Wikisumber jvwikisource https://jv.wikisource.org/wiki/Wikisumber:Pendhapa MediaWiki 1.47.0-wmf.2 first-letter Médhia Mirunggan Parembugan Naraguna Parembugan Naraguna Wikisumber Parembugan Wikisumber Barkas Parembugan Barkas MédhiaWiki Parembugan MédhiaWiki Cithakan Parembugan Cithakan Pitulung Parembugan Pitulung Kategori Parembugan Kategori Panganggit Parembugan Panganggit Kaca Parembugan Kaca Indhèks Parembugan Indhèks TimedText TimedText talk Modhul Parembugan Modhul Acara Pembicaraan Acara Kaca:Babad Prayud I.pdf/14 250 20025 78192 67609 2026-05-16T09:05:05Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78192 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>paginya diperbolehkan pulang ke Surakarta, dengan mengiringi Ratu Bendara. Tidak lupa pesan-pesàn dan salam taklim bagi para keluarga di Surakarta. Tersebutlah Raja Surakarta, setelah putranya, Raden Mas Suleman mangkat dalam usía 7 bulan, dan setelah 3 tahun kemudian Ratu Kencana tidak lagi berputra, hal ini sangat menggelisahkan beliau. Ternyata kesusahan hati itu menimbulkan kebiasaan yang tidak baik, berjudi bersuka ria, dan hubungannya dengan Ratu Kencana semakin jauh. Hal ini berlarut-larut, hingga menyebabkan perpecahan dalam istana. Sang Raja dikelilingi orang yang suka mengambil hati, dan berbuat yang tidak selaras dengan kewajibannya. Demikian pula Ratu Kencana bertindak keras dan sangat mencurigai gerak-gerik Sri Sunan. Maka Sunan memerintahkan Adipati Mangkunagara untuk membawa keluar Ratu Kencana dari keraton. Dalam hai ini Adipati Mangkunagara tidak bersedia. Dia memtyerikan pendapat, sebaiknya meminta bantuan pada Deler Ubrusi Semarang untuk mengatasi masalah tersebut. Sri Baginda setúju lalu mengutus Mantri Pasliyun ke Semarang. Ternyata Deler bersedia dan memberikan perintah pada Uprup Beiman supaya menghadap raja. Oleh raja dijelaskan persoalannya, dan Uprup bersedia menjalankan perintah itu. Mendengar kesediaan tersebut raja sangat gembira. Pada suatu hari tibalah saatnya memperoleh jalan untuk dapat melaksanakan maksud tersebut. Seorang punggawa Suryanegara pada hari itu tidak mengikuti watangan, hai ini diketahui oleh Ratu Kencana dari Sitinggil dan menimbulkan kemarahan pada Sri Ratu. Beliau segera pulang lalu mengenakan pakaian keprajuritan serta membawa senjata andalan dari Madura. Ratu bermaksud minta pada baginda supaya Suryanagara dibunuh pada malam hari itu juga. Jika tidak dipenuhi, maka Sri Ratu lebih baik dikeluarkan dari istana saja. Permintaan tersebut oleh Sri Baginda disanggupinya. Baginda segera meninggalkan istana dan memberitahukan beberapa. pungggawa untuk segera menjalankan perintahnya, termasuk juga perintah yang diberikan kepada Uprup Beiman. Kemudian segera baginda beristirahat di Loji. Demikian pula Ratu Maduretna telah diberitahu oleh<noinclude>{{rh|12}}</noinclude> 95nps46kr0nytgqkaksmlkbgig9gn1b Kaca:Babad Prayud I.pdf/15 250 20026 78193 67610 2026-05-16T09:05:31Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78193 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>baginda bahwa putrinya (Ratu Kencana) menentang kumpeni. Uprup Beiman masuk ke istana disertai beberapa prajurit dan ajudannya. Para adipati menunggu di Srimanganti. Ratu Kencana siap di dalam menanti dengan tegang, selanjutnya setelah berhadapan terjadilah dialog yang cukup sru, dan dengan tipuan halus Ratu Kencana dapat dibawa ke luar istana, dan ditempatkan di tempat kediaman Pangeran Endranata. Keberhasilan upaya ini sangat menggembirakan Sri Baginda, dan segera beliau bersiap masuk kembali ke istana. Pada malam itu juga, beliau diantar oleh para punggawa dan Uprup Beiman. Pagi hari berikutnya Adipati Mangkunagara siap menghadap Raja. Beliau bertitah bahwa akan mengutus Ki Patih dan Kyai Pengulu, untuk menyampaikan talak pada Ratu Kencana. Hal ini sudah menjadi keputusan yang tidak dapat dirobah lagi. Ratu Kencana sangat sedih mendengar keputusan Raja, bahkan mengakibatkan kematian Ratu Maduretna karena malu dan sedih memikirkan nasib putrinya. Beberapa waktu kemudian, Deler Ubrus mengirimkan surat pemberitahuan bahwa Wiratmeja memulai lagi gerakannya di daerah Demak bagian timur. Segera Sri Baginda mengirim pasukan untuk memerangi Wiratmeja, bersama-sama dengan pasukan dari Yogyakarta. Pasukan Yogya bergerak dari arah timur dipimpin oleh Rangga Prawiradirja, dan pasukan dari Surakarta dari arah selatan. Setelah Wiratmeja mengetahui hai tersebut, ia segera melarikan diri ke arah timur laut menuju Garobogan. Tumenggung Sasranagara menyelinap dan menghadap dari depan, dan terjadilah peperangan serta banyak korban dari kedua belah pihak. Wiratmeja menyelinap lagi melarikan diri, diburu Sasranagara, dan selanjutnya diusahakan pencariannya oleh kedua pasukan, dengan jalan apa pun asalkan tertangkap. Raden Wiratmeja dalam pelariannya hanya diikuti oleh istri dan delapan pengikutnya, bersembunyi di hutan, terlunta-lunta kekurangan makan. Tumenggung Mangkuyuda dapat membujuk bekas pengikut Raden Wiratmeja sebanyak tiga orang, mereka bersedia untuk menangkap dan membunuhnya (dengan imbalan). Penangkapan tersebut diatur dengan tipuan, yaitu surat perintah<noinclude>{{rh|||13}}</noinclude> hqg604p3rfwyhl8ifpaqro6wlmbct9n Kaca:Babad Prayud I.pdf/16 250 20027 78194 67611 2026-05-16T09:05:54Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78194 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>dari Mangkunagara pada (putranya) Wiratmeja yang menyarankan mengikuti ajakan pembawa surat ini, untuk dicarikan tempat persembunyian yang lebih baik. Selanjutnya mereka ini ditempatkan di Carewek padukuhan Kuwu. Suryamenggala kembali melaporkan kepada Mangkuyuda dan Jayanagara serta mohon petunjuk selanjutnya. Penangkapan akan dilaksanakan pada malam hari, lalu Suryamenggala kembali memerintahkan untuk memasak bagi rombongan Pangeran Wiratmeja. Masakan yang menjadi kegeramarannya, yang enak-enak. Namun ternyata bahwa seluruh masakan tersebut diurap dengan (tepung) kecubung. Pada sore hari masakan yang sudah siap itu diantarkan ke Carewek. Pangeran Wiratmeja dengan istrinya senang sekali, dan makan sepuas-puasnya. Demikian pula halnya para pengikutnya yang sudah beberapa hari tidak pernah makan nasi, (hanya makan jagung muda), maka mereka merasa púas dan nikmat sekali akan makanan tersebut. Pada petang harinya, kantuk tak tertahankan lagi tetapi hal ini pun belum disadarinya. Mereka mempunyai anggapan bahwa karena telah lama kurang makan, maka rasa kekenyangan ini menimbulkan rasa kantuk yang tak dapat dicegah. Semua tertidur dengan pulas. Maka pada malam hari itu Tumenggung Mangkuyuda dan Jayanagara diantar oleh dua mantrinya, datang untuk menyergap/menangkap Wiratmeja. Wiratmeja yang sedang tidur pulas di samping istrinya itu berhasil dibunuhnya. Kematian Wiratmeja menimbulkan suara yang gaduh sehingga para istri dan pengikutnya terbangun. Di sini terjadilah keributan dan perkelahian, yang menyebabkan korban bagi para pengikut Wiratmeja. Semua pengikutnya tertangkap, hanya satu yang dapat meloloskan din. Segera mereka dibawa oleh Tumenggung Mangkuj yuda menghadap Raja di Surakarta dan jenazah Wiratmeja dibawa serta. Tertangkapnya/terbunuhnya Wiratmeja sangat menggembirakan Raja dan kumpeni. Syahdan tersebutlah di daerah pegunungan selatan (gunungkidul), seakan-akan penyakit yang dialaminya kambuh lagi. Seluruh rakyat sepanjang pegunungan Selatan, bersatu {{hws|meng|<noinclude>{{rh|14}}</noinclude> jazy7qc820yvnpbo3okece68tvsydpj 78195 78194 2026-05-16T09:06:08Z Elcamatcha 1466 78195 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>dari Mangkunagara pada (putranya) Wiratmeja yang menyarankan mengikuti ajakan pembawa surat ini, untuk dicarikan tempat persembunyian yang lebih baik. Selanjutnya mereka ini ditempatkan di Carewek padukuhan Kuwu. Suryamenggala kembali melaporkan kepada Mangkuyuda dan Jayanagara serta mohon petunjuk selanjutnya. Penangkapan akan dilaksanakan pada malam hari, lalu Suryamenggala kembali memerintahkan untuk memasak bagi rombongan Pangeran Wiratmeja. Masakan yang menjadi kegeramarannya, yang enak-enak. Namun ternyata bahwa seluruh masakan tersebut diurap dengan (tepung) kecubung. Pada sore hari masakan yang sudah siap itu diantarkan ke Carewek. Pangeran Wiratmeja dengan istrinya senang sekali, dan makan sepuas-puasnya. Demikian pula halnya para pengikutnya yang sudah beberapa hari tidak pernah makan nasi, (hanya makan jagung muda), maka mereka merasa púas dan nikmat sekali akan makanan tersebut. Pada petang harinya, kantuk tak tertahankan lagi tetapi hal ini pun belum disadarinya. Mereka mempunyai anggapan bahwa karena telah lama kurang makan, maka rasa kekenyangan ini menimbulkan rasa kantuk yang tak dapat dicegah. Semua tertidur dengan pulas. Maka pada malam hari itu Tumenggung Mangkuyuda dan Jayanagara diantar oleh dua mantrinya, datang untuk menyergap/menangkap Wiratmeja. Wiratmeja yang sedang tidur pulas di samping istrinya itu berhasil dibunuhnya. Kematian Wiratmeja menimbulkan suara yang gaduh sehingga para istri dan pengikutnya terbangun. Di sini terjadilah keributan dan perkelahian, yang menyebabkan korban bagi para pengikut Wiratmeja. Semua pengikutnya tertangkap, hanya satu yang dapat meloloskan din. Segera mereka dibawa oleh Tumenggung Mangkuj yuda menghadap Raja di Surakarta dan jenazah Wiratmeja dibawa serta. Tertangkapnya/terbunuhnya Wiratmeja sangat menggembirakan Raja dan kumpeni. Syahdan tersebutlah di daerah pegunungan selatan (gunungkidul), seakan-akan penyakit yang dialaminya kambuh lagi. Seluruh rakyat sepanjang pegunungan Selatan, bersatu {{hws|meng|menghormat}}<noinclude>{{rh|14}}</noinclude> bpxzkfofyaxb3wdmjtb4520ns86n9hx Kaca:Babad Prayud I.pdf/17 250 20028 78196 67612 2026-05-16T09:06:45Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78196 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|hormat|menghormat}} sebuah gandhik (yang baunya harum semerbak). Mereka percaya akan ramalan dari seorang tua yang mengatakan adanya suatu perubahán yang akan segera teijadi. Rakyat di situ segera menyiapkan pertahanan di daerah mereka. Hal tersebut terdengar oleh Sultan Yogyakarta, dan segera meminta bantuan Sunan Surakarta, untuk turut menumpas pasukan Gunungkidul itu. Sunan mengirim Pangeran Mangkuningrat dan Tumenggung Suryakusuma beserta semua masukannya. Sedang dari Yogyakarta menugaskan Pangeran Jayakusuma, dengan barisannya berada di daerah Paliyan dan Pangeran Timur di Gunung Sepikul. Pasukan dari Gunungkidul telah mendengar bahwa mereka akan digempur oleh pasukan dari Yogyakarta dan Surakarta. Barisannya telah disiapkan. Pasukan berkuda maupun pasukan darat dari Gunungkidul telah memenuhi sepanjang pegunungan untuk mempertahankan daerahnya. Adapun Sunan Gandhik yang dipujanya tersebut dipikul, ditempatkan dalam bakul diberi alas cindhe (sutera), dan dinaungi oleh payung kuning yang sudah usang. Ternyata payung tadi bekas. milik Pangeran Mangkunagara yang ditinggalkan di makam. Pasukan dari Yogya dan Surakarta telah bersepakat menentukan waktu untuk menggempur pasukan Gunungkidul. Dalam pertempuran yang kemudian terjadi ternyata pasukan pemberontak tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi pasukan gabungan Yogya-Surakarta. Gandik yang mereka puja-puja ternyata hanya gandik bekas milik Sultan Dandun Martengsari dari Kartasura. Dalam pada itu Sunan telah berkirim surat kepada Deler Semarang, mengabarkan akan dikembalikannya Ratu Ernas ke Madura. Deler Iah yang ditugasi membawanya ke Madura. Sesudah tugasnya selesai, Deler pegi ke Surakarta, dan kemudian diadakan pesta. Beberapa wakái kemudian Sunan mengirim utusan ke Jakarta untuk memberi penghormatan atas pengangkatan Petrus Albertus menjadi Gubernur Jenderal. Di Surakarta maupun Yogyakarta teijadi pengangkatan beberapa orang bupati baru untuk daerah Mancanagara. Hubungan antara Kasunanan dan Mangkunagaran terbina semakin baik dengan berbesanan.<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> assdaczjs5p14geezvsme67ejgzw17k Kaca:Bratayuda.pdf/132 250 20039 78363 67629 2026-05-16T10:00:31Z Devi 4340 509 /* Absah */ 78363 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" /></noinclude>Sanghyang Narada tuwin para dewa sadaya inggih sami amiturut angestokaken ing karsanipun Prabu Kresna, nunten sami mumbul wangsul dhateng Suralaya. Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sabala Pandhawa tuwin para ratu sesuruhan, lajeng sami bidhal lumebet ing nagari Ngastina, sarta amboyong Dewi Banowati. Pasanggrahan ing Kurusetra sampun kabibaraken. Rajabrana ing nagari Ngastina sampun sami kacacahaken. Arjuna lajeng kadhaupaken kaliyan randhanipun Suyudana kang nama Dewi Banowati. Sarehning Arjuna sanget asihipun ing tiyang estri, dados gegadhuhanipun jemparing Cundhamanik kapundhut ing Prabu Yudhisthira. Prabu Kresna nunten anjumenengaken nata Prabu Yudhisthira wonten ing nagari Ngastina, kaestrenan dening Prabu Baladewa sarta para ratu sesuruhan, tuwin para jawata ing Suralaya inggih sami tumurun angidini jumenengipun nata. Kala panjenenganipun Prabu Yudhisthira, nagari ing Ngastina sakalangkung arja, tetiyangipun sami suka, mboten wonten kang pinalang galih, awit kareksa dening Prabu Kresna kaliyan Arjuna. Bilih wonten ingkang alampah doracara enggal kapapas. Ingkang bodho kaserepaken, ingkang musakat kaparingan dana lumintu, mila sanget kaeringan dening mengsah. Sareng sampun lestantun jumenengipun nata Prabu Yudhisthira, Prabu Baladewa kaliyan ratu ing Wiratha, ing Cempala tuwin para ratu sanesipun, lajeng sami pamit mantuk dhateng nagarinipun piyambak-piyambak, amung Prabu Kresna kang taksih anenggani wonten ing Ngastina. {{rule|8em}} {{nop}}<noinclude></noinclude> 9tx8yn0nky6bwggtrwklam8jflfiifd 78367 78363 2026-05-16T10:01:13Z Devi 4340 509 78367 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" /></noinclude>Sanghyang Narada tuwin para dewa sadaya inggih sami amiturut angestokaken ing karsanipun Prabu Kresna, nunten sami mumbul wangsul dhateng Suralaya. Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sabala Pandhawa tuwin para ratu sesuruhan, lajeng sami bidhal lumebet ing nagari Ngastina, sarta amboyong Dewi Banowati. Pasanggrahan ing Kurusetra sampun kabibaraken. Rajabrana ing nagari Ngastina sampun sami kacacahaken. Arjuna lajeng kadhaupaken kaliyan randhanipun Suyudana kang nama Dewi Banowati. Sarehning Arjuna sanget asihipun ing tiyang estri, dados gegadhuhanipun jemparing Cundhamanik kapundhut ing Prabu Yudhisthira. Prabu Kresna nunten anjumenengaken nata Prabu Yudhisthira wonten ing nagari Ngastina, kaestrenan dening Prabu Baladewa sarta para ratu sesuruhan, tuwin para jawata ing Suralaya inggih sami tumurun angidini jumenengipun nata. Kala panjenenganipun Prabu Yudhisthira, nagari ing Ngastina sakalangkung arja, tetiyangipun sami suka, mboten wonten kang pinalang galih, awit kareksa dening Prabu Kresna kaliyan Arjuna. Bilih wonten ingkang alampah doracara enggal kapapas. Ingkang bodho kaserepaken, ingkang musakat kaparingan dana lumintu, mila sanget kaeringan dening mengsah. Sareng sampun lestantun jumenengipun nata Prabu Yudhisthira, Prabu Baladewa kaliyan ratu ing Wiratha, ing Cempala tuwin para ratu sanesipun, lajeng sami pamit mantuk dhateng nagarinipun piyambak-piyambak, amung Prabu Kresna kang taksih anenggani wonten ing Ngastina. {{rule|8em}} {{nop}}<noinclude>{{rh|136}}</noinclude> ddnnv8xuh11217sv2ndmfeodbkhw79b Kaca:Bratayuda.pdf/77 250 20040 78330 67630 2026-05-16T09:40:09Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78330 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|dosanipun|kadadosanipun}}!"<br> Prabu Kresna sareng sampun dumugi ing jawi, matur dhateng jawata sakawan, "Kula badhe masanggrahan rumiyin. Benjing-enjing kemawon kula mratelakaken prelunipun lampah kula mriki."<br> Prabu Kresna anjujug panggenanipun ingkang bibi Dewi Kunthi, lajeng anyungkemi sampeyanipun. Dewi Kunthi muwun, ciptaning galih prasasat kapanggih kaliyan Pandhawa. Tumunten amratelakaken sekeling galih, bab prakawis ingkang badhe kalampahan. Akathah pituturipun, amurih lestantuning lampah. Saking agenging prihatos, pangandikanipun pegat-pegat kamoran pamuwun. Sareng sampun telas pituturipun, Prabu Kresna pamit badhe dhateng pasanggrahan, ing griyanipun Arya Widura. Sarawuhipun ing ngriku, anunten sesaosan pasegah kathah dhateng.<br> Saunduripun Prabu Kresrna, Suyudana apirembag kaliyan ingkang rayi-rayi, punapa malih kaliyan Adipati Ngawangga, ingkang minangka pangajenging damel. Prabu Suyudana sumelang ing galih awit pasegahanipun katampik dhumateng Prabu Kresna, pangandikanipun, "Sang Prabu ing Dwarawati amesthi ngandhut wadi, dene ora karsa dhahar pasuguhku. Heh, Drusasana, aja sira kurang weweka marang ratu ing Dwarawati, sira diangati-ati, kadang-kadangmu kabeh tuturana, sesuk padha amendhema baris. Aja nganggo pinikir suwe-suwe, wong ing Dwarawati banjur ditumpesa bae, awit iku awaking Pandhawa, mesthi angandhut ala, ora wurung dadi mungsuh, samudana angandhut memanis!"<br> Sabibaring pasamuwan, sakathahing Korawa sami mantuk, para ratu tamu tuwin pinisepuh sami kondur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Prabu Suyudana kondur angadhaton, tedhak panggenanipun ingkang garwa Dewi Banowati. Dewi Banowati amethuk, lajeng dipun kanthi astanipun, malebet ing dalem, tata sami pinarak. Para abdi estri marak.<br> Retna Banowati galak ulat, manis pamulu, dedeg sembada, goreh nanging dados ing pantes sarta boten wonten sarunipun. Anjelih anjulalata mindhak perak ati, bengis marengut maleroka wewah manis. Sanajan boten ngagem-agema; ambombrong kalung<br><noinclude></noinclude> sc1cglod6iuqhkdbu7xmc9k3qcccavs Kaca:Bratayuda.pdf/93 250 20041 77727 67631 2026-05-15T19:19:25Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77727 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>panjawat ingkang dipun enggeni Bisma saha Druna.<br> Prabu Kresna angatag kusiripun angrikataken ajenging rata, badhe rumeksa perangipun Parta, ingkang sanget nepsunipun. Saweg anglepasaken jemparing dibya, wedalipun ambrubul, Bisma anglepasaken jemparing panulak, lajeng tempuh jemparing sami jemparing wonten ing awang-awang.<br> Bisma ngatag dhateng Druna kapurih sumingkira, awit badhe medalaken kasektenipun. Lajeng anglepasaken jemparing mawi dipun mantrani, amradini angebeki ing awang-awang, andhawahi mengsah adamel girising manah. Anunten para Korawa sesarengan majeng anempuh mengsah. Karpa, Sengkuni, Karna, Prabu Salya, sami surak sabalanipun.<br> Raden Dananjaya enggal anglepasaken jemparing panulak, nanging mboten mikantuki. Akathah ingkang pejah dening jemparingipun Bisma, wedaling jemparing kados jawah saking langit. Korawa sami suka aningali, majeng sareng angebyuki. Bala Pandhawa panggah, nanging kathah ingkang pejah. Wondening ingkang kalebet ing pepejah, kajawi saking para ratu kalih para adipati, putranipun Raden Dananjaya kekalih, anama Bambang Irawan kaliyan Dewi Palupi. Raden Dananjaya sakalangkung prihatos, kendel anggenipun anjemparing, pijer muwun kemawon.<br> Prabu Kresna sareng aningali Raden Dananjaya muwun, lajeng tedhak saking rata, amenthang cakra, Bisma ingkang dipun wawas. Bisma sumerep yen badhe dipun dhawahi cakra, enggal medhun saking rata, mendhak-mendhak amurugi Prabu Kresna. Aturipun, ”Adhuh, Gusti, begja sanget badan kula yen ngantos kedhawahan cakra sampeyan. Awit punika ingkang badhe angeteraken pejah kula dhumateng ing Suralaya.”<br> Arjuna aningali yen Prabu Kresna menthang cakra, badhe kadhawahaken dhateng Bisma, enggal marepeki sang nata, nyembah lajeng anyandhak astanipun, angrerepa kapurih anyandekna karsanipun. Prabu Kresna boten siyos anggenipun anglepasaken cakra, lajeng minggah dhateng rata kaliyan Raden Dananjaya. Anunten sang nata dhawah dhateng Raden Dananjaya angawe Dewi {{hws|Srikan|Srikandi}}<noinclude>{{rh|||97}}</noinclude> mjtai6xvygri5jarvforvmu3cbwcndv Kaca:Bratayuda.pdf/95 250 20042 78344 67633 2026-05-16T09:42:37Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78344 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>anyandikani. Sareng toya kasaosaken sarta kaombe, Bisma lajeng pejah.<br> Para ratu sami angurmati pejahipun senapati Bisma. Jisim dipun anggen-anggeni badhe kabesmi. Sareng serep srengenge, kagentosan padhanging rembulan, jisim lajeng kabesmi, awunipun minggah dhateng ing Suralaya. Ing sadalu punika Pandhawa kaliyan Korawa sami kendel kemawon, mboten wonten ingkang salah damel, wonten ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak.<br> '''4. ANGKAWIJAYA PEJAH DIPUN KRUBUT KORAWA'''<br> Ingkang pinanggih rembagipun para Korawa, Druna kadamel senapati. Sadalu punika kitha ing Ngastina jawah deres, rah mili dhateng pasanggrahan. Para ratu para adipati tuwin para satriya sami suka bingah, awit punika pratandha yen badhe unggul perangipun. Sadalu Korawa mboten tilem. Enjingipun bodhol. Druna ingkang nyenapateni, gumerah swaraning gangsa, amor suraking bala kados swaraning galudhug. Lampahing bala dumugi ing Tegal Kuru lajeng sami mirantos.<br> Pandhawa dereng salin gelaripun, taksih Garudha-nglayang. Korawa gelaripun Gajahmeta. Suyudana wonten ing githok akanthi Arya Sindureja kaliyan Adipati Ngawangga. Korawa satus ingkang minangka gadhing, dados sekit sisih. Kajawi balanipun ingkang minangka telale Prabu Bagadenta, anitih gajah sarwi mandhi gada. Senapati Druna ingkang minangka sirah. Sareng majeng badhe tanglet, ciptaning manah mboten sumedya mundur.<br> Pangangsegipun bala Pandhawa saha bala Korawa kados saganten kekalih pethuk-pethukan, gumerah swaraning gong sarta beri, suraking bala kados ampuhan, amor swaraning gelap, kados ambengkah langit. Pandhawa lajeng angebyuki gelaripun Senapati Druna. Raden Dananjaya anglepasaken jemparing, wedalipun ambrubul, andhawahi bala Korawa. Raden Wrekodara inggih anglepasaken jemparing, pinten-pinten Korawa ingkang pejah kadhawahan jemparing. Raden Wrekodara lajeng angamuk kaliyan gada,<br><noinclude></noinclude> nw404zrs59bdbqzn7wogwanpdbaxol5 78345 78344 2026-05-16T09:42:51Z Elcamatcha 1466 78345 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>anyandikani. Sareng toya kasaosaken sarta kaombe, Bisma lajeng pejah.<br> Para ratu sami angurmati pejahipun senapati Bisma. Jisim dipun anggen-anggeni badhe kabesmi. Sareng serep srengenge, kagentosan padhanging rembulan, jisim lajeng kabesmi, awunipun minggah dhateng ing Suralaya. Ing sadalu punika Pandhawa kaliyan Korawa sami kendel kemawon, mboten wonten ingkang salah damel, wonten ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak.<br> {{c|'''4. ANGKAWIJAYA PEJAH DIPUN KRUBUT KORAWA'''<br>}} Ingkang pinanggih rembagipun para Korawa, Druna kadamel senapati. Sadalu punika kitha ing Ngastina jawah deres, rah mili dhateng pasanggrahan. Para ratu para adipati tuwin para satriya sami suka bingah, awit punika pratandha yen badhe unggul perangipun. Sadalu Korawa mboten tilem. Enjingipun bodhol. Druna ingkang nyenapateni, gumerah swaraning gangsa, amor suraking bala kados swaraning galudhug. Lampahing bala dumugi ing Tegal Kuru lajeng sami mirantos.<br> Pandhawa dereng salin gelaripun, taksih Garudha-nglayang. Korawa gelaripun Gajahmeta. Suyudana wonten ing githok akanthi Arya Sindureja kaliyan Adipati Ngawangga. Korawa satus ingkang minangka gadhing, dados sekit sisih. Kajawi balanipun ingkang minangka telale Prabu Bagadenta, anitih gajah sarwi mandhi gada. Senapati Druna ingkang minangka sirah. Sareng majeng badhe tanglet, ciptaning manah mboten sumedya mundur.<br> Pangangsegipun bala Pandhawa saha bala Korawa kados saganten kekalih pethuk-pethukan, gumerah swaraning gong sarta beri, suraking bala kados ampuhan, amor swaraning gelap, kados ambengkah langit. Pandhawa lajeng angebyuki gelaripun Senapati Druna. Raden Dananjaya anglepasaken jemparing, wedalipun ambrubul, andhawahi bala Korawa. Raden Wrekodara inggih anglepasaken jemparing, pinten-pinten Korawa ingkang pejah kadhawahan jemparing. Raden Wrekodara lajeng angamuk kaliyan gada,<br><noinclude></noinclude> dao38xgc8sf9z4enkcwjsirrnroizh2 Kaca:Bratayuda.pdf/97 250 20043 78347 67634 2026-05-16T09:43:18Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78347 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mangidul, amurugi Raden Dananjaya. Sesumbaripun, "Heh, Dananjaya, yen kowe prajurit temenan, amesthi nglegani kareping mungsuh. Ayo padha perang ana pinggiring gunung kana, ora ana kang ngewuh-ewuhi, tutug ing sakarep-karep. Yen kowe ora anuruti, amesthi dudu prajurit temenan. Aku ratu ing Kapitu, jenengku Gardapati, kang wis misuwur ing kawanterane.”’<br> Lampahipun Prabu Gardapati sabalanipun sampun dumugi sukuning redi. Raden Dananjaya mireng dipun sumbari, anusul lampahipun Prabu Gardapati, numpak rata kaliyan Prabu Kresna, balanipun inggih tumut mangidul.<br> Anunten Raden Wresaya anyumbari Raden Wrekodara, "Heh, Wrekodara, yen kowe nyata lanang, ayo perang karo aku ana pinggiring sagara, supaya aja ana kang ngregoni, tutuga angadu kasekten."<br> Raden Wrekodara mboten tahan mirengaken dipun sumbari, atilar baris, lumampah mangaler angutu. Druna sumerep yen Raden Dananjaya mangidul, Raden Wrekodara mangaler, lajeng anyalini gelar, anama Cakraningswandana, anyipta mboten kenging dipun risak ing mengsah. Karna kaljyan Karpa ingkang minangka suku. Arya Jayadrata saha para adipati ingkang minangka kuping, Prabu Suyudana ingkang minangka buntut.<br> Pandhawa aningali Korawa salin gelar, sarta pisahipun Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya, manahipun maras ing sawatawis. Prabu Yudhisthira lajeng dhawah animbali Raden Abimanyu, badhe andikakaken ngrisak gelaring Korawa. Wondening ingkang kautus animbali, Raden Gathutkaca.<br> Raden Gathutkaca dumugi ing pasanggrahanipun Raden Abimanyu, tembungipun, "Adhi, kowe ditimbali ing sang nata, bakal kakarsakaken angrusak gelaring Korawa. Satindake Kangjeng Paman, mangidul aperang lan Gardapati ana sikiling gunung, ora ana kang duwe cakra, mung kowe dhewe, iya iku kang sayoga ginawe angrusak gelaring Korawa.”<br> Dewi Siti Sundari garwanipun Raden Abimanyu, mireng pangandikanipun Raden Gathutkaca, sanget prihatosipun. Awit {{hws|sam|sampun}}<noinclude></noinclude> frtzj06m0k2jdz7i812g13y9e27kaj1 78348 78347 2026-05-16T09:43:28Z Elcamatcha 1466 78348 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mangidul, amurugi Raden Dananjaya. Sesumbaripun, "Heh, Dananjaya, yen kowe prajurit temenan, amesthi nglegani kareping mungsuh. Ayo padha perang ana pinggiring gunung kana, ora ana kang ngewuh-ewuhi, tutug ing sakarep-karep. Yen kowe ora anuruti, amesthi dudu prajurit temenan. Aku ratu ing Kapitu, jenengku Gardapati, kang wis misuwur ing kawanterane.”’<br> Lampahipun Prabu Gardapati sabalanipun sampun dumugi sukuning redi. Raden Dananjaya mireng dipun sumbari, anusul lampahipun Prabu Gardapati, numpak rata kaliyan Prabu Kresna, balanipun inggih tumut mangidul.<br> Anunten Raden Wresaya anyumbari Raden Wrekodara, "Heh, Wrekodara, yen kowe nyata lanang, ayo perang karo aku ana pinggiring sagara, supaya aja ana kang ngregoni, tutuga angadu kasekten."<br> Raden Wrekodara mboten tahan mirengaken dipun sumbari, atilar baris, lumampah mangaler angutu. Druna sumerep yen Raden Dananjaya mangidul, Raden Wrekodara mangaler, lajeng anyalini gelar, anama Cakraningswandana, anyipta mboten kenging dipun risak ing mengsah. Karna kaljyan Karpa ingkang minangka suku. Arya Jayadrata saha para adipati ingkang minangka kuping, Prabu Suyudana ingkang minangka buntut.<br> Pandhawa aningali Korawa salin gelar, sarta pisahipun Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya, manahipun maras ing sawatawis. Prabu Yudhisthira lajeng dhawah animbali Raden Abimanyu, badhe andikakaken ngrisak gelaring Korawa. Wondening ingkang kautus animbali, Raden Gathutkaca.<br> Raden Gathutkaca dumugi ing pasanggrahanipun Raden Abimanyu, tembungipun, "Adhi, kowe ditimbali ing sang nata, bakal kakarsakaken angrusak gelaring Korawa. Satindake Kangjeng Paman, mangidul aperang lan Gardapati ana sikiling gunung, ora ana kang duwe cakra, mung kowe dhewe, iya iku kang sayoga ginawe angrusak gelaring Korawa.”<br> Dewi Siti Sundari garwanipun Raden Abimanyu, mireng pangandikanipun Raden Gathutkaca, sanget prihatosipun. Awit {{hws|sam|sampun}}<noinclude>{{rh|||101}}</noinclude> 9yji97127b360as9e86ljrcmj5lgw6l Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/8 250 22730 77362 72253 2026-05-15T12:08:10Z Kriita 885 /* Validated */ 77362 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" /></noinclude><ol><poem>mrih luhur asor pinanggih bebendu gung nekani kongas ing kanisṯanipun wong agung nis gungira sudirèng wirang djrih lalis ingkang tjilik tan tollh ring tjilikira</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=2 |<poem>Wong alim alim pulasan ndjaba putih ndjero kuning ngulama mangsah maksijat madat madon minum main kadji kadji ambanting dulban keṯu putih mamprung wadon nir wadonira prabawèng salaka rukmi kabèh-kabèh mung marono tingalira</poem> |<poem>Para sudagar ingargja djroning djaman kenèng sarik marmane saisining rat sangsarané saja mentjit nir sad èsṯining urip iku ta sangkalanipun pantoging nanḏang sudra jèn wus tobat tanpa mosik sru nalangsa narima ngandel ing Suksma</poem>}} {{u|{{sp|Megatruh}}}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>mBok parawan sangga wang duhki teng kalbu Djaka Loḏang nabda malih nanging ana marmanipun ing wetja kang wus pinasti èsṯinen murih kalakon</poem> |<poem>Sangkalané maksih nunggal djamanipun nèng sadjroning madya akir wiku sapta ngèsṯi ratu ngadil parimarmeng dasih ing kono karsaning Manon</poem>}}<noinclude></noinclude> jsdh3it0nq1wr3rbz35zcopn8rehz4r 77363 77362 2026-05-15T12:08:39Z Kriita 885 77363 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" />{{rh||— 2 —|}}</noinclude><ol><poem>mrih luhur asor pinanggih bebendu gung nekani kongas ing kanisṯanipun wong agung nis gungira sudirèng wirang djrih lalis ingkang tjilik tan tollh ring tjilikira</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=2 |<poem>Wong alim alim pulasan ndjaba putih ndjero kuning ngulama mangsah maksijat madat madon minum main kadji kadji ambanting dulban keṯu putih mamprung wadon nir wadonira prabawèng salaka rukmi kabèh-kabèh mung marono tingalira</poem> |<poem>Para sudagar ingargja djroning djaman kenèng sarik marmane saisining rat sangsarané saja mentjit nir sad èsṯining urip iku ta sangkalanipun pantoging nanḏang sudra jèn wus tobat tanpa mosik sru nalangsa narima ngandel ing Suksma</poem>}} {{u|{{sp|Megatruh}}}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>mBok parawan sangga wang duhki teng kalbu Djaka Loḏang nabda malih nanging ana marmanipun ing wetja kang wus pinasti èsṯinen murih kalakon</poem> |<poem>Sangkalané maksih nunggal djamanipun nèng sadjroning madya akir wiku sapta ngèsṯi ratu ngadil parimarmeng dasih ing kono karsaning Manon</poem>}}<noinclude></noinclude> byt32evx9bd3ffi1ut772on19rcs5jb Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/2 250 22942 77430 72730 2026-05-15T14:37:36Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77430 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|Gedru bij G. KOLFF & Co., Batavia-Centrum.}}<noinclude></noinclude> lqpwzflzjtj166beffdn57se9f6018o Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/36 250 22965 77437 76682 2026-05-15T14:41:37Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77437 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||36}}</noinclude>ana ing iroeng disaring, apa tegesé? 11. Apa kowé bisa nerangaké: manawa kowé pinoedjoe pileg, panggandamoe soeda landepé! 12. Apa praboté piranti kanggo ndeleng? 13. Apa goenané sidji-sidjiné? 14. Boenderaning mripat ana boentelé teloe, aranana, lan tjritakna sidji-sidjiné! 15. Manik moendak amba, jèn ...., dadi tjijoet, manawa ...... 16. Klasoetan-djala ana pérangané „sing kerèn”. Apa tegesé? Lah pérangan sing „kalis” keprijé? 17. Banjoe kiter-kitering mripat lan soerjakanța apagoenané? 18. Manawa kowé ndeleng barang sing adoh, soerjakantaning mripatmoe kaprijé? 19. Ana sawenèhing wong jèn matja, boekoené ditjeḍakaké banget. Ikoe tanda jèn...... 20. Trekadang ana wong koedoe doewé tesmak warna loro (gelasé oetawa katjané warna loro). Apa kowé bisa nerangké? 21. Apa goenané godoh lan broemboengan-koeping? 22. Kendangan-koeping matesi apa? 23. Paneteling hawa ing djaban lan djeron koeping bisa timbang, sabab ...... 24. Djegoḍahan-tengahing koeping ana baloeng-pangroengoe teloe, aranana! Ikoe noendakaké swara saka endi tekan endi? 25. Apa pérangané,,panasaran?" 26. Ing ngendi doenoengé poengkasaning tali-rasa-pangroengoe. 27. Banjoe-pangroengoe ikoe apa? 28. Tjritaa: ana barang moeni mak dèr nganti keproengoe ing koepingmoe!<noinclude></noinclude> mocx9zwr7xapoqp6ukvfya4nv8r6w0b Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/32 250 22968 77433 76567 2026-05-15T14:40:00Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77433 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||32}}</noinclude>''c.'' Panasaran. Piranti ngroengoe kang doemoenoeng ing djero déwé (ing baloeng parang) woedjoedé pating tjlekoetek mbingoengaké, moelané diarani panasaran, ikoe empoek, aloes, ana baloengé sawatara, isi djasad tjoewèr. Panasaran ana pérangané: 1. èmpèr mawa lawangan londjong, 2. broemboengan teloe paḍa mlengkoeng, 3. omah kéjong. Pérangan teloe ikoe ing djero kebak prențilan poengkasaning tali-rasa-pangroengoe. Djasad tjoewèr (banjoe pangroengoe) kang ngèbeki pérangan teloe maoe manawa obah kena keḍering hawa, bandjoer nggepok prențilan poengkasané tali-rasa-pangroengoe, toemoenda ing telenging sarap: wong ngroengoe.<br>{{c|_______}}<br> {{c|Endeg-enḍeg kang aran tjoerek,<br> Wadjib énggal-énggal binoesek.<br> Moeng baé dèn prajitna, ngati-ati,<br> Jwa kongsi gawé lara, anatoni.}}<br><br>{{c|_______}}<noinclude></noinclude> 04ls3o5wzf4frwqcvgty7kk4d2w7cmq Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/5 250 22978 78113 75128 2026-05-16T05:34:46Z Zeefra 1934 /* Absah */ 78113 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude><small>{{r|'''TIDAK DIPERJUALBELIKAN'''<br> Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br> Perpustakaan Nasional, 2011}}</small> {{c|<big>'''BABAD KEMALON'''</big> '''(PAKUNAGARA)''' <br>'''I'''<br> <br> '''Presented to the Royal Asiatic Society<br> '''of Great Britain & Ireland<br> '''by Lady Raffles'''<br> <br> Alih Aksara dan Bahasa<br> <br><br> KI. HIMODIGDOYO KI SOEHARTO}}<noinclude></noinclude> dkfqn73a2xgja051n4cw9qcrq5u9p8e Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/464 250 22988 78132 72805 2026-05-16T06:55:24Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 78132 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>PN BALAI PUSTAKA - JAKARTA<noinclude></noinclude> 9pfolob6ano5htpbugt2x7o65vh4ma2 Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/10 250 22993 77520 75141 2026-05-15T15:43:30Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77520 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Kumpeni tidak mau keluar, dari dalam mereka menembaki, senjata tidak mengenai, yang berada di luar menembaki, karenanya hanya terjadi tembak-menembak, sesekali hanya bertempur, ada kalanya tiap hari, mengundurkan diri karena diburu malam hari, sewaktu malam beristirahat di dalam kemah.</poem> |<poem>Keesokan harinya berangkat perang, segenap Tumenggung Metaram, Pangeran Mangkudiningrat, lengkap dengan balatentaranya, tidak dengan sepenuh hati bekerja, cara berperang hanya turut-turut saja, tak ada yang diarahkan, peperangan dari kejauhan, hanya tentara Mangkunegaran yang dengan kesungguhan berperang.</poem> |<poem>Srageni serta Mantri Jaba yang sungguh-sungguh berperang, sewaktu malam beristirahat, segenap balatentara beserta Pangeran Adipati, keesokan harinya berangkat perang, melawan Kumpeni, berperang sehari penuh, beristirahat kembali di Candi, bila malam tiba membuat peluru.</poem> |<poem>Bila siang hari tiba peluru dibuatnya untuk berperang dalam sehari peluru habis dipergunakan, tiap malam ganti pekerjaan, membuat peluru dan menyaksikan hiburan wayang kulit, siang hari berperang, bermain kartu dan dadu, pagi harinya berperang, senja sore pulang membuat peluru, tidak terhitung kegiatan Pangeran Adipati.</poem> (4)|<poem> Kumpeni menyibukkan diri, di Kemalon mereka siap siaga, sementara itu diceriterakanlah, Kanjeng Susuhunan Metaram, waspada terhadap berita, bahwa balatenteranya,</poem>}}<noinclude>{{rh|8}}</noinclude> 6ohsyfwtl54w5qer5vept7rydw6c4jm Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/28 250 23211 77517 75456 2026-05-15T15:36:30Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77517 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>segera terdengar aba-aba berangkat, menuju arah timur, kepada segenap para pamong, memasuki barisan, tibalah kini di Pamalon, kemudian berkemah di Wedhi.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=38 |<poem>Dinamakan desa Bajing, mereka berhenti dan berkemah, menyiapkan tempat bermalam, segenap Tumenggung dan bersama bermalam, sedangkan fihak Kumpeni, bermalam di Pamalon. </poem> (18) |<poem>Deller dan fihak Kumpeni, berada di Kemalon selama tiga hari, keesokan harinya berangkat, menuju ke Mataram, bagaikan laut barisan, lengkap dengan persenjataan, sedang jalannya berkelompok-kelompok.</poem> |<poem>Persenjataannya mentakjubkan, di tengah perjalanan mereka sangat hati-hati, Deller menyiagakan surat, mentaklukkan orang-orang desa, desa sunyi senyap, semua melarikan diri ke gunung, porak-porandalah keadaan desa.</poem> |<poem>Tidak terkisahkan yang sedang berjalan, kini diceriterakanlah perihal Pangeran Adipati, segenap balatentara membubarkan diri, demikian juga pegawai (pamong) Mataram, jalannya tergesa-gesa mengejar jalannya Kumpeni yang menuju Mataram.</poem> |<poem>Menyerang dari belakang, balatentara yang ke Mangkunegaran, tidak mau berdekatan jalannya,</poem> }}<noinclude>{{rh|'''26'''}}</noinclude> aph3sbvko1rv8g700i6fhw7nif3s92d Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/39 250 23250 77522 75766 2026-05-15T15:50:30Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77522 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=36 |<poem>Di Rejasa sebelah barat Wedhi, mendirikan perkemahan, segenap tumenggung menghadapnya lengkap dengan keluarganya dan juga pangeran Mangkudiningrat pangeran Purubaya, diikuti adiknya Pangeran Mangkukusuma, setibanya memberi salam hormat dengan tergesa-gesa segenap tumenggung menyembahnya.</poem> |<poem>Akan tetapi pramubakti pribadinya, warga Jawa, Sarageni dan Panumbak, mantri urusan luar seluruhnya, sangatlah gembira nya atas tibanya Panglimanya bagaikan ikan kehabisan air, kemudian mendapat air, demikian juga halnya dengan yang dipertuan, serta Pangeran Adipati Anem, yang memberikan bantuan.</poem> |<poem>Mereka menyampaikan laporan jalannya pertempuran, sewaktu melarikan diri karena serangan Belanda, pemimpin pemerintahan (29) berganti menyampaikan laporan diselingi gelak-ketawa, Pangeran Adipati kedua-duanya, kemudian mereka bermain kartu, makan-minum segenap tumenggung menari-nari, segenap keluarga dan pemimpin bersuka-ria timbul lagi keberaniannya.</poem> |<poem>Bersantap bersama membesarkan hati minum-minuman sepuas-puasnya setelah itu membubarkan diri menuju tempat istirahatnya masing- masing, mereka berada di tempat istirahat hanya dua malam, berangkat dari Rejasa, keesokan hari melanjutkan perjalanan, beristirahat di Geneman segenap tumenggung dan keluarganya bersiap-siap demikian juga segenap bala yang telah beristirahat tersebut.</poem> }}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> peevjum8js4owarcvrawbgx3cx22xde Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/40 250 23254 78114 73375 2026-05-16T05:37:50Z Zeefra 1934 /* Absah */ 78114 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem>Bertempat di Guneman mengadakan persiapan segenap balatentara telah dipersiapkan selang empat hari lamanya Pangeran Dipati, Pangeran Adipati Anem putra Sri Baginda Raja, pada waktu itu gering, kemudian diundurkan pulang kembali ke Sokawati, beserta pasukan dan prajurit yang terpilih, selamatlah perjalanan- nya.</poem> |<poem>Sewaktu di Gunenam Pangeran Adipati sering mengadakan latihan memanah beserta segenap keluarga dan para niyaka, tidak ketinggalan para tumenggung, mereka berlatih di- bawah tenda, tiap hari, Srageni dan pimpinannya, semua memegang busur, mengadu kemahiran memanah serta menari-nari, disertai sorak yang meriah.</poem> |<poem>Gamelan Bali dibunyikan bertalu-talu (30)pada malam hari dengan berkendaraan kuda Pangeran Adipati memeriksa barisannya, bahkan sering kali ke selatan, ke Prambanan semalam suntuk, menghadapi barisan yang ada di Guneman, berganti yang di- kisahkan, negara Metaram Yogyakarta segenap warganya telah siap berbakti kepada Kumpeni yang ada di Yogyakarta.</poem> |<poem>Perkemahan warga Metaram telah merata-luas Ideller pulang Semarang, bersama orang pasisir Uprup memberi salam dengan anggukan mereka berjalan melalui Kedu, bersama pange- ran Bintara, pulang ke Salam, singgah dan melalui Semarang, dengan segenap balatentara menuju Selakerta, ditinggalkan Yogya- karta.</poem> }}<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> kxis5y4n1lnvgvlde3843zkqsgr3i15 Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/69 250 23474 77458 75999 2026-05-15T14:55:24Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77458 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><ol><poem>segenap pimpinan serta keluarga raja telah siap sedia, siap untuk bertempur.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=36 |<poem> Barisan Kumpeni dikepung oleh barisan Sang Nata, keesokan harinya loji diserang, peperangan ramai sekali, sehari suntuk mereka bertempur, tidak ada sungguh dahsyat dan mengerikan, malam tiba, selang setengah bulan, bala bantuan Kumpeni tiba, mereka berasal dari barat Banyumas.</poem> |<poem>Bupati yang turut Kumpeni, ialah tumenggung Yudanegara dari Banyumas, berjalanlah/bergeraklah bala bantuan tersebut, Drang gunung telah turut serta, orang Panjer Banjar turut pula, kelompok Kumpeni terdiri atas 60 orang, Bugis sepuluh orang, setibanya lalu masuk loji, di Ungaran.</poem> |<poem>Sunan yang siap menyergap telah mendengar berita, kehadiran bala bantuan, Susunan segera memberi aba-aba, kepada balatentaranya, di Ngremarang Ambal, sebelah Selatan Banyurip, tepi kali Lereng, selang semalam Kumpeni tiba, terjadilah pertempuran.</poem> |<poem>Kumpeni di sebelah utara sungai, bermaksud menyeberanginya serta membuat jembatan penyerbuan darurat (dari bambu), Susunan memberi komando, perahu-perahu lengkap dengan pasukan, siap untuk bertempur, bermaksud merebut jembatan penyeberangan, perintah Sang Prabu, he Tumenggung Cakrajaya, rebutlah jembatan penyeberangan bersama para mantri, Tumenggung Cakrajaya segera berangkat.</poem>}}<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude> mqd1y02j9aw4t72myduf9sq7nlas1kw Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/4 250 23491 77431 73902 2026-05-15T14:39:07Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77431 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||4}}</noinclude>{{C|'''I. RAGANGAN.}}''' '''1. Goenané.''' Ragangan ikoe minangka pikoewating awak, kanggo ndjaga lan noetoepi pérangan-pérangan kang ringkih lan aloes (oetek, djantoeng, keboek) lan kanggo gondèlaning daging. '''2. Pamérangé.''' Baloeng-baloeng kang moedjoedaké ragangan kapérang dadi teloeng golongan, jaikoe: baloeng-baloeng ing sirah, gemboeng lan anggota. '''3. Anggota doewoer.''' Anggota kang doemoenoeng ing doewoer (lengen) awoedjoed : baloeng baoe, baloeng tangkis-djaba (kentjeng karo djempol), baloeng tangkis-djero (sipat karo djentik), baloeng-baloengé oegel-oegel (8), baloeng-baloenging èpèk-èpèk (5), baloeng-baloengé dridji 5 (goenggoeng ana 14 tengkel, marga djempol moeng ana baloengé 2 tengkel)¹). Lengen gandeng karo gemboeng sarana gelangan poenḍak. Baloeng baoe ing poetjoek mbendol, ikoe trep ing legokan baloeng walikat. Ing saḍoewoeré panggonan gandenging baloeng loro ikoe ana baloengé manèh, woedjoedé mèmper koentji, moelané ija diarani baloeng koentji. Baloeng walikat kiwa-tengen lan baloeng koentji kiwa-tengen jèn dineleng saka ing doewoer katon kaja gelangan, moeng ing boeri ora gațoek. Gelangan maoe kaaranan gelangan-poendak. '''4. Anggota ngisor.''' Anggota ngisor (sikil) awoedjoed: baloeng poepoe, gandoe, baloeng gares, baloeng kémpol, baloeng-baloengé oegel-oegel-sikil (7), baloeng-baloenging dlamakan (5), baloeng-baloenging dridji-sikil 5 (goenggoeng ana 14 tengkel). Salah sidjining ba-loeng oegel-oegel-sikil oepama: baloeng toengkak. Sikil gandeng karo gemboeng sarana gelangan-tjețik. Gandengé loewih santosa tinimbang lengen. Kang moedjoedaké gelangan-tjețik: baloeng sanggan-djerowan kiwa-tengen, baloeng wadi kiwa-tengen lan baloeng paloenggoehan kiwa-tengen. Gelangan-tjețik ikoe pantjèné ija ora temoe gelang, nanging ing boeri ana baloeng soemelap, jaikoe baloeng werit. {{C|__________}} '''1) Pénget.''' Pérang-pérangané gambar kang soemanding pada tjinirénan aksara wiwitaning temboeng-temboeng araning pérangan-pérangan maoe,<noinclude></noinclude> ru6lk7dbe3bhmq1f9gi250dnp8ttj9v Kaca:ꦕꦫꦶꦠꦤꦺꦱꦶꦪꦸꦟꦸꦱ꧀.pdf/25 250 23513 78356 73980 2026-05-16T09:52:21Z Devi 4340 509 /* Absah */ 78356 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" />{{rh||23}}</noinclude>{{jawa|tag=div|ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮꦤꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦢꦶꦫꦺꦮꦁꦫꦺꦮꦁꦔꦶꦫꦏ꧀ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦕꦺꦴꦥꦠ꧀ꦕꦥꦺꦠ꧀ꦧꦶꦱꦢꦢꦶꦣꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦤꦶꦁꦥꦢꦸ꧈ ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦁ​ꦭꦤꦁꦤꦸꦠꦸꦃꦱꦶꦁ​ꦮꦺꦢꦺꦴꦏ꧀ ꦗꦫꦺꦱꦶꦁꦮꦺꦢꦺꦴꦏ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦔꦸꦧꦼꦠ꧀ꦠꦏꦺꦧꦸꦠꦸꦃ꧈ ꦱꦶꦁꦮꦺꦢꦺꦴꦏ꧀ꦤꦸꦠꦸꦃꦱꦶꦁ​ꦭꦤꦁ꧈ ꦗꦫꦺꦱꦶꦁ​ꦭꦤꦁꦲꦺꦴꦫꦗꦺꦒꦺꦴꦱ꧀ꦲꦔꦶꦔꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦧꦺꦴꦗꦺꦴꦤꦺ꧉ ꦲꦶꦁꦔꦠꦱ꧀ꦱꦺꦮꦺꦴꦁꦭꦤꦁꦪꦲꦏꦺꦃꦱꦶꦁꦒꦼꦣꦺꦥꦩꦼꦠꦸꦤꦺ꧈ ꦢꦢꦶꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦤꦺꦩꦺꦴꦤꦺꦴꦧꦺꦴꦗꦺꦴꦤꦺꦪꦧꦶꦱꦔꦺꦤꦏ꧀ꦲꦺꦤꦏ꧀ ꦲꦺꦴꦫꦱꦸꦱꦃꦩꦺꦭꦸꦤꦸꦁꦱꦁꦲꦚ꧀ꦗꦼꦩ꧀ꦥꦭꦶꦏ꧀ ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦮꦢꦺꦴꦤ꧀ꦱꦶꦁꦲꦸꦠꦩꦲꦺꦴꦫꦒꦼꦊꦩ꧀ ꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦱꦶꦁꦏꦪꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦲꦶꦏꦸ꧈ ꦱꦧꦶꦱꦧꦶꦱꦏꦸꦢꦸꦩꦺꦭꦸꦆꦃꦠꦶꦪꦂꦒꦺꦴꦭꦺꦏ꧀ꦮꦸꦮꦸꦃꦲꦺꦉꦗꦼꦏꦶ꧈ ꦱꦸꦥꦪꦪꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏꦸꦏꦸꦫꦸꦁꦔꦤ꧀ꦤ꧈ ꦲꦺꦴꦫꦗꦼꦤꦼꦁꦏꦲꦶꦤꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦢꦶꦠꦸꦠꦸꦃꦱꦶꦁꦭꦤꦁ꧉ ꦏꦁꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦩꦲꦸꦏꦧꦺꦃꦮꦶꦱ꧀ꦏꦕꦏꦸꦥ꧀ꦲꦶꦁꦥꦶꦏꦶꦂꦫꦤ꧀ꦤꦺꦯꦶꦤꦃ꧈ ꦩꦸ}}<noinclude></noinclude> lw6w3gkndqoc22snv55vfxtu58jvdpq Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/53 250 24031 77509 75166 2026-05-15T15:29:44Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77509 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |<poem> (42) Pangeran Adipati bersedia, untuk melaksanakan, Pangeran Dipatva muda putranva Sri Baginda Raja, disuruh berangkat dahulu, mendaki gunung, tidak terceriterakan dalam perjalanan.</poem> |<poem> Pangeran Adipati telah mendekati gunung, di Gunung Kidul, lengkap dengan balatentaranya, serta mertuanya, Suradiningrat dari Metaram, Suryanapura, serta Jayanegara.</poem> |<poem>Sri Baginda Raja berangkat ke arah utara, yang turut Sri Nerpati, orang urusan dalam Rangga Wirasentika, tumenggung Suryanegara, Jayadirya, serta Kertanegara.</poem> |<poem>Serta tumenggung Brajamusthi Wiradigda, Mandaraka serta lain-lainnya, yang berada di depan, mantri urusan dalam, pangeran purbaya serta lainnya, Mangkukusuma, pangeran Wijaya.</poem> |<poem> Pasukan Srageni dipilihi, Suryanata serta Breja, Nirbita dan Nirbaya, serta Jagasura, Jamenggála Judhipati, orang yang bertindak nyata, bertempur dengan hati-hati.</poem> |<poem>Martalulut serta orang Singanagara, gandhek*) serta para mantri, Anem serta Kanoman, serta kepada para calón prajurit, berangkat dari Metaram, Sri Baginda Raja, barat-laut arah perjalanannya.</poem> |<poem>Bergerak majulah kemudian, Kedu akan diduduki, sedangkan yang (43) ditinggalkan, Pangeran Adipatya, serta</poem> }}<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude> jc1wscryztf88aa1ha43d5htvksb14x Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/9 250 24039 77521 75180 2026-05-15T15:46:12Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77521 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''A. (Sinom)''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>(1) Kitab ini ditulis, pada malam Rebo Legi tanggal enambelas, Pon pasarannya Sapar bulannya Ehe Wawu tahunnya Kebetulan jatuh musim ketiga, dengan sengkalan : Karti Roro Pandhita Eka *)</poem> |<poem>Syahdan dikesahkanlah Kanjeng Pangeran Mangkunegara, sewaktu mengadakan pembicaraan dengan Ayahanda Sri Narpati, Kanjeng Sunan Mangkubumi, yang bertahta di Kabanaran. (2) waktu itu Kanjeng Pangeran Adipati bersama balatentaranya, berperang melawan Belanda di Kemalòn.</poem> |<poem>Balatentara Kumpeni waktu itu, terdiri atas suku Bugis dan Bali, Ambon serta Ngusar, siap-siaga di Kemalon, membetengi Kumpeni, dan beijarak hanya satu desa, dengan tempat berkemah Pangeran Adipati di Candi, tidak dikisahkan malam itu, kemudian pagi harinya berperang.</poem> |<poem>(3) Berperang mengadu senjata, berkuranglah jumlah masing-masing prajurit, berperang sehari penuh, peperangan tidak berberitakan, Pangeran Adipati, sewaktu senja sore bersama tentaranya menarik diri, pada malam hari istirahat, esok harinya berperang kembali, perang mengadu senjata. <small>= 1724</small></poem> }}<noinclude>{{rh|||7}}</noinclude> 4yle632apo8lrkq22q338zktdmg9is5 Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/55 250 24081 77512 75248 2026-05-15T15:31:15Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77512 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>::keesokan hari, berjalan ke barat kemudian ::istirahat, berjalan melalui kaki gunung ::Merbabu.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>'''(44)''' Setelah semalam kemudian menuruni jurang, menyeberang kali Andaru, di sebuah dataran mereka bersiap, mengadakan pembicaraan dengan para prajurit, tidak terkisahkan</poem> |<poem>Pasukan Kumpeni yang berbaris di Magelang, dipimpin oleh mayor Kalerek, terdapat Belanda banyak sekali, satu kelompok Kumpeni, seratus Bugis Bali, bupati Jawa empat orang yang lain.</poem> |<poem>Tumenggung Natayuda, Mangkuyuda, Wiraguna serta lain-lainnya, tumengggung Wiradigda, menurut tutur kata mantri urusan luar, Susunan yang diceriterakan, sedang beristirahat, di Ngleter selama 4 malam.</poem> |<poem>Pagi hari menuju ke barat, sewaktu matahari tidak di tengah-tengah benar, mereka berada di Medana, istirahatlah barisannya, karena berdekatan dengan lawan, yang berada di Magelang yaitu barisan Kumpeni, Sri Naranata, memberi tugas kepada Jagalatah.</poem> |<poem> Memerintahkan agar berjalan di belakang, dengan segenap kawan mantri, kemudian lawannya Kumpeni yang ada di Magelang, melihat musuhnya telah mendekat, sedang bergerak, kemudian segera memberi aba-aba.</poem> |<poem>Telah siap-siaga Kumpeni dengan pasukannya,</poem> }}<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude> olzjxcf0e59a8g7ck0z1xqjhusehtjb 77514 77512 2026-05-15T15:31:55Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77514 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::keesokan hari, berjalan ke barat kemudian :::istirahat, berjalan melalui kaki gunung :::Merbabu.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>'''(44)''' Setelah semalam kemudian menuruni jurang, menyeberang kali Andaru, di sebuah dataran mereka bersiap, mengadakan pembicaraan dengan para prajurit, tidak terkisahkan</poem> |<poem>Pasukan Kumpeni yang berbaris di Magelang, dipimpin oleh mayor Kalerek, terdapat Belanda banyak sekali, satu kelompok Kumpeni, seratus Bugis Bali, bupati Jawa empat orang yang lain.</poem> |<poem>Tumenggung Natayuda, Mangkuyuda, Wiraguna serta lain-lainnya, tumengggung Wiradigda, menurut tutur kata mantri urusan luar, Susunan yang diceriterakan, sedang beristirahat, di Ngleter selama 4 malam.</poem> |<poem>Pagi hari menuju ke barat, sewaktu matahari tidak di tengah-tengah benar, mereka berada di Medana, istirahatlah barisannya, karena berdekatan dengan lawan, yang berada di Magelang yaitu barisan Kumpeni, Sri Naranata, memberi tugas kepada Jagalatah.</poem> |<poem> Memerintahkan agar berjalan di belakang, dengan segenap kawan mantri, kemudian lawannya Kumpeni yang ada di Magelang, melihat musuhnya telah mendekat, sedang bergerak, kemudian segera memberi aba-aba.</poem> |<poem>Telah siap-siaga Kumpeni dengan pasukannya,</poem> }}<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude> f3wptntit1keisqmrkxy790859xcg4p Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/56 250 24082 77516 75249 2026-05-15T15:33:54Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77516 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::bermaksud mengejarnya, kepada Sunan :::yang datang, Bugis Bali orang Jawa, :::telah siap dalam barisan, pemimpin pasukan, :::ialah Kapiten Nengkap.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem> Pimpinan dari pasukan Bali Bugis menurut (45) berita, ialah kapiten Pandem, pasukan Jawa yang dibawa separo bagian, sedang yang sebagian lagi tinggal di beteng, dari Magelang, sewaktu fajar menyingsih mereka tiba.</poem> |<poem> Semalan perjalanan mereka tidak menentu, bingung tidak mengetahui jalan, sewaktu fajar menyingsing, mereka berada di gunung Kekeb, terkisahkan Sri Bupati, dari Medana, berangkat ke arah barat.</poem> |<poem>Telah tiba di desa Medana waktu itu, menjelang tiba di Praga, kemudian lawan datang, Kumpeni dari belakang, menyeranglah bala Kumpeni, Sang Nata lalu bersiap-siap, kemudian dihentikanlah persiapan.</poem> |<poem> Segenap prajurit Kasunanan, diperintahkan mendarat, akan tetapi para pangeran, diperintahkan mengendarai kuda, semua pasukan telah siap sedia, menghadap ke timur, menuju Toya Wuki.</poem> |<poem> Diperintahkan bersembunyi di balik pematang, bermaksud bergerombol maju tiba-tiba; Sri Baginda Raja, karena payung kebesarannya tidak terbuka, tidak terlihat oleh para prajurit, diperintah untuk bersembunyi siap dan menyergap Toya Wulu.</poem> |<poem> Jagalata ditugaskan membawa pulang segenap istri, mengawal wanita-wanita tersebut,</poem> }}<noinclude>{{rh|54}}</noinclude> ttqts089ui799eumzvm6ka2wpc70z9i Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/11 250 24094 77519 75272 2026-05-15T15:41:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77519 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::lalai dalam menjalankan tugasnya. :::demikian juga :::Tumenggung (hulubalang) tidak sepenuhnya :::menjalankan darma baktinya.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=10 |<poem>Sebaliknya putranda Sang Pangeran, Adipati Mangkunegara, bertugas dengan sepenuh hati, demikian juga balatentara yang dipimpinnya, selanjutnya Sri Baginda Raja, sangat marah dalam hati, kemarahan ditunjukkan kepada balatentaranya, kemudian Sri Baginda Raja Metaram, pada prajurit pilihan diajak bicara.</poem> |<poem>Diutuslah seseorang, kelanjutan pembicaraan tidak dikisahkan, prajurit Suryanata, orang yang menjadi pilihan telah siap sedia, di depan Sri Baginda Raja, yang telah memerintahkan, untuk menyalib, membunuhnya, dan memotong daun telinga prajurit-prajurit yang kurang baik menjalankan tugasnya.</poem> |<poem>Segera Sri Baginda Raja, memberi perintah menyerang, bagaikan guruh suaranya balatentara yang berbaris, dengan membawa senjata ; kemudian Baginda Raja bertolak, se telah balatentaranya berjalan, fidak ada berita yang penting di tengah perjalanan Sri Baginda Raja istirahat, berkemah di Pajarakan.</poem> |<poem> Sebab musabab Sri Baginda Raja berada di medan perang, terbawa oleh rasa kesalnya, disebabkan peperangan yang dilakukan balatentaranya, tidak dapat menyerang Kumpeni, malam hari Sri Baginda Raja, memanggil putranda, Pangeran Mangkunegara, yang tidak lama kemudian menghadapnya.</poem> }}<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude> tuvtnrwepa44e4k70ikkcxur6ggahhs Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/17 250 24100 77518 75280 2026-05-15T15:38:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77518 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::hanya dari barat yang tidak ada, kini :::Kumpeni yang dikisahkan, yang berada :::dalam barisan, di Pamalon telah siap :::sedia untuk bertempur.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=36 |<poem> (9) Barisannya besar sekali, Kumpeni terdiri atas orang Butis dan Bali dengan segenap balatentara di Sala, Pangeran Bintara yang memimpinnya, dan orang-orang dari pesisir, bertekad hendak menyerang tidak gentar dalam pertempuran, bertekad berkorban, sedangkan jalannya telah tertutup.</poem> |<poem>Yang menanggulangi peperangan, sebelah selatan orang Bugis dan Bali, beserta prajurit Jawa, sebelah tenggara ditanggulangi, kavaleri Kumpeni, Pangeran Bintara sudah maju perang, yang mempertahankan sebelah timur, pragunder *), Bugis dan Bali, mempertahankan sebelah utara.</poem> |<poem> Kavaleri Kumpeni dan Nusar, pembesarnya Kumpeni, Uprup yang memimpin peperangan, tidak ketinggalan Bugis dan Bali, mempertahankan barat-laut, orang pantai Bugis kembali, bersama kavaleri Belanda, Seluruhnya telah siap sedia, bak guruh suaranya barisan.</poem> |<poem>Tidak terlukiskan geraknya orang Jawa, di Kemalon rasa-rasanya (suasananya) bagaikan berdiri bulu roma (menakutkan), siyaga di dalam parit, seluruhnya</poem>}} <small>*) pragunder = tentara berkuda {{tab}} Uprup = pangkat dalam ketentaraan <br> {{tab}} Nusar= pangkat dalam Belanda.</small><noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> 8a3z7ledhzgumy43i3asbe5xrxpopyw Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/191 250 24131 77451 75365 2026-05-15T14:52:20Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77451 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{Ordered list|start=30 |Berhenti di Jagaraga, bupati yang ditinggalkan <br>di Sokawati, lengkap dengan pasukannya, tumenggung <br>Ranadipura, tumenggung ki Cakrajaya, serta tumenggung <br>Kertadirdja. |Warga penduduk Sokawati dikumpulkan, oleh para mantri, <br>4 orang sekawan, di Gembong serta Sesedhah <br>serta demang Karanganyar, serta mantri Jatisari <br>dan tinggal di Jatisari. |Empat orang mantri telah tiba, di desa Sesedah<br> kemudian Rangga dengan pasukannya, dan kawan Brajamusthi, <br>waktu itu perjalanan mereka, membalik ke barat <br>dan kemudian ke selatan, bermaksud akan menggempur <br>musuh. |Rangga dan Brajamusthi, kemudian berperanglah, ramai <br>sekali pertempurannya, mas Rangga menyerang ke barat,<br>berada di sebelah barat sungai, dikisahkanlah hai Pangeran <br>Adipati, yang sedang bergerak. |Kemudian mereka ke arah utara, sehari mereka berjalan, <br>kemudian beristirahat dengan balatentaranya, di hutan <br>Sepuh, membunyikan gamelan, menyelenggarakan pagelaran<br>wayang kulit, Pangeran Adipati memerintahkan. |Dua orang ditugaskan, disertai surat, jalannya riang gembira <br>penuh kebijaksanaan, ke U prup bangsa Belanda di Sala, <br>jalannya tidak dikisahkan <br>dua orang utusan telah tibalah, serta diberi sepucuk surat. |Upru Sala memberi surat, serta mengirimkan minum<br>minuman, sejumlah dua pikul, disampaikan kepada Pangeran <br>Adipati, semalam mereka mengadakan pagelaran wayang, <br>kemudian pada hari Kemisnya, segenap mantri jaba <br>seluruhnya. |Diperintahkan untuk mendahului keberangkatannya <br>ditugaskan untuk merebut perahu, di Sokawati di {{hws|benga|bengalis}} }}<noinclude>{{rh|||189}}</noinclude> qj5eh1zrpe7l5ebb9gl24k257qm9jbj Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/193 250 24134 77450 75367 2026-05-15T14:51:57Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77450 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{Ordered list|start=45 |Kemudian Pangeran Adípati, berangkat bersama pasukan, <br>tímur laut arahnya, istirahat di desa Puthat, semalam dan <br>keesokan hati berangkatlah, kemudian istirahat di desa <br>Malenang. |Keesokan hari mereka berjalan, istirahat di Careme, Kanjeng <br>Pangeran Adipati, memerintahkan ke Gobogan, memanggil <br>pamanda <br>Adipati Puger, disertai sepucuk Surat. |Istirahat selama dua malam, pagi hari berangkat bersama <br>balatentara, masuk hutan Kendeng, istirahat di hutan, <br>memberi istirahat pada kapal-kapalnya, di tengah hutan <br>Kendeng dan gunung, lengkap dengan balatentaranya. |Kemudian ada sepucuk surat yang tiba, dari Madiun, <br>Pangeran Mangkudipura, memberi tahu, lengkap dengan <br>pasukan perang, adipati anem adalah lawannya, pertempuran <br>berlangsung di sendang. |Kemenangan yang diperolehnya, terhenti mereka mengejar <br>lawan, Pangeran Mangkudipura <br>berada di Ngawi, Pangeran Mangkudipura <br>memperoleh rampasan, dan sierahkan. |Lawas kehilangan 15 orang, tertangkap hidup-hidup tiga <br>orang, seorang Bugis, teling dipotong, diserahkan Kepada <br>Pengeran Adipati, teman Pangeran Madiun, yang gugur <br>seorang. |Luka dua orang, kemudian Pangeran Adipati <br>berangkatlah dengan pasukan, ke timur masuk hutan, istirahat <br>di tengah hutan, di Karangasem semalam, balatentaranya <br>dalam keadaan serba kurang. |Jarang yang menemukan tanda-tanda, di tengah hutan gunung <br>Kendeng, sangatlah sulit memperoleh makan, banyak <br>diantara balatentaranya yang menderita kelaparan, airpun <br>sulit diperoleh, tidak dapat menemukan air, kelaparan <br>karena tidak ada makanan. }}<noinclude>{{rh|||191}}</noinclude> hh5ukilv6d3jeeuywbenkq47pxbnqum Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/194 250 24135 77449 75371 2026-05-15T14:51:37Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77449 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{Ordered list|start=53 |Pasukannya sangatlah bersedih hati, kemudian Pangeran <br>Adipati, berangkatlah <br>bermalam di Grogol, semalam dan keesokan hari melanjutkan <br>perjalanan, bermalam di gunung Santun, semalam dan <br>pagi harinya melanjutkan perjalanan. |Bermalam di Pasembul semalam, kemudian bermalam di <br>Remas, semalam dan pagi harinya berangkat, istirahat di <br>Logender, semalam dan keesokan hari berangkat lagi, bermalam <br>di Kuwu semalam, keesokan hari berangkat dan menuju <br>ke timur. |Di Galuntung dua malam, keesokan hari lalu berangkat, <br>bermalam di Ngawi sebelah utara <br>Pepe, desa Ngepri, selang tiga hari, keesokan hari bertolaklah <br>dan tiba, Ngawi sebelah barat bengawan. |Istirahat di desa Ngawi, balatentara dalam keadaan berlebihan, <br>karena banyaknya logistik berupa beras, balatentara <br>dalam keadaan kenyang, tenteramlah hati pasukan, <br>tiap malam dilangsungkan pagelaran wayang kulit <br>balatentara dalam keadaan sejahtera. |Pangeran Adipati berada di Madiun, Pangeran Mangdipura, <br>menyampaikan rampasan tambur dan payung emas, kopyah <br>serta bendera, menghadaplah mereka itu, dan seorang <br>Bugis. |Pangeran Adipati, telah bertolak dari Ngawi <br>ke arah barat arahnya, bermaksud akan ke Sokawati, <br>sedangkan yang dai daerah, ditinggalkan dan diberi tugas <br>menggempur, yang berada di Ponorogo. |Yang berada di Ponorogo, nama Mertamenggala <br>anaknya Suradiningrat, dan Natabrata <br>berkuasa di Ponorogo, tibalah Pangeran Adipati, dan beristirahat <br>di Tempel. |Beijalan sehari semalam, bermalam di Gernunggung, keesokan <br>hari melanjutkan perjalanan }}<noinclude>{{rh|192|}}</noinclude> rvjtyqr7dzlbzmbfn0rpxzv30litgev Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/200 250 24142 77444 76293 2026-05-15T14:49:05Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77444 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::warsa, segenap Tumenggung telah berada di tempat meng- ::hadap Pangeran Adipati. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |<poem> Ki Tumenggung Kartadiija, ditugaskan untuk pergi keti mur lagi, dan hendaklah bersatu de (204) ngan Ramadipura, yang siap sedia di Sokawati Kartadiija menerima tugas, berangkatlah dengan pasukan- nya, dan Kanjeng Pangeran Adipati, berangkat ke selatan, dan tiba di gunung Wijil kemudian beristirahat.</poem> |<poem>Mereka mendirikan tempat berteduh, dan pasukan dilatih- nya, yang memimpin Kartanegara dan disertai 4 orang patih, kemudian kyai Patih, Kudana- warsa ditugaskan, untuk pergi ke negeri Kaduwang, menye- rang, Kartadiija memisahkan diri dan mendirikan Kadu- wang.</poem> |<poem>Kakaknya Sutawirya, yang di Kaduwang dahulu men- dahului, Kudanawarsa berangkat, pada hari Kamis Legi, tanggal 1, bulan Rejeb tahun Dal, berangkat ke Kaduwang, bersama Kanjeng Pangeran Adipati, memanggil ananda serta Kakek.</poem> |<poem>Ananda serta Kakek, telah berada di gunung Wijil, Pange- ran Mangkudiningrat ada utusan datang, memberi tahu bahwa menang perang sedang pertempuran berlangsung di Jatinom melawan Alap-alap, memperoleh/berhasil membunuh dua orang, telah dilaporkan dan kemudian tibalah seorang utusan.</poem> |<poem>Nama utusan Tirtayuda, yang berasal dari Semarang, serta membawa sepucuk surat, dan Ideller di Semarang, serta surat lagi, dari Sekeber dan disampaikan, dan Jayengrana menceriterakan, menantunya Rama Sri Naranata.</poem> |<poem>(¿05)Yang menerima naik, ke gunung Kidul yang dahulu, di- tinggal di gunung Aldaka, terselip karena jalannya lamban, diajak oleh desa Kalituri, yang menangkap mantri gunung, Singayuda dan bertempat tinggal di Melambang.</poem>}}<noinclude>{{rh|198}}</noinclude> i7yher5wp4t47w1nhjfk3520ev81cx7 Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/80 250 24147 78112 76292 2026-05-16T05:34:00Z Zeefra 1934 /* Absah */ 78112 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude><poem> :::pagi hari perintah Sri Nata dikeluarkan, :::segenap Bupati berangkatlah.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem>Bertolak dari Kedhu, Sri Narendra bermaksud akan ke pantai, Pekalonganlah tujuannya, berangkatnya Sri Narendra, hari Senen tanggal 27, bulan Rabiulakhir, barat lautlah arahnya.</poem> |<poem>Pasukan telah siap sedia, Sang Aji berangkat pagi-pagi benar, perjalanan Sang Prabu, tibalah di Nglempuyang, setelah semalam istirahat, pagi harinya melanjutkan perjalanan telah sampai di luar wilayah (Nglempuyang), pagi terdengar perintah berjalan.</poem> |<poem>(69)Tiba di Tempuran lalu istirahat, selang tiga malam Jagalatan memberi khabar kepada Sang Prabu, bahwa ada orang datang, dengan maksud akan turut menghamba kepada Sang Prabu, nama Kertapraja.</poem> |<poem>Kertapraja membawa orang bekas pemberontak berjumlah 40 orang, adapun pimpinannya, bernama Mangkujuda, diterima olah kemudian diberi pertanyaan, oleh Sri Bupati.</poem> |<poem>Kepada Kartapraja Baginda menanyakan, di manakah tempat barisan orang pasisir, Kartapraja menyembah dan melaporkan, bahwa pasukan Pekalongan, berbaris di desa Sidayu, selang paginya, pasukan berangkat.</poem> |<poem>Tiba di desa Pemasaran, setelah dua malam beristirahat pagi harinya bertolaklah, dan menurut rencana Sang Prabu, menuju Pekalongan, dilaluilah pasukan yang berada di Sidayu, dilintasi sajalah, jalannya menyimpang (keluar) dari jalan.</poem>}}<noinclude>{{rh|78}}</noinclude> 397x7sxfhhc1r89p0okf8avtqvdgkxl Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/81 250 24148 78115 76289 2026-05-16T05:38:40Z Zeefra 1934 /* Absah */ 78115 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=46 |<poem> Melintasi hutan Terataban, pasukan Sri Narendra telah tiba, desa digempurnya, rumah dibakar, sedangkan pasukan yang berada di depan, tiba di kota Pekalongan, kota telah didudukinya.</poem> |<poem>Tilia Pekalongan, bertepatan dengan hari Jum'at, bulan Jumadiawal, tanggal 14, balatentara bersuka ria, memperoleh makan dan pakaian, memperoleh rampasan bermacam-macam.</poem> |<poem>Segenap prajurit, besar-kecil sangat suka hati, pagi hari, Adipati Pekalongan, berada dengan anggotanya, serta Cakrajaya di Batang, dengan pasukannya mereka tiba di sana.</poem> |<poem>Jayengrana di Wiradesa, tiba di Jempat tersebut bersama dengan pasukannya, dari tenggara berjalanlah, pasukan Kasunanan, dalam pertempuran tersebut yang memegang pimpinan, pangeran Adiwijaya, pasukan Kasunanan yang dipimpinnya.</poem> |<poem>Para tumenggung yang berada di depan, yang memimpin pangeran Adiwijaya, beradulah senjata mereka, tidak lama pertempuran tersebut berkobar, Adipati Pekalongan melarikan diri, dengan orang pantai sebanyak tiga orang, melarikan diri dan dikejar.</poem> |<poem>Mereka menceburkan diri dalam sungai orang pesisir banyak yang hanyut dan meninggal dunia, pasukan Kasunanan yang mengejar, mengambil rampasannya, harta karun beraneka macam, emas uang pakaian, senapan pedang dan kuda.</poem> |<poem>Keris yang baik dan pedang, ditinggal</poem>}}<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude> n0g045c2becdqovnwr7l1blq6nsre4l Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/197 250 24158 77447 75472 2026-05-15T14:50:44Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77447 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><poem> :::istirahat, di desa Nglarangan, semalam dua malam dan keesokan hari berangkat, Pangeran Adipati, ke arah tenggara jalannya, dan gantinya yang dikisahkan.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=76 |<poem>Susunan yang kini diceriterakan, beristirahat di Sidakarsa, lengkap dengan balatentaranya, Sunan telah mendengar berita, bahwa terjadi peperangan, pasukan telah lari pontang-panting, dengan tergopoh-gopoh ke arah utara.</poem> |<poem>Pasukan yang tertinggal, nama tumenggung Alap-alap, berada di Lemahireng, bersiap-siaga di lapangan, serenta mendengar berita, bahwa Pangeran Adipati datang, dan berada di selatan Waladana.</poem> |<poem>Pangeran Adipati lalu bergerak bersama balatentaranya, yang siap sedia di Lemahireng ke tumenggung Alap-alap, melarikan diri pontang-panting, yang mengejar, disaksikan oleh rajanya.</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude> 6nqx40sac2zqzagvr5hf9tsj6ismn2m Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/196 250 24159 77448 75466 2026-05-15T14:51:07Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77448 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kawati, bersama teman-teman, ditugaskan membuat tempat istirahat. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=68 |<poem>(200) Majaradin yang ada di Sokawati, memberi kabar, bahwasannya pasukannya kalah dalam pertempuran, dikalahkan mas Rangga, bersama Brajamusti, Pangeran Adipati berkata, kepada empat orang mantri jero.</poem> |<poem>Berangkatlah ke Sokawati, membantu Ranadipura, yang diperintah Jayawinangun, dan Jayawidenta, serta Jasudira, serta teman-teman nama Jaya Alap-alap.</poem> |<poem>Empat mantri tersebut memberikan sembah bekti, bersedia melaksanakan perintah, kemudian berangkat dari, hadapan Gusti Pangeran Adipati, membantu Sokawati, perjalalannya tidak dikisahkan.</poem> |<poem>Adindanya kemudian diperintahkan, Pangeran Mangkudiningrat, ditugaskan menjadi duta mendahuluinya berangkat ke Paserenan, dan rebutlah perahu, adinda kemudian mohon diri dan berangkat bersama pasukan.</poem> |<poem>Mereka bergerak pada hari Senen Wage, tanggal 13, bulan Jumadilakhir, patih Kudanawarsa, turut ke Paserenan, segenap tumenggung turut serta, bersama Jayaningrat.</poem> |<poem>Pringgalaya bersama lain-lainnya, tumenggung Suramangunjaya, dan Kertanegara ditugaskan untuk berangkat lebih awal, ke Paserenan, keberangkatannya kemudian bertempurlah, bermusuhan dengan Wiranata.</poem> |<poem>Mereka saling menembak, dibatasi oleh bengawan, tersapu peperangannya, perangnya (201) Sapimahesa, kemudian Kudanawarsa, menugaskan untuk memberi kabar, kepada Kanjeng Gusti Adipati.</poem> |<poem>Berita telah disampaikan Kanjeng Gusti Adipati, yang ber-</poem>}}<noinclude></noinclude> l2glba31agrldxs2rdh9o8f48xo7m7r Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/82 250 24161 78133 75469 2026-05-16T06:55:59Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 78133 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::begitu saja dalam rumah-rumah di kota, :: (71) para pembesar menghibur diri, ::pada tengah siang hari, mereka istirahat, ::datanglah lawan ialah pasukan Kumpeni, ::di alun-alun Pekalongan, bersama ::pasukan Bugis. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=53 |<poem>Pasukan Bugis terdiri atas seratus tiga puluh orang, menurut berita pembesarnya adalah seorang Makasar, Arung Galengsong namanya, pasukan Bali terdiri atas 80 orang, gemparlah balatentara Sang Prabu, tergesa-gesa mereka mempersiapkan diri, siap sedialah para prajurit.</poem> |<poem>Mereka telah siap siaga bertempur, aba-aba bergerak pun diperintahkan oleh Sri Narapati, menuju alun-alun terjadilah pertempuran, ramai sekali perang yang terjadi, Ki Tumenggung Wiradigda, badannya terluka.</poem> |<poem> Serta raden Jayengrana, tangan sebelah kiri luka, Suryanegara luka, di kaki sebelah k kiri, kemudian terhentilah pertempuran dikarenakan malam tiba, semua anggota pasukan, meninggalkan medan laga.</poem> |<poem>Kumpeni dengan pasukannya, tetap berada di alun-alun mengadakan persiapan-persiapan orang Makasar Bugis Bali, tidak henti-hentinya menembaki, kemudian balatentara Kasunanan membalasnya, Mas Renggo yang siap, membawa serta prajuritnya.</poem> |<poem>Prajurit terdiri pasukan dalam, membelok ke timur melingkari yang sedang bertempur,</poem>}}<noinclude>{{rh|80}}</noinclude> ihqo67i9pz1cz065ke7vqsvfsfobjmv Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/198 250 24165 77446 75475 2026-05-15T14:50:24Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77446 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::'''R (Sinom)''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Pangeran Mangkudiningrat, yang memimpin prajurit, serta patih Kudanawarsa, lengkap dengan mantri jaba, yang mengejarnya dan Alap-alap melarikan diri terkejar dan tertangkap, di Klepu pertempurannya, tidak dihalang-halangi larinya Ki Alap-alap.</poem> |<poem>Ke arah barat larinya, kemudian dikeijar dan diusir, oleh Pangeran Mangkudiningrat, dan Kudanawarsa tidak ketinggalan, serta Mantri Jabapun tidak ketinggalan, tidak henti(202) nya mereka mengejar, dan kebetulan memperoleh rampasan, empat ekor kuda, yang dua ekor dipersembahkan kepada Pangeran Adipati.</poem> |<poem>Oleh Pangeran Adipati, bermalam di gunung Wijil, berangkat pada saat bedug tiga, keesokan hari lalu berjumpa, dengan kyai patih, Kudanawarsa menyembah, serta menyampaikan, bahwa lawan masih ada di belakang, Wiranata yang masih di belakang.</poem> |<poem>Kyai Patih Danawarsa, ditugaskan untuk kembali melawan musuh Wiranata, sedangkan Pangeran Adipati, kemudian berjalan ke arah barat lengkap dengan pasukannya, kemudian pamanda Pangeran Purbaya mohon diri, dia telah meneliti istrinya yang ada di Tembayat.</poem> |<poem>Pangeran Adipati, terhenti di sebelah barat jalan, bermalam di desa Pangkalan, selama dua malam, keesokan hari berjalan ke utara, tiba disebuah pesanggrahan desa, di Lungge,</poem>}}<noinclude>{{rh|196}}</noinclude> jqkvf8jsereaf6j3lm8256d4lfrexpb Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/199 250 24166 77445 76295 2026-05-15T14:49:57Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77445 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kemudian adindanya ditugaskan, Pangeran Mangudining ::rat dan Pringgalaya. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Kerahkanlah segenap penduduk desa, dan Pangeran Adipa- ti, menugaskan dan menyertai sepucuk surat, kepada kepa- la Kumpeni, yang berada di gunung Gamping, namanya kapten Keber, sedangkan yang ditugaskan, mantri jero, sedangkan yang membawa surat Jayakintaka.</poem> |<poem>Tibalah seorang duta, dengan membawa sepucuk surat, dari Pangeran Bintara, telah disampaikan kepada Pangeran Adipati, isi surat yang (103) tersurat, bahwasanya menurut kehendak Pangeran Bintara, menghendaki bersatu dalam kehendak/rencana/maksud, menyerahkan diri pada Pangeran Adipati.</poem> |<poem>Kanjeng Pangeran memberi jawaban atas kiriman surat tersebut, dan berangkatlah duta, menghadap Pangeran Bin- tara, waktu itu bersamaan tibanya sepucuk surat, dari Ideller, ditujukan kepada Pa- ngeran Adipati, memberikan sepucuk senapan, Pangeran Adipati memberi jawaban tertulis.</poem> |<poem>Kepada Ideller Harting, Ideller telah mengundurkan diri, dan diganti oleh Harting, Tirtayuda yang ditugaskan, oleh Kanjeng Pangeran Adipati, di Nglungge selama 6 malam, keesokan hari ada perintah berangkat, dan memberi perin- tah, untuk pergi ke Sala serta disertai sepucuk surat.</poem> |<poem>Waktu itu ditugaskan, mantri nama Jayakinteki, sedangkan yang ditinggalkan di sebelah barat gunung adakah adiknya, dengan pasukannya, Pangeran Mangkudiningrat Pangeran Adipati berjalan, dan bermalam di desa Pakau- man lengkap dengan balatentaranya,</poem> |<poem>Beristirahat semalam dua hari, Kanjeng Pengeran Adipati, kemudian memerintah lagi untuk pergi kepada Kumpeni di Sala, serta disertai sepucuk surat, mantri jaba telah berkumpul, dengan patih Prana-</poem>}}<noinclude>{{rh|||197}}</noinclude> tll5wxb6b3c9eolivaprt8rxi1e1ttl Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/66 250 24172 77461 75487 2026-05-15T14:57:01Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77461 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::bahwa Susunan berada di Kaliamba, ::di Sempura tersebut, keesokan hari ::kawanan Kumpeni membubarkan diri, ::Sang Nata bergerak, Kumpeni ::menjemputnya, berjumlah duapuluh, ::jalannya di apit oleh tepinya jurang ::kemudian yang baris di depan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=23 |<poem>Kasunanan bertempur melawan Kumpeni, telah kalah dihujani peluru, melarikan diri kesemuanya, tambahan lagi banyak yang berada di depan, kemudian Sri Naranata, tercengang menyaksikan, bahwa balatentara yang ada di depan, cerai berai tak beraturan bertempur, kemudian Sri Naranata memerintahkan.</poem> |<poem>Prajurit urusan dalam untuk melawan segera, majulah bertempurlah anak-anak, hendaknya semua berjalan kaki, bertempur di sebelah barat sungai, waspada menyerang dan menetapi janji prajurit, meskipun ditembaki tidak berhenti, Kumpeni menjati gugup, banyak di antaranya yang diterjang, ditombak dan gugur, yang hidup melarikan diri.</poem> |<poem>Mereka mengungsi ke Banyumas lagi, yang gugur sejumlah dua belas orang, terkecuali Bugis Bali, lima belas yang meninggal dunia, sedangkan fìhak Kasunanan yang gugur, seorang Sarageni, seorang Bugis, (55) yang luka lima orang, ada lagi adiknya Brajamurthi, gugur dalam peperangan.</poem> |<poem>Hanya sedikit kuda yang terluka, terbawa karena terlanggar kuda, sewaktu pertempuran pada pagi hari, demikianlah keadaan balatentara Sang Prabu, semua membawa tawanan,</poem>}}<noinclude>{{rh|64}}</noinclude> gaymbulwmeausyfdc05a9pdqhacnr5t Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/67 250 24173 77460 75492 2026-05-15T14:56:17Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77460 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kemudian Sri Naranata, beristirahat di ::sebuah desa, ialah di desa Sempura, segenap ::tentara istirahat dan siaga, di desa Sempura. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=27 |<poem>Mas Rangga mempunyai seorang calon pegawai, adapun namanya Suradirana, dahulu berasal, magang dan belajar dulu, kepada Kanjeng Pangeran Adipati, Arya Mangkunegara, penyerahannya itu, kepada patih Kudanawarsa, karena duluh kalah tinggi kemudian hatinya tidak puas, karenanya ikut mas Rangga.</poem> |<poem>Mereka menuju Kedhu untuk menyaksikan ulah keprajuritan, memperoleh kepercayaan dari Sri Narendra, kemudian diangkat kedudukannya, dijadikan pimpinan kelompok (lurah), Suryanata diasuhnya, bernama Jayengrana, Sang Prabu lebih asih, waktu itu dianggapnya sebagai putranya sendiri, kemudian kelompok Bugis menyampaikan salam bakti, menghaturkan jamuan persembahan kepada Sri Narendra.</poem> |<poem>Keesokkan harinya Sang Nata berjalan/bergerak, arahnya ke selatan, tujuan adalah Bagelen, pimpinannya, pangeran Purbaya dan (56) lain-lain, pangeran Mangkukusuma, warga desa setelah menyiapkan tempat istirahat, di sepanjang jalan memperoleh sambutan yang meluap, tidak terceriterakan Panjang tibalah mereka di Bagelen, Sri Nata beristirahat.</poem> |<poem>Waktu itu yang berada di Bagelen, pasukan berada di Selolembu, Arungbinang turut serta, mereka bersiap di Lowanu, Arungbinang mendengar berita, kedatangan Sang Nata, sewaktu memasuki Pucang, dan barisan yang ada Lowanu, melarikan diri berbirit-birit.</poem>}}<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude> qh49vvl98khv6tmrge6zn6lpjfka39t Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/68 250 24175 77459 75494 2026-05-15T14:55:45Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77459 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem>Barisan Kumpeni mengungsi, di Selalembu telah diberitahu, bahwa lawannya ialah barisan Sunan datang, telah tiba di Pucang, balatentara Kumpeni salang tunjang, tumenggung Arung binang dengan tergesa-gesa memberi komando, salang tunjang balatentara Kumpeni, mereka siap-siap melawan musuh yang tiba diceritakan Sri Naranata.</poem> |<poem>Yang istirahat di Pucang lengkap dengan pasukannya selama dua hari, keesokan hari ada aba-aba, berangkat, demikianlah lapangan, nama Welaran, kemudian mendirikan perkemahan, pimpinan serta bupati. belum hadir, mereka masih di belakang.</poem> |<poem>Kehadiran para pimpinan, di Welaran tepat pada tengah hari, pada hari (57) Rabu, tanggal tujuh, bulan Besar Ehe tahunnya, kebetulan saat Kumpeni datang, kemudian menyerangnya, peperangan ramai sekali, mengamuklah dan larilah gerombolan Kumpeni, dikejar dan diserang.</poem> |<poem>Sebelas orang Kumpeni gugur, sepuluh orang ditawan, bersama kelompok Bugis Bah, lima belaso orang gugur, lima orang ditawan hidup-hidup, selebihnya melarikan diri, mereka berebutan melarikan diri, mengungsi ke loji Ungaran, sedangkan di Bagelen tentara Sang Aji, dua orang gugur.</poem> |<poem>Enam orang menderita luka, istirahat semalam kemudian keesokan hari melanjutkan perjalanan, ke barat arahnya lengkap dengan pasukan, di sebelah Ungaran, Sang Nata istirahat, tempat tersebut berada di sebelah selatan, daerah kekuasaan Belanda,</poem>}}<noinclude>{{rh|66}}</noinclude> 5e3fjpgpo18fmsbr5idacbpkdvxtx1n Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/190 250 24176 77452 75496 2026-05-15T14:52:45Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77452 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=23 |<poem>Jayaliyangan, Japerlana Jawiruna, berada di depan, serta membawa sepucuk surat, dari Ideller di Semarang, dan Surat telah diteruskan, kepada Kanjeng Pangeran Adipati.</poem> |<poem>Jalannya utusan yang sedang menghadap terasa tidak memperoleh hasil, dan diterima dengan enak saja, kepada Ideller di Semarang kemudian Pangeran Adipati, berjalan ke timur, dan istirahat di desa Kateguwan</poem> |<poem>Semalam dan pagi berjalan, istirahat di desa (193) Kalengisan, selama dua malam dan keesokan hari ada yang menghadap, nama Jaleksana, dan menyampaikan tawanan perang. = 1679.</poem> |<poem>Orang berasal dari Matesih, sebanyak tiga orang dijadikan tawanan perang, telah disampaikan dan diriwayatkan, tiga orang tersebut diberi ampun serta disumpah, diampunilah dosanya, oleh Gusti Pangeran Adipati.</poem> |<poem>Kanjeng Pangeran Adipati, pagi hari memberi perintah, kemudian berangkatlah balatentara, istirahat di Suruh Pakulungan, pagi hari ada utusan tlatang dari Pangeran di Madiun, serta membawa Surat.</poem> |<poem> Memberitahu, kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati bahwasannya nanti dalam perjalanan, dengan balatentaranya semua, kini mereka telah bertempur, pertempuran berlangsung di Berja, Brajamusthi dan mas Rangga.</poem> |<poem>Menang dalam pertempuran, pasukan Kasunanan melarikan diri, perjalanan mereka terjaring senja malam, karenanya berhenti dan kebetulan saat tersebut hujan, Pangeran Mangkudipura, jalannya makin dipercepat, bersama-sama dengan pasukan luar daerah.</poem>}}<noinclude>{{rh|188}}</noinclude> mwzn107t7tyca9salwau1zyuhom51dg Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/204 250 24178 77438 76274 2026-05-15T14:44:30Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77438 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><poem> :::membawa surat dan kiriman, sapi dan kuda, bersamaan :::dengan kehadiran duta :::yang dari Sang Prabu, dan menyampaikan surat :::dan telah tersirap isinya surat, mohon perkenan mengang- :::kat Sirapringga.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=38 |<poem>Kanjeng Pangeran Adipati, memberi ijin dan menjawab de- ngan surat, kepada Pangeran Prabu Jaka, yang berada di Kediri, kemudian Pangeran Adipati, kawin dengan nak- sanaknya Tumenggung Pringgalaya, pada hari Akad tanggal 4 Ruwah tahun Dal.</poem> |<poem>Tahun dibuatkan sangkalan, Trus Pandhita Bah ing Bumi, ada lagi istrinya, Kanjeng Pangeran Adipati, nama Raden Retnawati, me- (2 IO) lahirkan seorang putra putri, Sabtu Pon tanggal 9, Ruwah tahun Dal.</poem> |<poem>Kemudian patih Danawarsa, mempersembahkan kepalanya mantri, Kartawirya dari Kaduwang yang dulu perberang, sekarang telah mati tertangkap, tumenggung Mangundirja, yang menguasai Magetan, dan menyerahkan boyongan (putri-putri).</poem> ≈ 1679. |<poem>Boyongan berjumlah 27 orang putrì, serta mempersembah- kan kuda, senjata serta keris kepada Pangeran Adipati, bupati Ponorogo nama Tepasana, mempersembahkan kuda, berbulu hitam sebanyak dua ekor, serta uang kepada Pangeran Adipati.</poem> |<poem>Kemudian Kanjeng Pangeran Adipati, menikahkan putra seorang putrì, nama raden ajeng Sobro, dengan raden So- manegara, putra bupati Mataram Janingrat, setelah perkawinan berlangsung, me- reka ke Somareja, dan diadakan upacara temu di gunung Wijil.</poem>}}<noinclude>{{rh|202}}</noinclude> 3o1jyaezxs7sdthmgso2cjt01g76zcn Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/71 250 24179 77467 75500 2026-05-15T14:58:51Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77467 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44 |<poem>Empat orang Kumpeni gugur, sedangkan fihak Kasunanan seorang, enam orang luka-luka, bagian barisan dalam dua orang luka, kini peperangan berhenti, Sri Nata istirahat, pada senja sore hari, waktu itu adalah hari Kemis tanggal 14, Sura Jimawal.</poem> |<poem>(60) Pasukan bantuan masih besar, bermalam di sebelah utara sungai, lengkap dengan kelompok Bugis Bali, tumenggung Arungbinang, akan tetapi segenap prajurit, dari Banyumas dan Rema, telah turut serta, sementara itu Sri Narendra, semalam malaman mengadakan perundingan dengan para adipati, dan para pangeran.</poem> |<poem>Mengingat akan besarnya pasukan Kumpeni engganlah mereka, dan semufakat untuk menghindari, keluar dari medan pertempuran, keesokan hari aba-aba dikumandangkan, kemudian Sri Narapati, menuju ke timur, Bupati tumenggung, berjalan di bagian belakang, sedang barisan dalam berada di depan, tibalah mereka di danau Ji.</poem> |<poem>Keesokkan hari berangkat dan berjalan ke barat, Sri Narendra telah berada di Benda, keesokan hari lalu melanjutkan perjalanan, tibalah mereka di WiraSaba, kemudian para bupati, memerintahkan membuat jalan penyeberangan, setelahjembaían selesai, hanya Sri Narendra dan pasukannya berangkat, menyeberangi ke utara lengkap dengan para prajurit, tibalah di desa Ngrasukan.</poem> |<poem> Sehari semalam berangkat berjalan, tiba di Jenar dan istirahat, di tempat tersebut Sang Nata mengadakan perundingan, dengan keluarga dan segenap tumenggung, pimpinan dan prajurit, telah memperoleh kebulatan</poem>}}<noinclude>{{rh|||69}}</noinclude> 3wmoyjru1iyc1j3y512faplr7sjb1tt Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/72 250 24180 77466 75501 2026-05-15T14:58:31Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77466 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kata, menghentikan perjalanan, ::dengan tujuan menanti kedatangan lawan, ::(60) di Jenar pasukan-pasukan di atur dan siap ::siaga, dan segera akan bertempur lagi.<noinclude>{{rh|70}}</noinclude> 1ste22r58kddpe3qjeuzneo7cwqx17k Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/73 250 24181 77465 75502 2026-05-15T14:58:15Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77465 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::mereka, dan berhenti serta berkumpul di ::Batang, tumenggung Janingrat di ::Pekalongan dan lain-lainnya, ki tumenggung ::Cakrajaya di Batang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Serta tumenggung Jayengrana, di negeri Wiradesa, tumenggung Cakranegara, di Pemalang serta lain-lainnya, di Brebes, raden Suralaya namanya, hanya mereka itulah yang bersedia turut Sri Nerpati, demikianlah maka mereka berkumpul di Batang.</poem> |<poem>Mereka merencanakan akan menyampaikan berita, kepada Sunan yang berada di Beji, ialah tumenggung Sindujaya, diterimalah ia oleh Sri Nerpati, membawa menghadap segenap adipati, atas panggilan Sang Nata, Ranggawirasentika menjemput orang pantai/pesisir, dan dibawalah ke Batang.</poem> |<poem>Mereka diantar, dibawa ke hadapan Sang Nata, tidak diceriterakan perjalanan mereka, juga tidak diuraikan, segenap tumenggung telah tiba, (79) di Beji lengkap dengan pasukannya, diantar oleh Mas Rangga, Sang Nata sangat suka cita, setibanya diterima oleh Sang Nata.</poem> |<poem>Penghormatan dilakukan dengan salvo, dari senapan serta mariyem, atas kehadiran mereka, terhenti di luar pasukan, menurut kehendak Sri Bupati, keris-keris milik para tumenggung dari sepanjang pantai diminta oleh Sri Nerpati, setelah itu atas kehendak Sri Nerpati, para Adipati diminta masuk.</poem> |<poem> Setelah disumpah, keris diserahkan kembali, mereka semua menghadap berwawancara. dengan mereka diadakan oleh Sri Nerpati,</poem>}}<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude> 0o2suldjzfppnytjpc1xbkuzgjp1d7p Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/74 250 24183 77464 75505 2026-05-15T14:57:55Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77464 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::Prabu, telah siap siaga, mereka berada dan ::(62) berkumpul di sebuah lapangan, Kumpeni sedang ::bersiap-siap, menyiapkan diri di tepi sungai. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Kini dikisahkan yang terjadi di sebelah timur lapangan, pasukan Kumpeni tidak mengetahui seenaknya saja, "Kumpeni yang bagian belakang, yang menuju ke arah selatan, menyerangnya, yang diserang bala Kasunanan, kemudian terjadilah suatu pertempuran dengan fihak Kumpeni.</poem> |<poem>Diserangnya fihak Kumpeni dan cerai berailah keadaan Kumpeni, barisan Kumpeni yang di depan masih enak-enak berjalan, Kumpeni yang di bagian timur diserang, cerai berailah, orang Kumpeni dikejarnya, oleh pasukan Kasunanan, sedang pasukan Kumpeni yang besar berada di belakang.</poem> |<poem>Pasukan Kumpeni bagian belakang, yang dipimpin seorang mayor menyerang para wanita, tidak lama kemudian terjadilah pertempuran, suatu pertempuran yang sengit, sengit sekali tidak tahu mana kawan mana lawan, saling mendahului, Sunan bingung sekali.</poem> |<poem>Sang Nata lebih bingung, pasukannya kemudian balik kembali, Sang Nata kemudian berbicara/ memerintah, prajurit diperintahkan untuk bertahan di dharat, mengamuk habis-habisan segenap balatentara Sang Prabu, serenta menyaksikan isteri-isteri ditangkap Kumpeni.</poem> |<poem>Mayor Kumpeni mengetahui, bahwa Susunan bergerak mengadakan serangan</poem>}}<noinclude>{{rh|72}}</noinclude> hufv874c27ztch72gskgkjwhkp8dcii Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/75 250 24184 77462 75506 2026-05-15T14:57:35Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77462 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::maka Kumpeni menarik mundur bersiap-siap ::di sebuah lapangan, sementara pasukan-pasukan ::(63) Sunang terus bergerak maju, Kumpeni mempertahankan ::diri, kemudian terjadilah pertempuran. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Pertempuran menjadi bertambah dahsyat, bila sampai terlena menjadi umpah peluruh, golok pedang tumbak keris, setelah Mayor gugur, orang Kumpeni yang masih hidup melarikan diri, Sunan berhenti di tengah ladang, yang lainnya mengejar Kumpeni.</poem> |<poem>Dua orang pangeran, Cakrajaya serta Kartanegara, empat orang Belanda wafat, di peperangan tiga puluh orang, lebih tiga orang pimpinan yang gugur, sungguh Sri Naranata memperoleh rahmat Yang Maha Esa.</poem> |<poem>Orang Belanda yang tertawan, 44 orang semua dibunuhnya, seorang letnan gugur, dibunuhnya pula Kumpeni beragama Islam dari luar berjumlah 44 orang, 9 orang tertangkap hidup-hidup.</poem> |<poem>Pasukan Jawa berpangkat mantri yang gugur, 8 orang gugur, sedang yang dapat dirampas obat, mesiu, 22 buah tong jumlah, tidak terhitung perampasan berupa senjata, keris dan pakaian beraneka macam.</poem> |<poem>Sedangkan pasukan Kasunanan yang gugur akibat tertembak Suryanegara, Ki Mangunegara juga wafat, prajurit dalam yang wafat, lima orang yang luka tujuh orang, orang luar meninggal seorang, tujuh orang (64) luka-luka.</poem> |<poem> Pangeran Purbaya; serta pangeran Mangkukusuma, memperoleh marah dari Sang Prabu,</poem>}}<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude> swz1ig1066vzpxbsaj1ndv6591prxfm Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/76 250 24185 77503 75507 2026-05-15T15:26:49Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77503 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mantri diminta, asuhannya tidak ada yang ::ketinggalan, tetapi tinggal yang berdiam diri, {{ordered list|list_style_type=decimal|start=17 |<poem>Peperangan terjadi pada hari Minggu, tanggal 25 Sura, Susunan dengan pasukannya mengadakan hiburan, gembira sehabis memenangkan peperangan, pagi hari memberi aba-aba, berbaris menuju arah utara.</poem> |<poem> Setibanya di pesanggrahan, Sri Narendra beristirahat di Banyuurip, menyiapkan diri pasukannya, lalu beristirahat, sedangkan pasukan Kumpeni yang masih hidup selama pertempuran ini, melarikan diri mengungsi ke loji. *)</poem> |<poem>Bersama pasukan Jawa segenap tumenggung kecuali yang gugur, semuanya berkumpul dan melarikan diri, mengungsi di loji Ungaran, tidak keluar menampakkan diri dari loji, kini terkisahkan Sang Nata, berkata kepada dua orang adiknya.</poem> |<poem>Hai, adinda mas Purbaya, serta adinda Mangkukusuma, berbarislah di Bandung, setelah menghaturkan sembah keduanya berangkatlah kemudian berbaris di Bandung sedangkan Sang Nata tetap beristirahat (65) di Banyuurip.</poem> |<poem> Beristirahat sekitar 10 hari, orang Kumpeni, Jawa, Bugis, yang mengungsi melarikan diri, ke loji Ungaran, telah berlangsung selama lima hari, kemudian datanglah balabantuan, ialah pasukan Kumpeni dari Tegal. </poem>}} <small>*) rumah dibuat dari tembok, biasanya tempat tinggal bagi seorang pembesar Belanda atau asrama serdadu Belanda.</small><noinclude>{{rh|74}}</noinclude> jk8evqwuroy01xm50r4m5r7uzw9f2gb Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/205 250 24190 78117 76273 2026-05-16T05:47:47Z Zeefra 1934 /* Absah */ 78117 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43 |<poem>Mereka memperoleh berita, bulan Ruwan sama tahunnya, hari Rabu Kliwon, senjata telah dípersiapkan, lengkaplah para bupati, bupati dalam dan luar laki-laki perempuan, dan terdengarlah aba-aba senjata, dentuman senjata dan dalam perjalanan tidak terdengar berita.</poem> |<poem>Kemudian demang Karanganyar, dan Malangsumi- (211) rang tiba, bertolak dari Semarang, membawa surat, dari Ideller memberi kiriman renda/sulaman, laken biru dan merah, kemudian Kanjeng Pangeran Adipati main kartu.</poem> |<poem>Sedangkan para abdi seluruhnya, tumenggung mantri prajurit, menari bedaya dan teledek makan besar minum minuman keras, pada hari Selasa malam, tanggal 19 bulan Ruwah, semalam makam besar, main kartu semalam suntuk, pada saat Pangeran berganti nama.</poem> |<poem>Ganti ñama, Pangeran Cakranegara, pada waktu pesta-pesta, diadakan perubahan nama, dan berada di gunung Wijil, kemudian tibalah megeng Puasa, dan segenap balatentara menyelenggarakan sholat, Pangeran Adipati juga, tidak kosong (terus menerus) melakukan sholat dalam bulan Puasa.</poem> |<poem>Balatentara melakukan maleman, bagaikan laut barisnya, selesai bulan Puasa, tibalah Garebeg, punggawa serta prajurit, makan dan minum, kemudian para putra, dengan isteri, dan Kakek/nenek menuju Kedungwaringin.</poem> |<poem>Banyak diantara isterinya, yang dengan cepat-cepat digandengnya, Pangeran Mangkudiningrat, ditugaskan untuk menyerang, ke arah barat jalan berangkat dengan pasukannya, Pangeran Adipati tetap berada di gunung Wijil, tidak henti-hentinya main kartu untuk menghibur diri.</poem> |<poem>Kemudian ada utusan datang, dari Ayahnda Nerpati, berjumlah 40 orang, menyerahkan diri kepada Pangeran Adipati, kemudian datang lagi</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude> cb19yfsc90pvxgyfc54wjqiombnkxxr Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/183 250 24193 77454 75539 2026-05-15T14:53:25Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77454 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|start=38 |<poem>Mendekat dan dalam siap siaga, dan dihadapi peperangan di Kasampangan, pasukan Jawa Bugis Bali, yang memimpin pasukan Kumpeni empat orang yang memimpin, bertempur di sebelah timur Kasampangan, menang perang, pasukan Mangkunegara menang, pasukan Sala banyak yang gugur 4 orang Belanda mati. <sup>X</sup><sup>)</sup> = 1679. </poem> |<poem>Sedangkan pasukan Sorogeni serta Numbak yang wafat, gugur 5 orang luka 5 orang, pasukan Solo melarikan diri, Bugis Bali melarikan 185) masuk, Kasampangan, rumah-rumah, pasukan Sorogeni memasuki rumah-rumah, yang memimpin perang, Mantri Jero Jayaliyangan, serta Jayaprayitno.</poem> |<poem>Pasuakn Kumpeni yang berada dalam gedung, dengan gencar menembakan meriyem,dari barat laut arahnya, Kasampangan telah sunyi senyap dibakarnya desa tersebut, oleh pasukan Sorogeni pasukan Kumpeni menembakinya, mem bantu dari seberang sungai, Sorogeni mengundurkan diri dengan pelanpelan, kembali ke timur menghadap Pangeran Adipati, bertepatan dengan jatuhny a senja sore hari.</poem> |<poem>Sedangkan Kanjeng Pangeran Adipati, beristirahat di desa Wonosroyo, semalam dan kemudian esok harinya, setelah berjalan kearah selatan, kemudian melalui timur berjalan ke Solo, berdekatan dengan gedung Solo sedangkan yang berada di Timur, dan berada di tepi membantu menembak, ke arah kanannya Kumpeni yang berada di gedung Solo, dan berjalanlah dengan seenaknya.</poem> |<poem>Pangeran Adipati lalu berjalan ke selatan istirahat di desa Pakatakan, semalam lalu pagi harinya, membubarkan diri, kemudian bergerak ke arah tenggara, lengkap dengan putera-putera serta isteri-isteri, bertemu di Delanggu, dan juga Nenekuda yang menyampaikan bahwa </poem> }}<noinclude>{{rh|||181}}</noinclude> ezghb7uefwgsdyjemwjsbzlbd7cp38x Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/201 250 24199 77443 76290 2026-05-15T14:48:28Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77443 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem>Sedangkan raden Jayengrana, dibawa ke gunung Wijil, diserahkan kepada Pangeran Adipati yang dihadapi oleh segenap mantri, kepada Jayengrana diajukan pertayaan, Pangeran Adipati berkata, Ki Jayeng- rana, kepada anda saya ajukan pertayaan, lebih baik mana mati atau hidup.</poem> |<poem>Silahkan memilihnya, pulihlah salah satu Jayengrana menyampaikan, slia menghadap ke bawah dan menangis, bila diperkenankan maafkan Sri Sunan, saya mohon hidup, saya hanya orang awam, makan nasi hanya- lah satu suap saja.</poem> |<poem>Sangatlah marah dalam hati, Kanjeng Pangeran Adipati, ti- dak ada faedahnya, nanda memperoleh seorang putri bangsawan, rakyat awam kawin dengan putri bangsawan, yang bobotnya sama dengan saya, anda memilih hidup, itu ada insan yang paling jelek, yang berarti Jayengrana menghina.</poem> |<poem>Membuat bopeng raut muka di dunia, anda akan dihabisi nyawanya, kemudian Pangeran Adipati beserta kepada mantri pemenggal kepala, dan menugaskan kepada Jagalatan, sudah bawa pe- (206) dan telah dihunusnya, Jayengrana kemudian dipenggal- nya.</poem> |<poem>Yang menghabisi nyawa Jayengrana, adalah dua orang mantri pemenggal, Jayayaga Ulatan, pada hari Rabu Pa- hing, tanggal 18, bulan Rejeb kepala Jayengrana, telah dipenggalnya, serta hatinya di- telan Jagaulatan.</poem> |<poem>Ditelannya hati, karena Jagaulatan mempunyai cita-cita (punagi), bila kelak tertangkap dalam peperangan, saat itu juga Jayengrana, hatinya akan saya makan (telan), ka- rena membawa atau melarikan isterinya, yang tertinggal di desa, sedang Jayengrana yang mengambilnya, karena- nya panas hati Jagaulatan.</poem>}}<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude> ninm2iwgi9i8cbgnzszsvq9z2prilt1 Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/203 250 24200 77440 76279 2026-05-15T14:47:03Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77440 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><poem> :::utusan tiba, dari Uprup Sala, serta sepucuk surat isi berita, :::telah diterima ki- :::(208) riman surat, dan isinya, bahwa Wiranata :::yang dahulu turut Sunan, Wiranata takluk ke Sala.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem> Segera Pangeran Adipati, telah memberi jawaban atas surat, kepada U prup di Sala, kemudian Pangeran Adi- pati, memerintahkan kepada pasuakn Sarageni, yang ber- jumlah 40 orang diberi nama Tanuastra, dan berada di gunung Wijil, dan tibalah utusan dari Danawarsa.</poem> |<poem> Menyerahkan dua orang putrì sebagai boyongan ditambah senjata dan keris, keris milik Karta- wirya, Kartawirya telah gugur, serta menyerahkan kuda, berjumlah 15 ekor, kemudian datanglah utusan, dari Semarang, mem bawa surat dari Ideller Semarang.</poem> |<poem> Bersamaan dengan Cakrajaya, tibalah Kartadirja, yang dari Sokawati, maju ke depan dan menyembah, perjalanan hamba gusti, meratakan lawan telah hamba lakukan, Gusti di Sokawati (209) sekarang telah merata, telah terang karena lawan telah hilang.</poem> |<poem> Tambahan lagi mempersembahkan 4 orang, yang takluk pada mantri, nama Suryanaka, dari ayahnda Kanjeng Gusti, yang pada saat ini kanjeng Rama Aji, berada di Se- mawi, termasuk daerah Gagatan, yang sering kirim sura Jeng Susunan kepada Ideller di Semarang.</poem> |<poem> Yang tinggal pasukan Sang Nata, sekitar 300 orang, laki- laki dan perempuan, Sunan gering adapun yang diderita panas-dingin Pangeran Adipati, sering kelakukám main kartu dan menari tayub, dan utusan kepada Ideller di Semarang, yang di- tugaskan dua orang mantri.</poem> |<poem> Nata demang Karanganyar, serta mantri Malang semirang,</poem>}}<noinclude>{{rh|||201}}</noinclude> bwy2wk0z3135ishk4qhzrzpt98xnakg Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/202 250 24202 77442 75532 2026-05-15T14:47:38Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77442 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Penusukan badannya, dilakukan dengan padeng sakti, kemudian Pangeran Adipati, mengirim utusan ke Semarang, disertai surat, tidak ketinggalan surat untuk Skeber, kepala Jayengrana, diserahkan kepada Belanda, yang ditugaskan 7 orang utusan.</poem> |<poem>Sedang Ki Singayuda, yang melaksanakan tugas, yang menangkap Jayengrana, dinaikan pangkatnya menjadi mantri, kemudian ada yang datang, Belanda yang takluk, hanya seorang saja, dari ayahnda Nerpati, Kanjeng Pangeran sangatlah sukacitanya.</poem> |<poem> Terkisahkan yang diberi tugas, ke Sekeber telah tiba kembali, yang diundang telah (207) tiba, dan seekor kuda, sangatlah baiknya kuda telah diserahkan, kepada Kanjeng Pangeran Adipati, lama berada di gunung Wijil kemudian datanglah seorang duta.</poem> |<poem>Dari raja, Kudanawarsa memberi kabar, bahwa memperoleh kemenangan dalam peperangan, Kaduwang telah ditangannya, sedangkan peperangan yang dilakukan, jatuh pada hari Jum at tanggal 9, masih dalam bulan Rajab, tahun Dal jatuhnya kota Kaduwang.</poem> |<poem>Dan menyerahkan kepala, dua buah kepala kepalanya mantri, serta rampasan senapan, kuda payung dan keris, diperembahkan kepada Pangeran Adipati, serta apa yang telah terjadi, kemudian Pangeran Adipati, mengirim utusan kepada Kumpeni, Sekeber yang berada di gungung Gamping Mataram.</poem> |<poem> Menyerahkan kepala, payung keris serta kuda kepada Sekeber dikengkapi dengan sepucuk surat yang diutus dua orang mantri, Kudanawarsa dan lain-lain, menyerahkan boyongan (putri), 14 orang isteri/perempuan, dan kemudian ditambah lagi, yang terakhir seorang mantri nama Jayawikrama.</poem> |<poem>Kepada Sekeber dilampiri sepucuk surat, kemudian ada</poem>}}<noinclude>{{rh|200}}</noinclude> t44eulnzdhue212lgd1y6wnt3gkmsak Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/184 250 24203 77456 75535 2026-05-15T14:53:50Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77456 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::bertemu di Tambakbanggi, di sebelah selatan sungai. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=43 |<poem>Kemudian Pangeran Adipati istirahat, dengan balatentaranya di Tambakbaya, hanya dua malam keesokan hari terdengar aba-aba yang menggebu untuk bergerak ke arah barat, kemudian ke Somorejo, sehari dan tibalah, bermalam di Somorejo, tiba pada hari Jum'at Kliwon, Sapat tanggal 5.</poem> |<poem>Kemudian tibalah seorang duta, duta dari Ayahnda Susunan, menyampaikan penari bedoyo yang namanya Sampet, diberikan kepada Pangeran Adipati, waktu Kanjeng Pangeran, sakit cangkrangan, dan panas dingin, kehadiran penari bedoyo pada hari Sabtu Legi, tibalah penari tersebut.</poem> |<poem>Dari Sutawirya memperoleh seorang, kemudian Sunan memberikan sepucuk surat, kemudian Pangeran Adipati, menjawab isi surat, kemudian Kanjeng Pangeran Adipati, mengutus adiknya menyerang, terhadap Surawijaya, yang bersiap siaga di Katithang, Pangeran Mangkudiningrat.</poem> |<poem>Ada lagiyang ditugaskan, bupati Jogorogo nama Tirtayuda, serta Ranadipurra, serta Kartadirdja dan teman-teman, raden Semaningrat Magetan tempat tinggalnya, semuanya ditugaskan, berangkat ke Dokowati untuk berperang Wararena yang bertugas.</poem> |<poem>Tibalah Pangeran Mangkudiningrat, kembali ek Somareja telah disampaikan jalannya perjalanan Pangeran Adipati, menugaskan menyampaikan (187) surat, kepada Ideller di Semarang, sedangkan yang ditugaskan, Mantri Jero Jawiruna, keberangkatan, Jawiruna adaiah pada hari Kamis tanggal 25.</poem> |<poem>Belanda, berangkat ke Prambanan, Belanda bertemu 3</poem>}}<noinclude>{{rh|182}}</noinclude> 3i2e6hpnjcg8dxxqmohygug70j6s0r9 Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/185 250 24204 77457 75536 2026-05-15T14:54:45Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77457 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::orang ada Belanda yang menyerahkan diri, berasal dari ::Prambanan berjumlah seorang ::diserahkan kepada Pangeran Adipati, Belanda yang takluk, ::yang menyerahkan bernama, carik ke Sastrasemito, dari ::Kusumareja. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=49 |<poem>Kemudian Kanjeng Pangeran Adipati, memerintahkan untuk membuat tempat berteduh, di alun-alun, dipageri bambu, dan kemudian berada di dalamnya, bila malam tiba dan pukul 7 pintu ditutup, tidak diperbolehkan orang memasuki dan keluar, bila pagi tiba dan pukul 6 pintu terbuka, oleh Kusumareja.</poem> |<poem>Sedangkan Belanda tetap berada, di gunung Gamping daerah Mataram, dan siaga di Prambanan pimpinannya Keber, pasukan Belanda di Prambanan, sering melakukan surat-menyurat, secara teratur, suratnya baik-baik, sedangkan kapiten Sekeber berada di Prambanan, juga melakukan surat-menyurat.</poem> |<poem>Patihnya Pangeran Adipati, yang bernama Kudanawarsa, utusan berkali-kali datang, surat(188) menyurat, oleh Kanjeng Pangeran Adipati, yang berada di Kusumareja, seringkali menari tayub membuat suka citanya pasukan, makan dan minumminumam bersama segenap punggawa, dan segenap keluarga.</poem> |<poem>Disamping itu berusaha mencari tenaga, untuk dijadikan Gulang-gulang pasukan yang kuat deranya juga demikian dan baik pakai keris berukir, dan semuanya, berpakaian kotang (seperti singlet) dari renda, berikat kepala kain sutera kuning, sangat banyak makannya.</poem> |<poem>Tiap sore lengkap menghadap Gusti, di depan Kanjeng Pangeran Adipati, dan diangkatnya semuanya, dilatih dengan tçkun, kemudian putra adiknya, Pangeran Mangkudining</poem>}}<noinclude>{{rh|||183}}</noinclude> c9who35iie8yj4n7ucup8cn9najf9yq Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/35 250 24211 77435 75653 2026-05-15T14:40:54Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77435 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||35}}</noinclude>11. Apa pirantinė ambekan? 12. ngendi lan kaprijé lira- liroening gas loro. nurstot lan koolzur ? 13. Hawa saka djaba bisa mleboe ing keboek, lan hawa bisa metoe saka keboek ikoe marga apa? 14. Tjritakna: melar-mingkoesing djegodahan dada (iga lan kenḍangan-tengah)! 15. Iki terangna: ambekan koedoe metoe ing iroeng, mangan adja karo goeneman! '''IX. Lakoening getih.''' 1. Ing ngendi panggonané djantoeng? Sapira gedéné? Minangka apané lakoening getih? Kaprijé pamérangé? Kagolong daging sing endi? 2. Otot-getih ikoe apa? Kapilah dadi pira? 3. Apa kowé ngreti, apa sababé, déné sentong-kiwaning djantoeng lan otot-getih kang metoe saka kono kandel déwé pageré? 4. Getih ikoe banjoené pirang %? 5. Apa pérangané lijané? 6. Gas apa kang tinemoe ing getih? Gas ikoe kamot ing apa? 7. Ing ngendi pabrikė pringkilan-abang? Lan ing ngendi pabrikė pringkilan-poetih? 8. Apa goenané pringkilan loro ikoe? 9. Apa tegesé getih „diresiki". 10. Apa mesti otot-mleboe isi getih „reged" otot-getih-metoe isi getih „resik"? 11. Gawéa tjengkorongan djantoeng lan otot-otot-getih, wènèhana panahan menjang endi lakoené getih. 12. Jèn kowé mentas mlajoe, kaprijé lakoening getihmoe, kaprijé ambekanmoe, kaprijé panasing awakmoe? '''XI. Sarap-sarap.''' 1. Telenging sarap kena kapérang dadi loro manoet wewengkoné, jaikoe apa? 2. Oetek kapérang dadi pira? 3. Oetek karo soengsoem-oela-oela apa ana gandengé? Apa djenengé ? Ing ngendi? 4. Anané „obah" marga ana apa? 5. Saka daja-djaba toemama ing pérangané awak, oewong bandjoer bisa apa? 6. Apa pagawéané tali-rasa? 7. Ngaranana toelaḍa kang mboektèkaké „gandèngé" pentol-sarap karo oetek! 8. Ngaranana daging kang dadi wewengkoné oetek lan soengsoem-oela-oela! Oega kang winengkoe ing pentol-sarap. 9. Tjritakna „lakoené" daja-djaba lan préntah manawa sikilmoe kepidak! '''XI. Pantjadrija.''' 1. Aranana pantjadrijamoe sapraboté ! 2. Pangrasa ikoe kena kanggo ngrasakaké roepa-roepa, oepamané apa? 3. Kaprije pamérangé koelit? 4. Apa kang tinemoe ing koelit-oemès ? 5. Lah ing waloelang? 6. Ing ngendi doenoengé pangenjam ? 7. Aranana goenané ilat! 8. Pangenjammoe „kerèn" endi, nalika dèk isih tjilik, apa saiki? (èlinga jèn kowé mangan lombok !). 9. Ing ngendi doenoengé poengkasaning tali-rasa pangganda? 10. Hawa<noinclude></noinclude> fd8ji37ts4ktt9up8xoh5kcj8lmo8gh Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦧꦧꦢ꧀ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦑ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀.pdf/6 250 24218 78403 76585 2026-05-16T10:34:50Z Devi 4340 509 78403 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh|| — 2 —|}}</noinclude>{{jawa|ꦲꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦮꦲꦸ꧈ ꦥꦸꦤꦶꦏꦱꦠꦼꦔꦃꦱꦏꦶꦁꦥꦶꦮꦸꦭꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦒꦼꦁꦱꦔꦼꦠ꧀ꦥꦲꦺꦢꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦃꦥꦸꦤꦶꦏꦱꦒꦼꦢ꧀ꦲꦤꦸꦮꦸꦃꦲꦏꦼꦤ꧀ꦒꦼꦠꦼꦂꦫꦶꦁꦩꦤꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦚꦶꦤꦲꦸ꧈ ꦒꦸꦩꦿꦺꦒꦃꦧꦣꦺꦲꦤ꧀ꦢꦸꦩꦸꦒꦺꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦼꦢꦾꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦩꦗꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦮꦿꦸꦃꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦩꦂꦒꦶꦤꦶꦁꦫꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦸꦭꦾ꧈ ꦲꦁꦒꦠꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦧꦸꦢꦶꦢꦪꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦚ꧀ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦮꦮꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦭꦤ꧀ꦱꦱꦼꦉꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦭꦤ꧀ꦲꦔꦺꦟ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦠꦼꦤꦒꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦁꦒꦺꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦧꦣꦺꦠꦸꦩꦶꦤ꧀ꦢꦏ꧀ꦝꦠꦼꦁꦭꦩ꧀ꦥꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦸꦭꦾ꧈ ꦭꦤ꧀ꦱꦥꦤꦸꦁꦒꦶꦭ꧀ꦭꦤꦶꦥꦸꦤ꧀꧈}} {{jawa|꧋ ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦶꦁꦥꦸꦤꦶꦏ꧈ ꦩꦤꦃꦏꦸꦭꦏꦠꦫꦶꦏ꧀ꦱꦏꦶꦁꦢꦪꦤꦶꦁꦏꦮꦿꦸꦃꦥꦹꦤꦶꦏ [ꦧꦧꦢ꧀] ꦭꦗꦼꦁꦕꦸꦩꦟ꧀ꦛꦏꦏꦸꦩꦥꦸꦫꦸꦤ꧀ꦲꦔ꧀ꦭꦼꦩ꧀ꦥꦏ꧀ꦏꦏꦼꦤ꧀ ꦥꦶꦮꦸꦭꦁꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦧꦸꦏꦸꦥꦸꦤꦶꦏ꧉}} {{jawa|꧋ ꦥꦩꦁꦒꦶꦃꦏꦸꦭ꧈ ꦥꦫꦱꦣꦺꦫꦺꦏ꧀ꦏꦶꦠꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦥꦼꦂꦭꦸꦱꦔꦼꦠ꧀ꦱꦩꦶꦚꦶꦤꦲꦸꦲꦸꦠꦮꦶꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦧꦧꦢ꧀ꦧ}}<noinclude></noinclude> opn7vlfkd5bq5mfrb08i5t63vufkn3p Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/26 250 24231 77432 76603 2026-05-15T14:39:40Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77432 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||26}}</noinclude>{{c|'''XI. PANTJADRIJA.'''}} '''Praboté pantjadrija.''' Manoengsa kadoenoengan pantjadrija lelima: pangrasa, pangenjam, pangganda, pandeleng lan pangroengoe, mawa prabot ḍéwé-ḍéwé. '''1. Pangrasa (koelit). Sadjatiné pangrasa ikoe akéh pérangané: kanggo ngrasakaké aloes lan kasar (panggrajang), kanggo mbédakaké panas lan aḍem, kanggo ngrasakaké lara lan kepénak. Praboting panggrajang doemoenoeng ing koelit, praboting pangrasa-lara ing sarandoening awak. Koelit ikoe kandelé ± 2½ mm, kapérang ḍadi loro: koelit-djaba (lapisan garing lan lapisan oemoés oega diarani koelit-ajam. Lapisan garing tansah ṭéṭél, lapisan oemoés ana boeboekané reroepan, marakaké koelité manoengsa warna-warna (ireng, abang, koening). Ing sadjroning waloelang ana: prentilan poengkasing tali-rasa, klandjer kringet, kantongan tandjebing woeloe, klandjer gadjih kanggo nglengani koelit lan woeloe, dalan kringet, otot-getih, daging kang mengkoe woeloe. '''2. Pangejam (ilat}.''' Pangenjam doemoenoeng ing ilat. Ilat ikoe kebak printisan tjilik-tjilik panggonan poengkasané tali-rasa pangenjam, kanggo ngenjam rasaning pangan lan ombén: legi, pait, ketjoet, asin sapitoeroeté. Ing gambar No. 21 anan pérangan-pérangan tjinirén aksara. Aksara h, i, k ikoe gambaré printisan pangejam, e, f, g, tali-rasa saka sarap. Ilat ikoe kadjaba kanggo ngenjam, oega kanggo nggrajang atos-empoeking pangan, kanggo mrenahaké pangan, kanggo nglantaraké pangoeloené pangan, lan oega kanggo tjalaṭoe. '''3. Pangganda (iroeng).''' Bolonganing iroeng linapis ing koelit oemoés, doenoening prentilan poengkasané tali-rasa pangganda. Lanḍeping pangganda toemrap sidji-sidjining wong ora paḍa. Pangganda ikoe ménéhi sasmita bab gandaning pangan, ombén oetawa hawa kang bakal loemeboe ing awak. Koelit kang nglapis bolongan iroeng kaṭoekoelan ramboet kanggo njaring hawa (reregeding hawa kari ana ing ramboet ikoe, oega paḍa némplék kelét ing koelit oemoés lapisaning bolongan iroeng). {{rule|6em|align=center}} Nandoekaké pantjadrija, déb trawatja lan pramana. {{rule|6em|align=center}}<noinclude></noinclude> 52eq9vn6huonmotb6bc8daogyfqpdr8 Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ ꦧꦸꦧꦸꦏꦲꦒꦩꦶꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦗꦶꦭꦶꦢ꧀ I.pdf/17 250 24234 78127 76487 2026-05-16T06:50:40Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78127 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PROSES UJI BACA {{Jawa|ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺ ꦤꦺꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺ꧉ ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺꦴꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸ ꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧈ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀​ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺ ꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦤꦁꦒꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦢꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀​ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸ ꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧈꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦭꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦸꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩ ꧖ ꦤꦺꦮꦶꦱ꧀​ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦶꦁꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉ ꦧꦺꦤ꧀ꦭꦒꦸ꧉ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦶꦪꦮ ꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼ ꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦭ꧀ꦠꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦧꦸꦤ꧀ꦢꦶꦏ ꦩꦶꦏꦺꦴꦤꦺ꧉꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦁꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺ ꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧉ ꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦸꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠ ꦲꦸꦤ꧀​ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱ ꦪꦶꦢ꧀ ꦱꦧ꧀ꦢꦭꦶꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦸꦤꦺꦏꦁ ꦲꦱ꧀ꦩꦸꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦪꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩ ꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏꦁꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude> 0g9r7txnuueipuok54pyjfeicszonio 78187 78127 2026-05-16T09:02:07Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78187 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 17 -}}</noinclude>— 17 — ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺ ꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴ ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸ ꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩ ꦠꦸꦂ꧈ ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀​ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧ ꦣꦺ ꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀​ ꦭ ꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔ ꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ ꦮꦶꦱ꧀​ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇ ꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠ ꦲꦸꦤ꧀​ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱ ꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁ ꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈<noinclude></noinclude> featp3vkx1rfhbzlievlie7j9qcy10h 78201 78187 2026-05-16T09:07:49Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78201 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude> ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴ ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸ ꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩ ꦠꦸꦂ꧈ ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀​ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧ ꦣꦺ ꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀​ ꦭ ꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔ ꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ ꦮꦶꦱ꧀​ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇ ꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠ ꦲꦸꦤ꧀​ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱ ꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁ ꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈<noinclude></noinclude> rne9oyye5ake6c2qa6hpl38bwxkuf2l 78219 78201 2026-05-16T09:11:06Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78219 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude> {{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀​ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀​ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀​ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇ ꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀​ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude> ge4d2sy4etl1y7zj4fgc799fkek8yrq 78230 78219 2026-05-16T09:12:52Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78230 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude> {{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀​ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀​ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀​ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇}} {{Jawa|tag=div|1=꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀​ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude> 6zneneymggff5hipgpmp9tufp94tlvb 78239 78230 2026-05-16T09:14:20Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78239 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀​ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀​ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀​ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇}} {{Jawa|tag=div|1=꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀​ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude> lm1n451h6jkrlrhrq180uhm8vb1bnlr 78243 78239 2026-05-16T09:14:57Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78243 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀​ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀​ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀​ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇}} {{Jawa|tag=div|1=꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀​ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude> 9wmua82rkpzagf1le36efhdnyx228yy Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ ꦧꦸꦧꦸꦏꦲꦒꦩꦶꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦗꦶꦭꦶꦢ꧀ I.pdf/18 250 24235 78311 76492 2026-05-16T09:35:02Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78311 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>PROSES UJIBACA<noinclude></noinclude> cuwmpjgqkonzpn9qx9f86wxo6wjrdb4 78383 78311 2026-05-16T10:11:00Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78383 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>꧋ꦧꦧ꧀ꦥꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦱꦭ꧀ꦭꦭ꧀ꦭꦲꦸꦔꦭꦆꦲꦶꦮꦱꦭ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꧋ꦱꦱꦺꦢꦤꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦺꦪꦁ꧈ꦏꦁꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦪꦭꦶꦏꦸꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦩꦤ꧀ꦄꦱ꧀ꦩꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀꧈ ꧋ꦏꦕꦫꦶꦠ꧈ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦲꦶꦏꦸꦧꦔꦼꦠ꧀ꦲꦁꦒꦺꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦏꦩ꧀ꦭꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀​ꦩꦺꦴꦁꦏꦧꦠꦶꦃꦲꦺꦲꦏꦺꦃꦧꦔꦼꦠ꧀꧈ꦤꦔꦶꦧꦉꦁꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦤꦸꦭꦶꦏꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦲꦥꦏꦁꦢꦤꦶꦏꦧꦸꦠꦸꦃꦲꦤ꧀ꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦏꦧ꧀ꦭꦺꦧꦺꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦃꦲꦺꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦏꦁꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀꧈ ꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦱꦏꦮꦸꦭꦮꦂꦒꦤꦺꦥꦶꦤꦸꦗꦸꦣꦲꦂ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦏꦁꦏꦣꦲ‌ꦂ꧈ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦏꦫꦺꦴꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦥꦣꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦏꦫꦱꦮꦉꦒ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦢꦺꦤꦺꦪꦺꦤ꧀ꦏꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦩꦸꦁꦱꦛꦶꦛꦶꦏ꧀ꦏꦁꦢꦶꦣꦲꦂ꧈ꦥꦣꦧꦶꦱꦮꦉꦧ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦲꦶꦏꦸꦱꦧꦼꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦝꦲ‌ꦂ꧈ꦣꦮꦸꦃꦤꦶꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦭꦶꦏꦁꦗꦼꦁꦤ<noinclude></noinclude> qn5b2zio5z6o8uca81q2eitwm8qhfzd 78389 78383 2026-05-16T10:13:25Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78389 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=꧋ꦧꦧ꧀ꦥꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦱꦭ꧀ꦭꦭ꧀ꦭꦲꦸꦔꦭꦆꦲꦶꦮꦱꦭ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꧋ꦱꦱꦺꦢꦤꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦺꦪꦁ꧈ꦏꦁꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦪꦭꦶꦏꦸꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦩꦤ꧀ꦄꦱ꧀ꦩꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀꧈ ꧋ꦏꦕꦫꦶꦠ꧈ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦲꦶꦏꦸꦧꦔꦼꦠ꧀ꦲꦁꦒꦺꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦏꦩ꧀ꦭꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀​ꦩꦺꦴꦁꦏꦧꦠꦶꦃꦲꦺꦲꦏꦺꦃꦧꦔꦼꦠ꧀꧈ꦤꦔꦶꦧꦉꦁꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦤꦸꦭꦶꦏꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦲꦥꦏꦁꦢꦤꦶꦏꦧꦸꦠꦸꦃꦲꦤ꧀ꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦏꦧ꧀ꦭꦺꦧꦺꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦃꦲꦺꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦏꦁꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀꧈ ꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦱꦏꦮꦸꦭꦮꦂꦒꦤꦺꦥꦶꦤꦸꦗꦸꦣꦲꦂ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦏꦁꦏꦣꦲ‌ꦂ꧈ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦏꦫꦺꦴꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦥꦣꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦏꦫꦱꦮꦉꦒ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦢꦺꦤꦺꦪꦺꦤ꧀ꦏꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦩꦸꦁꦱꦛꦶꦛꦶꦏ꧀ꦏꦁꦢꦶꦣꦲꦂ꧈ꦥꦣꦧꦶꦱꦮꦉꦧ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦲꦶꦏꦸꦱꦧꦼꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦝꦲ‌ꦂ꧈ꦣꦮꦸꦃꦤꦶꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦭꦶꦏꦁꦗꦼꦁꦤ}}<noinclude></noinclude> fg8tawd6qsicuu0lm7qgd59as1xfqmj 78390 78389 2026-05-16T10:14:40Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78390 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=꧋ꦧꦧ꧀ꦥꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦱꦭ꧀ꦭꦭ꧀ꦭꦲꦸꦔꦭꦆꦲꦶꦮꦱꦭ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꧋ꦱꦱꦺꦢꦤꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦺꦪꦁ꧈ꦏꦁꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦪꦭꦶꦏꦸꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦩꦤ꧀ꦄꦱ꧀ꦩꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀꧈ ꧋ꦏꦕꦫꦶꦠ꧈ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦲꦶꦏꦸꦧꦔꦼꦠ꧀ꦲꦁꦒꦺꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦏꦩ꧀ꦭꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀​ꦩꦺꦴꦁꦏꦧꦠꦶꦃꦲꦺꦲꦏꦺꦃꦧꦔꦼꦠ꧀꧈ꦤꦔꦶꦧꦉꦁꦱꦪꦶꦢ꧀​ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦤꦸꦭꦶꦏꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦲꦥꦏꦁꦢꦤꦶꦏꦧꦸꦠꦸꦃꦲꦤ꧀ꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦏꦧ꧀ꦭꦺꦧꦺꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦃꦲꦺꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦏꦁꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀꧈ ꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦱꦏꦮꦸꦭꦮꦂꦒꦤꦺꦥꦶꦤꦸꦗꦸꦣꦲꦂ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦏꦁꦏꦣꦲ‌ꦂ꧈ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦏꦫꦺꦴꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ꦥꦣꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦏꦫꦱꦮꦉꦒ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦢꦺꦤꦺꦪꦺꦤ꧀ꦏꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦩꦸꦁꦱꦛꦶꦛꦶꦏ꧀ꦏꦁꦢꦶꦣꦲꦂ꧈ꦥꦣꦧꦶꦱꦮꦉꦧ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦲꦶꦏꦸꦱꦧꦼꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦝꦲ‌ꦂ꧈ꦣꦮꦸꦃꦤꦶꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦭꦶꦏꦁꦗꦼꦁꦤ}}<noinclude></noinclude> oixtme8m1igll7pu350edih4tzxfsah Kaca:Babad Prayud I.pdf/364 250 24242 77717 76699 2026-05-15T19:14:41Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77717 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::ngangkang sitiluhur :::Kodhokngorek babarungan :::sawusira ing kalih panigan nengih :::Sang Nata angandika. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem>Heh ta Uprup adhimasdipati mentas lalaku sayekti sayah gawanen mring pakuwone emben bae riningsun sun timbali mring pura malih Uprup sigra bubaran kang ngirid tatamu sinaosan pasanggrahan wetan peken wismane kekeran nenggih prapta wus masanggrahan.</poem> |<poem>Prapta jodhangan saking jro puri tuwin saking Kamangkunagaran atusan jodhang praptane santana sadayeku Surakarta sasegah sami luwih sasegahira saking gunging suguh wauta ing kendelira dennya prapta nenggih ing Salasa Paing Kemis wage ngandikan.</poem> |<poem>Maring pura kasukan Sang Aji badhe nayub kalintu ing karsa kang raji pinrih sukane kurmat ing tegesipun jroning surat kang rama muni Nak Prabu rayi dika pan santri puniku yen anak Prabu kasukan rayi saka dereng tau ngimun awis lan dereng, tahu beksa.</poem>}}<noinclude>{{rh|362}}</noinclude> nxg2rylspf0aq8ezent2qwk1tk4vea7 Kaca:Babad Prayud I.pdf/365 250 24243 77718 76703 2026-05-15T19:15:13Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77718 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=38 |<poem>Amung ngugemi dadarus wirid cilik mula dereng wruh ing arak pan wus dilalah bekane mangkana kang anayub gamelannya munya ngrarangin use ambal-ambalan adhahar anginum samya wuru-wuru dawa sadangune Pangran Dipati Matawis tan arsa nginum arak.</poem> |<poem>Amung dhahar sekul angereni wusnya dhahar taledhek kang medal sekawan pethingan kabeh pra samya ayu-ayu sinijangan kenanga wilis sami jingga pinrada kadya bisa mabur Sang Nata wiwit abeksa kadya guntur swaraning mriy em ngurmati barung surak gumerah</poem> |<poem>Sami cingak wong Yogja ningali ing beksanira Sri Naranata wus sairib sarigake lan kang rama Matarum kacek lanang kang putra nenggih tenagane agagah arowa tur patut sawusira Sri Narendra nulya Uprup sawusnya Uprup anuli Pangran Mangkunagara.</poem> |<poem>Wusnya Pangran Mangkunagareki nulya Pangran Dipati Ngayugya Sri Narendra timbalane mara dhimas sireku anglegakna ing tyase sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||363}}</noinclude> jdgb5kxvmcjl9v6c8do1cycbx5pm9s9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/366 250 24244 77720 76709 2026-05-15T19:16:48Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77720 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::kabeh santananira :::padha kumacelu :::Pangran Dipati Ngayogya :::matur nuwun kula dereng anglam palai :::padamelan punika. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=42 |<poem>Pejah gesang katur jeng kakang ji Sri Narendra murugi genira jumeneng ngarseng kursine kang rayi gya tumurun dhodhok munggeng ngarsa rakaji kang raka angrerepa adhuh ariningsun kabeh sanak-sanakira ingkang padha amrih resep dadi siji kumpul saeka jiwa.</poem> |<poem>Atur duka dalem inggih kula sampun cegah alit mila katelah tan saget mangke sami kalironipun ciptanira Pangran Dipati sarta welinge rama prakawis anginum lan beksa den kukuh sira sun unekken layang lamun sira santri kerana kakangira.</poem> |<poem>Anak Prabu ing Surakarteki ratu anetepi ing agama yen sira mantep temahe resep trus batinipun duwe mantu marang sireki milane kinukuhan beksa lawan nginum tan wruh yen alala rebda Sunan wangsul Uprup Beman den kejepi nglarih meksa kanaka.</poem>}}<noinclude>{{rh|364}}</noinclude> 40x5rvw09dms9u7duupq10p5ldgm1p3 Kaca:Babad Prayud I.pdf/367 250 24245 77722 76711 2026-05-15T19:17:24Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77722 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXV.{{gap}}PANGKUR {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Uprup sigra nyandhak talam isi gelas tiga anengen kuping Pangran Dipati Matarum wau kang linariyan angrerepa amrih tinuruta Uprup Pangran Dipati Ngayogja eca tunungkul alinggih.</poem> |<poem>Tan dangu dennya ameksa kadipundi Tuwan Pangran Dipati maksih mudha kobekitu rama dika Jeng Sultan kang wus tuwa dhasar agamane pengkuh boten wangkot kadi dika sapisan pindho nuruti.</poem> |<poem>Sawab wruh ing kabecikan dadi sultan kang angangkat kompeni sireku ta anakipun teka tan tiru bapa dadi bakal wong kumethak tur kumingsun nora wruh ing kabecikan arep ambuwang babaik.</poem> |<poem>Sigra Tumenggung Ngurawan asung tombak marang taledhe,kneki sarwi ngucap marang Uprup tuwan putra andika timur mila dhereng nglampahi puniku amung deres lawan salat lawan sampun manjing wirid.</poem> |<poem>Uprupwaudukmiyarsa Ki Tumenggung Ngurawan denira angling bramantyanira kalangkung muka dadi dahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||365}}</noinclude> 6nfq5mct31jw74gcdgcp87bk3kt9l2v Kaca:Babad Prayud I.pdf/368 250 24246 77723 76712 2026-05-15T19:17:59Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77723 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::sru binating talam gelasipun sumyur :::kupine binuwang tebah :::suraweyan anudingi. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Heh Rawan sira binatang apa sira ajar Pangran Dipati tahiy oli bendaramu Rawan mesem kewala briga-krigi Uprup denira amuwus heh Rawan sira binatang Rawan sudhah jadhi anjing.</poem> |<poem>Apa kowe kira-kira wotig Kompeni wus takut ing ajurit endhasmu dadiya sewu kompeni bole lawan nganggo tumbak dawa gera dhuwur gunung sun anggo pedhang kewala tur ana ngisoring wukir.</poem> |<poem>Bisa angesat segara wong kumpeni pan iya durung wedi terbanga mring mega biru kompeni durung ngulap Pangran Adipati merbes waspanipun para santana Mataram Pangeran Sumayudeki.</poem> |<poem>Wedananira beranang majeng sarwi nelepken dhuwungneki merpeki lulurahipun Pangeran Mertasana Singasari mendhak ngadhep lurahipun Pangeran Kusumayuda datan kumedhep mucicil.</poem> |<poem>Mung amandeng Uprup Beman netranira kadya kumukusagni</poem>}}<noinclude>{{rh|366}}</noinclude> ceov3cfjc9jn03ye0ulwlptsrx1mf7w Kaca:Babad Prayud I.pdf/369 250 24247 77724 76715 2026-05-15T19:18:38Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77724 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::kadya anuduka gapyuk :::lamun wontene jaba :::wau Panji Suradilaga andulu :::yen Pangeran Sumayuda </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Mring taman ngirid barisnya aris prapta angubengi pandhapi geger sakala sru kuwur para mantri Ngayogja kumpul nyelak angayap ing gustinipun para mantri Surakarta gedhong kaparak pra sami.</poem> |<poem>Lan pra lurah kawandasa sami ngepung wong Yogja wurineki Pangran Mangkunagareku mulat tingkah mangkana mundhut gendhing remeng beksa jebengipun angleter datanpa rowang tan ana kang.marentahi.</poem> |<poem>Sri Bupati Surakarta tedhak sigra kang rayi den parani Pangran Dipati Matarum binakta mring gonira ingkang rayi pinangku mastakanipun kang rayi asalenggrukan kang raka angarih-arih.</poem> |<poem>Uprup ing Ngayogja sigra tangi saking wuru genira guling wisma kilen regol kidul praptanireng pandhapa lajeng paduian Uprup Beman kamrusuk sarya ngemek ulu pedhang Sang Nata amarentahi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||367}}</noinclude> tlz10gexr5vxlcr5tceyse5aq75rlkb Kaca:Babad Prayud I.pdf/370 250 24248 77725 76717 2026-05-15T19:19:06Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77725 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Uprup Lapro dhinawuhan Lapro dhimas iki gawanen mijil maranging pakuwonipun sasra sira miluwa sigra bubar ingkang rayi nembah susun mung kantun Uprup Beiman apan maksih muring-muring.</poem> |<poem>Lan Pangran Mangkunagara Uprup Beman nguciwis durung mari nguring-uring Sang Aprabu raja taledhor tuwan raja anaking kumpeni betul-betul parentah trak boleh keras kocap tan asih ing abdi.</poem> |<poem>Wong bodho padha kinarya papatihe ora bisa cumuwit 'padha nglurug kari laku lan prajurit Ngayogja Sri Narendra mesem pangandikanipun ya besuk ingsun miyara iya pamiyara anjing.</poem> |<poem>Pangeran Mangkunagara asru bekus Uprup kang den bekusi kepriye akalmu iku apa ing kene dadak kari rebut manusa lan wong Matarum kariya kinalulutan ya maring wong Jawa iki.</poem> |<poem>Yen ana parentahira ingsun wani ing Ngayogja nglurugi embuh-embuh pangucapmu Uprup pamit wus medal Pangran Mangkunagara tan tumut metu</poem>}}<noinclude>{{rh|368}}</noinclude> etrq8tp2ql4g53xtlk0kedd01l7wwfl Kaca:Babad Prayud I.pdf/371 250 24249 77728 76719 2026-05-15T19:19:41Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77728 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::mulat kang rayi Sang Nata :::bramatyanira ing batin. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Sang Nata sigra parentah mring Tan Kondur kunjaran ana isi wong sasakitan puniku wong iki patenana sigra mijil wau Mahesa Tan Kondur sapraptanira galadhag wong lalaran den suduki.</poem> |<poem>Sang Nata malih ngandika kangmas dika pulihken dhi dipati becike karo si Uprup kang raka tur sandika boten punapaa ing watawisipun mung saliringan kewala dhasare Walanda baring.</poem> |<poem>Nepsune teka ngelampra kakon aten inggih boten dudugi inggih kula nunten metu kula mampir sakedhap sigra pamit Pangran Mangkunagara wus mampir Uprup mapag sigra Uprup sajawining kori.</poem> |<poem>Wus tata sami alenggah Adipati Mangkunagara angling kapriye ta kowe mau tela nepsu mangkana iya lagi Kyai sultan puniku eling nedya babecikan mengko sira angrusuhi.</poem> |<poem>Uprup angling trak mangapa lamun Sultan kena den wawaduli prakara anake luput</poem>}}<noinclude>{{rh|||369}}</noinclude> cdv6cqt9pzdkqlkjwa909rfhl9kyj12 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/3 250 24250 77474 76728 2026-05-15T15:04:48Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77474 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{C|{{sp|''PURWAKA}}}}''</noinclude>''Serat punika anjarijosaken tjara tjaranipun ngupakara ringgit watjutjal wiwit saking tjaraning ngisis ringgit, ngresiki nambal sulam manawi wonten ingkang karisakan, katerangaken langkung tjeta saking seserepan saha pengalaman kula pijambak.'' ''Nuwun wijosipun dateng para maos sadaja, menggah isining serat punika tumrap dateng para dalang, punapa malih dateng para saderek ingkang remen marsudi dateng kawruh padalangan, prajogi sanget anggadahi serat punika saged anambahi seserepanipun, saged pirsa tjatjah saha nama namaning ringgit purwa ingkang baku utawi ingkang srambahan. Wajang srambahan tegesipun wajang ingkang luwes kenging kasambut kangge sadengah lampahan.'' ''Kadjawi punika malih saged pirsa nama wandaning ringgit Purwa, sarta ringgit gandengipun lan Tjandrasangkala Memet, kawudjudaning wawajangan saged luwes, ngantos boten katawis menawi punika sadjatosipun sangkalan titimangsaning anggenipun amangun ringgit Purwa saged luwes saha sae tjakrik wewangunanipun kados ingkang sampun dipun adjengi ing umum djaman samangke punika.'' ''Ingkang punika supados para saderek sami sageda angraosaken dateng kasagedan para Linangkung ing djaman kina, anggenipun saged ngwudjudaken anggitaning gegambaran wewatekaning manungsa, ngantos saged nglangkungi pikiran, ing wasana kula sumangga dateng para nupiksa.'' {{Block right|{{c|''Kula pak Sajid. Dalang Wajang Kantjil. Hadiwidjajan, No. 23. Solo.''}}}} {{C|________}}<noinclude></noinclude> 62sasuukeackc41ad6hp7s7jlwjvfuw Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/6 250 24251 77477 76732 2026-05-15T15:06:11Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77477 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||- 7 -}}</noinclude>{{C|'''PANGRUMATING KOTAK WAJANG.}}''' '''Tjara-tjaranipun.''' Menggah tjaraning angrimat ringgit watjutjal sagedipun sae sarta kuwawi ngantos mataun-taun punika makaten. Wiwit saking petinipun, inggih punika kotak wadahipun ringgit. Pangrimatipun inggih kedah saged mrenahaken, kapadosna papan ingkang saketja katingal sae. Kotaking ringgit kaparingana bantjik, kadamelna dingklikan kalih idji, inggilipun dingklik 50 cm, pandjangipun miturut wijaring kotak, kadjedjer kalih, perlu kangge anggandjel kotak punika wau. Dados kotak boten sumeleh wonten ing mester utawi djogan siti salebeting grija, kotak saged gonggang sak inggiling dingklik. Lan malih kotak sampun ngantos mepet kalijan tembok utawi gebjog ing salebeting grija, perlunipun sampun ngantos kenging hawa asrep, utawi kalebetan kewan gegremetan ingkang alit-alit. Tembok utawi gebjog punika menawi katampon kenging toja djawah, ladjeng anggadahi hawa asrep, bangsaning gegremetan ladjeng kraos. Lan malih hawa asrep punika gampil ang- genipun nuwuhaken dateng djamur. Dene gegremetan ngrisakaken dateng eblek utawi ringgit. Pramila kotak kedah gonggang 30 cm, sampun ngantos mepet tembok utawi gebjok. Sak nginggiling kotak ingkang sampun katutup rapet, ladjeng kaparingana tutup saking kain perlak ingkang rapet mubeng miturut agenging kotak. Perlunipun bok bilih wonten toja trotjohan saking nginggil boten saged lumebet ing kotak. {{C|'''TJARANING NGISIS RINGGIT WATJUTJAL.}}''' '''Papan panggenanipun Ngisis Ringgit Watjutjal.''' Menggah tjaraning ngisis wajang punika makaten. Sak derengipun kotak kapendet saking papan pangrimat wau, amadika papan ingkang prajogi kangge ngisis ringgit punika. Sampun ngantos manggen wonten papan ingkang benter hawanipun utawi asrep. Padosa papan ingkang da as sarta garing. Sak saged-saged angsala papan ingkang tjelak sakaning grija ingkang radi tengah, sampun ngantos kenging soroting srengenge. Ladjeng mentanga kenur tali dadung alit ingkang wulet, katangsulaken saka sami saka, kados dene memehan tunda tiga utawi kalih. Manawi grija mawi pandapi milih saka rawa ingkang tengah mendet sekawan saka. Manawi kagungan pirantos tantjeban ingkang saking kadjeng djatos ingkang sok kangge pirantos njumping ringgit kantinipun gawangan plangkan kelir. Tantjeban sumpingan punika wau kadjeng djatos dipun tjomplongi,<noinclude></noinclude> pf2lkgb6pdkyza4be4jjklapoui5t59 Kaca:Babad Prayud I.pdf/21 250 24252 78199 76738 2026-05-16T09:07:21Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78199 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>cepat pulang dari rencana semula. Turut mengantar sampai ke Yogyakarta adalah Gusti Putri Mangkunagaran yang juga dikenal dengan sebutan Kanjeng Ratu Bandara. Maksudnya tak lain ialah agar supaya peristiwa di Surakarta tida.k sampai membuat masgul atau marahnya Kanjeng Sultan Yogyakarta. Akan tetapi ternyata Sultan memperlihatkan sikap keras. Kanjeng Ratu Bandara tidak diperkenankan kembali ke Surakarta. Bahkan kemudian didalihkan hendak minta cerai kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara. Hubungan Surakarta - Yogyakarta menjadi tegang. Ketegangan itu makin lama makin memuncak karena masing-masing pihak berusaha menimbulkan kekacauan di daerah yang lain dengan menggerakkan perusuh-perusuh maupun para punggawa resmi yang menyusup secara menyamar. Pihak Surakarta berusaha memecahkan masalah itu dengan minta bantuan kompeni yang berada di Semarang. Perundingan dan penelaahan masalah serta pemikiran akan jalan keluar yang seyogyanya ditempuh segera diadakan di istana Surakarta.<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> r7pmz3or4idy3k07vb8pubdc0wre04u Kaca:Babad Prayud I.pdf/3 250 24256 78186 76755 2026-05-16T09:01:32Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78186 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{gap}} {{gap}} {{gap}} {{gap}} {{C|'''BABAD PRAVID}}''' {{C|'''I}}'''<noinclude></noinclude> dvqy5wnbxp6d5rnkrkx63is6r96sdnt Kaca:Babad Prayud I.pdf/5 250 24259 78181 76762 2026-05-16T09:00:22Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78181 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{gap}} {{gap}} {{gap}} {{x-larger|{{C|'''BABAD PRAYUD}}}}''' {{x-larger|{{C|'''I}}}}''' {{gap}} {{C|Alih aksara}} {{gap}} {{C|'''NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}}''' {{C|'''R.A. MAHARKESTI, B.A.}}'''<noinclude></noinclude> cr9y8uomeuu9j3uaucgwrulws7u2yf7 Kaca:Babad Prayud I.pdf/6 250 24260 78182 76764 2026-05-16T09:00:33Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78182 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{gap}} {{gap}} {{gap}} {{gap}} {{C|Diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah}} {{gap}} {{C|Hak pengarang dilindungi undang-undang}}<noinclude></noinclude> 05nix943x5qvfftfat4sfok9hu6bl09 Kaca:Babad Prayud I.pdf/7 250 24261 78183 76768 2026-05-16T09:00:44Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78183 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude> {{C|'''KATA PENGANTAR'''}} {{gap}} Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya, itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembatigan kebudayaan dan ilmu di segala bidang. Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnyai Pemeliharaan, pembinaan, dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kitá untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya. Saling pengertian antardaerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antarsuku dan agama, akan dapat teripta pula, bila sastra-sastra daerah yang termuat dalam karya-karya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah itu. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia.<noinclude>{{rh|||5}}</noinclude> 9sfuuqp7utrks7jmqiddh0ts4owmr64 Kaca:Babad Prayud I.pdf/8 250 24262 78184 76773 2026-05-16T09:01:02Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78184 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas, kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra daerah Jawa, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas. Jakarta 1981 {{Block right|{{c|Proyek Penerbitan Buku Sastra<br> Indonesia dan daerah}}}}<noinclude>{{rh|6}}</noinclude> k8c8kq8nrvw6bkz51453lr48rjf2rv2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/9 250 24263 78185 76775 2026-05-16T09:01:12Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78185 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|RINGKASAN}} {{C|BABAD PRAYUD 1}} Tumenggung Arungbinang melapor. kepada Sultan bahwa dia mendengar dari seorang pertapa, yang mengatakan bahwa Negeri Kartasura akan mengalami huru-hara, bahkan di Tanah Pagelen juga mengalami perang besar. Dalam perang ini banyak prajurit yang meninggal, dan kelak Pangeran Arya Mangkubumi akan menjadi panglima besar. Jelasnya di Negeri Kartasura akan terjadi perang besar, banyak prajurit meninggal, dapat diumpamakan bapak lupa pada anak, dan anak lupa pada bapak. Raja bertanya siapa yang meramal itu. Tumenggung menjawab, bahwa hai itu atas petunjuk Setrowijoyo anak laki-laki Haji Dullulu yang pernah berguru di Tanah Arab kepada Seh Ahmad Kusasi. Haji Dullulu yang berguru tadi sesudah selesai minta izin gurunya untuk pulang kembali ke Jawa. Guru itu berpesan bahwa atas kehendak Yang Mahakuasa di Tanah Jawa akan terjadi huru-hara selama 30 tahun. Atas pertanyaan Raja, Tumenggung Arungbinang berdatang sembah lagi menerangkan bahwa saat ini Ki Dullulu menetap di negeri Palembang, dan Setrowijoyo, anaknya pergi ke Tanah Arab untuk belajar/mencari guru ayahnya tadi. Sewaktu akan berangkat Tumenggung Arungbinang dipesan supaya dirinya berhati-hati, dan jangan lupa selalu berdoa pada Tuhan Yang Esa, berbuatlah baik selalu, kelak bila di Tanah Jawa terjadi peperangan agar selalu dalam melaksanakan tugasnya. Hanya dengan bantuan Tuhan Yang Mahakuasa sajalah manusia akan terhindar dari bahaya. Di sini dikatakan pula oleh Setrowijoyo, dari perwatakan para pangeran (bangsawan) di negeri ini, baik tumenggung maupun adipatinya ternyata hanya Pangeran Mangkubumi sajalah yang mempunyai pandangan dan sikap (hidup) yang berbeda. Pasti beliaulah yang akan menjadi utusan Tuhan, yang kelak dapat menggeriangi (menguasai) Tanah Jawa. Dia pun berkata bahwa banyak para pemimpin perang yang tak dapat menikmati ketenteraman Tanah Jawa, antara lain Tumenggung Pringgalaya,<noinclude>{{rh|||7}}</noinclude> auqxch8s3hh2b8vkr9eyzmjakn8kqul Kaca:Babad Prayud I.pdf/372 250 24264 77729 76776 2026-05-15T19:20:37Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77729 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::Iah iya wis dilalah :::ngendi ana wong merdhay oh nora anut :::mring rehe kang duwe wisma :::kula nepsu boten sisip. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Saprakara rong prakara kang aduwe wisma dhasar irespati dhadhay ohe dudu ratu teka mogok ing karsa kapindhone sanak prenah tuwa iku Pangran Dipati prasetan wong wangkot pan becik anjing.</poem> |<poem>Dipati Mangkunagara anauri ya wis bener sireki nanging cukupen ratumu ingkang melu kaliwat iya pasthi kena ing lok tiwas iku dhene kongsi kadrawasan panjanga kestoren iki.</poem> |<poem>Sayekti kang duwe wisma goning ala tiwas kapati-pati mung ika bae sun rebut Uprup gumejeng suka heh Pangeran Ari nata bilang betul iya katemu si Beman sakehe prakara iki.</poem> |<poem>Iku yen nedya becika pasthi besuk sore dateng di.sini pangeran sigra amuwus aja mamasang sira iya besuk si adhi dipati iku pukul lima ingsun gawa marene sira den becik.</poem> |<poem>Iya jenengsun wong tuwa</poem> }}<noinclude>{{rh|370}}</noinclude> o598ikewzr80xt5d9efu2nwi91la0bk Kaca:Babad Prayud I.pdf/373 250 24265 77730 76777 2026-05-15T19:21:06Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77730 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::pan kawogan mirapet wong acengil :::Beman suka dennya muwus :::tidhak jadi mangapa :::main gila ini keras orang mabuk :::ni beta trak kerja jahat :::sungguh-sungguh karja baik. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Kula pan boten rumangsa inggih Tuwan Pangeran wengi iki kula mangko akikintun roti sarta martega puwan kopi damar lilin telungatus Dipati Mangkunagara wus lega tyase gya pamit.</poem> |<poem>Wau ing sapraptanira Pangran Mangkunagara dalamneki kang rayi ngandikan gupuh angger kowe miy arsa jro kadhaton ing wau meh dadi pamuk iya saking arinira wangkot arimas dipati.</poem> |<poem>Linarih marang kang raka nora tampa pinindho uprup aglis iya meksa wangkotipuh Uprup ambanting gelas gelas sumyur Uprup banjur gusaripun briga-brigi meh ambedhah katuju konangan marni.</poem> |<poem>Iku angger sira enjang lumakuwa mring pakuwone adhi den akeh tuturireku yen uga awangkota dadi nora rumeksa kangmase prabu sorene nuli sun gawa</poem>}}<noinclude>{{rh|||371}}</noinclude> mnbyddnrecn2e8jxy2lym68yxoho01x Kaca:Babad Prayud I.pdf/374 250 24266 77731 76778 2026-05-15T19:21:37Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77731 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::adhimas marang ing loji.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Sakalane yayiemas aneng kene pasthi anuta ugi katrapan kangmase prabu nganggo gon-anggon Yogja dadi nyengkle sayetine akaryewuh amilalati nagara kang rayi ngungun tan sipi.</poem> |<poem>Ing dalu tan kawursita enjing Ratu Bendara wus lumaris nitih jempana gya rawuh pakuwon ing kekeran ingkang rayi gupuh denira amethuk ing korine pasanggrahan anganthi astanireki.</poem> |<poem>Sawusnya tata alenggah kangbok ayu dennya ngandika aris dhimas kayapa sireku neng manca ing amanca teka nganggo watak ana nagaramu mam arasi yayi emas tyase kang sira dhayohi.</poem> |<poem>Kang rayi gumujeng suka gih bokayu kula dereng mangarti raka paduka Sang Prabu teka jrih nrus batinan kula boten grahita keni den ekul kangbok kula boten bisa wonten nagari ing riki.</poem> |<poem>Dene anggepe Walanda anumpangi ngekul sabarang kardi kangmas kalusen bokayu angugung ing Walanda</poem>}}<noinclude>{{rh|372}}</noinclude> bd9ibyvpowvp5v29d9tbm02wk9cftud Kaca:Babad Prayud I.pdf/375 250 24267 77732 76779 2026-05-15T19:22:10Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77732 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::ngugung malih yen botena muluk-muluk :::pinethe pos-posaney a :::kudu nganciki nunggangi. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Dhimas mengko pukul lima sira yayi ginawa maring ngloji Pangran Dipati umatur bokayu gih sandika kula dherek ing kakangmas karsanipun inggih ta awon punapa teng manuteng wong aurip.</poem> |<poem>Sampeyan kangbok ngadikan sampun kongsi dados damelireki inggih dhateng kangmas prabu anglampahken punggawa inggih amung sarenga kula bokayu benjang akan antuk kula yen kalilan kakang aji.</poem> |<poem>Kangbok pamit kondur sigra ing wurine Pang'eran Adipati amanggil mring uprupipun Lapro wus prapteng ngarsa angandika mring Lapro heh Lapro ingsun mengko sore pukul lima ingsun lumaku mring loji.</poem> |<poem>Semayan karo kakangmas Adipati Mangkunagara nenggih Lapro alón aturipun inggih langkung prayoga inggih kula asaos ngiringken tumut boten ambakta santana Pangeran angandika aris.</poem> |<poem>Si Beman punika edan yen anepsu tan tolih kanan kering</poem>}}<noinclude>{{rh|||373}}</noinclude> 3k9ljzpogh9a9crcggr91yv2yyep05d Kaca:Babad Prayud I.pdf/376 250 24268 77733 76780 2026-05-15T19:22:42Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77733 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::sigra makuwon pun Uprup :::sonten badhe wangsulnya :::wau Ratu Bendara ing praptanipun :::matur dhateng ingkang raka :::lamun sandika kang rayi. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=44 |<poem>Kuneng ing ari kaman-ty an prapteng pukul lima Ki Adipati Mangkunagara lestantun budhal saking dalemnya angampiri kang rayi pakuwonipun Uprup Lapro wus kapanggy a pakuwon lajeng lumaris.</poem> |<poem>Nunggil ing karetanira ingkang rayi Pangeran Adipati Mangkunegara wus laju Lapro ngusiri gennya U'prup Beman wus saos derguderipun seket anem baris kuda praptane drei angurmati.</poem> |<poem>Mariyem hormat ping sapta Uprup Beman amethuk sigra nganthi ing pangeran kalihipun wus tata dennya lenggah Uprup Beman sigra andhingini wuwus heh Tuwan sampun mangkana wong arsa angarah putri.</poem> |<poem>Penet tuwan anuruta ing karsane raka dika Sang Aji kula puniku yen katur ramanta Tuwan Sultan ngawonena ing bicara kula purun kula inggih wong.rumeksa ing raka dika Sang Aji.</poem>}}<noinclude>{{rh|374}}</noinclude> 453s2z4uisz13evntka9jh0js4apfsb Kaca:Babad Prayud I.pdf/377 250 24269 77736 76782 2026-05-15T19:23:11Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77736 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem>Kula boten tolih barang boten etung kapala pecah katri mung karsane ratunipun sumambung wuwusira Pangran Adipati Mangkunagareku ya bener uprup nanging ta sakehe prakara iki.</poem> |<poem>Sun gawe padha luputnya akeh-akeh amung ta ingkang kari sayekti ampun-ingampun katuta banjir bandhang apa gawe rinasan pan karonipun iya padha lupanira anggroning kamal kang rayi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||375}}</noinclude> ffb80e6hzleva7nonb6v0iw0fa0t8sm Kaca:Babad Prayud I.pdf/378 250 24270 77737 76785 2026-05-15T19:23:43Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77737 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXVI SINOM {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Kumeng ta kang sampun eca wau ta Sri Narapati Nimbali Tumenggung Sasra diningrat kinen manggihi Tumenggung Urawan iku marang pakuwonira kinen angrok mersa beni sapraptane Tumenggung Saradiningrat.</poem> |<poem>Urawan akakawalan kekejek pamethukneki gereng-gereng ngungunira gelar kelasa pribadi Urawan lenggah lampit tan purun sasaman lungguh langkung dennya nor raga sirah meh sumeleh lampit sarta ulat pangrem pura myang ngumala.</poem> |<poem>Tumenggung Sasra lingira kakang lampah kula neggih kang timbalan Sri Narendra Sasra temuwa sireki lan si Urawan mangkin aprakara wingi yeku sun pundhut si Urawan mengkuwa karone sami katujune ya si Tumenggung Urawan.</poem> |<poem>Laku kang ginawe tuwa dadi ingsun nora watir prakara lamun dadiya dudukane paman aji yen si Urawan pasthi ngreksa karo-karonipun wong mudheng ing prakara</poem>}}<noinclude>{{rh|376}}</noinclude> fojtfp8n6k1fh2779tychape6428ac0 Kaca:Babad Prayud I.pdf/379 250 24271 77740 76786 2026-05-15T19:24:24Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77740 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::rineksa karone pasti :::ya tumindak pira sun lan Paman Sultan. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Dhingin padha lali iya tumuruh rusaking bumi samengko eling Jeng Paman lagi meristis wong cilik nuli bojoda malih ya prakara salang-surup sapa ta ingkang ngeman yen ora paman lan marni kuwatirku tutuma mring si Urawan.</poem> |<poem>Kagy at Tumenggung Urawan matur sarwi mrebes mili inggih sampeyan matura ing Gusti Jeng Sri Bupati yen taksih ingkang abdi pun Urawan sengganipun yen dodosa prakara dadosa atur up ami yen dadosa galihe kang rama Sultan.</poem> |<poem>Kang abdi babantenan tinengker-tengkera benjing ngalun-alun Surakarta pun Urawan badaneki tan darbe atur malih ingkang abdi pun tumenggung atas rembatan kula wau kalane miyarsi mesem Raden Tumenggung Sasradiningrat.</poem> |<poem>Inggih kakang mit-amitan pasthi yen lega Sang Aji wus mangkat Tumenggung Sasra Urawan ngeter ing jawi datan kawameng margi</poem>}}<noinclude>{{rh|||377}}</noinclude> gbbyrquhmchaavxlhnlpdiatyj5fqog Kaca:Babad Prayud I.pdf/380 250 24272 77741 76789 2026-05-15T19:24:59Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77741 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::sapraptanireng kadhatun :::byantaranira nata :::katur ing saaturneki :::ingkang abdi wau Tumenggung Urawan. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Sang Nata kapraneng driya nir tyas wardayanira ris wauta kang ngesan-ecan Pangeran Dipati kalih suka-suka prasami pukul rolas kunduripun kuneng wuwusen enjing kang arsa sumiwang puri wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Sapraptanira ing pura Mangkunagara dipati wus panggih lan ari nata pinangihan ing pandhapi katur sasolahneki karyanira angrurukun mirapet ing ngarenggang wus tan ana kawis-kawis sami suka kang rayi lawan kang raka.</poem> |<poem>Ing Septu injing ngandikan Pangran Dipati Matawis ing raka Sri Naranata Uprup lan Pangran Dipati Mangkunagara sami andherek prapteng kadhatun pinanggihan pandhapa wus tata munggeng ing kursi ingkang rayi Pangran Dipati Ngayogya</poem> |<poem>Kinanthi mring raka nata binekta ing dalem anglis kinen panggih ningalana</poem>}}<noinclude>{{rh|378}}</noinclude> rigrz01oz4q9nx42pg2ba8gvr0ad4cb Kaca:Babad Prayud I.pdf/381 250 24273 77742 76791 2026-05-15T19:25:50Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77742 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::ing putrinira Sang Aji :::pan sawusnya udani :::anulya ginawa metu :::angiras pamitira :::Dipati Mangkunagari :::angaturken kang garwa Ratu Bendara. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=13 |<poem>Yen badhe nyarengi lampah ing rayi Pangran Dipati Sang Nata alon ngandika iya becik iku adhi dadi sun tan gawani kaliwon miwah tumenggung padha neng palurugan ngiras sira bae yayi ingkang rayi tur sembah inggih sandika.</poem> |<poem>Wus lajeng ing pamitira Dipati Anom Matawis saking loji angkatira nudy ari ing Ngakat Paing prajurit jro wus mijil samtama miwah kang agung kawandasa kanan-kiring para lurah anindhihi barisira.</poem> |<poem>Katanggung miwah Tamtama kang nindhihi kang ngabani Apanyi Cakranagara langkungira den urmati Pangeran Adipati Kodhokngorek mriyem barung wau Ratu Bendara wus budhal sareng kang rayi amung satus prajurit Mangkunagara. </poem>}}<noinclude>{{rh|||379}}</noinclude> 5ck22rep7vd9n27vnosk71hlxkk5axu Kaca:Babad Prayud I.pdf/382 250 24274 77743 76792 2026-05-15T19:26:15Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77743 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Prangtandang Saragni abang lurah Gunawiseseki kalawan Gunawaskitha panumbak inggih kakalih ya sapratelon nenggih ya saprayoga puniku kakalih kamituwa Ngabehi Surawangseki lawan sira Ngabehi Gagakpranala.</poem> |<poem>Para emban estri kathah parekan inya lan cethi wau Jeng Ratu bendara angkate wus munggeng joli dene kang ngater margi santana Surakarteku kerig pangaterira sami wangsul aneng Piji sampun lajeng Pangran Dipati Ngayogja.</poem> |<poem>Prapteng Dhuwet masangrahan kangboknya remben ing margi sawab dening joli rujad andadak dipun dandani baya ngalamatneki mangkana enjing budhal saking pasanggrahaneki sapraptane ing Gondhang amasanggrahan.</poem> |<poem>Lampahe Ratu Bendara lawan sawadyanireki kendel masanggrahan Ngingas enjang Pangeran Dipati budhale andhingini saking Gondhang praptanipun Nagri Ngayogja asar</poem>}}<noinclude>{{rh|380}}</noinclude> lg18e0tvkfgz4lckcs25ofpltofkcyn Kaca:Babad Prayud I.pdf/383 250 24275 77744 76793 2026-05-15T19:27:09Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77744 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::Ratu Bendara winuri :::langkung remben masanggrahan Randhugowang. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Wau kang dhingini prapta lawan kang rama wus panggih akathah pandangunira kang putra aturireki sapalakertineki wonten ing Surakarteku dinangu bokayunya maksih kantun aneng wuri Kangjeng Sulta mantri anom kang dinuta.</poem> |<poem>Kapethuk ing Randhugowang punang kang caraka panggih dhawuhing Ratu Bendara ngenggalken lampahireki wonten kapethuk malih kakapalan patang puluh asikep waos binang lawan sanjatane karbin lurahipun dhawuhi ngenggalken lampah.</poem> |<poem>Prapteng Palumbon akathah sugata pinggiring margi Ngabehi Sasrawijaya eketan jodhangireki kendel sami abukti ratu lan sawadyanipun werata penuhira sigra budhal lampahneki praptanira ing Ngayogja wanci asar.</poem> |<poem>Wus panggih lawan kang rama Ratu Bendara ngabekti kang rama aneggak waspa sawusnya paribu sami eyang den kabekteni</poem>}}<noinclude>{{rh|||381}}</noinclude> ec8a7jkuor7eif350mgua78c1xfdgx9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/384 250 24276 77745 76795 2026-05-15T19:27:31Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77745 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::nulya wau balanipun :::pinernah pondhokira :::kilen kapatihan kendhik :::wismeng Mantri gelandhag Wiradiprana. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Ratu Bendara neng pura mung kang abdi aneng jawi wau gantya kawuwusa ingkang anglurug pra sami Ngantang wus den inggahi nagging pangerane suwung ngilang ran mawi bala ingulatan tan kapanggih sami bubar wong Yogja wong Surakarta.</poem> |<poem>Bupati ingkang pinarnah sadaya wetaning kali ing Sarengat Wirasaba ing Japan lan ing Kadhiri wetan Plabuhan sami ing Rawa merit mendhuwur Kalangbret radi tebah tan kajero tan kajawi wong Ngayogja pan amung kalih nagara.</poem> |<poem>Mung Japan lawanjing Rawa ing Sala bupati katri Sarengat lan Wirasaba katiganira Kadhiri liya punika sami kinereg ginawa mantuk sawab nagri babakal keh ginarap pra dipati Adipati Mangkupraja praptanira.</poem> |<poem>Sowan ing byantara nata dinangu sapolahneki katur barang tingkahira</poem>}}<noinclude>{{rh|382}}</noinclude> hpmc637t2fa381js6psspcsl5pvekd5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/385 250 24277 77746 76796 2026-05-15T19:27:56Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77746 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::miwiti malah mekasi :::kyana patih wot sari :::aprakawis pejahipun :::Tumenggung Wilatikta :::sinten kakarsakna mangkin :::angandika apa ora duwe anak. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Tur sembah rekyona patya inggih tanggel maksih alit lah ta iku mangkupraja samengko tunggalna dhingin mring Tirtakusumeki anake yen gedhe besuk gampang nuli ulihna yen wus kelar ngangkat kardi tur sandika Adipati Mangkupraja.</poem> |<poem>Wus medal saking jro pura bupati katiga patih mancanagara samana Pakecohan pondhokneki ler Pepe pinggir kali kuneng malih kang winuwus nenggih Ratu Bandara kang aneng Ngayogja lami ingindhetan mring kang rama Kanjeng Sultan.</poem> |<poem>Kang dherek pituwanira Ngabei Surawangseki Ngabei Gagakpranala lurahe sakawan nenggih gandhek ingkang dhawuhi sadaya tinundhung mantuk sami matur sandika nanging den antos sakedhik kula atur uninga dhateng kang putra.</poem>}}<noinclude>{{rh|||383}}</noinclude> tlv4dm9322o066ja1hwt8f13xdw8o3j Kaca:Babad Prayud I.pdf/386 250 24278 77747 76797 2026-05-15T19:28:24Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77747 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem>Inggih manawi kalilan boten sareng kang den iring pan nunten mantuk kawula yen tan kalilan sayekti punika nuhun ugi nadyan kinarsakna lampus wonten nagri Ngayogja sayekti kula lampahi mung punika aturing abdi sadaya.</poem> |<poem>Gandhek mundur prapteng pura wus katur saaturneki pra lurah Mangkunagaran Jeng Sultan sigra nimbali kang putra prapteng ngarsi Ratu Bendara wetsantun kang rama angandika ebeng akirima tulis mring lakimu yen sira maksih asmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|384}}</noinclude> srjl146mkjdc8s3gsdcju21butxzpbs Kaca:Babad Prayud I.pdf/387 250 24279 77748 76799 2026-05-15T19:28:49Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77748 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXVII.{{gap}}ASMARADANA {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Apan iya durung mari kangen maring ibunira tuwin kadangira kabeh apadene rewangira miwah maring jeng rama mengkona bae layangmu kang putra ajrih mopoa</poem> |<poem>Tur sembah lengser tumuli sarwi kumembeng kang waspa sapraptane ing ibune sa:mi nagisi sadaya wingi-wingi miyarsa kang rama timbalanipun yen meksa jnulih kang putra.</poem> |<poem>Yen mopoa den indheti kang putra badhe den lunas milane para ibune praptane saking ngajengan kang putra tinangisan bok kalaut aturipun mangkana Ratu Bendara.</poem> |<poem>Dennya karya srat wus dadi Bok Gambir dinuta medal wus prapteng pamondhokane dhawuhken angaturena surat Ratu Bendara marang kang raka den gupuh Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Samya eca tyasireki kang pituwa kang pra lurah miji sadaya rembage amung pun Jayapenawang</poem>}}<noinclude>{{rh|||385}}</noinclude> q82hycqdqkr18upuw1xb9y4lzjk62a6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/388 250 24280 77750 76800 2026-05-15T19:29:19Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77750 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::kang pantes anglampahna :::sigra ka ambii kudanipun :::pukul pitu angkatira. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Nyingklak turangga nyamethi kudane adheyan ngawal tan mawi kendel saenyek yen nuju radin kang marga nungklak turangganira pukul nem ing praptanipun kang turangga lajeng pejah.</poem> |<poem>Srat katur gustinireki tinampan gya tinupiksa sawusnya bis pamaose pangeran langkung brainantya muka pindha dahana kang ngadhep prapta kumrutug para selir para putra.</poem> |<poem>Sinungan wartamng tulis estu lamun ingindhitan Ratu Bendara lampahe mring kang rama Kanjeng Sultan sadaya duk miyarsa sru anjrit tangis gumuruh kang mara-mara karuna.</poem> |<poem>Kang para putra li-alit pating jalerit sadaya pangeran wibuh galihe sadalu tan ana nendra Dipati Mangkupraja enjinge sowan malebu canthel atur ingadikan.</poem> |<poem>Wus prapteng ngarsa nrepati Mangkupraja matur nembah</poem>}}<noinclude>{{rh|386}}</noinclude> 8h2qlzqhgbg3k5ivemiaj7vgyhl7foa Kaca:Babad Prayud I.pdf/389 250 24281 77751 76801 2026-05-15T19:29:47Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77751 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::kula tur uninga katong :::daleme pun kakangemas :::dalu tangis gumerah :::kula putusan ing dalu :::korinipun kinuncenan. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Pra mantri kang wonten jawi wartine wonten putusan saking Ngayogja wertine dutane Ratu Bendara inggih atur uninga lamun boten kenging mantuk dipun dheti mring kang rama.</poem> |<poem>Kagyat wau Sri Bupati nulya Uprup ingandikan tan adangu ing praptane dhasar meh sowan mring pura kaselak tinimbalan Uprup praptaning kadhatun wus lenggah nata ngandika.</poem> |<poem>Uprup iki ana warti teka Kamangkunagaran prakara iya garwane kakangmas Mangkunagara neng Yogja ingindhetan Kangmas Adipati durung tur uninga marang ingwang.</poem> |<poem>Uprup sigra turireki kula inggih tampi serat wau dhateng saking Lapro yen inggih Ratu Bendara estu yen ingidhitan asru ngandika Sang Prabu Iah kapriya karepira.</poem>}}<noinclude>{{rh|||387}}</noinclude> qdhhyw5hxhdu5x7zsg6f4e8o78r7be6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/390 250 24282 77753 76803 2026-05-15T19:30:17Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77753 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Wong tuwa tan tulus becik Uprup alón aturira inggih sapened-penede yen estu puniku dadya lungguh panganiaya inggih ingkang punya untung sayekti raka paduka.</poem> |<poem>Nanging inggih lajeng ririh sabar nrus titahing Suksma kompeni wus panganggene amrih patitising lampah karana yen wus tiba tumurun na nganak putu mila mrih kentheling tindak.</poem> |<poem>Raka paduka manawi sanget bingunge kang manah supe tur uningeng katong lan malihipun Sang Nata tuwan aparentaha sadaya kang pra tumenggung siyaga kapraboning prang.</poem> |<poem>Manawi dadosa inggih panganiayane sultan. sang nata pangandikane bek dadi panganiaya tetepa ing sikara ingsun dhewa kang lumaku ngawaki angrebut ing prang.</poem> |<poem>Uprup menyanga pribadi kalawan si Mangkupraja titinjo angyektekake sawab ingsun wus miyarsa de kangmas banget susah</poem> }}<noinclude>{{rh|388}}</noinclude> ky1q154njukntr3eco8evec3dasvpsu Kaca:Babad Prayud I.pdf/391 250 24283 77754 76804 2026-05-15T19:31:03Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77754 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::durung turpikseng maringsun :::sakeh-kehe iya ingwang. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Uprup lawan kyana patih wus miyos saking ngarsendra nitih kareta saking gon prapta Kamangkunagaran kagyat wau pangeran ing jawi na swaranipun gumrubyuk kareta prapta.</poem> |<poem>kang saos lumajeng aglis matur lamun Uprup prapta Dipati Mangkuprajane pangran sigra dennya tedhak Uprup saudhunira nganti sareng lebetipun lan Dipati Mangkupraja.</poem> |<poem>Wus tundhuk tabeyan sami wus tata neng kursi lenggah Beman sigra muwus alón Pangeran kula dinuta ing rayi Sri Narendra sampun susah ing ty as wibuh prakawis Ratu Bendara.</poem> |<poem>Rayi nata wus miyarsi prakawis garwa andika Sang Nata kula den kocok ing wau atur kawula yen sampun kaleresan sultán ing padamelanipun tetep nibani sikara.</poem> |<poem>Dadya purun ing kumpeni láh inggih mangsa bodhowa punapa adat jawane</poem> }}<noinclude>{{rh|||389}}</noinclude> 6x9ugllcu4hbk1s7ofo0ceuu7n6iivr Kaca:Babad Prayud I.pdf/394 250 24284 77756 77004 2026-05-15T19:33:06Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77756 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::agantya ingkang winuwus :::abdine Ratu Bendara. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Emban estri para gusti parekan prajurit lanang satus Sragni Prangtandange dereng purun tinundhunga wau Ratu Bendara ingkang tinimbalan gupuh Ni Bokemban Kartayuda.</poem> |<poem>Sapraptanira ing ngarsi ngadika Ratu Bendara biyung lah ta sira kiye yen sira nora muliya agawe alaningwang nadyan bapa ujer ratu wenang gawe lara pejah.</poem> |<poem>Biyung mungguh awak marni iya laki tetemenan pan ora ing donya bae alaki padha sapisan denira angandika sarwi kumembeng punangluh matur Ni Ban Kartayuda.</poem> |<poem>Inggih ta ngagesang gusti punika kang tinemenan sampun si putraning katong kawula wong ngalan-alan ngugemi kang punika pun bapa rabi ping pitu kulá boten munasika.</poem> |<poem>Wong wadon darbeya budi marengkang maring wong lanang sayekti ical wadone</poem>}}<noinclude>{{rh|392}}</noinclude> 33b354wyc35dpyqb3ispn2kt5bjq5eg Kaca:Babad Prayud I.pdf/25 250 24285 77920 76808 2026-05-15T20:54:34Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77920 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Yen mangkono ana telu cacahipun pinrih wawedia ingaturan rada wingit, teka dudu karsane pinaletheka.</poem> |<poem>Kudu bubak nora karsa iku semu ameksa pesaja aja nganggo wingat-wingit othok-oyo panuju ámbeke bocah.</poem> |<poem>Aturipun Ki Arungbinang Tumenggung pukulun tan liya kang angradin Tanah Jawi mung paduka akanthi lan putra tuwan.</poem> |<poem>Sang Aprabu nenggih ing Surakarteku makaten kang meca Tuwan Seh Ahmad Kusasih tepang lawan para tabib Tanah Jawa.</poem> |<poem>Ki Tumenggung tanpa kelir aturipun Jamhur tanah Ngarab Tuwan Seh Ahmad Kusasi mila-mila kojah prapta Tanah Jawa.</poem> |<poem>Ingkang antuk anama Kaji Dullulu nggeguru pandhita wonten Tanah Ngatasangin nama Tuwan Seh Ahmad Kusasi purba.</poem> |<poem>Mangsanipun pamit dennya arsa mantuk pamit gurunira tuwan Seh Ahmad Kusasi Tuwan kula nuhun pangestu supangat.</poem> |<poem>Nuhun mantuk mring Tanah Jawi pukulun alon angandika Tuwan Seh Ahmad Kusasi</poem>}}<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude> 8cipu38mgoq359t8v6dsas1pnxck8j2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/26 250 24286 77921 76810 2026-05-15T20:55:10Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77921 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ingsun tutur ya Dullulu marang sira.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Tanah Jawa iya karsane Hyang Agung kinelem pan iya nenggih telung puluh warsi pan wus wiwit nanging ta durung satengah.</poem> |<poem>Maras-maras matur Ki Kaji Dullulu kadipundi Tuwan sagedipun kelem inggih punapa ta kadi tanah-tanah Ngarab.</poem> |<poem>Lamun wonten nagri kadhawuhan wau dedukaning Suksma nagri bumine winalik angandika Tuwan Seh Kusasi purba.</poem> |<poem>Pan Hyang Agung luwih mulya luwih luhur luwih ngadil lawan luwih dennya ngudaneni Kyai Kaji Dullulu langkung ngrerepa.</poem> |<poem>Dhuh Tuwanku tedhakna apuntenipun mungguhing Hyang Suksma kasihan ing titah Jawi darah Tuwan kathah wonten Tanah Jawa.</poem> |<poem>Ngandika rum Tuwan ywa susah sireku dudukaning Suksma sayektine bobot bumi ing pepati tan ana ajine pisan.</poem> |<poem>Bumi sarang kinebat barekatipun bingunging manungsa anak lali bapakneki tuwin bapa keh padha lali ing anak.</poem> |<poem>Iya iku kinarsakken ing Hyang Agung wong lali sesanak- </poem>}}<noinclude>{{rh|24||}}</noinclude> mbr03rdacpbhcrmbwnnqy3gkp5xq9j6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/27 250 24287 77922 76811 2026-05-15T20:55:44Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77922 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ya mangkono bae uwis kakelemán yen mungguh ing Tanah Jawa.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Sira besuk ya muliha sakarepmu nanging angrantuna ing praja ing kanan kering yen akukut muliha mring Tanah Jawa.</poem> |<poem>Lamun uwus iya telung puluh tahun kono kadhawuhan iya apuraning Widi luwar sangking kekeleman bumi Jawk.</poem> |<poem>Mung kinelem iya telung puluh tahun mila kula myarsa nggih Kaji Dullulu nguni anakipun wasta pun Setrawijaya.</poem> |<poem>Pan lumampah ing damel bebekel dhusun paneket ing Getas duk kala kula tinuding inggih dhateng ing Jeng putra padukendra.</poem> |<poem>Abebantu dhateng Pagelen rumuhun medal ing Semarang kinen anedha kumpeni inggih dhateng Ondor op Deler Semarang.</poem> |<poem>Neng Samawis inggih panggih anakipun Dullulu punika mentas tinjo ramaneki ramakipun praptane kendel Palembang.</poem> |<poem>Wanuh mateng lawan kawula pukulun punika kang angsal pawarta kula winangsit lamun kojah tulen sangking Tanah Ngarab.</poem> |<poem>Pandhita gung punika wewangsitipun</poem> }}<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude> qg69v1kqknbudmp86hj7hlkw9kwftbe Kaca:Babad Prayud I.pdf/28 250 24288 77923 76812 2026-05-15T20:56:25Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77923 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>karabating kubra Tuwail Seh Ahmad Kusasi Kyai Kaji Dullulu sampun winejang.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem>Pratikel kang ginaib Tanah Jaweku yen wonten satriya inggih samya trah Malawis ,wani mati nglalana murweng alaga.</poem> |<poem>Nadyan akeh kang sami mangun prang pupuh yen tan ambekira weca tuhu angugemi ing agama ingkang bandera musadat.</poem> |<poem>Sarta bagus kang becik tetekonipun Dulullu punika tetanya denira nitik inggih para kusuma kang amurweng prang.</poem> |<poem>Anakipun nuturken wewatekipun tan wonten miriba edhok wonten paduka Ji watak dalem ingkang netepi ukara.</poem> |<poem>Milanipun boten was Kaji Dullulu ya hole wus nyata Pangran Arya Mangkubumi yen wateke neje lawan para kadang.</poem> |<poem>Pan ta iku mangka dutaning Hyang Agung iya kang kinarya angelem ing Tanah Jawi pratandhane ing aprang arang kasoran.</poem> |<poem>Iya iku ing sasengkeran Hyang Agung milanggung kawula ambeka ing paduka Ji yen paduka nguni ndhatengna deduka.</poem> }}<noinclude>{{rh|26}}</noinclude> suz5ve8k7fiyaioi317wsdlxncpfzxo Kaca:Babad Prayud I.pdf/29 250 24289 77924 76813 2026-05-15T20:57:05Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77924 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=47 |<poem>Milanipun kula purun ambalithuk anjarag deduka ing batin ajeng ngyekteni yen dukaa dede dukaning Hyang Suksma.</poem> |<poem>Duk angrungu Jeng Sultan ing baturipun Tumenggung Rungbinang anglengger dangu tan angling duk ngandika angrentahaken kang waspa.</poem> |<poem>Sewu ngungun sakethi gegetunipun yen mengkono iya Rungbinang kojahmu iku raganingsun kalebu wong tetemenan.</poem> |<poem>Dene iku iya karsaning Hyang Agung ngelem Tanah Jawa winangen tri dasa warsi ing sasmita ragengsun kalebu ing bab.</poem> |<poem>Yen kawilang sira dhingin maring ingsun pasthi watak kiwa sun wuwuhi ngati-ati sun wuwuhi pikukuh ingsun ngagama.</poem> |<poem>Dhingin ingsun aweh layang ing sireku muni ngebang-ebang sira sun gawe pepatih anamaa iya Dipati Manggada.</poem> |<poem>Lamun ora seneng nama ingkang iku Dipati Urawan lamun ora anujoni anamaa Dipati Natanegara.</poem> |<poem>Ujar iku dudu lorop dudu bujuk ujar tetemenan kencenge tyasingsun iki</poem> }}<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude> 199hml3qkyyhcem8zwscpe3mi0uc2jf Kaca:Babad Prayud I.pdf/30 250 24290 77902 76814 2026-05-15T20:41:50Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77902 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kaya-kaya osik pituduh Hyang Suksma.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=55 |<poem>Sun rembugken kabeh sapunggawaningsun pepatih jro pura iya kang nama dipati wus sun panci iya lelungguh saleksa.</poem> |<poem>Patih jaba si Mangkunegara iku lungguh tigang leksa ing ngadat ingsun salini pasthi bisa yen ora ana Walanda.</poem> |<poem>Punggawengsun kang ajembar budinipun sura ing alaga uwis mateng jangji marni soring patih anglimangewu lungguhnya.</poem> |<poem>Jayadirja Rangga Suryanegareku Dhimas Pakuningrat Dhimas Natakusumeki kabeh-kabeh wus mateng pikir batinan.</poem> |<poem>Punggawengsun padha mantep pikiripun manthengaken cipta nedya tulung Tanah Jawi Iya dene nir memaniseng manungsa.</poem> }}<noinclude>{{rh|28||}}</noinclude> 1nfewzaw9lqqfct7s9w3s5biq55fxaj Kaca:Babad Prayud I.pdf/260 250 24291 77769 76815 2026-05-15T19:38:37Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77769 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXIII. DHANDHANGGULA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Nadyan ingkang dadiya papahit dadi remak-rempu ingante pan tan gumingsir ing anggepe susukere Sang Prabu sampe mati dipun antepi ing mangkya Srinarendra paparentah sampun mundhut kakalih wedana samantrine lawan kaliwon kakalih lan Jagul tiga belah.</poem> |<poem>Badhe ngaterken dhateng Semawis lampahipun Jeng Ratu Kencana kan ngater ngetan badhene Deler ingkang asaguh nuduh pra dipati pasisir wau ta Sri Narendra bupati tinuduh Tumenggung Puspakusuma lan Tumenggung Puspadiningrat wus sami siyagane samakta.</poem> |<poem>Lan kaliwon ing jawi kakalih Ratu Kencana wus dhinawuhan amangun res wardayane budhal ping kalih mulud ing Salasa Wage lumaris saking ing Surakarta satengah sepuluh Raden Arya Endranata kinen tumut lawan Pringgawicitreki Ratu Mas papatihnya.</poem> |<poem>Samya kinen wangsula Semawis wit nyanyengit wesana welasan</poem>}}<noinclude>{{rh|258}}</noinclude> s5ecujmsceqlrmoos53tsf65lvszm6u Kaca:Babad Prayud I.pdf/31 250 24292 77903 76816 2026-05-15T20:42:35Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77903 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''II. {{tab}}Dhandhanggula''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Kangjeng Sultan angandika malih Heh Tumenggung Rungbinang mengko ta Kaji Dullulu anake aneng ngendi nggenipun iya apa misiha urip Tumenggung Arungbinang wotsari umatur Kaji Dullulu punika tetep wisma wonten Palembang nagari ing mangke sampun dadya.</poem>}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=3 |<poem>Inggih marasepuh sapuniki dhateng Sang Prabu ing Palaretna wonten dene ta anake pun Setrawijayeku kesah dhateng Ngarab nagari minggah kaji angiras ngungsir gurunipun kang bapa arsa anuta angguguru Tuwan Seh Ahmad Kusasi pamit dhateng kawula.</poem>}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=3 |<poem>Pan kawula satus anyangoni boten ajeng langkung sapunika mring kawula ageng. sihe Jeng Sultan ngandika rum Arungbinang begjanireki asihe marang sira apan iku wahyu Rungbinang matur anembah duk amangsit kadi mejang ngelmu gaib nggih pun Dullulusuta.</poem> |<poem>Ki Tumenggung den angati-ati, den waskitha sampun tungkul dika</poem> }}<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude> 37mvprmn8ppb9x5j3atyiyqneviczxo Kaca:Babad Prayud I.pdf/261 250 24293 77770 76817 2026-05-15T19:38:53Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77770 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> :::saking aneh pangrasane :::dene banjur kalantur :::ing karsane Sri Narapati :::kuna-kuna tan ana :::laiakon kadyeku :::mung karya kaget kewala :::lampahira sadalu neng Bayalali :::enjinge lajeng budhal. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem> Aneng Salatiga pan sawengi enjing budhal prapta ing Ungaran lajeng budhale enjinge Jumungah praptanipun ing satengah rolas Semawis urmate winatara nenggih Kanjeng Ratu pinernah pakuwoniro ing wismàne wau dipati Semawis sawusnya tigang dina.</poem> |<poem> Kang andherek sami pamit mulih marang Idler sampun kalilan budhal sak kanca mantrine ambekta angsul-angsul serat dalem wawangsul neki apan ing sapunika cethine Jeng Ratu akathah kang sami minggat tumut wangsul dhateng Surakarta njilib sanadyan wong Madura.</poem> |<poem> Inggih sami karasan neng Jawi kawuwusa Adipati Sampang Pangeran Cakraningrate budhal sawadyanipun tampi serat saking semawis lan saking Surakarta</poem>}}<noinclude>{{rh|259}}</noinclude> om8sbut4ijwuixzeriqg08slazymowq Kaca:Babad Prayud I.pdf/32 250 24294 77904 76818 2026-05-15T20:43:10Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77904 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>lampah tangeh sampurnane. benjing arang wong agung kang meningi kartaning bumi Pringgalaya Sinduija Mlayakusumeku Wiraguna Mangkupraja miwah Kartanegara boten meningi tuwin Ki Natayuda.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Mung puniku kang kula wastani liyanipun meningi sadaya poma dipun yitna tembe tan keni gugup-gugup yen prayitna kang dadi werti sami trahing Mataram awasna ing laku nanging ta sampun tan mulat kang wus pasthi Pangran Arya Mangkubumi dennya wewatak beda.</poem> |<poem>Kangjeng Sultan angandika malih lamun sira dhingin anjawila maring sun pasthi elinge ingsun nora tekebur nora kalah prang prakareki ya wus karsaning Suksma karusakanipun tan kena lamun kinarya miwah ingsun duk bebakal murweng jurit anggung prang tandhing jipat.</poem> |<poem>Lamun ingsun kasoran ping kalih sembulihe menang kaping lima nyengka tandhing ji limane ji seket jitus unggul de sun ora tekabur kedhik eling sadina-dina</poem> }}<noinclude>{{rh|30}}</noinclude> t2fqv6jv1n4l2249d6ooh616fcdh2ju Kaca:Babad Prayud I.pdf/10 250 24297 77938 76827 2026-05-15T21:16:15Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77938 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Sindureja, Mlayakusuma, Wiraguna, Mangkupraja, Kartanagara, dan Natayuda. Demikianlah wawancara antara Sultan dan Tumenggung Arungbinang dari Surakarta, yang sedang diutus ke Yogyakarta untuk mengiringi Ratu Bendara menghadap ayahandanya Sultan Yogyakarta. Pada suatu ketika terjadilah di Surakarta peristiwa yang berpangkal dari istana Mangkunagaran, ialah bahwa menantunya yang bernama Raden Mas Guntur Wiratmeja, bertindak menyeleweng dengan salah seorang selir terkasih mertuanya. Atas peristiwa tersebut Pangeran Mangkunegara sangat marah. Sewaktu beliau marah-marah, Wiratmeja dalam persembunyiannya mendengarkan, dia sangat takut, dan segera mengajak istrinya beserta segenap pengiringnya dan juga Raden Ayu Rarasati untuk melarikan diri ke arah Blora. Di daerah tersebut (Blora) Wiratmeja dapat menghimpun pasukan dari daerah pantai dan pedesaan di sekitarnya. Di sana dia mengangkat bupati dan perwira/lurah yang terdiri dari para pencuri penyamun dan lain sebagainya. Berita tersebut sudah terdengar di negeri Surakarta. Tentang larinya Wiratmeja tadi oleh Pangeran Mangkunagara teiah dilaporkan kepada Raja, dan Tuwan Uprup Beiman telali mengetahuinya pula. Mereka segera berunding untuk mengejar dan menyerang Wiratmeja. Pengejaran ini dipercayakan kepada Tumenggung Arungbinang. Tidak lupa mereka mohon bantuan pasukan dari Yo^a, untuk menumpas Wiratmeja tersebut. Sultan mengutus Pangeran Jayakusuma, Arya Pamot dan Kusumayuda dan Ki Mertasana untuk memimpin barisan dalam membantu penyerbuan itu. Para tumenggung Surakarta dan Yogyakarta, merencanakan siasat penyerbuan bersama, dipimpin oleh Tumenggung Arungbinang. Wiratmeja setelah mendapat laporan dari petugas sandinya bahwa akan diserang oleh pasukan dari dua kerajaan, segera mengundurkan diri ke arah utara dengan tujuan kota Pati. Di sana pasukan berhenti di Garenteng untuk menyusun barisannya, sedang pasukan dari Surakarta dan Yogyakarta terus mengejarnya. Di tempat ini mereka terkejar dan terjadilah perang. Banyak korban yang berjatuhan di pihak pasukan Wiratmeja,<noinclude>{{rh|8}}</noinclude> dumzqkjl2zlu4uh3me1bzse6p8w1u7c Kaca:Babad Prayud I.pdf/262 250 24298 77771 76822 2026-05-15T19:39:07Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77771 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> :::dharat lampahipun :::boten medal ing lautan :::kuneng malih bupati Surakarteki :::suprataneng Semarang. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=8 |<poem> Ngaturaken srat saking Semawis Deler Ubristing sul-angsulira tinupiksa ing tembunge langkung suka Sang Prabu sirna ingkang wadya kalilip dennya Ratu Kencana wus datan kadulu ing panggenane wus tebah apan sampun wonten tanganing kumpeni nora karya sumelang.</poem> |<poem> Bakdamulut Kanjeng Sri Bupati tanggal pitulas wau kang raka tinimbalan mring purane miwah para tumenggung Adipati Mangkuprajeki prapta tata alenggah ngandika Sang Prabu kakangmas mangke andika kula ganjar inggih andika tampeni Pamaosan Toyamas.</poem> |<poem>Kang tigang ngewu rong atus dhingin kang wolungatus panjer kantuna dene kakangmas ing tembe nadyan sajawinipun ing pamreden pangrembe benjing inggih wonten kakangmas jangkep gangsalewu sapaos-paose benjang kakangemas turena ing saben warsi welasane akathah.</poem>}}<noinclude>{{rh|260}}</noinclude> g459sdnwzwvj7q7zkt5itpnqzskhvvt Kaca:Babad Prayud I.pdf/33 250 24299 77905 76823 2026-05-15T20:43:38Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77905 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>jubriya maledhug tekabur tan katempelan tyas sun ening milanggung awanti-wanti pitulunging Hyang Suksma.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=8 |<poem>Kangjeng Sultan angandika aris Arungbinang sira seksenana si Ebeng iku arane maune ingsun pundhut lan namane lakine nguni mulih Suryakusuma paparinganingsun Dipati Mangkunegara dene mengko si Beng amuliha malih nama Ratu Bendara.</poem> |<poem>Nembah matur ingkang den gadhuhi nenggih wau Tumenggung Rungbinang sampun ingundhangken kabeh ing pra wadyanireku Raden Ayu Mangkunagari ingantukken kang nama Ratu Bendara wus sagung wadya Surakarta kang ndhedherek ingungdhangan sampun wradin lan songsong pinaringan.</poem> |<poem>Kuning sungsun pama tupang sisir pan pinasthi telungatus reyal lan nagri Pamagetane pinaringaken wau Kangjeng Sultan ngandika malih sun seksi Arungbinang marang ing sireku sakehe punggawaningwang baribina mring anak prabu prayogi sangking sira kewala.</poem> }}<noinclude>{{rh|||31}}</noinclude> 98jvc7mh7quwfmd8swh5utdkuvmk7oa Kaca:Babad Prayud I.pdf/34 250 24300 77906 76826 2026-05-15T20:44:20Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77906 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Laminira pan sangalas wengi Arungbinang ping nem ingandikan mring pura sabedhug dene omong-omongan nuíug solah kang wus kawuntat tinutur ginalur kang putra Ratu Bendara ing sangalas dina aneng Ngayogjeki pamit sampun kalilan.</poem> |<poem>Sulta dhateng mawi serat malih mung mitungkas Tumenggung Rungbinang wus pracaya sakalire enjing budhalireku Dulkangidah salawe nenggih kang tinuduh ing lampah dhateng putranipun mring nagari Surakarta punggawa tri Pangran Jayakusumeki punggawa tur sentana.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Singaranu malih lawan Tumenggung Mangunnegara sadasa mantri jerone Ketanggung Patangpuluh prajurit jro kang parak sami aturan Anirbaya lan Jagabayeku Wirabraja Brajanala kalihatus pra sentana Ngayojeki sami ngeter ing marga.</poem> |<poem>Langkung kathah bebektanireki ingkang rama mring Ratu Bendara sakembaran kang sesupe pan regi pitung atus</poem> }}<noinclude>{{rh|32||}}</noinclude> djacyzmdo77ib7tne55z4oear5o8fi1 77907 77906 2026-05-15T20:44:49Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77907 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Laminira pan sangalas wengi Arungbinang ping nem ingandikan mring pura sabedhug dene omong-omongan nuíug solah kang wus kawuntat tinutur ginalur kang putra Ratu Bendara ing sangalas dina aneng Ngayogjeki pamit sampun kalilan.</poem> |<poem>Sulta dhateng mawi serat malih mung mitungkas Tumenggung Rungbinang wus pracaya sakalire enjing budhalireku Dulkangidah salawe nenggih kang tinuduh ing lampah dhateng putranipun mring nagari Surakarta punggawa tri Pangran Jayakusumeki punggawa tur sentana.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Singaranu malih lawan Tumenggung Mangunnegara sadasa mantri jerone Ketanggung Patangpuluh prajurit jro kang parak sami aturan Anirbaya lan Jagabayeku Wirabraja Brajanala kalihatus pra sentana Ngayojeki sami ngeter ing marga.</poem> |<poem>Langkung kathah bebektanireki ingkang rama mring Ratu Bendara sakembaran kang sesupe pan regi pitung atus</poem> }}<noinclude>{{rh|32}}</noinclude> 2aazkeufw96u0ro35ir8lhqo04bt0j0 Kaca:Babad Prayud I.pdf/263 250 24301 77772 76825 2026-05-15T19:39:43Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77772 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem> Ingkang raka anuhun turneki sarwi latah Sang nata ngandika heh Mangkupraja den age si Yudanagareku lan kancane para ngabei aturna kakangemas sandika turipun kang raka alon turira kula nguni pun Jangkungpacar punagi yen ludhanging prakara.</poem> |<poem>Kula inggih badhe den aturi dhateng wismane pun Jangkungpacar angluwarken punagine angandika Sang Prabu kula inggih dipun aturi daweg sareng wasisan kang raka umatur inggih wajib Srinarendra mesakaken si Jangkung pahitan pati gon nglakoni parentah.</poem> |<poem>Ngandika lon wau Sribupati Wiradigda lan si Mangkuyuda miwah Jayanegarane myang tirtawiguneku lumakuwa kapat bupati mring wismeng Jangkungpacar resikana gupuh manawa durung prayoga ingsun lawan kakangmas badhe tumuli nembah catur punggawa.</poem> |<poem>Medal kidul sapratanireki ing wismane Lurah Jangkungpacar panggih rumat sadayane mung kedhik ingkang kantun</poem>}}<noinclude>{{rh|||261}}</noinclude> b0mezc6kyv1v3lr9ubxhdvv8egf5v4r Kaca:Babad Prayud I.pdf/11 250 24302 77939 76835 2026-05-15T21:18:59Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77939 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>kemudian dia dengan anak buahnya melarikan diri ke timur. Secara menyamar diri seperti mantri yang mengemis beserta pengiringnya yang berjumlah 7 orang masuk Surabaya. Sementara itu para adipati menduga bahwa sudah ada yang menyampaikan berita pada Tumenggung Arungbinang, kalau salah seorang pemimpin dari Surakarta yang bernama Ranadipura, tidak mekksanakan tugas dengan baik, bahkan dia berkhianat akan tugasnya. Para Adipati daerah pasisir mengirimkan surat kepada Raja dan Pangeran Mangkunagara. Oleh raja dijawab. agar para adipati jangan saling bentrok, dan supaya menjaga keutuhan. Jawaban tersebut oleh para adipati dianggap kurang memuaskan, maka mereka bersepakat untuk melaporkan hai ini langsung kepada Deler di Semarang. Deler terkejut menerima laporan ini, segera membuat surat tiga buah, satu ditujukan ke Sulta Yogya, dan dua buah untuk kedua raja di Surakarta. Surat yang ditujukan ke Yogyakarta, menjadi gelisah Sulta di Yogya, karena Deler berprasangka bahwa Sulta telah merestui Wiratmeja untuk menjadi raja di Baledawa. Adapun surat yang ditujukan pada Sunan (raja Surakarta), isi berita bahwa ada salah seorang abdi (dari Surakarta) yang tercela tindakannya, merawat ibunda Wiratmeja. Sedang surat yang kepada Pangeran Mangkunagara, mengatakan bahwa salah seorang pemimpin di sana hanya bermain dadu saja, meninggalkan tugas pokok dalam peperangan. Sesudah membaca surat tersebut, Parfgeran Mangkunagara segera masuk ke keraton menghadap raja. Di sana kedua beliau itu berunding untuk mengambil keputusan. Raja segera memberi perintah untuk memanggil Ranadipura dan orang-orang (pasukan) mancanagara. Tumenggung Brajamusthi diberi tugas membawa kembali pasukan itu, sedang Tumenggung Arungbinang diperintahkan untuk menangkap Ranadipura. Setelah berhasil mereka dibawa ke Surakarta. Ranadipura ditangkap pada hari Saptu dan pada hari Senen dijatuhi hukuman mati, dipancung kepalanya dipasang di sebelah kiri geladhag. Tumenggung Arungbinang oleh raja ditegur mengapa dapat terjadi tindakan tercela dalam peperangan, hingga kumpeni mengetahuinya. Tumenggung Arungbinang menghaturkan apa {{hws|ada|adanya}}<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude> 3eti9viienpawmviz8tco0x1gh241oe Kaca:Babad Prayud I.pdf/35 250 24303 77908 76829 2026-05-15T20:45:13Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77908 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kang busana mawarni-warni sadaya pra santana Ngayogja pisungsung Ki Tumenggung Arungbinang sakaliwon sak andhane para mantri pinisalin sadaya.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Tuwin Raden Tirtakusumaki pan pinijig peparinganira akathah-kathah warnane wauta lampahipun garebegan mring Sambilegi kendel kang pra santana ngriku wangsulánipun wusnya lajeng lampahira ing sadalu wangsule bala kumpeni dragunder kawandasa.</poem> |<poem>Lampahira ing sadalu malih Senen sangking nagari Ngayogja Rebo ping pitulikure asar ing praptanipun ing nagari Surakarteki Ratu Bendara mbekta wau putrinipun Pangeran Mangkunagara ingkang sangking selir pawestri kekalih pinundhut ing Jeng Sulta.</poem> |<poem>Duk pinundhut kalih taksih bayi diwasane wonten ingkang eyang mangkya angujung kalihe marang ing ramanipun Adipati Mangkunagari Den Ajeng Bonjot lawan Semplep arinipun peparab sangking kang eyang</poem> }}<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude> a68x3pqjj7mpkfzcubhzn1zde8ia0ga Kaca:Babad Prayud I.pdf/264 250 24304 77773 76831 2026-05-15T19:40:01Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77773 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> :::masang gubah tertepan jawi :::dadya kapat punggawa :::tumandang abikut :::sawusnya atur uninga :::tendakira ing wau Srinarapati :::kalawan ingkang raka.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem> Wus pinarak dhadhampar Sang Aji munggeng kursi wau ingkang raka neng wisma tengah kaliye mandhapa pra tumenggung dadya sarat panginumneki janewer nigang gelas ingkang raka gupuh ambeksa mung tigang tindak uwis Jangkung aku ingkang amakili beksane Srinarendra.</poem> |<poem>Paparentah wau Sribupati marang Apanji Cakranagara lurah prajurit jro kabeh krigen ajana kantun mantri kadipaten prasami ing kene kasukana den padha anutug si Pasliyun jenengana aja bubar yen durung bubar jro puri kabeh matur sandika.</poem> |<poem>Lan ladene dingklik ta sireki amundhata wong gedheng kewala Sang Nata pangandikane sunan nimbali uprup akasukan lan pra opesir lawan kang pra dipatya aneng jro kadhatun sira kene kasukana</poem>}}<noinclude>{{rh|262}}</noinclude> eo762t9qog02eg2qo3x4ztqeelzd15t Kaca:Babad Prayud I.pdf/12 250 24305 78191 76846 2026-05-16T09:04:43Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78191 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|nya|adanya}}, segenap kekurangan dan mengakui kesalahan-kesalahan tersebùt. Setelah niendengarkan laporan dan jawaban Tumenggung Arungbinang Sri Baginda merasa puas dan senang. Lain halnya dengan Sultan di Yogya, setelah membaca surat dari Deler, segera memanggil perwira-perwiia yang ada di medan perang. Rasa hati beliau sangat kesai oleh tingkah Adipati Suryanagara. Abdi yang ditutus ialah Rangga Prawiradirja, ke wilayah Baledawa. Adipati Suryanagara mendengar adanya utusan dari Yogyakarta hatinya terkesiap, merasa bahwa perbuatannya telah tercium oleh Raja. Maka bersama putra dan istrinya 'segera melarikan diri, sedang yang diperintahkan menunggu kota yaitu kedua kemenakannya, dan disertai saudara sepupunya. Ketiganya menyiapkan diri di Desa Jajar. Di sini terjadilah peperangan, anak buah Prawiradirja kalah, lalau ditarik mundur. Sedang baia bantuan dari Surakarta yang baru datang pada hari berikutnya langsung mengadakan pembalasan. Kini kembali pada Wiratmeja, setelah kekuatannya terhimpun lagi, segera memukul Jipang, dan Jipang dapat dikuasainya. Kemudian Wiratmeja dapat menguasai Madiun juga. Adipati Madiun melarikan diri ke arah Ponorogo. Setelah mendengar kalau Ratu Bendara menyiapkan barisan di daerah Magetan, maka bergabunglah para Adipati ke Magetan. Di sana diadakan perundingan dan mengatuf siasat, lalu pasukan Yogyakarta yang dipimpin oleh Rangga Prawiradirja ditugaskan menyerang dari arah barat, pasukan Surakarta dari arah selatan. Pasukan Wiratmeja yang menghadang di sebelah barat dipimpin Tumenggung Ganduwaur, Bragoda dan Gutitwesi. Pasukan dari Surakarta dipimpin Adipati Mangkuyuda, dan Jayanagara. Adipati Jayanagara melihat barisan Wiratmeja, kemarahannya tak terkendalikan, segera menyerbu meninggalkan pasukan pengiringnya, dan menggempur pasukan Wiratmeja. Pasukan Wiratmeja bubar. Wiratmeja sendiri melarikan diri, bersembunyi di belakang pasukan. Alhasil anak buahnya yang melihat tingkah pimpinannya, turut bubar mencari selamat masuk ke dalam hutan. Pasukan dari tumur yang memihak Wiratmeja terus kembali ke Malang, dan merasa tidak ada gunanya mengikuti seseorang yang<noinclude>{{rh|10}}</noinclude> gx9unf14zq296fw9unlxino63052kfs Kaca:Babad Prayud I.pdf/36 250 24306 77909 76834 2026-05-15T20:45:41Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77909 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>praptanira santana Surakarteki sadaya methuk marga.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem>Dadya tontonan praptanireki dennya kathah prajurit Ngayogja prapta sarwi anjujuge Mangkunagaran methuk angurmati kang mau prapti langkung sami sukanya ubekan sesuguh sawusnya sami dhaharan sarta nginum pungawa tri Ngayogjeki kerid mring Kapatihan.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Rungbinang pribadi ingkang lapur mring Uprup Beiman Ratu Bendara praptane lan tri punggawanipun kang angater king Ngayogjeki benjing-enjing kewala panggih Tuwan Uprup Pangeran Jayakusuma Singaranu miwah Mangunnagareki lan Tuwan manjing pura.</poem> |<poem>Erep bubaran praptanireki saking loji Tumenggung Rungbinang prajurit keparak kabeh sowang-sowang umantuk kuneng dalu wuwusa enjing Ratu Bendara sowan mring pura tur-atur, ngaturaken angsal-angsal tuwin ingkang pakintun sangking Yogjeki kang katur mring Sang hata.</poem> |<poem>Tuwin marang Ratu Kangjengneki</poem> }}<noinclude>{{rh|34||}}</noinclude> mylq85g6b1lenfkeag8utrm73wn5m66 Kaca:Babad Prayud I.pdf/265 250 24307 77774 76836 2026-05-15T19:40:27Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77774 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> :::bareng bae gya kondur Srinarapati :::kalawan ingkang raka.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem> Uprup Beman lan para opesir sampun prapta tata palenggakan lajeng kawit panayube mijil laledhekipun gumer sagung kang pra dipati Dipati Mangkupraja beksane acucut Dipati Mangkunegara animbangi cucutira kyana patih langkung suka sadaya.</poem> |<poem> Nuting suka parisuka sami kawit enjang bubar tabuh sanga jaba jro pareng bubare kuneng antaranipun pan ing wulan Rabingulakir kaping wolu angkatnya dutanira prabu Adipati Mangkupraja mring Batawi kanthi punggawa kakalih Tumenggung Arungbinang.</poem> |<poem>Wedana jro gedhong kang satunggil nenggih Tumenggung Puspadiningrat angurmati ing lampahe adegira gupernur jendral ingkang anyar semangkin Jendral ingkang anama pan Petrus Albertus pan der Para lampahira asarengan lan papatih Ngayogjeki Dipati Danureja.</poem> |<poem>Lan akanthi punggawa akalih Sindupati.lawan Natayuda</poem>}}<noinclude>{{rh|||263}}</noinclude> iamub1eyjh49qxmaxc461hpzoe7af6b Kaca:Babad Prayud I.pdf/37 250 24308 77910 76837 2026-05-15T20:46:15Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77910 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kathah pakintun saking Ngayugja caraka tri punggawane enjing binekta sampun marang lajeng mring Sang Dipati Mangkupraja kalawan Rungbinang Tumenggung lan Uprup Bemas wus panggya sigra lajeng kerid tumenggung jro puri wau Ratu Bendara.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=22 |<poem>Kang wus enjing praptaning jro puri lan ambekta putrane kang raka kekalih ingunjukake Den Ajeng Bojotipun lan Den Ajeng Semplep kang rayi katur pangujungira nenggih putranipun kang raka duk bebayinya Kangjeng Sultan ing mangke diwasa sami arsa ngujung mring bapa.</poem> |<poem>Lawan angujung ing paduka Ji Sri Narendra gumujeng ngandika Jebeng melu sapa kowe duk bapakmu amungsuh Lan eyangmu priye sireki lah tresna endi sira bapa lan eyangmu Den Ajeng kalih tur sembah nuhun boten miyarsa yen bapa taksih mung Mbah Kiyai Sultan.</poem> |<poem>Mirsa-mirsa diwasa samangkin lamun anaking Mangkunagara boten tresna sajatose dene sangkaning timur kang angathik ing siyang latri</poem> }}<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> 9pinkice4by5jnrz04ozfkbnad6iyqf Kaca:Babad Prayud I.pdf/1 250 24309 78188 76839 2026-05-16T09:03:45Z Elcamatcha 1466 78188 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{r|<small>'''TIDAK DIPERJUAL BELIKAN<BR>Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br>Perpustakaan Nasional 2011</small>}} {{x-larger|'''BABAD PRAYUD}}''' {{x-larger|'''I}}''' {{gap}} {{gap}} {{C|'''NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}}''' {{C|'''R.A. MAHARKESTI, B.A.}}'''<noinclude></noinclude> 2ukr6b1k565ftug1bni5ywhjsgeo04k 78189 78188 2026-05-16T09:03:59Z Elcamatcha 1466 78189 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{r|<small>'''TIDAK DIPERJUAL BELIKAN<BR>Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br>Perpustakaan Nasional 2011</small>}} {{x-larger|'''BABAD PRAYUD<br>I}}''' {{gap}} {{gap}} {{C|'''NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}}''' {{C|'''R.A. MAHARKESTI, B.A.}}'''<noinclude></noinclude> 2czn4fiznprlnqo62hwtdw4ubsi19ef 78190 78189 2026-05-16T09:04:21Z Elcamatcha 1466 78190 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{r|<small>'''TIDAK DIPERJUAL BELIKAN<BR>Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br>Perpustakaan Nasional 2011</small>}} {{xx-larger|'''BABAD PRAYUD<br>I}}''' {{gap}} {{gap}} {{C|NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}} {{C|R.A. MAHARKESTI, B.A.}}<noinclude></noinclude> 5e4f888ib42dljxued2vmbvuqse2agy Kaca:Babad Prayud I.pdf/38 250 24310 77911 76840 2026-05-15T20:46:51Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77911 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>amung Kiyai Sultan tan wruh liyanipun binekta angayam alas duk kawon prang sakedhap rumiyin ngeli puji kula ing bocah.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Ya kalaha eyang mungsuhneki mungsuh kang aran Mangkunagara Jeng Eyang liwat susahe gumujeng Sang Aprabu iya Ebeng pan wong sabumi tan ana becikena marang bapakmu semut rayap padha nacad manungsane sanungsa Jawa kepati gawok ing bapakira.</poem> |<poem>Dennya awrat manungsa tyas iblis Raden Ajeng kalihe tur sembah kula enggih parentahe Kangjeng Eyang pukuluri kinen ngujung dhateng kang ngukir yen sampun makatena kula boten purun gumer keng sami miyarsa Nyai Lurah keparak jaba tur peksi yen Uprup tur uninga.</poem> |<poem>Badhe sowan punika angirid punggalwapra sentana Ngayogja Sang Aprabu anulyage mring mandhapa tumurun wus alenggah ngamparan gadhing Uprup gya ingandikan lawan Ki Tumenggung Rungbinang Tirtakusuma myang kaliwon punggaweng Ngayogyakerid</poem> }}<noinclude>{{rh|36}}</noinclude> ov5ya9kunovxcrxouvs5m5nk7ekx3dv Kaca:Babad Prayud I.pdf/442 250 24311 77674 76841 2026-05-15T18:55:15Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77674 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>[[File:Babad Prayud I (page 442 crop).jpg|600px|Babad Prayud I (page 1 crop)]]<noinclude></noinclude> ixrxqkdhc7yx8pnhuhjkfgmnd5jbefi Kaca:Babad Prayud I.pdf/266 250 24312 77775 76842 2026-05-15T19:40:39Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77775 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> :::sareng sadinten angkate :::kathah babektanipun :::kadi adat ing nguni-uni :::miwah ing Surakarta :::ing babektanipun :::sami ugi urmat jendral :::Ki Tumenggung Banyumas Yudanegari :::tumut mring Batavia</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=22 |<poem> Ing Ngayogya mancanagareki Tumenggung waru ingkang binekta kuneng wau saungkure Prabu Surakarteku ipe sami ngalap Sang Aji Ratu sugih lakinya Kadhiri tinandur nama Panji Surengrana duk miyarsa Sang Nata megat kang rayi ing Kadhiri tinilar.</poem> |<poem> Mantuk marang nagri Madureki ing Kadhiri sampun tinaneman Tumenggung Kawengaene nagri Balora sampun pinaringken Wilatikteki lan Jayeng kalihira anama Tumenggung Tirtakusuma Balora sisih lawan tumenggung Wilatikteki tuwin Surajenggala. </poem> |<poem>Lawan Jayasuwarna wus sami dadya mantri kajayanagaran ing Majenang ganjarane dene kuwu Baludhuk Demang Surajenggala munggil gedhong golongannira </poem>}}<noinclude>{{rh|264}}</noinclude> mj9gejetfsp9z429wdnrc05ddefsfvn Kaca:Babad Prayud I.pdf/39 250 24315 77912 76845 2026-05-15T20:47:20Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77912 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Tumenggung Arungbinang.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Uprup tabe sampun tata linggih Sang Aprabu ngawe Arungbinang Pangran Jayakusumane majeng aseleh dhuwung angandika Sri Narapati aja seleh curiga sira arsa ngujung dene ta Kiyai Sultan nora ngresakake wong ngujung seleh kris nadyan duteng amanca.</poem> |<poem>Aja sira nak-sanak lan marni yen nganggoa aseleh curiga Jeng Paman Aji wartane Heh Mangunnagareku sira tuwa lawas tut wuri apa bener kang warta sigra awot santun Tumenggung Mangunnagara enggih estu kang matur Paduka Aji Jeng Rama Prabu manca.</poem> |<poem>Amanggihi pun Kuda Pranglangit duteng Sampang pan boten kalilan nyelak aseleh dhuwunge nadyan dutaning mungsuh pinten-pinten makaten ugi Sang Nata angandika marang Upman Uprup Kakangmas Mangkunagara yen dhayohan wong liya nyelak seleh kris nggone nemoni tebah.</poem> |<poem>Tuwan Uprup mesem atumeki katur Tuwan dhasar sampun watak</poem> }}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> 9a0158c8f1jlg1t4nj6prs1fnfpiquy Kaca:Babad Prayud I.pdf/18 250 24316 77949 76850 2026-05-16T00:21:57Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77949 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Mempelai wanita dari Kasunanan, dan prianya dari Mangkunagaran. Upacara perkawinan dilakukan secara besar-besaran. Suasana menjadi semakin meriah karena pada saat resepsi datang pula utusan dari Jakarta bersama kembalinya para utusan raja ke Jakarta. Tersebutlah di daerah Banyumas ada seorang pencuri besar bernama Ki Secayuda. Suatu ketika pencuri itu sial, terkena parang sehingga wajahnya luka. Sesudah lukanya sembuh ia meninggalkan Banyumas pergi ke Batang, dan berguru kepada Kyai Tinap. Ia menjadi murid yang sangat rajin, baik dalam menuntut ibnu maupun membantu pekeijaan gurunya sehari-hari. Secayuda akhirnya menjadi seorang dukun yang ampuh dan sangat dipuja-puja oleh penduduk. Pengikutnya juga terdiri dari para bekas lurah, bekel, wedana, bahkan ada juga yang bekas adipati. Lama-kelamaan timbullah niatnya untuk mengangkai dirinya menjadi raja dan hendak meiawan kekuasaan yang sah. Mula-mula Kadipaten Batang diserbu dan dikalahkan, lalu merambat ke timur menaklukkan Kadipaten Kendal, dan Kaliwungu. Adipati Semarang dengan bantuan pasukan kompeni Belanda berusaha membendung gerakan Ki Secayuda, yang sudah menobatkan dirinya menjadi Raja Arab gelar Maulana Mahribi. Ternyata Adipati Semarang dan kompeni kalah dalam pertempuran di desa Mangkang di sebelah barat Semarang, sehingga terpaksa mundur dan mencari akal untuk dapat mengalahkan Ki Secayuda. Adipati Semarang berkesimpulan bahwa untuk menandingi dan melumpuhkan kesaktian Ki Secayuda tak ada orang lain kecuali Panembahan Adilangu dari Demak. Benar, berkat kekuatan gaib Panembahan Adilangu, maka Ki Secayuda yang menobatkan dirinya menjadi Raja Arab Maulana Mahribi kemudian melakukan perbuatan-perbuatan tak senonoh dan tercela sehingga rontoklah kesaktiannya. Bahkati mata-matanya yang diselundupkan ke dalam pasukan Semarang pun ketahuan pula. Dalam pertempuran yang kemudian kembali berkecamuk di Batang, pasukan Ki Secayuda dapat dihancurkan. Ki Secayuda sendiri terbunuh dalam pertempuran, dan kepalanya dipenggal. Habislah sudah riwayat pemberontak Secayuda.<noinclude>{{rh|16}}</noinclude> 43qtbjf3penttdlb8sju8fc4uzsx4w2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/439 250 24317 77673 76848 2026-05-15T18:54:45Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77673 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angadu wong Gagatan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Lawan Pamat acungane mantri bantu saking Warung Garobogan kalihatus kapalane baris sangsaya ngidul ing Cemaja wus den sabrangi meh nyabrang kali buthak wong Perigging tinuduh misaha lan baris Gondhang lor marepak wong Pengging angalor sami dennya meh kabrotolan.</poem> |<poem>Ya ta wau antuking wong Pengging nora njinjinging wismanira lajeng angaler ngetane Gagatan sedyanipun kang ginitik pan den wetoni saking wetan punika Tegalgot jinujug Raden Prawirataruna duk miyarsa wong Pengging nedya anggitik Gagatan saking wetan.</poem> |<poem>Sigra wau Rahaden Ngabei Wirataruna sigra tengara ambubaraken barise sigra lampahe gugup selak sami nggepok wong Pengging Tegalgot wus jinarah sapangaleripun Raden Prawirataruna amet papan denira badhe nadhahi wong Pengging pupucungan.</poem>}}<noinclude>{{rh|436}}</noinclude> jl29om9e6soxyxmp4uhaq4uvmlrelqw Kaca:Babad Prayud I.pdf/40 250 24318 77913 76849 2026-05-15T20:48:02Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77913 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>barang reh melang-melange sangga runggi tyasipun sampe mati kadi tan mari tan kadi Tuwan Sultan kasantosanipun ing mangke sampun aloma ing pangukup Tuwan sarta lan kumpeni prandene butarepan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Pangran Mangkunagara mring loji inggih taksih mbekta waos kathah teka tan wonten malune mangsa ngangkahaluput yen kumpeni darbea budi gumujeng kang miyarsa. ing aturing Uprup Sang Nata alon ngandika Dhimas Jayakusuma metu ing ngendi kang dinangu tur sembah.</poem> |<poem>Kula pasuson neng Tanah Jawi sinapih wonten ing Batawiyah mangkana pangandikane yekti kang nora weruh nerka weton Selong mantesi dene meles irengnya neje kadangipun si Paman Natakusuma Paman Pakuningrat padha kuning-kuning pantes lair neng Jawa.</poem> |<poem>Tuwan Uprup anyelani malih ngraosi Pangran Mangkunagara anehe wawatekane kula taken rumuhun dhateng raka paduka nenggih Pangran Mangkunagara</poem> }}<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> esa5fp6t3o16wy9xkyyj3q82d1nm4sx Kaca:Babad Prayud I.pdf/41 250 24319 77914 76851 2026-05-15T20:49:28Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77914 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Heh Pangran bok sampun yen maring loji ambekta waos kathah saru lamun den tingali de rama dika Sulta.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem>Sareng pened inggih lan kumpeni melang-melange sampun binuwang linarut sanggarunggine gumujeng sahuripun puluh-puluh wus tekon marni {{gap}} manungsa sanungsa Jawa mangsa naa wateke kaya Kyai andelan ujar pisan.</poem> |<poem>Yen anaa wong ngaku nimbangi ing samengko sanak-sanak ingwang yekti sun ombe uyuhe kumenthus wong kumlunthus nora ethos pinithes pasthi sumekti sumìngkira anglangkara langkung amuwuhi wong aewa ngewakaken jiwa-ragane weh ragi kumethak anggelathak.</poem> |<poem>Rame gumujeng kang amiyarsi Sri Narendra ngandikeng Rungbinang Rungbinang paran melinge Jeng paman mring sireku Ki Tumenggung matur wotsari Kangjeng Rama paduka neksekken pukulun dennya mbebektani putra kalih atus pamedal saking pasisir</poem> }}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude> 0ba4vklolrtospi1ldnwedm1lbats4t Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/2 250 24320 77479 76855 2026-05-15T15:07:06Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77479 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{r|Regi Rp. 30,-}} {{c|<big><big><big>'''BAUWARNA WAJANG'''</big></big></big><br> '''(Wewaton Kawruh bab Wajang).'''<br>Kaklempakanipun warni-warnining wajang<br>mawi katrangan saha rinengga ing gambar-gambar<br>Karanganipun '''R.M. SAJID.'''<br>Djuru Gambang ingkang<br>mangretos dateng wajang,<br>bagean dewan ahli seksi Pedalangan<br>Himpunan Budaja Surakarta<br>ing SOLO.}} {{c|Penerbit:<br> '''P. T. PERTJETAKAN REPUBLIK INDONESIA<br> JOGJAKARTA<br> 1958.'''}}<noinclude></noinclude> aq4wh3baesdbzk6oz8m0rd22m1gxens Kaca:Babad Prayud I.pdf/19 250 24321 78197 76862 2026-05-16T09:06:56Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78197 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Padam pemberoníakan Ki Secayuda, yang mendapat julukan Panembahan Kowak dari musuhnya, belum berarti bahwa tugas tempur pasukan Surakarta-Yogyakarta tèlah selesai. Hampir pada waktu yang bersamaan timbul pula pemberontakaji lain di Jawa Timur, tepatnya berpusat di Kediri. Pangeran Singasari yang juga bergelar Pangeran Arya Prabu Jaka telah menaklukkan beberapa orang adipati wilayah timur. Mereka yang tidak mau tunduk kepadanya menyingkir ke Madiun. Pangeran Singasari ingin merajakan dirinya menandingi Sunan dan Sultan. Dalam pada itu pasukan Yogyakarta-Surakarta mempersiapkan diri kembali untuk menumpas pemberotakan. Para pemimpinnya antara lain Adiapati Mangkupraja, Tumenggung Wirawidigda, Tumenggung Prawiradirja, Tumenggung Arung-binang. Pasukan dibagi dua. Sebagian menyerang dari arah utara, dan sebagian lagi dari arah selatan. Suatu ketika Pangeran Singasari memanggil Kyai Tegalsari, diminta untuk mendoakan agar Sang Pangeran berhasil menguasai Pulau Jawa. Akan tetapi ternyata Kyai Tegalsari tidak mau berdoa untuk tujuan tersebut. Alasannya doanya tidak akan sah karena di Pulau Jawa sudah ada dua orang raja yang resmi, yakni di Surakarta dan Yogyakarta, yang kebetulan adalah kemenakan dan kakak Pangeran Singasari sendiri. Meskipun tahta keduanya direstui oleh kumpeni, namun tetap sah karena kumpeni tidak merubah agama. Akhirnya Pangeran Singasari hanya minta supaya putranya saja didoakan berdirinya sebagai Pangeran Adipati. Sesudah itu Sang Pangeran memerintahkan supaya membersihkan bekas istana Majapahit dan memperbaiki kubu di Gunung Ngantang yang terletak di tenggara Kediri. Maksudnya ialah sebagai tempat pengungsian sementara jika pasukan Kediri sampai terdesak. Pertahanan diperkuat di tepi sungai dengan menggunakan sepuluh pucuk meriam (kalantaka). Pertahanan ini memang membuat pasukan Surakarta mengalami kesulitan untuk menyerang kedudukan lawan. Meskipun demikian kesulitan itu akhirnya dapat diatasi dengan melakukan penyeberangan di malam hari, di bawah pimpinan Rangga Prawiradirja. Sepuluh pucuk kalantaka itu berhasil direbut, sehingga buyarlah pertahanan<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude> oo1coqsfg8yyd25s3dzgablcmvl6s8y Kaca:Babad Prayud I.pdf/42 250 24322 77915 76857 2026-05-15T20:50:12Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77915 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>lan nagri Pamagetan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=38 |<poem>Liyanipun kathah warni-warni boten dipun seksekken kawula mung kang kalih prakawise kang mindeng wedalipun lawan kala kawula prapti sonten enjing ngandikan Rama Tuwan ndangu iku sapa kang bebedan kula matur punika Kusuma nenggih putra Mlayakusuman.</poem> |<poem>Gya ingawe kinen angabekti lajeng dennya nimbali niyaga lajeng Remeng bebukane lajeng kinen mbeksa wus suka mulat Jeng Paman Aji kadya anenggak waspa gumujeng Sang Prabu paman iku karem mbeksa wong wis sepuh lan tetegar durung man mangkana winursita.</poem> |<poem>Lamanira neng Surakarteki duta Yogya aneng Surakarta sepuluh dina lamine ngandikan kaping telu Pangran Jayakusuma nenggih saandhane punggawa ngandikan Sang Prabu wus kalilan pamitira neng Kamangkunagaran dipun urmati dennya pista sadina.</poem> |<poem>Samya sukanira wusnya pamit mantuk sapta wulan Dulkaidah</poem> }}<noinclude>{{rh|40}}</noinclude> 8bhsmuw6jf58cpcl3tqkw2lo6zlyb7r Kaca:Babad Prayud I.pdf/43 250 24323 77916 76858 2026-05-15T20:50:42Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77916 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tanggal ping wolulikure ngabekti putranipun Pangran Mangkunagara nenggih kang kapendhet kang eyang matur tan winuwus sapraptanireng Ngayugja pan tinanggap sasolahira tinuding Sultan suka miyarsa.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=42 |<poem>Kuneng Surakarta kang ginupit salin wulan Besar kasadasa Pangran Mangkunagarane anenggih mantunipun Raden Guntur namanireki pan trah Kamangkuratan nenggih anakipun dening Raden Wiratmeja Wiratmeja puniku putranireki Pangeran Te pasana.</poem> |<poem>Pangran Tepasana putraneki Sunan Kendhang dene Sunan Kendhang kang putra Susunan lire Sunan Mangkuratipun dadya canggah prenahireki mring Jeng Sunan Mangkurat Rahaden Mas Guntur dadya mantune punika mring Pangeran Mangkunagara samangkin dinukan mring kang rama.</poem> |<poem>Den Mas Guntur Wratmeja nameki mila-mila purwane dinukan dhateng ing maratuwane lobok ing batinipun tan ukara ing lampah silib tetep ing cacah-cucah</poem> }}<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude> 12kwejxf7vodcdq7qk9cvr1oixcmo7k Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/4 250 24324 77475 76861 2026-05-15T15:05:11Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77475 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||-5-}}</noinclude>{{c|[[File:Bauwarna Wajang (page 4 crop).jpg|400px|Bauwarna Wajang (page 4 crop)]]}} {{c|KELUARGA KURAWA}} {{C|Ichtisar. Dari kiri kekanan: Pandita Dhurna, Prabu Baladewa (Mandura),Patih Sangkuni, Prabu Dhurjudhana (Sujudana).Perhatikanlah:,,Kambi kelir" dengan gedeboq"-nja, „kelir", „belentjong"dan susunan (tjara mentjatjaknja) boneka wajang kulitnja, susunan orkes-gamelan dan para pemain (gamelan-)nja.}}<noinclude></noinclude> iydciy9kmz9nhssg0ogvhisc750l38f Kaca:Babad Prayud I.pdf/267 250 24325 77776 76860 2026-05-15T19:41:03Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77776 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::nenggih mantri dhusun :::kuneng malih antaranya :::Sri Narendra ngundhangi kang pra dipati :::tuwin kang pra san tana.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem> Senen sadasa di Madilakir Sri Bupati amangun wiwaha Den Ayu Kadhaton mangke pinakramekken antuk lan putrane kang raka anenggih nama Raden Mas Sura ing Be warsanipun Dipati Mangkunagara sakelangkung mantep dennya mangun karsi besan lan ari nata.</poem> |<poem>Makajangan sagung pra dipati bekta gangsa aneng Makajangan umyung gumuruh swarane tuwin jroning kadhatun pitung dina munya Sekati pelog salendronira munggeng sitiluhur miwah Kamangkunagaran pitung dina anguyu-uyu sakati sawetaning pandhapa.</poem> |<poem>Pelog salendro pasowan jawi jawi pisan pipi galedhegan wong beksani Carabalen rina wengi gumuruh dene sagung kang pra dipati Jawi kantun titiga miwah lebetipun pra sami kalong nyatunggal pan kang jawi bupati mancanagari sakilen palabuhan. </poem>}}<noinclude>{{rh|||265}}</noinclude> rezsjz3hktixfitz1jarck0deofjkrl Kaca:Babad Prayud I.pdf/20 250 24326 78198 76870 2026-05-16T09:07:06Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78198 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kediri, dan tinggal pertahanan Ngantang saja yang belum direbut. Ngantang dikepung dari segala penjuru. Sementare itu Sultan Yogyakarta mengutus Nyai Arya Suwanda ke Surakarta untuk melihat salah seorang putrì Sunan. Maksudnya ialah hendak dijodohkan dengan Pangeran Adipati Anom. Di Surakarta, Nyai Arya Suwanda diperintahkan menginap di Kasunanan agar dapat berdekatan dengan Gusti Raden Ajeng Suwiyah, pilihan Sultan, yang ternyata sudah menjadi seorang gadis molek tak bercela, halus budi bahasanya serta rajin beribadah. Setelah empat hari di Surakarta Nyai Suwanda lalu kembali ke Yogyakarta, dan melaporkan, hasil perjalanannya kepada Sultan. Dan Sultan sangat gembira mendengarnya. Awal yang baik itu ternyata tidak berakhir dehgan menyenangkan. Sebab ketika Pangeran Adipati Anom berkunjung ke istana Kasunanan, terjadilah hal-hal di luar dugaan yang merenggangkan hubungan batin, baik antara Sunan dengan Pangeran Adipati Anom maupun antara kumpeni dengan Kesultanan Yogyakarta. Dalam sebuah pesta tari yang diadakan untuk menyambut dan menghormat rombongan dari Yogyakarta di pendapa Kesunanan, Pangeran Adipati Anom yang memang terkenal alim dan saleh sejak kecil, tidak mau diajak menari. Ia juga menolak ketika mendapat tawaian minum air keras baik dari Sunan maupun pimpinan kompeni di Surakarta. Sunan sangat kecewa. Oprup Kompeni tidak hanya kecewa, melainkan ia tidak mampu lagi menahan kemarahannya. Terjadilah perang mulut antara Oprup dengan Tumenggung Urawan dari pihak Yogyakarta. Pesta itu menjadi berantakan. Dengan perasaan sangat kecewa dan agak marah Sunan kembali ke Prabayasa. Demikian pula Pangeran Adipati Anom dan seluruh rombongan dari Yogyakarta segera kembali ke penginapannya. Untuk meredakan suasana tegang itu Sunan menyerahkannya kepada Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara, yang kemudian mengutus Gusti Putrinya untuk membujuk Pangeran Adipati Anom. Gusti Putri Mangkunagaran itu adalah putri Sultan Yogyakarta, kakak Pangeran Adipati Anom. Karena peristiwa tersebut rombongan dari Yogyakarta lebih<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> p2wennrmv4pjt8d12qyo8m6xet7esna Kaca:Babad Prayud I.pdf/44 250 24327 77917 76864 2026-05-15T20:51:30Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77917 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ing pratingkahipun ambedhang lawan selirnya Raden Arya Endranata Rarasati lami mila miyarsa.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=45 |<poem>Langkung dukane yayah sinipi wau Dipati Mangkunagara kadya tinepak mukane genjot walikatipun gumariming astanireki latha-lathi cecalang ariyak aidu yen ta katona sakala mring mantune kadya ingasta pribadi nimbali ingkang putra.</poem> |<poem>Ing Pangeran Prabuwijayeki prapteng ngarsa kang rama ngandika Heh Prabu ipemu kuwe pan satukewan wutuh iya dudu manungsa yekti Raden Aryendranata wong tetuwanipun wong nagari Surakarta iku dadi lakine ing bibi marni dadi dheweke ngeyang.</poem> |<poem>Teka wani iya anyelori nora sudi ingsun nora sotah yen mulata reraine wau Wratmeja Guntur anginjen duk dipun raosi dhateng kang maratuwa deduka kalangkung kadi tan kena puliha ingucapken yaiku regeding bumi taletuhing nagara.</poem> }}<noinclude>{{rh|42||}}</noinclude> evps73uefnwopp2021wrsmx41vzqzxv Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/5 250 24328 77476 76866 2026-05-15T15:05:30Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77476 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||-6-}}</noinclude>{{c|[[File:Bauwarna Wajang (page 5 crop).jpg|500px|Bauwarna Wajang (page 4 crop)]]}} {{c|Ichtisar pada suatu pertundjukan wajang kulit. Keluarga Pendawa,}}<noinclude></noinclude> rw8g2ir3kdyo2aejrs4hx9637kl0fyt Kaca:Babad Prayud I.pdf/268 250 24329 77777 76867 2026-05-15T19:41:18Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77777 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem> Ingkang wetan Bengawan Kadhiri bupatine sami babarisan Pangeran Singasarine urpandeg barisipun tepis wiring wetan Kadhiri mila kilen kewala pra dipati tugur aneng nagari sadaya pan mumipun kang para dipati gilir sadalu neng jro pura.</poem> |<poem>Sadalune kang para dipati samya kemit Kamangkunagaran miwah sapara mantrine ing saben dalu nayub Adipati Mangkunagari gumuruh.byung wurahan ing sadalu-dalu miwah ing jro pra dipatya akasukari pakajangane pribadi samantri-mantrinira.</poem> |<poem>Sawusira jangkep pitung bengi dennya nguyu-uyu jro ing jaba pareng ingkang Senen Wage tanggal kaping sapuluh paningkahe aneng pandhapi pan ing pukul sawelas ngandika Sang Prabu kakangmas andika bekta pangantene mangkya pukul pat anuli wangsule kakangemas</poem> |<poem>Amethuka pangantene estri wedana jaba katri tumuta angateraken panganten lan manca nagareku</poem>}}<noinclude>{{rh|266}}</noinclude> qufbpzwem7e4z1j3xysl2h58x562l13 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/7 250 24330 77478 76868 2026-05-15T15:06:41Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77478 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>[[File:Bauwarna Wajang (page 7 crop).jpg|500px|Bauwarna Wajang (page 7 crop)]]<noinclude></noinclude> jzigs3l8cab770hgy8vfuy926oj4i1v Kaca:Babad Prayud I.pdf/45 250 24331 77918 76869 2026-05-15T20:52:19Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77918 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem>Kesah angles saking ing nagari lingsir kilen pareng dina Soma angaler ngilen parane sagarwanira tumut miwah wau selirireki Raden Aryendranata Rarasati tumut Dipati Mangkunagara duk miyarsa sigra sowan mring jo puri siyang satengah tiga.</poem> |<poem>Tur uninga ing ari Nrepati tuwin marang Uprup paring wikan lamun minggate mantune Uprup ngandikan malbu tuwin Pangran Mangkunagari rumiyin prapteng pura wau Tuwan Uprup prapteng jro pura wus tata pilenggahan Sang Nata ngandika aris Heh Uprup kaya paran.</poem> |<poem>Ya inggate si Wratmeja iki Kakangmas aja kalepetan Uprup asigra ature punika Sang Aprabu lamun raka paduka mangkin eklas lilah nrus ing tyas denira sesunu jinujul ing prang kewala kula atur uninga dhateng Samawis yen Wiratmeja minggat.</poem> |<poem>Pangran Mangkunagara ngrembagi ingong dhewe lamun tinutuha ing Sang Nata satemene suka anrus ing kalbu</poem> }}<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude> 5fc30ehyyuujv9xlnz9b6hzg8xq8n9c Kaca:Babad Prayud I.pdf/269 250 24332 77778 76876 2026-05-15T19:41:49Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77778 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::kang saparo miluwa ngiring :::saking Mangkunagaran :::kang saparonipun :::nuli wedana jro mapag :::akeriga sagagaman pra dipati :::undhang mundur kang raka. </poem><noinclude>{{rh|||267}}</noinclude> 16tjtw4u76d8euglpjtopckjsxp0gnh Kaca:Bratayuda.pdf/2 250 24334 77508 76875 2026-05-15T15:29:36Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77508 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>PPS/Jw/40/79 {{r|Milik Dep. P dan K<br>Tidak diperdagangkan}} {{c|<big>'''<big><big>BRATAYUDA</big></big>'''</big>}} {{C|Oleh<br>R.NG.KARTAPRAJA<br> Alih Aksara dan Bahasa<br>SUDIBYO Z.H.}} {{c|Departemen Pendidikan dan Kebudayaan<br>PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA<br>INDONESIA DAN DAERAH<br>Jakarta 1980}}<noinclude></noinclude> 31ozf7alx2zo0e9pt9bgdg25eqnzaun Kaca:Bratayuda.pdf/3 250 24335 77507 76877 2026-05-15T15:28:51Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77507 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|Diterbitkan oleh<br>Proyek Penerbitan Buku Sastra<br> Indonesia dan Daerah<br>BP Seri 1257<br>Hak pengarang dilindungi undang-undang}}<noinclude></noinclude> ek0d8jokwyel0n4x7o48xlpfyt8axmp Kaca:Bratayuda.pdf/4 250 24336 77506 76878 2026-05-15T15:27:48Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77506 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|'''SRI KRESNA KE ASTINA MEMBICARAKAN<br>PEMBAGIAN NEGARA TETAPI GAGAL'''}} Raja Jayabaya di Kediri sangat termasyhur keadilannya. Kewibawaannya bagaikan sinar matahari di musim kemarau. Ia dihormati oleh sesama raja, karena keperwiraannya di dalam peperangan. Tak ada yang mampu mengimbanginya. Para raja yang hidup sezaman dengan Raja Jayabaya dapat diumpamakan bagaikan bulan, dan Raja Jayabaya sebagai mataharinya, yang sinarnya membuat suramnya cahaya bulan. Raja Jayabaya mempunyai seorang abdi juru syair atau pujangga bernama Empu Sedah, yang mendapat perintah untuk menggubah Kitab Baratayuda, yang ditulisnya pada tahun 1079. Adapun yang menjadi awal cerita ialah: Raja Yudistira sekeluarga bermusyawarah di negeri Wirata, dan membawa prajurit yang bersenjata lengkap. Raja Kresna dari Dwarawati beserta bala tenteranya juga turut berkumpul di situ. Yang dikehendaki oleh Raja Yudistira ialah, hendak mengadakan peperangan untuk merebut separoh negeri Astina. Adapun yang diberi kepercayaan penuh serta ditaati segala nasehatnya dalam perkara yang besar itu, tak lain ialah Raja Dwarawati itu. Banyak raja-raja telah berkumpul beserta pasukannya di Wirata, dan mereka itu setuju sekali dengan akan diadakannya perang, karena mereka menginginkan kemuliaan kematian. Di negeri Astina banyak juga raja-raja Jawa maupun raja-raja Tanah Seberang, yang berkumpul beserta seluruh pasukan dan peralatan perang, yang juga mencari kemuliaan kematian. Raja Yudistira berkata kepada Sri Kresna, ujarnya, "Kakanda Prabu, yang merupakan penuntun saya. Saya hendak minta milik saya sendiri, ialah negeri Astina yang separoh. Dalam hal itu saya serahkan sepenuhnya, bagaimana pendapat dan saran Anda, agar yang akan kita laksanakan itu dapat berhasil dengan baik."<noinclude>{{rh|||7}}</noinclude> aksuwwkfwc5xo8hh83j8h9c4jwdcryh Kaca:Babad Prayud I.pdf/47 250 24337 77919 76879 2026-05-15T20:53:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77919 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>samya ambyuk suwiteng kang murweng jurit dennya trah Mangkuratan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=55 |<poem>Ing tegese njabel ganti waris wus turun pat trah Pakubuwanan sedheng nanapani gilire trah Mangkuratanipun mila ambyuk wong desa sami nadyan kang wus punggawa iya na kapencut Tumengug Candrakusuma pan ing warung rong ewu dhomas kang bumi kapencut wong memeca.</poem> |<poem>Jangkaning trah Mangkuratan benjing turun papat pasthi jejabelan Keraton Jawa ulihe mring Mangkuratanipun Pakubwanan pasrah agilir mangkya tan purun pasrah rinebut prang pupuh pasthi lamun apes ing prang Pakubwanan culika dennya ngindheti tan antuk roning kamal.</poem> }}<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude> 36ku14rj38cg1soj7tucghepo2kduyu Kaca:Babad Prayud I.pdf/270 250 24338 77779 76880 2026-05-15T19:42:04Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77779 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXIV. DURMA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Pra dipati jaba jro ngrukti gagaman busananing prajurit ing satengah papat kumpul sagung gagaman Tumenggung Wiradigdeki wadana jaba pangirit pra dipati.</poem> |<poem> Ngumpul Mangkunagaran gumrah swaranya wedana jro pangirit pan Tumenggung Sasradiningrat wus samakta neng alun-alun abaris sinang beranang busananing prajurit.</poem> |<poem> Wadyanira dipati Mangkunagara busananing prajurit lir kobaring arga marwata kembang-kembang oreg wadya sanegari baris tinata sasiyung ngampit margi.</poem> |<poem> Baris urung-urung tepung ing gagaman Mangkunegaran kawit ngalun-alun prapta saler teratag rambat awug-awug tumbak bedhil sami ngisenan muni badhe ngurmati. </poem> |<poem> Ing punika tan wonten gong kari wisma wadya ing sanagari neng lulurung tembak </poem>}}<noinclude>{{rh|268}}</noinclude> k7g12g82qqgoe6yl9l626hlt5b0q8j5 Kaca:Bratayuda.pdf/134 250 24339 77480 76884 2026-05-15T15:11:58Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77480 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>[[File:Bratayuda (page 134 crop).jpg|500px|Bratayuda (page 134 crop)]]<noinclude></noinclude> 79vgoovq631fsvj3w170wev6tqb984x Kaca:Babad Prayud I.pdf/48 250 24340 78200 76883 2026-05-16T09:07:42Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78200 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::'''III. {{tab}}Sinom''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Rahaden Tumenggung Candra kusuma Waru kagiming dene wecane wirayat ujare wong tapa sami Raden Mas Guntur benjing amasthi adege ratu mila Tumenggung Candra kusuma Waru ing batin wus anungkul maring Raden Wiratmeja.</poem> |<poem>Lahire aminta sasab anyerung Raden Suwandi Tumenggung ing Garobogan mantrine tampingan sami kukuh nadhahi jurit mring balane Den Mas Guntur tan keni ingandikan tanah Garobogan sami prajurite pra samya gagah ing aprang.</poem> |<poem>Dadya tan keni ngedekan tanah Garobogan sami mangkana ingkang kinarya manggalanire ngajurit lelungsuran bupati Balora duk alamipun Sang Nateng Kabanaran Tumenggung Wilatikteki pepalihan nagara Balora kiwa.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Wilatikta tan purun ngetutken bumi Balora mring Surakarta ngalendhang salamineki lelungsuran bupati</poem> }}<noinclude>{{rh|46||}}</noinclude> hg3e0octmvbufzpzib0uu5qwbzna7ce 78205 78200 2026-05-16T09:08:49Z Elcamatcha 1466 78205 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''III. {{tab}}Sinom''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Rahaden Tumenggung Candra kusuma Waru kagiming dene wecane wirayat ujare wong tapa sami Raden Mas Guntur benjing amasthi adege ratu mila Tumenggung Candra kusuma Waru ing batin wus anungkul maring Raden Wiratmeja.</poem> |<poem>Lahire aminta sasab anyerung Raden Suwandi Tumenggung ing Garobogan mantrine tampingan sami kukuh nadhahi jurit mring balane Den Mas Guntur tan keni ingandikan tanah Garobogan sami prajurite pra samya gagah ing aprang.</poem> |<poem>Dadya tan keni ngedekan tanah Garobogan sami mangkana ingkang kinarya manggalanire ngajurit lelungsuran bupati Balora duk alamipun Sang Nateng Kabanaran Tumenggung Wilatikteki pepalihan nagara Balora kiwa.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Wilatikta tan purun ngetutken bumi Balora mring Surakarta ngalendhang salamineki lelungsuran bupati</poem> }}<noinclude>{{rh|46||}}</noinclude> ocktqhgw6n87vklbhlbb43xqd5k3v1p Kaca:Bratayuda.pdf/1 250 24341 77510 76887 2026-05-15T15:29:51Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77510 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>[[File:Bratayuda (page 1 crop).jpg|500px|Bratayuda (page 1 crop)]]<noinclude></noinclude> j12y7lhua2y3dhn039naqriw7ertgza Kaca:Babad Prayud I.pdf/50 250 24343 78202 76888 2026-05-16T09:07:54Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78202 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>Pawalangan namaneki pun Demang Walangsangit pun Ngabei Walanggenthung Rangga Walanggepukan sami manggalaning wingit Gandhuwaur punggawa manggaleng kasap.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Wonten pepalayon magang sangking ing Surakarteki anama Tejakusuma wus panggih panusulneki sampun jinunjung linggih anama Raden Tumenggung nenggih Tejanegara kinarya Bupati jawi angrehaken sadaya mantri pangarsa.</poem> |<poem>Kapiyarsa Surakarta yen Wiratmeja ing mangkin wus angandhik ing Balora suyud wadya kanan kering wus kathah wadyaneki langkung kekapalan sewu Pangran Mangkunagara lan Uprup malbeng ing puri rembag ingkang anglurugi nontonana.</poem> |<poem>Lan rembug atur uninga lan nuhuna bantu jurit dhateng Sultan ing Ngayugja Sang Nata sigra anuding lurah gandhek lumaris saha seratira prabu ing wuri peparentah kang kinen bebantu jurit sakancane Tumenggung Jayanegara.</poem> |<poem>Dadya mung let kalih dina</poem> }}<noinclude>{{rh|48||}}</noinclude> 04oo0wz7c922eqk99650lqjqn4u98fp Kaca:Bratayuda.pdf/131 250 24344 77481 76889 2026-05-15T15:14:11Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77481 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>sami perang kadhawahan angracut jemparingipun latu, awit jemparing kekalih punika sami dedamel ing Suralaya, mboten kenging yen kaanggea wonten ing marcapada, amesthi badhe angrisakaken. Arjuna sasampunipun angracut jemparingipun latu, nunten matur dhateng Sanghyang Narada, "Milanipun purun anglepasaken jemparing punika, awit saking parentahipun Prabu Kresna, kinen nangkis." Sanghyang Narada sareng mireng sanget suka ing galih, sarta angapunten dhateng Arjuna. Sanghyang Narada lajeng andhawahaken deduka dhateng Aswatama, dene purun-purun anglepasaken jemparing Cundhamanik. Sabab punika peparingipun Bathara Guru dhateng Pandhita Druna, sarta sampun kawaleran, mboten anglilani yen kaanggea perang. Atur wangsulanipun Aswatama, "Mila purun anglepasaken Cundhamanik, amung kadamel angajrih-ajrihi kemawon, sabab sumerep yen latuning Cundhamanik wau mboten purun ambesmi ing tiyang kang mboten sumedya sikara." Sanghyang Narada inggih lajeng angapunten dhateng Aswatama, nanging jemparing Cundhamanik kapundhut. Lajeng kaparingaken dhateng Arjuna, inggih sampun katampen. Anunten Prabu Kresna matur dhateng Sanghyang Narada: mBoten pareng yen angapuntena dhateng Aswatama, sabab sampun anglampahi kadursilan anyidra Dewi Srikandhi, kalih Pancawala, tiga Drusthajumena. lngkang dados karsanipun Prabu Kresna, mbenjing yitmanipun Aswatama kalebetna ing naraka salaminipun. Ingkang mangke inggih mboten kapejahan, awit dereng mangsanipun. mBenjing putranipun Abimanyu kang nama Prabu Parikesit, punika kang badhe amejahi Aswatama, nanging samangke taksih wonten ing wawratan. Dene yitmanipun Kartamarma katitisna dhateng sawarninipun kang asih ing bebanger. Amung Karpa kang dipun apunten, awit boten anggadhahi manah kadursilan piyambak, amung kapeksa saking ajrihipun dhateng Aswatama. Ing mangke taksih anglulusaken nggenipun darbe lampah kapandhitan.<noinclude>{{rh|||135}}</noinclude> j4z1rgys92b97h91qtvr5rkymtcsh2x Kaca:Babad Prayud I.pdf/271 250 24345 77780 76892 2026-05-15T19:42:21Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77780 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::jejel pipit-pipitan :::kajaba kang lumpuh sikil :::lan picek mata :::iku kang tan ninggali. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem> Nadyan padhusunan akathah kang prapta kang sami aningali denira Sang Nata besanan lan kang raka amangun haijaning bumi mangsa gegera yen wus mengkene iki. </poem> |<poem> Nuli sultanira besuk bebesanan lan gusti Sri Bupati lah wus tetep karsa bok iya mengkonoa aja weh susah ing ciling banjura karta wus atut para gusti. </poem> |<poem> Ing pukul pat pangeran tengara budhàl Carabalen ing ngarsi barisan wedana Tumenggung Janagara Tumenggung Wiradigdeki sawadyanira tuwin samantri-mantri. </poem> |<poem> Kodhokngorek ing wuri munya angangkang nenggih kang anambungi baris Gowong Kalang karaton kadipatyan baris Majegan Matawis amyang beranang kang sumambung ing wuri. </poem> |<poem>Wadyanira Dipati Mangkunagara</poem>}}<noinclude>{{rh|||269}}</noinclude> cggevuotugkhqt6v70jtrruv07l4q76 Kaca:Babad Prayud I.pdf/51 250 24346 78203 76893 2026-05-16T09:08:04Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78203 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>pareng ing Jumuwah Legi Tumenggung Jayanegara angkate bebantu jurit wau gandhek kang prapti ing Ngayugja sampun katur dutane ingkang putra SangPrabu Surakarteki wus tinampan serat lajeng tinupiksa.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=13 |<poem>Wusnya lajeng urmatira Jeng Sultan sigra nimbali Adipati Danureja lan sagung kang pra dipati Jeng Sultan ngandikaris iki serate Nak Prabu atur uningeng mringwang yen si Guntur minggat mangkin prapteng mancanagara madeg barisnya.</poem> |<poem>Wus nemah murweng ngalaga nedya njabel genti waris karatone tanah Jawa ing Balora kang den ndheki Anak Prabu samangkin maring sun anuhun bantu satrune ing nagara si Guntur iku wus pasthi Heh Danureja nuli sira parentaha.</poem> |<poem>Dene wedana sutengwang ya si Jayakusumeki kang sun jajal ing ayuda yeku taliti prajurit sun karya senapati anglurugi mring si Guntur wedana tri bedhola lawan sakancane mantri</poem> }}<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude> n54osy691j9ai0l5lwk52rky0dqyqj5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/272 250 24349 77781 76902 2026-05-15T19:42:46Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77781 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::nenggih Saragni Abrit :::lan wong Perangtandang :::munya drel gantya-gantya :::Saragni Cemeng nambungi :::mranggo tayungan :::edrel awanti-wanti</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem> Ing wurine wong Sinelir Gulang-gulang Dasanama nambungi lan wong namadasa Jayasta Tanuastra samya drel samargi-margi ing wuri mulya upacara tulyasri.</poem> |<poem>Semut gatel kalihatus rare samya busana sinasami asri kadya panjrah mawarneng kembang-kembang mulya pangan ten ing puri ampilannira warna-warna tulyasri.</poem> |<poem>Kang angendan kalih welas kering kanan pangayap Magersario kumerteg lampahnya jejel ngebeki marga Pangran Mangkunagareki kang munggeng wuntat kampuh sindur respati.</poem> |<poem>Ing wurine Ki Tumenggung Mangkuyuda lampah kang amekasi sumenggut sawadya kang baris lempit marga sanjatane kabeh muni </poem>}}<noinclude>{{rh|270}}</noinclude> jrl4csxs2qfqrkrkl2dzutbnn5t9t8j Kaca:Babad Prayud I.pdf/437 250 24351 77671 76903 2026-05-15T18:52:56Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77671 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mundhur prajurit Yogja ::kang anamar laku ::angraos yen kawenangan ::kuneng wau budhal saking ing nagari ::Tumenggung Janagara. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Sakaliwon sakancane mantri kanthi Puspadiningrat kalawan Bratawirya sakancane wong macanagaraku Suradirja ingkang nindhihi nanging let lampahira yen kalingan dhusun kinira utap-untapan dadamele kalawan bupati kalih kendel baris Dresanan.</poem> |<poem>Lajeng medal kang nedya ginitik sira Ki Tumenggung Sutanaya aneng Kasetran barise tinunjang nora kukuh pan dipun lud saparaneki miwah Ranawilaga giwar sangetipun dene bendarane medal Dyan Tumenggung Puspadiningrat ngawaki barise giwar-giwar.</poem> |<poem>Aneng Gondhang denira abaris sira Tumenggung Jayanagara miwah Puspadiningrate neng Ngudal barisipun Bratawirya mancanagari kang ngelar kawuwusa barise angingkud Raden Prawirataruna mantri Pakunringaratan kang ngirid baris</poem>}}<noinclude>{{rh|||435}}</noinclude> 7yrqbdmdoi2zlhde836mi6lgan8awww Kaca:Babad Prayud I.pdf/273 250 24352 77782 76905 2026-05-15T19:43:15Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77782 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sumerging lampah :::kadyarsa metu jurit.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem> Pengantin kang apindha Bimanyu re-ngga duk kinarya sisilih nyelani sakedhap senopati dadakan serana kinen nimbangi ing gelar cakra Kurawa Ngastinaji. </poem> |<poem> Raden Abimanyu kinen amrewasa ing gelar cakra werit wau kang pangarsa ing loji sampun prapta tumenggung sawadyaneki Jayanagara wurinira ngranuhi.</poem> |<poem>Jelih-jelih meksih neng luhur turangga Uprup kang kinen mijil Uprup geragapan medal agurawalan Jayanagara sigra ngling Uprup den inggal mriyem sumedena glis.</poem> |<poem>Uprup angling heh Tuwan Jayanagara penganten meksih tebih tuwan mabuk baya angling Jayanagara neng kulon galadhag prapti pengantenira mara unekna aglis.</poem> |<poem>Meksa-meksa Tumenggung Jayanagara Uprup sigra nuruti</poem>}}<noinclude>{{rh|||271}}</noinclude> ky45ou1en19tlldo8vsm9ozwmr1uj1x Kaca:Babad Prayud I.pdf/438 250 24353 77672 76906 2026-05-15T18:54:08Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77672 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angadu wong Gagatan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Lawan Pamat acungane mantri bantu saking Warung Garobogan kalihatus kapalane baris sangsaya ngidul ing Cemaja wus den sabrangi meh nyabrang kali buthak wong Perigging tinuduh misaha lan baris Gondhang lor marepak wong Pengging angalor sami dennya meh kabrotolan.</poem> |<poem>Ya ta wau antuking wong Pengging nora njinjinging wismanira lajeng angaler ngetane Gagatan sedyanipun kang ginitik pan den wetoni saking wetan punika Tegalgot jinujug Raden Prawirataruna duk miyarsa wong Pengging nedya anggitik Gagatan saking wetan.</poem> |<poem>Sigra wau Rahaden Ngabei Wirataruna sigra tengara ambubaraken barise sigra lampahe gugup selak sami nggepok wong Pengging Tegalgot wus jinarah sapangaleripun Raden Prawirataruna amet papan denira badhe nadhahi wong Pengging pupucungan.</poem>}}<noinclude>{{rh|436}}</noinclude> q537newzk99on95n8r2gvg3p0xzpe9a Kaca:Babad Prayud I.pdf/395 250 24355 77757 76908 2026-05-15T19:33:29Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77757 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::jenis lawan berkasakan ::boten jenis manungsa ::raka paduka pukulun ::yen menggah dhateng paduka. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Batinipun anglangkungi rumaos akrama kadang Ratu Bendara delinge iya jengingsun akrama ing donya ing akerat nanging ta samengko biyung lamun ingsun puguhana.</poem> |<poem>Sayekti iya nekani dudukane rama sultan nora ketung yen putrane ingong wangkota deri lunas mulane turutana yen ora iku tinurut angilangaken pawitan.</poem> |<poem>Pawitane awak marni ingkang wiwinih prakara iya kang dadi lalakon kangmas apa binuruwa yen pawitane sirna biyung pirabara besuk yen lanka supit ing mangsa.</poem> |<poem>Iya si Sari si Gambir iki bocahe kakangmas ya biyung gawanen muleh pinaring reyal sedaya mangka sanguning marga ingone prajuritipun wus telas dennya mitungkas.</poem>}}<noinclude>{{rh|||393}}</noinclude> si6nyc49e9q7anrmicd1k4dzs84vc9x Kaca:Babad Prayud I.pdf/396 250 24356 77758 76910 2026-05-15T19:33:59Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77758 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43 |<poem>Mangka sarwi merbes mili sapraptanira ing jaba pakuwon pra samya jotong wadya Kamangkunagaran kagyat ing wedalira Bok Emban Kartayudeku inggar gugup samya tanya.</poem> |<poem>Bok Kartayuda nauri apa ingkang winicara wis payo padha amuleh lamun padha tunggonana pasthi apindho papa yen sirna pawitanipun apa kang den rasakena.</poem> |<poem>Para lurah para mantri sadaya sami kaduga mung inggih awake dhewe rembug utamaning lampah sapratelon muliya telung duman masih tunggu muliya lawan parentah.</poem> |<poem>Rembage sami predhongdi Bok Kartayuda amojar yen ingsun mangkene bae ing mengko ingsun aterna padha mandhega Gondhang iya jaranan sapuluh ngater baliya Dersanan.</poem> |<poem>Yen dinangu Kanjeng Gusti ngong matur misih neng Yogja ngatas parentah antuke wus dadya kang rembag budhal saking nagri Ngayogja tanpa pamit budhalipun kakapalan kalih belah.</poem>}}<noinclude>{{rh|394}}</noinclude> qsql43ypmos1yg467fp6j3k09bafnqr Kaca:Babad Prayud I.pdf/274 250 24357 77783 76911 2026-05-15T19:44:29Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77783 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::ngawe kesdabelnya :::gumuntur mriyem munya :::Jayanagara lingnya ris :::turuten uga :::sira ingsun tuturi.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Adat Jawa penganten padha lan jendral den akeh mriyemneki wau Uprup Beman nenggih nurut kewala mariyeme wanti-wanti kalakung suka Jayanagara ngibing. </poem> |<poem>Cikrak-cikrak ngusapi babrengosira Uprup suka ningali wus ingajak lenggah ing wuri selak prapta Uprup gya manggil kompeni dragunderira kawandasa wus baris. </poem> |<poem> Sami edrel wonten ing nginggil turangga lir ruging argasiwi asenggani lawan dreling Prajurit Jawa Kodhokngorek Carabali umyung gumerah tambur beri barungi. </poem> |<poem> Sapraptane Dipati Mangkunagara jejel ingkang prajurit Uprup wus siyaga methuk lajeng benikta Uprup wus munggeng turanggi gagaman budhal lajeng maring jro puri. </poem>}}<noinclude>{{rh|272}}</noinclude> ifoer9331ctvuzbmf0n94tfnb2mqtly Kaca:Babad Prayud I.pdf/397 250 24358 77759 76912 2026-05-15T19:35:01Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77759 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem>Kalihatus dharatneki datan kawuwus ing marga prapta ing Gondhang kendele nuduh kapal kalih dasa ngater Bok Kartayuda ing Dresanan wangsulipun lajeng Bokban Kartayuda.</poem> |<poem>Sapraptanira nagari wus lajeng sowan ngajengan pangeran gupuh tataken biyung paran wartanira angger ana ing kana Emban Kartayuda matur wiwitan prapteng wekasan.</poem> |<poem>Katur anglengger miyarsi Dipati Mangkunagara mupus titahing Hyang Manon ing manungsa iki darma obah osiking badan pan wus karsaning Yang Agung andangu abdi sadaya.</poem> |<poem> Bok Kartayuda wotsari kang para lurah sedaya inggih lan kamiíuwane tan wonten purun mantuka yen dereng katimbalan lebura dadosa awu wonten Nagari Ngayogya</poem> |<poem>Pangeran sigra nimbali Ngabei Jayapanantang Jayapranata sarenge sapraptanira ngajengan pangeran angandika Jayapanantang sireku</poem>}}<noinclude>{{rh|||395}}</noinclude> b4pbd9g5fiwppvgmdux6mndyc49s9ku Kaca:Babad Prayud I.pdf/398 250 24359 77760 76913 2026-05-15T19:35:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77760 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::prakara bocah Prangtandang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=53 |<poem>Kalawan bocah Srageni tan ana wani muliha yen ora parentah ingong dadine kelangan-kalongan kang kaya awakingwang bojo ilang imbuh batur sira dhewe amucunga.</poem>}}<noinclude>{{rh|396}}</noinclude> 88nq6lijpuaetbhdql6jt9y84i5lvlm Kaca:Babad Prayud I.pdf/275 250 24362 77784 76917 2026-05-15T19:44:52Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77784 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem> Sagung wadya prajurit ngumpul sadaya wong jro dangu miranti ngalun-alun aglar Uprup lawan Pangeran Dipati Mangkunagari sapraptanira wau sajroning puri. </poem> |<poem> Srinarendra sampun anyandhing kang putra wus binusanan asri kaputren rinaja murub kapraboning dyah panganten jalunireki ingawe prapta sigra cinandhak aglis.</poem> |<poem>Linenggahken ing wentis dalem kang kanan putri ing wentis kering Sang Nata kaselak tanbuh wijiUng waspa emban inya asru nangis kang tuwa-tuwa wong jro samya anangis. </poem> |<poem> Sigra Pangran Dipati Mangkunagara nusul ngari nrepati dangu salenggrukan sarwi tukup wadana ing kampuh sindurireki Uprup Beiman anut milu anangis.</poem> |<poem>Wibuh ing rehing Trilokendrabawan dhedhet adhuh ngandhemi tis-tis kang baskara nir kenyaring kang praba widigda mondra naputi </poem>}}<noinclude>{{rh|||273}}</noinclude> ldkmntr8wgn52cx8pxugairbjsal2sy Kaca:Babad Prayud I.pdf/399 250 24363 77762 76918 2026-05-15T19:35:46Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77762 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::'''XXXVIII. POCUNG''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Iya sokur lamun kapapag dalanggung pikir sareh padha pan ora ingsun, dukarn wus sun mawas dudu tandhing dudu ngimbang.</poem> |<poem>Nadyan ingsun yen mungguh prakara iku nora patut garap iya kang pantas amikir iya amung lalawanan padha raja.</poem> |<poem>Dene iku saking padha antepipun wus ingsun tarima mung mimikira wong cilik arebuta kabeh salameting badan.</poem> |<poem>Nembah matur Jayapanantang pukulun leres karsa tuwan bela kupu tiyang aUt nadyan inggih leresa dede wawratan.</poem> |<poem>Dene besuk lamun sira padha mantuk aja metu marga lawan lumakuwa wengi iya lamun wus parek lawan nagara.</poem> |<poem>Nembah mundur Jayapanantang wus laju kuda salawe prah praptane Delanggu enjing pan kapethuk sekawan kang kakapalan.</poem> |<poem>Pan ingutus sami angupaya sangu anak .rabinira kang padha kinen bubudi bok lawase neng Yogja tan tinimbalan.</poem> |<poem>Sampun pagut Jayapanantang amuwus lah sira baliya</poem>}}<noinclude>{{rh|||397}}</noinclude> bljubownikbpm7shxhq2j47yku32z39 Kaca:Babad Prayud I.pdf/400 250 24364 77794 76920 2026-05-15T19:48:17Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77794 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::lurahmu warahen sami ::lakuningsun animbali kabeh padha. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Gusti langkung asanget kawatiripun welas marang sira sira kabeh den watiri sigra mulak sapraptanira ing Gondhang.</poem> |<poem>Dhawuhaken ngandikan sadayanipan Ki Jayapanantang neng Delanggu angantosi sami suka sigra-sigra budhalira.</poem> |<poem>Lampahipun praptane Delanggu surup lajeng sirep jalma sapraptanireng nagari sami enjing kewala genipun seba.</poem> |<poem>Enjingipun wis panggih lan gustinipun sami ngungunira kawula kalawan gusti wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Enjing masuk sowan marang ari prabu bekta embanira kang prapta saking Matawis prateng pura pinanggihan ing pendhapa</poem> |<poem>Sampun katur ing saparipolahipun Sang Nata ngandika dhiajeng tan meksa batin saebuke iya maring kakangmas.</poem> |<poem>Nembah matur Bokemban Kartayudeku pukulun Sang Nata rayi dalem Kangjeng Gusti sakalangkung tresna ing raka paduka.</poem> |<poem>Dhatengipun saking ngajengan pukulun sami tinangisan</poem>}}<noinclude>{{rh|398}}</noinclude> 9llednrnuwgxxb4coch4yq4s0z40zlh Kaca:Babad Prayud I.pdf/401 250 24366 77797 76923 2026-05-15T19:48:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77797 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dhateng para ibuneki ::bilih lepat saure duk ingindhetan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=17 |<poem>Para ibu miyarsa ing dhawuhipun rama tuwan Sultan yen tan pur,un den indheti ingkang putra Ratu Bendara den lunas.</poem> |<poem>Milanipun kekes tiyang sak kadhatun wau duk miyarsa anglengger Sri Narapati kadi pundi kakangmas Kiyai Sultan.</poem> |<poem>Tekonipun teka makaten puniku kang raka turira puluh-puluh kadi pundi yen mopoa masthi lamun kalampahan.</poem> |<poem>Inggih lamun wonten wong anerak kukum narajang amurang nadyan liwat den kasihi inggih sami sakala kolu anglunas.</poem> |<poem>Datan ngangge katolih ing wau-wau Sang Nata ngandika gih talah amemedeni kula kangmas ing wingi miyarsa warta.</poem> |<poem>Bocah kula mantri Gadhing kang amatur saungkure kangmas bocah dika ingkang mulih Paman Sultan inggih nunten paparentah.</poem> |<poem>Balanipun pinacak baris penganjur wonten Parambanan inggih bupati kakalih Martalaya kanthi pun Jayawinata.</poem> |<poem>Mantrinipun salawe kang baris ngayun kininten turangga</poem>}}<noinclude>{{rh|||399}}</noinclude> 1cpw5g1k5lv53iaahhznp99rp9xyeru Kaca:Babad Prayud I.pdf/58 250 24367 77531 76924 2026-05-15T16:14:41Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77531 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>'''IV. Asmaradana''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Pukulun Sri Narapati datan keni tinitaha pun Mandradirana prange punika keni derajat sanadyan ta kawula kapranggula yudanipun mangsa puruna anglawan.</poem> |<poem>Jer sampun miyarsa warti yen sentana padukendra puruna dados awone antuk dhiri kabatinan manawi ta apranga wonten ing ngarsa pukulun tiyang awon yen ajriha.</poem> |<poem>Punika gumujeng kedhik inggih Jeng Rama Paduka wonten lejare dukane dhateng pun Mandradirana Sang Nata angandika nuli paran dadenipun Kartanadi matur nembah.</poem> |<poem>Pukulun bapakireki pun Tumenggung Mandaraka alabuh pejah dalune sowan mung badan sapata inggih dhateng pun paman neng dhusun Payaman Kedhu baris madyeng Pangangsalan.</poem> |<poem>Pan dipuri suwun pribadi aturipun pun Mandraka kamipurun kula angger</poem> }}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude> qe0alphzx91lhhax6wx5otn0gqb6fk3 77884 77531 2026-05-15T20:31:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77884 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>'''IV. Asmaradana''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Pukulun Sri Narapati datan keni tinitaha pun Mandradirana prange punika keni derajat sanadyan ta kawula kapranggula yudanipun mangsa puruna anglawan.</poem> |<poem>Jer sampun miyarsa warti yen sentana padukendra puruna dados awone antuk dhiri kabatinan manawi ta apranga wonten ing ngarsa pukulun tiyang awon yen ajriha.</poem> |<poem>Punika gumujeng kedhik inggih Jeng Rama Paduka wonten lejare dukane dhateng pun Mandradirana Sang Nata angandika nuli paran dadenipun Kartanadi matur nembah.</poem> |<poem>Pukulun bapakireki pun Tumenggung Mandaraka alabuh pejah dalune sowan mung badan sapata inggih dhateng pun paman neng dhusun Payaman Kedhu baris madyeng Pangangsalan.</poem> |<poem>Pan dipuri suwun pribadi aturipun pun Mandraka kamipurun kula angger</poem> }}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude> feruxrr4wl0t1g19zi8l91srl5yf1y0 77885 77884 2026-05-15T20:32:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77885 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''IV. Asmaradana''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Pukulun Sri Narapati datan keni tinitaha pun Mandradirana prange punika keni derajat sanadyan ta kawula kapranggula yudanipun mangsa puruna anglawan.</poem> |<poem>Jer sampun miyarsa warti yen sentana padukendra puruna dados awone antuk dhiri kabatinan manawi ta apranga wonten ing ngarsa pukulun tiyang awon yen ajriha.</poem> |<poem>Punika gumujeng kedhik inggih Jeng Rama Paduka wonten lejare dukane dhateng pun Mandradirana Sang Nata angandika nuli paran dadenipun Kartanadi matur nembah.</poem> |<poem>Pukulun bapakireki pun Tumenggung Mandaraka alabuh pejah dalune sowan mung badan sapata inggih dhateng pun paman neng dhusun Payaman Kedhu baris madyeng Pangangsalan.</poem> |<poem>Pan dipuri suwun pribadi aturipun pun Mandraka kamipurun kula angger</poem> }}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude> 83iggdml2ehodxx9p5rbxfimsmor5ki Kaca:Babad Prayud I.pdf/276 250 24368 77785 76928 2026-05-15T19:45:13Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77785 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::awektu jawah :::gora maruta tarik. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem> Mawurahan baris geger dening jawah nging ora giri-giri wusnya sirep jawah budhal sang pinangantyan saking pura kang wadya tri mriyem sauran edrel sagunging baris.</poem> |<poem>Jawah-jawah budhale tandhu atusan sagung punggawa mantri saha estrinira ing loji praptanira para nyonyah wus miranti sayaganira dhuk panganten prateki. </poem> |<poem>Sru gumuntur mriyem ing loji sauran barung dreling prajurit gong beri sauran awor lawan prahara Kodhokngorek Carabali barunging swara oter anggegeteri. </poem> |<poem> Baya kadi swarane Prang Bratayuda duk Bimanyu ngemasi amuking Pandhawa prajurit pra santana wong Cempala Wiratheki wadya Ngamarta miwah wong Dwarawati.</poem> |<poem>Gumer ubyung paworing swara wurahan sumenggut nginggit-inggit amrih patinira</poem>}}<noinclude>{{rh|274}}</noinclude> gcl1hsvws4ljf7xte5j22idmebd511l Kaca:Babad Prayud I.pdf/402 250 24369 77800 76926 2026-05-15T19:49:24Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77800 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sewu gangsalatus luwih ::titindhihe Pangran arya Pakuningrat. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Kangmas gupuh tinimbangan padha gecul sinten wonge kangmas kang rada gemblung sakedhik ingajanana inggih batinan kewala.</poem> |<poem>Angrarayud ngaraman ngambili dhusun yen kacandhak jilak sampun kongsi kantun linggih yen kosepa pasthi wawratipun suda.</poem> |<poem>Yata wau kang raka gumujeng guguk sandika Sang Nata sampun kantunrebat titih sokur lamun purun merpak Parambanan.</poem> |<poem>Amit mundur Pangran Mangkunagara wus prateng dalemira nimbali kang para mantri angandika Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Bocahingsun iya sapa ingkang patut kadi cul-uculan ngrayudi Bumi Matawis sami turnya tan liyan pun Surawangsa.</poem> |<poem>Daget gaculakathah prasanakipun iya Surawangsa sira kinarsakken mangkin mring Sang Nata dadi wayang gegeculan.</poem> |<poem>Matur guguk inggih sandika pukulun parentahing raja mijil ing sampeyan gusti kinarsakna babarongan kukucingan.</poem>}}<noinclude>{{rh|400}}</noinclude> j8ym6najed7jl3ygshic5il5j3dcm7n Kaca:Babad Prayud I.pdf/403 250 24370 77803 76927 2026-05-15T19:49:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77803 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Ya wis guguh nuli metuwa sireku paman Pakuningrat Parambanan gone baris lah agagen sun golekken kanthi sira.</poem> |<poem>Ya sireku mengko nama Tumenggung Pradatanagara sinangen waos lan bedhil miwah kuda bendhe kalawan bandera.</poem> |<poem>Amití ngujung budhal sira Ki Tumenggung Pradatanagara nulya pangeran nimbali bekel Indo sentana ngisor galengan.</poem> |<poem>Raden Ayu Sanawati saking ngriku pan ingambil garwa ing Sulta Balitar nguni apatutan nenggih ibune pangeran.</poem> |<poem>Prapta sampun tinari tan wonten purun boten atiyasa abdi dalem gedhong sami pan kongkulan yen manggih sami dedesan.</poem> |<poem>Sami koyup ing sabarang solahipun pu Pengging punika inggih ingkang angungkuli luwung mendhet weton ing Pingging satunggal.</poem> |<poem>Gih pukulun Martalaya bekelipun pan lawe punika pun Suradirja nameki pamanipun ingabdiken rayi nata.</poem> |<poem>Dados mantri miji kadipatenipun samangsa kintuna serta pasthi den lampahi lamun boten makaten inggih was-uwas.</poem>}}<noinclude>{{rh|||401}}</noinclude> g1qjnf1fo7mp6gsgn8ivffvzu1nz0ca Kaca:Babad Prayud I.pdf/404 250 24371 77805 76929 2026-05-15T19:50:26Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77805 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem>Sigra Rangga Panambangan kang den utus maring wismanira mantri kadipaten miji mendhet serat dhawuh mring kang kaponakan.</poem> |<poem>Binisiken wau ing wawadosipun Rangga Panambangan. badhe lumampah pribadi wus binektan serat lajeng lampahira.</poem> |<poem>Praptanipun dhinawuhan seratipun layange kang paman sira tinimbalan anglis mring Pangeran Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Ya den gupuh apa saparentahipun sira lakonana aja ta kakean pikir parentahe Pangeran Mangkunagara.</poem> |<poem>Ya ta wau wus kerid ing lampahipun Rangga Panambangan sapraptanira nagari ing ngarsane Pangeran Mangkunagara.</poem> |<poem>Ngandika rum heh Suradiningrat iku iya lakonana parentahe Sri Bupati dadi wayang geculan edan-edanan.</poem> |<poem>Rayudana Bumi Ngayogja puniku geceken yen bangga sira mamacaka mantri nuli sira mrepekana Parambanan.</poem> |<poem>Nembah matur inggih sandika pukulun pinaring sanjata karbin lan waqs satunggil karben papat dhuwung kalawan rasukan.</poem>}}<noinclude>{{rh|402}}</noinclude> 171dghs653ah0bsqb72m7jwawsmicue Kaca:Babad Prayud I.pdf/277 250 24372 77786 76932 2026-05-15T19:45:24Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77786 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::marang Arya Sindurja :::dereng pareng tibeng pati :::gumrahing swara :::gora nengher wiyati.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem> Prapteng loji pengaten sinungga-sungga opesir jalu estri sami ngiringira marang Mangkunagaran meksih jawah budhalneki mewahi suka kebes kang sami ngiring.</poem> |<poem>Sapraptane Dalem Kamangkunagaran sirep jawahireki tariksan hirmala diwangkaranya Bima sumeblak wuryaning riris pukul sakawan bigar sagung wadya tri.</poem> |<poem>Drel mariyem barung prajurit sunapan Monggang lan Carabali wus tata-tinata wau ing palenggahan wong jro pura para mini ngapit pangantyan miwah ing kanan-kering.</poem> |<poem>Pangetoge marnani suga tanira wadya leksan weradin lajeng akasukan jawi lebet gumerah bubaran ing pukul kalih sukaning wadya lir rug angasmarani. </poem>}}<noinclude>{{rh|||275}}</noinclude> sd2czkn91p88hxdephcfklx4k83httb Kaca:Babad Prayud I.pdf/405 250 24373 77808 76933 2026-05-15T19:51:06Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77808 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem>Songsongipun ijo seret kuningipun pengeran parentah yen barismu wus andadi tembangana kidul si Datanagara.</poem> |<poem>Ajenega Tumenggung Jay ab inangun mesat atur sembah sapraptanira ing Pengging lajeng pacak barise ngrayudi desa.</poem> |<poem>Kuneng wau Datanagara winuwus wus dadi barisnya anglantur Pepedan Wedhi wus binahak saurut Gondhang Tangkisan.</poem> |<poem> Kang ler sampun neng Jatinom Puluhwatu Pangran Pakuningrat sampun kathah tur udani yen wong Sala metokaken gegeculan.</poem> |<poem>Kang ler sampun, angencik ing Puluhwatu kang kidul punika sampun angancik ing Wedhi jeng-ajengan lawan baris Parambanan.</poem> |<poem> Wus sarembug tur uninga sigra ngutus katur ing Jeng Sultan wong Surakarta metoni keramanan gegeculan wus anglantrah.</poem> |<poem> Pangran Pakuningrat wus kinen amundur sakancane samya gagawane pra dipati samya kinen ngupaya patinggi desa.</poem> |<poem>Ngipuk-ipuk kang agecul kang barenjul linopa busana miwah bang-ebangreki yata wonten Bekel Puspadiningratan.</poem>}}<noinclude>{{rh|||403}}</noinclude> 5bgcb5i0j6a0l64u4qmksgdz998j8tv Kaca:Babad Prayud I.pdf/59 250 24374 77529 76934 2026-05-15T16:09:59Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77529 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude><ol><poem>dene ta rare punika boten wonten kawula pan inggih sampun kapundhut kabdekken raka paduka.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Dhatengipun atetuwi kewala dhateng kawula duk prapta inggih sontene enjangipun tuwan larag kula kang katempahan ing raka paduka prabu Sri Bupati Kabanaran</poem> |<poem>Dadya angandika aris duk Dipati Pakalongan ya paman Mandraka kuwe nging aja baribin paman ngong opyak kamahngan bature iku rong puluh karekna telu kewala.</poem> |<poem>Besuk sun lapur kumpeni yen boyongan kathah minggat kari telu pan katangen makaten wau gelarnya enjang lapur mayornya bebandan kari tetelu enjing sami pinerungan.</poem> |<poem>Gumujeng Sri Narapati alon denira ngandika heh kang pra dipati kabeh miwah ta santananingwang mengko yen metu iya padha mampira sireku teka ing kene banjura.</poem> |<poem>Wismane Kangmas Dipati </poem>}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude> l3p8x85pkrj2xfi9ymqv6f6eg65i0ij 77886 77529 2026-05-15T20:32:42Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77886 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>dene ta rare punika boten wonten kawula pan inggih sampun kapundhut kabdekken raka paduka.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Dhatengipun atetuwi kewala dhateng kawula duk prapta inggih sontene enjangipun tuwan larag kula kang katempahan ing raka paduka prabu Sri Bupati Kabanaran</poem> |<poem>Dadya angandika aris duk Dipati Pakalongan ya paman Mandraka kuwe nging aja baribin paman ngong opyak kamahngan bature iku rong puluh karekna telu kewala.</poem> |<poem>Besuk sun lapur kumpeni yen boyongan kathah minggat kari telu pan katangen makaten wau gelarnya enjang lapur mayornya bebandan kari tetelu enjing sami pinerungan.</poem> |<poem>Gumujeng Sri Narapati alon denira ngandika heh kang pra dipati kabeh miwah ta santananingwang mengko yen metu iya padha mampira sireku teka ing kene banjura.</poem> |<poem>Wismane Kangmas Dipati </poem>}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude> lrmi9l3bzn0bvmhhb0lhca7i3ysqmt2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/406 250 24375 77631 76935 2026-05-15T18:32:50Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77631 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=56 |<poem>Gedhong Tengen Sekarsuli pan nelung jung ingipuk wong Yogja Singadirana wus keni wus binekta lan malih wong Surakarta.</poem> |<poem>Tilasipun kaliwon gadhe rumuhun Kajayanagaran Ngabei Sumaditeki sapocote dhongkol wonten Parambanan.</poem> |<poem> Wus inge bang ingipuk linopa tumut kaliye binekta kapethuk ing Kalibening lampahipun Pangeran Natakusuma.</poem> |<poem> Pangran Pakuningrat wau unduripun praptane Ngay ogja lampahipun den salini kang lumampah Pangeran Natakusuma.</poem> |<poem>Kendelipun Kalibening akukuwu Mantri Sadu prapta bekta bekel Sekarsuli Kalihipun Suma dita Parambanan.</poem> |<poem> Katur marang Pangran Natakusumeku binekteng ngayunan sampun sami den dhawuhi ebang bang umatur sagah samangsa.</poem> |<poem> Pinaring wus waos senjata lan dhuwung bebenting rasukan turangga lan payungneki katimang mas lawan babangkole emas.</poem> |<poem>Sanjata lus karebin kalawan pestul pun Singadirana pan nigang jung Sekarsuli sinung nama Tumenggung Ranawilaga.</poem>}}<noinclude>{{rh|404}}</noinclude> at0ml6qleblvfovui8hecoo2dlq1a9y Kaca:Babad Prayud I.pdf/407 250 24376 77632 76937 2026-05-15T18:33:35Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77632 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=64 |<poem>Ngandikarum Pangran Natakusumeku heh Kang Sumadita kaliwon gedhe rumiyin nama Raden Angabei Sumadita</poem> |<poem>Mangkenipun namane mundhak amedhun jujuluk munggaha si kakang kula. arani jumenenga Ki Tumenggung Sutanaya.</poem> |<poem>Tagesipun kakang parentahing ratu kinen dan edanan gumujeng matur wotsari inggih leres angger ing karsa paduka.</poem> |<poem>Kula nuhun pangestu dalem karuhun inggih salameta gen dika umangsah jurit sigra nembah mesat saking ing ngajengan.</poem> |<poem> Praptanipun ing wismane sigra ngumpul suyud Parambanan wus anungkul den' ungkuli Bumi Sala urut Kajambon Kajiwan.</poem> |<poem> Sampun kumpul kakapalan tigangatus ngetanjog Karapyak wuwuh kumpuling turanggi ngantukaken Tumenggung Ranawilaga.</poem> |<poem>Sekarsuli ler Malinjon prenahipun Deladag angetan mungsuhe tan den rawadi mung ulihe Tumenggung Ranawilaga.</poem> |<poem>Praptanipun Sekarsuli wanci surup lajeng paparentah nelukken wong kanan-kering nora ketung mungsuh gitika ing wuntat.</poem>}}<noinclude>{{rh|||405}}</noinclude> cdyvnc8hxvfghegfbjc7w8oiwzbsf98 Kaca:Babad Prayud I.pdf/408 250 24377 77635 76940 2026-05-15T18:34:07Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77635 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::'''XXIX. PANGKUR''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Tumenggung Natanagara duk miyarsa mungsuh neng Sekarsuli ler wetan saking genipun nanging dalu praptanya enjing budhal ngerek ngetan barisipun ragi ngaler kendel Ngingas badhe genira nadhahi.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Sutanaya miwah Ranawilaga budhal enjing ngidul amarani mungsuh praptane kidul marga wadya kuda Sutanaya gangsalatus Tumenggung Matanagara pitungatus kudaneki.</poem> |<poem>Campuh sakilene Ngingas cara desa ruketing prang wor titih ararne buru-binuru bedhil tan karawatan tarung tumbak tumbak-tinumbak acaruk mungsuh rewang kathah pejah sadina denira jurit.</poem> |<poem>Bubar pur dalu prangira Ki Tumenggung Natanagara nenggih wonge mati seket pitu Tumenggung Sutanaya prajurit sawidak kalih kang lampus kalih sami angresira mundur kalih sareng nebih.</poem> |<poem>Wus samya katur prangira ing Ngayugja miwah Surakarteki pra sami kirim sratipun dhateng nagri Samarang</poem>}}<noinclude>{{rh|406}}</noinclude> 42jtuy6w8b90farss55jsgx14em3920 Kaca:Babad Prayud I.pdf/409 250 24378 77636 76942 2026-05-15T18:34:47Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77636 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kamandaka kang srat adhapur prasadu ::Sang Prabu Surakarta ::mring Ideler ing Samawis. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Wusnya tabe kathah-kathah wiyosipun sudara sung upaksi awit saking garwanipun kakangmas adipatya ingindhetan dhateng kang rama punika mangkya sagung tanah-tanah rusuh samya ngrurusuhi.</poem> |<poem>Gegeculan keh wong edan wong kang ala tan wonten kang tinolih bondhanaken tanpa ratu tutug sasukak-sukak kula aken ngupaya wong kang babatur antuk papati sawidak prandene wuri tan mari.</poem> |<poem>Wong ala sangkin andadra nanging Deler sepisan dereng prapti neng Madura Sarengkewuh Peter Besar kewala kang nampani sarat Yogja Surakarteku serat ubeng kamandaka srate para ratu kalih.</poem> |<poem>Pator Besar manggil Beman samadosan neng Salahtiga panggih nagari sangsaya kuwur Kedhu Pagelen mangkya sami wiwit wong ala durjana darung ngrarayud kudhung parentah maksiy atahtniy asati.</poem> |<poem>Tukup-tinukup andadya singa rosa keh bandhangane sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||407}}</noinclude> dst994o6sv7n1425qy79r1rlfpu53b4 Kaca:Babad Prayud I.pdf/410 250 24379 77637 76943 2026-05-15T18:35:36Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77637 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::singa cubluk den kalethuk ::kang bapang ngingkrang-ngingkrang ::tulus menang ngampung prentah solahipun ::ararat ngegemblungan ::babonggol mendhosol sami. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Petor dereng kongsi mangkat selak Deler prapta king Surawesthi gagancangan praptanipun gugup miyarsa warta saking Sampang Surabaya wus misuwur pawarta Panjang Mataram prang rame andinajurit.</poem> |<poem>Surat saking ing Ngayugja saking Surakarta Petor nampani sapraptane Deler katur sawusnya tinupiksa langkung eram agoyang kapalanipun dangu datan kena mojar si Bereh Deler Ubresting.</poem> |<poem> Deler sigra aputusan marang Yogja Petor Besar tunuding kalawan lutnan drugundur bekta Deler suratnya lawan kuda kore ingkang badhe katur sakembaran saking wetan Petor Besar gya lumaris.</poem> |<poem>Dregunderekalihwelas lampahira datan winuwus margi ing Ngayogja praptanipun wus panggih lawan Sultan katur ingkang serat saha hormatipun kalangkung simungga-sungga de Peter Besar tinuding.</poem>}}<noinclude>{{rh|408}}</noinclude> l5b1noon8ftaqtofmby7jthvfmfgy66 Kaca:Babad Prayud I.pdf/411 250 24380 77638 76944 2026-05-15T18:36:08Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77638 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Langkung genge kang prakara jroning serat nenggih Deler Ubresting matur-sarta apitutur Tuwan Sultan samangkya wus misuwur yen tuwan narendra punjul gagah prawireng ngalaga ing watak bisa basuki.</poem> |<poem>Tetep mantep ing Hyang Suksma wus kasusra ing tanah bawah angin nunten ing mangke kabidhung nuting atur-aturan langkung owel mijilena menda kuwur kawur-kawur kawoworan kasangsaya kang sayekti.</poem> |<poem>Ing tabet kangwus tetela amiharja harjaning bumi-bumi eyang paduka gurnadur saha Rat pan Indiya sami suka Jeng Jendral Petrus Albertus ananing kawicaksanan sumyur murti maratani.</poem> |<poem>Mila sanget tur kawula yen kongsiya gempil satemah rumpil karya angel lakon alus kasar dadi sumebar tementemen kumpeni dennya mrih laku winatuweng Gusti Allah Ilalah Rabil Ngalamin.</poem> |<poem>Mila Tuwan antukena putri dalem ingkang sampun karabi Pangran Mangkunegareku Kumpeni kang nanedha ing tuluse wingit kaluhuranipun</poem>}}<noinclude>{{rh|||409}}</noinclude> n6it4s0g63seflx2wobb4vcky8khnga Kaca:Babad Prayud I.pdf/412 250 24381 77639 76945 2026-05-15T18:36:41Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77639 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::jajahan arja santosa ::wus titi mriyem ngurmati. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Mesem Sultan ngandika iya Petor dene mangkene iki dadine Deler kaliru dudu bubuhaningwang aprakara ing alaki-rabiiku ana ingkang duwe awak dudu pagaweyan marni.</poem> |<poem>Wus ana daliling kitab Gusti Allah pandhita kang ngebuki kalamun wong wadon lùmuh ratu tari kena jiyad yen dadiya gawene nagara iku dadi surak adilingwang wus duwe ukum pribadi.</poem> |<poem>Yen ana wong kang belasak ukum molah kang nora den tetepi yeku mukir tegesipun wong lanang kang nanambang yen wong wadon ana ing atine iku yen lumuh maring wong lanang tan wenang den parentahi.</poem> |<poem>Yen anemah dadi ngiwa lya nuku pegat yen ora anglakoni si wadon kena ing ngukum iku gawening raja jiyadaken patukoning pegat iku yen gelem angesokana tan dadi karyaning bumi.</poem> |<poem>Sultan wus karya wangsulan Petor Besar pan amung kalih latri</poem>}}<noinclude>{{rh|410}}</noinclude> nwlkig85o8jbcv5x4czdl8632zijjk9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/413 250 24382 77640 76946 2026-05-15T18:37:05Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77640 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sinangonan tigang atus ::lutnan dragunder ingkang ::sinangonan satus piyambak punika ::kanthi Papatih Samarang ::pinaring pitungdasa gris. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Dragunder sradhadhunira kalih welas samya den wiji-wiji rolas keton sangonipun dragunder sami suka ting cakakak undure saking kadhatun Petor lajeng pamitira tinampen sul-angsulneki.</poem> |<poem>Mesat saking ing Ngayogja kendelira Saragenen sawengi duk ing marga tan kawuwus praptanireng Samarang serat sultán katur marang Deler sampun raosing srat wus kaduga eram goyang kapaleki.</poem> |<poem>Animbali Ki Dipatya Surahadimanggala prapteng ngarsi lawan Kiyai Pangulu Deler alón tatanya sarwi tuduh srat saking Sulta punika inggih kadipundi Bapak</poem> |<poem>Ki Dipati maos serat lan pangulu serat saking Matawis wusnya maos Ki Pangulu alón ing aturira yen makaten ini tuwan lebih betul bubuhi di dhalem kitab ukum molah ya begini.</poem>}}<noinclude>{{rh|||411}}</noinclude> ediarp5p8y0shq37u2k2cnmr3xehndv Kaca:Babad Prayud I.pdf/414 250 24383 77641 76947 2026-05-15T18:37:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77641 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem>Deler saking wimbuh ing tyas pegimana Bapak yang punya bini sudah sediyeng prang pupuh pukul Nagri Ngayogja desa ini sudah mulahing prang riwut kadi pundi gene nyenggah Mangkunagara prajurit.</poem> |<poem>Ki Dipati aturira kabeh-kabeh Tuwan anak kompeni rinimuk ingipuk-ipuk Pangran Mangkunagara yen sareba ya Mangkunagara iku Jeng Sunan sareh kewala wantu kadang ngusap weni.</poem>}}<noinclude>{{rh|412}}</noinclude> tgfujxoj83pek0l8hhuef4ubkg3hih4 Kaca:Babad Prayud I.pdf/415 250 24384 77642 76949 2026-05-15T18:37:47Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77642 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XI. SINOM''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Yen kaya mengkana Bapak ingsun nuli tur udami mring Tuwan Gurnadur Jendral padha duwea kikirih yen uwis kirim tulis maring Batawi katengsun payo mring Salatiga Pangran Mangkunagareki sun aturi patemonneng Salatiga.</poem> |<poem>Budhal saking ing Semarang Deler lawan Ki Dipati pasisir kalih bupatya Peter Besar tumut malih ing Salatiga prapti wus amànggil Tu wan Uprup patemon Salatiga duk Beman atampi tulis tur uninga angkate marang Sang Nata.</poem> |<poem>Serate Deler punika kula kinen angaturi raka paduka Pangeran Dipati Mangkunagari mring Salatiga nenggih panggiyan lan Deler Ubrus Sang Nata angandika matura Deler sireki tanggung temen patemon ing Salatiga.</poem> |<poem>Yen mamanguna bicara yeku kakangmas dipati tanpa kanthi ewuh aya bok kabrenjul nora resik</poem>}}<noinclude>{{rh|||413}}</noinclude> 16on2xo4rt5b2yknf9tp86b3kzu6lbf Kaca:Babad Prayud I.pdf/416 250 24385 77643 76952 2026-05-15T18:38:16Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77643 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen ora sun adhepi ::kapareng nepsu tan surut ::wantu wong den niaya ::ing batin amuring-muring ::aja kandheg Deler becike banjura. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Sun banget angarsa-arsa banjure Surakarteki Uprup alon aturira inggih leres Panduka Aji yen kula Tuwan weling kadipun Deler ariurut Beman wus pamit mesat prapta kendel Bayalali enjingira budhal maring Salatiga.</poem> |<poem>Praptane neng Salatiga ing pukul sadasa panggih lan Deler Uprup aturnya karsane Sri Narapati lampah tuwan puniki sampun kendel pened banjur dhateng ing Surakarta panggiya lan Sri Bupati lah ta inggih sae amangun bicara.</poem> |<poem>Deler wau duk miyarsa pinikir leres Sang Aji iya Uprup ingsun iya banjur marang ing nagari Uprup amulya pamit wangsul nulak lampahipun lampah dalu kewala praptane Surakar teki lajeng manjing pura umatur Sang Nata.</poem> |<poem>Inggih Deler tabenira katura ing Sri Bupati</poem>}}<noinclude>{{rh|414}}</noinclude> japcws8bg881peulvvhsa3zuprr163l Kaca:Babad Prayud I.pdf/417 250 24386 77644 76953 2026-05-15T18:38:42Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77644 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::anurut karsa paduka ::mangkat ing dinten puniki ::kendel ing Bayalali ::inggih pasthi mangke dalu ::Sang Nata gya parentali ::Dipati Mangkuprajeki ::kang punggawa satunggil kinen mangkata. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Tumenggung Jayanagara umangkat sami sakenjing kalawan Pangeran Arya Prabuwijaya kinanthi kendel ing Bayalali meh sareng ing praptanipun rumiyin Mangkupraja nung rong menut aletneki wus apanggih lan Deler tabe sadaya.</poem> |<poem> Ing dalu tan kawuwusa Deler saking Bayalali satengah lima mangkat wuwusen Sri Narapati saking jro pura mijil umangkat ing pukul pitu kalawan ingkang raka kerig sagung pra dipati pamethuknya Sang Nata aneng Kaleca.</poem> |<poem>Pukul wolu praptanira Kaleca Deler Ubresting ping salikur wulan Sapar amarengi Rebo.legi wau den sengkalani dede adat praptanipun mirungga awit prakara mila warsane tiniti Trusing liman Àngobahaken ing Jalma.</poem>}}<noinclude>{{rh|||415}}</noinclude> fzzx7119ipgdef3cccmkqea2lmssded Kaca:Babad Prayud I.pdf/418 250 24387 77645 76954 2026-05-15T18:39:02Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77645 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |<poem>Ki Deler kapara eram mulat kiraping prajurit beda kala praptanira Ideler prap.taning nguni dadya ambal ping kalih inggahira Deler Ubrus ingkang rumiyin adat ping kaliye bicarani aprakara indhete Ratu Bendara.</poem> |<poem> Miwah selahing mangunsa gumergut lir magut jurit Deler wuwuh astanira bubuyuten sanget mangkin tabeyan lan Sang Aji garewelan guwr-gugur miwah lawan Pangeran Mangkunagara Dipati wuwuh dennya mangrepa angela-ela.</poem> |<poem>Duk antuk kalih inuman ing Kalesa Sri Bupati budhal marta tamunira Hasen bereh pan Idelir ninggali nganan-ngiring nglor-ngidul ngarsa pungkur sutnreg kehing turangga gumrudug anggigirisi ngandhut runtik tingkah olahing manungsa.</poem> |<poem>Miwah bupati sadaya ing splah tan kadi nguni tinon pan gambaraning piang meh kadya anaut rawsi prapteng lun-alun atri monggang muni Sitiluhur urmat mriyem barungan</poem>}}<noinclude>{{rh|416}}</noinclude> 4x8n26gv3n9w0zl3ta01pviohbfc909 Kaca:Babad Prayud I.pdf/419 250 24388 77646 76955 2026-05-15T18:39:28Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77646 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ing Sitinggil miwah ngloji ::Tuwan Idler binekta pura sakedhap. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Sayah kinen makuwona wus pamit mijil mring loji wus makuwon saha baia wau bupati pasisir ingantos asoneki ayem ing tyas Deler Ubrus kuneng kang kawuwusa wong desa kang andon jurit andina prang Kedhu Pagelen barungan.</poem> |<poem>Miwah Pajang lan Mataram tan kendel andina jurit papati wus tan karuhan sami wurune wong cilik mangkya kang samya dadi wayang geculan angradun corok-cinorok samya tan karuhan ubetneki jembar rupak kang amrih ngelar jajahan.</poem> |<poem>Jembar tan kanggo sadina miwah rupakipun sami ya nora kanggo sadina kang wus ngarep jebul wuri kang kanan jebul kering wit sami arebut tangguh ana bekel Ngayogja ngugemi Surakartèki bekel Surakarta ngugemi Ngayogja.</poem> |<poem>Anama prang balarutan keh panajung dadi mantri mila temah tarombolan neng Puluhwatu wong Pingging. </poem>}}<noinclude>{{rh|||417}}</noinclude> 2yjyly3rxzqzrnf6lfdoe275qzgc7g0 Kaca:Babad Prayud I.pdf/420 250 24389 77648 76956 2026-05-15T18:39:51Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77648 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::wayang Surakarteki ::wong Jogja ana ing Gumul ::sakiduling Koripan ::nelukken wong kuwel sami ::saurute sapangalor urut Kopat. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Wong Surakarta neng Gondhang kang 1er Puluhwatu sami nelukaken Parambanan ing Kembang wus den aneiki tuwin uruting Budil bumi Yogja akeh nungkul kang kidul wayang Sala Sampar Waliyan wus keni wayang Yogja kang 1er ngancik urut Sima.</poem> |<poem>Kuneng kang prang balarutan wuwusen Deler Ubresting kang wonten ing Surakarta enjing sowan mring jro puri Pngeran Adipati Mangkunagara kang tumut kalawan Uprup Beman sapraptanira jro puri pinanggiyan wusnya tata neng pandhapa.</poem> |<poem>Deler ngaturaken sigra sul-angsul saking Yogjeki duk lampahe Petor Besar sultan ingkang den Ugemi pun Panggulu Semawis kula sung wruh puniku yekti daliling kitab pra pandhita kang ngebuki pun papulu apenci katimbalana</poem> |<poem>Sang nata amaos serat</poem>}}<noinclude>{{rh|418}}</noinclude> qt9egch8zgkxk055dxk6anl6fc37nrm Kaca:Babad Prayud I.pdf/421 250 24390 77650 76957 2026-05-15T18:40:20Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77650 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::agung mesem duk miyarsi ::denira ngrakit prakara ::mesem ngadika Nrepati ::ki bapa iki wegig ::awegig ukeling tanduk ::rakite kaya bisa ::amaca kitab pribadi ::anambungi Dipati Mangkunagara. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Makaten punika Sunan kula rumiyin menging duk raraton beng-ubengan ing mangke amatkhok malih pengulu den pundhuti lan jeksa pinundhutan kebenaran sadayeki apan winor dinadosaken salayang.</poem> |<poem>Saben sawusnya sepenan yen boten pinarakjawi mung punika kang winaca lawan buk gelaringjurit dinadekken sajilid kang winaca siyang dalu boten den ungelena angung den iling-ilingi beten bosen sawengi sadina-dina.</poem> |<poem>Kunthara lan Jugulmudha tuwin kangNagara krami boten kenging kaledhona miwah caritaning topsir sagung carita sami ing ngebukan neng tyasipun telatene kaliwat yen wonten panepen nenggih Rebo Kemis Ngahad Senen lan Jumungah.</poem>}}<noinclude>{{rh|||419}}</noinclude> pft3fo7tbi8m2hpc6xln08e6pavzw3i Kaca:Babad Prayud I.pdf/422 250 24391 77651 76958 2026-05-15T18:40:51Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77651 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=27 |<poem>Tanpa rewang tanpa karya mung kang den iling-ilingi pan amung inggih punika susuker karyaning bumi lan salat angimani sagung para garwanipun neng panepen damelnya datan wonten malih-malih Sri Narendra gumejeng dennya ngandika.</poem> |<poem>Puniku kangmas wong tuwa tan kadi dhewek puniki wong anom padha kumethak Ki Pangulu den timbali prapta ngarsa nrepati lan rekyana patih wau Dipati Mangkupraja ngirid sakawan bupati Wiradigda Rungbinang Sosradiningrat.</poem> |<poem>Ki Pangulu ingandikan sinungan wruh seratneki duk lampahe Petor Besar sultan sul-angsulireki Ki Pangulu miyarsi alon denira umatur yen menggah ngukum molah sayektos makaten ugi nanging sarat ikradlipun kawruhana.</poem> |<poem>Boten kenging lalawora miwah boten kenging wakil sayekti kang darbe awak Ratu Bendara pribadi kang sami angukumi miyarsa awuwusipun wau Sang Nata gempal</poem>}}<noinclude>{{rh|420}}</noinclude> hvm1ji43hx9yehxlju2cb433m1rwt9h Kaca:Babad Prayud I.pdf/423 250 24392 77652 76959 2026-05-15T18:41:12Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77652 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::miyarsa aturireki ::lan bebaten sang nata graitanira. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem>Angejepi Arungbinang wus nyelak pangandika Ji heh kapriye Arungbinang anipis prakara iki yen kena den ukumi cara jaba paraniku dadine tanpa karya Rungbinang matur wotsari inggih wonten sikune rama paduka.</poem> |<poem>Ageng menggahing nagara miwah janjining kumpeni lerese rama paduka lamun nedyaa sayekti aparinga udani inggih saweg badhenipun lumuhe ingkang putra payo padha pinrih becik anak prabu mring arine pitutura.</poem> |<poem>Padha teluk tyas kang akas makaten lamun sayekti aran sami kawajiban rehning Paduka Nrepati Sang Nata pulih malih tyase ingkang gempal wau nipise aprakara wit ta saking laki-rabi myarsa ture Ki Tumengung Arungbinang.</poem> |<poem>Deler noleh Arungbinang Rungbinang alon nauri makaten puniku Tuwan Jeng Sultan durjana batin</poem>}}<noinclude>{{rh|||421}}</noinclude> 9rmzqd8cgjnsg4x9kqpcl777oil8991 Kaca:Babad Prayud I.pdf/424 250 24393 77653 76961 2026-05-15T18:41:34Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77653 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::anerus maring lahir ::ambalithuk anyunyubluk ::sampun cacading praja ::miwah janjining kumpeni ::tulus among ing lahir batin kawona. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem>Ruruwede Tanah Jawa piyambake anangguping mila teka mangke tuwan akarya ruwed pribadi Ratu Bendara menggih sedaa piyambakipun Jeng Sunan kawajiban naekken bolenya kawin mila teka putra mungkir tan rinembag.</poem> |<poem>Upama tan rinembaga ing ngriki ibune maksih raden Ayu Wiradigda punika sepuh pribadi yen rinembaga nguni yekti lumampaha angelus Sang Nata angandika ingsun dhewe ya lumaris asor apa wong amrih tulus beciknya.</poem> |<poem>Penggawe malah utama jer ingsun kang den ngengeri kakangmas dipati iya ingsun ingkang angingoni tuwan dika menangi saben titinjo mariku pan kula kang kawogan kang ngiring rumekseng margi rong wedana miwah ta joline kula.</poem> |<poem>Pratandha yen nedya nakal</poem>}}<noinclude>{{rh|422}}</noinclude> sa3b7uiz93medmv1okgczp0lc832x1i Kaca:Babad Prayud I.pdf/425 250 24394 77654 76962 2026-05-15T18:41:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77654 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::duk dhimas dipati mriki ::mekas nimbali kang putra ::Ratu Bendara wineling ::puniku pratandheki ::angakali tegesipun ::bupati kula samya ::anglurug maring Kadhiri ::dadya kula boten angutus wedana. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Lah puniku tetep nakal luwih priksaning kumpeni pamomonge amikarya wong becik arep den dingkik wong wekel den akali wong cubluk rep kinalethuk dadi kula tan bisa pesaja amejanani sigra Deler angling maring Arungbinang.</poem> |<poem>Jadi ini dua pangkat salahnya sama rejeki bisnya bicara prampuwan kamudiyan ada lagi lan kumpeni wus janji among mring kang putra tuhu ruweding Tanah Jawa kang putra nora den iri mung dheweke ambebas anyirnakena.</poem> |<poem>Ing mengko teka akarnya ing ruruwedan pirbadi lah dika Tuwan Pangeran den ereh sampun prihatin den ayem den aririh pasthi kumpeni tutulung miwah rayi andika yekti ngawaki nulungi</poem>}}<noinclude>{{rh|||423}}</noinclude> 08facwzht37wgrproul67v76cn16e1a Kaca:Babad Prayud I.pdf/426 250 24395 77655 76963 2026-05-15T18:42:24Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77655 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angulihna ing sagunge kasusahan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=42 |<poem>Dipati Mangkunagara heh tuwan kula puniki ulam kang munggeng rampadan nuta karsaning kumpeni barang karsane dadi tuwin inggih sang Aprabu Beman anambung sabda Tuwan Pangran lebih baik kalu tahan dapet untung di balakang.</poem> |<poem>Dangu ngiras panginumnya mariyem awanti-wanti tan anatara bubarira Idiler wus prapteng loji nulya pendhake enjing Sri narendra tedhakipun mring loji lan kang raka Dipati Mangkunagari pra santana kerig miwah pra dipatya.</poem> |<poem>Uprup amethuk mring pura tedhakira Sri Bupati Deler gugpuh methuk jaba urmat drel bala kumpeni mariyem ambarungi susun amarwata guntur kadya reh gara-gara tedhakira Sri Bupati saking rata Deler sigra tabe nyandhak.</poem> |<poem>Sang Nata kakanthen asta wus tata munggeng ing kursi Dipati Mangkunagara praptane wus den Urmati sigra Deler anganthi</poem>}}<noinclude>{{rh|424}}</noinclude> ptogg7fys1dd5jjkqylvi8i7praz7ft Kaca:Babad Prayud I.pdf/427 250 24396 77656 76964 2026-05-15T18:42:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77656 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Sang Nata minggah mindhuwur ::Uprup anganthi sigra ::Pangran Mangkunagareki ::sami minggah wus tata apalenggahan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=46 |<poem>Sawusnya sami atata sakawan munggeng ing kursi Deler Ubresting turira punika Sri Narapati raka paduka mangkin sumpaha sariranipun kula nimbangi sumpah yen ndyaa nayidrani lamun toben temen-temena angangkat.</poem> |<poem>Inggih bicara punika yen malesedna upami ing prakara badhe menang keniya den mananisi miwah den rurubani kang menang dadya soripun bendune Gusti Allah nampeka ing awak mami asor unggul yen karsanira Hyang Suksma.</poem> |<poem>Tegese ukuming kitab kumpeni tan bisa kardi angalahna amenangna yen wus karsaning Hyang Luwih kukum wus den ebuki dening pandhita gung-agung yen angowah-owahana punika kula sumpahi ing agama saking muhmin Nabi Tuwan.</poem> |<poem>Pangeran Mangkunagara inggih Tuwan kula janji kaseksena Sri Nalendra.</poem>}}<noinclude>{{rh|||425}}</noinclude> awe0mh59u90az5i7lq9tnjqe0owev29 Kaca:Babad Prayud I.pdf/428 250 24397 77658 76965 2026-05-15T18:43:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77658 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::lambe mandi kasekseni ::yen marengkanga marni ::kumpeni ing adilipun ::duduka Tuwan Allah ::nampek kenging awak marni ::wus mangkana pratandha acekel asta. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=50 |<poem>Nunten kapat sareng tedhak sak praptanira ing jawi lajeng denira drawina gumutur mriy em ngurmati teledhekan Sang Aji suka-sukanira nutug malah dalu bubaran satengah rolas Sang Aji kundurira bubar santana pungawa.</poem> |<poem> Nunten ing maleme Ahad Ideler lan pra upesir marang daleme Pangeran Dipati Mangkunagari miwah reky ana patih ingirid sak kancanipun pra dipati santana kinerig kasukan sami lawan Deler neng dalem Mangkunegaran.</poem> |<poem>Ping selawe wulan Sapar edrele prajurit estri Ideler udhik-udhikan keton mring dragunder estri rame rebutan sami telas keton kalihatus kang mulat sami suka wusnya sami den taknon apratandha utung Nange manungsa.</poem>}}<noinclude>{{rh|426}}</noinclude> 6pp3xwidmr5p93q5ngiooshuylzyc3k Kaca:Babad Prayud I.pdf/429 250 24398 77661 76966 2026-05-15T18:47:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77661 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53 |<poem>Yen dudu padha manungsa pasthi saking ing Hyang Widi padha bareng parebutan ana akeh ana kedhik wonten tiyang kekalih mung rong keton angsalipun pangrefbute rekasa teka nora mundhak malih ingkang ngukur-ukur ing pangrebutira.</poem> |<poem>Tiga antuk nyelawe prah tur enggone aneng wuri dene ingkang kaprah angsal amapat aniga sami wonten malih kekalih antuke sami nyepuluh Adipati Semarang matur ing rekyana patih Iah puniku kang Dipati Mangkupraja.</poem> |<poem>Beja lara ing manungsa pan boten kenging kinardi sami-samine manungsa Tuwan Allah punya bagi gumer kang pra dipati Ideler suka kelangkung santana pra dipatya abeksal agenti-genti myang upesir kabeh abeksa sarkara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||427}}</noinclude> pihbvhttyzep56gb0l4l0f0r8e5v7jl Kaca:Babad Prayud I.pdf/430 250 24399 77662 76967 2026-05-15T18:48:23Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77662 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XII.DHANDHANGGULA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Nutug suka-parisuka sami Deler wonten Kamangkunegaran ing pukul rolas bubare enjinge Sang Aprabu Senen Legi mijil tinangkil kalangen kurmatira marang Deler Ubrus ngaben sima lan maesa wanti-wanti sukane Deler Ubresting mangkana wus bubaran.</poem> |<poem>Amarengi ing Selasa Paing Deler pamit mantuk mring Semarang ing pitulikur Sapar pan amung pitung dalu aneng Surakarta negad kuneng sakungkurira wau Deler Ubrus kang aprang abelarutan wong Ngayogja asring bantoni bupati nanging lakune sama.</poem> |<poem> Agung ngipuk wong desa Patigi Kedhu naksanake Kyai patya Singawangsa aredanane ingipuk wus kiliaya maring Yogja pangidhepneki lan bumi kádipatyan ing menure satus bekel Ki Suramenggala sampun keni lan bekel priyayi mantri gedhong Ki Sutajaya.</poem> |<poem>Kena ingipuk mring wong Matawis saben ana wong mecal ing desa</poem>}}<noinclude>{{rh|428}}</noinclude> 8q5af1fwpe2b1lay9w3gh6w5b7rmc0w Kaca:Babad Prayud I.pdf/431 250 24400 77663 76969 2026-05-15T18:48:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77663 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kang tetela prakosane ::ingipuk ngupuk-upuk ::linopan ing busana keni ::kerut sakkilen Praga ::dene wong tetelu ::wetan Praga kerut samya ::singawangsa kadhang nak-sanakneki ::Dipati Mangkupraja. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Pan adhimer prapangereki nulya gunem kang pra dipati ya Dipati Mangkuprajane ngirid ceanthel atur tinimbalan sedaya prapti ing ngarsa Sri Narendra kya patih wot santun pukulun rama paduka anemeni bantu prang ing rare alit bupati nanging namar</poem> |<poem>Iya dimen saking galak wingi kang abecik iya ngarenana jaga bebantun wong kene si Jayangeareku lan si Puspadiningrat kalih ngupaya angipuka wong desa kang punjul kang baawa kang prawira ing Pagelen wus ana.kang sira tuding Mangkupraja tur sembah.</poem> |<poem>Gih pun Jayasudirja kang ngabdi papocotan saking ing Ngayogja pun Rungbinang pulunane dene inggih pun Kedhu dereng wonten ingkang katuding mila pun Singawangsa</poem>}}<noinclude>{{rh|||429}}</noinclude> ji3qi5woaz0nef4fivlc0p4zvp8rxa3 Kaca:Babad Prayud I.pdf/432 250 24401 77664 76970 2026-05-15T18:49:28Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77664 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::andadra angradun ::pukulun eloking kathah ::abdi delem ing Kedhu kilen Paragi ::wonten pened satunggal. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=8 |<poem>Dipun bidhung mengsah kanan-kering boten ebah saking ing pemahan ngatos wangsite lurahe ing ngriki lurahipun abdi dalem gadhek kakalih dhusunipun satunggal kalih lurahipun kang kiwa pun Inbatruna ingkang tengen pun Cakramenggala sami kalih sami apaba.</poem> |<poem>Kang den antos pundi kang sayekti lurahe sami ingambil anak dereng wonten panjawile mungsuh tan purun gepuk inggih sanget dennya pakering dene.wong saking Pajang dene bedbonipun dalem pun Surawijaya Arungbinang anjawil saking ing wuri ki lurah dipun enggal.</poem> |<poem>Menek selakkena wong Matawis Mangkupraja angling pasthi baya wegah mungsuh keh wawrake nganika Sang Aprabu lamun ana wong kang abecik pantes dadi dandanan den agea mulut sandika Ki Adipatya wonten lurah kaparak jaba anjawil mring Ki Jayanagara</poem>}}<noinclude>{{rh|430}}</noinclude> 4tf5dnam4jroisxbceo7t85qaq1e3xp Kaca:Babad Prayud I.pdf/278 250 24402 77787 76971 2026-05-15T19:45:38Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77787 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXV. ASMARADANA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Ping sawelas amarengi let sadalu pan ningkahnya Dimadilakir tahun Be Naga Liman Obahing Rat prapta duteng Ngayogya lan nyarengi praptanipun patih kakalih lampahnya.</poem> |<poem>Saking nagari Batawi sami kendel neng Semarang wau sultan carakane kang dhateng ing Surakarta paring sumbanging wayah pun suratani tumenggung wedanane gedhong kiwa.</poem> |<poem>Samantri kaliwoneki kakalih kaliwon jaba langkung kathah babektarie uwos kalawan maesa sarem lisah kalapa miwah reyal kawanatus tigang pangadeg busana.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Suratani angantos sapekenira Tirtawiguna pondhoke ing Septu Wage sapasar panganten ingandikan ing jro pura badhe nayub sareng sadinten praptanya.</poem> |<poem>Kang saking nagri Batawi Adipati Mangkupraja Tumenggung Arungbinange </poem>}}<noinclude>{{rh|276}}</noinclude> nbirib1f70i7h4fjcii0i9fsghh1g3k 77788 77787 2026-05-15T19:46:12Z Khusna Safira 1759 77788 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXV.{{gap}}ASMARADANA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Ping sawelas amarengi let sadalu pan ningkahnya Dimadilakir tahun Be Naga Liman Obahing Rat prapta duteng Ngayogya lan nyarengi praptanipun patih kakalih lampahnya.</poem> |<poem>Saking nagari Batawi sami kendel neng Semarang wau sultan carakane kang dhateng ing Surakarta paring sumbanging wayah pun suratani tumenggung wedanane gedhong kiwa.</poem> |<poem>Samantri kaliwoneki kakalih kaliwon jaba langkung kathah babektarie uwos kalawan maesa sarem lisah kalapa miwah reyal kawanatus tigang pangadeg busana.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Suratani angantos sapekenira Tirtawiguna pondhoke ing Septu Wage sapasar panganten ingandikan ing jro pura badhe nayub sareng sadinten praptanya.</poem> |<poem>Kang saking nagri Batawi Adipati Mangkupraja Tumenggung Arungbinange </poem>}}<noinclude>{{rh|276}}</noinclude> aj9uth668opukh6l52obag0lnouaj22 Kaca:Babad Prayud I.pdf/433 250 24403 77665 76973 2026-05-15T18:49:59Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77665 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Medal sakedhap neng regol panggih lan duta matur kang aprang tiwas rayi dika keh tatune prang aneng lurangkadhut atutulung marang wong Pengging binedhung ing ayuda rayi dika ngainuk Ngabehi Jayawikrama tinungkeban babantu kang saking wingking pra dipati kang namar.</poem> |<poem>Martalaya lan Ranadimurti Wiraguna Suratani lawan anamur sa prajurite sami rasukan gandhul abdi dalem Nirbaya siji pan nigang jung kang pejah prang sawetanipun ing Juranglebet rame prang tiyang Lungge Nirbaya kang den tulungi kang ngreh arahanira.</poem> |<poem>Jayanagara cangkelak bali mring ngajengan suka marab-marab kadi sinecang jajane Mangkupraja amuwus wonten paran anak ing jawi matur Jayanagara tiwas lampahipun Ki Lurah Wayang geculan tuhu lamun kang pra dipati ngawaki nanging sami anamar.</poem> |<poem>Rasukane sami gandhul putih pan pun Giling inggih katiwasan kabranan kathah tatune wong Pengging kinarubut</poem>}}<noinclude>{{rh|||431}}</noinclude> jihrvyx5s0df0e4pxeuwnyimznmaeku Kaca:Babad Prayud I.pdf/434 250 24404 77667 76974 2026-05-15T18:50:28Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77667 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yudanipun kang den tulungi ::tan wruh kang saking wuntat ::nenggih pra tumenggung ::anungkebi mila tiwas ::asarengan kang kidul rame ajurit ::baris Gumul ginecak. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Pun Bratanagara kang anggitik kathah pejah mengsah karusakan angilen ing palayune nedya anjog ing Pusur tiyang desa sami nitiri. metiggok anjog ing Opak ing ngriku kapetliuk wong Pengging Lungge kalawan wong ing Lumbu kang aprang arame malih Tumenggung Sutanaya.</poem> |<poem>Prange riwut wonge akeh mati nulya gecet ngidul meh kacandhak nunten babantu dhatenge ingkang para tumenggung Sutanaya umangsah malih langkung rame prang Opak mengsah pejahipun langkung saking pitungdasa tiyang ngriki seket kalih kang ngemasi epur surup prangira.</poem> |<poem>Srinarendra angandika ris Mangkupraja si Jayanagara miwah Puspadiningrate aaj nganggo anamur lalakone iya ing benjing lawan niandanagara si Bratawiryeku sakancane den keriga</poem>}}<noinclude>{{rh|432}}</noinclude> hioacrj8tg26bri8mppxrc4kyhojnd9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/435 250 24405 77668 76976 2026-05-15T18:50:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77668 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::tetindhihe Si Suradiija sun tuding ::lakune manukana. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem>Aja parek iya aja tebih kira-kira si Jayanagara menek kasoran yudane den enggal atutulung Suradiija patrol nindhihi apa na kang jaranan karo belahewu tur sembah rekyana patya malah langkung wus sami tinudhung mijil Siyaga ing ngayuda.</poem> |<poem>Prapteng jawi kya patih mamatih matah-matah kang amagut ing prang miwah Juru tampingane nenggih kang Tanah Kedhu mantri gedhong mundhut satunggil miwah mantri kaparak satunggil panurun kang pinji Jayawirya bawah gedhong kathah kang kilen Paragi kang kinen angipuka.</poem> |<poem>Bekel desa kang abecik-becik lawan nimbali Surawijaya ing Dilem badhe ginawe kabeh kilen Prageku anguyuni nyenapateni Dipati Mangkupraja rong lurah tinudhuh Ki Tumenggung Mangkuyuda amedalken nenggih panewu kakalih Ngabehi Natayuda.</poem> |<poem> Lan Ngabehi Mangkudipureki</poem>}}<noinclude>{{rh|||433}}</noinclude> bece0aykb14v0b0g8dkwhfykwvarpkw Kaca:Babad Prayud I.pdf/279 250 24406 77789 76977 2026-05-15T19:46:57Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77789 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Tumenggung Puspadiningrat :::miwah Yudanagara :::ing Surakarta anuju :::kerig wadya saknagara.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem> Jawi lebet kang prajurit wus saglar samaktanira ingkang amethuk panganten baris ingkang pra wedana saking Mangkunagaran wong jro sewu kalihatus neng alun-alun wus aglar.</poem> |<poem>Edrele samargi-margi neng loji sareng praptanya Mangkupraja lan panganten angiras lajeng lebetnya praptanireng jro pura dreling panganten rumuhun mariyemira sauran.</poem> |<poem>Nulya srat saking Batawi babektane Mangkupraja pinundhut lajeng winaos sawusnya drei sanagara dennya bareng barungan kang satengah ana mutus iki jendral luwih begja.</poem> |<poem>Prapta surate marengi lawan panganten miwaha dadya luwih ing urmate cinicila pitung jendral meksih ageng punika untunge Petrus Albertus mangkana lajeng kasukan.</poem> |<poem>Gumeruh kang para opsir</poem>}}<noinclude>{{rh|||277}}</noinclude> 5veigicx9943sl6h94ae8usf7a6pznl Kaca:Babad Prayud I.pdf/436 250 24407 77669 76978 2026-05-15T18:51:31Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77669 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::surat sinungan angreh arahan ::wus mesat Jayawiryane ::kapethuk margi wau ::lebetira kang den timbali ::laju Ki Jayawirya ::Natayuda wangsul ::angirid Surawijaya ::mring nagari Dipati Mangkuprajeki ::panggih lajeng pinacak. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=22 |<poem>Nadhahana yen ana wong ngambil karamanan ngarayudi desa Kudhung pakona ratune yen pratosa prangipun ya ipuken manawa keni yen apes tinggalana perungana iku serat papacaking raja kabatinan Surawijaya wus tampi lajeng ing angkatira.</poem> |<poem>Prapteng Kedhu lajeng pacak baris keiin Praga kumpul burni Sala anglajeri pikukube nulya wonten babantu mantri jero ingkang nindhihi wong Saragéni Nirbaya Jayabayanipun pan sami mindha wong desa kawanatus turanggane becik-becik tatarungane beda.</poem> |<poem>Nulya Tumenggung Mangkuyudeki dhateng Secang sandilampahira menedi pasanggrahane ing batin ababntu anjejeki kang pacak baris</poem>}}<noinclude>{{rh|434}}</noinclude> l5akiywdc84vle73jcfsaw5m8d05z2g Kaca:Babad Prayud I.pdf/392 250 24408 77755 76979 2026-05-15T19:31:28Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77755 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Sang Nata saru ngandika ::ya yen mengkorço Beman ::sun dhewa ngawaki ngrebut ::singa tiwas agempuran. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Pangran Mangkunagareki wau kalane miyarsa Uprup Baiman ature pangadikane Sang Nata arsa angawakana rinebut ing prang mangamuk singa kang tiwas gempuran.</poem> |<poem>Sekala waspanya mijil dangu-dangu latah-latah sarya lon pangadikane Sang Nata iku kelingan duk ingsun aneng alas serate maring ingsun ngipuk sasambate angrerepa.</poem> |<poem>Kangmas kula madeg aji lola inggih tanpa kadang kakangmas sampeyan emong mangke langkung cela-ina kangmas karaton kula punapa kangmas tan emut duk tinilar ngibu-rama.</poem> |<poem>Kakangmas pinendhet nguni ing ibu Ratu Kancana tinuwukan sakarsane kangmas kapengin garnelan tinumbasaken sigra kangmas tan nedya puniku amalesa dadah-dulang.</poem>}}<noinclude>{{rh|390}}</noinclude> j1mo0xm962hvac22uuq3b49pnj2be9q Kaca:Babad Prayud I.pdf/393 250 24409 78081 76980 2026-05-16T03:21:53Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78081 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem> Iku Uprup Sri Bupati ing mangko baya karasa ingsun iki danna bae lamun magiya niaya pasthi yen Sri Narendra kang den mejanani iku pan sayekti dudu ingwang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Uprup alon anahuri gih tuwan wau Sang Nata langkunga sanget gusare ngandika sarwi baranang pasuryan dadi erah parentah mring pra tumenggung siyaga kapraboning prang.</poem> |<poem>Rereh-sareh tyasireki Dipati Mangkunagara sokur-renaing batine kumambang karsaning titah risang Maka Minulya manungun lir sarah kanyut munggeng madyaning samodra.</poem> |<poem>Uprup satelasireki pamit lajeng mring jro pura matur yen kang raka mangke badane tan darbe karkat kumpeni lan Sang Nata amung kang den ayun-ayun angalangna ngujurena.</poem> |<poem>Uprup badhene tumuli kintun ser at mring Semarang nanging duk sepi Delere maring Sampang Surabaya Peter Besar kewala</poem>}}<noinclude>{{rh|391}}</noinclude> 49dlk7mofsv3vw44tx2y6bundsz3h0q Kaca:Babad Prayud I.pdf/280 250 24410 77792 76981 2026-05-15T19:47:44Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77792 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::atata aneng pandhapa :::pra santana punggawandher :::Sang Nata dhawuh parentah :::mantu pinaring nama :::nenggih Pangran Arya Prabu :::Wijaya umum mupakat.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem> Putrestri Jeng Ratu Alit lawan kang garwa Sang Nata nenggih Raden Ayu Kilen sampuning nginggahken nama Ratu Kilen punika antaranipun sataun anama Ratu Kencana.</poem> |<poem>Awit pukul kalih enjing pukul kalih dalu bubar akeh bupati ginotong miwah kang para santana saking nutug sukanya antuke sami tinandhu langkung suka-parisuka.</poem> |<poem>Neng jro pura tigang latri kang putra sinungan prenah Mangkuningratan daleme pan inggih Kaendranatan badhene dalemira rinakit babektanipun Jinenengan mring kang rama.</poem> |<poem>Bresiyan ponjenireki Sang Nata milu anata kayungyun langkung glengihe duk alarne ibunira Ratu Kencana kendhang putra tan kena dinulu agung manggih siya-siya.</poem>}}<noinclude>{{rh|278}}</noinclude> sk0zjal8e13sgmno7nl08iqthf8g18a Kaca:Babad Prayud I.pdf/363 250 24411 77716 76982 2026-05-15T19:13:59Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77716 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::inggih kangmas sami sae ::nulya prapta kang methuk ::talam emas lan payung kuning ::munggeng ngalun-alun ::anulya sami umangkat ::mring kadhaton serat ingkang munggeng ngarsi ::atata lampahira. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem> Oreg wau wadya sanagari jalu estri gebagan rataban kang arsa wruh suarnane pan inggih badhe mantu kampuh parang rusak lit-alit cindhe jo kanigara pan calanipun apaningset putih pita dhuwungipun sarungan kamalo abrit arespati jetmika.</poem> |<poem>Sapraptane wau jroning puri ingandikan munggah ing pandhapa akekejek pandhadhape ngaras padamanarkung cinandhak astanireki adhi mas wis linggiya kang rayi wotsantun apacak susun pranata rikat luwes kadya sikatan tinaji anglir anapeng bangsa.</poem> |<poem>Uprup ngaturaken serat aglis wus tinampan lajeng tinupiksa gumuntur ingkang munya drel mariyem susun-susun sarta barung gamelan muni salendro jroning pura</poem>}}<noinclude>{{rh|||361}}</noinclude> pxo3g8fimn0vsuyaxjwfwvlj2lsivu9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/281 250 24412 77793 76983 2026-05-15T19:48:10Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77793 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Nora gatra lamun putrì kadya anake wong jaba mangkya kendhange ibune agatra putrining raja duk anata gagawan apan sarwi apitutur pratingkah bektining priya.</poem> |<poem>Iya babo suta marni aja durrreh laki kadang yen ta luput pratikele duraka yen angandelna dumeh sutaning raja aja akeh sira tiru bibekmu Ratu Bandara.</poem> |<poem> Wus antuk lepiyan becik wulange eyangmu sultan kang wus majas pikukuhe lawan iki putraningwang iya reyal gagawan rupa anggris patangatus gawane eyangmu sultan.</poem> |<poem> Simpenana den abecik aja kalong-kalong poma iya den meksih sipate kurang sandhang panganira enggal tutura mring wang aja kongsi ngelong iku gagawane eyangngira.</poem> |<poem>Bojomu aja kowruhi manawa wani gagampang wantu anak ing bobotoh bok nek wani agagampang upama lir wong utang sok muliya cacahipun</poem>}}<noinclude>{{rh|||279}}</noinclude> 3ok9gtpiwnvshdev9inkiv2afgu72d9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/282 250 24413 77795 76984 2026-05-15T19:48:24Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77795 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::reyal kang saking Ngayogya {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Iku mengkonoa ugi yen salerepeting reyal pasthi ilang manpangate reyal kang saking Ngayogya ana tutur maringwang duk kalane angkatipun maksih ana jroning pura.</poem> |<poem> Kang medhahi Kanthong nguni angris patungatus ika pan iya eyangmu dhewe sarwi anenggak kang waspa akeh-akeh kerasa yen ajaa besaningsun Satrune eyangmu sultan.</poem> |<poem>Pasthi sewu den gawani reyal wiwinih pusaka iya iku kapalange prandene wus bejanira dene iku kang reyal iya kambon astanipun dhewe eyangira sultan.</poem> |<poem> Mulane den ngati-ati reyal iki aja ewah aja asalin sip'ate Sawusnya akathah-kathah pituture kang rama kang putra wus kinen metu ginarebeg wong jro pura.</poem> |<poem>Kang raka neng Srimenganti kalawan kang pra dipatya kang badhe andharekake rabine kang pra wedana</poem>}}<noinclude>{{rh|280}}</noinclude> dnu5kb0bkyf64cq7p9nxuaep2688az6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/283 250 24414 77796 76985 2026-05-15T19:48:41Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77796 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::dherek saking jro pura ::mampir ngloji lampahipun ::apan maksih mawi hurmat. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Ping sanga mariyem muni edrel ing tigang rambahan nulya lajeng ing lampahe wadya jro mung patang lurah kalihatus sadaya mangkana sapraptanipun dalem Kumangkunagaran.</poem> |<poem>Kasukan ing saben ari totopengan babedhayan saben dalu ing ringgite karucil gedhog lan purwa kendel-kendel Jumuwah wus carem pangantenipun gantya malih wunurcita.</poem> |<poem>Sapraptane ning Batawi Adipati Mangkupraja anyalini picis mangke lan uwang ingkang binirat marmanipun binirat wong Jawa won tingkahipun uwang samya ginuntingan.</poem> |<poem>Uwang ageng kongsi alit pipinggire ginuntingan pan kongsi telas bejine kari sadumuk kewala Sang Nata langkung duka dene sanget nisthanipun kang konangan tinatrapan.</poem> |<poem>Keh kacekel den pipiéis milane binirat pisan</poem>}}<noinclude>{{rh|||281}}</noinclude> 04mge771t1y4x21fxuyaas6pqfxhbwe Kaca:Babad Prayud I.pdf/284 250 24415 77798 76986 2026-05-15T19:48:56Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77798 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kalawan picis timahe ::wus ingundhangken sadaya ::ing mangke karsa nata ::sinalinan dhuwit sampun ::mupakat satanah Jawa. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Suwange sapuluh dhuwit parentah sampun warata miwah wong desa sakehe tuwin wong mancanagara kuneng malih winarna wonten gempalaning catur dadya bekaning srinata.</poem>}}<noinclude>{{rh|282}}</noinclude> q9smzw79969brt9qluxfblhupba8nzb Kaca:Babad Prayud I.pdf/285 250 24416 77799 76987 2026-05-15T19:49:17Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77799 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVI.{{gap}}SINOM''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Wong Daridra ngulandara aneng ing Toyamas lami durjana asring bebegal aningar asaba bengi tiwas dennya mamaling binerang pilinganipun rong nyari ageng timpal sawarase kesah aglis saking Tanah Toyamas mring Tanah Batang. |<poem>Manjing nyambat Kyai Tinap Ki Secayuda nameki kalangkung saregepira adhedhangir rina wengi kandel ing lami-lami saking ing saregepipun resep Kiyai Tinap pinarnah ambubak bumi adhudhukuh aneng ing dherekan wiyar.</poem> |<poem>Angubalken padhukunan ampuh sabarang sasakit kedhep ing ijpandhukunira mangkana ing lami-lami sujud wong kanan-kering aluwes manis ing tembung kathah ngetutken wisma dene den andel den sihi Secayuda kowakmring kiyai Tinap.</poem> |<poem>Sagung kang aminta sawab kathah mring Secayudeki penyanane dadi badal Kyai Tinap wus sesilih andadra ngiladuni</poem>}}<noinclude>{{rh|||283}}</noinclude> osrhaexgoehu7zidhd20uxk7z76rqpv Kaca:Babad Prayud I.pdf/286 250 24417 77801 76988 2026-05-15T19:49:32Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77801 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::amethok suratul nujum ::saking kathah kang prapta ::akeh pedhotan priyayi ::asuwita batin maring Secayuda. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Atusan kang tumut wisma wus kathah muride sami pasisir mancanagara lan akeh ngatokken sami panepene kiyai sinaba gajah puniku lan ana payung bawat gendhaga lan payung kuning Sacayuda berbudi bawa kaskaya.</poem> |<poem>Limunane tinajina Cina Batang den malingi anggawa sabate papat kabotan dennya mamaling akarya busanadi wus kalethek manahipun miwah kapraboning prang wus akathah tumbak bedhil ingkang sami suwita sangsaya kathah.</poem> |<poem> Wulan Rejeb tanggal pisan umadeg srinarapati Panembahan Raja Ngarab Ki Maulana Mahribi kedhep wong kanan-kering kang dadya papatihipun poncotan mantri lama Tempuran Saraditeki wus anama Adipati Mangkupraja.</poem> |<poem>Tedhakira Mangkuyuda Brajayuda ing Teraji wus anama Mangkuyuda</poem>}}<noinclude>{{rh|284}}</noinclude> my67n6qnukqn0juqzkf9kmhlhi6vlic Kaca:Babad Prayud I.pdf/287 250 24418 77802 76990 2026-05-15T19:49:48Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77802 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Tumenggung Wanasabumi ::lan kangdangira malih ::Bumija Tumenggungipun ::Tumenggung Natayuda ::tedhak Wangsacitra lami ::kang kinathik akathah santananira. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Panembahan Raja Ngarab Maulana Mahiribi lawanta wus paparentah nelukken padesan sami umadeg pacak baris sore natab kalaganjur sampun karya bandera pareanom kang sasup it kang sasupit adhapur gula kelapa.</poem> |<poem>Dene pra dipatinira bandera sasukaneki sujud Kedhu jaban rangkah wus aglar jajahan malih suyud wong urut petir wus angetan cahakipun Parakan sapangetan wus suyud sawetan Pragi wonten tigang ewu cacahing gagasan.</poem> |<poem>Kuneng sira Raja Ngarab Maulana Maheribi kang wus sadi barisannya wonten kang winuwus malih Pangeran Singasari saking ing Malang tumurun sewu prajuritira anggecok mancanagari ing Sarengat Japan Wirasaba bedhah.</poem> |<poem>Wong Kalangbret ing wong Rawa</poem>}}<noinclude>{{rh|||285}}</noinclude> jeuxkekhee63ondkrryquigal9nizb1 Kaca:Babad Prayud I.pdf/288 250 24419 77804 76991 2026-05-15T19:50:06Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77804 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Blekpace kumpul Kandhiri ::Ki Tumenggung Katawengan ::siyaga badhe nadhahi ::kumpul ingkang prajurit ::kakapalan gangsal atus ::kumpul Kalangbret Ngrawa ::wong Blekpace neng Kadhiri ::dadya langkung saking sewu kakapalan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=13 |<poem>Ki Tumenggung Katawengan wus budhal saking Kadhiri Pangran Singasari miyarsa Katawengan badhe gitik tengara budhal aglis datan dangu kapethuk aneng Kali Andaka cucuking wong we tan aglis Martajaya ing Porong sigra narajàng.</poem> |<poem> Rame campuhing ngayuda lan pacalang ing Kadhiri Ngabehi Setrawijaya samya nom eber ing wani rame bedhil-binedhil swaraning surak gumuruh Pangeran Prabujaka nedya ngawaki ngajurit ginendholan mring para tumenggungira.</poem> |<poem>Dadya mangsah punggawanya sangkin ararne kang jurit kuwel sami tarung kuda wau babantu kang prapti Madiun Pranaragi Caruban lajeng anapung sagung mancanagara wong Sala wong Yogya munggil sami amor anadhahi mungsuh we tan.</poem>}}<noinclude>{{rh|286}}</noinclude> 917cxdlwslv1b89eyns0fu5l7go711w Kaca:Babad Prayud I.pdf/289 250 24420 77806 76993 2026-05-15T19:50:37Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77806 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Kaberek kathah kang pejah wonge Pangran Singasari Pangran Madiun kang mangsah Caruban lan pranaragi Raden mas putraneki kang tuwa pangeran Prabu menggih ingkang patutan lan putune surapati wus dewasa ngamuk lan sabalanira.</poem> |<poem> Amung kuda pitung dasa wong Karadenmasan ngungkih wong Madiun kang atadhah Belora Lerung amunggil ingamuk akeh mati tumenggung Balora tatu ing ngundurken ing wadya praptane pakuwoneki angemasi ki Tumenggung Wilatikta.</poem> |<poem>Raden Mas sabalanira liwung pangamuke ngungkih Madiun malih tinunjang wong Caruban Pranaragi pengkuh dennya nadhahi dadya ruket prang ariwut akathah ingkang pejah mungsuh rewang waneh kanin pangeran ing Madiun Mangkudipura.</poem> |<poem>Kabaranan baunira wong Kadhiri keh ngemasi kamuk balane Raden Mas santanane ibuneki pangamuke angungkih rempek sami ngamuk liwung kadya bantheng katawan</poem>}}<noinclude>{{rh|||287}}</noinclude> tn98bq6j1ekkj2urzxqo44v5zqgrvnp Kaca:Babad Prayud I.pdf/290 250 24421 77807 76994 2026-05-15T19:50:59Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77807 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::akeh kang samya carub kris ::wong Lumajang para mantrine sadasa. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Ngabehi Pandhawasura miwah Rangga Jajengpati lan Demang Trunawigata pangamuke ngobrak-abrik Pangran Madiun kanin wong Kadhiri ingkang lampus kabeh mancanagara karo belah kang ngemasi sami mundur dhadhal wong mancanagara.</poem> |<poem>Kadhiri sampun kancikan ing Pangeran Singasari tan ana manggawa puliya neing Pace kendele sami sagung mancanagari wong Sala Ngayogya kumpul sami ing gunemira para man tri pra dipati tur uninga mring Rangga Prawiraderja.</poem> |<poem>Wong Pranaraga tur priksa marang wadananireki Ki Tumenggung Bratawirya taksih wonten ing nagari Surakarta wus prapti caraka tengga prajeku tulung prang marang Daha sawadya macanagari wus kawon prang lan Pangeran Prabujaka.</poem> |<poem> Prang aneng Kali Andaka lor wetan nagari Kadhiri wong Batur kathah kang pejah Pangeran Madiun kanin ngungun duk amiyarsi</poem>}}<noinclude>{{rh|288}}</noinclude> ivdeh98g8kyausjcmcsyycygxtootuz Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/4 250 24422 77511 76995 2026-05-15T15:31:11Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77511 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|{{jawa|{{l|'''''꧋ꦧꦸꦧꦸꦏ꧉'''''}}}}}} {{jawa|꧋ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦠꦮꦶꦱ꧀ꦭꦩꦶꦏꦸꦭꦤꦠꦺꦩꦶꦉꦁꦠꦶꦠꦶꦪꦁꦱꦩꦶꦏꦔꦶꦁꦭꦶꦛꦸꦏ꧀ꦥꦤ꧀ꦢꦩꦼꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦕꦸꦭꦶꦏ꧈ ꦱꦫꦤꦮꦢꦺꦮꦕꦸꦕꦭ꧀ꦭꦶꦁꦩꦲꦺꦱꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃ꧈ ꦩꦶꦤꦺꦴꦁꦏꦱꦫꦤꦤꦶꦁꦏꦢꦶꦏ꧀ꦢꦪꦤ꧀꧈ꦔꦤ꧀ꦠꦺꦴꦱ꧀ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦏꦺꦔꦶꦁꦲꦥꦸꦱ꧀ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦮꦲꦸ꧈ꦲꦶꦁꦱꦱꦶꦱꦶꦂꦱꦤꦢꦾꦤ꧀ꦲꦶꦁꦯꦸꦫꦏꦂꦠꦲꦸꦒꦶ꧉ ꦮꦼꦏꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦥꦩꦸꦫꦶꦤꦤꦶꦁꦥꦫꦺꦤ꧀ꦠꦃ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦢꦺꦱꦫꦠ꧀ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦮꦲꦸꦠꦺꦠꦺꦭꦔꦥꦸꦱ꧀ꦱꦶ꧈ ꦭꦗꦼꦁꦏꦕꦼꦥꦼꦁꦏꦥꦠꦿꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦥꦶꦢꦤ꧉}} {{jawa|꧋ꦩꦶꦠꦸꦫꦸꦠ꧀ꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦠꦶꦪꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦫꦸꦤ꧀ꦠꦸꦩ꧀ꦧꦸꦱ꧀ꦮꦲꦸ꧈ ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦕꦼꦛꦧꦶꦭꦶꦃꦠꦶꦪꦁꦗꦮꦶꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦔꦺꦱ꧀ꦛꦶꦏꦢꦶꦒ꧀ꦗꦣꦤ꧀ꦱꦲꦥꦶꦠꦢꦺꦴꦱ꧀ꦝꦠꦼꦁꦱꦫꦤ꧈ ꦩꦶꦭꦒꦩ꧀ꦥꦶꦭ꧀ꦏꦧꦭꦶꦛꦸꦏ꧀꧈}} {{jawa|꧋ꦣꦸꦱꦤꦱꦏꦶꦁꦏꦸꦚ꧀ꦕꦸꦫꦤꦶꦁꦥꦺꦴꦕꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦧꦧꦤꦶꦁꦮꦂꦕꦸꦕꦭ꧀ꦩꦲꦺꦱꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃꦮꦲꦸ꧈ ꦱꦤꦢꦾꦤ꧀ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦲꦮꦶꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦁꦤꦒꦫꦶ꧈ ꦩꦼꦏ꧀ꦱꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦔꦸꦥꦢꦺꦴꦱ꧀꧈ ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦶꦁꦥꦸꦤꦶꦏꦲꦤꦸꦔꦸꦃꦲꦏꦼꦤ꧀ꦫꦶꦱ꧀ꦠꦏꦸꦭꦔꦸꦔꦶꦕꦔꦿꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦶꦤ꧈ ꦏꦢꦺꦴꦱ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦢꦶꦥꦸꦮꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦥꦶꦪꦤ꧀ꦢꦼꦭ꧀ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦠꦸꦮꦶꦤ꧀ꦩꦫꦠꦃꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦥꦔꦠꦩ꧀ꦲꦪꦩ꧀ꦩꦶꦁꦠꦶꦪꦁꦢꦸꦩꦸꦒꦶꦗꦩꦤ꧀ꦱꦥꦸꦤꦶꦏ꧉}} {{jawa|꧋ꦢꦸꦩꦢꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦥꦔꦺꦱ꧀ꦛꦶꦏꦸꦭꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦮꦲꦸꦏꦱꦼꦩ꧀ꦧꦢꦤ꧀ ꦱꦒꦼꦢ꧀ꦲꦁꦱꦭ꧀ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦧꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦤ꧀ꦩꦲꦺꦱꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃꦮꦲꦸ꧈ ꦲꦱ꧀ꦭꦶꦱꦏꦶꦁꦤꦒꦫꦶꦩꦛꦶ꧈ ꦲꦩꦸꦁꦏꦸꦕꦶꦮꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦮꦲꦸ}}<noinclude></noinclude> els4c1mki3t8dcpq7irw3szrlh3m7wq Kaca:Babad Prayud I.pdf/291 250 24424 77809 76997 2026-05-15T19:51:16Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77809 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Tumenggung Bratawiryeku ::lajeng atur uninga ::marang rekyana apatih ::Mangkupraja wus lajeng katur Sang Nata. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Dutane Prawiradeija kang marang Ngayogja prapti tur tupiksa kawonira kang abdi mancanagari Pangran Madiun kanin prajurite kathah lampus tuw.in mancanagara kang tumuta lawan sami karisakan prajurite kathah pejah.</poem> |<poem>Kanjeng Sultan paparentah kang badhe bantu ngajurit Ki Tumenggung Garwakandha Tumenggung Martalayeki lan binektan prajurit satus limalas Katanggung mantri jro salawe prah kang kinarya senapati pan angiras Den Rangga Prawiradeija.</poem> |<poem>Budhal saking ing Ngayugya mampir ing Surakarteki tinimbalan mring Sang Nata Sang Prabu Surakarteki serat kang paman aglis tinampen tinukpiksa wus gunuruh ingurmatan dinangu gunging prajurit kang babantu marang ing mancanagara.</poem> |<poem>Kalih ewu boten kirang kalebet wadya jro sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||289}}</noinclude> l1k6h6oa5z6zah61lebmf4nrmch0lf9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/292 250 24425 77810 76998 2026-05-15T19:51:42Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77810 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Katanggung satus limalas ::salawe mantri jro lami ::Jagabaya Saragni ::Sarageh Nirbayeku ::inggilr saweg punika ::kature Martalayeki ::duka dalem manawi bantu ing wuntat.<noinclude>{{rh|290}}</noinclude> t5jn4irj9y2ujdpezqukd7lelxbdhls Kaca:Babad Prayud I.pdf/293 250 24426 77811 76999 2026-05-15T19:52:08Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77811 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVII.{{gap}}PANGKUR''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Sang Nata alon ngandika Martalaya sira banjura dhingin ya sira Garwakandheku ingsun nuli marentah Martalaya Garwakandha nembah mundur sawedale saking pura lajeng budhale dhingini.</poem> |<poem>Sang Nata nimbali sigra mring kang raka Kangjeng Pangran Dipati Mangkunagara malebu saparaptanireng pura wusnya tata SangNata ngandika arum paran puniki Kakangmas sinten tinudhuh ngajurit.</poem> |<poem>Bantu mring mancanagara Paman Singasari umadeg baris Paman Sultan dutanipun amung kalih punggawa nging binaktan kathah prajurit jronipun kula ngriki makatena sayekti dereng kuwawi.</poem> |<poem>Wongkulajrogagajihan mesakaken sanget anglurug tebih taksih sanget nisthanipun kang raka aturira inggih leres pan Kyai Sultan puniku wonge jro kang binecikan dandanan sampun andadi.</poem> |<poem>Ing ngriki kadi punapa gih pun Mangkupraja kang darbe wajib nadyan jajerih puniku pun Paman Singosekar</poem>}}<noinclude>{{rh|||291}}</noinclude> guvvpmzaj93fnoihepxj9x444t12tk8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/294 250 24427 77812 77000 2026-05-15T19:52:29Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77812 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ujer ageng puniku namaning mungsuh ::ing warti umadeg raja ::kikitha ing Majapahit. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Dene ta Kiyai Sultan mung Man Rangga kinarya senapati kang pinrih mung tatenipun boten aliting lenggah ing batine pan boten alit puniku ipe dalem prawireng prang wus sasat sami lan patih</poem> |<poem>Sang Nata lega tyasira animbali marang rekyana patih lawan katri punggaweku Tumenggung Wiradigda Arungbinang lawan Jayanagareku wus sami prapteng ngajengan ngandika Sri Narapati.</poem> |<poem>Mangkupraja siyagaa ing ngayuda miwah punggawa katri lurugana paman prabu umadeg ing ngayuda Bratawirya tindhihana yudanipun muliya bareng wa sisan sandika rekyana patih.</poem> |<poem>Tur sembah rekyana patya kula wau taken punggawa kalih pun Martalaya pukulun mila pun Danureja boten kinen mangetan panglurugipun ngamungken rangga kewala binanton bupati kalih.</poem> |<poem>Mengsah kilen kang tinaha Raja Ngarab Maulana Mahribi</poem>}}<noinclude>{{rh|292}}</noinclude> e3zkeoq6uvvvuu4zo67ese8l4830gd9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/295 250 24429 77813 77002 2026-05-15T19:52:40Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77813 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ngirabaken barisipun ::badhe gecek Samarang ::wonten Pingit ing punika cucukipun ::mila punika tinaha ::bilih ambandakalani. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Pangeran gumujeng latah Mangkupraja aja watir ing wuri manawa angredha iku iya si Raja Ngarab Maulana Mahribi tandhinge ingsun ingsun ngaleh Raja Maktal Maulana Masrik marni.</poem> |<poem>Pra samya gumujeng suka ingkang raka lan kang rayi nerpati tuwin kang para tumenggung nyatur gunane mengsah yen ambedhil obat liwat mimis kantun sabalane Raja Ngarab pun Maulana Mahribi.</poem> |<poem> Wus medal sakingjro pura Mangkupraja miwah punggawa katri samakta siyaganipun lajeng denira budhal pan anungkak wong ngayuda lampahipun apan manggih ingantosan kacandhak ing Sokawati.</poem> |<poem> Anunggil pakuwonira budhalira sareng dados satunggil kang mangka panganjuripun Tumenggung Martalaya duk rong dina wonten serat praptanipun saking Nagari Semarang wus katur ing Sribupati </poem>}}<noinclude>{{rh|||293}}</noinclude> ggae429c3d7ryh8zpnwt18opxw5cgq5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/296 250 24430 77814 77003 2026-05-15T19:53:10Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77814 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Tinupiksa raosing tyas tur uninga nenggih Deler Ubristing wonten mengsah ageng rawuh saking dherekan wiyar Maulana Mahribi jujulukipun gawe bundhan tanpa raja arsa anggecek Semawis.</poem> |<poem>Punika inggih Sang Nata tutulunga anggitik saking wuri darapon kadho punika gene gitik Semarang ing Ngayogja barisipun sampun methuk inggih tumenggung titiga rongatus prajurit jro neki</poem> |<poem>Surat sampun ingangsulan paparintah wau Sri Narapati Tumenggung Mangkuyudeku bedhol samatrinira wadana jro kaparak kiwa tinuduh Tumenggung Puspakusuma bedhol sakaparakneki.</poem> |<poem> Tumenggung Jayanagara pan kacandhak ing Keping Saoragi pinundhut mangilenipun amukul Raja Ngarab sigra wangsul samantri-kaliwonipun Tumenggung Jayanagara sapraptanira nagari.</poem> |<poem> Linajengken budhalira miwah katri lurah lebet tinuding Demang Wengker kang pangayun lawan Mahesakatang lan Mahesabobothing Saragenipun</poem>}}<noinclude>{{rh|294}}</noinclude> n1x9tfcyqqq3rwiknr7msa5281nyne9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/297 250 24431 77815 77005 2026-05-15T19:53:26Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77815 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kalihatus salawe prah ::prajurit jro kang lumaris. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Wus budhal saking nagara pra tumenggung katri lurah jro katri lampahe jog Kali Gandhu ing Ngandong kilenira wau mengsah paliringan lampahipun sampun anjog ing Bahrawa gegér tan wonten nadhahi.</poem> |<poem>Para mantri ing Bahrawa palayune lajeng dhateng Samawis wus katur ing Deler Ubrus mengsah ngancik Bahrawa tan kawawa nadhahana yudanipun Deler animbali sigra prapta Dipati Samawis.</poem> |<poem>Heh bapa age kongkona atutulung mating Bahrawa nenggih Panembahan Kowak iku wus ana ing Bahrawa para mantri Samarang kerigen iku miwah mantri urut dalan padha papagen ngajurit.</poem> |<poem>Sigra bendhe Ki Dipatya papatihe kang kinen anindhihi Puspadiwirya ranipun budhal saking Samarang binaktanan wadya Bugis teiungpuluh wonten nematus gagaman awor dharat lan turanggi.</poem> |<poem>Kadalon ing lampahira kendel loji ing Ungaran sawengi wau ta ingkang winuwus </poem>}}<noinclude>{{rh|||295}}</noinclude> sfpb6o43n57cp6cklpal4xgwbkzr6ph Kaca:Babad Prayud I.pdf/298 250 24433 77817 77008 2026-05-15T19:53:46Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77817 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Ki Panembahan Kowak ::kumpul dalu lan para tumenggungipun ::panembahan angandika ::Ngarab Mulana Mahribi. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Lah ta sanak-sanakingwang wong Semarang wartane ametoni Patih Semarang tinuduh ingkang ngirid gagaman lah kapriye pranga ing besuk-esuk karepe nak-putuningwang apa rame apa sepi.</poem> |<poem>Ing kene lamun rameya ing Semarang yudane dadi sepi yen sepiya ing prang iku Semarang temah nistha aturipun wau kang para tumenggung tuwan darnel sawatara sampun rame sampun sepi.</poem> |<poem>Amung inggih adamela apratandha aprang sadinten benjirig iku ta wus padha rembug yen mengkene kewala saur paksi sagunging para tumenggung iya sun turuti padha sukane nak-putu marni.</poem> |<poem>Ngutus panakawanira sira mubeng karo si Mayeng benjing padha anyacahna mungsuh kang becik lan kang ala karo padha gowaa panjalin iku ingkang sakilan satebah masthi sira tan kaeksi.</poem> |<poem>Dalu-dalu nunten kesah</poem>}}<noinclude>{{rh|296}}</noinclude> t1fvxwjzlm4120mnapih2orl5w81rgn Kaca:Babad Prayud I.pdf/327 250 24434 77630 77009 2026-05-15T18:31:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77630 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Edanala miwah sira Alaedan tuwin pun Edanbaring lawane Edanbuy an mung amuk lawan pedhang wong papat angobrak-abrik Kapurancangnya wong Demak den pedhangi.</poem> |<poem>Tinumbakan binedhilan durung pasah dangu ungkih-ingungkih prajurit ing Demak yen aja anganggey a Kapurancang tiwas pasthi akathah pejah nuju prayitna sami.</poem> |<poem>Ngalih dhepa Kapurancang wolung dasa wiyar tebanereki wau Braj ayuda Brajapati umangsah wong Demak pengkuh nandhahi let Kapurancang tumbak-tinumbak sami.</poem> |<poem>Wadya Demak nematus pareng umangsah wong papat kang den incih ginebug senjata ngathipul tinumbakan talempak Palembang aglis wonten pitulas kinarya anumbaki.</poem> |<poem>Lempe-lempe wus ajur rasukanira wong papat sareng mati tumenggunge bubar tumenggung Brajamuka lan Tumenggung Brajapati</poem>}}<noinclude>{{rh|||325}}</noinclude> 775c2l44de44xmh7acce1d06aeihs4i Kaca:Babad Prayud I.pdf/299 250 24435 77820 77010 2026-05-15T19:54:24Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77820 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::mubeng Mayeng mring enggene mungsuh neki ::estu pituduhe ampuh ::manjing barising mengsah ::wong atusan ora padha sapa aruh ::tegese nora katingal ::dhuteng Mulana Mahribi. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Ing dalu tan kawuwusa enjing budhal gagaman ing Samawis rame muni tamburipun bendhe samarga-marga wadya Bugis samarga rame bekilung prapteng dhusun Perampelan sigra dennya nata baris.</poem> |<poem>Wong Bugis kang munggeng dhadha kanthi lawan papatih ing Samawis dene ta pangawatipun para mantri sedaya panembahaan neng Ngasem pakuwonipun sakilene Par amp elan wus siyaga ing ajurit.</poem> |<poem>Panembahan aparentah Raja Ngarab Maulana Mahribi kabeh ajana kang metu teka sajroning desa pan amunga wong karobelah kang metu kang bandera paremudha mung iku sun gawa jurit.</poem> |<poem>Padha suraka kewala sigra mangsah mung bandera sasupit Pareanem munggeng ngayun mungsuh pra samya giyak panembahan mung teteken ecisipun ameng selarie bandera mungsuh tengah kang den incik.</poem>}}<noinclude>{{rh|||297}}</noinclude> kkx9kv3zksipc37m5kx6idisbtw442w Kaca:Babad Prayud I.pdf/300 250 24436 78008 77011 2026-05-16T02:49:23Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78008 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Ing ngedrel ping rong rambahan wadya bugis mimise meksih kari ting kalethek aneng wuluh mantri siji tinumbak mring Ki Mayeng tiba saking kudanipun kang kathah kekes rog-rogan giris lumayu angisis.</poem> |<poem>Cakradiwangsa Pamalang ingkang mati ngajang amung satunggil kang katawur mawur-mawur akeh kacandhak pejah. keh kajarah ana kacandhak teluk anjarah sami babandhang bala Mulana Mabribi.</poem> |<poem>Ki Patih Puspadiwirya palayune ngempet marang Semawis lawan wong Bugis sapuluh praptaneng ing Semarang geger ater wadya lit pating bilulung opyak mungsuh badhe gecak marang Nagari Semawis.</poem> |<poem>Gegere datan karuhan langkung kaku tyasing Deler Ubristing manggil Ki Dipati gupuh e bapak iki paran geger gila wong apamungsuhe iku pan dudu Mangkunagara miwah dudu Mangkuburrii.</poem> |<poem>Iku wong duwe negara iki mungsuh pra setan tahiyoli apa guna bole takut sira dhewe mapag si Kapiían Pitlar sarekgunderipun </poem>}}<noinclude>{{rh|298}}</noinclude> 5wxyswt5l0llqribqeazqgdy7oskn7p Kaca:Babad Prayud I.pdf/301 250 24437 78009 77012 2026-05-16T02:49:36Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78009 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sawidak nuli mangkata ::Bugis si Kapitan Amin. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Kasusu wonten caraka serat saking Ungaran ingkang prapti tur pirsa lamun kinepung baiane wong karaman anggigila nanging gene rajanipun neng rereb gogijk: sandhangan dhusun kang den pakuwoni.</poem> |<poem>Amung baiane kewala anglenceri kanan kerihging loji. datan purun sawadyeku nenggel loji Ungaran mung parapat inggih kiwa tengenipun ing'mangke asalin sedya sedyanipun angunduri.</poem>}}<noinclude>{rh|||299}}</noinclude> ibbp4ru5b0vpbzzmroekil4ecj692wx 78010 78009 2026-05-16T02:49:51Z Khusna Safira 1759 78010 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sawidak nuli mangkata ::Bugis si Kapitan Amin. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Kasusu wonten caraka serat saking Ungaran ingkang prapti tur pirsa lamun kinepung baiane wong karaman anggigila nanging gene rajanipun neng rereb gogijk: sandhangan dhusun kang den pakuwoni.</poem> |<poem>Amung baiane kewala anglenceri kanan kerihging loji. datan purun sawadyeku nenggel loji Ungaran mung parapat inggih kiwa tengenipun ing'mangke asalin sedya sedyanipun angunduri.</poem>}}<noinclude>{Prh|||299}}</noinclude> kvz5428x6njjztyaxy5aa3o41ce25bg 78011 78010 2026-05-16T02:50:02Z Khusna Safira 1759 78011 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sawidak nuli mangkata ::Bugis si Kapitan Amin. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Kasusu wonten caraka serat saking Ungaran ingkang prapti tur pirsa lamun kinepung baiane wong karaman anggigila nanging gene rajanipun neng rereb gogijk: sandhangan dhusun kang den pakuwoni.</poem> |<poem>Amung baiane kewala anglenceri kanan kerihging loji. datan purun sawadyeku nenggel loji Ungaran mung parapat inggih kiwa tengenipun ing'mangke asalin sedya sedyanipun angunduri.</poem>}}<noinclude>{{rh|||299}}</noinclude> 78qxqfwine9eh3lj2ixjkjq9aov805s Kaca:Babad Prayud I.pdf/328 250 24438 77675 77013 2026-05-15T18:55:57Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77675 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::angungsi samya :::mring panembahaneki. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Tan antara prahara gora-ruhara andres udan wor angin kendel kang ayuda sami ngaup sadaya neng padesan pinggir margi gora gerotan keh sol wreksa kabalik.</poem> |<poem>Panembahan maksih wonten pakebonan kathah wismanireki wady a kinen jenang jenang lemu kewala wonten sapuluh kuwali kang jinampanan dinunken mg prajurit.</poem> |<poem>Jawahira sadhuwet-dhuwet gengira deres kapati-pati angine puyengan lir den sok ingkang jawah gumuruh anggigirisi rame wurahan pancawora ngekesi.</poem> |<poem>Mengko ika mangsahe nora katara àna ing ngarsa marni wau kawarnaa wong Demak wong Japara samy a kaku tyasireki danguning jawah nunten wonten kang eling.</poem> |<poem>Lamun dhuwung Ki Kebyuk wasiyat Demak duwe kasekten dhingin nerangaken udan</poem>}}<noinclude>{{rh|326}}</noinclude> 7kyqnirtpxgb86basflwfgzzjsl5s1l Kaca:Babad Prayud I.pdf/302 250 24440 78012 77016 2026-05-16T02:50:18Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78012 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVIII. DURMA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Gene arsa anggecak loji Semarang wande medal ing ngriki tinitik kang marga angel ing Paterongan mila meda! Lepentangi panganjur mangkat dhateng ing Lepentangi.</poem> |<poem>Serat titi Deler asru wuwusira paran bapak Dipati mungsuh ngalih dalan tan metu Peterongan kudu metu Lepentangi lah lakunira bapak metu ing ngendi.</poem> |<poem>Anauri wau Dipati Semarang Tuwan manawi gendhing gelare wong edan amrih loke kewala kula inggih medal margi ageng kewala yen wus tetela gampil.</poem> |<poem>Atengara sigra Dipati Samarang tambur amor saruni kendhang gong barungan kinerig wong Samarang telubelah Bugis Bali nematus Jawa budhal saking nagari.</poem> |<poem>Pan gumuruh berag lampahing gagaman asrep bala Semawis ana kang angucap mungsuh gégecek desa</poem>}}<noinclude>{{rh|300}}</noinclude> 608cfrrajl69km6nd0ugfa1dyiqdpip 78013 78012 2026-05-16T02:50:34Z Khusna Safira 1759 78013 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVIII.{{gap}}DURMA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Gene arsa anggecak loji Semarang wande medal ing ngriki tinitik kang marga angel ing Paterongan mila meda! Lepentangi panganjur mangkat dhateng ing Lepentangi.</poem> |<poem>Serat titi Deler asru wuwusira paran bapak Dipati mungsuh ngalih dalan tan metu Peterongan kudu metu Lepentangi lah lakunira bapak metu ing ngendi.</poem> |<poem>Anauri wau Dipati Semarang Tuwan manawi gendhing gelare wong edan amrih loke kewala kula inggih medal margi ageng kewala yen wus tetela gampil.</poem> |<poem>Atengara sigra Dipati Samarang tambur amor saruni kendhang gong barungan kinerig wong Samarang telubelah Bugis Bali nematus Jawa budhal saking nagari.</poem> |<poem>Pan gumuruh berag lampahing gagaman asrep bala Semawis ana kang angucap mungsuh gégecek desa</poem>}}<noinclude>{{rh|300}}</noinclude> 4aa2gyaocwfvg9cyvgmvzevk3x0okbi Kaca:Babad Prayud I.pdf/329 250 24441 77676 77018 2026-05-15T18:56:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77676 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::keh parek karsaning Hiyang :::Tumenggung Citrasomangling :::heh wong ing Demak :::Kebyuk betuwah nguni. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=44 |<poem>Jeng Pangeran Tumenggung Gadamestaka karuhan taletneki duk Prang Surabaya ngiring Ki Cakrajaya kabutuh jawah tinarik ilang kang jawah kagyat wong Demak eling.</poem> |<poem>Sigra Raden Tumenggung Demak gadgada Ki Kebyuk wus tinarik siniweng ngawiyat langit padhang-galinthang Sang Dipaningrat mranani sigra tinata wau sagung prajurit.</poem> |<poem>Ki tumenggung Demak kang dadya pangawat kaleran aneng kering kidul aneng kanan Tumenggung Citrasoma ing Japara adhadhani sigra tengara umangsah rempeg ririh.</poem> |<poem>Panembahan Kowak wus anata bala pangawat kang ngenggeni tengen Natayuda kiwane Mangkuyuda Panembahan adhadhani sigra tengara bedhil kendhang gong beri.</poem> |<poem>Sigra campuh pangawat sami pangawat</poem>}}<noinclude>{{rh|||327}}</noinclude> r39yuep4o7lq8d3jyglmmqv41yd5f1w Kaca:Babad Prayud I.pdf/303 250 24442 78014 77019 2026-05-16T02:50:44Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78014 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::yen Ki Dipati ngawaki ::pasthi yen bebas ::kere mungsuh priyayi. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Bedhil iki kabeh patangtus sawidak tumbak patangtus malih punjul wolung dasa iki uwos kewala tan ana anggawa menir pasthi yen menang bandara Ki Dipati.</poem> |<poem>Prapteng Pudhakpayung wau lampahira wonten atur udani lamun Panembahan Sang Raja Ngarab Kowak kebut budhalipun wingi badhe anggecak inggih ing Lepentangi.</poem> |<poem>Wus tatela Ki Dipati menggok sigra kang maring Lepentangi kuneng kang winarna ratuning wong karaman wus anjog ing Lepentangi pinetuk ing prang Bupati Lepentangi.</poem> |<poem>Anadhahi sekedhap tinunjang dhahal kekes manahe miris binujung kewala kadya ambereg sangsam giras kacandhak keh mati pan sampun bedhah Nagari Lepentangi.</poem> |<poem>Wus ngadhaten Panembahaan Raja Ngarab Maulana Mahribi</poem>}}<noinclude>{{rh|||301}}</noinclude> 1bt0k6t4m7j5n2wufmrkix9u1vcxmws Kaca:Babad Prayud I.pdf/304 250 24443 78016 77020 2026-05-16T02:50:54Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78016 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sigia paparentah ::kinen bedhah ing Kendhal ::Tumenggung Mangkuyudeki ::lan Natayuda ::budhal kang rong Bupati. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem> Samantrine gumuruh asurak-surak wonten dhomas prajurit nanging wong arahan polahe calunthangan kang darbe Kendhal miyarsi yen linurugan mawur miris anggendring.</poem> |<poem>Bupatine Tumenggung Sumanagara ngungsi dhateng Samawis medal ing baita pranakaning samarang Tumenggung Mangkuyudeki sami jajarah nulak mring Lepentangi.</poem> |<poem>Lampahira nenggih Dipati Semarang sipeng marga sawengi dhusun ing Cangkiran enjang denira budhal ing margi agung den jogi wus prapteng Mangkang ngangseg lajeng abaris.</poem> |<poem> Baris tata kumpeni kang munggeng dhadha Bugis ing kanan-kering nunggil mantri samya sira Kapitan Pitlar lanas kedah marepeki maring nagara Ki Dipati nayuti.</poem>}}<noinclude>{{rh|302}}</noinclude> cx1wzf5iy753khs6g1ana8eu4l3e3ru Kaca:Babad Prayud I.pdf/305 250 24444 78017 77021 2026-05-16T02:51:04Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78017 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Boten tuwan ángel dika paranana pengkuh pagere bumi batur dadi lesan mungsuh dika daladak sayekti mangke metoni lamun miyarsa tuwan wonten ing ngriki.</poem> |<poem>Kawuwusa Panembahan Raja Ngarab Maulana Mahribi sampun amiyarsa kalamun wong Samarang gagamane anekami sigra tengara bendhe beri tinitir.</poem> |<poem> Kendhang gonge wadyanya berag wurahan wus antuk buru sami tan ana tinaha kedah angrebat mengsah solahe arebut dhingin gumrah wurahan surak pating barekik.</poem> |<poem> Panembahan Kowak sira Raja Ngarab Maulana Mahribi dupi katon mengsah sigra nenga ngawiyat meneas-meneos kirag-kirig mendhung sekala limengan ngawiyati.</poem> |<poem>Pareng rampak nempuh nunjang balanira Maulana Mahribi para dipatinya sapara mantrinira kabeh ngawaki ngajurit</poem>}}<noinclude>{{rh|||303}}</noinclude> f952wjqkeo8svj8vktpta4fprsnk86d 78019 78017 2026-05-16T02:51:29Z Khusna Safira 1759 78019 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Boten tuwan ángel dika paranana pengkuh pagere bumi batur dadi lesan mungsuh dika daladak sayekti mangke metoni lamun miyarsa tuwan wonten ing ngriki.</poem> |<poem>Kawuwusa Panembahan Raja Ngarab Maulana Mahribi sampun amiyarsa kalamun wong Samarang gagamane anekami sigra tengara bendhe beri tinitir.</poem> |<poem>Kendhang gonge wadyanya berag wurahan wus antuk buru sami tan ana tinaha .kedah angrebat mengsah solahe arebut dhingin gumrah wurahan surak pating barekik.</poem> |<poem> Panembahan Kowak sira Raja Ngarab Maulana Mahribi dupi katon mengsah sigra nenga ngawiyat meneas-meneos kirag-kirig mendhung sekala limengan ngawiyati.</poem> |<poem>Pareng rampak nempuh nunjang balanira Maulana Mahribi para dipatinya sapara mantrinira kabeh ngawaki ngajurit</poem>}}<noinclude>{{rh|||303}}</noinclude> 8kbglavdpz456hbkcn4f6p80s8oxh69 Kaca:Babad Prayud I.pdf/306 250 24445 78020 77022 2026-05-16T02:51:48Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78020 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sang Panembahan ::Kowak nindhihi baris. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Kang prajurit Semarang sampun prayitna mapag lawan kumpeni gumrudug drelira tambur beri wurahan awor lan swaraning bedhil surak gumerah kukuk pating barekik.</poem> |<poem>Caruk ruket Kapitan Pitlar agagah ngimpun bala Kumpeni tuwin Ki Dipatya angimpun prajuritnya tan kandheg dreling kumpeni meksa tinunjang kumroyok anumbuki.</poem> |<poem>Mangsah Ki Dipati Suradimanggala mirut balane Bugis keh Bugis kayapa sira rep lumayuwa mungsuh moncek sira iki dudu manungsa pagene padha miris</poem> |<poem>Dene sira padha menangi prang Gondhang tur amungsuh Mangkubumi lan Mangkunagara ika padha kusuma nora mengkene sireki Bugis miyarsa wangsul angamuk sami.</poem> |<poem>Carub-awor kompeni wus akeh pejah dennya pangedrelneki obate kewala</poem>}}<noinclude>{{rh|304}}</noinclude> 8jcaqrflxt25fvqi28glaamdxbexb3f Kaca:Babad Prayud I.pdf/307 250 24446 78021 77023 2026-05-16T02:52:05Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78021 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kang metu muni samya ::mimise pra samya keri ::Kapitan Pitlar ::ngamuk pedhang tinarik {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Ngobrak-abrik Pitlar pangamuke nengah mungsuh keh kang ngemasi kang kanin katimpal dene pedhange Pitlar dipati tutulung aglis mestul sapisan sinawataken aglis.</poem> |<poem>Sigra nyandhak lawung Suradimanggala . Samarang Adipati nulungi Walanda bingung datan kayoman Panembahan Kowak anjrit prahara prapta lindhu maruta tarik.</poem> |<poem>Pancawura udan anginnya membyungan mules lesus mawerit bingung kang ngayuda ulengan ing paprangan ting karompyang caruk cundrik Kapitan Pitlar sayah pangamukeki.</poem> |<poem>Kinarubut Kapitan Pitlar wus pejah dregundere keh mati telung puluh sanga Bugis Bali balasah sakarine wong kompeni salikur gesang lumayu niba-tangi.</poem> |<poem>Ki Dipati Semarang kinandhang-kandhang</poem>}}<noinclude>{{rh|||305}}</noinclude> c8t7qgr430zhs3xs29jw6048mt242kk Kaca:Babad Prayud I.pdf/330 250 24448 77677 77025 2026-05-15T18:56:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77677 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::kang sampanane jawi :::wau Panembahan :::maksih anengjro bata :::gumuruh tengaraneki :::datan katingal :::campuh pangawat keri. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=49 |<poem>Ingkang tengen sareng wau rebut papan rame bedhil-binedhi sami wanterira lajeng atarung tumbak caruk rek ungkih-ungungkih wus kathah pejah gumrah sambating kanin.</poem> |<poem>Mangkuyuda mempeng ing kawanenira durung tek sektineki witing mandraguna Jeng gusti Panembahan ing Demak pamempengneki telike kena wus camah sektineki.</poem> |<poem>Pangran Adilangu ngasoraken ika kemate si penyakit mila kang ayuda samy a met tangguhira wor liweran ing ajurit uleng-ulengan akathah kang caruk kris.</poem> |<poem>Sampun apit akathah prajurit Demak ing ngurugan papati kathah ingkang pejah bosah-basih belasah bupati sami ngawaki karoban lawan Mangkuyuda ngemasi.</poem> }}<noinclude>{{rh|328}}</noinclude> irt77187qsu1od368lbmj6l8fanyktr Kaca:Babad Prayud I.pdf/308 250 24449 78022 77026 2026-05-16T02:52:23Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78022 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kedah ngamuk mangungkih ::samya tinangisan ::marang sentananira ::wong Bugise ingkang kari ::amung pitulas ::angayap kanan-kering. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Pan sadaya maksih angliga kalewang pedhang kalawan cundrik sami amekanjar wau Sang Adipatya Suradimanggala nangis kudu ngamuka sasambat wirang isin.</poem> |<poem>Sun rebute bangkene Kapitan Pittar nadyan aku "ngemasi asab ing nagara sentana para putra anangis anggegendholi wau kang mengsah pinjer ababandhangi.</poem> |<poem>Samya ngolok-alik jisiming walanda katungkul jajarahi dadya antuk tebah wau Sang Adipatiya miwah kasaput ing latri kasendhu jawah kawit prang pukul kalih.</poem> |<poem>Senen Legi kaping tiganira Sawal duk aprang Lepentangi kala tumpesira enggih Kapitan Pitlar Tanu Liman Gana Jalmi sangkalanira</poem>}}<noinclude>{{rh|306}}</noinclude> se8vj91wb27eih45b5u31veekkvafm8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/309 250 24450 78023 77027 2026-05-16T02:52:37Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78023 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::jroning warsa Be nenggih. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Undhang bubar Panembahan Raja Ngarab Maulana Mahribi sarwi kinethokan sirah Walanda pejah pinanjer neng Lepentangi arerentengan dhandhang sami ngalupi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||307}}</noinclude> 8py5urxb6wxw9i5fuq4sqnkhlqh2psy Kaca:Babad Prayud I.pdf/331 250 24451 77678 77028 2026-05-15T18:57:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77678 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53 |<poem>Samijeleh sambat-sambat panembahan panembahan miyarsi sigra berinira bendhe tinitir medal saking jro bata gumriwis asurak-surak gumerget dhagdhag malih.</poem> |<poem>Kang wus bubar kaplajar yen panembahan mangsah keh bah malih angidak anunjang kuwur prajurit Demak wong Japara katut sami akeh kang dhadhal kalulun kanan-kering.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Citrasoma kaesisan kantun nenem galintir anak kaponakan lan mantu kaponakan kapitu Citrasomeki wong panembahan kathah'bubujung sami.</poem> |<poem>Dadya kantun nembelas ingkang angayap panembahan marpeki anudingi mojar heh wong pasisir sapa aranira dene kari lumayu sira apa teluk sireki.</poem> |<poem>Anauri sungal wau Citrasoma Citrasoma sun iki Tumenggung Japara pan ingsun tatanduran teka ing Pajang matawis</poem>}}<noinclude>{{rh|||329}}</noinclude> nj6jrf69aej5luixbed9t20le5af5qq Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/5 250 24452 77513 77029 2026-05-15T15:31:32Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77513 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||3|}}</noinclude>{{jawa|ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦺꦴꦒꦺꦴꦏ꧀ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦩꦮꦶꦥꦸꦂꦮꦏꦠꦸꦮꦶꦤ꧀ꦱꦫꦱꦶꦭꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦩꦭꦶꦃꦠꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁꦲꦹꦏꦫꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦫꦥꦱꦶꦱꦶꦂꦗꦩꦤ꧀ꦏꦶꦤ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦭꦲꦁꦒꦼꦥ꧀ꦏꦁꦒꦺꦗꦩꦤ꧀ꦱꦥꦸꦤꦶꦏꦠꦸꦩꦿꦥ꧀ꦥꦶꦝꦸꦤ꧀ꦲꦶꦁꦯꦸꦫꦏꦂꦠꦲꦔꦺꦴꦣꦼꦁꦔꦏꦼꦤ꧀꧈ ꦥꦿꦩꦶꦭꦱꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦸꦭꦱꦶꦤꦲꦸ(ꦮꦱ꧀ꦥꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀) ꦭꦗꦼꦁꦏꦸꦭꦣꦥꦸꦏ꧀ꦕꦫꦯꦸꦫꦏꦂꦠ꧈ ꦠꦼ ꦩ꧀ꦧꦁꦔꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦫꦸꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦏꦼꦤ꧀ꦲꦸꦫꦸꦠ꧀ꦠꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦩꦸꦫꦶꦃꦢꦩꦼꦭ꧀ꦱꦼꦁꦱꦼꦩ꧀ꦱꦲꦝꦩꦁꦔꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀꧈ ꦲꦺꦮꦢꦺꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦱꦫꦺꦃꦤꦶꦁꦏꦸꦭꦫꦸꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦤꦺꦱ꧀ꦥꦫꦩꦺꦁꦏꦮꦶ꧈ ꦱꦲꦩꦂꦢꦮꦺꦁꦏꦏꦮꦶꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦃꦲꦩꦸꦁꦱꦏꦢꦂꦫꦶꦁꦔꦕꦸꦧ꧀ꦭꦸꦏ꧀ꦏꦺꦩꦮꦺꦴꦤ꧀ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦭꦁꦏꦸꦁꦗꦩꦭꦂꦱꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦒꦶꦏꦥꦉꦁꦔꦲꦚ꧀ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦥꦫꦶꦁꦲꦏ꧀ꦱꦩ꧈ ꦩꦤꦮꦏꦫꦲꦺꦴꦱ꧀ꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦕꦸꦮꦲꦶꦁꦥꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀꧈}} {{jawa|꧋ꦯꦸꦫꦏꦂꦠ ꧈ 3꧇ 7꧇ 1930꧉}} {{r|{{jawa|'''''ꦯꦸꦩꦲꦠ꧀ꦩꦏ꧉'''''}}}}<noinclude></noinclude> c5ywgwa0ywjq0v5qm4l45j5kdstf4rf Kaca:Babad Prayud I.pdf/310 250 24453 78024 77030 2026-05-16T02:52:54Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78024 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXIX.{{gap}}DHANDHANGGULA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Yata wau dalu-dalu sami Sang Dipati Suradimanggala mulih lawan sakarine balane ingkang lampus tuwin ingkang kompeni putih selikur kang kaplajar neng marga angumpul lan sira Ki Adipatya ting geluyur peteng angin maksih riris samarga dharodhogan.</poem> |<poem>Langkung kekes tyase Sang Dipati Ki Dipati Suradimanggala udrasa jro werdayane paranta wekasipun yen dawaa lalakon iki mungsuh trah sutengraja tan mengkene tengsun praptanira ing Samarang pan ing pukul satengah rolas mring loji sadaya jujugira.</poem> |<poem>Deler langkung pangungunireki kang saking prang sami karusakan dipati myang kompenine tinanggap tuturipun Ki Dipati tuwin kompeni patine si Kapitan Pitlar edrelipun mimis pan kari sadaya ingkang ngamuk mung prange wong Bugis Bali kang sami tarung tumbak.</poem> |<poem>Agung goyang kapalanireki Deler Ubresting kalangkung merang</poem>}}<noinclude>{{rh|308}}</noinclude> c780v4wir7mmern5loupnjmf6v2v7sr Kaca:Babad Prayud I.pdf/311 250 24454 78025 77031 2026-05-16T02:53:23Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78025 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kapati-pati erame ::Bapàk dulu dahulu ::apa ada saparti ini ::saur Ki Dipatya ::gih wonten karuhun ::nanging aprang bobocahan ::wong Karaman dereng prang lawan priyayi ::miwah yen kumpeniya. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=3 |<poem>Punika tan saged amestani adat keraman lamun yuda padha wong desa menange lamun winetoniku ing prayayi nuli anggendring kacandhak kinethokan Deler asru muwus iki kaya priye Bapak anauri sampun dika aprang dhingin tuwan inggih ngantiya.</poem> |<poem>Pangran Dilangu dika aturi dika bobot mung puniku Tuwan ing Tanah Jawa adate kang mandi ampuh-ampuh sima dening luhuring uni Deler lon wuwusira wingi kula sampun inggih ngaturi Pangeran lan angerig Jepara Demak lan Pathi praptaa saha baia.</poem> |<poem>Kadi benjing-enjing praptaneki Ki Dipati wus eca tyasira pamit medal mring wismane Nagri Semarang kuwur ing kawone Ki Adipati pejah Kapitan Pitlar</poem>}}<noinclude>{{rh|||309}}</noinclude> lfa1o8x98eeseu0u04fbhre4a2yzqt9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/332 250 24455 77679 77036 2026-05-15T18:57:46Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77679 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::pan dudu ingwang :::taliti ing pasisir. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=58 |<poem>Dudu watak yen anak Pajang Mataram tinggal mungsuhireki acolong gelanggang tinggal mungsuh adengan dudu wong Pajang Matawis amilih pejah lumuh kocap ing bumi.</poem> |<poem>Nora tiru wong Pasisir watakingwang Kowak duka tan sipi sigra nyandhak watang Citrasoma tinumbak ginebang lawunge kontit gebang-ginebang Citrasoma nglarihi.</poem> |<poem>Bahu tengen nerus angkeb angkebira mantu ponakan aglis anumbak piiingan bingung Sang Raja Ngarab anake dhewe nututi anumbak sirah panembahan ngranuhi.</poem> |<poem>Dadagangi bature kari nembelas ngamuk gusti ngemasi wau amukira wong nembelas tan akas pra samya apes ing jurit nembelas pisan mati tanpa nggudhili.</poem> |<poem>Panembahan Raja Ngarab wus tinigas mawur baiane ngisis kanan-kering giras</poem> }}<noinclude>{{rh|330}}</noinclude> 2ydmx8651e9494o6a5zqmwoztbojn5m Kaca:Babad Prayud I.pdf/312 250 24456 78027 77033 2026-05-16T02:53:36Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78027 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::estu wiating mungsuh ::wong cilik wayang-wuyungan ::geger oter kadya gabah den interi ::bingunge wong Samarang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=8 |<poem>Dalu-dalu momot beras neki mring baita Walanda mardika miwah sudagar ngindhunge kuneng malih winuwus panembahan kang menang jurit agung dennya kasukan aneng Kaliwungu Nagri Kendhal tinaneman Ki Tumenggung Cakrawijaya wus linggih aneng Nagari Kendhal.</poem> |<poem>Wonten putrì kaselongan nenggih putrinira Pangran Tepasana nenggih kang dadya bojone Puspadirja rumuhun mantri anom ing Batang nenggih papatutan titiga kalih ingkang jalu sapejahe Puspadirja dadi randha tumut ing Susunan Alit Sunan Kuning binucal.</poem> |<poem>Maring Selong neng Selong anunggil dadya panggih lan Pangran Pancuran Pangran Tirtakusumane lami boten susunu amung anakira kang lami patutan Puspadirja kang urip tetelu mangkana Pangran Pancuran neng Samarang lami malah sedaneki kandha aneng samarang.</poem>}}<noinclude>{{rh|310}}</noinclude> prjutegh7a4qmhfb2pbrgkgtjvzg6gw Kaca:Babad Prayud I.pdf/313 250 24458 78028 77035 2026-05-16T02:53:49Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78028 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Pareng sajan maring Lepentangi wau Raden Ayu Puspadirja Den Ayu Pancuran mangke kapergok ana mungsuh Raden Ayu nedya manggihi mring Panembahan Kowak amrih mayaripun denira dadi boyongan anakira kang nama Den Bagus Benthing patutan Puspadirja.</poem> |<poem>Ingaturken pasuwitaneki marang Panembahan Raja Ngarab Maulana Mahribine ing nangggep pinet sunu wau sira Den Bagus Benthing sinung nama Den Arya Jayapuspiteku ibune adina-dina jajagongan akathah ingkang pinikir sami omong-omongan.</poem> |<poem>Asinjang lurik patani wilis asemekan sindur kasa kembang respati ijo tepine lagya wayah mamantu manis ulat ragi prak ati maksih angagem sengkang asedhep tur patut lawan perawan wong jaba pesthi lamun nenggih ngresepaken putri sayekti dudu timbang.</poem> |<poem> Raja Ngarab Mulana Mahribi lamun Raden Ayu papamitan mantuk marang pakuwone Panembahan amujung</poem>}}<noinclude>{{rh|||311}}</noinclude> 2xcum196qg022gml77g0z9smhj9hbet Kaca:Babad Prayud I.pdf/314 250 24459 78029 77037 2026-05-16T02:54:02Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78029 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sarwi nekem butunireki ::kapencut pan kasmaran ::marang Raden Ayu ::ewuh ing panembungira ::dereng wonten kang kinarya aling-aling ::marga andhaupena. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Tumenggunge kakalih kang pinrih Mangkuyuda lawan Natayuda pinrih amrasadu bae malah kadiya ngipuk kadya karyanira pribadi saben dina pinaran pamondhokanipun dhasar Raden Ayu pasang pan wus mateng sadu aja ngetarani lamun angrasanana.</poem> |<poem>Wus den rimuk mring tumenggung kalih sarwa lega sampun panggih pisan langkung ageng bawahane mragat kebo nem likur wedhus seket bebek lan pitik patanga tus sadaya deniya nguyu-uyu ing salendro pitung dina wus apanggih patang dina patang bengi ngekeb neng pagulingan.</poem> |<poem>Sajangkepe gangsal dinten mijil sarwi lendhotan ing garwanira Den Ayu adu gigire kang tinimbahan wau ingkang putra Den Bagus Benthing kang nama Raden Arya Jayapuspiteku dereng wonten tinimbalan</poem>}}<noinclude>{{rh|312}}</noinclude> 31xu6hqnpwfqpzpz7ogkn0n5wnnk6bg Kaca:Babad Prayud I.pdf/315 250 24460 78031 77040 2026-05-16T02:54:12Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78031 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::mung kang ngadhep estri nenem jalu kalih ::Raden Ayu ngandika. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem>Adhuh kulup babo anak marni aja ngrasa bapa papanggiyan anggepen kang ngukir dhewe pituruta maringsun nora ngrasa goningsun laki pipindhon keping tiga ing pangrasaningsun wus padha jajaka-rara pan wus padha paningkahku den jenengi bahmu Sunan Mangkurat.</poem> |<poem> Kapindhone sira sun tuturi ramakira iki pan kusuma dudu wong wijah tegese iya ingkang puputu pan pangeran ing Selamanik tedhak Siyungwanara wenang dadi ratu dene mengko ramakira wus angrasa mung sira den bebakali keraton Tanah Jawa.</poem> |<poem>Bareng wungu bareng adusneki aneng kulah katri awuwuda kosok-kinosokan suwe kuneng wau winuwus Ki Panghulu ing Lepentangi kang bekta saratira Pangran Adilangu kinen anglebeti sarat amrih bingung tingkahe kang maring ngelmi apesa yudanira.</poem> |<poem>Ilanga tyase kang manungseki</poem>}}<noinclude>{{rh|||313}}</noinclude> j0bq3trd8e4jdharvn13bsv0pr1sc71 Kaca:Babad Prayud I.pdf/333 250 24461 77680 77042 2026-05-15T18:58:06Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77680 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::gusis saparan-paran :::ngumpul sagunging bupati :::api rembagan :::si Benthing baya misih. </poem> <poem> :::Den aririh kepungen teka ingjaba :::Mas Benthing kang nameki :::Pangeran Dipatya :::anom ing Kartasura :::sayekti sugih babecik :::den arah-arah :::aja akarya kingkin. </poem><noinclude>{{rh|||331}}</noinclude> 1q75avs8olg6rm1cghrp5svl9k0wrv7 Kaca:Babad Prayud I.pdf/316 250 24462 78032 77043 2026-05-16T02:54:27Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78032 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::dumadakan tyase brakasakan ::ilanga kasantikane ::kanggep Kyai Pangulu ::duk ningahe den ayu nguni ::lan kerep dennya sowan ::agung atur-atur ::dhadharan olah-olahan ::cinaruban sarat saking Pangran Wijil ::Ngadilangu tumana. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=22 |<poem>Ki Pangulu sampun amiyarsi lamun owah ing pratingkahira kena ing japa tegese jeng Pangran Ngadilangu kang menggawe rusaking sekti dilalah tingkahira kuwur sasar-susur rabi putrì kaselongan pan anemu kawalon Den Bagus Benthing melik marang bunipun.</poem> |<poem> Panembahan Kowak anjurungi dadi tègese anak ngajanan angramuhi ing ibune nunggil paturonipun nunggil bantal kantrinireki sampun awang wedhusan wau Ki Pangulu datan minggat mring Semarang sira Panembahan Maulana Mahribi mijil ing dina Soma.</poem> |<poem>Aneng paseban manguni tinangkil andher para mantri pra dipatya sangkin wuwuh telukane sigra parentah dhawuh Panembahan ngalih namekj</poem>}}<noinclude>{{rh|314}}</noinclude> 3f32lvyfy84tp5m1kuezga1k516qsuh Kaca:Babad Prayud I.pdf/317 250 24463 77859 77050 2026-05-15T20:17:55Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77859 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kalawan ingkang putra ::kawalon jinunjung ::Mas Benthing Jayapuspita ::ing ngadegken anama Pangran Dipati ::Anom ing Kartasura. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Mahem lalana prawireng jurit subageng reh ramukadikara senapati ngayudane bupati saur manuk angestreni mantri bupati Panembahan kang nama ing mangkya winangun Panembahan Wangundaya Yarcandradi punggawa ngestokken sami wus bubar kang sineba.</poem> |<poem> Nahan wuwusen Nagri Samawis pasisir wetan prapteng Samarang wus samakta prajurite Jeng Pangran Ngadilangu sampun sami aneng Matawis saanak putunira Deler milanipun antara tan magut ing prang Pangran Ngadilangu ing ngangge tur neki duk manjing aken sarat.</poem> |<poem>Nadyan panungkula lahirneki pranging batin ingkang ing ngantosan jeng Pangran Adilangune kang winawrat ing kewuh Idler Ubres langkung mintasih ingkang sinungga-sungga Pangran Adilangu kang badhe maguta ing prang sampun kathah amunga punggawa katri</poem>}}<noinclude>{{rh|||315}}</noinclude> rgoy95rq8y4u7kbj1gvrmf7wzb7ihro Kaca:Babad Prayud I.pdf/318 250 24465 77858 77052 2026-05-15T20:17:15Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77858 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Demak lan ing Jepara. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Pan ing demak tumenggung kekalih ing Jepara siji Citrasoma punika pan sabateke kang kathah pra tumenggung atunggua nagri Samawis lagya apaguneman prapta Ki Panghulu Lepentangi kang dinuta lan Pangeran Dilangu sampun kapanggih sampun binekta minggah.</poem> |<poem> Gedhong nginggil lawan Ki Dipati ing Samarang Deler gupuh tanya iku bapak suruhane paranta wartanipun Ki Pangulu ing Lepentangi sabarang tingkahira Panembahan lcatur kang juru basani warta Ki Dipati Semarang Deler miyarsi suka goyang kepala.</poem> |<poem> Pegimana Bapak Pangran Wijil. ya si Kowak ati sudhah gila apa habis kasektene heh Tuwan kalu-kalu adat orang lain ponyati habis lamun wong Jawa Deler manthuk-manthuk Pangran Dilangu perentah wadya Demak akarya kapurancang pring ori angalih dhepa.</poem> |<poem>Iya kalar gineteng wong kalih sampun aglar badhe binekta prang </poem>}}<noinclude>{{rh|316}}</noinclude> jtho20hx52zijs3qkk9rpvvit840vrq Kaca:Babad Prayud I.pdf/334 250 24466 77682 77053 2026-05-15T18:58:35Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77682 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXII.{{gap}}ASMARADANA {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Wuwusen Pangran Dipati Mas Benthing kang tunggu pura inggih kalawan ibune pan anggung andón asmara wau duk angkatira ingkang rama magut mungsuh kang tinilar tengga pura.</poem> |<poem>Kalawan ibunireki Mas Benthing matur ibunya ibu kadi paran mangke manah kawula,punika teka tan saget pisah kalawan sampeyan ibu inggih bengganga sikilan.</poem> |<poem>Kadi lamun angemasi sarwi ing ngaras kang jaya kang ibu alon sahure lah kapriye kulup iya mengkono atinira mung sira sun ayun-ayun tembe umadega raja. |<poem>Kang putra umatur aris nadyan madega narendra lamun pisah upamine lamun sampeyan sapadang tan kudu madeg nata kang ibu sigra angrangkul adhuh putraningsun nyawa.</poem> |<poem>Aja ta kabanjur gusti katoleha kawibawan pan sira iku canggahe marang Sinuhun Mangkurat</poem>}}<noinclude>{{rh|332}}</noinclude> rkhwk73065roz2p80oxoxx4t2gryy7k Kaca:Babad Prayud I.pdf/319 250 24467 77857 77054 2026-05-15T20:16:45Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77857 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> ::tri tumenggung prajurite ::wonten wolulas atus ::sedheng-sedheng kathaha nenggih ::amungsuh wong karaman ::sayektine bingung ::yen ukur-ukur kewala ::si karaman edhire sangkin muwuhi ::wignya anembang durma. </poem><noinclude>{{rh|||317}}</noinclude> pjsewiep4elvt03z3tjy1033j9t1dub Kaca:Babad Prayud I.pdf/320 250 24468 77856 77055 2026-05-15T20:15:46Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77856 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXXI. DURMA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Kawuwusa enjing nagari Semarang pra dipati neng loji badhe budhalira ingkang katri punggawa anggitik ing Lepentangi sampun samakta aglar ingkang prajurit.</poem> |<poem>Bupatine sami neng loji sadaya nadyan kang tan lumaris pra bupati samya aneng loji sadaya Pangran Dilangu duk prapti wus tatalenggah sami munggeng ing kursi.</poem> |<poem>Pangran Adilangu mulat kerinira Kyai Citrasomeki ana telik prapta roro sami jajaka samya nyangkelit panjalin amung sakiían satebah panjangneki.</poem> |<poem>Sigra Deler jinawil marang Pengeran mangkat ing gedhong aglis Bapak ana paran Pangran Dilangu mojar andika kalebon telik roro punika momor Citrasomeki.</poem> |<poem>Nanging tuwan limunan tan wontenJ wikan eram Deler Ubresting bapak penggimaína itu tak kaliyatan</poem>}}<noinclude>{{rh|318}}</noinclude> gdryikunxuv9yfppviym1d4uaphwtkr Kaca:Babad Prayud I.pdf/60 250 24469 77887 77056 2026-05-15T20:33:07Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77887 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sadaya matur sandika Dipati Mangkuprajane kinen angirid sadaya mring daleme kang raka tri atus wolungdaseku sinangon dening Sang Nata.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Pinara astha binagi alon ngandika Sang Nata nyangoni salam wakingong tur sembah kang pra warastha samya nuhun turira sareng wau wedalipun Uprup lan kang pra dipatya.</poem> |<poem>Dipati Mangkuprajeki ingkang kinen angirida mring Kamangkunagarane Uprup ngaterken lampahnya wangsul kilen galadhag Dipati Mangkuprajeku lan punggawa ing Ngayogja.</poem> |<poem>Ing mangkunagaran prapti lajeng wus samya ngandikan sami ngujung sadayane lajeng sami sinugata miwah inumanira wus bubar amung sadalu aneng nagri Surakarta.</poem> |<poem>Enjinge budhalireki angaler sabalakuswa ingkang anusul lampahe kuneng gantya winursita Rahaden Wiratmeja miyarsa lamun jinujul sangking ing Balora budhal.</poem> }}<noinclude>{{rh|58||}}</noinclude> arx331okww221hooiudzuh7rh6lcpl5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/335 250 24470 77683 77057 2026-05-15T18:59:06Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77683 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::saiki sira ana :::bobotoh angudi tuwuh :::elinga duwe nagara. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Ingarasan sirahneki lawan gigire ingaras kang putra angemek-emek astane kiwa amiy ak sinjange ibunira ingkang ibu mesem nuwus kulup iya lerenana.</poem> |<poem>Sira iki sun turuti wis ana ping karo belah teka durung marem kiye selir mu nganggur kewala lah Jambu mareneya ujegen iki bojomu MasAjeng Jambu anyelak.</poem> |<poem>Daweg kangmas sami guling kawula kangen kalintang Mas Benthing marengut bae netrane kumaca-kaca emeh wijiling waspa kang ibu sigra angrangkul adhuh kulup putraningwang.</poem> |<poem>Sajroning ngadhahar sami guguyon aras ingaras ingkang ibu andikane ya kulup ora kayaa ingsun kalawan sira pinareng padha kapencut nikmate kaliwat-liwat.</poem> |<poem>Dadine kaya kerambil sireku pan saking ingwang</poem>}}<noinclude>{{rh|||333}}</noinclude> t5ie1c1ar91xoalsxgdoft2exh9u9f9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/321 250 24471 77855 77058 2026-05-15T20:15:03Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77855 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sigra Deler animbali ::upas sakawan ::Pangeran kang bisiki. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Nulya medal Deler sarwi ngagem pedhang Pangeran amarani lan upas sakawan mring gone Citrasoma sami kagyat kang ningali dennya Pangeran lan upas amarani.</poem> |<poem>Marang gene Ki Tumenggung Citrasoma wau telik kakalih ingkang sinengkelang penjaline sinendhal sigra gelethek kaeksi telik kalihlnya upas: kinen nyekeli.</poem> |<poem>Geger ngungun sakedhap nuli atata telik biponda sami ginawa' inig ngarsa Ki Dipati Semarang ingkang kinen anakeni wong ngendi sira sapa kongkon sireki.</poem> |<poem>Anauri kula tiyang Selamarta kang nuduh kawuleki Gusti Panembahan punika Raja Ngarab Maulana Maheribi kinen ngawasna cacahe pra dipati.</poem> |<poem>Sami ngungun kang miyarsa pra dipatya penjalinipun sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||319}}</noinclude> 8u36cbyb1h9v9wzyf8uee5xztajjcr7 Kaca:Babad Prayud I.pdf/322 250 24472 77854 77059 2026-05-15T20:14:29Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77854 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ingkang tiningalan ::gene panglesanira ::katuju Jeng Pangran prapti ::ana kang nulak ::ing kemate si belis. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem> Kadya Sokasrana dutane Rawana kala kinen amilis bupati wanara aneng Gunung Suwela tan anaing kang udani mindha wanara Arya Wibisana glis.</poem> |<poem> Kang uninga amung Arya Wibisana Pangran Dilangu nenggih mangka Wibisana tan kena kakilapan Deler langkung sukeng galih sampun tetela unggule ing prang benjing.</poem> |<poem> Tinakenan gustining telik punika asale sangking ngendi telik aturira tedhak Siungwanara pangeran ing Selamanik kang darbe wayah nanging ical duk alit.</poem> |<poem> Angumbara pinet mantu ing durjana mila saget amaling lami kinen tapa dhateng kang maratuwa pinrih sektine memaling aneng patapan punika den guroni.</poem>}}<noinclude>{{rh|320}}</noinclude> pdcg2wan134jx2mookafrhhax622unq Kaca:Babad Prayud I.pdf/61 250 24474 77888 77061 2026-05-15T20:33:30Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77888 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Angoncati ing ajurit ngaler lan sawadyanira Rahaden Wiratmejane mring pasisir sedyanira bumi Pathi kendelnya neng Garenteng dhusunipun apacak baris santosa.</poem> |<poem>Baris ing Surakarteki wus angancik ing Balora Tumenggung Arungbinange lan Pangeran Pakuningrat Tumenggung Mangkuyuda kang abantu prapta ngumpul Tumenggung Jayanegara.</poem> |<poem>Anyandhak ing Baloreki myang Tumenggung Jagaraga prapta lawan sabalane langkung kasusu ing lampah Tumenggung Jagaraga kinen kantun wus kasusul angumpul aneng Balora.</poem> |<poem>Nulya paguneman sami anglampahken telikira nitik sayekti kendele lan cacahing gegamannya wau ingkang dinuta bebekel kuwu malebu angedan Surajenggala.</poem> |<poem>Lampahe sadalu prapti tetela ing aturira tuhu Garenteng kendele dene cacahing gagaman sewu kang kekapalan</poem> }}<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude> kz9gdye4u2yw10inz4gdu6l9up75aza Kaca:Babad Prayud I.pdf/336 250 24475 77684 77064 2026-05-15T18:59:36Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77684 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::ingkang dadi kasmaningong :::metu saking banyuniwang :::mengko wus tuwa-tuwa :::dadi gula ingsun emut :::dadi makan dharah ingwang. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Gula kalawan kerambil wit siji winor pinangan kulup mengkono pamane awor legi gurih padha pae ingsun wong tuwa dulu wong anom kapencut sira nom dulu wong tuwa.</poem> |<poem>Pra samya ngiling-ilingi gagetuni rapetira' gumuling-gumulung adoh rapet tan kena pinecat parekan kalih prapta matur kang aprang kaburu Panembahan sampun pejah.</poem> |<poem>Mengsah gumerah ing jawi Deh ayu gugup parekan sorogen gedhong lor kuwe donya kinumpulken sigra manjing gedhong kalihnya bekta parekan katelu kang gedhong kinunci sigra.</poem> |<poem>Nulya kasaput ing wengi ingkang ngepung sami taha saking kadohan kemawon pra dipati pamondhokan wau carakanira Tumenggung Citrasomeku bekta sirahing karaman.</poem>}}<noinclude>{{rh|334}}</noinclude> h7ns52eguy80nj78tb1xhlf9s3zrwdq Kaca:Babad Prayud I.pdf/323 250 24476 77853 77063 2026-05-15T20:13:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77853 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Gajah puteh payung kuning lan gendhaga punika salah pikir kudu ngadeg raja kathah kang ngangkat-angkat kathah lungsuran bupati sami ngawula sami ngojok-ngojoki.</poem> |<poem>Samya ngungun sakathahe kang miyarsa kompeni pra dipati tuwin mantrinira Deler tari Pangeran paran caraka puniki punapa pejah inggih punapa urip.</poem> |<poem>Ki Dipati Samarang ngumbungi sabda tuwan inggih wong cilik inggih ginesangan boten melu prakara mung kinongkon ithah-ithih langkung kasiyan mulane penet urip.</poem> |<poem>Mubeng Mayeng pinaringken pelor besar wus kinen miyarani wau pra dipatya ingkang badhe lumampah gitik mungsuh Lepentangi sang Raja Ngarab Maulana Mahribi.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Demak lawan ing Jepara ing Jepara kang siji amung citrasoma ing Demak kalih pisan tengara budhal tumuli</poem>}}<noinclude>{{rh|||321}}</noinclude> m5bioz2ns1eixxeai6r7vamxzpzhiak Kaca:Babad Prayud I.pdf/324 250 24477 77852 77065 2026-05-15T20:13:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77852 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::saking Semarang ::bekta opesir siji. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Pun kapitan kumendan wus bisa sadat amung sewu dhomas nanging wong pipiliyan santananing pra dipati wau lampahnya i kapurancang wuri.</poem> |<poem> Wus prapta ing Mangkang celak ing nagara kapurancang neng ngarsi kendel tata-tata wong Demak wong Japara wau ta ingkang winarni wusnya miyarsa kang wonten Lepentangi.</poem> |<poem>Panembahan Mangundeya Raja Ngarab Maulana Mahribi parentah ing wadya kiraba methuk ing prang punggawa kalih tinuding lan kajineman Sekawan kang lumaris.</poem> |<poem>Edanala kalawan pun Alaedan katri pun Edanbaring Napat Edan bayan sabat kakalih samya busanane sami paring kulambi jubah landhung waged ing sikil.</poem> |<poem>Binaktanan ingkang para sabat lima pitung puluh tan luwih dene wurinira</poem>}}<noinclude>{{rh|322}}</noinclude> 5nzxd8hz7e1u522ru1wgv8yncr8ju4c Kaca:Babad Prayud I.pdf/325 250 24478 77628 77066 2026-05-15T18:29:54Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77628 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::tumenggung kalih nama ::Brajayuda Brajapati ::aniga belah ::prajuritira sami. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Wong sakawan mung sami anyothe pedhang Panembahan winarni arsa mijil ing prang pamit marang kang garwa miwah ingkang putra sami ingkang anama Pangeran Adipati.</poem> |<poem>Kulup Adipati lah sira kariya lawan ibunirekki ingsun magut ing prang mungsuh iki kang prapta pan ora nganggo kompeni wus kapok padha Walandanè keh mati.</poem> |<poem>Sajatine lakune kang pra dipatya nungkula aris isin mengko yen wus kalah ingsun ing benjang-enjang anggecak loji Semawis sira maksiya kene ing.Lepentangi.</poem> |<poem>Nuli ingsun pondhongi besuk nakira ngga dega ing Samawis sigra ingkang garwa cinadhak astanira kang putra kinen tutwuri pangkunen nyawa sirahe bunireki.</poem> |<poem> Wus pinangku ing putra rama tumandang</poem>}}<noinclude>{{rh|||323}}</noinclude> 9giq6mwf0bk7yup6jhuuq5rhmqxvpes Kaca:Babad Prayud I.pdf/337 250 24479 77685 77067 2026-05-15T19:00:00Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77685 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Kuneng ta Den Bagus Benthing ingkang anandhang citraka neng gedhong lawan ibune. lawan parekan titiga sarwi ambekta lisah kalentik kinarya urut arapet tan kena benggang.</poem> |<poem>Parekan grahita siji matur daweg mring padesan pinggir gunung ing leledhok kula darbe prasanakan putune lebe Dhatar bilih wonten gunanipun dene wadale paduka.</poem> |<poem>Opah-opah kang abaris reyal satus kadi angsal sigra pinaring reyale nyelawe tiyang sakawan den ayu lan kang putra winot jodhang wedalipun brana riringkes binekta.</poem> |<poem>Sapraptanira ing jawi desa sakidul negara ing tengah dalu praptane wismane Ki Nalaguna boboleh ni parekan ingkang dadi wiwitipun lambangsari lan kang putra.</poem> |<poem>Pan sampun satengah sasi wonten kaping kalih belah kaping sekawan punjule dupi panembahan pejah kapupu ing paprangan</poem>}}<noinclude>{{rh|||335}}</noinclude> h80vgcqup61yonft7vf9xpwxgici1rv Kaca:Babad Prayud I.pdf/326 250 24480 77629 77068 2026-05-15T18:30:33Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77629 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sawusnya angling aris ::sira papaesa ::den ayu asinjanga ::cindhe kanigara wilis ::kembena jingga ::pupura wedhak kuning. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem> Mengke ingsun udurku jenengi ing prang banjur lan sira nuli kulup siyaga abebeda sambeja paningseta cindhe wilis nyawa kuluka kanigara respati.</poem> |<poem>Raden Ayu paesana putranira yen bala sor ing jurit sira ngalebata wruha ing balanira ingkang suda tyane sami mulat ing sira sayekti puluh malih.</poem> |<poem>Sigra mangkat sarwi ngaras garwanira sapraptanireng jawi wus akarya papan ing wuri pakebonan awiyar gening prajurit butulanira jog margi ageng nenggih.</poem> |<poem> Wau bala kang sami methuk ing marga tebih lawan nagari wus campuh kang yuda lawan prajurit Demak wong Japara anjenengi ramening aprang wong papat ngamuk wani. </poem>}}<noinclude>{{rh|324}}</noinclude> 4bdop18gfjv0pb59ft7chxf5f8tpgjt Kaca:Babad Prayud I.pdf/338 250 24481 77686 77075 2026-05-15T19:00:30Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77686 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::cumbana tan keni ucul :::pinecat-pecat tan kena. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Ki Nalaguna lingnyaris paniku gampang kewala endi gawanen marene prapta gene Nalaguna rakete pinariksa Ki Nalaguna agupuh mendhet dhedhak kalih tinja.</poem> |<poem>Saha wuwusira aris karone dika rumasa yen wus panggawak sagawon kawetu saking manungsa yen uwis ucul sira tobato maring Hyang Agung aja maning ngglakonana.</poem> |<poem>Sagah nulya den sandhingi ing dhedhak kalawan tinja winadhahan aneng bathok sinandhingken ngarsanira wonten tingang pamucang kumruget unulya ucul Den Ayu jeleh karuna.</poem> |<poem>Sami tobat sami tobil pinang adeg Nalaguna miwah reyale selawe mangkana ing byar raina kalih sami karipan wong barisan sami jujul kinepung maksih anendra</poem> |<poem>Anulya tinubruk wani Mas Benthing sampun kacandhak binanda ing sutra ijo</poem>}}<noinclude>{{rh|336}}</noinclude> 5eeyunel5cmpqucvygu96fte9ffp5s0 Kaca:Babad Prayud I.pdf/340 250 24482 77689 77070 2026-05-15T19:01:52Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77689 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kalaut apaliringan ::karaman ngetan angaler ::wong Yogja wong Surakarta ::ngilen bener kewala ::ing Tinap ingkang jinujug ::kang dhingine wong Ngayogya {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Tumenggung Ranadimurti lan Tumenggung Natayuda Tumenggung Singaranune wong Surakarta neng wuntat ing Tinap kagegeran pra samya angungsi gunung wong Yogja anggung jajarah.</poem> |<poem>Nyekeli para patinggi kang labet tumut karaman mangkana wong Kedhu kabeh kang kalah saking paprangan dadya buron ranjapan ingusir miwah den ipuk mring wong Sala mring wong Yogya</poem> |<poem>Akathah kang antuk sami busana lan rajabrana wus sami minger barise kathah palayon cinegat baris sami angetan kang saking ing Kaliwungu cinegat sami kacandhak.</poem> |<poem>Bubar bupati pasisir kang sami wonten Samarang mring nagrine dhewe-dhewe parentah kinen prayitna manawa mungsuh wetan nedya masisir puniku</poem>}}<noinclude>{{rh|338}}</noinclude> idgzd7hkln977kznsn7rp6molhmc8y6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/341 250 24483 77690 77071 2026-05-15T19:02:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77690 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Pangran Arya Prabu Jaka. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Ingkang wonten ing Kadhiri sujud wetan palabuhan sanadyan nagri bang kilen sami acungan kewala ing Pace Kartasana Kalangbret Rawa pinungkul saking kadhiri wus bedhah.</poem> |<poem> Punggawane jro tinuding kang nama Ki Embah Jabar ngirid satus prajurit jro Kuda Sisimping kepala nagri ingkang ginecak bupatine sami teluk kerid Tumenggung Bah Jabar.</poem> |<poem> Kang tan nungkul pra dipati ngungsi Madiun sadaya Dipati Mangkuprajane neng Madiun kendelira ngantosi Bratawirya angerig prajuritipun mantuk dhateng Pranaraga.</poem> |<poem>Lan kakangsen lampahneki lan Rangga Prawiradirja serat pirembag praptane Den Rangga nuwun parentah medal eler kewala yen sampeyan nenggih estu medal ing kidul kewala.</poem> |<poem> Kula kanca pra dipati kang kidul pun Kartasana ing Rawa miwah Kalangbret Kang dereng nungkul ing mengsah</poem>}}<noinclude>{{rh|||339}}</noinclude> bjlwmdd7m43gakg9s6jxaesebrjaqff Kaca:Babad Prayud I.pdf/62 250 24485 77889 77074 2026-05-15T20:33:55Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77889 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>dharatipun kalih ewu estu badhe methuk ing prang.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Mila badhe methuk jurit wonten abdi dalem magang Tejakusuma namane anusul anyar praptanya sangking ing Surakarta tutur lamun kang anglurug sami was alit tyasira.</poem> |<poem> Samangsa pinethuk jurit anyipta dhadhal kewala milane ageng manahe Wratmeja Jayamisena senapati ngalaga wus dados pirembagipun pra dipati Surakarta.</poem> |<poem>Enjing badhe dipun ungsir Ki Tumenggung Arungbinang wus jangji ngarsa enggene ing dalu tan kawursita enjing tengara budhal neng ngarsa sakancanipun Ki Tumenggung Arungbinang.</poem> |<poem>Anulya kang anambungi Ki Tumenggung Mangkuyuda lawan sakanca mantrine Tumenggung Jayanegara gedhe nambungi wuntat anulya ing wurinipun Pangran Arya Pakuningrat.</poem> |<poem>Yata kuneng kang winarni Pangeran Jayamisesa Nataningrat ing palugon</poem> }}<noinclude>{{rh|60||}}</noinclude> kl991oobf9qehqafnu0qcgbs0qu7rov Kaca:Babad Prayud I.pdf/342 250 24486 77691 77076 2026-05-15T19:02:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77691 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dhereka ing sampeyan ::sanadyan kang sampun nungkul ::magange katur sampeyan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Yen wonten ungguling jurit lajeng sampeyan tanema tuwin cucuking lampahe dene ta kanca sampeyan inggih kang kula suwun tunggila badan kawula.</poem> |<poem>Sawab ler nagrinireki Adipati Mangkupraja ngundhangi prapteng ngrasane Tumenggung Wirawidigda Tumenggung Arungbinang tinuduhken serat rembuging Rangga Prawiradirja.</poem> |<poem>Sami mesem kang ngupeksi ngling Dipati Mangkupraja paran punika eseme punapa gih tinuruta adhi rembag punika Tumenggung Rungbinang matur punika pikir kapala.</poem> |<poem>Pikir kenthel tur amanis prak atine ngambra-ambra sedhep anggubras ing akeh upama tan tinuruta dhewe kadi urakan dadi mamak boten weruh ing reh becik lawan ala.</poem> |<poem>Wiradigda anambungi gawok ingsun Arungbinang bethoh Sokawati kiye</poem>}}<noinclude>{{rh|340}}</noinclude> ar1mzrv7fhlnirt943ne7a0q8laekjp Kaca:Babad Prayud I.pdf/343 250 24487 77692 77077 2026-05-15T19:03:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77692 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kenane pikir ngaracak ::ngadoni pancas bisa ::pada ngarekaken iku ::karo bupati sagara. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=44 |<poem>Sigra wau parentahing Adipati Mangkupraja Tumenggung Wirasabane mantri Nganjuk Pagerwaja sira padha nunggala barismu saparanipun nak Rangga Prawiradirja.</poem> |<poem> Wus sareng budhalireki lan babantu ing ayuda kuneng kang winuwus maleh Pangran Singasari lagya anata balanira kang mentas menang prangipun agenging tyas roning kamal. </poem>}}<noinclude>{{rh|||341}}</noinclude> 0w6vq2q1kitnlkzey8sqmcuc2pcwuw5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/344 250 24488 77693 77078 2026-05-15T19:03:48Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77693 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXXIII. SINOM''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Sampun ngadeg pawatangan wonten nagari Kadhiri nimbali para pradikan bang wetan sami kinerig Kiyai Tegalsari neng Kalangbret milanipun ngili duk dadi ajang wong agung kalih ajurit rame wawan neng nagari Pranaraga.</poem> |<poem>Pan ing mangke tinim balan nenggih Kyai Tegalsari ing Pangeran Prabu Jaka praptane Nagri Kadhiri neng ngarsane tinari mring Pangeran Singasantun paman ingsun dongakna amengku ing Tanah Jawi kalakona si paman sun sungga-sungga.</poem> |<poem>Tur sembah alón turira sira Kyai Tegalsari angger pakewet punika boten sah dhongakna mangkin inggih ing Tanah Jawi sampun wonten ratunipun kakalih kang satunggal kang umadeg ing Matawis nama Sulta punika raka paduka.</poem> |<poem>Kang umadeg Surakarta putra sampeyan sayekti temah kawula duraka angesol narpati kalih dumeh saking kumpeni</poem>}}<noinclude>{{rh|342}}</noinclude> 61vugt26zg71degwbyqg5bam48zcqtt Kaca:Babad Prayud I.pdf/63 250 24489 77890 77079 2026-05-15T20:34:18Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77890 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sadalu apaguneman lawan punggawanira Jayeng Wilatikta ngayun mangka manggala micara.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Tetuwa panutaneki sagunging punggawanira dene pianjur barang reh Tumenggung Surabragodha pinatah neng pangawat Guthitwesi kanthinipun pinatah pangawat kanan.</poem> |<poem>Kang munggeng pangawat kering Rahaden Tejakusuma Mangunkusuma kanthine pangerane munggeng dhadha badhe ngawaki benjang kang kinanthi dhadhanipun Raden Jayeng Wilatikta.</poem> |<poem>Badhe ngantep ing ngajurit yata kawuwusa enjang tengara manjeng barise pinethuk sakidul jurang jurang pereng kewala yata wau kang winuwus dedamel ing Surakarta.</poem> |<poem>Kyai Rungbinang pangarsi kacandhak sakit ing marga lajeng tinandhu kemawon Tumenggung Jayanegara Tumenggung Mangkuyuda sami utusan mangayun angatasaken ing karsa.</poem> |<poem>Rayi paduka kekalih</poem> }}<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude> 9de5vtibyl21eld1s09c1nfvcovypjr Kaca:Babad Prayud I.pdf/339 250 24490 77687 77080 2026-05-15T19:00:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77687 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::binekta marang nagara :::Lepentangi wus prapta :::lajeng binekta sigra wus :::mring Tumenggung Citrasoma. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Budhal marang ing Samawis wau kang anggawa sirah pukul sadasa praptane bandan Pangeran Dipatya kalawan ibunira satengah pat praptanipun oreg nagari Semarang.</poem> |<poem>Sami luwar marasneki kang nonton tunjang-tinunjang ing marga jibeg agebel Ideler kalangkung suka upesir pra dipatya kumpul pinundhutan rembug dene menggah ukum Jawa.</poem> |<poem>Pinanjer mustakaneki yeku wong pangrusak jagat mulang sarak araraton ing dalu datan winarna enjing sampun tinigas pinanjer mustakanipun jinajar lan sirahira.</poem> |<poem>Panembahan Kowak sami Deler sampun atur surat mring para raja kaliye Ngayogja lan Surakarta turpiksa mungusuh kena agantya ingkang winuwus dadaleme pra dipatya.</poem> |<poem>Ngayogja Surakarteki </poem>}}<noinclude>{{rh|||337}}</noinclude> j9kv4vyxmv87rg5n1pst5pywj8fq97f Kaca:Babad Prayud I.pdf/345 250 24491 77694 77082 2026-05-15T19:04:09Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77694 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kaliye pangadegipun ::pan inggih boten batal ::adege narendra kalih ::pan kumpeni boten ngowahi agama. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Malah tumut anguwatna dhateng agamaning Nabi boten ngowahi sarengat pun Kumpeni kapir dhemi kapir karbu lan malih dadya tetep rewangipun upama dinongakna rojode karaton kalih kang dongakken kaum bingung tanpa ngrasa.</poem> |<poem>Wau kalane miyarsa ature Ki Tegalsari Pangran Arya Prabu Jaka anglengger dangu tan angling lingsem kapati-pati dadya wijiling pawuwus ya paman mung dongakna pecahe tyasingsun mangkin atiruwa pinter kaya kangmas sultán.</poem> |<poem>Lan maning paman dongakna iya putunira iki iya sun paringi nama nama Pangeran Dipati Kiyai Tegalsari kenging punika pukulun pan inggih boten raja milane punika keni yata wau sagung punggawa sadaya.</poem> |<poem>Wus prapta glar ing ayunan rangga demang angabehi</poem>}}<noinclude>{{rh|||343}}</noinclude> btn2kdv2n4s9p6h1d8uq3toyrt2ihx4 Kaca:Babad Prayud I.pdf/346 250 24492 77696 77083 2026-05-15T19:04:37Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77696 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ingalihken nananira ::ana pinacak bupati ::ana pinacak mantri ::sapantese wangunipun ::bebekel kang prakosa ::ing Porong Martajayeki ::sinung nama Tumenggung Martanegara. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Ngabehi ing Wirasaba Tumenggung Martaprajeki Japan wus pinaring nama Ki Tumenggung Surengpati Sarengat wus ingalih Tumenggung Suralayeku kang tuwa ing parentah Martanagara ing jawi dene ing jro mung Tumeggung Ki Bah Jabar.</poem> |<poem>Ki Tumengguh Embah Jabar tegese kang misesani sabarang paparentahan sosoran Kuda Sisimping wus pinacak bupati Tumenggung Segaramadu wong saking Surabaya Ki Muntaha wus kinardi pinaringan Tumenggung Jayaprakosa.</poem> |<poem> Wus tinundhung antukira wau Kyai Tegalsari wuri nulya paparentah ngresiki ing Majapahit Tanah Wirasabeki badhe kinarya kadhatun angalap sawab barkat ngulihi ing Majapahit kang nindhihi Tumenggung Martanagara.</poem>}}<noinclude>{{rh|344}}</noinclude> 6i4v744ihespdo6q0ljvpm4kz6s214w Kaca:Babad Prayud I.pdf/347 250 24493 77697 77084 2026-05-15T19:05:16Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77697 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |<poem>Kathah kang anambut karya badhe kitha Maospahit prenah pakebonanira wetan kedhatonireki Brawijaya ing nguni maksih nunggak banonipun pinendhet kidul wetan salebete bata bumi kang cinengkal duk sami babadi wana.</poem> |<poem> Kuneng malih winursita wau kang narendra kalih Jeng Sulta lan Jeng Susunan wus sami ngundurken baris kang nglurug den timbali mung ngantunken titikipun enggene Kyai Tinap yen sampun kantenan gampil nanging melang para raja kalih pisan.</poem> |<poem> Karana Kyai Tinap ing Tanah Jawa samangkin tuwa dhasar ahli tapa minangka tumbal nagari dadya rubed kang pikir para raja kalihipun. wau Sulta Ngayogya utusan marang Semawis mundhut marang Raden Ayu Puspadirja.</poem> |<poem>Sawab putrane kang tuwa pambajeng estri akrami lan putra ing Pangabeyan wus nama Pangran Ngabehi neng Selong dennya panggih ing mangke sawontenipun nagari ing Ngayogya</poem>}}<noinclude>{{rh|||345}}</noinclude> 3knuk0mpx8z0fti7rr81213juicg95e Kaca:Babad Prayud I.pdf/348 250 24494 77698 77085 2026-05-15T19:05:41Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77698 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Pangran Silarong mameki ::pan punika kang adarbe maratuwa. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Pambajeng estri punika panenggak Den Bagus Benthing Raden Ayu Puspadirja wus binakta mring Matawis Sultan mundhutken nenggih pinaringken mantunipun nahan malih winarna kang anglurug mring Kadhiri Mangkupraja Rungbinang Wirawidigda.</poem> |<poem> Sampun ngancik ing Caruban lajeng mring Kartasaneki dadamel kang saking Jipang Rangga Prawiradirjeki ngirid kang pra dipati ngancik salering Jongbiru gegere abusekan kang wonten nagri Kadhiri wurung dennya reresik ing Majalengka.</poem> |<poem>Kinen andandani Ngantang berana rerepot sami ingilekken maring ngantang kidul wetaning Kadhiri binagi kang prajurit anjagani mungsuh rawuh neng pipining bangawan denira badhe mothoki kalantaka sapuluh jathok bengawan.</poem> |<poem> Adipati Mangkupraja semados singadhingini ing wuri nusul den aglis</poem>}}<noinclude>{{rh|346}}</noinclude> s63jbau15yn7pwjvxyofstfsnoewiv9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/64 250 24495 77891 77086 2026-05-15T20:34:43Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77891 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Janagara Mangkuyuda Inggih ngaturi liru nggen sampeyan gerah punika inggih wontena wuntat dene kang nggentosi ngayun sumangga karsa sampeyan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Pan rayi paduka kalih. pundi kang kinarsakena Tumenggung Rungbinang linge matur adhi karo pisan ya uwis sun tarima palamarmane maringsun nging iya sun iki wirang.</poem> |<poem>Aprang karo Mangkubumi lara durung asesambat prang lan Pangeran Purbayane kerep tinandhu kewala panas tis aneng marga si adhi karo puniku aja kuwatir maringwang.</poem> |<poem>Mundur kalih kang tinuding yen kang raka datan karsa ginentosan panggonane masih karasa kuwawa tan tutug angandika mantri pangarsa kang wangsul mungsuh mangsah methuk ing prang.</poem> |<poem>Nuju ángel papaneki kidul Garenteng punika gunung alit-alit mereng bendhene mungsuh sauran sarta surak gumerah sigra mudhun sangking tandhu Rungbinang datan mundura.</poem> }}<noinclude>{{rh|62||}}</noinclude> 2gwvsqbo6l81mumhw5pxkhydh8pel9f Kaca:Babad Prayud I.pdf/349 250 24496 77699 77087 2026-05-15T19:06:05Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77699 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dadamel lajeng sami ::kang kinaya semangipun ::aprang elet bengawan ::ararne bedhil-binedhil ::Raden Rangga anilap wong pitung dasa. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Mengandhap dalu lumampah wonten paekanireki penjalin ingkang kinencang wong Pagerwaya kang kardi tuwin ingkang jenengi Tumenggung Wirasabeku ginoyod ing wiwitan wetan kali kulon kali agethek pring kekencang dadya eretan.</poem> |<poem> Wus nyabrang wong pitungdasa tigangdasa kang ambedhil panumbake kawandasa ingkang sami andhadhapi kalantaka prajurit satus Prajurit Katanggung wus ngumpul Raden Rangga ngidul mungsuh den parani sami lena kang nuguri Kalantaka.</poem> |<poem>Kinira mangsa na bisa iya kang nabrang ing wengi yen raina nora karya ing sanak wus den ukumi sayekti nora bangkit mangkana ing pukul telu pra sami pinurungan gene baris wong Kadhiri binedhilan lan tambur beri gumerah.</poem> |<poem> Geger gugup kakadhalan </poem>}}<noinclude>{{rh|||347}}</noinclude> rph5dykyhhxsm4mhcyztiyaa60d32ly Kaca:Babad Prayud I.pdf/350 250 24497 77700 77088 2026-05-15T19:07:18Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77700 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ponthai-panthir kocar-kacir. ::akeh kang lumayu wuda ::dandanan pra samya keri ::akeh lumayu gundhil ::ewon kuwur-kawur-kawur ::lap gang dangdananira ::pakuwone den obongi ::palayune prapteng nagera busekan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem> Gusis ingkang dadi kawal para tumenggungireki sira Tumenggung Bah Jabar lan Tumenggung Surengpati lan Rangga Jayengpati Tumenggung Sagaramadu mecah playunira sakidul wukir den geni ambalesar samya racut kudanira.</poem> |<poem>Muwer aneng wukir Ngantang Dipati Mangkuprajeki kendel saler gunung Ngantang majeng datan antuk margi kendel sakancaneki ing Kasinan dhusunipun Rangga Prawiradirja pra samya tan antuk margi papanggiyan wonten dhusun ing Kasiman.</poem> |<poem>Samya amangun pirembag kumpul sagung pra dipati ing Ngayogja Surakarta Dipati Mangkuprajeki seseban aneng jawi dhadhahing Kasiman dhusun ing ngadhap dipun resiki sampun aglar bupati mancanagara.</poem>}}<noinclude>{{rh|348}}</noinclude> 3e91or7xbn786kz44v7yot2kg2xqhw1 Kaca:Babad Prayud I.pdf/65 250 24498 77892 77091 2026-05-15T20:35:24Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77892 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''V. {{tab}} Durma''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Ki Tumenggung Arungbinang dutanira mangkana aneng wuri aja na kagetan aja watir maringwang padha den kareksa wuri mungsuh wong ngana parlu narondhol sami.</poem> |<poem>Sarageni rolas bae ngarsaningwang ya rolas tumbakneki yen katon keh ingwang dadi tan wani nunjang amireya nganan ngering sigra kang wadya samya manjing wanadri.</poem> |<poem>Nyandhak agem sanjatane balimbingan, sawidak minisneki kang Saragni rolas mapak tepining marga adoh-adoh aja mbedhil den perak padha mbedhil den arah odhil.</poem> |<poem>Mangsah nunjang prajurite Wiratmeja tumon kang mungsuh kedhik samya nganggah-angah kukut sareng anunjang Tumenggung Rungbinang aglis majeng atadhah wiratmeja kaeksi.</poem> |<poem>Rasukane gadhung ginandhul kewala amung talukupneki baludru rinenda</poem> }}<noinclude>{{rh|||63}}</noinclude> 429buekbtlt78uirv41kajy8fszsg1h Kaca:Babad Prayud I.pdf/351 250 24499 77701 77092 2026-05-15T19:07:46Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77701 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=27 |<poem>Adipati Mangkupraja sampun pinarak ing jawi praptanira Raden Rangga gupuh binaban eki ngaras dalmakanipun wus mundur sasalaman lan sagung kangjp'ra dipati wus nyata ta ling Dipati Mangkupraja.</poem> |<poem>Pun anak Rangga punapa inggih dereng antuk warti tetepe inggih gen mengsah Raden Rangga anauri inggih pawarti angin pepekenan tegesipun taksih wonten ing Ngantang nanging punggawane sami dipun sebar parenca amrih polatan.</poem> |<poem>Tumenggung wirawitdigda alón denira nainbungi ora kaya kowe Rangga dadak matur warta angin yen bethoh Sokawati muni mengkono tan patut murade si Paridan padha duwe sipat sidik padha murid kowe muride godhogan.</poem> |<poem>Gumer sagung pra dipatya Prawiradirja nauri Kang Tumenggung kaya paran wong matur Raden Dipati yen aneng teba ugi apa bedane lan ratu yen ora prasendheya </poem>}}<noinclude>{{rh|||349}}</noinclude> 7v9omxvngwz4a1u940qut26mb2nz2af Kaca:Babad Prayud I.pdf/233 250 24500 77835 77093 2026-05-15T20:01:43Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77835 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude> <poem> :::awit kamlurusing galih :::mulat lelakoning putra :::datan saged arringali :::ing jroning Sapar sasi :::Senen Kaliwon anuju :::wulan ping kalihdasa :::ing nalika pukul kalih :::lajeng katur marang Kangjeng Sri Narendra. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Dipati Mangkunegara kinarya wakil kang rayi ngiras pantes kang sarira Kaendranatan wus prapti ngungun sampun mbawani sapratikeling alampus duta sangking jro pura kang wira-wiri peparing dhawuh marang Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Adipati Mangkupraja sakancane pra dipati prapta asaos ing karsa dipati Mangkunagari pra santana nyirami ing layon njenengi wau Pangran Mangkunagara parentali mring Kyana Patih ingkang badhe andherek mundhut wedana.</poem> |<poem>Satunggil punggawanira mundhut kahwon kekalih Adipati Mangkupraja wedana gedhong tinuding Kyai Tirtawiguneki bedholan samantrinipun miwah paneketira kaliwon sewu lan bumi</poem>}}<noinclude>{{rh|||231}}</noinclude> 6scxlqsjntw7s78kqllbofkp65z0d89 Kaca:Babad Prayud I.pdf/352 250 24501 77702 77094 2026-05-15T19:08:26Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77702 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen luputa atur marni ::apa miked kalamun kapatrapana. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem>Kang Menggung ing ciptaningwang wus sipate Sri Bupati Jeng Sinuwun Surakarta tiru wong agung wegig gandhes luwes dhasar patut bupati asembada ingkang kaya ingsun iki atelada kang Menggung Wirawidigda.</poem> |<poem>Pasthi gawe neking kathah awadhag wuwuh nyenyengit gumer kang para dipatya Tumenggung Wiradigda ling deleng si Sokawati api busuk bisa padu gumer kang pra dipatya dangu gugujengan sami prapta senggahira wong macanagara.</poem> |<poem>Cinandhak ing Raden Rangga abikut dennya ngladeni mring Dipati Mangkupraja eram kang sami ningali dhakoh anrus ing ati batin andhap-asorip'un ingong wong wiji desa yen ora mangkene pasthi opyak lamun sengkan anyar tanpa ngrasa.</poem> |<poem>Sawusira adhadharan sagung kang para dipati anutugaken kang rembag saking angeling kang margi</poem>}}<noinclude>{{rh|350}}</noinclude> mbnnl9udef2h746w3byiebo7ac0mjql Kaca:Babad Prayud I.pdf/353 250 24502 77703 77095 2026-05-15T19:09:00Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77703 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen ora ambabadi ::yekti tan bisa lumaku ::wau ing marganira ::pangeran inggahireki {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem> Den Rangga Prawiradirja nuwun pareníahireki Adipati Mangkupraja gih anak dika wetoni saking ing wetan nenggih kula saking 1er angidul ambabad damel marga saking 1er kula nginggahi gih pun anak nginggahana saking wetan.</poem> |<poem>Budhal nembah badhe nangga sakancane pra dipati angetan sabalanira nulya menggok ngidul nuli dhusun Kasiman nunggil tanah padhukuhanipun ler Ngantang wetan Ngantang salingsir wetan pan maksih tunggil tumut dhukuhira ing Kasiman.</poem> |<poem>Wus sami wiwit ababat denira akarya margi alas ruwet karowodan bondhot abundhet pring ori yen dua rancahneki pandhan ri galagah rayung pudhak dhedhet aleksan angel angudhubilahi</poem>}}<noinclude>{{rh|||351}}</noinclude> bnf8kd85y3yicir1koo5j2u6qg9od54 Kaca:Babad Prayud I.pdf/66 250 24503 77893 77096 2026-05-15T20:35:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77893 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Rungbinang ngawet mojar apan sarwi anudingi Guntur den pedhak kene padha prajurit.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Tanpa kusur temen wong kang kaya sfra mbondhanken ratu kalih lamun sun tiyupi bedhilku balimbingan iku sira madeg ají sigra sinipat wonge kang munggeng kering.</poem> |<poem>Ingkang nunggang kuda wong nenem kang kena wong dharat papat mati ingkang munggeng kuda kumrutug sami tiba nulya balane Saragni rolas ingatag padha gantia mbedhil.</poem> |<poem>Gulagepan wonge Raden Wiratmeja binedhil akeh keni yen bedhil tan angsal anunjang-nunjang kabalik Kyai Rungbinang sigra ambedhil malih.</poem> |<poem>Kathah malih antuke sami nggalasah giris sigra ngoncati sigra balanira kang mire kinen medal padha mbujunga den aglis lan weha wikan kanca bupatí wuri.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Rungbinang lante ginelar sakité angranuhi</poem> }}<noinclude>{{rh|64||}}</noinclude> 2tyynv84gaspg1nonep59puv5sl6l3b Kaca:Babad Prayud I.pdf/354 250 24504 77705 77097 2026-05-15T19:09:23Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77705 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXXIV. DHANDHANGGULA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Kuneng ingkang kawuwusa malih wau Kanjeng Sultan ing Ngayogya kaengetan ing ature kang paman Pangran Juru nenggih kala gesangireki dinufeng marang Surakarta lampahipun kang rama arsa mundhuta mring kang wayah putra pan salah satunggil karsane ingkang eyang.</poem> |<poem>Pinanggihken lawan putraneki laki paman nanging ingkang wayah kang sepuh wus angsal enggen supados ingkang kantun Sang Aprabu Surakarteki ing mangke sampun lama ing watawisipun mila Jeng Sultan utusan amariksa kang wayah agengireki Nyai Arya Suwanda.</poem> |<poem>Ana dene Nyai Suwandeki lurah manggung sampun taliraga punika taliragane kang rama Sunan Prabu ing punika kinarya nenggih lurah kaparakjaba sinungan jujuluk pan Nyai Arya Suwanda tinimbalan ing ngarsanira wus prapti. Jeng Sultan angandika.</poem> |<poem>Bibi Arya Suwanda sireki lumakuwa marang Surakarta</poem>}}<noinclude>{{rh|352}}</noinclude> 45w7en3mxse8jdgaiwcxvx0cnsfntmr Kaca:Babad Prayud I.pdf/234 250 24505 77834 77098 2026-05-15T20:01:23Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77834 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::layon wusnya kinafan pinaripurna. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem>Binudhalaken sakala pra santana ngater margi Sri Bupati wus utusan mring kang rama Ngayogjeki dennya atur udani sedanipun kang mbokayu langkung ngungun Jeng Sultan utusan pamethukneki Parambanan nuduh kekalih punggawa.</poem> |<poem>Wedana gedhong kalihnya lan satus jagulireki kang angrembat ginentosan kalawan kang para santri nyalataken ing margi salawat miwah tetawur kang sangking Kangjeng Sultan kawan atus kang sapalih warni dhuwit sapalih anggris rupiyah.</poem> |<poem>Kalih atus lan salawat sapra ptanireng Magiri pinetak daganing rama lan daganing ibuneki para santri kang ngaji pinacak ing patang puluh dina anigang reyal salawate santri siji sampun bubar prayayi ing Surakarta.</poem> |<poem>Kantun prayayi Ngayogja para mantri kang nenggani wedanane samya bubar kuneng malih kang winarni serat sangking Semawis mring Yugja Surakarteku</poem> }}<noinclude>{{rh|232}}</noinclude> qxuyexdny1yy8xfnp62fe7a2p9grmiq Kaca:Babad Prayud I.pdf/355 250 24506 77707 77099 2026-05-15T19:09:50Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77707 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::amariksa putumu ::upamane duk maksih alit ::ing mengko wayah pira ::iya putuningsun ::lawan sira prasabena ::ing karsane Sang Prabu Surakarteki ::sira darma sumangga. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Anggawaa kaliwon jro siji mantri papat wolu paneketnya sedheng ngiringake kowe Ni Arya Suwandeki matur nembah pan daweg nenggih wus terang ing pitungkas paduka pukulun ya bibi mangsa bodhoa lakunira mring anak prabu priyayi tur sembah sigra meat.</poem> |<poem>Sapraptaning jawi andhawuhi ing priyayi kang badhe binekta wus siyaga sedayane kumpule lampahipun wonten pitungdasa turanggi kalihatus kang dharat enjing lampahipun saking nagari ing Ngayogya aneng marga sadalu kendhelireki enjing prapta nagara.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Puspanagareki kangjinujug Ni Arya Suwanda satengah rolas praptane ing pukul limanipun kerid marang ing srimanganti satengah nem ngandikan</poem>}}<noinclude>{{rh|||353}}</noinclude> 008zikot1npg3h7so4z0euecgi1cal8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/356 250 24507 77708 77100 2026-05-15T19:10:17Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77708 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::prapteng ngarseng prabu ::Arya Suwanda tur sembah ::angaturaken wau kang salam taklim ::kang rama Kanjeng Sultan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=8 |<poem>Iya nini saungkurireki Paman Aji iya padha harja Suwanda atur sembahe gih pra samya rahayu sira iki aniniliki buyutmu si Sawiyah pan iya si Sentul pan lagi ngancik patbelas tahun iki umure buyutireki kang putra tinimbalan.</poem> |<poem>Prapteng ngarsa ngandika sang Aji lah ta iku dadi buyutira Ni Arya Suwanda kaget meh kedhik mangsanipun sarwi ngartijroning tyasneki iki putri utama sapolahe patut ing ngayogya nora ana ingkang mirib iya suwarnaneki bejane gustiningwang.</poem> |<poem>Dhuh pukulun inggih kirang kedhik Rama Tuwan ngarsakna miwaha inggih kirang satarenceng ngandika Sang Aprabu sira nini mondhok ing ngendi matur Riya Suwanda inggih wismanipun Tumenggung Puspanagara iya dimen baturmu mondhok ing jawi sira ing jro kewala.</poem>}}<noinclude>{{rh|354}}</noinclude> p1yyqvn24h9k1trd0bmrwckmahiwxiv Kaca:Babad Prayud I.pdf/357 250 24508 77709 77101 2026-05-15T19:10:40Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77709 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Atunggala lan buyutireki sampun bubar Sang Nata asalat Nyai Arya Suwandane dherek Den Ajeng Sentul prapteng wisma wus tata linggih den ajeng ngandikanya nini kula nuwun sampeyan ecaa lenggah kula salat nyauri sarwi nyakikik dhuh sampun walangdriya.</poem> |<poem>Ni Suwanda gumujeng ing batin iki putri ratune utama wong ayu tekan tinjane bejane kang amengku begja gedhe yen amarengi kalawan karsaning Hyang Jeng Gusti ing besuk wusnya bakda dennya salat prapta segah saking karaton agili cinatur laminira.</poem> |<poem>Kawan dina lawan tigang wengi Nyai Arya Suwanda neng Sala sampun nelas pitungkase ing Surakarta prabu ukum kitab ing ngangge yekti sarat kudu weruha lanang wadonipun saking saderenge panggya yen tumrapa wong jaba ana natoni wong agung seje nama.</poem> |<poem>Nyai Riya Suwanda wus pamit lampahira pan sadalu marga pukul tiga duk praptane ngandikan sontenipun</poem>}}<noinclude>{{rh|||355}}</noinclude> nmwhj7fd5rsr6b8w3uuujs1pbrn5o0l Kaca:Babad Prayud I.pdf/235 250 24509 77836 77102 2026-05-15T20:02:08Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77836 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::Deler Ubrus tur priksa :::lamun Wiratmeja mangkin :::ngadeg rnahh neng bumi Demak kang wetan. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem>Sang Prabu ing Surakarta sigra dennya marentahi Ki Tumenggung Mangkuyuda nutugken karyanireki lan Jayanegareki nindhihi para tumenggung sagung mancanagara priyayi ing Ngayugjeki ngamungaken Den Rangga Prawiradirja.</poem> |<poem>Sawadya mancanagara miwah Ki Tumenggung kaHh Mangkuyuda Janagara lan wadya mancanagari sangking kidul nadhahi Rangga Prawiradirjeku kang nggitik sangking wetan Wiratmeja wady aneki duk miy arsa dereng tarung sampun bibar.</poem> |<poem>Pambesote ngidul ngetan Wiratmeja atut wuri marang palayuning bala kang nggitik sami angungsir punggawa Ngayugjeki satunggil kang misah laku megati palajengnya Grobogan Sasranagari wong binujung pinegatan sangking ngarsa.</poem> |<poem>Dadya anunjang kang ngarsa Bugise Raden Suwandi seket kang ngingu samangkya</poem>}}<noinclude>{{rh|||233}}</noinclude> 5kkjjuirc8ae1iugv0cxq174rw6d9e2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/358 250 24510 77710 77103 2026-05-15T19:11:07Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77710 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::praptanira ngabyantara ji ::katur sasolahira ::neng Surakarteku ::legane galih kang putra ::langkung anter Lodhang sabarang karseki ::kang putra Surakarta. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Katur lamun ngagama netepi dalil kitab sarat ngawruhana ing saderenge panggihe nontoni tegesipun yen menggaha titiyang Jawi dene wayah paduka inggih yuswanipun duk kawanwelas lumampah yen ing menggahing wangun langkung respati tan wonten jinawada.</poem> |<poem>Antawise kalih welas làtri Kanjeng Sultan nimbali Danurja kalawan Uprup sarénge sapejahe pun Dungkur Uprup Lapro ingkang gentyani sapraptanireng pura miwah Danurjeku jeng sultan alon ngandika iya Lapro maringa Surakarteki ngiringna sutanira.</poem> |<poem> Ki Dipati Anom benjing-enjing seba marang kangmase ing Sala Lapro sandika ature Sultan andikanipun heh Danurja sapa priyogi kancanira wadana Danurja wot santun yen pareng karsa paduka</poem>}}<noinclude>{{rh|356}}</noinclude> r83xrfynx3s4mkmbw44ohl3l2shaexu Kaca:Babad Prayud I.pdf/359 250 24511 77711 77104 2026-05-15T19:11:56Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77711 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::pun Tumenggung Ngurawan kang mangajengi ::pawingkinge sumangga. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem> Iya uwis nora sun kantheni wadanane ya siji kewala iya papat kaliwone nembelas mantrinipun prajurit jro atus sasami urunana kewala trang pitungkasipun duk semana Baureksa wadanane kaparak Baurekseki pan sampun sinalinan.</poem> |<poem> Kang kinarya pun Prawirasekti nama Ki Tumenggung Garwakandha Mas Malar Baureksane pinaringaken sampun amanggihi Pangran Dipati Tumenggung Wiraguna pinaring nameku kang pinijig dherek Pangeran Dipati Pangeran Singasekar.</poem> |<poem>Margasana Kusumayudeki katri sampun pinaring busana sapangadeg sadhuwunge Tumenggung Rawan gupuh ingadikan wus prapteng puri woling dalem anelas mring sira Tumenggung Urawan katri santana Uprup Lapro dragunder tridasa kalih katri upeksirira.</poem> |<poem>Wadya Kadipaten pan kinerig</poem>}}<noinclude>{{rh|||357}}</noinclude> 2chv8kvmnn5s1v3kqkrbs3ulcrfsbq2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/236 250 24512 77837 77105 2026-05-15T20:02:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77837 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::Tumenggung Sasranagari :::kadi Raden Suwandi :::wadya Bugis anggepipun :::kang binekta sadasa :::pendhongkole aneng Pathi :::ingkang seket sinrahken Sasranagara.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Amegati marganira nuju satunggil kang margi ing kiwa tengen jejurang Bugis seket kang mepeti pinelak sangking wuri Wiratmeja menyang ngayun kabutuh purinira ngidak wanj nunjang wani wadya Bugis seket nadhahi tan oncat.</poem> |<poem>Caruk wor tempuh ing aparang kumrupyuk sireping bedhil waos sami pinutungan pakewuh ramy a caruk kris Bugis akeh kacundrik adangu wus kathah lampus Bugis lawan wong Jawa miwah akathah kang kanin Bugis seket kang gesang amung pitulas.</poem> |<poem>Wong Jawa mung tigang dasa akathah kang nandhang kanin balanipun Wiratmeja wauta ingkang abaris kang ngaben wadya Bugis Sasranagara Tumenggung tebih panggenanira nging kapyarsa ing ajurit atetulung rongatus prajurit kuda.</poem> |<poem>Kapethuk ing Wiratmeja</poem>}}<noinclude>{{rh|234}}</noinclude> 7qwy0zmqzrl8m4j9f6j64dofbebupho Kaca:Babad Prayud I.pdf/67 250 24513 77894 77106 2026-05-15T20:36:23Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77894 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sigra sesarean Jayanagara prapta jlog medhuk saking turanggi panyananira kang raka nandhang kanin.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Rinungkeban ingkang raka aris mojar adhi kula tan kanin malesi kewala susulen Wiratmeja polahe negakna pati momor ngucira dudu traping prajurit.</poem> |<poem>Kulambine gadhung ginandhul kewala aja sira awigih mangsa mberajata ya wong mangkana ika Jayanagara nulya glis nitih turangga lajeng sawadyaneki</poem> |<poem>Mantri bumi wus dangu pambujungira pangawatira aglis kanan kering sempal pegat tan ana tadhah binedhilan akeh keni akeh kacandhak ingkang kapengkok wukir.|</poem> |<poem>Aturipun telik pan kaleru uga Gendhing limang pontheki iku kang tinarka enggene Wiratmeja jatine Wiratmejeki sampun angetan nyamar amindha mantri.</poem> }}<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude> t8r8kko8128qm1mg5fn4th4ansn5nbi Kaca:Babad Prayud I.pdf/360 250 24514 77712 77107 2026-05-15T19:12:45Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77712 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::pra dipati sedaya urunan ::nenggih sami papatihe ::gagaman yen ginunggung ::tigangewu lan kang turanggi ::kawanewu kang dharat ::kalebet pipikul ::serat binakta Urawan ::mangkat Ngahad Kaliwon ping wolu sami ::marengi Dulkaidah. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=22 |<poem>Ing tahun Be sengkálanireki Naga Liman Angobahken ing fat gumuntur mriyem urmate para kaliwon ngayun para mantri sadaya wuri pukul wolu angkatnya saking Ngayogjeku sadinten dennya lalampah prapteng Gondhang kendel sadalu nulyenjing lajeng tengara budhal.</poem> |<poem>Prapteng Wanakarta pukul katri sampun sinaosan pasanggrahan nenggih sakidul kaligen pan ragi wetanipun wadya Surakarta kang kardi Uprup matur Sang Nata yen kang rayi rawuh Pangran Dipati Ngayogja ing punika makuwon Wanakarteki dinten benjing praptanya.</poem> |<poem>Srinarendra sigra marentahi pra sentana kinen amethuka sareng lan Oprup lakune Pangran Dinagareku lan Pangeran Diwijayeki</poem>}}<noinclude>{{rh|358}}</noinclude> 5j5hdacno4wpbvapdedp1216pwiq2l7 Kaca:Babad Prayud I.pdf/361 250 24515 77713 77108 2026-05-15T19:13:07Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77713 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::lan Pangeran Prabu ::sami kendelnya Kaleca ::tuwan Uprup bekta kereta kakalih ::tata aneng Kaleca. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Punggawa siji kaliwon kalih kang naosi nenga Wanakarta ing pukul pitu budhale saking Wanakarteku praptanira Kaleca sami Pangeran Adipatya Mataram agupuh lan sagung santananira tatabeyan lan Uprup Surakarteki santana Surakarta.</poem> |<poem> Tatabeyan lan Uprup Matawis Pangran Dipati nulya salaman lan kang raka katigane Pangran Dinagareku Sang Pangeran Diwijayeki Pangeran Danupaya sigra Pangran Prabu ngabekti dhateng kang paman Jeng Pangeran Dipati Anom Matawis manthuk tan angandika.</poem> |<poem>Ki Temunggung Ngurawan nulya glis mamitaken arsa kakampuhan Pangeran Dipati Anem misah sentananipun pan sadaya kang sipat mantri pra samya kakampuhan neng Kaleca dangu Salasa Paing praptanya sawusira kampuhan Uprup ngaturi</poem>}}<noinclude>{{rh|||359}}</noinclude> b0kvz6ao3ru1azouri522liayw276ok Kaca:Babad Prayud I.pdf/237 250 24516 77838 77109 2026-05-15T20:04:05Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77838 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::lajeng campuh ing ajurit :::arame aprang turangga :::Wiratmeja anadhahi :::Sasranagara ngukih :::ngawaki angembat lawung :::den tanggen Wiratmeja :::ing kene padha wong becik :::ingayatan lawung Wiratmeja nggiwar. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=43 |<poem>Balane mawur sasaran Sasranagara nututi anjelih panguwuhira Heh Guntur baya sireku dudu trahing Matawis teka lumayu ing pupuh lumayu ngungsekken urip anak sundel lumayu prang dudu lanang.</poem> |<poem>Saking giras Wiratmeja Sasranegara angungsir maledug arebut paran wadyanira pothar-pathir kacandhak keh ngemasi Wratmeja palayunipun nusup nggiwar mring wana apan maksih den kekinthil marang sira Tunienggung Sasranagara.</poem> |<poem>Kang sami ngungsir sadaya ingkang melak sangking wuri wus amor kang pra dipatya lajeng pra samya nut wuri nilap palajengneki angilang Raden Mas Guntur nikel palayunira wurining mungsuh dennya mrih</poem>}}<noinclude>{{rh|||235}}</noinclude> 992gmma7w2pwpwr4kt7xmp8bj59wtwa Kaca:Babad Prayud I.pdf/362 250 24517 77715 77111 2026-05-15T19:13:34Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77715 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mangkat nitih kareta. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Pangran Adipati ing Matawis sakareta lan Uprup Beiman Uprup Ngayogja tunggile kareta Pangran Prabu tan adangu praptanireki ing loji wus pepekan kang pra dipatya gung Dipati Mangkunagara sampun dangu denira wonten ing loji wau duk praptanira.</poem> |<poem> Uprup Beman lan tamunireki wusnya tata dennya palenggahan munggeng kursi sedayane santana pra tumenggung Adipati Mangkunagari ngandika atatanya dhimas lampahipun pinten dalu aneng marga tan sumahur pangeran ewed tyasneki tannya marang Urawan.</poem> |<poem> Ki Tumenggung Urawan wotsari gusti inggih jeng raka paduka Pangran Mangkunagarane sigra wau umatur Adipati Anom Matawis kakangmas atampiya nenggih salamipun Kangjeng Rama jengandika anggli ing dhengku anuwun kawula adhi Kiyai paring salam.</poem> |<poem> Paman saini raharya kiyai tuwin inggih sedaya yayimas</poem>}}<noinclude>{{rh|360}}</noinclude> 0cerh1rpcy7hye1ya995svvjj1yqisz Kaca:Babad Prayud I.pdf/68 250 24518 77895 77113 2026-05-15T20:36:47Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77895 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Apan amung wong pepitu ro wangira anjog ing Kabulengkir bumi Surabaya aneng ngriku martapa yen kala manjing nagari ing Surabaya amindha mantri ngemis.</poem> |<poem>Kalih dinten tigang dinten sipengira ngastana Ngampelgadhing pan ora kawruhan lamun iku satriya sayekti sami angemis sabaturira kahana sami ngemis.</poem> |<poem>Kawuwusa wau kang ngungsir ngupaya nggene mungsuhireki sadinten tan angsal mubeng abilenglengan Ranadipura kang kardi ngubengken lampah bingung rep antukneki.</poem> |<poem>Gantya sami wong pasisir ingkang ngampyak. wong Sala Ngayogjeki nadhahi kewala salamine mangkana para dipati andugi Kyai Rungbinang sampun wonten kangnjawil.</poem> |<poem>Lamun Ranadipura tyase juijana tan tumemen ing kardi Pangran Mangkuningrat wus kathah kang uninga kang umatur bisik-bisik</poem> }}<noinclude>{{rh|66||}}</noinclude> oc97mp9cg5kcapygbbm43pisnj2rine Kaca:Babad Prayud I.pdf/238 250 24519 77839 77114 2026-05-15T20:04:34Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77839 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::binaledig kasaput surya diwasa.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=46 |<poem>Kang mbujung samya kelangan neng wana sinapih latri makuwon kang pra dipatya enjinge rembagan sami denira angulati lan punggawa Ngayugjeku sakancane pra dipati bubuhane ngulari ngalor lan ngetan.</poem> |<poem>Punggawa ing Surakarta bubuhane angulati kidul ngilen punika wus pisah bubaran sami wadya Surakarteki angidul anjog Kumuncup bupati ing Ngayugja anjog ler Kendheng ing wukir ngosak-asik Tanah Lasem pagunungan.</poem> |<poem>Wus kadya wong njebad gemak rakite dennya ngulati wau Raden Wiratmeja mung wong sapuluh kang ngiring kalebet jalu estri anjog ing Kuwu Baledhug yen dalu alelampah yen ririten ndhelik wanadri neng Carewek dhukuh ing Kuwu kasimpar.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Mangkuyuda mrasudi kang pra dipati sinarta lawan bebeya ngulati wong desa sami miwah tabetireki kang wus suwiteng Mas Guntur</poem>}}<noinclude>{{rh|236}}</noinclude> 3e33hlz0i1p7m62eh59oztxr0w2c4vs Kaca:Babad Prayud I.pdf/252 250 24520 77739 77115 2026-05-15T19:24:17Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77739 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXII. POCUNG''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Ya ta wau Tumenggung Mangkuyudeku lan Jayanagara pinangadeg ing bupati kurmatira Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Wau Uprup wusnya pamit lajeng mantuk myang katri punggawa sareng sami nembah amit mijil sangking dalem Kamangkunagaran.</poem> |<poem>Prapta wau parentahira Sang Prabu jisim Wiratmeja pinetaka Ardi Wijil tinunggil kang eyang Pangran Tepasana.</poem> |<poem>Sang Aprabu putusan ngaturi weruh dhateng ingkang rama Kangjeng Sultan Ngayugjeki lamun menggah pun Wiratmeja wus pejah.</poem> |<poem>Kengingipun pun Wiratmeja tinukup neng wana asimpar bature wolu nggalinting neng Carewek bature gusis sadaya.</poem> |<poem>Wananipun nenggih ing Kuwu Baledhug wit bebah-bebahan pan abdine Paman Aji bubuhane pun Rangga Prawiradirja.</poem> |<poem>Yen angaler lawan angetan puniku den pun Mangkuyuda yen mangilen ngidul nenggih kenenipun punika wonten bubuhan.</poem> |<poem>Pun Tumenggung Amangkuyuda kang kidul wus titi winaca</poem>}}<noinclude>{{rh|250}}</noinclude> mnnx2nchfgirnbyyc2a0a1qhyn2nz3q Kaca:Babad Prayud I.pdf/69 250 24521 77896 77116 2026-05-15T20:37:17Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77896 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Ranadipura kanggenan ibuneki.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Wiratmeja kinarya bedhange lama samangke dipun ungsi lajeng tinadhahan nguni satengah wulan tinunggil barisan maksih amung samangkya ingantukaken wingi.</poem> |<poem>Dhateng Jagaraga ing panamurira ingaken para selir sakit neng barisan mila ngulihken enggal dadya gunem pra dipati ngaturi serat inggih warni kekalih.</poem> |<poem>Kang satunggal katur ing Jeng Sri Narendra dene ingkang satunggil katur ing Pangeran Mangkunagara nulya lumaksana kang tinuding sapraptanira kang katur ing Nrepati.</poem> |<poem>Sampun katur miwah kang dhateng pangeran kang katur ing Sang Aji langkung ewedira dening Ranadiningrat langkung seneng Sri Bupati pened prangira lawan dhapure pekik.</poem> |<poem>Lawan tilas bupatinira kang rama Jeng Sultan ing Matawis sanadyan wong desa</poem> }}<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude> 1bafwc0dqughg2l47chefvvp0xuan5m Kaca:Babad Prayud I.pdf/239 250 24522 77840 77117 2026-05-15T20:04:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77840 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::punika kang pinarsudi :::linalopa sarta mawi ngebang-ebang. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=50 |<poem>Ing Trenggalek Surabrata kang binobot amarsudi mring Tumenggung Mangkuyuda prabeyane den sabeki tan lami lampahneki nadyan tuk tumenggungipun punggaweng Wiratmeja Tumenggung Wilatikteki lan Mas Jayeng Den Tirakusumasmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||237}}</noinclude> gavzkxbrt8fb4s502m31nh35zonsyo8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/253 250 24523 77749 77118 2026-05-15T19:29:14Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77749 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Sultan langkung sukeng galih ::wus ngangsuli mring kang putra Surakarta. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Kuneng wau wonten malih kang winuwus wukir kidul mangkya angot edane wong wukir sami bali sapangilen sapangetan.</poem> |<poem> Kang rinatu Susunan Gandhik nameku purwane punika wong sesawah nerau gandhik meles ireng asih gandane angambar.</poem> |<poem>Dadya wau wong pira-pira angumpul gandhik tinalika den kosoki den wedangi nora ilang gandane sangsaya ngambar.</poem> |<poem> Samya ngungun cipta dudu wadinipun prapta Tinggi samya nerka yen wahyu sayekti andhingini pepucuk wahyu karajan.</poem> |<poem> Sampun rembag sampun ngumpul barisipun pan wus kapiyarsa Nagyogja Surakarteki rembug mukul anglampahaken gegaman.</poem> |<poem>Kang tinuduh Ngayogja ingkang lumaku punggawa santana Pangran Jayakusumeki kinanthenan Ki Tumenggung Jáyadiija.</poem> |<poem>Budhal sampun Surakarta kang tinuduh Pangran Mangkuningrat lawan Tumenggung satunggil ing Kadhuwang Tumenggung Suryakusuma.</poem> |<poem>Lampahipun kang eler kang kilen sampun</poem>}}<noinclude>{{rh|||251}}</noinclude> m7piq0s6q6pq1r5ta4jhw84843d2tvu Kaca:Babad Prayud I.pdf/254 250 24524 77752 77119 2026-05-15T19:30:15Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77752 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::pagut padedesan ::Pangran Jayakusumeki ::barisipun angancik Sampar Paliyan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=17 |<poem>Pangran Timur abaris Gunungsapikul wong gunung miyarsa yen gegaman kang anggitik samya prapta wong Yogja wong Surakarta.</poem> |<poem>Sampun agung barise wong Gunungkidul wonten kuda dhomas kalih ewu dharatneki kawaratan baris kang kulon kang wetan.</poem> |<poem>Sunanipun Gandhik pinikul neng wakul cindhe ulesira pikulan andha malangkrik sapolahe wong gunung jawal angakal.</poem> |<poem>Ingulesan cindhe wau andhanipun pinayungan jenar wus amoh songsonge nguni kang adarbe Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Amoh sampun kari aneng Gunungkidul dinekek ngastana mangkya wonten karyaneki Sunan Gandhik punika kang sinongsongan.</poem> |<poem>Sampun rembug wong Yogja Surakarteku pareng semadosan denira umangsah jurit sami ngampyak singa desa kinarakan.</poem> |<poem>Barisipun kang ageng neng Gunung Sewu sigra atengara Pangran Jayakusumeki budhal ngetan Pangeran Jayakusuma.</poem>}}<noinclude>{{rh|252}}</noinclude> gj3um8309014vkopx7gimnvoh18a7qs Kaca:Babad Prayud I.pdf/255 250 24525 77761 77120 2026-05-15T19:35:38Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77761 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Pangran Timur tengara budhal angidul wong gunung atata gagaman arsa nadhahi Pangran Jayakusuma nempuh anunjang.</poem>}}<noinclude>{{rh|||253}}</noinclude> fdxyail8xt4q6j0uxlxd83hmkngqm2x Kaca:Babad Prayud I.pdf/256 250 24526 77764 77121 2026-05-15T19:37:00Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77764 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Ki Tumenggung Jayadirja asru ngamuk saprajuritira kuda satus ngidak wani tajem lawan Pangeran Jayakusuma.</poem> |<poem>Ngiles purun kuda satus patang puluh prajurit pilihan arahane munggeng wuri wadya gunung amethuk kaselak gila.</poem> |<poem>Kuwur-kuwur ulap ing busananipun sayekti tandang wong desa lawan priyayi sapolahe ing aprang akuthetheran.</poem> |<poem>Wong sapuluh wong siji ingkang anempuh yen tinumbak akeh keni ting talebuk kang tiba saking turangga.</poem> |<poem>Kang lumayu susunane ganti runtuh pan sampun katawan kang lumayu ngetan sami kaparanggul bala ing Mangkuningratan.</poem> |<poem>Ginaruduk sangsaya kathah kang lampus kang kulon amelak kang wetan asru nadhahi ambelasah besah-basih akeh pejah.</poem> |<poem>Larut mirut keh naleset nusup-nusup wuri wong ngarahan angubres anyarahi akeh ingkang candhak binanda.</poem> |<poem>Wonten satus wong Yogja Surakarteku kang antuk babandan wus kendel angampul sami wong Ngayoja miwah bala Surakarta.</poem>}}<noinclude>{{rh|254}}</noinclude> geiwzijo2u4i19ugzyndqzgyz3ta5j2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/257 250 24527 77766 77123 2026-05-15T19:37:49Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77766 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=33 |<poem>Pangeran Timur Pangran Jayakusumeku samya pakumpulan neng dhusun Semanuwirik ameriksa gandhik kang rinaja-raja.</poem> |<poem>Tabetipun gandhik panggadan rumuhun nenggih panglawedan kongsi gerang gandhik Acih pasthi dhatan kena rinusak gandanya.</poem> |<poem>Kang adarbe gandhik gagawan rumuhun saking Kartasura katariwal duk Gunungkidul tinedhah.</poem> |<poem>Badanipun linirokken liru sampun antuke wong Yogja yen wismane dhusuneki tumut Sala ing ngantukaken mring Sala.</poem> |<poem> Lamun tumut wong Yogja sambating dhusun babalen sadaya wus bubar sagung pray ayi babandane kang patut-patut ginawa.</poem> |<poem> Kang tan patut sami linuwarken sampun mung kari limólas kang binekta mring nagari sareng budhal wong Yogja wong Surakarta.</poem> |<poem>Tan kawuwus ing marga sapraptanipun nagri sowang-sowang katur marang Sri Bupati sapratingkah duk aprang lawan karaman.</poem> |<poem>Kuneng wau kang mentas sami anglurug gantya kawuwusa kadi sareng lampah neki ing carita yektine genti ingucap.</poem>}}<noinclude>{{rh|||255}}</noinclude> dh2w01oywcc2tyqrl7l8q53g9cm0oqm Kaca:Babad Prayud I.pdf/70 250 24528 77897 77125 2026-05-15T20:37:41Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77897 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>arang dhapur mangkana tan ana gothang samenir wangunanira tuhu Radyan Sentyaki.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Jajenggote wit mila saking jejaka muyek mung kalih nyari kateling sinipat brengos tinepi atap marma kewran Sri Bupati dadya karsannya tinimbalan pribadi.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Rungbinang lawan kang raka kuneng wadya pasisir wus dadi rembagnya lamun Candrakusuma yekti ana kang ngeceki satingkahira pasthi Raden Suwandi.</poem> |<poem>Nak sanake ing Raden Suryanagara mila dadi bupati nduweni nagara Sultan mangsa ningaa mung katon Raden Suwandi Tumenggung Candra kusuma tan kaeksi.</poem> |<poem>Seratira bupati nenem kang prapta gilig tunggil sauni prapta mring Pangeran Arya Jayakusuma dadya pra samya jinawil kang pra pangeran pra dipati pinijig.</poem> |<poem>Serat saking pasisir gantya nupiksa</poem> }}<noinclude>{{rh|68|}}</noinclude> t370mmtyegrnuwz4qfl0mrdu42kdo9k Kaca:Babad Prayud I.pdf/258 250 24529 77767 77127 2026-05-15T19:38:09Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77767 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=41 |<poem>Sang Aprabu Surakarta wus angutus mring Deler Samarang lamun Ratu Mas ing mangkin karsa ingantukken marang ing Madura.</poem> |<poem>Suratipun apan inggih Sang Aprabu kang dhateng Madura Deler anglakokken aglis serat dalem ingkang dhawuh Panembahan.</poem> |<poem> Sampun laju suratira sang Aprabu mring Dipati Sampan lan serat Deler pridadi ingkang dhateng Panembahan ing Madura.</poem>}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Surat Deler ingkang prapta Madureku sung tupiksanira kang rayi Ratu Mas mangkin pipisahan ing krama lawan Sang Nata.</poem>}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=45 |<poem> Pan puniku sampun karsaning Hyang Agung tan keni den nalar kang mungguh ing manungseki Panembahan sampun owah lan Sang Nata.</poem> |<poem>Miwah wau serat dalem ingkang dhawuh marang panembahan Madura maringi paksi yen kang rayi Ratu Kencana pinirak.</poem> |<poem>Ingkang sampun takdir karsaning Hyang Agung mangsa kenging owah pancen titahing Hyang Widi kula kangmas datan kuwasa akarya.</poem> |<poem>Milanipun kangmas angenirna kuwur sumelanga ing tyas ngowahken ukara yekti boten kenging ing Madura yen mingkara.</poem>}}<noinclude>{{rh|256}}</noinclude> 53icbkd0z4fel0fxibbv9wms82mem4c Kaca:Babad Prayud I.pdf/259 250 24530 77768 77129 2026-05-15T19:38:22Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77768 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=49 |<poem>Yata wau dutanipun Sang Aprabu kang maring Semarang pamit sampun den angsuli sakathahe prakara Deler andhadha.</poem> |<poem>Lampahipun prapteng ing Surakartésuk serat wawangsulan kang saking Deler Samawis tinupiksa duk myarsa suka Sang Nata.</poem> |<poem>Dennya Deler tan sumringgah dennya tangguh susuker Sang Nata nenggih pantes den awaki sampun menggah kang dadi manising praja.</poem>}}<noinclude>{{rh|||257}}</noinclude> 25d6l4fzsbg13u0s4awiychzyonekyf Kaca:Babad Prayud I.pdf/240 250 24537 77841 77136 2026-05-15T20:05:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77841 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXI. ASMARADANA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Kerid ing Surabrateki Jayeng lawan Wilatikta lan wong Kuwu mantri bae kang nama Surajenggala sampun kapanggih lawan Tumenggung Mangkuyudeku lan Tumenggung Janagara.</poem> |<poem>Cecala mung kang ngrawati marang Raden Wiratmeja Pangeran Purwaningrate senapati Pabaratan lalana di misesa yen mesthiya ebangipun sami sagah ngenakena.</poem> |<poem>Tumenggung Mangkuyudeki sagah nagari Balora tigang ewu kinaloron Jayeng lawan Wilatikta dene Surajenggala pendheme Kuwu Baledhug ginanjarken pasthinira.</poem> |<poem>Sami ginanjar kulambi mring Tumenggung Mangkuyuda lawan nyelawe ketone lan apyun saendhog samya sukeng tyas katiganya nuhun marang Ki Tumenggung jejeneng kang dhedhemitan.</poem> |<poem>Ngawruhan solahneki gya Tumenggung Mangkuyuda emut marang tetindhihe dipati Mangkunagara </poem>}}<noinclude>{{rh|238}}</noinclude> 2hz9oucjrstd6x7ll7a4ogn8yfbj6oz Kaca:Babad Prayud I.pdf/241 250 24538 77842 77137 2026-05-15T20:05:48Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77842 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::aran Jayasuwarna ::ing pratingkah salin lagu ::ingkang kinen angakena. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Angedan ingkang anuding Dipati Mangkunagara sampun binekta serate nenggih serat kamandaka miwah akintun kathah nyamping sinjange Den Ayu paningset lan kasemekan.</poem> |<poem>Wus mangkat kang laku sandi dene Jayeng Wilatikta andombani kang sangking doh amung Ki Surajenggala lawan Jayasuwarna ambekta gentho tetelu ingkang ambekta kiriman.</poem> |<poem>Wus prapta lampahireki bumi Lasem pagunungan jejurang ngiring-iring lor wukir alit kidulira panggih Surajenggala miwah Jayasuwarneku kalihe sami karuna.</poem> |<poem>Pakintun lan surateneki tinampan sigra winaca yen kang rama pitungkase Dipati Mangkunagara iku Surajenggala nglakoni parentahingsun angumpetaken ing sira.</poem> |<poem>Turuten saaturneki sun kene lagi bicara</poem>}}<noinclude>{{rh|||239}}</noinclude> 8yy65imzc1filhngh7h5umixey7v2b8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/242 250 24539 77843 77138 2026-05-15T20:06:13Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77843 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Sinuhun kalawan Deler ::lamun sira anuruta ::maria amurweng prang ::Deler sanggup bumi Kudus ::pinancekaken ing sira. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Cikalsewu Karangpaing sewu iku genepira rongewu Kudus dadine telungewu pancenira suka duka miy arsa wauta Raden Mas Guntur anut mring Surajenggala.</poem> |<poem>Binekta angidul malih wangsul mring Carewek prapta ing Kuwu padhukuhane sa'mar datan kawistara nora kambah manungsa sambat sampun tigang dalu nora kapregok ing upa.</poem> |<poem>Surajenggala gya pamit arsa amendhet dhaharan sekul panganan kang akeh sakira-kira tuwuka lan abdine sadaya sapraptanira ing Kuwu wus lajeng mring pabarisan.</poem> |<poem>Layeng Wilatikta panggih lan Tumenggung Mangkuyuda katur wus pinernah nggoni Raden Guntur sarayatnya neng Carewek pinarnah matengaken rembugipun Ki Tumenggung Mangkuyuda.</poem>}}<noinclude>{{rh|240}}</noinclude> sk1wlvqqcajkr8o6iecshycufhc6gng Kaca:Babad Prayud I.pdf/243 250 24540 77844 77139 2026-05-15T20:06:38Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77844 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Badhe pinaran ing wengi ingkang sagah amaijaya Wiratmeja antakane pun Jay eng Tirtakusuma kalawan Wilatikta Ki Surajenggala sampun kinen mantuk olah-olah.</poem> |<poem>Telung dina nora bukti Den Mas Guntur lan kang garwa mung jagung mentahan bae dadya Ki Surajenggala dennya ken olah-olah kabeh nguraban kecubung jangan iwak sekulira.</poem> |<poem>Jangan menir pecel pitik bongko miwah gegudhangan ingurab kecubung kabeh wus binekta asar prapta ing Carewek enggennya awuta Raden Mas Guntur wus panggih langkung sukanya.</poem> |<poem>Sareng gugup aningali sega putih lawan jangan pecel pitik aneng cuwo sakuwali janganira gupuh lajeng dhinahar sakeca denira dhahar.</poem> |<poem>Sawusnya lorod ing abdi wu sarrii tuwuk sadaya dupi rep mbaliyur kabeh nanging sami terkanira wong lawas nora mangan sayekti padha mbaliyur</poem>}}<noinclude>{{rh|||241}}</noinclude> qps16vcujz0xmib1a65h9epdyfjjjbn Kaca:Babad Prayud I.pdf/244 250 24541 77845 77140 2026-05-15T20:07:03Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77845 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sare ing teba sadaya. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Munggeng soring kang kelampis tengah wana langkung simpar dhukuh tan ana wismane Ki Tumenggung Mangkuyuda miwah Jayanagara budhal saprajuritipun anjenengi lampahira.</poem> |<poem>Kang nedya ngrabaseng pati kang arsa umadeg raja Den Mas Guntur Pangran Anem wus prapteng jawi panggonan kendel baris sadaya Surajenggala rumuhun manggihi Jayasuwarna.</poem> |<poem> Lajeng ngirid lebetneki raden Jayeng Wilatikta ing jawi rakit barise katur yen kapati nendra Wratmeja sarewangnya estu keni ing kecubung wong wolu bature lanang.</poem> |<poem>Dene kang estri kekalih sami kapati anendra sigra Jay eng ing lebete wus prapta prenahing dagan panggenane badheyan Jayasuwarna kang nuduh Wiratmeja anggone nendra.</poem> |<poem>Jayeng wuwusira aris heh kakang Surajenggala gujengana sabuk ingong mengko Raden Wiratmeja</poem>}}<noinclude>{{rh|242}}</noinclude> hxdnc0kqv9ol9xjvd5sc2qm2lp2r5mx Kaca:Babad Prayud I.pdf/245 250 24542 77846 77141 2026-05-15T20:07:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77846 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sun agagi ping tiga ::yen panon ingsun sumaput ::yekti maksih duwe walat. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Surajenggala nulya glis anggujengi sabukira umangsah angemek-emek sare sakilene garwa Jayeng narik curiga angagagi tan sumaput pan kongsi ambal ping tiga.</poem> |<poem>Nulya inguculken aglis marang Ki Surajenggala ginagap kulung atine sigara ginoco seksana ngantep panggoconira bres swarane gumapruk tinalika kacep ganja.</poem> |<poem>Ingentis curiga anjrit anglumba niba palastra gumrah garwa wungu geger pra sami anarka macan Tumenggung Mangkuyuda lan Jayanagara gupuh sigra anusul priyangga.</poem> |<poem>Mung lawan batur ngengalih para mantri nusul samya ing jro kumresek swarane samya uleng-ulengan bature Wiratmeja mung siji kang mbekta purbus binedhil kang leng-ulengan.</poem> |<poem> Pepitu kang keni kanin Ki Tumenggung Wilatikta</poem>}}<noinclude>{{rh|||243}}</noinclude> tflvsatmq2ziw3ecwd9te53syva4v40 Kaca:Babad Prayud I.pdf/71 250 24543 77898 77143 2026-05-15T20:38:47Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77898 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>mungela yen ngrawati marang Wiratmeja Raden Tumenggung Candra kusuma ing Warung pasthi boten anarka sareng Raden Suwandi. {{gap}} Mangsa borong ing ngriku Pangeran Arya kang satira tinuding marang ingkang rama nyenapateni lampah amanggih kadi puniki boten angawag kaluwak den ideki.</poem></ol><noinclude>{{rh|||69}}</noinclude> azyyy7d2lgub1pupaovw9uj6kmt7bat Kaca:Babad Prayud I.pdf/246 250 24544 77847 77144 2026-05-15T20:08:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77847 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::wau kang keni jajane ::tan pasah mbeler kewala ::kathah ing jro karasa ::kang mbedhil sigra lumayu ::nyalimpet datan kacandhak. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=30 |<poem>Sakancane sami gusis wong wolu roro kacandhak ranging wong ala Ki Pawon Den Ayu panggendhongira kang nenem sami ngilang Jayasuwarna agupuh denira mala garwanya.</poem> |<poem> Baris kang jawi wus prapti sami angubres kang ngical datan kapanggih wus ngadoh wau Den Ayu kapanggya mangku lay oning raka lan Rarasati puniku selire sami karuna.</poem> |<poem>Sigra wau marepeki Ki Tumenggung Mangkuyuda mring Raden Ayu ature bendara kula punika inggih darmi lumampah rama paduka kang nuduh Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Sartane ari nrepati animbali ing sampeyan dene ta. kang sampun layon pinikira tanpa karya siku mungkir ing titah dhateng ingkang among tuwuh tan kenging yen sak-serika.</poem>}}<noinclude>{{rh|244}}</noinclude> gudtk75i8sald1r2wm0bhiunslok5f6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/247 250 24545 77848 77145 2026-05-15T20:08:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77848 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Raden Ayu karuna njrit ing tyas kadya mbelanana ing priya my arsa ature Ki Tumenggung Mangkuyuda sigra Jayasuwarna sumambung atur anayut dhuh bendara pindho papa.</poem> |<poem>Amikir kang sampun lalis lamun paduka mopoa ing timbalan rama katong miwah ramanta piyambak gilig lan ari nata rama kalih temah kolu ing putra nasar den lunas.</poem> |<poem> Tumut duraka sayekti sedane raka paduka duraka ing ratu roro duraka ing maratuwa Raden Ayu miyarsa gigirig wau manahipun gya Tumenggung Mangkuyuda.</poem> |<poem>Jasuwarna den kejepi merpeki Den Ayu Sigra nembah sarwi nyandhak layon Tumenggung Jayanagara kinen nyaosken kuda Tumenggung Mangkuyudeku matur suwawi bendara.</poem> |<poem> Paduka nitih turanggi ngandikan rama paduka ping kalih rama Sang Katong Heh kakang Jayanagara dika ngiring bendara kula menedi puniku</poem>}}<noinclude>{{rh|||245}}</noinclude> 8qb369ba18lmd0blm6vx7hnpdzugatg Kaca:Babad Prayud I.pdf/248 250 24546 77849 77146 2026-05-15T20:09:19Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77849 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::layone kang sampun seda. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem> Raden Ayu pareng gampil sampun anitih turangga wanci byar wau kenine Raden Ayu Wiratmeja ing pitulikur Sapar ing Kemis Pon budhalipun sangking Carewek mring wisma.</poem> |<poem>Ing Kuwu praptanireki tata lay on binandhosa lesung kalih kang ingangge tinangkepaken rinembat Tumenggung Mangkuyuda utusan sungtupikseku mring Rangga Prawiradirja.</poem> |<poem> Lamun Wiratmeja keni tinukup ginitik ing prang wonten ing wana Carewek umesat ingkang dinuta Tumenggung Mangkuyuda budhal sing Kuwu Baledhug lan sagung kang pra dipatya.</poem> |<poem>Bubar mring Surakarteki ing marga tan winursita prapta nuju lingsir kilen njujug Kamangkunagaran Tumenggung Mangkuyuda Pangran Mangkunagareku parentah kinen lajenga.</poem> |<poem> Sumiwia Sri Bupati wadya gung wus minger ngetan kendel ing loji jujuge wus panggih Uprup miyarsa</poem>}}<noinclude>{{rh|246}}</noinclude> o6k8ofkealo7inqlg7xpuu8qqlwpw5y Kaca:Babad Prayud I.pdf/72 250 24547 78204 77147 2026-05-16T09:08:30Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78204 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''VI. {{tab}} Pocung''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Estu lamun Candrakusuma Tumenggung ing waru punika nenggih ingkang munggareni pinanggihken Pangran Rangga Baledawa.</poem> |<poem>Minta estu angidenana satuhu ing Pangeran Rangga Baledawa anuruti amung inggih adarbe tuduh kewala.</poem> |<poem>Lan pitutur nuduh kaluputanipun mung amurweng yuda mbadhagal datanpa wangsit pasthi rusak tanpa karkat karusakan.</poem> |<poem>Rembagipun pra dipati kancanipun paduka wangsulna pan inggih serat puniki lamun dede puniku damel sampeyan.</poem> |<poem>Apan amung bener luput ing prang pupuh padamelan kula reruwang daganing baris boten pasah misih bocah kang pinatah.</poem> |<poem>Makatena serat paduka wewangsul mring kang pra dipatya pasisir nenem kang prapti seratipun tan eca tinadhahana.</poem> |<poem>Langkung serung arungan ing ngrika marung. sigra weh wangsulan serate kang pra dipati tan inganggep ing Pangran Jayakusuma.</poem> |<poem>Praptanipun serat Jayakusumeku</poem> }}<noinclude>{{rh|70||}}</noinclude> 0mgrake0t8vf6sa1gretyhu8y5x2503 Kaca:Babad Prayud I.pdf/249 250 24548 77850 77148 2026-05-15T20:09:46Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77850 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::suka lajeng siyaga ::lajeng ngirid Ki Tumenggung ::Mangkuyuda sakancanya. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=44 |<poem>Ing punika Kyana Patih nuju sanget gerahira amarengi prakara keh milane kaliwonira Tumenggung Wiradigda neng Suranatan atugur kalawan Tumenggung Sasra.</poem> |<poem>Kilen Suranatan, kedhik denira amakajangan Uprup Beman sapraptane jro pura panggih pandhapa lawan Sri Naranata ngaturken kang sangking nglurug Mangkuyuda Janagara.</poem> |<poem> Lan wadya mancanagari prapta mungsuh kawatgata pejahe Pangeran Anom rabine sampun katawan suka Sri Naranata miyarsa ature Uprup katri punggawa ngandikan.</poem> |<poem>Tumenggung Mangkuyudeki Tumenggung Jayanagara Bratawirya katigane Tumenggung Wirawidigda lawan Tumenggung Sasra ingkang ngirid lebetipun prapteng by antara Narendra.</poem> |<poem> Gantya manguswa pada Ji anulya wau kang putra</poem>}}<noinclude>{{rh|||247}}</noinclude> dkaal09175hyhplkalmpl4dey49byvk Kaca:Babad Prayud I.pdf/250 250 24549 77851 77149 2026-05-15T20:10:19Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77851 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angujung Den Ajeng Sombro ::ing Nata asru karuna ::kang rama angandika ::uwis babo suteng ulun ::yatalah nora kayaa. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=49 |<poem> Lakone awakireki mundur kayajejaragan Kakangemas kang sun totoh met mantu wong tan ukara sira sun alem uga bisa nglakoni nak ingsun ngantepi talitining prang.</poem> |<poem> Mariksa Tumenggung kalih rakite kala kacandhak katur purwa wasanena Sang Nata suka miyarsa alón dennya ngandika heh banjura sira Uprup maring Kamangkunagaran.</poem> |<poem>Paringna boyongan iki kang siji maring Kakangemas Iku Raden Ajeng Sombro sun paringaken Kakangmas Rarasati maringwang bakale sun gawe iku pambatak badhaya tuwa.</poem> |<poem> Uprup sigra pamit mijil angirid katri punggawa miwah Raden Ayu Sombro wauta sapraptanira dalem Mangkunagaran aneng palataran methuk Dipati Mangkunagara.</poem>}}<noinclude>{{rh|248}}</noinclude> bqhyextb77r6znod03uq58pwww56i65 Kaca:Babad Prayud I.pdf/251 250 24550 77738 77150 2026-05-15T19:24:03Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 77738 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53 |<poem>Tabe nulya tata linggih ngabekti katri punggawa Uprup Beman lon tembunga kula ingutus Sang Nata kinen asung tupiksa yen keni Raden Mas Guntur pan inggih kacandhak pejah.</poem> |<poem>Lawan inggih kaping kalih rabi lan selir katawan timbalanira Sang Katong garwanipun Wiratmeja pinaringken paduka wonten dene seliripun kang pinundhut Ari Nata.</poem> |<poem>Kendel regol wus pinanggil Raden Ayu Wiratmeja wusnya katimbalan rawuh malajeng ngebyuki sigra ing pangkone kang rama anjrit karuna Den Ayu keng rama anenggak waspa.</poem> |<poem>Pangandikanira aris Dipati Mangkunagara wis pupusen sutaningong dinawa datanpa karya wus manjinga ing wisma kang para ibu gumuruh karuna mecah kaluwak.</poem>}}<noinclude>{{rh|||249}}</noinclude> mb66v9b1ygruoamy3scj9f1fbfx752y Kaca:Babad Prayud I.pdf/73 250 24551 77899 77152 2026-05-15T20:39:51Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77899 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>langkung angrerepa sampun wonten wados galih tiyang sepuh kula pasisir sadaya.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Dadya kumpul nenem kang pra tumenggung anupiksa serat saking baris Ngayugjeki. wewangsule Pangeran Jayakusuma.</poem> |<poem>Raosipun kena jejailan iku lumuh katempelan serat amirit dhedhengki angalakna ing kancane nora kajat.</poem> |<poem>Tegesipun amung mekaten puniku saking sampun dadya aprentahe ratuneki nora kena pra dipati jejailan.</poem> |<poem>Dadya wau pasisir para tumenggung lajeng rembagira lapur ing Deler Semawis wedi apa aran panggawe wus nyata.</poem> |<poem>Aja tanggung den nelakken cacadipun senapati Sala solahe amangun jurit andaleya Pangran Arya Pakuningrat.</poem> |<poem>Pijer dhadhu ora angrawati mungsuh wus dadi kang serat rempeg kang para dipati kang tinuduh milayanglud enggening mengsah.</poem> |<poem>Nggening mungsuh wus praptela sami tambuh jemek kalih pisan dutane ingkang para ji Garobogan kalawan ing Jagaraga.</poem> }}<noinclude>{{rh|||71}}</noinclude> 6kqm19876feyn7bhjs8op98tcwarc0c Kaca:Babad Prayud I.pdf/215 250 24552 78401 77154 2026-05-16T10:33:26Z Kriita 885 /* Validated */ 78401 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" /></noinclude><ol><poem>pun Uwa Pengulu kula utus amaringna inggih talak kangmas ing dinten puniki dhateng Kaendranatan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=8 |<poem>Ingkang raka aturira aris inggih sumangga yen sampun telas eklas anrus ing batine bilih ta Sang Aprabu mbendhol gecing ngungun ing wuri rehning akrap akadang apura lan maklum Sang Nata mahh ngandika sampun boten Kangenas manah wus ening kang raka tur Sumangga.</poem> |<poem>Ki Pangulu sigra den timbali lan Apatih sapraptaning pura Sang Nata pangandikane lah sira Wa Pangulu iya lawan si Adipati Mangkupraja milua sira ingsun utus maringa Kaendranatan katemua lan Adhi Ajeng sireki paringna talakingwang.</poem> |<poem>Wus pinasthi karsaning Hyang Widi yen pinisahaken ing akrama amunga samene bae saduwek-duwekipun ingsun ora ngelong sadhuwit den gawaa sadaya apa sukakipun rampung pitungkas Sang Nata Ki Pangulu sangking jro pura wus mijil lawan rekyana patya.</poem>}}<noinclude>{{rh|||213}}</noinclude> osvp42bqdkpfve80x7wwqkqknxq85y5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/216 250 24553 78393 77155 2026-05-16T10:24:54Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 78393 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Praptanira Kendranatan panggih lawan wau Jeng Ratu Kencana amanggihi carakane lawan wau kang Ibu Ratu Maduretna manggihi Kyai Pangulu turnya Gusti Kangjeng Ratu Kencana kula dinuta dhateng raka paduka Jeng Sri Bupati amaringaken talak.</poem> |<poem>Kangjeng Ratu kendel tan nauri ingkang waspa dres kadya turasan senggrak-senggruk sadangune kang ibu ngandika rum sarehena tyasira dhingin kapriye aturira si Kakang Pangulu kalawan Ki Mangkupraja aja ewuh ature marang Sang Aji nulya Ratu Kencana</poem> |<poem>Wuryaning waspa rinabaseng sih kasemekan kataman nismara kinenceng tyas regacange lamat-lamat malulut kang amelut kawileting ris res-res kang ngaruara rinerah karuruh dennya mring reh karaharjan kang linelet lupute ing nguni-uni kena ing pangrencana.</poem> |<poem> Kangjeng Ratu angandika aris Wa Pangulu ingong durung tampa pinaringan talak mangke aturna tobat ingsun</poem>}}<noinclude>{{rh|214}}</noinclude> hm6jp6p6zubsxz664qpg10w6blf3fr8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/217 250 24554 77816 77156 2026-05-15T19:53:36Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77816 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::marang Kangjeng Sri Narapati ::tur pejah gesang ingwang ::sumangga ing lampus ::nadyan tan kapeca garwa ::kinebona ywa ginggang sangking jro puri ::pinaringana putra. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem> Sapa ingkang pinaringken marni sun emonge ana ing jro pura den prasasat emban bae sun nemah lebur luluh ya meksiha aneng pada Ji lah uwis Mangkupraja lan Uwa Pangulu yen mengkono aturingwang Ki Pangulu Kiya Patih mbrebes mili mundur saha wotsekar.</poem> |<poem>Ratu Maduretna amemeling Mangkupraja Si Thole ngandikan yen uwis apa kary ane si Mangkunagareku yen wus mulih mampireng ngriki Mangkupraja sandika praptaning kadhatun ing ngaby antara Narendra saature kang rayi Ratu Mas nenggih tuwin sasolah tingkah.</poem> |<poem> Kyana Patih umatur wotsari pun Kakangmas winelingken medal inggih dhateng ing ibune Ratu Maduretneku sru gumujeng Sri Narapati padakena ing rumab Kakangmas puniku dika mampir kasalepak</poem>}}<noinclude>{{rh|||215}}</noinclude> rnsnavae0y2yklzsoqrb0lbbuj3ee8r Kaca:Babad Prayud I.pdf/218 250 24555 77818 77158 2026-05-15T19:53:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77818 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sangking boten wonten rencange apikir ::mila melingken Kangmas. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem>Jer kainan puniku Jeng Bibi nora tinalika ing peputra. piyangkuhe sadinane mangke andika matur Kakangemas dhateng Jeng Bibi aben tengah kewala jer padha sadulur sakedhik Kangmas mingisna ing lupute katona Kangmas pribadi Kangmas pan boten kilap.</poem> |<poem> Ingkang raka wus kalilan mijil lajeng dhateng ing Kamaduretnan sapraptanireng daleme lajeng ngandikan masuk mring kang ibu mring dalem aglis wusnya tata alenggah ing katiganipun Raden Arya Endranata ingkang ngadhep abdine dipun gusahi tan keni marek celak.</poem> |<poem>Ratu Maduretna ngandika ris priye Thole yeku arinira Mbok Nganten teka mangkene karsane Sang Aprabu iya apa iku nemeni dene nimbali sira kang putra umatur ibu kawula belaka sampun lami nggih kala tedhak rumiyin dhateng wisma kawula.</poem> |<poem>Duk sarimbit kondur mampir ngriki dados mangke sampun sangang wulan</poem>}}<noinclude>{{rh|216}}</noinclude> omsz9znpozzjskg1uvoru9se9i7vkon Kaca:Babad Prayud I.pdf/219 250 24556 77819 77160 2026-05-15T19:54:18Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77819 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::nggene ngandika tetaren ::Kangmas andika ngrungu ::inggih para ratu dhingin ::wonten kang pegat gesang ::lawan garwanipun ::kula ajeng papegatan ::lawan rayi andika Dhajeng puniki ::kula wus boten kelar. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=22 |<poem>Kula kagyat paran Sri Bupati boten ilok inggih boten adat nguni-uni caritane wontena murweng laku mbok akarya saranging bumi temah damel derajat amanggiha luput rehning samya krama kadang ingapura kula sanget anggendholi mbesemaken nagara.</poem> |<poem> Nunten inggih ibu ngantarani let sawulan Jangkungpacar prapta ndhawuhken geger karsane kula maksa tan nurut Jangkungpacar awanti-wanti let sadina rong dina inggih praptanipun kula pinrih njurungana ing karsane pun Jangkung kang kula titik yen sira tan belaka.</poem> |<poem>Dadya ewuh-ewuh ingsun iki wong ginubet pinrih nutugana durung weruh prakarane nunten weca Ki Jangkung doisa: kisas menggah ing jawi boten namung sapisan</poem>}}<noinclude>{{rh|||217}}</noinclude> tbubf63zc8s06kuyge5atds7mvr0q3h Kaca:Babad Prayud I.pdf/74 250 24557 77900 77161 2026-05-15T20:40:20Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77900 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Sami nguthuh purun angalingi mungsuh malah wewindona lamun makaten kang gendhing tanpa wekas tan wruh rusaking nagara.</poem> |<poem>Pun Tumenggung Candrakusuma ing Warung pan rong ewu dhomas bupati Cangkok nagara pundi angsal kelayu ing Wiratmeja.</poem> |<poem>Kadangipun nak-sanak Raden Tumenggung nenggih Garobongan nggih mangsa borong kumpeni langkung dede mokal lan tindak punika.</poem> |<poem>Deler kejot nalikanira angrungu bupati nem ika ingkang kekalih kumaki langkung kendel ing bicara wus kinontrak.</poem> |<poem>Deler sampun karya surat lumastantun surate tetiga marang Ngayogja satunggil srat kekalih kang dhateng ing Surakarta.</poem> |<poem>Badhe katur satunggil marang Sang Prabu kang satunggil marang Dipati Mangkunagari ingkang dhateng Ngayogja sampun kadriya.</poem> |<poem>Pan anjaluk ing Garobogan Tumenggung bupati culika piyangkuhe nglelanangi wani ngekul marang satrune nagara.</poem> |<poem>Budi patut puniku Tumenggung Warung wong Cangkok nagara atinggal ing gustineki|</poem> }}<noinclude>{{rh|72||}}</noinclude> o85x5sly7jk3cfi1wa4ljl2j2tkg6g4 Kaca:Babad Prayud I.pdf/220 250 24558 77821 77162 2026-05-15T19:54:38Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77821 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::pan inggih kalangkung ::mila tan kenging ngapura ::kuciwane rayi paduka Sang Aji ::dene akrama kadang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Duk miyarsa ature putreki Pangran Mangkunagara pratela Jeng Ratu Maduretnane petak jaja angadhuh waspanya dres lir toya mili dhuh aja sira dawa uwis-uwis kulup mung kowe welasa mringwang jer adhimu kang akeh pisah nggon sami mung siji iki iya.</poem> |<poem>Sawengine sarinane keksi sun tunggoni nuli mangkeneya kulup polahingsun priye kang putra nembah matur ibu niita titahing Widi susah sampun pinanjang ngandika kang ibu lah kapriye budinira kowe rembug aku temua pribadi lan arimu Sang Nata.</poem> |<poem>Pangran Mangkunagara turnya ris sakalangkung ibu aprayoga boten kuciweng semune sawingkinge pun ibu yen pinareng kula ngudhoni manawi katarima usung-usung lumbung pan putra sampeyan nembah pitung tobat boten mberung malih-malih anerak kaluputan.</poem>}}<noinclude>{{rh|218}}</noinclude> a7lqt6yjd838b2okwugdms2qte79wnc Kaca:Babad Prayud I.pdf/221 250 24559 77822 77163 2026-05-15T19:54:59Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77822 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem> Nanging ibu adat manuseki inggih lamun wewatekan sabar yen sampun tiba nepsune adat angel satuhu awis kenging yen dipun pulih kang ibu angandika mbok manawa kulup katolih ingsun lan sira iya dene duk kawit sira tinari Iah iya mbokmanawa.</poem> |<poem>Ratu Maduretna ngandika ris iya kulup wis sira muliha nanging bojomu si Ebeng kon temu lawan ingsun atinjoa mbokayuneki kang putra pamit nembah wau praptanipun daleme nimbali garwa prapteng ngarsa kang raka ngandika aris angger sira ngandikan.</poem> |<poem>Mring ibumu lumakua aglis Kangjeng Bibi Ratu Maduretna lawan angirasa angger mring mbokayumu Ratu Kencana kang wus aneng jawi babo wong asesanak wajib elingipun aja yen mukti kewala yen anandhang papa-mangkene nestiti antepe wong sesanak.</poem> |<poem> Ratu Bendara sigra lumaris sapraptanira Kamaduretnan pinanggihan neng panepen pan Ratu Kencaneku</poem>}}<noinclude>{{rh|||219}}</noinclude> 0h4h6yb7tv5kvlokjix2av09dnkgohp Kaca:Babad Prayud I.pdf/222 250 24560 77823 77164 2026-05-15T19:55:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77823 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::katri lawan ibunireki ::Jeng Ratu Maduretna ::angandika arum ::Ebeng ingsun iki maras ::marang sira wong lanang samengko iki ::tan ana kang tolehan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem> Sira lawan mbokayunireki nora beda padha laki kadang padha milu kangelane melarat lara lampus ya wus padha sira antepi rehning alaki kadang milu lebur luluh prandene ora katingal ingkang putra Ratu Bendara wotsari ibu jamak wanodya.</poem> |<poem> Sesamine lawan kebo sapi yen manggiha inggih kalepatan datan wonten kang katoleh nanging kawula ibu rehning estri kula andhemi inggih barkat sampeyan tan mengeng sarambut nglungguhken estri kawula sok peneda awak puniki netepi wangunaning wanodya</poem> |<poem> Inggih gemi nastiti awedi wedi inggih kang kalih prakara dhingin mungguh Pangerane kaping kalih mring kakung sami ugi mungguh Hyang Widi yen dosa ing wong lanang nggih dosa Hyang Agung tegese inggih samangsa</poem>}}<noinclude>{{rh|220}}</noinclude> 1ndhji6xf5erepj7u6w8zigahsx8zt5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/75 250 24561 77901 77165 2026-05-15T20:40:45Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77901 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tan kemutan pamiyarane Jeng Sultan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>De kelayu Wiratmeja tanpa dunung bupati punapa pasthi wonten kang ngajani sasolahe Suwandi kang darbe solah.</poem> |<poem>Duk amirsa kang jaja kadya gumadhug lir binandhem sela watu item sakarambil tambuh-tambuh Sultan tibane kang duka.</poem> |<poem>Suratipun Deler pratela kalangkung malah Wiratmeja ginawa anuwun idin madeg raja ing Pangeran Baledawa.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Warung kang nggawa mariku mring Pangeran Rangga Baledawa nuwun idin pan gumecos pawarta tanpa laporan.</poem> |<poem>Langkung bingung Jeng Sultan ing galihipun riwut dereng karsa mikir kang para dipati kawuwusa srat kang dhateng Surakarta.</poem> |<poem>Tembungipun serat kang katur Jeng Prabu yen Kangjeng Susunan punggawane ala siji angrawati biyangane Wiratmaja.</poem> |<poem>Boten tutur senapati pijer dhadhu Jeng Susunan sigra ndukanana senapati wau serat kang marang Mangkunegaran.</poem> |<poem>Tembungipun Deler kelangkung nenutuh pangran dedukaa</poem> }}<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude> 1eijpjysgb1cqevzluvdb4kqja7ba10 Kaca:Babad Prayud I.pdf/223 250 24562 77824 77166 2026-05-15T19:56:03Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77824 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::manah sedheng milika marang wong pekik ::anyidra guna karya. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem>Doseng laki dosa ing Hyang Widi den bot roro inggih Bu punapa kang kinarya tetangkise ing donya remak-rempu ing akerat wikana benjing samangsa karentega nelika wong bagus dadi wong mungkir ing titah pan ing jodho wartine dinamel pasthi dhateng Hyang Mahamulya.</poem> |<poem> Tur ta putra sampeyan sayekti Kangmas Punika asor ing wanda imbuh satriya gecule lony ot wani ing sepuh parandene kula ugemi jer sampun titahing Hyang karsa Maha Agung jinodho lawan kawula boten keni wong wadon sedya mbawani ngekul marang wong lanang.</poem> |<poem> Doseng laki dosa ing Hyang Widi destun boten narima ing titah wong kudu cilaka gedhe melik ing tyas puniku lamun boten den mujadahi tan wande karusakan pawestri pukulun genge jejer rong prakara sampun bandrek lan sampun anyenyolongi guna kaya wong lanang.</poem> |<poem> Lah punapa kang dadi bilai yen kareksa duweke wong lanang</poem>}}<noinclude>{{rh|||221}}</noinclude> o71jher1fhmprd8khgwneu1s4j97lc7 Kaca:Babad Prayud I.pdf/224 250 24563 77825 77167 2026-05-15T19:56:33Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77825 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mangsa dadia cacade ::kang putra gya rinangkul ::Ratu Maduretna lingnya ris ::wus nora duwe maras ::ingsun mring sireku ::sapa muruk maring sira ::Bapakamu kang putra matur wotsari ::inggih rayi sampeyan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Inggih sarta nalare pribadi sok engeta tinitah wanodya angrampasi luamahe angandika kang ibu uwis enak tyasingsun iki Bruwok maring ing sira maring mbokayumu tyasingsun kalangkung susah wong amberung ati Madura den dhoki kang nora dadi warah.</poem> |<poem> Kowe Ebeng apa sok menangi yen Sang Nata iya akongkonan marang lakimu si Thole kang putra nembah matur inggih saben kula meningi nunten binekta ngiwa inggih adatipun tan liya tiyang sakawan kadhang sareng trekadhang awiji-wiji wong sakawan punika.</poem> |<poem> Pun Tumenggung Wirawidigdeki kalawan Tumenggung Arungbinang katri mantri kadipaten sekawane Ki Jangkung kadhang sareng trakadhang genti</poem>}}<noinclude>{{rh|222}}</noinclude> 2zwmnq2mqxhc3yjtj48y8za7qsth0ey Kaca:Babad Prayud I.pdf/225 250 24564 77826 77168 2026-05-15T19:57:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77826 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> ::kula boten uninga ::ing prakawisipun ::agawat sami angiwa ::boten kenging kajiwan-jiwan menawi ::amrih sinoming ujar. </poem><noinclude>{{rh|||223}}</noinclude> 4djo3wiuddfk14naw8lgkas06281nmv Kaca:Babad Prayud I.pdf/76 250 24565 77860 77169 2026-05-15T20:18:36Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77860 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>den sanget marang kang rayi karya tiwas asembrana andaleya.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Pijer dhadhu nora wruh solahe mungsuh kadi wong urakan tan wruh pakaryane jurit pijer padu lan Tumenggung Arungbinang.</poem> |<poem>Pangran langkung gugup tumameng kadhatun panggih ari nata buka srat raose sami Sri Narendra asru denira ngandika.</poem> |<poem>Lah puniku Kakangmas tan wonten rembug ngenggalken kewala si Tumenggung Brajamusthi mbekta serat kula lan serate Kangmas.</poem> |<poem>Pangran matur lan malihipun Sang Prabu ingkang sampun prapta kang sami ngandikan nguni abdi dalem tetiyang mancanagara.</poem> |<poem>Nenggih luwung kairida pun Tumenggung Brajamusthi ngiras angenggalaken pun adhi Arungbinang ngirida Ranadipura.</poem> |<poem>Sigra dhawuh mring Brajamusthi Tumenggung angembani serat lan ngirid mancanagari binantokken marang barisan den enggal.</poem> |<poem>Lampahipun ing marga datan winuwus wus prapteng barisan duk punika maksih atis bupatine sagung wong mancanagara.</poem> |<poem>Satumenggung nora liwat telung puluh</poem> }}<noinclude>{{rh|74||}}</noinclude> oyw7ekv8djh7s78ysq0pmlq4k4hk59q Kaca:Babad Prayud I.pdf/226 250 24566 77827 77170 2026-05-15T19:57:49Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77827 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XX. SINOM''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Kang Ibu alon ngandika Mbok Nganten iya sireki kaceke wong duwe bapa iya ana mituturi nadyan Madura nenggih akeh wong wadon pinunjul mung sira iki nyawa beladhak kepati-pati tinutuha sataun mangsa uwisa.</poem> |<poem>Dene iku arinjra tur nora laki repati prapteng anggep kasantosan mrih wajibe wong ngaurip yekti rumekseng ati amrih salamet rahayu yen ati rungsang-rungsang kena dhinadhung ing eblis iya iku wong nora welas ing badan.</poem> |<poem>Enak temen lakonana pikire arinireki iku wong waspadeng badan dene ta kudu bilai ing kana wus pinasthi pepancening Lokil Makpul Ebeng ta wis muliha nanging sawengi rong bengi titilika iya mring mbokayunira.</poem> |<poem>Wus. pamit Ratu Bendara ing nalika limang bengi Ratu Kencana neng jaba Jeng Ratu Maduretneki nuju dina sawiji</poem>}}<noinclude>{{rh|224}}</noinclude> ejaidrraspa1ff7qyqc85al4m7jwiyh Kaca:Babad Prayud I.pdf/151 250 24567 78215 77175 2026-05-16T09:10:20Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78215 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>amrih aja karya sangga runggining tyas.</poem></ol> {{ordered list|start=31 |<poem>Ki Tumenggung Arungbinang tur sembah umatur aris pukulun inggih pun bapa Puspanagara suwawi kintuna serat nuli dhateng Puspakusumeku inggih ngumbarken wadya kang nggecul kinen ngrusuhi ing nagara nging cangkem karut kewala.</poem> |<poem>Dadya nggegerena pasar nging sampun mendhet pawestri sasukane karya susah nadyan jaritysawatawis nging sampun sinjang keling lawan mendheta mas sampun sanadyan amemala sampun mecahaken kulit sampun kongsi mutungkan balung kewala.</poem> |<poem>Suka gumujeng Sang Nata sarwi angandika aris ya wus nuli kongkonana mring si Puspakusumeki layangira pribadi anggendhong timbalaningsun lan kangmas akintuna nggih prajurit satus malih den akokna Wonge Kangmas Mangkuningrat.</poem> |<poem>Pangeran matur sandika sarwi gumujeng dennya ngling Heh Arungbinang ngupaya ingkang padha angrusuhi ameta mas lan keling</poem> }}<noinclude>{{rh|||149}}</noinclude> bbhyl80gjx7d0f4yez23ydhm5zg8h13 Kaca:Babad Prayud I.pdf/227 250 24568 77828 77173 2026-05-15T19:59:02Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77828 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::kang ibu maring kedhatun :::arsa apepanggiha :::lawan kang putra Sang Aji :::sapraptaning pura kendel paregolan.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Melingaken Nyai Soka kang kinen matur Sang Aji Sang Nata alon ngandika matura ing Kangjeng Bibi pan ora sun aturi lagi rubed ing tyas ingsun iya sapasar engkas Jeng Bibi ingsun aturi ing samengko iya Jeng Bibi kondura.</poem> |<poem>Kaparak jaba umesat prapteng regol andhawuhi marang Ratu Maduretna ing timbalan Sri Bupati duk amiy arsa anglir tinotog alu tan lurus kondur anenggak waspa praptane dalemireki ingkang putra wau Jeng Ratu Kencana.</poem> |<poem>Sigra manggihi ibunya kang putra tetaken warti kang ibu akin saurnya maksih duka Sri Bupati pan ora den temoni aneng regol kinen wangsul wau Ratu Kencana ngebyuki pangkon buneki karuna sru kang ibu sayut ing putra.</poem> |<poem>Iya ing sapisan engkas ingsun malebeng jro puri samengko durung karuwan</poem>}}<noinclude>{{rh|||225}}</noinclude> 5ufyejt9ajkwfar37qeyak59rx9th7y Kaca:Babad Prayud I.pdf/228 250 24569 77829 77174 2026-05-15T19:59:32Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77829 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mangkana sapasar malih ::Ratu Maduretneki ::mring kadhaton praptanipun ::anulya ingaturan ::pinanggihan ing mandhapi ::wusnya tata lenggab kang bibi turira. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Ki Prabu kula winekas Mbok Nganten tur tobatneki ing pati urip sumangga mung inggih panuwuneki pinaringa putreki den dady a emban satuhu pinernahna kebonan sok wontena jroning puri nora kudu nggih lamun pineca garwa.</poem> |<poem>Sang Nata lon angandika Ibu nggih ta kadipundi sampun karsaning Hyang Suksma pinisahaken ing krami lawan Dhiajeng nenggih ing tyas kawula wus pupug kanji kaliwat-liwat lir andulu sarpa mandi pan punika sampun takdire Hyang Suksma.</poem> |<poem>Inggih ta sanggen-nggeneya ibu kula kang ngingoni yen masalah dadi garwa tyas kula sampun anjering lah ibu kadipundi ameksa wong datan purun Jeng Ratu Maduretna miyarsa pangandika Ji aturipun kang bibi inggih Sang Nata.</poem> |<poem>Kalamun keni-kenia</poem>}}<noinclude>{{rh|226}}</noinclude> 440v2xjdcd0u310kwd5pj5zp76d8vqe Kaca:Babad Prayud I.pdf/152 250 24570 78216 77185 2026-05-16T09:10:27Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78216 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>tuwin agawea tatú iya bedane apa Rungbinang umatur aris yen makaten inggih anggep memengsahan.</poem></ol> {{ordered list|start=35 |<poem>Sayekti sanes wicara asor rayi padukaji yen kados wau punika nggih datan dados prakawis apan namung nggateli dutaning anak arusuh tan arsa ngantukken nuli wong den andheg kalawasen njarag beka.</poem> |<poem>Tiba makaten kewala yekti nunten kinen mulih kang putra Ratu Bendara yen laminya ngrerusuhi wonge akeh penyakit gecul-gecul padha kumpul sami suka miyarsa sadaya wus sami mijil miwáh Pangran Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Tumenggung Puspanagara prapta jawi sigra tuding caraka amandhi surat marang Puspakusumeki tuwin Sang Adipati Mangkunagara anuduh gulang-gulang lumampah ngawandasa lan sinelir ingkang kalih dasa wong Suryaagama.</poem> |<poem>Jangkep satus lampahira datan kawarna ing margi praptane nagri Ngayogya</poem> }}<noinclude>{{rh|150}}</noinclude> ewn4pnkfj0pve3rpntxb48pub8ktbz2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/229 250 24571 77830 77177 2026-05-15T19:59:54Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77830 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen kula sampun ngemasi ::punika sakarsa-karsa ::dipun antosa Sang Aji ::inggih anedya ugi ::apuranipun Ki Prabu ::Sang Nata angandika ::ibu sampun boten kenging ::nggih wontena pepalang sundhul ngakasa. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=13 |<poem> Ibu pan kula terajang sanadyan dadia pati kang ibu anenggak waspa inggih sampun Sri Bupati amit anulya mijil Ratu Maduretnanipun sumaput tingalira sapraptanira ing jawi nitih tandhu samarga-marga udrasa.</poem> |<poem>Sapraptaning dalemira wus lenggah putra manggihi kang ibu alon ngandika wus datan kena pinulih lakinira Sang Aji wus mutung anrus bebalung akeh sesambatingwang nora tolih angantepi baya-baya sangking gunging dosanira.</poem> |<poem>Dene ta nora kayaa iya Mbok Nganten sireki sun tutken karaya-raya teka sira tan apikir nora ngeman sireki ing badan miwah ing biyung kang putra sru karuna ibu paduka pejahi</poem>}}<noinclude>{{rh|||227}}</noinclude> bdmyv8nafkvcycfju5ced7t2d7975um Kaca:Babad Prayud I.pdf/77 250 24572 77861 77178 2026-05-15T20:19:29Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77861 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>malah akeh kurang jaranane pra dipati ingkang pasthi salawejejangkepira</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem>Yata wau lampahipun Ki Tumenggung Brajamusthi prapta ing barise pra dipati aneng tanah Balora sampun apanggya</poem> |<poem>Sampun dhawuh timbalanira Sang Prabu miwah ingkang serat Pangran Mangkunagareki sampun dhawuh katri kang sami ngandikan.</poem> |<poem>Dukanipun langkung sanget binarukut tingsem kawentara mungdandan pating bathithit ingkang kantun Mangkuyuda Janegara.</poem> |<poem>Ingkang mantuk ngandikan pan sampun laju saha balanira kang kantun wadana katih kang pinacak senapati Mangkuyuda.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Jayanegara puniku kang dadi sosoran angreh kang para dipati sawontene wadya ing Mancanagara.</poem> |<poem>Apanamungkilen Ardi Witisipun ingkang lumaksana sak wetan kati Kadhiri pinekewed ing Pangeran Singasekar</poem> |<poem>Yata wau kang sami ngandikan mantuk wus prapteng nagara ing Kapatihan duk prapti wus apanggih lan Dipati Mangkupraja.</poem> }}<noinclude>{{rh|||75}}</noinclude> jcx3qlpmvvawuuwv2e4zkm5297718i8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/230 250 24573 77831 77179 2026-05-15T20:00:16Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77831 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::njejemberi kawula awet neng donya. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Kang ibu angres miyarsa pamularireng kang siwi wus babo aja dinawa mundhak amuwuhi sedhih uwis pupusen nini tobata marang Hyang Agung payo padha nenedha ing kasalahanireki muga-muga Hyang Suksma angapuraa.</poem> |<poem>Nanging Ratu Maduretna ing kabatinanireki ngupaya marganing pejah wirange kepati-pati binetah datan keni pan amung anyipta lampus regem wus pasang rahab marang antara ning pati mulus ing tyas antaka ingela-ela.</poem> |<poem> Apan wus samadya candra kang putra aneng ing jawi tanpa guling tanpa nadhah Ratu Kencana tyasneki mung ngapuraning laki dene ciptane kang ibu amung palastranira aja kongsi lami-lami pan wus ora kerasan neng alam donya.</poem> |<poem>Wewah antaraning dina ing Sura nandhesireki nyandak kaping nem ing Sapar Sang Nata anjunjung siwi pambajengira estri</poem>}}<noinclude>{{rh|228}}</noinclude> q6c4e895exi34h0tb0a755tma3u88a0 Kaca:Babad Prayud I.pdf/231 250 24574 77832 77180 2026-05-15T20:00:35Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77832 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Den Ajeng Bontor nameku ::pinaring namanira ::Den Ayu Kadhaton mangkin ::lan anjunjung arine Suradilaga. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Ing Kajumuwah nem Sapar pinaring namanireki Den Ayu Kulon punika Mbok Rengga sinung kekasih Den Ayu Wetan nenggih Den Ayu Kulon kang sepuh Panji Suradilaga pinaring namanireki Dyan Tumenggung Apanji Cakranegara.</poem> |<poem>Arine Den Ayu Wetan panyuling Kudacawening jinunjung pinaring nama Raden Panji Jayengsari lawan arinireki mas gamel sinung jejuluk sisih kadange tuwa nama Panji Jayengresmi samya dadya kapitanireng tamtama.</poem> |<poem>Mayoripun kang anama Rahaden Tumenggung Panji Cakranagara kawasa ngreh wadya jro sadayeki kagajiyan pra sami mung satunggil may oripun Panji Cakranagara prajurit jro wewah malih jangkep sewu tamtamane wolung dasa.</poem> |<poem> Katanggunge kawandasa saweg punika samangkin Tumenggung Puspanegara</poem>}}<noinclude>{{rh|||229}}</noinclude> 8lvw292ij0ept5v51c6vdobpc7bs31c Kaca:Babad Prayud I.pdf/232 250 24575 77833 77183 2026-05-15T20:00:54Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77833 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::saseleh marang kang siwi ::kang wus tariman putri ::anema Raden Tumenggung ::nenggih Puspadiningrat ::gedhong sapanengen sami ::kaliwone Ardiguna anyar pejah. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem> Tanpa kadang tanpa suta kang kinarsakken nggentosi Ki Ngabei Jagaswara mantri kaparak ingelih Ki Puspanagareki wus sepuh pandhongkolipun pan agung pinundhutan carita prang Surawesthi satutuge carita samerbung pisan.</poem> |<poem> Sedane Sultan Balitar popongan bumi Kadhiri lajenging padhamenira Panembahan Purbayeki sabanjuripun malih langkung suka sang Aprabu kuneng malih winarna kang anggung sungkaweng galih Kangjeng Ratu Kencana lan ibunira</poem> |<poem> Kangjeng Ratu Maduretna kapaok sesek sinebit lan sampun anyandhak gerah tan arsa den usadani sangsaya angranuhi wauta ing gerahipun Jeng Ratu Maduretna duk prapta pura sawengi mangkya lajeng kadawan ndhedhaut atma.</poem> |<poem> Seda Ratu Maduretna</poem>}}<noinclude>{{rh|230}}</noinclude> nz0e2876ynqu1pmd699v095zza3uspg Kaca:Babad Prayud I.pdf/78 250 24576 77862 77184 2026-05-15T20:20:04Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77862 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=47 |<poem>Ki Tumenggung Ranadipura pinikut aneng Kapatihan binelok wus den jarahi Pangran Mangkuningrat Tumenggung Rungbinang.</poem> |<poem>Sami laju ngandikan marang Sang Prabu ing pura wus prapta ing ngabyantaraning Aji angandika Sang Nata marang kang raka.</poem> |<poem>Kangmas paran ta laku dika anglurug anemu pocapa oleh cacad ing kumpeni asembrana weya kemba andaleya.</poem> |<poem>Pijer dhadhu nora wruh tingkahing mungsuh kongsi kalancangan marang bupati pasisir padha weruh ing solah bawaning mengsah.</poem> |<poem>Langkung ndheku kang raka langkung anuwun Sang Nata tatanya Rungbinang paran sireki dene kongsi mangkene ing lakunira.</poem> |<poem>Sira iku ingsun tuduh prang sawindu tur gedhe mungsuhnya paran dene durung dadi kabestoren katundhesan lakunira.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Rungbinang nembah umatur pukulun Sang Nata atadhah duka kang abdi estu tetep padamelan ing ayuda.</poem> |<poem>Dedenipun padamelan manuseku karyaning Hyang Suksma untung ilang ing ajurit Sri Narendra miyarsa lejar ing driya.</poem> }}<noinclude>{{rh|76||}}</noinclude> 68m5jkko3je8i6as0jpgx3cidv1xvv1 Kaca:Babad Prayud I.pdf/79 250 24579 77863 77188 2026-05-15T20:21:22Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77863 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=55 |<poem>Paran iku mangkono kadadenipun Rungbinang tur sembah pukulun sami sayekti cinethikan ing ngriki lan ing Ngayogya</poem> |<poem>Inggih jumbuh sami cacad kalihipun nging inggih kapara ageng ing ngrika sakedhik rehning tunggil lampah inggih sami ugi.</poem> |<poem>Sang Aprabu alon pangandikanipun iya kaya paran ciri gedhe lawan cilik matur nembah Tumenggung Andanasmara.</poem> }}<noinclude>{{rh||v.}}</noinclude> fotkxq4pt06j6geos9fmmcsq97xga18 Kaca:Babad Prayud I.pdf/80 250 24582 77864 77191 2026-05-15T20:21:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77864 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>'''VII.{{tab}} Asmarandana''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Pukulun kaot sayekti ing ngrika dene kahana kang kelayu punggawane Tumenggung Candrakusuma tumut ing Wiratmeja punika nak-sanakipun Suwandi Suryanagara.</poem> |<poem>Bupati Cangkok nagari Warung kalihewu dhomas teka alabuh lampahe inggih kamukten punapa malih ingkang sinedya kajawi nglampahi tuduh gusti mangsa makatena.</poem> |<poem>Dene kawula ing ngriki inggih ta pun Jagaraga sok winastan ngumpetake tegese nyukani tedah amrih sampun kacandhak mung punika dosanipun gumujeng wau Sang Nata.</poem> |<poem>Paran dadine ta benjing sun watarapaman Sultan abot agedhe tresnane mring paman Suryanagara wor milu abebakal Tumenggung Rungbinang matur leres panarka paduka.</poem> |<poem>Warti wewatekaneki rama paduka Jeng Sultan inggih nerus ing balane</poem> }}<noinclude>{{rh|78||}}</noinclude> pvpu0b6xy7t4xextvhcjab3n912ajvz Kaca:Babad Prayud I.pdf/81 250 24583 77865 77193 2026-05-15T20:22:18Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77865 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tan angegung kawibawan dennya asih ing wadya linabuhan nggempur tempur adat ingkang kalampahan,</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Ewa makaten manawi inggih amawi prekara kang pinutus pepantese wahyaning kang mangsa kala kala kalalen ala yen eling alangan alus pinatah amurweng tebah.</poem> |<poem>Wong Agung sampun ulami Jeng rama paduka Sultan tumulus ing pilepase aluwes alus welasan marang kantha waskitha pepanthane bener luput tan kalempit ing polatan.</poem> |<poem>Malah pawarti pasisir Raden Suwandi punika tumute binektakake inggih suwargi kang raka paring kanthi ngayuda nanging tan pantes rinungu Sang Nata alon ngandika.</poem> |<poem>Karepe kang dhingin-dhingin wong Agung padhaa bisa lamun tirua samengke sun iya nora kaduga besem yen koncekana panggawe durjana iku ana wajib ana sunat.</poem> |<poem>Nanging ingsun dudu kardi.</poem> }}<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude> b4nindlkn5i15ww7h2u91quagj31p0i Kaca:Babad Prayud I.pdf/82 250 24584 77866 77194 2026-05-15T20:22:47Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77866 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>wus anyeje lawan rama kumpeni ing panganggepe labuhe mring jenengingwang tan mengeng beya wendrang pira-pira tumpesipun kumpeni ing karyaningwang.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Mangkana sampun umijil Pangran Arya Mangkuningrat Tumenggung Arungbinange wuwusen Ranadipura Saptu kacepengira prapteng dina Senenipun Ranadipura den lunas.</poem> |<poem>Ngalun-alun den suduki sawusnya pejah tinigas pinanjer utamanggane munggeng keringe galadhag wau Uprup kang lawas Pangran Mangkunagareku manjing pura paguneman.</poem> |<poem>Sang Nata dipun aturi aparinga mring wadana miwah para sentanane arta kalawan busana santana keh kasrakat manawi dados puniku inggih ing karya punika.</poem> |<poem>Karana Sultan Matawis wateke kena labuhan mangke ta abot balunge Dipati Suryanagara upama tinimbangan lawan kadange tetelu</poem> }}<noinclude>{{rh|80||}}</noinclude> ld540braqwuz6bz0r0w2fj5r3psoku1 Kaca:Babad Prayud I.pdf/83 250 24585 77867 77195 2026-05-15T20:23:13Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77867 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>abot mring Suryanagara.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Kadang sayayah sabibi abot mring Suryanagara dennya mantep kuwanene abagus ing dhadhapuran sumamar lawan Sultan, tegese memper puniku pikire tinari kena.</poem> |<poem>Alus aluwes atitih teteh kabentar abantar mintir gumlintir barang reh acetha nyatheti gelar prawira ing ayuda tatag tangginas atangguh Suwandi Suranggakara.</poem> |<poem>Sang Nata sigra maringi sewu mring para sentaha miwah badhe rasukane waradin kang pra santana putra Mlayakusuman Kadipanagaranipun kang maksih manjing santana.</poem> |<poem> Wadana dipun paringi jaba-jero kalih belah patumbas obat mimise kuneng gantya kang wuwusa Jeng Sultan ing Ngayogya lagya sungkawa kalangkung andina wayang-wuyungan.</poem> |<poem>Dene kang dadi prihatin Dipati Suryanagara tinarka mring Tuwan Deler angubungi bebatinan</poem> }}<noinclude>{{rh|||81}}</noinclude> gx0d1dch2i4hs757w78dzk3yls6z2rt Kaca:Babad Prayud I.pdf/84 250 24586 77868 77196 2026-05-15T20:23:33Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77868 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>mring Raden Wiratmeja pratandha sentananipun Tumenggung Candrakusuma.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Bupati Cangkok nagari ing Warung rong ewu dhomas teka ndadak melu ngere yen ora sarta tinedah mangsa ta mengkonoa lenger katiban puniku inguncek tan bisa selak.</poem> |<poem>Anyuremaken nagari Sultan tan kena sineba angekeb aneng kedhatun dene kaping kalihira Pangeran Baledawa puniku turasing guru Panembahan Natapraja.</poem> |<poem>Trah Ngadilangu sayekti Pangran Rangga Baledawa ing punika pan kacenthok kumpeni ingkang anarka winastan ngidenana adege karatonipun marang Raden Wiratmeja.</poem> |<poem>Saengga sinuduk Gusti Kangjeng Sultan ing Ngayogya Sapisan loro tatune wadya tarisah ingundhangan prayitna ing ayuda kang tarisah tinantun-tantun anenggih nyata punggawa.</poem> |<poem>Adipati Danurjeki</poem> }}<noinclude>{{rh|82||}}</noinclude> tv506i39afylj77p7t7uc5jze4z9hkm Kaca:Babad Prayud I.pdf/85 250 24587 77869 77198 2026-05-15T20:24:07Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77869 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>lan Rangga Prawiradirja Pangran Natakusumane lan Pangeran Pakuningrat gunem sajroning pura sadinten dereng tinemu amrih sembadane tindak.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Bubarane pendhak enjing sami sawan ing jro pura Dipatí Dánurejane sakancane wus ngandikan Dipati Danureja matur punika pukulun pun kakang Suryanagara.</poem> |<poem>Kadosa pun Adipati Jangrana lan Surapringga pundi kang kinajengake lamun kedah ambregagah yekti abela jagad temahan kena kinukup anak putune ing wuntat.</poem> |<poem>Lamun nedya angawaki alus badane piyambak angratakake jagade anak putune ing wuntat kalapa dha raharja gupuh ngandika Sang Prabu iku lawan ingsun nunggil.</poem> |<poem>Nuli lakokna tumuli Danureja layangira isekna timbalan ingong dene ta si Kaki Rangga iya ing Baledawa si Suradimenggaleku</poem> }}<noinclude>{{rh|||83}}</noinclude> 6euzgtew6t80q6wt9zi1sq9kzv9padz Kaca:Babad Prayud I.pdf/86 250 24588 77870 77199 2026-05-15T20:24:37Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77870 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>layange kang prapta ringwang.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem>Ingsun pinrih angukuhi Pangran Rangga Baledawa nanging nora karsaningong sadaya-daya lunggaa teka ing bawah ingwang agampil pindhuwuripun bicara katemu ingwang.</poem> |<poem>Padha timbalana aglis kabeh putra-putraningwang Prang Wadana Arya Pamot Martasana Sumayuda kang ana panglurugan si Natayuda ywa kantun wong roro kang kari padha.</poem> |<poem>Martalaya Kartanadi nunggal wong Sala kewala samengko pabarisane besuk anganti si Rangga misahing baris padha lawan kabeh ingkang mantuk mampira ing Surakarta.</poem> |<poem>Si Rangga saosa jurit lan kabeh sakancanira nonjoka layang beboleh sira maring kakang Rangga iya ing Baledawa mangkata ing besuk-esuk Prawiradirja sandika.</poem> |<poem>Lawan sira sun gawani mantri jro seket kewala wolung puluh Katanggunge Jagasura wolung dasa</poem> }}<noinclude>{{rh|84||}}</noinclude> s29w0k693oivrngg03w60mp6y3673nt Kaca:Babad Prayud I.pdf/87 250 24589 77871 77200 2026-05-15T20:25:08Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77871 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>seket wadya Nirbaya seket Jagabayanipun salawe wong Suranata.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Putus pitungkasing Ji wus sami tinundhung medal ing dalu tan kawiraos enjing tengara budhalan Rangga Prawiradirja lawan lelurah Katanggung Ngabei Jayadirana.</poem> |<poem>Lelurah Jagasureki Ngabehi Jayasutama sutane kapitan Torlong lelurahing wong Nirbaya Nirbaya sareng budhal sira pun Rangga Winangun sadaya sareng sadina.</poem>|<poem>Kalih ewu datan luwih ingkang prajurit turangga kathah kang wadya dharate ing marga tan kawursita ing Kampak sampun prapta tinonjok ing srat pitutur Pangran Rangga Baledawa.</poem> |<poem>Martalaya Kartanadi sawusira amiyarsa denira manggihi age mring Tumenggung Mangkuyuda miwah Jayanagara ingaturan mundur ngidul praptane Prawiradirja.</poem> |<poem>Ing Baledawa tinitik sigra wus. mundur sadaya</poem> }}<noinclude>{{rh|||85}}</noinclude> 2yhtjxpj37ii8o4m5lsk11ynmlvp1io Kaca:Babad Prayud I.pdf/88 250 24590 77872 77201 2026-05-15T20:25:36Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77872 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sakedhik amrih papane wau suratira prapta Rangga Prawiradirja mbebolehi mrih rahayu Pangran Rangga Baledawa.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Langkung kagyat pan kumetir angrasa yen kadenangan duk Wiratmeja praptane nguni aneng Baledawa mangkana Pangran Rangga kesah dalu kang tinuduh atengga ing Baledawa.</poem> |<poem>Pepulunane kekalih Rahaden Surakusuma lan Sumajaya arine katri wayah kaponakan Mas Wijil hamanira maksih jejaka satuhu Pangran Rangga Baledawa.</poem> |<poem>Sirep ing wong budhalneki rerepot kabeh ginawa Den Ayu Wiratmejane sareng pawestri sadaya putra lit-alit samya tumut binekta ing dalu sareng byar prapta ing Jajar.</poem> |<poem>Bumi Demak Karangpahing ler kilening Garobogan Pangeran Rangga kendele pan wonten dhusun ing Jajar lajeng atumbas wisma tetep badhene neng ngriku bumi Demak dhusun Jajar.</poem> }}<noinclude>{{rh|86||}}</noinclude> 59hgdb003anawl5as46tbspgufuso5u Kaca:Babad Prayud I.pdf/89 250 24591 77873 77203 2026-05-15T20:25:57Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77873 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Kawuwusa ingkang kari kang atengga Baledawa wus enjing kumpul bature katih atus winantara senjata salawe prah jejaranane sepuluh guneme asor kanonta.</poem></ol> {{Nop}}<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude> 2ghty9wsp9h8vxtzpyso50shoshsqwk Kaca:Babad Prayud I.pdf/90 250 24592 77874 77204 2026-05-15T20:26:20Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77874 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>'''VIII. {{Tab}} Durma''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Yata wau Den Rangga Prawiradirja tengara budhal enjing para mantrinira panumping munggeng ngarsa tan adangu praptaneki ing Baledawa nanging sakidul kali.</poem> |<poem>Maksih ndhedhep salebeting pakarangan kang kilen den sabrangi wadya Jagasura samya nabrang sadaya Nirbaya wetan nabrang ing Katanggung tengah Suraksawirya mbedhil.</poem> |<poem>Sami sumbu tan muni sanjatanira Den Rangga marentahi manjinga den enggal prajurit sareng mangsah wong Baledawa ambedhil sarwi agiyak kukuk sami medali.</poem> |<poem>Sareng ngamuk anubruk panempuhira Katanggung anadhahi kuwel curuk ing prang rame uleng-ulengan prajurit Katanggung sami akeh kabranan wong Baledawa ngungkih.</poem> |<poem>Raden Surakusuma lan Sumajaya katiga Ki Mas Wijil tajem pangamuknya</poem> }}<noinclude>{{rh|88||}}</noinclude> 0hg6mhvghd45v8t9j1xo3l35eca15b3 Kaca:Babad Prayud I.pdf/91 250 24593 77875 77205 2026-05-15T20:26:53Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77875 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sami munggeng turangga gumregut nindhihi dasih Jayadirana pengkuh dennya nadhahi.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem>Raden Rangga Prawiradirja katunjang kadho pagut ing jurit mangga angucapa nora sinung wewean mangkana tangkeping jurit wong Baledawa pangamuke mbek pati.</poem> |<poem>Sampun muni bedhile bala Nayogya sanging mimise kari kadya banyu wangan nempuh banyu bengawan kang gedhe kongkih katitih kombul kabuncang kendhih ilining warih.</poem> |<poem>Jagasura Ngabei Jayasutama tetulung nora bangkit dennya carukira prange wong Baledawa wus amor acaruk keris datan karuwan liwung awuru getih.</poem> |<poem>Lelurahe Katanggung kudane pejah tiba sangking turanggi Den Rangga ka bandhang riwut ing pamukira dhadhal prajurit Matawis kekes tyasira ngelun tan mangga pulih.</poem> |<poem>{{tab}}Ingundhangan{{tab}}mring {{tab}}Rangga {{tab}}Prawiradirja</poem> }}<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude> qnk1brxyrnwp2dekplsaxglwqcmwkvs Kaca:Babad Prayud I.pdf/92 250 24594 77876 77206 2026-05-15T20:27:23Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77876 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>padha mundura dhingin tan kena tinerak kudaningsun kabandhang wetan kilen den undhangi aja anglawan iya sadina iki.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Lagi ula kalah dening kodhok iya tikus ngalahken kucing kagawa ing dina senapati waspada dhadhal ngelun wong Matawis kathah kabranan sami ngungun ing jurit.</poem> |<poem>Kapiyarsa sangking nagri Surakarta yen Rangga sor ing jurit mungsuh Pangran Rangga nenggih ing Baledawa sigra wong gandhek tinuding andhawuhana marang Tumenggung kalih.</poem> |<poem> Mangkuyuda kalawan Jayanagara kinen mbantua kalih mring Prawiradirja sor prang nang Baledawa lampahing gandhek wus prapti neng barisira sira tumenggung kalih.</poem> |<poem>Dhinawuhken kalih nunten ambantuwa sigra tengara aglis Kyai Mangkuyuda miwah Jayanagara punggawa Ngayogja sami sareng sakala</poem> }}<noinclude>{{rh|90||}}</noinclude> iibkvti55tykxnh8oa2c0fzty9zlp31 Kaca:Babad Prayud I.pdf/93 250 24595 77877 77207 2026-05-15T20:27:46Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77877 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Tumenggung Kartanadi.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Martalaya sareng sami angkatira dalu praptanireki ing pakuwonira Rangga Prawiradirja nora nyata belapati wong Baledawa nunten tangkep ing jurit.</poem> |<poem>Tan kawarna ing dalu wuwusen enjang badhe angantep jurit tengara sauran gumrah prajuritira wus amatah kanan kering lajeng umangsah dhadha pangawatneki.</poem> |<poem>Ingurugan pepati wong Baledawa, rame dennya nadhahi muter pakarangan binendrongan sanjata binenturan watu sami padhas dhangkolan linimput ing ajurit.</poem> |<poem>Raden Surakusuma lan Sumajaya miwah ta Ki Mas Wijil miris pamukira prajurit ing Ngayogya tumpesan sadesa sami datan karuwan miris sami angisis.</poem> |<poem>Wong tetiga sami medal pekarangan nanging tilar turanggi opyak loking kathah yen tetindhihe oncat</poem> }}<noinclude>{{rh|||91}}</noinclude> kl8au90utibt6253onu59iyonsqdydm Kaca:Babad Prayud I.pdf/94 250 24596 77878 77208 2026-05-15T20:28:05Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77878 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kebut sagunging prajurit tetindhihira kang sami den tututi.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Wus kinandhang-kandhang wau wong tetiga ingebyuk kanan kering kadya mbereg sangsam nanging ta wong tetiga tan owah dennya lumaris Surakusuma Sumajaya Mas Wijil</poem> |<poem>Kang kekalih sami eca mandhi watang satunggilnya kang mbedhil pinegatan ngarsa nerak ingkang tinerak anisih anganan ngering Prawiradirja nguwuh sagung prajurit.</poem> |<poem>Den aririh iku bedhile berkatan aja na marepeki den adoh kewala Ki Pamuk bedhii ika munia amelarati mimise gabah satompo lamun muni.</poem> |<poem>Mbilaheni wadya giniring kewala tan mawi den kendeli tinut saparannya pan kongsi kasurupan nenggih wonten kang winarni pandamelira pra dipati pasisir.</poem> |<poem>Sami ngadhang neng jajahan bumi Demak kendel nyalimpet margi</poem> }}<noinclude>{{rh|92||}}</noinclude> mom4yru4oaaz173bkq0bh4kwh6xc7tx Kaca:Babad Prayud I.pdf/95 250 24597 77879 77209 2026-05-15T20:28:32Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77879 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>wau wong tetiga temahan kauningan selang sengguh kang angungsir lajeng campuh prang lan dedamel pasisir.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Ramening prang prajurit sami kathahnya wadya tigang bupati gumuruh swaranya wong Yogja Surakarta pra samya wuru ngajurit prang pukul sanga malah kongsi awengi.</poem> |<poem>Mangsah ngamuk wong Yogja riwut ing aprang wong pasisir keh mati tuwin wong Ngayogja kathah ingkang kabranan dhadhal prajurit pasisir mawur sasaran wong Ngayogja angungsi.</poem> |<poem>Pan sadalu sareng byar sagung gegaman kendel telatah Pathi dadya ingaturan Rangga Prawiradirja marang kang duwe nagari sami ngungunnya salang sengguhing jurit.</poem> |<poem>Dadya kendel neng Pathi Prawiradirja sakancane bupati miwah pra dipatya kalih ing Surakarta samya kendel aneng Pathi kang kawuwusa kang aneng Kabulengkir.</poem> }}<noinclude>{{rh|||93}}</noinclude> 8zzagzcyjwblm6dpqhzrgh51jv6c4lc Kaca:Babad Prayud I.pdf/96 250 24598 77880 77210 2026-05-15T20:29:00Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77880 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem>Wiratmeja wus kathah akumpul bala sangking Malang mbantuni Pangran Singasekar wus nama Prabu Jaka mbantuni satus prajurit mring Wiratmeja kathah wong Suramesthi</poem> |<poem>Kang suwita marang Raden Wiratmeja sampun apacak baris keh suyud wong desa sigra denira budhal sangking dhusun Kabulengkir anjog ing Jipang kutha badhe ginitik.</poem> |<poem>Praptanira ngancik jajahaning Jipang ingkang darbe nagari wus sami miyarsa yen wonten mungsuh prapta siyaga kaprabon jurit Tumenggung Nata pura ingkang satunggil.</poem> |<poem>Satunggile Tumenggung Purawijaya kang tuwa ungireki heh adhi karia, sira tunggu nagara sun papage mungsuh iki yen kongsi perak dadi rusak wong cilik.</poem> |<poem>ingkang anom Tumenggung Purawijaya singa ingkang prayogi sigra atengara Tumenggung Natapura budhal sawadyanireki</poem> }}<noinclude>{{rh|94||}}</noinclude> qe33421mcs3duhtqwls30w8wrzojxp9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/97 250 24599 77881 77211 2026-05-15T20:29:33Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77881 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ingkang turangga gangsal atus prajurit.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem>Ingkang dharat wonten sewu lampahira sangking praja wus tebih wau Wiratmeja miyarsa yen pinapag anyelib lumampah wengi aseliringan salisiban ing margi.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Natapura lampahira wus tebih lan negari wau Wiratmeja byar prapta ing negara tigang atus dharatneki ingkang turangga mung patang dasa kalih.</poem> |<poem>Manjing galedhegan lajeng sami giyak kukuh sami ambedhil dadya kagegeran Raden Purawijaya nadhahi wongira kedik dereng sadhiya kinarubut ing jurit.</poem> |<poem>Pangamuke Tumenggung Purawijaya lan sawontenireki kawula sentana ngantep kadya sardula kinarubut kanan kering meksa anunjang kotbuta ing ájurit.</poem> |<poem>Dhasar kedhik kasusu paguting aprang sapolahe kajodhi kang kathah anedya</poem> }}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude> 0hq41fny2z7ag87j1d5klwewu7fl8c8 Kaca:Babad Prayud I.pdf/98 250 24600 77882 77212 2026-05-15T20:30:21Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77882 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sayekti sampun tata dadya kapupu ing jurit Tumenggung Pura wijaya angernasi.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Pan sadaya.rowangira ingkang pejah mungsuh tiga kang mati nenem kang kabranan kuthane wus kancikan Tumenggung Natapureki wus amiyarsa mungsuh anyidreng jurit.</poem> |<poem>Lan keng rayi Tumenggung Purawijaya kasambut ing ajurit pejah galedhegan Tumenggung Natapura wus telas ing tyasireki tan purun ngrebat mring kunarpaning ari.</poem> |<poem>Pan wus kathah wong Jipang kang nungkul mengsah cinacah kang turanggi dhomas punjulira nenggih seket sakawan aneng Jipang tigang latri enjinge budhal Madiun kang den gitik.</poem> |<poem>Palayune Dyan Tumenggung Natapura Madiun kang den ungsi lan sabalanira ngidul angilen ika giras anabrang benawi Den Wiratmeja angsal bebujung jurit.</poem> |<poem>Sapejahe Tumenggung Purawijaya</poem> }}<noinclude>{{rh|96||}}</noinclude> lki4a1588wgqb7vakzajkrlnn5cpjco Kaca:Babad Prayud I.pdf/99 250 24601 77883 77213 2026-05-15T20:30:42Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77883 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>angangah-angah sami saprajuritira dene ta ingkang numbak mring Purawijaya mangkin apan ginanjar pan kinarya bupati.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=44 |<poem>Pinaringan kalih ewu bumi Jipang ing Kapadhangan nenggih ingalih namanya Tumenggung Wangsengyuda wong sangking Madura yekti pan Wangsengyuda tetep dadya bupati.</poem> |<poem>Sakarine nem ewu bumi ing Jipang pinarapat kang kari pinacak sakawan bupati kang kinarya sami anak putuneki Mataun Jipang wau lampahireki.</poem> |<poem>Wiratmeja dennya ngusir Natapura tanah Madiun prapti kang darbe nagara Pangran Mangkudipura gugup siyaganireki kawur balannya sampun kathah kang ngili.</poem> |<poem>Kaderojog ing mungsuh tan kongsi tata nadhahi ing ajurit tan dangu sakedhap karoban ing ayuda mawur palajengireki mring Panaraga</poem> }}<noinclude>{{rh|||97}}</noinclude> i3qp0gcry4bm9780oj6fxk4g0er5y2f Kaca:Bratayuda.pdf/10 250 24602 77505 77217 2026-05-15T15:27:24Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77505 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>menambah kewibawaan hiasan Istana Astina, sehingga sudah menyerupai persemayaman Batara Indra. Suara burung berbaur dengan deru angin, menerjang kembang-kembang, menambah keceriaan dan keharuman Istana Astina. Hiasan bangunan induk istana yang berupa emas permata, gemerlapan tertimpa sinar bulan. Istana untuk Dewi Banowati luar biasa indahnya, dihias dengan emas dan permata. Di sebelah baratnya terdapa taman berpagar emas, diteretes ratna mutu manikam, sedangkan pagar banonnya terbuat dari batu marmar, dan di sana terdapat balai emas. Pelatarannya disebari ratna mutu manikam serta mutiara, dan permata-permata lainnya. Tak ada habis-habisnya jika semua keindahan di dalam istana diceritakan. Karena itu kini diringkaskan saja. <center> *** </center> Fajar telah menyingsing, suara para wanita sudah terdengar ramai, ialah mereka yang memetik bunga ke taman. Raja Suyudana sudah berbusana, akan menemui tamunya, lalu pergi ke pendapa. Untuk tempat duduk para raja maupun para pinisepuh sudah diatur. Destarata, Bisma, Druna, Krepa, Drusasana, Adipati Awangga, Raja Mandaraka serta raja-raja yang lain, semua hadir. Raja Suyudana minta kepada Yuyutsuh serta Yamawidura, agar menjemput Sri Kresna. Patih Arya Sangkuni beserta Adipati Awangga mendapat perintah untuk menyongsong kehadirannya. Yuyutsuh dan Yamawidura sudah bertemu dengan Sri Kresna. Selanjutnya dipersilakan datang ke istana. Sri Kresna segera mengenakan busananya, dan para prajuritnya sudah siap sedia semua. Karena kendaraannya sudah menunggu. Kemudian berangkat dari pesanggrahan. Di tengah perjalanan, datang menjemput Patih Arya Sangkuni dan Kama, lalu keduanya mengiring perjalanan Sri Kresna ke istana. Setibanya di istana, Sri Kresna dipersilakan duduk. {{hws|Kemu|Kemudian}}<noinclude>{{rf|||13}}</noinclude> ms6nb8e7picyst1ngzedgbnhs71hca6 Kaca:Bratayuda.pdf/11 250 24603 77504 77218 2026-05-15T15:27:00Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77504 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|dian|Kemudian}} disusul, semua yang berada di ruang pertemuan itu duduk dengan tertib. Sejenak Sri Kresna menengadah, lalu turunlah keempat dewata, ialah yang bernama Kanekaputra, Janaka, Ramaparasu, dan Kanwa. Bisma dan Druna berkata kepada Raja Suyudana, bahwa ada dewata datang. Suyudana menyembah, dan keempat dewa dipersilakan duduk dalam kelompok para pinisepuh. Sedangkan para raja menyatu dengan sesama raja, para satria, berkumpul sesama satria. Seluruh hadirin lama terdiam. Lalu Sri Kresna berkata, ”Paman Destarata, kedatangan saya ke mari ini, hanya untuk merukunkan sesama saudara, agar jangan sampai ada yang berselisih, lebih baik jika semua rukun, karena jika tetjadi perselisihan, yang senang adalah mereka yang tidak senang kepada kita. Segala tindakan saya, putra paduka, Adinda Prabu Amarta dan adik-adiknya menurut saja. Adapun tugas yang laksanakan ini, berdasar atas kehendak Adinda Prabu, yang menginginkan separoh bagian negeri Astina.” ”Apa yang anak Prabu utarakan, memang sudah seharusnya demikian, dan sudah sangat baik,” demikian jawab Destarata. Keempat dewata serempak menyambung, demikian, ”Pengaturan Sri Kresna sudah lebih dari patut, sepatah kata pun tidak ada yang salah, dalam usahanya menjaga kebaikan dan keakraban bersaudara.” Bisma dan Druna turut membenarkan sabda keempat dewata. Akan tetapi Raja Suyudana membisu karena kecewa, dan menundukkan kepalanya. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Yamawidura dan Yuyutsuh menyambung pembicaraan, dan menyarankan agar menerima tawaran Sri Kresna, demi keselamatan semuanya. Ibu Raja Suyudana yang bernama Dewi Gendari, berkata kepada putranya seraya menangis, ujarnya, ”Baik kau terima kebijaksanaan anak Prabu Dwarawati itu. Apa lagi yang kaukehendaki, yang melebihi kebaikan kerukunan bersaudara?”<noinclude>{{rf|14}}</noinclude> im2t358wvjgd8kzq4u5k9ancdihb2y2 Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/13 250 24604 77473 77219 2026-05-15T15:03:34Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77473 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 11 –}}</noinclude><center><u> II. K A L A - T I D A </u></center> <u>S i n o m</u> <ol start=1> <li><poem>Mangkja daladjating pradja kawurjan wun sunja ruri rurah pangrèhing ukara karana tanpa palupi atilar silastuti sardjana sudjana kèlu kalunglun kalati<u>d</u>a ti<u>d</u>em tan<u>d</u>aning dumadi ardajèng rat dening karoban rubéda</poem></li> <li><poem>Ratuné ratu utama patihé patih linuwih pra najaka tyas rahardja panekaré betjik-betjik parandéné tan dadi palijasing Kalabendu malah sangkin andadra rubéda kang ngriribedi béda-béda ardané wong sanagara</poem></li> <li><poem>Katatangi tangisira sira sang paramèng kawi kawilet ing tyas duhkita kataman ing rèh wirangi dening upaja sandi sumaruna anarawung pangimur manuara mèt pamrih mélik pakolih temah suka ing karsa kurang wéwéka</poem></li> <li><poem>Kasok karoban pawarta babaratan udjar lamis pinudya dadya pangarsa wekasan malah kawuri jèn pinikir sajekti</poem></li><noinclude></noinclude> 908bqt4vfqrahyxgpl2doc9hve3pb64 Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/14 250 24605 77472 77221 2026-05-15T15:02:49Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77472 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 12 –}}</noinclude><poem>:::mun<u>d</u>ak apa anèng ngajun :::an<u>d</u>e</u>der kaluputan :::siniraman banju lali :::lamun tuwuh dadi ke kembanging béka</poem> <ol start=5> <li><poem>Udjaring Paniti-sastra awawarah asung péling ing djaman kenèng musibat wong ambek djatmika kontit mengkono jèn nitèni pédah apa amituhu pawarta lalawara mun<u>d</u>ak angreranta ati angur baja ngiketa tjaritèng kuna</poem></li> <li><poem>Keni kinarja darsana panglimbang ala lan betjik sajekti akèh kéwala lalakon kang dadi tamsil masalahing ngaurip wahananira tinemu temahan anarima mupus pepes<u>t</u>èning takdir puluh-puluh anglakoni kaélokan</poem></li> <li><poem>Amenangi djaman édan éwuh aja ing pambudi milu édan nora tahan jèn tan milu anglakoni boja kaduman mélik kaliren wekasanipun ndilalah karsa Allah begdja-begdjané kang lali luwih begdja kang éling lawan waspada</poem></li> <li><poem>Samono iku babasan padu-paduné kapéngin enggih mekoten Man <u>D</u>oblang bener ingkang angarani nanging sadjroning batin</poem></li><noinclude></noinclude> 9x72vvefezn6lf14jmok7jgxo6kn68w Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/15 250 24606 77471 77222 2026-05-15T15:02:21Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77471 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 13 –}}</noinclude><poem>:::sadjatiné njamut-njamut :::wis tuwa arep apa :::muhung mahas ing ngasepi :::supaja ntuk pangaksamaning Hjang Suksma</poem> <ol start=9> <li><poem>Béda lan kang wus santosa kinarilan ing Hjang Widi satiba malanganéja tan susah ngupaja kasil saking mangunah prapti Allahu paring pitulung marga samaning titah rupa sabarang pakolih parandéné maksih taberi ihtijar</poem></li> <li><poem>Sakadaré linakonan mung tumindak mara ati angger tan dadi prakara karana wirajat muni ihtijar iku jekti pamilihing rèh rahaju sinambi budi daja kan<u>t</u>i awas lawan éling kang kaès<u>t</u>i antuka marmaning Suksma</poem></li> <li><poem>Ja Allah ja Rasulullah kang sipat murah lan asih mugi-mugi aparinga pitulung kang anartani ing alam awal akir dumunung ing gesang ulun mangkja sampun awre<u>d</u>a ing wekasan kadi pundi mila mugi wontena pitulung Tuwan</poem></li> <li><poem>Sageda sabar santosa mati sadjroning ngaurip kalis ing rèh aru-ara murka angkara sumingkir tarlèn meleng malat sih</poem></li><noinclude></noinclude> mojbtv88fieb4d600a23kl666onholh Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/16 250 24607 77470 77223 2026-05-15T15:01:58Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77470 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 14 –}}</noinclude><poem>:::sanityasèng tyas mamasuh :::ba<u>d</u>aring sapu <u>d</u>en<u>d</u>a :::antuk majar sawatawis :::borong angga suwarga mèsi martaja</poem> <u>T j é n t a n g a n</u> (1) Sasumerep-kula serat2 "Kalati<u>d</u>a" tjap-tjapan, ing pada 1 garis 1 punika sami kaserat "Mangkja <u>daradjating</u> pradja", namung "Kalati<u>d</u>a" wedalan Pustaka Nasional Surabaja kalijan serat punika ingkang kaserat "Mangkja <u>daladjating</u> pradja". Kinten-kula leres "daladjat", amargi daradjat punika ateges: pangkat, déné <u>daladjat</u> ateges: ngalamat. (2) Wonten serat "Kalati<u>d</u>a" ingkang ing pada 1 garis 5-6-7 punika mungel: "ponang paramèng kawi, kawilet ing tyas malat-kung,kongas kasudranira". (3) Serat "Kalati<u>d</u>a" seratan tangan kagunganipun R.Ng. Dwidjawijata, pensijunan Kepala-sinder pamulangan ing Ngajogjakarta wonten 13 pada. Inggih punika: sadèrèngipun mungel "Mangkja daradjating pradja" mungel makaten: <poem>:::Wahjaning arda rubéda :::ki Budjangga amèngeti :::mesu tjipta mati raga :::me<u>d</u>ar warananing gaib :::ananira sakalir :::ruweding sarwa tumuwuh :::wiwaling kang warana :::dadi badaling Hjang Widi :::ame<u>d</u>arken pari-bawaning bawana</poem> Miturut katranganipun ingkang kagungan, serat "Kalati<u>d</u>a" 13 pada wau ugi sampun naté kaetjap ing Surakarta, pandjenenganipun<noinclude></noinclude> 5n337mhl6y8b0i7ajsf532lqmido5vd Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/17 250 24608 77469 77225 2026-05-15T15:00:31Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77469 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 15 –}}</noinclude>asli nurun ingkang sampun tjap-tjapan wau. (4) Sadaja serat "Kalati<u>d</u>a" ing pada pungkasan garis pungkasan, mungel: bo<u>rong</u> ang<u>ga</u> su<u>war</u>ga mè<u>si</u> mar<u>ta</u>ja, punika mèsi sandi-asmanipun ingkang mangripta (R.Ng. Ranggawarsita). <u>Wewahan</u> Wonten serat nama "Kalabras<u>t</u>a" nanging dèrèng naté kawedalaken warni serat mirunggan. Nalika ± taun 1910 naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" Surakarta, ± teun 1920 naté kaewrat wonten ing ari-warti "Sedya Tama" Ngajogjakarta. Ing djaman mardika punika naté kawedalaken awor serat2, djangka sanèsipun, dados sabuku. Tuwin naté kaewrat wonten ing kala-warti "Panjebar Sémangat" Surabaja. Serat "Kalabras<u>t</u>a" punika sekaripun Sinom kados "Kalati<u>d</u>a", katahipun inggih 12 pada kados "Kalati<u>d</u>a". Bokmanawi ingkang ngripta dèrèng nate mrangguli "Kalati<u>d</u>a" ingkang 13 pada. Déné suraosipun angosok-wangsul serat "Kalati<u>d</u>a". Ing pada pungkasan mungel makaten: <poem>:::Ilang kasmalaning nusa :::jèn minum tirta martani :::warsitaning Kalabras<u>t</u>a :::sirna sagunging prihatin :::pan ing mangkja wus wantji :::pambudi kamuljan umum :::ajwa katungkul pa<u>d</u>a :::ambudi adjining <u>d</u>iri :::kang amangun dwidjaning atmadja tama.</poem> Ing garis pungkasan "kang <u>amangun</u> dwidjaning <u>atmadja</u> tama" punika mèsí sandi-asmaning pangarangipun, inggih punika sa<u>d</u>èrèk<noinclude></noinclude> nrqu73ratl8aukxjxzmocmsqfzvlgh9 Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/18 250 24609 77468 77228 2026-05-15T15:00:06Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77468 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 16 –}}</noinclude>Mangunatmadja, tilas lurah <u>d</u>usun ing Karangwungu, bawah kabupatèn Kla<u>t</u>èn, panuntunipun paguron "Sarékat Abangan", kasebut ing serat "Falsafah Sitidjenar" wedalan Kulawarga Bratakésawa. Dados pangarangipun serat "Kalabras<u>t</u>a" punika prijantun djaman sapunika kémawon. Suraosipun: manawi para sa<u>d</u>èrèk Djawi sami kersa netjep kawruh Sarékat Abangan (= minum tirta martani) ba<u>d</u>é sirna sadaja prihatos lan bebendu ing tanah Djawi punika. Para netjep kawruh wau sinebut {{sp|atmadjatama}}. Makaten punika panganggep lan pangadjapipun sang {{sp|dwidja}} ingkang jasa serat "Kalabras<u>t</u>a" kala taun .......... ± 1910. {{rule|5em}}<noinclude></noinclude> peohdvy0oif8ytnd6atb4f3ip6zhnrx Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/19 250 24610 77969 77229 2026-05-16T01:29:07Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77969 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 17 –}}</noinclude><center><u> III. {{sp|SABDA TAMA}} </u></center> <u>{{sp|Gambuh}}</u> <ol start=1> <li><poem>Rasaning tyas kajungjun angajoni lukitaning gambuh njambi-wara kalawan eninging ati katenta kudu pitutur sumingkir ing rèh tyas mirong</poem></li> <li><poem>Dèn samja amituhu ing sadjroning djaman Kala-bendu jogja sami njunjuda ardaning ati kang nununtun mring pakéwuh uwohing panggawe awon</poem></li> <li><poem>Ngadjapa tyas rahaju ngajomana sasamèng tumuwuh wahanané ngendak angkara kalin<u>d</u>ih ngén<u>d</u>angken pakarti dudu dinuwa luwar tibèng doh</poem></li> <li><poem>Béda kang ngadji pupung nir waspada rubédané tutut akikin<u>t</u>il tan anggop anggung tut-wuri tyas riwut rawat dahuru korup sinerung ing goroh</poem></li> <li><poem>Ilang budajanipun tanpa baju wéjané ngalumpuk satjiptaning wardaja ambabajani ubajané nora paju kari kataman pakéwoh</poem></li> <li><poem>Rong asta wus katekuk kari ura-ura kang pakantuk <u>D</u>an<u>d</u>ang-gula lagu Palaran sajekti ngluluri para luluhur abot sihing swami karo</poem></li><noinclude></noinclude> oluwschhwio4tzqil6uhdcbgp2bw7ko 78361 77969 2026-05-16T09:59:44Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78361 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 17 –}}</noinclude><center><u> III. {{sp|SABDA TAMA}} </u></center> <u>{{sp|Gambuh}}</u> <ol start=1> <li><poem>Rasaning tyas kajungjun angajoni lukitaning gambuh njambi-wara kalawan eninging ati katenta kudu pitutur sumingkir ing rèh tyas mirong</poem></li> <li><poem>Dèn samja amituhu ing sadjroning djaman Kala-bendu jogja sami njunjuda ardaning ati kang nununtun mring pakéwuh uwohing panggawe awon</poem></li> <li><poem>Ngadjapa tyas rahaju ngajomana sasamèng tumuwuh wahanané ngendak angkara kalin<u>d</u>ih ngén<u>d</u>angken pakarti dudu dinuwa luwar tibèng doh</poem></li> <li><poem>Béda kang ngadji pupung nir waspada rubédané tutut akikin<u>t</u>il tan anggop anggung tut-wuri tyas riwut rawat dahuru korup sinerung ing goroh</poem></li> <li><poem>Ilang budajanipun tanpa baju wéjané ngalumpuk satjiptaning wardaja ambabajani ubajané nora paju kari kataman pakéwoh</poem></li> <li><poem>Rong asta wus katekuk kari ura-ura kang pakantuk <u>D</u>an<u>d</u>ang-gula lagu Palaran sajekti ngluluri para luluhur abot sihing swami karo</poem></li><noinclude></noinclude> 6wl3dn33ei8p28vx28hjf8smqtscl6c Kaca:Babad Prayud I.pdf/163 250 24611 78225 77230 2026-05-16T09:12:05Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78225 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::inggih panangkilan :::kula minggah ing sitinggil :::lajeng kula manjing ngamuk mring janala. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem> Pangran mangkuningrat alon wuwusipun den ririh kewala den waspada den patitis dene ingsun sapungkurira tumandang. </poem> |<poem> Sigra laju wau kang prajurit satus waos kang sawidak ingkang kawandasa karbin mantri nenem sapraptaning pagelaran. </poem> |<poem> Rakitipun patang panthá sinalusuk bedhil kang sadasa gangsal welas waosneki rerubungan inggih dadi patang pantha. </poem> |<poem> Sami sampun manggalaki karbinipun waose leligan solahe pating bathithit kang akemit sami atambuh sadaya. </poem>}}<noinclude>{{rh|||161}}</noinclude> otwadlu7rf654eo98df5twwneb3bv6o Kaca:Babad Prayud I.pdf/164 250 24612 78226 77232 2026-05-16T09:12:16Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78226 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XV. GAMBUH''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Sareng ing lampahipun yen ing carita gantya winuwus sawedale wau sangking Srimanganti Raden Puspakusumeku sarengan lan wedana jro.</poem> |<poem>Apasang lampahipun prayitneng batin angempit dhuwung anglelabang pipitan datan katawis myarsa Sultan adatipun yen duka sok gecas-gecos.</poem> |<poem>Tri kanca ing tyasipun ingkang sapalih kalethekipun nora nana adat duta den pateni nguni-uni para ratu nanging ta beda samengko </poem> |<poem> Nadyan matia ingsun oleha bela padha tumenggung pasthi mambu sangking ing Surakarteki ya sangite getihingsun praptaning sitinggil anon.</poem> |<poem> Kendel pangateripun Mangundipura lan Sindurjeku amung kemitbumi ingkang nggawa lilin, wong roro neng ngarsanipun Raden Puspakusuma non.</poem> |<poem>Ing gegaman arubung patang patha rerubunganipun osiking tyas Raden Puspakusumeki bayata gegamanipun kang kinen mateni mring ngong. </poem>}}<noinclude>{{rh|162}}</noinclude> fe1iz9xi1e872rgci875ikifscpgb74 Kaca:Babad Prayud I.pdf/165 250 24613 78227 77233 2026-05-16T09:12:23Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78227 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=7 |<poem> Iya sapuluh-puluh mangsa mindhoa iya wong lampus tuwa mati anom mati yen wus pasthi wus anjog ing lemah dhuwur sapraptanira ing ingisor</poem> |<poem>Jayapanatar maju Raden Tumenggung awas andulu pan cumeplong tyase kentir kang kuwatir tyas susah swuh wus kapusus tyas suka kapasuk kasok.</poem> |<poem>Miwah ingkang anusul pra samya lega sami gumuyu loking warta tan nyana bisa basuki lajeng wau lampahipun angalor sami geguyon.</poem> |<poem>Prapteng pakuwonipun Pangeran Mangkuningrat agupuh methuk jawi palataran nyandhak aglis angasta sarwi gumuyu Kang Menggung maras tyasingong. </poem> |<poem> Ing nguni adatipun Kiyai Sultan yen sanget bendu anekani mbuh ing mengko sepuh iki lan malih wus dadi ratu tetemaman tyase alon.</poem> |<poem>Wau Raden Tumenggung Puspakusuma matur atutur katimbalan Kangjeng Sultan benjing-enjing kang putra tinundhung mantuk suka tyase kabeh kang wong.</poem> |<poem>Ingkang sami angrungu kuneng ing jawi ingkang pinupus </poem>}}<noinclude>{{rh|||163}}</noinclude> 2s2q9eynhynmixzr4qiil51jkjnoywk Kaca:Babad Prayud I.pdf/166 250 24614 78228 77234 2026-05-16T09:12:31Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78228 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::Kangjerig Sultan dalu perlu animbali :::ingkang putra prapteng ngayun :::lawan ingkang ibu karo.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=14 |<poem> Jeng Sultan ngandika rum heh Ebeng sira muliha besuk sira iku basakena ingsun iki kesusua ing sireku iya banget tunaningong.</poem> |<poem>Pan milua pembayun dunungingsun anestapa iku temah teka ing temah mbandakalani duwe mantu dadi satru weh was-uwas dadi mungsuh</poem> |<poem>Wus begjane wakingsun dene pulunan sun ambii mantun ingsun nyana dadia kondhanging jurit mundur amuwuhi satru gawe keroning lelakon </poem> |<poem> Sultan andikanipun sarwi anenggak ing waspanipun kapiadreng sereng rengune ngranuhi para garwa ting salenggruk mulat rentenge sang katong. </poem> |<poem> Kang ngadhep sadayeku lurah kalawan sinomanipun miyat ingkang gustine renteng kapati angluding tangis gumuruh lir kapeten jro kacfhaton.</poem> |<poem>Jeng Sultan langkung wimbuh dadya adhawah waspa Sang Prabu para garwa uwa bibi angebyuki marang Ratu Bendareku </poem>}}<noinclude>{{rh|164}}</noinclude> 7qh17xylrotl2iwrr7zk75qk7ldtwz2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/167 250 24615 78229 77235 2026-05-16T09:12:47Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78229 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::tingjalerit sakadhaton.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Ni Arya Suwandeku alón umatur sarwi rawat luh dhuh pukulun Narpa Kalipatullahi sampun angrerenteng kalbu bawur prajanta wirangrong. </poem> |<poem> Tingkesen tyas pukulun luwung ngupaya pangupayeku ing paekan papaning reh mikenani darapon nir ing lara kung kung wuyung wong sakadhaton. </poem> |<poem> Kewran punapa ratu akarya sungsang buwana bawur pan winenang Gusti jenenging Nerpati ing reh amrih tetepipun neng Yugja pUtranta katong. </poem> |<poem> Den Ayu Purbayeku miwah Den Ayu Mangkuprajeku sami prapta miwah Den Ayu Ngabei samya lud lara amuwun neng ngarsa rayi Sang Katong. </poem> |<poem>Jeng Sulta ngandika rum Heh Bibi Riya Suwandatengsun agawea paekan durjaneng budi. taho marang Anak Prabu yen karyaa kang mengkono.</poem> |<poem>Mulane liwat ewuh Bibi Suwanda panyiptaningsun iya putunira wadon siji iki pamugaraning palugon.</poem> |<poem>Kang meca wong tetelu </poem>}}<noinclude>{{rh|||165}}</noinclude> c254t0j2sbmj5nvnw3esbngwlcn0842 78231 78229 2026-05-16T09:12:58Z Elcamatcha 1466 78231 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::tingjalerit sakadhaton.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Ni Arya Suwandeku alón umatur sarwi rawat luh dhuh pukulun Narpa Kalipatullahi sampun angrerenteng kalbu bawur prajanta wirangrong. </poem> |<poem> Tingkesen tyas pukulun luwung ngupaya pangupayeku ing paekan papaning reh mikenani darapon nir ing lara kung kung wuyung wong sakadhaton. </poem> |<poem> Kewran punapa ratu akarya sungsang buwana bawur pan winenang Gusti jenenging Nerpati ing reh amrih tetepipun neng Yugja putranta katong. </poem> |<poem> Den Ayu Purbayeku miwah Den Ayu Mangkuprajeku sami prapta miwah Den Ayu Ngabei samya lud lara amuwun neng ngarsa rayi Sang Katong. </poem> |<poem>Jeng Sulta ngandika rum Heh Bibi Riya Suwandatengsun agawea paekan durjaneng budi. taho marang Anak Prabu yen karyaa kang mengkono.</poem> |<poem>Mulane liwat ewuh Bibi Suwanda panyiptaningsun iya putunira wadon siji iki pamugaraning palugon.</poem> |<poem>Kang meca wong tetelu </poem>}}<noinclude>{{rh|||165}}</noinclude> 589q540x7nd1m3wsoq3n0ludrqxzgsq Kaca:Babad Prayud I.pdf/168 250 24616 78232 77236 2026-05-16T09:13:11Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78232 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::wong maratapa lanang tetelu :::kapat wadon Ni Endang Sampurnawati :::lamun sutengong Pambayun :::sanadyan iku wong wadon. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=27 |<poem> Papaku ing prang pu puh milu ambedhah Batawi besuk wus mengkono pamecane para ngabdi Den Ajeng Bruwok ing besuk wekasing reh pinangka toh. </poem> |<poem> Sapa wruha ing besuk kadadeane putunireku nanging ingsun kang tuna kapati-pati sasat anglelemu satru yen maksiha tan neje nggon. </poem> |<poem> Dadya Sultan tumurun lan Nyai Arya Suwanda tumut lawan Ratu Kencana kang den kejepi ketiga Sultan puniku sapraptanireng ing gedhong. </poem> |<poem> Sultan angandika rum Bibi Suwanda putunireku p a d i k e n a j goleka wong guna bangkit adohna lan lakinipun toleha wong tuwa karo. </poem> |<poem> Bapa kalawan biyung nora duraka mengkono iku miwah sira Mbok Ratu den angulati wong guna-guna madhukun bisa misah wong karongron. </poem> |<poem> Sapisan engkas besuk wus linca-linci bali ping telu sun indheti nanging ta sok wusa ugi </poem>}}<noinclude>{{rh|166}}</noinclude> l8cjjv0vfcnu3vmmysbd6j3eay8klw2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/169 250 24617 78233 77237 2026-05-16T09:13:19Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78233 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::iya si Ebeng tyasipun :::adoha nir cipteng bojo.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=33 |<poem> Wus mateng rembugipun cara wong cilik ngambil dhedhukun ingkang megataken wong alaki-rabi pan istiyar sarat-masrut mrih pisah wong sakarongron. </poem> |<poem> Kukum ingkang dhinapur angger lumuh ing wong wadon iku nora kena ki lanang iya ngukuhi marma satalak tinuku wong lanang tan kena wangkot. </poem> |<poem>Jiniyat ing pangulu apan kuwasa wong wadon lumuh bisa mbuwang lawanipg lakinireki wauta Jeng Sultan sampun katri miyos sangking gedhong. </poem> |<poem> Pinarek nggene wau marang kang putra ngandika arum Ebeng prakaraa ya lakinireki nuhun yen lega tyasingsun kang siji anake wadon. </poem> |<poem> Ginanjaraken iku marang ing sapa kang putra matur inggih dhateng pun Suryakusuma nenggih Kudanawarsa nakipun badhe pinaringan pindho. </poem> |<poem> Wayah Tuwan rumuhun inggih konduran ing pejahipun Kangjeng Sultan pangandikanira aris kon marenekaken iku pan roro iku kak ingong. </poem>}}<noinclude>{{rh|||167}}</noinclude> 5ii6r8wh8uho30et8txcvcoufqoqae5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/170 250 24618 78234 77239 2026-05-16T09:13:27Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78234 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem> Mung kang ngukir bojomu gedhene iku ana ing ingsun dadi ingsun iya ingkang narimani suteng Kudanawarseku parenga carakaningong. </poem> |<poem> Angater ing sireku kaliwon papat barenga iku iya bakal pangante mring Ngayogjeki kang putra nembah umatur sandika ikinen mangkuwon. </poem> |<poem> Datan kawarneng dalu enjing sayaga sawadyanipun myang kaliwon papat duteng Ngayogjeki wonten duta tigang atus kang dharat iya semono. </poem> |<poem> Tan kawursiteng dalu kang badhe budhal samekta sampun sami saos Pangran Mangkuningrat enjing aneng Srimenganti katur ngandikan marang kadhaton. </poem> |<poem> Lan Puspakusuma wus prapteng byantara Nata angujung Kangjeng Sulta amitungkas ingkang taklim katura mring Anak Prabu mring si Ebeng salamingong. </poem> |<poem> Lan salam-salam ingsun mring wayah ingong ya sadayeku bektiningsun Thole mring ibunireki Mbok Ayu Wiradigdeku sandika kalih wot sinom. </poem>}}<noinclude>{{rh|168}}</noinclude> nrmzmzrdmhfe4ylyl1tu8yqvs56u6ts Kaca:Babad Prayud I.pdf/171 250 24619 78235 77240 2026-05-16T09:13:41Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78235 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XVI. SINOM''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Wedale sangking jro pura angantosi Pancaniti wedale Ratu Bendara kang pra santana keh ngiring samya ngater ing margi garedegan wangsulipun lajeng Ratu Bendara sawadya Surakarteki lampahira ing marga tan kawursita.</poem> |<poem>Prapta nagri Surakarta ping sanga Besar Sukraning wau Jeng Ratu Bendara lajeng sowan mring jro puri ngaturken ingkang taklim kang rama Sultan wus katur lan salam mring kang putra Jeng Ratu Kencana nenggih myang kang dhawuh mring para wayah sadaya. </poem> |<poem> Ratu Bendara wus medal ngandikan punggawa katih wau Pangran Mangkuningrat lawan Puspakusumeki prapta ngabyantaraji katur sapraptingkahipun kala wonten Ngayogya suka Sang Nata miyarsi ing antuke awit sangking masang gelar. </poem> |<poem> Gelare kuthuh anyetan nistha ambek angrusuhi dadya Jeng Sultan miyarsa mila g.ya tinundhung mulih langkung suka miyarsi </poem>}}<noinclude>{{rh|||169}}</noinclude> nq9tj0ebugkt3xznrfqk6x3vjp2snpk Kaca:Babad Prayud I.pdf/172 250 24620 78236 77244 2026-05-16T09:13:49Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78236 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::wus samya kinen umantuk :::Pangeran Mangkuningrat :::lawan Puspakusumeki :::kuneng malih ing praja kang kawursita.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem> Sang Aprabu Surakarta renteng katarik nututi ing garwa Ratu Kencana sedaning putranireki Den Mas Suleman nami seda yuswa pitung tengsu kendhat ing tigang warsa datan apeputra malih manahira rungsang uyang anggerangsang. </poem> |<poem>Adina-dina kasukan mung kendel ing kalih ari Saptu kalawan jumuwah tetopengan saben ari kang abdi langkung sedhih mindeng meh kongsi sataun horeg ing kabatinan kuneng kawuwusa malih wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Angangkataken putra Raden Suryakusumeki marang nagari Ngayogja kaliwon Ngayogja sami sareng angkatireki kang badhe kinarang wulu putrì Mangkùnagaran duk pinundhut maksih bayi mring kang eyang mangkya wus samya diwasa. </poem> |<poem> Sapraptanireng Ngayogja lajeng pinanggihken nuli Den Ajeng Bojod kalawan </poem>}}<noinclude>{{rh|170}}</noinclude> nz96filweixbg3hrwmuyioty168ft9x Kaca:Babad Prayud I.pdf/173 250 24621 78047 77245 2026-05-16T03:11:16Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78047 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Raden Suryakusumeki :::ageng bawahaneki :::Kepatihan sami nayub :::lan sagung pra dipatya :::mayor lan sagung upesir :::ing Kadanurejan duk putrì wedalnya.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem> Kang dadya walining ningkah nenggih Pangeran Dipati nutug denira kasukan antawis pitulas wengi binudhalaken aglis marang ing Surakarteku malih kaliwon papat panganten ingkang umiring lan prajurit Jagabaya Anirbaya. </poem> |<poem>Wirabraja Brajanala miwah wong Jagasureki prajurit jro tiga belah ing marga datan kawarni ing Surakarta prapti Pangran Mangkunegara wus kang methuk dutanira neng Dhuwet ing Bayalali wus kabekta ing dalem Mangkunegaran.</poem> |<poem>Kasukan sapra dipatya Di pati Mangkuprajeki sakawane pra wadana Uprup Beman sampun prapti mbekta sagung upesir santana aglar ing ngayun rame dennya kasukan miwah pangantenireki sakalangkung nutug suku-parisuka. </poem>}}<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude> 5uranrtaxneq22cwi77fc23gtp87e0q Kaca:Babad Prayud I.pdf/174 250 24622 78048 77246 2026-05-16T03:11:31Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78048 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |<poem> Tuwin kaliwon Ngayogya, tinunggilan pra dipati tuhu denira kasukan bedhaya dangu wus mijil ngrangkep wayang wong nuli kang uwuk taledhek wau kang ngiras adhadharan pra dipati beksa sami gantya-gantya miwah upesir Walanda.</poem> |<poem>Kuneng wangsuning wursita ing Surakarta Sang Aji ing tyas wayang awuyunganah piyang-ngiyeng ngengayang kawayang angayengi kang makewuh akarya wuh tan lyan Ratu Kencana andika nggung musthi westhi arasing reh bawur ejaning nagara. </poem> |<poem> Sanget wisaya sangsaya menga wewanguning wingit ngentar rehning purantara tan turarma malerengi selar palering puri parah kapareng pureku sebeting lelabetan melar nalar ing kasilir tan tetular-tular reh kang ngayawara. </poem> |<poem>Sang Nata langkung kawratan dennya ngabengi kabancing kadadak akarya parat bawur pamoring paberi nging sanget Sri Bupati ngaweri karya anamur tinahen sinantosan </poem>}}<noinclude>{{rh|172}}</noinclude> m8ywi787ia3p34z075hbu9erofztrbh Kaca:Babad Prayud I.pdf/175 250 24623 78049 77247 2026-05-16T03:11:47Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78049 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::kang tyas pinutus mangesthi :::ngastha warta tumameng mawatah tetah.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem> Kang kinanthi purwa kantha kang winawrat wrating westhi rentenging tyas nara nata kang raka Sang Adipati Mangkunagara nenggih ingkang tarisah angrerapu Dipati Mangkupraja gegendholing anangisi ing karsane Sri Pamasa kang rekasa.</poem> |<poem>Tumenggung Wirawidigda katri jinarwan ing jawi katiganipun kang raka Dipati Mangkunagari kang abdi lebet sami katiganira Ki Jangkung pacar lan palawija panakawan kang nglurahi ya kang damel misesa braja jro pura.</poem> |<poem>Dadya ing jawi Sang nata mendhet malih kang dinudhi Adipati Mangkupraja kakuwu satunggil malih wadana kang ginupit kapolatan budinipun Tumenggung Arungbinang wus manjing ing rasan werit ing jro wewah cature murwa gupita.</poem> |<poem>Abdi jro wong kawandasa wus pinacak mantri miji tinunggil gupitanira kang rinilan mor ing patih </poem>}}<noinclude>{{rh|||173}}</noinclude> n3fjq4ln9e4g9f3dk2pfhn9ozul7qgv Kaca:Babad Prayud I.pdf/176 250 24624 78050 77248 2026-05-16T03:12:06Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78050 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::lawan nayaka kalih :::Rungbinang Wiradigdeku :::kang sami lelawanan :::kang dinuta wira-wiri :::mring kang raka Dipati Mangkunagara. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Yen kang raka tan ngandikan kang ngemban pangandika Ji amung sakawan punika Rungbinang Wiradigdeki katiga mantri piji sakawanira Ki Jangkung rumeding tyas narendra sami lan nginger nagari rentengipun lawanan prabu dayita. </poem> |<poem>Tumenggung Wirawidigda lan Arungbinang tinuding katigane Jangkung pacar sakawane mantri miji prapta lampahe wengi nenggih ing pukul sepuluh Pangran Mangkunagara neng latar pamethukneki wus binekta mring gedhong wuri sadaya.</poem> |<poem>Wus tata ing palenggahan Pangran mangkunagara ris wau denira ngandika Jangkung paranta Sang Aji tan kena den aturi rereh karsane kasusu ingsun iki wong tuwa kapriye yen tan nggendholi yen Sang Nata angarsakna tindak nistha.</poem> |<poem>Jangkung sira balakaa</poem>}}<noinclude>{{rh|174}}</noinclude> egmxexn04i6xj25ltmb3rvn1c0h6hi0 Kaca:Babad Prayud I.pdf/177 250 24625 78051 77249 2026-05-16T03:12:41Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78051 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>tutura sira mring marni ping pira iya denira manjing kendhi pamrih pati Jangkung matur wotsari sampun wonten ping sepuluh ingkang regi atusan ngupaya sangking pasisir tanpa darnel dados kacambah kewala.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem> Dipati Mangkunagara atebah jaja sarya ngling Heh kapriye Wiradigda miwah Rungbinang sireki karsane Sribupati iya kang mangkono iku Tumenggung Arungbinang umatur saha wotsari inggih wenang bendara kalamun nrajang. </poem> |<poem>Yen sampun tetep ing dosa kang katrapan kukum pati sakarsane angukuma kinaton kalawan went ukume pedhang sami miwah wisa kang tumanduk her keris menyak tedhas punika pan sami ugi yen sampeyan datan keging makatena.</poem> |<poem>Yen rayi paduka nata sakarsa-karsane dadi yen paduka sinatriya tan kenging telad paraji kula sampuna tari dhateng pun anak pengulu menyak tedhak lan pedhang langkung emeng ty asireki </poem>}}<noinclude>{{rh|||175}}</noinclude> e12in9difk0y7bylkabiikimi6l4eez Kaca:Babad Prayud I.pdf/178 250 24626 78052 77250 2026-05-16T03:13:02Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78052 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=27 |<poem> Amiyarsa aturira Tumenggung Rungbinang nenggih Jangkungpacar aturira kang weling rayi Sang Aji ingkang pedhang samangkin sun srahken kakangmas iku ing Kali Pepe kana sakarsane angsal uwis iya sangking banget ruwete tyasingwang.</poem> |<poem>Wau kalane miyarsa Dipati Mangkunagari dhawuhe timbalan Nata langkung barubah ing galih rontog ing tyas katarik kumembeng dadya rawat luh garawul andikannya pikiringsun kari siji iya apa Jangkung ingkang dadi cacad.</poem> |<poem>Tur sembah Ki Jangkungpacar wonten ingkang angaturi ing rayi paduka Nata yen lamun pasaha aris bicara Ubur Giring dhateng Batawi pukulun langkung adamel susah kongsiya makaten gusti angandika Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Ubur Giring iku apa dene teka memedeni kamecicen sun miyarsa Ki Jangkung matur wotsari pan Ubur Giring Gusti </poem>}}<noinclude>{{rh|176}}</noinclude> ind3edjxpvkt47aqacgwi0o5odrffxo Kaca:Babad Prayud I.pdf/179 250 24627 78053 77253 2026-05-16T03:13:17Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78053 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>nggih gedhong pajeksanipun Jendral ing Batawiyah kang kinarya mbebeneri pabenipun ingkang para raja-raja.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=31 |<poem> Pangeran sumuk bramatya jaja bang sumirat abrit ingkang umatur wong apa dene teka memedeni ratune den gegiris wong kaya mengkono iku tan pantes kinethika gawene amemedeni ngendi ana wong wadon gunem nagara.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Arungbinang umatur sarwi wotsari sampun nunten adeduka ing karsa den sareh ugi bendara boten keni lamun satunggil puniku estri tumut kaskaya kondhang arebat nagari pinten-pinten pepejahe wong Madura. </poem> |<poem> Sampun kang menggah punika rama paduka suwargi kang sumare ing Laweyan kintun serat mring Betawi kasupen tembungneki boten ngangge tabenipun ratu ageng punika ing saben-sabene mawi winangsulken serat prapteng Kartasura. </poem> |<poem>Nuju alamipun jendral Jendral Ardiyan Pan Kenir </poem>}}<noinclude>{{rh|||177}}</noinclude> stdxrmdstd5brqewcsejnhirnjkdi2c Kaca:Babad Prayud I.pdf/180 250 24628 78054 77254 2026-05-16T03:13:28Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78054 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>adat surate Sang Nata saben kang dhateng Betawi ing wekasane mawi tabenipun Ratu Ibu Bendara sapunika inggih adating kumpeni luput tigang kecap nuwuhken prakara.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem> Tur inggih dede prakara amung tabe sagadintir Dipati Mangkunagara wau kalane miyarsi susahira tan sipi kambah barubahe imbuh mundhut jenewer prapta gelas dhopok den kebeki pan yen wuru adat ametokken akal.</poem> |<poem>Dipati Mangkunagara wus wuru medalken pikir engkene bae Rungbinang sarate Sri Narapati utusa laku dhemit marang ngarsa Deler Ubrus nanging ingkang dinuta miliha wong ingkang becik ingkang bisa nyengker wewadining Raja. </poem> |<poem> Kalawan kang rada bisa bicara lawan kumpeni karsa dalem den lairna puluh-puluh uwus pasthi kang dadi bapa kaki pan iya Walanda iku ya isin-isin apa ngur endi mbandakalani aja kidib sadosane den biyaka. </poem>}}<noinclude>{{rh|178}}</noinclude> au4o4dcwg374tu5iioic22o74ths1df Kaca:Babad Prayud I.pdf/181 250 24629 78056 77255 2026-05-16T03:13:40Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78056 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=38 |<poem> Aja kang matur Sang Nata memedeni kang tinuding Ubur Giring wong kaparat Rungbinang alón turneki abdi dalem pun adhi punika sampun pasliyun kang sampun nggih pinacak dhedhemitan mring Samawis langkung kendel ing rayi paduka nata. </poem> |<poem> Sabarang reh pinarcayan Pangeran angandika ris lamun iku wus prayoga kang ginawe gadhen uni lawan kraman kumpeni sawulan neng barisingsun duk misih kawandasa mengko wus pinacak mantri heh ya sira den bangkit amrih wiweka. </poem> |<poem>Ajanana yen apadhang underan lamun awerit piyaken ing sawetara ing prakara aja kumbi pan karsane Sang Aji sira wus ginawe wawuh lah uwis umatura Rungbinang Wiradigdeki apa dene yayi Lurah Jangkungpacar. </poem> |<poem> payo ta padha bubaran umatura mring Sang Aji lamun iku pikiringwang wus norana maning-maning nadyan wus katrap nenggih maring darah karya lampus kaliwat nora enak panggawe nggegampang pati mangsa wurung nemu walesan ing wuntat. </poem>}}<noinclude>{{rh|||179}}</noinclude> 4aygicb45v3vv7c3oa4tlnblczzwn8l Kaca:Babad Prayud I.pdf/182 250 24630 78057 77256 2026-05-16T03:14:00Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78057 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XVII.{{gap}}PANGKUR''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Mundur caraka sakawan prapteng pura ing panepen ngarsa Ji wus katur sadayanipun pitungkas aturira Pangran Mangkunagara sanget turipun nggegendholi nuhun duka ing karsa kalih prakawis</poem> |<poem>Dene sami tibeng nistha angandika wau Sri Narapati Rungbinang Kakangmas iku ndadak acatur nistha pan dheweke sok butuh kethuh aletuh ora tinari wong tuwa tinari angrerubedi.</poem> |<poem>Tumenggung Wirawidigda Arungbinang sami dennya wotsari deonya nanggulangi atur dennya arsa deduka mring kang raka rupek dede wektunipun pukulun raka paduka ature Tumenggung kalih. </poem> |<poem> Rehning kakresakken mangkya aku iki tinariya nuruti nuruta bramaning aku tuna ginawe tuwa lamun aku dhewe nglakonana kethuh satriya tan dadi apa </poem> |<poem> Lamun ratu nora kena yen kuthuha angrengkakaken bumi Sang Nata miyarsa ngguguk </poem>}}<noinclude>{{rh|180}}</noinclude> f51u117cty76ncvz9zpzufpmic5b8pg Kaca:Babad Prayud I.pdf/183 250 24631 78058 77258 2026-05-16T03:14:15Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78058 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>babo dene kayaa wong temenan pikire mengkono iku iya becik tinuruta wong tuwa dhasar sun tari.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem> Sang Nata sigra parentah marang mantri kadipaten kang miji mangkata ing besuk-esuk sira maring Semarang ya ukihen pikire si Deler Ubrus aprakara susahingwang, kehdik nging kepati-pati. </poem> |<poem> Sang Nata sigra mendhut cap lawan ecap sigra dennya ngecapi kartas satebah amung ya tan mawi seratan antenana yen den andheg Deler Ubrus sayekti ika kongkonan Si Deler marang Batawi. |<poem>Lan kapindho wekasingwang jaluken mring Deler prapteng Samawis paman Pangran Ngadilangu yen wus prapta Semarang anggubela susahe keratoningsun sun tempuhken ing paman nedho apuraning Widhi.</poem> |<poem>Wus sami medal sadaya tan kawarneng dalu wuwusen enjing wus mesat mantri Pasliyun dhateng nagri Semarang tan kawarneng marga ing Semarang rawuh tan katawis pamerira neng nagari ing Semawis. </poem> |<poem> Pan ing dalu pukul sanga </poem>}}<noinclude>{{rh|||181}}</noinclude> l7276pcj2fzdeysidghc0f4x71l3dcr Kaca:Babad Prayud I.pdf/184 250 24632 78059 77262 2026-05-16T03:14:30Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78059 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>lebetira mring loji kang angirid juru basa Sipanyol Drus lan Deler wus apanggya pinanggihan minggah aneng kantor luhur wus tata lenggah anulya dhawuh tabening Sang Aji.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem> Akathah patanyanira wusnya dangu gya ngiwa abebisik satelasira kang wuwus Deler goyang kepala nora susah yen mengkono Sang Aprabu tan ngalnggo Batawi ingwang ingsun dhewe anguwisi.</poem> |<poem>Ubur Giring ora nana iya lamun karsane prabupati yen wong wadon banget luput memikani wong lanang sanggon-enggon mangsa ta oliha kukum tan ana ratu ginugat ing prakara laki-rabi.</poem> |<poem>Pendhak enjingipun prapta Pangran Adilangu Nagri Samawis wus panggih lan Deler Ubrus pinanggil duteng nata pinanggihken lan Pangeran Adilangu dangu dennya bawa rasa dhawah sapangandika Ji.</poem> |<poem>Deler tanya ing Pangeran Adilangu wong Jawa kadipundi wong laki-rabi puniku punapa tan kenia mana sukak marang ing pawestrinipun Pangeran Wijil saurnya </poem>}}<noinclude>{{rh|182}}</noinclude> 26r8kgm7awz5883fgbzfnq2bqma21ln Kaca:Babad Prayud I.pdf/185 250 24633 78060 77267 2026-05-16T03:14:43Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78060 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sasukak-sukake yayi.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem> Deler malih wuwusira putra dika tuwan inggih samangkin Sang Prabu Surakarteku susah dening kang garwa ambebeka wong wadon sok milu-milu ngreregoni amisesa barang tindaking nagari.</poem> |<poem>Yeku jagad kaliyatan lebih banyak jagadnya myang sembuni trak ada brani yang tanggung kang padha Tuwan Allah misih lebih sakethi saleksa sampun dika Pangeran wong tuwa tulunga lejaring galih.</poem> |<poem>puniki Tuwan sasunan sekel langkung karepotaning pikir pinisaha datan purun lunga sangking jro pura sampe mati puniku kalangkung ewuh Pangeran Wijil saurnya tuwan pikir kula ngriki.</poem> |<poem>Sri Bupati Surakarta inggih pasthi yen anaking kumpeni sabarang pratingkahipun kumpeni ngawakana lawan dadi seksi wisesa satuhu angeniraken prakara Deler suka duk miyarsi.</poem> |<poem>Deler Ubrus ngrangkul sigra ing pangeran sarya ling trima kasih Bapak Pangran lebih betul </poem>}}<noinclude>{{rh|||183}}</noinclude> 2bj1ck0igrknvhus7p13akjez6spo6e Kaca:Babad Prayud I.pdf/186 250 24634 78061 77272 2026-05-16T03:14:57Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78061 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>ling malih mring caraka umatura iya marang Sang Aprabu si Beman den timbalana den wruhena prakareki.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Sanadyan dhedhawuhana mring kang garwa becik Beman tinuding den tumbukna gunung watu mangsa ta kumedhapa apan iku wajibe njaga ing ratu sasukere Sri Narendra sirnaa sangking kumpeni. </poem> |<poem>Ubor Gerong nora nana iya lain bicara yen paraji Deler angambil capipun lak pinasang ing kertas mung sakebet lawan malih suratipun kang marang Uprup Beiman Deler wuwusira aris.</poem> |<poem>Anuli den timbalana Uprup Beman ing Jeng Sri Narapati mangkata ing pukul wolu wengi ki lakunira aneng kene telung dina mung sireki iki wus putus bicara punang caraka wus amit.</poem> |<poem>Angkate sangking Semarang malem Rebo prapta Jumuwah enjing Sura gangsal welasipun njujug ngolji praptanya surat Deler wus pinaringaken Uprup winaca goyang kapala dene tabete wus lami. </poem> |<poem> Beman alon wuwusira </poem>}}<noinclude>{{rh|184}}</noinclude> t6kjazxmm0xdgo0f92hwk7lkdbigh6h Kaca:Babad Prayud I.pdf/187 250 24635 78062 77276 2026-05-16T03:15:11Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78062 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>mring caraka umatura Sang Aji mengko sore ingsun masuk iya satengah lima duta mesat sapraptanireng kadhatun tinimbalan maring taman tan mantra-mantra katawis.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem> Wau Ngabei caraka prapteng ngarsa ngaturken praptaneki saha ture Deler Ubrus tan wonten kalangkungan miwah ture ingkang Paman Ngadilangu kang ruwed rampung rinampas langkung suka tyasira Ji.</poem> |<poem>Dipati Mangkunagara dhinawuhan sonten manjinga puri medal Ngabehi Pasliyun badhe saos sontennya tan kawarna praptane kang mangsa masuk Dipati Mangkunagara Uprup Beman narengi.</poem> |<poem>Palenggahan neng pandhapa wus binukak raos sangking Samawis miwah Uprup mbuka sampun Ideler parentahnya tan na siwah surat ingkang dhateng Uprup lan weling kang atur marang ing Kangjeng Sri Narapati.</poem> |<poem>Dipati Mangkunagaran langkung suka kumpeni kang ngawaki tan nggepok sariranipun anggungken ing karajan bakda ngisak gegamelan Sang Aprabu Uprup dereng wonten medal </poem>}}<noinclude>{{rh|||185}}</noinclude> skjd4r51vsklxgox3o2sjg65vvdwro3 Kaca:Babad Prayud I.pdf/118 250 24636 78206 77282 2026-05-16T09:09:00Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78206 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem>Angantosi Tumenggung Jayanagara kang liwung ing ajurit ngosak-asik wana singa kang kapranggula kancane lumayu nggendring nggiwar anembah mbok katut den tumbaki.</poem> |<poem>Pan sakenjing denira numbaki mengsah mangkana aningali pinggir wana wetan prayayi asesiban bandera pinanjer sami banderanira sakawan sami nunggil.</poem> |<poem>Dadya sareh tyasira Jayanagara adheyan kudaneki marani bandera prapta sami pinapag para mantri kang nyekeli turangganira miwah waosireki.</poem> |<poem>Ginelaran lante ambruk lajeng nendra kaku sariraneki napase kumrangsang ngundur-undur nepsunya wus dangu ambekan aring dangu alenggah rinangkul ngarih-arih.</poem> |<poem>Mring Tumenggung Mangkuyuda lan Dhadharan ayem denira linggih cuwa ing tyasira dennya arsa nyenyempal mring Raden Wiratmejaki jroning paprangan datan manggih memanis.</poem> }}<noinclude>{{rh|116||}}</noinclude> 9pqf7bi5rs34jn3wwpvwvm94kt3fvml Kaca:Babad Prayud I.pdf/188 250 24637 78063 77281 2026-05-16T03:15:30Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78063 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Sang Nata ngandika aris.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=29. |<poem> Uprup samangsane iya pan samangsa-mangsa tan ingsun pasthi yen wus pareng mangsanipun dinane pan karuwan rong prakara pikir iki badhenipun yen ora Mangkunagaran sayekti iya mring loji.</poem> |<poem>Nggon ingsun anyingkirana ing jro pura andadekken prakawis Uprup sumangga turipun kula dhateng sumangga ing puniku wus dadi ingkang rinembug Uprup ing pukul sadasa fnijil sangking jroning puri.</poem> |<poem>Dipati Mangkunagara wus kalilan sareng Uprup umijil datan kawarna ing dalu enjinge Uprup Beman pan amanggil marang Ngabei Pasliyun praptaa pukul àadasa Ki Ngabei marang loji. </poem> |<poem> Sagah rumiyin asowan mring jro pura wusnya lajeng mring loji, wau Ngabehi Pasliyun sowan manjing ing taman tan antara Sri Bupati tedhakipun umatur lamun kawula winelingaken mring loji. </poem> |<poem> Sri Naranata ngandika ya menyanga miwah ingsun ameling bebisika mring si Uprup </poem>}}<noinclude>{{rh|186}}</noinclude> k8b04amt1jcm9d1u4ycnr8qsn4abadg Kaca:Babad Prayud I.pdf/119 250 24638 78207 77283 2026-05-16T09:09:09Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78207 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XI. {{Tab}}DHANDHANGGULA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Ing punika Dyan Wiratmejeki sampun lebar baiane wus bubar mbalesar rebut uripe kawuwus sami kawus datan kena tinata malih tan kuwasa nedyaa pacak barisipun tan bisa amurweng yuda mung ngungsekkeri umur badane pribadi nalesep pagunungan.</poem> |<poem>Raden Rangga Prawiradirjeki rembag lan Tumenggung Mangkuyuda ngupaya babar pisane nenitik ing reh lembut dipun kadi ànjebat paksi singa kang pakantuka amrih sirnanipun sanadyan dadia karya babar pisan sampun kongsi malih-malih mupakat pra dipatya.</poem> |<poem>Dadya wau Ki Mangkuyudeki saderenge angsal titik ika wangsula mring Jipang maleh Palumbon kuwonipun. sakancane kang pra dipati amrih papan polatan miguna ing laku Den Rangga Prawiradirja sakancane tanah Grobogan den nggoni atepung pangupaya.</poem> |<poem>Sampun gilig ing rembag wus dadi</poem> }}<noinclude>{{rh|||117}}</noinclude> or31pnwa0h48vs69gpytebcjp2dyfk6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/189 250 24639 78064 77284 2026-05-16T03:15:43Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78064 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>yen padha kaslametan kalakona ing sakarsa-karsanipun si Uprup utange iya telung ewu marang marni.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem> Lawan limang atus iya sun wukaken wus aja anauri medal Ngabei Pasliyun lajeng mring loji prapta wusnya panggih ingajak minggah mendhuwur praptane wus tata lenggah Uprup angling Heh Ngabei </poem> |<poem>Paran kira-kira dika punapa ta karsane Sri Bupati lawan enggale puniku Ki Ngabehi saurnya kadi nunten amet tibeng mangsanipun Uprup malih dennya ngucap kira dika Ki Ngabehi.</poem> |<poem>Yen benjang kalampahana suker dalem ludhanga sangking marni apa na pangganjaripun Tuwan Sunan maringwang ika sapa wong wadon kang ngiring Septu manjing mijil ngampil konca bocàh rada esmu putih.</poem> |<poem>Kae bae den paringna Ki Ngabehi alon dennya nauri punika lelurah manggung namane Mbok Wisarsa pan wong buie kang anak-anak puniku kula sagah nuwunena pinaringken pucung pasthi. </poem>}}<noinclude>{{rh|||187}}</noinclude> io4b3a8qidj63zk3wk87uc05kfzlzju Kaca:Babad Prayud I.pdf/120 250 24640 78208 77285 2026-05-16T09:09:16Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78208 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>isi ngemban timbalane Kangjeng Sultan puniku ingkang dhawuh Raden Suwandi Tumenggung Garobogan wus narimeng tuwuh sumendhe karsaning titah lamun nuntun ala lawan nuntun becik tan kena binakalan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem>Yen wektune peparinge pasthi Raden Suwandi tilar nagara ing lok misuwur pocote ing Pathi kang jinujug pandhongkole Raden Suwandi Sultan sampun utusan mring Delere sung wruh yen Suryanagara pecat sangking Garobogan andhongkol neng Pathi kumpeni duk miyarsa.</poem> |<poem>Sami suka mashuring pawarti kantor-kantor sinungan pawarta Raden Suwandi pocote Garobogan ginantung Sultan dereng karsa nanemi amung kang tinanemana nagari ing Warung lelurah wong Jagasura Ki Ngabei Jayasutama kinardi aneng Warung nagara.</poem> |<poem>Pinaringan ing asmanireki nenggih Tumenggung Wiryanagara wong gandhek amaringake mring pabarisanipun dhawuh marang Rangga wus tampi lamun Jayasiitama</poem> }}<noinclude>{{rh|118||}}</noinclude> 6r4dvlwnb73wr5kxnihi7o1lvq6pyzo Kaca:Babad Prayud I.pdf/121 250 24641 77925 77286 2026-05-15T20:58:39Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77925 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tinanem ing Warung Tumenggung Wiryanagara linajengaken mring ing Warung nagari nata samakteng wadya.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=8 |<poem>Mancanagara Surakarteki Jagaraga sampun tinaneman gandhek sampun maringake mring pabarisanipun Ki Tumenggung Mangkuyudeki dene ingkang kinarya wong saking Madiun pulunanira pangeran ing Madiun kang wayah pangeran nguni Madiun raden putra.</poem> |<poem>Wus sinungan ing namanireki Raden Tumenggung Ranuwijaya sigra dennya ngajengake mring Jagaraga kumpul tata wadya wusnya miranti nusul marang barisnya Ki Mangkuyudeku samana{{tab}} {{tab}}{{tab}}Prawiradirja Kartanadi ngandikan mring Ngayogjeki mung kantun Martalaya</poem> |<poem>Sapraptane nagri Ngayogjeki lajeng kerid marang Danureja Pangran Natakusumane lan Pakuningrat sampun praptanira ngarsa Narpati {{gap}} ngaturken sratipun kang sangking Suryanagara duk katampen kacipta raosing tulis yen pun Suryanagara.</poem> }}<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude> oxhs4cpa6aiix4g1t5vb2f0g076fpgk Kaca:Babad Prayud I.pdf/122 250 24642 77926 77287 2026-05-15T21:00:05Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77926 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem>Tan sumelang sandika les maring lair batine narimeng titah kadya pun Adipatine Jengrana sureng kewuh duk tinedha marang kumpeni lamun amregagaha mbela jagad retu anak putune tan kalap mati aris angretakaken nagari nak putu masih kalap.</poem> |<poem>Kangjeng Sultan pangandikaneki sun rasakna sataun tan puas rentenging tyas ingsun kiye nanging ta ingsun pupus angupaya pikir ing wuri kang dadi kabecikan wekasan rahayu Danureja karsaningwang miwah Dhimas Natakusuma sireki cacaden karsaningwang.</poem> |<poem>Nagri ing mancanagara iki mengkenea ngengembangi rusak nggegawa ing sira dene yaiku karsaningsun sun tanduri wong ingkang becik kang wus prawireng yuda tyas santosa teguh suda kasusahanira Danureja umatur saha wotsari leres karsa wak nata.</poem> |<poem>Ingkang kadya pun Natapureki langkung tiwas rumekseng tampingan tiyang landhung lelingseme dede anak Mataun</poem> }}<noinclude>{{rh|120}}</noinclude> cupz9f5sj8hwsgp93c0mlc6p4osac3m Kaca:Babad Prayud I.pdf/123 250 24643 77927 77289 2026-05-15T21:01:10Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77927 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>neniwasi tengga nagari tan tresna ing ratu alah mungsuh bebocahan destum enggih dhedhukuha aneng wukir</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem>Karsaningsun ya si Kartanadi kang sun tandur aneng Garobogan gampil masalah besuke anamaa puniku si Tumenggung Sasranagari si Jipang ya muliha kawedananipun ing Madiun balenana kala kuna Madiun panekar sami ing Jipang kang sun karya.</poem> |<poem>Ya si Rangga Prawiradirjeki wadanane wong mancanagara Danurja nuhun ature leres karsa pukulun abdi dalem mancanagari jolokna ing prakara yen boten winangun bupati ingkang saniosa sabarang reh kadi boten anglingsemi inggih pun adhi Rangga.</poem> |<poem>Rangga muwus marang Kiya Patih dhuh Ki Lurah yen anglepotana mring lelurah sabarang reh destun tolotok ngasu yen wonten satru anekani menawi kan aran Ki Lurah angrungu</poem> }}<noinclude>{{rh|||121}}</noinclude> 8efwlsntmvoljxhvx23mkxxgoka7k8f Kaca:Babad Prayud I.pdf/124 250 24644 77928 77290 2026-05-15T21:02:00Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77928 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>heh Danurja mancanagara saiki pan masih karepotan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=18 |<poem>Dene bumi durung ana mulih dadi ingsun ngalalii Danurja mancanagara bandare sun paringaken iku ginajihna maring prajurit wong sijine angrolas ewu wolung puluh limang ewu oleh iya patang atus baginen sapra dipati undha usuk warata.</poem> |<poem>Iku prajurit pasumbang marni patang atus marang pra dipatya lowung dadi gegajule dene tetinggalipun wadanane mantri panumping Arya Pamot sun karya ing sawurenipun si Rangga Prawiradirja suteng ulun Arya Pamot sun arani Arya Dipanagara.</poem> |<poem>Anetepi sosoran pepatili tengen sosoran Jayakusuma dene sosoran kiwane ya si Natayudeku asosoran Martalayeki Kartanadi ampasnya sun pundhut malebu sun wuwuhken si Urawan ya kalawan si Tumenggung Suratani gengpa nyewu padha.</poem> |<poem>Si Urawan arane sun alih</poem>}}<noinclude>{{rh|122}}</noinclude> 1fci9lx3533cu0jmhkdumkvfbt40elv Kaca:Babad Prayud I.pdf/125 250 24645 77929 77291 2026-05-15T21:02:40Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77929 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>anamaa Tumenggung Sindurja si Suratane arane si Mangundipureku anggawaa bawat yen nangkil tengene ing kaparak gedhong kiwanipun kang seba anggawa bawat ambaureksa momonga si Adipati namaa Wiraguna.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=22 |<poem>Kaparake sira dadi margi aneng kiwa sun alihken naraa tumenggung Sindupatine si Mangunegareku ingsun alih angger rajawi ingkang dadia gedhong dene tengenipun iya anake si Rangga si Sulbiyah iya namaa ing mangkin Tumenggung Mangundiija.</poem> |<poem>Heh Danurja anakmu si Yasin ingsun pundhut si Jayasudirga wus lawas temen kethere iku ingsun kon ngatur ingsun arsa karya bupati wolu punggawa jaba lungguh ngenem atus bupati wuri lungguiinya kang pangarsa bupati nenem sun kardi loro anyewu lungguh.</poem> |<poem>Ingkang papat nyangang atus sami si Yasin nama Danukusuma Sawunggaling pamburine iya lungguh nem atus</poem>}}<noinclude>{{rh|||123}}</noinclude> cmb9ano34ku3z801v0xdhzokonfcn1j Kaca:Babad Prayud I.pdf/126 250 24646 77930 77292 2026-05-15T21:03:20Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77930 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Arya Jayasupanta Arya Mandureku arigenem atus lungguhnya lelurahe Ketanggung Jadaraneki ingsun junjung namaa.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Ya si Tumenggung Jayadireki dene sisihe Danukusuma si Rangga Wanengpatine ingsun junjung Tumenggung ya si Jayawinata mangkin nunggal punggawa papat padha nyangang atus Singaranu jawi sama ngenem atus sandika Danurejeki Sultan malih ngandika.</poem> |<poem>Ya si Rangga Prawiradirjeki Kartanadi nuli lakokena iya kerida ing gandhek sampun sami tinundhung mijil prapteng jaba parentali kyana patih sampun mematah nata parentali pra dipati kang pangarsa kang pamburi sawusnya dennya tata.</poem> |<poem>Kang tinuduh mring mancanagari sampun budhal Kartanadi lawan Rangga Prawiradirjane ing marga tan kawuwus praptanira Jipang nagari sagung kang pra dipatya mancanagaraku dhinawuhan kang parentali kawadanan amancanagara mulih kadya kuna ing Jipang.</poem> }}<noinclude>{{rh|124}}</noinclude> k7ndyhq2229neslra8thiz49040p2xr Kaca:Babad Prayud I.pdf/127 250 24647 77931 77293 2026-05-15T21:04:17Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77931 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem>Raden Rangga Prawiradirjeki kinarsakken kang dadi wadana Garobogan kaliwone sasorane ing Warung kang sami reh para dipati wus tata nulya samya nutugaken laku angupaya Wiratmeja akekanthen punggawa Surakarteki Tumenggung Mangkuyuda.</poem> |<poem>Lan Tumenggung Jayanagareki miwah sagung wong mancanagara gilig ing pangupayane mrih mencaraken laku kondhangira Wiratmejeki pun Jayengwilatikta wus amisah laku nanging kumjpujane kathah ingkang amor pun Jayeng Wilatikteki kadi rong at us ana.</poem> |<poem>Ing tyas miring asalah ing kapti mawong sanak wadya Surakarta Jayasuwarna namane nenggih utusanipun Pangran Mangkunagara nguni lawan Surajenggala ing Kuwu Baledhug pinanggihan mawartaa lawan Senapati ing Surakarteki Tumenggung Mangkuyuda.</poem> |<poem> Lamun saguh iya amateni marang sira Raden Wiratmeja amrih alus upayane Jayasuwarna matur</poem> }}<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude> 0jo0s5093p2ror7svwcwnoixks1ztkg Kaca:Babad Prayud I.pdf/128 250 24648 77932 77294 2026-05-15T21:05:06Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77932 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>mring Tumenggung Mangkuyudeki yen Jayeng Wilatikta sagah amrih lampus marang Raden Wiratmeja ing samangke wus nalesep kadi peksi momor alas-alasan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Kuneng kang nglurug lagya mrih nitik pangilange Raden Wiratmeja kaselan ing caritane nenggih Tuwan Gupernur ing Samarang Nikolas Arting wus prapteng temponira sinalinan sampun Mayor Ubrus kang kinarya Pan Nikolas Arting mantuk mring Batawi dadya rat panitiya.</poem> |<poem>Kangjeng Sultan utusan Samawis anyangoni ingkang badhe kesah warni emas peparinge pengaos kalih ewu marang Deler Nikolas Arting Pangeran Pakuningrat nenggih kang ingutus lawan Tumenggung Surawan Sang Aprabu ing Surakarta wus nuding Tumenggung Wiradigda.</poem> |<poem>Kang tinuduh marang ing Semawis lawan Tumenggung Sasradiningrat reyal sewu pasangone marang sirai Guprenur ingkang Parlos Nikolas Arting lan ngurmati kang anyar nenggih Deler Ubrus sami prapta ing Semarang</poem> }}<noinclude>{{rh|126}}</noinclude> 90sflp09ijjrbm0hjeavfubkqpxll6i Kaca:Babad Prayud I.pdf/129 250 24649 77933 77295 2026-05-15T21:05:51Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77933 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>duteng Surakarta duteng Ngayogjeki mring Deler kalih pisan.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=35 |<poem>Mayor Dungkur ing Ngayogja sami asemayan lawan Oprup Beman mring Semarang antarane lan duteng ratu-ratu gangsal dinten praptanireki manggihi Deler anyar nguna Mayor Obrus tumut amalih nagara sasampune sampurna duk Pagiyanti Mayor Obrus kang minggah.</poem>|<poem>Dadya kumenldur Banten tan lami mangkya kinarsakken neng Semarang jinenengan ing adege wakile ratu-ratu miwah para pulmak kumpeni uprup-uprup kup Beman miwah Mayor Dungkur wadya pasisir sadaya pra dipati kerigan prapteng Semawis myang kantor-kantor samya.</poem> |<poem>Kumpenine prapta king Semawis pakumpulan miyarsakken palka Gurnadur ing Parentahe nenggih waktu puniku wonten sekretaris Batawi njenengi maos palkat ing sasampunipun lajeng sami palenggahan sekretaris maring Bastam anganthuki bakahur ing Semarang.</poem> |<poem>Wusnya celak angling bisik-bisik Bapak Bastam payo tingalana</poem> }}{{rh|||127}}<noinclude></noinclude> bn2g1yefn3pt6c8prihvswpabs10lu6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/136 250 24650 78072 77298 2026-05-16T03:18:22Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78072 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>katon wus nunggal karsa lan Sang Nata kalihipun Dipati Mangkunagara.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Ing pukul sawelas wengi bubaran ingkang kasukan Gupernur sampun makuwon ing sadinten kendelira Deler ngaturken nika nenggih angsal-angsalipun kang konjuk ing Sri Narendra. </poem> |<poem>Peni-peni warni-warni Dipati Mangkunagara pinasungsung marang Deler tuwin sagunging santana miwah kang pra dipatya kabeh sami pinasungsung baludru cindhe lan renda. </poem> |<poem> Ing sadintenipun malih Sri Bupati tedhakira mring loji sapunggawane tuwin santana sadaya tan kenging yen pamita kerid marang lurahipun Dipati Mangkunagara. </poem> |<poem>Neng loji wus tata rakit lajeng denira kasukan gumuru'n swara gora reh tedhak ambeksa Sang Nata kalawan ingkang raka Pangran Mangkunagareku cucut dadya pagujengan. </poem> |<poem> Lelewa pating penthalit amacucu akekayang </poem>}}<noinclude>{{rh|134}}</noinclude> o5991fsbee9eakx24zq5oaxhsg3ig1j Kaca:Babad Prayud I.pdf/137 250 24651 78073 77299 2026-05-16T03:18:32Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78073 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>gumuruh sami gujenge Deler saupesirira tuwin kang pra dipatya pasisir samya anggunggung wong Agung iku abisa.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem> Bisa ngladeni kang rayi bisa nyukakken Walanda parek driya sasolahe amanis raga sembada pirang lagi legawa yeku wong agung asemu satmata apariminta. </poem> |<poem> Sawusnya Sri Narapati ambeksa lan ingkang raka nulya gantya Tuwan Deler mbekta saupesirira kunrumpyung kang biyola wusnya kumpeni gung-agung santana lan pra dipatya. </poem> |<poem> Nulya bupati pasisir pra sami mbeksa sadaya datan kendel mariyeme ing pukul satengah rolas bubaran kang kasukan Sang Nata kondur ngadhatun Dipati Mangkunagara. </poem> |<poem> Bubar sapra santaneki tuwin sagung pra dipatya kuneng Ideler lamine neng nagari Surakarta pan tiga welas dina sinuba pya boga nutug miwah sagunging kasukan. </poem>}}<noinclude>{{rh|||135}}</noinclude> s0jtkpe4gnggxsolq6e04fqzbdmt8bv Kaca:Babad Prayud I.pdf/138 250 24652 78074 77301 2026-05-16T03:18:44Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78074 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem> Angrampog sima lan malih ngaben sima lan maesa marang ing Deler urmate mangkana wus salin dina ing malem Setunira Sawal tanggal ping rongpuluh Deler saupesirira. </poem> |<poem> Sagung bupati pasisir sami binekta sadaya kasukan aneng daleme Dipati Mangkunagara bupati Surakarta sadaya wus samya kumpul aneng Kamangkunegaran. </poem> |<poem> Dipati Mangkuprajeki kang ngirid sagung punggawa Pangeran Mankuningrate Pangeran Natanegara ngirid sagung santana urmat kalangkung sesugun Dipati Mangkunagara. </poem> |<poem> Urmat drel prajurit estri wanti-wanti Deler eram anggung goyang kepalane ngarekken prajurit lanang Deler Ubristing mulat sakalangkung sukanipun ambayar satus rupiyah. </poem> |<poem> Mring sagung prajurit estri ararne dennya kasukan ngrerangin kalasakane wusnya denira badhayan lajeng taledhek medal </poem>}}<noinclude>{{rh|136}}</noinclude> 6w0ytcqt4ijaryenuh192ylcwrgqaju Kaca:Babad Prayud I.pdf/139 250 24653 78075 77302 2026-05-16T03:19:04Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78075 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>sawusnya dhadharan nutug kumpeni gung-agung mbeksa.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem> Anulya kang pra dipati tuwin sagunging santana agantya-gantya beksane bubar ing pukul sawelas sakenjing dennya pista Deler saupesiripun myang sagung kang pra dipatya. </poem> |<poem> Pasisir amit wotsari Dipati Mangkunagara ngater ing galedhegane wangsul nutugken kasukan lan Patih Mangkupraja sakancane pra Tumenggung bubare setengah tiga. </poem> |<poem> Enjinge Sri narapati paring kuda tigang pasang marang sira Tuwan Idler lawan kalih kodhi sinjang ciyut kalih kang wiyar lawan paring reyal sewu Dipati Mangkunagara. </poem> |<poem> Sungsung turangga sarakit santana ingkang nyatunggal Pangeran Mangkuningrate Pangeran Nitinegara Pangeran Adiwijaya Pangeran Danupayeku miwah kang para dipatya. </poem> |<poem> Samya nyukani nyatunggil sarakit rekyana patya wus tinampan marang Idler </poem>}}<noinclude>{{rh|||137}}</noinclude> dhyakl9peqtj4irvbe255k9hxlbo9d5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/140 250 24654 78076 77303 2026-05-16T03:19:26Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78076 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>sontenipun Sri Narendra miyos ing pawatangan Deler ngandikan ndedulu lawan saupesirira.</poem></ol> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem> Dene bupati pasisir pra samya watang sadaya Idler kalangkung sukane lajeng budhalipun watang Deler Ubris lajengnya mring puri pista sadalu bubar ing satengah tiga. </poem> |<poem> Wumnipiskal sekretaris pinaringan nyatus reyal lan nyatunggil turanggane Deler ing dina Salasa budhal marang Ngayogja meksih Sawal tiga likur Adipati Mangkupraja. </poem> |<poem> Angater wangsulireki neng pakuwon ing Dersanan ingkang lajeng Ngayogjane Ki Tumenggung Mangkuyuda Deler lajeng enjingnya aneng tangkisan sadalu Adipati Danureja. </poem> |<poem> Methuk tangkis wus apanggih mbekta bupati satunggal Tumenggung Natayudane enjinge lajeng lampahnya Jeng Sultan wus samekta ing dina Kemis amethuk aneng dhusun ing Widara. </poem> |<poem> Praptane Deler wus panggih </poem>}}<noinclude>{{rh|138}}</noinclude> tsksmz11c5z9ncr7spjmwfps5izniwv Kaca:Babad Prayud I.pdf/141 250 24655 78077 77304 2026-05-16T03:20:10Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78077 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>Ian Sultan arerangkulan aras ingaras janggane Sultan langkung sukanira de Mayor Ubrus minggah lami rewang kaya-kuyu lan Jeng Sultan jroning aprang.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=44 |<poem> Wedang lan dhadharan sami .sawusira lajeng budhal sangking dhusun Widarane sumreg Jeng Sultan kang wadya busana warna-warna lir sindhung prawata tunu prajurit apangkat-pangkat.</poem> |<poem> Praptanira dina Kemis nemlikur teksih ing Sawal ing ngalun-alun munya drel monggang ngangkang siti-bentar mriyem gumuntur ogra prapta minggah ing wanguntar Idler kinanthi ing Sultan. </poem> |<poem>Ginawa manjing ing puri mandhapa alit kinembar dennya lenggah lawan Idler mung wedang lan pepanganan tan dangu pamit medal aso makuwon ing dalu enjing badhe tinimbalan. </poem> |<poem> Kuneng enjing ingkang prapti sangking nagri Surakarta Ratu Bendara putrane Jeng Sultan ingkang kagarwa pambayunipun Sultan krama naking sanakipun Dipati Mangkunagara. </poem>}}<noinclude>{{rh|||139}}</noinclude> 0646xtn9dpreupafichicoy9mvdfmwl Kaca:Babad Prayud I.pdf/142 250 24656 78078 77305 2026-05-16T03:20:25Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78078 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem> Wedana lebet satunggil Tumenggung Puspakusuma kang andherek ing lampahe lan Pangeran Mangkuningrat nenggih Ratu Bendara lajeng tumameng kadhatun wus panggih lawan kang rama. </poem> |<poem> Miwah kang para bu sami pra bibi para uwa miwah eyang ratu gedhe myang santana naking sanak para putra ngandikan mring Sultan kinen tetemu kabeh manjinga jro pura. </poem> |<poem> Sadaya wus sami panggih weradin ingkang santana kuneng wau Tuwan Idler ingandikan manjing pura ngirid kang pra dipatya pasisir pra samya tumut miwah duteng Surakarta. </poem> |<poem>Wedana lebet satunggil Tumenggung Puspakusuma santana kang satunggile kang ndherek Ratu Bendara Pangeran Mangkuningrat sami ngandikan malebu lan sadaya pra dipatya. </poem> |<poem> Miwah kang pra upesir tan wonten kang kalangkungan samya ndherek Tuwan Edler sekretaris Wumnipiskal upesir ing Ngayogja Wa get Alperes karig masuk dennya ndrawina Sri Nata. </poem>}}<noinclude>{{rh|140}}</noinclude> lgdnbcakouznj1fuwbuknhw92usb42l Kaca:Babad Prayud I.pdf/143 250 24657 78079 77306 2026-05-16T03:20:42Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78079 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{C|'''VIII. SINOM'''}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Wus panggih atetabeyan Sultan lan Deler Ubristing wus sami lenggah atata banjeng kang para: upesir myang sagung pra dipati santana aglar ing ngayun Dipati Danureja jajar dipati Semawis Pangran Mangkuningrat nunggal lan santana.</poem> |<poem>Tumenggung Puspakusuma lan Danureja anunggil Pangeran Dipanagara Tumenggung Natayudeki banjeng kang pra dipati tuwin pra santana ngayun aglar ngarsa Jeng Sultan bupati Surakarteki sira Raden Tumenggung Puspakusuma.</poem> |<poem>Kasiku paningsetira nenggih apek renda putih nagri Ngayogja awisan Jeng Sultan angandika ris heh Puspakusumeki punggawane Anak prabu nagari Surakarta iya nora anglarangi ingsun kena renda putih pan larangan. </poem> |<poem> Dadya wau pinaringan renda kalingkang kekalih kuning lawan kampuhira inggih pinaring kekahh sakala kinen salin </poem>}}<noinclude>{{rh|||141}}</noinclude> 2fryilw8569bjeogj35c5s2imo7asf6 Kaca:Babad Prayud I.pdf/144 250 24658 78080 77307 2026-05-16T03:20:54Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78080 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>Raden Puspakusumeku Sultan malih ngandika lawase sira neng ngriki anganggoa paringaningsun kewala.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem> Tumenggung Puspakusuma sandika matur wotsari nulya urmat topeng medal dene dhalang topeng mantri mantri jero kinardi topeng lan mantri Katanggung Idler suka tumingal angiras dhadharan sami sasampune topeng badhaya kang medal. </poem> |<poem> Adipati Danureja lawan dipati Semawis sami ingandikan nyelak dipun konyohi pribadi kalih kinarya wakil ngeploki badhayanipun pan sarwi sinumpingan Jeng Sultan tedhak pribadi ngatrepaken . puspita munggeng talingan. </poem> |<poem> Pinarek malih ngamparan Sultan sarwi angejuri konyoh tigang pakonyohan kang kalih wadhah pinaring mring sagung pra dipati pasisir myang Ngayogjeku dene ingkang sawadhah pinaring bupati kalih Pangran Mangkuningrat lan Puspakusuma. </poem> |<poem> Kalih neng ngandhap amparan Sultan mesem ngandika ris Nya Thole padha boreha </poem>}}<noinclude>{{rh|142}}</noinclude> 7ovsczxnxric0gipr1hb1xfzw7h4nwi Kaca:Babad Prayud I.pdf/145 250 24659 78209 77308 2026-05-16T09:09:34Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78209 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>lan si Puspakusumeki mantu pupulan marni wong Nglamongan iki bagus Heh payo pra dipatya sawangen mantuku iki iya nora kuciwa sedheng sembada.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem> Sadaya mangayu bagya ature kang pra dipati tegese leres kewala dhawuhe pangandika Ji sinawang ulat liring pantes angurebi ganjur Sultan gumujeng suka iya kapindhone iki wewalese anake wong milu lara. </poem> |<poem>Wus suwuk badhayanira Jeng Sultan tedhak tumuli pan arsa ngawaki mbeksa obah sagung pra dipatya mariyem angurmati sinusun-susun gumuntur lir rug agraning arga muni gendhing Remeng ngrangin beksanira sereng rikat asesumbar. </poem> |<poem> Sarwi anarik curiga nulya sagung pra dipati sadaya narik curiga sesumbar pating jalerit Sultan sesumbarneki iya sapa dadi mungsuh amungsuh Tanah Jawa miwah mungsuhing kumpeni lamun ingsun meksih ana ngalam donya. </poem>}}<noinclude>{{rh|||143}}</noinclude> mjx6v6gpfk9a4pbhoc0ycxhl74zajp7 Kaca:Babad Prayud I.pdf/146 250 24660 78210 77309 2026-05-16T09:09:41Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78210 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |<poem> Iya iki satu raja yen Mataram laki-laki mungsuh kethen yutan datan sima ing kadigbyan marni nadyan ditya sakethi den kebek Tanah Jaweku yekti swuh sima gempang saanane Mangkubumi wus prajurit' subageng jagad wiryawan.</poem> |<poem>Tumenggung Puspakusuma ndongong tan milu narik kris adhi dika narik keris sigra wau narik kris nanging dhuwung maksih ngacung tan milu asesumbar solahing wong den tingali pangungune kadya Arya Wibisana. </poem> |<poem> Duk aneng ngarsaning raka lawan sagung pra dipati Prabu Rawana Ngalengka atari ìng pra dipati yen mungsuh anekani pan dereng wonten sumaur lajeng sami makanjar anarik padha mapiling limpung kunta pating jalemprak sesumbar. </poem> |<poem>Kadaya punggaweng Ngalengka wong Ngayogja pra dipati Tumenggung Puspakusuma pindharya Wibisaneki, sakala tan cumuwit anjetung pijer angungun mulat pratingkahira </poem>}}<noinclude>{{rh|144}}</noinclude> g9rs3q4l3n6orkjt7zbpf33ek45ekoc Kaca:Babad Prayud I.pdf/147 250 24661 78211 77310 2026-05-16T09:09:49Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78211 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>solahe kang pra dipati mesem ewa wong agung Parangkotara.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem> Sultan luwar dennya mbeksa pinarak ngamparan malih nulya Deler kinen mbeksa miwah ingkang para upsir sawusnya Deler nuli gantya pra upesiripun anut lan Danureja lawan Dipati Semawis gantya sagung pra dipati lan sentana. </poem> |<poem> Samya wuru-wuru dawa Sultan sapunggawaneki bubar ing pukul sawelas awit pukul sanga enjing pukul sawelas ratri Idler mit makuwon sampun antara kalih dina Jeng Sultan tedhak mring loji sapunggawa sapra sentana sadaya. </poem> |<poem> Kasukan pista sadina tandhak raras-raras sami pra sami nutug kasukan bubar rep Sri Narapati enjing Soma tinangkil urmat mring tetamunipun angaben si maesa linajengken ngrampog sami tan cinatur reroncening wus cinekak. </poem> |<poem> Lamine aneng Ngayogja si bocah Deler Ubristing sampun tiga welas dina Jeng Sultan sampun peparing sangu miwah turanggi</poem>}}<noinclude>{{rh|||145}}</noinclude> q7ms4gqr91ocmx8wm8fknks9ae1w8uh Kaca:Babad Prayud I.pdf/148 250 24662 78212 77311 2026-05-16T09:09:56Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78212 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>sami lan paringanipun Sang Prabu Surakarta sapatih sapra dipati sami sungsung turangga miwah santana.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem> Kalawan ing ¿urakarta tan wonten kaote sami peparingira Sang Nata lan pasungsung pra dipati Deler anulya pamit ping pat Dulkangidahipun dina Septu angkatnya sangking Ngayogja nagari ngater ing Tangkilan Dipati Danurja.</poem> |<poem>Kang lajeng maring Semarang Tumenggung Natayudeki myang punggaweng Surakarta kang ngater Deler wus pamit kantun kang ndherek sami Ratu Bendara tan mantuk Raden Puspakusuma Pangran Mangkuningrat sami kang dhinerek kondure Ratu Bendara. </poem> |<poem> Pan sampun wolulas dina dereng kalilan apamit Ratu Bendara mring rama punggawa kang ngiring sami ngandikan mring jro puri Raden Puspakusumeku Pangeran Mangkuningrat Jeng Sultan angandika ris Kulup mangkuningrat lan Puspakusuma. </poem> |<poem> Karo Iah padha muliha aja nganti kang kairing durung mari oneng lawan </poem>}}<noinclude>{{rh|146}}</noinclude> j6wxr4aob2ku4afijea7lnq4299grr0 Kaca:Babad Prayud I.pdf/149 250 24663 78213 77312 2026-05-16T09:10:04Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78213 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>marang ibu-ibuneki myang kadang-kadang sami lah teka tinggalen iku yen wus mari kangenan sun kon angaterken mulih nembah matur Tumenggung Puspakusuma.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem> Pukulun tur pejah gesang putra dalem Sri Bupati anenggih ingkang pitungkas tan kenging mantuk rumiyin den dhekoh regoh kongsi dennya kethi jangan lumbu ana nagri Ngayogja yen ora barenga mulih lan Mbak Ayu Dipati Mangkunagara. </poem> |<poem> Aluwung Tuwan karsakna pejah kawula neng ngriki ingasta kalih sumangga datan nggerantes kang abdi Sultan gumujeng aris yagene mangkono iki lan iya beda apa Anak Prabu lawan marni ya Ngayogja kalawan ing Surakarta. </poem> |<poem> Lah uwis pikiren padha mengkono parentali marni wus medal sangking jro pura sapraptanira ing jawi lajeng utusan sami Raden Puspakusumeku tur uningeng Narendra Pangran Mangkuningrat nuding tur uninga utusan marang kang raka. </poem> |<poem> Cundaka sareng praptanya</poem>}}<noinclude>{{rh|||147}}</noinclude> 8kprj50ehcw4jkzds1xtawamz6b37qi Kaca:Babad Prayud I.pdf/150 250 24664 78214 77313 2026-05-16T09:10:11Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78214 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>ing nagri Surakartenjing lajeng katur ing Narendra miwah ta dutanireki Pangran Mangkuningrati marang kang raka wus katur Pangran Mangkunagara ingandikan myang kang rayi prapteng pura mbekta sakawan punggawa.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=28 |<poem> Tumenggung Puspanagara Rungbinang Wiradigdeki Tumenggung Sasradiningrat sapraptanireng jro puri Sang Nata ngandika ris Kakangmas paran puniku karsane rama dika Kiyai Sultan puniki Kangmas Mangkuningrat lan Puspakusuma.</poem> |<poem>Nora kinen ngantenana padha kinen mulih dhingin boten kinen mbarengana inggih lawan kang den iring Pangeran Adipati Mangkunagara amuwus nolih mring Arungbinang kapriye Rungbinang iki apa ana karsane Kiyai Sultan. </poem> |<poem> Angindheti mring kang putra Tumenggung Rungbinang aris kadi boten sapunika darbea karsa ngindheti kadi boten samangkin wikana ing tembenipun Sang Nata angandika lah kapriye akal iki </poem>}}<noinclude>{{rh|148}}</noinclude> o2foye5bdlmc02f8t9dc8je6aydvxv3 Kaca:Babad Prayud I.pdf/190 250 24665 78065 77314 2026-05-16T03:16:13Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78065 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XVIII.{{gap}}POCUNG''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Kula wau inggih winding Sang Prabu lamun kelakona Uprup angesi kardi nyirnakaken sesuker Uprup ginanjar.</poem> |<poem>Utangipun tigang ewu limang atus kang dadi ganjaran sampun dika anauri sampun pasthi timbalane Sri Narendra.</poem> |<poem>Duk angrungu Uprup langkung sukanipun alon wuwusira yen mangkono Ki Ngabehi wurungge nuwunaken Mbok Wisarsa.</poem> |<poem>Pan Sang Prabu wus dhawuh timbalanipun sigra dennya kesah sakedhap Uprup wus prapti mbekta kanthong isi keton wolung dasa.</poem> |<poem>Malihipun bakal kalambi baludru kalih balakira ireng lan ijo satunggil lan diwangga kuning rangkepane pisan.</poem> |<poem>Tembungipun lah puniki reyal satus lan bakal rasukan puniki warni kekalih urmat kula Ki Ngabehi marmg dika.</poem> |<poem>Yata manthuk trima kasih Tuwan Uprup pisungsung andika nanging cacade puniki boten keni dipun angge padintenan.</poem> |<poem>Sigra Uprup kesah sarwi manthuk-manthuk </poem>}}<noinclude>{{rh|188}}</noinclude> 5ab4dzn4hf9aqezaqhr4roqohxjqlt9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/135 250 24666 78070 77315 2026-05-16T03:17:47Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78070 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sitinggil monggang angangkang.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem> Sapraptane ing jro puri palenggahan neng pandhapa gumuntur mriyem urmate sitinggil ngloji sauran lir belah ing akasa yata wau Deler Ubrus tan dangu anengjro pura.</poem> |<poem>Nuhun makuwon rumiyin mring loji sampun katilan Pangran Mangkunagarane kinen sareng angeterna medale sangking pura prapteng loji amit mantuk Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Datan kawarna ing latri enjing pinanggil mring pura Edler miwah upesire lan pra dipati sadaya pasisir ingandikan bupati Surakarteki santana sami ngandikan. </poem> |<poem> Wustataanengpandhapi sinugata lajeng pista gumuruh denira hose Dipati Mangkunagara ambawani kasukan larih mayeng wantu-wantu nutug suka parisuka. </poem> |<poem> Padhayaaganti-ganti Gupernur kalangkung suka mulat Uprup Beman mangke sasolah-solahe lega </poem>}}<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> p4su8v6aeia4k3p0ssyan6p13ccduw8 78071 78070 2026-05-16T03:18:06Z Khusna Safira 1759 78071 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sitinggil monggang angangkang.</poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=15 |<poem> Sapraptane ing jro puri palenggahan neng pandhapa gumuntur mriyem urmate sitinggil ngloji sauran lir belah ing akasa yata wau Deler Ubrus tan dangu anengjro pura.</poem> |<poem>Nuhun makuwon rumiyin mring loji sampun katilan Pangran Mangkunagarane kinen sareng angeterna medale sangking pura prapteng loji amit mantuk Dipati Mangkunagara.</poem> |<poem>Datan kawarna ing latri enjing pinanggil mring pura Edler miwah upesire lan pra dipati sadaya pasisir ingandikan bupati Surakarteki santana sami ngandikan. </poem> |<poem> Wustataanengpandhapi sinugata lajeng pista gumuruh denira hose Dipati Mangkunagara ambawani kasukan larih mayeng wantu-wantu nutug suka parisuka. </poem> |<poem> Padhayaaganti-ganti Gupernur kalangkung suka mulat Uprup Beman mangke sasolah-solahe lega </poem>}}<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> rfmk242g2mf6cphsl8hq07vxda3x6ux Kaca:Babad Prayud I.pdf/134 250 24667 78069 77316 2026-05-16T03:17:34Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78069 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>kang nglurug sami ngandikan Ngayugja Surakartane kantun wong mancanagara mung bupati kang jajar dene ta wadananipun mancanagara Ngayugja.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=11 |<poem> Miwah ing Surakarteki wadana mancanagara tinimbalan ing praptane Deler nagri Surakarta Sawal kaping pitulas ing Salasa Wagenipun Sang Nata methuk Kaleca.</poem> |<poem>Kerig sawadyanireki pra santana pra dipatya Pangran Mangkunagarane wadya busana mawarna Dipati Mangkupraja kang methuk ing Bayawangsul lan Tumenggung Janagara.</poem> |<poem>Praptane Deler Ubristing Osen Beman neng kaleca Sri Bupati pamethuke tatabeyan rerangkulan aras-ingarasan jangga gantya ingkang raka wau Dipati Mangkunagara. </poem> |<poem> Sakedhap sami alinggih minum sarta dhedhaharan datan antara budhale pandhita nenggih sarira anggana bumi ngetang prapta manjing ngalun-alun </poem>}}<noinclude>{{rh|132}}</noinclude> as2vv0se3oaw92uc7qx8hlq2adm999s Kaca:Babad Prayud I.pdf/133 250 24668 78068 77318 2026-05-16T03:17:20Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78068 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>Dipati Mangkunagara mbekta pelog badhaya kalawan wayang wongipun mider kalarih gumerah.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |<poem> Sadinten suka pra sami badhayan lan ringgit tiyang gumerah mider larihe kathah wuru pra dipatya tuwin kang pra sentana sadina bubare surup kuneng malih winursita. </poem> |<poem>Wawelaking kang nagari pageblug grami tan luwar awit awaling taun Je praptahing Pajang Mataram saking kilen mulanya ing Batawi kawitipun sangkin tinampen angetan.</poem> |<poem>Marengi ing Septu Legi Sawal kaping tiga welas Pangeran Juru sedane pukul gangsal ing tahun Dal Peken Ageng pinetak Sultan aputusan sampun tur priksa mring Surakarta. </poem> |<poem> Serat kalih mring Sang Aji mring Pangran Mangkunagara sami langkung pangungune wong tuwa tumbal nagara siji temah pralaya mangkana Tuwan Guprenur badhe dhateng Surakarta.</poem> |<poem>Serat nupiksane prapti </poem>}}<noinclude>{{rh|||131}}</noinclude> 652mrbxcmdrsi7bhubtfdwde6szt5cm Kaca:Babad Prayud I.pdf/132 250 24669 78067 77320 2026-05-16T03:17:05Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78067 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XII.{{gap}}ASMARADANA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Kuneng ing laminireki para tumenggung caraka aneng Semarang lamine pan amung sadasa dina sareng wau pamitnya Uprup Beman Mayor Dungkur asareng para dipatya. </poem> |<poem> Ing marga datan kawarni prapteng ji ing Surakarta lajeng tumameng kadhaton angaturaken kang serat saking Deler kang anyar tinupiksa raosipun kadriya mariyem urmat. </poem> |<poem>Ing let sadintene malih Uprup Beman dennya pista ngurmati Deler adege anuwun kang pra dipatya miwah para santana Pangran Mangkunagareku angirida pra santana. </poem> |<poem> Lawan kang rayi Sang Aji Den Mas Grebeg sinung asma nama pangeran sarenge Pangran Arya Danupaya pan lajeng tumut pista wit kekampuhan tut pungkur ing Pangran Mangkunagara. </poem> |<poem>Kumpul sagung pra dipati tuwin kang para sentana awit gumuruh munya drei </poem>}}<noinclude>{{rh|130}}</noinclude> q8hgigu67lf1ckujdm42agw877iicrn Kaca:Babad Prayud I.pdf/206 250 24670 78252 77322 2026-05-16T09:16:53Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78252 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43 |<poem> Lamun anglampahi parentahing raja tatane wong kumpeni tan angeman pejah yen sampun kaleresan yen inggih tibaning pati lampah kawula binuwang ing raka Ji. </poem> |<poem>Apan boten kula kinen lampah pejah mung kinen animbali Uprup kamandaka mila ratu ngadika Sang Nata dalli puniki arsa budhalan inggih dhateng Samawis.</poem> |<poem>Duk miyarsa ing ature uprup Beman binuwang Kyai Boji neng lampit gumrepyak lawan ingkang sarungan sangking wangkingan ingambil lajeng binuwang cinandhak para gusti. </poem> |<poem> Sinarungken lajeng ingampil kewala Ratu ngandika aris neng ngendi Kakangmas Uprup Beman turira wau nggenipun ngentosi inggih dalemnya raka paduka mangkin. </poem> |<poem>Adipati Mangkunagara ing ngrika miwah baia prajurit sami tinimbalan Jeng Ratu teka dhangan lah payo susulna marni </poem>}}<noinclude>{{rh|204}}</noinclude> fbqlbvqxzy7njqs2464z7lle3dkw4en 78253 78252 2026-05-16T09:17:20Z Elcamatcha 1466 78253 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43 |<poem> Lamun anglampahi parentahing raja tatane wong kumpeni tan angeman pejah yen sampun kaleresan yen inggih tibaning pati lampah kawula binuwang ing raka Ji. </poem> |<poem>Apan boten kula kinen lampah pejah mung kinen animbali Uprup kamandaka mila ratu ngadika Sang Nata dalli puniki arsa budhalan inggih dhateng Samawis.</poem> |<poem>Duk miyarsa ing ature uprup Beman binuwang Kyai Boji neng lampit gumrepyak lawan ingkang sarungan sangking wangkingan ingambil lajeng binuwang cinandhak para gusti. </poem> |<poem> Sinarungken lajeng ingampil kewala Ratu ngandika aris neng ngendi Kakangmas Uprup Beman turira wau nggenipun ngentosi inggih dalemnya raka paduka mangkin. </poem> |<poem>Adipati Mangkunagara ing ngrika miwah bala prajurit sami tinimbalan Jeng Ratu teka dhangan lah payo susulna marni </poem>}}<noinclude>{{rh|204}}</noinclude> 9ips5cmyj7bhgw8dnebrl9umvjrmsla Kaca:Babad Prayud I.pdf/207 250 24671 78254 77323 2026-05-16T09:17:27Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78254 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>sareng wedalnya, Uprup ngiring ing wuri.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem> Pun ajidan Bonggarek munggeng ing ngarsa praptaning regol aglis dennya tinanggapan tandhu ing lajengira sigra kang para dipati sawadyanira ngampit ing kanan kering.</poem> |<poem>Sapraptane kidule waringin kembar Uprup Beman bebisik marang Ki Dipatya andhegna Ngendranatan Uprup nyimpang ngetan aglis sadragundernya sapraptanireng loji.</poem> |<poem>Wus panggih Sang Nata katur solahira yen Jeng Ratu wus mijil sangking jroning pura langkung suka miyarsa wau Kangjeng Sri Bupati kadya sampurna rerentenge tyas Aji.</poem> |<poem>Angantosi Adipati Mangkupraja kondure maring puri wau lampahira Ratu prapteng geladhag kapethuk ing ibuneki mangu amenggah Mbok Nganten iki mijil.</poem> |<poem>Ka mengkene kandhane apa tukaran Ratu Maduretneki alon angandika </poem>}}<noinclude>{{rh|||205}}</noinclude> fe1vf8kb13racsvsh106nuxwh3e0gde Kaca:Babad Prayud I.pdf/198 250 24672 78245 77326 2026-05-16T09:15:22Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78245 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|type=none |<poem>marang Suradilaga ngendi enggone mateni baya ing taman cethi mariksa aglis.</poem> }} {{ordered list|start=6 |<poem>Prapteng taman gusis tan ana manungsa kantun rare lit-alit gya wangsul cengkelak Ni Mbok cethi Berambang prapta umatur wotsari Gusti ing taman mamring tan wonten jalmi.</poem> |<poem>Duk miyarsa Ratu Mas langkung bramantya grit sasmita rereg ing jlog tedhak sakala marang ing palataran sarwi angliga Ki Boji Ki Urubjingga curiga kang cinangking.</poem> |<poem>Pistulira Ki Kincaka Rupakinca sumampir pundhak kering cindhe jo lancingan abajo kesting abang bentinge kenanga wilis udheng jumputan bangun tulak tinepi.</poem> |<poem>Pasemone lir garwa Sang Girinata bieg Sang Hyang Durga Dewi duk sanget krodhanya tedhak arsa anigas marang Prabu Maispati Aijunasasra prang wana Sriwedari.</poem> |<poem>Prapteng latar lajeng mariksa ing taman</poem> }}<noinclude>{{rh|196}}</noinclude> l54weutkp6xycsdweo4kqpyedchjynt Kaca:Babad Prayud I.pdf/199 250 24673 78035 77327 2026-05-16T02:57:12Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78035 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|type=none |<poem>sampun dangu amamring gumyur ing tyasira asru dennya ngandika ya Si Jangkung ana ngendi ujarku apa gustine den ubungi.</poem> }} {{ordered list|start=11 |<poem>Golekana ing kono gedhong kang wetan ingubres tan kapanggih gedhong binalengkrah ratu asru ngandika katemua ya si Dhengklik sun ungkrak-ungkrak wadhuke mring Ki Beji.</poem> |<poem>Yen ajana si Jangkung pan ora napa tingkahe Kangmas iki lan si Tutuskajang iku sok thuk-anthukan mengkone adhine iki si Jangkungpacar iku setan bagejil</poem> |<poem>Pariksanen wismane Suradilaga manawa Kakang Aji iya aneng kana {{gap}} arok campuh rebut pati singa tiwasa ciyum tanah sekali.</poem> |<poem>Nembah mesat sigra mbok cethi praptanya Suradilagan sepi tan ana manungsa wangsul prapta ing pura wotsari matur yen gusis Suradilagan</poem> }}<noinclude>{{rh|||197}}</noinclude> 6wkh2k37utdut148shmc2txl6g9vc6k Kaca:Babad Prayud I.pdf/200 250 24674 78036 77329 2026-05-16T02:57:24Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78036 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|type=none |<poem>Ratu duk amiyarsi.</poem> }} {{ordered list|start=15 |<poem>Sangking bingung angamun-amun dukanya gumrubyug jroning puri pinungseng ngulatan tan lyan Ki Jangkungpacar pan dereng medal ing jawi Ki Jangkungpacar momor wedana kemit.</poem> |<poem>Neng jodhange Rahaden Tumenggung Sasrang ampingan wakul njengking kungkulan tumpengnya ndhepes neng pojok jodhang pan dereng kongsi binukti sangu wedana selak geger jro puri.</poem> |<poem>Wiratmaka matur ing wadananira boten eca puniki lurah Jangkungpacar mbok tinitik konangan pasthi mulari bilai tanpa kukupan inggih kabeh puniki.</poem> |<poem>Angandika Tumenggung Sasradiningrat Jangkung ngaliha aglis manawa pinaran ewuh sesauringwang dadi mesakke sireki yen konangana pasthi yen den jejuwir.</poem> |<poem>Setrajaya eteren parenahena pojok lor wetan kecik ing lalaren kana</poem> }}<noinclude>{{rh|198}}</noinclude> 0n6nwlyy5hjlmngz3r2zvvlkftsscu3 Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/3 250 24678 77515 77334 2026-05-15T15:32:46Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77515 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{center| {{jawa|{{xxxx-larger|꧋ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ꧉}}}} <br><br><br><br><br><br><br> {{jawa|꧋ꦨꦭꦺꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏ {{--}} ꦨꦠꦮꦶꦱꦺꦤ꧀ꦠꦽꦩ꧀꧈}} }} {{nop}}<noinclude></noinclude> 4a6fex9xero8n2byklvj9gz025hhx1v Kaca:Babad Prayud I.pdf/209 250 24686 78256 77343 2026-05-16T09:17:52Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78256 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>wau kang nusul nenggih Raden Endranata datan miyarsa warta kalulun nusul mring puri panarkanira wonten gerah jro puri.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=58 |<poem> MilagugupmedalKemlayahkewala praptane pancaniti panggih Raden Sasra sakanca mantrinira lampahe arsa mondhongi Sri Naranata kondure mri jro puri. </poem> |<poem>Wau Raden Aryendranata wus panggya kagyat sira ningali mring Tumenggung Sasra mepak wadya kaparak merpeki abisik-bisik sampun jinarwan ing purwa wesaneki. </poem> |<poem> Sigra wangsul asigra Aryendranata medal Kemlayan malih prapteng pagelaran wau kalih punggawa katiga rekyana patih pra samya sayah ambruk pating karempis. </poem> |<poem>Sigra Raden Tumenggung Sasradiningrat mrepeki Kiya Patih andika Ki Lurah punapa sampun pasrah rumekseng wengi puniki wong Ngendranatan samar tan prayitneki. </poem>}}<noinclude>{{rh|||207}}</noinclude> j2d5mbp0r1tql7mionoqy6gv1aa5hwn Kaca:Babad Prayud I.pdf/210 250 24687 78257 77344 2026-05-16T09:18:00Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78257 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=62 |<poem> Jeng Ratu Mas nepsune sampun ambedhah mbok mberot angulati dhateng ingkang raka satemah tundha bisma sampun kasurupan iblis katri punggawa ngungun ing solahneki.</poem> |<poem>Angling gugup Adipati Mangkupraja lah dika daweg adhi tumut lampah kula ing mangke nggiha sisan amethuk ing Sri Bupati sareng kewala sigra sareng lumaris. </poem> |<poem> Sira Raden Turnenggung Sasradiningrat nutuh punggawa kalih Kakang Arungbinang lan Kakang Wiradigda Ki Lurah supene iki norapemuta temah kangelan bali. </poem> |<poem>Asru mbekus Ki Tumenggung Wiradigda Sasra aja baribin tak jagur mengke ta bingung gugup kaliwat wong telu tan eling siji duk prang Pajenar nora bingung kadyeki. </poem> |<poem> Sami gumer wadya kang samya miyarsa ing geladhag duk prapti Raden Sasra mojar ndi jarane Ki Curah saosena dipun aglis </poem>}}<noinclude>{{rh|208}}</noinclude> 4t91nan6snadinj4kjy5dkmku78nti4 Kaca:Babad Prayud I.pdf/211 250 24688 78258 77350 2026-05-16T09:18:07Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78258 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>Kiya Dipatya Mangkupraja nauri.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=67 |<poem> Ah si adhi deneta ndadak atata anganteni .turanggi kabeh raka dika gugup tan nganti kuda Walanda ingkang ningali werti Sang Nata tan ngangge batur siji.</poem> |<poem>Tedhakira mring loji alelawaran mila gugup tan sipi alah duk prang Tidhar bingunge ingkang manah rerasan samargi-margi wau lampahnya Kaendranatan prapti. </poem> |<poem> Paregolan Raden Arya ingaturan mring paregolan prapti sampun dhinawuhan Den Arya den prayitna inggih sawengi puniki dika rumeksa Ratu Mas mbok manawi. </poem> |<poem> Amberosot nusula marang kang raka dika Raden bilai umatur sandika sakala paparentah Heh Macantawang sireki lan Macanalas kancamu Talangpati. </poem> |<poem> Atuguru kabeh aneng paregolan jaga satru wong siji kancamu tugura</poem>}}<noinclude>{{rh|||209}}</noinclude> mesmo4vwri57aziac5k0fvttsg380uv Kaca:Babad Prayud I.pdf/213 250 24690 78259 77353 2026-05-16T09:18:22Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78259 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''DHANDHANG GULA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem> Sang Aprabu kondur sangking loji sampun kathah ingkang abdi prapta jawi lebet piyarsane kathah sami kasusu praptanira lun-alun sami ngungun ingkang miyarsa tan wruh purwanipun makaten wasananira Sri Narendra lan Uprup praptaning puri anjujug ing mandhapa.</poem> |<poem> Wau kang binekta maring loji manggung kadange Suradilaga kinen lajeng mring pura ge Uprup alon turipun inggih abdi dalem kumpeni dragunder nenem samya lan ajidanipun kang sami kawula bekta kula ganjar nigang dasa reyal anggris inggih ing benjang-enjang.</poem> |<poem> Tuwan sampun mawi susah maUh paring dalem kang dhateng kawula inggih kang kula dumake kados kang tigang atus lan sradhadhunipun kekatih kula inggahken kopral dene kopralipun inggih minggaha sareyan pun ajidan minggaha kumendarn benjing kumendham ing Ungaran. </poem> |<poem> Kula inggih nunten benjing-enjing kintun serat dhateng ing Samarang </poem>}}<noinclude>{{rh|||211}}</noinclude> t4zyu0kukmfo4m7hkepwt3ta5vli74g Kaca:Babad Prayud I.pdf/214 250 24691 78260 77354 2026-05-16T09:18:30Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78260 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>mintakaken ing inggahe inggih keng sami tumut anglampahi karya Sang Aji akedhik nanging gawat mesem Sang Aprabu iya bener iku Beman Uprup matur lan sukak Tuwan Sang Aji kula lebetken surat.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=5 |<poem> Sri Narendra gumujeng nganthuki sakarepmu sun turut kewala iya yen prekara kuwe Uprup suka kalangkung Sri Narendra ngandika maiih sun dadi tan kongkonan amunga layangmu ya tarima kasih ingwang marang Deler pitulung tetulung pikir rahayu kalampahan. </poem> |<poem> Sira Uprup sampun pamit mijil wanci tabuh ing satengah rolas Dipati Mangkuprajane sami kalilan mantuk nanging enjing rekyana patih ingandikan saosa sandika turipun ing dalu tan kawursita yata enjing Dipati Mangkunagari ingandikan mring pura. </poem> |<poem> Sapraptane wau jroning puri Sang Adipati Mangkunagara wus tata palenggahane neng pandhapa ri Prabu angandika Kangmas ing mangkin Mangkupraja kalawan </poem>}}<noinclude>{{rh|212}}</noinclude> 52kn7ltir5g8wt9ucbmc1oc3f8851sd Kaca:Babad Prayud I.pdf/156 250 24692 78038 77357 2026-05-16T02:59:34Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78038 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>ngarsane iya patih alon denira amuwus Heh adhi Sindureja pinten ta lamine mangkin Kangjeng Ratu Bendara aneng Ngayogya</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=50 |<poem> Ki Tumenggung Sindureja ature sawulan mangkin Adipati Danureja adhi inggih sampun lami mungguh wong maratami langkunga sangking puniku yen boten den antukna dhedhayoh susah prihatin dika sebaa adhi dika matura. </poem> |<poem> Ing Sinuhun yen kang putra Jeng Ratu Bendara adhi meh kaliwat ing antara batur Tandha tur upeksi pasare den rayahi gegeran kadya pin usus kalap gang pawadeyan pelaraban wong kelithik gempur bebas kadi den rayah ing setan. </poem> |<poem> Ki Tumenggung Sindureja gumujeng umatur aris punapa ngangge pawitan pangrayahe peken enjing angling Rekyana Patih pawitane wong ngalenthung angangge sarwa mubyar tunggak semi den larangi puniku kang ngamuk lajeng ngrayah pasar. </poem> |<poem> Pukulun pantes punika</poem>}}<noinclude>{{rh|154}}</noinclude> cmvdimnb8fgsq4mi1brlv4pndem7nvv Kaca:Babad Prayud I.pdf/157 250 24693 78040 77359 2026-05-16T02:59:57Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78040 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>asmu loking nagari respati pawarteng praja kaojat ing manca bumi wong Agung Guritwesi kinarsakken pinet mantu sampeyan kang anyarag pasthi betahannya baring sru gumujeng Adipati Danureja.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=54 |<poem> Nembah Tumenggung Sinduija mesat sangking pancaniti aneng Srimanganti prapta canthel atur den timbali prapteng ngarsa narpati Sinduija tur sembah matur pukulun pun apatya tur uningeng paduka Ji abdinipun enggih Jeng Ratu Bendara. </poem> |<poem> Sami nggegeraken pasar abikut angrerayahi gusis bebas jroning pasar Jeng Sulta duk amiyarsi ature Sindurjeki suka gumujeng angguguk warahen si Danurja iya aja dadi pikir lan si Tandha iya aja kasusahan. </poem> |<poem>Wus jamake wong malarat angempek marang wong sugih pira-pira aneng dunya bisa weh bebet wong miskin tandha aja nempuhi pira ta ilange iku pan ingsun kang kelangan jer wus lawas aneng ngriki ya mulane padha ngalethak kaluwak. </poem>}}<noinclude>{{rh|||155}}</noinclude> 16zlhjfw46e9arvsw0sj3ylwfimx1n9 Kaca:Babad Prayud I.pdf/191 250 24694 78066 77361 2026-05-16T03:16:30Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78066 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>tan adangu prapta sarwi ambopong pribadi telung kayuh sembagi biru lan pethak.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem> Kang sekayuh bakale arupa mesru daweg sampun susah lah puniki Ki Ngabehi inggih badhe ingkang dadia padinani. </poem> |<poem>Pamit mantuk sira Ngabehi Pasliyun sontenipun seba ngandikan neng taman prapti sampun katur satingkahe Uprup Beman</poem> |<poem>Sang Aprabu langkung suka miyarseku dhemen si Wisarsa nanging ta kang anglakoni mbok nora rep iya alaki Walanda.</poem> |<poem>Sigra matur wau Ngabehi Pasliyun nanging inggih datan siyos anuwun pawestri sareng kula ndhawuhi timbalan Tuwan.</poem> |<poem>Utangipun kalilan boten anaur dadia ganjaran punika suka tan sipi mantun nuwun dhateng pun seleg Wisarsa.</poem> |<poem>Kula dipun urmati den umpuk-umpuk sukak lepas utang pisungsunge sadayeki wonten kalih atus pangaos sadaya.</poem> |<poem>Kuneng wau enjinge ing dinten Septu sonten miyos watang sabubare watang nenggih malem Ngaad ing Sura kaping pitulas. </poem>}}<noinclude>{{rh|||189}}</noinclude> lojvhobxueglbsxq2f887wsv78bm7jb Kaca:Babad Prayud I.pdf/158 250 24695 77364 2026-05-15T12:27:15Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "XIV. POCUNG 1. Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu amundhut wedana ing jro roro kapat jawi kang sun piji ing jaba si Martalaya. 2. Karonipun ya si Jayakusumeku katelune iya wedana jaba sun piji Jayadirja kapat si Ranawilaga. 3. Ing jronipun ya si Mangundipureku lawan si Sindurja wong nenem ing mengko bengi sun nimbali iya si Puspakusuma. 4. Resep ingsun punggawane Anak Prabu si Puspakusuma sun nimbali mengko bengi sun bebeda sun gegila ing deduka... 77364 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIV. POCUNG 1. Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu amundhut wedana ing jro roro kapat jawi kang sun piji ing jaba si Martalaya. 2. Karonipun ya si Jayakusumeku katelune iya wedana jaba sun piji Jayadirja kapat si Ranawilaga. 3. Ing jronipun ya si Mangundipureku lawan si Sindurja wong nenem ing mengko bengi sun nimbali iya si Puspakusuma. 4. Resep ingsun punggawane Anak Prabu si Puspakusuma sun nimbali mengko bengi sun bebeda sun gegila ing deduka. 5. Ulatipun apa ta misiha wutuh lamun ora owah dadi sembada wong becik punggawane Anak Prabu Surakarta. 6. Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun Tumenggung sakawan pan sami wedana jawi ing jro badhe angirid Puspakusuma. 7. Kang prapta wus nganbyantaranira Prabu Jeng Sultan ngandika mengko yen ingsun ndukani anyrengeni marang si Puspakusuma. 8. Sira iku den karungua calathu 156 PNRI<noinclude></noinclude> i07it6y1fsj33fopkie3yvb8tf54u4f 77365 77364 2026-05-15T12:30:26Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77365 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIV. POCUNG {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu amundhut wedana ing jro roro kapat jawi kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem> |<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku katelune iya wedana jaba sun piji Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem> |<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku lawan si Sindurja wong nenem ing mengko bengi sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem> |<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu si Puspakusuma sun nimbali mengko bengi sun bebeda sun gegila ing deduka. |<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh lamun ora owah dadi sembada wong becik punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem> |<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun Tumenggung sakawan pan sami wedana jawi ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem> |<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu Jeng Sultan ngandika mengko yen ingsun ndukani any rengeni marang si Puspakusuma.</poem> |<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude> m1twj7arzj4bfn63nubwetym29aj1rw 77366 77365 2026-05-15T12:31:09Z Khusna Safira 1759 77366 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIV.{{gap}}POCUNG {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu amundhut wedana ing jro roro kapat jawi kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem> |<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku katelune iya wedana jaba sun piji Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem> |<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku lawan si Sindurja wong nenem ing mengko bengi sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem> |<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu si Puspakusuma sun nimbali mengko bengi sun bebeda sun gegila ing deduka. |<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh lamun ora owah dadi sembada wong becik punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem> |<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun Tumenggung sakawan pan sami wedana jawi ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem> |<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu Jeng Sultan ngandika mengko yen ingsun ndukani any rengeni marang si Puspakusuma.</poem> |<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude> 72owjjao6yciinsa5vk69113g144yd4 78218 77366 2026-05-16T09:11:01Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78218 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XIV.{{gap}}POCUNG''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu amundhut wedana ing jro roro kapat jawi kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem> |<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku katelune iya wedana jaba sun piji Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem> |<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku lawan si Sindurja wong nenem ing mengko bengi sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem> |<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu si Puspakusuma sun nimbali mengko bengi sun bebeda sun gegila ing deduka. |<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh lamun ora owah dadi sembada wong becik punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem> |<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun Tumenggung sakawan pan sami wedana jawi ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem> |<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu Jeng Sultan ngandika mengko yen ingsun ndukani any rengeni marang si Puspakusuma.</poem> |<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude> 8tcopgwycqc1yr47n0spruztfo807au 78220 78218 2026-05-16T09:11:17Z Elcamatcha 1466 78220 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XIV.{{gap}}POCUNG''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu amundhut wedana ing jro roro kapat jawi kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem> |<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku katelune iya wedana jaba sun piji Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem> |<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku lawan si Sindurja wong nenem ing mengko bengi sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem> |<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu si Puspakusuma sun nimbali mengko bengi sun bebeda sun gegila ing deduka.</poem> |<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh lamun ora owah dadi sembada wong becik punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem> |<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun Tumenggung sakawan pan sami wedana jawi ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem> |<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu Jeng Sultan ngandika mengko yen ingsun ndukani any rengeni marang si Puspakusuma.</poem> |<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude> 3te1j34319xlr3m8z92awqqky973orb Kaca:Babad Prayud I.pdf/159 250 24696 77367 2026-05-15T12:32:45Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77367 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::nanging aja sora ::wong pantes pinaten iki ::wong amogok barang parentahing raja. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Beda paran kana-kene padha ratu dhasar kene tuwa pasthi patut den lakoni manas ati wong kaya Puspakusuma.</poem> |<poem>Ya wus iku aja luwih celathumu sakawan tur sembah sandika turira sami nulya wau Puspakusuma ngandikan.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Sindurja ngirid lumebu lan Mangundipura wus prapta ngabyantara Ji pan den apit enggone Puspakusuma.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Sindureja kilenipun pan Mangundipura kang munggeng wetanireki Kangjeng Sulta alon denira ngandika.</poem> |<poem>Heh Tumenggung Puspakusuma sireku sida mopo sira marang ing parentah marni sun parentah mulih dhingin marang sira.</poem> |<poem>Tan lumaku kudu bareng benderamu apa mantep sira mogok ing parentah marni nembah matur Tumenggung Puspakusuma.</poem> |<poem>Dhuh pukulun ajrih yen darbea atur ing Jeng Sri Narendra nganggea lambe kekalih nadyan mangke ing pejah kula sumangga.</poem>}}<noinclude>{{rh|||157}}</noinclude> sj5ak9yl0hd9n6i25iofpkqzdi0ezae 78221 77367 2026-05-16T09:11:25Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78221 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::nanging aja sora ::wong pantes pinaten iki ::wong amogok barang parentahing raja. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=9 |<poem>Beda paran kana-kene padha ratu dhasar kene tuwa pasthi patut den lakoni manas ati wong kaya Puspakusuma.</poem> |<poem>Ya wus iku aja luwih celathumu sakawan tur sembah sandika turira sami nulya wau Puspakusuma ngandikan.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Sindurja ngirid lumebu lan Mangundipura wus prapta ngabyantara Ji pan den apit enggone Puspakusuma.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Sindureja kilenipun pan Mangundipura kang munggeng wetanireki Kangjeng Sulta alon denira ngandika.</poem> |<poem>Heh Tumenggung Puspakusuma sireku sida mopo sira marang ing parentah marni sun parentah mulih dhingin marang sira.</poem> |<poem>Tan lumaku kudu bareng benderamu apa mantep sira mogok ing parentah marni nembah matur Tumenggung Puspakusuma.</poem> |<poem>Dhuh pukulun ajrih yen darbea atur ing Jeng Sri Narendra nganggea lambe kekalih nadyan mangke ing pejah kula sumangga.</poem>}}<noinclude>{{rh|||157}}</noinclude> azwatf0kyf7r0sday2ds6wl7vkactbc Kaca:Babad Prayud I.pdf/160 250 24697 77368 2026-05-15T12:35:08Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77368 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Tan ngampelu yen agantesa sarambut kinarsakna pejah punapa dene bupati ajrih pejah yen kinarsakna ing raja.</poem> |<poem>Jeng pukulun lan putra Tuwan Sang Prabu inganggep kawula pan inggih wonten kekalih suka lila lajeng paduka ngarsakna.</poem> |<poem>Pra Tumenggung kang papat samya amuwus wus sedheng den lunas kaya Puspakusumeki ting kalesik nanging tetela kapyarsa.</poem> |<poem>Kang Sinuhun Sultan ing pandulunipun yen Puspakusuma tan owah soty anireki den gegila ulate ayem kewala.</poem> |<poem>Angrerapu Sultan pangandikanipun heh Puspakusuma sira kala Pagiyanti Anak Prabu duk atemon lawan ingwang.</poem> |<poem>Aneng dhusun iya Lebakjati santun sira arasukan ya kotang baludru randhi rinenda mas sungu tepen iketira.</poem> |<poem>Mangsa iku apa wus dadi tumenggung sira ingsun ny ana kang aran si Panji Gringsing Anak Prabu lelurahe wong tamtama.</poem> |<poem>Nembah matur inggih sampun tigang taun pirtacak punggawa nenggih kang kula gentosi</poem>}}<noinclude>{{rh|158}}</noinclude> 3z6tmdoctmp0be8afno5nky6eil6y8k 78222 77368 2026-05-16T09:11:34Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78222 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Tan ngampelu yen agantesa sarambut kinarsakna pejah punapa dene bupati ajrih pejah yen kinarsakna ing raja.</poem> |<poem>Jeng pukulun lan putra Tuwan Sang Prabu inganggep kawula pan inggih wonten kekalih suka lila lajeng paduka ngarsakna.</poem> |<poem>Pra Tumenggung kang papat samya amuwus wus sedheng den lunas kaya Puspakusumeki ting kalesik nanging tetela kapyarsa.</poem> |<poem>Kang Sinuhun Sultan ing pandulunipun yen Puspakusuma tan owah soty anireki den gegila ulate ayem kewala.</poem> |<poem>Angrerapu Sultan pangandikanipun heh Puspakusuma sira kala Pagiyanti Anak Prabu duk atemon lawan ingwang.</poem> |<poem>Aneng dhusun iya Lebakjati santun sira arasukan ya kotang baludru randhi rinenda mas sungu tepen iketira.</poem> |<poem>Mangsa iku apa wus dadi tumenggung sira ingsun ny ana kang aran si Panji Gringsing Anak Prabu lelurahe wong tamtama.</poem> |<poem>Nembah matur inggih sampun tigang taun pirtacak punggawa nenggih kang kula gentosi</poem>}}<noinclude>{{rh|158}}</noinclude> mwmbi0pgpe84hr0m6x2cbqvty1iox88 Kaca:Babad Prayud I.pdf/161 250 24698 77369 2026-05-15T12:38:00Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77369 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::rayi dalem Pangran Arya Pakuningrat. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Ngandika rum Jeng Sultan timbalanipun yen mengkono lawas nggonira dadi bupati ya menangi pakethip ing Surakarta.</poem> |<poem>Besuk esuk Senen Wage ping rong puluh iki Dulkangidah ya sira sun tundhung mulih ya ngiringna kalawan si Ebeng pisan.</poem> |<poem>Duk angrungu Raden Puspakusumeku timbalane Sultan cumeplong ing tyasireki nanging batin maksih rada melang-melang.</poem> |<poem>Dene sagung pra dipati ting garegut dene ratunira pinopo parentahneki patut sami nekani ing reh watgata.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Sindurja wis ngirid metu praptanireng jaba kendel aneng Srimenganti yata kuneng gantya ingkang winursita.</poem> |<poem>Pangran Mangkuningrat neng pakuwonipun tyasnya melang-melang nimbali pra lurahneki lawan para mantri Kamangkunagaran.</poem> |<poem>Tindhihipun Jayapanantang pangayun lan jayawidenta Jay aruntika pralagi Jawilanten kalawan Jayatilawat.</poem> |<poem>Kinem sampun neng ngarsa Pangeran Timur PangranMangkuningrat</poem>}}<noinclude>{{rh|||159}}</noinclude> p2swasyi31xzg514s1i3a4dw5m0vdwo 78223 77369 2026-05-16T09:11:42Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78223 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::rayi dalem Pangran Arya Pakuningrat. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Ngandika rum Jeng Sultan timbalanipun yen mengkono lawas nggonira dadi bupati ya menangi pakethip ing Surakarta.</poem> |<poem>Besuk esuk Senen Wage ping rong puluh iki Dulkangidah ya sira sun tundhung mulih ya ngiringna kalawan si Ebeng pisan.</poem> |<poem>Duk angrungu Raden Puspakusumeku timbalane Sultan cumeplong ing tyasireki nanging batin maksih rada melang-melang.</poem> |<poem>Dene sagung pra dipati ting garegut dene ratunira pinopo parentahneki patut sami nekani ing reh watgata.</poem> |<poem>Ki Tumenggung Sindurja wis ngirid metu praptanireng jaba kendel aneng Srimenganti yata kuneng gantya ingkang winursita.</poem> |<poem>Pangran Mangkuningrat neng pakuwonipun tyasnya melang-melang nimbali pra lurahneki lawan para mantri Kamangkunagaran.</poem> |<poem>Tindhihipun Jayapanantang pangayun lan jayawidenta Jay aruntika pralagi Jawilanten kalawan Jayatilawat.</poem> |<poem>Kinem sampun neng ngarsa Pangeran Timur PangranMangkuningrat</poem>}}<noinclude>{{rh|||159}}</noinclude> 47kicy1tgqbz9bx8swlrn8rbbrefqin Kaca:Babad Prayud I.pdf/162 250 24699 77370 2026-05-15T12:39:49Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77370 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ngandika mring para mantri ::ya mulane sireku padha sun undang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Saking ingsun banget kasusahanipun mau bakda ngisak Kiyai Sultan nimbali iya marang Kang Menggung Puspakusuma.</poem> |<poem>Iki luwih iya ing pukul sepuluh meh pukul sawelas durung teka mangke iki pawartane Kangjeng Sultan banget duka.</poem> |<poem>Dene iku nimbali tan mawi ingsun iku niyat ala nora kelu maring mami iya dening kaponakan saking lanang.</poem> |<poem>Maring mantu kaponakan pasthi kolu Kang Puspakusuma kabuguhena turneki durung weruh wateke Kiyai Sultan.</poem> |<poem>Yen abendu banget nekani datipun Suradimenggala Tumenggung Jipang kekasih kaluputan sapisan banjur dilunas.</poem> |<poem>Yata wau Jay apanantang umatur lan Jayawidenta sakancane para mantri yen makaten bendara nggih boten eca.</poem></poem> |<poem>Kula nusul ambekta prajurit satus njujug pagelaran yen rame-rame jro puri pasthi kula lajeng amuke kewala.</poem> |<poem>Kang atungguk tumenggunge yen wus lampus</poem>}}<noinclude>{{rh|160}}</noinclude> 6ab0sw58nd9ehxib0lrbvfxqpx3ulxj 77371 77370 2026-05-15T12:40:23Z Khusna Safira 1759 77371 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ngandika mring para mantri ::ya mulane sireku padha sun undang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Saking ingsun banget kasusahanipun mau bakda ngisak Kiyai Sultan nimbali iya marang Kang Menggung Puspakusuma.</poem> |<poem>Iki luwih iya ing pukul sepuluh meh pukul sawelas durung teka mangke iki pawartane Kangjeng Sultan banget duka.</poem> |<poem>Dene iku nimbali tan mawi ingsun iku niyat ala nora kelu maring mami iya dening kaponakan saking lanang.</poem> |<poem>Maring mantu kaponakan pasthi kolu Kang Puspakusuma kabuguhena turneki durung weruh wateke Kiyai Sultan.</poem> |<poem>Yen abendu banget nekani datipun Suradimenggala Tumenggung Jipang kekasih kaluputan sapisan banjur dilunas.</poem> |<poem>Yata wau Jay apanantang umatur lan Jayawidenta sakancane para mantri yen makaten bendara nggih boten eca.</poem> |<poem>Kula nusul ambekta prajurit satus njujug pagelaran yen rame-rame jro puri pasthi kula lajeng amuke kewala.</poem> |<poem>Kang atungguk tumenggunge yen wus lampus</poem>}}<noinclude>{{rh|160}}</noinclude> a6599xlbupj7yk4d1hvyt63qrmws3dl 78224 77371 2026-05-16T09:11:58Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78224 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::ngandika mring para mantri ::ya mulane sireku padha sun undang. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Saking ingsun banget kasusahanipun mau bakda ngisak Kiyai Sultan nimbali iya marang Kang Menggung Puspakusuma.</poem> |<poem>Iki luwih iya ing pukul sepuluh meh pukul sawelas durung teka mangke iki pawartane Kangjeng Sultan banget duka.</poem> |<poem>Dene iku nimbali tan mawi ingsun iku niyat ala nora kelu maring mami iya dening kaponakan saking lanang.</poem> |<poem>Maring mantu kaponakan pasthi kolu Kang Puspakusuma kabuguhena turneki durung weruh wateke Kiyai Sultan.</poem> |<poem>Yen abendu banget nekani datipun Suradimenggala Tumenggung Jipang kekasih kaluputan sapisan banjur dilunas.</poem> |<poem>Yata wau Jayapanantang umatur lan Jayawidenta sakancane para mantri yen makaten bendara nggih boten eca.</poem> |<poem>Kula nusul ambekta prajurit satus njujug pagelaran yen rame-rame jro puri pasthi kula lajeng amuke kewala.</poem> |<poem>Kang atungguk tumenggunge yen wus lampus</poem>}}<noinclude>{{rh|160}}</noinclude> skv457h3l0ks4zava5rbo0uxd5xxthn Kaca:Babad Prayud I.pdf/192 250 24700 77372 2026-05-15T12:42:23Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77372 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh bahyaning Narendra anuju pareng pinasthi sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem> |<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu duk ningali watang Jeng Ratu aneng sitinggil mulak ana Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh Sang Nata lir ingkang nuruti marang kang rayi dukanipun mring Panji Suradilaga. |<poem>Kadangipun pawestri kang dadi manggung winedalken lama ratu pasang sangga runggi mring kadange Apanji Suradilaga.</poem></poem> |<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu nilap pamacanan Ratu Mas angandika ris ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem> |<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu nora mantra-mantra seba ndadak animbangi den palaur meng-ameng sasukanira.</poem> |<poem>Nora patut asesawah telung atus lawan dadi abral prajurit jro den lurahi piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem> |<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh ngrasuk prajuritan dhuwung wasiyat sinandhing ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude> af75ve4lzofn3wcsmlm8dihrwwc9ltf 77373 77372 2026-05-15T12:43:05Z Khusna Safira 1759 77373 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh bahyaning Narendra anuju pareng pinasthi sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem> |<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu duk ningali watang Jeng Ratu aneng sitinggil mulak ana Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh Sang Nata lir ingkang nuruti marang kang rayi dukanipun mring Panji Suradilaga. |<poem>Kadangipun pawestri kang dadi manggung winedalken lama ratu pasang sangga runggi mring kadange Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu nilap pamacanan Ratu Mas angandika ris ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem> |<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu nora mantra-mantra seba ndadak animbangi den palaur meng-ameng sasukanira.</poem> |<poem>Nora patut asesawah telung atus lawan dadi abral prajurit jro den lurahi piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem> |<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh ngrasuk prajuritan dhuwung wasiyat sinandhing ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude> n1tsxat7eitiots9vjnf1pgwfhdyjw3 77374 77373 2026-05-15T12:43:53Z Khusna Safira 1759 77374 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh bahyaning Narendra anuju pareng pinasthi sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem> |<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu duk ningali watang Jeng Ratu aneng sitinggil mulak ana Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh Sang Nata lir ingkang nuruti marang kang rayi dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem> |<poem>>Kadangipun pawestri kang dadi manggung winedalken lama ratu pasang sangga runggi mring kadange Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu nilap pamacanan Ratu Mas angandika ris ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem> |<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu nora mantra-mantra seba ndadak animbangi den palaur meng-ameng sasukanira.</poem> |<poem>Nora patut asesawah telung atus lawan dadi abral prajurit jro den lurahi piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem> |<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh ngrasuk prajuritan dhuwung wasiyat sinandhing ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude> b7ehs9ovjdin2m8giud77ynivk5t69b 78237 77374 2026-05-16T09:14:03Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78237 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh bahyaning Narendra anuju pareng pinasthi sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem> |<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu duk ningali watang Jeng Ratu aneng sitinggil mulak ana Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh Sang Nata lir ingkang nuruti marang kang rayi dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem> |<poem>>Kadangipun pawestri kang dadi manggung winedalken lama ratu pasang sangga runggi mring kadange Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu nilap pamacanan Ratu Mas angandika ris ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem> |<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu nora mantra-mantra seba ndadak animbangi den palaur meng-ameng sasukanira.</poem> |<poem>Nora patut asesawah telung atus lawan dadi abral prajurit jro den lurahi piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem> |<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh ngrasuk prajuritan dhuwung wasiyat sinandhing ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude> hi3o7ly9qii6tx0kdkzr146girqaf5r 78238 78237 2026-05-16T09:14:16Z Elcamatcha 1466 78238 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh bahyaning Narendra anuju pareng pinasthi sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem> |<poem>Purwanipun bramantyanira Jeng Ratu duk ningali watang Jeng Ratu aneng sitinggil mulak ana Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh Sang Nata lir ingkang nuruti marang kang rayi dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem> |<poem>>Kadangipun pawestri kang dadi manggung winedalken lama ratu pasang sangga runggi mring kadange Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu nilap pamacanan Ratu Mas angandika ris ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem> |<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu nora mantra-mantra seba ndadak animbangi den palaur meng-ameng sasukanira.</poem> |<poem>Nora patut asesawah telung atus lawan dadi abral prajurit jro den lurahi piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem> |<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh ngrasuk prajuritan dhuwung wasiyat sinandhing ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude> 97alf723l6oarctlikrhdh3exc7fcc4 78240 78238 2026-05-16T09:14:27Z Elcamatcha 1466 78240 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16 |<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh bahyaning Narendra anuju pareng pinasthi sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem> |<poem>Purwanipun bramantyanira Jeng Ratu duk ningali watang Jeng Ratu aneng sitinggil mulak ana Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh Sang Nata lir ingkang nuruti marang kang rayi dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem> |<poem>Kadangipun pawestri kang dadi manggung winedalken lama ratu pasang sangga runggi mring kadange Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu nilap pamacanan Ratu Mas angandika ris ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem> |<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu nora mantra-mantra seba ndadak animbangi den palaur meng-ameng sasukanira.</poem> |<poem>Nora patut asesawah telung atus lawan dadi abral prajurit jro den lurahi piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem> |<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh ngrasuk prajuritan dhuwung wasiyat sinandhing ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude> k3enb1xtwvqv9ctmnswkfrjig5lvjg2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/193 250 24701 77375 2026-05-15T12:45:37Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77375 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Rawuhipun Sang Nata duk arsa cucul, kampuh sangking watang, Ratu Mas pagut ing runtik, aturipun mring kang raka Sri Narendra.</poem> |<poem>Kangmas Prabu kula langkung salang gumun, ing karsa sampeyan, boten keni den gugoni, timbalane kaya ujar pepasaran.</poem> |<poem>Kadya dudu raja Bali ing Kalungkung, katarik ing duka, ing tegese dukaneki, ing jethote marang kadange wanita.</poem> |<poem>Jamak ratu yen duwe karsa amundhut, singa kinarsakna, wong wadon sajroning puri, pasthi kula saosken samangsa-mangsa.</poem> |<poem>Malihipun kula kang Gandawitarum, sok angajak-aiak Sang Nata duk amiyarsi, ing ature kang garwa Ratu Kencana.</poem> |<poem>Pan kumepyur lir kapregok ngula dumung, mangap meh ny embura, ilate katon kumitir, sakelangkung pangkarage kang salira.</poem> |<poem>Sauripun maras-maras Sang Aprabu, nyata bener sira, nanging ta maklumireki, agegampang marang wong arabi kadang.</poem> |<poem>Kangjeng Ratu yata malih aturipun, malih kula nedha, inggih pejahe pun Saki,</poem>}}<noinclude>{{rh|||191}}</noinclude> 9t27cfmxucmubh17ugtzqebfq19f6yr 78241 77375 2026-05-16T09:14:34Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78241 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24 |<poem>Rawuhipun Sang Nata duk arsa cucul, kampuh sangking watang, Ratu Mas pagut ing runtik, aturipun mring kang raka Sri Narendra.</poem> |<poem>Kangmas Prabu kula langkung salang gumun, ing karsa sampeyan, boten keni den gugoni, timbalane kaya ujar pepasaran.</poem> |<poem>Kadya dudu raja Bali ing Kalungkung, katarik ing duka, ing tegese dukaneki, ing jethote marang kadange wanita.</poem> |<poem>Jamak ratu yen duwe karsa amundhut, singa kinarsakna, wong wadon sajroning puri, pasthi kula saosken samangsa-mangsa.</poem> |<poem>Malihipun kula kang Gandawitarum, sok angajak-aiak Sang Nata duk amiyarsi, ing ature kang garwa Ratu Kencana.</poem> |<poem>Pan kumepyur lir kapregok ngula dumung, mangap meh ny embura, ilate katon kumitir, sakelangkung pangkarage kang salira.</poem> |<poem>Sauripun maras-maras Sang Aprabu, nyata bener sira, nanging ta maklumireki, agegampang marang wong arabi kadang.</poem> |<poem>Kangjeng Ratu yata malih aturipun, malih kula nedha, inggih pejahe pun Saki,</poem>}}<noinclude>{{rh|||191}}</noinclude> 0fh4igwzzxleezkq8he7aknfna57c0h Kaca:Babad Prayud I.pdf/194 250 24702 77376 2026-05-15T12:47:34Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77376 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::dipun pejah inggih sadalu punika. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Dosanipun tan patut wong ngabdi ratu, Saptu boten watang, pijer meng-ameng pribadi, nonton Septu angiras ningali macan.</poem> |<poem>Angkuhipun kadya anak ratu Wangsul, tur durung karuwan, kaprawiraning ajurit, kaya kang wus tate ambedhah nagara.</poem> |<poem>Kumalungkung karyangkuh kelangkung-langkung, Sang Nata ngandika, iku ngong durung miyarsi, panjenengan para ratu kuna-kuna.</poem> |<poem>Karya lampus tan sumurup dosanipun, wedi dhendhaning Hyang, kang garwa umatur malih, inggih lamun boten nuruti paduka.</poem> |<poem>Kula nuwun ing wong ala patinipun kula den bucala sampun wontena jro puri, Sri Narendra alon denira ngandika.</poem> |<poem>Yen mengkono sun turut karepireku, Sang Nata gya medal, praptaning pandhapa aglis, animbali prapteng ngarsa Jangkungpacar.</poem> |<poem>Lah den gupuh metuage sira Jangkung, si Suradilaga, kon dandan iya den aglis, lan adhine den gawaa den arikat.</poem> |<poem>Wengi iki sun metu sangking kadhatun, sigra Jangkungpacar,</poem>}}<noinclude>{{rh|192}}</noinclude> p13spckkyy0c4tex1tsqdl3v4i406rp 77936 77376 2026-05-15T21:12:02Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77936 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dipun pejah inggih sadalu punika. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=32 |<poem>Dosanipun tan patut wong ngabdi ratu, Saptu boten watang, pijer meng-ameng pribadi, nonton Septu angiras ningali macan.</poem> |<poem>Angkuhipun kadya anak ratu Wangsul, tur durung karuwan, kaprawiraning ajurit, kaya kang wus tate ambedhah nagara.</poem> |<poem>Kumalungkung karyangkuh kelangkung-langkung, Sang Nata ngandika, iku ngong durung miyarsi, panjenengan para ratu kuna-kuna.</poem> |<poem>Karya lampus tan sumurup dosanipun, wedi dhendhaning Hyang, kang garwa umatur malih, inggih lamun boten nuruti paduka.</poem> |<poem>Kula nuwun ing wong ala patinipun kula den bucala sampun wontena jro puri, Sri Narendra alon denira ngandika.</poem> |<poem>Yen mengkono sun turut karepireku, Sang Nata gya medal, praptaning pandhapa aglis, animbali prapteng ngarsa Jangkungpacar.</poem> |<poem>Lah den gupuh metuage sira Jangkung, si Suradilaga, kon dandan iya den aglis, lan adhine den gawaa den arikat.</poem> |<poem>Wengi iki sun metu sangking kadhatun, sigra Jangkungpacar,</poem>}}<noinclude>{{rh|192}}</noinclude> s9bvfjotdd0p9pto31zigocoe0fcs7r Kaca:Babad Prayud I.pdf/195 250 24703 77377 2026-05-15T12:49:53Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77377 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::wus medal sangking jro puri, ::Sri Narendra gugup wedalira ngetan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem>Rewangipun mung panakawan tetelu, kang alit satunggal kang ageng amung kekalih banon wetan sigra den pasangi andha.</poem> |<poem>Gupuh-gupuh Sang Nata wus prapteng luhur, supe tan lancingan panakawan ingkang alit kinen nyambut saruwale Jangkung pacar</poem> |<poem>Jangkung suwung wus dangu denira metu, kasusu Sang Nata melorot wus prapteng jawi aneng ngandhap Sang Nata pasang cawetan</poem> |<poem>Kyai Jangkung mempis-mempis wuwusipun Heh Apanji enggal timbalan nusul Sang Aji atetanya Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Lurah Jangkung dhateng pundi Sang Aprabu Jangkung megap-megap napase kecer neng margi wau ngetan angonc'ati sangking pura.</poem> |<poem>Den agupuh gawanen arinireki mring loji badhenya den aenggal den anteni geger usreg wismane Suradilaga.</poem> |<poem>Kang sinambiit kang cinandhak-candhak luput dyan wonten susulan panakawan andhawuhi dipun enggal Sang Nata mundhut lancingan.</poem> |<poem>Kedhunglumbu angantosi Sang Aprabu</poem>}}<noinclude>{{rh|||193}}</noinclude> cq5jkcxc0j34afa03032wbrb9ckopil 77937 77377 2026-05-15T21:12:58Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77937 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::wus medal sangking jro puri, ::Sri Narendra gugup wedalira ngetan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=40 |<poem>Rewangipun mung panakawan tetelu, kang alit satunggal kang ageng amung kekalih banon wetan sigra den pasangi andha.</poem> |<poem>Gupuh-gupuh Sang Nata wus prapteng luhur, supe tan lancingan panakawan ingkang alit kinen nyambut saruwale Jangkung pacar</poem> |<poem>Jangkung suwung wus dangu denira metu, kasusu Sang Nata melorot wus prapteng jawi aneng ngandhap Sang Nata pasang cawetan</poem> |<poem>Kyai Jangkung mempis-mempis wuwusipun Heh Apanji enggal timbalan nusul Sang Aji atetanya Apanji Suradilaga.</poem> |<poem>Lurah Jangkung dhateng pundi Sang Aprabu Jangkung megap-megap napase kecer neng margi wau ngetan angonc'ati sangking pura.</poem> |<poem>Den agupuh gawanen arinireki mring loji badhenya den aenggal den anteni geger usreg wismane Suradilaga.</poem> |<poem>Kang sinambiit kang cinandhak-candhak luput dyan wonten susulan panakawan andhawuhi dipun enggal Sang Nata mundhut lancingan.</poem> |<poem>Kedhunglumbu angantosi Sang Aprabu</poem>}}<noinclude>{{rh|||193}}</noinclude> izzujfgvj333dg6rucwfxkpm2hz9hib Kaca:Babad Prayud I.pdf/196 250 24704 77378 2026-05-15T12:51:54Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77378 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::wau ing jro pura ::Ratu Kencana sru runtik ::wus angrasuk ing wau kaprajuritan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem>Dhuwungipun nyuriga tinarik sampun Kyai Bojiparang Ki Urubjingga winangking ngiras kestul Ki Kancaka Rupakinca.</poem> |<poem>Akelangkung herga benting malang-migung mbebujung Sang Nata undhake pawarta jawi lir pinusus gegere Suradilagan.</poem> |<poem>Sigra wau nusul aneng Kedhunglumbu wus panggih seksana Sang Nata enget ing galih wedana kang akemit Sasradiningrat.</poem> |<poem>Sang Aprabu gugup Heh balia Jangkung marang ing jro pura iya wedana kang kemit bebisika marang si Sasradiningrat.</poem> |<poem>Konen tambuh aja idhep aja weruh lamun tinakonan ingsun iki marang loji Ki Pasliyun konen tutur Kakangemas.</poem> |<poem>Lamun ingsun wus metu teka kadhatun wurung sun merana kang perak bae mring loji Jangkungpacar wotsari mundur mring pura.</poem>}}<noinclude></noinclude> 99ybufemjbvz8ky0e1uzllps6fwyey1 78242 77378 2026-05-16T09:14:49Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78242 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::wau ing jro pura ::Ratu Kencana sru runtik ::wus angrasuk ing wau kaprajuritan. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=48 |<poem>Dhuwungipun nyuriga tinarik sampun Kyai Bojiparang Ki Urubjingga winangking ngiras kestul Ki Kancaka Rupakinca.</poem> |<poem>Akelangkung herga benting malang-migung mbebujung Sang Nata undhake pawarta jawi lir pinusus gegere Suradilagan.</poem> |<poem>Sigra wau nusul aneng Kedhunglumbu wus panggih seksana Sang Nata enget ing galih wedana kang akemit Sasradiningrat.</poem> |<poem>Sang Aprabu gugup Heh balia Jangkung marang ing jro pura iya wedana kang kemit bebisika marang si Sasradiningrat.</poem> |<poem>Konen tambuh aja idhep aja weruh lamun tinakonan ingsun iki marang loji Ki Pasliyun konen tutur Kakangemas.</poem> |<poem>Lamun ingsun wus metu teka kadhatun wurung sun merana kang perak bae mring loji Jangkungpacar wotsari mundur mring pura.</poem>}}<noinclude></noinclude> ps1pt87hbi3anpqdvhpjyet5fkon5zi Kaca:Babad Prayud I.pdf/197 250 24705 77379 2026-05-15T12:54:57Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77379 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIX.{{gap}}DURMA {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Prapteng pura Jangkungpacar wus apanggya lan wadana kang kemit sigra dhinawuhan Raden Sasradiningrat lan Ki Jangkung ngutus malih mring panakawan ndhawuhi Ki Ngabehi.</poem> |<poem>Kang timbalan maringa Mangkunagaran dhawuhingsun turpeksi kalamun Sang Nata wus mijil sangking pura badhe akarsa mring loji sigra lampahnya panggih wus den dhawuhi.</poem> |<poem>Lajengira Ngabehi Pasliyun prapta panggih Sang Adipati sampun dhinawuhan Pangran Mangkunagara sigra lir gumrubyug prapti prajuritira neng palataran baris.</poem> |<poem>Sigra ngutus Dipati Mangkunagara mring dasih andombani mring ari narendra mesat carakanira sinareng lawan duta Ji kang kawuwusa wau sajroning puri.</poem> |<poem>Kangjeng Ratu Kencana pany ananira kang Raka Sri Bupati estu mejahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude> 5w2lj59cumi8ododyqh0px2xfmhhwi6 78034 77379 2026-05-16T02:56:35Z Khusna Safira 1759 78034 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XIX.{{gap}}DURMA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Prapteng pura Jangkungpacar wus apanggya lan wadana kang kemit sigra dhinawuhan Raden Sasradiningrat lan Ki Jangkung ngutus malih mring panakawan ndhawuhi Ki Ngabehi.</poem> |<poem>Kang timbalan maringa Mangkunagaran dhawuhingsun turpeksi kalamun Sang Nata wus mijil sangking pura badhe akarsa mring loji sigra lampahnya panggih wus den dhawuhi.</poem> |<poem>Lajengira Ngabehi Pasliyun prapta panggih Sang Adipati sampun dhinawuhan Pangran Mangkunagara sigra lir gumrubyug prapti prajuritira neng palataran baris.</poem> |<poem>Sigra ngutus Dipati Mangkunagara mring dasih andombani mring ari narendra mesat carakanira sinareng lawan duta Ji kang kawuwusa wau sajroning puri.</poem> |<poem>Kangjeng Ratu Kencana pany ananira kang Raka Sri Bupati estu mejahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude> mgw7yu6t6bipdct0cwxepelnmtf33r8 78244 78034 2026-05-16T09:15:14Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78244 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XIX.{{gap}}DURMA''' {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Prapteng pura Jangkungpacar wus apanggya lan wadana kang kemit sigra dhinawuhan Raden Sasradiningrat lan Ki Jangkung ngutus malih mring panakawan ndhawuhi Ki Ngabehi.</poem> |<poem>Kang timbalan maringa Mangkunagaran dhawuhingsun turpeksi kalamun Sang Nata wus mijil sangking pura badhe akarsa mring loji sigra lampahnya panggih wus den dhawuhi.</poem> |<poem>Lajengira Ngabehi Pasliyun prapta panggih Sang Adipati sampun dhinawuhan Pangran Mangkunagara sigra lir gumrubyug prapti prajuritira neng palataran baris.</poem> |<poem>Sigra ngutus Dipati Mangkunagara mring dasih andombani mring ari narendra mesat carakanira sinareng lawan duta Ji kang kawuwusa wau sajroning puri.</poem> |<poem>Kangjeng Ratu Kencana pany ananira kang Raka Sri Bupati estu mejahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude> e2v000nozb6hl63nb1o5e2gi55f40np Kaca:Babad Prayud I.pdf/201 250 24706 77380 2026-05-15T12:57:09Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77380 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ny empala pelem sapang ::lurubana ywa katawis ::amor larahan ::sigra binekta aglis. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Tan ketara tinunggu mring Setrajaya pan api-api ngising kalangkung asamar gelar agora-godha nanging langkung gobag-gabig Ki Jangkungpacar tan betah mambu tai.</poem> |<poem>Setrajaya sigra matur mring wedana Ki Lurah gobag-gabig pan panggenan tinja inggih -iaren punika lamun dangu sawatawis keni ing sawan Tumenggung ngandika ris.</poem> |<poem>Lah undangen Martagati Suranata kang tinimbalan prapti angling Raden Sasra Martagati umpetna ya Ki Lurah Jangkung iki Ratu Kencana kang mungseng angulati.</poem> |<poem>Katemua nora wurung den sesempal matur Ki Martagati pan inggih sandika nanging ta wedal kula sangking ngriki kadipundi bilih kenangan wong kraton ting saliri.</poem> |<poem>Paparentah wau Ki Tumenggung Sasra</poem>}}<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude> gk97w64l2kcqjj6mixcr063zi9idema 78246 77380 2026-05-16T09:15:42Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78246 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::nyempala pelem sapang ::lurubana ywa katawis ::amor larahan ::sigra binekta aglis. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=20 |<poem>Tan ketara tinunggu mring Setrajaya pan api-api ngising kalangkung asamar gelar agora-godha nanging langkung gobag-gabig Ki Jangkungpacar tan betah mambu tai.</poem> |<poem>Setrajaya sigra matur mring wedana Ki Lurah gobag-gabig pan panggenan tinja inggih -iaren punika lamun dangu sawatawis keni ing sawan Tumenggung ngandika ris.</poem> |<poem>Lah undangen Martagati Suranata kang tinimbalan prapti angling Raden Sasra Martagati umpetna ya Ki Lurah Jangkung iki Ratu Kencana kang mungseng angulati.</poem> |<poem>Katemua nora wurung den sesempal matur Ki Martagati pan inggih sandika nanging ta wedal kula sangking ngriki kadipundi bilih kenangan wong kraton ting saliri.</poem> |<poem>Paparentah wau Ki Tumenggung Sasra</poem>}}<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude> nuqkjekydmzd2yum6s7o67vyqu28rr2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/202 250 24707 77381 2026-05-15T12:59:03Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77381 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::bebisik ting kalesik ::tumpeng bodhang iya ::udhuna maring jodhang ::pan bodhag gedhe puniki ::bodhag Banyumas ::sedheng Ki Jangkung pasthi. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Sigra wau Ki Jangkung dinekek bodhag ndhekukul tan katawis nulya rinuruban ing godhong langkung samar ginotong lawan kuwali kapindha pindhang ing Suranatan prapti. |<poem> Duk langkunge ing regol tan ana nyana wong tinarka kendhuri tan wruh yen manungsa Ki Lurah Jangkungpacar neng wismane Martagati ing Suranatan sinamar dennya linggih. |<poem>Neng babragan mor kalemuk kendhi kathah ling aling tampah miring wus samar tan ana nerka ana manungsa ingaran dhedherek pasthi dudu manungsa yen ora antu bumi. |<poem>Kawuwusa Sang Nata ing lampahira wuwuh-wuwuh kang abdi lurah kawandasa kang kemit. niung satunggal lawan wong gamel satunggil nusul kapanggya 200 PNRI bp Balai Pustaka<noinclude>{{rh|200}}</noinclude> ceofq9krmibglu78mzljs0bbm1ay262 77382 77381 2026-05-15T12:59:36Z Khusna Safira 1759 77382 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::bebisik ting kalesik ::tumpeng bodhang iya ::udhuna maring jodhang ::pan bodhag gedhe puniki ::bodhag Banyumas ::sedheng Ki Jangkung pasthi. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Sigra wau Ki Jangkung dinekek bodhag ndhekukul tan katawis nulya rinuruban ing godhong langkung samar ginotong lawan kuwali kapindha pindhang ing Suranatan prapti.</poem> |<poem> Duk langkunge ing regol tan ana nyana wong tinarka kendhuri tan wruh yen manungsa Ki Lurah Jangkungpacar neng wismane Martagati ing Suranatan sinamar dennya linggih.</poem> |<poem>Neng babragan mor kalemuk kendhi kathah ling aling tampah miring wus samar tan ana nerka ana manungsa ingaran dhedherek pasthi dudu manungsa yen ora antu bumi.</poem> |<poem>Kawuwusa Sang Nata ing lampahira wuwuh-wuwuh kang abdi lurah kawandasa kang kemit. niung satunggal lawan wong gamel satunggil nusul kapanggya</poem>}}<noinclude>{{rh|200}}</noinclude> j0x1f3npleqfce7qpv7jqk4gmjy81ct 78247 77382 2026-05-16T09:15:57Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78247 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::bebisik ting kalesik ::tumpeng bodhang iya ::udhuna maring jodhang ::pan bodhag gedhe puniki ::bodhag Banyumas ::sedheng Ki Jangkung pasthi. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=25 |<poem>Sigra wau Ki Jangkung dinekek bodhag ndhekukul tan katawis nulya rinuruban ing godhong langkung samar ginotong lawan kuwali kapindha pindhang ing Suranatan prapti.</poem> |<poem> Duk langkunge ing regol tan ana nyana wong tinarka kendhuri tan wruh yen manungsa Ki Lurah Jangkungpacar neng wismane Martagati ing Suranatan sinamar dennya linggih.</poem> |<poem>Neng babragan mor kalemuk kendhi kathah ling aling tampah miring wus samar tan ana nerka ana manungsa ingaran dhedherek pasthi dudu manungsa yen ora antu bumi.</poem> |<poem>Kawuwusa Sang Nata ing lampahira wuwuh-wuwuh kang abdi lurah kawandasa kang kemit. niung satunggal lawan wong gamel satunggil nusul kapanggya</poem>}}<noinclude>{{rh|200}}</noinclude> azlwxgcrhenttkm94rwn490pncafdwn Kaca:Babad Prayud I.pdf/203 250 24708 77383 2026-05-15T13:00:01Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "lan tamtama kekalih. 29. Mung punika malih-malih datan ana gugup kidul margeki prapteng loji panggya Uprup angungun mulat ing solahe Sri Bupati gugup agiras kadya kaburu jurit. 30. Sri Narendra sigra ingaturan lenggah Uprup sigra amanggil mring ajidanira Bonggareken wus prapta dragunder kinen milihi nenem kewala kang jarod-jarod sami. 31. Sri Narendra ngandika yen antenana sun amanggil bupati lan si Mangkupraja iku kang ngiring sira mandhega ing... 77383 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>lan tamtama kekalih. 29. Mung punika malih-malih datan ana gugup kidul margeki prapteng loji panggya Uprup angungun mulat ing solahe Sri Bupati gugup agiras kadya kaburu jurit. 30. Sri Narendra sigra ingaturan lenggah Uprup sigra amanggil mring ajidanira Bonggareken wus prapta dragunder kinen milihi nenem kewala kang jarod-jarod sami. 31. Sri Narendra ngandika yen antenana sun amanggil bupati lan si Mangkupraja iku kang ngiring sira mandhega ing Srimanganti kang manjing pura iya sira pribadi. 32. Ajidan Bonggarek dinuta ing Nata nimbali kyana patih Tumenggung Rungbinang miwah Ki Wiradigda prapta nggen rikatan sami kang ingandikan wus sami prapteng loji. 33. Dhinawuhan katri punggawa ngiringa Uprup malebeng puri nanging ta mandhega ing Srimanganti padha 201 PNRI<noinclude></noinclude> nbbje6qc2r36kjji4of64x3igah7tfe 77385 77383 2026-05-15T13:02:09Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77385 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::lan tamtama kekalih. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem>Mung punika malih-malih datan ana gugup kidul margeki prapteng loji panggya Uprup angungun mulat ing solahe Sri Bupati gugup agiras kadya kaburu jurit.</poem> |<poem>Sri Narendra sigra ingaturan lenggah Uprup sigra amanggil mring ajidanira Bonggareken wus prapta dragunder kinen milihi nenem kewala kang jarod-jarod sami.</poem> |<poem>Sri Narendra ngandika yen antenana sun amanggil bupati lan si Mangkupraja iku kang ngiring sira mandhega ing Srimanganti kang manjing pura iya sira pribadi.</poem> |<poem>Ajidan Bonggarek dinuta ing Nata nimbali ky ana patih Tumenggung Rungbinang miwah Ki Wiradigda prapta nggen rikatan sami kang ingandikan wus sami prapteng loji.</poem> |<poem>Dhinawuhan katri punggawa ngiringa Uprup malebeng puri nanging ta mandhega ing Srimanganti padha</poem>}}<noinclude>{{rh|||201}}</noinclude> 7npbogbe9115fu2gdfbz0hughf4l1s0 78248 77385 2026-05-16T09:16:14Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78248 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::lan tamtama kekalih. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=29 |<poem>Mung punika malih-malih datan ana gugup kidul margeki prapteng loji panggya Uprup angungun mulat ing solahe Sri Bupati gugup agiras kadya kaburu jurit.</poem> |<poem>Sri Narendra sigra ingaturan lenggah Uprup sigra amanggil mring ajidanira Bonggareken wus prapta dragunder kinen milihi nenem kewala kang jarod-jarod sami.</poem> |<poem>Sri Narendra ngandika yen antenana sun amanggil bupati lan si Mangkupraja iku kang ngiring sira mandhega ing Srimanganti kang manjing pura iya sira pribadi.</poem> |<poem>Ajidan Bonggarek dinuta ing Nata nimbali kyana patih Tumenggung Rungbinang miwah Ki Wiradigda prapta nggen rikatan sami kang ingandikan wus sami prapteng loji.</poem> |<poem>Dhinawuhan katri punggawa ngiringa Uprup malebeng puri nanging ta mandhega ing Srimanganti padha</poem>}}<noinclude>{{rh|||201}}</noinclude> dzr2094xfnzwlnf2k0rgvog6njgeqz5 Kaca:Babad Prayud I.pdf/204 250 24709 77384 2026-05-15T13:00:44Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77384 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>nggawaa tandhu sireki dergunderira Uprup kenem wus prapti. 34. Sigra mangkat satelase kang pitungkas Sang Nata angaturi Ratu Maduretna bilih wangkot kang putra awawan lawan kumpeni wau lampahnya Uprup wus prapteng puri. 35. Kiya Patih katri pra para punggawa kendel ing Srimanganti regol sampun menga Uprup malebet panggya lawan wedana kang kemit Tumenggung Sasra pan sampun den jarwani. 36. Kangjeng Ratu wus dangu manjing ing pura duk tan panggih ngulati marang Jangkungpacar dennya kondur ngadhatyan kori pringgitan kinancing Ratu Kencana tan eca tyasireki. 37. Uprup Beman sampun prapti paringgitan sang dragundere sami minggah paringgitan ndhodhog aminta lawang wong jro pura geger sami Walanda prapti ndhodhog aminta kori. 38. Jelih-jelih Uprup dennya minta lawang tan ana kang nyauri 202 PNRI<noinclude></noinclude> 39xttgd18eoh2gbcmyt7m36savwj3r1 77387 77384 2026-05-15T13:03:29Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77387 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>nggawaa tandhu sireki dergunderira Uprup kenem wus prapti.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem> Sigra mangkat satelase kang pitungkas Sang Nata angaturi Ratu Maduretna bilih wangkot kang putra awawan lawan kumpeni wau lampahnya Uprup wus prapteng puri. </poem> |<poem> Kiya Patih katri pra para punggawa kendel ing Srimanganti regol sampun menga Uprup malebet panggya lawan wedana kang kemit Tumenggung Sasra pan sampun den jarwani. </poem> |<poem>Kangjeng Ratu wus dangu manjing ing pura duk tan panggih ngulati marang Jangkungpacar dennya kondur ngadhatyan kori pringgitan kinancing Ratu Kencana tan eca tyasireki. </poem> |<poem> Uprup Beman sampun prapti paringgitan sang dragundere sami minggah paringgitan ndhodhog aminta lawang wong jro pura geger sami Walanda prapti ndhodhog aminta kori. </poem> |<poem>Jelih-jelih Uprup dennya minta lawang tan ana kang nyauri </poem>}}<noinclude>{{rh|202}}</noinclude> 7rlhql9wrr8wjkuf2otuutrxmb1b1q5 78249 77387 2026-05-16T09:16:29Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78249 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>nggawaa tandhu sireki dergunderira Uprup kenem wus prapti.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=34 |<poem> Sigra mangkat satelase kang pitungkas Sang Nata angaturi Ratu Maduretna bilih wangkot kang putra awawan lawan kumpeni wau lampahnya Uprup wus prapteng puri. </poem> |<poem> Kiya Patih katri pra para punggawa kendel ing Srimanganti regol sampun menga Uprup malebet panggya lawan wedana kang kemit Tumenggung Sasra pan sampun den jarwani. </poem> |<poem>Kangjeng Ratu wus dangu manjing ing pura duk tan panggih ngulati marang Jangkungpacar dennya kondur ngadhatyan kori pringgitan kinancing Ratu Kencana tan eca tyasireki. </poem> |<poem> Uprup Beman sampun prapti paringgitan sang dragundere sami minggah paringgitan ndhodhog aminta lawang wong jro pura geger sami Walanda prapti ndhodhog aminta kori. </poem> |<poem>Jelih-jelih Uprup dennya minta lawang tan ana kang nyauri </poem>}}<noinclude>{{rh|202}}</noinclude> shfpjoacaxpenv8un2oto6hzk1o4v96 Kaca:Babad Prayud I.pdf/205 250 24710 77386 2026-05-15T13:02:36Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "Jeng Ratu prayitna kang ngadhep sami bubar amung pepitu kang kari ndhrodhog sadaya wuri ing kanan kering 39. Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga dhuwunge kyai Boji wau Uprup Beman langkung kaku tyasira kang kori dipun jejegi ambal ping tiga njeplok tapele wesi. 40. Dipun dhupak kaping pat sigar marapat rebah kori sasisih Uprup lebetira sadragundere samya nenem kapitanireki ajidanira Bonggareken ndhingini. 41. Aneng kanan korine Uprup Beiman majeng man... 77386 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>Jeng Ratu prayitna kang ngadhep sami bubar amung pepitu kang kari ndhrodhog sadaya wuri ing kanan kering 39. Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga dhuwunge kyai Boji wau Uprup Beman langkung kaku tyasira kang kori dipun jejegi ambal ping tiga njeplok tapele wesi. 40. Dipun dhupak kaping pat sigar marapat rebah kori sasisih Uprup lebetira sadragundere samya nenem kapitanireki ajidanira Bonggareken ndhingini. 41. Aneng kanan korine Uprup Beiman majeng mangilen sami mung ajidanira neng ler ngidul ajengnya Jeng Ratu ngandika runtik Heh Uprup sira arep nyekel ing marni. 42. Lah cacaken den parek arebut pejah rok bandawala pati dumeh yen wanita sira arsa meganga Uprup aturira aris inggih ta mangsa kula jrih angemasi. 203 PNRI<noinclude></noinclude> r2q6bu2isgxvkme8z26b1jaq9f8zra9 77389 77386 2026-05-15T13:05:05Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77389 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Jeng Ratu prayitna ::kang ngadhep sami bubar ::amung pepitu kang kari ::ndhrodhog sadaya ::wuri ing kanan kering {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga dhuwunge kyai Boji wau Uprup Beman langkung kaku tyasira kang kori dipun jejegi ambal ping tiga njeplok tapele wesi.</poem> |<poem>Dipun dhupak kaping pat sigar marapat rebah kori sasisih Uprup lebetira sadragundere samy a nenem kapitanireki ajidanira Bonggareken ndhing ini.</poem> |<poem>Aneng kanan korine Uprup Beiman majeng mangilen sami mung ajidanira neng ler ngidul ajengnya Jeng Ratu ngandika runtik Heh Uprup sira arep nyekel ing mami.</poem> |<poem>Lah cacaken den parek arebut pejah rok bandawala pati dumeh yen wanita sira arsa meganga Uprup aturira aris inggih ta mangsa kula jrih angemasi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude> 4cnrnwsnhg8b5jp4tzziaav7h30d0zx 78250 77389 2026-05-16T09:16:36Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78250 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::Jeng Ratu prayitna ::kang ngadhep sami bubar ::amung pepitu kang kari ::ndhrodhog sadaya ::wuri ing kanan kering {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga dhuwunge kyai Boji wau Uprup Beman langkung kaku tyasira kang kori dipun jejegi ambal ping tiga njeplok tapele wesi.</poem> |<poem>Dipun dhupak kaping pat sigar marapat rebah kori sasisih Uprup lebetira sadragundere samy a nenem kapitanireki ajidanira Bonggareken ndhing ini.</poem> |<poem>Aneng kanan korine Uprup Beiman majeng mangilen sami mung ajidanira neng ler ngidul ajengnya Jeng Ratu ngandika runtik Heh Uprup sira arep nyekel ing mami.</poem> |<poem>Lah cacaken den parek arebut pejah rok bandawala pati dumeh yen wanita sira arsa meganga Uprup aturira aris inggih ta mangsa kula jrih angemasi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude> oijrypapv0fazvs0ytgfbhmlth0t8iz 78251 78250 2026-05-16T09:16:44Z Elcamatcha 1466 78251 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::Jeng Ratu prayitna ::kang ngadhep sami bubar ::amung pepitu kang kari ::ndhrodhog sadaya ::wuri ing kanan kering {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga dhuwunge kyai Boji wau Uprup Beman langkung kaku tyasira kang kori dipun jejegi ambal ping tiga njeplok tapele wesi.</poem> |<poem>Dipun dhupak kaping pat sigar marapat rebah kori sasisih Uprup lebetira sadragundere samya nenem kapitanireki ajidanira Bonggareken ndhing ini.</poem> |<poem>Aneng kanan korine Uprup Beiman majeng mangilen sami mung ajidanira neng ler ngidul ajengnya Jeng Ratu ngandika runtik Heh Uprup sira arep nyekel ing mami.</poem> |<poem>Lah cacaken den parek arebut pejah rok bandawala pati dumeh yen wanita sira arsa meganga Uprup aturira aris inggih ta mangsa kula jrih angemasi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude> 36vmcd4f368udfbxojp9y8qh8gsgk0b Kaca:Babad Prayud I.pdf/208 250 24711 77388 2026-05-15T13:04:14Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77388 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kapriye Mangkupraja iya apa ingsun bali apa banjura ngong iki den timbali. 53. Adipati Mangkupraja aturira inggih sampeyan bali pan putra panduka punika kula bekta ing dalem sampeyan mangkin wangsul seksana Ratu Maduretneki. 54. Sareng lampah Ratu wus tebah neng ngarsa tan miyarsa buneki kapethuk ing marga wangsul lumakyeng wuntat Kaendranatan wus prapti penandhon sigra manjing dalemireki. 55. Ingkang bibi sapraptaning palataran kagyat tedhakireki kang ibu gya prapta ngungun anjetung samya ragane tukar sireki ujarku apa tan lidok wuwus marni. 56. Aja anggegampang dumeb laki kadang kang putra arsa njerit anulya cinandhak binekteng dalem sigra prapta wus tata alinggih weiitising putra tinindhihan buneki. 57. Punggawa tri wangsul aneng paregolan 206 PNRI<noinclude></noinclude> rzz926pmazdr5ufwef1hfhl45ndrv51 77391 77388 2026-05-15T13:06:45Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77391 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>kapriye Mangkupraja iya apa ingsun bali apa banjura ngong iki den timbali.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=53 |<poem> Adipati Mangkupraja aturira inggih sampeyan bali pan putra panduka punika kula bekta ing dalem sampeyan mangkin wangsul seksana Ratu Maduretneki. </poem> |<poem> Sareng lampah Ratu wus tebah neng ngarsa tan miyarsa buneki kapethuk ing marga wangsul lumakyeng wuntat Kaendranatan wus prapti penandhon sigra manjing dalemireki. </poem> |<poem> Ingkang bibi sapraptaning palataran kagyat tedhakireki kang ibu gya prapta ngungun anjetung samya ragane tukar sireki ujarku apa tan lidok wuwus marni. </poem> |<poem>Aja anggegampang dumeb laki kadang kang putra arsa njerit anulya cinandhak binekteng dalem sigra prapta wus tata alinggih weiitising putra tinindhihan buneki.</poem> |<poem>Punggawa tri wangsul aneng paregolan</poem>}}<noinclude>{{rh|206}}</noinclude> nsa42ybnyhzw8ymxiulkvi22zsqhtxu 78255 77391 2026-05-16T09:17:35Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78255 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>kapriye Mangkupraja iya apa ingsun bali apa banjura ngong iki den timbali.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=53 |<poem> Adipati Mangkupraja aturira inggih sampeyan bali pan putra panduka punika kula bekta ing dalem sampeyan mangkin wangsul seksana Ratu Maduretneki. </poem> |<poem> Sareng lampah Ratu wus tebah neng ngarsa tan miyarsa buneki kapethuk ing marga wangsul lumakyeng wuntat Kaendranatan wus prapti penandhon sigra manjing dalemireki. </poem> |<poem> Ingkang bibi sapraptaning palataran kagyat tedhakireki kang ibu gya prapta ngungun anjetung samya ragane tukar sireki ujarku apa tan lidok wuwus marni. </poem> |<poem>Aja anggegampang dumeb laki kadang kang putra arsa njerit anulya cinandhak binekteng dalem sigra prapta wus tata alinggih weiitising putra tinindhihan buneki.</poem> |<poem>Punggawa tri wangsul aneng paregolan</poem>}}<noinclude>{{rh|206}}</noinclude> 6vg5cmbnntokt8z0ad1cxuy4erdsflx Kaca:Babad Prayud I.pdf/130 250 24712 77390 2026-05-15T13:05:28Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "wong legiyan iki kabeh ana wong telung puluh pra dipati pasisir iki para ngabei demang kabeh pra tumenggung serep ing semu myang cahya lan wong papat duta ing Surakarteki lan duta ing Ngayogja. 39. Iku duta ing Surakarteki Wiradigda lan Sasradiningrat caraka Ngayogja kuwe agedhe-gedhe dhuwur Pakuningrat lan Sindurjeki lah iya sabab apa padha manungseku angarekaken wong kathah pra dipati pasisir kapati-pati kacek rupa myang cahya. 40. Wanguning tan o... 77390 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>wong legiyan iki kabeh ana wong telung puluh pra dipati pasisir iki para ngabei demang kabeh pra tumenggung serep ing semu myang cahya lan wong papat duta ing Surakarteki lan duta ing Ngayogja. 39. Iku duta ing Surakarteki Wiradigda lan Sasradiningrat caraka Ngayogja kuwe agedhe-gedhe dhuwur Pakuningrat lan Sindurjeki lah iya sabab apa padha manungseku angarekaken wong kathah pra dipati pasisir kapati-pati kacek rupa myang cahya. 40. Wanguning tan oga kula gusti iya dene ta padha wong Jawa saijab-ijab kaceke tan nganggo undha-usuk Bestam mesem dennya nauri kari wong pepilihan punggawaning ratu sanadyan sami bagusa cedhak raja ing cahya kaot sayekti sumringah mangah-mangah. 41. Tuwan sampun adate ing nguni ratu Jawa pan sugih derajat turasing tapa wijile tur karembesan madu anrep terah andana warih yen Tuwan amadhakna 128 PNRI<noinclude></noinclude> cdtdcom3amdpvk89755twqg5qjlui28 77392 77390 2026-05-15T13:07:02Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77392 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> ::wong legiyan iki kabeh ::ana wong telung puluh ::pra dipati pasisir iki ::para ngabei demang ::kabeh pra tumenggung ::serep ing semu my ang cahya ::lan wong papat duta ing Surakarteki ::lan duta ing Ngayogja. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Iku duta ing Surakarteki Wiradigda lan Sasradiningrat caraka Ngayogja kuwe agedhe-gedhe dhuwur Pakuningrat lan Sindurjeki lah iya sabab apa padha manungseku angarekaken wong kathah pra dipati pasisir kapati-pati kacek rupa my ang cahya.</poem> |<poem>Wanguning tan oga kula gusti iya dene ta padha wong Jawa saijab-ijab kaceke tan nganggo undha-usuk Bestam mesem dennya nauri kari wong pepilihan punggawaning ratu sanadyan sami bagusa cedhak raja ing cahya kaot sayekti sumringah mangah-mangah.</poem> |<poem>Tuwan sampun adate ing nguni ratu Jawa pan sugih derajat turasing tapa wijile tur karembesan madu anrep terah andana warih yen Tuwan amadhakna</poem>}}<noinclude>{{rh|128}}</noinclude> k7u12144r8zrw7ihd0nvoxbesr8f3ut 77394 77392 2026-05-15T13:07:27Z Khusna Safira 1759 77394 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> :::wong legiyan iki kabeh :::ana wong telung puluh :::pra dipati pasisir iki :::para ngabei demang :::kabeh pra tumenggung :::serep ing semu my ang cahya :::lan wong papat duta ing Surakarteki :::lan duta ing Ngayogja. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Iku duta ing Surakarteki Wiradigda lan Sasradiningrat caraka Ngayogja kuwe agedhe-gedhe dhuwur Pakuningrat lan Sindurjeki lah iya sabab apa padha manungseku angarekaken wong kathah pra dipati pasisir kapati-pati kacek rupa my ang cahya.</poem> |<poem>Wanguning tan oga kula gusti iya dene ta padha wong Jawa saijab-ijab kaceke tan nganggo undha-usuk Bestam mesem dennya nauri kari wong pepilihan punggawaning ratu sanadyan sami bagusa cedhak raja ing cahya kaot sayekti sumringah mangah-mangah.</poem> |<poem>Tuwan sampun adate ing nguni ratu Jawa pan sugih derajat turasing tapa wijile tur karembesan madu anrep terah andana warih yen Tuwan amadhakna</poem>}}<noinclude>{{rh|128}}</noinclude> 5rx4sp0c10g29tvyolizb8mrjep1bq4 77934 77394 2026-05-15T21:06:29Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77934 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::wong legiyan iki kabeh :::ana wong telung puluh :::pra dipati pasisir iki :::para ngabei demang :::kabeh pra tumenggung :::serep ing semu my ang cahya :::lan wong papat duta ing Surakarteki :::lan duta ing Ngayogja. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=39 |<poem>Iku duta ing Surakarteki Wiradigda lan Sasradiningrat caraka Ngayogja kuwe agedhe-gedhe dhuwur Pakuningrat lan Sindurjeki lah iya sabab apa padha manungseku angarekaken wong kathah pra dipati pasisir kapati-pati kacek rupa my ang cahya.</poem> |<poem>Wanguning tan oga kula gusti iya dene ta padha wong Jawa saijab-ijab kaceke tan nganggo undha-usuk Bestam mesem dennya nauri kari wong pepilihan punggawaning ratu sanadyan sami bagusa cedhak raja ing cahya kaot sayekti sumringah mangah-mangah.</poem> |<poem>Tuwan sampun adate ing nguni ratu Jawa pan sugih derajat turasing tapa wijile tur karembesan madu anrep terah andana warih yen Tuwan amadhakna</poem>}}<noinclude>{{rh|128}}</noinclude> ht84cdrolvltglgxeatw9q9hb20gkfb Kaca:Babad Prayud I.pdf/155 250 24713 77393 2026-05-15T13:07:11Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77393 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kadi den rayah ing belis sirna gempang kang kantun mung karowodan. 46. Wau Dipati Danureja angguguk gujengireki bonggan gawe sira nyawa maling den sandhingi gunting apa tan ngrungu warti iya dhedhayohireku iku kang duwe bala Adipati Guritwesi salimaha wong neracak den gegalak. 47. Wong alunyat lelonyotan sira ingkang nyelawati wong ladak sira angajak mbeyani buyan sireki penyakit den sesengit andadra gecul akumpul dadi sira kang njarag ngulik-ulik macan ndhelik tangi nggero dene kudu kagegeran. 48. Gora-gora garawalan aweh weruh maring marni panggawe wus sira maha ma une tan neniteni met keris dudu jenis nggrejeg dudu wong Yogjeku tamu wong Surakarta ketara olehe wani wawan-wawan temahan sira katawan. 49. Adipati si Danurja animbali Sinduijeki wadana jro kalih prapta wau aneng pancaniti 153 PNRI<noinclude></noinclude> mipstva6xfwycdtisst6y5o5je4yzp1 77397 77393 2026-05-15T13:09:28Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77397 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>kadi den rayah ing belis sirna gempang kang kantun mung karowodan.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=46 |<poem> Wau Dipati Danureja angguguk gujengireki bonggan gawe sira nyawa maling den sandhingi gunting apa tan ngrungu warti iya dhedhayohireku iku kang duwe bala Adipati Guritwesi salimaha wong neracak den gegalak. </poem> |<poem> Wong alunyat lelonyotan sira ingkang nyelawati wong ladak sira angajak mbeyani buyan sireki penyakit den sesengit andadra gecul akumpul dadi sira kang njarag ngulik-ulik macan ndhelik tangi nggero dene kudu kagegeran. </poem> |<poem>Gora-gora garawalan aweh weruh maring marni panggawe wus sira maha ma une tan neniteni met keris dudu jenis nggrejeg dudu wong Yogjeku tamu wong Surakarta ketara olehe wani wawan-wawan temahan sira katawan. </poem> |<poem> Adipati si Danurja animbali Sinduijeki wadana jro kalih prapta wau aneng pancaniti </poem>}}<noinclude>{{rh|||153}}</noinclude> l8a88xtbgoa0b8tv1d6eycsa1urt3ht 78037 77397 2026-05-16T02:59:21Z Khusna Safira 1759 /* Absah */ 78037 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>kadi den rayah ing belis sirna gempang kang kantun mung karowodan.</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=46 |<poem> Wau Dipati Danureja angguguk gujengireki bonggan gawe sira nyawa maling den sandhingi gunting apa tan ngrungu warti iya dhedhayohireku iku kang duwe bala Adipati Guritwesi salimaha wong neracak den gegalak. </poem> |<poem> Wong alunyat lelonyotan sira ingkang nyelawati wong ladak sira angajak mbeyani buyan sireki penyakit den sesengit andadra gecul akumpul dadi sira kang njarag ngulik-ulik macan ndhelik tangi nggero dene kudu kagegeran. </poem> |<poem>Gora-gora garawalan aweh weruh maring marni panggawe wus sira maha ma une tan neniteni met keris dudu jenis nggrejeg dudu wong Yogjeku tamu wong Surakarta ketara olehe wani wawan-wawan temahan sira katawan. </poem> |<poem> Adipati si Danurja animbali Sinduijeki wadana jro kalih prapta wau aneng pancaniti </poem>}}<noinclude>{{rh|||153}}</noinclude> 199486pzcehkerct345bejp631agmgs Kaca:Babad Prayud I.pdf/131 250 24714 77395 2026-05-15T13:07:45Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "lawan ratu-ratu nagri kang sami ngideran ing samodra Hindiya yekti tan sami Tuwan lain bageyan. 42 . Manthuk-manthuk ngungun sekretaris mandeng mulat maring bupati kathah pamandenge wekasane mring sekawan tumenggung duteng Yogja Surakarteki mesem kesengsem mulat mring Wiradigdeku miwah mring Sasradiningrat Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki Kayugja parasmara. 129 PNRI" 77395 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>lawan ratu-ratu nagri kang sami ngideran ing samodra Hindiya yekti tan sami Tuwan lain bageyan. 42 . Manthuk-manthuk ngungun sekretaris mandeng mulat maring bupati kathah pamandenge wekasane mring sekawan tumenggung duteng Yogja Surakarteki mesem kesengsem mulat mring Wiradigdeku miwah mring Sasradiningrat Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki Kayugja parasmara. 129 PNRI<noinclude></noinclude> tbmadmcpmxc7kdcwy6ymg5et4cesvd1 77396 77395 2026-05-15T13:09:04Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77396 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem> :::lawan ratu-ratu :::nagri kang sami ngideran :::ing samodra Hindiya yekti tan sami :::Tuwan lain bageyan. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=42 |<poem>Manthuk-manthuk ngungun sekretaris mandeng mulat maring bupati kathah pamandenge wekasane mring sekawan tumenggung duteng Yogja Surakarteki mesem kesengsem mulat mring Wiradigdeku miwah mring Sasradiningrat Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki Kayugja parasmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||129}}</noinclude> iocxgwpzvpolmqemnc7w61gtn0uexpy 77935 77396 2026-05-15T21:07:07Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 77935 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem> :::lawan ratu-ratu :::nagri kang sami ngideran :::ing samodra Hindiya yekti tan sami :::Tuwan lain bageyan. </poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=42 |<poem>Manthuk-manthuk ngungun sekretaris mandeng mulat maring bupati kathah pamandenge wekasane mring sekawan tumenggung duteng Yogja Surakarteki mesem kesengsem mulat mring Wiradigdeku miwah mring Sasradiningrat Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki Kayugja parasmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||129}}</noinclude> b9ka2hzwcfrlnu95is35ael0ftccrx2 Kaca:Babad Prayud I.pdf/154 250 24715 77398 2026-05-15T13:09:28Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "42. Katur ing Sang Adipatya pan anuju Senen Paing Adipati Danureja Lurah Tandha tur udani yen pasar den rusuhi gegeran kadi pinusus tetamu Surakarta rencange samya ngrayahi pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang. 43. Sami misesa rekasa kang tan aweh den gebugi panggebuge ngarah-arah tan wonten liyane gigir gumujeng Ki Dipati Danureja lon andangu kang dadi kawit apa gegere pasarmu iki iya apa banjur den rayah kewala. 44. Lurah Tandha matu... 77398 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>42. Katur ing Sang Adipatya pan anuju Senen Paing Adipati Danureja Lurah Tandha tur udani yen pasar den rusuhi gegeran kadi pinusus tetamu Surakarta rencange samya ngrayahi pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang. 43. Sami misesa rekasa kang tan aweh den gebugi panggebuge ngarah-arah tan wonten liyane gigir gumujeng Ki Dipati Danureja lon andangu kang dadi kawit apa gegere pasarmu iki iya apa banjur den rayah kewala. 44. Lurah Tandha matur nembah pukulun ingkang dadya wit tetiyang Mangkunagaran leledhang tiyang satunggil abebed sarung Bugis cindhe bang pangingsetipun pendhok mas tatah sawat mas tuwa atunggak semi den larangi dhateng Kabayan Ketandhan. 45. Dhuwung sinendhal tan kena nolih bareng narik keris punika gegere pasar kadi sampun den adhepi pawadeyan pra sami sirna beskup wus kakukup isining peken samya 152 PNRI<noinclude></noinclude> 5sw0fao70mqbkje2kjg0fq40okoorv4 77400 77398 2026-05-15T13:10:49Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77400 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42 |<poem>Katur ing Sang Adipatya pan anuju Senen Paing Adipati Danureja Lurah Tandha tur udani yen pasar den rusuhi gegeran kadi pinusus tetamu Surakarta rencange samya ngrayahi pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang.</poem> |<poem>Sami misesa rekasa kang tan aweh den gebugi panggebuge ngarah-arah tan wonten liyane gigir gumujeng Ki Dipati Danureja lon andangu kang dadi kawit apa gegere pasarmu iki iya apa banjur den rayah kewala.</poem> |<poem>Lurah Tandha matur nembah pukulun ingkang dadya wit tetiyang Mangkunagaran leledhang tiyang satunggil abebed sarung Bugis cindhe bang pangingsetipun pendhok mas tatah sawat mas tuwa atunggak semi den larangi dhateng Kabayan Ketandhan.</poem> |<poem>Dhuwung sinendhal tan kena nolih bareng narik keris punika gegere pasar kadi sampun den adhepi pawadeyan pra sami sima beskup wus kakukup isining peken samya</poem>}}<noinclude>{{rh|152}}</noinclude> rzvwjqjb4aht746hxuugnund77t1h3u 78217 77400 2026-05-16T09:10:43Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78217 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42 |<poem>Katur ing Sang Adipatya pan anuju Senen Paing Adipati Danureja Lurah Tandha tur udani yen pasar den rusuhi gegeran kadi pinusus tetamu Surakarta rencange samya ngrayahi pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang.</poem> |<poem>Sami misesa rekasa kang tan aweh den gebugi panggebuge ngarah-arah tan wonten liyane gigir gumujeng Ki Dipati Danureja lon andangu kang dadi kawit apa gegere pasarmu iki iya apa banjur den rayah kewala.</poem> |<poem>Lurah Tandha matur nembah pukulun ingkang dadya wit tetiyang Mangkunagaran leledhang tiyang satunggil abebed sarung Bugis cindhe bang pangingsetipun pendhok mas tatah sawat mas tuwa atunggak semi den larangi dhateng Kabayan Ketandhan.</poem> |<poem>Dhuwung sinendhal tan kena nolih bareng narik keris punika gegere pasar kadi sampun den adhepi pawadeyan pra sami sima beskup wus kakukup isining peken samya</poem>}}<noinclude>{{rh|152}}</noinclude> mw4lnz9dbyx9di91ik35kbxl99m0p0j Kaca:Bratayuda.pdf/46 250 24716 77399 2026-05-15T13:10:35Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77399 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>6. GATOTKACA TEWAS DALAM MENGHADAPI DIPATI KARNA Pagi hari, tanda-tanda perang telah berbunyi. Korawa berbon- dong-bondong, keluar dari kubunya masing-masing bagaikan laut- an yang sedang pasang naik. Sang Prabu Yudistira sudah membawa pasukannya, gelar rmasih seperti semula. Kedua pihak maju bersama, seperti pertemu- an dua samudra. Tak terbilang banyaknya yang saling serbu. Sa- ling kejar, saling desak, saling bunuh, prajurit bergulat sesama prajurit. Suaranya hiruk-pikuk, pasukan saling mendesak. Yang datang semakin banyak. Wrekodara dan Dananjaya mengamuk memporak-porandakan lawan. Melepaskan panah, luncurannya bagaikan hujan meratai bumi. Wrekodara melepaskan Bargawastra, Prabu Yudistira melecut gajahnya, Perang itu berkepanjangan, sampai matahari terbenam masih berlangsung. Seperti angin pu- yuh bertemu menjadi satu. Dalam kehiruk-pikukan perang itu, ada yang berseru-senu, "Aku temanmu!” ada pula yang memberi tahu asabusulnya, "Aku orang Cempala!” ada yang mengaku orang Wirata, orang Dwarawati, yang lain orang Astina atau orang Sa- bang, membantu Astina, serta orang Mandaraka, dan orang sehingga banyak yang menyebut negerinya masing- Kemudian para satria atau para mantri pilihan, para raja ser- ta bupati yang mengendarai kereta atau gajah, datang membawa obor, tersebar Iuas seperti hujan api, menambah suasana kemerah- an di tengah medan perang. Kuda dan gajah saling terjang, dan yang berkereta Kembali ke tempatnya semula. Kedua belah pihak seperti dipilih, lalu kembali ke tempat masing-masing. Perang dimulai lagi, para raja masih utuh, demikian pula se- ‘mua raja undangan. Mereka maju dari tempatnya masing-masing. Menggebu, menyerbu, diikuti sorak-sorai demikian ramai, Wreko- dara menyerbu ke tengah-tengah musuh, hanya memilih para 49<noinclude></noinclude> 04zlmi8gqvllpeaywhkfpap4ai0v2xs 77402 77399 2026-05-15T13:16:19Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77402 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''6. GATOTKACA TEWAS DALAM MENGHADAPI<br>DIPATI KARNA'''}} Pagi hari, tanda-tanda perang telah berbunyi. Korawa berbondong-bondong, keluar dari kubunya masing-masing bagaikan lautan yang sedang pasang naik. Sang Prabu Yudistira sudah membawa pasukannya, gelar rmasih seperti semula. Kedua pihak maju bersama, seperti pertemuan dua samudra. Tak terbilang banyaknya yang saling serbu. Saling kejar, saling desak, saling bunuh, prajurit bergulat sesama prajurit. Suaranya hiruk-pikuk, pasukan saling mendesak. Yang datang semakin banyak. Wrekodara dan Dananjaya mengamuk memporak-porandakan lawan. Melepaskan panah, luncurannya bagaikan hujan meratai bumi. Wrekodara melepaskan Bargawastra, Prabu Yudistira melecut gajahnya, Perang itu berkepanjangan, sampai matahari terbenam masih berlangsung. Seperti angin puyuh bertemu menjadi satu. Dalam kehiruk-pikukan perang itu, ada yang berseru-senu, "Aku temanmu!” ada pula yang memberi tahu asal-usulnya, "Aku orang Cempala!” ada yang mengaku orang Wirata, orang Dwarawati, yang lain orang Astina atau orang Sabang, membantu Astina, serta orang Mandaraka, dan orang sehingga banyak yang menyebut negerinya masing-masing. Kemudian para satria atau para mantri pilihan, para raja serta bupati yang mengendarai kereta atau gajah, datang membawa obor, tersebar luas seperti hujan api, menambah suasana kemerahan di tengah medan perang. Kuda dan gajah saling terjang, dan yang berkereta Kembali ke tempatnya semula. Kedua belah pihak seperti dipilih, lalu kembali ke tempat masing-masing. Perang dimulai lagi, para raja masih utuh, demikian pula semua raja undangan. Mereka maju dari tempatnya masing-masing. Menggebu, menyerbu, diikuti sorak-sorai demikian ramai, Wrekodara menyerbu ke tengah-tengah musuh, hanya memilih para<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude> ofe6az095xmix9uz1pkfg21l6w2wqd2 77502 77402 2026-05-15T15:26:13Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77502 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{C|'''6. GATOTKACA TEWAS DALAM MENGHADAPI<br>DIPATI KARNA'''}} Pagi hari, tanda-tanda perang telah berbunyi. Korawa berbondong-bondong, keluar dari kubunya masing-masing bagaikan lautan yang sedang pasang naik. Sang Prabu Yudistira sudah membawa pasukannya, gelar rmasih seperti semula. Kedua pihak maju bersama, seperti pertemuan dua samudra. Tak terbilang banyaknya yang saling serbu. Saling kejar, saling desak, saling bunuh, prajurit bergulat sesama prajurit. Suaranya hiruk-pikuk, pasukan saling mendesak. Yang datang semakin banyak. Wrekodara dan Dananjaya mengamuk memporak-porandakan lawan. Melepaskan panah, luncurannya bagaikan hujan meratai bumi. Wrekodara melepaskan Bargawastra, Prabu Yudistira melecut gajahnya, Perang itu berkepanjangan, sampai matahari terbenam masih berlangsung. Seperti angin puyuh bertemu menjadi satu. Dalam kehiruk-pikukan perang itu, ada yang berseru-senu, "Aku temanmu!” ada pula yang memberi tahu asal-usulnya, "Aku orang Cempala!” ada yang mengaku orang Wirata, orang Dwarawati, yang lain orang Astina atau orang Sabang, membantu Astina, serta orang Mandaraka, dan orang sehingga banyak yang menyebut negerinya masing-masing. Kemudian para satria atau para mantri pilihan, para raja serta bupati yang mengendarai kereta atau gajah, datang membawa obor, tersebar luas seperti hujan api, menambah suasana kemerahan di tengah medan perang. Kuda dan gajah saling terjang, dan yang berkereta Kembali ke tempatnya semula. Kedua belah pihak seperti dipilih, lalu kembali ke tempat masing-masing. Perang dimulai lagi, para raja masih utuh, demikian pula semua raja undangan. Mereka maju dari tempatnya masing-masing. Menggebu, menyerbu, diikuti sorak-sorai demikian ramai, Wrekodara menyerbu ke tengah-tengah musuh, hanya memilih para<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude> o98jcb3j815j4a7kaoikpto2bjm2br0 Kaca:Bratayuda.pdf/111 250 24717 77401 2026-05-15T13:13:12Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. We- kasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara. Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng. Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk sarata- nipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang ma- jeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening pangamukipun. Anunten adhinip... 77401 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. We- kasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara. Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng. Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk sarata- nipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang ma- jeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening pangamukipun. Anunten adhinipun Sangkuni kekalih majeng, anama Angga- jaksa kalih Sarabasanta, angirid prajurit saleksa, angroyok Raden Wrekodara. Boten kaweden dipun karubut ing perang. Lajeng wi- wit anglepasaken Bargawastra, kathah prajurit ingkang pejah de- ning jemparingipun. Sangsaya riwut pangamukipun Raden Wreko- dara, pundi baris ingkang katerak, tumpes. Anunten Raden Anggajaksa kalih Raden Sarabasanta sami anglepasaken jemparing, angebut Raden Wrekodara. Sareng dipun wales kajemparing, Raden Anggajaksa pejah. Ingkang raka anama Sarabasanta wau apepulih, inggih pejah dipun jemparing dhateng Raden Wrekodara. Sapejahe adhinipun Sangkuni kekalih, Korawa sami alit ma- nahipun. Prabu Suyudana angrerepa, pangandikanipun dhateng adipati Ngawangga, "Adhi para, papagna pangamuke Wrekodara, Dananjaya kang sarta Setyaki." Adipati Ngawangga enggal ngadeg. Aturipun, "Sampun sume- lang ing galih, amesthi ing dinten punika pejahipun Sena akaliyan Dananjaya. Kula ingkang methukaken, mboten mawi kanthi." Sakendelipun Adipati Ngawangga ngandika sagah amejahi Bima kaliyan Parta, lajeng Karpa awicanten, "Heh, Suryaputra, kowe iku yen calathu kaya dudu wong becik, ora patut dirungoka- ke para satriya. Aku arep weruh bae nyatane calathumu iku. Wre- kodara lan Dananjaya ora patut yen kasoran dening wong kang kaya kowe. Yen ana kemreki asesungut, apa dene keyong bisa calathu, iku mbokmanawa kalakon calathumu mau. Dudu satriya yen maloto ora ana sing diisini." 115<noinclude></noinclude> anoc5eye0lcyansk3xrkxs7k7kqc1gf 77403 77401 2026-05-15T13:16:33Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77403 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. Wekasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara. Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng. Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk saratanipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang majeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening pangamukipun. Anunten adhinipun Sangkuni kekalih majeng, anama Anggajaksa kalih Sarabasanta, angirid prajurit saleksa, angroyok Raden Wrekodara. Boten kaweden dipun karubut ing perang. Lajeng wiwit anglepasaken Bargawastra, kathah prajurit ingkang pejah dening jemparingipun. Sangsaya riwut pangamukipun Raden Wrekodara, pundi baris ingkang katerak, tumpes. Anunten Raden Anggajaksa kalih Raden Sarabasanta sami anglepasaken jemparing, angebut Raden Wrekodara. Sareng dipun wales kajemparing, Raden Anggajaksa pejah. Ingkang raka anama Sarabasanta wau apepulih, inggih pejah dipun jemparing dhateng Raden Wrekodara. Sapejahe adhinipun Sangkuni kekalih, Korawa sami alit manahipun. Prabu Suyudana angrerepa, pangandikanipun dhateng adipati Ngawangga, "Adhi para, papagna pangamuke Wrekodara, Dananjaya kang sarta Setyaki." Adipati Ngawangga enggal ngadeg. Aturipun, "Sampun sumelang ing galih, amesthi ing dinten punika pejahipun Sena akaliyan Dananjaya. Kula ingkang methukaken, mboten mawi kanthi." Sakendelipun Adipati Ngawangga ngandika sagah amejahi Bima kaliyan Parta, lajeng Karpa awicanten, "Heh, Suryaputra, kowe iku yen calathu kaya dudu wong becik, ora patut dirungokake para satriya. Aku arep weruh bae nyatane calathumu iku. Wrekodara lan Dananjaya ora patut yen kasoran dening wong kang kaya kowe. Yen ana kemreki asesungut, apa dene keyong bisa calathu, iku mbokmanawa kalakon calathumu mau. Dudu satriya yen maloto ora ana sing diisini."<noinclude>{{rh|||115}}</noinclude> 6wer0osexben1za99s3sc199bhsfgi7 77487 77403 2026-05-15T15:18:44Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77487 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. Wekasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara. Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng. Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk saratanipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang majeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening pangamukipun. Anunten adhinipun Sangkuni kekalih majeng, anama Anggajaksa kalih Sarabasanta, angirid prajurit saleksa, angroyok Raden Wrekodara. Boten kaweden dipun karubut ing perang. Lajeng wiwit anglepasaken Bargawastra, kathah prajurit ingkang pejah dening jemparingipun. Sangsaya riwut pangamukipun Raden Wrekodara, pundi baris ingkang katerak, tumpes. Anunten Raden Anggajaksa kalih Raden Sarabasanta sami anglepasaken jemparing, angebut Raden Wrekodara. Sareng dipun wales kajemparing, Raden Anggajaksa pejah. Ingkang raka anama Sarabasanta wau apepulih, inggih pejah dipun jemparing dhateng Raden Wrekodara. Sapejahe adhinipun Sangkuni kekalih, Korawa sami alit manahipun. Prabu Suyudana angrerepa, pangandikanipun dhateng adipati Ngawangga, "Adhi para, papagna pangamuke Wrekodara, Dananjaya kang sarta Setyaki." Adipati Ngawangga enggal ngadeg. Aturipun, "Sampun sumelang ing galih, amesthi ing dinten punika pejahipun Sena akaliyan Dananjaya. Kula ingkang methukaken, mboten mawi kanthi." Sakendelipun Adipati Ngawangga ngandika sagah amejahi Bima kaliyan Parta, lajeng Karpa awicanten, "Heh, Suryaputra, kowe iku yen calathu kaya dudu wong becik, ora patut dirungokake para satriya. Aku arep weruh bae nyatane calathumu iku. Wrekodara lan Dananjaya ora patut yen kasoran dening wong kang kaya kowe. Yen ana kemreki asesungut, apa dene keyong bisa calathu, iku mbokmanawa kalakon calathumu mau. Dudu satriya yen maloto ora ana sing diisini."<noinclude>{{rh|||115}}</noinclude> 2hropbfybypx4fxql6h8tuw8uh8pdiw Kaca:Bratayuda.pdf/48 250 24718 77404 2026-05-15T13:16:56Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77404 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya. Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wre- kodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya seinakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur. Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta ber- sama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara. Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demiki- an ujamnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Danan- jaya serta Setyaki.” Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan ‘melawannya seorang dir.” Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggup- annya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti Kata-kata orang yang tak ber- budi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin meli- hat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam ber- misai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa pera- saan malu sama sekali.”” Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. la sege- ra mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. la segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!” st<noinclude></noinclude> 01ygzddhd3kkdezsxt4j1gikic4um8h 77406 77404 2026-05-15T13:20:54Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77406 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya. Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur. Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara. Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.” Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.” Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.”” Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude> 04djs6ex5i1m8y9zi2e2tqjalwxosww 77407 77406 2026-05-15T13:22:07Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77407 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya. Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur. Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara. Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.” Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.” Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.” Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude> o5a77orostec7wxpp6ervxdhma58uwz 77501 77407 2026-05-15T15:25:19Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77501 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya. Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur. Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara. Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.” Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.” Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.” Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude> obfu2q8b0ksho8hy1i507hxq3q02fgw 78308 77501 2026-05-16T09:34:22Z Elcamatcha 1466 78308 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|amuk|mengamuk}} dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya. Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur. Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara. Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.” Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.” Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.” Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude> dstax87efg724tgzf5ijgrtlrp9ibjw Kaca:Bratayuda.pdf/112 250 24719 77405 2026-05-15T13:19:42Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77405 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Adipati Ngawangga sanget nepsu, mirengaken wicantenipun Karpa. Enggal nyandhak candrasa, Karpa badhe dipun jemparing. Anunten Aswatama nepsu, ningali pamanipun badhe dipun jemparing, enggal menthang langkap. Wicantenipun, "Heh, Suryaputra, aku tandhingmu." Anunten Prabu Suyudana nyandhak dhateng Aswatama, kang sarta dipun arih-arih. Pangandikanipun, "Aja mangkono sira." Sang Prabu lajeng dhedhawah dhateng Karna majeng ing paprangan. Suryaputra enggal nitih rata, majeng anengah ing paprangan. Anglepasaken jemparing pinten-pinten ingkang medal amradini. Bala Pandhawa bibar, geger kadhawahan jemparing. Kathah ingkang tatu. Prabu Yudhisthira gugup, mboten alon pangandikanipun dhateng Raden Dananjaya, "Kapriye, dene kowe ora mapagake pangamuke Suryaputra? Balamu padha kaplayu, akeh kang kena ing panahe Karna. Para satriya padha wedi, palayune ora nolih-nolih. Mara ta wiwitana, panahen Suryaputra di mati! Apa ta ora pareng lan karsane Kakang Prabu ing Dwarawati?" Raden Dananjaya majeng matur dhumateng Prabu Kresna, "Panembahan, kadospundi ingkang dados karsa-dalem, menggah pangamukipun Suryaputra, sinten ingkang kakarsakna amethukna?" Prabu Kresna alon ngandika, "Durung mangsane yen kowe kang mapagna perange Suryaputra, prayogane si Gathutkaca kang mapagna, bisa perang agal-alus." Enggal Raden Dananjaya animbali Raden Gathutkaca, pangandikanipun, "Kulup, kowe andikakake mapagake perange Suryaputra." Raden Gathutkaca lajeng andherek ingkang Paman, sowan ing ngarsanipun Prabu Kresna. Sasampune nyembah, Gathutkaca matur, "Pukulun ingkang pinundhi ing kathah, kawula punika begja sanget, kakarsakaken anglampahi karsa-dalem." Raden Dananjaya anyambungi alon, "Kawruhana wewekane wong arebut kasekten: sabudine katandhingan mungguhing kadigdayane, amurih ngungkuli kaprawirane, sanajan agal-alus. Gelare Karna, olehe angarah kasekten, mangsa kowe ulapa."<noinclude>{{rh|116}}</noinclude> rt1zstgl037ygthyb9sdqdhfo7pwj22 77486 77405 2026-05-15T15:18:21Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77486 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Adipati Ngawangga sanget nepsu, mirengaken wicantenipun Karpa. Enggal nyandhak candrasa, Karpa badhe dipun jemparing. Anunten Aswatama nepsu, ningali pamanipun badhe dipun jemparing, enggal menthang langkap. Wicantenipun, "Heh, Suryaputra, aku tandhingmu." Anunten Prabu Suyudana nyandhak dhateng Aswatama, kang sarta dipun arih-arih. Pangandikanipun, "Aja mangkono sira." Sang Prabu lajeng dhedhawah dhateng Karna majeng ing paprangan. Suryaputra enggal nitih rata, majeng anengah ing paprangan. Anglepasaken jemparing pinten-pinten ingkang medal amradini. Bala Pandhawa bibar, geger kadhawahan jemparing. Kathah ingkang tatu. Prabu Yudhisthira gugup, mboten alon pangandikanipun dhateng Raden Dananjaya, "Kapriye, dene kowe ora mapagake pangamuke Suryaputra? Balamu padha kaplayu, akeh kang kena ing panahe Karna. Para satriya padha wedi, palayune ora nolih-nolih. Mara ta wiwitana, panahen Suryaputra di mati! Apa ta ora pareng lan karsane Kakang Prabu ing Dwarawati?" Raden Dananjaya majeng matur dhumateng Prabu Kresna, "Panembahan, kadospundi ingkang dados karsa-dalem, menggah pangamukipun Suryaputra, sinten ingkang kakarsakna amethukna?" Prabu Kresna alon ngandika, "Durung mangsane yen kowe kang mapagna perange Suryaputra, prayogane si Gathutkaca kang mapagna, bisa perang agal-alus." Enggal Raden Dananjaya animbali Raden Gathutkaca, pangandikanipun, "Kulup, kowe andikakake mapagake perange Suryaputra." Raden Gathutkaca lajeng andherek ingkang Paman, sowan ing ngarsanipun Prabu Kresna. Sasampune nyembah, Gathutkaca matur, "Pukulun ingkang pinundhi ing kathah, kawula punika begja sanget, kakarsakaken anglampahi karsa-dalem." Raden Dananjaya anyambungi alon, "Kawruhana wewekane wong arebut kasekten: sabudine katandhingan mungguhing kadigdayane, amurih ngungkuli kaprawirane, sanajan agal-alus. Gelare Karna, olehe angarah kasekten, mangsa kowe ulapa."<noinclude>{{rh|116}}</noinclude> evy0j0po24wh0obhjakurd7d4giit0v Kaca:Bratayuda.pdf/50 250 24720 77408 2026-05-15T13:22:43Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77408 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Gatotkaca menyembah, "Sinuhun, saya bersedia. Jika perintah itu datang dari Paduka, sampai mati pun tidak takut. Jangankan perintah itu, lebih sakti dari Adipati Kama pun, saya tidak takut. Sembah saya yang tulus, saya haturkan kepada Paduka, menjadi azimat atas perkenan Paduka dalam mencari kematian, dan sekaligus menjadi azimat untuk mencelakakan musuh. Jika saya tewas di medan perang, mudah-mudahan Paduka berkenan menempatkan diri saya di kemuliaan sorga. Saya tidak membayangkan hidup lagi, karena Ua Awangga luar biasa saktinya." Perasaan Sri Kresna berdesir, dan merasa sangat menyesal karena telah salah perintah. Kasihan, dan sangat menyesal. Raden Dananjaya sekilas melihat Sri Kresna, yang tampak sangat menyesal, bingung, sehingga ia sangat kasihan melihat Raden Gatotkaca, yang masih sangat muda itu. Semua merasa perihatin. Raden Gatotkaca lalu keluar, melesat ke angkasa, menandingi amukan Adipati Awangga. Kedua lalu berperang ramai di rna, lam hari. Di tengah-tengah peperangan itu, ada empat orang t;aksasa datang, menyertai peperangan itu. Mereka ialah, Lembusana, Salembana, Kalasrenggi, dan Kalagasura, yang semuanya membawa banyak pasukan, lalu turut menyongsong serbuan Raden Gatotkaca. Keempat raksasa itu sesungguhnya telah mati karena dipelintir lehernya oleh Raden Gatotkaca. Semakin hebat amukan Raden Gatotkaca beserta pasukannya. Pasukan Adipati Awangga ketakutan. Mereka dihujani anak panah oleh Raden Gatotkaca dari angkasa. Anak panah Raden Gatotkaca keluar dari mulut, dari tangan, dan dari telapak kakinya. Adipati Awangga cemas juga melihat pasukannya banyak yang mati, lalu membalas melepaskan anak panahnya ke angkasa, akan tetapi tidak ada yang sampai, dan hal itu semakin membuatnya takut serta ngeri. Raden Gatotkaca selalu menantangnya dari antariksa. Adipati Awangga semakin gugup mendengar suara Gatotkaca, yang menderu bagaikan guntur. Ia segera mengambil anak 53<noinclude></noinclude> hwwi46omkrzyqtrlzj0kufmt8hvdldp 77410 77408 2026-05-15T13:27:12Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77410 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Gatotkaca menyembah, ”Sinuhun, saya bersedia. Jika perintah itu datang dari Paduka, sampai mati pun tidak takut. Jangankan perintah itu, lebih sakti dari Adipati Karna pun, saya tidak takut. Sembah saya yang tulus, saya haturkan kepada Paduka, menjadi azimat atas perkenan Paduka dalam mencari kematian, dan sekaligus menjadi azimat untuk mencelakakan musuh Jika saya tewas di medan perang, mudah-mudahan Paduka berkenan menempatkan diri saya di kemuliaan sorga. Saya tidak membayangkan hidup lagi, karena Ua Awangga luar biasa saktinya.” Perasaan Sri Kresna berdesir, dan merasa sangat menyesal karena telah salah perintah, Kasihan, dan sangat menyesal. Radenn Dananjaya sekilas melihat Sri Kresna, yang tampak sangat menyesal, bingung, sehingga ia sangat kasihan melihat Raden Gatotkaca, yang masih sangat muda itu. Semua merasa perihatin. Raden Gatotkaca lalu keluar, melesat ke angkasa, menandingi amukan Adipati Awangga. Kedua lalu berperang ramai di malam hari. Di tengah-tengah peperangan itu, ada empat orang raksasa datang, menyertai peperangan itu, Mereka ialah, Lembusana, Salembana, Kalasrenggi, dan Kalagasura, yang semuanya membawa banyak pasukan, lalu turut menyongsong serbuan Raden Gatotkaca. Keempat raksasa itu sesungguhnya telah mati karena dipelintir lehernya oleh Raden Gatotkaca. Semakin hebat amukan Raden Gatotkaca beserta pasukannya. Pasukan Adipati Awangga ketakutan. Mereka dihujani anak panah oleh Raden Gatotkaca dari angkasa. Anak panah Raden Gatotkaca keluar dari mulut, dari tangan, dan dari telapak kakinya. Adipati Awangga cemas juga melihat pasukannya banyak yang mati, lalu membalas melepaskan anak panahnya ke angkasa, akan tetapi tidak ada yang sampai, dan hal itu semakin membuatnya takut serta ngeri, Raden Gatotkaca selalu menantangnya dari antariksa, Adipati Awangga semakin gugup mendengar suara Gatotkaca, yang menderu bagaikan guntur. Ia segera mengambil anak<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude> ntwdzz4imolodku1azs3nza8lkmsrut 77500 77410 2026-05-15T15:24:55Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77500 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Gatotkaca menyembah, ”Sinuhun, saya bersedia. Jika perintah itu datang dari Paduka, sampai mati pun tidak takut. Jangankan perintah itu, lebih sakti dari Adipati Karna pun, saya tidak takut. Sembah saya yang tulus, saya haturkan kepada Paduka, menjadi azimat atas perkenan Paduka dalam mencari kematian, dan sekaligus menjadi azimat untuk mencelakakan musuh Jika saya tewas di medan perang, mudah-mudahan Paduka berkenan menempatkan diri saya di kemuliaan sorga. Saya tidak membayangkan hidup lagi, karena Ua Awangga luar biasa saktinya.” Perasaan Sri Kresna berdesir, dan merasa sangat menyesal karena telah salah perintah, Kasihan, dan sangat menyesal. Radenn Dananjaya sekilas melihat Sri Kresna, yang tampak sangat menyesal, bingung, sehingga ia sangat kasihan melihat Raden Gatotkaca, yang masih sangat muda itu. Semua merasa perihatin. Raden Gatotkaca lalu keluar, melesat ke angkasa, menandingi amukan Adipati Awangga. Kedua lalu berperang ramai di malam hari. Di tengah-tengah peperangan itu, ada empat orang raksasa datang, menyertai peperangan itu, Mereka ialah, Lembusana, Salembana, Kalasrenggi, dan Kalagasura, yang semuanya membawa banyak pasukan, lalu turut menyongsong serbuan Raden Gatotkaca. Keempat raksasa itu sesungguhnya telah mati karena dipelintir lehernya oleh Raden Gatotkaca. Semakin hebat amukan Raden Gatotkaca beserta pasukannya. Pasukan Adipati Awangga ketakutan. Mereka dihujani anak panah oleh Raden Gatotkaca dari angkasa. Anak panah Raden Gatotkaca keluar dari mulut, dari tangan, dan dari telapak kakinya. Adipati Awangga cemas juga melihat pasukannya banyak yang mati, lalu membalas melepaskan anak panahnya ke angkasa, akan tetapi tidak ada yang sampai, dan hal itu semakin membuatnya takut serta ngeri, Raden Gatotkaca selalu menantangnya dari antariksa, Adipati Awangga semakin gugup mendengar suara Gatotkaca, yang menderu bagaikan guntur. Ia segera mengambil anak<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude> ebeb6hwf3au2czg6xb54irz5puujwtr Kaca:Bratayuda.pdf/113 250 24721 77409 2026-05-15T13:26:06Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77409 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Prabu Kresna angandika alon, "Iya, Kulup, tadhahana uwakmu, awit saka ing parentahku!" Raden Gathutkaca nyembah, "Sinuhun, inggih sandika. Yen saking timbalan-dalem sanajan dumugia ing pejah mboten mawi kumedhep. Sampun ingkang ndikakaken punika, sanajan langkunga saking sekti Adipati Karna, amesthi kawula mboten wigih. Sembah kawula ingkang sayekti katura ing panjenengan-dalem, dados jimat kaiden dhumateng ing pejah, kang sarta dadosa jimat ambilaeni mengsah. Yen kawula pejah ing perang, ingkang mugi panjenengan-dalem prenahena kamulyaning swargan. Kawula mboten gadhah cipta gesang, amargi pun uwa ing Ngawangga anglangkungi sekti. Sang Prabu Kresna kumepyur salebeting galih, ing batos langkung kaduwung, lepating ing pangatag. Awelas, sanget getuning galih. Raden Dananjaya aningali dhateng Sang Prabu Kresna, tingale sanget kaduwung, kuwur, sanget welas ningali ingkang putra Raden Gathutkaca, dene taksih sanget lare. Sadaya sami angredatos. Raden Gathutkaca lajeng medal, muluk ing ngawang-awang, mapagaken pangamukipun adipati ing Ngawangga. Lajeng perang rame ing wanci dalu. Satengahing perang, wonten danawa dhateng anarombol ing perang. Kathahipun sakawan, anama Lembusana, kalih Salembana, tiga Kalasrenggi, sakawan Kalagasura. Sami ambekta bala kathah, amethukaken perangipun Raden Gathutkaca. Danawa sakawan wau sami pejah, dipun untir gulunipun dhateng Raden Gathutkaca. Raden Gathutkaca sabalanipun sangsaya wuru pangamukipun. Balanipun dipati ing Ngawangga sami giris. Dipun jawahi ing jemparing dhateng Raden Gathutkaca saking ing ngawang-awang. Jemparingipun Raden Gathutkaca wau medal saking tutuk, sarta saking asta tuwin saking delamakan. Adipati ing Ngawangga giris aningali balanipun kathah ingkang pejah, males anglepasaken jemparing dhateng ing {{hws|ngawang-|ngawang-awang}}<noinclude>{{rh|||117}}</noinclude> a88t6yww7nh4nnwihl1t62wmm3advmq 77485 77409 2026-05-15T15:17:50Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77485 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Prabu Kresna angandika alon, "Iya, Kulup, tadhahana uwakmu, awit saka ing parentahku!" Raden Gathutkaca nyembah, "Sinuhun, inggih sandika. Yen saking timbalan-dalem sanajan dumugia ing pejah mboten mawi kumedhep. Sampun ingkang ndikakaken punika, sanajan langkunga saking sekti Adipati Karna, amesthi kawula mboten wigih. Sembah kawula ingkang sayekti katura ing panjenengan-dalem, dados jimat kaiden dhumateng ing pejah, kang sarta dadosa jimat ambilaeni mengsah. Yen kawula pejah ing perang, ingkang mugi panjenengan-dalem prenahena kamulyaning swargan. Kawula mboten gadhah cipta gesang, amargi pun uwa ing Ngawangga anglangkungi sekti. Sang Prabu Kresna kumepyur salebeting galih, ing batos langkung kaduwung, lepating ing pangatag. Awelas, sanget getuning galih. Raden Dananjaya aningali dhateng Sang Prabu Kresna, tingale sanget kaduwung, kuwur, sanget welas ningali ingkang putra Raden Gathutkaca, dene taksih sanget lare. Sadaya sami angredatos. Raden Gathutkaca lajeng medal, muluk ing ngawang-awang, mapagaken pangamukipun adipati ing Ngawangga. Lajeng perang rame ing wanci dalu. Satengahing perang, wonten danawa dhateng anarombol ing perang. Kathahipun sakawan, anama Lembusana, kalih Salembana, tiga Kalasrenggi, sakawan Kalagasura. Sami ambekta bala kathah, amethukaken perangipun Raden Gathutkaca. Danawa sakawan wau sami pejah, dipun untir gulunipun dhateng Raden Gathutkaca. Raden Gathutkaca sabalanipun sangsaya wuru pangamukipun. Balanipun dipati ing Ngawangga sami giris. Dipun jawahi ing jemparing dhateng Raden Gathutkaca saking ing ngawang-awang. Jemparingipun Raden Gathutkaca wau medal saking tutuk, sarta saking asta tuwin saking delamakan. Adipati ing Ngawangga giris aningali balanipun kathah ingkang pejah, males anglepasaken jemparing dhateng ing {{hws|ngawang-|ngawang-awang}}<noinclude>{{rh|||117}}</noinclude> 3soiz68bf5kigx9usi907wwouabum8o Kaca:Bratayuda.pdf/114 250 24722 77411 2026-05-15T13:29:49Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil. Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca... 77411 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil. Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca ketaton, sami alok Gathutkaca ketaton, katawis saking deresing rah. Kalanipun Raden Gathutkaca ketaton, anggadhahi cipta yen badhe pejah, lajeng anjog sumedya pejah sampyuh kaliyan ingkang Uwa. Adipati ing Ngawangga trangginas lumumpat saking rata, Raden Gathutkaca lajeng angebruki rata. Rata remuk sakusir kapalipun. Sareng Korawa aningali yen Raden Gathutkaca pejah, sami surak gumerah. Pandhawa sami dhedhep sarta anangis. mBoten dangu lajeng sami ambyuk mangsah ing perang. Prabu Yudhisthira sarta Raden Dananjaya angamuk ambudi pejah. Raden Wrekodara sareng mireng yen ingkang putra pejah, lajeng ngamuk liwung sarwi angusapi eluh. Gadanipun mobat-mabit, kathah para dipati tuwin satriya Korawa ingkang pejah. Druna angabani Korawa makantukaken gelar. Arame perangipun ing sadalu, wusana kasapih saking sami aripipun. Kacariyos ibunipun Raden Gathutkaca, anama Dewi Arimbi, sumedya obong ambelani ingkang putra. Lajeng pamit dhateng ingkang raka sarta para sadherekipun sadaya. Sareng sampun kalilan, lajeng amurugi layonipun ingkang putra wonten ing paprangan. Sadhatengipun ing ngriku, lajeng dipun obong sareng kaliyan layonipun ingkang putra. {{C|'''7. DURNA KENGING APUS. DURSASANA PEJAH KAODHET-ODHET DENING WREKODARA}}''' Enjingipun lajeng sami nabuh tengaraning perang, sami ana-<noinclude>{{rh|118}}</noinclude> opocrgg4fiqk6dzqon7noyrpow8mpe3 77412 77411 2026-05-15T13:30:40Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77412 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil. Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca ketaton, sami alok Gathutkaca ketaton, katawis saking deresing rah. Kalanipun Raden Gathutkaca ketaton, anggadhahi cipta yen badhe pejah, lajeng anjog sumedya pejah sampyuh kaliyan ingkang Uwa. Adipati ing Ngawangga trangginas lumumpat saking rata, Raden Gathutkaca lajeng angebruki rata. Rata remuk sakusir kapalipun. Sareng Korawa aningali yen Raden Gathutkaca pejah, sami surak gumerah. Pandhawa sami dhedhep sarta anangis. mBoten dangu lajeng sami ambyuk mangsah ing perang. Prabu Yudhisthira sarta Raden Dananjaya angamuk ambudi pejah. Raden Wrekodara sareng mireng yen ingkang putra pejah, lajeng ngamuk liwung sarwi angusapi eluh. Gadanipun mobat-mabit, kathah para dipati tuwin satriya Korawa ingkang pejah. Druna angabani Korawa makantukaken gelar. Arame perangipun ing sadalu, wusana kasapih saking sami aripipun. Kacariyos ibunipun Raden Gathutkaca, anama Dewi Arimbi, sumedya obong ambelani ingkang putra. Lajeng pamit dhateng ingkang raka sarta para sadherekipun sadaya. Sareng sampun kalilan, lajeng amurugi layonipun ingkang putra wonten ing paprangan. Sadhatengipun ing ngriku, lajeng dipun obong sareng kaliyan layonipun ingkang putra. {{C|'''7. DURNA KENGING APUS. DURSASANA PEJAH KAODHET-ODHET DENING WREKODARA}}''' Enjingipun lajeng sami nabuh tengaraning perang, sami {{hws|ana|anata}}<noinclude>{{rh|118}}</noinclude> nuyj9tkposfgra8mnpet16k7et2wycp 77484 77412 2026-05-15T15:17:19Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77484 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil. Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca ketaton, sami alok Gathutkaca ketaton, katawis saking deresing rah. Kalanipun Raden Gathutkaca ketaton, anggadhahi cipta yen badhe pejah, lajeng anjog sumedya pejah sampyuh kaliyan ingkang Uwa. Adipati ing Ngawangga trangginas lumumpat saking rata, Raden Gathutkaca lajeng angebruki rata. Rata remuk sakusir kapalipun. Sareng Korawa aningali yen Raden Gathutkaca pejah, sami surak gumerah. Pandhawa sami dhedhep sarta anangis. mBoten dangu lajeng sami ambyuk mangsah ing perang. Prabu Yudhisthira sarta Raden Dananjaya angamuk ambudi pejah. Raden Wrekodara sareng mireng yen ingkang putra pejah, lajeng ngamuk liwung sarwi angusapi eluh. Gadanipun mobat-mabit, kathah para dipati tuwin satriya Korawa ingkang pejah. Druna angabani Korawa makantukaken gelar. Arame perangipun ing sadalu, wusana kasapih saking sami aripipun. Kacariyos ibunipun Raden Gathutkaca, anama Dewi Arimbi, sumedya obong ambelani ingkang putra. Lajeng pamit dhateng ingkang raka sarta para sadherekipun sadaya. Sareng sampun kalilan, lajeng amurugi layonipun ingkang putra wonten ing paprangan. Sadhatengipun ing ngriku, lajeng dipun obong sareng kaliyan layonipun ingkang putra. {{C|'''7. DURNA KENGING APUS. DURSASANA PEJAH KAODHET-ODHET DENING WREKODARA}}''' Enjingipun lajeng sami nabuh tengaraning perang, sami {{hws|ana|anata}}<noinclude>{{rh|118}}</noinclude> h37ug3qgqdm5wb9p56lhf8v0wm46pjf Kaca:Bratayuda.pdf/115 250 24723 77413 2026-05-15T13:34:12Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77413 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hws|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang. Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada. Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten. Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa." Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah." Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah." Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya. Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude> owj89s4jct3p99318588tuzok4tnyw8 77414 77413 2026-05-15T13:34:40Z Khusna Safira 1759 77414 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang. Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada. Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten. Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa." Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah." Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah." Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya. Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude> i34nie1idniqyq5yi10ljmlochjybfj 77415 77414 2026-05-15T13:35:11Z Khusna Safira 1759 77415 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang. Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada. Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten. Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa." Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah." Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah." Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya. Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude> mfl7qudknt1q0ukwen7cbf493hn3c35 77482 77415 2026-05-15T15:16:11Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77482 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang. Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada. Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten. Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa." Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah." Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah." Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya. Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude> j9w3j7za6kj2jnbsjkmeg8si78jutv4 77483 77482 2026-05-15T15:16:39Z Ars-arsa 1809 77483 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang. Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahipun kadhawahan gada. Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten. Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa." Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah." Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah." Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya. Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude> kxlaneg9w9oljquibsib0b5wxepmzfu Kaca:Bratayuda.pdf/54 250 24724 77416 2026-05-15T13:37:17Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "tina. Prabu Kama pun sudah menyanggupinya untuk menumpas Pandawa sehari besok. Diceritakan, Prabu Kama itu sangat pemberani dan sakti, serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bemama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu memenuhinya. Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan Prabu Kama. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada Prabu Kama beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan Awangga semua berse... 77416 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>tina. Prabu Kama pun sudah menyanggupinya untuk menumpas Pandawa sehari besok. Diceritakan, Prabu Kama itu sangat pemberani dan sakti, serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bemama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu memenuhinya. Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan Prabu Kama. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada Prabu Kama beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan Awangga semua bersedih. Istrinya juga teramat pilu, karena sudah banyak tanda-tandanya bahwa Prabu Kama akan kalah dalam peperangan. *** Tersebutlah di pihak Pandawa , Sri Kresna, Yudistira, dan Janaka, malam itu mereka pergi ke medan perang mencari jenazah Druna dan Bisma. Setelah ditemukan, lalu dibakar. Setelah api pembakaran padam, terdengarlah suara, yang mengatakan bahwa Pandawa akan unggul dalam peperangan. Sri Kresna, Yudistrra dan A:Ijuna lalu kembali ke pesanggrahan. Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda perang. Setelah barisan diatur dengan rapi, lalu berangkat ke medan laga. Sehari itu di pihak Pandawa maupun Korawa banyak yang tewas. Peperangan berhenti karena hari telah malam. Malam harinya Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Yang ada an tara lain Salya dan Kama. Prabu Kama minta seorang sais kepada Prabu Suyudana. Adapun yang diminta ialah Prabu Salya dari Mandaraka, alasannya agar seimbang dengan sais Raden Janaka. Menurut Prabu Kama, jika Prabu Salya yang menjadi saisnya, diperkirakan Pandawa akan habis tumpas dalam sehari besok oleh panahnya yang bemama Wijayadanu . Mendengar kata-kata Prabu Kama demikian itu, Prabu Salya meledak amarahnya. Prabu Suyudana segera menghiba-hiba, me57<noinclude></noinclude> e85t8dndwl8750qpangckef09b7krpp 77620 77416 2026-05-15T18:19:53Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77620 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>tina. Prabu Karna pun sudah menyanggupinya untuk menumpas Pandawa sehari besok. Diceritakan, Prabu Karna itu sangat pemberani dan sakti, serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bernama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu memenuhinya. Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan Prabu Karna. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada Prabu Karna beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan Awangga semua bersedih. Istrinya juga teramat pilu, karena sudah banyak tanda-tandanya bahwa Prabu Kama akan kalah dalam peperangan. {{C|* * *}} Tersebutlah di pihak Pandawa, Sri Kresna, Yudistira, dan Janaka, malam itu mereka pergi ke medan perang mencari jenazah Druna dan Bisma. Setelah ditemukan, lalu dibakar. Setelah api pembakaran padam, terdengarlah suara, yang mengatakan bahwa Pandawa akan unggul dalam peperangan. Sri Kresna, Yudistira dan Arjuna lalu kembali ke pesanggrahan. Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda perang. Setelah barisan diatur dengan rapi, lalu berangkat ke medan laga. Sehari itu di pihak Pandawa maupun Korawa banyak yang tewas. Peperangan berhenti karena hari telah malam. Malam harinya Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Yang ada antara lain Salya dan Karna. Prabu Karna minta seorang sais kepada Prabu Suyudana. Adapun yang diminta ialah Prabu Salya dari Mandaraka, alasannya agar seimbang dengan sais Raden Janaka. Menurut Prabu Karna, jika Prabu Salya yang menjadi saisnya, diperkirakan Pandawa akan habis tumpas dalam sehari besok oleh panahnya yang bernama Wijayadanu. Mendengar kata-kata Prabu Karna demikian itu, Prabu Salya meledak amarahnya. Prabu Suyudana segera menghiba-hiba, {{hws|me|menyembah}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude> 0hnc5fwd6u27kxr9ydssudee9l6f6tg 78313 77620 2026-05-16T09:35:51Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78313 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|tina|Astina}}. Prabu Karna pun sudah menyanggupinya untuk menumpas Pandawa sehari besok. Diceritakan, Prabu Karna itu sangat pemberani dan sakti, serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bernama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu memenuhinya. Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan Prabu Karna. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada Prabu Karna beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan Awangga semua bersedih. Istrinya juga teramat pilu, karena sudah banyak tanda-tandanya bahwa Prabu Kama akan kalah dalam peperangan. {{C|* * *}} Tersebutlah di pihak Pandawa, Sri Kresna, Yudistira, dan Janaka, malam itu mereka pergi ke medan perang mencari jenazah Druna dan Bisma. Setelah ditemukan, lalu dibakar. Setelah api pembakaran padam, terdengarlah suara, yang mengatakan bahwa Pandawa akan unggul dalam peperangan. Sri Kresna, Yudistira dan Arjuna lalu kembali ke pesanggrahan. Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda perang. Setelah barisan diatur dengan rapi, lalu berangkat ke medan laga. Sehari itu di pihak Pandawa maupun Korawa banyak yang tewas. Peperangan berhenti karena hari telah malam. Malam harinya Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Yang ada antara lain Salya dan Karna. Prabu Karna minta seorang sais kepada Prabu Suyudana. Adapun yang diminta ialah Prabu Salya dari Mandaraka, alasannya agar seimbang dengan sais Raden Janaka. Menurut Prabu Karna, jika Prabu Salya yang menjadi saisnya, diperkirakan Pandawa akan habis tumpas dalam sehari besok oleh panahnya yang bernama Wijayadanu. Mendengar kata-kata Prabu Karna demikian itu, Prabu Salya meledak amarahnya. Prabu Suyudana segera menghiba-hiba, {{hws|me|menyembah}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude> cj9btv07p51q5jjcmduujjkikcincfn Kaca:Bratayuda.pdf/52 250 24725 77417 2026-05-15T13:45:35Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77417 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>7. DRUNA TERTIPU. DURSASANA MATI DIROBEKROBEK OLEH WREKODARA Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda pening, dan masing-masing mengatur barisannya. Di pihak Korawa masih tetap Pendeta Druna yang menjadi senapati. Sedangkan di pihak Pandawa, Raden Drustajumena, lalu kedua belah pihak memberi aba-aba kepada pasukannya untuk mulai menyerang. Druna dikeroyok oleh prajurit Pandawa dengan panah, akan tetapi tidak mempan. Sri Kresna lalu memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, supaya membunuh Raja Malawapati beserta gajahnya yang bernama Aswatama. Wrekodara segera melompat, menyerang dengan gadanya, dan Raja Malawapati hancur beserta gajahnya kena gada. Wrekodara lalu berteriak, "Aswatama mati," dan para Pandawa yang lain pun berseru-seru demikian pula. Mendengar teriakan itu, Druna sangat terkejut, dan serta merta menangis. Ia mengira, putranya tewas, karena putranya kebetulan bernama Aswatama. Lalu mendekat, hendak bertanya kepada Wrekodara serta J anaka, akan tetapi semua telah dipesan oleh Sri Kresna supaya berbohong. Tinggal Prabu Yudistira yang belum bersedia berbohong. Jawabnya terhadap pesan atau anjuran Sri Kresna demikian, "Kakanda Prabu, saya tidak mau berkata behong, karena selama hidup saya belum pernah berbohong. Yang kedua, Pendeta Druna itu guru saya, seliingga semakin takut, jika saya harus berbohong." Sri Kresna berkata lagi, "Adinda Prabu dapat berkata demikian, gajah Aswatama mati." Kemudian dengan berkereta Druna tiba di hadapan Prabu Yudistira, lalu bertanya. Prabu Yudistira menjawab, "Esti Aswatama mati." Yang terdengar oleh Druna ialah, "Pasti Aswatama mati!" 55<noinclude></noinclude> dc3o8eyya5ueuci0jz9xo3xu4laq1cl 77418 77417 2026-05-15T13:50:37Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77418 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''7. DRUNA TERTIPU. DURSASANA MATI DIROBEK-<br>ROBEK OLEH WREKODARA'''}} Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda perang, dan masing-masing mengatur barisannya. Di pihak Korawa masih tetap Pendeta Druna yang menjadi senapati. Sedangkan di pihak Pandawa, Raden Drustajumena, lalu kedua belah pihak memberi aba-aba kepada pasukannya untuk mulai menyerang. Druna dikeroyok oleh prajurit Pandawa dengan panah, akan tetapi tidak mempan. Sri Kresna lalu memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, supaya membunuh Raja Malawapati beserta gajahnya yang bernama Aswatama, Wrekodara segera melompat, menyerang dengan gadanya, dan Raja Malawapati hancur beserta gajahnya kena gada. Wrekodara lalu berteriak, "Aswatama mati,” dan para Panda-wa yang lain pun berseru-seru demikian pula. Mendengar teriakan itu, Druna sangat terkejut, dan serta merta menangis. Ia mengira, putranya tewas, karena putranya kebetulan bemnama Aswatama. Lalu mendekat, hendak bertanya kepada Wrekodara serta Janaka, akan tetapi semua telah dipesan oleh Sri Kresna supaya berbohong. Tinggal Prabu Yudistira yang belum bersedia berbohong. Jawabnya terhadap pesan atau anjuran Sri Kresna demikian, "Kakanda Prabu, saya tidak mau berkata bohong, karena selama hidup saya belum pernah berbohong. Yang kedua, Pendeta Druna itu guru saya, sehingga semakin takut, jika saya harus berbohong.” Sri Kresna berkata lagi, "Adinda Prabu dapat berkata demikian, gajah Aswatama mati.” Kemudian dengan berkereta Druna tiba di hadapan Prabu Yudistira, lalu bertanya, Prabu Yudistira menjawab, "Esti Aswatama mati.” Yang terdengar oleh Druna ialah, ”Pasti Aswatama mati!”<noinclude>{{rh|||55}}</noinclude> 6agxoneyo4zgzn83fj01nj2af3yth99 77499 77418 2026-05-15T15:24:36Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77499 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{C|'''7. DRUNA TERTIPU. DURSASANA MATI DIROBEK-<br>ROBEK OLEH WREKODARA'''}} Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda perang, dan masing-masing mengatur barisannya. Di pihak Korawa masih tetap Pendeta Druna yang menjadi senapati. Sedangkan di pihak Pandawa, Raden Drustajumena, lalu kedua belah pihak memberi aba-aba kepada pasukannya untuk mulai menyerang. Druna dikeroyok oleh prajurit Pandawa dengan panah, akan tetapi tidak mempan. Sri Kresna lalu memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, supaya membunuh Raja Malawapati beserta gajahnya yang bernama Aswatama, Wrekodara segera melompat, menyerang dengan gadanya, dan Raja Malawapati hancur beserta gajahnya kena gada. Wrekodara lalu berteriak, "Aswatama mati,” dan para Panda-wa yang lain pun berseru-seru demikian pula. Mendengar teriakan itu, Druna sangat terkejut, dan serta merta menangis. Ia mengira, putranya tewas, karena putranya kebetulan bemnama Aswatama. Lalu mendekat, hendak bertanya kepada Wrekodara serta Janaka, akan tetapi semua telah dipesan oleh Sri Kresna supaya berbohong. Tinggal Prabu Yudistira yang belum bersedia berbohong. Jawabnya terhadap pesan atau anjuran Sri Kresna demikian, "Kakanda Prabu, saya tidak mau berkata bohong, karena selama hidup saya belum pernah berbohong. Yang kedua, Pendeta Druna itu guru saya, sehingga semakin takut, jika saya harus berbohong.” Sri Kresna berkata lagi, "Adinda Prabu dapat berkata demikian, gajah Aswatama mati.” Kemudian dengan berkereta Druna tiba di hadapan Prabu Yudistira, lalu bertanya, Prabu Yudistira menjawab, "Esti Aswatama mati.” Yang terdengar oleh Druna ialah, ”Pasti Aswatama mati!”<noinclude>{{rh|||55}}</noinclude> 726paw1u0wmccwap6k7zg505kx9cko5 Kaca:Bratayuda.pdf/53 250 24726 77419 2026-05-15T13:50:57Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77419 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna mati. Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas, lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya bubar. Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa kalian semua lari?" Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin erigkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehemya dipenggal oleh Raden Drustajumena." Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali. Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut. Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama. Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu. Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa, supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau membakar orang yang berjalan di atas tanah. Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Wrekodara dengan mengendarai kereta. Wrekodara segera maju berkereta. Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar, ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika. Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi. Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur. Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Kesepakatan mereka, Prabu Kama dari Awangga diangkat menjadi senapati. Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri As56<noinclude></noinclude> 52xnvkivmq4xhxre4f088uqhv5dlvby 77420 77419 2026-05-15T13:57:39Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77420 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna mati, Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas, lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya bubar. Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa kalian semua lari?” Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin engkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehernya dipenggal oleh Raden Drustajumena.” Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali. Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut, Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama, Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu. Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa, supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau membakar orang yang berjalan di atas tanah. Sri Kresna lali memberi perintah kepada Raden Wrekodara dengan mengendarai Kereta. Wrekodara segera maju berkereta. Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar, ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika. Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi. Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur. Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Kesepakatan mereka, Prabu Karna dari Awangga diangkat menjadi senapati, Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri As-<noinclude>{{rh|56}}</noinclude> ln1o817csosydn4cews5nud9nrh6b0t 77498 77420 2026-05-15T15:24:06Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77498 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna mati, Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas, lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya bubar. Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa kalian semua lari?” Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin engkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehernya dipenggal oleh Raden Drustajumena.” Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali. Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut, Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama, Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu. Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa, supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau membakar orang yang berjalan di atas tanah. Sri Kresna lali memberi perintah kepada Raden Wrekodara dengan mengendarai Kereta. Wrekodara segera maju berkereta. Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar, ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika. Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi. Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur. Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Kesepakatan mereka, Prabu Karna dari Awangga diangkat menjadi senapati, Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri As-<noinclude>{{rh|56}}</noinclude> be4gs3zeequip1w1tli0f7uxvyc9e59 78314 77498 2026-05-16T09:36:06Z Elcamatcha 1466 78314 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna mati, Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas, lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya bubar. Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa kalian semua lari?” Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin engkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehernya dipenggal oleh Raden Drustajumena.” Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali. Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut, Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama, Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu. Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa, supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau membakar orang yang berjalan di atas tanah. Sri Kresna lali memberi perintah kepada Raden Wrekodara dengan mengendarai Kereta. Wrekodara segera maju berkereta. Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar, ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika. Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi. Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur. Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Kesepakatan mereka, Prabu Karna dari Awangga diangkat menjadi senapati, Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri {{hws|As|Astina}}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude> 7ifgsuleo3vpmi317pvb0rc7sv00lio Kaca:Bratayuda.pdf/55 250 24727 77421 2026-05-15T13:59:34Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77421 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>nyembah serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Kama. Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhimya sanggup menjadi sais. *** Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi, engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti." Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna. Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan. Para raja dan para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta, dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap. Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan ,lautan. Kama merasa sangat gembira, lalu bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu , pasukan Pandawa bukan main banyaknya. Yang berada di pinggir Cdak kelihatan. Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu." Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Kama! Menurut dugaanku, engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana." Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busumya. Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan. Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Kama tak berkeputusan keluar dari busumya, 58<noinclude></noinclude> snuzyxw2xpu2t6djcacldput9iueeh7 77422 77421 2026-05-15T14:07:23Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77422 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>nyembah serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Karna. Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhirnya sanggup menjadi sais. {{C| * * *}} Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti." Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna. Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan, Para raja dan para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta, dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap. Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan lautan. Karna merasa sangat gembira, Lalu bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu, pasukan Pandawa bukan main banyaknya. Yang berada di pinggit tidak kelihatan. Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu." Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Karna! Menurut dugaanku, engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana." Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busurnya. Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan, Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Karna tak berkeputusan keluar dari busurnya,<noinclude>{{rh|58}}</noinclude> sgz12vlmkf5y01rdu2tmwy2ovn9wlz7 77496 77422 2026-05-15T15:23:38Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77496 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>nyembah serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Karna. Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhirnya sanggup menjadi sais. {{C| * * *}} Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti." Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna. Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan, Para raja dan para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta, dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap. Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan lautan. Karna merasa sangat gembira, Lalu bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu, pasukan Pandawa bukan main banyaknya. Yang berada di pinggit tidak kelihatan. Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu." Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Karna! Menurut dugaanku, engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana." Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busurnya. Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan, Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Karna tak berkeputusan keluar dari busurnya,<noinclude>{{rh|58}}</noinclude> oj0bazr2oxr0gzlawcsqnvu93pu4h4l 78312 77496 2026-05-16T09:35:31Z Elcamatcha 1466 78312 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|nyembah|menyembah}} serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Karna. Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhirnya sanggup menjadi sais. {{C| * * *}} Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti." Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna. Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan, Para raja dan para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta, dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap. Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan lautan. Karna merasa sangat gembira, Lalu bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu, pasukan Pandawa bukan main banyaknya. Yang berada di pinggit tidak kelihatan. Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu." Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Karna! Menurut dugaanku, engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana." Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busurnya. Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan, Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Karna tak berkeputusan keluar dari busurnya,<noinclude>{{rh|58}}</noinclude> sw2awbzlfe67n6736bl4j2nen45zu7o Kaca:Bratayuda.pdf/56 250 24728 77423 2026-05-15T14:07:47Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77423 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>memenuhi medan perang. Prajurit Pandawa banyak yang mati, dan kereta yang dikendarai Kama menjorok ke depan mendahului pasukan, yang tergilas begitu saja, dan Korawa mengikutinya menyerbu musuh. Pasukan Pandawa berantakan, ngeri melihat sepak terjang Kama, dan telah hilang keberaniannya tatkala Gatotkaca tewas oleh Suryaputra. Pasukan Pandawa bubar berlarian. Raden Nakula, Yuyutsuh, Drustajumena, keretanya semua remuk dipanah oleh Kama. Kemudian mereka lari. Prabu Yudistira, Aijuna, Wrekodara segera memberi bantuan menahan amukan Kama, dan semua melepaskan panah. Pasukan Korawa banyak yang mati, kereta yang dikendarai Kama terhenti, lalu mereka berperang satu lawan satu, saling memanah. * ** Prabu Suyudana dipanah oleh Wrekodara, jatuh terlentang, akan tetapi tidak mempan, lalu bersembunyi di belakang pasukan. Raden Wresasena, putra Prabu Kama, tewas oleh Raden Setyaki. Kemudian Prabu Suyudana bertemu dengan Wrekodara, sekali lagi dipanah oleh Wrekodara, yang kena tali busumya, lalu ia lari. Raden Dursasana, adik Prabu Suyudana, segera melindungi kakaknya, menyongsong kedatangan Wrekodara dengan berkendaraan gajah, seraya melepaskan panahnya yang bemama Barla. Wrekodara jatuh terbanting, akan tetapi tidak mempan. Ia segera bangkit berdiri, mengambil gada, dan terus mendesak maju. Gajah yang dikendarai Dursasana dihantam dengan gada, hancur kepalanya. Dursasana segera melompat ke bawah, lalu keduanya saling menggada. Dursasana merasa kewalahan, dan hendak lari, namun segera rambutnya dijambak, dihentakkan keras-keras oleh Raden Wrekodara. Dursasana jatuh tertelentang dengan rambut masih dipegang oleh Raden Wrekodara, dan berulang-ulang dihantam dengan gada. Prabu Suyudana sesaudara menolong, semua melepaskan anak panah, akan tetapi Wrekodara sama sekali tidak takut. Prabu Yudistira sekeluarga lalu menyerang Prabu Suyudana, dengan 59<noinclude></noinclude> t7alq58wjn2jr1enbragh3xn9bo29nt 77424 77423 2026-05-15T14:14:07Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77424 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>memenuhi medan perang, Prajurit Pandawa banyak yang mati, dan kereta yang dikendarai Kama menjorok ke depan mendahului pasukan, yang tergilas begitu saja, dan Korawa mengikutinya menyerbu musuh. Pasukan Pandawa berantakan, ngeri melihat sepak terjang Kama, dan telah hilang keberaniannya tatkala Gatotkaca tewas oleh Suryaputra, Pasukan Pandawa bubar berlarian, Raden Nakula, Yuyutsuh, Drustajumena, keretanya semua remuk dipanah oleh Karna, Kemudian mereka lari. Prabu Yudistira, Arjuna, Wrekodara segera memberi bantuan menahan amukan Kama, dan semua melepaskan panah. Pasukan Korawa banyak yang mati, kereta yang dikendarai Karna terhenti, lalu mereka berperang satu lawan satu, saling memanah. {{C| * * *}} Prabu Suyudana dipanah oleh Wrekodara, jatuh terlentang, akan tetapi tidak mempan, lalu bersembunyi di belakang pasukan, Raden Wresasena, putra Prabu Kama, tewas oleh Raden Setyaki. Kemudian Prabu Suyudana bertemu dengan Wrekodara, sekali lagi dipanah oleh Wrekodara, yang kena tali busurnya, lalu ia lari, Raden Dursasana, adik Prabu Suyudana, segera melindungi kakaknya, menyongsong kedatangan Wrekodara dengan berkendaraan gajah, seraya melepaskan panahnya yang bernama Barla. Wrekodara jatuh terbanting, akan tetapi tidak mempan. Ia segera bangkit berdiri, mengambil gada, dan terus mendesak maju. Gajah yang dikendarai Dursasana dihantam dengan gada, hancur kepalanya. Dursasana segera melompat ke bawah, lalu keduanya saling menggada. Dursasana merasa kewalahan, dan hendak lari, namun segera rambutnya dijambak, dihentakkan keras-keras oleh Raden Wrekodara. Dursasana jatuh tertelentang dengan rambut masih dipegang oleh Raden Wrekodara, dan berulang-ulang dihantam dengan gada Prabu Suyudana sesaudara menolong, semua melepaskan anak panah, akan tetapi Wrekodara sama sekali tidak takut. Prabu Yudistira sekeluarga lalu menyerang Prabu Suyudana, dengan<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude> 6c997pwu5uwnwvy56260aprihkf3stk 77495 77424 2026-05-15T15:22:33Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77495 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>memenuhi medan perang, Prajurit Pandawa banyak yang mati, dan kereta yang dikendarai Kama menjorok ke depan mendahului pasukan, yang tergilas begitu saja, dan Korawa mengikutinya menyerbu musuh. Pasukan Pandawa berantakan, ngeri melihat sepak terjang Kama, dan telah hilang keberaniannya tatkala Gatotkaca tewas oleh Suryaputra, Pasukan Pandawa bubar berlarian, Raden Nakula, Yuyutsuh, Drustajumena, keretanya semua remuk dipanah oleh Karna, Kemudian mereka lari. Prabu Yudistira, Arjuna, Wrekodara segera memberi bantuan menahan amukan Kama, dan semua melepaskan panah. Pasukan Korawa banyak yang mati, kereta yang dikendarai Karna terhenti, lalu mereka berperang satu lawan satu, saling memanah. {{C| * * *}} Prabu Suyudana dipanah oleh Wrekodara, jatuh terlentang, akan tetapi tidak mempan, lalu bersembunyi di belakang pasukan, Raden Wresasena, putra Prabu Kama, tewas oleh Raden Setyaki. Kemudian Prabu Suyudana bertemu dengan Wrekodara, sekali lagi dipanah oleh Wrekodara, yang kena tali busurnya, lalu ia lari, Raden Dursasana, adik Prabu Suyudana, segera melindungi kakaknya, menyongsong kedatangan Wrekodara dengan berkendaraan gajah, seraya melepaskan panahnya yang bernama Barla. Wrekodara jatuh terbanting, akan tetapi tidak mempan. Ia segera bangkit berdiri, mengambil gada, dan terus mendesak maju. Gajah yang dikendarai Dursasana dihantam dengan gada, hancur kepalanya. Dursasana segera melompat ke bawah, lalu keduanya saling menggada. Dursasana merasa kewalahan, dan hendak lari, namun segera rambutnya dijambak, dihentakkan keras-keras oleh Raden Wrekodara. Dursasana jatuh tertelentang dengan rambut masih dipegang oleh Raden Wrekodara, dan berulang-ulang dihantam dengan gada Prabu Suyudana sesaudara menolong, semua melepaskan anak panah, akan tetapi Wrekodara sama sekali tidak takut. Prabu Yudistira sekeluarga lalu menyerang Prabu Suyudana, dengan<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude> mhvjdpijbwjju0yojh5lj0b93vfdf75 Kaca:Bratayuda.pdf/57 250 24729 77425 2026-05-15T14:14:32Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77425 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>demikian Raden Wrekodara tidak terganggu, dan hanya disoraki saja dari kejauhan. Raden Wrekodara dapat berbuat sekehendaknya dalam mempermainkan Dursasana, seraya berseru-seru memanggil para dewa, para raja musuh, dan para Pandawa, "Hai, semua hendaknya menjadi saksi, bahwa aku akan membayar nazar iparku yang bernama Dewi Drupadi, permaisuri Kakanda Prabu Yudistira. Ia telah bersumpah, bahwa untuk selama-lamanya ia tidak akan menyanggul rambutnya, jika belum keramas darah si Dursasana. Sekarang ini akan terlaksana! " Memang Dewi Drupadi mempunyai nazar demikian, dan nazar itu terucapkan sebelum dimulainya Perang Baratayuda, ketika Prabu Yudistira sesaudara pergi bertapa. Pada waktu itu Dewi Drupadi dibawa ke Astina. Di sana ia disakiti dan diperlakukan sewenang-wenang oleh Raden Dursasana. Diceritakan, bagaimana Raden Wrekodara mempermainkan korbannya, adalah demikian: Perut Dursasana dibedah, darahnya diminum langsung. lsi perutnya ditarik keluar dan dirobek-robek. Kaki dan tangannya dipatah-patahkan, kemudian dilempar ke sana ke marl. Kepalanya dihancurkan dengan gada. Raden Wrekodara lalu pulang ke pesanggrahan hendak menemui De'Nj Drupadi, sambil menari-nari di sepanjang jalan. Prabu Yudistira dan seluruh keluarganya, serta permaisurinya segera menyongsong dan menghormat, serta menyanjung-nyanjung Wrekodara. Janggut dan misai Raden Wrekodara masih berlumuran darah, lalu diperas di kepala Dewi Drupadi. Di saat itulah telah terbayar sumpah atau nazar sang dewi. Keluarga Pandawa bersukacita, dan dalam waktu sebentar itu berhentilah peperangan. 60<noinclude></noinclude> b9nu9ejfn38h76cl8s1hwih8jta197g 77426 77425 2026-05-15T14:19:04Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77426 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>demikian Raden Wrekodara tidak terganggu, dan hanya disoraki saja dari kejauhan. Raden Wrekodara dapat berbuat sekehendaknya dalam mempermainkan Dursasana, seraya berseru-seru memanggil para dewa, para raja musuh, dan para Pandawa, "Hai, semua hendaknya menjadi saksi, bahwa aku akan membayar nazar iparku yang bernama Dewi Drupadi, permaisuri Kakanda Prabu Yudistira. Ia telah bersumpah, bahwa untuk selama-lamanya ia tidak akan menyanggul rambutnya, jika belum keramas darah si Dursasana. Sekarang ini akan terlaksana!” Memang Dewi Drupadi mempunyai nazar demikian, dan nazar itu terucapkan sebelum dimulainya Perang Baratayuda, ketika Prabu Yudistira sesaudara pergi bertapa. Pada waktu itu Dewi Drupadi dibawa ke Astina. Di sana ia disakiti dan diperlakukan sewenang-wenang oleh Raden Dursasana. Diceritakan, bagaimana Raden Wrekodara mempermainkan korbannya, adalah demikian: Perut Dursasana dibedah, darahnya diminum langsung. Isi perutnya ditarik keluar dan dirobek-robek. Kaki dan tangannya dipatah-patahkan, kemudian dilempar ke sana ke mari. Kepalanya dihancurkan dengan gada. Raden Wrekodara lalu pulang ke pesangerahan hendak menemui Dewi Drupadi, sambil menari-nari di sepanjang jalan. Prabu Yudistira dan seluruh keluarganya, serta permaisurinya segera menyongsong dan menghormat, serta menyanjung-nyanjung Wrekodara. Janggut dan misai Raden Wrekodara masih berlumuran darah, lalu diperas di kepala Dewi Drupadi. Di saat itulah telah terbayar sumpah atau nazar sang dewi. Keluarga Pandawa bersukacita, dan dalam waktu sebentar itu berhentilah peperangan.<noinclude>{{rh|60}}</noinclude> c0zf86x2izoqkisbohwkuey9fayuvzm 77494 77426 2026-05-15T15:22:05Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77494 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>demikian Raden Wrekodara tidak terganggu, dan hanya disoraki saja dari kejauhan. Raden Wrekodara dapat berbuat sekehendaknya dalam mempermainkan Dursasana, seraya berseru-seru memanggil para dewa, para raja musuh, dan para Pandawa, "Hai, semua hendaknya menjadi saksi, bahwa aku akan membayar nazar iparku yang bernama Dewi Drupadi, permaisuri Kakanda Prabu Yudistira. Ia telah bersumpah, bahwa untuk selama-lamanya ia tidak akan menyanggul rambutnya, jika belum keramas darah si Dursasana. Sekarang ini akan terlaksana!” Memang Dewi Drupadi mempunyai nazar demikian, dan nazar itu terucapkan sebelum dimulainya Perang Baratayuda, ketika Prabu Yudistira sesaudara pergi bertapa. Pada waktu itu Dewi Drupadi dibawa ke Astina. Di sana ia disakiti dan diperlakukan sewenang-wenang oleh Raden Dursasana. Diceritakan, bagaimana Raden Wrekodara mempermainkan korbannya, adalah demikian: Perut Dursasana dibedah, darahnya diminum langsung. Isi perutnya ditarik keluar dan dirobek-robek. Kaki dan tangannya dipatah-patahkan, kemudian dilempar ke sana ke mari. Kepalanya dihancurkan dengan gada. Raden Wrekodara lalu pulang ke pesangerahan hendak menemui Dewi Drupadi, sambil menari-nari di sepanjang jalan. Prabu Yudistira dan seluruh keluarganya, serta permaisurinya segera menyongsong dan menghormat, serta menyanjung-nyanjung Wrekodara. Janggut dan misai Raden Wrekodara masih berlumuran darah, lalu diperas di kepala Dewi Drupadi. Di saat itulah telah terbayar sumpah atau nazar sang dewi. Keluarga Pandawa bersukacita, dan dalam waktu sebentar itu berhentilah peperangan.<noinclude>{{rh|60}}</noinclude> jvli4vwa3iwmoectaqivqgo3n0r3q7w Kaca:Bratayuda.pdf/58 250 24730 77427 2026-05-15T14:19:26Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77427 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>8. KARNA TEWAS BERPERANG DENGAN ARJUNA. SALYA MERELAKAN NYAWANYA KEPADA PANDAWA Ketika matahari sudah jauh condong ke barat pihak Pandawa gempar melihat datangnya musuh, dan kereta Kama su:l.ah sampai di tengah-tengah medan perang mendahului pasukannya. Pasukan Korawa turut menyerbu ke tengah arena. Sri Kresna segera memberi perintah kepada Arjuna mengendarai kereta untuk berperang melawan Adipati Kama. Raden Arjuna segera naik ke kereta, yang menjadi sais Sri Kresna. Pasukan Pandawa dan Korawa hanya bersorak-sorak dari kejauhan. Yang berperang hanya senapatinya saja, satu lawan satu, dan itulah yang dinamakan Perang Kama Tanding. Disebut demikian karena rupanya kembar dengan Raden Janaka. Sarna tampannya, keberanian dan kesaktian serta kepandaiannya juga sama. Memang saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Hanya rona wajahnya yang berbeda. Prabu Kama berona beringas , sedangkan Raden J anaka berona tenang. Keduanya sama-sama memiliki panah anugerah dewa. Nama panah Prabu Kama, Wijayadanu , apa yang diinginkan pemiliknya, Wijayadanu dapat memenuhinya. Panah Raden Janaka dua buah, satu bemama Sarutama, satu lagi Pasopati, dan apa yang diinginkan pemiliknya, kedua panah itu pun dapat memenuhinya juga. Saisnya pun sama-sama raja besar, Prabu Salya, dan Prabu Kresna. Oleh karena itu para dewa, para bidadari, demikian pula Pandawa dan Korawa, yang menonton perang tanding kedua satria itu merasa sayang, jika salah seorang di antaranya tewas, sehingga tidak ada lagi yang dilihat. Kama dan Arjuna lalu mengadu kesaktian. Keretanya berputar-putar, saling melepaskan anak panah. Prabu Karna menarik tali busurnya, dan membidikkan anak panahnya. Tiba-tiba datang 61<noinclude></noinclude> j59ded6tvd0q4aveghyrd29qs8r8pdr 77428 77427 2026-05-15T14:32:11Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77428 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''8. KARNA TEWAS BERPERANG DENGAN ARJUNA.<br> '''SALYA MERELAKAN NYAWANYA KEPADA'''<br>'''PANDAWA'''}} Ketika matahari sudah jauh condong ke barat pihak Pandawa gempar melihat datangnya musuh, dan kereta Karna sudah sampai di tengah-tengah medan perang mendahului pasukannya. Pasukan Korawa turut menyerbu ke tengah arena. Sri Kresna segera memberi perintah kepada Arjuna mengendarai kereta untuk berperang melawan Adipati Karna. Raden Arjuna segera naik ke kereta, yang menjadi sais Sri Kresna. Pasukan Pandawa dan Korawa hanya bersorak-sorak dari kejauhan. Yang berperang hanya senapatinya saja, satu lawan satu, dan itulah yang dinamakan ''Perang Karna Tanding''. Disebut demikian karena rupanya kembar dengan Raden Janaka. Sama tampannya, keberanian dan kesaktian serta kepandaiannya juga sama. Memang saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Hanya rona wajahnya yang berbeda. Prabu Karna berona beringas, sedangkan Raden Janaka berona tenang. Keduanya sama-sama memiliki panah anugerah dewa. Nama panah Prabu Karna, Wijayadanu, apa yang diinginkan pemiliknya, Wijayadanu dapat memenuhinya. Panah Raden Janaka dua buah, satu bernama Sarutama, satu lagi Pasopati, dan apa yang diinginkan pemiliknya, kedua panah itu pun dapat memenuhinya juga. Saisnya pun samasama raja besar, Prabu Salya, dan Prabu Kresna. Oleh arena itu para dewa, para bidadari, demikian pula Pandawa dan Korawa, yang menonton perang tanding kedua satria itu merasa sayang, jika salah seorang di antaranya tewas, sehingga tidak ada lagi yang dilihat. Karna dan Arjuna lalu mengadu kesaktian. Keretanya berputar-putar, saling melepaskan anak panah. Prabu Karna menarik tali busurnya, dan membidikkan anak panahnya. Tiba-tiba datang<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude> rw54nx48zh7jeqjuun5aa0ftmmip9g0 77493 77428 2026-05-15T15:21:31Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77493 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{C|'''8. KARNA TEWAS BERPERANG DENGAN ARJUNA.<br> '''SALYA MERELAKAN NYAWANYA KEPADA'''<br>'''PANDAWA'''}} Ketika matahari sudah jauh condong ke barat pihak Pandawa gempar melihat datangnya musuh, dan kereta Karna sudah sampai di tengah-tengah medan perang mendahului pasukannya. Pasukan Korawa turut menyerbu ke tengah arena. Sri Kresna segera memberi perintah kepada Arjuna mengendarai kereta untuk berperang melawan Adipati Karna. Raden Arjuna segera naik ke kereta, yang menjadi sais Sri Kresna. Pasukan Pandawa dan Korawa hanya bersorak-sorak dari kejauhan. Yang berperang hanya senapatinya saja, satu lawan satu, dan itulah yang dinamakan ''Perang Karna Tanding''. Disebut demikian karena rupanya kembar dengan Raden Janaka. Sama tampannya, keberanian dan kesaktian serta kepandaiannya juga sama. Memang saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Hanya rona wajahnya yang berbeda. Prabu Karna berona beringas, sedangkan Raden Janaka berona tenang. Keduanya sama-sama memiliki panah anugerah dewa. Nama panah Prabu Karna, Wijayadanu, apa yang diinginkan pemiliknya, Wijayadanu dapat memenuhinya. Panah Raden Janaka dua buah, satu bernama Sarutama, satu lagi Pasopati, dan apa yang diinginkan pemiliknya, kedua panah itu pun dapat memenuhinya juga. Saisnya pun samasama raja besar, Prabu Salya, dan Prabu Kresna. Oleh arena itu para dewa, para bidadari, demikian pula Pandawa dan Korawa, yang menonton perang tanding kedua satria itu merasa sayang, jika salah seorang di antaranya tewas, sehingga tidak ada lagi yang dilihat. Karna dan Arjuna lalu mengadu kesaktian. Keretanya berputar-putar, saling melepaskan anak panah. Prabu Karna menarik tali busurnya, dan membidikkan anak panahnya. Tiba-tiba datang<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude> 3awh2q7t2bb5eo9fgtldxzqq00anrdv Kaca:Bratayuda.pdf/59 250 24731 77429 2026-05-15T14:32:34Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77429 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>.seekor ular naga di hadapannya, meluncur dari angkasa, luar biasa besamya, dapat berkata-kata seperti manusia, bemama Ardawalika. Ia bertutur kepada Prabu Kama, maksudnya hendak membalas dendam kepada A:rjuna. "Terserah kamu, jika hendak membunuh si Janaka. Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" jawab Kama. Raden Janaka segera mengambil anak panahnya, lalu dilepaskan. Naga Ardawalika mati setelah kena panah, berdembam jatuh ke tanah. Bidikan panah Prabu Kama diarahkan ke leher Raden Janaka. Prabu Salya melihat, bahwa bidikan Prabu Kama itu sangat membahayakan Raden Dananjaya. Ia lalu menarik kendali kuda, sehingga keretanya bergoncang ketika panah Prabu Kama terlepas, dan bidikannya berubah agak ke atas. Mahkota Raden Janaka terlepas kena panah. Sri Kresna segera menolong, mengelus rambut Janaka, dan membetulkan mahkotanya. Kama sangat kecewa, bahwa Raden Janaka tidak kena lehernya, akan tetapi ia tidak tahu, bahwa hal itu te:rjadi karena perbuatan saisnya. Prabu Kama lalu mengambil panah Wijayadanu, lalu dibidikkan. Yang dibidik ialah leher Janaka. Prabu Salya lalu menginjak keretanya, bersamaan waktunya dengan terlepasnya anak panah. Yang kena ialah sanggul Raden Janaka, rantas. Raden Janaka sangat marah dan malu, lalu segera membalas. Kaki-kaki kuda penarik kereta Prabu Kama, seluruhnya patah. Raden Janaka membidik lagi dengan panah Pasopati. Prabu Karna membidikkan Wijayadanu, dan dimanterainya. Akan tetapi lebih cepat Raden J anaka. Leher Prabu Kama patah, kena panah Pasopati, berdembam jatuh di dalam kereta. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh. Korawa lari. Kedua belah pihak mundur dari medan perang, karena hari telah malam. *** Prabu Suyudana berunding dengan Patih Sengkuni, Prabu Salya serta adik-adiknya yang tinggal dua puluh orang lagi, karena 62<noinclude></noinclude> 7l44bcg34d59rnk2y7w7k85ju3tmg6m 77434 77429 2026-05-15T14:40:30Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77434 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>seekor ular naga di hadapannya, meluncur dari angkasa, luar biasa besarnya, dapat berkata-kata seperti manusia, bernama Ardawalika. Ia bertutur kepada Prabu Karna, maksudnya hendak membalas dendam kepada Arjuna. "Terserah kamu, jika hendak membunuh si Janaka. Aku tidak membutuhkan bantuanmu!” jawab Karna, Raden Janaka segera mengambil anak panahnya, lalu dilepaskan. Naga Ardawalika mati setelah kena panah, berdembam jatuh ke tanah. Bidikan panah Prabu Kama diarahkan ke leher Raden Janaka. Prabu Salya melihat, bahwa bidikan Prabu Karna itu sangat membahayakan Raden Dananjaya. Ia lalu menarik kendali kuda, sehingga keretanya bergoncang ketika panah Prabu Karna terlepas, dan bidikannya berubah agak ke atas. Mahkota Raden Janaka terlepas kena panah. Sri Kresna segera menolong, mengelus rambut Janaka, dan membetulkan mahkotanya. Karna sangat kecewa, bahwa Raden Janaka tidak kena lehernya, akan tetapi ia tidak tahu, bahwa hal itu terjadi karena perbuatan saisnya. Prabu Karna lalu mengambil panah Wijayadanu, lalu dibidikkan. Yang dibidik ialah leher Janaka. Prabu Salya lalu menginjak Keretanya, bersamaan waktunya dengan terlepasnya anak panah. Yang kena ialah sanggul Raden Janaka, rantas. Raden Janaka sangat marah dan malu, lalu segera membalas. Kaki-kaki kuda penarik Kereta Prabu Karna, seluruhnya patah. Raden Janaka membidik lagi dengan panah Pasopati. Prabu Karna membidikkan Wijayadanu, dan dimanterainya. Akan tetapi lebih cepat Raden Janaka. Leher Prabu Karna patah, kena panah Pasopati, berdembam jatuh di dalam kereta. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh. Korawa lari. Kedua belah pihak mundur dari medan perang, karena hari telah malam. {{C|* * *}} Prabu Suyudana berunding dengan Patih Sengkuni, Prabj Salya serta adik-adiknya yang tinggal dua puluh orang lagi, karena<noinclude>{{rh|62}}</noinclude> 0plkyva75anep63c8e4szbrgqi8w52l 77492 77434 2026-05-15T15:21:07Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77492 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>seekor ular naga di hadapannya, meluncur dari angkasa, luar biasa besarnya, dapat berkata-kata seperti manusia, bernama Ardawalika. Ia bertutur kepada Prabu Karna, maksudnya hendak membalas dendam kepada Arjuna. "Terserah kamu, jika hendak membunuh si Janaka. Aku tidak membutuhkan bantuanmu!” jawab Karna, Raden Janaka segera mengambil anak panahnya, lalu dilepaskan. Naga Ardawalika mati setelah kena panah, berdembam jatuh ke tanah. Bidikan panah Prabu Kama diarahkan ke leher Raden Janaka. Prabu Salya melihat, bahwa bidikan Prabu Karna itu sangat membahayakan Raden Dananjaya. Ia lalu menarik kendali kuda, sehingga keretanya bergoncang ketika panah Prabu Karna terlepas, dan bidikannya berubah agak ke atas. Mahkota Raden Janaka terlepas kena panah. Sri Kresna segera menolong, mengelus rambut Janaka, dan membetulkan mahkotanya. Karna sangat kecewa, bahwa Raden Janaka tidak kena lehernya, akan tetapi ia tidak tahu, bahwa hal itu terjadi karena perbuatan saisnya. Prabu Karna lalu mengambil panah Wijayadanu, lalu dibidikkan. Yang dibidik ialah leher Janaka. Prabu Salya lalu menginjak Keretanya, bersamaan waktunya dengan terlepasnya anak panah. Yang kena ialah sanggul Raden Janaka, rantas. Raden Janaka sangat marah dan malu, lalu segera membalas. Kaki-kaki kuda penarik Kereta Prabu Karna, seluruhnya patah. Raden Janaka membidik lagi dengan panah Pasopati. Prabu Karna membidikkan Wijayadanu, dan dimanterainya. Akan tetapi lebih cepat Raden Janaka. Leher Prabu Karna patah, kena panah Pasopati, berdembam jatuh di dalam kereta. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh. Korawa lari. Kedua belah pihak mundur dari medan perang, karena hari telah malam. {{C|* * *}} Prabu Suyudana berunding dengan Patih Sengkuni, Prabj Salya serta adik-adiknya yang tinggal dua puluh orang lagi, karena<noinclude>{{rh|62}}</noinclude> htsp0v7f9tpc8oxon4udt2xm2xqkejy Kaca:Bratayuda.pdf/60 250 24732 77436 2026-05-15T14:40:55Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77436 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>yang lain sudah tewas di peperangan. Prabu Suyudana mahan sambil menangis kepada Prabu Salya, dipersilakan menjadi senapati untuk mempertahankan dan merebut negeri Astina. Prabu Salya tidak bersedia, dan menyarankan agar separah negeri Astina diserahkan kepada Pandawa. Jika Pandawa tidak mau menerimanya, barulah Prabu Salya sanggup menghancurkan mereka. Prabu Suyudana tidak mau, karena sudah terlambat. Lagi pula putra dan saudara-saudaranya sudah banyak yang tewas. Lama mereka berbantah. Kemudian datanglah Aswatama, lalu berkata tak senanah, dan mengungkapkan perbuatan Prabu Salya ketika menjadi sais kereta Prabu Kama. Prabu Salya sangat marah, dan hendak berkelahi dengan Aswatama, lalu dipisah aleh Suyudana. Raden Aswatama diusir, lalu pergi bertapa di dalam hutan. Kemarahan Prabu Salya sudah reda, dan akhirnya sanggup menjadi senapati. Prabu Suyudana gembira sekali, lalu menghadiahkan pakaian-pakaian indah kepada pasukan Mandaraka. Semua mendapat bagian. Sudah tersiar luas bahwa Prabu Salya menjadi senapati. Perang berhenti selama dua hari. Pandawa sudah mendengar pula, bahwa Prabu Salya diangkat menjadi senapati Karawa, dan hal membuat mereka bingung. Prabu Yudistira sesaudara berniat menyerahkan nyawa saja kepada Prabu Salya, karena mereka sangat takut. Apa lagi Prabu Salya itu searang raja yang sudah lanjut usia, dan tua pula kedudukannya dalam hubungan keluarga, lagi sangat sakti, sehingga tidak ada yang berani melawannya. *** Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Nakula dan Raden Sadewa, supaya menghadap uaknya. Prabu Salya, serta dipesan, apa yang harus dilakukan setelah berada di hadapan Prabu Salya .. 63<noinclude></noinclude> 2v4xqtm55dcqoja552zejfen12l0i42 77439 77436 2026-05-15T14:46:26Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77439 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>yang lain sudah tewas di peperangan. Prabu Suyudana mohon sambil menangis kepada Prabu Salya, dipersilakan menjadi senapati untuk mempertahankan dan merebut negeri Astina. Prabu Salya tidak bersedia, dan menyarankan agar separah negeri Astina diserahkan kepada Pandawa. Jika Pandawa tidak mau menerimanya, barulah Prabu Salya sanggup menghancurkan mereka. Prabu Suyudana tidak mau, karena sudah terlambat. Lagi pula putra dan saudara-saudaranya sudah banyak yang tewas. Lama mereka berbantah. Kemudian datanglah Aswatama, lalu berkata tak senonoh, dan mengungkapkan perbuatan Prabu Salya ketika menjadi sais kereta Prabu Kama. Prabu Salya sangat marah, dan hendak berkelahi dengan Aswatama, lalu dipisah aleh Suyudana. Raden Aswatama diusir, lalu pergi bertapa di dalam hutan. Kemarahan Prabu Salya sudah reda, dan akhirnya sanggup menjadi senapati. Prabu Suyudana gembira sekali, lalu menghadiahkan pakaian-pakaian indah kepada pasukan Mandaraka. Semua mendapat bagian. Sudah tersiar luas bahwa Prabu Salya menjadi senapati. Perang berhenti selama dua hari. Pandawa sudah mendengar pula, bahwa Prabu Salya diangkat menjadi senapati Karawa, dan hal membuat mereka bingung. Prabu Yudistira sesaudara berniat menyerahkan nyawa saja kepada Prabu Salya, karena mereka sangat takut. Apa lagi Prabu Salya itu searang raja yang sudah lanjut usia, dan tua pula kedudukannya dalam hubungan keluarga, lagi sangat sakti, sehingga tidak ada yang berani melawannya. {{C|* * *}} Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Nakula dan Raden Sadewa, supaya menghadap uaknya. Prabu Salya, serta dipesan, apa yang harus dilakukan setelah berada di hadapan Prabu Salya ..<noinclude>{{rh|||63}}</noinclude> 6zk1i3caumtvvdpdj89qgh8g7h2m3bo 77490 77439 2026-05-15T15:20:40Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77490 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>yang lain sudah tewas di peperangan. Prabu Suyudana mohon sambil menangis kepada Prabu Salya, dipersilakan menjadi senapati untuk mempertahankan dan merebut negeri Astina. Prabu Salya tidak bersedia, dan menyarankan agar separah negeri Astina diserahkan kepada Pandawa. Jika Pandawa tidak mau menerimanya, barulah Prabu Salya sanggup menghancurkan mereka. Prabu Suyudana tidak mau, karena sudah terlambat. Lagi pula putra dan saudara-saudaranya sudah banyak yang tewas. Lama mereka berbantah. Kemudian datanglah Aswatama, lalu berkata tak senonoh, dan mengungkapkan perbuatan Prabu Salya ketika menjadi sais kereta Prabu Kama. Prabu Salya sangat marah, dan hendak berkelahi dengan Aswatama, lalu dipisah aleh Suyudana. Raden Aswatama diusir, lalu pergi bertapa di dalam hutan. Kemarahan Prabu Salya sudah reda, dan akhirnya sanggup menjadi senapati. Prabu Suyudana gembira sekali, lalu menghadiahkan pakaian-pakaian indah kepada pasukan Mandaraka. Semua mendapat bagian. Sudah tersiar luas bahwa Prabu Salya menjadi senapati. Perang berhenti selama dua hari. Pandawa sudah mendengar pula, bahwa Prabu Salya diangkat menjadi senapati Karawa, dan hal membuat mereka bingung. Prabu Yudistira sesaudara berniat menyerahkan nyawa saja kepada Prabu Salya, karena mereka sangat takut. Apa lagi Prabu Salya itu searang raja yang sudah lanjut usia, dan tua pula kedudukannya dalam hubungan keluarga, lagi sangat sakti, sehingga tidak ada yang berani melawannya. {{C|* * *}} Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Nakula dan Raden Sadewa, supaya menghadap uaknya. Prabu Salya, serta dipesan, apa yang harus dilakukan setelah berada di hadapan Prabu Salya ..<noinclude>{{rh|||63}}</noinclude> ia1bxd8chhs126z4jyblvemj9weew6t Kaca:Bratayuda.pdf/61 250 24733 77441 2026-05-15T14:47:25Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77441 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Nakula dan Raden Sadewa lalu berangkat ke pesanggrahan Mandaraka, tanpa membawa pasukan. Setiba di sana, Prabu Salya sedang berada di sanggar pemujaan. Raden Nakula dan Sadewa lalu menelungkup di pangkuan uaknya, seraya menangis, dan ujarnya, "Apabila Uak Prabu menjadi senapati, tak urung hamba serta seluruh saudara hamba, akan habis tumpas oleh Paduka, demikian pula raja-raja yang memihak Pandawa, semua takut terhadap kesaktian Paduka. Oleh karena itu lebih baik hamba mati sekarang saja." Raden Nakula dan Sadewa lalu menghunus keris, hendak bunuh diri. Prabu Salya segera memegang keris kedua kemenakannya. Memeluknya seraya menangis. Demikian ujarnya, "Sudahlah, jangan menangis, meskipun sudah terlanjur aku bersedia menjadi senapati, akan tetapi dalam batinku·, aku sangat mencintaimu, karena aku sudah tidak mempunyai anak laki-laki. Anakku, Burisrawa dan Rukmarata sudah tewas di medan Perang Baratayuda, sehingga sekarang ini hanya engkau berdualah yang wajib memiliki negaraku di Mandaraka. Pesanku, jika besok pagi aku maju ke medan perang, kakakmu si Yudistira saja yang menandingiku, dan azimatnya yang bernama Kalimasada, kenakanlah padaku, pasti aku akan mati. Selain dari itu, tak ada senjata lain kukira, yang mempan terhadap diriku, lagi pula tiada seorang pun yang dapat mengalahkan kesaktianku Candabirawa; karena dulu, ketika aku membunuh mertuaku yang hernama Bagawan Bagaspati, terdengarlah suara demikian, "Hai, Salya, kelak di dalam Perang Baratayuda, jika ada seorang raja berbudi pendeta, dan memiliki azimat Kalimasada, saat itulah aku membalasmu. Dan aku mendapat warisan kesaktian Candabirawa. Namun pesanku padamu, jika aku telah tiada, negara Mandaraka kuserahkan ke padamu. Nah, sudah, pulanglah kalian! " . Raden Nakula dan Sadewa semakin menjadi-jadi tangisnya, lalu mohon diri. Di sepanjangjalan mereka masih terus menghapus air mata. Setibanya di pesanggrahan lalu menghadap kakaknya, Prabu Yudistira serta Sri Kresna, Wrekodara, dan Janaka. Raden Nakula dan Sadewa lalu memaparkan segenap pesan Prabu Salya. 64<noinclude></noinclude> jncubwwb58ldlfcuvdpdv0rdrtx200m 77453 77441 2026-05-15T14:53:12Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77453 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Nakula dan Raden Sadewa lalu berangkat ke pesanggrahan Mandaraka, tanpa membawa pasukan. Setiba di sana, Prabu Salya sedang berada di sanggar pemujaan. Raden Nakula dan Sadewa lalu menelungkup di pangkuan uaknya, seraya menangis dan ujarnya, "Apabila Uak Prabu menjadi senapati, tak urung hamba serta seluruh saudara hamba, akan habis tumpas oleh Paduka, demikian pula raja-raja yang memihak Pandawa, semua takut terhadap kesaktian Paduka. Oleh karena itu lebih baik hamba mati sekarang saja." Raden Nakula dan Sadewa lalu menghunus keris, hendak bunuh diri. Prabu Salya segera memegang keris kedua kemenakannya. Memeluknya seraya menangis. Demikian ujarnya, "Sudahlah, jangan menangis, meskipun sudah terlanjur aku bersedia menjadi senapati, akan tetapi dalam batinku·, aku sangat mencintaimu, karena aku sudah tidak mempunyai anak laki-laki. Anakku, Burisrawa dan Rukmarata sudah tewas di medan Perang Baratayuda, sehingga sekarang ini hanya engkau berdualah yang wajib memiliki negaraku di Mandaraka. Pesanku, jika besok pagi aku maju ke medan perang, kakakmu si Yudistira saja yang menandingiku, dan azimatnya yang bernama Kalimasada, kenakanlah padaku, pasti aku akan mati. Selain dari itu, tak ada senjata lain kukira, yang mempan terhadap diriku, lagi pula tiada seorang pun yang dapat mengalahkan kesaktianku Candabirawa; karena dulu, ketika aku membunuh mertuaku yang hernama Bagawan Bagaspati, terdengarlah suara demikian, "Hai, Salya, kelak di dalam Perang Baratayuda, jika ada seorang raja berbudi pendeta, dan memiliki azimat Kalimasada, saat itulah aku membalasmu. Dan aku mendapat warisan kesaktian Candabirawa. Namun pesanku padamu, jika aku telah tiada, negara Mandaraka kuserahkan ke padamu. Nah, sudah, pulanglah kalian!" Raden Nakula dan Sadewa semakin menjadi-jadi tangisnya, lalu mohon diri. Di sepanjang jalan mereka masih terus menghapus air mata. Setibanya di pesanggrahan lalu menghadap kakaknya, Prabu Yudistira serta Sri Kresna, Wrekodara, dan Janaka. Raden Nakula dan Sadewa lalu memaparkan segenap pesan Prabu Salya.<noinclude>{{rh|64}}</noinclude> tc8wa1upilgaouqtqszlpsgbrryvmrq 77489 77453 2026-05-15T15:19:47Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77489 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Raden Nakula dan Raden Sadewa lalu berangkat ke pesanggrahan Mandaraka, tanpa membawa pasukan. Setiba di sana, Prabu Salya sedang berada di sanggar pemujaan. Raden Nakula dan Sadewa lalu menelungkup di pangkuan uaknya, seraya menangis dan ujarnya, "Apabila Uak Prabu menjadi senapati, tak urung hamba serta seluruh saudara hamba, akan habis tumpas oleh Paduka, demikian pula raja-raja yang memihak Pandawa, semua takut terhadap kesaktian Paduka. Oleh karena itu lebih baik hamba mati sekarang saja." Raden Nakula dan Sadewa lalu menghunus keris, hendak bunuh diri. Prabu Salya segera memegang keris kedua kemenakannya. Memeluknya seraya menangis. Demikian ujarnya, "Sudahlah, jangan menangis, meskipun sudah terlanjur aku bersedia menjadi senapati, akan tetapi dalam batinku·, aku sangat mencintaimu, karena aku sudah tidak mempunyai anak laki-laki. Anakku, Burisrawa dan Rukmarata sudah tewas di medan Perang Baratayuda, sehingga sekarang ini hanya engkau berdualah yang wajib memiliki negaraku di Mandaraka. Pesanku, jika besok pagi aku maju ke medan perang, kakakmu si Yudistira saja yang menandingiku, dan azimatnya yang bernama Kalimasada, kenakanlah padaku, pasti aku akan mati. Selain dari itu, tak ada senjata lain kukira, yang mempan terhadap diriku, lagi pula tiada seorang pun yang dapat mengalahkan kesaktianku Candabirawa; karena dulu, ketika aku membunuh mertuaku yang hernama Bagawan Bagaspati, terdengarlah suara demikian, "Hai, Salya, kelak di dalam Perang Baratayuda, jika ada seorang raja berbudi pendeta, dan memiliki azimat Kalimasada, saat itulah aku membalasmu. Dan aku mendapat warisan kesaktian Candabirawa. Namun pesanku padamu, jika aku telah tiada, negara Mandaraka kuserahkan ke padamu. Nah, sudah, pulanglah kalian!" Raden Nakula dan Sadewa semakin menjadi-jadi tangisnya, lalu mohon diri. Di sepanjang jalan mereka masih terus menghapus air mata. Setibanya di pesanggrahan lalu menghadap kakaknya, Prabu Yudistira serta Sri Kresna, Wrekodara, dan Janaka. Raden Nakula dan Sadewa lalu memaparkan segenap pesan Prabu Salya.<noinclude>{{rh|64}}</noinclude> 3fjm9jfebyu910mp7sc28mz7rj6i3yu Kaca:Bratayuda.pdf/62 250 24734 77455 2026-05-15T14:53:30Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77455 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Setelah mendengar paparan Nakula, Prabu Yudistira dan Raden Arjuna menangis, karena perasaan kasihannya kepada Prabu Salya. Sri Kresna dan Raden Wrekodara tertawa seraya melirik Prabu Yudistira, karena selama hidupnya, Prabu Yudistira itu belum pernah marah, dan belum pernah menyakiti perasaan orang lain, sedangkan sekarang harus . melaksanakan tugas membunuh Prabu Salya. *** Diceritakan lagi keadaan di pesanggrahan Mandaraka, permaisuri Prabu Salya, yang bernama Dewi Setyawati, sangat cantik lagi menarik hati, dapat melayani suami, dan tingkah-lakunya serba pantas serta luwes. Ia melahirkan lima orang putra, dua orang laki-laki bernama Raden Burisrawa, dan Raden Rukmarata, akan tetapi dua-duanya sudah tewas dalam Perang Baratayuda. Putrinya tiga orang, seorang menjadi permaisuri Prabu Suyudana, seorang menjadi permaisuri Prabu Kama, dan seorang lagi menjadi permaisuri Prabu Baladewa di Mandura. Sepeninggal Raden Nakula dan Sadewa, Dewi Setyawati menangis sedih, menyalahkan suaminya, mengapa membukakan rahasia, yang akan menyebabkan kematiannya, tanpa menyayang dirinya sendiri, serta putri-putrinya, dan lebih mementingkan kemenakannya. Dewi Setyawati hendak bunuh diri, Prabu Salya segera memegangi patram istrinya, dan memberikan pengertian tentang aP'l yang dikehendakinya. Lalu sang dewi dirayu, dibawa ke ternpat tidur. Ketika pada pagi harinya permaisuri masih tidur nyenyak berbantal tangan Sri Baginda, dan sebelah ikat pinggangnya juga tertindih. Perlahan-lahan Prabu Salya menarik tangannya, ikat pinggangnya dipotong dengan keris, dan payudaranya disisipi boneka em as, disertai kata-kata, "Ibu, si Bapak pergi berperang." Prabu Salya lalu keluar, melihat matahari sudah terbit. Pasukannya sudah lengkap, lalu kembali ke dalam, memeluk dan menciumi istrinya. Ujarnya demikian, "Dinda, selamat tidur, aku 65<noinclude></noinclude> c2l5y468vxaod3gsuhqnnjdpt8589et 77463 77455 2026-05-15T14:57:54Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77463 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Setelah mendengar paparan Nakula, Prabu Yudistira dan Raden Arjuna menangis, karena perasaan kasihannya kepada Prabu Salya. Sri Kresna dan Raden Wrekodara tertawa seraya melirik Prabu Yudistira, karena selama hidupnya, Prabu Yudistira itu belum pernah marah, dan belum pernah menyakiti perasaan orang lain, sedangkan sekarang harus melaksanakan tugas membunuh Prabu Salya. {{C|* * *}} Diceritakan lagi keadaan di pesanggrahan Mandaraka, permaisuri Prabu Salya, yang bernama Dewi Setyawati, sangat cantik lagi menarik hati, dapat melayani suami, dan tingkah-lakunya serba pantas serta luwes. Ia melahirkan lima orang putra, dua orang laki-laki bernama Raden Burisrawa, dan Raden Rukmarata, akan tetapi dua-duanya sudah tewas dalam Perang Baratayuda. Putrinya tiga orang, seorang menjadi permaisuri Prabu Suyudana, seorang menjadi permaisuri Prabu Kama, dan seorang lagi menjadi permaisuri Prabu Baladewa di Mandura. Sepeninggal Raden Nakula dan Sadewa, Dewi Setyawati menangis sedih, menyalahkan suaminya, mengapa membukakan rahasia, yang akan menyebabkan kematiannya, tanpa menyayang dirinya sendiri, serta putri-putrinya, dan lebih mementingkan kemenakannya. Dewi Setyawati hendak bunuh diri, Prabu Salya segera memegangi patram istrinya, dan memberikan pengertian tentang apa yang dikehendakinya. Lalu sang dewi dirayu, dibawa ke tempat tidur. Ketika pada pagi harinya permaisuri masih tidur nyenyak berbantal tangan Sri Baginda, dan sebelah ikat pinggangnya juga tertindih. Perlahan-lahan Prabu Salya menarik tangannya, ikat pinggangnya dipotong dengan keris, dan payudaranya disisipi boneka emas, disertai kata-kata, "Ibu, si Bapak pergi berperang." Prabu Salya lalu keluar, melihat matahari sudah terbit. Pasukannya sudah lengkap, lalu kembali ke dalam, memeluk dan menciumi istrinya. Ujarnya demikian, "Dinda, selamat tidur, aku<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude> dyzoe5dd5ydbpw81w4r0wrtnrdeap4z 77488 77463 2026-05-15T15:19:28Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 77488 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Setelah mendengar paparan Nakula, Prabu Yudistira dan Raden Arjuna menangis, karena perasaan kasihannya kepada Prabu Salya. Sri Kresna dan Raden Wrekodara tertawa seraya melirik Prabu Yudistira, karena selama hidupnya, Prabu Yudistira itu belum pernah marah, dan belum pernah menyakiti perasaan orang lain, sedangkan sekarang harus melaksanakan tugas membunuh Prabu Salya. {{C|* * *}} Diceritakan lagi keadaan di pesanggrahan Mandaraka, permaisuri Prabu Salya, yang bernama Dewi Setyawati, sangat cantik lagi menarik hati, dapat melayani suami, dan tingkah-lakunya serba pantas serta luwes. Ia melahirkan lima orang putra, dua orang laki-laki bernama Raden Burisrawa, dan Raden Rukmarata, akan tetapi dua-duanya sudah tewas dalam Perang Baratayuda. Putrinya tiga orang, seorang menjadi permaisuri Prabu Suyudana, seorang menjadi permaisuri Prabu Kama, dan seorang lagi menjadi permaisuri Prabu Baladewa di Mandura. Sepeninggal Raden Nakula dan Sadewa, Dewi Setyawati menangis sedih, menyalahkan suaminya, mengapa membukakan rahasia, yang akan menyebabkan kematiannya, tanpa menyayang dirinya sendiri, serta putri-putrinya, dan lebih mementingkan kemenakannya. Dewi Setyawati hendak bunuh diri, Prabu Salya segera memegangi patram istrinya, dan memberikan pengertian tentang apa yang dikehendakinya. Lalu sang dewi dirayu, dibawa ke tempat tidur. Ketika pada pagi harinya permaisuri masih tidur nyenyak berbantal tangan Sri Baginda, dan sebelah ikat pinggangnya juga tertindih. Perlahan-lahan Prabu Salya menarik tangannya, ikat pinggangnya dipotong dengan keris, dan payudaranya disisipi boneka emas, disertai kata-kata, "Ibu, si Bapak pergi berperang." Prabu Salya lalu keluar, melihat matahari sudah terbit. Pasukannya sudah lengkap, lalu kembali ke dalam, memeluk dan menciumi istrinya. Ujarnya demikian, "Dinda, selamat tidur, aku<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude> jap41pizy0camrjrofqz2vu2e1mhtgb Kaca:Bratayuda.pdf/63 250 24735 77491 2026-05-15T15:20:54Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77491 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>mohon diri hendak berperang." Berkata demikian itu sambil menahan air matanya. * ** Prabu Salya membetulkan pakaiannya. Matahari sudah tinggi. Lama pasukannya menanti. Prabu Salya keluar berkereta. Pasukannya lalu membunyikan tanda-tanda peperangan, serta mengatur gelar. Prabu Suyudana beserta pasukannya berkumpul pula di situ. Pandawa pun sudah mengatur gelar dan membunyikan tandatanda peperangan, lalu pertempuran pun dimulai. Awal pertempuran itu bagaikan mendung bertemu dengan mendung, sedangkan gemuruhnya suara bagaikan gunung runtuh. Sudah banyak yang mati. Korawa memastikan bahwa Pandawa akan habis punah oleh senapati Salya. Prabu Salya mengeluarkan kesaktian Candabirawa, lalu bermunculanlah raksasa bermacam-macam ujudnya dari tubuhnya. Raksasa-raksasa itu memenuhi medan perang, semuanya membawa senjata, mengejar musuh, memedang serta menggigit. Apabila dibalas a tau dibunuh, raksasa itu menjadi semakin banyak. Gemuruh sorak-sorai Korawa, dan sangat g~mbira melihat- nya. Pasukan Pandawa banyak yang mati, ketakutan dan melarikan diri, mengungsi di belakang Prabu Yudistira dan Sri Kresna. Sri Kresna memanggil pasukan Pandawa, diperintahkan supaya membuang senjatanya, dan menutup kepalanya. Perintah Sri Kresna segera dilaksanakan. Raksasa yang keluar dari kesaktian Candabirawa lalu tinggal, berdiri termangu-mangu menghadapi musuh mereka. Sri Kresna lalu mendesak Prabu Yudistira supaya melawan Prabu Salya. Prabu Yudistira segera mengendarai kereta, maju ke medan perang. Prabu Salya sekali lagi mengeluarkan kesaktian Candabirawanya, dan keluarlah raksasa dari tubuhnya. Besar-besar, dan lebih banyak lagi melebihi yang pertama tadi. Semua men- 66<noinclude></noinclude> dc77dfgc4q8yiueofj2envd8ef1tgl7 77524 77491 2026-05-15T16:00:13Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77524 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>mohon diri hendak berperang." Berkata demikian itu sambil menahan air matanya. {{C|* * *}} Prabu Salya membetulkan pakaiannya. Matahari sudah tinggi. Lama pasukannya menanti. Prabu Salya keluar berkereta. Pasukannya lalu membunyikan tanda-tanda peperangan, serta mengatur gelar. Prabu Suyudana beserta pasukannya berkumpul pula di situ. Pandawa pun sudah mengatur gelar dan membunyikan tanda-tanda peperangan, lalu pertempuran pun dimulai. Awal pertempuran itu bagaikan mendung bertemu dengan mendung, sedangkan gemuruhnya suara bagaikan gunung runtuh. Sudah banyak yang mati. Korawa memastikan bahwa Pandawa akan habis punah oleh senapati Salya. Prabu Salya mengeluarkan kesaktian Candabirawa, lalu bermunculanlah raksasa bermacam-macam ujudnya dari tubuhnya. Raksasa-raksasa itu memenuhi medan perang, semuanya membawa senjata, mengejar musuh, memedang serta menggigit. Apabila dibalas atau dibunuh, raksasa itu menjadi semakin banyak. Gemuruh sorak-sorai Korawa, dan sangat gembira melihatnya. Pasukan Pandawa banyak yang mati, ketakutan dan melarikan diri, mengungsi di belakang Prabu Yudistira dan Sri Kresna. Sri Kresna memanggil pasukan Pandawa, diperintahkan supaya membuang senjatanya, dan menutup kepalanya. Perintah Sri Kresna segera dilaksanakan. Raksasa yang keluar dari kesaktian Candabirawa lalu tinggal, berdiri termangu-mangu menghadapi musuh mereka. Sri Kresna lalu mendesak Prabu Yudistira supaya melawan Prabu Salya. Prabu Yudistira segera mengendarai kereta, maju ke medan perang. Prabu Salya sekali lagi mengeluarkan kesaktian Candabirawanya, dan keluarlah raksasa dari tubuhnya. Besar-besar, dan lebih banyak lagi melebihi yang pertama tadi. Semua men-<noinclude>{{rh|66}}</noinclude> fr7hrbmxlfq7nd9hroox1te5ki8320q 78315 77524 2026-05-16T09:36:36Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78315 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mohon diri hendak berperang." Berkata demikian itu sambil menahan air matanya. {{C|* * *}} Prabu Salya membetulkan pakaiannya. Matahari sudah tinggi. Lama pasukannya menanti. Prabu Salya keluar berkereta. Pasukannya lalu membunyikan tanda-tanda peperangan, serta mengatur gelar. Prabu Suyudana beserta pasukannya berkumpul pula di situ. Pandawa pun sudah mengatur gelar dan membunyikan tanda-tanda peperangan, lalu pertempuran pun dimulai. Awal pertempuran itu bagaikan mendung bertemu dengan mendung, sedangkan gemuruhnya suara bagaikan gunung runtuh. Sudah banyak yang mati. Korawa memastikan bahwa Pandawa akan habis punah oleh senapati Salya. Prabu Salya mengeluarkan kesaktian Candabirawa, lalu bermunculanlah raksasa bermacam-macam ujudnya dari tubuhnya. Raksasa-raksasa itu memenuhi medan perang, semuanya membawa senjata, mengejar musuh, memedang serta menggigit. Apabila dibalas atau dibunuh, raksasa itu menjadi semakin banyak. Gemuruh sorak-sorai Korawa, dan sangat gembira melihatnya. Pasukan Pandawa banyak yang mati, ketakutan dan melarikan diri, mengungsi di belakang Prabu Yudistira dan Sri Kresna. Sri Kresna memanggil pasukan Pandawa, diperintahkan supaya membuang senjatanya, dan menutup kepalanya. Perintah Sri Kresna segera dilaksanakan. Raksasa yang keluar dari kesaktian Candabirawa lalu tinggal, berdiri termangu-mangu menghadapi musuh mereka. Sri Kresna lalu mendesak Prabu Yudistira supaya melawan Prabu Salya. Prabu Yudistira segera mengendarai kereta, maju ke medan perang. Prabu Salya sekali lagi mengeluarkan kesaktian Candabirawanya, dan keluarlah raksasa dari tubuhnya. Besar-besar, dan lebih banyak lagi melebihi yang pertama tadi. Semua {{hws|men|mendekati}}<noinclude>{{rh|66}}</noinclude> d28xdxc6ao3g299q67a65hjj7cp26q0 Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/22 250 24736 77497 2026-05-15T15:23:53Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77497 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>tyasé katrem kajoman aguttinds budi budyardja mardjajeng linut amawas pongésti awon</ol></poem> 21.. Ninggal pakarti dudu kadarpaning paréntah ginugu mring pakarjan saregep temen nastiti ngisor nduwur tyasd djuapuh tan ana wron-winaon 22. Neratani sapradja gung Z keh sardjana sudjm* ing kewuh nore kéwran ing witjar2e agel alit pulih duk ajaman rumnuhun tyasé teteg toquh tangzon Tjiéntangan (1) Serat "§ Tama" seker Gambuh 22 p dz ing nginggil partes yan mési sandi-ssmani- pw i ngkeng ijes2, mangs$n wonten ing wiwits- ing Pada, muagel; " Radéd Ngsothi Renggawarsi- ta ing tedung Kol Surakarta-adiaingrat" . (2) Sandi-. i +jénipun kénging kanggé titikan ging éman- ipun katah sandi-asma ingkang gad Zan. 3oten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Rangzawarsitan ananging sanés ijaserfipun 2.Ne. Ranggawarsi ta, Ugi wonten "djangka" sekar gambuh 5 pada Mawi sandi-asma Ranggawersitan Zadungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Randa" ing Surekarta taun 1900. langkung welasan, u~ ngelipun makaten : 1. Rong nétra wus tumlakup meren dipet ngatas mring Hjang Agun- njuyvan uning wehananira ing wuri ojar sumilak katon Imgu. skal anening lalakon : %<noinclude></noinclude> fxvo4iat3cu4jrjdponboltjxobiryt 77523 77497 2026-05-15T15:55:21Z Suga Widi 1719 /* Masalah */ tidak jadi menguji baca 77523 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="2" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>tyasé katrem kajoman aguttinds budi budyardja mardjajeng linut amawas pongésti awon</ol></poem> {{ordered list|list_style_type=decimal|start=21 |<poem>Ninggal pakarti dudu kadarpaning paréntah ginugu mring pakarjan saregep temen nastiti ngisor nduwur tyasé djumbuh tan ana wron-winaon 22. Neratani sapradja gung Z keh sardjana sudjm* ing kewuh nore kéwran ing witjar2e agel alit pulih duk ajaman rumnuhun tyasé teteg toquh tangzon Tjiéntangan (1) Serat "§ Tama" seker Gambuh 22 p dz ing nginggil partes yan mési sandi-ssmani- pw i ngkeng ijes2, mangs$n wonten ing wiwits- ing Pada, muagel; " Radéd Ngsothi Renggawarsi- ta ing tedung Kol Surakarta-adiaingrat" . (2) Sandi-. i +jénipun kénging kanggé titikan ging éman- ipun katah sandi-asma ingkang gad Zan. 3oten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Rangzawarsitan ananging sanés ijaserfipun 2.Ne. Ranggawarsi ta, Ugi wonten "djangka" sekar gambuh 5 pada Mawi sandi-asma Ranggawersitan Zadungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Randa" ing Surekarta taun 1900. langkung welasan, u~ ngelipun makaten : 1. Rong nétra wus tumlakup meren dipet ngatas mring Hjang Agun- njuyvan uning wehananira ing wuri ojar sumilak katon Imgu. skal anening lalakon : %<noinclude></noinclude> 8rw64la07wzvbqymxyf9eyo2mypak92 77975 77523 2026-05-16T01:48:45Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77975 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>::tyasé katrem kajoman ajuhing budi ::budyardja mardjajèng limut ::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem> <ol start=21> <li><poem>Ninggal pakarti dudu kadarpaning paréntah ginugu mring pakarjan saregep temen nastiti ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh tan ana waon-winaon</poem></li> <li><poem>Ngratani sapradja gung kèh sardjana sudjana ing kéwuh nora kéwran ing witjara agal alit pulih duk djaman rumuhun tyasé teteg teguh tanggon</poem></li> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat". (2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita. Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten: <ol start=1> <li><poem>Rong nétra wus tumlakup merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung njuwun uning wahananira ing wuri bjar sumilak katon lugu bakal ananing lalakon</poem></li><noinclude></noinclude> gqycv2naa4iqz07ofnckggfgqdxxdfw 77976 77975 2026-05-16T01:49:09Z Abdansykr26 860 77976 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>:::tyasé katrem kajoman ajuhing budi :::budyardja mardjajèng limut :::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem> <ol start=21> <li><poem>Ninggal pakarti dudu kadarpaning paréntah ginugu mring pakarjan saregep temen nastiti ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh tan ana waon-winaon</poem></li> <li><poem>Ngratani sapradja gung kèh sardjana sudjana ing kéwuh nora kéwran ing witjara agal alit pulih duk djaman rumuhun tyasé teteg teguh tanggon</poem></li> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat". (2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita. Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten: <ol start=1> <li><poem>Rong nétra wus tumlakup merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung njuwun uning wahananira ing wuri bjar sumilak katon lugu bakal ananing lalakon</poem></li><noinclude></noinclude> q83gmxkwtwmt4rnxhsulzvx1se07h70 77977 77976 2026-05-16T01:49:59Z Abdansykr26 860 77977 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>:::tyasé katrem kajoman ajuhing budi :::budyardja mardjajèng limut :::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem> <ol start=21> <li><poem>Ninggal pakarti dudu kadarpaning paréntah ginugu mring pakarjan saregep temen nastiti ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh tan ana waon-winaon</poem></li> <li><poem>Ngratani sapradja gung kèh sardjana sudjana ing kéwuh nora kéwran ing witjara agal alit pulih duk djaman rumuhun tyasé teteg teguh tanggon</poem></li> </ol> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat". (2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita. Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten: <ol start=1> <li><poem>Rong nétra wus tumlakup merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung njuwun uning wahananira ing wuri bjar sumilak katon lugu bakal ananing lalakon</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> 0vtai826pfl72qh556u0t4vv4ebii6g 78365 77977 2026-05-16T10:01:01Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78365 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>:::tyasé katrem kajoman ajuhing budi :::budyardja mardjajèng limut :::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem> <ol start=21> <li><poem>Ninggal pakarti dudu kadarpaning paréntah ginugu mring pakarjan saregep temen nastiti ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh tan ana waon-winaon</poem></li> <li><poem>Ngratani sapradja gung kèh sardjana sudjana ing kéwuh nora kéwran ing witjara agal alit pulih duk djaman rumuhun tyasé teteg teguh tanggon</poem></li> </ol> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat". (2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita. Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten: <ol start=1> <li><poem>Rong nétra wus tumlakup merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung njuwun uning wahananira ing wuri bjar sumilak katon lugu bakal ananing lalakon</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> m6lvdml7wbqn9n1ow7lpb2x8vmed7pf Kaca:Bratayuda.pdf/64 250 24737 77525 2026-05-15T16:00:39Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77525 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>dekati Prabu Yudistira. Prabu Yudistira segera memandang Kalimasada, yang kemudian mengeluarkan api sangat besar. Api tadi lalu membakar raksasa tadi, habis tak bersisa. Prabu Yudistira lalu melemparkan Kalimasada, mengenai dada Prabu Salya, dan gugurlah ia, berdembam jatuh di keretanya. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh, seraya menyerbu mengejar musuh. Korawa lari lintang-pukang. Akan tetapi banyak yang terkejar dan terbunuh serta takluk. Patih Sengkuni terkejar oleh Raden Wrekodara lalu dipotong-potong. Prabu Suyudana kembali ke pesanggrahan dengan seluruh pasukan, punggawa maupun para satria. *** Ada seorang bupati Mandaraka sudah tua, terluka ketika turut Prabu Salya ke medan perang, ia memberi kabar kepada Dewi Setyawati, bahwa Sri Baginda gugur di medan perang. Mendengar keterangan tersebut, Dewi Setyawati lalu jatuh pingsan. Setelah sadar, tekadnya bulat berniat membela suami, lalu mengendarai kereta sambil membawa patram, diiringkan seorang abdi perempuan bernama Sugandini. Ia berniat pergi ke Kurusetra mencari jenazah suaminya. Ketika hampir sampai di Kurusetra keretanya remuk, sehingga terpaksa berjalan kaki mencari jenazah suami. Lama-kelamaan ketemu, Dewi Setyawati segera menghunus patram. Ditikamkan ke dadanya, lalu meninggal. Abdi perempuan yang bernama Sugandini juga menikam tubuhnya membela junjungannya. Kemudian para dewa dan para bidadari mengantar nyawa Prabu Salya, beserta nyawa Dewi Setyawati ke Suralaya. Di situ mereka memperoleh anugerah sorga. · 67<noinclude></noinclude> n7ro58kvuxiak4dv5eceslv0gcul5lf 77526 77525 2026-05-15T16:04:03Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77526 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>dekati Prabu Yudistira. Prabu Yudistira segera memandang Kalimasada, yang kemudian mengeluarkan api sangat besar. Api tadi lalu membakar raksasa tadi, habis tak bersisa. Prabu Yudistira lalu melemparkan Kalimasada, mengenai dada Prabu Salya, dan gugurlah ia, berdembam jatuh di keretanya. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh, seraya menyerbu mengejar musuh. Korawa lari lintang-pukang. Akan tetapi banyak yang terkejar dan terbunuh serta takluk. Patih Sengkuni terkejar oleh Raden Wrekodara lalu dipotong-potong. Prabu Suyudana kembali ke pesanggrahan dengan seluruh pasukan, punggawa maupun para satria. {{C|* * *}} Ada seorang bupati Mandaraka sudah tua, terluka ketika turut Prabu Salya ke medan perang, ia memberi kabar kepada Dewi Setyawati, bahwa Sri Baginda gugur di medan perang. Mendengar keterangan tersebut, Dewi Setyawati lalu jatuh pingsan. Setelah sadar, tekadnya bulat berniat membela suami, lalu mengendarai kereta sambil membawa patram, diiringkan seorang abdi perempuan bernama Sugandini. Ia berniat pergi ke Kurusetra mencari jenazah suaminya. Ketika hampir sampai di Kurusetra keretanya remuk, sehingga terpaksa berjalan kaki mencari jenazah suami. Lama-kelamaan ketemu, Dewi Setyawati segera menghunus patram. Ditikamkan ke dadanya, lalu meninggal. Abdi perempuan yang bernama Sugandini juga menikam tubuhnya membela junjungannya. Kemudian para dewa dan para bidadari mengantar nyawa Prabu Salya, beserta nyawa Dewi Setyawati ke Suralaya. Di situ mereka memperoleh anugerah sorga.<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude> p6w9tszycibaxxsmm4jr83lpmvorya1 78316 77526 2026-05-16T09:36:51Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78316 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|dekati|mendekati}} Prabu Yudistira. Prabu Yudistira segera memandang Kalimasada, yang kemudian mengeluarkan api sangat besar. Api tadi lalu membakar raksasa tadi, habis tak bersisa. Prabu Yudistira lalu melemparkan Kalimasada, mengenai dada Prabu Salya, dan gugurlah ia, berdembam jatuh di keretanya. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh, seraya menyerbu mengejar musuh. Korawa lari lintang-pukang. Akan tetapi banyak yang terkejar dan terbunuh serta takluk. Patih Sengkuni terkejar oleh Raden Wrekodara lalu dipotong-potong. Prabu Suyudana kembali ke pesanggrahan dengan seluruh pasukan, punggawa maupun para satria. {{C|* * *}} Ada seorang bupati Mandaraka sudah tua, terluka ketika turut Prabu Salya ke medan perang, ia memberi kabar kepada Dewi Setyawati, bahwa Sri Baginda gugur di medan perang. Mendengar keterangan tersebut, Dewi Setyawati lalu jatuh pingsan. Setelah sadar, tekadnya bulat berniat membela suami, lalu mengendarai kereta sambil membawa patram, diiringkan seorang abdi perempuan bernama Sugandini. Ia berniat pergi ke Kurusetra mencari jenazah suaminya. Ketika hampir sampai di Kurusetra keretanya remuk, sehingga terpaksa berjalan kaki mencari jenazah suami. Lama-kelamaan ketemu, Dewi Setyawati segera menghunus patram. Ditikamkan ke dadanya, lalu meninggal. Abdi perempuan yang bernama Sugandini juga menikam tubuhnya membela junjungannya. Kemudian para dewa dan para bidadari mengantar nyawa Prabu Salya, beserta nyawa Dewi Setyawati ke Suralaya. Di situ mereka memperoleh anugerah sorga.<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude> 0j3c1es7toiwwoe7534bwbj80ugpdb7 Kaca:Bratayuda.pdf/65 250 24738 77527 2026-05-15T16:04:37Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77527 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>j 9. SUYUDANA BERPERANG DENGAN WREKODARA. PANDAWA MEMASUKI ASTINA Tersebutlah Prabu Suyudana, setelah negeri Astina direbut musuh, karena takutnya lalu bersembunyi di tepi laut, atau di muara sungai, berendam dalam air. Akan tetapi tempat persembunyiannya diketahui oleh prajurit Pandawa. Lalu dilaporkan kepada Prabu Yudistira, dim kepada Sri Kresna. Lalu berangkat dengan pasukannya. Setiba mereka di tepi laut, pasukan Pandawa melihat tingkahlaku Prabu Suyudana yang berendam di dalam air. Wrekodara menantangnya dati darat seraya mengata-ngatai, karena tidak pantas jika seorang raja, kalah perang lalu bersembunyi, takut mati. Ia disuruh keluar dati air akan diajak berperang tanding. Mendengar tantangan itu Prabu Suyudana segera keluar dati air, rambutnya terurai serta basah. kuyup, langsung pergi ke hadapan Sri Kresna. Sri Kresna bertanya, apakah sekiranya berani diadu dalam perang tanding dengan Wrekodara. Suyudana menyatakan keberaniannya. Sri Kresna memberi perintah kepada prajuritnya, supaya memberi pakaian kerajaan kepada Pwbu Suyudana, dan senjata gada. Kemudian datanglah dengan tiba-tiba Prabu Baladewa, raja Madura, pulang dati bertapa di bawah air te:rjun yang besar. Sri Kresna dan Prabu Yudistira bersaudara segera menyongsong, dan mengucapkan selamat datang. Dan menjelaskan, bahwa Prabu Baladewa sudah tidak lagi turut menyaksikan Perang Baratayuda, akan tetapi akan menyaksikan perang tanding antara Wrekodara dengan Suyudana. Prabu Baladewa diminta merestuinya. Prabu Baladewa menjawab, mengapa ia segera pulang dati pertapaan, karena diberi tahu oleh Sanghyang Narada, bahwa ia tidak akan sempat melihat Perang Baratayuda. Sekarang akan merestui mereka, yang akan berperang tanding. Adapun Prabu Suyudana, ketika melihat hadimya Prabu 68<noinclude></noinclude> pekafq1b0oq0mjmk861ygo0dxzk3aaf 77528 77527 2026-05-15T16:09:47Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77528 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''9. SUYUDANA BERPERANG DENGAN WREKODARA.'''<br>'''PANDAWA MEMASUKI ASTINA'''}} Tersebutlah Prabu Suyudana, setelah negeri Astina direbut musuh, karena takutnya lalu bersembunyi di tepi laut, atau di muara sungai, berendam dalam air. Akan tetapi tempat persembunyiannya diketahui oleh prajurit Pandawa. Lalu dilaporkan kepada Prabu Yudistira, dan kepada Sri Kresna. Lalu berangkat dengan pasukannya. Setiba mereka di tepi laut, pasukan Pandawa melihat tingkahlaku Prabu Suyudana yang berendam di dalam air. Wrekodara menantangnya dati darat seraya mengata-ngatai, karena tidak pantas jika seorang raja, kalah perang lalu bersembunyi, takut mati. Ia disuruh keluar dati air akan diajak berperang tanding. Mendengar tantangan itu Prabu Suyudana segera keluar dati air, rambutnya terurai serta basah. kuyup, langsung pergi ke hadapan Sri Kresna. Sri Kresna bertanya, apakah sekiranya berani diadu dalam perang tanding dengan Wrekodara. Suyudana menyatakan keberaniannya. Sri Kresna memberi perintah kepada prajuritnya, supaya memberi pakaian kerajaan kepada Pwbu Suyudana, dan senjata gada. Kemudian datanglah dengan tiba-tiba Prabu Baladewa, raja Madura, pulang dati bertapa di bawah air terjun yang besar. Sri Kresna dan Prabu Yudistira bersaudara segera menyongsong, dan mengucapkan selamat datang. Dan menjelaskan, bahwa Prabu Baladewa sudah tidak lagi turut menyaksikan Perang Baratayuda, akan tetapi akan menyaksikan perang tanding antara Wrekodara dengan Suyudana. Prabu Baladewa diminta merestuinya. Prabu Baladewa menjawab, mengapa ia segera pulang dati pertapaan, karena diberi tahu oleh Sanghyang Narada, bahwa ia tidak akan sempat melihat Perang Baratayuda. Sekarang akan merestui mereka, yang akan berperang tanding. Adapun Prabu Suyudana, ketika melihat hadirnya Prabu<noinclude>{{rh|68}}</noinclude> fvjwy4wqcfxqrexceqex3htjjznfkry 78317 77528 2026-05-16T09:37:01Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78317 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''9. SUYUDANA BERPERANG DENGAN WREKODARA.'''<br>'''PANDAWA MEMASUKI ASTINA'''}} Tersebutlah Prabu Suyudana, setelah negeri Astina direbut musuh, karena takutnya lalu bersembunyi di tepi laut, atau di muara sungai, berendam dalam air. Akan tetapi tempat persembunyiannya diketahui oleh prajurit Pandawa. Lalu dilaporkan kepada Prabu Yudistira, dan kepada Sri Kresna. Lalu berangkat dengan pasukannya. Setiba mereka di tepi laut, pasukan Pandawa melihat tingkahlaku Prabu Suyudana yang berendam di dalam air. Wrekodara menantangnya dati darat seraya mengata-ngatai, karena tidak pantas jika seorang raja, kalah perang lalu bersembunyi, takut mati. Ia disuruh keluar dati air akan diajak berperang tanding. Mendengar tantangan itu Prabu Suyudana segera keluar dati air, rambutnya terurai serta basah. kuyup, langsung pergi ke hadapan Sri Kresna. Sri Kresna bertanya, apakah sekiranya berani diadu dalam perang tanding dengan Wrekodara. Suyudana menyatakan keberaniannya. Sri Kresna memberi perintah kepada prajuritnya, supaya memberi pakaian kerajaan kepada Pwbu Suyudana, dan senjata gada. Kemudian datanglah dengan tiba-tiba Prabu Baladewa, raja Madura, pulang dati bertapa di bawah air terjun yang besar. Sri Kresna dan Prabu Yudistira bersaudara segera menyongsong, dan mengucapkan selamat datang. Dan menjelaskan, bahwa Prabu Baladewa sudah tidak lagi turut menyaksikan Perang Baratayuda, akan tetapi akan menyaksikan perang tanding antara Wrekodara dengan Suyudana. Prabu Baladewa diminta merestuinya. Prabu Baladewa menjawab, mengapa ia segera pulang dati pertapaan, karena diberi tahu oleh Sanghyang Narada, bahwa ia tidak akan sempat melihat Perang Baratayuda. Sekarang akan merestui mereka, yang akan berperang tanding. Adapun Prabu Suyudana, ketika melihat hadirnya Prabu<noinclude>{{rh|68}}</noinclude> mq5k6244qbw43lazk9r8ekzrj3ndd2k Kaca:Bratayuda.pdf/66 250 24739 77530 2026-05-15T16:10:13Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77530 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Baladewa, hatinya menjadi sangat gembira, sebab merasa ada yang akan menolong dirinya. Sebabnya ialah, negara Madura itu termasuk dalam wilayah negeri Astina, dan Prabu Baladewa merupakan raja yang dapat diandalkan dalam peperangan. Sesudah Prabu Suyudana mengenakan pakaian kerajaan, dan membawa gada yang besar, lalu mulailah perang tanding dengan Wrekodara. Arjuna cemas, kalau-kalau kakaknya kalah. Ia lalu hertanya kepada Sri Kresna, siapa yang akan kalah dalam perang tanding itu. Sri Kresna memberi penjelasan, dan Atjuna diperintahkan untuk memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, cukup darijauh saja, bahwa kelemahan Prabu Suyudana berada di paha kirinya. Arjuna segera maju, agak mendekati yang sedang berperang tanding. Arjuna memberi isyarat dengan mata seraya memukulmukul paha kirinya. Sekejap Wrekodara melihat isyarat adiknya, ia telah mengerti, lalu segera mendesak , untuk berperang dalam jarak dekat . Suyudana kebingungan, dan berniat melepaskan diri agar memperoleh tempat yang lapang. Lalu melompat, tetapi pada saat itu juga gada Wrekodara menghantamnya, tepat mengenai paha kirinya. Suyudana roboh, lalu dihantam lagi dengan gada, rambutnya dijambak, dan berulang-ulang ditendang oleh Raden Wrekodara. Hati Prabu Baladewa tersinggung, karena Wrekodara telah memukul secara sewenang-wenang, tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi seorang raja. Ia segera menyiapkan nenggala, akan dilemparkan ke arah Wrekodara. Sri Kresna gugup hatinya ketika melihat hal itu, lalu segera memegang nenggala Prabu Baladewa, serta meredakan amarahnya, dan jangan mengganggu perbuatan Wrekodara. Mengapa Suyudana mati tersia-sia, karena Prabu Suyudana terkena laknat Bagawan Maitreya, dan terkena oleh permohonan Dewi Drupadi. Dewi Drupadi, dulu pemah dianiaya, sehingga dengan demikian Wrekodara itu hanya sekedar membalaskan sakit hati. Kemarahan Prabu Baladewa sudah reda, lalu dipersilakan mendahului, masuk ke negeri Astina. Prabu Baladewa memenuhi permintaan adiknya, Sri Kresna. 69<noinclude></noinclude> 96g7ylxcbyn964d49hofoc792fsw15p 77533 77530 2026-05-15T16:15:19Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77533 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Baladewa, hatinya menjadi sangat gembira, sebab merasa ada yang akan menolong dirinya. Sebabnya ialah, negara Madura itu termasuk dalam wilayah negeri Astina, dan Prabu Baladewa merupakan raja yang dapat diandalkan dalam peperangan. Sesudah Prabu Suyudana mengenakan pakaian kerajaan, dan membawa gada yang besar, lalu mulailah perang tanding dengan Wrekodara. Arjuna cemas, kalau-kalau kakaknya kalah. Ia lalu hertanya kepada Sri Kresna, siapa yang akan kalah dalam perang tanding itu. Sri Kresna memberi penjelasan, dan Arjuna diperintahkan untuk memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, cukup dari jauh saja, bahwa kelemahan Prabu Suyudana berada di paha kirinya. Arjuna segera maju, agak mendekati yang sedang berperang tanding. Arjuna memberi isyarat dengan mata seraya memukul-mukul paha kirinya. Sekejap Wrekodara melihat isyarat adiknya, ia telah mengerti, lalu segera mendesak, untuk berperang dalam jarak dekat. Suyudana kebingungan, dan berniat melepaskan diri agar memperoleh tempat yang lapang. Lalu melompat, tetapi pada saat itu juga gada Wrekodara menghantamnya, tepat mengenai paha kirinya. Suyudana roboh, lalu dihantam lagi dengan gada, rambutnya dijambak, dan berulang-ulang ditendang oleh Raden Wrekodara. Hati Prabu Baladewa tersinggung, karena Wrekodara telah memukul secara sewenang-wenang, tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi seorang raja. Ia segera menyiapkan nenggala, akan dilemparkan ke arah Wrekodara. Sri Kresna gugup hatinya ketika melihat hal itu, lalu segera memegang nenggala Prabu Baladewa, serta meredakan amarahnya, dan jangan mengganggu perbuatan Wrekodara. Mengapa Suyudana mati tersia-sia, karena Prabu Suyudana terkena laknat Bagawan Maitreya, dan terkena oleh permohonan Dewi Drupadi. Dewi Drupadi, dulu pernah dianiaya, sehingga dengan demikian Wrekodara itu hanya sekedar membalaskan sakit hati. Kemarahan Prabu Baladewa sudah reda, lalu dipersilakan mendahului, masuk ke negeri Astina. Prabu Baladewa memenuhi permintaan adiknya, Sri Kresna.<noinclude>{{rh|||69}}</noinclude> l1eytddteqk68gjsk3nus5bg2pm98ah 78318 77533 2026-05-16T09:37:10Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78318 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Baladewa, hatinya menjadi sangat gembira, sebab merasa ada yang akan menolong dirinya. Sebabnya ialah, negara Madura itu termasuk dalam wilayah negeri Astina, dan Prabu Baladewa merupakan raja yang dapat diandalkan dalam peperangan. Sesudah Prabu Suyudana mengenakan pakaian kerajaan, dan membawa gada yang besar, lalu mulailah perang tanding dengan Wrekodara. Arjuna cemas, kalau-kalau kakaknya kalah. Ia lalu hertanya kepada Sri Kresna, siapa yang akan kalah dalam perang tanding itu. Sri Kresna memberi penjelasan, dan Arjuna diperintahkan untuk memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, cukup dari jauh saja, bahwa kelemahan Prabu Suyudana berada di paha kirinya. Arjuna segera maju, agak mendekati yang sedang berperang tanding. Arjuna memberi isyarat dengan mata seraya memukul-mukul paha kirinya. Sekejap Wrekodara melihat isyarat adiknya, ia telah mengerti, lalu segera mendesak, untuk berperang dalam jarak dekat. Suyudana kebingungan, dan berniat melepaskan diri agar memperoleh tempat yang lapang. Lalu melompat, tetapi pada saat itu juga gada Wrekodara menghantamnya, tepat mengenai paha kirinya. Suyudana roboh, lalu dihantam lagi dengan gada, rambutnya dijambak, dan berulang-ulang ditendang oleh Raden Wrekodara. Hati Prabu Baladewa tersinggung, karena Wrekodara telah memukul secara sewenang-wenang, tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi seorang raja. Ia segera menyiapkan nenggala, akan dilemparkan ke arah Wrekodara. Sri Kresna gugup hatinya ketika melihat hal itu, lalu segera memegang nenggala Prabu Baladewa, serta meredakan amarahnya, dan jangan mengganggu perbuatan Wrekodara. Mengapa Suyudana mati tersia-sia, karena Prabu Suyudana terkena laknat Bagawan Maitreya, dan terkena oleh permohonan Dewi Drupadi. Dewi Drupadi, dulu pernah dianiaya, sehingga dengan demikian Wrekodara itu hanya sekedar membalaskan sakit hati. Kemarahan Prabu Baladewa sudah reda, lalu dipersilakan mendahului, masuk ke negeri Astina. Prabu Baladewa memenuhi permintaan adiknya, Sri Kresna.<noinclude>{{rh|||69}}</noinclude> jhl9jgraueps6mztuq79mxjdqzsdaqk Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/8 250 24740 77532 2026-05-15T16:15:13Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 77532 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{rh||-9-}}</noinclude>bolonganipun katah wiwit saking ageng dumugi alit, dipun urutaken miturut ageng aliting gapitipun wajang ingkang kasumping. Punika katjawisna inggih wonten kanggenipun. Dados saged njuda tali ingkang dipun kenteng angsal saka sami saka punika wau. Manawi sampun rampung, papan djogan utawi mester dipun sapu ingkang resik, sampun ngantos teles utawi anjes. Ladjeng dipun gelarana klasa pasir ingkang resik utawi klasa patjar (mendong). Kotak ladjeng wiwit dipun usung dateng papan ingkang sampun katata sae punika wau, kapapana ingkang saketja sampun ngantos makewedi anggenipun bade ngisis ngedalaken wajang. Kain perlak lurubing kotak kapendeta rumijin, ladjeng kasampirna ing papan ingkang prajogi sampun ngantos kenging bentering surja, kadjawi enggal risak, inggih anggadahi daja sumuk, tumrap dateng ringgit boten sae. Manawi sampun rampung, gemboking kotak ladjeng wiwit kabikaka. Ladjeng gentos ambikak tutuping kotak, kaprenahna wonten ing papan ingkang saketja sarta sampun ngantos makewedi ugi. Ladjeng eblek tutuping ringgit ingkang nginggil pijambak wiwit kabikaka, katumpangna wonten sanginggiling tutup kotak punika wau, perlu kangge lambaran ringgit ingkang boten mawi tanganan. Ladjeng kelir kaisisa rumijin, kasorotna ing surja sakedap sampun ngantos kadangon. Manawi sampun anget dipun entasa, kalijan dipun kebut kebutaken ladjeng dipun lempit kasampirna wonten ing papan ingkang ajom ing salebeting pandapi utawi grija. a. '''Tjaranipun ngedalaken Ringgit kawiwitan sangking: Sumpingan Sisih Tengen.''' Sapunika ladjeng wiwit njandak ngedalaken ringgit. Adakanipun ingkang wonten ing nginggil pijambak punika kajon (gunungan) ladjeng kapendeta katumpangna ing eblek ingkang wonten nginggil tutup kotak punika wau, utawi wonten ing papan tantjeban kadjeng ingkang sampun katjawisaken punika wau. Ladjeng ringgit bagean sumpingan sisih tengen, inggih punika wiwit saking prabu Tuhuwasesa (Sena dados ratu) punika kapendeta rumijin. Tanganing wajang ingkang ngadjeng kasampirna ing tali ingkang dipun kenteng punika wau, makaten sak piturutipun ngantos sumpingan bagean tengen telas dumugi ringgit putran lare alit (bajen) saha dewa Rutji. Manawi sampun njandak dumugi wajang estren dipun leti saka, sageda katingal pilah bagean ageng tuwin alit. Manawi sampun rupak njandak kenteng sangandapipun, nanging pamasangipun kadamela ungkur-ungkuran, dados ingkang ringgit alit pijambak saged dawah wonten<noinclude></noinclude> 5erfx8l9497jbdg9kl2txx7uqkjkmvq 77534 77532 2026-05-15T16:15:28Z Elcamatcha 1466 77534 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{rh||-9-}}</noinclude>bolonganipun katah wiwit saking ageng dumugi alit, dipun urutaken miturut ageng aliting gapitipun wajang ingkang kasumping. Punika katjawisna inggih wonten kanggenipun. Dados saged njuda tali ingkang dipun kenteng angsal saka sami saka punika wau. Manawi sampun rampung, papan djogan utawi mester dipun sapu ingkang resik, sampun ngantos teles utawi anjes. Ladjeng dipun gelarana klasa pasir ingkang resik utawi klasa patjar (mendong). Kotak ladjeng wiwit dipun usung dateng papan ingkang sampun katata sae punika wau, kapapana ingkang saketja sampun ngantos makewedi anggenipun bade ngisis ngedalaken wajang. Kain perlak lurubing kotak kapendeta rumijin, ladjeng kasampirna ing papan ingkang prajogi sampun ngantos kenging bentering surja, kadjawi enggal risak, inggih anggadahi daja sumuk, tumrap dateng ringgit boten sae. Manawi sampun rampung, gemboking kotak ladjeng wiwit kabikaka. Ladjeng gentos ambikak tutuping kotak, kaprenahna wonten ing papan ingkang saketja sarta sampun ngantos makewedi ugi. Ladjeng eblek tutuping ringgit ingkang nginggil pijambak wiwit kabikaka, katumpangna wonten sanginggiling tutup kotak punika wau, perlu kangge lambaran ringgit ingkang boten mawi tanganan. Ladjeng kelir kaisisa rumijin, kasorotna ing surja sakedap sampun ngantos kadangon. Manawi sampun anget dipun entasa, kalijan dipun kebut kebutaken ladjeng dipun lempit kasampirna wonten ing papan ingkang ajom ing salebeting pandapi utawi grija. a. '''Tjaranipun ngedalaken Ringgit kawiwitan sangking:<br>Sumpingan Sisih Tengen.''' Sapunika ladjeng wiwit njandak ngedalaken ringgit. Adakanipun ingkang wonten ing nginggil pijambak punika kajon (gunungan) ladjeng kapendeta katumpangna ing eblek ingkang wonten nginggil tutup kotak punika wau, utawi wonten ing papan tantjeban kadjeng ingkang sampun katjawisaken punika wau. Ladjeng ringgit bagean sumpingan sisih tengen, inggih punika wiwit saking prabu Tuhuwasesa (Sena dados ratu) punika kapendeta rumijin. Tanganing wajang ingkang ngadjeng kasampirna ing tali ingkang dipun kenteng punika wau, makaten sak piturutipun ngantos sumpingan bagean tengen telas dumugi ringgit putran lare alit (bajen) saha dewa Rutji. Manawi sampun njandak dumugi wajang estren dipun leti saka, sageda katingal pilah bagean ageng tuwin alit. Manawi sampun rupak njandak kenteng sangandapipun, nanging pamasangipun kadamela ungkur-ungkuran, dados ingkang ringgit alit pijambak saged dawah wonten<noinclude></noinclude> rsaml7n4ei1sy11xjqjv4hs213kfbiy Kaca:Bratayuda.pdf/67 250 24741 77535 2026-05-15T16:15:37Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77535 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sepeninggal Prabu Baladewa, Wrekodara memuaskan keingin annya, berbuat sewenang-wenang terhadap Prabu Suyudana. Setelah tubuh Suyudana remuk, ia berkata, bahwa ia tidak mau mati, sebelum menginjak kepala Pandawa. Akan tetapi suara itu tidak diindahkan oleh Wrekodara. Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, Wrekodara dan para prajuritnya lalu kembali ke pesanggrahan. Jenazah Prabu Suyudana ditinggalkan begitu saja di tempatnya. Pada waktu itu Sri Kresna dan Prabu Yudistira belum berniat memasuki negeri Astina. Setiap malam mereka betjalan-jalan berkeliling di bekas medan perang, ke hutan atau ke gunung-gunung. *** Tersebutlah seorang putra Pendeta Druna, yakni Aswatama; yang sewaktu Perang Baratayuda masih berlang~ng, ia bertengkar dengan Prabu Salya, dan hampir-hampir berkelahi. Dalam hal itu Prabu Suyudana memihak Prabu Salya. Aswatama sakit hati, lalu bertapa ke tengah hutan. Ia tidak melihat saat-saat kalahnya negeri Astina. Pada waktu itu Aswatama sangat terkejut dengan datangnya permaisuri Prabu Suyudana beserta dua orang keluarga istana Astina, ialah Karpa dan Kartamarma, yang membawa kabar bahwa negeri Astina sudah kalah, Prabu Suyudana hilang di tengah-tengah peperangan , hidup matinya tak diketahui. Hati Aswatama merasa pilu, kasihan terhadap Prabu Suyudana, dan berniat untuk membela kesusahan. Lalu berangkat meninggalkan hutan, berlaku sebagai pencuri, dengan niat hendak membunuh para pemimpin Pandawa. Karpa, dan Kartamarma turut serta. Hari telah malam ketika mereka sampai di pesanggrahan. Sri Kresna sedang pergi berkeliling-keliling. Prabu Yudistira lima bersaudara turut serta. Aswatama menuju ke pesanggrahan Drustajumena dan Dewi Srikandi. Leher keduanya sudah dipenggal. Pesanggrahan menjadi gempar disertai tangis gemuruh. Aswatama lalu mer..gamuk, menggunakan panah api, sehingga banyak yang terbunuh. Raden Pan70<noinclude></noinclude> 5237q606ics7m1arop7l6uao89nchfb 77538 77535 2026-05-15T16:20:05Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77538 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sepeninggal Prabu Baladewa, Wrekodara memuaskan keingin annya, berbuat sewenang-wenang terhadap Prabu Suyudana. Setelah tubuh Suyudana remuk, ia berkata, bahwa ia tidak mau mati, sebelum menginjak kepala Pandawa. Akan tetapi suara itu tidak diindahkan oleh Wrekodara. Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, Wrekodara dan para prajuritnya lalu kembali ke pesanggrahan. Jenazah Prabu Suyudana ditinggalkan begitu saja di tempatnya. Pada waktu itu Sri Kresna dan Prabu Yudistira belum berniat memasuki negeri Astina. Setiap malam mereka berjalan-jalan berkeliling di bekas medan perang, ke hutan atau ke gunung-gunung. {{C|* * *}} Tersebutlah seorang putra Pendeta Druna, yakni Aswatama; yang sewaktu Perang Baratayuda masih berlangsung, ia bertengkar dengan Prabu Salya, dan hampir-hampir berkelahi. Dalam hal itu Prabu Suyudana memihak Prabu Salya. Aswatama sakit hati, lalu bertapa ke tengah hutan. Ia tidak melihat saat-saat kalahnya negeri Astina. Pada waktu itu Aswatama sangat terkejut dengan datangnya permaisuri Prabu Suyudana beserta dua orang keluarga istana Astina, ialah Karpa dan Kartamarma, yang membawa kabar bahwa negeri Astina sudah kalah, Prabu Suyudana hilang di tengah-tengah peperangan, hidup matinya tak diketahui. Hati Aswatama merasa pilu, kasihan terhadap Prabu Suyudana, dan berniat untuk membela kesusahan. Lalu berangkat meninggalkan hutan, berlaku sebagai pencuri, dengan niat hendak membunuh para pemimpin Pandawa. Karpa, dan Kartamarma turut serta. Hari telah malam ketika mereka sampai di pesanggrahan. Sri Kresna sedang pergi berkeliling-keliling. Prabu Yudistira lima bersaudara turut serta. Aswatama menuju ke pesanggrahan Drustajumena dan Dewi Srikandi. Leher keduanya sudah dipenggal. Pesanggrahan menjadi gempar disertai tangis gemuruh. Aswatama lalu mengamuk, menggunakan panah api, sehingga banyak yang terbunuh. Raden Pan-<noinclude>{{rh|70}}</noinclude> 1lp3xtv8zxxackl8h1ksqps7yp2jfyb 78320 77538 2026-05-16T09:37:49Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78320 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sepeninggal Prabu Baladewa, Wrekodara memuaskan keingin annya, berbuat sewenang-wenang terhadap Prabu Suyudana. Setelah tubuh Suyudana remuk, ia berkata, bahwa ia tidak mau mati, sebelum menginjak kepala Pandawa. Akan tetapi suara itu tidak diindahkan oleh Wrekodara. Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, Wrekodara dan para prajuritnya lalu kembali ke pesanggrahan. Jenazah Prabu Suyudana ditinggalkan begitu saja di tempatnya. Pada waktu itu Sri Kresna dan Prabu Yudistira belum berniat memasuki negeri Astina. Setiap malam mereka berjalan-jalan berkeliling di bekas medan perang, ke hutan atau ke gunung-gunung. {{C|* * *}} Tersebutlah seorang putra Pendeta Druna, yakni Aswatama; yang sewaktu Perang Baratayuda masih berlangsung, ia bertengkar dengan Prabu Salya, dan hampir-hampir berkelahi. Dalam hal itu Prabu Suyudana memihak Prabu Salya. Aswatama sakit hati, lalu bertapa ke tengah hutan. Ia tidak melihat saat-saat kalahnya negeri Astina. Pada waktu itu Aswatama sangat terkejut dengan datangnya permaisuri Prabu Suyudana beserta dua orang keluarga istana Astina, ialah Karpa dan Kartamarma, yang membawa kabar bahwa negeri Astina sudah kalah, Prabu Suyudana hilang di tengah-tengah peperangan, hidup matinya tak diketahui. Hati Aswatama merasa pilu, kasihan terhadap Prabu Suyudana, dan berniat untuk membela kesusahan. Lalu berangkat meninggalkan hutan, berlaku sebagai pencuri, dengan niat hendak membunuh para pemimpin Pandawa. Karpa, dan Kartamarma turut serta. Hari telah malam ketika mereka sampai di pesanggrahan. Sri Kresna sedang pergi berkeliling-keliling. Prabu Yudistira lima bersaudara turut serta. Aswatama menuju ke pesanggrahan Drustajumena dan Dewi Srikandi. Leher keduanya sudah dipenggal. Pesanggrahan menjadi gempar disertai tangis gemuruh. Aswatama lalu mengamuk, menggunakan panah api, sehingga banyak yang terbunuh. Raden {{hws|Pan|Pancawala}}<noinclude>{{rh|70}}</noinclude> t2af7tv7cf456jsdcl6ptawb08xs169 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/9 250 24742 77536 2026-05-15T16:18:11Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77536 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77541 77536 2026-05-15T16:25:41Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77541 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||-10-}}</noinclude>{{C|''PANGISISING RINGGIT.''}} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 9 crop).jpg|400px|nirbing|pus]] {{C|{{smaller|''(Menawi klangsrah di pun tjagaki deling)<br>Pamentanging tali kedah kentjeng.''}}<noinclude></noinclude> 99awrjpy97l7041p0klsvtlx0peec5o 77543 77541 2026-05-15T16:26:33Z Iripseudocorus 1236 77543 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||-10-}}</noinclude>{{C|''PANGISISING RINGGIT.''}} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 9 crop).jpg|400px|nirbing|pus]] {{C|{{smaller|''(Menawi klangsrah di pun tjagaki deling)<br>Pamentanging tali kedah kentjeng.''}}}}<noinclude></noinclude> bd0qq15dqi2gtvshobad9euno4doa8k Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/17 250 24743 77537 2026-05-15T16:20:04Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77537 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77558 77537 2026-05-15T16:41:25Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77558 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 18 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 17 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> ihydehxckohal19z4my7z8d6z6bs2wc Kaca:Bratayuda.pdf/68 250 24744 77539 2026-05-15T16:20:35Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77539 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>cawala, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah, dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan. Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan, mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas karena dibunuh oleh Aswatama. Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, ctan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri. Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang. Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk terus~menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri Kresna, karena- akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya. *** Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan ; Karpa dan Kartamarma pun turut juga di situ. 71<noinclude></noinclude> tti5i78bv6hjdbv89b121oproc5sxxe 77540 77539 2026-05-15T16:25:26Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77540 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>cawala, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah, dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan. Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan, mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas karena dibunuh oleh Aswatama. Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, dan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri. Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang. Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk terus-menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri Kresna, karena akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya. {{C|* * *}} Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan; Karpa dan Kartamarma pun turut juga di situ.<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude> ed04mdf4mr0e320011b1qx3d7tyyh4j 78319 77540 2026-05-16T09:37:31Z Elcamatcha 1466 78319 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{hwe|cawala|Pancawala}}, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah, dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan. Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan, mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas karena dibunuh oleh Aswatama. Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, dan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri. Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang. Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk terus-menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri Kresna, karena akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya. {{C|* * *}} Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan; Karpa dan Kartamarma pun turut juga di situ.<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude> e3fagktmobmgmlcara1f31hp6xzaog6 78321 78319 2026-05-16T09:37:55Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78321 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|cawala|Pancawala}}, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah, dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan. Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan, mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas karena dibunuh oleh Aswatama. Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, dan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri. Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang. Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk terus-menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri Kresna, karena akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya. {{C|* * *}} Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan; Karpa dan Kartamarma pun turut juga di situ.<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude> krd1il3n1z7hbj6dbjs9nb53hygo58t Kaca:Bratayuda.pdf/69 250 24745 77542 2026-05-15T16:25:48Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77542 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Aijuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api sating berbenturm. Api itu demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadrgempar. Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghy.ang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan. Sesudah menarik panah apinya, Aijuna berdatang sembah kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan panah a pi, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis ." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna. Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang. Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu, bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat." Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Aijuna, dan sudah diterima. 72<noinclude></noinclude> rd6i0hd4bpau465com4d120ujzk282s 77548 77542 2026-05-15T16:31:32Z Suga Widi 1719 77548 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar. Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan. Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna. Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang. Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu, bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat." Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude> 2e4eo1zdj20i3f7hc918859klobx7pn 77549 77548 2026-05-15T16:32:15Z Suga Widi 1719 77549 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar. Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan. Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna. Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang. Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu, bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat." Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude> cp39nc0fb5ck9q9yga6q8uqong4q1c3 77551 77549 2026-05-15T16:32:50Z Suga Widi 1719 77551 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar. Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan. Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna. Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang. Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu, bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat." Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude> pf969wt4o85gbvlv1s627wp9m5v96m6 77552 77551 2026-05-15T16:33:17Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77552 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar. Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan. Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna. Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang. Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu, bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat." Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude> d1ynw7xtdka4j4c7yan2api7wlm18qz 78322 77552 2026-05-16T09:38:08Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78322 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar. Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan. Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna. Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang. Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu, bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat." Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude> myax0bf3qrkppj7815uudg3ifcggxej Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/1 250 24746 77544 2026-05-15T16:27:29Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77544 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77546 77544 2026-05-15T16:29:25Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77546 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 1 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> qc89htexvhvh0baef5aa0rvdi9y5akx Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/98 250 24747 77545 2026-05-15T16:28:04Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 77545 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{rh||-99-}}</noinclude>{{r|halaman.}} {{Titik-titik daftar isi|21|'''BAB WANGUNING WAJANG'''|75}} {{Titik-titik daftar isi|22|'''WANGUN IRUNG-IRUNGANING WAJANG PURWA'''|76}} {{Titik-titik daftar isi|23|'''BAB PERANGANING WAJANG:'''|77}} {{Titik-titik daftar isi||1. Wajang Panggungan|77}} {{Titik-titik daftar isi||2. Wajang Dugangan|78}} {{Titik-titik daftar isi||3. Wajang Ritjikan|78}} {{Titik-titik daftar isi||4. Wajang Buta Prepatan|79}} {{Titik-titik daftar isi|24|'''BAB DAPURING WAJANG: WAJANG SANGKUK'''|79}} {{Titik-titik daftar isi|25|'''BAB UKURANING WAJANG:'''|80}} {{Titik-titik daftar isi||1. Wajang Kaper|80}} {{Titik-titik daftar isi||2. Wajang Kidangkentjanan|81}} {{Titik-titik daftar isi||3. Wajang Pedalangan|81}} {{Titik-titik daftar isi||4. Wajang Ageng (Gede)|82}} {{Titik-titik daftar isi|26.|'''BAB WARNI-WARNINING WAJANG'''|82}} {{Titik-titik daftar isi||1. Wajang-wajangan|82}} {{Titik-titik daftar isi||2. Wajang Dolanan|84}} {{Titik-titik daftar isi||3. Wajang Botjah angon|85}} {{Titik-titik daftar isi||4. Wajang Kuna|86}} {{Titik-titik daftar isi||5. Wajang Tjampuran|86}} {{Titik-titik daftar isi||6. Wajang Godong. (Miturut serat Sastramirudo)|87}} {{Titik-titik daftar isi||7. Wajang Bèbèr. (Miturut serat Sastramirudo)|88}} {{Titik-titik daftar isi|27.|'''TEGESIPUN NAMANING BUTA. (SERAT DASANA MADJARWA)'''|89}} {{Titik-titik daftar isi|28.|'''TEGESIPUN NAMANING KETEK. (SERAT DASANA MADJARWA)'''|89}} {{Titik-titik daftar isi|29.|'''NAMA SESEBUTANING PANDITA SAKAREREHANIPUN'''|89}} {{Titik-titik daftar isi|30.|'''REHREHANING PANDITA'''|90}} {{Titik-titik daftar isi|31.|'''REHREHANING PANDITA ESTRI'''|90}} {{Titik-titik daftar isi|32.|'''BAB TJATJAH DAPUKAN WAJANG PEDALANGAN'''|91}} {{c|_______}}<noinclude></noinclude> l8fj1m0cwtzmr7qc79cmsh6ltfj1mo0 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/96 250 24748 77547 2026-05-15T16:30:42Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 77547 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{c|-97-}}</noinclude>::No. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |Bendo. |Arit. |Keris gede. |Keris luk, Tjakil. |Keris luk. |Keris leres Satrija. |Keris leres. |Panah luk. |Panah leres. |Panah leres.}} Gunggung tjatjah wajang sadaja wonten 176 idji, dedamelipun wonten 21 idji. Dados punika tjatjah wajang ingkang kalimrah kangge wonten ing padalangan. Dene tjatjah wajang ingkang sampun kasebat ing ngadjeng ngantos langkung katah tjatjahipun, sadaja ngantos wonten tjatjah wajang: 370 idji katambahan dedamel sakpirantosipun: 30 idji, gunggung sadaja wonten 400 idji, punika dereng katambahan sakubarampenipun, manawi katambahan sok ngantos: 500 idji. Tegesipun mawi katambahan, upamanipun: Gapuraning kraton, wit-witan, pot-potan ing taman, beburon ingkang alit-alit, makaten sakpiturutipun. Adatipun tijang ijasa wajang punika manawi nami sampun remen sok ngantos kasupen, ngantos barang ingkang boten kalimrah wonten ing padalangan dipun wudjudaken wajang. Pramila wajangipun sok ngantos katah sanget, inggih makaten punika wau endemipun tijang ingkang saweg remen ijasa wajang. Ijasa wajang purwa ingkang ngantos komplit djangkep dalah sak wanda-wandanipun sadaja punika, ingkang tamtu kuwawi ijasa inggih namung para prijantun ingkang sugih arta sarta saweg remen kasengsem dateng wajang dalah tjarijosipun pisan. Malah adatipun boten saged andalang, inggih namung satunggiling prijantun ingkang saweg remen dateng tjarijos lelampahaning wajang, saged kasembadan nuruti karepipun ngantos kalampahan rampung saged ambabar. Dene manawi para dalang ingkang katah namung trimah tjekap njewa kemawon. Manawi saged ijasa inggih namung sak tjekapipun kemawon uger saged tumindak kangge berah njambutdamel andalang. Punika bedanipun wajang dapukan padalangan kalijan wajang ijasanipun para hartawan ingkang remen dateng kawruh tjarijos padalangan. Makaten punika wau pikadjengipun wajang dapukan padalangan, namung sak prelu saged njekapi kabetahan, dados nami rampung.<noinclude></noinclude> 3iwkg7gig1h5e651hvnprh1z86phr88 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/95 250 24749 77550 2026-05-15T16:32:24Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77550 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77562 77550 2026-05-15T16:47:06Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77562 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh|— 96 —}}</noinclude>::No. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=7 |Tjantrik. |Tjangik. |Limbuk. |Emban. |Parekan (njai tumenggung). |Parekan (njai tumenggung). |Demang Ontagopa.}} ::'''Wajang ritjikan.''' {{ordered list|list_ style_type=decimal|start=1 |Sokosrono (srambahan). |Lelepah. |Ilu-ilu. |Endas gede mata amba. |Wedon.}} ::'''Wajang ritjikan.''' {{ordered list|list_ style_type=decimal|start=1 |Prampogan (djawa). |Prampogan (danawa). |Kreta. |Djaran (putih). |Djaran (tjemeng). |Gadjah (Diponggo). |Matjan. |Naga (sawer). |Banteng. |Maesa. |Peksi Garuda. |Tjeleng. |Peksi Djawata.}} ::'''Bangsaning dedamel.''' {{ordered list|list_ style_type=decimal|start=1 |Gada rudjakpolo. |Bindi. |Gada. |Tjakra. |Nawala. |Tjupu. |Tjis. |Trisula. |Tjandrarasa. |Alu gara. |Badama. }}<noinclude></noinclude> 8llpfrlsca70ixjqnbbjjm5lqbrj671 77563 77562 2026-05-15T16:47:26Z Iripseudocorus 1236 77563 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 96 —}}</noinclude>::No. {{ordered list|list_style_type=decimal|start=7 |Tjantrik. |Tjangik. |Limbuk. |Emban. |Parekan (njai tumenggung). |Parekan (njai tumenggung). |Demang Ontagopa.}} ::'''Wajang ritjikan.''' {{ordered list|list_ style_type=decimal|start=1 |Sokosrono (srambahan). |Lelepah. |Ilu-ilu. |Endas gede mata amba. |Wedon.}} ::'''Wajang ritjikan.''' {{ordered list|list_ style_type=decimal|start=1 |Prampogan (djawa). |Prampogan (danawa). |Kreta. |Djaran (putih). |Djaran (tjemeng). |Gadjah (Diponggo). |Matjan. |Naga (sawer). |Banteng. |Maesa. |Peksi Garuda. |Tjeleng. |Peksi Djawata.}} ::'''Bangsaning dedamel.''' {{ordered list|list_ style_type=decimal|start=1 |Gada rudjakpolo. |Bindi. |Gada. |Tjakra. |Nawala. |Tjupu. |Tjis. |Trisula. |Tjandrarasa. |Alu gara. |Badama. }}<noinclude></noinclude> sreb8qn6as5tkmg9ihlw6zg38vifaqt Kaca:Bratayuda.pdf/70 250 24750 77553 2026-05-15T16:33:32Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77553 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Sri Kresna mengajukan keberatan kepada Sanghyang Narada. Tidak pada tempatnya jika Aswatama diampuni, karena telah melakukan kejahatan, dengan membunuh secara gelap Dewi Srikandi, Pancawala, dan Drustajumena. Yang dikehendaki oleh Sri Kresna ialah, kelak nyawa Aswatama harus dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Sekarang memang belum dibunuh, karena memang saat kematiannya belum tiba. Kelak, putra Abimanyu yang bemama Prabu Parikesitlah, yang akan membunuh Aswatama, akan tetapi sekarang ia masih berada dalam kandungan. Sedangkan nyawa Kartamarma akan dititiskan kepada semua binatang, yang menggemari bau-bau yang busuk. Hanya Karpa yang diampuni, karena hanya dialah yang tidak berhati jahat, dan apa yang ia lakukan hanya karena terpaksa, karena takutnya kepada Aswatama. Sekarang ini masih meneruskan laku kependetaannya. Sanghyang Narada dan para dewa memenuhi dan mentaati apa yang dikehendaki oleh Sri Kresna, kemudian mereka metayang naik, kembali ke Suralaya. Sti Kresna beserta Prabu Yudistira, dan seluruh prajurit Pandawa, serta para raja undangan, lalu berangkat memasuki negeri Astina, sambil membawa Dewi Banowati. Pesanggrahan di Kurusetra sudah dibubarkan. Harta kekayaan negeri Astina dihitung. A:rjuna lalu dinikahkan dengan janda Prabu Suyudana, yang bemama Dewi Banowati. Karena A:rjuna sangat mengasihi wanita, maka amanat yang berupa panah Cundamanik, diminta oleh Prabu Yudistira. Sri Kresna lalu menobatkan Prabu Yudistira menjadi raja Astina, disaksikan oleh Prabu Baladewa serta para raja undangan, bahkan para dewa dari Suralaya juga turut menghadiri upacara penobatan tersebut. Sejak pemerintahan Prabu Yudistira, negeri Astina menjadi sangat makmur, rakyatnya hidup senang, tak ada yang mencemaskan hati~ mereka, karena dijaga kuat oleh Sri Kresna dan A:rjuna. 73<noinclude></noinclude> 2kq6y6whidkaqaywuyujnf11np0f179 77554 77553 2026-05-15T16:37:49Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77554 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Sri Kresna mengajukan keberatan kepada Sanghyang Narada. Tidak pada tempatnya jika Aswatama diampuni, karena telah melakukan kejahatan, dengan membunuh secara gelap Dewi Srikandi, Pancawala, dan Drustajumena. Yang dikehendaki oleh Sri Kresna ialah, kelak nyawa Aswatama harus dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Sekarang memang belum dibunuh, karena memang saat kematiannya belum tiba. Kelak, putra Abimanyu yang bernama Prabu Parikesitlah, yang akan membunuh Aswatama, akan tetapi sekarang ia masih berada dalam kandungan. Sedangkan nyawa Kartamarma akan dititiskan kepada semua binatang, yang menggemari bau-bau yang busuk. Hanya Karpa yang diampuni, karena hanya dialah yang tidak berhati jahat, dan apa yang ia lakukan hanya karena terpaksa, karena takutnya kepada Aswatama. Sekarang ini masih meneruskan laku kependetaannya. Sanghyang Narada dan para dewa memenuhi dan mentaati apa yang dikehendaki oleh Sri Kresna, kemudian mereka melayang naik, kembali ke Suralaya. Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, dan seluruh prajurit Pandawa, serta para raja undangan, lalu berangkat memasuki negeri Astina, sambil membawa Dewi Banowati. Pesanggrahan di Kurusetra sudah dibubarkan. Harta kekayaan negeri Astina dihitung. A:rjuna lalu dinikahkan dengan janda Prabu Suyudana, yang bernama Dewi Banowati. Karena A:rjuna sangat mengasihi wanita, maka amanat yang berupa panah Cundamanik, diminta oleh Prabu Yudistira. Sri Kresna lalu menobatkan Prabu Yudistira menjadi raja Astina, disaksikan oleh Prabu Baladewa serta para raja undangan, bahkan para dewa dari Suralaya juga turut menghadiri upacara penobatan tersebut. Sejak pemerintahan Prabu Yudistira, negeri Astina menjadi sangat makmur, rakyatnya hidup senang, tak ada yang mencemaskan hati mereka, karena dijaga kuat oleh Sri Kresna dan Arjuna.<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude> 1l5lw72q7lfdjn9h4ewxhdbl4s2mrj0 78323 77554 2026-05-16T09:38:15Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78323 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kemudian Sri Kresna mengajukan keberatan kepada Sanghyang Narada. Tidak pada tempatnya jika Aswatama diampuni, karena telah melakukan kejahatan, dengan membunuh secara gelap Dewi Srikandi, Pancawala, dan Drustajumena. Yang dikehendaki oleh Sri Kresna ialah, kelak nyawa Aswatama harus dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Sekarang memang belum dibunuh, karena memang saat kematiannya belum tiba. Kelak, putra Abimanyu yang bernama Prabu Parikesitlah, yang akan membunuh Aswatama, akan tetapi sekarang ia masih berada dalam kandungan. Sedangkan nyawa Kartamarma akan dititiskan kepada semua binatang, yang menggemari bau-bau yang busuk. Hanya Karpa yang diampuni, karena hanya dialah yang tidak berhati jahat, dan apa yang ia lakukan hanya karena terpaksa, karena takutnya kepada Aswatama. Sekarang ini masih meneruskan laku kependetaannya. Sanghyang Narada dan para dewa memenuhi dan mentaati apa yang dikehendaki oleh Sri Kresna, kemudian mereka melayang naik, kembali ke Suralaya. Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, dan seluruh prajurit Pandawa, serta para raja undangan, lalu berangkat memasuki negeri Astina, sambil membawa Dewi Banowati. Pesanggrahan di Kurusetra sudah dibubarkan. Harta kekayaan negeri Astina dihitung. A:rjuna lalu dinikahkan dengan janda Prabu Suyudana, yang bernama Dewi Banowati. Karena A:rjuna sangat mengasihi wanita, maka amanat yang berupa panah Cundamanik, diminta oleh Prabu Yudistira. Sri Kresna lalu menobatkan Prabu Yudistira menjadi raja Astina, disaksikan oleh Prabu Baladewa serta para raja undangan, bahkan para dewa dari Suralaya juga turut menghadiri upacara penobatan tersebut. Sejak pemerintahan Prabu Yudistira, negeri Astina menjadi sangat makmur, rakyatnya hidup senang, tak ada yang mencemaskan hati mereka, karena dijaga kuat oleh Sri Kresna dan Arjuna.<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude> em6153pje4f67o5wbz0uakh9em4dtca Kaca:Bratayuda.pdf/71 250 24751 77555 2026-05-15T16:38:14Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77555 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Jika ada di antara rakyat berbuat kejahatan, segera dihukum . Yang bodoh diberi pengetahuan, yang miskin terus-menerus mendapat sumbangan, sehingga negeri Astina sangat disegani lawan. Setelah upacara penobatan Prabu Yudistira sebagai raja Astina selesai dengan selamat, Prabu Baladewa beserta raja-raja Wirata, Cempala, dan yang lainnya, lalu minta diri, kembali ke negerinya masing-masing. Hanya Sri Kresna, yang masih tetap tinggal di Astina. * 74 ****<noinclude></noinclude> avpoj6qn9o8simuphsaz83h5rue3mij 77556 77555 2026-05-15T16:40:13Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77556 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Jika ada di antara rakyat berbuat kejahatan, segera dihukum. Yang bodoh diberi pengetahuan, yang miskin terus-menerus mendapat sumbangan, sehingga negeri Astina sangat disegani lawan. Setelah upacara penobatan Prabu Yudistira sebagai raja Astina selesai dengan selamat, Prabu Baladewa beserta raja-raja Wirata, Cempala, dan yang lainnya, lalu minta diri, kembali ke negerinya masing-masing. Hanya Sri Kresna, yang masih tetap tinggal di Astina. {{C|* * * * *}}<noinclude>{{rh|74}}</noinclude> 308tq3ocsgdnplfcai02rhr2kly3p2a 78324 77556 2026-05-16T09:38:23Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78324 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Jika ada di antara rakyat berbuat kejahatan, segera dihukum. Yang bodoh diberi pengetahuan, yang miskin terus-menerus mendapat sumbangan, sehingga negeri Astina sangat disegani lawan. Setelah upacara penobatan Prabu Yudistira sebagai raja Astina selesai dengan selamat, Prabu Baladewa beserta raja-raja Wirata, Cempala, dan yang lainnya, lalu minta diri, kembali ke negerinya masing-masing. Hanya Sri Kresna, yang masih tetap tinggal di Astina. {{C|* * * * *}}<noinclude>{{rh|74}}</noinclude> c915i9zqmfapgzd00r3rgrdnu9mdmn2 Kaca:Bratayuda.pdf/72 250 24752 77557 2026-05-15T16:40:32Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77557 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>BRATAYUDA<noinclude></noinclude> f3ysvma3955lem1vafvfd5as9ld0dtg 77559 77557 2026-05-15T16:44:16Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77559 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude> {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} <Center><BIG>'''BRATAYUDA'''</BIG></Center> {{missing image}}<noinclude></noinclude> 72d2iv2y1kycsryrfobvfkzmfnhodh8 77560 77559 2026-05-15T16:45:13Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77560 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude> {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} <Center><BIG>'''BRATAYUDA'''</BIG></Center> {{missing image}}<noinclude></noinclude> 3at7yqfgbs68tdnfvwxzvxd2aqpe4yt 78325 77560 2026-05-16T09:38:33Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78325 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude> {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} {{tab}} <Center><BIG>'''BRATAYUDA'''</BIG></Center> {{missing image}}<noinclude></noinclude> 4s37nqtk6c0c2p5ao992dmdg244l866 Kaca:Bratayuda.pdf/73 250 24753 77561 2026-05-15T16:45:34Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77561 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA, NGREMBAG PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah· adilipun. Prabawanipun uparni kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan. Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken rumiyin: Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati. Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang, sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja ngupados kamulyaning pejah. Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang rninangka panuntun kula, kula badhe anedha kagungan · kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan." Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane 77<noinclude></noinclude> 8ieykcmge5x0gcag7umd9500jy93ufo 77565 77561 2026-05-15T16:52:28Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77565 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA''', NGREMBAG<br> '''PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL'''}} Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah adilipun. Prabawanipun upami kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan. Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken rumiyin: Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati. Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang, sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja ngupados kamulyaning pejah. Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang minangka panuntun kula, kula badhe anedha kagungan kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan." Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane<noinclude>{{rh|||77}}</noinclude> iov0palv8vta9thycpz6d8fn49u4rdh 77566 77565 2026-05-15T16:53:15Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77566 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA''', '''NGREMBAG'''<br> '''PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL'''}} Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah adilipun. Prabawanipun upami kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan. Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken rumiyin: Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati. Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang, sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja ngupados kamulyaning pejah. Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang minangka panuntun kula, kula badhe anedha kagungan kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan." Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane<noinclude>{{rh|||77}}</noinclude> do3lcdsatntj6vtwyn93j0lvukhauns 78326 77566 2026-05-16T09:38:41Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78326 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA''', '''NGREMBAG'''<br> '''PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL'''}} Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah adilipun. Prabawanipun upami kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan. Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken rumiyin: Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati. Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang, sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja ngupados kamulyaning pejah. Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang minangka panuntun kula, kula badhe anedha kagungan kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan." Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane<noinclude>{{rh|||77}}</noinclude> j6492sz7swm5eplothdtpal5mk07kfx Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/10 250 24754 77564 2026-05-15T16:47:51Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77564 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77571 77564 2026-05-15T17:03:05Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77571 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 11 ―}}</noinclude>sakngandapipun Prabu Tuhuwasesa ringgit sumpingan ingkang ageng pijambak bagean tengen. {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2 |'''Tjaranipun ngedalaken Ringgit sangking:<br>Sumpingan Sisih Kiwa.''' La samangke ladjeng njandak sumpingan bagean kiwa, inggih punika wiwit saking danawa Raton (Kumbakarna) utawi prabu Niwatakawatja. Ladjeng radja danawa nemneman Buta Ngore (gendong) prabu Rahwana (Dasaka) sakpiturutipun dumugi Pinten Tansen utawi Nangkula lan Sadewa. Punika sumpingan kiwa sampun telas dene panatanipun sami kados sumpingan tengen ingkang sampun dipun isis punika wau. Dene eblek kaklempakna dados satunggal rumijin. |'''Ngedalaken Ringgit Dudahan.''' Sak mangke ladjeng njandak ringgit dudahan. Pramila nami ringgit dudahan, tegesipun ringgit ingkang boten nate dipun sumping, namung wonten ing nglebet kotak utawi wonten sak nginggiling tutup kotak. Dene manawi ringgit padalangan ingkang tamtu wonten ing nginggil sak ngandaping ringgit sumpingan adatipun ingkang tamtu ringgit ritjikan, inggih punika kadosta dedameling ajang, prampogan, kreta kentjana, djaran, gadjah, ladjeng para tapa tuwin dagelan, sakwatawis sok ladjeng dipun tjampuri bangsaning bebudjengan. Dene ringgit ingkang anggadahi tangan gesang, pangisisipun kasampirna kados ringgit sumpingan nginggil punika wau. | '''Ngedalaken Ringgit Dugangan.''' Sakmangke ladjeng njandak ringgit dugangan, inggih punika para Kurawa, para putran Ngalengkan, para Punggawa tuwin patih. Punika sadaja panataning ngisis dados satunggal ugi kagantung kados kala wau. Ladjeng para danawa, tumunten para djawata, ladjeng para wanara tjara pangisisipun ugi sami. Tumunten bangsaning ringgit bebudjengan ingkang awis-awis kanggenipun, kadosta Tjeleng, Sima, Banteng, Kebodanu, Kidang, Mendjangan, Garuda, Nagaradja, Taksaka, Peksi, Brajut djaler lan estri, tuwin Badjubarat (setanan) punika wajang panatanipun namung kangge dasar. Dene angisisipun namung tjekap wonten ing eblek utawi wonten kadjeng tantjeban punika wau. Dene wajang ingkang tanganipun pedjah kadosta Batara Guru, Kajon gunungan, setanan, brajut, pangisisipun tjekap katantjepaken wonten ing papan tantjeban kadjeng punika wau. Sak mangke ringgit sampun telas medal sadaja.}}<noinclude></noinclude> 7orjprgpni6ej8nl9njctpf13frjn7v 77573 77571 2026-05-15T17:03:53Z Iripseudocorus 1236 77573 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 11 ―}}</noinclude>sakngandapipun Prabu Tuhuwasesa ringgit sumpingan ingkang ageng pijambak bagean tengen. {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2 |'''Tjaranipun ngedalaken Ringgit sangking:<br>Sumpingan Sisih Kiwa.'''<br> La samangke ladjeng njandak sumpingan bagean kiwa, inggih punika wiwit saking danawa Raton (Kumbakarna) utawi prabu Niwatakawatja. Ladjeng radja danawa nemneman Buta Ngore (gendong) prabu Rahwana (Dasaka) sakpiturutipun dumugi Pinten Tansen utawi Nangkula lan Sadewa. Punika sumpingan kiwa sampun telas dene panatanipun sami kados sumpingan tengen ingkang sampun dipun isis punika wau. Dene eblek kaklempakna dados satunggal rumijin. |'''Ngedalaken Ringgit Dudahan.'''<br> Sak mangke ladjeng njandak ringgit dudahan. Pramila nami ringgit dudahan, tegesipun ringgit ingkang boten nate dipun sumping, namung wonten ing nglebet kotak utawi wonten sak nginggiling tutup kotak. Dene manawi ringgit padalangan ingkang tamtu wonten ing nginggil sak ngandaping ringgit sumpingan adatipun ingkang tamtu ringgit ritjikan, inggih punika kadosta dedameling ajang, prampogan, kreta kentjana, djaran, gadjah, ladjeng para tapa tuwin dagelan, sakwatawis sok ladjeng dipun tjampuri bangsaning bebudjengan. Dene ringgit ingkang anggadahi tangan gesang, pangisisipun kasampirna kados ringgit sumpingan nginggil punika wau. | '''Ngedalaken Ringgit Dugangan.'''<br> Sakmangke ladjeng njandak ringgit dugangan, inggih punika para Kurawa, para putran Ngalengkan, para Punggawa tuwin patih. Punika sadaja panataning ngisis dados satunggal ugi kagantung kados kala wau. <br> Ladjeng para danawa, tumunten para djawata, ladjeng para wanara tjara pangisisipun ugi sami. Tumunten bangsaning ringgit bebudjengan ingkang awis-awis kanggenipun, kadosta Tjeleng, Sima, Banteng, Kebodanu, Kidang, Mendjangan, Garuda, Nagaradja, Taksaka, Peksi, Brajut djaler lan estri, tuwin Badjubarat (setanan) punika wajang panatanipun namung kangge dasar. Dene angisisipun namung tjekap wonten ing eblek utawi wonten kadjeng tantjeban punika wau. Dene wajang ingkang tanganipun pedjah kadosta Batara Guru, Kajon gunungan, setanan, brajut, pangisisipun tjekap katantjepaken wonten ing papan tantjeban kadjeng punika wau. Sak mangke ringgit sampun telas medal sadaja.}}<noinclude></noinclude> 6mnco24oofdtm1lkahgrhyxzmy7h3k8 Kaca:Bratayuda.pdf/15 250 24755 77567 2026-05-15T16:53:50Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77567 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kan. Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan ~etap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati." Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri lalu pulang. *** 18<noinclude></noinclude> 3cobegow49ag0epk5vn10s0u4569wgx 77568 77567 2026-05-15T16:56:42Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77568 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kan. Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati." Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri lalu pulang. {C|* * *}}<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude> pzohl8f73irsetgxn5o9s2f9u2348u7 77569 77568 2026-05-15T16:57:10Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77569 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kan. Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati." Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri lalu pulang. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude> m0cyeentfd2vftq7mzmxcui5fyi7d0z 78271 77569 2026-05-16T09:21:40Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78271 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|kan|mengucapkan}} Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati." Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri lalu pulang. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude> l7d03o8iu3016h4yveb1fa57kuo0d3q 78272 78271 2026-05-16T09:21:48Z Elcamatcha 1466 78272 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|kan|mengucapkan}} Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati." Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri lalu pulang. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude> 4gjekxawp9l3ar162n4ydfdbuimq3i0 Kaca:Bratayuda.pdf/16 250 24756 77570 2026-05-15T16:57:32Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77570 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR PeJjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil peJjalanannya ke negeri Astina. Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian, "Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan stparoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada peJjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. lbu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan mereka bermaksud mengkhianati aku." Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, AJ.juna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bemama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh. *** 19<noinclude></noinclude> qwc485hwowvsafahxdtjawa22pj6f5w 77572 77570 2026-05-15T17:03:42Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77572 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}} Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Bagind mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina. Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian, "Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan..mereka bermaksud mengkhianati aku." Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> rm6nc427qskbpvyoi0hvhwgw80b0npf 77575 77572 2026-05-15T17:04:16Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77575 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}} Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina. Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian, "Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan..mereka bermaksud mengkhianati aku." Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> 8v5gfuqci0hgvhu0uu72ke8ukietvuh 77576 77575 2026-05-15T17:04:58Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77576 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}} Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina. Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian, "Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan mereka bermaksud mengkhianati aku." Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> gxlww9uhhp9wj5x3f7wtzihdtzfxnop 78273 77576 2026-05-16T09:21:59Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78273 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}} Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina. Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian, "Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan mereka bermaksud mengkhianati aku." Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude> 2ahe8vtllq9mxnqdjbh9km5bg2juxkv Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/11 250 24757 77574 2026-05-15T17:04:10Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77574 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77578 77574 2026-05-15T17:05:54Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77578 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>{{R|{{x-larger|''Tangisising ringgit wonten tantjeba''}}}} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 11 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> c0743jormw3xzsp390ia0ycf0mpu6ff Kaca:Bratayuda.pdf/17 250 24758 77577 2026-05-15T17:05:23Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77577 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Pagi harinya pertanda bergema, kendang, dan gung bersahut-sahutan, para raja ramai mengatur barisan. Sesudah semua persiapan selesai, lalu berangkat dari negeri Wirata. Jumlah bala tentera tak terhitung banyaknya. Pakaiannya berkilauan bagaikan cahaya mentari yang sedang terbit, hendak menerangi dunia. Demikian banyaknya jumlah bala tentera itu, hingga bagaikan samodra menggertangi hutan dan gunung-gunung. Seluruh jalan penuh dengan rrajurit. Yang mengenakan pakaian merah, berkumpul sesama merah, yang kuning berkumpul sesama kuning, hijau berkumpul sesam'"a hijau, hitam berkumpul sesama hitam, biru berkumpul sesama biru, ungu berkumpul sesama ungu, putih berkumpul sesama putih, tidak ada yang terselip dengan warna yang lain. Suara pasukan bagaikan guntur. Kilauan hiasan dwaja, bagaikan seribu gunung terbakar bersama. Sanghyang Indra menghujankan harum-haruman. Segenap dewa di lndraloka menyaksikan dan merestui mereka yang pergi berperang, "unggullah Pandawa dalam perang, dan berhasillah merebut negeri Astina." Yang memimpin di paruh barisan Raden Werkodara. Ia betjalan darat sambil memanggul gada. Karena selama hidup tidak mau mengendarai kuda, kereta maupun gajah. Meski betjalan melalui lautan, melewati jurang, gunung maupun sungai, tetap betjalan kaki saja. Sepanjang jalan selalu menantang lawan. Gerak barisannya bagaikan mengguncangkan bumi. Penghuni hutan yang dilalui berlarian tak menentu. Sehabis barisan Raden Werkodara, disambung barisan Raden Dananjaya. Dananjaya mengendarai kereta bertahtakan permata, cahayanya menyala bagaikan gunung terbakar. Pakaian para prajuritnya menyala-nyala gemerlap, seolah-olah akan membakar negeri Astina beserta rajanya. Benderanya berkibaran, bertanda gambar kera mengangakan mulutnya. Sejenak angkasa menjadi gelap bermendung, guruh menggelegar, kilat bersabungan di langit, seolaholah memberi pertanda akan keunggulan pihak Pandawa, dalam peperangan kelak. Raden Nakula dan Raden Sadewa menyambung barisan Ra20<noinclude></noinclude> 1tzwb1unncrmuzx4gqhcijjcl9mgqnw 77580 77577 2026-05-15T17:09:26Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77580 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Pagi harinya pertanda bergema, kendang, dan gung bersahut-sahutan, para raja ramai mengatur barisan. Sesudah semua persiapan selesai, lalu berangkat dari negeri Wirata. Jumlah bala tentera tak terhitung banyaknya. Pakaiannya berkilauan bagaikan cahaya mentari yang sedang terbit, hendak menerangi dunia. Demikian banyaknya jumlah bala tentera itu, hingga bagaikan samodra menggertangi hutan dan gunung-gunung. Seluruh jalan penuh dengan prajurit. Yang mengenakan pakaian merah, berkumpul sesama merah, yang kuning berkumpul sesama kuning, hijau berkumpul sesama hijau, hitam berkumpul sesama hitam, biru berkumpul sesama biru, ungu berkumpul sesama ungu, putih berkumpul sesama putih, tidak ada yang terselip dengan warna yang lain. Suara pasukan bagaikan guntur. Kilauan hiasan dwaja, bagaikan seribu gunung terbakar bersama. Sanghyang Indra menghujankan harum-haruman. Segenap dewa di Indraloka menyaksikan dan merestui mereka yang pergi berperang, "unggullah Pandawa dalam perang, dan berhasillah merebut negeri Astina." Yang memimpin di paruh barisan Raden Werkodara. Ia l berjalan darat sambil memanggul gada. Karena selama hidup tidak mau mengendarai kuda, kereta maupun gajah. Meski berjalan melalui lautan, melewati jurang, gunung maupun sungai, tetap berjalan kaki saja. Sepanjang jalan selalu menantang lawan. Gerak barisannya bagaikan mengguncangkan bumi. Penghuni hutan yang dilalui berlarian tak menentu. Sehabis barisan Raden Werkodara, disambung barisan Raden Dananjaya. Dananjaya mengendarai kereta bertahtakan permata, cahayanya menyala bagaikan gunung terbakar. Pakaian para prajuritnya menyala-nyala gemerlap, seolah-olah akan membakar negeri Astina beserta rajanya. Benderanya berkibaran, bertanda gambar kera mengangakan mulutnya. Sejenak angkasa menjadi gelap bermendung, guruh menggelegar, kilat bersabungan di langit, seolah-olah memberi pertanda akan keunggulan pihak Pandawa, dalam peperangan kelak. Raden Nakula dan Raden Sadewa menyambung barisan Ra-<noinclude>{{rh|20}}</noinclude> 5v4586eo5371h4jm4rv25sg3oiiz5tv 78274 77580 2026-05-16T09:22:17Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78274 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Pagi harinya pertanda bergema, kendang, dan gung bersahut-sahutan, para raja ramai mengatur barisan. Sesudah semua persiapan selesai, lalu berangkat dari negeri Wirata. Jumlah bala tentera tak terhitung banyaknya. Pakaiannya berkilauan bagaikan cahaya mentari yang sedang terbit, hendak menerangi dunia. Demikian banyaknya jumlah bala tentera itu, hingga bagaikan samodra menggertangi hutan dan gunung-gunung. Seluruh jalan penuh dengan prajurit. Yang mengenakan pakaian merah, berkumpul sesama merah, yang kuning berkumpul sesama kuning, hijau berkumpul sesama hijau, hitam berkumpul sesama hitam, biru berkumpul sesama biru, ungu berkumpul sesama ungu, putih berkumpul sesama putih, tidak ada yang terselip dengan warna yang lain. Suara pasukan bagaikan guntur. Kilauan hiasan dwaja, bagaikan seribu gunung terbakar bersama. Sanghyang Indra menghujankan harum-haruman. Segenap dewa di Indraloka menyaksikan dan merestui mereka yang pergi berperang, "unggullah Pandawa dalam perang, dan berhasillah merebut negeri Astina." Yang memimpin di paruh barisan Raden Werkodara. Ia l berjalan darat sambil memanggul gada. Karena selama hidup tidak mau mengendarai kuda, kereta maupun gajah. Meski berjalan melalui lautan, melewati jurang, gunung maupun sungai, tetap berjalan kaki saja. Sepanjang jalan selalu menantang lawan. Gerak barisannya bagaikan mengguncangkan bumi. Penghuni hutan yang dilalui berlarian tak menentu. Sehabis barisan Raden Werkodara, disambung barisan Raden Dananjaya. Dananjaya mengendarai kereta bertahtakan permata, cahayanya menyala bagaikan gunung terbakar. Pakaian para prajuritnya menyala-nyala gemerlap, seolah-olah akan membakar negeri Astina beserta rajanya. Benderanya berkibaran, bertanda gambar kera mengangakan mulutnya. Sejenak angkasa menjadi gelap bermendung, guruh menggelegar, kilat bersabungan di langit, seolah-olah memberi pertanda akan keunggulan pihak Pandawa, dalam peperangan kelak. Raden Nakula dan Raden Sadewa menyambung barisan {{hws|Ra|Raden}}<noinclude>{{rh|20}}</noinclude> leosj9xixfj9b4muy2jrvt43ggo5cde Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/12 250 24759 77579 2026-05-15T17:06:08Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77579 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77582 77579 2026-05-15T17:12:34Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77582 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5 |'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br> Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin. Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}} {{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT<br> WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}} {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1 | '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br> Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude> 1lffe4rhmgl1y7j80gmidxcr2zbakye 77583 77582 2026-05-15T17:12:55Z Iripseudocorus 1236 77583 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5 |'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br> Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin. Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}} {{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT<br> WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}}}} {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1 | '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br> Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude> 8hc2upzihk5y017bqezl2mtyqjuvuyi 77584 77583 2026-05-15T17:13:23Z Iripseudocorus 1236 77584 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5 |'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br> Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin. Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}} {{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT'''<br>''' WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}}}} {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1 | '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br> Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude> tl767zm8waj4vec8q8rj7oph2ucvgc4 77585 77584 2026-05-15T17:14:00Z Iripseudocorus 1236 77585 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5 |'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br> Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin. Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}} {{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT'''<br>'''WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}}}} {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1 | '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br> Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude> op99s0x1v5bjc7mapka6hsknu5zg8vy Kaca:Bratayuda.pdf/18 250 24760 77581 2026-05-15T17:10:43Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77581 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>den Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke lstana Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita. Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata. Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusuJ barisan ayahnya, Raja Drupada. Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya, menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlangcemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai, lihatlah. Inilah pramugari perang." Petjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang, yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya. Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian gugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja de21<noinclude></noinclude> 7zb6riv4m362nsvkcue2kffwiquoc5s 77588 77581 2026-05-15T17:18:12Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77588 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>den Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke Istana Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita. Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata. Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusul barisan ayahnya, Raja Drupada. Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya, menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlang-cemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai, lihatlah. Inilah pramugari perang." Perjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang, yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya. Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian kgugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja de-<noinclude>{{rh|||2}}</noinclude> 6u8kl2o7q62p2vnsfa5qh3lddlwxn8y 77589 77588 2026-05-15T17:18:50Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77589 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>den Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke Istana Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita. Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata. Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusul barisan ayahnya, Raja Drupada. Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya, menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlang-cemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai, lihatlah. Inilah pramugari perang." Perjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang, yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya. Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian kgugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja de-<noinclude>{{rh|||21}}</noinclude> 5miwtfwi79h1l0bj7wbi9hutddg2u79 78275 77589 2026-05-16T09:22:44Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78275 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|den|Raden}} Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke Istana Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita. Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata. Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusul barisan ayahnya, Raja Drupada. Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya, menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlang-cemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai, lihatlah. Inilah pramugari perang." Perjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang, yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya. Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian kgugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja {{hws|de|dengan}}<noinclude>{{rh|||21}}</noinclude> jiliodh9a6fb7iy8g06wxq5m6brqejp Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/13 250 24761 77586 2026-05-15T17:14:11Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77586 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77591 77586 2026-05-15T17:23:23Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77591 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 14 —}}</noinclude>kendo tangsulipun kedah dipun santuni ingkang kentjeng, sabab kendoning tali punika asring damel tugeling gapit, lan malih manawi gapit punika kotjak, tjepenganing ringgit inggih boten seketja, kangge sabetan boten anggadahi raos saketja, sarta obahing bolah katarik kalijan kotjaking gapit punika inggih adamel pedoting tatahan. Punapa malih manawi dawah ringgit ingkang gempuran remit tatahanipun, kadosta tatahaning dodot limaran, parang, lapis, sakpiturutipun punika ladjeng gampil pedotipun. Sadaja tatahan punika manawi sampun pedot rekaos anggenipun ambenakaken, sagedipun namung dipun tangsuli bolah ingkang wulet tur ingkang lembat, utawi saking seratipun sepet taboning klapa. Manawi kasangeten dedelipun kedah dipun sopak, dipun tambal kasambet watjutjal enggal ladjeng dipun tatah malih, miturut tatunipun lami. Ringgit ingkang katambal namanipun ringgit kasopak. Manawi sampun rampung anggenipun njantuni tali, kawangsulna dateng panggenanipun lami, sagedipun urut malih. Lah samangke gentos ladjeng milihi ringgit ingkang kenging djamur, ugi kaklempakna dados satunggal kados kalawau. Ringgit ingkang sami kataman djamur punika karesikana mawi sikat ingkang lemes alon-alon, sampun ngantos andedelaken pulasing ringgit ingkang sampun sepuh. Kasikata ingkang ngantos resik itjal djamuripun. Adakanipun ingkang kataman ing djamur punika pulasing ringgit ingkang warni tjemeng lan abrit, sami katingal maletuk petak. Manawi dipun tingali saking katebihan warnining ringgit katingal klawus², punapa malih manawi dipun tjelaki katingal reged. Ingkang tamtu manggen wonten ing bagean rambut, palemahan tuwin paraupaning ringgit. Manawi wonten ing rambut sami mlebet dateng seritaning tatahan rambut. Manawi njikat ngresiki rambutipun para satrija kedah langkung ngatos-atos, sampun ngantos medotaken seritaning rambut utawi mulur medal, djalaran panatahing seritan punika manawi rambuting para satrija utawi putran alusan, wawangunanipun kados dene pir djam ngaleker. Manawi ngantos molor ladjeng gampil pedotipun, saja malih manawi dawah ingkang gelung, langkung riwil malih, pramila kedah ngatos-atos. Rambut seritan manawi ngantos pedot ladjeng bolong dados tjatjat katingal awon. Pramila tjara pangupa-karanipun anggenipun ngresiki kedah ngatos-atos boten kenging dipun prusa. {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2 |'''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang katingal kandel Djamuripun.''' <br> Dene manawi djamur punika sampun katingal kandel, ngantos katingal blawuk-blawuk meh petak sadaja, tjaraning ngresiki mawi srebet ingkang empuk, dipun telesi mawi toja anget manget-manget,}}<noinclude></noinclude> iirknyjc7d1d7gpd9r7g2bllk5yrih2 77596 77591 2026-05-15T17:28:45Z Iripseudocorus 1236 77596 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 14 —}}</noinclude>kendo tangsulipun kedah dipun santuni ingkang kentjeng, sabab kendoning tali punika asring damel tugeling gapit, lan malih manawi gapit punika kotjak, tjepenganing ringgit inggih boten seketja, kangge sabetan boten anggadahi raos saketja, sarta obahing bolah katarik kalijan kotjaking gapit punika inggih adamel pedoting tatahan. Punapa malih manawi dawah ringgit ingkang gempuran remit tatahanipun, kadosta tatahaning dodot limaran, parang, lapis, sakpiturutipun punika ladjeng gampil pedotipun. Sadaja tatahan punika manawi sampun pedot rekaos anggenipun ambenakaken, sagedipun namung dipun tangsuli bolah ingkang wulet tur ingkang lembat, utawi saking seratipun sepet taboning klapa. Manawi kasangeten dedelipun kedah dipun sopak, dipun tambal kasambet watjutjal enggal ladjeng dipun tatah malih, miturut tatunipun lami. Ringgit ingkang katambal namanipun ringgit kasopak. Manawi sampun rampung anggenipun njantuni tali, kawangsulna dateng panggenanipun lami, sagedipun urut malih. Lah samangke gentos ladjeng milihi ringgit ingkang kenging djamur, ugi kaklempakna dados satunggal kados kalawau. Ringgit ingkang sami kataman djamur punika karesikana mawi sikat ingkang lemes alon-alon, sampun ngantos andedelaken pulasing ringgit ingkang sampun sepuh. Kasikata ingkang ngantos resik itjal djamuripun. Adakanipun ingkang kataman ing djamur punika pulasing ringgit ingkang warni tjemeng lan abrit, sami katingal maletuk petak. Manawi dipun tingali saking katebihan warnining ringgit katingal klawus², punapa malih manawi dipun tjelaki katingal reged. Ingkang tamtu manggen wonten ing bagean rambut, palemahan tuwin paraupaning ringgit. Manawi wonten ing rambut sami mlebet dateng seritaning tatahan rambut. Manawi njikat ngresiki rambutipun para satrija kedah langkung ngatos-atos, sampun ngantos medotaken seritaning rambut utawi mulur medal, djalaran panatahing seritan punika manawi rambuting para satrija utawi putran alusan, wawangunanipun kados dene pir djam ngaleker. Manawi ngantos molor ladjeng gampil pedotipun, saja malih manawi dawah ingkang gelung, langkung riwil malih, pramila kedah ngatos-atos. Rambut seritan manawi ngantos pedot ladjeng bolong dados tjatjat katingal awon. Pramila tjara pangupa-karanipun anggenipun ngresiki kedah ngatos-atos boten kenging dipun prusa. {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2 |'''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang katingal kandel Djamuripun.'''}} Dene manawi djamur punika sampun katingal kandel, ngantos katingal blawuk-blawuk meh petak sadaja, tjaraning ngresiki mawi srebet ingkang empuk, dipun telesi mawi toja anget manget-manget,<noinclude></noinclude> lptfv94cwwve0xp99xmig4cawuowa15 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/14 250 24762 77587 2026-05-15T17:14:21Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77587 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77592 77587 2026-05-15T17:27:03Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77592 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 15 —}}</noinclude>dipun peres ingkang apuh, ladjeng dipun angge ngusapi dipun tutul- tutulaken dateng pundi pulas ingkang kenging utawi katradjang ing djamur, manawi sampun garing kisisan, pulasipun katingal ambleret, manawi pulasanipun taksih enggal inggih pulih resik sae malih. Dene manawi pulasanipun sampun lami tamtu ladjeng katingal ambleret, ladjeng dipun edus malih mawi antjur lempeng (antjur kripik). Antjur dipun godog mawi toja landa djangkang, pangedusipun tjekap sapisan kemawon, dene praos utawi pradanipun sampun ngantos katradjang ing antjur mindak ambleret. Manawi sampun garing kekijatanipun prasasat ringgit kasungging enggal, katingalipun ringgit inggih wangsul gumebyar malih. Dene manawi wonten ringgit ingkang pulasanipun sami nglotok dedel pulasanipun ngantos katah, prajogi dipun gebal, tegesipun dipun kumbah dipun itjali pulasipun, dipun girah ing toja dipun sikat ngantos resik pulasipun. Ladjeng dipun plepet dipun tindihi mawi barang ingkang rata, upaminipun blabag ingkang rata. Ringgit sak wantji-wantji garing sampun ngantos katingal pating tjaklentung (pating plengko) sageda garing wradin. Manawi sampun ladjeng dipun sungging kapulas malih. Manawi sampun ambabar ladjeng katingal ringgit enggal malih, dados ringgit gebalan punika tegesipun ringgit lami dipun pulas enggal malih, ngantos dados ringgit enggal malih. {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=3 |'''Tjaranipun ngresiki Ringgit Watjutjal ingkang kenging :'''<br>'''Lisah Blentjong.'''<br> Kadjawi punika malih, bok bilih wonten ringgit ingkang kenging lisah blentjong, upaminipun katetesan kasalatan kados meh kabrongot, punika sampun ngantos dipun tjampur kalijan ringgit sanesipun, kedah dipun pijambakaken. Djalaran ringgit ingkang kenging lisah klentik punika kadjawi katingalipun andalemok, inggih gampil anggenipun nuwuhaken djamur, ladjeng saged nulari dateng ringgit sanesipun. Dene tjaranipun menawi bade ngitjali, pundi ingkang kenging lisah punika wau kausara mawi apu (indjet). Manawi sampun watawis sadinten sadalu ladjeng kausapana. Punika pulas tamtu sampun ngalotok, ladjeng dipun resiki, manawi sampun resik katambala ing pulas malih, miturut ingkang sampun. Dene manawi ingkang kenging paraupanipun, sampun ngantos dipun santuni warnining pulasing paraupan, mangke mindak katingal njengkleng larasanipun, boten turut, kirang harmonis. <br> Manawi pulasing prabot, kenging kadamel sak senengipun miturut kapatutaning ringgit ingkang risak punika wau.}}<noinclude></noinclude> 61oywppp3xc2dohrk8wsrjo1xltysdc 77595 77592 2026-05-15T17:28:13Z Iripseudocorus 1236 77595 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 15 —}}</noinclude>dipun peres ingkang apuh, ladjeng dipun angge ngusapi dipun tutul- tutulaken dateng pundi pulas ingkang kenging utawi katradjang ing djamur, manawi sampun garing kisisan, pulasipun katingal ambleret, manawi pulasanipun taksih enggal inggih pulih resik sae malih. Dene manawi pulasanipun sampun lami tamtu ladjeng katingal ambleret, ladjeng dipun edus malih mawi antjur lempeng (antjur kripik). Antjur dipun godog mawi toja landa djangkang, pangedusipun tjekap sapisan kemawon, dene praos utawi pradanipun sampun ngantos katradjang ing antjur mindak ambleret. Manawi sampun garing kekijatanipun prasasat ringgit kasungging enggal, katingalipun ringgit inggih wangsul gumebyar malih. Dene manawi wonten ringgit ingkang pulasanipun sami nglotok dedel pulasanipun ngantos katah, prajogi dipun gebal, tegesipun dipun kumbah dipun itjali pulasipun, dipun girah ing toja dipun sikat ngantos resik pulasipun. Ladjeng dipun plepet dipun tindihi mawi barang ingkang rata, upaminipun blabag ingkang rata. Ringgit sak wantji-wantji garing sampun ngantos katingal pating tjaklentung (pating plengko) sageda garing wradin. Manawi sampun ladjeng dipun sungging kapulas malih. Manawi sampun ambabar ladjeng katingal ringgit enggal malih, dados ringgit gebalan punika tegesipun ringgit lami dipun pulas enggal malih, ngantos dados ringgit enggal malih. {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=3 |'''Tjaranipun ngresiki Ringgit Watjutjal ingkang kenging :'''<br>'''Lisah Blentjong.'''}} Kadjawi punika malih, bok bilih wonten ringgit ingkang kenging lisah blentjong, upaminipun katetesan kasalatan kados meh kabrongot, punika sampun ngantos dipun tjampur kalijan ringgit sanesipun, kedah dipun pijambakaken. Djalaran ringgit ingkang kenging lisah klentik punika kadjawi katingalipun andalemok, inggih gampil anggenipun nuwuhaken djamur, ladjeng saged nulari dateng ringgit sanesipun. Dene tjaranipun menawi bade ngitjali, pundi ingkang kenging lisah punika wau kausara mawi apu (indjet). Manawi sampun watawis sadinten sadalu ladjeng kausapana. Punika pulas tamtu sampun ngalotok, ladjeng dipun resiki, manawi sampun resik katambala ing pulas malih, miturut ingkang sampun. Dene manawi ingkang kenging paraupanipun, sampun ngantos dipun santuni warnining pulasing paraupan, mangke mindak katingal njengkleng larasanipun, boten turut, kirang harmonis. Manawi pulasing prabot, kenging kadamel sak senengipun miturut kapatutaning ringgit ingkang risak punika wau.<noinclude></noinclude> rizjrgwpwc26hlkqhs36t8kj9u6omuq Kaca:Bratayuda.pdf/19 250 24763 77590 2026-05-15T17:19:04Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77590 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>ngan sungguh-sungguh menjalankan segala petunjuk Sri Kresna, dengan tulus ikhlas menemui kematian, karena sorga dan neraka seolah-olah sudah digenggam oleh Sri Kresna. Raden Wresniwira yang menyambung baris Dwarawati, dan merupakan pimpinan para adipati. Jumlah prajuritnya tak terhitung banyaknya memenuhi jalan, suara prajurit bagaikan menggerakkan bumi menggoncangkan lautan. Yang menyambung barisan Raden Wresniwira, ialah putra Raden Dananjaya, yang mengendarai kereta emas, bemama Abimanyu, berpayung bulu merak, sambil memangku senjata cakra. Pakaian para prajuritnya bagaikan bunga berguguran. Di belakangnya, menyambung Raden Pancawala, putra Sri Darmaputra. Ia berkendaraan kereta terhias permata, berumbai bulu merak, berpayung hitam mengkilap. Prajuritnya berpakaian menyala. Benderanya semua berwama hijau. *** Tak habis-habisnya jika keindahan pasukan yang sedang berjalan. Kini baiklah dibatasi saja sampai di sini. Barisan terdepan sudah sampai di Tegal Kuru, tampak bagaikan air tumpah ruah. Para raja, para adipati, datang berbondong-bondong tiada putusputusnya. Kemudian semua mendirikan pesanggrahan sesuai dengan kedudukan masing-masing. Kemudian Dewi Kunti dijemput, supaya datang di Tegal Kuru, diantar oleh Yamawidura. Setelah bertemu dengan Pandawa, semua menangis. Setelah tangisnya reda, semua merasa gembira, lalu bersuka-ria. Tak mungkin seluruh suasana suka ria itu diceritakan. Yamawidura, yang mengantar Dewi Kunti, lalu kernbali lagi ke Astina. Dewi Kunti tetap tinggal di Tegal Kuru. Pesanggrahan Pandawa tak ubahnya seperti istana. Pesanggrahan Sri Kresna pun dibangun serupa istana. Yudistira, Wrekodara, Atjuna, Nakula, Sadewa, semua berkumpul di pesanggrahan Sri Kresna. Para raja undangan, semuanya berkumpul di situ, untuk berunding dan mohon petunjuk Sri Kresna. Yudistira berkata kepada Sri Kresna, "Kakanda PJabu, saya 22<noinclude></noinclude> md39l0mb4e599fidfossq6gf1q3uihj 77593 77590 2026-05-15T17:27:15Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77593 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>ngan sungguh-sungguh menjalankan segala petunjuk Sri Kresna, dengan tulus ikhlas menemui kematian, karena sorga dan neraka seolah-olah sudah digenggam oleh Sri Kresna. Raden Wresniwira yang menyambung baris Dwarawati, dan merupakan pimpinan para adipati. Jumlah prajuritnya tak terhitung banyaknya memenuhi jalan, suara prajurit bagaikan menggerakkan bumi menggoncangkan lautan. Yang menyambung barisan Raden Wresniwira, ialah putra Raden Dananjaya, yang mengendarai kereta emas, bernama Abimanyu, berpayung bulu merak, sambil memangku senjata cakra. Pakaian para prajuritnya bagaikan bunga berguguran. Di belakangnya, menyambung Raden Pancawala, putra Sri Darmaputra. Ia berkendaraan kereta terhias permata, berumbai bulu merak, berpayung hitam mengkilap. Prajuritnya berpakaian menyala. Benderanya semua berwarna hijau. {{C| * * * }} Tak habis-habisnya jika keindahan pasukan yang sedang berjalan. Kini baiklah dibatasi saja sampai di sini. Barisan terdepan sudah sampai di Tegal Kuru, tampak bagaikan air tumpah ruah. Para raja, para adipati, datang berbondong-bondong tiada putus-putusnya. Kemudian semua mendirikan pesanggrahan sesuai dengan kedudukan masing-masing. Kemudian Dewi Kunti dijemput, supaya datang di Tegal Kuru, diantar oleh Yamawidura. Setelah bertemu dengan Pandawa, semua menangis. Setelah tangisnya reda, semua merasa gembira, lalu bersuka-ria. Tak mungkin seluruh suasana suka ria itu diceritakan. Yamawidura, yang mengantar Dewi Kunti, lalu kembali lagi ke Astina. Dewi Kunti tetap tinggal di Tegal Kuru. Pesanggrahan Pandawa tak ubahnya seperti istana. Pesanggrahan Sri Kresna pun dibangun serupa istana. Yudistira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, semua berkumpul di pesanggrahan Sri Kresna. Para raja undangan, semuanya berkumpul di situ, untuk berunding dan mohon petunjuk Sri Kresna. Yudistira berkata kepada Sri Kresna, "Kakanda Prabu, saya<noinclude>{{rh|22}}</noinclude> 1e3cafa2o68pl3z7q9u13pckfsgj3el 78276 77593 2026-05-16T09:23:03Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78276 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ngan|dengan}} sungguh-sungguh menjalankan segala petunjuk Sri Kresna, dengan tulus ikhlas menemui kematian, karena sorga dan neraka seolah-olah sudah digenggam oleh Sri Kresna. Raden Wresniwira yang menyambung baris Dwarawati, dan merupakan pimpinan para adipati. Jumlah prajuritnya tak terhitung banyaknya memenuhi jalan, suara prajurit bagaikan menggerakkan bumi menggoncangkan lautan. Yang menyambung barisan Raden Wresniwira, ialah putra Raden Dananjaya, yang mengendarai kereta emas, bernama Abimanyu, berpayung bulu merak, sambil memangku senjata cakra. Pakaian para prajuritnya bagaikan bunga berguguran. Di belakangnya, menyambung Raden Pancawala, putra Sri Darmaputra. Ia berkendaraan kereta terhias permata, berumbai bulu merak, berpayung hitam mengkilap. Prajuritnya berpakaian menyala. Benderanya semua berwarna hijau. {{C| * * * }} Tak habis-habisnya jika keindahan pasukan yang sedang berjalan. Kini baiklah dibatasi saja sampai di sini. Barisan terdepan sudah sampai di Tegal Kuru, tampak bagaikan air tumpah ruah. Para raja, para adipati, datang berbondong-bondong tiada putus-putusnya. Kemudian semua mendirikan pesanggrahan sesuai dengan kedudukan masing-masing. Kemudian Dewi Kunti dijemput, supaya datang di Tegal Kuru, diantar oleh Yamawidura. Setelah bertemu dengan Pandawa, semua menangis. Setelah tangisnya reda, semua merasa gembira, lalu bersuka-ria. Tak mungkin seluruh suasana suka ria itu diceritakan. Yamawidura, yang mengantar Dewi Kunti, lalu kembali lagi ke Astina. Dewi Kunti tetap tinggal di Tegal Kuru. Pesanggrahan Pandawa tak ubahnya seperti istana. Pesanggrahan Sri Kresna pun dibangun serupa istana. Yudistira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, semua berkumpul di pesanggrahan Sri Kresna. Para raja undangan, semuanya berkumpul di situ, untuk berunding dan mohon petunjuk Sri Kresna. Yudistira berkata kepada Sri Kresna, "Kakanda Prabu, saya<noinclude>{{rh|22}}</noinclude> qudyea5m5dapfd9i3ogbspjm8jwixew Kaca:Bratayuda.pdf/20 250 24764 77594 2026-05-15T17:27:30Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77594 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>serahkan kepada Anda, siapa yang akan Anda tunjuk menjadi senapati perang." Apa yang dikemukakan oleh Werkodara dan Dananjaya kepada Sri K.resna juga demikian. Jawab Sri Baginda demikian, Adinda Prabu Amarta, yang saya pilih menjadi senapati perang ,ialah Seta." Semuanya setuju. Kemudian Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Wresniwira tentang siasat perang yang akan dijalari~ kan. *** Setelah mendengar berita bahwa musuh telah membuat pesanggrahan di Tegal Kuru, Raja Suyudana lalu memerintahkan supaya bala tentera Astina dikumpulkan. Kemudian Yamawidura memberi tahu Sri Baginda, bahwa para raja yang membantu Pandawa sudah berkumpul di Tegal Kuru. Tak lama antaranya pasukan Astina sudah selesai mempersiapkan diri. Perjalanannya seperti mendidihnya air laut menggenangi daratan. Para raja yang membantu Raja Suyudana, banyak juga jumlahnya, kemudian mereka pun mendirik:an pesanggrahan mereka masing-masing, yang mereka rakit seperti istana. Yang terpilih menjadi senapati perang ialah Bisma. *** Tidak diceritakan berapa lama mereka mengatur pasukan. Setelah Pandawa dan Korawa sama-sama siap, maka pada suatu pagi kedua belah pihak membunyikan tengara, kendang, gung, dan beri, berangkat dari pesanggrahan. Soraknya bergemuruh seperti hendak membelah langit. Suara gung serta tabuhan lainnya tenggelam, tak dapat terdengar lagi. Barisan Pandawa berkumpul di sebelah barat menghadap ke timur. Barisan Korawa berkumpul menghadap ke barat. Ujung setatan mencapai gunung, sedangkan ujung utara sampai ke laut. Sejauh-jauh mata memandang, yang tampak hanya barisan, namun yang datang masih terus mengalir. 23<noinclude></noinclude> j4uu33ek3agiiy65uw6vqd3yrt1inrv 77600 77594 2026-05-15T17:31:49Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77600 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>serahkan kepada Anda, siapa yang akan Anda tunjuk menjadi senapati perang." Apa yang dikemukakan oleh Werkodara dan Dananjaya kepada Sri Kresna juga demikian. Jawab Sri Baginda demikian, Adinda Prabu Amarta, yang saya pilih menjadi senapati perang ialah Seta." Semuanya setuju. Kemudian Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Wresniwira tentang siasat perang yang akan dijalankan. {{C|* * *}} Setelah mendengar berita bahwa musuh telah membuat pesanggrahan di Tegal Kuru, Raja Suyudana lalu memerintahkan supaya bala tentera Astina dikumpulkan. Kemudian Yamawidura memberi tahu Sri Baginda, bahwa para raja yang membantu Pandawa sudah berkumpul di Tegal Kuru. Tak lama antaranya pasukan Astina sudah selesai mempersiapkan diri. Perjalanannya seperti mendidihnya air laut menggenangi daratan. Para raja yang membantu Raja Suyudana, banyak juga jumlahnya, kemudian mereka pun mendirikan:an pesanggrahan mereka masing-masing, yang mereka rakit seperti istana. Yang terpilih menjadi senapati perang ialah Bisma. {{C|* * *}} Tidak diceritakan berapa lama mereka mengatur pasukan. Setelah Pandawa dan Korawa sama-sama siap, maka pada suatu pagi kedua belah pihak membunyikan tengara, kendang, gung, dan beri, berangkat dari pesanggrahan. Soraknya bergemuruh seperti hendak membelah langit. Suara gung serta tabuhan lainnya tenggelam, tak dapat terdengar lagi. Barisan Pandawa berkumpul di sebelah barat menghadap ke timur. Barisan Korawa berkumpul menghadap ke barat. Ujung setatan mencapai gunung, sedangkan ujung utara sampai ke laut. Sejauh-jauh mata memandang, yang tampak hanya barisan, namun yang datang masih terus mengalir.<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude> palduk1ovkxixq70pgu6je02i4aq96g 78277 77600 2026-05-16T09:23:12Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78277 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>serahkan kepada Anda, siapa yang akan Anda tunjuk menjadi senapati perang." Apa yang dikemukakan oleh Werkodara dan Dananjaya kepada Sri Kresna juga demikian. Jawab Sri Baginda demikian, Adinda Prabu Amarta, yang saya pilih menjadi senapati perang ialah Seta." Semuanya setuju. Kemudian Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Wresniwira tentang siasat perang yang akan dijalankan. {{C|* * *}} Setelah mendengar berita bahwa musuh telah membuat pesanggrahan di Tegal Kuru, Raja Suyudana lalu memerintahkan supaya bala tentera Astina dikumpulkan. Kemudian Yamawidura memberi tahu Sri Baginda, bahwa para raja yang membantu Pandawa sudah berkumpul di Tegal Kuru. Tak lama antaranya pasukan Astina sudah selesai mempersiapkan diri. Perjalanannya seperti mendidihnya air laut menggenangi daratan. Para raja yang membantu Raja Suyudana, banyak juga jumlahnya, kemudian mereka pun mendirikan:an pesanggrahan mereka masing-masing, yang mereka rakit seperti istana. Yang terpilih menjadi senapati perang ialah Bisma. {{C|* * *}} Tidak diceritakan berapa lama mereka mengatur pasukan. Setelah Pandawa dan Korawa sama-sama siap, maka pada suatu pagi kedua belah pihak membunyikan tengara, kendang, gung, dan beri, berangkat dari pesanggrahan. Soraknya bergemuruh seperti hendak membelah langit. Suara gung serta tabuhan lainnya tenggelam, tak dapat terdengar lagi. Barisan Pandawa berkumpul di sebelah barat menghadap ke timur. Barisan Korawa berkumpul menghadap ke barat. Ujung setatan mencapai gunung, sedangkan ujung utara sampai ke laut. Sejauh-jauh mata memandang, yang tampak hanya barisan, namun yang datang masih terus mengalir.<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude> 6l8ijw76rugulz2gagvz7aagvjyx8ac Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/15 250 24765 77597 2026-05-15T17:30:53Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77597 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 16 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 15 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> jyqkpctu1tzv5lz9m5mzf6nrs73hnyd Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/16 250 24766 77598 2026-05-15T17:31:14Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77598 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77604 77598 2026-05-15T17:40:46Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77604 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 17 ―}}</noinclude>Pramila dalang saha panjumping punika kedah ngatos-ngatos dateng pangrimating ringgit, djalaran ringgit ingkang kenging lisah blentjong punika sagedipun pulih sae, kedah katambal pulasipun lan dipun edus malih. Saweneh wonten malih, sok asring wonten dalang manawi bade ngedalaken wajang mawi dipun ambung, kausapaken ing pipi utawi ing irung, punika ingkang adakan ringgit ingkang paraupanipun tjemeng, ing pangangkah supados katingal tjemeng anggales resik. Tumrap dateng para saderek ingkang sami dereng mangretos dipun wastani punika dalang asih tresna dateng ringgit ingkang dipun tjepeng, ananging malah kosok wangsul dados kalentu. Ing mangka rainipun tijang punika tamtu anglisah medal gadjihipun, dados prasasat punika ringgit dipun lisahi. Manawi kirang pitados kenging dipun jektosi, mangke manawi sak mangsa-mangsa wonten hawa asrep paraupaning wajang punika tamtu tuwuh djamuripun maletuk petak. Gandeng miturut seserepanipun tukang ahli wajang lan sungging, paraupaning wajang kausapaken ing pipi utawi ngirung punika boten prajogi. Manawi wonten paraupaning ringgit ingkang katingal ambaleret, ing mangka bade dipun dalaken ing kelir, anggenipun ngresiki tjekap dipun usap kalijan katju ingkang garing, punika saged sae resik tur boten andadosaken sabab. '''Mangsa-pangisising Ringgit Watjutjal.''' Pangisising wajang punika manawi mangsa rendeng katah hawa asrep ingkang sae satengah wulan sapisan, sukur saged sadasa dalu sapisan langkung sae, dene manawi mangsa katiga saged kalih wulan utawi sawulan sapisan. Sadaja wajang ingkang sami risak kenging djamur utawi pedot tatahanipun punika manawi sampun karimat utawi dipun benakaken dados pulih sae malih, ladjeng kawangsulna dateng papan uruting panataning wajang kados nalika mendeti punika wau. Punika sampun telas bab tjaraning anggenipun ngupakara lan ngresiki wajang ingkang kataman ing djamur saha ingkang pedot utawi dedel tatahanipun. {{C|{{L|'''TJARA PANATANING WAJANG INGKANG BADE<br>KALEBETAKEN ING KOTAK.'''}}}} '''Tjaranipun masang (nglebetaken) Eblek No. 1 (Dasar), No. 2, No. 3, No. 4, No. 5 lan sakpiturutipun.''' Sak sampunipun kotak punika resik ladjeng kaparingana lemek dlantjang ingkang kandel utawi karton, ladjeng kaparingana laring<noinclude></noinclude> oe8mo59npyxndf6h9ie8toyoty9msej Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/18 250 24767 77599 2026-05-15T17:31:30Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77599 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77607 77599 2026-05-15T17:44:41Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77607 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 19 —}}</noinclude>peksi merak utawi kapurbarus, ingkang perlu kangge tumbal tulaking ama kewan gegremetan. Manawi sampun sae ladjeng katumpangana eblek, eblek punika lameking wajang kangge let-letan, amrih wajangipun sageda sae saketja panatanipun. Eblek punika ingkang kadamel saking deling dipun irat tipis ingkang alus, ladjeng dipun anam betek ingkang lembat, ladjeng kabungkus ing kain utawi mori petak, punika dipun wastani eblek, pirantos letletan kangge panataning wajang. Pamasanging eblek dasar ingkang ngandap pijambak, kaangkaha ingkang wradin sampun ngantos anggombing, (andap inggil) prelunipun manawi katumpangan wajang sampun ngantos maletrek, sageda wradin sae. {{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1 |'''Nglebetaken Ringgit kawiwitan sangking:<br>Wajang Dasar (Sumpingan Sisih Kiwa).'''}} Lah samangke ladjeng wiwit nglebetaken wajang dasar. Ingkang dipun wastani wajang dasar punika kadosta bebudjengan (kewan) setanan, brajut djaler estri sak anakipun, wajang ingkang awis-awis kangge, namung manawi prelu bade kangge lampahan kemawon saweg mendet pundi ingkang dipun betahaken. Wontenipun punika wajang kangge dasar, djalaran punika wajang tatahanipun gajaman, pulasanipun awak awakan, watjutjalipun ingkang katah kandel. Kadjawi radi gampil pandamelipun, tur inggih kalebet mirah reginipun, dados bok bilih wonten karisakanipun boten kakatahen wragad. Dene tjaraning panatanipun aben rai, sampun ngantos paraupaning wajang katatab ing kotak, mindak ambangkeluk dados tjatjad. Saja manawi dawah wajang ingkang irungipun alit manawi ngantos ambangkeluk tugel utawi nglotok pulasaning paraupan dipun sawang ladjeng dados awon, nami wajang tjatjad. Manawi prempak garaning bebudjengan punika wau katingal anggandjel kalolosa saking wajang bebudjengan punika wau, ananging sampun ngantos dipun tjopot pisah saking wajangipun, namung kalolos saking palemahan kemawon. Ladjeng kaingar ingerna sagedipun wradin panumpuking wajang, sampun ngantos mandukul tengah utawi miring, mindak angglendre wajangipun. Manawi wradin panatanipun, wajangipun inggih mboten ngolet. Manawi sampun sae wradin panatanipun ladjeng katumpangana tatananing wajang para wanara, kadosta, ketek katjangan, Subali lan Sugriwa sak punggawanipun. Ketek ingkang alit-alit wonten ngandap, ingkang ageng kangge tutup wonten nginggil. Wajang ingkang alit panatanipun malang. Manawi sampun telas wajang beburon lan para wanara sampun katata sae wradin, ladjeng katutupa ing eblek No.<noinclude></noinclude> azsbmx0r9rmj4fy73gxy46pwx3l0aq2 Kaca:Bratayuda.pdf/21 250 24768 77601 2026-05-15T17:32:30Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77601 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Siasat perang yang digunakan oleh senapati Bisma ialah Wukirjaladri, segenap kereta dan gajah sebagai karangnya, para raja sebagai gelombangnya, sedangkan seluruh prajurit sebagai airnya. Siasat perang senapati Arya Seta disebut Brajatiksnalungit. Raden Werkodara, Raden Dananjaya, dan Dewi Srikandi beserta pasukan masing-masing berada di depan. Drestajumena serta Setyaki beserta pasukannya, berada di sebelah kiri, tetapi agak ke belakang, dekat dengan kedudukan senapati Arya Seta. Sri Darmaputra beserta Sri Kresna berada di tengah-tengah, menjadi satu dengan para raja dan para adipati. Raden Dananjaya merasa pilu, karena melihat musuhnya semuanya masih saudara serta gurunya. Ia lalu berkata kepada Sri Kresna, demikian, "Sri Baginda, kalau boleh, hendaknya Anda urungkan saja perang Baratayuda ini. Saya tidak tahan melihat musuh sesama saudara serta guru." Sri Baginda menjawab, "Kehendak dewa Perang Baratayuda tidak boleh urung. Kedua, jika seorang satria mati di medan perang, i"! memperoleh kematian utama, dan naik ke sorga. Lagi pula, kakakmu, Adinda Prabu Yudistira harus memenuhi sumpahnya. Apakah engkau tidak mempunyai cita-cita untuk membela saudara tua? Adapun yang akan menandingi gurumu sudah ada orangnya, tak perlu engkau sendiri. Engkau takkan kekurangan lawan. Jika di tengah-tengah pertempuran, engkau bertemu dengan gurumu, engkau tak boleh lari. Harus engkau lawan. Akan tetapi l~bih dahulu, sembahlah dia!" *** Setelah Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Dananjaya, bahwa Perang Baratayuda tidak boleh diurungkan, lalu perang pun dimulai. Gemuruh sorak-sorai bala tentera, bti.nyi tetabu. han berbaur dengan deru gajah, decak-decak kereta, dan kerecak kuda, bagaikan gunung longsor, suaranya memenuhi bumi. Prajurit yang sedang mengamuk terdengar ribut, banyak sudah prajurit yang mati. Para raja, dan satria serta para adipati juga sudah 24<noinclude></noinclude> c60p0u097lsr654ep2qtwrjyhd1uih4 77602 77601 2026-05-15T17:37:42Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77602 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Siasat perang yang digunakan oleh senapati Bisma ialah ''Wukirjaladri'', segenap kereta dan gajah sebagai karangnya, para raja sebagai gelombangnya, sedangkan seluruh prajurit sebagai airnya. Siasat perang senapati Arya Seta disebut ''Brajatiksnalungit''. Raden Werkodara, Raden Dananjaya, dan Dewi Srikandi beserta pasukan masing-masing berada di depan. Drestajumena serta Setyaki beserta pasukannya, berada di sebelah kiri, tetapi agak ke belakang, dekat dengan kedudukan senapati Arya Seta. Sri Darmaputra beserta Sri Kresna berada di tengah-tengah, menjadi satu dengan para raja dan para adipati. Raden Dananjaya merasa pilu, karena melihat musuhnya semuanya masih saudara serta gurunya. Ia lalu berkata kepada Sri Kresna, demikian, "Sri Baginda, kalau boleh, hendaknya Anda urungkan saja perang Baratayuda ini. Saya tidak tahan melihat musuh sesama saudara serta guru." Sri Baginda menjawab, "Kehendak dewa Perang Baratayuda tidak boleh urung. Kedua, jika seorang satria mati di medan perang, ia memperoleh kematian utama, dan naik ke sorga. Lagi pula, kakakmu, Adinda Prabu Yudistira harus memenuhi sumpahnya. Apakah engkau tidak mempunyai cita-cita untuk membela saudara tua? Adapun yang akan menandingi gurumu sudah ada orangnya, tak perlu engkau sendiri. Engkau takkan kekurangan lawan. Jika di tengah-tengah pertempuran, engkau bertemu dengan gurumu, engkau tak boleh lari. Harus engkau lawan. Akan tetapi lebih dahulu, sembahlah dia!" {{C|* * *}} Setelah Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Dananjaya, bahwa Perang Baratayuda tidak boleh diurungkan, lalu perang pun dimulai. Gemuruh sorak-sorai bala tentera, bunyi tetabuhan berbaur dengan deru gajah, decak-decak kereta, dan kerecak kuda, bagaikan gunung longsor, suaranya memenuhi bumi. Prajurit yang sedang mengamuk terdengar ribut, banyak sudah prajurit yang mati. Para raja, dan satria serta para adipati juga sudah<noinclude>{{rh|24}}</noinclude> 9nps30931i31s2jttm4yylgfnya5hdc 78278 77602 2026-05-16T09:23:23Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78278 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Siasat perang yang digunakan oleh senapati Bisma ialah ''Wukirjaladri'', segenap kereta dan gajah sebagai karangnya, para raja sebagai gelombangnya, sedangkan seluruh prajurit sebagai airnya. Siasat perang senapati Arya Seta disebut ''Brajatiksnalungit''. Raden Werkodara, Raden Dananjaya, dan Dewi Srikandi beserta pasukan masing-masing berada di depan. Drestajumena serta Setyaki beserta pasukannya, berada di sebelah kiri, tetapi agak ke belakang, dekat dengan kedudukan senapati Arya Seta. Sri Darmaputra beserta Sri Kresna berada di tengah-tengah, menjadi satu dengan para raja dan para adipati. Raden Dananjaya merasa pilu, karena melihat musuhnya semuanya masih saudara serta gurunya. Ia lalu berkata kepada Sri Kresna, demikian, "Sri Baginda, kalau boleh, hendaknya Anda urungkan saja perang Baratayuda ini. Saya tidak tahan melihat musuh sesama saudara serta guru." Sri Baginda menjawab, "Kehendak dewa Perang Baratayuda tidak boleh urung. Kedua, jika seorang satria mati di medan perang, ia memperoleh kematian utama, dan naik ke sorga. Lagi pula, kakakmu, Adinda Prabu Yudistira harus memenuhi sumpahnya. Apakah engkau tidak mempunyai cita-cita untuk membela saudara tua? Adapun yang akan menandingi gurumu sudah ada orangnya, tak perlu engkau sendiri. Engkau takkan kekurangan lawan. Jika di tengah-tengah pertempuran, engkau bertemu dengan gurumu, engkau tak boleh lari. Harus engkau lawan. Akan tetapi lebih dahulu, sembahlah dia!" {{C|* * *}} Setelah Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Dananjaya, bahwa Perang Baratayuda tidak boleh diurungkan, lalu perang pun dimulai. Gemuruh sorak-sorai bala tentera, bunyi tetabuhan berbaur dengan deru gajah, decak-decak kereta, dan kerecak kuda, bagaikan gunung longsor, suaranya memenuhi bumi. Prajurit yang sedang mengamuk terdengar ribut, banyak sudah prajurit yang mati. Para raja, dan satria serta para adipati juga sudah<noinclude>{{rh|24}}</noinclude> bf3pn8fhxwomz78t47o2w3dplqrwu6e Kaca:Bratayuda.pdf/22 250 24769 77603 2026-05-15T17:38:01Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77603 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>banyak yang gugur. Sepuluh buah kereta remuk, sepuluh ekor gajah mati bersama dengan raja pengendaranya. Ramainya peperangan, benturan-benturan senjata seperti mengeluarkan suara guntur. Jerit prajurit-prajurit yang luka, gemuruh suaranya. Panah yang terlepas dari busurnya bagaikan hujan. Pasukan berkuda yang sudah tewas, ratusan jumlahnya. Prajurit-prajurit pilihan serta pimpinan yang mengendarai kereta yang gugur, seribu jumlahnya. Sedangkan prajurit yang mengendarai gajah, sudah selaksa yang gugur. Selaksa juga yang berkendaraan kereta, prajurit berkuda sejuta, prajurit darat empat juta. Serbuan para prajurit seperti menggoncangkan bumi. Peperangan sudah berlangsung setengah hari. Dua orang satria sudah gugur, kedua-duanya putra Wirata. Yang seorang bernama Raden Wirasangka, terbunuh oleh Druna; seorang lagi Raden Utara, terbunuh oleh Raja Salya. Prajurit pilihan di pihak Korawa sudah banyak yang mati. Raden Seta sangat marah karena kedua adiknya yang bemarna Wirasangka dan Raden Utara, gugur. Dengan bala tenteranya ia maju menyerbu, buas bagaikan harimau hendak memangsa atau seperti raksasa berebut daging, serempak pasukannya men~rang. Raden Seta menarik busurnya, melepaskan anak panah. Yang dituju ialah Raja Mandaraka, akan tetapi meleset, hanya kereta beserta sais serta pengiringnya yang kena, hancur bercampur tanah. Kartamarma menyongsong, hendak menghalang-halangi amukan Raden Seta, lalu diserang dengan panah, jatuh dari kereta, keretanya hancur. Pasukan Korawa gempar melihat amukan Raden Seta. Demikian banyak ia berhasil membunuh lawan, sehingga membuat musuh merasa ngeri. Kemudian Bisma bersama Druna dan pasukannya datang menolong. Jayasena memutar gadanya, tampak sangat menakutkan .. Raden Rukmarata membantu ayahnya, Raja Mandaraka, dengan mengendarai kereta ia menyongsong serbuan Raden Seta. Lalu digempur dengan panah oleh Raden Seta, kena dadanya, jatuh ter- 25<noinclude></noinclude> l51ku80n6unqzvjz1wvi5zeo3ca0wbz 77605 77603 2026-05-15T17:42:14Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77605 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>banyak yang gugur. Sepuluh buah kereta remuk, sepuluh ekor gajah mati bersama dengan raja pengendaranya. Ramainya peperangan, benturan-benturan senjata seperti mengeluarkan suara guntur. Jerit prajurit-prajurit yang luka, gemuruh suaranya. Panah yang terlepas dari busurnya bagaikan hujan. Pasukan berkuda yang sudah tewas, ratusan jumlahnya. Prajurit-prajurit pilihan serta pimpinan yang mengendarai kereta yang gugur, seribu jumlahnya. Sedangkan prajurit yang mengendarai gajah, sudah selaksa yang gugur. Selaksa juga yang berkendaraan kereta, prajurit berkuda sejuta, prajurit darat empat juta. Serbuan para prajurit seperti menggoncangkan bumi. Peperangan sudah berlangsung setengah hari. Dua orang satria sudah gugur, kedua-duanya putra Wirata. Yang seorang bernama Raden Wirasangka, terbunuh oleh Druna; seorang lagi Raden Utara, terbunuh oleh Raja Salya. Prajurit pilihan di pihak Korawa sudah banyak yang mati. Raden Seta sangat marah karena kedua adiknya yang bernama Wirasangka dan Raden Utara, gugur. Dengan bala tenteranya ia maju menyerbu, buas bagaikan harimau hendak memangsa atau seperti raksasa berebut daging, serempak pasukannya menyerang. Raden Seta menarik busurnya, melepaskan anak panah. Yang dituju ialah Raja Mandaraka, akan tetapi meleset, hanya kereta beserta sais serta pengiringnya yang kena, hancur bercampur tanah. Kartamarma menyongsong, hendak menghalang-halangi amukan Raden Seta, lalu diserang dengan panah, jatuh dari kereta, keretanya hancur. Pasukan Korawa gempar melihat amukan Raden Seta. Demikian banyak ia berhasil membunuh lawan, sehingga membuat musuh merasa ngeri. Kemudian Bisma bersama Druna dan pasukannya datang menolong. Jayasena memutar gadanya, tampak sangat menakutkan. Raden Rukmarata membantu ayahnya, Raja Mandaraka, dengan mengendarai kereta ia menyongsong serbuan Raden Seta. Lalu digempur dengan panah oleh Raden Seta, kena dadanya, jatuh ter-<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude> 19nvxizoqnpbqthpvy01bknbxwxyubx 78279 77605 2026-05-16T09:24:29Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78279 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>banyak yang gugur. Sepuluh buah kereta remuk, sepuluh ekor gajah mati bersama dengan raja pengendaranya. Ramainya peperangan, benturan-benturan senjata seperti mengeluarkan suara guntur. Jerit prajurit-prajurit yang luka, gemuruh suaranya. Panah yang terlepas dari busurnya bagaikan hujan. Pasukan berkuda yang sudah tewas, ratusan jumlahnya. Prajurit-prajurit pilihan serta pimpinan yang mengendarai kereta yang gugur, seribu jumlahnya. Sedangkan prajurit yang mengendarai gajah, sudah selaksa yang gugur. Selaksa juga yang berkendaraan kereta, prajurit berkuda sejuta, prajurit darat empat juta. Serbuan para prajurit seperti menggoncangkan bumi. Peperangan sudah berlangsung setengah hari. Dua orang satria sudah gugur, kedua-duanya putra Wirata. Yang seorang bernama Raden Wirasangka, terbunuh oleh Druna; seorang lagi Raden Utara, terbunuh oleh Raja Salya. Prajurit pilihan di pihak Korawa sudah banyak yang mati. Raden Seta sangat marah karena kedua adiknya yang bernama Wirasangka dan Raden Utara, gugur. Dengan bala tenteranya ia maju menyerbu, buas bagaikan harimau hendak memangsa atau seperti raksasa berebut daging, serempak pasukannya menyerang. Raden Seta menarik busurnya, melepaskan anak panah. Yang dituju ialah Raja Mandaraka, akan tetapi meleset, hanya kereta beserta sais serta pengiringnya yang kena, hancur bercampur tanah. Kartamarma menyongsong, hendak menghalang-halangi amukan Raden Seta, lalu diserang dengan panah, jatuh dari kereta, keretanya hancur. Pasukan Korawa gempar melihat amukan Raden Seta. Demikian banyak ia berhasil membunuh lawan, sehingga membuat musuh merasa ngeri. Kemudian Bisma bersama Druna dan pasukannya datang menolong. Jayasena memutar gadanya, tampak sangat menakutkan. Raden Rukmarata membantu ayahnya, Raja Mandaraka, dengan mengendarai kereta ia menyongsong serbuan Raden Seta. Lalu digempur dengan panah oleh Raden Seta, kena dadanya, jatuh {{hws|ter|terguling}}<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude> 3lv83inf0asabtkwiqmssgdc04fxlse Kaca:Bratayuda.pdf/23 250 24770 77606 2026-05-15T17:42:33Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77606 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>guling di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden Seta maju bersama, gerak-geriknya baga.ikan banteng terluka. Para raja, para adipati yang ~iteijang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat harimau. karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebihlebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama senapati. Raden Seta,,diser~mg dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak teriuka. Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta, keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan, yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya, merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang. Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busumya, yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah. Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta, mengambil gada, lalu beijalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, ter2o<noinclude></noinclude> 5pxn45wcuat8vqc2wtrp3zsz1y8wk57 77610 77606 2026-05-15T17:48:48Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77610 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>guling di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden Seta maju bersama, gerak-geriknya bagaikan banteng terluka. Para raja, para adipati yang diterjang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat harimau karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebih-lebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama senapati. Raden Seta diserang dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak terluka. Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta, keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan, yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya, merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang. Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busurnya, yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah. Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta, mengambil gada, lalu berjalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, ter-<noinclude>{{rh|26}}</noinclude> s41b9wye6075pmy2xlshehu4b55j1s4 78280 77610 2026-05-16T09:24:49Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78280 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|guling|terguling}} di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden Seta maju bersama, gerak-geriknya bagaikan banteng terluka. Para raja, para adipati yang diterjang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat harimau karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebih-lebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama senapati. Raden Seta diserang dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak terluka. Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta, keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan, yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya, merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang. Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busurnya, yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah. Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta, mengambil gada, lalu berjalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, ter-<noinclude>{{rh|26}}</noinclude> 6kgtouuwbsx1t3hp5akmc18ksoa8dzg 78281 78280 2026-05-16T09:25:08Z Elcamatcha 1466 78281 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|guling|terguling}} di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden Seta maju bersama, gerak-geriknya bagaikan banteng terluka. Para raja, para adipati yang diterjang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat harimau karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebih-lebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama senapati. Raden Seta diserang dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak terluka. Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta, keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan, yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya, merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang. Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busurnya, yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah. Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta, mengambil gada, lalu berjalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, {{hws|ter|terpukul}}<noinclude>{{rh|26}}</noinclude> jx26djc0z5ae9eektrikywtk8iid7ya Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/20 250 24771 77608 2026-05-15T17:45:01Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77608 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77941 77608 2026-05-15T23:18:05Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77941 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 21 —}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2 |'''Nglebetaken Ringgit: Para Djawata lan para Danawa.'''<br> Lah sak mangke ladjeng njandak ringgit para djawata lan para danawa. Punika panatanipun katjampur dados satunggal, sak eblek, namung panatanipun kemawon kapilah, para djawata ingkang alit-alit rumijin, ladjeng danawa ingkang alit-alit. Ingkang alit panatanipun ugi malang, ingkang ageng tunggil ageng panatanipun mudjur. Dados sadaja ringgit ingkang alit panatanipun kedah wonten ngandap, dene ingkang ageng wonten nginggil ngiras kangge tutup. Panatanipun mudjur aben rai, (aben adjeng) panatanipun kedah wradin sampun ngantos anggigir sapi, (mandukul tengah). Panatanipun dipun pletrekaken sampun ngantos tumpang gapit mindak mandukul, dene ingkang alit ugi sampun ngantos tumpang gapit. Manawi sampun dumugi pungkasaning eblek bade natab kotak, katarik mundur sakedik ladjeng katumpangana wajang malih dados aben rai, makaten sakpiturutipun ngantos telas. Panataning wajang tangan ngadjeng kabekuk madjeng, sikut ngadjeng kabekuk mundur, epek-epek katumpangaken ing tjetik, uruting suku wingking. Dene tangan wingking kabekuk madjeng urut pundak, sikut, kabekuk mangandap, epek-epek katumpangaken ing tjetik suku wingking. Patrapipun miturut tumpang tindihing pamasanging tanganan ingkang dipun gandeng kalijan gegel balung punika. Tuding garaning tangan kaurutaken gapit garaning wajang. Makaten punika sakpiturutipun, tumrap dateng sadaja wajang ingkang mawi tanganan.<br> Manawi sampun telas panataning wajang para djawata lan para danawa, lan sampun wradin panatanipun ladjeng katumpangana eblek No. 3. minangka kangge let-letan. |'''Nglebetaken Ringgit: Para Punggawa Patih Patihan.''' <br> Ladjeng samangke gentos njandak panataning wajang para punggawa patih patihan, patih Djawi lan patih Sabrangan, putra Ngalengkan, tuwin para Kurawa. Patraping panata sami kados ingkang kasebat nginggil punika wau, ingkang alit katata malang, ingkang wajang ageng kaudjuraken dawah nginggil kaangkah ingkang wradin sadaja sami aben rai, manawi sampun rampung ladjeng katutup ing eblek malih, eblek No. 4. |'''Nglebetaken: Ringgit Dagelan, para Tapa tuwin Ritjikan.'''<br> Samangke ladjeng njandak ringgit Dagelan, para Tapa tuwin Ritjikan punika kadadosaken satunggal. Ringgit Ritjikan ingkang tamtu wonten nginggil panatanipun punika kadosta, prampogan Djawi lan prampogan Danawa, kreta, Djaran titihan, gadjah, kajon (gunungan)}}<noinclude></noinclude> np0gxpxeswiyi67jb2xtze7dunrc3b3 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/21 250 24772 77609 2026-05-15T17:45:17Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77609 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd Kaca:Bratayuda.pdf/24 250 24773 77611 2026-05-15T17:49:17Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77611 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>pukul gada, semuanya hancur bersama sais, kuda, serta gajah- nya. Lima orang raja yang hancur lebur bersama Keretanya. Yang hhancur-lebur bersama gajahnya lima orang. Sedangkan para adipati lebih banyak lagi yang mati. Benar-benar Raden Seta sakti tanpa tanding. Pasukan Astina semakin ngeri melihat sepak terjang dan amukan Seta, dapat diumpamakan seperti seribu raksasa bersa- ma-sama berebut daging. Gadanya benar-benar luar biasa, dan me- ngerikan. Bisma sendiri merasa ngeri melihat Seta sudah menga- ‘muk seperti orang mabuk. la Jalu mundur dari medan. Kemudian dewa berseruseru dari angkasa, "Hai, Bisma, mengapa engkau mundur dari medan perang? Ketahuilah, bahwa kematian putra Wirata itu, tiada lain alah olehmu!” Bisma mendengar suara dewa seperti itu, lalu Kembali sam- Dil bersiap melepaskan panah api, terlepas sudah dari busumnya, mengenai dada Seta, tembus, lalu mati, Pasukan Astina bersorak gemuruh, yang tadi lari, semua kembali, bersuka-ra serta menari ‘Arya Dursasana berkiprah-kiprah, Arya Sindureja menabuh game- Jan, Jayasusena, Jayawikata, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Su- dira, Rekadurjaya, Wirya dan Kartamarma, semua bersorak-sorak Sedangkan pasukan Pandawa prihatin, dan cemas, karena senapati- nya telah gugur. Dari belakang berlari-larian ke depan. Sri Prabu Maswapati dari Wirata, ketika mendapat penjelas- an bahwa ketiga putranya gugur, lalu bergerak bersama Arya Nirbita. Bisma dihujani panah, tiada putus-ptitusnya. Bisma pun ‘melepaskan panah juga, sehingga panah beradu dengan panah. Pan- dawa pun semua marah, mereka serentak bergerak, mengamuk, dan menyerang bersama, dengan ketetapan hati, ikhlas dan rela hancur bersama Sri Maswapati. Pasukan Pandawa maju berbon- dong-bondong berebut depan, menerjang barisan Korawa, yang bubar berantakan Karena takut. Kemudian matahari pun tengge- Jam, seolah-olah menyapih yang telah lelah berperang, terasa ba- gaikan memberi peringatan, beristirahatlah dulu, besok pagi ber- perang kembal a<noinclude></noinclude> 8on3wkod0q7oke5r46cfm17n9kn0tee 77612 77611 2026-05-15T17:56:10Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77612 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>pukul gada, semuanya hancur bersama sais, kuda, serta gajahnya. Lima orang raja yang hancur lebur bersama Keretanya. Yang hancur-lebur bersama gajahnya lima orang. Sedangkan para adipati lebih banyak lagi yang mati. Benar-benar Raden Seta sakti tanpa tanding. Pasukan Astina semakin ngeri melihat sepak terjang dan amukan Seta, dapat diumpamakan seperti seribu raksasa bersama-sama berebut daging. Gadanya benar-benar luar biasa, dan mengerikan. Bisma sendiri merasa ngeri melihat Seta sudah mengamuk seperti orang mabuk. Ia Jalu mundur dari medan. Kemudian dewa berseru-seru dari angkasa, "Hai, Bisma, mengapa engkau mundur dari medan perang? Ketahuilah, bahwa kematian putra Wirata itu, tiada lain alah olehmu!” Bisma mendengar suara dewa seperti itu, lalu Kembali sambil bersiap melepaskan panah api, terlepas sudah dari busurnya, mengenai dada Seta, tembus, lalu mati, Pasukan Astina bersorak gemuruh, yang tadi lari, semua kembali, bersuka-ra serta menari. Arya Dursasana berkiprah-kiprah, Arya Sindureja menabuh gamelan, Jayasusena, Jayawikata, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya dan Kartamarma, semua bersorak-sorak. Sedangkan pasukan Pandawa prihatin, dan cemas, karena senapatinya telah gugur. Dari belakang berlari-larian ke depan. Sri Prabu Maswapati dari Wirata, ketika mendapat penjelasan bahwa ketiga putranya gugur, lalu bergerak bersama Arya Nirbita. Bisma dihujani panah, tiada putus-putusnya. Bisma pun melepaskan panah juga, sehingga panah beradu dengan panah. Pandawa pun semua marah, mereka serentak bergerak, mengamuk, dan menyerang bersama, dengan ketetapan hati, ikhlas dan rela hancur bersama Sri Maswapati. Pasukan Pandawa maju berbondong-bondong berebut depan, menerjang barisan Korawa, yang bubar berantakan karena takut. Kemudian matahari pun tenggelam, seolah-olah menyapih yang telah lelah berperang, terasa bagaikan memberi peringatan, beristirahatlah dulu, besok pagi berperang kembali. {{C| * * *}}<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude> ac5wefujewu0l0s616z9o2h8pagt0ik 78282 77612 2026-05-16T09:25:29Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78282 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|pukul|terpukul}} gada, semuanya hancur bersama sais, kuda, serta gajahnya. Lima orang raja yang hancur lebur bersama Keretanya. Yang hancur-lebur bersama gajahnya lima orang. Sedangkan para adipati lebih banyak lagi yang mati. Benar-benar Raden Seta sakti tanpa tanding. Pasukan Astina semakin ngeri melihat sepak terjang dan amukan Seta, dapat diumpamakan seperti seribu raksasa bersama-sama berebut daging. Gadanya benar-benar luar biasa, dan mengerikan. Bisma sendiri merasa ngeri melihat Seta sudah mengamuk seperti orang mabuk. Ia Jalu mundur dari medan. Kemudian dewa berseru-seru dari angkasa, "Hai, Bisma, mengapa engkau mundur dari medan perang? Ketahuilah, bahwa kematian putra Wirata itu, tiada lain alah olehmu!” Bisma mendengar suara dewa seperti itu, lalu Kembali sambil bersiap melepaskan panah api, terlepas sudah dari busurnya, mengenai dada Seta, tembus, lalu mati, Pasukan Astina bersorak gemuruh, yang tadi lari, semua kembali, bersuka-ra serta menari. Arya Dursasana berkiprah-kiprah, Arya Sindureja menabuh gamelan, Jayasusena, Jayawikata, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya dan Kartamarma, semua bersorak-sorak. Sedangkan pasukan Pandawa prihatin, dan cemas, karena senapatinya telah gugur. Dari belakang berlari-larian ke depan. Sri Prabu Maswapati dari Wirata, ketika mendapat penjelasan bahwa ketiga putranya gugur, lalu bergerak bersama Arya Nirbita. Bisma dihujani panah, tiada putus-putusnya. Bisma pun melepaskan panah juga, sehingga panah beradu dengan panah. Pandawa pun semua marah, mereka serentak bergerak, mengamuk, dan menyerang bersama, dengan ketetapan hati, ikhlas dan rela hancur bersama Sri Maswapati. Pasukan Pandawa maju berbondong-bondong berebut depan, menerjang barisan Korawa, yang bubar berantakan karena takut. Kemudian matahari pun tenggelam, seolah-olah menyapih yang telah lelah berperang, terasa bagaikan memberi peringatan, beristirahatlah dulu, besok pagi berperang kembali. {{C| * * *}}<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude> i43w2ndobv9kkckqau0twihwnmndd52 Kaca:Bratayuda.pdf/25 250 24774 77613 2026-05-15T17:56:30Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77613 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Yang sedang berperang lalu mundur ke pesanggrahan mereka masing-masing, dan mereka itu sudah sangat lelah. Sri Prabu Maswapati sedang menangisi ketiga putranya yang gugur. Ketiga jenazah telah ditemukan, kemudian dibersihkan, dan disantuni. Sri Baginda, dan permaisuri sangat gundah guiana, karena putranya yang masih muda-muda serta tampan, telah gugur. Perasaan Sri Baginda serta permaisuri seperti diiris-iris, dibagi menjadi tiga. Permaisuri memeluk mayat putranya berganti-ganti. Keluh-kesahnya menyayat hati, "Duhai Anakku, mengapa engkau bertiga gugur bersama. Siapa nantinya yang menggantikan tahta Wirata. Bangunlah, Anakku. Sapalah ibumu yang datang. Mengapa engkau berdiam diri? Mengapa engkau gugur bersama. Mengapa tak tersisa barang seorang, sehingga ada pelipur lara. Wahai Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, hanya engkau yang menyebabkan aku gundahgulana .................. Wahai Dewata, cabutlah nyawaku!" *** Tangis permaisuri Wirata telah berhenti. Kemudian datanglah para Panduputra, membawa pakaian, menghormat yang telah gugur. Jenazah dikelilingi dan ditangisi. Sesudah ditutup, lalu dinaikkan ke atas tumangan. Malam hari setelah keadaan menjadi senyap, dan kebetulan waktu itu terang bulan, jenazah lalu dibakar, disaksikan oleh para raja dan para Pandawa. Sri Kresna mendoakan, agar semua mendapatkan sorga, menepati apa yang sudah dijanjikan, ialah anugerah bagi mereka yang gugur dalam Perang Baratayuda. Abunya dihembuskan, naik ke Suralaya. 28<noinclude></noinclude> ebtrqzem760zyih2n1w6wsza9qt4gxz 77614 77613 2026-05-15T18:07:19Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77614 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Yang sedang berperang lalu mundur ke pesanggrahan mereka masing-masing, dan mereka itu sudah sangat lelah. Sri Prabu Maswapati sedang menangisi ketiga putranya yang gugur. Ketiga jenazah telah ditemukan, kemudian dibersihkan, dan disantuni. Sri Baginda, dan permaisuri sangat gundah guiana, karena putranya yang masih muda-muda serta tampan, telah gugur. Perasaan Sri Baginda serta permaisuri seperti diiris-iris, dibagi menjadi tiga. Permaisuri memeluk mayat putranya berganti-ganti. Keluh-kesahnya menyayat hati, "Duhai Anakku, mengapa engkau bertiga gugur.bersama. Siapa nantinya yang menggantikan tahta Wirata. Bangunlah, Anakku. Sapalah ibumu yang datang. Mengapa engkau berdiam diri? Mengapa engkau gugur bersama. Mengapa tak tersisa barang seorang, sehingga ada pelipur lara. Wahai Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, hanya engkau yang menyebabkan aku gundah gulana .................. Wahai Dewata, cabutlah nyawaku!" {{C|* * *}} Tangis permaisuri Wirata telah berhenti. Kemudian datanglah para Panduputra, membawa pakaian, menghormat yang telah gugur. Jenazah dikelilingi dan ditangisi. Sesudah ditutup, lalu dinaikkan ke atas tumangan. Malam hari setelah keadaan menjadi senyap, dan kebetulan waktu itu terang bulan, jenazah lalu dibakar, disaksikan oleh para raja dan para Pandawa. Sri Kresna mendoakan, agar semua mendapatkan sorga, menepati apa yang sudah dijanjikan, ialah anugerah bagi mereka yang gugur dalam Perang Baratayuda. Abunya dihembuskan, naik ke Suralaya.<noinclude>{{rh|28}}</noinclude> 6f2hh7srxqojg22ijmc81e4c2b5sk3k 78283 77614 2026-05-16T09:25:38Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78283 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Yang sedang berperang lalu mundur ke pesanggrahan mereka masing-masing, dan mereka itu sudah sangat lelah. Sri Prabu Maswapati sedang menangisi ketiga putranya yang gugur. Ketiga jenazah telah ditemukan, kemudian dibersihkan, dan disantuni. Sri Baginda, dan permaisuri sangat gundah guiana, karena putranya yang masih muda-muda serta tampan, telah gugur. Perasaan Sri Baginda serta permaisuri seperti diiris-iris, dibagi menjadi tiga. Permaisuri memeluk mayat putranya berganti-ganti. Keluh-kesahnya menyayat hati, "Duhai Anakku, mengapa engkau bertiga gugur.bersama. Siapa nantinya yang menggantikan tahta Wirata. Bangunlah, Anakku. Sapalah ibumu yang datang. Mengapa engkau berdiam diri? Mengapa engkau gugur bersama. Mengapa tak tersisa barang seorang, sehingga ada pelipur lara. Wahai Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, hanya engkau yang menyebabkan aku gundah gulana .................. Wahai Dewata, cabutlah nyawaku!" {{C|* * *}} Tangis permaisuri Wirata telah berhenti. Kemudian datanglah para Panduputra, membawa pakaian, menghormat yang telah gugur. Jenazah dikelilingi dan ditangisi. Sesudah ditutup, lalu dinaikkan ke atas tumangan. Malam hari setelah keadaan menjadi senyap, dan kebetulan waktu itu terang bulan, jenazah lalu dibakar, disaksikan oleh para raja dan para Pandawa. Sri Kresna mendoakan, agar semua mendapatkan sorga, menepati apa yang sudah dijanjikan, ialah anugerah bagi mereka yang gugur dalam Perang Baratayuda. Abunya dihembuskan, naik ke Suralaya.<noinclude>{{rh|28}}</noinclude> qim2bylqisqwmh51kbtfzbnjb9xzj09 Kaca:Bratayuda.pdf/26 250 24775 77615 2026-05-15T18:07:39Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77615 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>3. BISMA TEWAS OLEH SRIKANDI Setelah selesai penghormatan pembakaran ketiga jenazah putra Wirata. Prabu Maswapati serta para raja yang .memberikan penghormatan telah kembali ke pesanggrahan, lalu berunding dengan Sri Kresna, tentang siapa yang diangkat menjadi senapati, pengganti yang telah gugur. Adapun yang dipilih oleh Sri Kresna ialah, Drustajumena, dialah yang akan dijadikan pengganti senapati, serta seyogyanya berganti gelar Garudanglayang (garuda melayang). Para raja, para adipati, dan para mantri ke bawah, semua menyetujui kehendak Sri Kresna. Kemudian Raden Drustajumena dipuja, dan diasapi wangi-wangian. *** Tak antara setelah selesainya penobatan senapati, hari pun telah pagi.. Lalu tengara perang dibunyikan. Segenap prajurit Pandawa bersiap-siap, lalu berangkat ke Tegal Kuru. Demikian pula pasukan Korawa, mereka berangkat ke Tegal Kuru. Kemudian Pandawa memasang gelar Garudanglayang. Yang menjadi paruh Raden Dananjaya, yang merijadi kepala Sri Drupada. Sri Kresna berada dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Senapati Drustajumena berada di sayap kanan. Yang ditempatkan di sayap kiri Raden Wrekodara. Raden Setyaki menjadi ekor. Yang berada di tengkuk para raja, mengelilingi dan menjaga Sri Yudistira. Melihat barisan Pandawa merubah gelar menjadi Garudalayang, Korawa menyamainya. Yang menjadi paruh Raja Mandaraka. Arya Sengkuni menjadi kepala. Senapati Bisma berada di sayap kiri. Druna menempati sayap kanan . Drusasana menjadi ekor. Para raja dan para adipati berada di tengkuk, menjaga Prabu Suyudana. Dewabrata menggerakkan barisannya, lalu melepaskan panah, dengan tujuan merusak gelar Pandawa. Panahnya meluncur bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Kemudian Raden Dananjaya melepaskan panah penolak. 29<noinclude></noinclude> rwl8r10ae40uqjqh9o1a5t2krs3bq20 77616 77615 2026-05-15T18:11:47Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77616 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''3. BISMA TEWAS OLEH SRIKANDI'''}} Setelah selesai penghormatan pembakaran ketiga jenazah putra Wirata. Prabu Maswapati serta para raja yang memberikan penghormatan telah kembali ke pesanggrahan, lalu berunding dengan Sri Kresna, tentang siapa yang diangkat menjadi senapati, pengganti yang telah gugur. Adapun yang dipilih oleh Sri Kresna ialah, Drustajumena, dialah yang akan dijadikan pengganti senapati, serta seyogyanya berganti gelar Garudanglayang (garuda melayang). Para raja, para adipati, dan para mantri ke bawah, semua menyetujui kehendak Sri Kresna. Kemudian Raden Drustajumena dipuja, dan diasapi wangi-wangian. {{C| * * *}} Tak antara setelah selesainya penobatan senapati, hari pun telah pagi. Lalu tengara perang dibunyikan. Segenap prajurit Pandawa bersiap-siap, lalu berangkat ke Tegal Kuru. Demikian pula pasukan Korawa, mereka berangkat ke Tegal Kuru. Kemudian Pandawa memasang gelar Garudanglayang. Yang menjadi paruh Raden Dananjaya, yang merijadi kepala Sri Drupada. Sri Kresna berada dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Senapati Drustajumena berada di sayap kanan. Yang ditempatkan di sayap kiri Raden Wrekodara. Raden Setyaki menjadi ekor. Yang berada di tengkuk para raja, mengelilingi dan menjaga Sri Yudistira. Melihat barisan Pandawa merubah gelar menjadi Garudalayang, Korawa menyamainya. Yang menjadi paruh Raja Mandaraka. Arya Sengkuni menjadi kepala. Senapati Bisma berada di sayap kiri. Druna menempati sayap kanan. Drusasana menjadi ekor. Para raja dan para adipati berada di tengkuk, menjaga Prabu Suyudana. Dewabrata menggerakkan barisannya, lalu melepaskan panah, dengan tujuan merusak gelar Pandawa. Panahnya meluncur bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Kemudian Raden Dananjaya melepaskan panah penolak.<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude> sc7mrje6tg9clbzof235m99znec1vrr 78284 77616 2026-05-16T09:25:48Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78284 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''3. BISMA TEWAS OLEH SRIKANDI'''}} Setelah selesai penghormatan pembakaran ketiga jenazah putra Wirata. Prabu Maswapati serta para raja yang memberikan penghormatan telah kembali ke pesanggrahan, lalu berunding dengan Sri Kresna, tentang siapa yang diangkat menjadi senapati, pengganti yang telah gugur. Adapun yang dipilih oleh Sri Kresna ialah, Drustajumena, dialah yang akan dijadikan pengganti senapati, serta seyogyanya berganti gelar Garudanglayang (garuda melayang). Para raja, para adipati, dan para mantri ke bawah, semua menyetujui kehendak Sri Kresna. Kemudian Raden Drustajumena dipuja, dan diasapi wangi-wangian. {{C| * * *}} Tak antara setelah selesainya penobatan senapati, hari pun telah pagi. Lalu tengara perang dibunyikan. Segenap prajurit Pandawa bersiap-siap, lalu berangkat ke Tegal Kuru. Demikian pula pasukan Korawa, mereka berangkat ke Tegal Kuru. Kemudian Pandawa memasang gelar Garudanglayang. Yang menjadi paruh Raden Dananjaya, yang merijadi kepala Sri Drupada. Sri Kresna berada dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Senapati Drustajumena berada di sayap kanan. Yang ditempatkan di sayap kiri Raden Wrekodara. Raden Setyaki menjadi ekor. Yang berada di tengkuk para raja, mengelilingi dan menjaga Sri Yudistira. Melihat barisan Pandawa merubah gelar menjadi Garudalayang, Korawa menyamainya. Yang menjadi paruh Raja Mandaraka. Arya Sengkuni menjadi kepala. Senapati Bisma berada di sayap kiri. Druna menempati sayap kanan. Drusasana menjadi ekor. Para raja dan para adipati berada di tengkuk, menjaga Prabu Suyudana. Dewabrata menggerakkan barisannya, lalu melepaskan panah, dengan tujuan merusak gelar Pandawa. Panahnya meluncur bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Kemudian Raden Dananjaya melepaskan panah penolak.<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude> mtlxik9t2jtwdk02ync7fjrwpvukbro Kaca:Bratayuda.pdf/27 250 24776 77617 2026-05-15T18:12:06Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77617 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>l 1 Raden Wrekodara sangat marah. Ia maju memanggul gada. Amukannya menakutkan. Banyak sekali pasukan Korawa yang mati kena gadanya, dan tidak ada mampu menadahinya. Raden Wrekodara meletakkan gadanya. Lalu mengambil panah yang hernama Bargawastra. Ratusan musuh mati karena Bargawastra. Raden Setyaki membantu, sehingga pasukan Astina semakin banyak yang rusak. Kama, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja mengungsi ke sayap yang ditempati Bisma serta Druna. *** Sri Kresna memberi perintah kepada saisnya agar supaya mempercepat lajunya kereta, karena hendak menjaga perangnya Parta, yang tengah sangat marah, dan sedang melepaskan panah sakti. Tak henti-hentinya meluncur, kemudian Bisma melepaskan panah penolak, sehingga berpapasanlah panah sesama panah di angkasa. Bisma minta agar Druna menyingkir, karena ia hendak mengeluarkan kesaktiannya. Lalu ia melepaskan anak panah, seraya memantrainya, sehingga penuh melingkupi angkasa, lalu jatuh ke arah musuh menimbulkan kengerian. Kemudian maju serempak menggempur musuh. Karpa, Sengkuni, Karna, Sri Jalya serta pasukannya bersorak-sorai. Raden Dananjaya segera melepaskan panah penolak, akan tetapi tidak berhasil. Banyak yang tewas terkena panah Bisma, yang luncuran panahnya bagaikan hujan dari langit. Korawa gembira melihatnya, mereka maju menyerang bersama-sama. Pasukan Pandawa bertahan, namun banyak yang tewas. Yang terdapat di antara yang gugur, selain para raja dan para adipati, dua orang anak Raden Dananjaya, ialah Bambang Irawan dan Dewi Palupi. Raden Dananjaya sangat sedih, berhenti memanah, karena selalu menangis saja. Ketika Sri Kresna melihat Raden Dananjaya menangis, lalu turun dari kereta, merentang cakra, yang dibidik adalah Bisma. Melihat dirinya akan menjadi sasaran cakra, Bisma segera turun dari kereta, sambil membungkuk-bungkuk ia mendekati Sri 30<noinclude></noinclude> lhv5z4jp6u1it9ak9eat9aokfaejazf 77618 77617 2026-05-15T18:15:47Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77618 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Wrekodara sangat marah. Ia maju memanggul gada. Amukannya menakutkan. Banyak sekali pasukan Korawa yang mati kena gadanya, dan tidak ada mampu menadahinya. Raden Wrekodara meletakkan gadanya. Lalu mengambil panah yang hernama Bargawastra. Ratusan musuh mati karena Bargawastra. Raden Setyaki membantu, sehingga pasukan Astina semakin banyak yang rusak. Kama, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja mengungsi ke sayap yang ditempati Bisma serta Druna. {{C|* * *}} Sri Kresna memberi perintah kepada saisnya agar supaya mempercepat lajunya kereta, karena hendak menjaga perangnya Parta, yang tengah sangat marah, dan sedang melepaskan panah sakti. Tak henti-hentinya meluncur, kemudian Bisma melepaskan panah penolak, sehingga berpapasanlah panah sesama panah di angkasa. Bisma minta agar Druna menyingkir, karena ia hendak mengeluarkan kesaktiannya. Lalu ia melepaskan anak panah, seraya memantrainya, sehingga penuh melingkupi angkasa, lalu jatuh ke arah musuh menimbulkan kengerian. Kemudian maju serempak menggempur musuh. Karpa, Sengkuni, Karna, Sri Jalya serta pasukannya bersorak-sorai. Raden Dananjaya segera melepaskan panah penolak, akan tetapi tidak berhasil. Banyak yang tewas terkena panah Bisma, yang luncuran panahnya bagaikan hujan dari langit. Korawa gembira melihatnya, mereka maju menyerang bersama-sama. Pasukan Pandawa bertahan, namun banyak yang tewas. Yang terdapat di antara yang gugur, selain para raja dan para adipati, dua orang anak Raden Dananjaya, ialah Bambang Irawan dan Dewi Palupi. Raden Dananjaya sangat sedih, berhenti memanah, karena selalu menangis saja. Ketika Sri Kresna melihat Raden Dananjaya menangis, lalu turun dari kereta, merentang cakra, yang dibidik adalah Bisma. Melihat dirinya akan menjadi sasaran cakra, Bisma segera turun dari kereta, sambil membungkuk-bungkuk ia mendekati Sri<noinclude>{{rh|30}}</noinclude> 2exvctepoau2bmfjiknlkekxt9x17bv 78285 77618 2026-05-16T09:25:59Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78285 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Wrekodara sangat marah. Ia maju memanggul gada. Amukannya menakutkan. Banyak sekali pasukan Korawa yang mati kena gadanya, dan tidak ada mampu menadahinya. Raden Wrekodara meletakkan gadanya. Lalu mengambil panah yang hernama Bargawastra. Ratusan musuh mati karena Bargawastra. Raden Setyaki membantu, sehingga pasukan Astina semakin banyak yang rusak. Kama, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja mengungsi ke sayap yang ditempati Bisma serta Druna. {{C|* * *}} Sri Kresna memberi perintah kepada saisnya agar supaya mempercepat lajunya kereta, karena hendak menjaga perangnya Parta, yang tengah sangat marah, dan sedang melepaskan panah sakti. Tak henti-hentinya meluncur, kemudian Bisma melepaskan panah penolak, sehingga berpapasanlah panah sesama panah di angkasa. Bisma minta agar Druna menyingkir, karena ia hendak mengeluarkan kesaktiannya. Lalu ia melepaskan anak panah, seraya memantrainya, sehingga penuh melingkupi angkasa, lalu jatuh ke arah musuh menimbulkan kengerian. Kemudian maju serempak menggempur musuh. Karpa, Sengkuni, Karna, Sri Jalya serta pasukannya bersorak-sorai. Raden Dananjaya segera melepaskan panah penolak, akan tetapi tidak berhasil. Banyak yang tewas terkena panah Bisma, yang luncuran panahnya bagaikan hujan dari langit. Korawa gembira melihatnya, mereka maju menyerang bersama-sama. Pasukan Pandawa bertahan, namun banyak yang tewas. Yang terdapat di antara yang gugur, selain para raja dan para adipati, dua orang anak Raden Dananjaya, ialah Bambang Irawan dan Dewi Palupi. Raden Dananjaya sangat sedih, berhenti memanah, karena selalu menangis saja. Ketika Sri Kresna melihat Raden Dananjaya menangis, lalu turun dari kereta, merentang cakra, yang dibidik adalah Bisma. Melihat dirinya akan menjadi sasaran cakra, Bisma segera turun dari kereta, sambil membungkuk-bungkuk ia mendekati Sri<noinclude>{{rh|30}}</noinclude> hwmt9h1syr0lxaixv4xhbvh51jxmmj6 Kaca:Bratayuda.pdf/28 250 24777 77619 2026-05-15T18:16:06Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77619 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kresna, seraya ucapnya, "Aduhai, Gusti! Sungguh sangat beruntung diri saya jika terlaksana dijatuhi cakra Anda. Karena, itulah yang akan mengantarkan kematian saya ke Suralaya." Arjuna melihat Sri Kresna merentang cakra, bendak dijatuhkan kepada Bisma, ia segera mendekati Sri Baginda, menyembah lalu memegang tangannya, memohon dengan sangat supaya mengurungkan niatnya. 'Sri Kresna tidak jadi melepaskan cakra, lalu naik kembali ke kereta bersama Raden Dananjaya. Kemudian Sri Baginda menyuruh· Raden Dananjaya, agar supaya memanggil Dewi Srikandi. Setelah sang dewi datang, Sri Kresna memerintahkannya melepaskan panah ke arah Bisma. Melihat Srikandi datang, perasaan Bisma menjadi tidak tenang, lalu melambai ke arah Prabu Yudistira, meminta perlindungannya, akan tetapi Prabu Yudistira pura-pura tidak melihat. Ia selalu menundukkan kepala. Dewi Srikandi disuruh bergabung dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Kemudian ia melepaskan panah, tepat mengenai dada Bisma, akan tetapi tidak mempan . Parta menyusulinya dengan panah, mengenai tangkai panah Srikandi, sehingga menancap di dada Bisma. Bisma jatuh dari kereta, terguling di tanah lalu meninggal. *** Pasukan Pandawa bersorak-sorai gembira. Kemudian para dewa di angkasa menghujankan bunga. Pasukan Korawa bubar ketakutan, tak ada yang berani membela senapatinya. Raden Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Raden Drustajumena, semua melepaskan panah, jatuh ke arah para raja serta para adipati sehingga banyak yang tewas. Kemudian Prabu Yudistira melambai ke arah pasukannya, sebagai isyarat agar mereka meletakkan senjata mereka. Raja Suyudana, Arjuna, Nakula serta Sahadewa, semua mencium kaki Bisma, seraya menangis tersedu-sedu. Seluruh Korawa juga menangis, akan tetapi mengandung rasa kawatir, karena Raden Wrekodara masih mengamuk dengan gadanya. Segenap adipati sampai kepada para prajurit rendahan, semua sudah meletakkan senjata, 31<noinclude></noinclude> gx9tx9rdlmrh53hfvb31me3upj98eaa 77621 77619 2026-05-15T18:19:54Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77621 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kresna, seraya ucapnya, "Aduhai, Gusti! Sungguh sangat beruntung diri saya jika terlaksana dijatuhi cakra Anda. Karena, itulah yang akan mengantarkan kematian saya ke Suralaya." Arjuna melihat Sri Kresna merentang cakra, hendak dijatuhkan kepada Bisma, ia segera mendekati Sri Baginda, menyembah lalu memegang tangannya, memohon dengan sangat supaya mengurungkan niatnya. Sri Kresna tidak jadi melepaskan cakra, lalu naik kembali ke kereta bersama Raden Dananjaya. Kemudian Sri Baginda menyuruh Raden Dananjaya, agar supaya memanggil Dewi Srikandi. Setelah sang dewi datang, Sri Kresna memerintahkannya melepaskan panah ke arah Bisma. Melihat Srikandi datang, perasaan Bisma menjadi tidak tenang, lalu melambai ke arah Prabu Yudistira, meminta perlindungannya, akan tetapi Prabu Yudistira pura-pura tidak melihat. Ia selalu menundukkan kepala. Dewi Srikandi disuruh bergabung dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Kemudian ia melepaskan panah, tepat mengenai dada Bisma, akan tetapi tidak mempan. Parta menyusulinya dengan panah, mengenai tangkai panah Srikandi, sehingga menancap di dada Bisma. Bisma jatuh dari kereta, terguling di tanah lalu meninggal. {{C|* * *}} Pasukan Pandawa bersorak-sorai gembira. Kemudian para dewa di angkasa menghujankan bunga. Pasukan Korawa bubar ketakutan, tak ada yang berani membela senapatinya. Raden Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Raden Drustajumena, semua melepaskan panah, jatuh ke arah para raja serta para adipati sehingga banyak yang tewas. Kemudian Prabu Yudistira melambai ke arah pasukannya, sebagai isyarat agar mereka meletakkan senjata mereka. Raja Suyudana, Arjuna, Nakula serta Sahadewa, semua mencium kaki Bisma, seraya menangis tersedu-sedu. Seluruh Korawa juga menangis, akan tetapi mengandung rasa kawatir, karena Raden Wrekodara masih mengamuk dengan gadanya. Segenap adipati sampai kepada para prajurit rendahan, semua sudah meletakkan senjata,<noinclude>{{rh|||31}}</noinclude> oulewz7qedui07cm7lzf6vvq8ulzvai 78286 77621 2026-05-16T09:26:09Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78286 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kresna, seraya ucapnya, "Aduhai, Gusti! Sungguh sangat beruntung diri saya jika terlaksana dijatuhi cakra Anda. Karena, itulah yang akan mengantarkan kematian saya ke Suralaya." Arjuna melihat Sri Kresna merentang cakra, hendak dijatuhkan kepada Bisma, ia segera mendekati Sri Baginda, menyembah lalu memegang tangannya, memohon dengan sangat supaya mengurungkan niatnya. Sri Kresna tidak jadi melepaskan cakra, lalu naik kembali ke kereta bersama Raden Dananjaya. Kemudian Sri Baginda menyuruh Raden Dananjaya, agar supaya memanggil Dewi Srikandi. Setelah sang dewi datang, Sri Kresna memerintahkannya melepaskan panah ke arah Bisma. Melihat Srikandi datang, perasaan Bisma menjadi tidak tenang, lalu melambai ke arah Prabu Yudistira, meminta perlindungannya, akan tetapi Prabu Yudistira pura-pura tidak melihat. Ia selalu menundukkan kepala. Dewi Srikandi disuruh bergabung dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Kemudian ia melepaskan panah, tepat mengenai dada Bisma, akan tetapi tidak mempan. Parta menyusulinya dengan panah, mengenai tangkai panah Srikandi, sehingga menancap di dada Bisma. Bisma jatuh dari kereta, terguling di tanah lalu meninggal. {{C|* * *}} Pasukan Pandawa bersorak-sorai gembira. Kemudian para dewa di angkasa menghujankan bunga. Pasukan Korawa bubar ketakutan, tak ada yang berani membela senapatinya. Raden Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Raden Drustajumena, semua melepaskan panah, jatuh ke arah para raja serta para adipati sehingga banyak yang tewas. Kemudian Prabu Yudistira melambai ke arah pasukannya, sebagai isyarat agar mereka meletakkan senjata mereka. Raja Suyudana, Arjuna, Nakula serta Sahadewa, semua mencium kaki Bisma, seraya menangis tersedu-sedu. Seluruh Korawa juga menangis, akan tetapi mengandung rasa kawatir, karena Raden Wrekodara masih mengamuk dengan gadanya. Segenap adipati sampai kepada para prajurit rendahan, semua sudah meletakkan senjata,<noinclude>{{rh|||31}}</noinclude> matn7smwgh2daybjzk8kzguvsv54gzq Kaca:Bratayuda.pdf/29 250 24778 77622 2026-05-15T18:20:09Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77622 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>merubung Bisma. Prabu Yudistira melambai Raden Wrekodara, disuruh supaya meletakkan senjatanya. Akan tetapi tidak mau. Ia memilih lebih baik menjauh, berdiri saja sambil mengangkat gadanya. Prabu Suyudana mengumumkan suatu perintah, bahwa sehari itu diadakan perdamaian, diminta supaya semuanya rukun, dan jangan sampai ada yang berkhianat. Sejenak Dewabrata (Bisma) siuman, lalu minta air. Raja Suyudana memberikan minuman, akan tetapi sampai lama minuman itu tidak juga diminum. Adapun yang diminta ialah air pencuci panah Raden Dananjaya. Raja Yudistira memberi perintah pada Raden Janaka, supaya segera menghaturkan air pencuci panah. Raden Janaka segera menyediakannya. Sesudah air diserahkan dan diminum, Bisma lalu meninggal. Segenap para raja menghormat kepergian senapati Bisma. Jenazahnya dikenai pakaian lengkap, dan hendak dibakar. Setelah matahari terbenam, muncullah penggantinya cahaya rembulan, jenazah pun segera dj)bakar, abunya membubung ke Suralaya. Pada malam itu baik Pandawa maupun Korawa sama-sama diam, tak ada yang menyalahi janji, dan tetap berada di pesanggrahannya masing-masing. 32<noinclude></noinclude> oqqj5oygybchb247jbcf53o6zi86nzv 77623 77622 2026-05-15T18:22:25Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77623 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>merubung Bisma. Prabu Yudistira melambai Raden Wrekodara, disuruh supaya meletakkan senjatanya. Akan tetapi tidak mau. Ia memilih lebih baik menjauh, berdiri saja sambil mengangkat gadanya. Prabu Suyudana mengumumkan suatu perintah, bahwa sehari itu diadakan perdamaian, diminta supaya semuanya rukun, dan jangan sampai ada yang berkhianat. Sejenak Dewabrata (Bisma) siuman, lalu minta air. Raja Suyudana memberikan minuman, akan tetapi sampai lama minuman itu tidak juga diminum. Adapun yang diminta ialah air pencuci panah Raden Dananjaya. Raja Yudistira memberi perintah pada Raden Janaka, supaya segera menghaturkan air pencuci panah. Raden Janaka segera menyediakannya. Sesudah air diserahkan dan diminum, Bisma lalu meninggal. Segenap para raja menghormat kepergian senapati Bisma. Jenazahnya dikenai pakaian lengkap, dan hendak dibakar. Setelah matahari terbenam, muncullah penggantinya cahaya rembulan, jenazah pun segera dibakar, abunya membubung ke Suralaya. Pada malam itu baik Pandawa maupun Korawa sama-sama diam, tak ada yang menyalahi janji, dan tetap berada di pesanggrahannya masing-masing.<noinclude>{{rh|32}}</noinclude> mrilfvf9tjb97ib9kv55nttv70c8cg8 78287 77623 2026-05-16T09:26:17Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78287 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>merubung Bisma. Prabu Yudistira melambai Raden Wrekodara, disuruh supaya meletakkan senjatanya. Akan tetapi tidak mau. Ia memilih lebih baik menjauh, berdiri saja sambil mengangkat gadanya. Prabu Suyudana mengumumkan suatu perintah, bahwa sehari itu diadakan perdamaian, diminta supaya semuanya rukun, dan jangan sampai ada yang berkhianat. Sejenak Dewabrata (Bisma) siuman, lalu minta air. Raja Suyudana memberikan minuman, akan tetapi sampai lama minuman itu tidak juga diminum. Adapun yang diminta ialah air pencuci panah Raden Dananjaya. Raja Yudistira memberi perintah pada Raden Janaka, supaya segera menghaturkan air pencuci panah. Raden Janaka segera menyediakannya. Sesudah air diserahkan dan diminum, Bisma lalu meninggal. Segenap para raja menghormat kepergian senapati Bisma. Jenazahnya dikenai pakaian lengkap, dan hendak dibakar. Setelah matahari terbenam, muncullah penggantinya cahaya rembulan, jenazah pun segera dibakar, abunya membubung ke Suralaya. Pada malam itu baik Pandawa maupun Korawa sama-sama diam, tak ada yang menyalahi janji, dan tetap berada di pesanggrahannya masing-masing.<noinclude>{{rh|32}}</noinclude> 9ylqe2sx1rzvyp6xft7m6et3d3izee6 Kaca:Bratayuda.pdf/30 250 24779 77624 2026-05-15T18:22:43Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77624 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>4. ANGKAWIJAYA TEWAS DIKEROYOK KORAWA Kesepakatan para Korawa, Drunalah yang diangkat menjadi senapati. Malam itu kota Astina ditimpa hujan lebat, darah mengalir ke pesanggrahan. Segenap raja, adipati serta para satria semua gembira-ria, karena hal itu merupakan pertanda akan menang perang. Malam itu Korawa tidak tidur. Keesokan harinya lalu berangkat. Druna yang menj~di senapati, gemuruh suara gamelan, berbaur sorak-sorai prajurit, yang laksana suara guntur. Ketika petjalanan pasukan itu sudah sampai di Tegal Kuru, mereka lalu mempersiapkan diri. Gelar di pihak Pandawa tidak berubah, yakni masih Garudanglayang. Korawa menerapkan gelar Gajahmeta. Suyudana herada di tengkuk bersama Arya Sindureja dan Adipati Awangga. Korawa seratus sebagai gadingnya, jadi setiap sisi l.irna puluh orang, tidak termasuk kawannya yang menjadi belalai, ialah Prabu Bagadenta, yang mengendarai gajah seraya memanggul gada. Senapati Druna yang menjadi kepala. Ketika maju hendak menyerang, tekadnya ialah, tak ada kata mundur. *** Serbuan pasukan Pandawa maupun pasukan Korawa bagaikan dua buah lautan berpapasan, gemuruh suara gong serta beri, sorak-sorai prajurit bagaikan angin puyuh, berbaur dengan suara halilintar, seperti hendak membelah langit. Pandawa lalu menyerbu barisan senapati Druna. Raden Dananjaya melepaskan panah, meluncur tiada henti-hentinya, jatuh mengenai pasukan Korawa. Raden Wrekodara pun melepaskan panah, dan kemudian ia mengamuk dengan gadanya, sehingga banyak bupati mati karena gadanya. Gelar Gajahmeta rusak, gadingnya gelar tersebut habis, sedangkan di kepala kacau-balau. Prabu Bagadenta yang menjadi belalai gelar meningggalkan senapati, maju memanggul gada. Karna dan Jayadrata tertinggal. Prabu Bagadenta itu luar biasa saktinya, 33<noinclude></noinclude> rmhr84j9tvhqdehzyjcj0hpevqv9isb 77626 77624 2026-05-15T18:27:41Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77626 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''4. ANGKAWIJAYA TEWAS DIKEROYOK KORAWA'''}} Kesepakatan para Korawa, Drunalah yang diangkat menjadi senapati. Malam itu kota Astina ditimpa hujan lebat, darah mengalir ke pesanggrahan. Segenap raja, adipati serta para satria semua gembira-ria, karena hal itu merupakan pertanda akan menang perang. Malam itu Korawa tidak tidur. Keesokan harinya lalu berangkat. Druna yang menjadi senapati, gemuruh suara gamelan, berbaur sorak-sorai prajurit, yang laksana suara guntur. Ketika perjalanan pasukan itu sudah sampai di Tegal Kuru, mereka lalu mempersiapkan diri. Gelar di pihak Pandawa tidak berubah, yakni masih Garudanglayang. Korawa menerapkan gelar Gajahmeta. Suyudana herada di tengkuk bersama Arya Sindureja dan Adipati Awangga. Korawa seratus sebagai gadingnya, jadi setiap sisi lima puluh orang, tidak termasuk kawannya yang menjadi belalai, ialah Prabu Bagadenta, yang mengendarai gajah seraya memanggul gada. Senapati Druna yang menjadi kepala. Ketika maju hendak menyerang, tekadnya ialah, tak ada kata mundur. {{C|* * *}} Serbuan pasukan Pandawa maupun pasukan Korawa bagaikan dua buah lautan berpapasan, gemuruh suara gong serta beri, sorak-sorai prajurit bagaikan angin puyuh, berbaur dengan suara halilintar, seperti hendak membelah langit. Pandawa lalu menyerbu barisan senapati Druna. Raden Dananjaya melepaskan panah, meluncur tiada henti-hentinya, jatuh mengenai pasukan Korawa. Raden Wrekodara pun melepaskan panah, dan kemudian ia mengamuk dengan gadanya, sehingga banyak bupati mati karena gadanya. Gelar Gajahmeta rusak, gadingnya gelar tersebut habis, sedangkan di kepala kacau-balau. Prabu Bagadenta yang menjadi belalai gelar meningggalkan senapati, maju memanggul gada. Karna dan Jayadrata tertinggal. Prabu Bagadenta itu luar biasa saktinya,<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude> he6qfq7fgbej8lprm478yceipubyolk 78288 77626 2026-05-16T09:26:50Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78288 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''4. ANGKAWIJAYA TEWAS DIKEROYOK KORAWA'''}} Kesepakatan para Korawa, Drunalah yang diangkat menjadi senapati. Malam itu kota Astina ditimpa hujan lebat, darah mengalir ke pesanggrahan. Segenap raja, adipati serta para satria semua gembira-ria, karena hal itu merupakan pertanda akan menang perang. Malam itu Korawa tidak tidur. Keesokan harinya lalu berangkat. Druna yang menjadi senapati, gemuruh suara gamelan, berbaur sorak-sorai prajurit, yang laksana suara guntur. Ketika perjalanan pasukan itu sudah sampai di Tegal Kuru, mereka lalu mempersiapkan diri. Gelar di pihak Pandawa tidak berubah, yakni masih Garudanglayang. Korawa menerapkan gelar Gajahmeta. Suyudana herada di tengkuk bersama Arya Sindureja dan Adipati Awangga. Korawa seratus sebagai gadingnya, jadi setiap sisi lima puluh orang, tidak termasuk kawannya yang menjadi belalai, ialah Prabu Bagadenta, yang mengendarai gajah seraya memanggul gada. Senapati Druna yang menjadi kepala. Ketika maju hendak menyerang, tekadnya ialah, tak ada kata mundur. {{C|* * *}} Serbuan pasukan Pandawa maupun pasukan Korawa bagaikan dua buah lautan berpapasan, gemuruh suara gong serta beri, sorak-sorai prajurit bagaikan angin puyuh, berbaur dengan suara halilintar, seperti hendak membelah langit. Pandawa lalu menyerbu barisan senapati Druna. Raden Dananjaya melepaskan panah, meluncur tiada henti-hentinya, jatuh mengenai pasukan Korawa. Raden Wrekodara pun melepaskan panah, dan kemudian ia mengamuk dengan gadanya, sehingga banyak bupati mati karena gadanya. Gelar Gajahmeta rusak, gadingnya gelar tersebut habis, sedangkan di kepala kacau-balau. Prabu Bagadenta yang menjadi belalai gelar meningggalkan senapati, maju memanggul gada. Karna dan Jayadrata tertinggal. Prabu Bagadenta itu luar biasa saktinya,<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude> 40fcw9sly0szosiglmxc4p01l2zgbw8 Kaca:Bratayuda.pdf/80 250 24780 77625 2026-05-15T18:24:24Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77625 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>gekaken panantunipun Prabu Kresna, amurih wilujenging sadayanipun. Ibunipun Prabu Suyudana anama Dewi Gendari, angandika dhumateng ingkang putra sarwi amuwun, "Prayoga turuten rehe anak prabu ing Dwarawati, apa kang kokarepake luwih saka ing atut asesanak?" Prabu Suyudana nolih dhateng Sangkuni saha dhateng Drusasana, ambekuh boten ngandika sakecap. Karna angejepi dhateng Prabu Suyudana kapurih tindaka. Prabu Suyudana mundur saking pasamuwan. Sangkuni kaliyan Drusasana ingkang andherekaken. Lajeng andhawahaken amepak dedamel. Korawa satus saprajuritipun sampun mirantos, miwah kapal, rata, gajah, sampun pepak. Ingkang anyenapati Arya Sindureja, punika ingkang minangka andel-andeling pakewed. Ler kidul wetan kilen sampunjejel dening baris. Dewi Gendari angutus Dhestharata matur dha- teng Prabu Suyudana, sampun ngantos kagungan ambek rodaparipaksa, angengetaken saruning pratingkah anggenipun anilar tamu. Boten dangu Raden Setyaki dhateng saking jawi, nyembah matur dhateng Prabu Kresna, "Gusti, ing jawi jejel dedamel, badhe numpes panjenengan dalem. Pun Suyudana saestu awon manahipun. Korawa kiwa tengen sampun mirantos sadedamelipun, sampun tata panggenanipun piyambak-piyambak. Prajurit ingkang malebet ing kadhaton inggih sampun kathah." Prabu Kresna sareng miyarsakaken aturipun Setyaki, sakalangkung dukanipun. Tedhak saking pinarakan, tindak dhumateng ing palataran, lajeng tiwikrama. Sariranipun sakedhap dados ageng saredi, sampun kados Bethara Kala kalanipun nepsu. Sariranipun medal latu, karosan isen-isenipun tiyang sajagat tuwin ing Suralaya, punapa malih panguwasanipun para dewa sadaya, ngalempak wonten sariranipun Prabu Kresna. Sampun ical warnining manungsa, asipat denawa, jumangkah anggero sesumbar. Sanalika bumi gonjing, toyaning saganten umob, isen-isenipun<noinclude>{{rh|84}}</noinclude> kcp0o5sezbln97vsvr9md2l1xf56ks4 78397 77625 2026-05-16T10:28:07Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 78397 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>gekaken panantunipun Prabu Kresna, amurih wilujenging sadayanipun. Ibunipun Prabu Suyudana anama Dewi Gendari, angandika dhumateng ingkang putra sarwi amuwun, "Prayoga turuten rehe anak prabu ing Dwarawati, apa kang kokarepake luwih saka ing atut asesanak?" Prabu Suyudana nolih dhateng Sangkuni saha dhateng Drusasana, ambekuh boten ngandika sakecap. Karna angejepi dhateng Prabu Suyudana kapurih tindaka. Prabu Suyudana mundur saking pasamuwan. Sangkuni kaliyan Drusasana ingkang andherekaken. Lajeng andhawahaken amepak dedamel. Korawa satus saprajuritipun sampun mirantos, miwah kapal, rata, gajah, sampun pepak. Ingkang anyenapati Arya Sindureja, punika ingkang minangka andel-andeling pakewed. Ler kidul wetan kilen sampunjejel dening baris. Dewi Gendari angutus Dhestharata matur dha- teng Prabu Suyudana, sampun ngantos kagungan ambek rodaparipaksa, angengetaken saruning pratingkah anggenipun anilar tamu. Boten dangu Raden Setyaki dhateng saking jawi, nyembah matur dhateng Prabu Kresna, "Gusti, ing jawi jejel dedamel, badhe numpes panjenengan dalem. Pun Suyudana saestu awon manahipun. Korawa kiwa tengen sampun mirantos sadedamelipun, sampun tata panggenanipun piyambak-piyambak. Prajurit ingkang malebet ing kadhaton inggih sampun kathah." Prabu Kresna sareng miyarsakaken aturipun Setyaki, sakalangkung dukanipun. Tedhak saking pinarakan, tindak dhumateng ing palataran, lajeng tiwikrama. Sariranipun sakedhap dados ageng saredi, sampun kados Bethara Kala kalanipun nepsu. Sariranipun medal latu, karosan isen-isenipun tiyang sajagat tuwin ing Suralaya, punapa malih panguwasanipun para dewa sadaya, ngalempak wonten sariranipun Prabu Kresna. Sampun ical warnining manungsa, asipat denawa, jumangkah anggero sesumbar. Sanalika bumi gonjing, toyaning saganten umob, isen-isenipun<noinclude>{{rh|84}}</noinclude> pa6sufjarw3lcje3qwkqgdkxh2wg1y7 Kaca:Bratayuda.pdf/81 250 24781 77627 2026-05-15T18:29:47Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77627 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>sami susah angambang. Prabu Kresna saestu yen titisipun Bathara Wisnu, kadugi anguntal bumi anggilut redi. Sekathahing dedamel ing ngalam donya katekem wonten ing astanipun. Korawa satus sami miris aningali, prajurit kethen sami kekes, boten wonten saged wicanten, anggenipun nyepeng dedamel sami anggregeli. Druyudana kaliyan Karna miris, anyipta pejah. Bisma, Druna sami nangis, mendhak-mendhak murugi Prabu Kresna, lajeng sami nyembah. Punapa malih jawata sakawan, sami angrerepa ngasih-asih. Bathara Surya enggal tedhak, ing ngawang-awang kathah dewa katingal, sami anjawahaken sekar. Bathara Surya angrerepa, pangandikanipun dhateng Prabu Kresna, "Heh, Prabu Kresna aja kotutugake nepsumu, yen kowe sumedya numpes Korawa, sabala nagarane amesthi lebur kabeh ora ana sing kari. Ananging jagat tolihen sarta welasana. Kapindhone, elinga punagine si Wrekodara lan si Drupadi. Dene sing dadi punagine si Drupadi, salawase urip ora gelem gelung-gelung, yen ora uwis kramas getihe Korawa satus ana ing paprangan. Yen kobanjurna nepsumu, ora kalakon punagine." Sakathahing dewa sami nyembah dhateng Prabu Kresna. Sang nata lajeng lilih galihipun, ical ingkang duka, sampun warni manungsa malih, lajeng wangsul dhateng pinarakanipun. Bisma kaliyan Druna punapa dene resi Narada sami ngrerepa, Prabu Kresna tedhak saking kadhaton tanpa pamit. Jawata sakawan sami suka, tumut ing satindakipun. Sareng dumugi ing jawi, dewa sami mantuk dhateng kayanganipun, Prabu Kresna tedhak dhateng panggenanipun Dewi Kunthi. Sareng sampun kapanggih kaliyan Dewi Kunthi, Prabu Kresna dipundangu sarwi amuwun, "Kapriye, anak prabu, mungguh ing lakumu, apa ta oleh gawe, lan kapriye ing kadadeyane?" Prabu Kresna amangsuli, "Pun Suyudana lumuh atut sesanak. Boten lila nagari ing Ngastina dipun tedha sapalih, kedah lumampah karebata ing perang." Dewi Kunthi mangsuli, pangandikanipun pegat-pegat, "Yen kaya mengkono karepe si Suyudana, apa maneh sing dipikir, mung<noinclude>{{rh|85}}</noinclude> pirdkv0inqzxf94phrkthpqdaxbis32 78331 77627 2026-05-16T09:40:32Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78331 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>sami susah angambang. Prabu Kresna saestu yen titisipun Bathara Wisnu, kadugi anguntal bumi anggilut redi. Sekathahing dedamel ing ngalam donya katekem wonten ing astanipun. Korawa satus sami miris aningali, prajurit kethen sami kekes, boten wonten saged wicanten, anggenipun nyepeng dedamel sami anggregeli. Druyudana kaliyan Karna miris, anyipta pejah. Bisma, Druna sami nangis, mendhak-mendhak murugi Prabu Kresna, lajeng sami nyembah. Punapa malih jawata sakawan, sami angrerepa ngasih-asih. Bathara Surya enggal tedhak, ing ngawang-awang kathah dewa katingal, sami anjawahaken sekar. Bathara Surya angrerepa, pangandikanipun dhateng Prabu Kresna, "Heh, Prabu Kresna aja kotutugake nepsumu, yen kowe sumedya numpes Korawa, sabala nagarane amesthi lebur kabeh ora ana sing kari. Ananging jagat tolihen sarta welasana. Kapindhone, elinga punagine si Wrekodara lan si Drupadi. Dene sing dadi punagine si Drupadi, salawase urip ora gelem gelung-gelung, yen ora uwis kramas getihe Korawa satus ana ing paprangan. Yen kobanjurna nepsumu, ora kalakon punagine." Sakathahing dewa sami nyembah dhateng Prabu Kresna. Sang nata lajeng lilih galihipun, ical ingkang duka, sampun warni manungsa malih, lajeng wangsul dhateng pinarakanipun. Bisma kaliyan Druna punapa dene resi Narada sami ngrerepa, Prabu Kresna tedhak saking kadhaton tanpa pamit. Jawata sakawan sami suka, tumut ing satindakipun. Sareng dumugi ing jawi, dewa sami mantuk dhateng kayanganipun, Prabu Kresna tedhak dhateng panggenanipun Dewi Kunthi. Sareng sampun kapanggih kaliyan Dewi Kunthi, Prabu Kresna dipundangu sarwi amuwun, "Kapriye, anak prabu, mungguh ing lakumu, apa ta oleh gawe, lan kapriye ing kadadeyane?" Prabu Kresna amangsuli, "Pun Suyudana lumuh atut sesanak. Boten lila nagari ing Ngastina dipun tedha sapalih, kedah lumampah karebata ing perang." Dewi Kunthi mangsuli, pangandikanipun pegat-pegat, "Yen kaya mengkono karepe si Suyudana, apa maneh sing dipikir, mung<noinclude>{{rh|85}}</noinclude> 0xskrylrdnc2meomc91wlk33jpvsr2m Kaca:Bratayuda.pdf/82 250 24782 77633 2026-05-15T18:33:36Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77633 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>adhimu si Yudhisthira bae warahana, aja aninggal kautaman, murungake karepe angrebut nagara kang dadi wajibe. Wong mati ing paprangan amarga nggone angrebut nagarane, amesthi oleh swarga. Poma wekasku, anak prabu, purihen sidane amangun perang." Prabu Kresna matur sandika, nyembah pamit lajeng nitih rata kaliyan Adipati Ngawangga. Widura sarta Sanjaya, punapa dene Yuyutsuh, sami andherekaken. Sadangunipun lumampah, Prabu Kresna angrembagi dhateng Adipati Ngawangga, yen saestu dados perang, kapurih angilonana Pandhawa. Nanging Adipati Ngawangga boten purun, kedah angiloni Korawa, awit kala rumiyin sampun apunagi, badhe angaben kaliyan Dananjaya. Sareng lampahing rata sampun dumugi sajawining kitha, Adipati Ngawangga pamit, tedhak saking rata. Lajeng amanggihi ingkang ibu, Dewi Kunthi. Ingkang ibu andangu sarwi ambrebes mili, "Sakondure kakangamu, anak Prabu Kresna, amekas apa menyang kowe?" Adipati Ngawangga matur, "Kula dipun purih kesaha saking nagari ngriki. Manawi saestu dados perang, kula dipun rembagi angilonana Pandhawa. "Dewi Kunthi amangsuli, "Rembug mengkono iku luwih dening becik, prayoga koturut, dadi kowe kumpul karo sadulur-sadulurmu. Awit panggonan utamaning pati iku ing perang Bratayuda. Mati urip becik kowe nunggal sadulurmu dhewe." Dewi Kunthi anggenipun ngatag ingkang putra sarwi muwun. Adipati Ngawangga matur, "Ibu, yen satriya linuwih amesthi ngekahi wicantenipun ingkang sampun kawedal. Anemahana sakit utawi pejah, amesthi mboten purun ngingkedi. Punagi kula sampun kawedal, badhe angaben kadigdayan kaliyan pun Janaka. Aliya saking punika, kula sampun kalindhihan sihipun Prabu Druyudana. Yen kula kiranga panarima, dados cacad ageng, kalebet satriya urakan, mboten kenging dados palupinipun para satriya utawi para adipati." Dewi Kunthi sanget anggenipun amuwun, awit ingkang putra<noinclude>{{rh|86}}</noinclude> 8n88ajspthc5lsq9q76647uudzxy6ok 78332 77633 2026-05-16T09:40:39Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78332 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>adhimu si Yudhisthira bae warahana, aja aninggal kautaman, murungake karepe angrebut nagara kang dadi wajibe. Wong mati ing paprangan amarga nggone angrebut nagarane, amesthi oleh swarga. Poma wekasku, anak prabu, purihen sidane amangun perang." Prabu Kresna matur sandika, nyembah pamit lajeng nitih rata kaliyan Adipati Ngawangga. Widura sarta Sanjaya, punapa dene Yuyutsuh, sami andherekaken. Sadangunipun lumampah, Prabu Kresna angrembagi dhateng Adipati Ngawangga, yen saestu dados perang, kapurih angilonana Pandhawa. Nanging Adipati Ngawangga boten purun, kedah angiloni Korawa, awit kala rumiyin sampun apunagi, badhe angaben kaliyan Dananjaya. Sareng lampahing rata sampun dumugi sajawining kitha, Adipati Ngawangga pamit, tedhak saking rata. Lajeng amanggihi ingkang ibu, Dewi Kunthi. Ingkang ibu andangu sarwi ambrebes mili, "Sakondure kakangamu, anak Prabu Kresna, amekas apa menyang kowe?" Adipati Ngawangga matur, "Kula dipun purih kesaha saking nagari ngriki. Manawi saestu dados perang, kula dipun rembagi angilonana Pandhawa. "Dewi Kunthi amangsuli, "Rembug mengkono iku luwih dening becik, prayoga koturut, dadi kowe kumpul karo sadulur-sadulurmu. Awit panggonan utamaning pati iku ing perang Bratayuda. Mati urip becik kowe nunggal sadulurmu dhewe." Dewi Kunthi anggenipun ngatag ingkang putra sarwi muwun. Adipati Ngawangga matur, "Ibu, yen satriya linuwih amesthi ngekahi wicantenipun ingkang sampun kawedal. Anemahana sakit utawi pejah, amesthi mboten purun ngingkedi. Punagi kula sampun kawedal, badhe angaben kadigdayan kaliyan pun Janaka. Aliya saking punika, kula sampun kalindhihan sihipun Prabu Druyudana. Yen kula kiranga panarima, dados cacad ageng, kalebet satriya urakan, mboten kenging dados palupinipun para satriya utawi para adipati." Dewi Kunthi sanget anggenipun amuwun, awit ingkang putra<noinclude>{{rh|86}}</noinclude> rtac6xdkpw2342afzddvohsqr2maj56 Kaca:Bratayuda.pdf/83 250 24783 77634 2026-05-15T18:34:04Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "mboten nurut wuiangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, Iajeng kondur. 2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETASASEDHEREK TIWAS Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten baianipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wir... 77634 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>mboten nurut wuiangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, Iajeng kondur. 2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETASASEDHEREK TIWAS Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten baianipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina. Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Koniwa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaiuk saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing Iakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Oiehe padha nemoni aku ana ing Tegai Kuru. lku padha sumurup wiwitan Ian wekasaning rem bug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. · Tekan ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna Ian Saiya, padha amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehe rembug becik ora didhahar, malah sumeja angaiani marang aku." Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Aijuna tuwin Nakuia, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempaia, sami ambek purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami keiu sadaya. Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu 87<noinclude></noinclude> 0jifxhyfnyf5juiqqtbj1e8owpowjim 77647 77634 2026-05-15T18:39:32Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77647 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>mboten nurut wulangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, lajeng kondur. {{C|'''2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETA SASEDHEREK TIWAS}}''' Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten balanipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina. Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Korawa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaluk saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing lakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Olehe padha nemoni aku ana ing Tegal Kuru. Iku padha sumurup wiwitan lan wekasaning rembug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. Tekan ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna lan Salya, padha. amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehè rembug becik ora didhahar, malah sumeja angalani marang aku." Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Arjuna tuwin Nakula, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempala, sami ambek purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami kelu sadaya. Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu<noinclude>{{{rh|||87}}</noinclude> 0i8sdti4udrf93t5941er20m2wvdd5c 77649 77647 2026-05-15T18:39:55Z Khusna Safira 1759 77649 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>mboten nurut wulangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, lajeng kondur. {{C|'''2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETA SASEDHEREK TIWAS}}''' Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten balanipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina. Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Korawa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaluk saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing lakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Olehe padha nemoni aku ana ing Tegal Kuru. Iku padha sumurup wiwitan lan wekasaning rembug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. Tekan ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna lan Salya, padha. amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehè rembug becik ora didhahar, malah sumeja angalani marang aku." Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Arjuna tuwin Nakula, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempala, sami ambek purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami kelu sadaya. Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude> 33wo3gbw81q8wo8a4y9gwjp218xspkv 78333 77649 2026-05-16T09:40:47Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78333 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mboten nurut wulangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, lajeng kondur. {{C|'''2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETA SASEDHEREK TIWAS}}''' Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten balanipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina. Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Korawa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaluk saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing lakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Olehe padha nemoni aku ana ing Tegal Kuru. Iku padha sumurup wiwitan lan wekasaning rembug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. Tekan ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna lan Salya, padha. amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehè rembug becik ora didhahar, malah sumeja angalani marang aku." Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Arjuna tuwin Nakula, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempala, sami ambek purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami kelu sadaya. Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude> 4fh9u2ihnoj3nl0fkwndt6oz9pbylel Kaca:Bratayuda.pdf/84 250 24784 77657 2026-05-15T18:43:08Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77657 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>gumerah sami anata baris. Sareng sampun sami rakit sadaya, lajeng bidhal saking nagari ing Wiratha. Kathahing bala tanpa wicalan. Panganggenipun gumebyar, kados cahyanipun srengenge saweg malethek, badhe amadhangi jagat. Saking kathahing prajurit, kados saganten ambalabari wana sarta redi-redi. Sakathahing margi jejel dening prajurit. Ingkang panganggenipun abrit agolong sami abrit, ingkang jene sami jene, ijem sami ijem, cemeng sami cemeng, biru sami biru, wungu sami wungu, pethak sami pethak, mboten wonten ingkang kaselanan sanesipun. Swaraning bala kados galudhug. Gebyaring rerengganing lelayu, kados urubing redi sewu sareng kabesmi. Sang Hyang Endra anjawahaken wewangi. Sakathahing dewa ing Kaendran sami angestreni ingkang sami anglurug. Pandhawa unggula ing perangipun angsala nagari ing Ngastina. Ingkang anindhihi cucuking baris Raden Wrekodara. Lampahipun dharat kemawon sarta amandhi gada. Awit salaminipun gesang mboten karsa nitih kapal, rata utawi gajah. Sanajan tindaka medal saganten, ngambah jurang, redi utawi lepen, inggih dharat kemawon. Samargi-margi tansah asesumbar kemawon. Lampahing barisipun kados angebahna bumi. Isen-isening wana ingkang kambah sami mawur. Satelasing barisipun Raden Wrekodara, kasambetan ing barisipun Raden Dananjaya, anitih rata karengga ing sesotya, murub kados redi kabesmi. Panganggening prajuritipun pating galebyar, kados anggesengna nagari ing Ngastina saratunipun. Genderanipun kumelab, aciri kethek mangap. Sakedhap ing ngawang-awang peteng dening mendhung, galudhug gumleger, kilat amradini ing ngawang-awang, kados andalajati manawi badhe unggul ing perang. Raden Nakula akaliyan Raden Sadewa anyambeti barisipun Raden Dananjaya, sami anitih rata karengga ing sesotya wungu. Kados Bathara Kamajaya kembar, badhe tedhak dhateng kadhaton ing Ngastina, aningali Korawa kados àningali kenya. Ing wingking kasambetan barisipun putra ing Wiratha {{hws|te|tetiga}}<noinclude>{{rh|88}</noinclude> k04m048s8adt3emccm8rf63bohr8437 77659 77657 2026-05-15T18:43:22Z Khusna Safira 1759 77659 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>gumerah sami anata baris. Sareng sampun sami rakit sadaya, lajeng bidhal saking nagari ing Wiratha. Kathahing bala tanpa wicalan. Panganggenipun gumebyar, kados cahyanipun srengenge saweg malethek, badhe amadhangi jagat. Saking kathahing prajurit, kados saganten ambalabari wana sarta redi-redi. Sakathahing margi jejel dening prajurit. Ingkang panganggenipun abrit agolong sami abrit, ingkang jene sami jene, ijem sami ijem, cemeng sami cemeng, biru sami biru, wungu sami wungu, pethak sami pethak, mboten wonten ingkang kaselanan sanesipun. Swaraning bala kados galudhug. Gebyaring rerengganing lelayu, kados urubing redi sewu sareng kabesmi. Sang Hyang Endra anjawahaken wewangi. Sakathahing dewa ing Kaendran sami angestreni ingkang sami anglurug. Pandhawa unggula ing perangipun angsala nagari ing Ngastina. Ingkang anindhihi cucuking baris Raden Wrekodara. Lampahipun dharat kemawon sarta amandhi gada. Awit salaminipun gesang mboten karsa nitih kapal, rata utawi gajah. Sanajan tindaka medal saganten, ngambah jurang, redi utawi lepen, inggih dharat kemawon. Samargi-margi tansah asesumbar kemawon. Lampahing barisipun kados angebahna bumi. Isen-isening wana ingkang kambah sami mawur. Satelasing barisipun Raden Wrekodara, kasambetan ing barisipun Raden Dananjaya, anitih rata karengga ing sesotya, murub kados redi kabesmi. Panganggening prajuritipun pating galebyar, kados anggesengna nagari ing Ngastina saratunipun. Genderanipun kumelab, aciri kethek mangap. Sakedhap ing ngawang-awang peteng dening mendhung, galudhug gumleger, kilat amradini ing ngawang-awang, kados andalajati manawi badhe unggul ing perang. Raden Nakula akaliyan Raden Sadewa anyambeti barisipun Raden Dananjaya, sami anitih rata karengga ing sesotya wungu. Kados Bathara Kamajaya kembar, badhe tedhak dhateng kadhaton ing Ngastina, aningali Korawa kados àningali kenya. Ing wingking kasambetan barisipun putra ing Wiratha {{hws|te|tetiga}}<noinclude>{{rh|88}}</noinclude> 9z6ujap7u8bhvqiq6atqipt315nn66p 78334 77659 2026-05-16T09:40:54Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78334 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>gumerah sami anata baris. Sareng sampun sami rakit sadaya, lajeng bidhal saking nagari ing Wiratha. Kathahing bala tanpa wicalan. Panganggenipun gumebyar, kados cahyanipun srengenge saweg malethek, badhe amadhangi jagat. Saking kathahing prajurit, kados saganten ambalabari wana sarta redi-redi. Sakathahing margi jejel dening prajurit. Ingkang panganggenipun abrit agolong sami abrit, ingkang jene sami jene, ijem sami ijem, cemeng sami cemeng, biru sami biru, wungu sami wungu, pethak sami pethak, mboten wonten ingkang kaselanan sanesipun. Swaraning bala kados galudhug. Gebyaring rerengganing lelayu, kados urubing redi sewu sareng kabesmi. Sang Hyang Endra anjawahaken wewangi. Sakathahing dewa ing Kaendran sami angestreni ingkang sami anglurug. Pandhawa unggula ing perangipun angsala nagari ing Ngastina. Ingkang anindhihi cucuking baris Raden Wrekodara. Lampahipun dharat kemawon sarta amandhi gada. Awit salaminipun gesang mboten karsa nitih kapal, rata utawi gajah. Sanajan tindaka medal saganten, ngambah jurang, redi utawi lepen, inggih dharat kemawon. Samargi-margi tansah asesumbar kemawon. Lampahing barisipun kados angebahna bumi. Isen-isening wana ingkang kambah sami mawur. Satelasing barisipun Raden Wrekodara, kasambetan ing barisipun Raden Dananjaya, anitih rata karengga ing sesotya, murub kados redi kabesmi. Panganggening prajuritipun pating galebyar, kados anggesengna nagari ing Ngastina saratunipun. Genderanipun kumelab, aciri kethek mangap. Sakedhap ing ngawang-awang peteng dening mendhung, galudhug gumleger, kilat amradini ing ngawang-awang, kados andalajati manawi badhe unggul ing perang. Raden Nakula akaliyan Raden Sadewa anyambeti barisipun Raden Dananjaya, sami anitih rata karengga ing sesotya wungu. Kados Bathara Kamajaya kembar, badhe tedhak dhateng kadhaton ing Ngastina, aningali Korawa kados àningali kenya. Ing wingking kasambetan barisipun putra ing Wiratha {{hws|te|tetiga}}<noinclude>{{rh|88}}</noinclude> rk9laiw4xm8u73z8etsrue0xwp4otc3 Kaca:Bratayuda.pdf/85 250 24785 77660 2026-05-15T18:47:22Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77660 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|tiga|tetiga}}. Ing wingking kasambet barisipun Raden Drusthajumena, putra ing Cempala. Anunten kasundhulan ing barisi un ingkang rama Prabu Drupada. Sang nata anitih gajah, dipun g:.rebeg ing para mantri sarta para punggawa. Barisipun tanpa wicaian. Ing wingkingipun, Dewi Drupadi, anitih rata, asongsong mas sarwi angure rema. Kanginan kados angawe-awe, angenggalaken banjir. Esthanipun kados Sang Dewi karsa jamas rahing Korawa tumunten, sasampuning jamas lajeng karsa ukel. Sawingkingipun Dewi Drupadi, Dewi Srikandhi ingkang anyambeti. Anitih rata karengga ing sesotya. Anunten Prabu Darmaputra anitih gajah, asongsong jene, dipun garebeg ing abdi kathah, sarwi amangku serat kalimasada. Saestu yen ratu utama. Semunipun saged amungkasi perang. Wondening serat ingkang dipun pangku wau, minangka pangleburaning mengsah. Sawingkingipun Prabu Darmaputra, kasambetan ing barisipun Prabu Kresna, genderanipun sami pethak, aciri puthut semadi. Sang nata anitih rata karengga ing sesotya, asongsong pethak karengga ing manik, kumilat angenguwung. Esthanipun amengeti, "Heh, delengen, iya iki pamugarining perang." Tindakipun Prabu Kresna kados andherekaken panganten. Ingkang minangka pangantenipun kakung Prabu Darmaputra, ingkang minangka putri utawi panganten estri nagari ing Ngastina, sabibaring damel, nagari katampen dhateng Prabu Darmaputra. Wondening para ratu sesuruhan, ingkang sami rumojong ing perang, upaminipun ingkang sami nyumbang dhateng Prabu Kresna, ingkang kagungan damel. Inggih namung punika ingkang dipun pundhi-pundhi sarta dipun estokaken pitedahipun. Sinten-sintena ingkang anut pitedahipun Prabu Kresna, anglampahi pejah wonten ing perang Bratayuda, amesthi manggih swarga, lepat sakathahing siksa wonten ing jaman kailangan. Mila para ratu sengkut anglampahi pitedahipun Prabu Kresna, suka lila amanggih pejah, awit swarga kaliyan naraka sampun prasasat kaasta dhateng Prabu Kresna. Raden Wresniwira ingkang nyambeti baris ing Dwarawati, saha minangka tetindhihipun para adipati. Prajuritipun tanpa wicalan angebeki margi, swaraning bala kados angebahna bumi, {{hws|ango|angocakna}}<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude> fa9roesnmkt2okpnmzapwrnpb0z8tro 78335 77660 2026-05-16T09:41:02Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78335 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|tiga|tetiga}}. Ing wingking kasambet barisipun Raden Drusthajumena, putra ing Cempala. Anunten kasundhulan ing barisi un ingkang rama Prabu Drupada. Sang nata anitih gajah, dipun g:.rebeg ing para mantri sarta para punggawa. Barisipun tanpa wicaian. Ing wingkingipun, Dewi Drupadi, anitih rata, asongsong mas sarwi angure rema. Kanginan kados angawe-awe, angenggalaken banjir. Esthanipun kados Sang Dewi karsa jamas rahing Korawa tumunten, sasampuning jamas lajeng karsa ukel. Sawingkingipun Dewi Drupadi, Dewi Srikandhi ingkang anyambeti. Anitih rata karengga ing sesotya. Anunten Prabu Darmaputra anitih gajah, asongsong jene, dipun garebeg ing abdi kathah, sarwi amangku serat kalimasada. Saestu yen ratu utama. Semunipun saged amungkasi perang. Wondening serat ingkang dipun pangku wau, minangka pangleburaning mengsah. Sawingkingipun Prabu Darmaputra, kasambetan ing barisipun Prabu Kresna, genderanipun sami pethak, aciri puthut semadi. Sang nata anitih rata karengga ing sesotya, asongsong pethak karengga ing manik, kumilat angenguwung. Esthanipun amengeti, "Heh, delengen, iya iki pamugarining perang." Tindakipun Prabu Kresna kados andherekaken panganten. Ingkang minangka pangantenipun kakung Prabu Darmaputra, ingkang minangka putri utawi panganten estri nagari ing Ngastina, sabibaring damel, nagari katampen dhateng Prabu Darmaputra. Wondening para ratu sesuruhan, ingkang sami rumojong ing perang, upaminipun ingkang sami nyumbang dhateng Prabu Kresna, ingkang kagungan damel. Inggih namung punika ingkang dipun pundhi-pundhi sarta dipun estokaken pitedahipun. Sinten-sintena ingkang anut pitedahipun Prabu Kresna, anglampahi pejah wonten ing perang Bratayuda, amesthi manggih swarga, lepat sakathahing siksa wonten ing jaman kailangan. Mila para ratu sengkut anglampahi pitedahipun Prabu Kresna, suka lila amanggih pejah, awit swarga kaliyan naraka sampun prasasat kaasta dhateng Prabu Kresna. Raden Wresniwira ingkang nyambeti baris ing Dwarawati, saha minangka tetindhihipun para adipati. Prajuritipun tanpa wicalan angebeki margi, swaraning bala kados angebahna bumi, {{hws|ango|angocakna}}<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude> fee9jaxje160xt4852y56566e7hdsxb Kaca:Bratayuda.pdf/86 250 24786 77666 2026-05-15T18:50:21Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77666 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|cakna|angocakna}} saganten. Ingkang anyambeti barisipun Raden Wresniwira, putranipun Raden Dananjaya, ingkang nama Abimanyu, anitih rata mas, asongsong laring merak, sarwi amangku cakra. Panganggening prajuritipun kados sekar anggulasah. Ing wingking ingkang nyambeti Raden Pancawala, putranipun Prabu Darmaputra. Anitih rata karengga ing sesotya, dipun gombyongi ing lar merak. Songsongipun anglaring kombang. Panganggening prajuritipun murub. Genderanipun sami ijem sadaya. mBoten telas-telas bilih kacariyosna sadaya langening baris ingkang lelampah. Ing mangke kacugag kemawon. Baris ing ngajeng sampun dumugi ing Tegal Kuru. Tiningalan kados toya ambelabar. Para ratu, para dipati andaledeg dhatengipun, mboten pedhot-pedhot. Lajeng sami adamel pasanggrahan ing sapangkatipun piyambak-piyambak. Anunten Dewi Kunthi dipun utusi rawuh ing Tegal Kuru. Kadherekaken ing Yamawidura. Sareng kapanggih kaliyan Pandhawa, lajeng sami muwun. Sakendelipun muwun, sami suka-suka. Tangeh yen kacariyosna sadaya anggenipun sami suka-suka. Yamawidura ingkang andherekaken Dewi Kunthi, wangsul dhateng ing Ngastina malih. Dewi Kunthi kantun wonten ing Tegal Kuru. Pasanggrahanipun Pandhawa sampun kados kadhaton. Pasanggrahanipun Prabu Kresna inggih dipun rakit kados kadhaton. Yudhisthira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, sami wonten ing pasanggrahanipun Prabu Kresna. Para ratu sesuruhan inggih sami pepak wonten ing ngriku, sami arembagan sarta anyuwun dhawah dhateng Prabu Kresna. Yudhisthira matur ing Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula sumangga ing sampeyan, sinten ingkang sampeyan karsakaken dados pangajenging perang." Wrekodara saha Dananjaya inggih makaten ugi aturipun dhateng Prabu Kresna. Wangsulanipun sang nata. "Yayi Prabu ing Ngamarta, ingkang kula pilih dados pangiriding perang pun Seta." Sadaya sami angguyubi. Anunten Raden Wresniwira dipun<noinclude>{{rh|90}}</noinclude> 2aqk57qvboyb7h3nm1v71t051qynlkq 78336 77666 2026-05-16T09:41:10Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78336 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|cakna|angocakna}} saganten. Ingkang anyambeti barisipun Raden Wresniwira, putranipun Raden Dananjaya, ingkang nama Abimanyu, anitih rata mas, asongsong laring merak, sarwi amangku cakra. Panganggening prajuritipun kados sekar anggulasah. Ing wingking ingkang nyambeti Raden Pancawala, putranipun Prabu Darmaputra. Anitih rata karengga ing sesotya, dipun gombyongi ing lar merak. Songsongipun anglaring kombang. Panganggening prajuritipun murub. Genderanipun sami ijem sadaya. mBoten telas-telas bilih kacariyosna sadaya langening baris ingkang lelampah. Ing mangke kacugag kemawon. Baris ing ngajeng sampun dumugi ing Tegal Kuru. Tiningalan kados toya ambelabar. Para ratu, para dipati andaledeg dhatengipun, mboten pedhot-pedhot. Lajeng sami adamel pasanggrahan ing sapangkatipun piyambak-piyambak. Anunten Dewi Kunthi dipun utusi rawuh ing Tegal Kuru. Kadherekaken ing Yamawidura. Sareng kapanggih kaliyan Pandhawa, lajeng sami muwun. Sakendelipun muwun, sami suka-suka. Tangeh yen kacariyosna sadaya anggenipun sami suka-suka. Yamawidura ingkang andherekaken Dewi Kunthi, wangsul dhateng ing Ngastina malih. Dewi Kunthi kantun wonten ing Tegal Kuru. Pasanggrahanipun Pandhawa sampun kados kadhaton. Pasanggrahanipun Prabu Kresna inggih dipun rakit kados kadhaton. Yudhisthira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, sami wonten ing pasanggrahanipun Prabu Kresna. Para ratu sesuruhan inggih sami pepak wonten ing ngriku, sami arembagan sarta anyuwun dhawah dhateng Prabu Kresna. Yudhisthira matur ing Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula sumangga ing sampeyan, sinten ingkang sampeyan karsakaken dados pangajenging perang." Wrekodara saha Dananjaya inggih makaten ugi aturipun dhateng Prabu Kresna. Wangsulanipun sang nata. "Yayi Prabu ing Ngamarta, ingkang kula pilih dados pangiriding perang pun Seta." Sadaya sami angguyubi. Anunten Raden Wresniwira dipun<noinclude>{{rh|90}}</noinclude> 3yvixkhpdpvk1f9m90rm5oqc6iptq7o Kaca:Bratayuda.pdf/87 250 24787 77670 2026-05-15T18:52:52Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77670 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>serepaken dhateng Prabu Kresna, menggah gelaripun bilih amedali perang. Prabu Suyudana sareng midhanget wartos yen mengsah sampun masanggrahan wonten ing Tegal Kuru, lajeng andhawahaken parentah amepak balanipun. Anunten Yamawidura munjuk dhateng sang nata, yen para ratu ingkang ambiyantoni Pandhawa sampun sami ngalempak wonten ing Tegal Kuru. mBoten antawis lami bala ing Ngastina sampun mirantos. Bidhal saking kitha. Balanipun para ratu saha para dipati tanpa wicalan. Lampahipun kados umobing toya saganten, ambaleber dhateng dharat. Wondening para ratu ingkang angrojongi Prabu Suyudana inggih kathah, anunten sami ngadegaken pasanggrahan piyambak-piyambak, sami dipun rakit kados kadhaton. Bisma ingkang kapilih dados senapatining prang. mBoten kacariyos lamine anggenipun anata bala. Pandhawa saha Korawa sareng sampun rakit sadaya, enjing sami nabuh tengara, kendhang, gong akaliyan beri, bodhol saking pasanggrahan. Surakipun gumerah kados ambedhahna langit. Swaraning gong utawi tetabuhan sanesipun ngantos mboten kamirengan. Barisipun Pandhawa andhendheng wonten kilen majeng mangetan. Barisipun Korawa andhendheng majeng mangilen. Ingkang kidul anotog redi, ingkang ler anotog saganten. Kandeling baris sapaningal, ewadenten ingkang dhateng taksih angili. Gelaripun senapati Bisma Wukirjaladri, ingkang minangka karang sakathahing rata sarta gajah, ingkang minangka alun para ratu, sakathahing bala alit-alit ingkang minangka toya. Gelaripun senapati Arya Seta anama Brajatiksnalungid. Ingkang wonten ing ngajeng Raden Wrekodara, Raden Dananjaya sarta Dewi Srikandhi, sami sabalanipun. Drusthajumena saha Setyaki sabalanipun sami wonten ing sakiwanipun, nanging ragi kawingking caket kaliyan panggenanipun senapati Arya Seta. Prabu Darmaputra kaliyan Prabu Dwarawati sami wonten ing tengah, nunggil para ratu saha para dipati.<noinclude>{{rh|||91}}</noinclude> qil9fz732344oqlav9ve2t4cctbi45z 78337 77670 2026-05-16T09:41:20Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78337 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>serepaken dhateng Prabu Kresna, menggah gelaripun bilih amedali perang. Prabu Suyudana sareng midhanget wartos yen mengsah sampun masanggrahan wonten ing Tegal Kuru, lajeng andhawahaken parentah amepak balanipun. Anunten Yamawidura munjuk dhateng sang nata, yen para ratu ingkang ambiyantoni Pandhawa sampun sami ngalempak wonten ing Tegal Kuru. mBoten antawis lami bala ing Ngastina sampun mirantos. Bidhal saking kitha. Balanipun para ratu saha para dipati tanpa wicalan. Lampahipun kados umobing toya saganten, ambaleber dhateng dharat. Wondening para ratu ingkang angrojongi Prabu Suyudana inggih kathah, anunten sami ngadegaken pasanggrahan piyambak-piyambak, sami dipun rakit kados kadhaton. Bisma ingkang kapilih dados senapatining prang. mBoten kacariyos lamine anggenipun anata bala. Pandhawa saha Korawa sareng sampun rakit sadaya, enjing sami nabuh tengara, kendhang, gong akaliyan beri, bodhol saking pasanggrahan. Surakipun gumerah kados ambedhahna langit. Swaraning gong utawi tetabuhan sanesipun ngantos mboten kamirengan. Barisipun Pandhawa andhendheng wonten kilen majeng mangetan. Barisipun Korawa andhendheng majeng mangilen. Ingkang kidul anotog redi, ingkang ler anotog saganten. Kandeling baris sapaningal, ewadenten ingkang dhateng taksih angili. Gelaripun senapati Bisma Wukirjaladri, ingkang minangka karang sakathahing rata sarta gajah, ingkang minangka alun para ratu, sakathahing bala alit-alit ingkang minangka toya. Gelaripun senapati Arya Seta anama Brajatiksnalungid. Ingkang wonten ing ngajeng Raden Wrekodara, Raden Dananjaya sarta Dewi Srikandhi, sami sabalanipun. Drusthajumena saha Setyaki sabalanipun sami wonten ing sakiwanipun, nanging ragi kawingking caket kaliyan panggenanipun senapati Arya Seta. Prabu Darmaputra kaliyan Prabu Dwarawati sami wonten ing tengah, nunggil para ratu saha para dipati.<noinclude>{{rh|||91}}</noinclude> mv2qrit20eujmielhwfitryi65xdk9d Kaca:Bratayuda.pdf/88 250 24788 77681 2026-05-15T18:58:08Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77681 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Raden Dananjaya ngeres manahipun aningali dene mengsah sami kadang tuwin gurunipun. Lajeng matur dhateng Prabu Kresna, "Sang Prabu, manawi kenging mugi panjenengan sandekaken perang Bratayuda, kawula mboten tahan aningali dene mengsah sami kadang saha guru." Sang nata amangsuli pangandika, "Karsaning dewa ora kena wurung peran Bratayuda. Kapindhone, yen satriya mati ing perang, anemu pati utama lan munggah swarga. Lan maninge, kakangira Yayi Irabu Yudhisthira kudu angluwari punagine. Apa ta sira ora sume lya anglabuhi kadang tuwa? Mungguh sing bakal mapagake perange gurunira wis ana, ora susah sira ngawaki dhewe, mangsa kuranga mungsuhira. Dene yen sira amrangguli gurunira ana ing paprangan, ora kena sira oncati, kudu lumaku tinadhahan. Mung sira nyembaha bae dhisik!" Sareng Prabu Kresna sampun anyerepaken dhateng Raden Danai jaya, bil h perang Bratayuda mboten kenging kasandekaken, lajens, sami wiwit perang. Suraking bala gumerah, ungeling tetabuhan amor kaliyan garedeging gajah, kepyaking rata, karapyaking kapal, kados redi jugrug, swaranipun angebeki bumi. Pangamuking bala riwut, sampun kathah ingkang pejah. Para ratu, satriya sarta para adipati inggih sampun kathah ingkang pejah. Rata ingkang sampun remul sadasa, gajah ingkang sampun pejah sadasa, asareng kaliyan r. tu ingkang nitihi. Ramening perang, kesreking dedamel kados medala gelap. Gumerah sambatipun ingkang sami tatu. Pesating emparing kados jawah. Prajurit kekapalan ingkang sampun pejah itusan. Para gegedhug nitih rata ingkang pejah sewu. Wondening kathahing prajurit ingkang numpak gajah saleksa, ingkang numpak rata saleksa, ingkang numpak kapal sayuta, ingkang dhara kawan yuta. Panempuhipun prajurit anggonjingaken bumi. Anggenipun perang sampun satengah dinten. Ingkang sampun pejah satriya kekalih, sami putra ing Wiratha, satunggil nama Raden Wirasangka. pejah dening Druna, kalih Raden Utara, pejah dening Prabu Salya. Andel-andeling Korawa kathah ingkang pejah. Raden Setu nepsu sanget, awit saking pejahipun ingkang rayi<noinclude>{{rh|92}}</noinclude> 4q5giza7g5fb1hhn4i7l7eunutas6dv 78338 77681 2026-05-16T09:41:28Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78338 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Dananjaya ngeres manahipun aningali dene mengsah sami kadang tuwin gurunipun. Lajeng matur dhateng Prabu Kresna, "Sang Prabu, manawi kenging mugi panjenengan sandekaken perang Bratayuda, kawula mboten tahan aningali dene mengsah sami kadang saha guru." Sang nata amangsuli pangandika, "Karsaning dewa ora kena wurung peran Bratayuda. Kapindhone, yen satriya mati ing perang, anemu pati utama lan munggah swarga. Lan maninge, kakangira Yayi Irabu Yudhisthira kudu angluwari punagine. Apa ta sira ora sume lya anglabuhi kadang tuwa? Mungguh sing bakal mapagake perange gurunira wis ana, ora susah sira ngawaki dhewe, mangsa kuranga mungsuhira. Dene yen sira amrangguli gurunira ana ing paprangan, ora kena sira oncati, kudu lumaku tinadhahan. Mung sira nyembaha bae dhisik!" Sareng Prabu Kresna sampun anyerepaken dhateng Raden Danai jaya, bil h perang Bratayuda mboten kenging kasandekaken, lajens, sami wiwit perang. Suraking bala gumerah, ungeling tetabuhan amor kaliyan garedeging gajah, kepyaking rata, karapyaking kapal, kados redi jugrug, swaranipun angebeki bumi. Pangamuking bala riwut, sampun kathah ingkang pejah. Para ratu, satriya sarta para adipati inggih sampun kathah ingkang pejah. Rata ingkang sampun remul sadasa, gajah ingkang sampun pejah sadasa, asareng kaliyan r. tu ingkang nitihi. Ramening perang, kesreking dedamel kados medala gelap. Gumerah sambatipun ingkang sami tatu. Pesating emparing kados jawah. Prajurit kekapalan ingkang sampun pejah itusan. Para gegedhug nitih rata ingkang pejah sewu. Wondening kathahing prajurit ingkang numpak gajah saleksa, ingkang numpak rata saleksa, ingkang numpak kapal sayuta, ingkang dhara kawan yuta. Panempuhipun prajurit anggonjingaken bumi. Anggenipun perang sampun satengah dinten. Ingkang sampun pejah satriya kekalih, sami putra ing Wiratha, satunggil nama Raden Wirasangka. pejah dening Druna, kalih Raden Utara, pejah dening Prabu Salya. Andel-andeling Korawa kathah ingkang pejah. Raden Setu nepsu sanget, awit saking pejahipun ingkang rayi<noinclude>{{rh|92}}</noinclude> snaq6nvobk974dok5wa3ld6ags8dt7o Kaca:Bratayuda.pdf/89 250 24789 77688 2026-05-15T19:01:15Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77688 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>kekalih, ingkang nama Wirasangka kaliyan Raden Utara wau. Lajeng ngangseg sabalanipun, agalak kados sima badhe memangsa, utawi kados danawa rebatan daging, asareng panempuhing bala. Raden Seta amenthang langkap anglepasaken jemparing. Ingkang kawawas prabu ing Mandaraka, nanging lepat, namung rata sakusir pangayapipun ingkang kenging, remuk amor kaliyan siti. Kartamarma amethukaken badhe angadhangi pangamukipun Raden Seta, lajeng kadhawahan jemparing, dhawah saking rata, ratanipun remuk. Bala Korawa geger, sumerep pangamukipun Raden Seta. Saking kathahipun angsal pepejah, adamel girising mengsah. Anunten Bisma kaliyan Druna sabalanipun anulungi. Jayasena angundhagada, tiningalan angajrihi. Raden Rukmarata anulunggi ingkang rama prabu ing Mandaraka, nitih rata methukaken pangamukipun Raden Seta. Lajeng dipun lepasi jemparing dening Raden Seta, kenging jajanipun, dhawah gumuling pejah wonten salebeting rata. Bala ing Wiratha ingkang dipun senapateni Raden Seta asareng pangangsegipun, tandangipun kados bantheng ketaton. Para ratu, para adipati katrajang kathah ingkang tumpes. Bala ing Ngastina giris, sami bibar mawur, kados kidang aningali sima. Saking mirisipun, bala ing Ngastina palajengipun mboten kenging dipun andheg dhateng pangagengipun, malah sangsaya sanget. Awit Raden Gathutkaca, Drusthajumena sarta Raden Angkawijaya, sami dhateng ambiyantoni Raden Seta, sarengan sami anempuh bala ing Ngastina. Anunten Senapati Bisma ngamuk, para andel-andeling Korawa sami tumut, ajeng-ajengan kaliyan Raden Seta, dados tandhing sami senapati. Raden Seta dipun lepasi jemparing dhateng Bisma, wedalipun ambrubul angebeki awang-awang, andhawahi Raden Seta, sariranipun murub nanging mboten tumama. Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya anulungi dhateng Raden Seta, sami anglepasaken jemparing, ambrubul kados jawah, ingkang dipun angkah senapati Bisma. Anunten Suyudana anulungi dhateng Bisma, kenging ing jemparing jajanipun, mboten pasah, nanging karaos sakit. Lajeng mundur anekem jaja, giris mboten saged ngandika. Para Korawa angrubung sarta andherekaken konduripun sang nata.<noinclude>{{rh|||93}}</noinclude> 0i1hxo8vg62ps5bww6g94667t3ylies 78339 77688 2026-05-16T09:41:35Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78339 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>kekalih, ingkang nama Wirasangka kaliyan Raden Utara wau. Lajeng ngangseg sabalanipun, agalak kados sima badhe memangsa, utawi kados danawa rebatan daging, asareng panempuhing bala. Raden Seta amenthang langkap anglepasaken jemparing. Ingkang kawawas prabu ing Mandaraka, nanging lepat, namung rata sakusir pangayapipun ingkang kenging, remuk amor kaliyan siti. Kartamarma amethukaken badhe angadhangi pangamukipun Raden Seta, lajeng kadhawahan jemparing, dhawah saking rata, ratanipun remuk. Bala Korawa geger, sumerep pangamukipun Raden Seta. Saking kathahipun angsal pepejah, adamel girising mengsah. Anunten Bisma kaliyan Druna sabalanipun anulungi. Jayasena angundhagada, tiningalan angajrihi. Raden Rukmarata anulunggi ingkang rama prabu ing Mandaraka, nitih rata methukaken pangamukipun Raden Seta. Lajeng dipun lepasi jemparing dening Raden Seta, kenging jajanipun, dhawah gumuling pejah wonten salebeting rata. Bala ing Wiratha ingkang dipun senapateni Raden Seta asareng pangangsegipun, tandangipun kados bantheng ketaton. Para ratu, para adipati katrajang kathah ingkang tumpes. Bala ing Ngastina giris, sami bibar mawur, kados kidang aningali sima. Saking mirisipun, bala ing Ngastina palajengipun mboten kenging dipun andheg dhateng pangagengipun, malah sangsaya sanget. Awit Raden Gathutkaca, Drusthajumena sarta Raden Angkawijaya, sami dhateng ambiyantoni Raden Seta, sarengan sami anempuh bala ing Ngastina. Anunten Senapati Bisma ngamuk, para andel-andeling Korawa sami tumut, ajeng-ajengan kaliyan Raden Seta, dados tandhing sami senapati. Raden Seta dipun lepasi jemparing dhateng Bisma, wedalipun ambrubul angebeki awang-awang, andhawahi Raden Seta, sariranipun murub nanging mboten tumama. Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya anulungi dhateng Raden Seta, sami anglepasaken jemparing, ambrubul kados jawah, ingkang dipun angkah senapati Bisma. Anunten Suyudana anulungi dhateng Bisma, kenging ing jemparing jajanipun, mboten pasah, nanging karaos sakit. Lajeng mundur anekem jaja, giris mboten saged ngandika. Para Korawa angrubung sarta andherekaken konduripun sang nata.<noinclude>{{rh|||93}}</noinclude> nwqgh5x0y12xzhwvelp4435m9tiwlfk Kaca:Bratayuda.pdf/90 250 24790 77695 2026-05-15T19:04:26Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77695 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Senapati Bisma sareng aningali bala ing Ngastina gusis, amargi dipun amuk dhateng Raden Seta, sakalangkung nepsunipun. Ngadeg wonten ing ratanipun anglepasaken jemparing, ambrubul wedalipun, andhawahi Raden Seta. Raden Seta lajeng menthang langkap. Bisma ingkang dipun angkah, kenging baunipun, mboten pasah, malah jemparingipun tugel. Raden Seta, senapatining Pandhawa, sanget nepsunipun, aningali tugeling jemparing, Bisma mboten pasah. Enggal medhun saking rata, anyandhak gada, lumumpat dumugi panggenanipun Bisma. Bisma dipun gada angoncati, malumpat saking rata, dados namung ratanipun ingkang kenging, remuk sakusir kapalipun. Seta sangsaya nepsu, manengah angobat-abitaken gada. Para ratu ingkang sami nitih rata utawi ingkang nitih gajah, kababit ing gada. sami remuk sareng kaliyan kusir kapal sarta gajahipun. Ratu gangsal ingkang pejah remuk kaliyan ratanipun. Ingkang ajur kaliyan gajahipun inggih gangsal. Wondening para adipati ingkang pejah kathah. Seta saestu yen sekti tanpa tandhing. Bala ing Ngastina mawur, giris aningali pratingkahing pangamukipun Seta, kados upaminipun danawa sewu sarengan angangkah daging, gadanipun angebat-ebati sarta anggilani. Bisma giris aningali Seta wuru ing pangamukipun. Lajeng mundur saking paprangan. Anunten dewa anyawara saking ngawang-awang, "Heh, Bisma, apa mulane sira mundur saka ing paprangan? Wruhanamu, patine putra ing Wiratha iya dening sira!" Bisma mireng swaraning dewa, lajeng wangsul, sarwi amenthang jemparing latu, lumepas kenging jajanipun Seta butul, lajeng pejah. Bala ing Ngastina surak gumerah, ingkang sampun sami lumajeng wangsul sadaya, giyak-giyak sami anjoged. Arya Dursasana akiprah-kiprah, Arya Sindureja anggendhing, Jayasusena, Jayawikatha, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya sarta Kartamarma sami surak-sufak. Wondening bala Pandhawa sami prihatos kekes, awit senapatinipun pejah. Gumrudug saking wingking sami dhateng ngajeng. Sang Prabu Maswapati ing Wiratha, sareng dipun pratelani yen ingkang putra tiga pejah, lajeng tandang kaliyan Arya Nirbita.Bisma dipun jemparing, ambrubul wedalipun. Bisma inggih {{hws|nglepas|nglepasaken}}<noinclude>{{rh|94}}</noinclude> 9jnksxo82ch547hkmmiyoj8q0g6wa8i 78340 77695 2026-05-16T09:41:44Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78340 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Senapati Bisma sareng aningali bala ing Ngastina gusis, amargi dipun amuk dhateng Raden Seta, sakalangkung nepsunipun. Ngadeg wonten ing ratanipun anglepasaken jemparing, ambrubul wedalipun, andhawahi Raden Seta. Raden Seta lajeng menthang langkap. Bisma ingkang dipun angkah, kenging baunipun, mboten pasah, malah jemparingipun tugel. Raden Seta, senapatining Pandhawa, sanget nepsunipun, aningali tugeling jemparing, Bisma mboten pasah. Enggal medhun saking rata, anyandhak gada, lumumpat dumugi panggenanipun Bisma. Bisma dipun gada angoncati, malumpat saking rata, dados namung ratanipun ingkang kenging, remuk sakusir kapalipun. Seta sangsaya nepsu, manengah angobat-abitaken gada. Para ratu ingkang sami nitih rata utawi ingkang nitih gajah, kababit ing gada. sami remuk sareng kaliyan kusir kapal sarta gajahipun. Ratu gangsal ingkang pejah remuk kaliyan ratanipun. Ingkang ajur kaliyan gajahipun inggih gangsal. Wondening para adipati ingkang pejah kathah. Seta saestu yen sekti tanpa tandhing. Bala ing Ngastina mawur, giris aningali pratingkahing pangamukipun Seta, kados upaminipun danawa sewu sarengan angangkah daging, gadanipun angebat-ebati sarta anggilani. Bisma giris aningali Seta wuru ing pangamukipun. Lajeng mundur saking paprangan. Anunten dewa anyawara saking ngawang-awang, "Heh, Bisma, apa mulane sira mundur saka ing paprangan? Wruhanamu, patine putra ing Wiratha iya dening sira!" Bisma mireng swaraning dewa, lajeng wangsul, sarwi amenthang jemparing latu, lumepas kenging jajanipun Seta butul, lajeng pejah. Bala ing Ngastina surak gumerah, ingkang sampun sami lumajeng wangsul sadaya, giyak-giyak sami anjoged. Arya Dursasana akiprah-kiprah, Arya Sindureja anggendhing, Jayasusena, Jayawikatha, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya sarta Kartamarma sami surak-sufak. Wondening bala Pandhawa sami prihatos kekes, awit senapatinipun pejah. Gumrudug saking wingking sami dhateng ngajeng. Sang Prabu Maswapati ing Wiratha, sareng dipun pratelani yen ingkang putra tiga pejah, lajeng tandang kaliyan Arya Nirbita.Bisma dipun jemparing, ambrubul wedalipun. Bisma inggih {{hws|nglepas|nglepasaken}}<noinclude>{{rh|94}}</noinclude> e5gib07p7wmp8jjag7knk2w0xw5g69h Kaca:Bratayuda.pdf/91 250 24791 77704 2026-05-15T19:09:12Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77704 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>aken jemparing. Dados tempuh jemparing sami jemparing. Pandhawa sami nepsu, sarengan tumandang, ngamuk sami angebyuki, ciptaning manah suka lila sarenga sirna kaliyan Prabu Maswapati. Bala Pandhawa gumrubyug arebat rumiyin, anempuh bala Korawa mawur sami miris. Anunten kasaru serapipun ing srengenge, kados anyapih ingkang sami sayah ing perang, esthanipun kados amengeti, kapurih sami asoa rumiyin, mbenjing-enjing peranga malih. Ingkang sami perang mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak, sarta sami sanget ing sayahipun. Sang Prabu Maswapati saweg amuwuni pejahing putra tetiga. Jisimipun sampun pinanggih sadaya, dipun bersihi sarta dipun saeni. Sang nata akaliyan ingkang garwa sakalangkung sekeling galih, dene ingkang putra taksih sami anem anem sarta bagus-bagus, pejah. Galihipun sang nata kaliyan ingkang garwa kados rinujit, kapara tiga. Prameswari angrangkul layoning putra agentos-gentos. Sesambatipun amemelas, "Adhuh Anakku, dene teka mati telu pisan. Sapa sing bakal anggenteni jumeneng ratu ing nagara Wiratha. Lah tangia, engger sapanen ibumu teka. Apa mulane kowe padha meneng bae? Dene teka bareng patimu. mBok iya karia siji, ana kang dadi panglipuring prihatin. Dhuh Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, mung kowe sing dadi marganing redatin. {{---}} Ya, Dewa, banjuten aku!" Kendel kacariyos pamuwunipun prameswari ing Wiratha. Anunten Pandhuputra sami dhateng, ambekta pangangge, angurmati dhumateng ingkang sami pejah. Layon rinubung sarta dipun muwuni. Sasampuning linuruban. lajeng kainggahaken dhateng Pancaka. nDalu sasireping tiyang pinuju padhang rembulan dipun besmi, mawi dipun jenengi ing para ratu sarta ing para Pandhawa sadaya. Prabu Kresna amemujekaken, mugi sami amanggiha swarga, anetepana ingkang sampun dados jangji, ganjaranipun dhateng ingkang sami pejah ing perang Bratayuda. Awunipun kapusus minggah dhateng Suralaya. '''3.{{gap}} {{gap}}BISMA PEJAH DENING SRIKANDHI}}''' Sabibaring pakurmatan pambesmining layonipun putra ing Wiratha tetiga, Prabu Maswapati kalih para rtu ingkang {{hws|anjeneng-|anjengenggi}}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude> nioutif00e25mb2qz4pczuqylfvc5ss 77706 77704 2026-05-15T19:09:43Z Khusna Safira 1759 77706 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>aken jemparing. Dados tempuh jemparing sami jemparing. Pandhawa sami nepsu, sarengan tumandang, ngamuk sami angebyuki, ciptaning manah suka lila sarenga sirna kaliyan Prabu Maswapati. Bala Pandhawa gumrubyug arebat rumiyin, anempuh bala Korawa mawur sami miris. Anunten kasaru serapipun ing srengenge, kados anyapih ingkang sami sayah ing perang, esthanipun kados amengeti, kapurih sami asoa rumiyin, mbenjing-enjing peranga malih. Ingkang sami perang mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak, sarta sami sanget ing sayahipun. Sang Prabu Maswapati saweg amuwuni pejahing putra tetiga. Jisimipun sampun pinanggih sadaya, dipun bersihi sarta dipun saeni. Sang nata akaliyan ingkang garwa sakalangkung sekeling galih, dene ingkang putra taksih sami anem anem sarta bagus-bagus, pejah. Galihipun sang nata kaliyan ingkang garwa kados rinujit, kapara tiga. Prameswari angrangkul layoning putra agentos-gentos. Sesambatipun amemelas, "Adhuh Anakku, dene teka mati telu pisan. Sapa sing bakal anggenteni jumeneng ratu ing nagara Wiratha. Lah tangia, engger sapanen ibumu teka. Apa mulane kowe padha meneng bae? Dene teka bareng patimu. mBok iya karia siji, ana kang dadi panglipuring prihatin. Dhuh Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, mung kowe sing dadi marganing redatin. --- Ya, Dewa, banjuten aku!" Kendel kacariyos pamuwunipun prameswari ing Wiratha. Anunten Pandhuputra sami dhateng, ambekta pangangge, angurmati dhumateng ingkang sami pejah. Layon rinubung sarta dipun muwuni. Sasampuning linuruban. lajeng kainggahaken dhateng Pancaka. nDalu sasireping tiyang pinuju padhang rembulan dipun besmi, mawi dipun jenengi ing para ratu sarta ing para Pandhawa sadaya. Prabu Kresna amemujekaken, mugi sami amanggiha swarga, anetepana ingkang sampun dados jangji, ganjaranipun dhateng ingkang sami pejah ing perang Bratayuda. Awunipun kapusus minggah dhateng Suralaya. '''3.{{gap}} {{gap}}BISMA PEJAH DENING SRIKANDHI''' Sabibaring pakurmatan pambesmining layonipun putra ing Wiratha tetiga, Prabu Maswapati kalih para rtu ingkang {{hws|anjeneng-|anjengenggi}}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude> pshfdxcaj343bwkk5b2529a7gzysbk4 78341 77706 2026-05-16T09:41:54Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78341 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>aken jemparing. Dados tempuh jemparing sami jemparing. Pandhawa sami nepsu, sarengan tumandang, ngamuk sami angebyuki, ciptaning manah suka lila sarenga sirna kaliyan Prabu Maswapati. Bala Pandhawa gumrubyug arebat rumiyin, anempuh bala Korawa mawur sami miris. Anunten kasaru serapipun ing srengenge, kados anyapih ingkang sami sayah ing perang, esthanipun kados amengeti, kapurih sami asoa rumiyin, mbenjing-enjing peranga malih. Ingkang sami perang mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak, sarta sami sanget ing sayahipun. Sang Prabu Maswapati saweg amuwuni pejahing putra tetiga. Jisimipun sampun pinanggih sadaya, dipun bersihi sarta dipun saeni. Sang nata akaliyan ingkang garwa sakalangkung sekeling galih, dene ingkang putra taksih sami anem anem sarta bagus-bagus, pejah. Galihipun sang nata kaliyan ingkang garwa kados rinujit, kapara tiga. Prameswari angrangkul layoning putra agentos-gentos. Sesambatipun amemelas, "Adhuh Anakku, dene teka mati telu pisan. Sapa sing bakal anggenteni jumeneng ratu ing nagara Wiratha. Lah tangia, engger sapanen ibumu teka. Apa mulane kowe padha meneng bae? Dene teka bareng patimu. mBok iya karia siji, ana kang dadi panglipuring prihatin. Dhuh Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, mung kowe sing dadi marganing redatin. --- Ya, Dewa, banjuten aku!" Kendel kacariyos pamuwunipun prameswari ing Wiratha. Anunten Pandhuputra sami dhateng, ambekta pangangge, angurmati dhumateng ingkang sami pejah. Layon rinubung sarta dipun muwuni. Sasampuning linuruban. lajeng kainggahaken dhateng Pancaka. nDalu sasireping tiyang pinuju padhang rembulan dipun besmi, mawi dipun jenengi ing para ratu sarta ing para Pandhawa sadaya. Prabu Kresna amemujekaken, mugi sami amanggiha swarga, anetepana ingkang sampun dados jangji, ganjaranipun dhateng ingkang sami pejah ing perang Bratayuda. Awunipun kapusus minggah dhateng Suralaya. '''3.{{gap}} {{gap}}BISMA PEJAH DENING SRIKANDHI''' Sabibaring pakurmatan pambesmining layonipun putra ing Wiratha tetiga, Prabu Maswapati kalih para rtu ingkang {{hws|anjeneng-|anjengenggi}}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude> hh7g4p1kaekpqn8g8kkflcjgrrzich5 Kaca:Bratayuda.pdf/92 250 24792 77714 2026-05-15T19:13:26Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77714 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|gi|anjenenggi}} wau sami kondur dhateng pasanggrahan, apirembagan kaliyan Prabu Kresna, menggah ingkang badhe kakarsakaken dados senapati lintunipun ingkang sampun pejah. Wondening ingkang kapilih dhateng Prabu Kresna: Drusthajumena, punika dadosa lintuning senapati, sarta asalina gelar Garudha nglayang. Para ratu, para adipati sarta para mantri sapangandhap sami angguyubi karsanipun Prabu Kresna. Anunten Raden Drusthajumena dipun puja sarta dipun kutugi. Sasampune ngangkat senapati, mboten antawis dangu byar. Lajeng angungelaken tengara. Sakathahing prajuritipun Pandhawa sami dandos, bodhol dhateng ing Tegal Kuru. Makaten malih bala Korawa, bidhal dhateng Tegal Kuru. Anunten Pandhawa amasang gelar Garudha-nglayang. Ingkang minangka cucukipun Raden Dananjaya, ingkang minangka sirah Prabu Drupada. Prabu Kresna nunggil sarata kaliyan Raden Dananjaya. Senapati Drusthajumena wonten panjawat tengen. Ingkang kaprenahaken wonten ing panjawat kiwa Raden Wrekodara. Raden Setyaki minangka buntut. Ingkang wonten ing githok para ratu, angubengi rumeksa Prabu Yudhisthira. Korawa sumerep bilih Pandhawa salin gelar Garudha-nglayang, lajeng dipun tiru. Ingkang minangka cucuk ratu Mandaraka. Arya Sengkuni minangka sirah. Senapati Bisma wonten ing panjawat kiwa. Druna angenggeni panjawat tengan. Drusasana minangka buntut. Para ratu kalih para adipati wonten ing githok, arumeksa Prabu Druyudana. Dewabrata angangsegaken bala, lajeng anglepasaken jemparing sumedya angrisak gelaring Pandhawa. Wedaling jemparing ambrubul. Anunten Raden Dananjaya anglepasaken jemparing panulak. Raden Wrekodara sanget nepsunipun. Majeng amandhi gada. Pangamukipun anggegilani. Bala Korawa pinten-pinten ingkang pejah dipun gada, mboten wonten ingkang kuwawi anadhahi. Raden Wrekodara nyelehaken gada nyandhak jemparing anama Bargawastra. Atusan ingkang pejah dening Bargawastra. Raden Setyaki ambiyantoni, bala ing Ngastina kathah ingkang risak. Karna, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja, sami ngungsi dhateng<noinclude>{{rh|96}}</noinclude> gv3cdt70x5smjmo4xm2s0n0sboh5gt0 78342 77714 2026-05-16T09:42:03Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78342 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|gi|anjenenggi}} wau sami kondur dhateng pasanggrahan, apirembagan kaliyan Prabu Kresna, menggah ingkang badhe kakarsakaken dados senapati lintunipun ingkang sampun pejah. Wondening ingkang kapilih dhateng Prabu Kresna: Drusthajumena, punika dadosa lintuning senapati, sarta asalina gelar Garudha nglayang. Para ratu, para adipati sarta para mantri sapangandhap sami angguyubi karsanipun Prabu Kresna. Anunten Raden Drusthajumena dipun puja sarta dipun kutugi. Sasampune ngangkat senapati, mboten antawis dangu byar. Lajeng angungelaken tengara. Sakathahing prajuritipun Pandhawa sami dandos, bodhol dhateng ing Tegal Kuru. Makaten malih bala Korawa, bidhal dhateng Tegal Kuru. Anunten Pandhawa amasang gelar Garudha-nglayang. Ingkang minangka cucukipun Raden Dananjaya, ingkang minangka sirah Prabu Drupada. Prabu Kresna nunggil sarata kaliyan Raden Dananjaya. Senapati Drusthajumena wonten panjawat tengen. Ingkang kaprenahaken wonten ing panjawat kiwa Raden Wrekodara. Raden Setyaki minangka buntut. Ingkang wonten ing githok para ratu, angubengi rumeksa Prabu Yudhisthira. Korawa sumerep bilih Pandhawa salin gelar Garudha-nglayang, lajeng dipun tiru. Ingkang minangka cucuk ratu Mandaraka. Arya Sengkuni minangka sirah. Senapati Bisma wonten ing panjawat kiwa. Druna angenggeni panjawat tengan. Drusasana minangka buntut. Para ratu kalih para adipati wonten ing githok, arumeksa Prabu Druyudana. Dewabrata angangsegaken bala, lajeng anglepasaken jemparing sumedya angrisak gelaring Pandhawa. Wedaling jemparing ambrubul. Anunten Raden Dananjaya anglepasaken jemparing panulak. Raden Wrekodara sanget nepsunipun. Majeng amandhi gada. Pangamukipun anggegilani. Bala Korawa pinten-pinten ingkang pejah dipun gada, mboten wonten ingkang kuwawi anadhahi. Raden Wrekodara nyelehaken gada nyandhak jemparing anama Bargawastra. Atusan ingkang pejah dening Bargawastra. Raden Setyaki ambiyantoni, bala ing Ngastina kathah ingkang risak. Karna, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja, sami ngungsi dhateng<noinclude>{{rh|96}}</noinclude> c3uwf1w3cvydc15hzxlaxcii6au0suv Kaca:Bratayuda.pdf/94 250 24793 77719 2026-05-15T19:16:39Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "dhi. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha. Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pas... 77719 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>dhi. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha. Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah. Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta para adipati kathah ingkang pejah. Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis, nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ing- kang anyidrani. Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyu- dana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wonde- ning ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Ra- den Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Ja- naka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka 98<noinclude></noinclude> auclxqlcd5pl2m8ym28b6mvkwjmdzo7 77721 77719 2026-05-15T19:17:15Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77721 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>dhi. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha. Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah. Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta para adipati kathah ingkang pejah. Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis, nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ingkang anyidrani. Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyudana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wondening ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Raden Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Janaka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka<noinclude>{{rh|98}}</noinclude> 9vzegldo36prymhccpqil9ud2aw0fni 77726 77721 2026-05-15T19:19:18Z Khusna Safira 1759 77726 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|dhi|Srikandi}}. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha. Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah. Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta para adipati kathah ingkang pejah. Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis, nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ingkang anyidrani. Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyudana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wondening ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Raden Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Janaka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka<noinclude>{{rh|98}}</noinclude> rkleoweeqtqgjuehvmovvxy4chvnolu 78343 77726 2026-05-16T09:42:19Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78343 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|dhi|Srikandi}}. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha. Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah. Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta para adipati kathah ingkang pejah. Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis, nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ingkang anyidrani. Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyudana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wondening ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Raden Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Janaka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka<noinclude>{{rh|98}}</noinclude> hknpgh12wkf6kxx4kb9xf23bhfwnnfy Kaca:Bratayuda.pdf/96 250 24794 77734 2026-05-15T19:22:45Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77734 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>kathah bupati ingkang pejah kagada. Gelar Gajahmeta risak, gadhinging gelar gusis, ingkang wonten ing sirah busekan. Prabu Bagadenta ingkang minangka talalening gelar anilar senapati, majeng amandhi gada. Karna akaliyan Jayadrata kantun. Prabu Bagadenta wau anglangkungi sektinipun, gajahipun katujahaken kapaling ratanipun Raden Janaka, lajeng anyawataken gada, Raden Janaka ingkang dipun angkah, kenging jajanipun, dhawah kalemper gumuling wonten ing rata. Prabu Kresna enggal anulungi, Raden Janaka dipun usap ing sekar Wijayakusuma, lajeng enget anyandhak langkap, anglepasaken jemparing, kenging Prabu Bagadenta sasrati gajahipun, sareng pejah tiga pisan. Anunten Pandhawa sapunggawa satriyanipun sami ngebyuki, Wrekodara ngamuk kaliyan gadanipun. Barising Korawa bibar sadaya. Sareng dalu ingkang perang sami mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Korawa sadalu sami sedhih. Enjing tengara mungel, amor kaliyan ungeling tetabuhan sanesipun. Prabu Suyudana abusana, ngagem makutha murub dening sesotya. Wedalipun saking kitha kadherekaken ing para adipati. Swaraning bala kados redi jugrug, sadaya sampun sami rumantos, angajeng-ajeng dhatenging mengsah. Druna matur dhateng Prabu Suyudana, "Bilii anak prabu karsa ngenggalaken tumpesipun Pandhawa, pun Janaka kapurih sageda pisah kaliyan pun Wrekodara, lamine sadinten kemawon. Manawi sadherek kekalih punika mboten kapisahaken, Pandhawa mboten saged risak tuwin mboten saged pejah." Prabu Gardapati sumambung, "Bilih mekaten kula ingkang badhe nyumbari pun Janaka, supados sampun saged nunggil kaliyan baris ageng." Pinanggihing rembag, Sangkuni kaliyan Wresaya ingkang badhe nyumbari Raden Wrekodara. Anunten baris bodhol, andaledeg lampahipun, Gelaripun mboten ewah kados wingi, taksih Garudha-anglayang. Pangangsegipun barising Pandhawa kaliyan barising Korawa kados saganten kekalih apethukan. Prabu Gardapati nitih gajah<noinclude>{{rh|100}}</noinclude> n3h886q678okxvc8dpiv5op21yttucx 78346 77734 2026-05-16T09:43:02Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78346 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>kathah bupati ingkang pejah kagada. Gelar Gajahmeta risak, gadhinging gelar gusis, ingkang wonten ing sirah busekan. Prabu Bagadenta ingkang minangka talalening gelar anilar senapati, majeng amandhi gada. Karna akaliyan Jayadrata kantun. Prabu Bagadenta wau anglangkungi sektinipun, gajahipun katujahaken kapaling ratanipun Raden Janaka, lajeng anyawataken gada, Raden Janaka ingkang dipun angkah, kenging jajanipun, dhawah kalemper gumuling wonten ing rata. Prabu Kresna enggal anulungi, Raden Janaka dipun usap ing sekar Wijayakusuma, lajeng enget anyandhak langkap, anglepasaken jemparing, kenging Prabu Bagadenta sasrati gajahipun, sareng pejah tiga pisan. Anunten Pandhawa sapunggawa satriyanipun sami ngebyuki, Wrekodara ngamuk kaliyan gadanipun. Barising Korawa bibar sadaya. Sareng dalu ingkang perang sami mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Korawa sadalu sami sedhih. Enjing tengara mungel, amor kaliyan ungeling tetabuhan sanesipun. Prabu Suyudana abusana, ngagem makutha murub dening sesotya. Wedalipun saking kitha kadherekaken ing para adipati. Swaraning bala kados redi jugrug, sadaya sampun sami rumantos, angajeng-ajeng dhatenging mengsah. Druna matur dhateng Prabu Suyudana, "Bilii anak prabu karsa ngenggalaken tumpesipun Pandhawa, pun Janaka kapurih sageda pisah kaliyan pun Wrekodara, lamine sadinten kemawon. Manawi sadherek kekalih punika mboten kapisahaken, Pandhawa mboten saged risak tuwin mboten saged pejah." Prabu Gardapati sumambung, "Bilih mekaten kula ingkang badhe nyumbari pun Janaka, supados sampun saged nunggil kaliyan baris ageng." Pinanggihing rembag, Sangkuni kaliyan Wresaya ingkang badhe nyumbari Raden Wrekodara. Anunten baris bodhol, andaledeg lampahipun, Gelaripun mboten ewah kados wingi, taksih Garudha-anglayang. Pangangsegipun barising Pandhawa kaliyan barising Korawa kados saganten kekalih apethukan. Prabu Gardapati nitih gajah<noinclude>{{rh|100}}</noinclude> nn4kw3apa3qfp2y1vnujlobtv7eaj89 Kaca:Bratayuda.pdf/98 250 24795 77735 2026-05-15T19:23:08Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "pun kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sam- pun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih, nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang. Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken ingkang raka pamita dhumateng garwani... 77735 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>pun kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sam- pun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih, nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang. Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken ingkang raka pamita dhumateng garwanipun Prabu Kresna. Abima- nyu miturut. Pamit dhateng garwanipun Prabu Kresna sarta dha- teng ingkang ibu piyambak. Sareng sampun lajeng mangkat badhe amedali perang. Sadhatenge ngarsanipun ingkang uwa Prabu Yu- dhisthira, anyungkemi sampeyanipun. Dhawahipun sang nata, "Kulup, Korawa ing saiki salin gelar Cakrabyuha, iku rusaken." Abimanyu matur sandika lajeng mangkat. Anunten masang gelar Supiturang. Drusthajumena minangka pucuking supit tengan, Gathutkaca kiwanipun, Setyaki minangka cangkem Prabu Darma- putra minangka sirah, para ratu sami wonten ing wingking, Abi- manyu panggenanipun wonten ing sesungut. Sareng sampun dados gelaripun, tuwin Korawa sampun rakit sadaya, sanalika peteng ndhedhet. Pandhawa lajeng ngangseg. Pa- ngiridipun Raden Abimanyu. Gumerah suwaranipun ing kendhang, gong, beri tuwin suraking bala, kados ambelahna langit. Pandhawa kaliyan Korawa sarengan sami angerapaken kapal, swaranipun punggawa ingkang numpak gajah utawi rata, amor kaliyan surak- ing bala, kados gelap. Raden Abimanyu menthang langkap, anglepasaken cakra, an- dhawahi Korawa. Risak gelaripun Cakrabyuha, kathah ingkang pejah. Sakantunipun sami ngungsi dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, ajrih ing pamukipun Abimanyu ingkang minangka sesungut, angirid bala Pandhawa ambek purun sarta sekti. Raden Arya Jayadrata enggal anangkebi. Barising Pandhawa tugel. Abimanyu katangkeban, lajeng dipun karoyok ing Korawa kathah, anama Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikatha, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradar- 102<noinclude></noinclude> sy9iq3j2fxmv872ettqzyzmzuq4wfim 77763 77735 2026-05-15T19:35:49Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 77763 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>pun kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sampun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih, nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang. Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken ingkang raka pamita dhumateng garwanipun Prabu Kresna. Abimanyu miturut. Pamit dhateng garwanipun Prabu Kresna sarta dhateng ingkang ibu piyambak. Sareng sampun lajeng mangkat badhe amedali perang. Sadhatenge ngarsanipun ingkang uwa Prabu Yudhisthira, anyungkemi sampeyanipun. Dhawahipun sang nata, "Kulup, Korawa ing saiki salin gelar Cakrabyuha, iku rusaken." Abimanyu matur sandika lajeng mangkat. Anunten masang gelar Supiturang. Drusthajumena minangka pucuking supit tengan, Gathutkaca kiwanipun, Setyaki minangka cangkem Prabu Darmaputra minangka sirah, para ratu sami wonten ing wingking, Abimanyu panggenanipun wonten ing sesungut. Sareng sampun dados gelaripun, tuwin Korawa sampun rakit sadaya, sanalika peteng ndhedhet. Pandhawa lajeng ngangseg. Pangiridipun Raden Abimanyu. Gumerah suwaranipun ing kendhang, gong, beri tuwin suraking bala, kados ambelahna langit. Pandhawa kaliyan Korawa sarengan sami angerapaken kapal, swaranipun punggawa ingkang numpak gajah utawi rata, amor kaliyan suraking bala, kados gelap. Raden Abimanyu menthang langkap, anglepasaken cakra, andhawahi Korawa. Risak gelaripun Cakrabyuha, kathah ingkang pejah. Sakantunipun sami ngungsi dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, ajrih ing pamukipun Abimanyu ingkang minangka sesungut, angirid bala Pandhawa ambek purun sarta sekti. Raden Arya Jayadrata enggal anangkebi. Barising Pandhawa tugel. Abimanyu katangkeban, lajeng dipun karoyok ing Korawa kathah, anama Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikatha, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, {{hws|Citradar|Citradarma}}<noinclude>{{rh|102}}</noinclude> 58emt31p55g0jg9d4iccdwx6fb1fbk1 78349 77763 2026-05-16T09:43:47Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78349 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|pun|sampun}} kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sampun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih, nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang. Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken ingkang raka pamita dhumateng garwanipun Prabu Kresna. Abimanyu miturut. Pamit dhateng garwanipun Prabu Kresna sarta dhateng ingkang ibu piyambak. Sareng sampun lajeng mangkat badhe amedali perang. Sadhatenge ngarsanipun ingkang uwa Prabu Yudhisthira, anyungkemi sampeyanipun. Dhawahipun sang nata, "Kulup, Korawa ing saiki salin gelar Cakrabyuha, iku rusaken." Abimanyu matur sandika lajeng mangkat. Anunten masang gelar Supiturang. Drusthajumena minangka pucuking supit tengan, Gathutkaca kiwanipun, Setyaki minangka cangkem Prabu Darmaputra minangka sirah, para ratu sami wonten ing wingking, Abimanyu panggenanipun wonten ing sesungut. Sareng sampun dados gelaripun, tuwin Korawa sampun rakit sadaya, sanalika peteng ndhedhet. Pandhawa lajeng ngangseg. Pangiridipun Raden Abimanyu. Gumerah suwaranipun ing kendhang, gong, beri tuwin suraking bala, kados ambelahna langit. Pandhawa kaliyan Korawa sarengan sami angerapaken kapal, swaranipun punggawa ingkang numpak gajah utawi rata, amor kaliyan suraking bala, kados gelap. Raden Abimanyu menthang langkap, anglepasaken cakra, andhawahi Korawa. Risak gelaripun Cakrabyuha, kathah ingkang pejah. Sakantunipun sami ngungsi dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, ajrih ing pamukipun Abimanyu ingkang minangka sesungut, angirid bala Pandhawa ambek purun sarta sekti. Raden Arya Jayadrata enggal anangkebi. Barising Pandhawa tugel. Abimanyu katangkeban, lajeng dipun karoyok ing Korawa kathah, anama Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikatha, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, {{hws|Citradar|Citradarma}}<noinclude>{{rh|102}}</noinclude> 0ypacdldz44xhn7vlttqog1p7xvc794 Kaca:Bratayuda.pdf/99 250 24796 77765 2026-05-15T19:37:25Z Khusna Safira 1759 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les- manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa- king s... 77765 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les- manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa- king sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos a- jrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Les- manakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamuki- pun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah. Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah de- ning pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Pra- bu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingi- pun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing. Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upa- minipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jempa- ring kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abima- nyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados ape- panggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun. Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu a- mrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, di- 103.<noinclude></noinclude> 50gxbbuwbthumqxagbjnjeijn4j8bid 77790 77765 2026-05-15T19:47:28Z Khusna Safira 1759 77790 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>ma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaa- mong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les- manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa- king sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos a- jrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Les- manakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamuki- pun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah. Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah de- ning pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Pra- bu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingi- pun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing. Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upa- minipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jempa- ring kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abima- nyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados ape- panggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun. Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu a- mrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, di- 103.<noinclude></noinclude> p8sfm0t4tvtpz8uvewxkkm7prm464uk 77791 77790 2026-05-15T19:47:28Z Khusna Safira 1759 77791 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les- manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa- king sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos a- jrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Les- manakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamuki- pun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah. Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah de- ning pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Pra- bu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingi- pun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing. Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upa- minipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jempa- ring kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abima- nyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados ape- panggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun. Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu a- mrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, di- 103.<noinclude></noinclude> 50gxbbuwbthumqxagbjnjeijn4j8bid 78082 77791 2026-05-16T03:24:53Z Khusna Safira 1759 78082 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Lesmanakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Saking sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos ajrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Lesmanakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamukipun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah. Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah dening pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Prabu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingipun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing. Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upaminipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jemparing kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abimanyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados apepanggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun. Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu amrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, {{hws|di|<noinclude>{{rh|||103}}</noinclude> l6u3hf38v6gtbl2yh0z6f3vm6eu2jee 78083 78082 2026-05-16T03:25:15Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 78083 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Lesmanakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Saking sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos ajrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Lesmanakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamukipun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah. Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah dening pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Prabu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingipun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing. Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upaminipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jemparing kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abimanyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados apepanggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun. Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu amrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, {{hws|di|dikehana}}<noinclude>{{rh|||103}}</noinclude> rnq0lsce86bes7e7smwzziut5cgxl83 78350 78083 2026-05-16T09:43:59Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78350 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Lesmanakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Saking sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos ajrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Lesmanakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamukipun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah. Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah dening pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Prabu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingipun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing. Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upaminipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jemparing kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abimanyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados apepanggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun. Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu amrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, {{hws|di|dikehana}}<noinclude>{{rh|||103}}</noinclude> ipd5gtp67q96zy6ocx4q2xlh3bsthf3 Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/6 250 24797 77940 2026-05-15T23:14:03Z Kriita 885 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}} {{jawa| }}" 77940 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Kriita" /></noinclude>{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}} {{jawa| }}<noinclude></noinclude> m7q25fpt8ekomrehgocdj0m6ch3ip18 77945 77940 2026-05-15T23:25:46Z Kriita 885 /* Proofread */ 77945 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}} {{jawa|꧋ꦲꦭꦸꦂꦫꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦛꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦦꦱꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ ꦠꦼꦊꦁꦔꦶꦁꦏꦶꦛ꧈ ꦲꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦝꦸꦱꦸꦤ꧀ꦏꦼꦩꦶꦫꦶ꧈ ꦱꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦱꦥꦸꦤꦶꦏ꧈ ꦕꦏꦼꦠ꧀꧈ ꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦠꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦏꦶꦛꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦥꦗꦁ꧈ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏ꧀ꦲꦶꦦꦚ꧀ꦗꦮꦶ꧈ ꦱꦱꦉꦁꦔꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦩꦤ꧀ꦠꦫꦩ꧀ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦾꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦦꦩꦤꦃꦲꦤ꧀ ꦤꦭꦶꦏꦱꦒꦼꦢ꧀ꦔꦼꦤ꧀ꦠꦱ꧀ꦱꦶꦪꦸꦢꦥꦿꦁꦩꦼꦗꦃꦲꦶꦲꦂꦗꦶꦔꦁ꧈ (ꦏꦮꦿꦠ꧀ꦧꦧꦢ꧀)꧈ }} {{jawa|꧋ꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦱꦩꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦏꦸꦢꦸꦱ꧀ ꦲꦱꦿꦶꦁꦏꦱꦼꦧꦠ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦢꦸꦱ꧀ꦱꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦮꦶꦥꦱꦶꦫꦩ꧀ꦩꦤ꧀꧈}} {{jawa|꧋ꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦺꦴꦁꦏꦥꦸꦂꦮꦏꦤꦶꦁꦕꦫꦪꦺꦴꦱ꧀ ꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦩꦶꦪꦤ꧈ ꦏꦥꦽꦤꦃꦱꦭꦺꦂꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶ꧈ ꦱꦩꦁꦏꦺꦏꦊꦧꦼꦠ꧀ꦮꦮꦼꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦶꦏ꧀ ꦠꦣꦸ꧉ ꧒꧈ ꦲꦶꦁꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃ꧈ ꦥꦽꦤꦃꦱꦏꦶꦢꦸꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦤ꧀ꦤꦶꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦗꦗꦃꦲꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦿꦶꦏ꧀ ꦏꦪꦼꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦩꦕꦏꦭ꧀ꦱꦺꦮꦸ꧈ (ꦲꦔꦺꦔꦼꦠ꧀ꦠꦤꦱꦫꦠ꧀ꦕꦼꦩ꧀ꦥꦺꦴꦫꦺꦠ꧀)꧈ }}<noinclude></noinclude> 4i2h8ulqcbquw3btcad4a9d2vrydjht 78388 77945 2026-05-16T10:11:52Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78388 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}} {{jawa|꧋ꦲꦭꦸꦂꦫꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦛꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦦꦱꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ ꦠꦼꦊꦁꦔꦶꦁꦏꦶꦛ꧈ ꦲꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦝꦸꦱꦸꦤ꧀ꦏꦼꦩꦶꦫꦶ꧈ ꦱꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦱꦥꦸꦤꦶꦏ꧈ ꦕꦏꦼꦠ꧀꧈ ꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦠꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦏꦶꦛꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦥꦗꦁ꧈ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏ꧀ꦲꦶꦦꦚ꧀ꦗꦮꦶ꧈ ꦱꦱꦉꦁꦔꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦩꦤ꧀ꦠꦫꦩ꧀ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦾꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦦꦩꦤꦃꦲꦤ꧀ ꦤꦭꦶꦏꦱꦒꦼꦢ꧀ꦔꦼꦤ꧀ꦠꦱ꧀ꦱꦶꦪꦸꦢꦥꦿꦁꦩꦼꦗꦃꦲꦶꦲꦂꦗꦶꦔꦁ꧈ (ꦏꦮꦿꦠ꧀ꦧꦧꦢ꧀)꧈ }} {{jawa|꧋ꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦱꦩꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦏꦸꦢꦸꦱ꧀ ꦲꦱꦿꦶꦁꦏꦱꦼꦧꦠ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦢꦸꦱ꧀ꦱꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦮꦶꦥꦱꦶꦫꦩ꧀ꦩꦤ꧀꧈}} {{jawa|꧋ꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦺꦴꦁꦏꦥꦸꦂꦮꦏꦤꦶꦁꦕꦫꦪꦺꦴꦱ꧀ ꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦩꦶꦪꦤ꧈ ꦏꦥꦽꦤꦃꦱꦭꦺꦂꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶ꧈ ꦱꦩꦁꦏꦺꦏꦊꦧꦼꦠ꧀ꦮꦮꦼꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦶꦏ꧀ ꦠꦣꦸ꧉ ꧒꧈ ꦲꦶꦁꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃ꧈ ꦥꦽꦤꦃꦱꦏꦶꦢꦸꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦤ꧀ꦤꦶꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦗꦗꦃꦲꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦿꦶꦏ꧀ ꦏꦪꦼꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦩꦕꦏꦭ꧀ꦱꦺꦮꦸ꧈ (ꦲꦔꦺꦔꦼꦠ꧀ꦠꦤꦱꦫꦠ꧀ꦕꦼꦩ꧀ꦥꦺꦴꦫꦺꦠ꧀)꧈ }}<noinclude></noinclude> hro49x07h22ylojvmfr2x9iw5ruf1v7 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/19 250 24798 77942 2026-05-15T23:18:40Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77942 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77943 77942 2026-05-15T23:24:06Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77943 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 20 ―}}</noinclude>{{C|{{L|'''''Panataning ringgit wonten nglebet kotak.'''''}}}} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 19 crop).jpg|400px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> 3pw88qh3xoc1agu6i5zpx1t1tdprzut Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/22 250 24799 77944 2026-05-15T23:24:27Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77944 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 77946 77944 2026-05-15T23:26:24Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 77946 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 23 —}}</noinclude> [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 22 crop) werkudara.jpg|500px|nirbing|pus]] {{C|'''''WERKUDARA'''''}}<noinclude></noinclude> jft13sham65sc96r638lshtfpd3x8ja Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/27 250 24800 77947 2026-05-15T23:28:11Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 77947 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 78097 77947 2026-05-16T04:00:28Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78097 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||– 28 –}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 27 crop)2.jpg|600px|nirbing]] {| |{{gap}}{{gap}}{{C|''PRAGOTA''<br>Wanda POTJOL Tjawetan}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{gap}}{{gap}}{{C|''PRABAWA''<br> Wanda POTJOL Tjawetan}} |}<noinclude></noinclude> 1zuxgsxpc0leudymqwehza1tlbvl2bm Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/2 250 24801 77948 2026-05-15T23:28:59Z Kriita 885 /* Without text */ 77948 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Kriita" /></noinclude><noinclude></noinclude> dtocwxq6optqnbln8wkjwihfefkbs7n Kaca:Bratayuda.pdf/120 250 24802 77950 2026-05-16T00:22:56Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77950 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>beksa samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang. 8. KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi manengah. Prabu Kresna enggal angatag A:rjuna, dipun ken nitih rata, amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata, ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami anyuraki saking katebihan kemawon. Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon, sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: Derang Kama tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene wamanipun kernbar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang sanes, Prabu Kama semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Kama jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados. Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng: Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun sa124<noinclude></noinclude> i1ebdbg8z307jv8elhn1jb5565jw7wm 77951 77950 2026-05-16T00:32:18Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77951 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>beksa samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang. <ol type="1", start="8"> <li>'''KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA'''</li> </ol> Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi manengah. Prabu Kresna enggal angatag Arjuna, dipun ken nitih rata, amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata, ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami anyuraki saking katebihan kemawon. Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon, sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: perang Kama tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene warnanipun kembar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang sanes, Prabu Karna semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Karna jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados. Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng: Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun sa-<noinclude>{{rh|124}}</noinclude> 771p6lhdyyl2rqnttqy46gpqodo76hm 78166 77951 2026-05-16T08:44:46Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78166 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|beksa|ambeksa}} samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang. <ol type="1", start="8"> <li>'''KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA'''</li> </ol> Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi manengah. Prabu Kresna enggal angatag Arjuna, dipun ken nitih rata, amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata, ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami anyuraki saking katebihan kemawon. Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon, sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: perang Kama tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene warnanipun kembar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang sanes, Prabu Karna semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Karna jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados. Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng: Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun sa-<noinclude>{{rh|124}}</noinclude> 6p685nh6eyuo7df99k1zzi2k1m10jcs 78170 78166 2026-05-16T08:48:36Z Elcamatcha 1466 78170 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|beksa|ambeksa}} samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang. <ol type="1", start="8"> <li>'''KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA'''</li> </ol> Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi manengah. Prabu Kresna enggal angatag Arjuna, dipun ken nitih rata, amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata, ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami anyuraki saking katebihan kemawon. Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon, sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: perang Kama tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene warnanipun kembar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang sanes, Prabu Karna semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Karna jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados. Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng: Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun {{hws|sa|satriya}}<noinclude>{{rh|124}}</noinclude> 57jahucji3wag642wp6j3qgthjrmd3h Kaca:Bratayuda.pdf/8 250 24803 77952 2026-05-16T00:32:55Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77952 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kakanda Prabu menolak suguhan saya." "Soal hidangan gampang, Adinda Prabu. Nanti saja," jawab Sri Kresna. Hati Sri Kresna merasa gembira melihat para raja yang berkumpul di istana, demikian pula tokoh-tokoh tua yang telah menghadap. Kemudian Sri Kresna mohon diri kepada Raja Suyudana, katanya hendak beristirahat dulu, dan Raja Suyudana menjawab, "Terserah pada kehendak Kakanda Prabu, raja bijaksana di seluruh dunia." Sri Kresna menanggapinya dengan kata-kata, "Semoga Adinda Prabu memperoleh kebahagiaan, berhasillah tugas kewajiban yang saya lakukan, dan semoga selamatlah akhir kesudahannya." Setelah berada di luar istana, Sri Kresna berkata kepada keempat dewata, demikian, "Saya hendak beristirahat dahulu. Besok pagi saja saya akan mengutarakan maksud kedatangan saya ke marl." *** Sri Kresna pergi ke tempat tinggal bibinya, Dewi Kunti, lalu menyembah kakinya. Dewi Kunti menangis, perasaannya seolah-olah seperti bertemu dengan para Pandawa. Kemudian mengutarakan kekesalan hatinya tentang hal-hal yang mungkin akan tetjadi. Banyak pula nasehatnya yang mengarah pada keselamatan atau keberhasilan laku. Demikian besarnya keprihatinan Dewi Kunti, sehingga ucapan-ucapan patah-patah tercampur tangis. Setelah nasehat Dewi Kunti habis, Sri Kresna lalu minta diri hendak ke pesanggrahan, yaitu di rumah Arya Widura. Setibanya di situ, lalu banyak persembahan berupa suguhan yang datang. *** Dalam pada itu sepeninggal Sri Kresna, Suyudana berunding dengan adik-adiknya, serta dengan Adipati Awangga, yang merupakan pemuka dalam tugas kewajiban. Raja Suyudana merasa cemas karena hidangannya ditolak oleh Sri Kresna, lalu ujarnya, 11 f I<noinclude></noinclude> hnwymehezoo0o5dzid1o1rlhebdf992 77953 77952 2026-05-16T00:41:41Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77953 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kakanda Prabu menolak suguhan saya.” "Soal hidangan gampang, Adinda Prabu. Nanti saja," jawab Sri Kresna. Hati Sri Kresna merasa gembira melihat para raja yang berkumpul di istana, demikian pula tokoh-tokoh tua yang telah menghadap. Kemudian Sri Kresna mohon diri kepada Raja Suyudana, katanya hendak beristirahat dulu, dan Raja Suyudana menjawab, "Terserah pada kehendak Kakanda Prabu, raja bijaksana diseluruh dunia." Sri Kresna menanggapinya dengan kata-kata, "Semoga Adinda Prabu memperoleh kebahagiaan, berhasillah tugas kewajiban yang saya lakukan, dan semoga selamatlah akhir kesudahannya." Setelah berada di luar istana, Sri Kresna berkata kepada keempat dewata, demikian, "Saya hendak beristirahat dahulu. Besok pagi saja saya akan mengutarakan maksud kedatangan saya ke mari. {{C|* * *}} Sri Kresna pergi ke tempat tinggal bibinya, Dewi Kunti, lalu menyembah kakinya. Dewi Kunti menangis, perasaannya seolah-olah seperti bertemu dengan para Pandawa. Kemudian mengutarakan Kekesalan hatinya tentang hal-hal yang mungkin akan terjadi. Banyak pula nasehatnya yang mengarah pada keselamatan atau keberhasilan laku. Demikian besarnya keprihatinan Dewi Kunti, sehingga ucapan-ucapan patah-patah tercampur tangis. Setelah nasehat Dewi Kunti habis, Sri Kresna lalu minta diri hendak ke pesanggrahan, yaitu di rumah Arya Widura. Setibanya di situ, lalu banyak persembahan berupa suguhan yang datang. {{C|* * *}} Dalam pada itu sepeninggal Sri Kresna, Suyudana berunding dengan adik-adiknya, serta dengan Adipati Awangga, yang merupakan pemuka dalam tugas kewajiban. Raja Suyudana merasa cemas karena hidangannya ditolak oleh Sri Kresna, lalu ujarnya,<noinclude>{{rh|||11}}</noinclude> 7qh2fv87otsx2z15h1denqjjzij81m9 78265 77953 2026-05-16T09:19:53Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78265 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kakanda Prabu menolak suguhan saya.” "Soal hidangan gampang, Adinda Prabu. Nanti saja," jawab Sri Kresna. Hati Sri Kresna merasa gembira melihat para raja yang berkumpul di istana, demikian pula tokoh-tokoh tua yang telah menghadap. Kemudian Sri Kresna mohon diri kepada Raja Suyudana, katanya hendak beristirahat dulu, dan Raja Suyudana menjawab, "Terserah pada kehendak Kakanda Prabu, raja bijaksana diseluruh dunia." Sri Kresna menanggapinya dengan kata-kata, "Semoga Adinda Prabu memperoleh kebahagiaan, berhasillah tugas kewajiban yang saya lakukan, dan semoga selamatlah akhir kesudahannya." Setelah berada di luar istana, Sri Kresna berkata kepada keempat dewata, demikian, "Saya hendak beristirahat dahulu. Besok pagi saja saya akan mengutarakan maksud kedatangan saya ke mari. {{C|* * *}} Sri Kresna pergi ke tempat tinggal bibinya, Dewi Kunti, lalu menyembah kakinya. Dewi Kunti menangis, perasaannya seolah-olah seperti bertemu dengan para Pandawa. Kemudian mengutarakan Kekesalan hatinya tentang hal-hal yang mungkin akan terjadi. Banyak pula nasehatnya yang mengarah pada keselamatan atau keberhasilan laku. Demikian besarnya keprihatinan Dewi Kunti, sehingga ucapan-ucapan patah-patah tercampur tangis. Setelah nasehat Dewi Kunti habis, Sri Kresna lalu minta diri hendak ke pesanggrahan, yaitu di rumah Arya Widura. Setibanya di situ, lalu banyak persembahan berupa suguhan yang datang. {{C|* * *}} Dalam pada itu sepeninggal Sri Kresna, Suyudana berunding dengan adik-adiknya, serta dengan Adipati Awangga, yang merupakan pemuka dalam tugas kewajiban. Raja Suyudana merasa cemas karena hidangannya ditolak oleh Sri Kresna, lalu ujarnya,<noinclude>{{rh|||11}}</noinclude> 16k7vywppm1rgrn9vms68wjfw7jdiux Kaca:Bratayuda.pdf/9 250 24804 77954 2026-05-16T00:42:04Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77954 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>"Raja Dwarawati itu pasti menyimpan rahasia, sebab temyata tidak berkenan menyantap suguhanku. Hai, Drusasana, jangan sampai engkau kehilangan kewaspadaan terhadap Raja Dwarawati itu, dan berhati-hatilah. Beritahukanlah kepada semua saudara-saudaramu, besok pagi kalian menyusun barisan rahasia. Tak usah dipikirkan terlalu lama, tumpaslah segera orang Dwarawati, karena ia sebenamya perujudan Pandawa, jadi pasti bermaksud jahat, tak urungjadi musuh, berpura-pura saja bersikap manis!" Selesai bersidang seluruh Korawa pulang. Para raja tamu dan para pinisepuh pulang ke pesanggrahan mereka masing-masing. Raja Suyudana pulang ke dalam istana, menuju ke tempat permaisuri, Dewi Banowati. Dewi Banowati menyongsong, lalu tangannya dibimbing, diajak masuk ke ruangan, duduk bersama. Para abdi perempuan menghadap. *** Ratna Banowati itu lirikan matanya sangat tajam, pandangan matanya manis, perawakannya selaras, banyak geraknya, akan tetapi menjadi semakin pantas, dan tiada yang tercela. Menjerit maupun bertingkah pun semakin menawan hati, bersikap bengis, cemberut maupun melerokkan matanya, tampak semakin manis. Meskipun tidak mengenakan perhiasan, atau berpakaian sekenanya, atau berkalung kutang pun, tetap pantas. Semua gerak-geraknya serba pantas. Tanpa harum-haruman maupun tanpa bunga, tetap saja keharumannya memenuhi Istana Astina. Kala itu matahari sudah hampir terbenam, be:tjalan perlahanlahan, seolah-olah belum puas memandang perhiasan Istana Astina. Seolah-olah matahari itu menoleh, tertawan hatinya melihat Ratna Banowati, dan para wanita dalam istana. Ketika matahari terpaksa tenggelam juga, tampak seperti orang yang kecewa, karena kaum wanita tidak ada yang menyusul. Ramai suara burung yang sedang mencari tempat .untuk tidur, takut kalau-kalau kedahuluan munculnya sang ratu malam. Setelah matahari terbenam, ia digantikan oleh tampilnya bulan, bintang-gemintang bagaikan disebar di angkasa. Cahayanya 12<noinclude></noinclude> 2ea9f9gp8733n743857xp24p20g6w57 77955 77954 2026-05-16T00:46:47Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77955 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>"Raja Dwarawati itu pasti menyimpan rahasia, sebab temyata tidak berkenan menyantap suguhanku. Hai, Drusasana, jangan sampai engkau kehilangan kewaspadaan terhadap Raja Dwarawati itu, dan berhati-hatilah. Beritahukanlah kepada semua saudara-saudaramu, besok pagi kalian menyusun barisan rahasia. Tak usah dipikirkan terlalu lama, tumpaslah segera orang Dwarawati, karena ia sebenamya perujudan Pandawa, jadi pasti bermaksud jahat, tak urung jadi musuh, berpura-pura saja bersikap manis!" Selesai bersidang seluruh Korawa pulang. Para raja tamu dan para pinisepuh pulang ke pesanggrahan mereka masing-masing. Raja Suyudana pulang ke dalam istana, menuju ke tempat permaisuri, Dewi Banowati. Dewi Banowati menyongsong, lalu tangannya dibimbing, diajak masuk ke ruangan, duduk bersama. Para abdi perempuan menghadap. {{C|* * *}} Ratna Banowati itu lirikan matanya sangat tajam, pandangan matanya manis, perawakannya selaras, banyak geraknya, akan tetapi menjadi semakin pantas, dan tiada yang tercela. Menjerit maupun bertingkah pun semakin menawan hati, bersikap bengis, cemberut maupun melerokkan matanya, tampak semakin manis. Meskipun tidak mengenakan perhiasan, atau berpakaian sekenanya, atau berkalung kutang pun, tetap pantas. Semua gerak-geraknya serba pantas. Tanpa harum-haruman maupun tanpa bunga, tetap saja keharumannya memenuhi Istana Astina. Kala itu matahari sudah hampir terbenam, berjalan perlahan-lahan, seolah-olah belum puas memandang perhiasan Istana Astina. Seolah-olah matahari itu menoleh, tertawan hatinya melihat Ratna Banowati, dan para wanita dalam istana. Ketika matahari terpaksa tenggelam juga, tampak seperti orang yang kecewa, karena kaum wanita tidak ada yang menyusul. Ramai suara burung yang sedang mencari tempat untuk tidur, takut kalau-kalau kedahuluan munculnya sang ratu malam. Setelah matahari terbenam, ia digantikan oleh tampilnya bulan, bintang-gemintang bagaikan disebar di angkasa. Cahayanya<noinclude>{{rh|12}}</noinclude> kdtubyl70v36480vur7eofp2si7eh4w 78266 77955 2026-05-16T09:20:10Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78266 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>"Raja Dwarawati itu pasti menyimpan rahasia, sebab temyata tidak berkenan menyantap suguhanku. Hai, Drusasana, jangan sampai engkau kehilangan kewaspadaan terhadap Raja Dwarawati itu, dan berhati-hatilah. Beritahukanlah kepada semua saudara-saudaramu, besok pagi kalian menyusun barisan rahasia. Tak usah dipikirkan terlalu lama, tumpaslah segera orang Dwarawati, karena ia sebenamya perujudan Pandawa, jadi pasti bermaksud jahat, tak urung jadi musuh, berpura-pura saja bersikap manis!" Selesai bersidang seluruh Korawa pulang. Para raja tamu dan para pinisepuh pulang ke pesanggrahan mereka masing-masing. Raja Suyudana pulang ke dalam istana, menuju ke tempat permaisuri, Dewi Banowati. Dewi Banowati menyongsong, lalu tangannya dibimbing, diajak masuk ke ruangan, duduk bersama. Para abdi perempuan menghadap. {{C|* * *}} Ratna Banowati itu lirikan matanya sangat tajam, pandangan matanya manis, perawakannya selaras, banyak geraknya, akan tetapi menjadi semakin pantas, dan tiada yang tercela. Menjerit maupun bertingkah pun semakin menawan hati, bersikap bengis, cemberut maupun melerokkan matanya, tampak semakin manis. Meskipun tidak mengenakan perhiasan, atau berpakaian sekenanya, atau berkalung kutang pun, tetap pantas. Semua gerak-geraknya serba pantas. Tanpa harum-haruman maupun tanpa bunga, tetap saja keharumannya memenuhi Istana Astina. Kala itu matahari sudah hampir terbenam, berjalan perlahan-lahan, seolah-olah belum puas memandang perhiasan Istana Astina. Seolah-olah matahari itu menoleh, tertawan hatinya melihat Ratna Banowati, dan para wanita dalam istana. Ketika matahari terpaksa tenggelam juga, tampak seperti orang yang kecewa, karena kaum wanita tidak ada yang menyusul. Ramai suara burung yang sedang mencari tempat untuk tidur, takut kalau-kalau kedahuluan munculnya sang ratu malam. Setelah matahari terbenam, ia digantikan oleh tampilnya bulan, bintang-gemintang bagaikan disebar di angkasa. Cahayanya<noinclude>{{rh|12}}</noinclude> 5rozudelgg1ecjcoe44wil7afba164f Kaca:Bratayuda.pdf/31 250 24805 77956 2026-05-16T00:47:36Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77956 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Gajahnya ditetjangkan ke kuda~kuda penarik kereta Raden Janaka, lalu dilontarkannya gadanya ke arah Raden Janaka, temyata dadanya yang kena, sehingga pingsan dan jatuh terguling di kereta. Sri Kresna cepat memberikan pertolongan, Raden Janaka diusap dengan bunga Wijayakusuma, sesudah sadar langsung mengambil busur melepaskan anak panah, kenalah Raja Bagadenta beserta pawang, dan sekaligus gajahnya, ketiganya mati bersama. Kemudian para punggawa dan satria pihak Pandawa beramai-ramai menyerbu, Wrekodara tetap mengamuk dengan gadanya. Barisan Korawa berantakan. Menjelang malam kedua belah pihak mundur ke pesanggrahan masing-masing. Malam itu Korawa bersedih. Pagi hari tengara perang sudah berbunyi, berbaur dengan suara tetabuhan yang lain. Raja Suyudana berbusana, mengenakan mahkota yang menyala oleh permata. Ketika keluar dari kubu, ia diiring para adipati. Derap pasukan bagaikan gunung runtuh. Semua sudah siap sedia, menantikan kedatangan musuh. Druna memberi saran kepada Prabu Suyudana, ujarnya, "Jika Anak Prabu ingin mempercepat tumpasnya para Pandawa, maka 1anaka harus dapat diceraikan dari Wrekodara, cukup sehari saja mereka terpisah. Jika kedua saudara itu tidak dipisahkan satu sama lain, Pandawa tak mungkin rusak, dan tak mungkin mati." Prabu Gardapati menyambung, "Kalau begitu, sayalah yang akan menantang Janaka, agar ia terpisah dari pasukan induk." Kesepakatan telah tercapai. Sangkuni bersama Wresaya akan menantang Raden Wrekodara. Kemudian barisan segera berangkat, berduyun-duyun tiada habis-habisnya. Gelarnya masih tetap seperti kemarin. Di pihak Pandawa masih menerapkan gelar Garudanglayang. Ketika kedua pasukan, Pandawa dan Korawa yang bergerak maju sating bertemu, seperti dua samudra berpapasan. Prabu Gardapati mengendarai gajah menuju ke selatan, mendekati Raden Dananjaya, seraya menantang, "Hai, Dananjaya, jika engkau benar-benar seorang prajurit, pasti bersedia melayani kehendak musuh. Mari kita berperang di pinggir gunung itu, agar tidak ada 34<noinclude></noinclude> tgryjs4qy48g228kn6l7nlwddsje536 77957 77956 2026-05-16T00:52:46Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77957 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Gajahnya diterjangkan ke kuda~kuda penarik kereta Raden Janaka, lalu dilontarkannya gadanya ke arah Raden Janaka, ternyata dadanya yang kena, sehingga pingsan dan jatuh terguling di kereta. Sri Kresna cepat memberikan pertolongan, Raden Janaka diusap dengan bunga Wijayakusuma, sesudah sadar langsung mengambil busur melepaskan anak panah, kenalah Raja Bagadenta beserta pawang, dan sekaligus gajahnya, ketiganya mati bersama. Kemudian para punggawa dan satria pihak Pandawa beramai-ramai menyerbu, Wrekodara tetap mengamuk dengan gadanya. Barisan Korawa berantakan. Menjelang malam kedua belah pihak mundur ke pesanggrahan masing-masing. Malam itu Korawa bersedih. Pagi hari tengara perang sudah berbunyi, berbaur dengan suara tetabuhan yang lain. Raja Suyudana berbusana, mengenakan mahkota yang menyala oleh permata. Ketika keluar dari kubu, ia diiring para adipati. Derap pasukan bagaikan gunung runtuh. Semua sudah siap sedia, menantikan kedatangan musuh. Druna memberi saran kepada Prabu Suyudana, ujarnya, "Jika Anak Prabu ingin mempercepat tumpasnya para Pandawa, maka Janaka harus dapat diceraikan dari Wrekodara, cukup sehari saja mereka terpisah. Jika kedua saudara itu tidak dipisahkan satu sama lain, Pandawa tak mungkin rusak, dan tak mungkin mati." Prabu Gardapati menyambung, "Kalau begitu, sayalah yang akan menantang Janaka, agar ia terpisah dari pasukan induk." Kesepakatan telah tercapai. Sangkuni bersama Wresaya akan menantang Raden Wrekodara. Kemudian barisan segera berangkat, berduyun-duyun tiada habis-habisnya. Gelarnya masih tetap seperti kemarin. Di pihak Pandawa masih menerapkan gelar Garudanglayang. Ketika kedua pasukan, Pandawa dan Korawa yang bergerak maju saling bertemu, seperti dua samudra berpapasan. Prabu Gardapati mengendarai gajah menuju ke selatan, mendekati Raden Dananjaya, seraya menantang, "Hai, Dananjaya, jika engkau benar-benar seorang prajurit, pasti bersedia melayani kehendak musuh. Mari kita berperang di pinggir gunung itu, agar tidak ada<noinclude>{{rh|34}}</noinclude> qo3wc01vgcabrr6vtdbjekb0gfuh3c1 78289 77957 2026-05-16T09:27:19Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78289 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Gajahnya diterjangkan ke kuda-kuda penarik kereta Raden Janaka, lalu dilontarkannya gadanya ke arah Raden Janaka, ternyata dadanya yang kena, sehingga pingsan dan jatuh terguling di kereta. Sri Kresna cepat memberikan pertolongan, Raden Janaka diusap dengan bunga Wijayakusuma, sesudah sadar langsung mengambil busur melepaskan anak panah, kenalah Raja Bagadenta beserta pawang, dan sekaligus gajahnya, ketiganya mati bersama. Kemudian para punggawa dan satria pihak Pandawa beramai-ramai menyerbu, Wrekodara tetap mengamuk dengan gadanya. Barisan Korawa berantakan. Menjelang malam kedua belah pihak mundur ke pesanggrahan masing-masing. Malam itu Korawa bersedih. Pagi hari tengara perang sudah berbunyi, berbaur dengan suara tetabuhan yang lain. Raja Suyudana berbusana, mengenakan mahkota yang menyala oleh permata. Ketika keluar dari kubu, ia diiring para adipati. Derap pasukan bagaikan gunung runtuh. Semua sudah siap sedia, menantikan kedatangan musuh. Druna memberi saran kepada Prabu Suyudana, ujarnya, "Jika Anak Prabu ingin mempercepat tumpasnya para Pandawa, maka Janaka harus dapat diceraikan dari Wrekodara, cukup sehari saja mereka terpisah. Jika kedua saudara itu tidak dipisahkan satu sama lain, Pandawa tak mungkin rusak, dan tak mungkin mati." Prabu Gardapati menyambung, "Kalau begitu, sayalah yang akan menantang Janaka, agar ia terpisah dari pasukan induk." Kesepakatan telah tercapai. Sangkuni bersama Wresaya akan menantang Raden Wrekodara. Kemudian barisan segera berangkat, berduyun-duyun tiada habis-habisnya. Gelarnya masih tetap seperti kemarin. Di pihak Pandawa masih menerapkan gelar Garudanglayang. Ketika kedua pasukan, Pandawa dan Korawa yang bergerak maju saling bertemu, seperti dua samudra berpapasan. Prabu Gardapati mengendarai gajah menuju ke selatan, mendekati Raden Dananjaya, seraya menantang, "Hai, Dananjaya, jika engkau benar-benar seorang prajurit, pasti bersedia melayani kehendak musuh. Mari kita berperang di pinggir gunung itu, agar tidak ada<noinclude>{{rh|34}}</noinclude> prouqu1w9lzme62o14az4jhkb31ne2p Kaca:Bratayuda.pdf/32 250 24806 77958 2026-05-16T00:53:17Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77958 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>yang menghalang-halangi, sehingga apa pun kehendak kita, kita akan puas. Jika engkau tidak memenuhi kehendakku, pasti engkau bukan prajurit sejati. Aku raja Kapitu, namaku Gardapati, yang kesaktiannya sudah termasyhur." Petjalanan Prabu Gardapati beserta pasukannya sudah sampai di kaki gunung. Raden Dananjaya yang mendengar tantangan pada dirinya, segera menyusul Prabu Gardapati, berkereta bersama Sri Kresna, diikuti oleh pasukannya. Kemudian Raden Wresaya menantang Raden Wrekodara, ujarnya, "Hai, Wrekodara, jika engkau benar-benar seorang lakilaki, hayo, tandingi aku di pinggir lautan, agar tidak ada yang mengganggu, dan puas mengadu kesaktian." Raden Wrekodara tidak tahan mendengar tantangan itu, lalu meninggalkan barisan, tanpa menoleh lagi ia berjalan ke utara. Druna melihat Raden Dananjaya ke selatan, dan Raden Wrekodara ke utara, lalu mengganti gelarnya menjadi Cakraningswandana, dan memastikan tidak akan dapat dirusa)( oleh musuh. Karna bersama Karpa menjadi kaki, Arya Jayadrata beserta para adipati menjadi telinga, Prabu Suyudana menjadi ekor. Pandawa yang melihat Korawa mengganti gelarnya, serta pisahnya Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya, perasaan mereka agak cemas. Prabu Yudistira lalu memberi perintah supaya memanggil Raden Abimanyu, yang akan ditugasi merusak gelar Korawa. Adapun yang diutus memanggil ialah Raden Gatutkaca. Setelah Raden Gatutkaca sampai ke pesanggrahan Raden Abimanyu lalu berkata, ujarnya, "Adinda, engkau dipanggil Sri Baginda, akan diberi tugas merusak gelarnya Korawa. Sejak paman pergi ke selatan, berperang dengan Gardapati di kaki gunung, tidak ada lagi yang memiliki cakra, dan hanya engkau yang punya. Itulah yang tepat untuk merusak siasat Korawa." Dewi Siti Sundari istri Raden Abimanyu, mendengar katakata Raden Gatutkaca menjadi sangat prihatin. Karena ia telah dipesan oleh ayahnya, bahwa untuk hari itu, jangan sekali-kali melepaskan Raden Abinlanyu maju ke medan perang. Karena bingung 35 •<noinclude></noinclude> f0sqtr64hetocupu2cvw5b9gco8gdi6 77959 77958 2026-05-16T00:57:52Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77959 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>yang menghalang-halangi, sehingga apa pun kehendak kita, kita akan puas. Jika engkau tidak memenuhi kehendakku, pasti engkau bukan prajurit sejati. Aku raja Kapitu, namaku Gardapati, yang kesaktiannya sudah termasyhur." Perjalanan Prabu Gardapati beserta pasukannya sudah sampai di kaki gunung. Raden Dananjaya yang mendengar tantangan pada dirinya, segera menyusul Prabu Gardapati, berkereta bersama Sri Kresna, diikuti oleh pasukannya. Kemudian Raden Wresaya menantang Raden Wrekodara, ujarnya, "Hai, Wrekodara, jika engkau benar-benar seorang laki-laki, hayo, tandingi aku di pinggir lautan, agar tidak ada yang mengganggu, dan puas mengadu kesaktian." Raden Wrekodara tidak tahan mendengar tantangan itu, lalu meninggalkan barisan, tanpa menoleh lagi ia berjalan ke utara. Druna melihat Raden Dananjaya ke selatan, dan Raden Wrekodara ke utara, lalu mengganti gelarnya menjadi Cakraningswandana, dan memastikan tidak akan dapat dirusa oleh musuh. Karna bersama Karpa menjadi kaki, Arya Jayadrata beserta para adipati menjadi telinga, Prabu Suyudana menjadi ekor. Pandawa yang melihat Korawa mengganti gelarnya, serta pisahnya Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya, perasaan mereka agak cemas. Prabu Yudistira lalu memberi perintah supaya memanggil Raden Abimanyu, yang akan ditugasi merusak gelar Korawa. Adapun yang diutus memanggil ialah Raden Gatutkaca. Setelah Raden Gatutkaca sampai ke pesanggrahan Raden Abimanyu lalu berkata, ujarnya, "Adinda, engkau dipanggil Sri Baginda, akan diberi tugas merusak gelarnya Korawa. Sejak paman pergi ke selatan, berperang dengan Gardapati di kaki gunung, tidak ada lagi yang memiliki cakra, dan hanya engkau yang punya. Itulah yang tepat untuk merusak siasat Korawa." Dewi Siti Sundari istri Raden Abimanyu, mendengar kata-kata Raden Gatutkaca menjadi sangat prihatin. Karena ia telah dipesan oleh ayahnya, bahwa untuk hari itu, jangan sekali-kali melepaskan Raden Abimanyu maju ke medan perang. Karena bingung<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> 4b19goo6de4xs96p76z7qv3dnjhhh7m 78290 77959 2026-05-16T09:27:30Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78290 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>yang menghalang-halangi, sehingga apa pun kehendak kita, kita akan puas. Jika engkau tidak memenuhi kehendakku, pasti engkau bukan prajurit sejati. Aku raja Kapitu, namaku Gardapati, yang kesaktiannya sudah termasyhur." Perjalanan Prabu Gardapati beserta pasukannya sudah sampai di kaki gunung. Raden Dananjaya yang mendengar tantangan pada dirinya, segera menyusul Prabu Gardapati, berkereta bersama Sri Kresna, diikuti oleh pasukannya. Kemudian Raden Wresaya menantang Raden Wrekodara, ujarnya, "Hai, Wrekodara, jika engkau benar-benar seorang laki-laki, hayo, tandingi aku di pinggir lautan, agar tidak ada yang mengganggu, dan puas mengadu kesaktian." Raden Wrekodara tidak tahan mendengar tantangan itu, lalu meninggalkan barisan, tanpa menoleh lagi ia berjalan ke utara. Druna melihat Raden Dananjaya ke selatan, dan Raden Wrekodara ke utara, lalu mengganti gelarnya menjadi Cakraningswandana, dan memastikan tidak akan dapat dirusa oleh musuh. Karna bersama Karpa menjadi kaki, Arya Jayadrata beserta para adipati menjadi telinga, Prabu Suyudana menjadi ekor. Pandawa yang melihat Korawa mengganti gelarnya, serta pisahnya Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya, perasaan mereka agak cemas. Prabu Yudistira lalu memberi perintah supaya memanggil Raden Abimanyu, yang akan ditugasi merusak gelar Korawa. Adapun yang diutus memanggil ialah Raden Gatutkaca. Setelah Raden Gatutkaca sampai ke pesanggrahan Raden Abimanyu lalu berkata, ujarnya, "Adinda, engkau dipanggil Sri Baginda, akan diberi tugas merusak gelarnya Korawa. Sejak paman pergi ke selatan, berperang dengan Gardapati di kaki gunung, tidak ada lagi yang memiliki cakra, dan hanya engkau yang punya. Itulah yang tepat untuk merusak siasat Korawa." Dewi Siti Sundari istri Raden Abimanyu, mendengar kata-kata Raden Gatutkaca menjadi sangat prihatin. Karena ia telah dipesan oleh ayahnya, bahwa untuk hari itu, jangan sekali-kali melepaskan Raden Abimanyu maju ke medan perang. Karena bingung<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude> oi50deqxm0wkhmzp92kl0icc4xlp8px Kaca:Bratayuda.pdf/33 250 24807 77960 2026-05-16T00:58:10Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77960 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>dan sedihnya, Dewi Siti Sundari tak dapat berbicara, menahan air mata, menangis di dalam hati, namun tak berani menghalang-halangi kepergian suaminya, karena tabu bagi istri seorang satria, tak boleh berkeberatan jika ditinggal ke medan perang. Raden Abimanyu bersiap-siap, Dewi Siti Sundari menyarankan supaya mohon diri kepada istri Sri Kresna. Abimanyu menurut, ia mohon diri kepada istri Sri Kresna, dan kepada ibunya. Sesudah itu lalu berangkat menuju ke medan perang. Setibanya di hadapan uaknya, Prabu Yudistira, lalu menyembah. Sri Baginda segera bersabda, "Anakku, Korawa sekarang berganti gelar Cakrabyuha. Rusaklah gelar itu!" Abimanyu menyatakan kesediaannya lalu berangkat. Kemudian ia memasang gelar Supiturang. Drustajumena menjadi ujung supit kanan, Gatutkaca kiri, Setyaki menjadi mulut, Prabu parmaputra sebagai kepala, para raja berada di belakang, sedangkan Abimanyu menempatkan diri di sungut. Setelah gelar tersusun, dan Korawa pun sudah siap pula, seketika itu suasana menjadi gelap-gulita. Pandawa lalu menyerang di bawah pimpinan Raden Abimanyu. Suara gendang, gong, beri , dan sorak-sorai prajurit kedua belah pihak, gemuruh seperti akan membelah angkasa. Pasukan Pandawa dan Korawa sama-sama melepaskan pasukan berkuda, suara para punggawa yang mengendarai gajah atau kereta, berbaur sorak-sorai prajurit, membahana seperti halilintar. Raden Abimanyu menarik busur melepaskan cakra, menjatuhi Korawa. Gelarnya Cakrabyuha rusak, prajuritnya banyak yang mati. Sisanya mengungsi ke tempat Prabu Suyudana, karena takut akan amukan Abimanyu, yang menjadi sungut pasukan, memimpin pasukan Pandawa, amat berani serta sakti. Raden Arya Jayadrata dengan cepat menutup jalan. Barisan Pandawa terputus. Abimanyu terkurung, lalu dikeroyok oleh sebagian besar Korawa, ialah Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikata, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradarma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, 36<noinclude></noinclude> 6j74cpyipu2gyn9mn8t0nbt22v44juv 77961 77960 2026-05-16T01:13:06Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77961 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>dan sedihnya, Dewi Siti Sundari tak dapat berbicara, menahan air mata, menangis di dalam hati, namun tak berani menghalang-halangi kepergian suaminya, karena tabu bagi istri seorang satria, tak boleh berkeberatan jika ditinggal ke medan perang. Raden Abimanyu bersiap-siap, Dewi Siti Sundari menyarankan supaya mohon diri kepada istri Sri Kresna. Abimanyu menurut, ia mohon diri kepada istri Sri Kresna, dan kepada ibunya. Sesudah itu lalu berangkat menuju ke medan perang. Setibanya di hadapan uaknya, Prabu Yudistira, lalu menyembah. Sri Baginda segera bersabda, "Anakku, Korawa sekarang berganti gelar Cakrabyuha. Rusaklah gelar itu!" Abimanyu menyatakan kesediaannya lalu berangkat. Kemudian ia memasang gelar Supiturang. Drustajumena menjadi ujung supit kanan, Gatutkaca kiri, Setyaki menjadi mulut, Prabu parmaputra sebagai kepala, para raja berada di belakang, sedangkan Abimanyu menempatkan diri di sungut. Setelah gelar tersusun, dan Korawa pun sudah siap pula, seketika itu suasana menjadi gelap-gulita. Pandawa lalu menyerang di bawah pimpinan Raden Abimanyu. Suara gendang, gong, beri, dan sorak-sorai prajurit kedua belah pihak, gemuruh seperti akan membelah angkasa. Pasukan Pandawa dan Korawa sama-sama melepaskan pasukan berkuda, suara para punggawa yang mengendarai gajah atau kereta, berbaur sorak-sorai prajurit, membahana seperti halilintar. Raden Abimanyu menarik busur melepaskan cakra, menjatuhi Korawa. Gelarnya Cakrabyuha rusak, prajuritnya banyak yang mati. Sisanya mengungsi ke tempat Prabu Suyudana, karena takut akan amukan Abimanyu, yang menjadi sungut pasukan, memimpin pasukan Pandawa, amat berani serta sakti. Raden Arya Jayadrata dengan cepat menutup jalan. Barisan Pandawa terputus. Abimanyu terkurung, lalu dikeroyok oleh sebagian besar Korawa, ialah Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikata, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradarma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti,<noinclude>{{rh|36}}</noinclude> jfzd0qpn0ssa3zhkzwuk81o4nlpafmk 78291 77961 2026-05-16T09:27:41Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78291 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>dan sedihnya, Dewi Siti Sundari tak dapat berbicara, menahan air mata, menangis di dalam hati, namun tak berani menghalang-halangi kepergian suaminya, karena tabu bagi istri seorang satria, tak boleh berkeberatan jika ditinggal ke medan perang. Raden Abimanyu bersiap-siap, Dewi Siti Sundari menyarankan supaya mohon diri kepada istri Sri Kresna. Abimanyu menurut, ia mohon diri kepada istri Sri Kresna, dan kepada ibunya. Sesudah itu lalu berangkat menuju ke medan perang. Setibanya di hadapan uaknya, Prabu Yudistira, lalu menyembah. Sri Baginda segera bersabda, "Anakku, Korawa sekarang berganti gelar Cakrabyuha. Rusaklah gelar itu!" Abimanyu menyatakan kesediaannya lalu berangkat. Kemudian ia memasang gelar Supiturang. Drustajumena menjadi ujung supit kanan, Gatutkaca kiri, Setyaki menjadi mulut, Prabu parmaputra sebagai kepala, para raja berada di belakang, sedangkan Abimanyu menempatkan diri di sungut. Setelah gelar tersusun, dan Korawa pun sudah siap pula, seketika itu suasana menjadi gelap-gulita. Pandawa lalu menyerang di bawah pimpinan Raden Abimanyu. Suara gendang, gong, beri, dan sorak-sorai prajurit kedua belah pihak, gemuruh seperti akan membelah angkasa. Pasukan Pandawa dan Korawa sama-sama melepaskan pasukan berkuda, suara para punggawa yang mengendarai gajah atau kereta, berbaur sorak-sorai prajurit, membahana seperti halilintar. Raden Abimanyu menarik busur melepaskan cakra, menjatuhi Korawa. Gelarnya Cakrabyuha rusak, prajuritnya banyak yang mati. Sisanya mengungsi ke tempat Prabu Suyudana, karena takut akan amukan Abimanyu, yang menjadi sungut pasukan, memimpin pasukan Pandawa, amat berani serta sakti. Raden Arya Jayadrata dengan cepat menutup jalan. Barisan Pandawa terputus. Abimanyu terkurung, lalu dikeroyok oleh sebagian besar Korawa, ialah Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikata, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradarma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti,<noinclude>{{rh|36}}</noinclude> 7m09k4exks9nt7z5lsj8qrsekcpi1ky Kaca:Bratayuda.pdf/34 250 24808 77962 2026-05-16T01:13:35Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77962 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, dan Raden l_,esmanakumara, putra mahkota Astina, ditambah lagi Kartasuta. -Semua turut. mengepung Raden Abimanyu. Kemudian Kartasuta mati, terkena panah Abimanyu. Boleh dikatakan Abimanyu sudah mata gelap, sehingga sedikit pun tidak ada perasaan fakut meskipun dikeroyok demikian banyak. Secasrawa mati lagi terkena panahnya. Kemudian putra mahkota Astina yang bernama Raden Lesmanakumara melepaskan panahnya, dan yang dituju ialah Abimanyu. Akan tetapi Abimanyu lebih cepat. Abimanyu segera membalas, dan kenalah Lesmanakumara di dadanya, lalu mati. Abimanyu sudah seperti orang mabuk. Ia menuju ke pusat pasukan Korawa, yaitu tempatnya Prabu Suyudana, sambil melepaskan panah sebanyak-banyaknya. Ketika melihat putra mahkota Astina sudah tewas oleh Abimanyu, maka Sindureja bersama Prabu Suyudana bermaksud menuntut balas. Lalu melepaskan anak panah, Abimanyu kena, kemudian disusul para Korawa yang lain, banyak yang turut melepaskan anak panah, dari kiri, dari kanan datangnya anak panah semakin gencar, dan satu pun tidak ada yang luput. Abimanyu menderita luka di dada, di punggung, di belikat, di tulang belakang, di betis, akan tetapi ia tetap gagah berani. Langkahnya semakin jauh ke tengah-tengah musuh, dan di hatinya terbetik suatu keinginan, bahwa kematiannya di medan perang itu dapat bersama-sama dengan Prabu Suyudana. Pacta waktu sangat banyak kuda maupun kereta yang hancur terkena anak panah. Sekali lagi Abimanyu menarik busurnya, akan tetapi busurnya patah. Sedangkan panah musuh tiada putus-putusnya menjatuhi bagaikan hujan. Dalam keadaan demikian itu Abimanyu merasa seperti dicakari wanita. Ke kiri dan ke kanan ia menangkapi panah yang menghujaninya, dan tingkah-laku Abimanyu sewaktu dikepung dan dihujani anak panah, bagaikan bertemu dengan seorang gadis. Tubuhnya penuh luka, akan tetapi tak ada niatnya untuk mundur, dan keberaniannya pun tiada berubah. 37<noinclude></noinclude> 7xhynksb1u5v6ng1k4qk4x5rywngj43 77963 77962 2026-05-16T01:18:19Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77963 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, dan Raden Lesmanakumara, putra mahkota Astina, ditambah lagi Kartasuta. Semua turut, mengepung Raden Abimanyu. Kemudian Kartasuta mati, terkena panah Abimanyu. Boleh dikatakan Abimanyu sudah mata gelap, sehingga sedikit pun tidak ada perasaan takut meskipun dikeroyok demikian banyak. Secasrawa mati lagi terkena panahnya. Kemudian putra mahkota Astina yang bernama Raden Lesmanakumara melepaskan panahnya, dan yang dituju ialah Abimanyu. Akan tetapi Abimanyu lebih cepat. Abimanyu segera membalas, dan kenalah Lesmanakumara di dadanya, lalu mati. Abimanyu sudah seperti orang mabuk. Ia menuju ke pusat pasukan Korawa, yaitu tempatnya Prabu Suyudana, sambil melepaskan panah sebanyak-banyaknya. Ketika melihat putra mahkota Astina sudah tewas oleh Abimanyu, maka Sindureja bersama Prabu Suyudana bermaksud menuntut balas. Lalu melepaskan anak panah, Abimanyu kena, kemudian disusul para Korawa yang lain, banyak yang turut melepaskan anak panah, dari kiri, dari kanan datangnya anak panah semakin gencar, dan satu pun tidak ada yang luput. Abimanyu menderita luka di dada, di punggung, di belikat, di tulang belakang, di betis, akan tetapi ia tetap gagah berani. Langkahnya semakin jauh ke tengah-tengah musuh, dan di hatinya terbetik suatu keinginan, bahwa kematiannya di medan perang itu dapat bersama-sama dengan Prabu Suyudana. Pada waktu sangat banyak kuda maupun kereta yang hancur terkena anak panah. Sekali lagi Abimanyu menarik busurnya, akan tetapi busurnya patah. Sedangkan panah musuh tiada putus-putusnya menjatuhi bagaikan hujan. Dalam keadaan demikian itu Abimanyu merasa seperti dicakari wanita. Ke kiri dan ke kanan ia menangkapi panah yang menghujaninya, dan tingkah-laku Abimanyu sewaktu dikepung dan dihujani anak panah, bagaikan bertemu dengan seorang gadis. Tubuhnya penuh luka, akan tetapi tak ada niatnya untuk mundur, dan keberaniannya pun tiada berubah.<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> 67vz3teru97p7f7lswolgon3zits86w 78292 77963 2026-05-16T09:28:00Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78292 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, dan Raden Lesmanakumara, putra mahkota Astina, ditambah lagi Kartasuta. Semua turut, mengepung Raden Abimanyu. Kemudian Kartasuta mati, terkena panah Abimanyu. Boleh dikatakan Abimanyu sudah mata gelap, sehingga sedikit pun tidak ada perasaan takut meskipun dikeroyok demikian banyak. Secasrawa mati lagi terkena panahnya. Kemudian putra mahkota Astina yang bernama Raden Lesmanakumara melepaskan panahnya, dan yang dituju ialah Abimanyu. Akan tetapi Abimanyu lebih cepat. Abimanyu segera membalas, dan kenalah Lesmanakumara di dadanya, lalu mati. Abimanyu sudah seperti orang mabuk. Ia menuju ke pusat pasukan Korawa, yaitu tempatnya Prabu Suyudana, sambil melepaskan panah sebanyak-banyaknya. Ketika melihat putra mahkota Astina sudah tewas oleh Abimanyu, maka Sindureja bersama Prabu Suyudana bermaksud menuntut balas. Lalu melepaskan anak panah, Abimanyu kena, kemudian disusul para Korawa yang lain, banyak yang turut melepaskan anak panah, dari kiri, dari kanan datangnya anak panah semakin gencar, dan satu pun tidak ada yang luput. Abimanyu menderita luka di dada, di punggung, di belikat, di tulang belakang, di betis, akan tetapi ia tetap gagah berani. Langkahnya semakin jauh ke tengah-tengah musuh, dan di hatinya terbetik suatu keinginan, bahwa kematiannya di medan perang itu dapat bersama-sama dengan Prabu Suyudana. Pada waktu sangat banyak kuda maupun kereta yang hancur terkena anak panah. Sekali lagi Abimanyu menarik busurnya, akan tetapi busurnya patah. Sedangkan panah musuh tiada putus-putusnya menjatuhi bagaikan hujan. Dalam keadaan demikian itu Abimanyu merasa seperti dicakari wanita. Ke kiri dan ke kanan ia menangkapi panah yang menghujaninya, dan tingkah-laku Abimanyu sewaktu dikepung dan dihujani anak panah, bagaikan bertemu dengan seorang gadis. Tubuhnya penuh luka, akan tetapi tak ada niatnya untuk mundur, dan keberaniannya pun tiada berubah.<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude> gdhetsa07c7mtbppys9t86ijkgz52fk Kaca:Bratayuda.pdf/35 250 24809 77964 2026-05-16T01:18:46Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77964 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Abimanyu berseru-seru, "Hai, Korawa, tak usah engkau gugup jika engkau menghendaki nyawaku. Aku tidak akan menghindar. Bagi putra Pandawa, meskipun semakin banyak luka diderita, rasanya semakin gembira dalam menghadapi kematian, karena sudah sepatutnyalah seorang satria gugur di medan perang karena dikeroyok." Suara tantangan Abimanyu itu diucapkannya terputus-putus, tak sempat ia mencabuti anak panah yang menghujaninya. anak panah itu bersusun-susun bagaikan batang ilalang yang menancap di dadanya. Dan kemudian yang menancap di dada maupun di punggung bagaikan gubahan bunga kantil. Anak panah yang jatuh ke kereta manik berlumuran darah, bagaikan jelaga bercampur atal. Mata Abimanyu sering pula kena panah, kelihatan kejapnya menawan hati. Kepalanya dapat diumpamakan seperti kernbang Kanigara dan kembang Sumarsana, yang sedang diperebutkan oleh orang banyak hendak digubah. Dadanya bagaikan bunga Tunjung mekar. Gugurnya seorang satria yang berwatak pemberani membuat pilunya hati. Seketika itu turun hujan rintik-rintik, dan banyak kumbang beterbangan di angkasa, seperti hendak menghisap kembang. Prabu Yudistira sudah tahu, bahwa Abimanyu gugur dikeroyok musuh. Setyaki, Gatutkaca, Dratajumena hendak menuntut balas, lalu meneijang pasukan Korawa, sepak-terjangnya seperti hendak mempercepat kematian, sehingga menggetarkan bumi. Prabu Darmaputra bersama Pancawala, putra Amarta juga turut membantu. Ramainya peperangan itu luar biasa. Kemudian turunlah malam meliputi bumi, dan bubarlah yang sedang berperang. Korawa bergembira-ria. *** Tersebutlah Raden Dananjaya yang berperang di kaki gunung, dengan didampingi oleh Sri Kresna, perangnya benarbenar ramai. Prabu Gardapati sudah tewas, kemudian bubar, dan semua pulang. Setibanya di pesanggrahan, Raden Dananjaya mendengar tangis. Seluruh keluarga, baik dari garis ibu maupun garis ayah, lebih-lebih kedua istrinya, yaitu Dewi Wara Sumbadra dan 38<noinclude></noinclude> 0gk3cz18su60qidog0uj3m906l361ch 77965 77964 2026-05-16T01:22:07Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77965 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Abimanyu berseru-seru, "Hai, Korawa, tak usah engkau gugup jika engkau menghendaki nyawaku. Aku tidak akan menghindar. Bagi putra Pandawa, meskipun semakin banyak luka diderita, rasanya semakin gembira dalam menghadapi kematian, karena sudah sepatutnyalah seorang satria gugur di medan perang karena dikeroyok." Suara tantangan Abimanyu itu diucapkannya terputus-putus, tak sempat ia mencabuti anak panah yang menghujaninya. anak panah itu bersusun-susun bagaikan batang ilalang yang menancap di dadanya. Dan kemudian yang menancap di dada maupun di punggung bagaikan gubahan bunga kantil. Anak panah yang jatuh ke kereta manik berlumuran darah, bagaikan jelaga bercampur atal. Mata Abimanyu sering pula kena panah, kelihatan kejapnya menawan hati. Kepalanya dapat diumpamakan seperti kembang Kanigara dan kembang Sumarsana, yang sedang diperebutkan oleh orang banyak hendak digubah. Dadanya bagaikan bunga Tunjung mekar. Gugurnya seorang satria yang berwatak pemberani membuat pilunya hati. Seketika itu turun hujan rintik-rintik, dan banyak kumbang beterbangan di angkasa, seperti hendak menghisap kembang. Prabu Yudistira sudah tahu, bahwa Abimanyu gugur dikeroyok musuh. Setyaki, Gatutkaca, Dratajumena hendak menuntut balas, lalu menerjang pasukan Korawa, sepak-terjangnya seperti hendak mempercepat kematian, sehingga menggetarkan bumi. Prabu Darmaputra bersama Pancawala, putra Amarta juga turut membantu. Ramainya peperangan itu luar biasa. Kemudian turunlah malam meliputi bumi, dan bubarlah yang sedang berperang. Korawa bergembira-ria. {{C|* * *}} Tersebutlah Raden Dananjaya yang berperang di kaki gunung, dengan didampingi oleh Sri Kresna, perangnya benar-benar ramai. Prabu Gardapati sudah tewas, kemudian bubar, dan semua pulang. Setibanya di pesanggrahan, Raden Dananjaya mendengar tangis. Seluruh keluarga, baik dari garis ibu maupun garis ayah, lebih-lebih kedua istrinya, yaitu Dewi Wara Sumbadra dan<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> i31xgt992mgtyshvxifo9u6nnnzbxz0 78293 77965 2026-05-16T09:29:21Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78293 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Abimanyu berseru-seru, "Hai, Korawa, tak usah engkau gugup jika engkau menghendaki nyawaku. Aku tidak akan menghindar. Bagi putra Pandawa, meskipun semakin banyak luka diderita, rasanya semakin gembira dalam menghadapi kematian, karena sudah sepatutnyalah seorang satria gugur di medan perang karena dikeroyok." Suara tantangan Abimanyu itu diucapkannya terputus-putus, tak sempat ia mencabuti anak panah yang menghujaninya. anak panah itu bersusun-susun bagaikan batang ilalang yang menancap di dadanya. Dan kemudian yang menancap di dada maupun di punggung bagaikan gubahan bunga kantil. Anak panah yang jatuh ke kereta manik berlumuran darah, bagaikan jelaga bercampur atal. Mata Abimanyu sering pula kena panah, kelihatan kejapnya menawan hati. Kepalanya dapat diumpamakan seperti kembang Kanigara dan kembang Sumarsana, yang sedang diperebutkan oleh orang banyak hendak digubah. Dadanya bagaikan bunga Tunjung mekar. Gugurnya seorang satria yang berwatak pemberani membuat pilunya hati. Seketika itu turun hujan rintik-rintik, dan banyak kumbang beterbangan di angkasa, seperti hendak menghisap kembang. Prabu Yudistira sudah tahu, bahwa Abimanyu gugur dikeroyok musuh. Setyaki, Gatutkaca, Dratajumena hendak menuntut balas, lalu menerjang pasukan Korawa, sepak-terjangnya seperti hendak mempercepat kematian, sehingga menggetarkan bumi. Prabu Darmaputra bersama Pancawala, putra Amarta juga turut membantu. Ramainya peperangan itu luar biasa. Kemudian turunlah malam meliputi bumi, dan bubarlah yang sedang berperang. Korawa bergembira-ria. {{C|* * *}} Tersebutlah Raden Dananjaya yang berperang di kaki gunung, dengan didampingi oleh Sri Kresna, perangnya benar-benar ramai. Prabu Gardapati sudah tewas, kemudian bubar, dan semua pulang. Setibanya di pesanggrahan, Raden Dananjaya mendengar tangis. Seluruh keluarga, baik dari garis ibu maupun garis ayah, lebih-lebih kedua istrinya, yaitu Dewi Wara Sumbadra dan<noinclude>{{rh|38}}</noinclude> cobixgancj8ruciogd4u65pd7yrvgky Kaca:Bratayuda.pdf/36 250 24810 77966 2026-05-16T01:22:27Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77966 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Wara Srikandi, serta putri Wirata, Dewi Utari, yang sedang hamil delapan bulan, semua menangis, dan mengaduh. Banyak sedu-sedan terdengar di pesanggrahan, ramai seperti suara burung gagak. Kedatangan Raden Dananjaya dan Sri Kresna, bersama-sama dengan datangnya Raden Wrekodara, yang berperang di tepi laut. M usuhnya, yang be mama Wresaya sudah tewas. Yang dari utara, dan dari selatan datang bersama-sama. Ketika mendengar bahwa putranya gugur, Raden Dananjaya benar-benar khilaf. Sri Kresna menasehati, demikian ujarnya, "Jika seorang satria menjadi khilaf dan marah karena anaknya tewas, martabatnya akan berkurang, dan mendapat laknat dewata yang maha mulia." Mendengar nasehat Sri Kresna demikian itu, Raden Dananjaya lalu menyembah dan mohon maaf. Kemudian menyembah Prabu Yudistira seraya bertanya, "Gusti, bagaimanakah asalmulanya Abimanyu tewas?" Prabu Yudistira menjawab, demikian, "Kematian anakmu, ialah karena memasuki gelar Cakrabyuha, lalu dikepung oleh Sindureja. Saudara-saudaramu semua menuntut balas. Drustajumena, Gatutkaca, dan Setyaki mengamuk bersama-sama, berusaha membunuh Sindureja, akan tetapi tidak berhasil. Sedangkan yang tewas terbunuh oleh anakmu ialah, Lesmanakumara, Kartasuta, dan Secasrawa. Ketika saudara-saudaramu mengamuk, banyak sekali yang dapat mereka bunuh. Hanya Sindureja saja yang lepas." Dananjaya lalu berdiri mengucapkan sumpah, ucapnya, "Saya bersumpah, jika besok pagi saya tidak berhasil membunuh Sindureja, maka sore harinya saya akan membakar diri." Prabu Suyudana dan segenap Korawa mendengar sumpah Dananjaya, maka Sindureja diperintahkan pulang. Besok pagi, sehari penuh sama sekali tidak boleh keluar jika matahari belum terbenam , dan disuruh memuja supaya mendapat berkat kakeknya, yang bernama Bagawan Sempani, agar supaya selamat. Demikian pula anak panah yang diperolehnya dari Abimanyu hendaknya dipakai, dan memuja pula demi menambah kesaktiannya. 39 ***<noinclude></noinclude> ayc4kaxczkwpt9m4ve33kqvpyohwzlx 77967 77966 2026-05-16T01:26:57Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77967 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Wara Srikandi, serta putri Wirata, Dewi Utari, yang sedang hamil delapan bulan, semua menangis, dan mengaduh. Banyak sedu-sedan terdengar di pesanggrahan, ramai seperti suara burung gagak. Kedatangan Raden Dananjaya dan Sri Kresna, bersama-sama dengan datangnya Raden Wrekodara, yang berperang di tepi laut. Musuhnya, yang bernama Wresaya sudah tewas. Yang dari utara, dan dari selatan datang bersama-sama. Ketika mendengar bahwa putranya gugur, Raden Dananjaya benar-benar khilaf. Sri Kresna menasehati, demikian ujarnya, "Jika seorang satria menjadi khilaf dan marah karena anaknya tewas, martabatnya akan berkurang, dan mendapat laknat dewata yang maha mulia." Mendengar nasehat Sri Kresna demikian itu, Raden Dananjaya lalu menyembah dan mohon maaf. Kemudian menyembah Prabu Yudistira seraya bertanya, "Gusti, bagaimanakah asal-mulanya Abimanyu tewas?" Prabu Yudistira menjawab, demikian, "Kematian anakmu, ialah karena memasuki gelar Cakrabyuha, lalu dikepung oleh Sindureja. Saudara-saudaramu semua menuntut balas. Drustajumena, Gatutkaca, dan Setyaki mengamuk bersama-sama, berusaha membunuh Sindureja, akan tetapi tidak berhasil. Sedangkan yang tewas terbunuh oleh anakmu ialah, Lesmanakumara, Kartasuta, dan Secasrawa. Ketika saudara-saudaramu mengamuk, banyak sekali yang dapat mereka bunuh. Hanya Sindureja saja yang lepas." Dananjaya lalu berdiri mengucapkan sumpah, ucapnya, "Saya bersumpah, jika besok pagi saya tidak berhasil membunuh Sindureja, maka sore harinya saya akan membakar diri." Prabu Suyudana dan segenap Korawa mendengar sumpah Dananjaya, maka Sindureja diperintahkan pulang. Besok pagi, sehari penuh sama sekali tidak boleh keluar jika matahari belum terbenam , dan disuruh memuja supaya mendapat berkat kakeknya, yang bernama Bagawan Sempani, agar supaya selamat. Demikian pula anak panah yang diperolehnya dari Abimanyu hendaknya dipakai, dan memuja pula demi menambah kesaktiannya. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude> gakjkmfyhdb7tcrawb364nn0bt4r5fw 78294 77967 2026-05-16T09:30:00Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78294 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Wara Srikandi, serta putri Wirata, Dewi Utari, yang sedang hamil delapan bulan, semua menangis, dan mengaduh. Banyak sedu-sedan terdengar di pesanggrahan, ramai seperti suara burung gagak. Kedatangan Raden Dananjaya dan Sri Kresna, bersama-sama dengan datangnya Raden Wrekodara, yang berperang di tepi laut. Musuhnya, yang bernama Wresaya sudah tewas. Yang dari utara, dan dari selatan datang bersama-sama. Ketika mendengar bahwa putranya gugur, Raden Dananjaya benar-benar khilaf. Sri Kresna menasehati, demikian ujarnya, "Jika seorang satria menjadi khilaf dan marah karena anaknya tewas, martabatnya akan berkurang, dan mendapat laknat dewata yang maha mulia." Mendengar nasehat Sri Kresna demikian itu, Raden Dananjaya lalu menyembah dan mohon maaf. Kemudian menyembah Prabu Yudistira seraya bertanya, "Gusti, bagaimanakah asal-mulanya Abimanyu tewas?" Prabu Yudistira menjawab, demikian, "Kematian anakmu, ialah karena memasuki gelar Cakrabyuha, lalu dikepung oleh Sindureja. Saudara-saudaramu semua menuntut balas. Drustajumena, Gatutkaca, dan Setyaki mengamuk bersama-sama, berusaha membunuh Sindureja, akan tetapi tidak berhasil. Sedangkan yang tewas terbunuh oleh anakmu ialah, Lesmanakumara, Kartasuta, dan Secasrawa. Ketika saudara-saudaramu mengamuk, banyak sekali yang dapat mereka bunuh. Hanya Sindureja saja yang lepas." Dananjaya lalu berdiri mengucapkan sumpah, ucapnya, "Saya bersumpah, jika besok pagi saya tidak berhasil membunuh Sindureja, maka sore harinya saya akan membakar diri." Prabu Suyudana dan segenap Korawa mendengar sumpah Dananjaya, maka Sindureja diperintahkan pulang. Besok pagi, sehari penuh sama sekali tidak boleh keluar jika matahari belum terbenam , dan disuruh memuja supaya mendapat berkat kakeknya, yang bernama Bagawan Sempani, agar supaya selamat. Demikian pula anak panah yang diperolehnya dari Abimanyu hendaknya dipakai, dan memuja pula demi menambah kesaktiannya. {{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude> fkb4ankbkrnj1xfylolhk0ztu8rtsdj Kaca:Bratayuda.pdf/37 250 24811 77968 2026-05-16T01:27:18Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77968 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Tersebutlah Prabu Suyudana bersama istri, Dewi Banowati sangat sedih dan terus-menerus menangis karena putranya Lesmanakumara tewas. Seisi istana ramai oleh tangis, akan tetapi pacta akhirnya Prabu Suyudana terhibur juga hatinya, karena teringat akan sumpah Raden Dananjaya, yang akan membakar diri. Oleh karena itu Sindureja dijaga benar-benar agar jangan sampai tewas. Kemudian Korawa bersuka-ria, karena mereka sudah membayangkan Raden Dananjaya akan mati dalam sehari besok. Prabu Yudistira dan seluruh keluarga sangat prihatin. Setelah Raden Abimanyu tewas, Dewi Siti Sundari ingin cepat-cepat membakar diri, membela suaminya. Akan tetapi sanak keluarganya masih berkeberatan, karena para pemimpin belum mencapai kata sepakat dalam hal mengatur siasat perang. Adapun Dewi Utari, putri Wirata, tidak diperkenankan membela suarrii sebelum kandungannya lahir. Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Hai, Adikku, bagaimana akalmu sekarang, sebab Korawa sudah mendengar sumpahmu di dalam usahamu membunuh Sindureja. Sindureja pasti dijaga dengan ketat, tak mungkin diizinkan pergi kA medan perang, agar supaya sumpahmu itu terlaksana " Dananjaya menjawab, "Segalanya terserah Paduka." ~ri Kresna memberi nasihat, demikian, "Adikku, syarat agar apa yang hendak engkau capai itu terlaksam, ialah hanya dengan jalan berdoa, agar yang pelik-pelik dapat terbuka 'atas pertolongan dewata." Raden Dananjaya menjawab lagi, "Saya bersedia melaksanakan petunjuk Paduka." Sri Kresna pun meneruskan nasehatnya, "Kelak, jika engkau berperang, pakailah keretaku itu, karena kereta itu mempunyai daya istimewa, terutama pacta keempat ekor kuda penariknya. Yang di depan namanya Ciptawelaha dan Abrapuspa, dan yang di belakang si Sukanta dan Sena. Adapun daya kekuasaannya ialah, segala macam senjata tidak ada yang akan mengenai, dan engkau 40<noinclude></noinclude> aaal32fhxc7u121pljgn5ud1mprzgzc 77978 77968 2026-05-16T01:52:29Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77978 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Tersebutlah Prabu Suyudana bersama istri, Dewi Banowati sangat sedih dan terus-menerus menangis karena putranya Lesmanakumara tewas. Seisi istana ramai oleh tangis, akan tetapi pacta akhirnya Prabu Suyudana terhibur juga hatinya, karena teringat akan sumpah Raden Dananjaya, yang akan membakar diri. Oleh karena itu Sindureja dijaga benar-benar agar jangan sampai tewas. Kemudian Korawa bersuka-ria, karena mereka sudah membayangkan Raden Dananjaya akan mati dalam sehari besok. Prabu Yudistira dan seluruh keluarga sangat prihatin. Setelah Raden Abimanyu tewas, Dewi Siti Sundari ingin cepat-cepat membakar diri, membela suaminya. Akan tetapi sanak keluarganya masih berkeberatan, karena para pemimpin belum mencapai kata sepakat dalam hal mengatur siasat perang. Adapun Dewi Utari, putri Wirata, tidak diperkenankan membela suami sebelum kandungannya lahir. Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Hai, Adikku, bagaimana akalmu sekarang, sebab Korawa sudah mendengar sumpahmu di dalam usahamu membunuh Sindureja. Sindureja pasti dijaga dengan ketat, tak mungkin diizinkan pergi ke medan perang, agar supaya sumpahmu itu terlaksana " Dananjaya menjawab, "Segalanya terserah Paduka." Sri Kresna memberi nasihat, demikian, "Adikku, syarat agar apa yang hendak engkau capai itu terlaksana, ialah hanya dengan jalan berdoa, agar yang pelik-pelik dapat terbuka atas pertolongan dewata." Raden Dananjaya menjawab lagi, "Saya bersedia melaksanakan petunjuk Paduka." Sri Kresna pun meneruskan nasehatnya, "Kelak, jika engkau berperang, pakailah keretaku itu, karena kereta itu mempunyai daya istimewa, terutama pacta keempat ekor kuda penariknya. Yang di depan namanya Ciptawelaha dan Abrapuspa, dan yang di belakang si Sukanta dan Sena. Adapun daya kekuasaannya ialah, segala macam senjata tidak ada yang akan mengenai, dan engkau<noinclude>{{rh|40}}</noinclude> jewdmqoymuaz5eyfw0hcb1601ccb75w 78295 77978 2026-05-16T09:30:11Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78295 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Tersebutlah Prabu Suyudana bersama istri, Dewi Banowati sangat sedih dan terus-menerus menangis karena putranya Lesmanakumara tewas. Seisi istana ramai oleh tangis, akan tetapi pacta akhirnya Prabu Suyudana terhibur juga hatinya, karena teringat akan sumpah Raden Dananjaya, yang akan membakar diri. Oleh karena itu Sindureja dijaga benar-benar agar jangan sampai tewas. Kemudian Korawa bersuka-ria, karena mereka sudah membayangkan Raden Dananjaya akan mati dalam sehari besok. Prabu Yudistira dan seluruh keluarga sangat prihatin. Setelah Raden Abimanyu tewas, Dewi Siti Sundari ingin cepat-cepat membakar diri, membela suaminya. Akan tetapi sanak keluarganya masih berkeberatan, karena para pemimpin belum mencapai kata sepakat dalam hal mengatur siasat perang. Adapun Dewi Utari, putri Wirata, tidak diperkenankan membela suami sebelum kandungannya lahir. Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Hai, Adikku, bagaimana akalmu sekarang, sebab Korawa sudah mendengar sumpahmu di dalam usahamu membunuh Sindureja. Sindureja pasti dijaga dengan ketat, tak mungkin diizinkan pergi ke medan perang, agar supaya sumpahmu itu terlaksana " Dananjaya menjawab, "Segalanya terserah Paduka." Sri Kresna memberi nasihat, demikian, "Adikku, syarat agar apa yang hendak engkau capai itu terlaksana, ialah hanya dengan jalan berdoa, agar yang pelik-pelik dapat terbuka atas pertolongan dewata." Raden Dananjaya menjawab lagi, "Saya bersedia melaksanakan petunjuk Paduka." Sri Kresna pun meneruskan nasehatnya, "Kelak, jika engkau berperang, pakailah keretaku itu, karena kereta itu mempunyai daya istimewa, terutama pacta keempat ekor kuda penariknya. Yang di depan namanya Ciptawelaha dan Abrapuspa, dan yang di belakang si Sukanta dan Sena. Adapun daya kekuasaannya ialah, segala macam senjata tidak ada yang akan mengenai, dan engkau<noinclude>{{rh|40}}</noinclude> 39v1pfzy3me8snkjgilqqo3p2b6z4ut Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/5 250 24812 77970 2026-05-16T01:33:21Z Kriita 885 /* Proofread */ 77970 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ<br> ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}} <poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem> {{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ 1) ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}} {{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude>1){{jawa| ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ ≈ ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉}} {{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude> 78668mdeo55iqjyan8984hn3dam5tpd 77971 77970 2026-05-16T01:33:43Z Kriita 885 77971 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ''<br> ''ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}} <poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem> {{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ 1) ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}} {{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude>1){{jawa| ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ ≈ ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉}} {{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude> k2dr1z6g2cm55kjutk11n0o6qb19cmq 78137 77971 2026-05-16T07:00:13Z Kriita 885 78137 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ''<br> ''ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}} <poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem> {{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ <ref> ''ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ = ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉''</ref>ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}} {{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude> {{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude> r1p2inrnytslhr8kib0ha4efri26svi 78382 78137 2026-05-16T10:10:55Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78382 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ''<br> ''ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}} <poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem> {{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ <ref> ''ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ = ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉''</ref>ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}} {{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude> {{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude> t30the423ymx3wn5q00bxxvncg75c3p Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/20 250 24813 77972 2026-05-16T01:35:11Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77972 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 18 –}}</noinclude><ol start=7> <li><poem>Galap gangsuling tembung Ki Pudjangga panggupitanipun rangu-rangu pamanguning rèh hardjanti tinanggapan prana tambuh katenta nawung prihatos</poem></li> <li><poem>Wartaning para djamhur pamawasing warsita tanpa wus wahanané djaman owah angowahi jèku sangsaja pakéwuh ewuh-aja kang linakon</poem></li> <li><poem>Sidining Kala-bendu saja ndadra ardaning tyas limut nora kena sinirep limpading budi lamun durung mangsanipun malah sumuké angradon</poem></li> <li><poem>Tatanané tumruntun panuntuning tyas angkara antuk kala-désa wenganing karsa kaèksi limut kalimput angawut mawut sanggjaning dumados</poem></li> <li><poem>Ing antara sapangu pangungaking kahanan wus mirut morat-marit panguripané sasami sirna katentremanipun wong udrasa sa-nggon-enggon</poem></li> <li><poem>Kemat isarat lebur bupur tanpa daja kaparupuh pari-basan ti<u>d</u>em tan<u>d</u>aning dumadi begdjané ula <u>d</u>ahulu tjangkem silité anjaplok</poem></li> <li><poem>n<u>D</u>ungkari gunung-gunung kang geneng-geneng pada djinugrug paran-déné tan ana kang nanggulangi wedi kalamun sinembur</poem></li><noinclude></noinclude> 990s2yd1j3u3t0jd7ybsl1xubo5xw4x 78362 77972 2026-05-16T10:00:16Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78362 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 18 –}}</noinclude><ol start=7> <li><poem>Galap gangsuling tembung Ki Pudjangga panggupitanipun rangu-rangu pamanguning rèh hardjanti tinanggapan prana tambuh katenta nawung prihatos</poem></li> <li><poem>Wartaning para djamhur pamawasing warsita tanpa wus wahanané djaman owah angowahi jèku sangsaja pakéwuh ewuh-aja kang linakon</poem></li> <li><poem>Sidining Kala-bendu saja ndadra ardaning tyas limut nora kena sinirep limpading budi lamun durung mangsanipun malah sumuké angradon</poem></li> <li><poem>Tatanané tumruntun panuntuning tyas angkara antuk kala-désa wenganing karsa kaèksi limut kalimput angawut mawut sanggjaning dumados</poem></li> <li><poem>Ing antara sapangu pangungaking kahanan wus mirut morat-marit panguripané sasami sirna katentremanipun wong udrasa sa-nggon-enggon</poem></li> <li><poem>Kemat isarat lebur bupur tanpa daja kaparupuh pari-basan ti<u>d</u>em tan<u>d</u>aning dumadi begdjané ula <u>d</u>ahulu tjangkem silité anjaplok</poem></li> <li><poem>n<u>D</u>ungkari gunung-gunung kang geneng-geneng pada djinugrug paran-déné tan ana kang nanggulangi wedi kalamun sinembur</poem></li><noinclude></noinclude> ji14yqmi3gbc3tat966ckgbo5be0qte Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/21 250 24814 77973 2026-05-16T01:39:58Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77973 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 19 –}}</noinclude>:::upasé lir wédang umob <ol start=14> <li><poem>Kolonganing kaluwung prabanira kuning abang biru sumurupa iku mung soroting warih wawarahé para rusul dudu djatining Hjang Manon</poem></li> <li><poem>Supaja pa<u>d</u>a émut amawasa mbéndjang djroning taun windu kuning kono ana wéwé putih gagamané tebu wulung arsa angrabasèng we<u>d</u>on</poem></li> <li><poem>Rasané wus karasuk kesuk lawan kala-mangsanipun kawisésa kuwasanira Hjang Widi wahjaning wahju tumelung tulus tan kena tinegor</poem></li> <li><poem>Karkating tyas katudju djibar-djibur adus banju waju juwanané turun-tumurun tan enting lijan pradja samja sajuk kèringan saenggon-enggon</poem></li> <li><poem>Tatuné kabèh tuntum lalarane waluja sadarum tyas prihatin ginantyan suka mepeki wong ngantuk anemu ke<u>t</u>uk djro mèsi dinar sabokor</poem></li> <li><poem>Amung pa<u>d</u>a tinumpuk nora ana rusuh tjolong djupuk redja-kaja tjinantjangan anèng ndjawi tan ana nganggo tinunggu paran-déné tan tjinolong</poem></li> <li><poem>Diraning durta katut anglakoni ing panggawé runtut</poem></li><noinclude></noinclude> j6tzvlwqaikkchzzcz6fnfwmcttsh40 77974 77973 2026-05-16T01:40:43Z Abdansykr26 860 77974 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 19 –}}</noinclude>::upasé lir wédang umob <ol start=14> <li><poem>Kolonganing kaluwung prabanira kuning abang biru sumurupa iku mung soroting warih wawarahé para rusul dudu djatining Hjang Manon</poem></li> <li><poem>Supaja pa<u>d</u>a émut amawasa mbéndjang djroning taun windu kuning kono ana wéwé putih gagamané tebu wulung arsa angrabasèng we<u>d</u>on</poem></li> <li><poem>Rasané wus karasuk kesuk lawan kala-mangsanipun kawisésa kuwasanira Hjang Widi wahjaning wahju tumelung tulus tan kena tinegor</poem></li> <li><poem>Karkating tyas katudju djibar-djibur adus banju waju juwanané turun-tumurun tan enting lijan pradja samja sajuk kèringan saenggon-enggon</poem></li> <li><poem>Tatuné kabèh tuntum lalarane waluja sadarum tyas prihatin ginantyan suka mepeki wong ngantuk anemu ke<u>t</u>uk djro mèsi dinar sabokor</poem></li> <li><poem>Amung pa<u>d</u>a tinumpuk nora ana rusuh tjolong djupuk redja-kaja tjinantjangan anèng ndjawi tan ana nganggo tinunggu paran-déné tan tjinolong</poem></li> <li><poem>Diraning durta katut anglakoni ing panggawé runtut</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> kpqxd8nnalbswfg8hn6gwvuh226ssmn 78364 77974 2026-05-16T10:00:38Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78364 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 19 –}}</noinclude>::upasé lir wédang umob <ol start=14> <li><poem>Kolonganing kaluwung prabanira kuning abang biru sumurupa iku mung soroting warih wawarahé para rusul dudu djatining Hjang Manon</poem></li> <li><poem>Supaja pa<u>d</u>a émut amawasa mbéndjang djroning taun windu kuning kono ana wéwé putih gagamané tebu wulung arsa angrabasèng we<u>d</u>on</poem></li> <li><poem>Rasané wus karasuk kesuk lawan kala-mangsanipun kawisésa kuwasanira Hjang Widi wahjaning wahju tumelung tulus tan kena tinegor</poem></li> <li><poem>Karkating tyas katudju djibar-djibur adus banju waju juwanané turun-tumurun tan enting lijan pradja samja sajuk kèringan saenggon-enggon</poem></li> <li><poem>Tatuné kabèh tuntum lalarane waluja sadarum tyas prihatin ginantyan suka mepeki wong ngantuk anemu ke<u>t</u>uk djro mèsi dinar sabokor</poem></li> <li><poem>Amung pa<u>d</u>a tinumpuk nora ana rusuh tjolong djupuk redja-kaja tjinantjangan anèng ndjawi tan ana nganggo tinunggu paran-déné tan tjinolong</poem></li> <li><poem>Diraning durta katut anglakoni ing panggawé runtut</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> 5k2bvihyfbmu8tb5l4q34wytqy6ixau Kaca:Bratayuda.pdf/38 250 24815 77979 2026-05-16T01:52:51Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77979 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>pun kuberi sebuah gong yang bemama Pancajanya, yang besok pagi tidak boleh berjauhan denganmu. Dan engkau harus menggunakan panah cakra. Sedangkan panahmu Pasopati, sediakanlah untuk si Sindureja. Rasanya, kematiannya memang besok pagi, meski berat bebanmu, karena ayahnya, yang bemama Bagawan Sampani, samadinya sedang diterima oleh dewata yang tinggi. Meskipun demikian atasjlah dengan pujamu yang khusuk semalam ini. Pintalah kematian Sindureja, siapa tahu dugaanku meleset. Nah, coba buktikanlah, memujalah dengan khusuk." Raden Dananjaya menyembah, lalu pergi dari hadapan Sri Kresna, lalu bersamadi, mengheningkan cipta, melenyapkan anganangan yang terdiri atas lima perkara, benar-benar sudah seperti mati di dalam hidup. Tidak antara lama sang Hyang Jagadnata menampakkan diri, hanya sebatas leher ke atas, sedangkan dari leher ke bawah tidak tampak. Sabda sang Hyang J agadnata demikian, "Hai, Dananjaya, sudahilah samadimu, kematian si Sindureja saya relakan, berkat permohonanmu itu. Gunakanlah panahmu si Pasopati, dan besok pagi pakailah kereta Kresna. Lagi pula gong yang bernama Pancajanya harus selalu berada di dekatmu. *** Raden Dananjaya sudah menyudahi samadinya, lalu langsung pergi ke pesanggrahan Sri Kresna, lalu sembahnya, "Apa yang Paduka katakan, tak ada yang meleset, karena semua saina benar dengan petunjuk sang Hyang J agadnata. Serambut pun tidak ada bedanya." Sri Kresna tersenyum, lalu ujamya, "Adikku, marilah kita segera mengantar si Siti Sundari, yang akan membela kematian sua.minya." Tersebutlah Dewi Siti Sundari, telah mengenakan pakaian kematian, akan membela suaminya, dan dia selalu menghibur Dewi Utari, yang selalu ingin bela mati. Karena bulan sudah tinggi, dalam mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada Dewi Utari, Dewi ~iti Sunoan agak tergesa-gesa, demikian, "Karena engkau sedang hamil, engkau tidak boleh membela suaniimu. Tak seorang 41<noinclude></noinclude> ggxxv2rkafut79n407qr3n0crln2jbd 77981 77979 2026-05-16T01:58:14Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77981 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>pun kuberi sebuah gong yang bemama Pancajanya, yang besok pagi tidak boleh berjauhan denganmu. Dan engkau harus menggunakan panah cakra. Sedangkan panahmu Pasopati, sediakanlah untuk si Sindureja. Rasanya, kematiannya memang besok pagi, meski berat bebanmu, karena ayahnya, yang bernama Bagawan Sampani, samadinya sedang diterima oleh dewata yang tinggi. Meskipun demikian atasilah dengan pujamu yang khusuk semalam ini. Pintalah kematian Sindureja, siapa tahu dugaanku meleset. Nah, coba buktikanlah, memujalah dengan khusuk." Raden Dananjaya menyembah, lalu pergi dari hadapan Sri Kresna, lalu bersamadi, mengheningkan cipta, melenyapkan angan-angan yang terdiri atas lima perkara, benar-benar sudah seperti mati di dalam hidup. Tidak antara lama sang Hyang Jagadnata menampakkan diri, hanya sebatas leher ke atas, sedangkan dari leher ke bawah tidak tampak. Sabda sang Hyang Jagadnata demikian, "Hai, Dananjaya, sudahilah samadimu, kematian si Sindureja saya relakan, berkat permohonanmu itu. Gunakanlah panahmu si Pasopati, dan besok pagi pakailah kereta Kresna. Lagi pula gong yang bernama Pancajanya harus selalu berada di dekatmu. {{C|* * *}} Raden Dananjaya sudah menyudahi samadinya, lalu langsung pergi ke pesanggrahan Sri Kresna, lalu sembahnya, "Apa yang Paduka katakan, tak ada yang meleset, karena semua saina benar dengan petunjuk sang Hyang Jagadnata. Serambut pun tidak ada bedanya." Sri Kresna tersenyum, lalu ujamya, "Adikku, marilah kita segera mengantar si Siti Sundari, yang akan membela kematian suaminya." Tersebutlah Dewi Siti Sundari, telah mengenakan pakaian kematian, akan membela suaminya, dan dia selalu menghibur Dewi Utari, yang selalu ingin bela mati. Karena bulan sudah tinggi, dalam mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada Dewi Utari, Dewi Siti Sundari agak tergesa-gesa, demikian, "Karena engkau sedang hamil, engkau tidak boleh membela suamimu. Tak seorang<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude> b82zvo8gb6tggs08y772ioihoi5at8d 78296 77981 2026-05-16T09:30:23Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78296 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>pun kuberi sebuah gong yang bemama Pancajanya, yang besok pagi tidak boleh berjauhan denganmu. Dan engkau harus menggunakan panah cakra. Sedangkan panahmu Pasopati, sediakanlah untuk si Sindureja. Rasanya, kematiannya memang besok pagi, meski berat bebanmu, karena ayahnya, yang bernama Bagawan Sampani, samadinya sedang diterima oleh dewata yang tinggi. Meskipun demikian atasilah dengan pujamu yang khusuk semalam ini. Pintalah kematian Sindureja, siapa tahu dugaanku meleset. Nah, coba buktikanlah, memujalah dengan khusuk." Raden Dananjaya menyembah, lalu pergi dari hadapan Sri Kresna, lalu bersamadi, mengheningkan cipta, melenyapkan angan-angan yang terdiri atas lima perkara, benar-benar sudah seperti mati di dalam hidup. Tidak antara lama sang Hyang Jagadnata menampakkan diri, hanya sebatas leher ke atas, sedangkan dari leher ke bawah tidak tampak. Sabda sang Hyang Jagadnata demikian, "Hai, Dananjaya, sudahilah samadimu, kematian si Sindureja saya relakan, berkat permohonanmu itu. Gunakanlah panahmu si Pasopati, dan besok pagi pakailah kereta Kresna. Lagi pula gong yang bernama Pancajanya harus selalu berada di dekatmu. {{C|* * *}} Raden Dananjaya sudah menyudahi samadinya, lalu langsung pergi ke pesanggrahan Sri Kresna, lalu sembahnya, "Apa yang Paduka katakan, tak ada yang meleset, karena semua saina benar dengan petunjuk sang Hyang Jagadnata. Serambut pun tidak ada bedanya." Sri Kresna tersenyum, lalu ujamya, "Adikku, marilah kita segera mengantar si Siti Sundari, yang akan membela kematian suaminya." Tersebutlah Dewi Siti Sundari, telah mengenakan pakaian kematian, akan membela suaminya, dan dia selalu menghibur Dewi Utari, yang selalu ingin bela mati. Karena bulan sudah tinggi, dalam mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada Dewi Utari, Dewi Siti Sundari agak tergesa-gesa, demikian, "Karena engkau sedang hamil, engkau tidak boleh membela suamimu. Tak seorang<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude> lv4t3695soenpgzsb5y3e8k9tz34mr0 Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/23 250 24816 77980 2026-05-16T01:54:09Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77980 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 21 –}}</noinclude><ol start=2> <li><poem>Galagaté ing pungkur wahanané djaman saja kisruh akèh laku kang sungsang bawana balik wanodya jun ngarah luhur temah prijané kèh kasor</poem></li> <li><poem>Warnanen tyasing kakung kèh amirib pra wadon satuhu tjupar memet we tuning butuh tinliti wit samar paparingipun Hjang Suksma jèn tan <u>d</u>umawoh</poem></li> <li><poem>Singlaring tyas puniku njudakaken tumuruning wahju sirna gempang pangandelé mring Hjang Widi marma djagadé barubuh kèh laku ingkang mbeséjol</poem></li> <li><poem>Tatas katresnanipun wonge tjilik mring bangsa ngaluhur wit kang ngembat pradja jekti kurang adil akèh radja tinarungku ngono karsané Hjang Manon</poem></li> </ol> Makaten ungeling "djangka" wau. Miturut kasumerepan-kula, ingkang andamel: salah satunggaling guru Sekolah Rakjat, asli Surakarta. Wusana njumanggakaken. <center> ------- </center><noinclude></noinclude> botx83kwgxtabz1j5wjjn2btlmgzob5 78366 77980 2026-05-16T10:01:10Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78366 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 21 –}}</noinclude><ol start=2> <li><poem>Galagaté ing pungkur wahanané djaman saja kisruh akèh laku kang sungsang bawana balik wanodya jun ngarah luhur temah prijané kèh kasor</poem></li> <li><poem>Warnanen tyasing kakung kèh amirib pra wadon satuhu tjupar memet we tuning butuh tinliti wit samar paparingipun Hjang Suksma jèn tan <u>d</u>umawoh</poem></li> <li><poem>Singlaring tyas puniku njudakaken tumuruning wahju sirna gempang pangandelé mring Hjang Widi marma djagadé barubuh kèh laku ingkang mbeséjol</poem></li> <li><poem>Tatas katresnanipun wonge tjilik mring bangsa ngaluhur wit kang ngembat pradja jekti kurang adil akèh radja tinarungku ngono karsané Hjang Manon</poem></li> </ol> Makaten ungeling "djangka" wau. Miturut kasumerepan-kula, ingkang andamel: salah satunggaling guru Sekolah Rakjat, asli Surakarta. Wusana njumanggakaken. <center> ------- </center><noinclude></noinclude> ha4cnbwm7b2ypad9jq3ljdq90y3yxjv Kaca:Bratayuda.pdf/39 250 24817 77982 2026-05-16T01:58:54Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77982 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>pun yang akan menuduhmu takut melakukan bela, dan pasti tidak ada seorang pun yang berpendapat demik:ian. Selain dari itu, pembelaan orang yang sedang hamil itu tidak bermanfaat, bahkan dapat mendatangkan dosa, sebab sudah jelas, engkau sedang hamil delapan bulan. Nah, sudahlah, selamat tinggal, saya minta diri hendak pergi ke api unggun pembelaan itu." Dewi Utari menjawab dengan perkataan terputus-putus, "Katakanlah kepada si Abimanyu, bahwa saya sangat prihatin, karena dilarang oleh para-raja, tidak diizinkan turut mati, bela, naik ke api unggun, alasannya karena kandunganku belum lahir, dan dikatakan akan mendapat amarah dewata yang maha tinggi. Akan tetapi sebenarnya, perasaanku ini, demikian besamya cintaku padanya, moga-moga perasaan cintaku ikut dibawa mati, dan mogamoga pula tak lama pula hidupku nanti. Jangan sampai lupa, katakanlah, dan sampaikan pesanku itu, bahwa harapanku, mudahmudahan dapat segera hidup berdampingan di Indraloka dengan si Abimanyu. Mengapa hal itu · terjadi bertepatan dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, sehingga ku tak bisa pergi bersamamu." Setelah Dewi Utari terhibur, Dewi Siti Sundari lalu berjalan hendak pamit kepada ayah bundanya. Keadaan itu sangat memprihatinkan dan memilukan bagi yang dipamiti, sehingga mereka tak dapat lagi berkata-kata. Sesudah selesai, Dewi Siti Sundari lalu berjalan ke medan perang, ke tempat jenazah suaminya, yang lalu dibakar bersama-sama Dewi Siti Sundari. Mereka yang menyaksik:an upacara pembakaran sudah pulang. Kala itu bulan sudah rendah letaknya, tampaknya seolah-olah kasih sayang kepada yang mati bela. 42<noinclude></noinclude> edh7h3qtmzv73mszocmdrzasyrk3kyq 77985 77982 2026-05-16T02:02:13Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77985 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>pun yang akan menuduhmu takut melakukan bela, dan pasti tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian. Selain dari itu, pembelaan orang yang sedang hamil itu tidak bermanfaat, bahkan dapat mendatangkan dosa, sebab sudah jelas, engkau sedang hamil delapan bulan. Nah, sudahlah, selamat tinggal, saya minta diri hendak pergi ke api unggun pembelaan itu." Dewi Utari menjawab dengan perkataan terputus-putus, "Katakanlah kepada si Abimanyu, bahwa saya sangat prihatin, karena dilarang oleh para-raja, tidak diizinkan turut mati, bela, naik ke api unggun, alasannya karena kandunganku belum lahir, dan dikatakan akan mendapat amarah dewata yang maha tinggi. Akan tetapi sebenarnya, perasaanku ini, demikian besarnya cintaku padanya, moga-moga perasaan cintaku ikut dibawa mati, dan moga-moga pula tak lama pula hidupku nanti. Jangan sampai lupa, katakanlah, dan sampaikan pesanku itu, bahwa harapanku, mudah-mudahan dapat segera hidup berdampingan di Indraloka dengan si Abimanyu. Mengapa hal itu terjadi bertepatan dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, sehingga ku tak bisa pergi bersamamu." Setelah Dewi Utari terhibur, Dewi Siti Sundari lalu berjalan hendak pamit kepada ayah bundanya. Keadaan itu sangat memprihatinkan dan memilukan bagi yang dipamiti, sehingga mereka tak dapat lagi berkata-kata. Sesudah selesai, Dewi Siti Sundari lalu berjalan ke medan perang, ke tempat jenazah suaminya, yang lalu dibakar bersama-sama Dewi Siti Sundari. Mereka yang menyaksikan upacara pembakaran sudah pulang. Kala itu bulan sudah rendah letaknya, tampaknya seolah-olah kasih sayang kepada yang mati bela.<noinclude>{{rh|42}}</noinclude> 1iy9rjxokhhspdjb3cmblaiprds8vbk 78297 77985 2026-05-16T09:30:32Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78297 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>pun yang akan menuduhmu takut melakukan bela, dan pasti tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian. Selain dari itu, pembelaan orang yang sedang hamil itu tidak bermanfaat, bahkan dapat mendatangkan dosa, sebab sudah jelas, engkau sedang hamil delapan bulan. Nah, sudahlah, selamat tinggal, saya minta diri hendak pergi ke api unggun pembelaan itu." Dewi Utari menjawab dengan perkataan terputus-putus, "Katakanlah kepada si Abimanyu, bahwa saya sangat prihatin, karena dilarang oleh para-raja, tidak diizinkan turut mati, bela, naik ke api unggun, alasannya karena kandunganku belum lahir, dan dikatakan akan mendapat amarah dewata yang maha tinggi. Akan tetapi sebenarnya, perasaanku ini, demikian besarnya cintaku padanya, moga-moga perasaan cintaku ikut dibawa mati, dan moga-moga pula tak lama pula hidupku nanti. Jangan sampai lupa, katakanlah, dan sampaikan pesanku itu, bahwa harapanku, mudah-mudahan dapat segera hidup berdampingan di Indraloka dengan si Abimanyu. Mengapa hal itu terjadi bertepatan dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, sehingga ku tak bisa pergi bersamamu." Setelah Dewi Utari terhibur, Dewi Siti Sundari lalu berjalan hendak pamit kepada ayah bundanya. Keadaan itu sangat memprihatinkan dan memilukan bagi yang dipamiti, sehingga mereka tak dapat lagi berkata-kata. Sesudah selesai, Dewi Siti Sundari lalu berjalan ke medan perang, ke tempat jenazah suaminya, yang lalu dibakar bersama-sama Dewi Siti Sundari. Mereka yang menyaksikan upacara pembakaran sudah pulang. Kala itu bulan sudah rendah letaknya, tampaknya seolah-olah kasih sayang kepada yang mati bela.<noinclude>{{rh|42}}</noinclude> 26qlwig16dgy40l7yonyz9xpuw3rquo Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/24 250 24818 77983 2026-05-16T01:59:41Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77983 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 22 –}}</noinclude><center><u> IV. {{sp|SABDA DJJATI}} </u></center> <u> {{sp|Megatruh}} </u> <ol start=1> <li><poem>Ajwa pegat ngudija ronging budyaju marganing suka basuki dimèn luwar kang kinajun kalis ing panggawé sisip ingkang taberi prihatos</poem></li> <li><poem>Ulatana kang nganti bisa kapangguh galé<u>d</u>ahen kang sajekti talitinen ajwa kliru larasen sadjroning ati dèn-tumanggap dimèn manggon</poem></li> <li><poem>Pamanggoné anèng pangès<u>t</u>i rahaju angajomi ing tyas ening eninging ati kang suwung nanging sadjatiné isi isining tjipta kang jektos</poem></li> <li><poem>Lakonana kalawan sabar ing kalbu jen dèn-obah niniwasi kasurupan sétan gun<u>d</u>ul ambébé<u>d</u>ung nggawa kan<u>d</u>i isiné rupijah keton</poem></li> <li><poem>Lamun nganti korup ing panggawé dudu dadi pakuwoning éblis mlebu ing alam pakéwuh éwuh pananinging ati temah wuru kabesturon</poem></li> <li><poem>Nora kéguh mring pamardi rèh budyaju ajuning tyas sipat kuping kinepung panggawé rusuh lali pasihaning Gusti ginuntingan kaja mronos</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> 3l58phpszfc6t5mwgq1k5ivvi688zr0 77984 77983 2026-05-16T02:00:03Z Abdansykr26 860 77984 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 22 –}}</noinclude><center><u> IV. {{sp|SABDA DJATI}} </u></center> <u> {{sp|Megatruh}} </u> <ol start=1> <li><poem>Ajwa pegat ngudija ronging budyaju marganing suka basuki dimèn luwar kang kinajun kalis ing panggawé sisip ingkang taberi prihatos</poem></li> <li><poem>Ulatana kang nganti bisa kapangguh galé<u>d</u>ahen kang sajekti talitinen ajwa kliru larasen sadjroning ati dèn-tumanggap dimèn manggon</poem></li> <li><poem>Pamanggoné anèng pangès<u>t</u>i rahaju angajomi ing tyas ening eninging ati kang suwung nanging sadjatiné isi isining tjipta kang jektos</poem></li> <li><poem>Lakonana kalawan sabar ing kalbu jen dèn-obah niniwasi kasurupan sétan gun<u>d</u>ul ambébé<u>d</u>ung nggawa kan<u>d</u>i isiné rupijah keton</poem></li> <li><poem>Lamun nganti korup ing panggawé dudu dadi pakuwoning éblis mlebu ing alam pakéwuh éwuh pananinging ati temah wuru kabesturon</poem></li> <li><poem>Nora kéguh mring pamardi rèh budyaju ajuning tyas sipat kuping kinepung panggawé rusuh lali pasihaning Gusti ginuntingan kaja mronos</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> 18imcxsxrz8hfyfccnma8yzq3d5o5as 78368 77984 2026-05-16T10:01:17Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78368 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 22 –}}</noinclude><center><u> IV. {{sp|SABDA DJATI}} </u></center> <u> {{sp|Megatruh}} </u> <ol start=1> <li><poem>Ajwa pegat ngudija ronging budyaju marganing suka basuki dimèn luwar kang kinajun kalis ing panggawé sisip ingkang taberi prihatos</poem></li> <li><poem>Ulatana kang nganti bisa kapangguh galé<u>d</u>ahen kang sajekti talitinen ajwa kliru larasen sadjroning ati dèn-tumanggap dimèn manggon</poem></li> <li><poem>Pamanggoné anèng pangès<u>t</u>i rahaju angajomi ing tyas ening eninging ati kang suwung nanging sadjatiné isi isining tjipta kang jektos</poem></li> <li><poem>Lakonana kalawan sabar ing kalbu jen dèn-obah niniwasi kasurupan sétan gun<u>d</u>ul ambébé<u>d</u>ung nggawa kan<u>d</u>i isiné rupijah keton</poem></li> <li><poem>Lamun nganti korup ing panggawé dudu dadi pakuwoning éblis mlebu ing alam pakéwuh éwuh pananinging ati temah wuru kabesturon</poem></li> <li><poem>Nora kéguh mring pamardi rèh budyaju ajuning tyas sipat kuping kinepung panggawé rusuh lali pasihaning Gusti ginuntingan kaja mronos</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> jgj6b98xmo3j6l7quzcz873mahyo9gs Kaca:Bratayuda.pdf/40 250 24819 77986 2026-05-16T02:02:30Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77986 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>5. SINDUREJA ATAU JAYADRATA TEWAS OLEH ARJUNA Fajar pagi. telah menyingsing, gemuruh suara gendang, gong dan beri. Gong kepunyaan Sri Kresna yang bemama Pancajanya, bergema suaranya ketika ditabuh, gemanya seolah-olah sampai ke Suralaya. Para raja yang sudah .berkumpul beserta. barisan mereka masing-masing, tampak seperti lautan. Kemudian barisan Korawa keluar, luar biasa besamya, bagaikan samudra pasang naik. Gelar perangnya masih tetap Cakrabyuha, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Hanya saj·a yang berada di sisinya bukan lagi. Sindureja. Sindureja tidak tampil ke medan perang, dan dijaga ketat oleh Korawa. *** Korawa telah selesai mengatur gelamya, Cakrabyuha, Iebar barisannya sejauh-jauh mata memandang. Sedangkan panjangnya sepuluh kali lipat dari lebamya. Tebalnya barisan, yang terdiri dari para mantri pilihan maupun para prajurit yang terkenal gagah berani serta sakti pun sejauh mata memandang. Kemudian Pandawa mengi.mbanginya dengan gelar Cakrabyuha pula. Drustajumena menempati sisi kanan, Wrekodara berada di sisi kiri. Dananjaya menjadi leher, mengendarai kereta bersama Sri Kresna. Rata itu kepunyaan Sri Kresna, ditarik oleh empat ekor kuda. Yang di depan bemama Ciptawelaha dan Abrapuspa, yang di belakang namanya Sukanta dan Senasekti. Para dewa, ketika mendengar suara Pancajanya, lalu menanton dari antariksa seraya menghujankan wangi-wangi.an. Gamelan yang bernama Dewadenta ditaruh di belakang. Prajurit Pandawa timbul keberaniannya karena mendengar suara kedua gamelan itu. Serbuannya bagaikan raksasa berebut daging, gelar Korawa berantakan, tak dapat menahan serbuan barisan Pandawa. Kemudian rajaputra Mandaraka, yang bemama Raden Burisrawa, maju mengendarai kereta, hendak membalas merusakkan 43 i<noinclude></noinclude> cz7adqmi74svirosbzpgrtbzsk0rrqp 77989 77986 2026-05-16T02:12:50Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77989 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''5. SINDUREJA ATAU JAYADRATA TEWAS'''<br> '''OLEH ARJUNA'''}} Fajar pagi telah menyingsing, gemuruh suara gendang, gong dan beri. Gong kepunyaan Sri Kresna yang bernama Pancajanya, bergema suaranya ketika ditabuh, gemanya seolah-olah sampai ke Suralaya. Para raja yang sudah berkumpul beserta barisan mereka masing-masing, tampak seperti lautan. Kemudian barisan Korawa keluar, luar biasa besarnya, bagaikan samudra pasang naik. Gelar perangnya masih tetap Cakrabyuha, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Hanya saja yang berada di sisinya bukan lagi Sindureja. Sindureja tidak tampil ke medan perang, dan dijaga ketat oleh Korawa. {{C|* * *}} Korawa telah selesai mengatur gelamya, Cakrabyuha, lebar barisannya sejauh-jauh mata memandang. Sedangkan panjangnya sepuluh kali lipat dari lebarnya. Tebalnya barisan, yang terdiri dari para mantri pilihan maupun para prajurit yang terkenal gagah berani serta sakti pun sejauh mata memandang. Kemudian Pandawa mengimbanginya dengan gelar Cakrabyuha pula. Drustajumena menempati sisi kanan, Wrekodara berada di sisi kiri. Dananjaya menjadi leher, mengendarai kereta bersama Sri Kresna. Rata itu kepunyaan Sri Kresna, ditarik oleh empat ekor kuda. Yang di depan bernama Ciptawelaha dan Abrapuspa, yang di belakang namanya Sukanta dan Senasekti. Para dewa, ketika mendengar suara Pancajanya, lalu menonton dari antariksa seraya menghujankan wangi-wangian. Gamelan yang bernama Dewadenta ditaruh di belakang. Prajurit Pandawa timbul keberaniannya karena mendengar suara kedua gamelan itu. Serbuannya bagaikan raksasa berebut daging, gelar Korawa berantakan, tak dapat menahan serbuan barisan Pandawa. Kemudian rajaputra Mandaraka, yang bernama Raden Burisrawa, maju mengendarai kereta, hendak membalas merusakkan<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude> qrn37ac95rz2zwsagrwvemid590gja6 78298 77989 2026-05-16T09:30:42Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78298 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''5. SINDUREJA ATAU JAYADRATA TEWAS'''<br> '''OLEH ARJUNA'''}} Fajar pagi telah menyingsing, gemuruh suara gendang, gong dan beri. Gong kepunyaan Sri Kresna yang bernama Pancajanya, bergema suaranya ketika ditabuh, gemanya seolah-olah sampai ke Suralaya. Para raja yang sudah berkumpul beserta barisan mereka masing-masing, tampak seperti lautan. Kemudian barisan Korawa keluar, luar biasa besarnya, bagaikan samudra pasang naik. Gelar perangnya masih tetap Cakrabyuha, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Hanya saja yang berada di sisinya bukan lagi Sindureja. Sindureja tidak tampil ke medan perang, dan dijaga ketat oleh Korawa. {{C|* * *}} Korawa telah selesai mengatur gelamya, Cakrabyuha, lebar barisannya sejauh-jauh mata memandang. Sedangkan panjangnya sepuluh kali lipat dari lebarnya. Tebalnya barisan, yang terdiri dari para mantri pilihan maupun para prajurit yang terkenal gagah berani serta sakti pun sejauh mata memandang. Kemudian Pandawa mengimbanginya dengan gelar Cakrabyuha pula. Drustajumena menempati sisi kanan, Wrekodara berada di sisi kiri. Dananjaya menjadi leher, mengendarai kereta bersama Sri Kresna. Rata itu kepunyaan Sri Kresna, ditarik oleh empat ekor kuda. Yang di depan bernama Ciptawelaha dan Abrapuspa, yang di belakang namanya Sukanta dan Senasekti. Para dewa, ketika mendengar suara Pancajanya, lalu menonton dari antariksa seraya menghujankan wangi-wangian. Gamelan yang bernama Dewadenta ditaruh di belakang. Prajurit Pandawa timbul keberaniannya karena mendengar suara kedua gamelan itu. Serbuannya bagaikan raksasa berebut daging, gelar Korawa berantakan, tak dapat menahan serbuan barisan Pandawa. Kemudian rajaputra Mandaraka, yang bernama Raden Burisrawa, maju mengendarai kereta, hendak membalas merusakkan<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude> gtmx56uiujude3q9po9bikx1cx1ons3 Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/25 250 24820 77987 2026-05-16T02:06:05Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77987 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 23 –}}</noinclude><ol start=7> <li><poem>Parandéné kabèh kang samja andulu ulap kalilipen we<u>d</u>i akèh wong kang pa<u>d</u>a sudjud kinira jèn Djabarail kautus déning Hjang Manon</poem></li> <li><poem>Jèn kang uning marang sadjatining kawruh kèwuhan sadjroning ati jèn tan niru nora arus uripé kaèsi-èsi jèn niruwa dadi asor</poem></li> <li><poem>Nora ngandel marang gaibing Hjang Agung anggelar sakalir-kalir kalamun temen tinemu kabegdjané anekani kamurahaning Hjang Manon</poem></li> <li><poem>Anuhoni kabèh kang duwé panuwun jèn temen-temen sajekti Allah aparing pitulung nora kurang san<u>d</u>ang bukti satjiptanira kalakon</poem></li> <li><poem>Ki Pudjangga njambi-wara wèh pitutur saka mangunahing Widi ambuka warananipun aling-aling kang ngalingi angalingkap temah katon</poem></li> <li><poem>Para djanma sadjroning djaman pakéwuh kasudranira andadi dahuruné saja ndarung kèh tyas mirong murang margi kasetyan wus nora katon</poem></li> <li><poem>Katuwoné winawas dahat matrenju kenjaming sasmita jekti sanityasèng tyas malat-kung kongas welasé kapati</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> ktuj2evxlngh3bf2ptke8wlxi1su458 78369 77987 2026-05-16T10:01:28Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78369 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 23 –}}</noinclude><ol start=7> <li><poem>Parandéné kabèh kang samja andulu ulap kalilipen we<u>d</u>i akèh wong kang pa<u>d</u>a sudjud kinira jèn Djabarail kautus déning Hjang Manon</poem></li> <li><poem>Jèn kang uning marang sadjatining kawruh kèwuhan sadjroning ati jèn tan niru nora arus uripé kaèsi-èsi jèn niruwa dadi asor</poem></li> <li><poem>Nora ngandel marang gaibing Hjang Agung anggelar sakalir-kalir kalamun temen tinemu kabegdjané anekani kamurahaning Hjang Manon</poem></li> <li><poem>Anuhoni kabèh kang duwé panuwun jèn temen-temen sajekti Allah aparing pitulung nora kurang san<u>d</u>ang bukti satjiptanira kalakon</poem></li> <li><poem>Ki Pudjangga njambi-wara wèh pitutur saka mangunahing Widi ambuka warananipun aling-aling kang ngalingi angalingkap temah katon</poem></li> <li><poem>Para djanma sadjroning djaman pakéwuh kasudranira andadi dahuruné saja ndarung kèh tyas mirong murang margi kasetyan wus nora katon</poem></li> <li><poem>Katuwoné winawas dahat matrenju kenjaming sasmita jekti sanityasèng tyas malat-kung kongas welasé kapati</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> jf5mbk29lcfnj2a5kblxhfeq1437c8l Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/26 250 24821 77988 2026-05-16T02:12:08Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77988 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 24 –}}</noinclude>::sulaking djaman prihatos <ol start=14> <li><poem>Walujané mbéndjang jèn wus ana wiku mumudji ngès<u>t</u>i sawidji sabuk lebu lir madjenun galibedan tudang-tuding anatjahken sakèhing wong</poem></li> <li><poem>Iku lagi sirep djaman Kala-bendu Kala-suba kang gumanti wong tjilik bisa gumuju nora kurang san<u>d</u>ang bukti sedyané kabèh kalakon</poem></li> <li><poem>Panduluné Ki Pudjangga durung kemput mulur lir benang tinarik nanging kaserang ing umur andungkap kasidan djati mulih sadjatining enggon</poem></li> <li><poem>Amung kurang wolung ari kang kadulu emating pati patitis wus katon nèng lohkil-makpul angumpul ing madya ari amarengi ri Buda Pon</poem></li> <li><poem>Tanggal kaping lima antaraning luhur Sela-ning taun Djimakir Tolu Uma Arjang Djagur Sangara winduning pati netepi ngumpul saenggon</poem></li> <li><poem>Tjinitra ri Buda kaping wolulikur Sawal-ing taun Djimakir tjandraning warsa pinétung nembah mukswa pudjangga dji Ki Pudjangga pamit lajon</poem></li> </ol> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (Mirsani katja 25)<noinclude></noinclude> mj52t574gx14a7fnw200rb4lgzafild 78370 77988 2026-05-16T10:01:35Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78370 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 24 –}}</noinclude>::sulaking djaman prihatos <ol start=14> <li><poem>Walujané mbéndjang jèn wus ana wiku mumudji ngès<u>t</u>i sawidji sabuk lebu lir madjenun galibedan tudang-tuding anatjahken sakèhing wong</poem></li> <li><poem>Iku lagi sirep djaman Kala-bendu Kala-suba kang gumanti wong tjilik bisa gumuju nora kurang san<u>d</u>ang bukti sedyané kabèh kalakon</poem></li> <li><poem>Panduluné Ki Pudjangga durung kemput mulur lir benang tinarik nanging kaserang ing umur andungkap kasidan djati mulih sadjatining enggon</poem></li> <li><poem>Amung kurang wolung ari kang kadulu emating pati patitis wus katon nèng lohkil-makpul angumpul ing madya ari amarengi ri Buda Pon</poem></li> <li><poem>Tanggal kaping lima antaraning luhur Sela-ning taun Djimakir Tolu Uma Arjang Djagur Sangara winduning pati netepi ngumpul saenggon</poem></li> <li><poem>Tjinitra ri Buda kaping wolulikur Sawal-ing taun Djimakir tjandraning warsa pinétung nembah mukswa pudjangga dji Ki Pudjangga pamit lajon</poem></li> </ol> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (Mirsani katja 25)<noinclude></noinclude> siklf3t1eij32ipqwvk3pqa57y30lk9 Kaca:Bratayuda.pdf/41 250 24822 77990 2026-05-16T02:13:16Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77990 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>gelar lawan. Ia menantang musuh, "Hai, Setyaki, di mana engkau. Datanglah ke marl untuk mengadu kesaktian." Raden Setyaki maju mengendarai kereta, inenunjuk Raden Burisrawa, seraya ucapnya, "Hai, Burisrawa, aku sungguh beruntung, karena engkau yang datang ke padaku. Engkau jangan lari!" Setelah sating berhadapan, Raden Setyaki segera menarik busumya, melepaskan anak panah, kereta Raden Burisrawa kena dan remuk, bahkan sais dan kudanya mati. Burisrawa melompat, ia sangat marah, lalu menarik busumya dan melepaskan anak panah, kereta Setyaki kena, juga remuk. Setyaki melompat, sehingga berperang di darat. Keduanya membuang busur, lalu mengambil gada, dan sa!.:ng menggada. Ketika gada mereka patah, lalu dibuang. Kemudian sating mendorong, sating melempar. Karena Setyaki kalah besar dan tinggi, ia mengalami kesulitan dalam menendang lawannya. Akhimya ia jatuh tertelentang, diinjak-injak oleh Burisrawa, sampai nafasnya hampir putus. Ketika Setyaki hendak ditikam, Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Cepat, panahlah satu di antara kedua: bahu Burisrawa itu, agar jambakannya kepada Setyaki lepas!" Dananjaya segera melepaskan panahnya, bahu Burisrawa kena dan patah. Burisrawa terkejut, dan berseru keras, "Hai, Pandawa msuh, caramu curang." Raden Dananjaya menjawab, " Pandawa tidak curang, tetapi sekedar mengimbangi cara-cara Korawa, karena kematian si Abimanyu dulu, juga karena cara yang curang." Raden Setyaki ketika melihat bahu Burisrawa patah, lalu mengambil panah. Burisrawa dipanah, kena lehemya patah, lalu mati. *** Gemuruh sorak-sorai pasukan Pandawa. Ketika Korawa melihat Burisrawa tewas, lalu mendesak, hendak membalas kematian Burisrawa. Mereka melepaskan panah, banyak sekali, sampai seperti hujan. Raden Dananjaya mengamuk, mengobrak-abrik. Wre44<noinclude></noinclude> 381iw4cz12fhz7rtikblsds62drg0b0 77991 77990 2026-05-16T02:17:33Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77991 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>gelar lawan. Ia menantang musuh, "Hai, Setyaki, di mana engkau. Datanglah ke mari untuk mengadu kesaktian." Raden Setyaki maju mengendarai kereta, menunjuk Raden Burisrawa, seraya ucapnya, "Hai, Burisrawa, aku sungguh beruntung, karena engkau yang datang ke padaku. Engkau jangan lari!" Setelah saling berhadapan, Raden Setyaki segera menarik busurnya, melepaskan anak panah, kereta Raden Burisrawa kena dan remuk, bahkan sais dan kudanya mati. Burisrawa melompat, ia sangat marah, lalu menarik busurnya dan melepaskan anak panah, kereta Setyaki kena, juga remuk. Setyaki melompat, sehingga berperang di darat. Keduanya membuang busur, lalu mengambil gada, dan saling menggada. Ketika gada mereka patah, lalu dibuang. Kemudian saling mendorong, saling melempar. Karena Setyaki kalah besar dan tinggi, ia mengalami kesulitan dalam menendang lawannya. Akhirnya ia jatuh tertelentang, diinjak-injak oleh Burisrawa, sampai nafasnya hampir putus. Ketika Setyaki hendak ditikam, Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Cepat, panahlah satu di antara kedua: bahu Burisrawa itu, agar jambakannya kepada Setyaki lepas!" Dananjaya segera melepaskan panahnya, bahu Burisrawa kena dan patah. Burisrawa terkejut, dan berseru keras, "Hai, Pandawa musuh, caramu curang." Raden Dananjaya menjawab, "Pandawa tidak curang, tetapi sekedar mengimbangi cara-cara Korawa, karena kematian si Abimanyu dulu, juga karena cara yang curang." Raden Setyaki ketika melihat bahu Burisrawa patah, lalu mengambil panah. Burisrawa dipanah, kena lehernya patah, lalu mati. {{C|* * *}} Gemuruh sorak-sorai pasukan Pandawa. Ketika Korawa melihat Burisrawa tewas, lalu mendesak, hendak membalas kematian Burisrawa. Mereka melepaskan panah, banyak sekali, sampai seperti hujan. Raden Dananjaya mengamuk, mengobrak-abrik. Wre-<noinclude>{{rh|44}}</noinclude> s76smgvzljccteq5erjefwhweq0eiej 78299 77991 2026-05-16T09:31:32Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78299 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>gelar lawan. Ia menantang musuh, "Hai, Setyaki, di mana engkau. Datanglah ke mari untuk mengadu kesaktian." Raden Setyaki maju mengendarai kereta, menunjuk Raden Burisrawa, seraya ucapnya, "Hai, Burisrawa, aku sungguh beruntung, karena engkau yang datang ke padaku. Engkau jangan lari!" Setelah saling berhadapan, Raden Setyaki segera menarik busurnya, melepaskan anak panah, kereta Raden Burisrawa kena dan remuk, bahkan sais dan kudanya mati. Burisrawa melompat, ia sangat marah, lalu menarik busurnya dan melepaskan anak panah, kereta Setyaki kena, juga remuk. Setyaki melompat, sehingga berperang di darat. Keduanya membuang busur, lalu mengambil gada, dan saling menggada. Ketika gada mereka patah, lalu dibuang. Kemudian saling mendorong, saling melempar. Karena Setyaki kalah besar dan tinggi, ia mengalami kesulitan dalam menendang lawannya. Akhirnya ia jatuh tertelentang, diinjak-injak oleh Burisrawa, sampai nafasnya hampir putus. Ketika Setyaki hendak ditikam, Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Cepat, panahlah satu di antara kedua: bahu Burisrawa itu, agar jambakannya kepada Setyaki lepas!" Dananjaya segera melepaskan panahnya, bahu Burisrawa kena dan patah. Burisrawa terkejut, dan berseru keras, "Hai, Pandawa musuh, caramu curang." Raden Dananjaya menjawab, "Pandawa tidak curang, tetapi sekedar mengimbangi cara-cara Korawa, karena kematian si Abimanyu dulu, juga karena cara yang curang." Raden Setyaki ketika melihat bahu Burisrawa patah, lalu mengambil panah. Burisrawa dipanah, kena lehernya patah, lalu mati. {{C|* * *}} Gemuruh sorak-sorai pasukan Pandawa. Ketika Korawa melihat Burisrawa tewas, lalu mendesak, hendak membalas kematian Burisrawa. Mereka melepaskan panah, banyak sekali, sampai seperti hujan. Raden Dananjaya mengamuk, mengobrak-abrik. {{hws|Wre|Wrekodara}}<noinclude>{{rh|44}}</noinclude> 44pa7wnipzmkh4apvh74lb6kmohoiga Kaca:Bratayuda.pdf/42 250 24823 77992 2026-05-16T02:17:50Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77992 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kodara, Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya meneJ:jang. Korawa tak dapat mengimbangi., lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti. Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan meneJ:jang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak. Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, teJ:jangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagi.an mana pun yang diteJ:jang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan meneJ:jang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi. Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi. bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya .dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnyalah Batara Kresna itu tak dapat dikelabui. *** Raden Dananjaya kelihatan Ielah setelah membunuh para 45<noinclude></noinclude> 1arjlry9a37kywnlkg6azi7p8sw1202 77993 77992 2026-05-16T02:25:04Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77993 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kodara, Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti. Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak. Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui. {{C|* * *}} Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude> ky5io22igv43dx63f3eb4mh5ektbv96 78300 77993 2026-05-16T09:32:15Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78300 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|kodara|Wrekodara}} Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti. Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak. Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui. {{C|* * *}} Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude> 9n9o8lv3zlgdvuoag81vhkz69wqmjra 78301 78300 2026-05-16T09:32:34Z Elcamatcha 1466 78301 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|kodara|Wrekodara}}Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti. Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak. Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui. {{C|* * *}} Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude> nuhlput3th7lzp1075b1rdy6vkdtqow 78302 78301 2026-05-16T09:32:47Z Elcamatcha 1466 78302 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|kodara|Wrekodara}} Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti. Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak. Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui. {{C|* * *}} Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude> 9n9o8lv3zlgdvuoag81vhkz69wqmjra 78303 78302 2026-05-16T09:33:08Z Elcamatcha 1466 78303 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|kodara|Wrekodara}} Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti. Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak. Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui. {{C|* * *}} Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude> kce8jzh3evawzqfofcwi0t1nl7svt5n Kaca:Bratayuda.pdf/43 250 24824 77994 2026-05-16T02:25:21Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77994 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>'•' bupati dan prajurit. Telah habis selapangan, dari belakang masih terus berbondong-bondong, sehingga tidak tampak berkurang, meskipun sudah berpuluh-puluh ribu terbunuh. Hal itu menyebabkan Sri Kresna cemas, karena matahari sudah mulai condong, akan tetapi Sindureja belurl! ketemu, karena dijaga ketat oleh barisan. Segera matahari ia tutup dengan cakranya, sedikit-demi sedikit, sehingga cahayanya kekuning-kuningan. Kemudian ditutup sama sekali dengan cakranya, alam pun menjadi gelap seperti matahari sudah benar-benar terbenam. Kemudian Batara Kresna memberi perintah kepada barisan Pandawa, supaya mengumpulkan kayu. Setelah kayu terkumpullalu dibakar, apinya menyala-nyala. Barisan Pandawa mundur, lalu mereka berkumpul, seolaholah seperti akan menyaksikan pembakaran diri Raden Dananjaya. Sindur~ja akan luput dari kematian jika matahari sudah terbenam. Dan sudah tersiar luas bahwa Raden Dananjaya akan membakar diri . Korawa bergembira-ria melihat hal itu, dan mereka sama sekali tidak tahu bahwa hal itu hanya siasat Sri Kresna belaka. Matahari ditutup dengan cakra. Luar biasa kegembiraan mereka, bersorak-sorai gemuruh, serta teriak mereka, demikian, "Jika Dananjaya mati, hilanglah pembangkitnya. Yang tinggal hanya anak-anak tikus, sehingga tinggal membentak saja. Cara berperang Wrekodara kaku, tidak licin seperti si Dananjaya." Pada· saat itu Raden Sindureja juga turut melihat. Keluarnya dari tempat persembunyian yang dijaga oleh pasukan seperti tingkah-laku seorang pencuri. Sri Kresna melihat semua gerak-gerik Raden Sindureja, lalu berkata kepala Raden Dananjaya seraya menunjukkannya, "Lihatlah, . Sindureja datang. Lepaskanlah panahmu Pasopati, segera, jangan sampai dia tahu!" Raden Dananjaya menjulur-julurkan kepalanya, lalu bertanya kepada Sri Kresna, "Junjunganku, di manakah tempat Sindureja itu?" Sri Kresna menarik busur Raden Dananjaya sambil menunjukkan tempat Sindureja, seraya ujamya, "Itu, lihatlah, dan panahlah segera!" 46<noinclude></noinclude> 1v4lc72q0xj0jetf5di77puh51ul0h7 77996 77994 2026-05-16T02:30:24Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77996 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>bupati dan prajurit. Telah habis selapangan, dari belakang masih terus berbondong-bondong, sehingga tidak tampak berkurang, meskipun sudah berpuluh-puluh ribu terbunuh. Hal itu menyebabkan Sri Kresna cemas, karena matahari sudah mulai condong, akan tetapi Sindureja belum ketemu, karena dijaga ketat oleh barisan. Segera matahari ia tutup dengan cakranya, sedikit-demi sedikit, sehingga cahayanya kekuning-kuningan. Kemudian ditutup sama sekali dengan cakranya, alam pun menjadi gelap seperti matahari sudah benar-benar terbenam. Kemudian Batara Kresna memberi perintah kepada barisan Pandawa, supaya mengumpulkan kayu. Setelah kayu terkumpul lalu dibakar, apinya menyala-nyala. Barisan Pandawa mundur, lalu mereka berkumpul, seolah-olah seperti akan menyaksikan pembakaran diri Raden Dananjaya. Sindureja akan luput dari kematian jika matahari sudah terbenam. Dan sudah tersiar luas bahwa Raden Dananjaya akan membakar diri . Korawa bergembira-ria melihat hal itu, dan mereka sama sekali tidak tahu bahwa hal itu hanya siasat Sri Kresna belaka. Matahari ditutup dengan cakra. Luar biasa kegembiraan mereka, bersorak-sorai gemuruh, serta teriak mereka, demikian, "Jika Dananjaya mati, hilanglah pembangkitnya. Yang tinggal hanya anak-anak tikus, sehingga tinggal membentak saja. Cara berperang Wrekodara kaku, tidak licin seperti si Dananjaya." Pada saat itu Raden Sindureja juga turut melihat. Keluarnya dari tempat persembunyian yang dijaga oleh pasukan seperti tingkah-laku seorang pencuri. Sri Kresna melihat semua gerak-gerik Raden Sindureja, lalu berkata kepala Raden Dananjaya seraya menunjukkannya, "Lihatlah, Sindureja datang. Lepaskanlah panahmu Pasopati, segera, jangan sampai dia tahu!" Raden Dananjaya menjulur-julurkan kepalanya, lalu bertanya kepada Sri Kresna, "Junjunganku, di manakah tempat Sindureja itu?" Sri Kresna menarik busur Raden Dananjaya sambil menunjukkan tempat Sindureja, seraya ujarnya, "Itu, lihatlah, dan panahlah segera!"<noinclude>{{rh|46}}</noinclude> dokr4uocps4oqwpwjh3x267lqczdaj1 78304 77996 2026-05-16T09:33:17Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78304 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>bupati dan prajurit. Telah habis selapangan, dari belakang masih terus berbondong-bondong, sehingga tidak tampak berkurang, meskipun sudah berpuluh-puluh ribu terbunuh. Hal itu menyebabkan Sri Kresna cemas, karena matahari sudah mulai condong, akan tetapi Sindureja belum ketemu, karena dijaga ketat oleh barisan. Segera matahari ia tutup dengan cakranya, sedikit-demi sedikit, sehingga cahayanya kekuning-kuningan. Kemudian ditutup sama sekali dengan cakranya, alam pun menjadi gelap seperti matahari sudah benar-benar terbenam. Kemudian Batara Kresna memberi perintah kepada barisan Pandawa, supaya mengumpulkan kayu. Setelah kayu terkumpul lalu dibakar, apinya menyala-nyala. Barisan Pandawa mundur, lalu mereka berkumpul, seolah-olah seperti akan menyaksikan pembakaran diri Raden Dananjaya. Sindureja akan luput dari kematian jika matahari sudah terbenam. Dan sudah tersiar luas bahwa Raden Dananjaya akan membakar diri . Korawa bergembira-ria melihat hal itu, dan mereka sama sekali tidak tahu bahwa hal itu hanya siasat Sri Kresna belaka. Matahari ditutup dengan cakra. Luar biasa kegembiraan mereka, bersorak-sorai gemuruh, serta teriak mereka, demikian, "Jika Dananjaya mati, hilanglah pembangkitnya. Yang tinggal hanya anak-anak tikus, sehingga tinggal membentak saja. Cara berperang Wrekodara kaku, tidak licin seperti si Dananjaya." Pada saat itu Raden Sindureja juga turut melihat. Keluarnya dari tempat persembunyian yang dijaga oleh pasukan seperti tingkah-laku seorang pencuri. Sri Kresna melihat semua gerak-gerik Raden Sindureja, lalu berkata kepala Raden Dananjaya seraya menunjukkannya, "Lihatlah, Sindureja datang. Lepaskanlah panahmu Pasopati, segera, jangan sampai dia tahu!" Raden Dananjaya menjulur-julurkan kepalanya, lalu bertanya kepada Sri Kresna, "Junjunganku, di manakah tempat Sindureja itu?" Sri Kresna menarik busur Raden Dananjaya sambil menunjukkan tempat Sindureja, seraya ujarnya, "Itu, lihatlah, dan panahlah segera!"<noinclude>{{rh|46}}</noinclude> 8kahwtq5219n5geqjri6xzsuokyb57q Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/27 250 24825 77995 2026-05-16T02:28:49Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77995 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 25 –}}</noinclude>Manawi kula kepareng matur barès sajektosipun kula dèrèng jakin manawi serat "Sabda Djati" punika hijasanipun swargi R.Ng. Rangsawarsita, amargi miturut pangenjar-kula: béda kalijan serat2 sanèsipun hijasaipun swargi wau. Kinten-kula "Sabda Djati" punika damelanipun sa<u>d</u>èrèk ingkang mewahi "Kala-ti<u>d</u>a" dados 13 pada (mirsani katja 14), sedyanipun ngluhuraken Ki Pudjangga, dipungambar2 anggènipun saged mijak warana tuwin lepas pandulunipun "ulur lir benang tinarik". Punapa inggih tampi ilham punika kados makaten gambaripun? Déné titikan ingkang gampil kita-raosken, inggih punika bab pamasanging sandi-asma ing pada wiwitan, garis 1,2,4,5, punika boten manut pa<u>t</u>okan. Ingkang sampun2, manawi Ki Pudjangga masang sandi-asma sapada boten wonten ing wiwitaning garis punika, ames<u>t</u>i dawah pe<u>d</u>otaning wirama: ajwa pegat ngudija <u>rong</u>ing budyaju, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ajwa mi<u>rong</u> ngudija marang budyaju; mar<u>ga</u>ning suka basuki, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: dèn wrin mar<u>g</u>aning basuki; dimèn lu<u>war</u> kang kinajun, sampun leres. kalis ing panggawé <u>si</u>sip, manawi miturut pa<u>t</u>okan upaminipun: amapa<u>si</u> tindak sisip; ingkang <u>ta</u>beri prihatos,manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ulah bra<u>ta</u> mjang prihatos. Ananging sarèhning para sardjana sudjana sami kagungan panganggep, bilih "Sabda Djati" punika karanganipun swargi, malah pada 14 punika kadamel rerenggan bantjiking retja Ranggawarsita ing museum Sriwedari Surakarta, djalaran ungel-ungelan "galibedan tudang-tuding, anatjahken sakèhing wong" punika kaanggep pralambangipun <u>pemilihan umum</u> kula inggih namung njumanggakaken. <center> ------- </center><noinclude></noinclude> kmv96hneba4qqlkl8g4acij8py1iz4r 78371 77995 2026-05-16T10:01:46Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78371 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 25 –}}</noinclude>Manawi kula kepareng matur barès sajektosipun kula dèrèng jakin manawi serat "Sabda Djati" punika hijasanipun swargi R.Ng. Rangsawarsita, amargi miturut pangenjar-kula: béda kalijan serat2 sanèsipun hijasaipun swargi wau. Kinten-kula "Sabda Djati" punika damelanipun sa<u>d</u>èrèk ingkang mewahi "Kala-ti<u>d</u>a" dados 13 pada (mirsani katja 14), sedyanipun ngluhuraken Ki Pudjangga, dipungambar2 anggènipun saged mijak warana tuwin lepas pandulunipun "ulur lir benang tinarik". Punapa inggih tampi ilham punika kados makaten gambaripun? Déné titikan ingkang gampil kita-raosken, inggih punika bab pamasanging sandi-asma ing pada wiwitan, garis 1,2,4,5, punika boten manut pa<u>t</u>okan. Ingkang sampun2, manawi Ki Pudjangga masang sandi-asma sapada boten wonten ing wiwitaning garis punika, ames<u>t</u>i dawah pe<u>d</u>otaning wirama: ajwa pegat ngudija <u>rong</u>ing budyaju, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ajwa mi<u>rong</u> ngudija marang budyaju; mar<u>ga</u>ning suka basuki, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: dèn wrin mar<u>g</u>aning basuki; dimèn lu<u>war</u> kang kinajun, sampun leres. kalis ing panggawé <u>si</u>sip, manawi miturut pa<u>t</u>okan upaminipun: amapa<u>si</u> tindak sisip; ingkang <u>ta</u>beri prihatos,manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ulah bra<u>ta</u> mjang prihatos. Ananging sarèhning para sardjana sudjana sami kagungan panganggep, bilih "Sabda Djati" punika karanganipun swargi, malah pada 14 punika kadamel rerenggan bantjiking retja Ranggawarsita ing museum Sriwedari Surakarta, djalaran ungel-ungelan "galibedan tudang-tuding, anatjahken sakèhing wong" punika kaanggep pralambangipun <u>pemilihan umum</u> kula inggih namung njumanggakaken. <center> ------- </center><noinclude></noinclude> eliimmexxnjg3hb2awcvdj6lkrr1uj0 Kaca:Bratayuda.pdf/44 250 24826 77997 2026-05-16T02:30:43Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 77997 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Dananjaya mengangkat tumitnya, dan ia sudah melihat Sindureja, lalu dipanah dengan panah Pasopati. Sindureja kena, putus lehernya, lalu mati. Sri Kresna memberi perintah kepada Raden Dananjaya, "Lemparkanlah kepala si Sindureja ;tu ke temp at orang tuanya dengan panahmu Sarotama." Raden Dananjaya lalu menarik busurnya, melepaskan panah Sarotama. Kepala Raden Sindureja terbawa oleh panah, jatuh di hadapan ayahnya. Bagawan Sampani masih tengah bersamadi, sedangkan yang dipinta ialah, semoga putranya memperoleh kemenangan di rnedan perang, jangan sampai musuh dapat membunuh Sindureja asli, dan hanya Sindureja sulapan saja. Sedangkan pembalasannya kepada musuh, akan menimbulkan bencana, meski sepuluh atau seratus musuh pun, akan mati serentak. Kemudian kepala putranya jatuh di pangkuannya, lalu dipegang oleh Bagawail Sampani seraya ucapnya sambil menangis, "Aduh, Anakku mati. Mengapa engkau mati dalam Perang Baratayuda? Lihatlah aku, yang sedang memuja demi kejayaanmu di medan perang." *** Setelah matahari terbenam, seluruh pasukan mundur ke kubunya masing-masing. Prabu Suyudana menangis, serta ujarnya kepada Druna, "Bagaimana kehendak Anda, Paman, sesudah tewasnya kedua satria, Burisrawa dan Sindureja, seperti kehilangan bahu kanan dan bahu kiri. Apa yang akan dijadikan pengganti?" Berkata demikian itu diucapkannya dengan tersendat-sendat, serta memohon-mohon. Sedangkan yang ada di hadapannya ialah, Salya, Kama, Sengkuni, dan Karpa. Suyudana berkata lagi, "Apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana pendapat Pam an Druna setelah banyaknya saudara saya yang tewas, seperti Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadurjaya, Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, yang tewas oleh amukan Wrekodara serta Arjuna, sangat memprihatinkan saya, dan apa gerangan yang dapat dijadikan pengganti?" Druna berkata dengan suara lantang, ujarnya, "Siapakah yang 47<noinclude></noinclude> pvozbk6jnmvmjjbepnezdip0jl4pbow 77998 77997 2026-05-16T02:35:11Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 77998 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Dananjaya mengangkat tumitnya, dan ia sudah melihat Sindureja, lalu dipanah dengan panah Pasopati. Sindureja kena, putus lehernya, lalu mati. Sri Kresna memberi perintah kepada Raden Dananjaya, "Lemparkanlah kepala si Sindureja itu ke tempat orang tuanya dengan panahmu Sarotama." Raden Dananjaya lalu menarik busurnya, melepaskan panah Sarotama. Kepala Raden Sindureja terbawa oleh panah, jatuh di hadapan ayahnya. Bagawan Sampani masih tengah bersamadi, sedangkan yang dipinta ialah, semoga putranya memperoleh kemenangan di rnedan perang, jangan sampai musuh dapat membunuh Sindureja asli, dan hanya Sindureja sulapan saja. Sedangkan pembalasannya kepada musuh, akan menimbulkan bencana, meski sepuluh atau seratus musuh pun, akan mati serentak. Kemudian kepala putranya jatuh di pangkuannya, lalu dipegang oleh Bagawan Sampani seraya ucapnya sambil menangis, "Aduh, Anakku mati. Mengapa engkau mati dalam Perang Baratayuda? Lihatlah aku, yang sedang memuja demi kejayaanmu di medan perang." {{C|* * *}} Setelah matahari terbenam, seluruh pasukan mundur ke kubunya masing-masing. Prabu Suyudana menangis, serta ujarnya kepada Druna, "Bagaimana kehendak Anda, Paman, sesudah.tewasnya kedua satria, Burisrawa dan Sindureja, seperti kehilangan bahu kanan dan bahu kiri. Apa yang akan dijadikan pengganti?" Berkata demikian itu diucapkannya dengan tersendat-sendat, serta memohon-mohon. Sedangkan yang ada di hadapannya ialah, Salya, Kama, Sengkuni, dan Karpa. Suyudana berkata lagi, "Apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana pendapat Paman Druna setelah banyaknya saudara saya yang tewas, seperti Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadurjaya, Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, yang tewas oleh amukan Wrekodara serta Arjuna, sangat memprihatinkan saya, dan apa gerangan yang dapat dijadikan pengganti?" Druna berkata dengan suara lantang, ujarnya, "Siapakah yang<noinclude>{{rh|||47}}</noinclude> p933zj6vswsto953kqpbfk27v68px7d 78305 77998 2026-05-16T09:33:27Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78305 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Dananjaya mengangkat tumitnya, dan ia sudah melihat Sindureja, lalu dipanah dengan panah Pasopati. Sindureja kena, putus lehernya, lalu mati. Sri Kresna memberi perintah kepada Raden Dananjaya, "Lemparkanlah kepala si Sindureja itu ke tempat orang tuanya dengan panahmu Sarotama." Raden Dananjaya lalu menarik busurnya, melepaskan panah Sarotama. Kepala Raden Sindureja terbawa oleh panah, jatuh di hadapan ayahnya. Bagawan Sampani masih tengah bersamadi, sedangkan yang dipinta ialah, semoga putranya memperoleh kemenangan di rnedan perang, jangan sampai musuh dapat membunuh Sindureja asli, dan hanya Sindureja sulapan saja. Sedangkan pembalasannya kepada musuh, akan menimbulkan bencana, meski sepuluh atau seratus musuh pun, akan mati serentak. Kemudian kepala putranya jatuh di pangkuannya, lalu dipegang oleh Bagawan Sampani seraya ucapnya sambil menangis, "Aduh, Anakku mati. Mengapa engkau mati dalam Perang Baratayuda? Lihatlah aku, yang sedang memuja demi kejayaanmu di medan perang." {{C|* * *}} Setelah matahari terbenam, seluruh pasukan mundur ke kubunya masing-masing. Prabu Suyudana menangis, serta ujarnya kepada Druna, "Bagaimana kehendak Anda, Paman, sesudah.tewasnya kedua satria, Burisrawa dan Sindureja, seperti kehilangan bahu kanan dan bahu kiri. Apa yang akan dijadikan pengganti?" Berkata demikian itu diucapkannya dengan tersendat-sendat, serta memohon-mohon. Sedangkan yang ada di hadapannya ialah, Salya, Kama, Sengkuni, dan Karpa. Suyudana berkata lagi, "Apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana pendapat Paman Druna setelah banyaknya saudara saya yang tewas, seperti Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadurjaya, Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, yang tewas oleh amukan Wrekodara serta Arjuna, sangat memprihatinkan saya, dan apa gerangan yang dapat dijadikan pengganti?" Druna berkata dengan suara lantang, ujarnya, "Siapakah yang<noinclude>{{rh|||47}}</noinclude> a5klbzamiyj9itrqc05rm40h10p3gtx Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/28 250 24827 77999 2026-05-16T02:35:37Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 77999 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 26 –}}</noinclude><center><u>V. {{sp|KALA-TIDA PININGIT}}</u></center> <u>{{sp|Sinom}}</u> <ol start=1> <li><poem>Sinom susulan wirajat Kala-ti<u>d</u>a kang piningit tjalon kang gumantya nata maksih sinengker Hjang Widi ing ura-uru mbéndjing kang sumela dadya ratu turuné ping sadasa nutugken wibawa mukti pangarangé Dyan Bèhi Ranggawarsita</poem></li> <li><poem>Duk kalanira angarang wonten Landi sing Ustenrik Wénen nenggih ku<u>t</u>anira mlantjong mring nagari Djawi tjekak minggah mring wukir njuwun premisi Sang Prabu ningali kawahira putjaking ardi Merapi wangsulira pun tuwan asung tjarita</poem></li> <li><poem><u>D</u>ateng nDjeng Gusti kaping pat enget kula-sangkalani gusti mbéndjing ngès<u>t</u>i nata tjritané kang ardi mbéndjing kobong wit saking agni slira tjatur ngès<u>t</u>i ratu petjahing ardi sigar Jogja Ke<u>d</u> risak sami jèn ing Sala risaké mung sawatara</poem></li> <li><poem>Nulja nDjeng Gusti kaping pat pangandikanira aris <u>d</u>umateng Ranggawarsita dulunen telenging ati eningna adja gingsir</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> 52rbx4p2zc6bc4dnjzy6gs63ncqqsw8 78001 77999 2026-05-16T02:36:17Z Abdansykr26 860 78001 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 26 –}}</noinclude><center><u>{{sp|V. KALA-TIDA PININGIT}}</u></center> <u>{{sp|Sinom}}</u> <ol start=1> <li><poem>Sinom susulan wirajat Kala-ti<u>d</u>a kang piningit tjalon kang gumantya nata maksih sinengker Hjang Widi ing ura-uru mbéndjing kang sumela dadya ratu turuné ping sadasa nutugken wibawa mukti pangarangé Dyan Bèhi Ranggawarsita</poem></li> <li><poem>Duk kalanira angarang wonten Landi sing Ustenrik Wénen nenggih ku<u>t</u>anira mlantjong mring nagari Djawi tjekak minggah mring wukir njuwun premisi Sang Prabu ningali kawahira putjaking ardi Merapi wangsulira pun tuwan asung tjarita</poem></li> <li><poem><u>D</u>ateng nDjeng Gusti kaping pat enget kula-sangkalani gusti mbéndjing ngès<u>t</u>i nata tjritané kang ardi mbéndjing kobong wit saking agni slira tjatur ngès<u>t</u>i ratu petjahing ardi sigar Jogja Ke<u>d</u> risak sami jèn ing Sala risaké mung sawatara</poem></li> <li><poem>Nulja nDjeng Gusti kaping pat pangandikanira aris <u>d</u>umateng Ranggawarsita dulunen telenging ati eningna adja gingsir</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> rcx8ubmz4rn6z1gy9ryuelpb75eyqle 78372 78001 2026-05-16T10:01:55Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78372 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 26 –}}</noinclude><center><u>{{sp|V. KALA-TIDA PININGIT}}</u></center> <u>{{sp|Sinom}}</u> <ol start=1> <li><poem>Sinom susulan wirajat Kala-ti<u>d</u>a kang piningit tjalon kang gumantya nata maksih sinengker Hjang Widi ing ura-uru mbéndjing kang sumela dadya ratu turuné ping sadasa nutugken wibawa mukti pangarangé Dyan Bèhi Ranggawarsita</poem></li> <li><poem>Duk kalanira angarang wonten Landi sing Ustenrik Wénen nenggih ku<u>t</u>anira mlantjong mring nagari Djawi tjekak minggah mring wukir njuwun premisi Sang Prabu ningali kawahira putjaking ardi Merapi wangsulira pun tuwan asung tjarita</poem></li> <li><poem><u>D</u>ateng nDjeng Gusti kaping pat enget kula-sangkalani gusti mbéndjing ngès<u>t</u>i nata tjritané kang ardi mbéndjing kobong wit saking agni slira tjatur ngès<u>t</u>i ratu petjahing ardi sigar Jogja Ke<u>d</u> risak sami jèn ing Sala risaké mung sawatara</poem></li> <li><poem>Nulja nDjeng Gusti kaping pat pangandikanira aris <u>d</u>umateng Ranggawarsita dulunen telenging ati eningna adja gingsir</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> lk45fqz2wh2umugwteqp86s7jjex5vu Kaca:Bratayuda.pdf/45 250 24828 78000 2026-05-16T02:35:39Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78000 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>yang akan menghadapi Aijuna di medan perang, karena besarnya cinta Hyang Batara Guru? Siapakah yang mampu menghadapi amukan Wrekodara, dan siapa yang kuat menandingi perangnya Raja Wirata, dan siapakah yang kuat menahan amukan Raja Cempala. Dan masih ada lagi, siapakah yang mampu menentang kemahiran Sri Kresna? Apa yang dapat dijadikan penahan dalam menghadapi perangnya kelima orang besar itu?" Prabu Suyudana lalu berkata kepada Raja Awangga, "Hai, andalah besok pagi, yang aku harapkan menandingi perangnya Arjuna dan Wrekodara, akan tetapi mintalah perintah Pendeta Druna." Jawab Prabu Kama, "Baiklah, besok pagi saya akan menghadapi perangnya." Pendeta Druna sangat gembira. 48<noinclude></noinclude> pwvwrmh4gleunng4m9t8yiuz9xgl4ed 78002 78000 2026-05-16T02:39:49Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78002 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>yang akan menghadapi Arjuna di medan perang, karena besarnya cinta Hyang Batara Guru? Siapakah yang mampu menghadapi amukan Wrekodara, dan siapa yang kuat menandingi perangnya Raja Wirata, dan siapakah yang kuat menahan amukan Raja Cempala. Dan masih ada lagi, siapakah yang mampu menentang kemahiran Sri Kresna? Apa yang dapat dijadikan penahan dalam menghadapi perangnya kelima orang besar itu?" Prabu Suyudana lalu berkata kepada Raja Awangga, "Hai, andalah besok pagi, yang aku harapkan menandingi perangnya Arjuna dan Wrekodara, akan tetapi mintalah perintah Pendeta Druna." Jawab Prabu Karna, "Baiklah, besok pagi saya akan menghadapi perangnya." Pendeta Druna sangat gembira.<noinclude>{{rh|48}}</noinclude> 7lcbums59ndefdlgz50n5gen0xpnwez 78306 78002 2026-05-16T09:33:35Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78306 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>yang akan menghadapi Arjuna di medan perang, karena besarnya cinta Hyang Batara Guru? Siapakah yang mampu menghadapi amukan Wrekodara, dan siapa yang kuat menandingi perangnya Raja Wirata, dan siapakah yang kuat menahan amukan Raja Cempala. Dan masih ada lagi, siapakah yang mampu menentang kemahiran Sri Kresna? Apa yang dapat dijadikan penahan dalam menghadapi perangnya kelima orang besar itu?" Prabu Suyudana lalu berkata kepada Raja Awangga, "Hai, andalah besok pagi, yang aku harapkan menandingi perangnya Arjuna dan Wrekodara, akan tetapi mintalah perintah Pendeta Druna." Jawab Prabu Karna, "Baiklah, besok pagi saya akan menghadapi perangnya." Pendeta Druna sangat gembira.<noinclude>{{rh|48}}</noinclude> 7j8akwxpxm2c8naxxgsp2w9k984zi2h Kaca:Bratayuda.pdf/47 250 24829 78003 2026-05-16T02:40:43Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78003 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>adipati yang berkereta atau yang mengendarai gajah. Merekalah yang diterjang dengan gadanya, sehingga banyak yang mati berkaparan. Raden Dananjaya melepaskan panahnya yang sakti. Punggawa Prabu Kama yang sakti, Druwajaya, maju mengendarai kereta, jarang yang mampu melayaninya. Ia membawa gada, dan banyak prajurit yang mati oleh Druwajaya. Lalu diterjang oleh Wrekodara. Saat itulah Druwajaya tewas. Kemudian Raden Setyaki pun menyerang musuh ke tengah dengan kemarahan menyala-nyala. Banyak bupati tewas, dan pertahanan para raja yang berantakan karena terjangannya. Raden Setyaki demikian hebat amukannya, membuat musuhnya bingung. Kemudian Partipeya datang menghadang. Lalu menarik busur melepaskan anak panah, Setyaki kena dadanya, tidak mempan, akan tetapi terpental, terbawa oleh anak panah, lalu jatuh berdembam. Kemudian putra Raden Setyaki, yang bernama Raden Sanga-sanga maju menghadapi Partipeya. Saling memanah, tak ada yang terluka. Lalu bergulat mengadu kekuatan tubuh. Sarna-sarna sakti. Kemauan musuh terlayani, diiringi sorak-sorai, seperti orang menyabung ayam, yang menonton merasa gembira, karena keduanya seimbang kesaktiannya. Kemudian datanglah Raden Wrekodara membantu Raden Sangasanga. Partipeya dibidik dengan panah, dadanya yang kena, lalu jatuh terbanting. Ia merasa sakit, dan amat marah. Tahu bahwa yang memanahnya Raden Wrekodara, ia membalas dengan panah pula. Bahu kiri Wrekodara yang kena, dan membuatnya terkejut, lalu meletakkan Bargawastranya, mengambil gada lalu maju. Raden Partipeya dihantam dengan gada, hancur beserta keretanya. Di situlah Partipeya tewas oleh Raden Wrekodara. *** Anak Partipeya ingin segera membalas dendam atas kematian ayahnya. Wrekodara dikeroyok, lama perangnya. Akhirnya anak Partipeya mati kena gada Raden Wrekodara. Punggawa Adipati Awangga bernama Drestarata maju. Ia pun mati kena gada Raden Wrekodara, hancur bersama keretanya. Wrekodar~ meng50<noinclude></noinclude> ijm0t9oq4mgx83i5m6tx0z8ugms9d5l 78006 78003 2026-05-16T02:46:00Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78006 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>adipati yang berkereta atau yang mengendarai gajah. Merekalah yang diterjang dengan gadanya, sehingga banyak yang mati berkaparan. Raden Dananjaya melepaskan panahnya yang sakti. Punggawa Prabu Karna yang sakti, Druwajaya, maju mengendarai kereta, jarang yang mampu melayaninya. Ia membawa gada, dan banyak prajurit yang mati oleh Druwajaya. Lalu diterjang oleh Wrekodara. Saat itulah Druwajaya tewas. Kemudian Raden Setyaki pun menyerang musuh ke tengah dengan kemarahan menyala-nyala. Banyak bupati tewas, dan pertahanan para raja yang berantakan karena terjangannya. Raden Setyaki demikian hebat amukannya, membuat musuhnya bingung. Kemudian Partipeya datang menghadang. Lalu menarik busur melepaskan anak panah, Setyaki kena dadanya, tidak mempan, akan tetapi terpental, terbawa oleh anak panah, lalu jatuh berdembam. Kemudian putra Raden Setyaki, yang bernama Raden Sanga-sanga maju menghadapi Partipeya. Saling memanah, tak ada yang terluka. Lalu bergulat mengadu kekuatan tubuh. Sarna-sarna sakti. Kemauan musuh terlayani, diiringi sorak-sorai, seperti orang menyabung ayam, yang menonton merasa gembira, karena keduanya seimbang kesaktiannya. Kemudian datanglah Raden Wrekodara membantu Raden Sangasanga. Partipeya dibidik dengan panah, dadanya yang kena, lalu jatuh terbanting. Ia merasa sakit, dan amat marah. Tahu bahwa yang memanahnya Raden Wrekodara, ia membalas dengan panah pula. Bahu kiri Wrekodara yang kena, dan membuatnya terkejut, lalu meletakkan Bargawastranya, mengambil gada lalu maju. Raden Partipeya dihantam dengan gada, hancur beserta keretanya. Di situlah Partipeya tewas oleh Raden Wrekodara. {{C| * * *}} Anak Partipeya ingin segera membalas dendam atas kematian ayahnya. Wrekodara dikeroyok, lama perangnya. Akhirnya anak Partipeya mati kena gada Raden Wrekodara. Punggawa Adipati Awangga bernama Drestarata maju. Ia pun mati kena gada Raden Wrekodara, hancur bersama keretanya. Wrekodara meng-<noinclude>{{rh|50}}</noinclude> 1e4bgnrlneng8q6u3qca69c401btzpi 78307 78006 2026-05-16T09:34:03Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78307 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>adipati yang berkereta atau yang mengendarai gajah. Merekalah yang diterjang dengan gadanya, sehingga banyak yang mati berkaparan. Raden Dananjaya melepaskan panahnya yang sakti. Punggawa Prabu Karna yang sakti, Druwajaya, maju mengendarai kereta, jarang yang mampu melayaninya. Ia membawa gada, dan banyak prajurit yang mati oleh Druwajaya. Lalu diterjang oleh Wrekodara. Saat itulah Druwajaya tewas. Kemudian Raden Setyaki pun menyerang musuh ke tengah dengan kemarahan menyala-nyala. Banyak bupati tewas, dan pertahanan para raja yang berantakan karena terjangannya. Raden Setyaki demikian hebat amukannya, membuat musuhnya bingung. Kemudian Partipeya datang menghadang. Lalu menarik busur melepaskan anak panah, Setyaki kena dadanya, tidak mempan, akan tetapi terpental, terbawa oleh anak panah, lalu jatuh berdembam. Kemudian putra Raden Setyaki, yang bernama Raden Sanga-sanga maju menghadapi Partipeya. Saling memanah, tak ada yang terluka. Lalu bergulat mengadu kekuatan tubuh. Sarna-sarna sakti. Kemauan musuh terlayani, diiringi sorak-sorai, seperti orang menyabung ayam, yang menonton merasa gembira, karena keduanya seimbang kesaktiannya. Kemudian datanglah Raden Wrekodara membantu Raden Sangasanga. Partipeya dibidik dengan panah, dadanya yang kena, lalu jatuh terbanting. Ia merasa sakit, dan amat marah. Tahu bahwa yang memanahnya Raden Wrekodara, ia membalas dengan panah pula. Bahu kiri Wrekodara yang kena, dan membuatnya terkejut, lalu meletakkan Bargawastranya, mengambil gada lalu maju. Raden Partipeya dihantam dengan gada, hancur beserta keretanya. Di situlah Partipeya tewas oleh Raden Wrekodara. {{C| * * *}} Anak Partipeya ingin segera membalas dendam atas kematian ayahnya. Wrekodara dikeroyok, lama perangnya. Akhirnya anak Partipeya mati kena gada Raden Wrekodara. Punggawa Adipati Awangga bernama Drestarata maju. Ia pun mati kena gada Raden Wrekodara, hancur bersama keretanya. Wrekodara {{hws|meng|mengamuk}}<noinclude>{{rh|50}}</noinclude> 8jx7033av7o0eju6dcsf366qd5t82go Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/29 250 24830 78004 2026-05-16T02:44:19Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 78004 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 27 –}}</noinclude><poem>:::sandika umatur nuhun :::Radyan Ranggawarsita :::pantja-drija kang kaès<u>t</u>i :::sapandurat tan antara ntuk wewengan</poem> <ol start=5> <li><poem>Umatur leres pun tuwan mbéndjing kalamun marengi ba<u>d</u>é petjahing kang arga lin<u>d</u>u rambah kaping <u>ka</u>tri punika pan sajekti kapara dados susungut kirang pitung ri dina pitulas dinten marengi pitulikur punika sampun pungkasan</poem></li> <li><poem>Dèrènging ambles kang arga mo<u>d</u>èl sakit kang nganèhi mung sake<u>d</u>ap nuli sirna ing tanah Djawi mèh wradin Sala Jogja akeni laminé amung tri tèngsu wirajaté wong wignja nudju Pandjenengan Adji ping sadasa Nata krama ing Ngajogja</poem></li> <li><poem>Pra pangrèh ing Surakarta ka<u>t</u>ah sumelang ing galih wasana ngupaja majar angès<u>t</u>i angga pribadi kirang dwi warsa mbendjing kalawan petjahing gunung jèn wus prap taning djangka petjahing ardi Merapi ndjeblos mawut sumebar ja bandjir lahar</poem></li> <li><poem>Jogja karatoné ilang petjahing ardi Merapi tirta n<u>d</u>ut Sala lan Jogja pisah tan anunggil siti tengahing ardi dadi</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> bljhrbfci8qetx7jt7qumbushapfh3z 78005 78004 2026-05-16T02:44:58Z Abdansykr26 860 78005 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 27 –}}</noinclude><poem>:::sandika umatur nuhun :::Radyan Ranggawarsita :::pantja-drija kang kaès<u>t</u>i :::sapandurat tan antara ntuk wewengan</poem> <ol start=5> <li><poem>Umatur leres pun tuwan mbéndjing kalamun marengi ba<u>d</u>é petjahing kang arga lin<u>d</u>u rambah kaping <u>ka</u>tri punika pan sajekti kapara dados susungut kirang pitung ri dina pitulas dinten marengi pitulikur punika sampun pungkasan</poem></li> <li><poem>Dèrènging ambles kang arga mo<u>d</u>èl sakit kang nganèhi mung sake<u>d</u>ap nuli sirna ing tanah Djawi mèh wradin Sala Jogja akeni laminé amung tri tèngsu wirajaté wong wignja nudju Pandjenengan Adji ping sadasa Nata krama ing Ngajogja</poem></li> <li><poem>Pra pangrèh ing Surakarta ka<u>t</u>ah sumelang ing galih wasana ngupaja majar angès<u>t</u>i angga pribadi kirang dwi warsa mbendjing kalawan petjahing gunung jèn wus praptaning djangka petjahing ardi Merapi ndjeblos mawut sumebar ja bandjir lahar</poem></li> <li><poem>Jogja karatoné ilang petjahing ardi Merapi tirta n<u>d</u>ut Sala lan Jogja pisah tan anunggil siti tengahing ardi dadi</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> pjqgdbtpfo67rhp4kts0jstrcob3lcv 78373 78005 2026-05-16T10:02:02Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78373 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 27 –}}</noinclude><poem>:::sandika umatur nuhun :::Radyan Ranggawarsita :::pantja-drija kang kaès<u>t</u>i :::sapandurat tan antara ntuk wewengan</poem> <ol start=5> <li><poem>Umatur leres pun tuwan mbéndjing kalamun marengi ba<u>d</u>é petjahing kang arga lin<u>d</u>u rambah kaping <u>ka</u>tri punika pan sajekti kapara dados susungut kirang pitung ri dina pitulas dinten marengi pitulikur punika sampun pungkasan</poem></li> <li><poem>Dèrènging ambles kang arga mo<u>d</u>èl sakit kang nganèhi mung sake<u>d</u>ap nuli sirna ing tanah Djawi mèh wradin Sala Jogja akeni laminé amung tri tèngsu wirajaté wong wignja nudju Pandjenengan Adji ping sadasa Nata krama ing Ngajogja</poem></li> <li><poem>Pra pangrèh ing Surakarta ka<u>t</u>ah sumelang ing galih wasana ngupaja majar angès<u>t</u>i angga pribadi kirang dwi warsa mbendjing kalawan petjahing gunung jèn wus praptaning djangka petjahing ardi Merapi ndjeblos mawut sumebar ja bandjir lahar</poem></li> <li><poem>Jogja karatoné ilang petjahing ardi Merapi tirta n<u>d</u>ut Sala lan Jogja pisah tan anunggil siti tengahing ardi dadi</poem></li> </ol><noinclude></noinclude> gbreepqvl9ziefvhucxwgsq6v9mrt47 Kaca:Bratayuda.pdf/49 250 24831 78007 2026-05-16T02:46:23Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78007 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Prabu Suyudana segera memegang Aswatama, dan dilerai amarahnya. Demikian ujamya, "Jangan engkau berbuat seperti itu," dan kemudian Sri Baginda minta kepada Kama, agar segera maju ke medan perang. Suryaputra segera naik ke kereta, lalu maju ke tengah medan. Melepaskan panah, demikian banyak sehingga melingkupi medan. Pasukan Pandawa bubar, dan gempar terkena panah. Banyak yang terluka. Prabu Yudistira dengan gugup berkata kepada Raden Dananjaya, "Mengapa engkau tidak menghalangi amukan Suryaputra? Pasukanmu berlarian, banyak yang terkena panahnya. Para satria pun ketakutan, sehingga lari tanpa menoleh lagi. Cepatlah dimulai, dan panahlah ia sampai mati! Apakah tidak diperkenankan Kakanda Dwarawati?" Raden Dananjaya maju lalu bertanya kepada Sri Kresna, demikian, "Junjunganku, bagaimana perkenan Paduka mengenai serbuan Suryaputra, dan siapa gerangan yang Paduka perintahkan untuk melawannya?" Sri Kresna berkata lembut, "Belum tiba masanya engkau melawan Suryaputra. Baik Gatotkaca saja yang menandinginya, karena ia sanggup melawannya dengan kasar maupun hal us." *** Raden Dananjaya segera memanggil Raden Gatotkaca, kemudian ujarnya, "Anakku, engkau mendapat tugas melawan Suryaputra." Raden Gatotkaca lalu mengikut pamannya, menghadap Sri Kresna. Sesudah menyembah, Gatotkaca berkata, "Paduka Yang Mulia, saya merasa sangat beruntung mendapat tugas langsung dari Paduka." Dengan perkataan lembut Raden Dananjaya berpesan, "Ketahuilah, bahwa keharusan orang mengadu kesaktian ialah, semua kesaktian lawan harus diimbangi, dan berusaha mengunggulinya, baik kasar maupun halus. Segenap tipu daya Kama dalam mengungkapkan kesaktian, mustahil engkau takut." ''Benar, Ahakku, tandingilah uakmu, atas dasar perintahku!" ujar Sri Kresna menyambung dengan suara lembut. 52<noinclude></noinclude> 44duaa1uv52u34ih3ju2rt0onmhapld 78015 78007 2026-05-16T02:50:49Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78015 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Prabu Suyudana segera memegang Aswatama, dan dilerai amarahnya. Demikian ujamya, "Jangan engkau berbuat seperti itu," dan kemudian Sri Baginda minta kepada Karna, agar.segera maju ke medan perang. Suryaputra segera naik ke kereta, lalu maju ke tengah medan. Melepaskan panah, demikian banyak sehingga melingkupi medan. Pasukan Pandawa bubar, dan gempar terkena panah. Banyak yang terluka. Prabu Yudistira dengan gugup berkata kepada Raden Dananjaya, "Mengapa engkau tidak menghalangi amukan Suryaputra? Pasukanmu berlarian, banyak yang terkena panahnya. Para satria pun ketakutan, sehingga lari tanpa menoleh lagi. Cepatlah dimulai, dan panahlah ia sampai mati! Apakah tidak diperkenankan Kakanda Dwarawati?" Raden Dananjaya maju lalu bertanya kepada Sri Kresna, demikian, "Junjunganku, bagaimana perkenan Paduka mengenai serbuan Suryaputra, dan siapa gerangan yang Paduka perintahkan untuk melawannya?" Sri Kresna berkata lembut, "Belum tiba masanya engkau melawan Suryaputra. Baik Gatotkaca saja yang menandinginya, karena ia sanggup melawannya dengan kasar maupun halus." {{C| * * *}} Raden Dananjaya segera memanggil Raden Gatotkaca, kemudian ujarnya, "Anakku, engkau mendapat tugas melawan Suryaputra." Raden Gatotkaca lalu mengikut pamannya, menghadap Sri Kresna. Sesudah menyembah, Gatotkaca berkata, "Paduka Yang Mulia, saya merasa sangat beruntung mendapat tugas langsung dari Paduka." Dengan perkataan lembut Raden Dananjaya berpesan, "Ketahuilah, bahwa keharusan orang mengadu kesaktian ialah, semua kesaktian lawan harus diimbangi, dan berusaha mengunggulinya, baik kasar maupun halus. Segenap tipu daya Kama dalam mengungkapkan kesaktian, mustahil engkau takut." "Benar, Anakku, tandingilah uakmu, atas dasar perintahku!" ujar Sri Kresna menyambung dengan suara lembut.<noinclude>{{rh|52}}</noinclude> 2o4jykcecl8iz0h4el1u4yqapevyfha 78309 78015 2026-05-16T09:34:43Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78309 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kemudian Prabu Suyudana segera memegang Aswatama, dan dilerai amarahnya. Demikian ujamya, "Jangan engkau berbuat seperti itu," dan kemudian Sri Baginda minta kepada Karna, agar.segera maju ke medan perang. Suryaputra segera naik ke kereta, lalu maju ke tengah medan. Melepaskan panah, demikian banyak sehingga melingkupi medan. Pasukan Pandawa bubar, dan gempar terkena panah. Banyak yang terluka. Prabu Yudistira dengan gugup berkata kepada Raden Dananjaya, "Mengapa engkau tidak menghalangi amukan Suryaputra? Pasukanmu berlarian, banyak yang terkena panahnya. Para satria pun ketakutan, sehingga lari tanpa menoleh lagi. Cepatlah dimulai, dan panahlah ia sampai mati! Apakah tidak diperkenankan Kakanda Dwarawati?" Raden Dananjaya maju lalu bertanya kepada Sri Kresna, demikian, "Junjunganku, bagaimana perkenan Paduka mengenai serbuan Suryaputra, dan siapa gerangan yang Paduka perintahkan untuk melawannya?" Sri Kresna berkata lembut, "Belum tiba masanya engkau melawan Suryaputra. Baik Gatotkaca saja yang menandinginya, karena ia sanggup melawannya dengan kasar maupun halus." {{C| * * *}} Raden Dananjaya segera memanggil Raden Gatotkaca, kemudian ujarnya, "Anakku, engkau mendapat tugas melawan Suryaputra." Raden Gatotkaca lalu mengikut pamannya, menghadap Sri Kresna. Sesudah menyembah, Gatotkaca berkata, "Paduka Yang Mulia, saya merasa sangat beruntung mendapat tugas langsung dari Paduka." Dengan perkataan lembut Raden Dananjaya berpesan, "Ketahuilah, bahwa keharusan orang mengadu kesaktian ialah, semua kesaktian lawan harus diimbangi, dan berusaha mengunggulinya, baik kasar maupun halus. Segenap tipu daya Kama dalam mengungkapkan kesaktian, mustahil engkau takut." "Benar, Anakku, tandingilah uakmu, atas dasar perintahku!" ujar Sri Kresna menyambung dengan suara lembut.<noinclude>{{rh|52}}</noinclude> ihxus7tw7ly86jd3a6yxphaya669x64 Kaca:Bratayuda.pdf/51 250 24832 78018 2026-05-16T02:51:09Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78018 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>panahnya yang bemama Kunta, dilepaskan ke atas. Pusar Raden Gatotkaca yang kena, anak panahnya masuk. Adipati Awangga dan pasukannya melihat, bahwa Raden Gatotkaca terluka, lalu mereka berseru-seru, bahwa Gatotkaca terluka, jelas dari darahnya yang bercucuran. Ketika Raden Gatotkaca terluka, ia telah merasa, bahwa dirinya akan mati, lalu te:rjun meluncur, ingin mati bersama uaknya. Adipati Awangga dengan sigap melompat dari kereta, disusul robohnya Raden Gatotkaca, tetap mengenai kereta. Hancurlah kereta beserta sais dan kudanya. *** Ketika Korawa melihat tewasnya Raden Gatotkaca, mereka besorak gemuruh. Pandawa terdiam dan menangis. Tak lama kemudian mereka serempak mene:rjang. Prabu Yudistira dan Raden Dananjaya mengamuk membunuh musuh. Ketika mendengar putranya tewas, Raden Wrekodara lalu mengamuk membabi buta seraya mengusap air matanya. Gadanya berputar-putar, sehingga banyak sekali para adipati dan satria di pihak Korawa yang mati. Druna memberi perintah, agar Korawa memperbaiki gelamya. Malam itu peperangan benar-benar dahsyat, dan baru berakhir karena kedua belah pihak sama-sama mengantuk. Tersebutlah ibu Raden Gatotkaca, yakni Dewi Arimbi hendak membakar diri membela putranya. Lalu minta diri kepada suami dan semua saudaranya. sesudah mendapat izin, ia lalu pergi ke medan perang, ke tempat jenazah putranya. Setelhll tiba di sana, lalu dibakar bersama jenazah putranya. 54<noinclude></noinclude> s6rhcpx8rnzlau4yd7y3wywjv3jk71k 78030 78018 2026-05-16T02:54:02Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78030 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>panahnya yang bemama Kunta, dilepaskan ke atas. Pusar Raden Gatotkaca yang kena, anak panahnya masuk. Adipati Awangga dan pasukannya melihat, bahwa Raden Gatotkaca terluka, lalu mereka berseru-seru, bahwa Gatotkaca terluka, jelas dari darahnya yang bercucuran. Ketika Raden Gatotkaca terluka, ia telah merasa, bahwa dirinya akan mati, lalu terjun meluncur, ingin mati bersama uaknya. Adipati Awangga dengan sigap melompat dari kereta, disusul robohnya Raden Gatotkaca, tetap mengenai kereta. Hancurlah kereta beserta sais dan kudanya. {{C|* * *}} Ketika Korawa melihat tewasnya Raden Gatotkaca, mereka besorak gemuruh. Pandawa terdiam dan menangis. Tak lama kemudian mereka serempak menerjang. Prabu Yudistira dan Raden Dananjaya mengamuk membunuh musuh. Ketika mendengar putranya tewas, Raden Wrekodara lalu mengamuk membabi buta seraya mengusap air matanya. Gadanya berputar-putar, sehingga banyak sekali para adipati dan satria di pihak Korawa yang mati. Druna memberi perintah, agar Korawa memperbaiki gelarnya. Malam itu peperangan benar-benar dahsyat, dan baru berakhir karena kedua belah pihak sama-sama mengantuk. Tersebutlah ibu Raden Gatotkaca, yakni Dewi Arimbi hendak membakar diri membela putranya. Lalu minta diri kepada suami dan semua saudaranya. sesudah mendapat izin, ia lalu pergi ke medan perang, ke tempat jenazah putranya. Setelah tiba di sana, lalu dibakar bersama jenazah putranya.<noinclude>{{rh|54}}</noinclude> 1bdigfabcinko0plujgcr4nbp6f04p4 78310 78030 2026-05-16T09:34:55Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78310 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>panahnya yang bemama Kunta, dilepaskan ke atas. Pusar Raden Gatotkaca yang kena, anak panahnya masuk. Adipati Awangga dan pasukannya melihat, bahwa Raden Gatotkaca terluka, lalu mereka berseru-seru, bahwa Gatotkaca terluka, jelas dari darahnya yang bercucuran. Ketika Raden Gatotkaca terluka, ia telah merasa, bahwa dirinya akan mati, lalu terjun meluncur, ingin mati bersama uaknya. Adipati Awangga dengan sigap melompat dari kereta, disusul robohnya Raden Gatotkaca, tetap mengenai kereta. Hancurlah kereta beserta sais dan kudanya. {{C|* * *}} Ketika Korawa melihat tewasnya Raden Gatotkaca, mereka besorak gemuruh. Pandawa terdiam dan menangis. Tak lama kemudian mereka serempak menerjang. Prabu Yudistira dan Raden Dananjaya mengamuk membunuh musuh. Ketika mendengar putranya tewas, Raden Wrekodara lalu mengamuk membabi buta seraya mengusap air matanya. Gadanya berputar-putar, sehingga banyak sekali para adipati dan satria di pihak Korawa yang mati. Druna memberi perintah, agar Korawa memperbaiki gelarnya. Malam itu peperangan benar-benar dahsyat, dan baru berakhir karena kedua belah pihak sama-sama mengantuk. Tersebutlah ibu Raden Gatotkaca, yakni Dewi Arimbi hendak membakar diri membela putranya. Lalu minta diri kepada suami dan semua saudaranya. sesudah mendapat izin, ia lalu pergi ke medan perang, ke tempat jenazah putranya. Setelah tiba di sana, lalu dibakar bersama jenazah putranya.<noinclude>{{rh|54}}</noinclude> 8wdjecottugrd7jcavnjf48a7a3uhdt Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/30 250 24833 78026 2026-05-16T02:53:29Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 78026 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 28 –}}</noinclude><poem>:::kali agung andjogipun :::samodra ingkang wétan :::kilèn pradja risak sami :::ing Madura mèh ga<u>t</u>uk lan Surabaja</poem> <ol start=9> <li><poem>nDjeng Gusti malih ngandika pajo pa<u>d</u>a dèn-titèni pinèngetan mbok-manawa anak putu amenangi sandika Dyan Ngabèhi ing mbéndjing sarenganipun lawan ardi ing Tjlatjap ambles sareng ardi M(e)rapi rawa Pening kabèh kaurugan brama</poem></li> <li><poem>Risak tanah kilèn Pradin ka<u>t</u>ah djalma ingkang mati antara mung pantja dina kobong ingkang para ardi Gupremèn anulungi lawan pradja lijanipun durung kobong kang arga lin<u>d</u>u sadina kaping tri djamanira sapungkuré Djajabaja</poem></li> <li><poem>Meksih ratu ping sadasa iku ingkang aman<u>d</u>iri pradja di ing Surakarta jèn wirajat saking Djawi taun Ebé ing wingking sangkalanira pinétung nétra nem ngès<u>t</u>i radja ing Mangkunagaran mbéndjing kasusahan tan suwé antuk ngapura</poem></li> </ol> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> Mirsani tjén<u>t</u>anganipun serat "Wé<u>d</u>a-tama Piningit" ing katja 34 - 35 - 36. <center> ----- </center><noinclude></noinclude> l2x2977ytszz3l4cwk7vwm32ji6ejmq 78374 78026 2026-05-16T10:02:12Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78374 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 28 –}}</noinclude><poem>:::kali agung andjogipun :::samodra ingkang wétan :::kilèn pradja risak sami :::ing Madura mèh ga<u>t</u>uk lan Surabaja</poem> <ol start=9> <li><poem>nDjeng Gusti malih ngandika pajo pa<u>d</u>a dèn-titèni pinèngetan mbok-manawa anak putu amenangi sandika Dyan Ngabèhi ing mbéndjing sarenganipun lawan ardi ing Tjlatjap ambles sareng ardi M(e)rapi rawa Pening kabèh kaurugan brama</poem></li> <li><poem>Risak tanah kilèn Pradin ka<u>t</u>ah djalma ingkang mati antara mung pantja dina kobong ingkang para ardi Gupremèn anulungi lawan pradja lijanipun durung kobong kang arga lin<u>d</u>u sadina kaping tri djamanira sapungkuré Djajabaja</poem></li> <li><poem>Meksih ratu ping sadasa iku ingkang aman<u>d</u>iri pradja di ing Surakarta jèn wirajat saking Djawi taun Ebé ing wingking sangkalanira pinétung nétra nem ngès<u>t</u>i radja ing Mangkunagaran mbéndjing kasusahan tan suwé antuk ngapura</poem></li> </ol> <u>{{sp|Tjéntangan}}</u> Mirsani tjén<u>t</u>anganipun serat "Wé<u>d</u>a-tama Piningit" ing katja 34 - 35 - 36. <center> ----- </center><noinclude></noinclude> 2x1jjt76brxe8xef9rvfuz160zpf138 Kaca:Bratayuda.pdf/13 250 24834 78033 2026-05-16T02:54:59Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78033 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>cam senjata di seluruh dunia digenggam di tangannya. Seratus Korawa, semua ngeri melihatnya, prajurit yang ribuan jumlahnya, semua merasa cemas, tak seorang pun mampu ber~ kata-kata, dan senjata yang mereka genggam, semua terlepas dari tangan tanpa mereka sadari. Duryudana serta Kama, cemas luar biasa, dan mengi.ra akan mati. Bisma dan Druna menangis, keduanya terbongkok-bongkok mendekati Sri Kresna lalu menyembah. Demikian pula keempat dewata, semuanya membujuk-bujuk dengan kata-kata lemah-lembut. Batara Surya segera turun, di angkasa banyak dewa memperlihatkan diri, semua menaburkan bunga. Batara Surya ikut pula membujuk Sri Kresna dengan kata-kata yang halus, ujamya, "Wahai Sri Kresna, jangan kauteruskan kemarahanmu itu. Jika engkau hendak menumpas Korawa, beserta prajurit dan sekaligus negaranya, pasti semuanya akan hancur lebur tanpa sisa. Akan tetapi ingatlah akan dunia seisinya, dan kasihanilah dia. Yang kedua, ingatlah akan sumpah Wrekodara dan Drupadi. Adapun sumpah Drupadi, selama hidupnya tidak akan mau bersanggul, jika belum keramas dengan darah Korawa seratus di dalam peperangan. Jika kemarahanmu kauteruskan, sumpahnya tidak akan terlaksana." Segenap dewa menyembah Sri Kresna. Perasa<cn Sri Baginda reda sudah, lenyap kemarahannya, dan sudah kembali berujud manusia, lalu kembali ke tempat duduknya. Bisma serta Druna, demikian pula Resi N arada, semua berusaha meredakan kemarahannya. Sri Kresna meninggalkan istana tanpa pamit. Keempat dewata merasa gembira, lalu mengikutinya. Setelah tiba di luar istana, keempat dewata kembali ke Kahyangan, sedangkan Sri Kresna pergi ke tempat Dewi Kunti. *** Setelah bertemu dengan Dewi Kunti, Sri Kresna ditanya, demikian, "Bagaimana, Anak Prabu? Apakah perjalananmu berhasil, dan bagaimana kesudahannya?" Dewi Kunti bertanya sambil menangis. "Suyudana tidak mau rukun bersaudara. Ia tidak rela negeri 16<noinclude></noinclude> sihxha6m60mc0lygsvgexn9vr3o3jwb 78039 78033 2026-05-16T02:59:50Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78039 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>cam senjata di seluruh dunia digenggam di tangannya. Seratus Korawa, semua ngeri melihatnya, prajurit yang ribuan jumlahnya, semua merasa cemas, tak seorang pun mampu berkata-kata, dan senjata yang mereka genggam, semua terlepas dari tangan tanpa mereka sadari. Duryudana serta Karna, cemas luar biasa, dan mengira akan mati. Bisma dan Druna menangis, keduanya terbongkok-bongkok mendekati Sri Kresna lalu menyembah. Demikian pula keempat dewata, semuanya membujuk-bujuk dengan kata-kata lemah-lembut. Batara Surya segera turun, di angkasa banyak dewa memperlihatkan diri, semua menaburkan bunga. Batara Surya ikut pula membujuk Sri Kresna dengan kata-kata yang halus, ujarnya, "Wahai Sri Kresna, jangan kauteruskan kemarahanmu itu. Jika engkau hendak menumpas Korawa, beserta prajurit dan sekaligus negaranya, pasti semuanya akan hancur lebur tanpa sisa. Akan tetapi ingatlah akan dunia seisinya, dan kasihanilah dia. Yang kedua, ingatlah akan sumpah Wrekodara dan Drupadi. Adapun sumpah Drupadi, selama hidupnya tidak akan mau bersanggul, jika belum keramas dengan darah Korawa seratus di dalam peperangan. Jika kemarahanmu kauteruskan, sumpahnya tidak akan terlaksana." Segenap dewa menyembah Sri Kresna. Perasaan Sri Baginda reda sudah, lenyap kemarahannya, dan sudah kembali berujud manusia, lalu kembali ke tempat duduknya. Bisma serta Druna, demikian pula Resi Narada, semua berusaha meredakan kemarahannya. Sri Kresna meninggalkan istana tanpa pamit. Keempat dewata merasa gembira, lalu mengikutinya. Setelah tiba di luar istana, keempat dewata kembali ke Kahyangan, sedangkan Sri Kresna pergi ke tempat Dewi Kunti. {{C|* * *}} Setelah bertemu dengan Dewi Kunti, Sri Kresna ditanya, demikian, "Bagaimana, Anak Prabu? Apakah perjalananmu berhasil, dan bagaimana kesudahannya?" Dewi Kunti bertanya sambil menangis. "Suyudana tidak mau rukun bersaudara. Ia tidak rela negeri<noinclude>{{rh|16}}</noinclude> qo64jyee3zyzwl5garrttot1hoxf21r 78269 78039 2026-05-16T09:21:05Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78269 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|cam|macam}} senjata di seluruh dunia digenggam di tangannya. Seratus Korawa, semua ngeri melihatnya, prajurit yang ribuan jumlahnya, semua merasa cemas, tak seorang pun mampu berkata-kata, dan senjata yang mereka genggam, semua terlepas dari tangan tanpa mereka sadari. Duryudana serta Karna, cemas luar biasa, dan mengira akan mati. Bisma dan Druna menangis, keduanya terbongkok-bongkok mendekati Sri Kresna lalu menyembah. Demikian pula keempat dewata, semuanya membujuk-bujuk dengan kata-kata lemah-lembut. Batara Surya segera turun, di angkasa banyak dewa memperlihatkan diri, semua menaburkan bunga. Batara Surya ikut pula membujuk Sri Kresna dengan kata-kata yang halus, ujarnya, "Wahai Sri Kresna, jangan kauteruskan kemarahanmu itu. Jika engkau hendak menumpas Korawa, beserta prajurit dan sekaligus negaranya, pasti semuanya akan hancur lebur tanpa sisa. Akan tetapi ingatlah akan dunia seisinya, dan kasihanilah dia. Yang kedua, ingatlah akan sumpah Wrekodara dan Drupadi. Adapun sumpah Drupadi, selama hidupnya tidak akan mau bersanggul, jika belum keramas dengan darah Korawa seratus di dalam peperangan. Jika kemarahanmu kauteruskan, sumpahnya tidak akan terlaksana." Segenap dewa menyembah Sri Kresna. Perasaan Sri Baginda reda sudah, lenyap kemarahannya, dan sudah kembali berujud manusia, lalu kembali ke tempat duduknya. Bisma serta Druna, demikian pula Resi Narada, semua berusaha meredakan kemarahannya. Sri Kresna meninggalkan istana tanpa pamit. Keempat dewata merasa gembira, lalu mengikutinya. Setelah tiba di luar istana, keempat dewata kembali ke Kahyangan, sedangkan Sri Kresna pergi ke tempat Dewi Kunti. {{C|* * *}} Setelah bertemu dengan Dewi Kunti, Sri Kresna ditanya, demikian, "Bagaimana, Anak Prabu? Apakah perjalananmu berhasil, dan bagaimana kesudahannya?" Dewi Kunti bertanya sambil menangis. "Suyudana tidak mau rukun bersaudara. Ia tidak rela negeri<noinclude>{{rh|16}}</noinclude> jvij1uqysy89mach9grsnr4yjtiw01n Kaca:Bratayuda.pdf/6 250 24835 78041 2026-05-16T03:00:22Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78041 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>sela batu, seolah-olah memperlihatkan kesedihan, karena Raden J anaka tidak turut serta. Seekor kelelawar bergantW1g di cabang sebuah pohon, sayapnya berkepak-kepak seolah-olah turut bersedih. Sekiranya ia bisa berucap, demikianlah kata-katanya, "Mengapakah Panduputra tidak turut serta datang ru1tuk merebut kembali negaranya sendiri?" Bunga Tanjung berguguran di tengah jalan, tampaknya juga turut bersedih. Dengung kumbang mencari bunga, atau yang mengikut ke hilir di atas busa air, rasanya seperti menangis turut bela sungkawa, mengapa sang Dananjaya tidak mengiringkan Sri Kresna. Lumut kering yang menempel di permukaan batu, kelihatannya seperti seorang putri pingsan tak sadarkan diri, karena tergilagila kepada sang Dananjaya. Demikian banyaknya keindahan di tepi jalan atau yang berada di tepi kali, yang berubah semu menjadi sendu. Terlalu banyak jika diceritakan. Peijalanan Sri Kresna sudah sampai di Tegal Kuru, lalu ada empat dewata turun ke bumi, ialah Janaka, Ramaparasu, Kanwa serta Narada namanya, hendak membantu peijalanan tugas Sri Baginda. Sri Kresna sendiri terkejut melihat kedatangan para dewata, lalu beralih duduk bersama sais kereta. Keempat dewata itu duduk sudah di dalam kereta. Setelah Sri Baginda menyembah, keempat dewata itu serempak berkata, "Sri Baginda, tak usahlah berjalan tergesa-gesa, karena karni akan turut serta ke mana pun anda pergi." Kemudian kereta dit:erlambat jalannya, dan sepanjang jalan Sri Baginda bercakap-cakap dengan keempat dewata. Adapun yang dipercakapkan ialah, apa yang seyogyanya dilakukan, dan bagaimana agar perkara itu berakhir dengan baik. *** Raja Suyudana di Astina sudah mendengar berita, bahwa 9<noinclude></noinclude> oasrbfxrxdraznrf7olt9o3njx83ub2 78043 78041 2026-05-16T03:04:59Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78043 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>sela batu, seolah-olah memperlihatkan kesedihan, karena Raden Janaka tidak turut serta. Seekor kelelawar bergantung di cabang sebuah pohon, sayapnya berkepak-kepak seolah-olah turut bersedih. Sekiranya ia bisa berucap, demikianlah kata-katanya, "Mengapakah Panduputra tidak turut serta datang untuk merebut kembali negaranya sendiri?" Bunga Tanjung berguguran di tengah jalan, tampaknya juga turut bersedih. Dengung kumbang mencari bunga, atau yang mengikut ke hilir di atas busa air, rasanya seperti menangis turut bela sungkawa, mengapa sang Dananjaya tidak mengiringkan Sri Kresna. Lumut kering yang menempel di permukaan batu, kelihatannya seperti seorang putri pingsan tak sadarkan diri, karena tergila-gila kepada sang Dananjaya. Demikian banyaknya keindahan di tepi jalan atau yang berada di tepi kali, yang berubah semu menjadi sendu. Terlalu banyak jika diceritakan. Perjalanan Sri Kresna sudah sampai di Tegal Kuru, lalu ada empat dewata turun ke bumi, ialah Janaka, Ramaparasu, Kanwa serta Narada namanya, hendak membantu perjalanan tugas Sri Baginda. Sri Kresna sendiri terkejut melihat kedatangan para dewata, lalu beralih duduk bersama sais kereta. Keempat dewata itu duduk sudah di dalam kereta. Setelah Sri Baginda menyembah, keempat dewata itu serempak berkata, "Sri Baginda, tak usahlah berjalan tergesa-gesa, karena karni akan turut serta ke mana pun anda pergi." Kemudian kereta diperlambat jalannya, dan sepanjang jalan Sri Baginda bercakap-cakap dengan keempat dewata. Adapun yang dipercakapkan ialah, apa yang seyogyanya dilakukan, dan bagaimana agar perkara itu berakhir dengan baik. {{C|* * *}} Raja Suyudana di Astina sudah mendengar berita, bahwa<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude> qc4c3gye0s1dhv4k30q9yovasr976y1 78263 78043 2026-05-16T09:19:34Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78263 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|sela|sela-sela}} batu, seolah-olah memperlihatkan kesedihan, karena Raden Janaka tidak turut serta. Seekor kelelawar bergantung di cabang sebuah pohon, sayapnya berkepak-kepak seolah-olah turut bersedih. Sekiranya ia bisa berucap, demikianlah kata-katanya, "Mengapakah Panduputra tidak turut serta datang untuk merebut kembali negaranya sendiri?" Bunga Tanjung berguguran di tengah jalan, tampaknya juga turut bersedih. Dengung kumbang mencari bunga, atau yang mengikut ke hilir di atas busa air, rasanya seperti menangis turut bela sungkawa, mengapa sang Dananjaya tidak mengiringkan Sri Kresna. Lumut kering yang menempel di permukaan batu, kelihatannya seperti seorang putri pingsan tak sadarkan diri, karena tergila-gila kepada sang Dananjaya. Demikian banyaknya keindahan di tepi jalan atau yang berada di tepi kali, yang berubah semu menjadi sendu. Terlalu banyak jika diceritakan. Perjalanan Sri Kresna sudah sampai di Tegal Kuru, lalu ada empat dewata turun ke bumi, ialah Janaka, Ramaparasu, Kanwa serta Narada namanya, hendak membantu perjalanan tugas Sri Baginda. Sri Kresna sendiri terkejut melihat kedatangan para dewata, lalu beralih duduk bersama sais kereta. Keempat dewata itu duduk sudah di dalam kereta. Setelah Sri Baginda menyembah, keempat dewata itu serempak berkata, "Sri Baginda, tak usahlah berjalan tergesa-gesa, karena karni akan turut serta ke mana pun anda pergi." Kemudian kereta diperlambat jalannya, dan sepanjang jalan Sri Baginda bercakap-cakap dengan keempat dewata. Adapun yang dipercakapkan ialah, apa yang seyogyanya dilakukan, dan bagaimana agar perkara itu berakhir dengan baik. {{C|* * *}} Raja Suyudana di Astina sudah mendengar berita, bahwa<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude> ikhtjwlw2wu9mnmzjuqrl1d74xq4c0t Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/77 250 24836 78042 2026-05-16T03:03:35Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 78042 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" />{{C|- 78 -}}</noinclude>namung katantjebaken kajon (gunungan) satunggal, dipun wastani paseban, kangge sadijanipun tantjeban wajang ingkang bade medal minangka kangge lampahan. Sadaja sami katantjebaken wonten ing gadebog nginggil. Dėne manawi wajangipun katah inggih sok ngantos nglandjak wonten ing gadebog ngandap. Menggah tjara panatanipun' wajang punika wau kaurutaken, miturut wajang ingkang sampun katamtokaken tumrap panatanipun, dene uruting panataning wajang panggungan punika wau dipun wastani anjumping, utawi wajange wis kasumping. Dene mapanipun sami katantjebaken wonten ing panggungan kiwa lan tengen, mila kawastanan njumping, kabekta wanguning panata manawi kasawang sangking katebihan katingal kados gatraning sumping, dados sadaja wajang ingkang sami medal katantjebaken ing gadebog mepet kelir punika wau dipun wastani wajang panggungan, ingkang katah wajang katongan, para ratu utawi para satrija kalijan para putri lan putran, sami katantjebaken minangka kangge rerengganing pakeliran, sami kapapanaken wonten ing sisih kiwa lan tengen, minangka kangge tetimbangan sesawangan supados katon edi peni lan asri dinulu, wonten salebeting pasamuan ngriku. {{C|WAJANG DUGANGAN.}} Sadaja wajang wadya punggawa ketek lan buta, ingkang boten katut kasumping, punika wau dipun wastani wajang dugangan, pamendeting tembung dugangan punika wau, kapirit saking tandang tanduking solahing wajang manawi nudju sami kaperangaken, boten tumuli sami namakaken dedamel, nanging mesti dugang dinugang, biti-biniti, soto-sinoto, gentos butjal binutjal. Ing ngriku pundi ingkang kalindih, saweg sesumbar bade namakaken dedamelipun, punika wau sadaja sami dipun wastani wajang dugangan. {{C|WAJANG RITJIKAN.}} Ingkang dipun wastani wajang ritjikan punika, kadosta Gunungan (kajon), prampogan, kreta, golonganing pirantos dedamel (gaman) lan bangsaning beburon. Mila dipun wastani ritjikan, amendet saking tembung angratjik, minangka kangge prabot andjangkepaken kangge djedjering lelampahan. Wajang ritjikan punika temtu kanggenipun upami wajang sakotak kirang salah satunggaling ritjikan ingkang boten wonten, inggih punika, Gunungan, Prampogan, Djaran, lan dedamelipun (gaman), punika tamtu boten bade tumindak kangge majang, inggih punika wau piguna lan paedahipun wajang ritjikan mesti kanggenipun.<noinclude></noinclude> p5l8kq0wllk3evu1sxgr335r9vlbd01 Kaca:Bratayuda.pdf/7 250 24837 78044 2026-05-16T03:05:26Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78044 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna sudah tiba di Tegal Kuru. Lalu memerintahkan supaya segenap lorong dihampari kain sampai di sitinggil, dan sampai di pintu luar istana. Adapun yang mendapat perintah untuk menyongsong ialah, Bisma, Druna, Destarata, yang semuanya merasa gembira di hati, karena Sri Kresnalah yang menjadi utusan untuk meminta kembali negeri, dan mereka mengira bahwa Raja Suyudana pasti akan menyerahkannya. Akan tetapi Raja Suyudana dan Patih Sangkuni ternyata sedang kebingungan, karena Sri Kresna itu sudah merupakan dwitunggl!l dengan Pandawa. Kemudian seluruh Korawa berkumpul di istana. *** PeJ.jalanan Sri Kresna sudah sampai ke perbatasan negeri Astina. Jalan keretanya diperlambat. Ramai suara orang yang bertugas menjemput atau yang sekadar menonton. Rakyat seluruh kota Astina semua keluar, karena inginnya hendak melihat Sri Kresna. Besar kecil berlari-larian, penuh sesak berderet-deret di tepi jalan, takut terlambat menyaksikan lewatnya Sri Baginda. Para penjemput sudah bertemu dengan Sri Kresna, kemudian Sri Baginda dipersilakan masuk ke istana. Adapun para raja yang lain, sudah terlebih dahulu duduk di dalam istana. Raja Salya pun sudah hadir, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, duduk beJ.jajar di hadapan Raja Suyudana. Kemudian para pinisepuh yang mendapat tugas menjemput datang mendahului. Tak lama antaranya Sri Kresna tiba, turun dari kereta bersama keempat dewata. Para Korawa semua berdiri memberi hormat. Sri Baginda dan keempat dewata dipersilakan duduk oleh Raja Suyudana. Para pinisepuh saling bersicepat menyalaminya. Kemudian suguhan dihidangkan. Ujar Raja Suyudana mempersilakan, "Kakanda Prabu Dwarawati, saya persilakan bersantap sebagai pelerai Ielah." Sri Kresna menjawab demikian, "Adinda Prabu, saya ucapkan banyak terima kasih. Tentang hidangan ini dapat ditangguhkan dulu sampai nanti, jika pekeJ.jaan saya sudah selesai." Suyudana mendesak, ujarnya, "Mengapa sungkan-sungkan, 10<noinclude></noinclude> 3iv8lblxn4d2ufptyq6tm7uqxlebaqr 78085 78044 2026-05-16T03:33:17Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78085 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna sudah tiba di Tegal Kuru. Lalu memerintahkan supaya segenap lorong dihampari kain sampai di sitinggil, dan sampai di pintu luar istana. Adapun yang mendapat perintah untuk menyongsong ialah, Bisma, Druna, Destarata, yang semuanya merasa gembira di hati, karena Sri Kresnalah yang menjadi utusan untuk meminta kembali negeri, dan mereka mengira bahwa Raja Suyudana pasti akan menyerahkannya. Akan tetapi Raja Suyudana dan Patih Sangkuni ternyata sedang kebingungan, karena Sri Kresna itu sudah merupakan dwitunggal dengan Pandawa. Kemudian seluruh Korawa berkumpul di istana. {{C|* * *}} Perjalanan Sri Kresna sudah sampai ke perbatasan negeri Astina. Jalan keretanya diperlambat. Ramai suara orang yang bertugas menjemput atau yang sekadar menonton. Rakyat seluruh kota Astina semua keluar, karena inginnya hendak melihat Sri Kresna. Besar kecil berlari-larian, penuh sesak berderet-deret di tepi jalan, takut terlambat menyaksikan lewatnya Sri Baginda. Para penjemput sudah bertemu dengan Sri Kresna, kemudian Sri Baginda dipersilakan masuk ke istana. Adapun para raja yang lain, sudah terlebih dahulu duduk di dalam istana. Raja Salya pun sudah hadir, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, duduk berjajar di hadapan Raja Suyudana. Kemudian para pinisepuh yang mendapat tugas menjemput datang mendahului. Tak lama antaranya Sri Kresna tiba, turun dari kereta bersama keempat dewata. Para Korawa semua berdiri memberi hormat. Sri Baginda dan keempat dewata dipersilakan duduk oleh Raja Suyudana. Para pinisepuh saling bersicepat menyalaminya. Kemudian suguhan dihidangkan. Ujar Raja Suyudana mempersilakan, "Kakanda Prabu Dwarawati, saya persilakan bersantap sebagai pelerai lelah." Sri Kresna menjawab demikian, "Adinda Prabu, saya ucapkan banyak terima kasih. Tentang hidangan ini dapat ditangguhkan dulu sampai nanti, jika pekerjaan saya sudah selesai." Suyudana mendesak, ujarnya, "Mengapa sungkan-sungkan,<noinclude>{{rh|10}}</noinclude> lot156mlifvony6bqg56dty1w7irkbn 78264 78085 2026-05-16T09:19:43Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78264 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna sudah tiba di Tegal Kuru. Lalu memerintahkan supaya segenap lorong dihampari kain sampai di sitinggil, dan sampai di pintu luar istana. Adapun yang mendapat perintah untuk menyongsong ialah, Bisma, Druna, Destarata, yang semuanya merasa gembira di hati, karena Sri Kresnalah yang menjadi utusan untuk meminta kembali negeri, dan mereka mengira bahwa Raja Suyudana pasti akan menyerahkannya. Akan tetapi Raja Suyudana dan Patih Sangkuni ternyata sedang kebingungan, karena Sri Kresna itu sudah merupakan dwitunggal dengan Pandawa. Kemudian seluruh Korawa berkumpul di istana. {{C|* * *}} Perjalanan Sri Kresna sudah sampai ke perbatasan negeri Astina. Jalan keretanya diperlambat. Ramai suara orang yang bertugas menjemput atau yang sekadar menonton. Rakyat seluruh kota Astina semua keluar, karena inginnya hendak melihat Sri Kresna. Besar kecil berlari-larian, penuh sesak berderet-deret di tepi jalan, takut terlambat menyaksikan lewatnya Sri Baginda. Para penjemput sudah bertemu dengan Sri Kresna, kemudian Sri Baginda dipersilakan masuk ke istana. Adapun para raja yang lain, sudah terlebih dahulu duduk di dalam istana. Raja Salya pun sudah hadir, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, duduk berjajar di hadapan Raja Suyudana. Kemudian para pinisepuh yang mendapat tugas menjemput datang mendahului. Tak lama antaranya Sri Kresna tiba, turun dari kereta bersama keempat dewata. Para Korawa semua berdiri memberi hormat. Sri Baginda dan keempat dewata dipersilakan duduk oleh Raja Suyudana. Para pinisepuh saling bersicepat menyalaminya. Kemudian suguhan dihidangkan. Ujar Raja Suyudana mempersilakan, "Kakanda Prabu Dwarawati, saya persilakan bersantap sebagai pelerai lelah." Sri Kresna menjawab demikian, "Adinda Prabu, saya ucapkan banyak terima kasih. Tentang hidangan ini dapat ditangguhkan dulu sampai nanti, jika pekerjaan saya sudah selesai." Suyudana mendesak, ujarnya, "Mengapa sungkan-sungkan,<noinclude>{{rh|10}}</noinclude> trljiae9b1wtdv7t0ten27zn6flasrl Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/69 250 24838 78045 2026-05-16T03:09:39Z Khusna Safira 1759 /* Titiwaca */ 78045 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" />{{rh||- 70 -}}</noinclude>'''Wajang Brongsong.''' Wajang brongsong punika sadaja wajang ingkang paraupanipun sami dipun prada utawi dipun brom, punika dipun wastani wajang brongsong. '''Wajang Gendong.''' Wajang ngore rambutipun dumugi ing geger punika dipun wastani ringgit gendong. '''Wajang Sampir.''' Wajang ingkang slendangan dipun wastani wajang sampir. '''Wajang Lanjapan.''' Wajang lanjapan punika sadaja wajang ingkang nglangak (andangak) kadosta Samba, Narajana sapiturutipun ingkang sami andangak. '''Wajang Longok.''' Wajang longok kadosta Nangkula Sahadewa, Kresna, sadaja wajang ingkang boten patos andangak dipun wastani longok. '''Wajang Luruk.''' Wajang Luruh - sadaja wajang ingkang sami andungkluk, tu mungkul), kadosta, Hardjuna, Judistira, Ongkawidjaja sapiturutipun sadaja wajang ingkang sami tumungkul, nami luruh. '''Wajang Oji.''' Dene manawi wajang Estren luruh dipun wastani Oji. '''Wajang Endel.''' Ingkang Estren lanjapan dipun wastani Endel. '''Wajang Gusen.''' Wajang gusen, inggih punika sawarnining wajang ingkang katingal gusi lan sijungipun. {{C|'''BAB MRIPATANING WAJANG.}}''' {{C|(Mripataning Wajang punika wonten pitung warni).}} '''1. Mripat nggabah.''' Kadosta, Hardjuna, Kresna, Karna, punika mripatipun gabahan, wanguning mripat kados gabah.<noinclude></noinclude> 2lcyx4hitenn6wv9lzr7wkanicmcfak 78046 78045 2026-05-16T03:10:10Z Khusna Safira 1759 78046 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" />{{rh||- 70 -}}</noinclude>'''Wajang Brongsong.''' Wajang brongsong punika sadaja wajang ingkang paraupanipun sami dipun prada utawi dipun brom, punika dipun wastani wajang brongsong. '''Wajang Gendong.''' Wajang ngore rambutipun dumugi ing geger punika dipun wastani ringgit gendong. '''Wajang Sampir.''' Wajang ingkang slendangan dipun wastani wajang sampir. '''Wajang Lanjapan.''' Wajang lanjapan punika sadaja wajang ingkang nglangak (andangak) kadosta Samba, Narajana sapiturutipun ingkang sami andangak. '''Wajang Longok.''' Wajang longok kadosta Nangkula Sahadewa, Kresna, sadaja wajang ingkang boten patos andangak dipun wastani longok. '''Wajang Luruk.''' Wajang Luruh - sadaja wajang ingkang sami andungkluk, tu mungkul), kadosta, Hardjuna, Judistira, Ongkawidjaja sapiturutipun sadaja wajang ingkang sami tumungkul, nami luruh. '''Wajang Oji.''' Dene manawi wajang Estren luruh dipun wastani Oji. '''Wajang Endel.''' Ingkang Estren lanjapan dipun wastani Endel. '''Wajang Gusen.''' Wajang gusen, inggih punika sawarnining wajang ingkang katingal gusi lan sijungipun. {{C|'''BAB MRIPATANING WAJANG.}}''' {{C|(Mripataning Wajang punika wonten pitung warni).}} '''1. Mripat nggabah.''' Kadosta, Hardjuna, Kresna, Karna, punika mripatipun gabahan, wanguning mripat kados gabah.<noinclude></noinclude> jflwdi3otas3f4rd3k8ktpdu647f6l4 Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/1 250 24839 78055 2026-05-16T03:13:30Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 78055 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" /></noinclude><center><big><big><big> '''PANJI NARAWANGSA''' </big></big></big></center> <center>terbitan:<br> Balai poestaka, Betawi Centrum 1936</center> <center>turunan dari:<br> Naskah tulisan tangan koleksi KBG</center><noinclude></noinclude> 9tqcww6nrgar8hzxssana0y6i5qy9sv 78141 78055 2026-05-16T07:46:40Z Kriita 885 /* Validated */ 78141 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" /></noinclude><center><big><big><big> '''PANJI NARAWANGSA''' </big></big></big></center> <center>terbitan:<br> Balai poestaka, Betawi Centrum 1936</center> <center>turunan dari:<br> Naskah tulisan tangan koleksi KBG</center><noinclude></noinclude> oq9e5az1e1cmtt22nqwa5lvnfeomgrr Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/8 250 24840 78084 2026-05-16T03:30:26Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 78084 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||6}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦏꦁꦏꦸꦢꦱꦶꦤꦶꦫꦶꦒ꧀ꦒꦏꦺ꧈ ꦚꦩꦼꦛꦶꦤꦒꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ ꦱꦼꦏꦂꦩꦮꦸꦂꦠꦶꦧꦲꦶꦁꦱꦶꦠꦶ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦱꦢꦪ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦶꦲꦔꦽꦧꦸꦠ꧀ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩꦶꦕꦫꦺꦁꦤꦭ꧈ ꦏꦢꦶꦔꦫꦺꦤ꧀ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦤꦶꦠꦶꦃꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦧꦪꦮꦸꦱ꧀ꦩꦫꦶꦧꦿꦺꦴꦁꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦮꦲꦹꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦺꦁꦒꦂꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦏꦩ꧀ꦥꦸꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦩꦱꦸꦃꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦏꦭꦶꦃ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦸꦁꦱꦸꦁꦮꦂꦠ꧈ ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦲꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦪꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦤꦶꦫꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦏꦸꦱꦸꦩꦪꦸꦲꦶꦁꦢꦲꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧈ ꦱꦏꦶꦁꦲꦶꦁꦥꦔꦸꦩ꧀ꦧꦫꦤ꧀꧈ ꧃ ꦱꦲꦶꦭꦁꦔꦺꦱꦏꦶꦁꦠꦶꦭꦩ꧀ꦮꦔꦶ꧈ ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦒꦮꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦢꦸꦂꦓ꧈ ꦩꦥꦤ꧀ꦲꦏꦺꦃꦕꦶꦤ꧀ꦠꦏꦤꦺ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦤꦶꦥꦹꦤ꧀ ꦕꦶꦭꦏꦤꦺꦏꦥꦠꦶꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦤꦺꦥꦤ꧀ꦏꦭꦶꦮꦠ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦸꦭꦶꦠ꧀ꦠꦺꦏꦢꦶꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦠꦶꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦁꦱꦪꦲꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦲꦥꦶꦤ꧀ꦝꦧꦸꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦭꦺꦁꦱꦺꦂꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦶꦤꦫꦏ꧀ꦤꦺꦁꦲꦶꦁꦧꦭꦺꦏꦩ꧀ꦧꦁ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦠꦥ꧀ꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦏꦶꦥꦹꦠꦿꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦶꦒꦿꦩꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏꦲꦢꦶ꧈ ꦫꦩꦭꦤ꧀ꦧꦿꦠꦪꦸꦢ꧈ ꦲꦤꦸꦭꦾꦠꦶꦤꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦱ꧀ꦮꦫꦭꦶꦂꦔꦭꦥ꧀ꦤꦗꦶꦮ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦔꦸꦤꦸꦭꦾꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦩꦪꦠ꧀ꦩꦶꦫꦶꦁ꧈ ꦮꦠꦮꦶꦱ꧀ꦠꦶꦒꦁꦥꦢ꧀ ꧅ ꦤꦶꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦤꦸꦭꦾꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦣꦸꦩꦠꦼꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦮꦶꦒꦹꦩꦸꦗꦼꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦮꦸꦭꦮꦲꦸ꧈ ꦲꦔꦼꦢꦸꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦫꦺꦩꦗꦛꦲꦒꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦚꦒꦸꦩꦿꦸꦢꦸꦒ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦏꦪꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦮꦸꦭꦸꦲꦮꦏ꧀ꦲꦏꦼꦠꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦶꦱꦶꦠꦶꦁꦒꦶ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦸꦭꦠꦤ꧀ꦱꦺꦴꦠꦃ꧉ ꧄ ꦱꦏꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦼꦤꦼꦭ꧀ꦏꦺ }}<noinclude></noinclude> 87julvgtm7brx6tf548trmy8pfuz43f 78386 78084 2026-05-16T10:11:25Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78386 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||6}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦏꦁꦏꦸꦢꦱꦶꦤꦶꦫꦶꦒ꧀ꦒꦏꦺ꧈ ꦚꦩꦼꦛꦶꦤꦒꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ ꦱꦼꦏꦂꦩꦮꦸꦂꦠꦶꦧꦲꦶꦁꦱꦶꦠꦶ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦱꦢꦪ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦶꦲꦔꦽꦧꦸꦠ꧀ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩꦶꦕꦫꦺꦁꦤꦭ꧈ ꦏꦢꦶꦔꦫꦺꦤ꧀ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦤꦶꦠꦶꦃꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦧꦪꦮꦸꦱ꧀ꦩꦫꦶꦧꦿꦺꦴꦁꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦮꦲꦹꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦺꦁꦒꦂꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦏꦩ꧀ꦥꦸꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦩꦱꦸꦃꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦏꦭꦶꦃ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦸꦁꦱꦸꦁꦮꦂꦠ꧈ ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦲꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦪꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦤꦶꦫꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦏꦸꦱꦸꦩꦪꦸꦲꦶꦁꦢꦲꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧈ ꦱꦏꦶꦁꦲꦶꦁꦥꦔꦸꦩ꧀ꦧꦫꦤ꧀꧈ ꧃ ꦱꦲꦶꦭꦁꦔꦺꦱꦏꦶꦁꦠꦶꦭꦩ꧀ꦮꦔꦶ꧈ ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦒꦮꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦢꦸꦂꦓ꧈ ꦩꦥꦤ꧀ꦲꦏꦺꦃꦕꦶꦤ꧀ꦠꦏꦤꦺ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦤꦶꦥꦹꦤ꧀ ꦕꦶꦭꦏꦤꦺꦏꦥꦠꦶꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦤꦺꦥꦤ꧀ꦏꦭꦶꦮꦠ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦸꦭꦶꦠ꧀ꦠꦺꦏꦢꦶꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦠꦶꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦁꦱꦪꦲꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦲꦥꦶꦤ꧀ꦝꦧꦸꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦭꦺꦁꦱꦺꦂꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦶꦤꦫꦏ꧀ꦤꦺꦁꦲꦶꦁꦧꦭꦺꦏꦩ꧀ꦧꦁ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦠꦥ꧀ꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦏꦶꦥꦹꦠꦿꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦶꦒꦿꦩꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏꦲꦢꦶ꧈ ꦫꦩꦭꦤ꧀ꦧꦿꦠꦪꦸꦢ꧈ ꦲꦤꦸꦭꦾꦠꦶꦤꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦱ꧀ꦮꦫꦭꦶꦂꦔꦭꦥ꧀ꦤꦗꦶꦮ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦔꦸꦤꦸꦭꦾꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦩꦪꦠ꧀ꦩꦶꦫꦶꦁ꧈ ꦮꦠꦮꦶꦱ꧀ꦠꦶꦒꦁꦥꦢ꧀ ꧅ ꦤꦶꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦤꦸꦭꦾꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦣꦸꦩꦠꦼꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦮꦶꦒꦹꦩꦸꦗꦼꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦮꦸꦭꦮꦲꦸ꧈ ꦲꦔꦼꦢꦸꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦫꦺꦩꦗꦛꦲꦒꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦚꦒꦸꦩꦿꦸꦢꦸꦒ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦏꦪꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦮꦸꦭꦸꦲꦮꦏ꧀ꦲꦏꦼꦠꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦶꦱꦶꦠꦶꦁꦒꦶ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦸꦭꦠꦤ꧀ꦱꦺꦴꦠꦃ꧉ ꧄ ꦱꦏꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦼꦤꦼꦭ꧀ꦏꦺ }}<noinclude></noinclude> m3ggdyjfoq2wxu2x8x1qs8ccnu92opv Kaca:Bratayuda.pdf/5 250 24841 78086 2026-05-16T03:33:51Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78086 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik an tar saudara .dapat selalu terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina .untuk minta separoh negeri Astina." Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri. Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki. Karena cepatnya kereta yang dikendarai,' kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah iriemperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab serta menggoda dengan matanya kepad~ si Penanya. Sedangkan jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta." Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya. Bunga-bun"ga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta. Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di sela8<noinclude></noinclude> 9txnfajbt87b4jnyifz8h2bnnastb6l 78087 78086 2026-05-16T03:40:02Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78087 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik antar saudara dapat selalu terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina untuk minta separoh negeri Astina." Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri. Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki. Karena cepatnya kereta yang dikendarai, kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah memperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab serta menggoda dengan matanya kepada si Penanya. Sedangkan jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta." Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya. Bunga-bunga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta. Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di sela-<noinclude>{{rh|8}}</noinclude> d5nk4ovtl4rpr9v6ds11pm52ppr1xmx 78261 78087 2026-05-16T09:18:54Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78261 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik antar saudara dapat selalu terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina untuk minta separoh negeri Astina." Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri. Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki. Karena cepatnya kereta yang dikendarai, kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah memperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab serta menggoda dengan matanya kepada si Penanya. Sedangkan jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta." Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya. Bunga-bunga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta. Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di sela-<noinclude>{{rh|8}}</noinclude> lx0jm0ycqzo1oa5f66irl9d5dvznc8q 78262 78261 2026-05-16T09:19:17Z Elcamatcha 1466 78262 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik antar saudara dapat selalu terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina untuk minta separoh negeri Astina." Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri. Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki. Karena cepatnya kereta yang dikendarai, kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah memperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab serta menggoda dengan matanya kepada si Penanya. Sedangkan jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta." Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya. Bunga-bunga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta. Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di {{hws|sela|sela-sela}}<noinclude>{{rh|8}}</noinclude> q1tlmipzn9e8mxdgf0nu1lbb6o3dong Kaca:Bratayuda.pdf/12 250 24842 78088 2026-05-16T03:40:25Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78088 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dari. Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Kama memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan. Raja Suyudana mengWldurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana. Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata. Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai senapati ialah Arya Sindureja; Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang tidak senonoh ketika meninggalkan tamu. Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benarbenar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah siap dengan senjata mere~a, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana pun sudah banyak pula." Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat mar~h. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah, menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa susah dan mengamba'ng. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala ma15<noinclude></noinclude> 73gjh0waaxhqqzlazylb2iznrlrm3hb 78089 78088 2026-05-16T03:45:30Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78089 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dan Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Karna memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan. Raja Suyudana mengWldurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana. Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata. Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai senapati ialah Arya Sindureja. Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang tidak senonoh ketika meninggalkan tamu. Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benar-benar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah siap dengan senjata mereka, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana pun sudah banyak pula." Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat marah. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah, menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa susah dan mengambang. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala ma-<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> 1ril5h396wb2444r11u4y6g9iyox4s6 78267 78089 2026-05-16T09:20:37Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78267 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dan Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Karna memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan. Raja Suyudana mengundurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana. Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata. Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai senapati ialah Arya Sindureja. Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang tidak senonoh ketika meninggalkan tamu. Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benar-benar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah siap dengan senjata mereka, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana pun sudah banyak pula." Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat marah. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah, menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa susah dan mengambang. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala {hws|ma|<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> heorv07fvs1g9182au7p9wr6umasm3d 78268 78267 2026-05-16T09:20:49Z Elcamatcha 1466 78268 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dan Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Karna memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan. Raja Suyudana mengundurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana. Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata. Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai senapati ialah Arya Sindureja. Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang tidak senonoh ketika meninggalkan tamu. Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benar-benar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah siap dengan senjata mereka, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana pun sudah banyak pula." Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat marah. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah, menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa susah dan mengambang. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala {hws|ma|macam}}<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude> hg1ltpuvk6zu1bjftbxxm2y3z3w2azm Kaca:Bratayuda.pdf/14 250 24843 78090 2026-05-16T03:45:55Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78090 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Astina diminta kembali yang separoh, berarti harus direbut melalui peperangan," demikianjawab Sri Kresna. "Jika demikian kehendak si Suyudana, apa lagi yang harus dipikirkan? Hanya adikmu si Yudistira saja pimpinlah baik-baik agar tidak meninggalkan keutamaan, lalu mengurungkan niatnya merebut negara yang menjadi haknya. Orang yang gugur di medan perang karena mempertahankan negara, pasti memperoleh sorga. Pesanku yang terpenting, Anak Prabu, usahakan secara sungguhsungguh agar peperangan itu benar-benar terlaksana," demikian kata-kata Dewi Kunti yang diucapkannya dengan terputus-putus. Sri Kresna menyatakan kesanggupannya, menyembah lalu minta diri, kemudian naik kereta bersama Adipati Awangga. Widura, Sanjaya, demikian pula Yuyutsuh, semua mengiringkannya. Selama dalam petjalanan, Sri Kresna memberi saran kepada Adipati Awangga, jika perang benar-benar tetjadi, diminta supaya membantu Pandawa. Akan tetapi ternyata Adipati Awangga tidak mau. Ia akan tetap membantu Korawa, karena dulu telah bersumpah akan berperang tanding melawan Dananjaya. Setelah kereta sampai di luar kota, Adipati Awangga mohon diri, turun dari kereta. Adipati Awangga lalu menemui sang ibu, Dewi Kunti. Sang ibu bertanya seraya mencucurkan air mata, "Setelah kakakmu, Anak Prabu Kresna pulang, apa gerangan pesannya kepadamu?" Adipati Awangga menjawab, "Saya diminta meninggalkan negeri ini. Dan kalau benar-benar tetjadi perang, disarank~m.supaya saya membantu Pandawa." "Saran itu benar-benar baik, seyogyanya kauindahkan, dan dengan demikian engkau bersatu dengan saudara-saudaramu. Karena tempat yang utama untuk mencapai kematian ialah dalam Perang Baratayuda itu. Seyogyanya engkau sehidup semati dengan saudaramu sendiri," demikian nasehat Dewi Kunti. Permintaan Dewi Kunti itu diucapkannya sambil menangis. Akan tetapi Adipati Awangga menjawab, "lbu, seorang satria utarna, pasti akan memegang teguh kata-katariya yang telah terucap- 17<noinclude></noinclude> rpqnek016xo1223tuikzyjislw12vfa 78093 78090 2026-05-16T03:51:33Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78093 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Astina diminta kembali yang separoh, berarti harus direbut melalui peperangan," demikian jawab Sri Kresna. "Jika demikian kehendak si Suyudana, apa lagi yang harus dipikirkan? Hanya adikmu si Yudistira saja pimpinlah baik-baik agar tidak meninggalkan keutamaan, lalu mengurungkan niatnya merebut negara yang menjadi haknya. Orang yang gugur di medan perang karena mempertahankan negara, pasti memperoleh sorga. Pesanku yang terpenting, Anak Prabu, usahakan secara sungguh-sungguh agar peperangan itu benar-benar terlaksana," demikian kata-kata Dewi Kunti yang diucapkannya dengan terputus-putus. Sri Kresna menyatakan kesanggupannya, menyembah lalu minta diri, kemudian naik kereta bersama Adipati Awangga. Widura, Sanjaya, demikian pula Yuyutsuh, semua mengiringkannya. Selama dalam petjalanan, Sri Kresna memberi saran kepada Adipati Awangga, jika perang benar-benar terjadi, diminta supaya membantu Pandawa. Akan tetapi ternyata Adipati Awangga tidak mau. Ia akan tetap membantu Korawa, karena dulu telah bersumpah akan berperang tanding melawan Dananjaya. Setelah kereta sampai di luar kota, Adipati Awangga mohon diri, turun dari kereta. Adipati Awangga lalu menemui sang ibu, Dewi Kunti. Sang ibu bertanya seraya mencucurkan air mata, "Setelah kakakmu, Anak Prabu Kresna pulang, apa gerangan pesannya kepadamu?" Adipati Awangga menjawab, "Saya diminta meninggalkan negeri ini. Dan kalau benar-benar terjadi perang, disarankan supaya saya membantu Pandawa." "Saran itu benar-benar baik, seyogyanya kauindahkan, dan dengan demikian engkau bersatu dengan saudara-saudaramu. Karena tempat yang utama untuk mencapai kematian ialah dalam Perang Baratayuda itu. Seyogyanya engkau sehidup semati dengan saudaramu sendiri," demikian nasehat Dewi Kunti. Permintaan Dewi Kunti itu diucapkannya sambil menangis. Akan tetapi Adipati Awangga menjawab, "Ibu, seorang satria utama, pasti akan memegang teguh kata-katanya yang telah terucap-<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude> 5sa3lk08ebwgiu8xeynyptf4j8lmyxw 78270 78093 2026-05-16T09:21:23Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78270 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Astina diminta kembali yang separoh, berarti harus direbut melalui peperangan," demikian jawab Sri Kresna. "Jika demikian kehendak si Suyudana, apa lagi yang harus dipikirkan? Hanya adikmu si Yudistira saja pimpinlah baik-baik agar tidak meninggalkan keutamaan, lalu mengurungkan niatnya merebut negara yang menjadi haknya. Orang yang gugur di medan perang karena mempertahankan negara, pasti memperoleh sorga. Pesanku yang terpenting, Anak Prabu, usahakan secara sungguh-sungguh agar peperangan itu benar-benar terlaksana," demikian kata-kata Dewi Kunti yang diucapkannya dengan terputus-putus. Sri Kresna menyatakan kesanggupannya, menyembah lalu minta diri, kemudian naik kereta bersama Adipati Awangga. Widura, Sanjaya, demikian pula Yuyutsuh, semua mengiringkannya. Selama dalam petjalanan, Sri Kresna memberi saran kepada Adipati Awangga, jika perang benar-benar terjadi, diminta supaya membantu Pandawa. Akan tetapi ternyata Adipati Awangga tidak mau. Ia akan tetap membantu Korawa, karena dulu telah bersumpah akan berperang tanding melawan Dananjaya. Setelah kereta sampai di luar kota, Adipati Awangga mohon diri, turun dari kereta. Adipati Awangga lalu menemui sang ibu, Dewi Kunti. Sang ibu bertanya seraya mencucurkan air mata, "Setelah kakakmu, Anak Prabu Kresna pulang, apa gerangan pesannya kepadamu?" Adipati Awangga menjawab, "Saya diminta meninggalkan negeri ini. Dan kalau benar-benar terjadi perang, disarankan supaya saya membantu Pandawa." "Saran itu benar-benar baik, seyogyanya kauindahkan, dan dengan demikian engkau bersatu dengan saudara-saudaramu. Karena tempat yang utama untuk mencapai kematian ialah dalam Perang Baratayuda itu. Seyogyanya engkau sehidup semati dengan saudaramu sendiri," demikian nasehat Dewi Kunti. Permintaan Dewi Kunti itu diucapkannya sambil menangis. Akan tetapi Adipati Awangga menjawab, "Ibu, seorang satria utama, pasti akan memegang teguh kata-katanya yang telah {{hws|terucap|terucapkan}}<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude> 7jy8f9gjwh18seu0omeg2ge3k7iacgu Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/9 250 24844 78091 2026-05-16T03:45:59Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 78091 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||7}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦏꦁꦲꦠꦶ꧈ ꦩꦭꦃꦏꦮꦸꦭꦩꦸꦠꦃꦥꦶꦁꦱꦔ꧈ ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦭꦂꦩꦩ꧀ꦧꦸꦲꦼꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦣꦸꦃꦏꦏꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦢꦢꦾꦤ꧀ꦚꦠꦥꦹꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦏꦁꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦺꦥꦹꦤꦥ꧈ ꦲꦤꦲꦹꦂꦫꦶꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦶꦟꦸꦏꦂꦠꦥꦠꦶ꧈ ꦔꦺꦤ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮ꧉ ꧃ ꦤꦢꦾꦤ꧀ꦮꦂꦤꦲꦭꦶꦂꦮꦽꦗꦶꦠ꧀ꦕꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦹꦗꦼꦂꦚꦠꦏꦸꦱꦸꦩꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦲꦶꦏꦸꦗꦼꦂꦏꦏꦁꦩꦸꦣꦺꦮꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦁꦱ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦏꦏꦁꦔꦶꦫꦥꦤ꧀ꦲꦪꦸꦩꦤꦶꦁ꧈ ꦭꦒꦶꦕꦺꦴꦧꦤꦶꦁꦢꦺꦮ꧈ ꦩꦫꦁꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦔꦸꦕꦥ꧀ ꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦮꦼꦫꦸꦃꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦏꦢꦶꦮꦶꦢꦢꦫꦶ꧈ ꦗꦼꦂꦩꦼꦁꦏꦺꦴꦭꦶꦂꦢꦤꦮ꧉ ꧃ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦧꦺꦭꦥꦿꦶꦃꦲꦠꦶꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦏꦱꦫꦸꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦏꦢꦁꦏꦢꦺꦪꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ ꦥꦪꦺꦴꦪꦪꦶꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦱꦫꦔꦶꦤ꧀ ꦏꦔꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦏꦁ꧈ ꦭꦩꦶꦤꦺꦴꦫꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦮꦶꦤꦭꦁꦢꦿꦶꦪ꧈ ꦥꦫꦤ꧀ꦢꦺꦤꦺ {{ref|''꧋ꦲꦮꦶꦠ꧀꧈''}} ꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦏꦸꦕꦶꦮꦩꦭꦶꦃꦫꦹꦥ꧉ ꧅ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦲꦠꦸꦂꦤꦺꦏꦶ꧈ ꦲꦔ꧀ꦭꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦏꦮꦸꦭꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦏꦮꦂꦤꦲꦶꦁꦥꦺꦴꦭꦃꦲꦺ꧈ ꦲꦱꦿꦁꦒꦩꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦸꦩꦾꦸꦁ꧈ ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦩꦶꦢꦼꦂꦏꦁꦥꦺꦴꦤꦁꦭꦫꦶꦃ꧈ ꦲꦫꦏ꧀ꦠꦥꦺꦮꦫꦒꦁ꧈ ꦗꦼꦤꦺꦮꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦁꦒꦸꦂ꧈ ꦱꦼꦁꦒꦏ꧀ꦚꦭꦶꦂꦒꦸꦤꦸꦁꦉꦧꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦔꦶꦢꦸꦁꦏꦥꦾꦂꦱꦏꦢꦾꦏꦼꦣꦱꦶꦃ꧈ ꦏꦼꦥ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦲꦠꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ꦭꦤ꧀꧈ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦢꦪꦮꦸꦫꦸꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦧꦸꦧꦂꦏꦁꦲꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦠꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦩꦸꦭꦶꦃ꧈ ꦩꦶꦮꦃꦏꦶꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦦ }}<noinclude></noinclude> mnxqdzqse5a92rdhsgkz8e8eh92f1n3 78092 78091 2026-05-16T03:48:50Z Abdansykr26 860 78092 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||7}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦏꦁꦲꦠꦶ꧈ ꦩꦭꦃꦏꦮꦸꦭꦩꦸꦠꦃꦥꦶꦁꦱꦔ꧈ ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦭꦂꦩꦩ꧀ꦧꦸꦲꦼꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦣꦸꦃꦏꦏꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦢꦢꦾꦤ꧀ꦚꦠꦥꦹꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦏꦁꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦺꦥꦹꦤꦥ꧈ ꦲꦤꦲꦹꦂꦫꦶꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦶꦟꦸꦏꦂꦠꦥꦠꦶ꧈ ꦔꦺꦤ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮ꧉ ꧃ ꦤꦢꦾꦤ꧀ꦮꦂꦤꦲꦭꦶꦂꦮꦽꦗꦶꦠ꧀ꦕꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦹꦗꦼꦂꦚꦠꦏꦸꦱꦸꦩꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦲꦶꦏꦸꦗꦼꦂꦏꦏꦁꦩꦸꦣꦺꦮꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦁꦱ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦏꦏꦁꦔꦶꦫꦥꦤ꧀ꦲꦪꦸꦩꦤꦶꦁ꧈ ꦭꦒꦶꦕꦺꦴꦧꦤꦶꦁꦢꦺꦮ꧈ ꦩꦫꦁꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦔꦸꦕꦥ꧀ ꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦮꦼꦫꦸꦃꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦏꦢꦶꦮꦶꦢꦢꦫꦶ꧈ ꦗꦼꦂꦩꦼꦁꦏꦺꦴꦭꦶꦂꦢꦤꦮ꧉ ꧃ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦧꦺꦭꦥꦿꦶꦃꦲꦠꦶꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦏꦱꦫꦸꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦏꦢꦁꦏꦢꦺꦪꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ ꦥꦪꦺꦴꦪꦪꦶꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦱꦫꦔꦶꦤ꧀ ꦏꦔꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦏꦁ꧈ ꦭꦩꦶꦤꦺꦴꦫꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦮꦶꦤꦭꦁꦢꦿꦶꦪ꧈ ꦥꦫꦤ꧀ꦢꦺꦤꦺ <ref>''꧋ꦲꦮꦶꦠ꧀꧈''</ref> ꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦏꦸꦕꦶꦮꦩꦭꦶꦃꦫꦹꦥ꧉ ꧅ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦲꦠꦸꦂꦤꦺꦏꦶ꧈ ꦲꦔ꧀ꦭꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦏꦮꦸꦭꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦏꦮꦂꦤꦲꦶꦁꦥꦺꦴꦭꦃꦲꦺ꧈ ꦲꦱꦿꦁꦒꦩꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦸꦩꦾꦸꦁ꧈ ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦩꦶꦢꦼꦂꦏꦁꦥꦺꦴꦤꦁꦭꦫꦶꦃ꧈ ꦲꦫꦏ꧀ꦠꦥꦺꦮꦫꦒꦁ꧈ ꦗꦼꦤꦺꦮꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦁꦒꦸꦂ꧈ ꦱꦼꦁꦒꦏ꧀ꦚꦭꦶꦂꦒꦸꦤꦸꦁꦉꦧꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦔꦶꦢꦸꦁꦏꦥꦾꦂꦱꦏꦢꦾꦏꦼꦣꦱꦶꦃ꧈ ꦏꦼꦥ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦲꦠꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ꦭꦤ꧀꧈ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦢꦪꦮꦸꦫꦸꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦧꦸꦧꦂꦏꦁꦲꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦠꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦩꦸꦭꦶꦃ꧈ ꦩꦶꦮꦃꦏꦶꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦦ }}<noinclude></noinclude> i3oy929i7ytyh1g8legakazrff14mao 78387 78092 2026-05-16T10:11:33Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78387 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||7}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦏꦁꦲꦠꦶ꧈ ꦩꦭꦃꦏꦮꦸꦭꦩꦸꦠꦃꦥꦶꦁꦱꦔ꧈ ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦭꦂꦩꦩ꧀ꦧꦸꦲꦼꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦣꦸꦃꦏꦏꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦢꦢꦾꦤ꧀ꦚꦠꦥꦹꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦏꦁꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦺꦥꦹꦤꦥ꧈ ꦲꦤꦲꦹꦂꦫꦶꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦶꦟꦸꦏꦂꦠꦥꦠꦶ꧈ ꦔꦺꦤ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮ꧉ ꧃ ꦤꦢꦾꦤ꧀ꦮꦂꦤꦲꦭꦶꦂꦮꦽꦗꦶꦠ꧀ꦕꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦹꦗꦼꦂꦚꦠꦏꦸꦱꦸꦩꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦲꦶꦏꦸꦗꦼꦂꦏꦏꦁꦩꦸꦣꦺꦮꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦁꦱ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦏꦏꦁꦔꦶꦫꦥꦤ꧀ꦲꦪꦸꦩꦤꦶꦁ꧈ ꦭꦒꦶꦕꦺꦴꦧꦤꦶꦁꦢꦺꦮ꧈ ꦩꦫꦁꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦔꦸꦕꦥ꧀ ꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦮꦼꦫꦸꦃꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦏꦢꦶꦮꦶꦢꦢꦫꦶ꧈ ꦗꦼꦂꦩꦼꦁꦏꦺꦴꦭꦶꦂꦢꦤꦮ꧉ ꧃ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦧꦺꦭꦥꦿꦶꦃꦲꦠꦶꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦏꦱꦫꦸꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦏꦢꦁꦏꦢꦺꦪꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ ꦥꦪꦺꦴꦪꦪꦶꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦱꦫꦔꦶꦤ꧀ ꦏꦔꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦏꦁ꧈ ꦭꦩꦶꦤꦺꦴꦫꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦮꦶꦤꦭꦁꦢꦿꦶꦪ꧈ ꦥꦫꦤ꧀ꦢꦺꦤꦺ <ref>''꧋ꦲꦮꦶꦠ꧀꧈''</ref> ꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦏꦸꦕꦶꦮꦩꦭꦶꦃꦫꦹꦥ꧉ ꧅ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦲꦠꦸꦂꦤꦺꦏꦶ꧈ ꦲꦔ꧀ꦭꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦏꦮꦸꦭꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦏꦮꦂꦤꦲꦶꦁꦥꦺꦴꦭꦃꦲꦺ꧈ ꦲꦱꦿꦁꦒꦩꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦸꦩꦾꦸꦁ꧈ ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦩꦶꦢꦼꦂꦏꦁꦥꦺꦴꦤꦁꦭꦫꦶꦃ꧈ ꦲꦫꦏ꧀ꦠꦥꦺꦮꦫꦒꦁ꧈ ꦗꦼꦤꦺꦮꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦁꦒꦸꦂ꧈ ꦱꦼꦁꦒꦏ꧀ꦚꦭꦶꦂꦒꦸꦤꦸꦁꦉꦧꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦔꦶꦢꦸꦁꦏꦥꦾꦂꦱꦏꦢꦾꦏꦼꦣꦱꦶꦃ꧈ ꦏꦼꦥ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦲꦠꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ꦭꦤ꧀꧈ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦢꦪꦮꦸꦫꦸꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦧꦸꦧꦂꦏꦁꦲꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦠꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦩꦸꦭꦶꦃ꧈ ꦩꦶꦮꦃꦏꦶꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦦ }}<noinclude></noinclude> 39bgjilhn9wuq5o5217otci8hwqmdhj Kaca:Bratayuda.pdf/74 250 24845 78094 2026-05-16T03:52:16Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78094 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Yayi Prabu, inggih boten wonten sayoginipun kejawi kagalih wilujengipun, amurih lulus saening akekadang. Kula ingkang badhe lumampah, anedha sapalihipun nagari ing Ngastina." Prabu Kresna lajeng andhawahaken parentah, karsa tindak dhumateng nagari ing Ngastina, badhe amundhut sapalihing nagari. Anunten bala sami dipun undhangi, sang nata nitih rata, Raden Setyaki andherek. Saking rikating rata, tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi sajawining kitha. Boten antawis dangu nagari ing Ngastina sampun katingal. Sakathahing kalangenan urut margi ingkang dipun ambah dening Prabu Kresna, semunipun sami prihatos. Ebahipun godhonging uwit wringin, semunipun kados tiyang jaler kasusahan, boten dipun timbangi tresnanipun dhateng ingk~mg estri. Pucaking gapura emperipun kados angajeng-ajeng enggale rawuhipun Prabu Kresna. Baunipun ing gapura, kados badhe nyembah dhumateng ingkang rawuh. Epanging wit cepaka sapinggiring margi, katempuh ing angin, semunipun kados astanipun Dewi Banowati, angawe-awe badhe pitaken dhateng Prabu Kresna, punapa Raden Janaka andherek. Swaraning ratanipun sang nata, sarta gebyaring sesotya rerengganipun, kados anyauri sarta angujiwati ingkang pitaken, wondening sauripun, "Si Janaka ora milu ngiring, isih kari ana ing Wiratha, kadang-kadange siji ora ana kang milu." Epang kanginan emperipun kados tiyang mengo, boten kadugi ing wangsulan wau, awit Raden Janaka boten andherek dhateng nagari ing Ngastina, anj abel nagaranipun. Sekar-sekar ing margi emperipun kados badhe rentah ing jurang. Wit-witan ingkang wonten pinggir margi katempuh ing angin, godhongipun abosah-basih, semunipun kados tiyang prihatos, dene Pandhawa boten tumut. Cucur mungel menggah-menggah, semunipun kados tiyang ajrih. Wonten sekar pudhak rentah ing sela, semunipun prihatos, awit dening Raden Janaka boten tumut andherek. Lawa gumandhul wonten ing epang, kebet-kebet kados tumut sedhih. Yen sageda wicanten, wiraosipun makaten, "Yagene Pan78<noinclude></noinclude> d96ha8xpn7ses5pr7wy0pfyl9rb4bmf 78095 78094 2026-05-16T03:56:46Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78095 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Yayi Prabu, inggih boten wonten sayoginipun kejawi kagalih wilujengipun, amurih lulus saening akekadang. Kula ingkang badhe lumampah, anedha sapalihipun nagari ing Ngastina." Prabu Kresna lajeng andhawahaken parentah, karsa tindak dhumateng nagari ing Ngastina, badhe amundhut sapalihing nagari. Anunten bala sami dipun undhangi, sang nata nitih rata, Raden Setyaki andherek. Saking rikating rata, tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi sajawining kitha. Boten antawis dangu nagari ing Ngastina sampun katingal. Sakathahing kalangenan urut margi ingkang dipun ambah dening Prabu Kresna, semunipun sami prihatos. Ebahipun godhonging uwit wringin, semunipun kados tiyang jaler kasusahan, boten dipun timbangi tresnanipun dhateng ingkang estri. Pucaking gapura emperipun kados angajeng-ajeng enggale rawuhipun Prabu Kresna. Baunipun ing gapura, kados badhe nyembah dhumateng ingkang rawuh. Epanging wit cepaka sapinggiring margi, katempuh ing angin, semunipun kados astanipun Dewi Banowati, angawe-awe badhe pitaken dhateng Prabu Kresna, punapa Raden Janaka andherek. Swaraning ratanipun sang nata, sarta gebyaring sesotya rerengganipun, kados anyauri sarta angujiwati ingkang pitaken, wondening sauripun, "Si Janaka ora milu ngiring, isih kari ana ing Wiratha, kadang-kadange siji ora ana kang milu." Epang kanginan emperipun kados tiyang mengo, boten kadugi ing wangsulan wau, awit Raden Janaka boten andherek dhateng nagari ing Ngastina, anjabel nagaranipun. Sekar-sekar ing margi emperipun kados badhe rentah ing jurang. Wit-witan ingkang wonten pinggir margi katempuh ing angin, godhongipun abosah-basih, semunipun kados tiyang prihatos, dene Pandhawa boten tumut. Cucur mungel menggah-menggah, semunipun kados tiyang ajrih. Wonten sekar pudhak rentah ing sela, semunipun prihatos, awit dening Raden Janaka boten tumut andherek. Lawa gumandhul wonten ing epang, kebet-kebet kados tumut sedhih. Yen sageda wicanten, wiraosipun makaten, "Yagene Pan-<noinclude>{{rh|78}}</noinclude> pkx3h9e0t3wvg6glwhcvb8imyi04qk4 78328 78095 2026-05-16T09:39:18Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78328 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Yayi Prabu, inggih boten wonten sayoginipun kejawi kagalih wilujengipun, amurih lulus saening akekadang. Kula ingkang badhe lumampah, anedha sapalihipun nagari ing Ngastina." Prabu Kresna lajeng andhawahaken parentah, karsa tindak dhumateng nagari ing Ngastina, badhe amundhut sapalihing nagari. Anunten bala sami dipun undhangi, sang nata nitih rata, Raden Setyaki andherek. Saking rikating rata, tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi sajawining kitha. Boten antawis dangu nagari ing Ngastina sampun katingal. Sakathahing kalangenan urut margi ingkang dipun ambah dening Prabu Kresna, semunipun sami prihatos. Ebahipun godhonging uwit wringin, semunipun kados tiyang jaler kasusahan, boten dipun timbangi tresnanipun dhateng ingkang estri. Pucaking gapura emperipun kados angajeng-ajeng enggale rawuhipun Prabu Kresna. Baunipun ing gapura, kados badhe nyembah dhumateng ingkang rawuh. Epanging wit cepaka sapinggiring margi, katempuh ing angin, semunipun kados astanipun Dewi Banowati, angawe-awe badhe pitaken dhateng Prabu Kresna, punapa Raden Janaka andherek. Swaraning ratanipun sang nata, sarta gebyaring sesotya rerengganipun, kados anyauri sarta angujiwati ingkang pitaken, wondening sauripun, "Si Janaka ora milu ngiring, isih kari ana ing Wiratha, kadang-kadange siji ora ana kang milu." Epang kanginan emperipun kados tiyang mengo, boten kadugi ing wangsulan wau, awit Raden Janaka boten andherek dhateng nagari ing Ngastina, anjabel nagaranipun. Sekar-sekar ing margi emperipun kados badhe rentah ing jurang. Wit-witan ingkang wonten pinggir margi katempuh ing angin, godhongipun abosah-basih, semunipun kados tiyang prihatos, dene Pandhawa boten tumut. Cucur mungel menggah-menggah, semunipun kados tiyang ajrih. Wonten sekar pudhak rentah ing sela, semunipun prihatos, awit dening Raden Janaka boten tumut andherek. Lawa gumandhul wonten ing epang, kebet-kebet kados tumut sedhih. Yen sageda wicanten, wiraosipun makaten, "Yagene {{hws|Pan|Pandhuputra}}<noinclude>{{rh|78}}</noinclude> 81cu5aoz3geu5tq50jp33bx83l0f5lq Kaca:Bratayuda.pdf/75 250 24846 78096 2026-05-16T03:58:09Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78096 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>dhuputra ora milu rawuh anjabel nagarane dhewe?" Sekar tanjung anggulasah wonten ing margi, semunipun kados tumut sedhih. Brengengenging kombang ingkang ngupados sekar, utawi ingkang anut unthuking toya, kados anangis tumut prihatos, dene Sang Dananjaya boten andherekaken tindakipun Prabu Kresna. Lumut aking tumemplek ing sela, semunipun kados tiyang estri kalenger, amargi kedanan Sang Dananjaya. Akathah kalangenan ing pinggir margi, utawi pinggiring rawi ingkang angemper-emperi prihatos. Kapanjangen yen kacariyosna sadaya. Tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru, anunten wonten jawata sakawan tedhak, anama; Janaka, Rama Parasu, Kanwa sarta Narada, badhe ambiyantoni lampahipun sang nata. Prabu Kresna kaget mirsa wonten dewa anedhaki, lajeng mingser tumut lenggah kusiripun. Dewa sakawan sami lenggah salebeting rata. Sareng sang nata sampun nyembah, jawata sakawan angandika, "Sang nata, sampun kasesa ing lampah, kula badhe tumut ing salal11pah andika." Anunten rata dipun rindhikaken, samargi-margi Sang Prabu agineman kaliyan dewa sakawan. Wondening ingkang dipun rembag, prayogining lampah, saha saening kadadosanipun ing prakawis. Sang Prabu Suyudana ing Ngastina sampun midhanget, bilih Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru. Lajeng andhawahaken parentah, sakathahing lelurung andikakaken anggelari sinjang, anjog ing sitinggil, dumugi korining kadhaton ingkang jawi. Sarta para pinisepuh kadhawahan amethuk. Wondening ingkang kapatah amethuk wau; Bisma, Druna, Dhestharata, punika sami suka ing batos, dene Prabu Kresna ingkang lumampah badhe anjabel nagari; anyipta yen Prabu Suyudana amesthi badhe ngulungaken. Ananging Prabu Suyudana akaliyan Patih Sangkuni sami kewedan, awit Prabu Kresna sampun kalih-kalihing-ngatunggil kaliyan Pandawa. Anunten Korawa sami ngalempak wonten salebeting kadhaton 79<noinclude></noinclude> 8w9abv9ot3fbngtbxomy8a8dumtaqax 78099 78096 2026-05-16T04:02:14Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78099 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>dhuputra ora milu rawuh anjabel nagarane dhewe?" Sekar tanjung anggulasah wonten ing margi, semunipun kados tumut sedhih. Brengengenging kombang ingkang ngupados sekar, utawi ingkang anut unthuking toya, kados anangis tumut prihatos, dene Sang Dananjaya boten andherekaken tindakipun Prabu Kresna. Lumut aking tumemplek ing sela, semunipun kados tiyang estri kalenger, amargi kedanan Sang Dananjaya. Akathah kalangenan ing pinggir margi, utawi pinggiring rawi ingkang angemper-emperi prihatos. Kapanjangen yen kacariyosna sadaya. Tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru, anunten wonten jawata sakawan tedhak, anama; Janaka, Rama Parasu, Kanwa sarta Narada, badhe ambiyantoni lampahipun sang nata. Prabu Kresna kaget mirsa wonten dewa anedhaki, lajeng mingser tumut lenggah kusiripun. Dewa sakawan sami lenggah salebeting rata. Sareng sang nata sampun nyembah, jawata sakawan angandika, "Sang nata, sampun kasesa ing lampah, kula badhe tumut ing salampah andika." Anunten rata dipun rindhikaken, samargi-margi Sang Prabu agineman kaliyan dewa sakawan. Wondening ingkang dipun rembag, prayogining lampah, saha saening kadadosanipun ing prakawis. Sang Prabu Suyudana ing Ngastina sampun midhanget, bilih Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru. Lajeng andhawahaken parentah, sakathahing lelurung andikakaken anggelari sinjang, anjog ing sitinggil, dumugi korining kadhaton ingkang jawi. Sarta para pinisepuh kadhawahan amethuk. Wondening ingkang kapatah amethuk wau; Bisma, Druna, Dhestharata, punika sami suka ing batos, dene Prabu Kresna ingkang lumampah badhe anjabel nagari; anyipta yen Prabu Suyudana amesthi badhe ngulungaken. Ananging Prabu Suyudana akaliyan Patih Sangkuni sami kewedan, awit Prabu Kresna sampun kalih-kalihing-ngatunggil kaliyan Pandawa. Anunten Korawa sami ngalempak wonten salebeting kadhaton<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude> 5ch9qckuthvyplb2hdeybjud9yvwhe7 78327 78099 2026-05-16T09:39:03Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78327 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|dhuputra|Pandhuputra}} ora milu rawuh anjabel nagarane dhewe?" Sekar tanjung anggulasah wonten ing margi, semunipun kados tumut sedhih. Brengengenging kombang ingkang ngupados sekar, utawi ingkang anut unthuking toya, kados anangis tumut prihatos, dene Sang Dananjaya boten andherekaken tindakipun Prabu Kresna. Lumut aking tumemplek ing sela, semunipun kados tiyang estri kalenger, amargi kedanan Sang Dananjaya. Akathah kalangenan ing pinggir margi, utawi pinggiring rawi ingkang angemper-emperi prihatos. Kapanjangen yen kacariyosna sadaya. Tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru, anunten wonten jawata sakawan tedhak, anama; Janaka, Rama Parasu, Kanwa sarta Narada, badhe ambiyantoni lampahipun sang nata. Prabu Kresna kaget mirsa wonten dewa anedhaki, lajeng mingser tumut lenggah kusiripun. Dewa sakawan sami lenggah salebeting rata. Sareng sang nata sampun nyembah, jawata sakawan angandika, "Sang nata, sampun kasesa ing lampah, kula badhe tumut ing salampah andika." Anunten rata dipun rindhikaken, samargi-margi Sang Prabu agineman kaliyan dewa sakawan. Wondening ingkang dipun rembag, prayogining lampah, saha saening kadadosanipun ing prakawis. Sang Prabu Suyudana ing Ngastina sampun midhanget, bilih Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru. Lajeng andhawahaken parentah, sakathahing lelurung andikakaken anggelari sinjang, anjog ing sitinggil, dumugi korining kadhaton ingkang jawi. Sarta para pinisepuh kadhawahan amethuk. Wondening ingkang kapatah amethuk wau; Bisma, Druna, Dhestharata, punika sami suka ing batos, dene Prabu Kresna ingkang lumampah badhe anjabel nagari; anyipta yen Prabu Suyudana amesthi badhe ngulungaken. Ananging Prabu Suyudana akaliyan Patih Sangkuni sami kewedan, awit Prabu Kresna sampun kalih-kalihing-ngatunggil kaliyan Pandawa. Anunten Korawa sami ngalempak wonten salebeting kadhaton<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude> etkr6jwc16u3kl8h7hy5lbokgtjlg8r Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/29 250 24847 78098 2026-05-16T04:01:04Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 78098 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 78101 78098 2026-05-16T04:03:24Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78101 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||– 30 –}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 29 crop)2.jpg|600px|nirbing]] {| |{{gap}}{{gap}}{{C|''PRAGOTA''<br>Wanda BUNDEL.}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{gap}}{{gap}}{{C|''PRABAWA''<br> Wanda GEMBEL.}} |}<noinclude></noinclude> ktq42i6a9t7may2x2stprh9pp9lw1ny 78102 78101 2026-05-16T04:04:43Z Iripseudocorus 1236 78102 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||– 30 –}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 29 crop)2.jpg|600px|nirbing]] {| |{{gap}}{{gap}}{{C|''PRAGOTA''<br>Wanda BUNDEL.}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{gap}}{{gap}}{{C|''PRABAWA''<br> Wanda GEMBEL.}} |}<noinclude></noinclude> lre7lbhycmxjmpo3rbz2xenzmjjgul3 Kaca:Bratayuda.pdf/76 250 24848 78100 2026-05-16T04:02:38Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78100 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Lampahipun Prabu Kresna angancik kikising nagari Ngastina. Ratanipun karindhikaken. Arame swaranipun tetiyang ingkang sami amethuk, utawi ingkang sami anonton. Tiyang simagari Ngastina ebah sedaya, saking kapenginipun badhe aningali Prabu Kresna. Ageng alit pating baleber, jejel titip atimbun pinggiring margi, ajrih manawi kasep ing langkungipun sang nata. lngkang sami methuk wau sampun pepanggihan kaliyan Prabu Kresna, sang nata lajeng dipunaturi lumebet dhumateng kadhaton. Wondene para ratu sampun tata pinarak wonten salebeting kadhaton. Prabu Salya inggih sampun rawuh, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa,Arya Sindureja,Yuyutsuh, sami andher wonten ngarsanipun Prabu Suyudana. Anunten para pinisepuh ingkang kautus methuk wau sami dhateng ngrumiyini. Boten antawis dangu Prabu Kresna rawuh, tedhak saking rata kaliyan jawata sakawan. Para Korawa sami ngadeg angurmati. Sang nata akaliyan jawata sakawan dipunaturi pinarak dhateng Prabu Suyudana. Para pinisepuh kumrubut ingkang sami ambagekaken. Anunten ·pasegah sumaos. Pangandikanipun Prabu Suyudana, "Kakang Prabu ing Dwarawati, sumangga kula aturi dhahar, minangka jejampining sa yah." Prabu Kresna amangsuli, "Yayi Prabu, sakalangkung-langkung pamundhi kula. Pasegah pinanggih ing wingking, bilih padamelan sampun rampung." Suyudana ngandikan malih, "Dene mawi wigih-wigih, Kakang Prabu, anampik pasegah kula." Kresna amangsuli, "Gampil, Yayi Prabu, pinanggih ing wingking kemawon." Prabu Kresna suka ing galih aningali para ratu ingkang sami pepakan wonten ing kadhaton, utawi para sepuh ingkang sami sowan. Anunten pamit ing Prabu Suyudana badhe masanggrahan rumiyin. Prabu Suyudana amangsuli, "Sumangga ing karsa, kakang prabu, ratu bijaksana ing sajagat." Prabu Kresna amangsuli, "Mugi-mugi Yayi Prabu amanggiha suka, siyosa padamelan ingkang kula lampahi, wilujenga ing kada80<noinclude></noinclude> c5pttny7sb9miye5clxffi38jom98qm 78104 78100 2026-05-16T04:09:55Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78104 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Lampahipun Prabu Kresna angancik kikising nagari Ngastina. Ratanipun karindhikaken. Arame swaranipun tetiyang ingkang sami amethuk, utawi ingkang sami anonton. Tiyang simagari Ngastina ebah sedaya, saking kapenginipun badhe aningali Prabu Kresna. Ageng alit pating baleber, jejel titip atimbun pinggiring margi, ajrih manawi kasep ing langkungipun sang nata. Ingkang sami methuk wau sampun pepanggihan kaliyan Prabu Kresna, sang nata lajeng dipunaturi lumebet dhumateng kadhaton. Wondene para ratu sampun tata pinarak wonten salebeting kadhaton. Prabu Salya inggih sampun rawuh, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, sami andher wonten ngarsanipun Prabu Suyudana. Anunten para pinisepuh ingkang kautus methuk wau sami dhateng ngrumiyini. Boten antawis dangu Prabu Kresna rawuh, tedhak saking rata kaliyan jawata sakawan. Para Korawa sami ngadeg angurmati. Sang nata akaliyan jawata sakawan dipunaturi pinarak dhateng Prabu Suyudana. Para pinisepuh kumrubut ingkang sami ambagekaken. Anunten pasegah sumaos. Pangandikanipun Prabu Suyudana, "Kakang Prabu ing Dwarawati, sumangga kula aturi dhahar, minangka jejampining sayah." Prabu Kresna amangsuli, "Yayi Prabu, sakalangkung-langkung pamundhi kula. Pasegah pinanggih ing wingking, bilih padamelan sampun rampung." Suyudana ngandikan malih, "Dene mawi wigih-wigih, Kakang Prabu, anampik pasegah kula." Kresna amangsuli, "Gampil, Yayi Prabu, pinanggih ing wingking kemawon." Prabu Kresna suka ing galih aningali para ratu ingkang sami pepakan wonten ing kadhaton, utawi para sepuh ingkang sami sowan. Anunten pamit ing Prabu Suyudana badhe masanggrahan rumiyin. Prabu Suyudana amangsuli, "Sumangga ing karsa, kakang prabu, ratu bijaksana ing sajagat." Prabu Kresna amangsuli, "Mugi-mugi Yayi Prabu amanggiha suka, siyosa padamelan ingkang kula lampahi, wilujenga ing kada-<noinclude>{{rh|80}}</noinclude> no288vc01cjqnx02uueozhea8xd0878 78329 78104 2026-05-16T09:39:42Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78329 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Lampahipun Prabu Kresna angancik kikising nagari Ngastina. Ratanipun karindhikaken. Arame swaranipun tetiyang ingkang sami amethuk, utawi ingkang sami anonton. Tiyang simagari Ngastina ebah sedaya, saking kapenginipun badhe aningali Prabu Kresna. Ageng alit pating baleber, jejel titip atimbun pinggiring margi, ajrih manawi kasep ing langkungipun sang nata. Ingkang sami methuk wau sampun pepanggihan kaliyan Prabu Kresna, sang nata lajeng dipunaturi lumebet dhumateng kadhaton. Wondene para ratu sampun tata pinarak wonten salebeting kadhaton. Prabu Salya inggih sampun rawuh, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, sami andher wonten ngarsanipun Prabu Suyudana. Anunten para pinisepuh ingkang kautus methuk wau sami dhateng ngrumiyini. Boten antawis dangu Prabu Kresna rawuh, tedhak saking rata kaliyan jawata sakawan. Para Korawa sami ngadeg angurmati. Sang nata akaliyan jawata sakawan dipunaturi pinarak dhateng Prabu Suyudana. Para pinisepuh kumrubut ingkang sami ambagekaken. Anunten pasegah sumaos. Pangandikanipun Prabu Suyudana, "Kakang Prabu ing Dwarawati, sumangga kula aturi dhahar, minangka jejampining sayah." Prabu Kresna amangsuli, "Yayi Prabu, sakalangkung-langkung pamundhi kula. Pasegah pinanggih ing wingking, bilih padamelan sampun rampung." Suyudana ngandikan malih, "Dene mawi wigih-wigih, Kakang Prabu, anampik pasegah kula." Kresna amangsuli, "Gampil, Yayi Prabu, pinanggih ing wingking kemawon." Prabu Kresna suka ing galih aningali para ratu ingkang sami pepakan wonten ing kadhaton, utawi para sepuh ingkang sami sowan. Anunten pamit ing Prabu Suyudana badhe masanggrahan rumiyin. Prabu Suyudana amangsuli, "Sumangga ing karsa, kakang prabu, ratu bijaksana ing sajagat." Prabu Kresna amangsuli, "Mugi-mugi Yayi Prabu amanggiha suka, siyosa padamelan ingkang kula lampahi, wilujenga ing {{hws|kada|kadadosanipun}}<noinclude>{{rh|80}}</noinclude> tljzmd6r5mc3byxhg8kmpwofd2wp6al Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/34 250 24849 78103 2026-05-16T04:05:49Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 78103 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 78120 78103 2026-05-16T06:25:38Z Iripseudocorus 1236 78120 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude>{{c|'''ANTJER-ANTJER KATRANGANIPUN BAB WANDA.{{gap}} WANDA PUNIKA BEDA BEDANIPUN KAWUDJUDANING PASEMON INGKANG MAWI PIKADJENG.'''}} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 34 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]] ''Wanda DUKUN (Dunuk).'' ''Wanda MEGA<br>Kantinipun Bagong.''<noinclude></noinclude> af12upiyr2c1j3f5fcdz1c1ycco0odn 78121 78120 2026-05-16T06:27:25Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78121 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 35 —}}</noinclude>{{c|'''ANTJER-ANTJER KATRANGANIPUN BAB WANDA.{{gap}} WANDA PUNIKA BEDA BEDANIPUN KAWUDJUDANING PASEMON INGKANG MAWI PIKADJENG.'''}} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 34 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]] {| |{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda DUKUN (Dunuk).''}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda MEGA<br>Kantinipun Bagong.''}} |}<noinclude></noinclude> lnndz2rirh9tvpm4q7a863vb2bpswve Kaca:Bratayuda.pdf/125 250 24850 78105 2026-05-16T04:10:39Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78105 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Prabu Salya lajeng dandos. Srengenge sampun inggil. Balanipun dangu anggenipun sami ngentosi. Prabu Salya miyos anitih rata. Balanipun lajeng anabuh tengaraning perang, saha angrakit gelar. Prabu Suyudana sabalanipun angumpul wonten ing ngriku. Pandhawa inggih sampun angrakit gelar saha anabuh tengara, lajeng mangsah ing perang. Tempuhing perang kados mendhung pethukan sami mendhung, ramening perang swaranipun kados redi jugrug. Sampun kathah ingkang pejah. Korawa amesthekaken yen Pandhawa badhe tumpes dening Senapati Salya. Prabu Salya amedalaken Aji Candhabirawa, anunten kathah sarta warni-warni danawa ingkang medal saking sariranipun. Angebeki ing paprangan, sarta sami ambekta dedamel. Ambebujeng mengsah, anggadani, amedhangi saha anyakoti mengsah. Yen kawales dipun pejahi, sangsaya mewah kathah. Korawa surak gumerah, sarta sami suka aningali. Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, giris sami lumajeng, angungsi wingkingipun Prabu Kresna saha Prabu Yudhisthira. Prabu Kresna lajeng angundhangi bala Pandhawa sadaya, andikakaken ambucali dedamelipun, sarta sami kekudhunga. Lajeng sami anglampahi dhawuhipun Prabu Kresna sadaya. Danawa ingkang medal saking Aji Candhabirawa lajeng sami dhelog-dhelog kemawon, angadhepi mengsahipun. Prabu Kresna anunten angatag dhateng Prabu Yudhisthira amethukna perangipun Salya. Prabu Yudhisthira enggal anitih rata, majeng dhateng ing paprangan. Prabu Salya amatak Aji Candhabirawa malih, ambrubul wedaling danawa saking sariranipun. Agengageng sarta kathah, angungkuli ingkang rumiyin. Sami amurugi Prabu Yudhisthira. Prabu Yudhisthira enggal amawas Kalimausada, amedalaken latu anglangkungi agengipun. Latu wau lajeng ambesmi danawa wau, telas kabesmi sadaya. Prabu Yudhisthira lajeng anglepasaken Kalimausada. Prabu Salya kenging jajanipun pejah, gumebrug dhawah ing rata. Bala 129<noinclude></noinclude> mxuy2z3t1u0wsao0m9tohg6djxp4zr0 78106 78105 2026-05-16T04:16:54Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78106 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Prabu Salya lajeng dandos. Srengenge sampun inggil. Balanipun dangu anggenipun sami ngentosi. Prabu Salya miyos anitih rata. Balanipun lajeng anabuh tengaraning perang, saha angrakit gelar. Prabu Suyudana sabalanipun angumpul wonten ing ngriku. Pandhawa inggih sampun angrakit gelar saha anabuh tengara, lajeng mangsah ing perang. Tempuhing perang kados mendhung pethukan sami mendhung, ramening perang swaranipun kados redi jugrug. Sampun kathah ingkang pejah. Korawa amesthekaken yen Pandhawa badhe tumpes dening Senapati Salya. Prabu Salya amedalaken Aji Candhabirawa, anunten kathah sarta warni-warni danawa ingkang medal saking sariranipun. Angebeki ing paprangan, sarta sami ambekta dedamel. Ambebujeng mengsah, anggadani, amedhangi saha anyakoti mengsah. Yen kawales dipun pejahi, sangsaya mewah kathah. Korawa surak gumerah, sarta sami suka aningali. Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, giris sami lumajeng, angungsi wingkingipun Prabu Kresna saha Prabu Yudhisthira. Prabu Kresna lajeng angundhangi bala Pandhawa sadaya, andikakaken ambucali dedamelipun, sarta sami kekudhunga. Lajeng sami anglampahi dhawuhipun Prabu Kresna sadaya. Danawa ingkang medal saking Aji Candhabirawa lajeng sami dhelog-dhelog kemawon, angadhepi mengsahipun. Prabu Kresna anunten angatag dhateng Prabu Yudhisthira amethukna perangipun Salya. Prabu Yudhisthira enggal anitih rata, majeng dhateng ing paprangan. Prabu Salya amatak Aji Candhabirawa malih, ambrubul wedaling danawa saking sariranipun. Ageng-ageng sarta kathah, angungkuli ingkang rumiyin. Sami amurugi Prabu Yudhisthira. Prabu Yudhisthira enggal amawas Kalimausada, amedalaken latu anglangkungi agengipun. Latu wau lajeng ambesmi danawa wau, telas kabesmi sadaya. Prabu Yudhisthira lajeng anglepasaken Kalimausada. Prabu Salya kenging jajanipun pejah, gumebrug dhawah ing rata. Bala<noinclude>{{rh|||129}}</noinclude> 1739tv9ky7pwdxbcpusfoya0i1b2yxr Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/4 250 24851 78107 2026-05-16T05:04:32Z Devi 4340 509 /* Titiwaca */ 78107 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{missing image}} {{c|{{sp|{{x-larger|KI MARDIBUDHI}}}}<br>(PANGRIPTA).}} {{c|Wewenanging Pengarang<br>KAAJOMAN UNDANG-UNDANG<br>Buku kang sah katandha tangan penerbit.}}<noinclude></noinclude> i69iwxjvpgulucmvsjwi0aklnd8r35o 78135 78107 2026-05-16T06:57:17Z Ars-arsa 1809 /* Absah */ 78135 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{missing image}} {{c|{{sp|{{x-larger|KI MARDIBUDHI}}}}<br>(PANGRIPTA).}} {{c|Wewenanging Pengarang<br>KAAJOMAN UNDANG-UNDANG<br>Buku kang sah katandha tangan penerbit.}}<noinclude></noinclude> kamchg7u2184yypbe5l7u6l6q10vqx9 Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/60 250 24852 78108 2026-05-16T05:05:31Z Devi 4340 509 /* Tanpa tulisan */ 78108 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Devi 4340" /></noinclude><noinclude></noinclude> orpaluq2rjem4zg1t4g87ot08xu2vn2 Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/59 250 24853 78109 2026-05-16T05:05:35Z Devi 4340 509 /* Tanpa tulisan */ 78109 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Devi 4340" /></noinclude><noinclude></noinclude> orpaluq2rjem4zg1t4g87ot08xu2vn2 Kaca:Bratayuda.pdf/133 250 24854 78110 2026-05-16T05:07:11Z Devi 4340 509 /* Tanpa tulisan */ 78110 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Devi 4340" /></noinclude><noinclude></noinclude> orpaluq2rjem4zg1t4g87ot08xu2vn2 Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/6 250 24855 78111 2026-05-16T05:24:26Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 78111 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||4}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦂꦗꦤꦺꦤꦒꦫ꧉ ꧃ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦏꦏꦁꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦧꦺꦃꦕꦮꦶꦱ꧀ꦱ꧈ ꦮꦔꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦕꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦒꦮꦺꦪꦧꦁꦱꦭ꧀ꦏꦁꦥꦺꦭꦒ꧀ ꦒꦺꦤ꧀ꦚꦲꦩꦱꦁꦥꦥꦤ꧀ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦼꦢꦭ꧀ꦲꦶꦁꦔꦭꦸꦤ꧀ꦲꦭꦸꦤ꧀ ꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦲꦶꦔꦪꦥ꧀ꦲꦶꦁꦥꦸꦠꦿ꧉ ꧄ ꦩꦶꦮꦃꦏꦏꦶꦗꦺꦴꦣꦶꦦꦠꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦥꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦱꦸꦏꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦼꦫꦤꦥꦿꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦫꦩꦺꦤꦺ꧈ ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦥꦢꦸꦏꦗꦶꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦲꦔꦪꦃꦲꦶꦣꦮꦸꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦱꦿꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧉ ꧃ ꦭꦤ꧀ꦱꦶꦫꦮꦼꦠꦺꦴꦏ꧀ꦤꦏꦏꦶ꧈ ꦢꦺꦴꦚꦲꦶꦁꦕꦶꦤ꧀ꦠꦑꦥꦸꦫ꧈ ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦱꦸꦏꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦩꦼꦱꦏ꧀ꦲꦏꦺꦏꦏꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦸꦥꦩꦱꦸꦤ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱ꧈ ꦏꦾꦤ꧀ꦲꦥꦠꦶꦃꦤꦼꦩ꧀ꦧꦃꦩꦠꦸꦂ꧈ ꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿꦣꦠꦼꦁꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧉ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦹꦁꦲꦢꦶꦫꦗ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦠꦱꦶꦫꦱꦸꦤ꧀ꦏꦺꦴꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦏꦏꦶꦥꦿꦧꦸꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦲꦸꦮꦶꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧉ ꧄ ꦭꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦲꦗꦶ꧈ ꦲꦏꦂꦱꦱꦸꦤ꧀ꦉꦁꦒꦉꦁꦒ꧈ ꦲꦶꦪꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦲꦫꦏ꧀ꦩꦤꦺꦃ꧈ ꦏꦭꦮꦤ꧀ꦏꦏꦶꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦏꦪꦢꦸꦏ꧀ꦩꦱꦶꦃꦏꦼꦚ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦠꦼꦩꦸ꧈ ꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦲꦩꦫꦁꦢꦲ꧉ ꧃ ꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦸꦁꦑꦭꦩꦶꦱꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦩꦫꦁꦔꦡꦼꦒꦭ꧀ꦥꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦲꦶꦁꦏꦏꦁꦲꦼꦩ꧀ꦧꦺꦴꦏ꧀ ꦚꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦲꦶꦁꦦꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦥꦺꦴꦤ꧀ꦝꦺꦴꦁꦔꦤꦢꦺꦤ꧀ꦲꦺꦁꦒꦭ꧀ ꦥꦸꦭꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦺꦥꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦺꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦫꦸꦥ꧉ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦫꦶ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦭꦶꦃꦢꦶꦤꦸꦠ꧈ ꦱꦁꦤꦠꦗꦼꦁꦏꦂꦔꦣꦠꦺꦴꦤ꧀ ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦩꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦲꦶꦁꦢꦊꦩ꧀ꦩꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦲꦶꦁꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦸ }}<noinclude></noinclude> 1es9g06b949c59ueu2tdfquv2v0fwoj 78384 78111 2026-05-16T10:11:09Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78384 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||4}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦂꦗꦤꦺꦤꦒꦫ꧉ ꧃ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦏꦏꦁꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦧꦺꦃꦕꦮꦶꦱ꧀ꦱ꧈ ꦮꦔꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦕꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦒꦮꦺꦪꦧꦁꦱꦭ꧀ꦏꦁꦥꦺꦭꦒ꧀ ꦒꦺꦤ꧀ꦚꦲꦩꦱꦁꦥꦥꦤ꧀ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦼꦢꦭ꧀ꦲꦶꦁꦔꦭꦸꦤ꧀ꦲꦭꦸꦤ꧀ ꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦲꦶꦔꦪꦥ꧀ꦲꦶꦁꦥꦸꦠꦿ꧉ ꧄ ꦩꦶꦮꦃꦏꦏꦶꦗꦺꦴꦣꦶꦦꦠꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦥꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦱꦸꦏꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦼꦫꦤꦥꦿꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦫꦩꦺꦤꦺ꧈ ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦥꦢꦸꦏꦗꦶꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦲꦔꦪꦃꦲꦶꦣꦮꦸꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦱꦿꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧉ ꧃ ꦭꦤ꧀ꦱꦶꦫꦮꦼꦠꦺꦴꦏ꧀ꦤꦏꦏꦶ꧈ ꦢꦺꦴꦚꦲꦶꦁꦕꦶꦤ꧀ꦠꦑꦥꦸꦫ꧈ ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦱꦸꦏꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦩꦼꦱꦏ꧀ꦲꦏꦺꦏꦏꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦸꦥꦩꦱꦸꦤ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱ꧈ ꦏꦾꦤ꧀ꦲꦥꦠꦶꦃꦤꦼꦩ꧀ꦧꦃꦩꦠꦸꦂ꧈ ꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿꦣꦠꦼꦁꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧉ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦹꦁꦲꦢꦶꦫꦗ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦠꦱꦶꦫꦱꦸꦤ꧀ꦏꦺꦴꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦏꦏꦶꦥꦿꦧꦸꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦲꦸꦮꦶꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧉ ꧄ ꦭꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦲꦗꦶ꧈ ꦲꦏꦂꦱꦱꦸꦤ꧀ꦉꦁꦒꦉꦁꦒ꧈ ꦲꦶꦪꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦲꦫꦏ꧀ꦩꦤꦺꦃ꧈ ꦏꦭꦮꦤ꧀ꦏꦏꦶꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦏꦪꦢꦸꦏ꧀ꦩꦱꦶꦃꦏꦼꦚ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦠꦼꦩꦸ꧈ ꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦲꦩꦫꦁꦢꦲ꧉ ꧃ ꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦸꦁꦑꦭꦩꦶꦱꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦩꦫꦁꦔꦡꦼꦒꦭ꧀ꦥꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦲꦶꦁꦏꦏꦁꦲꦼꦩ꧀ꦧꦺꦴꦏ꧀ ꦚꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦲꦶꦁꦦꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦥꦺꦴꦤ꧀ꦝꦺꦴꦁꦔꦤꦢꦺꦤ꧀ꦲꦺꦁꦒꦭ꧀ ꦥꦸꦭꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦺꦥꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦺꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦫꦸꦥ꧉ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦫꦶ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦭꦶꦃꦢꦶꦤꦸꦠ꧈ ꦱꦁꦤꦠꦗꦼꦁꦏꦂꦔꦣꦠꦺꦴꦤ꧀ ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦩꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦲꦶꦁꦢꦊꦩ꧀ꦩꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦲꦶꦁꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦸ }}<noinclude></noinclude> nkeaar4got8qv68cr2iyy7gkmvoje8q Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/7 250 24856 78116 2026-05-16T05:41:19Z Abdansykr26 860 /* Titiwaca */ 78116 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||5}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦲꦺꦕꦩꦤꦺꦃꦲꦶꦫ꧉ ꧃ ꦲꦏꦛꦃꦏꦁꦧꦣꦺꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦔꦶꦁꦢꦺꦫꦺꦁꦕꦶꦤꦁꦏꦿꦩꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦮꦤꦺꦴꦢꦾꦏꦲꦺꦴꦠ꧀ ꦲꦮꦠꦫꦏꦭꦶꦃꦢꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦮꦺꦴꦁꦢꦺꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦏꦺꦮꦺꦴꦁꦒꦸꦤꦸꦁ꧈ ꦲꦤꦠꦿꦃꦲꦶꦁꦧꦺꦴꦧꦺꦴꦪꦺꦴꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦱꦩꦾꦲꦩꦼꦥꦼꦏ꧀ꦧꦶꦫꦲꦶ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦒꦹꦧꦃꦱꦼꦏꦂ꧈ ꦩꦥꦒ꧀ꦲꦶꦁꦥꦫꦺꦒꦺꦴꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦤꦏꦁꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦠꦺꦴꦪ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦠꦮꦶꦢ꧈ ꦮꦂꦤꦤꦺꦱꦩꦾꦪꦸꦲꦪꦸ꧈ ꦱꦼꦣꦼꦁꦔꦺꦴꦭꦃꦒꦸꦭꦢꦿꦮ꧉ ꧃ ꦣꦤ꧀ꦝꦁꦒꦹꦭ ꧃ ꦱꦏꦛꦃꦲꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦫꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦲꦔꦿꦲꦸꦥ꧀ꦥꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦫꦫꦱꦤ꧀ꦱꦫꦺꦴꦮꦁꦔꦺ꧈ ꦱꦢꦪꦱꦩꦶꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦱ꧀ꦠꦤꦶꦕꦶꦡꦿꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦮꦁ꧈ ꦒꦸꦁꦒꦮꦺꦕꦼꦕꦼꦤ꧀ꦛꦸꦁ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦤꦤꦥꦿꦶꦪꦼꦩ꧀ꦧꦢ꧈ ꦱꦧꦼꦤ꧀ꦢꦶꦤꦩꦼꦭꦫꦁꦔꦶꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁꦫꦩ꧀ꦥꦶꦁ꧈ ꦠꦼꦏꦔꦁꦒꦸꦂꦏꦺꦮꦭ꧉ ꧃ ꦲꦤꦲꦸꦂꦫꦶꦤꦶꦤꦶꦟꦮꦁꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦧꦼꦤꦼꦂꦧꦺꦴꦏ꧀ꦲꦪꦸꦮꦼꦕꦤꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦏꦤꦶꦔꦪꦤꦺ꧈ ꦏꦁꦏꦪꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦤꦺꦴꦫꦏꦺꦠꦁꦲꦸꦠꦁꦲꦚꦶꦭꦶꦃ꧈ ꦭꦥꦏ꧀ꦏꦺꦲꦺꦴꦭꦃꦱ꧀ꦭꦶꦫ꧈ ꦲꦱꦲꦺꦴꦱ꧀ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁ꧈ ꦱꦥꦧꦶꦱꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦤ꧈ ꦱꦭꦮꦱ꧀ꦱꦺꦲꦥꦶꦥꦶꦭꦶꦱ꧀ꦠꦶꦮꦱ꧀ꦲꦏꦶꦁ꧈ ꦧꦪꦢꦶꦥꦹꦤ꧀ꦫꦩ꧀ꦥꦶꦢ꧀ꦢ꧉ ꧃ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦺꦴꦗꦂꦤꦶꦯꦸꦤ꧀ꦢꦪꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦤꦶꦔꦪꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦩꦔꦤ꧀ꦱꦂꦠꦠꦸꦮꦸꦏ꧀ ꦱꦶꦚ꧀ꦗꦁꦔꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦭꦸꦁꦱꦼꦠ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ ꦲꦺꦱꦸꦏ꧀ꦱꦺꦴꦫꦺꦮꦶꦮꦶꦢ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦩ꧀ꦧꦸꦱ꧀ ꦩꦶꦭꦏꦁꦲꦠꦶꦲꦭꦫ꧈ ꦥꦲꦺꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦼꦤꦼꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦮꦉꦒ꧀ꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦣꦠꦸꦮ꧉ ꧄ ꦏꦮꦂꦤꦲꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦭꦗꦼꦁꦣꦠꦼꦁꦥꦭꦠꦂꦫꦤ꧀ }}<noinclude></noinclude> qv1s9l9940le4lr0t6l6pxsdmw16ezz 78385 78116 2026-05-16T10:11:17Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78385 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||5}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦲꦺꦕꦩꦤꦺꦃꦲꦶꦫ꧉ ꧃ ꦲꦏꦛꦃꦏꦁꦧꦣꦺꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦔꦶꦁꦢꦺꦫꦺꦁꦕꦶꦤꦁꦏꦿꦩꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦮꦤꦺꦴꦢꦾꦏꦲꦺꦴꦠ꧀ ꦲꦮꦠꦫꦏꦭꦶꦃꦢꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦮꦺꦴꦁꦢꦺꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦏꦺꦮꦺꦴꦁꦒꦸꦤꦸꦁ꧈ ꦲꦤꦠꦿꦃꦲꦶꦁꦧꦺꦴꦧꦺꦴꦪꦺꦴꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦱꦩꦾꦲꦩꦼꦥꦼꦏ꧀ꦧꦶꦫꦲꦶ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦒꦹꦧꦃꦱꦼꦏꦂ꧈ ꦩꦥꦒ꧀ꦲꦶꦁꦥꦫꦺꦒꦺꦴꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦤꦏꦁꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦠꦺꦴꦪ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦠꦮꦶꦢ꧈ ꦮꦂꦤꦤꦺꦱꦩꦾꦪꦸꦲꦪꦸ꧈ ꦱꦼꦣꦼꦁꦔꦺꦴꦭꦃꦒꦸꦭꦢꦿꦮ꧉ ꧃ ꦣꦤ꧀ꦝꦁꦒꦹꦭ ꧃ ꦱꦏꦛꦃꦲꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦫꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦲꦔꦿꦲꦸꦥ꧀ꦥꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦫꦫꦱꦤ꧀ꦱꦫꦺꦴꦮꦁꦔꦺ꧈ ꦱꦢꦪꦱꦩꦶꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦱ꧀ꦠꦤꦶꦕꦶꦡꦿꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦮꦁ꧈ ꦒꦸꦁꦒꦮꦺꦕꦼꦕꦼꦤ꧀ꦛꦸꦁ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦤꦤꦥꦿꦶꦪꦼꦩ꧀ꦧꦢ꧈ ꦱꦧꦼꦤ꧀ꦢꦶꦤꦩꦼꦭꦫꦁꦔꦶꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁꦫꦩ꧀ꦥꦶꦁ꧈ ꦠꦼꦏꦔꦁꦒꦸꦂꦏꦺꦮꦭ꧉ ꧃ ꦲꦤꦲꦸꦂꦫꦶꦤꦶꦤꦶꦟꦮꦁꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦧꦼꦤꦼꦂꦧꦺꦴꦏ꧀ꦲꦪꦸꦮꦼꦕꦤꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦏꦤꦶꦔꦪꦤꦺ꧈ ꦏꦁꦏꦪꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦤꦺꦴꦫꦏꦺꦠꦁꦲꦸꦠꦁꦲꦚꦶꦭꦶꦃ꧈ ꦭꦥꦏ꧀ꦏꦺꦲꦺꦴꦭꦃꦱ꧀ꦭꦶꦫ꧈ ꦲꦱꦲꦺꦴꦱ꧀ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁ꧈ ꦱꦥꦧꦶꦱꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦤ꧈ ꦱꦭꦮꦱ꧀ꦱꦺꦲꦥꦶꦥꦶꦭꦶꦱ꧀ꦠꦶꦮꦱ꧀ꦲꦏꦶꦁ꧈ ꦧꦪꦢꦶꦥꦹꦤ꧀ꦫꦩ꧀ꦥꦶꦢ꧀ꦢ꧉ ꧃ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦺꦴꦗꦂꦤꦶꦯꦸꦤ꧀ꦢꦪꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦤꦶꦔꦪꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦩꦔꦤ꧀ꦱꦂꦠꦠꦸꦮꦸꦏ꧀ ꦱꦶꦚ꧀ꦗꦁꦔꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦭꦸꦁꦱꦼꦠ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ ꦲꦺꦱꦸꦏ꧀ꦱꦺꦴꦫꦺꦮꦶꦮꦶꦢ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦩ꧀ꦧꦸꦱ꧀ ꦩꦶꦭꦏꦁꦲꦠꦶꦲꦭꦫ꧈ ꦥꦲꦺꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦼꦤꦼꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦮꦉꦒ꧀ꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦣꦠꦸꦮ꧉ ꧄ ꦏꦮꦂꦤꦲꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦭꦗꦼꦁꦣꦠꦼꦁꦥꦭꦠꦂꦫꦤ꧀ }}<noinclude></noinclude> ijqg2oxqrd2sqgnvvczq1qvv5vkje6t Kaca:Bratayuda.pdf/100 250 24857 78118 2026-05-16T06:16:20Z Suga Widi 1719 /* Durung katitiwaca */ 78118 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kehana ing tatu bungah anemu pati, wis patute satriya mati dikarubl,lt ing perang." Abimanyu pegat-pegat sesumbaripun, boten kaur anariki jemparing ingkang andhawahi. Susun timbun kados kambengan wonten ing jaja, jemparing ingkang tumancep ing jaja kalih ing lambung kados sekar kanthil ginubah. Rebahipun ing rata manik kalumut dening rah, kados angus awor atal. Maripatipun Abimanyu kerep kenging ing jemparing, alindri tiningalan. Mastakanipun upami kados sekar kanigara, kalih sekar sumarsana, karebat ing ngakathah badhe dipunanggit. Jajanipun kados tunjung mekar. Sedanipun satriya ambek wanter adamel ngeresing manah. Sanalika grimis, kathah kombang ing ngawang-awang kados badhe angangkah sekar. Prabu Yudhisthira sumerep bilih Abimanyu pejah dipunkarubut ing mangsah. Setyaki, Gathutkaca, Drusthajumena, sumedya pulih getih, anarajang gelaring Korawa, tandangipun kados anggege pejah, angontragaken bumi. Darmaputra kaliyan Pancawala, putra ing Ngamarta, sami ambiyantu. Ramenipun ing perang ngantos busekan. Anunten kasaput ing dalu, bubar ingkang sami perangan. Korawa sami bingah-bingah. Kacariyos Raden Dananjaya ingkang perang wonten sukuning redi, dipunemong ing Prabu Kresna, arame anggenipunperang. Prabu Gardapati sampun pejah, anunten sami bibaran mantuk. Dumuginipun ing pasanggrahan, Raden Dananjaya mireng tangis. Sasentananipun ingkang saking ibu tuwin rama, punapa malih garwanipun kekalih, Dewi Wara Sumbadra kaliyan Wara Srikandhi, tuwin putri Wiratha Dewi Utari, ingkang saweg ambobot wolung wulan, sami amuwun sartaangadhuh. Akathah pasambat kamirengan wonten ing pasanggrahan, arame kados ungeling peksi gagak. Dhatengipun Raden Dananjaya sarengan kaliyan Prabu Kresna, saha Raden Wrekodara, ingkang perang wonten pinggiring saganten. Mengsahipun ingkang nama Wresaya. Sampun pejah. Dhatengipun sarengan saking ler sarta saking kidul. Raden Dananjaya sareng midhanget yen putranipun pejah, 104<noinclude></noinclude> fgwszz5ybx442pme4x8obj451pryn81 78119 78118 2026-05-16T06:23:17Z Suga Widi 1719 /* Titiwaca */ 78119 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kehana ing tatu bungah anemu pati, wis patute satriya mati dikarubut ing perang." Abimanyu pegat-pegat sesumbaripun, boten kaur anariki jemparing ingkang andhawahi. Susun timbun kados kambengan wonten ing jaja, jemparing ingkang tumancep ing jaja kalih ing lambung kados sekar kanthil ginubah. Rebahipun ing rata manik kalumut dening rah, kados angus awor atal. Maripatipun Abimanyu kerep kenging ing jemparing, alindri tiningalan. Mastakanipun upami kados sekar kanigara, kalih sekar sumarsana, karebat ing ngakathah badhe dipunanggit. Jajanipun kados tunjung mekar. Sedanipun satriya ambek wanter adamel ngeresing manah. Sanalika grimis, kathah kombang ing ngawang-awang kados badhe angangkah sekar. Prabu Yudhisthira sumerep bilih Abimanyu pejah dipunkarubut ing mangsah. Setyaki, Gathutkaca, Drusthajumena, sumedya pulih getih, anarajang gelaring Korawa, tandangipun kados anggege pejah, angontragaken bumi. Darmaputra kaliyan Pancawala, putra ing Ngamarta, sami ambiyantu. Ramenipun ing perang ngantos busekan. Anunten kasaput ing dalu, bubar ingkang sami perangan. Korawa sami bingah-bingah. Kacariyos Raden Dananjaya ingkang perang wonten sukuning redi, dipunemong ing Prabu Kresna, arame anggenipun perang. Prabu Gardapati sampun pejah, anunten sami bibaran mantuk. Dumuginipun ing pasanggrahan, Raden Dananjaya mireng tangis. Sasentananipun ingkang saking ibu tuwin rama, punapa malih garwanipun kekalih, Dewi Wara Sumbadra kaliyan Wara Srikandhi, tuwin putri Wiratha Dewi Utari, ingkang saweg ambobot wolung wulan, sami amuwun sartaangadhuh. Akathah pasambat kamirengan wonten ing pasanggrahan, arame kados ungeling peksi gagak. Dhatengipun Raden Dananjaya sarengan kaliyan Prabu Kresna, saha Raden Wrekodara, ingkang perang wonten pinggiring saganten. Mengsahipun ingkang nama Wresaya. Sampun pejah. Dhatengipun sarengan saking ler sarta saking kidul. Raden Dananjaya sareng midhanget yen putranipun pejah,<noinclude>{{rh|104}}</noinclude> 6yhkv29e3oq4l2h4x94swoi7v2otg82 78351 78119 2026-05-16T09:44:09Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78351 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>kehana ing tatu bungah anemu pati, wis patute satriya mati dikarubut ing perang." Abimanyu pegat-pegat sesumbaripun, boten kaur anariki jemparing ingkang andhawahi. Susun timbun kados kambengan wonten ing jaja, jemparing ingkang tumancep ing jaja kalih ing lambung kados sekar kanthil ginubah. Rebahipun ing rata manik kalumut dening rah, kados angus awor atal. Maripatipun Abimanyu kerep kenging ing jemparing, alindri tiningalan. Mastakanipun upami kados sekar kanigara, kalih sekar sumarsana, karebat ing ngakathah badhe dipunanggit. Jajanipun kados tunjung mekar. Sedanipun satriya ambek wanter adamel ngeresing manah. Sanalika grimis, kathah kombang ing ngawang-awang kados badhe angangkah sekar. Prabu Yudhisthira sumerep bilih Abimanyu pejah dipunkarubut ing mangsah. Setyaki, Gathutkaca, Drusthajumena, sumedya pulih getih, anarajang gelaring Korawa, tandangipun kados anggege pejah, angontragaken bumi. Darmaputra kaliyan Pancawala, putra ing Ngamarta, sami ambiyantu. Ramenipun ing perang ngantos busekan. Anunten kasaput ing dalu, bubar ingkang sami perangan. Korawa sami bingah-bingah. Kacariyos Raden Dananjaya ingkang perang wonten sukuning redi, dipunemong ing Prabu Kresna, arame anggenipun perang. Prabu Gardapati sampun pejah, anunten sami bibaran mantuk. Dumuginipun ing pasanggrahan, Raden Dananjaya mireng tangis. Sasentananipun ingkang saking ibu tuwin rama, punapa malih garwanipun kekalih, Dewi Wara Sumbadra kaliyan Wara Srikandhi, tuwin putri Wiratha Dewi Utari, ingkang saweg ambobot wolung wulan, sami amuwun sartaangadhuh. Akathah pasambat kamirengan wonten ing pasanggrahan, arame kados ungeling peksi gagak. Dhatengipun Raden Dananjaya sarengan kaliyan Prabu Kresna, saha Raden Wrekodara, ingkang perang wonten pinggiring saganten. Mengsahipun ingkang nama Wresaya. Sampun pejah. Dhatengipun sarengan saking ler sarta saking kidul. Raden Dananjaya sareng midhanget yen putranipun pejah,<noinclude>{{rh|104}}</noinclude> 79638iqw4xihpa5jdhfhl9t21oi8g33 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/36 250 24858 78122 2026-05-16T06:28:33Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 78122 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 78123 78122 2026-05-16T06:32:41Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78123 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 37 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 36 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]] {| |{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda BREBES''}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda GINUK''}} |} {{c| ''Sami-sami Semar nanging beda pasemonipun''}}<noinclude></noinclude> tgg8c1nyp3knjogl1u1xsnjv7cwdrit 78124 78123 2026-05-16T06:34:09Z Iripseudocorus 1236 78124 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 37 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 36 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]] {| |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda BREBES''}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda GINUK''}} |} {{c|{{S| ''Sami-sami Semar nanging beda pasemonipun''}}}}<noinclude></noinclude> o38ylidfrdlzm946bcou7l1de6yvg5j 78125 78124 2026-05-16T06:34:43Z Iripseudocorus 1236 78125 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 37 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 36 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]] {| |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|''Wanda BREBES''}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|''Wanda GINUK''}} |} {{c|{{S| ''Sami-sami Semar nanging beda pasemonipun''}}}}<noinclude></noinclude> nv1et7a017zi2o2qs0bim64vivvkk8m Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/38 250 24859 78126 2026-05-16T06:37:57Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "" 78126 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 39 —}}</noinclude><noinclude></noinclude> djabwbla7288h64jj09y3acy85aqtd9 78128 78126 2026-05-16T06:52:42Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78128 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 39 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 38 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> oq5buok5ss5moykrkrhjfsa5mji0t04 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/40 250 24860 78129 2026-05-16T06:53:23Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès 78129 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude> 3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd 78130 78129 2026-05-16T06:54:52Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78130 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 41 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 40 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> qzvw1j48dfnz6qqezm6h4irna46zm62 Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/41 250 24861 78131 2026-05-16T06:55:16Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "" 78131 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 42 ―}}</noinclude><noinclude></noinclude> 68v7g36d60jnkigjvg4d412mr9zo3y4 78134 78131 2026-05-16T06:56:42Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78134 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 42 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 41 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude> 8a3bd7cua3oo85oltff6xguy71kr8lx Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/48 250 24862 78136 2026-05-16T06:58:51Z Iripseudocorus 1236 /* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "Pendeta Relijef Tjandi Panataran. Punika gambar ingkang dipun angge pepiridan ringgit Purwa ngantos saged dados sae kados samangke punika. - 49- Prabu DASAMOEKA Sajid HANOEMAN Sajid" 78136 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude>Pendeta Relijef Tjandi Panataran. Punika gambar ingkang dipun angge pepiridan ringgit Purwa ngantos saged dados sae kados samangke punika. - 49- Prabu DASAMOEKA Sajid HANOEMAN Sajid<noinclude></noinclude> 22t93wdo5a0m701fgs1tts9dvs36ojw 78138 78136 2026-05-16T07:06:11Z Iripseudocorus 1236 /* Titiwaca */ 78138 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{Rh||― 49 ―}}</noinclude>{| |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Pendeta Relijef Tjandi Panataran.}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Punika gambar ingkang dipun angge pepiridan ringgit Purwa ngantos saged dados sae kados samangke punika.}} |} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 48 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]] {| |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Prabu DASAMOEKA}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|HANOEMAN}} |}<noinclude></noinclude> l3e92muecxzk1adxdhm6d981sk2lqhh 78139 78138 2026-05-16T07:06:54Z Iripseudocorus 1236 78139 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{Rh||― 49 ―}}</noinclude>{| |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Pendeta Relijef Tjandi Panataran.}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Punika gambar ingkang dipun angge pepiridan ringgit Purwa ngantos saged dados sae kados samangke punika.}} |} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 48 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]] {| |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Prabu DASAMOEKA}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|HANOEMAN}} |}<noinclude></noinclude> o0nvn9p6dxvozfhklsc92k3caej11d3 78140 78139 2026-05-16T07:07:58Z Iripseudocorus 1236 78140 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{Rh||― 49 ―}}</noinclude>{| |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Pendeta Relijef Tjandi Panataran.}} |{{gap}} |{{C|Punika gambar ingkang dipun angge<br> pepiridan ringgit Purwa ngantos saged<br> dados sae kados samangke punika.}} |} [[Barkas:Bauwarna Wajang (page 48 crop)2.jpg|600px|nirbing]] {| |{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|Prabu DASAMOEKA}} |{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}} |{{C|HANOEMAN}} |}<noinclude></noinclude> 2u2oognqtkk9543c8li5npxuxkihupl Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/9 250 24863 78142 2026-05-16T07:56:47Z Kriita 885 /* Proofread */ 78142 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" />{{rh||— 7 —|}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=3 |<poem>Tinemuné wong ngantuk anemu ketuk male nuk samargi-margi marmane bungah kang nemu marga djroning keṯuk isi kentjana sosotya abjor</poem>}} {{u|{{sp|Tjéntangan}}}} #Bubukanipun serat "Djaka Loḏang" punika mèsi sandi-asma. Wiwitaning garis manganḏap mungel "Ranggawarsita basa Kaḏaton",dene pungkasaning garis manganḏap mungel "Basa Kaḏaton Ranggawarsita". #Limrahipun serat "Djaka Loḏang" inggih namung dumugi sekar Megatruh pada angka 3 punika. Nanging serat "Djaka Loḏang" wedalan "Maha Déwa" tanpa bubuka, sarta wedalan sekar Asmaradana kados ing nganḏap punika : {{u|{{sp|Asmaradana}}}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Ingkang bisa nemu iki nora saben sok uwonga kudu ana pilihane kang weruh djangkaning djaman eling kanṯi waspada tindak tuwadjuh lan djudjur ingkang antuk kamurahan</poem> |<poem>Ajwa sira bandjur wedi samar nora kapanduman elinga marang kodraté Pangeran luwih kuwasa adil tanpa upama sapa angèstokna ḏawuh sajekti antuk nugraha</poem> |<poem>Nugrahanira Hjang Widi tan kena kinira-kira marga sèwu dadalané</poem>}}<noinclude></noinclude> 2rbavoa0fuk86tr7xib64k83ar3jl6e 78360 78142 2026-05-16T09:59:22Z Elcamatcha 1466 /* Absah */ 78360 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||— 7 —|}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=3 |<poem>Tinemuné wong ngantuk anemu ketuk male nuk samargi-margi marmane bungah kang nemu marga djroning keṯuk isi kentjana sosotya abjor</poem>}} {{u|{{sp|Tjéntangan}}}} #Bubukanipun serat "Djaka Loḏang" punika mèsi sandi-asma. Wiwitaning garis manganḏap mungel "Ranggawarsita basa Kaḏaton",dene pungkasaning garis manganḏap mungel "Basa Kaḏaton Ranggawarsita". #Limrahipun serat "Djaka Loḏang" inggih namung dumugi sekar Megatruh pada angka 3 punika. Nanging serat "Djaka Loḏang" wedalan "Maha Déwa" tanpa bubuka, sarta wedalan sekar Asmaradana kados ing nganḏap punika : {{u|{{sp|Asmaradana}}}} {{ordered list|list_style_type=decimal|start=1 |<poem>Ingkang bisa nemu iki nora saben sok uwonga kudu ana pilihane kang weruh djangkaning djaman eling kanṯi waspada tindak tuwadjuh lan djudjur ingkang antuk kamurahan</poem> |<poem>Ajwa sira bandjur wedi samar nora kapanduman elinga marang kodraté Pangeran luwih kuwasa adil tanpa upama sapa angèstokna ḏawuh sajekti antuk nugraha</poem> |<poem>Nugrahanira Hjang Widi tan kena kinira-kira marga sèwu dadalané</poem>}}<noinclude></noinclude> n197kzeuxj07e5y0kphno7fyugpt0th Kaca:Bratayuda.pdf/101 250 24864 78143 2026-05-16T08:21:26Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78143 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sanget anggenipun supe. Prabu Kresna amituturi, pangandikanipun, "Yen satriya kasekelan awit kapaten anak, suda derajate sarta kasiku ing dewa kang linuwih." Raden Dananjaya mireng pangandikanipun Prabu Kresna lajeng nyembah, anyuwun pangapunten. Anunten nyungkemi sampeyanipun Prabu Yudhisthira, aturipun, "Kadospundi, Gusti, nalaring pejahipun Abimanyu?" Prabu Yudhisthira amangsuli pangandika, "Patine anakira, awit angleboni gelar Cakrabyuha, katangkeban dening Sindureja. Sanak-sanakira padha pulih getih, si Drusthajumena, si Gathotkaca lan si Setyaki bareng in~ pangamuke, angarah patine si Sindureja, nanging ora kena. Ana dene sing mati dening anakira: si Lesmanakumara, si Kartasuta lan Secaswara. Pangamuke sanak-sanakira oleh pepati pirang-pirang, mung si Sindureja kang luput." Dananjaya lajeng jumeneng apratignya, "Kawula apunagi, bilih pun Sindureja ing sadinten benjing-enjing boten pejah dening kawula, sontenipun kawula obong." Prabu Suyudana tuwin sakathahing Korawa mireng pratagnyanipun Raden Dananjaya, anunten Sindureja kadhawahan mantuk. Ing sadinten benjing-enjing kapenging medal-medal, bilih srengenge dereng serap, sarta dipunpurih amemuja anyuwun sawabing kaki, ingkang nama Bagawan Sempani, amurih wilujengipun. Punapa malih jemparing anggenipun angsal saking Abimanyu kapurih anganggeya, sarta amujaa supados wewah kasektenipun. Kacariyos Prabu Suyudana akaliyan ingkang garwa Dewi Banowati sanget ing prihatos sarta pamuwunipun, awit saking pejahing putra ingkang nama Lesmanakumara. Salebeting kadhaton rame dening tangis, nanging Prabu Suyudana wekasan lejar galihipun, kaengetan pratignyanipun Raden Dananjaya, anggenipun badhe obong. Mila Sindureja dipunreksa sampun ngantos manggih tiwas. Anunten Korawa sami suka-suka, anyipta yen Raden Dananjaya badhe pejah ing sadinten benjing-enjing. Prabu Yudhisthira sasentananipun sami prihatos sanget. Ing sapejahipun Abimanyu,Dewi Siti Sundari badhe obong {{hws|tumun|tumunten}}<noinclude>{{rh|||105}}</noinclude> kyiobxls0f7shgvheda3sfujndb1c88 78352 78143 2026-05-16T09:44:22Z Elcamatcha 1466 78352 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sanget anggenipun supe. Prabu Kresna amituturi, pangandikanipun, "Yen satriya kasekelan awit kapaten anak, suda derajate sarta kasiku ing dewa kang linuwih." Raden Dananjaya mireng pangandikanipun Prabu Kresna lajeng nyembah, anyuwun pangapunten. Anunten nyungkemi sampeyanipun Prabu Yudhisthira, aturipun, "Kadospundi, Gusti, nalaring pejahipun Abimanyu?" Prabu Yudhisthira amangsuli pangandika, "Patine anakira, awit angleboni gelar Cakrabyuha, katangkeban dening Sindureja. Sanak-sanakira padha pulih getih, si Drusthajumena, si Gathotkaca lan si Setyaki bareng in~ pangamuke, angarah patine si Sindureja, nanging ora kena. Ana dene sing mati dening anakira: si Lesmanakumara, si Kartasuta lan Secaswara. Pangamuke sanak-sanakira oleh pepati pirang-pirang, mung si Sindureja kang luput." Dananjaya lajeng jumeneng apratignya, "Kawula apunagi, bilih pun Sindureja ing sadinten benjing-enjing boten pejah dening kawula, sontenipun kawula obong." Prabu Suyudana tuwin sakathahing Korawa mireng pratagnyanipun Raden Dananjaya, anunten Sindureja kadhawahan mantuk. Ing sadinten benjing-enjing kapenging medal-medal, bilih srengenge dereng serap, sarta dipunpurih amemuja anyuwun sawabing kaki, ingkang nama Bagawan Sempani, amurih wilujengipun. Punapa malih jemparing anggenipun angsal saking Abimanyu kapurih anganggeya, sarta amujaa supados wewah kasektenipun. Kacariyos Prabu Suyudana akaliyan ingkang garwa Dewi Banowati sanget ing prihatos sarta pamuwunipun, awit saking pejahing putra ingkang nama Lesmanakumara. Salebeting kadhaton rame dening tangis, nanging Prabu Suyudana wekasan lejar galihipun, kaengetan pratignyanipun Raden Dananjaya, anggenipun badhe obong. Mila Sindureja dipunreksa sampun ngantos manggih tiwas. Anunten Korawa sami suka-suka, anyipta yen Raden Dananjaya badhe pejah ing sadinten benjing-enjing. Prabu Yudhisthira sasentananipun sami prihatos sanget. Ing sapejahipun Abimanyu, Dewi Siti Sundari badhe obong {{hws|tumun|tumunten}}<noinclude>{{rh|||105}}</noinclude> 5ef4a7gc6ihc1pkpwzkgw3xrljrbedr Kaca:Bratayuda.pdf/102 250 24865 78144 2026-05-16T08:23:02Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78144 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ten|tumunten}}, ambelani ingkang raka. Nanging para santana sami anggendholi, awit para ageng-ageng dereng gilig ing rembag, anggenipun darnel upayaning perang. Wondening Dewi Utari, putri ing Wiratha, baten kenging ambelani ingkang raka, yen dereng lair wawratipun. Prabu Kresna angandika dhateng Raden Dananjaya, "Heh, Adhi, kapriye · saiki, Korawa wis angrungu punaginira, olehira arepp amateni si Sindureja. Si Sindureja amesthi direksa, ora dililani metoni perang, supaya kalakona ubayanira." Dananjaya matur, "Mangsa boronga panjenengan dalem." Prabu Kresna angandika, "Mungguh sarate, Adhi, lestarine kang sira angkah, iya namung memujaa, supaya karsaning dewa kang werit-werit." Dananjaya matur malih, "Kula sandika nglampahi pitedah Dalem." Prabu Kresna anyambungi, ''Besuk yen sira perang, kagunganingsun rata sira anggoa, rata iku duwe pangguwasa, pangiride jaran papat. Sing ngarep aran si Ciptawelaha Ian Abrapuspa, sing burl si Sukantha lan Sena. Dene panguwasane, sarupaning gegaman ora ana angenani, Ian sira ingsun paringi gong, jenenge si Pancajannya, iku ing besuk-esuk aja adoh karo kowe. Sira anganggoa panah cakra, Panahira si Pasopati sira tamakna menyang si Sindureja. Kaya iya ing sadina sesuk patine, sanajan abot sanggane, awit bapakne kang aran Bagawan Sempani lagi tinarima semadine ing dewa kang linuwih, ewadene atasna kalawan pujanira ing sawengi iki sing abanget. Suwunen ing patine si Sindureja, mbokmanawa luput pethekku, lah mara nyatakna, mujaa den mesu." Raden Dananjaya nyembah, kesah saking ngarsanipun Prabu Kresna, lajeng semadi, angeningaken cipta, ngicalaken angenangen gangsal prakawis, sampun prasasat pejah salebeting gesang. Boten antawis dangu Sang Hyang Jagatnata angatingali, namung wates sangandhaping jangga kemawon, sapangandhap boten katingal. Pangadikanipun Sang Hyang Jagatnata, "Heh, Dananjaya, racuten pujanira, patine si Sindureja ingsun lilakake, awit saka ing panyuwunmu. Panahira si Pasopati sira tamakna, ratane si Kresna<noinclude>{{rh|106}}</noinclude> g26khze4rq9glfrwy45ubcs37et3hr0 78145 78144 2026-05-16T08:23:18Z Elcamatcha 1466 78145 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ten|tumunten}}, ambelani ingkang raka. Nanging para santana sami anggendholi, awit para ageng-ageng dereng gilig ing rembag, anggenipun darnel upayaning perang. Wondening Dewi Utari, putri ing Wiratha, baten kenging ambelani ingkang raka, yen dereng lair wawratipun. Prabu Kresna angandika dhateng Raden Dananjaya, "Heh, Adhi, kapriye · saiki, Korawa wis angrungu punaginira, olehira arepp amateni si Sindureja. Si Sindureja amesthi direksa, ora dililani metoni perang, supaya kalakona ubayanira." Dananjaya matur, "Mangsa boronga panjenengan dalem." Prabu Kresna angandika, "Mungguh sarate, Adhi, lestarine kang sira angkah, iya namung memujaa, supaya karsaning dewa kang werit-werit." Dananjaya matur malih, "Kula sandika nglampahi pitedah Dalem." Prabu Kresna anyambungi, "Besuk yen sira perang, kagunganingsun rata sira anggoa, rata iku duwe pangguwasa, pangiride jaran papat. Sing ngarep aran si Ciptawelaha Ian Abrapuspa, sing burl si Sukantha lan Sena. Dene panguwasane, sarupaning gegaman ora ana angenani, Ian sira ingsun paringi gong, jenenge si Pancajannya, iku ing besuk-esuk aja adoh karo kowe. Sira anganggoa panah cakra, Panahira si Pasopati sira tamakna menyang si Sindureja. Kaya iya ing sadina sesuk patine, sanajan abot sanggane, awit bapakne kang aran Bagawan Sempani lagi tinarima semadine ing dewa kang linuwih, ewadene atasna kalawan pujanira ing sawengi iki sing abanget. Suwunen ing patine si Sindureja, mbokmanawa luput pethekku, lah mara nyatakna, mujaa den mesu." Raden Dananjaya nyembah, kesah saking ngarsanipun Prabu Kresna, lajeng semadi, angeningaken cipta, ngicalaken angenangen gangsal prakawis, sampun prasasat pejah salebeting gesang. Boten antawis dangu Sang Hyang Jagatnata angatingali, namung wates sangandhaping jangga kemawon, sapangandhap boten katingal. Pangadikanipun Sang Hyang Jagatnata, "Heh, Dananjaya, racuten pujanira, patine si Sindureja ingsun lilakake, awit saka ing panyuwunmu. Panahira si Pasopati sira tamakna, ratane si Kresna<noinclude>{{rh|106}}</noinclude> 9s2pbb10ug15qb49r9avvlz2gmggtu8 Kaca:Bratayuda.pdf/103 250 24866 78146 2026-05-16T08:24:09Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78146 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sesuk sira anggoa. Karo dene gonge kang aran si Pancajannya aja adoh karo sira." Raden Dananjaya sampun luwaran anggenipun semadi, anjujug panggenanipun Prabu Kresna. Aturipun, "Boten wonten ingkang sisip pangandika dalem, tetes kaliyan wangsitipun Sang Hyang Jagatnata, boten sulaya sarambut." Prabu Kresna mesem angandika, "Ayo, Adhi, enggal padha angater marang si Siti Sundari, kang arep mati bela." Kacariyos Dewi Siti Sundari, sampun dandos angagem busananipun pejah, badhe ambelani ingkang raka, sadangunipun angimur Dewi Utari, ingkang kaliyu badhe tumut bela pejah. Sarehning rembulan sampun inggil, Dewi Siti Sundari kasesa, pangandikanipun dhateng Dewi Utari, "Kowe iku lagi meteng, ora kena ambelani bojomu. Sapa sing nyatur kowe angarani wedi bela, oraorane ana wong ngrasani. Kajaba saka ing iku, belane wong lagi meteng ora pakolih, malah anemu dosa, tetela yen kowe lagi meteng wolung sasi. Wis kariya, aku pamit bakal menyang pancaka pabelan." Dewi. Utari amangsuli, pegat-pegat pangandikanipun, "Tutura menyang si Abimanyu, yen banget prihatinku, awit digendholi dening para ratu, ora kalilan melu mati, bela munggah ing pancaka, sabab werenganaku durung lair, ingaran nemu dukane dewa kang linuwih. Dene ciptaku, saking bangeting tresnaku,mung bisaa melu mati, muga-muga aja ngantiya lawas. Poma tuturna, yen banget ing pangesahku, mung angajap enggala runtung-runtunga ana ing Endraloka, karo si Abimanyu. Yagene teka sarenti, aku ora bisa ambarengi lakumu." Sareng Dewi Utari sampun lipur, Dewi Siti Sundari lajeng lumampah badhe pamit dhateng rama ibunipun. Sanget andadosaken prihatosipun ingkang sami dipunpamiti, ngantos boten saged angandika. Sareng sampun, Dewi Siti Sundari lumampah dhateng peperangan, anggenaning layonipun ingkang raka, lajeng kabesmi sareng kaliyan Dewi Siti Sundari. Ingkang sami anjenengi pambesminipun sampun sami wangsul. Rembulan sampun andhap, {{hws|se|<noinclude>{{rh|||107}}</noinclude> shir7y1lm27is8919c82f7yjbgorodh 78147 78146 2026-05-16T08:24:29Z Elcamatcha 1466 78147 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sesuk sira anggoa. Karo dene gonge kang aran si Pancajannya aja adoh karo sira." Raden Dananjaya sampun luwaran anggenipun semadi, anjujug panggenanipun Prabu Kresna. Aturipun, "Boten wonten ingkang sisip pangandika dalem, tetes kaliyan wangsitipun Sang Hyang Jagatnata, boten sulaya sarambut." Prabu Kresna mesem angandika, "Ayo, Adhi, enggal padha angater marang si Siti Sundari, kang arep mati bela." Kacariyos Dewi Siti Sundari, sampun dandos angagem busananipun pejah, badhe ambelani ingkang raka, sadangunipun angimur Dewi Utari, ingkang kaliyu badhe tumut bela pejah. Sarehning rembulan sampun inggil, Dewi Siti Sundari kasesa, pangandikanipun dhateng Dewi Utari, "Kowe iku lagi meteng, ora kena ambelani bojomu. Sapa sing nyatur kowe angarani wedi bela, oraorane ana wong ngrasani. Kajaba saka ing iku, belane wong lagi meteng ora pakolih, malah anemu dosa, tetela yen kowe lagi meteng wolung sasi. Wis kariya, aku pamit bakal menyang pancaka pabelan." Dewi. Utari amangsuli, pegat-pegat pangandikanipun, "Tutura menyang si Abimanyu, yen banget prihatinku, awit digendholi dening para ratu, ora kalilan melu mati, bela munggah ing pancaka, sabab werenganaku durung lair, ingaran nemu dukane dewa kang linuwih. Dene ciptaku, saking bangeting tresnaku,mung bisaa melu mati, muga-muga aja ngantiya lawas. Poma tuturna, yen banget ing pangesahku, mung angajap enggala runtung-runtunga ana ing Endraloka, karo si Abimanyu. Yagene teka sarenti, aku ora bisa ambarengi lakumu." Sareng Dewi Utari sampun lipur, Dewi Siti Sundari lajeng lumampah badhe pamit dhateng rama ibunipun. Sanget andadosaken prihatosipun ingkang sami dipunpamiti, ngantos boten saged angandika. Sareng sampun, Dewi Siti Sundari lumampah dhateng peperangan, anggenaning layonipun ingkang raka, lajeng kabesmi sareng kaliyan Dewi Siti Sundari. Ingkang sami anjenengi pambesminipun sampun sami wangsul. Rembulan sampun andhap, {{hws|se|semunipun}}<noinclude>{{rh|||107}}</noinclude> a3y7vpcf2b6i73hapemnvtj52mjpgi4 Kaca:Bratayuda.pdf/104 250 24867 78148 2026-05-16T08:25:34Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78148 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|munipun|semunipun}} kados asih dhateng ingkang seda bela. '''5.SINDUREJA, INGGIH JAYADRATA PEJAH DENING ARJUNA ''' Anunten byar rainten, arame swaraning kendhang, gong, beri. Gongipun Prabu Kresna ingkang nama Pancajannya katabuh angungkung, swaraning kados dumugi ing Suralaya. Para ratu ingkang sampun sami ngalempak sabalanipun, tiningalan kados saganten. Anunten barising Korawa medal, agengipun anglangkungi, kados upaminipun saganten pasang. Gelaripun taksih Cakrabyuha, kados ingkang sampun kalampahan. Amung ingkang wonten ing kiping sanes Sindureja. Wondening Sindureja boten tumut medal perang, dipunreksa dening para Korawa. Korawa sampun angrakit gelar Cakrabyuha, alanging baris sapaningal. Ujuripun sadasa paningal. Kandeling baris mantri pepilihan punapa dene prajurit ingkang kendel-kendel sarta sekti-sekti sapaningal. Anunten Pandhawa animbangi nata gelar Cakrabyuha. Drusthajumena ngenggeni kiping tengen, Wrekodara wonten ing kiping kiwa. Dananjaya wonten ing gulu, anitih rata kaliyan Prabu Kresna. Wondening rata punika kagunganipun Prabu Kresna, apangirid kapal sakawan. Ingkang ngajeng anama Ciptawelaha kaliyan Abrapuspa, ingkang wingking anama Sukantha kaliyan Senasekti. Para dewa mireng ungelipun gangsa kang anama Pancajannya, sami aningali wonten ing ngawang-awang sarta anjawahaken wewangi. Menggah gangsa ingkang nama pun Dewadenta wonten ing wingking. Baris Pandhawa medal kapurunanipun, awit saking mireng ungelipun gangsa kekalih wau. Panerakipun kados danawa rebatan daging, gelaring Korawa dhadhal, boten kuwawi anadhahi pangamukipun barising Pandhawa. Anunten rajaputra ing Mandaraka, anama Raden Burisrawa, majeng nitih rata, badhe males risaking gelaripun. Sesumbaripun, "Heh, Setyaki, ngendi enggonmu kowe, ayo padha ngadu kasekten ana ing kene."<noinclude>{{rh|108}}</noinclude> o90l82lujzx8urhw3sowjdx38zlbett 78167 78148 2026-05-16T08:45:38Z Elcamatcha 1466 78167 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|munipun|semunipun}} kados asih dhateng ingkang seda bela. <ol type="1", start="5"> <li>'''SINDUREJA, INGGIH JAYADRATA PEJAH DENING ARJUNA'''</li> </ol> Anunten byar rainten, arame swaraning kendhang, gong, beri. Gongipun Prabu Kresna ingkang nama Pancajannya katabuh angungkung, swaraning kados dumugi ing Suralaya. Para ratu ingkang sampun sami ngalempak sabalanipun, tiningalan kados saganten. Anunten barising Korawa medal, agengipun anglangkungi, kados upaminipun saganten pasang. Gelaripun taksih Cakrabyuha, kados ingkang sampun kalampahan. Amung ingkang wonten ing kiping sanes Sindureja. Wondening Sindureja boten tumut medal perang, dipunreksa dening para Korawa. Korawa sampun angrakit gelar Cakrabyuha, alanging baris sapaningal. Ujuripun sadasa paningal. Kandeling baris mantri pepilihan punapa dene prajurit ingkang kendel-kendel sarta sekti-sekti sapaningal. Anunten Pandhawa animbangi nata gelar Cakrabyuha. Drusthajumena ngenggeni kiping tengen, Wrekodara wonten ing kiping kiwa. Dananjaya wonten ing gulu, anitih rata kaliyan Prabu Kresna. Wondening rata punika kagunganipun Prabu Kresna, apangirid kapal sakawan. Ingkang ngajeng anama Ciptawelaha kaliyan Abrapuspa, ingkang wingking anama Sukantha kaliyan Senasekti. Para dewa mireng ungelipun gangsa kang anama Pancajannya, sami aningali wonten ing ngawang-awang sarta anjawahaken wewangi. Menggah gangsa ingkang nama pun Dewadenta wonten ing wingking. Baris Pandhawa medal kapurunanipun, awit saking mireng ungelipun gangsa kekalih wau. Panerakipun kados danawa rebatan daging, gelaring Korawa dhadhal, boten kuwawi anadhahi pangamukipun barising Pandhawa. Anunten rajaputra ing Mandaraka, anama Raden Burisrawa, majeng nitih rata, badhe males risaking gelaripun. Sesumbaripun, "Heh, Setyaki, ngendi enggonmu kowe, ayo padha ngadu kasekten ana ing kene."<noinclude>{{rh|108}}</noinclude> cpeou355v1otaqpjntq07h6w56zmfxv Kaca:Bratayuda.pdf/78 250 24868 78149 2026-05-16T08:26:49Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78149 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>kasemekan kemawon, inggih pantes. Sabarang lelewanipun amantesi. Tanpa ganda tanpa sekar, suprandosipun arumipun angebeki kadhaton ing Ngastina. Kala semanten srengenge angajengaken serap, arindhik lampahipun, kados dereng tuwuk anggenipun aneninga1i rerengganipun kadhaton ing Ngastina, emperipun kados anolih, kapencut aningali Retna Banowati, tuwin para estri ing kadhaton. Kalanipun serap kados tiyang purik, awit para estri boten wonten ingkang nusul. Arame swaraning peksi ingkang sami ngupados papan patileman, ajrih manawi karumiyinan wedaling rembulan. Saseraping srengenge kagentosan wedaling rembulan, lintang kados dipunsebar wonten ing langit. Cahyanipun amewahi wingiting rerenggan kadhaton ing Ngastina, sampun kados kayanganipun Bathara Endra. Swaraning peksi amor gabereging angin, anempuh sesekaran, amewahi rame sarta arumipun ing kadhaton . Rerengganing prabayasa ingkang warni mas saha sesotya, pating pancurat katerangan dening cahyaning rembulan. Dalemipun Retna Banowati anglangkungi saking endah, karengga ing mas kaliyan sesotya. Sakilening dalem wonten patamananipun, mawi pancaksuji mas, kataretes ing jumeru'", pager banonipun sela cendhani, wonten balenipun mas. Palataranipun sinebaran jumerut saha mutyara tuwin sesotya sanesipun. Tangeh telasipun manawi kacariyosna sadaya kalangenanipun salebeting kadhaton. Ing mangke karingkes kemawon. Kacariyos srengenge sampun malethek, arame swaraning para estri, ingkang sami ngundhuh sekar dhateng patamanan. Prabu Suyudana sampun busana, badhe amanggihi tamunipun, tedhak dhateng pandhapi. Wondening palenggahanipun para ratu, utawi para pinisepuh sampun katata; Dhestharata, Bisma, Druna, Karpa, Drusasana, Adipati Ngawangga, ratu ing Mandaraka utawi para ratu sanesipun sami dhateng. Prabu Suyudana adhedhawah dhateng Yuyutsuh saha {{hws|dha|dhahar}}<noinclude>{{rh|82}}</noinclude> hjqjy8t8yb103u9tb5ygeda20xoueby 78150 78149 2026-05-16T08:27:03Z Elcamatcha 1466 78150 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>kasemekan kemawon, inggih pantes. Sabarang lelewanipun amantesi. Tanpa ganda tanpa sekar, suprandosipun arumipun angebeki kadhaton ing Ngastina. Kala semanten srengenge angajengaken serap, arindhik lampahipun, kados dereng tuwuk anggenipun aneninga1i rerengganipun kadhaton ing Ngastina, emperipun kados anolih, kapencut aningali Retna Banowati, tuwin para estri ing kadhaton. Kalanipun serap kados tiyang purik, awit para estri boten wonten ingkang nusul. Arame swaraning peksi ingkang sami ngupados papan patileman, ajrih manawi karumiyinan wedaling rembulan. Saseraping srengenge kagentosan wedaling rembulan, lintang kados dipunsebar wonten ing langit. Cahyanipun amewahi wingiting rerenggan kadhaton ing Ngastina, sampun kados kayanganipun Bathara Endra. Swaraning peksi amor gabereging angin, anempuh sesekaran, amewahi rame sarta arumipun ing kadhaton . Rerengganing prabayasa ingkang warni mas saha sesotya, pating pancurat katerangan dening cahyaning rembulan. Dalemipun Retna Banowati anglangkungi saking endah, karengga ing mas kaliyan sesotya. Sakilening dalem wonten patamananipun, mawi pancaksuji mas, kataretes ing jumeru'", pager banonipun sela cendhani, wonten balenipun mas. Palataranipun sinebaran jumerut saha mutyara tuwin sesotya sanesipun. Tangeh telasipun manawi kacariyosna sadaya kalangenanipun salebeting kadhaton. Ing mangke karingkes kemawon. Kacariyos srengenge sampun malethek, arame swaraning para estri, ingkang sami ngundhuh sekar dhateng patamanan. Prabu Suyudana sampun busana, badhe amanggihi tamunipun, tedhak dhateng pandhapi. Wondening palenggahanipun para ratu, utawi para pinisepuh sampun katata; Dhestharata, Bisma, Druna, Karpa, Drusasana, Adipati Ngawangga, ratu ing Mandaraka utawi para ratu sanesipun sami dhateng. Prabu Suyudana adhedhawah dhateng Yuyutsuh saha {{hws|dha|dhateng}}<noinclude>{{rh|82}}</noinclude> 498ogudil3yilrlwryku3oeb5tvwa90 Kaca:Bratayuda.pdf/79 250 24869 78151 2026-05-16T08:28:47Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78151 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|teng|dhateng}} Yamawidura, angaturi Prabu Kresna. Patih Arya Sangkuni akaliyan Adipati Ngawangga Kadhawahan methuk rawuhipun. Yuyutsuh kaliyan Yamawidura sampun pinanggih kaliyan Prabu Kresna. Lajeng dipunaturi tedhak dhateng kadhaton. Prabu Kresna enggal busana, para prajuritipun sampun sami dandos. Titihanipun rata sampun sumaos. Anunten bidhal saking pasanggrahan. Wonten ing margi dipunpethuk dening Patih Arya Sangkuni akaliyan Kama, lajeng sami andherekaken tindakipun dhateng ing kadhaton. Sarawuhipun ing kadhaton, Prabu Kresna kaaturan pinarak. Anunten sakathahing ingkang wonten ing pasamuwan sami lenggah atata. Prabu Kresna tumenga, anunten jawata sakawan tumedhak, anama: Kanekaputra, Janaka, Rama Parasu, Kanwa. Bisma akaliyan Druna munjuk dhateng Prabu Suyudana, bilih wonten jawata tedhak. Suyudana lajeng nyembah, dewa sakawan dipunaturi pinarak. Anunten sami tata pinarak nunggil para pinisepuh. Wondening para ratu nunggil kaliyan sesamining ratu, para satriya nunggil sami satriya. Adangu kendel ingkang sami pinarakan. Anunten Prabu Kresna ngandika, "Paman Dhestharata, laku kula mriki niki mung nedya ngatutake sanak, empun nganti onten kang sulaya, prayoga padha rukuna, yen ngantiya padha kekerengan, abungah sing boten dhemen. Sabarang reh kula, putra andika yayi prabu ing Ngamarta sasentananipun anut mawon. Mungguh pagaweyan sing kula lakoni niki, wit saking karsane Yayi Prabu ing Ngamarta, anedya saparone nagari ing Ngastina." Dhestharata amangsuli, "Sampun kasinggihan pangandikanipun anak prabu, sakalangkung prayoginipun." Dewa sakawan anyambungi, "Luwih dening patut rehe Prabu Kresna, sakecap boten onten sing luput, olehe murih becik lan rakete asesanak." Bisma, Druna angguyubi pangandikanipun dewa sakawan. Namung Prabu Suyudana anjetung, tumungkul. Boten angandika sakecap. Yamawidura kaliyan Yuyutsuh anyambungi, saha {{hws|mrayo|mrayogekaken}}<noinclude>{{rh|||83}}</noinclude> fpyl8mx4k78irzsem1f6zgbgtnpn5fx Kaca:Bratayuda.pdf/105 250 24870 78152 2026-05-16T08:29:53Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78152 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Setyaki majeng nitih rata, anudingi Raden Burisrawa. Wicantenipun, "Heh, Burisrawa, begja banget aku, dene kowe kang mapagake perangku. Aja kowe ngoncati!" Sareng sampun sarni ajeng-ajengan, Raden Setyaki menthang langkap, anglepasaken jemparing, kenging ratanipun Raden Burisrawa remuk, dalasan kusir kapalipun sami pejah. Burisrawa malumpat, sanget nepsunipun, lajeng amenthang langkap anglepasaken jemparing kenging ratanipun Setyaki remuk. Setyaki malumpat, dados sami perang dharat kemawon. Sami ambucal langkap, anyandhak gada kalih-kalihipun. Lajeng rame agada-ginada. Sareng gada kekalih tugel sarni dipunbucal. Lajeng udreg dedel-dinedel, bucal-binucal. Sare}).ning Setyaki kawon ageng inggil, kangelan anggenipun andugang mengsahipun . Wusana dhawah kalumah, dipun idak-idak dhateng Burisrawa, ngantos meh pedhot napasipun. Sareng Setyaki badhe dipunsuduk, Prabu Kresna angandika dhumateng Dananjaya, "Enggal si Burisrawa panahen baune kang sisih, supaya uwala ole he anjambak si Setyaki." Dananjaya lajeng anglepasaken jemparing, kenging baunipun Burisrawa tugel. Burisrawa kaget, aseru wicantenipun, "Heh, Pandhawa rusuh, tangkebmu cidra." Raden Dananjaya amangsuli, "Pandhawa ora cidra, mung nimbangi lakuning Korawa, awit patine si Abimanyu biyen iya kena ing cidra." Raden Setyaki sareng aningali Burisrawa tugel baunipun, lajeng nyandhak jemparing. Burisrawa dipun jemparing kenging gulunipun tugellajeng pejah. Gumuruh surakipun bala Pandhawa. Korawa sareng aningali Burisrawa pejah, sami ngangseg sumedya amales ing pejahipun Raden Burisrawa. Pinten-pinten jemparing ingkang dipun lepasaken, ngantos kados jawah. Pangamukipun Raden Dananjaya angobrakabrik. Wrekodara, Drusthajumena, Gathotkaca, Nakula, Sadewa sabalanipun sami anarajang. Korawa kuwalahen sarni mundur, meh dumugi ing panggenanipun Sindureja. Wonten ing ngriku sarni kandheg plajengipun, amepeti margi ingkang dhateng {{hws|pangge|panggenan}}<noinclude>{{rh|||109}}</noinclude> 4tby52dfl44vi3co0dym1hehfrw5s8o 78153 78152 2026-05-16T08:30:10Z Elcamatcha 1466 78153 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Setyaki majeng nitih rata, anudingi Raden Burisrawa. Wicantenipun, "Heh, Burisrawa, begja banget aku, dene kowe kang mapagake perangku. Aja kowe ngoncati!" Sareng sampun sarni ajeng-ajengan, Raden Setyaki menthang langkap, anglepasaken jemparing, kenging ratanipun Raden Burisrawa remuk, dalasan kusir kapalipun sami pejah. Burisrawa malumpat, sanget nepsunipun, lajeng amenthang langkap anglepasaken jemparing kenging ratanipun Setyaki remuk. Setyaki malumpat, dados sami perang dharat kemawon. Sami ambucal langkap, anyandhak gada kalih-kalihipun. Lajeng rame agada-ginada. Sareng gada kekalih tugel sarni dipunbucal. Lajeng udreg dedel-dinedel, bucal-binucal. Sare}).ning Setyaki kawon ageng inggil, kangelan anggenipun andugang mengsahipun . Wusana dhawah kalumah, dipun idak-idak dhateng Burisrawa, ngantos meh pedhot napasipun. Sareng Setyaki badhe dipunsuduk, Prabu Kresna angandika dhumateng Dananjaya, "Enggal si Burisrawa panahen baune kang sisih, supaya uwala ole he anjambak si Setyaki." Dananjaya lajeng anglepasaken jemparing, kenging baunipun Burisrawa tugel. Burisrawa kaget, aseru wicantenipun, "Heh, Pandhawa rusuh, tangkebmu cidra." Raden Dananjaya amangsuli, "Pandhawa ora cidra, mung nimbangi lakuning Korawa, awit patine si Abimanyu biyen iya kena ing cidra." Raden Setyaki sareng aningali Burisrawa tugel baunipun, lajeng nyandhak jemparing. Burisrawa dipun jemparing kenging gulunipun tugellajeng pejah. Gumuruh surakipun bala Pandhawa. Korawa sareng aningali Burisrawa pejah, sami ngangseg sumedya amales ing pejahipun Raden Burisrawa. Pinten-pinten jemparing ingkang dipun lepasaken, ngantos kados jawah. Pangamukipun Raden Dananjaya angobrakabrik. Wrekodara, Drusthajumena, Gathotkaca, Nakula, Sadewa sabalanipun sami anarajang. Korawa kuwalahen sarni mundur, meh dumugi ing panggenanipun Sindureja. Wonten ing ngriku sarni kandheg plajengipun, amepeti margi ingkang dhateng {{hws|pangge|panggenanipun}}<noinclude>{{rh|||109}}</noinclude> od98fa1mj7dr3dae9gnh0xdnngx03c7 Kaca:Bratayuda.pdf/106 250 24871 78154 2026-05-16T08:31:17Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78154 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|nanipun|panggenanipun}} Sindureja. Anglepasaken jemparing kathah, amurih mangsulaken ing pangamukipun Raden Dananjaya utawi Pandhawa ingkang sekti-sekti. Wrekodara nyelehaken langkap, nyandhak gada anarajang. Pinten-pinten Korawa ingkang pejah sami anggelasah, amargi dipunamuk ing gada dhateng Raden Wrekodara. Gelar Cakrabyuha ngantos risak. Pangamukipun Raden Dananjaya kaliyan jemparing, kethen ingkang andhawahi mengsah. Wondening panarajangipun Korawa saking kathahipun kados sulung, ambelasah ingkang pejah dening gada. Kathah para di'pati ingkang pejah, sarta ingkang remuk rata tuwin gajahipun, awit kaamuk dhumateng Raden Wrekodara. Tandangipun kados gajah sewu meta. Pundi ingkang dipunterak tumpes. Baris ingkang ngamping-ampingi panggenanipun Sindureja meh tipis, bala Pandhawa tansah angangseg anarajang, ngantos kangelan anggenipun rumeksa dhumateng Sindureja wau. Anunten Korawa sami amrayogekaken, Prabu Duryudana kondura ngungsi dhumateng kitha. Namung Bagawan Sempani ingkang boten angrembagi, taksiha wonten ing paprangan, kareksa dening baris. Bilih ngantos sesingidan, ciptanipun nistha, sarta boten anetepi kasatriyanipun. Bagawan Sempani anjungkung ing semadi, supados ingkang putra kang nama Raden Sindureja lepata ing pejah salebeting perang Bratayuda. Wondening pamujinipun, sageda anyipta warni satus, ingkang kados Raden Sindureja. Sampun ngantos kenging Sindureja ingkang sayektosipun. Kasupen yen ingkang momong ing Pandhawa Prabu Kresna, boten kenging kekilapan. Wontena warni satus ingkang Sindureja sulap, amesthi sumerep Sindureja ingkang sayektosipun. Sayektosipun Bathara Kresna boten kenging dipundorani. Raden Dananjaya sayah anggenipun al?emejahi para bupati tuwin prajurit. Angantos telas saara-ara, ing wingking sangsaya ambrubul boten karaos kalonging prajurit, kang pejah akethen. Ingkang punika Sang Prabu Kresna maras ing galih, awit dening surya sampun gumiwang, Sindureja dereng kapanggih, kinubeng ing gegaman. Enggal srengenge tinutupan ing cakra, dipun {{hws|anggang|anggang<noinclude>{{rh|110}}</noinclude> e13t7nx80a7n4ote3urk21pv2mcqf45 78155 78154 2026-05-16T08:31:31Z Elcamatcha 1466 78155 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|nanipun|panggenanipun}} Sindureja. Anglepasaken jemparing kathah, amurih mangsulaken ing pangamukipun Raden Dananjaya utawi Pandhawa ingkang sekti-sekti. Wrekodara nyelehaken langkap, nyandhak gada anarajang. Pinten-pinten Korawa ingkang pejah sami anggelasah, amargi dipunamuk ing gada dhateng Raden Wrekodara. Gelar Cakrabyuha ngantos risak. Pangamukipun Raden Dananjaya kaliyan jemparing, kethen ingkang andhawahi mengsah. Wondening panarajangipun Korawa saking kathahipun kados sulung, ambelasah ingkang pejah dening gada. Kathah para di'pati ingkang pejah, sarta ingkang remuk rata tuwin gajahipun, awit kaamuk dhumateng Raden Wrekodara. Tandangipun kados gajah sewu meta. Pundi ingkang dipunterak tumpes. Baris ingkang ngamping-ampingi panggenanipun Sindureja meh tipis, bala Pandhawa tansah angangseg anarajang, ngantos kangelan anggenipun rumeksa dhumateng Sindureja wau. Anunten Korawa sami amrayogekaken, Prabu Duryudana kondura ngungsi dhumateng kitha. Namung Bagawan Sempani ingkang boten angrembagi, taksiha wonten ing paprangan, kareksa dening baris. Bilih ngantos sesingidan, ciptanipun nistha, sarta boten anetepi kasatriyanipun. Bagawan Sempani anjungkung ing semadi, supados ingkang putra kang nama Raden Sindureja lepata ing pejah salebeting perang Bratayuda. Wondening pamujinipun, sageda anyipta warni satus, ingkang kados Raden Sindureja. Sampun ngantos kenging Sindureja ingkang sayektosipun. Kasupen yen ingkang momong ing Pandhawa Prabu Kresna, boten kenging kekilapan. Wontena warni satus ingkang Sindureja sulap, amesthi sumerep Sindureja ingkang sayektosipun. Sayektosipun Bathara Kresna boten kenging dipundorani. Raden Dananjaya sayah anggenipun al?emejahi para bupati tuwin prajurit. Angantos telas saara-ara, ing wingking sangsaya ambrubul boten karaos kalonging prajurit, kang pejah akethen. Ingkang punika Sang Prabu Kresna maras ing galih, awit dening surya sampun gumiwang, Sindureja dereng kapanggih, kinubeng ing gegaman. Enggal srengenge tinutupan ing cakra, dipun {{hws|anggang|anggang-anggang}}<noinclude>{{rh|110}}</noinclude> 34eiykv5d1s91d867ddxdwjl2xghq3w Kaca:Bratayuda.pdf/107 250 24872 78156 2026-05-16T08:34:02Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78156 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|anggang|anggang-anggang}}, dados sulakipun sumirat jene. Lajeng dipun tetepaken cakranipun, peteng kados serap ing sayektosipun. Kang sarta Bathara Kresna apeparentah dhateng Pandhawa, kapurih akalempak kajeng. Sareng kajeng sampun ngalempak, lajeng kabesmi, andados latunipun. Unduring perang Pandhawa sami ngumpul, sairib kados anjenengi obongipun Raden Dananjaya. Sindureja lepat ing pejah bilih sampun kaserapan surya. Sampun kawartos yen Raden Dananjaya badhe obong. Koniwa sami bingah-bingah aningali, boten sumerep yen reka pagurtanipun Prabu Kresna. Srengenge dipuntutupi cakra. Sanget anggenipun sami suka-suka, asurak-surak gumerah, alokipun, "Yen Dananjaya mati, Pandhawa ilang pamuke. Sing kari prasasat cecindhil, mung kari anggetak bae. Wrekodara tandange perang kaku, ora julig kaya si Dananjaya." Kala semanten Raden Sindureja tumut aningali, wedalipun saking gedhong ingkang kareksa ing baris, kados pratingkahing pandung. Prabu Kresna sumerep sasolahipun Raden Sindureja, angandika dhumateng Raden Dananjaya sarwi anedahaken,:'Kae si Sindureja teka, uculana panahmu si Pasopati dienggal, mbokmanawa kaselak weruh!" Raden Dananjaya ngungak-ungak, matur dhumateng Prabu Kresna, "Panembahan, panggenanipun Sindureja wonten ing pundi?" Prabu Kresna lajeng nyeneng langkapipun Raden Dananjaya sarta anedahaken, panggenanipun Sindureja, pangandikanipun, "Kae apa, mara panahen dienggal." Raden Dananjaya jinjit, sampun sumerep dhateng Sindureja, lajeng dipunlepasi jemparing, ingkang nama Pasopati. Sindureja kenging gulunipun tugel, lajeng pejah. Anunten Prabu Kresna ngandika dhumateng Raden Dananjaya, "Endhase si Sindureja uncalna menyang enggone wong tuwane, isarat panahmu Sarutama." Raden Dananjaya lajeng menthang langkap, anglepasaken<noinclude>{{rh|||111}}</noinclude> dwuu51m8zyg0zf0qrihbqmewmjeuqlr Kaca:Bratayuda.pdf/108 250 24873 78157 2026-05-16T08:35:01Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78157 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>jemparing pun Sarutama. Sirahipun, Raden Sindureja katut kabekta ing jemparing, dhawah ing ngarsanipun ingkang rama. Bagawan Sempani pinuju saweg semadi, wondene ingkang dipun tetedha salebeting puji, ingkang putra unggula ing perangipun, sampun ngantos mengsah saged amejahi Sindureja ingkang sayektosipun, amunga ingkang sulap kemawon. Dene yen males ing mengsahipun ambilaenana, mengsaha sadasa utawi satus sarenga pejahipun. Anunten sirahing putra dhawah ing ngarsanipun, dipuncandhak dhumateng Bagawan Sempani, sebutipun akaliyan nangis, "Dhuh, Anakku mati, yagene kowe teka nganti mati ing perang Bratayuda? Delengen aku, lagi memuja anenedha unggule perangmu." Saseraping srengenge, sakathahing baris sami mundur dhateng ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Praqu Duryudana muwun, pangandikanipun dhateng Druna, "Kadipundi karep andika, Paman, ing sapatine satriya loro, pun Burisrawa karo pun Sindureja, prasasat kaicalan bau tengen lan bau kiwa, napa kang digawe pepulih." Anggenipun ngandika makaten punika kaliyan kasesegan, kang sarta angrerepa. Wondening ingkang panuju wonten ing ngajengan: Salya, Karna, Sengkuni, Karpa, Tumunten angandika malih, "Kadospundi pratingkah puniki, menggah karsane Paman Druna. kadospundi, sadulur kula kathah kang pejah: si Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadm:jaya, Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, ing sapunika sami pejah dening Wrekodara, kang sarta pangamuke Arjuna, anglangkungi ing prihatos kula, napa kang digawe pepulih?" Druna awicanten seru, "Sapa amapagna perange Arjuna, saking gedhene sihe Hyang Bathara Guru? Sapa bisa anadhahi pangamuke Wrekodara, sapa kelar nyembadani perange Prabu ing Wiratha, lan sapa kelar andhahi pangamuke Prabu ing Cempala? Lah ana maneh, sapa bisa nulak pagunane Prabu Kresna? Wong gedhe kang limang iji iku, apa sing digawe nadhahi perange?" Sang Prabu Duryudana lajeng angandika dhumateng Prabu<noinclude>{{rh|112}}</noinclude> esxnnxggckbaca3bmdp6km9wv1rju5p Kaca:Bratayuda.pdf/109 250 24874 78158 2026-05-16T08:36:38Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78158 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Ngawangga, "Heh, andika benjing-enjing kang mapagna perange pun Atjuna Ian Wrekodara, nanging anyuwuna parentahipun sang Pandhita Druna." Aturipun Prabu Kama, "Inggih, benjing-enjing kula ingkang amethukaken perangipun." Sakalangkung bingah Sang Pandhita Druna. '''6. GATHOTKACA METHUKAKEN DIPATI<br>KARNA, TIWAS''' Enjingipun tetengering perang mungel. Korawa ambrubul andalidir, saking ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak, kados banjiring saganten. Sang Prabu Yudhisthira sampun medalaken bala, gelar taksih kados ingkang wau. Sareng majeng, kados tempuking saganten. Sareng gulet perang tanpa petangan. Sami bujeng-binujeng, dedeldinedel arebut ngangkah pejah, kuwel kang prajurit. Ramening swara boten kantenan, bala asilih ukih. Ingkang dhateng sangsaya kathah. Wrekodara, Dananjaya pengamukipun angorak-arik. Nglepasaken jemparing, wedalipun amradini. Wrekodara nglepasaken Bargawastra, Prabu Yudhisthira angrikataken gajahipun. Kalantur saking ramening perang, ngantos seraping srengenge dereng wonten bibar. Ngantos kados ampuhan amor dados satunggil. Riwut gulet wonten ingkang ngundang-ngundang, "Aku rewangmu." Saweneh ingkang wewartos namanipun, "Aku wong ing Cempala." Wonten ingkang angaken tiyang ing Wiratha, tiyang ing Dwarawati, weneh tiyang Ngastina utawi tiyang ing Sabrang, ambantu tiyang Ngastina, punapa dene tiyang ing Mandaraka tuwin ing Ngawangga pati, kathah ingkang mastani nagarinipun piyambak -piyambak. Anunten para satriya utawi para mantri kang pepilihan, para ratu tuwin bupati ingkang anitih rata utawi gajah, oboripun sami dhateng, abra kados jawah latu, amewahi ambranang satengahing paprangan. Ubekan kapal gajah, sarta ingkang nitih rata wangsul<noinclude>{{rh|||113}}</noinclude> aq8slwm3rrf1r0nwg8ebpvls3008f54 78168 78158 2026-05-16T08:46:16Z Elcamatcha 1466 78168 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Ngawangga, "Heh, andika benjing-enjing kang mapagna perange pun Atjuna Ian Wrekodara, nanging anyuwuna parentahipun sang Pandhita Druna." Aturipun Prabu Kama, "Inggih, benjing-enjing kula ingkang amethukaken perangipun." Sakalangkung bingah Sang Pandhita Druna. <ol type="1", start="6"> <li>'''GATHOTKACA METHUKAKEN DIPATI<br>KARNA, TIWAS'''</li> </ol> Enjingipun tetengering perang mungel. Korawa ambrubul andalidir, saking ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak, kados banjiring saganten. Sang Prabu Yudhisthira sampun medalaken bala, gelar taksih kados ingkang wau. Sareng majeng, kados tempuking saganten. Sareng gulet perang tanpa petangan. Sami bujeng-binujeng, dedeldinedel arebut ngangkah pejah, kuwel kang prajurit. Ramening swara boten kantenan, bala asilih ukih. Ingkang dhateng sangsaya kathah. Wrekodara, Dananjaya pengamukipun angorak-arik. Nglepasaken jemparing, wedalipun amradini. Wrekodara nglepasaken Bargawastra, Prabu Yudhisthira angrikataken gajahipun. Kalantur saking ramening perang, ngantos seraping srengenge dereng wonten bibar. Ngantos kados ampuhan amor dados satunggil. Riwut gulet wonten ingkang ngundang-ngundang, "Aku rewangmu." Saweneh ingkang wewartos namanipun, "Aku wong ing Cempala." Wonten ingkang angaken tiyang ing Wiratha, tiyang ing Dwarawati, weneh tiyang Ngastina utawi tiyang ing Sabrang, ambantu tiyang Ngastina, punapa dene tiyang ing Mandaraka tuwin ing Ngawangga pati, kathah ingkang mastani nagarinipun piyambak -piyambak. Anunten para satriya utawi para mantri kang pepilihan, para ratu tuwin bupati ingkang anitih rata utawi gajah, oboripun sami dhateng, abra kados jawah latu, amewahi ambranang satengahing paprangan. Ubekan kapal gajah, sarta ingkang nitih rata wangsul<noinclude>{{rh|||113}}</noinclude> hlvsqs77hsyppgysim6wbv7yi9x8p0x Kaca:Bratayuda.pdf/110 250 24875 78159 2026-05-16T08:37:38Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78159 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>dhateng panggenanipun. Bala kados dipun pilihi, wangsul dhateng panggenanipun piyambak-piyambak. Amiwiti perang malih, taksih pepak ingkang para ratu, punapa dene sawamining para ratu sesurunan. Majeng saking panggenanipun piyarnbak -pinyam bak. Pan em puhingperang, surak sakalangkung rame, Wrekodara pangamukipun anengah, amung milih ingkang para dipati, ingkang sami nitih gajah utawi rata, punika ingkang dipun trajang. Dipun gada kathah pejah pating sulayah. Punapa dene Raden Dananjaya, anglepasaken jemparing dibya. Punggawanipun Prabu Kama ingkang sinakti, anama Druwajaya, majeng anitih rata, pilih kang kuwawi nadhahi perangipun. Punika angundha gada, kathah prajurit ingkang pejah dipun amuk Druwajaya wau. Lajeng dipun trajang dhumateng Wrekodara. Punika Druwajaya pejahipun. Anunten dhatenge pangamuke anegah Raden Setyaki, sanget nepsu perangipun, Kathah bupati ingkang pejah, punapa dene para raja ingkang dhadhal saking pangamukipun. Saking riwuting nepsunipun Raden Setyaki, ngantos adamel bingunging mengsah. Anunten Partipeya amethukaken perangipun. Lajeng menthang langkap anglepasaken jemparing, kenging jajanipun Setyaki boten pasah nanging kontal, katut kabekta ing jemparing, dhawah kanteb. Anunten putranipun Raden Setyaki, anama Raden Sanga-sanga enggal majeng, amethukaken pangamukipun Partipeya. Rame jemparing-jinemparing, boten wonten ingkang anedhasi. Lajeng ruket angaben karosan. Sami ing kasektenipun. Dumugi ing sakajeng-kajeng. Arame dipun suraki, kados tiyang angaben sawung, remen ingkang sami aningali, dene sami ing prawiranipun. Anunten Raden Wrekodara dhateng, atetulung dhumateng Raden Sanga-sanga. Partipeya dipun lepasi jemparing, kenging jajanipun dhawah kanteb. Karaos sakit , sanget ing nepsunipun. Sumerep yen Raden Wrekodara ingkang anjemparing, lajeng males anjemparing. Wrekodara kenging baunipun kiwa, kaget lajeng anyelehaken Bargawastra, anyandhak gada majeng. Raden Partipeya dipun gada remuk sareng kaliyan ratanipun . Ing ngriku pejahipun Partipeya dening Raden Wrekodara.<noinclude>{{rh|114}}</noinclude> ch8pc7kslvsd82jgxce10uvuvh4lyeb Kaca:Bratayuda.pdf/116 250 24876 78160 2026-05-16T08:38:56Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78160 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Karpa amangsuli, "Heh, Aswatama, yen kowe ora weruh, bapakmu ing samengko wis mati, dikethok gulune marang Raden Drusthajumena." Raden Aswatama sareng mireng ingkang rama pejah, sanget ing nepsunipun. Lajeng umangsah anglepasaken jemparing latu, agengipun saredi alit. Bala Pandhawa giris, mboten wonten nyipta gesang. Raden Janaka dipun dhawahi dhateng Prabu Yudhisthira, kapurih amethukna perangipun Aswatama. Sang nata sarwi amuwuni gurunipun kang nama Druna wau. Prabu Kresna lajeng parentah dhateng bala Pandhawa, andikakaken sami dharat sadaya, sabab jemparing latu wau mboten purun ambesmi tiyang ingkang dharat. Anunten Wrekodara dipun ken methukaken latu dhateng Prabu Kresna, sarta numpaka rata, Wrekodara enggal majeng anitih rata. Sareng Raden Janaka ningali yen ingkang raka badhe kabesmi, enggal anglepasaken jemparing, latu lajeng ical sami sakedhap. Raden Aswatama wau lajeng mundur, saha sanget ing lingsemipun, sumedya tapa malih, supados wewaha kasaktenipun. Bala Korawa sarta Pandhawa kasaput ing dalu, lajeng sami mundur. Prabu Suyudana ing dalu pirembagan kaliyan para ratu. Kentheling rembag, Prabu Kama ing Ngawangga ingkang kadadosaken senapati. Prahu Suyudana angebang badhe amasrahi ing Ngastina. Prabu Kama inggih sampun anyagahi, anumpes Pandhawa sami sadinten. Kacariyos Prabu Kama wau sakalangkung wanter sarta sakti, abagus wamanipun, saha kagungan jemparing anama Wijayadanu. Punapa ing saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados. Prabu Suyudana sakalangkung suka, amirengaken kasagahanipun Karna. Lajeng angganjar pangangge kang sae-sae dhateng Prabu Kama sabalanipun waradin. Nanging balanipun sadaya sami<noinclude>{{rh|120}}</noinclude> 5fjk1921kvylp0xz2tyfrw86qu1j3de 78400 78160 2026-05-16T10:32:05Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 78400 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Karpa amangsuli, "Heh, Aswatama, yen kowe ora weruh, bapakmu ing samengko wis mati, dikethok gulune marang Raden Drusthajumena." Raden Aswatama sareng mireng ingkang rama pejah, sanget ing nepsunipun. Lajeng umangsah anglepasaken jemparing latu, agengipun saredi alit. Bala Pandhawa giris, mboten wonten nyipta gesang. Raden Janaka dipun dhawahi dhateng Prabu Yudhisthira, kapurih amethukna perangipun Aswatama. Sang nata sarwi amuwuni gurunipun kang nama Druna wau. Prabu Kresna lajeng parentah dhateng bala Pandhawa, andikakaken sami dharat sadaya, sabab jemparing latu wau mboten purun ambesmi tiyang ingkang dharat. Anunten Wrekodara dipun ken methukaken latu dhateng Prabu Kresna, sarta numpaka rata, Wrekodara enggal majeng anitih rata. Sareng Raden Janaka ningali yen ingkang raka badhe kabesmi, enggal anglepasaken jemparing, latu lajeng ical sami sakedhap. Raden Aswatama wau lajeng mundur, saha sanget ing lingsemipun, sumedya tapa malih, supados wewaha kasaktenipun. Bala Korawa sarta Pandhawa kasaput ing dalu, lajeng sami mundur. Prabu Suyudana ing dalu pirembagan kaliyan para ratu. Kentheling rembag, Prabu Kama ing Ngawangga ingkang kadadosaken senapati. Prahu Suyudana angebang badhe amasrahi ing Ngastina. Prabu Kama inggih sampun anyagahi, anumpes Pandhawa sami sadinten. Kacariyos Prabu Kama wau sakalangkung wanter sarta sakti, abagus wamanipun, saha kagungan jemparing anama Wijayadanu. Punapa ing saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados. Prabu Suyudana sakalangkung suka, amirengaken kasagahanipun Karna. Lajeng angganjar pangangge kang sae-sae dhateng Prabu Kama sabalanipun waradin. Nanging balanipun sadaya sami<noinclude>{{rh|120}}</noinclude> mki35ij0odzbxaqw1652283d7o5a5fa Kaca:Bratayuda.pdf/117 250 24877 78161 2026-05-16T08:40:32Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78161 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>susah. Tuwin garwanipun inggih sanget susah, amargi sampun kathah dalajatipun, amratandhani yen Prabu Kama badhe kasoran perangipun. Kocap Pandhawa Prabu Dwarawati saha Yudhisthira tuwin Janaka, ing dalu sami tindak dhateng ing papan paprangan, angupadosi layonipun Druna tuwin Bisma. Sareng sampun kapanggih, lajeng sami kabesmi. Sasireping latu, wonten swara, asanjang yen Pandhawa badhe menang ing perangipun. Prabu Kresna, Yudhisthira, sarta Janaka, lajeng sami kondur masanggrahan. Enjingipun lajeng sami anabuh tengaraning perang. Sareng sampun sami tata barisipun, lajeng sami amedali ing perang. Ing sadinten punika Pandhawa kaliyan Korawa kathah ingkang pejah. Bibar kasaput ing dalu. Ing dalu Prabu Suyudana sami pirembagan akaliyan para ratu: Salya, Kama, sami wonten ing ngarsa. Prabu Kama anyuwun kusir dhateng Prabu Suyudana. Wondening ingkang dipun suwun Prabu Salya ing Mandaraka, supados timbanga akaliyan kusiripun Raden Janaka. Aturipun Prabu Kama, yen Prabu Salya kaparingaken dados kusir, dipun kinten Pandhawa tumpes ing sadinten benjing-enjing dening jemparingipun ingkang nama Wijayadanu. Prabu Salya sareng ni.idhanget aturipun Kama, sanget dukanipun. Prabu Suyudana enggal angrerepa, anyembah sarta anangis, amemelas aturipun dhateng ingkang marasepuh, kaaturan nuruti panyuwunipun Karna. Prabu Salya dangu-dangu sareh dukanipun, welas aningali mantunipun, wusana anyagahi dados kusir. Kocap Pandhawa sami pirembagan. Kresna ngandika dhateng Raden Janaka, "Ing sadina sesuk kowe kang dadia senapati, anganggoa gelar Ardacandra, sarta kowe dingati-ati. Yen kowe kurang pangati-ati, bakal dadi bilaine awakmu, karana si Karna luwih saktine." Arjuna matur sandika.<noinclude>{{rh|121}}</noinclude> 9q3epeayn8l63tbv208b8mptuud4do2 78162 78161 2026-05-16T08:40:43Z Elcamatcha 1466 78162 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>susah. Tuwin garwanipun inggih sanget susah, amargi sampun kathah dalajatipun, amratandhani yen Prabu Kama badhe kasoran perangipun. Kocap Pandhawa Prabu Dwarawati saha Yudhisthira tuwin Janaka, ing dalu sami tindak dhateng ing papan paprangan, angupadosi layonipun Druna tuwin Bisma. Sareng sampun kapanggih, lajeng sami kabesmi. Sasireping latu, wonten swara, asanjang yen Pandhawa badhe menang ing perangipun. Prabu Kresna, Yudhisthira, sarta Janaka, lajeng sami kondur masanggrahan. Enjingipun lajeng sami anabuh tengaraning perang. Sareng sampun sami tata barisipun, lajeng sami amedali ing perang. Ing sadinten punika Pandhawa kaliyan Korawa kathah ingkang pejah. Bibar kasaput ing dalu. Ing dalu Prabu Suyudana sami pirembagan akaliyan para ratu: Salya, Kama, sami wonten ing ngarsa. Prabu Kama anyuwun kusir dhateng Prabu Suyudana. Wondening ingkang dipun suwun Prabu Salya ing Mandaraka, supados timbanga akaliyan kusiripun Raden Janaka. Aturipun Prabu Kama, yen Prabu Salya kaparingaken dados kusir, dipun kinten Pandhawa tumpes ing sadinten benjing-enjing dening jemparingipun ingkang nama Wijayadanu. Prabu Salya sareng midhanget aturipun Kama, sanget dukanipun. Prabu Suyudana enggal angrerepa, anyembah sarta anangis, amemelas aturipun dhateng ingkang marasepuh, kaaturan nuruti panyuwunipun Karna. Prabu Salya dangu-dangu sareh dukanipun, welas aningali mantunipun, wusana anyagahi dados kusir. Kocap Pandhawa sami pirembagan. Kresna ngandika dhateng Raden Janaka, "Ing sadina sesuk kowe kang dadia senapati, anganggoa gelar Ardacandra, sarta kowe dingati-ati. Yen kowe kurang pangati-ati, bakal dadi bilaine awakmu, karana si Karna luwih saktine." Arjuna matur sandika.<noinclude>{{rh|121}}</noinclude> 6m4hxr9ptie9ql24b36pj10lxjr9or3 78402 78162 2026-05-16T10:33:44Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 78402 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>susah. Tuwin garwanipun inggih sanget susah, amargi sampun kathah dalajatipun, amratandhani yen Prabu Kama badhe kasoran perangipun. Kocap Pandhawa Prabu Dwarawati saha Yudhisthira tuwin Janaka, ing dalu sami tindak dhateng ing papan paprangan, angupadosi layonipun Druna tuwin Bisma. Sareng sampun kapanggih, lajeng sami kabesmi. Sasireping latu, wonten swara, asanjang yen Pandhawa badhe menang ing perangipun. Prabu Kresna, Yudhisthira, sarta Janaka, lajeng sami kondur masanggrahan. Enjingipun lajeng sami anabuh tengaraning perang. Sareng sampun sami tata barisipun, lajeng sami amedali ing perang. Ing sadinten punika Pandhawa kaliyan Korawa kathah ingkang pejah. Bibar kasaput ing dalu. Ing dalu Prabu Suyudana sami pirembagan akaliyan para ratu: Salya, Kama, sami wonten ing ngarsa. Prabu Kama anyuwun kusir dhateng Prabu Suyudana. Wondening ingkang dipun suwun Prabu Salya ing Mandaraka, supados timbanga akaliyan kusiripun Raden Janaka. Aturipun Prabu Kama, yen Prabu Salya kaparingaken dados kusir, dipun kinten Pandhawa tumpes ing sadinten benjing-enjing dening jemparingipun ingkang nama Wijayadanu. Prabu Salya sareng midhanget aturipun Karna, sanget dukanipun. Prabu Suyudana enggal angrerepa, anyembah sarta anangis, amemelas aturipun dhateng ingkang marasepuh, kaaturan nuruti panyuwunipun Karna. Prabu Salya dangu-dangu sareh dukanipun, welas aningali mantunipun, wusana anyagahi dados kusir. Kocap Pandhawa sami pirembagan. Kresna ngandika dhateng Raden Janaka, "Ing sadina sesuk kowe kang dadia senapati, anganggoa gelar Ardacandra, sarta kowe dingati-ati. Yen kowe kurang pangati-ati, bakal dadi bilaine awakmu, karana si Karna luwih saktine." Arjuna matur sandika.<noinclude>{{rh|121}}</noinclude> bfvll0knvw6e23kvga6vz9mc2p73xl2 Kaca:Bratayuda.pdf/118 250 24878 78163 2026-05-16T08:42:25Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78163 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Enjingipun sami nabuh tengaraning perang. Para ratu akaliyan para dipati sami anata baris angrakit gelar.Ingkang sami.nitih rata tuwin gajah saha kapal sampun sami mirantos. Prabu Karna nitih rata, sarta aningali mengsahipun, ambelabar kados seganten. Prabu Karna sakalangkung suka saha matur dhateng kusiripun, "Rama Prabu, barisipun Pandhawa anglangkungi kathahipun. Ingkang wonten ing pinggir mboten katingal, nanging mangke sakedhap kemawon tumpes sadaya dening jemparing Wijayadanu." Prabu Salya sareng mireng sanget ewa, sarta amajananii, wangsulanipun, "Heh, Karna, kiraku kowe ora bisa anumpes Pandhawa, kowe dak-upamakake iwak mentah, Pandhawa kang bakal angolah, ing sakarep-karepe iya dadi." Karna sareng midhanget sanget ing wirangipun sarta nepsu, aken ngajengaken rata sarta menthang gandhewa. Korawa sareng aningali senapatinipun majeng, lajeng ambyuk mangsah ing perang. Pandhawa anadhahi. Ramening perang kados alun anempuh redi. Korawa wewah ing kakendelanipun amargi ningali senapatinipun sakalangkung kendel sarta sakti, dhasar bagus warninipun. Jemparingipun Karna ambarubul wedalipun saking gandhewa, ngebeki ing paprangan. Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, ratanipun Karna ngalojok anglancangi bala, kaidak purun, Korawa anuruti angrubut mengsah. Bala Pandhawa bibrah tatanipun, giris aningali tandangipun Karna saha kawus kala pejahipun Gathutkaca dening Suryaputra. Bala Pandhawa lajeng larut. Raden Nakula, Yuyutsuh, Drusthajumena, ratanipun sami remuk, dipun jemparing dhateng Karna. Nunten sami lumajeng. Prabu Yudhisthira, Arjuna, Wrekodara, enggal sami anulungi, methukaken pangamukipun Karna sarta sami nglepasi jemparing. Bala Korawa kathah ingkang pejah, kandheg ratanipun Karna, lajeng sami perang ijen-ijenan, ajemparing-jinemparing. Prabu Suyudana dipun jemparing dhateng Wrekodara dhawah kalumah, nanging mboten pasah, lajeng andhelik wonten wingkingipun ing baris. Raden Wresasena, putranipun Prabu Karna, pejah<noinclude>{{rh|122}}</noinclude> 9fs9w36y6ek6na2yhv1xttikjgurv9r 78404 78163 2026-05-16T10:35:32Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 78404 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Enjingipun sami nabuh tengaraning perang. Para ratu akaliyan para dipati sami anata baris angrakit gelar.Ingkang sami nitih rata tuwin gajah saha kapal sampun sami mirantos. Prabu Karna nitih rata, sarta aningali mengsahipun, ambelabar kados seganten. Prabu Karna sakalangkung suka saha matur dhateng kusiripun, "Rama Prabu, barisipun Pandhawa anglangkungi kathahipun. Ingkang wonten ing pinggir mboten katingal, nanging mangke sakedhap kemawon tumpes sadaya dening jemparing Wijayadanu." Prabu Salya sareng mireng sanget ewa, sarta amajananii, wangsulanipun, "Heh, Karna, kiraku kowe ora bisa anumpes Pandhawa, kowe dak-upamakake iwak mentah, Pandhawa kang bakal angolah, ing sakarep-karepe iya dadi." Karna sareng midhanget sanget ing wirangipun sarta nepsu, aken ngajengaken rata sarta menthang gandhewa. Korawa sareng aningali senapatinipun majeng, lajeng ambyuk mangsah ing perang. Pandhawa anadhahi. Ramening perang kados alun anempuh redi. Korawa wewah ing kakendelanipun amargi ningali senapatinipun sakalangkung kendel sarta sakti, dhasar bagus warninipun. Jemparingipun Karna ambarubul wedalipun saking gandhewa, ngebeki ing paprangan. Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, ratanipun Karna ngalojok anglancangi bala, kaidak purun, Korawa anuruti angrubut mengsah. Bala Pandhawa bibrah tatanipun, giris aningali tandangipun Karna saha kawus kala pejahipun Gathutkaca dening Suryaputra. Bala Pandhawa lajeng larut. Raden Nakula, Yuyutsuh, Drusthajumena, ratanipun sami remuk, dipun jemparing dhateng Karna. Nunten sami lumajeng. Prabu Yudhisthira, Arjuna, Wrekodara, enggal sami anulungi, methukaken pangamukipun Karna sarta sami nglepasi jemparing. Bala Korawa kathah ingkang pejah, kandheg ratanipun Karna, lajeng sami perang ijen-ijenan, ajemparing-jinemparing. Prabu Suyudana dipun jemparing dhateng Wrekodara dhawah kalumah, nanging mboten pasah, lajeng andhelik wonten wingkingipun ing baris. Raden Wresasena, putranipun Prabu Karna, pejah<noinclude>{{rh|122}}</noinclude> kavtpojxlkwmfu94s8lsq36xj66mgom Kaca:Bratayuda.pdf/119 250 24879 78164 2026-05-16T08:44:10Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78164 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>dening Raden Setyaki, Prabu Suyudana kapanggih kaliyan Wrekodara, lajeng dipun jemparing dhateng Wrekodara, kenging kendhengipun pedhot, anunten lumajeng. Raden Dursasana, ingkang rayi Prabu Suyudana, enggal angalingi ingkang raka, ainethukaken Wrekodara, sarta nitih gajah, anglepasi jemparing anama Barla. Wrekodara kenging jajanipun, dhawah kabanting, nanging mboten pasah. Nunten tangi anyandhak gada sarta angesuk. Gajahipun Dursasana dipun gada sirahipun ajur. Dursasana enggal lumumpat dhateng siti. Nunten sami gada-ginada. Dursasana rumaos kuwalahan, badhe 1umajeng, lajeng dipun jambak rambutipun sarta kasendhal dhateng Wrekodara dhawah kalumah, rambutipun taksih kacepeng dhateng Wrekodara sarta dipun gadani. Prabu Suyudana sasedherekipun nulungi, sami anjemparingi, nanging Wrekodara mboten ajrih. Prabu Yudhisthira sasentananipun lajeng sami amethukaken perangipun Prabu Suyudana, dados Raden Wrekodara wau dipun suraki kemawon saking katebihan. Raden Wrekodara ing sakajeng-kajengipun, anggenipun badhe damel pangewan-ewan dhateng Dursasana, sarta wicanten seru anyeluk para dewa tuwin para ratu mengsah saha Pandhawa sadaya, "Heh, kabeh padha aneksenana, yen aku bakal angluwari kaule ipeku kangjeneng Dewi Drupadi, garwane Kakang Prabu Yudhisthira. Iku ora gelem gelungan ing salawase, yen durung keramas getihe si Dursasana. Ing mengko bakal kalakon." Kacariyos, mila Dewi Drupadi gadhah kaul makaten, kala saderengipun perang Bratayuda, Prabu Yudhisthira sasedherekipun pinuju sami kesah tapa. Dewi Drupadi lajeng kaboyong dhateng nagari ing Ngastina. Wonten ing ngriku dipun pisakit saha kadamel sawenang-wenang dhateng Raden Dursasana. Kacariyos Raden Wrekodara anggenipun darnel pangewanewan wau, wetengipun Dursasana kabedhel, rahipun dipun kokop. Barabeyanipun kaodhet-odhet, lajeng dipun awut-awut. Suku sarta tanganipun sinempal-sempal, lajeng dipun balang-balangaken. Sirahipun kaejur ing gada. Raden Wrekodara lajeng mundur dhateng ing pasanggrahan sumedya manggihi Dewi Drupadi, sarta {{hws|am|am<noinclude>{{rh|||123}}</noinclude> pal8oq8ejwxco382tdyaruzndfu5t3i 78165 78164 2026-05-16T08:44:23Z Elcamatcha 1466 78165 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>dening Raden Setyaki, Prabu Suyudana kapanggih kaliyan Wrekodara, lajeng dipun jemparing dhateng Wrekodara, kenging kendhengipun pedhot, anunten lumajeng. Raden Dursasana, ingkang rayi Prabu Suyudana, enggal angalingi ingkang raka, ainethukaken Wrekodara, sarta nitih gajah, anglepasi jemparing anama Barla. Wrekodara kenging jajanipun, dhawah kabanting, nanging mboten pasah. Nunten tangi anyandhak gada sarta angesuk. Gajahipun Dursasana dipun gada sirahipun ajur. Dursasana enggal lumumpat dhateng siti. Nunten sami gada-ginada. Dursasana rumaos kuwalahan, badhe 1umajeng, lajeng dipun jambak rambutipun sarta kasendhal dhateng Wrekodara dhawah kalumah, rambutipun taksih kacepeng dhateng Wrekodara sarta dipun gadani. Prabu Suyudana sasedherekipun nulungi, sami anjemparingi, nanging Wrekodara mboten ajrih. Prabu Yudhisthira sasentananipun lajeng sami amethukaken perangipun Prabu Suyudana, dados Raden Wrekodara wau dipun suraki kemawon saking katebihan. Raden Wrekodara ing sakajeng-kajengipun, anggenipun badhe damel pangewan-ewan dhateng Dursasana, sarta wicanten seru anyeluk para dewa tuwin para ratu mengsah saha Pandhawa sadaya, "Heh, kabeh padha aneksenana, yen aku bakal angluwari kaule ipeku kangjeneng Dewi Drupadi, garwane Kakang Prabu Yudhisthira. Iku ora gelem gelungan ing salawase, yen durung keramas getihe si Dursasana. Ing mengko bakal kalakon." Kacariyos, mila Dewi Drupadi gadhah kaul makaten, kala saderengipun perang Bratayuda, Prabu Yudhisthira sasedherekipun pinuju sami kesah tapa. Dewi Drupadi lajeng kaboyong dhateng nagari ing Ngastina. Wonten ing ngriku dipun pisakit saha kadamel sawenang-wenang dhateng Raden Dursasana. Kacariyos Raden Wrekodara anggenipun damel pangewanewan wau, wetengipun Dursasana kabedhel, rahipun dipun kokop. Barabeyanipun kaodhet-odhet, lajeng dipun awut-awut. Suku sarta tanganipun sinempal-sempal, lajeng dipun balang-balangaken. Sirahipun kaejur ing gada. Raden Wrekodara lajeng mundur dhateng ing pasanggrahan sumedya manggihi Dewi Drupadi, sarta {{hws|am|ambeksa}}<noinclude>{{rh|||123}}</noinclude> mlxvbc0hfufglikkrnse4w947dm7ekk Kaca:Bratayuda.pdf/121 250 24880 78169 2026-05-16T08:48:08Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78169 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>triya kekalih wau sami anggadhahi pangeman, yen pejaha ing salah satunggil, badhe mboten wonten ingkang dipun tingali. Karna kaliyan Arjuna lajeng sami angaben kasekten. Ratanipun sami ubeng-ubengan, sami lepas-linepasan jemparing. Prabu Karna amenthang gandhewa sarta anginceng jemparingipun. Nunten kasaru wonten sawer dhateng ing ngarsanipun, cumalorot saking ngawang-awang, agengipun anglangkungi, saged wicanten kados tiyang, anama Ardawalika. Matur dhateng Prabu Karna: yen badhe amales ukum dhateng Arjuna. Karna amangsuli, "Sakarepmu ing kana, enggonmu arep mateni si Janaka, aku ora anyenyambat marang kowe!" Raden Janaka enggal anyandhak jemparing, lajeng kalepasaken. Sawer pun Ardawalika kenging lajeng pejah, gumebrug dhawah ing siti. Prabu Karna anggenipun nginceng jemparing wau angangkah jangganipun Raden Janaka. Prabu Salya sumerep, yen pangincengipun Prabu Karna wau badhe ambilaeni dhateng Raden Dananjaya. Nunten tetalining kapal dipun tarik, ratanipun lajeng gonjing anyarengi uculing jemparing, dados ewah ing pangincengipun, kapara manginggil. Raden Janaka makuthanipun timpal kengingjemparing. Prabu Kresna enggal anulungi, angelus rema sarta angleresaken makuthanipun. Karna sanget ing getunipun, dene Raden Janaka mboten kenging jangganipun, nanging mboten sumerep yen dipun pandamel dhateng kusiripun. Prabu Karna nunten nyandhak jemparingipun Wijayadanu, sarta kawawas. lngkang dipun angkah jangganipun Arjuna. Prabu Salya lajeng anggenjot ratanipun, anyarengi uculing jemparing. Raden Dananjaya kenging gelunganipun tatas. Janaka sanget nepsunipun sarta lingsem, enggal males anjemparing. Kapal pangiriding ratanipun Karna tatas sukunipun sadaya. Raden Janaka amawas malih jemparing pun Pasopati. Prabu Karna inggih amawas pun Wijayadimu, sarta dipun mantrani. Nanging karumiyinan dhateng Raden Janaka. Prabu Karna tugel jangganipun, kenging ing jemparing Pasopati, gumebrug dhawah<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude> 4y0rj6kx9sqewq06hu5zt9xh5ue8gjn 78171 78169 2026-05-16T08:48:52Z Elcamatcha 1466 78171 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|triya|satriya}} kekalih wau sami anggadhahi pangeman, yen pejaha ing salah satunggil, badhe mboten wonten ingkang dipun tingali. Karna kaliyan Arjuna lajeng sami angaben kasekten. Ratanipun sami ubeng-ubengan, sami lepas-linepasan jemparing. Prabu Karna amenthang gandhewa sarta anginceng jemparingipun. Nunten kasaru wonten sawer dhateng ing ngarsanipun, cumalorot saking ngawang-awang, agengipun anglangkungi, saged wicanten kados tiyang, anama Ardawalika. Matur dhateng Prabu Karna: yen badhe amales ukum dhateng Arjuna. Karna amangsuli, "Sakarepmu ing kana, enggonmu arep mateni si Janaka, aku ora anyenyambat marang kowe!" Raden Janaka enggal anyandhak jemparing, lajeng kalepasaken. Sawer pun Ardawalika kenging lajeng pejah, gumebrug dhawah ing siti. Prabu Karna anggenipun nginceng jemparing wau angangkah jangganipun Raden Janaka. Prabu Salya sumerep, yen pangincengipun Prabu Karna wau badhe ambilaeni dhateng Raden Dananjaya. Nunten tetalining kapal dipun tarik, ratanipun lajeng gonjing anyarengi uculing jemparing, dados ewah ing pangincengipun, kapara manginggil. Raden Janaka makuthanipun timpal kengingjemparing. Prabu Kresna enggal anulungi, angelus rema sarta angleresaken makuthanipun. Karna sanget ing getunipun, dene Raden Janaka mboten kenging jangganipun, nanging mboten sumerep yen dipun pandamel dhateng kusiripun. Prabu Karna nunten nyandhak jemparingipun Wijayadanu, sarta kawawas. lngkang dipun angkah jangganipun Arjuna. Prabu Salya lajeng anggenjot ratanipun, anyarengi uculing jemparing. Raden Dananjaya kenging gelunganipun tatas. Janaka sanget nepsunipun sarta lingsem, enggal males anjemparing. Kapal pangiriding ratanipun Karna tatas sukunipun sadaya. Raden Janaka amawas malih jemparing pun Pasopati. Prabu Karna inggih amawas pun Wijayadimu, sarta dipun mantrani. Nanging karumiyinan dhateng Raden Janaka. Prabu Karna tugel jangganipun, kenging ing jemparing Pasopati, gumebrug dhawah<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude> bf7ytf8w4nwm840roqnnkohuh31ni83 78399 78171 2026-05-16T10:30:45Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 78399 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{hwe|triya|satriya}} kekalih wau sami anggadhahi pangeman, yen pejaha ing salah satunggil, badhe mboten wonten ingkang dipun tingali. Karna kaliyan Arjuna lajeng sami angaben kasekten. Ratanipun sami ubeng-ubengan, sami lepas-linepasan jemparing. Prabu Karna amenthang gandhewa sarta anginceng jemparingipun. Nunten kasaru wonten sawer dhateng ing ngarsanipun, cumalorot saking ngawang-awang, agengipun anglangkungi, saged wicanten kados tiyang, anama Ardawalika. Matur dhateng Prabu Karna: yen badhe amales ukum dhateng Arjuna. Karna amangsuli, "Sakarepmu ing kana, enggonmu arep mateni si Janaka, aku ora anyenyambat marang kowe!" Raden Janaka enggal anyandhak jemparing, lajeng kalepasaken. Sawer pun Ardawalika kenging lajeng pejah, gumebrug dhawah ing siti. Prabu Karna anggenipun nginceng jemparing wau angangkah jangganipun Raden Janaka. Prabu Salya sumerep, yen pangincengipun Prabu Karna wau badhe ambilaeni dhateng Raden Dananjaya. Nunten tetalining kapal dipun tarik, ratanipun lajeng gonjing anyarengi uculing jemparing, dados ewah ing pangincengipun, kapara manginggil. Raden Janaka makuthanipun timpal kengingjemparing. Prabu Kresna enggal anulungi, angelus rema sarta angleresaken makuthanipun. Karna sanget ing getunipun, dene Raden Janaka mboten kenging jangganipun, nanging mboten sumerep yen dipun pandamel dhateng kusiripun. Prabu Karna nunten nyandhak jemparingipun Wijayadanu, sarta kawawas. lngkang dipun angkah jangganipun Arjuna. Prabu Salya lajeng anggenjot ratanipun, anyarengi uculing jemparing. Raden Dananjaya kenging gelunganipun tatas. Janaka sanget nepsunipun sarta lingsem, enggal males anjemparing. Kapal pangiriding ratanipun Karna tatas sukunipun sadaya. Raden Janaka amawas malih jemparing pun Pasopati. Prabu Karna inggih amawas pun Wijayadimu, sarta dipun mantrani. Nanging karumiyinan dhateng Raden Janaka. Prabu Karna tugel jangganipun, kenging ing jemparing Pasopati, gumebrug dhawah<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude> 0xh1kdwfcwbuzdgapxmh3cs1jvwgup5 Kaca:Bratayuda.pdf/122 250 24881 78172 2026-05-16T08:50:05Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78172 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>salebeting rata. Bala Pandhawa surak gurilerah. Korawa sami lumajeng. Nunten sami mundur amargi kasaput ing dalu. Prabu Suyudana apirembagan kaliyan Patih Sangkuni, sarta Prabu Salya, tuwin ingkang rayi-rayi ingkang namung kantun kalihdasa, sadaya sampun sami pejah. Prabu Suyudana matur sarwi anangis dhateng Prabu Salya, dipun aturi dados senapati, angrebata nagari ing Ngastina. Wangsulanipun Salya mboten purun, sarta angrembagi amasrahna nagari Ngastina ingkang sapalih dhateng Pandhawa. Yen Pandhawa mboten narimah, Salya sagah anumpes. Aturipun Prabu Suyudana mboten pareng, awit sampun kasep, sarta putra tuwin sadherekipun kathah ingkang sampun sami pejah. Adangu sami diya-diniya. Anunten Raden Aswatama dhateng, lajeng wicanten seru, sarta amelehaken pratingkahipun Prabu Salya, kalanipun angusiri perangipun Kama. Prabu Salya sanget dukanipun, lajeng badhe kerengan kaliyan Aswatama, nunten kapisah dhateng Suyudana. Raden Aswatama katundhung, lajeng kesah atapa dhateng ing wana. Prabu Salya sareh ing dukanipun, wusana anyagahi dados senapati. Prabu Suyudana suka ing galihipun, lajeng angganjar busana kang sae-sae dhateng bala ing Mandaraka, sadaya waradin. Sampun misuwur yen Prabu Salya dados senapati. Antawis kalih dinten kendelipun ing perang. Pandhawa sampun sami mireng, yen Prabu Salya dados senapatining Korawa, lajeng sami bingung. Prabu Yudhisthira sasedherekipun sami nedya asrah pejah kemawon dhateng Prabu Salya, awit saking ajrihipun. Dhasar ratu sepuh saha kapernah sepuh, sarta sakalangkung sekti, mboten wonten purun anadhahana perangipun. Prabu Kresna lajeng dhawah dhateng Raden Nakula, sarta Sadewa, kapurih sowana dhateng ingkang Uwa Prabu Salya, sarta kawulang pratingkahipun yen sampun dumugi ing ngarsanipun Prabu Salya.<noinclude>{{rh|126}}</noinclude> 7tdv3q3d5itbluj4c6j8ju79ssgewyp Kaca:Bratayuda.pdf/123 250 24882 78173 2026-05-16T08:51:07Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78173 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Nakula sarta Sadewa lajeng mangkat dhateng ing pasanggrahan Mandaraka, tanpa bala. Sareng dumugi ing ngriku, Prabu Salya kapanggih wonten ing sanggar pamujan. Raden Nakula Ian Sadewa lajeng angrungkebi sukunipun ingkang Uwa, sarta anangis. Aturipun, "Bilih Uwa Prabu saestu dados senapati, mhoten sande badan kula, saha sadherek kula sadaya, badhe tumpes dening sampeyan, tuwin para ratu Pandhawa sadaya inggih sami ajrih dhateng kasekten sampeyan. Aluwung kula pejaha ing sapunika kemawon." Raden Nakula saha Sadewa lajeng sami narik dhuwung, ajeng suduk sarira. Prabu Salya enggal anyandhak dhuwungipun ingkang putra kalih pisan. Angrangkul sarta amuwun. Pangandikanipun, "Wis aja nangis, sanadyan aku wis katrucut saguh dadi senapati, ing batin banget tresnaku marang kowe, karana aku wis ora duwe anak lanang. Anakku si Burisrawa lan si Rukmarata wis padha mati ing perang Bratayuda, dadi ing mengko mung kowe kang wajib duwe negaraku ing Mandaraka. Dene wekasku, sesuk yen aku maju ing perang, kakangmu si Yudhisthira bae konen mapagake perangku, sarta jimate kang aran Kalimausada, iku konen manahake marang aku, amesthi ing kono patiku. Yen liya saka ing iku, gegaman liyane dakkira ora nana kang tumama ing awakku, lan nora nana kang bisa angalahake ajiku Candhabirawa; karana kalane ing biyen aku mateni maratuwaku aran Bagawan Bagaspati, iku nuli ana swara, ujaring swara, "Heh, Salya besuk ing Perang Bratayuda, yen ana ratu ambek pandhita, sarta duwe jimat Kalimausada, ing kono aku males marang kowe. Sarta aku ditinggali Aji Candhabirawa. Amung wekasku marang kowe, yen aku wis mati, nagara ing Mandaraka bae mangsa bodhoa kowe. Wis kowe nuli muliha!" Raden Nakula saha Sadewa sangsaya sanget anggenipun muwun, lajeng pamit mantuk. Samargi-margi mboten kendel angusapi eluh. Sadhatengipun ing pasanggrahan, lajeng sowan ingkang Raka Prabu Yudhisthira, tuwin Prabu Kresna, Wrekodara, Janaka. Raden Nakula saha Sadewa lajeng matur ing sawewelingipun Prabu Salya. Prabu Yudhisthira sakaliyan Arjuna sareng midhanget lajeng<noinclude>{{rh|||127}}</noinclude> csmwlqodr6cq8amiybvo7z31gj0dvl8 Kaca:Bratayuda.pdf/124 250 24883 78174 2026-05-16T08:52:23Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78174 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sami muwun, welas dhateng Prabu Satya. Prabu Kresna akaliyan Wrekodara sami gumujeng, sarta anglirik dhateng Prabu Yudhisthira, sabab salaminipun gesang, Prabu Yudhisthira punika dereng nate duka, saha dereng nate anyakitaken manahing tiyang, mangka ing mangke badhe anglampahi mejahi Prabu Salya. Kacariyos malih pasanggrahan ing Mandaraka, garwanipun Prabu Satya, anama Dewi Setyawati, anglangkungi ayunipun, sarta prakati, saged angladosi kakung, sarta pantes ing salelewanipun. Sampun patutan gangsal, ingkang jaler kekalih, anama Raden Burisrawa akaliyan Rukmarata, nanging sampun sami pejah ing Perang Bratayuda. Putranipun estri tiga, satunggil kagarwa dhateng Prabu Suyudana, satunggil kagarwa ing Prabu Karna, satunggilipun kagarwa ing Prabu Baladewa ing Mandura. Ing sapengkeripun Raden Nakula sarta Sadewa, Dewi Setyawati sanget anggenipun muwun, anetah dhateng ingkang raka, dene ambelakakaken isarat ingkang badhe adamel ing sedanipun, mboten angowel sariranipun, sarta putra-putranipun estri, amilalah kapenakanipun. Dewi Setyawati badhe suduk sarira, Prabu Salya enggal anyandhak patremipun ingkang Rayi, sarta anyerepaken ingkang dados karsanipun. Lajeng dipun ngungrum, kabekta dhateng ing pasarean. Sareng ing bangun enjing ingkang gatwa kapatos anggenipun sare, abantal astanipun ingkang raka, sarta paningsetipun dipun tindhihi ingkang sapalih. Prabu Satya alan andudut astanipun, paningsetipun lajeng katigas ing dhuwung. Nunten tumedhak lirih, ingkang garwa lajeng dipun apit ing guling, sarta payudaranipun kaseselan ing golek kancana, sarta kawicantenaken, "lbu, si Bapak lunga perang." Prabu Salya lajeng tedhak ing jawi, aningali srengenge sampun malethek. Balanipun sampun pepak , nunten wangsul angrangkul sarta angarasi ingkang garwa. Pangandikanipun, "Nimas, karia sare, aku pamit perang." Anggenipun ngandika makaten punika sarwi amegeng waspa.<noinclude>{{rh|128}}</noinclude> amo6k7vu994ko82hfjx8f4rias4cljt Kaca:Bratayuda.pdf/126 250 24884 78175 2026-05-16T08:53:46Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78175 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Pandhawa surak gumerah, sarta ambyuk ambujeng mengsah. Korawa lumajeng ing sapurug-purug. Nanging kathah ingkang kacandhak pejah tuwin teluk. Patih Sangkuni kacandhak dhateng Raden Wrekodara, lajeng dipun sempal-sempal. Prabu Suyudana lajeng kondur dhateng pasanggrahanipun, sabala punggawa saha satriyanipun. Wonten bupati ing Mandaraka satunggil sampun sepuh, kataton kalanipun andherek Prabu Salya amedali perang, punika apratela dhateng Dewi Setyawati, yen ingkang raka seda wonten ing paprangan. Sareng dipun pratelani makaten, Dewi Setyawati lajeng kantu. Sasampuning enget, kekah ing karsa badhe ambelani ingkang raka, lajeng anitih :rata sarwi angasta patrem, kadherekaken ing parekan satunggil, anama Sugandini. Sumedya tindak dhumateng ing Kurusetra, angupadosi layonipun ingkang raka. Sareng andungkap dumugi ing Kurusetra, ratanipun remuk, dados kapeksa tindak dharat angupadosi layoning raka. Dangudangu pinanggih, Dewi Setyawati enggal angunus patrem. Katamakaken ing jajanipun, lajeng seda. Parekan ingkang nama sugandini inggih suduk sarira, ambelani gustinipun. Anunten para dewa saha para widadari sami angiring nyawanipun Prabu Salya, akaliyan nyawanipun Dewi Setyawati dhumateng ing Suralaya. Wonten ing ngriku sami pikantuk kanugrahaning swarga. <ol type="1", start="9"> <li>'''SUYUDANA PERANG KALIYAN WREKODARA. PANDHAWA LUMEBET DHATENG NGASTINA'''</li> </ol> Kacariyos Prabu Suyudana, sabedhahipun nagari ing Ngastina, saking mirisipun asingidan wonten sungapaning saganten, angedhem ing toya. Ananging katitik pasingidanipun dening bala Pandhawa. Lajeng kapratelakaken dhumateng Prabu Yudhisthira, saha dhumateng Prabu Kresna. Anunten sami bidhal sabalanipun.<noinclude>{{rh|130}}</noinclude> 5gvsjglo70ia83df9oi4b4h593qtmf3 78398 78175 2026-05-16T10:29:24Z Suga Widi 1719 /* Absah */ 78398 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Pandhawa surak gumerah, sarta ambyuk ambujeng mengsah. Korawa lumajeng ing sapurug-purug. Nanging kathah ingkang kacandhak pejah tuwin teluk. Patih Sangkuni kacandhak dhateng Raden Wrekodara, lajeng dipun sempal-sempal. Prabu Suyudana lajeng kondur dhateng pasanggrahanipun, sabala punggawa saha satriyanipun. Wonten bupati ing Mandaraka satunggil sampun sepuh, kataton kalanipun andherek Prabu Salya amedali perang, punika apratela dhateng Dewi Setyawati, yen ingkang raka seda wonten ing paprangan. Sareng dipun pratelani makaten, Dewi Setyawati lajeng kantu. Sasampuning enget, kekah ing karsa badhe ambelani ingkang raka, lajeng anitih :rata sarwi angasta patrem, kadherekaken ing parekan satunggil, anama Sugandini. Sumedya tindak dhumateng ing Kurusetra, angupadosi layonipun ingkang raka. Sareng andungkap dumugi ing Kurusetra, ratanipun remuk, dados kapeksa tindak dharat angupadosi layoning raka. Dangudangu pinanggih, Dewi Setyawati enggal angunus patrem. Katamakaken ing jajanipun, lajeng seda. Parekan ingkang nama sugandini inggih suduk sarira, ambelani gustinipun. Anunten para dewa saha para widadari sami angiring nyawanipun Prabu Salya, akaliyan nyawanipun Dewi Setyawati dhumateng ing Suralaya. Wonten ing ngriku sami pikantuk kanugrahaning swarga. <ol type="1", start="9"> <li>'''SUYUDANA PERANG KALIYAN WREKODARA. PANDHAWA LUMEBET DHATENG NGASTINA'''</li> </ol> Kacariyos Prabu Suyudana, sabedhahipun nagari ing Ngastina, saking mirisipun asingidan wonten sungapaning saganten, angedhem ing toya. Ananging katitik pasingidanipun dening bala Pandhawa. Lajeng kapratelakaken dhumateng Prabu Yudhisthira, saha dhumateng Prabu Kresna. Anunten sami bidhal sabalanipun.<noinclude>{{rh|130}}</noinclude> 483hwihqubvc40woe19g8g875hn53si Kaca:Bratayuda.pdf/127 250 24885 78176 2026-05-16T08:55:05Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78176 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sadhatengipun wonten sungapaning saganten, bala Pandhawa sami sumerep ing solahipun Prabu Suyudana angedhem salebeting toya. Wrekodara anyumbari saking ing dharatan, sarta anguwusuwus, awit mboten prayogi yen ratu kawon perangipun lajeng singidan ajrih manawi pejah. Kapurih mentasa badhe kaajak perang tandhing. Prabu Suyudana sareng mireng enggal mentas saking toya, reyab-reyab sarta kalebus, anjujug ing ngarsane Prabu Kresna. Prabu Kresna anantun, punapa purun kaaben perang tandhing kaliyan Wrekodara. Wangsulanipun Suyudana inggih purun. Prabu Kresna parentah dhateng balanipun, kinen anyukani busana karajan dhateng Prabu Suyudana, sarta dedamel gada. Nunten kasaru rawuhipun Prabu Baladewa ing Mandura, saking tapa sangandhaping grojogan toya ageng. Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sasedherekipun enggal sami amethuk sarta ambagekaken. Sarta apratela, yen Prabu Baladewa mboten ameningi Perang Bratayuda, nanging badhe ameningi perang tandhingipun Wrekodara kaliyan Suyudana. Prabu Baladewa kaaturan ngidinana. Wangsulanipun Prabu Baladewa: mila enggal kondur saking pratapan awit dipun sanjangi dhateng Sanghyang Narada, yen badhe mboten ameningi Perang Bratayuda. Dene ing mangke inggih sumedya angidini dhateng ingkang badhe sami prang tandhing. Wondene Prabu Suyudana wau sareng aningali rawuhipun Prabu Baladewa, sakalangkung bingahing galihipun, cipta badhe wonten ingkang mitulungi ing sariranipun. Awit nagari Mandura punika kabawah ing nagari Ngastina, sarta Prabu Baladewa kadamel ratu andel-andeling perang. Sasampuning Prabu Suyudana angagem busana karajan, sarta angasta gada ageng, lajeng wiwit prang tandhing kaliyan Wrekodara. Arjuna maras ing galih, bilih ingkang raka kasoran prangipun. Enggal matur pitaken dhateng Prabu Kresna : sinten kang badhe kasoran prangipun. Prabu Kresna anyerepaken, sarta Arjuna kadhawahan angengetna dhateng Wrekodara, saking katebihan kemawon, yen {{hws|panga|panga}<noinclude>{{rh|||131}}</noinclude> 77ywmnbgd5spj2jsgx548ox6cmzoown 78177 78176 2026-05-16T08:55:19Z Elcamatcha 1466 78177 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sadhatengipun wonten sungapaning saganten, bala Pandhawa sami sumerep ing solahipun Prabu Suyudana angedhem salebeting toya. Wrekodara anyumbari saking ing dharatan, sarta anguwusuwus, awit mboten prayogi yen ratu kawon perangipun lajeng singidan ajrih manawi pejah. Kapurih mentasa badhe kaajak perang tandhing. Prabu Suyudana sareng mireng enggal mentas saking toya, reyab-reyab sarta kalebus, anjujug ing ngarsane Prabu Kresna. Prabu Kresna anantun, punapa purun kaaben perang tandhing kaliyan Wrekodara. Wangsulanipun Suyudana inggih purun. Prabu Kresna parentah dhateng balanipun, kinen anyukani busana karajan dhateng Prabu Suyudana, sarta dedamel gada. Nunten kasaru rawuhipun Prabu Baladewa ing Mandura, saking tapa sangandhaping grojogan toya ageng. Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sasedherekipun enggal sami amethuk sarta ambagekaken. Sarta apratela, yen Prabu Baladewa mboten ameningi Perang Bratayuda, nanging badhe ameningi perang tandhingipun Wrekodara kaliyan Suyudana. Prabu Baladewa kaaturan ngidinana. Wangsulanipun Prabu Baladewa: mila enggal kondur saking pratapan awit dipun sanjangi dhateng Sanghyang Narada, yen badhe mboten ameningi Perang Bratayuda. Dene ing mangke inggih sumedya angidini dhateng ingkang badhe sami prang tandhing. Wondene Prabu Suyudana wau sareng aningali rawuhipun Prabu Baladewa, sakalangkung bingahing galihipun, cipta badhe wonten ingkang mitulungi ing sariranipun. Awit nagari Mandura punika kabawah ing nagari Ngastina, sarta Prabu Baladewa kadamel ratu andel-andeling perang. Sasampuning Prabu Suyudana angagem busana karajan, sarta angasta gada ageng, lajeng wiwit prang tandhing kaliyan Wrekodara. Arjuna maras ing galih, bilih ingkang raka kasoran prangipun. Enggal matur pitaken dhateng Prabu Kresna : sinten kang badhe kasoran prangipun. Prabu Kresna anyerepaken, sarta Arjuna kadhawahan angengetna dhateng Wrekodara, saking katebihan kemawon, yen {{hws|panga|pangapesipun}}<noinclude>{{rh|||131}}</noinclude> 70bem2p8p81a4u88hcgf9nqfhqmrr85 Kaca:Bratayuda.pdf/128 250 24886 78178 2026-05-16T08:56:54Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78178 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|pesipun|pangapesipun}} Prabu Suyudana wonten pupunipun kang kiwa. Arjuna enggal anyaketi ing sawetawis kang aprang tandhing. Arjuna angejepi sarwi anampel wentisipun kang kiwa. Wrekodara sakedhap aningali pamangsitipun ingkang rayi, sampun anampeni, enggal ngangseg prangipun sumedya ngruket. Suyudana kewedan, sumedya ngoncati amapan kang omber. Lajeng milar, sinarengan sinabet ing gada dhateng Wrekodara, kenging wentisipun kiwa. Suyudana ambruk, lajeng pinupuh ing gada, jinambak sarta dhinupakan dhateng Wrekodara. Prabu Baladewa sanget murina ing galih, awit pamalanipun Wrekodara sawenang-wenang, mboten angangge caraning prang ratu. Enggal anyandhak nengga1a, kaayataken dhateng Wrekodara. Prabu Kresna sareng aningali, gugup ing galih, enggal anyandhak nanggalanipun Prabu Baladewa, sarwi matur ngrarapu, sampun ngantos andahweni ing solahipun Wrekodara. Mila amanggih pejah siya-siya makaten, awit Prabu Suyudana punika kenging ipat-ipating Bagawan Mentriya, kaliyan kenging panedhanipun Dewi Drupadi. Sabab Dewi Drupadi wau kala rumiyin siniyasiya, dados Wrekodara punika dremi amalesaken. Prabu Baladewa sampun lilih galihipun, lajeng kaaturan angrumiyinana lumebet dhateng nagari Ngastina. Prabu Baladewa inggih lajeng amiturut ing aturipun ingkang Rayi Prabu Kresna. Sapengkeripun Prabu Baladewa, Wrekodara andumugekaken ing sakarsanipun nggening darnel sawenang-wenang dhateng Suyudana. Sareng Suyudana sampun remuk badanipun lajeng anyuwara mboten purun pejah yen dereng atapakan sirahing Pandhawa. Nanging swara wau mboten kapaelu dhateng Wrekodara. Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira, Wrekodara sabalanipun nunten sami wangsul dhateng ing pasanggrahan. Jisimipun Suyudana katilar wonten ing ngriku. Kala samanten Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira dereng karsa lumebet dhateng nagari Ngastina. Saben ing wanci dalu sami mider-mider ing tilas papan paprangan, tuwin ing wana sarta ing redi. Kacariyos wonten putranipun jaler Pandhita Druna satunggil,<noinclude>{{rh|132}}</noinclude> ak92ky7r1okb206zxxsmky5o31bvj0s Kaca:Bratayuda.pdf/129 250 24887 78179 2026-05-16T08:58:16Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78179 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>anama Aswatama; punika kalanipun taksih salebeting prang Bratayuda, apadudon kaliyan Prabu Salya, meh dados pancakara. Nanging Prabu Suyudana angleresaken Prabu Salya. Aswatama sakit manahipun, lajeng kesah tapa wonten satengahing wana. Bedhahipun nagari ing Ngastina Aswatama mboten sumerep. Kala samanten Aswatama sanget kaget kadhatengan garwanipun Prabu Suyudana, sarta santana ing Ngastina kekalih, anama Karpa kaliyan Kartamarma. Sarni sanjang yen ing Ngastina sampun bedhah, Prabu Suyudana ical satengahing paprangan, mboten kantenan pejah gesangipun. Aswatama ngeres manahipun, awelas dhateng Prabu Suyudana, dptanipun badhe ambeiani ing kasusahan. Lajeng mangkat saking wana, alampah pandung, sumedya anyidra para pangagenging Pandhawa. Karpa, Kartamarma inggih tumut. Sadum:uginipun ing pasanggrahan ing wanci dalu, Prabu Kresna pinuju kesah mider-mider. Prabu Yudhisthira saseduluripun gangsal inggih sami andherek. Aswatama wau lajeng anjujug pasanggrahanipun Drusthajumena kaliyan Dewi Srikandhi. Kalih pisan sampun sami katigas jangganipun. Ing pasanggrahan geger sarta tangis gumerah. Aswatama lajeng ngamuk angagem jemparing latu, kathah angsalipun pepejah. Raden Pancawala, putranipun jaler Prabu Yudhisthira, tumunten wungu, amethukaken pangamukipun Aswatama, dangu sami alancaran jemparing. Pancawala kasoran, sampun pejah amargi dipun jemparing. Aswatama tuwin Karpa punapa dene Kartamarma, tumunten sami mundur dhateng ing wana malih. Sareng wanci byar Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira saseduluripun sarrii rawuh ing pasanggrahan. Kaget mireng swaraning tangis gumerah. Lajeng kapratelan, yen Pancawala kalih Drusthajumena, tiga Dewi Srikandhi, sami pejah, amargi dipun cidra dhateng Aswatama. Prabu Yudhisthira saseduluripun lajeng sami muwun sarta sanget prihatos. Prabu Kresna tansah amituturi supados sampun ngantos sami sanget prihatos, awit ingkang sami pejah wau sampun<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude> ew708hwga9fpmax9aqp19xmddaawg1n Kaca:Bratayuda.pdf/130 250 24888 78180 2026-05-16T08:59:57Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78180 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>kalebet ing pepesthenipun piyambak. Anunten sami kaget ing rawuhipun Bagawan Abiyasa, ingkang Eyang Prabu Yudhisthira. mBoten wonten ingkang sumerep ing sangkanipun, awit Bagawan Abiyasa wau sampun gentur ing tapanipun, sampun prasasat dewa. Ingkang sami muwun lajeng sirep. Enggal sami ngabekti dhateng ingkang saweg rawuh. Bagawan Abiyasa nunten amituturi dhateng para wayahipun kang sami prihatos, sami angicalna ing prihatosipun, awit tanpa damel yen kagaliha, sarta sampun kalebet ing pepesthenipun. Kaliyan sami kapurih angestokna sarta anglampahana sabarang parentahipun Prabu Kresna, amesthi badhe amanggih kamulyaning pejah. Balik ingkang mboten sami anglampahi, saestu badhe manggih sangsaraning pejah, sabab Prabu Kresna punika titisipun Bathara Wisnu, mila prayogi yen dipun enuta. Sanajan dewa ing Suralaya inggih ugi mboten wonten purun ambadali ing parentahipun Bathara Wisnu. Para wayah tuwin kang sami prihatos wau, ing sakala sami ical ing kaprihatosipun. Bagawan Abiyasa lajeng pamit, musna saking ing ngriku. Anunten wonten bala kang amratelakaken ing panggenanipun Aswatama, wonten ing dhukuh satengahing wana; Karpa kaliyan Kartamarma inggih tumut wonten ing ngriku. Prabu Kresna sarta Prabu Yudhisthira lajeng bidhalan sabalanipun, sumedya anglurugi Aswatama. Dhukuh pratapanipun Aswatama sampun kinepang sarta sinurakan. Aswatama, Karpa, Kartamarma sami medal amethukaken perang. Aswatama angayataken jemparing, anama Cundhamanik, wasiyat saking bapakipun kang nama Pandhita Druna. Sareng kawawas medallatu ageng. Prabu Kresna enggal ngatag dhateng Arjuna, anangkisa jemparing latu wau. Arjuna lajeng amawas jemparing Pasopati. Inggih medal latu ageng, atempuh sami latu. Saking agengjng latu urubipun sundhul ing Suralaya. Para dewa sami kagegeran. Bathara Guru enggal angutus Sanghyang Narada, andhawahaken deduka dhateng kang perang, awit purun-purun amedalaken jemparing latu. Sanghyang Narada nunten tumurun. Ingkang<noinclude>{{rh|134}}</noinclude> 37sftytl5gwyhvelmqp5woj6pthxpj8 78380 78180 2026-05-16T10:09:26Z Devi 4340 509 /* Absah */ 78380 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" /></noinclude>kalebet ing pepesthenipun piyambak. Anunten sami kaget ing rawuhipun Bagawan Abiyasa, ingkang Eyang Prabu Yudhisthira. mBoten wonten ingkang sumerep ing sangkanipun, awit Bagawan Abiyasa wau sampun gentur ing tapanipun, sampun prasasat dewa. Ingkang sami muwun lajeng sirep. Enggal sami ngabekti dhateng ingkang saweg rawuh. Bagawan Abiyasa nunten amituturi dhateng para wayahipun kang sami prihatos, sami angicalna ing prihatosipun, awit tanpa damel yen kagaliha, sarta sampun kalebet ing pepesthenipun. Kaliyan sami kapurih angestokna sarta anglampahana sabarang parentahipun Prabu Kresna, amesthi badhe amanggih kamulyaning pejah. Balik ingkang mboten sami anglampahi, saestu badhe manggih sangsaraning pejah, sabab Prabu Kresna punika titisipun Bathara Wisnu, mila prayogi yen dipun enuta. Sanajan dewa ing Suralaya inggih ugi mboten wonten purun ambadali ing parentahipun Bathara Wisnu. Para wayah tuwin kang sami prihatos wau, ing sakala sami ical ing kaprihatosipun. Bagawan Abiyasa lajeng pamit, musna saking ing ngriku. Anunten wonten bala kang amratelakaken ing panggenanipun Aswatama, wonten ing dhukuh satengahing wana; Karpa kaliyan Kartamarma inggih tumut wonten ing ngriku. Prabu Kresna sarta Prabu Yudhisthira lajeng bidhalan sabalanipun, sumedya anglurugi Aswatama. Dhukuh pratapanipun Aswatama sampun kinepang sarta sinurakan. Aswatama, Karpa, Kartamarma sami medal amethukaken perang. Aswatama angayataken jemparing, anama Cundhamanik, wasiyat saking bapakipun kang nama Pandhita Druna. Sareng kawawas medal latu ageng. Prabu Kresna enggal ngatag dhateng Arjuna, anangkisa jemparing latu wau. Arjuna lajeng amawas jemparing Pasopati. Inggih medal latu ageng, atempuh sami latu. Saking agenging latu urubipun sundhul ing Suralaya. Para dewa sami kagegeran. Bathara Guru enggal angutus Sanghyang Narada, andhawahaken deduka dhateng kang perang, awit purun-purun amedalaken jemparing latu. Sanghyang Narada nunten tumurun. Ingkang<noinclude>{{rh|134}}</noinclude> nv8h3n4vw9wka5t508rnxk2y90foqj7 Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/1 250 24889 78353 2026-05-16T09:49:12Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78353 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{x-larger|DJANGKA}}<br>{{xxx-larger|'''RANGGAWARSITAN'''}}}} {{c|[[File:Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop).jpg|200px|Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop)]]}} {{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT}} {{c|"KULAWARGA BRATAKESAWA" JOGJAKARTA}}<noinclude></noinclude> 8375ctla9mdej05p933rs9lndmoc6hs 78354 78353 2026-05-16T09:49:28Z Elcamatcha 1466 78354 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{x-larger|DJANGKA}}<br>{{xxx-larger|'''RANGGAWARSITAN'''}}}} {{c|[[File:Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop).jpg|200px|Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop)]]}} {{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT}} {{c|'''"KULAWARGA BRATAKESAWA" JOGJAKARTA'''}}<noinclude></noinclude> 2fr3u6s4iogxgjmuz8zt4e5paegqckg 78355 78354 2026-05-16T09:49:43Z Elcamatcha 1466 78355 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{x-larger|'''DJANGKA'''}}<br>{{xxx-larger|'''RANGGAWARSITAN'''}}}} {{c|[[File:Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop).jpg|200px|Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop)]]}} {{c|'''I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT'''}} {{c|'''"KULAWARGA BRATAKESAWA" JOGJAKARTA'''}}<noinclude></noinclude> genci60uituv4z5voonz5s6kiishwwu Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/3 250 24890 78357 2026-05-16T09:55:01Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78357 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|DJANGKA<br>{{xx-larger|RANGGAWARSITAN}}}}<br> {{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT'''}} {{c|-----}} {{c|Ingkang ngimpun lan njukani<br>tjéntangan<br>B.K.}} {{c|============<br>Tjap2-an III - 1959<br>============}} {{c|Penerbit<br>KULAWARGA BRATAKÉSAWA<br>Jogjakarta}} {{c|_____}}}}<noinclude></noinclude> 4ynlrprdzgo3vid6jb5ms7e7ke5skpz 78358 78357 2026-05-16T09:55:28Z Elcamatcha 1466 78358 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|DJANGKA<br>{{xx-larger|RANGGAWARSITAN}}}}<br> {{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT'''}} {{c|-----}} {{c|Ingkang ngimpun lan njukani<br>tjéntangan<br>B.K.}} {{c|-------------<br>Tjap2-an III - 1959<br>--------------}} {{c|Penerbit<br>KULAWARGA BRATAKÉSAWA<br>Jogjakarta}} {{c|_____}}<noinclude></noinclude> 2g6offz9qd4997xizhuvdigyjnhq0pp Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/4 250 24891 78359 2026-05-16T09:58:48Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78359 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|Supaja paḏa émut<br>amawasa mbéndjang djroning taun<br>windu kuning kono ana wéwé putih<br>gagamané tebu wulung<br>arsa angrabasèng weḏon<br>("Sabda-Tama" pada 15)}} {{r|Tjap2-an<br>I Djuli 1957<br>II Pebr. 1958<br>III Maret 1959}}<noinclude></noinclude> 7fgcvfb5f3lih6hibxl6x01a3dhwr2i Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/6 250 24892 78375 2026-05-16T10:04:33Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78375 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>prana pranawa (pakerti), sahingga ing ngatasing kapitajan marang Kedjatèn mau wus ora bakal was sumelang manèh kanjatahané. Mangka ija anané Pustaka Djamus Kalima Usada iku kang duk ing kuna kinarja kukum-kukuming Agama Budha, jaiku anané kukuming kahanan iki kang angesthi ing Kedjatèné, mengku ing teteping kahanan sedjati kang Suktji Mulya Wisésa, jaiku mangka kanjatahané awit anané asmaning Dat Kang Maha Suktji, Kang Maha Mulya ija Kang Maha Wisésà mau. Ora lija sun pepinta ing Déwa Luwih, muga-muga babaré wewarah iki dadija batuwah ing rèh kukum-kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonesia), sarta dadija wewengan marang sakèhing para Budhi kang padha mungkul ing Kedjatèné. {{r|KI MARDIBUDHI}} ::Katiti rampunging tulis Tinengeran ing Katonggopethik (Madiun) 27 Nanda (Pasa) 1890 Senen Legi 27, wuku Djulung- pudjud windu Senghara. 12 Masra Djita 1835. 6 April 1959. {{c|_______}}<noinclude></noinclude> ix6oxrsmflo0978k5hqzdhghtk6koz5 78376 78375 2026-05-16T10:04:54Z Elcamatcha 1466 78376 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>prana pranawa (pakerti), sahingga ing ngatasing kapitajan marang Kedjatèn mau wus ora bakal was sumelang manèh kanjatahané. Mangka ija anané Pustaka Djamus Kalima Usada iku kang duk ing kuna kinarja kukum-kukuming Agama Budha, jaiku anané kukuming kahanan iki kang angesthi ing Kedjatèné, mengku ing teteping kahanan sedjati kang Suktji Mulya Wisésa, jaiku mangka kanjatahané awit anané asmaning Dat Kang Maha Suktji, Kang Maha Mulya ija Kang Maha Wisésà mau. Ora lija sun pepinta ing Déwa Luwih, muga-muga babaré wewarah iki dadija batuwah ing rèh kukum-kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonesia), sarta dadija wewengan marang sakèhing para Budhi kang padha mungkul ing Kedjatèné. {{r|KI MARDIBUDHI}} :Katiti rampunging tulis <poem>Tinengeran ing Katonggopethik (Madiun) 27 Nanda (Pasa) 1890 Senen Legi 27, wuku Djulung- pudjud windu Senghara. 12 Masra Djita 1835. 6 April 1959.</poem> {{c|_______}}<noinclude></noinclude> ksj7ixoyjpabk4pz94sxk6l0waw5v5j Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/9 250 24893 78377 2026-05-16T10:06:57Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78377 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |Tjethanė manawa ngaurip kita iki padha ngaweruhi lan mituhu Sa-Dat sawidji ija Sa-Dat Tunggal kasebut mau, ija iku sedjatiné kang amengku srana utawa usadané pantjadrijaning urip kang anggajuh ing kamulyané. Awit tingaling pramana bandjur pranawa (padhang), ora kasamaran ing pangawikan kang mengaku ing kawaskithan lan kawitjaksanan kang animpuni. |Mula anané kawruh-kawruh ing Sastra Hardjèndra kasebut ing nguni sinengker dadi kekeraning para Djiwata, ora kena kengis ing ngakèh. Ananging sawusé iku bandjur wus kawedhar klawan tumangkaré serat-serat Wédha, utawa Pustaka-Pustaka kinarja batuwah ing rèh kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonésia) wiwit ing djaman Kadéwatan sahingga turun-tumurun tumekané djaman Madjapahit kang wekasan (Madjapahit VIII) ija Sri Brawidjaja kang kaping V. |Ing mangko anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau bakal sun wedharaké ing babaré lan tumangkaré sawidji-widji klawan premati, dadija batuwah ing rèh kukuming Agama Budha, kang amengku wisésa ing sesantining panggajuh:,,MAHA- JU RAHAJUNING BUDHI MIWAH BAWANA". Mangka sapaa kang tjidra ing laku asalah guna ing rèhing wewawarah-wewarah iki anemaha ing ila-ila déning wisésaning Agama Budha kang wus ginelar déning Hyang Sjiwah Budja (Sjiwa Budha) ing nguni ing purwa kala.}} Hong mangartjana maswaha,<br>Sang Hyang Haju, Haju, Haju, Haju, su Rahaju. {{r|Katandha déning kang anidhikara<br>ing pudya samadi:<br><br> KI MARDIBUDHI}} {{c|_____}}<noinclude></noinclude> 919dgwe59hrz0wum5qevb5hv1a8k3k4 78378 78377 2026-05-16T10:07:16Z Elcamatcha 1466 78378 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12 |Tjethanė manawa ngaurip kita iki padha ngaweruhi lan mituhu Sa-Dat sawidji ija Sa-Dat Tunggal kasebut mau, ija iku sedjatiné kang amengku srana utawa usadané pantjadrijaning urip kang anggajuh ing kamulyané. Awit tingaling pramana bandjur pranawa (padhang), ora kasamaran ing pangawikan kang mengaku ing kawaskithan lan kawitjaksanan kang animpuni. |Mula anané kawruh-kawruh ing Sastra Hardjèndra kasebut ing nguni sinengker dadi kekeraning para Djiwata, ora kena kengis ing ngakèh. Ananging sawusé iku bandjur wus kawedhar klawan tumangkaré serat-serat Wédha, utawa Pustaka-Pustaka kinarja batuwah ing rèh kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonésia) wiwit ing djaman Kadéwatan sahingga turun-tumurun tumekané djaman Madjapahit kang wekasan (Madjapahit VIII) ija Sri Brawidjaja kang kaping V. |Ing mangko anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau bakal sun wedharaké ing babaré lan tumangkaré sawidji-widji klawan premati, dadija batuwah ing rèh kukuming Agama Budha, kang amengku wisésa ing sesantining panggajuh:,,MAHA- JU RAHAJUNING BUDHI MIWAH BAWANA". Mangka sapaa kang tjidra ing laku asalah guna ing rèhing wewawarah-wewarah iki anemaha ing ila-ila déning wisésaning Agama Budha kang wus ginelar déning Hyang Sjiwah Budja (Sjiwa Budha) ing nguni ing purwa kala.}} ::Hong mangartjana maswaha,<br>Sang Hyang Haju, Haju, Haju, Haju, su Rahaju. {{r|Katandha déning kang anidhikara<br>ing pudya samadi:<br><br> KI MARDIBUDHI}} {{c|_____}}<noinclude></noinclude> afcwnmbctkmdmcm7ov2b0ygfzs6thwz Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/8 250 24894 78379 2026-05-16T10:08:05Z Elcamatcha 1466 /* Titiwaca */ 78379 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |Djamus tegesé jaiku: ireng meles utawa ireng mulus. |Kalima-Usada tegesé jaiku: srana utawa ija usada (lelima) kang amrih mulyaning kauripanè manungsa limang praka- ra kang kadrija (karasakaké ing djroning kalbu), jaiku ka- uripaning pantjadrijané. |Dadi mungguh arané usada utawa srananing urip limang prakara mau, jaiku musthika utawa ija pustaka kang ireng mulus, werdiné ateges peteng ananging katon padhang ne- rawang ing paningaling prana pranawa, jaiku werdiné ana- né kahanan ing kawruh kang samar utawa gaib. Lah, ija- iku gaibing Kedjaten, utawa ijaiku kahanan sedjati djat- ing gelar. Dadi tjethané bab kasebut iku, dudu ireng utawa peteng kang tumrap sabarang wudjud kang katon gelar kang njata, ananging jaiku wudjuding kahanan kang amung bisa tinonton déning paningaling kawruh-kawruh le- lungit baé. |Lah jaiku werdiné kang diarani kawruh-kawruhing urip se- djati, dumununging Sastra Dharja, Dharja tegesé Budhi, karepé jaiku wudjuding tulis kang tanpa papan, ananging anané amung kinantjing ing sadjroning budhi premati. |Sabandjuré mungguh babaré lan tumangkaré anané kawruh- kawruh Kedjatèn kang bakal kawedhar iki maturut-turut, ambabaraké wewarah-wewarahing kawruh Kedjatening Sa- Dat Tunggal kasebut mau kang mangka dadija rèh ing ku- kuming urip bèrbudhi, mangka ijaiku sedjatinė Kalima Usa- da kang mengku dadi usadaning pantjadrija ija pantjadri- janing uripé manungsa iki kang sedjatiné. Mula ija mung- guh anané kawruh-kawruh ing Kedjatèning Sa-Dat Tung- gal kang mengku ing rèh kukuming urip bèrbudhi mau, werdiné jaiku anané kukum lakuning urip kang anetepi ing saha-Daté, utawa ija laku esthining urip ing pangèsthi Tung- gal, anunggal Dating Pangéran Kang Maha Suktji, |Anuli mungguh wewedharaning wewarah mangko, kasurasa katjundhukaké klawan surasa-surasaning Pustaka Dharja, surasa-surasaning Djita-Absara (Djitabsara), ing Sastra Har- djèndra lan sapepadhané. Kasebut ing dalem Sastra Har- djèndra ija anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau manawa wus kinawruhan ing Kedjatèné, sajekti hajuningrat, tegesé rahaju djagade. Unggahe diarani Sastra Tjetha, tegesé ka- lepasane kawaskithan, satuhune hamardikengrat, jaiku mar- dika dumunung ing pepidjèning djagad, awit wus ora ka- samaran marang sangkan-paraning dumadi.<noinclude>{{rh|6}}</noinclude> 03k03wojy946z8dr01yg25qz926nrk1 78381 78379 2026-05-16T10:09:35Z Elcamatcha 1466 78381 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6 |Djamus tegesé jaiku: ireng meles utawa ireng mulus. |Kalima-Usada tegesé jaiku: srana utawa ija usada (lelima) kang amrih mulyaning kauripanè manungsa limang prakara kang kadrija (karasakaké ing djroning kalbu), jaiku kauripaning pantjadrijané. |Dadi mungguh arané usada utawa srananing urip limang prakara mau, jaiku musthika utawa ija pustaka kang ireng mulus, werdiné ateges peteng ananging katon padhang nerawang ing paningaling prana pranawa, jaiku werdiné anané kahanan ing kawruh kang samar utawa gaib. Lah, ijaiku gaibing Kedjaten, utawa ijaiku kahanan sedjati djating gelar. Dadi tjethané bab kasebut iku, dudu ireng utawa peteng kang tumrap sabarang wudjud kang katon gelar kang njata, ananging jaiku wudjuding kahanan kang amung bisa tinonton déning paningaling kawruh-kawruh lelungit baé. |Lah jaiku werdiné kang diarani kawruh-kawruhing urip sedjati, dumununging Sastra Dharja, Dharja tegesé Budhi, karepé jaiku wudjuding tulis kang tanpa papan, ananging anané amung kinantjing ing sadjroning budhi premati. |Sabandjuré mungguh babaré lan tumangkaré anané kawruh-kawruh Kedjatèn kang bakal kawedhar iki maturut-turut, ambabaraké wewarah-wewarahing kawruh Kedjatening Sa-Dat Tunggal kasebut mau kang mangka dadija rèh ing kukuming urip bèrbudhi, mangka ijaiku sedjatinė Kalima Usada kang mengku dadi usadaning pantjadrija ija pantjadrijaning uripé manungsa iki kang sedjatiné. Mula ija mungguh anané kawruh-kawruh ing Kedjatèning Sa-Dat Tunggal kang mengku ing rèh kukuming urip bèrbudhi mau, werdiné jaiku anané kukum lakuning urip kang anetepi ing saha-Daté, utawa ija laku esthining urip ing pangèsthi Tunggal, anunggal Dating Pangéran Kang Maha Suktji, |Anuli mungguh wewedharaning wewarah mangko, kasurasa katjundhukaké klawan surasa-surasaning Pustaka Dharja, surasa-surasaning Djita-Absara (Djitabsara), ing Sastra Hardjèndra lan sapepadhané. Kasebut ing dalem Sastra Hardjèndra ija anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau manawa wus kinawruhan ing Kedjatèné, sajekti hajuningrat, tegesé rahaju djagade. Unggahe diarani Sastra Tjetha, tegesé kalepasane kawaskithan, satuhune hamardikengrat, jaiku mardika dumunung ing pepidjèning djagad, awit wus ora kasamaran marang sangkan-paraning dumadi.}}<noinclude>{{rh|6}}</noinclude> bglwx1hj3dhnltg6qxzyg1s0w075rzs Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ ꦧꦸꦧꦸꦏꦲꦒꦩꦶꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦗꦶꦭꦶꦢ꧀ I.pdf/8 250 24895 78391 2026-05-16T10:18:55Z Suga Widi 1719 proses titiwaca 78391 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PROSES UJI BACA<noinclude></noinclude> op7f1qusjzha70kgexzsr0se3ovkcvy Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦧꦧꦢ꧀ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦑ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀.pdf/5 250 24896 78392 2026-05-16T10:24:44Z Devi 4340 509 /* Titiwaca */ 78392 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br> ꧋ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁ​ꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀​ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br> ꧋ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude> i3sew4vebr2dldk8m4kcim40nfwn8so 78394 78392 2026-05-16T10:25:19Z Devi 4340 509 78394 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br>꧋ ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁ​ꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀​ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br>꧋ ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude> du882bq1nble9pmd8jkujyewrovh9gx 78395 78394 2026-05-16T10:26:31Z Devi 4340 509 78395 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦝꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br>꧋ ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁ​ꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀​ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br>꧋ ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude> h2fw8dqusxap5jbgn860227kseq5o4i 78396 78395 2026-05-16T10:27:03Z Devi 4340 509 Murungaké owahan [[Special:Diff/78395|78395]] déning [[Special:Contributions/Devi 4340|Devi 4340]] ([[User talk:Devi 4340|rembugan]]) 78396 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br>꧋ ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁ​ꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀​ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀​ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br>꧋ ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude> du882bq1nble9pmd8jkujyewrovh9gx