71
104
116894
321802
321741
2026-10-16T16:02:39Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321802
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>Sementara itu dari pihak Pemerintah D.K.I. Jaya dan Pemerintah R.I. telah pula berkenan membentuk Panitia Negara untuk tujuan penyelenggaraan pemindahan makam Sultan Alam Bagagarsyah dengan upacara kenegaraan. Atas kesepakatan bersama Panitia Pelaksana Pemindahan Makam S.A.B. itu menggabungkan diri dengan Panitia Negara untuk bersama-sama menyelenggarakan upacara pemindahan Makam S.A.B. secara adat Minangkabau dan menurut tatacara Kenegaraan R.I. pada tgl. 12 Pebruari 1975. (H.A.)
<center>***********************</center><noinclude>{{rh|||63}}</noinclude>
p8rytssq40yc7nexph8oiv3e1c6lpj4
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/72
104
116895
321801
321743
2026-10-16T16:01:56Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321801
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>{{Missing image}}<noinclude></noinclude>
rxjiatttewokt87h5yhgkhda38havny
Halaman:Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf/3
104
116896
321825
321748
2026-10-16T16:18:18Z
Riatunsk
26460
/* Tervalidasi */
321825
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Riatunsk" /></noinclude>__NOTOC__
{{center|'''majalah kebudayaan'''}}
{{center|size=200%|'''MINANGKABAU'''}}
----
{{col-begin}}
{{col-2}}
DAFTAR ISI
{{col-2}}
{{right|Hal. No. 3-4 – TH. I – 1974}}
{{col-end}}
{{{!}} width="100%"
{{!}} PENGANTAR REDAKSI {{!!}} align="right" {{!}}
{{!-}}
{{!}} PEMBANGUNAN TIDAK MENGHENDAKI<br>PUNAHNYA ADAT DAN BUDAYA<br>SUATU DAERAH {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Harun Zein.''<br>3
{{!-}}
{{!}} BEBERAPA CATATAN MENGENAI<br>KABA CINDUA MATO {{!!}} align="right" {{!}} ''Dr. Taufik Abdullah''<br>7
{{!-}}
{{!}} ISKANDAR ZULKARNAIN SEBAGAI<br>ASAL KETURUNAN RAJA<br>MINANGKABAU DALAM TAMBO<br>MINANGKABAU {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Edwar Djamaris.''<br>29
{{!-}}
{{!}} ADITYAWARMAN (TOKOH NASIONAL<br>TERBESAR SEPANJANG ZAMAN) {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Zuber Usman.''<br>43
{{!-}}
{{!}} MINANGKABAU DAN NEGERI SEM-<br>BILAN, PERTALIAN SEJARAH {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. M.D. Mansoer.''<br>46
{{!-}}
{{!}} MEMPERKENALKAN SUATU ABSTRAK-<br>SI-SKRIPSI ALUMNI I.K.I.P. PADANG. {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Nur Anas Zaidan.''<br>53
{{!-}}
{{!}} KRONIK BERITA {{!!}} align="right" {{!}} 54
{{!}}}
----
Majalah ini menerima karangan-karangan yang mengandung unsur kebudayaan daerah Minangkabau atau kebudayaan daerah lain yang ada hubungannya dengan kebudayaan Minangkabau.
Karangan yang dimuat akan diberi imbalan sekedarnya.
Redaksi berhak mengadakan perubahan atas karangan yang masuk, sejauh tidak merubah isinya. Pemuatan sesuatu karangan tidak berarti Redaksi setuju akan isinya. Setiap karangan yang dimuat dalam majalah ini boleh dikutip setelah mendapat izin Penerbit.
Karangan yang tidak dimuat akan dikembalikan kepada penulisnya, bila disertakan prangko secukupnya.<noinclude></noinclude>
g14cfwlsmhcwkiq1l569hretw90ctmh
321826
321825
2026-10-16T16:18:33Z
Riatunsk
26460
/* Telah diuji baca */
321826
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Riatunsk" /></noinclude>__NOTOC__
{{center|'''majalah kebudayaan'''}}
{{center|size=200%|'''MINANGKABAU'''}}
----
{{col-begin}}
{{col-2}}
DAFTAR ISI
{{col-2}}
{{right|Hal. No. 3-4 – TH. I – 1974}}
{{col-end}}
{{{!}} width="100%"
{{!}} PENGANTAR REDAKSI {{!!}} align="right" {{!}}
{{!-}}
{{!}} PEMBANGUNAN TIDAK MENGHENDAKI<br>PUNAHNYA ADAT DAN BUDAYA<br>SUATU DAERAH {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Harun Zein.''<br>3
{{!-}}
{{!}} BEBERAPA CATATAN MENGENAI<br>KABA CINDUA MATO {{!!}} align="right" {{!}} ''Dr. Taufik Abdullah''<br>7
{{!-}}
{{!}} ISKANDAR ZULKARNAIN SEBAGAI<br>ASAL KETURUNAN RAJA<br>MINANGKABAU DALAM TAMBO<br>MINANGKABAU {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Edwar Djamaris.''<br>29
{{!-}}
{{!}} ADITYAWARMAN (TOKOH NASIONAL<br>TERBESAR SEPANJANG ZAMAN) {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Zuber Usman.''<br>43
{{!-}}
{{!}} MINANGKABAU DAN NEGERI SEM-<br>BILAN, PERTALIAN SEJARAH {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. M.D. Mansoer.''<br>46
{{!-}}
{{!}} MEMPERKENALKAN SUATU ABSTRAK-<br>SI-SKRIPSI ALUMNI I.K.I.P. PADANG. {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Nur Anas Zaidan.''<br>53
{{!-}}
{{!}} KRONIK BERITA {{!!}} align="right" {{!}} 54
{{!}}}
----
Majalah ini menerima karangan-karangan yang mengandung unsur kebudayaan daerah Minangkabau atau kebudayaan daerah lain yang ada hubungannya dengan kebudayaan Minangkabau.
Karangan yang dimuat akan diberi imbalan sekedarnya.
Redaksi berhak mengadakan perubahan atas karangan yang masuk, sejauh tidak merubah isinya. Pemuatan sesuatu karangan tidak berarti Redaksi setuju akan isinya. Setiap karangan yang dimuat dalam majalah ini boleh dikutip setelah mendapat izin Penerbit.
Karangan yang tidak dimuat akan dikembalikan kepada penulisnya, bila disertakan prangko secukupnya.<noinclude></noinclude>
lmjwqe7357lpozacqboaw9uc3hp6cwe
321832
321826
2026-10-17T06:58:05Z
Sabil Khoer Al Munawar
23983
/* Tervalidasi */
321832
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Sabil Khoer Al Munawar" /></noinclude>__NOTOC__
{{center|'''majalah kebudayaan'''}}
{{center|size=200%|'''MINANGKABAU'''}}
----
{{col-begin}}
{{col-2}}
DAFTAR ISI
{{col-2}}
{{right|Hal. No. 3-4 – TH. I – 1974}}
{{col-end}}
{{{!}} width="100%"
{{!}} PENGANTAR REDAKSI {{!!}} align="right" {{!}}
{{!-}}
{{!}} PEMBANGUNAN TIDAK MENGHENDAKI<br>PUNAHNYA ADAT DAN BUDAYA<br>SUATU DAERAH {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Harun Zein.''<br>3
{{!-}}
{{!}} BEBERAPA CATATAN MENGENAI<br>KABA CINDUA MATO {{!!}} align="right" {{!}} ''Dr. Taufik Abdullah''<br>7
{{!-}}
{{!}} ISKANDAR ZULKARNAIN SEBAGAI<br>ASAL KETURUNAN RAJA<br>MINANGKABAU DALAM TAMBO<br>MINANGKABAU {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Edwar Djamaris.''<br>29
{{!-}}
{{!}} ADITYAWARMAN (TOKOH NASIONAL<br>TERBESAR SEPANJANG ZAMAN) {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Zuber Usman.''<br>43
{{!-}}
{{!}} MINANGKABAU DAN NEGERI SEM-<br>BILAN, PERTALIAN SEJARAH {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. M.D. Mansoer.''<br>46
{{!-}}
{{!}} MEMPERKENALKAN SUATU ABSTRAK-<br>SI-SKRIPSI ALUMNI I.K.I.P. PADANG. {{!!}} align="right" {{!}} ''Drs. Nur Anas Zaidan.''<br>53
{{!-}}
{{!}} KRONIK BERITA {{!!}} align="right" {{!}} 54
{{!}}}
----
Majalah ini menerima karangan-karangan yang mengandung unsur kebudayaan daerah Minangkabau atau kebudayaan daerah lain yang ada hubungannya dengan kebudayaan Minangkabau.
Karangan yang dimuat akan diberi imbalan sekedarnya.
Redaksi berhak mengadakan perubahan atas karangan yang masuk, sejauh tidak merubah isinya. Pemuatan sesuatu karangan tidak berarti Redaksi setuju akan isinya. Setiap karangan yang dimuat dalam majalah ini boleh dikutip setelah mendapat izin Penerbit.
Karangan yang tidak dimuat akan dikembalikan kepada penulisnya, bila disertakan prangko secukupnya.<noinclude></noinclude>
mq57qc1rycdyj2n8dm24hk8zgxyz3k6
Majalah Kebudayaan Minangkabau/MEMPERKENALKAN SATU ABSTRAK – SKRIPSI ALUMNI IKIP PADANG
0
116903
321828
2026-10-17T06:46:20Z
Link PB
26772
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Majalah Kebudayaan Minangkabau | author = Yayasan Kebudayaan Minangkabau | translator = | section = MEMPERKENALKAN SATU ABSTRAK – SKRIPSI ALUMNI IKIP PADANG | previous = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/MINANGKABAU DAN NEGERI SEMBILAN Pertalian Sejarah dan Kaitan Kebudayaannya]] | next = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/]] | notes = }} <pages index="Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf" from=58 to=59/>'
321828
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Majalah Kebudayaan Minangkabau
| author = Yayasan Kebudayaan Minangkabau
| translator =
| section = MEMPERKENALKAN SATU ABSTRAK – SKRIPSI ALUMNI IKIP PADANG
| previous = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/MINANGKABAU DAN NEGERI SEMBILAN Pertalian Sejarah dan Kaitan Kebudayaannya]]
| next = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/]]
| notes =
}}
<pages index="Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf" from=58 to=59/>
2l60h9190dns94xy71gpzhh2ckqpcne
321829
321828
2026-10-17T06:46:47Z
Link PB
26772
321829
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Majalah Kebudayaan Minangkabau
| author = Yayasan Kebudayaan Minangkabau
| translator =
| section = MEMPERKENALKAN SATU ABSTRAK – SKRIPSI ALUMNI IKIP PADANG
| previous = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/MINANGKABAU DAN NEGERI SEMBILAN Pertalian Sejarah dan Kaitan Kebudayaannya]]
| next = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/PERANAN KEPEMIMPINAN INFORMIL DALAM PROSES PEMBANGUNAN REGIONAL.]]
| notes =
}}
<pages index="Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf" from=58 to=59/>
knfgws6tqmdonwu4q00bhglhn3uq124
Majalah Kebudayaan Minangkabau/PERANAN KEPEMIMPINAN INFORMIL DALAM PROSES PEMBANGUNAN REGIONAL.
0
116904
321830
2026-10-17T06:48:03Z
Link PB
26772
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Majalah Kebudayaan Minangkabau | author = Yayasan Kebudayaan Minangkabau | translator = | section = PERANAN KEPEMIMPINAN INFORMIL DALAM PROSES PEMBANGUNAN REGIONAL. | previous = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/MEMPERKENALKAN SATU ABSTRAK – SKRIPSI ALUMNI IKIP PADANG]] | next = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/Pemindahan Makam SULTAN ALAM BAGAGAR SYAH]] | notes = }} <pages index="Majalah Kebudayaan Minangkab...'
321830
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Majalah Kebudayaan Minangkabau
| author = Yayasan Kebudayaan Minangkabau
| translator =
| section = PERANAN KEPEMIMPINAN INFORMIL DALAM PROSES PEMBANGUNAN REGIONAL.
| previous = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/MEMPERKENALKAN SATU ABSTRAK – SKRIPSI ALUMNI IKIP PADANG]]
| next = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/Pemindahan Makam SULTAN ALAM BAGAGAR SYAH]]
| notes =
}}
<pages index="Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf" from=60 to=66/>
5aqsvq20sg5ckthkgepvlyua0is83ig
Majalah Kebudayaan Minangkabau/Pemindahan Makam SULTAN ALAM BAGAGAR SYAH
0
116905
321831
2026-10-17T06:49:10Z
Link PB
26772
←Membuat halaman berisi '{{header | title = Majalah Kebudayaan Minangkabau | author = Yayasan Kebudayaan Minangkabau | translator = | section = Pemindahan Makam SULTAN ALAM BAGAGAR SYAH | previous = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/PERANAN KEPEMIMPINAN INFORMIL DALAM PROSES PEMBANGUNAN REGIONAL.]] | next = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau]] | notes = }} <pages index="Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf" from=67 to=72/>'
321831
wikitext
text/x-wiki
{{header
| title = Majalah Kebudayaan Minangkabau
| author = Yayasan Kebudayaan Minangkabau
| translator =
| section = Pemindahan Makam SULTAN ALAM BAGAGAR SYAH
| previous = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau/PERANAN KEPEMIMPINAN INFORMIL DALAM PROSES PEMBANGUNAN REGIONAL.]]
| next = [[Majalah Kebudayaan Minangkabau]]
| notes =
}}
<pages index="Majalah Kebudayaan Minangkabau.pdf" from=67 to=72/>
002kcthu97xx8wzh7uw7uugx6abe0ug
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 05.pdf/44
104
116906
321834
2026-10-17T08:57:29Z
Iripseudocorus
23824
/* Telah diuji baca */
321834
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>aneh, ia tetap tidak dapat menerka siapa dia dan dimana, atau apa sebabnja, jang membikin mereka berdua berselisih hingga orang menggandjal hati. Kenapa orang memusuhkannja ? Kenapa orang hendak merampas pulang piauw jang baru sadja ia berhasil merebutnja sesudah ia dapat mengakali rombongan Seng Tiat Hoet jang ketinggalan dibelakang ? Memikir demikian, ia mendjadi semakin panas hati, sehingga ia lantas menjerang dengan keras sekali, tjambuknja bergerak kesegala djurusan setjara sangat hebat, bahkan udjung tjambuk digunakan sebagai poankoanpit, untuk mentjari duapuluh-empat djalan darah jang besar.
Pihak perintang itu djuga memperlihatkan kepandaiannja. Dia bergerak dengan sangat gesit dan lintjah, Dia menghalau setiap bahaja jang mengantjam, baik dengan berkelit maupun dengan menangkis atau menjampok. Kali ini dia bersilat demikian rupa, sehingga terlihat tegas ilmusilat tamengnja itu ialah ilmusilat Koen Goan Pay dari Kim Lao Pat dari propinsi Siamsay.
Lioe Hong Hoa melanjutkan serangannja jang dahsjat, bahkan makin dahsjat dan lantjar. Inilah karena sekarang ia mengenali ilmusilat lawannja itu.
Sang lawan mendjadi mengertak gigi. Sia-sia dia menjerang, tak dapat dia merampas kemenangan. Untuk menang unggul sadja sulit. Beberapa kali dia sudah mentjoba menghadjar tjambuk, untuk membuatnja terlepas dari tjekalan, akan tetapi sia-sia sadja. Mereka terus sama unggulnja.
Sementara itu sang langit tidak mau menantikan dua orang jang lagi mengadu djiwa itu, Dengan perlahan tjuatja mulai mendjadi guram dan gelap. Sang angin pun bertiup, membikin rontok daun² pohon didekat mereka itu.
Awak perahu mendjadi tertjengang menonton pertempuran itu. Mereka kagum dan heran. Belum pernah mereka menjaksikan pertarungan demikian menarik hati.
Pertempuran berlangsung terus sampai lagi duapuluh djurus sesudah mana tiba terdengar serupa suara jang beruntun-runtun, jang datangnja dari rimba pohon bambu disisi mereka.
Hong Hoa girang. Ia menduga kepada muntjulnja rekan kaum Rimba Hidjau. Karena tempat itu dekat dengan Lok Ma Ouw, mungkin orang² jang datang ialah orang²nja Kim-Gan-Tiauw Lie Peng. Dengan datangnja mereka itu berarti sudah bahwa perahunja<noinclude>{{rh|||289}}</noinclude>
lx4adzrc5ngn4dboe4n60wk9wclvetc
Halaman:179 Jamdena.djvu/18
104
116907
321835
2026-10-17T09:08:44Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
321835
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>{{c|[[File:179 Jamdena (page 18 crop).jpg|300px|179 Jamdena (page 18 crop)]]}}<noinclude></noinclude>
j159q6splspp6txqlwqiojlsvrifr9y
Halaman:Warisan Seorang Pangeran 05.pdf/45
104
116908
321836
2026-10-17T09:15:24Z
Iripseudocorus
23824
/* Telah diuji baca */
321836
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>terdjamin keselamatannja, Lantas ia mendengarkan siulan perlahan tetapi terang, untuk memberikan isjarat.
Sang lawan djuga orang Kang Ouw sedjati, dia mendjadi bingung apabila ia mendapat dengar suara itu, tetapi untuk dapat bertahan terus, ia mentjoba menenangkan hati, Ia berkelahi terus setjara mantap.
Sementara itu, kembali lewat tigapuluh djurus. Sekarang silawan jang bergegaman tameng itu bingung benar2. Sesudah berkelahi untuk banjak djurus itu, dia mendapat kenjataan Hong Hoa bukan mendjadi letih dan permainan silatnja katjau, ia djusteru makin lintjah, semangatnja penuh, tak pernah satu kali djua ia melakukan gerakan jang keliru. Tapi tak mau dia kalah, dia mengertak gigi dan berkelahi terus dengan hebat.
Suara didalam rimba itu berhenti, lalu tak terdengar apa lagi. Orangnja djuga tidak muntjul {{...|7}}
„Tidak mestinja pertempuran berlarut terus-menerus seperti ini!” achirnja djago tameng itu kata didalam hatinja. „Aku djusteru lekas menang !” Maka ia lantas mentjoba mendesak pula, Sebegitu djauh ia berkelahi keras, sekarang ia perkeras usahanja. Ingin ia membuat lawannja salah bergerak,
Tengah bertarung itu, tiba2 tampak Lioe Hong Hoa bagaikan bingung atau tidak sabaran, mendadak sadja ia menjerang dengan djurus Ajam emas mengangguk”, Dengan ilmu itu, udjung tjambuknja meluntjur kemuka lawannja.
Silawan girang. Dia melihat satu lowongan, Dia bukannja menangkis, hanja dia berkelit, sambil mendak, dia menggeser tubuhnja sedikit, sambil menggeser itu, dia membalas menjerang. Dua² lembar tamengnja dipakai mendjepit tjambuk, niatnja untuk membikin tjambuk tak berdaja, agar mudah dia memberikan pukulan jang terachir.
Hong Hoa tidak mengidjinkan tjambuknja didjepit. Ia menarik sebat, sambil ia menggeser tubuh, mendjaga supaja ia tidak sampai kena diserang dengan dibarengi. Iapun tidak tjuma membela diri. Begitu tjambuknja bebas, ia menjerang pula, menotok kedjalan darah hoe-hie.
Djago tameng itu tidak dapat menggunakan tamengnja untuk menotok djalan darah, akan tetapi dia mengarti ilmu totok, dia melihat dia terantjam. Dia tidak mau menangkis, hanja dia mengegos<noinclude>{{rh|290}}</noinclude>
7wf5jlw2xzv58225sjdczbhcovr8grm
Halaman:180 Sasak Sakra.djvu/28
104
116909
321838
2026-10-17T09:54:45Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
321838
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>[[File:180 Sasak Sakra (page 28 crop).jpg|200px|180 Sasak Sakra (page 28 crop)]]{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}[[File:180 Sasak Sakra (page 28 crop) b.jpg|200px|180{{gap}} Sasak Sakra (page 28 crop) b]]<br>Map 1: Sketch of the language area{{gap}}{{gap}}Map 2: The Sasak Sakra language area on Lombok<noinclude></noinclude>
2mi3akcpso5y3butpk7buw3gk4ux3vq
Indeks:185,186 Bonthain.djvu
102
116910
321839
2026-10-17T10:02:13Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
321839
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=185,186 Bonthain
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1984
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
kmndmb86whyar9oayayr6kd9wk7dmxc
Halaman:185,186 Bonthain.djvu/39
104
116911
321840
2026-10-17T10:05:56Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
321840
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>5.14. The hamza is written: ' (ānà'); (tā'pīrǐ')<br>
5.16. The place of the stress:<br>1. As a rule the stress is on the penultimate syllable<br>2. When a possessive pronoun is suffixed, the stress<br> shifts to the last syllable of the stem. (mata -> matana; lima -> limakoe etc.)<br>3. In words of three syllables ending in a vowel which is preceded by a sharp consonant. The stress is carried by the first syllable, e.g. pa'risi, ra'moesoe, bi'tisi, ka'daro etc. In these words the last vowel almost always is identical to the second last one.
{{c|[[File:185,186 Bonthain (page 39 crop).jpg|300px|185,186 Bonthain (page 39 crop)]]}}<noinclude></noinclude>
bnu43750j583o9q81ilvndyi026ub8l
Indeks:187 Muna.djvu
102
116912
321841
2026-10-17T10:08:17Z
Thersetya2021
15831
←Membuat halaman berisi ''
321841
proofread-index
text/x-wiki
{{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template
|Type=book
|wikidata_item=
|Title=187 Muna
|Subtitle=
|Language=id
|Volume=
|Edition=
|Author=Karel Frederik Holle
|Co-author1=
|Co-author2=
|Co-author3=
|Translator=
|Co-translator1=
|Co-translator2=
|Editor=Stokhof, W. A. L.
|Co-editor1=
|Co-editor2=
|Illustrator=
|Publisher=
|Address=
|Printer=
|Year=1985
|Key=
|ISBN=
|Source=djvu
|Image=1
|Progress=X
|Pages=<pagelist />
|Volumes=
|Remarks=
|Notes=
|Header=
|Footer=
}}
gqenjiph4zid8nmcu99qcdxsrhj36u4
Halaman:187 Muna.djvu/22
104
116913
321842
2026-10-17T10:11:40Z
Thersetya2021
15831
/* Telah diuji baca */
321842
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Thersetya2021" /></noinclude>5. tusk (of pig): timpa<br>fang (of dog, cat etc): goelono<br>
6. funnel: kasonso<br>
7. the middle: woeata<br>
8. content: kabaroe
EVANGELIUM MARKUS VII/31-37<br>
Maka Jesus nolimba nomaigo goërano Tyrus, nokasimbakie Sidon nemai we onamboeno Galilaea te woenta-woentano goërana Dekapolis. Maka mie-mie doatoë ne Jesus semie mopongkeno be moboreno ba dosalo Jesus nofampegi limano ne anoa. Maka noala Jesus anoa nofogampie ne mie bari, nofoloekoe woenano limano welo pongkeno be padano nofogonie saoeno limano norongko lelano mie aitoe be Jesus netotoroena we lani nofenemboesoe wambano: Epata, maanano nolengkaimoe. Make nekasebentara notilengkamoe pongkeno be notelengka kokolino lelano be nelano anoa nobisara. Maka Jesus nobilie ne mie mie: koise toela-toela ne mie mie segehano. Tamaka hoempoe nowilie ne andoa hoempoe dokambisai, betobari kamentendo nekowamba wambano: "Barikarikai neraboeno neta, mopongkeno nofifitingke be moboreno nofekapande bisora".
{{c|[[File:187 Muna (page 22 crop).jpg|300px|187 Muna (page 22 crop)]]}}<noinclude></noinclude>
sj1dmw4csmx2xjzmucljb2kz3bv613q