Wikisumber
jvwikisource
https://jv.wikisource.org/wiki/Wikisumber:Pendhapa
MediaWiki 1.47.0-wmf.2
first-letter
Médhia
Mirunggan
Parembugan
Naraguna
Parembugan Naraguna
Wikisumber
Parembugan Wikisumber
Barkas
Parembugan Barkas
MédhiaWiki
Parembugan MédhiaWiki
Cithakan
Parembugan Cithakan
Pitulung
Parembugan Pitulung
Kategori
Parembugan Kategori
Panganggit
Parembugan Panganggit
Kaca
Parembugan Kaca
Indhèks
Parembugan Indhèks
TimedText
TimedText talk
Modhul
Parembugan Modhul
Acara
Pembicaraan Acara
Kaca:Babad Prayud I.pdf/14
250
20025
78192
67609
2026-05-16T09:05:05Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78192
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>paginya diperbolehkan pulang ke Surakarta, dengan mengiringi
Ratu Bendara. Tidak lupa pesan-pesàn dan salam taklim bagi
para keluarga di Surakarta.
Tersebutlah Raja Surakarta, setelah putranya, Raden Mas
Suleman mangkat dalam usía 7 bulan, dan setelah 3 tahun kemudian Ratu Kencana tidak lagi berputra, hal ini sangat menggelisahkan beliau. Ternyata kesusahan hati itu menimbulkan
kebiasaan yang tidak baik, berjudi bersuka ria, dan hubungannya dengan Ratu Kencana semakin jauh. Hal ini berlarut-larut,
hingga menyebabkan perpecahan dalam istana. Sang Raja dikelilingi orang yang suka mengambil hati, dan berbuat yang tidak
selaras dengan kewajibannya. Demikian pula Ratu Kencana
bertindak keras dan sangat mencurigai gerak-gerik Sri Sunan.
Maka Sunan memerintahkan Adipati Mangkunagara untuk membawa keluar Ratu Kencana dari keraton. Dalam hai ini Adipati
Mangkunagara tidak bersedia. Dia memtyerikan pendapat, sebaiknya meminta bantuan pada Deler Ubrusi Semarang untuk mengatasi masalah tersebut. Sri Baginda setúju lalu mengutus Mantri
Pasliyun ke Semarang. Ternyata Deler bersedia dan memberikan
perintah pada Uprup Beiman supaya menghadap raja. Oleh raja
dijelaskan persoalannya, dan Uprup bersedia menjalankan perintah itu. Mendengar kesediaan tersebut raja sangat gembira.
Pada suatu hari tibalah saatnya memperoleh jalan untuk
dapat melaksanakan maksud tersebut. Seorang punggawa Suryanegara pada hari itu tidak mengikuti watangan, hai ini diketahui
oleh Ratu Kencana dari Sitinggil dan menimbulkan kemarahan
pada Sri Ratu. Beliau segera pulang lalu mengenakan pakaian
keprajuritan serta membawa senjata andalan dari Madura. Ratu
bermaksud minta pada baginda supaya Suryanagara dibunuh
pada malam hari itu juga. Jika tidak dipenuhi, maka Sri Ratu
lebih baik dikeluarkan dari istana saja. Permintaan tersebut oleh
Sri Baginda disanggupinya. Baginda segera meninggalkan istana
dan memberitahukan beberapa. pungggawa untuk segera menjalankan perintahnya, termasuk juga perintah yang diberikan
kepada Uprup Beiman.
Kemudian segera baginda beristirahat
di Loji. Demikian pula Ratu Maduretna telah diberitahu oleh<noinclude>{{rh|12}}</noinclude>
95nps46kr0nytgqkaksmlkbgig9gn1b
Kaca:Babad Prayud I.pdf/15
250
20026
78193
67610
2026-05-16T09:05:31Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78193
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>baginda bahwa putrinya (Ratu Kencana) menentang kumpeni.
Uprup Beiman masuk ke istana disertai beberapa prajurit dan
ajudannya. Para adipati menunggu di Srimanganti. Ratu Kencana siap di dalam menanti dengan tegang, selanjutnya setelah
berhadapan terjadilah dialog yang cukup sru, dan dengan tipuan
halus Ratu Kencana dapat dibawa ke luar istana, dan ditempatkan di tempat kediaman Pangeran Endranata. Keberhasilan upaya
ini sangat menggembirakan Sri Baginda, dan segera beliau bersiap
masuk kembali ke istana. Pada malam itu juga, beliau diantar
oleh para punggawa dan Uprup Beiman.
Pagi hari berikutnya Adipati Mangkunagara siap menghadap
Raja. Beliau bertitah bahwa akan mengutus Ki Patih dan Kyai
Pengulu, untuk menyampaikan talak pada Ratu Kencana. Hal
ini sudah menjadi keputusan yang tidak dapat dirobah lagi. Ratu
Kencana sangat sedih mendengar keputusan Raja, bahkan mengakibatkan kematian Ratu Maduretna karena malu dan sedih
memikirkan nasib putrinya.
Beberapa waktu kemudian, Deler Ubrus mengirimkan surat
pemberitahuan bahwa Wiratmeja memulai lagi gerakannya di
daerah Demak bagian timur. Segera Sri Baginda mengirim pasukan
untuk memerangi Wiratmeja, bersama-sama dengan pasukan dari
Yogyakarta. Pasukan Yogya bergerak dari arah timur dipimpin
oleh Rangga Prawiradirja, dan pasukan dari Surakarta dari arah
selatan. Setelah Wiratmeja mengetahui hai tersebut, ia segera
melarikan diri ke arah timur laut menuju Garobogan. Tumenggung
Sasranagara menyelinap dan menghadap dari depan, dan terjadilah peperangan serta banyak korban dari kedua belah pihak.
Wiratmeja menyelinap lagi melarikan diri, diburu Sasranagara,
dan selanjutnya diusahakan pencariannya oleh kedua pasukan,
dengan jalan apa pun asalkan tertangkap.
Raden Wiratmeja dalam pelariannya hanya diikuti oleh istri
dan delapan pengikutnya, bersembunyi di hutan, terlunta-lunta
kekurangan makan. Tumenggung Mangkuyuda dapat membujuk
bekas pengikut Raden Wiratmeja sebanyak tiga orang, mereka
bersedia untuk menangkap dan membunuhnya (dengan imbalan).
Penangkapan tersebut diatur dengan tipuan, yaitu surat perintah<noinclude>{{rh|||13}}</noinclude>
hqg604p3rfwyhl8ifpaqro6wlmbct9n
Kaca:Babad Prayud I.pdf/16
250
20027
78194
67611
2026-05-16T09:05:54Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78194
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>dari Mangkunagara pada (putranya) Wiratmeja yang menyarankan
mengikuti ajakan pembawa surat ini, untuk dicarikan tempat
persembunyian yang lebih baik. Selanjutnya mereka ini ditempatkan di Carewek padukuhan Kuwu. Suryamenggala kembali melaporkan kepada Mangkuyuda dan Jayanagara serta mohon petunjuk selanjutnya. Penangkapan akan dilaksanakan pada malam
hari, lalu Suryamenggala kembali memerintahkan untuk memasak bagi rombongan Pangeran Wiratmeja. Masakan yang menjadi kegeramarannya, yang enak-enak. Namun ternyata bahwa
seluruh masakan tersebut diurap dengan (tepung) kecubung.
Pada sore hari masakan yang sudah siap itu diantarkan ke Carewek. Pangeran Wiratmeja dengan istrinya senang sekali, dan
makan sepuas-puasnya.
Demikian pula halnya para pengikutnya yang sudah beberapa hari
tidak pernah makan nasi, (hanya makan jagung muda), maka
mereka merasa púas dan nikmat sekali akan makanan tersebut.
Pada petang harinya, kantuk tak tertahankan lagi tetapi hal ini
pun belum disadarinya. Mereka mempunyai anggapan bahwa
karena telah lama kurang makan, maka rasa kekenyangan ini
menimbulkan rasa kantuk yang tak dapat dicegah. Semua tertidur dengan pulas.
Maka pada malam hari itu Tumenggung Mangkuyuda dan
Jayanagara diantar oleh dua mantrinya, datang untuk menyergap/menangkap Wiratmeja. Wiratmeja yang sedang tidur pulas
di samping istrinya itu berhasil dibunuhnya. Kematian Wiratmeja menimbulkan suara yang gaduh sehingga para istri dan
pengikutnya terbangun. Di sini terjadilah keributan dan perkelahian, yang menyebabkan korban bagi para pengikut Wiratmeja. Semua pengikutnya tertangkap, hanya satu yang dapat
meloloskan din. Segera mereka dibawa
oleh Tumenggung Mangkuj
yuda menghadap Raja di Surakarta dan jenazah Wiratmeja dibawa serta. Tertangkapnya/terbunuhnya Wiratmeja sangat menggembirakan Raja dan kumpeni.
Syahdan tersebutlah di daerah pegunungan selatan (gunungkidul), seakan-akan penyakit yang dialaminya kambuh lagi.
Seluruh rakyat sepanjang pegunungan Selatan, bersatu {{hws|meng|<noinclude>{{rh|14}}</noinclude>
jazy7qc820yvnpbo3okece68tvsydpj
78195
78194
2026-05-16T09:06:08Z
Elcamatcha
1466
78195
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>dari Mangkunagara pada (putranya) Wiratmeja yang menyarankan
mengikuti ajakan pembawa surat ini, untuk dicarikan tempat
persembunyian yang lebih baik. Selanjutnya mereka ini ditempatkan di Carewek padukuhan Kuwu. Suryamenggala kembali melaporkan kepada Mangkuyuda dan Jayanagara serta mohon petunjuk selanjutnya. Penangkapan akan dilaksanakan pada malam
hari, lalu Suryamenggala kembali memerintahkan untuk memasak bagi rombongan Pangeran Wiratmeja. Masakan yang menjadi kegeramarannya, yang enak-enak. Namun ternyata bahwa
seluruh masakan tersebut diurap dengan (tepung) kecubung.
Pada sore hari masakan yang sudah siap itu diantarkan ke Carewek. Pangeran Wiratmeja dengan istrinya senang sekali, dan
makan sepuas-puasnya.
Demikian pula halnya para pengikutnya yang sudah beberapa hari
tidak pernah makan nasi, (hanya makan jagung muda), maka
mereka merasa púas dan nikmat sekali akan makanan tersebut.
Pada petang harinya, kantuk tak tertahankan lagi tetapi hal ini
pun belum disadarinya. Mereka mempunyai anggapan bahwa
karena telah lama kurang makan, maka rasa kekenyangan ini
menimbulkan rasa kantuk yang tak dapat dicegah. Semua tertidur dengan pulas.
Maka pada malam hari itu Tumenggung Mangkuyuda dan
Jayanagara diantar oleh dua mantrinya, datang untuk menyergap/menangkap Wiratmeja. Wiratmeja yang sedang tidur pulas
di samping istrinya itu berhasil dibunuhnya. Kematian Wiratmeja menimbulkan suara yang gaduh sehingga para istri dan
pengikutnya terbangun. Di sini terjadilah keributan dan perkelahian, yang menyebabkan korban bagi para pengikut Wiratmeja. Semua pengikutnya tertangkap, hanya satu yang dapat
meloloskan din. Segera mereka dibawa
oleh Tumenggung Mangkuj
yuda menghadap Raja di Surakarta dan jenazah Wiratmeja dibawa serta. Tertangkapnya/terbunuhnya Wiratmeja sangat menggembirakan Raja dan kumpeni.
Syahdan tersebutlah di daerah pegunungan selatan (gunungkidul), seakan-akan penyakit yang dialaminya kambuh lagi.
Seluruh rakyat sepanjang pegunungan Selatan, bersatu {{hws|meng|menghormat}}<noinclude>{{rh|14}}</noinclude>
bpxzkfofyaxb3wdmjtb4520ns86n9hx
Kaca:Babad Prayud I.pdf/17
250
20028
78196
67612
2026-05-16T09:06:45Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78196
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|hormat|menghormat}} sebuah gandhik (yang baunya harum semerbak). Mereka
percaya akan ramalan dari seorang tua yang mengatakan adanya
suatu perubahán yang akan segera teijadi. Rakyat di situ segera
menyiapkan pertahanan di daerah mereka.
Hal tersebut terdengar oleh Sultan Yogyakarta, dan segera meminta bantuan Sunan Surakarta, untuk turut menumpas pasukan
Gunungkidul itu. Sunan mengirim Pangeran Mangkuningrat dan
Tumenggung Suryakusuma beserta semua masukannya. Sedang
dari Yogyakarta menugaskan Pangeran Jayakusuma, dengan
barisannya berada di daerah Paliyan dan Pangeran Timur di
Gunung Sepikul. Pasukan dari Gunungkidul
telah mendengar
bahwa mereka akan digempur oleh pasukan dari Yogyakarta
dan Surakarta. Barisannya telah disiapkan. Pasukan berkuda
maupun pasukan darat dari Gunungkidul telah memenuhi sepanjang pegunungan untuk mempertahankan daerahnya. Adapun
Sunan Gandhik yang dipujanya tersebut dipikul, ditempatkan
dalam bakul diberi alas cindhe (sutera), dan dinaungi oleh payung
kuning yang sudah usang. Ternyata payung tadi bekas. milik
Pangeran Mangkunagara yang ditinggalkan di makam.
Pasukan dari Yogya dan Surakarta telah bersepakat menentukan waktu untuk menggempur pasukan Gunungkidul.
Dalam pertempuran yang kemudian terjadi ternyata pasukan
pemberontak tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi pasukan
gabungan Yogya-Surakarta. Gandik yang mereka puja-puja
ternyata hanya gandik bekas milik Sultan Dandun Martengsari
dari Kartasura.
Dalam pada itu Sunan telah berkirim surat kepada Deler
Semarang, mengabarkan akan dikembalikannya Ratu Ernas ke
Madura. Deler Iah yang ditugasi membawanya ke Madura. Sesudah tugasnya selesai, Deler pegi ke Surakarta, dan kemudian
diadakan pesta. Beberapa wakái kemudian Sunan mengirim
utusan ke Jakarta untuk memberi penghormatan atas pengangkatan Petrus Albertus menjadi Gubernur Jenderal. Di Surakarta
maupun Yogyakarta teijadi pengangkatan beberapa orang bupati
baru untuk daerah Mancanagara. Hubungan antara Kasunanan
dan Mangkunagaran terbina semakin baik dengan berbesanan.<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude>
assdaczjs5p14geezvsme67ejgzw17k
Kaca:Bratayuda.pdf/132
250
20039
78363
67629
2026-05-16T10:00:31Z
Devi 4340
509
/* Absah */
78363
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" /></noinclude>Sanghyang Narada tuwin para dewa sadaya inggih sami amiturut angestokaken ing karsanipun Prabu Kresna, nunten sami mumbul wangsul dhateng Suralaya.
Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sabala Pandhawa tuwin para ratu sesuruhan, lajeng sami bidhal lumebet ing nagari Ngastina, sarta amboyong Dewi Banowati. Pasanggrahan ing Kurusetra sampun kabibaraken. Rajabrana ing nagari Ngastina sampun sami kacacahaken. Arjuna lajeng kadhaupaken kaliyan randhanipun Suyudana kang nama Dewi Banowati. Sarehning Arjuna sanget asihipun ing tiyang estri, dados gegadhuhanipun jemparing Cundhamanik kapundhut ing Prabu Yudhisthira.
Prabu Kresna nunten anjumenengaken nata Prabu Yudhisthira wonten ing nagari Ngastina, kaestrenan dening Prabu Baladewa sarta para ratu sesuruhan, tuwin para jawata ing Suralaya inggih sami tumurun angidini jumenengipun nata.
Kala panjenenganipun Prabu Yudhisthira, nagari ing Ngastina sakalangkung arja, tetiyangipun sami suka, mboten wonten kang pinalang galih, awit kareksa dening Prabu Kresna kaliyan Arjuna. Bilih wonten ingkang alampah doracara enggal kapapas. Ingkang bodho kaserepaken, ingkang musakat kaparingan dana lumintu, mila sanget kaeringan dening mengsah.
Sareng sampun lestantun jumenengipun nata Prabu Yudhisthira, Prabu Baladewa kaliyan ratu ing Wiratha, ing Cempala tuwin para ratu sanesipun, lajeng sami pamit mantuk dhateng nagarinipun piyambak-piyambak, amung Prabu Kresna kang taksih anenggani wonten ing Ngastina.
{{rule|8em}}
{{nop}}<noinclude></noinclude>
9tx8yn0nky6bwggtrwklam8jflfiifd
78367
78363
2026-05-16T10:01:13Z
Devi 4340
509
78367
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" /></noinclude>Sanghyang Narada tuwin para dewa sadaya inggih sami amiturut angestokaken ing karsanipun Prabu Kresna, nunten sami mumbul wangsul dhateng Suralaya.
Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sabala Pandhawa tuwin para ratu sesuruhan, lajeng sami bidhal lumebet ing nagari Ngastina, sarta amboyong Dewi Banowati. Pasanggrahan ing Kurusetra sampun kabibaraken. Rajabrana ing nagari Ngastina sampun sami kacacahaken. Arjuna lajeng kadhaupaken kaliyan randhanipun Suyudana kang nama Dewi Banowati. Sarehning Arjuna sanget asihipun ing tiyang estri, dados gegadhuhanipun jemparing Cundhamanik kapundhut ing Prabu Yudhisthira.
Prabu Kresna nunten anjumenengaken nata Prabu Yudhisthira wonten ing nagari Ngastina, kaestrenan dening Prabu Baladewa sarta para ratu sesuruhan, tuwin para jawata ing Suralaya inggih sami tumurun angidini jumenengipun nata.
Kala panjenenganipun Prabu Yudhisthira, nagari ing Ngastina sakalangkung arja, tetiyangipun sami suka, mboten wonten kang pinalang galih, awit kareksa dening Prabu Kresna kaliyan Arjuna. Bilih wonten ingkang alampah doracara enggal kapapas. Ingkang bodho kaserepaken, ingkang musakat kaparingan dana lumintu, mila sanget kaeringan dening mengsah.
Sareng sampun lestantun jumenengipun nata Prabu Yudhisthira, Prabu Baladewa kaliyan ratu ing Wiratha, ing Cempala tuwin para ratu sanesipun, lajeng sami pamit mantuk dhateng nagarinipun piyambak-piyambak, amung Prabu Kresna kang taksih anenggani wonten ing Ngastina.
{{rule|8em}}
{{nop}}<noinclude>{{rh|136}}</noinclude>
ddnnv8xuh11217sv2ndmfeodbkhw79b
Kaca:Bratayuda.pdf/77
250
20040
78330
67630
2026-05-16T09:40:09Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78330
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|dosanipun|kadadosanipun}}!"<br>
Prabu Kresna sareng sampun dumugi ing jawi, matur dhateng jawata sakawan, "Kula badhe masanggrahan rumiyin. Benjing-enjing kemawon kula mratelakaken prelunipun lampah kula mriki."<br>
Prabu Kresna anjujug panggenanipun ingkang bibi Dewi Kunthi, lajeng anyungkemi sampeyanipun. Dewi Kunthi muwun, ciptaning galih prasasat kapanggih kaliyan Pandhawa. Tumunten amratelakaken sekeling galih, bab prakawis ingkang badhe kalampahan. Akathah pituturipun, amurih lestantuning lampah. Saking
agenging prihatos, pangandikanipun pegat-pegat kamoran pamuwun. Sareng sampun telas pituturipun, Prabu Kresna pamit badhe dhateng pasanggrahan, ing griyanipun Arya Widura. Sarawuhipun ing ngriku, anunten sesaosan pasegah kathah dhateng.<br>
Saunduripun Prabu Kresrna, Suyudana apirembag kaliyan ingkang rayi-rayi, punapa malih kaliyan Adipati Ngawangga, ingkang minangka pangajenging damel. Prabu Suyudana sumelang ing galih awit pasegahanipun katampik dhumateng Prabu Kresna, pangandikanipun, "Sang Prabu ing Dwarawati amesthi ngandhut wadi,
dene ora karsa dhahar pasuguhku. Heh, Drusasana, aja sira kurang weweka marang ratu ing Dwarawati, sira diangati-ati, kadang-kadangmu kabeh tuturana, sesuk padha amendhema baris. Aja nganggo pinikir suwe-suwe, wong ing Dwarawati banjur ditumpesa bae, awit iku awaking Pandhawa, mesthi angandhut ala, ora wurung dadi mungsuh, samudana angandhut memanis!"<br>
Sabibaring pasamuwan, sakathahing Korawa sami mantuk,
para ratu tamu tuwin pinisepuh sami kondur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Prabu Suyudana kondur angadhaton, tedhak panggenanipun ingkang garwa Dewi Banowati. Dewi Banowati amethuk, lajeng dipun kanthi astanipun, malebet ing dalem, tata sami pinarak. Para abdi estri marak.<br>
Retna Banowati galak ulat, manis pamulu, dedeg sembada, goreh nanging dados ing pantes sarta boten wonten sarunipun. Anjelih anjulalata mindhak perak ati, bengis marengut maleroka wewah manis. Sanajan boten ngagem-agema; ambombrong kalung<br><noinclude></noinclude>
sc1cglod6iuqhkdbu7xmc9k3qcccavs
Kaca:Bratayuda.pdf/93
250
20041
77727
67631
2026-05-15T19:19:25Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77727
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>panjawat ingkang dipun enggeni Bisma saha Druna.<br>
Prabu Kresna angatag kusiripun angrikataken ajenging rata, badhe rumeksa perangipun Parta, ingkang sanget nepsunipun. Saweg anglepasaken jemparing dibya, wedalipun ambrubul, Bisma anglepasaken jemparing panulak, lajeng tempuh jemparing sami jemparing wonten ing awang-awang.<br>
Bisma ngatag dhateng Druna kapurih sumingkira, awit badhe medalaken kasektenipun. Lajeng anglepasaken jemparing mawi dipun mantrani, amradini angebeki ing awang-awang, andhawahi mengsah adamel girising manah. Anunten para Korawa sesarengan majeng anempuh mengsah. Karpa, Sengkuni, Karna, Prabu Salya, sami surak sabalanipun.<br>
Raden Dananjaya enggal anglepasaken jemparing panulak, nanging mboten mikantuki. Akathah ingkang pejah dening jemparingipun Bisma, wedaling jemparing kados jawah saking langit. Korawa sami suka aningali, majeng sareng angebyuki. Bala Pandhawa panggah, nanging kathah ingkang pejah. Wondening ingkang
kalebet ing pepejah, kajawi saking para ratu kalih para adipati, putranipun Raden Dananjaya kekalih, anama Bambang Irawan kaliyan Dewi Palupi. Raden Dananjaya sakalangkung prihatos, kendel anggenipun anjemparing, pijer muwun kemawon.<br>
Prabu Kresna sareng aningali Raden Dananjaya muwun, lajeng tedhak saking rata, amenthang cakra, Bisma ingkang dipun wawas. Bisma sumerep yen badhe dipun dhawahi cakra, enggal medhun saking rata, mendhak-mendhak amurugi Prabu Kresna. Aturipun, ”Adhuh, Gusti, begja sanget badan kula yen ngantos kedhawahan cakra sampeyan. Awit punika ingkang badhe angeteraken
pejah kula dhumateng ing Suralaya.”<br>
Arjuna aningali yen Prabu Kresna menthang cakra, badhe kadhawahaken dhateng Bisma, enggal marepeki sang nata, nyembah lajeng anyandhak astanipun, angrerepa kapurih anyandekna karsanipun. Prabu Kresna boten siyos anggenipun anglepasaken cakra, lajeng minggah dhateng rata kaliyan Raden Dananjaya. Anunten
sang nata dhawah dhateng Raden Dananjaya angawe Dewi {{hws|Srikan|Srikandi}}<noinclude>{{rh|||97}}</noinclude>
mjtai6xvygri5jarvforvmu3cbwcndv
Kaca:Bratayuda.pdf/95
250
20042
78344
67633
2026-05-16T09:42:37Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78344
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>anyandikani. Sareng toya kasaosaken sarta kaombe, Bisma lajeng pejah.<br>
Para ratu sami angurmati pejahipun senapati Bisma. Jisim dipun anggen-anggeni badhe kabesmi. Sareng serep srengenge, kagentosan padhanging rembulan, jisim lajeng kabesmi, awunipun minggah dhateng ing Suralaya. Ing sadalu punika Pandhawa kaliyan Korawa sami kendel kemawon, mboten wonten ingkang salah damel, wonten ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak.<br>
'''4. ANGKAWIJAYA PEJAH DIPUN KRUBUT KORAWA'''<br>
Ingkang pinanggih rembagipun para Korawa, Druna kadamel senapati. Sadalu punika kitha ing Ngastina jawah deres, rah mili dhateng pasanggrahan. Para ratu para adipati tuwin para satriya sami suka bingah, awit punika pratandha yen badhe unggul perangipun. Sadalu Korawa mboten tilem. Enjingipun bodhol. Druna ingkang nyenapateni, gumerah swaraning gangsa, amor suraking bala kados swaraning galudhug. Lampahing bala dumugi ing Tegal Kuru lajeng sami mirantos.<br>
Pandhawa dereng salin gelaripun, taksih Garudha-nglayang. Korawa gelaripun Gajahmeta. Suyudana wonten ing githok akanthi Arya Sindureja kaliyan Adipati Ngawangga. Korawa satus ingkang minangka gadhing, dados sekit sisih. Kajawi balanipun ingkang minangka telale Prabu Bagadenta, anitih gajah sarwi mandhi
gada. Senapati Druna ingkang minangka sirah. Sareng majeng badhe tanglet, ciptaning manah mboten sumedya mundur.<br>
Pangangsegipun bala Pandhawa saha bala Korawa kados saganten kekalih pethuk-pethukan, gumerah swaraning gong sarta beri, suraking bala kados ampuhan, amor swaraning gelap, kados ambengkah langit. Pandhawa lajeng angebyuki gelaripun Senapati Druna. Raden Dananjaya anglepasaken jemparing, wedalipun ambrubul, andhawahi bala Korawa. Raden Wrekodara inggih anglepasaken jemparing, pinten-pinten Korawa ingkang pejah kadhawahan jemparing. Raden Wrekodara lajeng angamuk kaliyan gada,<br><noinclude></noinclude>
nw404zrs59bdbqzn7wogwanpdbaxol5
78345
78344
2026-05-16T09:42:51Z
Elcamatcha
1466
78345
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>anyandikani. Sareng toya kasaosaken sarta kaombe, Bisma lajeng pejah.<br>
Para ratu sami angurmati pejahipun senapati Bisma. Jisim dipun anggen-anggeni badhe kabesmi. Sareng serep srengenge, kagentosan padhanging rembulan, jisim lajeng kabesmi, awunipun minggah dhateng ing Suralaya. Ing sadalu punika Pandhawa kaliyan Korawa sami kendel kemawon, mboten wonten ingkang salah damel, wonten ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak.<br>
{{c|'''4. ANGKAWIJAYA PEJAH DIPUN KRUBUT KORAWA'''<br>}}
Ingkang pinanggih rembagipun para Korawa, Druna kadamel senapati. Sadalu punika kitha ing Ngastina jawah deres, rah mili dhateng pasanggrahan. Para ratu para adipati tuwin para satriya sami suka bingah, awit punika pratandha yen badhe unggul perangipun. Sadalu Korawa mboten tilem. Enjingipun bodhol. Druna ingkang nyenapateni, gumerah swaraning gangsa, amor suraking bala kados swaraning galudhug. Lampahing bala dumugi ing Tegal Kuru lajeng sami mirantos.<br>
Pandhawa dereng salin gelaripun, taksih Garudha-nglayang. Korawa gelaripun Gajahmeta. Suyudana wonten ing githok akanthi Arya Sindureja kaliyan Adipati Ngawangga. Korawa satus ingkang minangka gadhing, dados sekit sisih. Kajawi balanipun ingkang minangka telale Prabu Bagadenta, anitih gajah sarwi mandhi
gada. Senapati Druna ingkang minangka sirah. Sareng majeng badhe tanglet, ciptaning manah mboten sumedya mundur.<br>
Pangangsegipun bala Pandhawa saha bala Korawa kados saganten kekalih pethuk-pethukan, gumerah swaraning gong sarta beri, suraking bala kados ampuhan, amor swaraning gelap, kados ambengkah langit. Pandhawa lajeng angebyuki gelaripun Senapati Druna. Raden Dananjaya anglepasaken jemparing, wedalipun ambrubul, andhawahi bala Korawa. Raden Wrekodara inggih anglepasaken jemparing, pinten-pinten Korawa ingkang pejah kadhawahan jemparing. Raden Wrekodara lajeng angamuk kaliyan gada,<br><noinclude></noinclude>
dao38xgc8sf9z4enkcwjsirrnroizh2
Kaca:Bratayuda.pdf/97
250
20043
78347
67634
2026-05-16T09:43:18Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78347
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mangidul, amurugi Raden Dananjaya. Sesumbaripun, "Heh, Dananjaya, yen kowe prajurit temenan, amesthi nglegani kareping mungsuh. Ayo padha perang ana pinggiring gunung kana, ora ana kang ngewuh-ewuhi, tutug ing sakarep-karep. Yen kowe ora anuruti, amesthi dudu prajurit temenan. Aku ratu ing Kapitu, jenengku Gardapati, kang wis misuwur ing kawanterane.”’<br>
Lampahipun Prabu Gardapati sabalanipun sampun dumugi
sukuning redi. Raden Dananjaya mireng dipun sumbari, anusul lampahipun Prabu Gardapati, numpak rata kaliyan Prabu Kresna, balanipun inggih tumut mangidul.<br>
Anunten Raden Wresaya anyumbari Raden Wrekodara, "Heh, Wrekodara, yen kowe nyata lanang, ayo perang karo aku ana pinggiring sagara, supaya aja ana kang ngregoni, tutuga angadu kasekten."<br>
Raden Wrekodara mboten tahan mirengaken dipun sumbari, atilar baris, lumampah mangaler angutu. Druna sumerep yen Raden Dananjaya mangidul, Raden Wrekodara mangaler, lajeng anyalini gelar, anama Cakraningswandana, anyipta mboten kenging dipun risak ing mengsah. Karna kaljyan Karpa ingkang minangka
suku. Arya Jayadrata saha para adipati ingkang minangka kuping, Prabu Suyudana ingkang minangka buntut.<br>
Pandhawa aningali Korawa salin gelar, sarta pisahipun Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya, manahipun maras ing sawatawis. Prabu Yudhisthira lajeng dhawah animbali Raden Abimanyu, badhe andikakaken ngrisak gelaring Korawa. Wondening ingkang kautus animbali, Raden Gathutkaca.<br>
Raden Gathutkaca dumugi ing pasanggrahanipun Raden Abimanyu, tembungipun, "Adhi, kowe ditimbali ing sang nata, bakal kakarsakaken angrusak gelaring Korawa. Satindake Kangjeng Paman, mangidul aperang lan Gardapati ana sikiling gunung, ora ana kang duwe cakra, mung kowe dhewe, iya iku kang sayoga ginawe angrusak gelaring Korawa.”<br>
Dewi Siti Sundari garwanipun Raden Abimanyu, mireng pangandikanipun Raden Gathutkaca, sanget prihatosipun. Awit {{hws|sam|sampun}}<noinclude></noinclude>
frtzj06m0k2jdz7i812g13y9e27kaj1
78348
78347
2026-05-16T09:43:28Z
Elcamatcha
1466
78348
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mangidul, amurugi Raden Dananjaya. Sesumbaripun, "Heh, Dananjaya, yen kowe prajurit temenan, amesthi nglegani kareping mungsuh. Ayo padha perang ana pinggiring gunung kana, ora ana kang ngewuh-ewuhi, tutug ing sakarep-karep. Yen kowe ora anuruti, amesthi dudu prajurit temenan. Aku ratu ing Kapitu, jenengku Gardapati, kang wis misuwur ing kawanterane.”’<br>
Lampahipun Prabu Gardapati sabalanipun sampun dumugi
sukuning redi. Raden Dananjaya mireng dipun sumbari, anusul lampahipun Prabu Gardapati, numpak rata kaliyan Prabu Kresna, balanipun inggih tumut mangidul.<br>
Anunten Raden Wresaya anyumbari Raden Wrekodara, "Heh, Wrekodara, yen kowe nyata lanang, ayo perang karo aku ana pinggiring sagara, supaya aja ana kang ngregoni, tutuga angadu kasekten."<br>
Raden Wrekodara mboten tahan mirengaken dipun sumbari, atilar baris, lumampah mangaler angutu. Druna sumerep yen Raden Dananjaya mangidul, Raden Wrekodara mangaler, lajeng anyalini gelar, anama Cakraningswandana, anyipta mboten kenging dipun risak ing mengsah. Karna kaljyan Karpa ingkang minangka
suku. Arya Jayadrata saha para adipati ingkang minangka kuping, Prabu Suyudana ingkang minangka buntut.<br>
Pandhawa aningali Korawa salin gelar, sarta pisahipun Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya, manahipun maras ing sawatawis. Prabu Yudhisthira lajeng dhawah animbali Raden Abimanyu, badhe andikakaken ngrisak gelaring Korawa. Wondening ingkang kautus animbali, Raden Gathutkaca.<br>
Raden Gathutkaca dumugi ing pasanggrahanipun Raden Abimanyu, tembungipun, "Adhi, kowe ditimbali ing sang nata, bakal kakarsakaken angrusak gelaring Korawa. Satindake Kangjeng Paman, mangidul aperang lan Gardapati ana sikiling gunung, ora ana kang duwe cakra, mung kowe dhewe, iya iku kang sayoga ginawe angrusak gelaring Korawa.”<br>
Dewi Siti Sundari garwanipun Raden Abimanyu, mireng pangandikanipun Raden Gathutkaca, sanget prihatosipun. Awit {{hws|sam|sampun}}<noinclude>{{rh|||101}}</noinclude>
9yji97127b360as9e86ljrcmj5lgw6l
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/8
250
22730
77362
72253
2026-05-15T12:08:10Z
Kriita
885
/* Validated */
77362
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" /></noinclude><ol><poem>mrih luhur asor pinanggih
bebendu gung nekani
kongas ing kanisṯanipun
wong agung nis gungira
sudirèng wirang djrih lalis
ingkang tjilik tan tollh ring tjilikira</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=2
|<poem>Wong alim alim pulasan
ndjaba putih ndjero kuning
ngulama mangsah maksijat
madat madon minum main
kadji kadji ambanting
dulban keṯu putih mamprung
wadon nir wadonira
prabawèng salaka rukmi
kabèh-kabèh mung marono tingalira</poem>
|<poem>Para sudagar ingargja
djroning djaman kenèng sarik
marmane saisining rat
sangsarané saja mentjit
nir sad èsṯining urip
iku ta sangkalanipun
pantoging nanḏang sudra
jèn wus tobat tanpa mosik
sru nalangsa narima ngandel ing Suksma</poem>}}
{{u|{{sp|Megatruh}}}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>mBok parawan sangga wang duhki teng kalbu
Djaka Loḏang nabda malih
nanging ana marmanipun
ing wetja kang wus pinasti
èsṯinen murih kalakon</poem>
|<poem>Sangkalané maksih nunggal djamanipun
nèng sadjroning madya akir
wiku sapta ngèsṯi ratu
ngadil parimarmeng dasih
ing kono karsaning Manon</poem>}}<noinclude></noinclude>
jsdh3it0nq1wr3rbz35zcopn8rehz4r
77363
77362
2026-05-15T12:08:39Z
Kriita
885
77363
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" />{{rh||— 2 —|}}</noinclude><ol><poem>mrih luhur asor pinanggih
bebendu gung nekani
kongas ing kanisṯanipun
wong agung nis gungira
sudirèng wirang djrih lalis
ingkang tjilik tan tollh ring tjilikira</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=2
|<poem>Wong alim alim pulasan
ndjaba putih ndjero kuning
ngulama mangsah maksijat
madat madon minum main
kadji kadji ambanting
dulban keṯu putih mamprung
wadon nir wadonira
prabawèng salaka rukmi
kabèh-kabèh mung marono tingalira</poem>
|<poem>Para sudagar ingargja
djroning djaman kenèng sarik
marmane saisining rat
sangsarané saja mentjit
nir sad èsṯining urip
iku ta sangkalanipun
pantoging nanḏang sudra
jèn wus tobat tanpa mosik
sru nalangsa narima ngandel ing Suksma</poem>}}
{{u|{{sp|Megatruh}}}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>mBok parawan sangga wang duhki teng kalbu
Djaka Loḏang nabda malih
nanging ana marmanipun
ing wetja kang wus pinasti
èsṯinen murih kalakon</poem>
|<poem>Sangkalané maksih nunggal djamanipun
nèng sadjroning madya akir
wiku sapta ngèsṯi ratu
ngadil parimarmeng dasih
ing kono karsaning Manon</poem>}}<noinclude></noinclude>
byt32evx9bd3ffi1ut772on19rcs5jb
Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/2
250
22942
77430
72730
2026-05-15T14:37:36Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77430
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|Gedru bij G. KOLFF & Co., Batavia-Centrum.}}<noinclude></noinclude>
lqpwzflzjtj166beffdn57se9f6018o
Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/36
250
22965
77437
76682
2026-05-15T14:41:37Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77437
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||36}}</noinclude>ana ing iroeng disaring, apa tegesé? 11. Apa kowé bisa nerangaké: manawa kowé pinoedjoe pileg, panggandamoe soeda landepé! 12. Apa praboté piranti kanggo ndeleng? 13. Apa goenané sidji-sidjiné? 14. Boenderaning mripat ana boentelé teloe, aranana, lan tjritakna sidji-sidjiné! 15. Manik moendak amba, jèn ...., dadi tjijoet, manawa ...... 16. Klasoetan-djala ana pérangané „sing kerèn”. Apa tegesé? Lah pérangan sing „kalis” keprijé? 17. Banjoe kiter-kitering mripat lan soerjakanța apagoenané? 18. Manawa kowé ndeleng barang sing adoh, soerjakantaning mripatmoe kaprijé? 19. Ana sawenèhing wong jèn matja, boekoené ditjeḍakaké banget. Ikoe tanda jèn...... 20. Trekadang ana wong koedoe doewé tesmak warna loro (gelasé oetawa katjané warna loro). Apa kowé bisa nerangké? 21. Apa goenané godoh lan broemboengan-koeping? 22. Kendangan-koeping matesi apa? 23. Paneteling hawa ing djaban lan djeron koeping bisa timbang, sabab ...... 24. Djegoḍahan-tengahing
koeping ana baloeng-pangroengoe teloe, aranana! Ikoe noendakaké swara saka endi tekan endi? 25. Apa pérangané,,panasaran?" 26. Ing ngendi doenoengé poengkasaning tali-rasa-pangroengoe. 27. Banjoe-pangroengoe ikoe apa? 28. Tjritaa: ana barang moeni mak dèr nganti keproengoe ing koepingmoe!<noinclude></noinclude>
mocx9zwr7xapoqp6ukvfya4nv8r6w0b
Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/32
250
22968
77433
76567
2026-05-15T14:40:00Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77433
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||32}}</noinclude>''c.'' Panasaran. Piranti ngroengoe kang doemoenoeng ing djero déwé (ing baloeng parang) woedjoedé pating tjlekoetek mbingoengaké, moelané diarani panasaran, ikoe empoek, aloes, ana baloengé sawatara, isi djasad tjoewèr. Panasaran ana pérangané: 1. èmpèr mawa lawangan londjong, 2. broemboengan teloe paḍa mlengkoeng, 3. omah kéjong. Pérangan teloe ikoe ing djero kebak prențilan poengkasaning tali-rasa-pangroengoe.
Djasad tjoewèr (banjoe pangroengoe) kang ngèbeki pérangan teloe maoe manawa obah kena keḍering hawa, bandjoer nggepok prențilan poengkasané tali-rasa-pangroengoe, toemoenda ing telenging sarap: wong ngroengoe.<br>{{c|_______}}<br>
{{c|Endeg-enḍeg kang aran tjoerek,<br>
Wadjib énggal-énggal binoesek.<br>
Moeng baé dèn prajitna, ngati-ati,<br>
Jwa kongsi gawé lara, anatoni.}}<br><br>{{c|_______}}<noinclude></noinclude>
04ls3o5wzf4frwqcvgty7kk4d2w7cmq
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/5
250
22978
78113
75128
2026-05-16T05:34:46Z
Zeefra
1934
/* Absah */
78113
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude><small>{{r|'''TIDAK DIPERJUALBELIKAN'''<br>
Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br>
Perpustakaan Nasional, 2011}}</small>
{{c|<big>'''BABAD KEMALON'''</big>
'''(PAKUNAGARA)'''
<br>'''I'''<br>
<br>
'''Presented to the Royal Asiatic Society<br>
'''of Great Britain & Ireland<br>
'''by Lady Raffles'''<br>
<br>
Alih Aksara dan Bahasa<br>
<br><br>
KI. HIMODIGDOYO
KI SOEHARTO}}<noinclude></noinclude>
dkfqn73a2xgja051n4cw9qcrq5u9p8e
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/464
250
22988
78132
72805
2026-05-16T06:55:24Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
78132
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>PN BALAI PUSTAKA - JAKARTA<noinclude></noinclude>
9pfolob6ano5htpbugt2x7o65vh4ma2
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/10
250
22993
77520
75141
2026-05-15T15:43:30Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77520
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Kumpeni tidak mau keluar, dari dalam
mereka menembaki, senjata tidak mengenai,
yang berada di luar menembaki, karenanya
hanya terjadi tembak-menembak,
sesekali hanya bertempur, ada kalanya tiap
hari, mengundurkan diri karena diburu
malam hari, sewaktu malam beristirahat
di dalam kemah.</poem>
|<poem>Keesokan harinya berangkat perang, segenap
Tumenggung Metaram, Pangeran Mangkudiningrat,
lengkap dengan balatentaranya, tidak
dengan sepenuh hati bekerja, cara berperang
hanya turut-turut saja, tak ada yang
diarahkan, peperangan dari kejauhan,
hanya tentara Mangkunegaran yang dengan
kesungguhan berperang.</poem>
|<poem>Srageni serta Mantri Jaba yang sungguh-sungguh
berperang, sewaktu malam beristirahat,
segenap balatentara beserta Pangeran Adipati,
keesokan harinya berangkat perang, melawan
Kumpeni, berperang sehari penuh, beristirahat
kembali di Candi, bila malam tiba membuat
peluru.</poem>
|<poem>Bila siang hari tiba peluru dibuatnya untuk berperang
dalam sehari peluru habis dipergunakan,
tiap malam ganti pekerjaan, membuat peluru
dan menyaksikan hiburan wayang kulit,
siang hari berperang, bermain kartu
dan dadu, pagi harinya berperang, senja
sore pulang membuat peluru, tidak terhitung
kegiatan Pangeran Adipati.</poem>
(4)|<poem> Kumpeni menyibukkan diri, di Kemalon mereka
siap siaga, sementara itu diceriterakanlah,
Kanjeng Susuhunan Metaram,
waspada terhadap berita, bahwa balatenteranya,</poem>}}<noinclude>{{rh|8}}</noinclude>
6ohsyfwtl54w5qer5vept7rydw6c4jm
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/28
250
23211
77517
75456
2026-05-15T15:36:30Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77517
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>segera terdengar aba-aba berangkat,
menuju arah timur, kepada segenap
para pamong, memasuki barisan,
tibalah kini di Pamalon, kemudian
berkemah di Wedhi.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=38
|<poem>Dinamakan desa Bajing, mereka
berhenti dan berkemah, menyiapkan
tempat bermalam, segenap Tumenggung
dan bersama bermalam,
sedangkan fihak Kumpeni,
bermalam di Pamalon. </poem>
(18) |<poem>Deller dan fihak Kumpeni, berada
di Kemalon selama tiga hari, keesokan
harinya berangkat, menuju ke Mataram,
bagaikan laut barisan, lengkap dengan
persenjataan, sedang jalannya
berkelompok-kelompok.</poem>
|<poem>Persenjataannya mentakjubkan,
di tengah perjalanan mereka sangat
hati-hati, Deller menyiagakan surat,
mentaklukkan orang-orang desa,
desa sunyi senyap, semua melarikan
diri ke gunung, porak-porandalah
keadaan desa.</poem>
|<poem>Tidak terkisahkan yang sedang berjalan,
kini diceriterakanlah perihal Pangeran
Adipati, segenap balatentara membubarkan
diri, demikian juga pegawai
(pamong) Mataram, jalannya tergesa-gesa
mengejar jalannya Kumpeni yang
menuju Mataram.</poem>
|<poem>Menyerang dari belakang,
balatentara yang ke Mangkunegaran,
tidak mau berdekatan jalannya,</poem>
}}<noinclude>{{rh|'''26'''}}</noinclude>
aph3sbvko1rv8g700i6fhw7nif3s92d
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/39
250
23250
77522
75766
2026-05-15T15:50:30Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77522
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=36
|<poem>Di Rejasa sebelah barat Wedhi, mendirikan
perkemahan, segenap tumenggung menghadapnya
lengkap dengan keluarganya
dan juga pangeran Mangkudiningrat
pangeran Purubaya, diikuti adiknya
Pangeran Mangkukusuma, setibanya
memberi salam hormat dengan tergesa-gesa
segenap tumenggung menyembahnya.</poem>
|<poem>Akan tetapi pramubakti pribadinya, warga
Jawa, Sarageni dan Panumbak, mantri
urusan luar seluruhnya, sangatlah
gembira nya atas tibanya Panglimanya
bagaikan ikan kehabisan air, kemudian
mendapat air, demikian juga halnya
dengan yang dipertuan, serta Pangeran
Adipati Anem, yang memberikan bantuan.</poem>
|<poem>Mereka menyampaikan laporan jalannya
pertempuran, sewaktu melarikan diri karena
serangan Belanda, pemimpin pemerintahan
(29) berganti menyampaikan laporan
diselingi gelak-ketawa, Pangeran
Adipati kedua-duanya, kemudian
mereka bermain kartu, makan-minum
segenap tumenggung menari-nari, segenap
keluarga dan pemimpin bersuka-ria
timbul lagi keberaniannya.</poem>
|<poem>Bersantap bersama membesarkan hati
minum-minuman sepuas-puasnya
setelah itu membubarkan diri
menuju tempat istirahatnya masing-
masing, mereka berada di tempat istirahat
hanya dua malam, berangkat dari
Rejasa, keesokan hari melanjutkan
perjalanan, beristirahat di Geneman
segenap tumenggung dan keluarganya
bersiap-siap demikian juga segenap
bala yang telah beristirahat tersebut.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude>
peevjum8js4owarcvrawbgx3cx22xde
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/40
250
23254
78114
73375
2026-05-16T05:37:50Z
Zeefra
1934
/* Absah */
78114
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>Bertempat di Guneman mengadakan persiapan
segenap balatentara telah dipersiapkan
selang empat hari lamanya
Pangeran Dipati, Pangeran Adipati Anem
putra Sri Baginda Raja, pada waktu itu gering, kemudian
diundurkan pulang kembali ke Sokawati, beserta pasukan dan prajurit
yang terpilih, selamatlah perjalanan-
nya.</poem>
|<poem>Sewaktu di Gunenam Pangeran Adipati
sering mengadakan latihan memanah
beserta segenap keluarga dan para
niyaka, tidak ketinggalan
para tumenggung, mereka berlatih di-
bawah tenda, tiap hari, Srageni dan
pimpinannya, semua memegang
busur, mengadu kemahiran
memanah serta menari-nari, disertai
sorak yang meriah.</poem>
|<poem>Gamelan Bali dibunyikan bertalu-talu
(30)pada malam hari dengan berkendaraan
kuda Pangeran Adipati
memeriksa barisannya, bahkan
sering kali ke selatan, ke Prambanan
semalam suntuk, menghadapi barisan
yang ada di Guneman, berganti yang di-
kisahkan, negara Metaram Yogyakarta
segenap warganya telah siap berbakti
kepada Kumpeni yang ada di Yogyakarta.</poem>
|<poem>Perkemahan warga Metaram telah merata-luas
Ideller pulang Semarang, bersama orang pasisir
Uprup memberi salam dengan anggukan
mereka berjalan melalui Kedu, bersama pange-
ran Bintara, pulang ke Salam, singgah dan
melalui Semarang, dengan segenap balatentara
menuju Selakerta, ditinggalkan Yogya-
karta.</poem>
}}<noinclude>{{rh|38}}</noinclude>
kxis5y4n1lnvgvlde3843zkqsgr3i15
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/69
250
23474
77458
75999
2026-05-15T14:55:24Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77458
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><ol><poem>segenap pimpinan serta keluarga raja telah siap sedia, siap untuk bertempur.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=36
|<poem> Barisan Kumpeni dikepung oleh barisan Sang Nata, keesokan harinya loji
diserang, peperangan ramai sekali,
sehari suntuk mereka bertempur, tidak ada
sungguh dahsyat dan mengerikan,
malam tiba, selang setengah bulan, bala
bantuan Kumpeni tiba, mereka berasal
dari barat Banyumas.</poem>
|<poem>Bupati yang turut Kumpeni, ialah tumenggung
Yudanegara dari Banyumas, berjalanlah/bergeraklah bala bantuan tersebut, Drang gunung telah turut serta, orang Panjer Banjar turut pula, kelompok Kumpeni terdiri atas 60 orang, Bugis sepuluh orang,
setibanya lalu masuk loji, di Ungaran.</poem>
|<poem>Sunan yang siap menyergap telah mendengar berita, kehadiran bala bantuan, Susunan segera memberi aba-aba, kepada balatentaranya, di Ngremarang Ambal,
sebelah Selatan Banyurip, tepi kali
Lereng, selang semalam Kumpeni tiba, terjadilah pertempuran.</poem>
|<poem>Kumpeni di sebelah utara sungai, bermaksud menyeberanginya serta membuat jembatan penyerbuan darurat (dari bambu), Susunan memberi komando, perahu-perahu lengkap dengan pasukan, siap untuk bertempur, bermaksud merebut jembatan penyeberangan,
perintah Sang Prabu, he Tumenggung Cakrajaya, rebutlah jembatan penyeberangan bersama para mantri, Tumenggung Cakrajaya segera
berangkat.</poem>}}<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude>
mqd1y02j9aw4t72myduf9sq7nlas1kw
Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/4
250
23491
77431
73902
2026-05-15T14:39:07Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77431
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||4}}</noinclude>{{C|'''I. RAGANGAN.}}'''
'''1. Goenané.'''
Ragangan ikoe minangka pikoewating awak, kanggo ndjaga lan noetoepi pérangan-pérangan kang ringkih lan aloes (oetek, djantoeng, keboek) lan kanggo gondèlaning daging.
'''2. Pamérangé.'''
Baloeng-baloeng kang moedjoedaké ragangan kapérang dadi teloeng golongan, jaikoe: baloeng-baloeng ing sirah, gemboeng lan anggota.
'''3. Anggota doewoer.'''
Anggota kang doemoenoeng ing doewoer (lengen) awoedjoed : baloeng baoe, baloeng tangkis-djaba (kentjeng karo djempol), baloeng tangkis-djero (sipat karo djentik), baloeng-baloengé oegel-oegel (8), baloeng-baloenging èpèk-èpèk (5), baloeng-baloengé dridji 5 (goenggoeng ana 14 tengkel, marga djempol moeng ana baloengé 2 tengkel)¹).
Lengen gandeng karo gemboeng sarana gelangan poenḍak. Baloeng baoe ing poetjoek mbendol, ikoe trep ing legokan baloeng walikat. Ing saḍoewoeré panggonan gandenging baloeng loro ikoe ana baloengé manèh, woedjoedé mèmper koentji, moelané ija diarani baloeng koentji. Baloeng walikat kiwa-tengen lan baloeng koentji kiwa-tengen jèn dineleng saka ing doewoer katon kaja gelangan, moeng ing boeri ora gațoek. Gelangan maoe kaaranan gelangan-poendak.
'''4. Anggota ngisor.'''
Anggota ngisor (sikil) awoedjoed: baloeng poepoe, gandoe,
baloeng gares, baloeng kémpol, baloeng-baloengé oegel-oegel-sikil (7), baloeng-baloenging dlamakan (5), baloeng-baloenging dridji-sikil 5 (goenggoeng ana 14 tengkel). Salah sidjining ba-loeng oegel-oegel-sikil oepama: baloeng toengkak.
Sikil gandeng karo gemboeng sarana gelangan-tjețik. Gandengé loewih santosa tinimbang lengen. Kang moedjoedaké gelangan-tjețik: baloeng sanggan-djerowan kiwa-tengen, baloeng wadi kiwa-tengen lan baloeng paloenggoehan kiwa-tengen. Gelangan-tjețik ikoe pantjèné ija ora temoe gelang, nanging ing boeri ana baloeng soemelap, jaikoe baloeng werit.
{{C|__________}}
'''1) Pénget.''' Pérang-pérangané gambar kang soemanding pada tjinirénan aksara wiwitaning temboeng-temboeng araning pérangan-pérangan maoe,<noinclude></noinclude>
ru6lk7dbe3bhmq1f9gi250dnp8ttj9v
Kaca:ꦕꦫꦶꦠꦤꦺꦱꦶꦪꦸꦟꦸꦱ꧀.pdf/25
250
23513
78356
73980
2026-05-16T09:52:21Z
Devi 4340
509
/* Absah */
78356
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" />{{rh||23}}</noinclude>{{jawa|tag=div|ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮꦤꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦢꦶꦫꦺꦮꦁꦫꦺꦮꦁꦔꦶꦫꦏ꧀ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦕꦺꦴꦥꦠ꧀ꦕꦥꦺꦠ꧀ꦧꦶꦱꦢꦢꦶꦣꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦤꦶꦁꦥꦢꦸ꧈ ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦁꦭꦤꦁꦤꦸꦠꦸꦃꦱꦶꦁꦮꦺꦢꦺꦴꦏ꧀ ꦗꦫꦺꦱꦶꦁꦮꦺꦢꦺꦴꦏ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦔꦸꦧꦼꦠ꧀ꦠꦏꦺꦧꦸꦠꦸꦃ꧈ ꦱꦶꦁꦮꦺꦢꦺꦴꦏ꧀ꦤꦸꦠꦸꦃꦱꦶꦁꦭꦤꦁ꧈ ꦗꦫꦺꦱꦶꦁꦭꦤꦁꦲꦺꦴꦫꦗꦺꦒꦺꦴꦱ꧀ꦲꦔꦶꦔꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦧꦺꦴꦗꦺꦴꦤꦺ꧉ ꦲꦶꦁꦔꦠꦱ꧀ꦱꦺꦮꦺꦴꦁꦭꦤꦁꦪꦲꦏꦺꦃꦱꦶꦁꦒꦼꦣꦺꦥꦩꦼꦠꦸꦤꦺ꧈ ꦢꦢꦶꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦤꦺꦩꦺꦴꦤꦺꦴꦧꦺꦴꦗꦺꦴꦤꦺꦪꦧꦶꦱꦔꦺꦤꦏ꧀ꦲꦺꦤꦏ꧀ ꦲꦺꦴꦫꦱꦸꦱꦃꦩꦺꦭꦸꦤꦸꦁꦱꦁꦲꦚ꧀ꦗꦼꦩ꧀ꦥꦭꦶꦏ꧀ ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦮꦢꦺꦴꦤ꧀ꦱꦶꦁꦲꦸꦠꦩꦲꦺꦴꦫꦒꦼꦊꦩ꧀ ꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶꦱꦶꦁꦏꦪꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦲꦶꦏꦸ꧈ ꦱꦧꦶꦱꦧꦶꦱꦏꦸꦢꦸꦩꦺꦭꦸꦆꦃꦠꦶꦪꦂꦒꦺꦴꦭꦺꦏ꧀ꦮꦸꦮꦸꦃꦲꦺꦉꦗꦼꦏꦶ꧈ ꦱꦸꦥꦪꦪꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏꦸꦏꦸꦫꦸꦁꦔꦤ꧀ꦤ꧈ ꦲꦺꦴꦫꦗꦼꦤꦼꦁꦏꦲꦶꦤꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦢꦶꦠꦸꦠꦸꦃꦱꦶꦁꦭꦤꦁ꧉ ꦏꦁꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦩꦲꦸꦏꦧꦺꦃꦮꦶꦱ꧀ꦏꦕꦏꦸꦥ꧀ꦲꦶꦁꦥꦶꦏꦶꦂꦫꦤ꧀ꦤꦺꦯꦶꦤꦃ꧈ ꦩꦸ}}<noinclude></noinclude>
lw6w3gkndqoc22snv55vfxtu58jvdpq
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/53
250
24031
77509
75166
2026-05-15T15:29:44Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77509
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|<poem> (42) Pangeran Adipati bersedia, untuk melaksanakan,
Pangeran Dipatva muda putranva
Sri Baginda Raja, disuruh berangkat dahulu,
mendaki gunung, tidak terceriterakan
dalam perjalanan.</poem>
|<poem> Pangeran Adipati telah mendekati gunung,
di Gunung Kidul, lengkap dengan balatentaranya,
serta mertuanya, Suradiningrat
dari Metaram, Suryanapura, serta Jayanegara.</poem>
|<poem>Sri Baginda Raja berangkat ke arah utara,
yang turut Sri Nerpati, orang urusan dalam
Rangga Wirasentika, tumenggung Suryanegara,
Jayadirya, serta Kertanegara.</poem>
|<poem>Serta tumenggung Brajamusthi Wiradigda,
Mandaraka serta lain-lainnya, yang
berada di depan, mantri urusan dalam,
pangeran purbaya serta lainnya, Mangkukusuma,
pangeran Wijaya.</poem>
|<poem> Pasukan Srageni dipilihi, Suryanata serta
Breja, Nirbita dan Nirbaya, serta Jagasura,
Jamenggála Judhipati, orang yang
bertindak nyata, bertempur dengan hati-hati.</poem>
|<poem>Martalulut serta orang Singanagara,
gandhek*) serta para mantri,
Anem serta Kanoman, serta kepada
para calón prajurit, berangkat dari
Metaram, Sri Baginda Raja, barat-laut
arah perjalanannya.</poem>
|<poem>Bergerak majulah kemudian,
Kedu akan diduduki, sedangkan yang
(43) ditinggalkan, Pangeran Adipatya, serta</poem> }}<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
jc1wscryztf88aa1ha43d5htvksb14x
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/9
250
24039
77521
75180
2026-05-15T15:46:12Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77521
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''A. (Sinom)'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>(1) Kitab ini ditulis, pada malam Rebo Legi
tanggal enambelas, Pon pasarannya
Sapar bulannya Ehe Wawu tahunnya
Kebetulan jatuh musim ketiga, dengan
sengkalan : Karti Roro Pandhita Eka *)</poem>
|<poem>Syahdan dikesahkanlah Kanjeng Pangeran
Mangkunegara, sewaktu mengadakan pembicaraan
dengan Ayahanda Sri Narpati, Kanjeng
Sunan Mangkubumi, yang bertahta di Kabanaran.
(2) waktu itu Kanjeng Pangeran Adipati
bersama balatentaranya, berperang melawan
Belanda di Kemalòn.</poem>
|<poem>Balatentara Kumpeni waktu itu, terdiri atas
suku Bugis dan Bali, Ambon
serta Ngusar, siap-siaga di Kemalon,
membetengi Kumpeni, dan beijarak hanya
satu desa, dengan tempat berkemah
Pangeran Adipati di Candi, tidak dikisahkan
malam itu, kemudian pagi harinya
berperang.</poem>
|<poem>(3) Berperang mengadu senjata, berkuranglah
jumlah masing-masing prajurit, berperang
sehari penuh, peperangan tidak berberitakan,
Pangeran Adipati, sewaktu senja sore bersama
tentaranya menarik diri, pada malam hari
istirahat, esok harinya berperang kembali,
perang mengadu senjata.
<small>= 1724</small></poem> }}<noinclude>{{rh|||7}}</noinclude>
4yle632apo8lrkq22q338zktdmg9is5
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/55
250
24081
77512
75248
2026-05-15T15:31:15Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77512
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>::keesokan hari, berjalan ke barat kemudian
::istirahat, berjalan melalui kaki gunung
::Merbabu.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>'''(44)''' Setelah semalam kemudian menuruni jurang,
menyeberang kali Andaru, di sebuah dataran
mereka bersiap, mengadakan pembicaraan
dengan para prajurit, tidak terkisahkan</poem>
|<poem>Pasukan Kumpeni yang berbaris di Magelang,
dipimpin oleh mayor Kalerek, terdapat
Belanda banyak sekali, satu kelompok
Kumpeni, seratus Bugis Bali, bupati Jawa
empat orang yang lain.</poem>
|<poem>Tumenggung Natayuda, Mangkuyuda, Wiraguna
serta lain-lainnya, tumengggung
Wiradigda, menurut tutur kata mantri
urusan luar, Susunan yang
diceriterakan, sedang beristirahat,
di Ngleter selama 4 malam.</poem>
|<poem>Pagi hari menuju ke barat, sewaktu matahari
tidak di tengah-tengah benar,
mereka berada di Medana, istirahatlah
barisannya, karena berdekatan dengan lawan,
yang berada di Magelang yaitu barisan
Kumpeni, Sri Naranata, memberi tugas
kepada Jagalatah.</poem>
|<poem> Memerintahkan agar berjalan di belakang,
dengan segenap kawan mantri, kemudian
lawannya Kumpeni yang ada di Magelang,
melihat musuhnya telah mendekat,
sedang bergerak, kemudian
segera memberi aba-aba.</poem>
|<poem>Telah siap-siaga Kumpeni dengan pasukannya,</poem> }}<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude>
olzjxcf0e59a8g7ck0z1xqjhusehtjb
77514
77512
2026-05-15T15:31:55Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77514
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::keesokan hari, berjalan ke barat kemudian
:::istirahat, berjalan melalui kaki gunung
:::Merbabu.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>'''(44)''' Setelah semalam kemudian menuruni jurang,
menyeberang kali Andaru, di sebuah dataran
mereka bersiap, mengadakan pembicaraan
dengan para prajurit, tidak terkisahkan</poem>
|<poem>Pasukan Kumpeni yang berbaris di Magelang,
dipimpin oleh mayor Kalerek, terdapat
Belanda banyak sekali, satu kelompok
Kumpeni, seratus Bugis Bali, bupati Jawa
empat orang yang lain.</poem>
|<poem>Tumenggung Natayuda, Mangkuyuda, Wiraguna
serta lain-lainnya, tumengggung
Wiradigda, menurut tutur kata mantri
urusan luar, Susunan yang
diceriterakan, sedang beristirahat,
di Ngleter selama 4 malam.</poem>
|<poem>Pagi hari menuju ke barat, sewaktu matahari
tidak di tengah-tengah benar,
mereka berada di Medana, istirahatlah
barisannya, karena berdekatan dengan lawan,
yang berada di Magelang yaitu barisan
Kumpeni, Sri Naranata, memberi tugas
kepada Jagalatah.</poem>
|<poem> Memerintahkan agar berjalan di belakang,
dengan segenap kawan mantri, kemudian
lawannya Kumpeni yang ada di Magelang,
melihat musuhnya telah mendekat,
sedang bergerak, kemudian
segera memberi aba-aba.</poem>
|<poem>Telah siap-siaga Kumpeni dengan pasukannya,</poem> }}<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude>
f3wptntit1keisqmrkxy790859xcg4p
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/56
250
24082
77516
75249
2026-05-15T15:33:54Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77516
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::bermaksud mengejarnya, kepada Sunan
:::yang datang, Bugis Bali orang Jawa,
:::telah siap dalam barisan, pemimpin pasukan,
:::ialah Kapiten Nengkap.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem> Pimpinan dari pasukan Bali Bugis menurut
(45) berita, ialah kapiten Pandem, pasukan Jawa
yang dibawa separo bagian, sedang yang
sebagian lagi tinggal di beteng, dari Magelang,
sewaktu fajar menyingsih mereka tiba.</poem>
|<poem> Semalan perjalanan mereka tidak menentu,
bingung tidak mengetahui jalan,
sewaktu fajar menyingsing,
mereka berada di gunung Kekeb, terkisahkan
Sri Bupati, dari Medana, berangkat
ke arah barat.</poem>
|<poem>Telah tiba di desa Medana waktu itu,
menjelang tiba di Praga, kemudian lawan
datang, Kumpeni dari belakang,
menyeranglah bala Kumpeni, Sang Nata lalu
bersiap-siap, kemudian dihentikanlah persiapan.</poem>
|<poem> Segenap prajurit Kasunanan, diperintahkan
mendarat, akan tetapi para pangeran,
diperintahkan mengendarai kuda,
semua pasukan telah siap sedia, menghadap
ke timur, menuju Toya Wuki.</poem>
|<poem> Diperintahkan bersembunyi di balik pematang,
bermaksud bergerombol maju tiba-tiba;
Sri Baginda Raja, karena payung kebesarannya
tidak terbuka, tidak terlihat oleh para prajurit,
diperintah untuk bersembunyi siap dan
menyergap Toya Wulu.</poem>
|<poem> Jagalata ditugaskan membawa pulang segenap istri,
mengawal wanita-wanita tersebut,</poem> }}<noinclude>{{rh|54}}</noinclude>
ttqts089ui799eumzvm6ka2wpc70z9i
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/11
250
24094
77519
75272
2026-05-15T15:41:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77519
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::lalai dalam menjalankan tugasnya.
:::demikian juga
:::Tumenggung (hulubalang) tidak sepenuhnya
:::menjalankan darma baktinya.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=10
|<poem>Sebaliknya putranda Sang Pangeran,
Adipati Mangkunegara, bertugas dengan
sepenuh hati, demikian juga balatentara
yang dipimpinnya, selanjutnya Sri
Baginda Raja, sangat marah dalam
hati, kemarahan ditunjukkan kepada balatentaranya,
kemudian Sri Baginda Raja
Metaram, pada prajurit pilihan diajak bicara.</poem>
|<poem>Diutuslah seseorang, kelanjutan pembicaraan tidak
dikisahkan,
prajurit Suryanata, orang yang menjadi
pilihan telah siap sedia, di depan Sri Baginda
Raja, yang telah memerintahkan,
untuk menyalib, membunuhnya, dan
memotong daun telinga prajurit-prajurit
yang kurang baik menjalankan tugasnya.</poem>
|<poem>Segera Sri Baginda Raja, memberi perintah menyerang,
bagaikan guruh suaranya
balatentara yang berbaris, dengan membawa
senjata ; kemudian Baginda Raja bertolak,
se telah balatentaranya berjalan, fidak
ada berita yang penting di tengah perjalanan
Sri Baginda Raja istirahat,
berkemah di Pajarakan.</poem>
|<poem> Sebab musabab Sri Baginda Raja berada
di medan perang, terbawa oleh rasa kesalnya,
disebabkan peperangan yang dilakukan
balatentaranya, tidak dapat menyerang
Kumpeni, malam hari Sri Baginda
Raja, memanggil putranda, Pangeran
Mangkunegara, yang tidak lama kemudian
menghadapnya.</poem> }}<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude>
tuvtnrwepa44e4k70ikkcxur6ggahhs
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/17
250
24100
77518
75280
2026-05-15T15:38:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77518
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::hanya dari barat yang tidak ada, kini
:::Kumpeni yang dikisahkan, yang berada
:::dalam barisan, di Pamalon telah siap
:::sedia untuk bertempur.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=36
|<poem> (9) Barisannya besar sekali, Kumpeni terdiri
atas orang Butis dan Bali dengan segenap
balatentara di Sala, Pangeran Bintara
yang memimpinnya, dan orang-orang
dari pesisir, bertekad hendak menyerang
tidak gentar dalam pertempuran, bertekad
berkorban, sedangkan jalannya telah tertutup.</poem>
|<poem>Yang menanggulangi peperangan,
sebelah selatan orang
Bugis dan Bali, beserta prajurit Jawa,
sebelah tenggara ditanggulangi,
kavaleri Kumpeni, Pangeran Bintara sudah
maju perang, yang mempertahankan
sebelah timur, pragunder *), Bugis dan Bali,
mempertahankan sebelah utara.</poem>
|<poem> Kavaleri Kumpeni dan Nusar, pembesarnya
Kumpeni, Uprup yang memimpin peperangan,
tidak ketinggalan Bugis dan Bali, mempertahankan
barat-laut, orang pantai
Bugis kembali, bersama kavaleri Belanda,
Seluruhnya telah siap sedia, bak guruh
suaranya barisan.</poem>
|<poem>Tidak terlukiskan geraknya orang Jawa,
di Kemalon rasa-rasanya (suasananya)
bagaikan berdiri bulu roma (menakutkan),
siyaga di dalam parit, seluruhnya</poem>}}
<small>*) pragunder = tentara berkuda {{tab}} Uprup = pangkat dalam ketentaraan <br>
{{tab}} Nusar= pangkat dalam Belanda.</small><noinclude>{{rh|||15}}</noinclude>
8a3z7ledhzgumy43i3asbe5xrxpopyw
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/191
250
24131
77451
75365
2026-05-15T14:52:20Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77451
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{Ordered list|start=30
|Berhenti di Jagaraga, bupati yang ditinggalkan <br>di Sokawati, lengkap dengan pasukannya, tumenggung <br>Ranadipura, tumenggung ki Cakrajaya, serta tumenggung <br>Kertadirdja.
|Warga penduduk Sokawati dikumpulkan, oleh para mantri, <br>4 orang sekawan, di Gembong serta Sesedhah <br>serta demang Karanganyar, serta mantri Jatisari <br>dan tinggal di Jatisari.
|Empat orang mantri telah tiba, di desa Sesedah<br> kemudian Rangga dengan pasukannya, dan kawan Brajamusthi, <br>waktu itu perjalanan mereka, membalik ke barat <br>dan kemudian ke selatan, bermaksud akan menggempur <br>musuh.
|Rangga dan Brajamusthi, kemudian berperanglah, ramai <br>sekali pertempurannya, mas Rangga menyerang ke barat,<br>berada di sebelah barat sungai, dikisahkanlah hai Pangeran <br>Adipati, yang sedang bergerak.
|Kemudian mereka ke arah utara, sehari mereka berjalan, <br>kemudian beristirahat dengan balatentaranya, di hutan <br>Sepuh, membunyikan gamelan, menyelenggarakan pagelaran<br>wayang kulit, Pangeran Adipati memerintahkan.
|Dua orang ditugaskan, disertai surat, jalannya riang gembira <br>penuh kebijaksanaan, ke U prup bangsa Belanda di Sala, <br>jalannya tidak dikisahkan <br>dua orang utusan telah tibalah, serta diberi sepucuk surat.
|Upru Sala memberi surat, serta mengirimkan minum<br>minuman, sejumlah dua pikul, disampaikan kepada Pangeran <br>Adipati, semalam mereka mengadakan pagelaran wayang, <br>kemudian pada hari Kemisnya, segenap mantri jaba <br>seluruhnya.
|Diperintahkan untuk mendahului keberangkatannya <br>ditugaskan untuk merebut perahu, di Sokawati di {{hws|benga|bengalis}}
}}<noinclude>{{rh|||189}}</noinclude>
qj5eh1zrpe7l5ebb9gl24k257qm9jbj
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/193
250
24134
77450
75367
2026-05-15T14:51:57Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77450
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{Ordered list|start=45
|Kemudian Pangeran Adípati, berangkat bersama pasukan, <br>tímur laut arahnya, istirahat di desa Puthat, semalam dan <br>keesokan hati berangkatlah, kemudian istirahat di desa <br>Malenang.
|Keesokan hari mereka berjalan, istirahat di Careme, Kanjeng <br>Pangeran Adipati, memerintahkan ke Gobogan, memanggil <br>pamanda <br>Adipati Puger, disertai sepucuk Surat.
|Istirahat selama dua malam, pagi hari berangkat bersama <br>balatentara, masuk hutan Kendeng, istirahat di hutan, <br>memberi istirahat pada kapal-kapalnya, di tengah hutan <br>Kendeng dan gunung, lengkap dengan balatentaranya.
|Kemudian ada sepucuk surat yang tiba, dari Madiun, <br>Pangeran Mangkudipura, memberi tahu, lengkap dengan <br>pasukan perang, adipati anem adalah lawannya, pertempuran <br>berlangsung di sendang.
|Kemenangan yang diperolehnya, terhenti mereka mengejar <br>lawan, Pangeran Mangkudipura <br>berada di Ngawi, Pangeran Mangkudipura <br>memperoleh rampasan, dan sierahkan.
|Lawas kehilangan 15 orang, tertangkap hidup-hidup tiga <br>orang, seorang Bugis, teling dipotong, diserahkan Kepada <br>Pengeran Adipati, teman Pangeran Madiun, yang gugur <br>seorang.
|Luka dua orang, kemudian Pangeran Adipati <br>berangkatlah dengan pasukan, ke timur masuk hutan, istirahat <br>di tengah hutan, di Karangasem semalam, balatentaranya <br>dalam keadaan serba kurang.
|Jarang yang menemukan tanda-tanda, di tengah hutan gunung <br>Kendeng, sangatlah sulit memperoleh makan, banyak <br>diantara balatentaranya yang menderita kelaparan, airpun <br>sulit diperoleh, tidak dapat menemukan air, kelaparan <br>karena tidak ada makanan.
}}<noinclude>{{rh|||191}}</noinclude>
hh5ukilv6d3jeeuywbenkq47pxbnqum
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/194
250
24135
77449
75371
2026-05-15T14:51:37Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77449
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{Ordered list|start=53
|Pasukannya sangatlah bersedih hati, kemudian Pangeran <br>Adipati, berangkatlah <br>bermalam di Grogol, semalam dan keesokan hari melanjutkan <br>perjalanan, bermalam di gunung Santun, semalam dan <br>pagi harinya melanjutkan perjalanan.
|Bermalam di Pasembul semalam, kemudian bermalam di <br>Remas, semalam dan pagi harinya berangkat, istirahat di <br>Logender, semalam dan keesokan hari berangkat lagi, bermalam <br>di Kuwu semalam, keesokan hari berangkat dan menuju <br>ke timur.
|Di Galuntung dua malam, keesokan hari lalu berangkat, <br>bermalam di Ngawi sebelah utara <br>Pepe, desa Ngepri, selang tiga hari, keesokan hari bertolaklah <br>dan tiba, Ngawi sebelah barat bengawan.
|Istirahat di desa Ngawi, balatentara dalam keadaan berlebihan, <br>karena banyaknya logistik berupa beras, balatentara <br>dalam keadaan kenyang, tenteramlah hati pasukan, <br>tiap malam dilangsungkan pagelaran wayang kulit <br>balatentara dalam keadaan sejahtera.
|Pangeran Adipati berada di Madiun, Pangeran Mangdipura, <br>menyampaikan rampasan tambur dan payung emas, kopyah <br>serta bendera, menghadaplah mereka itu, dan seorang <br>Bugis.
|Pangeran Adipati, telah bertolak dari Ngawi <br>ke arah barat arahnya, bermaksud akan ke Sokawati, <br>sedangkan yang dai daerah, ditinggalkan dan diberi tugas <br>menggempur, yang berada di Ponorogo.
|Yang berada di Ponorogo, nama Mertamenggala <br>anaknya Suradiningrat, dan Natabrata <br>berkuasa di Ponorogo, tibalah Pangeran Adipati, dan beristirahat <br>di Tempel.
|Beijalan sehari semalam, bermalam di Gernunggung, keesokan <br>hari melanjutkan perjalanan
}}<noinclude>{{rh|192|}}</noinclude>
rvjtyqr7dzlbzmbfn0rpxzv30litgev
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/200
250
24142
77444
76293
2026-05-15T14:49:05Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77444
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::warsa, segenap Tumenggung telah berada di tempat meng-
::hadap Pangeran Adipati.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|<poem>
Ki Tumenggung Kartadiija, ditugaskan untuk pergi keti
mur lagi, dan hendaklah bersatu de
(204) ngan Ramadipura, yang siap sedia di Sokawati
Kartadiija menerima tugas, berangkatlah dengan pasukan-
nya, dan Kanjeng Pangeran Adipati, berangkat ke selatan,
dan tiba di gunung Wijil kemudian beristirahat.</poem>
|<poem>Mereka mendirikan tempat berteduh, dan pasukan dilatih-
nya, yang memimpin Kartanegara
dan disertai 4 orang patih, kemudian kyai Patih, Kudana-
warsa ditugaskan, untuk pergi ke negeri Kaduwang, menye-
rang, Kartadiija memisahkan diri dan mendirikan Kadu-
wang.</poem>
|<poem>Kakaknya Sutawirya, yang di Kaduwang dahulu men-
dahului, Kudanawarsa berangkat, pada hari Kamis Legi,
tanggal 1, bulan Rejeb tahun Dal, berangkat ke Kaduwang,
bersama Kanjeng Pangeran Adipati, memanggil ananda
serta Kakek.</poem>
|<poem>Ananda serta Kakek, telah berada di gunung Wijil, Pange-
ran Mangkudiningrat ada utusan datang, memberi tahu
bahwa menang perang
sedang pertempuran berlangsung di Jatinom
melawan Alap-alap, memperoleh/berhasil membunuh dua
orang, telah dilaporkan dan kemudian tibalah seorang
utusan.</poem>
|<poem>Nama utusan Tirtayuda, yang berasal dari Semarang, serta
membawa sepucuk surat, dan Ideller di Semarang, serta
surat lagi, dari Sekeber dan disampaikan, dan Jayengrana
menceriterakan, menantunya Rama Sri Naranata.</poem>
|<poem>(¿05)Yang menerima naik, ke gunung Kidul yang dahulu, di-
tinggal di gunung Aldaka, terselip karena jalannya lamban,
diajak oleh desa Kalituri, yang menangkap mantri gunung,
Singayuda dan bertempat tinggal di Melambang.</poem>}}<noinclude>{{rh|198}}</noinclude>
i7yher5wp4t47w1nhjfk3520ev81cx7
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/80
250
24147
78112
76292
2026-05-16T05:34:00Z
Zeefra
1934
/* Absah */
78112
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude><poem>
:::pagi hari perintah Sri Nata dikeluarkan,
:::segenap Bupati berangkatlah.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>Bertolak dari Kedhu, Sri Narendra bermaksud
akan ke pantai, Pekalonganlah tujuannya,
berangkatnya Sri Narendra, hari Senen tanggal
27, bulan Rabiulakhir, barat lautlah arahnya.</poem>
|<poem>Pasukan telah siap sedia, Sang Aji berangkat
pagi-pagi benar, perjalanan Sang Prabu,
tibalah di Nglempuyang, setelah semalam
istirahat, pagi harinya melanjutkan perjalanan
telah sampai di luar wilayah (Nglempuyang),
pagi terdengar perintah berjalan.</poem>
|<poem>(69)Tiba di Tempuran lalu istirahat, selang
tiga malam Jagalatan memberi khabar
kepada Sang Prabu, bahwa ada orang datang,
dengan maksud akan turut menghamba kepada
Sang Prabu, nama Kertapraja.</poem>
|<poem>Kertapraja membawa orang bekas pemberontak
berjumlah 40 orang,
adapun pimpinannya, bernama
Mangkujuda, diterima
olah kemudian diberi pertanyaan, oleh Sri Bupati.</poem>
|<poem>Kepada Kartapraja Baginda menanyakan,
di manakah tempat barisan orang pasisir,
Kartapraja menyembah dan melaporkan,
bahwa pasukan Pekalongan,
berbaris di desa Sidayu, selang paginya,
pasukan berangkat.</poem>
|<poem>Tiba di desa Pemasaran, setelah dua malam
beristirahat pagi harinya bertolaklah, dan
menurut rencana Sang Prabu, menuju Pekalongan,
dilaluilah pasukan yang berada di Sidayu,
dilintasi sajalah, jalannya
menyimpang (keluar) dari jalan.</poem>}}<noinclude>{{rh|78}}</noinclude>
397x7sxfhhc1r89p0okf8avtqvdgkxl
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/81
250
24148
78115
76289
2026-05-16T05:38:40Z
Zeefra
1934
/* Absah */
78115
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=46
|<poem>
Melintasi hutan Terataban, pasukan
Sri Narendra telah tiba, desa digempurnya,
rumah dibakar, sedangkan pasukan yang
berada di depan, tiba di kota Pekalongan,
kota telah didudukinya.</poem>
|<poem>Tilia Pekalongan, bertepatan dengan hari Jum'at,
bulan Jumadiawal, tanggal 14, balatentara
bersuka ria, memperoleh makan dan pakaian,
memperoleh rampasan bermacam-macam.</poem>
|<poem>Segenap prajurit, besar-kecil sangat suka hati,
pagi hari, Adipati Pekalongan, berada
dengan anggotanya, serta Cakrajaya di
Batang, dengan pasukannya mereka tiba di sana.</poem>
|<poem>Jayengrana di Wiradesa, tiba di Jempat tersebut
bersama dengan pasukannya, dari
tenggara berjalanlah, pasukan Kasunanan,
dalam pertempuran tersebut yang memegang
pimpinan, pangeran Adiwijaya, pasukan
Kasunanan yang dipimpinnya.</poem>
|<poem>Para tumenggung yang berada di depan,
yang memimpin pangeran Adiwijaya,
beradulah senjata mereka, tidak lama
pertempuran tersebut berkobar, Adipati Pekalongan
melarikan diri, dengan orang pantai sebanyak
tiga orang, melarikan diri dan
dikejar.</poem>
|<poem>Mereka menceburkan diri dalam sungai
orang pesisir banyak yang hanyut dan meninggal
dunia, pasukan Kasunanan yang mengejar,
mengambil rampasannya, harta
karun beraneka macam, emas uang pakaian,
senapan pedang dan kuda.</poem>
|<poem>Keris yang baik dan pedang, ditinggal</poem>}}<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude>
n0g045c2becdqovnwr7l1blq6nsre4l
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/197
250
24158
77447
75472
2026-05-15T14:50:44Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77447
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><poem>
:::istirahat, di desa Nglarangan, semalam dua malam dan keesokan hari berangkat, Pangeran Adipati, ke arah tenggara jalannya, dan gantinya yang dikisahkan.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=76
|<poem>Susunan yang kini diceriterakan, beristirahat di Sidakarsa, lengkap dengan balatentaranya, Sunan telah mendengar berita, bahwa terjadi peperangan, pasukan telah lari pontang-panting, dengan tergopoh-gopoh ke arah utara.</poem>
|<poem>Pasukan yang tertinggal, nama tumenggung Alap-alap, berada di Lemahireng, bersiap-siaga di lapangan, serenta mendengar berita, bahwa Pangeran Adipati datang, dan berada di selatan Waladana.</poem>
|<poem>Pangeran Adipati lalu bergerak bersama balatentaranya, yang siap sedia di Lemahireng ke tumenggung Alap-alap, melarikan diri pontang-panting, yang mengejar, disaksikan oleh rajanya.</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude>
6nqx40sac2zqzagvr5hf9tsj6ismn2m
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/196
250
24159
77448
75466
2026-05-15T14:51:07Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77448
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kawati, bersama teman-teman, ditugaskan membuat tempat istirahat.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=68
|<poem>(200) Majaradin yang ada di Sokawati, memberi kabar, bahwasannya pasukannya kalah dalam pertempuran, dikalahkan
mas Rangga, bersama Brajamusti, Pangeran Adipati berkata, kepada empat orang mantri jero.</poem>
|<poem>Berangkatlah ke Sokawati, membantu Ranadipura, yang
diperintah Jayawinangun, dan Jayawidenta, serta Jasudira,
serta teman-teman
nama Jaya Alap-alap.</poem>
|<poem>Empat mantri tersebut memberikan sembah bekti, bersedia melaksanakan perintah, kemudian berangkat dari,
hadapan Gusti Pangeran Adipati, membantu Sokawati,
perjalalannya tidak dikisahkan.</poem>
|<poem>Adindanya kemudian diperintahkan, Pangeran Mangkudiningrat, ditugaskan menjadi duta
mendahuluinya berangkat ke Paserenan, dan rebutlah
perahu, adinda kemudian mohon diri dan berangkat bersama pasukan.</poem>
|<poem>Mereka bergerak pada hari Senen Wage, tanggal 13, bulan
Jumadilakhir, patih Kudanawarsa, turut ke Paserenan,
segenap tumenggung turut serta, bersama Jayaningrat.</poem>
|<poem>Pringgalaya bersama lain-lainnya, tumenggung Suramangunjaya, dan Kertanegara
ditugaskan untuk berangkat lebih awal, ke Paserenan,
keberangkatannya kemudian bertempurlah, bermusuhan
dengan Wiranata.</poem>
|<poem>Mereka saling menembak, dibatasi oleh bengawan, tersapu
peperangannya, perangnya
(201) Sapimahesa, kemudian Kudanawarsa, menugaskan untuk
memberi kabar, kepada Kanjeng Gusti Adipati.</poem>
|<poem>Berita telah disampaikan Kanjeng Gusti Adipati, yang ber-</poem>}}<noinclude></noinclude>
l2glba31agrldxs2rdh9o8f48xo7m7r
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/82
250
24161
78133
75469
2026-05-16T06:55:59Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
78133
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::begitu saja dalam rumah-rumah di kota,
:: (71) para pembesar menghibur diri,
::pada tengah siang hari, mereka istirahat,
::datanglah lawan ialah pasukan Kumpeni,
::di alun-alun Pekalongan, bersama
::pasukan Bugis.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53
|<poem>Pasukan Bugis terdiri atas seratus tiga
puluh orang, menurut berita
pembesarnya adalah seorang Makasar,
Arung Galengsong namanya, pasukan Bali
terdiri atas 80 orang, gemparlah balatentara
Sang Prabu, tergesa-gesa mereka
mempersiapkan diri, siap sedialah para
prajurit.</poem>
|<poem>Mereka telah siap siaga bertempur,
aba-aba bergerak pun diperintahkan oleh
Sri Narapati, menuju alun-alun
terjadilah pertempuran,
ramai sekali perang yang terjadi,
Ki Tumenggung Wiradigda,
badannya terluka.</poem>
|<poem> Serta raden Jayengrana, tangan sebelah
kiri luka, Suryanegara luka, di kaki sebelah k
kiri, kemudian terhentilah pertempuran
dikarenakan malam tiba, semua anggota
pasukan, meninggalkan medan laga.</poem>
|<poem>Kumpeni dengan pasukannya, tetap berada
di alun-alun mengadakan persiapan-persiapan
orang Makasar Bugis Bali, tidak henti-hentinya
menembaki, kemudian balatentara
Kasunanan membalasnya, Mas Renggo
yang siap, membawa serta prajuritnya.</poem>
|<poem>Prajurit terdiri pasukan dalam, membelok
ke timur melingkari yang sedang bertempur,</poem>}}<noinclude>{{rh|80}}</noinclude>
ihqo67i9pz1cz065ke7vqsvfsfobjmv
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/198
250
24165
77446
75475
2026-05-15T14:50:24Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77446
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::'''R (Sinom)'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Pangeran Mangkudiningrat, yang memimpin prajurit, serta
patih Kudanawarsa, lengkap dengan mantri jaba, yang mengejarnya dan Alap-alap melarikan diri terkejar dan tertangkap, di Klepu pertempurannya, tidak dihalang-halangi
larinya Ki Alap-alap.</poem>
|<poem>Ke arah barat larinya, kemudian dikeijar dan diusir, oleh
Pangeran Mangkudiningrat, dan Kudanawarsa tidak ketinggalan, serta Mantri Jabapun tidak ketinggalan, tidak henti(202) nya mereka mengejar, dan kebetulan memperoleh rampasan, empat ekor kuda, yang dua ekor dipersembahkan kepada Pangeran Adipati.</poem>
|<poem>Oleh Pangeran Adipati, bermalam di gunung Wijil, berangkat pada saat bedug tiga, keesokan hari lalu berjumpa,
dengan kyai patih, Kudanawarsa menyembah, serta menyampaikan, bahwa lawan masih ada di belakang, Wiranata yang masih di belakang.</poem>
|<poem>Kyai Patih Danawarsa, ditugaskan untuk kembali
melawan musuh Wiranata, sedangkan Pangeran Adipati,
kemudian berjalan ke arah barat
lengkap dengan pasukannya, kemudian pamanda
Pangeran Purbaya mohon diri, dia telah meneliti istrinya
yang ada di Tembayat.</poem>
|<poem>Pangeran Adipati, terhenti di sebelah barat jalan, bermalam
di desa Pangkalan, selama dua malam, keesokan hari berjalan ke utara, tiba disebuah pesanggrahan desa, di Lungge,</poem>}}<noinclude>{{rh|196}}</noinclude>
jqkvf8jsereaf6j3lm8256d4lfrexpb
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/199
250
24166
77445
76295
2026-05-15T14:49:57Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77445
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kemudian adindanya ditugaskan, Pangeran Mangudining
::rat dan Pringgalaya.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Kerahkanlah segenap penduduk desa, dan Pangeran Adipa-
ti, menugaskan dan menyertai sepucuk surat, kepada kepa-
la Kumpeni, yang berada di gunung Gamping, namanya
kapten Keber, sedangkan yang ditugaskan, mantri jero,
sedangkan yang membawa surat Jayakintaka.</poem>
|<poem>Tibalah seorang duta, dengan membawa sepucuk surat,
dari Pangeran Bintara, telah disampaikan kepada Pangeran
Adipati, isi surat yang
(103) tersurat, bahwasanya menurut kehendak Pangeran Bintara,
menghendaki bersatu dalam kehendak/rencana/maksud,
menyerahkan diri pada Pangeran Adipati.</poem>
|<poem>Kanjeng Pangeran memberi jawaban atas kiriman surat
tersebut, dan berangkatlah duta, menghadap Pangeran Bin-
tara, waktu itu bersamaan
tibanya sepucuk surat, dari Ideller, ditujukan kepada Pa-
ngeran Adipati, memberikan sepucuk senapan, Pangeran
Adipati memberi jawaban tertulis.</poem>
|<poem>Kepada Ideller Harting, Ideller telah mengundurkan diri,
dan diganti oleh Harting, Tirtayuda yang ditugaskan, oleh
Kanjeng Pangeran Adipati, di Nglungge selama 6 malam,
keesokan hari ada perintah berangkat, dan memberi perin-
tah, untuk pergi ke Sala serta disertai sepucuk surat.</poem>
|<poem>Waktu itu ditugaskan, mantri nama Jayakinteki, sedangkan
yang ditinggalkan di sebelah barat gunung adakah adiknya,
dengan pasukannya, Pangeran Mangkudiningrat
Pangeran Adipati berjalan, dan bermalam di desa Pakau-
man lengkap dengan balatentaranya,</poem>
|<poem>Beristirahat semalam dua hari, Kanjeng Pengeran Adipati,
kemudian memerintah lagi
untuk pergi kepada Kumpeni di Sala, serta disertai sepucuk
surat, mantri jaba telah berkumpul, dengan patih Prana-</poem>}}<noinclude>{{rh|||197}}</noinclude>
tll5wxb6b3c9eolivaprt8rxi1e1ttl
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/66
250
24172
77461
75487
2026-05-15T14:57:01Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77461
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::bahwa Susunan berada di Kaliamba,
::di Sempura tersebut, keesokan hari
::kawanan Kumpeni membubarkan diri,
::Sang Nata bergerak, Kumpeni
::menjemputnya, berjumlah duapuluh,
::jalannya di apit oleh tepinya jurang
::kemudian yang baris di depan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=23
|<poem>Kasunanan bertempur melawan Kumpeni,
telah kalah dihujani peluru, melarikan diri
kesemuanya, tambahan lagi banyak yang berada di
depan, kemudian Sri Naranata, tercengang
menyaksikan, bahwa balatentara
yang ada di depan, cerai berai
tak beraturan bertempur, kemudian
Sri Naranata memerintahkan.</poem>
|<poem>Prajurit urusan dalam untuk melawan segera,
majulah bertempurlah anak-anak,
hendaknya semua berjalan kaki,
bertempur di sebelah barat sungai, waspada
menyerang dan menetapi janji prajurit,
meskipun ditembaki tidak berhenti,
Kumpeni menjati gugup, banyak di antaranya
yang diterjang, ditombak dan gugur,
yang hidup melarikan diri.</poem>
|<poem>Mereka mengungsi ke Banyumas lagi, yang
gugur sejumlah dua belas orang, terkecuali
Bugis Bali, lima belas yang meninggal dunia,
sedangkan fìhak Kasunanan yang
gugur, seorang Sarageni, seorang Bugis,
(55) yang luka lima orang, ada lagi adiknya
Brajamurthi, gugur dalam peperangan.</poem>
|<poem>Hanya sedikit kuda yang terluka, terbawa
karena terlanggar kuda, sewaktu pertempuran
pada pagi hari, demikianlah keadaan
balatentara Sang Prabu, semua membawa tawanan,</poem>}}<noinclude>{{rh|64}}</noinclude>
gaymbulwmeausyfdc05a9pdqhacnr5t
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/67
250
24173
77460
75492
2026-05-15T14:56:17Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77460
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kemudian Sri Naranata, beristirahat di
::sebuah desa, ialah di desa Sempura, segenap
::tentara istirahat dan siaga, di desa Sempura.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=27
|<poem>Mas Rangga mempunyai seorang calon
pegawai, adapun namanya Suradirana, dahulu
berasal, magang dan belajar dulu,
kepada Kanjeng Pangeran Adipati, Arya
Mangkunegara, penyerahannya itu, kepada patih
Kudanawarsa, karena duluh kalah
tinggi kemudian hatinya tidak puas,
karenanya ikut mas Rangga.</poem>
|<poem>Mereka menuju Kedhu untuk menyaksikan ulah
keprajuritan, memperoleh kepercayaan dari
Sri Narendra, kemudian diangkat kedudukannya,
dijadikan pimpinan kelompok (lurah),
Suryanata diasuhnya, bernama Jayengrana,
Sang Prabu lebih asih, waktu itu dianggapnya
sebagai putranya sendiri, kemudian kelompok Bugis
menyampaikan salam bakti, menghaturkan jamuan
persembahan kepada Sri Narendra.</poem>
|<poem>Keesokkan harinya Sang Nata berjalan/bergerak,
arahnya ke selatan, tujuan adalah Bagelen,
pimpinannya, pangeran Purbaya dan
(56) lain-lain, pangeran Mangkukusuma,
warga desa setelah menyiapkan tempat
istirahat, di sepanjang jalan memperoleh
sambutan yang meluap, tidak terceriterakan
Panjang tibalah mereka di Bagelen,
Sri Nata beristirahat.</poem>
|<poem>Waktu itu yang berada di Bagelen, pasukan
berada di Selolembu, Arungbinang turut serta,
mereka bersiap di Lowanu, Arungbinang mendengar
berita, kedatangan Sang Nata, sewaktu memasuki
Pucang, dan barisan yang ada Lowanu,
melarikan diri berbirit-birit.</poem>}}<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude>
qh49vvl98khv6tmrge6zn6lpjfka39t
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/68
250
24175
77459
75494
2026-05-15T14:55:45Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77459
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem>Barisan Kumpeni mengungsi, di Selalembu
telah diberitahu, bahwa lawannya ialah barisan
Sunan datang, telah tiba di Pucang, balatentara
Kumpeni salang tunjang, tumenggung
Arung binang dengan tergesa-gesa memberi
komando, salang tunjang balatentara Kumpeni,
mereka siap-siap melawan musuh yang tiba
diceritakan Sri Naranata.</poem>
|<poem>Yang istirahat di Pucang lengkap
dengan pasukannya selama dua hari, keesokan
hari ada aba-aba, berangkat, demikianlah
lapangan, nama Welaran, kemudian mendirikan
perkemahan, pimpinan serta bupati.
belum hadir, mereka masih di belakang.</poem>
|<poem>Kehadiran para pimpinan, di Welaran
tepat pada tengah hari, pada hari
(57) Rabu, tanggal tujuh, bulan Besar Ehe tahunnya,
kebetulan saat Kumpeni datang, kemudian
menyerangnya, peperangan ramai sekali,
mengamuklah dan larilah gerombolan Kumpeni,
dikejar dan diserang.</poem>
|<poem>Sebelas orang Kumpeni gugur, sepuluh orang
ditawan, bersama kelompok Bugis Bah,
lima belaso orang gugur, lima orang ditawan
hidup-hidup, selebihnya melarikan diri,
mereka berebutan melarikan diri, mengungsi
ke loji Ungaran, sedangkan di Bagelen tentara
Sang Aji, dua orang gugur.</poem>
|<poem>Enam orang menderita luka, istirahat
semalam kemudian keesokan hari melanjutkan
perjalanan, ke barat arahnya lengkap
dengan pasukan, di sebelah Ungaran,
Sang Nata istirahat, tempat tersebut berada
di sebelah selatan, daerah kekuasaan Belanda,</poem>}}<noinclude>{{rh|66}}</noinclude>
5e3fjpgpo18fmsbr5idacbpkdvxtx1n
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/190
250
24176
77452
75496
2026-05-15T14:52:45Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77452
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=23
|<poem>Jayaliyangan, Japerlana Jawiruna, berada di depan, serta
membawa sepucuk surat, dari Ideller di Semarang, dan
Surat telah diteruskan, kepada Kanjeng Pangeran Adipati.</poem>
|<poem>Jalannya utusan yang sedang menghadap
terasa tidak memperoleh hasil, dan diterima dengan enak
saja, kepada Ideller di Semarang
kemudian Pangeran Adipati, berjalan ke timur, dan istirahat di desa Kateguwan</poem>
|<poem>Semalam dan pagi berjalan, istirahat di desa
(193) Kalengisan, selama dua malam dan keesokan hari ada
yang menghadap, nama Jaleksana, dan menyampaikan tawanan perang.
= 1679.</poem>
|<poem>Orang berasal dari Matesih, sebanyak tiga orang dijadikan
tawanan perang, telah disampaikan dan diriwayatkan, tiga
orang tersebut diberi ampun
serta disumpah, diampunilah dosanya, oleh Gusti Pangeran
Adipati.</poem>
|<poem>Kanjeng Pangeran Adipati, pagi hari memberi perintah,
kemudian berangkatlah balatentara, istirahat di Suruh Pakulungan, pagi hari ada utusan tlatang
dari Pangeran di Madiun, serta membawa Surat.</poem>
|<poem> Memberitahu, kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati
bahwasannya nanti dalam perjalanan, dengan balatentaranya semua, kini mereka telah bertempur, pertempuran
berlangsung di Berja, Brajamusthi dan mas Rangga.</poem>
|<poem>Menang dalam pertempuran, pasukan Kasunanan melarikan diri, perjalanan mereka terjaring senja malam, karenanya berhenti dan kebetulan saat tersebut hujan, Pangeran
Mangkudipura, jalannya makin dipercepat, bersama-sama
dengan pasukan luar daerah.</poem>}}<noinclude>{{rh|188}}</noinclude>
mwzn107t7tyca9salwau1zyuhom51dg
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/204
250
24178
77438
76274
2026-05-15T14:44:30Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77438
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><poem>
:::membawa surat dan kiriman, sapi dan kuda, bersamaan
:::dengan kehadiran duta
:::yang dari Sang Prabu, dan menyampaikan surat
:::dan telah tersirap isinya surat, mohon perkenan mengang-
:::kat Sirapringga.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=38
|<poem>Kanjeng Pangeran Adipati, memberi ijin dan menjawab de-
ngan surat, kepada Pangeran Prabu Jaka, yang berada di
Kediri, kemudian Pangeran Adipati, kawin dengan nak-
sanaknya
Tumenggung Pringgalaya, pada hari Akad
tanggal 4 Ruwah tahun Dal.</poem>
|<poem>Tahun dibuatkan sangkalan, Trus Pandhita Bah ing Bumi,
ada lagi istrinya, Kanjeng Pangeran Adipati, nama Raden
Retnawati, me-
(2 IO) lahirkan seorang putra putri, Sabtu Pon
tanggal 9, Ruwah tahun Dal.</poem>
|<poem>Kemudian patih Danawarsa, mempersembahkan kepalanya
mantri, Kartawirya dari Kaduwang
yang dulu perberang, sekarang telah mati
tertangkap, tumenggung Mangundirja, yang menguasai
Magetan, dan menyerahkan boyongan (putri-putri).</poem>
≈ 1679.
|<poem>Boyongan berjumlah 27 orang putrì, serta mempersembah-
kan kuda, senjata serta keris
kepada Pangeran Adipati, bupati Ponorogo
nama Tepasana, mempersembahkan kuda, berbulu hitam
sebanyak dua ekor, serta uang kepada Pangeran Adipati.</poem>
|<poem>Kemudian Kanjeng Pangeran Adipati, menikahkan putra
seorang putrì, nama raden ajeng Sobro, dengan raden So-
manegara, putra bupati
Mataram Janingrat, setelah perkawinan berlangsung, me-
reka ke Somareja, dan diadakan upacara temu di gunung
Wijil.</poem>}}<noinclude>{{rh|202}}</noinclude>
3o1jyaezxs7sdthmgso2cjt01g76zcn
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/71
250
24179
77467
75500
2026-05-15T14:58:51Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77467
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44
|<poem>Empat orang Kumpeni gugur, sedangkan fihak
Kasunanan seorang, enam orang luka-luka,
bagian barisan dalam dua orang luka,
kini peperangan berhenti, Sri Nata istirahat,
pada senja sore hari, waktu itu adalah
hari Kemis tanggal 14, Sura Jimawal.</poem>
|<poem>(60) Pasukan bantuan masih besar, bermalam di
sebelah utara sungai, lengkap dengan kelompok
Bugis Bali, tumenggung Arungbinang, akan
tetapi segenap prajurit, dari Banyumas dan
Rema, telah turut serta, sementara itu Sri
Narendra, semalam malaman mengadakan perundingan
dengan para adipati, dan para pangeran.</poem>
|<poem>Mengingat akan besarnya pasukan Kumpeni
engganlah mereka, dan semufakat untuk
menghindari, keluar dari medan pertempuran,
keesokan hari aba-aba dikumandangkan, kemudian
Sri Narapati, menuju ke timur, Bupati
tumenggung, berjalan di bagian belakang, sedang
barisan dalam berada di depan, tibalah mereka
di danau Ji.</poem>
|<poem>Keesokkan hari berangkat dan berjalan ke barat,
Sri Narendra telah berada di Benda, keesokan
hari lalu melanjutkan perjalanan, tibalah
mereka di WiraSaba, kemudian para bupati,
memerintahkan membuat jalan penyeberangan,
setelahjembaían selesai, hanya Sri Narendra
dan pasukannya berangkat, menyeberangi ke
utara lengkap dengan para prajurit,
tibalah di desa Ngrasukan.</poem>
|<poem> Sehari semalam berangkat berjalan, tiba di
Jenar dan istirahat, di tempat tersebut Sang
Nata mengadakan perundingan, dengan keluarga
dan segenap tumenggung, pimpinan
dan prajurit, telah memperoleh kebulatan</poem>}}<noinclude>{{rh|||69}}</noinclude>
3wmoyjru1iyc1j3y512faplr7sjb1tt
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/72
250
24180
77466
75501
2026-05-15T14:58:31Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77466
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::kata, menghentikan perjalanan,
::dengan tujuan menanti kedatangan lawan,
::(60) di Jenar pasukan-pasukan di atur dan siap
::siaga, dan segera akan bertempur lagi.<noinclude>{{rh|70}}</noinclude>
1ste22r58kddpe3qjeuzneo7cwqx17k
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/73
250
24181
77465
75502
2026-05-15T14:58:15Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77465
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::mereka, dan berhenti serta berkumpul di
::Batang, tumenggung Janingrat di
::Pekalongan dan lain-lainnya, ki tumenggung
::Cakrajaya di Batang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Serta tumenggung Jayengrana, di negeri Wiradesa,
tumenggung Cakranegara, di Pemalang
serta lain-lainnya, di Brebes, raden
Suralaya namanya, hanya mereka itulah
yang bersedia turut Sri Nerpati, demikianlah
maka mereka berkumpul di Batang.</poem>
|<poem>Mereka merencanakan akan menyampaikan
berita, kepada Sunan yang berada di Beji,
ialah tumenggung Sindujaya, diterimalah ia oleh
Sri Nerpati, membawa menghadap segenap adipati,
atas panggilan Sang Nata, Ranggawirasentika
menjemput orang pantai/pesisir,
dan dibawalah ke Batang.</poem>
|<poem>Mereka diantar, dibawa ke hadapan Sang Nata,
tidak diceriterakan perjalanan mereka, juga tidak
diuraikan, segenap tumenggung telah tiba,
(79) di Beji lengkap dengan pasukannya,
diantar oleh Mas Rangga, Sang Nata sangat
suka cita, setibanya diterima oleh
Sang Nata.</poem>
|<poem>Penghormatan dilakukan dengan salvo,
dari senapan serta mariyem, atas kehadiran
mereka, terhenti di luar pasukan, menurut
kehendak Sri Bupati, keris-keris milik
para tumenggung dari sepanjang pantai
diminta oleh Sri Nerpati, setelah itu atas kehendak
Sri Nerpati, para Adipati diminta masuk.</poem>
|<poem> Setelah disumpah, keris diserahkan kembali,
mereka semua menghadap berwawancara.
dengan mereka diadakan oleh Sri Nerpati,</poem>}}<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude>
0o2suldjzfppnytjpc1xbkuzgjp1d7p
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/74
250
24183
77464
75505
2026-05-15T14:57:55Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77464
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::Prabu, telah siap siaga, mereka berada dan
::(62) berkumpul di sebuah lapangan, Kumpeni sedang
::bersiap-siap, menyiapkan diri di tepi sungai.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Kini dikisahkan yang terjadi di sebelah timur
lapangan, pasukan Kumpeni tidak mengetahui
seenaknya saja, "Kumpeni yang bagian belakang,
yang menuju ke arah selatan, menyerangnya,
yang diserang bala Kasunanan, kemudian
terjadilah suatu pertempuran dengan fihak
Kumpeni.</poem>
|<poem>Diserangnya fihak Kumpeni dan cerai berailah
keadaan Kumpeni, barisan Kumpeni
yang di depan masih enak-enak berjalan,
Kumpeni yang di bagian timur diserang, cerai
berailah, orang Kumpeni dikejarnya,
oleh pasukan Kasunanan, sedang pasukan Kumpeni
yang besar berada di belakang.</poem>
|<poem>Pasukan Kumpeni bagian belakang, yang
dipimpin seorang mayor menyerang para wanita,
tidak lama kemudian terjadilah pertempuran,
suatu pertempuran yang sengit,
sengit sekali tidak tahu mana kawan mana
lawan, saling mendahului, Sunan bingung
sekali.</poem>
|<poem>Sang Nata lebih bingung, pasukannya kemudian
balik kembali, Sang Nata kemudian berbicara/
memerintah, prajurit diperintahkan untuk
bertahan di dharat, mengamuk habis-habisan
segenap balatentara Sang Prabu, serenta
menyaksikan isteri-isteri ditangkap
Kumpeni.</poem>
|<poem>Mayor Kumpeni mengetahui,
bahwa Susunan bergerak mengadakan serangan</poem>}}<noinclude>{{rh|72}}</noinclude>
hufv874c27ztch72gskgkjwhkp8dcii
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/75
250
24184
77462
75506
2026-05-15T14:57:35Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77462
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::maka Kumpeni menarik mundur bersiap-siap
::di sebuah lapangan, sementara pasukan-pasukan
::(63) Sunang terus bergerak maju, Kumpeni mempertahankan
::diri, kemudian terjadilah pertempuran.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Pertempuran menjadi bertambah dahsyat,
bila sampai terlena menjadi umpah peluruh,
golok pedang tumbak keris, setelah Mayor
gugur, orang Kumpeni yang masih hidup melarikan
diri, Sunan berhenti di tengah ladang,
yang lainnya mengejar Kumpeni.</poem>
|<poem>Dua orang pangeran, Cakrajaya serta Kartanegara,
empat orang Belanda wafat, di peperangan tiga
puluh orang, lebih tiga orang pimpinan yang
gugur, sungguh Sri Naranata memperoleh rahmat
Yang Maha Esa.</poem>
|<poem>Orang Belanda yang tertawan, 44 orang
semua dibunuhnya, seorang letnan gugur,
dibunuhnya pula Kumpeni beragama Islam dari
luar berjumlah 44 orang,
9 orang tertangkap hidup-hidup.</poem>
|<poem>Pasukan Jawa berpangkat mantri yang gugur,
8 orang gugur, sedang yang dapat dirampas
obat, mesiu, 22 buah tong jumlah, tidak
terhitung perampasan berupa senjata, keris dan
pakaian beraneka macam.</poem>
|<poem>Sedangkan pasukan Kasunanan yang gugur
akibat tertembak Suryanegara, Ki Mangunegara
juga wafat, prajurit dalam yang wafat,
lima orang yang luka tujuh orang,
orang luar meninggal seorang, tujuh orang
(64) luka-luka.</poem>
|<poem> Pangeran Purbaya; serta pangeran Mangkukusuma,
memperoleh marah dari Sang Prabu,</poem>}}<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude>
swz1ig1066vzpxbsaj1ndv6591prxfm
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/76
250
24185
77503
75507
2026-05-15T15:26:49Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77503
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mantri diminta, asuhannya tidak ada yang
::ketinggalan, tetapi tinggal yang berdiam diri,
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=17
|<poem>Peperangan terjadi pada hari Minggu,
tanggal 25 Sura, Susunan dengan pasukannya
mengadakan hiburan, gembira
sehabis memenangkan peperangan, pagi
hari memberi aba-aba, berbaris menuju arah utara.</poem>
|<poem> Setibanya di pesanggrahan, Sri Narendra
beristirahat di Banyuurip, menyiapkan
diri pasukannya, lalu beristirahat,
sedangkan pasukan Kumpeni yang masih
hidup selama pertempuran ini,
melarikan diri mengungsi ke loji. *)</poem>
|<poem>Bersama pasukan Jawa segenap tumenggung
kecuali yang gugur, semuanya berkumpul
dan melarikan diri, mengungsi di loji Ungaran,
tidak keluar menampakkan diri dari loji,
kini terkisahkan Sang Nata, berkata kepada
dua orang adiknya.</poem>
|<poem>Hai, adinda mas Purbaya, serta adinda
Mangkukusuma, berbarislah di Bandung,
setelah menghaturkan sembah keduanya berangkatlah
kemudian berbaris di Bandung
sedangkan Sang Nata tetap beristirahat
(65) di Banyuurip.</poem>
|<poem> Beristirahat sekitar 10 hari, orang Kumpeni,
Jawa, Bugis, yang mengungsi melarikan diri,
ke loji Ungaran, telah berlangsung selama lima
hari, kemudian datanglah balabantuan, ialah
pasukan Kumpeni dari Tegal. </poem>}}
<small>*) rumah dibuat dari tembok, biasanya tempat tinggal bagi seorang pembesar Belanda atau asrama serdadu Belanda.</small><noinclude>{{rh|74}}</noinclude>
jk8evqwuroy01xm50r4m5r7uzw9f2gb
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/205
250
24190
78117
76273
2026-05-16T05:47:47Z
Zeefra
1934
/* Absah */
78117
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Zeefra" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43
|<poem>Mereka memperoleh berita, bulan Ruwan sama tahunnya, hari Rabu Kliwon, senjata telah dípersiapkan, lengkaplah para bupati, bupati dalam dan luar laki-laki perempuan, dan terdengarlah aba-aba senjata, dentuman senjata dan dalam perjalanan tidak terdengar berita.</poem>
|<poem>Kemudian demang Karanganyar, dan Malangsumi-
(211) rang tiba, bertolak dari Semarang, membawa surat, dari Ideller memberi kiriman renda/sulaman, laken biru dan merah, kemudian Kanjeng Pangeran Adipati main kartu.</poem>
|<poem>Sedangkan para abdi seluruhnya, tumenggung mantri prajurit, menari bedaya dan teledek makan besar minum minuman keras, pada hari Selasa malam, tanggal 19 bulan Ruwah, semalam makam besar, main kartu semalam suntuk, pada saat Pangeran berganti nama.</poem>
|<poem>Ganti ñama, Pangeran Cakranegara, pada waktu pesta-pesta, diadakan perubahan nama, dan berada di gunung Wijil, kemudian tibalah megeng Puasa, dan segenap balatentara menyelenggarakan sholat, Pangeran Adipati juga, tidak kosong (terus menerus) melakukan sholat dalam bulan Puasa.</poem>
|<poem>Balatentara melakukan maleman, bagaikan laut barisnya, selesai bulan Puasa, tibalah Garebeg, punggawa serta prajurit, makan dan minum, kemudian para putra, dengan isteri, dan Kakek/nenek menuju Kedungwaringin.</poem>
|<poem>Banyak diantara isterinya, yang dengan cepat-cepat digandengnya, Pangeran Mangkudiningrat, ditugaskan untuk menyerang, ke arah barat jalan
berangkat dengan pasukannya, Pangeran Adipati
tetap berada di gunung Wijil, tidak henti-hentinya main kartu untuk menghibur diri.</poem>
|<poem>Kemudian ada utusan datang, dari Ayahnda Nerpati, berjumlah 40 orang, menyerahkan diri kepada Pangeran Adipati, kemudian datang lagi</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude>
cb19yfsc90pvxgyfc54wjqiombnkxxr
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/183
250
24193
77454
75539
2026-05-15T14:53:25Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77454
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|start=38
|<poem>Mendekat dan dalam siap siaga, dan dihadapi peperangan
di Kasampangan, pasukan Jawa Bugis Bali, yang memimpin
pasukan Kumpeni
empat orang yang memimpin, bertempur di sebelah timur
Kasampangan, menang perang, pasukan Mangkunegara
menang, pasukan Sala banyak yang gugur 4 orang Belanda
mati.
<sup>X</sup><sup>)</sup> = 1679.
</poem>
|<poem>Sedangkan pasukan Sorogeni serta Numbak yang wafat,
gugur 5 orang luka 5 orang, pasukan Solo melarikan diri,
Bugis Bali melarikan
185) masuk, Kasampangan, rumah-rumah, pasukan Sorogeni
memasuki rumah-rumah, yang memimpin perang, Mantri Jero
Jayaliyangan, serta Jayaprayitno.</poem>
|<poem>Pasuakn Kumpeni yang berada dalam gedung, dengan gencar menembakan meriyem,dari barat laut arahnya, Kasampangan telah sunyi senyap
dibakarnya desa tersebut, oleh pasukan Sorogeni
pasukan Kumpeni menembakinya, mem bantu dari seberang sungai, Sorogeni mengundurkan diri dengan pelanpelan, kembali ke timur menghadap Pangeran Adipati, bertepatan dengan jatuhny a senja sore hari.</poem>
|<poem>Sedangkan Kanjeng Pangeran Adipati, beristirahat di desa
Wonosroyo, semalam dan kemudian esok harinya, setelah
berjalan kearah selatan, kemudian melalui timur berjalan
ke Solo, berdekatan dengan gedung Solo
sedangkan yang berada di Timur, dan berada di tepi membantu menembak, ke arah kanannya Kumpeni yang berada di gedung Solo, dan berjalanlah dengan seenaknya.</poem>
|<poem>Pangeran Adipati lalu berjalan ke selatan
istirahat di desa Pakatakan, semalam lalu pagi harinya,
membubarkan diri, kemudian bergerak ke arah tenggara,
lengkap dengan putera-putera serta isteri-isteri, bertemu di
Delanggu, dan juga Nenekuda yang menyampaikan bahwa
</poem>
}}<noinclude>{{rh|||181}}</noinclude>
ezghb7uefwgsdyjemwjsbzlbd7cp38x
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/201
250
24199
77443
76290
2026-05-15T14:48:28Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77443
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem>Sedangkan raden Jayengrana, dibawa ke gunung Wijil,
diserahkan kepada Pangeran Adipati
yang dihadapi oleh segenap mantri, kepada Jayengrana
diajukan pertayaan, Pangeran Adipati berkata, Ki Jayeng-
rana, kepada anda saya ajukan pertayaan, lebih baik mana
mati atau hidup.</poem>
|<poem>Silahkan memilihnya, pulihlah salah satu
Jayengrana menyampaikan, slia menghadap ke bawah dan
menangis, bila diperkenankan maafkan Sri Sunan, saya
mohon hidup, saya hanya orang awam, makan nasi hanya-
lah satu suap saja.</poem>
|<poem>Sangatlah marah dalam hati, Kanjeng Pangeran Adipati, ti-
dak ada faedahnya, nanda memperoleh seorang putri
bangsawan, rakyat awam kawin dengan putri bangsawan,
yang bobotnya sama dengan saya, anda memilih hidup,
itu ada insan yang paling jelek, yang berarti Jayengrana
menghina.</poem>
|<poem>Membuat bopeng raut muka di dunia, anda akan dihabisi
nyawanya, kemudian Pangeran Adipati
beserta kepada mantri pemenggal kepala, dan menugaskan
kepada Jagalatan, sudah bawa pe-
(206) dan telah dihunusnya, Jayengrana kemudian dipenggal-
nya.</poem>
|<poem>Yang menghabisi nyawa Jayengrana, adalah dua orang
mantri pemenggal, Jayayaga Ulatan, pada hari Rabu Pa-
hing, tanggal 18, bulan Rejeb
kepala Jayengrana, telah dipenggalnya, serta hatinya di-
telan Jagaulatan.</poem>
|<poem>Ditelannya hati, karena Jagaulatan mempunyai cita-cita
(punagi), bila kelak tertangkap dalam peperangan, saat
itu juga Jayengrana, hatinya akan saya makan (telan), ka-
rena membawa atau melarikan isterinya, yang tertinggal
di desa, sedang Jayengrana yang mengambilnya, karena-
nya panas hati Jagaulatan.</poem>}}<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude>
ninm2iwgi9i8cbgnzszsvq9z2prilt1
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/203
250
24200
77440
76279
2026-05-15T14:47:03Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77440
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude><poem>
:::utusan tiba, dari Uprup Sala, serta sepucuk surat isi berita,
:::telah diterima ki-
:::(208) riman surat, dan isinya, bahwa Wiranata
:::yang dahulu turut Sunan, Wiranata takluk ke Sala.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem>
Segera Pangeran Adipati, telah memberi jawaban atas
surat, kepada U prup di Sala, kemudian Pangeran Adi-
pati, memerintahkan kepada pasuakn Sarageni, yang ber-
jumlah 40 orang
diberi nama Tanuastra, dan berada di gunung Wijil, dan
tibalah utusan dari Danawarsa.</poem>
|<poem>
Menyerahkan dua orang putrì sebagai boyongan
ditambah senjata dan keris, keris milik Karta-
wirya, Kartawirya telah gugur, serta menyerahkan kuda, berjumlah 15
ekor, kemudian datanglah utusan, dari Semarang, mem
bawa surat dari Ideller Semarang.</poem>
|<poem>
Bersamaan dengan Cakrajaya, tibalah Kartadirja, yang dari
Sokawati, maju ke depan dan menyembah, perjalanan
hamba gusti, meratakan lawan telah hamba lakukan,
Gusti di Sokawati
(209) sekarang telah merata, telah terang karena lawan telah
hilang.</poem>
|<poem>
Tambahan lagi mempersembahkan 4 orang, yang takluk
pada mantri, nama Suryanaka, dari ayahnda Kanjeng
Gusti, yang pada saat ini kanjeng Rama Aji, berada di Se-
mawi, termasuk daerah Gagatan, yang sering kirim sura
Jeng Susunan kepada Ideller di Semarang.</poem>
|<poem>
Yang tinggal pasukan Sang Nata, sekitar 300 orang, laki-
laki dan perempuan, Sunan gering adapun yang diderita
panas-dingin
Pangeran Adipati, sering kelakukám main kartu dan menari
tayub, dan utusan kepada Ideller di Semarang, yang di-
tugaskan dua orang mantri.</poem>
|<poem>
Nata demang Karanganyar, serta mantri Malang semirang,</poem>}}<noinclude>{{rh|||201}}</noinclude>
bwy2wk0z3135ishk4qhzrzpt98xnakg
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/202
250
24202
77442
75532
2026-05-15T14:47:38Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77442
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Penusukan badannya, dilakukan dengan padeng sakti,
kemudian Pangeran Adipati, mengirim utusan ke Semarang, disertai surat, tidak ketinggalan surat untuk Skeber,
kepala Jayengrana, diserahkan kepada Belanda, yang
ditugaskan 7 orang utusan.</poem>
|<poem>Sedang Ki Singayuda, yang melaksanakan tugas, yang menangkap Jayengrana, dinaikan pangkatnya menjadi mantri,
kemudian ada yang datang, Belanda yang takluk, hanya
seorang saja, dari ayahnda Nerpati, Kanjeng Pangeran
sangatlah sukacitanya.</poem>
|<poem> Terkisahkan yang diberi tugas, ke Sekeber telah tiba kembali, yang diundang telah
(207) tiba, dan seekor kuda, sangatlah baiknya
kuda telah diserahkan, kepada Kanjeng Pangeran Adipati,
lama berada di gunung Wijil
kemudian datanglah seorang duta.</poem>
|<poem>Dari raja, Kudanawarsa memberi kabar, bahwa memperoleh kemenangan dalam peperangan, Kaduwang telah
ditangannya, sedangkan peperangan yang dilakukan,
jatuh pada hari Jum at tanggal 9, masih dalam bulan Rajab, tahun Dal jatuhnya kota Kaduwang.</poem>
|<poem>Dan menyerahkan kepala, dua buah kepala kepalanya mantri, serta rampasan senapan, kuda payung dan keris, diperembahkan kepada Pangeran Adipati, serta apa yang telah
terjadi, kemudian Pangeran Adipati, mengirim utusan
kepada Kumpeni, Sekeber yang berada di gungung Gamping Mataram.</poem>
|<poem> Menyerahkan kepala, payung keris serta kuda
kepada Sekeber dikengkapi dengan sepucuk surat yang
diutus dua orang mantri, Kudanawarsa dan lain-lain, menyerahkan boyongan (putri), 14 orang isteri/perempuan,
dan kemudian ditambah lagi, yang terakhir seorang mantri
nama Jayawikrama.</poem>
|<poem>Kepada Sekeber dilampiri sepucuk surat, kemudian ada</poem>}}<noinclude>{{rh|200}}</noinclude>
t44eulnzdhue212lgd1y6wnt3gkmsak
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/184
250
24203
77456
75535
2026-05-15T14:53:50Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77456
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::bertemu di Tambakbanggi, di sebelah selatan sungai.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43
|<poem>Kemudian Pangeran Adipati istirahat, dengan balatentaranya di Tambakbaya, hanya dua malam keesokan hari terdengar aba-aba yang menggebu
untuk bergerak ke arah barat, kemudian ke Somorejo,
sehari dan tibalah, bermalam di Somorejo, tiba pada hari
Jum'at Kliwon, Sapat tanggal 5.</poem>
|<poem>Kemudian tibalah seorang duta, duta dari Ayahnda Susunan, menyampaikan penari bedoyo
yang namanya Sampet, diberikan kepada Pangeran Adipati, waktu Kanjeng Pangeran, sakit cangkrangan, dan panas
dingin, kehadiran penari bedoyo pada hari Sabtu Legi,
tibalah penari tersebut.</poem>
|<poem>Dari Sutawirya memperoleh seorang, kemudian Sunan
memberikan sepucuk surat, kemudian Pangeran Adipati,
menjawab isi surat, kemudian Kanjeng Pangeran Adipati,
mengutus adiknya
menyerang, terhadap Surawijaya, yang bersiap siaga di
Katithang, Pangeran Mangkudiningrat.</poem>
|<poem>Ada lagiyang ditugaskan, bupati Jogorogo
nama Tirtayuda, serta Ranadipurra, serta Kartadirdja dan
teman-teman, raden Semaningrat
Magetan tempat tinggalnya, semuanya ditugaskan, berangkat ke Dokowati untuk berperang
Wararena yang bertugas.</poem>
|<poem>Tibalah Pangeran Mangkudiningrat, kembali ek Somareja
telah disampaikan jalannya perjalanan
Pangeran Adipati, menugaskan menyampaikan
(187) surat, kepada Ideller di Semarang, sedangkan yang ditugaskan, Mantri Jero Jawiruna, keberangkatan, Jawiruna adaiah pada hari Kamis
tanggal 25.</poem>
|<poem>Belanda, berangkat ke Prambanan, Belanda bertemu 3</poem>}}<noinclude>{{rh|182}}</noinclude>
3i2e6hpnjcg8dxxqmohygug70j6s0r9
Kaca:Babad Kemalon (Pakunagara) I.pdf/185
250
24204
77457
75536
2026-05-15T14:54:45Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77457
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>::orang ada Belanda yang menyerahkan diri, berasal dari
::Prambanan berjumlah seorang
::diserahkan kepada Pangeran Adipati, Belanda yang takluk,
::yang menyerahkan bernama, carik ke Sastrasemito, dari
::Kusumareja.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=49
|<poem>Kemudian Kanjeng Pangeran Adipati, memerintahkan untuk membuat tempat berteduh, di alun-alun, dipageri bambu, dan kemudian berada di dalamnya, bila malam tiba dan
pukul 7
pintu ditutup, tidak diperbolehkan orang memasuki dan
keluar, bila pagi tiba dan pukul 6 pintu terbuka, oleh
Kusumareja.</poem>
|<poem>Sedangkan Belanda tetap berada, di gunung Gamping daerah Mataram, dan siaga di Prambanan
pimpinannya Keber, pasukan Belanda di Prambanan, sering melakukan surat-menyurat, secara teratur, suratnya
baik-baik, sedangkan kapiten Sekeber berada di Prambanan, juga melakukan surat-menyurat.</poem>
|<poem>Patihnya Pangeran Adipati, yang bernama Kudanawarsa,
utusan berkali-kali datang, surat(188) menyurat, oleh Kanjeng Pangeran Adipati, yang berada di
Kusumareja, seringkali menari tayub
membuat suka citanya pasukan, makan dan minumminumam bersama segenap punggawa, dan segenap keluarga.</poem>
|<poem>Disamping itu berusaha mencari tenaga, untuk dijadikan
Gulang-gulang pasukan yang kuat
deranya juga demikian dan baik
pakai keris berukir, dan semuanya, berpakaian kotang (seperti singlet) dari renda, berikat kepala kain sutera kuning,
sangat banyak makannya.</poem>
|<poem>Tiap sore lengkap menghadap Gusti, di depan Kanjeng Pangeran
Adipati, dan diangkatnya semuanya, dilatih dengan
tçkun, kemudian putra adiknya, Pangeran Mangkudining</poem>}}<noinclude>{{rh|||183}}</noinclude>
c9who35iie8yj4n7ucup8cn9najf9yq
Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/35
250
24211
77435
75653
2026-05-15T14:40:54Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77435
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||35}}</noinclude>11. Apa pirantinė ambekan? 12. ngendi lan kaprijé lira-
liroening gas loro. nurstot lan koolzur ? 13. Hawa saka djaba bisa mleboe ing keboek, lan hawa bisa metoe saka keboek ikoe marga apa? 14. Tjritakna: melar-mingkoesing djegodahan dada (iga lan kenḍangan-tengah)! 15. Iki terangna: ambekan koedoe metoe ing iroeng, mangan adja karo goeneman!
'''IX. Lakoening getih.'''
1. Ing ngendi panggonané djantoeng? Sapira gedéné? Minangka apané lakoening getih? Kaprijé pamérangé? Kagolong daging sing endi? 2. Otot-getih ikoe apa? Kapilah dadi pira? 3. Apa kowé ngreti, apa sababé, déné sentong-kiwaning djantoeng lan otot-getih kang metoe saka kono kandel déwé pageré? 4. Getih ikoe banjoené pirang %? 5. Apa pérangané lijané? 6. Gas apa kang tinemoe ing getih? Gas ikoe kamot ing apa? 7. Ing ngendi pabrikė pringkilan-abang? Lan ing ngendi pabrikė pringkilan-poetih? 8. Apa goenané pringkilan loro ikoe? 9. Apa tegesé getih „diresiki". 10. Apa mesti otot-mleboe isi getih „reged" otot-getih-metoe isi getih „resik"? 11. Gawéa tjengkorongan djantoeng lan otot-otot-getih, wènèhana panahan menjang endi lakoené getih. 12. Jèn kowé mentas mlajoe, kaprijé lakoening getihmoe, kaprijé ambekanmoe, kaprijé panasing awakmoe?
'''XI. Sarap-sarap.'''
1. Telenging sarap kena kapérang dadi loro manoet wewengkoné, jaikoe apa? 2. Oetek kapérang dadi pira? 3. Oetek karo soengsoem-oela-oela apa ana gandengé? Apa djenengé ? Ing ngendi? 4. Anané „obah" marga ana apa? 5. Saka daja-djaba toemama ing pérangané awak, oewong bandjoer bisa apa? 6. Apa pagawéané tali-rasa? 7. Ngaranana toelaḍa kang mboektèkaké „gandèngé" pentol-sarap karo oetek! 8. Ngaranana daging kang dadi wewengkoné oetek lan soengsoem-oela-oela! Oega kang winengkoe ing pentol-sarap. 9. Tjritakna „lakoené" daja-djaba lan préntah manawa sikilmoe kepidak!
'''XI. Pantjadrija.'''
1. Aranana pantjadrijamoe sapraboté ! 2. Pangrasa ikoe kena kanggo ngrasakaké roepa-roepa, oepamané apa? 3. Kaprije pamérangé koelit? 4. Apa kang tinemoe ing koelit-oemès ? 5. Lah ing waloelang? 6. Ing ngendi doenoengé pangenjam ? 7. Aranana goenané ilat! 8. Pangenjammoe „kerèn" endi, nalika dèk isih tjilik, apa saiki? (èlinga jèn kowé mangan lombok !). 9. Ing ngendi doenoengé poengkasaning tali-rasa pangganda? 10. Hawa<noinclude></noinclude>
fd8ji37ts4ktt9up8xoh5kcj8lmo8gh
Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦧꦧꦢ꧀ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦑ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀.pdf/6
250
24218
78403
76585
2026-05-16T10:34:50Z
Devi 4340
509
78403
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh|| — 2 —|}}</noinclude>{{jawa|ꦲꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦮꦲꦸ꧈ ꦥꦸꦤꦶꦏꦱꦠꦼꦔꦃꦱꦏꦶꦁꦥꦶꦮꦸꦭꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦒꦼꦁꦱꦔꦼꦠ꧀ꦥꦲꦺꦢꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦃꦥꦸꦤꦶꦏꦱꦒꦼꦢ꧀ꦲꦤꦸꦮꦸꦃꦲꦏꦼꦤ꧀ꦒꦼꦠꦼꦂꦫꦶꦁꦩꦤꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦚꦶꦤꦲꦸ꧈ ꦒꦸꦩꦿꦺꦒꦃꦧꦣꦺꦲꦤ꧀ꦢꦸꦩꦸꦒꦺꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦼꦢꦾꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦩꦗꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦮꦿꦸꦃꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦩꦂꦒꦶꦤꦶꦁꦫꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦸꦭꦾ꧈ ꦲꦁꦒꦠꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦧꦸꦢꦶꦢꦪꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦚ꧀ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦮꦮꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦭꦤ꧀ꦱꦱꦼꦉꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦭꦤ꧀ꦲꦔꦺꦟ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦠꦼꦤꦒꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦁꦒꦺꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦧꦣꦺꦠꦸꦩꦶꦤ꧀ꦢꦏ꧀ꦝꦠꦼꦁꦭꦩ꧀ꦥꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦸꦭꦾ꧈ ꦭꦤ꧀ꦱꦥꦤꦸꦁꦒꦶꦭ꧀ꦭꦤꦶꦥꦸꦤ꧀꧈}}
{{jawa|꧋ ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦶꦁꦥꦸꦤꦶꦏ꧈ ꦩꦤꦃꦏꦸꦭꦏꦠꦫꦶꦏ꧀ꦱꦏꦶꦁꦢꦪꦤꦶꦁꦏꦮꦿꦸꦃꦥꦹꦤꦶꦏ [ꦧꦧꦢ꧀] ꦭꦗꦼꦁꦕꦸꦩꦟ꧀ꦛꦏꦏꦸꦩꦥꦸꦫꦸꦤ꧀ꦲꦔ꧀ꦭꦼꦩ꧀ꦥꦏ꧀ꦏꦏꦼꦤ꧀ ꦥꦶꦮꦸꦭꦁꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦧꦸꦏꦸꦥꦸꦤꦶꦏ꧉}}
{{jawa|꧋ ꦥꦩꦁꦒꦶꦃꦏꦸꦭ꧈ ꦥꦫꦱꦣꦺꦫꦺꦏ꧀ꦏꦶꦠꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦥꦼꦂꦭꦸꦱꦔꦼꦠ꧀ꦱꦩꦶꦚꦶꦤꦲꦸꦲꦸꦠꦮꦶꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦧꦧꦢ꧀ꦧ}}<noinclude></noinclude>
opn7vlfkd5bq5mfrb08i5t63vufkn3p
Kaca:Awaking Manoengsa.pdf/26
250
24231
77432
76603
2026-05-15T14:39:40Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77432
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||26}}</noinclude>{{c|'''XI. PANTJADRIJA.'''}}
'''Praboté pantjadrija.'''
Manoengsa kadoenoengan pantjadrija lelima: pangrasa, pangenjam, pangganda, pandeleng lan pangroengoe, mawa prabot ḍéwé-ḍéwé.
'''1. Pangrasa (koelit).
Sadjatiné pangrasa ikoe akéh pérangané: kanggo ngrasakaké aloes lan kasar (panggrajang), kanggo mbédakaké panas lan aḍem, kanggo ngrasakaké lara lan kepénak. Praboting panggrajang doemoenoeng ing koelit, praboting pangrasa-lara ing sarandoening awak.
Koelit ikoe kandelé ± 2½ mm, kapérang ḍadi loro: koelit-djaba (lapisan garing lan lapisan oemoés oega diarani koelit-ajam. Lapisan garing tansah ṭéṭél, lapisan oemoés ana boeboekané reroepan, marakaké koelité manoengsa warna-warna (ireng, abang, koening). Ing sadjroning waloelang ana: prentilan poengkasing tali-rasa, klandjer kringet, kantongan tandjebing woeloe, klandjer gadjih kanggo nglengani koelit lan woeloe, dalan kringet, otot-getih, daging kang mengkoe woeloe.
'''2. Pangejam (ilat}.'''
Pangenjam doemoenoeng ing ilat. Ilat ikoe kebak printisan tjilik-tjilik panggonan poengkasané tali-rasa pangenjam, kanggo ngenjam rasaning pangan lan ombén: legi, pait, ketjoet, asin sapitoeroeté.
Ing gambar No. 21 anan pérangan-pérangan tjinirén aksara. Aksara h, i, k ikoe gambaré printisan pangejam, e, f, g, tali-rasa saka sarap.
Ilat ikoe kadjaba kanggo ngenjam, oega kanggo nggrajang atos-empoeking pangan, kanggo mrenahaké pangan, kanggo nglantaraké pangoeloené pangan, lan oega kanggo tjalaṭoe.
'''3. Pangganda (iroeng).'''
Bolonganing iroeng linapis ing koelit oemoés, doenoening prentilan poengkasané tali-rasa pangganda. Lanḍeping pangganda toemrap sidji-sidjining wong ora paḍa. Pangganda ikoe ménéhi sasmita bab gandaning pangan, ombén oetawa hawa kang bakal loemeboe ing awak. Koelit kang nglapis bolongan iroeng kaṭoekoelan ramboet kanggo njaring hawa (reregeding hawa kari ana ing ramboet ikoe, oega paḍa némplék kelét ing koelit oemoés lapisaning bolongan iroeng).
{{rule|6em|align=center}}
Nandoekaké pantjadrija, déb trawatja lan pramana.
{{rule|6em|align=center}}<noinclude></noinclude>
52eq9vn6huonmotb6bc8daogyfqpdr8
Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ ꦧꦸꦧꦸꦏꦲꦒꦩꦶꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦗꦶꦭꦶꦢ꧀ I.pdf/17
250
24234
78127
76487
2026-05-16T06:50:40Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78127
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PROSES UJI BACA
{{Jawa|ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺ
ꦤꦺꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺ꧉
ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈
ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺꦴꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸ
ꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈
ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧈ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺ
ꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦤꦁꦒꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦢꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸ
ꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧈꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦭꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦸꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩ
꧖
ꦤꦺꦮꦶꦱ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦶꦁꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉ
ꦧꦺꦤ꧀ꦭꦒꦸ꧉ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦶꦪꦮ
ꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼ
ꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦭ꧀ꦠꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦧꦸꦤ꧀ꦢꦶꦏ
ꦩꦶꦏꦺꦴꦤꦺ꧉꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦁꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺ
ꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧉
꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦸꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠ
ꦲꦸꦤ꧀ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱ
ꦪꦶꦢ꧀ ꦱꦧ꧀ꦢꦭꦶꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦸꦤꦺꦏꦁ
ꦲꦱ꧀ꦩꦸꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦪꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀
ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩ
ꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏꦁꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude>
0g9r7txnuueipuok54pyjfeicszonio
78187
78127
2026-05-16T09:02:07Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78187
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 17 -}}</noinclude>— 17 —
ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺ
ꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴ
ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈
ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸ
ꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩ
ꦠꦸꦂ꧈ ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧ
ꦣꦺ ꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ ꦭ
ꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔ
ꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ ꦮꦶꦱ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈
ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇
꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠ
ꦲꦸꦤ꧀ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱ
ꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁ
ꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈<noinclude></noinclude>
featp3vkx1rfhbzlievlie7j9qcy10h
78201
78187
2026-05-16T09:07:49Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78201
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude>
ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴ
ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈
ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸ
ꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩ
ꦠꦸꦂ꧈ ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧ
ꦣꦺ ꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ ꦭ
ꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ ꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔ
ꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ ꦮꦶꦱ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈
ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇
꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠ
ꦲꦸꦤ꧀ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱ
ꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁ
ꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈<noinclude></noinclude>
rne9oyye5ake6c2qa6hpl38bwxkuf2l
78219
78201
2026-05-16T09:11:06Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78219
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude>
{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇
꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude>
ge4d2sy4etl1y7zj4fgc799fkek8yrq
78230
78219
2026-05-16T09:12:52Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78230
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude>
{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇}}
{{Jawa|tag=div|1=꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude>
6zneneymggff5hipgpmp9tufp94tlvb
78239
78230
2026-05-16T09:14:20Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78239
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇}}
{{Jawa|tag=div|1=꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude>
lm1n451h6jkrlrhrq180uhm8vb1bnlr
78243
78239
2026-05-16T09:14:57Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78243
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{rh|| — 17 —}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1= ꦤ꧀ꦏꦶꦲꦺꦢꦶꦧꦔꦼꦠ꧀ꦩꦲꦸ꧉ꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦲꦸꦤꦸꦭꦶꦢꦶꦕꦺꦢꦺꦁꦢꦺꦤꦶꦁꦱꦮꦶꦗꦶꦤꦶꦁꦮꦺꦁꦏꦁꦲꦤꦲꦶꦁꦏꦺꦤꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦗꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦶꦉꦁ꧈ꦧꦚ꧀ꦗꦸꦂꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦤꦺ꧇ꦒꦺꦤꦺꦪꦥꦸꦠꦸꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦔꦶꦱ꧀꧈ ꦮꦺꦴꦁꦮꦺꦁꦥꦣꦩꦠꦸꦂ꧈ꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧇ ꦩꦶꦭꦏꦶꦁꦮꦪꦃꦩꦸꦮꦸꦤ꧀ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦧꦣꦺꦔ꧀ꦭꦼꦁꦒꦃꦲꦶꦥꦊꦁꦒꦃꦲꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦤ꧀ ꦭꦗꦼꦁꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦺꦤꦺꦁ꧉ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭꦩ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦤꦺꦴ꧇ꦮꦶꦱ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦥꦣꦲꦼꦤꦼꦁꦤꦧꦲꦺ꧈ꦏꦉꦧꦺꦤ꧀ꦭꦸꦁꦒꦸꦃ꧉ ꦲꦏꦸꦔꦉꦥ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦧꦔꦼꦠ꧀ꦱꦸꦥꦪꦮꦪꦃꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦔꦸꦁꦏꦸꦭ꧀ꦭꦶꦩꦫꦁꦮꦺꦴꦁꦮꦶꦔꦶꦮꦶꦢꦶꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦠꦼꦩ꧀ꦧꦺ꧉ꦱꦮꦶꦱ꧀ꦱꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦭꦶꦧ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺ꧈ꦲꦺꦴꦫꦲꦤꦮꦺꦁꦱꦶꦗꦶꦧꦲꦺꦏꦁꦮꦤꦶꦔꦫꦸꦧꦶꦫꦸ꧇}}
{{Jawa|tag=div|1=꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦧꦉꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦪꦸꦱ꧀ꦮꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦠꦲꦸꦤ꧀ꦏꦼꦁꦲꦺꦪꦁꦱꦺꦢ꧉ ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦺꦢ꧈ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦩꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦱꦶꦪꦠ꧀ꦩꦫꦁꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦏꦁꦲꦱ꧀ꦩ ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ ꦭꦲꦶꦏꦸꦱꦢꦸꦭꦸꦂꦫꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ ꦄꦧ꧀ꦢꦸꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦮꦱꦶꦪꦠ꧀ꦠꦺ꧇ ꦱꦸꦥꦪꦔꦺꦥꦺꦤ꧀ꦤꦶꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦒꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈}}<noinclude></noinclude>
9wmua82rkpzagf1le36efhdnyx228yy
Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ ꦧꦸꦧꦸꦏꦲꦒꦩꦶꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦗꦶꦭꦶꦢ꧀ I.pdf/18
250
24235
78311
76492
2026-05-16T09:35:02Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78311
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>PROSES UJIBACA<noinclude></noinclude>
cuwmpjgqkonzpn9qx9f86wxo6wjrdb4
78383
78311
2026-05-16T10:11:00Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78383
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>꧋ꦧꦧ꧀ꦥꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦱꦭ꧀ꦭꦭ꧀ꦭꦲꦸꦔꦭꦆꦲꦶꦮꦱꦭ꧀ꦭꦩ꧀꧈
꧋ꦱꦱꦺꦢꦤꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦺꦪꦁ꧈ꦏꦁꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦪꦭꦶꦏꦸꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦩꦤ꧀ꦄꦱ꧀ꦩꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀꧈
꧋ꦏꦕꦫꦶꦠ꧈ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦲꦶꦏꦸꦧꦔꦼꦠ꧀ꦲꦁꦒꦺꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦏꦩ꧀ꦭꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦺꦴꦁꦏꦧꦠꦶꦃꦲꦺꦲꦏꦺꦃꦧꦔꦼꦠ꧀꧈ꦤꦔꦶꦧꦉꦁꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦸꦭꦶꦏꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦲꦥꦏꦁꦢꦤꦶꦏꦧꦸꦠꦸꦃꦲꦤ꧀ꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦏꦧ꧀ꦭꦺꦧꦺꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦃꦲꦺꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦏꦁꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀꧈
꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦱꦏꦮꦸꦭꦮꦂꦒꦤꦺꦥꦶꦤꦸꦗꦸꦣꦲꦂ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦏꦁꦏꦣꦲꦂ꧈ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦏꦫꦺꦴꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦥꦣꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦏꦫꦱꦮꦉꦒ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦢꦺꦤꦺꦪꦺꦤ꧀ꦏꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦩꦸꦁꦱꦛꦶꦛꦶꦏ꧀ꦏꦁꦢꦶꦣꦲꦂ꧈ꦥꦣꦧꦶꦱꦮꦉꦧ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦲꦶꦏꦸꦱꦧꦼꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦝꦲꦂ꧈ꦣꦮꦸꦃꦤꦶꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦭꦶꦏꦁꦗꦼꦁꦤ<noinclude></noinclude>
qn5b2zio5z6o8uca81q2eitwm8qhfzd
78389
78383
2026-05-16T10:13:25Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78389
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=꧋ꦧꦧ꧀ꦥꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦱꦭ꧀ꦭꦭ꧀ꦭꦲꦸꦔꦭꦆꦲꦶꦮꦱꦭ꧀ꦭꦩ꧀꧈
꧋ꦱꦱꦺꦢꦤꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦺꦪꦁ꧈ꦏꦁꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦪꦭꦶꦏꦸꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦩꦤ꧀ꦄꦱ꧀ꦩꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀꧈
꧋ꦏꦕꦫꦶꦠ꧈ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦲꦶꦏꦸꦧꦔꦼꦠ꧀ꦲꦁꦒꦺꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦏꦩ꧀ꦭꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦺꦴꦁꦏꦧꦠꦶꦃꦲꦺꦲꦏꦺꦃꦧꦔꦼꦠ꧀꧈ꦤꦔꦶꦧꦉꦁꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦸꦭꦶꦏꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦲꦥꦏꦁꦢꦤꦶꦏꦧꦸꦠꦸꦃꦲꦤ꧀ꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦏꦧ꧀ꦭꦺꦧꦺꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦃꦲꦺꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦏꦁꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀꧈
꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦱꦏꦮꦸꦭꦮꦂꦒꦤꦺꦥꦶꦤꦸꦗꦸꦣꦲꦂ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦏꦁꦏꦣꦲꦂ꧈ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦏꦫꦺꦴꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦥꦣꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦏꦫꦱꦮꦉꦒ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦢꦺꦤꦺꦪꦺꦤ꧀ꦏꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦩꦸꦁꦱꦛꦶꦛꦶꦏ꧀ꦏꦁꦢꦶꦣꦲꦂ꧈ꦥꦣꦧꦶꦱꦮꦉꦧ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦲꦶꦏꦸꦱꦧꦼꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦝꦲꦂ꧈ꦣꦮꦸꦃꦤꦶꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦭꦶꦏꦁꦗꦼꦁꦤ}}<noinclude></noinclude>
fg8tawd6qsicuu0lm7qgd59as1xfqmj
78390
78389
2026-05-16T10:14:40Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78390
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" />{{rh|| - 18 - }}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=꧋ꦧꦧ꧀ꦥꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦱꦭ꧀ꦭꦭ꧀ꦭꦲꦸꦔꦭꦆꦲꦶꦮꦱꦭ꧀ꦭꦩ꧀꧈
꧋ꦱꦱꦺꦢꦤꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦲꦺꦪꦁ꧈ꦏꦁꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦪꦭꦶꦏꦸꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦩꦤ꧀ꦄꦱ꧀ꦩꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀꧈
꧋ꦏꦕꦫꦶꦠ꧈ꦱꦢꦸꦫꦸꦁꦔꦺꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦧꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ ꦲꦶꦏꦸꦧꦔꦼꦠ꧀ꦲꦁꦒꦺꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦏꦩ꧀ꦭꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦺꦴꦁꦏꦧꦠꦶꦃꦲꦺꦲꦏꦺꦃꦧꦔꦼꦠ꧀꧈ꦤꦔꦶꦧꦉꦁꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦔꦼꦩꦺꦴꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦧꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦤꦸꦭꦶꦏꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦲꦥꦏꦁꦢꦤꦶꦏꦧꦸꦠꦸꦃꦲꦤ꧀ꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ꦗꦭꦂꦫꦤ꧀ꦏꦧ꧀ꦭꦺꦧꦺꦂꦫꦤ꧀ꦱꦶꦃꦲꦺꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦏꦁꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦩꦫꦁꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀꧈
꧋ꦕꦶꦤꦫꦶꦠ꧈ꦪꦺꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦱꦏꦮꦸꦭꦮꦂꦒꦤꦺꦥꦶꦤꦸꦗꦸꦣꦲꦂ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦕꦸꦏꦸꦥ꧀ꦏꦁꦏꦣꦲꦂ꧈ꦤꦔꦶꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦺꦴꦫꦧꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦏꦫꦺꦴꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ꦥꦣꦲꦺꦴꦫꦧꦶꦱꦏꦫꦱꦮꦉꦒ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦢꦺꦤꦺꦪꦺꦤ꧀ꦏꦼꦧꦉꦁꦔꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦤꦨꦶ꧈ꦱꦤꦗꦤ꧀ꦩꦸꦁꦱꦛꦶꦛꦶꦏ꧀ꦏꦁꦢꦶꦣꦲꦂ꧈ꦥꦣꦧꦶꦱꦮꦉꦧ꧀ꦭꦤ꧀ꦩꦉꦩ꧀꧈ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦲꦶꦏꦸꦱꦧꦼꦤ꧀ꦱꦪꦶꦢ꧀ꦄꦨꦸꦠꦭꦶꦧ꧀ꦲꦉꦥ꧀ꦝꦲꦂ꧈ꦣꦮꦸꦃꦤꦶꦩ꧀ꦧꦸꦭ꧀ꦭꦶꦏꦁꦗꦼꦁꦤ}}<noinclude></noinclude>
oixtme8m1igll7pu350edih4tzxfsah
Kaca:Babad Prayud I.pdf/364
250
24242
77717
76699
2026-05-15T19:14:41Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77717
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::ngangkang sitiluhur
:::Kodhokngorek babarungan
:::sawusira ing kalih panigan nengih
:::Sang Nata angandika.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem>Heh ta Uprup adhimasdipati
mentas lalaku sayekti sayah
gawanen mring pakuwone
emben bae riningsun
sun timbali mring pura malih
Uprup sigra bubaran
kang ngirid tatamu
sinaosan pasanggrahan
wetan peken wismane kekeran nenggih
prapta wus masanggrahan.</poem>
|<poem>Prapta jodhangan saking jro puri
tuwin saking Kamangkunagaran
atusan jodhang praptane
santana sadayeku
Surakarta sasegah sami
luwih sasegahira
saking gunging suguh
wauta ing kendelira
dennya prapta nenggih ing Salasa Paing
Kemis wage ngandikan.</poem>
|<poem>Maring pura kasukan Sang Aji
badhe nayub kalintu ing karsa
kang raji pinrih sukane
kurmat ing tegesipun
jroning surat kang rama muni
Nak Prabu rayi dika
pan santri puniku
yen anak Prabu kasukan
rayi saka dereng tau ngimun awis
lan dereng, tahu beksa.</poem>}}<noinclude>{{rh|362}}</noinclude>
nxg2rylspf0aq8ezent2qwk1tk4vea7
Kaca:Babad Prayud I.pdf/365
250
24243
77718
76703
2026-05-15T19:15:13Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77718
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=38
|<poem>Amung ngugemi dadarus wirid
cilik mula dereng wruh ing arak
pan wus dilalah bekane
mangkana kang anayub
gamelannya munya ngrarangin
use ambal-ambalan
adhahar anginum
samya wuru-wuru dawa
sadangune Pangran Dipati Matawis
tan arsa nginum arak.</poem>
|<poem>Amung dhahar sekul angereni
wusnya dhahar taledhek kang medal
sekawan pethingan kabeh
pra samya ayu-ayu
sinijangan kenanga wilis
sami jingga pinrada
kadya bisa mabur
Sang Nata wiwit abeksa
kadya guntur swaraning mriy em ngurmati
barung surak gumerah</poem>
|<poem>Sami cingak wong Yogja ningali
ing beksanira Sri Naranata
wus sairib sarigake
lan kang rama Matarum
kacek lanang kang putra nenggih
tenagane agagah
arowa tur patut
sawusira Sri Narendra
nulya Uprup sawusnya Uprup anuli
Pangran Mangkunagara.</poem>
|<poem>Wusnya Pangran Mangkunagareki
nulya Pangran Dipati Ngayugya
Sri Narendra timbalane
mara dhimas sireku
anglegakna ing tyase sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||363}}</noinclude>
jdgb5kxvmcjl9v6c8do1cycbx5pm9s9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/366
250
24244
77720
76709
2026-05-15T19:16:48Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77720
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::kabeh santananira
:::padha kumacelu
:::Pangran Dipati Ngayogya
:::matur nuwun kula dereng anglam palai
:::padamelan punika.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42
|<poem>Pejah gesang katur jeng kakang ji
Sri Narendra murugi genira
jumeneng ngarseng kursine
kang rayi gya tumurun
dhodhok munggeng ngarsa rakaji
kang raka angrerepa
adhuh ariningsun
kabeh sanak-sanakira
ingkang padha amrih resep dadi siji
kumpul saeka jiwa.</poem>
|<poem>Atur duka dalem inggih
kula sampun cegah alit mila
katelah tan saget mangke
sami kalironipun
ciptanira Pangran Dipati
sarta welinge rama
prakawis anginum
lan beksa den kukuh sira
sun unekken layang lamun sira santri
kerana kakangira.</poem>
|<poem>Anak Prabu ing Surakarteki
ratu anetepi ing agama
yen sira mantep temahe
resep trus batinipun
duwe mantu marang sireki
milane kinukuhan
beksa lawan nginum
tan wruh yen alala rebda
Sunan wangsul Uprup Beman den kejepi
nglarih meksa kanaka.</poem>}}<noinclude>{{rh|364}}</noinclude>
40x5rvw09dms9u7duupq10p5ldgm1p3
Kaca:Babad Prayud I.pdf/367
250
24245
77722
76711
2026-05-15T19:17:24Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77722
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXV.{{gap}}PANGKUR
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Uprup sigra nyandhak talam
isi gelas tiga anengen kuping
Pangran Dipati Matarum
wau kang linariyan
angrerepa amrih tinuruta Uprup
Pangran Dipati Ngayogja
eca tunungkul alinggih.</poem>
|<poem>Tan dangu dennya ameksa
kadipundi Tuwan Pangran Dipati
maksih mudha kobekitu
rama dika Jeng Sultan
kang wus tuwa dhasar agamane pengkuh
boten wangkot kadi dika
sapisan pindho nuruti.</poem>
|<poem>Sawab wruh ing kabecikan
dadi sultan kang angangkat kompeni
sireku ta anakipun
teka tan tiru bapa
dadi bakal wong kumethak tur kumingsun
nora wruh ing kabecikan
arep ambuwang babaik.</poem>
|<poem>Sigra Tumenggung Ngurawan
asung tombak marang taledhe,kneki
sarwi ngucap marang Uprup
tuwan putra andika
timur mila dhereng nglampahi puniku
amung deres lawan salat
lawan sampun manjing wirid.</poem>
|<poem>Uprupwaudukmiyarsa
Ki Tumenggung Ngurawan denira angling
bramantyanira kalangkung
muka dadi dahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||365}}</noinclude>
6nfq5mct31jw74gcdgcp87bk3kt9l2v
Kaca:Babad Prayud I.pdf/368
250
24246
77723
76712
2026-05-15T19:17:59Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77723
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::sru binating talam gelasipun sumyur
:::kupine binuwang tebah
:::suraweyan anudingi.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Heh Rawan sira binatang
apa sira ajar Pangran Dipati
tahiy oli bendaramu
Rawan mesem kewala
briga-krigi Uprup denira amuwus
heh Rawan sira binatang
Rawan sudhah jadhi anjing.</poem>
|<poem>Apa kowe kira-kira
wotig Kompeni wus takut ing ajurit
endhasmu dadiya sewu
kompeni bole lawan
nganggo tumbak dawa gera dhuwur gunung
sun anggo pedhang kewala
tur ana ngisoring wukir.</poem>
|<poem>Bisa angesat segara
wong kumpeni pan iya durung wedi
terbanga mring mega biru
kompeni durung ngulap
Pangran Adipati merbes waspanipun
para santana Mataram
Pangeran Sumayudeki.</poem>
|<poem>Wedananira beranang
majeng sarwi nelepken dhuwungneki
merpeki lulurahipun
Pangeran Mertasana
Singasari mendhak ngadhep lurahipun
Pangeran Kusumayuda
datan kumedhep mucicil.</poem>
|<poem>Mung amandeng Uprup Beman
netranira kadya kumukusagni</poem>}}<noinclude>{{rh|366}}</noinclude>
ceov3cfjc9jn03ye0ulwlptsrx1mf7w
Kaca:Babad Prayud I.pdf/369
250
24247
77724
76715
2026-05-15T19:18:38Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77724
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::kadya anuduka gapyuk
:::lamun wontene jaba
:::wau Panji Suradilaga andulu
:::yen Pangeran Sumayuda
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Mring taman ngirid barisnya
aris prapta angubengi pandhapi
geger sakala sru kuwur
para mantri Ngayogja
kumpul nyelak angayap ing gustinipun
para mantri Surakarta
gedhong kaparak pra sami.</poem>
|<poem>Lan pra lurah kawandasa
sami ngepung wong Yogja wurineki
Pangran Mangkunagareku
mulat tingkah mangkana
mundhut gendhing remeng beksa jebengipun
angleter datanpa rowang
tan ana kang.marentahi.</poem>
|<poem>Sri Bupati Surakarta
tedhak sigra kang rayi den parani
Pangran Dipati Matarum
binakta mring gonira
ingkang rayi pinangku mastakanipun
kang rayi asalenggrukan
kang raka angarih-arih.</poem>
|<poem>Uprup ing Ngayogja sigra
tangi saking wuru genira guling
wisma kilen regol kidul
praptanireng pandhapa
lajeng paduian Uprup Beman kamrusuk
sarya ngemek ulu pedhang
Sang Nata amarentahi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||367}}</noinclude>
tlz10gexr5vxlcr5tceyse5aq75rlkb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/370
250
24248
77725
76717
2026-05-15T19:19:06Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77725
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Uprup Lapro dhinawuhan
Lapro dhimas iki gawanen mijil
maranging pakuwonipun
sasra sira miluwa
sigra bubar ingkang rayi nembah susun
mung kantun Uprup Beiman
apan maksih muring-muring.</poem>
|<poem>Lan Pangran Mangkunagara
Uprup Beman nguciwis durung mari
nguring-uring Sang Aprabu
raja taledhor tuwan
raja anaking kumpeni betul-betul
parentah trak boleh keras
kocap tan asih ing abdi.</poem>
|<poem>Wong bodho padha kinarya
papatihe ora bisa cumuwit
'padha nglurug kari laku
lan prajurit Ngayogja
Sri Narendra mesem pangandikanipun
ya besuk ingsun miyara
iya pamiyara anjing.</poem>
|<poem>Pangeran Mangkunagara
asru bekus Uprup kang den bekusi
kepriye akalmu iku
apa ing kene dadak
kari rebut manusa lan wong Matarum
kariya kinalulutan
ya maring wong Jawa iki.</poem>
|<poem>Yen ana parentahira
ingsun wani ing Ngayogja nglurugi
embuh-embuh pangucapmu
Uprup pamit wus medal
Pangran Mangkunagara tan tumut metu</poem>}}<noinclude>{{rh|368}}</noinclude>
etrq8tp2ql4g53xtlk0kedd01l7wwfl
Kaca:Babad Prayud I.pdf/371
250
24249
77728
76719
2026-05-15T19:19:41Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77728
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::mulat kang rayi Sang Nata
:::bramatyanira ing batin.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Sang Nata sigra parentah
mring Tan Kondur kunjaran ana isi
wong sasakitan puniku
wong iki patenana
sigra mijil wau Mahesa Tan Kondur
sapraptanira galadhag
wong lalaran den suduki.</poem>
|<poem>Sang Nata malih ngandika
kangmas dika pulihken dhi dipati
becike karo si Uprup
kang raka tur sandika
boten punapaa ing watawisipun
mung saliringan kewala
dhasare Walanda baring.</poem>
|<poem>Nepsune teka ngelampra
kakon aten inggih boten dudugi
inggih kula nunten metu
kula mampir sakedhap
sigra pamit Pangran Mangkunagara wus
mampir Uprup mapag sigra
Uprup sajawining kori.</poem>
|<poem>Wus tata sami alenggah
Adipati Mangkunagara angling
kapriye ta kowe mau
tela nepsu mangkana
iya lagi Kyai sultan puniku
eling nedya babecikan
mengko sira angrusuhi.</poem>
|<poem>Uprup angling trak mangapa
lamun Sultan kena den wawaduli
prakara anake luput</poem>}}<noinclude>{{rh|||369}}</noinclude>
cdv6cqt9pzdkqlkjwa909rfhl9kyj12
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/3
250
24250
77474
76728
2026-05-15T15:04:48Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77474
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{C|{{sp|''PURWAKA}}}}''</noinclude>''Serat punika anjarijosaken tjara tjaranipun ngupakara ringgit watjutjal wiwit saking tjaraning ngisis ringgit, ngresiki nambal sulam manawi wonten ingkang karisakan, katerangaken langkung tjeta saking seserepan saha pengalaman kula pijambak.''
''Nuwun wijosipun dateng para maos sadaja, menggah isining serat punika tumrap dateng para dalang, punapa malih dateng para saderek ingkang remen marsudi dateng kawruh padalangan, prajogi sanget anggadahi serat punika saged anambahi seserepanipun, saged pirsa tjatjah saha nama namaning ringgit purwa ingkang baku utawi ingkang srambahan. Wajang srambahan tegesipun wajang ingkang luwes kenging kasambut kangge sadengah lampahan.''
''Kadjawi punika malih saged pirsa nama wandaning ringgit Purwa, sarta ringgit gandengipun lan Tjandrasangkala Memet, kawudjudaning wawajangan saged luwes, ngantos boten katawis menawi punika sadjatosipun sangkalan titimangsaning anggenipun amangun ringgit Purwa saged luwes saha sae tjakrik wewangunanipun kados ingkang sampun dipun adjengi ing umum djaman samangke punika.''
''Ingkang punika supados para saderek sami sageda angraosaken dateng kasagedan para Linangkung ing djaman kina, anggenipun saged ngwudjudaken anggitaning gegambaran wewatekaning manungsa, ngantos saged nglangkungi pikiran, ing wasana kula sumangga dateng para nupiksa.''
{{Block right|{{c|''Kula pak Sajid.
Dalang Wajang Kantjil.
Hadiwidjajan, No. 23. Solo.''}}}}
{{C|________}}<noinclude></noinclude>
62sasuukeackc41ad6hp7s7jlwjvfuw
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/6
250
24251
77477
76732
2026-05-15T15:06:11Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77477
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||- 7 -}}</noinclude>{{C|'''PANGRUMATING KOTAK WAJANG.}}'''
'''Tjara-tjaranipun.'''
Menggah tjaraning angrimat ringgit watjutjal sagedipun sae sarta
kuwawi ngantos mataun-taun punika makaten.
Wiwit saking petinipun, inggih punika kotak wadahipun ringgit. Pangrimatipun inggih kedah saged mrenahaken, kapadosna papan ingkang saketja katingal sae. Kotaking ringgit kaparingana bantjik, kadamelna dingklikan kalih idji, inggilipun dingklik 50 cm, pandjangipun miturut wijaring kotak, kadjedjer kalih, perlu kangge anggandjel kotak punika wau. Dados kotak boten sumeleh wonten ing mester utawi djogan siti salebeting grija, kotak saged gonggang sak inggiling dingklik. Lan malih kotak sampun ngantos mepet kalijan tembok utawi gebjog ing salebeting grija, perlunipun sampun ngantos kenging hawa asrep, utawi kalebetan kewan gegremetan ingkang alit-alit. Tembok utawi gebjog punika menawi katampon kenging toja djawah, ladjeng anggadahi hawa asrep, bangsaning gegremetan ladjeng kraos. Lan malih hawa asrep punika gampil ang- genipun nuwuhaken dateng djamur. Dene gegremetan ngrisakaken dateng eblek utawi ringgit. Pramila kotak kedah gonggang 30 cm, sampun ngantos mepet tembok utawi gebjok. Sak nginggiling kotak ingkang sampun katutup rapet, ladjeng kaparingana tutup saking kain perlak ingkang rapet mubeng miturut agenging kotak. Perlunipun bok bilih wonten toja trotjohan saking nginggil boten saged lumebet ing kotak.
{{C|'''TJARANING NGISIS RINGGIT WATJUTJAL.}}'''
'''Papan panggenanipun Ngisis Ringgit Watjutjal.'''
Menggah tjaraning ngisis wajang punika makaten. Sak derengipun kotak kapendet saking papan pangrimat wau, amadika papan ingkang prajogi kangge ngisis ringgit punika. Sampun ngantos manggen wonten papan ingkang benter hawanipun utawi asrep. Padosa papan ingkang da as sarta garing. Sak saged-saged angsala papan ingkang tjelak sakaning grija ingkang radi tengah, sampun ngantos kenging soroting srengenge. Ladjeng mentanga kenur tali dadung alit ingkang wulet, katangsulaken saka sami saka, kados dene memehan tunda tiga utawi kalih. Manawi grija mawi pandapi milih saka rawa ingkang tengah mendet sekawan saka. Manawi kagungan pirantos tantjeban ingkang saking kadjeng djatos ingkang sok kangge pirantos njumping ringgit kantinipun gawangan plangkan kelir. Tantjeban sumpingan punika wau kadjeng djatos dipun tjomplongi,<noinclude></noinclude>
pf2lkgb6pdkyza4be4jjklapoui5t59
Kaca:Babad Prayud I.pdf/21
250
24252
78199
76738
2026-05-16T09:07:21Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78199
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>cepat pulang dari rencana semula. Turut mengantar sampai ke Yogyakarta adalah Gusti Putri Mangkunagaran yang juga dikenal dengan sebutan Kanjeng Ratu Bandara. Maksudnya tak lain ialah agar supaya peristiwa di Surakarta tida.k sampai membuat masgul atau marahnya Kanjeng Sultan Yogyakarta. Akan tetapi ternyata Sultan memperlihatkan sikap keras. Kanjeng Ratu Bandara tidak diperkenankan kembali ke Surakarta. Bahkan kemudian didalihkan hendak minta cerai kepada Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara. Hubungan Surakarta - Yogyakarta menjadi tegang. Ketegangan itu makin lama makin memuncak karena masing-masing pihak berusaha menimbulkan kekacauan di daerah yang lain dengan menggerakkan perusuh-perusuh maupun para punggawa resmi yang menyusup secara menyamar. Pihak Surakarta berusaha memecahkan masalah itu dengan minta bantuan kompeni yang berada di Semarang. Perundingan dan penelaahan masalah serta pemikiran akan jalan keluar yang seyogyanya ditempuh segera diadakan di istana Surakarta.<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude>
r7pmz3or4idy3k07vb8pubdc0wre04u
Kaca:Babad Prayud I.pdf/3
250
24256
78186
76755
2026-05-16T09:01:32Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78186
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{gap}}
{{gap}}
{{gap}}
{{gap}}
{{C|'''BABAD PRAVID}}'''
{{C|'''I}}'''<noinclude></noinclude>
dvqy5wnbxp6d5rnkrkx63is6r96sdnt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/5
250
24259
78181
76762
2026-05-16T09:00:22Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78181
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{gap}}
{{gap}}
{{gap}}
{{x-larger|{{C|'''BABAD PRAYUD}}}}'''
{{x-larger|{{C|'''I}}}}'''
{{gap}}
{{C|Alih aksara}}
{{gap}}
{{C|'''NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}}'''
{{C|'''R.A. MAHARKESTI, B.A.}}'''<noinclude></noinclude>
cr9y8uomeuu9j3uaucgwrulws7u2yf7
Kaca:Babad Prayud I.pdf/6
250
24260
78182
76764
2026-05-16T09:00:33Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78182
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{gap}}
{{gap}}
{{gap}}
{{gap}}
{{C|Diterbitkan oleh
Proyek Penerbitan Buku Sastra
Indonesia dan Daerah}}
{{gap}}
{{C|Hak pengarang dilindungi undang-undang}}<noinclude></noinclude>
05nix943x5qvfftfat4sfok9hu6bl09
Kaca:Babad Prayud I.pdf/7
250
24261
78183
76768
2026-05-16T09:00:44Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78183
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>
{{C|'''KATA PENGANTAR'''}}
{{gap}}
Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakikatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya, itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembatigan kebudayaan dan ilmu di segala bidang.
Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian karya sastra lama yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnyai
Pemeliharaan, pembinaan, dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kitá untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.
Saling pengertian antardaerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antarsuku dan agama, akan dapat teripta pula, bila sastra-sastra daerah yang termuat dalam karya-karya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah itu. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia.<noinclude>{{rh|||5}}</noinclude>
9sfuuqp7utrks7jmqiddh0ts4owmr64
Kaca:Babad Prayud I.pdf/8
250
24262
78184
76773
2026-05-16T09:01:02Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78184
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas, kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra daerah Jawa, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.
Jakarta 1981
{{Block right|{{c|Proyek Penerbitan Buku Sastra<br>
Indonesia dan daerah}}}}<noinclude>{{rh|6}}</noinclude>
k8c8kq8nrvw6bkz51453lr48rjf2rv2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/9
250
24263
78185
76775
2026-05-16T09:01:12Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78185
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|RINGKASAN}}
{{C|BABAD PRAYUD 1}}
Tumenggung Arungbinang melapor. kepada Sultan bahwa dia mendengar dari seorang pertapa, yang mengatakan bahwa Negeri Kartasura akan mengalami huru-hara, bahkan di Tanah Pagelen juga mengalami perang besar. Dalam perang ini banyak prajurit yang meninggal, dan kelak Pangeran Arya Mangkubumi akan menjadi panglima besar. Jelasnya di Negeri Kartasura akan terjadi perang besar, banyak prajurit meninggal, dapat diumpamakan bapak lupa pada anak, dan anak lupa pada bapak.
Raja bertanya siapa yang meramal itu. Tumenggung menjawab, bahwa hai itu atas petunjuk Setrowijoyo anak laki-laki Haji Dullulu yang pernah berguru di Tanah Arab kepada Seh Ahmad Kusasi. Haji Dullulu yang berguru tadi sesudah selesai minta izin gurunya untuk pulang kembali ke Jawa.
Guru itu berpesan bahwa atas kehendak Yang Mahakuasa di Tanah Jawa akan terjadi huru-hara selama 30 tahun. Atas pertanyaan Raja, Tumenggung Arungbinang berdatang sembah lagi menerangkan bahwa saat ini Ki Dullulu menetap di negeri Palembang, dan Setrowijoyo, anaknya pergi ke Tanah Arab untuk belajar/mencari guru ayahnya tadi. Sewaktu akan berangkat Tumenggung Arungbinang dipesan supaya dirinya berhati-hati, dan jangan lupa selalu berdoa pada Tuhan Yang Esa, berbuatlah baik selalu, kelak bila di Tanah Jawa terjadi peperangan agar selalu dalam melaksanakan tugasnya. Hanya dengan bantuan Tuhan Yang Mahakuasa sajalah manusia akan terhindar dari bahaya.
Di sini dikatakan pula oleh Setrowijoyo, dari perwatakan para pangeran (bangsawan) di negeri ini, baik tumenggung maupun adipatinya ternyata hanya Pangeran Mangkubumi sajalah yang mempunyai pandangan dan sikap (hidup) yang berbeda. Pasti beliaulah yang akan menjadi utusan Tuhan, yang kelak dapat menggeriangi (menguasai) Tanah Jawa. Dia pun berkata bahwa banyak para pemimpin perang yang tak dapat menikmati ketenteraman Tanah Jawa, antara lain Tumenggung Pringgalaya,<noinclude>{{rh|||7}}</noinclude>
auqxch8s3hh2b8vkr9eyzmjakn8kqul
Kaca:Babad Prayud I.pdf/372
250
24264
77729
76776
2026-05-15T19:20:37Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77729
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::Iah iya wis dilalah
:::ngendi ana wong merdhay oh nora anut
:::mring rehe kang duwe wisma
:::kula nepsu boten sisip.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Saprakara rong prakara
kang aduwe wisma dhasar irespati
dhadhay ohe dudu ratu
teka mogok ing karsa
kapindhone sanak prenah tuwa iku
Pangran Dipati prasetan
wong wangkot pan becik anjing.</poem>
|<poem>Dipati Mangkunagara
anauri ya wis bener sireki
nanging cukupen ratumu
ingkang melu kaliwat
iya pasthi kena ing lok tiwas iku
dhene kongsi kadrawasan
panjanga kestoren iki.</poem>
|<poem>Sayekti kang duwe wisma
goning ala tiwas kapati-pati
mung ika bae sun rebut
Uprup gumejeng suka
heh Pangeran Ari nata bilang betul
iya katemu si Beman
sakehe prakara iki.</poem>
|<poem>Iku yen nedya becika
pasthi besuk sore dateng di.sini
pangeran sigra amuwus
aja mamasang sira
iya besuk si adhi dipati iku
pukul lima ingsun gawa
marene sira den becik.</poem>
|<poem>Iya jenengsun wong tuwa</poem>
}}<noinclude>{{rh|370}}</noinclude>
o598ikewzr80xt5d9efu2nwi91la0bk
Kaca:Babad Prayud I.pdf/373
250
24265
77730
76777
2026-05-15T19:21:06Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77730
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::pan kawogan mirapet wong acengil
:::Beman suka dennya muwus
:::tidhak jadi mangapa
:::main gila ini keras orang mabuk
:::ni beta trak kerja jahat
:::sungguh-sungguh karja baik.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Kula pan boten rumangsa
inggih Tuwan Pangeran wengi iki
kula mangko akikintun
roti sarta martega
puwan kopi damar lilin telungatus
Dipati Mangkunagara
wus lega tyase gya pamit.</poem>
|<poem>Wau ing sapraptanira
Pangran Mangkunagara dalamneki
kang rayi ngandikan gupuh
angger kowe miy arsa
jro kadhaton ing wau meh dadi pamuk
iya saking arinira
wangkot arimas dipati.</poem>
|<poem>Linarih marang kang raka
nora tampa pinindho uprup aglis
iya meksa wangkotipuh
Uprup ambanting gelas
gelas sumyur Uprup banjur gusaripun
briga-brigi meh ambedhah
katuju konangan marni.</poem>
|<poem>Iku angger sira enjang
lumakuwa mring pakuwone adhi
den akeh tuturireku
yen uga awangkota
dadi nora rumeksa kangmase prabu
sorene nuli sun gawa</poem>}}<noinclude>{{rh|||371}}</noinclude>
mnbyddnrecn2e8jxy2lym68yxoho01x
Kaca:Babad Prayud I.pdf/374
250
24266
77731
76778
2026-05-15T19:21:37Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77731
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::adhimas marang ing loji.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Sakalane yayiemas
aneng kene pasthi anuta ugi
katrapan kangmase prabu
nganggo gon-anggon Yogja
dadi nyengkle sayetine akaryewuh
amilalati nagara
kang rayi ngungun tan sipi.</poem>
|<poem>Ing dalu tan kawursita
enjing Ratu Bendara wus lumaris
nitih jempana gya rawuh
pakuwon ing kekeran
ingkang rayi gupuh denira amethuk
ing korine pasanggrahan
anganthi astanireki.</poem>
|<poem>Sawusnya tata alenggah
kangbok ayu dennya ngandika aris
dhimas kayapa sireku
neng manca ing amanca
teka nganggo watak ana nagaramu
mam arasi yayi emas
tyase kang sira dhayohi.</poem>
|<poem>Kang rayi gumujeng suka
gih bokayu kula dereng mangarti
raka paduka Sang Prabu
teka jrih nrus batinan
kula boten grahita keni den ekul
kangbok kula boten bisa
wonten nagari ing riki.</poem>
|<poem>Dene anggepe Walanda
anumpangi ngekul sabarang kardi
kangmas kalusen bokayu
angugung ing Walanda</poem>}}<noinclude>{{rh|372}}</noinclude>
bd9ibyvpowvp5v29d9tbm02wk9cftud
Kaca:Babad Prayud I.pdf/375
250
24267
77732
76779
2026-05-15T19:22:10Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77732
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::ngugung malih yen botena muluk-muluk
:::pinethe pos-posaney a
:::kudu nganciki nunggangi.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Dhimas mengko pukul lima
sira yayi ginawa maring ngloji
Pangran Dipati umatur
bokayu gih sandika
kula dherek ing kakangmas karsanipun
inggih ta awon punapa
teng manuteng wong aurip.</poem>
|<poem>Sampeyan kangbok ngadikan
sampun kongsi dados damelireki
inggih dhateng kangmas prabu
anglampahken punggawa
inggih amung sarenga kula bokayu
benjang akan antuk kula
yen kalilan kakang aji.</poem>
|<poem>Kangbok pamit kondur sigra
ing wurine Pang'eran Adipati
amanggil mring uprupipun
Lapro wus prapteng ngarsa
angandika mring Lapro heh Lapro ingsun
mengko sore pukul lima
ingsun lumaku mring loji.</poem>
|<poem>Semayan karo kakangmas
Adipati Mangkunagara nenggih
Lapro alón aturipun
inggih langkung prayoga
inggih kula asaos ngiringken tumut
boten ambakta santana
Pangeran angandika aris.</poem>
|<poem>Si Beman punika edan
yen anepsu tan tolih kanan kering</poem>}}<noinclude>{{rh|||373}}</noinclude>
3k9ljzpogh9a9crcggr91yv2yyep05d
Kaca:Babad Prayud I.pdf/376
250
24268
77733
76780
2026-05-15T19:22:42Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77733
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::sigra makuwon pun Uprup
:::sonten badhe wangsulnya
:::wau Ratu Bendara ing praptanipun
:::matur dhateng ingkang raka
:::lamun sandika kang rayi.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44
|<poem>Kuneng ing ari kaman-ty an
prapteng pukul lima Ki Adipati
Mangkunagara lestantun
budhal saking dalemnya
angampiri kang rayi pakuwonipun
Uprup Lapro wus kapanggy a
pakuwon lajeng lumaris.</poem>
|<poem>Nunggil ing karetanira
ingkang rayi Pangeran Adipati
Mangkunegara wus laju
Lapro ngusiri gennya
U'prup Beman wus saos derguderipun
seket anem baris kuda
praptane drei angurmati.</poem>
|<poem>Mariyem hormat ping sapta
Uprup Beman amethuk sigra nganthi
ing pangeran kalihipun
wus tata dennya lenggah
Uprup Beman sigra andhingini wuwus
heh Tuwan sampun mangkana
wong arsa angarah putri.</poem>
|<poem>Penet tuwan anuruta
ing karsane raka dika Sang Aji
kula puniku yen katur
ramanta Tuwan Sultan
ngawonena ing bicara kula purun
kula inggih wong.rumeksa
ing raka dika Sang Aji.</poem>}}<noinclude>{{rh|374}}</noinclude>
453s2z4uisz13evntka9jh0js4apfsb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/377
250
24269
77736
76782
2026-05-15T19:23:11Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77736
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>Kula boten tolih barang
boten etung kapala pecah katri
mung karsane ratunipun
sumambung wuwusira
Pangran Adipati Mangkunagareku
ya bener uprup nanging ta
sakehe prakara iki.</poem>
|<poem>Sun gawe padha luputnya
akeh-akeh amung ta ingkang kari
sayekti ampun-ingampun
katuta banjir bandhang
apa gawe rinasan pan karonipun
iya padha lupanira
anggroning kamal kang rayi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||375}}</noinclude>
ffb80e6hzleva7nonb6v0iw0fa0t8sm
Kaca:Babad Prayud I.pdf/378
250
24270
77737
76785
2026-05-15T19:23:43Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77737
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXVI SINOM
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Kumeng ta kang sampun eca
wau ta Sri Narapati
Nimbali Tumenggung Sasra
diningrat kinen manggihi
Tumenggung Urawan iku
marang pakuwonira
kinen angrok mersa beni
sapraptane Tumenggung Saradiningrat.</poem>
|<poem>Urawan akakawalan
kekejek pamethukneki
gereng-gereng ngungunira
gelar kelasa pribadi
Urawan lenggah lampit
tan purun sasaman lungguh
langkung dennya nor raga
sirah meh sumeleh lampit
sarta ulat pangrem pura myang ngumala.</poem>
|<poem>Tumenggung Sasra lingira
kakang lampah kula neggih
kang timbalan Sri Narendra
Sasra temuwa sireki
lan si Urawan mangkin
aprakara wingi yeku
sun pundhut si Urawan
mengkuwa karone sami
katujune ya si Tumenggung Urawan.</poem>
|<poem>Laku kang ginawe tuwa
dadi ingsun nora watir
prakara lamun dadiya
dudukane paman aji
yen si Urawan pasthi
ngreksa karo-karonipun
wong mudheng ing prakara</poem>}}<noinclude>{{rh|376}}</noinclude>
fojtfp8n6k1fh2779tychape6428ac0
Kaca:Babad Prayud I.pdf/379
250
24271
77740
76786
2026-05-15T19:24:24Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77740
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::rineksa karone pasti
:::ya tumindak pira sun lan Paman Sultan.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Dhingin padha lali iya
tumuruh rusaking bumi
samengko eling Jeng Paman
lagi meristis wong cilik
nuli bojoda malih
ya prakara salang-surup
sapa ta ingkang ngeman
yen ora paman lan marni
kuwatirku tutuma mring si Urawan.</poem>
|<poem>Kagy at Tumenggung Urawan
matur sarwi mrebes mili
inggih sampeyan matura
ing Gusti Jeng Sri Bupati
yen taksih ingkang abdi
pun Urawan sengganipun
yen dodosa prakara
dadosa atur up ami
yen dadosa galihe kang rama Sultan.</poem>
|<poem>Kang abdi babantenan
tinengker-tengkera benjing
ngalun-alun Surakarta
pun Urawan badaneki
tan darbe atur malih
ingkang abdi pun tumenggung
atas rembatan kula
wau kalane miyarsi
mesem Raden Tumenggung Sasradiningrat.</poem>
|<poem>Inggih kakang mit-amitan
pasthi yen lega Sang Aji
wus mangkat Tumenggung Sasra
Urawan ngeter ing jawi
datan kawameng margi</poem>}}<noinclude>{{rh|||377}}</noinclude>
gbbyrquhmchaavxlhnlpdiatyj5fqog
Kaca:Babad Prayud I.pdf/380
250
24272
77741
76789
2026-05-15T19:24:59Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77741
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::sapraptanireng kadhatun
:::byantaranira nata
:::katur ing saaturneki
:::ingkang abdi wau Tumenggung Urawan.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Sang Nata kapraneng driya
nir tyas wardayanira ris
wauta kang ngesan-ecan
Pangeran Dipati kalih
suka-suka prasami
pukul rolas kunduripun
kuneng wuwusen enjing
kang arsa sumiwang puri
wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Sapraptanira ing pura
Mangkunagara dipati
wus panggih lan ari nata
pinangihan ing pandhapi
katur sasolahneki
karyanira angrurukun
mirapet ing ngarenggang
wus tan ana kawis-kawis
sami suka kang rayi lawan kang raka.</poem>
|<poem>Ing Septu injing ngandikan
Pangran Dipati Matawis
ing raka Sri Naranata
Uprup lan Pangran Dipati
Mangkunagara sami
andherek prapteng kadhatun
pinanggihan pandhapa
wus tata munggeng ing kursi
ingkang rayi Pangran Dipati Ngayogya</poem>
|<poem>Kinanthi mring raka nata
binekta ing dalem anglis
kinen panggih ningalana</poem>}}<noinclude>{{rh|378}}</noinclude>
rigrz01oz4q9nx42pg2ba8gvr0ad4cb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/381
250
24273
77742
76791
2026-05-15T19:25:50Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77742
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::ing putrinira Sang Aji
:::pan sawusnya udani
:::anulya ginawa metu
:::angiras pamitira
:::Dipati Mangkunagari
:::angaturken kang garwa Ratu Bendara.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=13
|<poem>Yen badhe nyarengi lampah
ing rayi Pangran Dipati
Sang Nata alon ngandika
iya becik iku adhi
dadi sun tan gawani
kaliwon miwah tumenggung
padha neng palurugan
ngiras sira bae yayi
ingkang rayi tur sembah inggih sandika.</poem>
|<poem>Wus lajeng ing pamitira
Dipati Anom Matawis
saking loji angkatira
nudy ari ing Ngakat Paing
prajurit jro wus mijil
samtama miwah kang agung
kawandasa kanan-kiring
para lurah anindhihi barisira.</poem>
|<poem>Katanggung miwah Tamtama
kang nindhihi kang ngabani
Apanyi Cakranagara
langkungira den urmati
Pangeran Adipati
Kodhokngorek mriyem barung
wau Ratu Bendara
wus budhal sareng kang rayi
amung satus prajurit Mangkunagara.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||379}}</noinclude>
5ck22rep7vd9n27vnosk71hlxkk5axu
Kaca:Babad Prayud I.pdf/382
250
24274
77743
76792
2026-05-15T19:26:15Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77743
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Prangtandang Saragni abang
lurah Gunawiseseki
kalawan Gunawaskitha
panumbak inggih kakalih
ya sapratelon nenggih
ya saprayoga puniku
kakalih kamituwa
Ngabehi Surawangseki
lawan sira Ngabehi Gagakpranala.</poem>
|<poem>Para emban estri kathah
parekan inya lan cethi
wau Jeng Ratu bendara
angkate wus munggeng joli
dene kang ngater margi
santana Surakarteku
kerig pangaterira
sami wangsul aneng Piji
sampun lajeng Pangran Dipati Ngayogja.</poem>
|<poem>Prapteng Dhuwet masangrahan
kangboknya remben ing margi
sawab dening joli rujad
andadak dipun dandani
baya ngalamatneki
mangkana enjing budhal
saking pasanggrahaneki
sapraptane ing Gondhang amasanggrahan.</poem>
|<poem>Lampahe Ratu Bendara
lawan sawadyanireki
kendel masanggrahan Ngingas
enjang Pangeran Dipati
budhale andhingini
saking Gondhang praptanipun
Nagri Ngayogja asar</poem>}}<noinclude>{{rh|380}}</noinclude>
lg18e0tvkfgz4lckcs25ofpltofkcyn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/383
250
24275
77744
76793
2026-05-15T19:27:09Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77744
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::Ratu Bendara winuri
:::langkung remben masanggrahan Randhugowang.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Wau kang dhingini prapta
lawan kang rama wus panggih
akathah pandangunira
kang putra aturireki
sapalakertineki
wonten ing Surakarteku
dinangu bokayunya
maksih kantun aneng wuri
Kangjeng Sulta mantri anom kang dinuta.</poem>
|<poem>Kapethuk ing Randhugowang
punang kang caraka panggih
dhawuhing Ratu Bendara
ngenggalken lampahireki
wonten kapethuk malih
kakapalan patang puluh
asikep waos binang
lawan sanjatane karbin
lurahipun dhawuhi ngenggalken lampah.</poem>
|<poem>Prapteng Palumbon akathah
sugata pinggiring margi
Ngabehi Sasrawijaya
eketan jodhangireki
kendel sami abukti
ratu lan sawadyanipun
werata penuhira
sigra budhal lampahneki
praptanira ing Ngayogja wanci asar.</poem>
|<poem>Wus panggih lawan kang rama
Ratu Bendara ngabekti
kang rama aneggak waspa
sawusnya paribu sami
eyang den kabekteni</poem>}}<noinclude>{{rh|||381}}</noinclude>
ec8a7jkuor7eif350mgua78c1xfdgx9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/384
250
24276
77745
76795
2026-05-15T19:27:31Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77745
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::nulya wau balanipun
:::pinernah pondhokira
:::kilen kapatihan kendhik
:::wismeng Mantri gelandhag Wiradiprana.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Ratu Bendara neng pura
mung kang abdi aneng jawi
wau gantya kawuwusa
ingkang anglurug pra sami
Ngantang wus den inggahi
nagging pangerane suwung
ngilang ran mawi bala
ingulatan tan kapanggih
sami bubar wong Yogja wong Surakarta.</poem>
|<poem>Bupati ingkang pinarnah
sadaya wetaning kali
ing Sarengat Wirasaba
ing Japan lan ing Kadhiri
wetan Plabuhan sami
ing Rawa merit mendhuwur
Kalangbret radi tebah
tan kajero tan kajawi
wong Ngayogja pan amung kalih nagara.</poem>
|<poem>Mung Japan lawanjing Rawa
ing Sala bupati katri
Sarengat lan Wirasaba
katiganira Kadhiri
liya punika sami
kinereg ginawa mantuk
sawab nagri babakal
keh ginarap pra dipati
Adipati Mangkupraja praptanira.</poem>
|<poem>Sowan ing byantara nata
dinangu sapolahneki
katur barang tingkahira</poem>}}<noinclude>{{rh|382}}</noinclude>
hpmc637t2fa381js6psspcsl5pvekd5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/385
250
24277
77746
76796
2026-05-15T19:27:56Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77746
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::miwiti malah mekasi
:::kyana patih wot sari
:::aprakawis pejahipun
:::Tumenggung Wilatikta
:::sinten kakarsakna mangkin
:::angandika apa ora duwe anak.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Tur sembah rekyona patya
inggih tanggel maksih alit
lah ta iku mangkupraja
samengko tunggalna dhingin
mring Tirtakusumeki
anake yen gedhe besuk
gampang nuli ulihna
yen wus kelar ngangkat kardi
tur sandika Adipati Mangkupraja.</poem>
|<poem>Wus medal saking jro pura
bupati katiga patih
mancanagara samana
Pakecohan pondhokneki
ler Pepe pinggir kali
kuneng malih kang winuwus
nenggih Ratu Bandara
kang aneng Ngayogja lami
ingindhetan mring kang rama Kanjeng Sultan.</poem>
|<poem>Kang dherek pituwanira
Ngabei Surawangseki
Ngabei Gagakpranala
lurahe sakawan nenggih
gandhek ingkang dhawuhi
sadaya tinundhung mantuk
sami matur sandika
nanging den antos sakedhik
kula atur uninga dhateng kang putra.</poem>}}<noinclude>{{rh|||383}}</noinclude>
tlv4dm9322o066ja1hwt8f13xdw8o3j
Kaca:Babad Prayud I.pdf/386
250
24278
77747
76797
2026-05-15T19:28:24Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77747
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem>Inggih manawi kalilan
boten sareng kang den iring
pan nunten mantuk kawula
yen tan kalilan sayekti
punika nuhun ugi
nadyan kinarsakna lampus
wonten nagri Ngayogja
sayekti kula lampahi
mung punika aturing abdi sadaya.</poem>
|<poem>Gandhek mundur prapteng pura
wus katur saaturneki
pra lurah Mangkunagaran
Jeng Sultan sigra nimbali
kang putra prapteng ngarsi
Ratu Bendara wetsantun
kang rama angandika
ebeng akirima tulis
mring lakimu yen sira maksih asmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|384}}</noinclude>
srjl146mkjdc8s3gsdcju21butxzpbs
Kaca:Babad Prayud I.pdf/387
250
24279
77748
76799
2026-05-15T19:28:49Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77748
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXVII.{{gap}}ASMARADANA
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Apan iya durung mari
kangen maring ibunira
tuwin kadangira kabeh
apadene rewangira
miwah maring jeng rama
mengkona bae layangmu
kang putra ajrih mopoa</poem>
|<poem>Tur sembah lengser tumuli
sarwi kumembeng kang waspa
sapraptane ing ibune
sa:mi nagisi sadaya
wingi-wingi miyarsa
kang rama timbalanipun
yen meksa jnulih kang putra.</poem>
|<poem>Yen mopoa den indheti
kang putra badhe den lunas
milane para ibune
praptane saking ngajengan
kang putra tinangisan
bok kalaut aturipun
mangkana Ratu Bendara.</poem>
|<poem>Dennya karya srat wus dadi
Bok Gambir dinuta medal
wus prapteng pamondhokane
dhawuhken angaturena
surat Ratu Bendara
marang kang raka den gupuh
Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Samya eca tyasireki
kang pituwa kang pra lurah
miji sadaya rembage
amung pun Jayapenawang</poem>}}<noinclude>{{rh|||385}}</noinclude>
q82hycqdqkr18upuw1xb9y4lzjk62a6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/388
250
24280
77750
76800
2026-05-15T19:29:19Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77750
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::kang pantes anglampahna
:::sigra ka ambii kudanipun
:::pukul pitu angkatira.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Nyingklak turangga nyamethi
kudane adheyan ngawal
tan mawi kendel saenyek
yen nuju radin kang marga
nungklak turangganira
pukul nem ing praptanipun
kang turangga lajeng pejah.</poem>
|<poem>Srat katur gustinireki
tinampan gya tinupiksa
sawusnya bis pamaose
pangeran langkung brainantya
muka pindha dahana
kang ngadhep prapta kumrutug
para selir para putra.</poem>
|<poem>Sinungan wartamng tulis
estu lamun ingindhitan
Ratu Bendara lampahe
mring kang rama Kanjeng Sultan
sadaya duk miyarsa
sru anjrit tangis gumuruh
kang mara-mara karuna.</poem>
|<poem>Kang para putra li-alit
pating jalerit sadaya
pangeran wibuh galihe
sadalu tan ana nendra
Dipati Mangkupraja
enjinge sowan malebu
canthel atur ingadikan.</poem>
|<poem>Wus prapteng ngarsa nrepati
Mangkupraja matur nembah</poem>}}<noinclude>{{rh|386}}</noinclude>
8h2qlzqhgbg3k5ivemiaj7vgyhl7foa
Kaca:Babad Prayud I.pdf/389
250
24281
77751
76801
2026-05-15T19:29:47Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77751
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::kula tur uninga katong
:::daleme pun kakangemas
:::dalu tangis gumerah
:::kula putusan ing dalu
:::korinipun kinuncenan.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Pra mantri kang wonten jawi
wartine wonten putusan
saking Ngayogja wertine
dutane Ratu Bendara
inggih atur uninga
lamun boten kenging mantuk
dipun dheti mring kang rama.</poem>
|<poem>Kagyat wau Sri Bupati
nulya Uprup ingandikan
tan adangu ing praptane
dhasar meh sowan mring pura
kaselak tinimbalan
Uprup praptaning kadhatun
wus lenggah nata ngandika.</poem>
|<poem>Uprup iki ana warti
teka Kamangkunagaran
prakara iya garwane
kakangmas Mangkunagara
neng Yogja ingindhetan
Kangmas Adipati durung
tur uninga marang ingwang.</poem>
|<poem>Uprup sigra turireki
kula inggih tampi serat
wau dhateng saking Lapro
yen inggih Ratu Bendara
estu yen ingidhitan
asru ngandika Sang Prabu
Iah kapriya karepira.</poem>}}<noinclude>{{rh|||387}}</noinclude>
qdhhyw5hxhdu5x7zsg6f4e8o78r7be6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/390
250
24282
77753
76803
2026-05-15T19:30:17Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77753
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Wong tuwa tan tulus becik
Uprup alón aturira
inggih sapened-penede
yen estu puniku dadya
lungguh panganiaya
inggih ingkang punya untung
sayekti raka paduka.</poem>
|<poem>Nanging inggih lajeng ririh
sabar nrus titahing Suksma
kompeni wus panganggene
amrih patitising lampah
karana yen wus tiba
tumurun na nganak putu
mila mrih kentheling tindak.</poem>
|<poem>Raka paduka manawi
sanget bingunge kang manah
supe tur uningeng katong
lan malihipun Sang Nata
tuwan aparentaha
sadaya kang pra tumenggung
siyaga kapraboning prang.</poem>
|<poem>Manawi dadosa inggih
panganiayane sultan.
sang nata pangandikane
bek dadi panganiaya
tetepa ing sikara
ingsun dhewa kang lumaku
ngawaki angrebut ing prang.</poem>
|<poem>Uprup menyanga pribadi
kalawan si Mangkupraja
titinjo angyektekake
sawab ingsun wus miyarsa
de kangmas banget susah</poem>
}}<noinclude>{{rh|388}}</noinclude>
ky1q154njukntr3eco8evec3dasvpsu
Kaca:Babad Prayud I.pdf/391
250
24283
77754
76804
2026-05-15T19:31:03Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77754
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::durung turpikseng maringsun
:::sakeh-kehe iya ingwang.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Uprup lawan kyana patih
wus miyos saking ngarsendra
nitih kareta saking gon
prapta Kamangkunagaran
kagyat wau pangeran
ing jawi na swaranipun
gumrubyuk kareta prapta.</poem>
|<poem>kang saos lumajeng aglis
matur lamun Uprup prapta
Dipati Mangkuprajane
pangran sigra dennya tedhak
Uprup saudhunira
nganti sareng lebetipun
lan Dipati Mangkupraja.</poem>
|<poem>Wus tundhuk tabeyan sami
wus tata neng kursi lenggah
Beman sigra muwus alón
Pangeran kula dinuta
ing rayi Sri Narendra
sampun susah ing ty as wibuh
prakawis Ratu Bendara.</poem>
|<poem>Rayi nata wus miyarsi
prakawis garwa andika
Sang Nata kula den kocok
ing wau atur kawula
yen sampun kaleresan
sultán ing padamelanipun
tetep nibani sikara.</poem>
|<poem>Dadya purun ing kumpeni
láh inggih mangsa bodhowa
punapa adat jawane</poem>
}}<noinclude>{{rh|||389}}</noinclude>
6x9ugllcu4hbk1s7ofo0ceuu7n6iivr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/394
250
24284
77756
77004
2026-05-15T19:33:06Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77756
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::agantya ingkang winuwus
:::abdine Ratu Bendara.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Emban estri para gusti
parekan prajurit lanang
satus Sragni Prangtandange
dereng purun tinundhunga
wau Ratu Bendara
ingkang tinimbalan gupuh
Ni Bokemban Kartayuda.</poem>
|<poem>Sapraptanira ing ngarsi
ngadika Ratu Bendara
biyung lah ta sira kiye
yen sira nora muliya
agawe alaningwang
nadyan bapa ujer ratu
wenang gawe lara pejah.</poem>
|<poem>Biyung mungguh awak marni
iya laki tetemenan
pan ora ing donya bae
alaki padha sapisan
denira angandika
sarwi kumembeng punangluh
matur Ni Ban Kartayuda.</poem>
|<poem>Inggih ta ngagesang gusti
punika kang tinemenan
sampun si putraning katong
kawula wong ngalan-alan
ngugemi kang punika
pun bapa rabi ping pitu
kulá boten munasika.</poem>
|<poem>Wong wadon darbeya budi
marengkang maring wong lanang
sayekti ical wadone</poem>}}<noinclude>{{rh|392}}</noinclude>
33b354wyc35dpyqb3ispn2kt5bjq5eg
Kaca:Babad Prayud I.pdf/25
250
24285
77920
76808
2026-05-15T20:54:34Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77920
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Yen mangkono ana telu cacahipun
pinrih wawedia
ingaturan rada wingit,
teka dudu karsane pinaletheka.</poem>
|<poem>Kudu bubak nora karsa iku semu
ameksa pesaja
aja nganggo wingat-wingit
othok-oyo panuju ámbeke bocah.</poem>
|<poem>Aturipun Ki Arungbinang Tumenggung
pukulun tan liya
kang angradin Tanah Jawi
mung paduka akanthi lan putra tuwan.</poem>
|<poem>Sang Aprabu nenggih ing Surakarteku
makaten kang meca
Tuwan Seh Ahmad Kusasih
tepang lawan para tabib Tanah Jawa.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung tanpa kelir aturipun
Jamhur tanah Ngarab
Tuwan Seh Ahmad Kusasi
mila-mila kojah prapta Tanah Jawa.</poem>
|<poem>Ingkang antuk anama Kaji Dullulu
nggeguru pandhita
wonten Tanah Ngatasangin
nama Tuwan Seh Ahmad Kusasi purba.</poem>
|<poem>Mangsanipun pamit dennya arsa mantuk
pamit gurunira
tuwan Seh Ahmad Kusasi
Tuwan kula nuhun pangestu supangat.</poem>
|<poem>Nuhun mantuk mring Tanah Jawi pukulun
alon angandika
Tuwan Seh Ahmad Kusasi</poem>}}<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude>
8cipu38mgoq359t8v6dsas1pnxck8j2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/26
250
24286
77921
76810
2026-05-15T20:55:10Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77921
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ingsun tutur ya Dullulu marang sira.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Tanah Jawa iya karsane Hyang Agung
kinelem pan iya
nenggih telung puluh warsi
pan wus wiwit nanging ta durung satengah.</poem>
|<poem>Maras-maras matur Ki Kaji Dullulu
kadipundi Tuwan
sagedipun kelem inggih
punapa ta kadi tanah-tanah Ngarab.</poem>
|<poem>Lamun wonten nagri kadhawuhan wau
dedukaning Suksma
nagri bumine winalik
angandika Tuwan Seh Kusasi purba.</poem>
|<poem>Pan Hyang Agung luwih mulya luwih luhur
luwih ngadil lawan
luwih dennya ngudaneni
Kyai Kaji Dullulu langkung ngrerepa.</poem>
|<poem>Dhuh Tuwanku tedhakna apuntenipun
mungguhing Hyang Suksma
kasihan ing titah Jawi
darah Tuwan kathah wonten Tanah Jawa.</poem>
|<poem>Ngandika rum Tuwan ywa susah sireku
dudukaning Suksma
sayektine bobot bumi
ing pepati tan ana ajine pisan.</poem>
|<poem>Bumi sarang kinebat barekatipun
bingunging manungsa
anak lali bapakneki
tuwin bapa keh padha lali ing anak.</poem>
|<poem>Iya iku kinarsakken ing Hyang Agung
wong lali sesanak-
</poem>}}<noinclude>{{rh|24||}}</noinclude>
mbr03rdacpbhcrmbwnnqy3gkp5xq9j6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/27
250
24287
77922
76811
2026-05-15T20:55:44Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77922
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ya mangkono bae uwis
kakelemán yen mungguh ing Tanah Jawa.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Sira besuk ya muliha sakarepmu
nanging angrantuna
ing praja ing kanan kering
yen akukut muliha mring Tanah Jawa.</poem>
|<poem>Lamun uwus iya telung puluh tahun
kono kadhawuhan
iya apuraning Widi
luwar sangking kekeleman bumi Jawk.</poem>
|<poem>Mung kinelem iya telung puluh tahun
mila kula myarsa
nggih Kaji Dullulu nguni
anakipun wasta pun Setrawijaya.</poem>
|<poem>Pan lumampah ing damel bebekel dhusun
paneket ing Getas
duk kala kula tinuding
inggih dhateng ing Jeng putra padukendra.</poem>
|<poem>Abebantu dhateng Pagelen rumuhun
medal ing Semarang
kinen anedha kumpeni
inggih dhateng Ondor op Deler Semarang.</poem>
|<poem>Neng Samawis inggih panggih anakipun
Dullulu punika
mentas tinjo ramaneki
ramakipun praptane kendel Palembang.</poem>
|<poem>Wanuh mateng lawan kawula pukulun
punika kang angsal
pawarta kula winangsit
lamun kojah tulen sangking Tanah Ngarab.</poem>
|<poem>Pandhita gung punika wewangsitipun</poem>
}}<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude>
qg69v1kqknbudmp86hj7hlkw9kwftbe
Kaca:Babad Prayud I.pdf/28
250
24288
77923
76812
2026-05-15T20:56:25Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77923
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>karabating kubra
Tuwail Seh Ahmad Kusasi
Kyai Kaji Dullulu sampun winejang.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>Pratikel kang ginaib Tanah Jaweku
yen wonten satriya
inggih samya trah Malawis
,wani mati nglalana murweng alaga.</poem>
|<poem>Nadyan akeh kang sami mangun prang pupuh
yen tan ambekira
weca tuhu angugemi
ing agama ingkang bandera musadat.</poem>
|<poem>Sarta bagus kang becik tetekonipun
Dulullu punika
tetanya denira nitik
inggih para kusuma kang amurweng prang.</poem>
|<poem>Anakipun nuturken wewatekipun
tan wonten miriba
edhok wonten paduka Ji
watak dalem ingkang netepi ukara.</poem>
|<poem>Milanipun boten was Kaji Dullulu
ya hole wus nyata
Pangran Arya Mangkubumi
yen wateke neje lawan para kadang.</poem>
|<poem>Pan ta iku mangka dutaning Hyang Agung
iya kang kinarya
angelem ing Tanah Jawi
pratandhane ing aprang arang kasoran.</poem>
|<poem>Iya iku ing sasengkeran Hyang Agung
milanggung kawula
ambeka ing paduka Ji
yen paduka nguni ndhatengna deduka.</poem>
}}<noinclude>{{rh|26}}</noinclude>
suz5ve8k7fiyaioi317wsdlxncpfzxo
Kaca:Babad Prayud I.pdf/29
250
24289
77924
76813
2026-05-15T20:57:05Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77924
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=47
|<poem>Milanipun kula purun ambalithuk
anjarag deduka
ing batin ajeng ngyekteni
yen dukaa dede dukaning Hyang Suksma.</poem>
|<poem>Duk angrungu Jeng Sultan ing baturipun
Tumenggung Rungbinang
anglengger dangu tan angling
duk ngandika angrentahaken kang waspa.</poem>
|<poem>Sewu ngungun sakethi gegetunipun
yen mengkono iya
Rungbinang kojahmu iku
raganingsun kalebu wong tetemenan.</poem>
|<poem>Dene iku iya karsaning Hyang Agung
ngelem Tanah Jawa
winangen tri dasa warsi
ing sasmita ragengsun kalebu ing bab.</poem>
|<poem>Yen kawilang sira dhingin maring ingsun
pasthi watak kiwa
sun wuwuhi ngati-ati
sun wuwuhi pikukuh ingsun ngagama.</poem>
|<poem>Dhingin ingsun aweh layang ing sireku
muni ngebang-ebang
sira sun gawe pepatih
anamaa iya Dipati Manggada.</poem>
|<poem>Lamun ora seneng nama ingkang iku
Dipati Urawan
lamun ora anujoni
anamaa Dipati Natanegara.</poem>
|<poem>Ujar iku dudu lorop dudu bujuk
ujar tetemenan
kencenge tyasingsun iki</poem>
}}<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude>
199hml3qkyyhcem8zwscpe3mi0uc2jf
Kaca:Babad Prayud I.pdf/30
250
24290
77902
76814
2026-05-15T20:41:50Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77902
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kaya-kaya osik pituduh Hyang Suksma.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=55
|<poem>Sun rembugken kabeh sapunggawaningsun
pepatih jro pura
iya kang nama dipati
wus sun panci iya lelungguh saleksa.</poem>
|<poem>Patih jaba si Mangkunegara iku
lungguh tigang leksa
ing ngadat ingsun salini
pasthi bisa yen ora ana Walanda.</poem>
|<poem>Punggawengsun kang ajembar budinipun
sura ing alaga
uwis mateng jangji marni
soring patih anglimangewu lungguhnya.</poem>
|<poem>Jayadirja Rangga Suryanegareku
Dhimas Pakuningrat
Dhimas Natakusumeki
kabeh-kabeh wus mateng pikir batinan.</poem>
|<poem>Punggawengsun padha mantep pikiripun
manthengaken cipta
nedya tulung Tanah Jawi
Iya dene nir memaniseng manungsa.</poem>
}}<noinclude>{{rh|28||}}</noinclude>
1nfewzaw9lqqfct7s9w3s5biq55fxaj
Kaca:Babad Prayud I.pdf/260
250
24291
77769
76815
2026-05-15T19:38:37Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77769
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXIII. DHANDHANGGULA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Nadyan ingkang dadiya papahit
dadi remak-rempu ingante pan
tan gumingsir ing anggepe
susukere Sang Prabu
sampe mati dipun antepi
ing mangkya Srinarendra
paparentah sampun
mundhut kakalih wedana
samantrine lawan kaliwon kakalih
lan Jagul tiga belah.</poem>
|<poem>Badhe ngaterken dhateng Semawis
lampahipun Jeng Ratu Kencana
kan ngater ngetan badhene
Deler ingkang asaguh
nuduh pra dipati pasisir
wau ta Sri Narendra
bupati tinuduh
Tumenggung Puspakusuma
lan Tumenggung Puspadiningrat wus sami
siyagane samakta.</poem>
|<poem>Lan kaliwon ing jawi kakalih
Ratu Kencana wus dhinawuhan
amangun res wardayane
budhal ping kalih mulud
ing Salasa Wage lumaris
saking ing Surakarta
satengah sepuluh
Raden Arya Endranata
kinen tumut lawan Pringgawicitreki
Ratu Mas papatihnya.</poem>
|<poem>Samya kinen wangsula Semawis
wit nyanyengit wesana welasan</poem>}}<noinclude>{{rh|258}}</noinclude>
s5ecujmsceqlrmoos53tsf65lvszm6u
Kaca:Babad Prayud I.pdf/31
250
24292
77903
76816
2026-05-15T20:42:35Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77903
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''II. {{tab}}Dhandhanggula'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Kangjeng Sultan angandika malih
Heh Tumenggung Rungbinang mengko ta
Kaji Dullulu anake
aneng ngendi nggenipun
iya apa misiha urip
Tumenggung Arungbinang
wotsari umatur
Kaji Dullulu punika
tetep wisma wonten Palembang nagari
ing mangke sampun dadya.</poem>}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=3
|<poem>Inggih marasepuh sapuniki
dhateng Sang Prabu ing Palaretna
wonten dene ta anake
pun Setrawijayeku
kesah dhateng Ngarab nagari
minggah kaji angiras
ngungsir gurunipun
kang bapa arsa anuta
angguguru Tuwan Seh Ahmad Kusasi
pamit dhateng kawula.</poem>}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=3
|<poem>Pan kawula satus anyangoni
boten ajeng langkung sapunika
mring kawula ageng. sihe
Jeng Sultan ngandika rum
Arungbinang begjanireki
asihe marang sira
apan iku wahyu
Rungbinang matur anembah
duk amangsit kadi mejang ngelmu gaib
nggih pun Dullulusuta.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung den angati-ati,
den waskitha sampun tungkul dika</poem>
}}<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude>
37mvprmn8ppb9x5j3atyiyqneviczxo
Kaca:Babad Prayud I.pdf/261
250
24293
77770
76817
2026-05-15T19:38:53Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77770
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
:::saking aneh pangrasane
:::dene banjur kalantur
:::ing karsane Sri Narapati
:::kuna-kuna tan ana
:::laiakon kadyeku
:::mung karya kaget kewala
:::lampahira sadalu neng Bayalali
:::enjinge lajeng budhal.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>
Aneng Salatiga pan sawengi
enjing budhal prapta ing Ungaran
lajeng budhale enjinge
Jumungah praptanipun
ing satengah rolas Semawis
urmate winatara
nenggih Kanjeng Ratu
pinernah pakuwoniro
ing wismàne wau dipati Semawis
sawusnya tigang dina.</poem>
|<poem>
Kang andherek sami pamit mulih
marang Idler sampun kalilan
budhal sak kanca mantrine
ambekta angsul-angsul
serat dalem wawangsul neki
apan ing sapunika
cethine Jeng Ratu
akathah kang sami minggat
tumut wangsul dhateng Surakarta njilib
sanadyan wong Madura.</poem>
|<poem>
Inggih sami karasan neng Jawi
kawuwusa Adipati Sampang
Pangeran Cakraningrate
budhal sawadyanipun
tampi serat saking semawis
lan saking Surakarta</poem>}}<noinclude>{{rh|259}}</noinclude>
om8sbut4ijwuixzeriqg08slazymowq
Kaca:Babad Prayud I.pdf/32
250
24294
77904
76818
2026-05-15T20:43:10Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77904
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>lampah tangeh sampurnane.
benjing arang wong agung
kang meningi kartaning bumi
Pringgalaya Sinduija
Mlayakusumeku
Wiraguna Mangkupraja
miwah Kartanegara boten meningi
tuwin Ki Natayuda.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Mung puniku kang kula wastani
liyanipun meningi sadaya
poma dipun yitna tembe
tan keni gugup-gugup
yen prayitna kang dadi werti
sami trahing Mataram
awasna ing laku
nanging ta sampun tan mulat
kang wus pasthi Pangran Arya Mangkubumi
dennya wewatak beda.</poem>
|<poem>Kangjeng Sultan angandika malih
lamun sira dhingin anjawila
maring sun pasthi elinge
ingsun nora tekebur
nora kalah prang prakareki
ya wus karsaning Suksma
karusakanipun
tan kena lamun kinarya
miwah ingsun duk bebakal murweng jurit
anggung prang tandhing jipat.</poem>
|<poem>Lamun ingsun kasoran ping kalih
sembulihe menang kaping lima
nyengka tandhing ji limane
ji seket jitus unggul
de sun ora tekabur kedhik
eling sadina-dina</poem>
}}<noinclude>{{rh|30}}</noinclude>
t2fqv6jv1n4l2249d6ooh616fcdh2ju
Kaca:Babad Prayud I.pdf/10
250
24297
77938
76827
2026-05-15T21:16:15Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77938
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Sindureja, Mlayakusuma, Wiraguna, Mangkupraja, Kartanagara, dan Natayuda. Demikianlah wawancara antara Sultan dan Tumenggung Arungbinang dari Surakarta, yang sedang diutus ke Yogyakarta untuk mengiringi Ratu Bendara menghadap ayahandanya Sultan Yogyakarta.
Pada suatu ketika terjadilah di Surakarta peristiwa yang berpangkal dari istana Mangkunagaran, ialah bahwa menantunya yang bernama Raden Mas Guntur Wiratmeja, bertindak menyeleweng dengan salah seorang selir terkasih mertuanya. Atas peristiwa tersebut Pangeran Mangkunegara sangat marah. Sewaktu beliau marah-marah, Wiratmeja dalam persembunyiannya mendengarkan, dia sangat takut, dan segera mengajak istrinya beserta segenap pengiringnya dan juga Raden Ayu Rarasati untuk melarikan diri ke arah Blora. Di daerah tersebut (Blora) Wiratmeja dapat menghimpun pasukan dari daerah pantai dan pedesaan di sekitarnya. Di sana dia mengangkat bupati dan perwira/lurah yang terdiri dari para pencuri penyamun dan lain sebagainya. Berita tersebut sudah terdengar di negeri Surakarta.
Tentang larinya Wiratmeja tadi oleh Pangeran Mangkunagara teiah dilaporkan kepada Raja, dan Tuwan Uprup Beiman telali mengetahuinya pula. Mereka segera berunding untuk mengejar dan menyerang Wiratmeja. Pengejaran ini dipercayakan kepada Tumenggung Arungbinang. Tidak lupa mereka mohon bantuan pasukan dari Yo^a, untuk menumpas Wiratmeja tersebut. Sultan mengutus Pangeran Jayakusuma, Arya Pamot dan Kusumayuda dan Ki Mertasana untuk memimpin barisan dalam membantu penyerbuan itu.
Para tumenggung Surakarta dan Yogyakarta, merencanakan siasat penyerbuan bersama, dipimpin oleh Tumenggung Arungbinang. Wiratmeja setelah mendapat laporan dari petugas sandinya bahwa akan diserang oleh pasukan dari dua kerajaan, segera mengundurkan diri ke arah utara dengan tujuan kota Pati. Di sana pasukan berhenti di Garenteng untuk menyusun barisannya, sedang pasukan dari Surakarta dan Yogyakarta terus mengejarnya. Di tempat ini mereka terkejar dan terjadilah perang. Banyak korban yang berjatuhan di pihak pasukan Wiratmeja,<noinclude>{{rh|8}}</noinclude>
dumzqkjl2zlu4uh3me1bzse6p8w1u7c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/262
250
24298
77771
76822
2026-05-15T19:39:07Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77771
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
:::dharat lampahipun
:::boten medal ing lautan
:::kuneng malih bupati Surakarteki
:::suprataneng Semarang.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=8
|<poem>
Ngaturaken srat saking Semawis
Deler Ubristing sul-angsulira
tinupiksa ing tembunge
langkung suka Sang Prabu
sirna ingkang wadya kalilip
dennya Ratu Kencana
wus datan kadulu
ing panggenane wus tebah
apan sampun wonten tanganing kumpeni
nora karya sumelang.</poem>
|<poem>
Bakdamulut Kanjeng Sri Bupati
tanggal pitulas wau kang raka
tinimbalan mring purane
miwah para tumenggung
Adipati Mangkuprajeki
prapta tata alenggah
ngandika Sang Prabu
kakangmas mangke andika
kula ganjar inggih andika tampeni
Pamaosan Toyamas.</poem>
|<poem>Kang tigang ngewu rong atus dhingin
kang wolungatus panjer kantuna
dene kakangmas ing tembe
nadyan sajawinipun
ing pamreden pangrembe benjing
inggih wonten kakangmas
jangkep gangsalewu
sapaos-paose benjang
kakangemas turena ing saben warsi
welasane akathah.</poem>}}<noinclude>{{rh|260}}</noinclude>
g459sdnwzwvj7q7zkt5itpnqzskhvvt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/33
250
24299
77905
76823
2026-05-15T20:43:38Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77905
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>jubriya maledhug
tekabur tan katempelan
tyas sun ening milanggung awanti-wanti
pitulunging Hyang Suksma.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=8
|<poem>Kangjeng Sultan angandika aris
Arungbinang sira seksenana
si Ebeng iku arane
maune ingsun pundhut
lan namane lakine nguni
mulih Suryakusuma
paparinganingsun
Dipati Mangkunegara
dene mengko si Beng amuliha malih
nama Ratu Bendara.</poem>
|<poem>Nembah matur ingkang den gadhuhi
nenggih wau Tumenggung Rungbinang
sampun ingundhangken kabeh
ing pra wadyanireku
Raden Ayu Mangkunagari
ingantukken kang nama
Ratu Bendara wus
sagung wadya Surakarta
kang ndhedherek ingungdhangan sampun wradin
lan songsong pinaringan.</poem>
|<poem>Kuning sungsun pama tupang sisir
pan pinasthi telungatus reyal
lan nagri Pamagetane
pinaringaken wau
Kangjeng Sultan ngandika malih
sun seksi Arungbinang
marang ing sireku
sakehe punggawaningwang
baribina mring anak prabu prayogi
sangking sira kewala.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||31}}</noinclude>
98jvc7mh7quwfmd8swh5utdkuvmk7oa
Kaca:Babad Prayud I.pdf/34
250
24300
77906
76826
2026-05-15T20:44:20Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77906
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Laminira pan sangalas wengi
Arungbinang ping nem ingandikan
mring pura sabedhug dene
omong-omongan nuíug
solah kang wus kawuntat
tinutur ginalur
kang putra Ratu Bendara
ing sangalas dina aneng Ngayogjeki
pamit sampun kalilan.</poem>
|<poem>Sulta dhateng mawi serat malih
mung mitungkas Tumenggung Rungbinang
wus pracaya sakalire
enjing budhalireku
Dulkangidah salawe nenggih
kang tinuduh ing lampah
dhateng putranipun
mring nagari Surakarta
punggawa tri Pangran Jayakusumeki
punggawa tur sentana.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Singaranu malih
lawan Tumenggung Mangunnegara
sadasa mantri jerone
Ketanggung Patangpuluh
prajurit jro kang parak sami
aturan Anirbaya
lan Jagabayeku
Wirabraja Brajanala
kalihatus pra sentana Ngayojeki
sami ngeter ing marga.</poem>
|<poem>Langkung kathah bebektanireki
ingkang rama mring Ratu Bendara
sakembaran kang sesupe
pan regi pitung atus</poem>
}}<noinclude>{{rh|32||}}</noinclude>
djacyzmdo77ib7tne55z4oear5o8fi1
77907
77906
2026-05-15T20:44:49Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77907
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Laminira pan sangalas wengi
Arungbinang ping nem ingandikan
mring pura sabedhug dene
omong-omongan nuíug
solah kang wus kawuntat
tinutur ginalur
kang putra Ratu Bendara
ing sangalas dina aneng Ngayogjeki
pamit sampun kalilan.</poem>
|<poem>Sulta dhateng mawi serat malih
mung mitungkas Tumenggung Rungbinang
wus pracaya sakalire
enjing budhalireku
Dulkangidah salawe nenggih
kang tinuduh ing lampah
dhateng putranipun
mring nagari Surakarta
punggawa tri Pangran Jayakusumeki
punggawa tur sentana.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Singaranu malih
lawan Tumenggung Mangunnegara
sadasa mantri jerone
Ketanggung Patangpuluh
prajurit jro kang parak sami
aturan Anirbaya
lan Jagabayeku
Wirabraja Brajanala
kalihatus pra sentana Ngayojeki
sami ngeter ing marga.</poem>
|<poem>Langkung kathah bebektanireki
ingkang rama mring Ratu Bendara
sakembaran kang sesupe
pan regi pitung atus</poem>
}}<noinclude>{{rh|32}}</noinclude>
2aazkeufw96u0ro35ir8lhqo04bt0j0
Kaca:Babad Prayud I.pdf/263
250
24301
77772
76825
2026-05-15T19:39:43Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77772
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>
Ingkang raka anuhun turneki
sarwi latah Sang nata ngandika
heh Mangkupraja den age
si Yudanagareku
lan kancane para ngabei
aturna kakangemas
sandika turipun
kang raka alon turira
kula nguni pun Jangkungpacar punagi
yen ludhanging prakara.</poem>
|<poem>Kula inggih badhe den aturi
dhateng wismane pun Jangkungpacar
angluwarken punagine
angandika Sang Prabu
kula inggih dipun aturi
daweg sareng wasisan
kang raka umatur
inggih wajib Srinarendra
mesakaken si Jangkung pahitan pati
gon nglakoni parentah.</poem>
|<poem>Ngandika lon wau Sribupati
Wiradigda lan si Mangkuyuda
miwah Jayanegarane
myang tirtawiguneku
lumakuwa kapat bupati
mring wismeng Jangkungpacar
resikana gupuh
manawa durung prayoga
ingsun lawan kakangmas badhe tumuli
nembah catur punggawa.</poem>
|<poem>Medal kidul sapratanireki
ing wismane Lurah Jangkungpacar
panggih rumat sadayane
mung kedhik ingkang kantun</poem>}}<noinclude>{{rh|||261}}</noinclude>
b0mezc6kyv1v3lr9ubxhdvv8egf5v4r
Kaca:Babad Prayud I.pdf/11
250
24302
77939
76835
2026-05-15T21:18:59Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77939
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>kemudian dia dengan anak buahnya melarikan diri ke timur. Secara menyamar diri seperti mantri yang mengemis beserta pengiringnya yang berjumlah 7 orang masuk Surabaya. Sementara itu para adipati menduga bahwa sudah ada yang menyampaikan berita pada Tumenggung Arungbinang, kalau salah seorang pemimpin dari Surakarta yang bernama Ranadipura, tidak mekksanakan tugas dengan baik, bahkan dia berkhianat akan tugasnya. Para Adipati daerah pasisir mengirimkan surat kepada Raja dan Pangeran Mangkunagara. Oleh raja dijawab. agar para adipati jangan saling bentrok, dan supaya menjaga keutuhan. Jawaban tersebut oleh para adipati dianggap kurang memuaskan, maka mereka bersepakat untuk melaporkan hai ini langsung kepada Deler di Semarang. Deler terkejut menerima laporan ini, segera membuat surat tiga buah, satu ditujukan ke Sulta Yogya, dan dua buah untuk kedua raja di Surakarta.
Surat yang ditujukan ke Yogyakarta, menjadi gelisah Sulta di Yogya, karena Deler berprasangka bahwa Sulta telah merestui Wiratmeja untuk menjadi raja di Baledawa. Adapun surat yang ditujukan pada Sunan (raja Surakarta), isi berita bahwa ada salah seorang abdi (dari Surakarta) yang tercela tindakannya, merawat ibunda Wiratmeja. Sedang surat yang kepada Pangeran Mangkunagara, mengatakan bahwa salah seorang pemimpin di sana hanya bermain dadu saja, meninggalkan tugas pokok dalam peperangan. Sesudah membaca surat tersebut, Parfgeran Mangkunagara segera masuk ke keraton menghadap raja. Di sana kedua beliau itu berunding untuk mengambil keputusan.
Raja segera memberi perintah untuk memanggil Ranadipura dan orang-orang (pasukan) mancanagara. Tumenggung Brajamusthi diberi tugas membawa kembali pasukan itu, sedang Tumenggung Arungbinang diperintahkan untuk menangkap Ranadipura. Setelah berhasil mereka dibawa ke Surakarta. Ranadipura ditangkap pada hari Saptu dan pada hari Senen dijatuhi hukuman mati, dipancung kepalanya dipasang di sebelah kiri geladhag.
Tumenggung Arungbinang oleh raja ditegur mengapa dapat terjadi tindakan tercela dalam peperangan, hingga kumpeni mengetahuinya. Tumenggung Arungbinang menghaturkan apa {{hws|ada|adanya}}<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude>
3eti9viienpawmviz8tco0x1gh241oe
Kaca:Babad Prayud I.pdf/35
250
24303
77908
76829
2026-05-15T20:45:13Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77908
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kang busana mawarni-warni
sadaya pra santana
Ngayogja pisungsung
Ki Tumenggung Arungbinang
sakaliwon sak andhane para mantri
pinisalin sadaya.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Tuwin Raden Tirtakusumaki
pan pinijig peparinganira
akathah-kathah warnane
wauta lampahipun
garebegan mring Sambilegi
kendel kang pra santana
ngriku wangsulánipun
wusnya lajeng lampahira
ing sadalu wangsule bala kumpeni
dragunder kawandasa.</poem>
|<poem>Lampahira ing sadalu malih
Senen sangking nagari Ngayogja
Rebo ping pitulikure
asar ing praptanipun
ing nagari Surakarteki
Ratu Bendara mbekta
wau putrinipun
Pangeran Mangkunagara
ingkang sangking selir pawestri kekalih
pinundhut ing Jeng Sulta.</poem>
|<poem>Duk pinundhut kalih taksih bayi
diwasane wonten ingkang eyang
mangkya angujung kalihe
marang ing ramanipun
Adipati Mangkunagari
Den Ajeng Bonjot lawan
Semplep arinipun
peparab sangking kang eyang</poem>
}}<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude>
a68x3pqjj7mpkfzcubhzn1zde8ia0ga
Kaca:Babad Prayud I.pdf/264
250
24304
77773
76831
2026-05-15T19:40:01Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77773
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
:::masang gubah tertepan jawi
:::dadya kapat punggawa
:::tumandang abikut
:::sawusnya atur uninga
:::tendakira ing wau Srinarapati
:::kalawan ingkang raka.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>
Wus pinarak dhadhampar Sang Aji
munggeng kursi wau ingkang raka
neng wisma tengah kaliye
mandhapa pra tumenggung
dadya sarat panginumneki
janewer nigang gelas
ingkang raka gupuh
ambeksa mung tigang tindak
uwis Jangkung aku ingkang amakili
beksane Srinarendra.</poem>
|<poem>Paparentah wau Sribupati
marang Apanji Cakranagara
lurah prajurit jro kabeh
krigen ajana kantun
mantri kadipaten prasami
ing kene kasukana
den padha anutug
si Pasliyun jenengana
aja bubar yen durung bubar jro puri
kabeh matur sandika.</poem>
|<poem>Lan ladene dingklik ta sireki
amundhata wong gedheng kewala
Sang Nata pangandikane
sunan nimbali uprup
akasukan lan pra opesir
lawan kang pra dipatya
aneng jro kadhatun
sira kene kasukana</poem>}}<noinclude>{{rh|262}}</noinclude>
eo762t9qog02eg2qo3x4ztqeelzd15t
Kaca:Babad Prayud I.pdf/12
250
24305
78191
76846
2026-05-16T09:04:43Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78191
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|nya|adanya}}, segenap kekurangan dan mengakui kesalahan-kesalahan tersebùt. Setelah niendengarkan laporan dan jawaban Tumenggung Arungbinang Sri Baginda merasa puas dan senang. Lain halnya dengan Sultan di Yogya, setelah membaca surat dari Deler, segera memanggil perwira-perwiia yang ada di medan perang. Rasa hati beliau sangat kesai oleh tingkah Adipati Suryanagara. Abdi yang ditutus ialah Rangga Prawiradirja, ke wilayah Baledawa. Adipati Suryanagara mendengar adanya utusan dari Yogyakarta hatinya terkesiap, merasa bahwa perbuatannya telah tercium oleh Raja. Maka bersama putra dan istrinya 'segera melarikan diri, sedang yang diperintahkan menunggu kota yaitu kedua kemenakannya, dan disertai saudara sepupunya. Ketiganya menyiapkan diri di Desa Jajar. Di sini terjadilah peperangan, anak buah Prawiradirja kalah, lalau ditarik mundur. Sedang baia bantuan dari Surakarta yang baru datang pada hari berikutnya langsung mengadakan pembalasan.
Kini kembali pada Wiratmeja, setelah kekuatannya terhimpun lagi, segera memukul Jipang, dan Jipang dapat dikuasainya. Kemudian Wiratmeja dapat menguasai Madiun juga. Adipati Madiun melarikan diri ke arah Ponorogo. Setelah mendengar kalau Ratu Bendara menyiapkan barisan di daerah Magetan, maka bergabunglah para Adipati ke Magetan. Di sana diadakan perundingan dan mengatuf siasat, lalu pasukan Yogyakarta yang dipimpin oleh Rangga Prawiradirja ditugaskan menyerang dari arah barat, pasukan Surakarta dari arah selatan. Pasukan Wiratmeja yang menghadang di sebelah barat dipimpin Tumenggung Ganduwaur, Bragoda dan Gutitwesi. Pasukan dari Surakarta dipimpin Adipati Mangkuyuda, dan Jayanagara. Adipati Jayanagara melihat barisan Wiratmeja, kemarahannya tak terkendalikan, segera menyerbu meninggalkan pasukan pengiringnya, dan menggempur pasukan Wiratmeja. Pasukan Wiratmeja bubar. Wiratmeja sendiri melarikan diri, bersembunyi di belakang pasukan. Alhasil anak buahnya yang melihat tingkah pimpinannya, turut bubar mencari selamat masuk ke dalam hutan. Pasukan dari tumur yang memihak Wiratmeja terus kembali ke Malang, dan merasa tidak ada gunanya mengikuti seseorang yang<noinclude>{{rh|10}}</noinclude>
gx9unf14zq296fw9unlxino63052kfs
Kaca:Babad Prayud I.pdf/36
250
24306
77909
76834
2026-05-15T20:45:41Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77909
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>praptanira santana Surakarteki
sadaya methuk marga.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem>Dadya tontonan praptanireki
dennya kathah prajurit Ngayogja
prapta sarwi anjujuge
Mangkunagaran methuk
angurmati kang mau prapti
langkung sami sukanya
ubekan sesuguh
sawusnya sami dhaharan
sarta nginum pungawa tri Ngayogjeki
kerid mring Kapatihan.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Rungbinang pribadi
ingkang lapur mring Uprup Beiman
Ratu Bendara praptane
lan tri punggawanipun
kang angater king Ngayogjeki
benjing-enjing kewala
panggih Tuwan Uprup
Pangeran Jayakusuma
Singaranu miwah Mangunnagareki
lan Tuwan manjing pura.</poem>
|<poem>Erep bubaran praptanireki
saking loji Tumenggung Rungbinang
prajurit keparak kabeh
sowang-sowang umantuk
kuneng dalu wuwusa enjing
Ratu Bendara sowan
mring pura tur-atur,
ngaturaken angsal-angsal
tuwin ingkang pakintun sangking Yogjeki
kang katur mring Sang hata.</poem>
|<poem>Tuwin marang Ratu Kangjengneki</poem>
}}<noinclude>{{rh|34||}}</noinclude>
mylq85g6b1lenfkeag8utrm73wn5m66
Kaca:Babad Prayud I.pdf/265
250
24307
77774
76836
2026-05-15T19:40:27Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77774
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
:::bareng bae gya kondur Srinarapati
:::kalawan ingkang raka.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem>
Uprup Beman lan para opesir
sampun prapta tata palenggakan
lajeng kawit panayube
mijil laledhekipun
gumer sagung kang pra dipati
Dipati Mangkupraja
beksane acucut
Dipati Mangkunegara
animbangi cucutira kyana patih
langkung suka sadaya.</poem>
|<poem>
Nuting suka parisuka sami
kawit enjang bubar tabuh sanga
jaba jro pareng bubare
kuneng antaranipun
pan ing wulan Rabingulakir
kaping wolu angkatnya
dutanira prabu
Adipati Mangkupraja
mring Batawi kanthi punggawa kakalih
Tumenggung Arungbinang.</poem>
|<poem>Wedana jro gedhong kang satunggil
nenggih Tumenggung Puspadiningrat
angurmati ing lampahe
adegira gupernur
jendral ingkang anyar semangkin
Jendral ingkang anama
pan Petrus Albertus
pan der Para lampahira
asarengan lan papatih Ngayogjeki
Dipati Danureja.</poem>
|<poem>Lan akanthi punggawa akalih
Sindupati.lawan Natayuda</poem>}}<noinclude>{{rh|||263}}</noinclude>
iamub1eyjh49qxmaxc461hpzoe7af6b
Kaca:Babad Prayud I.pdf/37
250
24308
77910
76837
2026-05-15T20:46:15Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77910
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kathah pakintun saking Ngayugja
caraka tri punggawane
enjing binekta sampun
marang lajeng mring Sang Dipati
Mangkupraja kalawan
Rungbinang Tumenggung
lan Uprup Bemas wus panggya
sigra lajeng kerid tumenggung jro puri
wau Ratu Bendara.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=22
|<poem>Kang wus enjing praptaning jro puri
lan ambekta putrane kang raka
kekalih ingunjukake
Den Ajeng Bojotipun
lan Den Ajeng Semplep kang rayi
katur pangujungira
nenggih putranipun
kang raka duk bebayinya
Kangjeng Sultan ing mangke diwasa sami
arsa ngujung mring bapa.</poem>
|<poem>Lawan angujung ing paduka Ji
Sri Narendra gumujeng ngandika
Jebeng melu sapa kowe
duk bapakmu amungsuh
Lan eyangmu priye sireki
lah tresna endi sira
bapa lan eyangmu
Den Ajeng kalih tur sembah
nuhun boten miyarsa yen bapa taksih
mung Mbah Kiyai Sultan.</poem>
|<poem>Mirsa-mirsa diwasa samangkin
lamun anaking Mangkunagara
boten tresna sajatose
dene sangkaning timur
kang angathik ing siyang latri</poem>
}}<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude>
9pinkice4by5jnrz04ozfkbnad6iyqf
Kaca:Babad Prayud I.pdf/1
250
24309
78188
76839
2026-05-16T09:03:45Z
Elcamatcha
1466
78188
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{r|<small>'''TIDAK DIPERJUAL BELIKAN<BR>Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br>Perpustakaan Nasional 2011</small>}}
{{x-larger|'''BABAD PRAYUD}}'''
{{x-larger|'''I}}'''
{{gap}}
{{gap}}
{{C|'''NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}}'''
{{C|'''R.A. MAHARKESTI, B.A.}}'''<noinclude></noinclude>
2ukr6b1k565ftug1bni5ywhjsgeo04k
78189
78188
2026-05-16T09:03:59Z
Elcamatcha
1466
78189
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{r|<small>'''TIDAK DIPERJUAL BELIKAN<BR>Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br>Perpustakaan Nasional 2011</small>}}
{{x-larger|'''BABAD PRAYUD<br>I}}'''
{{gap}}
{{gap}}
{{C|'''NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}}'''
{{C|'''R.A. MAHARKESTI, B.A.}}'''<noinclude></noinclude>
2czn4fiznprlnqo62hwtdw4ubsi19ef
78190
78189
2026-05-16T09:04:21Z
Elcamatcha
1466
78190
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{r|<small>'''TIDAK DIPERJUAL BELIKAN<BR>Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara<br>Perpustakaan Nasional 2011</small>}}
{{xx-larger|'''BABAD PRAYUD<br>I}}'''
{{gap}}
{{gap}}
{{C|NY. JUMEIRI SITI RUMIDJAH, B.A.}}
{{C|R.A. MAHARKESTI, B.A.}}<noinclude></noinclude>
5e4f888ib42dljxued2vmbvuqse2agy
Kaca:Babad Prayud I.pdf/38
250
24310
77911
76840
2026-05-15T20:46:51Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77911
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>amung Kiyai Sultan
tan wruh liyanipun
binekta angayam alas
duk kawon prang sakedhap rumiyin ngeli
puji kula ing bocah.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Ya kalaha eyang mungsuhneki
mungsuh kang aran Mangkunagara
Jeng Eyang liwat susahe
gumujeng Sang Aprabu
iya Ebeng pan wong sabumi
tan ana becikena
marang bapakmu
semut rayap padha nacad
manungsane sanungsa Jawa kepati
gawok ing bapakira.</poem>
|<poem>Dennya awrat manungsa tyas iblis
Raden Ajeng kalihe tur sembah
kula enggih parentahe
Kangjeng Eyang pukuluri
kinen ngujung dhateng kang ngukir
yen sampun makatena
kula boten purun
gumer keng sami miyarsa
Nyai Lurah keparak jaba tur peksi
yen Uprup tur uninga.</poem>
|<poem>Badhe sowan punika angirid
punggalwapra sentana Ngayogja
Sang Aprabu anulyage
mring mandhapa tumurun
wus alenggah ngamparan gadhing
Uprup gya ingandikan
lawan Ki Tumenggung
Rungbinang Tirtakusuma
myang kaliwon punggaweng Ngayogyakerid</poem>
}}<noinclude>{{rh|36}}</noinclude>
ov5ya9kunovxcrxouvs5m5nk7ekx3dv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/442
250
24311
77674
76841
2026-05-15T18:55:15Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77674
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>[[File:Babad Prayud I (page 442 crop).jpg|600px|Babad Prayud I (page 1 crop)]]<noinclude></noinclude>
ixrxqkdhc7yx8pnhuhjkfgmnd5jbefi
Kaca:Babad Prayud I.pdf/266
250
24312
77775
76842
2026-05-15T19:40:39Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77775
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
:::sareng sadinten angkate
:::kathah babektanipun
:::kadi adat ing nguni-uni
:::miwah ing Surakarta
:::ing babektanipun
:::sami ugi urmat jendral
:::Ki Tumenggung Banyumas Yudanegari
:::tumut mring Batavia</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=22
|<poem>
Ing Ngayogya mancanagareki
Tumenggung waru ingkang binekta
kuneng wau saungkure
Prabu Surakarteku
ipe sami ngalap Sang Aji
Ratu sugih lakinya
Kadhiri tinandur
nama Panji Surengrana
duk miyarsa Sang Nata megat kang rayi
ing Kadhiri tinilar.</poem>
|<poem>
Mantuk marang nagri Madureki
ing Kadhiri sampun tinaneman
Tumenggung Kawengaene
nagri Balora sampun
pinaringken Wilatikteki
lan Jayeng kalihira
anama Tumenggung
Tirtakusuma Balora
sisih lawan tumenggung Wilatikteki
tuwin Surajenggala.
</poem>
|<poem>Lawan Jayasuwarna wus sami
dadya mantri kajayanagaran
ing Majenang ganjarane
dene kuwu Baludhuk
Demang Surajenggala munggil
gedhong golongannira
</poem>}}<noinclude>{{rh|264}}</noinclude>
mj9gejetfsp9z429wdnrc05ddefsfvn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/39
250
24315
77912
76845
2026-05-15T20:47:20Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77912
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Tumenggung Arungbinang.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Uprup tabe sampun tata linggih
Sang Aprabu ngawe Arungbinang
Pangran Jayakusumane
majeng aseleh dhuwung
angandika Sri Narapati
aja seleh curiga
sira arsa ngujung
dene ta Kiyai Sultan
nora ngresakake wong ngujung seleh kris
nadyan duteng amanca.</poem>
|<poem>Aja sira nak-sanak lan marni
yen nganggoa aseleh curiga
Jeng Paman Aji wartane
Heh Mangunnagareku
sira tuwa lawas tut wuri
apa bener kang warta
sigra awot santun
Tumenggung Mangunnagara
enggih estu kang matur Paduka Aji
Jeng Rama Prabu manca.</poem>
|<poem>Amanggihi pun Kuda Pranglangit
duteng Sampang pan boten kalilan
nyelak aseleh dhuwunge
nadyan dutaning mungsuh
pinten-pinten makaten ugi
Sang Nata angandika
marang Upman Uprup
Kakangmas Mangkunagara
yen dhayohan wong liya nyelak seleh kris
nggone nemoni tebah.</poem>
|<poem>Tuwan Uprup mesem atumeki
katur Tuwan dhasar sampun watak</poem>
}}<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude>
9a0158c8f1jlg1t4nj6prs1fnfpiquy
Kaca:Babad Prayud I.pdf/18
250
24316
77949
76850
2026-05-16T00:21:57Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77949
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Mempelai wanita dari Kasunanan, dan prianya dari Mangkunagaran. Upacara perkawinan dilakukan secara besar-besaran. Suasana menjadi semakin meriah karena pada saat resepsi datang pula utusan dari Jakarta bersama kembalinya para utusan raja ke Jakarta.
Tersebutlah di daerah Banyumas ada seorang pencuri besar bernama Ki Secayuda. Suatu ketika pencuri itu sial, terkena parang sehingga wajahnya luka. Sesudah lukanya sembuh ia meninggalkan Banyumas pergi ke Batang, dan berguru kepada Kyai Tinap. Ia menjadi murid yang sangat rajin, baik dalam menuntut ibnu maupun membantu pekeijaan gurunya sehari-hari. Secayuda akhirnya menjadi seorang dukun yang ampuh dan sangat dipuja-puja oleh penduduk. Pengikutnya juga terdiri dari para bekas lurah, bekel, wedana, bahkan ada juga yang bekas adipati. Lama-kelamaan timbullah niatnya untuk mengangkai dirinya menjadi raja dan hendak meiawan kekuasaan yang sah. Mula-mula Kadipaten Batang diserbu dan dikalahkan, lalu merambat ke timur menaklukkan Kadipaten Kendal, dan Kaliwungu. Adipati Semarang dengan bantuan pasukan kompeni Belanda berusaha membendung gerakan Ki Secayuda, yang sudah menobatkan dirinya menjadi Raja Arab gelar Maulana Mahribi. Ternyata Adipati Semarang dan kompeni kalah dalam pertempuran di desa Mangkang di sebelah barat Semarang, sehingga terpaksa mundur dan mencari akal untuk dapat mengalahkan Ki Secayuda.
Adipati Semarang berkesimpulan bahwa untuk menandingi dan melumpuhkan kesaktian Ki Secayuda tak ada orang lain kecuali Panembahan Adilangu dari Demak. Benar, berkat kekuatan gaib Panembahan Adilangu, maka Ki Secayuda yang menobatkan dirinya menjadi Raja Arab Maulana Mahribi kemudian melakukan perbuatan-perbuatan tak senonoh dan tercela sehingga rontoklah kesaktiannya. Bahkati mata-matanya yang diselundupkan ke dalam pasukan Semarang pun ketahuan pula. Dalam pertempuran yang kemudian kembali berkecamuk di Batang, pasukan Ki Secayuda dapat dihancurkan. Ki Secayuda sendiri terbunuh dalam pertempuran, dan kepalanya dipenggal. Habislah sudah riwayat pemberontak Secayuda.<noinclude>{{rh|16}}</noinclude>
43qtbjf3penttdlb8sju8fc4uzsx4w2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/439
250
24317
77673
76848
2026-05-15T18:54:45Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77673
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angadu wong Gagatan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Lawan Pamat acungane mantri
bantu saking Warung Garobogan
kalihatus kapalane
baris sangsaya ngidul
ing Cemaja wus den sabrangi
meh nyabrang kali buthak
wong Perigging tinuduh
misaha lan baris Gondhang
lor marepak wong Pengging angalor sami
dennya meh kabrotolan.</poem>
|<poem>Ya ta wau antuking wong Pengging
nora njinjinging wismanira
lajeng angaler ngetane
Gagatan sedyanipun
kang ginitik pan den wetoni
saking wetan punika
Tegalgot jinujug
Raden Prawirataruna
duk miyarsa wong Pengging nedya anggitik
Gagatan saking wetan.</poem>
|<poem>Sigra wau Rahaden Ngabei
Wirataruna sigra tengara
ambubaraken barise
sigra lampahe gugup
selak sami nggepok wong Pengging
Tegalgot wus jinarah
sapangaleripun
Raden Prawirataruna
amet papan denira badhe nadhahi
wong Pengging pupucungan.</poem>}}<noinclude>{{rh|436}}</noinclude>
jl29om9e6soxyxmp4uhaq4uvmlrelqw
Kaca:Babad Prayud I.pdf/40
250
24318
77913
76849
2026-05-15T20:48:02Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77913
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>barang reh melang-melange
sangga runggi tyasipun
sampe mati kadi tan mari
tan kadi Tuwan Sultan
kasantosanipun
ing mangke sampun aloma
ing pangukup Tuwan sarta lan kumpeni
prandene butarepan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Pangran Mangkunagara mring loji
inggih taksih mbekta waos kathah
teka tan wonten malune
mangsa ngangkahaluput
yen kumpeni darbea budi
gumujeng kang miyarsa.
ing aturing Uprup
Sang Nata alon ngandika
Dhimas Jayakusuma metu ing ngendi
kang dinangu tur sembah.</poem>
|<poem>Kula pasuson neng Tanah Jawi
sinapih wonten ing Batawiyah
mangkana pangandikane
yekti kang nora weruh
nerka weton Selong mantesi
dene meles irengnya
neje kadangipun
si Paman Natakusuma
Paman Pakuningrat padha kuning-kuning
pantes lair neng Jawa.</poem>
|<poem>Tuwan Uprup anyelani malih
ngraosi Pangran Mangkunagara
anehe wawatekane
kula taken rumuhun
dhateng raka paduka nenggih
Pangran Mangkunagara</poem>
}}<noinclude>{{rh|38}}</noinclude>
esa5fp6t3o16wy9xkyyj3q82d1nm4sx
Kaca:Babad Prayud I.pdf/41
250
24319
77914
76851
2026-05-15T20:49:28Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77914
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Heh Pangran bok sampun
yen maring loji ambekta
waos kathah saru lamun den tingali
de rama dika Sulta.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem>Sareng pened inggih lan kumpeni
melang-melange sampun binuwang
linarut sanggarunggine
gumujeng sahuripun
puluh-puluh wus tekon marni
{{gap}}
manungsa sanungsa Jawa
mangsa naa wateke kaya Kyai
andelan ujar pisan.</poem>
|<poem>Yen anaa wong ngaku nimbangi
ing samengko sanak-sanak ingwang
yekti sun ombe uyuhe
kumenthus wong kumlunthus
nora ethos pinithes pasthi
sumekti sumìngkira
anglangkara langkung
amuwuhi wong aewa
ngewakaken jiwa-ragane weh ragi
kumethak anggelathak.</poem>
|<poem>Rame gumujeng kang amiyarsi
Sri Narendra ngandikeng Rungbinang
Rungbinang paran melinge
Jeng paman mring sireku
Ki Tumenggung matur wotsari
Kangjeng Rama paduka
neksekken pukulun
dennya mbebektani putra
kalih atus pamedal saking pasisir</poem>
}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude>
0ba4vklolrtospi1ldnwedm1lbats4t
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/2
250
24320
77479
76855
2026-05-15T15:07:06Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77479
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{r|Regi Rp. 30,-}}
{{c|<big><big><big>'''BAUWARNA WAJANG'''</big></big></big><br>
'''(Wewaton Kawruh bab Wajang).'''<br>Kaklempakanipun warni-warnining wajang<br>mawi katrangan saha rinengga ing gambar-gambar<br>Karanganipun '''R.M. SAJID.'''<br>Djuru Gambang ingkang<br>mangretos dateng wajang,<br>bagean dewan ahli seksi Pedalangan<br>Himpunan Budaja Surakarta<br>ing SOLO.}}
{{c|Penerbit:<br>
'''P. T. PERTJETAKAN REPUBLIK INDONESIA<br>
JOGJAKARTA<br>
1958.'''}}<noinclude></noinclude>
aq4wh3baesdbzk6oz8m0rd22m1gxens
Kaca:Babad Prayud I.pdf/19
250
24321
78197
76862
2026-05-16T09:06:56Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78197
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Padam pemberoníakan Ki Secayuda, yang mendapat julukan Panembahan Kowak dari musuhnya, belum berarti bahwa tugas tempur pasukan Surakarta-Yogyakarta tèlah selesai. Hampir pada waktu yang bersamaan timbul pula pemberontakaji lain di Jawa Timur, tepatnya berpusat di Kediri.
Pangeran Singasari yang juga bergelar Pangeran Arya Prabu Jaka telah menaklukkan beberapa orang adipati wilayah timur. Mereka yang tidak mau tunduk kepadanya menyingkir ke Madiun. Pangeran Singasari ingin merajakan dirinya menandingi Sunan dan Sultan. Dalam pada itu pasukan Yogyakarta-Surakarta mempersiapkan diri kembali untuk menumpas pemberotakan. Para pemimpinnya antara lain Adiapati Mangkupraja, Tumenggung Wirawidigda, Tumenggung Prawiradirja, Tumenggung Arung-binang. Pasukan dibagi dua. Sebagian menyerang dari arah utara, dan sebagian lagi dari arah selatan.
Suatu ketika Pangeran Singasari memanggil Kyai Tegalsari, diminta untuk mendoakan agar Sang Pangeran berhasil menguasai Pulau Jawa. Akan tetapi ternyata Kyai Tegalsari tidak mau berdoa untuk tujuan tersebut. Alasannya doanya tidak akan sah karena di Pulau Jawa sudah ada dua orang raja yang resmi, yakni di Surakarta dan Yogyakarta, yang kebetulan adalah kemenakan dan kakak Pangeran Singasari sendiri. Meskipun tahta keduanya direstui oleh kumpeni, namun tetap sah karena kumpeni tidak merubah agama. Akhirnya Pangeran Singasari hanya minta supaya putranya saja didoakan berdirinya sebagai Pangeran Adipati. Sesudah itu Sang Pangeran memerintahkan supaya membersihkan bekas istana Majapahit dan memperbaiki kubu di Gunung Ngantang yang terletak di tenggara Kediri. Maksudnya ialah sebagai tempat pengungsian sementara jika pasukan Kediri sampai terdesak. Pertahanan diperkuat di tepi sungai dengan menggunakan sepuluh pucuk meriam (kalantaka). Pertahanan ini memang membuat pasukan Surakarta mengalami kesulitan untuk menyerang kedudukan lawan. Meskipun demikian kesulitan itu akhirnya dapat diatasi dengan melakukan penyeberangan di malam hari, di bawah pimpinan Rangga Prawiradirja. Sepuluh pucuk kalantaka itu berhasil direbut, sehingga buyarlah pertahanan<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude>
oo1coqsfg8yyd25s3dzgablcmvl6s8y
Kaca:Babad Prayud I.pdf/42
250
24322
77915
76857
2026-05-15T20:50:12Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77915
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>lan nagri Pamagetan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=38
|<poem>Liyanipun kathah warni-warni
boten dipun seksekken kawula
mung kang kalih prakawise
kang mindeng wedalipun
lawan kala kawula prapti
sonten enjing ngandikan
Rama Tuwan ndangu
iku sapa kang bebedan
kula matur punika Kusuma nenggih
putra Mlayakusuman.</poem>
|<poem>Gya ingawe kinen angabekti
lajeng dennya nimbali niyaga
lajeng Remeng bebukane
lajeng kinen mbeksa wus
suka mulat Jeng Paman Aji
kadya anenggak waspa
gumujeng Sang Prabu
paman iku karem mbeksa
wong wis sepuh lan tetegar durung man
mangkana winursita.</poem>
|<poem>Lamanira neng Surakarteki
duta Yogya aneng Surakarta
sepuluh dina lamine
ngandikan kaping telu
Pangran Jayakusuma nenggih
saandhane punggawa
ngandikan Sang Prabu
wus kalilan pamitira
neng Kamangkunagaran dipun urmati
dennya pista sadina.</poem>
|<poem>Samya sukanira wusnya pamit
mantuk sapta wulan Dulkaidah</poem>
}}<noinclude>{{rh|40}}</noinclude>
8bhsmuw6jf58cpcl3tqkw2lo6zlyb7r
Kaca:Babad Prayud I.pdf/43
250
24323
77916
76858
2026-05-15T20:50:42Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77916
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tanggal ping wolulikure
ngabekti putranipun
Pangran Mangkunagara nenggih
kang kapendhet kang eyang
matur tan winuwus
sapraptanireng Ngayugja
pan tinanggap sasolahira tinuding
Sultan suka miyarsa.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42
|<poem>Kuneng Surakarta kang ginupit
salin wulan Besar kasadasa
Pangran Mangkunagarane
anenggih mantunipun
Raden Guntur namanireki
pan trah Kamangkuratan
nenggih anakipun
dening Raden Wiratmeja
Wiratmeja puniku putranireki
Pangeran Te pasana.</poem>
|<poem>Pangran Tepasana putraneki
Sunan Kendhang dene Sunan Kendhang
kang putra Susunan lire
Sunan Mangkuratipun
dadya canggah prenahireki
mring Jeng Sunan Mangkurat
Rahaden Mas Guntur
dadya mantune punika
mring Pangeran Mangkunagara samangkin
dinukan mring kang rama.</poem>
|<poem>Den Mas Guntur Wratmeja nameki
mila-mila purwane dinukan
dhateng ing maratuwane
lobok ing batinipun
tan ukara ing lampah silib
tetep ing cacah-cucah</poem>
}}<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude>
12kwejxf7vodcdq7qk9cvr1oixcmo7k
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/4
250
24324
77475
76861
2026-05-15T15:05:11Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77475
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||-5-}}</noinclude>{{c|[[File:Bauwarna Wajang (page 4 crop).jpg|400px|Bauwarna Wajang (page 4 crop)]]}}
{{c|KELUARGA KURAWA}}
{{C|Ichtisar. Dari kiri kekanan: Pandita Dhurna, Prabu Baladewa (Mandura),Patih Sangkuni, Prabu Dhurjudhana (Sujudana).Perhatikanlah:,,Kambi kelir" dengan gedeboq"-nja, „kelir", „belentjong"dan susunan (tjara mentjatjaknja) boneka wajang kulitnja, susunan orkes-gamelan dan para pemain (gamelan-)nja.}}<noinclude></noinclude>
iydciy9kmz9nhssg0ogvhisc750l38f
Kaca:Babad Prayud I.pdf/267
250
24325
77776
76860
2026-05-15T19:41:03Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77776
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::nenggih mantri dhusun
:::kuneng malih antaranya
:::Sri Narendra ngundhangi kang pra dipati
:::tuwin kang pra san tana.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>
Senen sadasa di Madilakir
Sri Bupati amangun wiwaha
Den Ayu Kadhaton mangke
pinakramekken antuk
lan putrane kang raka anenggih
nama Raden Mas Sura
ing Be warsanipun
Dipati Mangkunagara
sakelangkung mantep dennya mangun karsi
besan lan ari nata.</poem>
|<poem>Makajangan sagung pra dipati
bekta gangsa aneng Makajangan
umyung gumuruh swarane
tuwin jroning kadhatun
pitung dina munya Sekati
pelog salendronira
munggeng sitiluhur
miwah Kamangkunagaran
pitung dina anguyu-uyu sakati
sawetaning pandhapa.</poem>
|<poem>Pelog salendro pasowan jawi
jawi pisan pipi galedhegan
wong beksani Carabalen
rina wengi gumuruh
dene sagung kang pra dipati
Jawi kantun titiga
miwah lebetipun
pra sami kalong nyatunggal
pan kang jawi bupati mancanagari
sakilen palabuhan.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||265}}</noinclude>
rezsjz3hktixfitz1jarck0deofjkrl
Kaca:Babad Prayud I.pdf/20
250
24326
78198
76870
2026-05-16T09:07:06Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78198
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kediri, dan tinggal pertahanan Ngantang saja yang belum direbut. Ngantang dikepung dari segala penjuru.
Sementare itu Sultan Yogyakarta mengutus Nyai Arya Suwanda ke Surakarta untuk melihat salah seorang putrì Sunan. Maksudnya ialah hendak dijodohkan dengan Pangeran Adipati Anom. Di Surakarta, Nyai Arya Suwanda diperintahkan menginap di Kasunanan agar dapat berdekatan dengan Gusti Raden Ajeng Suwiyah, pilihan Sultan, yang ternyata sudah menjadi seorang gadis molek tak bercela, halus budi bahasanya serta rajin beribadah. Setelah empat hari di Surakarta Nyai Suwanda lalu kembali ke Yogyakarta, dan melaporkan, hasil perjalanannya kepada Sultan. Dan Sultan sangat gembira mendengarnya. Awal yang baik itu ternyata tidak berakhir dehgan menyenangkan. Sebab ketika Pangeran Adipati Anom berkunjung ke istana Kasunanan, terjadilah hal-hal di luar dugaan yang merenggangkan hubungan batin, baik antara Sunan dengan Pangeran Adipati Anom maupun antara kumpeni dengan Kesultanan Yogyakarta.
Dalam sebuah pesta tari yang diadakan untuk menyambut dan menghormat rombongan dari Yogyakarta di pendapa Kesunanan, Pangeran Adipati Anom yang memang terkenal alim dan saleh sejak kecil, tidak mau diajak menari. Ia juga menolak ketika mendapat tawaian minum air keras baik dari Sunan maupun pimpinan kompeni di Surakarta. Sunan sangat kecewa. Oprup Kompeni tidak hanya kecewa, melainkan ia tidak mampu lagi menahan kemarahannya. Terjadilah perang mulut antara Oprup dengan Tumenggung Urawan dari pihak Yogyakarta. Pesta itu menjadi berantakan. Dengan perasaan sangat kecewa dan agak marah Sunan kembali ke Prabayasa. Demikian pula Pangeran Adipati Anom dan seluruh rombongan dari Yogyakarta segera kembali ke penginapannya. Untuk meredakan suasana tegang itu Sunan menyerahkannya kepada Kanjeng Pangeran Adipati Mangkunagara, yang kemudian mengutus Gusti Putrinya untuk membujuk Pangeran Adipati Anom. Gusti Putri Mangkunagaran itu adalah putri Sultan Yogyakarta, kakak Pangeran Adipati Anom.
Karena peristiwa tersebut rombongan dari Yogyakarta lebih<noinclude>{{rh|18}}</noinclude>
p2wennrmv4pjt8d12qyo8m6xet7esna
Kaca:Babad Prayud I.pdf/44
250
24327
77917
76864
2026-05-15T20:51:30Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77917
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ing pratingkahipun
ambedhang lawan selirnya
Raden Arya Endranata Rarasati
lami mila miyarsa.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=45
|<poem>Langkung dukane yayah sinipi
wau Dipati Mangkunagara
kadya tinepak mukane
genjot walikatipun
gumariming astanireki
latha-lathi cecalang
ariyak aidu
yen ta katona sakala
mring mantune kadya ingasta pribadi
nimbali ingkang putra.</poem>
|<poem>Ing Pangeran Prabuwijayeki
prapteng ngarsa kang rama ngandika
Heh Prabu ipemu kuwe
pan satukewan wutuh
iya dudu manungsa yekti
Raden Aryendranata
wong tetuwanipun
wong nagari Surakarta
iku dadi lakine ing bibi marni
dadi dheweke ngeyang.</poem>
|<poem>Teka wani iya anyelori
nora sudi ingsun nora sotah
yen mulata reraine
wau Wratmeja Guntur
anginjen duk dipun raosi
dhateng kang maratuwa
deduka kalangkung
kadi tan kena puliha
ingucapken yaiku regeding bumi
taletuhing nagara.</poem>
}}<noinclude>{{rh|42||}}</noinclude>
evps73uefnwopp2021wrsmx41vzqzxv
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/5
250
24328
77476
76866
2026-05-15T15:05:30Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77476
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||-6-}}</noinclude>{{c|[[File:Bauwarna Wajang (page 5 crop).jpg|500px|Bauwarna Wajang (page 4 crop)]]}}
{{c|Ichtisar pada suatu pertundjukan wajang kulit.
Keluarga Pendawa,}}<noinclude></noinclude>
rw8g2ir3kdyo2aejrs4hx9637kl0fyt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/268
250
24329
77777
76867
2026-05-15T19:41:18Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77777
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>
Ingkang wetan Bengawan Kadhiri
bupatine sami babarisan
Pangeran Singasarine
urpandeg barisipun
tepis wiring wetan Kadhiri
mila kilen kewala
pra dipati tugur
aneng nagari sadaya
pan mumipun kang para dipati gilir
sadalu neng jro pura.</poem>
|<poem>Sadalune kang para dipati
samya kemit Kamangkunagaran
miwah sapara mantrine
ing saben dalu nayub
Adipati Mangkunagari
gumuruh.byung wurahan
ing sadalu-dalu
miwah ing jro pra dipatya
akasukari pakajangane pribadi
samantri-mantrinira.</poem>
|<poem>Sawusira jangkep pitung bengi
dennya nguyu-uyu jro ing jaba
pareng ingkang Senen Wage
tanggal kaping sapuluh
paningkahe aneng pandhapi
pan ing pukul sawelas
ngandika Sang Prabu
kakangmas andika bekta
pangantene mangkya pukul pat anuli
wangsule kakangemas</poem>
|<poem>Amethuka pangantene estri
wedana jaba katri tumuta
angateraken panganten
lan manca nagareku</poem>}}<noinclude>{{rh|266}}</noinclude>
qufbpzwem7e4z1j3xysl2h58x562l13
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/7
250
24330
77478
76868
2026-05-15T15:06:41Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77478
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>[[File:Bauwarna Wajang (page 7 crop).jpg|500px|Bauwarna Wajang (page 7 crop)]]<noinclude></noinclude>
jzigs3l8cab770hgy8vfuy926oj4i1v
Kaca:Babad Prayud I.pdf/45
250
24331
77918
76869
2026-05-15T20:52:19Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77918
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>Kesah angles saking ing nagari
lingsir kilen pareng dina Soma
angaler ngilen parane
sagarwanira tumut
miwah wau selirireki
Raden Aryendranata
Rarasati tumut
Dipati Mangkunagara
duk miyarsa sigra sowan mring jo puri
siyang satengah tiga.</poem>
|<poem>Tur uninga ing ari Nrepati
tuwin marang Uprup paring wikan
lamun minggate mantune
Uprup ngandikan malbu
tuwin Pangran Mangkunagari
rumiyin prapteng pura
wau Tuwan Uprup
prapteng jro pura wus tata
pilenggahan Sang Nata ngandika aris
Heh Uprup kaya paran.</poem>
|<poem>Ya inggate si Wratmeja iki
Kakangmas aja kalepetan
Uprup asigra ature
punika Sang Aprabu
lamun raka paduka mangkin
eklas lilah nrus ing tyas
denira sesunu
jinujul ing prang kewala
kula atur uninga dhateng Samawis
yen Wiratmeja minggat.</poem>
|<poem>Pangran Mangkunagara ngrembagi
ingong dhewe lamun tinutuha
ing Sang Nata satemene
suka anrus ing kalbu</poem>
}}<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude>
5fc30ehyyuujv9xlnz9b6hzg8xq8n9c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/269
250
24332
77778
76876
2026-05-15T19:41:49Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77778
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::kang saparo miluwa ngiring
:::saking Mangkunagaran
:::kang saparonipun
:::nuli wedana jro mapag
:::akeriga sagagaman pra dipati
:::undhang mundur kang raka.
</poem><noinclude>{{rh|||267}}</noinclude>
16tjtw4u76d8euglpjtopckjsxp0gnh
Kaca:Bratayuda.pdf/2
250
24334
77508
76875
2026-05-15T15:29:36Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77508
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>PPS/Jw/40/79
{{r|Milik Dep. P dan K<br>Tidak diperdagangkan}}
{{c|<big>'''<big><big>BRATAYUDA</big></big>'''</big>}}
{{C|Oleh<br>R.NG.KARTAPRAJA<br>
Alih Aksara dan Bahasa<br>SUDIBYO Z.H.}}
{{c|Departemen Pendidikan dan Kebudayaan<br>PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA<br>INDONESIA DAN DAERAH<br>Jakarta 1980}}<noinclude></noinclude>
31ozf7alx2zo0e9pt9bgdg25eqnzaun
Kaca:Bratayuda.pdf/3
250
24335
77507
76877
2026-05-15T15:28:51Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77507
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|Diterbitkan oleh<br>Proyek Penerbitan Buku Sastra<br>
Indonesia dan Daerah<br>BP Seri 1257<br>Hak pengarang dilindungi undang-undang}}<noinclude></noinclude>
ek0d8jokwyel0n4x7o48xlpfyt8axmp
Kaca:Bratayuda.pdf/4
250
24336
77506
76878
2026-05-15T15:27:48Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77506
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|'''SRI KRESNA KE ASTINA MEMBICARAKAN<br>PEMBAGIAN NEGARA TETAPI GAGAL'''}}
Raja Jayabaya di Kediri sangat termasyhur keadilannya. Kewibawaannya bagaikan sinar matahari di musim kemarau. Ia dihormati oleh sesama raja, karena keperwiraannya di dalam peperangan. Tak ada yang mampu mengimbanginya. Para raja yang hidup sezaman dengan Raja Jayabaya dapat diumpamakan bagaikan bulan, dan Raja Jayabaya sebagai mataharinya, yang sinarnya membuat suramnya cahaya bulan.
Raja Jayabaya mempunyai seorang abdi juru syair atau pujangga bernama Empu Sedah, yang mendapat perintah untuk menggubah Kitab Baratayuda, yang ditulisnya pada tahun 1079. Adapun yang menjadi awal cerita ialah:
Raja Yudistira sekeluarga bermusyawarah di negeri Wirata, dan membawa prajurit yang bersenjata lengkap. Raja Kresna dari Dwarawati beserta bala tenteranya juga turut berkumpul di situ. Yang dikehendaki oleh Raja Yudistira ialah, hendak mengadakan peperangan untuk merebut separoh negeri Astina. Adapun yang diberi kepercayaan penuh serta ditaati segala nasehatnya dalam perkara yang besar itu, tak lain ialah Raja Dwarawati itu. Banyak raja-raja telah berkumpul beserta pasukannya di Wirata, dan mereka itu setuju sekali dengan akan diadakannya perang, karena mereka menginginkan kemuliaan kematian. Di negeri Astina banyak juga raja-raja Jawa maupun raja-raja Tanah Seberang, yang berkumpul beserta seluruh pasukan dan peralatan perang, yang juga mencari kemuliaan kematian.
Raja Yudistira berkata kepada Sri Kresna, ujarnya, "Kakanda Prabu, yang merupakan penuntun saya. Saya hendak minta milik saya sendiri, ialah negeri Astina yang separoh. Dalam hal itu saya serahkan sepenuhnya, bagaimana pendapat dan saran Anda, agar yang akan kita laksanakan itu dapat berhasil dengan baik."<noinclude>{{rh|||7}}</noinclude>
aksuwwkfwc5xo8hh83j8h9c4jwdcryh
Kaca:Babad Prayud I.pdf/47
250
24337
77919
76879
2026-05-15T20:53:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77919
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>samya ambyuk suwiteng kang murweng jurit
dennya trah Mangkuratan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=55
|<poem>Ing tegese njabel ganti waris
wus turun pat trah Pakubuwanan
sedheng nanapani gilire
trah Mangkuratanipun
mila ambyuk wong desa sami
nadyan kang wus punggawa
iya na kapencut
Tumengug Candrakusuma
pan ing warung rong ewu dhomas kang bumi
kapencut wong memeca.</poem>
|<poem>Jangkaning trah Mangkuratan benjing
turun papat pasthi jejabelan
Keraton Jawa ulihe
mring Mangkuratanipun
Pakubwanan pasrah agilir
mangkya tan purun pasrah
rinebut prang pupuh
pasthi lamun apes ing prang
Pakubwanan culika dennya ngindheti
tan antuk roning kamal.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
36ku14rj38cg1soj7tucghepo2kduyu
Kaca:Babad Prayud I.pdf/270
250
24338
77779
76880
2026-05-15T19:42:04Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77779
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXIV. DURMA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Pra dipati jaba jro ngrukti gagaman
busananing prajurit
ing satengah papat
kumpul sagung gagaman
Tumenggung Wiradigdeki
wadana jaba
pangirit pra dipati.</poem>
|<poem>
Ngumpul Mangkunagaran gumrah swaranya
wedana jro pangirit
pan Tumenggung Sasradiningrat wus samakta
neng alun-alun abaris
sinang beranang
busananing prajurit.</poem>
|<poem>
Wadyanira dipati Mangkunagara
busananing prajurit
lir kobaring arga
marwata kembang-kembang
oreg wadya sanegari
baris tinata
sasiyung ngampit margi.</poem>
|<poem>
Baris urung-urung tepung ing gagaman
Mangkunegaran kawit
ngalun-alun prapta
saler teratag rambat
awug-awug tumbak bedhil
sami ngisenan
muni badhe ngurmati.
</poem>
|<poem>
Ing punika tan wonten gong kari wisma
wadya ing sanagari
neng lulurung tembak
</poem>}}<noinclude>{{rh|268}}</noinclude>
k7g12g82qqgoe6yl9l626hlt5b0q8j5
Kaca:Bratayuda.pdf/134
250
24339
77480
76884
2026-05-15T15:11:58Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77480
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>[[File:Bratayuda (page 134 crop).jpg|500px|Bratayuda (page 134 crop)]]<noinclude></noinclude>
79vgoovq631fsvj3w170wev6tqb984x
Kaca:Babad Prayud I.pdf/48
250
24340
78200
76883
2026-05-16T09:07:42Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78200
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::'''III. {{tab}}Sinom'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Rahaden Tumenggung Candra
kusuma Waru kagiming
dene wecane wirayat
ujare wong tapa sami
Raden Mas Guntur benjing
amasthi adege ratu
mila Tumenggung Candra
kusuma Waru ing batin
wus anungkul maring Raden Wiratmeja.</poem>
|<poem>Lahire aminta sasab
anyerung Raden Suwandi
Tumenggung ing Garobogan
mantrine tampingan sami
kukuh nadhahi jurit
mring balane Den Mas Guntur
tan keni ingandikan
tanah Garobogan sami
prajurite pra samya gagah ing aprang.</poem>
|<poem>Dadya tan keni ngedekan
tanah Garobogan sami
mangkana ingkang kinarya
manggalanire ngajurit
lelungsuran bupati
Balora duk alamipun
Sang Nateng Kabanaran
Tumenggung Wilatikteki
pepalihan nagara Balora kiwa.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Wilatikta
tan purun ngetutken bumi
Balora mring Surakarta
ngalendhang salamineki
lelungsuran bupati</poem>
}}<noinclude>{{rh|46||}}</noinclude>
hg3e0octmvbufzpzib0uu5qwbzna7ce
78205
78200
2026-05-16T09:08:49Z
Elcamatcha
1466
78205
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''III. {{tab}}Sinom'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Rahaden Tumenggung Candra
kusuma Waru kagiming
dene wecane wirayat
ujare wong tapa sami
Raden Mas Guntur benjing
amasthi adege ratu
mila Tumenggung Candra
kusuma Waru ing batin
wus anungkul maring Raden Wiratmeja.</poem>
|<poem>Lahire aminta sasab
anyerung Raden Suwandi
Tumenggung ing Garobogan
mantrine tampingan sami
kukuh nadhahi jurit
mring balane Den Mas Guntur
tan keni ingandikan
tanah Garobogan sami
prajurite pra samya gagah ing aprang.</poem>
|<poem>Dadya tan keni ngedekan
tanah Garobogan sami
mangkana ingkang kinarya
manggalanire ngajurit
lelungsuran bupati
Balora duk alamipun
Sang Nateng Kabanaran
Tumenggung Wilatikteki
pepalihan nagara Balora kiwa.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Wilatikta
tan purun ngetutken bumi
Balora mring Surakarta
ngalendhang salamineki
lelungsuran bupati</poem>
}}<noinclude>{{rh|46||}}</noinclude>
ocktqhgw6n87vklbhlbb43xqd5k3v1p
Kaca:Bratayuda.pdf/1
250
24341
77510
76887
2026-05-15T15:29:51Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77510
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>[[File:Bratayuda (page 1 crop).jpg|500px|Bratayuda (page 1 crop)]]<noinclude></noinclude>
j12y7lhua2y3dhn039naqriw7ertgza
Kaca:Babad Prayud I.pdf/50
250
24343
78202
76888
2026-05-16T09:07:54Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78202
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>Pawalangan namaneki
pun Demang Walangsangit
pun Ngabei Walanggenthung
Rangga Walanggepukan
sami manggalaning wingit
Gandhuwaur punggawa manggaleng kasap.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Wonten pepalayon magang
sangking ing Surakarteki
anama Tejakusuma
wus panggih panusulneki
sampun jinunjung linggih
anama Raden Tumenggung
nenggih Tejanegara
kinarya Bupati jawi
angrehaken sadaya mantri pangarsa.</poem>
|<poem>Kapiyarsa Surakarta
yen Wiratmeja ing mangkin
wus angandhik ing Balora
suyud wadya kanan kering
wus kathah wadyaneki
langkung kekapalan sewu
Pangran Mangkunagara
lan Uprup malbeng ing puri
rembag ingkang anglurugi nontonana.</poem>
|<poem>Lan rembug atur uninga
lan nuhuna bantu jurit
dhateng Sultan ing Ngayugja
Sang Nata sigra anuding
lurah gandhek lumaris
saha seratira prabu
ing wuri peparentah
kang kinen bebantu jurit
sakancane Tumenggung Jayanegara.</poem>
|<poem>Dadya mung let kalih dina</poem>
}}<noinclude>{{rh|48||}}</noinclude>
04oo0wz7c922eqk99650lqjqn4u98fp
Kaca:Bratayuda.pdf/131
250
24344
77481
76889
2026-05-15T15:14:11Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77481
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>sami perang kadhawahan angracut jemparingipun latu, awit jemparing kekalih punika sami dedamel ing Suralaya, mboten kenging yen kaanggea wonten ing marcapada, amesthi badhe angrisakaken.
Arjuna sasampunipun angracut jemparingipun latu, nunten matur dhateng Sanghyang Narada, "Milanipun purun anglepasaken jemparing punika, awit saking parentahipun Prabu Kresna, kinen nangkis."
Sanghyang Narada sareng mireng sanget suka ing galih, sarta angapunten dhateng Arjuna. Sanghyang Narada lajeng andhawahaken deduka dhateng Aswatama, dene purun-purun anglepasaken jemparing Cundhamanik. Sabab punika peparingipun Bathara Guru dhateng Pandhita Druna, sarta sampun kawaleran, mboten anglilani yen kaanggea perang.
Atur wangsulanipun Aswatama, "Mila purun anglepasaken Cundhamanik, amung kadamel angajrih-ajrihi kemawon, sabab sumerep yen latuning Cundhamanik wau mboten purun ambesmi ing tiyang kang mboten sumedya sikara."
Sanghyang Narada inggih lajeng angapunten dhateng Aswatama, nanging jemparing Cundhamanik kapundhut. Lajeng kaparingaken dhateng Arjuna, inggih sampun katampen.
Anunten Prabu Kresna matur dhateng Sanghyang Narada: mBoten pareng yen angapuntena dhateng Aswatama, sabab sampun anglampahi kadursilan anyidra Dewi Srikandhi, kalih Pancawala, tiga Drusthajumena. lngkang dados karsanipun Prabu Kresna, mbenjing yitmanipun Aswatama kalebetna ing naraka salaminipun. Ingkang mangke inggih mboten kapejahan, awit dereng mangsanipun. mBenjing putranipun Abimanyu kang nama Prabu Parikesit, punika kang badhe amejahi Aswatama, nanging samangke taksih wonten ing wawratan.
Dene yitmanipun Kartamarma katitisna dhateng sawarninipun kang asih ing bebanger. Amung Karpa kang dipun apunten, awit boten anggadhahi manah kadursilan piyambak, amung kapeksa saking ajrihipun dhateng Aswatama. Ing mangke taksih anglulusaken nggenipun darbe lampah kapandhitan.<noinclude>{{rh|||135}}</noinclude>
j4z1rgys92b97h91qtvr5rkymtcsh2x
Kaca:Babad Prayud I.pdf/271
250
24345
77780
76892
2026-05-15T19:42:21Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77780
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::jejel pipit-pipitan
:::kajaba kang lumpuh sikil
:::lan picek mata
:::iku kang tan ninggali.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>
Nadyan padhusunan akathah kang prapta
kang sami aningali
denira Sang Nata
besanan lan kang raka
amangun haijaning bumi
mangsa gegera
yen wus mengkene iki.
</poem>
|<poem>
Nuli sultanira besuk bebesanan
lan gusti Sri Bupati
lah wus tetep karsa
bok iya mengkonoa
aja weh susah ing ciling
banjura karta
wus atut para gusti.
</poem>
|<poem>
Ing pukul pat pangeran tengara budhàl
Carabalen ing ngarsi
barisan wedana
Tumenggung Janagara
Tumenggung Wiradigdeki
sawadyanira
tuwin samantri-mantri.
</poem>
|<poem>
Kodhokngorek ing wuri munya angangkang
nenggih kang anambungi
baris Gowong Kalang
karaton kadipatyan
baris Majegan Matawis
amyang beranang
kang sumambung ing wuri.
</poem>
|<poem>Wadyanira Dipati Mangkunagara</poem>}}<noinclude>{{rh|||269}}</noinclude>
cggevuotugkhqt6v70jtrruv07l4q76
Kaca:Babad Prayud I.pdf/51
250
24346
78203
76893
2026-05-16T09:08:04Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78203
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>pareng ing Jumuwah Legi
Tumenggung Jayanegara
angkate bebantu jurit
wau gandhek kang prapti
ing Ngayugja sampun katur
dutane ingkang putra
SangPrabu Surakarteki
wus tinampan serat lajeng tinupiksa.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=13
|<poem>Wusnya lajeng urmatira
Jeng Sultan sigra nimbali
Adipati Danureja
lan sagung kang pra dipati
Jeng Sultan ngandikaris
iki serate Nak Prabu
atur uningeng mringwang
yen si Guntur minggat mangkin
prapteng mancanagara madeg barisnya.</poem>
|<poem>Wus nemah murweng ngalaga
nedya njabel genti waris
karatone tanah Jawa
ing Balora kang den ndheki
Anak Prabu samangkin
maring sun anuhun bantu
satrune ing nagara
si Guntur iku wus pasthi
Heh Danureja nuli sira parentaha.</poem>
|<poem>Dene wedana sutengwang
ya si Jayakusumeki
kang sun jajal ing ayuda
yeku taliti prajurit
sun karya senapati
anglurugi mring si Guntur
wedana tri bedhola
lawan sakancane mantri</poem>
}}<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude>
n54osy691j9ai0l5lwk52rky0dqyqj5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/272
250
24349
77781
76902
2026-05-15T19:42:46Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77781
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::nenggih Saragni Abrit
:::lan wong Perangtandang
:::munya drel gantya-gantya
:::Saragni Cemeng nambungi
:::mranggo tayungan
:::edrel awanti-wanti</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>
Ing wurine wong Sinelir Gulang-gulang
Dasanama nambungi
lan wong namadasa
Jayasta Tanuastra
samya drel samargi-margi
ing wuri mulya
upacara tulyasri.</poem>
|<poem>Semut gatel kalihatus rare samya
busana sinasami
asri kadya panjrah
mawarneng kembang-kembang
mulya pangan ten ing puri
ampilannira
warna-warna tulyasri.</poem>
|<poem>Kang angendan kalih welas kering kanan
pangayap Magersario
kumerteg lampahnya
jejel ngebeki marga
Pangran Mangkunagareki
kang munggeng wuntat
kampuh sindur respati.</poem>
|<poem>Ing wurine Ki Tumenggung Mangkuyuda
lampah kang amekasi
sumenggut sawadya
kang baris lempit marga
sanjatane kabeh muni
</poem>}}<noinclude>{{rh|270}}</noinclude>
jrl4csxs2qfqrkrkl2dzutbnn5t9t8j
Kaca:Babad Prayud I.pdf/437
250
24351
77671
76903
2026-05-15T18:52:56Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77671
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mundhur prajurit Yogja
::kang anamar laku
::angraos yen kawenangan
::kuneng wau budhal saking ing nagari
::Tumenggung Janagara.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Sakaliwon sakancane mantri
kanthi Puspadiningrat kalawan
Bratawirya sakancane
wong macanagaraku
Suradirja ingkang nindhihi
nanging let lampahira
yen kalingan dhusun
kinira utap-untapan
dadamele kalawan bupati kalih
kendel baris Dresanan.</poem>
|<poem>Lajeng medal kang nedya ginitik
sira Ki Tumenggung Sutanaya
aneng Kasetran barise
tinunjang nora kukuh
pan dipun lud saparaneki
miwah Ranawilaga
giwar sangetipun
dene bendarane medal
Dyan Tumenggung Puspadiningrat ngawaki
barise giwar-giwar.</poem>
|<poem>Aneng Gondhang denira abaris
sira Tumenggung Jayanagara
miwah Puspadiningrate
neng Ngudal barisipun
Bratawirya mancanagari
kang ngelar kawuwusa
barise angingkud
Raden Prawirataruna
mantri Pakunringaratan kang ngirid baris</poem>}}<noinclude>{{rh|||435}}</noinclude>
7yrqbdmdoi2zlhde836mi6lgan8awww
Kaca:Babad Prayud I.pdf/273
250
24352
77782
76905
2026-05-15T19:43:15Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77782
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sumerging lampah
:::kadyarsa metu jurit.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>
Pengantin kang apindha Bimanyu re-ngga
duk kinarya sisilih
nyelani sakedhap
senopati dadakan
serana kinen nimbangi
ing gelar cakra
Kurawa Ngastinaji.
</poem>
|<poem>
Raden Abimanyu kinen amrewasa
ing gelar cakra werit
wau kang pangarsa
ing loji sampun prapta
tumenggung sawadyaneki
Jayanagara
wurinira ngranuhi.</poem>
|<poem>Jelih-jelih meksih neng luhur turangga
Uprup kang kinen mijil
Uprup geragapan
medal agurawalan
Jayanagara sigra ngling
Uprup den inggal
mriyem sumedena glis.</poem>
|<poem>Uprup angling heh Tuwan Jayanagara
penganten meksih tebih
tuwan mabuk baya
angling Jayanagara
neng kulon galadhag prapti
pengantenira
mara unekna aglis.</poem>
|<poem>Meksa-meksa Tumenggung Jayanagara
Uprup sigra nuruti</poem>}}<noinclude>{{rh|||271}}</noinclude>
ky45ou1en19tlldo8vsm9ozwmr1uj1x
Kaca:Babad Prayud I.pdf/438
250
24353
77672
76906
2026-05-15T18:54:08Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77672
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angadu wong Gagatan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Lawan Pamat acungane mantri
bantu saking Warung Garobogan
kalihatus kapalane
baris sangsaya ngidul
ing Cemaja wus den sabrangi
meh nyabrang kali buthak
wong Perigging tinuduh
misaha lan baris Gondhang
lor marepak wong Pengging angalor sami
dennya meh kabrotolan.</poem>
|<poem>Ya ta wau antuking wong Pengging
nora njinjinging wismanira
lajeng angaler ngetane
Gagatan sedyanipun
kang ginitik pan den wetoni
saking wetan punika
Tegalgot jinujug
Raden Prawirataruna
duk miyarsa wong Pengging nedya anggitik
Gagatan saking wetan.</poem>
|<poem>Sigra wau Rahaden Ngabei
Wirataruna sigra tengara
ambubaraken barise
sigra lampahe gugup
selak sami nggepok wong Pengging
Tegalgot wus jinarah
sapangaleripun
Raden Prawirataruna
amet papan denira badhe nadhahi
wong Pengging pupucungan.</poem>}}<noinclude>{{rh|436}}</noinclude>
q537newzk99on95n8r2gvg3p0xzpe9a
Kaca:Babad Prayud I.pdf/395
250
24355
77757
76908
2026-05-15T19:33:29Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77757
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::jenis lawan berkasakan
::boten jenis manungsa
::raka paduka pukulun
::yen menggah dhateng paduka.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Batinipun anglangkungi
rumaos akrama kadang
Ratu Bendara delinge
iya jengingsun akrama
ing donya ing akerat
nanging ta samengko biyung
lamun ingsun puguhana.</poem>
|<poem>Sayekti iya nekani
dudukane rama sultan
nora ketung yen putrane
ingong wangkota deri lunas
mulane turutana
yen ora iku tinurut
angilangaken pawitan.</poem>
|<poem>Pawitane awak marni
ingkang wiwinih prakara
iya kang dadi lalakon
kangmas apa binuruwa
yen pawitane sirna
biyung pirabara besuk
yen lanka supit ing mangsa.</poem>
|<poem>Iya si Sari si Gambir
iki bocahe kakangmas
ya biyung gawanen muleh
pinaring reyal sedaya
mangka sanguning marga
ingone prajuritipun
wus telas dennya mitungkas.</poem>}}<noinclude>{{rh|||393}}</noinclude>
si6nyc49e9q7anrmicd1k4dzs84vc9x
Kaca:Babad Prayud I.pdf/396
250
24356
77758
76910
2026-05-15T19:33:59Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77758
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43
|<poem>Mangka sarwi merbes mili
sapraptanira ing jaba
pakuwon pra samya jotong
wadya Kamangkunagaran
kagyat ing wedalira
Bok Emban Kartayudeku
inggar gugup samya tanya.</poem>
|<poem>Bok Kartayuda nauri
apa ingkang winicara
wis payo padha amuleh
lamun padha tunggonana
pasthi apindho papa
yen sirna pawitanipun
apa kang den rasakena.</poem>
|<poem>Para lurah para mantri
sadaya sami kaduga
mung inggih awake dhewe
rembug utamaning lampah
sapratelon muliya
telung duman masih tunggu
muliya lawan parentah.</poem>
|<poem>Rembage sami predhongdi
Bok Kartayuda amojar
yen ingsun mangkene bae
ing mengko ingsun aterna
padha mandhega Gondhang
iya jaranan sapuluh
ngater baliya Dersanan.</poem>
|<poem>Yen dinangu Kanjeng Gusti
ngong matur misih neng Yogja
ngatas parentah antuke
wus dadya kang rembag budhal
saking nagri Ngayogja
tanpa pamit budhalipun
kakapalan kalih belah.</poem>}}<noinclude>{{rh|394}}</noinclude>
qsql43ypmos1yg467fp6j3k09bafnqr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/274
250
24357
77783
76911
2026-05-15T19:44:29Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77783
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::ngawe kesdabelnya
:::gumuntur mriyem munya
:::Jayanagara lingnya ris
:::turuten uga
:::sira ingsun tuturi.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>
Adat Jawa penganten padha lan jendral
den akeh mriyemneki
wau Uprup Beman
nenggih nurut kewala
mariyeme wanti-wanti
kalakung suka
Jayanagara ngibing.
</poem>
|<poem>Cikrak-cikrak ngusapi babrengosira
Uprup suka ningali
wus ingajak lenggah
ing wuri selak prapta
Uprup gya manggil kompeni
dragunderira
kawandasa wus baris.
</poem>
|<poem>
Sami edrel wonten ing nginggil turangga
lir ruging argasiwi
asenggani lawan
dreling Prajurit Jawa
Kodhokngorek Carabali
umyung gumerah
tambur beri barungi.
</poem>
|<poem>
Sapraptane Dipati Mangkunagara
jejel ingkang prajurit
Uprup wus siyaga
methuk lajeng benikta
Uprup wus munggeng turanggi
gagaman budhal
lajeng maring jro puri.
</poem>}}<noinclude>{{rh|272}}</noinclude>
ifoer9331ctvuzbmf0n94tfnb2mqtly
Kaca:Babad Prayud I.pdf/397
250
24358
77759
76912
2026-05-15T19:35:01Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77759
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>Kalihatus dharatneki
datan kawuwus ing marga
prapta ing Gondhang kendele
nuduh kapal kalih dasa
ngater Bok Kartayuda
ing Dresanan wangsulipun
lajeng Bokban Kartayuda.</poem>
|<poem>Sapraptanira nagari
wus lajeng sowan ngajengan
pangeran gupuh tataken
biyung paran wartanira
angger ana ing kana
Emban Kartayuda matur
wiwitan prapteng wekasan.</poem>
|<poem>Katur anglengger miyarsi
Dipati Mangkunagara
mupus titahing Hyang Manon
ing manungsa iki darma
obah osiking badan
pan wus karsaning Yang Agung
andangu abdi sadaya.</poem>
|<poem> Bok Kartayuda wotsari
kang para lurah sedaya
inggih lan kamiíuwane
tan wonten purun mantuka
yen dereng katimbalan
lebura dadosa awu
wonten Nagari Ngayogya</poem>
|<poem>Pangeran sigra nimbali
Ngabei Jayapanantang
Jayapranata sarenge
sapraptanira ngajengan
pangeran angandika
Jayapanantang sireku</poem>}}<noinclude>{{rh|||395}}</noinclude>
b4pbd9g5fiwppvgmdux6mndyc49s9ku
Kaca:Babad Prayud I.pdf/398
250
24359
77760
76913
2026-05-15T19:35:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77760
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::prakara bocah Prangtandang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53
|<poem>Kalawan bocah Srageni
tan ana wani muliha
yen ora parentah ingong
dadine kelangan-kalongan
kang kaya awakingwang
bojo ilang imbuh batur
sira dhewe amucunga.</poem>}}<noinclude>{{rh|396}}</noinclude>
88nq6lijpuaetbhdql6jt9y84i5lvlm
Kaca:Babad Prayud I.pdf/275
250
24362
77784
76917
2026-05-15T19:44:52Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77784
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>
Sagung wadya prajurit ngumpul sadaya
wong jro dangu miranti
ngalun-alun aglar
Uprup lawan Pangeran
Dipati Mangkunagari
sapraptanira
wau sajroning puri.
</poem>
|<poem>
Srinarendra sampun anyandhing kang putra
wus binusanan asri
kaputren rinaja
murub kapraboning dyah
panganten jalunireki
ingawe prapta
sigra cinandhak aglis.</poem>
|<poem>Linenggahken ing wentis dalem kang kanan
putri ing wentis kering
Sang Nata kaselak
tanbuh wijiUng waspa
emban inya asru nangis
kang tuwa-tuwa
wong jro samya anangis.
</poem>
|<poem>
Sigra Pangran Dipati Mangkunagara
nusul ngari nrepati
dangu salenggrukan
sarwi tukup wadana
ing kampuh sindurireki
Uprup Beiman
anut milu anangis.</poem>
|<poem>Wibuh ing rehing Trilokendrabawan
dhedhet adhuh ngandhemi
tis-tis kang baskara
nir kenyaring kang praba
widigda mondra naputi
</poem>}}<noinclude>{{rh|||273}}</noinclude>
ldkmntr8wgn52cx8pxugairbjsal2sy
Kaca:Babad Prayud I.pdf/399
250
24363
77762
76918
2026-05-15T19:35:46Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77762
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::'''XXXVIII. POCUNG'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Iya sokur lamun kapapag dalanggung
pikir sareh padha
pan ora ingsun, dukarn
wus sun mawas dudu tandhing dudu ngimbang.</poem>
|<poem>Nadyan ingsun yen mungguh prakara iku
nora patut garap
iya kang pantas amikir
iya amung lalawanan padha raja.</poem>
|<poem>Dene iku saking padha antepipun
wus ingsun tarima
mung mimikira wong cilik
arebuta kabeh salameting badan.</poem>
|<poem>Nembah matur Jayapanantang pukulun
leres karsa tuwan
bela kupu tiyang aUt
nadyan inggih leresa dede wawratan.</poem>
|<poem>Dene besuk lamun sira padha mantuk
aja metu marga
lawan lumakuwa wengi
iya lamun wus parek lawan nagara.</poem>
|<poem>Nembah mundur Jayapanantang wus laju
kuda salawe prah
praptane Delanggu enjing
pan kapethuk sekawan kang kakapalan.</poem>
|<poem>Pan ingutus sami angupaya sangu
anak .rabinira
kang padha kinen bubudi
bok lawase neng Yogja tan tinimbalan.</poem>
|<poem>Sampun pagut Jayapanantang amuwus
lah sira baliya</poem>}}<noinclude>{{rh|||397}}</noinclude>
bljubownikbpm7shxhq2j47yku32z39
Kaca:Babad Prayud I.pdf/400
250
24364
77794
76920
2026-05-15T19:48:17Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77794
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::lurahmu warahen sami
::lakuningsun animbali kabeh padha.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Gusti langkung asanget kawatiripun
welas marang sira
sira kabeh den watiri
sigra mulak sapraptanira ing Gondhang.</poem>
|<poem>Dhawuhaken ngandikan sadayanipan
Ki Jayapanantang
neng Delanggu angantosi
sami suka sigra-sigra budhalira.</poem>
|<poem>Lampahipun praptane Delanggu surup
lajeng sirep jalma
sapraptanireng nagari
sami enjing kewala genipun seba.</poem>
|<poem>Enjingipun wis panggih lan gustinipun
sami ngungunira
kawula kalawan gusti
wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Enjing masuk sowan marang ari prabu
bekta embanira
kang prapta saking Matawis
prateng pura pinanggihan ing pendhapa</poem>
|<poem>Sampun katur ing saparipolahipun
Sang Nata ngandika
dhiajeng tan meksa batin
saebuke iya maring kakangmas.</poem>
|<poem>Nembah matur Bokemban Kartayudeku
pukulun Sang Nata
rayi dalem Kangjeng Gusti
sakalangkung tresna ing raka paduka.</poem>
|<poem>Dhatengipun saking ngajengan pukulun
sami tinangisan</poem>}}<noinclude>{{rh|398}}</noinclude>
9llednrnuwgxxb4coch4yq4s0z40zlh
Kaca:Babad Prayud I.pdf/401
250
24366
77797
76923
2026-05-15T19:48:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77797
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dhateng para ibuneki
::bilih lepat saure duk ingindhetan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=17
|<poem>Para ibu miyarsa ing dhawuhipun
rama tuwan Sultan
yen tan pur,un den indheti
ingkang putra Ratu Bendara den lunas.</poem>
|<poem>Milanipun kekes tiyang sak kadhatun
wau duk miyarsa
anglengger Sri Narapati
kadi pundi kakangmas Kiyai Sultan.</poem>
|<poem>Tekonipun teka makaten puniku
kang raka turira
puluh-puluh kadi pundi
yen mopoa masthi lamun kalampahan.</poem>
|<poem>Inggih lamun wonten wong anerak kukum
narajang amurang
nadyan liwat den kasihi
inggih sami sakala kolu anglunas.</poem>
|<poem>Datan ngangge katolih ing wau-wau
Sang Nata ngandika
gih talah amemedeni
kula kangmas ing wingi miyarsa warta.</poem>
|<poem>Bocah kula mantri Gadhing kang amatur
saungkure kangmas
bocah dika ingkang mulih
Paman Sultan inggih nunten paparentah.</poem>
|<poem>Balanipun pinacak baris penganjur
wonten Parambanan
inggih bupati kakalih
Martalaya kanthi pun Jayawinata.</poem>
|<poem>Mantrinipun salawe kang baris ngayun
kininten turangga</poem>}}<noinclude>{{rh|||399}}</noinclude>
1cpw5g1k5lv53iaahhznp99rp9xyeru
Kaca:Babad Prayud I.pdf/58
250
24367
77531
76924
2026-05-15T16:14:41Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77531
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>'''IV. Asmaradana'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Pukulun Sri Narapati
datan keni tinitaha
pun Mandradirana prange
punika keni derajat
sanadyan ta kawula
kapranggula yudanipun
mangsa puruna anglawan.</poem>
|<poem>Jer sampun miyarsa warti
yen sentana padukendra
puruna dados awone
antuk dhiri kabatinan
manawi ta apranga
wonten ing ngarsa pukulun
tiyang awon yen ajriha.</poem>
|<poem>Punika gumujeng kedhik
inggih Jeng Rama Paduka
wonten lejare dukane
dhateng pun Mandradirana
Sang Nata angandika
nuli paran dadenipun
Kartanadi matur nembah.</poem>
|<poem>Pukulun bapakireki
pun Tumenggung Mandaraka
alabuh pejah dalune
sowan mung badan sapata
inggih dhateng pun paman
neng dhusun Payaman Kedhu
baris madyeng Pangangsalan.</poem>
|<poem>Pan dipuri suwun pribadi
aturipun pun Mandraka
kamipurun kula angger</poem>
}}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude>
qe0alphzx91lhhax6wx5otn0gqb6fk3
77884
77531
2026-05-15T20:31:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77884
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>'''IV. Asmaradana'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Pukulun Sri Narapati
datan keni tinitaha
pun Mandradirana prange
punika keni derajat
sanadyan ta kawula
kapranggula yudanipun
mangsa puruna anglawan.</poem>
|<poem>Jer sampun miyarsa warti
yen sentana padukendra
puruna dados awone
antuk dhiri kabatinan
manawi ta apranga
wonten ing ngarsa pukulun
tiyang awon yen ajriha.</poem>
|<poem>Punika gumujeng kedhik
inggih Jeng Rama Paduka
wonten lejare dukane
dhateng pun Mandradirana
Sang Nata angandika
nuli paran dadenipun
Kartanadi matur nembah.</poem>
|<poem>Pukulun bapakireki
pun Tumenggung Mandaraka
alabuh pejah dalune
sowan mung badan sapata
inggih dhateng pun paman
neng dhusun Payaman Kedhu
baris madyeng Pangangsalan.</poem>
|<poem>Pan dipuri suwun pribadi
aturipun pun Mandraka
kamipurun kula angger</poem>
}}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude>
feruxrr4wl0t1g19zi8l91srl5yf1y0
77885
77884
2026-05-15T20:32:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77885
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''IV. Asmaradana'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Pukulun Sri Narapati
datan keni tinitaha
pun Mandradirana prange
punika keni derajat
sanadyan ta kawula
kapranggula yudanipun
mangsa puruna anglawan.</poem>
|<poem>Jer sampun miyarsa warti
yen sentana padukendra
puruna dados awone
antuk dhiri kabatinan
manawi ta apranga
wonten ing ngarsa pukulun
tiyang awon yen ajriha.</poem>
|<poem>Punika gumujeng kedhik
inggih Jeng Rama Paduka
wonten lejare dukane
dhateng pun Mandradirana
Sang Nata angandika
nuli paran dadenipun
Kartanadi matur nembah.</poem>
|<poem>Pukulun bapakireki
pun Tumenggung Mandaraka
alabuh pejah dalune
sowan mung badan sapata
inggih dhateng pun paman
neng dhusun Payaman Kedhu
baris madyeng Pangangsalan.</poem>
|<poem>Pan dipuri suwun pribadi
aturipun pun Mandraka
kamipurun kula angger</poem>
}}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude>
83iggdml2ehodxx9p5rbxfimsmor5ki
Kaca:Babad Prayud I.pdf/276
250
24368
77785
76928
2026-05-15T19:45:13Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77785
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::awektu jawah
:::gora maruta tarik.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem>
Mawurahan baris geger dening jawah
nging ora giri-giri
wusnya sirep jawah
budhal sang pinangantyan
saking pura kang wadya tri
mriyem sauran
edrel sagunging baris.</poem>
|<poem>Jawah-jawah budhale tandhu atusan
sagung punggawa mantri
saha estrinira
ing loji praptanira
para nyonyah wus miranti
sayaganira
dhuk panganten prateki.
</poem>
|<poem>Sru gumuntur mriyem ing loji sauran
barung dreling prajurit
gong beri sauran
awor lawan prahara
Kodhokngorek Carabali
barunging swara
oter anggegeteri.
</poem>
|<poem>
Baya kadi swarane Prang Bratayuda
duk Bimanyu ngemasi
amuking Pandhawa
prajurit pra santana
wong Cempala Wiratheki
wadya Ngamarta
miwah wong Dwarawati.</poem>
|<poem>Gumer ubyung paworing swara wurahan
sumenggut nginggit-inggit
amrih patinira</poem>}}<noinclude>{{rh|274}}</noinclude>
gcl1hsvws4ljf7xte5j22idmebd511l
Kaca:Babad Prayud I.pdf/402
250
24369
77800
76926
2026-05-15T19:49:24Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77800
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sewu gangsalatus luwih
::titindhihe Pangran arya Pakuningrat.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Kangmas gupuh tinimbangan padha gecul
sinten wonge kangmas
kang rada gemblung sakedhik
ingajanana inggih batinan kewala.</poem>
|<poem>Angrarayud ngaraman ngambili dhusun
yen kacandhak jilak
sampun kongsi kantun linggih
yen kosepa pasthi wawratipun suda.</poem>
|<poem>Yata wau kang raka gumujeng guguk
sandika Sang Nata
sampun kantunrebat titih
sokur lamun purun merpak Parambanan.</poem>
|<poem>Amit mundur Pangran Mangkunagara wus
prateng dalemira
nimbali kang para mantri
angandika Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Bocahingsun iya sapa ingkang patut
kadi cul-uculan
ngrayudi Bumi Matawis
sami turnya tan liyan pun Surawangsa.</poem>
|<poem>Daget gaculakathah prasanakipun
iya Surawangsa
sira kinarsakken mangkin
mring Sang Nata dadi wayang gegeculan.</poem>
|<poem>Matur guguk inggih sandika pukulun
parentahing raja
mijil ing sampeyan gusti
kinarsakna babarongan kukucingan.</poem>}}<noinclude>{{rh|400}}</noinclude>
j8ym6najed7jl3ygshic5il5j3dcm7n
Kaca:Babad Prayud I.pdf/403
250
24370
77803
76927
2026-05-15T19:49:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77803
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Ya wis guguh nuli metuwa sireku
paman Pakuningrat
Parambanan gone baris
lah agagen sun golekken kanthi sira.</poem>
|<poem>Ya sireku mengko nama Tumenggung
Pradatanagara
sinangen waos lan bedhil
miwah kuda bendhe kalawan bandera.</poem>
|<poem>Amití ngujung budhal sira Ki Tumenggung
Pradatanagara
nulya pangeran nimbali
bekel Indo sentana ngisor galengan.</poem>
|<poem>Raden Ayu Sanawati saking ngriku
pan ingambil garwa
ing Sulta Balitar nguni
apatutan nenggih ibune pangeran.</poem>
|<poem>Prapta sampun tinari tan wonten purun
boten atiyasa
abdi dalem gedhong sami
pan kongkulan yen manggih sami dedesan.</poem>
|<poem>Sami koyup ing sabarang solahipun
pu Pengging punika
inggih ingkang angungkuli
luwung mendhet weton ing Pingging satunggal.</poem>
|<poem>Gih pukulun Martalaya bekelipun
pan lawe punika
pun Suradirja nameki
pamanipun ingabdiken rayi nata.</poem>
|<poem>Dados mantri miji kadipatenipun
samangsa kintuna
serta pasthi den lampahi
lamun boten makaten inggih was-uwas.</poem>}}<noinclude>{{rh|||401}}</noinclude>
g1qjnf1fo7mp6gsgn8ivffvzu1nz0ca
Kaca:Babad Prayud I.pdf/404
250
24371
77805
76929
2026-05-15T19:50:26Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77805
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>Sigra Rangga Panambangan kang den utus
maring wismanira
mantri kadipaten miji
mendhet serat dhawuh mring kang kaponakan.</poem>
|<poem>Binisiken wau ing wawadosipun
Rangga Panambangan.
badhe lumampah pribadi
wus binektan serat lajeng lampahira.</poem>
|<poem>Praptanipun dhinawuhan seratipun
layange kang paman
sira tinimbalan anglis
mring Pangeran Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Ya den gupuh apa saparentahipun
sira lakonana
aja ta kakean pikir
parentahe Pangeran Mangkunagara.</poem>
|<poem>Ya ta wau wus kerid ing lampahipun
Rangga Panambangan
sapraptanira nagari
ing ngarsane Pangeran Mangkunagara.</poem>
|<poem>Ngandika rum heh Suradiningrat iku
iya lakonana
parentahe Sri Bupati
dadi wayang geculan edan-edanan.</poem>
|<poem>Rayudana Bumi Ngayogja puniku
geceken yen bangga
sira mamacaka mantri
nuli sira mrepekana Parambanan.</poem>
|<poem>Nembah matur inggih sandika pukulun
pinaring sanjata
karbin lan waqs satunggil
karben papat dhuwung kalawan rasukan.</poem>}}<noinclude>{{rh|402}}</noinclude>
171dghs653ah0bsqb72m7jwawsmicue
Kaca:Babad Prayud I.pdf/277
250
24372
77786
76932
2026-05-15T19:45:24Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77786
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::marang Arya Sindurja
:::dereng pareng tibeng pati
:::gumrahing swara
:::gora nengher wiyati.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>
Prapteng loji pengaten sinungga-sungga
opesir jalu estri
sami ngiringira
marang Mangkunagaran
meksih jawah budhalneki
mewahi suka
kebes kang sami ngiring.</poem>
|<poem>Sapraptane Dalem Kamangkunagaran
sirep jawahireki
tariksan hirmala
diwangkaranya Bima
sumeblak wuryaning riris
pukul sakawan
bigar sagung wadya tri.</poem>
|<poem>Drel mariyem barung prajurit sunapan
Monggang lan Carabali
wus tata-tinata
wau ing palenggahan
wong jro pura para mini
ngapit pangantyan
miwah ing kanan-kering.</poem>
|<poem>Pangetoge marnani suga tanira
wadya leksan weradin
lajeng akasukan
jawi lebet gumerah
bubaran ing pukul kalih
sukaning wadya
lir rug angasmarani.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||275}}</noinclude>
sd2czkn91p88hxdephcfklx4k83httb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/405
250
24373
77808
76933
2026-05-15T19:51:06Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77808
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>Songsongipun ijo seret kuningipun
pengeran parentah
yen barismu wus andadi
tembangana kidul si Datanagara.</poem>
|<poem>Ajenega Tumenggung Jay ab inangun
mesat atur sembah
sapraptanira ing Pengging
lajeng pacak barise ngrayudi desa.</poem>
|<poem>Kuneng wau Datanagara winuwus
wus dadi barisnya
anglantur Pepedan Wedhi
wus binahak saurut Gondhang Tangkisan.</poem>
|<poem> Kang ler sampun neng Jatinom Puluhwatu
Pangran Pakuningrat
sampun kathah tur udani
yen wong Sala metokaken gegeculan.</poem>
|<poem>Kang ler sampun, angencik ing Puluhwatu
kang kidul punika
sampun angancik ing Wedhi
jeng-ajengan lawan baris Parambanan.</poem>
|<poem> Wus sarembug tur uninga sigra ngutus
katur ing Jeng Sultan
wong Surakarta metoni
keramanan gegeculan wus anglantrah.</poem>
|<poem> Pangran Pakuningrat wus kinen amundur
sakancane samya
gagawane pra dipati
samya kinen ngupaya patinggi desa.</poem>
|<poem>Ngipuk-ipuk kang agecul kang barenjul
linopa busana
miwah bang-ebangreki
yata wonten Bekel Puspadiningratan.</poem>}}<noinclude>{{rh|||403}}</noinclude>
5bgcb5i0j6a0l64u4qmksgdz998j8tv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/59
250
24374
77529
76934
2026-05-15T16:09:59Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77529
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude><ol><poem>dene ta rare punika
boten wonten kawula
pan inggih sampun kapundhut
kabdekken raka paduka.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Dhatengipun atetuwi
kewala dhateng kawula
duk prapta inggih sontene
enjangipun tuwan larag
kula kang katempahan
ing raka paduka prabu
Sri Bupati Kabanaran</poem>
|<poem>Dadya angandika aris
duk Dipati Pakalongan
ya paman Mandraka kuwe
nging aja baribin paman
ngong opyak kamahngan
bature iku rong puluh
karekna telu kewala.</poem>
|<poem>Besuk sun lapur kumpeni
yen boyongan kathah minggat
kari telu pan katangen
makaten wau gelarnya
enjang lapur mayornya
bebandan kari tetelu
enjing sami pinerungan.</poem>
|<poem>Gumujeng Sri Narapati
alon denira ngandika
heh kang pra dipati kabeh
miwah ta santananingwang
mengko yen metu iya
padha mampira sireku
teka ing kene banjura.</poem>
|<poem>Wismane Kangmas Dipati
</poem>}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude>
l3p8x85pkrj2xfi9ymqv6f6eg65i0ij
77886
77529
2026-05-15T20:32:42Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77886
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>dene ta rare punika
boten wonten kawula
pan inggih sampun kapundhut
kabdekken raka paduka.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Dhatengipun atetuwi
kewala dhateng kawula
duk prapta inggih sontene
enjangipun tuwan larag
kula kang katempahan
ing raka paduka prabu
Sri Bupati Kabanaran</poem>
|<poem>Dadya angandika aris
duk Dipati Pakalongan
ya paman Mandraka kuwe
nging aja baribin paman
ngong opyak kamahngan
bature iku rong puluh
karekna telu kewala.</poem>
|<poem>Besuk sun lapur kumpeni
yen boyongan kathah minggat
kari telu pan katangen
makaten wau gelarnya
enjang lapur mayornya
bebandan kari tetelu
enjing sami pinerungan.</poem>
|<poem>Gumujeng Sri Narapati
alon denira ngandika
heh kang pra dipati kabeh
miwah ta santananingwang
mengko yen metu iya
padha mampira sireku
teka ing kene banjura.</poem>
|<poem>Wismane Kangmas Dipati
</poem>}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude>
lrmi9l3bzn0bvmhhb0lhca7i3ysqmt2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/406
250
24375
77631
76935
2026-05-15T18:32:50Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77631
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=56
|<poem>Gedhong Tengen Sekarsuli pan nelung jung
ingipuk wong Yogja
Singadirana wus keni
wus binekta lan malih wong Surakarta.</poem>
|<poem>Tilasipun kaliwon gadhe rumuhun
Kajayanagaran
Ngabei Sumaditeki
sapocote dhongkol wonten Parambanan.</poem>
|<poem> Wus inge bang ingipuk linopa tumut
kaliye binekta
kapethuk ing Kalibening
lampahipun Pangeran Natakusuma.</poem>
|<poem> Pangran Pakuningrat wau unduripun
praptane Ngay ogja
lampahipun den salini
kang lumampah Pangeran Natakusuma.</poem>
|<poem>Kendelipun Kalibening akukuwu
Mantri Sadu prapta
bekta bekel Sekarsuli
Kalihipun Suma dita Parambanan.</poem>
|<poem> Katur marang Pangran Natakusumeku
binekteng ngayunan
sampun sami den dhawuhi
ebang bang umatur sagah samangsa.</poem>
|<poem> Pinaring wus waos senjata lan dhuwung
bebenting rasukan
turangga lan payungneki
katimang mas lawan babangkole emas.</poem>
|<poem>Sanjata lus karebin kalawan pestul
pun Singadirana
pan nigang jung Sekarsuli
sinung nama Tumenggung Ranawilaga.</poem>}}<noinclude>{{rh|404}}</noinclude>
at0ml6qleblvfovui8hecoo2dlq1a9y
Kaca:Babad Prayud I.pdf/407
250
24376
77632
76937
2026-05-15T18:33:35Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77632
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=64
|<poem>Ngandikarum Pangran Natakusumeku
heh Kang Sumadita
kaliwon gedhe rumiyin
nama Raden Angabei Sumadita</poem>
|<poem>Mangkenipun namane mundhak amedhun
jujuluk munggaha
si kakang kula. arani
jumenenga Ki Tumenggung Sutanaya.</poem>
|<poem>Tagesipun kakang parentahing ratu
kinen dan edanan
gumujeng matur wotsari
inggih leres angger ing karsa paduka.</poem>
|<poem>Kula nuhun pangestu dalem karuhun
inggih salameta
gen dika umangsah jurit
sigra nembah mesat saking ing ngajengan.</poem>
|<poem> Praptanipun ing wismane sigra ngumpul
suyud Parambanan
wus anungkul den' ungkuli
Bumi Sala urut Kajambon Kajiwan.</poem>
|<poem> Sampun kumpul kakapalan tigangatus
ngetanjog Karapyak
wuwuh kumpuling turanggi
ngantukaken Tumenggung Ranawilaga.</poem>
|<poem>Sekarsuli ler Malinjon prenahipun
Deladag angetan
mungsuhe tan den rawadi
mung ulihe Tumenggung Ranawilaga.</poem>
|<poem>Praptanipun Sekarsuli wanci surup
lajeng paparentah
nelukken wong kanan-kering
nora ketung mungsuh gitika ing wuntat.</poem>}}<noinclude>{{rh|||405}}</noinclude>
cdyvnc8hxvfghegfbjc7w8oiwzbsf98
Kaca:Babad Prayud I.pdf/408
250
24377
77635
76940
2026-05-15T18:34:07Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77635
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::'''XXIX. PANGKUR'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Tumenggung Natanagara
duk miyarsa mungsuh neng Sekarsuli
ler wetan saking genipun
nanging dalu praptanya
enjing budhal ngerek ngetan barisipun
ragi ngaler kendel Ngingas
badhe genira nadhahi.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Sutanaya
miwah Ranawilaga budhal enjing
ngidul amarani mungsuh
praptane kidul marga
wadya kuda Sutanaya gangsalatus
Tumenggung Matanagara
pitungatus kudaneki.</poem>
|<poem>Campuh sakilene Ngingas
cara desa ruketing prang wor titih
ararne buru-binuru
bedhil tan karawatan
tarung tumbak tumbak-tinumbak acaruk
mungsuh rewang kathah pejah
sadina denira jurit.</poem>
|<poem>Bubar pur dalu prangira
Ki Tumenggung Natanagara nenggih
wonge mati seket pitu
Tumenggung Sutanaya
prajurit sawidak kalih kang lampus
kalih sami angresira
mundur kalih sareng nebih.</poem>
|<poem>Wus samya katur prangira
ing Ngayugja miwah Surakarteki
pra sami kirim sratipun
dhateng nagri Samarang</poem>}}<noinclude>{{rh|406}}</noinclude>
42jtuy6w8b90farss55jsgx14em3920
Kaca:Babad Prayud I.pdf/409
250
24378
77636
76942
2026-05-15T18:34:47Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77636
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kamandaka kang srat adhapur prasadu
::Sang Prabu Surakarta
::mring Ideler ing Samawis.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Wusnya tabe kathah-kathah
wiyosipun sudara sung upaksi
awit saking garwanipun
kakangmas adipatya
ingindhetan dhateng kang rama punika
mangkya sagung tanah-tanah
rusuh samya ngrurusuhi.</poem>
|<poem>Gegeculan keh wong edan
wong kang ala tan wonten kang tinolih
bondhanaken tanpa ratu
tutug sasukak-sukak
kula aken ngupaya wong kang babatur
antuk papati sawidak
prandene wuri tan mari.</poem>
|<poem>Wong ala sangkin andadra
nanging Deler sepisan dereng prapti
neng Madura Sarengkewuh
Peter Besar kewala
kang nampani sarat Yogja Surakarteku
serat ubeng kamandaka
srate para ratu kalih.</poem>
|<poem>Pator Besar manggil Beman
samadosan neng Salahtiga panggih
nagari sangsaya kuwur
Kedhu Pagelen mangkya
sami wiwit wong ala durjana darung
ngrarayud kudhung parentah
maksiy atahtniy asati.</poem>
|<poem>Tukup-tinukup andadya
singa rosa keh bandhangane sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||407}}</noinclude>
dst994o6sv7n1425qy79r1rlfpu53b4
Kaca:Babad Prayud I.pdf/410
250
24379
77637
76943
2026-05-15T18:35:36Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77637
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::singa cubluk den kalethuk
::kang bapang ngingkrang-ngingkrang
::tulus menang ngampung prentah solahipun
::ararat ngegemblungan
::babonggol mendhosol sami.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Petor dereng kongsi mangkat
selak Deler prapta king Surawesthi
gagancangan praptanipun
gugup miyarsa warta
saking Sampang Surabaya wus misuwur
pawarta Panjang Mataram
prang rame andinajurit.</poem>
|<poem>Surat saking ing Ngayugja
saking Surakarta Petor nampani
sapraptane Deler katur
sawusnya tinupiksa
langkung eram agoyang kapalanipun
dangu datan kena mojar
si Bereh Deler Ubresting.</poem>
|<poem> Deler sigra aputusan
marang Yogja Petor Besar tunuding
kalawan lutnan drugundur
bekta Deler suratnya
lawan kuda kore ingkang badhe katur
sakembaran saking wetan
Petor Besar gya lumaris.</poem>
|<poem>Dregunderekalihwelas
lampahira datan winuwus margi
ing Ngayogja praptanipun
wus panggih lawan Sultan
katur ingkang serat saha hormatipun
kalangkung simungga-sungga
de Peter Besar tinuding.</poem>}}<noinclude>{{rh|408}}</noinclude>
l5b1noon8ftaqtofmby7jthvfmfgy66
Kaca:Babad Prayud I.pdf/411
250
24380
77638
76944
2026-05-15T18:36:08Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77638
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Langkung genge kang prakara
jroning serat nenggih Deler Ubresting
matur-sarta apitutur
Tuwan Sultan samangkya
wus misuwur yen tuwan narendra punjul
gagah prawireng ngalaga
ing watak bisa basuki.</poem>
|<poem>Tetep mantep ing Hyang Suksma
wus kasusra ing tanah bawah angin
nunten ing mangke kabidhung
nuting atur-aturan
langkung owel mijilena menda kuwur
kawur-kawur kawoworan
kasangsaya kang sayekti.</poem>
|<poem>Ing tabet kangwus tetela
amiharja harjaning bumi-bumi
eyang paduka gurnadur
saha Rat pan Indiya
sami suka Jeng Jendral Petrus Albertus
ananing kawicaksanan
sumyur murti maratani.</poem>
|<poem>Mila sanget tur kawula
yen kongsiya gempil satemah rumpil
karya angel lakon alus
kasar dadi sumebar
tementemen kumpeni dennya mrih laku
winatuweng Gusti Allah
Ilalah Rabil Ngalamin.</poem>
|<poem>Mila Tuwan antukena
putri dalem ingkang sampun karabi
Pangran Mangkunegareku
Kumpeni kang nanedha
ing tuluse wingit kaluhuranipun</poem>}}<noinclude>{{rh|||409}}</noinclude>
n6it4s0g63seflx2wobb4vcky8khnga
Kaca:Babad Prayud I.pdf/412
250
24381
77639
76945
2026-05-15T18:36:41Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77639
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::jajahan arja santosa
::wus titi mriyem ngurmati.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Mesem Sultan ngandika
iya Petor dene mangkene iki
dadine Deler kaliru
dudu bubuhaningwang
aprakara ing alaki-rabiiku
ana ingkang duwe awak
dudu pagaweyan marni.</poem>
|<poem>Wus ana daliling kitab
Gusti Allah pandhita kang ngebuki
kalamun wong wadon lùmuh
ratu tari kena jiyad
yen dadiya gawene nagara iku
dadi surak adilingwang
wus duwe ukum pribadi.</poem>
|<poem>Yen ana wong kang belasak
ukum molah kang nora den tetepi
yeku mukir tegesipun
wong lanang kang nanambang
yen wong wadon ana ing atine iku
yen lumuh maring wong lanang
tan wenang den parentahi.</poem>
|<poem>Yen anemah dadi ngiwa
lya nuku pegat yen ora anglakoni
si wadon kena ing ngukum
iku gawening raja
jiyadaken patukoning pegat iku
yen gelem angesokana
tan dadi karyaning bumi.</poem>
|<poem>Sultan wus karya wangsulan
Petor Besar pan amung kalih latri</poem>}}<noinclude>{{rh|410}}</noinclude>
nwlkig85o8jbcv5x4czdl8632zijjk9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/413
250
24382
77640
76946
2026-05-15T18:37:05Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77640
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sinangonan tigang atus
::lutnan dragunder ingkang
::sinangonan satus piyambak punika
::kanthi Papatih Samarang
::pinaring pitungdasa gris.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Dragunder sradhadhunira
kalih welas samya den wiji-wiji
rolas keton sangonipun
dragunder sami suka
ting cakakak undure saking kadhatun
Petor lajeng pamitira
tinampen sul-angsulneki.</poem>
|<poem>Mesat saking ing Ngayogja
kendelira Saragenen sawengi
duk ing marga tan kawuwus
praptanireng Samarang
serat sultán katur marang Deler sampun
raosing srat wus kaduga
eram goyang kapaleki.</poem>
|<poem>Animbali Ki Dipatya
Surahadimanggala prapteng ngarsi
lawan Kiyai Pangulu
Deler alón tatanya
sarwi tuduh srat saking Sulta punika
inggih kadipundi Bapak</poem>
|<poem>Ki Dipati maos serat
lan pangulu serat saking Matawis
wusnya maos Ki Pangulu
alón ing aturira
yen makaten ini tuwan lebih betul
bubuhi di dhalem kitab
ukum molah ya begini.</poem>}}<noinclude>{{rh|||411}}</noinclude>
ediarp5p8y0shq37u2k2cnmr3xehndv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/414
250
24383
77641
76947
2026-05-15T18:37:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77641
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem>Deler saking wimbuh ing tyas
pegimana Bapak yang punya bini
sudah sediyeng prang pupuh
pukul Nagri Ngayogja
desa ini sudah mulahing prang riwut
kadi pundi gene nyenggah
Mangkunagara prajurit.</poem>
|<poem>Ki Dipati aturira
kabeh-kabeh Tuwan anak kompeni
rinimuk ingipuk-ipuk
Pangran Mangkunagara
yen sareba ya Mangkunagara iku
Jeng Sunan sareh kewala
wantu kadang ngusap weni.</poem>}}<noinclude>{{rh|412}}</noinclude>
tgfujxoj83pek0l8hhuef4ubkg3hih4
Kaca:Babad Prayud I.pdf/415
250
24384
77642
76949
2026-05-15T18:37:47Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77642
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XI. SINOM'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Yen kaya mengkana Bapak
ingsun nuli tur udami
mring Tuwan Gurnadur Jendral
padha duwea kikirih
yen uwis kirim tulis
maring Batawi katengsun
payo mring Salatiga
Pangran Mangkunagareki
sun aturi patemonneng Salatiga.</poem>
|<poem>Budhal saking ing Semarang
Deler lawan Ki Dipati
pasisir kalih bupatya
Peter Besar tumut malih
ing Salatiga prapti
wus amànggil Tu wan Uprup
patemon Salatiga
duk Beman atampi tulis
tur uninga angkate marang Sang Nata.</poem>
|<poem>Serate Deler punika
kula kinen angaturi
raka paduka Pangeran
Dipati Mangkunagari
mring Salatiga nenggih
panggiyan lan Deler Ubrus
Sang Nata angandika
matura Deler sireki
tanggung temen patemon ing Salatiga.</poem>
|<poem>Yen mamanguna bicara
yeku kakangmas dipati
tanpa kanthi ewuh aya
bok kabrenjul nora resik</poem>}}<noinclude>{{rh|||413}}</noinclude>
16on2xo4rt5b2yknf9tp86b3kzu6lbf
Kaca:Babad Prayud I.pdf/416
250
24385
77643
76952
2026-05-15T18:38:16Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77643
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen ora sun adhepi
::kapareng nepsu tan surut
::wantu wong den niaya
::ing batin amuring-muring
::aja kandheg Deler becike banjura.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Sun banget angarsa-arsa
banjure Surakarteki
Uprup alon aturira
inggih leres Panduka Aji
yen kula Tuwan weling
kadipun Deler ariurut
Beman wus pamit mesat
prapta kendel Bayalali
enjingira budhal maring Salatiga.</poem>
|<poem>Praptane neng Salatiga
ing pukul sadasa panggih
lan Deler Uprup aturnya
karsane Sri Narapati
lampah tuwan puniki
sampun kendel pened banjur
dhateng ing Surakarta
panggiya lan Sri Bupati
lah ta inggih sae amangun bicara.</poem>
|<poem>Deler wau duk miyarsa
pinikir leres Sang Aji
iya Uprup ingsun iya
banjur marang ing nagari
Uprup amulya pamit
wangsul nulak lampahipun
lampah dalu kewala
praptane Surakar teki
lajeng manjing pura umatur Sang Nata.</poem>
|<poem>Inggih Deler tabenira
katura ing Sri Bupati</poem>}}<noinclude>{{rh|414}}</noinclude>
japcws8bg881peulvvhsa3zuprr163l
Kaca:Babad Prayud I.pdf/417
250
24386
77644
76953
2026-05-15T18:38:42Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77644
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::anurut karsa paduka
::mangkat ing dinten puniki
::kendel ing Bayalali
::inggih pasthi mangke dalu
::Sang Nata gya parentali
::Dipati Mangkuprajeki
::kang punggawa satunggil kinen mangkata.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Tumenggung Jayanagara
umangkat sami sakenjing
kalawan Pangeran Arya
Prabuwijaya kinanthi
kendel ing Bayalali
meh sareng ing praptanipun
rumiyin Mangkupraja
nung rong menut aletneki
wus apanggih lan Deler tabe sadaya.</poem>
|<poem> Ing dalu tan kawuwusa
Deler saking Bayalali
satengah lima mangkat
wuwusen Sri Narapati
saking jro pura mijil
umangkat ing pukul pitu
kalawan ingkang raka
kerig sagung pra dipati
pamethuknya Sang Nata aneng Kaleca.</poem>
|<poem>Pukul wolu praptanira
Kaleca Deler Ubresting
ping salikur wulan Sapar
amarengi Rebo.legi
wau den sengkalani
dede adat praptanipun
mirungga awit prakara
mila warsane tiniti
Trusing liman Àngobahaken ing Jalma.</poem>}}<noinclude>{{rh|||415}}</noinclude>
fzzx7119ipgdef3cccmkqea2lmssded
Kaca:Babad Prayud I.pdf/418
250
24387
77645
76954
2026-05-15T18:39:02Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77645
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|<poem>Ki Deler kapara eram
mulat kiraping prajurit
beda kala praptanira
Ideler prap.taning nguni
dadya ambal ping kalih
inggahira Deler Ubrus
ingkang rumiyin adat
ping kaliye bicarani
aprakara indhete Ratu Bendara.</poem>
|<poem> Miwah selahing mangunsa
gumergut lir magut jurit
Deler wuwuh astanira
bubuyuten sanget mangkin
tabeyan lan Sang Aji
garewelan guwr-gugur
miwah lawan Pangeran
Mangkunagara Dipati
wuwuh dennya mangrepa angela-ela.</poem>
|<poem>Duk antuk kalih inuman
ing Kalesa Sri Bupati
budhal marta tamunira
Hasen bereh pan Idelir
ninggali nganan-ngiring
nglor-ngidul ngarsa pungkur
sutnreg kehing turangga
gumrudug anggigirisi
ngandhut runtik tingkah olahing manungsa.</poem>
|<poem>Miwah bupati sadaya
ing splah tan kadi nguni
tinon pan gambaraning piang
meh kadya anaut rawsi
prapteng lun-alun atri
monggang muni Sitiluhur
urmat mriyem barungan</poem>}}<noinclude>{{rh|416}}</noinclude>
4x8n26gv3n9w0zl3ta01pviohbfc909
Kaca:Babad Prayud I.pdf/419
250
24388
77646
76955
2026-05-15T18:39:28Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77646
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ing Sitinggil miwah ngloji
::Tuwan Idler binekta pura sakedhap.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Sayah kinen makuwona
wus pamit mijil mring loji
wus makuwon saha baia
wau bupati pasisir
ingantos asoneki
ayem ing tyas Deler Ubrus
kuneng kang kawuwusa
wong desa kang andon jurit
andina prang Kedhu Pagelen barungan.</poem>
|<poem>Miwah Pajang lan Mataram
tan kendel andina jurit
papati wus tan karuhan
sami wurune wong cilik
mangkya kang samya dadi
wayang geculan angradun
corok-cinorok samya
tan karuhan ubetneki
jembar rupak kang amrih ngelar jajahan.</poem>
|<poem>Jembar tan kanggo sadina
miwah rupakipun sami
ya nora kanggo sadina
kang wus ngarep jebul wuri
kang kanan jebul kering
wit sami arebut tangguh
ana bekel Ngayogja
ngugemi Surakartèki
bekel Surakarta ngugemi Ngayogja.</poem>
|<poem>Anama prang balarutan
keh panajung dadi mantri
mila temah tarombolan
neng Puluhwatu wong Pingging.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||417}}</noinclude>
2yjyly3rxzqzrnf6lfdoe275qzgc7g0
Kaca:Babad Prayud I.pdf/420
250
24389
77648
76956
2026-05-15T18:39:51Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77648
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::wayang Surakarteki
::wong Jogja ana ing Gumul
::sakiduling Koripan
::nelukken wong kuwel sami
::saurute sapangalor urut Kopat.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Wong Surakarta neng Gondhang
kang 1er Puluhwatu sami
nelukaken Parambanan
ing Kembang wus den aneiki
tuwin uruting Budil
bumi Yogja akeh nungkul
kang kidul wayang Sala
Sampar Waliyan wus keni
wayang Yogja kang 1er ngancik urut Sima.</poem>
|<poem>Kuneng kang prang balarutan
wuwusen Deler Ubresting
kang wonten ing Surakarta
enjing sowan mring jro puri
Pngeran Adipati
Mangkunagara kang tumut
kalawan Uprup Beman
sapraptanira jro puri
pinanggiyan wusnya tata neng pandhapa.</poem>
|<poem>Deler ngaturaken sigra
sul-angsul saking Yogjeki
duk lampahe Petor Besar
sultan ingkang den Ugemi
pun Panggulu Semawis
kula sung wruh puniku
yekti daliling kitab
pra pandhita kang ngebuki
pun papulu apenci katimbalana</poem>
|<poem>Sang nata amaos serat</poem>}}<noinclude>{{rh|418}}</noinclude>
qt9egch8zgkxk055dxk6anl6fc37nrm
Kaca:Babad Prayud I.pdf/421
250
24390
77650
76957
2026-05-15T18:40:20Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77650
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::agung mesem duk miyarsi
::denira ngrakit prakara
::mesem ngadika Nrepati
::ki bapa iki wegig
::awegig ukeling tanduk
::rakite kaya bisa
::amaca kitab pribadi
::anambungi Dipati Mangkunagara.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Makaten punika Sunan
kula rumiyin menging
duk raraton beng-ubengan
ing mangke amatkhok malih
pengulu den pundhuti
lan jeksa pinundhutan
kebenaran sadayeki
apan winor dinadosaken salayang.</poem>
|<poem>Saben sawusnya sepenan
yen boten pinarakjawi
mung punika kang winaca
lawan buk gelaringjurit
dinadekken sajilid
kang winaca siyang dalu
boten den ungelena
angung den iling-ilingi
beten bosen sawengi sadina-dina.</poem>
|<poem>Kunthara lan Jugulmudha
tuwin kangNagara krami
boten kenging kaledhona
miwah caritaning topsir
sagung carita sami
ing ngebukan neng tyasipun
telatene kaliwat
yen wonten panepen nenggih
Rebo Kemis Ngahad Senen lan Jumungah.</poem>}}<noinclude>{{rh|||419}}</noinclude>
pft3fo7tbi8m2hpc6xln08e6pavzw3i
Kaca:Babad Prayud I.pdf/422
250
24391
77651
76958
2026-05-15T18:40:51Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77651
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=27
|<poem>Tanpa rewang tanpa karya
mung kang den iling-ilingi
pan amung inggih punika
susuker karyaning bumi
lan salat angimani
sagung para garwanipun
neng panepen damelnya
datan wonten malih-malih
Sri Narendra gumejeng dennya ngandika.</poem>
|<poem>Puniku kangmas wong tuwa
tan kadi dhewek puniki
wong anom padha kumethak
Ki Pangulu den timbali
prapta ngarsa nrepati
lan rekyana patih wau
Dipati Mangkupraja
ngirid sakawan bupati
Wiradigda Rungbinang Sosradiningrat.</poem>
|<poem>Ki Pangulu ingandikan
sinungan wruh seratneki
duk lampahe Petor Besar
sultan sul-angsulireki
Ki Pangulu miyarsi
alon denira umatur
yen menggah ngukum molah
sayektos makaten ugi
nanging sarat ikradlipun kawruhana.</poem>
|<poem>Boten kenging lalawora
miwah boten kenging wakil
sayekti kang darbe awak
Ratu Bendara pribadi
kang sami angukumi
miyarsa awuwusipun
wau Sang Nata gempal</poem>}}<noinclude>{{rh|420}}</noinclude>
hvm1ji43hx9yehxlju2cb433m1rwt9h
Kaca:Babad Prayud I.pdf/423
250
24392
77652
76959
2026-05-15T18:41:12Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77652
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::miyarsa aturireki
::lan bebaten sang nata graitanira.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem>Angejepi Arungbinang
wus nyelak pangandika Ji
heh kapriye Arungbinang
anipis prakara iki
yen kena den ukumi
cara jaba paraniku
dadine tanpa karya
Rungbinang matur wotsari
inggih wonten sikune rama paduka.</poem>
|<poem>Ageng menggahing nagara
miwah janjining kumpeni
lerese rama paduka
lamun nedyaa sayekti
aparinga udani
inggih saweg badhenipun
lumuhe ingkang putra
payo padha pinrih becik
anak prabu mring arine pitutura.</poem>
|<poem>Padha teluk tyas kang akas
makaten lamun sayekti
aran sami kawajiban
rehning Paduka Nrepati
Sang Nata pulih malih
tyase ingkang gempal wau
nipise aprakara
wit ta saking laki-rabi
myarsa ture Ki Tumengung Arungbinang.</poem>
|<poem>Deler noleh Arungbinang
Rungbinang alon nauri
makaten puniku Tuwan
Jeng Sultan durjana batin</poem>}}<noinclude>{{rh|||421}}</noinclude>
9rmzqd8cgjnsg4x9kqpcl777oil8991
Kaca:Babad Prayud I.pdf/424
250
24393
77653
76961
2026-05-15T18:41:34Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77653
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::anerus maring lahir
::ambalithuk anyunyubluk
::sampun cacading praja
::miwah janjining kumpeni
::tulus among ing lahir batin kawona.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem>Ruruwede Tanah Jawa
piyambake anangguping
mila teka mangke tuwan
akarya ruwed pribadi
Ratu Bendara menggih
sedaa piyambakipun
Jeng Sunan kawajiban
naekken bolenya kawin
mila teka putra mungkir tan rinembag.</poem>
|<poem>Upama tan rinembaga
ing ngriki ibune maksih
raden Ayu Wiradigda
punika sepuh pribadi
yen rinembaga nguni
yekti lumampaha angelus
Sang Nata angandika
ingsun dhewe ya lumaris
asor apa wong amrih tulus beciknya.</poem>
|<poem>Penggawe malah utama
jer ingsun kang den ngengeri
kakangmas dipati iya
ingsun ingkang angingoni
tuwan dika menangi
saben titinjo mariku
pan kula kang kawogan
kang ngiring rumekseng margi
rong wedana miwah ta joline kula.</poem>
|<poem>Pratandha yen nedya nakal</poem>}}<noinclude>{{rh|422}}</noinclude>
sa3b7uiz93medmv1okgczp0lc832x1i
Kaca:Babad Prayud I.pdf/425
250
24394
77654
76962
2026-05-15T18:41:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77654
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::duk dhimas dipati mriki
::mekas nimbali kang putra
::Ratu Bendara wineling
::puniku pratandheki
::angakali tegesipun
::bupati kula samya
::anglurug maring Kadhiri
::dadya kula boten angutus wedana.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Lah puniku tetep nakal
luwih priksaning kumpeni
pamomonge amikarya
wong becik arep den dingkik
wong wekel den akali
wong cubluk rep kinalethuk
dadi kula tan bisa
pesaja amejanani
sigra Deler angling maring Arungbinang.</poem>
|<poem>Jadi ini dua pangkat
salahnya sama rejeki
bisnya bicara prampuwan
kamudiyan ada lagi
lan kumpeni wus janji
among mring kang putra tuhu
ruweding Tanah Jawa
kang putra nora den iri
mung dheweke ambebas anyirnakena.</poem>
|<poem>Ing mengko teka akarnya
ing ruruwedan pirbadi
lah dika Tuwan Pangeran
den ereh sampun prihatin
den ayem den aririh
pasthi kumpeni tutulung
miwah rayi andika
yekti ngawaki nulungi</poem>}}<noinclude>{{rh|||423}}</noinclude>
08facwzht37wgrproul67v76cn16e1a
Kaca:Babad Prayud I.pdf/426
250
24395
77655
76963
2026-05-15T18:42:24Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77655
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angulihna ing sagunge kasusahan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42
|<poem>Dipati Mangkunagara
heh tuwan kula puniki
ulam kang munggeng rampadan
nuta karsaning kumpeni
barang karsane dadi
tuwin inggih sang Aprabu
Beman anambung sabda
Tuwan Pangran lebih baik
kalu tahan dapet untung di balakang.</poem>
|<poem>Dangu ngiras panginumnya
mariyem awanti-wanti
tan anatara bubarira
Idiler wus prapteng loji
nulya pendhake enjing
Sri narendra tedhakipun
mring loji lan kang raka
Dipati Mangkunagari
pra santana kerig miwah pra dipatya.</poem>
|<poem>Uprup amethuk mring pura
tedhakira Sri Bupati
Deler gugpuh methuk jaba
urmat drel bala kumpeni
mariyem ambarungi
susun amarwata guntur
kadya reh gara-gara
tedhakira Sri Bupati
saking rata Deler sigra tabe nyandhak.</poem>
|<poem>Sang Nata kakanthen asta
wus tata munggeng ing kursi
Dipati Mangkunagara
praptane wus den Urmati
sigra Deler anganthi</poem>}}<noinclude>{{rh|424}}</noinclude>
ptogg7fys1dd5jjkqylvi8i7praz7ft
Kaca:Babad Prayud I.pdf/427
250
24396
77656
76964
2026-05-15T18:42:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77656
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Sang Nata minggah mindhuwur
::Uprup anganthi sigra
::Pangran Mangkunagareki
::sami minggah wus tata apalenggahan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=46
|<poem>Sawusnya sami atata
sakawan munggeng ing kursi
Deler Ubresting turira
punika Sri Narapati
raka paduka mangkin
sumpaha sariranipun
kula nimbangi sumpah
yen ndyaa nayidrani
lamun toben temen-temena angangkat.</poem>
|<poem>Inggih bicara punika
yen malesedna upami
ing prakara badhe menang
keniya den mananisi
miwah den rurubani
kang menang dadya soripun
bendune Gusti Allah
nampeka ing awak mami
asor unggul yen karsanira Hyang Suksma.</poem>
|<poem>Tegese ukuming kitab
kumpeni tan bisa kardi
angalahna amenangna
yen wus karsaning Hyang Luwih
kukum wus den ebuki
dening pandhita gung-agung
yen angowah-owahana
punika kula sumpahi
ing agama saking muhmin Nabi Tuwan.</poem>
|<poem>Pangeran Mangkunagara
inggih Tuwan kula janji
kaseksena Sri Nalendra.</poem>}}<noinclude>{{rh|||425}}</noinclude>
awe0mh59u90az5i7lq9tnjqe0owev29
Kaca:Babad Prayud I.pdf/428
250
24397
77658
76965
2026-05-15T18:43:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77658
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::lambe mandi kasekseni
::yen marengkanga marni
::kumpeni ing adilipun
::duduka Tuwan Allah
::nampek kenging awak marni
::wus mangkana pratandha acekel asta.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=50
|<poem>Nunten kapat sareng tedhak
sak praptanira ing jawi
lajeng denira drawina
gumutur mriy em ngurmati
teledhekan Sang Aji
suka-sukanira nutug
malah dalu bubaran
satengah rolas Sang Aji
kundurira bubar santana pungawa.</poem>
|<poem> Nunten ing maleme Ahad
Ideler lan pra upesir
marang daleme Pangeran
Dipati Mangkunagari
miwah reky ana patih
ingirid sak kancanipun
pra dipati santana
kinerig kasukan sami
lawan Deler neng dalem Mangkunegaran.</poem>
|<poem>Ping selawe wulan Sapar
edrele prajurit estri
Ideler udhik-udhikan
keton mring dragunder estri
rame rebutan sami
telas keton kalihatus
kang mulat sami suka
wusnya sami den taknon
apratandha utung Nange manungsa.</poem>}}<noinclude>{{rh|426}}</noinclude>
6pp3xwidmr5p93q5ngiooshuylzyc3k
Kaca:Babad Prayud I.pdf/429
250
24398
77661
76966
2026-05-15T18:47:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77661
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53
|<poem>Yen dudu padha manungsa
pasthi saking ing Hyang Widi
padha bareng parebutan
ana akeh ana kedhik
wonten tiyang kekalih
mung rong keton angsalipun
pangrefbute rekasa
teka nora mundhak malih
ingkang ngukur-ukur ing pangrebutira.</poem>
|<poem>Tiga antuk nyelawe prah
tur enggone aneng wuri
dene ingkang kaprah angsal
amapat aniga sami
wonten malih kekalih
antuke sami nyepuluh
Adipati Semarang
matur ing rekyana patih
Iah puniku kang Dipati Mangkupraja.</poem>
|<poem>Beja lara ing manungsa
pan boten kenging kinardi
sami-samine manungsa
Tuwan Allah punya bagi
gumer kang pra dipati
Ideler suka kelangkung
santana pra dipatya
abeksal agenti-genti
myang upesir kabeh abeksa sarkara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||427}}</noinclude>
pihbvhttyzep56gb0l4l0f0r8e5v7jl
Kaca:Babad Prayud I.pdf/430
250
24399
77662
76967
2026-05-15T18:48:23Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77662
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XII.DHANDHANGGULA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Nutug suka-parisuka sami
Deler wonten Kamangkunegaran
ing pukul rolas bubare
enjinge Sang Aprabu
Senen Legi mijil tinangkil
kalangen kurmatira
marang Deler Ubrus
ngaben sima lan maesa
wanti-wanti sukane Deler Ubresting
mangkana wus bubaran.</poem>
|<poem>Amarengi ing Selasa Paing
Deler pamit mantuk mring Semarang
ing pitulikur Sapar
pan amung pitung dalu
aneng Surakarta negad
kuneng sakungkurira
wau Deler Ubrus
kang aprang abelarutan
wong Ngayogja asring bantoni bupati
nanging lakune sama.</poem>
|<poem> Agung ngipuk wong desa Patigi
Kedhu naksanake Kyai patya
Singawangsa aredanane
ingipuk wus kiliaya
maring Yogja pangidhepneki
lan bumi kádipatyan
ing menure satus
bekel Ki Suramenggala
sampun keni lan bekel priyayi mantri
gedhong Ki Sutajaya.</poem>
|<poem>Kena ingipuk mring wong Matawis
saben ana wong mecal ing desa</poem>}}<noinclude>{{rh|428}}</noinclude>
8q5af1fwpe2b1lay9w3gh6w5b7rmc0w
Kaca:Babad Prayud I.pdf/431
250
24400
77663
76969
2026-05-15T18:48:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77663
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kang tetela prakosane
::ingipuk ngupuk-upuk
::linopan ing busana keni
::kerut sakkilen Praga
::dene wong tetelu
::wetan Praga kerut samya
::singawangsa kadhang nak-sanakneki
::Dipati Mangkupraja.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Pan adhimer prapangereki
nulya gunem kang pra dipati ya
Dipati Mangkuprajane
ngirid ceanthel atur
tinimbalan sedaya prapti
ing ngarsa Sri Narendra
kya patih wot santun
pukulun rama paduka
anemeni bantu prang ing rare alit
bupati nanging namar</poem>
|<poem>Iya dimen saking galak wingi
kang abecik iya ngarenana
jaga bebantun wong kene
si Jayangeareku
lan si Puspadiningrat kalih
ngupaya angipuka
wong desa kang punjul
kang baawa kang prawira
ing Pagelen wus ana.kang sira tuding
Mangkupraja tur sembah.</poem>
|<poem>Gih pun Jayasudirja kang ngabdi
papocotan saking ing Ngayogja
pun Rungbinang pulunane
dene inggih pun Kedhu
dereng wonten ingkang katuding
mila pun Singawangsa</poem>}}<noinclude>{{rh|||429}}</noinclude>
ji3qi5woaz0nef4fivlc0p4zvp8rxa3
Kaca:Babad Prayud I.pdf/432
250
24401
77664
76970
2026-05-15T18:49:28Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77664
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::andadra angradun
::pukulun eloking kathah
::abdi delem ing Kedhu kilen Paragi
::wonten pened satunggal.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=8
|<poem>Dipun bidhung mengsah kanan-kering
boten ebah saking ing pemahan
ngatos wangsite lurahe
ing ngriki lurahipun
abdi dalem gadhek kakalih
dhusunipun satunggal
kalih lurahipun
kang kiwa pun Inbatruna
ingkang tengen pun Cakramenggala sami
kalih sami apaba.</poem>
|<poem>Kang den antos pundi kang sayekti
lurahe sami ingambil anak
dereng wonten panjawile
mungsuh tan purun gepuk
inggih sanget dennya pakering
dene.wong saking Pajang
dene bedbonipun
dalem pun Surawijaya
Arungbinang anjawil saking ing wuri
ki lurah dipun enggal.</poem>
|<poem>Menek selakkena wong Matawis
Mangkupraja angling pasthi baya
wegah mungsuh keh wawrake
nganika Sang Aprabu
lamun ana wong kang abecik
pantes dadi dandanan
den agea mulut
sandika Ki Adipatya
wonten lurah kaparak jaba anjawil
mring Ki Jayanagara</poem>}}<noinclude>{{rh|430}}</noinclude>
4tf5dnam4jroisxbceo7t85qaq1e3xp
Kaca:Babad Prayud I.pdf/278
250
24402
77787
76971
2026-05-15T19:45:38Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77787
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXV. ASMARADANA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Ping sawelas amarengi
let sadalu pan ningkahnya
Dimadilakir tahun Be
Naga Liman Obahing Rat
prapta duteng Ngayogya
lan nyarengi praptanipun
patih kakalih lampahnya.</poem>
|<poem>Saking nagari Batawi
sami kendel neng Semarang
wau sultan carakane
kang dhateng ing Surakarta
paring sumbanging wayah
pun suratani tumenggung
wedanane gedhong kiwa.</poem>
|<poem>Samantri kaliwoneki
kakalih kaliwon jaba
langkung kathah babektarie
uwos kalawan maesa
sarem lisah kalapa
miwah reyal kawanatus
tigang pangadeg busana.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Suratani
angantos sapekenira
Tirtawiguna pondhoke
ing Septu Wage sapasar
panganten ingandikan
ing jro pura badhe nayub
sareng sadinten praptanya.</poem>
|<poem>Kang saking nagri Batawi
Adipati Mangkupraja
Tumenggung Arungbinange
</poem>}}<noinclude>{{rh|276}}</noinclude>
nbirib1f70i7h4fjcii0i9fsghh1g3k
77788
77787
2026-05-15T19:46:12Z
Khusna Safira
1759
77788
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XXV.{{gap}}ASMARADANA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Ping sawelas amarengi
let sadalu pan ningkahnya
Dimadilakir tahun Be
Naga Liman Obahing Rat
prapta duteng Ngayogya
lan nyarengi praptanipun
patih kakalih lampahnya.</poem>
|<poem>Saking nagari Batawi
sami kendel neng Semarang
wau sultan carakane
kang dhateng ing Surakarta
paring sumbanging wayah
pun suratani tumenggung
wedanane gedhong kiwa.</poem>
|<poem>Samantri kaliwoneki
kakalih kaliwon jaba
langkung kathah babektarie
uwos kalawan maesa
sarem lisah kalapa
miwah reyal kawanatus
tigang pangadeg busana.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Suratani
angantos sapekenira
Tirtawiguna pondhoke
ing Septu Wage sapasar
panganten ingandikan
ing jro pura badhe nayub
sareng sadinten praptanya.</poem>
|<poem>Kang saking nagri Batawi
Adipati Mangkupraja
Tumenggung Arungbinange
</poem>}}<noinclude>{{rh|276}}</noinclude>
aj9uth668opukh6l52obag0lnouaj22
Kaca:Babad Prayud I.pdf/433
250
24403
77665
76973
2026-05-15T18:49:59Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77665
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Medal sakedhap neng regol panggih
lan duta matur kang aprang tiwas
rayi dika keh tatune
prang aneng lurangkadhut
atutulung marang wong Pengging
binedhung ing ayuda
rayi dika ngainuk
Ngabehi Jayawikrama
tinungkeban babantu kang saking wingking
pra dipati kang namar.</poem>
|<poem>Martalaya lan Ranadimurti
Wiraguna Suratani lawan
anamur sa prajurite
sami rasukan gandhul
abdi dalem Nirbaya siji
pan nigang jung kang pejah
prang sawetanipun
ing Juranglebet rame prang
tiyang Lungge Nirbaya kang den tulungi
kang ngreh arahanira.</poem>
|<poem>Jayanagara cangkelak bali
mring ngajengan suka marab-marab
kadi sinecang jajane
Mangkupraja amuwus
wonten paran anak ing jawi
matur Jayanagara
tiwas lampahipun
Ki Lurah Wayang geculan
tuhu lamun kang pra dipati ngawaki
nanging sami anamar.</poem>
|<poem>Rasukane sami gandhul putih
pan pun Giling inggih katiwasan
kabranan kathah tatune
wong Pengging kinarubut</poem>}}<noinclude>{{rh|||431}}</noinclude>
jihrvyx5s0df0e4pxeuwnyimznmaeku
Kaca:Babad Prayud I.pdf/434
250
24404
77667
76974
2026-05-15T18:50:28Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77667
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yudanipun kang den tulungi
::tan wruh kang saking wuntat
::nenggih pra tumenggung
::anungkebi mila tiwas
::asarengan kang kidul rame ajurit
::baris Gumul ginecak.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Pun Bratanagara kang anggitik
kathah pejah mengsah karusakan
angilen ing palayune
nedya anjog ing Pusur
tiyang desa sami nitiri.
metiggok anjog ing Opak
ing ngriku kapetliuk
wong Pengging Lungge kalawan
wong ing Lumbu kang aprang arame malih
Tumenggung Sutanaya.</poem>
|<poem>Prange riwut wonge akeh mati
nulya gecet ngidul meh kacandhak
nunten babantu dhatenge
ingkang para tumenggung
Sutanaya umangsah malih
langkung rame prang Opak
mengsah pejahipun
langkung saking pitungdasa
tiyang ngriki seket kalih kang ngemasi
epur surup prangira.</poem>
|<poem>Srinarendra angandika ris
Mangkupraja si Jayanagara
miwah Puspadiningrate
aaj nganggo anamur
lalakone iya ing benjing
lawan niandanagara
si Bratawiryeku
sakancane den keriga</poem>}}<noinclude>{{rh|432}}</noinclude>
hioacrj8tg26bri8mppxrc4kyhojnd9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/435
250
24405
77668
76976
2026-05-15T18:50:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77668
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::tetindhihe Si Suradiija sun tuding
::lakune manukana.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem>Aja parek iya aja tebih
kira-kira si Jayanagara
menek kasoran yudane
den enggal atutulung
Suradiija patrol nindhihi
apa na kang jaranan
karo belahewu
tur sembah rekyana patya
malah langkung wus sami tinudhung mijil
Siyaga ing ngayuda.</poem>
|<poem>Prapteng jawi kya patih mamatih
matah-matah kang amagut ing prang
miwah Juru tampingane
nenggih kang Tanah Kedhu
mantri gedhong mundhut satunggil
miwah mantri kaparak
satunggil panurun
kang pinji Jayawirya
bawah gedhong kathah kang kilen Paragi
kang kinen angipuka.</poem>
|<poem>Bekel desa kang abecik-becik
lawan nimbali Surawijaya
ing Dilem badhe ginawe
kabeh kilen Prageku
anguyuni nyenapateni
Dipati Mangkupraja
rong lurah tinudhuh
Ki Tumenggung Mangkuyuda
amedalken nenggih panewu kakalih
Ngabehi Natayuda.</poem>
|<poem> Lan Ngabehi Mangkudipureki</poem>}}<noinclude>{{rh|||433}}</noinclude>
bece0aykb14v0b0g8dkwhfykwvarpkw
Kaca:Babad Prayud I.pdf/279
250
24406
77789
76977
2026-05-15T19:46:57Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77789
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Tumenggung Puspadiningrat
:::miwah Yudanagara
:::ing Surakarta anuju
:::kerig wadya saknagara.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>
Jawi lebet kang prajurit
wus saglar samaktanira
ingkang amethuk panganten
baris ingkang pra wedana
saking Mangkunagaran
wong jro sewu kalihatus
neng alun-alun wus aglar.</poem>
|<poem>Edrele samargi-margi
neng loji sareng praptanya
Mangkupraja lan panganten
angiras lajeng lebetnya
praptanireng jro pura
dreling panganten rumuhun
mariyemira sauran.</poem>
|<poem>Nulya srat saking Batawi
babektane Mangkupraja
pinundhut lajeng winaos
sawusnya drei sanagara
dennya bareng barungan
kang satengah ana mutus
iki jendral luwih begja.</poem>
|<poem>Prapta surate marengi
lawan panganten miwaha
dadya luwih ing urmate
cinicila pitung jendral
meksih ageng punika
untunge Petrus Albertus
mangkana lajeng kasukan.</poem>
|<poem>Gumeruh kang para opsir</poem>}}<noinclude>{{rh|||277}}</noinclude>
5veigicx9943sl6h94ae8usf7a6pznl
Kaca:Babad Prayud I.pdf/436
250
24407
77669
76978
2026-05-15T18:51:31Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77669
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::surat sinungan angreh arahan
::wus mesat Jayawiryane
::kapethuk margi wau
::lebetira kang den timbali
::laju Ki Jayawirya
::Natayuda wangsul
::angirid Surawijaya
::mring nagari Dipati Mangkuprajeki
::panggih lajeng pinacak.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=22
|<poem>Nadhahana yen ana wong ngambil
karamanan ngarayudi desa
Kudhung pakona ratune
yen pratosa prangipun
ya ipuken manawa keni
yen apes tinggalana
perungana iku
serat papacaking raja
kabatinan Surawijaya wus tampi
lajeng ing angkatira.</poem>
|<poem>Prapteng Kedhu lajeng pacak baris
keiin Praga kumpul burni Sala
anglajeri pikukube
nulya wonten babantu
mantri jero ingkang nindhihi
wong Saragéni Nirbaya
Jayabayanipun
pan sami mindha wong desa
kawanatus turanggane becik-becik
tatarungane beda.</poem>
|<poem>Nulya Tumenggung Mangkuyudeki
dhateng Secang sandilampahira
menedi pasanggrahane
ing batin ababntu
anjejeki kang pacak baris</poem>}}<noinclude>{{rh|434}}</noinclude>
l5akiywdc84vle73jcfsaw5m8d05z2g
Kaca:Babad Prayud I.pdf/392
250
24408
77755
76979
2026-05-15T19:31:28Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77755
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Sang Nata saru ngandika
::ya yen mengkorço Beman
::sun dhewa ngawaki ngrebut
::singa tiwas agempuran.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Pangran Mangkunagareki
wau kalane miyarsa
Uprup Baiman ature
pangadikane Sang Nata
arsa angawakana
rinebut ing prang mangamuk
singa kang tiwas gempuran.</poem>
|<poem>Sekala waspanya mijil
dangu-dangu latah-latah
sarya lon pangadikane
Sang Nata iku kelingan
duk ingsun aneng alas
serate maring ingsun ngipuk
sasambate angrerepa.</poem>
|<poem>Kangmas kula madeg aji
lola inggih tanpa kadang
kakangmas sampeyan emong
mangke langkung cela-ina
kangmas karaton kula
punapa kangmas tan emut
duk tinilar ngibu-rama.</poem>
|<poem>Kakangmas pinendhet nguni
ing ibu Ratu Kancana
tinuwukan sakarsane
kangmas kapengin garnelan
tinumbasaken sigra
kangmas tan nedya puniku
amalesa dadah-dulang.</poem>}}<noinclude>{{rh|390}}</noinclude>
j1mo0xm962hvac22uuq3b49pnj2be9q
Kaca:Babad Prayud I.pdf/393
250
24409
78081
76980
2026-05-16T03:21:53Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78081
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem> Iku Uprup Sri Bupati
ing mangko baya karasa
ingsun iki danna bae
lamun magiya niaya
pasthi yen Sri Narendra
kang den mejanani iku
pan sayekti dudu ingwang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Uprup alon anahuri
gih tuwan wau Sang Nata
langkunga sanget gusare
ngandika sarwi baranang
pasuryan dadi erah
parentah mring pra tumenggung
siyaga kapraboning prang.</poem>
|<poem>Rereh-sareh tyasireki
Dipati Mangkunagara
sokur-renaing batine
kumambang karsaning titah
risang Maka Minulya
manungun lir sarah kanyut
munggeng madyaning samodra.</poem>
|<poem>Uprup satelasireki
pamit lajeng mring jro pura
matur yen kang raka mangke
badane tan darbe karkat
kumpeni lan Sang Nata
amung kang den ayun-ayun
angalangna ngujurena.</poem>
|<poem>Uprup badhene tumuli
kintun ser at mring Semarang
nanging duk sepi Delere
maring Sampang Surabaya
Peter Besar kewala</poem>}}<noinclude>{{rh|391}}</noinclude>
49dlk7mofsv3vw44tx2y6bundsz3h0q
Kaca:Babad Prayud I.pdf/280
250
24410
77792
76981
2026-05-15T19:47:44Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77792
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::atata aneng pandhapa
:::pra santana punggawandher
:::Sang Nata dhawuh parentah
:::mantu pinaring nama
:::nenggih Pangran Arya Prabu
:::Wijaya umum mupakat.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>
Putrestri Jeng Ratu Alit
lawan kang garwa Sang Nata
nenggih Raden Ayu Kilen
sampuning nginggahken nama
Ratu Kilen punika
antaranipun sataun
anama Ratu Kencana.</poem>
|<poem>Awit pukul kalih enjing
pukul kalih dalu bubar
akeh bupati ginotong
miwah kang para santana
saking nutug sukanya
antuke sami tinandhu
langkung suka-parisuka.</poem>
|<poem>Neng jro pura tigang latri
kang putra sinungan prenah
Mangkuningratan daleme
pan inggih Kaendranatan
badhene dalemira
rinakit babektanipun
Jinenengan mring kang rama.</poem>
|<poem>Bresiyan ponjenireki
Sang Nata milu anata
kayungyun langkung glengihe
duk alarne ibunira
Ratu Kencana kendhang
putra tan kena dinulu
agung manggih siya-siya.</poem>}}<noinclude>{{rh|278}}</noinclude>
sk0zjal8e13sgmno7nl08iqthf8g18a
Kaca:Babad Prayud I.pdf/363
250
24411
77716
76982
2026-05-15T19:13:59Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77716
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::inggih kangmas sami sae
::nulya prapta kang methuk
::talam emas lan payung kuning
::munggeng ngalun-alun
::anulya sami umangkat
::mring kadhaton serat ingkang munggeng ngarsi
::atata lampahira.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem> Oreg wau wadya sanagari
jalu estri gebagan rataban
kang arsa wruh suarnane
pan inggih badhe mantu
kampuh parang rusak lit-alit
cindhe jo kanigara
pan calanipun
apaningset putih pita
dhuwungipun sarungan kamalo abrit
arespati jetmika.</poem>
|<poem>Sapraptane wau jroning puri
ingandikan munggah ing pandhapa
akekejek pandhadhape
ngaras padamanarkung
cinandhak astanireki
adhi mas wis linggiya
kang rayi wotsantun
apacak susun pranata
rikat luwes kadya sikatan tinaji
anglir anapeng bangsa.</poem>
|<poem>Uprup ngaturaken serat aglis
wus tinampan lajeng tinupiksa
gumuntur ingkang munya drel
mariyem susun-susun
sarta barung gamelan muni
salendro jroning pura</poem>}}<noinclude>{{rh|||361}}</noinclude>
pxo3g8fimn0vsuyaxjwfwvlj2lsivu9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/281
250
24412
77793
76983
2026-05-15T19:48:10Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77793
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Nora gatra lamun putrì
kadya anake wong jaba
mangkya kendhange ibune
agatra putrining raja
duk anata gagawan
apan sarwi apitutur
pratingkah bektining priya.</poem>
|<poem>Iya babo suta marni
aja durrreh laki kadang
yen ta luput pratikele
duraka yen angandelna
dumeh sutaning raja
aja akeh sira tiru
bibekmu Ratu Bandara.</poem>
|<poem> Wus antuk lepiyan becik
wulange eyangmu sultan
kang wus majas pikukuhe
lawan iki putraningwang
iya reyal gagawan
rupa anggris patangatus
gawane eyangmu sultan.</poem>
|<poem> Simpenana den abecik
aja kalong-kalong poma
iya den meksih sipate
kurang sandhang panganira
enggal tutura mring wang
aja kongsi ngelong iku
gagawane eyangngira.</poem>
|<poem>Bojomu aja kowruhi
manawa wani gagampang
wantu anak ing bobotoh
bok nek wani agagampang
upama lir wong utang
sok muliya cacahipun</poem>}}<noinclude>{{rh|||279}}</noinclude>
3ok9gtpiwnvshdev9inkiv2afgu72d9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/282
250
24413
77795
76984
2026-05-15T19:48:24Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77795
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::reyal kang saking Ngayogya
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Iku mengkonoa ugi
yen salerepeting reyal
pasthi ilang manpangate
reyal kang saking Ngayogya
ana tutur maringwang
duk kalane angkatipun
maksih ana jroning pura.</poem>
|<poem> Kang medhahi Kanthong nguni
angris patungatus ika
pan iya eyangmu dhewe
sarwi anenggak kang waspa
akeh-akeh kerasa
yen ajaa besaningsun
Satrune eyangmu sultan.</poem>
|<poem>Pasthi sewu den gawani
reyal wiwinih pusaka
iya iku kapalange
prandene wus bejanira
dene iku kang reyal
iya kambon astanipun
dhewe eyangira sultan.</poem>
|<poem> Mulane den ngati-ati
reyal iki aja ewah
aja asalin sip'ate
Sawusnya akathah-kathah
pituture kang rama
kang putra wus kinen metu
ginarebeg wong jro pura.</poem>
|<poem>Kang raka neng Srimenganti
kalawan kang pra dipatya
kang badhe andharekake
rabine kang pra wedana</poem>}}<noinclude>{{rh|280}}</noinclude>
dnu5kb0bkyf64cq7p9nxuaep2688az6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/283
250
24414
77796
76985
2026-05-15T19:48:41Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77796
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::dherek saking jro pura
::mampir ngloji lampahipun
::apan maksih mawi hurmat.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Ping sanga mariyem muni
edrel ing tigang rambahan
nulya lajeng ing lampahe
wadya jro mung patang lurah
kalihatus sadaya
mangkana sapraptanipun
dalem Kumangkunagaran.</poem>
|<poem>Kasukan ing saben ari
totopengan babedhayan
saben dalu ing ringgite
karucil gedhog lan purwa
kendel-kendel Jumuwah
wus carem pangantenipun
gantya malih wunurcita.</poem>
|<poem>Sapraptane ning Batawi
Adipati Mangkupraja
anyalini picis mangke
lan uwang ingkang binirat
marmanipun binirat
wong Jawa won tingkahipun
uwang samya ginuntingan.</poem>
|<poem>Uwang ageng kongsi alit
pipinggire ginuntingan
pan kongsi telas bejine
kari sadumuk kewala
Sang Nata langkung duka
dene sanget nisthanipun
kang konangan tinatrapan.</poem>
|<poem>Keh kacekel den pipiéis
milane binirat pisan</poem>}}<noinclude>{{rh|||281}}</noinclude>
04mge771t1y4x21fxuyaas6pqfxhbwe
Kaca:Babad Prayud I.pdf/284
250
24415
77798
76986
2026-05-15T19:48:56Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77798
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kalawan picis timahe
::wus ingundhangken sadaya
::ing mangke karsa nata
::sinalinan dhuwit sampun
::mupakat satanah Jawa.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Suwange sapuluh dhuwit
parentah sampun warata
miwah wong desa sakehe
tuwin wong mancanagara
kuneng malih winarna
wonten gempalaning catur
dadya bekaning srinata.</poem>}}<noinclude>{{rh|282}}</noinclude>
q9smzw79969brt9qluxfblhupba8nzb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/285
250
24416
77799
76987
2026-05-15T19:49:17Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77799
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVI.{{gap}}SINOM'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Wong Daridra ngulandara
aneng ing Toyamas lami
durjana asring bebegal
aningar asaba bengi
tiwas dennya mamaling
binerang pilinganipun
rong nyari ageng timpal
sawarase kesah aglis
saking Tanah Toyamas mring Tanah Batang.
|<poem>Manjing nyambat Kyai Tinap
Ki Secayuda nameki
kalangkung saregepira
adhedhangir rina wengi
kandel ing lami-lami
saking ing saregepipun
resep Kiyai Tinap
pinarnah ambubak bumi
adhudhukuh aneng ing dherekan wiyar.</poem>
|<poem>Angubalken padhukunan
ampuh sabarang sasakit
kedhep ing ijpandhukunira
mangkana ing lami-lami
sujud wong kanan-kering
aluwes manis ing tembung
kathah ngetutken wisma
dene den andel den sihi
Secayuda kowakmring kiyai Tinap.</poem>
|<poem>Sagung kang aminta sawab
kathah mring Secayudeki
penyanane dadi badal
Kyai Tinap wus sesilih
andadra ngiladuni</poem>}}<noinclude>{{rh|||283}}</noinclude>
osrhaexgoehu7zidhd20uxk7z76rqpv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/286
250
24417
77801
76988
2026-05-15T19:49:32Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77801
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::amethok suratul nujum
::saking kathah kang prapta
::akeh pedhotan priyayi
::asuwita batin maring Secayuda.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Atusan kang tumut wisma
wus kathah muride sami
pasisir mancanagara
lan akeh ngatokken sami
panepene kiyai
sinaba gajah puniku
lan ana payung bawat
gendhaga lan payung kuning
Sacayuda berbudi bawa kaskaya.</poem>
|<poem>Limunane tinajina
Cina Batang den malingi
anggawa sabate papat
kabotan dennya mamaling
akarya busanadi
wus kalethek manahipun
miwah kapraboning prang
wus akathah tumbak bedhil
ingkang sami suwita sangsaya kathah.</poem>
|<poem> Wulan Rejeb tanggal pisan
umadeg srinarapati
Panembahan Raja Ngarab
Ki Maulana Mahribi
kedhep wong kanan-kering
kang dadya papatihipun
poncotan mantri lama
Tempuran Saraditeki
wus anama Adipati Mangkupraja.</poem>
|<poem>Tedhakira Mangkuyuda
Brajayuda ing Teraji
wus anama Mangkuyuda</poem>}}<noinclude>{{rh|284}}</noinclude>
my67n6qnukqn0juqzkf9kmhlhi6vlic
Kaca:Babad Prayud I.pdf/287
250
24418
77802
76990
2026-05-15T19:49:48Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77802
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Tumenggung Wanasabumi
::lan kangdangira malih
::Bumija Tumenggungipun
::Tumenggung Natayuda
::tedhak Wangsacitra lami
::kang kinathik akathah santananira.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Panembahan Raja Ngarab
Maulana Mahiribi
lawanta wus paparentah
nelukken padesan sami
umadeg pacak baris
sore natab kalaganjur
sampun karya bandera
pareanom kang sasup it
kang sasupit adhapur gula kelapa.</poem>
|<poem>Dene pra dipatinira
bandera sasukaneki
sujud Kedhu jaban rangkah
wus aglar jajahan malih
suyud wong urut petir
wus angetan cahakipun
Parakan sapangetan
wus suyud sawetan Pragi
wonten tigang ewu cacahing gagasan.</poem>
|<poem>Kuneng sira Raja Ngarab
Maulana Maheribi
kang wus sadi barisannya
wonten kang winuwus malih
Pangeran Singasari
saking ing Malang tumurun
sewu prajuritira
anggecok mancanagari
ing Sarengat Japan Wirasaba bedhah.</poem>
|<poem>Wong Kalangbret ing wong Rawa</poem>}}<noinclude>{{rh|||285}}</noinclude>
jeuxkekhee63ondkrryquigal9nizb1
Kaca:Babad Prayud I.pdf/288
250
24419
77804
76991
2026-05-15T19:50:06Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77804
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Blekpace kumpul Kandhiri
::Ki Tumenggung Katawengan
::siyaga badhe nadhahi
::kumpul ingkang prajurit
::kakapalan gangsal atus
::kumpul Kalangbret Ngrawa
::wong Blekpace neng Kadhiri
::dadya langkung saking sewu kakapalan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=13
|<poem>Ki Tumenggung Katawengan
wus budhal saking Kadhiri
Pangran Singasari miyarsa
Katawengan badhe gitik
tengara budhal aglis
datan dangu kapethuk
aneng Kali Andaka
cucuking wong we tan aglis
Martajaya ing Porong sigra narajàng.</poem>
|<poem> Rame campuhing ngayuda
lan pacalang ing Kadhiri
Ngabehi Setrawijaya
samya nom eber ing wani
rame bedhil-binedhil
swaraning surak gumuruh
Pangeran Prabujaka
nedya ngawaki ngajurit
ginendholan mring para tumenggungira.</poem>
|<poem>Dadya mangsah punggawanya
sangkin ararne kang jurit
kuwel sami tarung kuda
wau babantu kang prapti
Madiun Pranaragi
Caruban lajeng anapung
sagung mancanagara
wong Sala wong Yogya munggil
sami amor anadhahi mungsuh we tan.</poem>}}<noinclude>{{rh|286}}</noinclude>
917cxdlwslv1b89eyns0fu5l7go711w
Kaca:Babad Prayud I.pdf/289
250
24420
77806
76993
2026-05-15T19:50:37Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77806
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Kaberek kathah kang pejah
wonge Pangran Singasari
Pangran Madiun kang mangsah
Caruban lan pranaragi
Raden mas putraneki
kang tuwa pangeran Prabu
menggih ingkang patutan
lan putune surapati
wus dewasa ngamuk lan sabalanira.</poem>
|<poem> Amung kuda pitung dasa
wong Karadenmasan ngungkih
wong Madiun kang atadhah
Belora Lerung amunggil
ingamuk akeh mati
tumenggung Balora tatu
ing ngundurken ing wadya
praptane pakuwoneki
angemasi ki Tumenggung Wilatikta.</poem>
|<poem>Raden Mas sabalanira
liwung pangamuke ngungkih
Madiun malih tinunjang
wong Caruban Pranaragi
pengkuh dennya nadhahi
dadya ruket prang ariwut
akathah ingkang pejah
mungsuh rewang waneh kanin
pangeran ing Madiun Mangkudipura.</poem>
|<poem>Kabaranan baunira
wong Kadhiri keh ngemasi
kamuk balane Raden Mas
santanane ibuneki
pangamuke angungkih
rempek sami ngamuk liwung
kadya bantheng katawan</poem>}}<noinclude>{{rh|||287}}</noinclude>
tn98bq6j1ekkj2urzxqo44v5zqgrvnp
Kaca:Babad Prayud I.pdf/290
250
24421
77807
76994
2026-05-15T19:50:59Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77807
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::akeh kang samya carub kris
::wong Lumajang para mantrine sadasa.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Ngabehi Pandhawasura
miwah Rangga Jajengpati
lan Demang Trunawigata
pangamuke ngobrak-abrik
Pangran Madiun kanin
wong Kadhiri ingkang lampus
kabeh mancanagara
karo belah kang ngemasi
sami mundur dhadhal wong mancanagara.</poem>
|<poem>Kadhiri sampun kancikan
ing Pangeran Singasari
tan ana manggawa puliya
neing Pace kendele sami
sagung mancanagari
wong Sala Ngayogya kumpul
sami ing gunemira
para man tri pra dipati
tur uninga mring Rangga Prawiraderja.</poem>
|<poem>Wong Pranaraga tur priksa
marang wadananireki
Ki Tumenggung Bratawirya
taksih wonten ing nagari
Surakarta wus prapti
caraka tengga prajeku
tulung prang marang Daha
sawadya macanagari
wus kawon prang lan Pangeran Prabujaka.</poem>
|<poem> Prang aneng Kali Andaka
lor wetan nagari Kadhiri
wong Batur kathah kang pejah
Pangeran Madiun kanin
ngungun duk amiyarsi</poem>}}<noinclude>{{rh|288}}</noinclude>
ivdeh98g8kyausjcmcsyycygxtootuz
Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/4
250
24422
77511
76995
2026-05-15T15:31:11Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77511
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{c|{{jawa|{{l|'''''꧋ꦧꦸꦧꦸꦏ꧉'''''}}}}}}
{{jawa|꧋ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦠꦮꦶꦱ꧀ꦭꦩꦶꦏꦸꦭꦤꦠꦺꦩꦶꦉꦁꦠꦶꦠꦶꦪꦁꦱꦩꦶꦏꦔꦶꦁꦭꦶꦛꦸꦏ꧀ꦥꦤ꧀ꦢꦩꦼꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦕꦸꦭꦶꦏ꧈ ꦱꦫꦤꦮꦢꦺꦮꦕꦸꦕꦭ꧀ꦭꦶꦁꦩꦲꦺꦱꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃ꧈ ꦩꦶꦤꦺꦴꦁꦏꦱꦫꦤꦤꦶꦁꦏꦢꦶꦏ꧀ꦢꦪꦤ꧀꧈ꦔꦤ꧀ꦠꦺꦴꦱ꧀ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦥꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦏꦺꦔꦶꦁꦲꦥꦸꦱ꧀ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦮꦲꦸ꧈ꦲꦶꦁꦱꦱꦶꦱꦶꦂꦱꦤꦢꦾꦤ꧀ꦲꦶꦁꦯꦸꦫꦏꦂꦠꦲꦸꦒꦶ꧉ ꦮꦼꦏꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦥꦩꦸꦫꦶꦤꦤꦶꦁꦥꦫꦺꦤ꧀ꦠꦃ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦢꦺꦱꦫꦠ꧀ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦮꦲꦸꦠꦺꦠꦺꦭꦔꦥꦸꦱ꧀ꦱꦶ꧈ ꦭꦗꦼꦁꦏꦕꦼꦥꦼꦁꦏꦥꦠꦿꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦥꦶꦢꦤ꧉}}
{{jawa|꧋ꦩꦶꦠꦸꦫꦸꦠ꧀ꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦠꦶꦪꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦫꦸꦤ꧀ꦠꦸꦩ꧀ꦧꦸꦱ꧀ꦮꦲꦸ꧈ ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦕꦼꦛꦧꦶꦭꦶꦃꦠꦶꦪꦁꦗꦮꦶꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦔꦺꦱ꧀ꦛꦶꦏꦢꦶꦒ꧀ꦗꦣꦤ꧀ꦱꦲꦥꦶꦠꦢꦺꦴꦱ꧀ꦝꦠꦼꦁꦱꦫꦤ꧈ ꦩꦶꦭꦒꦩ꧀ꦥꦶꦭ꧀ꦏꦧꦭꦶꦛꦸꦏ꧀꧈}}
{{jawa|꧋ꦣꦸꦱꦤꦱꦏꦶꦁꦏꦸꦚ꧀ꦕꦸꦫꦤꦶꦁꦥꦺꦴꦕꦥ꧀ꦥꦤ꧀ꦧꦧꦤꦶꦁꦮꦂꦕꦸꦕꦭ꧀ꦩꦲꦺꦱꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃꦮꦲꦸ꧈ ꦱꦤꦢꦾꦤ꧀ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦲꦮꦶꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦁꦤꦒꦫꦶ꧈ ꦩꦼꦏ꧀ꦱꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦔꦸꦥꦢꦺꦴꦱ꧀꧈ ꦲꦮꦶꦠ꧀ꦱꦏꦶꦁꦥꦸꦤꦶꦏꦲꦤꦸꦔꦸꦃꦲꦏꦼꦤ꧀ꦫꦶꦱ꧀ꦠꦏꦸꦭꦔꦸꦔꦶꦕꦔꦿꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦶꦤ꧈ ꦏꦢꦺꦴꦱ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦢꦶꦥꦸꦮꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦥꦶꦪꦤ꧀ꦢꦼꦭ꧀ꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦠꦸꦮꦶꦤ꧀ꦩꦫꦠꦃꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦥꦔꦠꦩ꧀ꦲꦪꦩ꧀ꦩꦶꦁꦠꦶꦪꦁꦢꦸꦩꦸꦒꦶꦗꦩꦤ꧀ꦱꦥꦸꦤꦶꦏ꧉}}
{{jawa|꧋ꦢꦸꦩꦢꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦥꦔꦺꦱ꧀ꦛꦶꦏꦸꦭꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦏꦠꦼꦤ꧀ꦮꦲꦸꦏꦱꦼꦩ꧀ꦧꦢꦤ꧀ ꦱꦒꦼꦢ꧀ꦲꦁꦱꦭ꧀ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦧꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦤ꧀ꦩꦲꦺꦱꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃꦮꦲꦸ꧈ ꦲꦱ꧀ꦭꦶꦱꦏꦶꦁꦤꦒꦫꦶꦩꦛꦶ꧈ ꦲꦩꦸꦁꦏꦸꦕꦶꦮꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦮꦲꦸ}}<noinclude></noinclude>
els4c1mki3t8dcpq7irw3szrlh3m7wq
Kaca:Babad Prayud I.pdf/291
250
24424
77809
76997
2026-05-15T19:51:16Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77809
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Tumenggung Bratawiryeku
::lajeng atur uninga
::marang rekyana apatih
::Mangkupraja wus lajeng katur Sang Nata.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Dutane Prawiradeija
kang marang Ngayogja prapti
tur tupiksa kawonira
kang abdi mancanagari
Pangran Madiun kanin
prajurite kathah lampus
tuw.in mancanagara
kang tumuta lawan sami
karisakan prajurite kathah pejah.</poem>
|<poem>Kanjeng Sultan paparentah
kang badhe bantu ngajurit
Ki Tumenggung Garwakandha
Tumenggung Martalayeki
lan binektan prajurit
satus limalas Katanggung
mantri jro salawe prah
kang kinarya senapati
pan angiras Den Rangga Prawiradeija.</poem>
|<poem>Budhal saking ing Ngayugya
mampir ing Surakarteki
tinimbalan mring Sang Nata
Sang Prabu Surakarteki
serat kang paman aglis
tinampen tinukpiksa wus
gunuruh ingurmatan
dinangu gunging prajurit
kang babantu marang ing mancanagara.</poem>
|<poem>Kalih ewu boten kirang
kalebet wadya jro sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||289}}</noinclude>
l1k6h6oa5z6zah61lebmf4nrmch0lf9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/292
250
24425
77810
76998
2026-05-15T19:51:42Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77810
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Katanggung satus limalas
::salawe mantri jro lami
::Jagabaya Saragni
::Sarageh Nirbayeku
::inggilr saweg punika
::kature Martalayeki
::duka dalem manawi bantu ing wuntat.<noinclude>{{rh|290}}</noinclude>
t5jn4irj9y2ujdpezqukd7lelxbdhls
Kaca:Babad Prayud I.pdf/293
250
24426
77811
76999
2026-05-15T19:52:08Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77811
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVII.{{gap}}PANGKUR'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Sang Nata alon ngandika
Martalaya sira banjura dhingin
ya sira Garwakandheku
ingsun nuli marentah
Martalaya Garwakandha nembah mundur
sawedale saking pura
lajeng budhale dhingini.</poem>
|<poem>Sang Nata nimbali sigra
mring kang raka Kangjeng Pangran Dipati
Mangkunagara malebu
saparaptanireng pura
wusnya tata SangNata ngandika arum
paran puniki Kakangmas
sinten tinudhuh ngajurit.</poem>
|<poem>Bantu mring mancanagara
Paman Singasari umadeg baris
Paman Sultan dutanipun
amung kalih punggawa
nging binaktan kathah prajurit jronipun
kula ngriki makatena
sayekti dereng kuwawi.</poem>
|<poem>Wongkulajrogagajihan
mesakaken sanget anglurug tebih
taksih sanget nisthanipun
kang raka aturira
inggih leres pan Kyai Sultan puniku
wonge jro kang binecikan
dandanan sampun andadi.</poem>
|<poem>Ing ngriki kadi punapa
gih pun Mangkupraja kang darbe wajib
nadyan jajerih puniku
pun Paman Singosekar</poem>}}<noinclude>{{rh|||291}}</noinclude>
guvvpmzaj93fnoihepxj9x444t12tk8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/294
250
24427
77812
77000
2026-05-15T19:52:29Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77812
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ujer ageng puniku namaning mungsuh
::ing warti umadeg raja
::kikitha ing Majapahit.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Dene ta Kiyai Sultan
mung Man Rangga kinarya senapati
kang pinrih mung tatenipun
boten aliting lenggah
ing batine pan boten alit puniku
ipe dalem prawireng prang
wus sasat sami lan patih</poem>
|<poem>Sang Nata lega tyasira
animbali marang rekyana patih
lawan katri punggaweku
Tumenggung Wiradigda
Arungbinang lawan Jayanagareku
wus sami prapteng ngajengan
ngandika Sri Narapati.</poem>
|<poem>Mangkupraja siyagaa
ing ngayuda miwah punggawa katri
lurugana paman prabu
umadeg ing ngayuda
Bratawirya tindhihana yudanipun
muliya bareng wa sisan
sandika rekyana patih.</poem>
|<poem>Tur sembah rekyana patya
kula wau taken punggawa kalih
pun Martalaya pukulun
mila pun Danureja
boten kinen mangetan panglurugipun
ngamungken rangga kewala
binanton bupati kalih.</poem>
|<poem>Mengsah kilen kang tinaha
Raja Ngarab Maulana Mahribi</poem>}}<noinclude>{{rh|292}}</noinclude>
e3zkeoq6uvvvuu4zo67ese8l4830gd9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/295
250
24429
77813
77002
2026-05-15T19:52:40Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77813
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ngirabaken barisipun
::badhe gecek Samarang
::wonten Pingit ing punika cucukipun
::mila punika tinaha
::bilih ambandakalani.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Pangeran gumujeng latah
Mangkupraja aja watir ing wuri
manawa angredha iku
iya si Raja Ngarab
Maulana Mahribi tandhinge ingsun
ingsun ngaleh Raja Maktal
Maulana Masrik marni.</poem>
|<poem>Pra samya gumujeng suka
ingkang raka lan kang rayi nerpati
tuwin kang para tumenggung
nyatur gunane mengsah
yen ambedhil obat liwat mimis kantun
sabalane Raja Ngarab
pun Maulana Mahribi.</poem>
|<poem> Wus medal sakingjro pura
Mangkupraja miwah punggawa katri
samakta siyaganipun
lajeng denira budhal
pan anungkak wong ngayuda lampahipun
apan manggih ingantosan
kacandhak ing Sokawati.</poem>
|<poem> Anunggil pakuwonira
budhalira sareng dados satunggil
kang mangka panganjuripun
Tumenggung Martalaya
duk rong dina wonten serat praptanipun
saking Nagari Semarang
wus katur ing Sribupati
</poem>}}<noinclude>{{rh|||293}}</noinclude>
ggae429c3d7ryh8zpnwt18opxw5cgq5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/296
250
24430
77814
77003
2026-05-15T19:53:10Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77814
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Tinupiksa raosing tyas
tur uninga nenggih Deler Ubristing
wonten mengsah ageng rawuh
saking dherekan wiyar
Maulana Mahribi jujulukipun
gawe bundhan tanpa raja
arsa anggecek Semawis.</poem>
|<poem>Punika inggih Sang Nata
tutulunga anggitik saking wuri
darapon kadho punika
gene gitik Semarang
ing Ngayogja barisipun sampun methuk
inggih tumenggung titiga
rongatus prajurit jro neki</poem>
|<poem>Surat sampun ingangsulan
paparintah wau Sri Narapati
Tumenggung Mangkuyudeku
bedhol samatrinira
wadana jro kaparak kiwa tinuduh
Tumenggung Puspakusuma
bedhol sakaparakneki.</poem>
|<poem> Tumenggung Jayanagara
pan kacandhak ing Keping Saoragi
pinundhut mangilenipun
amukul Raja Ngarab
sigra wangsul samantri-kaliwonipun
Tumenggung Jayanagara
sapraptanira nagari.</poem>
|<poem> Linajengken budhalira
miwah katri lurah lebet tinuding
Demang Wengker kang pangayun
lawan Mahesakatang
lan Mahesabobothing Saragenipun</poem>}}<noinclude>{{rh|294}}</noinclude>
n1x9tfcyqqq3rwiknr7msa5281nyne9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/297
250
24431
77815
77005
2026-05-15T19:53:26Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77815
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kalihatus salawe prah
::prajurit jro kang lumaris.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Wus budhal saking nagara
pra tumenggung katri lurah jro katri
lampahe jog Kali Gandhu
ing Ngandong kilenira
wau mengsah paliringan lampahipun
sampun anjog ing Bahrawa
gegér tan wonten nadhahi.</poem>
|<poem>Para mantri ing Bahrawa
palayune lajeng dhateng Samawis
wus katur ing Deler Ubrus
mengsah ngancik Bahrawa
tan kawawa nadhahana yudanipun
Deler animbali sigra
prapta Dipati Samawis.</poem>
|<poem>Heh bapa age kongkona
atutulung mating Bahrawa nenggih
Panembahan Kowak iku
wus ana ing Bahrawa
para mantri Samarang kerigen iku
miwah mantri urut dalan
padha papagen ngajurit.</poem>
|<poem>Sigra bendhe Ki Dipatya
papatihe kang kinen anindhihi
Puspadiwirya ranipun
budhal saking Samarang
binaktanan wadya Bugis teiungpuluh
wonten nematus gagaman
awor dharat lan turanggi.</poem>
|<poem>Kadalon ing lampahira
kendel loji ing Ungaran sawengi
wau ta ingkang winuwus
</poem>}}<noinclude>{{rh|||295}}</noinclude>
sfpb6o43n57cp6cklpal4xgwbkzr6ph
Kaca:Babad Prayud I.pdf/298
250
24433
77817
77008
2026-05-15T19:53:46Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77817
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Ki Panembahan Kowak
::kumpul dalu lan para tumenggungipun
::panembahan angandika
::Ngarab Mulana Mahribi.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Lah ta sanak-sanakingwang
wong Semarang wartane ametoni
Patih Semarang tinuduh
ingkang ngirid gagaman
lah kapriye pranga ing besuk-esuk
karepe nak-putuningwang
apa rame apa sepi.</poem>
|<poem>Ing kene lamun rameya
ing Semarang yudane dadi sepi
yen sepiya ing prang iku
Semarang temah nistha
aturipun wau kang para tumenggung
tuwan darnel sawatara
sampun rame sampun sepi.</poem>
|<poem>Amung inggih adamela
apratandha aprang sadinten benjirig
iku ta wus padha rembug
yen mengkene kewala
saur paksi sagunging para tumenggung
iya sun turuti padha
sukane nak-putu marni.</poem>
|<poem>Ngutus panakawanira
sira mubeng karo si Mayeng benjing
padha anyacahna mungsuh
kang becik lan kang ala
karo padha gowaa panjalin iku
ingkang sakilan satebah
masthi sira tan kaeksi.</poem>
|<poem>Dalu-dalu nunten kesah</poem>}}<noinclude>{{rh|296}}</noinclude>
t1fvxwjzlm4120mnapih2orl5w81rgn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/327
250
24434
77630
77009
2026-05-15T18:31:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77630
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Edanala miwah sira Alaedan
tuwin pun Edanbaring
lawane Edanbuy an
mung amuk lawan pedhang
wong papat angobrak-abrik
Kapurancangnya
wong Demak den pedhangi.</poem>
|<poem>Tinumbakan binedhilan durung pasah
dangu ungkih-ingungkih
prajurit ing Demak
yen aja anganggey a
Kapurancang tiwas pasthi
akathah pejah
nuju prayitna sami.</poem>
|<poem>Ngalih dhepa Kapurancang wolung dasa
wiyar tebanereki
wau Braj ayuda
Brajapati umangsah
wong Demak pengkuh nandhahi
let Kapurancang
tumbak-tinumbak sami.</poem>
|<poem>Wadya Demak nematus pareng umangsah
wong papat kang den incih
ginebug senjata
ngathipul tinumbakan
talempak Palembang aglis
wonten pitulas
kinarya anumbaki.</poem>
|<poem>Lempe-lempe wus ajur rasukanira
wong papat sareng mati
tumenggunge bubar
tumenggung Brajamuka
lan Tumenggung Brajapati</poem>}}<noinclude>{{rh|||325}}</noinclude>
775c2l44de44xmh7acce1d06aeihs4i
Kaca:Babad Prayud I.pdf/299
250
24435
77820
77010
2026-05-15T19:54:24Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77820
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::mubeng Mayeng mring enggene mungsuh neki
::estu pituduhe ampuh
::manjing barising mengsah
::wong atusan ora padha sapa aruh
::tegese nora katingal
::dhuteng Mulana Mahribi.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Ing dalu tan kawuwusa
enjing budhal gagaman ing Samawis
rame muni tamburipun
bendhe samarga-marga
wadya Bugis samarga rame bekilung
prapteng dhusun Perampelan
sigra dennya nata baris.</poem>
|<poem>Wong Bugis kang munggeng dhadha
kanthi lawan papatih ing Samawis
dene ta pangawatipun
para mantri sedaya
panembahaan neng Ngasem pakuwonipun
sakilene Par amp elan
wus siyaga ing ajurit.</poem>
|<poem>Panembahan aparentah
Raja Ngarab Maulana Mahribi
kabeh ajana kang metu
teka sajroning desa
pan amunga wong karobelah kang metu
kang bandera paremudha
mung iku sun gawa jurit.</poem>
|<poem>Padha suraka kewala
sigra mangsah mung bandera sasupit
Pareanem munggeng ngayun
mungsuh pra samya giyak
panembahan mung teteken ecisipun
ameng selarie bandera
mungsuh tengah kang den incik.</poem>}}<noinclude>{{rh|||297}}</noinclude>
kkx9kv3zksipc37m5kx6idisbtw442w
Kaca:Babad Prayud I.pdf/300
250
24436
78008
77011
2026-05-16T02:49:23Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78008
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Ing ngedrel ping rong rambahan
wadya bugis mimise meksih kari
ting kalethek aneng wuluh
mantri siji tinumbak
mring Ki Mayeng tiba saking kudanipun
kang kathah kekes rog-rogan
giris lumayu angisis.</poem>
|<poem>Cakradiwangsa Pamalang
ingkang mati ngajang amung satunggil
kang katawur mawur-mawur
akeh kacandhak pejah.
keh kajarah ana kacandhak teluk
anjarah sami babandhang
bala Mulana Mabribi.</poem>
|<poem>Ki Patih Puspadiwirya
palayune ngempet marang Semawis
lawan wong Bugis sapuluh
praptaneng ing Semarang
geger ater wadya lit pating bilulung
opyak mungsuh badhe gecak
marang Nagari Semawis.</poem>
|<poem>Gegere datan karuhan
langkung kaku tyasing Deler Ubristing
manggil Ki Dipati gupuh
e bapak iki paran
geger gila wong apamungsuhe iku
pan dudu Mangkunagara
miwah dudu Mangkuburrii.</poem>
|<poem>Iku wong duwe negara
iki mungsuh pra setan tahiyoli
apa guna bole takut
sira dhewe mapag
si Kapiían Pitlar sarekgunderipun
</poem>}}<noinclude>{{rh|298}}</noinclude>
5wxyswt5l0llqribqeazqgdy7oskn7p
Kaca:Babad Prayud I.pdf/301
250
24437
78009
77012
2026-05-16T02:49:36Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78009
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sawidak nuli mangkata
::Bugis si Kapitan Amin.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Kasusu wonten caraka
serat saking Ungaran ingkang prapti
tur pirsa lamun kinepung
baiane wong karaman
anggigila nanging gene rajanipun
neng rereb gogijk: sandhangan
dhusun kang den pakuwoni.</poem>
|<poem>Amung baiane kewala
anglenceri kanan kerihging loji.
datan purun sawadyeku
nenggel loji Ungaran
mung parapat inggih kiwa tengenipun
ing'mangke asalin sedya
sedyanipun angunduri.</poem>}}<noinclude>{rh|||299}}</noinclude>
ibbp4ru5b0vpbzzmroekil4ecj692wx
78010
78009
2026-05-16T02:49:51Z
Khusna Safira
1759
78010
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sawidak nuli mangkata
::Bugis si Kapitan Amin.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Kasusu wonten caraka
serat saking Ungaran ingkang prapti
tur pirsa lamun kinepung
baiane wong karaman
anggigila nanging gene rajanipun
neng rereb gogijk: sandhangan
dhusun kang den pakuwoni.</poem>
|<poem>Amung baiane kewala
anglenceri kanan kerihging loji.
datan purun sawadyeku
nenggel loji Ungaran
mung parapat inggih kiwa tengenipun
ing'mangke asalin sedya
sedyanipun angunduri.</poem>}}<noinclude>{Prh|||299}}</noinclude>
kvz5428x6njjztyaxy5aa3o41ce25bg
78011
78010
2026-05-16T02:50:02Z
Khusna Safira
1759
78011
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sawidak nuli mangkata
::Bugis si Kapitan Amin.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Kasusu wonten caraka
serat saking Ungaran ingkang prapti
tur pirsa lamun kinepung
baiane wong karaman
anggigila nanging gene rajanipun
neng rereb gogijk: sandhangan
dhusun kang den pakuwoni.</poem>
|<poem>Amung baiane kewala
anglenceri kanan kerihging loji.
datan purun sawadyeku
nenggel loji Ungaran
mung parapat inggih kiwa tengenipun
ing'mangke asalin sedya
sedyanipun angunduri.</poem>}}<noinclude>{{rh|||299}}</noinclude>
78qxqfwine9eh3lj2ixjkjq9aov805s
Kaca:Babad Prayud I.pdf/328
250
24438
77675
77013
2026-05-15T18:55:57Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77675
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::angungsi samya
:::mring panembahaneki.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Tan antara prahara gora-ruhara
andres udan wor angin
kendel kang ayuda
sami ngaup sadaya
neng padesan pinggir margi
gora gerotan
keh sol wreksa kabalik.</poem>
|<poem>Panembahan maksih wonten pakebonan
kathah wismanireki
wady a kinen jenang
jenang lemu kewala
wonten sapuluh kuwali
kang jinampanan
dinunken mg prajurit.</poem>
|<poem>Jawahira sadhuwet-dhuwet gengira
deres kapati-pati
angine puyengan
lir den sok ingkang jawah
gumuruh anggigirisi
rame wurahan
pancawora ngekesi.</poem>
|<poem>Mengko ika mangsahe nora katara
àna ing ngarsa marni
wau kawarnaa
wong Demak wong Japara
samy a kaku tyasireki
danguning jawah
nunten wonten kang eling.</poem>
|<poem>Lamun dhuwung Ki Kebyuk wasiyat Demak
duwe kasekten dhingin
nerangaken udan</poem>}}<noinclude>{{rh|326}}</noinclude>
7kyqnirtpxgb86basflwfgzzjsl5s1l
Kaca:Babad Prayud I.pdf/302
250
24440
78012
77016
2026-05-16T02:50:18Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78012
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVIII. DURMA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Gene arsa anggecak loji Semarang
wande medal ing ngriki
tinitik kang marga
angel ing Paterongan
mila meda! Lepentangi
panganjur mangkat
dhateng ing Lepentangi.</poem>
|<poem>Serat titi Deler asru wuwusira
paran bapak Dipati
mungsuh ngalih dalan
tan metu Peterongan
kudu metu Lepentangi
lah lakunira
bapak metu ing ngendi.</poem>
|<poem>Anauri wau Dipati Semarang
Tuwan manawi gendhing
gelare wong edan
amrih loke kewala
kula inggih medal margi
ageng kewala
yen wus tetela gampil.</poem>
|<poem>Atengara sigra Dipati Samarang
tambur amor saruni
kendhang gong barungan
kinerig wong Samarang
telubelah Bugis Bali
nematus Jawa
budhal saking nagari.</poem>
|<poem>Pan gumuruh berag lampahing gagaman
asrep bala Semawis
ana kang angucap
mungsuh gégecek desa</poem>}}<noinclude>{{rh|300}}</noinclude>
608cfrrajl69km6nd0ugfa1dyiqdpip
78013
78012
2026-05-16T02:50:34Z
Khusna Safira
1759
78013
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXVIII.{{gap}}DURMA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Gene arsa anggecak loji Semarang
wande medal ing ngriki
tinitik kang marga
angel ing Paterongan
mila meda! Lepentangi
panganjur mangkat
dhateng ing Lepentangi.</poem>
|<poem>Serat titi Deler asru wuwusira
paran bapak Dipati
mungsuh ngalih dalan
tan metu Peterongan
kudu metu Lepentangi
lah lakunira
bapak metu ing ngendi.</poem>
|<poem>Anauri wau Dipati Semarang
Tuwan manawi gendhing
gelare wong edan
amrih loke kewala
kula inggih medal margi
ageng kewala
yen wus tetela gampil.</poem>
|<poem>Atengara sigra Dipati Samarang
tambur amor saruni
kendhang gong barungan
kinerig wong Samarang
telubelah Bugis Bali
nematus Jawa
budhal saking nagari.</poem>
|<poem>Pan gumuruh berag lampahing gagaman
asrep bala Semawis
ana kang angucap
mungsuh gégecek desa</poem>}}<noinclude>{{rh|300}}</noinclude>
4aa2gyaocwfvg9cyvgmvzevk3x0okbi
Kaca:Babad Prayud I.pdf/329
250
24441
77676
77018
2026-05-15T18:56:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77676
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::keh parek karsaning Hiyang
:::Tumenggung Citrasomangling
:::heh wong ing Demak
:::Kebyuk betuwah nguni.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44
|<poem>Jeng Pangeran Tumenggung Gadamestaka
karuhan taletneki
duk Prang Surabaya
ngiring Ki Cakrajaya
kabutuh jawah tinarik
ilang kang jawah
kagyat wong Demak eling.</poem>
|<poem>Sigra Raden Tumenggung Demak gadgada
Ki Kebyuk wus tinarik
siniweng ngawiyat
langit padhang-galinthang
Sang Dipaningrat mranani
sigra tinata
wau sagung prajurit.</poem>
|<poem>Ki tumenggung Demak kang dadya pangawat
kaleran aneng kering
kidul aneng kanan
Tumenggung Citrasoma
ing Japara adhadhani
sigra tengara
umangsah rempeg ririh.</poem>
|<poem>Panembahan Kowak wus anata bala
pangawat kang ngenggeni
tengen Natayuda
kiwane Mangkuyuda
Panembahan adhadhani
sigra tengara
bedhil kendhang gong beri.</poem>
|<poem>Sigra campuh pangawat sami pangawat</poem>}}<noinclude>{{rh|||327}}</noinclude>
r39yuep4o7lq8d3jyglmmqv41yd5f1w
Kaca:Babad Prayud I.pdf/303
250
24442
78014
77019
2026-05-16T02:50:44Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78014
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::yen Ki Dipati ngawaki
::pasthi yen bebas
::kere mungsuh priyayi.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Bedhil iki kabeh patangtus sawidak
tumbak patangtus malih
punjul wolung dasa
iki uwos kewala
tan ana anggawa menir
pasthi yen menang
bandara Ki Dipati.</poem>
|<poem>Prapteng Pudhakpayung wau lampahira
wonten atur udani
lamun Panembahan
Sang Raja Ngarab Kowak
kebut budhalipun wingi
badhe anggecak
inggih ing Lepentangi.</poem>
|<poem>Wus tatela Ki Dipati menggok sigra
kang maring Lepentangi
kuneng kang winarna
ratuning wong karaman
wus anjog ing Lepentangi
pinetuk ing prang
Bupati Lepentangi.</poem>
|<poem>Anadhahi sekedhap tinunjang dhahal
kekes manahe miris
binujung kewala
kadya ambereg sangsam
giras kacandhak keh mati
pan sampun bedhah
Nagari Lepentangi.</poem>
|<poem>Wus ngadhaten Panembahaan Raja Ngarab
Maulana Mahribi</poem>}}<noinclude>{{rh|||301}}</noinclude>
1bt0k6t4m7j5n2wufmrkix9u1vcxmws
Kaca:Babad Prayud I.pdf/304
250
24443
78016
77020
2026-05-16T02:50:54Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78016
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sigia paparentah
::kinen bedhah ing Kendhal
::Tumenggung Mangkuyudeki
::lan Natayuda
::budhal kang rong Bupati.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem> Samantrine gumuruh asurak-surak
wonten dhomas prajurit
nanging wong arahan
polahe calunthangan
kang darbe Kendhal miyarsi
yen linurugan
mawur miris anggendring.</poem>
|<poem>Bupatine Tumenggung Sumanagara
ngungsi dhateng Samawis
medal ing baita
pranakaning samarang
Tumenggung Mangkuyudeki
sami jajarah
nulak mring Lepentangi.</poem>
|<poem>Lampahira nenggih Dipati Semarang
sipeng marga sawengi
dhusun ing Cangkiran
enjang denira budhal
ing margi agung den jogi
wus prapteng Mangkang
ngangseg lajeng abaris.</poem>
|<poem> Baris tata kumpeni kang munggeng dhadha
Bugis ing kanan-kering
nunggil mantri samya
sira Kapitan Pitlar
lanas kedah marepeki
maring nagara
Ki Dipati nayuti.</poem>}}<noinclude>{{rh|302}}</noinclude>
cx1wzf5iy753khs6g1ana8eu4l3e3ru
Kaca:Babad Prayud I.pdf/305
250
24444
78017
77021
2026-05-16T02:51:04Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78017
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Boten tuwan ángel dika paranana
pengkuh pagere bumi
batur dadi lesan
mungsuh dika daladak
sayekti mangke metoni
lamun miyarsa
tuwan wonten ing ngriki.</poem>
|<poem>Kawuwusa Panembahan Raja Ngarab
Maulana Mahribi
sampun amiyarsa
kalamun wong Samarang
gagamane anekami
sigra tengara
bendhe beri tinitir.</poem>
|<poem> Kendhang gonge wadyanya berag wurahan
wus antuk buru sami
tan ana tinaha
kedah angrebat mengsah
solahe arebut dhingin
gumrah wurahan
surak pating barekik.</poem>
|<poem> Panembahan Kowak sira Raja Ngarab
Maulana Mahribi
dupi katon mengsah
sigra nenga ngawiyat
meneas-meneos kirag-kirig
mendhung sekala
limengan ngawiyati.</poem>
|<poem>Pareng rampak nempuh nunjang balanira
Maulana Mahribi
para dipatinya
sapara mantrinira
kabeh ngawaki ngajurit</poem>}}<noinclude>{{rh|||303}}</noinclude>
f952wjqkeo8svj8vktpta4fprsnk86d
78019
78017
2026-05-16T02:51:29Z
Khusna Safira
1759
78019
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Boten tuwan ángel dika paranana
pengkuh pagere bumi
batur dadi lesan
mungsuh dika daladak
sayekti mangke metoni
lamun miyarsa
tuwan wonten ing ngriki.</poem>
|<poem>Kawuwusa Panembahan Raja Ngarab
Maulana Mahribi
sampun amiyarsa
kalamun wong Samarang
gagamane anekami
sigra tengara
bendhe beri tinitir.</poem>
|<poem>Kendhang gonge wadyanya berag wurahan
wus antuk buru sami
tan ana tinaha
.kedah angrebat mengsah
solahe arebut dhingin
gumrah wurahan
surak pating barekik.</poem>
|<poem> Panembahan Kowak sira Raja Ngarab
Maulana Mahribi
dupi katon mengsah
sigra nenga ngawiyat
meneas-meneos kirag-kirig
mendhung sekala
limengan ngawiyati.</poem>
|<poem>Pareng rampak nempuh nunjang balanira
Maulana Mahribi
para dipatinya
sapara mantrinira
kabeh ngawaki ngajurit</poem>}}<noinclude>{{rh|||303}}</noinclude>
8kbglavdpz456hbkcn4f6p80s8oxh69
Kaca:Babad Prayud I.pdf/306
250
24445
78020
77022
2026-05-16T02:51:48Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78020
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sang Panembahan
::Kowak nindhihi baris.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Kang prajurit Semarang sampun prayitna
mapag lawan kumpeni
gumrudug drelira
tambur beri wurahan
awor lan swaraning bedhil
surak gumerah
kukuk pating barekik.</poem>
|<poem>Caruk ruket Kapitan Pitlar agagah
ngimpun bala Kumpeni
tuwin Ki Dipatya
angimpun prajuritnya
tan kandheg dreling kumpeni
meksa tinunjang
kumroyok anumbuki.</poem>
|<poem>Mangsah Ki Dipati Suradimanggala
mirut balane Bugis
keh Bugis kayapa
sira rep lumayuwa
mungsuh moncek sira iki
dudu manungsa
pagene padha miris</poem>
|<poem>Dene sira padha menangi prang Gondhang
tur amungsuh Mangkubumi
lan Mangkunagara
ika padha kusuma
nora mengkene sireki
Bugis miyarsa
wangsul angamuk sami.</poem>
|<poem>Carub-awor kompeni wus akeh pejah
dennya pangedrelneki
obate kewala</poem>}}<noinclude>{{rh|304}}</noinclude>
8jcaqrflxt25fvqi28glaamdxbexb3f
Kaca:Babad Prayud I.pdf/307
250
24446
78021
77023
2026-05-16T02:52:05Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78021
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kang metu muni samya
::mimise pra samya keri
::Kapitan Pitlar
::ngamuk pedhang tinarik
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Ngobrak-abrik Pitlar pangamuke nengah
mungsuh keh kang ngemasi
kang kanin katimpal
dene pedhange Pitlar
dipati tutulung aglis
mestul sapisan
sinawataken aglis.</poem>
|<poem>Sigra nyandhak lawung Suradimanggala .
Samarang Adipati
nulungi Walanda
bingung datan kayoman
Panembahan Kowak anjrit
prahara prapta
lindhu maruta tarik.</poem>
|<poem>Pancawura udan anginnya membyungan
mules lesus mawerit
bingung kang ngayuda
ulengan ing paprangan
ting karompyang caruk cundrik
Kapitan Pitlar
sayah pangamukeki.</poem>
|<poem>Kinarubut Kapitan Pitlar wus pejah
dregundere keh mati
telung puluh sanga
Bugis Bali balasah
sakarine wong kompeni
salikur gesang
lumayu niba-tangi.</poem>
|<poem>Ki Dipati Semarang kinandhang-kandhang</poem>}}<noinclude>{{rh|||305}}</noinclude>
c8t7qgr430zhs3xs29jw6048mt242kk
Kaca:Babad Prayud I.pdf/330
250
24448
77677
77025
2026-05-15T18:56:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77677
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::kang sampanane jawi
:::wau Panembahan
:::maksih anengjro bata
:::gumuruh tengaraneki
:::datan katingal
:::campuh pangawat keri.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=49
|<poem>Ingkang tengen sareng wau rebut papan
rame bedhil-binedhi
sami wanterira
lajeng atarung tumbak
caruk rek ungkih-ungungkih
wus kathah pejah
gumrah sambating kanin.</poem>
|<poem>Mangkuyuda mempeng ing kawanenira
durung tek sektineki
witing mandraguna
Jeng gusti Panembahan
ing Demak pamempengneki
telike kena
wus camah sektineki.</poem>
|<poem>Pangran Adilangu ngasoraken ika
kemate si penyakit
mila kang ayuda
samy a met tangguhira
wor liweran ing ajurit
uleng-ulengan
akathah kang caruk kris.</poem>
|<poem>Sampun apit akathah prajurit Demak
ing ngurugan papati
kathah ingkang pejah
bosah-basih belasah
bupati sami ngawaki
karoban lawan
Mangkuyuda ngemasi.</poem>
}}<noinclude>{{rh|328}}</noinclude>
irt77187qsu1od368lbmj6l8fanyktr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/308
250
24449
78022
77026
2026-05-16T02:52:23Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78022
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kedah ngamuk mangungkih
::samya tinangisan
::marang sentananira
::wong Bugise ingkang kari
::amung pitulas
::angayap kanan-kering.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Pan sadaya maksih angliga kalewang
pedhang kalawan cundrik
sami amekanjar
wau Sang Adipatya
Suradimanggala nangis
kudu ngamuka
sasambat wirang isin.</poem>
|<poem>Sun rebute bangkene Kapitan Pittar
nadyan aku "ngemasi
asab ing nagara
sentana para putra
anangis anggegendholi
wau kang mengsah
pinjer ababandhangi.</poem>
|<poem>Samya ngolok-alik jisiming walanda
katungkul jajarahi
dadya antuk tebah
wau Sang Adipatiya
miwah kasaput ing latri
kasendhu jawah
kawit prang pukul kalih.</poem>
|<poem>Senen Legi kaping tiganira Sawal
duk aprang Lepentangi
kala tumpesira
enggih Kapitan Pitlar
Tanu Liman Gana Jalmi
sangkalanira</poem>}}<noinclude>{{rh|306}}</noinclude>
se8vj91wb27eih45b5u31veekkvafm8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/309
250
24450
78023
77027
2026-05-16T02:52:37Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78023
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::jroning warsa Be nenggih.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Undhang bubar Panembahan Raja Ngarab
Maulana Mahribi
sarwi kinethokan
sirah Walanda pejah
pinanjer neng Lepentangi
arerentengan
dhandhang sami ngalupi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||307}}</noinclude>
8py5urxb6wxw9i5fuq4sqnkhlqh2psy
Kaca:Babad Prayud I.pdf/331
250
24451
77678
77028
2026-05-15T18:57:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77678
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53
|<poem>Samijeleh sambat-sambat panembahan
panembahan miyarsi
sigra berinira
bendhe tinitir medal
saking jro bata gumriwis
asurak-surak
gumerget dhagdhag malih.</poem>
|<poem>Kang wus bubar kaplajar yen panembahan
mangsah keh bah malih
angidak anunjang
kuwur prajurit Demak
wong Japara katut sami
akeh kang dhadhal
kalulun kanan-kering.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Citrasoma kaesisan
kantun nenem galintir
anak kaponakan
lan mantu kaponakan
kapitu Citrasomeki
wong panembahan
kathah'bubujung sami.</poem>
|<poem>Dadya kantun nembelas ingkang angayap
panembahan marpeki
anudingi mojar
heh wong pasisir sapa
aranira dene kari
lumayu sira
apa teluk sireki.</poem>
|<poem>Anauri sungal wau Citrasoma
Citrasoma sun iki
Tumenggung Japara
pan ingsun tatanduran
teka ing Pajang matawis</poem>}}<noinclude>{{rh|||329}}</noinclude>
nj6jrf69aej5luixbed9t20le5af5qq
Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/5
250
24452
77513
77029
2026-05-15T15:31:32Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77513
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||3|}}</noinclude>{{jawa|ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦺꦴꦒꦺꦴꦏ꧀ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦩꦮꦶꦥꦸꦂꦮꦏꦠꦸꦮꦶꦤ꧀ꦱꦫꦱꦶꦭꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦩꦭꦶꦃꦠꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁꦲꦹꦏꦫꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦕꦫꦥꦱꦶꦱꦶꦂꦗꦩꦤ꧀ꦏꦶꦤ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦭꦲꦁꦒꦼꦥ꧀ꦏꦁꦒꦺꦗꦩꦤ꧀ꦱꦥꦸꦤꦶꦏꦠꦸꦩꦿꦥ꧀ꦥꦶꦝꦸꦤ꧀ꦲꦶꦁꦯꦸꦫꦏꦂꦠꦲꦔꦺꦴꦣꦼꦁꦔꦏꦼꦤ꧀꧈ ꦥꦿꦩꦶꦭꦱꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦸꦭꦱꦶꦤꦲꦸ(ꦮꦱ꧀ꦥꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀) ꦭꦗꦼꦁꦏꦸꦭꦣꦥꦸꦏ꧀ꦕꦫꦯꦸꦫꦏꦂꦠ꧈ ꦠꦼ ꦩ꧀ꦧꦁꦔꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦫꦸꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦏꦼꦤ꧀ꦲꦸꦫꦸꦠ꧀ꦠꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦩꦸꦫꦶꦃꦢꦩꦼꦭ꧀ꦱꦼꦁꦱꦼꦩ꧀ꦱꦲꦝꦩꦁꦔꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀꧈ ꦲꦺꦮꦢꦺꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦱꦫꦺꦃꦤꦶꦁꦏꦸꦭꦫꦸꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦤꦺꦱ꧀ꦥꦫꦩꦺꦁꦏꦮꦶ꧈ ꦱꦲꦩꦂꦢꦮꦺꦁꦏꦏꦮꦶꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦃꦲꦩꦸꦁꦱꦏꦢꦂꦫꦶꦁꦔꦕꦸꦧ꧀ꦭꦸꦏ꧀ꦏꦺꦩꦮꦺꦴꦤ꧀ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦭꦁꦏꦸꦁꦗꦩꦭꦂꦱꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦒꦶꦏꦥꦉꦁꦔꦲꦚ꧀ꦗꦼꦩ꧀ꦧꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦥꦫꦶꦁꦲꦏ꧀ꦱꦩ꧈ ꦩꦤꦮꦏꦫꦲꦺꦴꦱ꧀ꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦕꦸꦮꦲꦶꦁꦥꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀꧈}}
{{jawa|꧋ꦯꦸꦫꦏꦂꦠ ꧈ 3꧇ 7꧇ 1930꧉}}
{{r|{{jawa|'''''ꦯꦸꦩꦲꦠ꧀ꦩꦏ꧉'''''}}}}<noinclude></noinclude>
c5ywgwa0ywjq0v5qm4l45j5kdstf4rf
Kaca:Babad Prayud I.pdf/310
250
24453
78024
77030
2026-05-16T02:52:54Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78024
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXIX.{{gap}}DHANDHANGGULA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Yata wau dalu-dalu sami
Sang Dipati Suradimanggala
mulih lawan sakarine
balane ingkang lampus
tuwin ingkang kompeni putih
selikur kang kaplajar
neng marga angumpul
lan sira Ki Adipatya
ting geluyur peteng angin maksih riris
samarga dharodhogan.</poem>
|<poem>Langkung kekes tyase Sang Dipati
Ki Dipati Suradimanggala
udrasa jro werdayane
paranta wekasipun
yen dawaa lalakon iki
mungsuh trah sutengraja
tan mengkene tengsun
praptanira ing Samarang
pan ing pukul satengah rolas mring loji
sadaya jujugira.</poem>
|<poem>Deler langkung pangungunireki
kang saking prang sami karusakan
dipati myang kompenine
tinanggap tuturipun
Ki Dipati tuwin kompeni
patine si Kapitan
Pitlar edrelipun
mimis pan kari sadaya
ingkang ngamuk mung prange wong Bugis Bali
kang sami tarung tumbak.</poem>
|<poem>Agung goyang kapalanireki
Deler Ubresting kalangkung merang</poem>}}<noinclude>{{rh|308}}</noinclude>
c780v4wir7mmern5loupnjmf6v2v7sr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/311
250
24454
78025
77031
2026-05-16T02:53:23Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78025
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::kapati-pati erame
::Bapàk dulu dahulu
::apa ada saparti ini
::saur Ki Dipatya
::gih wonten karuhun
::nanging aprang bobocahan
::wong Karaman dereng prang lawan priyayi
::miwah yen kumpeniya.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=3
|<poem>Punika tan saged amestani
adat keraman lamun yuda
padha wong desa menange
lamun winetoniku
ing prayayi nuli anggendring
kacandhak kinethokan
Deler asru muwus
iki kaya priye Bapak
anauri sampun dika aprang dhingin
tuwan inggih ngantiya.</poem>
|<poem>Pangran Dilangu dika aturi
dika bobot mung puniku Tuwan
ing Tanah Jawa adate
kang mandi ampuh-ampuh
sima dening luhuring uni
Deler lon wuwusira
wingi kula sampun
inggih ngaturi Pangeran
lan angerig Jepara Demak lan Pathi
praptaa saha baia.</poem>
|<poem>Kadi benjing-enjing praptaneki
Ki Dipati wus eca tyasira
pamit medal mring wismane
Nagri Semarang kuwur
ing kawone Ki Adipati
pejah Kapitan Pitlar</poem>}}<noinclude>{{rh|||309}}</noinclude>
lfa1o8x98eeseu0u04fbhre4a2yzqt9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/332
250
24455
77679
77036
2026-05-15T18:57:46Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77679
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::pan dudu ingwang
:::taliti ing pasisir.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=58
|<poem>Dudu watak yen anak Pajang Mataram
tinggal mungsuhireki
acolong gelanggang
tinggal mungsuh adengan
dudu wong Pajang Matawis
amilih pejah
lumuh kocap ing bumi.</poem>
|<poem>Nora tiru wong Pasisir watakingwang
Kowak duka tan sipi
sigra nyandhak watang
Citrasoma tinumbak
ginebang lawunge kontit
gebang-ginebang
Citrasoma nglarihi.</poem>
|<poem>Bahu tengen nerus angkeb angkebira
mantu ponakan aglis
anumbak piiingan
bingung Sang Raja Ngarab
anake dhewe nututi
anumbak sirah
panembahan ngranuhi.</poem>
|<poem>Dadagangi bature kari nembelas
ngamuk gusti ngemasi
wau amukira
wong nembelas tan akas
pra samya apes ing jurit
nembelas pisan
mati tanpa nggudhili.</poem>
|<poem>Panembahan Raja Ngarab wus tinigas
mawur baiane ngisis
kanan-kering giras</poem>
}}<noinclude>{{rh|330}}</noinclude>
2ydmx8651e9494o6a5zqmwoztbojn5m
Kaca:Babad Prayud I.pdf/312
250
24456
78027
77033
2026-05-16T02:53:36Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78027
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::estu wiating mungsuh
::wong cilik wayang-wuyungan
::geger oter kadya gabah den interi
::bingunge wong Samarang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=8
|<poem>Dalu-dalu momot beras neki
mring baita Walanda mardika
miwah sudagar ngindhunge
kuneng malih winuwus
panembahan kang menang jurit
agung dennya kasukan
aneng Kaliwungu
Nagri Kendhal tinaneman
Ki Tumenggung Cakrawijaya wus linggih
aneng Nagari Kendhal.</poem>
|<poem>Wonten putrì kaselongan nenggih
putrinira Pangran Tepasana
nenggih kang dadya bojone
Puspadirja rumuhun
mantri anom ing Batang nenggih
papatutan titiga
kalih ingkang jalu
sapejahe Puspadirja
dadi randha tumut ing Susunan Alit
Sunan Kuning binucal.</poem>
|<poem>Maring Selong neng Selong anunggil
dadya panggih lan Pangran Pancuran
Pangran Tirtakusumane
lami boten susunu
amung anakira kang lami
patutan Puspadirja
kang urip tetelu
mangkana Pangran Pancuran
neng Samarang lami malah sedaneki
kandha aneng samarang.</poem>}}<noinclude>{{rh|310}}</noinclude>
prjutegh7a4qmhfb2pbrgkgtjvzg6gw
Kaca:Babad Prayud I.pdf/313
250
24458
78028
77035
2026-05-16T02:53:49Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78028
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Pareng sajan maring Lepentangi
wau Raden Ayu Puspadirja
Den Ayu Pancuran mangke
kapergok ana mungsuh
Raden Ayu nedya manggihi
mring Panembahan Kowak
amrih mayaripun
denira dadi boyongan
anakira kang nama Den Bagus Benthing
patutan Puspadirja.</poem>
|<poem>Ingaturken pasuwitaneki
marang Panembahan Raja Ngarab
Maulana Mahribine
ing nangggep pinet sunu
wau sira Den Bagus Benthing
sinung nama Den Arya
Jayapuspiteku
ibune adina-dina
jajagongan akathah ingkang pinikir
sami omong-omongan.</poem>
|<poem>Asinjang lurik patani wilis
asemekan sindur kasa kembang
respati ijo tepine
lagya wayah mamantu
manis ulat ragi prak ati
maksih angagem sengkang
asedhep tur patut
lawan perawan wong jaba
pesthi lamun nenggih ngresepaken putri
sayekti dudu timbang.</poem>
|<poem> Raja Ngarab Mulana Mahribi
lamun Raden Ayu papamitan
mantuk marang pakuwone
Panembahan amujung</poem>}}<noinclude>{{rh|||311}}</noinclude>
2xcum196qg022gml77g0z9smhj9hbet
Kaca:Babad Prayud I.pdf/314
250
24459
78029
77037
2026-05-16T02:54:02Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78029
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::sarwi nekem butunireki
::kapencut pan kasmaran
::marang Raden Ayu
::ewuh ing panembungira
::dereng wonten kang kinarya aling-aling
::marga andhaupena.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Tumenggunge kakalih kang pinrih
Mangkuyuda lawan Natayuda
pinrih amrasadu bae
malah kadiya ngipuk
kadya karyanira pribadi
saben dina pinaran
pamondhokanipun
dhasar Raden Ayu pasang
pan wus mateng sadu aja ngetarani
lamun angrasanana.</poem>
|<poem>Wus den rimuk mring tumenggung kalih
sarwa lega sampun panggih pisan
langkung ageng bawahane
mragat kebo nem likur
wedhus seket bebek lan pitik
patanga tus sadaya
deniya nguyu-uyu
ing salendro pitung dina
wus apanggih patang dina patang bengi
ngekeb neng pagulingan.</poem>
|<poem>Sajangkepe gangsal dinten mijil
sarwi lendhotan ing garwanira
Den Ayu adu gigire
kang tinimbahan wau
ingkang putra Den Bagus Benthing
kang nama Raden Arya
Jayapuspiteku
dereng wonten tinimbalan</poem>}}<noinclude>{{rh|312}}</noinclude>
31xu6hqnpwfqpzpz7ogkn0n5wnnk6bg
Kaca:Babad Prayud I.pdf/315
250
24460
78031
77040
2026-05-16T02:54:12Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78031
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::mung kang ngadhep estri nenem jalu kalih
::Raden Ayu ngandika.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem>Adhuh kulup babo anak marni
aja ngrasa bapa papanggiyan
anggepen kang ngukir dhewe
pituruta maringsun
nora ngrasa goningsun laki
pipindhon keping tiga
ing pangrasaningsun
wus padha jajaka-rara
pan wus padha paningkahku den jenengi
bahmu Sunan Mangkurat.</poem>
|<poem> Kapindhone sira sun tuturi
ramakira iki pan kusuma
dudu wong wijah tegese
iya ingkang puputu
pan pangeran ing Selamanik
tedhak Siyungwanara
wenang dadi ratu
dene mengko ramakira
wus angrasa mung sira den bebakali
keraton Tanah Jawa.</poem>
|<poem>Bareng wungu bareng adusneki
aneng kulah katri awuwuda
kosok-kinosokan suwe
kuneng wau winuwus
Ki Panghulu ing Lepentangi
kang bekta saratira
Pangran Adilangu
kinen anglebeti sarat
amrih bingung tingkahe kang maring ngelmi
apesa yudanira.</poem>
|<poem>Ilanga tyase kang manungseki</poem>}}<noinclude>{{rh|||313}}</noinclude>
j0bq3trd8e4jdharvn13bsv0pr1sc71
Kaca:Babad Prayud I.pdf/333
250
24461
77680
77042
2026-05-15T18:58:06Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77680
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::gusis saparan-paran
:::ngumpul sagunging bupati
:::api rembagan
:::si Benthing baya misih.
</poem>
<poem>
:::Den aririh kepungen teka ingjaba
:::Mas Benthing kang nameki
:::Pangeran Dipatya
:::anom ing Kartasura
:::sayekti sugih babecik
:::den arah-arah
:::aja akarya kingkin.
</poem><noinclude>{{rh|||331}}</noinclude>
1q75avs8olg6rm1cghrp5svl9k0wrv7
Kaca:Babad Prayud I.pdf/316
250
24462
78032
77043
2026-05-16T02:54:27Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78032
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::dumadakan tyase brakasakan
::ilanga kasantikane
::kanggep Kyai Pangulu
::duk ningahe den ayu nguni
::lan kerep dennya sowan
::agung atur-atur
::dhadharan olah-olahan
::cinaruban sarat saking Pangran Wijil
::Ngadilangu tumana.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=22
|<poem>Ki Pangulu sampun amiyarsi
lamun owah ing pratingkahira
kena ing japa tegese
jeng Pangran Ngadilangu
kang menggawe rusaking sekti
dilalah tingkahira
kuwur sasar-susur
rabi putrì kaselongan
pan anemu kawalon Den Bagus Benthing
melik marang bunipun.</poem>
|<poem> Panembahan Kowak anjurungi
dadi tègese anak ngajanan
angramuhi ing ibune
nunggil paturonipun
nunggil bantal kantrinireki
sampun awang wedhusan
wau Ki Pangulu
datan minggat mring Semarang
sira Panembahan Maulana Mahribi
mijil ing dina Soma.</poem>
|<poem>Aneng paseban manguni tinangkil
andher para mantri pra dipatya
sangkin wuwuh telukane
sigra parentah dhawuh
Panembahan ngalih namekj</poem>}}<noinclude>{{rh|314}}</noinclude>
3f32lvyfy84tp5m1kuezga1k516qsuh
Kaca:Babad Prayud I.pdf/317
250
24463
77859
77050
2026-05-15T20:17:55Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77859
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kalawan ingkang putra
::kawalon jinunjung
::Mas Benthing Jayapuspita
::ing ngadegken anama Pangran Dipati
::Anom ing Kartasura.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Mahem lalana prawireng jurit
subageng reh ramukadikara
senapati ngayudane
bupati saur manuk
angestreni mantri bupati
Panembahan kang nama
ing mangkya winangun
Panembahan Wangundaya
Yarcandradi punggawa ngestokken sami
wus bubar kang sineba.</poem>
|<poem> Nahan wuwusen Nagri Samawis
pasisir wetan prapteng Samarang
wus samakta prajurite
Jeng Pangran Ngadilangu
sampun sami aneng Matawis
saanak putunira
Deler milanipun
antara tan magut ing prang
Pangran Ngadilangu ing ngangge tur neki
duk manjing aken sarat.</poem>
|<poem>Nadyan panungkula lahirneki
pranging batin ingkang ing ngantosan
jeng Pangran Adilangune
kang winawrat ing kewuh
Idler Ubres langkung mintasih
ingkang sinungga-sungga
Pangran Adilangu
kang badhe maguta ing prang
sampun kathah amunga punggawa katri</poem>}}<noinclude>{{rh|||315}}</noinclude>
rgoy95rq8y4u7kbj1gvrmf7wzb7ihro
Kaca:Babad Prayud I.pdf/318
250
24465
77858
77052
2026-05-15T20:17:15Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77858
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Demak lan ing Jepara.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Pan ing demak tumenggung kekalih
ing Jepara siji Citrasoma
punika pan sabateke
kang kathah pra tumenggung
atunggua nagri Samawis
lagya apaguneman
prapta Ki Panghulu
Lepentangi kang dinuta
lan Pangeran Dilangu sampun kapanggih
sampun binekta minggah.</poem>
|<poem> Gedhong nginggil lawan Ki Dipati
ing Samarang Deler gupuh tanya
iku bapak suruhane
paranta wartanipun
Ki Pangulu ing Lepentangi
sabarang tingkahira
Panembahan lcatur
kang juru basani warta
Ki Dipati Semarang Deler miyarsi
suka goyang kepala.</poem>
|<poem> Pegimana Bapak Pangran Wijil.
ya si Kowak ati sudhah gila
apa habis kasektene
heh Tuwan kalu-kalu
adat orang lain ponyati
habis lamun wong Jawa
Deler manthuk-manthuk
Pangran Dilangu perentah
wadya Demak akarya kapurancang pring
ori angalih dhepa.</poem>
|<poem>Iya kalar gineteng wong kalih
sampun aglar badhe binekta prang
</poem>}}<noinclude>{{rh|316}}</noinclude>
jtho20hx52zijs3qkk9rpvvit840vrq
Kaca:Babad Prayud I.pdf/334
250
24466
77682
77053
2026-05-15T18:58:35Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77682
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>XXXII.{{gap}}ASMARADANA
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Wuwusen Pangran Dipati
Mas Benthing kang tunggu pura
inggih kalawan ibune
pan anggung andón asmara
wau duk angkatira
ingkang rama magut mungsuh
kang tinilar tengga pura.</poem>
|<poem>Kalawan ibunireki
Mas Benthing matur ibunya
ibu kadi paran mangke
manah kawula,punika
teka tan saget pisah
kalawan sampeyan ibu
inggih bengganga sikilan.</poem>
|<poem>Kadi lamun angemasi
sarwi ing ngaras kang jaya
kang ibu alon sahure
lah kapriye kulup iya
mengkono atinira
mung sira sun ayun-ayun
tembe umadega raja.
|<poem>Kang putra umatur aris
nadyan madega narendra
lamun pisah upamine
lamun sampeyan sapadang
tan kudu madeg nata
kang ibu sigra angrangkul
adhuh putraningsun nyawa.</poem>
|<poem>Aja ta kabanjur gusti
katoleha kawibawan
pan sira iku canggahe
marang Sinuhun Mangkurat</poem>}}<noinclude>{{rh|332}}</noinclude>
rkhwk73065roz2p80oxoxx4t2gryy7k
Kaca:Babad Prayud I.pdf/319
250
24467
77857
77054
2026-05-15T20:16:45Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77857
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
::tri tumenggung prajurite
::wonten wolulas atus
::sedheng-sedheng kathaha nenggih
::amungsuh wong karaman
::sayektine bingung
::yen ukur-ukur kewala
::si karaman edhire sangkin muwuhi
::wignya anembang durma.
</poem><noinclude>{{rh|||317}}</noinclude>
pjsewiep4elvt03z3tjy1033j9t1dub
Kaca:Babad Prayud I.pdf/320
250
24468
77856
77055
2026-05-15T20:15:46Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77856
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXXI. DURMA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Kawuwusa enjing nagari Semarang
pra dipati neng loji
badhe budhalira
ingkang katri punggawa
anggitik ing Lepentangi
sampun samakta
aglar ingkang prajurit.</poem>
|<poem>Bupatine sami neng loji sadaya
nadyan kang tan lumaris
pra bupati samya
aneng loji sadaya
Pangran Dilangu duk prapti
wus tatalenggah
sami munggeng ing kursi.</poem>
|<poem>Pangran Adilangu mulat kerinira
Kyai Citrasomeki
ana telik prapta
roro sami jajaka
samya nyangkelit panjalin
amung sakiían
satebah panjangneki.</poem>
|<poem>Sigra Deler jinawil marang Pengeran
mangkat ing gedhong aglis
Bapak ana paran
Pangran Dilangu mojar
andika kalebon telik
roro punika
momor Citrasomeki.</poem>
|<poem>Nanging tuwan limunan tan wontenJ wikan
eram Deler Ubresting
bapak penggimaína
itu tak kaliyatan</poem>}}<noinclude>{{rh|318}}</noinclude>
gdryikunxuv9yfppviym1d4uaphwtkr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/60
250
24469
77887
77056
2026-05-15T20:33:07Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77887
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sadaya matur sandika
Dipati Mangkuprajane
kinen angirid sadaya
mring daleme kang raka
tri atus wolungdaseku
sinangon dening Sang Nata.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Pinara astha binagi
alon ngandika Sang Nata
nyangoni salam wakingong
tur sembah kang pra warastha
samya nuhun turira
sareng wau wedalipun
Uprup lan kang pra dipatya.</poem>
|<poem>Dipati Mangkuprajeki
ingkang kinen angirida
mring Kamangkunagarane
Uprup ngaterken lampahnya
wangsul kilen galadhag
Dipati Mangkuprajeku
lan punggawa ing Ngayogja.</poem>
|<poem>Ing mangkunagaran prapti
lajeng wus samya ngandikan
sami ngujung sadayane
lajeng sami sinugata
miwah inumanira
wus bubar amung sadalu
aneng nagri Surakarta.</poem>
|<poem>Enjinge budhalireki
angaler sabalakuswa
ingkang anusul lampahe
kuneng gantya winursita
Rahaden Wiratmeja
miyarsa lamun jinujul
sangking ing Balora budhal.</poem>
}}<noinclude>{{rh|58||}}</noinclude>
arx331okww221hooiudzuh7rh6lcpl5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/335
250
24470
77683
77057
2026-05-15T18:59:06Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77683
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::saiki sira ana
:::bobotoh angudi tuwuh
:::elinga duwe nagara.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Ingarasan sirahneki
lawan gigire ingaras
kang putra angemek-emek
astane kiwa amiy ak
sinjange ibunira
ingkang ibu mesem nuwus
kulup iya lerenana.</poem>
|<poem>Sira iki sun turuti
wis ana ping karo belah
teka durung marem kiye
selir mu nganggur kewala
lah Jambu mareneya
ujegen iki bojomu
MasAjeng Jambu anyelak.</poem>
|<poem>Daweg kangmas sami guling
kawula kangen kalintang
Mas Benthing marengut bae
netrane kumaca-kaca
emeh wijiling waspa
kang ibu sigra angrangkul
adhuh kulup putraningwang.</poem>
|<poem>Sajroning ngadhahar sami
guguyon aras ingaras
ingkang ibu andikane
ya kulup ora kayaa
ingsun kalawan sira
pinareng padha kapencut
nikmate kaliwat-liwat.</poem>
|<poem>Dadine kaya kerambil
sireku pan saking ingwang</poem>}}<noinclude>{{rh|||333}}</noinclude>
t5ie1c1ar91xoalsxgdoft2exh9u9f9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/321
250
24471
77855
77058
2026-05-15T20:15:03Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77855
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sigra Deler animbali
::upas sakawan
::Pangeran kang bisiki.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Nulya medal Deler sarwi ngagem pedhang
Pangeran amarani
lan upas sakawan
mring gone Citrasoma
sami kagyat kang ningali
dennya Pangeran
lan upas amarani.</poem>
|<poem>Marang gene Ki Tumenggung Citrasoma
wau telik kakalih
ingkang sinengkelang
penjaline sinendhal
sigra gelethek kaeksi
telik kalihlnya
upas: kinen nyekeli.</poem>
|<poem>Geger ngungun sakedhap nuli atata
telik biponda sami
ginawa' inig ngarsa
Ki Dipati Semarang
ingkang kinen anakeni
wong ngendi sira
sapa kongkon sireki.</poem>
|<poem>Anauri kula tiyang Selamarta
kang nuduh kawuleki
Gusti Panembahan
punika Raja Ngarab
Maulana Maheribi
kinen ngawasna
cacahe pra dipati.</poem>
|<poem>Sami ngungun kang miyarsa pra dipatya
penjalinipun sami</poem>}}<noinclude>{{rh|||319}}</noinclude>
8u36cbyb1h9v9wzyf8uee5xztajjcr7
Kaca:Babad Prayud I.pdf/322
250
24472
77854
77059
2026-05-15T20:14:29Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77854
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ingkang tiningalan
::gene panglesanira
::katuju Jeng Pangran prapti
::ana kang nulak
::ing kemate si belis.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem> Kadya Sokasrana dutane Rawana
kala kinen amilis
bupati wanara
aneng Gunung Suwela
tan anaing kang udani
mindha wanara
Arya Wibisana glis.</poem>
|<poem> Kang uninga amung Arya Wibisana
Pangran Dilangu nenggih
mangka Wibisana
tan kena kakilapan
Deler langkung sukeng galih
sampun tetela
unggule ing prang benjing.</poem>
|<poem> Tinakenan gustining telik punika
asale sangking ngendi
telik aturira
tedhak Siungwanara
pangeran ing Selamanik
kang darbe wayah
nanging ical duk alit.</poem>
|<poem> Angumbara pinet mantu ing durjana
mila saget amaling
lami kinen tapa
dhateng kang maratuwa
pinrih sektine memaling
aneng patapan
punika den guroni.</poem>}}<noinclude>{{rh|320}}</noinclude>
pdcg2wan134jx2mookafrhhax622unq
Kaca:Babad Prayud I.pdf/61
250
24474
77888
77061
2026-05-15T20:33:30Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77888
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Angoncati ing ajurit
ngaler lan sawadyanira
Rahaden Wiratmejane
mring pasisir sedyanira
bumi Pathi kendelnya
neng Garenteng dhusunipun
apacak baris santosa.</poem>
|<poem>Baris ing Surakarteki
wus angancik ing Balora
Tumenggung Arungbinange
lan Pangeran Pakuningrat
Tumenggung Mangkuyuda
kang abantu prapta ngumpul
Tumenggung Jayanegara.</poem>
|<poem>Anyandhak ing Baloreki
myang Tumenggung Jagaraga
prapta lawan sabalane
langkung kasusu ing lampah
Tumenggung Jagaraga
kinen kantun wus kasusul
angumpul aneng Balora.</poem>
|<poem>Nulya paguneman sami
anglampahken telikira
nitik sayekti kendele
lan cacahing gegamannya
wau ingkang dinuta
bebekel kuwu malebu
angedan Surajenggala.</poem>
|<poem>Lampahe sadalu prapti
tetela ing aturira
tuhu Garenteng kendele
dene cacahing gagaman
sewu kang kekapalan</poem>
}}<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude>
kz9gdye4u2yw10inz4gdu6l9up75aza
Kaca:Babad Prayud I.pdf/336
250
24475
77684
77064
2026-05-15T18:59:36Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77684
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::ingkang dadi kasmaningong
:::metu saking banyuniwang
:::mengko wus tuwa-tuwa
:::dadi gula ingsun emut
:::dadi makan dharah ingwang.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Gula kalawan kerambil
wit siji winor pinangan
kulup mengkono pamane
awor legi gurih padha
pae ingsun wong tuwa
dulu wong anom kapencut
sira nom dulu wong tuwa.</poem>
|<poem>Pra samya ngiling-ilingi
gagetuni rapetira'
gumuling-gumulung adoh
rapet tan kena pinecat
parekan kalih prapta
matur kang aprang kaburu
Panembahan sampun pejah.</poem>
|<poem>Mengsah gumerah ing jawi
Deh ayu gugup parekan
sorogen gedhong lor kuwe
donya kinumpulken sigra
manjing gedhong kalihnya
bekta parekan katelu
kang gedhong kinunci sigra.</poem>
|<poem>Nulya kasaput ing wengi
ingkang ngepung sami taha
saking kadohan kemawon
pra dipati pamondhokan
wau carakanira
Tumenggung Citrasomeku
bekta sirahing karaman.</poem>}}<noinclude>{{rh|334}}</noinclude>
h7ns52eguy80nj78tb1xhlf9s3zrwdq
Kaca:Babad Prayud I.pdf/323
250
24476
77853
77063
2026-05-15T20:13:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77853
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Gajah puteh payung kuning lan gendhaga
punika salah pikir
kudu ngadeg raja
kathah kang ngangkat-angkat
kathah lungsuran bupati
sami ngawula
sami ngojok-ngojoki.</poem>
|<poem>Samya ngungun sakathahe kang miyarsa
kompeni pra dipati
tuwin mantrinira
Deler tari Pangeran
paran caraka puniki
punapa pejah
inggih punapa urip.</poem>
|<poem>Ki Dipati Samarang ngumbungi sabda
tuwan inggih wong cilik
inggih ginesangan
boten melu prakara
mung kinongkon ithah-ithih
langkung kasiyan
mulane penet urip.</poem>
|<poem>Mubeng Mayeng pinaringken pelor besar
wus kinen miyarani
wau pra dipatya
ingkang badhe lumampah
gitik mungsuh Lepentangi
sang Raja Ngarab
Maulana Mahribi.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Demak lawan ing Jepara
ing Jepara kang siji
amung citrasoma
ing Demak kalih pisan
tengara budhal tumuli</poem>}}<noinclude>{{rh|||321}}</noinclude>
m5bioz2ns1eixxeai6r7vamxzpzhiak
Kaca:Babad Prayud I.pdf/324
250
24477
77852
77065
2026-05-15T20:13:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77852
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::saking Semarang
::bekta opesir siji.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Pun kapitan kumendan wus bisa sadat
amung sewu dhomas
nanging wong pipiliyan
santananing pra dipati
wau lampahnya
i kapurancang wuri.</poem>
|<poem> Wus prapta ing Mangkang celak ing nagara
kapurancang neng ngarsi
kendel tata-tata
wong Demak wong Japara
wau ta ingkang winarni
wusnya miyarsa
kang wonten Lepentangi.</poem>
|<poem>Panembahan Mangundeya Raja Ngarab
Maulana Mahribi
parentah ing wadya
kiraba methuk ing prang
punggawa kalih tinuding
lan kajineman
Sekawan kang lumaris.</poem>
|<poem>Edanala kalawan pun Alaedan
katri pun Edanbaring
Napat Edan bayan
sabat kakalih samya
busanane sami paring
kulambi jubah
landhung waged ing sikil.</poem>
|<poem>Binaktanan ingkang para sabat lima
pitung puluh tan luwih
dene wurinira</poem>}}<noinclude>{{rh|322}}</noinclude>
5nzxd8hz7e1u522ru1wgv8yncr8ju4c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/325
250
24478
77628
77066
2026-05-15T18:29:54Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77628
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::tumenggung kalih nama
::Brajayuda Brajapati
::aniga belah
::prajuritira sami.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Wong sakawan mung sami anyothe pedhang
Panembahan winarni
arsa mijil ing prang
pamit marang kang garwa
miwah ingkang putra sami
ingkang anama
Pangeran Adipati.</poem>
|<poem>Kulup Adipati lah sira kariya
lawan ibunirekki
ingsun magut ing prang
mungsuh iki kang prapta
pan ora nganggo kompeni
wus kapok padha
Walandanè keh mati.</poem>
|<poem>Sajatine lakune kang pra dipatya
nungkula aris isin
mengko yen wus kalah
ingsun ing benjang-enjang
anggecak loji Semawis
sira maksiya
kene ing.Lepentangi.</poem>
|<poem>Nuli ingsun pondhongi besuk nakira
ngga dega ing Samawis
sigra ingkang garwa
cinadhak astanira
kang putra kinen tutwuri
pangkunen nyawa
sirahe bunireki.</poem>
|<poem> Wus pinangku ing putra rama tumandang</poem>}}<noinclude>{{rh|||323}}</noinclude>
9giq6mwf0bk7yup6jhuuq5rhmqxvpes
Kaca:Babad Prayud I.pdf/337
250
24479
77685
77067
2026-05-15T19:00:00Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77685
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Kuneng ta Den Bagus Benthing
ingkang anandhang citraka
neng gedhong lawan ibune.
lawan parekan titiga
sarwi ambekta lisah
kalentik kinarya urut
arapet tan kena benggang.</poem>
|<poem>Parekan grahita siji
matur daweg mring padesan
pinggir gunung ing leledhok
kula darbe prasanakan
putune lebe Dhatar
bilih wonten gunanipun
dene wadale paduka.</poem>
|<poem>Opah-opah kang abaris
reyal satus kadi angsal
sigra pinaring reyale
nyelawe tiyang sakawan
den ayu lan kang putra
winot jodhang wedalipun
brana riringkes binekta.</poem>
|<poem>Sapraptanira ing jawi
desa sakidul negara
ing tengah dalu praptane
wismane Ki Nalaguna
boboleh ni parekan
ingkang dadi wiwitipun
lambangsari lan kang putra.</poem>
|<poem>Pan sampun satengah sasi
wonten kaping kalih belah
kaping sekawan punjule
dupi panembahan pejah
kapupu ing paprangan</poem>}}<noinclude>{{rh|||335}}</noinclude>
h80vgcqup61yonft7vf9xpwxgici1rv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/326
250
24480
77629
77068
2026-05-15T18:30:33Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77629
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sawusnya angling aris
::sira papaesa
::den ayu asinjanga
::cindhe kanigara wilis
::kembena jingga
::pupura wedhak kuning.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem> Mengke ingsun udurku jenengi ing prang
banjur lan sira nuli
kulup siyaga
abebeda sambeja
paningseta cindhe wilis
nyawa kuluka
kanigara respati.</poem>
|<poem>Raden Ayu paesana putranira
yen bala sor ing jurit
sira ngalebata
wruha ing balanira
ingkang suda tyane sami
mulat ing sira
sayekti puluh malih.</poem>
|<poem>Sigra mangkat sarwi ngaras garwanira
sapraptanireng jawi
wus akarya papan
ing wuri pakebonan
awiyar gening prajurit
butulanira
jog margi ageng nenggih.</poem>
|<poem> Wau bala kang sami methuk ing marga
tebih lawan nagari
wus campuh kang yuda
lawan prajurit Demak
wong Japara anjenengi
ramening aprang
wong papat ngamuk wani.
</poem>}}<noinclude>{{rh|324}}</noinclude>
4bdop18gfjv0pb59ft7chxf5f8tpgjt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/338
250
24481
77686
77075
2026-05-15T19:00:30Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77686
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::cumbana tan keni ucul
:::pinecat-pecat tan kena.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Ki Nalaguna lingnyaris
paniku gampang kewala
endi gawanen marene
prapta gene Nalaguna
rakete pinariksa
Ki Nalaguna agupuh
mendhet dhedhak kalih tinja.</poem>
|<poem>Saha wuwusira aris
karone dika rumasa
yen wus panggawak sagawon
kawetu saking manungsa
yen uwis ucul sira
tobato maring Hyang Agung
aja maning ngglakonana.</poem>
|<poem>Sagah nulya den sandhingi
ing dhedhak kalawan tinja
winadhahan aneng bathok
sinandhingken ngarsanira
wonten tingang pamucang
kumruget unulya ucul
Den Ayu jeleh karuna.</poem>
|<poem>Sami tobat sami tobil
pinang adeg Nalaguna
miwah reyale selawe
mangkana ing byar raina
kalih sami karipan
wong barisan sami jujul
kinepung maksih anendra</poem>
|<poem>Anulya tinubruk wani
Mas Benthing sampun kacandhak
binanda ing sutra ijo</poem>}}<noinclude>{{rh|336}}</noinclude>
5eeyunel5cmpqucvygu96fte9ffp5s0
Kaca:Babad Prayud I.pdf/340
250
24482
77689
77070
2026-05-15T19:01:52Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77689
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kalaut apaliringan
::karaman ngetan angaler
::wong Yogja wong Surakarta
::ngilen bener kewala
::ing Tinap ingkang jinujug
::kang dhingine wong Ngayogya
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Tumenggung Ranadimurti
lan Tumenggung Natayuda
Tumenggung Singaranune
wong Surakarta neng wuntat
ing Tinap kagegeran
pra samya angungsi gunung
wong Yogja anggung jajarah.</poem>
|<poem>Nyekeli para patinggi
kang labet tumut karaman
mangkana wong Kedhu kabeh
kang kalah saking paprangan
dadya buron ranjapan
ingusir miwah den ipuk
mring wong Sala mring wong Yogya</poem>
|<poem>Akathah kang antuk sami
busana lan rajabrana
wus sami minger barise
kathah palayon cinegat
baris sami angetan
kang saking ing Kaliwungu
cinegat sami kacandhak.</poem>
|<poem>Bubar bupati pasisir
kang sami wonten Samarang
mring nagrine dhewe-dhewe
parentah kinen prayitna
manawa mungsuh wetan
nedya masisir puniku</poem>}}<noinclude>{{rh|338}}</noinclude>
idgzd7hkln977kznsn7rp6molhmc8y6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/341
250
24483
77690
77071
2026-05-15T19:02:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77690
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Pangran Arya Prabu Jaka.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Ingkang wonten ing Kadhiri
sujud wetan palabuhan
sanadyan nagri bang kilen
sami acungan kewala
ing Pace Kartasana
Kalangbret Rawa pinungkul
saking kadhiri wus bedhah.</poem>
|<poem> Punggawane jro tinuding
kang nama Ki Embah Jabar
ngirid satus prajurit jro
Kuda Sisimping kepala
nagri ingkang ginecak
bupatine sami teluk
kerid Tumenggung Bah Jabar.</poem>
|<poem> Kang tan nungkul pra dipati
ngungsi Madiun sadaya
Dipati Mangkuprajane
neng Madiun kendelira
ngantosi Bratawirya
angerig prajuritipun
mantuk dhateng Pranaraga.</poem>
|<poem>Lan kakangsen lampahneki
lan Rangga Prawiradirja
serat pirembag praptane
Den Rangga nuwun parentah
medal eler kewala
yen sampeyan nenggih estu
medal ing kidul kewala.</poem>
|<poem> Kula kanca pra dipati
kang kidul pun Kartasana
ing Rawa miwah Kalangbret
Kang dereng nungkul ing mengsah</poem>}}<noinclude>{{rh|||339}}</noinclude>
bjlwmdd7m43gakg9s6jxaesebrjaqff
Kaca:Babad Prayud I.pdf/62
250
24485
77889
77074
2026-05-15T20:33:55Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77889
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>dharatipun kalih ewu
estu badhe methuk ing prang.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Mila badhe methuk jurit
wonten abdi dalem magang
Tejakusuma namane
anusul anyar praptanya
sangking ing Surakarta
tutur lamun kang anglurug
sami was alit tyasira.</poem>
|<poem>
Samangsa pinethuk jurit
anyipta dhadhal kewala
milane ageng manahe
Wratmeja Jayamisena
senapati ngalaga
wus dados pirembagipun
pra dipati Surakarta.</poem>
|<poem>Enjing badhe dipun ungsir
Ki Tumenggung Arungbinang
wus jangji ngarsa enggene
ing dalu tan kawursita
enjing tengara budhal
neng ngarsa sakancanipun
Ki Tumenggung Arungbinang.</poem>
|<poem>Anulya kang anambungi
Ki Tumenggung Mangkuyuda
lawan sakanca mantrine
Tumenggung Jayanegara
gedhe nambungi wuntat
anulya ing wurinipun
Pangran Arya Pakuningrat.</poem>
|<poem>Yata kuneng kang winarni
Pangeran Jayamisesa
Nataningrat ing palugon</poem>
}}<noinclude>{{rh|60||}}</noinclude>
kl991oobf9qehqafnu0qcgbs0qu7rov
Kaca:Babad Prayud I.pdf/342
250
24486
77691
77076
2026-05-15T19:02:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77691
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dhereka ing sampeyan
::sanadyan kang sampun nungkul
::magange katur sampeyan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Yen wonten ungguling jurit
lajeng sampeyan tanema
tuwin cucuking lampahe
dene ta kanca sampeyan
inggih kang kula suwun
tunggila badan kawula.</poem>
|<poem>Sawab ler nagrinireki
Adipati Mangkupraja
ngundhangi prapteng ngrasane
Tumenggung Wirawidigda
Tumenggung Arungbinang
tinuduhken serat rembuging Rangga Prawiradirja.</poem>
|<poem>Sami mesem kang ngupeksi
ngling Dipati Mangkupraja
paran punika eseme
punapa gih tinuruta
adhi rembag punika
Tumenggung Rungbinang matur
punika pikir kapala.</poem>
|<poem>Pikir kenthel tur amanis
prak atine ngambra-ambra
sedhep anggubras ing akeh
upama tan tinuruta
dhewe kadi urakan
dadi mamak boten weruh
ing reh becik lawan ala.</poem>
|<poem>Wiradigda anambungi
gawok ingsun Arungbinang
bethoh Sokawati kiye</poem>}}<noinclude>{{rh|340}}</noinclude>
ar1mzrv7fhlnirt943ne7a0q8laekjp
Kaca:Babad Prayud I.pdf/343
250
24487
77692
77077
2026-05-15T19:03:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77692
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kenane pikir ngaracak
::ngadoni pancas bisa
::pada ngarekaken iku
::karo bupati sagara.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44
|<poem>Sigra wau parentahing
Adipati Mangkupraja
Tumenggung Wirasabane
mantri Nganjuk Pagerwaja
sira padha nunggala
barismu saparanipun
nak Rangga Prawiradirja.</poem>
|<poem> Wus sareng budhalireki
lan babantu ing ayuda
kuneng kang winuwus maleh
Pangran Singasari lagya
anata balanira
kang mentas menang prangipun
agenging tyas roning kamal.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||341}}</noinclude>
0w6vq2q1kitnlkzey8sqmcuc2pcwuw5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/344
250
24488
77693
77078
2026-05-15T19:03:48Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77693
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXXIII. SINOM'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Sampun ngadeg pawatangan
wonten nagari Kadhiri
nimbali para pradikan
bang wetan sami kinerig
Kiyai Tegalsari
neng Kalangbret milanipun
ngili duk dadi ajang
wong agung kalih ajurit
rame wawan neng nagari Pranaraga.</poem>
|<poem>Pan ing mangke tinim balan
nenggih Kyai Tegalsari
ing Pangeran Prabu Jaka
praptane Nagri Kadhiri
neng ngarsane tinari
mring Pangeran Singasantun
paman ingsun dongakna
amengku ing Tanah Jawi
kalakona si paman sun sungga-sungga.</poem>
|<poem>Tur sembah alón turira
sira Kyai Tegalsari
angger pakewet punika
boten sah dhongakna mangkin
inggih ing Tanah Jawi
sampun wonten ratunipun
kakalih kang satunggal
kang umadeg ing Matawis
nama Sulta punika raka paduka.</poem>
|<poem>Kang umadeg Surakarta
putra sampeyan sayekti
temah kawula duraka
angesol narpati kalih
dumeh saking kumpeni</poem>}}<noinclude>{{rh|342}}</noinclude>
61vugt26zg71degwbyqg5bam48zcqtt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/63
250
24489
77890
77079
2026-05-15T20:34:18Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77890
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sadalu apaguneman
lawan punggawanira
Jayeng Wilatikta ngayun
mangka manggala micara.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Tetuwa panutaneki
sagunging punggawanira
dene pianjur barang reh
Tumenggung Surabragodha
pinatah neng pangawat
Guthitwesi kanthinipun
pinatah pangawat kanan.</poem>
|<poem>Kang munggeng pangawat kering
Rahaden Tejakusuma
Mangunkusuma kanthine
pangerane munggeng dhadha
badhe ngawaki benjang
kang kinanthi dhadhanipun
Raden Jayeng Wilatikta.</poem>
|<poem>Badhe ngantep ing ngajurit
yata kawuwusa enjang
tengara manjeng barise
pinethuk sakidul jurang
jurang pereng kewala
yata wau kang winuwus
dedamel ing Surakarta.</poem>
|<poem>Kyai Rungbinang pangarsi
kacandhak sakit ing marga
lajeng tinandhu kemawon
Tumenggung Jayanegara
Tumenggung Mangkuyuda
sami utusan mangayun
angatasaken ing karsa.</poem>
|<poem>Rayi paduka kekalih</poem>
}}<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude>
9de5vtibyl21eld1s09c1nfvcovypjr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/339
250
24490
77687
77080
2026-05-15T19:00:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77687
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::binekta marang nagara
:::Lepentangi wus prapta
:::lajeng binekta sigra wus
:::mring Tumenggung Citrasoma.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Budhal marang ing Samawis
wau kang anggawa sirah
pukul sadasa praptane
bandan Pangeran Dipatya
kalawan ibunira
satengah pat praptanipun
oreg nagari Semarang.</poem>
|<poem>Sami luwar marasneki
kang nonton tunjang-tinunjang
ing marga jibeg agebel
Ideler kalangkung suka
upesir pra dipatya
kumpul pinundhutan rembug
dene menggah ukum Jawa.</poem>
|<poem>Pinanjer mustakaneki
yeku wong pangrusak jagat
mulang sarak araraton
ing dalu datan winarna
enjing sampun tinigas
pinanjer mustakanipun
jinajar lan sirahira.</poem>
|<poem>Panembahan Kowak sami
Deler sampun atur surat
mring para raja kaliye
Ngayogja lan Surakarta
turpiksa mungusuh kena
agantya ingkang winuwus
dadaleme pra dipatya.</poem>
|<poem>Ngayogja Surakarteki
</poem>}}<noinclude>{{rh|||337}}</noinclude>
j9kv4vyxmv87rg5n1pst5pywj8fq97f
Kaca:Babad Prayud I.pdf/345
250
24491
77694
77082
2026-05-15T19:04:09Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77694
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::kaliye pangadegipun
::pan inggih boten batal
::adege narendra kalih
::pan kumpeni boten ngowahi agama.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Malah tumut anguwatna
dhateng agamaning Nabi
boten ngowahi sarengat
pun Kumpeni kapir dhemi
kapir karbu lan malih
dadya tetep rewangipun
upama dinongakna
rojode karaton kalih
kang dongakken kaum bingung tanpa ngrasa.</poem>
|<poem>Wau kalane miyarsa
ature Ki Tegalsari
Pangran Arya Prabu Jaka
anglengger dangu tan angling
lingsem kapati-pati
dadya wijiling pawuwus
ya paman mung dongakna
pecahe tyasingsun mangkin
atiruwa pinter kaya kangmas sultán.</poem>
|<poem>Lan maning paman dongakna
iya putunira iki
iya sun paringi nama
nama Pangeran Dipati
Kiyai Tegalsari
kenging punika pukulun
pan inggih boten raja
milane punika keni
yata wau sagung punggawa sadaya.</poem>
|<poem>Wus prapta glar ing ayunan
rangga demang angabehi</poem>}}<noinclude>{{rh|||343}}</noinclude>
btn2kdv2n4s9p6h1d8uq3toyrt2ihx4
Kaca:Babad Prayud I.pdf/346
250
24492
77696
77083
2026-05-15T19:04:37Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77696
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ingalihken nananira
::ana pinacak bupati
::ana pinacak mantri
::sapantese wangunipun
::bebekel kang prakosa
::ing Porong Martajayeki
::sinung nama Tumenggung Martanegara.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Ngabehi ing Wirasaba
Tumenggung Martaprajeki
Japan wus pinaring nama
Ki Tumenggung Surengpati
Sarengat wus ingalih
Tumenggung Suralayeku
kang tuwa ing parentah
Martanagara ing jawi
dene ing jro mung Tumeggung Ki Bah Jabar.</poem>
|<poem>Ki Tumengguh Embah Jabar
tegese kang misesani
sabarang paparentahan
sosoran Kuda Sisimping
wus pinacak bupati
Tumenggung Segaramadu
wong saking Surabaya
Ki Muntaha wus kinardi
pinaringan Tumenggung Jayaprakosa.</poem>
|<poem> Wus tinundhung antukira
wau Kyai Tegalsari
wuri nulya paparentah
ngresiki ing Majapahit
Tanah Wirasabeki
badhe kinarya kadhatun
angalap sawab barkat
ngulihi ing Majapahit
kang nindhihi Tumenggung Martanagara.</poem>}}<noinclude>{{rh|344}}</noinclude>
6i4v744ihespdo6q0ljvpm4kz6s214w
Kaca:Babad Prayud I.pdf/347
250
24493
77697
77084
2026-05-15T19:05:16Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77697
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|<poem>Kathah kang anambut karya
badhe kitha Maospahit
prenah pakebonanira
wetan kedhatonireki
Brawijaya ing nguni
maksih nunggak banonipun
pinendhet kidul wetan
salebete bata bumi
kang cinengkal duk sami babadi wana.</poem>
|<poem> Kuneng malih winursita
wau kang narendra kalih
Jeng Sulta lan Jeng Susunan
wus sami ngundurken baris
kang nglurug den timbali
mung ngantunken titikipun
enggene Kyai Tinap
yen sampun kantenan gampil
nanging melang para raja kalih pisan.</poem>
|<poem> Karana Kyai Tinap
ing Tanah Jawa samangkin
tuwa dhasar ahli tapa
minangka tumbal nagari
dadya rubed kang pikir
para raja kalihipun.
wau Sulta Ngayogya
utusan marang Semawis
mundhut marang Raden Ayu Puspadirja.</poem>
|<poem>Sawab putrane kang tuwa
pambajeng estri akrami
lan putra ing Pangabeyan
wus nama Pangran Ngabehi
neng Selong dennya panggih
ing mangke sawontenipun
nagari ing Ngayogya</poem>}}<noinclude>{{rh|||345}}</noinclude>
3knuk0mpx8z0fti7rr81213juicg95e
Kaca:Babad Prayud I.pdf/348
250
24494
77698
77085
2026-05-15T19:05:41Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77698
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Pangran Silarong mameki
::pan punika kang adarbe maratuwa.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Pambajeng estri punika
panenggak Den Bagus Benthing
Raden Ayu Puspadirja
wus binakta mring Matawis
Sultan mundhutken nenggih
pinaringken mantunipun
nahan malih winarna
kang anglurug mring Kadhiri
Mangkupraja Rungbinang Wirawidigda.</poem>
|<poem> Sampun ngancik ing Caruban
lajeng mring Kartasaneki
dadamel kang saking Jipang
Rangga Prawiradirjeki
ngirid kang pra dipati
ngancik salering Jongbiru
gegere abusekan
kang wonten nagri Kadhiri
wurung dennya reresik ing Majalengka.</poem>
|<poem>Kinen andandani Ngantang
berana rerepot sami
ingilekken maring ngantang
kidul wetaning Kadhiri
binagi kang prajurit
anjagani mungsuh rawuh
neng pipining bangawan
denira badhe mothoki
kalantaka sapuluh jathok bengawan.</poem>
|<poem> Adipati Mangkupraja
semados singadhingini
ing wuri nusul den aglis</poem>}}<noinclude>{{rh|346}}</noinclude>
s63jbau15yn7pwjvxyofstfsnoewiv9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/64
250
24495
77891
77086
2026-05-15T20:34:43Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77891
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Janagara Mangkuyuda
Inggih ngaturi liru nggen
sampeyan gerah punika
inggih wontena wuntat
dene kang nggentosi ngayun
sumangga karsa sampeyan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Pan rayi paduka kalih.
pundi kang kinarsakena
Tumenggung Rungbinang linge
matur adhi karo pisan
ya uwis sun tarima
palamarmane maringsun
nging iya sun iki wirang.</poem>
|<poem>Aprang karo Mangkubumi
lara durung asesambat
prang lan Pangeran Purbayane
kerep tinandhu kewala
panas tis aneng marga
si adhi karo puniku
aja kuwatir maringwang.</poem>
|<poem>Mundur kalih kang tinuding
yen kang raka datan karsa
ginentosan panggonane
masih karasa kuwawa
tan tutug angandika
mantri pangarsa kang wangsul
mungsuh mangsah methuk ing prang.</poem>
|<poem>Nuju ángel papaneki
kidul Garenteng punika
gunung alit-alit mereng
bendhene mungsuh sauran
sarta surak gumerah
sigra mudhun sangking tandhu
Rungbinang datan mundura.</poem>
}}<noinclude>{{rh|62||}}</noinclude>
2gwvsqbo6l81mumhw5pxkhydh8pel9f
Kaca:Babad Prayud I.pdf/349
250
24496
77699
77087
2026-05-15T19:06:05Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77699
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dadamel lajeng sami
::kang kinaya semangipun
::aprang elet bengawan
::ararne bedhil-binedhil
::Raden Rangga anilap wong pitung dasa.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Mengandhap dalu lumampah
wonten paekanireki
penjalin ingkang kinencang
wong Pagerwaya kang kardi
tuwin ingkang jenengi
Tumenggung Wirasabeku
ginoyod ing wiwitan
wetan kali kulon kali
agethek pring kekencang dadya eretan.</poem>
|<poem> Wus nyabrang wong pitungdasa
tigangdasa kang ambedhil
panumbake kawandasa
ingkang sami andhadhapi
kalantaka prajurit
satus Prajurit Katanggung
wus ngumpul Raden Rangga
ngidul mungsuh den parani
sami lena kang nuguri Kalantaka.</poem>
|<poem>Kinira mangsa na bisa
iya kang nabrang ing wengi
yen raina nora karya
ing sanak wus den ukumi
sayekti nora bangkit
mangkana ing pukul telu
pra sami pinurungan
gene baris wong Kadhiri
binedhilan lan tambur beri gumerah.</poem>
|<poem> Geger gugup kakadhalan
</poem>}}<noinclude>{{rh|||347}}</noinclude>
rph5dykyhhxsm4mhcyztiyaa60d32ly
Kaca:Babad Prayud I.pdf/350
250
24497
77700
77088
2026-05-15T19:07:18Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77700
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::ponthai-panthir kocar-kacir.
::akeh kang lumayu wuda
::dandanan pra samya keri
::akeh lumayu gundhil
::ewon kuwur-kawur-kawur
::lap gang dangdananira
::pakuwone den obongi
::palayune prapteng nagera busekan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem> Gusis ingkang dadi kawal
para tumenggungireki
sira Tumenggung Bah Jabar
lan Tumenggung Surengpati
lan Rangga Jayengpati
Tumenggung Sagaramadu
mecah playunira
sakidul wukir den geni
ambalesar samya racut kudanira.</poem>
|<poem>Muwer aneng wukir Ngantang
Dipati Mangkuprajeki
kendel saler gunung Ngantang
majeng datan antuk margi
kendel sakancaneki
ing Kasinan dhusunipun
Rangga Prawiradirja
pra samya tan antuk margi
papanggiyan wonten dhusun ing Kasiman.</poem>
|<poem>Samya amangun pirembag
kumpul sagung pra dipati
ing Ngayogja Surakarta
Dipati Mangkuprajeki
seseban aneng jawi
dhadhahing Kasiman dhusun
ing ngadhap dipun resiki
sampun aglar bupati mancanagara.</poem>}}<noinclude>{{rh|348}}</noinclude>
3e91or7xbn786kz44v7yot2kg2xqhw1
Kaca:Babad Prayud I.pdf/65
250
24498
77892
77091
2026-05-15T20:35:24Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77892
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''V. {{tab}} Durma'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Ki Tumenggung Arungbinang dutanira
mangkana aneng wuri
aja na kagetan
aja watir maringwang
padha den kareksa wuri
mungsuh wong ngana
parlu narondhol sami.</poem>
|<poem>Sarageni rolas bae ngarsaningwang
ya rolas tumbakneki
yen katon keh ingwang
dadi tan wani nunjang
amireya nganan ngering
sigra kang wadya
samya manjing wanadri.</poem>
|<poem>Nyandhak agem sanjatane balimbingan,
sawidak minisneki
kang Saragni rolas
mapak tepining marga
adoh-adoh aja mbedhil
den perak padha
mbedhil den arah odhil.</poem>
|<poem>Mangsah nunjang prajurite Wiratmeja
tumon kang mungsuh kedhik
samya nganggah-angah
kukut sareng anunjang
Tumenggung Rungbinang aglis
majeng atadhah
wiratmeja kaeksi.</poem>
|<poem>Rasukane gadhung ginandhul kewala
amung talukupneki
baludru rinenda</poem>
}}<noinclude>{{rh|||63}}</noinclude>
429buekbtlt78uirv41kajy8fszsg1h
Kaca:Babad Prayud I.pdf/351
250
24499
77701
77092
2026-05-15T19:07:46Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77701
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=27
|<poem>Adipati Mangkupraja
sampun pinarak ing jawi
praptanira Raden Rangga
gupuh binaban eki
ngaras dalmakanipun
wus mundur sasalaman
lan sagung kangjp'ra dipati
wus nyata ta ling Dipati Mangkupraja.</poem>
|<poem>Pun anak Rangga punapa
inggih dereng antuk warti
tetepe inggih gen mengsah
Raden Rangga anauri
inggih pawarti angin
pepekenan tegesipun
taksih wonten ing Ngantang
nanging punggawane sami
dipun sebar parenca amrih polatan.</poem>
|<poem>Tumenggung wirawitdigda
alón denira nainbungi
ora kaya kowe Rangga
dadak matur warta angin
yen bethoh Sokawati
muni mengkono tan patut
murade si Paridan
padha duwe sipat sidik
padha murid kowe muride godhogan.</poem>
|<poem>Gumer sagung pra dipatya
Prawiradirja nauri
Kang Tumenggung kaya paran
wong matur Raden Dipati
yen aneng teba ugi
apa bedane lan ratu
yen ora prasendheya
</poem>}}<noinclude>{{rh|||349}}</noinclude>
7v9omxvngwz4a1u940qut26mb2nz2af
Kaca:Babad Prayud I.pdf/233
250
24500
77835
77093
2026-05-15T20:01:43Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77835
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>
<poem>
:::awit kamlurusing galih
:::mulat lelakoning putra
:::datan saged arringali
:::ing jroning Sapar sasi
:::Senen Kaliwon anuju
:::wulan ping kalihdasa
:::ing nalika pukul kalih
:::lajeng katur marang Kangjeng Sri Narendra.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Dipati Mangkunegara
kinarya wakil kang rayi
ngiras pantes kang sarira
Kaendranatan wus prapti
ngungun sampun mbawani
sapratikeling alampus
duta sangking jro pura
kang wira-wiri peparing
dhawuh marang Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Adipati Mangkupraja
sakancane pra dipati
prapta asaos ing karsa
dipati Mangkunagari
pra santana nyirami
ing layon njenengi wau
Pangran Mangkunagara
parentali mring Kyana Patih
ingkang badhe andherek mundhut wedana.</poem>
|<poem>Satunggil punggawanira
mundhut kahwon kekalih
Adipati Mangkupraja
wedana gedhong tinuding
Kyai Tirtawiguneki
bedholan samantrinipun
miwah paneketira
kaliwon sewu lan bumi</poem>}}<noinclude>{{rh|||231}}</noinclude>
6scxlqsjntw7s78kqllbofkp65z0d89
Kaca:Babad Prayud I.pdf/352
250
24501
77702
77094
2026-05-15T19:08:26Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77702
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen luputa atur marni
::apa miked kalamun kapatrapana.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem>Kang Menggung ing ciptaningwang
wus sipate Sri Bupati
Jeng Sinuwun Surakarta
tiru wong agung wegig
gandhes luwes dhasar patut
bupati asembada
ingkang kaya ingsun iki
atelada kang Menggung Wirawidigda.</poem>
|<poem>Pasthi gawe neking kathah
awadhag wuwuh nyenyengit
gumer kang para dipatya
Tumenggung Wiradigda ling
deleng si Sokawati
api busuk bisa padu
gumer kang pra dipatya
dangu gugujengan sami
prapta senggahira wong macanagara.</poem>
|<poem>Cinandhak ing Raden Rangga
abikut dennya ngladeni
mring Dipati Mangkupraja
eram kang sami ningali
dhakoh anrus ing ati
batin andhap-asorip'un
ingong wong wiji desa
yen ora mangkene pasthi
opyak lamun sengkan anyar tanpa ngrasa.</poem>
|<poem>Sawusira adhadharan
sagung kang para dipati
anutugaken kang rembag
saking angeling kang margi</poem>}}<noinclude>{{rh|350}}</noinclude>
mbnnl9udef2h746w3byiebo7ac0mjql
Kaca:Babad Prayud I.pdf/353
250
24502
77703
77095
2026-05-15T19:09:00Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77703
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen ora ambabadi
::yekti tan bisa lumaku
::wau ing marganira
::pangeran inggahireki
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem> Den Rangga Prawiradirja
nuwun pareníahireki
Adipati Mangkupraja
gih anak dika wetoni
saking ing wetan nenggih
kula saking 1er angidul
ambabad damel marga
saking 1er kula nginggahi
gih pun anak nginggahana saking wetan.</poem>
|<poem>Budhal nembah badhe nangga
sakancane pra dipati
angetan sabalanira
nulya menggok ngidul nuli
dhusun Kasiman nunggil
tanah padhukuhanipun
ler Ngantang wetan Ngantang
salingsir wetan pan maksih
tunggil tumut dhukuhira ing Kasiman.</poem>
|<poem>Wus sami wiwit ababat
denira akarya margi
alas ruwet karowodan
bondhot abundhet pring ori
yen dua rancahneki
pandhan ri galagah rayung
pudhak dhedhet aleksan
angel angudhubilahi</poem>}}<noinclude>{{rh|||351}}</noinclude>
bnf8kd85y3yicir1koo5j2u6qg9od54
Kaca:Babad Prayud I.pdf/66
250
24503
77893
77096
2026-05-15T20:35:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77893
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Rungbinang ngawet mojar
apan sarwi anudingi
Guntur den pedhak
kene padha prajurit.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Tanpa kusur temen wong kang kaya sfra
mbondhanken ratu kalih
lamun sun tiyupi
bedhilku balimbingan
iku sira madeg ají
sigra sinipat
wonge kang munggeng kering.</poem>
|<poem>Ingkang nunggang kuda wong nenem kang kena
wong dharat papat mati
ingkang munggeng kuda
kumrutug sami tiba
nulya balane Saragni
rolas ingatag
padha gantia mbedhil.</poem>
|<poem>Gulagepan wonge Raden Wiratmeja
binedhil akeh keni
yen bedhil tan angsal
anunjang-nunjang kabalik
Kyai Rungbinang
sigra ambedhil malih.</poem>
|<poem>Kathah malih antuke sami nggalasah
giris sigra ngoncati
sigra balanira
kang mire kinen medal
padha mbujunga den aglis
lan weha wikan
kanca bupatí wuri.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Rungbinang lante ginelar
sakité angranuhi</poem>
}}<noinclude>{{rh|64||}}</noinclude>
2tyynv84gaspg1nonep59puv5sl6l3b
Kaca:Babad Prayud I.pdf/354
250
24504
77705
77097
2026-05-15T19:09:23Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77705
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXXIV. DHANDHANGGULA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Kuneng ingkang kawuwusa malih
wau Kanjeng Sultan ing Ngayogya
kaengetan ing ature
kang paman Pangran Juru
nenggih kala gesangireki
dinufeng marang Surakarta lampahipun
kang rama arsa mundhuta
mring kang wayah putra pan salah satunggil
karsane ingkang eyang.</poem>
|<poem>Pinanggihken lawan putraneki
laki paman nanging ingkang wayah
kang sepuh wus angsal enggen
supados ingkang kantun
Sang Aprabu Surakarteki
ing mangke sampun lama
ing watawisipun
mila Jeng Sultan utusan
amariksa kang wayah agengireki
Nyai Arya Suwanda.</poem>
|<poem>Ana dene Nyai Suwandeki
lurah manggung sampun taliraga
punika taliragane
kang rama Sunan Prabu
ing punika kinarya nenggih
lurah kaparakjaba
sinungan jujuluk
pan Nyai Arya Suwanda
tinimbalan ing ngarsanira wus prapti.
Jeng Sultan angandika.</poem>
|<poem>Bibi Arya Suwanda sireki
lumakuwa marang Surakarta</poem>}}<noinclude>{{rh|352}}</noinclude>
45w7en3mxse8jdgaiwcxvx0cnsfntmr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/234
250
24505
77834
77098
2026-05-15T20:01:23Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77834
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::layon wusnya kinafan pinaripurna.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem>Binudhalaken sakala
pra santana ngater margi
Sri Bupati wus utusan
mring kang rama Ngayogjeki
dennya atur udani
sedanipun kang mbokayu
langkung ngungun Jeng Sultan
utusan pamethukneki
Parambanan nuduh kekalih punggawa.</poem>
|<poem>Wedana gedhong kalihnya
lan satus jagulireki
kang angrembat ginentosan
kalawan kang para santri
nyalataken ing margi
salawat miwah tetawur
kang sangking Kangjeng Sultan
kawan atus kang sapalih
warni dhuwit sapalih anggris rupiyah.</poem>
|<poem>Kalih atus lan salawat
sapra ptanireng Magiri
pinetak daganing rama
lan daganing ibuneki
para santri kang ngaji
pinacak ing patang puluh
dina anigang reyal
salawate santri siji
sampun bubar prayayi ing Surakarta.</poem>
|<poem>Kantun prayayi Ngayogja
para mantri kang nenggani
wedanane samya bubar
kuneng malih kang winarni
serat sangking Semawis
mring Yugja Surakarteku</poem>
}}<noinclude>{{rh|232}}</noinclude>
qxuyexdny1yy8xfnp62fe7a2p9grmiq
Kaca:Babad Prayud I.pdf/355
250
24506
77707
77099
2026-05-15T19:09:50Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77707
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::amariksa putumu
::upamane duk maksih alit
::ing mengko wayah pira
::iya putuningsun
::lawan sira prasabena
::ing karsane Sang Prabu Surakarteki
::sira darma sumangga.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Anggawaa kaliwon jro siji
mantri papat wolu paneketnya
sedheng ngiringake kowe
Ni Arya Suwandeki
matur nembah pan daweg nenggih
wus terang ing pitungkas
paduka pukulun
ya bibi mangsa bodhoa
lakunira mring anak prabu priyayi
tur sembah sigra meat.</poem>
|<poem>Sapraptaning jawi andhawuhi
ing priyayi kang badhe binekta
wus siyaga sedayane
kumpule lampahipun
wonten pitungdasa turanggi
kalihatus kang dharat
enjing lampahipun
saking nagari ing Ngayogya
aneng marga sadalu kendhelireki
enjing prapta nagara.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Puspanagareki
kangjinujug Ni Arya Suwanda
satengah rolas praptane
ing pukul limanipun
kerid marang ing srimanganti
satengah nem ngandikan</poem>}}<noinclude>{{rh|||353}}</noinclude>
008zikot1npg3h7so4z0euecgi1cal8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/356
250
24507
77708
77100
2026-05-15T19:10:17Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77708
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::prapteng ngarseng prabu
::Arya Suwanda tur sembah
::angaturaken wau kang salam taklim
::kang rama Kanjeng Sultan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=8
|<poem>Iya nini saungkurireki
Paman Aji iya padha harja
Suwanda atur sembahe
gih pra samya rahayu
sira iki aniniliki
buyutmu si Sawiyah
pan iya si Sentul
pan lagi ngancik patbelas
tahun iki umure buyutireki
kang putra tinimbalan.</poem>
|<poem>Prapteng ngarsa ngandika sang Aji
lah ta iku dadi buyutira
Ni Arya Suwanda kaget
meh kedhik mangsanipun
sarwi ngartijroning tyasneki
iki putri utama
sapolahe patut
ing ngayogya nora ana
ingkang mirib iya suwarnaneki
bejane gustiningwang.</poem>
|<poem>Dhuh pukulun inggih kirang kedhik
Rama Tuwan ngarsakna miwaha
inggih kirang satarenceng
ngandika Sang Aprabu
sira nini mondhok ing ngendi
matur Riya Suwanda
inggih wismanipun
Tumenggung Puspanagara
iya dimen baturmu mondhok ing jawi
sira ing jro kewala.</poem>}}<noinclude>{{rh|354}}</noinclude>
p1yyqvn24h9k1trd0bmrwckmahiwxiv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/357
250
24508
77709
77101
2026-05-15T19:10:40Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77709
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Atunggala lan buyutireki
sampun bubar Sang Nata asalat
Nyai Arya Suwandane
dherek Den Ajeng Sentul
prapteng wisma wus tata linggih
den ajeng ngandikanya
nini kula nuwun
sampeyan ecaa lenggah
kula salat nyauri sarwi nyakikik
dhuh sampun walangdriya.</poem>
|<poem>Ni Suwanda gumujeng ing batin
iki putri ratune utama
wong ayu tekan tinjane
bejane kang amengku
begja gedhe yen amarengi
kalawan karsaning Hyang
Jeng Gusti ing besuk
wusnya bakda dennya salat
prapta segah saking karaton agili
cinatur laminira.</poem>
|<poem>Kawan dina lawan tigang wengi
Nyai Arya Suwanda neng Sala
sampun nelas pitungkase
ing Surakarta prabu
ukum kitab ing ngangge yekti
sarat kudu weruha
lanang wadonipun
saking saderenge panggya
yen tumrapa wong jaba ana natoni
wong agung seje nama.</poem>
|<poem>Nyai Riya Suwanda wus pamit
lampahira pan sadalu marga
pukul tiga duk praptane
ngandikan sontenipun</poem>}}<noinclude>{{rh|||355}}</noinclude>
nmwhj7fd5rsr6b8w3uuujs1pbrn5o0l
Kaca:Babad Prayud I.pdf/235
250
24509
77836
77102
2026-05-15T20:02:08Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77836
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::Deler Ubrus tur priksa
:::lamun Wiratmeja mangkin
:::ngadeg rnahh neng bumi Demak kang wetan.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem>Sang Prabu ing Surakarta
sigra dennya marentahi
Ki Tumenggung Mangkuyuda
nutugken karyanireki
lan Jayanegareki
nindhihi para tumenggung
sagung mancanagara
priyayi ing Ngayugjeki
ngamungaken Den Rangga Prawiradirja.</poem>
|<poem>Sawadya mancanagara
miwah Ki Tumenggung kaHh
Mangkuyuda Janagara
lan wadya mancanagari
sangking kidul nadhahi
Rangga Prawiradirjeku
kang nggitik sangking wetan
Wiratmeja wady aneki
duk miy arsa dereng tarung sampun bibar.</poem>
|<poem>Pambesote ngidul ngetan
Wiratmeja atut wuri
marang palayuning bala
kang nggitik sami angungsir
punggawa Ngayugjeki
satunggil kang misah laku
megati palajengnya
Grobogan Sasranagari
wong binujung pinegatan sangking ngarsa.</poem>
|<poem>Dadya anunjang kang ngarsa
Bugise Raden Suwandi
seket kang ngingu samangkya</poem>}}<noinclude>{{rh|||233}}</noinclude>
5kkjjuirc8ae1iugv0cxq174rw6d9e2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/358
250
24510
77710
77103
2026-05-15T19:11:07Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77710
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::praptanira ngabyantara ji
::katur sasolahira
::neng Surakarteku
::legane galih kang putra
::langkung anter Lodhang sabarang karseki
::kang putra Surakarta.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Katur lamun ngagama netepi
dalil kitab sarat ngawruhana
ing saderenge panggihe
nontoni tegesipun
yen menggaha titiyang Jawi
dene wayah paduka
inggih yuswanipun
duk kawanwelas lumampah
yen ing menggahing wangun langkung respati
tan wonten jinawada.</poem>
|<poem>Antawise kalih welas làtri
Kanjeng Sultan nimbali Danurja
kalawan Uprup sarénge
sapejahe pun Dungkur
Uprup Lapro ingkang gentyani
sapraptanireng pura
miwah Danurjeku
jeng sultan alon ngandika
iya Lapro maringa Surakarteki
ngiringna sutanira.</poem>
|<poem> Ki Dipati Anom benjing-enjing
seba marang kangmase ing Sala
Lapro sandika ature
Sultan andikanipun
heh Danurja sapa priyogi
kancanira wadana
Danurja wot santun
yen pareng karsa paduka</poem>}}<noinclude>{{rh|356}}</noinclude>
r83xrfynx3s4mkmbw44ohl3l2shaexu
Kaca:Babad Prayud I.pdf/359
250
24511
77711
77104
2026-05-15T19:11:56Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77711
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::pun Tumenggung Ngurawan kang mangajengi
::pawingkinge sumangga.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem> Iya uwis nora sun kantheni
wadanane ya siji kewala
iya papat kaliwone
nembelas mantrinipun
prajurit jro atus sasami
urunana kewala
trang pitungkasipun
duk semana Baureksa
wadanane kaparak Baurekseki
pan sampun sinalinan.</poem>
|<poem> Kang kinarya pun Prawirasekti
nama Ki Tumenggung Garwakandha
Mas Malar Baureksane
pinaringaken sampun
amanggihi Pangran Dipati
Tumenggung Wiraguna
pinaring nameku
kang pinijig dherek Pangeran Dipati
Pangeran Singasekar.</poem>
|<poem>Margasana Kusumayudeki
katri sampun pinaring busana
sapangadeg sadhuwunge
Tumenggung Rawan gupuh
ingadikan wus prapteng puri
woling dalem anelas
mring sira Tumenggung
Urawan katri santana
Uprup Lapro dragunder tridasa kalih
katri upeksirira.</poem>
|<poem>Wadya Kadipaten pan kinerig</poem>}}<noinclude>{{rh|||357}}</noinclude>
2chv8kvmnn5s1v3kqkrbs3ulcrfsbq2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/236
250
24512
77837
77105
2026-05-15T20:02:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77837
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::Tumenggung Sasranagari
:::kadi Raden Suwandi
:::wadya Bugis anggepipun
:::kang binekta sadasa
:::pendhongkole aneng Pathi
:::ingkang seket sinrahken Sasranagara.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Amegati marganira
nuju satunggil kang margi
ing kiwa tengen jejurang
Bugis seket kang mepeti
pinelak sangking wuri
Wiratmeja menyang ngayun
kabutuh purinira
ngidak wanj nunjang wani
wadya Bugis seket nadhahi tan oncat.</poem>
|<poem>Caruk wor tempuh ing aparang
kumrupyuk sireping bedhil
waos sami pinutungan
pakewuh ramy a caruk kris
Bugis akeh kacundrik
adangu wus kathah lampus
Bugis lawan wong Jawa
miwah akathah kang kanin
Bugis seket kang gesang amung pitulas.</poem>
|<poem>Wong Jawa mung tigang dasa
akathah kang nandhang kanin
balanipun Wiratmeja
wauta ingkang abaris
kang ngaben wadya Bugis
Sasranagara Tumenggung
tebih panggenanira
nging kapyarsa ing ajurit
atetulung rongatus prajurit kuda.</poem>
|<poem>Kapethuk ing Wiratmeja</poem>}}<noinclude>{{rh|234}}</noinclude>
7qwy0zmqzrl8m4j9f6j64dofbebupho
Kaca:Babad Prayud I.pdf/67
250
24513
77894
77106
2026-05-15T20:36:23Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77894
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sigra sesarean
Jayanagara prapta
jlog medhuk saking turanggi
panyananira
kang raka nandhang kanin.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Rinungkeban ingkang raka aris mojar
adhi kula tan kanin
malesi kewala
susulen Wiratmeja
polahe negakna pati
momor ngucira
dudu traping prajurit.</poem>
|<poem>Kulambine gadhung ginandhul kewala
aja sira awigih
mangsa mberajata
ya wong mangkana ika
Jayanagara nulya glis
nitih turangga
lajeng sawadyaneki</poem>
|<poem>Mantri bumi wus dangu pambujungira
pangawatira aglis
kanan kering sempal
pegat tan ana tadhah
binedhilan akeh keni
akeh kacandhak
ingkang kapengkok wukir.|</poem>
|<poem>Aturipun telik pan kaleru uga
Gendhing limang pontheki
iku kang tinarka
enggene Wiratmeja
jatine Wiratmejeki
sampun angetan
nyamar amindha mantri.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude>
t8r8kko8128qm1mg5fn4th4ansn5nbi
Kaca:Babad Prayud I.pdf/360
250
24514
77712
77107
2026-05-15T19:12:45Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77712
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::pra dipati sedaya urunan
::nenggih sami papatihe
::gagaman yen ginunggung
::tigangewu lan kang turanggi
::kawanewu kang dharat
::kalebet pipikul
::serat binakta Urawan
::mangkat Ngahad Kaliwon ping wolu sami
::marengi Dulkaidah.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=22
|<poem>Ing tahun Be sengkálanireki
Naga Liman Angobahken ing fat
gumuntur mriyem urmate
para kaliwon ngayun
para mantri sadaya wuri
pukul wolu angkatnya
saking Ngayogjeku
sadinten dennya lalampah
prapteng Gondhang kendel sadalu nulyenjing
lajeng tengara budhal.</poem>
|<poem>Prapteng Wanakarta pukul katri
sampun sinaosan pasanggrahan
nenggih sakidul kaligen
pan ragi wetanipun
wadya Surakarta kang kardi
Uprup matur Sang Nata
yen kang rayi rawuh
Pangran Dipati Ngayogja
ing punika makuwon Wanakarteki
dinten benjing praptanya.</poem>
|<poem>Srinarendra sigra marentahi
pra sentana kinen amethuka
sareng lan Oprup lakune
Pangran Dinagareku
lan Pangeran Diwijayeki</poem>}}<noinclude>{{rh|358}}</noinclude>
5j5hdacno4wpbvapdedp1216pwiq2l7
Kaca:Babad Prayud I.pdf/361
250
24515
77713
77108
2026-05-15T19:13:07Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77713
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::lan Pangeran Prabu
::sami kendelnya Kaleca
::tuwan Uprup bekta kereta kakalih
::tata aneng Kaleca.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Punggawa siji kaliwon kalih
kang naosi nenga Wanakarta
ing pukul pitu budhale
saking Wanakarteku
praptanira Kaleca sami
Pangeran Adipatya
Mataram agupuh
lan sagung santananira
tatabeyan lan Uprup Surakarteki
santana Surakarta.</poem>
|<poem> Tatabeyan lan Uprup Matawis
Pangran Dipati nulya salaman
lan kang raka katigane
Pangran Dinagareku
Sang Pangeran Diwijayeki
Pangeran Danupaya
sigra Pangran Prabu
ngabekti dhateng kang paman
Jeng Pangeran Dipati Anom Matawis
manthuk tan angandika.</poem>
|<poem>Ki Temunggung Ngurawan nulya glis
mamitaken arsa kakampuhan
Pangeran Dipati Anem
misah sentananipun
pan sadaya kang sipat mantri
pra samya kakampuhan
neng Kaleca dangu
Salasa Paing praptanya
sawusira kampuhan Uprup ngaturi</poem>}}<noinclude>{{rh|||359}}</noinclude>
b0kvz6ao3ru1azouri522liayw276ok
Kaca:Babad Prayud I.pdf/237
250
24516
77838
77109
2026-05-15T20:04:05Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77838
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::lajeng campuh ing ajurit
:::arame aprang turangga
:::Wiratmeja anadhahi
:::Sasranagara ngukih
:::ngawaki angembat lawung
:::den tanggen Wiratmeja
:::ing kene padha wong becik
:::ingayatan lawung Wiratmeja nggiwar.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43
|<poem>Balane mawur sasaran
Sasranagara nututi
anjelih panguwuhira
Heh Guntur baya sireku
dudu trahing Matawis
teka lumayu ing pupuh
lumayu ngungsekken urip
anak sundel lumayu prang dudu lanang.</poem>
|<poem>Saking giras Wiratmeja
Sasranegara angungsir
maledug arebut paran
wadyanira pothar-pathir
kacandhak keh ngemasi
Wratmeja palayunipun
nusup nggiwar mring wana
apan maksih den kekinthil
marang sira Tunienggung Sasranagara.</poem>
|<poem>Kang sami ngungsir sadaya
ingkang melak sangking wuri
wus amor kang pra dipatya
lajeng pra samya nut wuri
nilap palajengneki
angilang Raden Mas Guntur
nikel palayunira
wurining mungsuh dennya mrih</poem>}}<noinclude>{{rh|||235}}</noinclude>
992gmma7w2pwpwr4kt7xmp8bj59wtwa
Kaca:Babad Prayud I.pdf/362
250
24517
77715
77111
2026-05-15T19:13:34Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77715
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mangkat nitih kareta.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Pangran Adipati ing Matawis
sakareta lan Uprup Beiman
Uprup Ngayogja tunggile
kareta Pangran Prabu
tan adangu praptanireki
ing loji wus pepekan
kang pra dipatya gung
Dipati Mangkunagara
sampun dangu denira wonten ing loji
wau duk praptanira.</poem>
|<poem> Uprup Beman lan tamunireki
wusnya tata dennya palenggahan
munggeng kursi sedayane
santana pra tumenggung
Adipati Mangkunagari
ngandika atatanya
dhimas lampahipun
pinten dalu aneng marga
tan sumahur pangeran ewed tyasneki
tannya marang Urawan.</poem>
|<poem> Ki Tumenggung Urawan wotsari
gusti inggih jeng raka paduka
Pangran Mangkunagarane
sigra wau umatur
Adipati Anom Matawis
kakangmas atampiya
nenggih salamipun
Kangjeng Rama jengandika
anggli ing dhengku anuwun kawula adhi
Kiyai paring salam.</poem>
|<poem> Paman saini raharya kiyai
tuwin inggih sedaya yayimas</poem>}}<noinclude>{{rh|360}}</noinclude>
0cerh1rpcy7hye1ya995svvjj1yqisz
Kaca:Babad Prayud I.pdf/68
250
24518
77895
77113
2026-05-15T20:36:47Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77895
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Apan amung wong pepitu ro wangira
anjog ing Kabulengkir
bumi Surabaya
aneng ngriku martapa
yen kala manjing nagari
ing Surabaya
amindha mantri ngemis.</poem>
|<poem>Kalih dinten tigang dinten sipengira
ngastana Ngampelgadhing
pan ora kawruhan
lamun iku satriya
sayekti sami angemis
sabaturira
kahana sami ngemis.</poem>
|<poem>Kawuwusa wau kang ngungsir ngupaya
nggene mungsuhireki
sadinten tan angsal
mubeng abilenglengan
Ranadipura kang kardi
ngubengken lampah
bingung rep antukneki.</poem>
|<poem>Gantya sami wong pasisir ingkang ngampyak.
wong Sala Ngayogjeki
nadhahi kewala
salamine mangkana
para dipati andugi
Kyai Rungbinang
sampun wonten kangnjawil.</poem>
|<poem>Lamun Ranadipura tyase juijana
tan tumemen ing kardi
Pangran Mangkuningrat
wus kathah kang uninga
kang umatur bisik-bisik</poem>
}}<noinclude>{{rh|66||}}</noinclude>
oc97mp9cg5kcapygbbm43pisnj2rine
Kaca:Babad Prayud I.pdf/238
250
24519
77839
77114
2026-05-15T20:04:34Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77839
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>:::binaledig kasaput surya diwasa.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=46
|<poem>Kang mbujung samya kelangan
neng wana sinapih latri
makuwon kang pra dipatya
enjinge rembagan sami
denira angulati
lan punggawa Ngayugjeku
sakancane pra dipati
bubuhane ngulari ngalor lan ngetan.</poem>
|<poem>Punggawa ing Surakarta
bubuhane angulati
kidul ngilen punika
wus pisah bubaran sami
wadya Surakarteki
angidul anjog Kumuncup
bupati ing Ngayugja
anjog ler Kendheng ing wukir
ngosak-asik Tanah Lasem pagunungan.</poem>
|<poem>Wus kadya wong njebad gemak
rakite dennya ngulati
wau Raden Wiratmeja
mung wong sapuluh kang ngiring
kalebet jalu estri
anjog ing Kuwu Baledhug
yen dalu alelampah
yen ririten ndhelik wanadri
neng Carewek dhukuh ing Kuwu kasimpar.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Mangkuyuda
mrasudi kang pra dipati
sinarta lawan bebeya
ngulati wong desa sami
miwah tabetireki
kang wus suwiteng Mas Guntur</poem>}}<noinclude>{{rh|236}}</noinclude>
3e33hlz0i1p7m62eh59oztxr0w2c4vs
Kaca:Babad Prayud I.pdf/252
250
24520
77739
77115
2026-05-15T19:24:17Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77739
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XXII. POCUNG'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Ya ta wau Tumenggung Mangkuyudeku
lan Jayanagara
pinangadeg ing bupati
kurmatira Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Wau Uprup wusnya pamit lajeng mantuk
myang katri punggawa
sareng sami nembah amit
mijil sangking dalem Kamangkunagaran.</poem>
|<poem>Prapta wau parentahira Sang Prabu
jisim Wiratmeja
pinetaka Ardi Wijil
tinunggil kang eyang Pangran Tepasana.</poem>
|<poem>Sang Aprabu putusan ngaturi weruh
dhateng ingkang rama
Kangjeng Sultan Ngayugjeki
lamun menggah pun Wiratmeja wus pejah.</poem>
|<poem>Kengingipun pun Wiratmeja tinukup
neng wana asimpar
bature wolu nggalinting
neng Carewek bature gusis sadaya.</poem>
|<poem>Wananipun nenggih ing Kuwu Baledhug
wit bebah-bebahan
pan abdine Paman Aji
bubuhane pun Rangga Prawiradirja.</poem>
|<poem>Yen angaler lawan angetan puniku
den pun Mangkuyuda
yen mangilen ngidul nenggih
kenenipun punika wonten bubuhan.</poem>
|<poem>Pun Tumenggung Amangkuyuda kang kidul
wus titi winaca</poem>}}<noinclude>{{rh|250}}</noinclude>
mnnx2nchfgirnbyyc2a0a1qhyn2nz3q
Kaca:Babad Prayud I.pdf/69
250
24521
77896
77116
2026-05-15T20:37:17Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77896
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Ranadipura
kanggenan ibuneki.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Wiratmeja kinarya bedhange lama
samangke dipun ungsi
lajeng tinadhahan
nguni satengah wulan
tinunggil barisan maksih
amung samangkya
ingantukaken wingi.</poem>
|<poem>Dhateng Jagaraga ing panamurira
ingaken para selir
sakit neng barisan
mila ngulihken enggal
dadya gunem pra dipati
ngaturi serat
inggih warni kekalih.</poem>
|<poem>Kang satunggal katur ing Jeng Sri Narendra
dene ingkang satunggil
katur ing Pangeran
Mangkunagara nulya
lumaksana kang tinuding
sapraptanira
kang katur ing Nrepati.</poem>
|<poem>Sampun katur miwah kang dhateng pangeran
kang katur ing Sang Aji
langkung ewedira
dening Ranadiningrat
langkung seneng Sri Bupati
pened prangira
lawan dhapure pekik.</poem>
|<poem>Lawan tilas bupatinira kang rama
Jeng Sultan ing Matawis
sanadyan wong desa</poem>
}}<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude>
1bafwc0dqughg2l47chefvvp0xuan5m
Kaca:Babad Prayud I.pdf/239
250
24522
77840
77117
2026-05-15T20:04:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77840
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::punika kang pinarsudi
:::linalopa sarta mawi ngebang-ebang.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=50
|<poem>Ing Trenggalek Surabrata
kang binobot amarsudi
mring Tumenggung Mangkuyuda
prabeyane den sabeki
tan lami lampahneki
nadyan tuk tumenggungipun
punggaweng Wiratmeja
Tumenggung Wilatikteki
lan Mas Jayeng Den Tirakusumasmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||237}}</noinclude>
gavzkxbrt8fb4s502m31nh35zonsyo8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/253
250
24523
77749
77118
2026-05-15T19:29:14Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77749
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Sultan langkung sukeng galih
::wus ngangsuli mring kang putra Surakarta.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Kuneng wau wonten malih kang winuwus
wukir kidul mangkya
angot edane wong wukir
sami bali sapangilen sapangetan.</poem>
|<poem> Kang rinatu Susunan Gandhik nameku
purwane punika
wong sesawah nerau gandhik
meles ireng asih gandane angambar.</poem>
|<poem>Dadya wau wong pira-pira angumpul
gandhik tinalika
den kosoki den wedangi
nora ilang gandane sangsaya ngambar.</poem>
|<poem> Samya ngungun cipta dudu wadinipun
prapta Tinggi samya
nerka yen wahyu sayekti
andhingini pepucuk wahyu karajan.</poem>
|<poem> Sampun rembag sampun ngumpul barisipun
pan wus kapiyarsa
Nagyogja Surakarteki
rembug mukul anglampahaken gegaman.</poem>
|<poem>Kang tinuduh Ngayogja ingkang lumaku
punggawa santana
Pangran Jayakusumeki
kinanthenan Ki Tumenggung Jáyadiija.</poem>
|<poem>Budhal sampun Surakarta kang tinuduh
Pangran Mangkuningrat
lawan Tumenggung satunggil
ing Kadhuwang Tumenggung Suryakusuma.</poem>
|<poem>Lampahipun kang eler kang kilen sampun</poem>}}<noinclude>{{rh|||251}}</noinclude>
m7piq0s6q6pq1r5ta4jhw84843d2tvu
Kaca:Babad Prayud I.pdf/254
250
24524
77752
77119
2026-05-15T19:30:15Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77752
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>::pagut padedesan
::Pangran Jayakusumeki
::barisipun angancik Sampar Paliyan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=17
|<poem>Pangran Timur abaris Gunungsapikul
wong gunung miyarsa
yen gegaman kang anggitik
samya prapta wong Yogja wong Surakarta.</poem>
|<poem>Sampun agung barise wong Gunungkidul
wonten kuda dhomas
kalih ewu dharatneki
kawaratan baris kang kulon kang wetan.</poem>
|<poem>Sunanipun Gandhik pinikul neng wakul
cindhe ulesira
pikulan andha malangkrik
sapolahe wong gunung jawal angakal.</poem>
|<poem>Ingulesan cindhe wau andhanipun
pinayungan jenar
wus amoh songsonge nguni
kang adarbe Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Amoh sampun kari aneng Gunungkidul
dinekek ngastana
mangkya wonten karyaneki
Sunan Gandhik punika kang sinongsongan.</poem>
|<poem>Sampun rembug wong Yogja Surakarteku
pareng semadosan
denira umangsah jurit
sami ngampyak singa desa kinarakan.</poem>
|<poem>Barisipun kang ageng neng Gunung Sewu
sigra atengara
Pangran Jayakusumeki
budhal ngetan Pangeran Jayakusuma.</poem>}}<noinclude>{{rh|252}}</noinclude>
gj3um8309014vkopx7gimnvoh18a7qs
Kaca:Babad Prayud I.pdf/255
250
24525
77761
77120
2026-05-15T19:35:38Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77761
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Pangran Timur tengara budhal angidul
wong gunung atata
gagaman arsa nadhahi
Pangran Jayakusuma nempuh anunjang.</poem>}}<noinclude>{{rh|||253}}</noinclude>
fdxyail8xt4q6j0uxlxd83hmkngqm2x
Kaca:Babad Prayud I.pdf/256
250
24526
77764
77121
2026-05-15T19:37:00Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77764
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Ki Tumenggung Jayadirja asru ngamuk
saprajuritira
kuda satus ngidak wani
tajem lawan Pangeran Jayakusuma.</poem>
|<poem>Ngiles purun kuda satus patang puluh
prajurit pilihan
arahane munggeng wuri
wadya gunung amethuk kaselak gila.</poem>
|<poem>Kuwur-kuwur ulap ing busananipun
sayekti tandang
wong desa lawan priyayi
sapolahe ing aprang akuthetheran.</poem>
|<poem>Wong sapuluh wong siji ingkang anempuh
yen tinumbak akeh keni
ting talebuk kang tiba saking turangga.</poem>
|<poem>Kang lumayu susunane ganti runtuh
pan sampun katawan
kang lumayu ngetan sami
kaparanggul bala ing Mangkuningratan.</poem>
|<poem>Ginaruduk sangsaya kathah kang lampus
kang kulon amelak
kang wetan asru nadhahi
ambelasah besah-basih akeh pejah.</poem>
|<poem>Larut mirut keh naleset nusup-nusup
wuri wong ngarahan
angubres anyarahi
akeh ingkang candhak binanda.</poem>
|<poem>Wonten satus wong Yogja Surakarteku
kang antuk babandan
wus kendel angampul sami
wong Ngayoja miwah bala Surakarta.</poem>}}<noinclude>{{rh|254}}</noinclude>
geiwzijo2u4i19ugzyndqzgyz3ta5j2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/257
250
24527
77766
77123
2026-05-15T19:37:49Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77766
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=33
|<poem>Pangeran Timur Pangran Jayakusumeku
samya pakumpulan
neng dhusun Semanuwirik
ameriksa gandhik kang rinaja-raja.</poem>
|<poem>Tabetipun gandhik panggadan rumuhun
nenggih panglawedan
kongsi gerang gandhik Acih
pasthi dhatan kena rinusak gandanya.</poem>
|<poem>Kang adarbe gandhik gagawan rumuhun
saking Kartasura
katariwal duk Gunungkidul tinedhah.</poem>
|<poem>Badanipun linirokken liru sampun
antuke wong Yogja
yen wismane dhusuneki
tumut Sala ing ngantukaken mring Sala.</poem>
|<poem> Lamun tumut wong Yogja sambating dhusun
babalen sadaya
wus bubar sagung pray ayi
babandane kang patut-patut ginawa.</poem>
|<poem> Kang tan patut sami linuwarken sampun
mung kari limólas
kang binekta mring nagari
sareng budhal wong Yogja wong Surakarta.</poem>
|<poem>Tan kawuwus ing marga sapraptanipun
nagri sowang-sowang
katur marang Sri Bupati
sapratingkah duk aprang lawan karaman.</poem>
|<poem>Kuneng wau kang mentas sami anglurug
gantya kawuwusa
kadi sareng lampah neki
ing carita yektine genti ingucap.</poem>}}<noinclude>{{rh|||255}}</noinclude>
dh2w01oywcc2tyqrl7l8q53g9cm0oqm
Kaca:Babad Prayud I.pdf/70
250
24528
77897
77125
2026-05-15T20:37:41Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77897
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>arang dhapur mangkana
tan ana gothang samenir
wangunanira
tuhu Radyan Sentyaki.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Jajenggote wit mila saking jejaka
muyek mung kalih nyari
kateling sinipat
brengos tinepi atap
marma kewran Sri Bupati
dadya karsannya
tinimbalan pribadi.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Rungbinang lawan kang raka
kuneng wadya pasisir
wus dadi rembagnya
lamun Candrakusuma
yekti ana kang ngeceki
satingkahira
pasthi Raden Suwandi.</poem>
|<poem>Nak sanake ing Raden Suryanagara
mila dadi bupati
nduweni nagara
Sultan mangsa ningaa
mung katon Raden Suwandi
Tumenggung Candra
kusuma tan kaeksi.</poem>
|<poem>Seratira bupati nenem kang prapta
gilig tunggil sauni
prapta mring Pangeran
Arya Jayakusuma
dadya pra samya jinawil
kang pra pangeran
pra dipati pinijig.</poem>
|<poem>Serat saking pasisir gantya nupiksa</poem>
}}<noinclude>{{rh|68|}}</noinclude>
t370mmtyegrnuwz4qfl0mrdu42kdo9k
Kaca:Babad Prayud I.pdf/258
250
24529
77767
77127
2026-05-15T19:38:09Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77767
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=41
|<poem>Sang Aprabu Surakarta wus angutus
mring Deler Samarang
lamun Ratu Mas ing mangkin
karsa ingantukken marang ing Madura.</poem>
|<poem>Suratipun apan inggih Sang Aprabu
kang dhateng Madura
Deler anglakokken aglis
serat dalem ingkang dhawuh Panembahan.</poem>
|<poem> Sampun laju suratira sang Aprabu
mring Dipati Sampan
lan serat Deler pridadi
ingkang dhateng Panembahan ing Madura.</poem>}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Surat Deler ingkang prapta Madureku
sung tupiksanira
kang rayi Ratu Mas mangkin
pipisahan ing krama lawan Sang Nata.</poem>}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=45
|<poem> Pan puniku sampun karsaning Hyang Agung
tan keni den nalar
kang mungguh ing manungseki
Panembahan sampun owah lan Sang Nata.</poem>
|<poem>Miwah wau serat dalem ingkang dhawuh
marang panembahan
Madura maringi paksi
yen kang rayi Ratu Kencana pinirak.</poem>
|<poem>Ingkang sampun takdir karsaning Hyang Agung
mangsa kenging owah
pancen titahing Hyang Widi
kula kangmas datan kuwasa akarya.</poem>
|<poem>Milanipun kangmas angenirna kuwur
sumelanga ing tyas
ngowahken ukara yekti
boten kenging ing Madura yen mingkara.</poem>}}<noinclude>{{rh|256}}</noinclude>
53icbkd0z4fel0fxibbv9wms82mem4c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/259
250
24530
77768
77129
2026-05-15T19:38:22Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77768
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=49
|<poem>Yata wau dutanipun Sang Aprabu
kang maring Semarang
pamit sampun den angsuli
sakathahe prakara Deler andhadha.</poem>
|<poem>Lampahipun prapteng ing Surakartésuk
serat wawangsulan
kang saking Deler Samawis
tinupiksa duk myarsa suka Sang Nata.</poem>
|<poem>Dennya Deler tan sumringgah dennya tangguh
susuker Sang Nata
nenggih pantes den awaki
sampun menggah kang dadi manising praja.</poem>}}<noinclude>{{rh|||257}}</noinclude>
25d6l4fzsbg13u0s4awiychzyonekyf
Kaca:Babad Prayud I.pdf/240
250
24537
77841
77136
2026-05-15T20:05:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77841
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XXI. ASMARADANA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Kerid ing Surabrateki
Jayeng lawan Wilatikta
lan wong Kuwu mantri bae
kang nama Surajenggala
sampun kapanggih lawan
Tumenggung Mangkuyudeku
lan Tumenggung Janagara.</poem>
|<poem>Cecala mung kang ngrawati
marang Raden Wiratmeja
Pangeran Purwaningrate
senapati Pabaratan
lalana di misesa
yen mesthiya ebangipun
sami sagah ngenakena.</poem>
|<poem>Tumenggung Mangkuyudeki
sagah nagari Balora
tigang ewu kinaloron
Jayeng lawan Wilatikta
dene Surajenggala
pendheme Kuwu Baledhug
ginanjarken pasthinira.</poem>
|<poem>Sami ginanjar kulambi
mring Tumenggung Mangkuyuda
lawan nyelawe ketone
lan apyun saendhog samya
sukeng tyas katiganya
nuhun marang Ki Tumenggung
jejeneng kang dhedhemitan.</poem>
|<poem>Ngawruhan solahneki
gya Tumenggung Mangkuyuda
emut marang tetindhihe
dipati Mangkunagara
</poem>}}<noinclude>{{rh|238}}</noinclude>
2hz9oucjrstd6x7ll7a4ogn8yfbj6oz
Kaca:Babad Prayud I.pdf/241
250
24538
77842
77137
2026-05-15T20:05:48Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77842
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::aran Jayasuwarna
::ing pratingkah salin lagu
::ingkang kinen angakena.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Angedan ingkang anuding
Dipati Mangkunagara
sampun binekta serate
nenggih serat kamandaka
miwah akintun kathah
nyamping sinjange Den Ayu
paningset lan kasemekan.</poem>
|<poem>Wus mangkat kang laku sandi
dene Jayeng Wilatikta
andombani kang sangking doh
amung Ki Surajenggala
lawan Jayasuwarna
ambekta gentho tetelu
ingkang ambekta kiriman.</poem>
|<poem>Wus prapta lampahireki
bumi Lasem pagunungan
jejurang ngiring-iring lor
wukir alit kidulira
panggih Surajenggala
miwah Jayasuwarneku
kalihe sami karuna.</poem>
|<poem>Pakintun lan surateneki
tinampan sigra winaca
yen kang rama pitungkase
Dipati Mangkunagara
iku Surajenggala
nglakoni parentahingsun
angumpetaken ing sira.</poem>
|<poem>Turuten saaturneki
sun kene lagi bicara</poem>}}<noinclude>{{rh|||239}}</noinclude>
8yy65imzc1filhngh7h5umixey7v2b8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/242
250
24539
77843
77138
2026-05-15T20:06:13Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77843
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Sinuhun kalawan Deler
::lamun sira anuruta
::maria amurweng prang
::Deler sanggup bumi Kudus
::pinancekaken ing sira.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Cikalsewu Karangpaing
sewu iku genepira
rongewu Kudus dadine
telungewu pancenira
suka duka miy arsa
wauta Raden Mas Guntur
anut mring Surajenggala.</poem>
|<poem>Binekta angidul malih
wangsul mring Carewek prapta
ing Kuwu padhukuhane
sa'mar datan kawistara
nora kambah manungsa
sambat sampun tigang dalu
nora kapregok ing upa.</poem>
|<poem>Surajenggala gya pamit
arsa amendhet dhaharan
sekul panganan kang akeh
sakira-kira tuwuka
lan abdine sadaya
sapraptanira ing Kuwu
wus lajeng mring pabarisan.</poem>
|<poem>Layeng Wilatikta panggih
lan Tumenggung Mangkuyuda
katur wus pinernah nggoni
Raden Guntur sarayatnya
neng Carewek pinarnah
matengaken rembugipun
Ki Tumenggung Mangkuyuda.</poem>}}<noinclude>{{rh|240}}</noinclude>
sk1wlvqqcajkr8o6iecshycufhc6gng
Kaca:Babad Prayud I.pdf/243
250
24540
77844
77139
2026-05-15T20:06:38Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77844
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Badhe pinaran ing wengi
ingkang sagah amaijaya
Wiratmeja antakane
pun Jay eng Tirtakusuma
kalawan Wilatikta
Ki Surajenggala sampun
kinen mantuk olah-olah.</poem>
|<poem>Telung dina nora bukti
Den Mas Guntur lan kang garwa
mung jagung mentahan bae
dadya Ki Surajenggala
dennya ken olah-olah
kabeh nguraban kecubung
jangan iwak sekulira.</poem>
|<poem>Jangan menir pecel pitik
bongko miwah gegudhangan
ingurab kecubung kabeh
wus binekta asar prapta
ing Carewek enggennya
awuta Raden Mas Guntur
wus panggih langkung sukanya.</poem>
|<poem>Sareng gugup aningali
sega putih lawan jangan
pecel pitik aneng cuwo
sakuwali janganira
gupuh lajeng dhinahar
sakeca denira dhahar.</poem>
|<poem>Sawusnya lorod ing abdi
wu sarrii tuwuk sadaya
dupi rep mbaliyur kabeh
nanging sami terkanira
wong lawas nora mangan
sayekti padha mbaliyur</poem>}}<noinclude>{{rh|||241}}</noinclude>
qps16vcujz0xmib1a65h9epdyfjjjbn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/244
250
24541
77845
77140
2026-05-15T20:07:03Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77845
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sare ing teba sadaya.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Munggeng soring kang kelampis
tengah wana langkung simpar
dhukuh tan ana wismane
Ki Tumenggung Mangkuyuda
miwah Jayanagara
budhal saprajuritipun
anjenengi lampahira.</poem>
|<poem>Kang nedya ngrabaseng pati
kang arsa umadeg raja
Den Mas Guntur Pangran Anem
wus prapteng jawi panggonan
kendel baris sadaya
Surajenggala rumuhun
manggihi Jayasuwarna.</poem>
|<poem> Lajeng ngirid lebetneki
raden Jayeng Wilatikta
ing jawi rakit barise
katur yen kapati nendra
Wratmeja sarewangnya
estu keni ing kecubung
wong wolu bature lanang.</poem>
|<poem>Dene kang estri kekalih
sami kapati anendra
sigra Jay eng ing lebete
wus prapta prenahing dagan
panggenane badheyan
Jayasuwarna kang nuduh
Wiratmeja anggone nendra.</poem>
|<poem>Jayeng wuwusira aris
heh kakang Surajenggala
gujengana sabuk ingong
mengko Raden Wiratmeja</poem>}}<noinclude>{{rh|242}}</noinclude>
hxdnc0kqv9ol9xjvd5sc2qm2lp2r5mx
Kaca:Babad Prayud I.pdf/245
250
24542
77846
77141
2026-05-15T20:07:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77846
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sun agagi ping tiga
::yen panon ingsun sumaput
::yekti maksih duwe walat.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Surajenggala nulya glis
anggujengi sabukira
umangsah angemek-emek
sare sakilene garwa
Jayeng narik curiga
angagagi tan sumaput
pan kongsi ambal ping tiga.</poem>
|<poem>Nulya inguculken aglis
marang Ki Surajenggala
ginagap kulung atine
sigara ginoco seksana
ngantep panggoconira
bres swarane gumapruk
tinalika kacep ganja.</poem>
|<poem>Ingentis curiga anjrit
anglumba niba palastra
gumrah garwa wungu geger
pra sami anarka macan
Tumenggung Mangkuyuda
lan Jayanagara gupuh
sigra anusul priyangga.</poem>
|<poem>Mung lawan batur ngengalih
para mantri nusul samya
ing jro kumresek swarane
samya uleng-ulengan
bature Wiratmeja
mung siji kang mbekta purbus
binedhil kang leng-ulengan.</poem>
|<poem> Pepitu kang keni kanin
Ki Tumenggung Wilatikta</poem>}}<noinclude>{{rh|||243}}</noinclude>
tflvsatmq2ziw3ecwd9te53syva4v40
Kaca:Babad Prayud I.pdf/71
250
24543
77898
77143
2026-05-15T20:38:47Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77898
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>mungela yen ngrawati
marang Wiratmeja
Raden Tumenggung Candra
kusuma ing Warung pasthi
boten anarka
sareng Raden Suwandi.
{{gap}}
Mangsa borong ing ngriku Pangeran Arya
kang satira tinuding
marang ingkang rama
nyenapateni lampah
amanggih kadi puniki
boten angawag
kaluwak den ideki.</poem></ol><noinclude>{{rh|||69}}</noinclude>
azyyy7d2lgub1pupaovw9uj6kmt7bat
Kaca:Babad Prayud I.pdf/246
250
24544
77847
77144
2026-05-15T20:08:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77847
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::wau kang keni jajane
::tan pasah mbeler kewala
::kathah ing jro karasa
::kang mbedhil sigra lumayu
::nyalimpet datan kacandhak.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=30
|<poem>Sakancane sami gusis
wong wolu roro kacandhak
ranging wong ala Ki Pawon
Den Ayu panggendhongira
kang nenem sami ngilang
Jayasuwarna agupuh
denira mala garwanya.</poem>
|<poem> Baris kang jawi wus prapti
sami angubres kang ngical
datan kapanggih wus ngadoh
wau Den Ayu kapanggya
mangku lay oning raka
lan Rarasati puniku
selire sami karuna.</poem>
|<poem>Sigra wau marepeki
Ki Tumenggung Mangkuyuda
mring Raden Ayu ature
bendara kula punika
inggih darmi lumampah
rama paduka kang nuduh
Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Sartane ari nrepati
animbali ing sampeyan
dene ta. kang sampun layon
pinikira tanpa karya
siku mungkir ing titah
dhateng ingkang among tuwuh
tan kenging yen sak-serika.</poem>}}<noinclude>{{rh|244}}</noinclude>
gudtk75i8sald1r2wm0bhiunslok5f6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/247
250
24545
77848
77145
2026-05-15T20:08:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77848
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Raden Ayu karuna njrit
ing tyas kadya mbelanana
ing priya my arsa ature
Ki Tumenggung Mangkuyuda
sigra Jayasuwarna
sumambung atur anayut
dhuh bendara pindho papa.</poem>
|<poem>Amikir kang sampun lalis
lamun paduka mopoa
ing timbalan rama katong
miwah ramanta piyambak
gilig lan ari nata
rama kalih temah kolu
ing putra nasar den lunas.</poem>
|<poem> Tumut duraka sayekti
sedane raka paduka
duraka ing ratu roro
duraka ing maratuwa
Raden Ayu miyarsa
gigirig wau manahipun
gya Tumenggung Mangkuyuda.</poem>
|<poem>Jasuwarna den kejepi
merpeki Den Ayu Sigra
nembah sarwi nyandhak layon
Tumenggung Jayanagara
kinen nyaosken kuda
Tumenggung Mangkuyudeku
matur suwawi bendara.</poem>
|<poem> Paduka nitih turanggi
ngandikan rama paduka
ping kalih rama Sang Katong
Heh kakang Jayanagara
dika ngiring bendara
kula menedi puniku</poem>}}<noinclude>{{rh|||245}}</noinclude>
8qb369ba18lmd0blm6vx7hnpdzugatg
Kaca:Babad Prayud I.pdf/248
250
24546
77849
77146
2026-05-15T20:09:19Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77849
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::layone kang sampun seda.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem> Raden Ayu pareng gampil
sampun anitih turangga
wanci byar wau kenine
Raden Ayu Wiratmeja
ing pitulikur Sapar
ing Kemis Pon budhalipun
sangking Carewek mring wisma.</poem>
|<poem>Ing Kuwu praptanireki
tata lay on binandhosa
lesung kalih kang ingangge
tinangkepaken rinembat
Tumenggung Mangkuyuda
utusan sungtupikseku
mring Rangga Prawiradirja.</poem>
|<poem> Lamun Wiratmeja keni
tinukup ginitik ing prang
wonten ing wana Carewek
umesat ingkang dinuta
Tumenggung Mangkuyuda
budhal sing Kuwu Baledhug
lan sagung kang pra dipatya.</poem>
|<poem>Bubar mring Surakarteki
ing marga tan winursita
prapta nuju lingsir kilen
njujug Kamangkunagaran
Tumenggung Mangkuyuda
Pangran Mangkunagareku
parentah kinen lajenga.</poem>
|<poem> Sumiwia Sri Bupati
wadya gung wus minger ngetan
kendel ing loji jujuge
wus panggih Uprup miyarsa</poem>}}<noinclude>{{rh|246}}</noinclude>
o6k8ofkealo7inqlg7xpuu8qqlwpw5y
Kaca:Babad Prayud I.pdf/72
250
24547
78204
77147
2026-05-16T09:08:30Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78204
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''VI. {{tab}} Pocung'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Estu lamun Candrakusuma Tumenggung
ing waru punika
nenggih ingkang munggareni
pinanggihken Pangran Rangga Baledawa.</poem>
|<poem>Minta estu angidenana satuhu
ing Pangeran Rangga
Baledawa anuruti
amung inggih adarbe tuduh kewala.</poem>
|<poem>Lan pitutur nuduh kaluputanipun
mung amurweng yuda
mbadhagal datanpa wangsit
pasthi rusak tanpa karkat karusakan.</poem>
|<poem>Rembagipun pra dipati kancanipun
paduka wangsulna
pan inggih serat puniki
lamun dede puniku damel sampeyan.</poem>
|<poem>Apan amung bener luput ing prang pupuh
padamelan kula
reruwang daganing baris
boten pasah misih bocah kang pinatah.</poem>
|<poem>Makatena serat paduka wewangsul
mring kang pra dipatya
pasisir nenem kang prapti
seratipun tan eca tinadhahana.</poem>
|<poem>Langkung serung arungan ing ngrika marung.
sigra weh wangsulan
serate kang pra dipati
tan inganggep ing Pangran Jayakusuma.</poem>
|<poem>Praptanipun serat Jayakusumeku</poem>
}}<noinclude>{{rh|70||}}</noinclude>
0mgrake0t8vf6sa1gretyhu8y5x2503
Kaca:Babad Prayud I.pdf/249
250
24548
77850
77148
2026-05-15T20:09:46Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77850
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::suka lajeng siyaga
::lajeng ngirid Ki Tumenggung
::Mangkuyuda sakancanya.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44
|<poem>Ing punika Kyana Patih
nuju sanget gerahira
amarengi prakara keh
milane kaliwonira
Tumenggung Wiradigda
neng Suranatan atugur
kalawan Tumenggung Sasra.</poem>
|<poem>Kilen Suranatan, kedhik
denira amakajangan
Uprup Beman sapraptane
jro pura panggih pandhapa
lawan Sri Naranata
ngaturken kang sangking nglurug
Mangkuyuda Janagara.</poem>
|<poem> Lan wadya mancanagari
prapta mungsuh kawatgata
pejahe Pangeran Anom
rabine sampun katawan
suka Sri Naranata
miyarsa ature Uprup
katri punggawa ngandikan.</poem>
|<poem>Tumenggung Mangkuyudeki
Tumenggung Jayanagara
Bratawirya katigane
Tumenggung Wirawidigda
lawan Tumenggung Sasra
ingkang ngirid lebetipun
prapteng by antara Narendra.</poem>
|<poem> Gantya manguswa pada Ji
anulya wau kang putra</poem>}}<noinclude>{{rh|||247}}</noinclude>
dkaal09175hyhplkalmpl4dey49byvk
Kaca:Babad Prayud I.pdf/250
250
24549
77851
77149
2026-05-15T20:10:19Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77851
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::angujung Den Ajeng Sombro
::ing Nata asru karuna
::kang rama angandika
::uwis babo suteng ulun
::yatalah nora kayaa.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=49
|<poem> Lakone awakireki
mundur kayajejaragan
Kakangemas kang sun totoh
met mantu wong tan ukara
sira sun alem uga
bisa nglakoni nak ingsun
ngantepi talitining prang.</poem>
|<poem> Mariksa Tumenggung kalih
rakite kala kacandhak
katur purwa wasanena
Sang Nata suka miyarsa
alón dennya ngandika
heh banjura sira Uprup
maring Kamangkunagaran.</poem>
|<poem>Paringna boyongan iki
kang siji maring Kakangemas
Iku Raden Ajeng Sombro
sun paringaken Kakangmas
Rarasati maringwang
bakale sun gawe iku
pambatak badhaya tuwa.</poem>
|<poem> Uprup sigra pamit mijil
angirid katri punggawa
miwah Raden Ayu Sombro
wauta sapraptanira
dalem Mangkunagaran
aneng palataran methuk
Dipati Mangkunagara.</poem>}}<noinclude>{{rh|248}}</noinclude>
bqhyextb77r6znod03uq58pwww56i65
Kaca:Babad Prayud I.pdf/251
250
24550
77738
77150
2026-05-15T19:24:03Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
77738
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53
|<poem>Tabe nulya tata linggih
ngabekti katri punggawa
Uprup Beman lon tembunga
kula ingutus Sang Nata
kinen asung tupiksa
yen keni Raden Mas Guntur
pan inggih kacandhak pejah.</poem>
|<poem>Lawan inggih kaping kalih
rabi lan selir katawan
timbalanira Sang Katong
garwanipun Wiratmeja
pinaringken paduka
wonten dene seliripun
kang pinundhut Ari Nata.</poem>
|<poem>Kendel regol wus pinanggil
Raden Ayu Wiratmeja
wusnya katimbalan rawuh
malajeng ngebyuki sigra
ing pangkone kang rama
anjrit karuna Den Ayu
keng rama anenggak waspa.</poem>
|<poem>Pangandikanira aris
Dipati Mangkunagara
wis pupusen sutaningong
dinawa datanpa karya
wus manjinga ing wisma
kang para ibu gumuruh
karuna mecah kaluwak.</poem>}}<noinclude>{{rh|||249}}</noinclude>
mb66v9b1ygruoamy3scj9f1fbfx752y
Kaca:Babad Prayud I.pdf/73
250
24551
77899
77152
2026-05-15T20:39:51Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77899
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>langkung angrerepa
sampun wonten wados galih
tiyang sepuh kula pasisir sadaya.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Dadya kumpul nenem kang pra tumenggung
anupiksa serat
saking baris Ngayugjeki.
wewangsule Pangeran Jayakusuma.</poem>
|<poem>Raosipun kena jejailan iku
lumuh katempelan
serat amirit dhedhengki
angalakna ing kancane nora kajat.</poem>
|<poem>Tegesipun amung mekaten puniku
saking sampun dadya
aprentahe ratuneki
nora kena pra dipati jejailan.</poem>
|<poem>Dadya wau pasisir para tumenggung
lajeng rembagira
lapur ing Deler Semawis
wedi apa aran panggawe wus nyata.</poem>
|<poem>Aja tanggung den nelakken cacadipun
senapati Sala
solahe amangun jurit
andaleya Pangran Arya Pakuningrat.</poem>
|<poem>Pijer dhadhu ora angrawati mungsuh
wus dadi kang serat
rempeg kang para dipati
kang tinuduh milayanglud enggening mengsah.</poem>
|<poem>Nggening mungsuh wus praptela sami tambuh
jemek kalih pisan
dutane ingkang para ji
Garobogan kalawan ing Jagaraga.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||71}}</noinclude>
6kqm19876feyn7bhjs8op98tcwarc0c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/215
250
24552
78401
77154
2026-05-16T10:33:26Z
Kriita
885
/* Validated */
78401
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" /></noinclude><ol><poem>pun Uwa Pengulu
kula utus amaringna
inggih talak kangmas ing dinten puniki
dhateng Kaendranatan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=8
|<poem>Ingkang raka aturira aris
inggih sumangga yen sampun telas
eklas anrus ing batine
bilih ta Sang Aprabu
mbendhol gecing ngungun ing wuri
rehning akrap akadang
apura lan maklum
Sang Nata mahh ngandika
sampun boten Kangenas manah wus ening
kang raka tur Sumangga.</poem>
|<poem>Ki Pangulu sigra den timbali
lan Apatih sapraptaning pura
Sang Nata pangandikane
lah sira Wa Pangulu
iya lawan si Adipati
Mangkupraja milua
sira ingsun utus
maringa Kaendranatan
katemua lan Adhi Ajeng sireki
paringna talakingwang.</poem>
|<poem>Wus pinasthi karsaning Hyang Widi
yen pinisahaken ing akrama
amunga samene bae
saduwek-duwekipun
ingsun ora ngelong sadhuwit
den gawaa sadaya
apa sukakipun
rampung pitungkas Sang Nata
Ki Pangulu sangking jro pura wus mijil
lawan rekyana patya.</poem>}}<noinclude>{{rh|||213}}</noinclude>
osvp42bqdkpfve80x7wwqkqknxq85y5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/216
250
24553
78393
77155
2026-05-16T10:24:54Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
78393
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Praptanira Kendranatan panggih
lawan wau Jeng Ratu Kencana
amanggihi carakane
lawan wau kang Ibu
Ratu Maduretna manggihi
Kyai Pangulu turnya
Gusti Kangjeng Ratu
Kencana kula dinuta
dhateng raka paduka Jeng Sri Bupati
amaringaken talak.</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu kendel tan nauri
ingkang waspa dres kadya turasan
senggrak-senggruk sadangune
kang ibu ngandika rum
sarehena tyasira dhingin
kapriye aturira
si Kakang Pangulu
kalawan Ki Mangkupraja
aja ewuh ature marang Sang Aji
nulya Ratu Kencana</poem>
|<poem>Wuryaning waspa rinabaseng sih
kasemekan kataman nismara
kinenceng tyas regacange
lamat-lamat malulut
kang amelut kawileting ris
res-res kang ngaruara
rinerah karuruh
dennya mring reh karaharjan
kang linelet lupute ing nguni-uni
kena ing pangrencana.</poem>
|<poem> Kangjeng Ratu angandika aris
Wa Pangulu ingong durung tampa
pinaringan talak mangke
aturna tobat ingsun</poem>}}<noinclude>{{rh|214}}</noinclude>
hm6jp6p6zubsxz664qpg10w6blf3fr8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/217
250
24554
77816
77156
2026-05-15T19:53:36Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77816
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::marang Kangjeng Sri Narapati
::tur pejah gesang ingwang
::sumangga ing lampus
::nadyan tan kapeca garwa
::kinebona ywa ginggang sangking jro puri
::pinaringana putra.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem> Sapa ingkang pinaringken marni
sun emonge ana ing jro pura
den prasasat emban bae
sun nemah lebur luluh
ya meksiha aneng pada Ji
lah uwis Mangkupraja
lan Uwa Pangulu
yen mengkono aturingwang
Ki Pangulu Kiya Patih mbrebes mili
mundur saha wotsekar.</poem>
|<poem>Ratu Maduretna amemeling
Mangkupraja Si Thole ngandikan
yen uwis apa kary ane
si Mangkunagareku
yen wus mulih mampireng ngriki
Mangkupraja sandika
praptaning kadhatun
ing ngaby antara Narendra
saature kang rayi Ratu Mas nenggih
tuwin sasolah tingkah.</poem>
|<poem> Kyana Patih umatur wotsari
pun Kakangmas winelingken medal
inggih dhateng ing ibune
Ratu Maduretneku
sru gumujeng Sri Narapati
padakena ing rumab
Kakangmas puniku
dika mampir kasalepak</poem>}}<noinclude>{{rh|||215}}</noinclude>
rnsnavae0y2yklzsoqrb0lbbuj3ee8r
Kaca:Babad Prayud I.pdf/218
250
24555
77818
77158
2026-05-15T19:53:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77818
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::sangking boten wonten rencange apikir
::mila melingken Kangmas.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem>Jer kainan puniku Jeng Bibi
nora tinalika ing peputra.
piyangkuhe sadinane
mangke andika matur
Kakangemas dhateng Jeng Bibi
aben tengah kewala
jer padha sadulur
sakedhik Kangmas mingisna
ing lupute katona Kangmas pribadi
Kangmas pan boten kilap.</poem>
|<poem> Ingkang raka wus kalilan mijil
lajeng dhateng ing Kamaduretnan
sapraptanireng daleme
lajeng ngandikan masuk
mring kang ibu mring dalem aglis
wusnya tata alenggah
ing katiganipun
Raden Arya Endranata
ingkang ngadhep abdine dipun gusahi
tan keni marek celak.</poem>
|<poem>Ratu Maduretna ngandika ris
priye Thole yeku arinira
Mbok Nganten teka mangkene
karsane Sang Aprabu
iya apa iku nemeni
dene nimbali sira
kang putra umatur
ibu kawula belaka
sampun lami nggih kala tedhak rumiyin
dhateng wisma kawula.</poem>
|<poem>Duk sarimbit kondur mampir ngriki
dados mangke sampun sangang wulan</poem>}}<noinclude>{{rh|216}}</noinclude>
omsz9znpozzjskg1uvoru9se9i7vkon
Kaca:Babad Prayud I.pdf/219
250
24556
77819
77160
2026-05-15T19:54:18Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77819
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::nggene ngandika tetaren
::Kangmas andika ngrungu
::inggih para ratu dhingin
::wonten kang pegat gesang
::lawan garwanipun
::kula ajeng papegatan
::lawan rayi andika Dhajeng puniki
::kula wus boten kelar.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=22
|<poem>Kula kagyat paran Sri Bupati
boten ilok inggih boten adat
nguni-uni caritane
wontena murweng laku
mbok akarya saranging bumi
temah damel derajat
amanggiha luput
rehning samya krama kadang
ingapura kula sanget anggendholi
mbesemaken nagara.</poem>
|<poem> Nunten inggih ibu ngantarani
let sawulan Jangkungpacar prapta
ndhawuhken geger karsane
kula maksa tan nurut
Jangkungpacar awanti-wanti
let sadina rong dina
inggih praptanipun
kula pinrih njurungana
ing karsane pun Jangkung kang kula titik
yen sira tan belaka.</poem>
|<poem>Dadya ewuh-ewuh ingsun iki
wong ginubet pinrih nutugana
durung weruh prakarane
nunten weca Ki Jangkung
doisa: kisas menggah ing jawi
boten namung sapisan</poem>}}<noinclude>{{rh|||217}}</noinclude>
tbubf63zc8s06kuyge5atds7mvr0q3h
Kaca:Babad Prayud I.pdf/74
250
24557
77900
77161
2026-05-15T20:40:20Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77900
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Sami nguthuh purun angalingi mungsuh
malah wewindona
lamun makaten kang gendhing
tanpa wekas tan wruh rusaking nagara.</poem>
|<poem>Pun Tumenggung Candrakusuma ing Warung
pan rong ewu dhomas
bupati Cangkok nagara
pundi angsal kelayu ing Wiratmeja.</poem>
|<poem>Kadangipun nak-sanak Raden Tumenggung
nenggih Garobongan
nggih mangsa borong kumpeni
langkung dede mokal lan tindak punika.</poem>
|<poem>Deler kejot nalikanira angrungu
bupati nem ika
ingkang kekalih kumaki
langkung kendel ing bicara wus kinontrak.</poem>
|<poem>Deler sampun karya surat lumastantun
surate tetiga
marang Ngayogja satunggil
srat kekalih kang dhateng ing Surakarta.</poem>
|<poem>Badhe katur satunggil marang Sang Prabu
kang satunggil marang
Dipati Mangkunagari
ingkang dhateng Ngayogja sampun kadriya.</poem>
|<poem>Pan anjaluk ing Garobogan Tumenggung
bupati culika
piyangkuhe nglelanangi
wani ngekul marang satrune nagara.</poem>
|<poem>Budi patut puniku Tumenggung Warung
wong Cangkok nagara
atinggal ing gustineki|</poem>
}}<noinclude>{{rh|72||}}</noinclude>
o85x5sly7jk3cfi1wa4ljl2j2tkg6g4
Kaca:Babad Prayud I.pdf/220
250
24558
77821
77162
2026-05-15T19:54:38Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77821
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::pan inggih kalangkung
::mila tan kenging ngapura
::kuciwane rayi paduka Sang Aji
::dene akrama kadang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Duk miyarsa ature putreki
Pangran Mangkunagara pratela
Jeng Ratu Maduretnane
petak jaja angadhuh
waspanya dres lir toya mili
dhuh aja sira dawa
uwis-uwis kulup
mung kowe welasa mringwang
jer adhimu kang akeh pisah nggon sami
mung siji iki iya.</poem>
|<poem>Sawengine sarinane keksi
sun tunggoni nuli mangkeneya
kulup polahingsun priye
kang putra nembah matur
ibu niita titahing Widi
susah sampun pinanjang
ngandika kang ibu
lah kapriye budinira
kowe rembug aku temua pribadi
lan arimu Sang Nata.</poem>
|<poem>Pangran Mangkunagara turnya ris
sakalangkung ibu aprayoga
boten kuciweng semune
sawingkinge pun ibu
yen pinareng kula ngudhoni
manawi katarima
usung-usung lumbung
pan putra sampeyan nembah
pitung tobat boten mberung malih-malih
anerak kaluputan.</poem>}}<noinclude>{{rh|218}}</noinclude>
a7lqt6yjd838b2okwugdms2qte79wnc
Kaca:Babad Prayud I.pdf/221
250
24559
77822
77163
2026-05-15T19:54:59Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77822
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem> Nanging ibu adat manuseki
inggih lamun wewatekan sabar
yen sampun tiba nepsune
adat angel satuhu
awis kenging yen dipun pulih
kang ibu angandika
mbok manawa kulup
katolih ingsun lan sira
iya dene duk kawit sira tinari
Iah iya mbokmanawa.</poem>
|<poem>Ratu Maduretna ngandika ris
iya kulup wis sira muliha
nanging bojomu si Ebeng
kon temu lawan ingsun
atinjoa mbokayuneki
kang putra pamit nembah
wau praptanipun
daleme nimbali garwa
prapteng ngarsa kang raka ngandika aris
angger sira ngandikan.</poem>
|<poem>Mring ibumu lumakua aglis
Kangjeng Bibi Ratu Maduretna
lawan angirasa angger
mring mbokayumu Ratu
Kencana kang wus aneng jawi
babo wong asesanak
wajib elingipun
aja yen mukti kewala
yen anandhang papa-mangkene nestiti
antepe wong sesanak.</poem>
|<poem> Ratu Bendara sigra lumaris
sapraptanira Kamaduretnan
pinanggihan neng panepen
pan Ratu Kencaneku</poem>}}<noinclude>{{rh|||219}}</noinclude>
0h4h6yb7tv5kvlokjix2av09dnkgohp
Kaca:Babad Prayud I.pdf/222
250
24560
77823
77164
2026-05-15T19:55:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77823
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::katri lawan ibunireki
::Jeng Ratu Maduretna
::angandika arum
::Ebeng ingsun iki maras
::marang sira wong lanang samengko iki
::tan ana kang tolehan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem> Sira lawan mbokayunireki
nora beda padha laki kadang
padha milu kangelane
melarat lara lampus
ya wus padha sira antepi
rehning alaki kadang
milu lebur luluh
prandene ora katingal
ingkang putra Ratu Bendara wotsari
ibu jamak wanodya.</poem>
|<poem> Sesamine lawan kebo sapi
yen manggiha inggih kalepatan
datan wonten kang katoleh
nanging kawula ibu
rehning estri kula andhemi
inggih barkat sampeyan
tan mengeng sarambut
nglungguhken estri kawula
sok peneda awak puniki netepi
wangunaning wanodya</poem>
|<poem> Inggih gemi nastiti awedi
wedi inggih kang kalih prakara
dhingin mungguh Pangerane
kaping kalih mring kakung
sami ugi mungguh Hyang Widi
yen dosa ing wong lanang
nggih dosa Hyang Agung
tegese inggih samangsa</poem>}}<noinclude>{{rh|220}}</noinclude>
1ndhji6xf5erepj7u6w8zigahsx8zt5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/75
250
24561
77901
77165
2026-05-15T20:40:45Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77901
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tan kemutan pamiyarane Jeng Sultan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>De kelayu Wiratmeja tanpa dunung
bupati punapa
pasthi wonten kang ngajani
sasolahe Suwandi kang darbe solah.</poem>
|<poem>Duk amirsa kang jaja kadya gumadhug
lir binandhem sela
watu item sakarambil
tambuh-tambuh Sultan tibane kang duka.</poem>
|<poem>Suratipun Deler pratela kalangkung
malah Wiratmeja
ginawa anuwun idin
madeg raja ing Pangeran Baledawa.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Warung kang nggawa mariku
mring Pangeran Rangga
Baledawa nuwun idin
pan gumecos pawarta tanpa laporan.</poem>
|<poem>Langkung bingung Jeng Sultan ing galihipun
riwut dereng karsa
mikir kang para dipati
kawuwusa srat kang dhateng Surakarta.</poem>
|<poem>Tembungipun serat kang katur Jeng Prabu
yen Kangjeng Susunan
punggawane ala siji
angrawati biyangane Wiratmaja.</poem>
|<poem>Boten tutur senapati pijer dhadhu
Jeng Susunan sigra
ndukanana senapati
wau serat kang marang Mangkunegaran.</poem>
|<poem>Tembungipun Deler kelangkung nenutuh
pangran dedukaa</poem>
}}<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude>
1eijpjysgb1cqevzluvdb4kqja7ba10
Kaca:Babad Prayud I.pdf/223
250
24562
77824
77166
2026-05-15T19:56:03Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77824
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::manah sedheng milika marang wong pekik
::anyidra guna karya.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem>Doseng laki dosa ing Hyang Widi
den bot roro inggih Bu punapa
kang kinarya tetangkise
ing donya remak-rempu
ing akerat wikana benjing
samangsa karentega
nelika wong bagus
dadi wong mungkir ing titah
pan ing jodho wartine dinamel pasthi
dhateng Hyang Mahamulya.</poem>
|<poem> Tur ta putra sampeyan sayekti
Kangmas Punika asor ing wanda
imbuh satriya gecule
lony ot wani ing sepuh
parandene kula ugemi
jer sampun titahing Hyang
karsa Maha Agung
jinodho lawan kawula
boten keni wong wadon sedya mbawani
ngekul marang wong lanang.</poem>
|<poem> Doseng laki dosa ing Hyang Widi
destun boten narima ing titah
wong kudu cilaka gedhe
melik ing tyas puniku
lamun boten den mujadahi
tan wande karusakan
pawestri pukulun
genge jejer rong prakara
sampun bandrek lan sampun anyenyolongi
guna kaya wong lanang.</poem>
|<poem> Lah punapa kang dadi bilai
yen kareksa duweke wong lanang</poem>}}<noinclude>{{rh|||221}}</noinclude>
o71jher1fhmprd8khgwneu1s4j97lc7
Kaca:Babad Prayud I.pdf/224
250
24563
77825
77167
2026-05-15T19:56:33Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77825
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mangsa dadia cacade
::kang putra gya rinangkul
::Ratu Maduretna lingnya ris
::wus nora duwe maras
::ingsun mring sireku
::sapa muruk maring sira
::Bapakamu kang putra matur wotsari
::inggih rayi sampeyan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Inggih sarta nalare pribadi
sok engeta tinitah wanodya
angrampasi luamahe
angandika kang ibu
uwis enak tyasingsun iki
Bruwok maring ing sira
maring mbokayumu
tyasingsun kalangkung susah
wong amberung ati Madura den dhoki
kang nora dadi warah.</poem>
|<poem> Kowe Ebeng apa sok menangi
yen Sang Nata iya akongkonan
marang lakimu si Thole
kang putra nembah matur
inggih saben kula meningi
nunten binekta ngiwa
inggih adatipun
tan liya tiyang sakawan
kadhang sareng trekadhang awiji-wiji
wong sakawan punika.</poem>
|<poem> Pun Tumenggung Wirawidigdeki
kalawan Tumenggung Arungbinang
katri mantri kadipaten
sekawane Ki Jangkung
kadhang sareng trakadhang genti</poem>}}<noinclude>{{rh|222}}</noinclude>
2zwmnq2mqxhc3yjtj48y8za7qsth0ey
Kaca:Babad Prayud I.pdf/225
250
24564
77826
77168
2026-05-15T19:57:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77826
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
::kula boten uninga
::ing prakawisipun
::agawat sami angiwa
::boten kenging kajiwan-jiwan menawi
::amrih sinoming ujar.
</poem><noinclude>{{rh|||223}}</noinclude>
4djo3wiuddfk14naw8lgkas06281nmv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/76
250
24565
77860
77169
2026-05-15T20:18:36Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77860
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>den sanget marang kang rayi
karya tiwas asembrana andaleya.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Pijer dhadhu nora wruh solahe mungsuh
kadi wong urakan
tan wruh pakaryane jurit
pijer padu lan Tumenggung Arungbinang.</poem>
|<poem>Pangran langkung gugup tumameng kadhatun
panggih ari nata
buka srat raose sami
Sri Narendra asru denira ngandika.</poem>
|<poem>Lah puniku Kakangmas tan wonten rembug
ngenggalken kewala
si Tumenggung Brajamusthi
mbekta serat kula lan serate Kangmas.</poem>
|<poem>Pangran matur lan malihipun Sang Prabu
ingkang sampun prapta
kang sami ngandikan nguni
abdi dalem tetiyang mancanagara.</poem>
|<poem>Nenggih luwung kairida pun Tumenggung
Brajamusthi ngiras
angenggalaken pun adhi
Arungbinang ngirida Ranadipura.</poem>
|<poem>Sigra dhawuh mring Brajamusthi Tumenggung
angembani serat
lan ngirid mancanagari
binantokken marang barisan den enggal.</poem>
|<poem>Lampahipun ing marga datan winuwus
wus prapteng barisan
duk punika maksih atis
bupatine sagung wong mancanagara.</poem>
|<poem>Satumenggung nora liwat telung puluh</poem>
}}<noinclude>{{rh|74||}}</noinclude>
oyw7ekv8djh7s78ysq0pmlq4k4hk59q
Kaca:Babad Prayud I.pdf/226
250
24566
77827
77170
2026-05-15T19:57:49Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77827
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>:'''XX. SINOM'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Kang Ibu alon ngandika
Mbok Nganten iya sireki
kaceke wong duwe bapa
iya ana mituturi
nadyan Madura nenggih
akeh wong wadon pinunjul
mung sira iki nyawa
beladhak kepati-pati
tinutuha sataun mangsa uwisa.</poem>
|<poem>Dene iku arinjra
tur nora laki repati
prapteng anggep kasantosan
mrih wajibe wong ngaurip
yekti rumekseng ati
amrih salamet rahayu
yen ati rungsang-rungsang
kena dhinadhung ing eblis
iya iku wong nora welas ing badan.</poem>
|<poem>Enak temen lakonana
pikire arinireki
iku wong waspadeng badan
dene ta kudu bilai
ing kana wus pinasthi
pepancening Lokil Makpul
Ebeng ta wis muliha
nanging sawengi rong bengi
titilika iya mring mbokayunira.</poem>
|<poem>Wus. pamit Ratu Bendara
ing nalika limang bengi
Ratu Kencana neng jaba
Jeng Ratu Maduretneki
nuju dina sawiji</poem>}}<noinclude>{{rh|224}}</noinclude>
ejaidrraspa1ff7qyqc85al4m7jwiyh
Kaca:Babad Prayud I.pdf/151
250
24567
78215
77175
2026-05-16T09:10:20Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78215
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>amrih aja karya sangga runggining tyas.</poem></ol>
{{ordered list|start=31
|<poem>Ki Tumenggung Arungbinang
tur sembah umatur aris
pukulun inggih pun bapa
Puspanagara suwawi
kintuna serat nuli
dhateng Puspakusumeku
inggih ngumbarken wadya
kang nggecul kinen ngrusuhi
ing nagara nging cangkem karut kewala.</poem>
|<poem>Dadya nggegerena pasar
nging sampun mendhet pawestri
sasukane karya susah
nadyan jaritysawatawis
nging sampun sinjang keling
lawan mendheta mas sampun
sanadyan amemala
sampun mecahaken kulit
sampun kongsi mutungkan balung kewala.</poem>
|<poem>Suka gumujeng Sang Nata
sarwi angandika aris
ya wus nuli kongkonana
mring si Puspakusumeki
layangira pribadi
anggendhong timbalaningsun
lan kangmas akintuna
nggih prajurit satus malih
den akokna Wonge Kangmas Mangkuningrat.</poem>
|<poem>Pangeran matur sandika
sarwi gumujeng dennya ngling
Heh Arungbinang ngupaya
ingkang padha angrusuhi
ameta mas lan keling</poem>
}}<noinclude>{{rh|||149}}</noinclude>
bbhyl80gjx7d0f4yez23ydhm5zg8h13
Kaca:Babad Prayud I.pdf/227
250
24568
77828
77173
2026-05-15T19:59:02Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77828
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::kang ibu maring kedhatun
:::arsa apepanggiha
:::lawan kang putra Sang Aji
:::sapraptaning pura kendel paregolan.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Melingaken Nyai Soka
kang kinen matur Sang Aji
Sang Nata alon ngandika
matura ing Kangjeng Bibi
pan ora sun aturi
lagi rubed ing tyas ingsun
iya sapasar engkas
Jeng Bibi ingsun aturi
ing samengko iya Jeng Bibi kondura.</poem>
|<poem>Kaparak jaba umesat
prapteng regol andhawuhi
marang Ratu Maduretna
ing timbalan Sri Bupati
duk amiy arsa anglir
tinotog alu tan lurus
kondur anenggak waspa
praptane dalemireki
ingkang putra wau Jeng Ratu Kencana.</poem>
|<poem>Sigra manggihi ibunya
kang putra tetaken warti
kang ibu akin saurnya
maksih duka Sri Bupati
pan ora den temoni
aneng regol kinen wangsul
wau Ratu Kencana
ngebyuki pangkon buneki
karuna sru kang ibu sayut ing putra.</poem>
|<poem>Iya ing sapisan engkas
ingsun malebeng jro puri
samengko durung karuwan</poem>}}<noinclude>{{rh|||225}}</noinclude>
5ufyejt9ajkwfar37qeyak59rx9th7y
Kaca:Babad Prayud I.pdf/228
250
24569
77829
77174
2026-05-15T19:59:32Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77829
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::mangkana sapasar malih
::Ratu Maduretneki
::mring kadhaton praptanipun
::anulya ingaturan
::pinanggihan ing mandhapi
::wusnya tata lenggab kang bibi turira.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Ki Prabu kula winekas
Mbok Nganten tur tobatneki
ing pati urip sumangga
mung inggih panuwuneki
pinaringa putreki
den dady a emban satuhu
pinernahna kebonan
sok wontena jroning puri
nora kudu nggih lamun pineca garwa.</poem>
|<poem>Sang Nata lon angandika
Ibu nggih ta kadipundi
sampun karsaning Hyang Suksma
pinisahaken ing krami
lawan Dhiajeng nenggih
ing tyas kawula wus pupug
kanji kaliwat-liwat
lir andulu sarpa mandi
pan punika sampun takdire Hyang Suksma.</poem>
|<poem>Inggih ta sanggen-nggeneya
ibu kula kang ngingoni
yen masalah dadi garwa
tyas kula sampun anjering
lah ibu kadipundi
ameksa wong datan purun
Jeng Ratu Maduretna
miyarsa pangandika Ji
aturipun kang bibi inggih Sang Nata.</poem>
|<poem>Kalamun keni-kenia</poem>}}<noinclude>{{rh|226}}</noinclude>
440v2xjdcd0u310kwd5pj5zp76d8vqe
Kaca:Babad Prayud I.pdf/152
250
24570
78216
77185
2026-05-16T09:10:27Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78216
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>tuwin agawea tatú
iya bedane apa
Rungbinang umatur aris
yen makaten inggih anggep memengsahan.</poem></ol>
{{ordered list|start=35
|<poem>Sayekti sanes wicara
asor rayi padukaji
yen kados wau punika
nggih datan dados prakawis
apan namung nggateli
dutaning anak arusuh
tan arsa ngantukken nuli
wong den andheg kalawasen njarag beka.</poem>
|<poem>Tiba makaten kewala
yekti nunten kinen mulih
kang putra Ratu Bendara
yen laminya ngrerusuhi
wonge akeh penyakit
gecul-gecul padha kumpul
sami suka miyarsa
sadaya wus sami mijil
miwáh Pangran Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Tumenggung Puspanagara
prapta jawi sigra tuding
caraka amandhi surat
marang Puspakusumeki
tuwin Sang Adipati
Mangkunagara anuduh
gulang-gulang lumampah
ngawandasa lan sinelir
ingkang kalih dasa wong Suryaagama.</poem>
|<poem>Jangkep satus lampahira
datan kawarna ing margi
praptane nagri Ngayogya</poem>
}}<noinclude>{{rh|150}}</noinclude>
ewn4pnkfj0pve3rpntxb48pub8ktbz2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/229
250
24571
77830
77177
2026-05-15T19:59:54Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77830
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::yen kula sampun ngemasi
::punika sakarsa-karsa
::dipun antosa Sang Aji
::inggih anedya ugi
::apuranipun Ki Prabu
::Sang Nata angandika
::ibu sampun boten kenging
::nggih wontena pepalang sundhul ngakasa.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=13
|<poem> Ibu pan kula terajang
sanadyan dadia pati
kang ibu anenggak waspa
inggih sampun Sri Bupati
amit anulya mijil
Ratu Maduretnanipun
sumaput tingalira
sapraptanira ing jawi
nitih tandhu samarga-marga udrasa.</poem>
|<poem>Sapraptaning dalemira
wus lenggah putra manggihi
kang ibu alon ngandika
wus datan kena pinulih
lakinira Sang Aji
wus mutung anrus bebalung
akeh sesambatingwang
nora tolih angantepi
baya-baya sangking gunging dosanira.</poem>
|<poem>Dene ta nora kayaa
iya Mbok Nganten sireki
sun tutken karaya-raya
teka sira tan apikir
nora ngeman sireki
ing badan miwah ing biyung
kang putra sru karuna
ibu paduka pejahi</poem>}}<noinclude>{{rh|||227}}</noinclude>
bdmyv8nafkvcycfju5ced7t2d7975um
Kaca:Babad Prayud I.pdf/77
250
24572
77861
77178
2026-05-15T20:19:29Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77861
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>malah akeh kurang
jaranane pra dipati
ingkang pasthi salawejejangkepira</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>Yata wau lampahipun Ki Tumenggung
Brajamusthi prapta
ing barise pra dipati
aneng tanah Balora sampun apanggya</poem>
|<poem>Sampun dhawuh timbalanira Sang Prabu
miwah ingkang serat
Pangran Mangkunagareki
sampun dhawuh katri kang sami ngandikan.</poem>
|<poem>Dukanipun langkung sanget binarukut
tingsem kawentara
mungdandan pating bathithit
ingkang kantun Mangkuyuda Janegara.</poem>
|<poem>Ingkang mantuk ngandikan pan sampun laju
saha balanira
kang kantun wadana katih
kang pinacak senapati Mangkuyuda.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Jayanegara puniku
kang dadi sosoran
angreh kang para dipati
sawontene wadya ing Mancanagara.</poem>
|<poem>Apanamungkilen Ardi Witisipun
ingkang lumaksana
sak wetan kati Kadhiri
pinekewed ing Pangeran Singasekar</poem>
|<poem>Yata wau kang sami ngandikan mantuk
wus prapteng nagara
ing Kapatihan duk prapti
wus apanggih lan Dipati Mangkupraja.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||75}}</noinclude>
jcx3qlpmvvawuuwv2e4zkm5297718i8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/230
250
24573
77831
77179
2026-05-15T20:00:16Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77831
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::njejemberi kawula awet neng donya.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Kang ibu angres miyarsa
pamularireng kang siwi
wus babo aja dinawa
mundhak amuwuhi sedhih
uwis pupusen nini
tobata marang Hyang Agung
payo padha nenedha
ing kasalahanireki
muga-muga Hyang Suksma angapuraa.</poem>
|<poem>Nanging Ratu Maduretna
ing kabatinanireki
ngupaya marganing pejah
wirange kepati-pati
binetah datan keni
pan amung anyipta lampus
regem wus pasang rahab
marang antara ning pati
mulus ing tyas antaka ingela-ela.</poem>
|<poem> Apan wus samadya candra
kang putra aneng ing jawi
tanpa guling tanpa nadhah
Ratu Kencana tyasneki
mung ngapuraning laki
dene ciptane kang ibu
amung palastranira
aja kongsi lami-lami
pan wus ora kerasan neng alam donya.</poem>
|<poem>Wewah antaraning dina
ing Sura nandhesireki
nyandak kaping nem ing Sapar
Sang Nata anjunjung siwi
pambajengira estri</poem>}}<noinclude>{{rh|228}}</noinclude>
q6c4e895exi34h0tb0a755tma3u88a0
Kaca:Babad Prayud I.pdf/231
250
24574
77832
77180
2026-05-15T20:00:35Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77832
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::Den Ajeng Bontor nameku
::pinaring namanira
::Den Ayu Kadhaton mangkin
::lan anjunjung arine Suradilaga.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem> Ing Kajumuwah nem Sapar
pinaring namanireki
Den Ayu Kulon punika
Mbok Rengga sinung kekasih
Den Ayu Wetan nenggih
Den Ayu Kulon kang sepuh
Panji Suradilaga
pinaring namanireki
Dyan Tumenggung Apanji Cakranegara.</poem>
|<poem>Arine Den Ayu Wetan
panyuling Kudacawening
jinunjung pinaring nama
Raden Panji Jayengsari
lawan arinireki
mas gamel sinung jejuluk
sisih kadange tuwa
nama Panji Jayengresmi
samya dadya kapitanireng tamtama.</poem>
|<poem>Mayoripun kang anama
Rahaden Tumenggung Panji
Cakranagara kawasa
ngreh wadya jro sadayeki
kagajiyan pra sami
mung satunggil may oripun
Panji Cakranagara
prajurit jro wewah malih
jangkep sewu tamtamane wolung dasa.</poem>
|<poem> Katanggunge kawandasa
saweg punika samangkin
Tumenggung Puspanegara</poem>}}<noinclude>{{rh|||229}}</noinclude>
8lvw292ij0ept5v51c6vdobpc7bs31c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/232
250
24575
77833
77183
2026-05-15T20:00:54Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77833
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::saseleh marang kang siwi
::kang wus tariman putri
::anema Raden Tumenggung
::nenggih Puspadiningrat
::gedhong sapanengen sami
::kaliwone Ardiguna anyar pejah.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem> Tanpa kadang tanpa suta
kang kinarsakken nggentosi
Ki Ngabei Jagaswara
mantri kaparak ingelih
Ki Puspanagareki
wus sepuh pandhongkolipun
pan agung pinundhutan
carita prang Surawesthi
satutuge carita samerbung pisan.</poem>
|<poem> Sedane Sultan Balitar
popongan bumi Kadhiri
lajenging padhamenira
Panembahan Purbayeki
sabanjuripun malih
langkung suka sang Aprabu
kuneng malih winarna
kang anggung sungkaweng galih
Kangjeng Ratu Kencana lan ibunira</poem>
|<poem> Kangjeng Ratu Maduretna
kapaok sesek sinebit
lan sampun anyandhak gerah
tan arsa den usadani
sangsaya angranuhi
wauta ing gerahipun
Jeng Ratu Maduretna
duk prapta pura sawengi
mangkya lajeng kadawan ndhedhaut atma.</poem>
|<poem> Seda Ratu Maduretna</poem>}}<noinclude>{{rh|230}}</noinclude>
nz0e2876ynqu1pmd699v095zza3uspg
Kaca:Babad Prayud I.pdf/78
250
24576
77862
77184
2026-05-15T20:20:04Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77862
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=47
|<poem>Ki Tumenggung Ranadipura pinikut
aneng Kapatihan
binelok wus den jarahi
Pangran Mangkuningrat Tumenggung Rungbinang.</poem>
|<poem>Sami laju ngandikan marang Sang Prabu
ing pura wus prapta
ing ngabyantaraning Aji
angandika Sang Nata marang kang raka.</poem>
|<poem>Kangmas paran ta laku dika anglurug
anemu pocapa
oleh cacad ing kumpeni
asembrana weya kemba andaleya.</poem>
|<poem>Pijer dhadhu nora wruh tingkahing mungsuh
kongsi kalancangan
marang bupati pasisir
padha weruh ing solah bawaning mengsah.</poem>
|<poem>Langkung ndheku kang raka langkung anuwun
Sang Nata tatanya
Rungbinang paran sireki
dene kongsi mangkene ing lakunira.</poem>
|<poem>Sira iku ingsun tuduh prang sawindu
tur gedhe mungsuhnya
paran dene durung dadi
kabestoren katundhesan lakunira.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Rungbinang nembah umatur
pukulun Sang Nata
atadhah duka kang abdi
estu tetep padamelan ing ayuda.</poem>
|<poem>Dedenipun padamelan manuseku
karyaning Hyang Suksma
untung ilang ing ajurit
Sri Narendra miyarsa lejar ing driya.</poem>
}}<noinclude>{{rh|76||}}</noinclude>
68m5jkko3je8i6as0jpgx3cidv1xvv1
Kaca:Babad Prayud I.pdf/79
250
24579
77863
77188
2026-05-15T20:21:22Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77863
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=55
|<poem>Paran iku mangkono kadadenipun
Rungbinang tur sembah
pukulun sami sayekti
cinethikan ing ngriki lan ing Ngayogya</poem>
|<poem>Inggih jumbuh sami cacad kalihipun
nging inggih kapara
ageng ing ngrika sakedhik
rehning tunggil lampah inggih sami ugi.</poem>
|<poem>Sang Aprabu alon pangandikanipun
iya kaya paran
ciri gedhe lawan cilik
matur nembah Tumenggung Andanasmara.</poem>
}}<noinclude>{{rh||v.}}</noinclude>
fotkxq4pt06j6geos9fmmcsq97xga18
Kaca:Babad Prayud I.pdf/80
250
24582
77864
77191
2026-05-15T20:21:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77864
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>'''VII.{{tab}} Asmarandana'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Pukulun kaot sayekti
ing ngrika dene kahana
kang kelayu punggawane
Tumenggung Candrakusuma
tumut ing Wiratmeja
punika nak-sanakipun
Suwandi Suryanagara.</poem>
|<poem>Bupati Cangkok nagari
Warung kalihewu dhomas
teka alabuh lampahe
inggih kamukten punapa
malih ingkang sinedya
kajawi nglampahi tuduh
gusti mangsa makatena.</poem>
|<poem>Dene kawula ing ngriki
inggih ta pun Jagaraga
sok winastan ngumpetake
tegese nyukani tedah
amrih sampun kacandhak
mung punika dosanipun
gumujeng wau Sang Nata.</poem>
|<poem>Paran dadine ta benjing
sun watarapaman Sultan
abot agedhe tresnane
mring paman Suryanagara
wor milu abebakal
Tumenggung Rungbinang matur
leres panarka paduka.</poem>
|<poem>Warti wewatekaneki
rama paduka Jeng Sultan
inggih nerus ing balane</poem>
}}<noinclude>{{rh|78||}}</noinclude>
pvpu0b6xy7t4xextvhcjab3n912ajvz
Kaca:Babad Prayud I.pdf/81
250
24583
77865
77193
2026-05-15T20:22:18Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77865
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tan angegung kawibawan
dennya asih ing wadya
linabuhan nggempur tempur
adat ingkang kalampahan,</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Ewa makaten manawi
inggih amawi prekara
kang pinutus pepantese
wahyaning kang mangsa kala
kala kalalen ala
yen eling alangan alus
pinatah amurweng tebah.</poem>
|<poem>Wong Agung sampun ulami
Jeng rama paduka Sultan
tumulus ing pilepase
aluwes alus welasan
marang kantha waskitha
pepanthane bener luput
tan kalempit ing polatan.</poem>
|<poem>Malah pawarti pasisir
Raden Suwandi punika
tumute binektakake
inggih suwargi kang raka
paring kanthi ngayuda
nanging tan pantes rinungu
Sang Nata alon ngandika.</poem>
|<poem>Karepe kang dhingin-dhingin
wong Agung padhaa bisa
lamun tirua samengke
sun iya nora kaduga
besem yen koncekana
panggawe durjana iku
ana wajib ana sunat.</poem>
|<poem>Nanging ingsun dudu kardi.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude>
b4nindlkn5i15ww7h2u91quagj31p0i
Kaca:Babad Prayud I.pdf/82
250
24584
77866
77194
2026-05-15T20:22:47Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77866
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>wus anyeje lawan rama
kumpeni ing panganggepe
labuhe mring jenengingwang
tan mengeng beya wendrang
pira-pira tumpesipun
kumpeni ing karyaningwang.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Mangkana sampun umijil
Pangran Arya Mangkuningrat
Tumenggung Arungbinange
wuwusen Ranadipura
Saptu kacepengira
prapteng dina Senenipun
Ranadipura den lunas.</poem>
|<poem>Ngalun-alun den suduki
sawusnya pejah tinigas
pinanjer utamanggane
munggeng keringe galadhag
wau Uprup kang lawas
Pangran Mangkunagareku
manjing pura paguneman.</poem>
|<poem>Sang Nata dipun aturi
aparinga mring wadana
miwah para sentanane
arta kalawan busana
santana keh kasrakat
manawi dados puniku
inggih ing karya punika.</poem>
|<poem>Karana Sultan Matawis
wateke kena labuhan
mangke ta abot balunge
Dipati Suryanagara
upama tinimbangan
lawan kadange tetelu</poem>
}}<noinclude>{{rh|80||}}</noinclude>
ld540braqwuz6bz0r0w2fj5r3psoku1
Kaca:Babad Prayud I.pdf/83
250
24585
77867
77195
2026-05-15T20:23:13Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77867
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>abot mring Suryanagara.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Kadang sayayah sabibi
abot mring Suryanagara
dennya mantep kuwanene
abagus ing dhadhapuran
sumamar lawan Sultan,
tegese memper puniku
pikire tinari kena.</poem>
|<poem>Alus aluwes atitih
teteh kabentar abantar
mintir gumlintir barang reh
acetha nyatheti gelar
prawira ing ayuda
tatag tangginas atangguh
Suwandi Suranggakara.</poem>
|<poem>Sang Nata sigra maringi
sewu mring para sentaha
miwah badhe rasukane
waradin kang pra santana
putra Mlayakusuman
Kadipanagaranipun
kang maksih manjing santana.</poem>
|<poem> Wadana dipun paringi
jaba-jero kalih belah
patumbas obat mimise
kuneng gantya kang wuwusa
Jeng Sultan ing Ngayogya
lagya sungkawa kalangkung
andina wayang-wuyungan.</poem>
|<poem>Dene kang dadi prihatin
Dipati Suryanagara
tinarka mring Tuwan Deler
angubungi bebatinan</poem>
}}<noinclude>{{rh|||81}}</noinclude>
gx0d1dch2i4hs757w78dzk3yls6z2rt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/84
250
24586
77868
77196
2026-05-15T20:23:33Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77868
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>mring Raden Wiratmeja
pratandha sentananipun
Tumenggung Candrakusuma.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Bupati Cangkok nagari
ing Warung rong ewu dhomas
teka ndadak melu ngere
yen ora sarta tinedah
mangsa ta mengkonoa
lenger katiban puniku
inguncek tan bisa selak.</poem>
|<poem>Anyuremaken nagari
Sultan tan kena sineba
angekeb aneng kedhatun
dene kaping kalihira
Pangeran Baledawa
puniku turasing guru
Panembahan Natapraja.</poem>
|<poem>Trah Ngadilangu sayekti
Pangran Rangga Baledawa
ing punika pan kacenthok
kumpeni ingkang anarka
winastan ngidenana
adege karatonipun
marang Raden Wiratmeja.</poem>
|<poem>Saengga sinuduk Gusti
Kangjeng Sultan ing Ngayogya
Sapisan loro tatune
wadya tarisah ingundhangan
prayitna ing ayuda
kang tarisah tinantun-tantun
anenggih nyata punggawa.</poem>
|<poem>Adipati Danurjeki</poem>
}}<noinclude>{{rh|82||}}</noinclude>
tv506i39afylj77p7t7uc5jze4z9hkm
Kaca:Babad Prayud I.pdf/85
250
24587
77869
77198
2026-05-15T20:24:07Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77869
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>lan Rangga Prawiradirja
Pangran Natakusumane
lan Pangeran Pakuningrat
gunem sajroning pura
sadinten dereng tinemu
amrih sembadane tindak.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Bubarane pendhak enjing
sami sawan ing jro pura
Dipatí Dánurejane
sakancane wus ngandikan
Dipati Danureja
matur punika pukulun
pun kakang Suryanagara.</poem>
|<poem>Kadosa pun Adipati
Jangrana lan Surapringga
pundi kang kinajengake
lamun kedah ambregagah
yekti abela jagad
temahan kena kinukup
anak putune ing wuntat.</poem>
|<poem>Lamun nedya angawaki
alus badane piyambak
angratakake jagade
anak putune ing wuntat
kalapa dha raharja
gupuh ngandika Sang Prabu
iku lawan ingsun nunggil.</poem>
|<poem>Nuli lakokna tumuli
Danureja layangira
isekna timbalan ingong
dene ta si Kaki Rangga
iya ing Baledawa
si Suradimenggaleku</poem>
}}<noinclude>{{rh|||83}}</noinclude>
6euzgtew6t80q6wt9zi1sq9kzv9padz
Kaca:Babad Prayud I.pdf/86
250
24588
77870
77199
2026-05-15T20:24:37Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77870
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>layange kang prapta ringwang.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem>Ingsun pinrih angukuhi
Pangran Rangga Baledawa
nanging nora karsaningong
sadaya-daya lunggaa
teka ing bawah ingwang
agampil pindhuwuripun
bicara katemu ingwang.</poem>
|<poem>Padha timbalana aglis
kabeh putra-putraningwang
Prang Wadana Arya Pamot
Martasana Sumayuda
kang ana panglurugan
si Natayuda ywa kantun
wong roro kang kari padha.</poem>
|<poem>Martalaya Kartanadi
nunggal wong Sala kewala
samengko pabarisane
besuk anganti si Rangga
misahing baris padha
lawan kabeh ingkang mantuk
mampira ing Surakarta.</poem>
|<poem>Si Rangga saosa jurit
lan kabeh sakancanira
nonjoka layang beboleh
sira maring kakang Rangga
iya ing Baledawa
mangkata ing besuk-esuk
Prawiradirja sandika.</poem>
|<poem>Lawan sira sun gawani
mantri jro seket kewala
wolung puluh Katanggunge
Jagasura wolung dasa</poem>
}}<noinclude>{{rh|84||}}</noinclude>
s29w0k693oivrngg03w60mp6y3673nt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/87
250
24589
77871
77200
2026-05-15T20:25:08Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77871
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>seket wadya Nirbaya
seket Jagabayanipun
salawe wong Suranata.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Putus pitungkasing Ji
wus sami tinundhung medal
ing dalu tan kawiraos
enjing tengara budhalan
Rangga Prawiradirja
lawan lelurah Katanggung
Ngabei Jayadirana.</poem>
|<poem>Lelurah Jagasureki
Ngabehi Jayasutama
sutane kapitan Torlong
lelurahing wong Nirbaya
Nirbaya sareng budhal
sira pun Rangga Winangun
sadaya sareng sadina.</poem>|<poem>Kalih ewu datan luwih
ingkang prajurit turangga
kathah kang wadya dharate
ing marga tan kawursita
ing Kampak sampun prapta
tinonjok ing srat pitutur
Pangran Rangga Baledawa.</poem>
|<poem>Martalaya Kartanadi
sawusira amiyarsa
denira manggihi age
mring Tumenggung Mangkuyuda
miwah Jayanagara
ingaturan mundur ngidul
praptane Prawiradirja.</poem>
|<poem>Ing Baledawa tinitik
sigra wus. mundur sadaya</poem>
}}<noinclude>{{rh|||85}}</noinclude>
2yhtjxpj37ii8o4m5lsk11ynmlvp1io
Kaca:Babad Prayud I.pdf/88
250
24590
77872
77201
2026-05-15T20:25:36Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77872
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sakedhik amrih papane
wau suratira prapta
Rangga Prawiradirja
mbebolehi mrih rahayu
Pangran Rangga Baledawa.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Langkung kagyat pan kumetir
angrasa yen kadenangan
duk Wiratmeja praptane
nguni aneng Baledawa
mangkana Pangran Rangga
kesah dalu kang tinuduh
atengga ing Baledawa.</poem>
|<poem>Pepulunane kekalih
Rahaden Surakusuma
lan Sumajaya arine
katri wayah kaponakan
Mas Wijil hamanira
maksih jejaka satuhu
Pangran Rangga Baledawa.</poem>
|<poem>Sirep ing wong budhalneki
rerepot kabeh ginawa
Den Ayu Wiratmejane
sareng pawestri sadaya
putra lit-alit samya
tumut binekta ing dalu
sareng byar prapta ing Jajar.</poem>
|<poem>Bumi Demak Karangpahing
ler kilening Garobogan
Pangeran Rangga kendele
pan wonten dhusun ing Jajar
lajeng atumbas wisma
tetep badhene neng ngriku
bumi Demak dhusun Jajar.</poem>
}}<noinclude>{{rh|86||}}</noinclude>
59hgdb003anawl5as46tbspgufuso5u
Kaca:Babad Prayud I.pdf/89
250
24591
77873
77203
2026-05-15T20:25:57Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77873
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Kawuwusa ingkang kari
kang atengga Baledawa
wus enjing kumpul bature
katih atus winantara
senjata salawe prah
jejaranane sepuluh
guneme asor kanonta.</poem></ol>
{{Nop}}<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude>
2ghty9wsp9h8vxtzpyso50shoshsqwk
Kaca:Babad Prayud I.pdf/90
250
24592
77874
77204
2026-05-15T20:26:20Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77874
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>'''VIII. {{Tab}} Durma'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Yata wau Den Rangga Prawiradirja
tengara budhal enjing
para mantrinira
panumping munggeng ngarsa
tan adangu praptaneki
ing Baledawa
nanging sakidul kali.</poem>
|<poem>Maksih ndhedhep salebeting pakarangan
kang kilen den sabrangi
wadya Jagasura
samya nabrang sadaya
Nirbaya wetan nabrang ing
Katanggung tengah
Suraksawirya mbedhil.</poem>
|<poem>Sami sumbu tan muni sanjatanira
Den Rangga marentahi
manjinga den enggal
prajurit sareng mangsah
wong Baledawa ambedhil
sarwi agiyak
kukuk sami medali.</poem>
|<poem>Sareng ngamuk anubruk panempuhira
Katanggung anadhahi
kuwel curuk ing prang
rame uleng-ulengan
prajurit Katanggung sami
akeh kabranan
wong Baledawa ngungkih.</poem>
|<poem>Raden Surakusuma lan Sumajaya
katiga Ki Mas Wijil
tajem pangamuknya</poem>
}}<noinclude>{{rh|88||}}</noinclude>
0hg6mhvghd45v8t9j1xo3l35eca15b3
Kaca:Babad Prayud I.pdf/91
250
24593
77875
77205
2026-05-15T20:26:53Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77875
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sami munggeng turangga
gumregut nindhihi dasih
Jayadirana
pengkuh dennya nadhahi.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>Raden Rangga Prawiradirja katunjang
kadho pagut ing jurit
mangga angucapa
nora sinung wewean
mangkana tangkeping jurit
wong Baledawa
pangamuke mbek pati.</poem>
|<poem>Sampun muni bedhile bala Nayogya
sanging mimise kari
kadya banyu wangan
nempuh banyu bengawan
kang gedhe kongkih katitih
kombul kabuncang
kendhih ilining warih.</poem>
|<poem>Jagasura Ngabei Jayasutama
tetulung nora bangkit
dennya carukira
prange wong Baledawa
wus amor acaruk keris
datan karuwan
liwung awuru getih.</poem>
|<poem>Lelurahe Katanggung kudane pejah
tiba sangking turanggi
Den Rangga ka bandhang
riwut ing pamukira
dhadhal prajurit Matawis
kekes tyasira
ngelun tan mangga pulih.</poem>
|<poem>{{tab}}Ingundhangan{{tab}}mring {{tab}}Rangga {{tab}}Prawiradirja</poem>
}}<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude>
qnk1brxyrnwp2dekplsaxglwqcmwkvs
Kaca:Babad Prayud I.pdf/92
250
24594
77876
77206
2026-05-15T20:27:23Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77876
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>padha mundura dhingin
tan kena tinerak
kudaningsun kabandhang
wetan kilen den undhangi
aja anglawan
iya sadina iki.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Lagi ula kalah dening kodhok iya
tikus ngalahken kucing
kagawa ing dina
senapati waspada
dhadhal ngelun wong Matawis
kathah kabranan
sami ngungun ing jurit.</poem>
|<poem>Kapiyarsa sangking nagri Surakarta
yen Rangga sor ing jurit
mungsuh Pangran Rangga
nenggih ing Baledawa
sigra wong gandhek tinuding
andhawuhana
marang Tumenggung kalih.</poem>
|<poem>
Mangkuyuda kalawan Jayanagara
kinen mbantua kalih
mring Prawiradirja
sor prang nang Baledawa
lampahing gandhek wus prapti
neng barisira
sira tumenggung kalih.</poem>
|<poem>Dhinawuhken kalih nunten ambantuwa
sigra tengara aglis
Kyai Mangkuyuda
miwah Jayanagara
punggawa Ngayogja sami
sareng sakala</poem>
}}<noinclude>{{rh|90||}}</noinclude>
iibkvti55tykxnh8oa2c0fzty9zlp31
Kaca:Babad Prayud I.pdf/93
250
24595
77877
77207
2026-05-15T20:27:46Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77877
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Tumenggung Kartanadi.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Martalaya sareng sami angkatira
dalu praptanireki
ing pakuwonira
Rangga Prawiradirja
nora nyata belapati
wong Baledawa
nunten tangkep ing jurit.</poem>
|<poem>Tan kawarna ing dalu wuwusen enjang
badhe angantep jurit
tengara sauran
gumrah prajuritira
wus amatah kanan kering
lajeng umangsah
dhadha pangawatneki.</poem>
|<poem>Ingurugan pepati wong Baledawa,
rame dennya nadhahi
muter pakarangan
binendrongan sanjata
binenturan watu sami
padhas dhangkolan
linimput ing ajurit.</poem>
|<poem>Raden Surakusuma lan Sumajaya
miwah ta Ki Mas Wijil
miris pamukira
prajurit ing Ngayogya
tumpesan sadesa sami
datan karuwan
miris sami angisis.</poem>
|<poem>Wong tetiga sami medal pekarangan
nanging tilar turanggi
opyak loking kathah
yen tetindhihe oncat</poem>
}}<noinclude>{{rh|||91}}</noinclude>
kl8au90utibt6253onu59iyonsqdydm
Kaca:Babad Prayud I.pdf/94
250
24596
77878
77208
2026-05-15T20:28:05Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77878
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>kebut sagunging prajurit
tetindhihira
kang sami den tututi.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Wus kinandhang-kandhang wau wong tetiga
ingebyuk kanan kering
kadya mbereg sangsam
nanging ta wong tetiga
tan owah dennya lumaris
Surakusuma
Sumajaya Mas Wijil</poem>
|<poem>Kang kekalih sami eca mandhi watang
satunggilnya kang mbedhil
pinegatan ngarsa
nerak ingkang tinerak
anisih anganan ngering
Prawiradirja
nguwuh sagung prajurit.</poem>
|<poem>Den aririh iku bedhile berkatan
aja na marepeki
den adoh kewala
Ki Pamuk bedhii ika
munia amelarati
mimise gabah
satompo lamun muni.</poem>
|<poem>Mbilaheni wadya giniring kewala
tan mawi den kendeli
tinut saparannya
pan kongsi kasurupan
nenggih wonten kang winarni
pandamelira
pra dipati pasisir.</poem>
|<poem>Sami ngadhang neng jajahan bumi Demak
kendel nyalimpet margi</poem>
}}<noinclude>{{rh|92||}}</noinclude>
mom4yru4oaaz173bkq0bh4kwh6xc7tx
Kaca:Babad Prayud I.pdf/95
250
24597
77879
77209
2026-05-15T20:28:32Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77879
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>wau wong tetiga
temahan kauningan
selang sengguh kang angungsir
lajeng campuh prang
lan dedamel pasisir.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Ramening prang prajurit sami kathahnya
wadya tigang bupati
gumuruh swaranya
wong Yogja Surakarta
pra samya wuru ngajurit
prang pukul sanga
malah kongsi awengi.</poem>
|<poem>Mangsah ngamuk wong Yogja riwut ing aprang
wong pasisir keh mati
tuwin wong Ngayogja
kathah ingkang kabranan
dhadhal prajurit pasisir
mawur sasaran
wong Ngayogja angungsi.</poem>
|<poem>Pan sadalu sareng byar sagung gegaman
kendel telatah Pathi
dadya ingaturan
Rangga Prawiradirja
marang kang duwe nagari
sami ngungunnya
salang sengguhing jurit.</poem>
|<poem>Dadya kendel neng Pathi Prawiradirja
sakancane bupati
miwah pra dipatya
kalih ing Surakarta
samya kendel aneng Pathi
kang kawuwusa
kang aneng Kabulengkir.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||93}}</noinclude>
8zzagzcyjwblm6dpqhzrgh51jv6c4lc
Kaca:Babad Prayud I.pdf/96
250
24598
77880
77210
2026-05-15T20:29:00Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77880
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem>Wiratmeja wus kathah akumpul bala
sangking Malang mbantuni
Pangran Singasekar
wus nama Prabu Jaka
mbantuni satus prajurit
mring Wiratmeja
kathah wong Suramesthi</poem>
|<poem>Kang suwita marang Raden Wiratmeja
sampun apacak baris
keh suyud wong desa
sigra denira budhal
sangking dhusun Kabulengkir
anjog ing Jipang
kutha badhe ginitik.</poem>
|<poem>Praptanira ngancik jajahaning Jipang
ingkang darbe nagari
wus sami miyarsa
yen wonten mungsuh prapta
siyaga kaprabon jurit
Tumenggung Nata
pura ingkang satunggil.</poem>
|<poem>Satunggile Tumenggung Purawijaya
kang tuwa ungireki
heh adhi karia,
sira tunggu nagara
sun papage mungsuh iki
yen kongsi perak
dadi rusak wong cilik.</poem>
|<poem>ingkang anom Tumenggung Purawijaya
singa ingkang prayogi
sigra atengara
Tumenggung Natapura
budhal sawadyanireki</poem>
}}<noinclude>{{rh|94||}}</noinclude>
qe33421mcs3duhtqwls30w8wrzojxp9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/97
250
24599
77881
77211
2026-05-15T20:29:33Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77881
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>ingkang turangga
gangsal atus prajurit.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>Ingkang dharat wonten sewu lampahira
sangking praja wus tebih
wau Wiratmeja
miyarsa yen pinapag
anyelib lumampah wengi
aseliringan
salisiban ing margi.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Natapura lampahira
wus tebih lan negari
wau Wiratmeja
byar prapta ing negara
tigang atus dharatneki
ingkang turangga
mung patang dasa kalih.</poem>
|<poem>Manjing galedhegan lajeng sami giyak
kukuh sami ambedhil
dadya kagegeran
Raden Purawijaya
nadhahi wongira kedik
dereng sadhiya
kinarubut ing jurit.</poem>
|<poem>Pangamuke Tumenggung Purawijaya
lan sawontenireki
kawula sentana
ngantep kadya sardula
kinarubut kanan kering
meksa anunjang
kotbuta ing ájurit.</poem>
|<poem>Dhasar kedhik kasusu paguting aprang
sapolahe kajodhi
kang kathah anedya</poem>
}}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude>
0hq41fny2z7ag87j1d5klwewu7fl8c8
Kaca:Babad Prayud I.pdf/98
250
24600
77882
77212
2026-05-15T20:30:21Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77882
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>sayekti sampun tata
dadya kapupu ing jurit
Tumenggung Pura
wijaya angernasi.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Pan sadaya.rowangira ingkang pejah
mungsuh tiga kang mati
nenem kang kabranan
kuthane wus kancikan
Tumenggung Natapureki
wus amiyarsa
mungsuh anyidreng jurit.</poem>
|<poem>Lan keng rayi Tumenggung Purawijaya
kasambut ing ajurit
pejah galedhegan
Tumenggung Natapura
wus telas ing tyasireki
tan purun ngrebat
mring kunarpaning ari.</poem>
|<poem>Pan wus kathah wong Jipang kang nungkul mengsah
cinacah kang turanggi
dhomas punjulira
nenggih seket sakawan
aneng Jipang tigang latri
enjinge budhal
Madiun kang den gitik.</poem>
|<poem>Palayune Dyan Tumenggung Natapura
Madiun kang den ungsi
lan sabalanira
ngidul angilen ika
giras anabrang benawi
Den Wiratmeja
angsal bebujung jurit.</poem>
|<poem>Sapejahe Tumenggung Purawijaya</poem>
}}<noinclude>{{rh|96||}}</noinclude>
lki4a1588wgqb7vakzajkrlnn5cpjco
Kaca:Babad Prayud I.pdf/99
250
24601
77883
77213
2026-05-15T20:30:42Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77883
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>angangah-angah sami
saprajuritira
dene ta ingkang numbak
mring Purawijaya mangkin
apan ginanjar
pan kinarya bupati.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44
|<poem>Pinaringan kalih ewu bumi Jipang
ing Kapadhangan nenggih
ingalih namanya
Tumenggung Wangsengyuda
wong sangking Madura yekti
pan Wangsengyuda
tetep dadya bupati.</poem>
|<poem>Sakarine nem ewu bumi ing Jipang
pinarapat kang kari
pinacak sakawan
bupati kang kinarya
sami anak putuneki
Mataun Jipang
wau lampahireki.</poem>
|<poem>Wiratmeja dennya ngusir Natapura
tanah Madiun prapti
kang darbe nagara
Pangran Mangkudipura
gugup siyaganireki
kawur balannya
sampun kathah kang ngili.</poem>
|<poem>Kaderojog ing mungsuh tan kongsi tata
nadhahi ing ajurit
tan dangu sakedhap
karoban ing ayuda
mawur palajengireki
mring Panaraga</poem>
}}<noinclude>{{rh|||97}}</noinclude>
i3qp0gcry4bm9780oj6fxk4g0er5y2f
Kaca:Bratayuda.pdf/10
250
24602
77505
77217
2026-05-15T15:27:24Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77505
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>menambah kewibawaan hiasan Istana Astina, sehingga sudah menyerupai persemayaman Batara Indra. Suara burung berbaur dengan deru angin, menerjang kembang-kembang, menambah keceriaan dan keharuman Istana Astina. Hiasan bangunan induk istana yang berupa emas permata, gemerlapan tertimpa sinar
bulan.
Istana untuk Dewi Banowati luar biasa indahnya, dihias dengan emas dan permata. Di sebelah baratnya terdapa taman berpagar emas, diteretes ratna mutu manikam, sedangkan pagar banonnya terbuat dari batu marmar, dan di sana terdapat balai
emas. Pelatarannya disebari ratna mutu manikam serta mutiara, dan permata-permata lainnya. Tak ada habis-habisnya jika semua keindahan di dalam istana diceritakan. Karena itu kini diringkaskan saja.
<center> *** </center>
Fajar telah menyingsing, suara para wanita sudah terdengar ramai, ialah mereka yang memetik bunga ke taman. Raja Suyudana sudah berbusana, akan menemui tamunya, lalu pergi ke pendapa.
Untuk tempat duduk para raja maupun para pinisepuh sudah diatur. Destarata, Bisma, Druna, Krepa, Drusasana, Adipati Awangga, Raja Mandaraka serta raja-raja yang lain, semua hadir.
Raja Suyudana minta kepada Yuyutsuh serta Yamawidura, agar menjemput Sri Kresna. Patih Arya Sangkuni beserta Adipati Awangga mendapat perintah untuk menyongsong kehadirannya.
Yuyutsuh dan Yamawidura sudah bertemu dengan Sri Kresna. Selanjutnya dipersilakan datang ke istana. Sri Kresna segera mengenakan busananya, dan para prajuritnya sudah siap sedia semua. Karena kendaraannya sudah menunggu. Kemudian berangkat dari pesanggrahan. Di tengah perjalanan, datang menjemput Patih Arya Sangkuni dan Kama, lalu keduanya mengiring perjalanan Sri Kresna ke istana.
Setibanya di istana, Sri Kresna dipersilakan duduk. {{hws|Kemu|Kemudian}}<noinclude>{{rf|||13}}</noinclude>
ms6nb8e7picyst1ngzedgbnhs71hca6
Kaca:Bratayuda.pdf/11
250
24603
77504
77218
2026-05-15T15:27:00Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77504
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|dian|Kemudian}} disusul, semua yang berada di ruang pertemuan itu duduk
dengan tertib.
Sejenak Sri Kresna menengadah, lalu turunlah keempat dewata, ialah yang bernama Kanekaputra, Janaka, Ramaparasu, dan Kanwa. Bisma dan Druna berkata kepada Raja Suyudana, bahwa ada dewata datang. Suyudana menyembah, dan keempat dewa dipersilakan duduk dalam kelompok para pinisepuh. Sedangkan para raja menyatu dengan sesama raja, para satria, berkumpul sesama satria. Seluruh hadirin lama terdiam.
Lalu Sri Kresna berkata, ”Paman Destarata, kedatangan saya ke mari ini, hanya untuk merukunkan sesama saudara, agar jangan sampai ada yang berselisih, lebih baik jika semua rukun, karena jika tetjadi perselisihan, yang senang adalah mereka yang tidak senang kepada kita. Segala tindakan saya, putra paduka, Adinda Prabu Amarta dan adik-adiknya menurut saja. Adapun tugas yang laksanakan ini, berdasar atas kehendak Adinda Prabu, yang menginginkan separoh bagian negeri Astina.”
”Apa yang anak Prabu utarakan, memang sudah seharusnya demikian, dan sudah sangat baik,” demikian jawab Destarata.
Keempat dewata serempak menyambung, demikian, ”Pengaturan Sri Kresna sudah lebih dari patut, sepatah kata pun tidak ada yang salah, dalam usahanya menjaga kebaikan dan keakraban bersaudara.”
Bisma dan Druna turut membenarkan sabda keempat dewata. Akan tetapi Raja Suyudana membisu karena kecewa, dan menundukkan kepalanya. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Yamawidura dan Yuyutsuh menyambung pembicaraan, dan menyarankan agar menerima tawaran Sri Kresna, demi keselamatan semuanya.
Ibu Raja Suyudana yang bernama Dewi Gendari, berkata kepada putranya seraya menangis, ujarnya, ”Baik kau terima kebijaksanaan anak Prabu Dwarawati itu. Apa lagi yang kaukehendaki, yang melebihi kebaikan kerukunan bersaudara?”<noinclude>{{rf|14}}</noinclude>
im2t358wvjgd8kzq4u5k9ancdihb2y2
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/13
250
24604
77473
77219
2026-05-15T15:03:34Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77473
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 11 –}}</noinclude><center><u> II. K A L A - T I D A </u></center>
<u>S i n o m</u>
<ol start=1>
<li><poem>Mangkja daladjating pradja
kawurjan wun sunja ruri
rurah pangrèhing ukara
karana tanpa palupi
atilar silastuti
sardjana sudjana kèlu
kalunglun kalati<u>d</u>a
ti<u>d</u>em tan<u>d</u>aning dumadi
ardajèng rat dening karoban rubéda</poem></li>
<li><poem>Ratuné ratu utama
patihé patih linuwih
pra najaka tyas rahardja
panekaré betjik-betjik
parandéné tan dadi
palijasing Kalabendu
malah sangkin andadra
rubéda kang ngriribedi
béda-béda ardané wong sanagara</poem></li>
<li><poem>Katatangi tangisira
sira sang paramèng kawi
kawilet ing tyas duhkita
kataman ing rèh wirangi
dening upaja sandi
sumaruna anarawung
pangimur manuara
mèt pamrih mélik pakolih
temah suka ing karsa kurang wéwéka</poem></li>
<li><poem>Kasok karoban pawarta
babaratan udjar lamis
pinudya dadya pangarsa
wekasan malah kawuri
jèn pinikir sajekti</poem></li><noinclude></noinclude>
908bqt4vfqrahyxgpl2doc9hve3pb64
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/14
250
24605
77472
77221
2026-05-15T15:02:49Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77472
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 12 –}}</noinclude><poem>:::mun<u>d</u>ak apa anèng ngajun
:::an<u>d</u>e</u>der kaluputan
:::siniraman banju lali
:::lamun tuwuh dadi ke kembanging béka</poem>
<ol start=5>
<li><poem>Udjaring Paniti-sastra
awawarah asung péling
ing djaman kenèng musibat
wong ambek djatmika kontit
mengkono jèn nitèni
pédah apa amituhu
pawarta lalawara
mun<u>d</u>ak angreranta ati
angur baja ngiketa tjaritèng kuna</poem></li>
<li><poem>Keni kinarja darsana
panglimbang ala lan betjik
sajekti akèh kéwala
lalakon kang dadi tamsil
masalahing ngaurip
wahananira tinemu
temahan anarima
mupus pepes<u>t</u>èning takdir
puluh-puluh anglakoni kaélokan</poem></li>
<li><poem>Amenangi djaman édan
éwuh aja ing pambudi
milu édan nora tahan
jèn tan milu anglakoni
boja kaduman mélik
kaliren wekasanipun
ndilalah karsa Allah
begdja-begdjané kang lali
luwih begdja kang éling lawan waspada</poem></li>
<li><poem>Samono iku babasan
padu-paduné kapéngin
enggih mekoten Man <u>D</u>oblang
bener ingkang angarani
nanging sadjroning batin</poem></li><noinclude></noinclude>
9x72vvefezn6lf14jmok7jgxo6kn68w
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/15
250
24606
77471
77222
2026-05-15T15:02:21Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77471
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 13 –}}</noinclude><poem>:::sadjatiné njamut-njamut
:::wis tuwa arep apa
:::muhung mahas ing ngasepi
:::supaja ntuk pangaksamaning Hjang Suksma</poem>
<ol start=9>
<li><poem>Béda lan kang wus santosa
kinarilan ing Hjang Widi
satiba malanganéja
tan susah ngupaja kasil
saking mangunah prapti
Allahu paring pitulung
marga samaning titah
rupa sabarang pakolih
parandéné maksih taberi ihtijar</poem></li>
<li><poem>Sakadaré linakonan
mung tumindak mara ati
angger tan dadi prakara
karana wirajat muni
ihtijar iku jekti
pamilihing rèh rahaju
sinambi budi daja
kan<u>t</u>i awas lawan éling
kang kaès<u>t</u>i antuka marmaning Suksma</poem></li>
<li><poem>Ja Allah ja Rasulullah
kang sipat murah lan asih
mugi-mugi aparinga
pitulung kang anartani
ing alam awal akir
dumunung ing gesang ulun
mangkja sampun awre<u>d</u>a
ing wekasan kadi pundi
mila mugi wontena pitulung Tuwan</poem></li>
<li><poem>Sageda sabar santosa
mati sadjroning ngaurip
kalis ing rèh aru-ara
murka angkara sumingkir
tarlèn meleng malat sih</poem></li><noinclude></noinclude>
mojbtv88fieb4d600a23kl666onholh
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/16
250
24607
77470
77223
2026-05-15T15:01:58Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77470
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 14 –}}</noinclude><poem>:::sanityasèng tyas mamasuh
:::ba<u>d</u>aring sapu <u>d</u>en<u>d</u>a
:::antuk majar sawatawis
:::borong angga suwarga mèsi martaja</poem>
<u>T j é n t a n g a n</u>
(1) Sasumerep-kula serat2 "Kalati<u>d</u>a" tjap-tjapan, ing pada 1 garis 1 punika sami kaserat "Mangkja <u>daradjating</u> pradja", namung "Kalati<u>d</u>a" wedalan Pustaka Nasional Surabaja kalijan serat punika ingkang kaserat "Mangkja <u>daladjating</u> pradja". Kinten-kula leres "daladjat", amargi daradjat punika ateges: pangkat, déné <u>daladjat</u> ateges: ngalamat.
(2) Wonten serat "Kalati<u>d</u>a" ingkang ing pada 1 garis 5-6-7 punika mungel: "ponang paramèng kawi, kawilet ing tyas malat-kung,kongas kasudranira".
(3) Serat "Kalati<u>d</u>a" seratan tangan kagunganipun R.Ng. Dwidjawijata, pensijunan Kepala-sinder pamulangan ing Ngajogjakarta wonten 13 pada. Inggih punika: sadèrèngipun mungel "Mangkja daradjating pradja" mungel makaten:
<poem>:::Wahjaning arda rubéda
:::ki Budjangga amèngeti
:::mesu tjipta mati raga
:::me<u>d</u>ar warananing gaib
:::ananira sakalir
:::ruweding sarwa tumuwuh
:::wiwaling kang warana
:::dadi badaling Hjang Widi
:::ame<u>d</u>arken pari-bawaning bawana</poem>
Miturut katranganipun ingkang kagungan, serat "Kalati<u>d</u>a" 13 pada wau ugi sampun naté kaetjap ing Surakarta, pandjenenganipun<noinclude></noinclude>
5n337mhl6y8b0i7ajsf532lqmido5vd
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/17
250
24608
77469
77225
2026-05-15T15:00:31Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77469
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 15 –}}</noinclude>asli nurun ingkang sampun tjap-tjapan wau.
(4) Sadaja serat "Kalati<u>d</u>a" ing pada pungkasan garis pungkasan, mungel: bo<u>rong</u> ang<u>ga</u> su<u>war</u>ga mè<u>si</u> mar<u>ta</u>ja, punika mèsi sandi-asmanipun ingkang mangripta (R.Ng. Ranggawarsita).
<u>Wewahan</u>
Wonten serat nama "Kalabras<u>t</u>a" nanging dèrèng naté kawedalaken warni serat mirunggan. Nalika ± taun 1910 naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" Surakarta, ± teun 1920 naté kaewrat wonten ing ari-warti "Sedya Tama" Ngajogjakarta. Ing djaman mardika punika naté kawedalaken awor serat2, djangka sanèsipun, dados sabuku. Tuwin naté kaewrat wonten ing kala-warti "Panjebar Sémangat" Surabaja.
Serat "Kalabras<u>t</u>a" punika sekaripun Sinom kados "Kalati<u>d</u>a", katahipun inggih 12 pada kados "Kalati<u>d</u>a". Bokmanawi ingkang ngripta dèrèng nate mrangguli "Kalati<u>d</u>a" ingkang 13 pada. Déné suraosipun angosok-wangsul serat "Kalati<u>d</u>a". Ing pada pungkasan mungel makaten:
<poem>:::Ilang kasmalaning nusa
:::jèn minum tirta martani
:::warsitaning Kalabras<u>t</u>a
:::sirna sagunging prihatin
:::pan ing mangkja wus wantji
:::pambudi kamuljan umum
:::ajwa katungkul pa<u>d</u>a
:::ambudi adjining <u>d</u>iri
:::kang amangun dwidjaning atmadja tama.</poem>
Ing garis pungkasan "kang <u>amangun</u> dwidjaning <u>atmadja</u> tama" punika mèsí sandi-asmaning pangarangipun, inggih punika sa<u>d</u>èrèk<noinclude></noinclude>
nrqu73ratl8aukxjxzmocmsqfzvlgh9
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/18
250
24609
77468
77228
2026-05-15T15:00:06Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77468
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" />{{rh||– 16 –}}</noinclude>Mangunatmadja, tilas lurah <u>d</u>usun ing Karangwungu, bawah kabupatèn Kla<u>t</u>èn, panuntunipun paguron "Sarékat Abangan", kasebut ing serat "Falsafah Sitidjenar" wedalan Kulawarga Bratakésawa.
Dados pangarangipun serat "Kalabras<u>t</u>a" punika prijantun djaman sapunika kémawon. Suraosipun: manawi para sa<u>d</u>èrèk Djawi sami kersa netjep kawruh Sarékat Abangan (= minum tirta martani) ba<u>d</u>é sirna sadaja prihatos lan bebendu ing tanah Djawi punika. Para netjep kawruh wau sinebut {{sp|atmadjatama}}. Makaten punika panganggep lan pangadjapipun sang {{sp|dwidja}} ingkang jasa serat "Kalabras<u>t</u>a" kala taun .......... ± 1910.
{{rule|5em}}<noinclude></noinclude>
peohdvy0oif8ytnd6atb4f3ip6zhnrx
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/19
250
24610
77969
77229
2026-05-16T01:29:07Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77969
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 17 –}}</noinclude><center><u> III. {{sp|SABDA TAMA}} </u></center>
<u>{{sp|Gambuh}}</u>
<ol start=1>
<li><poem>Rasaning tyas kajungjun
angajoni lukitaning gambuh
njambi-wara kalawan eninging ati
katenta kudu pitutur
sumingkir ing rèh tyas mirong</poem></li>
<li><poem>Dèn samja amituhu
ing sadjroning djaman Kala-bendu
jogja sami njunjuda ardaning ati
kang nununtun mring pakéwuh
uwohing panggawe awon</poem></li>
<li><poem>Ngadjapa tyas rahaju
ngajomana sasamèng tumuwuh
wahanané ngendak angkara kalin<u>d</u>ih
ngén<u>d</u>angken pakarti dudu
dinuwa luwar tibèng doh</poem></li>
<li><poem>Béda kang ngadji pupung
nir waspada rubédané tutut
akikin<u>t</u>il tan anggop anggung tut-wuri
tyas riwut rawat dahuru
korup sinerung ing goroh</poem></li>
<li><poem>Ilang budajanipun
tanpa baju wéjané ngalumpuk
satjiptaning wardaja ambabajani
ubajané nora paju
kari kataman pakéwoh</poem></li>
<li><poem>Rong asta wus katekuk
kari ura-ura kang pakantuk
<u>D</u>an<u>d</u>ang-gula lagu Palaran sajekti
ngluluri para luluhur
abot sihing swami karo</poem></li><noinclude></noinclude>
oluwschhwio4tzqil6uhdcbgp2bw7ko
78361
77969
2026-05-16T09:59:44Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78361
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 17 –}}</noinclude><center><u> III. {{sp|SABDA TAMA}} </u></center>
<u>{{sp|Gambuh}}</u>
<ol start=1>
<li><poem>Rasaning tyas kajungjun
angajoni lukitaning gambuh
njambi-wara kalawan eninging ati
katenta kudu pitutur
sumingkir ing rèh tyas mirong</poem></li>
<li><poem>Dèn samja amituhu
ing sadjroning djaman Kala-bendu
jogja sami njunjuda ardaning ati
kang nununtun mring pakéwuh
uwohing panggawe awon</poem></li>
<li><poem>Ngadjapa tyas rahaju
ngajomana sasamèng tumuwuh
wahanané ngendak angkara kalin<u>d</u>ih
ngén<u>d</u>angken pakarti dudu
dinuwa luwar tibèng doh</poem></li>
<li><poem>Béda kang ngadji pupung
nir waspada rubédané tutut
akikin<u>t</u>il tan anggop anggung tut-wuri
tyas riwut rawat dahuru
korup sinerung ing goroh</poem></li>
<li><poem>Ilang budajanipun
tanpa baju wéjané ngalumpuk
satjiptaning wardaja ambabajani
ubajané nora paju
kari kataman pakéwoh</poem></li>
<li><poem>Rong asta wus katekuk
kari ura-ura kang pakantuk
<u>D</u>an<u>d</u>ang-gula lagu Palaran sajekti
ngluluri para luluhur
abot sihing swami karo</poem></li><noinclude></noinclude>
6wl3dn33ei8p28vx28hjf8smqtscl6c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/163
250
24611
78225
77230
2026-05-16T09:12:05Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78225
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::inggih panangkilan
:::kula minggah ing sitinggil
:::lajeng kula manjing ngamuk mring janala.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>
Pangran mangkuningrat alon wuwusipun
den ririh kewala
den waspada den patitis
dene ingsun sapungkurira tumandang.
</poem>
|<poem>
Sigra laju wau kang prajurit satus
waos kang sawidak
ingkang kawandasa karbin
mantri nenem sapraptaning pagelaran.
</poem>
|<poem>
Rakitipun patang panthá sinalusuk
bedhil kang sadasa
gangsal welas waosneki
rerubungan inggih dadi patang pantha.
</poem>
|<poem>
Sami sampun manggalaki karbinipun
waose leligan
solahe pating bathithit
kang akemit sami atambuh sadaya.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||161}}</noinclude>
otwadlu7rf654eo98df5twwneb3bv6o
Kaca:Babad Prayud I.pdf/164
250
24612
78226
77232
2026-05-16T09:12:16Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78226
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XV. GAMBUH'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Sareng ing lampahipun
yen ing carita gantya winuwus
sawedale wau sangking Srimanganti
Raden Puspakusumeku
sarengan lan wedana jro.</poem>
|<poem>Apasang lampahipun
prayitneng batin angempit dhuwung
anglelabang pipitan datan katawis
myarsa Sultan adatipun
yen duka sok gecas-gecos.</poem>
|<poem>Tri kanca ing tyasipun
ingkang sapalih kalethekipun
nora nana adat duta den pateni
nguni-uni para ratu
nanging ta beda samengko
</poem>
|<poem>
Nadyan matia ingsun
oleha bela padha tumenggung
pasthi mambu sangking ing Surakarteki
ya sangite getihingsun
praptaning sitinggil anon.</poem>
|<poem>
Kendel pangateripun
Mangundipura lan Sindurjeku
amung kemitbumi ingkang nggawa lilin,
wong roro neng ngarsanipun
Raden Puspakusuma non.</poem>
|<poem>Ing gegaman arubung
patang patha rerubunganipun
osiking tyas Raden Puspakusumeki
bayata gegamanipun
kang kinen mateni mring ngong.
</poem>}}<noinclude>{{rh|162}}</noinclude>
fe1iz9xi1e872rgci875ikifscpgb74
Kaca:Babad Prayud I.pdf/165
250
24613
78227
77233
2026-05-16T09:12:23Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78227
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=7
|<poem>
Iya sapuluh-puluh
mangsa mindhoa iya wong lampus
tuwa mati anom mati yen wus pasthi
wus anjog ing lemah dhuwur
sapraptanira ing ingisor</poem>
|<poem>Jayapanatar maju
Raden Tumenggung awas andulu
pan cumeplong tyase kentir kang kuwatir
tyas susah swuh wus kapusus
tyas suka kapasuk kasok.</poem>
|<poem>Miwah ingkang anusul
pra samya lega sami gumuyu
loking warta tan nyana bisa basuki
lajeng wau lampahipun
angalor sami geguyon.</poem>
|<poem>Prapteng pakuwonipun
Pangeran Mangkuningrat agupuh
methuk jawi palataran nyandhak aglis
angasta sarwi gumuyu
Kang Menggung maras tyasingong.
</poem>
|<poem>
Ing nguni adatipun
Kiyai Sultan yen sanget bendu
anekani mbuh ing mengko sepuh iki
lan malih wus dadi ratu
tetemaman tyase alon.</poem>
|<poem>Wau Raden Tumenggung
Puspakusuma matur atutur
katimbalan Kangjeng Sultan benjing-enjing
kang putra tinundhung mantuk
suka tyase kabeh kang wong.</poem>
|<poem>Ingkang sami angrungu
kuneng ing jawi ingkang pinupus
</poem>}}<noinclude>{{rh|||163}}</noinclude>
2s2q9eynhynmixzr4qiil51jkjnoywk
Kaca:Babad Prayud I.pdf/166
250
24614
78228
77234
2026-05-16T09:12:31Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78228
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::Kangjerig Sultan dalu perlu animbali
:::ingkang putra prapteng ngayun
:::lawan ingkang ibu karo.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=14
|<poem>
Jeng Sultan ngandika rum
heh Ebeng sira muliha besuk
sira iku basakena ingsun iki
kesusua ing sireku
iya banget tunaningong.</poem>
|<poem>Pan milua pembayun
dunungingsun anestapa iku
temah teka ing temah mbandakalani
duwe mantu dadi satru
weh was-uwas dadi mungsuh</poem>
|<poem>Wus begjane wakingsun
dene pulunan sun ambii mantun
ingsun nyana dadia kondhanging jurit
mundur amuwuhi satru
gawe keroning lelakon
</poem>
|<poem>
Sultan andikanipun
sarwi anenggak ing waspanipun
kapiadreng sereng rengune ngranuhi
para garwa ting salenggruk
mulat rentenge sang katong.
</poem>
|<poem>
Kang ngadhep sadayeku
lurah kalawan sinomanipun
miyat ingkang gustine renteng kapati
angluding tangis gumuruh
lir kapeten jro kacfhaton.</poem>
|<poem>Jeng Sultan langkung wimbuh
dadya adhawah waspa Sang Prabu
para garwa uwa bibi angebyuki
marang Ratu Bendareku
</poem>}}<noinclude>{{rh|164}}</noinclude>
7qh17xylrotl2iwrr7zk75qk7ldtwz2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/167
250
24615
78229
77235
2026-05-16T09:12:47Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78229
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::tingjalerit sakadhaton.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>
Ni Arya Suwandeku
alón umatur sarwi rawat luh
dhuh pukulun Narpa Kalipatullahi
sampun angrerenteng kalbu
bawur prajanta wirangrong.
</poem>
|<poem>
Tingkesen tyas pukulun
luwung ngupaya pangupayeku
ing paekan papaning reh mikenani
darapon nir ing lara kung
kung wuyung wong sakadhaton.
</poem>
|<poem>
Kewran punapa ratu
akarya sungsang buwana bawur
pan winenang Gusti jenenging Nerpati
ing reh amrih tetepipun
neng Yugja pUtranta katong.
</poem>
|<poem>
Den Ayu Purbayeku
miwah Den Ayu Mangkuprajeku
sami prapta miwah Den Ayu Ngabei
samya lud lara amuwun
neng ngarsa rayi Sang Katong.
</poem>
|<poem>Jeng Sulta ngandika rum
Heh Bibi Riya Suwandatengsun
agawea paekan durjaneng budi.
taho marang Anak Prabu
yen karyaa kang mengkono.</poem>
|<poem>Mulane liwat ewuh
Bibi Suwanda panyiptaningsun
iya putunira wadon siji iki
pamugaraning palugon.</poem>
|<poem>Kang meca wong tetelu
</poem>}}<noinclude>{{rh|||165}}</noinclude>
c254t0j2sbmj5nvnw3esbngwlcn0842
78231
78229
2026-05-16T09:12:58Z
Elcamatcha
1466
78231
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::tingjalerit sakadhaton.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>
Ni Arya Suwandeku
alón umatur sarwi rawat luh
dhuh pukulun Narpa Kalipatullahi
sampun angrerenteng kalbu
bawur prajanta wirangrong.
</poem>
|<poem>
Tingkesen tyas pukulun
luwung ngupaya pangupayeku
ing paekan papaning reh mikenani
darapon nir ing lara kung
kung wuyung wong sakadhaton.
</poem>
|<poem>
Kewran punapa ratu
akarya sungsang buwana bawur
pan winenang Gusti jenenging Nerpati
ing reh amrih tetepipun
neng Yugja putranta katong.
</poem>
|<poem>
Den Ayu Purbayeku
miwah Den Ayu Mangkuprajeku
sami prapta miwah Den Ayu Ngabei
samya lud lara amuwun
neng ngarsa rayi Sang Katong.
</poem>
|<poem>Jeng Sulta ngandika rum
Heh Bibi Riya Suwandatengsun
agawea paekan durjaneng budi.
taho marang Anak Prabu
yen karyaa kang mengkono.</poem>
|<poem>Mulane liwat ewuh
Bibi Suwanda panyiptaningsun
iya putunira wadon siji iki
pamugaraning palugon.</poem>
|<poem>Kang meca wong tetelu
</poem>}}<noinclude>{{rh|||165}}</noinclude>
589q540x7nd1m3wsoq3n0ludrqxzgsq
Kaca:Babad Prayud I.pdf/168
250
24616
78232
77236
2026-05-16T09:13:11Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78232
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::wong maratapa lanang tetelu
:::kapat wadon Ni Endang Sampurnawati
:::lamun sutengong Pambayun
:::sanadyan iku wong wadon.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=27
|<poem>
Papaku ing prang pu puh
milu ambedhah Batawi besuk
wus mengkono pamecane para ngabdi
Den Ajeng Bruwok ing besuk
wekasing reh pinangka toh.
</poem>
|<poem>
Sapa wruha ing besuk
kadadeane putunireku
nanging ingsun kang tuna kapati-pati
sasat anglelemu satru
yen maksiha tan neje nggon.
</poem>
|<poem>
Dadya Sultan tumurun
lan Nyai Arya Suwanda tumut
lawan Ratu Kencana kang den kejepi
ketiga Sultan puniku
sapraptanireng ing gedhong.
</poem>
|<poem>
Sultan angandika rum
Bibi Suwanda putunireku
p a d i k e n a j goleka wong guna bangkit
adohna lan lakinipun
toleha wong tuwa karo.
</poem>
|<poem>
Bapa kalawan biyung
nora duraka mengkono iku
miwah sira Mbok Ratu den angulati
wong guna-guna madhukun
bisa misah wong karongron.
</poem>
|<poem>
Sapisan engkas besuk
wus linca-linci bali ping telu
sun indheti nanging ta sok wusa ugi
</poem>}}<noinclude>{{rh|166}}</noinclude>
l8cjjv0vfcnu3vmmysbd6j3eay8klw2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/169
250
24617
78233
77237
2026-05-16T09:13:19Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78233
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::iya si Ebeng tyasipun
:::adoha nir cipteng bojo.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=33
|<poem>
Wus mateng rembugipun
cara wong cilik ngambil dhedhukun
ingkang megataken wong alaki-rabi
pan istiyar sarat-masrut
mrih pisah wong sakarongron.
</poem>
|<poem>
Kukum ingkang dhinapur
angger lumuh ing wong wadon iku
nora kena ki lanang iya ngukuhi
marma satalak tinuku
wong lanang tan kena wangkot.
</poem>
|<poem>Jiniyat ing pangulu
apan kuwasa wong wadon lumuh
bisa mbuwang lawanipg lakinireki
wauta Jeng Sultan sampun
katri miyos sangking gedhong.
</poem>
|<poem>
Pinarek nggene wau
marang kang putra ngandika arum
Ebeng prakaraa ya lakinireki
nuhun yen lega tyasingsun
kang siji anake wadon.
</poem>
|<poem>
Ginanjaraken iku
marang ing sapa kang putra matur
inggih dhateng pun Suryakusuma nenggih
Kudanawarsa nakipun
badhe pinaringan pindho.
</poem>
|<poem>
Wayah Tuwan rumuhun
inggih konduran ing pejahipun
Kangjeng Sultan pangandikanira aris
kon marenekaken iku
pan roro iku kak ingong.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||167}}</noinclude>
5ii6r8wh8uho30et8txcvcoufqoqae5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/170
250
24618
78234
77239
2026-05-16T09:13:27Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78234
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>
Mung kang ngukir bojomu
gedhene iku ana ing ingsun
dadi ingsun iya ingkang narimani
suteng Kudanawarseku
parenga carakaningong.
</poem>
|<poem>
Angater ing sireku
kaliwon papat barenga iku
iya bakal pangante mring Ngayogjeki
kang putra nembah umatur
sandika ikinen mangkuwon.
</poem>
|<poem>
Datan kawarneng dalu
enjing sayaga sawadyanipun
myang kaliwon papat duteng Ngayogjeki
wonten duta tigang atus
kang dharat iya semono.
</poem>
|<poem>
Tan kawursiteng dalu
kang badhe budhal samekta sampun
sami saos Pangran Mangkuningrat enjing
aneng Srimenganti katur
ngandikan marang kadhaton.
</poem>
|<poem>
Lan Puspakusuma wus
prapteng byantara Nata angujung
Kangjeng Sulta amitungkas ingkang taklim
katura mring Anak Prabu
mring si Ebeng salamingong.
</poem>
|<poem>
Lan salam-salam ingsun
mring wayah ingong ya sadayeku
bektiningsun Thole mring ibunireki
Mbok Ayu Wiradigdeku
sandika kalih wot sinom.
</poem>}}<noinclude>{{rh|168}}</noinclude>
nrmzmzrdmhfe4ylyl1tu8yqvs56u6ts
Kaca:Babad Prayud I.pdf/171
250
24619
78235
77240
2026-05-16T09:13:41Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78235
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XVI. SINOM'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Wedale sangking jro pura
angantosi Pancaniti
wedale Ratu Bendara
kang pra santana keh ngiring
samya ngater ing margi
garedegan wangsulipun
lajeng Ratu Bendara
sawadya Surakarteki
lampahira ing marga tan kawursita.</poem>
|<poem>Prapta nagri Surakarta
ping sanga Besar Sukraning
wau Jeng Ratu Bendara
lajeng sowan mring jro puri
ngaturken ingkang taklim
kang rama Sultan wus katur
lan salam mring kang putra
Jeng Ratu Kencana nenggih
myang kang dhawuh mring para wayah sadaya.
</poem>
|<poem>
Ratu Bendara wus medal
ngandikan punggawa katih
wau Pangran Mangkuningrat
lawan Puspakusumeki
prapta ngabyantaraji
katur sapraptingkahipun
kala wonten Ngayogya
suka Sang Nata miyarsi
ing antuke awit sangking masang gelar.
</poem>
|<poem>
Gelare kuthuh anyetan
nistha ambek angrusuhi
dadya Jeng Sultan miyarsa
mila g.ya tinundhung mulih
langkung suka miyarsi
</poem>}}<noinclude>{{rh|||169}}</noinclude>
nq9tj0ebugkt3xznrfqk6x3vjp2snpk
Kaca:Babad Prayud I.pdf/172
250
24620
78236
77244
2026-05-16T09:13:49Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78236
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem>:::wus samya kinen umantuk
:::Pangeran Mangkuningrat
:::lawan Puspakusumeki
:::kuneng malih ing praja kang kawursita.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>
Sang Aprabu Surakarta
renteng katarik nututi
ing garwa Ratu Kencana
sedaning putranireki
Den Mas Suleman nami
seda yuswa pitung tengsu
kendhat ing tigang warsa
datan apeputra malih
manahira rungsang uyang anggerangsang.
</poem>
|<poem>Adina-dina kasukan
mung kendel ing kalih ari
Saptu kalawan jumuwah
tetopengan saben ari
kang abdi langkung sedhih
mindeng meh kongsi sataun
horeg ing kabatinan
kuneng kawuwusa malih
wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Angangkataken putra
Raden Suryakusumeki
marang nagari Ngayogja
kaliwon Ngayogja sami
sareng angkatireki
kang badhe kinarang wulu
putrì Mangkùnagaran
duk pinundhut maksih bayi
mring kang eyang mangkya wus samya diwasa.
</poem>
|<poem>
Sapraptanireng Ngayogja
lajeng pinanggihken nuli
Den Ajeng Bojod kalawan
</poem>}}<noinclude>{{rh|170}}</noinclude>
nz96filweixbg3hrwmuyioty168ft9x
Kaca:Babad Prayud I.pdf/173
250
24621
78047
77245
2026-05-16T03:11:16Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78047
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Raden Suryakusumeki
:::ageng bawahaneki
:::Kepatihan sami nayub
:::lan sagung pra dipatya
:::mayor lan sagung upesir
:::ing Kadanurejan duk putrì wedalnya.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>
Kang dadya walining ningkah
nenggih Pangeran Dipati
nutug denira kasukan
antawis pitulas wengi
binudhalaken aglis
marang ing Surakarteku
malih kaliwon papat
panganten ingkang umiring
lan prajurit Jagabaya Anirbaya.
</poem>
|<poem>Wirabraja Brajanala
miwah wong Jagasureki
prajurit jro tiga belah
ing marga datan kawarni
ing Surakarta prapti
Pangran Mangkunegara wus
kang methuk dutanira
neng Dhuwet ing Bayalali
wus kabekta ing dalem Mangkunegaran.</poem>
|<poem>Kasukan sapra dipatya
Di pati Mangkuprajeki
sakawane pra wadana
Uprup Beman sampun prapti
mbekta sagung upesir
santana aglar ing ngayun
rame dennya kasukan
miwah pangantenireki
sakalangkung nutug suku-parisuka.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude>
5uranrtaxneq22cwi77fc23gtp87e0q
Kaca:Babad Prayud I.pdf/174
250
24622
78048
77246
2026-05-16T03:11:31Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78048
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|<poem>
Tuwin kaliwon Ngayogya,
tinunggilan pra dipati
tuhu denira kasukan
bedhaya dangu wus mijil
ngrangkep wayang wong nuli
kang uwuk taledhek wau
kang ngiras adhadharan
pra dipati beksa sami
gantya-gantya miwah upesir Walanda.</poem>
|<poem>Kuneng wangsuning wursita
ing Surakarta Sang Aji
ing tyas wayang awuyunganah
piyang-ngiyeng ngengayang
kawayang angayengi
kang makewuh akarya wuh
tan lyan Ratu Kencana
andika nggung musthi westhi
arasing reh bawur ejaning nagara.
</poem>
|<poem>
Sanget wisaya sangsaya
menga wewanguning wingit
ngentar rehning purantara
tan turarma malerengi
selar palering puri
parah kapareng pureku
sebeting lelabetan
melar nalar ing kasilir
tan tetular-tular reh kang ngayawara.
</poem>
|<poem>Sang Nata langkung kawratan
dennya ngabengi kabancing
kadadak akarya parat
bawur pamoring paberi
nging sanget Sri Bupati
ngaweri karya anamur
tinahen sinantosan
</poem>}}<noinclude>{{rh|172}}</noinclude>
m8ywi787ia3p34z075hbu9erofztrbh
Kaca:Babad Prayud I.pdf/175
250
24623
78049
77247
2026-05-16T03:11:47Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78049
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::kang tyas pinutus mangesthi
:::ngastha warta tumameng mawatah tetah.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>
Kang kinanthi purwa kantha
kang winawrat wrating westhi
rentenging tyas nara nata
kang raka Sang Adipati
Mangkunagara nenggih
ingkang tarisah angrerapu
Dipati Mangkupraja
gegendholing anangisi
ing karsane Sri Pamasa kang rekasa.</poem>
|<poem>Tumenggung Wirawidigda
katri jinarwan ing jawi
katiganipun kang raka
Dipati Mangkunagari
kang abdi lebet sami
katiganira Ki Jangkung
pacar lan palawija
panakawan kang nglurahi
ya kang damel misesa braja jro pura.</poem>
|<poem>Dadya ing jawi Sang nata
mendhet malih kang dinudhi
Adipati Mangkupraja
kakuwu satunggil malih
wadana kang ginupit
kapolatan budinipun
Tumenggung Arungbinang
wus manjing ing rasan werit
ing jro wewah cature murwa gupita.</poem>
|<poem>Abdi jro wong kawandasa
wus pinacak mantri miji
tinunggil gupitanira
kang rinilan mor ing patih
</poem>}}<noinclude>{{rh|||173}}</noinclude>
n3fjq4ln9e4g9f3dk2pfhn9ozul7qgv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/176
250
24624
78050
77248
2026-05-16T03:12:06Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78050
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::lawan nayaka kalih
:::Rungbinang Wiradigdeku
:::kang sami lelawanan
:::kang dinuta wira-wiri
:::mring kang raka Dipati Mangkunagara.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>
Yen kang raka tan ngandikan
kang ngemban pangandika Ji
amung sakawan punika
Rungbinang Wiradigdeki
katiga mantri piji
sakawanira Ki Jangkung
rumeding tyas narendra
sami lan nginger nagari
rentengipun lawanan prabu dayita.
</poem>
|<poem>Tumenggung Wirawidigda
lan Arungbinang tinuding
katigane Jangkung pacar
sakawane mantri miji
prapta lampahe wengi
nenggih ing pukul sepuluh
Pangran Mangkunagara
neng latar pamethukneki
wus binekta mring gedhong wuri sadaya.</poem>
|<poem>Wus tata ing palenggahan
Pangran mangkunagara ris
wau denira ngandika
Jangkung paranta Sang Aji
tan kena den aturi
rereh karsane kasusu
ingsun iki wong tuwa
kapriye yen tan nggendholi
yen Sang Nata angarsakna tindak nistha.</poem>
|<poem>Jangkung sira balakaa</poem>}}<noinclude>{{rh|174}}</noinclude>
egmxexn04i6xj25ltmb3rvn1c0h6hi0
Kaca:Babad Prayud I.pdf/177
250
24625
78051
77249
2026-05-16T03:12:41Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78051
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>tutura sira mring marni
ping pira iya denira
manjing kendhi pamrih pati
Jangkung matur wotsari
sampun wonten ping sepuluh
ingkang regi atusan
ngupaya sangking pasisir
tanpa darnel dados kacambah kewala.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>
Dipati Mangkunagara
atebah jaja sarya ngling
Heh kapriye Wiradigda
miwah Rungbinang sireki
karsane Sribupati
iya kang mangkono iku
Tumenggung Arungbinang
umatur saha wotsari
inggih wenang bendara kalamun nrajang.
</poem>
|<poem>Yen sampun tetep ing dosa
kang katrapan kukum pati
sakarsane angukuma
kinaton kalawan went
ukume pedhang sami
miwah wisa kang tumanduk
her keris menyak tedhas
punika pan sami ugi
yen sampeyan datan keging makatena.</poem>
|<poem>Yen rayi paduka nata
sakarsa-karsane dadi
yen paduka sinatriya
tan kenging telad paraji
kula sampuna tari
dhateng pun anak pengulu
menyak tedhak lan pedhang
langkung emeng ty asireki
</poem>}}<noinclude>{{rh|||175}}</noinclude>
e12in9difk0y7bylkabiikimi6l4eez
Kaca:Babad Prayud I.pdf/178
250
24626
78052
77250
2026-05-16T03:13:02Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78052
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Wau Pangran Dipati Mangkunagara.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=27
|<poem>
Amiyarsa aturira
Tumenggung Rungbinang nenggih
Jangkungpacar aturira
kang weling rayi Sang Aji
ingkang pedhang samangkin
sun srahken kakangmas iku
ing Kali Pepe kana
sakarsane angsal uwis
iya sangking banget ruwete tyasingwang.</poem>
|<poem>Wau kalane miyarsa
Dipati Mangkunagari
dhawuhe timbalan Nata
langkung barubah ing galih
rontog ing tyas katarik
kumembeng dadya rawat luh
garawul andikannya
pikiringsun kari siji
iya apa Jangkung ingkang dadi cacad.</poem>
|<poem>Tur sembah Ki Jangkungpacar
wonten ingkang angaturi
ing rayi paduka Nata
yen lamun pasaha aris
bicara Ubur Giring
dhateng Batawi pukulun
langkung adamel susah
kongsiya makaten gusti
angandika Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Ubur Giring iku apa
dene teka memedeni
kamecicen sun miyarsa
Ki Jangkung matur wotsari
pan Ubur Giring Gusti
</poem>}}<noinclude>{{rh|176}}</noinclude>
ind3edjxpvkt47aqacgwi0o5odrffxo
Kaca:Babad Prayud I.pdf/179
250
24627
78053
77253
2026-05-16T03:13:17Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78053
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>nggih gedhong pajeksanipun
Jendral ing Batawiyah
kang kinarya mbebeneri
pabenipun ingkang para raja-raja.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=31
|<poem>
Pangeran sumuk bramatya
jaja bang sumirat abrit
ingkang umatur wong apa
dene teka memedeni
ratune den gegiris
wong kaya mengkono iku
tan pantes kinethika
gawene amemedeni
ngendi ana wong wadon gunem nagara.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Arungbinang
umatur sarwi wotsari
sampun nunten adeduka
ing karsa den sareh ugi
bendara boten keni
lamun satunggil puniku
estri tumut kaskaya
kondhang arebat nagari
pinten-pinten pepejahe wong Madura.
</poem>
|<poem>
Sampun kang menggah punika
rama paduka suwargi
kang sumare ing Laweyan
kintun serat mring Betawi
kasupen tembungneki
boten ngangge tabenipun
ratu ageng punika
ing saben-sabene mawi
winangsulken serat prapteng Kartasura.
</poem>
|<poem>Nuju alamipun jendral
Jendral Ardiyan Pan Kenir
</poem>}}<noinclude>{{rh|||177}}</noinclude>
stdxrmdstd5brqewcsejnhirnjkdi2c
Kaca:Babad Prayud I.pdf/180
250
24628
78054
77254
2026-05-16T03:13:28Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78054
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>adat surate Sang Nata
saben kang dhateng Betawi
ing wekasane mawi
tabenipun Ratu Ibu
Bendara sapunika
inggih adating kumpeni
luput tigang kecap nuwuhken prakara.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem>
Tur inggih dede prakara
amung tabe sagadintir
Dipati Mangkunagara
wau kalane miyarsi
susahira tan sipi
kambah barubahe imbuh
mundhut jenewer prapta
gelas dhopok den kebeki
pan yen wuru adat ametokken akal.</poem>
|<poem>Dipati Mangkunagara
wus wuru medalken pikir
engkene bae Rungbinang
sarate Sri Narapati
utusa laku dhemit
marang ngarsa Deler Ubrus
nanging ingkang dinuta
miliha wong ingkang becik
ingkang bisa nyengker wewadining Raja.
</poem>
|<poem>
Kalawan kang rada bisa
bicara lawan kumpeni
karsa dalem den lairna
puluh-puluh uwus pasthi
kang dadi bapa kaki
pan iya Walanda iku
ya isin-isin apa
ngur endi mbandakalani
aja kidib sadosane den biyaka.
</poem>}}<noinclude>{{rh|178}}</noinclude>
au4o4dcwg374tu5iioic22o74ths1df
Kaca:Babad Prayud I.pdf/181
250
24629
78056
77255
2026-05-16T03:13:40Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78056
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=38
|<poem>
Aja kang matur Sang Nata
memedeni kang tinuding
Ubur Giring wong kaparat
Rungbinang alón turneki
abdi dalem pun adhi
punika sampun pasliyun
kang sampun nggih pinacak
dhedhemitan mring Samawis
langkung kendel ing rayi paduka nata.
</poem>
|<poem>
Sabarang reh pinarcayan
Pangeran angandika ris
lamun iku wus prayoga
kang ginawe gadhen uni
lawan kraman kumpeni
sawulan neng barisingsun
duk misih kawandasa
mengko wus pinacak mantri
heh ya sira den bangkit amrih wiweka.
</poem>
|<poem>Ajanana yen apadhang
underan lamun awerit
piyaken ing sawetara
ing prakara aja kumbi
pan karsane Sang Aji
sira wus ginawe wawuh
lah uwis umatura
Rungbinang Wiradigdeki
apa dene yayi Lurah Jangkungpacar.
</poem>
|<poem>
payo ta padha bubaran
umatura mring Sang Aji
lamun iku pikiringwang
wus norana maning-maning
nadyan wus katrap nenggih
maring darah karya lampus
kaliwat nora enak
panggawe nggegampang pati
mangsa wurung nemu walesan ing wuntat.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||179}}</noinclude>
4aygicb45v3vv7c3oa4tlnblczzwn8l
Kaca:Babad Prayud I.pdf/182
250
24630
78057
77256
2026-05-16T03:14:00Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78057
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XVII.{{gap}}PANGKUR'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Mundur caraka sakawan
prapteng pura ing panepen ngarsa Ji
wus katur sadayanipun
pitungkas aturira
Pangran Mangkunagara sanget turipun
nggegendholi nuhun duka
ing karsa kalih prakawis</poem>
|<poem>Dene sami tibeng nistha
angandika wau Sri Narapati
Rungbinang Kakangmas iku
ndadak acatur nistha
pan dheweke sok butuh kethuh aletuh
ora tinari wong tuwa
tinari angrerubedi.</poem>
|<poem>Tumenggung Wirawidigda
Arungbinang sami dennya wotsari
deonya nanggulangi atur
dennya arsa deduka
mring kang raka rupek dede wektunipun
pukulun raka paduka
ature Tumenggung kalih.
</poem>
|<poem>
Rehning kakresakken mangkya
aku iki tinariya nuruti
nuruta bramaning aku
tuna ginawe tuwa
lamun aku dhewe nglakonana kethuh
satriya tan dadi apa
</poem>
|<poem>
Lamun ratu nora kena
yen kuthuha angrengkakaken bumi
Sang Nata miyarsa ngguguk
</poem>}}<noinclude>{{rh|180}}</noinclude>
f51u117cty76ncvz9zpzufpmic5b8pg
Kaca:Babad Prayud I.pdf/183
250
24631
78058
77258
2026-05-16T03:14:15Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78058
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>babo dene kayaa
wong temenan pikire mengkono iku
iya becik tinuruta
wong tuwa dhasar sun tari.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>
Sang Nata sigra parentah
marang mantri kadipaten kang miji
mangkata ing besuk-esuk
sira maring Semarang
ya ukihen pikire si Deler Ubrus
aprakara susahingwang,
kehdik nging kepati-pati.
</poem>
|<poem>
Sang Nata sigra mendhut cap
lawan ecap sigra dennya ngecapi
kartas satebah amung
ya tan mawi seratan
antenana yen den andheg Deler Ubrus
sayekti ika kongkonan
Si Deler marang Batawi.
|<poem>Lan kapindho wekasingwang
jaluken mring Deler prapteng Samawis
paman Pangran Ngadilangu
yen wus prapta Semarang
anggubela susahe keratoningsun
sun tempuhken ing paman
nedho apuraning Widhi.</poem>
|<poem>Wus sami medal sadaya
tan kawarneng dalu wuwusen enjing
wus mesat mantri Pasliyun
dhateng nagri Semarang
tan kawarneng marga ing Semarang rawuh
tan katawis pamerira
neng nagari ing Semawis.
</poem>
|<poem>
Pan ing dalu pukul sanga
</poem>}}<noinclude>{{rh|||181}}</noinclude>
l7276pcj2fzdeysidghc0f4x71l3dcr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/184
250
24632
78059
77262
2026-05-16T03:14:30Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78059
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>lebetira mring loji kang angirid
juru basa Sipanyol Drus
lan Deler wus apanggya
pinanggihan minggah aneng kantor luhur
wus tata lenggah anulya
dhawuh tabening Sang Aji.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>
Akathah patanyanira
wusnya dangu gya ngiwa abebisik
satelasira kang wuwus
Deler goyang kepala
nora susah yen mengkono Sang Aprabu
tan ngalnggo Batawi ingwang
ingsun dhewe anguwisi.</poem>
|<poem>Ubur Giring ora nana
iya lamun karsane prabupati
yen wong wadon banget luput
memikani wong lanang
sanggon-enggon mangsa ta oliha kukum
tan ana ratu ginugat
ing prakara laki-rabi.</poem>
|<poem>Pendhak enjingipun prapta
Pangran Adilangu Nagri Samawis
wus panggih lan Deler Ubrus
pinanggil duteng nata
pinanggihken lan Pangeran Adilangu
dangu dennya bawa rasa
dhawah sapangandika Ji.</poem>
|<poem>Deler tanya ing Pangeran
Adilangu wong Jawa kadipundi
wong laki-rabi puniku
punapa tan kenia
mana sukak marang ing pawestrinipun
Pangeran Wijil saurnya
</poem>}}<noinclude>{{rh|182}}</noinclude>
26r8kgm7awz5883fgbzfnq2bqma21ln
Kaca:Babad Prayud I.pdf/185
250
24633
78060
77267
2026-05-16T03:14:43Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78060
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sasukak-sukake yayi.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>
Deler malih wuwusira
putra dika tuwan inggih samangkin
Sang Prabu Surakarteku
susah dening kang garwa
ambebeka wong wadon sok milu-milu
ngreregoni amisesa
barang tindaking nagari.</poem>
|<poem>Yeku jagad kaliyatan
lebih banyak jagadnya myang sembuni
trak ada brani yang tanggung
kang padha Tuwan Allah
misih lebih sakethi saleksa sampun
dika Pangeran wong tuwa
tulunga lejaring galih.</poem>
|<poem>puniki Tuwan sasunan
sekel langkung karepotaning pikir
pinisaha datan purun
lunga sangking jro pura
sampe mati puniku kalangkung ewuh
Pangeran Wijil saurnya
tuwan pikir kula ngriki.</poem>
|<poem>Sri Bupati Surakarta
inggih pasthi yen anaking kumpeni
sabarang pratingkahipun
kumpeni ngawakana
lawan dadi seksi wisesa satuhu
angeniraken prakara
Deler suka duk miyarsi.</poem>
|<poem>Deler Ubrus ngrangkul sigra
ing pangeran sarya ling trima kasih
Bapak Pangran lebih betul
</poem>}}<noinclude>{{rh|||183}}</noinclude>
2bj1ck0igrknvhus7p13akjez6spo6e
Kaca:Babad Prayud I.pdf/186
250
24634
78061
77272
2026-05-16T03:14:57Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78061
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>ling malih mring caraka
umatura iya marang Sang Aprabu
si Beman den timbalana
den wruhena prakareki.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>
Sanadyan dhedhawuhana
mring kang garwa becik Beman tinuding
den tumbukna gunung watu
mangsa ta kumedhapa
apan iku wajibe njaga ing ratu
sasukere Sri Narendra
sirnaa sangking kumpeni.
</poem>
|<poem>Ubor Gerong nora nana
iya lain bicara yen paraji
Deler angambil capipun
lak pinasang ing kertas
mung sakebet lawan malih suratipun
kang marang Uprup Beiman
Deler wuwusira aris.</poem>
|<poem>Anuli den timbalana
Uprup Beman ing Jeng Sri Narapati
mangkata ing pukul wolu
wengi ki lakunira
aneng kene telung dina mung sireki
iki wus putus bicara
punang caraka wus amit.</poem>
|<poem>Angkate sangking Semarang
malem Rebo prapta Jumuwah enjing
Sura gangsal welasipun
njujug ngolji praptanya
surat Deler wus pinaringaken Uprup
winaca goyang kapala
dene tabete wus lami.
</poem>
|<poem>
Beman alon wuwusira
</poem>}}<noinclude>{{rh|184}}</noinclude>
t6kjazxmm0xdgo0f92hwk7lkdbigh6h
Kaca:Babad Prayud I.pdf/187
250
24635
78062
77276
2026-05-16T03:15:11Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78062
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>mring caraka umatura Sang Aji
mengko sore ingsun masuk
iya satengah lima
duta mesat sapraptanireng kadhatun
tinimbalan maring taman
tan mantra-mantra katawis.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>
Wau Ngabei caraka
prapteng ngarsa ngaturken praptaneki
saha ture Deler Ubrus
tan wonten kalangkungan
miwah ture ingkang Paman Ngadilangu
kang ruwed rampung rinampas
langkung suka tyasira Ji.</poem>
|<poem>Dipati Mangkunagara
dhinawuhan sonten manjinga puri
medal Ngabehi Pasliyun
badhe saos sontennya
tan kawarna praptane kang mangsa masuk
Dipati Mangkunagara
Uprup Beman narengi.</poem>
|<poem>Palenggahan neng pandhapa
wus binukak raos sangking Samawis
miwah Uprup mbuka sampun
Ideler parentahnya
tan na siwah surat ingkang dhateng Uprup
lan weling kang atur marang
ing Kangjeng Sri Narapati.</poem>
|<poem>Dipati Mangkunagaran
langkung suka kumpeni kang ngawaki
tan nggepok sariranipun
anggungken ing karajan
bakda ngisak gegamelan Sang Aprabu
Uprup dereng wonten medal
</poem>}}<noinclude>{{rh|||185}}</noinclude>
skjd4r51vsklxgox3o2sjg65vvdwro3
Kaca:Babad Prayud I.pdf/118
250
24636
78206
77282
2026-05-16T09:09:00Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78206
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>Angantosi Tumenggung Jayanagara
kang liwung ing ajurit
ngosak-asik wana
singa kang kapranggula
kancane lumayu nggendring
nggiwar anembah
mbok katut den tumbaki.</poem>
|<poem>Pan sakenjing denira numbaki mengsah
mangkana aningali
pinggir wana wetan
prayayi asesiban
bandera pinanjer sami
banderanira
sakawan sami nunggil.</poem>
|<poem>Dadya sareh tyasira Jayanagara
adheyan kudaneki
marani bandera
prapta sami pinapag
para mantri kang nyekeli
turangganira
miwah waosireki.</poem>
|<poem>Ginelaran lante ambruk lajeng nendra
kaku sariraneki
napase kumrangsang
ngundur-undur nepsunya
wus dangu ambekan aring
dangu alenggah
rinangkul ngarih-arih.</poem>
|<poem>Mring Tumenggung Mangkuyuda lan Dhadharan
ayem denira linggih
cuwa ing tyasira
dennya arsa nyenyempal
mring Raden Wiratmejaki
jroning paprangan
datan manggih memanis.</poem>
}}<noinclude>{{rh|116||}}</noinclude>
9pqf7bi5rs34jn3wwpvwvm94kt3fvml
Kaca:Babad Prayud I.pdf/188
250
24637
78063
77281
2026-05-16T03:15:30Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78063
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::Sang Nata ngandika aris.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29.
|<poem>
Uprup samangsane iya
pan samangsa-mangsa tan ingsun pasthi
yen wus pareng mangsanipun
dinane pan karuwan
rong prakara pikir iki badhenipun
yen ora Mangkunagaran
sayekti iya mring loji.</poem>
|<poem>Nggon ingsun anyingkirana
ing jro pura andadekken prakawis
Uprup sumangga turipun
kula dhateng sumangga
ing puniku wus dadi ingkang rinembug
Uprup ing pukul sadasa
fnijil sangking jroning puri.</poem>
|<poem>Dipati Mangkunagara
wus kalilan sareng Uprup umijil
datan kawarna ing dalu
enjinge Uprup Beman
pan amanggil marang Ngabei Pasliyun
praptaa pukul àadasa
Ki Ngabei marang loji.
</poem>
|<poem>
Sagah rumiyin asowan
mring jro pura wusnya lajeng mring loji,
wau Ngabehi Pasliyun
sowan manjing ing taman
tan antara Sri Bupati tedhakipun
umatur lamun kawula
winelingaken mring loji.
</poem>
|<poem>
Sri Naranata ngandika
ya menyanga miwah ingsun ameling
bebisika mring si Uprup
</poem>}}<noinclude>{{rh|186}}</noinclude>
k8b04amt1jcm9d1u4ycnr8qsn4abadg
Kaca:Babad Prayud I.pdf/119
250
24638
78207
77283
2026-05-16T09:09:09Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78207
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XI. {{Tab}}DHANDHANGGULA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Ing punika Dyan Wiratmejeki
sampun lebar baiane wus bubar
mbalesar rebut uripe
kawuwus sami kawus
datan kena tinata malih
tan kuwasa nedyaa
pacak barisipun
tan bisa amurweng yuda
mung ngungsekkeri umur badane pribadi
nalesep pagunungan.</poem>
|<poem>Raden Rangga Prawiradirjeki
rembag lan Tumenggung Mangkuyuda
ngupaya babar pisane
nenitik ing reh lembut
dipun kadi ànjebat paksi
singa kang pakantuka
amrih sirnanipun
sanadyan dadia karya
babar pisan sampun kongsi malih-malih
mupakat pra dipatya.</poem>
|<poem>Dadya wau Ki Mangkuyudeki
saderenge angsal titik ika
wangsula mring Jipang maleh
Palumbon kuwonipun.
sakancane kang pra dipati
amrih papan polatan
miguna ing laku
Den Rangga Prawiradirja
sakancane tanah Grobogan den nggoni
atepung pangupaya.</poem>
|<poem>Sampun gilig ing rembag wus dadi</poem>
}}<noinclude>{{rh|||117}}</noinclude>
or31pnwa0h48vs69gpytebcjp2dyfk6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/189
250
24639
78064
77284
2026-05-16T03:15:43Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78064
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>yen padha kaslametan
kalakona ing sakarsa-karsanipun
si Uprup utange iya
telung ewu marang marni.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>
Lawan limang atus iya
sun wukaken wus aja anauri
medal Ngabei Pasliyun
lajeng mring loji prapta
wusnya panggih ingajak minggah mendhuwur
praptane wus tata lenggah
Uprup angling Heh Ngabei
</poem>
|<poem>Paran kira-kira dika
punapa ta karsane Sri Bupati
lawan enggale puniku
Ki Ngabehi saurnya
kadi nunten amet tibeng mangsanipun
Uprup malih dennya ngucap
kira dika Ki Ngabehi.</poem>
|<poem>Yen benjang kalampahana
suker dalem ludhanga sangking marni
apa na pangganjaripun
Tuwan Sunan maringwang
ika sapa wong wadon kang ngiring Septu
manjing mijil ngampil konca
bocàh rada esmu putih.</poem>
|<poem>Kae bae den paringna
Ki Ngabehi alon dennya nauri
punika lelurah manggung
namane Mbok Wisarsa
pan wong buie kang anak-anak puniku
kula sagah nuwunena
pinaringken pucung pasthi.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||187}}</noinclude>
io4b3a8qidj63zk3wk87uc05kfzlzju
Kaca:Babad Prayud I.pdf/120
250
24640
78208
77285
2026-05-16T09:09:16Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78208
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><ol><poem>isi ngemban timbalane
Kangjeng Sultan puniku
ingkang dhawuh Raden Suwandi
Tumenggung Garobogan
wus narimeng tuwuh
sumendhe karsaning titah
lamun nuntun ala lawan nuntun becik
tan kena binakalan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>Yen wektune peparinge pasthi
Raden Suwandi tilar nagara
ing lok misuwur pocote
ing Pathi kang jinujug
pandhongkole Raden Suwandi
Sultan sampun utusan
mring Delere sung wruh
yen Suryanagara pecat
sangking Garobogan andhongkol neng Pathi
kumpeni duk miyarsa.</poem>
|<poem>Sami suka mashuring pawarti
kantor-kantor sinungan pawarta
Raden Suwandi pocote
Garobogan ginantung
Sultan dereng karsa nanemi
amung kang tinanemana
nagari ing Warung
lelurah wong Jagasura
Ki Ngabei Jayasutama kinardi
aneng Warung nagara.</poem>
|<poem>Pinaringan ing asmanireki
nenggih Tumenggung Wiryanagara
wong gandhek amaringake
mring pabarisanipun
dhawuh marang Rangga wus tampi
lamun Jayasiitama</poem>
}}<noinclude>{{rh|118||}}</noinclude>
6r4dvlwnb73wr5kxnihi7o1lvq6pyzo
Kaca:Babad Prayud I.pdf/121
250
24641
77925
77286
2026-05-15T20:58:39Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77925
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>tinanem ing Warung
Tumenggung Wiryanagara
linajengaken mring ing Warung nagari
nata samakteng wadya.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=8
|<poem>Mancanagara Surakarteki
Jagaraga sampun tinaneman
gandhek sampun maringake
mring pabarisanipun
Ki Tumenggung Mangkuyudeki
dene ingkang kinarya
wong saking Madiun
pulunanira pangeran
ing Madiun kang wayah pangeran nguni
Madiun raden putra.</poem>
|<poem>Wus sinungan ing namanireki
Raden Tumenggung Ranuwijaya
sigra dennya ngajengake
mring Jagaraga kumpul
tata wadya wusnya miranti
nusul marang barisnya
Ki Mangkuyudeku
samana{{tab}} {{tab}}{{tab}}Prawiradirja
Kartanadi ngandikan mring Ngayogjeki
mung kantun Martalaya</poem>
|<poem>Sapraptane nagri Ngayogjeki
lajeng kerid marang Danureja
Pangran Natakusumane
lan Pakuningrat sampun
praptanira ngarsa Narpati
{{gap}}
ngaturken sratipun
kang sangking Suryanagara
duk katampen kacipta raosing tulis
yen pun Suryanagara.</poem>
}}<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude>
oxhs4cpa6aiix4g1t5vb2f0g076fpgk
Kaca:Babad Prayud I.pdf/122
250
24642
77926
77287
2026-05-15T21:00:05Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77926
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>Tan sumelang sandika les maring
lair batine narimeng titah
kadya pun Adipatine
Jengrana sureng kewuh
duk tinedha marang kumpeni
lamun amregagaha
mbela jagad retu
anak putune tan kalap
mati aris angretakaken nagari
nak putu masih kalap.</poem>
|<poem>Kangjeng Sultan pangandikaneki
sun rasakna sataun tan puas
rentenging tyas ingsun kiye
nanging ta ingsun pupus
angupaya pikir ing wuri
kang dadi kabecikan
wekasan rahayu
Danureja karsaningwang
miwah Dhimas Natakusuma sireki
cacaden karsaningwang.</poem>
|<poem>Nagri ing mancanagara iki
mengkenea ngengembangi rusak
nggegawa ing sira dene
yaiku karsaningsun
sun tanduri wong ingkang becik
kang wus prawireng yuda
tyas santosa teguh
suda kasusahanira
Danureja umatur saha wotsari
leres karsa wak nata.</poem>
|<poem>Ingkang kadya pun Natapureki
langkung tiwas rumekseng tampingan
tiyang landhung lelingseme
dede anak Mataun</poem>
}}<noinclude>{{rh|120}}</noinclude>
cupz9f5sj8hwsgp93c0mlc6p4osac3m
Kaca:Babad Prayud I.pdf/123
250
24643
77927
77289
2026-05-15T21:01:10Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77927
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>neniwasi tengga nagari
tan tresna ing ratu
alah mungsuh bebocahan
destum enggih dhedhukuha aneng wukir</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>Karsaningsun ya si Kartanadi
kang sun tandur aneng Garobogan
gampil masalah besuke
anamaa puniku
si Tumenggung Sasranagari
si Jipang ya muliha
kawedananipun
ing Madiun balenana
kala kuna Madiun panekar sami
ing Jipang kang sun karya.</poem>
|<poem>Ya si Rangga Prawiradirjeki
wadanane wong mancanagara
Danurja nuhun ature
leres karsa pukulun
abdi dalem mancanagari
jolokna ing prakara
yen boten winangun
bupati ingkang saniosa
sabarang reh kadi boten anglingsemi
inggih pun adhi Rangga.</poem>
|<poem>Rangga muwus marang Kiya Patih
dhuh Ki Lurah yen anglepotana
mring lelurah sabarang reh
destun tolotok ngasu
yen wonten satru anekani
menawi kan aran
Ki Lurah angrungu</poem>
}}<noinclude>{{rh|||121}}</noinclude>
8efwlsntmvoljxhvx23mkxxgoka7k8f
Kaca:Babad Prayud I.pdf/124
250
24644
77928
77290
2026-05-15T21:02:00Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77928
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>heh Danurja mancanagara saiki
pan masih karepotan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=18
|<poem>Dene bumi durung ana mulih
dadi ingsun ngalalii Danurja
mancanagara bandare
sun paringaken iku
ginajihna maring prajurit
wong sijine angrolas
ewu wolung puluh
limang ewu oleh iya
patang atus baginen sapra dipati
undha usuk warata.</poem>
|<poem>Iku prajurit pasumbang marni
patang atus marang pra dipatya
lowung dadi gegajule
dene tetinggalipun
wadanane mantri panumping
Arya Pamot sun karya
ing sawurenipun
si Rangga Prawiradirja
suteng ulun Arya Pamot sun arani
Arya Dipanagara.</poem>
|<poem>Anetepi sosoran pepatili
tengen sosoran Jayakusuma
dene sosoran kiwane
ya si Natayudeku
asosoran Martalayeki
Kartanadi ampasnya
sun pundhut malebu
sun wuwuhken si Urawan
ya kalawan si Tumenggung Suratani
gengpa nyewu padha.</poem>
|<poem>Si Urawan arane sun alih</poem>}}<noinclude>{{rh|122}}</noinclude>
1fci9lx3533cu0jmhkdumkvfbt40elv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/125
250
24645
77929
77291
2026-05-15T21:02:40Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77929
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>anamaa Tumenggung Sindurja
si Suratane arane
si Mangundipureku
anggawaa bawat yen nangkil
tengene ing kaparak
gedhong kiwanipun
kang seba anggawa bawat
ambaureksa momonga si Adipati
namaa Wiraguna.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=22
|<poem>Kaparake sira dadi margi
aneng kiwa sun alihken naraa
tumenggung Sindupatine
si Mangunegareku
ingsun alih angger rajawi
ingkang dadia gedhong
dene tengenipun
iya anake si Rangga
si Sulbiyah iya namaa ing mangkin
Tumenggung Mangundiija.</poem>
|<poem>Heh Danurja anakmu si Yasin
ingsun pundhut si Jayasudirga
wus lawas temen kethere
iku ingsun kon ngatur
ingsun arsa karya bupati
wolu punggawa jaba
lungguh ngenem atus
bupati wuri lungguiinya
kang pangarsa bupati nenem sun kardi
loro anyewu lungguh.</poem>
|<poem>Ingkang papat nyangang atus sami
si Yasin nama Danukusuma
Sawunggaling pamburine
iya lungguh nem atus</poem>}}<noinclude>{{rh|||123}}</noinclude>
cmb9ano34ku3z801v0xdhzokonfcn1j
Kaca:Babad Prayud I.pdf/126
250
24646
77930
77292
2026-05-15T21:03:20Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77930
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>Arya Jayasupanta Arya Mandureku
arigenem atus lungguhnya
lelurahe Ketanggung Jadaraneki
ingsun junjung namaa.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Ya si Tumenggung Jayadireki
dene sisihe Danukusuma
si Rangga Wanengpatine
ingsun junjung Tumenggung
ya si Jayawinata mangkin
nunggal punggawa papat
padha nyangang atus
Singaranu jawi sama
ngenem atus sandika Danurejeki
Sultan malih ngandika.</poem>
|<poem>Ya si Rangga Prawiradirjeki
Kartanadi nuli lakokena
iya kerida ing gandhek
sampun sami tinundhung mijil
prapteng jaba parentali
kyana patih sampun
mematah nata parentali
pra dipati kang pangarsa kang pamburi
sawusnya dennya tata.</poem>
|<poem>Kang tinuduh mring mancanagari
sampun budhal Kartanadi lawan
Rangga Prawiradirjane
ing marga tan kawuwus
praptanira Jipang nagari
sagung kang pra dipatya
mancanagaraku
dhinawuhan kang parentali
kawadanan amancanagara mulih
kadya kuna ing Jipang.</poem>
}}<noinclude>{{rh|124}}</noinclude>
k7ndyhq2229neslra8thiz49040p2xr
Kaca:Babad Prayud I.pdf/127
250
24647
77931
77293
2026-05-15T21:04:17Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77931
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>Raden Rangga Prawiradirjeki
kinarsakken kang dadi wadana
Garobogan kaliwone
sasorane ing Warung
kang sami reh para dipati
wus tata nulya samya
nutugaken laku
angupaya Wiratmeja
akekanthen punggawa Surakarteki
Tumenggung Mangkuyuda.</poem>
|<poem>Lan Tumenggung Jayanagareki
miwah sagung wong mancanagara
gilig ing pangupayane
mrih mencaraken laku
kondhangira Wiratmejeki
pun Jayengwilatikta
wus amisah laku
nanging kumjpujane kathah
ingkang amor pun Jayeng Wilatikteki
kadi rong at us ana.</poem>
|<poem>Ing tyas miring asalah ing kapti
mawong sanak wadya Surakarta
Jayasuwarna namane
nenggih utusanipun Pangran Mangkunagara nguni
lawan Surajenggala
ing Kuwu Baledhug
pinanggihan mawartaa
lawan Senapati ing Surakarteki
Tumenggung Mangkuyuda.</poem>
|<poem>
Lamun saguh iya amateni
marang sira Raden Wiratmeja
amrih alus upayane
Jayasuwarna matur</poem>
}}<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude>
0jo0s5093p2ror7svwcwnoixks1ztkg
Kaca:Babad Prayud I.pdf/128
250
24648
77932
77294
2026-05-15T21:05:06Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77932
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>mring Tumenggung Mangkuyudeki
yen Jayeng Wilatikta
sagah amrih lampus
marang Raden Wiratmeja
ing samangke wus nalesep kadi peksi
momor alas-alasan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Kuneng kang nglurug lagya mrih nitik
pangilange Raden Wiratmeja
kaselan ing caritane
nenggih Tuwan Gupernur
ing Samarang Nikolas Arting
wus prapteng temponira
sinalinan sampun
Mayor Ubrus kang kinarya
Pan Nikolas Arting mantuk mring Batawi
dadya rat panitiya.</poem>
|<poem>Kangjeng Sultan utusan Samawis
anyangoni ingkang badhe kesah
warni emas peparinge
pengaos kalih ewu
marang Deler Nikolas Arting
Pangeran Pakuningrat
nenggih kang ingutus
lawan Tumenggung Surawan
Sang Aprabu ing Surakarta wus nuding
Tumenggung Wiradigda.</poem>
|<poem>Kang tinuduh marang ing Semawis
lawan Tumenggung Sasradiningrat
reyal sewu pasangone
marang sirai Guprenur
ingkang Parlos Nikolas Arting
lan ngurmati kang anyar
nenggih Deler Ubrus
sami prapta ing Semarang</poem>
}}<noinclude>{{rh|126}}</noinclude>
90sflp09ijjrbm0hjeavfubkqpxll6i
Kaca:Babad Prayud I.pdf/129
250
24649
77933
77295
2026-05-15T21:05:51Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77933
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><ol><poem>duteng Surakarta duteng Ngayogjeki
mring Deler kalih pisan.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=35
|<poem>Mayor Dungkur ing Ngayogja sami
asemayan lawan Oprup Beman
mring Semarang antarane
lan duteng ratu-ratu
gangsal dinten praptanireki
manggihi Deler anyar
nguna Mayor Obrus
tumut amalih nagara
sasampune sampurna duk Pagiyanti
Mayor Obrus kang minggah.</poem>|<poem>Dadya kumenldur Banten tan lami
mangkya kinarsakken neng Semarang
jinenengan ing adege
wakile ratu-ratu
miwah para pulmak kumpeni
uprup-uprup kup Beman
miwah Mayor Dungkur
wadya pasisir sadaya
pra dipati kerigan prapteng Semawis
myang kantor-kantor samya.</poem>
|<poem>Kumpenine prapta king Semawis
pakumpulan miyarsakken palka
Gurnadur ing Parentahe
nenggih waktu puniku
wonten sekretaris Batawi
njenengi maos palkat
ing sasampunipun
lajeng sami palenggahan
sekretaris maring Bastam anganthuki
bakahur ing Semarang.</poem>
|<poem>Wusnya celak angling bisik-bisik
Bapak Bastam payo tingalana</poem>
}}{{rh|||127}}<noinclude></noinclude>
bn2g1yefn3pt6c8prihvswpabs10lu6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/136
250
24650
78072
77298
2026-05-16T03:18:22Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78072
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>katon wus nunggal karsa
lan Sang Nata kalihipun
Dipati Mangkunagara.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>
Ing pukul sawelas wengi
bubaran ingkang kasukan
Gupernur sampun makuwon
ing sadinten kendelira
Deler ngaturken nika
nenggih angsal-angsalipun
kang konjuk ing Sri Narendra.
</poem>
|<poem>Peni-peni warni-warni
Dipati Mangkunagara
pinasungsung marang Deler
tuwin sagunging santana
miwah kang pra dipatya
kabeh sami pinasungsung
baludru cindhe lan renda.
</poem>
|<poem>
Ing sadintenipun malih
Sri Bupati tedhakira
mring loji sapunggawane
tuwin santana sadaya
tan kenging yen pamita
kerid marang lurahipun
Dipati Mangkunagara.
</poem>
|<poem>Neng loji wus tata rakit
lajeng denira kasukan
gumuru'n swara gora reh
tedhak ambeksa Sang Nata
kalawan ingkang raka
Pangran Mangkunagareku
cucut dadya pagujengan.
</poem>
|<poem>
Lelewa pating penthalit
amacucu akekayang
</poem>}}<noinclude>{{rh|134}}</noinclude>
o5991fsbee9eakx24zq5oaxhsg3ig1j
Kaca:Babad Prayud I.pdf/137
250
24651
78073
77299
2026-05-16T03:18:32Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78073
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>gumuruh sami gujenge
Deler saupesirira
tuwin kang pra dipatya
pasisir samya anggunggung
wong Agung iku abisa.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>
Bisa ngladeni kang rayi
bisa nyukakken Walanda
parek driya sasolahe
amanis raga sembada
pirang lagi legawa
yeku wong agung asemu
satmata apariminta.
</poem>
|<poem>
Sawusnya Sri Narapati
ambeksa lan ingkang raka
nulya gantya Tuwan Deler
mbekta saupesirira
kunrumpyung kang biyola
wusnya kumpeni gung-agung
santana lan pra dipatya.
</poem>
|<poem>
Nulya bupati pasisir
pra sami mbeksa sadaya
datan kendel mariyeme
ing pukul satengah rolas
bubaran kang kasukan
Sang Nata kondur ngadhatun
Dipati Mangkunagara.
</poem>
|<poem>
Bubar sapra santaneki
tuwin sagung pra dipatya
kuneng Ideler lamine
neng nagari Surakarta
pan tiga welas dina
sinuba pya boga nutug
miwah sagunging kasukan.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||135}}</noinclude>
s0jtkpe4gnggxsolq6e04fqzbdmt8bv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/138
250
24652
78074
77301
2026-05-16T03:18:44Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78074
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem>
Angrampog sima lan malih
ngaben sima lan maesa
marang ing Deler urmate
mangkana wus salin dina
ing malem Setunira
Sawal tanggal ping rongpuluh
Deler saupesirira.
</poem>
|<poem>
Sagung bupati pasisir
sami binekta sadaya
kasukan aneng daleme
Dipati Mangkunagara
bupati Surakarta
sadaya wus samya kumpul
aneng Kamangkunegaran.
</poem>
|<poem>
Dipati Mangkuprajeki
kang ngirid sagung punggawa
Pangeran Mankuningrate
Pangeran Natanegara
ngirid sagung santana
urmat kalangkung sesugun
Dipati Mangkunagara.
</poem>
|<poem>
Urmat drel prajurit estri
wanti-wanti Deler eram
anggung goyang kepalane
ngarekken prajurit lanang
Deler Ubristing mulat
sakalangkung sukanipun
ambayar satus rupiyah.
</poem>
|<poem>
Mring sagung prajurit estri
ararne dennya kasukan
ngrerangin kalasakane
wusnya denira badhayan
lajeng taledhek medal
</poem>}}<noinclude>{{rh|136}}</noinclude>
6w0ytcqt4ijaryenuh192ylcwrgqaju
Kaca:Babad Prayud I.pdf/139
250
24653
78075
77302
2026-05-16T03:19:04Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78075
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>sawusnya dhadharan nutug
kumpeni gung-agung mbeksa.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>
Anulya kang pra dipati
tuwin sagunging santana
agantya-gantya beksane
bubar ing pukul sawelas
sakenjing dennya pista
Deler saupesiripun
myang sagung kang pra dipatya.
</poem>
|<poem>
Pasisir amit wotsari
Dipati Mangkunagara
ngater ing galedhegane
wangsul nutugken kasukan
lan Patih Mangkupraja
sakancane pra Tumenggung
bubare setengah tiga.
</poem>
|<poem>
Enjinge Sri narapati
paring kuda tigang pasang
marang sira Tuwan Idler
lawan kalih kodhi sinjang
ciyut kalih kang wiyar
lawan paring reyal sewu
Dipati Mangkunagara.
</poem>
|<poem>
Sungsung turangga sarakit
santana ingkang nyatunggal
Pangeran Mangkuningrate
Pangeran Nitinegara
Pangeran Adiwijaya
Pangeran Danupayeku
miwah kang para dipatya.
</poem>
|<poem>
Samya nyukani nyatunggil
sarakit rekyana patya
wus tinampan marang Idler
</poem>}}<noinclude>{{rh|||137}}</noinclude>
dhyakl9peqtj4irvbe255k9hxlbo9d5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/140
250
24654
78076
77303
2026-05-16T03:19:26Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78076
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>sontenipun Sri Narendra
miyos ing pawatangan
Deler ngandikan ndedulu
lawan saupesirira.</poem></ol>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>
Dene bupati pasisir
pra samya watang sadaya
Idler kalangkung sukane
lajeng budhalipun watang
Deler Ubris lajengnya
mring puri pista sadalu
bubar ing satengah tiga.
</poem>
|<poem>
Wumnipiskal sekretaris
pinaringan nyatus reyal
lan nyatunggil turanggane
Deler ing dina Salasa
budhal marang Ngayogja
meksih Sawal tiga likur
Adipati Mangkupraja.
</poem>
|<poem>
Angater wangsulireki
neng pakuwon ing Dersanan
ingkang lajeng Ngayogjane
Ki Tumenggung Mangkuyuda
Deler lajeng enjingnya
aneng tangkisan sadalu
Adipati Danureja.
</poem>
|<poem>
Methuk tangkis wus apanggih
mbekta bupati satunggal
Tumenggung Natayudane
enjinge lajeng lampahnya
Jeng Sultan wus samekta
ing dina Kemis amethuk
aneng dhusun ing Widara.
</poem>
|<poem>
Praptane Deler wus panggih
</poem>}}<noinclude>{{rh|138}}</noinclude>
tsksmz11c5z9ncr7spjmwfps5izniwv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/141
250
24655
78077
77304
2026-05-16T03:20:10Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78077
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>Ian Sultan arerangkulan
aras ingaras janggane
Sultan langkung sukanira
de Mayor Ubrus minggah
lami rewang kaya-kuyu
lan Jeng Sultan jroning aprang.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=44
|<poem>
Wedang lan dhadharan sami
.sawusira lajeng budhal
sangking dhusun Widarane
sumreg Jeng Sultan kang wadya
busana warna-warna
lir sindhung prawata tunu
prajurit apangkat-pangkat.</poem>
|<poem>
Praptanira dina Kemis
nemlikur teksih ing Sawal
ing ngalun-alun munya drel
monggang ngangkang siti-bentar
mriyem gumuntur ogra
prapta minggah ing wanguntar
Idler kinanthi ing Sultan.
</poem>
|<poem>Ginawa manjing ing puri
mandhapa alit kinembar
dennya lenggah lawan Idler
mung wedang lan pepanganan
tan dangu pamit medal
aso makuwon ing dalu
enjing badhe tinimbalan.
</poem>
|<poem>
Kuneng enjing ingkang prapti
sangking nagri Surakarta
Ratu Bendara putrane
Jeng Sultan ingkang kagarwa
pambayunipun Sultan
krama naking sanakipun
Dipati Mangkunagara.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||139}}</noinclude>
0646xtn9dpreupafichicoy9mvdfmwl
Kaca:Babad Prayud I.pdf/142
250
24656
78078
77305
2026-05-16T03:20:25Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78078
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>
Wedana lebet satunggil
Tumenggung Puspakusuma
kang andherek ing lampahe
lan Pangeran Mangkuningrat
nenggih Ratu Bendara
lajeng tumameng kadhatun
wus panggih lawan kang rama.
</poem>
|<poem>
Miwah kang para bu sami
pra bibi para uwa
miwah eyang ratu gedhe
myang santana naking sanak
para putra ngandikan
mring Sultan kinen tetemu
kabeh manjinga jro pura.
</poem>
|<poem>
Sadaya wus sami panggih
weradin ingkang santana
kuneng wau Tuwan Idler
ingandikan manjing pura
ngirid kang pra dipatya
pasisir pra samya tumut
miwah duteng Surakarta.
</poem>
|<poem>Wedana lebet satunggil
Tumenggung Puspakusuma
santana kang satunggile
kang ndherek Ratu Bendara
Pangeran Mangkuningrat
sami ngandikan malebu
lan sadaya pra dipatya.
</poem>
|<poem>
Miwah kang pra upesir
tan wonten kang kalangkungan
samya ndherek Tuwan Edler
sekretaris Wumnipiskal
upesir ing Ngayogja
Wa get Alperes karig masuk
dennya ndrawina Sri Nata.
</poem>}}<noinclude>{{rh|140}}</noinclude>
lgdnbcakouznj1fuwbuknhw92usb42l
Kaca:Babad Prayud I.pdf/143
250
24657
78079
77306
2026-05-16T03:20:42Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78079
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{C|'''VIII. SINOM'''}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Wus panggih atetabeyan
Sultan lan Deler Ubristing
wus sami lenggah atata
banjeng kang para: upesir
myang sagung pra dipati
santana aglar ing ngayun
Dipati Danureja
jajar dipati Semawis
Pangran Mangkuningrat nunggal lan santana.</poem>
|<poem>Tumenggung Puspakusuma
lan Danureja anunggil
Pangeran Dipanagara
Tumenggung Natayudeki
banjeng kang pra dipati
tuwin pra santana ngayun
aglar ngarsa Jeng Sultan
bupati Surakarteki
sira Raden Tumenggung Puspakusuma.</poem>
|<poem>Kasiku paningsetira
nenggih apek renda putih
nagri Ngayogja awisan
Jeng Sultan angandika ris
heh Puspakusumeki
punggawane Anak prabu
nagari Surakarta
iya nora anglarangi
ingsun kena renda putih pan larangan.
</poem>
|<poem>
Dadya wau pinaringan
renda kalingkang kekalih
kuning lawan kampuhira
inggih pinaring kekahh
sakala kinen salin
</poem>}}<noinclude>{{rh|||141}}</noinclude>
2fryilw8569bjeogj35c5s2imo7asf6
Kaca:Babad Prayud I.pdf/144
250
24658
78080
77307
2026-05-16T03:20:54Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78080
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>Raden Puspakusumeku
Sultan malih ngandika
lawase sira neng ngriki
anganggoa paringaningsun kewala.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>
Tumenggung Puspakusuma
sandika matur wotsari
nulya urmat topeng medal
dene dhalang topeng mantri
mantri jero kinardi
topeng lan mantri Katanggung
Idler suka tumingal
angiras dhadharan sami
sasampune topeng badhaya kang medal.
</poem>
|<poem>
Adipati Danureja
lawan dipati Semawis
sami ingandikan nyelak
dipun konyohi pribadi
kalih kinarya wakil
ngeploki badhayanipun
pan sarwi sinumpingan
Jeng Sultan tedhak pribadi
ngatrepaken . puspita munggeng talingan.
</poem>
|<poem>
Pinarek malih ngamparan
Sultan sarwi angejuri
konyoh tigang pakonyohan
kang kalih wadhah pinaring
mring sagung pra dipati
pasisir myang Ngayogjeku
dene ingkang sawadhah
pinaring bupati kalih
Pangran Mangkuningrat lan Puspakusuma.
</poem>
|<poem>
Kalih neng ngandhap amparan
Sultan mesem ngandika ris
Nya Thole padha boreha
</poem>}}<noinclude>{{rh|142}}</noinclude>
7ovsczxnxric0gipr1hb1xfzw7h4nwi
Kaca:Babad Prayud I.pdf/145
250
24659
78209
77308
2026-05-16T09:09:34Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78209
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>lan si Puspakusumeki
mantu pupulan marni
wong Nglamongan iki bagus
Heh payo pra dipatya
sawangen mantuku iki
iya nora kuciwa sedheng sembada.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>
Sadaya mangayu bagya
ature kang pra dipati
tegese leres kewala
dhawuhe pangandika Ji
sinawang ulat liring
pantes angurebi ganjur
Sultan gumujeng suka
iya kapindhone iki
wewalese anake wong milu lara.
</poem>
|<poem>Wus suwuk badhayanira
Jeng Sultan tedhak tumuli
pan arsa ngawaki mbeksa
obah sagung pra dipatya
mariyem angurmati
sinusun-susun gumuntur
lir rug agraning arga
muni gendhing Remeng ngrangin
beksanira sereng rikat asesumbar.
</poem>
|<poem>
Sarwi anarik curiga
nulya sagung pra dipati
sadaya narik curiga
sesumbar pating jalerit
Sultan sesumbarneki
iya sapa dadi mungsuh
amungsuh Tanah Jawa
miwah mungsuhing kumpeni
lamun ingsun meksih ana ngalam donya.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||143}}</noinclude>
mjx6v6gpfk9a4pbhoc0ycxhl74zajp7
Kaca:Babad Prayud I.pdf/146
250
24660
78210
77309
2026-05-16T09:09:41Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78210
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|<poem>
Iya iki satu raja
yen Mataram laki-laki
mungsuh kethen yutan datan
sima ing kadigbyan marni
nadyan ditya sakethi
den kebek Tanah Jaweku
yekti swuh sima gempang
saanane Mangkubumi
wus prajurit' subageng jagad wiryawan.</poem>
|<poem>Tumenggung Puspakusuma
ndongong tan milu narik kris
adhi dika narik keris
sigra wau narik kris
nanging dhuwung maksih ngacung
tan milu asesumbar
solahing wong den tingali
pangungune kadya Arya Wibisana.
</poem>
|<poem>
Duk aneng ngarsaning raka
lawan sagung pra dipati
Prabu Rawana Ngalengka
atari ìng pra dipati
yen mungsuh anekani
pan dereng wonten sumaur
lajeng sami makanjar
anarik padha mapiling
limpung kunta pating jalemprak sesumbar.
</poem>
|<poem>Kadaya punggaweng Ngalengka
wong Ngayogja pra dipati
Tumenggung Puspakusuma
pindharya Wibisaneki,
sakala tan cumuwit
anjetung pijer angungun
mulat pratingkahira
</poem>}}<noinclude>{{rh|144}}</noinclude>
g9rs3q4l3n6orkjt7zbpf33ek45ekoc
Kaca:Babad Prayud I.pdf/147
250
24661
78211
77310
2026-05-16T09:09:49Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78211
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>solahe kang pra dipati
mesem ewa wong agung Parangkotara.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>
Sultan luwar dennya mbeksa
pinarak ngamparan malih
nulya Deler kinen mbeksa
miwah ingkang para upsir
sawusnya Deler nuli
gantya pra upesiripun
anut lan Danureja
lawan Dipati Semawis
gantya sagung pra dipati lan sentana.
</poem>
|<poem>
Samya wuru-wuru dawa
Sultan sapunggawaneki
bubar ing pukul sawelas
awit pukul sanga enjing
pukul sawelas ratri
Idler mit makuwon sampun
antara kalih dina
Jeng Sultan tedhak mring loji
sapunggawa sapra sentana sadaya.
</poem>
|<poem>
Kasukan pista sadina
tandhak raras-raras sami
pra sami nutug kasukan
bubar rep Sri Narapati
enjing Soma tinangkil
urmat mring tetamunipun
angaben si maesa
linajengken ngrampog sami
tan cinatur reroncening wus cinekak.
</poem>
|<poem>
Lamine aneng Ngayogja
si bocah Deler Ubristing
sampun tiga welas dina
Jeng Sultan sampun peparing
sangu miwah turanggi</poem>}}<noinclude>{{rh|||145}}</noinclude>
q7ms4gqr91ocmx8wm8fknks9ae1w8uh
Kaca:Babad Prayud I.pdf/148
250
24662
78212
77311
2026-05-16T09:09:56Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78212
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>sami lan paringanipun
Sang Prabu Surakarta
sapatih sapra dipati
sami sungsung turangga miwah santana.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>
Kalawan ing ¿urakarta
tan wonten kaote sami
peparingira Sang Nata
lan pasungsung pra dipati
Deler anulya pamit
ping pat Dulkangidahipun
dina Septu angkatnya
sangking Ngayogja nagari
ngater ing Tangkilan Dipati Danurja.</poem>
|<poem>Kang lajeng maring Semarang
Tumenggung Natayudeki
myang punggaweng Surakarta
kang ngater Deler wus pamit
kantun kang ndherek sami
Ratu Bendara tan mantuk
Raden Puspakusuma
Pangran Mangkuningrat sami
kang dhinerek kondure Ratu Bendara.
</poem>
|<poem>
Pan sampun wolulas dina
dereng kalilan apamit
Ratu Bendara mring rama
punggawa kang ngiring sami
ngandikan mring jro puri
Raden Puspakusumeku
Pangeran Mangkuningrat
Jeng Sultan angandika ris
Kulup mangkuningrat lan Puspakusuma.
</poem>
|<poem>
Karo Iah padha muliha
aja nganti kang kairing
durung mari oneng lawan
</poem>}}<noinclude>{{rh|146}}</noinclude>
j6wxr4aob2ku4afijea7lnq4299grr0
Kaca:Babad Prayud I.pdf/149
250
24663
78213
77312
2026-05-16T09:10:04Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78213
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>marang ibu-ibuneki
myang kadang-kadang sami
lah teka tinggalen iku
yen wus mari kangenan
sun kon angaterken mulih
nembah matur Tumenggung Puspakusuma.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>
Pukulun tur pejah gesang
putra dalem Sri Bupati
anenggih ingkang pitungkas
tan kenging mantuk rumiyin
den dhekoh regoh kongsi
dennya kethi jangan lumbu
ana nagri Ngayogja
yen ora barenga mulih
lan Mbak Ayu Dipati Mangkunagara.
</poem>
|<poem>
Aluwung Tuwan karsakna
pejah kawula neng ngriki
ingasta kalih sumangga
datan nggerantes kang abdi
Sultan gumujeng aris
yagene mangkono iki
lan iya beda apa
Anak Prabu lawan marni
ya Ngayogja kalawan ing Surakarta.
</poem>
|<poem>
Lah uwis pikiren padha
mengkono parentali marni
wus medal sangking jro pura
sapraptanira ing jawi
lajeng utusan sami
Raden Puspakusumeku
tur uningeng Narendra
Pangran Mangkuningrat nuding
tur uninga utusan marang kang raka.
</poem>
|<poem>
Cundaka sareng praptanya</poem>}}<noinclude>{{rh|||147}}</noinclude>
8kprj50ehcw4jkzds1xtawamz6b37qi
Kaca:Babad Prayud I.pdf/150
250
24664
78214
77313
2026-05-16T09:10:11Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78214
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>ing nagri Surakartenjing
lajeng katur ing Narendra
miwah ta dutanireki
Pangran Mangkuningrati
marang kang raka wus katur
Pangran Mangkunagara
ingandikan myang kang rayi
prapteng pura mbekta sakawan punggawa.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=28
|<poem>
Tumenggung Puspanagara
Rungbinang Wiradigdeki
Tumenggung Sasradiningrat
sapraptanireng jro puri
Sang Nata ngandika ris
Kakangmas paran puniku
karsane rama dika
Kiyai Sultan puniki
Kangmas Mangkuningrat lan Puspakusuma.</poem>
|<poem>Nora kinen ngantenana
padha kinen mulih dhingin
boten kinen mbarengana
inggih lawan kang den iring
Pangeran Adipati
Mangkunagara amuwus
nolih mring Arungbinang
kapriye Rungbinang iki
apa ana karsane Kiyai Sultan.
</poem>
|<poem>
Angindheti mring kang putra
Tumenggung Rungbinang aris
kadi boten sapunika
darbea karsa ngindheti
kadi boten samangkin
wikana ing tembenipun
Sang Nata angandika
lah kapriye akal iki
</poem>}}<noinclude>{{rh|148}}</noinclude>
o2foye5bdlmc02f8t9dc8je6aydvxv3
Kaca:Babad Prayud I.pdf/190
250
24665
78065
77314
2026-05-16T03:16:13Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78065
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XVIII.{{gap}}POCUNG'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Kula wau inggih winding Sang Prabu
lamun kelakona
Uprup angesi kardi
nyirnakaken sesuker Uprup ginanjar.</poem>
|<poem>Utangipun tigang ewu limang atus
kang dadi ganjaran
sampun dika anauri
sampun pasthi timbalane Sri Narendra.</poem>
|<poem>Duk angrungu Uprup langkung sukanipun
alon wuwusira
yen mangkono Ki Ngabehi
wurungge nuwunaken Mbok Wisarsa.</poem>
|<poem>Pan Sang Prabu wus dhawuh timbalanipun
sigra dennya kesah
sakedhap Uprup wus prapti
mbekta kanthong isi keton wolung dasa.</poem>
|<poem>Malihipun bakal kalambi baludru
kalih balakira
ireng lan ijo satunggil
lan diwangga kuning rangkepane pisan.</poem>
|<poem>Tembungipun lah puniki reyal satus
lan bakal rasukan
puniki warni kekalih
urmat kula Ki Ngabehi marmg dika.</poem>
|<poem>Yata manthuk trima kasih Tuwan Uprup
pisungsung andika
nanging cacade puniki
boten keni dipun angge padintenan.</poem>
|<poem>Sigra Uprup kesah sarwi manthuk-manthuk
</poem>}}<noinclude>{{rh|188}}</noinclude>
5ab4dzn4hf9aqezaqhr4roqohxjqlt9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/135
250
24666
78070
77315
2026-05-16T03:17:47Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78070
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sitinggil monggang angangkang.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>
Sapraptane ing jro puri
palenggahan neng pandhapa
gumuntur mriyem urmate
sitinggil ngloji sauran
lir belah ing akasa
yata wau Deler Ubrus
tan dangu anengjro pura.</poem>
|<poem>Nuhun makuwon rumiyin
mring loji sampun katilan
Pangran Mangkunagarane
kinen sareng angeterna
medale sangking pura
prapteng loji amit mantuk
Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Datan kawarna ing latri
enjing pinanggil mring pura
Edler miwah upesire
lan pra dipati sadaya
pasisir ingandikan
bupati Surakarteki
santana sami ngandikan.
</poem>
|<poem>
Wustataanengpandhapi
sinugata lajeng pista
gumuruh denira hose
Dipati Mangkunagara
ambawani kasukan
larih mayeng wantu-wantu
nutug suka parisuka.
</poem>
|<poem>
Padhayaaganti-ganti
Gupernur kalangkung suka
mulat Uprup Beman mangke
sasolah-solahe lega
</poem>}}<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude>
p4su8v6aeia4k3p0ssyan6p13ccduw8
78071
78070
2026-05-16T03:18:06Z
Khusna Safira
1759
78071
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>:::sitinggil monggang angangkang.</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=15
|<poem>
Sapraptane ing jro puri
palenggahan neng pandhapa
gumuntur mriyem urmate
sitinggil ngloji sauran
lir belah ing akasa
yata wau Deler Ubrus
tan dangu anengjro pura.</poem>
|<poem>Nuhun makuwon rumiyin
mring loji sampun katilan
Pangran Mangkunagarane
kinen sareng angeterna
medale sangking pura
prapteng loji amit mantuk
Dipati Mangkunagara.</poem>
|<poem>Datan kawarna ing latri
enjing pinanggil mring pura
Edler miwah upesire
lan pra dipati sadaya
pasisir ingandikan
bupati Surakarteki
santana sami ngandikan.
</poem>
|<poem>
Wustataanengpandhapi
sinugata lajeng pista
gumuruh denira hose
Dipati Mangkunagara
ambawani kasukan
larih mayeng wantu-wantu
nutug suka parisuka.
</poem>
|<poem>
Padhayaaganti-ganti
Gupernur kalangkung suka
mulat Uprup Beman mangke
sasolah-solahe lega
</poem>}}<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude>
rfmk242g2mf6cphsl8hq07vxda3x6ux
Kaca:Babad Prayud I.pdf/134
250
24667
78069
77316
2026-05-16T03:17:34Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78069
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>kang nglurug sami ngandikan
Ngayugja Surakartane
kantun wong mancanagara
mung bupati kang jajar
dene ta wadananipun
mancanagara Ngayugja.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=11
|<poem>
Miwah ing Surakarteki
wadana mancanagara
tinimbalan ing praptane
Deler nagri Surakarta
Sawal kaping pitulas
ing Salasa Wagenipun
Sang Nata methuk Kaleca.</poem>
|<poem>Kerig sawadyanireki
pra santana pra dipatya
Pangran Mangkunagarane
wadya busana mawarna
Dipati Mangkupraja
kang methuk ing Bayawangsul
lan Tumenggung Janagara.</poem>
|<poem>Praptane Deler Ubristing
Osen Beman neng kaleca
Sri Bupati pamethuke
tatabeyan rerangkulan
aras-ingarasan jangga
gantya ingkang raka wau
Dipati Mangkunagara.
</poem>
|<poem>
Sakedhap sami alinggih
minum sarta dhedhaharan
datan antara budhale
pandhita nenggih sarira
anggana bumi ngetang
prapta manjing ngalun-alun
</poem>}}<noinclude>{{rh|132}}</noinclude>
as2vv0se3oaw92uc7qx8hlq2adm999s
Kaca:Babad Prayud I.pdf/133
250
24668
78068
77318
2026-05-16T03:17:20Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78068
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>Dipati Mangkunagara
mbekta pelog badhaya
kalawan wayang wongipun
mider kalarih gumerah.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|<poem>
Sadinten suka pra sami
badhayan lan ringgit tiyang
gumerah mider larihe
kathah wuru pra dipatya
tuwin kang pra sentana
sadina bubare surup
kuneng malih winursita.
</poem>
|<poem>Wawelaking kang nagari
pageblug grami tan luwar
awit awaling taun Je
praptahing Pajang Mataram
saking kilen mulanya
ing Batawi kawitipun
sangkin tinampen angetan.</poem>
|<poem>Marengi ing Septu Legi
Sawal kaping tiga welas
Pangeran Juru sedane
pukul gangsal ing tahun Dal
Peken Ageng pinetak
Sultan aputusan sampun
tur priksa mring Surakarta.
</poem>
|<poem>
Serat kalih mring Sang Aji
mring Pangran Mangkunagara
sami langkung pangungune
wong tuwa tumbal nagara
siji temah pralaya
mangkana Tuwan Guprenur
badhe dhateng Surakarta.</poem>
|<poem>Serat nupiksane prapti
</poem>}}<noinclude>{{rh|||131}}</noinclude>
652mrbxcmdrsi7bhubtfdwde6szt5cm
Kaca:Babad Prayud I.pdf/132
250
24669
78067
77320
2026-05-16T03:17:05Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78067
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>:'''XII.{{gap}}ASMARADANA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Kuneng ing laminireki
para tumenggung caraka
aneng Semarang lamine
pan amung sadasa dina
sareng wau pamitnya
Uprup Beman Mayor Dungkur
asareng para dipatya.
</poem>
|<poem>
Ing marga datan kawarni
prapteng ji ing Surakarta
lajeng tumameng kadhaton
angaturaken kang serat
saking Deler kang anyar
tinupiksa raosipun
kadriya mariyem urmat.
</poem>
|<poem>Ing let sadintene malih
Uprup Beman dennya pista
ngurmati Deler adege
anuwun kang pra dipatya
miwah para santana
Pangran Mangkunagareku
angirida pra santana.
</poem>
|<poem>
Lawan kang rayi Sang Aji
Den Mas Grebeg sinung asma
nama pangeran sarenge
Pangran Arya Danupaya
pan lajeng tumut pista
wit kekampuhan tut pungkur
ing Pangran Mangkunagara.
</poem>
|<poem>Kumpul sagung pra dipati
tuwin kang para sentana
awit gumuruh munya drei
</poem>}}<noinclude>{{rh|130}}</noinclude>
q8hgigu67lf1ckujdm42agw877iicrn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/206
250
24670
78252
77322
2026-05-16T09:16:53Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78252
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43
|<poem>
Lamun anglampahi parentahing raja
tatane wong kumpeni
tan angeman pejah
yen sampun kaleresan
yen inggih tibaning pati
lampah kawula
binuwang ing raka Ji.
</poem>
|<poem>Apan boten kula kinen lampah pejah
mung kinen animbali
Uprup kamandaka
mila ratu ngadika
Sang Nata dalli puniki
arsa budhalan
inggih dhateng Samawis.</poem>
|<poem>Duk miyarsa ing ature uprup Beman
binuwang Kyai Boji
neng lampit gumrepyak
lawan ingkang sarungan
sangking wangkingan ingambil
lajeng binuwang
cinandhak para gusti.
</poem>
|<poem>
Sinarungken lajeng ingampil kewala
Ratu ngandika aris
neng ngendi Kakangmas
Uprup Beman turira
wau nggenipun ngentosi
inggih dalemnya
raka paduka mangkin.
</poem>
|<poem>Adipati Mangkunagara ing ngrika
miwah baia prajurit
sami tinimbalan
Jeng Ratu teka dhangan
lah payo susulna marni
</poem>}}<noinclude>{{rh|204}}</noinclude>
fbqlbvqxzy7njqs2464z7lle3dkw4en
78253
78252
2026-05-16T09:17:20Z
Elcamatcha
1466
78253
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=43
|<poem>
Lamun anglampahi parentahing raja
tatane wong kumpeni
tan angeman pejah
yen sampun kaleresan
yen inggih tibaning pati
lampah kawula
binuwang ing raka Ji.
</poem>
|<poem>Apan boten kula kinen lampah pejah
mung kinen animbali
Uprup kamandaka
mila ratu ngadika
Sang Nata dalli puniki
arsa budhalan
inggih dhateng Samawis.</poem>
|<poem>Duk miyarsa ing ature uprup Beman
binuwang Kyai Boji
neng lampit gumrepyak
lawan ingkang sarungan
sangking wangkingan ingambil
lajeng binuwang
cinandhak para gusti.
</poem>
|<poem>
Sinarungken lajeng ingampil kewala
Ratu ngandika aris
neng ngendi Kakangmas
Uprup Beman turira
wau nggenipun ngentosi
inggih dalemnya
raka paduka mangkin.
</poem>
|<poem>Adipati Mangkunagara ing ngrika
miwah bala prajurit
sami tinimbalan
Jeng Ratu teka dhangan
lah payo susulna marni
</poem>}}<noinclude>{{rh|204}}</noinclude>
9ips5cmyj7bhgw8dnebrl9umvjrmsla
Kaca:Babad Prayud I.pdf/207
250
24671
78254
77323
2026-05-16T09:17:27Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78254
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>sareng wedalnya,
Uprup ngiring ing wuri.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>
Pun ajidan Bonggarek munggeng ing ngarsa
praptaning regol aglis
dennya tinanggapan
tandhu ing lajengira
sigra kang para dipati
sawadyanira
ngampit ing kanan kering.</poem>
|<poem>Sapraptane kidule waringin kembar
Uprup Beman bebisik
marang Ki Dipatya
andhegna Ngendranatan
Uprup nyimpang ngetan aglis
sadragundernya
sapraptanireng loji.</poem>
|<poem>Wus panggih Sang Nata katur solahira
yen Jeng Ratu wus mijil
sangking jroning pura
langkung suka miyarsa
wau Kangjeng Sri Bupati
kadya sampurna
rerentenge tyas Aji.</poem>
|<poem>Angantosi Adipati Mangkupraja
kondure maring puri
wau lampahira
Ratu prapteng geladhag
kapethuk ing ibuneki
mangu amenggah
Mbok Nganten iki mijil.</poem>
|<poem>Ka mengkene kandhane apa tukaran
Ratu Maduretneki
alon angandika
</poem>}}<noinclude>{{rh|||205}}</noinclude>
fe1vf8kb13racsvsh106nuxwh3e0gde
Kaca:Babad Prayud I.pdf/198
250
24672
78245
77326
2026-05-16T09:15:22Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78245
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|type=none
|<poem>marang Suradilaga
ngendi enggone mateni
baya ing taman
cethi mariksa aglis.</poem>
}}
{{ordered list|start=6
|<poem>Prapteng taman gusis tan ana manungsa
kantun rare lit-alit
gya wangsul cengkelak
Ni Mbok cethi Berambang
prapta umatur wotsari
Gusti ing taman
mamring tan wonten jalmi.</poem>
|<poem>Duk miyarsa Ratu Mas langkung bramantya
grit sasmita rereg ing
jlog tedhak sakala
marang ing palataran
sarwi angliga Ki Boji
Ki Urubjingga
curiga kang cinangking.</poem>
|<poem>Pistulira Ki Kincaka Rupakinca
sumampir pundhak kering
cindhe jo lancingan
abajo kesting abang
bentinge kenanga wilis
udheng jumputan
bangun tulak tinepi.</poem>
|<poem>Pasemone lir garwa Sang Girinata
bieg Sang Hyang Durga Dewi
duk sanget krodhanya
tedhak arsa anigas
marang Prabu Maispati
Aijunasasra
prang wana Sriwedari.</poem>
|<poem>Prapteng latar lajeng mariksa ing taman</poem>
}}<noinclude>{{rh|196}}</noinclude>
l54weutkp6xycsdweo4kqpyedchjynt
Kaca:Babad Prayud I.pdf/199
250
24673
78035
77327
2026-05-16T02:57:12Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78035
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|type=none
|<poem>sampun dangu amamring
gumyur ing tyasira
asru dennya ngandika
ya Si Jangkung ana ngendi
ujarku apa
gustine den ubungi.</poem>
}}
{{ordered list|start=11
|<poem>Golekana ing kono gedhong kang wetan
ingubres tan kapanggih
gedhong binalengkrah
ratu asru ngandika
katemua ya si Dhengklik
sun ungkrak-ungkrak
wadhuke mring Ki Beji.</poem>
|<poem>Yen ajana si Jangkung pan ora napa
tingkahe Kangmas iki
lan si Tutuskajang
iku sok thuk-anthukan
mengkone adhine iki
si Jangkungpacar
iku setan bagejil</poem>
|<poem>Pariksanen wismane Suradilaga
manawa Kakang Aji
iya aneng kana
{{gap}}
arok campuh rebut pati
singa tiwasa
ciyum tanah sekali.</poem>
|<poem>Nembah mesat sigra mbok cethi praptanya
Suradilagan sepi
tan ana manungsa
wangsul prapta ing pura
wotsari matur yen gusis
Suradilagan</poem>
}}<noinclude>{{rh|||197}}</noinclude>
6wkh2k37utdut148shmc2txl6g9vc6k
Kaca:Babad Prayud I.pdf/200
250
24674
78036
77329
2026-05-16T02:57:24Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78036
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|type=none
|<poem>Ratu duk amiyarsi.</poem>
}}
{{ordered list|start=15
|<poem>Sangking bingung angamun-amun dukanya
gumrubyug jroning puri
pinungseng ngulatan
tan lyan Ki Jangkungpacar
pan dereng medal ing jawi
Ki Jangkungpacar
momor wedana kemit.</poem>
|<poem>Neng jodhange Rahaden Tumenggung Sasrang
ampingan wakul njengking
kungkulan tumpengnya
ndhepes neng pojok jodhang
pan dereng kongsi binukti
sangu wedana
selak geger jro puri.</poem>
|<poem>Wiratmaka matur ing wadananira
boten eca puniki
lurah Jangkungpacar
mbok tinitik konangan
pasthi mulari bilai
tanpa kukupan
inggih kabeh puniki.</poem>
|<poem>Angandika Tumenggung Sasradiningrat
Jangkung ngaliha aglis
manawa pinaran
ewuh sesauringwang
dadi mesakke sireki
yen konangana
pasthi yen den jejuwir.</poem>
|<poem>Setrajaya eteren parenahena
pojok lor wetan kecik
ing lalaren kana</poem>
}}<noinclude>{{rh|198}}</noinclude>
0n6nwlyy5hjlmngz3r2zvvlkftsscu3
Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/3
250
24678
77515
77334
2026-05-15T15:32:46Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77515
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{center|
{{jawa|{{xxxx-larger|꧋ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ꧉}}}}
<br><br><br><br><br><br><br>
{{jawa|꧋ꦨꦭꦺꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏ {{--}} ꦨꦠꦮꦶꦱꦺꦤ꧀ꦠꦽꦩ꧀꧈}}
}}
{{nop}}<noinclude></noinclude>
4a6fex9xero8n2byklvj9gz025hhx1v
Kaca:Babad Prayud I.pdf/209
250
24686
78256
77343
2026-05-16T09:17:52Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78256
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>wau kang nusul nenggih
Raden Endranata
datan miyarsa warta
kalulun nusul mring puri
panarkanira
wonten gerah jro puri.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=58
|<poem>
MilagugupmedalKemlayahkewala
praptane pancaniti
panggih Raden Sasra
sakanca mantrinira
lampahe arsa mondhongi
Sri Naranata
kondure mri jro puri.
</poem>
|<poem>Wau Raden Aryendranata wus panggya
kagyat sira ningali
mring Tumenggung Sasra
mepak wadya kaparak
merpeki abisik-bisik
sampun jinarwan
ing purwa wesaneki.
</poem>
|<poem>
Sigra wangsul asigra Aryendranata
medal Kemlayan malih
prapteng pagelaran
wau kalih punggawa
katiga rekyana patih
pra samya sayah
ambruk pating karempis.
</poem>
|<poem>Sigra Raden Tumenggung Sasradiningrat
mrepeki Kiya Patih
andika Ki Lurah
punapa sampun pasrah
rumekseng wengi puniki
wong Ngendranatan
samar tan prayitneki.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||207}}</noinclude>
j2d5mbp0r1tql7mionoqy6gv1aa5hwn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/210
250
24687
78257
77344
2026-05-16T09:18:00Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78257
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=62
|<poem>
Jeng Ratu Mas nepsune sampun ambedhah
mbok mberot angulati
dhateng ingkang raka
satemah tundha bisma
sampun kasurupan iblis
katri punggawa
ngungun ing solahneki.</poem>
|<poem>Angling gugup Adipati Mangkupraja
lah dika daweg adhi
tumut lampah kula
ing mangke nggiha sisan
amethuk ing Sri Bupati
sareng kewala
sigra sareng lumaris.
</poem>
|<poem>
Sira Raden Turnenggung Sasradiningrat
nutuh punggawa kalih
Kakang Arungbinang
lan Kakang Wiradigda
Ki Lurah supene iki
norapemuta
temah kangelan bali.
</poem>
|<poem>Asru mbekus Ki Tumenggung Wiradigda
Sasra aja baribin
tak jagur mengke ta
bingung gugup kaliwat
wong telu tan eling siji
duk prang Pajenar
nora bingung kadyeki.
</poem>
|<poem>
Sami gumer wadya kang samya miyarsa
ing geladhag duk prapti
Raden Sasra mojar
ndi jarane Ki Curah
saosena dipun aglis
</poem>}}<noinclude>{{rh|208}}</noinclude>
4t91nan6snadinj4kjy5dkmku78nti4
Kaca:Babad Prayud I.pdf/211
250
24688
78258
77350
2026-05-16T09:18:07Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78258
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>Kiya Dipatya
Mangkupraja nauri.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=67
|<poem>
Ah si adhi deneta ndadak atata
anganteni .turanggi
kabeh raka dika
gugup tan nganti kuda
Walanda ingkang ningali
werti Sang Nata
tan ngangge batur siji.</poem>
|<poem>Tedhakira mring loji alelawaran
mila gugup tan sipi
alah duk prang Tidhar
bingunge ingkang manah
rerasan samargi-margi
wau lampahnya
Kaendranatan prapti.
</poem>
|<poem>
Paregolan Raden Arya ingaturan
mring paregolan prapti
sampun dhinawuhan
Den Arya den prayitna
inggih sawengi puniki
dika rumeksa
Ratu Mas mbok manawi.
</poem>
|<poem>
Amberosot nusula marang kang raka
dika Raden bilai
umatur sandika
sakala paparentah
Heh Macantawang sireki
lan Macanalas
kancamu Talangpati.
</poem>
|<poem>
Atuguru kabeh aneng paregolan
jaga satru wong siji
kancamu tugura</poem>}}<noinclude>{{rh|||209}}</noinclude>
mesmo4vwri57aziac5k0fvttsg380uv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/213
250
24690
78259
77353
2026-05-16T09:18:22Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78259
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''DHANDHANG GULA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>
Sang Aprabu kondur sangking loji
sampun kathah ingkang abdi prapta
jawi lebet piyarsane
kathah sami kasusu
praptanira lun-alun sami
ngungun ingkang miyarsa
tan wruh purwanipun
makaten wasananira
Sri Narendra lan Uprup praptaning puri
anjujug ing mandhapa.</poem>
|<poem>
Wau kang binekta maring loji
manggung kadange Suradilaga
kinen lajeng mring pura ge
Uprup alon turipun
inggih abdi dalem kumpeni
dragunder nenem samya
lan ajidanipun
kang sami kawula bekta
kula ganjar nigang dasa reyal anggris
inggih ing benjang-enjang.</poem>
|<poem>
Tuwan sampun mawi susah maUh
paring dalem kang dhateng kawula
inggih kang kula dumake
kados kang tigang atus
lan sradhadhunipun kekatih
kula inggahken kopral
dene kopralipun
inggih minggaha sareyan
pun ajidan minggaha kumendarn benjing
kumendham ing Ungaran.
</poem>
|<poem>
Kula inggih nunten benjing-enjing
kintun serat dhateng ing Samarang
</poem>}}<noinclude>{{rh|||211}}</noinclude>
t4zyu0kukmfo4m7hkepwt3ta5vli74g
Kaca:Babad Prayud I.pdf/214
250
24691
78260
77354
2026-05-16T09:18:30Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78260
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>mintakaken ing inggahe
inggih keng sami tumut
anglampahi karya Sang Aji
akedhik nanging gawat
mesem Sang Aprabu
iya bener iku Beman
Uprup matur lan sukak Tuwan Sang Aji
kula lebetken surat.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=5
|<poem>
Sri Narendra gumujeng nganthuki
sakarepmu sun turut kewala
iya yen prekara kuwe
Uprup suka kalangkung
Sri Narendra ngandika maiih
sun dadi tan kongkonan
amunga layangmu
ya tarima kasih ingwang
marang Deler pitulung tetulung pikir
rahayu kalampahan.
</poem>
|<poem>
Sira Uprup sampun pamit mijil
wanci tabuh ing satengah rolas
Dipati Mangkuprajane
sami kalilan mantuk
nanging enjing rekyana patih
ingandikan saosa
sandika turipun
ing dalu tan kawursita
yata enjing Dipati Mangkunagari
ingandikan mring pura.
</poem>
|<poem>
Sapraptane wau jroning puri
Sang Adipati Mangkunagara
wus tata palenggahane
neng pandhapa ri Prabu
angandika Kangmas ing mangkin
Mangkupraja kalawan
</poem>}}<noinclude>{{rh|212}}</noinclude>
52kn7ltir5g8wt9ucbmc1oc3f8851sd
Kaca:Babad Prayud I.pdf/156
250
24692
78038
77357
2026-05-16T02:59:34Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78038
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>ngarsane iya patih
alon denira amuwus
Heh adhi Sindureja
pinten ta lamine mangkin
Kangjeng Ratu Bendara aneng Ngayogya</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=50
|<poem>
Ki Tumenggung Sindureja
ature sawulan mangkin
Adipati Danureja
adhi inggih sampun lami
mungguh wong maratami
langkunga sangking puniku
yen boten den antukna
dhedhayoh susah prihatin
dika sebaa adhi dika matura.
</poem>
|<poem>
Ing Sinuhun yen kang putra
Jeng Ratu Bendara adhi
meh kaliwat ing antara
batur Tandha tur upeksi
pasare den rayahi
gegeran kadya pin usus
kalap gang pawadeyan
pelaraban wong kelithik
gempur bebas kadi den rayah ing setan.
</poem>
|<poem>
Ki Tumenggung Sindureja
gumujeng umatur aris
punapa ngangge pawitan
pangrayahe peken enjing
angling Rekyana Patih
pawitane wong ngalenthung
angangge sarwa mubyar
tunggak semi den larangi
puniku kang ngamuk lajeng ngrayah pasar.
</poem>
|<poem>
Pukulun pantes punika</poem>}}<noinclude>{{rh|154}}</noinclude>
cmvdimnb8fgsq4mi1brlv4pndem7nvv
Kaca:Babad Prayud I.pdf/157
250
24693
78040
77359
2026-05-16T02:59:57Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78040
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>asmu loking nagari
respati pawarteng praja
kaojat ing manca bumi
wong Agung Guritwesi
kinarsakken pinet mantu
sampeyan kang anyarag
pasthi betahannya baring
sru gumujeng Adipati Danureja.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=54
|<poem>
Nembah Tumenggung Sinduija
mesat sangking pancaniti
aneng Srimanganti prapta
canthel atur den timbali
prapteng ngarsa narpati
Sinduija tur sembah matur
pukulun pun apatya
tur uningeng paduka Ji
abdinipun enggih Jeng Ratu Bendara.
</poem>
|<poem>
Sami nggegeraken pasar
abikut angrerayahi
gusis bebas jroning pasar
Jeng Sulta duk amiyarsi
ature Sindurjeki
suka gumujeng angguguk
warahen si Danurja
iya aja dadi pikir
lan si Tandha iya aja kasusahan.
</poem>
|<poem>Wus jamake wong malarat
angempek marang wong sugih
pira-pira aneng dunya
bisa weh bebet wong miskin
tandha aja nempuhi
pira ta ilange iku
pan ingsun kang kelangan
jer wus lawas aneng ngriki
ya mulane padha ngalethak kaluwak.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||155}}</noinclude>
16zlhjfw46e9arvsw0sj3ylwfimx1n9
Kaca:Babad Prayud I.pdf/191
250
24694
78066
77361
2026-05-16T03:16:30Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78066
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>tan adangu prapta
sarwi ambopong pribadi
telung kayuh sembagi biru lan pethak.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>
Kang sekayuh bakale arupa mesru
daweg sampun susah
lah puniki Ki Ngabehi
inggih badhe ingkang dadia padinani.
</poem>
|<poem>Pamit mantuk sira Ngabehi Pasliyun
sontenipun seba
ngandikan neng taman prapti
sampun katur satingkahe Uprup Beman</poem>
|<poem>Sang Aprabu langkung suka miyarseku
dhemen si Wisarsa
nanging ta kang anglakoni
mbok nora rep iya alaki Walanda.</poem>
|<poem>Sigra matur wau Ngabehi Pasliyun
nanging inggih datan
siyos anuwun pawestri
sareng kula ndhawuhi timbalan Tuwan.</poem>
|<poem>Utangipun kalilan boten anaur
dadia ganjaran
punika suka tan sipi
mantun nuwun dhateng pun seleg Wisarsa.</poem>
|<poem>Kula dipun urmati den umpuk-umpuk
sukak lepas utang
pisungsunge sadayeki
wonten kalih atus pangaos sadaya.</poem>
|<poem>Kuneng wau enjinge ing dinten Septu
sonten miyos watang
sabubare watang nenggih
malem Ngaad ing Sura kaping pitulas.
</poem>}}<noinclude>{{rh|||189}}</noinclude>
lojvhobxueglbsxq2f887wsv78bm7jb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/158
250
24695
77364
2026-05-15T12:27:15Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "XIV. POCUNG 1. Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu amundhut wedana ing jro roro kapat jawi kang sun piji ing jaba si Martalaya. 2. Karonipun ya si Jayakusumeku katelune iya wedana jaba sun piji Jayadirja kapat si Ranawilaga. 3. Ing jronipun ya si Mangundipureku lawan si Sindurja wong nenem ing mengko bengi sun nimbali iya si Puspakusuma. 4. Resep ingsun punggawane Anak Prabu si Puspakusuma sun nimbali mengko bengi sun bebeda sun gegila ing deduka...
77364
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIV.
POCUNG
1. Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu
amundhut wedana
ing jro roro kapat jawi
kang sun piji ing jaba si Martalaya.
2. Karonipun ya si Jayakusumeku
katelune iya
wedana jaba sun piji
Jayadirja kapat si Ranawilaga.
3.
Ing jronipun ya si Mangundipureku
lawan si Sindurja
wong nenem ing mengko bengi
sun nimbali iya si Puspakusuma.
4.
Resep ingsun punggawane Anak Prabu
si Puspakusuma
sun nimbali mengko bengi
sun bebeda sun gegila ing deduka.
5. Ulatipun apa ta misiha wutuh
lamun ora owah
dadi sembada wong becik
punggawane Anak Prabu Surakarta.
6. Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun
Tumenggung sakawan
pan sami wedana jawi
ing jro badhe angirid Puspakusuma.
7. Kang prapta wus nganbyantaranira Prabu
Jeng Sultan ngandika
mengko yen ingsun ndukani
anyrengeni marang si Puspakusuma.
8.
Sira iku den karungua calathu
156
PNRI<noinclude></noinclude>
i07it6y1fsj33fopkie3yvb8tf54u4f
77365
77364
2026-05-15T12:30:26Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77365
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIV. POCUNG
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu
amundhut wedana
ing jro roro kapat jawi
kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem>
|<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku
katelune iya
wedana jaba sun piji
Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem>
|<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku
lawan si Sindurja
wong nenem ing mengko bengi
sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu
si Puspakusuma
sun nimbali mengko bengi
sun bebeda sun gegila ing deduka.
|<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh
lamun ora owah
dadi sembada wong becik
punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem>
|<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun
Tumenggung sakawan
pan sami wedana jawi
ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem>
|<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu
Jeng Sultan ngandika
mengko yen ingsun ndukani
any rengeni marang si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude>
m1twj7arzj4bfn63nubwetym29aj1rw
77366
77365
2026-05-15T12:31:09Z
Khusna Safira
1759
77366
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIV.{{gap}}POCUNG
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu
amundhut wedana
ing jro roro kapat jawi
kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem>
|<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku
katelune iya
wedana jaba sun piji
Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem>
|<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku
lawan si Sindurja
wong nenem ing mengko bengi
sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu
si Puspakusuma
sun nimbali mengko bengi
sun bebeda sun gegila ing deduka.
|<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh
lamun ora owah
dadi sembada wong becik
punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem>
|<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun
Tumenggung sakawan
pan sami wedana jawi
ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem>
|<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu
Jeng Sultan ngandika
mengko yen ingsun ndukani
any rengeni marang si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude>
72owjjao6yciinsa5vk69113g144yd4
78218
77366
2026-05-16T09:11:01Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78218
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XIV.{{gap}}POCUNG'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu
amundhut wedana
ing jro roro kapat jawi
kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem>
|<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku
katelune iya
wedana jaba sun piji
Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem>
|<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku
lawan si Sindurja
wong nenem ing mengko bengi
sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu
si Puspakusuma
sun nimbali mengko bengi
sun bebeda sun gegila ing deduka.
|<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh
lamun ora owah
dadi sembada wong becik
punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem>
|<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun
Tumenggung sakawan
pan sami wedana jawi
ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem>
|<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu
Jeng Sultan ngandika
mengko yen ingsun ndukani
any rengeni marang si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude>
8tcopgwycqc1yr47n0spruztfo807au
78220
78218
2026-05-16T09:11:17Z
Elcamatcha
1466
78220
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XIV.{{gap}}POCUNG'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Iya ingsun dhawuhna ing mengko dalu
amundhut wedana
ing jro roro kapat jawi
kang sun piji ing jaba si Martalaya.</poem>
|<poem>Karonipun ya si Jayakusumeku
katelune iya
wedana jaba sun piji
Jayadirja kapat si Ranawilaga.</poem>
|<poem>Ing jronipun ya si Mangundipureku
lawan si Sindurja
wong nenem ing mengko bengi
sun nimbali iya si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Resep ingsun punggawane Anak Prabu
si Puspakusuma
sun nimbali mengko bengi
sun bebeda sun gegila ing deduka.</poem>
|<poem>Ulatipun apa ta misiha wutuh
lamun ora owah
dadi sembada wong becik
punggawane Anak Prabu Surakarta.</poem>
|<poem>Wusnya dalu ingkang ngandika rumuhun
Tumenggung sakawan
pan sami wedana jawi
ing jro badhe angirid Puspakusuma.</poem>
|<poem>Kang prapta wus nganby antaranira Prabu
Jeng Sultan ngandika
mengko yen ingsun ndukani
any rengeni marang si Puspakusuma.</poem>
|<poem>Sira iku den karungua calathu</poem>}}<noinclude>{{rh|156}}</noinclude>
3te1j34319xlr3m8z92awqqky973orb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/159
250
24696
77367
2026-05-15T12:32:45Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77367
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::nanging aja sora
::wong pantes pinaten iki
::wong amogok barang parentahing raja.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Beda paran kana-kene padha ratu
dhasar kene tuwa
pasthi patut den lakoni
manas ati wong kaya Puspakusuma.</poem>
|<poem>Ya wus iku aja luwih celathumu
sakawan tur sembah
sandika turira sami
nulya wau Puspakusuma ngandikan.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Sindurja ngirid lumebu
lan Mangundipura
wus prapta ngabyantara Ji
pan den apit enggone Puspakusuma.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Sindureja kilenipun
pan Mangundipura
kang munggeng wetanireki
Kangjeng Sulta alon denira ngandika.</poem>
|<poem>Heh Tumenggung Puspakusuma sireku
sida mopo sira
marang ing parentah marni
sun parentah mulih dhingin marang sira.</poem>
|<poem>Tan lumaku kudu bareng benderamu
apa mantep sira
mogok ing parentah marni
nembah matur Tumenggung Puspakusuma.</poem>
|<poem>Dhuh pukulun ajrih yen darbea atur
ing Jeng Sri Narendra
nganggea lambe kekalih
nadyan mangke ing pejah kula sumangga.</poem>}}<noinclude>{{rh|||157}}</noinclude>
sj5ak9yl0hd9n6i25iofpkqzdi0ezae
78221
77367
2026-05-16T09:11:25Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78221
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::nanging aja sora
::wong pantes pinaten iki
::wong amogok barang parentahing raja.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=9
|<poem>Beda paran kana-kene padha ratu
dhasar kene tuwa
pasthi patut den lakoni
manas ati wong kaya Puspakusuma.</poem>
|<poem>Ya wus iku aja luwih celathumu
sakawan tur sembah
sandika turira sami
nulya wau Puspakusuma ngandikan.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Sindurja ngirid lumebu
lan Mangundipura
wus prapta ngabyantara Ji
pan den apit enggone Puspakusuma.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Sindureja kilenipun
pan Mangundipura
kang munggeng wetanireki
Kangjeng Sulta alon denira ngandika.</poem>
|<poem>Heh Tumenggung Puspakusuma sireku
sida mopo sira
marang ing parentah marni
sun parentah mulih dhingin marang sira.</poem>
|<poem>Tan lumaku kudu bareng benderamu
apa mantep sira
mogok ing parentah marni
nembah matur Tumenggung Puspakusuma.</poem>
|<poem>Dhuh pukulun ajrih yen darbea atur
ing Jeng Sri Narendra
nganggea lambe kekalih
nadyan mangke ing pejah kula sumangga.</poem>}}<noinclude>{{rh|||157}}</noinclude>
azwatf0kyf7r0sday2ds6wl7vkactbc
Kaca:Babad Prayud I.pdf/160
250
24697
77368
2026-05-15T12:35:08Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77368
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Tan ngampelu yen agantesa sarambut
kinarsakna pejah
punapa dene bupati
ajrih pejah yen kinarsakna ing raja.</poem>
|<poem>Jeng pukulun lan putra Tuwan Sang Prabu
inganggep kawula
pan inggih wonten kekalih
suka lila lajeng paduka ngarsakna.</poem>
|<poem>Pra Tumenggung kang papat samya amuwus
wus sedheng den lunas
kaya Puspakusumeki
ting kalesik nanging tetela kapyarsa.</poem>
|<poem>Kang Sinuhun Sultan ing pandulunipun
yen Puspakusuma
tan owah soty anireki
den gegila ulate ayem kewala.</poem>
|<poem>Angrerapu Sultan pangandikanipun
heh Puspakusuma
sira kala Pagiyanti
Anak Prabu duk atemon lawan ingwang.</poem>
|<poem>Aneng dhusun iya Lebakjati santun
sira arasukan
ya kotang baludru randhi
rinenda mas sungu tepen iketira.</poem>
|<poem>Mangsa iku apa wus dadi tumenggung
sira ingsun ny ana
kang aran si Panji Gringsing
Anak Prabu lelurahe wong tamtama.</poem>
|<poem>Nembah matur inggih sampun tigang taun
pirtacak punggawa
nenggih kang kula gentosi</poem>}}<noinclude>{{rh|158}}</noinclude>
3z6tmdoctmp0be8afno5nky6eil6y8k
78222
77368
2026-05-16T09:11:34Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78222
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Tan ngampelu yen agantesa sarambut
kinarsakna pejah
punapa dene bupati
ajrih pejah yen kinarsakna ing raja.</poem>
|<poem>Jeng pukulun lan putra Tuwan Sang Prabu
inganggep kawula
pan inggih wonten kekalih
suka lila lajeng paduka ngarsakna.</poem>
|<poem>Pra Tumenggung kang papat samya amuwus
wus sedheng den lunas
kaya Puspakusumeki
ting kalesik nanging tetela kapyarsa.</poem>
|<poem>Kang Sinuhun Sultan ing pandulunipun
yen Puspakusuma
tan owah soty anireki
den gegila ulate ayem kewala.</poem>
|<poem>Angrerapu Sultan pangandikanipun
heh Puspakusuma
sira kala Pagiyanti
Anak Prabu duk atemon lawan ingwang.</poem>
|<poem>Aneng dhusun iya Lebakjati santun
sira arasukan
ya kotang baludru randhi
rinenda mas sungu tepen iketira.</poem>
|<poem>Mangsa iku apa wus dadi tumenggung
sira ingsun ny ana
kang aran si Panji Gringsing
Anak Prabu lelurahe wong tamtama.</poem>
|<poem>Nembah matur inggih sampun tigang taun
pirtacak punggawa
nenggih kang kula gentosi</poem>}}<noinclude>{{rh|158}}</noinclude>
mwmbi0pgpe84hr0m6x2cbqvty1iox88
Kaca:Babad Prayud I.pdf/161
250
24698
77369
2026-05-15T12:38:00Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77369
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::rayi dalem Pangran Arya Pakuningrat.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Ngandika rum Jeng Sultan timbalanipun
yen mengkono lawas
nggonira dadi bupati
ya menangi pakethip ing Surakarta.</poem>
|<poem>Besuk esuk Senen Wage ping rong puluh
iki Dulkangidah
ya sira sun tundhung mulih
ya ngiringna kalawan si Ebeng pisan.</poem>
|<poem>Duk angrungu Raden Puspakusumeku
timbalane Sultan
cumeplong ing tyasireki
nanging batin maksih rada melang-melang.</poem>
|<poem>Dene sagung pra dipati ting garegut
dene ratunira
pinopo parentahneki
patut sami nekani ing reh watgata.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Sindurja wis ngirid metu
praptanireng jaba
kendel aneng Srimenganti
yata kuneng gantya ingkang winursita.</poem>
|<poem>Pangran Mangkuningrat neng pakuwonipun
tyasnya melang-melang
nimbali pra lurahneki
lawan para mantri Kamangkunagaran.</poem>
|<poem>Tindhihipun Jayapanantang pangayun
lan jayawidenta
Jay aruntika pralagi
Jawilanten kalawan Jayatilawat.</poem>
|<poem>Kinem sampun neng ngarsa Pangeran Timur
PangranMangkuningrat</poem>}}<noinclude>{{rh|||159}}</noinclude>
p2swasyi31xzg514s1i3a4dw5m0vdwo
78223
77369
2026-05-16T09:11:42Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78223
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::rayi dalem Pangran Arya Pakuningrat.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Ngandika rum Jeng Sultan timbalanipun
yen mengkono lawas
nggonira dadi bupati
ya menangi pakethip ing Surakarta.</poem>
|<poem>Besuk esuk Senen Wage ping rong puluh
iki Dulkangidah
ya sira sun tundhung mulih
ya ngiringna kalawan si Ebeng pisan.</poem>
|<poem>Duk angrungu Raden Puspakusumeku
timbalane Sultan
cumeplong ing tyasireki
nanging batin maksih rada melang-melang.</poem>
|<poem>Dene sagung pra dipati ting garegut
dene ratunira
pinopo parentahneki
patut sami nekani ing reh watgata.</poem>
|<poem>Ki Tumenggung Sindurja wis ngirid metu
praptanireng jaba
kendel aneng Srimenganti
yata kuneng gantya ingkang winursita.</poem>
|<poem>Pangran Mangkuningrat neng pakuwonipun
tyasnya melang-melang
nimbali pra lurahneki
lawan para mantri Kamangkunagaran.</poem>
|<poem>Tindhihipun Jayapanantang pangayun
lan jayawidenta
Jay aruntika pralagi
Jawilanten kalawan Jayatilawat.</poem>
|<poem>Kinem sampun neng ngarsa Pangeran Timur
PangranMangkuningrat</poem>}}<noinclude>{{rh|||159}}</noinclude>
47kicy1tgqbz9bx8swlrn8rbbrefqin
Kaca:Babad Prayud I.pdf/162
250
24699
77370
2026-05-15T12:39:49Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77370
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ngandika mring para mantri
::ya mulane sireku padha sun undang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Saking ingsun banget kasusahanipun
mau bakda ngisak
Kiyai Sultan nimbali
iya marang Kang Menggung Puspakusuma.</poem>
|<poem>Iki luwih iya ing pukul sepuluh
meh pukul sawelas
durung teka mangke iki
pawartane Kangjeng Sultan banget duka.</poem>
|<poem>Dene iku nimbali tan mawi ingsun
iku niyat ala
nora kelu maring mami
iya dening kaponakan saking lanang.</poem>
|<poem>Maring mantu kaponakan pasthi kolu
Kang Puspakusuma
kabuguhena turneki
durung weruh wateke Kiyai Sultan.</poem>
|<poem>Yen abendu banget nekani datipun
Suradimenggala
Tumenggung Jipang kekasih
kaluputan sapisan banjur dilunas.</poem>
|<poem>Yata wau Jay apanantang umatur
lan Jayawidenta
sakancane para mantri
yen makaten bendara nggih boten eca.</poem></poem>
|<poem>Kula nusul ambekta prajurit satus
njujug pagelaran
yen rame-rame jro puri
pasthi kula lajeng amuke kewala.</poem>
|<poem>Kang atungguk tumenggunge yen wus lampus</poem>}}<noinclude>{{rh|160}}</noinclude>
6ab0sw58nd9ehxib0lrbvfxqpx3ulxj
77371
77370
2026-05-15T12:40:23Z
Khusna Safira
1759
77371
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ngandika mring para mantri
::ya mulane sireku padha sun undang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Saking ingsun banget kasusahanipun
mau bakda ngisak
Kiyai Sultan nimbali
iya marang Kang Menggung Puspakusuma.</poem>
|<poem>Iki luwih iya ing pukul sepuluh
meh pukul sawelas
durung teka mangke iki
pawartane Kangjeng Sultan banget duka.</poem>
|<poem>Dene iku nimbali tan mawi ingsun
iku niyat ala
nora kelu maring mami
iya dening kaponakan saking lanang.</poem>
|<poem>Maring mantu kaponakan pasthi kolu
Kang Puspakusuma
kabuguhena turneki
durung weruh wateke Kiyai Sultan.</poem>
|<poem>Yen abendu banget nekani datipun
Suradimenggala
Tumenggung Jipang kekasih
kaluputan sapisan banjur dilunas.</poem>
|<poem>Yata wau Jay apanantang umatur
lan Jayawidenta
sakancane para mantri
yen makaten bendara nggih boten eca.</poem>
|<poem>Kula nusul ambekta prajurit satus
njujug pagelaran
yen rame-rame jro puri
pasthi kula lajeng amuke kewala.</poem>
|<poem>Kang atungguk tumenggunge yen wus lampus</poem>}}<noinclude>{{rh|160}}</noinclude>
a6599xlbupj7yk4d1hvyt63qrmws3dl
78224
77371
2026-05-16T09:11:58Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78224
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::ngandika mring para mantri
::ya mulane sireku padha sun undang.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Saking ingsun banget kasusahanipun
mau bakda ngisak
Kiyai Sultan nimbali
iya marang Kang Menggung Puspakusuma.</poem>
|<poem>Iki luwih iya ing pukul sepuluh
meh pukul sawelas
durung teka mangke iki
pawartane Kangjeng Sultan banget duka.</poem>
|<poem>Dene iku nimbali tan mawi ingsun
iku niyat ala
nora kelu maring mami
iya dening kaponakan saking lanang.</poem>
|<poem>Maring mantu kaponakan pasthi kolu
Kang Puspakusuma
kabuguhena turneki
durung weruh wateke Kiyai Sultan.</poem>
|<poem>Yen abendu banget nekani datipun
Suradimenggala
Tumenggung Jipang kekasih
kaluputan sapisan banjur dilunas.</poem>
|<poem>Yata wau Jayapanantang umatur
lan Jayawidenta
sakancane para mantri
yen makaten bendara nggih boten eca.</poem>
|<poem>Kula nusul ambekta prajurit satus
njujug pagelaran
yen rame-rame jro puri
pasthi kula lajeng amuke kewala.</poem>
|<poem>Kang atungguk tumenggunge yen wus lampus</poem>}}<noinclude>{{rh|160}}</noinclude>
skv457h3l0ks4zava5rbo0uxd5xxthn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/192
250
24700
77372
2026-05-15T12:42:23Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77372
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh
bahyaning Narendra
anuju pareng pinasthi
sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem>
|<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu
duk ningali watang
Jeng Ratu aneng sitinggil
mulak ana Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh
Sang Nata lir ingkang
nuruti marang kang rayi
dukanipun mring Panji Suradilaga.
|<poem>Kadangipun pawestri kang dadi manggung
winedalken lama
ratu pasang sangga runggi
mring kadange Apanji Suradilaga.</poem></poem>
|<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu
nilap pamacanan
Ratu Mas angandika ris
ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem>
|<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu
nora mantra-mantra
seba ndadak animbangi
den palaur meng-ameng sasukanira.</poem>
|<poem>Nora patut asesawah telung atus
lawan dadi abral
prajurit jro den lurahi
piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem>
|<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh
ngrasuk prajuritan
dhuwung wasiyat sinandhing
ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude>
af75ve4lzofn3wcsmlm8dihrwwc9ltf
77373
77372
2026-05-15T12:43:05Z
Khusna Safira
1759
77373
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh
bahyaning Narendra
anuju pareng pinasthi
sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem>
|<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu
duk ningali watang
Jeng Ratu aneng sitinggil
mulak ana Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh
Sang Nata lir ingkang
nuruti marang kang rayi
dukanipun mring Panji Suradilaga.
|<poem>Kadangipun pawestri kang dadi manggung
winedalken lama
ratu pasang sangga runggi
mring kadange Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu
nilap pamacanan
Ratu Mas angandika ris
ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem>
|<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu
nora mantra-mantra
seba ndadak animbangi
den palaur meng-ameng sasukanira.</poem>
|<poem>Nora patut asesawah telung atus
lawan dadi abral
prajurit jro den lurahi
piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem>
|<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh
ngrasuk prajuritan
dhuwung wasiyat sinandhing
ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude>
n1tsxat7eitiots9vjnf1pgwfhdyjw3
77374
77373
2026-05-15T12:43:53Z
Khusna Safira
1759
77374
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh
bahyaning Narendra
anuju pareng pinasthi
sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem>
|<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu
duk ningali watang
Jeng Ratu aneng sitinggil
mulak ana Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh
Sang Nata lir ingkang
nuruti marang kang rayi
dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem>
|<poem>>Kadangipun pawestri kang dadi manggung
winedalken lama
ratu pasang sangga runggi
mring kadange Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu
nilap pamacanan
Ratu Mas angandika ris
ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem>
|<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu
nora mantra-mantra
seba ndadak animbangi
den palaur meng-ameng sasukanira.</poem>
|<poem>Nora patut asesawah telung atus
lawan dadi abral
prajurit jro den lurahi
piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem>
|<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh
ngrasuk prajuritan
dhuwung wasiyat sinandhing
ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude>
b7ehs9ovjdin2m8giud77ynivk5t69b
78237
77374
2026-05-16T09:14:03Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78237
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh
bahyaning Narendra
anuju pareng pinasthi
sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem>
|<poem>Purwanipun bramanty anira Jeng Ratu
duk ningali watang
Jeng Ratu aneng sitinggil
mulak ana Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh
Sang Nata lir ingkang
nuruti marang kang rayi
dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem>
|<poem>>Kadangipun pawestri kang dadi manggung
winedalken lama
ratu pasang sangga runggi
mring kadange Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu
nilap pamacanan
Ratu Mas angandika ris
ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem>
|<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu
nora mantra-mantra
seba ndadak animbangi
den palaur meng-ameng sasukanira.</poem>
|<poem>Nora patut asesawah telung atus
lawan dadi abral
prajurit jro den lurahi
piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem>
|<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh
ngrasuk prajuritan
dhuwung wasiyat sinandhing
ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude>
hi3o7ly9qii6tx0kdkzr146girqaf5r
78238
78237
2026-05-16T09:14:16Z
Elcamatcha
1466
78238
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh
bahyaning Narendra
anuju pareng pinasthi
sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem>
|<poem>Purwanipun bramantyanira Jeng Ratu
duk ningali watang
Jeng Ratu aneng sitinggil
mulak ana Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh
Sang Nata lir ingkang
nuruti marang kang rayi
dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem>
|<poem>>Kadangipun pawestri kang dadi manggung
winedalken lama
ratu pasang sangga runggi
mring kadange Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu
nilap pamacanan
Ratu Mas angandika ris
ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem>
|<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu
nora mantra-mantra
seba ndadak animbangi
den palaur meng-ameng sasukanira.</poem>
|<poem>Nora patut asesawah telung atus
lawan dadi abral
prajurit jro den lurahi
piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem>
|<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh
ngrasuk prajuritan
dhuwung wasiyat sinandhing
ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude>
97alf723l6oarctlikrhdh3exc7fcc4
78240
78238
2026-05-16T09:14:27Z
Elcamatcha
1466
78240
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=16
|<poem>Be warseku mangsah paguting pakewuh
bahyaning Narendra
anuju pareng pinasthi
sinengkalna Brama Astha Obahing Rat.</poem>
|<poem>Purwanipun bramantyanira Jeng Ratu
duk ningali watang
Jeng Ratu aneng sitinggil
mulak ana Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Laminipun sinenggrangan duka dhawuh
Sang Nata lir ingkang
nuruti marang kang rayi
dukanipun mring Panji Suradilaga.</poem>
|<poem>Kadangipun pawestri kang dadi manggung
winedalken lama
ratu pasang sangga runggi
mring kadange Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Nonton Septu kawenangan Kangjeng Ratu
nilap pamacanan
Ratu Mas angandika ris
ngendi ana wong kaya Suradilaga.</poem>
|<poem>Enak-enak denira suwiteng ratu
nora mantra-mantra
seba ndadak animbangi
den palaur meng-ameng sasukanira.</poem>
|<poem>Nora patut asesawah telung atus
lawan dadi abral
prajurit jro den lurahi
piyangkuhe lir rajaputra Makasar.</poem>
|<poem>Konduripun Ratu Kencana agupuh
ngrasuk prajuritan
dhuwung wasiyat sinandhing
ingkang sangking Madura Ki Urubjingga.</poem>}}<noinclude>{{rh|190}}</noinclude>
k3enb1xtwvqv9ctmnswkfrjig5lvjg2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/193
250
24701
77375
2026-05-15T12:45:37Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77375
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Rawuhipun Sang Nata duk arsa cucul,
kampuh sangking watang,
Ratu Mas pagut ing runtik,
aturipun mring kang raka Sri Narendra.</poem>
|<poem>Kangmas Prabu kula langkung salang gumun,
ing karsa sampeyan,
boten keni den gugoni,
timbalane kaya ujar pepasaran.</poem>
|<poem>Kadya dudu raja Bali ing Kalungkung,
katarik ing duka,
ing tegese dukaneki,
ing jethote marang kadange wanita.</poem>
|<poem>Jamak ratu yen duwe karsa amundhut,
singa kinarsakna,
wong wadon sajroning puri,
pasthi kula saosken samangsa-mangsa.</poem>
|<poem>Malihipun kula kang Gandawitarum,
sok angajak-aiak
Sang Nata duk amiyarsi,
ing ature kang garwa Ratu Kencana.</poem>
|<poem>Pan kumepyur lir kapregok ngula dumung,
mangap meh ny embura,
ilate katon kumitir,
sakelangkung pangkarage kang salira.</poem>
|<poem>Sauripun maras-maras Sang Aprabu,
nyata bener sira,
nanging ta maklumireki,
agegampang marang wong arabi kadang.</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu yata malih aturipun,
malih kula nedha,
inggih pejahe pun Saki,</poem>}}<noinclude>{{rh|||191}}</noinclude>
9t27cfmxucmubh17ugtzqebfq19f6yr
78241
77375
2026-05-16T09:14:34Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78241
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=24
|<poem>Rawuhipun Sang Nata duk arsa cucul,
kampuh sangking watang,
Ratu Mas pagut ing runtik,
aturipun mring kang raka Sri Narendra.</poem>
|<poem>Kangmas Prabu kula langkung salang gumun,
ing karsa sampeyan,
boten keni den gugoni,
timbalane kaya ujar pepasaran.</poem>
|<poem>Kadya dudu raja Bali ing Kalungkung,
katarik ing duka,
ing tegese dukaneki,
ing jethote marang kadange wanita.</poem>
|<poem>Jamak ratu yen duwe karsa amundhut,
singa kinarsakna,
wong wadon sajroning puri,
pasthi kula saosken samangsa-mangsa.</poem>
|<poem>Malihipun kula kang Gandawitarum,
sok angajak-aiak
Sang Nata duk amiyarsi,
ing ature kang garwa Ratu Kencana.</poem>
|<poem>Pan kumepyur lir kapregok ngula dumung,
mangap meh ny embura,
ilate katon kumitir,
sakelangkung pangkarage kang salira.</poem>
|<poem>Sauripun maras-maras Sang Aprabu,
nyata bener sira,
nanging ta maklumireki,
agegampang marang wong arabi kadang.</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu yata malih aturipun,
malih kula nedha,
inggih pejahe pun Saki,</poem>}}<noinclude>{{rh|||191}}</noinclude>
0fh4igwzzxleezkq8he7aknfna57c0h
Kaca:Babad Prayud I.pdf/194
250
24702
77376
2026-05-15T12:47:34Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77376
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::dipun pejah inggih sadalu punika.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Dosanipun tan patut wong ngabdi ratu,
Saptu boten watang,
pijer meng-ameng pribadi,
nonton Septu angiras ningali macan.</poem>
|<poem>Angkuhipun kadya anak ratu Wangsul,
tur durung karuwan,
kaprawiraning ajurit,
kaya kang wus tate ambedhah nagara.</poem>
|<poem>Kumalungkung karyangkuh kelangkung-langkung,
Sang Nata ngandika,
iku ngong durung miyarsi,
panjenengan para ratu kuna-kuna.</poem>
|<poem>Karya lampus tan sumurup dosanipun,
wedi dhendhaning Hyang,
kang garwa umatur malih,
inggih lamun boten nuruti paduka.</poem>
|<poem>Kula nuwun ing wong ala patinipun
kula den bucala
sampun wontena jro puri,
Sri Narendra alon denira ngandika.</poem>
|<poem>Yen mengkono sun turut karepireku,
Sang Nata gya medal,
praptaning pandhapa aglis,
animbali prapteng ngarsa Jangkungpacar.</poem>
|<poem>Lah den gupuh metuage sira Jangkung,
si Suradilaga,
kon dandan iya den aglis,
lan adhine den gawaa den arikat.</poem>
|<poem>Wengi iki sun metu sangking kadhatun,
sigra Jangkungpacar,</poem>}}<noinclude>{{rh|192}}</noinclude>
p13spckkyy0c4tex1tsqdl3v4i406rp
77936
77376
2026-05-15T21:12:02Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77936
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::dipun pejah inggih sadalu punika.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=32
|<poem>Dosanipun tan patut wong ngabdi ratu,
Saptu boten watang,
pijer meng-ameng pribadi,
nonton Septu angiras ningali macan.</poem>
|<poem>Angkuhipun kadya anak ratu Wangsul,
tur durung karuwan,
kaprawiraning ajurit,
kaya kang wus tate ambedhah nagara.</poem>
|<poem>Kumalungkung karyangkuh kelangkung-langkung,
Sang Nata ngandika,
iku ngong durung miyarsi,
panjenengan para ratu kuna-kuna.</poem>
|<poem>Karya lampus tan sumurup dosanipun,
wedi dhendhaning Hyang,
kang garwa umatur malih,
inggih lamun boten nuruti paduka.</poem>
|<poem>Kula nuwun ing wong ala patinipun
kula den bucala
sampun wontena jro puri,
Sri Narendra alon denira ngandika.</poem>
|<poem>Yen mengkono sun turut karepireku,
Sang Nata gya medal,
praptaning pandhapa aglis,
animbali prapteng ngarsa Jangkungpacar.</poem>
|<poem>Lah den gupuh metuage sira Jangkung,
si Suradilaga,
kon dandan iya den aglis,
lan adhine den gawaa den arikat.</poem>
|<poem>Wengi iki sun metu sangking kadhatun,
sigra Jangkungpacar,</poem>}}<noinclude>{{rh|192}}</noinclude>
s9bvfjotdd0p9pto31zigocoe0fcs7r
Kaca:Babad Prayud I.pdf/195
250
24703
77377
2026-05-15T12:49:53Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77377
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::wus medal sangking jro puri,
::Sri Narendra gugup wedalira ngetan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>Rewangipun mung panakawan tetelu,
kang alit satunggal
kang ageng amung kekalih
banon wetan sigra den pasangi andha.</poem>
|<poem>Gupuh-gupuh Sang Nata wus prapteng luhur,
supe tan lancingan
panakawan ingkang alit
kinen nyambut saruwale Jangkung pacar</poem>
|<poem>Jangkung suwung wus dangu denira metu,
kasusu Sang Nata
melorot wus prapteng jawi
aneng ngandhap Sang Nata pasang cawetan</poem>
|<poem>Kyai Jangkung mempis-mempis wuwusipun
Heh Apanji enggal
timbalan nusul Sang Aji
atetanya Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Lurah Jangkung dhateng pundi Sang Aprabu
Jangkung megap-megap
napase kecer neng margi
wau ngetan angonc'ati sangking pura.</poem>
|<poem>Den agupuh gawanen arinireki
mring loji badhenya
den aenggal den anteni
geger usreg wismane Suradilaga.</poem>
|<poem>Kang sinambiit kang cinandhak-candhak luput
dyan wonten susulan
panakawan andhawuhi
dipun enggal Sang Nata mundhut lancingan.</poem>
|<poem>Kedhunglumbu angantosi Sang Aprabu</poem>}}<noinclude>{{rh|||193}}</noinclude>
cq5jkcxc0j34afa03032wbrb9ckopil
77937
77377
2026-05-15T21:12:58Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77937
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>::wus medal sangking jro puri,
::Sri Narendra gugup wedalira ngetan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=40
|<poem>Rewangipun mung panakawan tetelu,
kang alit satunggal
kang ageng amung kekalih
banon wetan sigra den pasangi andha.</poem>
|<poem>Gupuh-gupuh Sang Nata wus prapteng luhur,
supe tan lancingan
panakawan ingkang alit
kinen nyambut saruwale Jangkung pacar</poem>
|<poem>Jangkung suwung wus dangu denira metu,
kasusu Sang Nata
melorot wus prapteng jawi
aneng ngandhap Sang Nata pasang cawetan</poem>
|<poem>Kyai Jangkung mempis-mempis wuwusipun
Heh Apanji enggal
timbalan nusul Sang Aji
atetanya Apanji Suradilaga.</poem>
|<poem>Lurah Jangkung dhateng pundi Sang Aprabu
Jangkung megap-megap
napase kecer neng margi
wau ngetan angonc'ati sangking pura.</poem>
|<poem>Den agupuh gawanen arinireki
mring loji badhenya
den aenggal den anteni
geger usreg wismane Suradilaga.</poem>
|<poem>Kang sinambiit kang cinandhak-candhak luput
dyan wonten susulan
panakawan andhawuhi
dipun enggal Sang Nata mundhut lancingan.</poem>
|<poem>Kedhunglumbu angantosi Sang Aprabu</poem>}}<noinclude>{{rh|||193}}</noinclude>
izzujfgvj333dg6rucwfxkpm2hz9hib
Kaca:Babad Prayud I.pdf/196
250
24704
77378
2026-05-15T12:51:54Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77378
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::wau ing jro pura
::Ratu Kencana sru runtik
::wus angrasuk ing wau kaprajuritan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>Dhuwungipun nyuriga tinarik sampun
Kyai Bojiparang
Ki Urubjingga winangking
ngiras kestul Ki Kancaka Rupakinca.</poem>
|<poem>Akelangkung herga benting malang-migung
mbebujung Sang Nata
undhake pawarta jawi
lir pinusus gegere Suradilagan.</poem>
|<poem>Sigra wau nusul aneng Kedhunglumbu
wus panggih seksana
Sang Nata enget ing galih
wedana kang akemit Sasradiningrat.</poem>
|<poem>Sang Aprabu gugup Heh balia Jangkung
marang ing jro pura
iya wedana kang kemit
bebisika marang si Sasradiningrat.</poem>
|<poem>Konen tambuh aja idhep aja weruh
lamun tinakonan
ingsun iki marang loji
Ki Pasliyun konen tutur Kakangemas.</poem>
|<poem>Lamun ingsun wus metu teka kadhatun
wurung sun merana
kang perak bae mring loji
Jangkungpacar wotsari mundur mring pura.</poem>}}<noinclude></noinclude>
99ybufemjbvz8ky0e1uzllps6fwyey1
78242
77378
2026-05-16T09:14:49Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78242
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::wau ing jro pura
::Ratu Kencana sru runtik
::wus angrasuk ing wau kaprajuritan.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=48
|<poem>Dhuwungipun nyuriga tinarik sampun
Kyai Bojiparang
Ki Urubjingga winangking
ngiras kestul Ki Kancaka Rupakinca.</poem>
|<poem>Akelangkung herga benting malang-migung
mbebujung Sang Nata
undhake pawarta jawi
lir pinusus gegere Suradilagan.</poem>
|<poem>Sigra wau nusul aneng Kedhunglumbu
wus panggih seksana
Sang Nata enget ing galih
wedana kang akemit Sasradiningrat.</poem>
|<poem>Sang Aprabu gugup Heh balia Jangkung
marang ing jro pura
iya wedana kang kemit
bebisika marang si Sasradiningrat.</poem>
|<poem>Konen tambuh aja idhep aja weruh
lamun tinakonan
ingsun iki marang loji
Ki Pasliyun konen tutur Kakangemas.</poem>
|<poem>Lamun ingsun wus metu teka kadhatun
wurung sun merana
kang perak bae mring loji
Jangkungpacar wotsari mundur mring pura.</poem>}}<noinclude></noinclude>
ps1pt87hbi3anpqdvhpjyet5fkon5zi
Kaca:Babad Prayud I.pdf/197
250
24705
77379
2026-05-15T12:54:57Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77379
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>XIX.{{gap}}DURMA
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Prapteng pura Jangkungpacar wus apanggya
lan wadana kang kemit
sigra dhinawuhan
Raden Sasradiningrat
lan Ki Jangkung ngutus malih
mring panakawan
ndhawuhi Ki Ngabehi.</poem>
|<poem>Kang timbalan maringa Mangkunagaran
dhawuhingsun turpeksi
kalamun Sang Nata
wus mijil sangking pura
badhe akarsa mring loji
sigra lampahnya
panggih wus den dhawuhi.</poem>
|<poem>Lajengira Ngabehi Pasliyun prapta
panggih Sang Adipati
sampun dhinawuhan
Pangran Mangkunagara
sigra lir gumrubyug prapti
prajuritira
neng palataran baris.</poem>
|<poem>Sigra ngutus Dipati Mangkunagara
mring dasih andombani
mring ari narendra
mesat carakanira
sinareng lawan duta Ji
kang kawuwusa
wau sajroning puri.</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu Kencana pany ananira
kang Raka Sri Bupati
estu mejahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude>
5w2lj59cumi8ododyqh0px2xfmhhwi6
78034
77379
2026-05-16T02:56:35Z
Khusna Safira
1759
78034
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>'''XIX.{{gap}}DURMA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Prapteng pura Jangkungpacar wus apanggya
lan wadana kang kemit
sigra dhinawuhan
Raden Sasradiningrat
lan Ki Jangkung ngutus malih
mring panakawan
ndhawuhi Ki Ngabehi.</poem>
|<poem>Kang timbalan maringa Mangkunagaran
dhawuhingsun turpeksi
kalamun Sang Nata
wus mijil sangking pura
badhe akarsa mring loji
sigra lampahnya
panggih wus den dhawuhi.</poem>
|<poem>Lajengira Ngabehi Pasliyun prapta
panggih Sang Adipati
sampun dhinawuhan
Pangran Mangkunagara
sigra lir gumrubyug prapti
prajuritira
neng palataran baris.</poem>
|<poem>Sigra ngutus Dipati Mangkunagara
mring dasih andombani
mring ari narendra
mesat carakanira
sinareng lawan duta Ji
kang kawuwusa
wau sajroning puri.</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu Kencana pany ananira
kang Raka Sri Bupati
estu mejahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude>
mgw7yu6t6bipdct0cwxepelnmtf33r8
78244
78034
2026-05-16T09:15:14Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78244
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>:'''XIX.{{gap}}DURMA'''
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Prapteng pura Jangkungpacar wus apanggya
lan wadana kang kemit
sigra dhinawuhan
Raden Sasradiningrat
lan Ki Jangkung ngutus malih
mring panakawan
ndhawuhi Ki Ngabehi.</poem>
|<poem>Kang timbalan maringa Mangkunagaran
dhawuhingsun turpeksi
kalamun Sang Nata
wus mijil sangking pura
badhe akarsa mring loji
sigra lampahnya
panggih wus den dhawuhi.</poem>
|<poem>Lajengira Ngabehi Pasliyun prapta
panggih Sang Adipati
sampun dhinawuhan
Pangran Mangkunagara
sigra lir gumrubyug prapti
prajuritira
neng palataran baris.</poem>
|<poem>Sigra ngutus Dipati Mangkunagara
mring dasih andombani
mring ari narendra
mesat carakanira
sinareng lawan duta Ji
kang kawuwusa
wau sajroning puri.</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu Kencana pany ananira
kang Raka Sri Bupati
estu mejahana</poem>}}<noinclude>{{rh|||195}}</noinclude>
e2v000nozb6hl63nb1o5e2gi55f40np
Kaca:Babad Prayud I.pdf/201
250
24706
77380
2026-05-15T12:57:09Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77380
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::ny empala pelem sapang
::lurubana ywa katawis
::amor larahan
::sigra binekta aglis.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Tan ketara tinunggu mring Setrajaya
pan api-api ngising
kalangkung asamar
gelar agora-godha
nanging langkung gobag-gabig
Ki Jangkungpacar
tan betah mambu tai.</poem>
|<poem>Setrajaya sigra matur mring wedana
Ki Lurah gobag-gabig
pan panggenan tinja
inggih -iaren punika
lamun dangu sawatawis
keni ing sawan
Tumenggung ngandika ris.</poem>
|<poem>Lah undangen Martagati Suranata
kang tinimbalan prapti
angling Raden Sasra
Martagati umpetna
ya Ki Lurah Jangkung iki
Ratu Kencana
kang mungseng angulati.</poem>
|<poem>Katemua nora wurung den sesempal
matur Ki Martagati
pan inggih sandika
nanging ta wedal kula
sangking ngriki kadipundi
bilih kenangan
wong kraton ting saliri.</poem>
|<poem>Paparentah wau Ki Tumenggung Sasra</poem>}}<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude>
gk97w64l2kcqjj6mixcr063zi9idema
78246
77380
2026-05-16T09:15:42Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78246
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::nyempala pelem sapang
::lurubana ywa katawis
::amor larahan
::sigra binekta aglis.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=20
|<poem>Tan ketara tinunggu mring Setrajaya
pan api-api ngising
kalangkung asamar
gelar agora-godha
nanging langkung gobag-gabig
Ki Jangkungpacar
tan betah mambu tai.</poem>
|<poem>Setrajaya sigra matur mring wedana
Ki Lurah gobag-gabig
pan panggenan tinja
inggih -iaren punika
lamun dangu sawatawis
keni ing sawan
Tumenggung ngandika ris.</poem>
|<poem>Lah undangen Martagati Suranata
kang tinimbalan prapti
angling Raden Sasra
Martagati umpetna
ya Ki Lurah Jangkung iki
Ratu Kencana
kang mungseng angulati.</poem>
|<poem>Katemua nora wurung den sesempal
matur Ki Martagati
pan inggih sandika
nanging ta wedal kula
sangking ngriki kadipundi
bilih kenangan
wong kraton ting saliri.</poem>
|<poem>Paparentah wau Ki Tumenggung Sasra</poem>}}<noinclude>{{rh|||199}}</noinclude>
nuqkjekydmzd2yum6s7o67vyqu28rr2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/202
250
24707
77381
2026-05-15T12:59:03Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77381
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::bebisik ting kalesik
::tumpeng bodhang iya
::udhuna maring jodhang
::pan bodhag gedhe puniki
::bodhag Banyumas
::sedheng Ki Jangkung pasthi.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Sigra wau Ki Jangkung dinekek bodhag
ndhekukul tan katawis
nulya rinuruban
ing godhong langkung samar
ginotong lawan kuwali
kapindha pindhang
ing Suranatan prapti.
|<poem> Duk langkunge ing regol tan ana nyana
wong tinarka kendhuri
tan wruh yen manungsa
Ki Lurah Jangkungpacar
neng wismane Martagati
ing Suranatan
sinamar dennya linggih.
|<poem>Neng babragan mor kalemuk kendhi kathah
ling aling tampah miring
wus samar tan ana
nerka ana manungsa
ingaran dhedherek pasthi
dudu manungsa
yen ora antu bumi.
|<poem>Kawuwusa Sang Nata ing lampahira
wuwuh-wuwuh kang abdi
lurah kawandasa
kang kemit. niung satunggal
lawan wong gamel satunggil
nusul kapanggya
200
PNRI
bp
Balai Pustaka<noinclude>{{rh|200}}</noinclude>
ceofq9krmibglu78mzljs0bbm1ay262
77382
77381
2026-05-15T12:59:36Z
Khusna Safira
1759
77382
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::bebisik ting kalesik
::tumpeng bodhang iya
::udhuna maring jodhang
::pan bodhag gedhe puniki
::bodhag Banyumas
::sedheng Ki Jangkung pasthi.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Sigra wau Ki Jangkung dinekek bodhag
ndhekukul tan katawis
nulya rinuruban
ing godhong langkung samar
ginotong lawan kuwali
kapindha pindhang
ing Suranatan prapti.</poem>
|<poem> Duk langkunge ing regol tan ana nyana
wong tinarka kendhuri
tan wruh yen manungsa
Ki Lurah Jangkungpacar
neng wismane Martagati
ing Suranatan
sinamar dennya linggih.</poem>
|<poem>Neng babragan mor kalemuk kendhi kathah
ling aling tampah miring
wus samar tan ana
nerka ana manungsa
ingaran dhedherek pasthi
dudu manungsa
yen ora antu bumi.</poem>
|<poem>Kawuwusa Sang Nata ing lampahira
wuwuh-wuwuh kang abdi
lurah kawandasa
kang kemit. niung satunggal
lawan wong gamel satunggil
nusul kapanggya</poem>}}<noinclude>{{rh|200}}</noinclude>
j0x1f3npleqfce7qpv7jqk4gmjy81ct
78247
77382
2026-05-16T09:15:57Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78247
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::bebisik ting kalesik
::tumpeng bodhang iya
::udhuna maring jodhang
::pan bodhag gedhe puniki
::bodhag Banyumas
::sedheng Ki Jangkung pasthi.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=25
|<poem>Sigra wau Ki Jangkung dinekek bodhag
ndhekukul tan katawis
nulya rinuruban
ing godhong langkung samar
ginotong lawan kuwali
kapindha pindhang
ing Suranatan prapti.</poem>
|<poem> Duk langkunge ing regol tan ana nyana
wong tinarka kendhuri
tan wruh yen manungsa
Ki Lurah Jangkungpacar
neng wismane Martagati
ing Suranatan
sinamar dennya linggih.</poem>
|<poem>Neng babragan mor kalemuk kendhi kathah
ling aling tampah miring
wus samar tan ana
nerka ana manungsa
ingaran dhedherek pasthi
dudu manungsa
yen ora antu bumi.</poem>
|<poem>Kawuwusa Sang Nata ing lampahira
wuwuh-wuwuh kang abdi
lurah kawandasa
kang kemit. niung satunggal
lawan wong gamel satunggil
nusul kapanggya</poem>}}<noinclude>{{rh|200}}</noinclude>
azlwxgcrhenttkm94rwn490pncafdwn
Kaca:Babad Prayud I.pdf/203
250
24708
77383
2026-05-15T13:00:01Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "lan tamtama kekalih. 29. Mung punika malih-malih datan ana gugup kidul margeki prapteng loji panggya Uprup angungun mulat ing solahe Sri Bupati gugup agiras kadya kaburu jurit. 30. Sri Narendra sigra ingaturan lenggah Uprup sigra amanggil mring ajidanira Bonggareken wus prapta dragunder kinen milihi nenem kewala kang jarod-jarod sami. 31. Sri Narendra ngandika yen antenana sun amanggil bupati lan si Mangkupraja iku kang ngiring sira mandhega ing...
77383
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>lan tamtama kekalih.
29.
Mung punika malih-malih datan ana
gugup kidul margeki
prapteng loji panggya
Uprup angungun mulat
ing solahe Sri Bupati
gugup agiras
kadya kaburu jurit.
30.
Sri Narendra sigra ingaturan lenggah
Uprup sigra amanggil
mring ajidanira
Bonggareken wus prapta
dragunder kinen milihi
nenem kewala
kang jarod-jarod sami.
31.
Sri Narendra ngandika yen antenana
sun amanggil bupati
lan si Mangkupraja
iku kang ngiring sira
mandhega ing Srimanganti
kang manjing pura
iya sira pribadi.
32.
Ajidan Bonggarek dinuta ing Nata
nimbali kyana patih
Tumenggung Rungbinang
miwah Ki Wiradigda
prapta nggen rikatan sami
kang ingandikan
wus sami prapteng loji.
33.
Dhinawuhan katri punggawa ngiringa
Uprup malebeng puri
nanging ta mandhega
ing Srimanganti padha
201
PNRI<noinclude></noinclude>
nbbje6qc2r36kjji4of64x3igah7tfe
77385
77383
2026-05-15T13:02:09Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77385
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::lan tamtama kekalih.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem>Mung punika malih-malih datan ana
gugup kidul margeki
prapteng loji panggya
Uprup angungun mulat
ing solahe Sri Bupati
gugup agiras
kadya kaburu jurit.</poem>
|<poem>Sri Narendra sigra ingaturan lenggah
Uprup sigra amanggil
mring ajidanira
Bonggareken wus prapta
dragunder kinen milihi
nenem kewala
kang jarod-jarod sami.</poem>
|<poem>Sri Narendra ngandika yen antenana
sun amanggil bupati
lan si Mangkupraja
iku kang ngiring sira
mandhega ing Srimanganti
kang manjing pura
iya sira pribadi.</poem>
|<poem>Ajidan Bonggarek dinuta ing Nata
nimbali ky ana patih
Tumenggung Rungbinang
miwah Ki Wiradigda
prapta nggen rikatan sami
kang ingandikan
wus sami prapteng loji.</poem>
|<poem>Dhinawuhan katri punggawa ngiringa
Uprup malebeng puri
nanging ta mandhega
ing Srimanganti padha</poem>}}<noinclude>{{rh|||201}}</noinclude>
7npbogbe9115fu2gdfbz0hughf4l1s0
78248
77385
2026-05-16T09:16:14Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78248
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::lan tamtama kekalih.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=29
|<poem>Mung punika malih-malih datan ana
gugup kidul margeki
prapteng loji panggya
Uprup angungun mulat
ing solahe Sri Bupati
gugup agiras
kadya kaburu jurit.</poem>
|<poem>Sri Narendra sigra ingaturan lenggah
Uprup sigra amanggil
mring ajidanira
Bonggareken wus prapta
dragunder kinen milihi
nenem kewala
kang jarod-jarod sami.</poem>
|<poem>Sri Narendra ngandika yen antenana
sun amanggil bupati
lan si Mangkupraja
iku kang ngiring sira
mandhega ing Srimanganti
kang manjing pura
iya sira pribadi.</poem>
|<poem>Ajidan Bonggarek dinuta ing Nata
nimbali kyana patih
Tumenggung Rungbinang
miwah Ki Wiradigda
prapta nggen rikatan sami
kang ingandikan
wus sami prapteng loji.</poem>
|<poem>Dhinawuhan katri punggawa ngiringa
Uprup malebeng puri
nanging ta mandhega
ing Srimanganti padha</poem>}}<noinclude>{{rh|||201}}</noinclude>
dzr2094xfnzwlnf2k0rgvog6njgeqz5
Kaca:Babad Prayud I.pdf/204
250
24709
77384
2026-05-15T13:00:44Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77384
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>nggawaa tandhu sireki
dergunderira
Uprup kenem wus prapti.
34.
Sigra mangkat satelase kang pitungkas
Sang Nata angaturi
Ratu Maduretna
bilih wangkot kang putra
awawan lawan kumpeni
wau lampahnya
Uprup wus prapteng puri.
35.
Kiya Patih katri pra para punggawa
kendel ing Srimanganti
regol sampun menga
Uprup malebet panggya
lawan wedana kang kemit
Tumenggung Sasra
pan sampun den jarwani.
36. Kangjeng Ratu wus dangu manjing ing pura
duk tan panggih ngulati
marang Jangkungpacar
dennya kondur ngadhatyan
kori pringgitan kinancing
Ratu Kencana
tan eca tyasireki.
37.
Uprup Beman sampun prapti paringgitan
sang dragundere sami
minggah paringgitan
ndhodhog aminta lawang
wong jro pura geger sami
Walanda prapti
ndhodhog aminta kori.
38. Jelih-jelih Uprup dennya minta lawang
tan ana kang nyauri
202
PNRI<noinclude></noinclude>
39xttgd18eoh2gbcmyt7m36savwj3r1
77387
77384
2026-05-15T13:03:29Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77387
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>nggawaa tandhu sireki
dergunderira
Uprup kenem wus prapti.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>
Sigra mangkat satelase kang pitungkas
Sang Nata angaturi
Ratu Maduretna
bilih wangkot kang putra
awawan lawan kumpeni
wau lampahnya
Uprup wus prapteng puri.
</poem>
|<poem>
Kiya Patih katri pra para punggawa
kendel ing Srimanganti
regol sampun menga
Uprup malebet panggya
lawan wedana kang kemit
Tumenggung Sasra
pan sampun den jarwani.
</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu wus dangu manjing ing pura
duk tan panggih ngulati
marang Jangkungpacar
dennya kondur ngadhatyan
kori pringgitan kinancing
Ratu Kencana
tan eca tyasireki.
</poem>
|<poem>
Uprup Beman sampun prapti paringgitan
sang dragundere sami
minggah paringgitan
ndhodhog aminta lawang
wong jro pura geger sami
Walanda prapti
ndhodhog aminta kori.
</poem>
|<poem>Jelih-jelih Uprup dennya minta lawang
tan ana kang nyauri
</poem>}}<noinclude>{{rh|202}}</noinclude>
7rlhql9wrr8wjkuf2otuutrxmb1b1q5
78249
77387
2026-05-16T09:16:29Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78249
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>nggawaa tandhu sireki
dergunderira
Uprup kenem wus prapti.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=34
|<poem>
Sigra mangkat satelase kang pitungkas
Sang Nata angaturi
Ratu Maduretna
bilih wangkot kang putra
awawan lawan kumpeni
wau lampahnya
Uprup wus prapteng puri.
</poem>
|<poem>
Kiya Patih katri pra para punggawa
kendel ing Srimanganti
regol sampun menga
Uprup malebet panggya
lawan wedana kang kemit
Tumenggung Sasra
pan sampun den jarwani.
</poem>
|<poem>Kangjeng Ratu wus dangu manjing ing pura
duk tan panggih ngulati
marang Jangkungpacar
dennya kondur ngadhatyan
kori pringgitan kinancing
Ratu Kencana
tan eca tyasireki.
</poem>
|<poem>
Uprup Beman sampun prapti paringgitan
sang dragundere sami
minggah paringgitan
ndhodhog aminta lawang
wong jro pura geger sami
Walanda prapti
ndhodhog aminta kori.
</poem>
|<poem>Jelih-jelih Uprup dennya minta lawang
tan ana kang nyauri
</poem>}}<noinclude>{{rh|202}}</noinclude>
shfpjoacaxpenv8un2oto6hzk1o4v96
Kaca:Babad Prayud I.pdf/205
250
24710
77386
2026-05-15T13:02:36Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "Jeng Ratu prayitna kang ngadhep sami bubar amung pepitu kang kari ndhrodhog sadaya wuri ing kanan kering 39. Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga dhuwunge kyai Boji wau Uprup Beman langkung kaku tyasira kang kori dipun jejegi ambal ping tiga njeplok tapele wesi. 40. Dipun dhupak kaping pat sigar marapat rebah kori sasisih Uprup lebetira sadragundere samya nenem kapitanireki ajidanira Bonggareken ndhingini. 41. Aneng kanan korine Uprup Beiman majeng man...
77386
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>Jeng Ratu prayitna
kang ngadhep sami bubar
amung pepitu kang kari
ndhrodhog sadaya
wuri ing kanan kering
39. Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga
dhuwunge kyai Boji
wau Uprup Beman
langkung kaku tyasira
kang kori dipun jejegi
ambal ping tiga
njeplok tapele wesi.
40. Dipun dhupak kaping pat sigar marapat
rebah kori sasisih
Uprup lebetira
sadragundere samya
nenem kapitanireki
ajidanira
Bonggareken ndhingini.
41. Aneng kanan korine Uprup Beiman
majeng mangilen sami
mung ajidanira
neng ler ngidul ajengnya
Jeng Ratu ngandika runtik
Heh Uprup sira
arep nyekel ing marni.
42.
Lah cacaken den parek arebut pejah
rok bandawala pati
dumeh yen wanita
sira arsa meganga
Uprup aturira aris
inggih ta mangsa
kula jrih angemasi.
203
PNRI<noinclude></noinclude>
r2q6bu2isgxvkme8z26b1jaq9f8zra9
77389
77386
2026-05-15T13:05:05Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77389
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>::Jeng Ratu prayitna
::kang ngadhep sami bubar
::amung pepitu kang kari
::ndhrodhog sadaya
::wuri ing kanan kering
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga
dhuwunge kyai Boji
wau Uprup Beman
langkung kaku tyasira
kang kori dipun jejegi
ambal ping tiga
njeplok tapele wesi.</poem>
|<poem>Dipun dhupak kaping pat sigar marapat
rebah kori sasisih
Uprup lebetira
sadragundere samy a
nenem kapitanireki
ajidanira
Bonggareken ndhing ini.</poem>
|<poem>Aneng kanan korine Uprup Beiman
majeng mangilen sami
mung ajidanira
neng ler ngidul ajengnya
Jeng Ratu ngandika runtik
Heh Uprup sira
arep nyekel ing mami.</poem>
|<poem>Lah cacaken den parek arebut pejah
rok bandawala pati
dumeh yen wanita
sira arsa meganga
Uprup aturira aris
inggih ta mangsa
kula jrih angemasi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude>
4cnrnwsnhg8b5jp4tzziaav7h30d0zx
78250
77389
2026-05-16T09:16:36Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78250
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::Jeng Ratu prayitna
::kang ngadhep sami bubar
::amung pepitu kang kari
::ndhrodhog sadaya
::wuri ing kanan kering
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga
dhuwunge kyai Boji
wau Uprup Beman
langkung kaku tyasira
kang kori dipun jejegi
ambal ping tiga
njeplok tapele wesi.</poem>
|<poem>Dipun dhupak kaping pat sigar marapat
rebah kori sasisih
Uprup lebetira
sadragundere samy a
nenem kapitanireki
ajidanira
Bonggareken ndhing ini.</poem>
|<poem>Aneng kanan korine Uprup Beiman
majeng mangilen sami
mung ajidanira
neng ler ngidul ajengnya
Jeng Ratu ngandika runtik
Heh Uprup sira
arep nyekel ing mami.</poem>
|<poem>Lah cacaken den parek arebut pejah
rok bandawala pati
dumeh yen wanita
sira arsa meganga
Uprup aturira aris
inggih ta mangsa
kula jrih angemasi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude>
oijrypapv0fazvs0ytgfbhmlth0t8iz
78251
78250
2026-05-16T09:16:44Z
Elcamatcha
1466
78251
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>::Jeng Ratu prayitna
::kang ngadhep sami bubar
::amung pepitu kang kari
::ndhrodhog sadaya
::wuri ing kanan kering
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Kangjeng Ratu angadeg sarwi angliga
dhuwunge kyai Boji
wau Uprup Beman
langkung kaku tyasira
kang kori dipun jejegi
ambal ping tiga
njeplok tapele wesi.</poem>
|<poem>Dipun dhupak kaping pat sigar marapat
rebah kori sasisih
Uprup lebetira
sadragundere samya
nenem kapitanireki
ajidanira
Bonggareken ndhing ini.</poem>
|<poem>Aneng kanan korine Uprup Beiman
majeng mangilen sami
mung ajidanira
neng ler ngidul ajengnya
Jeng Ratu ngandika runtik
Heh Uprup sira
arep nyekel ing mami.</poem>
|<poem>Lah cacaken den parek arebut pejah
rok bandawala pati
dumeh yen wanita
sira arsa meganga
Uprup aturira aris
inggih ta mangsa
kula jrih angemasi.</poem>}}<noinclude>{{rh|||203}}</noinclude>
36vmcd4f368udfbxojp9y8qh8gsgk0b
Kaca:Babad Prayud I.pdf/208
250
24711
77388
2026-05-15T13:04:14Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77388
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kapriye Mangkupraja
iya apa ingsun bali
apa banjura
ngong iki den timbali.
53. Adipati Mangkupraja aturira
inggih sampeyan bali
pan putra panduka
punika kula bekta
ing dalem sampeyan mangkin
wangsul seksana
Ratu Maduretneki.
54.
Sareng lampah Ratu wus tebah neng ngarsa
tan miyarsa buneki
kapethuk ing marga
wangsul lumakyeng wuntat
Kaendranatan wus prapti
penandhon sigra
manjing dalemireki.
55.
Ingkang bibi sapraptaning palataran
kagyat tedhakireki
kang ibu gya prapta
ngungun anjetung samya
ragane tukar sireki
ujarku apa
tan lidok wuwus marni.
56. Aja anggegampang dumeb laki kadang
kang putra arsa njerit
anulya cinandhak
binekteng dalem sigra
prapta wus tata alinggih
weiitising putra
tinindhihan buneki.
57. Punggawa tri wangsul aneng paregolan
206
PNRI<noinclude></noinclude>
rzz926pmazdr5ufwef1hfhl45ndrv51
77391
77388
2026-05-15T13:06:45Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77391
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>kapriye Mangkupraja
iya apa ingsun bali
apa banjura
ngong iki den timbali.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53
|<poem>
Adipati Mangkupraja aturira
inggih sampeyan bali
pan putra panduka
punika kula bekta
ing dalem sampeyan mangkin
wangsul seksana
Ratu Maduretneki.
</poem>
|<poem>
Sareng lampah Ratu wus tebah neng ngarsa
tan miyarsa buneki
kapethuk ing marga
wangsul lumakyeng wuntat
Kaendranatan wus prapti
penandhon sigra
manjing dalemireki.
</poem>
|<poem>
Ingkang bibi sapraptaning palataran
kagyat tedhakireki
kang ibu gya prapta
ngungun anjetung samya
ragane tukar sireki
ujarku apa
tan lidok wuwus marni.
</poem>
|<poem>Aja anggegampang dumeb laki kadang
kang putra arsa njerit
anulya cinandhak
binekteng dalem sigra
prapta wus tata alinggih
weiitising putra
tinindhihan buneki.</poem>
|<poem>Punggawa tri wangsul aneng paregolan</poem>}}<noinclude>{{rh|206}}</noinclude>
nsa42ybnyhzw8ymxiulkvi22zsqhtxu
78255
77391
2026-05-16T09:17:35Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78255
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude><poem><ol>kapriye Mangkupraja
iya apa ingsun bali
apa banjura
ngong iki den timbali.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=53
|<poem>
Adipati Mangkupraja aturira
inggih sampeyan bali
pan putra panduka
punika kula bekta
ing dalem sampeyan mangkin
wangsul seksana
Ratu Maduretneki.
</poem>
|<poem>
Sareng lampah Ratu wus tebah neng ngarsa
tan miyarsa buneki
kapethuk ing marga
wangsul lumakyeng wuntat
Kaendranatan wus prapti
penandhon sigra
manjing dalemireki.
</poem>
|<poem>
Ingkang bibi sapraptaning palataran
kagyat tedhakireki
kang ibu gya prapta
ngungun anjetung samya
ragane tukar sireki
ujarku apa
tan lidok wuwus marni.
</poem>
|<poem>Aja anggegampang dumeb laki kadang
kang putra arsa njerit
anulya cinandhak
binekteng dalem sigra
prapta wus tata alinggih
weiitising putra
tinindhihan buneki.</poem>
|<poem>Punggawa tri wangsul aneng paregolan</poem>}}<noinclude>{{rh|206}}</noinclude>
6vg5cmbnntokt8z0ad1cxuy4erdsflx
Kaca:Babad Prayud I.pdf/130
250
24712
77390
2026-05-15T13:05:28Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "wong legiyan iki kabeh ana wong telung puluh pra dipati pasisir iki para ngabei demang kabeh pra tumenggung serep ing semu myang cahya lan wong papat duta ing Surakarteki lan duta ing Ngayogja. 39. Iku duta ing Surakarteki Wiradigda lan Sasradiningrat caraka Ngayogja kuwe agedhe-gedhe dhuwur Pakuningrat lan Sindurjeki lah iya sabab apa padha manungseku angarekaken wong kathah pra dipati pasisir kapati-pati kacek rupa myang cahya. 40. Wanguning tan o...
77390
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>wong legiyan iki kabeh
ana wong telung puluh
pra dipati pasisir iki
para ngabei demang
kabeh pra tumenggung
serep ing semu myang cahya
lan wong papat duta ing Surakarteki
lan duta ing Ngayogja.
39.
Iku duta ing Surakarteki
Wiradigda lan Sasradiningrat
caraka Ngayogja kuwe
agedhe-gedhe dhuwur
Pakuningrat lan Sindurjeki
lah iya sabab apa
padha manungseku
angarekaken wong kathah
pra dipati pasisir kapati-pati
kacek rupa myang cahya.
40. Wanguning tan oga kula gusti
iya dene ta padha wong Jawa
saijab-ijab kaceke
tan nganggo undha-usuk
Bestam mesem dennya nauri
kari wong pepilihan
punggawaning ratu
sanadyan sami bagusa
cedhak raja ing cahya kaot sayekti
sumringah mangah-mangah.
41.
Tuwan sampun adate ing nguni
ratu Jawa pan sugih derajat
turasing tapa wijile
tur karembesan madu
anrep terah andana warih
yen Tuwan amadhakna
128
PNRI<noinclude></noinclude>
cdtdcom3amdpvk89755twqg5qjlui28
77392
77390
2026-05-15T13:07:02Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77392
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
::wong legiyan iki kabeh
::ana wong telung puluh
::pra dipati pasisir iki
::para ngabei demang
::kabeh pra tumenggung
::serep ing semu my ang cahya
::lan wong papat duta ing Surakarteki
::lan duta ing Ngayogja.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Iku duta ing Surakarteki
Wiradigda lan Sasradiningrat
caraka Ngayogja kuwe
agedhe-gedhe dhuwur
Pakuningrat lan Sindurjeki
lah iya sabab apa
padha manungseku
angarekaken wong kathah
pra dipati pasisir kapati-pati
kacek rupa my ang cahya.</poem>
|<poem>Wanguning tan oga kula gusti
iya dene ta padha wong Jawa
saijab-ijab kaceke
tan nganggo undha-usuk
Bestam mesem dennya nauri
kari wong pepilihan
punggawaning ratu
sanadyan sami bagusa
cedhak raja ing cahya kaot sayekti
sumringah mangah-mangah.</poem>
|<poem>Tuwan sampun adate ing nguni
ratu Jawa pan sugih derajat
turasing tapa wijile
tur karembesan madu
anrep terah andana warih
yen Tuwan amadhakna</poem>}}<noinclude>{{rh|128}}</noinclude>
k7u12144r8zrw7ihd0nvoxbesr8f3ut
77394
77392
2026-05-15T13:07:27Z
Khusna Safira
1759
77394
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
:::wong legiyan iki kabeh
:::ana wong telung puluh
:::pra dipati pasisir iki
:::para ngabei demang
:::kabeh pra tumenggung
:::serep ing semu my ang cahya
:::lan wong papat duta ing Surakarteki
:::lan duta ing Ngayogja.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Iku duta ing Surakarteki
Wiradigda lan Sasradiningrat
caraka Ngayogja kuwe
agedhe-gedhe dhuwur
Pakuningrat lan Sindurjeki
lah iya sabab apa
padha manungseku
angarekaken wong kathah
pra dipati pasisir kapati-pati
kacek rupa my ang cahya.</poem>
|<poem>Wanguning tan oga kula gusti
iya dene ta padha wong Jawa
saijab-ijab kaceke
tan nganggo undha-usuk
Bestam mesem dennya nauri
kari wong pepilihan
punggawaning ratu
sanadyan sami bagusa
cedhak raja ing cahya kaot sayekti
sumringah mangah-mangah.</poem>
|<poem>Tuwan sampun adate ing nguni
ratu Jawa pan sugih derajat
turasing tapa wijile
tur karembesan madu
anrep terah andana warih
yen Tuwan amadhakna</poem>}}<noinclude>{{rh|128}}</noinclude>
5rx4sp0c10g29tvyolizb8mrjep1bq4
77934
77394
2026-05-15T21:06:29Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77934
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::wong legiyan iki kabeh
:::ana wong telung puluh
:::pra dipati pasisir iki
:::para ngabei demang
:::kabeh pra tumenggung
:::serep ing semu my ang cahya
:::lan wong papat duta ing Surakarteki
:::lan duta ing Ngayogja.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=39
|<poem>Iku duta ing Surakarteki
Wiradigda lan Sasradiningrat
caraka Ngayogja kuwe
agedhe-gedhe dhuwur
Pakuningrat lan Sindurjeki
lah iya sabab apa
padha manungseku
angarekaken wong kathah
pra dipati pasisir kapati-pati
kacek rupa my ang cahya.</poem>
|<poem>Wanguning tan oga kula gusti
iya dene ta padha wong Jawa
saijab-ijab kaceke
tan nganggo undha-usuk
Bestam mesem dennya nauri
kari wong pepilihan
punggawaning ratu
sanadyan sami bagusa
cedhak raja ing cahya kaot sayekti
sumringah mangah-mangah.</poem>
|<poem>Tuwan sampun adate ing nguni
ratu Jawa pan sugih derajat
turasing tapa wijile
tur karembesan madu
anrep terah andana warih
yen Tuwan amadhakna</poem>}}<noinclude>{{rh|128}}</noinclude>
ht84cdrolvltglgxeatw9q9hb20gkfb
Kaca:Babad Prayud I.pdf/155
250
24713
77393
2026-05-15T13:07:11Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77393
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kadi den rayah ing belis
sirna gempang kang kantun mung karowodan.
46. Wau Dipati Danureja
angguguk gujengireki
bonggan gawe sira nyawa
maling den sandhingi gunting
apa tan ngrungu warti
iya dhedhayohireku
iku kang duwe bala
Adipati Guritwesi
salimaha wong neracak den gegalak.
47.
Wong alunyat lelonyotan
sira ingkang nyelawati
wong ladak sira angajak
mbeyani buyan sireki
penyakit den sesengit
andadra gecul akumpul
dadi sira kang njarag
ngulik-ulik macan ndhelik
tangi nggero dene kudu kagegeran.
48. Gora-gora garawalan
aweh weruh maring marni
panggawe wus sira maha
ma une tan neniteni
met keris dudu jenis
nggrejeg dudu wong Yogjeku
tamu wong Surakarta
ketara olehe wani
wawan-wawan temahan sira katawan.
49.
Adipati si Danurja
animbali Sinduijeki
wadana jro kalih prapta
wau aneng pancaniti
153
PNRI<noinclude></noinclude>
mipstva6xfwycdtisst6y5o5je4yzp1
77397
77393
2026-05-15T13:09:28Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77397
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>kadi den rayah ing belis
sirna gempang kang kantun mung karowodan.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=46
|<poem>
Wau Dipati Danureja
angguguk gujengireki
bonggan gawe sira nyawa
maling den sandhingi gunting
apa tan ngrungu warti
iya dhedhayohireku
iku kang duwe bala
Adipati Guritwesi
salimaha wong neracak den gegalak.
</poem>
|<poem>
Wong alunyat lelonyotan
sira ingkang nyelawati
wong ladak sira angajak
mbeyani buyan sireki
penyakit den sesengit
andadra gecul akumpul
dadi sira kang njarag
ngulik-ulik macan ndhelik
tangi nggero dene kudu kagegeran.
</poem>
|<poem>Gora-gora garawalan
aweh weruh maring marni
panggawe wus sira maha
ma une tan neniteni
met keris dudu jenis
nggrejeg dudu wong Yogjeku
tamu wong Surakarta
ketara olehe wani
wawan-wawan temahan sira katawan.
</poem>
|<poem>
Adipati si Danurja
animbali Sinduijeki
wadana jro kalih prapta
wau aneng pancaniti
</poem>}}<noinclude>{{rh|||153}}</noinclude>
l8a88xtbgoa0b8tv1d6eycsa1urt3ht
78037
77397
2026-05-16T02:59:21Z
Khusna Safira
1759
/* Absah */
78037
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem><ol>kadi den rayah ing belis
sirna gempang kang kantun mung karowodan.</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=46
|<poem>
Wau Dipati Danureja
angguguk gujengireki
bonggan gawe sira nyawa
maling den sandhingi gunting
apa tan ngrungu warti
iya dhedhayohireku
iku kang duwe bala
Adipati Guritwesi
salimaha wong neracak den gegalak.
</poem>
|<poem>
Wong alunyat lelonyotan
sira ingkang nyelawati
wong ladak sira angajak
mbeyani buyan sireki
penyakit den sesengit
andadra gecul akumpul
dadi sira kang njarag
ngulik-ulik macan ndhelik
tangi nggero dene kudu kagegeran.
</poem>
|<poem>Gora-gora garawalan
aweh weruh maring marni
panggawe wus sira maha
ma une tan neniteni
met keris dudu jenis
nggrejeg dudu wong Yogjeku
tamu wong Surakarta
ketara olehe wani
wawan-wawan temahan sira katawan.
</poem>
|<poem>
Adipati si Danurja
animbali Sinduijeki
wadana jro kalih prapta
wau aneng pancaniti
</poem>}}<noinclude>{{rh|||153}}</noinclude>
199486pzcehkerct345bejp631agmgs
Kaca:Babad Prayud I.pdf/131
250
24714
77395
2026-05-15T13:07:45Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "lawan ratu-ratu nagri kang sami ngideran ing samodra Hindiya yekti tan sami Tuwan lain bageyan. 42 . Manthuk-manthuk ngungun sekretaris mandeng mulat maring bupati kathah pamandenge wekasane mring sekawan tumenggung duteng Yogja Surakarteki mesem kesengsem mulat mring Wiradigdeku miwah mring Sasradiningrat Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki Kayugja parasmara. 129 PNRI"
77395
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>lawan ratu-ratu
nagri kang sami ngideran
ing samodra Hindiya yekti tan sami
Tuwan lain bageyan.
42 .
Manthuk-manthuk ngungun sekretaris
mandeng mulat maring bupati kathah
pamandenge wekasane
mring sekawan tumenggung
duteng Yogja Surakarteki
mesem kesengsem mulat
mring Wiradigdeku
miwah mring Sasradiningrat
Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki
Kayugja parasmara.
129
PNRI<noinclude></noinclude>
tbmadmcpmxc7kdcwy6ymg5et4cesvd1
77396
77395
2026-05-15T13:09:04Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77396
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude><poem>
:::lawan ratu-ratu
:::nagri kang sami ngideran
:::ing samodra Hindiya yekti tan sami
:::Tuwan lain bageyan.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42
|<poem>Manthuk-manthuk ngungun sekretaris
mandeng mulat maring bupati kathah
pamandenge wekasane
mring sekawan tumenggung
duteng Yogja Surakarteki
mesem kesengsem mulat
mring Wiradigdeku
miwah mring Sasradiningrat
Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki
Kayugja parasmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||129}}</noinclude>
iocxgwpzvpolmqemnc7w61gtn0uexpy
77935
77396
2026-05-15T21:07:07Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
77935
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude><poem>
:::lawan ratu-ratu
:::nagri kang sami ngideran
:::ing samodra Hindiya yekti tan sami
:::Tuwan lain bageyan.
</poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42
|<poem>Manthuk-manthuk ngungun sekretaris
mandeng mulat maring bupati kathah
pamandenge wekasane
mring sekawan tumenggung
duteng Yogja Surakarteki
mesem kesengsem mulat
mring Wiradigdeku
miwah mring Sasradiningrat
Pangran Pakuningrat lawan Sindurjeki
Kayugja parasmara.</poem>}}<noinclude>{{rh|||129}}</noinclude>
b9ka2hzwcfrlnu95is35ael0ftccrx2
Kaca:Babad Prayud I.pdf/154
250
24715
77398
2026-05-15T13:09:28Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "42. Katur ing Sang Adipatya pan anuju Senen Paing Adipati Danureja Lurah Tandha tur udani yen pasar den rusuhi gegeran kadi pinusus tetamu Surakarta rencange samya ngrayahi pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang. 43. Sami misesa rekasa kang tan aweh den gebugi panggebuge ngarah-arah tan wonten liyane gigir gumujeng Ki Dipati Danureja lon andangu kang dadi kawit apa gegere pasarmu iki iya apa banjur den rayah kewala. 44. Lurah Tandha matu...
77398
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>42.
Katur ing Sang Adipatya
pan anuju Senen Paing
Adipati Danureja
Lurah Tandha tur udani
yen pasar den rusuhi
gegeran kadi pinusus
tetamu Surakarta
rencange samya ngrayahi
pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang.
43.
Sami misesa rekasa
kang tan aweh den gebugi
panggebuge ngarah-arah
tan wonten liyane gigir
gumujeng Ki Dipati
Danureja lon andangu
kang dadi kawit apa
gegere pasarmu iki
iya apa banjur den rayah kewala.
44.
Lurah Tandha matur nembah
pukulun ingkang dadya wit
tetiyang Mangkunagaran
leledhang tiyang satunggil
abebed sarung Bugis
cindhe bang pangingsetipun
pendhok mas tatah sawat
mas tuwa atunggak semi
den larangi dhateng Kabayan Ketandhan.
45.
Dhuwung sinendhal tan kena
nolih bareng narik keris
punika gegere pasar
kadi sampun den adhepi
pawadeyan pra sami
sirna beskup wus kakukup
isining peken samya
152
PNRI<noinclude></noinclude>
5sw0fao70mqbkje2kjg0fq40okoorv4
77400
77398
2026-05-15T13:10:49Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77400
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42
|<poem>Katur ing Sang Adipatya
pan anuju Senen Paing
Adipati Danureja
Lurah Tandha tur udani
yen pasar den rusuhi
gegeran kadi pinusus
tetamu Surakarta
rencange samya ngrayahi
pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang.</poem>
|<poem>Sami misesa rekasa
kang tan aweh den gebugi
panggebuge ngarah-arah
tan wonten liyane gigir
gumujeng Ki Dipati
Danureja lon andangu
kang dadi kawit apa
gegere pasarmu iki
iya apa banjur den rayah kewala.</poem>
|<poem>Lurah Tandha matur nembah
pukulun ingkang dadya wit
tetiyang Mangkunagaran
leledhang tiyang satunggil
abebed sarung Bugis
cindhe bang pangingsetipun
pendhok mas tatah sawat
mas tuwa atunggak semi
den larangi dhateng Kabayan Ketandhan.</poem>
|<poem>Dhuwung sinendhal tan kena
nolih bareng narik keris
punika gegere pasar
kadi sampun den adhepi
pawadeyan pra sami
sima beskup wus kakukup
isining peken samya</poem>}}<noinclude>{{rh|152}}</noinclude>
rzvwjqjb4aht746hxuugnund77t1h3u
78217
77400
2026-05-16T09:10:43Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78217
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=42
|<poem>Katur ing Sang Adipatya
pan anuju Senen Paing
Adipati Danureja
Lurah Tandha tur udani
yen pasar den rusuhi
gegeran kadi pinusus
tetamu Surakarta
rencange samya ngrayahi
pinten-pinten wong kang nyunggi manggul sinjang.</poem>
|<poem>Sami misesa rekasa
kang tan aweh den gebugi
panggebuge ngarah-arah
tan wonten liyane gigir
gumujeng Ki Dipati
Danureja lon andangu
kang dadi kawit apa
gegere pasarmu iki
iya apa banjur den rayah kewala.</poem>
|<poem>Lurah Tandha matur nembah
pukulun ingkang dadya wit
tetiyang Mangkunagaran
leledhang tiyang satunggil
abebed sarung Bugis
cindhe bang pangingsetipun
pendhok mas tatah sawat
mas tuwa atunggak semi
den larangi dhateng Kabayan Ketandhan.</poem>
|<poem>Dhuwung sinendhal tan kena
nolih bareng narik keris
punika gegere pasar
kadi sampun den adhepi
pawadeyan pra sami
sima beskup wus kakukup
isining peken samya</poem>}}<noinclude>{{rh|152}}</noinclude>
mw4lnz9dbyx9di91ik35kbxl99m0p0j
Kaca:Bratayuda.pdf/46
250
24716
77399
2026-05-15T13:10:35Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77399
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>6. GATOTKACA TEWAS DALAM MENGHADAPI
DIPATI KARNA
Pagi hari, tanda-tanda perang telah berbunyi. Korawa berbon-
dong-bondong, keluar dari kubunya masing-masing bagaikan laut-
an yang sedang pasang naik.
Sang Prabu Yudistira sudah membawa pasukannya, gelar
rmasih seperti semula. Kedua pihak maju bersama, seperti pertemu-
an dua samudra. Tak terbilang banyaknya yang saling serbu. Sa-
ling kejar, saling desak, saling bunuh, prajurit bergulat sesama
prajurit. Suaranya hiruk-pikuk, pasukan saling mendesak. Yang
datang semakin banyak. Wrekodara dan Dananjaya mengamuk
memporak-porandakan lawan. Melepaskan panah, luncurannya
bagaikan hujan meratai bumi. Wrekodara melepaskan Bargawastra,
Prabu Yudistira melecut gajahnya, Perang itu berkepanjangan,
sampai matahari terbenam masih berlangsung. Seperti angin pu-
yuh bertemu menjadi satu. Dalam kehiruk-pikukan perang itu, ada
yang berseru-senu, "Aku temanmu!” ada pula yang memberi tahu
asabusulnya, "Aku orang Cempala!” ada yang mengaku orang
Wirata, orang Dwarawati, yang lain orang Astina atau orang Sa-
bang, membantu Astina, serta orang Mandaraka, dan orang
sehingga banyak yang menyebut negerinya masing-
Kemudian para satria atau para mantri pilihan, para raja ser-
ta bupati yang mengendarai kereta atau gajah, datang membawa
obor, tersebar Iuas seperti hujan api, menambah suasana kemerah-
an di tengah medan perang. Kuda dan gajah saling terjang, dan
yang berkereta Kembali ke tempatnya semula. Kedua belah pihak
seperti dipilih, lalu kembali ke tempat masing-masing.
Perang dimulai lagi, para raja masih utuh, demikian pula se-
‘mua raja undangan. Mereka maju dari tempatnya masing-masing.
Menggebu, menyerbu, diikuti sorak-sorai demikian ramai, Wreko-
dara menyerbu ke tengah-tengah musuh, hanya memilih para
49<noinclude></noinclude>
04zlmi8gqvllpeaywhkfpap4ai0v2xs
77402
77399
2026-05-15T13:16:19Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77402
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''6. GATOTKACA TEWAS DALAM MENGHADAPI<br>DIPATI KARNA'''}}
Pagi hari, tanda-tanda perang telah berbunyi. Korawa berbondong-bondong, keluar dari kubunya masing-masing bagaikan lautan yang sedang pasang naik.
Sang Prabu Yudistira sudah membawa pasukannya, gelar
rmasih seperti semula. Kedua pihak maju bersama, seperti pertemuan dua samudra. Tak terbilang banyaknya yang saling serbu. Saling kejar, saling desak, saling bunuh, prajurit bergulat sesama prajurit. Suaranya hiruk-pikuk, pasukan saling mendesak. Yang datang semakin banyak. Wrekodara dan Dananjaya mengamuk memporak-porandakan lawan. Melepaskan panah, luncurannya bagaikan hujan meratai bumi. Wrekodara melepaskan Bargawastra,
Prabu Yudistira melecut gajahnya, Perang itu berkepanjangan, sampai matahari terbenam masih berlangsung. Seperti angin puyuh bertemu menjadi satu. Dalam kehiruk-pikukan perang itu, ada yang berseru-senu, "Aku temanmu!” ada pula yang memberi tahu asal-usulnya, "Aku orang Cempala!” ada yang mengaku orang Wirata, orang Dwarawati, yang lain orang Astina atau orang Sabang, membantu Astina, serta orang Mandaraka, dan orang sehingga banyak yang menyebut negerinya masing-masing.
Kemudian para satria atau para mantri pilihan, para raja serta bupati yang mengendarai kereta atau gajah, datang membawa obor, tersebar luas seperti hujan api, menambah suasana kemerahan di tengah medan perang. Kuda dan gajah saling terjang, dan yang berkereta Kembali ke tempatnya semula. Kedua belah pihak seperti dipilih, lalu kembali ke tempat masing-masing.
Perang dimulai lagi, para raja masih utuh, demikian pula semua raja undangan. Mereka maju dari tempatnya masing-masing. Menggebu, menyerbu, diikuti sorak-sorai demikian ramai, Wrekodara menyerbu ke tengah-tengah musuh, hanya memilih para<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude>
ofe6az095xmix9uz1pkfg21l6w2wqd2
77502
77402
2026-05-15T15:26:13Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77502
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{C|'''6. GATOTKACA TEWAS DALAM MENGHADAPI<br>DIPATI KARNA'''}}
Pagi hari, tanda-tanda perang telah berbunyi. Korawa berbondong-bondong, keluar dari kubunya masing-masing bagaikan lautan yang sedang pasang naik.
Sang Prabu Yudistira sudah membawa pasukannya, gelar
rmasih seperti semula. Kedua pihak maju bersama, seperti pertemuan dua samudra. Tak terbilang banyaknya yang saling serbu. Saling kejar, saling desak, saling bunuh, prajurit bergulat sesama prajurit. Suaranya hiruk-pikuk, pasukan saling mendesak. Yang datang semakin banyak. Wrekodara dan Dananjaya mengamuk memporak-porandakan lawan. Melepaskan panah, luncurannya bagaikan hujan meratai bumi. Wrekodara melepaskan Bargawastra,
Prabu Yudistira melecut gajahnya, Perang itu berkepanjangan, sampai matahari terbenam masih berlangsung. Seperti angin puyuh bertemu menjadi satu. Dalam kehiruk-pikukan perang itu, ada yang berseru-senu, "Aku temanmu!” ada pula yang memberi tahu asal-usulnya, "Aku orang Cempala!” ada yang mengaku orang Wirata, orang Dwarawati, yang lain orang Astina atau orang Sabang, membantu Astina, serta orang Mandaraka, dan orang sehingga banyak yang menyebut negerinya masing-masing.
Kemudian para satria atau para mantri pilihan, para raja serta bupati yang mengendarai kereta atau gajah, datang membawa obor, tersebar luas seperti hujan api, menambah suasana kemerahan di tengah medan perang. Kuda dan gajah saling terjang, dan yang berkereta Kembali ke tempatnya semula. Kedua belah pihak seperti dipilih, lalu kembali ke tempat masing-masing.
Perang dimulai lagi, para raja masih utuh, demikian pula semua raja undangan. Mereka maju dari tempatnya masing-masing. Menggebu, menyerbu, diikuti sorak-sorai demikian ramai, Wrekodara menyerbu ke tengah-tengah musuh, hanya memilih para<noinclude>{{rh|||49}}</noinclude>
o98jcb3j815j4a7kaoikpto2bjm2br0
Kaca:Bratayuda.pdf/111
250
24717
77401
2026-05-15T13:13:12Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. We- kasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara. Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng. Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk sarata- nipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang ma- jeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening pangamukipun. Anunten adhinip...
77401
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun
bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. We-
kasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara.
Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng.
Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk sarata-
nipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang ma-
jeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening
pangamukipun.
Anunten adhinipun Sangkuni kekalih majeng, anama Angga-
jaksa kalih Sarabasanta, angirid prajurit saleksa, angroyok Raden
Wrekodara. Boten kaweden dipun karubut ing perang. Lajeng wi-
wit anglepasaken Bargawastra, kathah prajurit ingkang pejah de-
ning jemparingipun. Sangsaya riwut pangamukipun Raden Wreko-
dara, pundi baris ingkang katerak, tumpes.
Anunten Raden Anggajaksa kalih Raden Sarabasanta sami
anglepasaken jemparing, angebut Raden Wrekodara. Sareng dipun
wales kajemparing, Raden Anggajaksa pejah. Ingkang raka anama
Sarabasanta wau apepulih, inggih pejah dipun jemparing dhateng
Raden Wrekodara.
Sapejahe adhinipun Sangkuni kekalih, Korawa sami alit ma-
nahipun. Prabu Suyudana angrerepa, pangandikanipun dhateng
adipati Ngawangga, "Adhi para, papagna pangamuke Wrekodara,
Dananjaya kang sarta Setyaki."
Adipati Ngawangga enggal ngadeg. Aturipun, "Sampun sume-
lang ing galih, amesthi ing dinten punika pejahipun Sena akaliyan
Dananjaya. Kula ingkang methukaken, mboten mawi kanthi."
Sakendelipun Adipati Ngawangga ngandika sagah amejahi
Bima kaliyan Parta, lajeng Karpa awicanten, "Heh, Suryaputra,
kowe iku yen calathu kaya dudu wong becik, ora patut dirungoka-
ke para satriya. Aku arep weruh bae nyatane calathumu iku. Wre-
kodara lan Dananjaya ora patut yen kasoran dening wong kang
kaya kowe. Yen ana kemreki asesungut, apa dene keyong
bisa calathu, iku mbokmanawa kalakon calathumu mau. Dudu
satriya yen maloto ora ana sing diisini."
115<noinclude></noinclude>
anoc5eye0lcyansk3xrkxs7k7kqc1gf
77403
77401
2026-05-15T13:16:33Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77403
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. Wekasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara. Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng. Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk saratanipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang majeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening pangamukipun.
Anunten adhinipun Sangkuni kekalih majeng, anama Anggajaksa kalih Sarabasanta, angirid prajurit saleksa, angroyok Raden Wrekodara. Boten kaweden dipun karubut ing perang. Lajeng wiwit anglepasaken Bargawastra, kathah prajurit ingkang pejah dening jemparingipun. Sangsaya riwut pangamukipun Raden Wrekodara, pundi baris ingkang katerak, tumpes.
Anunten Raden Anggajaksa kalih Raden Sarabasanta sami anglepasaken jemparing, angebut Raden Wrekodara. Sareng dipun wales kajemparing, Raden Anggajaksa pejah. Ingkang raka anama Sarabasanta wau apepulih, inggih pejah dipun jemparing dhateng Raden Wrekodara.
Sapejahe adhinipun Sangkuni kekalih, Korawa sami alit manahipun. Prabu Suyudana angrerepa, pangandikanipun dhateng adipati Ngawangga, "Adhi para, papagna pangamuke Wrekodara, Dananjaya kang sarta Setyaki."
Adipati Ngawangga enggal ngadeg. Aturipun, "Sampun sumelang ing galih, amesthi ing dinten punika pejahipun Sena akaliyan Dananjaya. Kula ingkang methukaken, mboten mawi kanthi."
Sakendelipun Adipati Ngawangga ngandika sagah amejahi Bima kaliyan Parta, lajeng Karpa awicanten, "Heh, Suryaputra, kowe iku yen calathu kaya dudu wong becik, ora patut dirungokake para satriya. Aku arep weruh bae nyatane calathumu iku. Wrekodara lan Dananjaya ora patut yen kasoran dening wong kang kaya kowe. Yen ana kemreki asesungut, apa dene keyong bisa calathu, iku mbokmanawa kalakon calathumu mau. Dudu satriya yen maloto ora ana sing diisini."<noinclude>{{rh|||115}}</noinclude>
6wer0osexben1za99s3sc199bhsfgi7
77487
77403
2026-05-15T15:18:44Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77487
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Anunten anakipun Partipeya enggal badhe pepulih pejahipun bapa. Raden Wrekodara dipun karubut, adangu perangipun. Wekasan anakipun Partipeya pejah dipun gada Raden Wrekodara. Punggawanipun Adipati ing Ngawangga anama Drestarata majeng. Inggih pejah dipun gada dhateng Raden Wrekodara, remuk saratanipun. Wrekodara sanget ing pangamukipun sinten ingkang majeng dipun gada. Akathah prajurit pepilihan ingkang pejah dening pangamukipun.
Anunten adhinipun Sangkuni kekalih majeng, anama Anggajaksa kalih Sarabasanta, angirid prajurit saleksa, angroyok Raden Wrekodara. Boten kaweden dipun karubut ing perang. Lajeng wiwit anglepasaken Bargawastra, kathah prajurit ingkang pejah dening jemparingipun. Sangsaya riwut pangamukipun Raden Wrekodara, pundi baris ingkang katerak, tumpes.
Anunten Raden Anggajaksa kalih Raden Sarabasanta sami anglepasaken jemparing, angebut Raden Wrekodara. Sareng dipun wales kajemparing, Raden Anggajaksa pejah. Ingkang raka anama Sarabasanta wau apepulih, inggih pejah dipun jemparing dhateng Raden Wrekodara.
Sapejahe adhinipun Sangkuni kekalih, Korawa sami alit manahipun. Prabu Suyudana angrerepa, pangandikanipun dhateng adipati Ngawangga, "Adhi para, papagna pangamuke Wrekodara, Dananjaya kang sarta Setyaki."
Adipati Ngawangga enggal ngadeg. Aturipun, "Sampun sumelang ing galih, amesthi ing dinten punika pejahipun Sena akaliyan Dananjaya. Kula ingkang methukaken, mboten mawi kanthi."
Sakendelipun Adipati Ngawangga ngandika sagah amejahi Bima kaliyan Parta, lajeng Karpa awicanten, "Heh, Suryaputra, kowe iku yen calathu kaya dudu wong becik, ora patut dirungokake para satriya. Aku arep weruh bae nyatane calathumu iku. Wrekodara lan Dananjaya ora patut yen kasoran dening wong kang kaya kowe. Yen ana kemreki asesungut, apa dene keyong bisa calathu, iku mbokmanawa kalakon calathumu mau. Dudu satriya yen maloto ora ana sing diisini."<noinclude>{{rh|||115}}</noinclude>
2hropbfybypx4fxql6h8tuw8uh8pdiw
Kaca:Bratayuda.pdf/48
250
24718
77404
2026-05-15T13:16:56Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77404
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan
gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya.
Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan
Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wre-
kodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan
melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena
panahnya. Amukannya seinakin menghebat, dan bagian mana pun
yang diterjang, hancur.
Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta ber-
sama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden
Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas.
Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian
adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara.
Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi
kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demiki-
an ujamnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Danan-
jaya serta Setyaki.”
Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan
kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan
‘melawannya seorang dir.”
Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggup-
annya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei,
Suryaputra, kata-katamu itu seperti Kata-kata orang yang tak ber-
budi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin meli-
hat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak
akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam ber-
misai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa
terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa pera-
saan malu sama sekali.””
Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. la sege-
ra mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian
Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. la
segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra,
akulah tandingmu!”
st<noinclude></noinclude>
01ygzddhd3kkdezsxt4j1gikic4um8h
77406
77404
2026-05-15T13:20:54Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77406
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya.
Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan
Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur.
Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara.
Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi
kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.”
Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan
kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.”
Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.””
Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian
Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
04djs6ex5i1m8y9zi2e2tqjalwxosww
77407
77406
2026-05-15T13:22:07Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77407
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya.
Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan
Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur.
Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara.
Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi
kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.”
Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan
kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.”
Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.”
Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
o5a77orostec7wxpp6ervxdhma58uwz
77501
77407
2026-05-15T15:25:19Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77501
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>amuk dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya.
Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan
Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur.
Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara.
Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi
kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.”
Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan
kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.”
Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.”
Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
obfu2q8b0ksho8hy1i507hxq3q02fgw
78308
77501
2026-05-16T09:34:22Z
Elcamatcha
1466
78308
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|amuk|mengamuk}} dengan hebat. Barang siapa mendekat, dihantamnya dengan gada, Banyak prajurit pilihan yang mati oleh amukannya.
Kemudian kedua adik Sengkuni maju, ialah Anggajaksa, dan
Sarabasanta, membawa selaksa prajurit, mengeroyok Raden Wrekodara, yang tidak gentar menghadapi lawan. Lalu mulai dengan melepaskan Bargawastra, sehingga banyak prajurit yang mati kena panahnya. Amukannya semakin menghebat, dan bagian mana pun yang diterjang, hancur.
Kemudian Raden Anggajaksa dan Raden Sarabasanta bersama-sama melepaskan panah ke arah Raden Wrekodara. Raden Wrekodara membalas dengan panahnya, Raden Anggajaksa tewas. Kakaknya, Raden Sarabasanta ingin segera membalas kematian adiknya, namun akhimya mati juga oleh panah Raden Wrekodara.
Setelah kedua adik Sengkuni tewas, hati Korawa menjadi
kecil. Prabu Suyudana membujuk-bujuk Adipati Awangga, demikian ujarnya, "Adinda mohon, tahanlah amukan Wrekodara, Dananjaya serta Setyaki.”
Adipati Awangga segera berdiri seraya jawabnya, “Jangan
kuatir. Hari ini Sena dan Dananjaya pasti mati. Sayalah yang akan melawannya seorang diri.”
Baru saja selesai Adipati Awangga menyatakan kesanggupannya membunuh Sena dan Parta, Karpa segera menukas, "Hei, Suryaputra, kata-katamu itu seperti kata-kata orang yang tak berbudi, yang tidak pantas didengar oleh para satria. Aku ingin melihat bukti ucapanmu itu. Wrekodara dan Dananjaya tidak layak akan malah pada orang seperti engkau. Jika ada kutu ayam bermisai, atau keong bisa berkata-kata, barangkali ucapanmu itu bisa terlaksana. Bukan watak satria, jika berlaku sombong tanpa perasaan malu sama sekali.”
Mendengar ucapan Karpa, Adipati Awangga marah. Ia segera mengambil candrasa, dan Karpa hendak dipanah. Kemudian Aswatama marah, ketika melihat pamannya hendak dipanah. Ia segera mempersiapkan busurnya seraya berkata, "Hai, Suryaputra, akulah tandingmu!”<noinclude>{{rh|||51}}</noinclude>
dstax87efg724tgzf5ijgrtlrp9ibjw
Kaca:Bratayuda.pdf/112
250
24719
77405
2026-05-15T13:19:42Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77405
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Adipati Ngawangga sanget nepsu, mirengaken wicantenipun Karpa. Enggal nyandhak candrasa, Karpa badhe dipun jemparing. Anunten Aswatama nepsu, ningali pamanipun badhe dipun jemparing, enggal menthang langkap. Wicantenipun, "Heh, Suryaputra, aku tandhingmu."
Anunten Prabu Suyudana nyandhak dhateng Aswatama, kang sarta dipun arih-arih. Pangandikanipun, "Aja mangkono sira." Sang Prabu lajeng dhedhawah dhateng Karna majeng ing paprangan. Suryaputra enggal nitih rata, majeng anengah ing paprangan. Anglepasaken jemparing pinten-pinten ingkang medal amradini. Bala Pandhawa bibar, geger kadhawahan jemparing. Kathah ingkang tatu. Prabu Yudhisthira gugup, mboten alon pangandikanipun dhateng Raden Dananjaya, "Kapriye, dene kowe ora mapagake pangamuke Suryaputra? Balamu padha kaplayu, akeh kang kena ing panahe Karna. Para satriya padha wedi, palayune ora nolih-nolih. Mara ta wiwitana, panahen Suryaputra di mati! Apa ta ora pareng lan karsane Kakang Prabu ing Dwarawati?"
Raden Dananjaya majeng matur dhumateng Prabu Kresna, "Panembahan, kadospundi ingkang dados karsa-dalem, menggah pangamukipun Suryaputra, sinten ingkang kakarsakna amethukna?"
Prabu Kresna alon ngandika, "Durung mangsane yen kowe kang mapagna perange Suryaputra, prayogane si Gathutkaca kang mapagna, bisa perang agal-alus."
Enggal Raden Dananjaya animbali Raden Gathutkaca, pangandikanipun, "Kulup, kowe andikakake mapagake perange Suryaputra."
Raden Gathutkaca lajeng andherek ingkang Paman, sowan ing ngarsanipun Prabu Kresna. Sasampune nyembah, Gathutkaca matur, "Pukulun ingkang pinundhi ing kathah, kawula punika begja sanget, kakarsakaken anglampahi karsa-dalem."
Raden Dananjaya anyambungi alon, "Kawruhana wewekane wong arebut kasekten: sabudine katandhingan mungguhing kadigdayane, amurih ngungkuli kaprawirane, sanajan agal-alus. Gelare Karna, olehe angarah kasekten, mangsa kowe ulapa."<noinclude>{{rh|116}}</noinclude>
rt1zstgl037ygthyb9sdqdhfo7pwj22
77486
77405
2026-05-15T15:18:21Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77486
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Adipati Ngawangga sanget nepsu, mirengaken wicantenipun Karpa. Enggal nyandhak candrasa, Karpa badhe dipun jemparing. Anunten Aswatama nepsu, ningali pamanipun badhe dipun jemparing, enggal menthang langkap. Wicantenipun, "Heh, Suryaputra, aku tandhingmu."
Anunten Prabu Suyudana nyandhak dhateng Aswatama, kang sarta dipun arih-arih. Pangandikanipun, "Aja mangkono sira." Sang Prabu lajeng dhedhawah dhateng Karna majeng ing paprangan. Suryaputra enggal nitih rata, majeng anengah ing paprangan. Anglepasaken jemparing pinten-pinten ingkang medal amradini. Bala Pandhawa bibar, geger kadhawahan jemparing. Kathah ingkang tatu. Prabu Yudhisthira gugup, mboten alon pangandikanipun dhateng Raden Dananjaya, "Kapriye, dene kowe ora mapagake pangamuke Suryaputra? Balamu padha kaplayu, akeh kang kena ing panahe Karna. Para satriya padha wedi, palayune ora nolih-nolih. Mara ta wiwitana, panahen Suryaputra di mati! Apa ta ora pareng lan karsane Kakang Prabu ing Dwarawati?"
Raden Dananjaya majeng matur dhumateng Prabu Kresna, "Panembahan, kadospundi ingkang dados karsa-dalem, menggah pangamukipun Suryaputra, sinten ingkang kakarsakna amethukna?"
Prabu Kresna alon ngandika, "Durung mangsane yen kowe kang mapagna perange Suryaputra, prayogane si Gathutkaca kang mapagna, bisa perang agal-alus."
Enggal Raden Dananjaya animbali Raden Gathutkaca, pangandikanipun, "Kulup, kowe andikakake mapagake perange Suryaputra."
Raden Gathutkaca lajeng andherek ingkang Paman, sowan ing ngarsanipun Prabu Kresna. Sasampune nyembah, Gathutkaca matur, "Pukulun ingkang pinundhi ing kathah, kawula punika begja sanget, kakarsakaken anglampahi karsa-dalem."
Raden Dananjaya anyambungi alon, "Kawruhana wewekane wong arebut kasekten: sabudine katandhingan mungguhing kadigdayane, amurih ngungkuli kaprawirane, sanajan agal-alus. Gelare Karna, olehe angarah kasekten, mangsa kowe ulapa."<noinclude>{{rh|116}}</noinclude>
evy0j0po24wh0obhjakurd7d4giit0v
Kaca:Bratayuda.pdf/50
250
24720
77408
2026-05-15T13:22:43Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77408
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Gatotkaca menyembah, "Sinuhun, saya bersedia. Jika perintah itu datang dari Paduka, sampai mati pun tidak takut. Jangankan perintah itu, lebih sakti dari Adipati Kama pun, saya tidak
takut. Sembah saya yang tulus, saya haturkan kepada Paduka,
menjadi azimat atas perkenan Paduka dalam mencari kematian,
dan sekaligus menjadi azimat untuk mencelakakan musuh. Jika
saya tewas di medan perang, mudah-mudahan Paduka berkenan
menempatkan diri saya di kemuliaan sorga. Saya tidak membayangkan hidup lagi, karena Ua Awangga luar biasa saktinya."
Perasaan Sri Kresna berdesir, dan merasa sangat menyesal
karena telah salah perintah. Kasihan, dan sangat menyesal. Raden
Dananjaya sekilas melihat Sri Kresna, yang tampak sangat menyesal, bingung, sehingga ia sangat kasihan melihat Raden Gatotkaca,
yang masih sangat muda itu. Semua merasa perihatin.
Raden Gatotkaca lalu keluar, melesat ke angkasa, menandingi amukan Adipati Awangga. Kedua lalu berperang ramai di rna,
lam hari.
Di tengah-tengah peperangan itu, ada empat orang t;aksasa
datang, menyertai peperangan itu. Mereka ialah, Lembusana, Salembana, Kalasrenggi, dan Kalagasura, yang semuanya membawa
banyak pasukan, lalu turut menyongsong serbuan Raden Gatotkaca. Keempat raksasa itu sesungguhnya telah mati karena dipelintir
lehernya oleh Raden Gatotkaca.
Semakin hebat amukan Raden Gatotkaca beserta pasukannya. Pasukan Adipati Awangga ketakutan. Mereka dihujani anak
panah oleh Raden Gatotkaca dari angkasa. Anak panah Raden
Gatotkaca keluar dari mulut, dari tangan, dan dari telapak kakinya.
Adipati Awangga cemas juga melihat pasukannya banyak
yang mati, lalu membalas melepaskan anak panahnya ke angkasa,
akan tetapi tidak ada yang sampai, dan hal itu semakin membuatnya takut serta ngeri. Raden Gatotkaca selalu menantangnya dari
antariksa. Adipati Awangga semakin gugup mendengar suara Gatotkaca, yang menderu bagaikan guntur. Ia segera mengambil anak
53<noinclude></noinclude>
hwwi46omkrzyqtrlzj0kufmt8hvdldp
77410
77408
2026-05-15T13:27:12Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77410
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Gatotkaca menyembah, ”Sinuhun, saya bersedia. Jika perintah itu datang dari Paduka, sampai mati pun tidak takut. Jangankan perintah itu, lebih sakti dari Adipati Karna pun, saya tidak takut. Sembah saya yang tulus, saya haturkan kepada Paduka, menjadi azimat atas perkenan Paduka dalam mencari kematian, dan sekaligus menjadi azimat untuk mencelakakan musuh Jika saya tewas di medan perang, mudah-mudahan Paduka berkenan menempatkan diri saya di kemuliaan sorga. Saya tidak membayangkan hidup lagi, karena Ua Awangga luar biasa saktinya.”
Perasaan Sri Kresna berdesir, dan merasa sangat menyesal
karena telah salah perintah, Kasihan, dan sangat menyesal. Radenn Dananjaya sekilas melihat Sri Kresna, yang tampak sangat menyesal, bingung, sehingga ia sangat kasihan melihat Raden Gatotkaca, yang masih sangat muda itu. Semua merasa perihatin.
Raden Gatotkaca lalu keluar, melesat ke angkasa, menandingi amukan Adipati Awangga. Kedua lalu berperang ramai di malam hari.
Di tengah-tengah peperangan itu, ada empat orang raksasa
datang, menyertai peperangan itu, Mereka ialah, Lembusana, Salembana, Kalasrenggi, dan Kalagasura, yang semuanya membawa banyak pasukan, lalu turut menyongsong serbuan Raden Gatotkaca. Keempat raksasa itu sesungguhnya telah mati karena dipelintir lehernya oleh Raden Gatotkaca.
Semakin hebat amukan Raden Gatotkaca beserta pasukannya. Pasukan Adipati Awangga ketakutan. Mereka dihujani anak
panah oleh Raden Gatotkaca dari angkasa. Anak panah Raden
Gatotkaca keluar dari mulut, dari tangan, dan dari telapak kakinya.
Adipati Awangga cemas juga melihat pasukannya banyak yang mati, lalu membalas melepaskan anak panahnya ke angkasa, akan tetapi tidak ada yang sampai, dan hal itu semakin membuatnya takut serta ngeri, Raden Gatotkaca selalu menantangnya dari antariksa, Adipati Awangga semakin gugup mendengar suara Gatotkaca, yang menderu bagaikan guntur. Ia segera mengambil anak<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude>
ntwdzz4imolodku1azs3nza8lkmsrut
77500
77410
2026-05-15T15:24:55Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77500
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Gatotkaca menyembah, ”Sinuhun, saya bersedia. Jika perintah itu datang dari Paduka, sampai mati pun tidak takut. Jangankan perintah itu, lebih sakti dari Adipati Karna pun, saya tidak takut. Sembah saya yang tulus, saya haturkan kepada Paduka, menjadi azimat atas perkenan Paduka dalam mencari kematian, dan sekaligus menjadi azimat untuk mencelakakan musuh Jika saya tewas di medan perang, mudah-mudahan Paduka berkenan menempatkan diri saya di kemuliaan sorga. Saya tidak membayangkan hidup lagi, karena Ua Awangga luar biasa saktinya.”
Perasaan Sri Kresna berdesir, dan merasa sangat menyesal
karena telah salah perintah, Kasihan, dan sangat menyesal. Radenn Dananjaya sekilas melihat Sri Kresna, yang tampak sangat menyesal, bingung, sehingga ia sangat kasihan melihat Raden Gatotkaca, yang masih sangat muda itu. Semua merasa perihatin.
Raden Gatotkaca lalu keluar, melesat ke angkasa, menandingi amukan Adipati Awangga. Kedua lalu berperang ramai di malam hari.
Di tengah-tengah peperangan itu, ada empat orang raksasa
datang, menyertai peperangan itu, Mereka ialah, Lembusana, Salembana, Kalasrenggi, dan Kalagasura, yang semuanya membawa banyak pasukan, lalu turut menyongsong serbuan Raden Gatotkaca. Keempat raksasa itu sesungguhnya telah mati karena dipelintir lehernya oleh Raden Gatotkaca.
Semakin hebat amukan Raden Gatotkaca beserta pasukannya. Pasukan Adipati Awangga ketakutan. Mereka dihujani anak
panah oleh Raden Gatotkaca dari angkasa. Anak panah Raden
Gatotkaca keluar dari mulut, dari tangan, dan dari telapak kakinya.
Adipati Awangga cemas juga melihat pasukannya banyak yang mati, lalu membalas melepaskan anak panahnya ke angkasa, akan tetapi tidak ada yang sampai, dan hal itu semakin membuatnya takut serta ngeri, Raden Gatotkaca selalu menantangnya dari antariksa, Adipati Awangga semakin gugup mendengar suara Gatotkaca, yang menderu bagaikan guntur. Ia segera mengambil anak<noinclude>{{rh|||53}}</noinclude>
ebeb6hwf3au2czg6xb54irz5puujwtr
Kaca:Bratayuda.pdf/113
250
24721
77409
2026-05-15T13:26:06Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77409
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Prabu Kresna angandika alon, "Iya, Kulup, tadhahana uwakmu, awit saka ing parentahku!"
Raden Gathutkaca nyembah, "Sinuhun, inggih sandika. Yen saking timbalan-dalem sanajan dumugia ing pejah mboten mawi kumedhep. Sampun ingkang ndikakaken punika, sanajan langkunga saking sekti Adipati Karna, amesthi kawula mboten wigih. Sembah kawula ingkang sayekti katura ing panjenengan-dalem, dados jimat kaiden dhumateng ing pejah, kang sarta dadosa jimat ambilaeni mengsah. Yen kawula pejah ing perang, ingkang mugi panjenengan-dalem prenahena kamulyaning swargan. Kawula mboten gadhah cipta gesang, amargi pun uwa ing Ngawangga anglangkungi sekti.
Sang Prabu Kresna kumepyur salebeting galih, ing batos langkung kaduwung, lepating ing pangatag. Awelas, sanget getuning galih. Raden Dananjaya aningali dhateng Sang Prabu Kresna, tingale sanget kaduwung, kuwur, sanget welas ningali ingkang putra Raden Gathutkaca, dene taksih sanget lare. Sadaya sami angredatos.
Raden Gathutkaca lajeng medal, muluk ing ngawang-awang, mapagaken pangamukipun adipati ing Ngawangga. Lajeng perang rame ing wanci dalu.
Satengahing perang, wonten danawa dhateng anarombol ing perang. Kathahipun sakawan, anama Lembusana, kalih Salembana, tiga Kalasrenggi, sakawan Kalagasura. Sami ambekta bala kathah, amethukaken perangipun Raden Gathutkaca. Danawa sakawan wau sami pejah, dipun untir gulunipun dhateng Raden Gathutkaca.
Raden Gathutkaca sabalanipun sangsaya wuru pangamukipun. Balanipun dipati ing Ngawangga sami giris. Dipun jawahi ing jemparing dhateng Raden Gathutkaca saking ing ngawang-awang. Jemparingipun Raden Gathutkaca wau medal saking tutuk, sarta saking asta tuwin saking delamakan.
Adipati ing Ngawangga giris aningali balanipun kathah ingkang pejah, males anglepasaken jemparing dhateng ing {{hws|ngawang-|ngawang-awang}}<noinclude>{{rh|||117}}</noinclude>
a88t6yww7nh4nnwihl1t62wmm3advmq
77485
77409
2026-05-15T15:17:50Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77485
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Prabu Kresna angandika alon, "Iya, Kulup, tadhahana uwakmu, awit saka ing parentahku!"
Raden Gathutkaca nyembah, "Sinuhun, inggih sandika. Yen saking timbalan-dalem sanajan dumugia ing pejah mboten mawi kumedhep. Sampun ingkang ndikakaken punika, sanajan langkunga saking sekti Adipati Karna, amesthi kawula mboten wigih. Sembah kawula ingkang sayekti katura ing panjenengan-dalem, dados jimat kaiden dhumateng ing pejah, kang sarta dadosa jimat ambilaeni mengsah. Yen kawula pejah ing perang, ingkang mugi panjenengan-dalem prenahena kamulyaning swargan. Kawula mboten gadhah cipta gesang, amargi pun uwa ing Ngawangga anglangkungi sekti.
Sang Prabu Kresna kumepyur salebeting galih, ing batos langkung kaduwung, lepating ing pangatag. Awelas, sanget getuning galih. Raden Dananjaya aningali dhateng Sang Prabu Kresna, tingale sanget kaduwung, kuwur, sanget welas ningali ingkang putra Raden Gathutkaca, dene taksih sanget lare. Sadaya sami angredatos.
Raden Gathutkaca lajeng medal, muluk ing ngawang-awang, mapagaken pangamukipun adipati ing Ngawangga. Lajeng perang rame ing wanci dalu.
Satengahing perang, wonten danawa dhateng anarombol ing perang. Kathahipun sakawan, anama Lembusana, kalih Salembana, tiga Kalasrenggi, sakawan Kalagasura. Sami ambekta bala kathah, amethukaken perangipun Raden Gathutkaca. Danawa sakawan wau sami pejah, dipun untir gulunipun dhateng Raden Gathutkaca.
Raden Gathutkaca sabalanipun sangsaya wuru pangamukipun. Balanipun dipati ing Ngawangga sami giris. Dipun jawahi ing jemparing dhateng Raden Gathutkaca saking ing ngawang-awang. Jemparingipun Raden Gathutkaca wau medal saking tutuk, sarta saking asta tuwin saking delamakan.
Adipati ing Ngawangga giris aningali balanipun kathah ingkang pejah, males anglepasaken jemparing dhateng ing {{hws|ngawang-|ngawang-awang}}<noinclude>{{rh|||117}}</noinclude>
3soiz68bf5kigx9usi907wwouabum8o
Kaca:Bratayuda.pdf/114
250
24722
77411
2026-05-15T13:29:49Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil. Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca...
77411
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil.
Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca ketaton, sami alok Gathutkaca ketaton, katawis saking deresing rah.
Kalanipun Raden Gathutkaca ketaton, anggadhahi cipta yen badhe pejah, lajeng anjog sumedya pejah sampyuh kaliyan ingkang Uwa. Adipati ing Ngawangga trangginas lumumpat saking rata, Raden Gathutkaca lajeng angebruki rata. Rata remuk sakusir kapalipun.
Sareng Korawa aningali yen Raden Gathutkaca pejah, sami surak gumerah. Pandhawa sami dhedhep sarta anangis. mBoten dangu lajeng sami ambyuk mangsah ing perang. Prabu Yudhisthira sarta Raden Dananjaya angamuk ambudi pejah. Raden Wrekodara sareng mireng yen ingkang putra pejah, lajeng ngamuk liwung sarwi angusapi eluh. Gadanipun mobat-mabit, kathah para dipati tuwin satriya Korawa ingkang pejah.
Druna angabani Korawa makantukaken gelar. Arame perangipun ing sadalu, wusana kasapih saking sami aripipun.
Kacariyos ibunipun Raden Gathutkaca, anama Dewi Arimbi, sumedya obong ambelani ingkang putra. Lajeng pamit dhateng ingkang raka sarta para sadherekipun sadaya. Sareng sampun kalilan, lajeng amurugi layonipun ingkang putra wonten ing paprangan. Sadhatengipun ing ngriku, lajeng dipun obong sareng kaliyan layonipun ingkang putra.
{{C|'''7. DURNA KENGING APUS. DURSASANA PEJAH KAODHET-ODHET DENING WREKODARA}}'''
Enjingipun lajeng sami nabuh tengaraning perang, sami ana-<noinclude>{{rh|118}}</noinclude>
opocrgg4fiqk6dzqon7noyrpow8mpe3
77412
77411
2026-05-15T13:30:40Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77412
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil.
Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca ketaton, sami alok Gathutkaca ketaton, katawis saking deresing rah.
Kalanipun Raden Gathutkaca ketaton, anggadhahi cipta yen badhe pejah, lajeng anjog sumedya pejah sampyuh kaliyan ingkang Uwa. Adipati ing Ngawangga trangginas lumumpat saking rata, Raden Gathutkaca lajeng angebruki rata. Rata remuk sakusir kapalipun.
Sareng Korawa aningali yen Raden Gathutkaca pejah, sami surak gumerah. Pandhawa sami dhedhep sarta anangis. mBoten dangu lajeng sami ambyuk mangsah ing perang. Prabu Yudhisthira sarta Raden Dananjaya angamuk ambudi pejah. Raden Wrekodara sareng mireng yen ingkang putra pejah, lajeng ngamuk liwung sarwi angusapi eluh. Gadanipun mobat-mabit, kathah para dipati tuwin satriya Korawa ingkang pejah.
Druna angabani Korawa makantukaken gelar. Arame perangipun ing sadalu, wusana kasapih saking sami aripipun.
Kacariyos ibunipun Raden Gathutkaca, anama Dewi Arimbi, sumedya obong ambelani ingkang putra. Lajeng pamit dhateng ingkang raka sarta para sadherekipun sadaya. Sareng sampun kalilan, lajeng amurugi layonipun ingkang putra wonten ing paprangan. Sadhatengipun ing ngriku, lajeng dipun obong sareng kaliyan layonipun ingkang putra.
{{C|'''7. DURNA KENGING APUS. DURSASANA PEJAH KAODHET-ODHET DENING WREKODARA}}'''
Enjingipun lajeng sami nabuh tengaraning perang, sami {{hws|ana|anata}}<noinclude>{{rh|118}}</noinclude>
nuyj9tkposfgra8mnpet16k7et2wycp
77484
77412
2026-05-15T15:17:19Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77484
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|awang|ngawang-awang}}, nanging sami cupet. Sangsaya andadosaken ajrih sarta kekesing galihipun. Raden Gathutkaca tansah sesumbar saking ing ngawang-awang. Adipati ing Ngawangga gugup ing solahipun, mireng swaranipun Raden Gathutkaca, kados galudhug. Enggal nyandhak jemparing anama Kunta, dipun lepasaken manginggil.
Raden Gathutkaca kenging puseripun, jemparing lajeng manjing. Adipati ing Ngawangga sabalanipun sami sumerep, yen Raden Gathutkaca ketaton, sami alok Gathutkaca ketaton, katawis saking deresing rah.
Kalanipun Raden Gathutkaca ketaton, anggadhahi cipta yen badhe pejah, lajeng anjog sumedya pejah sampyuh kaliyan ingkang Uwa. Adipati ing Ngawangga trangginas lumumpat saking rata, Raden Gathutkaca lajeng angebruki rata. Rata remuk sakusir kapalipun.
Sareng Korawa aningali yen Raden Gathutkaca pejah, sami surak gumerah. Pandhawa sami dhedhep sarta anangis. mBoten dangu lajeng sami ambyuk mangsah ing perang. Prabu Yudhisthira sarta Raden Dananjaya angamuk ambudi pejah. Raden Wrekodara sareng mireng yen ingkang putra pejah, lajeng ngamuk liwung sarwi angusapi eluh. Gadanipun mobat-mabit, kathah para dipati tuwin satriya Korawa ingkang pejah.
Druna angabani Korawa makantukaken gelar. Arame perangipun ing sadalu, wusana kasapih saking sami aripipun.
Kacariyos ibunipun Raden Gathutkaca, anama Dewi Arimbi, sumedya obong ambelani ingkang putra. Lajeng pamit dhateng ingkang raka sarta para sadherekipun sadaya. Sareng sampun kalilan, lajeng amurugi layonipun ingkang putra wonten ing paprangan. Sadhatengipun ing ngriku, lajeng dipun obong sareng kaliyan layonipun ingkang putra.
{{C|'''7. DURNA KENGING APUS. DURSASANA PEJAH KAODHET-ODHET DENING WREKODARA}}'''
Enjingipun lajeng sami nabuh tengaraning perang, sami {{hws|ana|anata}}<noinclude>{{rh|118}}</noinclude>
h37ug3qgqdm5wb9p56lhf8v0wm46pjf
Kaca:Bratayuda.pdf/115
250
24723
77413
2026-05-15T13:34:12Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77413
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hws|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang.
Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada.
Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten.
Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa."
Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah."
Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah."
Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya.
Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene
padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude>
owj89s4jct3p99318588tuzok4tnyw8
77414
77413
2026-05-15T13:34:40Z
Khusna Safira
1759
77414
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang.
Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada.
Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten.
Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa."
Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah."
Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah."
Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya.
Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene
padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude>
i34nie1idniqyq5yi10ljmlochjybfj
77415
77414
2026-05-15T13:35:11Z
Khusna Safira
1759
77415
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang.
Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada.
Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten.
Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa."
Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah."
Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah."
Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya.
Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude>
mfl7qudknt1q0ukwen7cbf493hn3c35
77482
77415
2026-05-15T15:16:11Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77482
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang.
Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahi- pun kadhawahan gada.
Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten.
Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa."
Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah."
Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah."
Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya.
Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude>
j9w3j7za6kj2jnbsjkmeg8si78jutv4
77483
77482
2026-05-15T15:16:39Z
Ars-arsa
1809
77483
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|ta|anata}} barisipun piyambak-piyambak. Ingkang dados senapatining Korawa taksih Pandhita Durna. Wondening senapatining Pandhawa, Raden Drusthajumena, lajeng sami ngabani bala mangsah ing perang.
Druna kinarubut ing para prajurit Pandhawa, sami anjemparingi, nanging mboten pasah. Prabu Kresna lajeng amangsit dhateng Raden Wrekodara, kapurih amejahana mengsah ratu ing Malawapati, sarta gajahipun ingkang nama Aswatama. Wrekodara enggal lumumpat, mangsah anggada ratu ing Malawapati, ajur sagajahipun kadhawahan gada.
Wrekodara lajeng alok, "Aswatama mati", sarta para Pandhawa inggih alok makaten.
Druna sareng mireng alok wau, sanget ing kagetipun sarta nangis. Anyana putranipun ingkang pejah, awit putranipun anama Aswatama. Lajeng marepeki badhe pitaken dhateng Wrekodara tuwin Janaka, nanging sampun sami dipun wangsit dhateng Prabu Kresna, kapurih sami doraa. Namung Prabu Yudhisthira ingkang dereng purun. Wangsulanipun dhateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula mboten purun wicanten dora, ingkang mawi salami kula gesang dereng nate dora. Kaping kalihipun Pandhita Druna. punika guru kula, dados sangsaya sanget ajrih kula yen doraa."
Prabu Kresna ngandika malih, "Yayi Prabu ngandika makaten kemawon, esthi Aswatama pejah."
Anunten Druna dhateng ngarsanipun Prabu Yudhisthira, sarta anitih rata, lajeng pitaken. Wangsulanipun Prabu Yudhisthira, "Esthi Aswatama pejah."
Pamirengipun Druna: pasthi Aswatama pejah. Druna lajeng sumaput, andhawah gumalundhung wonten salebeting rata. Para dewa gumuruh ing ngawang-awang, sami angelokaken Druna mati. Raden Drusthajumena enggal amurugi, angethok mastakanipun Druna, dipun damel onclang, lajeng kasawataken dhateng panggenaning mengsah. Prabu Suyudana kaget kadhawahan sirah, enggal lumajeng, bala Korawa larut sadaya.
Raden Aswatama pitaken, "Heh, wong Korawa, yagene dene padha lumayu?"<noinclude>{{rh|||119}}</noinclude>
kxlaneg9w9oljquibsib0b5wxepmzfu
Kaca:Bratayuda.pdf/54
250
24724
77416
2026-05-15T13:37:17Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "tina. Prabu Kama pun sudah menyanggupinya untuk menumpas Pandawa sehari besok. Diceritakan, Prabu Kama itu sangat pemberani dan sakti, serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bemama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu memenuhinya. Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan Prabu Kama. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada Prabu Kama beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan Awangga semua berse...
77416
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>tina. Prabu Kama pun sudah menyanggupinya untuk menumpas
Pandawa sehari besok.
Diceritakan, Prabu Kama itu sangat pemberani dan sakti,
serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bemama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu
memenuhinya.
Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan
Prabu Kama. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada
Prabu Kama beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan
Awangga semua bersedih. Istrinya juga teramat pilu, karena sudah
banyak tanda-tandanya bahwa Prabu Kama akan kalah dalam peperangan.
***
Tersebutlah di pihak Pandawa , Sri Kresna, Yudistira, dan Janaka, malam itu mereka pergi ke medan perang mencari jenazah
Druna dan Bisma. Setelah ditemukan, lalu dibakar. Setelah api
pembakaran padam, terdengarlah suara, yang mengatakan bahwa
Pandawa akan unggul dalam peperangan.
Sri Kresna, Yudistrra dan A:Ijuna lalu kembali ke pesanggrahan. Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda
perang. Setelah barisan diatur dengan rapi, lalu berangkat ke
medan laga.
Sehari itu di pihak Pandawa maupun Korawa banyak yang tewas. Peperangan berhenti karena hari telah malam.
Malam harinya Prabu Suyudana berunding dengan para raja.
Yang ada an tara lain Salya dan Kama. Prabu Kama minta seorang sais kepada Prabu Suyudana. Adapun yang diminta ialah
Prabu Salya dari Mandaraka, alasannya agar seimbang dengan sais
Raden Janaka. Menurut Prabu Kama, jika Prabu Salya yang
menjadi saisnya, diperkirakan Pandawa akan habis tumpas dalam
sehari besok oleh panahnya yang bemama Wijayadanu .
Mendengar kata-kata Prabu Kama demikian itu, Prabu Salya
meledak amarahnya. Prabu Suyudana segera menghiba-hiba, me57<noinclude></noinclude>
e85t8dndwl8750qpangckef09b7krpp
77620
77416
2026-05-15T18:19:53Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77620
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>tina. Prabu Karna pun sudah menyanggupinya untuk menumpas Pandawa sehari besok. Diceritakan, Prabu Karna itu sangat pemberani dan sakti, serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bernama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu
memenuhinya.
Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan Prabu Karna. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada Prabu Karna beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan Awangga semua bersedih. Istrinya juga teramat pilu, karena sudah banyak tanda-tandanya bahwa Prabu Kama akan kalah dalam peperangan.
{{C|* * *}}
Tersebutlah di pihak Pandawa, Sri Kresna, Yudistira, dan Janaka, malam itu mereka pergi ke medan perang mencari jenazah Druna dan Bisma. Setelah ditemukan, lalu dibakar. Setelah api pembakaran padam, terdengarlah suara, yang mengatakan bahwa Pandawa akan unggul dalam peperangan.
Sri Kresna, Yudistira dan Arjuna lalu kembali ke pesanggrahan. Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda perang. Setelah barisan diatur dengan rapi, lalu berangkat ke medan laga.
Sehari itu di pihak Pandawa maupun Korawa banyak yang tewas. Peperangan berhenti karena hari telah malam.
Malam harinya Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Yang ada antara lain Salya dan Karna. Prabu Karna minta seorang sais kepada Prabu Suyudana. Adapun yang diminta ialah Prabu Salya dari Mandaraka, alasannya agar seimbang dengan sais Raden Janaka. Menurut Prabu Karna, jika Prabu Salya yang menjadi saisnya, diperkirakan Pandawa akan habis tumpas dalam
sehari besok oleh panahnya yang bernama Wijayadanu.
Mendengar kata-kata Prabu Karna demikian itu, Prabu Salya meledak amarahnya. Prabu Suyudana segera menghiba-hiba, {{hws|me|menyembah}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude>
0hnc5fwd6u27kxr9ydssudee9l6f6tg
78313
77620
2026-05-16T09:35:51Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78313
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|tina|Astina}}. Prabu Karna pun sudah menyanggupinya untuk menumpas Pandawa sehari besok. Diceritakan, Prabu Karna itu sangat pemberani dan sakti, serta tampan, dan mempunyai anak panah yang bernama Wijayadanu. Apa yang dikehendaki oleh pemiliknya, Wijayadanu selalu
memenuhinya.
Prabu Suyudana sangat gembira mendengar kesanggupan Prabu Karna. Lalu menghadiahkan pakaian indah-indah kepada Prabu Karna beserta seluruh pasukannya. Akan tetapi pasukan Awangga semua bersedih. Istrinya juga teramat pilu, karena sudah banyak tanda-tandanya bahwa Prabu Kama akan kalah dalam peperangan.
{{C|* * *}}
Tersebutlah di pihak Pandawa, Sri Kresna, Yudistira, dan Janaka, malam itu mereka pergi ke medan perang mencari jenazah Druna dan Bisma. Setelah ditemukan, lalu dibakar. Setelah api pembakaran padam, terdengarlah suara, yang mengatakan bahwa Pandawa akan unggul dalam peperangan.
Sri Kresna, Yudistira dan Arjuna lalu kembali ke pesanggrahan. Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda perang. Setelah barisan diatur dengan rapi, lalu berangkat ke medan laga.
Sehari itu di pihak Pandawa maupun Korawa banyak yang tewas. Peperangan berhenti karena hari telah malam.
Malam harinya Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Yang ada antara lain Salya dan Karna. Prabu Karna minta seorang sais kepada Prabu Suyudana. Adapun yang diminta ialah Prabu Salya dari Mandaraka, alasannya agar seimbang dengan sais Raden Janaka. Menurut Prabu Karna, jika Prabu Salya yang menjadi saisnya, diperkirakan Pandawa akan habis tumpas dalam
sehari besok oleh panahnya yang bernama Wijayadanu.
Mendengar kata-kata Prabu Karna demikian itu, Prabu Salya meledak amarahnya. Prabu Suyudana segera menghiba-hiba, {{hws|me|menyembah}}<noinclude>{{rh|||57}}</noinclude>
cj9btv07p51q5jjcmduujjkikcincfn
Kaca:Bratayuda.pdf/52
250
24725
77417
2026-05-15T13:45:35Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77417
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>7. DRUNA TERTIPU. DURSASANA MATI DIROBEKROBEK OLEH WREKODARA
Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda
pening, dan masing-masing mengatur barisannya. Di pihak Korawa
masih tetap Pendeta Druna yang menjadi senapati. Sedangkan di
pihak Pandawa, Raden Drustajumena, lalu kedua belah pihak
memberi aba-aba kepada pasukannya untuk mulai menyerang.
Druna dikeroyok oleh prajurit Pandawa dengan panah, akan
tetapi tidak mempan. Sri Kresna lalu memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, supaya membunuh Raja Malawapati beserta gajahnya yang bernama Aswatama. Wrekodara segera melompat, menyerang dengan gadanya, dan Raja Malawapati hancur beserta gajahnya kena gada.
Wrekodara lalu berteriak, "Aswatama mati," dan para Pandawa yang lain pun berseru-seru demikian pula.
Mendengar teriakan itu, Druna sangat terkejut, dan serta merta menangis. Ia mengira, putranya tewas, karena putranya kebetulan bernama Aswatama. Lalu mendekat, hendak bertanya kepada
Wrekodara serta J anaka, akan tetapi semua telah dipesan oleh
Sri Kresna supaya berbohong. Tinggal Prabu Yudistira yang belum
bersedia berbohong. Jawabnya terhadap pesan atau anjuran Sri
Kresna demikian, "Kakanda Prabu, saya tidak mau berkata behong, karena selama hidup saya belum pernah berbohong. Yang
kedua, Pendeta Druna itu guru saya, seliingga semakin takut, jika
saya harus berbohong."
Sri Kresna berkata lagi, "Adinda Prabu dapat berkata demikian, gajah Aswatama mati."
Kemudian dengan berkereta Druna tiba di hadapan Prabu Yudistira, lalu bertanya. Prabu Yudistira menjawab, "Esti Aswatama
mati."
Yang terdengar oleh Druna ialah, "Pasti Aswatama mati!"
55<noinclude></noinclude>
dc3o8eyya5ueuci0jz9xo3xu4laq1cl
77418
77417
2026-05-15T13:50:37Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77418
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''7. DRUNA TERTIPU. DURSASANA MATI DIROBEK-<br>ROBEK OLEH WREKODARA'''}}
Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda
perang, dan masing-masing mengatur barisannya. Di pihak Korawa masih tetap Pendeta Druna yang menjadi senapati. Sedangkan di pihak Pandawa, Raden Drustajumena, lalu kedua belah pihak memberi aba-aba kepada pasukannya untuk mulai menyerang.
Druna dikeroyok oleh prajurit Pandawa dengan panah, akan
tetapi tidak mempan. Sri Kresna lalu memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, supaya membunuh Raja Malawapati beserta gajahnya yang bernama Aswatama, Wrekodara segera melompat, menyerang dengan gadanya, dan Raja Malawapati hancur beserta gajahnya kena gada.
Wrekodara lalu berteriak, "Aswatama mati,” dan para Panda-wa yang lain pun berseru-seru demikian pula.
Mendengar teriakan itu, Druna sangat terkejut, dan serta merta menangis. Ia mengira, putranya tewas, karena putranya kebetulan bemnama Aswatama. Lalu mendekat, hendak bertanya kepada Wrekodara serta Janaka, akan tetapi semua telah dipesan oleh Sri Kresna supaya berbohong. Tinggal Prabu Yudistira yang belum bersedia berbohong. Jawabnya terhadap pesan atau anjuran Sri
Kresna demikian, "Kakanda Prabu, saya tidak mau berkata bohong, karena selama hidup saya belum pernah berbohong. Yang kedua, Pendeta Druna itu guru saya, sehingga semakin takut, jika saya harus berbohong.”
Sri Kresna berkata lagi, "Adinda Prabu dapat berkata demikian, gajah Aswatama mati.”
Kemudian dengan berkereta Druna tiba di hadapan Prabu Yudistira, lalu bertanya, Prabu Yudistira menjawab, "Esti Aswatama mati.”
Yang terdengar oleh Druna ialah, ”Pasti Aswatama mati!”<noinclude>{{rh|||55}}</noinclude>
6agxoneyo4zgzn83fj01nj2af3yth99
77499
77418
2026-05-15T15:24:36Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77499
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{C|'''7. DRUNA TERTIPU. DURSASANA MATI DIROBEK-<br>ROBEK OLEH WREKODARA'''}}
Pagi harinya kedua belah pihak membunyikan tanda-tanda
perang, dan masing-masing mengatur barisannya. Di pihak Korawa masih tetap Pendeta Druna yang menjadi senapati. Sedangkan di pihak Pandawa, Raden Drustajumena, lalu kedua belah pihak memberi aba-aba kepada pasukannya untuk mulai menyerang.
Druna dikeroyok oleh prajurit Pandawa dengan panah, akan
tetapi tidak mempan. Sri Kresna lalu memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, supaya membunuh Raja Malawapati beserta gajahnya yang bernama Aswatama, Wrekodara segera melompat, menyerang dengan gadanya, dan Raja Malawapati hancur beserta gajahnya kena gada.
Wrekodara lalu berteriak, "Aswatama mati,” dan para Panda-wa yang lain pun berseru-seru demikian pula.
Mendengar teriakan itu, Druna sangat terkejut, dan serta merta menangis. Ia mengira, putranya tewas, karena putranya kebetulan bemnama Aswatama. Lalu mendekat, hendak bertanya kepada Wrekodara serta Janaka, akan tetapi semua telah dipesan oleh Sri Kresna supaya berbohong. Tinggal Prabu Yudistira yang belum bersedia berbohong. Jawabnya terhadap pesan atau anjuran Sri
Kresna demikian, "Kakanda Prabu, saya tidak mau berkata bohong, karena selama hidup saya belum pernah berbohong. Yang kedua, Pendeta Druna itu guru saya, sehingga semakin takut, jika saya harus berbohong.”
Sri Kresna berkata lagi, "Adinda Prabu dapat berkata demikian, gajah Aswatama mati.”
Kemudian dengan berkereta Druna tiba di hadapan Prabu Yudistira, lalu bertanya, Prabu Yudistira menjawab, "Esti Aswatama mati.”
Yang terdengar oleh Druna ialah, ”Pasti Aswatama mati!”<noinclude>{{rh|||55}}</noinclude>
726paw1u0wmccwap6k7zg505kx9cko5
Kaca:Bratayuda.pdf/53
250
24726
77419
2026-05-15T13:50:57Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77419
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna
mati. Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala
Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas,
lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya
bubar.
Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa
kalian semua lari?"
Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin erigkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehemya dipenggal oleh Raden Drustajumena."
Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali.
Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar
bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut.
Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama. Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu.
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa,
supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau
membakar orang yang berjalan di atas tanah.
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Wrekodara
dengan mengendarai kereta. Wrekodara segera maju berkereta.
Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar,
ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika.
Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi.
Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur.
Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja.
Kesepakatan mereka, Prabu Kama dari Awangga diangkat menjadi
senapati. Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri As56<noinclude></noinclude>
52xnvkivmq4xhxre4f088uqhv5dlvby
77420
77419
2026-05-15T13:57:39Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77420
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna mati, Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas, lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya bubar.
Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa
kalian semua lari?”
Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin engkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehernya dipenggal oleh Raden Drustajumena.”
Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali. Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut,
Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama, Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu.
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa,
supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau membakar orang yang berjalan di atas tanah.
Sri Kresna lali memberi perintah kepada Raden Wrekodara
dengan mengendarai Kereta. Wrekodara segera maju berkereta.
Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar,
ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika. Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi.
Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur.
Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Kesepakatan mereka, Prabu Karna dari Awangga diangkat menjadi senapati, Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri As-<noinclude>{{rh|56}}</noinclude>
ln1o817csosydn4cews5nud9nrh6b0t
77498
77420
2026-05-15T15:24:06Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77498
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna mati, Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas, lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya bubar.
Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa
kalian semua lari?”
Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin engkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehernya dipenggal oleh Raden Drustajumena.”
Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali. Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut,
Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama, Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu.
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa,
supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau membakar orang yang berjalan di atas tanah.
Sri Kresna lali memberi perintah kepada Raden Wrekodara
dengan mengendarai Kereta. Wrekodara segera maju berkereta.
Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar,
ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika. Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi.
Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur.
Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Kesepakatan mereka, Prabu Karna dari Awangga diangkat menjadi senapati, Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri As-<noinclude>{{rh|56}}</noinclude>
be4gs3zeequip1w1tli0f7uxvyc9e59
78314
77498
2026-05-16T09:36:06Z
Elcamatcha
1466
78314
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Druna langsung pingsan, jatuh terguling di dalam kereta. Suara para dewa bergemuruh di antariksa, berseru-seru, bahwa Druna mati, Raden Drustajumena segera mendekati, memenggal kepala Druna, dipermainkan dengan melempar-lemparkannya ke atas, lalu dilemparkan ke tempat lawan. Prabu Suyudana terkejut kejatuhan kepala. Ia segera lari, dan pasukan Korawa seluruhnya bubar.
Raden Aswatama bertanya, "Hai, Prajurit Korawa, mengapa
kalian semua lari?”
Karpa yang menjawab, "Hai, Aswatama, mungkin engkau tidak tahu, bahwa ayahmu sekarang telah tiada, lehernya dipenggal oleh Raden Drustajumena.”
Mendengar ayahnya tewas, Raden Aswatama marah sekali. Lalu maju ke medan perang seraya melepaskan panah api sebesar bukit. Pasukan Pandawa ngeri melihatnya, dan sudah membayangkan maut,
Raden Dananjaya diminta oleh Prabu Yudistira supaya melawan Aswatama, Sri Baginda sendiri menangisi gurunya, ialah Pendeta Druna itu.
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada pasukan Pandawa,
supaya semuanya turun ke tanah, karena panah api itu tidak mau membakar orang yang berjalan di atas tanah.
Sri Kresna lali memberi perintah kepada Raden Wrekodara
dengan mengendarai Kereta. Wrekodara segera maju berkereta.
Ketika Raden Dananjaya melihat kakaknya akan terbakar,
ia segera melepaskan anak panahnya, dan api pun padam seketika. Raden Aswatama lalu mundur, dan merasa sangat malu. Ia bermaksud pergi bertapa, supaya kesaktiannya bertambah lagi.
Dengan datangnya sang malam, pasukan Pandawa dan Korawa mundur.
Malam hari Prabu Suyudana berunding dengan para raja. Kesepakatan mereka, Prabu Karna dari Awangga diangkat menjadi senapati, Prabu Suyudana berjanji, akan menyerahkan negeri {{hws|As|Astina}}<noinclude>{{rh|56}}</noinclude>
7ifgsuleo3vpmi317pvb0rc7sv00lio
Kaca:Bratayuda.pdf/55
250
24727
77421
2026-05-15T13:59:34Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77421
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>nyembah serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada
mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Kama.
Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhimya sanggup menjadi sais.
***
Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata
kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi,
engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti."
Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna.
Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan. Para raja dan
para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta,
dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap.
Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan ,lautan. Kama merasa sangat gembira, lalu
bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu , pasukan Pandawa
bukan main banyaknya. Yang berada di pinggir Cdak kelihatan.
Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu."
Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Kama! Menurut dugaanku,
engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana."
Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu
minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busumya.
Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan. Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena
melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Kama tak berkeputusan keluar dari busumya,
58<noinclude></noinclude>
snuzyxw2xpu2t6djcacldput9iueeh7
77422
77421
2026-05-15T14:07:23Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77422
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>nyembah serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Karna.
Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhirnya sanggup menjadi sais.
{{C| * * *}}
Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata
kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti."
Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna.
Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan, Para raja dan
para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta, dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap. Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan lautan. Karna merasa sangat gembira, Lalu bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu, pasukan Pandawa bukan main banyaknya. Yang berada di pinggit tidak kelihatan. Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu."
Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Karna! Menurut dugaanku, engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana."
Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busurnya. Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan, Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Karna tak berkeputusan keluar dari busurnya,<noinclude>{{rh|58}}</noinclude>
sgz12vlmkf5y01rdu2tmwy2ovn9wlz7
77496
77422
2026-05-15T15:23:38Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77496
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>nyembah serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Karna.
Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhirnya sanggup menjadi sais.
{{C| * * *}}
Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata
kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti."
Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna.
Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan, Para raja dan
para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta, dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap. Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan lautan. Karna merasa sangat gembira, Lalu bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu, pasukan Pandawa bukan main banyaknya. Yang berada di pinggit tidak kelihatan. Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu."
Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Karna! Menurut dugaanku, engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana."
Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busurnya. Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan, Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Karna tak berkeputusan keluar dari busurnya,<noinclude>{{rh|58}}</noinclude>
oj0bazr2oxr0gzlawcsqnvu93pu4h4l
78312
77496
2026-05-16T09:35:31Z
Elcamatcha
1466
78312
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{hwe|nyembah|menyembah}} serta menangis, kata-katanya yang ditujukan kepada mertuanya memilukan hati, dan dimohon supaya berkenan memenuhi permintaan Karna.
Lama-kelamaan reda juga kemarahan Prabu Salya, merasa kasihan kepada menantunya, dan akhirnya sanggup menjadi sais.
{{C| * * *}}
Diceritakan, Pandawa pun berunding. Sri Kresna berkata
kepada Arjuna, demikian, "Untuk menghadapi perang besok pagi engkaulah yang harus menjadi senapati, dan gunakanlah gelar Ardacandra, dan engkau pun harus selalu waspada. Jika engkau kurang waspada, engkau pasti akan celaka, sebab Kama itu teramat sakti."
Arjuna menjawab, akan mentaati segala pesan Sri Kresna.
Pagi harinya tanda-tanda perang dibunyikan, Para raja dan
para adipati mengatur barisan membentuk gelar. Yang berkereta, dan yang mengendarai gajah serta berkuda, semua telah siap. Prabu Kama berkereta, seraya melihat ke arah lawan, yang memenuhi medan bagaikan lautan. Karna merasa sangat gembira, Lalu bersembah kepada saisnya, "Ayahanda Prabu, pasukan Pandawa bukan main banyaknya. Yang berada di pinggit tidak kelihatan. Akan tetapi, nanti, dalam sekejap mereka akan tumpas oleh panah Wijayadanu."
Mendengar ucapan itu Prabu Salya sangat penasaran, dan meremehkannya dengan jawaban, "Hai, Karna! Menurut dugaanku, engkau tidak akan mampu menumpas Pandawa, dan engkau kuumpamakan sebagai ikan mentah, Pandawalah yang akan mengolahmu. Apa pun kehendak mereka pasti terlaksana."
Mendengar tanggapan itu Kama sangat malu dan marah, lalu minta supaya keretanya dibawa maju seraya menarik busurnya. Melihat senapatinya sudah maju, Korawa lalu bergerak maju menerjang. Pandawa bertahan, Ramainya peperangan bagaikan gelombang menerjang gunung. Keberanian Korawa meningkat, karena melihat senapatinya sangat pemberani dan sakti, lagi tampan rupanya. Panah Adipati Karna tak berkeputusan keluar dari busurnya,<noinclude>{{rh|58}}</noinclude>
sw2awbzlfe67n6736bl4j2nen45zu7o
Kaca:Bratayuda.pdf/56
250
24728
77423
2026-05-15T14:07:47Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77423
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>memenuhi medan perang. Prajurit Pandawa banyak yang mati, dan
kereta yang dikendarai Kama menjorok ke depan mendahului pasukan, yang tergilas begitu saja, dan Korawa mengikutinya menyerbu musuh.
Pasukan Pandawa berantakan, ngeri melihat sepak terjang
Kama, dan telah hilang keberaniannya tatkala Gatotkaca tewas
oleh Suryaputra. Pasukan Pandawa bubar berlarian. Raden Nakula,
Yuyutsuh, Drustajumena, keretanya semua remuk dipanah oleh
Kama. Kemudian mereka lari.
Prabu Yudistira, Aijuna, Wrekodara segera memberi bantuan
menahan amukan Kama, dan semua melepaskan panah. Pasukan
Korawa banyak yang mati, kereta yang dikendarai Kama terhenti,
lalu mereka berperang satu lawan satu, saling memanah.
* **
Prabu Suyudana dipanah oleh Wrekodara, jatuh terlentang,
akan tetapi tidak mempan, lalu bersembunyi di belakang pasukan. Raden Wresasena, putra Prabu Kama, tewas oleh Raden Setyaki. Kemudian Prabu Suyudana bertemu dengan Wrekodara,
sekali lagi dipanah oleh Wrekodara, yang kena tali busumya, lalu ia lari. Raden Dursasana, adik Prabu Suyudana, segera melindungi kakaknya, menyongsong kedatangan Wrekodara dengan berkendaraan gajah, seraya melepaskan panahnya yang bemama Barla. Wrekodara jatuh terbanting, akan tetapi tidak mempan. Ia segera bangkit berdiri, mengambil gada, dan terus mendesak maju.
Gajah yang dikendarai Dursasana dihantam dengan gada, hancur
kepalanya. Dursasana segera melompat ke bawah, lalu keduanya
saling menggada. Dursasana merasa kewalahan, dan hendak lari,
namun segera rambutnya dijambak, dihentakkan keras-keras oleh
Raden Wrekodara. Dursasana jatuh tertelentang dengan rambut
masih dipegang oleh Raden Wrekodara, dan berulang-ulang dihantam dengan gada.
Prabu Suyudana sesaudara menolong, semua melepaskan
anak panah, akan tetapi Wrekodara sama sekali tidak takut. Prabu
Yudistira sekeluarga lalu menyerang Prabu Suyudana, dengan
59<noinclude></noinclude>
t7alq58wjn2jr1enbragh3xn9bo29nt
77424
77423
2026-05-15T14:14:07Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77424
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>memenuhi medan perang, Prajurit Pandawa banyak yang mati, dan kereta yang dikendarai Kama menjorok ke depan mendahului pasukan, yang tergilas begitu saja, dan Korawa mengikutinya menyerbu musuh.
Pasukan Pandawa berantakan, ngeri melihat sepak terjang
Kama, dan telah hilang keberaniannya tatkala Gatotkaca tewas oleh Suryaputra, Pasukan Pandawa bubar berlarian, Raden Nakula, Yuyutsuh, Drustajumena, keretanya semua remuk dipanah oleh Karna, Kemudian mereka lari.
Prabu Yudistira, Arjuna, Wrekodara segera memberi bantuan
menahan amukan Kama, dan semua melepaskan panah. Pasukan
Korawa banyak yang mati, kereta yang dikendarai Karna terhenti, lalu mereka berperang satu lawan satu, saling memanah.
{{C| * * *}}
Prabu Suyudana dipanah oleh Wrekodara, jatuh terlentang,
akan tetapi tidak mempan, lalu bersembunyi di belakang pasukan, Raden Wresasena, putra Prabu Kama, tewas oleh Raden Setyaki. Kemudian Prabu Suyudana bertemu dengan Wrekodara, sekali lagi dipanah oleh Wrekodara, yang kena tali busurnya, lalu ia lari, Raden Dursasana, adik Prabu Suyudana, segera melindungi kakaknya, menyongsong kedatangan Wrekodara dengan berkendaraan gajah, seraya melepaskan panahnya yang bernama Barla. Wrekodara jatuh terbanting, akan tetapi tidak mempan. Ia segera bangkit berdiri, mengambil gada, dan terus mendesak maju. Gajah yang dikendarai Dursasana dihantam dengan gada, hancur
kepalanya. Dursasana segera melompat ke bawah, lalu keduanya saling menggada. Dursasana merasa kewalahan, dan hendak lari, namun segera rambutnya dijambak, dihentakkan keras-keras oleh Raden Wrekodara. Dursasana jatuh tertelentang dengan rambut masih dipegang oleh Raden Wrekodara, dan berulang-ulang dihantam dengan gada
Prabu Suyudana sesaudara menolong, semua melepaskan anak panah, akan tetapi Wrekodara sama sekali tidak takut. Prabu Yudistira sekeluarga lalu menyerang Prabu Suyudana, dengan<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude>
6c997pwu5uwnwvy56260aprihkf3stk
77495
77424
2026-05-15T15:22:33Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77495
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>memenuhi medan perang, Prajurit Pandawa banyak yang mati, dan kereta yang dikendarai Kama menjorok ke depan mendahului pasukan, yang tergilas begitu saja, dan Korawa mengikutinya menyerbu musuh.
Pasukan Pandawa berantakan, ngeri melihat sepak terjang
Kama, dan telah hilang keberaniannya tatkala Gatotkaca tewas oleh Suryaputra, Pasukan Pandawa bubar berlarian, Raden Nakula, Yuyutsuh, Drustajumena, keretanya semua remuk dipanah oleh Karna, Kemudian mereka lari.
Prabu Yudistira, Arjuna, Wrekodara segera memberi bantuan
menahan amukan Kama, dan semua melepaskan panah. Pasukan
Korawa banyak yang mati, kereta yang dikendarai Karna terhenti, lalu mereka berperang satu lawan satu, saling memanah.
{{C| * * *}}
Prabu Suyudana dipanah oleh Wrekodara, jatuh terlentang,
akan tetapi tidak mempan, lalu bersembunyi di belakang pasukan, Raden Wresasena, putra Prabu Kama, tewas oleh Raden Setyaki. Kemudian Prabu Suyudana bertemu dengan Wrekodara, sekali lagi dipanah oleh Wrekodara, yang kena tali busurnya, lalu ia lari, Raden Dursasana, adik Prabu Suyudana, segera melindungi kakaknya, menyongsong kedatangan Wrekodara dengan berkendaraan gajah, seraya melepaskan panahnya yang bernama Barla. Wrekodara jatuh terbanting, akan tetapi tidak mempan. Ia segera bangkit berdiri, mengambil gada, dan terus mendesak maju. Gajah yang dikendarai Dursasana dihantam dengan gada, hancur
kepalanya. Dursasana segera melompat ke bawah, lalu keduanya saling menggada. Dursasana merasa kewalahan, dan hendak lari, namun segera rambutnya dijambak, dihentakkan keras-keras oleh Raden Wrekodara. Dursasana jatuh tertelentang dengan rambut masih dipegang oleh Raden Wrekodara, dan berulang-ulang dihantam dengan gada
Prabu Suyudana sesaudara menolong, semua melepaskan anak panah, akan tetapi Wrekodara sama sekali tidak takut. Prabu Yudistira sekeluarga lalu menyerang Prabu Suyudana, dengan<noinclude>{{rh|||59}}</noinclude>
mhvjdpijbwjju0yojh5lj0b93vfdf75
Kaca:Bratayuda.pdf/57
250
24729
77425
2026-05-15T14:14:32Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77425
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>demikian Raden Wrekodara tidak terganggu, dan hanya disoraki
saja dari kejauhan.
Raden Wrekodara dapat berbuat sekehendaknya dalam mempermainkan Dursasana, seraya berseru-seru memanggil para dewa,
para raja musuh, dan para Pandawa, "Hai, semua hendaknya menjadi saksi, bahwa aku akan membayar nazar iparku yang bernama
Dewi Drupadi, permaisuri Kakanda Prabu Yudistira. Ia telah bersumpah, bahwa untuk selama-lamanya ia tidak akan menyanggul
rambutnya, jika belum keramas darah si Dursasana. Sekarang ini
akan terlaksana! "
Memang Dewi Drupadi mempunyai nazar demikian, dan
nazar itu terucapkan sebelum dimulainya Perang Baratayuda, ketika Prabu Yudistira sesaudara pergi bertapa. Pada waktu itu Dewi
Drupadi dibawa ke Astina. Di sana ia disakiti dan diperlakukan
sewenang-wenang oleh Raden Dursasana.
Diceritakan, bagaimana Raden Wrekodara mempermainkan
korbannya, adalah demikian: Perut Dursasana dibedah, darahnya
diminum langsung. lsi perutnya ditarik keluar dan dirobek-robek.
Kaki dan tangannya dipatah-patahkan, kemudian dilempar ke sana
ke marl. Kepalanya dihancurkan dengan gada. Raden Wrekodara
lalu pulang ke pesanggrahan hendak menemui De'Nj Drupadi, sambil menari-nari di sepanjang jalan. Prabu Yudistira dan seluruh keluarganya, serta permaisurinya segera menyongsong dan menghormat, serta menyanjung-nyanjung Wrekodara. Janggut dan misai
Raden Wrekodara masih berlumuran darah, lalu diperas di kepala
Dewi Drupadi. Di saat itulah telah terbayar sumpah atau nazar
sang dewi. Keluarga Pandawa bersukacita, dan dalam waktu sebentar itu berhentilah peperangan.
60<noinclude></noinclude>
b9nu9ejfn38h76cl8s1hwih8jta197g
77426
77425
2026-05-15T14:19:04Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77426
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>demikian Raden Wrekodara tidak terganggu, dan hanya disoraki saja dari kejauhan.
Raden Wrekodara dapat berbuat sekehendaknya dalam mempermainkan Dursasana, seraya berseru-seru memanggil para dewa, para raja musuh, dan para Pandawa, "Hai, semua hendaknya menjadi saksi, bahwa aku akan membayar nazar iparku yang bernama Dewi Drupadi, permaisuri Kakanda Prabu Yudistira. Ia telah bersumpah, bahwa untuk selama-lamanya ia tidak akan menyanggul rambutnya, jika belum keramas darah si Dursasana. Sekarang ini akan terlaksana!”
Memang Dewi Drupadi mempunyai nazar demikian, dan nazar itu terucapkan sebelum dimulainya Perang Baratayuda, ketika Prabu Yudistira sesaudara pergi bertapa. Pada waktu itu Dewi Drupadi dibawa ke Astina. Di sana ia disakiti dan diperlakukan sewenang-wenang oleh Raden Dursasana.
Diceritakan, bagaimana Raden Wrekodara mempermainkan korbannya, adalah demikian: Perut Dursasana dibedah, darahnya diminum langsung. Isi perutnya ditarik keluar dan dirobek-robek. Kaki dan tangannya dipatah-patahkan, kemudian dilempar ke sana ke mari. Kepalanya dihancurkan dengan gada. Raden Wrekodara lalu pulang ke pesangerahan hendak menemui Dewi Drupadi, sambil menari-nari di sepanjang jalan. Prabu Yudistira dan seluruh keluarganya, serta permaisurinya segera menyongsong dan menghormat, serta menyanjung-nyanjung Wrekodara. Janggut dan misai Raden Wrekodara masih berlumuran darah, lalu diperas di kepala Dewi Drupadi. Di saat itulah telah terbayar sumpah atau nazar sang dewi. Keluarga Pandawa bersukacita, dan dalam waktu sebentar itu berhentilah peperangan.<noinclude>{{rh|60}}</noinclude>
c0zf86x2izoqkisbohwkuey9fayuvzm
77494
77426
2026-05-15T15:22:05Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77494
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>demikian Raden Wrekodara tidak terganggu, dan hanya disoraki saja dari kejauhan.
Raden Wrekodara dapat berbuat sekehendaknya dalam mempermainkan Dursasana, seraya berseru-seru memanggil para dewa, para raja musuh, dan para Pandawa, "Hai, semua hendaknya menjadi saksi, bahwa aku akan membayar nazar iparku yang bernama Dewi Drupadi, permaisuri Kakanda Prabu Yudistira. Ia telah bersumpah, bahwa untuk selama-lamanya ia tidak akan menyanggul rambutnya, jika belum keramas darah si Dursasana. Sekarang ini akan terlaksana!”
Memang Dewi Drupadi mempunyai nazar demikian, dan nazar itu terucapkan sebelum dimulainya Perang Baratayuda, ketika Prabu Yudistira sesaudara pergi bertapa. Pada waktu itu Dewi Drupadi dibawa ke Astina. Di sana ia disakiti dan diperlakukan sewenang-wenang oleh Raden Dursasana.
Diceritakan, bagaimana Raden Wrekodara mempermainkan korbannya, adalah demikian: Perut Dursasana dibedah, darahnya diminum langsung. Isi perutnya ditarik keluar dan dirobek-robek. Kaki dan tangannya dipatah-patahkan, kemudian dilempar ke sana ke mari. Kepalanya dihancurkan dengan gada. Raden Wrekodara lalu pulang ke pesangerahan hendak menemui Dewi Drupadi, sambil menari-nari di sepanjang jalan. Prabu Yudistira dan seluruh keluarganya, serta permaisurinya segera menyongsong dan menghormat, serta menyanjung-nyanjung Wrekodara. Janggut dan misai Raden Wrekodara masih berlumuran darah, lalu diperas di kepala Dewi Drupadi. Di saat itulah telah terbayar sumpah atau nazar sang dewi. Keluarga Pandawa bersukacita, dan dalam waktu sebentar itu berhentilah peperangan.<noinclude>{{rh|60}}</noinclude>
jvli4vwa3iwmoectaqivqgo3n0r3q7w
Kaca:Bratayuda.pdf/58
250
24730
77427
2026-05-15T14:19:26Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77427
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>8. KARNA TEWAS BERPERANG DENGAN ARJUNA.
SALYA MERELAKAN NYAWANYA KEPADA
PANDAWA
Ketika matahari sudah jauh condong ke barat pihak Pandawa
gempar melihat datangnya musuh, dan kereta Kama su:l.ah sampai
di tengah-tengah medan perang mendahului pasukannya. Pasukan
Korawa turut menyerbu ke tengah arena.
Sri Kresna segera memberi perintah kepada Arjuna mengendarai kereta untuk berperang melawan Adipati Kama. Raden Arjuna segera naik ke kereta, yang menjadi sais Sri Kresna. Pasukan
Pandawa dan Korawa hanya bersorak-sorak dari kejauhan.
Yang berperang hanya senapatinya saja, satu lawan satu, dan
itulah yang dinamakan Perang Kama Tanding. Disebut demikian
karena rupanya kembar dengan Raden Janaka. Sarna tampannya,
keberanian dan kesaktian serta kepandaiannya juga sama. Memang saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Hanya rona wajahnya yang berbeda. Prabu Kama berona beringas , sedangkan
Raden J anaka berona tenang. Keduanya sama-sama memiliki panah anugerah dewa. Nama panah Prabu Kama, Wijayadanu , apa
yang diinginkan pemiliknya, Wijayadanu dapat memenuhinya.
Panah Raden Janaka dua buah, satu bemama Sarutama, satu lagi
Pasopati, dan apa yang diinginkan pemiliknya, kedua panah itu
pun dapat memenuhinya juga.
Saisnya pun sama-sama raja besar, Prabu Salya, dan Prabu
Kresna. Oleh karena itu para dewa, para bidadari, demikian pula
Pandawa dan Korawa, yang menonton perang tanding kedua satria itu merasa sayang, jika salah seorang di antaranya tewas, sehingga tidak ada lagi yang dilihat.
Kama dan Arjuna lalu mengadu kesaktian. Keretanya berputar-putar, saling melepaskan anak panah. Prabu Karna menarik
tali busurnya, dan membidikkan anak panahnya. Tiba-tiba datang
61<noinclude></noinclude>
j59ded6tvd0q4aveghyrd29qs8r8pdr
77428
77427
2026-05-15T14:32:11Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77428
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''8. KARNA TEWAS BERPERANG DENGAN ARJUNA.<br>
'''SALYA MERELAKAN NYAWANYA KEPADA'''<br>'''PANDAWA'''}}
Ketika matahari sudah jauh condong ke barat pihak Pandawa
gempar melihat datangnya musuh, dan kereta Karna sudah sampai di tengah-tengah medan perang mendahului pasukannya. Pasukan Korawa turut menyerbu ke tengah arena.
Sri Kresna segera memberi perintah kepada Arjuna mengendarai kereta untuk berperang melawan Adipati Karna. Raden Arjuna segera naik ke kereta, yang menjadi sais Sri Kresna. Pasukan Pandawa dan Korawa hanya bersorak-sorak dari kejauhan.
Yang berperang hanya senapatinya saja, satu lawan satu, dan itulah yang dinamakan ''Perang Karna Tanding''. Disebut demikian karena rupanya kembar dengan Raden Janaka. Sama tampannya, keberanian dan kesaktian serta kepandaiannya juga sama. Memang saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Hanya rona wajahnya yang berbeda. Prabu Karna berona beringas, sedangkan Raden Janaka berona tenang. Keduanya sama-sama memiliki panah anugerah dewa. Nama panah Prabu Karna, Wijayadanu, apa yang diinginkan pemiliknya, Wijayadanu dapat memenuhinya. Panah Raden Janaka dua buah, satu bernama Sarutama, satu lagi
Pasopati, dan apa yang diinginkan pemiliknya, kedua panah itu pun dapat memenuhinya juga.
Saisnya pun samasama raja besar, Prabu Salya, dan Prabu
Kresna. Oleh arena itu para dewa, para bidadari, demikian pula Pandawa dan Korawa, yang menonton perang tanding kedua satria itu merasa sayang, jika salah seorang di antaranya tewas, sehingga tidak ada lagi yang dilihat.
Karna dan Arjuna lalu mengadu kesaktian. Keretanya berputar-putar, saling melepaskan anak panah. Prabu Karna menarik tali busurnya, dan membidikkan anak panahnya. Tiba-tiba datang<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude>
rw54nx48zh7jeqjuun5aa0ftmmip9g0
77493
77428
2026-05-15T15:21:31Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77493
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{C|'''8. KARNA TEWAS BERPERANG DENGAN ARJUNA.<br>
'''SALYA MERELAKAN NYAWANYA KEPADA'''<br>'''PANDAWA'''}}
Ketika matahari sudah jauh condong ke barat pihak Pandawa
gempar melihat datangnya musuh, dan kereta Karna sudah sampai di tengah-tengah medan perang mendahului pasukannya. Pasukan Korawa turut menyerbu ke tengah arena.
Sri Kresna segera memberi perintah kepada Arjuna mengendarai kereta untuk berperang melawan Adipati Karna. Raden Arjuna segera naik ke kereta, yang menjadi sais Sri Kresna. Pasukan Pandawa dan Korawa hanya bersorak-sorak dari kejauhan.
Yang berperang hanya senapatinya saja, satu lawan satu, dan itulah yang dinamakan ''Perang Karna Tanding''. Disebut demikian karena rupanya kembar dengan Raden Janaka. Sama tampannya, keberanian dan kesaktian serta kepandaiannya juga sama. Memang saudara sekandung, seibu berlainan ayah. Hanya rona wajahnya yang berbeda. Prabu Karna berona beringas, sedangkan Raden Janaka berona tenang. Keduanya sama-sama memiliki panah anugerah dewa. Nama panah Prabu Karna, Wijayadanu, apa yang diinginkan pemiliknya, Wijayadanu dapat memenuhinya. Panah Raden Janaka dua buah, satu bernama Sarutama, satu lagi
Pasopati, dan apa yang diinginkan pemiliknya, kedua panah itu pun dapat memenuhinya juga.
Saisnya pun samasama raja besar, Prabu Salya, dan Prabu
Kresna. Oleh arena itu para dewa, para bidadari, demikian pula Pandawa dan Korawa, yang menonton perang tanding kedua satria itu merasa sayang, jika salah seorang di antaranya tewas, sehingga tidak ada lagi yang dilihat.
Karna dan Arjuna lalu mengadu kesaktian. Keretanya berputar-putar, saling melepaskan anak panah. Prabu Karna menarik tali busurnya, dan membidikkan anak panahnya. Tiba-tiba datang<noinclude>{{rh|||61}}</noinclude>
3awh2q7t2bb5eo9fgtldxzqq00anrdv
Kaca:Bratayuda.pdf/59
250
24731
77429
2026-05-15T14:32:34Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77429
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>.seekor ular naga di hadapannya, meluncur dari angkasa, luar biasa
besamya, dapat berkata-kata seperti manusia, bemama Ardawalika. Ia bertutur kepada Prabu Kama, maksudnya hendak membalas dendam kepada A:rjuna.
"Terserah kamu, jika hendak membunuh si Janaka. Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" jawab Kama.
Raden Janaka segera mengambil anak panahnya, lalu dilepaskan. Naga Ardawalika mati setelah kena panah, berdembam
jatuh ke tanah.
Bidikan panah Prabu Kama diarahkan ke leher Raden Janaka.
Prabu Salya melihat, bahwa bidikan Prabu Kama itu sangat membahayakan Raden Dananjaya. Ia lalu menarik kendali kuda, sehingga keretanya bergoncang ketika panah Prabu Kama terlepas,
dan bidikannya berubah agak ke atas. Mahkota Raden Janaka terlepas kena panah. Sri Kresna segera menolong, mengelus rambut
Janaka, dan membetulkan mahkotanya.
Kama sangat kecewa, bahwa Raden Janaka tidak kena lehernya, akan tetapi ia tidak tahu, bahwa hal itu te:rjadi karena perbuatan saisnya. Prabu Kama lalu mengambil panah Wijayadanu,
lalu dibidikkan. Yang dibidik ialah leher Janaka. Prabu Salya lalu
menginjak keretanya, bersamaan waktunya dengan terlepasnya
anak panah. Yang kena ialah sanggul Raden Janaka, rantas.
Raden Janaka sangat marah dan malu, lalu segera membalas.
Kaki-kaki kuda penarik kereta Prabu Kama, seluruhnya patah.
Raden Janaka membidik lagi dengan panah Pasopati. Prabu Karna membidikkan Wijayadanu, dan dimanterainya. Akan tetapi lebih cepat Raden J anaka. Leher Prabu Kama patah, kena panah
Pasopati, berdembam jatuh di dalam kereta. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh. Korawa lari. Kedua belah pihak mundur dari
medan perang, karena hari telah malam.
***
Prabu Suyudana berunding dengan Patih Sengkuni, Prabu
Salya serta adik-adiknya yang tinggal dua puluh orang lagi, karena
62<noinclude></noinclude>
7l44bcg34d59rnk2y7w7k85ju3tmg6m
77434
77429
2026-05-15T14:40:30Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77434
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>seekor ular naga di hadapannya, meluncur dari angkasa, luar biasa besarnya, dapat berkata-kata seperti manusia, bernama Ardawalika. Ia bertutur kepada Prabu Karna, maksudnya hendak membalas dendam kepada Arjuna.
"Terserah kamu, jika hendak membunuh si Janaka. Aku tidak membutuhkan bantuanmu!” jawab Karna,
Raden Janaka segera mengambil anak panahnya, lalu dilepaskan. Naga Ardawalika mati setelah kena panah, berdembam jatuh ke tanah.
Bidikan panah Prabu Kama diarahkan ke leher Raden Janaka.
Prabu Salya melihat, bahwa bidikan Prabu Karna itu sangat membahayakan Raden Dananjaya. Ia lalu menarik kendali kuda, sehingga keretanya bergoncang ketika panah Prabu Karna terlepas, dan bidikannya berubah agak ke atas. Mahkota Raden Janaka terlepas kena panah. Sri Kresna segera menolong, mengelus rambut Janaka, dan membetulkan mahkotanya.
Karna sangat kecewa, bahwa Raden Janaka tidak kena lehernya, akan tetapi ia tidak tahu, bahwa hal itu terjadi karena perbuatan saisnya. Prabu Karna lalu mengambil panah Wijayadanu, lalu dibidikkan. Yang dibidik ialah leher Janaka. Prabu Salya lalu menginjak Keretanya, bersamaan waktunya dengan terlepasnya anak panah. Yang kena ialah sanggul Raden Janaka, rantas.
Raden Janaka sangat marah dan malu, lalu segera membalas.
Kaki-kaki kuda penarik Kereta Prabu Karna, seluruhnya patah. Raden Janaka membidik lagi dengan panah Pasopati. Prabu Karna membidikkan Wijayadanu, dan dimanterainya. Akan tetapi lebih cepat Raden Janaka. Leher Prabu Karna patah, kena panah Pasopati, berdembam jatuh di dalam kereta. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh. Korawa lari. Kedua belah pihak mundur dari medan perang, karena hari telah malam.
{{C|* * *}}
Prabu Suyudana berunding dengan Patih Sengkuni, Prabj Salya serta adik-adiknya yang tinggal dua puluh orang lagi, karena<noinclude>{{rh|62}}</noinclude>
0plkyva75anep63c8e4szbrgqi8w52l
77492
77434
2026-05-15T15:21:07Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77492
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>seekor ular naga di hadapannya, meluncur dari angkasa, luar biasa besarnya, dapat berkata-kata seperti manusia, bernama Ardawalika. Ia bertutur kepada Prabu Karna, maksudnya hendak membalas dendam kepada Arjuna.
"Terserah kamu, jika hendak membunuh si Janaka. Aku tidak membutuhkan bantuanmu!” jawab Karna,
Raden Janaka segera mengambil anak panahnya, lalu dilepaskan. Naga Ardawalika mati setelah kena panah, berdembam jatuh ke tanah.
Bidikan panah Prabu Kama diarahkan ke leher Raden Janaka.
Prabu Salya melihat, bahwa bidikan Prabu Karna itu sangat membahayakan Raden Dananjaya. Ia lalu menarik kendali kuda, sehingga keretanya bergoncang ketika panah Prabu Karna terlepas, dan bidikannya berubah agak ke atas. Mahkota Raden Janaka terlepas kena panah. Sri Kresna segera menolong, mengelus rambut Janaka, dan membetulkan mahkotanya.
Karna sangat kecewa, bahwa Raden Janaka tidak kena lehernya, akan tetapi ia tidak tahu, bahwa hal itu terjadi karena perbuatan saisnya. Prabu Karna lalu mengambil panah Wijayadanu, lalu dibidikkan. Yang dibidik ialah leher Janaka. Prabu Salya lalu menginjak Keretanya, bersamaan waktunya dengan terlepasnya anak panah. Yang kena ialah sanggul Raden Janaka, rantas.
Raden Janaka sangat marah dan malu, lalu segera membalas.
Kaki-kaki kuda penarik Kereta Prabu Karna, seluruhnya patah. Raden Janaka membidik lagi dengan panah Pasopati. Prabu Karna membidikkan Wijayadanu, dan dimanterainya. Akan tetapi lebih cepat Raden Janaka. Leher Prabu Karna patah, kena panah Pasopati, berdembam jatuh di dalam kereta. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh. Korawa lari. Kedua belah pihak mundur dari medan perang, karena hari telah malam.
{{C|* * *}}
Prabu Suyudana berunding dengan Patih Sengkuni, Prabj Salya serta adik-adiknya yang tinggal dua puluh orang lagi, karena<noinclude>{{rh|62}}</noinclude>
htsp0v7f9tpc8oxon4udt2xm2xqkejy
Kaca:Bratayuda.pdf/60
250
24732
77436
2026-05-15T14:40:55Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77436
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>yang lain sudah tewas di peperangan. Prabu Suyudana mahan
sambil menangis kepada Prabu Salya, dipersilakan menjadi senapati untuk mempertahankan dan merebut negeri Astina. Prabu Salya
tidak bersedia, dan menyarankan agar separah negeri Astina diserahkan kepada Pandawa. Jika Pandawa tidak mau menerimanya,
barulah Prabu Salya sanggup menghancurkan mereka.
Prabu Suyudana tidak mau, karena sudah terlambat. Lagi
pula putra dan saudara-saudaranya sudah banyak yang tewas.
Lama mereka berbantah.
Kemudian datanglah Aswatama, lalu berkata tak senanah,
dan mengungkapkan perbuatan Prabu Salya ketika menjadi sais
kereta Prabu Kama.
Prabu Salya sangat marah, dan hendak berkelahi dengan
Aswatama, lalu dipisah aleh Suyudana. Raden Aswatama diusir,
lalu pergi bertapa di dalam hutan.
Kemarahan Prabu Salya sudah reda, dan akhirnya sanggup
menjadi senapati. Prabu Suyudana gembira sekali, lalu menghadiahkan pakaian-pakaian indah kepada pasukan Mandaraka. Semua
mendapat bagian.
Sudah tersiar luas bahwa Prabu Salya menjadi senapati.
Perang berhenti selama dua hari.
Pandawa sudah mendengar pula, bahwa Prabu Salya diangkat menjadi senapati Karawa, dan hal membuat mereka bingung.
Prabu Yudistira sesaudara berniat menyerahkan nyawa saja kepada Prabu Salya, karena mereka sangat takut. Apa lagi Prabu
Salya itu searang raja yang sudah lanjut usia, dan tua pula kedudukannya dalam hubungan keluarga, lagi sangat sakti, sehingga
tidak ada yang berani melawannya.
***
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Nakula dan
Raden Sadewa, supaya menghadap uaknya. Prabu Salya, serta dipesan, apa yang harus dilakukan setelah berada di hadapan Prabu
Salya ..
63<noinclude></noinclude>
2v4xqtm55dcqoja552zejfen12l0i42
77439
77436
2026-05-15T14:46:26Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77439
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>yang lain sudah tewas di peperangan. Prabu Suyudana mohon
sambil menangis kepada Prabu Salya, dipersilakan menjadi senapati untuk mempertahankan dan merebut negeri Astina. Prabu Salya tidak bersedia, dan menyarankan agar separah negeri Astina diserahkan kepada Pandawa. Jika Pandawa tidak mau menerimanya, barulah Prabu Salya sanggup menghancurkan mereka.
Prabu Suyudana tidak mau, karena sudah terlambat. Lagi
pula putra dan saudara-saudaranya sudah banyak yang tewas. Lama mereka berbantah.
Kemudian datanglah Aswatama, lalu berkata tak senonoh,
dan mengungkapkan perbuatan Prabu Salya ketika menjadi sais kereta Prabu Kama.
Prabu Salya sangat marah, dan hendak berkelahi dengan
Aswatama, lalu dipisah aleh Suyudana. Raden Aswatama diusir, lalu pergi bertapa di dalam hutan.
Kemarahan Prabu Salya sudah reda, dan akhirnya sanggup
menjadi senapati. Prabu Suyudana gembira sekali, lalu menghadiahkan pakaian-pakaian indah kepada pasukan Mandaraka. Semua mendapat bagian.
Sudah tersiar luas bahwa Prabu Salya menjadi senapati.
Perang berhenti selama dua hari.
Pandawa sudah mendengar pula, bahwa Prabu Salya diangkat menjadi senapati Karawa, dan hal membuat mereka bingung.
Prabu Yudistira sesaudara berniat menyerahkan nyawa saja kepada Prabu Salya, karena mereka sangat takut. Apa lagi Prabu Salya itu searang raja yang sudah lanjut usia, dan tua pula kedudukannya dalam hubungan keluarga, lagi sangat sakti, sehingga tidak ada yang berani melawannya.
{{C|* * *}}
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Nakula dan Raden Sadewa, supaya menghadap uaknya. Prabu Salya, serta dipesan, apa yang harus dilakukan setelah berada di hadapan Prabu Salya ..<noinclude>{{rh|||63}}</noinclude>
6zk1i3caumtvvdpdj89qgh8g7h2m3bo
77490
77439
2026-05-15T15:20:40Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77490
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>yang lain sudah tewas di peperangan. Prabu Suyudana mohon
sambil menangis kepada Prabu Salya, dipersilakan menjadi senapati untuk mempertahankan dan merebut negeri Astina. Prabu Salya tidak bersedia, dan menyarankan agar separah negeri Astina diserahkan kepada Pandawa. Jika Pandawa tidak mau menerimanya, barulah Prabu Salya sanggup menghancurkan mereka.
Prabu Suyudana tidak mau, karena sudah terlambat. Lagi
pula putra dan saudara-saudaranya sudah banyak yang tewas. Lama mereka berbantah.
Kemudian datanglah Aswatama, lalu berkata tak senonoh,
dan mengungkapkan perbuatan Prabu Salya ketika menjadi sais kereta Prabu Kama.
Prabu Salya sangat marah, dan hendak berkelahi dengan
Aswatama, lalu dipisah aleh Suyudana. Raden Aswatama diusir, lalu pergi bertapa di dalam hutan.
Kemarahan Prabu Salya sudah reda, dan akhirnya sanggup
menjadi senapati. Prabu Suyudana gembira sekali, lalu menghadiahkan pakaian-pakaian indah kepada pasukan Mandaraka. Semua mendapat bagian.
Sudah tersiar luas bahwa Prabu Salya menjadi senapati.
Perang berhenti selama dua hari.
Pandawa sudah mendengar pula, bahwa Prabu Salya diangkat menjadi senapati Karawa, dan hal membuat mereka bingung.
Prabu Yudistira sesaudara berniat menyerahkan nyawa saja kepada Prabu Salya, karena mereka sangat takut. Apa lagi Prabu Salya itu searang raja yang sudah lanjut usia, dan tua pula kedudukannya dalam hubungan keluarga, lagi sangat sakti, sehingga tidak ada yang berani melawannya.
{{C|* * *}}
Sri Kresna lalu memberi perintah kepada Raden Nakula dan Raden Sadewa, supaya menghadap uaknya. Prabu Salya, serta dipesan, apa yang harus dilakukan setelah berada di hadapan Prabu Salya ..<noinclude>{{rh|||63}}</noinclude>
ia1bxd8chhs126z4jyblvemj9weew6t
Kaca:Bratayuda.pdf/61
250
24733
77441
2026-05-15T14:47:25Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77441
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Nakula dan Raden Sadewa lalu berangkat ke pesanggrahan Mandaraka, tanpa membawa pasukan. Setiba di sana, Prabu Salya sedang berada di sanggar pemujaan. Raden Nakula dan
Sadewa lalu menelungkup di pangkuan uaknya, seraya menangis,
dan ujarnya, "Apabila Uak Prabu menjadi senapati, tak urung
hamba serta seluruh saudara hamba, akan habis tumpas oleh Paduka, demikian pula raja-raja yang memihak Pandawa, semua
takut terhadap kesaktian Paduka. Oleh karena itu lebih baik hamba mati sekarang saja." Raden Nakula dan Sadewa lalu menghunus keris, hendak bunuh diri.
Prabu Salya segera memegang keris kedua kemenakannya.
Memeluknya seraya menangis. Demikian ujarnya, "Sudahlah, jangan menangis, meskipun sudah terlanjur aku bersedia menjadi
senapati, akan tetapi dalam batinku·, aku sangat mencintaimu,
karena aku sudah tidak mempunyai anak laki-laki. Anakku, Burisrawa dan Rukmarata sudah tewas di medan Perang Baratayuda,
sehingga sekarang ini hanya engkau berdualah yang wajib memiliki negaraku di Mandaraka. Pesanku, jika besok pagi aku maju
ke medan perang, kakakmu si Yudistira saja yang menandingiku,
dan azimatnya yang bernama Kalimasada, kenakanlah padaku,
pasti aku akan mati. Selain dari itu, tak ada senjata lain kukira,
yang mempan terhadap diriku, lagi pula tiada seorang pun yang
dapat mengalahkan kesaktianku Candabirawa; karena dulu, ketika
aku membunuh mertuaku yang hernama Bagawan Bagaspati,
terdengarlah suara demikian, "Hai, Salya, kelak di dalam Perang
Baratayuda, jika ada seorang raja berbudi pendeta, dan memiliki
azimat Kalimasada, saat itulah aku membalasmu. Dan aku mendapat warisan kesaktian Candabirawa. Namun pesanku padamu, jika
aku telah tiada, negara Mandaraka kuserahkan ke padamu. Nah,
sudah, pulanglah kalian! "
. Raden Nakula dan Sadewa semakin menjadi-jadi tangisnya,
lalu mohon diri. Di sepanjangjalan mereka masih terus menghapus
air mata. Setibanya di pesanggrahan lalu menghadap kakaknya,
Prabu Yudistira serta Sri Kresna, Wrekodara, dan Janaka. Raden
Nakula dan Sadewa lalu memaparkan segenap pesan Prabu Salya.
64<noinclude></noinclude>
jncubwwb58ldlfcuvdpdv0rdrtx200m
77453
77441
2026-05-15T14:53:12Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77453
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Nakula dan Raden Sadewa lalu berangkat ke pesanggrahan Mandaraka, tanpa membawa pasukan. Setiba di sana, Prabu Salya sedang berada di sanggar pemujaan. Raden Nakula dan Sadewa lalu menelungkup di pangkuan uaknya, seraya menangis dan ujarnya, "Apabila Uak Prabu menjadi senapati, tak urung hamba serta seluruh saudara hamba, akan habis tumpas oleh Paduka, demikian pula raja-raja yang memihak Pandawa, semua takut terhadap kesaktian Paduka. Oleh karena itu lebih baik hamba mati sekarang saja." Raden Nakula dan Sadewa lalu menghunus keris, hendak bunuh diri.
Prabu Salya segera memegang keris kedua kemenakannya.
Memeluknya seraya menangis. Demikian ujarnya, "Sudahlah, jangan menangis, meskipun sudah terlanjur aku bersedia menjadi senapati, akan tetapi dalam batinku·, aku sangat mencintaimu, karena aku sudah tidak mempunyai anak laki-laki. Anakku, Burisrawa dan Rukmarata sudah tewas di medan Perang Baratayuda, sehingga sekarang ini hanya engkau berdualah yang wajib memiliki negaraku di Mandaraka. Pesanku, jika besok pagi aku maju ke medan perang, kakakmu si Yudistira saja yang menandingiku, dan azimatnya yang bernama Kalimasada, kenakanlah padaku,
pasti aku akan mati. Selain dari itu, tak ada senjata lain kukira, yang mempan terhadap diriku, lagi pula tiada seorang pun yang dapat mengalahkan kesaktianku Candabirawa; karena dulu, ketika aku membunuh mertuaku yang hernama Bagawan Bagaspati, terdengarlah suara demikian, "Hai, Salya, kelak di dalam Perang Baratayuda, jika ada seorang raja berbudi pendeta, dan memiliki
azimat Kalimasada, saat itulah aku membalasmu. Dan aku mendapat warisan kesaktian Candabirawa. Namun pesanku padamu, jika aku telah tiada, negara Mandaraka kuserahkan ke padamu. Nah, sudah, pulanglah kalian!"
Raden Nakula dan Sadewa semakin menjadi-jadi tangisnya, lalu mohon diri. Di sepanjang jalan mereka masih terus menghapus air mata. Setibanya di pesanggrahan lalu menghadap kakaknya, Prabu Yudistira serta Sri Kresna, Wrekodara, dan Janaka. Raden Nakula dan Sadewa lalu memaparkan segenap pesan Prabu Salya.<noinclude>{{rh|64}}</noinclude>
tc8wa1upilgaouqtqszlpsgbrryvmrq
77489
77453
2026-05-15T15:19:47Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77489
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Raden Nakula dan Raden Sadewa lalu berangkat ke pesanggrahan Mandaraka, tanpa membawa pasukan. Setiba di sana, Prabu Salya sedang berada di sanggar pemujaan. Raden Nakula dan Sadewa lalu menelungkup di pangkuan uaknya, seraya menangis dan ujarnya, "Apabila Uak Prabu menjadi senapati, tak urung hamba serta seluruh saudara hamba, akan habis tumpas oleh Paduka, demikian pula raja-raja yang memihak Pandawa, semua takut terhadap kesaktian Paduka. Oleh karena itu lebih baik hamba mati sekarang saja." Raden Nakula dan Sadewa lalu menghunus keris, hendak bunuh diri.
Prabu Salya segera memegang keris kedua kemenakannya.
Memeluknya seraya menangis. Demikian ujarnya, "Sudahlah, jangan menangis, meskipun sudah terlanjur aku bersedia menjadi senapati, akan tetapi dalam batinku·, aku sangat mencintaimu, karena aku sudah tidak mempunyai anak laki-laki. Anakku, Burisrawa dan Rukmarata sudah tewas di medan Perang Baratayuda, sehingga sekarang ini hanya engkau berdualah yang wajib memiliki negaraku di Mandaraka. Pesanku, jika besok pagi aku maju ke medan perang, kakakmu si Yudistira saja yang menandingiku, dan azimatnya yang bernama Kalimasada, kenakanlah padaku,
pasti aku akan mati. Selain dari itu, tak ada senjata lain kukira, yang mempan terhadap diriku, lagi pula tiada seorang pun yang dapat mengalahkan kesaktianku Candabirawa; karena dulu, ketika aku membunuh mertuaku yang hernama Bagawan Bagaspati, terdengarlah suara demikian, "Hai, Salya, kelak di dalam Perang Baratayuda, jika ada seorang raja berbudi pendeta, dan memiliki
azimat Kalimasada, saat itulah aku membalasmu. Dan aku mendapat warisan kesaktian Candabirawa. Namun pesanku padamu, jika aku telah tiada, negara Mandaraka kuserahkan ke padamu. Nah, sudah, pulanglah kalian!"
Raden Nakula dan Sadewa semakin menjadi-jadi tangisnya, lalu mohon diri. Di sepanjang jalan mereka masih terus menghapus air mata. Setibanya di pesanggrahan lalu menghadap kakaknya, Prabu Yudistira serta Sri Kresna, Wrekodara, dan Janaka. Raden Nakula dan Sadewa lalu memaparkan segenap pesan Prabu Salya.<noinclude>{{rh|64}}</noinclude>
3fjm9jfebyu910mp7sc28mz7rj6i3yu
Kaca:Bratayuda.pdf/62
250
24734
77455
2026-05-15T14:53:30Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77455
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Setelah mendengar paparan Nakula, Prabu Yudistira dan
Raden Arjuna menangis, karena perasaan kasihannya kepada
Prabu Salya.
Sri Kresna dan Raden Wrekodara tertawa seraya melirik
Prabu Yudistira, karena selama hidupnya, Prabu Yudistira itu
belum pernah marah, dan belum pernah menyakiti perasaan orang
lain, sedangkan sekarang harus . melaksanakan tugas membunuh
Prabu Salya.
***
Diceritakan lagi keadaan di pesanggrahan Mandaraka, permaisuri Prabu Salya, yang bernama Dewi Setyawati, sangat cantik
lagi menarik hati, dapat melayani suami, dan tingkah-lakunya serba pantas serta luwes. Ia melahirkan lima orang putra, dua orang
laki-laki bernama Raden Burisrawa, dan Raden Rukmarata, akan
tetapi dua-duanya sudah tewas dalam Perang Baratayuda. Putrinya tiga orang, seorang menjadi permaisuri Prabu Suyudana, seorang menjadi permaisuri Prabu Kama, dan seorang lagi menjadi
permaisuri Prabu Baladewa di Mandura.
Sepeninggal Raden Nakula dan Sadewa, Dewi Setyawati menangis sedih, menyalahkan suaminya, mengapa membukakan rahasia, yang akan menyebabkan kematiannya, tanpa menyayang dirinya sendiri, serta putri-putrinya, dan lebih mementingkan kemenakannya. Dewi Setyawati hendak bunuh diri, Prabu Salya segera
memegangi patram istrinya, dan memberikan pengertian tentang
aP'l yang dikehendakinya. Lalu sang dewi dirayu, dibawa ke ternpat tidur.
Ketika pada pagi harinya permaisuri masih tidur nyenyak
berbantal tangan Sri Baginda, dan sebelah ikat pinggangnya
juga tertindih. Perlahan-lahan Prabu Salya menarik tangannya,
ikat pinggangnya dipotong dengan keris, dan payudaranya disisipi
boneka em as, disertai kata-kata, "Ibu, si Bapak pergi berperang."
Prabu Salya lalu keluar, melihat matahari sudah terbit. Pasukannya sudah lengkap, lalu kembali ke dalam, memeluk dan
menciumi istrinya. Ujarnya demikian, "Dinda, selamat tidur, aku
65<noinclude></noinclude>
c2l5y468vxaod3gsuhqnnjdpt8589et
77463
77455
2026-05-15T14:57:54Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77463
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Setelah mendengar paparan Nakula, Prabu Yudistira dan Raden Arjuna menangis, karena perasaan kasihannya kepada
Prabu Salya.
Sri Kresna dan Raden Wrekodara tertawa seraya melirik
Prabu Yudistira, karena selama hidupnya, Prabu Yudistira itu belum pernah marah, dan belum pernah menyakiti perasaan orang lain, sedangkan sekarang harus melaksanakan tugas membunuh Prabu Salya.
{{C|* * *}}
Diceritakan lagi keadaan di pesanggrahan Mandaraka, permaisuri Prabu Salya, yang bernama Dewi Setyawati, sangat cantik lagi menarik hati, dapat melayani suami, dan tingkah-lakunya serba pantas serta luwes. Ia melahirkan lima orang putra, dua orang laki-laki bernama Raden Burisrawa, dan Raden Rukmarata, akan tetapi dua-duanya sudah tewas dalam Perang Baratayuda. Putrinya tiga orang, seorang menjadi permaisuri Prabu Suyudana, seorang menjadi permaisuri Prabu Kama, dan seorang lagi menjadi
permaisuri Prabu Baladewa di Mandura.
Sepeninggal Raden Nakula dan Sadewa, Dewi Setyawati menangis sedih, menyalahkan suaminya, mengapa membukakan rahasia, yang akan menyebabkan kematiannya, tanpa menyayang dirinya sendiri, serta putri-putrinya, dan lebih mementingkan kemenakannya. Dewi Setyawati hendak bunuh diri, Prabu Salya segera memegangi patram istrinya, dan memberikan pengertian tentang apa yang dikehendakinya. Lalu sang dewi dirayu, dibawa ke tempat tidur.
Ketika pada pagi harinya permaisuri masih tidur nyenyak
berbantal tangan Sri Baginda, dan sebelah ikat pinggangnya juga tertindih. Perlahan-lahan Prabu Salya menarik tangannya, ikat pinggangnya dipotong dengan keris, dan payudaranya disisipi boneka emas, disertai kata-kata, "Ibu, si Bapak pergi berperang."
Prabu Salya lalu keluar, melihat matahari sudah terbit. Pasukannya sudah lengkap, lalu kembali ke dalam, memeluk dan menciumi istrinya. Ujarnya demikian, "Dinda, selamat tidur, aku<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude>
dyzoe5dd5ydbpw81w4r0wrtnrdeap4z
77488
77463
2026-05-15T15:19:28Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
77488
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>Setelah mendengar paparan Nakula, Prabu Yudistira dan Raden Arjuna menangis, karena perasaan kasihannya kepada
Prabu Salya.
Sri Kresna dan Raden Wrekodara tertawa seraya melirik
Prabu Yudistira, karena selama hidupnya, Prabu Yudistira itu belum pernah marah, dan belum pernah menyakiti perasaan orang lain, sedangkan sekarang harus melaksanakan tugas membunuh Prabu Salya.
{{C|* * *}}
Diceritakan lagi keadaan di pesanggrahan Mandaraka, permaisuri Prabu Salya, yang bernama Dewi Setyawati, sangat cantik lagi menarik hati, dapat melayani suami, dan tingkah-lakunya serba pantas serta luwes. Ia melahirkan lima orang putra, dua orang laki-laki bernama Raden Burisrawa, dan Raden Rukmarata, akan tetapi dua-duanya sudah tewas dalam Perang Baratayuda. Putrinya tiga orang, seorang menjadi permaisuri Prabu Suyudana, seorang menjadi permaisuri Prabu Kama, dan seorang lagi menjadi
permaisuri Prabu Baladewa di Mandura.
Sepeninggal Raden Nakula dan Sadewa, Dewi Setyawati menangis sedih, menyalahkan suaminya, mengapa membukakan rahasia, yang akan menyebabkan kematiannya, tanpa menyayang dirinya sendiri, serta putri-putrinya, dan lebih mementingkan kemenakannya. Dewi Setyawati hendak bunuh diri, Prabu Salya segera memegangi patram istrinya, dan memberikan pengertian tentang apa yang dikehendakinya. Lalu sang dewi dirayu, dibawa ke tempat tidur.
Ketika pada pagi harinya permaisuri masih tidur nyenyak
berbantal tangan Sri Baginda, dan sebelah ikat pinggangnya juga tertindih. Perlahan-lahan Prabu Salya menarik tangannya, ikat pinggangnya dipotong dengan keris, dan payudaranya disisipi boneka emas, disertai kata-kata, "Ibu, si Bapak pergi berperang."
Prabu Salya lalu keluar, melihat matahari sudah terbit. Pasukannya sudah lengkap, lalu kembali ke dalam, memeluk dan menciumi istrinya. Ujarnya demikian, "Dinda, selamat tidur, aku<noinclude>{{rh|||65}}</noinclude>
jap41pizy0camrjrofqz2vu2e1mhtgb
Kaca:Bratayuda.pdf/63
250
24735
77491
2026-05-15T15:20:54Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77491
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>mohon diri hendak berperang." Berkata demikian itu sambil menahan air matanya.
* **
Prabu Salya membetulkan pakaiannya. Matahari sudah tinggi.
Lama pasukannya menanti. Prabu Salya keluar berkereta. Pasukannya lalu membunyikan tanda-tanda peperangan, serta mengatur gelar. Prabu Suyudana beserta pasukannya berkumpul pula di
situ.
Pandawa pun sudah mengatur gelar dan membunyikan tandatanda peperangan, lalu pertempuran pun dimulai. Awal pertempuran itu bagaikan mendung bertemu dengan mendung, sedangkan
gemuruhnya suara bagaikan gunung runtuh. Sudah banyak yang
mati. Korawa memastikan bahwa Pandawa akan habis punah oleh
senapati Salya.
Prabu Salya mengeluarkan kesaktian Candabirawa, lalu bermunculanlah raksasa bermacam-macam ujudnya dari tubuhnya.
Raksasa-raksasa itu memenuhi medan perang, semuanya membawa senjata, mengejar musuh, memedang serta menggigit. Apabila
dibalas a tau dibunuh, raksasa itu menjadi semakin banyak.
Gemuruh sorak-sorai Korawa, dan sangat
g~mbira
melihat-
nya.
Pasukan Pandawa banyak yang mati, ketakutan dan melarikan diri, mengungsi di belakang Prabu Yudistira dan Sri Kresna.
Sri Kresna memanggil pasukan Pandawa, diperintahkan supaya membuang senjatanya, dan menutup kepalanya. Perintah
Sri Kresna segera dilaksanakan.
Raksasa yang keluar dari kesaktian Candabirawa lalu tinggal,
berdiri termangu-mangu menghadapi musuh mereka.
Sri Kresna lalu mendesak Prabu Yudistira supaya melawan
Prabu Salya. Prabu Yudistira segera mengendarai kereta, maju ke
medan perang. Prabu Salya sekali lagi mengeluarkan kesaktian
Candabirawanya, dan keluarlah raksasa dari tubuhnya. Besar-besar, dan lebih banyak lagi melebihi yang pertama tadi. Semua men-
66<noinclude></noinclude>
dc77dfgc4q8yiueofj2envd8ef1tgl7
77524
77491
2026-05-15T16:00:13Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77524
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>mohon diri hendak berperang." Berkata demikian itu sambil menahan air matanya.
{{C|* * *}}
Prabu Salya membetulkan pakaiannya. Matahari sudah tinggi. Lama pasukannya menanti. Prabu Salya keluar berkereta. Pasukannya lalu membunyikan tanda-tanda peperangan, serta mengatur gelar. Prabu Suyudana beserta pasukannya berkumpul pula di situ.
Pandawa pun sudah mengatur gelar dan membunyikan tanda-tanda peperangan, lalu pertempuran pun dimulai. Awal pertempuran itu bagaikan mendung bertemu dengan mendung, sedangkan gemuruhnya suara bagaikan gunung runtuh. Sudah banyak yang mati. Korawa memastikan bahwa Pandawa akan habis punah oleh senapati Salya.
Prabu Salya mengeluarkan kesaktian Candabirawa, lalu bermunculanlah raksasa bermacam-macam ujudnya dari tubuhnya. Raksasa-raksasa itu memenuhi medan perang, semuanya membawa senjata, mengejar musuh, memedang serta menggigit. Apabila dibalas atau dibunuh, raksasa itu menjadi semakin banyak.
Gemuruh sorak-sorai Korawa, dan sangat gembira melihatnya.
Pasukan Pandawa banyak yang mati, ketakutan dan melarikan diri, mengungsi di belakang Prabu Yudistira dan Sri Kresna.
Sri Kresna memanggil pasukan Pandawa, diperintahkan supaya membuang senjatanya, dan menutup kepalanya. Perintah Sri Kresna segera dilaksanakan.
Raksasa yang keluar dari kesaktian Candabirawa lalu tinggal, berdiri termangu-mangu menghadapi musuh mereka.
Sri Kresna lalu mendesak Prabu Yudistira supaya melawan
Prabu Salya. Prabu Yudistira segera mengendarai kereta, maju ke medan perang. Prabu Salya sekali lagi mengeluarkan kesaktian Candabirawanya, dan keluarlah raksasa dari tubuhnya. Besar-besar, dan lebih banyak lagi melebihi yang pertama tadi. Semua men-<noinclude>{{rh|66}}</noinclude>
fr7hrbmxlfq7nd9hroox1te5ki8320q
78315
77524
2026-05-16T09:36:36Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78315
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mohon diri hendak berperang." Berkata demikian itu sambil menahan air matanya.
{{C|* * *}}
Prabu Salya membetulkan pakaiannya. Matahari sudah tinggi. Lama pasukannya menanti. Prabu Salya keluar berkereta. Pasukannya lalu membunyikan tanda-tanda peperangan, serta mengatur gelar. Prabu Suyudana beserta pasukannya berkumpul pula di situ.
Pandawa pun sudah mengatur gelar dan membunyikan tanda-tanda peperangan, lalu pertempuran pun dimulai. Awal pertempuran itu bagaikan mendung bertemu dengan mendung, sedangkan gemuruhnya suara bagaikan gunung runtuh. Sudah banyak yang mati. Korawa memastikan bahwa Pandawa akan habis punah oleh senapati Salya.
Prabu Salya mengeluarkan kesaktian Candabirawa, lalu bermunculanlah raksasa bermacam-macam ujudnya dari tubuhnya. Raksasa-raksasa itu memenuhi medan perang, semuanya membawa senjata, mengejar musuh, memedang serta menggigit. Apabila dibalas atau dibunuh, raksasa itu menjadi semakin banyak.
Gemuruh sorak-sorai Korawa, dan sangat gembira melihatnya.
Pasukan Pandawa banyak yang mati, ketakutan dan melarikan diri, mengungsi di belakang Prabu Yudistira dan Sri Kresna.
Sri Kresna memanggil pasukan Pandawa, diperintahkan supaya membuang senjatanya, dan menutup kepalanya. Perintah Sri Kresna segera dilaksanakan.
Raksasa yang keluar dari kesaktian Candabirawa lalu tinggal, berdiri termangu-mangu menghadapi musuh mereka.
Sri Kresna lalu mendesak Prabu Yudistira supaya melawan
Prabu Salya. Prabu Yudistira segera mengendarai kereta, maju ke medan perang. Prabu Salya sekali lagi mengeluarkan kesaktian Candabirawanya, dan keluarlah raksasa dari tubuhnya. Besar-besar, dan lebih banyak lagi melebihi yang pertama tadi. Semua {{hws|men|mendekati}}<noinclude>{{rh|66}}</noinclude>
d28xdxc6ao3g299q67a65hjj7cp26q0
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/22
250
24736
77497
2026-05-15T15:23:53Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77497
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>tyasé katrem kajoman aguttinds budi
budyardja mardjajeng linut
amawas pongésti awon</ol></poem>
21.. Ninggal pakarti dudu
kadarpaning paréntah ginugu
mring pakarjan saregep temen nastiti
ngisor nduwur tyasd djuapuh
tan ana wron-winaon
22. Neratani sapradja gung Z
keh sardjana sudjm* ing kewuh
nore kéwran ing witjar2e agel alit
pulih duk ajaman rumnuhun
tyasé teteg toquh tangzon
Tjiéntangan
(1) Serat "§ Tama" seker Gambuh 22 p
dz ing nginggil partes yan mési sandi-ssmani-
pw i ngkeng ijes2, mangs$n wonten ing wiwits-
ing Pada, muagel; " Radéd Ngsothi Renggawarsi-
ta ing tedung Kol Surakarta-adiaingrat" .
(2) Sandi-. i +jénipun kénging
kanggé titikan ging éman-
ipun katah sandi-asma ingkang gad Zan. 3oten
kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten
sandi-asmanipun Rangzawarsitan ananging sanés
ijaserfipun 2.Ne. Ranggawarsi ta,
Ugi wonten "djangka" sekar gambuh 5 pada
Mawi sandi-asma Ranggawersitan Zadungan, naté
kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Randa"
ing Surekarta taun 1900. langkung welasan, u~
ngelipun makaten :
1. Rong nétra wus tumlakup
meren dipet ngatas mring Hjang Agun-
njuyvan uning wehananira ing wuri
ojar sumilak katon Imgu.
skal anening lalakon : %<noinclude></noinclude>
fxvo4iat3cu4jrjdponboltjxobiryt
77523
77497
2026-05-15T15:55:21Z
Suga Widi
1719
/* Masalah */ tidak jadi menguji baca
77523
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="2" user="Suga Widi" /></noinclude><poem><ol>tyasé katrem kajoman aguttinds budi
budyardja mardjajeng linut
amawas pongésti awon</ol></poem>
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=21
|<poem>Ninggal pakarti dudu
kadarpaning paréntah ginugu
mring pakarjan saregep temen nastiti
ngisor nduwur tyasé djumbuh
tan ana wron-winaon
22. Neratani sapradja gung Z
keh sardjana sudjm* ing kewuh
nore kéwran ing witjar2e agel alit
pulih duk ajaman rumnuhun
tyasé teteg toquh tangzon
Tjiéntangan
(1) Serat "§ Tama" seker Gambuh 22 p
dz ing nginggil partes yan mési sandi-ssmani-
pw i ngkeng ijes2, mangs$n wonten ing wiwits-
ing Pada, muagel; " Radéd Ngsothi Renggawarsi-
ta ing tedung Kol Surakarta-adiaingrat" .
(2) Sandi-. i +jénipun kénging
kanggé titikan ging éman-
ipun katah sandi-asma ingkang gad Zan. 3oten
kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten
sandi-asmanipun Rangzawarsitan ananging sanés
ijaserfipun 2.Ne. Ranggawarsi ta,
Ugi wonten "djangka" sekar gambuh 5 pada
Mawi sandi-asma Ranggawersitan Zadungan, naté
kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Randa"
ing Surekarta taun 1900. langkung welasan, u~
ngelipun makaten :
1. Rong nétra wus tumlakup
meren dipet ngatas mring Hjang Agun-
njuyvan uning wehananira ing wuri
ojar sumilak katon Imgu.
skal anening lalakon : %<noinclude></noinclude>
8rw64la07wzvbqymxyf9eyo2mypak92
77975
77523
2026-05-16T01:48:45Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77975
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>::tyasé katrem kajoman ajuhing budi
::budyardja mardjajèng limut
::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem>
<ol start=21>
<li><poem>Ninggal pakarti dudu
kadarpaning paréntah ginugu
mring pakarjan saregep temen nastiti
ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh
tan ana waon-winaon</poem></li>
<li><poem>Ngratani sapradja gung
kèh sardjana sudjana ing kéwuh
nora kéwran ing witjara agal alit
pulih duk djaman rumuhun
tyasé teteg teguh tanggon</poem></li>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u>
(1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat".
(2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita.
Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten:
<ol start=1>
<li><poem>Rong nétra wus tumlakup
merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung
njuwun uning wahananira ing wuri
bjar sumilak katon lugu
bakal ananing lalakon</poem></li><noinclude></noinclude>
gqycv2naa4iqz07ofnckggfgqdxxdfw
77976
77975
2026-05-16T01:49:09Z
Abdansykr26
860
77976
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>:::tyasé katrem kajoman ajuhing budi
:::budyardja mardjajèng limut
:::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem>
<ol start=21>
<li><poem>Ninggal pakarti dudu
kadarpaning paréntah ginugu
mring pakarjan saregep temen nastiti
ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh
tan ana waon-winaon</poem></li>
<li><poem>Ngratani sapradja gung
kèh sardjana sudjana ing kéwuh
nora kéwran ing witjara agal alit
pulih duk djaman rumuhun
tyasé teteg teguh tanggon</poem></li>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u>
(1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat".
(2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita.
Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten:
<ol start=1>
<li><poem>Rong nétra wus tumlakup
merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung
njuwun uning wahananira ing wuri
bjar sumilak katon lugu
bakal ananing lalakon</poem></li><noinclude></noinclude>
q83gmxkwtwmt4rnxhsulzvx1se07h70
77977
77976
2026-05-16T01:49:59Z
Abdansykr26
860
77977
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>:::tyasé katrem kajoman ajuhing budi
:::budyardja mardjajèng limut
:::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem>
<ol start=21>
<li><poem>Ninggal pakarti dudu
kadarpaning paréntah ginugu
mring pakarjan saregep temen nastiti
ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh
tan ana waon-winaon</poem></li>
<li><poem>Ngratani sapradja gung
kèh sardjana sudjana ing kéwuh
nora kéwran ing witjara agal alit
pulih duk djaman rumuhun
tyasé teteg teguh tanggon</poem></li>
</ol>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u>
(1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat".
(2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita.
Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten:
<ol start=1>
<li><poem>Rong nétra wus tumlakup
merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung
njuwun uning wahananira ing wuri
bjar sumilak katon lugu
bakal ananing lalakon</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
0vtai826pfl72qh556u0t4vv4ebii6g
78365
77977
2026-05-16T10:01:01Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78365
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 20 –}}</noinclude><poem>:::tyasé katrem kajoman ajuhing budi
:::budyardja mardjajèng limut
:::amawas pangès<u>t</u>i awon</poem>
<ol start=21>
<li><poem>Ninggal pakarti dudu
kadarpaning paréntah ginugu
mring pakarjan saregep temen nastiti
ngisor n<u>d</u>uwur tyase djumbuh
tan ana waon-winaon</poem></li>
<li><poem>Ngratani sapradja gung
kèh sardjana sudjana ing kéwuh
nora kéwran ing witjara agal alit
pulih duk djaman rumuhun
tyasé teteg teguh tanggon</poem></li>
</ol>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u>
(1) Serat "Sabda Tama" sekar Gambuh 22 pada ing nginggil punika wau mèsi sandi-asmaninpun ingkang ijasa, manggèn wonten ing wiwitaning pada, mungel: "Raden Ngabèhi Ranggawarsita ing ke<u>d</u>ung kol Surakarta-Adiningrat".
(2) Sandi-asma punika pantjènipun kénging kanggé titikan ingkang permati, nanging émanipun ka<u>t</u>ah sandi-asma ingkang ga<u>d</u>ungan. Boten kirang2 serat waosan tembang ingkang wonten sandi-asmanipun Ranggawarsitan ananging sanès ijasanipun R.Ng. Ranggawarsita.
Ugi wonten "djangka" sekar Gambuh 5 pada mawi sandi-asma Ranggawarsitan ga<u>d</u>ungan, naté kaewrat wonten ing ari-warti "Darma Kan<u>d</u>a" ing Surakarta taun 1900 langkung welasan, ungelipun makaten:
<ol start=1>
<li><poem>Rong nétra wus tumlakup
merem <u>d</u>ipet ngatas mring Hjang Agung
njuwun uning wahananira ing wuri
bjar sumilak katon lugu
bakal ananing lalakon</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
m6lvdml7wbqn9n1ow7lpb2x8vmed7pf
Kaca:Bratayuda.pdf/64
250
24737
77525
2026-05-15T16:00:39Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77525
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>dekati Prabu Yudistira.
Prabu Yudistira segera memandang Kalimasada, yang kemudian mengeluarkan api sangat besar. Api tadi lalu membakar
raksasa tadi, habis tak bersisa.
Prabu Yudistira lalu melemparkan Kalimasada, mengenai
dada Prabu Salya, dan gugurlah ia, berdembam jatuh di keretanya.
Pasukan Pandawa bersorak gemuruh, seraya menyerbu mengejar
musuh. Korawa lari lintang-pukang. Akan tetapi banyak yang terkejar dan terbunuh serta takluk. Patih Sengkuni terkejar oleh Raden Wrekodara lalu dipotong-potong. Prabu Suyudana kembali ke
pesanggrahan dengan seluruh pasukan, punggawa maupun para
satria.
***
Ada seorang bupati Mandaraka sudah tua, terluka ketika turut Prabu Salya ke medan perang, ia memberi kabar kepada Dewi
Setyawati, bahwa Sri Baginda gugur di medan perang.
Mendengar keterangan tersebut, Dewi Setyawati lalu jatuh
pingsan. Setelah sadar, tekadnya bulat berniat membela suami,
lalu mengendarai kereta sambil membawa patram, diiringkan seorang abdi perempuan bernama Sugandini. Ia berniat pergi ke
Kurusetra mencari jenazah suaminya.
Ketika hampir sampai di Kurusetra keretanya remuk, sehingga terpaksa berjalan kaki mencari jenazah suami. Lama-kelamaan
ketemu, Dewi Setyawati segera menghunus patram. Ditikamkan
ke dadanya, lalu meninggal. Abdi perempuan yang bernama Sugandini juga menikam tubuhnya membela junjungannya.
Kemudian para dewa dan para bidadari mengantar nyawa
Prabu Salya, beserta nyawa Dewi Setyawati ke Suralaya. Di situ
mereka memperoleh anugerah sorga.
·
67<noinclude></noinclude>
n7ro58kvuxiak4dv5eceslv0gcul5lf
77526
77525
2026-05-15T16:04:03Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77526
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>dekati Prabu Yudistira.
Prabu Yudistira segera memandang Kalimasada, yang kemudian mengeluarkan api sangat besar. Api tadi lalu membakar raksasa tadi, habis tak bersisa.
Prabu Yudistira lalu melemparkan Kalimasada, mengenai
dada Prabu Salya, dan gugurlah ia, berdembam jatuh di keretanya. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh, seraya menyerbu mengejar musuh. Korawa lari lintang-pukang. Akan tetapi banyak yang terkejar dan terbunuh serta takluk. Patih Sengkuni terkejar oleh Raden Wrekodara lalu dipotong-potong. Prabu Suyudana kembali ke pesanggrahan dengan seluruh pasukan, punggawa maupun para satria.
{{C|* * *}}
Ada seorang bupati Mandaraka sudah tua, terluka ketika turut Prabu Salya ke medan perang, ia memberi kabar kepada Dewi Setyawati, bahwa Sri Baginda gugur di medan perang.
Mendengar keterangan tersebut, Dewi Setyawati lalu jatuh
pingsan. Setelah sadar, tekadnya bulat berniat membela suami, lalu mengendarai kereta sambil membawa patram, diiringkan seorang abdi perempuan bernama Sugandini. Ia berniat pergi ke Kurusetra mencari jenazah suaminya.
Ketika hampir sampai di Kurusetra keretanya remuk, sehingga terpaksa berjalan kaki mencari jenazah suami. Lama-kelamaan ketemu, Dewi Setyawati segera menghunus patram. Ditikamkan ke dadanya, lalu meninggal. Abdi perempuan yang bernama Sugandini juga menikam tubuhnya membela junjungannya.
Kemudian para dewa dan para bidadari mengantar nyawa Prabu Salya, beserta nyawa Dewi Setyawati ke Suralaya. Di situ mereka memperoleh anugerah sorga.<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude>
p6w9tszycibaxxsmm4jr83lpmvorya1
78316
77526
2026-05-16T09:36:51Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78316
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|dekati|mendekati}} Prabu Yudistira.
Prabu Yudistira segera memandang Kalimasada, yang kemudian mengeluarkan api sangat besar. Api tadi lalu membakar raksasa tadi, habis tak bersisa.
Prabu Yudistira lalu melemparkan Kalimasada, mengenai
dada Prabu Salya, dan gugurlah ia, berdembam jatuh di keretanya. Pasukan Pandawa bersorak gemuruh, seraya menyerbu mengejar musuh. Korawa lari lintang-pukang. Akan tetapi banyak yang terkejar dan terbunuh serta takluk. Patih Sengkuni terkejar oleh Raden Wrekodara lalu dipotong-potong. Prabu Suyudana kembali ke pesanggrahan dengan seluruh pasukan, punggawa maupun para satria.
{{C|* * *}}
Ada seorang bupati Mandaraka sudah tua, terluka ketika turut Prabu Salya ke medan perang, ia memberi kabar kepada Dewi Setyawati, bahwa Sri Baginda gugur di medan perang.
Mendengar keterangan tersebut, Dewi Setyawati lalu jatuh
pingsan. Setelah sadar, tekadnya bulat berniat membela suami, lalu mengendarai kereta sambil membawa patram, diiringkan seorang abdi perempuan bernama Sugandini. Ia berniat pergi ke Kurusetra mencari jenazah suaminya.
Ketika hampir sampai di Kurusetra keretanya remuk, sehingga terpaksa berjalan kaki mencari jenazah suami. Lama-kelamaan ketemu, Dewi Setyawati segera menghunus patram. Ditikamkan ke dadanya, lalu meninggal. Abdi perempuan yang bernama Sugandini juga menikam tubuhnya membela junjungannya.
Kemudian para dewa dan para bidadari mengantar nyawa Prabu Salya, beserta nyawa Dewi Setyawati ke Suralaya. Di situ mereka memperoleh anugerah sorga.<noinclude>{{rh|||67}}</noinclude>
0j3c1es7toiwwoe7534bwbj80ugpdb7
Kaca:Bratayuda.pdf/65
250
24738
77527
2026-05-15T16:04:37Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77527
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>j
9. SUYUDANA BERPERANG DENGAN WREKODARA.
PANDAWA MEMASUKI ASTINA
Tersebutlah Prabu Suyudana, setelah negeri Astina direbut
musuh, karena takutnya lalu bersembunyi di tepi laut, atau di
muara sungai, berendam dalam air. Akan tetapi tempat persembunyiannya diketahui oleh prajurit Pandawa. Lalu dilaporkan kepada Prabu Yudistira, dim kepada Sri Kresna. Lalu berangkat dengan pasukannya.
Setiba mereka di tepi laut, pasukan Pandawa melihat tingkahlaku Prabu Suyudana yang berendam di dalam air. Wrekodara menantangnya dati darat seraya mengata-ngatai, karena tidak pantas
jika seorang raja, kalah perang lalu bersembunyi, takut mati. Ia
disuruh keluar dati air akan diajak berperang tanding.
Mendengar tantangan itu Prabu Suyudana segera keluar dati
air, rambutnya terurai serta basah. kuyup, langsung pergi ke hadapan Sri Kresna. Sri Kresna bertanya, apakah sekiranya berani diadu dalam perang tanding dengan Wrekodara. Suyudana menyatakan keberaniannya. Sri Kresna memberi perintah kepada prajuritnya, supaya memberi pakaian kerajaan kepada Pwbu Suyudana,
dan senjata gada.
Kemudian datanglah dengan tiba-tiba Prabu Baladewa, raja
Madura, pulang dati bertapa di bawah air te:rjun yang besar.
Sri Kresna dan Prabu Yudistira bersaudara segera menyongsong,
dan mengucapkan selamat datang. Dan menjelaskan, bahwa Prabu
Baladewa sudah tidak lagi turut menyaksikan Perang Baratayuda,
akan tetapi akan menyaksikan perang tanding antara Wrekodara
dengan Suyudana. Prabu Baladewa diminta merestuinya.
Prabu Baladewa menjawab, mengapa ia segera pulang dati
pertapaan, karena diberi tahu oleh Sanghyang Narada, bahwa ia
tidak akan sempat melihat Perang Baratayuda. Sekarang akan merestui mereka, yang akan berperang tanding.
Adapun Prabu Suyudana, ketika melihat hadimya Prabu
68<noinclude></noinclude>
pekafq1b0oq0mjmk861ygo0dxzk3aaf
77528
77527
2026-05-15T16:09:47Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77528
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''9. SUYUDANA BERPERANG DENGAN WREKODARA.'''<br>'''PANDAWA MEMASUKI ASTINA'''}}
Tersebutlah Prabu Suyudana, setelah negeri Astina direbut
musuh, karena takutnya lalu bersembunyi di tepi laut, atau di muara sungai, berendam dalam air. Akan tetapi tempat persembunyiannya diketahui oleh prajurit Pandawa. Lalu dilaporkan kepada Prabu Yudistira, dan kepada Sri Kresna. Lalu berangkat dengan pasukannya.
Setiba mereka di tepi laut, pasukan Pandawa melihat tingkahlaku Prabu Suyudana yang berendam di dalam air. Wrekodara menantangnya dati darat seraya mengata-ngatai, karena tidak pantas jika seorang raja, kalah perang lalu bersembunyi, takut mati. Ia disuruh keluar dati air akan diajak berperang tanding.
Mendengar tantangan itu Prabu Suyudana segera keluar dati
air, rambutnya terurai serta basah. kuyup, langsung pergi ke hadapan Sri Kresna. Sri Kresna bertanya, apakah sekiranya berani diadu dalam perang tanding dengan Wrekodara. Suyudana menyatakan keberaniannya. Sri Kresna memberi perintah kepada prajuritnya, supaya memberi pakaian kerajaan kepada Pwbu Suyudana, dan senjata gada.
Kemudian datanglah dengan tiba-tiba Prabu Baladewa, raja Madura, pulang dati bertapa di bawah air terjun yang besar. Sri Kresna dan Prabu Yudistira bersaudara segera menyongsong, dan mengucapkan selamat datang. Dan menjelaskan, bahwa Prabu Baladewa sudah tidak lagi turut menyaksikan Perang Baratayuda, akan tetapi akan menyaksikan perang tanding antara Wrekodara dengan Suyudana. Prabu Baladewa diminta merestuinya.
Prabu Baladewa menjawab, mengapa ia segera pulang dati
pertapaan, karena diberi tahu oleh Sanghyang Narada, bahwa ia tidak akan sempat melihat Perang Baratayuda. Sekarang akan merestui mereka, yang akan berperang tanding.
Adapun Prabu Suyudana, ketika melihat hadirnya Prabu<noinclude>{{rh|68}}</noinclude>
fvjwy4wqcfxqrexceqex3htjjznfkry
78317
77528
2026-05-16T09:37:01Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78317
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''9. SUYUDANA BERPERANG DENGAN WREKODARA.'''<br>'''PANDAWA MEMASUKI ASTINA'''}}
Tersebutlah Prabu Suyudana, setelah negeri Astina direbut
musuh, karena takutnya lalu bersembunyi di tepi laut, atau di muara sungai, berendam dalam air. Akan tetapi tempat persembunyiannya diketahui oleh prajurit Pandawa. Lalu dilaporkan kepada Prabu Yudistira, dan kepada Sri Kresna. Lalu berangkat dengan pasukannya.
Setiba mereka di tepi laut, pasukan Pandawa melihat tingkahlaku Prabu Suyudana yang berendam di dalam air. Wrekodara menantangnya dati darat seraya mengata-ngatai, karena tidak pantas jika seorang raja, kalah perang lalu bersembunyi, takut mati. Ia disuruh keluar dati air akan diajak berperang tanding.
Mendengar tantangan itu Prabu Suyudana segera keluar dati
air, rambutnya terurai serta basah. kuyup, langsung pergi ke hadapan Sri Kresna. Sri Kresna bertanya, apakah sekiranya berani diadu dalam perang tanding dengan Wrekodara. Suyudana menyatakan keberaniannya. Sri Kresna memberi perintah kepada prajuritnya, supaya memberi pakaian kerajaan kepada Pwbu Suyudana, dan senjata gada.
Kemudian datanglah dengan tiba-tiba Prabu Baladewa, raja Madura, pulang dati bertapa di bawah air terjun yang besar. Sri Kresna dan Prabu Yudistira bersaudara segera menyongsong, dan mengucapkan selamat datang. Dan menjelaskan, bahwa Prabu Baladewa sudah tidak lagi turut menyaksikan Perang Baratayuda, akan tetapi akan menyaksikan perang tanding antara Wrekodara dengan Suyudana. Prabu Baladewa diminta merestuinya.
Prabu Baladewa menjawab, mengapa ia segera pulang dati
pertapaan, karena diberi tahu oleh Sanghyang Narada, bahwa ia tidak akan sempat melihat Perang Baratayuda. Sekarang akan merestui mereka, yang akan berperang tanding.
Adapun Prabu Suyudana, ketika melihat hadirnya Prabu<noinclude>{{rh|68}}</noinclude>
mq5k6244qbw43lazk9r8ekzrj3ndd2k
Kaca:Bratayuda.pdf/66
250
24739
77530
2026-05-15T16:10:13Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77530
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Baladewa, hatinya menjadi sangat gembira, sebab merasa ada yang
akan menolong dirinya. Sebabnya ialah, negara Madura itu termasuk dalam wilayah negeri Astina, dan Prabu Baladewa merupakan
raja yang dapat diandalkan dalam peperangan.
Sesudah Prabu Suyudana mengenakan pakaian kerajaan, dan
membawa gada yang besar, lalu mulailah perang tanding dengan
Wrekodara. Arjuna cemas, kalau-kalau kakaknya kalah. Ia lalu hertanya kepada Sri Kresna, siapa yang akan kalah dalam perang tanding itu.
Sri Kresna memberi penjelasan, dan Atjuna diperintahkan
untuk memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, cukup darijauh
saja, bahwa kelemahan Prabu Suyudana berada di paha kirinya.
Arjuna segera maju, agak mendekati yang sedang berperang
tanding. Arjuna memberi isyarat dengan mata seraya memukulmukul paha kirinya. Sekejap Wrekodara melihat isyarat adiknya,
ia telah mengerti, lalu segera mendesak , untuk berperang dalam
jarak dekat . Suyudana kebingungan, dan berniat melepaskan diri
agar memperoleh tempat yang lapang. Lalu melompat, tetapi pada
saat itu juga gada Wrekodara menghantamnya, tepat mengenai
paha kirinya. Suyudana roboh, lalu dihantam lagi dengan gada,
rambutnya dijambak, dan berulang-ulang ditendang oleh Raden
Wrekodara.
Hati Prabu Baladewa tersinggung, karena Wrekodara telah
memukul secara sewenang-wenang, tidak sesuai dengan ketentuan
yang berlaku bagi seorang raja. Ia segera menyiapkan nenggala,
akan dilemparkan ke arah Wrekodara. Sri Kresna gugup hatinya
ketika melihat hal itu, lalu segera memegang nenggala Prabu Baladewa, serta meredakan amarahnya, dan jangan mengganggu perbuatan Wrekodara. Mengapa Suyudana mati tersia-sia, karena
Prabu Suyudana terkena laknat Bagawan Maitreya, dan terkena
oleh permohonan Dewi Drupadi. Dewi Drupadi, dulu pemah dianiaya, sehingga dengan demikian Wrekodara itu hanya sekedar
membalaskan sakit hati. Kemarahan Prabu Baladewa sudah reda,
lalu dipersilakan mendahului, masuk ke negeri Astina. Prabu Baladewa memenuhi permintaan adiknya, Sri Kresna.
69<noinclude></noinclude>
96g7ylxcbyn964d49hofoc792fsw15p
77533
77530
2026-05-15T16:15:19Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77533
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Baladewa, hatinya menjadi sangat gembira, sebab merasa ada yang akan menolong dirinya. Sebabnya ialah, negara Madura itu termasuk dalam wilayah negeri Astina, dan Prabu Baladewa merupakan raja yang dapat diandalkan dalam peperangan.
Sesudah Prabu Suyudana mengenakan pakaian kerajaan, dan
membawa gada yang besar, lalu mulailah perang tanding dengan Wrekodara. Arjuna cemas, kalau-kalau kakaknya kalah. Ia lalu hertanya kepada Sri Kresna, siapa yang akan kalah dalam perang tanding itu.
Sri Kresna memberi penjelasan, dan Arjuna diperintahkan
untuk memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, cukup dari jauh saja, bahwa kelemahan Prabu Suyudana berada di paha kirinya.
Arjuna segera maju, agak mendekati yang sedang berperang
tanding. Arjuna memberi isyarat dengan mata seraya memukul-mukul paha kirinya. Sekejap Wrekodara melihat isyarat adiknya, ia telah mengerti, lalu segera mendesak, untuk berperang dalam jarak dekat. Suyudana kebingungan, dan berniat melepaskan diri agar memperoleh tempat yang lapang. Lalu melompat, tetapi pada saat itu juga gada Wrekodara menghantamnya, tepat mengenai paha kirinya. Suyudana roboh, lalu dihantam lagi dengan gada, rambutnya dijambak, dan berulang-ulang ditendang oleh Raden Wrekodara.
Hati Prabu Baladewa tersinggung, karena Wrekodara telah memukul secara sewenang-wenang, tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi seorang raja. Ia segera menyiapkan nenggala, akan dilemparkan ke arah Wrekodara. Sri Kresna gugup hatinya ketika melihat hal itu, lalu segera memegang nenggala Prabu Baladewa, serta meredakan amarahnya, dan jangan mengganggu perbuatan Wrekodara. Mengapa Suyudana mati tersia-sia, karena Prabu Suyudana terkena laknat Bagawan Maitreya, dan terkena oleh permohonan Dewi Drupadi. Dewi Drupadi, dulu pernah dianiaya, sehingga dengan demikian Wrekodara itu hanya sekedar membalaskan sakit hati. Kemarahan Prabu Baladewa sudah reda, lalu dipersilakan mendahului, masuk ke negeri Astina. Prabu Baladewa memenuhi permintaan adiknya, Sri Kresna.<noinclude>{{rh|||69}}</noinclude>
l1eytddteqk68gjsk3nus5bg2pm98ah
78318
77533
2026-05-16T09:37:10Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78318
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Baladewa, hatinya menjadi sangat gembira, sebab merasa ada yang akan menolong dirinya. Sebabnya ialah, negara Madura itu termasuk dalam wilayah negeri Astina, dan Prabu Baladewa merupakan raja yang dapat diandalkan dalam peperangan.
Sesudah Prabu Suyudana mengenakan pakaian kerajaan, dan
membawa gada yang besar, lalu mulailah perang tanding dengan Wrekodara. Arjuna cemas, kalau-kalau kakaknya kalah. Ia lalu hertanya kepada Sri Kresna, siapa yang akan kalah dalam perang tanding itu.
Sri Kresna memberi penjelasan, dan Arjuna diperintahkan
untuk memberi isyarat kepada Raden Wrekodara, cukup dari jauh saja, bahwa kelemahan Prabu Suyudana berada di paha kirinya.
Arjuna segera maju, agak mendekati yang sedang berperang
tanding. Arjuna memberi isyarat dengan mata seraya memukul-mukul paha kirinya. Sekejap Wrekodara melihat isyarat adiknya, ia telah mengerti, lalu segera mendesak, untuk berperang dalam jarak dekat. Suyudana kebingungan, dan berniat melepaskan diri agar memperoleh tempat yang lapang. Lalu melompat, tetapi pada saat itu juga gada Wrekodara menghantamnya, tepat mengenai paha kirinya. Suyudana roboh, lalu dihantam lagi dengan gada, rambutnya dijambak, dan berulang-ulang ditendang oleh Raden Wrekodara.
Hati Prabu Baladewa tersinggung, karena Wrekodara telah memukul secara sewenang-wenang, tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi seorang raja. Ia segera menyiapkan nenggala, akan dilemparkan ke arah Wrekodara. Sri Kresna gugup hatinya ketika melihat hal itu, lalu segera memegang nenggala Prabu Baladewa, serta meredakan amarahnya, dan jangan mengganggu perbuatan Wrekodara. Mengapa Suyudana mati tersia-sia, karena Prabu Suyudana terkena laknat Bagawan Maitreya, dan terkena oleh permohonan Dewi Drupadi. Dewi Drupadi, dulu pernah dianiaya, sehingga dengan demikian Wrekodara itu hanya sekedar membalaskan sakit hati. Kemarahan Prabu Baladewa sudah reda, lalu dipersilakan mendahului, masuk ke negeri Astina. Prabu Baladewa memenuhi permintaan adiknya, Sri Kresna.<noinclude>{{rh|||69}}</noinclude>
jhl9jgraueps6mztuq79mxjdqzsdaqk
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/8
250
24740
77532
2026-05-15T16:15:13Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
77532
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{rh||-9-}}</noinclude>bolonganipun katah wiwit saking ageng dumugi alit, dipun urutaken miturut ageng aliting gapitipun wajang ingkang kasumping. Punika katjawisna inggih wonten kanggenipun. Dados saged njuda tali ingkang dipun kenteng angsal saka sami saka punika wau. Manawi sampun rampung, papan djogan utawi mester dipun sapu ingkang resik, sampun ngantos teles utawi anjes. Ladjeng dipun gelarana klasa pasir ingkang resik utawi klasa patjar (mendong). Kotak ladjeng wiwit dipun usung dateng papan ingkang sampun katata sae punika wau, kapapana ingkang saketja sampun ngantos makewedi anggenipun bade ngisis ngedalaken wajang. Kain perlak lurubing kotak kapendeta rumijin, ladjeng kasampirna ing papan ingkang prajogi sampun ngantos kenging bentering surja, kadjawi enggal risak, inggih anggadahi daja sumuk, tumrap dateng ringgit boten sae. Manawi sampun rampung, gemboking kotak ladjeng wiwit kabikaka. Ladjeng gentos ambikak tutuping kotak, kaprenahna wonten ing papan ingkang saketja sarta sampun ngantos makewedi ugi. Ladjeng eblek tutuping ringgit ingkang nginggil pijambak wiwit kabikaka, katumpangna wonten sanginggiling tutup kotak punika wau, perlu kangge lambaran ringgit ingkang boten mawi tanganan. Ladjeng kelir kaisisa rumijin, kasorotna ing surja sakedap sampun ngantos kadangon. Manawi sampun anget dipun entasa, kalijan dipun kebut kebutaken ladjeng dipun lempit kasampirna wonten ing papan ingkang ajom ing salebeting pandapi utawi grija.
a. '''Tjaranipun ngedalaken Ringgit kawiwitan sangking:
Sumpingan Sisih Tengen.'''
Sapunika ladjeng wiwit njandak ngedalaken ringgit. Adakanipun ingkang wonten ing nginggil pijambak punika kajon (gunungan) ladjeng kapendeta katumpangna ing eblek ingkang wonten nginggil tutup kotak punika wau, utawi wonten ing papan tantjeban kadjeng ingkang sampun katjawisaken punika wau. Ladjeng ringgit bagean sumpingan sisih tengen, inggih punika wiwit saking prabu Tuhuwasesa (Sena dados ratu) punika kapendeta rumijin. Tanganing wajang ingkang ngadjeng kasampirna ing tali ingkang dipun kenteng punika wau, makaten sak piturutipun ngantos sumpingan bagean tengen telas dumugi ringgit putran lare alit (bajen) saha dewa Rutji. Manawi sampun njandak dumugi wajang estren dipun leti saka, sageda katingal pilah bagean ageng tuwin alit. Manawi sampun rupak njandak kenteng sangandapipun, nanging pamasangipun kadamela ungkur-ungkuran, dados ingkang ringgit alit pijambak saged dawah wonten<noinclude></noinclude>
5erfx8l9497jbdg9kl2txx7uqkjkmvq
77534
77532
2026-05-15T16:15:28Z
Elcamatcha
1466
77534
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{rh||-9-}}</noinclude>bolonganipun katah wiwit saking ageng dumugi alit, dipun urutaken miturut ageng aliting gapitipun wajang ingkang kasumping. Punika katjawisna inggih wonten kanggenipun. Dados saged njuda tali ingkang dipun kenteng angsal saka sami saka punika wau. Manawi sampun rampung, papan djogan utawi mester dipun sapu ingkang resik, sampun ngantos teles utawi anjes. Ladjeng dipun gelarana klasa pasir ingkang resik utawi klasa patjar (mendong). Kotak ladjeng wiwit dipun usung dateng papan ingkang sampun katata sae punika wau, kapapana ingkang saketja sampun ngantos makewedi anggenipun bade ngisis ngedalaken wajang. Kain perlak lurubing kotak kapendeta rumijin, ladjeng kasampirna ing papan ingkang prajogi sampun ngantos kenging bentering surja, kadjawi enggal risak, inggih anggadahi daja sumuk, tumrap dateng ringgit boten sae. Manawi sampun rampung, gemboking kotak ladjeng wiwit kabikaka. Ladjeng gentos ambikak tutuping kotak, kaprenahna wonten ing papan ingkang saketja sarta sampun ngantos makewedi ugi. Ladjeng eblek tutuping ringgit ingkang nginggil pijambak wiwit kabikaka, katumpangna wonten sanginggiling tutup kotak punika wau, perlu kangge lambaran ringgit ingkang boten mawi tanganan. Ladjeng kelir kaisisa rumijin, kasorotna ing surja sakedap sampun ngantos kadangon. Manawi sampun anget dipun entasa, kalijan dipun kebut kebutaken ladjeng dipun lempit kasampirna wonten ing papan ingkang ajom ing salebeting pandapi utawi grija.
a. '''Tjaranipun ngedalaken Ringgit kawiwitan sangking:<br>Sumpingan Sisih Tengen.'''
Sapunika ladjeng wiwit njandak ngedalaken ringgit. Adakanipun ingkang wonten ing nginggil pijambak punika kajon (gunungan) ladjeng kapendeta katumpangna ing eblek ingkang wonten nginggil tutup kotak punika wau, utawi wonten ing papan tantjeban kadjeng ingkang sampun katjawisaken punika wau. Ladjeng ringgit bagean sumpingan sisih tengen, inggih punika wiwit saking prabu Tuhuwasesa (Sena dados ratu) punika kapendeta rumijin. Tanganing wajang ingkang ngadjeng kasampirna ing tali ingkang dipun kenteng punika wau, makaten sak piturutipun ngantos sumpingan bagean tengen telas dumugi ringgit putran lare alit (bajen) saha dewa Rutji. Manawi sampun njandak dumugi wajang estren dipun leti saka, sageda katingal pilah bagean ageng tuwin alit. Manawi sampun rupak njandak kenteng sangandapipun, nanging pamasangipun kadamela ungkur-ungkuran, dados ingkang ringgit alit pijambak saged dawah wonten<noinclude></noinclude>
rsaml7n4ei1sy11xjqjv4hs213kfbiy
Kaca:Bratayuda.pdf/67
250
24741
77535
2026-05-15T16:15:37Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77535
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sepeninggal Prabu Baladewa, Wrekodara memuaskan keingin
annya, berbuat sewenang-wenang terhadap Prabu Suyudana. Setelah tubuh Suyudana remuk, ia berkata, bahwa ia tidak mau mati,
sebelum menginjak kepala Pandawa. Akan tetapi suara itu tidak
diindahkan oleh Wrekodara.
Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, Wrekodara dan para prajuritnya lalu kembali ke pesanggrahan. Jenazah Prabu Suyudana
ditinggalkan begitu saja di tempatnya. Pada waktu itu Sri Kresna
dan Prabu Yudistira belum berniat memasuki negeri Astina. Setiap malam mereka betjalan-jalan berkeliling di bekas medan
perang, ke hutan atau ke gunung-gunung.
***
Tersebutlah seorang putra Pendeta Druna, yakni Aswatama;
yang sewaktu Perang Baratayuda masih berlang~ng, ia bertengkar
dengan Prabu Salya, dan hampir-hampir berkelahi. Dalam hal itu
Prabu Suyudana memihak Prabu Salya. Aswatama sakit hati, lalu
bertapa ke tengah hutan. Ia tidak melihat saat-saat kalahnya negeri Astina.
Pada waktu itu Aswatama sangat terkejut dengan datangnya
permaisuri Prabu Suyudana beserta dua orang keluarga istana Astina, ialah Karpa dan Kartamarma, yang membawa kabar bahwa
negeri Astina sudah kalah, Prabu Suyudana hilang di tengah-tengah peperangan , hidup matinya tak diketahui. Hati Aswatama
merasa pilu, kasihan terhadap Prabu Suyudana, dan berniat untuk
membela kesusahan. Lalu berangkat meninggalkan hutan, berlaku sebagai pencuri, dengan niat hendak membunuh para pemimpin Pandawa. Karpa, dan Kartamarma turut serta.
Hari telah malam ketika mereka sampai di pesanggrahan.
Sri Kresna sedang pergi berkeliling-keliling. Prabu Yudistira lima
bersaudara turut serta.
Aswatama menuju ke pesanggrahan Drustajumena dan Dewi
Srikandi. Leher keduanya sudah dipenggal. Pesanggrahan menjadi
gempar disertai tangis gemuruh. Aswatama lalu mer..gamuk, menggunakan panah api, sehingga banyak yang terbunuh. Raden Pan70<noinclude></noinclude>
5237q606ics7m1arop7l6uao89nchfb
77538
77535
2026-05-15T16:20:05Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77538
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sepeninggal Prabu Baladewa, Wrekodara memuaskan keingin
annya, berbuat sewenang-wenang terhadap Prabu Suyudana. Setelah tubuh Suyudana remuk, ia berkata, bahwa ia tidak mau mati, sebelum menginjak kepala Pandawa. Akan tetapi suara itu tidak diindahkan oleh Wrekodara.
Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, Wrekodara dan para prajuritnya lalu kembali ke pesanggrahan. Jenazah Prabu Suyudana ditinggalkan begitu saja di tempatnya. Pada waktu itu Sri Kresna dan Prabu Yudistira belum berniat memasuki negeri Astina. Setiap malam mereka berjalan-jalan berkeliling di bekas medan perang, ke hutan atau ke gunung-gunung.
{{C|* * *}}
Tersebutlah seorang putra Pendeta Druna, yakni Aswatama;
yang sewaktu Perang Baratayuda masih berlangsung, ia bertengkar dengan Prabu Salya, dan hampir-hampir berkelahi. Dalam hal itu Prabu Suyudana memihak Prabu Salya. Aswatama sakit hati, lalu bertapa ke tengah hutan. Ia tidak melihat saat-saat kalahnya negeri Astina.
Pada waktu itu Aswatama sangat terkejut dengan datangnya
permaisuri Prabu Suyudana beserta dua orang keluarga istana Astina, ialah Karpa dan Kartamarma, yang membawa kabar bahwa negeri Astina sudah kalah, Prabu Suyudana hilang di tengah-tengah peperangan, hidup matinya tak diketahui. Hati Aswatama merasa pilu, kasihan terhadap Prabu Suyudana, dan berniat untuk membela kesusahan. Lalu berangkat meninggalkan hutan, berlaku sebagai pencuri, dengan niat hendak membunuh para pemimpin Pandawa. Karpa, dan Kartamarma turut serta.
Hari telah malam ketika mereka sampai di pesanggrahan.
Sri Kresna sedang pergi berkeliling-keliling. Prabu Yudistira lima bersaudara turut serta.
Aswatama menuju ke pesanggrahan Drustajumena dan Dewi Srikandi. Leher keduanya sudah dipenggal. Pesanggrahan menjadi gempar disertai tangis gemuruh. Aswatama lalu mengamuk, menggunakan panah api, sehingga banyak yang terbunuh. Raden Pan-<noinclude>{{rh|70}}</noinclude>
1lp3xtv8zxxackl8h1ksqps7yp2jfyb
78320
77538
2026-05-16T09:37:49Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78320
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sepeninggal Prabu Baladewa, Wrekodara memuaskan keingin
annya, berbuat sewenang-wenang terhadap Prabu Suyudana. Setelah tubuh Suyudana remuk, ia berkata, bahwa ia tidak mau mati, sebelum menginjak kepala Pandawa. Akan tetapi suara itu tidak diindahkan oleh Wrekodara.
Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, Wrekodara dan para prajuritnya lalu kembali ke pesanggrahan. Jenazah Prabu Suyudana ditinggalkan begitu saja di tempatnya. Pada waktu itu Sri Kresna dan Prabu Yudistira belum berniat memasuki negeri Astina. Setiap malam mereka berjalan-jalan berkeliling di bekas medan perang, ke hutan atau ke gunung-gunung.
{{C|* * *}}
Tersebutlah seorang putra Pendeta Druna, yakni Aswatama;
yang sewaktu Perang Baratayuda masih berlangsung, ia bertengkar dengan Prabu Salya, dan hampir-hampir berkelahi. Dalam hal itu Prabu Suyudana memihak Prabu Salya. Aswatama sakit hati, lalu bertapa ke tengah hutan. Ia tidak melihat saat-saat kalahnya negeri Astina.
Pada waktu itu Aswatama sangat terkejut dengan datangnya
permaisuri Prabu Suyudana beserta dua orang keluarga istana Astina, ialah Karpa dan Kartamarma, yang membawa kabar bahwa negeri Astina sudah kalah, Prabu Suyudana hilang di tengah-tengah peperangan, hidup matinya tak diketahui. Hati Aswatama merasa pilu, kasihan terhadap Prabu Suyudana, dan berniat untuk membela kesusahan. Lalu berangkat meninggalkan hutan, berlaku sebagai pencuri, dengan niat hendak membunuh para pemimpin Pandawa. Karpa, dan Kartamarma turut serta.
Hari telah malam ketika mereka sampai di pesanggrahan.
Sri Kresna sedang pergi berkeliling-keliling. Prabu Yudistira lima bersaudara turut serta.
Aswatama menuju ke pesanggrahan Drustajumena dan Dewi Srikandi. Leher keduanya sudah dipenggal. Pesanggrahan menjadi gempar disertai tangis gemuruh. Aswatama lalu mengamuk, menggunakan panah api, sehingga banyak yang terbunuh. Raden {{hws|Pan|Pancawala}}<noinclude>{{rh|70}}</noinclude>
t2af7tv7cf456jsdcl6ptawb08xs169
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/9
250
24742
77536
2026-05-15T16:18:11Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77536
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77541
77536
2026-05-15T16:25:41Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77541
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||-10-}}</noinclude>{{C|''PANGISISING RINGGIT.''}}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 9 crop).jpg|400px|nirbing|pus]]
{{C|{{smaller|''(Menawi klangsrah di pun tjagaki deling)<br>Pamentanging tali kedah kentjeng.''}}<noinclude></noinclude>
99awrjpy97l7041p0klsvtlx0peec5o
77543
77541
2026-05-15T16:26:33Z
Iripseudocorus
1236
77543
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||-10-}}</noinclude>{{C|''PANGISISING RINGGIT.''}}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 9 crop).jpg|400px|nirbing|pus]]
{{C|{{smaller|''(Menawi klangsrah di pun tjagaki deling)<br>Pamentanging tali kedah kentjeng.''}}}}<noinclude></noinclude>
bd0qq15dqi2gtvshobad9euno4doa8k
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/17
250
24743
77537
2026-05-15T16:20:04Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77537
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77558
77537
2026-05-15T16:41:25Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77558
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 18 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 17 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
ihydehxckohal19z4my7z8d6z6bs2wc
Kaca:Bratayuda.pdf/68
250
24744
77539
2026-05-15T16:20:35Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77539
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>cawala, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah,
dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan.
Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta
Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan,
mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas
karena dibunuh oleh Aswatama.
Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, ctan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri.
Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang
tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang
menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang.
Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya
yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan
mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk
terus~menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri
Kresna, karena- akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari
akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua
yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya.
***
Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang
persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan ; Karpa
dan Kartamarma pun turut juga di situ.
71<noinclude></noinclude>
tti5i78bv6hjdbv89b121oproc5sxxe
77540
77539
2026-05-15T16:25:26Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77540
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>cawala, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah, dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan.
Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan, mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas karena dibunuh oleh Aswatama.
Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, dan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri.
Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang.
Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya
yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk terus-menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri Kresna, karena akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya.
{{C|* * *}}
Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan; Karpa dan Kartamarma pun turut juga di situ.<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude>
ed04mdf4mr0e320011b1qx3d7tyyh4j
78319
77540
2026-05-16T09:37:31Z
Elcamatcha
1466
78319
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{hwe|cawala|Pancawala}}, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah, dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan.
Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan, mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas karena dibunuh oleh Aswatama.
Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, dan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri.
Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang.
Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya
yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk terus-menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri Kresna, karena akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya.
{{C|* * *}}
Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan; Karpa dan Kartamarma pun turut juga di situ.<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude>
e3fagktmobmgmlcara1f31hp6xzaog6
78321
78319
2026-05-16T09:37:55Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78321
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|cawala|Pancawala}}, putra Prabu Yudistira, segera bangun dan berusaha melawan Aswatama. Lama mereka saling memanah. Pancawala kalah, dan tewas terkena panah. Aswatama, Karpa dan Kartamarma segera kembali ke hutan.
Ketika fajar di timur mulai menyingsing Sri Kresna beserta Prabu Yudistira lima bersaudara tiba kembali di pesanggrahan, mereka terkejut mendengar suara tangis bergemuruh. Lalu dijelaskan, bahwa Pancawala, Drustajumena, dan Dewi Srikandi tewas karena dibunuh oleh Aswatama.
Prabu Yudistira dan saudara-saudaranya menangis, dan sangat prihatin. Sri Kresna selalu menasehati agar tidak terlalu prihatin, karena yang tewas itu telah sesuai dengan takdir mereka sendiri.
Mereka jadi terkejut karena datangnya Bagawan Abiyasa, kakek Prabu Yudistira. Tidak ada yang mengetahui kedatangannya, karena Bagawan Abiyasa itu sudah mencapai tataran yang tinggi, bahkan sudah seperti dewa. Berhentilah sudah mereka yang menangis. Segera menyembah kepada yang baru datang.
Bagawan Abiyasa lalu memberi nasihat kepada cucu-cucunya
yang sedang prihatin, agar supaya menghilangkan keprihatinan mereka, karena penyebab prihatin itu tak ada faedahnya untuk terus-menerus dipikirkan, lagi pula memang sudah takdir. Juga dinasihatkan agar supaya selalu mentaati apa yang diperintahkan Sri Kresna, karena akan menemukan kemuliaan di hari akhir. Sebaliknya yang tidak mentaati, pasti akan menemui kesengsaraan di hari akhir, karena Sri Kresna itu titisan Wisnu, itulah sebabnya ia seyogyanya ditaati. Para dewa di Suralaya pun tidak ada yang berani membantah perintah Batara Wisnu. Cucu-cucunya dan semua yang prihatin, seketika itu hilang keprihatinannya. Bagawan Abiyasa lalu pamit, gaib dari tempatnya.
{{C|* * *}}
Kemudian ada prajurit yang memberi keterangan tentang persembunyian Aswatama, sebuah dukuh di tengah hutan; Karpa dan Kartamarma pun turut juga di situ.<noinclude>{{rh|||171}}</noinclude>
krd1il3n1z7hbj6dbjs9nb53hygo58t
Kaca:Bratayuda.pdf/69
250
24745
77542
2026-05-15T16:25:48Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77542
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama
sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang
bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna.
Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Aijuna lalu
memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api
yang besar pula, sehingga api dan api sating berbenturm. Api itu
demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya.
Para dewa menjadrgempar.
Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah
api. Sanghy.ang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah
itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia,
sebab akan membuat kerusakan.
Sesudah menarik panah apinya, Aijuna berdatang sembah
kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan
panah a pi, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis ."
Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan
memaafkan Arjuna.
Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan
anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang.
Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu,
bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak
bermaksud jahat."
Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi
panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan
kepada Aijuna, dan sudah diterima.
72<noinclude></noinclude>
rd6i0hd4bpau465com4d120ujzk282s
77548
77542
2026-05-15T16:31:32Z
Suga Widi
1719
77548
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu
demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar.
Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan.
Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah
kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan
panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna.
Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang.
Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu,
bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat."
Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi
panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan
kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude>
2e4eo1zdj20i3f7hc918859klobx7pn
77549
77548
2026-05-15T16:32:15Z
Suga Widi
1719
77549
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu
demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar.
Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan.
Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah
kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan
panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna.
Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang.
Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu,
bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat."
Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi
panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude>
cp39nc0fb5ck9q9yga6q8uqong4q1c3
77551
77549
2026-05-15T16:32:50Z
Suga Widi
1719
77551
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu
demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar.
Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan.
Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah
kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan
panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna.
Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang.
Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu,
bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat."
Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude>
pf969wt4o85gbvlv1s627wp9m5v96m6
77552
77551
2026-05-15T16:33:17Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77552
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu
demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar.
Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan.
Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah
kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan
panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna.
Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang.
Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu,
bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat."
Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude>
d1ynw7xtdka4j4c7yan2api7wlm18qz
78322
77552
2026-05-16T09:38:08Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78322
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna beserta Prabu Yudistira berangkat membawa prajurit hendak menyerang Aswatama. Dukuh pertapaan Aswatama sudah dikepung, dan disoraki. Aswatama, Karpa, Kartamarma keluar menyongsong musuh. Aswatama melepaskan anak panah yang bernama Cundamanik, wasiat dari ayahnya, yakni Pendeta Druna. Setelah dipandang lalu keluar api yang besar. Aijuna segera diperintahkan menangkis panah api itu oleh Sri Kresna. Arjuna lalu memandangi panah Pasopatinya, yang segera mengeluarkan api yang besar pula, sehingga api dan api saling berbenturan. Api itu
demikian besar, sehingga jilatan nyalanya sampai ke Suralaya. Para dewa menjadi gempar.
Batara Guru segera mengutus Sanghyang Narada untuk menyampaikan kemurkaan Batara Guru kepada yang sedang berperang, karena telah sembarangan dan berani mengeluarkan panah api. Sanghyang Narada segera turun. Yang sedang berperang diperintahkan segera menarik panah apinya, karena kedua anak panah itu senjata Suralaya, yang tidak boleh dipergunakan di dunia, sebab akan membuat kerusakan.
Sesudah menarik panah apinya, Arjuna berdatang sembah
kepada Sanghyang Narada, "Mengapa hamba berani melepaskan
panah api, ialah karena perintah Sri Kresna, untuk menangkis." Mendengar jawaban itu, Sanghyang Narada menjadi gembira, dan memaafkan Arjuna.
Sanghyang Narada lalu memarahi Aswatama, karena telah berani melepaskan panah Cundamanik. Padahal panah itu merupakan anugerah Batara Guru kepada Pendeta Druna, dan sudah pula ditentukan, tidak diperkenankan untuk berperang.
Aswatama menjawab, "Hamba berani melepaskan Cundamanik, hanya untuk menakut-nakuti saja, karena hamba pun tahu,
bahwa api Cundamanik itu tidak akan membakar orang yang tidak bermaksud jahat."
Sanghyang Narada sudah memaafkan Aswatama, akan tetapi panah Cundamanik diminta kembali. Kemudian dianugerahkan kepada Arjuna, dan sudah diterima.<noinclude>{{rh|72}}</noinclude>
myax0bf3qrkppj7815uudg3ifcggxej
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/1
250
24746
77544
2026-05-15T16:27:29Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77544
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77546
77544
2026-05-15T16:29:25Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77546
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 1 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
qc89htexvhvh0baef5aa0rvdi9y5akx
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/98
250
24747
77545
2026-05-15T16:28:04Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
77545
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{rh||-99-}}</noinclude>{{r|halaman.}}
{{Titik-titik daftar isi|21|'''BAB WANGUNING WAJANG'''|75}}
{{Titik-titik daftar isi|22|'''WANGUN IRUNG-IRUNGANING WAJANG PURWA'''|76}}
{{Titik-titik daftar isi|23|'''BAB PERANGANING WAJANG:'''|77}}
{{Titik-titik daftar isi||1. Wajang Panggungan|77}}
{{Titik-titik daftar isi||2. Wajang Dugangan|78}}
{{Titik-titik daftar isi||3. Wajang Ritjikan|78}}
{{Titik-titik daftar isi||4. Wajang Buta Prepatan|79}}
{{Titik-titik daftar isi|24|'''BAB DAPURING WAJANG: WAJANG SANGKUK'''|79}}
{{Titik-titik daftar isi|25|'''BAB UKURANING WAJANG:'''|80}}
{{Titik-titik daftar isi||1. Wajang Kaper|80}}
{{Titik-titik daftar isi||2. Wajang Kidangkentjanan|81}}
{{Titik-titik daftar isi||3. Wajang Pedalangan|81}}
{{Titik-titik daftar isi||4. Wajang Ageng (Gede)|82}}
{{Titik-titik daftar isi|26.|'''BAB WARNI-WARNINING WAJANG'''|82}}
{{Titik-titik daftar isi||1. Wajang-wajangan|82}}
{{Titik-titik daftar isi||2. Wajang Dolanan|84}}
{{Titik-titik daftar isi||3. Wajang Botjah angon|85}}
{{Titik-titik daftar isi||4. Wajang Kuna|86}}
{{Titik-titik daftar isi||5. Wajang Tjampuran|86}}
{{Titik-titik daftar isi||6. Wajang Godong. (Miturut serat Sastramirudo)|87}}
{{Titik-titik daftar isi||7. Wajang Bèbèr. (Miturut serat Sastramirudo)|88}}
{{Titik-titik daftar isi|27.|'''TEGESIPUN NAMANING BUTA. (SERAT DASANA MADJARWA)'''|89}}
{{Titik-titik daftar isi|28.|'''TEGESIPUN NAMANING KETEK. (SERAT DASANA MADJARWA)'''|89}}
{{Titik-titik daftar isi|29.|'''NAMA SESEBUTANING PANDITA SAKAREREHANIPUN'''|89}}
{{Titik-titik daftar isi|30.|'''REHREHANING PANDITA'''|90}}
{{Titik-titik daftar isi|31.|'''REHREHANING PANDITA ESTRI'''|90}}
{{Titik-titik daftar isi|32.|'''BAB TJATJAH DAPUKAN WAJANG PEDALANGAN'''|91}}
{{c|_______}}<noinclude></noinclude>
l8fj1m0cwtzmr7qc79cmsh6ltfj1mo0
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/96
250
24748
77547
2026-05-15T16:30:42Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
77547
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" />{{c|-97-}}</noinclude>::No.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|Bendo.
|Arit.
|Keris gede.
|Keris luk, Tjakil.
|Keris luk.
|Keris leres Satrija.
|Keris leres.
|Panah luk.
|Panah leres.
|Panah leres.}}
Gunggung tjatjah wajang sadaja wonten 176 idji, dedamelipun
wonten 21 idji.
Dados punika tjatjah wajang ingkang kalimrah kangge wonten
ing padalangan.
Dene tjatjah wajang ingkang sampun kasebat ing ngadjeng ngantos langkung katah tjatjahipun, sadaja ngantos wonten tjatjah wajang: 370 idji katambahan dedamel sakpirantosipun: 30 idji, gunggung sadaja wonten 400 idji, punika dereng katambahan sakubarampenipun, manawi katambahan sok ngantos: 500 idji. Tegesipun mawi katambahan, upamanipun: Gapuraning kraton, wit-witan, pot-potan ing taman, beburon ingkang alit-alit, makaten sakpiturutipun. Adatipun tijang ijasa wajang punika manawi nami sampun remen sok ngantos kasupen, ngantos barang ingkang boten kalimrah wonten ing padalangan dipun wudjudaken wajang. Pramila wajangipun sok ngantos katah sanget, inggih makaten punika wau endemipun tijang ingkang saweg remen ijasa wajang. Ijasa wajang purwa ingkang ngantos komplit djangkep dalah sak wanda-wandanipun sadaja punika, ingkang tamtu kuwawi ijasa inggih namung para prijantun ingkang sugih arta sarta saweg remen kasengsem dateng wajang dalah tjarijosipun pisan. Malah adatipun boten saged andalang, inggih namung satunggiling prijantun ingkang saweg remen dateng tjarijos lelampahaning wajang, saged kasembadan nuruti karepipun ngantos kalampahan rampung saged ambabar. Dene manawi para dalang ingkang katah namung trimah tjekap njewa kemawon. Manawi saged ijasa inggih namung sak tjekapipun kemawon uger saged tumindak kangge berah njambutdamel andalang.
Punika bedanipun wajang dapukan padalangan kalijan wajang ijasanipun para hartawan ingkang remen dateng kawruh tjarijos padalangan.
Makaten punika wau pikadjengipun wajang dapukan padalangan,
namung sak prelu saged njekapi kabetahan, dados nami rampung.<noinclude></noinclude>
3iwkg7gig1h5e651hvnprh1z86phr88
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/95
250
24749
77550
2026-05-15T16:32:24Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77550
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77562
77550
2026-05-15T16:47:06Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77562
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh|— 96 —}}</noinclude>::No.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=7
|Tjantrik.
|Tjangik.
|Limbuk.
|Emban.
|Parekan (njai tumenggung).
|Parekan (njai tumenggung).
|Demang Ontagopa.}}
::'''Wajang ritjikan.'''
{{ordered list|list_
style_type=decimal|start=1
|Sokosrono (srambahan).
|Lelepah.
|Ilu-ilu.
|Endas gede mata amba.
|Wedon.}}
::'''Wajang ritjikan.'''
{{ordered list|list_
style_type=decimal|start=1
|Prampogan (djawa).
|Prampogan (danawa).
|Kreta.
|Djaran (putih).
|Djaran (tjemeng).
|Gadjah (Diponggo).
|Matjan.
|Naga (sawer).
|Banteng.
|Maesa.
|Peksi Garuda.
|Tjeleng.
|Peksi Djawata.}}
::'''Bangsaning dedamel.'''
{{ordered list|list_
style_type=decimal|start=1
|Gada rudjakpolo.
|Bindi.
|Gada.
|Tjakra.
|Nawala.
|Tjupu.
|Tjis.
|Trisula.
|Tjandrarasa.
|Alu gara.
|Badama.
}}<noinclude></noinclude>
8llpfrlsca70ixjqnbbjjm5lqbrj671
77563
77562
2026-05-15T16:47:26Z
Iripseudocorus
1236
77563
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 96 —}}</noinclude>::No.
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=7
|Tjantrik.
|Tjangik.
|Limbuk.
|Emban.
|Parekan (njai tumenggung).
|Parekan (njai tumenggung).
|Demang Ontagopa.}}
::'''Wajang ritjikan.'''
{{ordered list|list_
style_type=decimal|start=1
|Sokosrono (srambahan).
|Lelepah.
|Ilu-ilu.
|Endas gede mata amba.
|Wedon.}}
::'''Wajang ritjikan.'''
{{ordered list|list_
style_type=decimal|start=1
|Prampogan (djawa).
|Prampogan (danawa).
|Kreta.
|Djaran (putih).
|Djaran (tjemeng).
|Gadjah (Diponggo).
|Matjan.
|Naga (sawer).
|Banteng.
|Maesa.
|Peksi Garuda.
|Tjeleng.
|Peksi Djawata.}}
::'''Bangsaning dedamel.'''
{{ordered list|list_
style_type=decimal|start=1
|Gada rudjakpolo.
|Bindi.
|Gada.
|Tjakra.
|Nawala.
|Tjupu.
|Tjis.
|Trisula.
|Tjandrarasa.
|Alu gara.
|Badama.
}}<noinclude></noinclude>
sreb8qn6as5tkmg9ihlw6zg38vifaqt
Kaca:Bratayuda.pdf/70
250
24750
77553
2026-05-15T16:33:32Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77553
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Sri Kresna mengajukan keberatan kepada Sanghyang Narada. Tidak pada tempatnya jika Aswatama diampuni,
karena telah melakukan kejahatan, dengan membunuh secara gelap
Dewi Srikandi, Pancawala, dan Drustajumena. Yang dikehendaki
oleh Sri Kresna ialah, kelak nyawa Aswatama harus dimasukkan ke
dalam neraka untuk selama-lamanya. Sekarang memang belum
dibunuh, karena memang saat kematiannya belum tiba. Kelak,
putra Abimanyu yang bemama Prabu Parikesitlah, yang akan
membunuh Aswatama, akan tetapi sekarang ia masih berada dalam
kandungan.
Sedangkan nyawa Kartamarma akan dititiskan kepada semua
binatang, yang menggemari bau-bau yang busuk. Hanya Karpa
yang diampuni, karena hanya dialah yang tidak berhati jahat, dan
apa yang ia lakukan hanya karena terpaksa, karena takutnya kepada Aswatama. Sekarang ini masih meneruskan laku kependetaannya.
Sanghyang Narada dan para dewa memenuhi dan mentaati
apa yang dikehendaki oleh Sri Kresna, kemudian mereka metayang naik, kembali ke Suralaya.
Sti Kresna beserta Prabu Yudistira, dan seluruh prajurit
Pandawa, serta para raja undangan, lalu berangkat memasuki negeri Astina, sambil membawa Dewi Banowati. Pesanggrahan di
Kurusetra sudah dibubarkan. Harta kekayaan negeri Astina dihitung. A:rjuna lalu dinikahkan dengan janda Prabu Suyudana, yang
bemama Dewi Banowati. Karena A:rjuna sangat mengasihi wanita,
maka amanat yang berupa panah Cundamanik, diminta oleh Prabu
Yudistira.
Sri Kresna lalu menobatkan Prabu Yudistira menjadi raja
Astina, disaksikan oleh Prabu Baladewa serta para raja undangan, bahkan para dewa dari Suralaya juga turut menghadiri upacara
penobatan tersebut.
Sejak pemerintahan Prabu Yudistira, negeri Astina menjadi
sangat makmur, rakyatnya hidup senang, tak ada yang mencemaskan hati~ mereka, karena dijaga kuat oleh Sri Kresna dan A:rjuna.
73<noinclude></noinclude>
2kq6y6whidkaqaywuyujnf11np0f179
77554
77553
2026-05-15T16:37:49Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77554
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Sri Kresna mengajukan keberatan kepada Sanghyang Narada. Tidak pada tempatnya jika Aswatama diampuni,
karena telah melakukan kejahatan, dengan membunuh secara gelap Dewi Srikandi, Pancawala, dan Drustajumena. Yang dikehendaki oleh Sri Kresna ialah, kelak nyawa Aswatama harus dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Sekarang memang belum dibunuh, karena memang saat kematiannya belum tiba. Kelak, putra Abimanyu yang bernama Prabu Parikesitlah, yang akan membunuh Aswatama, akan tetapi sekarang ia masih berada dalam kandungan.
Sedangkan nyawa Kartamarma akan dititiskan kepada semua
binatang, yang menggemari bau-bau yang busuk. Hanya Karpa
yang diampuni, karena hanya dialah yang tidak berhati jahat, dan apa yang ia lakukan hanya karena terpaksa, karena takutnya kepada Aswatama. Sekarang ini masih meneruskan laku kependetaannya.
Sanghyang Narada dan para dewa memenuhi dan mentaati apa yang dikehendaki oleh Sri Kresna, kemudian mereka melayang naik, kembali ke Suralaya.
Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, dan seluruh prajurit
Pandawa, serta para raja undangan, lalu berangkat memasuki negeri Astina, sambil membawa Dewi Banowati. Pesanggrahan di Kurusetra sudah dibubarkan. Harta kekayaan negeri Astina dihitung. A:rjuna lalu dinikahkan dengan janda Prabu Suyudana, yang bernama Dewi Banowati. Karena A:rjuna sangat mengasihi wanita, maka amanat yang berupa panah Cundamanik, diminta oleh Prabu Yudistira.
Sri Kresna lalu menobatkan Prabu Yudistira menjadi raja
Astina, disaksikan oleh Prabu Baladewa serta para raja undangan, bahkan para dewa dari Suralaya juga turut menghadiri upacara penobatan tersebut.
Sejak pemerintahan Prabu Yudistira, negeri Astina menjadi sangat makmur, rakyatnya hidup senang, tak ada yang mencemaskan hati mereka, karena dijaga kuat oleh Sri Kresna dan Arjuna.<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude>
1l5lw72q7lfdjn9h4ewxhdbl4s2mrj0
78323
77554
2026-05-16T09:38:15Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78323
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kemudian Sri Kresna mengajukan keberatan kepada Sanghyang Narada. Tidak pada tempatnya jika Aswatama diampuni,
karena telah melakukan kejahatan, dengan membunuh secara gelap Dewi Srikandi, Pancawala, dan Drustajumena. Yang dikehendaki oleh Sri Kresna ialah, kelak nyawa Aswatama harus dimasukkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Sekarang memang belum dibunuh, karena memang saat kematiannya belum tiba. Kelak, putra Abimanyu yang bernama Prabu Parikesitlah, yang akan membunuh Aswatama, akan tetapi sekarang ia masih berada dalam kandungan.
Sedangkan nyawa Kartamarma akan dititiskan kepada semua
binatang, yang menggemari bau-bau yang busuk. Hanya Karpa
yang diampuni, karena hanya dialah yang tidak berhati jahat, dan apa yang ia lakukan hanya karena terpaksa, karena takutnya kepada Aswatama. Sekarang ini masih meneruskan laku kependetaannya.
Sanghyang Narada dan para dewa memenuhi dan mentaati apa yang dikehendaki oleh Sri Kresna, kemudian mereka melayang naik, kembali ke Suralaya.
Sri Kresna beserta Prabu Yudistira, dan seluruh prajurit
Pandawa, serta para raja undangan, lalu berangkat memasuki negeri Astina, sambil membawa Dewi Banowati. Pesanggrahan di Kurusetra sudah dibubarkan. Harta kekayaan negeri Astina dihitung. A:rjuna lalu dinikahkan dengan janda Prabu Suyudana, yang bernama Dewi Banowati. Karena A:rjuna sangat mengasihi wanita, maka amanat yang berupa panah Cundamanik, diminta oleh Prabu Yudistira.
Sri Kresna lalu menobatkan Prabu Yudistira menjadi raja
Astina, disaksikan oleh Prabu Baladewa serta para raja undangan, bahkan para dewa dari Suralaya juga turut menghadiri upacara penobatan tersebut.
Sejak pemerintahan Prabu Yudistira, negeri Astina menjadi sangat makmur, rakyatnya hidup senang, tak ada yang mencemaskan hati mereka, karena dijaga kuat oleh Sri Kresna dan Arjuna.<noinclude>{{rh|||73}}</noinclude>
em6153pje4f67o5wbz0uakh9em4dtca
Kaca:Bratayuda.pdf/71
250
24751
77555
2026-05-15T16:38:14Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77555
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Jika ada di antara rakyat berbuat kejahatan, segera dihukum .
Yang bodoh diberi pengetahuan, yang miskin terus-menerus mendapat sumbangan, sehingga negeri Astina sangat disegani lawan.
Setelah upacara penobatan Prabu Yudistira sebagai raja
Astina selesai dengan selamat, Prabu Baladewa beserta raja-raja
Wirata, Cempala, dan yang lainnya, lalu minta diri, kembali ke
negerinya masing-masing. Hanya Sri Kresna, yang masih
tetap tinggal di Astina.
*
74
****<noinclude></noinclude>
avpoj6qn9o8simuphsaz83h5rue3mij
77556
77555
2026-05-15T16:40:13Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77556
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Jika ada di antara rakyat berbuat kejahatan, segera dihukum. Yang bodoh diberi pengetahuan, yang miskin terus-menerus mendapat sumbangan, sehingga negeri Astina sangat disegani lawan.
Setelah upacara penobatan Prabu Yudistira sebagai raja
Astina selesai dengan selamat, Prabu Baladewa beserta raja-raja Wirata, Cempala, dan yang lainnya, lalu minta diri, kembali ke negerinya masing-masing. Hanya Sri Kresna, yang masih tetap tinggal di Astina.
{{C|* * * * *}}<noinclude>{{rh|74}}</noinclude>
308tq3ocsgdnplfcai02rhr2kly3p2a
78324
77556
2026-05-16T09:38:23Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78324
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Jika ada di antara rakyat berbuat kejahatan, segera dihukum. Yang bodoh diberi pengetahuan, yang miskin terus-menerus mendapat sumbangan, sehingga negeri Astina sangat disegani lawan.
Setelah upacara penobatan Prabu Yudistira sebagai raja
Astina selesai dengan selamat, Prabu Baladewa beserta raja-raja Wirata, Cempala, dan yang lainnya, lalu minta diri, kembali ke negerinya masing-masing. Hanya Sri Kresna, yang masih tetap tinggal di Astina.
{{C|* * * * *}}<noinclude>{{rh|74}}</noinclude>
c915i9zqmfapgzd00r3rgrdnu9mdmn2
Kaca:Bratayuda.pdf/72
250
24752
77557
2026-05-15T16:40:32Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77557
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>BRATAYUDA<noinclude></noinclude>
f3ysvma3955lem1vafvfd5as9ld0dtg
77559
77557
2026-05-15T16:44:16Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77559
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
<Center><BIG>'''BRATAYUDA'''</BIG></Center>
{{missing image}}<noinclude></noinclude>
72d2iv2y1kycsryrfobvfkzmfnhodh8
77560
77559
2026-05-15T16:45:13Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77560
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
<Center><BIG>'''BRATAYUDA'''</BIG></Center>
{{missing image}}<noinclude></noinclude>
3at7yqfgbs68tdnfvwxzvxd2aqpe4yt
78325
77560
2026-05-16T09:38:33Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78325
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
{{tab}}
<Center><BIG>'''BRATAYUDA'''</BIG></Center>
{{missing image}}<noinclude></noinclude>
4s37nqtk6c0c2p5ao992dmdg244l866
Kaca:Bratayuda.pdf/73
250
24753
77561
2026-05-15T16:45:34Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77561
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA, NGREMBAG
PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL
Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah· adilipun.
Prabawanipun uparni kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking
kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu
ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken
rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun
angucemaken padhanging rembulan.
Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama
Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken
rumiyin:
Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken
wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun
ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten
ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang
mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun
ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati.
Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami
rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang,
sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja
ngupados kamulyaning pejah.
Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang rninangka panuntun kula, kula badhe anedha
kagungan · kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula
sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan."
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane
77<noinclude></noinclude>
8ieykcmge5x0gcag7umd9500jy93ufo
77565
77561
2026-05-15T16:52:28Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77565
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA''', NGREMBAG<br>
'''PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL'''}}
Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah adilipun.
Prabawanipun upami kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan.
Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama
Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken rumiyin:
Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken
wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati. Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang, sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja ngupados kamulyaning pejah.
Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang minangka panuntun kula, kula badhe anedha kagungan kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan."
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane<noinclude>{{rh|||77}}</noinclude>
iov0palv8vta9thycpz6d8fn49u4rdh
77566
77565
2026-05-15T16:53:15Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77566
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA''', '''NGREMBAG'''<br>
'''PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL'''}}
Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah adilipun.
Prabawanipun upami kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan.
Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama
Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken rumiyin:
Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken
wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati. Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang, sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja ngupados kamulyaning pejah.
Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang minangka panuntun kula, kula badhe anedha kagungan kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan."
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane<noinclude>{{rh|||77}}</noinclude>
do3lcdsatntj6vtwyn93j0lvukhauns
78326
77566
2026-05-16T09:38:41Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78326
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''PRABU KRESNA DHATENG NGASTINA''', '''NGREMBAG'''<br>
'''PILIHAN NAGARI, BOTEN ANGSAL DAMEL'''}}
Sang Prabu Jayabaya ing Kadhiri misuwur kekah adilipun.
Prabawanipun upami kados padhanging srengenge ing mangsa katiga. Panjenenganipun kineringan ing sesamaning ratu, awit saking kaprawiranipun ing paprangan. Boten wonten nimbangi. Para ratu ingkang nunggil jaman akaliyan Prabu Jayabaya kaupamekaken rembulan, Prabu Jayabaya ingkang minangka srengenge, sorotipun angucemaken padhanging rembulan.
Prabu Jayabaya wau kagungan abdi juru panganggit, anama
Empu Sedhah, punika kakarsakaken nganggit serat Bratayuda, panganggitipun kala irlg taun 1079. Wondene ingkang kacariyosaken rumiyin:
Sang Prabu Yudhistira sasentananipun sami kalempakaken
wonten ing nagari Wiratha, sarta ambekta prajurit sadedamelipun ing prang. Prabu Kresna ing Dwarawati sabalanipun inggih wonten ing ngriku. Karsanipun Prabu Yudhistira badhe mangun perang mundhut kagunganipun nagari ing Ngastina ingkang sapalih. Wondene ingkang binobot ing budi sarta linampahan sapitedahipun ing prakawis ageng wau, inggih namung Sang Prabu irig Dwarawati. Akathah para ratu, pepakan wonten ing Wiratha, ingkang sami rumojong ing perang, amurih kamulyaning pejah. lng nagari Ngastina inggih kathah para ratu Jawi utawi saking tanah Sabrang, sarni kalempakaken sabala saha dedameling perang, inggih sumeja ngupados kamulyaning pejah.
Prabu Yudhistira angandika dhumateng Prabu Kresna, "Kakang Prabu, ingkang minangka panuntun kula, kula badhe anedha kagungan kula nagari ing Ngastina ingkang sapalih, punika kula sumangga ingkang dados panggalih utawi pratikel sampeyan, amurih prayoginipun ingkang badhe linampahan."
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Yen makaten karsane<noinclude>{{rh|||77}}</noinclude>
j6492sz7swm5eplothdtpal5mk07kfx
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/10
250
24754
77564
2026-05-15T16:47:51Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77564
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77571
77564
2026-05-15T17:03:05Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77571
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 11 ―}}</noinclude>sakngandapipun Prabu Tuhuwasesa ringgit sumpingan ingkang ageng pijambak bagean tengen.
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2
|'''Tjaranipun ngedalaken Ringgit sangking:<br>Sumpingan Sisih Kiwa.'''
La samangke ladjeng njandak sumpingan bagean kiwa, inggih punika wiwit saking danawa Raton (Kumbakarna) utawi prabu Niwatakawatja. Ladjeng radja danawa nemneman Buta Ngore (gendong) prabu Rahwana (Dasaka) sakpiturutipun dumugi Pinten Tansen utawi Nangkula lan Sadewa. Punika sumpingan kiwa sampun telas dene panatanipun sami kados sumpingan tengen ingkang sampun dipun isis punika wau. Dene eblek kaklempakna dados satunggal rumijin.
|'''Ngedalaken Ringgit Dudahan.'''
Sak mangke ladjeng njandak ringgit dudahan. Pramila nami ringgit dudahan, tegesipun ringgit ingkang boten nate dipun sumping, namung wonten ing nglebet kotak utawi wonten sak nginggiling tutup kotak. Dene manawi ringgit padalangan ingkang tamtu wonten ing nginggil sak ngandaping ringgit sumpingan adatipun ingkang tamtu ringgit ritjikan, inggih punika kadosta dedameling ajang, prampogan, kreta kentjana, djaran, gadjah, ladjeng para tapa tuwin dagelan, sakwatawis sok ladjeng dipun tjampuri bangsaning bebudjengan. Dene ringgit ingkang anggadahi tangan gesang, pangisisipun kasampirna kados ringgit sumpingan nginggil punika wau.
| '''Ngedalaken Ringgit Dugangan.'''
Sakmangke ladjeng njandak ringgit dugangan, inggih punika para Kurawa, para putran Ngalengkan, para Punggawa tuwin patih. Punika sadaja panataning ngisis dados satunggal ugi kagantung kados kala wau.
Ladjeng para danawa, tumunten para djawata, ladjeng para wanara tjara pangisisipun ugi sami. Tumunten bangsaning ringgit bebudjengan ingkang awis-awis kanggenipun, kadosta Tjeleng, Sima, Banteng, Kebodanu, Kidang, Mendjangan, Garuda, Nagaradja, Taksaka, Peksi, Brajut djaler lan estri, tuwin Badjubarat (setanan) punika wajang panatanipun namung kangge dasar. Dene angisisipun namung tjekap wonten ing eblek utawi wonten kadjeng tantjeban punika wau. Dene wajang ingkang tanganipun pedjah kadosta Batara Guru, Kajon gunungan, setanan, brajut, pangisisipun tjekap katantjepaken wonten ing papan tantjeban kadjeng punika wau. Sak mangke ringgit sampun telas medal sadaja.}}<noinclude></noinclude>
7orjprgpni6ej8nl9njctpf13frjn7v
77573
77571
2026-05-15T17:03:53Z
Iripseudocorus
1236
77573
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 11 ―}}</noinclude>sakngandapipun Prabu Tuhuwasesa ringgit sumpingan ingkang ageng pijambak bagean tengen.
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2
|'''Tjaranipun ngedalaken Ringgit sangking:<br>Sumpingan Sisih Kiwa.'''<br>
La samangke ladjeng njandak sumpingan bagean kiwa, inggih punika wiwit saking danawa Raton (Kumbakarna) utawi prabu Niwatakawatja. Ladjeng radja danawa nemneman Buta Ngore (gendong) prabu Rahwana (Dasaka) sakpiturutipun dumugi Pinten Tansen utawi Nangkula lan Sadewa. Punika sumpingan kiwa sampun telas dene panatanipun sami kados sumpingan tengen ingkang sampun dipun isis punika wau. Dene eblek kaklempakna dados satunggal rumijin.
|'''Ngedalaken Ringgit Dudahan.'''<br>
Sak mangke ladjeng njandak ringgit dudahan. Pramila nami ringgit dudahan, tegesipun ringgit ingkang boten nate dipun sumping, namung wonten ing nglebet kotak utawi wonten sak nginggiling tutup kotak. Dene manawi ringgit padalangan ingkang tamtu wonten ing nginggil sak ngandaping ringgit sumpingan adatipun ingkang tamtu ringgit ritjikan, inggih punika kadosta dedameling ajang, prampogan, kreta kentjana, djaran, gadjah, ladjeng para tapa tuwin dagelan, sakwatawis sok ladjeng dipun tjampuri bangsaning bebudjengan. Dene ringgit ingkang anggadahi tangan gesang, pangisisipun kasampirna kados ringgit sumpingan nginggil punika wau.
| '''Ngedalaken Ringgit Dugangan.'''<br>
Sakmangke ladjeng njandak ringgit dugangan, inggih punika para Kurawa, para putran Ngalengkan, para Punggawa tuwin patih. Punika sadaja panataning ngisis dados satunggal ugi kagantung kados kala wau.
<br>
Ladjeng para danawa, tumunten para djawata, ladjeng para wanara tjara pangisisipun ugi sami. Tumunten bangsaning ringgit bebudjengan ingkang awis-awis kanggenipun, kadosta Tjeleng, Sima, Banteng, Kebodanu, Kidang, Mendjangan, Garuda, Nagaradja, Taksaka, Peksi, Brajut djaler lan estri, tuwin Badjubarat (setanan) punika wajang panatanipun namung kangge dasar. Dene angisisipun namung tjekap wonten ing eblek utawi wonten kadjeng tantjeban punika wau. Dene wajang ingkang tanganipun pedjah kadosta Batara Guru, Kajon gunungan, setanan, brajut, pangisisipun tjekap katantjepaken wonten ing papan tantjeban kadjeng punika wau. Sak mangke ringgit sampun telas medal sadaja.}}<noinclude></noinclude>
6mnco24oofdtm1lkahgrhyxzmy7h3k8
Kaca:Bratayuda.pdf/15
250
24755
77567
2026-05-15T16:53:50Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77567
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kan. Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan
~etap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu
akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu
berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah
budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati."
Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya
tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan
membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri
lalu pulang.
***
18<noinclude></noinclude>
3cobegow49ag0epk5vn10s0u4569wgx
77568
77567
2026-05-15T16:56:42Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77568
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kan. Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati."
Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya
tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan
membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri
lalu pulang.
{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude>
pzohl8f73irsetgxn5o9s2f9u2348u7
77569
77568
2026-05-15T16:57:10Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77569
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kan. Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati."
Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya
tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan
membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri
lalu pulang.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude>
m0cyeentfd2vftq7mzmxcui5fyi7d0z
78271
77569
2026-05-16T09:21:40Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78271
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|kan|mengucapkan}} Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati."
Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya
tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan
membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri
lalu pulang.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||18}}</noinclude>
l7d03o8iu3016h4yveb1fa57kuo0d3q
78272
78271
2026-05-16T09:21:48Z
Elcamatcha
1466
78272
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|kan|mengucapkan}} Meskipun ia akan mengalami sakit atau mati, pasti akan tetap pada pendiriannya. Sumpah saya sudah terucapkan, yaitu akan mengadu kesaktian dengan Janaka. Selain dari itu, saya sudah berhutang budi kepada Sri Duryudana. Jika saya tak tahu berterima kasih, akan menjadi cacat besar, termasuk satria rendah budi, yang tak dapat dijadikan suri teladannya para satria atau adipati."
Tangis Dewi Kunti semakin menjadi-jadi, karena putranya
tidak mau menuruti permintaannya, kehendaknya kukuh akan
membantu Korawa. Adipati Awangga menyembah, mohon diri
lalu pulang.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|18}}</noinclude>
4gjekxawp9l3ar162n4ydfdbuimq3i0
Kaca:Bratayuda.pdf/16
250
24756
77570
2026-05-15T16:57:32Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77570
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA
DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR
PeJjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke
negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air
mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil
peJjalanannya ke negeri Astina.
Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian,
"Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak
kita berperang. Mereka tidak merelakan stparoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada peJjalananku.
Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat
Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku
yang baik. lbu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna,
dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan
mereka bermaksud mengkhianati aku."
Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, AJ.juna dan Nakula
serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi
Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan
para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya
perang. Putra Wirata yang bemama Raden Wirasangka dan Raden
Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua
menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun
para punggawa, semuanya terpengaruh.
***
19<noinclude></noinclude>
qwc485hwowvsafahxdtjawa22pj6f5w
77572
77570
2026-05-15T17:03:42Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77572
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}}
Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke
negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Bagind mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina.
Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian,
"Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan..mereka bermaksud mengkhianati aku."
Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude>
rm6nc427qskbpvyoi0hvhwgw80b0npf
77575
77572
2026-05-15T17:04:16Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77575
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}}
Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke
negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina.
Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian,
"Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan..mereka bermaksud mengkhianati aku."
Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude>
8v5gfuqci0hgvhu0uu72ke8ukietvuh
77576
77575
2026-05-15T17:04:58Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77576
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}}
Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke
negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina.
Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian,
"Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan mereka bermaksud mengkhianati aku."
Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude>
gxlww9uhhp9wj5x3f7wtzihdtzfxnop
78273
77576
2026-05-16T09:21:59Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78273
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''PANDAWA DAN KORAWA BESERTA PASUKANNYA'''<br>'''BERANGKAT KE TEGAL KURU. PERANG BARATAYUDA'''<br>'''DIMULAI. SETA BERSAUDARA GUGUR'''}}
Perjalanan Sri Kresna dan Setyaki sudah hampir sampai ke
negeri Wirata. Sepanjang peJjalanan Sri Baginda mencucurkan air mata. Kemudian semua bala tentera Pandawa menyongsong kedatangan Sri Kresna. Setelah tiba di Istana Wirata, para raja mengucapkan selamat datang, serta menanyakan berita, tentang hasil perjalanannya ke negeri Astina.
Atas pertanyaan para raja Sri Kresna menjawab demikian,
"Korawa tidak dapat diajak berbaik. Mereka berkeras mengajak kita berperang. Mereka tidak merelakan separoh negeri Astina diminta. Ada empat dewata memberi bantuan pada perjalananku. Mereka ialah, Kanwa, kedua Narada, ketiga Janaka, dan keempat Ramaparasu. Mereka menemuiku di Tegal Kuru. Mereka mengetahui awal dan akhir pembicaraan, serta sependapat dengan saranku yang baik. Ibu si Duryudana pun, demikian pula Bisma, Druna, dan Salya, semua menyarankan agar separoh negeri Astina diserahkan, akan tetapi semua saran baik itu tidak diindahkan, bahkan mereka bermaksud mengkhianati aku."
Sehabis Sri Kresna berkata-kata, para raja tertegun mendengar berita itu. Sri Darmaputra, Wrekodara, Arjuna dan Nakula serta Sadewa pun demikian pula. Adapun Sri Darmaputra bersaudara kukuh kehendaknya, akan mentaati pesan ibunya, Dewi Kunti, yakni akan merebut negeri melalui perang. Para raja dan para adipati yang memihak Pandawa, menyetujui dilaksanakannya perang. Putra Wirata yang bernama Raden Wirasangka dan Raden Utara, demikian pula Raden Drestajumena dari Campala, semua menyatakan keberaniannya, dan membangkitkan keberanian, mengobarkan semangat mengajak berperang. Para bupati maupun para punggawa, semuanya terpengaruh.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||19}}</noinclude>
2ahe8vtllq9mxnqdjbh9km5bg2juxkv
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/11
250
24757
77574
2026-05-15T17:04:10Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77574
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77578
77574
2026-05-15T17:05:54Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77578
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" /></noinclude>{{R|{{x-larger|''Tangisising ringgit wonten tantjeba''}}}}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 11 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
c0743jormw3xzsp390ia0ycf0mpu6ff
Kaca:Bratayuda.pdf/17
250
24758
77577
2026-05-15T17:05:23Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77577
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Pagi harinya pertanda bergema, kendang, dan gung bersahut-sahutan, para raja ramai mengatur barisan. Sesudah semua persiapan selesai, lalu berangkat dari negeri Wirata. Jumlah bala tentera tak terhitung banyaknya. Pakaiannya berkilauan bagaikan cahaya mentari yang sedang terbit, hendak menerangi dunia.
Demikian banyaknya jumlah bala tentera itu, hingga bagaikan samodra menggertangi hutan dan gunung-gunung. Seluruh jalan penuh dengan rrajurit. Yang mengenakan pakaian merah, berkumpul sesama merah, yang kuning berkumpul sesama kuning, hijau
berkumpul sesam'"a hijau, hitam berkumpul sesama hitam, biru
berkumpul sesama biru, ungu berkumpul sesama ungu, putih berkumpul sesama putih, tidak ada yang terselip dengan warna yang
lain. Suara pasukan bagaikan guntur. Kilauan hiasan dwaja, bagaikan seribu gunung terbakar bersama.
Sanghyang Indra menghujankan harum-haruman. Segenap
dewa di lndraloka menyaksikan dan merestui mereka yang pergi
berperang, "unggullah Pandawa dalam perang, dan berhasillah
merebut negeri Astina."
Yang memimpin di paruh barisan Raden Werkodara. Ia betjalan darat sambil memanggul gada. Karena selama hidup tidak mau
mengendarai kuda, kereta maupun gajah. Meski betjalan melalui
lautan, melewati jurang, gunung maupun sungai, tetap betjalan
kaki saja. Sepanjang jalan selalu menantang lawan. Gerak barisannya bagaikan mengguncangkan bumi. Penghuni hutan yang dilalui berlarian tak menentu.
Sehabis barisan Raden Werkodara, disambung barisan Raden
Dananjaya. Dananjaya mengendarai kereta bertahtakan permata,
cahayanya menyala bagaikan gunung terbakar. Pakaian para prajuritnya menyala-nyala gemerlap, seolah-olah akan membakar negeri Astina beserta rajanya. Benderanya berkibaran, bertanda gambar
kera mengangakan mulutnya. Sejenak angkasa menjadi gelap bermendung, guruh menggelegar, kilat bersabungan di langit, seolaholah memberi pertanda akan keunggulan pihak Pandawa, dalam
peperangan kelak.
Raden Nakula dan Raden Sadewa menyambung barisan Ra20<noinclude></noinclude>
1tzwb1unncrmuzx4gqhcijjcl9mgqnw
77580
77577
2026-05-15T17:09:26Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77580
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Pagi harinya pertanda bergema, kendang, dan gung bersahut-sahutan, para raja ramai mengatur barisan. Sesudah semua persiapan selesai, lalu berangkat dari negeri Wirata. Jumlah bala tentera tak terhitung banyaknya. Pakaiannya berkilauan bagaikan cahaya mentari yang sedang terbit, hendak menerangi dunia. Demikian banyaknya jumlah bala tentera itu, hingga bagaikan samodra menggertangi hutan dan gunung-gunung. Seluruh jalan penuh dengan prajurit. Yang mengenakan pakaian merah, berkumpul sesama merah, yang kuning berkumpul sesama kuning, hijau berkumpul sesama hijau, hitam berkumpul sesama hitam, biru berkumpul sesama biru, ungu berkumpul sesama ungu, putih berkumpul sesama putih, tidak ada yang terselip dengan warna yang lain. Suara pasukan bagaikan guntur. Kilauan hiasan dwaja, bagaikan seribu gunung terbakar bersama.
Sanghyang Indra menghujankan harum-haruman. Segenap
dewa di Indraloka menyaksikan dan merestui mereka yang pergi berperang, "unggullah Pandawa dalam perang, dan berhasillah merebut negeri Astina."
Yang memimpin di paruh barisan Raden Werkodara. Ia l berjalan darat sambil memanggul gada. Karena selama hidup tidak mau mengendarai kuda, kereta maupun gajah. Meski berjalan melalui lautan, melewati jurang, gunung maupun sungai, tetap berjalan kaki saja. Sepanjang jalan selalu menantang lawan. Gerak barisannya bagaikan mengguncangkan bumi. Penghuni hutan yang dilalui berlarian tak menentu.
Sehabis barisan Raden Werkodara, disambung barisan Raden
Dananjaya. Dananjaya mengendarai kereta bertahtakan permata, cahayanya menyala bagaikan gunung terbakar. Pakaian para prajuritnya menyala-nyala gemerlap, seolah-olah akan membakar negeri Astina beserta rajanya. Benderanya berkibaran, bertanda gambar kera mengangakan mulutnya. Sejenak angkasa menjadi gelap bermendung, guruh menggelegar, kilat bersabungan di langit, seolah-olah memberi pertanda akan keunggulan pihak Pandawa, dalam
peperangan kelak.
Raden Nakula dan Raden Sadewa menyambung barisan Ra-<noinclude>{{rh|20}}</noinclude>
5v4586eo5371h4jm4rv25sg3oiiz5tv
78274
77580
2026-05-16T09:22:17Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78274
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Pagi harinya pertanda bergema, kendang, dan gung bersahut-sahutan, para raja ramai mengatur barisan. Sesudah semua persiapan selesai, lalu berangkat dari negeri Wirata. Jumlah bala tentera tak terhitung banyaknya. Pakaiannya berkilauan bagaikan cahaya mentari yang sedang terbit, hendak menerangi dunia. Demikian banyaknya jumlah bala tentera itu, hingga bagaikan samodra menggertangi hutan dan gunung-gunung. Seluruh jalan penuh dengan prajurit. Yang mengenakan pakaian merah, berkumpul sesama merah, yang kuning berkumpul sesama kuning, hijau berkumpul sesama hijau, hitam berkumpul sesama hitam, biru berkumpul sesama biru, ungu berkumpul sesama ungu, putih berkumpul sesama putih, tidak ada yang terselip dengan warna yang lain. Suara pasukan bagaikan guntur. Kilauan hiasan dwaja, bagaikan seribu gunung terbakar bersama.
Sanghyang Indra menghujankan harum-haruman. Segenap
dewa di Indraloka menyaksikan dan merestui mereka yang pergi berperang, "unggullah Pandawa dalam perang, dan berhasillah merebut negeri Astina."
Yang memimpin di paruh barisan Raden Werkodara. Ia l berjalan darat sambil memanggul gada. Karena selama hidup tidak mau mengendarai kuda, kereta maupun gajah. Meski berjalan melalui lautan, melewati jurang, gunung maupun sungai, tetap berjalan kaki saja. Sepanjang jalan selalu menantang lawan. Gerak barisannya bagaikan mengguncangkan bumi. Penghuni hutan yang dilalui berlarian tak menentu.
Sehabis barisan Raden Werkodara, disambung barisan Raden
Dananjaya. Dananjaya mengendarai kereta bertahtakan permata, cahayanya menyala bagaikan gunung terbakar. Pakaian para prajuritnya menyala-nyala gemerlap, seolah-olah akan membakar negeri Astina beserta rajanya. Benderanya berkibaran, bertanda gambar kera mengangakan mulutnya. Sejenak angkasa menjadi gelap bermendung, guruh menggelegar, kilat bersabungan di langit, seolah-olah memberi pertanda akan keunggulan pihak Pandawa, dalam
peperangan kelak.
Raden Nakula dan Raden Sadewa menyambung barisan {{hws|Ra|Raden}}<noinclude>{{rh|20}}</noinclude>
leosj9xixfj9b4muy2jrvt43ggo5cde
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/12
250
24759
77579
2026-05-15T17:06:08Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77579
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77582
77579
2026-05-15T17:12:34Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77582
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5
|'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br>
Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin.
Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}}
{{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT<br>
WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}}
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1
| '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br>
Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude>
1lffe4rhmgl1y7j80gmidxcr2zbakye
77583
77582
2026-05-15T17:12:55Z
Iripseudocorus
1236
77583
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5
|'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br>
Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin.
Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}}
{{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT<br>
WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}}}}
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1
| '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br>
Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude>
8hc2upzihk5y017bqezl2mtyqjuvuyi
77584
77583
2026-05-15T17:13:23Z
Iripseudocorus
1236
77584
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5
|'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br>
Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin.
Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}}
{{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT'''<br>'''
WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}}}}
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1
| '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br>
Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude>
tl767zm8waj4vec8q8rj7oph2ucvgc4
77585
77584
2026-05-15T17:14:00Z
Iripseudocorus
1236
77585
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 13 ―}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=5
|'''Tjaranipun ngresiki Kotak.'''<br>
Sakpunika ladjeng sawek ngresiki kotak. Sadaja pirantosing wajang ingkang kasimpen wonten ing anakaning kotak, kadosta kepyak, tjempala ageng lan alit, sapit blentjong, pluntur dadung kelir, dom bolah, srebet, sikat alus, pirantos kangge ngresiki manawi wonten ringgit ingkang kataman ing djamur. Manawi ringgit ing padusunan adakanipun sok sami anggadahi golek, (taledek kaju) prelu kangge panutup telasing tjarijos, tantjeb kajon, mawi tambahan gambyongan. Punika sami karesikana medal saking kotak sadaja rumijin.
Manawi sadaja barang pirantos sampun medal telas sadaja, kotaking ringgit saweg dipun resiki, ingkang ngantos resik, sampun ngantos wonten kewan gegremetan ingkang manggen wonten ing salebeting kotak punika wau, lan malih kotak sampun ngantos kenging hawa benter, utawi asrep. Manawi kotak punika sampun resik ladjeng kaparingana lambaran kredoos (karton) utawi dlantjang, ingkang kandel, supados sageda anggadahi daja anget. Manawi kagungan utawi saged pados, langkung sae manawi dipun paringi wulu laring merak, (peksi tjohong), punika lar anggadahi daja sadaja gegremetan boten purun ngambah. Manawi boten wonten tjekap kaparingan kapur barus (kamper). Manawi sadaja lambaran sampun katata sae, ladjeng katutupana eblek ingkang sampun dipun resiki, tumunten sadaja pirantosing wajang ingkang sami kasimpen wonten anakaning kotak kala wau, menawi sampun karesikan sadaja, ladjeng sami kawangsulna dateng panggenanipun kala wau, sampun ngantos wonten ingkang tjitjir. Punika wau sadaja tjaraning ngisis ringgit watjutjal amrih sagedipun sae. Manawi andudah wajang sampun ngantos udut. Awu saha latunipun mindak anggogrogi dateng wajang, ladjeng saged nuwuhaken reged, kirang prajogi.}}
{{C|{{larger|'''TJARANING ANGGENIPUN NGRESIKI RINGGIT'''<br>'''WATJUTJAL INGKANG KENGING DJAMUR.'''}}}}
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1
| '''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang djamuripun taksih Tipis (sakedik).'''<br>
Sadaja ringgit ingkang sami dipun isis punika wau saderengipun kalebetaken ing kotak, katlitija saking satunggal satunggal, pundi ringgit ingkang gapitipun kotjak kendo tangsulipun, kaklempakna zorumijin dados satunggal. Manawi sampun, tangsul ingkang kendo punika kasantunana tangsul malih, mawi bolah piser abrit ingkang wulet. Panangsulipun bolah karangkepa, ubet kaping kalih ingkang kentjeng sampun ngantos kotjak. Pramila sadaja ringgit ingkang}}<noinclude></noinclude>
op99s0x1v5bjc7mapka6hsknu5zg8vy
Kaca:Bratayuda.pdf/18
250
24760
77581
2026-05-15T17:10:43Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77581
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>den Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke lstana
Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita.
Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata.
Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusuJ barisan ayahnya, Raja Drupada.
Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para
punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya,
menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas
seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah
sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri
Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana
penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlangcemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai,
lihatlah. Inilah pramugari perang."
Petjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai
pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri
Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang,
yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri
Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya.
Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian
gugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari
segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja de21<noinclude></noinclude>
7zb6riv4m362nsvkcue2kffwiquoc5s
77588
77581
2026-05-15T17:18:12Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77588
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>den Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke Istana Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita.
Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata.
Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusul barisan ayahnya, Raja Drupada. Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya, menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah
sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlang-cemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai, lihatlah. Inilah pramugari perang."
Perjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang, yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya. Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian kgugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja de-<noinclude>{{rh|||2}}</noinclude>
6u8kl2o7q62p2vnsfa5qh3lddlwxn8y
77589
77588
2026-05-15T17:18:50Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77589
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>den Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke Istana Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita.
Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata.
Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusul barisan ayahnya, Raja Drupada. Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya, menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah
sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlang-cemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai, lihatlah. Inilah pramugari perang."
Perjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang, yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya. Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian kgugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja de-<noinclude>{{rh|||21}}</noinclude>
5miwtfwi79h1l0bj7wbi9hutddg2u79
78275
77589
2026-05-16T09:22:44Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78275
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|den|Raden}} Dananjaya, keduanya mengendarai kereta bertahtakan permata ungu. Seperti Batara Kamajaya kembar hendak pergi ke Istana Astina, melihat Korawa bagaikan memandang wanita.
Di belakangnya disambung barisan ketiga putra Wirata.
Di belakangnya disambung barisan Raden Drustajumena, rajaputra Campala. Kemudian disusul barisan ayahnya, Raja Drupada. Sri Baginda mengendarai ,gajah, diiringkan para mantri dan para punggawa. Pasukannya tak terhitung banyaknya. Di belakangnya, menyusul Dewi Drupadi, berkendaraan kereta, berpayung emas seraya mengurai rambut. Ketika tertiup angin seperti tangan melambai-lambai, mengisyaratkan supaya segera banjir. Seolah-olah
sang dewi ingin cepat-cepat keramas dengan darah Korawa, sesudah keramas lalu mau menyanggul rambutnya. Yang menyambung di belakang barisan Dewi Drupadi adalah barisan Dewi Srikandi. Berkendaraan kereta yang dihias permata. Kemudian Sri Darmaputra mengendarai gajah, berpayung kuning, banyak pengiringnya, seraya memangku Pustaka Kalimasada. Benar-benar seorang raja utama. Telah tampak pertandanya, akan dapat mencapai kemenangan. Pustaka yang dipangkunya itu, merupakan sarana penghancur musuh. Di belakang Sri Darmaputra, disambung dengan barisan Sri Kresna, berbendera putih, bertanda seorang pendeta bersamadi. Sri Baginda mengendarai kereta bertahtakan permata, berpayung putih berhiaskan manik-manik, berkilau cerlang-cemerlang, seolah-olah memancarkan cahaya peringatan, "Hai, lihatlah. Inilah pramugari perang."
Perjalanan Sri Kresna seperti mengiring pengantin. Sebagai pengantin pria, ialah Sri Darmaputra, sedangkan yang menjadi pengantin perempuan ialah, negeri Astina, dan sehabis hajat, negeri Astina diterima oleh Sri Darmaputra. Para raja yang diundang, yakni yang mendukung perang, dapat diumpamakan sebagai penyumbang kepada Sri Kresna, yang mempunyai hajat. Hanya Sri Kresnalah yang paling dihormati dan ditaati segala petunjuknya. Siapa pun juga yang taat akan petunjuk Sri Kresna, dan kemudian kgugur dalam perang Baratayuda, pasti masuk sorga, terbebas dari segala macam siksa di zaman kehilangan. Oleh karena para raja {{hws|de|dengan}}<noinclude>{{rh|||21}}</noinclude>
jiliodh9a6fb7iy8g06wxq5m6brqejp
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/13
250
24761
77586
2026-05-15T17:14:11Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77586
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77591
77586
2026-05-15T17:23:23Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77591
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 14 —}}</noinclude>kendo tangsulipun kedah dipun santuni ingkang kentjeng, sabab kendoning tali punika asring damel tugeling gapit, lan malih manawi gapit punika kotjak, tjepenganing ringgit inggih boten seketja, kangge sabetan boten anggadahi raos saketja, sarta obahing bolah katarik kalijan kotjaking gapit punika inggih adamel pedoting tatahan. Punapa malih manawi dawah ringgit ingkang gempuran remit tatahanipun, kadosta tatahaning dodot limaran, parang, lapis, sakpiturutipun punika ladjeng gampil pedotipun. Sadaja tatahan punika manawi sampun pedot rekaos anggenipun ambenakaken, sagedipun namung dipun tangsuli bolah ingkang wulet tur ingkang lembat, utawi saking seratipun sepet taboning klapa. Manawi kasangeten dedelipun kedah dipun sopak, dipun tambal kasambet watjutjal enggal ladjeng dipun tatah malih, miturut tatunipun lami. Ringgit ingkang katambal namanipun ringgit kasopak. Manawi sampun rampung anggenipun njantuni tali, kawangsulna dateng panggenanipun lami, sagedipun urut malih. Lah samangke gentos ladjeng milihi ringgit ingkang kenging djamur, ugi kaklempakna dados satunggal kados kalawau. Ringgit ingkang sami kataman djamur punika karesikana mawi sikat ingkang lemes alon-alon, sampun ngantos andedelaken pulasing ringgit ingkang sampun sepuh. Kasikata ingkang ngantos resik itjal djamuripun. Adakanipun ingkang kataman ing djamur punika pulasing ringgit ingkang warni tjemeng lan abrit, sami katingal maletuk petak. Manawi dipun tingali saking katebihan warnining ringgit katingal klawus², punapa malih manawi dipun tjelaki katingal reged. Ingkang tamtu manggen wonten ing bagean rambut, palemahan tuwin paraupaning ringgit. Manawi wonten ing rambut sami mlebet dateng seritaning tatahan rambut. Manawi njikat ngresiki rambutipun para satrija kedah langkung ngatos-atos, sampun ngantos medotaken seritaning rambut utawi mulur medal, djalaran panatahing seritan punika manawi rambuting para satrija utawi putran alusan, wawangunanipun kados dene pir djam ngaleker. Manawi ngantos molor ladjeng gampil pedotipun, saja malih manawi dawah ingkang gelung, langkung riwil malih, pramila kedah ngatos-atos. Rambut seritan manawi ngantos pedot ladjeng bolong dados tjatjat katingal awon. Pramila tjara pangupa-karanipun anggenipun ngresiki kedah ngatos-atos boten kenging dipun prusa.
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2
|'''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang katingal kandel Djamuripun.'''
<br>
Dene manawi djamur punika sampun katingal kandel, ngantos katingal blawuk-blawuk meh petak sadaja, tjaraning ngresiki mawi srebet ingkang empuk, dipun telesi mawi toja anget manget-manget,}}<noinclude></noinclude>
iirknyjc7d1d7gpd9r7g2bllk5yrih2
77596
77591
2026-05-15T17:28:45Z
Iripseudocorus
1236
77596
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 14 —}}</noinclude>kendo tangsulipun kedah dipun santuni ingkang kentjeng, sabab kendoning tali punika asring damel tugeling gapit, lan malih manawi gapit punika kotjak, tjepenganing ringgit inggih boten seketja, kangge sabetan boten anggadahi raos saketja, sarta obahing bolah katarik kalijan kotjaking gapit punika inggih adamel pedoting tatahan. Punapa malih manawi dawah ringgit ingkang gempuran remit tatahanipun, kadosta tatahaning dodot limaran, parang, lapis, sakpiturutipun punika ladjeng gampil pedotipun. Sadaja tatahan punika manawi sampun pedot rekaos anggenipun ambenakaken, sagedipun namung dipun tangsuli bolah ingkang wulet tur ingkang lembat, utawi saking seratipun sepet taboning klapa. Manawi kasangeten dedelipun kedah dipun sopak, dipun tambal kasambet watjutjal enggal ladjeng dipun tatah malih, miturut tatunipun lami. Ringgit ingkang katambal namanipun ringgit kasopak. Manawi sampun rampung anggenipun njantuni tali, kawangsulna dateng panggenanipun lami, sagedipun urut malih. Lah samangke gentos ladjeng milihi ringgit ingkang kenging djamur, ugi kaklempakna dados satunggal kados kalawau. Ringgit ingkang sami kataman djamur punika karesikana mawi sikat ingkang lemes alon-alon, sampun ngantos andedelaken pulasing ringgit ingkang sampun sepuh. Kasikata ingkang ngantos resik itjal djamuripun. Adakanipun ingkang kataman ing djamur punika pulasing ringgit ingkang warni tjemeng lan abrit, sami katingal maletuk petak. Manawi dipun tingali saking katebihan warnining ringgit katingal klawus², punapa malih manawi dipun tjelaki katingal reged. Ingkang tamtu manggen wonten ing bagean rambut, palemahan tuwin paraupaning ringgit. Manawi wonten ing rambut sami mlebet dateng seritaning tatahan rambut. Manawi njikat ngresiki rambutipun para satrija kedah langkung ngatos-atos, sampun ngantos medotaken seritaning rambut utawi mulur medal, djalaran panatahing seritan punika manawi rambuting para satrija utawi putran alusan, wawangunanipun kados dene pir djam ngaleker. Manawi ngantos molor ladjeng gampil pedotipun, saja malih manawi dawah ingkang gelung, langkung riwil malih, pramila kedah ngatos-atos. Rambut seritan manawi ngantos pedot ladjeng bolong dados tjatjat katingal awon. Pramila tjara pangupa-karanipun anggenipun ngresiki kedah ngatos-atos boten kenging dipun prusa.
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2
|'''Tjaranipun ngresiki Ringgit ingkang katingal kandel Djamuripun.'''}}
Dene manawi djamur punika sampun katingal kandel, ngantos katingal blawuk-blawuk meh petak sadaja, tjaraning ngresiki mawi srebet ingkang empuk, dipun telesi mawi toja anget manget-manget,<noinclude></noinclude>
lptfv94cwwve0xp99xmig4cawuowa15
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/14
250
24762
77587
2026-05-15T17:14:21Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77587
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77592
77587
2026-05-15T17:27:03Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77592
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 15 —}}</noinclude>dipun peres ingkang apuh, ladjeng dipun angge ngusapi dipun tutul- tutulaken dateng pundi pulas ingkang kenging utawi katradjang ing djamur, manawi sampun garing kisisan, pulasipun katingal ambleret, manawi pulasanipun taksih enggal inggih pulih resik sae malih. Dene manawi pulasanipun sampun lami tamtu ladjeng katingal ambleret, ladjeng dipun edus malih mawi antjur lempeng (antjur kripik). Antjur dipun godog mawi toja landa djangkang, pangedusipun tjekap sapisan kemawon, dene praos utawi pradanipun sampun ngantos katradjang ing antjur mindak ambleret. Manawi sampun garing kekijatanipun prasasat ringgit kasungging enggal, katingalipun ringgit inggih wangsul gumebyar malih. Dene manawi wonten ringgit ingkang pulasanipun sami nglotok dedel pulasanipun ngantos katah, prajogi dipun gebal, tegesipun dipun kumbah dipun itjali pulasipun, dipun girah ing toja dipun sikat ngantos resik pulasipun. Ladjeng dipun plepet dipun tindihi mawi barang ingkang rata, upaminipun blabag ingkang rata. Ringgit sak wantji-wantji garing sampun ngantos katingal pating tjaklentung (pating plengko) sageda garing wradin. Manawi sampun ladjeng dipun sungging kapulas malih. Manawi sampun ambabar ladjeng katingal ringgit enggal malih, dados ringgit gebalan punika tegesipun ringgit lami dipun pulas enggal malih, ngantos dados ringgit enggal malih.
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=3
|'''Tjaranipun ngresiki Ringgit Watjutjal ingkang kenging :'''<br>'''Lisah Blentjong.'''<br>
Kadjawi punika malih, bok bilih wonten ringgit ingkang kenging lisah blentjong, upaminipun katetesan kasalatan kados meh kabrongot, punika sampun ngantos dipun tjampur kalijan ringgit sanesipun, kedah dipun pijambakaken. Djalaran ringgit ingkang kenging lisah klentik punika kadjawi katingalipun andalemok, inggih gampil anggenipun nuwuhaken djamur, ladjeng saged nulari dateng ringgit sanesipun. Dene tjaranipun menawi bade ngitjali, pundi ingkang kenging lisah punika wau kausara mawi apu (indjet). Manawi sampun watawis sadinten sadalu ladjeng kausapana. Punika pulas tamtu sampun ngalotok, ladjeng dipun resiki, manawi sampun resik katambala ing pulas malih, miturut ingkang sampun. Dene manawi ingkang kenging paraupanipun, sampun ngantos dipun santuni warnining pulasing paraupan, mangke mindak katingal njengkleng larasanipun, boten turut, kirang harmonis.
<br>
Manawi pulasing prabot, kenging kadamel sak senengipun miturut kapatutaning ringgit ingkang risak punika wau.}}<noinclude></noinclude>
61oywppp3xc2dohrk8wsrjo1xltysdc
77595
77592
2026-05-15T17:28:13Z
Iripseudocorus
1236
77595
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 15 —}}</noinclude>dipun peres ingkang apuh, ladjeng dipun angge ngusapi dipun tutul- tutulaken dateng pundi pulas ingkang kenging utawi katradjang ing djamur, manawi sampun garing kisisan, pulasipun katingal ambleret, manawi pulasanipun taksih enggal inggih pulih resik sae malih. Dene manawi pulasanipun sampun lami tamtu ladjeng katingal ambleret, ladjeng dipun edus malih mawi antjur lempeng (antjur kripik). Antjur dipun godog mawi toja landa djangkang, pangedusipun tjekap sapisan kemawon, dene praos utawi pradanipun sampun ngantos katradjang ing antjur mindak ambleret. Manawi sampun garing kekijatanipun prasasat ringgit kasungging enggal, katingalipun ringgit inggih wangsul gumebyar malih. Dene manawi wonten ringgit ingkang pulasanipun sami nglotok dedel pulasanipun ngantos katah, prajogi dipun gebal, tegesipun dipun kumbah dipun itjali pulasipun, dipun girah ing toja dipun sikat ngantos resik pulasipun. Ladjeng dipun plepet dipun tindihi mawi barang ingkang rata, upaminipun blabag ingkang rata. Ringgit sak wantji-wantji garing sampun ngantos katingal pating tjaklentung (pating plengko) sageda garing wradin. Manawi sampun ladjeng dipun sungging kapulas malih. Manawi sampun ambabar ladjeng katingal ringgit enggal malih, dados ringgit gebalan punika tegesipun ringgit lami dipun pulas enggal malih, ngantos dados ringgit enggal malih.
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=3
|'''Tjaranipun ngresiki Ringgit Watjutjal ingkang kenging :'''<br>'''Lisah Blentjong.'''}}
Kadjawi punika malih, bok bilih wonten ringgit ingkang kenging lisah blentjong, upaminipun katetesan kasalatan kados meh kabrongot, punika sampun ngantos dipun tjampur kalijan ringgit sanesipun, kedah dipun pijambakaken. Djalaran ringgit ingkang kenging lisah klentik punika kadjawi katingalipun andalemok, inggih gampil anggenipun nuwuhaken djamur, ladjeng saged nulari dateng ringgit sanesipun. Dene tjaranipun menawi bade ngitjali, pundi ingkang kenging lisah punika wau kausara mawi apu (indjet). Manawi sampun watawis sadinten sadalu ladjeng kausapana. Punika pulas tamtu sampun ngalotok, ladjeng dipun resiki, manawi sampun resik katambala ing pulas malih, miturut ingkang sampun. Dene manawi ingkang kenging paraupanipun, sampun ngantos dipun santuni warnining pulasing paraupan, mangke mindak katingal njengkleng larasanipun, boten turut, kirang harmonis.
Manawi pulasing prabot, kenging kadamel sak senengipun miturut kapatutaning ringgit ingkang risak punika wau.<noinclude></noinclude>
rizjrgwpwc26hlkqhs36t8kj9u6omuq
Kaca:Bratayuda.pdf/19
250
24763
77590
2026-05-15T17:19:04Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77590
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>ngan sungguh-sungguh menjalankan segala petunjuk Sri Kresna,
dengan tulus ikhlas menemui kematian, karena sorga dan neraka
seolah-olah sudah digenggam oleh Sri Kresna.
Raden Wresniwira yang menyambung baris Dwarawati, dan
merupakan pimpinan para adipati. Jumlah prajuritnya tak terhitung banyaknya memenuhi jalan, suara prajurit bagaikan menggerakkan bumi menggoncangkan lautan. Yang menyambung barisan
Raden Wresniwira, ialah putra Raden Dananjaya, yang mengendarai kereta emas, bemama Abimanyu, berpayung bulu merak, sambil memangku senjata cakra. Pakaian para prajuritnya bagaikan bunga berguguran. Di belakangnya, menyambung Raden Pancawala, putra Sri Darmaputra. Ia berkendaraan kereta terhias permata, berumbai bulu merak, berpayung hitam mengkilap. Prajuritnya berpakaian menyala. Benderanya semua berwama hijau.
***
Tak habis-habisnya jika keindahan pasukan yang sedang berjalan. Kini baiklah dibatasi saja sampai di sini. Barisan terdepan sudah sampai di Tegal Kuru, tampak bagaikan air tumpah ruah.
Para raja, para adipati, datang berbondong-bondong tiada putusputusnya. Kemudian semua mendirikan pesanggrahan sesuai dengan kedudukan masing-masing.
Kemudian Dewi Kunti dijemput, supaya datang di Tegal
Kuru, diantar oleh Yamawidura. Setelah bertemu dengan Pandawa, semua menangis. Setelah tangisnya reda, semua merasa gembira, lalu bersuka-ria. Tak mungkin seluruh suasana suka ria itu
diceritakan. Yamawidura, yang mengantar Dewi Kunti, lalu kernbali lagi ke Astina.
Dewi Kunti tetap tinggal di Tegal Kuru. Pesanggrahan Pandawa tak ubahnya seperti istana. Pesanggrahan Sri Kresna pun dibangun serupa istana. Yudistira, Wrekodara, Atjuna, Nakula,
Sadewa, semua berkumpul di pesanggrahan Sri Kresna. Para raja
undangan, semuanya berkumpul di situ, untuk berunding dan
mohon petunjuk Sri Kresna.
Yudistira berkata kepada Sri Kresna, "Kakanda PJabu, saya
22<noinclude></noinclude>
md39l0mb4e599fidfossq6gf1q3uihj
77593
77590
2026-05-15T17:27:15Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77593
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>ngan sungguh-sungguh menjalankan segala petunjuk Sri Kresna, dengan tulus ikhlas menemui kematian, karena sorga dan neraka seolah-olah sudah digenggam oleh Sri Kresna.
Raden Wresniwira yang menyambung baris Dwarawati, dan
merupakan pimpinan para adipati. Jumlah prajuritnya tak terhitung banyaknya memenuhi jalan, suara prajurit bagaikan menggerakkan bumi menggoncangkan lautan. Yang menyambung barisan Raden Wresniwira, ialah putra Raden Dananjaya, yang mengendarai kereta emas, bernama Abimanyu, berpayung bulu merak, sambil memangku senjata cakra. Pakaian para prajuritnya bagaikan bunga berguguran. Di belakangnya, menyambung Raden Pancawala, putra Sri Darmaputra. Ia berkendaraan kereta terhias permata, berumbai bulu merak, berpayung hitam mengkilap. Prajuritnya berpakaian menyala. Benderanya semua berwarna hijau.
{{C| * * * }}
Tak habis-habisnya jika keindahan pasukan yang sedang berjalan. Kini baiklah dibatasi saja sampai di sini. Barisan terdepan sudah sampai di Tegal Kuru, tampak bagaikan air tumpah ruah. Para raja, para adipati, datang berbondong-bondong tiada putus-putusnya. Kemudian semua mendirikan pesanggrahan sesuai dengan kedudukan masing-masing.
Kemudian Dewi Kunti dijemput, supaya datang di Tegal
Kuru, diantar oleh Yamawidura. Setelah bertemu dengan Pandawa, semua menangis. Setelah tangisnya reda, semua merasa gembira, lalu bersuka-ria. Tak mungkin seluruh suasana suka ria itu diceritakan. Yamawidura, yang mengantar Dewi Kunti, lalu kembali lagi ke Astina.
Dewi Kunti tetap tinggal di Tegal Kuru. Pesanggrahan Pandawa tak ubahnya seperti istana. Pesanggrahan Sri Kresna pun dibangun serupa istana. Yudistira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, semua berkumpul di pesanggrahan Sri Kresna. Para raja undangan, semuanya berkumpul di situ, untuk berunding dan mohon petunjuk Sri Kresna.
Yudistira berkata kepada Sri Kresna, "Kakanda Prabu, saya<noinclude>{{rh|22}}</noinclude>
1e3cafa2o68pl3z7q9u13pckfsgj3el
78276
77593
2026-05-16T09:23:03Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78276
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ngan|dengan}} sungguh-sungguh menjalankan segala petunjuk Sri Kresna, dengan tulus ikhlas menemui kematian, karena sorga dan neraka seolah-olah sudah digenggam oleh Sri Kresna.
Raden Wresniwira yang menyambung baris Dwarawati, dan
merupakan pimpinan para adipati. Jumlah prajuritnya tak terhitung banyaknya memenuhi jalan, suara prajurit bagaikan menggerakkan bumi menggoncangkan lautan. Yang menyambung barisan Raden Wresniwira, ialah putra Raden Dananjaya, yang mengendarai kereta emas, bernama Abimanyu, berpayung bulu merak, sambil memangku senjata cakra. Pakaian para prajuritnya bagaikan bunga berguguran. Di belakangnya, menyambung Raden Pancawala, putra Sri Darmaputra. Ia berkendaraan kereta terhias permata, berumbai bulu merak, berpayung hitam mengkilap. Prajuritnya berpakaian menyala. Benderanya semua berwarna hijau.
{{C| * * * }}
Tak habis-habisnya jika keindahan pasukan yang sedang berjalan. Kini baiklah dibatasi saja sampai di sini. Barisan terdepan sudah sampai di Tegal Kuru, tampak bagaikan air tumpah ruah. Para raja, para adipati, datang berbondong-bondong tiada putus-putusnya. Kemudian semua mendirikan pesanggrahan sesuai dengan kedudukan masing-masing.
Kemudian Dewi Kunti dijemput, supaya datang di Tegal
Kuru, diantar oleh Yamawidura. Setelah bertemu dengan Pandawa, semua menangis. Setelah tangisnya reda, semua merasa gembira, lalu bersuka-ria. Tak mungkin seluruh suasana suka ria itu diceritakan. Yamawidura, yang mengantar Dewi Kunti, lalu kembali lagi ke Astina.
Dewi Kunti tetap tinggal di Tegal Kuru. Pesanggrahan Pandawa tak ubahnya seperti istana. Pesanggrahan Sri Kresna pun dibangun serupa istana. Yudistira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, semua berkumpul di pesanggrahan Sri Kresna. Para raja undangan, semuanya berkumpul di situ, untuk berunding dan mohon petunjuk Sri Kresna.
Yudistira berkata kepada Sri Kresna, "Kakanda Prabu, saya<noinclude>{{rh|22}}</noinclude>
qudyea5m5dapfd9i3ogbspjm8jwixew
Kaca:Bratayuda.pdf/20
250
24764
77594
2026-05-15T17:27:30Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77594
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>serahkan kepada Anda, siapa yang akan Anda tunjuk menjadi
senapati perang."
Apa yang dikemukakan oleh Werkodara dan Dananjaya kepada Sri K.resna juga demikian. Jawab Sri Baginda demikian,
Adinda Prabu Amarta, yang saya pilih menjadi senapati perang
,ialah Seta."
Semuanya setuju. Kemudian Sri Kresna memberi penjelasan
kepada Raden Wresniwira tentang siasat perang yang akan dijalari~
kan.
***
Setelah mendengar berita bahwa musuh telah membuat
pesanggrahan di Tegal Kuru, Raja Suyudana lalu memerintahkan
supaya bala tentera Astina dikumpulkan. Kemudian Yamawidura
memberi tahu Sri Baginda, bahwa para raja yang membantu Pandawa sudah berkumpul di Tegal Kuru. Tak lama antaranya pasukan Astina sudah selesai mempersiapkan diri. Perjalanannya seperti
mendidihnya air laut menggenangi daratan. Para raja yang membantu Raja Suyudana, banyak juga jumlahnya, kemudian mereka
pun mendirik:an pesanggrahan mereka masing-masing, yang mereka
rakit seperti istana. Yang terpilih menjadi senapati perang ialah
Bisma.
***
Tidak diceritakan berapa lama mereka mengatur pasukan.
Setelah Pandawa dan Korawa sama-sama siap, maka pada suatu
pagi kedua belah pihak membunyikan tengara, kendang, gung,
dan beri, berangkat dari pesanggrahan. Soraknya bergemuruh seperti hendak membelah langit. Suara gung serta tabuhan lainnya
tenggelam, tak dapat terdengar lagi. Barisan Pandawa berkumpul
di sebelah barat menghadap ke timur.
Barisan Korawa berkumpul menghadap ke barat. Ujung setatan mencapai gunung, sedangkan ujung utara sampai ke laut. Sejauh-jauh mata memandang, yang tampak hanya barisan, namun
yang datang masih terus mengalir.
23<noinclude></noinclude>
j4uu33ek3agiiy65uw6vqd3yrt1inrv
77600
77594
2026-05-15T17:31:49Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77600
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>serahkan kepada Anda, siapa yang akan Anda tunjuk menjadi
senapati perang."
Apa yang dikemukakan oleh Werkodara dan Dananjaya kepada Sri Kresna juga demikian. Jawab Sri Baginda demikian,
Adinda Prabu Amarta, yang saya pilih menjadi senapati perang ialah Seta."
Semuanya setuju. Kemudian Sri Kresna memberi penjelasan
kepada Raden Wresniwira tentang siasat perang yang akan dijalankan.
{{C|* * *}}
Setelah mendengar berita bahwa musuh telah membuat pesanggrahan di Tegal Kuru, Raja Suyudana lalu memerintahkan supaya bala tentera Astina dikumpulkan. Kemudian Yamawidura memberi tahu Sri Baginda, bahwa para raja yang membantu Pandawa sudah berkumpul di Tegal Kuru. Tak lama antaranya pasukan Astina sudah selesai mempersiapkan diri. Perjalanannya seperti mendidihnya air laut menggenangi daratan. Para raja yang membantu Raja Suyudana, banyak juga jumlahnya, kemudian mereka pun mendirikan:an pesanggrahan mereka masing-masing, yang mereka rakit seperti istana. Yang terpilih menjadi senapati perang ialah Bisma.
{{C|* * *}}
Tidak diceritakan berapa lama mereka mengatur pasukan.
Setelah Pandawa dan Korawa sama-sama siap, maka pada suatu pagi kedua belah pihak membunyikan tengara, kendang, gung, dan beri, berangkat dari pesanggrahan. Soraknya bergemuruh seperti hendak membelah langit. Suara gung serta tabuhan lainnya tenggelam, tak dapat terdengar lagi. Barisan Pandawa berkumpul di sebelah barat menghadap ke timur.
Barisan Korawa berkumpul menghadap ke barat. Ujung setatan mencapai gunung, sedangkan ujung utara sampai ke laut. Sejauh-jauh mata memandang, yang tampak hanya barisan, namun yang datang masih terus mengalir.<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude>
palduk1ovkxixq70pgu6je02i4aq96g
78277
77600
2026-05-16T09:23:12Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78277
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>serahkan kepada Anda, siapa yang akan Anda tunjuk menjadi
senapati perang."
Apa yang dikemukakan oleh Werkodara dan Dananjaya kepada Sri Kresna juga demikian. Jawab Sri Baginda demikian,
Adinda Prabu Amarta, yang saya pilih menjadi senapati perang ialah Seta."
Semuanya setuju. Kemudian Sri Kresna memberi penjelasan
kepada Raden Wresniwira tentang siasat perang yang akan dijalankan.
{{C|* * *}}
Setelah mendengar berita bahwa musuh telah membuat pesanggrahan di Tegal Kuru, Raja Suyudana lalu memerintahkan supaya bala tentera Astina dikumpulkan. Kemudian Yamawidura memberi tahu Sri Baginda, bahwa para raja yang membantu Pandawa sudah berkumpul di Tegal Kuru. Tak lama antaranya pasukan Astina sudah selesai mempersiapkan diri. Perjalanannya seperti mendidihnya air laut menggenangi daratan. Para raja yang membantu Raja Suyudana, banyak juga jumlahnya, kemudian mereka pun mendirikan:an pesanggrahan mereka masing-masing, yang mereka rakit seperti istana. Yang terpilih menjadi senapati perang ialah Bisma.
{{C|* * *}}
Tidak diceritakan berapa lama mereka mengatur pasukan.
Setelah Pandawa dan Korawa sama-sama siap, maka pada suatu pagi kedua belah pihak membunyikan tengara, kendang, gung, dan beri, berangkat dari pesanggrahan. Soraknya bergemuruh seperti hendak membelah langit. Suara gung serta tabuhan lainnya tenggelam, tak dapat terdengar lagi. Barisan Pandawa berkumpul di sebelah barat menghadap ke timur.
Barisan Korawa berkumpul menghadap ke barat. Ujung setatan mencapai gunung, sedangkan ujung utara sampai ke laut. Sejauh-jauh mata memandang, yang tampak hanya barisan, namun yang datang masih terus mengalir.<noinclude>{{rh|||23}}</noinclude>
6l8ijw76rugulz2gagvz7aagvjyx8ac
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/15
250
24765
77597
2026-05-15T17:30:53Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77597
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 16 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 15 crop).jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
jyqkpctu1tzv5lz9m5mzf6nrs73hnyd
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/16
250
24766
77598
2026-05-15T17:31:14Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77598
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77604
77598
2026-05-15T17:40:46Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77604
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 17 ―}}</noinclude>Pramila dalang saha panjumping punika kedah ngatos-ngatos dateng pangrimating ringgit, djalaran ringgit ingkang kenging lisah blentjong punika sagedipun pulih sae, kedah katambal pulasipun lan dipun edus malih.
Saweneh wonten malih, sok asring wonten dalang manawi bade ngedalaken wajang mawi dipun ambung, kausapaken ing pipi utawi ing irung, punika ingkang adakan ringgit ingkang paraupanipun tjemeng, ing pangangkah supados katingal tjemeng anggales resik. Tumrap dateng para saderek ingkang sami dereng mangretos dipun wastani punika dalang asih tresna dateng ringgit ingkang dipun tjepeng, ananging malah kosok wangsul dados kalentu. Ing mangka rainipun tijang punika tamtu anglisah medal gadjihipun, dados prasasat punika ringgit dipun lisahi. Manawi kirang pitados kenging dipun jektosi, mangke manawi sak mangsa-mangsa wonten hawa asrep paraupaning wajang punika tamtu tuwuh djamuripun maletuk petak. Gandeng miturut seserepanipun tukang ahli wajang lan sungging, paraupaning wajang kausapaken ing pipi utawi ngirung punika boten prajogi. Manawi wonten paraupaning ringgit ingkang katingal ambaleret, ing mangka bade dipun dalaken ing kelir, anggenipun ngresiki tjekap dipun usap kalijan katju ingkang garing, punika saged sae resik tur boten andadosaken sabab.
'''Mangsa-pangisising Ringgit Watjutjal.'''
Pangisising wajang punika manawi mangsa rendeng katah hawa asrep ingkang sae satengah wulan sapisan, sukur saged sadasa dalu sapisan langkung sae, dene manawi mangsa katiga saged kalih wulan utawi sawulan sapisan.
Sadaja wajang ingkang sami risak kenging djamur utawi pedot tatahanipun punika manawi sampun karimat utawi dipun benakaken dados pulih sae malih, ladjeng kawangsulna dateng papan uruting panataning wajang kados nalika mendeti punika wau.
Punika sampun telas bab tjaraning anggenipun ngupakara lan ngresiki wajang ingkang kataman ing djamur saha ingkang pedot utawi dedel tatahanipun.
{{C|{{L|'''TJARA PANATANING WAJANG INGKANG BADE<br>KALEBETAKEN ING KOTAK.'''}}}}
'''Tjaranipun masang (nglebetaken) Eblek No. 1 (Dasar), No. 2, No. 3, No. 4, No. 5 lan sakpiturutipun.'''
Sak sampunipun kotak punika resik ladjeng kaparingana lemek dlantjang ingkang kandel utawi karton, ladjeng kaparingana laring<noinclude></noinclude>
oe8mo59npyxndf6h9ie8toyoty9msej
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/18
250
24767
77599
2026-05-15T17:31:30Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77599
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77607
77599
2026-05-15T17:44:41Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77607
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 19 —}}</noinclude>peksi merak utawi kapurbarus, ingkang perlu kangge tumbal tulaking ama kewan gegremetan. Manawi sampun sae ladjeng katumpangana eblek, eblek punika lameking wajang kangge let-letan, amrih wajangipun sageda sae saketja panatanipun.
Eblek punika ingkang kadamel saking deling dipun irat tipis ingkang alus, ladjeng dipun anam betek ingkang lembat, ladjeng kabungkus ing kain utawi mori petak, punika dipun wastani eblek, pirantos letletan kangge panataning wajang. Pamasanging eblek dasar ingkang ngandap pijambak, kaangkaha ingkang wradin sampun ngantos anggombing, (andap inggil) prelunipun manawi katumpangan wajang sampun ngantos maletrek, sageda wradin sae.
{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=1
|'''Nglebetaken Ringgit kawiwitan sangking:<br>Wajang Dasar (Sumpingan Sisih Kiwa).'''}}
Lah samangke ladjeng wiwit nglebetaken wajang dasar. Ingkang dipun wastani wajang dasar punika kadosta bebudjengan (kewan) setanan, brajut djaler estri sak anakipun, wajang ingkang awis-awis kangge, namung manawi prelu bade kangge lampahan kemawon saweg mendet pundi ingkang dipun betahaken. Wontenipun punika wajang kangge dasar, djalaran punika wajang tatahanipun gajaman, pulasanipun awak awakan, watjutjalipun ingkang katah kandel. Kadjawi radi gampil pandamelipun, tur inggih kalebet mirah reginipun, dados bok bilih wonten karisakanipun boten kakatahen wragad.
Dene tjaraning panatanipun aben rai, sampun ngantos paraupaning wajang katatab ing kotak, mindak ambangkeluk dados tjatjad. Saja manawi dawah wajang ingkang irungipun alit manawi ngantos ambangkeluk tugel utawi nglotok pulasaning paraupan dipun sawang ladjeng dados awon, nami wajang tjatjad.
Manawi prempak garaning bebudjengan punika wau katingal anggandjel kalolosa saking wajang bebudjengan punika wau, ananging sampun ngantos dipun tjopot pisah saking wajangipun, namung kalolos saking palemahan kemawon. Ladjeng kaingar ingerna sagedipun wradin panumpuking wajang, sampun ngantos mandukul tengah utawi miring, mindak angglendre wajangipun. Manawi wradin panatanipun, wajangipun inggih mboten ngolet. Manawi sampun sae wradin panatanipun ladjeng katumpangana tatananing wajang para wanara, kadosta, ketek katjangan, Subali lan Sugriwa sak punggawanipun. Ketek ingkang alit-alit wonten ngandap, ingkang ageng kangge tutup wonten nginggil. Wajang ingkang alit panatanipun malang. Manawi sampun telas wajang beburon lan para wanara sampun katata sae wradin, ladjeng katutupa ing eblek No.<noinclude></noinclude>
azsbmx0r9rmj4fy73gxy46pwx3l0aq2
Kaca:Bratayuda.pdf/21
250
24768
77601
2026-05-15T17:32:30Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77601
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Siasat perang yang digunakan oleh senapati Bisma ialah
Wukirjaladri, segenap kereta dan gajah sebagai karangnya, para
raja sebagai gelombangnya, sedangkan seluruh prajurit sebagai airnya.
Siasat perang senapati Arya Seta disebut Brajatiksnalungit.
Raden Werkodara, Raden Dananjaya, dan Dewi Srikandi beserta
pasukan masing-masing berada di depan. Drestajumena serta
Setyaki beserta pasukannya, berada di sebelah kiri, tetapi agak ke
belakang, dekat dengan kedudukan senapati Arya Seta. Sri Darmaputra beserta Sri Kresna berada di tengah-tengah, menjadi satu
dengan para raja dan para adipati.
Raden Dananjaya merasa pilu, karena melihat musuhnya semuanya masih saudara serta gurunya. Ia lalu berkata kepada Sri
Kresna, demikian, "Sri Baginda, kalau boleh, hendaknya Anda
urungkan saja perang Baratayuda ini. Saya tidak tahan melihat
musuh sesama saudara serta guru."
Sri Baginda menjawab, "Kehendak dewa Perang Baratayuda
tidak boleh urung. Kedua, jika seorang satria mati di medan perang, i"! memperoleh kematian utama, dan naik ke sorga. Lagi
pula, kakakmu, Adinda Prabu Yudistira harus memenuhi sumpahnya. Apakah engkau tidak mempunyai cita-cita untuk membela
saudara tua? Adapun yang akan menandingi gurumu sudah ada
orangnya, tak perlu engkau sendiri. Engkau takkan kekurangan
lawan. Jika di tengah-tengah pertempuran, engkau bertemu dengan gurumu, engkau tak boleh lari. Harus engkau lawan. Akan
tetapi l~bih dahulu, sembahlah dia!"
***
Setelah Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Dananjaya, bahwa Perang Baratayuda tidak boleh diurungkan, lalu perang pun dimulai. Gemuruh sorak-sorai bala tentera, bti.nyi tetabu. han berbaur dengan deru gajah, decak-decak kereta, dan kerecak
kuda, bagaikan gunung longsor, suaranya memenuhi bumi. Prajurit yang sedang mengamuk terdengar ribut, banyak sudah prajurit yang mati. Para raja, dan satria serta para adipati juga sudah
24<noinclude></noinclude>
c60p0u097lsr654ep2qtwrjyhd1uih4
77602
77601
2026-05-15T17:37:42Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77602
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Siasat perang yang digunakan oleh senapati Bisma ialah
''Wukirjaladri'', segenap kereta dan gajah sebagai karangnya, para raja sebagai gelombangnya, sedangkan seluruh prajurit sebagai airnya.
Siasat perang senapati Arya Seta disebut ''Brajatiksnalungit''. Raden Werkodara, Raden Dananjaya, dan Dewi Srikandi beserta pasukan masing-masing berada di depan. Drestajumena serta Setyaki beserta pasukannya, berada di sebelah kiri, tetapi agak ke belakang, dekat dengan kedudukan senapati Arya Seta. Sri Darmaputra beserta Sri Kresna berada di tengah-tengah, menjadi satu
dengan para raja dan para adipati.
Raden Dananjaya merasa pilu, karena melihat musuhnya semuanya masih saudara serta gurunya. Ia lalu berkata kepada Sri Kresna, demikian, "Sri Baginda, kalau boleh, hendaknya Anda urungkan saja perang Baratayuda ini. Saya tidak tahan melihat musuh sesama saudara serta guru."
Sri Baginda menjawab, "Kehendak dewa Perang Baratayuda
tidak boleh urung. Kedua, jika seorang satria mati di medan perang, ia memperoleh kematian utama, dan naik ke sorga. Lagi pula, kakakmu, Adinda Prabu Yudistira harus memenuhi sumpahnya. Apakah engkau tidak mempunyai cita-cita untuk membela saudara tua? Adapun yang akan menandingi gurumu sudah ada orangnya, tak perlu engkau sendiri. Engkau takkan kekurangan lawan. Jika di tengah-tengah pertempuran, engkau bertemu dengan gurumu, engkau tak boleh lari. Harus engkau lawan. Akan tetapi lebih dahulu, sembahlah dia!"
{{C|* * *}}
Setelah Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Dananjaya, bahwa Perang Baratayuda tidak boleh diurungkan, lalu perang pun dimulai. Gemuruh sorak-sorai bala tentera, bunyi tetabuhan berbaur dengan deru gajah, decak-decak kereta, dan kerecak kuda, bagaikan gunung longsor, suaranya memenuhi bumi. Prajurit yang sedang mengamuk terdengar ribut, banyak sudah prajurit yang mati. Para raja, dan satria serta para adipati juga sudah<noinclude>{{rh|24}}</noinclude>
9nps30931i31s2jttm4yylgfnya5hdc
78278
77602
2026-05-16T09:23:23Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78278
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Siasat perang yang digunakan oleh senapati Bisma ialah
''Wukirjaladri'', segenap kereta dan gajah sebagai karangnya, para raja sebagai gelombangnya, sedangkan seluruh prajurit sebagai airnya.
Siasat perang senapati Arya Seta disebut ''Brajatiksnalungit''. Raden Werkodara, Raden Dananjaya, dan Dewi Srikandi beserta pasukan masing-masing berada di depan. Drestajumena serta Setyaki beserta pasukannya, berada di sebelah kiri, tetapi agak ke belakang, dekat dengan kedudukan senapati Arya Seta. Sri Darmaputra beserta Sri Kresna berada di tengah-tengah, menjadi satu
dengan para raja dan para adipati.
Raden Dananjaya merasa pilu, karena melihat musuhnya semuanya masih saudara serta gurunya. Ia lalu berkata kepada Sri Kresna, demikian, "Sri Baginda, kalau boleh, hendaknya Anda urungkan saja perang Baratayuda ini. Saya tidak tahan melihat musuh sesama saudara serta guru."
Sri Baginda menjawab, "Kehendak dewa Perang Baratayuda
tidak boleh urung. Kedua, jika seorang satria mati di medan perang, ia memperoleh kematian utama, dan naik ke sorga. Lagi pula, kakakmu, Adinda Prabu Yudistira harus memenuhi sumpahnya. Apakah engkau tidak mempunyai cita-cita untuk membela saudara tua? Adapun yang akan menandingi gurumu sudah ada orangnya, tak perlu engkau sendiri. Engkau takkan kekurangan lawan. Jika di tengah-tengah pertempuran, engkau bertemu dengan gurumu, engkau tak boleh lari. Harus engkau lawan. Akan tetapi lebih dahulu, sembahlah dia!"
{{C|* * *}}
Setelah Sri Kresna memberi penjelasan kepada Raden Dananjaya, bahwa Perang Baratayuda tidak boleh diurungkan, lalu perang pun dimulai. Gemuruh sorak-sorai bala tentera, bunyi tetabuhan berbaur dengan deru gajah, decak-decak kereta, dan kerecak kuda, bagaikan gunung longsor, suaranya memenuhi bumi. Prajurit yang sedang mengamuk terdengar ribut, banyak sudah prajurit yang mati. Para raja, dan satria serta para adipati juga sudah<noinclude>{{rh|24}}</noinclude>
bf3pn8fhxwomz78t47o2w3dplqrwu6e
Kaca:Bratayuda.pdf/22
250
24769
77603
2026-05-15T17:38:01Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77603
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>banyak yang gugur. Sepuluh buah kereta remuk, sepuluh ekor
gajah mati bersama dengan raja pengendaranya. Ramainya peperangan, benturan-benturan senjata seperti mengeluarkan suara
guntur. Jerit prajurit-prajurit yang luka, gemuruh suaranya. Panah
yang terlepas dari busurnya bagaikan hujan. Pasukan berkuda yang
sudah tewas, ratusan jumlahnya. Prajurit-prajurit pilihan serta pimpinan yang mengendarai kereta yang gugur, seribu jumlahnya. Sedangkan prajurit yang mengendarai gajah, sudah selaksa yang gugur. Selaksa juga yang berkendaraan kereta, prajurit berkuda sejuta, prajurit darat empat juta. Serbuan para prajurit seperti menggoncangkan bumi.
Peperangan sudah berlangsung setengah hari. Dua orang satria
sudah gugur, kedua-duanya putra Wirata. Yang seorang bernama
Raden Wirasangka, terbunuh oleh Druna; seorang lagi Raden Utara, terbunuh oleh Raja Salya. Prajurit pilihan di pihak Korawa sudah banyak yang mati.
Raden Seta sangat marah karena kedua adiknya yang bemarna Wirasangka dan Raden Utara, gugur. Dengan bala tenteranya
ia maju menyerbu, buas bagaikan harimau hendak memangsa atau
seperti raksasa berebut daging, serempak pasukannya men~rang.
Raden Seta menarik busurnya, melepaskan anak panah. Yang dituju ialah Raja Mandaraka, akan tetapi meleset, hanya kereta
beserta sais serta pengiringnya yang kena, hancur bercampur
tanah.
Kartamarma menyongsong, hendak menghalang-halangi
amukan Raden Seta, lalu diserang dengan panah, jatuh dari kereta,
keretanya hancur. Pasukan Korawa gempar melihat amukan Raden Seta. Demikian banyak ia berhasil membunuh lawan, sehingga
membuat musuh merasa ngeri.
Kemudian Bisma bersama Druna dan pasukannya datang menolong. Jayasena memutar gadanya, tampak sangat menakutkan ..
Raden Rukmarata membantu ayahnya, Raja Mandaraka, dengan
mengendarai kereta ia menyongsong serbuan Raden Seta. Lalu
digempur dengan panah oleh Raden Seta, kena dadanya, jatuh ter-
25<noinclude></noinclude>
l51ku80n6unqzvjz1wvi5zeo3ca0wbz
77605
77603
2026-05-15T17:42:14Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77605
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>banyak yang gugur. Sepuluh buah kereta remuk, sepuluh ekor gajah mati bersama dengan raja pengendaranya. Ramainya peperangan, benturan-benturan senjata seperti mengeluarkan suara guntur. Jerit prajurit-prajurit yang luka, gemuruh suaranya. Panah yang terlepas dari busurnya bagaikan hujan. Pasukan berkuda yang sudah tewas, ratusan jumlahnya. Prajurit-prajurit pilihan serta pimpinan yang mengendarai kereta yang gugur, seribu jumlahnya. Sedangkan prajurit yang mengendarai gajah, sudah selaksa yang gugur. Selaksa juga yang berkendaraan kereta, prajurit berkuda sejuta, prajurit darat empat juta. Serbuan para prajurit seperti menggoncangkan bumi.
Peperangan sudah berlangsung setengah hari. Dua orang satria sudah gugur, kedua-duanya putra Wirata. Yang seorang bernama Raden Wirasangka, terbunuh oleh Druna; seorang lagi Raden Utara, terbunuh oleh Raja Salya. Prajurit pilihan di pihak Korawa sudah banyak yang mati.
Raden Seta sangat marah karena kedua adiknya yang bernama Wirasangka dan Raden Utara, gugur. Dengan bala tenteranya
ia maju menyerbu, buas bagaikan harimau hendak memangsa atau seperti raksasa berebut daging, serempak pasukannya menyerang. Raden Seta menarik busurnya, melepaskan anak panah. Yang dituju ialah Raja Mandaraka, akan tetapi meleset, hanya kereta beserta sais serta pengiringnya yang kena, hancur bercampur tanah.
Kartamarma menyongsong, hendak menghalang-halangi amukan Raden Seta, lalu diserang dengan panah, jatuh dari kereta, keretanya hancur. Pasukan Korawa gempar melihat amukan Raden Seta. Demikian banyak ia berhasil membunuh lawan, sehingga membuat musuh merasa ngeri.
Kemudian Bisma bersama Druna dan pasukannya datang menolong. Jayasena memutar gadanya, tampak sangat menakutkan. Raden Rukmarata membantu ayahnya, Raja Mandaraka, dengan mengendarai kereta ia menyongsong serbuan Raden Seta. Lalu digempur dengan panah oleh Raden Seta, kena dadanya, jatuh ter-<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude>
19nvxizoqnpbqthpvy01bknbxwxyubx
78279
77605
2026-05-16T09:24:29Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78279
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>banyak yang gugur. Sepuluh buah kereta remuk, sepuluh ekor gajah mati bersama dengan raja pengendaranya. Ramainya peperangan, benturan-benturan senjata seperti mengeluarkan suara guntur. Jerit prajurit-prajurit yang luka, gemuruh suaranya. Panah yang terlepas dari busurnya bagaikan hujan. Pasukan berkuda yang sudah tewas, ratusan jumlahnya. Prajurit-prajurit pilihan serta pimpinan yang mengendarai kereta yang gugur, seribu jumlahnya. Sedangkan prajurit yang mengendarai gajah, sudah selaksa yang gugur. Selaksa juga yang berkendaraan kereta, prajurit berkuda sejuta, prajurit darat empat juta. Serbuan para prajurit seperti menggoncangkan bumi.
Peperangan sudah berlangsung setengah hari. Dua orang satria sudah gugur, kedua-duanya putra Wirata. Yang seorang bernama Raden Wirasangka, terbunuh oleh Druna; seorang lagi Raden Utara, terbunuh oleh Raja Salya. Prajurit pilihan di pihak Korawa sudah banyak yang mati.
Raden Seta sangat marah karena kedua adiknya yang bernama Wirasangka dan Raden Utara, gugur. Dengan bala tenteranya
ia maju menyerbu, buas bagaikan harimau hendak memangsa atau seperti raksasa berebut daging, serempak pasukannya menyerang. Raden Seta menarik busurnya, melepaskan anak panah. Yang dituju ialah Raja Mandaraka, akan tetapi meleset, hanya kereta beserta sais serta pengiringnya yang kena, hancur bercampur tanah.
Kartamarma menyongsong, hendak menghalang-halangi amukan Raden Seta, lalu diserang dengan panah, jatuh dari kereta, keretanya hancur. Pasukan Korawa gempar melihat amukan Raden Seta. Demikian banyak ia berhasil membunuh lawan, sehingga membuat musuh merasa ngeri.
Kemudian Bisma bersama Druna dan pasukannya datang menolong. Jayasena memutar gadanya, tampak sangat menakutkan. Raden Rukmarata membantu ayahnya, Raja Mandaraka, dengan mengendarai kereta ia menyongsong serbuan Raden Seta. Lalu digempur dengan panah oleh Raden Seta, kena dadanya, jatuh {{hws|ter|terguling}}<noinclude>{{rh|||25}}</noinclude>
3lv83inf0asabtkwiqmssgdc04fxlse
Kaca:Bratayuda.pdf/23
250
24770
77606
2026-05-15T17:42:33Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77606
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>guling di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden
Seta maju bersama, gerak-geriknya baga.ikan banteng terluka.
Para raja, para adipati yang ~iteijang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat
harimau. karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat
dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebihlebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang
pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama
senapati. Raden Seta,,diser~mg dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden
Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak teriuka. Raden
Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta,
keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan,
yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang
membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan
tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya,
merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang.
Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena
diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di
atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busumya,
yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah.
Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden
Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta,
mengambil gada, lalu beijalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan
kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para
raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, ter2o<noinclude></noinclude>
5pxn45wcuat8vqc2wtrp3zsz1y8wk57
77610
77606
2026-05-15T17:48:48Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77610
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>guling di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden Seta maju bersama, gerak-geriknya bagaikan banteng terluka. Para raja, para adipati yang diterjang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat harimau karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebih-lebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama senapati. Raden Seta diserang dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak terluka. Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta,
keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan, yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya, merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang.
Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busurnya, yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah.
Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta, mengambil gada, lalu berjalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, ter-<noinclude>{{rh|26}}</noinclude>
s41b9wye6075pmy2xlshehu4b55j1s4
78280
77610
2026-05-16T09:24:49Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78280
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|guling|terguling}} di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden Seta maju bersama, gerak-geriknya bagaikan banteng terluka. Para raja, para adipati yang diterjang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat harimau karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebih-lebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama senapati. Raden Seta diserang dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak terluka. Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta,
keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan, yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya, merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang.
Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busurnya, yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah.
Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta, mengambil gada, lalu berjalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, ter-<noinclude>{{rh|26}}</noinclude>
6kgtouuwbsx1t3hp5akmc18ksoa8dzg
78281
78280
2026-05-16T09:25:08Z
Elcamatcha
1466
78281
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|guling|terguling}} di dalam kereta. Pasukan Wirata yang dipimpin oleh Raden Seta maju bersama, gerak-geriknya bagaikan banteng terluka. Para raja, para adipati yang diterjang banyak yang tumpas. Pasukan Astina ngeri, mereka bubar berantakan, seperti kijang melihat harimau karena ngerinya, pasukan Astina yang lari tidak dapat dihalangi oleh pemimpinnya, bahkan semakin menjadi-jadi. Lebih-lebih karena Raden Gatutkaca, Drustajumena dan Raden Angkawijaya juga datang membantu Raden Seta, serempak menyerang pasukan Astina. Kemudian senapati Bisma mengamuk, para pimpinan prajurit Astina turut serta membantu, berhadap-hadapan dengan Raden Seta sehingga teijadi perang tanding sama-sama senapati. Raden Seta diserang dengan panah oleh Bisma, yang meluncur berduyun-duyun memenuhi angkasa menghujani Raden Seta, sehingga tubuhnya menyala, namun tidak terluka. Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya datang membantu Raden Seta,
keduanya melepaskan panah, tiada henti-hentinya bagaikan hujan, yang diserang ialah senapati Bisma. Kemudian Suyudana datang membantu Bisma. Dadanya terkena panah, tidak mempan, akan tetapi terasa sangat sakit, lalu mundur sambil menekan dadanya, merasa ngeri, dan tak dapat berbicara. Para Korawa mengelilinginya, dan kemudian mengantar Sri Baginda pulang.
Senapati Bisma, ketika melihat pasukan Astina habis karena diamuk oleh Raden Seta, ia menjadi sangat marah. Ia berdiri di atas keretanya sambil melepaskan panah, yang keluar tak berkeputusan menghujani Raden Seta. Raden Seta lalu menarik busurnya, yang dituju Bisma, kena bahunya, tidak mempan, bahkan panahnya patah.
Melihat anak panahnya patah, Bisma tidak terluka, Raden Seta, senapati Pandawa sangat marah. Ia segera turun dari kereta, mengambil gada, lalu berjalan ke tempat Bisma. Bisma dihantam dengan gada, masih sempat meloncat dari kereta, sehingga hanya keretanya saja yang terkena gada, hancur beserta sais dan kudanya. Raden Seta semakin marah. Ia terus melangkah ke tengah-tengah barisan musuh membaling-balingkan gadanya. Para raja yang berkendaraan kereta atau yang mengendarai gajah, {{hws|ter|terpukul}}<noinclude>{{rh|26}}</noinclude>
jx26djc0z5ae9eektrikywtk8iid7ya
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/20
250
24771
77608
2026-05-15T17:45:01Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77608
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77941
77608
2026-05-15T23:18:05Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77941
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 21 —}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=lower-alpha|start=2
|'''Nglebetaken Ringgit: Para Djawata lan para Danawa.'''<br>
Lah sak mangke ladjeng njandak ringgit para djawata lan para danawa. Punika panatanipun katjampur dados satunggal, sak eblek, namung panatanipun kemawon kapilah, para djawata ingkang alit-alit rumijin, ladjeng danawa ingkang alit-alit. Ingkang alit panatanipun ugi malang, ingkang ageng tunggil ageng panatanipun mudjur. Dados sadaja ringgit ingkang alit panatanipun kedah wonten ngandap, dene ingkang ageng wonten nginggil ngiras kangge tutup. Panatanipun mudjur aben rai, (aben adjeng) panatanipun kedah wradin sampun ngantos anggigir sapi, (mandukul tengah). Panatanipun dipun pletrekaken sampun ngantos tumpang gapit mindak mandukul, dene ingkang alit ugi sampun ngantos tumpang gapit. Manawi sampun dumugi pungkasaning eblek bade natab kotak, katarik mundur sakedik ladjeng katumpangana wajang malih dados aben rai, makaten sakpiturutipun ngantos telas. Panataning wajang tangan ngadjeng kabekuk madjeng, sikut ngadjeng kabekuk mundur, epek-epek katumpangaken ing tjetik, uruting suku wingking. Dene tangan wingking kabekuk madjeng urut pundak, sikut, kabekuk mangandap, epek-epek katumpangaken ing tjetik suku wingking. Patrapipun miturut tumpang tindihing pamasanging tanganan ingkang dipun gandeng kalijan gegel balung punika. Tuding garaning tangan kaurutaken gapit garaning wajang. Makaten punika sakpiturutipun, tumrap dateng sadaja wajang ingkang mawi tanganan.<br>
Manawi sampun telas panataning wajang para djawata lan para danawa, lan sampun wradin panatanipun ladjeng katumpangana eblek No. 3. minangka kangge let-letan.
|'''Nglebetaken Ringgit: Para Punggawa Patih Patihan.''' <br>
Ladjeng samangke gentos njandak panataning wajang para punggawa patih patihan, patih Djawi lan patih Sabrangan, putra Ngalengkan, tuwin para Kurawa. Patraping panata sami kados ingkang kasebat nginggil punika wau, ingkang alit katata malang, ingkang wajang ageng kaudjuraken dawah nginggil kaangkah ingkang wradin sadaja sami aben rai, manawi sampun rampung ladjeng katutup ing eblek malih, eblek No. 4.
|'''Nglebetaken: Ringgit Dagelan, para Tapa tuwin Ritjikan.'''<br>
Samangke ladjeng njandak ringgit Dagelan, para Tapa tuwin Ritjikan punika kadadosaken satunggal. Ringgit Ritjikan ingkang tamtu wonten nginggil panatanipun punika kadosta, prampogan Djawi lan prampogan Danawa, kreta, Djaran titihan, gadjah, kajon (gunungan)}}<noinclude></noinclude>
np0gxpxeswiyi67jb2xtze7dunrc3b3
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/21
250
24772
77609
2026-05-15T17:45:17Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77609
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
Kaca:Bratayuda.pdf/24
250
24773
77611
2026-05-15T17:49:17Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77611
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>pukul gada, semuanya hancur bersama sais, kuda, serta gajah-
nya. Lima orang raja yang hancur lebur bersama Keretanya. Yang
hhancur-lebur bersama gajahnya lima orang. Sedangkan para adipati
lebih banyak lagi yang mati. Benar-benar Raden Seta sakti tanpa
tanding. Pasukan Astina semakin ngeri melihat sepak terjang dan
amukan Seta, dapat diumpamakan seperti seribu raksasa bersa-
ma-sama berebut daging. Gadanya benar-benar luar biasa, dan me-
ngerikan. Bisma sendiri merasa ngeri melihat Seta sudah menga-
‘muk seperti orang mabuk. la Jalu mundur dari medan.
Kemudian dewa berseruseru dari angkasa, "Hai, Bisma,
mengapa engkau mundur dari medan perang? Ketahuilah, bahwa
kematian putra Wirata itu, tiada lain alah olehmu!”
Bisma mendengar suara dewa seperti itu, lalu Kembali sam-
Dil bersiap melepaskan panah api, terlepas sudah dari busumnya,
mengenai dada Seta, tembus, lalu mati, Pasukan Astina bersorak
gemuruh, yang tadi lari, semua kembali, bersuka-ra serta menari
‘Arya Dursasana berkiprah-kiprah, Arya Sindureja menabuh game-
Jan, Jayasusena, Jayawikata, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Su-
dira, Rekadurjaya, Wirya dan Kartamarma, semua bersorak-sorak
Sedangkan pasukan Pandawa prihatin, dan cemas, karena senapati-
nya telah gugur. Dari belakang berlari-larian ke depan.
Sri Prabu Maswapati dari Wirata, ketika mendapat penjelas-
an bahwa ketiga putranya gugur, lalu bergerak bersama Arya
Nirbita. Bisma dihujani panah, tiada putus-ptitusnya. Bisma pun
‘melepaskan panah juga, sehingga panah beradu dengan panah. Pan-
dawa pun semua marah, mereka serentak bergerak, mengamuk,
dan menyerang bersama, dengan ketetapan hati, ikhlas dan rela
hancur bersama Sri Maswapati. Pasukan Pandawa maju berbon-
dong-bondong berebut depan, menerjang barisan Korawa, yang
bubar berantakan Karena takut. Kemudian matahari pun tengge-
Jam, seolah-olah menyapih yang telah lelah berperang, terasa ba-
gaikan memberi peringatan, beristirahatlah dulu, besok pagi ber-
perang kembal
a<noinclude></noinclude>
8on3wkod0q7oke5r46cfm17n9kn0tee
77612
77611
2026-05-15T17:56:10Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77612
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>pukul gada, semuanya hancur bersama sais, kuda, serta gajahnya. Lima orang raja yang hancur lebur bersama Keretanya. Yang hancur-lebur bersama gajahnya lima orang. Sedangkan para adipati lebih banyak lagi yang mati. Benar-benar Raden Seta sakti tanpa tanding. Pasukan Astina semakin ngeri melihat sepak terjang dan amukan Seta, dapat diumpamakan seperti seribu raksasa bersama-sama berebut daging. Gadanya benar-benar luar biasa, dan mengerikan. Bisma sendiri merasa ngeri melihat Seta sudah mengamuk seperti orang mabuk. Ia Jalu mundur dari medan.
Kemudian dewa berseru-seru dari angkasa, "Hai, Bisma,
mengapa engkau mundur dari medan perang? Ketahuilah, bahwa kematian putra Wirata itu, tiada lain alah olehmu!”
Bisma mendengar suara dewa seperti itu, lalu Kembali sambil bersiap melepaskan panah api, terlepas sudah dari busurnya, mengenai dada Seta, tembus, lalu mati, Pasukan Astina bersorak gemuruh, yang tadi lari, semua kembali, bersuka-ra serta menari. Arya Dursasana berkiprah-kiprah, Arya Sindureja menabuh gamelan, Jayasusena, Jayawikata, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya dan Kartamarma, semua bersorak-sorak. Sedangkan pasukan Pandawa prihatin, dan cemas, karena senapatinya telah gugur. Dari belakang berlari-larian ke depan.
Sri Prabu Maswapati dari Wirata, ketika mendapat penjelasan bahwa ketiga putranya gugur, lalu bergerak bersama Arya Nirbita. Bisma dihujani panah, tiada putus-putusnya. Bisma pun melepaskan panah juga, sehingga panah beradu dengan panah. Pandawa pun semua marah, mereka serentak bergerak, mengamuk, dan menyerang bersama, dengan ketetapan hati, ikhlas dan rela hancur bersama Sri Maswapati. Pasukan Pandawa maju berbondong-bondong berebut depan, menerjang barisan Korawa, yang bubar berantakan karena takut. Kemudian matahari pun tenggelam, seolah-olah menyapih yang telah lelah berperang, terasa bagaikan memberi peringatan, beristirahatlah dulu, besok pagi berperang kembali.
{{C| * * *}}<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude>
ac5wefujewu0l0s616z9o2h8pagt0ik
78282
77612
2026-05-16T09:25:29Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78282
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|pukul|terpukul}} gada, semuanya hancur bersama sais, kuda, serta gajahnya. Lima orang raja yang hancur lebur bersama Keretanya. Yang hancur-lebur bersama gajahnya lima orang. Sedangkan para adipati lebih banyak lagi yang mati. Benar-benar Raden Seta sakti tanpa tanding. Pasukan Astina semakin ngeri melihat sepak terjang dan amukan Seta, dapat diumpamakan seperti seribu raksasa bersama-sama berebut daging. Gadanya benar-benar luar biasa, dan mengerikan. Bisma sendiri merasa ngeri melihat Seta sudah mengamuk seperti orang mabuk. Ia Jalu mundur dari medan.
Kemudian dewa berseru-seru dari angkasa, "Hai, Bisma,
mengapa engkau mundur dari medan perang? Ketahuilah, bahwa kematian putra Wirata itu, tiada lain alah olehmu!”
Bisma mendengar suara dewa seperti itu, lalu Kembali sambil bersiap melepaskan panah api, terlepas sudah dari busurnya, mengenai dada Seta, tembus, lalu mati, Pasukan Astina bersorak gemuruh, yang tadi lari, semua kembali, bersuka-ra serta menari. Arya Dursasana berkiprah-kiprah, Arya Sindureja menabuh gamelan, Jayasusena, Jayawikata, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya dan Kartamarma, semua bersorak-sorak. Sedangkan pasukan Pandawa prihatin, dan cemas, karena senapatinya telah gugur. Dari belakang berlari-larian ke depan.
Sri Prabu Maswapati dari Wirata, ketika mendapat penjelasan bahwa ketiga putranya gugur, lalu bergerak bersama Arya Nirbita. Bisma dihujani panah, tiada putus-putusnya. Bisma pun melepaskan panah juga, sehingga panah beradu dengan panah. Pandawa pun semua marah, mereka serentak bergerak, mengamuk, dan menyerang bersama, dengan ketetapan hati, ikhlas dan rela hancur bersama Sri Maswapati. Pasukan Pandawa maju berbondong-bondong berebut depan, menerjang barisan Korawa, yang bubar berantakan karena takut. Kemudian matahari pun tenggelam, seolah-olah menyapih yang telah lelah berperang, terasa bagaikan memberi peringatan, beristirahatlah dulu, besok pagi berperang kembali.
{{C| * * *}}<noinclude>{{rh|||27}}</noinclude>
i43w2ndobv9kkckqau0twihwnmndd52
Kaca:Bratayuda.pdf/25
250
24774
77613
2026-05-15T17:56:30Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77613
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Yang sedang berperang lalu mundur ke pesanggrahan mereka
masing-masing, dan mereka itu sudah sangat lelah. Sri Prabu Maswapati sedang menangisi ketiga putranya yang gugur. Ketiga jenazah telah ditemukan, kemudian dibersihkan, dan disantuni. Sri
Baginda, dan permaisuri sangat gundah guiana, karena putranya
yang masih muda-muda serta tampan, telah gugur. Perasaan Sri Baginda serta permaisuri seperti diiris-iris, dibagi menjadi tiga. Permaisuri memeluk mayat putranya berganti-ganti. Keluh-kesahnya
menyayat hati, "Duhai Anakku, mengapa engkau bertiga gugur
bersama. Siapa nantinya yang menggantikan tahta Wirata. Bangunlah, Anakku. Sapalah ibumu yang datang. Mengapa engkau berdiam diri? Mengapa engkau gugur bersama. Mengapa tak tersisa
barang seorang, sehingga ada pelipur lara. Wahai Anakku, Seta,
Utara, Wirasangka, hanya engkau yang menyebabkan aku gundahgulana .................. Wahai Dewata, cabutlah nyawaku!"
***
Tangis permaisuri Wirata telah berhenti. Kemudian datanglah para Panduputra, membawa pakaian, menghormat yang telah
gugur. Jenazah dikelilingi dan ditangisi. Sesudah ditutup, lalu dinaikkan ke atas tumangan. Malam hari setelah keadaan menjadi
senyap, dan kebetulan waktu itu terang bulan, jenazah lalu dibakar, disaksikan oleh para raja dan para Pandawa. Sri Kresna mendoakan, agar semua mendapatkan sorga, menepati apa yang sudah
dijanjikan, ialah anugerah bagi mereka yang gugur dalam Perang
Baratayuda. Abunya dihembuskan, naik ke Suralaya.
28<noinclude></noinclude>
ebtrqzem760zyih2n1w6wsza9qt4gxz
77614
77613
2026-05-15T18:07:19Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77614
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Yang sedang berperang lalu mundur ke pesanggrahan mereka
masing-masing, dan mereka itu sudah sangat lelah. Sri Prabu Maswapati sedang menangisi ketiga putranya yang gugur. Ketiga jenazah telah ditemukan, kemudian dibersihkan, dan disantuni. Sri Baginda, dan permaisuri sangat gundah guiana, karena putranya yang masih muda-muda serta tampan, telah gugur. Perasaan Sri Baginda serta permaisuri seperti diiris-iris, dibagi menjadi tiga. Permaisuri memeluk mayat putranya berganti-ganti. Keluh-kesahnya menyayat hati, "Duhai Anakku, mengapa engkau bertiga gugur.bersama. Siapa nantinya yang menggantikan tahta Wirata. Bangunlah, Anakku. Sapalah ibumu yang datang. Mengapa engkau berdiam diri? Mengapa engkau gugur bersama. Mengapa tak tersisa barang seorang, sehingga ada pelipur lara. Wahai Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, hanya engkau yang menyebabkan aku gundah gulana .................. Wahai Dewata, cabutlah nyawaku!"
{{C|* * *}}
Tangis permaisuri Wirata telah berhenti. Kemudian datanglah para Panduputra, membawa pakaian, menghormat yang telah gugur. Jenazah dikelilingi dan ditangisi. Sesudah ditutup, lalu dinaikkan ke atas tumangan. Malam hari setelah keadaan menjadi senyap, dan kebetulan waktu itu terang bulan, jenazah lalu dibakar, disaksikan oleh para raja dan para Pandawa. Sri Kresna mendoakan, agar semua mendapatkan sorga, menepati apa yang sudah dijanjikan, ialah anugerah bagi mereka yang gugur dalam Perang Baratayuda. Abunya dihembuskan, naik ke Suralaya.<noinclude>{{rh|28}}</noinclude>
6f2hh7srxqojg22ijmc81e4c2b5sk3k
78283
77614
2026-05-16T09:25:38Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78283
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Yang sedang berperang lalu mundur ke pesanggrahan mereka
masing-masing, dan mereka itu sudah sangat lelah. Sri Prabu Maswapati sedang menangisi ketiga putranya yang gugur. Ketiga jenazah telah ditemukan, kemudian dibersihkan, dan disantuni. Sri Baginda, dan permaisuri sangat gundah guiana, karena putranya yang masih muda-muda serta tampan, telah gugur. Perasaan Sri Baginda serta permaisuri seperti diiris-iris, dibagi menjadi tiga. Permaisuri memeluk mayat putranya berganti-ganti. Keluh-kesahnya menyayat hati, "Duhai Anakku, mengapa engkau bertiga gugur.bersama. Siapa nantinya yang menggantikan tahta Wirata. Bangunlah, Anakku. Sapalah ibumu yang datang. Mengapa engkau berdiam diri? Mengapa engkau gugur bersama. Mengapa tak tersisa barang seorang, sehingga ada pelipur lara. Wahai Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, hanya engkau yang menyebabkan aku gundah gulana .................. Wahai Dewata, cabutlah nyawaku!"
{{C|* * *}}
Tangis permaisuri Wirata telah berhenti. Kemudian datanglah para Panduputra, membawa pakaian, menghormat yang telah gugur. Jenazah dikelilingi dan ditangisi. Sesudah ditutup, lalu dinaikkan ke atas tumangan. Malam hari setelah keadaan menjadi senyap, dan kebetulan waktu itu terang bulan, jenazah lalu dibakar, disaksikan oleh para raja dan para Pandawa. Sri Kresna mendoakan, agar semua mendapatkan sorga, menepati apa yang sudah dijanjikan, ialah anugerah bagi mereka yang gugur dalam Perang Baratayuda. Abunya dihembuskan, naik ke Suralaya.<noinclude>{{rh|28}}</noinclude>
qim2bylqisqwmh51kbtfzbnjb9xzj09
Kaca:Bratayuda.pdf/26
250
24775
77615
2026-05-15T18:07:39Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77615
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>3. BISMA TEWAS OLEH SRIKANDI
Setelah selesai penghormatan pembakaran ketiga jenazah
putra Wirata. Prabu Maswapati serta para raja yang .memberikan
penghormatan telah kembali ke pesanggrahan, lalu berunding dengan Sri Kresna, tentang siapa yang diangkat menjadi senapati,
pengganti yang telah gugur. Adapun yang dipilih oleh Sri Kresna
ialah, Drustajumena, dialah yang akan dijadikan pengganti senapati, serta seyogyanya berganti gelar Garudanglayang (garuda melayang). Para raja, para adipati, dan para mantri ke bawah, semua
menyetujui kehendak Sri Kresna. Kemudian Raden Drustajumena
dipuja, dan diasapi wangi-wangian.
***
Tak antara setelah selesainya penobatan senapati, hari pun
telah pagi.. Lalu tengara perang dibunyikan. Segenap prajurit Pandawa bersiap-siap, lalu berangkat ke Tegal Kuru. Demikian pula
pasukan Korawa, mereka berangkat ke Tegal Kuru. Kemudian
Pandawa memasang gelar Garudanglayang. Yang menjadi paruh
Raden Dananjaya, yang merijadi kepala Sri Drupada. Sri Kresna
berada dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Senapati
Drustajumena berada di sayap kanan. Yang ditempatkan di sayap
kiri Raden Wrekodara. Raden Setyaki menjadi ekor. Yang berada
di tengkuk para raja, mengelilingi dan menjaga Sri Yudistira.
Melihat barisan Pandawa merubah gelar menjadi Garudalayang, Korawa menyamainya. Yang menjadi paruh Raja Mandaraka. Arya Sengkuni menjadi kepala. Senapati Bisma berada di
sayap kiri. Druna menempati sayap kanan . Drusasana menjadi
ekor. Para raja dan para adipati berada di tengkuk, menjaga Prabu Suyudana. Dewabrata menggerakkan barisannya, lalu melepaskan panah, dengan tujuan merusak gelar Pandawa. Panahnya meluncur bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Kemudian Raden Dananjaya melepaskan panah penolak.
29<noinclude></noinclude>
rwl8r10ae40uqjqh9o1a5t2krs3bq20
77616
77615
2026-05-15T18:11:47Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77616
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''3. BISMA TEWAS OLEH SRIKANDI'''}}
Setelah selesai penghormatan pembakaran ketiga jenazah
putra Wirata. Prabu Maswapati serta para raja yang memberikan penghormatan telah kembali ke pesanggrahan, lalu berunding dengan Sri Kresna, tentang siapa yang diangkat menjadi senapati, pengganti yang telah gugur. Adapun yang dipilih oleh Sri Kresna ialah, Drustajumena, dialah yang akan dijadikan pengganti senapati, serta seyogyanya berganti gelar Garudanglayang (garuda melayang). Para raja, para adipati, dan para mantri ke bawah, semua menyetujui kehendak Sri Kresna. Kemudian Raden Drustajumena dipuja, dan diasapi wangi-wangian.
{{C| * * *}}
Tak antara setelah selesainya penobatan senapati, hari pun telah pagi. Lalu tengara perang dibunyikan. Segenap prajurit Pandawa bersiap-siap, lalu berangkat ke Tegal Kuru. Demikian pula pasukan Korawa, mereka berangkat ke Tegal Kuru. Kemudian Pandawa memasang gelar Garudanglayang. Yang menjadi paruh Raden Dananjaya, yang merijadi kepala Sri Drupada. Sri Kresna berada dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Senapati Drustajumena berada di sayap kanan. Yang ditempatkan di sayap kiri Raden Wrekodara. Raden Setyaki menjadi ekor. Yang berada
di tengkuk para raja, mengelilingi dan menjaga Sri Yudistira.
Melihat barisan Pandawa merubah gelar menjadi Garudalayang, Korawa menyamainya. Yang menjadi paruh Raja Mandaraka. Arya Sengkuni menjadi kepala. Senapati Bisma berada di sayap kiri. Druna menempati sayap kanan. Drusasana menjadi ekor. Para raja dan para adipati berada di tengkuk, menjaga Prabu Suyudana. Dewabrata menggerakkan barisannya, lalu melepaskan panah, dengan tujuan merusak gelar Pandawa. Panahnya meluncur bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Kemudian Raden Dananjaya melepaskan panah penolak.<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude>
sc7mrje6tg9clbzof235m99znec1vrr
78284
77616
2026-05-16T09:25:48Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78284
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''3. BISMA TEWAS OLEH SRIKANDI'''}}
Setelah selesai penghormatan pembakaran ketiga jenazah
putra Wirata. Prabu Maswapati serta para raja yang memberikan penghormatan telah kembali ke pesanggrahan, lalu berunding dengan Sri Kresna, tentang siapa yang diangkat menjadi senapati, pengganti yang telah gugur. Adapun yang dipilih oleh Sri Kresna ialah, Drustajumena, dialah yang akan dijadikan pengganti senapati, serta seyogyanya berganti gelar Garudanglayang (garuda melayang). Para raja, para adipati, dan para mantri ke bawah, semua menyetujui kehendak Sri Kresna. Kemudian Raden Drustajumena dipuja, dan diasapi wangi-wangian.
{{C| * * *}}
Tak antara setelah selesainya penobatan senapati, hari pun telah pagi. Lalu tengara perang dibunyikan. Segenap prajurit Pandawa bersiap-siap, lalu berangkat ke Tegal Kuru. Demikian pula pasukan Korawa, mereka berangkat ke Tegal Kuru. Kemudian Pandawa memasang gelar Garudanglayang. Yang menjadi paruh Raden Dananjaya, yang merijadi kepala Sri Drupada. Sri Kresna berada dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Senapati Drustajumena berada di sayap kanan. Yang ditempatkan di sayap kiri Raden Wrekodara. Raden Setyaki menjadi ekor. Yang berada
di tengkuk para raja, mengelilingi dan menjaga Sri Yudistira.
Melihat barisan Pandawa merubah gelar menjadi Garudalayang, Korawa menyamainya. Yang menjadi paruh Raja Mandaraka. Arya Sengkuni menjadi kepala. Senapati Bisma berada di sayap kiri. Druna menempati sayap kanan. Drusasana menjadi ekor. Para raja dan para adipati berada di tengkuk, menjaga Prabu Suyudana. Dewabrata menggerakkan barisannya, lalu melepaskan panah, dengan tujuan merusak gelar Pandawa. Panahnya meluncur bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Kemudian Raden Dananjaya melepaskan panah penolak.<noinclude>{{rh|||29}}</noinclude>
mtlxik9t2jtwdk02ync7fjrwpvukbro
Kaca:Bratayuda.pdf/27
250
24776
77617
2026-05-15T18:12:06Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77617
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>l
1
Raden Wrekodara sangat marah. Ia maju memanggul gada.
Amukannya menakutkan. Banyak sekali pasukan Korawa yang
mati kena gadanya, dan tidak ada mampu menadahinya. Raden
Wrekodara meletakkan gadanya. Lalu mengambil panah yang hernama Bargawastra. Ratusan musuh mati karena Bargawastra. Raden Setyaki membantu, sehingga pasukan Astina semakin banyak
yang rusak. Kama, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja mengungsi ke sayap yang ditempati Bisma serta Druna.
***
Sri Kresna memberi perintah kepada saisnya agar supaya
mempercepat lajunya kereta, karena hendak menjaga perangnya
Parta, yang tengah sangat marah, dan sedang melepaskan panah sakti. Tak henti-hentinya meluncur, kemudian Bisma melepaskan panah penolak, sehingga berpapasanlah panah sesama panah di angkasa.
Bisma minta agar Druna menyingkir, karena ia hendak mengeluarkan kesaktiannya. Lalu ia melepaskan anak panah, seraya memantrainya, sehingga penuh melingkupi angkasa, lalu jatuh
ke arah musuh menimbulkan kengerian. Kemudian maju serempak
menggempur musuh. Karpa, Sengkuni, Karna, Sri Jalya serta pasukannya bersorak-sorai.
Raden Dananjaya segera melepaskan panah penolak, akan tetapi tidak berhasil. Banyak yang tewas terkena panah Bisma, yang
luncuran panahnya bagaikan hujan dari langit. Korawa gembira
melihatnya, mereka maju menyerang bersama-sama. Pasukan
Pandawa bertahan, namun banyak yang tewas. Yang terdapat di
antara yang gugur, selain para raja dan para adipati, dua orang
anak Raden Dananjaya, ialah Bambang Irawan dan Dewi Palupi.
Raden Dananjaya sangat sedih, berhenti memanah, karena selalu
menangis saja.
Ketika Sri Kresna melihat Raden Dananjaya menangis, lalu
turun dari kereta, merentang cakra, yang dibidik adalah Bisma.
Melihat dirinya akan menjadi sasaran cakra, Bisma segera turun
dari kereta, sambil membungkuk-bungkuk ia mendekati Sri
30<noinclude></noinclude>
lhv5z4jp6u1it9ak9eat9aokfaejazf
77618
77617
2026-05-15T18:15:47Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77618
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Wrekodara sangat marah. Ia maju memanggul gada.
Amukannya menakutkan. Banyak sekali pasukan Korawa yang
mati kena gadanya, dan tidak ada mampu menadahinya. Raden
Wrekodara meletakkan gadanya. Lalu mengambil panah yang hernama Bargawastra. Ratusan musuh mati karena Bargawastra. Raden Setyaki membantu, sehingga pasukan Astina semakin banyak yang rusak. Kama, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja mengungsi ke sayap yang ditempati Bisma serta Druna.
{{C|* * *}}
Sri Kresna memberi perintah kepada saisnya agar supaya
mempercepat lajunya kereta, karena hendak menjaga perangnya Parta, yang tengah sangat marah, dan sedang melepaskan panah sakti. Tak henti-hentinya meluncur, kemudian Bisma melepaskan panah penolak, sehingga berpapasanlah panah sesama panah di angkasa.
Bisma minta agar Druna menyingkir, karena ia hendak mengeluarkan kesaktiannya. Lalu ia melepaskan anak panah, seraya memantrainya, sehingga penuh melingkupi angkasa, lalu jatuh ke arah musuh menimbulkan kengerian. Kemudian maju serempak menggempur musuh. Karpa, Sengkuni, Karna, Sri Jalya serta pasukannya bersorak-sorai.
Raden Dananjaya segera melepaskan panah penolak, akan tetapi tidak berhasil. Banyak yang tewas terkena panah Bisma, yang luncuran panahnya bagaikan hujan dari langit. Korawa gembira melihatnya, mereka maju menyerang bersama-sama. Pasukan Pandawa bertahan, namun banyak yang tewas. Yang terdapat di antara yang gugur, selain para raja dan para adipati, dua orang anak Raden Dananjaya, ialah Bambang Irawan dan Dewi Palupi. Raden Dananjaya sangat sedih, berhenti memanah, karena selalu menangis saja.
Ketika Sri Kresna melihat Raden Dananjaya menangis, lalu turun dari kereta, merentang cakra, yang dibidik adalah Bisma. Melihat dirinya akan menjadi sasaran cakra, Bisma segera turun dari kereta, sambil membungkuk-bungkuk ia mendekati Sri<noinclude>{{rh|30}}</noinclude>
2exvctepoau2bmfjiknlkekxt9x17bv
78285
77618
2026-05-16T09:25:59Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78285
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Wrekodara sangat marah. Ia maju memanggul gada.
Amukannya menakutkan. Banyak sekali pasukan Korawa yang
mati kena gadanya, dan tidak ada mampu menadahinya. Raden
Wrekodara meletakkan gadanya. Lalu mengambil panah yang hernama Bargawastra. Ratusan musuh mati karena Bargawastra. Raden Setyaki membantu, sehingga pasukan Astina semakin banyak yang rusak. Kama, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja mengungsi ke sayap yang ditempati Bisma serta Druna.
{{C|* * *}}
Sri Kresna memberi perintah kepada saisnya agar supaya
mempercepat lajunya kereta, karena hendak menjaga perangnya Parta, yang tengah sangat marah, dan sedang melepaskan panah sakti. Tak henti-hentinya meluncur, kemudian Bisma melepaskan panah penolak, sehingga berpapasanlah panah sesama panah di angkasa.
Bisma minta agar Druna menyingkir, karena ia hendak mengeluarkan kesaktiannya. Lalu ia melepaskan anak panah, seraya memantrainya, sehingga penuh melingkupi angkasa, lalu jatuh ke arah musuh menimbulkan kengerian. Kemudian maju serempak menggempur musuh. Karpa, Sengkuni, Karna, Sri Jalya serta pasukannya bersorak-sorai.
Raden Dananjaya segera melepaskan panah penolak, akan tetapi tidak berhasil. Banyak yang tewas terkena panah Bisma, yang luncuran panahnya bagaikan hujan dari langit. Korawa gembira melihatnya, mereka maju menyerang bersama-sama. Pasukan Pandawa bertahan, namun banyak yang tewas. Yang terdapat di antara yang gugur, selain para raja dan para adipati, dua orang anak Raden Dananjaya, ialah Bambang Irawan dan Dewi Palupi. Raden Dananjaya sangat sedih, berhenti memanah, karena selalu menangis saja.
Ketika Sri Kresna melihat Raden Dananjaya menangis, lalu turun dari kereta, merentang cakra, yang dibidik adalah Bisma. Melihat dirinya akan menjadi sasaran cakra, Bisma segera turun dari kereta, sambil membungkuk-bungkuk ia mendekati Sri<noinclude>{{rh|30}}</noinclude>
hwmt9h1syr0lxaixv4xhbvh51jxmmj6
Kaca:Bratayuda.pdf/28
250
24777
77619
2026-05-15T18:16:06Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77619
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kresna, seraya ucapnya, "Aduhai, Gusti! Sungguh sangat beruntung diri saya jika terlaksana dijatuhi cakra Anda. Karena, itulah
yang akan mengantarkan kematian saya ke Suralaya."
Arjuna melihat Sri Kresna merentang cakra, bendak dijatuhkan kepada Bisma, ia segera mendekati Sri Baginda, menyembah lalu memegang tangannya, memohon dengan sangat supaya
mengurungkan niatnya. 'Sri Kresna tidak jadi melepaskan cakra,
lalu naik kembali ke kereta bersama Raden Dananjaya. Kemudian
Sri Baginda menyuruh· Raden Dananjaya, agar supaya memanggil
Dewi Srikandi. Setelah sang dewi datang, Sri Kresna memerintahkannya melepaskan panah ke arah Bisma.
Melihat Srikandi datang, perasaan Bisma menjadi tidak tenang, lalu melambai ke arah Prabu Yudistira, meminta perlindungannya, akan tetapi Prabu Yudistira pura-pura tidak melihat. Ia
selalu menundukkan kepala. Dewi Srikandi disuruh bergabung dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Kemudian ia melepaskan panah, tepat mengenai dada Bisma, akan tetapi tidak mempan .
Parta menyusulinya dengan panah, mengenai tangkai panah
Srikandi, sehingga menancap di dada Bisma. Bisma jatuh dari kereta, terguling di tanah lalu meninggal.
***
Pasukan Pandawa bersorak-sorai gembira. Kemudian para
dewa di angkasa menghujankan bunga. Pasukan Korawa bubar ketakutan, tak ada yang berani membela senapatinya. Raden Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Raden Drustajumena, semua melepaskan panah, jatuh ke arah para raja serta para adipati sehingga banyak yang tewas.
Kemudian Prabu Yudistira melambai ke arah pasukannya,
sebagai isyarat agar mereka meletakkan senjata mereka. Raja
Suyudana, Arjuna, Nakula serta Sahadewa, semua mencium kaki
Bisma, seraya menangis tersedu-sedu. Seluruh Korawa juga menangis, akan tetapi mengandung rasa kawatir, karena Raden Wrekodara masih mengamuk dengan gadanya. Segenap adipati sampai
kepada para prajurit rendahan, semua sudah meletakkan senjata,
31<noinclude></noinclude>
gx9tx9rdlmrh53hfvb31me3upj98eaa
77621
77619
2026-05-15T18:19:54Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77621
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kresna, seraya ucapnya, "Aduhai, Gusti! Sungguh sangat beruntung diri saya jika terlaksana dijatuhi cakra Anda. Karena, itulah yang akan mengantarkan kematian saya ke Suralaya."
Arjuna melihat Sri Kresna merentang cakra, hendak dijatuhkan kepada Bisma, ia segera mendekati Sri Baginda, menyembah lalu memegang tangannya, memohon dengan sangat supaya mengurungkan niatnya. Sri Kresna tidak jadi melepaskan cakra, lalu naik kembali ke kereta bersama Raden Dananjaya. Kemudian Sri Baginda menyuruh Raden Dananjaya, agar supaya memanggil Dewi Srikandi. Setelah sang dewi datang, Sri Kresna memerintahkannya melepaskan panah ke arah Bisma.
Melihat Srikandi datang, perasaan Bisma menjadi tidak tenang, lalu melambai ke arah Prabu Yudistira, meminta perlindungannya, akan tetapi Prabu Yudistira pura-pura tidak melihat. Ia selalu menundukkan kepala. Dewi Srikandi disuruh bergabung dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Kemudian ia melepaskan panah, tepat mengenai dada Bisma, akan tetapi tidak mempan. Parta menyusulinya dengan panah, mengenai tangkai panah Srikandi, sehingga menancap di dada Bisma. Bisma jatuh dari kereta, terguling di tanah lalu meninggal.
{{C|* * *}}
Pasukan Pandawa bersorak-sorai gembira. Kemudian para
dewa di angkasa menghujankan bunga. Pasukan Korawa bubar ketakutan, tak ada yang berani membela senapatinya. Raden Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Raden Drustajumena, semua melepaskan panah, jatuh ke arah para raja serta para adipati sehingga banyak yang tewas.
Kemudian Prabu Yudistira melambai ke arah pasukannya, sebagai isyarat agar mereka meletakkan senjata mereka. Raja Suyudana, Arjuna, Nakula serta Sahadewa, semua mencium kaki Bisma, seraya menangis tersedu-sedu. Seluruh Korawa juga menangis, akan tetapi mengandung rasa kawatir, karena Raden Wrekodara masih mengamuk dengan gadanya. Segenap adipati sampai kepada para prajurit rendahan, semua sudah meletakkan senjata,<noinclude>{{rh|||31}}</noinclude>
oulewz7qedui07cm7lzf6vvq8ulzvai
78286
77621
2026-05-16T09:26:09Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78286
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kresna, seraya ucapnya, "Aduhai, Gusti! Sungguh sangat beruntung diri saya jika terlaksana dijatuhi cakra Anda. Karena, itulah yang akan mengantarkan kematian saya ke Suralaya."
Arjuna melihat Sri Kresna merentang cakra, hendak dijatuhkan kepada Bisma, ia segera mendekati Sri Baginda, menyembah lalu memegang tangannya, memohon dengan sangat supaya mengurungkan niatnya. Sri Kresna tidak jadi melepaskan cakra, lalu naik kembali ke kereta bersama Raden Dananjaya. Kemudian Sri Baginda menyuruh Raden Dananjaya, agar supaya memanggil Dewi Srikandi. Setelah sang dewi datang, Sri Kresna memerintahkannya melepaskan panah ke arah Bisma.
Melihat Srikandi datang, perasaan Bisma menjadi tidak tenang, lalu melambai ke arah Prabu Yudistira, meminta perlindungannya, akan tetapi Prabu Yudistira pura-pura tidak melihat. Ia selalu menundukkan kepala. Dewi Srikandi disuruh bergabung dalam satu kereta dengan Raden Dananjaya. Kemudian ia melepaskan panah, tepat mengenai dada Bisma, akan tetapi tidak mempan. Parta menyusulinya dengan panah, mengenai tangkai panah Srikandi, sehingga menancap di dada Bisma. Bisma jatuh dari kereta, terguling di tanah lalu meninggal.
{{C|* * *}}
Pasukan Pandawa bersorak-sorai gembira. Kemudian para
dewa di angkasa menghujankan bunga. Pasukan Korawa bubar ketakutan, tak ada yang berani membela senapatinya. Raden Wrekodara, Raden Gatutkaca, dan Raden Drustajumena, semua melepaskan panah, jatuh ke arah para raja serta para adipati sehingga banyak yang tewas.
Kemudian Prabu Yudistira melambai ke arah pasukannya, sebagai isyarat agar mereka meletakkan senjata mereka. Raja Suyudana, Arjuna, Nakula serta Sahadewa, semua mencium kaki Bisma, seraya menangis tersedu-sedu. Seluruh Korawa juga menangis, akan tetapi mengandung rasa kawatir, karena Raden Wrekodara masih mengamuk dengan gadanya. Segenap adipati sampai kepada para prajurit rendahan, semua sudah meletakkan senjata,<noinclude>{{rh|||31}}</noinclude>
matn7smwgh2daybjzk8kzguvsv54gzq
Kaca:Bratayuda.pdf/29
250
24778
77622
2026-05-15T18:20:09Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77622
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>merubung Bisma. Prabu Yudistira melambai Raden Wrekodara,
disuruh supaya meletakkan senjatanya. Akan tetapi tidak mau. Ia
memilih lebih baik menjauh, berdiri saja sambil mengangkat gadanya. Prabu Suyudana mengumumkan suatu perintah, bahwa sehari
itu diadakan perdamaian, diminta supaya semuanya rukun, dan
jangan sampai ada yang berkhianat.
Sejenak Dewabrata (Bisma) siuman, lalu minta air. Raja Suyudana memberikan minuman, akan tetapi sampai lama minuman
itu tidak juga diminum. Adapun yang diminta ialah air pencuci
panah Raden Dananjaya. Raja Yudistira memberi perintah pada
Raden Janaka, supaya segera menghaturkan air pencuci panah.
Raden Janaka segera menyediakannya. Sesudah air diserahkan dan
diminum, Bisma lalu meninggal.
Segenap para raja menghormat kepergian senapati Bisma.
Jenazahnya dikenai pakaian lengkap, dan hendak dibakar. Setelah
matahari terbenam, muncullah penggantinya cahaya rembulan,
jenazah pun segera dj)bakar, abunya membubung ke Suralaya.
Pada malam itu baik Pandawa maupun Korawa sama-sama diam,
tak ada yang menyalahi janji, dan tetap berada di pesanggrahannya masing-masing.
32<noinclude></noinclude>
oqqj5oygybchb247jbcf53o6zi86nzv
77623
77622
2026-05-15T18:22:25Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77623
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>merubung Bisma. Prabu Yudistira melambai Raden Wrekodara,
disuruh supaya meletakkan senjatanya. Akan tetapi tidak mau. Ia memilih lebih baik menjauh, berdiri saja sambil mengangkat gadanya. Prabu Suyudana mengumumkan suatu perintah, bahwa sehari itu diadakan perdamaian, diminta supaya semuanya rukun, dan jangan sampai ada yang berkhianat.
Sejenak Dewabrata (Bisma) siuman, lalu minta air. Raja Suyudana memberikan minuman, akan tetapi sampai lama minuman itu tidak juga diminum. Adapun yang diminta ialah air pencuci panah Raden Dananjaya. Raja Yudistira memberi perintah pada Raden Janaka, supaya segera menghaturkan air pencuci panah. Raden Janaka segera menyediakannya. Sesudah air diserahkan dan diminum, Bisma lalu meninggal.
Segenap para raja menghormat kepergian senapati Bisma. Jenazahnya dikenai pakaian lengkap, dan hendak dibakar. Setelah matahari terbenam, muncullah penggantinya cahaya rembulan, jenazah pun segera dibakar, abunya membubung ke Suralaya. Pada malam itu baik Pandawa maupun Korawa sama-sama diam, tak ada yang menyalahi janji, dan tetap berada di pesanggrahannya masing-masing.<noinclude>{{rh|32}}</noinclude>
mrilfvf9tjb97ib9kv55nttv70c8cg8
78287
77623
2026-05-16T09:26:17Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78287
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>merubung Bisma. Prabu Yudistira melambai Raden Wrekodara,
disuruh supaya meletakkan senjatanya. Akan tetapi tidak mau. Ia memilih lebih baik menjauh, berdiri saja sambil mengangkat gadanya. Prabu Suyudana mengumumkan suatu perintah, bahwa sehari itu diadakan perdamaian, diminta supaya semuanya rukun, dan jangan sampai ada yang berkhianat.
Sejenak Dewabrata (Bisma) siuman, lalu minta air. Raja Suyudana memberikan minuman, akan tetapi sampai lama minuman itu tidak juga diminum. Adapun yang diminta ialah air pencuci panah Raden Dananjaya. Raja Yudistira memberi perintah pada Raden Janaka, supaya segera menghaturkan air pencuci panah. Raden Janaka segera menyediakannya. Sesudah air diserahkan dan diminum, Bisma lalu meninggal.
Segenap para raja menghormat kepergian senapati Bisma. Jenazahnya dikenai pakaian lengkap, dan hendak dibakar. Setelah matahari terbenam, muncullah penggantinya cahaya rembulan, jenazah pun segera dibakar, abunya membubung ke Suralaya. Pada malam itu baik Pandawa maupun Korawa sama-sama diam, tak ada yang menyalahi janji, dan tetap berada di pesanggrahannya masing-masing.<noinclude>{{rh|32}}</noinclude>
9ylqe2sx1rzvyp6xft7m6et3d3izee6
Kaca:Bratayuda.pdf/30
250
24779
77624
2026-05-15T18:22:43Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77624
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>4. ANGKAWIJAYA TEWAS DIKEROYOK KORAWA
Kesepakatan para Korawa, Drunalah yang diangkat menjadi
senapati. Malam itu kota Astina ditimpa hujan lebat, darah mengalir ke pesanggrahan. Segenap raja, adipati serta para satria semua
gembira-ria, karena hal itu merupakan pertanda akan menang
perang. Malam itu Korawa tidak tidur. Keesokan harinya lalu berangkat. Druna yang menj~di senapati, gemuruh suara gamelan,
berbaur sorak-sorai prajurit, yang laksana suara guntur. Ketika
petjalanan pasukan itu sudah sampai di Tegal Kuru, mereka lalu
mempersiapkan diri.
Gelar di pihak Pandawa tidak berubah, yakni masih Garudanglayang. Korawa menerapkan gelar Gajahmeta. Suyudana herada di tengkuk bersama Arya Sindureja dan Adipati Awangga.
Korawa seratus sebagai gadingnya, jadi setiap sisi l.irna puluh
orang, tidak termasuk kawannya yang menjadi belalai, ialah Prabu
Bagadenta, yang mengendarai gajah seraya memanggul gada. Senapati Druna yang menjadi kepala. Ketika maju hendak menyerang, tekadnya ialah, tak ada kata mundur.
***
Serbuan pasukan Pandawa maupun pasukan Korawa bagaikan dua buah lautan berpapasan, gemuruh suara gong serta beri,
sorak-sorai prajurit bagaikan angin puyuh, berbaur dengan suara
halilintar, seperti hendak membelah langit. Pandawa lalu menyerbu barisan senapati Druna. Raden Dananjaya melepaskan panah,
meluncur tiada henti-hentinya, jatuh mengenai pasukan Korawa.
Raden Wrekodara pun melepaskan panah, dan kemudian ia mengamuk dengan gadanya, sehingga banyak bupati mati karena gadanya. Gelar Gajahmeta rusak, gadingnya gelar tersebut habis, sedangkan di kepala kacau-balau. Prabu Bagadenta yang menjadi
belalai gelar meningggalkan senapati, maju memanggul gada. Karna
dan Jayadrata tertinggal. Prabu Bagadenta itu luar biasa saktinya,
33<noinclude></noinclude>
rmhr84j9tvhqdehzyjcj0hpevqv9isb
77626
77624
2026-05-15T18:27:41Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77626
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''4. ANGKAWIJAYA TEWAS DIKEROYOK KORAWA'''}}
Kesepakatan para Korawa, Drunalah yang diangkat menjadi
senapati. Malam itu kota Astina ditimpa hujan lebat, darah mengalir ke pesanggrahan. Segenap raja, adipati serta para satria semua gembira-ria, karena hal itu merupakan pertanda akan menang perang. Malam itu Korawa tidak tidur. Keesokan harinya lalu berangkat. Druna yang menjadi senapati, gemuruh suara gamelan, berbaur sorak-sorai prajurit, yang laksana suara guntur. Ketika perjalanan pasukan itu sudah sampai di Tegal Kuru, mereka lalu mempersiapkan diri.
Gelar di pihak Pandawa tidak berubah, yakni masih Garudanglayang. Korawa menerapkan gelar Gajahmeta. Suyudana herada di tengkuk bersama Arya Sindureja dan Adipati Awangga. Korawa seratus sebagai gadingnya, jadi setiap sisi lima puluh orang, tidak termasuk kawannya yang menjadi belalai, ialah Prabu Bagadenta, yang mengendarai gajah seraya memanggul gada. Senapati Druna yang menjadi kepala. Ketika maju hendak menyerang, tekadnya ialah, tak ada kata mundur.
{{C|* * *}}
Serbuan pasukan Pandawa maupun pasukan Korawa bagaikan dua buah lautan berpapasan, gemuruh suara gong serta beri, sorak-sorai prajurit bagaikan angin puyuh, berbaur dengan suara halilintar, seperti hendak membelah langit. Pandawa lalu menyerbu barisan senapati Druna. Raden Dananjaya melepaskan panah, meluncur tiada henti-hentinya, jatuh mengenai pasukan Korawa. Raden Wrekodara pun melepaskan panah, dan kemudian ia mengamuk dengan gadanya, sehingga banyak bupati mati karena gadanya. Gelar Gajahmeta rusak, gadingnya gelar tersebut habis, sedangkan di kepala kacau-balau. Prabu Bagadenta yang menjadi belalai gelar meningggalkan senapati, maju memanggul gada. Karna dan Jayadrata tertinggal. Prabu Bagadenta itu luar biasa saktinya,<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude>
he6qfq7fgbej8lprm478yceipubyolk
78288
77626
2026-05-16T09:26:50Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78288
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''4. ANGKAWIJAYA TEWAS DIKEROYOK KORAWA'''}}
Kesepakatan para Korawa, Drunalah yang diangkat menjadi
senapati. Malam itu kota Astina ditimpa hujan lebat, darah mengalir ke pesanggrahan. Segenap raja, adipati serta para satria semua gembira-ria, karena hal itu merupakan pertanda akan menang perang. Malam itu Korawa tidak tidur. Keesokan harinya lalu berangkat. Druna yang menjadi senapati, gemuruh suara gamelan, berbaur sorak-sorai prajurit, yang laksana suara guntur. Ketika perjalanan pasukan itu sudah sampai di Tegal Kuru, mereka lalu mempersiapkan diri.
Gelar di pihak Pandawa tidak berubah, yakni masih Garudanglayang. Korawa menerapkan gelar Gajahmeta. Suyudana herada di tengkuk bersama Arya Sindureja dan Adipati Awangga. Korawa seratus sebagai gadingnya, jadi setiap sisi lima puluh orang, tidak termasuk kawannya yang menjadi belalai, ialah Prabu Bagadenta, yang mengendarai gajah seraya memanggul gada. Senapati Druna yang menjadi kepala. Ketika maju hendak menyerang, tekadnya ialah, tak ada kata mundur.
{{C|* * *}}
Serbuan pasukan Pandawa maupun pasukan Korawa bagaikan dua buah lautan berpapasan, gemuruh suara gong serta beri, sorak-sorai prajurit bagaikan angin puyuh, berbaur dengan suara halilintar, seperti hendak membelah langit. Pandawa lalu menyerbu barisan senapati Druna. Raden Dananjaya melepaskan panah, meluncur tiada henti-hentinya, jatuh mengenai pasukan Korawa. Raden Wrekodara pun melepaskan panah, dan kemudian ia mengamuk dengan gadanya, sehingga banyak bupati mati karena gadanya. Gelar Gajahmeta rusak, gadingnya gelar tersebut habis, sedangkan di kepala kacau-balau. Prabu Bagadenta yang menjadi belalai gelar meningggalkan senapati, maju memanggul gada. Karna dan Jayadrata tertinggal. Prabu Bagadenta itu luar biasa saktinya,<noinclude>{{rh|||33}}</noinclude>
40fcw9sly0szosiglmxc4p01l2zgbw8
Kaca:Bratayuda.pdf/80
250
24780
77625
2026-05-15T18:24:24Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77625
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>gekaken panantunipun Prabu Kresna, amurih wilujenging sadayanipun.
Ibunipun Prabu Suyudana anama Dewi Gendari, angandika dhumateng ingkang putra sarwi amuwun, "Prayoga turuten rehe anak prabu ing Dwarawati, apa kang kokarepake luwih saka ing atut asesanak?"
Prabu Suyudana nolih dhateng Sangkuni saha dhateng Drusasana, ambekuh boten ngandika sakecap. Karna angejepi dhateng Prabu Suyudana kapurih tindaka.
Prabu Suyudana mundur saking pasamuwan. Sangkuni kaliyan Drusasana ingkang andherekaken.
Lajeng andhawahaken amepak dedamel. Korawa satus saprajuritipun sampun mirantos, miwah kapal, rata, gajah, sampun pepak. Ingkang anyenapati Arya Sindureja, punika ingkang minangka andel-andeling pakewed. Ler kidul wetan kilen sampunjejel dening baris. Dewi Gendari angutus Dhestharata matur dha- teng Prabu Suyudana, sampun ngantos kagungan ambek rodaparipaksa, angengetaken saruning pratingkah anggenipun anilar tamu.
Boten dangu Raden Setyaki dhateng saking jawi, nyembah matur dhateng Prabu Kresna, "Gusti, ing jawi jejel dedamel, badhe numpes panjenengan dalem. Pun Suyudana saestu awon manahipun. Korawa kiwa tengen sampun mirantos sadedamelipun, sampun tata panggenanipun piyambak-piyambak. Prajurit ingkang malebet ing kadhaton inggih sampun kathah."
Prabu Kresna sareng miyarsakaken aturipun Setyaki, sakalangkung dukanipun. Tedhak saking pinarakan, tindak dhumateng ing palataran, lajeng tiwikrama. Sariranipun sakedhap dados ageng saredi, sampun kados Bethara Kala kalanipun nepsu. Sariranipun medal latu, karosan isen-isenipun tiyang sajagat tuwin ing Suralaya, punapa malih panguwasanipun para dewa sadaya, ngalempak wonten sariranipun Prabu Kresna. Sampun ical warnining manungsa, asipat denawa, jumangkah anggero sesumbar. Sanalika bumi gonjing, toyaning saganten umob, isen-isenipun<noinclude>{{rh|84}}</noinclude>
kcp0o5sezbln97vsvr9md2l1xf56ks4
78397
77625
2026-05-16T10:28:07Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
78397
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>gekaken panantunipun Prabu Kresna, amurih wilujenging sadayanipun.
Ibunipun Prabu Suyudana anama Dewi Gendari, angandika dhumateng ingkang putra sarwi amuwun, "Prayoga turuten rehe anak prabu ing Dwarawati, apa kang kokarepake luwih saka ing atut asesanak?"
Prabu Suyudana nolih dhateng Sangkuni saha dhateng Drusasana, ambekuh boten ngandika sakecap. Karna angejepi dhateng Prabu Suyudana kapurih tindaka.
Prabu Suyudana mundur saking pasamuwan. Sangkuni kaliyan Drusasana ingkang andherekaken.
Lajeng andhawahaken amepak dedamel. Korawa satus saprajuritipun sampun mirantos, miwah kapal, rata, gajah, sampun pepak. Ingkang anyenapati Arya Sindureja, punika ingkang minangka andel-andeling pakewed. Ler kidul wetan kilen sampunjejel dening baris. Dewi Gendari angutus Dhestharata matur dha- teng Prabu Suyudana, sampun ngantos kagungan ambek rodaparipaksa, angengetaken saruning pratingkah anggenipun anilar tamu.
Boten dangu Raden Setyaki dhateng saking jawi, nyembah matur dhateng Prabu Kresna, "Gusti, ing jawi jejel dedamel, badhe numpes panjenengan dalem. Pun Suyudana saestu awon manahipun. Korawa kiwa tengen sampun mirantos sadedamelipun, sampun tata panggenanipun piyambak-piyambak. Prajurit ingkang malebet ing kadhaton inggih sampun kathah."
Prabu Kresna sareng miyarsakaken aturipun Setyaki, sakalangkung dukanipun. Tedhak saking pinarakan, tindak dhumateng ing palataran, lajeng tiwikrama. Sariranipun sakedhap dados ageng saredi, sampun kados Bethara Kala kalanipun nepsu. Sariranipun medal latu, karosan isen-isenipun tiyang sajagat tuwin ing Suralaya, punapa malih panguwasanipun para dewa sadaya, ngalempak wonten sariranipun Prabu Kresna. Sampun ical warnining manungsa, asipat denawa, jumangkah anggero sesumbar. Sanalika bumi gonjing, toyaning saganten umob, isen-isenipun<noinclude>{{rh|84}}</noinclude>
pa6sufjarw3lcje3qwkqgdkxh2wg1y7
Kaca:Bratayuda.pdf/81
250
24781
77627
2026-05-15T18:29:47Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77627
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>sami susah angambang. Prabu Kresna saestu yen titisipun Bathara Wisnu, kadugi anguntal bumi anggilut redi. Sekathahing dedamel ing ngalam donya katekem wonten ing astanipun.
Korawa satus sami miris aningali, prajurit kethen sami kekes, boten wonten saged wicanten, anggenipun nyepeng dedamel sami anggregeli. Druyudana kaliyan Karna miris, anyipta pejah. Bisma, Druna sami nangis, mendhak-mendhak murugi Prabu Kresna, lajeng sami nyembah. Punapa malih jawata sakawan, sami angrerepa ngasih-asih. Bathara Surya enggal tedhak, ing ngawang-awang kathah dewa katingal, sami anjawahaken sekar. Bathara Surya angrerepa, pangandikanipun dhateng Prabu Kresna, "Heh, Prabu Kresna aja kotutugake nepsumu, yen kowe sumedya numpes Korawa, sabala nagarane amesthi lebur kabeh ora ana sing kari. Ananging jagat tolihen sarta welasana. Kapindhone, elinga punagine si Wrekodara lan si Drupadi. Dene sing dadi punagine si Drupadi, salawase urip ora gelem gelung-gelung, yen ora uwis kramas getihe Korawa satus ana ing paprangan. Yen kobanjurna nepsumu, ora kalakon punagine."
Sakathahing dewa sami nyembah dhateng Prabu Kresna. Sang nata lajeng lilih galihipun, ical ingkang duka, sampun warni manungsa malih, lajeng wangsul dhateng pinarakanipun. Bisma kaliyan Druna punapa dene resi Narada sami ngrerepa, Prabu Kresna tedhak saking kadhaton tanpa pamit. Jawata sakawan sami suka, tumut ing satindakipun. Sareng dumugi ing jawi, dewa sami mantuk dhateng kayanganipun, Prabu Kresna tedhak dhateng panggenanipun Dewi Kunthi. Sareng sampun kapanggih kaliyan Dewi Kunthi, Prabu Kresna dipundangu sarwi amuwun, "Kapriye, anak prabu, mungguh ing lakumu, apa ta oleh gawe, lan kapriye ing kadadeyane?" Prabu Kresna amangsuli, "Pun Suyudana lumuh atut sesanak. Boten lila nagari ing Ngastina dipun tedha sapalih, kedah lumampah karebata ing perang."
Dewi Kunthi mangsuli, pangandikanipun pegat-pegat, "Yen kaya mengkono karepe si Suyudana, apa maneh sing dipikir, mung<noinclude>{{rh|85}}</noinclude>
pirdkv0inqzxf94phrkthpqdaxbis32
78331
77627
2026-05-16T09:40:32Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78331
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>sami susah angambang. Prabu Kresna saestu yen titisipun Bathara Wisnu, kadugi anguntal bumi anggilut redi. Sekathahing dedamel ing ngalam donya katekem wonten ing astanipun.
Korawa satus sami miris aningali, prajurit kethen sami kekes, boten wonten saged wicanten, anggenipun nyepeng dedamel sami anggregeli. Druyudana kaliyan Karna miris, anyipta pejah. Bisma, Druna sami nangis, mendhak-mendhak murugi Prabu Kresna, lajeng sami nyembah. Punapa malih jawata sakawan, sami angrerepa ngasih-asih. Bathara Surya enggal tedhak, ing ngawang-awang kathah dewa katingal, sami anjawahaken sekar. Bathara Surya angrerepa, pangandikanipun dhateng Prabu Kresna, "Heh, Prabu Kresna aja kotutugake nepsumu, yen kowe sumedya numpes Korawa, sabala nagarane amesthi lebur kabeh ora ana sing kari. Ananging jagat tolihen sarta welasana. Kapindhone, elinga punagine si Wrekodara lan si Drupadi. Dene sing dadi punagine si Drupadi, salawase urip ora gelem gelung-gelung, yen ora uwis kramas getihe Korawa satus ana ing paprangan. Yen kobanjurna nepsumu, ora kalakon punagine."
Sakathahing dewa sami nyembah dhateng Prabu Kresna. Sang nata lajeng lilih galihipun, ical ingkang duka, sampun warni manungsa malih, lajeng wangsul dhateng pinarakanipun. Bisma kaliyan Druna punapa dene resi Narada sami ngrerepa, Prabu Kresna tedhak saking kadhaton tanpa pamit. Jawata sakawan sami suka, tumut ing satindakipun. Sareng dumugi ing jawi, dewa sami mantuk dhateng kayanganipun, Prabu Kresna tedhak dhateng panggenanipun Dewi Kunthi. Sareng sampun kapanggih kaliyan Dewi Kunthi, Prabu Kresna dipundangu sarwi amuwun, "Kapriye, anak prabu, mungguh ing lakumu, apa ta oleh gawe, lan kapriye ing kadadeyane?" Prabu Kresna amangsuli, "Pun Suyudana lumuh atut sesanak. Boten lila nagari ing Ngastina dipun tedha sapalih, kedah lumampah karebata ing perang."
Dewi Kunthi mangsuli, pangandikanipun pegat-pegat, "Yen kaya mengkono karepe si Suyudana, apa maneh sing dipikir, mung<noinclude>{{rh|85}}</noinclude>
0xskrylrdnc2meomc91wlk33jpvsr2m
Kaca:Bratayuda.pdf/82
250
24782
77633
2026-05-15T18:33:36Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77633
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>adhimu si Yudhisthira bae warahana, aja aninggal kautaman, murungake karepe angrebut nagara kang dadi wajibe. Wong mati ing paprangan amarga nggone angrebut nagarane, amesthi oleh swarga. Poma wekasku, anak prabu, purihen sidane amangun perang."
Prabu Kresna matur sandika, nyembah pamit lajeng nitih rata kaliyan Adipati Ngawangga. Widura sarta Sanjaya, punapa dene Yuyutsuh, sami andherekaken. Sadangunipun lumampah, Prabu Kresna angrembagi dhateng Adipati Ngawangga, yen saestu dados perang, kapurih angilonana Pandhawa. Nanging Adipati Ngawangga boten purun, kedah angiloni Korawa, awit kala rumiyin sampun apunagi, badhe angaben kaliyan Dananjaya.
Sareng lampahing rata sampun dumugi sajawining kitha, Adipati Ngawangga pamit, tedhak saking rata. Lajeng amanggihi ingkang ibu, Dewi Kunthi. Ingkang ibu andangu sarwi ambrebes mili, "Sakondure kakangamu, anak Prabu Kresna, amekas apa menyang kowe?"
Adipati Ngawangga matur, "Kula dipun purih kesaha saking nagari ngriki. Manawi saestu dados perang, kula dipun rembagi angilonana Pandhawa.
"Dewi Kunthi amangsuli, "Rembug mengkono iku luwih dening becik, prayoga koturut, dadi kowe kumpul karo sadulur-sadulurmu. Awit panggonan utamaning pati iku ing perang Bratayuda. Mati urip becik kowe nunggal sadulurmu dhewe."
Dewi Kunthi anggenipun ngatag ingkang putra sarwi muwun. Adipati Ngawangga matur, "Ibu, yen satriya linuwih amesthi ngekahi wicantenipun ingkang sampun kawedal. Anemahana sakit utawi pejah, amesthi mboten purun ngingkedi. Punagi kula sampun kawedal, badhe angaben kadigdayan kaliyan pun Janaka. Aliya saking punika, kula sampun kalindhihan sihipun Prabu Druyudana. Yen kula kiranga panarima, dados cacad ageng, kalebet satriya urakan, mboten kenging dados palupinipun para satriya utawi para adipati."
Dewi Kunthi sanget anggenipun amuwun, awit ingkang putra<noinclude>{{rh|86}}</noinclude>
8n88ajspthc5lsq9q76647uudzxy6ok
78332
77633
2026-05-16T09:40:39Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78332
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>adhimu si Yudhisthira bae warahana, aja aninggal kautaman, murungake karepe angrebut nagara kang dadi wajibe. Wong mati ing paprangan amarga nggone angrebut nagarane, amesthi oleh swarga. Poma wekasku, anak prabu, purihen sidane amangun perang."
Prabu Kresna matur sandika, nyembah pamit lajeng nitih rata kaliyan Adipati Ngawangga. Widura sarta Sanjaya, punapa dene Yuyutsuh, sami andherekaken. Sadangunipun lumampah, Prabu Kresna angrembagi dhateng Adipati Ngawangga, yen saestu dados perang, kapurih angilonana Pandhawa. Nanging Adipati Ngawangga boten purun, kedah angiloni Korawa, awit kala rumiyin sampun apunagi, badhe angaben kaliyan Dananjaya.
Sareng lampahing rata sampun dumugi sajawining kitha, Adipati Ngawangga pamit, tedhak saking rata. Lajeng amanggihi ingkang ibu, Dewi Kunthi. Ingkang ibu andangu sarwi ambrebes mili, "Sakondure kakangamu, anak Prabu Kresna, amekas apa menyang kowe?"
Adipati Ngawangga matur, "Kula dipun purih kesaha saking nagari ngriki. Manawi saestu dados perang, kula dipun rembagi angilonana Pandhawa.
"Dewi Kunthi amangsuli, "Rembug mengkono iku luwih dening becik, prayoga koturut, dadi kowe kumpul karo sadulur-sadulurmu. Awit panggonan utamaning pati iku ing perang Bratayuda. Mati urip becik kowe nunggal sadulurmu dhewe."
Dewi Kunthi anggenipun ngatag ingkang putra sarwi muwun. Adipati Ngawangga matur, "Ibu, yen satriya linuwih amesthi ngekahi wicantenipun ingkang sampun kawedal. Anemahana sakit utawi pejah, amesthi mboten purun ngingkedi. Punagi kula sampun kawedal, badhe angaben kadigdayan kaliyan pun Janaka. Aliya saking punika, kula sampun kalindhihan sihipun Prabu Druyudana. Yen kula kiranga panarima, dados cacad ageng, kalebet satriya urakan, mboten kenging dados palupinipun para satriya utawi para adipati."
Dewi Kunthi sanget anggenipun amuwun, awit ingkang putra<noinclude>{{rh|86}}</noinclude>
rtac6xdkpw2342afzddvohsqr2maj56
Kaca:Bratayuda.pdf/83
250
24783
77634
2026-05-15T18:34:04Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "mboten nurut wuiangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, Iajeng kondur. 2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETASASEDHEREK TIWAS Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten baianipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wir...
77634
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>mboten nurut wuiangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, Iajeng kondur.
2.
PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA
BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETASASEDHEREK TIWAS
Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken
waspa. Anunten baianipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun
Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para
ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina.
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Koniwa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaiuk
saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing Iakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Oiehe padha nemoni
aku ana ing Tegai Kuru. lku padha sumurup wiwitan Ian wekasaning rem bug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. · Tekan
ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna Ian Saiya, padha
amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehe rembug
becik ora didhahar, malah sumeja angaiani marang aku."
Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Aijuna tuwin
Nakuia, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening
Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari
ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang
sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra
ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempaia, sami ambek
purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami keiu sadaya.
Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu
87<noinclude></noinclude>
0jifxhyfnyf5juiqqtbj1e8owpowjim
77647
77634
2026-05-15T18:39:32Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77647
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>mboten nurut wulangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, lajeng kondur.
{{C|'''2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETA SASEDHEREK TIWAS}}'''
Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten balanipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina.
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Korawa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaluk saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing lakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Olehe padha nemoni aku ana ing Tegal Kuru. Iku padha sumurup wiwitan lan wekasaning rembug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. Tekan ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna lan Salya, padha. amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehè rembug becik ora didhahar, malah sumeja angalani marang aku."
Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Arjuna tuwin Nakula, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempala, sami ambek purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami kelu sadaya.
Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu<noinclude>{{{rh|||87}}</noinclude>
0i8sdti4udrf93t5941er20m2wvdd5c
77649
77647
2026-05-15T18:39:55Z
Khusna Safira
1759
77649
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>mboten nurut wulangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, lajeng kondur.
{{C|'''2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETA SASEDHEREK TIWAS}}'''
Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten balanipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina.
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Korawa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaluk saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing lakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Olehe padha nemoni aku ana ing Tegal Kuru. Iku padha sumurup wiwitan lan wekasaning rembug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. Tekan ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna lan Salya, padha. amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehè rembug becik ora didhahar, malah sumeja angalani marang aku."
Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Arjuna tuwin Nakula, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempala, sami ambek purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami kelu sadaya.
Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude>
33wo3gbw81q8wo8a4y9gwjp218xspkv
78333
77649
2026-05-16T09:40:47Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78333
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>mboten nurut wulangipun, kekah ing karsa badhe angiloni Korawa. Adipati Ngawangga nyembah, pamit, lajeng kondur.
{{C|'''2. PANDHAWA SARTA KORAWA KANTHI WADYABALA BIDHAL DHATENG TEGAL KURU. PERANG BRATAYUDA WIWIT. SETA SASEDHEREK TIWAS}}'''
Lampahipun Prabu Kresna akaliyan Setyaki ngajengaken dumugi ing nagari Wiratha. Samargi-margi sang nata angrentahaken waspa. Anunten balanipun Pandhawa sami amethuk rawuhipun Prabu Kresna. Sareng sampun dumugi ing kadhaton Wiratha, para ratu sami ambagekaken sadaya, sarta anungsung pawartos, menggah ing tindakipun dhateng nagari ing Ngastina.
Prabu Kresna amangsuli pangandika, "Korawa ora kena dipurih becik. Kudu angajak perang. Ora aweh nagara Ngastina dijaluk saparo. Ana dewa papat ambiyantoni ing lakuku, aran Kanwa, karo Narada, telu Janaka, papat Rama Parasu. Olehe padha nemoni aku ana ing Tegal Kuru. Iku padha sumurup wiwitan lan wekasaning rembug, sarta padha angrujuki pirukunku kang patut. Tekan ibune si Druyudana, apa dene si Bisma, Druna lan Salya, padha. amrayogakake pasrahe saparoning nagara, nanging sakehè rembug becik ora didhahar, malah sumeja angalani marang aku."
Sakendelipun Prabu Kresna, para ratu sami ngungun amiyarsakaken pawartos. Prabu Darmaputra, Wrekodara, Arjuna tuwin Nakula, punapa dene Sadewa, inggih makaten ugi. Wondening Prabu Darmaputra sasedherekipun kekah ing karsa, badhe angestokaken wewelingipun ingkang ibu Dewi Kunthi, angrebat nagari ingkang amargi saking perang. Para ratu tuwin para bupati ingkang sami ngrojongi Pandhawa, amrayogekaken dadosing perang. Putra ing Wiratha ingkang nama Raden Wirasangka kaliyan Raden Utara, punapa malih Raden Drusthajumena ing Cempala, sami ambek purun, amemurun ngajak perang. Para bupati utawi para punggawa sami kelu sadaya.
Enjingipun tengara mungel, kendhang gong asauran, para ratu<noinclude>{{rh|||87}}</noinclude>
4fh9u2ihnoj3nl0fkwndt6oz9pbylel
Kaca:Bratayuda.pdf/84
250
24784
77657
2026-05-15T18:43:08Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77657
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>gumerah sami anata baris. Sareng sampun sami rakit sadaya, lajeng bidhal saking nagari ing Wiratha. Kathahing bala tanpa wicalan. Panganggenipun gumebyar, kados cahyanipun srengenge saweg malethek, badhe amadhangi jagat. Saking kathahing prajurit, kados saganten ambalabari wana sarta redi-redi. Sakathahing margi jejel dening prajurit. Ingkang panganggenipun abrit agolong sami abrit, ingkang jene sami jene, ijem sami ijem, cemeng sami cemeng, biru sami biru, wungu sami wungu, pethak sami pethak, mboten wonten ingkang kaselanan sanesipun. Swaraning bala kados galudhug. Gebyaring rerengganing lelayu, kados urubing redi sewu sareng kabesmi.
Sang Hyang Endra anjawahaken wewangi. Sakathahing dewa ing Kaendran sami angestreni ingkang sami anglurug. Pandhawa unggula ing perangipun angsala nagari ing Ngastina.
Ingkang anindhihi cucuking baris Raden Wrekodara. Lampahipun dharat kemawon sarta amandhi gada. Awit salaminipun gesang mboten karsa nitih kapal, rata utawi gajah. Sanajan tindaka medal saganten, ngambah jurang, redi utawi lepen, inggih dharat kemawon. Samargi-margi tansah asesumbar kemawon. Lampahing barisipun kados angebahna bumi. Isen-isening wana ingkang kambah sami mawur.
Satelasing barisipun Raden Wrekodara, kasambetan ing barisipun Raden Dananjaya, anitih rata karengga ing sesotya, murub kados redi kabesmi. Panganggening prajuritipun pating galebyar, kados anggesengna nagari ing Ngastina saratunipun. Genderanipun kumelab, aciri kethek mangap. Sakedhap ing ngawang-awang peteng dening mendhung, galudhug gumleger, kilat amradini ing ngawang-awang, kados andalajati manawi badhe unggul ing perang.
Raden Nakula akaliyan Raden Sadewa anyambeti barisipun Raden Dananjaya, sami anitih rata karengga ing sesotya wungu. Kados Bathara Kamajaya kembar, badhe tedhak dhateng kadhaton ing Ngastina, aningali Korawa kados àningali kenya.
Ing wingking kasambetan barisipun putra ing Wiratha {{hws|te|tetiga}}<noinclude>{{rh|88}</noinclude>
k04m048s8adt3emccm8rf63bohr8437
77659
77657
2026-05-15T18:43:22Z
Khusna Safira
1759
77659
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>gumerah sami anata baris. Sareng sampun sami rakit sadaya, lajeng bidhal saking nagari ing Wiratha. Kathahing bala tanpa wicalan. Panganggenipun gumebyar, kados cahyanipun srengenge saweg malethek, badhe amadhangi jagat. Saking kathahing prajurit, kados saganten ambalabari wana sarta redi-redi. Sakathahing margi jejel dening prajurit. Ingkang panganggenipun abrit agolong sami abrit, ingkang jene sami jene, ijem sami ijem, cemeng sami cemeng, biru sami biru, wungu sami wungu, pethak sami pethak, mboten wonten ingkang kaselanan sanesipun. Swaraning bala kados galudhug. Gebyaring rerengganing lelayu, kados urubing redi sewu sareng kabesmi.
Sang Hyang Endra anjawahaken wewangi. Sakathahing dewa ing Kaendran sami angestreni ingkang sami anglurug. Pandhawa unggula ing perangipun angsala nagari ing Ngastina.
Ingkang anindhihi cucuking baris Raden Wrekodara. Lampahipun dharat kemawon sarta amandhi gada. Awit salaminipun gesang mboten karsa nitih kapal, rata utawi gajah. Sanajan tindaka medal saganten, ngambah jurang, redi utawi lepen, inggih dharat kemawon. Samargi-margi tansah asesumbar kemawon. Lampahing barisipun kados angebahna bumi. Isen-isening wana ingkang kambah sami mawur.
Satelasing barisipun Raden Wrekodara, kasambetan ing barisipun Raden Dananjaya, anitih rata karengga ing sesotya, murub kados redi kabesmi. Panganggening prajuritipun pating galebyar, kados anggesengna nagari ing Ngastina saratunipun. Genderanipun kumelab, aciri kethek mangap. Sakedhap ing ngawang-awang peteng dening mendhung, galudhug gumleger, kilat amradini ing ngawang-awang, kados andalajati manawi badhe unggul ing perang.
Raden Nakula akaliyan Raden Sadewa anyambeti barisipun Raden Dananjaya, sami anitih rata karengga ing sesotya wungu. Kados Bathara Kamajaya kembar, badhe tedhak dhateng kadhaton ing Ngastina, aningali Korawa kados àningali kenya.
Ing wingking kasambetan barisipun putra ing Wiratha {{hws|te|tetiga}}<noinclude>{{rh|88}}</noinclude>
9z6ujap7u8bhvqiq6atqipt315nn66p
78334
77659
2026-05-16T09:40:54Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78334
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>gumerah sami anata baris. Sareng sampun sami rakit sadaya, lajeng bidhal saking nagari ing Wiratha. Kathahing bala tanpa wicalan. Panganggenipun gumebyar, kados cahyanipun srengenge saweg malethek, badhe amadhangi jagat. Saking kathahing prajurit, kados saganten ambalabari wana sarta redi-redi. Sakathahing margi jejel dening prajurit. Ingkang panganggenipun abrit agolong sami abrit, ingkang jene sami jene, ijem sami ijem, cemeng sami cemeng, biru sami biru, wungu sami wungu, pethak sami pethak, mboten wonten ingkang kaselanan sanesipun. Swaraning bala kados galudhug. Gebyaring rerengganing lelayu, kados urubing redi sewu sareng kabesmi.
Sang Hyang Endra anjawahaken wewangi. Sakathahing dewa ing Kaendran sami angestreni ingkang sami anglurug. Pandhawa unggula ing perangipun angsala nagari ing Ngastina.
Ingkang anindhihi cucuking baris Raden Wrekodara. Lampahipun dharat kemawon sarta amandhi gada. Awit salaminipun gesang mboten karsa nitih kapal, rata utawi gajah. Sanajan tindaka medal saganten, ngambah jurang, redi utawi lepen, inggih dharat kemawon. Samargi-margi tansah asesumbar kemawon. Lampahing barisipun kados angebahna bumi. Isen-isening wana ingkang kambah sami mawur.
Satelasing barisipun Raden Wrekodara, kasambetan ing barisipun Raden Dananjaya, anitih rata karengga ing sesotya, murub kados redi kabesmi. Panganggening prajuritipun pating galebyar, kados anggesengna nagari ing Ngastina saratunipun. Genderanipun kumelab, aciri kethek mangap. Sakedhap ing ngawang-awang peteng dening mendhung, galudhug gumleger, kilat amradini ing ngawang-awang, kados andalajati manawi badhe unggul ing perang.
Raden Nakula akaliyan Raden Sadewa anyambeti barisipun Raden Dananjaya, sami anitih rata karengga ing sesotya wungu. Kados Bathara Kamajaya kembar, badhe tedhak dhateng kadhaton ing Ngastina, aningali Korawa kados àningali kenya.
Ing wingking kasambetan barisipun putra ing Wiratha {{hws|te|tetiga}}<noinclude>{{rh|88}}</noinclude>
rk9laiw4xm8u73z8etsrue0xwp4otc3
Kaca:Bratayuda.pdf/85
250
24785
77660
2026-05-15T18:47:22Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77660
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|tiga|tetiga}}. Ing wingking kasambet barisipun Raden Drusthajumena, putra ing Cempala. Anunten kasundhulan ing barisi un ingkang rama Prabu Drupada. Sang nata anitih gajah, dipun g:.rebeg ing para mantri sarta para punggawa. Barisipun tanpa wicaian. Ing wingkingipun, Dewi Drupadi, anitih rata, asongsong mas sarwi angure rema. Kanginan kados angawe-awe, angenggalaken banjir. Esthanipun kados Sang Dewi karsa jamas rahing Korawa tumunten, sasampuning jamas lajeng karsa ukel. Sawingkingipun Dewi Drupadi, Dewi Srikandhi ingkang anyambeti. Anitih rata karengga ing sesotya. Anunten Prabu Darmaputra anitih gajah, asongsong jene, dipun garebeg ing abdi kathah, sarwi amangku serat kalimasada. Saestu yen ratu utama. Semunipun saged amungkasi perang. Wondening serat ingkang dipun pangku wau, minangka pangleburaning mengsah. Sawingkingipun Prabu Darmaputra, kasambetan ing barisipun Prabu Kresna, genderanipun sami pethak, aciri puthut semadi. Sang nata anitih rata karengga ing sesotya, asongsong pethak karengga ing manik, kumilat angenguwung. Esthanipun amengeti, "Heh, delengen, iya iki pamugarining perang."
Tindakipun Prabu Kresna kados andherekaken panganten. Ingkang minangka pangantenipun kakung Prabu Darmaputra, ingkang minangka putri utawi panganten estri nagari ing Ngastina, sabibaring damel, nagari katampen dhateng Prabu Darmaputra. Wondening para ratu sesuruhan, ingkang sami rumojong ing perang, upaminipun ingkang sami nyumbang dhateng Prabu Kresna, ingkang kagungan damel. Inggih namung punika ingkang dipun pundhi-pundhi sarta dipun estokaken pitedahipun. Sinten-sintena ingkang anut pitedahipun Prabu Kresna, anglampahi pejah wonten ing perang Bratayuda, amesthi manggih swarga, lepat sakathahing siksa wonten ing jaman kailangan. Mila para ratu sengkut anglampahi pitedahipun Prabu Kresna, suka lila amanggih pejah, awit swarga kaliyan naraka sampun prasasat kaasta dhateng Prabu Kresna.
Raden Wresniwira ingkang nyambeti baris ing Dwarawati, saha minangka tetindhihipun para adipati. Prajuritipun tanpa wicalan angebeki margi, swaraning bala kados angebahna bumi, {{hws|ango|angocakna}}<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude>
fa9roesnmkt2okpnmzapwrnpb0z8tro
78335
77660
2026-05-16T09:41:02Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78335
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|tiga|tetiga}}. Ing wingking kasambet barisipun Raden Drusthajumena, putra ing Cempala. Anunten kasundhulan ing barisi un ingkang rama Prabu Drupada. Sang nata anitih gajah, dipun g:.rebeg ing para mantri sarta para punggawa. Barisipun tanpa wicaian. Ing wingkingipun, Dewi Drupadi, anitih rata, asongsong mas sarwi angure rema. Kanginan kados angawe-awe, angenggalaken banjir. Esthanipun kados Sang Dewi karsa jamas rahing Korawa tumunten, sasampuning jamas lajeng karsa ukel. Sawingkingipun Dewi Drupadi, Dewi Srikandhi ingkang anyambeti. Anitih rata karengga ing sesotya. Anunten Prabu Darmaputra anitih gajah, asongsong jene, dipun garebeg ing abdi kathah, sarwi amangku serat kalimasada. Saestu yen ratu utama. Semunipun saged amungkasi perang. Wondening serat ingkang dipun pangku wau, minangka pangleburaning mengsah. Sawingkingipun Prabu Darmaputra, kasambetan ing barisipun Prabu Kresna, genderanipun sami pethak, aciri puthut semadi. Sang nata anitih rata karengga ing sesotya, asongsong pethak karengga ing manik, kumilat angenguwung. Esthanipun amengeti, "Heh, delengen, iya iki pamugarining perang."
Tindakipun Prabu Kresna kados andherekaken panganten. Ingkang minangka pangantenipun kakung Prabu Darmaputra, ingkang minangka putri utawi panganten estri nagari ing Ngastina, sabibaring damel, nagari katampen dhateng Prabu Darmaputra. Wondening para ratu sesuruhan, ingkang sami rumojong ing perang, upaminipun ingkang sami nyumbang dhateng Prabu Kresna, ingkang kagungan damel. Inggih namung punika ingkang dipun pundhi-pundhi sarta dipun estokaken pitedahipun. Sinten-sintena ingkang anut pitedahipun Prabu Kresna, anglampahi pejah wonten ing perang Bratayuda, amesthi manggih swarga, lepat sakathahing siksa wonten ing jaman kailangan. Mila para ratu sengkut anglampahi pitedahipun Prabu Kresna, suka lila amanggih pejah, awit swarga kaliyan naraka sampun prasasat kaasta dhateng Prabu Kresna.
Raden Wresniwira ingkang nyambeti baris ing Dwarawati, saha minangka tetindhihipun para adipati. Prajuritipun tanpa wicalan angebeki margi, swaraning bala kados angebahna bumi, {{hws|ango|angocakna}}<noinclude>{{rh|||89}}</noinclude>
fee9jaxje160xt4852y56566e7hdsxb
Kaca:Bratayuda.pdf/86
250
24786
77666
2026-05-15T18:50:21Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77666
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|cakna|angocakna}} saganten. Ingkang anyambeti barisipun Raden Wresniwira, putranipun Raden Dananjaya, ingkang nama Abimanyu, anitih rata mas, asongsong laring merak, sarwi amangku cakra. Panganggening prajuritipun kados sekar anggulasah. Ing wingking ingkang nyambeti Raden Pancawala, putranipun Prabu Darmaputra. Anitih rata karengga ing sesotya, dipun gombyongi ing lar merak. Songsongipun anglaring kombang. Panganggening prajuritipun murub. Genderanipun sami ijem sadaya.
mBoten telas-telas bilih kacariyosna sadaya langening baris ingkang lelampah. Ing mangke kacugag kemawon. Baris ing ngajeng sampun dumugi ing Tegal Kuru. Tiningalan kados toya ambelabar. Para ratu, para dipati andaledeg dhatengipun, mboten pedhot-pedhot. Lajeng sami adamel pasanggrahan ing sapangkatipun piyambak-piyambak.
Anunten Dewi Kunthi dipun utusi rawuh ing Tegal Kuru. Kadherekaken ing Yamawidura. Sareng kapanggih kaliyan Pandhawa, lajeng sami muwun. Sakendelipun muwun, sami suka-suka. Tangeh yen kacariyosna sadaya anggenipun sami suka-suka. Yamawidura ingkang andherekaken Dewi Kunthi, wangsul dhateng ing Ngastina malih.
Dewi Kunthi kantun wonten ing Tegal Kuru. Pasanggrahanipun Pandhawa sampun kados kadhaton. Pasanggrahanipun Prabu Kresna inggih dipun rakit kados kadhaton. Yudhisthira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, sami wonten ing pasanggrahanipun Prabu Kresna. Para ratu sesuruhan inggih sami pepak wonten ing ngriku, sami arembagan sarta anyuwun dhawah dhateng Prabu Kresna.
Yudhisthira matur ing Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula sumangga ing sampeyan, sinten ingkang sampeyan karsakaken dados pangajenging perang."
Wrekodara saha Dananjaya inggih makaten ugi aturipun dhateng Prabu Kresna. Wangsulanipun sang nata. "Yayi Prabu ing Ngamarta, ingkang kula pilih dados pangiriding perang pun Seta."
Sadaya sami angguyubi. Anunten Raden Wresniwira dipun<noinclude>{{rh|90}}</noinclude>
2aqk57qvboyb7h3nm1v71t051qynlkq
78336
77666
2026-05-16T09:41:10Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78336
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|cakna|angocakna}} saganten. Ingkang anyambeti barisipun Raden Wresniwira, putranipun Raden Dananjaya, ingkang nama Abimanyu, anitih rata mas, asongsong laring merak, sarwi amangku cakra. Panganggening prajuritipun kados sekar anggulasah. Ing wingking ingkang nyambeti Raden Pancawala, putranipun Prabu Darmaputra. Anitih rata karengga ing sesotya, dipun gombyongi ing lar merak. Songsongipun anglaring kombang. Panganggening prajuritipun murub. Genderanipun sami ijem sadaya.
mBoten telas-telas bilih kacariyosna sadaya langening baris ingkang lelampah. Ing mangke kacugag kemawon. Baris ing ngajeng sampun dumugi ing Tegal Kuru. Tiningalan kados toya ambelabar. Para ratu, para dipati andaledeg dhatengipun, mboten pedhot-pedhot. Lajeng sami adamel pasanggrahan ing sapangkatipun piyambak-piyambak.
Anunten Dewi Kunthi dipun utusi rawuh ing Tegal Kuru. Kadherekaken ing Yamawidura. Sareng kapanggih kaliyan Pandhawa, lajeng sami muwun. Sakendelipun muwun, sami suka-suka. Tangeh yen kacariyosna sadaya anggenipun sami suka-suka. Yamawidura ingkang andherekaken Dewi Kunthi, wangsul dhateng ing Ngastina malih.
Dewi Kunthi kantun wonten ing Tegal Kuru. Pasanggrahanipun Pandhawa sampun kados kadhaton. Pasanggrahanipun Prabu Kresna inggih dipun rakit kados kadhaton. Yudhisthira, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, sami wonten ing pasanggrahanipun Prabu Kresna. Para ratu sesuruhan inggih sami pepak wonten ing ngriku, sami arembagan sarta anyuwun dhawah dhateng Prabu Kresna.
Yudhisthira matur ing Prabu Kresna, "Kakang Prabu, kula sumangga ing sampeyan, sinten ingkang sampeyan karsakaken dados pangajenging perang."
Wrekodara saha Dananjaya inggih makaten ugi aturipun dhateng Prabu Kresna. Wangsulanipun sang nata. "Yayi Prabu ing Ngamarta, ingkang kula pilih dados pangiriding perang pun Seta."
Sadaya sami angguyubi. Anunten Raden Wresniwira dipun<noinclude>{{rh|90}}</noinclude>
3yvixkhpdpvk1f9m90rm5oqc6iptq7o
Kaca:Bratayuda.pdf/87
250
24787
77670
2026-05-15T18:52:52Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77670
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>serepaken dhateng Prabu Kresna, menggah gelaripun bilih amedali perang.
Prabu Suyudana sareng midhanget wartos yen mengsah sampun masanggrahan wonten ing Tegal Kuru, lajeng andhawahaken parentah amepak balanipun. Anunten Yamawidura munjuk dhateng sang nata, yen para ratu ingkang ambiyantoni Pandhawa sampun sami ngalempak wonten ing Tegal Kuru. mBoten antawis lami bala ing Ngastina sampun mirantos. Bidhal saking kitha. Balanipun para ratu saha para dipati tanpa wicalan. Lampahipun kados umobing toya saganten, ambaleber dhateng dharat. Wondening para ratu ingkang angrojongi Prabu Suyudana inggih kathah, anunten sami ngadegaken pasanggrahan piyambak-piyambak, sami dipun rakit kados kadhaton. Bisma ingkang kapilih dados senapatining prang.
mBoten kacariyos lamine anggenipun anata bala. Pandhawa saha Korawa sareng sampun rakit sadaya, enjing sami nabuh tengara, kendhang, gong akaliyan beri, bodhol saking pasanggrahan. Surakipun gumerah kados ambedhahna langit. Swaraning gong utawi tetabuhan sanesipun ngantos mboten kamirengan. Barisipun Pandhawa andhendheng wonten kilen majeng mangetan.
Barisipun Korawa andhendheng majeng mangilen. Ingkang kidul anotog redi, ingkang ler anotog saganten. Kandeling baris sapaningal, ewadenten ingkang dhateng taksih angili.
Gelaripun senapati Bisma Wukirjaladri, ingkang minangka karang sakathahing rata sarta gajah, ingkang minangka alun para ratu, sakathahing bala alit-alit ingkang minangka toya.
Gelaripun senapati Arya Seta anama Brajatiksnalungid. Ingkang wonten ing ngajeng Raden Wrekodara, Raden Dananjaya sarta Dewi Srikandhi, sami sabalanipun. Drusthajumena saha Setyaki sabalanipun sami wonten ing sakiwanipun, nanging ragi kawingking caket kaliyan panggenanipun senapati Arya Seta. Prabu Darmaputra kaliyan Prabu Dwarawati sami wonten ing tengah, nunggil para ratu saha para dipati.<noinclude>{{rh|||91}}</noinclude>
qil9fz732344oqlav9ve2t4cctbi45z
78337
77670
2026-05-16T09:41:20Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78337
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>serepaken dhateng Prabu Kresna, menggah gelaripun bilih amedali perang.
Prabu Suyudana sareng midhanget wartos yen mengsah sampun masanggrahan wonten ing Tegal Kuru, lajeng andhawahaken parentah amepak balanipun. Anunten Yamawidura munjuk dhateng sang nata, yen para ratu ingkang ambiyantoni Pandhawa sampun sami ngalempak wonten ing Tegal Kuru. mBoten antawis lami bala ing Ngastina sampun mirantos. Bidhal saking kitha. Balanipun para ratu saha para dipati tanpa wicalan. Lampahipun kados umobing toya saganten, ambaleber dhateng dharat. Wondening para ratu ingkang angrojongi Prabu Suyudana inggih kathah, anunten sami ngadegaken pasanggrahan piyambak-piyambak, sami dipun rakit kados kadhaton. Bisma ingkang kapilih dados senapatining prang.
mBoten kacariyos lamine anggenipun anata bala. Pandhawa saha Korawa sareng sampun rakit sadaya, enjing sami nabuh tengara, kendhang, gong akaliyan beri, bodhol saking pasanggrahan. Surakipun gumerah kados ambedhahna langit. Swaraning gong utawi tetabuhan sanesipun ngantos mboten kamirengan. Barisipun Pandhawa andhendheng wonten kilen majeng mangetan.
Barisipun Korawa andhendheng majeng mangilen. Ingkang kidul anotog redi, ingkang ler anotog saganten. Kandeling baris sapaningal, ewadenten ingkang dhateng taksih angili.
Gelaripun senapati Bisma Wukirjaladri, ingkang minangka karang sakathahing rata sarta gajah, ingkang minangka alun para ratu, sakathahing bala alit-alit ingkang minangka toya.
Gelaripun senapati Arya Seta anama Brajatiksnalungid. Ingkang wonten ing ngajeng Raden Wrekodara, Raden Dananjaya sarta Dewi Srikandhi, sami sabalanipun. Drusthajumena saha Setyaki sabalanipun sami wonten ing sakiwanipun, nanging ragi kawingking caket kaliyan panggenanipun senapati Arya Seta. Prabu Darmaputra kaliyan Prabu Dwarawati sami wonten ing tengah, nunggil para ratu saha para dipati.<noinclude>{{rh|||91}}</noinclude>
mv2qrit20eujmielhwfitryi65xdk9d
Kaca:Bratayuda.pdf/88
250
24788
77681
2026-05-15T18:58:08Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77681
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Raden Dananjaya ngeres manahipun aningali dene mengsah
sami kadang tuwin gurunipun. Lajeng matur dhateng Prabu Kresna, "Sang Prabu, manawi kenging mugi panjenengan sandekaken perang Bratayuda, kawula mboten tahan aningali dene mengsah sami kadang saha guru."
Sang nata amangsuli pangandika, "Karsaning dewa ora kena wurung peran Bratayuda. Kapindhone, yen satriya mati ing perang, anemu pati utama lan munggah swarga. Lan maninge, kakangira Yayi Irabu Yudhisthira kudu angluwari punagine. Apa ta sira ora sume lya anglabuhi kadang tuwa? Mungguh sing bakal mapagake perange gurunira wis ana, ora susah sira ngawaki dhewe, mangsa kuranga mungsuhira. Dene yen sira amrangguli gurunira
ana ing paprangan, ora kena sira oncati, kudu lumaku tinadhahan. Mung sira nyembaha bae dhisik!"
Sareng Prabu Kresna sampun anyerepaken dhateng Raden Danai jaya, bil h perang Bratayuda mboten kenging kasandekaken, lajens, sami wiwit perang. Suraking bala gumerah, ungeling tetabuhan amor kaliyan garedeging gajah, kepyaking rata, karapyaking kapal, kados redi jugrug, swaranipun angebeki bumi. Pangamuking bala riwut, sampun kathah ingkang pejah. Para ratu, satriya sarta para adipati inggih sampun kathah ingkang pejah. Rata ingkang sampun remul sadasa, gajah ingkang sampun pejah sadasa, asareng kaliyan r. tu ingkang nitihi. Ramening perang, kesreking dedamel kados medala gelap. Gumerah sambatipun ingkang sami tatu. Pesating emparing kados jawah. Prajurit kekapalan ingkang sampun pejah itusan. Para gegedhug nitih rata ingkang pejah sewu. Wondening kathahing prajurit ingkang numpak gajah saleksa, ingkang numpak rata saleksa, ingkang numpak kapal sayuta, ingkang dhara kawan yuta. Panempuhipun prajurit anggonjingaken bumi.
Anggenipun perang sampun satengah dinten. Ingkang sampun pejah satriya kekalih, sami putra ing Wiratha, satunggil nama Raden Wirasangka. pejah dening Druna, kalih Raden Utara, pejah dening Prabu Salya. Andel-andeling Korawa kathah ingkang pejah.
Raden Setu nepsu sanget, awit saking pejahipun ingkang rayi<noinclude>{{rh|92}}</noinclude>
4q5giza7g5fb1hhn4i7l7eunutas6dv
78338
77681
2026-05-16T09:41:28Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78338
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Dananjaya ngeres manahipun aningali dene mengsah
sami kadang tuwin gurunipun. Lajeng matur dhateng Prabu Kresna, "Sang Prabu, manawi kenging mugi panjenengan sandekaken perang Bratayuda, kawula mboten tahan aningali dene mengsah sami kadang saha guru."
Sang nata amangsuli pangandika, "Karsaning dewa ora kena wurung peran Bratayuda. Kapindhone, yen satriya mati ing perang, anemu pati utama lan munggah swarga. Lan maninge, kakangira Yayi Irabu Yudhisthira kudu angluwari punagine. Apa ta sira ora sume lya anglabuhi kadang tuwa? Mungguh sing bakal mapagake perange gurunira wis ana, ora susah sira ngawaki dhewe, mangsa kuranga mungsuhira. Dene yen sira amrangguli gurunira
ana ing paprangan, ora kena sira oncati, kudu lumaku tinadhahan. Mung sira nyembaha bae dhisik!"
Sareng Prabu Kresna sampun anyerepaken dhateng Raden Danai jaya, bil h perang Bratayuda mboten kenging kasandekaken, lajens, sami wiwit perang. Suraking bala gumerah, ungeling tetabuhan amor kaliyan garedeging gajah, kepyaking rata, karapyaking kapal, kados redi jugrug, swaranipun angebeki bumi. Pangamuking bala riwut, sampun kathah ingkang pejah. Para ratu, satriya sarta para adipati inggih sampun kathah ingkang pejah. Rata ingkang sampun remul sadasa, gajah ingkang sampun pejah sadasa, asareng kaliyan r. tu ingkang nitihi. Ramening perang, kesreking dedamel kados medala gelap. Gumerah sambatipun ingkang sami tatu. Pesating emparing kados jawah. Prajurit kekapalan ingkang sampun pejah itusan. Para gegedhug nitih rata ingkang pejah sewu. Wondening kathahing prajurit ingkang numpak gajah saleksa, ingkang numpak rata saleksa, ingkang numpak kapal sayuta, ingkang dhara kawan yuta. Panempuhipun prajurit anggonjingaken bumi.
Anggenipun perang sampun satengah dinten. Ingkang sampun pejah satriya kekalih, sami putra ing Wiratha, satunggil nama Raden Wirasangka. pejah dening Druna, kalih Raden Utara, pejah dening Prabu Salya. Andel-andeling Korawa kathah ingkang pejah.
Raden Setu nepsu sanget, awit saking pejahipun ingkang rayi<noinclude>{{rh|92}}</noinclude>
snaq6nvobk974dok5wa3ld6ags8dt7o
Kaca:Bratayuda.pdf/89
250
24789
77688
2026-05-15T19:01:15Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77688
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>kekalih, ingkang nama Wirasangka kaliyan Raden Utara wau. Lajeng ngangseg sabalanipun, agalak kados sima badhe memangsa, utawi kados danawa rebatan daging, asareng panempuhing bala. Raden Seta amenthang langkap anglepasaken jemparing. Ingkang kawawas prabu ing Mandaraka, nanging lepat, namung rata sakusir pangayapipun ingkang kenging, remuk amor kaliyan siti.
Kartamarma amethukaken badhe angadhangi pangamukipun Raden Seta, lajeng kadhawahan jemparing, dhawah saking rata, ratanipun remuk. Bala Korawa geger, sumerep pangamukipun Raden Seta. Saking kathahipun angsal pepejah, adamel girising mengsah.
Anunten Bisma kaliyan Druna sabalanipun anulungi. Jayasena angundhagada, tiningalan angajrihi. Raden Rukmarata anulunggi ingkang rama prabu ing Mandaraka, nitih rata methukaken pangamukipun Raden Seta. Lajeng dipun lepasi jemparing dening Raden Seta, kenging jajanipun, dhawah gumuling pejah wonten salebeting rata. Bala ing Wiratha ingkang dipun senapateni Raden Seta asareng pangangsegipun, tandangipun kados bantheng ketaton. Para ratu, para adipati katrajang kathah ingkang tumpes. Bala ing Ngastina giris, sami bibar mawur, kados kidang aningali sima. Saking mirisipun, bala ing Ngastina palajengipun mboten kenging dipun andheg dhateng pangagengipun, malah sangsaya sanget. Awit Raden Gathutkaca, Drusthajumena sarta Raden Angkawijaya, sami dhateng ambiyantoni Raden Seta, sarengan sami anempuh bala ing Ngastina. Anunten Senapati Bisma ngamuk, para andel-andeling Korawa sami tumut, ajeng-ajengan kaliyan Raden Seta, dados tandhing sami senapati. Raden Seta dipun lepasi jemparing dhateng Bisma, wedalipun ambrubul angebeki awang-awang, andhawahi Raden Seta, sariranipun murub nanging mboten tumama. Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya anulungi dhateng Raden Seta, sami anglepasaken jemparing, ambrubul kados jawah, ingkang dipun angkah senapati Bisma. Anunten Suyudana anulungi dhateng Bisma, kenging ing jemparing jajanipun, mboten pasah, nanging karaos sakit. Lajeng mundur anekem jaja, giris mboten saged ngandika. Para Korawa angrubung sarta andherekaken konduripun sang nata.<noinclude>{{rh|||93}}</noinclude>
0i1hxo8vg62ps5bww6g94667t3ylies
78339
77688
2026-05-16T09:41:35Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78339
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>kekalih, ingkang nama Wirasangka kaliyan Raden Utara wau. Lajeng ngangseg sabalanipun, agalak kados sima badhe memangsa, utawi kados danawa rebatan daging, asareng panempuhing bala. Raden Seta amenthang langkap anglepasaken jemparing. Ingkang kawawas prabu ing Mandaraka, nanging lepat, namung rata sakusir pangayapipun ingkang kenging, remuk amor kaliyan siti.
Kartamarma amethukaken badhe angadhangi pangamukipun Raden Seta, lajeng kadhawahan jemparing, dhawah saking rata, ratanipun remuk. Bala Korawa geger, sumerep pangamukipun Raden Seta. Saking kathahipun angsal pepejah, adamel girising mengsah.
Anunten Bisma kaliyan Druna sabalanipun anulungi. Jayasena angundhagada, tiningalan angajrihi. Raden Rukmarata anulunggi ingkang rama prabu ing Mandaraka, nitih rata methukaken pangamukipun Raden Seta. Lajeng dipun lepasi jemparing dening Raden Seta, kenging jajanipun, dhawah gumuling pejah wonten salebeting rata. Bala ing Wiratha ingkang dipun senapateni Raden Seta asareng pangangsegipun, tandangipun kados bantheng ketaton. Para ratu, para adipati katrajang kathah ingkang tumpes. Bala ing Ngastina giris, sami bibar mawur, kados kidang aningali sima. Saking mirisipun, bala ing Ngastina palajengipun mboten kenging dipun andheg dhateng pangagengipun, malah sangsaya sanget. Awit Raden Gathutkaca, Drusthajumena sarta Raden Angkawijaya, sami dhateng ambiyantoni Raden Seta, sarengan sami anempuh bala ing Ngastina. Anunten Senapati Bisma ngamuk, para andel-andeling Korawa sami tumut, ajeng-ajengan kaliyan Raden Seta, dados tandhing sami senapati. Raden Seta dipun lepasi jemparing dhateng Bisma, wedalipun ambrubul angebeki awang-awang, andhawahi Raden Seta, sariranipun murub nanging mboten tumama. Raden Wrekodara kaliyan Raden Dananjaya anulungi dhateng Raden Seta, sami anglepasaken jemparing, ambrubul kados jawah, ingkang dipun angkah senapati Bisma. Anunten Suyudana anulungi dhateng Bisma, kenging ing jemparing jajanipun, mboten pasah, nanging karaos sakit. Lajeng mundur anekem jaja, giris mboten saged ngandika. Para Korawa angrubung sarta andherekaken konduripun sang nata.<noinclude>{{rh|||93}}</noinclude>
nwqgh5x0y12xzhwvelp4435m9tiwlfk
Kaca:Bratayuda.pdf/90
250
24790
77695
2026-05-15T19:04:26Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77695
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>Senapati Bisma sareng aningali bala ing Ngastina gusis, amargi dipun amuk dhateng Raden Seta, sakalangkung nepsunipun. Ngadeg wonten ing ratanipun anglepasaken jemparing, ambrubul wedalipun, andhawahi Raden Seta. Raden Seta lajeng menthang langkap. Bisma ingkang dipun angkah, kenging baunipun, mboten pasah, malah jemparingipun tugel.
Raden Seta, senapatining Pandhawa, sanget nepsunipun, aningali tugeling jemparing, Bisma mboten pasah. Enggal medhun saking rata, anyandhak gada, lumumpat dumugi panggenanipun Bisma. Bisma dipun gada angoncati, malumpat saking rata, dados namung ratanipun ingkang kenging, remuk sakusir kapalipun. Seta sangsaya nepsu, manengah angobat-abitaken gada. Para ratu ingkang sami nitih rata utawi ingkang nitih gajah, kababit ing gada. sami remuk sareng kaliyan kusir kapal sarta gajahipun. Ratu gangsal ingkang pejah remuk kaliyan ratanipun. Ingkang ajur kaliyan gajahipun inggih gangsal. Wondening para adipati ingkang pejah kathah. Seta saestu yen sekti tanpa tandhing. Bala ing Ngastina mawur, giris aningali pratingkahing pangamukipun Seta, kados upaminipun danawa sewu sarengan angangkah daging, gadanipun angebat-ebati sarta anggilani. Bisma giris aningali Seta wuru ing pangamukipun. Lajeng mundur saking paprangan.
Anunten dewa anyawara saking ngawang-awang, "Heh, Bisma, apa mulane sira mundur saka ing paprangan? Wruhanamu, patine putra ing Wiratha iya dening sira!"
Bisma mireng swaraning dewa, lajeng wangsul, sarwi amenthang jemparing latu, lumepas kenging jajanipun Seta butul, lajeng pejah. Bala ing Ngastina surak gumerah, ingkang sampun sami lumajeng wangsul sadaya, giyak-giyak sami anjoged. Arya Dursasana akiprah-kiprah, Arya Sindureja anggendhing, Jayasusena, Jayawikatha, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya sarta Kartamarma sami surak-sufak. Wondening bala Pandhawa sami prihatos kekes, awit senapatinipun pejah. Gumrudug saking wingking sami dhateng ngajeng.
Sang Prabu Maswapati ing Wiratha, sareng dipun pratelani yen ingkang putra tiga pejah, lajeng tandang kaliyan Arya Nirbita.Bisma dipun jemparing, ambrubul wedalipun. Bisma inggih {{hws|nglepas|nglepasaken}}<noinclude>{{rh|94}}</noinclude>
9jnksxo82ch547hkmmiyoj8q0g6wa8i
78340
77695
2026-05-16T09:41:44Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78340
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Senapati Bisma sareng aningali bala ing Ngastina gusis, amargi dipun amuk dhateng Raden Seta, sakalangkung nepsunipun. Ngadeg wonten ing ratanipun anglepasaken jemparing, ambrubul wedalipun, andhawahi Raden Seta. Raden Seta lajeng menthang langkap. Bisma ingkang dipun angkah, kenging baunipun, mboten pasah, malah jemparingipun tugel.
Raden Seta, senapatining Pandhawa, sanget nepsunipun, aningali tugeling jemparing, Bisma mboten pasah. Enggal medhun saking rata, anyandhak gada, lumumpat dumugi panggenanipun Bisma. Bisma dipun gada angoncati, malumpat saking rata, dados namung ratanipun ingkang kenging, remuk sakusir kapalipun. Seta sangsaya nepsu, manengah angobat-abitaken gada. Para ratu ingkang sami nitih rata utawi ingkang nitih gajah, kababit ing gada. sami remuk sareng kaliyan kusir kapal sarta gajahipun. Ratu gangsal ingkang pejah remuk kaliyan ratanipun. Ingkang ajur kaliyan gajahipun inggih gangsal. Wondening para adipati ingkang pejah kathah. Seta saestu yen sekti tanpa tandhing. Bala ing Ngastina mawur, giris aningali pratingkahing pangamukipun Seta, kados upaminipun danawa sewu sarengan angangkah daging, gadanipun angebat-ebati sarta anggilani. Bisma giris aningali Seta wuru ing pangamukipun. Lajeng mundur saking paprangan.
Anunten dewa anyawara saking ngawang-awang, "Heh, Bisma, apa mulane sira mundur saka ing paprangan? Wruhanamu, patine putra ing Wiratha iya dening sira!"
Bisma mireng swaraning dewa, lajeng wangsul, sarwi amenthang jemparing latu, lumepas kenging jajanipun Seta butul, lajeng pejah. Bala ing Ngastina surak gumerah, ingkang sampun sami lumajeng wangsul sadaya, giyak-giyak sami anjoged. Arya Dursasana akiprah-kiprah, Arya Sindureja anggendhing, Jayasusena, Jayawikatha, Srutayuda, Yutayuni, Sudirga, Sudira, Rekadurjaya, Wirya sarta Kartamarma sami surak-sufak. Wondening bala Pandhawa sami prihatos kekes, awit senapatinipun pejah. Gumrudug saking wingking sami dhateng ngajeng.
Sang Prabu Maswapati ing Wiratha, sareng dipun pratelani yen ingkang putra tiga pejah, lajeng tandang kaliyan Arya Nirbita.Bisma dipun jemparing, ambrubul wedalipun. Bisma inggih {{hws|nglepas|nglepasaken}}<noinclude>{{rh|94}}</noinclude>
e5gib07p7wmp8jjag7knk2w0xw5g69h
Kaca:Bratayuda.pdf/91
250
24791
77704
2026-05-15T19:09:12Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77704
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>aken jemparing. Dados tempuh jemparing sami jemparing. Pandhawa sami nepsu, sarengan tumandang, ngamuk sami angebyuki, ciptaning manah suka lila sarenga sirna kaliyan Prabu Maswapati. Bala Pandhawa gumrubyug arebat rumiyin, anempuh bala Korawa mawur sami miris. Anunten kasaru serapipun ing srengenge, kados anyapih ingkang sami sayah ing perang, esthanipun kados amengeti, kapurih sami asoa rumiyin, mbenjing-enjing peranga malih.
Ingkang sami perang mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak, sarta sami sanget ing sayahipun. Sang Prabu Maswapati saweg amuwuni pejahing putra tetiga. Jisimipun sampun pinanggih sadaya, dipun bersihi sarta dipun saeni. Sang nata akaliyan ingkang garwa sakalangkung sekeling galih, dene ingkang putra taksih sami anem anem sarta bagus-bagus, pejah. Galihipun sang nata kaliyan ingkang garwa kados rinujit, kapara tiga. Prameswari angrangkul layoning putra agentos-gentos. Sesambatipun amemelas, "Adhuh Anakku, dene teka mati telu pisan. Sapa sing bakal anggenteni jumeneng ratu ing nagara Wiratha. Lah tangia, engger sapanen ibumu teka. Apa mulane kowe padha meneng bae? Dene teka bareng patimu. mBok iya karia siji, ana kang dadi panglipuring prihatin. Dhuh Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, mung kowe sing dadi marganing redatin. {{---}} Ya, Dewa, banjuten aku!"
Kendel kacariyos pamuwunipun prameswari ing Wiratha. Anunten Pandhuputra sami dhateng, ambekta pangangge, angurmati dhumateng ingkang sami pejah. Layon rinubung sarta dipun muwuni. Sasampuning linuruban. lajeng kainggahaken dhateng Pancaka. nDalu sasireping tiyang pinuju padhang rembulan dipun besmi, mawi dipun jenengi ing para ratu sarta ing para Pandhawa sadaya. Prabu Kresna amemujekaken, mugi sami amanggiha swarga, anetepana ingkang sampun dados jangji, ganjaranipun dhateng ingkang sami pejah ing perang Bratayuda. Awunipun kapusus minggah dhateng Suralaya.
'''3.{{gap}} {{gap}}BISMA PEJAH DENING SRIKANDHI}}'''
Sabibaring pakurmatan pambesmining layonipun putra ing Wiratha tetiga, Prabu Maswapati kalih para rtu ingkang {{hws|anjeneng-|anjengenggi}}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude>
nioutif00e25mb2qz4pczuqylfvc5ss
77706
77704
2026-05-15T19:09:43Z
Khusna Safira
1759
77706
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>aken jemparing. Dados tempuh jemparing sami jemparing. Pandhawa sami nepsu, sarengan tumandang, ngamuk sami angebyuki, ciptaning manah suka lila sarenga sirna kaliyan Prabu Maswapati. Bala Pandhawa gumrubyug arebat rumiyin, anempuh bala Korawa mawur sami miris. Anunten kasaru serapipun ing srengenge, kados anyapih ingkang sami sayah ing perang, esthanipun kados amengeti, kapurih sami asoa rumiyin, mbenjing-enjing peranga malih.
Ingkang sami perang mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak, sarta sami sanget ing sayahipun. Sang Prabu Maswapati saweg amuwuni pejahing putra tetiga. Jisimipun sampun pinanggih sadaya, dipun bersihi sarta dipun saeni. Sang nata akaliyan ingkang garwa sakalangkung sekeling galih, dene ingkang putra taksih sami anem anem sarta bagus-bagus, pejah. Galihipun sang nata kaliyan ingkang garwa kados rinujit, kapara tiga. Prameswari angrangkul layoning putra agentos-gentos. Sesambatipun amemelas, "Adhuh Anakku, dene teka mati telu pisan. Sapa sing bakal anggenteni jumeneng ratu ing nagara Wiratha. Lah tangia, engger sapanen ibumu teka. Apa mulane kowe padha meneng bae? Dene teka bareng patimu. mBok iya karia siji, ana kang dadi panglipuring prihatin. Dhuh Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, mung kowe sing dadi marganing redatin. --- Ya, Dewa, banjuten aku!"
Kendel kacariyos pamuwunipun prameswari ing Wiratha. Anunten Pandhuputra sami dhateng, ambekta pangangge, angurmati dhumateng ingkang sami pejah. Layon rinubung sarta dipun muwuni. Sasampuning linuruban. lajeng kainggahaken dhateng Pancaka. nDalu sasireping tiyang pinuju padhang rembulan dipun besmi, mawi dipun jenengi ing para ratu sarta ing para Pandhawa sadaya. Prabu Kresna amemujekaken, mugi sami amanggiha swarga, anetepana ingkang sampun dados jangji, ganjaranipun dhateng ingkang sami pejah ing perang Bratayuda. Awunipun kapusus minggah dhateng Suralaya.
'''3.{{gap}} {{gap}}BISMA PEJAH DENING SRIKANDHI'''
Sabibaring pakurmatan pambesmining layonipun putra ing Wiratha tetiga, Prabu Maswapati kalih para rtu ingkang {{hws|anjeneng-|anjengenggi}}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude>
pshfdxcaj343bwkk5b2529a7gzysbk4
78341
77706
2026-05-16T09:41:54Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78341
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>aken jemparing. Dados tempuh jemparing sami jemparing. Pandhawa sami nepsu, sarengan tumandang, ngamuk sami angebyuki, ciptaning manah suka lila sarenga sirna kaliyan Prabu Maswapati. Bala Pandhawa gumrubyug arebat rumiyin, anempuh bala Korawa mawur sami miris. Anunten kasaru serapipun ing srengenge, kados anyapih ingkang sami sayah ing perang, esthanipun kados amengeti, kapurih sami asoa rumiyin, mbenjing-enjing peranga malih.
Ingkang sami perang mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak, sarta sami sanget ing sayahipun. Sang Prabu Maswapati saweg amuwuni pejahing putra tetiga. Jisimipun sampun pinanggih sadaya, dipun bersihi sarta dipun saeni. Sang nata akaliyan ingkang garwa sakalangkung sekeling galih, dene ingkang putra taksih sami anem anem sarta bagus-bagus, pejah. Galihipun sang nata kaliyan ingkang garwa kados rinujit, kapara tiga. Prameswari angrangkul layoning putra agentos-gentos. Sesambatipun amemelas, "Adhuh Anakku, dene teka mati telu pisan. Sapa sing bakal anggenteni jumeneng ratu ing nagara Wiratha. Lah tangia, engger sapanen ibumu teka. Apa mulane kowe padha meneng bae? Dene teka bareng patimu. mBok iya karia siji, ana kang dadi panglipuring prihatin. Dhuh Anakku, Seta, Utara, Wirasangka, mung kowe sing dadi marganing redatin. --- Ya, Dewa, banjuten aku!"
Kendel kacariyos pamuwunipun prameswari ing Wiratha. Anunten Pandhuputra sami dhateng, ambekta pangangge, angurmati dhumateng ingkang sami pejah. Layon rinubung sarta dipun muwuni. Sasampuning linuruban. lajeng kainggahaken dhateng Pancaka. nDalu sasireping tiyang pinuju padhang rembulan dipun besmi, mawi dipun jenengi ing para ratu sarta ing para Pandhawa sadaya. Prabu Kresna amemujekaken, mugi sami amanggiha swarga, anetepana ingkang sampun dados jangji, ganjaranipun dhateng ingkang sami pejah ing perang Bratayuda. Awunipun kapusus minggah dhateng Suralaya.
'''3.{{gap}} {{gap}}BISMA PEJAH DENING SRIKANDHI'''
Sabibaring pakurmatan pambesmining layonipun putra ing Wiratha tetiga, Prabu Maswapati kalih para rtu ingkang {{hws|anjeneng-|anjengenggi}}<noinclude>{{rh|||95}}</noinclude>
hh7g4p1kaekpqn8g8kkflcjgrrzich5
Kaca:Bratayuda.pdf/92
250
24792
77714
2026-05-15T19:13:26Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77714
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|gi|anjenenggi}} wau sami kondur dhateng pasanggrahan, apirembagan kaliyan Prabu Kresna, menggah ingkang badhe kakarsakaken dados senapati lintunipun ingkang sampun pejah. Wondening ingkang kapilih dhateng Prabu Kresna: Drusthajumena, punika dadosa lintuning senapati, sarta asalina gelar Garudha nglayang. Para ratu, para adipati sarta para mantri sapangandhap sami angguyubi karsanipun Prabu Kresna. Anunten Raden Drusthajumena dipun puja sarta dipun kutugi.
Sasampune ngangkat senapati, mboten antawis dangu byar. Lajeng angungelaken tengara. Sakathahing prajuritipun Pandhawa sami dandos, bodhol dhateng ing Tegal Kuru. Makaten malih bala Korawa, bidhal dhateng Tegal Kuru. Anunten Pandhawa amasang gelar Garudha-nglayang. Ingkang minangka cucukipun Raden Dananjaya, ingkang minangka sirah Prabu Drupada. Prabu Kresna nunggil sarata kaliyan Raden Dananjaya. Senapati Drusthajumena wonten panjawat tengen. Ingkang kaprenahaken wonten ing panjawat kiwa Raden Wrekodara. Raden Setyaki minangka buntut. Ingkang wonten ing githok para ratu, angubengi rumeksa Prabu Yudhisthira.
Korawa sumerep bilih Pandhawa salin gelar Garudha-nglayang, lajeng dipun tiru. Ingkang minangka cucuk ratu Mandaraka. Arya Sengkuni minangka sirah. Senapati Bisma wonten ing panjawat kiwa. Druna angenggeni panjawat tengan. Drusasana minangka buntut. Para ratu kalih para adipati wonten ing githok, arumeksa Prabu Druyudana. Dewabrata angangsegaken bala, lajeng anglepasaken jemparing sumedya angrisak gelaring Pandhawa. Wedaling jemparing ambrubul. Anunten Raden Dananjaya anglepasaken jemparing panulak.
Raden Wrekodara sanget nepsunipun. Majeng amandhi gada. Pangamukipun anggegilani. Bala Korawa pinten-pinten ingkang pejah dipun gada, mboten wonten ingkang kuwawi anadhahi. Raden Wrekodara nyelehaken gada nyandhak jemparing anama Bargawastra. Atusan ingkang pejah dening Bargawastra. Raden Setyaki ambiyantoni, bala ing Ngastina kathah ingkang risak. Karna, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja, sami ngungsi dhateng<noinclude>{{rh|96}}</noinclude>
gv3cdt70x5smjmo4xm2s0n0sboh5gt0
78342
77714
2026-05-16T09:42:03Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78342
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|gi|anjenenggi}} wau sami kondur dhateng pasanggrahan, apirembagan kaliyan Prabu Kresna, menggah ingkang badhe kakarsakaken dados senapati lintunipun ingkang sampun pejah. Wondening ingkang kapilih dhateng Prabu Kresna: Drusthajumena, punika dadosa lintuning senapati, sarta asalina gelar Garudha nglayang. Para ratu, para adipati sarta para mantri sapangandhap sami angguyubi karsanipun Prabu Kresna. Anunten Raden Drusthajumena dipun puja sarta dipun kutugi.
Sasampune ngangkat senapati, mboten antawis dangu byar. Lajeng angungelaken tengara. Sakathahing prajuritipun Pandhawa sami dandos, bodhol dhateng ing Tegal Kuru. Makaten malih bala Korawa, bidhal dhateng Tegal Kuru. Anunten Pandhawa amasang gelar Garudha-nglayang. Ingkang minangka cucukipun Raden Dananjaya, ingkang minangka sirah Prabu Drupada. Prabu Kresna nunggil sarata kaliyan Raden Dananjaya. Senapati Drusthajumena wonten panjawat tengen. Ingkang kaprenahaken wonten ing panjawat kiwa Raden Wrekodara. Raden Setyaki minangka buntut. Ingkang wonten ing githok para ratu, angubengi rumeksa Prabu Yudhisthira.
Korawa sumerep bilih Pandhawa salin gelar Garudha-nglayang, lajeng dipun tiru. Ingkang minangka cucuk ratu Mandaraka. Arya Sengkuni minangka sirah. Senapati Bisma wonten ing panjawat kiwa. Druna angenggeni panjawat tengan. Drusasana minangka buntut. Para ratu kalih para adipati wonten ing githok, arumeksa Prabu Druyudana. Dewabrata angangsegaken bala, lajeng anglepasaken jemparing sumedya angrisak gelaring Pandhawa. Wedaling jemparing ambrubul. Anunten Raden Dananjaya anglepasaken jemparing panulak.
Raden Wrekodara sanget nepsunipun. Majeng amandhi gada. Pangamukipun anggegilani. Bala Korawa pinten-pinten ingkang pejah dipun gada, mboten wonten ingkang kuwawi anadhahi. Raden Wrekodara nyelehaken gada nyandhak jemparing anama Bargawastra. Atusan ingkang pejah dening Bargawastra. Raden Setyaki ambiyantoni, bala ing Ngastina kathah ingkang risak. Karna, Karpa, Salya, Drusasana, Sindureja, sami ngungsi dhateng<noinclude>{{rh|96}}</noinclude>
c3uwf1w3cvydc15hzxlaxcii6au0suv
Kaca:Bratayuda.pdf/94
250
24793
77719
2026-05-15T19:16:39Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "dhi. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha. Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pas...
77719
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>dhi. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha.
Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah.
Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta
para adipati kathah ingkang pejah.
Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis,
nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ing-
kang anyidrani.
Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyu-
dana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wonde-
ning ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Ra-
den Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Ja-
naka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka
98<noinclude></noinclude>
auclxqlcd5pl2m8ym28b6mvkwjmdzo7
77721
77719
2026-05-15T19:17:15Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77721
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>dhi. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha.
Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah.
Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta
para adipati kathah ingkang pejah.
Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis,
nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ingkang anyidrani.
Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyudana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wondening ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Raden Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Janaka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka<noinclude>{{rh|98}}</noinclude>
9vzegldo36prymhccpqil9ud2aw0fni
77726
77721
2026-05-15T19:19:18Z
Khusna Safira
1759
77726
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|dhi|Srikandi}}. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha.
Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah.
Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta
para adipati kathah ingkang pejah.
Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis,
nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ingkang anyidrani.
Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyudana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wondening ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Raden Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Janaka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka<noinclude>{{rh|98}}</noinclude>
rkleoweeqtqgjuehvmovvxy4chvnolu
78343
77726
2026-05-16T09:42:19Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78343
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|dhi|Srikandi}}. Sadhatengipun sang dewi, dipundhawahi dhateng Prabu Kresna, anglepasna jemparing, Bisma ingkang dipun angkaha.
Bisma boten sakeca manahipun aningali Srikandhi dhateng, angawe dhateng Prabu Yudhisthira, badhe dipunsuwuni gesang, Prabu Yudhisthira api-api boten sumerep, tansah tumungkul kemawon. Dewi Srikandhi dipundhawahi nunggil sarata kaliyan ingkang Raka Raden Dananjaya. Lajeng anglepasaken jemparing kenging jajanipun Bisma, nanging boten pasah. Parta anusuli jemparing, kenging gandaring jemparingipun Dewi Srikandhi, ananceb ing jajanipun Bisma. Bisma dhawah saking rata, gumuling ing siti lajeng pejah.
Bala Pandhawa suka surak gumerah. Anunten para jawata ing ngawang-awang sami anjawahaken sekar. Barisipun Korawa sami miris bibar, mboten wonten ingkang purun ambelani senapatinipun. Raden Wrekodara,, Raden Gathutkaca, sarta Raden Drusthajumena sami anglepasaken jemparing, andhawahi para ratu sarta
para adipati kathah ingkang pejah.
Anunten Prabu Yudhisthira angawe prajuritipun, kapurih sami anyelehna dedamelipun. Sang nata lajeng anyungkemi sukunipun Bisma ingkang ketaton. Prabu Suyudana, Arjuna, Nakula sarta Sadewa, inggih sami anyungkemi sukunipun Bisma, sarta sami sanget ing pamuwunipun. Sakathahing Korawa inggih sami nangis,
nanging angandhut kuwatos, awit Raden Wrekodara taksih ngamuk kaliyan gadanipun. Sakathahing para adipati utawi bala alit sampun sami nyelehaken dedamel, angrubung Bisma. Prabu Yudhisthira angawe Raden Wrekodara, kapurih anyelehna dedamelipun. Nanging mboten purun. Amilalah nebih ngadeg kemawon sarta amandhi gada. Prabu Suyudana andhawahaken parentah, bedhami ing sadinten punika, arukuna sampun ngantos wonten ingkang anyidrani.
Dewabrata sakedhap enget lajeng anedha toya. Prabu Suyudana anulungi, nanging ngantos dangu mboten kaombe. Wondening ingkang dipun tedha toya sesawananing jemparingipun Raden Dananjaya, Prabu Yudhisthira adhawah dhateng Raden Janaka, anyaosana toya teturuhaning jemparingipun. Raden Janaka<noinclude>{{rh|98}}</noinclude>
hknpgh12wkf6kxx4kb9xf23bhfwnnfy
Kaca:Bratayuda.pdf/96
250
24794
77734
2026-05-15T19:22:45Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77734
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>kathah bupati ingkang pejah kagada. Gelar Gajahmeta risak, gadhinging gelar gusis, ingkang wonten ing sirah busekan. Prabu Bagadenta ingkang minangka talalening gelar anilar senapati, majeng amandhi gada. Karna akaliyan Jayadrata kantun. Prabu Bagadenta wau anglangkungi sektinipun, gajahipun katujahaken kapaling ratanipun Raden Janaka, lajeng anyawataken gada, Raden Janaka ingkang dipun angkah, kenging jajanipun, dhawah kalemper gumuling wonten ing rata. Prabu Kresna enggal anulungi, Raden Janaka dipun usap ing sekar Wijayakusuma, lajeng enget anyandhak langkap, anglepasaken jemparing, kenging Prabu Bagadenta sasrati gajahipun, sareng pejah tiga pisan. Anunten Pandhawa sapunggawa satriyanipun sami ngebyuki, Wrekodara ngamuk kaliyan gadanipun. Barising Korawa bibar sadaya. Sareng dalu ingkang perang sami mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Korawa sadalu sami sedhih. Enjing tengara mungel, amor kaliyan ungeling tetabuhan sanesipun. Prabu Suyudana abusana, ngagem makutha murub dening sesotya. Wedalipun saking kitha kadherekaken ing para adipati. Swaraning bala kados redi jugrug, sadaya sampun sami rumantos, angajeng-ajeng dhatenging mengsah.
Druna matur dhateng Prabu Suyudana, "Bilii anak prabu karsa ngenggalaken tumpesipun Pandhawa, pun Janaka kapurih sageda pisah kaliyan pun Wrekodara, lamine sadinten kemawon. Manawi sadherek kekalih punika mboten kapisahaken, Pandhawa mboten saged risak tuwin mboten saged pejah."
Prabu Gardapati sumambung, "Bilih mekaten kula ingkang
badhe nyumbari pun Janaka, supados sampun saged nunggil kaliyan baris ageng."
Pinanggihing rembag, Sangkuni kaliyan Wresaya ingkang badhe nyumbari Raden Wrekodara. Anunten baris bodhol, andaledeg lampahipun, Gelaripun mboten ewah kados wingi, taksih Garudha-anglayang.
Pangangsegipun barising Pandhawa kaliyan barising Korawa kados saganten kekalih apethukan. Prabu Gardapati nitih gajah<noinclude>{{rh|100}}</noinclude>
n3h886q678okxvc8dpiv5op21yttucx
78346
77734
2026-05-16T09:43:02Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78346
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>kathah bupati ingkang pejah kagada. Gelar Gajahmeta risak, gadhinging gelar gusis, ingkang wonten ing sirah busekan. Prabu Bagadenta ingkang minangka talalening gelar anilar senapati, majeng amandhi gada. Karna akaliyan Jayadrata kantun. Prabu Bagadenta wau anglangkungi sektinipun, gajahipun katujahaken kapaling ratanipun Raden Janaka, lajeng anyawataken gada, Raden Janaka ingkang dipun angkah, kenging jajanipun, dhawah kalemper gumuling wonten ing rata. Prabu Kresna enggal anulungi, Raden Janaka dipun usap ing sekar Wijayakusuma, lajeng enget anyandhak langkap, anglepasaken jemparing, kenging Prabu Bagadenta sasrati gajahipun, sareng pejah tiga pisan. Anunten Pandhawa sapunggawa satriyanipun sami ngebyuki, Wrekodara ngamuk kaliyan gadanipun. Barising Korawa bibar sadaya. Sareng dalu ingkang perang sami mundur dhateng pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Korawa sadalu sami sedhih. Enjing tengara mungel, amor kaliyan ungeling tetabuhan sanesipun. Prabu Suyudana abusana, ngagem makutha murub dening sesotya. Wedalipun saking kitha kadherekaken ing para adipati. Swaraning bala kados redi jugrug, sadaya sampun sami rumantos, angajeng-ajeng dhatenging mengsah.
Druna matur dhateng Prabu Suyudana, "Bilii anak prabu karsa ngenggalaken tumpesipun Pandhawa, pun Janaka kapurih sageda pisah kaliyan pun Wrekodara, lamine sadinten kemawon. Manawi sadherek kekalih punika mboten kapisahaken, Pandhawa mboten saged risak tuwin mboten saged pejah."
Prabu Gardapati sumambung, "Bilih mekaten kula ingkang
badhe nyumbari pun Janaka, supados sampun saged nunggil kaliyan baris ageng."
Pinanggihing rembag, Sangkuni kaliyan Wresaya ingkang badhe nyumbari Raden Wrekodara. Anunten baris bodhol, andaledeg lampahipun, Gelaripun mboten ewah kados wingi, taksih Garudha-anglayang.
Pangangsegipun barising Pandhawa kaliyan barising Korawa kados saganten kekalih apethukan. Prabu Gardapati nitih gajah<noinclude>{{rh|100}}</noinclude>
nn4kw3apa3qfp2y1vnujlobtv7eaj89
Kaca:Bratayuda.pdf/98
250
24795
77735
2026-05-15T19:23:08Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "pun kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sam- pun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih, nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang. Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken ingkang raka pamita dhumateng garwani...
77735
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>pun kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sam-
pun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng
paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos
mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih,
nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila
garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang.
Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken
ingkang raka pamita dhumateng garwanipun Prabu Kresna. Abima-
nyu miturut. Pamit dhateng garwanipun Prabu Kresna sarta dha-
teng ingkang ibu piyambak. Sareng sampun lajeng mangkat badhe
amedali perang. Sadhatenge ngarsanipun ingkang uwa Prabu Yu-
dhisthira, anyungkemi sampeyanipun. Dhawahipun sang nata,
"Kulup, Korawa ing saiki salin gelar Cakrabyuha, iku rusaken."
Abimanyu matur sandika lajeng mangkat. Anunten masang
gelar Supiturang. Drusthajumena minangka pucuking supit tengan,
Gathutkaca kiwanipun, Setyaki minangka cangkem Prabu Darma-
putra minangka sirah, para ratu sami wonten ing wingking, Abi-
manyu panggenanipun wonten ing sesungut.
Sareng sampun dados gelaripun, tuwin Korawa sampun rakit
sadaya, sanalika peteng ndhedhet. Pandhawa lajeng ngangseg. Pa-
ngiridipun Raden Abimanyu. Gumerah suwaranipun ing kendhang,
gong, beri tuwin suraking bala, kados ambelahna langit. Pandhawa
kaliyan Korawa sarengan sami angerapaken kapal, swaranipun
punggawa ingkang numpak gajah utawi rata, amor kaliyan surak-
ing bala, kados gelap.
Raden Abimanyu menthang langkap, anglepasaken cakra, an-
dhawahi Korawa. Risak gelaripun Cakrabyuha, kathah ingkang
pejah. Sakantunipun sami ngungsi dhateng panggenanipun Prabu
Suyudana, ajrih ing pamukipun Abimanyu ingkang minangka
sesungut, angirid bala Pandhawa ambek purun sarta sekti.
Raden Arya Jayadrata enggal anangkebi. Barising Pandhawa
tugel. Abimanyu katangkeban, lajeng dipun karoyok ing Korawa
kathah, anama Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya,
Jayasekti, Jayawikatha, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradar-
102<noinclude></noinclude>
sy9iq3j2fxmv872ettqzyzmzuq4wfim
77763
77735
2026-05-15T19:35:49Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
77763
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>pun kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sampun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih, nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang.
Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken ingkang raka pamita dhumateng garwanipun Prabu Kresna. Abimanyu miturut. Pamit dhateng garwanipun Prabu Kresna sarta dhateng ingkang ibu piyambak. Sareng sampun lajeng mangkat badhe amedali perang. Sadhatenge ngarsanipun ingkang uwa Prabu Yudhisthira, anyungkemi sampeyanipun. Dhawahipun sang nata, "Kulup, Korawa ing saiki salin gelar Cakrabyuha, iku rusaken." Abimanyu matur sandika lajeng mangkat. Anunten masang gelar Supiturang. Drusthajumena minangka pucuking supit tengan, Gathutkaca kiwanipun, Setyaki minangka cangkem Prabu Darmaputra minangka sirah, para ratu sami wonten ing wingking, Abimanyu panggenanipun wonten ing sesungut.
Sareng sampun dados gelaripun, tuwin Korawa sampun rakit sadaya, sanalika peteng ndhedhet. Pandhawa lajeng ngangseg. Pangiridipun Raden Abimanyu. Gumerah suwaranipun ing kendhang, gong, beri tuwin suraking bala, kados ambelahna langit. Pandhawa
kaliyan Korawa sarengan sami angerapaken kapal, swaranipun punggawa ingkang numpak gajah utawi rata, amor kaliyan suraking bala, kados gelap.
Raden Abimanyu menthang langkap, anglepasaken cakra, andhawahi Korawa. Risak gelaripun Cakrabyuha, kathah ingkang pejah. Sakantunipun sami ngungsi dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, ajrih ing pamukipun Abimanyu ingkang minangka sesungut, angirid bala Pandhawa ambek purun sarta sekti.
Raden Arya Jayadrata enggal anangkebi. Barising Pandhawa tugel. Abimanyu katangkeban, lajeng dipun karoyok ing Korawa kathah, anama Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikatha, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, {{hws|Citradar|Citradarma}}<noinclude>{{rh|102}}</noinclude>
58emt31p55g0jg9d4iccdwx6fb1fbk1
78349
77763
2026-05-16T09:43:47Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78349
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|pun|sampun}} kaweling dhumateng ingkang rama, ing sadinten punika sampun ngantos suka yen Raden Abimanyu badhe medal dhateng paprangan. Saking kewedan saha susahing galihipun, angantos mboten saged ngandika, amegeng waspa muwun salebeting galih, nanging ajrih yen amambengana tindakipun ingkang raka, ila-ila garwanipun ing satriya, sampun ngantos awrat tinilar perang.
Raden Abimanyu dandos, Dewi Siti Sundari amrayogekaken ingkang raka pamita dhumateng garwanipun Prabu Kresna. Abimanyu miturut. Pamit dhateng garwanipun Prabu Kresna sarta dhateng ingkang ibu piyambak. Sareng sampun lajeng mangkat badhe amedali perang. Sadhatenge ngarsanipun ingkang uwa Prabu Yudhisthira, anyungkemi sampeyanipun. Dhawahipun sang nata, "Kulup, Korawa ing saiki salin gelar Cakrabyuha, iku rusaken." Abimanyu matur sandika lajeng mangkat. Anunten masang gelar Supiturang. Drusthajumena minangka pucuking supit tengan, Gathutkaca kiwanipun, Setyaki minangka cangkem Prabu Darmaputra minangka sirah, para ratu sami wonten ing wingking, Abimanyu panggenanipun wonten ing sesungut.
Sareng sampun dados gelaripun, tuwin Korawa sampun rakit sadaya, sanalika peteng ndhedhet. Pandhawa lajeng ngangseg. Pangiridipun Raden Abimanyu. Gumerah suwaranipun ing kendhang, gong, beri tuwin suraking bala, kados ambelahna langit. Pandhawa
kaliyan Korawa sarengan sami angerapaken kapal, swaranipun punggawa ingkang numpak gajah utawi rata, amor kaliyan suraking bala, kados gelap.
Raden Abimanyu menthang langkap, anglepasaken cakra, andhawahi Korawa. Risak gelaripun Cakrabyuha, kathah ingkang pejah. Sakantunipun sami ngungsi dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, ajrih ing pamukipun Abimanyu ingkang minangka sesungut, angirid bala Pandhawa ambek purun sarta sekti.
Raden Arya Jayadrata enggal anangkebi. Barising Pandhawa tugel. Abimanyu katangkeban, lajeng dipun karoyok ing Korawa kathah, anama Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikatha, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, {{hws|Citradar|Citradarma}}<noinclude>{{rh|102}}</noinclude>
0ypacdldz44xhn7vlttqog1p7xvc794
Kaca:Bratayuda.pdf/99
250
24796
77765
2026-05-15T19:37:25Z
Khusna Safira
1759
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les- manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa- king s...
77765
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les-
manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya
sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun
jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa-
king sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos a-
jrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening
jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Les-
manakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah
Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging
jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamuki-
pun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta
anglepasaken jemparing kathah.
Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah de-
ning pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Pra-
bu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging,
anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken
jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingi-
pun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja,
ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris.
Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah
wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten
katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing.
Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene
jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upa-
minipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jempa-
ring kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen
anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abima-
nyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados ape-
panggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging
boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun.
Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu a-
mrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, di-
103.<noinclude></noinclude>
50gxbbuwbthumqxagbjnjeijn4j8bid
77790
77765
2026-05-15T19:47:28Z
Khusna Safira
1759
77790
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>ma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra,
Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaa-
mong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara,
Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les-
manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya
sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun
jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa-
king sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos a-
jrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening
jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Les-
manakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah
Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging
jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamuki-
pun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta
anglepasaken jemparing kathah.
Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah de-
ning pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Pra-
bu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging,
anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken
jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingi-
pun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja,
ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris.
Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah
wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten
katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing.
Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene
jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upa-
minipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jempa-
ring kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen
anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abima-
nyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados ape-
panggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging
boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun.
Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu a-
mrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, di-
103.<noinclude></noinclude>
p8sfm0t4tvtpz8uvewxkkm7prm464uk
77791
77790
2026-05-15T19:47:28Z
Khusna Safira
1759
77791
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Les-
manakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya
sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun
jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Sa-
king sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos a-
jrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening
jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Les-
manakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah
Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging
jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamuki-
pun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta
anglepasaken jemparing kathah.
Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah de-
ning pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Pra-
bu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging,
anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken
jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingi-
pun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja,
ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris.
Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah
wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten
katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing.
Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene
jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upa-
minipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jempa-
ring kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen
anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abima-
nyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados ape-
panggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging
boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun.
Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu a-
mrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, di-
103.<noinclude></noinclude>
50gxbbuwbthumqxagbjnjeijn4j8bid
78082
77791
2026-05-16T03:24:53Z
Khusna Safira
1759
78082
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Lesmanakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Saking sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos ajrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Lesmanakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamukipun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah.
Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah dening pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Prabu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingipun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing.
Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upaminipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jemparing kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abimanyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados apepanggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun.
Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu amrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, {{hws|di|<noinclude>{{rh|||103}}</noinclude>
l6u3hf38v6gtbl2yh0z6f3vm6eu2jee
78083
78082
2026-05-16T03:25:15Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
78083
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Lesmanakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Saking sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos ajrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Lesmanakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamukipun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah.
Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah dening pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Prabu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingipun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing.
Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upaminipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jemparing kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abimanyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados apepanggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun.
Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu amrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, {{hws|di|dikehana}}<noinclude>{{rh|||103}}</noinclude>
rnq0lsce86bes7e7smwzziut5cgxl83
78350
78083
2026-05-16T09:43:59Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78350
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ma|Citradarma}}, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti, Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, tuwin Raden Lesmanakumara putra ing Ngastina, punapa malih Kartasuta. Sadaya sami tumut angepang Raden Abimanyu. Anunten Kartasuta dipun jemparing dhateng Raden Abimanyu, kenging lajeng pejah. Saking sangeting pamukipun Raden Abimanyu, mboten rumaos ajrih dipun karubut ing perang. Secasrawa ingkang pejah dening jemparing. Anunten putra ing Ngastina ingkang nama Raden Lesmanakumara anglepasaken jemparing, ingkang dipun angkah Abimanyu. Abimanyu males anjemparing, Lesmanakumara kenging jajanipun lajeng pejah. Abimanyu sangsaya wuru ing pangamukipun. Manengah dhateng panggenanipun Prabu Suyudana, sarta anglepasaken jemparing kathah.
Sindureja sareng aningali yen putra ing Ngastina pejah dening pangamukipun Abimanyu, sumedya apulih getih akaliyan Prabu Suyudana. Lajeng anglepasaken jemparing, Abimanyu kenging, anunten Korawa ingkang kathah-kathah tumut anglepasaken jemparing, saking kiwa saking tengen dipun kerepi panjemparingipun, boten wonten ingkang nglepati. Abimanyu ketaton ing jaja, ing gigir, bau walikat, ula-ula tuwin wcntis, nanging boten miris. Lampahipun sangsaya manengah, ciptaning galih, sarenga pejah wonten ing paprangan kaliyan Prabu Suyudana. Kala semanten katah kapal utawi rata ingkang remuk kenging ing jemparing.
Abimanyu amenthang langkap, langkapipun tikel. Wondene jemparing mengsah boten kendhat-kendhat andhawahi, kados upaminipun jawah. Pangraosipun Abimanyu kadhawahan ing jemparing kados dipungaruti ing tiyang estri. Abimanyu ngiwa nengen anyandhak jemparing ingkang sami dhawah, tandangipun Abimanyu anggenipun kakepang sarta kajawahan jemparing, kados apepanggih kaliyan prawan. Sariranipun ajur dening tatu, nanging boten sumedya mundur, boten ewah ing kapurunanipun.
Abimanyu angandika, "Heh, Korawa, aja gugup olehmu amrih patiku, mangsa aku angingkedana. Yen trahing Pandhawa, {{hws|di|dikehana}}<noinclude>{{rh|||103}}</noinclude>
ipd5gtp67q96zy6ocx4q2xlh3bsthf3
Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/6
250
24797
77940
2026-05-15T23:14:03Z
Kriita
885
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}} {{jawa| }}"
77940
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Kriita" /></noinclude>{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}}
{{jawa|
}}<noinclude></noinclude>
m7q25fpt8ekomrehgocdj0m6ch3ip18
77945
77940
2026-05-15T23:25:46Z
Kriita
885
/* Proofread */
77945
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}}
{{jawa|꧋ꦲꦭꦸꦂꦫꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦛꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦦꦱꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ ꦠꦼꦊꦁꦔꦶꦁꦏꦶꦛ꧈ ꦲꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦝꦸꦱꦸꦤ꧀ꦏꦼꦩꦶꦫꦶ꧈ ꦱꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦱꦥꦸꦤꦶꦏ꧈ ꦕꦏꦼꦠ꧀꧈ ꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦠꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦏꦶꦛꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦥꦗꦁ꧈ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏ꧀ꦲꦶꦦꦚ꧀ꦗꦮꦶ꧈ ꦱꦱꦉꦁꦔꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦩꦤ꧀ꦠꦫꦩ꧀ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦾꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦦꦩꦤꦃꦲꦤ꧀ ꦤꦭꦶꦏꦱꦒꦼꦢ꧀ꦔꦼꦤ꧀ꦠꦱ꧀ꦱꦶꦪꦸꦢꦥꦿꦁꦩꦼꦗꦃꦲꦶꦲꦂꦗꦶꦔꦁ꧈ (ꦏꦮꦿꦠ꧀ꦧꦧꦢ꧀)꧈ }}
{{jawa|꧋ꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦱꦩꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦏꦸꦢꦸꦱ꧀ ꦲꦱꦿꦶꦁꦏꦱꦼꦧꦠ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦢꦸꦱ꧀ꦱꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦮꦶꦥꦱꦶꦫꦩ꧀ꦩꦤ꧀꧈}}
{{jawa|꧋ꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦺꦴꦁꦏꦥꦸꦂꦮꦏꦤꦶꦁꦕꦫꦪꦺꦴꦱ꧀ ꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦩꦶꦪꦤ꧈ ꦏꦥꦽꦤꦃꦱꦭꦺꦂꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶ꧈ ꦱꦩꦁꦏꦺꦏꦊꦧꦼꦠ꧀ꦮꦮꦼꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦶꦏ꧀ ꦠꦣꦸ꧉ ꧒꧈ ꦲꦶꦁꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃ꧈ ꦥꦽꦤꦃꦱꦏꦶꦢꦸꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦤ꧀ꦤꦶꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦗꦗꦃꦲꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦿꦶꦏ꧀ ꦏꦪꦼꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦩꦕꦏꦭ꧀ꦱꦺꦮꦸ꧈ (ꦲꦔꦺꦔꦼꦠ꧀ꦠꦤꦱꦫꦠ꧀ꦕꦼꦩ꧀ꦥꦺꦴꦫꦺꦠ꧀)꧈
}}<noinclude></noinclude>
4i2h8ulqcbquw3btcad4a9d2vrydjht
78388
77945
2026-05-16T10:11:52Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78388
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{jawa|{{c|'''''꧋ꦱꦸꦂꦮꦏ꧉'''''}}}}
{{jawa|꧋ꦲꦭꦸꦂꦫꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦛꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦦꦱꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ ꦠꦼꦊꦁꦔꦶꦁꦏꦶꦛ꧈ ꦲꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦮꦶꦤꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦝꦸꦱꦸꦤ꧀ꦏꦼꦩꦶꦫꦶ꧈ ꦱꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦱꦥꦸꦤꦶꦏ꧈ ꦕꦏꦼꦠ꧀꧈ ꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦠꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦢꦺꦴꦱ꧀ꦏꦶꦛꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦥꦗꦁ꧈ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏ꧀ꦲꦶꦦꦚ꧀ꦗꦮꦶ꧈ ꦱꦱꦉꦁꦔꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦩꦤ꧀ꦠꦫꦩ꧀ ꦏꦒꦚ꧀ꦗꦂꦫꦏꦼꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦾꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦦꦩꦤꦃꦲꦤ꧀ ꦤꦭꦶꦏꦱꦒꦼꦢ꧀ꦔꦼꦤ꧀ꦠꦱ꧀ꦱꦶꦪꦸꦢꦥꦿꦁꦩꦼꦗꦃꦲꦶꦲꦂꦗꦶꦔꦁ꧈ (ꦏꦮꦿꦠ꧀ꦧꦧꦢ꧀)꧈ }}
{{jawa|꧋ꦏꦭꦗꦩꦤ꧀ꦱꦩꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦏꦸꦢꦸꦱ꧀ ꦲꦱꦿꦶꦁꦏꦱꦼꦧꦠ꧀ꦤꦒꦫꦶꦥꦢꦸꦱ꧀ꦱꦤ꧀ ꦲꦸꦠꦮꦶꦥꦱꦶꦫꦩ꧀ꦩꦤ꧀꧈}}
{{jawa|꧋ꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦺꦴꦁꦏꦥꦸꦂꦮꦏꦤꦶꦁꦕꦫꦪꦺꦴꦱ꧀ ꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦩꦶꦪꦤ꧈ ꦏꦥꦽꦤꦃꦱꦭꦺꦂꦮꦺꦠꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦶꦛꦥꦛꦶ꧈ ꦱꦩꦁꦏꦺꦏꦊꦧꦼꦠ꧀ꦮꦮꦼꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦶꦏ꧀ ꦠꦣꦸ꧉ ꧒꧈ ꦲꦶꦁꦣꦸꦱꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦝꦺꦴꦃ꧈ ꦥꦽꦤꦃꦱꦏꦶꦢꦸꦭ꧀ꦏꦶꦭꦺꦤ꧀ꦤꦶꦏꦶꦛꦥꦛꦶꦗꦗꦃꦲꦤ꧀ꦝꦶꦱ꧀ꦠꦿꦶꦏ꧀ ꦏꦪꦼꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦶꦤꦤꦩꦕꦏꦭ꧀ꦱꦺꦮꦸ꧈ (ꦲꦔꦺꦔꦼꦠ꧀ꦠꦤꦱꦫꦠ꧀ꦕꦼꦩ꧀ꦥꦺꦴꦫꦺꦠ꧀)꧈
}}<noinclude></noinclude>
hro49x07h22ylojvmfr2x9iw5ruf1v7
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/19
250
24798
77942
2026-05-15T23:18:40Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77942
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77943
77942
2026-05-15T23:24:06Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77943
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 20 ―}}</noinclude>{{C|{{L|'''''Panataning ringgit wonten nglebet kotak.'''''}}}}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 19 crop).jpg|400px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
3pw88qh3xoc1agu6i5zpx1t1tdprzut
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/22
250
24799
77944
2026-05-15T23:24:27Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77944
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
77946
77944
2026-05-15T23:26:24Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
77946
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 23 —}}</noinclude>
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 22 crop) werkudara.jpg|500px|nirbing|pus]]
{{C|'''''WERKUDARA'''''}}<noinclude></noinclude>
jft13sham65sc96r638lshtfpd3x8ja
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/27
250
24800
77947
2026-05-15T23:28:11Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
77947
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
78097
77947
2026-05-16T04:00:28Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78097
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||– 28 –}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 27 crop)2.jpg|600px|nirbing]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{C|''PRAGOTA''<br>Wanda POTJOL Tjawetan}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{gap}}{{gap}}{{C|''PRABAWA''<br> Wanda POTJOL Tjawetan}}
|}<noinclude></noinclude>
1zuxgsxpc0leudymqwehza1tlbvl2bm
Kaca:ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦯꦺꦃꦗꦁꦏꦸꦁ.pdf/2
250
24801
77948
2026-05-15T23:28:59Z
Kriita
885
/* Without text */
77948
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Kriita" /></noinclude><noinclude></noinclude>
dtocwxq6optqnbln8wkjwihfefkbs7n
Kaca:Bratayuda.pdf/120
250
24802
77950
2026-05-16T00:22:56Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77950
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>beksa samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin
ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung
dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara
taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun
Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami
suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang.
8.
KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA
NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA
Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali
mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing
paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi
manengah.
Prabu Kresna enggal angatag A:rjuna, dipun ken nitih rata,
amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata,
ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami
anyuraki saking katebihan kemawon.
Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon,
sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: Derang Kama
tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene wamanipun kernbar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun
piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang
sanes, Prabu Kama semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta
sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Kama jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah,
Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa
saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados.
Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng:
Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun sa124<noinclude></noinclude>
i1ebdbg8z307jv8elhn1jb5565jw7wm
77951
77950
2026-05-16T00:32:18Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77951
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>beksa samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang.
<ol type="1", start="8">
<li>'''KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA'''</li>
</ol>
Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali
mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing
paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi manengah.
Prabu Kresna enggal angatag Arjuna, dipun ken nitih rata,
amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata, ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami anyuraki saking katebihan kemawon.
Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon,
sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: perang Kama tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene warnanipun kembar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang sanes, Prabu Karna semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Karna jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah,
Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados.
Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng: Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun sa-<noinclude>{{rh|124}}</noinclude>
771p6lhdyyl2rqnttqy46gpqodo76hm
78166
77951
2026-05-16T08:44:46Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78166
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|beksa|ambeksa}} samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang.
<ol type="1", start="8">
<li>'''KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA'''</li>
</ol>
Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali
mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing
paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi manengah.
Prabu Kresna enggal angatag Arjuna, dipun ken nitih rata,
amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata, ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami anyuraki saking katebihan kemawon.
Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon,
sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: perang Kama tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene warnanipun kembar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang sanes, Prabu Karna semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Karna jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah,
Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados.
Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng: Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun sa-<noinclude>{{rh|124}}</noinclude>
6p685nh6eyuo7df99k1zzi2k1m10jcs
78170
78166
2026-05-16T08:48:36Z
Elcamatcha
1466
78170
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|beksa|ambeksa}} samargi-margi. Prabu Yudhisthira sasentananipun tuwin ingkang garwa enggal sami methuk angurmati, sarta angugung dhateng Wrekodara. Jenggot sarta brengosipun Raden Wrekodara taksih gupak rah, lajeng dipun peres wonten ing mastakanipun Dewi Drupadi. Ing ngriku luware punaginipun. Pandhawa sami suka, ing sakedhap punika kendel anggenipun perang.
<ol type="1", start="8">
<li>'''KARNA PERANG KALIYAN ARJUNA. TIWAS. SALYA NGULUNGAKEN PEJAHIPUN DHATENG PANDHAWA'''</li>
</ol>
Sareng wanci lingsir kilen Pandhawa sami geger aningali
mengsah dhateng, ratanipun Kama sampun dumugi satengahing
paprangan, anglancangi balanipun. Bala Korawa sami anututi manengah.
Prabu Kresna enggal angatag Arjuna, dipun ken nitih rata,
amethukaken perangipun Kama. Raden Janaka enggal nitih rata, ingkang ngusiri Prabu Kresna. Bala Pandhawa sarta Korawa sami anyuraki saking katebihan kemawon.
Wondening ingkang perang amung senapatinipun kemawon,
sami satunggil, inggih punika ingkang dipun wastani: perang Kama tinandhing. Mila dipun wastani makaten, dene warnanipun kembar akaliyan Raden Janaka. Sami bagusipun, kendel sarta kasektenipun inggih sami, tuwin kasagedanipun. Dhasar sadherekipun piyambak, tunggil ibu sanes bapa. Amung pasemonipun ingkang sanes, Prabu Karna semu ladak, Raden Janaka semu luruh. Sarta sami gadhah jemparing peparing ing dewa. Prabu Karna jemparingipun anama Wijayadanu, punapa saciptanipun ingkang gadhah,
Wijayadanu inggih dados. Raden Dananjaya jemparingipun kekalih, satunggil anama Sarutama, satunggil anama Pasopati, punapa saciptanipun Raden Dananjaya, jemparing kekalih wau inggih dados.
Wondening ingkang dados kusiripun inggih sami ratu ageng: Prabu Salya akaliyan Prabu Kresna. Mila para dewa, para widadari tuwin Pandhawa saha Korawa, ingkang aningali perangipun {{hws|sa|satriya}}<noinclude>{{rh|124}}</noinclude>
57jahucji3wag642wp6j3qgthjrmd3h
Kaca:Bratayuda.pdf/8
250
24803
77952
2026-05-16T00:32:55Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77952
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kakanda Prabu menolak suguhan saya."
"Soal hidangan gampang, Adinda Prabu. Nanti saja," jawab
Sri Kresna.
Hati Sri Kresna merasa gembira melihat para raja yang berkumpul di istana, demikian pula tokoh-tokoh tua yang telah
menghadap. Kemudian Sri Kresna mohon diri kepada Raja Suyudana, katanya hendak beristirahat dulu, dan Raja Suyudana menjawab, "Terserah pada kehendak Kakanda Prabu, raja bijaksana
di seluruh dunia."
Sri Kresna menanggapinya dengan kata-kata, "Semoga Adinda Prabu memperoleh kebahagiaan, berhasillah tugas kewajiban
yang saya lakukan, dan semoga selamatlah akhir kesudahannya."
Setelah berada di luar istana, Sri Kresna berkata kepada keempat dewata, demikian, "Saya hendak beristirahat dahulu.
Besok pagi saja saya akan mengutarakan maksud kedatangan saya
ke marl."
***
Sri Kresna pergi ke tempat tinggal bibinya, Dewi Kunti,
lalu menyembah kakinya. Dewi Kunti menangis, perasaannya seolah-olah seperti bertemu dengan para Pandawa. Kemudian mengutarakan kekesalan hatinya tentang hal-hal yang mungkin akan
tetjadi. Banyak pula nasehatnya yang mengarah pada keselamatan
atau keberhasilan laku. Demikian besarnya keprihatinan Dewi
Kunti, sehingga ucapan-ucapan patah-patah tercampur tangis.
Setelah nasehat Dewi Kunti habis, Sri Kresna lalu minta diri hendak ke pesanggrahan, yaitu di rumah Arya Widura. Setibanya di
situ, lalu banyak persembahan berupa suguhan yang datang.
***
Dalam pada itu sepeninggal Sri Kresna, Suyudana berunding
dengan adik-adiknya, serta dengan Adipati Awangga, yang merupakan pemuka dalam tugas kewajiban. Raja Suyudana merasa
cemas karena hidangannya ditolak oleh Sri Kresna, lalu ujarnya,
11
f
I<noinclude></noinclude>
hnwymehezoo0o5dzid1o1rlhebdf992
77953
77952
2026-05-16T00:41:41Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77953
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kakanda Prabu menolak suguhan saya.”
"Soal hidangan gampang, Adinda Prabu. Nanti saja," jawab
Sri Kresna.
Hati Sri Kresna merasa gembira melihat para raja yang berkumpul di istana, demikian pula tokoh-tokoh tua yang telah menghadap. Kemudian Sri Kresna mohon diri kepada Raja Suyudana, katanya hendak beristirahat dulu, dan Raja Suyudana menjawab, "Terserah pada kehendak Kakanda Prabu, raja bijaksana diseluruh dunia."
Sri Kresna menanggapinya dengan kata-kata, "Semoga Adinda Prabu memperoleh kebahagiaan, berhasillah tugas kewajiban
yang saya lakukan, dan semoga selamatlah akhir kesudahannya."
Setelah berada di luar istana, Sri Kresna berkata kepada keempat dewata, demikian, "Saya hendak beristirahat dahulu. Besok pagi saja saya akan mengutarakan maksud kedatangan saya ke mari.
{{C|* * *}}
Sri Kresna pergi ke tempat tinggal bibinya, Dewi Kunti,
lalu menyembah kakinya. Dewi Kunti menangis, perasaannya seolah-olah seperti bertemu dengan para Pandawa. Kemudian mengutarakan Kekesalan hatinya tentang hal-hal yang mungkin akan terjadi. Banyak pula nasehatnya yang mengarah pada keselamatan atau keberhasilan laku. Demikian besarnya keprihatinan Dewi Kunti, sehingga ucapan-ucapan patah-patah tercampur tangis.
Setelah nasehat Dewi Kunti habis, Sri Kresna lalu minta diri hendak ke pesanggrahan, yaitu di rumah Arya Widura. Setibanya di situ, lalu banyak persembahan berupa suguhan yang datang.
{{C|* * *}}
Dalam pada itu sepeninggal Sri Kresna, Suyudana berunding dengan adik-adiknya, serta dengan Adipati Awangga, yang merupakan pemuka dalam tugas kewajiban. Raja Suyudana merasa cemas karena hidangannya ditolak oleh Sri Kresna, lalu ujarnya,<noinclude>{{rh|||11}}</noinclude>
7qh2fv87otsx2z15h1denqjjzij81m9
78265
77953
2026-05-16T09:19:53Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78265
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kakanda Prabu menolak suguhan saya.”
"Soal hidangan gampang, Adinda Prabu. Nanti saja," jawab
Sri Kresna.
Hati Sri Kresna merasa gembira melihat para raja yang berkumpul di istana, demikian pula tokoh-tokoh tua yang telah menghadap. Kemudian Sri Kresna mohon diri kepada Raja Suyudana, katanya hendak beristirahat dulu, dan Raja Suyudana menjawab, "Terserah pada kehendak Kakanda Prabu, raja bijaksana diseluruh dunia."
Sri Kresna menanggapinya dengan kata-kata, "Semoga Adinda Prabu memperoleh kebahagiaan, berhasillah tugas kewajiban
yang saya lakukan, dan semoga selamatlah akhir kesudahannya."
Setelah berada di luar istana, Sri Kresna berkata kepada keempat dewata, demikian, "Saya hendak beristirahat dahulu. Besok pagi saja saya akan mengutarakan maksud kedatangan saya ke mari.
{{C|* * *}}
Sri Kresna pergi ke tempat tinggal bibinya, Dewi Kunti,
lalu menyembah kakinya. Dewi Kunti menangis, perasaannya seolah-olah seperti bertemu dengan para Pandawa. Kemudian mengutarakan Kekesalan hatinya tentang hal-hal yang mungkin akan terjadi. Banyak pula nasehatnya yang mengarah pada keselamatan atau keberhasilan laku. Demikian besarnya keprihatinan Dewi Kunti, sehingga ucapan-ucapan patah-patah tercampur tangis.
Setelah nasehat Dewi Kunti habis, Sri Kresna lalu minta diri hendak ke pesanggrahan, yaitu di rumah Arya Widura. Setibanya di situ, lalu banyak persembahan berupa suguhan yang datang.
{{C|* * *}}
Dalam pada itu sepeninggal Sri Kresna, Suyudana berunding dengan adik-adiknya, serta dengan Adipati Awangga, yang merupakan pemuka dalam tugas kewajiban. Raja Suyudana merasa cemas karena hidangannya ditolak oleh Sri Kresna, lalu ujarnya,<noinclude>{{rh|||11}}</noinclude>
16k7vywppm1rgrn9vms68wjfw7jdiux
Kaca:Bratayuda.pdf/9
250
24804
77954
2026-05-16T00:42:04Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77954
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>"Raja Dwarawati itu pasti menyimpan rahasia, sebab temyata tidak berkenan menyantap suguhanku. Hai, Drusasana, jangan sampai engkau kehilangan kewaspadaan terhadap Raja Dwarawati itu,
dan berhati-hatilah. Beritahukanlah kepada semua saudara-saudaramu, besok pagi kalian menyusun barisan rahasia. Tak usah dipikirkan terlalu lama, tumpaslah segera orang Dwarawati, karena
ia sebenamya perujudan Pandawa, jadi pasti bermaksud jahat, tak
urungjadi musuh, berpura-pura saja bersikap manis!"
Selesai bersidang seluruh Korawa pulang. Para raja tamu dan
para pinisepuh pulang ke pesanggrahan mereka masing-masing.
Raja Suyudana pulang ke dalam istana, menuju ke tempat permaisuri, Dewi Banowati. Dewi Banowati menyongsong, lalu tangannya dibimbing, diajak masuk ke ruangan, duduk bersama. Para
abdi perempuan menghadap.
***
Ratna Banowati itu lirikan matanya sangat tajam, pandangan matanya manis, perawakannya selaras, banyak geraknya, akan
tetapi menjadi semakin pantas, dan tiada yang tercela. Menjerit
maupun bertingkah pun semakin menawan hati, bersikap bengis,
cemberut maupun melerokkan matanya, tampak semakin manis.
Meskipun tidak mengenakan perhiasan, atau berpakaian sekenanya, atau berkalung kutang pun, tetap pantas. Semua gerak-geraknya serba pantas. Tanpa harum-haruman maupun tanpa bunga,
tetap saja keharumannya memenuhi Istana Astina.
Kala itu matahari sudah hampir terbenam, be:tjalan perlahanlahan, seolah-olah belum puas memandang perhiasan Istana Astina. Seolah-olah matahari itu menoleh, tertawan hatinya melihat
Ratna Banowati, dan para wanita dalam istana.
Ketika matahari terpaksa tenggelam juga, tampak seperti
orang yang kecewa, karena kaum wanita tidak ada yang menyusul.
Ramai suara burung yang sedang mencari tempat .untuk tidur,
takut kalau-kalau kedahuluan munculnya sang ratu malam.
Setelah matahari terbenam, ia digantikan oleh tampilnya
bulan, bintang-gemintang bagaikan disebar di angkasa. Cahayanya
12<noinclude></noinclude>
2ea9f9gp8733n743857xp24p20g6w57
77955
77954
2026-05-16T00:46:47Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77955
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>"Raja Dwarawati itu pasti menyimpan rahasia, sebab temyata tidak berkenan menyantap suguhanku. Hai, Drusasana, jangan sampai engkau kehilangan kewaspadaan terhadap Raja Dwarawati itu, dan berhati-hatilah. Beritahukanlah kepada semua saudara-saudaramu, besok pagi kalian menyusun barisan rahasia. Tak usah dipikirkan terlalu lama, tumpaslah segera orang Dwarawati, karena
ia sebenamya perujudan Pandawa, jadi pasti bermaksud jahat, tak urung jadi musuh, berpura-pura saja bersikap manis!"
Selesai bersidang seluruh Korawa pulang. Para raja tamu dan para pinisepuh pulang ke pesanggrahan mereka masing-masing. Raja Suyudana pulang ke dalam istana, menuju ke tempat permaisuri, Dewi Banowati. Dewi Banowati menyongsong, lalu tangannya dibimbing, diajak masuk ke ruangan, duduk bersama. Para abdi perempuan menghadap.
{{C|* * *}}
Ratna Banowati itu lirikan matanya sangat tajam, pandangan matanya manis, perawakannya selaras, banyak geraknya, akan tetapi menjadi semakin pantas, dan tiada yang tercela. Menjerit maupun bertingkah pun semakin menawan hati, bersikap bengis, cemberut maupun melerokkan matanya, tampak semakin manis. Meskipun tidak mengenakan perhiasan, atau berpakaian sekenanya, atau berkalung kutang pun, tetap pantas. Semua gerak-geraknya serba pantas. Tanpa harum-haruman maupun tanpa bunga, tetap saja keharumannya memenuhi Istana Astina.
Kala itu matahari sudah hampir terbenam, berjalan perlahan-lahan, seolah-olah belum puas memandang perhiasan Istana Astina. Seolah-olah matahari itu menoleh, tertawan hatinya melihat Ratna Banowati, dan para wanita dalam istana.
Ketika matahari terpaksa tenggelam juga, tampak seperti
orang yang kecewa, karena kaum wanita tidak ada yang menyusul. Ramai suara burung yang sedang mencari tempat untuk tidur, takut kalau-kalau kedahuluan munculnya sang ratu malam.
Setelah matahari terbenam, ia digantikan oleh tampilnya bulan, bintang-gemintang bagaikan disebar di angkasa. Cahayanya<noinclude>{{rh|12}}</noinclude>
kdtubyl70v36480vur7eofp2si7eh4w
78266
77955
2026-05-16T09:20:10Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78266
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>"Raja Dwarawati itu pasti menyimpan rahasia, sebab temyata tidak berkenan menyantap suguhanku. Hai, Drusasana, jangan sampai engkau kehilangan kewaspadaan terhadap Raja Dwarawati itu, dan berhati-hatilah. Beritahukanlah kepada semua saudara-saudaramu, besok pagi kalian menyusun barisan rahasia. Tak usah dipikirkan terlalu lama, tumpaslah segera orang Dwarawati, karena
ia sebenamya perujudan Pandawa, jadi pasti bermaksud jahat, tak urung jadi musuh, berpura-pura saja bersikap manis!"
Selesai bersidang seluruh Korawa pulang. Para raja tamu dan para pinisepuh pulang ke pesanggrahan mereka masing-masing. Raja Suyudana pulang ke dalam istana, menuju ke tempat permaisuri, Dewi Banowati. Dewi Banowati menyongsong, lalu tangannya dibimbing, diajak masuk ke ruangan, duduk bersama. Para abdi perempuan menghadap.
{{C|* * *}}
Ratna Banowati itu lirikan matanya sangat tajam, pandangan matanya manis, perawakannya selaras, banyak geraknya, akan tetapi menjadi semakin pantas, dan tiada yang tercela. Menjerit maupun bertingkah pun semakin menawan hati, bersikap bengis, cemberut maupun melerokkan matanya, tampak semakin manis. Meskipun tidak mengenakan perhiasan, atau berpakaian sekenanya, atau berkalung kutang pun, tetap pantas. Semua gerak-geraknya serba pantas. Tanpa harum-haruman maupun tanpa bunga, tetap saja keharumannya memenuhi Istana Astina.
Kala itu matahari sudah hampir terbenam, berjalan perlahan-lahan, seolah-olah belum puas memandang perhiasan Istana Astina. Seolah-olah matahari itu menoleh, tertawan hatinya melihat Ratna Banowati, dan para wanita dalam istana.
Ketika matahari terpaksa tenggelam juga, tampak seperti
orang yang kecewa, karena kaum wanita tidak ada yang menyusul. Ramai suara burung yang sedang mencari tempat untuk tidur, takut kalau-kalau kedahuluan munculnya sang ratu malam.
Setelah matahari terbenam, ia digantikan oleh tampilnya bulan, bintang-gemintang bagaikan disebar di angkasa. Cahayanya<noinclude>{{rh|12}}</noinclude>
5rozudelgg1ecjcoe44wil7afba164f
Kaca:Bratayuda.pdf/31
250
24805
77956
2026-05-16T00:47:36Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77956
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Gajahnya ditetjangkan ke kuda~kuda penarik kereta Raden Janaka,
lalu dilontarkannya gadanya ke arah Raden Janaka, temyata dadanya yang kena, sehingga pingsan dan jatuh terguling di kereta.
Sri Kresna cepat memberikan pertolongan, Raden Janaka diusap
dengan bunga Wijayakusuma, sesudah sadar langsung mengambil
busur melepaskan anak panah, kenalah Raja Bagadenta beserta pawang, dan sekaligus gajahnya, ketiganya mati bersama. Kemudian
para punggawa dan satria pihak Pandawa beramai-ramai menyerbu, Wrekodara tetap mengamuk dengan gadanya. Barisan Korawa
berantakan. Menjelang malam kedua belah pihak mundur ke pesanggrahan masing-masing. Malam itu Korawa bersedih.
Pagi hari tengara perang sudah berbunyi, berbaur dengan suara tetabuhan yang lain. Raja Suyudana berbusana, mengenakan
mahkota yang menyala oleh permata. Ketika keluar dari kubu,
ia diiring para adipati. Derap pasukan bagaikan gunung runtuh.
Semua sudah siap sedia, menantikan kedatangan musuh.
Druna memberi saran kepada Prabu Suyudana, ujarnya, "Jika
Anak Prabu ingin mempercepat tumpasnya para Pandawa, maka
1anaka harus dapat diceraikan dari Wrekodara, cukup sehari saja
mereka terpisah. Jika kedua saudara itu tidak dipisahkan satu
sama lain, Pandawa tak mungkin rusak, dan tak mungkin mati."
Prabu Gardapati menyambung, "Kalau begitu, sayalah yang
akan menantang Janaka, agar ia terpisah dari pasukan induk."
Kesepakatan telah tercapai. Sangkuni bersama Wresaya akan
menantang Raden Wrekodara. Kemudian barisan segera berangkat, berduyun-duyun tiada habis-habisnya. Gelarnya masih tetap
seperti kemarin. Di pihak Pandawa masih menerapkan gelar Garudanglayang.
Ketika kedua pasukan, Pandawa dan Korawa yang bergerak
maju sating bertemu, seperti dua samudra berpapasan. Prabu Gardapati mengendarai gajah menuju ke selatan, mendekati Raden
Dananjaya, seraya menantang, "Hai, Dananjaya, jika engkau benar-benar seorang prajurit, pasti bersedia melayani kehendak
musuh. Mari kita berperang di pinggir gunung itu, agar tidak ada
34<noinclude></noinclude>
tgryjs4qy48g228kn6l7nlwddsje536
77957
77956
2026-05-16T00:52:46Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77957
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Gajahnya diterjangkan ke kuda~kuda penarik kereta Raden Janaka, lalu dilontarkannya gadanya ke arah Raden Janaka, ternyata dadanya yang kena, sehingga pingsan dan jatuh terguling di kereta. Sri Kresna cepat memberikan pertolongan, Raden Janaka diusap dengan bunga Wijayakusuma, sesudah sadar langsung mengambil busur melepaskan anak panah, kenalah Raja Bagadenta beserta pawang, dan sekaligus gajahnya, ketiganya mati bersama. Kemudian para punggawa dan satria pihak Pandawa beramai-ramai menyerbu, Wrekodara tetap mengamuk dengan gadanya. Barisan Korawa berantakan. Menjelang malam kedua belah pihak mundur ke pesanggrahan masing-masing. Malam itu Korawa bersedih.
Pagi hari tengara perang sudah berbunyi, berbaur dengan suara tetabuhan yang lain. Raja Suyudana berbusana, mengenakan mahkota yang menyala oleh permata. Ketika keluar dari kubu, ia diiring para adipati. Derap pasukan bagaikan gunung runtuh. Semua sudah siap sedia, menantikan kedatangan musuh.
Druna memberi saran kepada Prabu Suyudana, ujarnya, "Jika
Anak Prabu ingin mempercepat tumpasnya para Pandawa, maka
Janaka harus dapat diceraikan dari Wrekodara, cukup sehari saja mereka terpisah. Jika kedua saudara itu tidak dipisahkan satu sama lain, Pandawa tak mungkin rusak, dan tak mungkin mati."
Prabu Gardapati menyambung, "Kalau begitu, sayalah yang
akan menantang Janaka, agar ia terpisah dari pasukan induk."
Kesepakatan telah tercapai. Sangkuni bersama Wresaya akan
menantang Raden Wrekodara. Kemudian barisan segera berangkat, berduyun-duyun tiada habis-habisnya. Gelarnya masih tetap seperti kemarin. Di pihak Pandawa masih menerapkan gelar Garudanglayang.
Ketika kedua pasukan, Pandawa dan Korawa yang bergerak maju saling bertemu, seperti dua samudra berpapasan. Prabu Gardapati mengendarai gajah menuju ke selatan, mendekati Raden Dananjaya, seraya menantang, "Hai, Dananjaya, jika engkau benar-benar seorang prajurit, pasti bersedia melayani kehendak musuh. Mari kita berperang di pinggir gunung itu, agar tidak ada<noinclude>{{rh|34}}</noinclude>
qo3wc01vgcabrr6vtdbjekb0gfuh3c1
78289
77957
2026-05-16T09:27:19Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78289
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Gajahnya diterjangkan ke kuda-kuda penarik kereta Raden Janaka, lalu dilontarkannya gadanya ke arah Raden Janaka, ternyata dadanya yang kena, sehingga pingsan dan jatuh terguling di kereta. Sri Kresna cepat memberikan pertolongan, Raden Janaka diusap dengan bunga Wijayakusuma, sesudah sadar langsung mengambil busur melepaskan anak panah, kenalah Raja Bagadenta beserta pawang, dan sekaligus gajahnya, ketiganya mati bersama. Kemudian para punggawa dan satria pihak Pandawa beramai-ramai menyerbu, Wrekodara tetap mengamuk dengan gadanya. Barisan Korawa berantakan. Menjelang malam kedua belah pihak mundur ke pesanggrahan masing-masing. Malam itu Korawa bersedih.
Pagi hari tengara perang sudah berbunyi, berbaur dengan suara tetabuhan yang lain. Raja Suyudana berbusana, mengenakan mahkota yang menyala oleh permata. Ketika keluar dari kubu, ia diiring para adipati. Derap pasukan bagaikan gunung runtuh. Semua sudah siap sedia, menantikan kedatangan musuh.
Druna memberi saran kepada Prabu Suyudana, ujarnya, "Jika
Anak Prabu ingin mempercepat tumpasnya para Pandawa, maka
Janaka harus dapat diceraikan dari Wrekodara, cukup sehari saja mereka terpisah. Jika kedua saudara itu tidak dipisahkan satu sama lain, Pandawa tak mungkin rusak, dan tak mungkin mati."
Prabu Gardapati menyambung, "Kalau begitu, sayalah yang
akan menantang Janaka, agar ia terpisah dari pasukan induk."
Kesepakatan telah tercapai. Sangkuni bersama Wresaya akan
menantang Raden Wrekodara. Kemudian barisan segera berangkat, berduyun-duyun tiada habis-habisnya. Gelarnya masih tetap seperti kemarin. Di pihak Pandawa masih menerapkan gelar Garudanglayang.
Ketika kedua pasukan, Pandawa dan Korawa yang bergerak maju saling bertemu, seperti dua samudra berpapasan. Prabu Gardapati mengendarai gajah menuju ke selatan, mendekati Raden Dananjaya, seraya menantang, "Hai, Dananjaya, jika engkau benar-benar seorang prajurit, pasti bersedia melayani kehendak musuh. Mari kita berperang di pinggir gunung itu, agar tidak ada<noinclude>{{rh|34}}</noinclude>
prouqu1w9lzme62o14az4jhkb31ne2p
Kaca:Bratayuda.pdf/32
250
24806
77958
2026-05-16T00:53:17Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77958
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>yang menghalang-halangi, sehingga apa pun kehendak kita, kita
akan puas. Jika engkau tidak memenuhi kehendakku, pasti engkau
bukan prajurit sejati. Aku raja Kapitu, namaku Gardapati, yang
kesaktiannya sudah termasyhur."
Petjalanan Prabu Gardapati beserta pasukannya sudah sampai
di kaki gunung. Raden Dananjaya yang mendengar tantangan pada
dirinya, segera menyusul Prabu Gardapati, berkereta bersama Sri
Kresna, diikuti oleh pasukannya.
Kemudian Raden Wresaya menantang Raden Wrekodara,
ujarnya, "Hai, Wrekodara, jika engkau benar-benar seorang lakilaki, hayo, tandingi aku di pinggir lautan, agar tidak ada yang
mengganggu, dan puas mengadu kesaktian."
Raden Wrekodara tidak tahan mendengar tantangan itu, lalu
meninggalkan barisan, tanpa menoleh lagi ia berjalan ke utara.
Druna melihat Raden Dananjaya ke selatan, dan Raden Wrekodara
ke utara, lalu mengganti gelarnya menjadi Cakraningswandana, dan
memastikan tidak akan dapat dirusa)( oleh musuh. Karna bersama
Karpa menjadi kaki, Arya Jayadrata beserta para adipati menjadi
telinga, Prabu Suyudana menjadi ekor.
Pandawa yang melihat Korawa mengganti gelarnya, serta
pisahnya Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya, perasaan mereka agak cemas. Prabu Yudistira lalu memberi perintah supaya memanggil Raden Abimanyu, yang akan ditugasi merusak gelar Korawa. Adapun yang diutus memanggil ialah Raden Gatutkaca.
Setelah Raden Gatutkaca sampai ke pesanggrahan Raden
Abimanyu lalu berkata, ujarnya, "Adinda, engkau dipanggil Sri
Baginda, akan diberi tugas merusak gelarnya Korawa. Sejak paman pergi ke selatan, berperang dengan Gardapati di kaki gunung,
tidak ada lagi yang memiliki cakra, dan hanya engkau yang punya.
Itulah yang tepat untuk merusak siasat Korawa."
Dewi Siti Sundari istri Raden Abimanyu, mendengar katakata Raden Gatutkaca menjadi sangat prihatin. Karena ia telah dipesan oleh ayahnya, bahwa untuk hari itu, jangan sekali-kali melepaskan Raden Abinlanyu maju ke medan perang. Karena bingung
35
•<noinclude></noinclude>
f0sqtr64hetocupu2cvw5b9gco8gdi6
77959
77958
2026-05-16T00:57:52Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77959
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>yang menghalang-halangi, sehingga apa pun kehendak kita, kita akan puas. Jika engkau tidak memenuhi kehendakku, pasti engkau bukan prajurit sejati. Aku raja Kapitu, namaku Gardapati, yang kesaktiannya sudah termasyhur."
Perjalanan Prabu Gardapati beserta pasukannya sudah sampai di kaki gunung. Raden Dananjaya yang mendengar tantangan pada dirinya, segera menyusul Prabu Gardapati, berkereta bersama Sri Kresna, diikuti oleh pasukannya.
Kemudian Raden Wresaya menantang Raden Wrekodara, ujarnya, "Hai, Wrekodara, jika engkau benar-benar seorang laki-laki, hayo, tandingi aku di pinggir lautan, agar tidak ada yang mengganggu, dan puas mengadu kesaktian."
Raden Wrekodara tidak tahan mendengar tantangan itu, lalu
meninggalkan barisan, tanpa menoleh lagi ia berjalan ke utara. Druna melihat Raden Dananjaya ke selatan, dan Raden Wrekodara ke utara, lalu mengganti gelarnya menjadi Cakraningswandana, dan memastikan tidak akan dapat dirusa oleh musuh. Karna bersama Karpa menjadi kaki, Arya Jayadrata beserta para adipati menjadi telinga, Prabu Suyudana menjadi ekor.
Pandawa yang melihat Korawa mengganti gelarnya, serta
pisahnya Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya, perasaan mereka agak cemas. Prabu Yudistira lalu memberi perintah supaya memanggil Raden Abimanyu, yang akan ditugasi merusak gelar Korawa. Adapun yang diutus memanggil ialah Raden Gatutkaca.
Setelah Raden Gatutkaca sampai ke pesanggrahan Raden
Abimanyu lalu berkata, ujarnya, "Adinda, engkau dipanggil Sri Baginda, akan diberi tugas merusak gelarnya Korawa. Sejak paman pergi ke selatan, berperang dengan Gardapati di kaki gunung, tidak ada lagi yang memiliki cakra, dan hanya engkau yang punya. Itulah yang tepat untuk merusak siasat Korawa."
Dewi Siti Sundari istri Raden Abimanyu, mendengar kata-kata Raden Gatutkaca menjadi sangat prihatin. Karena ia telah dipesan oleh ayahnya, bahwa untuk hari itu, jangan sekali-kali melepaskan Raden Abimanyu maju ke medan perang. Karena bingung<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude>
4b19goo6de4xs96p76z7qv3dnjhhh7m
78290
77959
2026-05-16T09:27:30Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78290
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>yang menghalang-halangi, sehingga apa pun kehendak kita, kita akan puas. Jika engkau tidak memenuhi kehendakku, pasti engkau bukan prajurit sejati. Aku raja Kapitu, namaku Gardapati, yang kesaktiannya sudah termasyhur."
Perjalanan Prabu Gardapati beserta pasukannya sudah sampai di kaki gunung. Raden Dananjaya yang mendengar tantangan pada dirinya, segera menyusul Prabu Gardapati, berkereta bersama Sri Kresna, diikuti oleh pasukannya.
Kemudian Raden Wresaya menantang Raden Wrekodara, ujarnya, "Hai, Wrekodara, jika engkau benar-benar seorang laki-laki, hayo, tandingi aku di pinggir lautan, agar tidak ada yang mengganggu, dan puas mengadu kesaktian."
Raden Wrekodara tidak tahan mendengar tantangan itu, lalu
meninggalkan barisan, tanpa menoleh lagi ia berjalan ke utara. Druna melihat Raden Dananjaya ke selatan, dan Raden Wrekodara ke utara, lalu mengganti gelarnya menjadi Cakraningswandana, dan memastikan tidak akan dapat dirusa oleh musuh. Karna bersama Karpa menjadi kaki, Arya Jayadrata beserta para adipati menjadi telinga, Prabu Suyudana menjadi ekor.
Pandawa yang melihat Korawa mengganti gelarnya, serta
pisahnya Raden Wrekodara dan Raden Dananjaya, perasaan mereka agak cemas. Prabu Yudistira lalu memberi perintah supaya memanggil Raden Abimanyu, yang akan ditugasi merusak gelar Korawa. Adapun yang diutus memanggil ialah Raden Gatutkaca.
Setelah Raden Gatutkaca sampai ke pesanggrahan Raden
Abimanyu lalu berkata, ujarnya, "Adinda, engkau dipanggil Sri Baginda, akan diberi tugas merusak gelarnya Korawa. Sejak paman pergi ke selatan, berperang dengan Gardapati di kaki gunung, tidak ada lagi yang memiliki cakra, dan hanya engkau yang punya. Itulah yang tepat untuk merusak siasat Korawa."
Dewi Siti Sundari istri Raden Abimanyu, mendengar kata-kata Raden Gatutkaca menjadi sangat prihatin. Karena ia telah dipesan oleh ayahnya, bahwa untuk hari itu, jangan sekali-kali melepaskan Raden Abimanyu maju ke medan perang. Karena bingung<noinclude>{{rh|||35}}</noinclude>
oi50deqxm0wkhmzp92kl0icc4xlp8px
Kaca:Bratayuda.pdf/33
250
24807
77960
2026-05-16T00:58:10Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77960
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>dan sedihnya, Dewi Siti Sundari tak dapat berbicara, menahan air
mata, menangis di dalam hati, namun tak berani menghalang-halangi kepergian suaminya, karena tabu bagi istri seorang satria, tak
boleh berkeberatan jika ditinggal ke medan perang.
Raden Abimanyu bersiap-siap, Dewi Siti Sundari menyarankan supaya mohon diri kepada istri Sri Kresna. Abimanyu menurut, ia mohon diri kepada istri Sri Kresna, dan kepada ibunya.
Sesudah itu lalu berangkat menuju ke medan perang. Setibanya
di hadapan uaknya, Prabu Yudistira, lalu menyembah. Sri Baginda segera bersabda, "Anakku, Korawa sekarang berganti gelar Cakrabyuha. Rusaklah gelar itu!"
Abimanyu menyatakan kesediaannya lalu berangkat. Kemudian ia memasang gelar Supiturang. Drustajumena menjadi ujung
supit kanan, Gatutkaca kiri, Setyaki menjadi mulut, Prabu parmaputra sebagai kepala, para raja berada di belakang, sedangkan
Abimanyu menempatkan diri di sungut.
Setelah gelar tersusun, dan Korawa pun sudah siap pula, seketika itu suasana menjadi gelap-gulita. Pandawa lalu menyerang di
bawah pimpinan Raden Abimanyu. Suara gendang, gong, beri , dan
sorak-sorai prajurit kedua belah pihak, gemuruh seperti akan
membelah angkasa. Pasukan Pandawa dan Korawa sama-sama melepaskan pasukan berkuda, suara para punggawa yang mengendarai gajah atau kereta, berbaur sorak-sorai prajurit, membahana seperti halilintar.
Raden Abimanyu menarik busur melepaskan cakra, menjatuhi Korawa. Gelarnya Cakrabyuha rusak, prajuritnya banyak
yang mati. Sisanya mengungsi ke tempat Prabu Suyudana, karena
takut akan amukan Abimanyu, yang menjadi sungut pasukan,
memimpin pasukan Pandawa, amat berani serta sakti.
Raden Arya Jayadrata dengan cepat menutup jalan. Barisan
Pandawa terputus. Abimanyu terkurung, lalu dikeroyok oleh
sebagian besar Korawa, ialah Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikata, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradarma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti,
36<noinclude></noinclude>
6j74cpyipu2gyn9mn8t0nbt22v44juv
77961
77960
2026-05-16T01:13:06Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77961
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>dan sedihnya, Dewi Siti Sundari tak dapat berbicara, menahan air mata, menangis di dalam hati, namun tak berani menghalang-halangi kepergian suaminya, karena tabu bagi istri seorang satria, tak boleh berkeberatan jika ditinggal ke medan perang.
Raden Abimanyu bersiap-siap, Dewi Siti Sundari menyarankan supaya mohon diri kepada istri Sri Kresna. Abimanyu menurut, ia mohon diri kepada istri Sri Kresna, dan kepada ibunya. Sesudah itu lalu berangkat menuju ke medan perang. Setibanya di hadapan uaknya, Prabu Yudistira, lalu menyembah. Sri Baginda segera bersabda, "Anakku, Korawa sekarang berganti gelar Cakrabyuha. Rusaklah gelar itu!"
Abimanyu menyatakan kesediaannya lalu berangkat. Kemudian ia memasang gelar Supiturang. Drustajumena menjadi ujung
supit kanan, Gatutkaca kiri, Setyaki menjadi mulut, Prabu parmaputra sebagai kepala, para raja berada di belakang, sedangkan Abimanyu menempatkan diri di sungut.
Setelah gelar tersusun, dan Korawa pun sudah siap pula, seketika itu suasana menjadi gelap-gulita. Pandawa lalu menyerang di bawah pimpinan Raden Abimanyu. Suara gendang, gong, beri, dan sorak-sorai prajurit kedua belah pihak, gemuruh seperti akan membelah angkasa. Pasukan Pandawa dan Korawa sama-sama melepaskan pasukan berkuda, suara para punggawa yang mengendarai gajah atau kereta, berbaur sorak-sorai prajurit, membahana seperti halilintar. Raden Abimanyu menarik busur melepaskan cakra, menjatuhi Korawa. Gelarnya Cakrabyuha rusak, prajuritnya banyak yang mati. Sisanya mengungsi ke tempat Prabu Suyudana, karena takut akan amukan Abimanyu, yang menjadi sungut pasukan, memimpin pasukan Pandawa, amat berani serta sakti.
Raden Arya Jayadrata dengan cepat menutup jalan. Barisan Pandawa terputus. Abimanyu terkurung, lalu dikeroyok oleh sebagian besar Korawa, ialah Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikata, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradarma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti,<noinclude>{{rh|36}}</noinclude>
jfzd0qpn0ssa3zhkzwuk81o4nlpafmk
78291
77961
2026-05-16T09:27:41Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78291
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>dan sedihnya, Dewi Siti Sundari tak dapat berbicara, menahan air mata, menangis di dalam hati, namun tak berani menghalang-halangi kepergian suaminya, karena tabu bagi istri seorang satria, tak boleh berkeberatan jika ditinggal ke medan perang.
Raden Abimanyu bersiap-siap, Dewi Siti Sundari menyarankan supaya mohon diri kepada istri Sri Kresna. Abimanyu menurut, ia mohon diri kepada istri Sri Kresna, dan kepada ibunya. Sesudah itu lalu berangkat menuju ke medan perang. Setibanya di hadapan uaknya, Prabu Yudistira, lalu menyembah. Sri Baginda segera bersabda, "Anakku, Korawa sekarang berganti gelar Cakrabyuha. Rusaklah gelar itu!"
Abimanyu menyatakan kesediaannya lalu berangkat. Kemudian ia memasang gelar Supiturang. Drustajumena menjadi ujung
supit kanan, Gatutkaca kiri, Setyaki menjadi mulut, Prabu parmaputra sebagai kepala, para raja berada di belakang, sedangkan Abimanyu menempatkan diri di sungut.
Setelah gelar tersusun, dan Korawa pun sudah siap pula, seketika itu suasana menjadi gelap-gulita. Pandawa lalu menyerang di bawah pimpinan Raden Abimanyu. Suara gendang, gong, beri, dan sorak-sorai prajurit kedua belah pihak, gemuruh seperti akan membelah angkasa. Pasukan Pandawa dan Korawa sama-sama melepaskan pasukan berkuda, suara para punggawa yang mengendarai gajah atau kereta, berbaur sorak-sorai prajurit, membahana seperti halilintar. Raden Abimanyu menarik busur melepaskan cakra, menjatuhi Korawa. Gelarnya Cakrabyuha rusak, prajuritnya banyak yang mati. Sisanya mengungsi ke tempat Prabu Suyudana, karena takut akan amukan Abimanyu, yang menjadi sungut pasukan, memimpin pasukan Pandawa, amat berani serta sakti.
Raden Arya Jayadrata dengan cepat menutup jalan. Barisan Pandawa terputus. Abimanyu terkurung, lalu dikeroyok oleh sebagian besar Korawa, ialah Sudarga, Sudarma, Wiryajaya, Susena, Satrujaya, Jayasekti, Jayawikata, Jayadarma, Upacitra, Carucitra, Citradarma, Citrasena, Citraksi, Citradirgantara, Citramurti,<noinclude>{{rh|36}}</noinclude>
7m09k4exks9nt7z5lsj8qrsekcpi1ky
Kaca:Bratayuda.pdf/34
250
24808
77962
2026-05-16T01:13:35Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77962
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, dan Raden
l_,esmanakumara, putra mahkota Astina, ditambah lagi Kartasuta.
-Semua turut. mengepung Raden Abimanyu. Kemudian Kartasuta
mati, terkena panah Abimanyu. Boleh dikatakan Abimanyu sudah
mata gelap, sehingga sedikit pun tidak ada perasaan fakut meskipun dikeroyok demikian banyak. Secasrawa mati lagi terkena
panahnya. Kemudian putra mahkota Astina yang bernama Raden
Lesmanakumara melepaskan panahnya, dan yang dituju ialah Abimanyu. Akan tetapi Abimanyu lebih cepat. Abimanyu segera
membalas, dan kenalah Lesmanakumara di dadanya, lalu mati.
Abimanyu sudah seperti orang mabuk. Ia menuju ke pusat pasukan Korawa, yaitu tempatnya Prabu Suyudana, sambil melepaskan
panah sebanyak-banyaknya.
Ketika melihat putra mahkota Astina sudah tewas oleh Abimanyu, maka Sindureja bersama Prabu Suyudana bermaksud menuntut balas. Lalu melepaskan anak panah, Abimanyu kena, kemudian disusul para Korawa yang lain, banyak yang turut melepaskan anak panah, dari kiri, dari kanan datangnya anak panah
semakin gencar, dan satu pun tidak ada yang luput. Abimanyu
menderita luka di dada, di punggung, di belikat, di tulang belakang, di betis, akan tetapi ia tetap gagah berani. Langkahnya semakin jauh ke tengah-tengah musuh, dan di hatinya terbetik suatu
keinginan, bahwa kematiannya di medan perang itu dapat bersama-sama dengan Prabu Suyudana. Pacta waktu sangat banyak
kuda maupun kereta yang hancur terkena anak panah.
Sekali lagi Abimanyu menarik busurnya, akan tetapi busurnya patah. Sedangkan panah musuh tiada putus-putusnya menjatuhi bagaikan hujan. Dalam keadaan demikian itu Abimanyu merasa seperti dicakari wanita. Ke kiri dan ke kanan ia menangkapi
panah yang menghujaninya, dan tingkah-laku Abimanyu sewaktu
dikepung dan dihujani anak panah, bagaikan bertemu dengan seorang gadis. Tubuhnya penuh luka, akan tetapi tak ada niatnya
untuk mundur, dan keberaniannya pun tiada berubah.
37<noinclude></noinclude>
7xhynksb1u5v6ng1k4qk4x5rywngj43
77963
77962
2026-05-16T01:18:19Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77963
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, dan Raden Lesmanakumara, putra mahkota Astina, ditambah lagi Kartasuta. Semua turut, mengepung Raden Abimanyu. Kemudian Kartasuta mati, terkena panah Abimanyu. Boleh dikatakan Abimanyu sudah mata gelap, sehingga sedikit pun tidak ada perasaan takut meskipun dikeroyok demikian banyak. Secasrawa mati lagi terkena
panahnya. Kemudian putra mahkota Astina yang bernama Raden Lesmanakumara melepaskan panahnya, dan yang dituju ialah Abimanyu. Akan tetapi Abimanyu lebih cepat. Abimanyu segera membalas, dan kenalah Lesmanakumara di dadanya, lalu mati. Abimanyu sudah seperti orang mabuk. Ia menuju ke pusat pasukan Korawa, yaitu tempatnya Prabu Suyudana, sambil melepaskan panah sebanyak-banyaknya.
Ketika melihat putra mahkota Astina sudah tewas oleh Abimanyu, maka Sindureja bersama Prabu Suyudana bermaksud menuntut balas. Lalu melepaskan anak panah, Abimanyu kena, kemudian disusul para Korawa yang lain, banyak yang turut melepaskan anak panah, dari kiri, dari kanan datangnya anak panah semakin gencar, dan satu pun tidak ada yang luput. Abimanyu menderita luka di dada, di punggung, di belikat, di tulang belakang, di betis, akan tetapi ia tetap gagah berani. Langkahnya semakin jauh ke tengah-tengah musuh, dan di hatinya terbetik suatu keinginan, bahwa kematiannya di medan perang itu dapat bersama-sama dengan Prabu Suyudana. Pada waktu sangat banyak kuda maupun kereta yang hancur terkena anak panah.
Sekali lagi Abimanyu menarik busurnya, akan tetapi busurnya patah. Sedangkan panah musuh tiada putus-putusnya menjatuhi bagaikan hujan. Dalam keadaan demikian itu Abimanyu merasa seperti dicakari wanita. Ke kiri dan ke kanan ia menangkapi panah yang menghujaninya, dan tingkah-laku Abimanyu sewaktu dikepung dan dihujani anak panah, bagaikan bertemu dengan seorang gadis. Tubuhnya penuh luka, akan tetapi tak ada niatnya untuk mundur, dan keberaniannya pun tiada berubah.<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude>
67vz3teru97p7f7lswolgon3zits86w
78292
77963
2026-05-16T09:28:00Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78292
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Citrawicitra, Surasudirga, Dirgasura, Yutayuni, Yutayuta, Senacitra, Durgaamong, Durgapati, Durgaangsa, Darma, Durganta, Durgantara, Darmayuda, Yudakarti, Dursasana, Sindureja, dan Raden Lesmanakumara, putra mahkota Astina, ditambah lagi Kartasuta. Semua turut, mengepung Raden Abimanyu. Kemudian Kartasuta mati, terkena panah Abimanyu. Boleh dikatakan Abimanyu sudah mata gelap, sehingga sedikit pun tidak ada perasaan takut meskipun dikeroyok demikian banyak. Secasrawa mati lagi terkena
panahnya. Kemudian putra mahkota Astina yang bernama Raden Lesmanakumara melepaskan panahnya, dan yang dituju ialah Abimanyu. Akan tetapi Abimanyu lebih cepat. Abimanyu segera membalas, dan kenalah Lesmanakumara di dadanya, lalu mati. Abimanyu sudah seperti orang mabuk. Ia menuju ke pusat pasukan Korawa, yaitu tempatnya Prabu Suyudana, sambil melepaskan panah sebanyak-banyaknya.
Ketika melihat putra mahkota Astina sudah tewas oleh Abimanyu, maka Sindureja bersama Prabu Suyudana bermaksud menuntut balas. Lalu melepaskan anak panah, Abimanyu kena, kemudian disusul para Korawa yang lain, banyak yang turut melepaskan anak panah, dari kiri, dari kanan datangnya anak panah semakin gencar, dan satu pun tidak ada yang luput. Abimanyu menderita luka di dada, di punggung, di belikat, di tulang belakang, di betis, akan tetapi ia tetap gagah berani. Langkahnya semakin jauh ke tengah-tengah musuh, dan di hatinya terbetik suatu keinginan, bahwa kematiannya di medan perang itu dapat bersama-sama dengan Prabu Suyudana. Pada waktu sangat banyak kuda maupun kereta yang hancur terkena anak panah.
Sekali lagi Abimanyu menarik busurnya, akan tetapi busurnya patah. Sedangkan panah musuh tiada putus-putusnya menjatuhi bagaikan hujan. Dalam keadaan demikian itu Abimanyu merasa seperti dicakari wanita. Ke kiri dan ke kanan ia menangkapi panah yang menghujaninya, dan tingkah-laku Abimanyu sewaktu dikepung dan dihujani anak panah, bagaikan bertemu dengan seorang gadis. Tubuhnya penuh luka, akan tetapi tak ada niatnya untuk mundur, dan keberaniannya pun tiada berubah.<noinclude>{{rh|||37}}</noinclude>
gdhetsa07c7mtbppys9t86ijkgz52fk
Kaca:Bratayuda.pdf/35
250
24809
77964
2026-05-16T01:18:46Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77964
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Abimanyu berseru-seru, "Hai, Korawa, tak usah engkau gugup jika engkau menghendaki nyawaku. Aku tidak akan menghindar. Bagi putra Pandawa, meskipun semakin banyak luka diderita, rasanya semakin gembira dalam menghadapi kematian, karena
sudah sepatutnyalah seorang satria gugur di medan perang karena
dikeroyok."
Suara tantangan Abimanyu itu diucapkannya terputus-putus, tak sempat ia mencabuti anak panah yang menghujaninya.
anak panah itu bersusun-susun bagaikan batang ilalang yang menancap di dadanya. Dan kemudian yang menancap di dada maupun di punggung bagaikan gubahan bunga kantil. Anak panah yang
jatuh ke kereta manik berlumuran darah, bagaikan jelaga bercampur atal. Mata Abimanyu sering pula kena panah, kelihatan kejapnya menawan hati. Kepalanya dapat diumpamakan seperti kernbang Kanigara dan kembang Sumarsana, yang sedang diperebutkan oleh orang banyak hendak digubah. Dadanya bagaikan bunga
Tunjung mekar. Gugurnya seorang satria yang berwatak pemberani membuat pilunya hati. Seketika itu turun hujan rintik-rintik,
dan banyak kumbang beterbangan di angkasa, seperti hendak
menghisap kembang.
Prabu Yudistira sudah tahu, bahwa Abimanyu gugur dikeroyok musuh. Setyaki, Gatutkaca, Dratajumena hendak menuntut balas, lalu meneijang pasukan Korawa, sepak-terjangnya seperti hendak mempercepat kematian, sehingga menggetarkan bumi.
Prabu Darmaputra bersama Pancawala, putra Amarta juga turut
membantu. Ramainya peperangan itu luar biasa. Kemudian turunlah malam meliputi bumi, dan bubarlah yang sedang berperang.
Korawa bergembira-ria.
***
Tersebutlah Raden Dananjaya yang berperang di kaki
gunung, dengan didampingi oleh Sri Kresna, perangnya benarbenar ramai. Prabu Gardapati sudah tewas, kemudian bubar, dan
semua pulang. Setibanya di pesanggrahan, Raden Dananjaya mendengar tangis. Seluruh keluarga, baik dari garis ibu maupun garis
ayah, lebih-lebih kedua istrinya, yaitu Dewi Wara Sumbadra dan
38<noinclude></noinclude>
0gk3cz18su60qidog0uj3m906l361ch
77965
77964
2026-05-16T01:22:07Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77965
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Abimanyu berseru-seru, "Hai, Korawa, tak usah engkau gugup jika engkau menghendaki nyawaku. Aku tidak akan menghindar. Bagi putra Pandawa, meskipun semakin banyak luka diderita, rasanya semakin gembira dalam menghadapi kematian, karena sudah sepatutnyalah seorang satria gugur di medan perang karena dikeroyok."
Suara tantangan Abimanyu itu diucapkannya terputus-putus, tak sempat ia mencabuti anak panah yang menghujaninya.
anak panah itu bersusun-susun bagaikan batang ilalang yang menancap di dadanya. Dan kemudian yang menancap di dada maupun di punggung bagaikan gubahan bunga kantil. Anak panah yang jatuh ke kereta manik berlumuran darah, bagaikan jelaga bercampur atal. Mata Abimanyu sering pula kena panah, kelihatan kejapnya menawan hati. Kepalanya dapat diumpamakan seperti kembang Kanigara dan kembang Sumarsana, yang sedang diperebutkan oleh orang banyak hendak digubah. Dadanya bagaikan bunga Tunjung mekar. Gugurnya seorang satria yang berwatak pemberani membuat pilunya hati. Seketika itu turun hujan rintik-rintik,
dan banyak kumbang beterbangan di angkasa, seperti hendak
menghisap kembang.
Prabu Yudistira sudah tahu, bahwa Abimanyu gugur dikeroyok musuh. Setyaki, Gatutkaca, Dratajumena hendak menuntut balas, lalu menerjang pasukan Korawa, sepak-terjangnya seperti hendak mempercepat kematian, sehingga menggetarkan bumi. Prabu Darmaputra bersama Pancawala, putra Amarta juga turut membantu. Ramainya peperangan itu luar biasa. Kemudian turunlah malam meliputi bumi, dan bubarlah yang sedang berperang. Korawa bergembira-ria.
{{C|* * *}}
Tersebutlah Raden Dananjaya yang berperang di kaki gunung, dengan didampingi oleh Sri Kresna, perangnya benar-benar ramai. Prabu Gardapati sudah tewas, kemudian bubar, dan semua pulang. Setibanya di pesanggrahan, Raden Dananjaya mendengar tangis. Seluruh keluarga, baik dari garis ibu maupun garis ayah, lebih-lebih kedua istrinya, yaitu Dewi Wara Sumbadra dan<noinclude>{{rh|38}}</noinclude>
i31xgt992mgtyshvxifo9u6nnnzbxz0
78293
77965
2026-05-16T09:29:21Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78293
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Abimanyu berseru-seru, "Hai, Korawa, tak usah engkau gugup jika engkau menghendaki nyawaku. Aku tidak akan menghindar. Bagi putra Pandawa, meskipun semakin banyak luka diderita, rasanya semakin gembira dalam menghadapi kematian, karena sudah sepatutnyalah seorang satria gugur di medan perang karena dikeroyok."
Suara tantangan Abimanyu itu diucapkannya terputus-putus, tak sempat ia mencabuti anak panah yang menghujaninya.
anak panah itu bersusun-susun bagaikan batang ilalang yang menancap di dadanya. Dan kemudian yang menancap di dada maupun di punggung bagaikan gubahan bunga kantil. Anak panah yang jatuh ke kereta manik berlumuran darah, bagaikan jelaga bercampur atal. Mata Abimanyu sering pula kena panah, kelihatan kejapnya menawan hati. Kepalanya dapat diumpamakan seperti kembang Kanigara dan kembang Sumarsana, yang sedang diperebutkan oleh orang banyak hendak digubah. Dadanya bagaikan bunga Tunjung mekar. Gugurnya seorang satria yang berwatak pemberani membuat pilunya hati. Seketika itu turun hujan rintik-rintik,
dan banyak kumbang beterbangan di angkasa, seperti hendak
menghisap kembang.
Prabu Yudistira sudah tahu, bahwa Abimanyu gugur dikeroyok musuh. Setyaki, Gatutkaca, Dratajumena hendak menuntut balas, lalu menerjang pasukan Korawa, sepak-terjangnya seperti hendak mempercepat kematian, sehingga menggetarkan bumi. Prabu Darmaputra bersama Pancawala, putra Amarta juga turut membantu. Ramainya peperangan itu luar biasa. Kemudian turunlah malam meliputi bumi, dan bubarlah yang sedang berperang. Korawa bergembira-ria.
{{C|* * *}}
Tersebutlah Raden Dananjaya yang berperang di kaki gunung, dengan didampingi oleh Sri Kresna, perangnya benar-benar ramai. Prabu Gardapati sudah tewas, kemudian bubar, dan semua pulang. Setibanya di pesanggrahan, Raden Dananjaya mendengar tangis. Seluruh keluarga, baik dari garis ibu maupun garis ayah, lebih-lebih kedua istrinya, yaitu Dewi Wara Sumbadra dan<noinclude>{{rh|38}}</noinclude>
cobixgancj8ruciogd4u65pd7yrvgky
Kaca:Bratayuda.pdf/36
250
24810
77966
2026-05-16T01:22:27Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77966
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Wara Srikandi, serta putri Wirata, Dewi Utari, yang sedang hamil
delapan bulan, semua menangis, dan mengaduh. Banyak sedu-sedan terdengar di pesanggrahan, ramai seperti suara burung gagak.
Kedatangan Raden Dananjaya dan Sri Kresna, bersama-sama
dengan datangnya Raden Wrekodara, yang berperang di tepi laut.
M usuhnya, yang be mama Wresaya sudah tewas. Yang dari utara,
dan dari selatan datang bersama-sama.
Ketika mendengar bahwa putranya gugur, Raden Dananjaya
benar-benar khilaf. Sri Kresna menasehati, demikian ujarnya,
"Jika seorang satria menjadi khilaf dan marah karena anaknya
tewas, martabatnya akan berkurang, dan mendapat laknat dewata yang maha mulia."
Mendengar nasehat Sri Kresna demikian itu, Raden Dananjaya lalu menyembah dan mohon maaf. Kemudian menyembah
Prabu Yudistira seraya bertanya, "Gusti, bagaimanakah asalmulanya Abimanyu tewas?"
Prabu Yudistira menjawab, demikian, "Kematian anakmu,
ialah karena memasuki gelar Cakrabyuha, lalu dikepung oleh Sindureja. Saudara-saudaramu semua menuntut balas. Drustajumena,
Gatutkaca, dan Setyaki mengamuk bersama-sama, berusaha membunuh Sindureja, akan tetapi tidak berhasil. Sedangkan yang tewas terbunuh oleh anakmu ialah, Lesmanakumara, Kartasuta, dan
Secasrawa. Ketika saudara-saudaramu mengamuk, banyak sekali
yang dapat mereka bunuh. Hanya Sindureja saja yang lepas."
Dananjaya lalu berdiri mengucapkan sumpah, ucapnya, "Saya bersumpah, jika besok pagi saya tidak berhasil membunuh
Sindureja, maka sore harinya saya akan membakar diri."
Prabu Suyudana dan segenap Korawa mendengar sumpah
Dananjaya, maka Sindureja diperintahkan pulang. Besok pagi,
sehari penuh sama sekali tidak boleh keluar jika matahari belum
terbenam , dan disuruh memuja supaya mendapat berkat kakeknya, yang bernama Bagawan Sempani, agar supaya selamat. Demikian pula anak panah yang diperolehnya dari Abimanyu hendaknya dipakai, dan memuja pula demi menambah kesaktiannya.
39
***<noinclude></noinclude>
ayc4kaxczkwpt9m4ve33kqvpyohwzlx
77967
77966
2026-05-16T01:26:57Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77967
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Wara Srikandi, serta putri Wirata, Dewi Utari, yang sedang hamil delapan bulan, semua menangis, dan mengaduh. Banyak sedu-sedan terdengar di pesanggrahan, ramai seperti suara burung gagak.
Kedatangan Raden Dananjaya dan Sri Kresna, bersama-sama
dengan datangnya Raden Wrekodara, yang berperang di tepi laut. Musuhnya, yang bernama Wresaya sudah tewas. Yang dari utara, dan dari selatan datang bersama-sama.
Ketika mendengar bahwa putranya gugur, Raden Dananjaya
benar-benar khilaf. Sri Kresna menasehati, demikian ujarnya, "Jika seorang satria menjadi khilaf dan marah karena anaknya tewas, martabatnya akan berkurang, dan mendapat laknat dewata yang maha mulia."
Mendengar nasehat Sri Kresna demikian itu, Raden Dananjaya lalu menyembah dan mohon maaf. Kemudian menyembah Prabu Yudistira seraya bertanya, "Gusti, bagaimanakah asal-mulanya Abimanyu tewas?"
Prabu Yudistira menjawab, demikian, "Kematian anakmu,
ialah karena memasuki gelar Cakrabyuha, lalu dikepung oleh Sindureja. Saudara-saudaramu semua menuntut balas. Drustajumena, Gatutkaca, dan Setyaki mengamuk bersama-sama, berusaha membunuh Sindureja, akan tetapi tidak berhasil. Sedangkan yang tewas terbunuh oleh anakmu ialah, Lesmanakumara, Kartasuta, dan Secasrawa. Ketika saudara-saudaramu mengamuk, banyak sekali yang dapat mereka bunuh. Hanya Sindureja saja yang lepas."
Dananjaya lalu berdiri mengucapkan sumpah, ucapnya, "Saya bersumpah, jika besok pagi saya tidak berhasil membunuh
Sindureja, maka sore harinya saya akan membakar diri."
Prabu Suyudana dan segenap Korawa mendengar sumpah
Dananjaya, maka Sindureja diperintahkan pulang. Besok pagi, sehari penuh sama sekali tidak boleh keluar jika matahari belum terbenam , dan disuruh memuja supaya mendapat berkat kakeknya, yang bernama Bagawan Sempani, agar supaya selamat. Demikian pula anak panah yang diperolehnya dari Abimanyu hendaknya dipakai, dan memuja pula demi menambah kesaktiannya.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude>
gakjkmfyhdb7tcrawb364nn0bt4r5fw
78294
77967
2026-05-16T09:30:00Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78294
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Wara Srikandi, serta putri Wirata, Dewi Utari, yang sedang hamil delapan bulan, semua menangis, dan mengaduh. Banyak sedu-sedan terdengar di pesanggrahan, ramai seperti suara burung gagak.
Kedatangan Raden Dananjaya dan Sri Kresna, bersama-sama
dengan datangnya Raden Wrekodara, yang berperang di tepi laut. Musuhnya, yang bernama Wresaya sudah tewas. Yang dari utara, dan dari selatan datang bersama-sama.
Ketika mendengar bahwa putranya gugur, Raden Dananjaya
benar-benar khilaf. Sri Kresna menasehati, demikian ujarnya, "Jika seorang satria menjadi khilaf dan marah karena anaknya tewas, martabatnya akan berkurang, dan mendapat laknat dewata yang maha mulia."
Mendengar nasehat Sri Kresna demikian itu, Raden Dananjaya lalu menyembah dan mohon maaf. Kemudian menyembah Prabu Yudistira seraya bertanya, "Gusti, bagaimanakah asal-mulanya Abimanyu tewas?"
Prabu Yudistira menjawab, demikian, "Kematian anakmu,
ialah karena memasuki gelar Cakrabyuha, lalu dikepung oleh Sindureja. Saudara-saudaramu semua menuntut balas. Drustajumena, Gatutkaca, dan Setyaki mengamuk bersama-sama, berusaha membunuh Sindureja, akan tetapi tidak berhasil. Sedangkan yang tewas terbunuh oleh anakmu ialah, Lesmanakumara, Kartasuta, dan Secasrawa. Ketika saudara-saudaramu mengamuk, banyak sekali yang dapat mereka bunuh. Hanya Sindureja saja yang lepas."
Dananjaya lalu berdiri mengucapkan sumpah, ucapnya, "Saya bersumpah, jika besok pagi saya tidak berhasil membunuh
Sindureja, maka sore harinya saya akan membakar diri."
Prabu Suyudana dan segenap Korawa mendengar sumpah
Dananjaya, maka Sindureja diperintahkan pulang. Besok pagi, sehari penuh sama sekali tidak boleh keluar jika matahari belum terbenam , dan disuruh memuja supaya mendapat berkat kakeknya, yang bernama Bagawan Sempani, agar supaya selamat. Demikian pula anak panah yang diperolehnya dari Abimanyu hendaknya dipakai, dan memuja pula demi menambah kesaktiannya.
{{C|* * *}}<noinclude>{{rh|||39}}</noinclude>
fkb4ankbkrnj1xfylolhk0ztu8rtsdj
Kaca:Bratayuda.pdf/37
250
24811
77968
2026-05-16T01:27:18Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77968
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Tersebutlah Prabu Suyudana bersama istri, Dewi Banowati
sangat sedih dan terus-menerus menangis karena putranya Lesmanakumara tewas. Seisi istana ramai oleh tangis, akan tetapi pacta
akhirnya Prabu Suyudana terhibur juga hatinya, karena teringat
akan sumpah Raden Dananjaya, yang akan membakar diri. Oleh
karena itu Sindureja dijaga benar-benar agar jangan sampai tewas.
Kemudian Korawa bersuka-ria, karena mereka sudah membayangkan Raden Dananjaya akan mati dalam sehari besok.
Prabu Yudistira dan seluruh keluarga sangat prihatin. Setelah Raden Abimanyu tewas, Dewi Siti Sundari ingin cepat-cepat
membakar diri, membela suaminya. Akan tetapi sanak keluarganya masih berkeberatan, karena para pemimpin belum mencapai
kata sepakat dalam hal mengatur siasat perang. Adapun Dewi
Utari, putri Wirata, tidak diperkenankan membela suarrii sebelum
kandungannya lahir.
Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Hai, Adikku,
bagaimana akalmu sekarang, sebab Korawa sudah mendengar sumpahmu di dalam usahamu membunuh Sindureja. Sindureja pasti
dijaga dengan ketat, tak mungkin diizinkan pergi kA medan perang,
agar supaya sumpahmu itu terlaksana "
Dananjaya menjawab, "Segalanya terserah Paduka."
~ri Kresna memberi nasihat, demikian, "Adikku, syarat
agar apa yang hendak engkau capai itu terlaksam, ialah hanya
dengan jalan berdoa, agar yang pelik-pelik dapat terbuka 'atas pertolongan dewata."
Raden Dananjaya menjawab lagi, "Saya bersedia melaksanakan petunjuk Paduka."
Sri Kresna pun meneruskan nasehatnya, "Kelak, jika engkau
berperang, pakailah keretaku itu, karena kereta itu mempunyai
daya istimewa, terutama pacta keempat ekor kuda penariknya.
Yang di depan namanya Ciptawelaha dan Abrapuspa, dan yang di
belakang si Sukanta dan Sena. Adapun daya kekuasaannya ialah,
segala macam senjata tidak ada yang akan mengenai, dan engkau
40<noinclude></noinclude>
aaal32fhxc7u121pljgn5ud1mprzgzc
77978
77968
2026-05-16T01:52:29Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77978
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Tersebutlah Prabu Suyudana bersama istri, Dewi Banowati
sangat sedih dan terus-menerus menangis karena putranya Lesmanakumara tewas. Seisi istana ramai oleh tangis, akan tetapi pacta akhirnya Prabu Suyudana terhibur juga hatinya, karena teringat akan sumpah Raden Dananjaya, yang akan membakar diri. Oleh karena itu Sindureja dijaga benar-benar agar jangan sampai tewas. Kemudian Korawa bersuka-ria, karena mereka sudah membayangkan Raden Dananjaya akan mati dalam sehari besok.
Prabu Yudistira dan seluruh keluarga sangat prihatin. Setelah Raden Abimanyu tewas, Dewi Siti Sundari ingin cepat-cepat membakar diri, membela suaminya. Akan tetapi sanak keluarganya masih berkeberatan, karena para pemimpin belum mencapai kata sepakat dalam hal mengatur siasat perang. Adapun Dewi Utari, putri Wirata, tidak diperkenankan membela suami sebelum kandungannya lahir.
Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Hai, Adikku,
bagaimana akalmu sekarang, sebab Korawa sudah mendengar sumpahmu di dalam usahamu membunuh Sindureja. Sindureja pasti dijaga dengan ketat, tak mungkin diizinkan pergi ke medan perang, agar supaya sumpahmu itu terlaksana "
Dananjaya menjawab, "Segalanya terserah Paduka."
Sri Kresna memberi nasihat, demikian, "Adikku, syarat
agar apa yang hendak engkau capai itu terlaksana, ialah hanya dengan jalan berdoa, agar yang pelik-pelik dapat terbuka atas pertolongan dewata."
Raden Dananjaya menjawab lagi, "Saya bersedia melaksanakan petunjuk Paduka."
Sri Kresna pun meneruskan nasehatnya, "Kelak, jika engkau berperang, pakailah keretaku itu, karena kereta itu mempunyai daya istimewa, terutama pacta keempat ekor kuda penariknya. Yang di depan namanya Ciptawelaha dan Abrapuspa, dan yang di belakang si Sukanta dan Sena. Adapun daya kekuasaannya ialah, segala macam senjata tidak ada yang akan mengenai, dan engkau<noinclude>{{rh|40}}</noinclude>
jewdmqoymuaz5eyfw0hcb1601ccb75w
78295
77978
2026-05-16T09:30:11Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78295
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Tersebutlah Prabu Suyudana bersama istri, Dewi Banowati
sangat sedih dan terus-menerus menangis karena putranya Lesmanakumara tewas. Seisi istana ramai oleh tangis, akan tetapi pacta akhirnya Prabu Suyudana terhibur juga hatinya, karena teringat akan sumpah Raden Dananjaya, yang akan membakar diri. Oleh karena itu Sindureja dijaga benar-benar agar jangan sampai tewas. Kemudian Korawa bersuka-ria, karena mereka sudah membayangkan Raden Dananjaya akan mati dalam sehari besok.
Prabu Yudistira dan seluruh keluarga sangat prihatin. Setelah Raden Abimanyu tewas, Dewi Siti Sundari ingin cepat-cepat membakar diri, membela suaminya. Akan tetapi sanak keluarganya masih berkeberatan, karena para pemimpin belum mencapai kata sepakat dalam hal mengatur siasat perang. Adapun Dewi Utari, putri Wirata, tidak diperkenankan membela suami sebelum kandungannya lahir.
Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Hai, Adikku,
bagaimana akalmu sekarang, sebab Korawa sudah mendengar sumpahmu di dalam usahamu membunuh Sindureja. Sindureja pasti dijaga dengan ketat, tak mungkin diizinkan pergi ke medan perang, agar supaya sumpahmu itu terlaksana "
Dananjaya menjawab, "Segalanya terserah Paduka."
Sri Kresna memberi nasihat, demikian, "Adikku, syarat
agar apa yang hendak engkau capai itu terlaksana, ialah hanya dengan jalan berdoa, agar yang pelik-pelik dapat terbuka atas pertolongan dewata."
Raden Dananjaya menjawab lagi, "Saya bersedia melaksanakan petunjuk Paduka."
Sri Kresna pun meneruskan nasehatnya, "Kelak, jika engkau berperang, pakailah keretaku itu, karena kereta itu mempunyai daya istimewa, terutama pacta keempat ekor kuda penariknya. Yang di depan namanya Ciptawelaha dan Abrapuspa, dan yang di belakang si Sukanta dan Sena. Adapun daya kekuasaannya ialah, segala macam senjata tidak ada yang akan mengenai, dan engkau<noinclude>{{rh|40}}</noinclude>
39v1pfzy3me8snkjgilqqo3p2b6z4ut
Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/5
250
24812
77970
2026-05-16T01:33:21Z
Kriita
885
/* Proofread */
77970
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ<br>
ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}}
<poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem>
{{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ 1) ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}}
{{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude>1){{jawa| ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ ≈ ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉}}
{{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude>
78668mdeo55iqjyan8984hn3dam5tpd
77971
77970
2026-05-16T01:33:43Z
Kriita
885
77971
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ''<br>
''ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}}
<poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem>
{{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ 1) ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}}
{{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude>1){{jawa| ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ ≈ ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉}}
{{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude>
k2dr1z6g2cm55kjutk11n0o6qb19cmq
78137
77971
2026-05-16T07:00:13Z
Kriita
885
78137
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ''<br>
''ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}}
<poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem>
{{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ <ref> ''ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ = ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉''</ref>ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}}
{{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude>
{{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude>
r1p2inrnytslhr8kib0ha4efri26svi
78382
78137
2026-05-16T10:10:55Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78382
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{jawa|''꧑꧇ ꧋ꦲꦶꦁꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦢꦼꦁꦓꦭꦱꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺ''<br>
''ꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦏꦶꦫꦟꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧉''}}}}
<poem>{{jawa|{{s|꧋ꦕꦺꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦣꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦱꦼꦫꦠ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏꦤꦩꦸꦁꦏꦯꦗꦸꦗꦸꦒ꧀꧈ ꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦏꦮꦶꦮꦶꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦩꦸꦂꦕꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤꦲꦸꦠꦮꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦠꦶꦪꦁꦲꦺꦱ꧀ꦏꦿꦶꦭꦸꦩꦼꦧꦼꦠ꧀ꦝꦠꦼꦁꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦠꦤ꧀ꦔꦏꦼꦤ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦢꦺꦮꦶꦒꦼꦏꦂꦠꦤꦶ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦲꦚ꧀ꦗꦸꦗꦸꦒ꧀ꦭꦗꦼꦁꦲꦚꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦼꦤ꧀ꦧꦶꦔꦃꦲꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ꦱꦁꦤꦠꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦱꦤꦗꦤ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ꦫꦸꦥꦶ꧈ ꦢꦺꦮꦶꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦮꦁꦱꦸꦭ꧀ ꦱꦂꦠꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦲꦸꦒꦶꦧꦺꦴꦠꦼꦤ꧀ꦲꦚꦺꦭꦏ꧀ꦏꦶ꧈ ꦠꦏ꧀ꦱꦶꦃꦊꦱ꧀ꦠꦤ꧀ꦏꦸꦤ꧀ꦏꦽꦱ꧀ꦤꦩꦭꦃꦮꦼꦭꦥ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦒꦂꦮ꧈ꦩꦿꦠꦤ꧀ꦝꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦶꦭꦶꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿꦥꦚ꧀ꦕꦺꦤ꧀ꦱꦼꦠꦾꦣꦠꦼꦁꦒꦂꦮ꧉}}}}</poem>
{{jawa|꧄ ꦲꦱ꧀ꦩꦫꦢꦤ ꧄ ꦧꦸꦔꦃꦲꦺꦩꦂꦮꦂꦠꦱꦶꦮꦶ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁꦕꦶꦤ꧀ꦡꦏꦥꦸꦫ꧈ ꦩꦶꦲꦂꦱꦲꦠꦸꦂꦫꦺꦫꦢꦺꦤ꧀ ꦣꦸꦃꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦤꦏ꧀ꦩꦤꦶꦫ꧈ ꦚꦮꦏꦁꦣꦮꦸꦃꦩꦂꦩꦂ꧈ <ref> ''ꦣꦮꦸꦩꦂꦩ = ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧉''</ref>ꦱꦸꦏꦸꦂꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦭꦸꦲꦸꦁ꧈ ꦱꦼꦠꦾꦠꦸꦲꦸꦩꦤꦃꦲꦶꦫ꧈ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦏꦏꦶꦟꦶꦭꦥꦿꦧꦺꦴꦁꦱ꧈ ꦲꦫꦶꦤꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦱꦶꦤꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦂꦱꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦤ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦕꦺꦴꦤ꧀ꦢꦿꦑꦶꦫꦤ꧈ ꦩꦸꦩ꧀ꦥꦸꦁꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦲꦶꦁꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦧꦸꦢꦕꦼꦩꦼꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦥꦫꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦶꦫꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦏꦸꦢꦤꦮꦂꦱ꧈ ꦱꦩꦤꦲꦶꦠꦸꦂꦱꦼꦩ꧀ꦧꦃꦲꦺ꧈ ꦱꦺꦮꦸꦗꦸꦩꦸꦫꦸꦁꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿ꧈ ꦭꦤ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦊꦉꦱ꧀ꦏꦂꦱꦤꦺꦱꦁꦥꦿꦧꦸ꧈}}
{{rh|{{rule|3em}}}}<noinclude>
{{S|{{jawa|꧋ꦏꦼꦠꦼꦣꦏ꧀ꦏꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦏꦸꦱꦼꦫꦠ꧀ꦠꦤ꧀ꦠꦔꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦱꦸꦩꦶꦩ꧀ꦥꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁ}}}} Kon. Bat. Gen. van K. en W.</noinclude>
t30the423ymx3wn5q00bxxvncg75c3p
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/20
250
24813
77972
2026-05-16T01:35:11Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77972
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 18 –}}</noinclude><ol start=7>
<li><poem>Galap gangsuling tembung
Ki Pudjangga panggupitanipun
rangu-rangu pamanguning rèh hardjanti
tinanggapan prana tambuh
katenta nawung prihatos</poem></li>
<li><poem>Wartaning para djamhur
pamawasing warsita tanpa wus
wahanané djaman owah angowahi
jèku sangsaja pakéwuh
ewuh-aja kang linakon</poem></li>
<li><poem>Sidining Kala-bendu
saja ndadra ardaning tyas limut
nora kena sinirep limpading budi
lamun durung mangsanipun
malah sumuké angradon</poem></li>
<li><poem>Tatanané tumruntun
panuntuning tyas angkara antuk
kala-désa wenganing karsa kaèksi
limut kalimput angawut
mawut sanggjaning dumados</poem></li>
<li><poem>Ing antara sapangu
pangungaking kahanan wus mirut
morat-marit panguripané sasami
sirna katentremanipun
wong udrasa sa-nggon-enggon</poem></li>
<li><poem>Kemat isarat lebur
bupur tanpa daja kaparupuh
pari-basan ti<u>d</u>em tan<u>d</u>aning dumadi
begdjané ula <u>d</u>ahulu
tjangkem silité anjaplok</poem></li>
<li><poem>n<u>D</u>ungkari gunung-gunung
kang geneng-geneng pada djinugrug
paran-déné tan ana kang nanggulangi
wedi kalamun sinembur</poem></li><noinclude></noinclude>
990s2yd1j3u3t0jd7ybsl1xubo5xw4x
78362
77972
2026-05-16T10:00:16Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78362
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 18 –}}</noinclude><ol start=7>
<li><poem>Galap gangsuling tembung
Ki Pudjangga panggupitanipun
rangu-rangu pamanguning rèh hardjanti
tinanggapan prana tambuh
katenta nawung prihatos</poem></li>
<li><poem>Wartaning para djamhur
pamawasing warsita tanpa wus
wahanané djaman owah angowahi
jèku sangsaja pakéwuh
ewuh-aja kang linakon</poem></li>
<li><poem>Sidining Kala-bendu
saja ndadra ardaning tyas limut
nora kena sinirep limpading budi
lamun durung mangsanipun
malah sumuké angradon</poem></li>
<li><poem>Tatanané tumruntun
panuntuning tyas angkara antuk
kala-désa wenganing karsa kaèksi
limut kalimput angawut
mawut sanggjaning dumados</poem></li>
<li><poem>Ing antara sapangu
pangungaking kahanan wus mirut
morat-marit panguripané sasami
sirna katentremanipun
wong udrasa sa-nggon-enggon</poem></li>
<li><poem>Kemat isarat lebur
bupur tanpa daja kaparupuh
pari-basan ti<u>d</u>em tan<u>d</u>aning dumadi
begdjané ula <u>d</u>ahulu
tjangkem silité anjaplok</poem></li>
<li><poem>n<u>D</u>ungkari gunung-gunung
kang geneng-geneng pada djinugrug
paran-déné tan ana kang nanggulangi
wedi kalamun sinembur</poem></li><noinclude></noinclude>
ji14yqmi3gbc3tat966ckgbo5be0qte
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/21
250
24814
77973
2026-05-16T01:39:58Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77973
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 19 –}}</noinclude>:::upasé lir wédang umob
<ol start=14>
<li><poem>Kolonganing kaluwung
prabanira kuning abang biru
sumurupa iku mung soroting warih
wawarahé para rusul
dudu djatining Hjang Manon</poem></li>
<li><poem>Supaja pa<u>d</u>a émut
amawasa mbéndjang djroning taun
windu kuning kono ana wéwé putih
gagamané tebu wulung
arsa angrabasèng we<u>d</u>on</poem></li>
<li><poem>Rasané wus karasuk
kesuk lawan kala-mangsanipun
kawisésa kuwasanira Hjang Widi
wahjaning wahju tumelung
tulus tan kena tinegor</poem></li>
<li><poem>Karkating tyas katudju
djibar-djibur adus banju waju
juwanané turun-tumurun tan enting
lijan pradja samja sajuk
kèringan saenggon-enggon</poem></li>
<li><poem>Tatuné kabèh tuntum
lalarane waluja sadarum
tyas prihatin ginantyan suka mepeki
wong ngantuk anemu ke<u>t</u>uk
djro mèsi dinar sabokor</poem></li>
<li><poem>Amung pa<u>d</u>a tinumpuk
nora ana rusuh tjolong djupuk
redja-kaja tjinantjangan anèng ndjawi
tan ana nganggo tinunggu
paran-déné tan tjinolong</poem></li>
<li><poem>Diraning durta katut
anglakoni ing panggawé runtut</poem></li><noinclude></noinclude>
j6tzvlwqaikkchzzcz6fnfwmcttsh40
77974
77973
2026-05-16T01:40:43Z
Abdansykr26
860
77974
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 19 –}}</noinclude>::upasé lir wédang umob
<ol start=14>
<li><poem>Kolonganing kaluwung
prabanira kuning abang biru
sumurupa iku mung soroting warih
wawarahé para rusul
dudu djatining Hjang Manon</poem></li>
<li><poem>Supaja pa<u>d</u>a émut
amawasa mbéndjang djroning taun
windu kuning kono ana wéwé putih
gagamané tebu wulung
arsa angrabasèng we<u>d</u>on</poem></li>
<li><poem>Rasané wus karasuk
kesuk lawan kala-mangsanipun
kawisésa kuwasanira Hjang Widi
wahjaning wahju tumelung
tulus tan kena tinegor</poem></li>
<li><poem>Karkating tyas katudju
djibar-djibur adus banju waju
juwanané turun-tumurun tan enting
lijan pradja samja sajuk
kèringan saenggon-enggon</poem></li>
<li><poem>Tatuné kabèh tuntum
lalarane waluja sadarum
tyas prihatin ginantyan suka mepeki
wong ngantuk anemu ke<u>t</u>uk
djro mèsi dinar sabokor</poem></li>
<li><poem>Amung pa<u>d</u>a tinumpuk
nora ana rusuh tjolong djupuk
redja-kaja tjinantjangan anèng ndjawi
tan ana nganggo tinunggu
paran-déné tan tjinolong</poem></li>
<li><poem>Diraning durta katut
anglakoni ing panggawé runtut</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
kpqxd8nnalbswfg8hn6gwvuh226ssmn
78364
77974
2026-05-16T10:00:38Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78364
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 19 –}}</noinclude>::upasé lir wédang umob
<ol start=14>
<li><poem>Kolonganing kaluwung
prabanira kuning abang biru
sumurupa iku mung soroting warih
wawarahé para rusul
dudu djatining Hjang Manon</poem></li>
<li><poem>Supaja pa<u>d</u>a émut
amawasa mbéndjang djroning taun
windu kuning kono ana wéwé putih
gagamané tebu wulung
arsa angrabasèng we<u>d</u>on</poem></li>
<li><poem>Rasané wus karasuk
kesuk lawan kala-mangsanipun
kawisésa kuwasanira Hjang Widi
wahjaning wahju tumelung
tulus tan kena tinegor</poem></li>
<li><poem>Karkating tyas katudju
djibar-djibur adus banju waju
juwanané turun-tumurun tan enting
lijan pradja samja sajuk
kèringan saenggon-enggon</poem></li>
<li><poem>Tatuné kabèh tuntum
lalarane waluja sadarum
tyas prihatin ginantyan suka mepeki
wong ngantuk anemu ke<u>t</u>uk
djro mèsi dinar sabokor</poem></li>
<li><poem>Amung pa<u>d</u>a tinumpuk
nora ana rusuh tjolong djupuk
redja-kaja tjinantjangan anèng ndjawi
tan ana nganggo tinunggu
paran-déné tan tjinolong</poem></li>
<li><poem>Diraning durta katut
anglakoni ing panggawé runtut</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
5k2bvihyfbmu8tb5l4q34wytqy6ixau
Kaca:Bratayuda.pdf/38
250
24815
77979
2026-05-16T01:52:51Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77979
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>pun kuberi sebuah gong yang bemama Pancajanya, yang besok
pagi tidak boleh berjauhan denganmu. Dan engkau harus menggunakan panah cakra. Sedangkan panahmu Pasopati, sediakanlah
untuk si Sindureja. Rasanya, kematiannya memang besok pagi,
meski berat bebanmu, karena ayahnya, yang bemama Bagawan
Sampani, samadinya sedang diterima oleh dewata yang tinggi.
Meskipun demikian atasjlah dengan pujamu yang khusuk semalam
ini. Pintalah kematian Sindureja, siapa tahu dugaanku meleset.
Nah, coba buktikanlah, memujalah dengan khusuk."
Raden Dananjaya menyembah, lalu pergi dari hadapan Sri
Kresna, lalu bersamadi, mengheningkan cipta, melenyapkan anganangan yang terdiri atas lima perkara, benar-benar sudah seperti mati di dalam hidup. Tidak antara lama sang Hyang Jagadnata menampakkan diri, hanya sebatas leher ke atas, sedangkan dari leher
ke bawah tidak tampak. Sabda sang Hyang J agadnata demikian,
"Hai, Dananjaya, sudahilah samadimu, kematian si Sindureja saya
relakan, berkat permohonanmu itu. Gunakanlah panahmu si Pasopati, dan besok pagi pakailah kereta Kresna. Lagi pula gong yang
bernama Pancajanya harus selalu berada di dekatmu.
***
Raden Dananjaya sudah menyudahi samadinya, lalu langsung pergi ke pesanggrahan Sri Kresna, lalu sembahnya, "Apa yang
Paduka katakan, tak ada yang meleset, karena semua saina benar
dengan petunjuk sang Hyang J agadnata. Serambut pun tidak ada
bedanya."
Sri Kresna tersenyum, lalu ujamya, "Adikku, marilah kita
segera mengantar si Siti Sundari, yang akan membela kematian
sua.minya."
Tersebutlah Dewi Siti Sundari, telah mengenakan pakaian
kematian, akan membela suaminya, dan dia selalu menghibur Dewi Utari, yang selalu ingin bela mati. Karena bulan sudah tinggi,
dalam mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada Dewi Utari,
Dewi ~iti Sunoan agak tergesa-gesa, demikian, "Karena engkau sedang hamil, engkau tidak boleh membela suaniimu. Tak seorang
41<noinclude></noinclude>
ggxxv2rkafut79n407qr3n0crln2jbd
77981
77979
2026-05-16T01:58:14Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77981
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>pun kuberi sebuah gong yang bemama Pancajanya, yang besok
pagi tidak boleh berjauhan denganmu. Dan engkau harus menggunakan panah cakra. Sedangkan panahmu Pasopati, sediakanlah untuk si Sindureja. Rasanya, kematiannya memang besok pagi, meski berat bebanmu, karena ayahnya, yang bernama Bagawan Sampani, samadinya sedang diterima oleh dewata yang tinggi. Meskipun demikian atasilah dengan pujamu yang khusuk semalam ini. Pintalah kematian Sindureja, siapa tahu dugaanku meleset. Nah, coba buktikanlah, memujalah dengan khusuk."
Raden Dananjaya menyembah, lalu pergi dari hadapan Sri
Kresna, lalu bersamadi, mengheningkan cipta, melenyapkan angan-angan yang terdiri atas lima perkara, benar-benar sudah seperti mati di dalam hidup. Tidak antara lama sang Hyang Jagadnata menampakkan diri, hanya sebatas leher ke atas, sedangkan dari leher ke bawah tidak tampak. Sabda sang Hyang Jagadnata demikian, "Hai, Dananjaya, sudahilah samadimu, kematian si Sindureja saya relakan, berkat permohonanmu itu. Gunakanlah panahmu si Pasopati, dan besok pagi pakailah kereta Kresna. Lagi pula gong yang
bernama Pancajanya harus selalu berada di dekatmu.
{{C|* * *}}
Raden Dananjaya sudah menyudahi samadinya, lalu langsung pergi ke pesanggrahan Sri Kresna, lalu sembahnya, "Apa yang Paduka katakan, tak ada yang meleset, karena semua saina benar dengan petunjuk sang Hyang Jagadnata. Serambut pun tidak ada bedanya."
Sri Kresna tersenyum, lalu ujamya, "Adikku, marilah kita
segera mengantar si Siti Sundari, yang akan membela kematian suaminya."
Tersebutlah Dewi Siti Sundari, telah mengenakan pakaian kematian, akan membela suaminya, dan dia selalu menghibur Dewi Utari, yang selalu ingin bela mati. Karena bulan sudah tinggi, dalam mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada Dewi Utari, Dewi Siti Sundari agak tergesa-gesa, demikian, "Karena engkau sedang hamil, engkau tidak boleh membela suamimu. Tak seorang<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude>
b82zvo8gb6tggs08y772ioihoi5at8d
78296
77981
2026-05-16T09:30:23Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78296
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>pun kuberi sebuah gong yang bemama Pancajanya, yang besok
pagi tidak boleh berjauhan denganmu. Dan engkau harus menggunakan panah cakra. Sedangkan panahmu Pasopati, sediakanlah untuk si Sindureja. Rasanya, kematiannya memang besok pagi, meski berat bebanmu, karena ayahnya, yang bernama Bagawan Sampani, samadinya sedang diterima oleh dewata yang tinggi. Meskipun demikian atasilah dengan pujamu yang khusuk semalam ini. Pintalah kematian Sindureja, siapa tahu dugaanku meleset. Nah, coba buktikanlah, memujalah dengan khusuk."
Raden Dananjaya menyembah, lalu pergi dari hadapan Sri
Kresna, lalu bersamadi, mengheningkan cipta, melenyapkan angan-angan yang terdiri atas lima perkara, benar-benar sudah seperti mati di dalam hidup. Tidak antara lama sang Hyang Jagadnata menampakkan diri, hanya sebatas leher ke atas, sedangkan dari leher ke bawah tidak tampak. Sabda sang Hyang Jagadnata demikian, "Hai, Dananjaya, sudahilah samadimu, kematian si Sindureja saya relakan, berkat permohonanmu itu. Gunakanlah panahmu si Pasopati, dan besok pagi pakailah kereta Kresna. Lagi pula gong yang
bernama Pancajanya harus selalu berada di dekatmu.
{{C|* * *}}
Raden Dananjaya sudah menyudahi samadinya, lalu langsung pergi ke pesanggrahan Sri Kresna, lalu sembahnya, "Apa yang Paduka katakan, tak ada yang meleset, karena semua saina benar dengan petunjuk sang Hyang Jagadnata. Serambut pun tidak ada bedanya."
Sri Kresna tersenyum, lalu ujamya, "Adikku, marilah kita
segera mengantar si Siti Sundari, yang akan membela kematian suaminya."
Tersebutlah Dewi Siti Sundari, telah mengenakan pakaian kematian, akan membela suaminya, dan dia selalu menghibur Dewi Utari, yang selalu ingin bela mati. Karena bulan sudah tinggi, dalam mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada Dewi Utari, Dewi Siti Sundari agak tergesa-gesa, demikian, "Karena engkau sedang hamil, engkau tidak boleh membela suamimu. Tak seorang<noinclude>{{rh|||41}}</noinclude>
lv4t3695soenpgzsb5y3e8k9tz34mr0
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/23
250
24816
77980
2026-05-16T01:54:09Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77980
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 21 –}}</noinclude><ol start=2>
<li><poem>Galagaté ing pungkur
wahanané djaman saja kisruh
akèh laku kang sungsang bawana balik
wanodya jun ngarah luhur
temah prijané kèh kasor</poem></li>
<li><poem>Warnanen tyasing kakung
kèh amirib pra wadon satuhu
tjupar memet we tuning butuh tinliti
wit samar paparingipun
Hjang Suksma jèn tan <u>d</u>umawoh</poem></li>
<li><poem>Singlaring tyas puniku
njudakaken tumuruning wahju
sirna gempang pangandelé mring Hjang Widi
marma djagadé barubuh
kèh laku ingkang mbeséjol</poem></li>
<li><poem>Tatas katresnanipun
wonge tjilik mring bangsa ngaluhur
wit kang ngembat pradja jekti kurang adil
akèh radja tinarungku
ngono karsané Hjang Manon</poem></li>
</ol>
Makaten ungeling "djangka" wau. Miturut kasumerepan-kula, ingkang andamel: salah satunggaling guru Sekolah Rakjat, asli Surakarta.
Wusana njumanggakaken.
<center> ------- </center><noinclude></noinclude>
botx83kwgxtabz1j5wjjn2btlmgzob5
78366
77980
2026-05-16T10:01:10Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78366
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 21 –}}</noinclude><ol start=2>
<li><poem>Galagaté ing pungkur
wahanané djaman saja kisruh
akèh laku kang sungsang bawana balik
wanodya jun ngarah luhur
temah prijané kèh kasor</poem></li>
<li><poem>Warnanen tyasing kakung
kèh amirib pra wadon satuhu
tjupar memet we tuning butuh tinliti
wit samar paparingipun
Hjang Suksma jèn tan <u>d</u>umawoh</poem></li>
<li><poem>Singlaring tyas puniku
njudakaken tumuruning wahju
sirna gempang pangandelé mring Hjang Widi
marma djagadé barubuh
kèh laku ingkang mbeséjol</poem></li>
<li><poem>Tatas katresnanipun
wonge tjilik mring bangsa ngaluhur
wit kang ngembat pradja jekti kurang adil
akèh radja tinarungku
ngono karsané Hjang Manon</poem></li>
</ol>
Makaten ungeling "djangka" wau. Miturut kasumerepan-kula, ingkang andamel: salah satunggaling guru Sekolah Rakjat, asli Surakarta.
Wusana njumanggakaken.
<center> ------- </center><noinclude></noinclude>
ha4cnbwm7b2ypad9jq3ljdq90y3yxjv
Kaca:Bratayuda.pdf/39
250
24817
77982
2026-05-16T01:58:54Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77982
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>pun yang akan menuduhmu takut melakukan bela, dan pasti tidak
ada seorang pun yang berpendapat demik:ian. Selain dari itu, pembelaan orang yang sedang hamil itu tidak bermanfaat, bahkan dapat mendatangkan dosa, sebab sudah jelas, engkau sedang hamil
delapan bulan. Nah, sudahlah, selamat tinggal, saya minta diri hendak pergi ke api unggun pembelaan itu."
Dewi Utari menjawab dengan perkataan terputus-putus, "Katakanlah kepada si Abimanyu, bahwa saya sangat prihatin, karena
dilarang oleh para-raja, tidak diizinkan turut mati, bela, naik ke api
unggun, alasannya karena kandunganku belum lahir, dan dikatakan akan mendapat amarah dewata yang maha tinggi. Akan tetapi sebenarnya, perasaanku ini, demikian besamya cintaku padanya, moga-moga perasaan cintaku ikut dibawa mati, dan mogamoga pula tak lama pula hidupku nanti. Jangan sampai lupa, katakanlah, dan sampaikan pesanku itu, bahwa harapanku, mudahmudahan dapat segera hidup berdampingan di Indraloka dengan si
Abimanyu. Mengapa hal itu · terjadi bertepatan dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, sehingga ku tak bisa pergi bersamamu."
Setelah Dewi Utari terhibur, Dewi Siti Sundari lalu berjalan
hendak pamit kepada ayah bundanya. Keadaan itu sangat memprihatinkan dan memilukan bagi yang dipamiti, sehingga mereka
tak dapat lagi berkata-kata. Sesudah selesai, Dewi Siti Sundari
lalu berjalan ke medan perang, ke tempat jenazah suaminya, yang
lalu dibakar bersama-sama Dewi Siti Sundari. Mereka yang menyaksik:an upacara pembakaran sudah pulang. Kala itu bulan sudah rendah letaknya, tampaknya seolah-olah kasih sayang kepada
yang mati bela.
42<noinclude></noinclude>
edh7h3qtmzv73mszocmdrzasyrk3kyq
77985
77982
2026-05-16T02:02:13Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77985
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>pun yang akan menuduhmu takut melakukan bela, dan pasti tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian. Selain dari itu, pembelaan orang yang sedang hamil itu tidak bermanfaat, bahkan dapat mendatangkan dosa, sebab sudah jelas, engkau sedang hamil delapan bulan. Nah, sudahlah, selamat tinggal, saya minta diri hendak pergi ke api unggun pembelaan itu."
Dewi Utari menjawab dengan perkataan terputus-putus, "Katakanlah kepada si Abimanyu, bahwa saya sangat prihatin, karena dilarang oleh para-raja, tidak diizinkan turut mati, bela, naik ke api unggun, alasannya karena kandunganku belum lahir, dan dikatakan akan mendapat amarah dewata yang maha tinggi. Akan tetapi sebenarnya, perasaanku ini, demikian besarnya cintaku padanya, moga-moga perasaan cintaku ikut dibawa mati, dan moga-moga pula tak lama pula hidupku nanti. Jangan sampai lupa, katakanlah, dan sampaikan pesanku itu, bahwa harapanku, mudah-mudahan dapat segera hidup berdampingan di Indraloka dengan si Abimanyu. Mengapa hal itu terjadi bertepatan dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, sehingga ku tak bisa pergi bersamamu."
Setelah Dewi Utari terhibur, Dewi Siti Sundari lalu berjalan hendak pamit kepada ayah bundanya. Keadaan itu sangat memprihatinkan dan memilukan bagi yang dipamiti, sehingga mereka tak dapat lagi berkata-kata. Sesudah selesai, Dewi Siti Sundari lalu berjalan ke medan perang, ke tempat jenazah suaminya, yang lalu dibakar bersama-sama Dewi Siti Sundari. Mereka yang menyaksikan upacara pembakaran sudah pulang. Kala itu bulan sudah rendah letaknya, tampaknya seolah-olah kasih sayang kepada yang mati bela.<noinclude>{{rh|42}}</noinclude>
1iy9rjxokhhspdjb3cmblaiprds8vbk
78297
77985
2026-05-16T09:30:32Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78297
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>pun yang akan menuduhmu takut melakukan bela, dan pasti tidak ada seorang pun yang berpendapat demikian. Selain dari itu, pembelaan orang yang sedang hamil itu tidak bermanfaat, bahkan dapat mendatangkan dosa, sebab sudah jelas, engkau sedang hamil delapan bulan. Nah, sudahlah, selamat tinggal, saya minta diri hendak pergi ke api unggun pembelaan itu."
Dewi Utari menjawab dengan perkataan terputus-putus, "Katakanlah kepada si Abimanyu, bahwa saya sangat prihatin, karena dilarang oleh para-raja, tidak diizinkan turut mati, bela, naik ke api unggun, alasannya karena kandunganku belum lahir, dan dikatakan akan mendapat amarah dewata yang maha tinggi. Akan tetapi sebenarnya, perasaanku ini, demikian besarnya cintaku padanya, moga-moga perasaan cintaku ikut dibawa mati, dan moga-moga pula tak lama pula hidupku nanti. Jangan sampai lupa, katakanlah, dan sampaikan pesanku itu, bahwa harapanku, mudah-mudahan dapat segera hidup berdampingan di Indraloka dengan si Abimanyu. Mengapa hal itu terjadi bertepatan dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, sehingga ku tak bisa pergi bersamamu."
Setelah Dewi Utari terhibur, Dewi Siti Sundari lalu berjalan hendak pamit kepada ayah bundanya. Keadaan itu sangat memprihatinkan dan memilukan bagi yang dipamiti, sehingga mereka tak dapat lagi berkata-kata. Sesudah selesai, Dewi Siti Sundari lalu berjalan ke medan perang, ke tempat jenazah suaminya, yang lalu dibakar bersama-sama Dewi Siti Sundari. Mereka yang menyaksikan upacara pembakaran sudah pulang. Kala itu bulan sudah rendah letaknya, tampaknya seolah-olah kasih sayang kepada yang mati bela.<noinclude>{{rh|42}}</noinclude>
26qlwig16dgy40l7yonyz9xpuw3rquo
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/24
250
24818
77983
2026-05-16T01:59:41Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77983
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 22 –}}</noinclude><center><u> IV. {{sp|SABDA DJJATI}} </u></center>
<u> {{sp|Megatruh}} </u>
<ol start=1>
<li><poem>Ajwa pegat ngudija ronging budyaju
marganing suka basuki
dimèn luwar kang kinajun
kalis ing panggawé sisip
ingkang taberi prihatos</poem></li>
<li><poem>Ulatana kang nganti bisa kapangguh
galé<u>d</u>ahen kang sajekti
talitinen ajwa kliru
larasen sadjroning ati
dèn-tumanggap dimèn manggon</poem></li>
<li><poem>Pamanggoné anèng pangès<u>t</u>i rahaju
angajomi ing tyas ening
eninging ati kang suwung
nanging sadjatiné isi
isining tjipta kang jektos</poem></li>
<li><poem>Lakonana kalawan sabar ing kalbu
jen dèn-obah niniwasi
kasurupan sétan gun<u>d</u>ul
ambébé<u>d</u>ung nggawa kan<u>d</u>i
isiné rupijah keton</poem></li>
<li><poem>Lamun nganti korup ing panggawé dudu
dadi pakuwoning éblis
mlebu ing alam pakéwuh
éwuh pananinging ati
temah wuru kabesturon</poem></li>
<li><poem>Nora kéguh mring pamardi rèh budyaju
ajuning tyas sipat kuping
kinepung panggawé rusuh
lali pasihaning Gusti
ginuntingan kaja mronos</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
3l58phpszfc6t5mwgq1k5ivvi688zr0
77984
77983
2026-05-16T02:00:03Z
Abdansykr26
860
77984
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 22 –}}</noinclude><center><u> IV. {{sp|SABDA DJATI}} </u></center>
<u> {{sp|Megatruh}} </u>
<ol start=1>
<li><poem>Ajwa pegat ngudija ronging budyaju
marganing suka basuki
dimèn luwar kang kinajun
kalis ing panggawé sisip
ingkang taberi prihatos</poem></li>
<li><poem>Ulatana kang nganti bisa kapangguh
galé<u>d</u>ahen kang sajekti
talitinen ajwa kliru
larasen sadjroning ati
dèn-tumanggap dimèn manggon</poem></li>
<li><poem>Pamanggoné anèng pangès<u>t</u>i rahaju
angajomi ing tyas ening
eninging ati kang suwung
nanging sadjatiné isi
isining tjipta kang jektos</poem></li>
<li><poem>Lakonana kalawan sabar ing kalbu
jen dèn-obah niniwasi
kasurupan sétan gun<u>d</u>ul
ambébé<u>d</u>ung nggawa kan<u>d</u>i
isiné rupijah keton</poem></li>
<li><poem>Lamun nganti korup ing panggawé dudu
dadi pakuwoning éblis
mlebu ing alam pakéwuh
éwuh pananinging ati
temah wuru kabesturon</poem></li>
<li><poem>Nora kéguh mring pamardi rèh budyaju
ajuning tyas sipat kuping
kinepung panggawé rusuh
lali pasihaning Gusti
ginuntingan kaja mronos</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
18imcxsxrz8hfyfccnma8yzq3d5o5as
78368
77984
2026-05-16T10:01:17Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78368
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 22 –}}</noinclude><center><u> IV. {{sp|SABDA DJATI}} </u></center>
<u> {{sp|Megatruh}} </u>
<ol start=1>
<li><poem>Ajwa pegat ngudija ronging budyaju
marganing suka basuki
dimèn luwar kang kinajun
kalis ing panggawé sisip
ingkang taberi prihatos</poem></li>
<li><poem>Ulatana kang nganti bisa kapangguh
galé<u>d</u>ahen kang sajekti
talitinen ajwa kliru
larasen sadjroning ati
dèn-tumanggap dimèn manggon</poem></li>
<li><poem>Pamanggoné anèng pangès<u>t</u>i rahaju
angajomi ing tyas ening
eninging ati kang suwung
nanging sadjatiné isi
isining tjipta kang jektos</poem></li>
<li><poem>Lakonana kalawan sabar ing kalbu
jen dèn-obah niniwasi
kasurupan sétan gun<u>d</u>ul
ambébé<u>d</u>ung nggawa kan<u>d</u>i
isiné rupijah keton</poem></li>
<li><poem>Lamun nganti korup ing panggawé dudu
dadi pakuwoning éblis
mlebu ing alam pakéwuh
éwuh pananinging ati
temah wuru kabesturon</poem></li>
<li><poem>Nora kéguh mring pamardi rèh budyaju
ajuning tyas sipat kuping
kinepung panggawé rusuh
lali pasihaning Gusti
ginuntingan kaja mronos</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
jgj6b98xmo3j6l7quzcz873mahyo9gs
Kaca:Bratayuda.pdf/40
250
24819
77986
2026-05-16T02:02:30Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77986
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>5. SINDUREJA ATAU JAYADRATA TEWAS
OLEH ARJUNA
Fajar pagi. telah menyingsing, gemuruh suara gendang, gong
dan beri. Gong kepunyaan Sri Kresna yang bemama Pancajanya,
bergema suaranya ketika ditabuh, gemanya seolah-olah sampai ke
Suralaya. Para raja yang sudah .berkumpul beserta. barisan mereka
masing-masing, tampak seperti lautan. Kemudian barisan Korawa
keluar, luar biasa besamya, bagaikan samudra pasang naik. Gelar
perangnya masih tetap Cakrabyuha, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Hanya saj·a yang berada di sisinya bukan lagi.
Sindureja. Sindureja tidak tampil ke medan perang, dan dijaga
ketat oleh Korawa.
***
Korawa telah selesai mengatur gelamya, Cakrabyuha, Iebar
barisannya sejauh-jauh mata memandang. Sedangkan panjangnya
sepuluh kali lipat dari lebamya. Tebalnya barisan, yang terdiri dari
para mantri pilihan maupun para prajurit yang terkenal gagah berani serta sakti pun sejauh mata memandang. Kemudian Pandawa mengi.mbanginya dengan gelar Cakrabyuha pula. Drustajumena menempati sisi kanan, Wrekodara berada di sisi kiri. Dananjaya
menjadi leher, mengendarai kereta bersama Sri Kresna. Rata
itu kepunyaan Sri Kresna, ditarik oleh empat ekor kuda. Yang di
depan bemama Ciptawelaha dan Abrapuspa, yang di belakang
namanya Sukanta dan Senasekti.
Para dewa, ketika mendengar suara Pancajanya, lalu menanton dari antariksa seraya menghujankan wangi-wangi.an. Gamelan
yang bernama Dewadenta ditaruh di belakang. Prajurit Pandawa
timbul keberaniannya karena mendengar suara kedua gamelan itu.
Serbuannya bagaikan raksasa berebut daging, gelar Korawa berantakan, tak dapat menahan serbuan barisan Pandawa.
Kemudian rajaputra Mandaraka, yang bemama Raden Burisrawa, maju mengendarai kereta, hendak membalas merusakkan
43
i<noinclude></noinclude>
cz7adqmi74svirosbzpgrtbzsk0rrqp
77989
77986
2026-05-16T02:12:50Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77989
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>{{C|'''5. SINDUREJA ATAU JAYADRATA TEWAS'''<br>
'''OLEH ARJUNA'''}}
Fajar pagi telah menyingsing, gemuruh suara gendang, gong
dan beri. Gong kepunyaan Sri Kresna yang bernama Pancajanya, bergema suaranya ketika ditabuh, gemanya seolah-olah sampai ke Suralaya. Para raja yang sudah berkumpul beserta barisan mereka masing-masing, tampak seperti lautan. Kemudian barisan Korawa keluar, luar biasa besarnya, bagaikan samudra pasang naik. Gelar
perangnya masih tetap Cakrabyuha, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Hanya saja yang berada di sisinya bukan lagi Sindureja. Sindureja tidak tampil ke medan perang, dan dijaga ketat oleh Korawa.
{{C|* * *}}
Korawa telah selesai mengatur gelamya, Cakrabyuha, lebar
barisannya sejauh-jauh mata memandang. Sedangkan panjangnya sepuluh kali lipat dari lebarnya. Tebalnya barisan, yang terdiri dari para mantri pilihan maupun para prajurit yang terkenal gagah berani serta sakti pun sejauh mata memandang. Kemudian Pandawa mengimbanginya dengan gelar Cakrabyuha pula. Drustajumena menempati sisi kanan, Wrekodara berada di sisi kiri. Dananjaya menjadi leher, mengendarai kereta bersama Sri Kresna. Rata
itu kepunyaan Sri Kresna, ditarik oleh empat ekor kuda. Yang di depan bernama Ciptawelaha dan Abrapuspa, yang di belakang namanya Sukanta dan Senasekti.
Para dewa, ketika mendengar suara Pancajanya, lalu menonton dari antariksa seraya menghujankan wangi-wangian. Gamelan yang bernama Dewadenta ditaruh di belakang. Prajurit Pandawa timbul keberaniannya karena mendengar suara kedua gamelan itu. Serbuannya bagaikan raksasa berebut daging, gelar Korawa berantakan, tak dapat menahan serbuan barisan Pandawa.
Kemudian rajaputra Mandaraka, yang bernama Raden Burisrawa, maju mengendarai kereta, hendak membalas merusakkan<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude>
qrn37ac95rz2zwsagrwvemid590gja6
78298
77989
2026-05-16T09:30:42Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78298
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{C|'''5. SINDUREJA ATAU JAYADRATA TEWAS'''<br>
'''OLEH ARJUNA'''}}
Fajar pagi telah menyingsing, gemuruh suara gendang, gong
dan beri. Gong kepunyaan Sri Kresna yang bernama Pancajanya, bergema suaranya ketika ditabuh, gemanya seolah-olah sampai ke Suralaya. Para raja yang sudah berkumpul beserta barisan mereka masing-masing, tampak seperti lautan. Kemudian barisan Korawa keluar, luar biasa besarnya, bagaikan samudra pasang naik. Gelar
perangnya masih tetap Cakrabyuha, seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Hanya saja yang berada di sisinya bukan lagi Sindureja. Sindureja tidak tampil ke medan perang, dan dijaga ketat oleh Korawa.
{{C|* * *}}
Korawa telah selesai mengatur gelamya, Cakrabyuha, lebar
barisannya sejauh-jauh mata memandang. Sedangkan panjangnya sepuluh kali lipat dari lebarnya. Tebalnya barisan, yang terdiri dari para mantri pilihan maupun para prajurit yang terkenal gagah berani serta sakti pun sejauh mata memandang. Kemudian Pandawa mengimbanginya dengan gelar Cakrabyuha pula. Drustajumena menempati sisi kanan, Wrekodara berada di sisi kiri. Dananjaya menjadi leher, mengendarai kereta bersama Sri Kresna. Rata
itu kepunyaan Sri Kresna, ditarik oleh empat ekor kuda. Yang di depan bernama Ciptawelaha dan Abrapuspa, yang di belakang namanya Sukanta dan Senasekti.
Para dewa, ketika mendengar suara Pancajanya, lalu menonton dari antariksa seraya menghujankan wangi-wangian. Gamelan yang bernama Dewadenta ditaruh di belakang. Prajurit Pandawa timbul keberaniannya karena mendengar suara kedua gamelan itu. Serbuannya bagaikan raksasa berebut daging, gelar Korawa berantakan, tak dapat menahan serbuan barisan Pandawa.
Kemudian rajaputra Mandaraka, yang bernama Raden Burisrawa, maju mengendarai kereta, hendak membalas merusakkan<noinclude>{{rh|||43}}</noinclude>
gtmx56uiujude3q9po9bikx1cx1ons3
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/25
250
24820
77987
2026-05-16T02:06:05Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77987
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 23 –}}</noinclude><ol start=7>
<li><poem>Parandéné kabèh kang samja andulu
ulap kalilipen we<u>d</u>i
akèh wong kang pa<u>d</u>a sudjud
kinira jèn Djabarail
kautus déning Hjang Manon</poem></li>
<li><poem>Jèn kang uning marang sadjatining kawruh
kèwuhan sadjroning ati
jèn tan niru nora arus
uripé kaèsi-èsi
jèn niruwa dadi asor</poem></li>
<li><poem>Nora ngandel marang gaibing Hjang Agung
anggelar sakalir-kalir
kalamun temen tinemu
kabegdjané anekani
kamurahaning Hjang Manon</poem></li>
<li><poem>Anuhoni kabèh kang duwé panuwun
jèn temen-temen sajekti
Allah aparing pitulung
nora kurang san<u>d</u>ang bukti
satjiptanira kalakon</poem></li>
<li><poem>Ki Pudjangga njambi-wara wèh pitutur
saka mangunahing Widi
ambuka warananipun
aling-aling kang ngalingi
angalingkap temah katon</poem></li>
<li><poem>Para djanma sadjroning djaman pakéwuh
kasudranira andadi
dahuruné saja ndarung
kèh tyas mirong murang margi
kasetyan wus nora katon</poem></li>
<li><poem>Katuwoné winawas dahat matrenju
kenjaming sasmita jekti
sanityasèng tyas malat-kung
kongas welasé kapati</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
ktuj2evxlngh3bf2ptke8wlxi1su458
78369
77987
2026-05-16T10:01:28Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78369
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 23 –}}</noinclude><ol start=7>
<li><poem>Parandéné kabèh kang samja andulu
ulap kalilipen we<u>d</u>i
akèh wong kang pa<u>d</u>a sudjud
kinira jèn Djabarail
kautus déning Hjang Manon</poem></li>
<li><poem>Jèn kang uning marang sadjatining kawruh
kèwuhan sadjroning ati
jèn tan niru nora arus
uripé kaèsi-èsi
jèn niruwa dadi asor</poem></li>
<li><poem>Nora ngandel marang gaibing Hjang Agung
anggelar sakalir-kalir
kalamun temen tinemu
kabegdjané anekani
kamurahaning Hjang Manon</poem></li>
<li><poem>Anuhoni kabèh kang duwé panuwun
jèn temen-temen sajekti
Allah aparing pitulung
nora kurang san<u>d</u>ang bukti
satjiptanira kalakon</poem></li>
<li><poem>Ki Pudjangga njambi-wara wèh pitutur
saka mangunahing Widi
ambuka warananipun
aling-aling kang ngalingi
angalingkap temah katon</poem></li>
<li><poem>Para djanma sadjroning djaman pakéwuh
kasudranira andadi
dahuruné saja ndarung
kèh tyas mirong murang margi
kasetyan wus nora katon</poem></li>
<li><poem>Katuwoné winawas dahat matrenju
kenjaming sasmita jekti
sanityasèng tyas malat-kung
kongas welasé kapati</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
jf5mbk29lcfnj2a5kblxhfeq1437c8l
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/26
250
24821
77988
2026-05-16T02:12:08Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77988
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 24 –}}</noinclude>::sulaking djaman prihatos
<ol start=14>
<li><poem>Walujané mbéndjang jèn wus ana wiku
mumudji ngès<u>t</u>i sawidji
sabuk lebu lir madjenun
galibedan tudang-tuding
anatjahken sakèhing wong</poem></li>
<li><poem>Iku lagi sirep djaman Kala-bendu
Kala-suba kang gumanti
wong tjilik bisa gumuju
nora kurang san<u>d</u>ang bukti
sedyané kabèh kalakon</poem></li>
<li><poem>Panduluné Ki Pudjangga durung kemput
mulur lir benang tinarik
nanging kaserang ing umur
andungkap kasidan djati
mulih sadjatining enggon</poem></li>
<li><poem>Amung kurang wolung ari kang kadulu
emating pati patitis
wus katon nèng lohkil-makpul
angumpul ing madya ari
amarengi ri Buda Pon</poem></li>
<li><poem>Tanggal kaping lima antaraning luhur
Sela-ning taun Djimakir
Tolu Uma Arjang Djagur
Sangara winduning pati
netepi ngumpul saenggon</poem></li>
<li><poem>Tjinitra ri Buda kaping wolulikur
Sawal-ing taun Djimakir
tjandraning warsa pinétung
nembah mukswa pudjangga dji
Ki Pudjangga pamit lajon</poem></li>
</ol>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (Mirsani katja 25)<noinclude></noinclude>
mj52t574gx14a7fnw200rb4lgzafild
78370
77988
2026-05-16T10:01:35Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78370
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 24 –}}</noinclude>::sulaking djaman prihatos
<ol start=14>
<li><poem>Walujané mbéndjang jèn wus ana wiku
mumudji ngès<u>t</u>i sawidji
sabuk lebu lir madjenun
galibedan tudang-tuding
anatjahken sakèhing wong</poem></li>
<li><poem>Iku lagi sirep djaman Kala-bendu
Kala-suba kang gumanti
wong tjilik bisa gumuju
nora kurang san<u>d</u>ang bukti
sedyané kabèh kalakon</poem></li>
<li><poem>Panduluné Ki Pudjangga durung kemput
mulur lir benang tinarik
nanging kaserang ing umur
andungkap kasidan djati
mulih sadjatining enggon</poem></li>
<li><poem>Amung kurang wolung ari kang kadulu
emating pati patitis
wus katon nèng lohkil-makpul
angumpul ing madya ari
amarengi ri Buda Pon</poem></li>
<li><poem>Tanggal kaping lima antaraning luhur
Sela-ning taun Djimakir
Tolu Uma Arjang Djagur
Sangara winduning pati
netepi ngumpul saenggon</poem></li>
<li><poem>Tjinitra ri Buda kaping wolulikur
Sawal-ing taun Djimakir
tjandraning warsa pinétung
nembah mukswa pudjangga dji
Ki Pudjangga pamit lajon</poem></li>
</ol>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u> (Mirsani katja 25)<noinclude></noinclude>
siklf3t1eij32ipqwvk3pqa57y30lk9
Kaca:Bratayuda.pdf/41
250
24822
77990
2026-05-16T02:13:16Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77990
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>gelar lawan. Ia menantang musuh, "Hai, Setyaki, di mana engkau.
Datanglah ke marl untuk mengadu kesaktian."
Raden Setyaki maju mengendarai kereta, inenunjuk Raden
Burisrawa, seraya ucapnya, "Hai, Burisrawa, aku sungguh beruntung, karena engkau yang datang ke padaku. Engkau jangan lari!"
Setelah sating berhadapan, Raden Setyaki segera menarik busumya, melepaskan anak panah, kereta Raden Burisrawa kena dan
remuk, bahkan sais dan kudanya mati. Burisrawa melompat, ia sangat marah, lalu menarik busumya dan melepaskan anak panah,
kereta Setyaki kena, juga remuk. Setyaki melompat, sehingga berperang di darat. Keduanya membuang busur, lalu mengambil gada,
dan sa!.:ng menggada. Ketika gada mereka patah, lalu dibuang.
Kemudian sating mendorong, sating melempar. Karena Setyaki
kalah besar dan tinggi, ia mengalami kesulitan dalam menendang
lawannya. Akhimya ia jatuh tertelentang, diinjak-injak oleh Burisrawa, sampai nafasnya hampir putus. Ketika Setyaki hendak ditikam, Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Cepat, panahlah satu di antara kedua: bahu Burisrawa itu, agar jambakannya kepada Setyaki lepas!"
Dananjaya segera melepaskan panahnya, bahu Burisrawa kena
dan patah. Burisrawa terkejut, dan berseru keras, "Hai, Pandawa
msuh, caramu curang."
Raden Dananjaya menjawab, " Pandawa tidak curang, tetapi
sekedar mengimbangi cara-cara Korawa, karena kematian si Abimanyu dulu, juga karena cara yang curang."
Raden Setyaki ketika melihat bahu Burisrawa patah, lalu
mengambil panah. Burisrawa dipanah, kena lehemya patah, lalu
mati.
***
Gemuruh sorak-sorai pasukan Pandawa. Ketika Korawa melihat Burisrawa tewas, lalu mendesak, hendak membalas kematian
Burisrawa. Mereka melepaskan panah, banyak sekali, sampai seperti hujan. Raden Dananjaya mengamuk, mengobrak-abrik. Wre44<noinclude></noinclude>
381iw4cz12fhz7rtikblsds62drg0b0
77991
77990
2026-05-16T02:17:33Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77991
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>gelar lawan. Ia menantang musuh, "Hai, Setyaki, di mana engkau. Datanglah ke mari untuk mengadu kesaktian."
Raden Setyaki maju mengendarai kereta, menunjuk Raden
Burisrawa, seraya ucapnya, "Hai, Burisrawa, aku sungguh beruntung, karena engkau yang datang ke padaku. Engkau jangan lari!"
Setelah saling berhadapan, Raden Setyaki segera menarik busurnya, melepaskan anak panah, kereta Raden Burisrawa kena dan remuk, bahkan sais dan kudanya mati. Burisrawa melompat, ia sangat marah, lalu menarik busurnya dan melepaskan anak panah, kereta Setyaki kena, juga remuk. Setyaki melompat, sehingga berperang di darat. Keduanya membuang busur, lalu mengambil gada, dan saling menggada. Ketika gada mereka patah, lalu dibuang. Kemudian saling mendorong, saling melempar. Karena Setyaki kalah besar dan tinggi, ia mengalami kesulitan dalam menendang
lawannya. Akhirnya ia jatuh tertelentang, diinjak-injak oleh Burisrawa, sampai nafasnya hampir putus. Ketika Setyaki hendak ditikam, Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Cepat, panahlah satu di antara kedua: bahu Burisrawa itu, agar jambakannya kepada Setyaki lepas!"
Dananjaya segera melepaskan panahnya, bahu Burisrawa kena
dan patah. Burisrawa terkejut, dan berseru keras, "Hai, Pandawa musuh, caramu curang."
Raden Dananjaya menjawab, "Pandawa tidak curang, tetapi
sekedar mengimbangi cara-cara Korawa, karena kematian si Abimanyu dulu, juga karena cara yang curang."
Raden Setyaki ketika melihat bahu Burisrawa patah, lalu
mengambil panah. Burisrawa dipanah, kena lehernya patah, lalu mati.
{{C|* * *}}
Gemuruh sorak-sorai pasukan Pandawa. Ketika Korawa melihat Burisrawa tewas, lalu mendesak, hendak membalas kematian Burisrawa. Mereka melepaskan panah, banyak sekali, sampai seperti hujan. Raden Dananjaya mengamuk, mengobrak-abrik. Wre-<noinclude>{{rh|44}}</noinclude>
s76smgvzljccteq5erjefwhweq0eiej
78299
77991
2026-05-16T09:31:32Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78299
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>gelar lawan. Ia menantang musuh, "Hai, Setyaki, di mana engkau. Datanglah ke mari untuk mengadu kesaktian."
Raden Setyaki maju mengendarai kereta, menunjuk Raden
Burisrawa, seraya ucapnya, "Hai, Burisrawa, aku sungguh beruntung, karena engkau yang datang ke padaku. Engkau jangan lari!"
Setelah saling berhadapan, Raden Setyaki segera menarik busurnya, melepaskan anak panah, kereta Raden Burisrawa kena dan remuk, bahkan sais dan kudanya mati. Burisrawa melompat, ia sangat marah, lalu menarik busurnya dan melepaskan anak panah, kereta Setyaki kena, juga remuk. Setyaki melompat, sehingga berperang di darat. Keduanya membuang busur, lalu mengambil gada, dan saling menggada. Ketika gada mereka patah, lalu dibuang. Kemudian saling mendorong, saling melempar. Karena Setyaki kalah besar dan tinggi, ia mengalami kesulitan dalam menendang
lawannya. Akhirnya ia jatuh tertelentang, diinjak-injak oleh Burisrawa, sampai nafasnya hampir putus. Ketika Setyaki hendak ditikam, Sri Kresna berkata kepada Raden Dananjaya, "Cepat, panahlah satu di antara kedua: bahu Burisrawa itu, agar jambakannya kepada Setyaki lepas!"
Dananjaya segera melepaskan panahnya, bahu Burisrawa kena
dan patah. Burisrawa terkejut, dan berseru keras, "Hai, Pandawa musuh, caramu curang."
Raden Dananjaya menjawab, "Pandawa tidak curang, tetapi
sekedar mengimbangi cara-cara Korawa, karena kematian si Abimanyu dulu, juga karena cara yang curang."
Raden Setyaki ketika melihat bahu Burisrawa patah, lalu
mengambil panah. Burisrawa dipanah, kena lehernya patah, lalu mati.
{{C|* * *}}
Gemuruh sorak-sorai pasukan Pandawa. Ketika Korawa melihat Burisrawa tewas, lalu mendesak, hendak membalas kematian Burisrawa. Mereka melepaskan panah, banyak sekali, sampai seperti hujan. Raden Dananjaya mengamuk, mengobrak-abrik. {{hws|Wre|Wrekodara}}<noinclude>{{rh|44}}</noinclude>
44pa7wnipzmkh4apvh74lb6kmohoiga
Kaca:Bratayuda.pdf/42
250
24823
77992
2026-05-16T02:17:50Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77992
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kodara, Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya meneJ:jang. Korawa tak dapat mengimbangi., lalu mundur,
hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ,
menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak
mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang
semuanya sakti.
Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan meneJ:jang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena
amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak.
Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu
menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, teJ:jangan
mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh
amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta
serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya
seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagi.an mana pun
yang diteJ:jang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah
hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan meneJ:jang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi. Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar
Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan
Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan,
namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi. bersembunyi,
pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya
.dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang
dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk
yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan
sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa
adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud
Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli.
Sesungguhnyalah Batara Kresna itu tak dapat dikelabui.
***
Raden Dananjaya kelihatan Ielah setelah membunuh para
45<noinclude></noinclude>
1arjlry9a37kywnlkg6azi7p8sw1202
77993
77992
2026-05-16T02:25:04Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77993
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kodara, Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti.
Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak.
Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu
menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar
Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk
yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui.
{{C|* * *}}
Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
ky5io22igv43dx63f3eb4mh5ektbv96
78300
77993
2026-05-16T09:32:15Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78300
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|kodara|Wrekodara}} Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti.
Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak.
Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu
menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar
Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk
yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui.
{{C|* * *}}
Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
9n9o8lv3zlgdvuoag81vhkz69wqmjra
78301
78300
2026-05-16T09:32:34Z
Elcamatcha
1466
78301
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|kodara|Wrekodara}}Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti.
Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak.
Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu
menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar
Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk
yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui.
{{C|* * *}}
Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
nuhlput3th7lzp1075b1rdy6vkdtqow
78302
78301
2026-05-16T09:32:47Z
Elcamatcha
1466
78302
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hws|kodara|Wrekodara}} Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti.
Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak.
Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu
menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar
Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk
yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui.
{{C|* * *}}
Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
9n9o8lv3zlgdvuoag81vhkz69wqmjra
78303
78302
2026-05-16T09:33:08Z
Elcamatcha
1466
78303
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|kodara|Wrekodara}} Drustajumena, Gatotkaca, Nakula, Sadewa beserta prajuritnya menerjang. Korawa tak dapat mengimbangi, lalu mundur, hampir sampai ke tempat Sindureja. Mereka terhenti di situ, menutup jalan yang menuju ke tempat Sindureja. Mereka terusmenerus melepaskan panah sebanyak-banyaknya untuk mendesak mundur amukan Raden Dananjaya atau Pandawa yang lain, yang semuanya sakti.
Wrekodara meletakkan busurnya, mengambil gada dan menerjang. Sangat banyak Korawa yang mati berkaparan karena amukan gada Wrekodara. Gelar Cakrabyuha sudah rusak.
Raden Dananjaya mengamuk dengan panahnya, puluhan ribu
menjatuhi musuh. Karena besarnya pasukan Korawa, terjangan mereka seperti anai-anai, berkaparan amat banyak yang mati oleh amukan gada. Banyak adipati yang mati, dan yang remuk kereta serta gajahnya karena diamuk oleh Raden Wrekodara. Geraknya seperti seribu ekor gajah mengamuk bersama. Bagian mana pun yang diterjang, habis. Barisan yang melindungi. Sindureja sudah hampir menipis, dan pasukan Pandawa tiada henti-hentinya mendesak dan menerjang, sehingga sulitlah keadaan mereka yang bertugas melindungi Sindureja. Kemudian Korawa menyarankan agar
Prabu Suyudana mengungsi, pulang ke kota. Akan tetapi Bagawan Sampani tidak setuju, sebab meskipun ada di dalam peperangan, namun masih dilindungi oleh barisan. Jika pergi bersembunyi, pikirannya menjadi nista, dan tidak menepati kedudukannya sebagai seorang satria. Bagawan Sampani turut melindunginya dengan samadinya, agar anaknya, yang bernama Raden Sindureja terlepas dari kematian di dalam Perang Baratayuda. Apa yang dipinta dalam samadinya ialah, terciptanya seratus buah bentuk
yang menyerupai Sindureja. Sindureja yang sebenarnya jangan sampai dikenal. Ia lupa bahwa yang menjadi pamong para Pandawa adalah Sri Kresna, yang tidak pernah khilaf. Seratus buah pun ujud Sindureja sulapan diadakan, ia pasti tahu mana Sindureja asli. Sesungguhnya Batara Kresna itu tak dapat dikelabui.
{{C|* * *}}
Raden Dananjaya kelihatan lelah setelah membunuh para<noinclude>{{rh|||45}}</noinclude>
kce8jzh3evawzqfofcwi0t1nl7svt5n
Kaca:Bratayuda.pdf/43
250
24824
77994
2026-05-16T02:25:21Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77994
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>'•'
bupati dan prajurit. Telah habis selapangan, dari belakang masih
terus berbondong-bondong, sehingga tidak tampak berkurang,
meskipun sudah berpuluh-puluh ribu terbunuh. Hal itu menyebabkan Sri Kresna cemas, karena matahari sudah mulai condong,
akan tetapi Sindureja belurl! ketemu, karena dijaga ketat oleh
barisan. Segera matahari ia tutup dengan cakranya, sedikit-demi
sedikit, sehingga cahayanya kekuning-kuningan. Kemudian ditutup sama sekali dengan cakranya, alam pun menjadi gelap seperti
matahari sudah benar-benar terbenam. Kemudian Batara Kresna
memberi perintah kepada barisan Pandawa, supaya mengumpulkan
kayu. Setelah kayu terkumpullalu dibakar, apinya menyala-nyala.
Barisan Pandawa mundur, lalu mereka berkumpul, seolaholah seperti akan menyaksikan pembakaran diri Raden Dananjaya.
Sindur~ja akan luput dari kematian jika matahari sudah terbenam. Dan sudah tersiar luas bahwa Raden Dananjaya akan membakar diri . Korawa bergembira-ria melihat hal itu, dan mereka
sama sekali tidak tahu bahwa hal itu hanya siasat Sri Kresna
belaka. Matahari ditutup dengan cakra. Luar biasa kegembiraan
mereka, bersorak-sorai gemuruh, serta teriak mereka, demikian,
"Jika Dananjaya mati, hilanglah pembangkitnya. Yang tinggal
hanya anak-anak tikus, sehingga tinggal membentak saja. Cara
berperang Wrekodara kaku, tidak licin seperti si Dananjaya."
Pada· saat itu Raden Sindureja juga turut melihat. Keluarnya dari tempat persembunyian yang dijaga oleh pasukan seperti
tingkah-laku seorang pencuri. Sri Kresna melihat semua gerak-gerik
Raden Sindureja, lalu berkata kepala Raden Dananjaya seraya
menunjukkannya, "Lihatlah, . Sindureja datang. Lepaskanlah panahmu Pasopati, segera, jangan sampai dia tahu!"
Raden Dananjaya menjulur-julurkan kepalanya, lalu bertanya
kepada Sri Kresna, "Junjunganku, di manakah tempat Sindureja
itu?"
Sri Kresna menarik busur Raden Dananjaya sambil menunjukkan tempat Sindureja, seraya ujamya, "Itu, lihatlah, dan panahlah segera!"
46<noinclude></noinclude>
1v4lc72q0xj0jetf5di77puh51ul0h7
77996
77994
2026-05-16T02:30:24Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77996
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>bupati dan prajurit. Telah habis selapangan, dari belakang masih terus berbondong-bondong, sehingga tidak tampak berkurang, meskipun sudah berpuluh-puluh ribu terbunuh. Hal itu menyebabkan Sri Kresna cemas, karena matahari sudah mulai condong, akan tetapi Sindureja belum ketemu, karena dijaga ketat oleh barisan. Segera matahari ia tutup dengan cakranya, sedikit-demi sedikit, sehingga cahayanya kekuning-kuningan. Kemudian ditutup sama sekali dengan cakranya, alam pun menjadi gelap seperti matahari sudah benar-benar terbenam. Kemudian Batara Kresna memberi perintah kepada barisan Pandawa, supaya mengumpulkan kayu. Setelah kayu terkumpul lalu dibakar, apinya menyala-nyala.
Barisan Pandawa mundur, lalu mereka berkumpul, seolah-olah seperti akan menyaksikan pembakaran diri Raden Dananjaya.
Sindureja akan luput dari kematian jika matahari sudah terbenam. Dan sudah tersiar luas bahwa Raden Dananjaya akan membakar diri . Korawa bergembira-ria melihat hal itu, dan mereka sama sekali tidak tahu bahwa hal itu hanya siasat Sri Kresna belaka. Matahari ditutup dengan cakra. Luar biasa kegembiraan mereka, bersorak-sorai gemuruh, serta teriak mereka, demikian, "Jika Dananjaya mati, hilanglah pembangkitnya. Yang tinggal hanya anak-anak tikus, sehingga tinggal membentak saja. Cara berperang Wrekodara kaku, tidak licin seperti si Dananjaya."
Pada saat itu Raden Sindureja juga turut melihat. Keluarnya dari tempat persembunyian yang dijaga oleh pasukan seperti tingkah-laku seorang pencuri. Sri Kresna melihat semua gerak-gerik Raden Sindureja, lalu berkata kepala Raden Dananjaya seraya menunjukkannya, "Lihatlah, Sindureja datang. Lepaskanlah panahmu Pasopati, segera, jangan sampai dia tahu!"
Raden Dananjaya menjulur-julurkan kepalanya, lalu bertanya kepada Sri Kresna, "Junjunganku, di manakah tempat Sindureja itu?"
Sri Kresna menarik busur Raden Dananjaya sambil menunjukkan tempat Sindureja, seraya ujarnya, "Itu, lihatlah, dan panahlah segera!"<noinclude>{{rh|46}}</noinclude>
dokr4uocps4oqwpwjh3x267lqczdaj1
78304
77996
2026-05-16T09:33:17Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78304
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>bupati dan prajurit. Telah habis selapangan, dari belakang masih terus berbondong-bondong, sehingga tidak tampak berkurang, meskipun sudah berpuluh-puluh ribu terbunuh. Hal itu menyebabkan Sri Kresna cemas, karena matahari sudah mulai condong, akan tetapi Sindureja belum ketemu, karena dijaga ketat oleh barisan. Segera matahari ia tutup dengan cakranya, sedikit-demi sedikit, sehingga cahayanya kekuning-kuningan. Kemudian ditutup sama sekali dengan cakranya, alam pun menjadi gelap seperti matahari sudah benar-benar terbenam. Kemudian Batara Kresna memberi perintah kepada barisan Pandawa, supaya mengumpulkan kayu. Setelah kayu terkumpul lalu dibakar, apinya menyala-nyala.
Barisan Pandawa mundur, lalu mereka berkumpul, seolah-olah seperti akan menyaksikan pembakaran diri Raden Dananjaya.
Sindureja akan luput dari kematian jika matahari sudah terbenam. Dan sudah tersiar luas bahwa Raden Dananjaya akan membakar diri . Korawa bergembira-ria melihat hal itu, dan mereka sama sekali tidak tahu bahwa hal itu hanya siasat Sri Kresna belaka. Matahari ditutup dengan cakra. Luar biasa kegembiraan mereka, bersorak-sorai gemuruh, serta teriak mereka, demikian, "Jika Dananjaya mati, hilanglah pembangkitnya. Yang tinggal hanya anak-anak tikus, sehingga tinggal membentak saja. Cara berperang Wrekodara kaku, tidak licin seperti si Dananjaya."
Pada saat itu Raden Sindureja juga turut melihat. Keluarnya dari tempat persembunyian yang dijaga oleh pasukan seperti tingkah-laku seorang pencuri. Sri Kresna melihat semua gerak-gerik Raden Sindureja, lalu berkata kepala Raden Dananjaya seraya menunjukkannya, "Lihatlah, Sindureja datang. Lepaskanlah panahmu Pasopati, segera, jangan sampai dia tahu!"
Raden Dananjaya menjulur-julurkan kepalanya, lalu bertanya kepada Sri Kresna, "Junjunganku, di manakah tempat Sindureja itu?"
Sri Kresna menarik busur Raden Dananjaya sambil menunjukkan tempat Sindureja, seraya ujarnya, "Itu, lihatlah, dan panahlah segera!"<noinclude>{{rh|46}}</noinclude>
8kahwtq5219n5geqjri6xzsuokyb57q
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/27
250
24825
77995
2026-05-16T02:28:49Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77995
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 25 –}}</noinclude>Manawi kula kepareng matur barès sajektosipun kula dèrèng jakin manawi serat "Sabda Djati" punika hijasanipun swargi R.Ng. Rangsawarsita, amargi miturut pangenjar-kula: béda kalijan serat2 sanèsipun hijasaipun swargi wau. Kinten-kula "Sabda Djati" punika damelanipun sa<u>d</u>èrèk ingkang mewahi "Kala-ti<u>d</u>a" dados 13 pada (mirsani katja 14), sedyanipun ngluhuraken Ki Pudjangga, dipungambar2 anggènipun saged mijak warana tuwin lepas pandulunipun "ulur lir benang tinarik". Punapa inggih tampi ilham punika kados makaten gambaripun?
Déné titikan ingkang gampil kita-raosken, inggih punika bab pamasanging sandi-asma ing pada wiwitan, garis 1,2,4,5, punika boten manut pa<u>t</u>okan. Ingkang sampun2, manawi Ki Pudjangga masang sandi-asma sapada boten wonten ing wiwitaning garis punika, ames<u>t</u>i dawah pe<u>d</u>otaning wirama:
ajwa pegat ngudija <u>rong</u>ing budyaju, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ajwa mi<u>rong</u> ngudija marang budyaju;
mar<u>ga</u>ning suka basuki, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: dèn wrin mar<u>g</u>aning basuki;
dimèn lu<u>war</u> kang kinajun, sampun leres.
kalis ing panggawé <u>si</u>sip, manawi miturut pa<u>t</u>okan upaminipun: amapa<u>si</u> tindak sisip;
ingkang <u>ta</u>beri prihatos,manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ulah bra<u>ta</u> mjang prihatos.
Ananging sarèhning para sardjana sudjana sami kagungan panganggep, bilih "Sabda Djati" punika karanganipun swargi, malah pada 14 punika kadamel rerenggan bantjiking retja Ranggawarsita ing museum Sriwedari Surakarta, djalaran ungel-ungelan "galibedan tudang-tuding, anatjahken sakèhing wong" punika kaanggep pralambangipun <u>pemilihan umum</u> kula inggih namung njumanggakaken.
<center> ------- </center><noinclude></noinclude>
kmv96hneba4qqlkl8g4acij8py1iz4r
78371
77995
2026-05-16T10:01:46Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78371
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 25 –}}</noinclude>Manawi kula kepareng matur barès sajektosipun kula dèrèng jakin manawi serat "Sabda Djati" punika hijasanipun swargi R.Ng. Rangsawarsita, amargi miturut pangenjar-kula: béda kalijan serat2 sanèsipun hijasaipun swargi wau. Kinten-kula "Sabda Djati" punika damelanipun sa<u>d</u>èrèk ingkang mewahi "Kala-ti<u>d</u>a" dados 13 pada (mirsani katja 14), sedyanipun ngluhuraken Ki Pudjangga, dipungambar2 anggènipun saged mijak warana tuwin lepas pandulunipun "ulur lir benang tinarik". Punapa inggih tampi ilham punika kados makaten gambaripun?
Déné titikan ingkang gampil kita-raosken, inggih punika bab pamasanging sandi-asma ing pada wiwitan, garis 1,2,4,5, punika boten manut pa<u>t</u>okan. Ingkang sampun2, manawi Ki Pudjangga masang sandi-asma sapada boten wonten ing wiwitaning garis punika, ames<u>t</u>i dawah pe<u>d</u>otaning wirama:
ajwa pegat ngudija <u>rong</u>ing budyaju, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ajwa mi<u>rong</u> ngudija marang budyaju;
mar<u>ga</u>ning suka basuki, manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: dèn wrin mar<u>g</u>aning basuki;
dimèn lu<u>war</u> kang kinajun, sampun leres.
kalis ing panggawé <u>si</u>sip, manawi miturut pa<u>t</u>okan upaminipun: amapa<u>si</u> tindak sisip;
ingkang <u>ta</u>beri prihatos,manawi manut pa<u>t</u>okan upaminipun: ulah bra<u>ta</u> mjang prihatos.
Ananging sarèhning para sardjana sudjana sami kagungan panganggep, bilih "Sabda Djati" punika karanganipun swargi, malah pada 14 punika kadamel rerenggan bantjiking retja Ranggawarsita ing museum Sriwedari Surakarta, djalaran ungel-ungelan "galibedan tudang-tuding, anatjahken sakèhing wong" punika kaanggep pralambangipun <u>pemilihan umum</u> kula inggih namung njumanggakaken.
<center> ------- </center><noinclude></noinclude>
eliimmexxnjg3hb2awcvdj6lkrr1uj0
Kaca:Bratayuda.pdf/44
250
24826
77997
2026-05-16T02:30:43Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
77997
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Dananjaya mengangkat tumitnya, dan ia sudah melihat Sindureja, lalu dipanah dengan panah Pasopati. Sindureja
kena, putus lehernya, lalu mati. Sri Kresna memberi perintah kepada Raden Dananjaya, "Lemparkanlah kepala si Sindureja ;tu
ke temp at orang tuanya dengan panahmu Sarotama."
Raden Dananjaya lalu menarik busurnya, melepaskan panah
Sarotama. Kepala Raden Sindureja terbawa oleh panah, jatuh di
hadapan ayahnya.
Bagawan Sampani masih tengah bersamadi, sedangkan yang
dipinta ialah, semoga putranya memperoleh kemenangan di rnedan
perang, jangan sampai musuh dapat membunuh Sindureja asli,
dan hanya Sindureja sulapan saja. Sedangkan pembalasannya
kepada musuh, akan menimbulkan bencana, meski sepuluh atau
seratus musuh pun, akan mati serentak. Kemudian kepala putranya jatuh di pangkuannya, lalu dipegang oleh Bagawail Sampani
seraya ucapnya sambil menangis, "Aduh, Anakku mati. Mengapa engkau mati dalam Perang Baratayuda? Lihatlah aku, yang
sedang memuja demi kejayaanmu di medan perang."
***
Setelah matahari terbenam, seluruh pasukan mundur ke
kubunya masing-masing. Prabu Suyudana menangis, serta ujarnya kepada Druna, "Bagaimana kehendak Anda, Paman, sesudah
tewasnya kedua satria, Burisrawa dan Sindureja, seperti kehilangan
bahu kanan dan bahu kiri. Apa yang akan dijadikan pengganti?"
Berkata demikian itu diucapkannya dengan tersendat-sendat, serta memohon-mohon. Sedangkan yang ada di hadapannya
ialah, Salya, Kama, Sengkuni, dan Karpa. Suyudana berkata lagi,
"Apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana pendapat Pam an
Druna setelah banyaknya saudara saya yang tewas, seperti Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadurjaya,
Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, yang tewas oleh amukan Wrekodara serta Arjuna, sangat memprihatinkan saya, dan apa gerangan yang dapat dijadikan pengganti?"
Druna berkata dengan suara lantang, ujarnya, "Siapakah yang
47<noinclude></noinclude>
pvozbk6jnmvmjjbepnezdip0jl4pbow
77998
77997
2026-05-16T02:35:11Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
77998
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raden Dananjaya mengangkat tumitnya, dan ia sudah melihat Sindureja, lalu dipanah dengan panah Pasopati. Sindureja
kena, putus lehernya, lalu mati. Sri Kresna memberi perintah kepada Raden Dananjaya, "Lemparkanlah kepala si Sindureja itu ke tempat orang tuanya dengan panahmu Sarotama."
Raden Dananjaya lalu menarik busurnya, melepaskan panah
Sarotama. Kepala Raden Sindureja terbawa oleh panah, jatuh di hadapan ayahnya.
Bagawan Sampani masih tengah bersamadi, sedangkan yang
dipinta ialah, semoga putranya memperoleh kemenangan di rnedan perang, jangan sampai musuh dapat membunuh Sindureja asli, dan hanya Sindureja sulapan saja. Sedangkan pembalasannya kepada musuh, akan menimbulkan bencana, meski sepuluh atau seratus musuh pun, akan mati serentak. Kemudian kepala putranya jatuh di pangkuannya, lalu dipegang oleh Bagawan Sampani seraya ucapnya sambil menangis, "Aduh, Anakku mati. Mengapa engkau mati dalam Perang Baratayuda? Lihatlah aku, yang sedang memuja demi kejayaanmu di medan perang."
{{C|* * *}}
Setelah matahari terbenam, seluruh pasukan mundur ke
kubunya masing-masing. Prabu Suyudana menangis, serta ujarnya kepada Druna, "Bagaimana kehendak Anda, Paman, sesudah.tewasnya kedua satria, Burisrawa dan Sindureja, seperti kehilangan bahu kanan dan bahu kiri. Apa yang akan dijadikan pengganti?"
Berkata demikian itu diucapkannya dengan tersendat-sendat, serta memohon-mohon. Sedangkan yang ada di hadapannya ialah, Salya, Kama, Sengkuni, dan Karpa. Suyudana berkata lagi, "Apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana pendapat Paman Druna setelah banyaknya saudara saya yang tewas, seperti Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadurjaya, Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, yang tewas oleh amukan Wrekodara serta Arjuna, sangat memprihatinkan saya, dan apa gerangan yang dapat dijadikan pengganti?"
Druna berkata dengan suara lantang, ujarnya, "Siapakah yang<noinclude>{{rh|||47}}</noinclude>
p933zj6vswsto953kqpbfk27v68px7d
78305
77998
2026-05-16T09:33:27Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78305
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Dananjaya mengangkat tumitnya, dan ia sudah melihat Sindureja, lalu dipanah dengan panah Pasopati. Sindureja
kena, putus lehernya, lalu mati. Sri Kresna memberi perintah kepada Raden Dananjaya, "Lemparkanlah kepala si Sindureja itu ke tempat orang tuanya dengan panahmu Sarotama."
Raden Dananjaya lalu menarik busurnya, melepaskan panah
Sarotama. Kepala Raden Sindureja terbawa oleh panah, jatuh di hadapan ayahnya.
Bagawan Sampani masih tengah bersamadi, sedangkan yang
dipinta ialah, semoga putranya memperoleh kemenangan di rnedan perang, jangan sampai musuh dapat membunuh Sindureja asli, dan hanya Sindureja sulapan saja. Sedangkan pembalasannya kepada musuh, akan menimbulkan bencana, meski sepuluh atau seratus musuh pun, akan mati serentak. Kemudian kepala putranya jatuh di pangkuannya, lalu dipegang oleh Bagawan Sampani seraya ucapnya sambil menangis, "Aduh, Anakku mati. Mengapa engkau mati dalam Perang Baratayuda? Lihatlah aku, yang sedang memuja demi kejayaanmu di medan perang."
{{C|* * *}}
Setelah matahari terbenam, seluruh pasukan mundur ke
kubunya masing-masing. Prabu Suyudana menangis, serta ujarnya kepada Druna, "Bagaimana kehendak Anda, Paman, sesudah.tewasnya kedua satria, Burisrawa dan Sindureja, seperti kehilangan bahu kanan dan bahu kiri. Apa yang akan dijadikan pengganti?"
Berkata demikian itu diucapkannya dengan tersendat-sendat, serta memohon-mohon. Sedangkan yang ada di hadapannya ialah, Salya, Kama, Sengkuni, dan Karpa. Suyudana berkata lagi, "Apa yang harus kita lakukan, dan bagaimana pendapat Paman Druna setelah banyaknya saudara saya yang tewas, seperti Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadurjaya, Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, yang tewas oleh amukan Wrekodara serta Arjuna, sangat memprihatinkan saya, dan apa gerangan yang dapat dijadikan pengganti?"
Druna berkata dengan suara lantang, ujarnya, "Siapakah yang<noinclude>{{rh|||47}}</noinclude>
a5klbzamiyj9itrqc05rm40h10p3gtx
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/28
250
24827
77999
2026-05-16T02:35:37Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
77999
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 26 –}}</noinclude><center><u>V. {{sp|KALA-TIDA PININGIT}}</u></center>
<u>{{sp|Sinom}}</u>
<ol start=1>
<li><poem>Sinom susulan wirajat
Kala-ti<u>d</u>a kang piningit
tjalon kang gumantya nata
maksih sinengker Hjang Widi
ing ura-uru mbéndjing
kang sumela dadya ratu
turuné ping sadasa
nutugken wibawa mukti
pangarangé Dyan Bèhi Ranggawarsita</poem></li>
<li><poem>Duk kalanira angarang
wonten Landi sing Ustenrik
Wénen nenggih ku<u>t</u>anira
mlantjong mring nagari Djawi
tjekak minggah mring wukir
njuwun premisi Sang Prabu
ningali kawahira
putjaking ardi Merapi
wangsulira pun tuwan asung tjarita</poem></li>
<li><poem><u>D</u>ateng nDjeng Gusti kaping pat
enget kula-sangkalani
gusti mbéndjing ngès<u>t</u>i nata
tjritané kang ardi mbéndjing
kobong wit saking agni
slira tjatur ngès<u>t</u>i ratu
petjahing ardi sigar
Jogja Ke<u>d</u> risak sami
jèn ing Sala risaké mung sawatara</poem></li>
<li><poem>Nulja nDjeng Gusti kaping pat
pangandikanira aris
<u>d</u>umateng Ranggawarsita
dulunen telenging ati
eningna adja gingsir</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
52rbx4p2zc6bc4dnjzy6gs63ncqqsw8
78001
77999
2026-05-16T02:36:17Z
Abdansykr26
860
78001
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 26 –}}</noinclude><center><u>{{sp|V. KALA-TIDA PININGIT}}</u></center>
<u>{{sp|Sinom}}</u>
<ol start=1>
<li><poem>Sinom susulan wirajat
Kala-ti<u>d</u>a kang piningit
tjalon kang gumantya nata
maksih sinengker Hjang Widi
ing ura-uru mbéndjing
kang sumela dadya ratu
turuné ping sadasa
nutugken wibawa mukti
pangarangé Dyan Bèhi Ranggawarsita</poem></li>
<li><poem>Duk kalanira angarang
wonten Landi sing Ustenrik
Wénen nenggih ku<u>t</u>anira
mlantjong mring nagari Djawi
tjekak minggah mring wukir
njuwun premisi Sang Prabu
ningali kawahira
putjaking ardi Merapi
wangsulira pun tuwan asung tjarita</poem></li>
<li><poem><u>D</u>ateng nDjeng Gusti kaping pat
enget kula-sangkalani
gusti mbéndjing ngès<u>t</u>i nata
tjritané kang ardi mbéndjing
kobong wit saking agni
slira tjatur ngès<u>t</u>i ratu
petjahing ardi sigar
Jogja Ke<u>d</u> risak sami
jèn ing Sala risaké mung sawatara</poem></li>
<li><poem>Nulja nDjeng Gusti kaping pat
pangandikanira aris
<u>d</u>umateng Ranggawarsita
dulunen telenging ati
eningna adja gingsir</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
rcx8ubmz4rn6z1gy9ryuelpb75eyqle
78372
78001
2026-05-16T10:01:55Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78372
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 26 –}}</noinclude><center><u>{{sp|V. KALA-TIDA PININGIT}}</u></center>
<u>{{sp|Sinom}}</u>
<ol start=1>
<li><poem>Sinom susulan wirajat
Kala-ti<u>d</u>a kang piningit
tjalon kang gumantya nata
maksih sinengker Hjang Widi
ing ura-uru mbéndjing
kang sumela dadya ratu
turuné ping sadasa
nutugken wibawa mukti
pangarangé Dyan Bèhi Ranggawarsita</poem></li>
<li><poem>Duk kalanira angarang
wonten Landi sing Ustenrik
Wénen nenggih ku<u>t</u>anira
mlantjong mring nagari Djawi
tjekak minggah mring wukir
njuwun premisi Sang Prabu
ningali kawahira
putjaking ardi Merapi
wangsulira pun tuwan asung tjarita</poem></li>
<li><poem><u>D</u>ateng nDjeng Gusti kaping pat
enget kula-sangkalani
gusti mbéndjing ngès<u>t</u>i nata
tjritané kang ardi mbéndjing
kobong wit saking agni
slira tjatur ngès<u>t</u>i ratu
petjahing ardi sigar
Jogja Ke<u>d</u> risak sami
jèn ing Sala risaké mung sawatara</poem></li>
<li><poem>Nulja nDjeng Gusti kaping pat
pangandikanira aris
<u>d</u>umateng Ranggawarsita
dulunen telenging ati
eningna adja gingsir</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
lk45fqz2wh2umugwteqp86s7jjex5vu
Kaca:Bratayuda.pdf/45
250
24828
78000
2026-05-16T02:35:39Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78000
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>yang akan menghadapi Aijuna di medan perang, karena besarnya
cinta Hyang Batara Guru? Siapakah yang mampu menghadapi
amukan Wrekodara, dan siapa yang kuat menandingi perangnya
Raja Wirata, dan siapakah yang kuat menahan amukan Raja Cempala. Dan masih ada lagi, siapakah yang mampu menentang kemahiran Sri Kresna? Apa yang dapat dijadikan penahan dalam menghadapi perangnya kelima orang besar itu?"
Prabu Suyudana lalu berkata kepada Raja Awangga, "Hai,
andalah besok pagi, yang aku harapkan menandingi perangnya Arjuna dan Wrekodara, akan tetapi mintalah perintah Pendeta
Druna."
Jawab Prabu Kama, "Baiklah, besok pagi saya akan menghadapi perangnya."
Pendeta Druna sangat gembira.
48<noinclude></noinclude>
pwvwrmh4gleunng4m9t8yiuz9xgl4ed
78002
78000
2026-05-16T02:39:49Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78002
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>yang akan menghadapi Arjuna di medan perang, karena besarnya cinta Hyang Batara Guru? Siapakah yang mampu menghadapi amukan Wrekodara, dan siapa yang kuat menandingi perangnya Raja Wirata, dan siapakah yang kuat menahan amukan Raja Cempala. Dan masih ada lagi, siapakah yang mampu menentang kemahiran Sri Kresna? Apa yang dapat dijadikan penahan dalam menghadapi perangnya kelima orang besar itu?"
Prabu Suyudana lalu berkata kepada Raja Awangga, "Hai,
andalah besok pagi, yang aku harapkan menandingi perangnya Arjuna dan Wrekodara, akan tetapi mintalah perintah Pendeta Druna."
Jawab Prabu Karna, "Baiklah, besok pagi saya akan menghadapi perangnya."
Pendeta Druna sangat gembira.<noinclude>{{rh|48}}</noinclude>
7lcbums59ndefdlgz50n5gen0xpnwez
78306
78002
2026-05-16T09:33:35Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78306
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>yang akan menghadapi Arjuna di medan perang, karena besarnya cinta Hyang Batara Guru? Siapakah yang mampu menghadapi amukan Wrekodara, dan siapa yang kuat menandingi perangnya Raja Wirata, dan siapakah yang kuat menahan amukan Raja Cempala. Dan masih ada lagi, siapakah yang mampu menentang kemahiran Sri Kresna? Apa yang dapat dijadikan penahan dalam menghadapi perangnya kelima orang besar itu?"
Prabu Suyudana lalu berkata kepada Raja Awangga, "Hai,
andalah besok pagi, yang aku harapkan menandingi perangnya Arjuna dan Wrekodara, akan tetapi mintalah perintah Pendeta Druna."
Jawab Prabu Karna, "Baiklah, besok pagi saya akan menghadapi perangnya."
Pendeta Druna sangat gembira.<noinclude>{{rh|48}}</noinclude>
7j8akwxpxm2c8naxxgsp2w9k984zi2h
Kaca:Bratayuda.pdf/47
250
24829
78003
2026-05-16T02:40:43Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78003
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>adipati yang berkereta atau yang mengendarai gajah. Merekalah
yang diterjang dengan gadanya, sehingga banyak yang mati berkaparan. Raden Dananjaya melepaskan panahnya yang sakti.
Punggawa Prabu Kama yang sakti, Druwajaya, maju mengendarai kereta, jarang yang mampu melayaninya. Ia membawa gada,
dan banyak prajurit yang mati oleh Druwajaya. Lalu diterjang
oleh Wrekodara. Saat itulah Druwajaya tewas. Kemudian Raden
Setyaki pun menyerang musuh ke tengah dengan kemarahan menyala-nyala. Banyak bupati tewas, dan pertahanan para raja yang
berantakan karena terjangannya. Raden Setyaki demikian hebat
amukannya, membuat musuhnya bingung. Kemudian Partipeya
datang menghadang. Lalu menarik busur melepaskan anak panah,
Setyaki kena dadanya, tidak mempan, akan tetapi terpental, terbawa oleh anak panah, lalu jatuh berdembam. Kemudian putra Raden Setyaki, yang bernama Raden Sanga-sanga maju menghadapi
Partipeya. Saling memanah, tak ada yang terluka. Lalu bergulat
mengadu kekuatan tubuh. Sarna-sarna sakti. Kemauan musuh terlayani, diiringi sorak-sorai, seperti orang menyabung ayam, yang
menonton merasa gembira, karena keduanya seimbang kesaktiannya.
Kemudian datanglah Raden Wrekodara membantu Raden
Sangasanga. Partipeya dibidik dengan panah, dadanya yang kena,
lalu jatuh terbanting. Ia merasa sakit, dan amat marah. Tahu bahwa yang memanahnya Raden Wrekodara, ia membalas dengan
panah pula. Bahu kiri Wrekodara yang kena, dan membuatnya terkejut, lalu meletakkan Bargawastranya, mengambil gada lalu maju.
Raden Partipeya dihantam dengan gada, hancur beserta keretanya.
Di situlah Partipeya tewas oleh Raden Wrekodara.
***
Anak Partipeya ingin segera membalas dendam atas kematian ayahnya. Wrekodara dikeroyok, lama perangnya. Akhirnya
anak Partipeya mati kena gada Raden Wrekodara. Punggawa Adipati Awangga bernama Drestarata maju. Ia pun mati kena gada
Raden Wrekodara, hancur bersama keretanya. Wrekodar~ meng50<noinclude></noinclude>
ijm0t9oq4mgx83i5m6tx0z8ugms9d5l
78006
78003
2026-05-16T02:46:00Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78006
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>adipati yang berkereta atau yang mengendarai gajah. Merekalah yang diterjang dengan gadanya, sehingga banyak yang mati berkaparan. Raden Dananjaya melepaskan panahnya yang sakti.
Punggawa Prabu Karna yang sakti, Druwajaya, maju mengendarai kereta, jarang yang mampu melayaninya. Ia membawa gada, dan banyak prajurit yang mati oleh Druwajaya. Lalu diterjang oleh Wrekodara. Saat itulah Druwajaya tewas. Kemudian Raden Setyaki pun menyerang musuh ke tengah dengan kemarahan menyala-nyala. Banyak bupati tewas, dan pertahanan para raja yang berantakan karena terjangannya. Raden Setyaki demikian hebat
amukannya, membuat musuhnya bingung. Kemudian Partipeya
datang menghadang. Lalu menarik busur melepaskan anak panah, Setyaki kena dadanya, tidak mempan, akan tetapi terpental, terbawa oleh anak panah, lalu jatuh berdembam. Kemudian putra Raden Setyaki, yang bernama Raden Sanga-sanga maju menghadapi Partipeya. Saling memanah, tak ada yang terluka. Lalu bergulat mengadu kekuatan tubuh. Sarna-sarna sakti. Kemauan musuh terlayani, diiringi sorak-sorai, seperti orang menyabung ayam, yang menonton merasa gembira, karena keduanya seimbang kesaktiannya.
Kemudian datanglah Raden Wrekodara membantu Raden
Sangasanga. Partipeya dibidik dengan panah, dadanya yang kena, lalu jatuh terbanting. Ia merasa sakit, dan amat marah. Tahu bahwa yang memanahnya Raden Wrekodara, ia membalas dengan panah pula. Bahu kiri Wrekodara yang kena, dan membuatnya terkejut, lalu meletakkan Bargawastranya, mengambil gada lalu maju. Raden Partipeya dihantam dengan gada, hancur beserta keretanya. Di situlah Partipeya tewas oleh Raden Wrekodara.
{{C| * * *}}
Anak Partipeya ingin segera membalas dendam atas kematian ayahnya. Wrekodara dikeroyok, lama perangnya. Akhirnya anak Partipeya mati kena gada Raden Wrekodara. Punggawa Adipati Awangga bernama Drestarata maju. Ia pun mati kena gada Raden Wrekodara, hancur bersama keretanya. Wrekodara meng-<noinclude>{{rh|50}}</noinclude>
1e4bgnrlneng8q6u3qca69c401btzpi
78307
78006
2026-05-16T09:34:03Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78307
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>adipati yang berkereta atau yang mengendarai gajah. Merekalah yang diterjang dengan gadanya, sehingga banyak yang mati berkaparan. Raden Dananjaya melepaskan panahnya yang sakti.
Punggawa Prabu Karna yang sakti, Druwajaya, maju mengendarai kereta, jarang yang mampu melayaninya. Ia membawa gada, dan banyak prajurit yang mati oleh Druwajaya. Lalu diterjang oleh Wrekodara. Saat itulah Druwajaya tewas. Kemudian Raden Setyaki pun menyerang musuh ke tengah dengan kemarahan menyala-nyala. Banyak bupati tewas, dan pertahanan para raja yang berantakan karena terjangannya. Raden Setyaki demikian hebat
amukannya, membuat musuhnya bingung. Kemudian Partipeya
datang menghadang. Lalu menarik busur melepaskan anak panah, Setyaki kena dadanya, tidak mempan, akan tetapi terpental, terbawa oleh anak panah, lalu jatuh berdembam. Kemudian putra Raden Setyaki, yang bernama Raden Sanga-sanga maju menghadapi Partipeya. Saling memanah, tak ada yang terluka. Lalu bergulat mengadu kekuatan tubuh. Sarna-sarna sakti. Kemauan musuh terlayani, diiringi sorak-sorai, seperti orang menyabung ayam, yang menonton merasa gembira, karena keduanya seimbang kesaktiannya.
Kemudian datanglah Raden Wrekodara membantu Raden
Sangasanga. Partipeya dibidik dengan panah, dadanya yang kena, lalu jatuh terbanting. Ia merasa sakit, dan amat marah. Tahu bahwa yang memanahnya Raden Wrekodara, ia membalas dengan panah pula. Bahu kiri Wrekodara yang kena, dan membuatnya terkejut, lalu meletakkan Bargawastranya, mengambil gada lalu maju. Raden Partipeya dihantam dengan gada, hancur beserta keretanya. Di situlah Partipeya tewas oleh Raden Wrekodara.
{{C| * * *}}
Anak Partipeya ingin segera membalas dendam atas kematian ayahnya. Wrekodara dikeroyok, lama perangnya. Akhirnya anak Partipeya mati kena gada Raden Wrekodara. Punggawa Adipati Awangga bernama Drestarata maju. Ia pun mati kena gada Raden Wrekodara, hancur bersama keretanya. Wrekodara {{hws|meng|mengamuk}}<noinclude>{{rh|50}}</noinclude>
8jx7033av7o0eju6dcsf366qd5t82go
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/29
250
24830
78004
2026-05-16T02:44:19Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
78004
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 27 –}}</noinclude><poem>:::sandika umatur nuhun
:::Radyan Ranggawarsita
:::pantja-drija kang kaès<u>t</u>i
:::sapandurat tan antara ntuk wewengan</poem>
<ol start=5>
<li><poem>Umatur leres pun tuwan
mbéndjing kalamun marengi
ba<u>d</u>é petjahing kang arga
lin<u>d</u>u rambah kaping <u>ka</u>tri
punika pan sajekti
kapara dados susungut
kirang pitung ri dina
pitulas dinten marengi
pitulikur punika sampun pungkasan</poem></li>
<li><poem>Dèrènging ambles kang arga
mo<u>d</u>èl sakit kang nganèhi
mung sake<u>d</u>ap nuli sirna
ing tanah Djawi mèh wradin
Sala Jogja akeni
laminé amung tri tèngsu
wirajaté wong wignja
nudju Pandjenengan Adji
ping sadasa Nata krama ing Ngajogja</poem></li>
<li><poem>Pra pangrèh ing Surakarta
ka<u>t</u>ah sumelang ing galih
wasana ngupaja majar
angès<u>t</u>i angga pribadi
kirang dwi warsa mbendjing
kalawan petjahing gunung
jèn wus prap taning djangka
petjahing ardi Merapi
ndjeblos mawut sumebar ja bandjir lahar</poem></li>
<li><poem>Jogja karatoné ilang
petjahing ardi Merapi
tirta n<u>d</u>ut Sala lan Jogja
pisah tan anunggil siti
tengahing ardi dadi</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
bljhrbfci8qetx7jt7qumbushapfh3z
78005
78004
2026-05-16T02:44:58Z
Abdansykr26
860
78005
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 27 –}}</noinclude><poem>:::sandika umatur nuhun
:::Radyan Ranggawarsita
:::pantja-drija kang kaès<u>t</u>i
:::sapandurat tan antara ntuk wewengan</poem>
<ol start=5>
<li><poem>Umatur leres pun tuwan
mbéndjing kalamun marengi
ba<u>d</u>é petjahing kang arga
lin<u>d</u>u rambah kaping <u>ka</u>tri
punika pan sajekti
kapara dados susungut
kirang pitung ri dina
pitulas dinten marengi
pitulikur punika sampun pungkasan</poem></li>
<li><poem>Dèrènging ambles kang arga
mo<u>d</u>èl sakit kang nganèhi
mung sake<u>d</u>ap nuli sirna
ing tanah Djawi mèh wradin
Sala Jogja akeni
laminé amung tri tèngsu
wirajaté wong wignja
nudju Pandjenengan Adji
ping sadasa Nata krama ing Ngajogja</poem></li>
<li><poem>Pra pangrèh ing Surakarta
ka<u>t</u>ah sumelang ing galih
wasana ngupaja majar
angès<u>t</u>i angga pribadi
kirang dwi warsa mbendjing
kalawan petjahing gunung
jèn wus praptaning djangka
petjahing ardi Merapi
ndjeblos mawut sumebar ja bandjir lahar</poem></li>
<li><poem>Jogja karatoné ilang
petjahing ardi Merapi
tirta n<u>d</u>ut Sala lan Jogja
pisah tan anunggil siti
tengahing ardi dadi</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
pjqgdbtpfo67rhp4kts0jstrcob3lcv
78373
78005
2026-05-16T10:02:02Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78373
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 27 –}}</noinclude><poem>:::sandika umatur nuhun
:::Radyan Ranggawarsita
:::pantja-drija kang kaès<u>t</u>i
:::sapandurat tan antara ntuk wewengan</poem>
<ol start=5>
<li><poem>Umatur leres pun tuwan
mbéndjing kalamun marengi
ba<u>d</u>é petjahing kang arga
lin<u>d</u>u rambah kaping <u>ka</u>tri
punika pan sajekti
kapara dados susungut
kirang pitung ri dina
pitulas dinten marengi
pitulikur punika sampun pungkasan</poem></li>
<li><poem>Dèrènging ambles kang arga
mo<u>d</u>èl sakit kang nganèhi
mung sake<u>d</u>ap nuli sirna
ing tanah Djawi mèh wradin
Sala Jogja akeni
laminé amung tri tèngsu
wirajaté wong wignja
nudju Pandjenengan Adji
ping sadasa Nata krama ing Ngajogja</poem></li>
<li><poem>Pra pangrèh ing Surakarta
ka<u>t</u>ah sumelang ing galih
wasana ngupaja majar
angès<u>t</u>i angga pribadi
kirang dwi warsa mbendjing
kalawan petjahing gunung
jèn wus praptaning djangka
petjahing ardi Merapi
ndjeblos mawut sumebar ja bandjir lahar</poem></li>
<li><poem>Jogja karatoné ilang
petjahing ardi Merapi
tirta n<u>d</u>ut Sala lan Jogja
pisah tan anunggil siti
tengahing ardi dadi</poem></li>
</ol><noinclude></noinclude>
gbreepqvl9ziefvhucxwgsq6v9mrt47
Kaca:Bratayuda.pdf/49
250
24831
78007
2026-05-16T02:46:23Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78007
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Prabu Suyudana segera memegang Aswatama, dan
dilerai amarahnya. Demikian ujamya, "Jangan engkau berbuat
seperti itu," dan kemudian Sri Baginda minta kepada Kama, agar
segera maju ke medan perang. Suryaputra segera naik ke kereta,
lalu maju ke tengah medan. Melepaskan panah, demikian banyak
sehingga melingkupi medan. Pasukan Pandawa bubar, dan gempar terkena panah. Banyak yang terluka. Prabu Yudistira dengan
gugup berkata kepada Raden Dananjaya, "Mengapa engkau tidak
menghalangi amukan Suryaputra? Pasukanmu berlarian, banyak
yang terkena panahnya. Para satria pun ketakutan, sehingga lari
tanpa menoleh lagi. Cepatlah dimulai, dan panahlah ia sampai
mati! Apakah tidak diperkenankan Kakanda Dwarawati?"
Raden Dananjaya maju lalu bertanya kepada Sri Kresna, demikian, "Junjunganku, bagaimana perkenan Paduka mengenai
serbuan Suryaputra, dan siapa gerangan yang Paduka perintahkan
untuk melawannya?"
Sri Kresna berkata lembut, "Belum tiba masanya engkau
melawan Suryaputra. Baik Gatotkaca saja yang menandinginya,
karena ia sanggup melawannya dengan kasar maupun hal us."
***
Raden Dananjaya segera memanggil Raden Gatotkaca, kemudian ujarnya, "Anakku, engkau mendapat tugas melawan Suryaputra."
Raden Gatotkaca lalu mengikut pamannya, menghadap Sri
Kresna. Sesudah menyembah, Gatotkaca berkata, "Paduka Yang
Mulia, saya merasa sangat beruntung mendapat tugas langsung
dari Paduka."
Dengan perkataan lembut Raden Dananjaya berpesan, "Ketahuilah, bahwa keharusan orang mengadu kesaktian ialah, semua
kesaktian lawan harus diimbangi, dan berusaha mengunggulinya, baik kasar maupun halus. Segenap tipu daya Kama dalam
mengungkapkan kesaktian, mustahil engkau takut."
''Benar, Ahakku, tandingilah uakmu, atas dasar perintahku!"
ujar Sri Kresna menyambung dengan suara lembut.
52<noinclude></noinclude>
44duaa1uv52u34ih3ju2rt0onmhapld
78015
78007
2026-05-16T02:50:49Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78015
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Kemudian Prabu Suyudana segera memegang Aswatama, dan
dilerai amarahnya. Demikian ujamya, "Jangan engkau berbuat seperti itu," dan kemudian Sri Baginda minta kepada Karna, agar.segera maju ke medan perang. Suryaputra segera naik ke kereta, lalu maju ke tengah medan. Melepaskan panah, demikian banyak sehingga melingkupi medan. Pasukan Pandawa bubar, dan gempar terkena panah. Banyak yang terluka. Prabu Yudistira dengan gugup berkata kepada Raden Dananjaya, "Mengapa engkau tidak menghalangi amukan Suryaputra? Pasukanmu berlarian, banyak yang terkena panahnya. Para satria pun ketakutan, sehingga lari tanpa menoleh lagi. Cepatlah dimulai, dan panahlah ia sampai mati! Apakah tidak diperkenankan Kakanda Dwarawati?"
Raden Dananjaya maju lalu bertanya kepada Sri Kresna, demikian, "Junjunganku, bagaimana perkenan Paduka mengenai serbuan Suryaputra, dan siapa gerangan yang Paduka perintahkan untuk melawannya?"
Sri Kresna berkata lembut, "Belum tiba masanya engkau
melawan Suryaputra. Baik Gatotkaca saja yang menandinginya, karena ia sanggup melawannya dengan kasar maupun halus."
{{C| * * *}}
Raden Dananjaya segera memanggil Raden Gatotkaca, kemudian ujarnya, "Anakku, engkau mendapat tugas melawan Suryaputra."
Raden Gatotkaca lalu mengikut pamannya, menghadap Sri
Kresna. Sesudah menyembah, Gatotkaca berkata, "Paduka Yang Mulia, saya merasa sangat beruntung mendapat tugas langsung dari Paduka."
Dengan perkataan lembut Raden Dananjaya berpesan, "Ketahuilah, bahwa keharusan orang mengadu kesaktian ialah, semua kesaktian lawan harus diimbangi, dan berusaha mengunggulinya, baik kasar maupun halus. Segenap tipu daya Kama dalam mengungkapkan kesaktian, mustahil engkau takut."
"Benar, Anakku, tandingilah uakmu, atas dasar perintahku!" ujar Sri Kresna menyambung dengan suara lembut.<noinclude>{{rh|52}}</noinclude>
2o4jykcecl8iz0h4el1u4yqapevyfha
78309
78015
2026-05-16T09:34:43Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78309
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Kemudian Prabu Suyudana segera memegang Aswatama, dan
dilerai amarahnya. Demikian ujamya, "Jangan engkau berbuat seperti itu," dan kemudian Sri Baginda minta kepada Karna, agar.segera maju ke medan perang. Suryaputra segera naik ke kereta, lalu maju ke tengah medan. Melepaskan panah, demikian banyak sehingga melingkupi medan. Pasukan Pandawa bubar, dan gempar terkena panah. Banyak yang terluka. Prabu Yudistira dengan gugup berkata kepada Raden Dananjaya, "Mengapa engkau tidak menghalangi amukan Suryaputra? Pasukanmu berlarian, banyak yang terkena panahnya. Para satria pun ketakutan, sehingga lari tanpa menoleh lagi. Cepatlah dimulai, dan panahlah ia sampai mati! Apakah tidak diperkenankan Kakanda Dwarawati?"
Raden Dananjaya maju lalu bertanya kepada Sri Kresna, demikian, "Junjunganku, bagaimana perkenan Paduka mengenai serbuan Suryaputra, dan siapa gerangan yang Paduka perintahkan untuk melawannya?"
Sri Kresna berkata lembut, "Belum tiba masanya engkau
melawan Suryaputra. Baik Gatotkaca saja yang menandinginya, karena ia sanggup melawannya dengan kasar maupun halus."
{{C| * * *}}
Raden Dananjaya segera memanggil Raden Gatotkaca, kemudian ujarnya, "Anakku, engkau mendapat tugas melawan Suryaputra."
Raden Gatotkaca lalu mengikut pamannya, menghadap Sri
Kresna. Sesudah menyembah, Gatotkaca berkata, "Paduka Yang Mulia, saya merasa sangat beruntung mendapat tugas langsung dari Paduka."
Dengan perkataan lembut Raden Dananjaya berpesan, "Ketahuilah, bahwa keharusan orang mengadu kesaktian ialah, semua kesaktian lawan harus diimbangi, dan berusaha mengunggulinya, baik kasar maupun halus. Segenap tipu daya Kama dalam mengungkapkan kesaktian, mustahil engkau takut."
"Benar, Anakku, tandingilah uakmu, atas dasar perintahku!" ujar Sri Kresna menyambung dengan suara lembut.<noinclude>{{rh|52}}</noinclude>
ihxus7tw7ly86jd3a6yxphaya669x64
Kaca:Bratayuda.pdf/51
250
24832
78018
2026-05-16T02:51:09Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78018
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>panahnya yang bemama Kunta, dilepaskan ke atas.
Pusar Raden Gatotkaca yang kena, anak panahnya masuk.
Adipati Awangga dan pasukannya melihat, bahwa Raden Gatotkaca terluka, lalu mereka berseru-seru, bahwa Gatotkaca terluka,
jelas dari darahnya yang bercucuran.
Ketika Raden Gatotkaca terluka, ia telah merasa, bahwa dirinya akan mati, lalu te:rjun meluncur, ingin mati bersama uaknya.
Adipati Awangga dengan sigap melompat dari kereta, disusul
robohnya Raden Gatotkaca, tetap mengenai kereta. Hancurlah kereta beserta sais dan kudanya.
***
Ketika Korawa melihat tewasnya Raden Gatotkaca, mereka
besorak gemuruh. Pandawa terdiam dan menangis. Tak lama
kemudian mereka serempak mene:rjang. Prabu Yudistira dan Raden Dananjaya mengamuk membunuh musuh. Ketika mendengar
putranya tewas, Raden Wrekodara lalu mengamuk membabi
buta seraya mengusap air matanya. Gadanya berputar-putar, sehingga banyak sekali para adipati dan satria di pihak Korawa yang
mati.
Druna memberi perintah, agar Korawa memperbaiki gelamya.
Malam itu peperangan benar-benar dahsyat, dan baru berakhir
karena kedua belah pihak sama-sama mengantuk.
Tersebutlah ibu Raden Gatotkaca, yakni Dewi Arimbi hendak membakar diri membela putranya. Lalu minta diri kepada suami dan semua saudaranya. sesudah mendapat izin, ia lalu pergi ke
medan perang, ke tempat jenazah putranya. Setelhll tiba di sana,
lalu dibakar bersama jenazah putranya.
54<noinclude></noinclude>
s6rhcpx8rnzlau4yd7y3wywjv3jk71k
78030
78018
2026-05-16T02:54:02Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78030
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>panahnya yang bemama Kunta, dilepaskan ke atas.
Pusar Raden Gatotkaca yang kena, anak panahnya masuk.
Adipati Awangga dan pasukannya melihat, bahwa Raden Gatotkaca terluka, lalu mereka berseru-seru, bahwa Gatotkaca terluka, jelas dari darahnya yang bercucuran.
Ketika Raden Gatotkaca terluka, ia telah merasa, bahwa dirinya akan mati, lalu terjun meluncur, ingin mati bersama uaknya. Adipati Awangga dengan sigap melompat dari kereta, disusul robohnya Raden Gatotkaca, tetap mengenai kereta. Hancurlah kereta beserta sais dan kudanya.
{{C|* * *}}
Ketika Korawa melihat tewasnya Raden Gatotkaca, mereka
besorak gemuruh. Pandawa terdiam dan menangis. Tak lama
kemudian mereka serempak menerjang. Prabu Yudistira dan Raden Dananjaya mengamuk membunuh musuh. Ketika mendengar
putranya tewas, Raden Wrekodara lalu mengamuk membabi
buta seraya mengusap air matanya. Gadanya berputar-putar, sehingga banyak sekali para adipati dan satria di pihak Korawa yang mati.
Druna memberi perintah, agar Korawa memperbaiki gelarnya.
Malam itu peperangan benar-benar dahsyat, dan baru berakhir karena kedua belah pihak sama-sama mengantuk.
Tersebutlah ibu Raden Gatotkaca, yakni Dewi Arimbi hendak membakar diri membela putranya. Lalu minta diri kepada suami dan semua saudaranya. sesudah mendapat izin, ia lalu pergi ke medan perang, ke tempat jenazah putranya. Setelah tiba di sana, lalu dibakar bersama jenazah putranya.<noinclude>{{rh|54}}</noinclude>
1bdigfabcinko0plujgcr4nbp6f04p4
78310
78030
2026-05-16T09:34:55Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78310
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>panahnya yang bemama Kunta, dilepaskan ke atas.
Pusar Raden Gatotkaca yang kena, anak panahnya masuk.
Adipati Awangga dan pasukannya melihat, bahwa Raden Gatotkaca terluka, lalu mereka berseru-seru, bahwa Gatotkaca terluka, jelas dari darahnya yang bercucuran.
Ketika Raden Gatotkaca terluka, ia telah merasa, bahwa dirinya akan mati, lalu terjun meluncur, ingin mati bersama uaknya. Adipati Awangga dengan sigap melompat dari kereta, disusul robohnya Raden Gatotkaca, tetap mengenai kereta. Hancurlah kereta beserta sais dan kudanya.
{{C|* * *}}
Ketika Korawa melihat tewasnya Raden Gatotkaca, mereka
besorak gemuruh. Pandawa terdiam dan menangis. Tak lama
kemudian mereka serempak menerjang. Prabu Yudistira dan Raden Dananjaya mengamuk membunuh musuh. Ketika mendengar
putranya tewas, Raden Wrekodara lalu mengamuk membabi
buta seraya mengusap air matanya. Gadanya berputar-putar, sehingga banyak sekali para adipati dan satria di pihak Korawa yang mati.
Druna memberi perintah, agar Korawa memperbaiki gelarnya.
Malam itu peperangan benar-benar dahsyat, dan baru berakhir karena kedua belah pihak sama-sama mengantuk.
Tersebutlah ibu Raden Gatotkaca, yakni Dewi Arimbi hendak membakar diri membela putranya. Lalu minta diri kepada suami dan semua saudaranya. sesudah mendapat izin, ia lalu pergi ke medan perang, ke tempat jenazah putranya. Setelah tiba di sana, lalu dibakar bersama jenazah putranya.<noinclude>{{rh|54}}</noinclude>
8wdjecottugrd7jcavnjf48a7a3uhdt
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/30
250
24833
78026
2026-05-16T02:53:29Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
78026
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||– 28 –}}</noinclude><poem>:::kali agung andjogipun
:::samodra ingkang wétan
:::kilèn pradja risak sami
:::ing Madura mèh ga<u>t</u>uk lan Surabaja</poem>
<ol start=9>
<li><poem>nDjeng Gusti malih ngandika
pajo pa<u>d</u>a dèn-titèni
pinèngetan mbok-manawa
anak putu amenangi
sandika Dyan Ngabèhi
ing mbéndjing sarenganipun
lawan ardi ing Tjlatjap
ambles sareng ardi M(e)rapi
rawa Pening kabèh kaurugan brama</poem></li>
<li><poem>Risak tanah kilèn Pradin
ka<u>t</u>ah djalma ingkang mati
antara mung pantja dina
kobong ingkang para ardi
Gupremèn anulungi
lawan pradja lijanipun
durung kobong kang arga
lin<u>d</u>u sadina kaping tri
djamanira sapungkuré Djajabaja</poem></li>
<li><poem>Meksih ratu ping sadasa
iku ingkang aman<u>d</u>iri
pradja di ing Surakarta
jèn wirajat saking Djawi
taun Ebé ing wingking
sangkalanira pinétung
nétra nem ngès<u>t</u>i radja
ing Mangkunagaran mbéndjing
kasusahan tan suwé antuk ngapura</poem></li>
</ol>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u>
Mirsani tjén<u>t</u>anganipun serat "Wé<u>d</u>a-tama Piningit" ing katja 34 - 35 - 36.
<center> ----- </center><noinclude></noinclude>
l2x2977ytszz3l4cwk7vwm32ji6ejmq
78374
78026
2026-05-16T10:02:12Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78374
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||– 28 –}}</noinclude><poem>:::kali agung andjogipun
:::samodra ingkang wétan
:::kilèn pradja risak sami
:::ing Madura mèh ga<u>t</u>uk lan Surabaja</poem>
<ol start=9>
<li><poem>nDjeng Gusti malih ngandika
pajo pa<u>d</u>a dèn-titèni
pinèngetan mbok-manawa
anak putu amenangi
sandika Dyan Ngabèhi
ing mbéndjing sarenganipun
lawan ardi ing Tjlatjap
ambles sareng ardi M(e)rapi
rawa Pening kabèh kaurugan brama</poem></li>
<li><poem>Risak tanah kilèn Pradin
ka<u>t</u>ah djalma ingkang mati
antara mung pantja dina
kobong ingkang para ardi
Gupremèn anulungi
lawan pradja lijanipun
durung kobong kang arga
lin<u>d</u>u sadina kaping tri
djamanira sapungkuré Djajabaja</poem></li>
<li><poem>Meksih ratu ping sadasa
iku ingkang aman<u>d</u>iri
pradja di ing Surakarta
jèn wirajat saking Djawi
taun Ebé ing wingking
sangkalanira pinétung
nétra nem ngès<u>t</u>i radja
ing Mangkunagaran mbéndjing
kasusahan tan suwé antuk ngapura</poem></li>
</ol>
<u>{{sp|Tjéntangan}}</u>
Mirsani tjén<u>t</u>anganipun serat "Wé<u>d</u>a-tama Piningit" ing katja 34 - 35 - 36.
<center> ----- </center><noinclude></noinclude>
2x1jjt76brxe8xef9rvfuz160zpf138
Kaca:Bratayuda.pdf/13
250
24834
78033
2026-05-16T02:54:59Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78033
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>cam senjata di seluruh dunia digenggam di tangannya.
Seratus Korawa, semua ngeri melihatnya, prajurit yang ribuan
jumlahnya, semua merasa cemas, tak seorang pun mampu ber~
kata-kata, dan senjata yang mereka genggam, semua terlepas dari
tangan tanpa mereka sadari. Duryudana serta Kama, cemas luar
biasa, dan mengi.ra akan mati. Bisma dan Druna menangis, keduanya terbongkok-bongkok mendekati Sri Kresna lalu menyembah. Demikian pula keempat dewata, semuanya membujuk-bujuk
dengan kata-kata lemah-lembut. Batara Surya segera turun, di
angkasa banyak dewa memperlihatkan diri, semua menaburkan
bunga. Batara Surya ikut pula membujuk Sri Kresna dengan kata-kata yang halus, ujamya, "Wahai Sri Kresna, jangan kauteruskan kemarahanmu itu. Jika engkau hendak menumpas Korawa,
beserta prajurit dan sekaligus negaranya, pasti semuanya akan
hancur lebur tanpa sisa. Akan tetapi ingatlah akan dunia seisinya,
dan kasihanilah dia. Yang kedua, ingatlah akan sumpah Wrekodara dan Drupadi. Adapun sumpah Drupadi, selama hidupnya
tidak akan mau bersanggul, jika belum keramas dengan darah Korawa seratus di dalam peperangan. Jika kemarahanmu kauteruskan, sumpahnya tidak akan terlaksana."
Segenap dewa menyembah Sri Kresna. Perasa<cn Sri Baginda
reda sudah, lenyap kemarahannya, dan sudah kembali berujud
manusia, lalu kembali ke tempat duduknya. Bisma serta Druna,
demikian pula Resi N arada, semua berusaha meredakan kemarahannya. Sri Kresna meninggalkan istana tanpa pamit. Keempat dewata merasa gembira, lalu mengikutinya. Setelah tiba di luar istana, keempat dewata kembali ke Kahyangan, sedangkan Sri Kresna
pergi ke tempat Dewi Kunti.
***
Setelah bertemu dengan Dewi Kunti, Sri Kresna ditanya, demikian, "Bagaimana, Anak Prabu? Apakah perjalananmu berhasil,
dan bagaimana kesudahannya?" Dewi Kunti bertanya sambil menangis.
"Suyudana tidak mau rukun bersaudara. Ia tidak rela negeri
16<noinclude></noinclude>
sihxha6m60mc0lygsvgexn9vr3o3jwb
78039
78033
2026-05-16T02:59:50Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78039
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>cam senjata di seluruh dunia digenggam di tangannya.
Seratus Korawa, semua ngeri melihatnya, prajurit yang ribuan jumlahnya, semua merasa cemas, tak seorang pun mampu berkata-kata, dan senjata yang mereka genggam, semua terlepas dari tangan tanpa mereka sadari. Duryudana serta Karna, cemas luar biasa, dan mengira akan mati. Bisma dan Druna menangis, keduanya terbongkok-bongkok mendekati Sri Kresna lalu menyembah. Demikian pula keempat dewata, semuanya membujuk-bujuk dengan kata-kata lemah-lembut. Batara Surya segera turun, di angkasa banyak dewa memperlihatkan diri, semua menaburkan
bunga. Batara Surya ikut pula membujuk Sri Kresna dengan kata-kata yang halus, ujarnya, "Wahai Sri Kresna, jangan kauteruskan kemarahanmu itu. Jika engkau hendak menumpas Korawa, beserta prajurit dan sekaligus negaranya, pasti semuanya akan hancur lebur tanpa sisa. Akan tetapi ingatlah akan dunia seisinya, dan kasihanilah dia. Yang kedua, ingatlah akan sumpah Wrekodara dan Drupadi. Adapun sumpah Drupadi, selama hidupnya tidak akan mau bersanggul, jika belum keramas dengan darah Korawa seratus di dalam peperangan. Jika kemarahanmu kauteruskan, sumpahnya tidak akan terlaksana."
Segenap dewa menyembah Sri Kresna. Perasaan Sri Baginda
reda sudah, lenyap kemarahannya, dan sudah kembali berujud manusia, lalu kembali ke tempat duduknya. Bisma serta Druna, demikian pula Resi Narada, semua berusaha meredakan kemarahannya. Sri Kresna meninggalkan istana tanpa pamit. Keempat dewata merasa gembira, lalu mengikutinya. Setelah tiba di luar istana, keempat dewata kembali ke Kahyangan, sedangkan Sri Kresna pergi ke tempat Dewi Kunti.
{{C|* * *}}
Setelah bertemu dengan Dewi Kunti, Sri Kresna ditanya, demikian, "Bagaimana, Anak Prabu? Apakah perjalananmu berhasil, dan bagaimana kesudahannya?" Dewi Kunti bertanya sambil menangis.
"Suyudana tidak mau rukun bersaudara. Ia tidak rela negeri<noinclude>{{rh|16}}</noinclude>
qo64jyee3zyzwl5garrttot1hoxf21r
78269
78039
2026-05-16T09:21:05Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78269
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|cam|macam}} senjata di seluruh dunia digenggam di tangannya.
Seratus Korawa, semua ngeri melihatnya, prajurit yang ribuan jumlahnya, semua merasa cemas, tak seorang pun mampu berkata-kata, dan senjata yang mereka genggam, semua terlepas dari tangan tanpa mereka sadari. Duryudana serta Karna, cemas luar biasa, dan mengira akan mati. Bisma dan Druna menangis, keduanya terbongkok-bongkok mendekati Sri Kresna lalu menyembah. Demikian pula keempat dewata, semuanya membujuk-bujuk dengan kata-kata lemah-lembut. Batara Surya segera turun, di angkasa banyak dewa memperlihatkan diri, semua menaburkan
bunga. Batara Surya ikut pula membujuk Sri Kresna dengan kata-kata yang halus, ujarnya, "Wahai Sri Kresna, jangan kauteruskan kemarahanmu itu. Jika engkau hendak menumpas Korawa, beserta prajurit dan sekaligus negaranya, pasti semuanya akan hancur lebur tanpa sisa. Akan tetapi ingatlah akan dunia seisinya, dan kasihanilah dia. Yang kedua, ingatlah akan sumpah Wrekodara dan Drupadi. Adapun sumpah Drupadi, selama hidupnya tidak akan mau bersanggul, jika belum keramas dengan darah Korawa seratus di dalam peperangan. Jika kemarahanmu kauteruskan, sumpahnya tidak akan terlaksana."
Segenap dewa menyembah Sri Kresna. Perasaan Sri Baginda
reda sudah, lenyap kemarahannya, dan sudah kembali berujud manusia, lalu kembali ke tempat duduknya. Bisma serta Druna, demikian pula Resi Narada, semua berusaha meredakan kemarahannya. Sri Kresna meninggalkan istana tanpa pamit. Keempat dewata merasa gembira, lalu mengikutinya. Setelah tiba di luar istana, keempat dewata kembali ke Kahyangan, sedangkan Sri Kresna pergi ke tempat Dewi Kunti.
{{C|* * *}}
Setelah bertemu dengan Dewi Kunti, Sri Kresna ditanya, demikian, "Bagaimana, Anak Prabu? Apakah perjalananmu berhasil, dan bagaimana kesudahannya?" Dewi Kunti bertanya sambil menangis.
"Suyudana tidak mau rukun bersaudara. Ia tidak rela negeri<noinclude>{{rh|16}}</noinclude>
jvij1uqysy89mach9grsnr4yjtiw01n
Kaca:Bratayuda.pdf/6
250
24835
78041
2026-05-16T03:00:22Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78041
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>sela batu, seolah-olah memperlihatkan kesedihan, karena Raden
J anaka tidak turut serta.
Seekor kelelawar bergantW1g di cabang sebuah pohon, sayapnya berkepak-kepak seolah-olah turut bersedih. Sekiranya ia bisa
berucap, demikianlah kata-katanya, "Mengapakah Panduputra tidak turut serta datang ru1tuk merebut kembali negaranya
sendiri?"
Bunga Tanjung berguguran di tengah jalan, tampaknya juga turut bersedih. Dengung kumbang mencari bunga, atau yang
mengikut ke hilir di atas busa air, rasanya seperti menangis turut
bela sungkawa, mengapa sang Dananjaya tidak mengiringkan Sri
Kresna.
Lumut kering yang menempel di permukaan batu, kelihatannya seperti seorang putri pingsan tak sadarkan diri, karena tergilagila kepada sang Dananjaya.
Demikian banyaknya keindahan di tepi jalan atau yang berada di tepi kali, yang berubah semu menjadi sendu. Terlalu banyak
jika diceritakan.
Peijalanan Sri Kresna sudah sampai di Tegal Kuru, lalu ada
empat dewata turun ke bumi, ialah Janaka, Ramaparasu, Kanwa
serta Narada namanya, hendak membantu peijalanan tugas Sri
Baginda. Sri Kresna sendiri terkejut melihat kedatangan para dewata, lalu beralih duduk bersama sais kereta. Keempat dewata itu
duduk sudah di dalam kereta. Setelah Sri Baginda menyembah, keempat dewata itu serempak berkata, "Sri Baginda, tak usahlah berjalan tergesa-gesa, karena karni akan turut serta ke mana pun anda
pergi."
Kemudian kereta dit:erlambat jalannya, dan sepanjang jalan
Sri Baginda bercakap-cakap dengan keempat dewata. Adapun
yang dipercakapkan ialah, apa yang seyogyanya dilakukan, dan
bagaimana agar perkara itu berakhir dengan baik.
***
Raja Suyudana di Astina sudah mendengar berita, bahwa
9<noinclude></noinclude>
oasrbfxrxdraznrf7olt9o3njx83ub2
78043
78041
2026-05-16T03:04:59Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78043
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>sela batu, seolah-olah memperlihatkan kesedihan, karena Raden Janaka tidak turut serta.
Seekor kelelawar bergantung di cabang sebuah pohon, sayapnya berkepak-kepak seolah-olah turut bersedih. Sekiranya ia bisa berucap, demikianlah kata-katanya, "Mengapakah Panduputra tidak turut serta datang untuk merebut kembali negaranya sendiri?"
Bunga Tanjung berguguran di tengah jalan, tampaknya juga turut bersedih. Dengung kumbang mencari bunga, atau yang
mengikut ke hilir di atas busa air, rasanya seperti menangis turut bela sungkawa, mengapa sang Dananjaya tidak mengiringkan Sri Kresna.
Lumut kering yang menempel di permukaan batu, kelihatannya seperti seorang putri pingsan tak sadarkan diri, karena tergila-gila kepada sang Dananjaya.
Demikian banyaknya keindahan di tepi jalan atau yang berada di tepi kali, yang berubah semu menjadi sendu. Terlalu banyak jika diceritakan.
Perjalanan Sri Kresna sudah sampai di Tegal Kuru, lalu ada empat dewata turun ke bumi, ialah Janaka, Ramaparasu, Kanwa serta Narada namanya, hendak membantu perjalanan tugas Sri Baginda. Sri Kresna sendiri terkejut melihat kedatangan para dewata, lalu beralih duduk bersama sais kereta. Keempat dewata itu duduk sudah di dalam kereta. Setelah Sri Baginda menyembah, keempat dewata itu serempak berkata, "Sri Baginda, tak usahlah berjalan tergesa-gesa, karena karni akan turut serta ke mana pun anda pergi."
Kemudian kereta diperlambat jalannya, dan sepanjang jalan
Sri Baginda bercakap-cakap dengan keempat dewata. Adapun
yang dipercakapkan ialah, apa yang seyogyanya dilakukan, dan bagaimana agar perkara itu berakhir dengan baik.
{{C|* * *}}
Raja Suyudana di Astina sudah mendengar berita, bahwa<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude>
qc4c3gye0s1dhv4k30q9yovasr976y1
78263
78043
2026-05-16T09:19:34Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78263
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|sela|sela-sela}} batu, seolah-olah memperlihatkan kesedihan, karena Raden Janaka tidak turut serta.
Seekor kelelawar bergantung di cabang sebuah pohon, sayapnya berkepak-kepak seolah-olah turut bersedih. Sekiranya ia bisa berucap, demikianlah kata-katanya, "Mengapakah Panduputra tidak turut serta datang untuk merebut kembali negaranya sendiri?"
Bunga Tanjung berguguran di tengah jalan, tampaknya juga turut bersedih. Dengung kumbang mencari bunga, atau yang
mengikut ke hilir di atas busa air, rasanya seperti menangis turut bela sungkawa, mengapa sang Dananjaya tidak mengiringkan Sri Kresna.
Lumut kering yang menempel di permukaan batu, kelihatannya seperti seorang putri pingsan tak sadarkan diri, karena tergila-gila kepada sang Dananjaya.
Demikian banyaknya keindahan di tepi jalan atau yang berada di tepi kali, yang berubah semu menjadi sendu. Terlalu banyak jika diceritakan.
Perjalanan Sri Kresna sudah sampai di Tegal Kuru, lalu ada empat dewata turun ke bumi, ialah Janaka, Ramaparasu, Kanwa serta Narada namanya, hendak membantu perjalanan tugas Sri Baginda. Sri Kresna sendiri terkejut melihat kedatangan para dewata, lalu beralih duduk bersama sais kereta. Keempat dewata itu duduk sudah di dalam kereta. Setelah Sri Baginda menyembah, keempat dewata itu serempak berkata, "Sri Baginda, tak usahlah berjalan tergesa-gesa, karena karni akan turut serta ke mana pun anda pergi."
Kemudian kereta diperlambat jalannya, dan sepanjang jalan
Sri Baginda bercakap-cakap dengan keempat dewata. Adapun
yang dipercakapkan ialah, apa yang seyogyanya dilakukan, dan bagaimana agar perkara itu berakhir dengan baik.
{{C|* * *}}
Raja Suyudana di Astina sudah mendengar berita, bahwa<noinclude>{{rh|||9}}</noinclude>
ikhtjwlw2wu9mnmzjuqrl1d74xq4c0t
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/77
250
24836
78042
2026-05-16T03:03:35Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
78042
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" />{{C|- 78 -}}</noinclude>namung katantjebaken kajon (gunungan) satunggal, dipun wastani paseban, kangge sadijanipun tantjeban wajang ingkang bade medal minangka kangge lampahan. Sadaja sami katantjebaken wonten ing gadebog nginggil. Dėne manawi wajangipun katah inggih sok ngantos nglandjak wonten ing gadebog ngandap. Menggah tjara panatanipun' wajang punika wau kaurutaken, miturut wajang ingkang sampun katamtokaken tumrap panatanipun, dene uruting panataning wajang panggungan punika wau dipun wastani anjumping, utawi wajange wis kasumping. Dene mapanipun sami katantjebaken wonten ing panggungan kiwa lan tengen, mila kawastanan njumping, kabekta wanguning panata manawi kasawang sangking katebihan katingal kados gatraning sumping, dados sadaja wajang ingkang sami medal katantjebaken ing gadebog mepet kelir punika wau dipun wastani wajang panggungan, ingkang katah wajang katongan, para ratu utawi para satrija kalijan para putri lan putran, sami katantjebaken minangka kangge rerengganing pakeliran, sami kapapanaken wonten ing sisih kiwa lan tengen, minangka kangge tetimbangan sesawangan supados katon edi peni lan asri dinulu, wonten salebeting pasamuan ngriku.
{{C|WAJANG DUGANGAN.}}
Sadaja wajang wadya punggawa ketek lan buta, ingkang boten katut kasumping, punika wau dipun wastani wajang dugangan, pamendeting tembung dugangan punika wau, kapirit saking tandang tanduking solahing wajang manawi nudju sami kaperangaken, boten tumuli sami namakaken dedamel, nanging mesti dugang dinugang, biti-biniti, soto-sinoto, gentos butjal binutjal. Ing ngriku pundi ingkang kalindih, saweg sesumbar bade namakaken dedamelipun, punika wau sadaja sami dipun wastani wajang dugangan.
{{C|WAJANG RITJIKAN.}}
Ingkang dipun wastani wajang ritjikan punika, kadosta Gunungan (kajon), prampogan, kreta, golonganing pirantos dedamel (gaman) lan bangsaning beburon. Mila dipun wastani ritjikan, amendet saking
tembung angratjik, minangka kangge prabot andjangkepaken kangge djedjering lelampahan. Wajang ritjikan punika temtu kanggenipun upami wajang sakotak kirang salah satunggaling ritjikan ingkang boten wonten, inggih punika, Gunungan, Prampogan, Djaran, lan dedamelipun (gaman), punika tamtu boten bade tumindak kangge majang, inggih punika wau piguna lan paedahipun wajang ritjikan mesti kanggenipun.<noinclude></noinclude>
p5l8kq0wllk3evu1sxgr335r9vlbd01
Kaca:Bratayuda.pdf/7
250
24837
78044
2026-05-16T03:05:26Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78044
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna sudah tiba di Tegal Kuru. Lalu memerintahkan supaya
segenap lorong dihampari kain sampai di sitinggil, dan sampai di
pintu luar istana. Adapun yang mendapat perintah untuk menyongsong ialah, Bisma, Druna, Destarata, yang semuanya merasa
gembira di hati, karena Sri Kresnalah yang menjadi utusan untuk
meminta kembali negeri, dan mereka mengira bahwa Raja Suyudana pasti akan menyerahkannya. Akan tetapi Raja Suyudana dan
Patih Sangkuni ternyata sedang kebingungan, karena Sri Kresna
itu sudah merupakan dwitunggl!l dengan Pandawa. Kemudian seluruh Korawa berkumpul di istana.
***
PeJ.jalanan Sri Kresna sudah sampai ke perbatasan negeri
Astina. Jalan keretanya diperlambat. Ramai suara orang yang bertugas menjemput atau yang sekadar menonton. Rakyat seluruh
kota Astina semua keluar, karena inginnya hendak melihat Sri
Kresna. Besar kecil berlari-larian, penuh sesak berderet-deret di
tepi jalan, takut terlambat menyaksikan lewatnya Sri Baginda.
Para penjemput sudah bertemu dengan Sri Kresna, kemudian
Sri Baginda dipersilakan masuk ke istana. Adapun para raja yang
lain, sudah terlebih dahulu duduk di dalam istana. Raja Salya pun
sudah hadir, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, duduk beJ.jajar di hadapan Raja Suyudana. Kemudian para pinisepuh yang mendapat tugas menjemput datang
mendahului. Tak lama antaranya Sri Kresna tiba, turun dari kereta bersama keempat dewata. Para Korawa semua berdiri memberi
hormat. Sri Baginda dan keempat dewata dipersilakan duduk oleh
Raja Suyudana. Para pinisepuh saling bersicepat menyalaminya.
Kemudian suguhan dihidangkan. Ujar Raja Suyudana mempersilakan, "Kakanda Prabu Dwarawati, saya persilakan bersantap sebagai pelerai Ielah."
Sri Kresna menjawab demikian, "Adinda Prabu, saya ucapkan banyak terima kasih. Tentang hidangan ini dapat ditangguhkan dulu sampai nanti, jika pekeJ.jaan saya sudah selesai."
Suyudana mendesak, ujarnya, "Mengapa sungkan-sungkan,
10<noinclude></noinclude>
3iv8lblxn4d2ufptyq6tm7uqxlebaqr
78085
78044
2026-05-16T03:33:17Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78085
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna sudah tiba di Tegal Kuru. Lalu memerintahkan supaya segenap lorong dihampari kain sampai di sitinggil, dan sampai di pintu luar istana. Adapun yang mendapat perintah untuk menyongsong ialah, Bisma, Druna, Destarata, yang semuanya merasa gembira di hati, karena Sri Kresnalah yang menjadi utusan untuk meminta kembali negeri, dan mereka mengira bahwa Raja Suyudana pasti akan menyerahkannya. Akan tetapi Raja Suyudana dan Patih Sangkuni ternyata sedang kebingungan, karena Sri Kresna
itu sudah merupakan dwitunggal dengan Pandawa. Kemudian seluruh Korawa berkumpul di istana.
{{C|* * *}}
Perjalanan Sri Kresna sudah sampai ke perbatasan negeri
Astina. Jalan keretanya diperlambat. Ramai suara orang yang bertugas menjemput atau yang sekadar menonton. Rakyat seluruh kota Astina semua keluar, karena inginnya hendak melihat Sri Kresna. Besar kecil berlari-larian, penuh sesak berderet-deret di tepi jalan, takut terlambat menyaksikan lewatnya Sri Baginda.
Para penjemput sudah bertemu dengan Sri Kresna, kemudian
Sri Baginda dipersilakan masuk ke istana. Adapun para raja yang lain, sudah terlebih dahulu duduk di dalam istana. Raja Salya pun sudah hadir, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, duduk berjajar di hadapan Raja Suyudana. Kemudian para pinisepuh yang mendapat tugas menjemput datang mendahului. Tak lama antaranya Sri Kresna tiba, turun dari kereta bersama keempat dewata. Para Korawa semua berdiri memberi
hormat. Sri Baginda dan keempat dewata dipersilakan duduk oleh Raja Suyudana. Para pinisepuh saling bersicepat menyalaminya. Kemudian suguhan dihidangkan. Ujar Raja Suyudana mempersilakan, "Kakanda Prabu Dwarawati, saya persilakan bersantap sebagai pelerai lelah."
Sri Kresna menjawab demikian, "Adinda Prabu, saya ucapkan banyak terima kasih. Tentang hidangan ini dapat ditangguhkan dulu sampai nanti, jika pekerjaan saya sudah selesai."
Suyudana mendesak, ujarnya, "Mengapa sungkan-sungkan,<noinclude>{{rh|10}}</noinclude>
lot156mlifvony6bqg56dty1w7irkbn
78264
78085
2026-05-16T09:19:43Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78264
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna sudah tiba di Tegal Kuru. Lalu memerintahkan supaya segenap lorong dihampari kain sampai di sitinggil, dan sampai di pintu luar istana. Adapun yang mendapat perintah untuk menyongsong ialah, Bisma, Druna, Destarata, yang semuanya merasa gembira di hati, karena Sri Kresnalah yang menjadi utusan untuk meminta kembali negeri, dan mereka mengira bahwa Raja Suyudana pasti akan menyerahkannya. Akan tetapi Raja Suyudana dan Patih Sangkuni ternyata sedang kebingungan, karena Sri Kresna
itu sudah merupakan dwitunggal dengan Pandawa. Kemudian seluruh Korawa berkumpul di istana.
{{C|* * *}}
Perjalanan Sri Kresna sudah sampai ke perbatasan negeri
Astina. Jalan keretanya diperlambat. Ramai suara orang yang bertugas menjemput atau yang sekadar menonton. Rakyat seluruh kota Astina semua keluar, karena inginnya hendak melihat Sri Kresna. Besar kecil berlari-larian, penuh sesak berderet-deret di tepi jalan, takut terlambat menyaksikan lewatnya Sri Baginda.
Para penjemput sudah bertemu dengan Sri Kresna, kemudian
Sri Baginda dipersilakan masuk ke istana. Adapun para raja yang lain, sudah terlebih dahulu duduk di dalam istana. Raja Salya pun sudah hadir, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, duduk berjajar di hadapan Raja Suyudana. Kemudian para pinisepuh yang mendapat tugas menjemput datang mendahului. Tak lama antaranya Sri Kresna tiba, turun dari kereta bersama keempat dewata. Para Korawa semua berdiri memberi
hormat. Sri Baginda dan keempat dewata dipersilakan duduk oleh Raja Suyudana. Para pinisepuh saling bersicepat menyalaminya. Kemudian suguhan dihidangkan. Ujar Raja Suyudana mempersilakan, "Kakanda Prabu Dwarawati, saya persilakan bersantap sebagai pelerai lelah."
Sri Kresna menjawab demikian, "Adinda Prabu, saya ucapkan banyak terima kasih. Tentang hidangan ini dapat ditangguhkan dulu sampai nanti, jika pekerjaan saya sudah selesai."
Suyudana mendesak, ujarnya, "Mengapa sungkan-sungkan,<noinclude>{{rh|10}}</noinclude>
trljiae9b1wtdv7t0ten27zn6flasrl
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/69
250
24838
78045
2026-05-16T03:09:39Z
Khusna Safira
1759
/* Titiwaca */
78045
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" />{{rh||- 70 -}}</noinclude>'''Wajang Brongsong.'''
Wajang brongsong punika sadaja wajang ingkang paraupanipun sami dipun prada utawi dipun brom, punika dipun wastani wajang brongsong.
'''Wajang Gendong.'''
Wajang ngore rambutipun dumugi ing geger punika dipun wastani ringgit gendong.
'''Wajang Sampir.'''
Wajang ingkang slendangan dipun wastani wajang sampir.
'''Wajang Lanjapan.'''
Wajang lanjapan punika sadaja wajang ingkang nglangak (andangak) kadosta Samba, Narajana sapiturutipun ingkang sami andangak.
'''Wajang Longok.'''
Wajang longok kadosta Nangkula Sahadewa, Kresna, sadaja wajang ingkang boten patos andangak dipun wastani longok.
'''Wajang Luruk.'''
Wajang Luruh - sadaja wajang ingkang sami andungkluk, tu mungkul), kadosta, Hardjuna, Judistira, Ongkawidjaja sapiturutipun sadaja wajang ingkang sami tumungkul, nami luruh.
'''Wajang Oji.'''
Dene manawi wajang Estren luruh dipun wastani Oji.
'''Wajang Endel.'''
Ingkang Estren lanjapan dipun wastani Endel.
'''Wajang Gusen.'''
Wajang gusen, inggih punika sawarnining wajang ingkang katingal gusi lan sijungipun.
{{C|'''BAB MRIPATANING WAJANG.}}'''
{{C|(Mripataning Wajang punika wonten pitung warni).}}
'''1. Mripat nggabah.'''
Kadosta, Hardjuna, Kresna, Karna, punika mripatipun gabahan, wanguning mripat kados gabah.<noinclude></noinclude>
2lcyx4hitenn6wv9lzr7wkanicmcfak
78046
78045
2026-05-16T03:10:10Z
Khusna Safira
1759
78046
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Khusna Safira" />{{rh||- 70 -}}</noinclude>'''Wajang Brongsong.'''
Wajang brongsong punika sadaja wajang ingkang paraupanipun sami dipun prada utawi dipun brom, punika dipun wastani wajang brongsong.
'''Wajang Gendong.'''
Wajang ngore rambutipun dumugi ing geger punika dipun wastani ringgit gendong.
'''Wajang Sampir.'''
Wajang ingkang slendangan dipun wastani wajang sampir.
'''Wajang Lanjapan.'''
Wajang lanjapan punika sadaja wajang ingkang nglangak (andangak) kadosta Samba, Narajana sapiturutipun ingkang sami andangak.
'''Wajang Longok.'''
Wajang longok kadosta Nangkula Sahadewa, Kresna, sadaja wajang ingkang boten patos andangak dipun wastani longok.
'''Wajang Luruk.'''
Wajang Luruh - sadaja wajang ingkang sami andungkluk, tu mungkul), kadosta, Hardjuna, Judistira, Ongkawidjaja sapiturutipun sadaja wajang ingkang sami tumungkul, nami luruh.
'''Wajang Oji.'''
Dene manawi wajang Estren luruh dipun wastani Oji.
'''Wajang Endel.'''
Ingkang Estren lanjapan dipun wastani Endel.
'''Wajang Gusen.'''
Wajang gusen, inggih punika sawarnining wajang ingkang katingal gusi lan sijungipun.
{{C|'''BAB MRIPATANING WAJANG.}}'''
{{C|(Mripataning Wajang punika wonten pitung warni).}}
'''1. Mripat nggabah.'''
Kadosta, Hardjuna, Kresna, Karna, punika mripatipun gabahan, wanguning mripat kados gabah.<noinclude></noinclude>
jflwdi3otas3f4rd3k8ktpdu647f6l4
Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/1
250
24839
78055
2026-05-16T03:13:30Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
78055
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" /></noinclude><center><big><big><big> '''PANJI NARAWANGSA''' </big></big></big></center>
<center>terbitan:<br>
Balai poestaka, Betawi Centrum 1936</center>
<center>turunan dari:<br>
Naskah tulisan tangan koleksi KBG</center><noinclude></noinclude>
9tqcww6nrgar8hzxssana0y6i5qy9sv
78141
78055
2026-05-16T07:46:40Z
Kriita
885
/* Validated */
78141
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Kriita" /></noinclude><center><big><big><big> '''PANJI NARAWANGSA''' </big></big></big></center>
<center>terbitan:<br>
Balai poestaka, Betawi Centrum 1936</center>
<center>turunan dari:<br>
Naskah tulisan tangan koleksi KBG</center><noinclude></noinclude>
oq9e5az1e1cmtt22nqwa5lvnfeomgrr
Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/8
250
24840
78084
2026-05-16T03:30:26Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
78084
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||6}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦏꦁꦏꦸꦢꦱꦶꦤꦶꦫꦶꦒ꧀ꦒꦏꦺ꧈ ꦚꦩꦼꦛꦶꦤꦒꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ ꦱꦼꦏꦂꦩꦮꦸꦂꦠꦶꦧꦲꦶꦁꦱꦶꦠꦶ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦱꦢꦪ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦶꦲꦔꦽꦧꦸꦠ꧀ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩꦶꦕꦫꦺꦁꦤꦭ꧈ ꦏꦢꦶꦔꦫꦺꦤ꧀ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦤꦶꦠꦶꦃꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦧꦪꦮꦸꦱ꧀ꦩꦫꦶꦧꦿꦺꦴꦁꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦮꦲꦹꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦺꦁꦒꦂꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦏꦩ꧀ꦥꦸꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦩꦱꦸꦃꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦏꦭꦶꦃ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦸꦁꦱꦸꦁꦮꦂꦠ꧈ ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦲꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦪꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦤꦶꦫꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦏꦸꦱꦸꦩꦪꦸꦲꦶꦁꦢꦲꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧈ ꦱꦏꦶꦁꦲꦶꦁꦥꦔꦸꦩ꧀ꦧꦫꦤ꧀꧈ ꧃ ꦱꦲꦶꦭꦁꦔꦺꦱꦏꦶꦁꦠꦶꦭꦩ꧀ꦮꦔꦶ꧈ ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦒꦮꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦢꦸꦂꦓ꧈ ꦩꦥꦤ꧀ꦲꦏꦺꦃꦕꦶꦤ꧀ꦠꦏꦤꦺ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦤꦶꦥꦹꦤ꧀ ꦕꦶꦭꦏꦤꦺꦏꦥꦠꦶꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦤꦺꦥꦤ꧀ꦏꦭꦶꦮꦠ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦸꦭꦶꦠ꧀ꦠꦺꦏꦢꦶꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦠꦶꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦁꦱꦪꦲꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦲꦥꦶꦤ꧀ꦝꦧꦸꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦭꦺꦁꦱꦺꦂꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦶꦤꦫꦏ꧀ꦤꦺꦁꦲꦶꦁꦧꦭꦺꦏꦩ꧀ꦧꦁ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦠꦥ꧀ꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦏꦶꦥꦹꦠꦿꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦶꦒꦿꦩꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏꦲꦢꦶ꧈ ꦫꦩꦭꦤ꧀ꦧꦿꦠꦪꦸꦢ꧈ ꦲꦤꦸꦭꦾꦠꦶꦤꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦱ꧀ꦮꦫꦭꦶꦂꦔꦭꦥ꧀ꦤꦗꦶꦮ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦔꦸꦤꦸꦭꦾꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦩꦪꦠ꧀ꦩꦶꦫꦶꦁ꧈ ꦮꦠꦮꦶꦱ꧀ꦠꦶꦒꦁꦥꦢ꧀ ꧅ ꦤꦶꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦤꦸꦭꦾꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦣꦸꦩꦠꦼꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦮꦶꦒꦹꦩꦸꦗꦼꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦮꦸꦭꦮꦲꦸ꧈ ꦲꦔꦼꦢꦸꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦫꦺꦩꦗꦛꦲꦒꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦚꦒꦸꦩꦿꦸꦢꦸꦒ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦏꦪꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦮꦸꦭꦸꦲꦮꦏ꧀ꦲꦏꦼꦠꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦶꦱꦶꦠꦶꦁꦒꦶ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦸꦭꦠꦤ꧀ꦱꦺꦴꦠꦃ꧉ ꧄ ꦱꦏꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦼꦤꦼꦭ꧀ꦏꦺ
}}<noinclude></noinclude>
87julvgtm7brx6tf548trmy8pfuz43f
78386
78084
2026-05-16T10:11:25Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78386
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||6}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦏꦁꦏꦸꦢꦱꦶꦤꦶꦫꦶꦒ꧀ꦒꦏꦺ꧈ ꦚꦩꦼꦛꦶꦤꦒꦱꦤ꧀ꦠꦸꦤ꧀ ꦱꦼꦏꦂꦩꦮꦸꦂꦠꦶꦧꦲꦶꦁꦱꦶꦠꦶ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦱꦢꦪ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦶꦲꦔꦽꦧꦸꦠ꧀ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩꦶꦕꦫꦺꦁꦤꦭ꧈ ꦏꦢꦶꦔꦫꦺꦤ꧀ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦤꦶꦠꦶꦃꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦧꦪꦮꦸꦱ꧀ꦩꦫꦶꦧꦿꦺꦴꦁꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦠꦸꦩꦸꦫꦸꦤ꧀ꦱꦏꦶꦁꦠꦸꦫꦁꦒꦶ꧈ ꦮꦲꦹꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦺꦁꦒꦂꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦏꦩ꧀ꦥꦸꦃ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦩꦱꦸꦃꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦏꦭꦶꦃ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦸꦁꦱꦸꦁꦮꦂꦠ꧈ ꦫꦲꦢꦺꦤ꧀ꦲꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦪꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦤꦶꦫꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦏꦸꦱꦸꦩꦪꦸꦲꦶꦁꦢꦲꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦶ꧈ ꦱꦏꦶꦁꦲꦶꦁꦥꦔꦸꦩ꧀ꦧꦫꦤ꧀꧈ ꧃ ꦱꦲꦶꦭꦁꦔꦺꦱꦏꦶꦁꦠꦶꦭꦩ꧀ꦮꦔꦶ꧈ ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦒꦮꦲꦶꦁꦧꦛꦫꦢꦸꦂꦓ꧈ ꦩꦥꦤ꧀ꦲꦏꦺꦃꦕꦶꦤ꧀ꦠꦏꦤꦺ꧈ ꦥꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤꦤꦶꦥꦹꦤ꧀ ꦕꦶꦭꦏꦤꦺꦏꦥꦠꦶꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦤꦺꦥꦤ꧀ꦏꦭꦶꦮꦠ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦸꦭꦶꦠ꧀ꦠꦺꦏꦢꦶꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦠꦶꦤꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦱꦁꦱꦪꦲꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧈ ꦢꦺꦤꦺꦲꦥꦶꦤ꧀ꦝꦧꦸꦠ꧉ ꧃ ꦱꦶꦒꦿꦭꦺꦁꦱꦺꦂꦱꦶꦫꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦶꦤꦫꦏ꧀ꦤꦺꦁꦲꦶꦁꦧꦭꦺꦏꦩ꧀ꦧꦁ꧈ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦠꦥ꧀ꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦏꦶꦥꦹꦠꦿꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦶꦒꦿꦩꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦥꦸꦱ꧀ꦠꦏꦲꦢꦶ꧈ ꦫꦩꦭꦤ꧀ꦧꦿꦠꦪꦸꦢ꧈ ꦲꦤꦸꦭꦾꦠꦶꦤꦼꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦱ꧀ꦮꦫꦭꦶꦂꦔꦭꦥ꧀ꦤꦗꦶꦮ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦔꦸꦤꦸꦭꦾꦩꦲꦺꦴꦱ꧀ꦩꦪꦠ꧀ꦩꦶꦫꦶꦁ꧈ ꦮꦠꦮꦶꦱ꧀ꦠꦶꦒꦁꦥꦢ꧀ ꧅ ꦤꦶꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦤꦸꦭꦾꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦣꦸꦩꦠꦼꦁꦏꦁꦫꦏ꧈ ꦱꦂꦮꦶꦒꦹꦩꦸꦗꦼꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦺ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦮꦸꦭꦮꦲꦸ꧈ ꦲꦔꦼꦢꦸꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦫꦺꦩꦗꦛꦲꦒꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ ꦲꦶꦁꦒꦶꦚꦒꦸꦩꦿꦸꦢꦸꦒ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦏꦪꦥꦤ꧀ꦝꦺꦴꦒ꧈ ꦮꦸꦭꦸꦲꦮꦏ꧀ꦲꦏꦼꦠꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦶꦱꦶꦠꦶꦁꦒꦶ꧈ ꦏꦏꦁꦏꦸꦭꦠꦤ꧀ꦱꦺꦴꦠꦃ꧉ ꧄ ꦱꦏꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦼꦤꦼꦭ꧀ꦏꦺ
}}<noinclude></noinclude>
m3ggdyjfoq2wxu2x8x1qs8ccnu92opv
Kaca:Bratayuda.pdf/5
250
24841
78086
2026-05-16T03:33:51Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78086
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak
Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik an tar saudara .dapat selalu
terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina .untuk minta
separoh negeri Astina."
Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke
negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri.
Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda
mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki.
Karena cepatnya kereta yang dikendarai,' kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya
kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan
yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah iriemperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki
yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih
cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di
tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi
Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah
Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan
cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab
serta menggoda dengan matanya kepad~ si Penanya. Sedangkan
jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal
di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta."
Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena
tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya.
Bunga-bun"ga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta.
Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan
orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di sela8<noinclude></noinclude>
9txnfajbt87b4jnyifz8h2bnnastb6l
78087
78086
2026-05-16T03:40:02Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78087
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak
Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik antar saudara dapat selalu terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina untuk minta separoh negeri Astina."
Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke
negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri. Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki.
Karena cepatnya kereta yang dikendarai, kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah memperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab serta menggoda dengan matanya kepada si Penanya. Sedangkan jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta."
Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya.
Bunga-bunga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta.
Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di sela-<noinclude>{{rh|8}}</noinclude>
d5nk4ovtl4rpr9v6ds11pm52ppr1xmx
78261
78087
2026-05-16T09:18:54Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78261
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak
Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik antar saudara dapat selalu terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina untuk minta separoh negeri Astina."
Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke
negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri. Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki.
Karena cepatnya kereta yang dikendarai, kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah memperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab serta menggoda dengan matanya kepada si Penanya. Sedangkan jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta."
Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya.
Bunga-bunga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta.
Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di sela-<noinclude>{{rh|8}}</noinclude>
lx0jm0ycqzo1oa5f66irl9d5dvznc8q
78262
78261
2026-05-16T09:19:17Z
Elcamatcha
1466
78262
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sri Kresna menjawab demikian, "Jika demikian kehendak
Adinda Prabu, rasanya tidak ada yang lebih baik selain memikirkan keselamatan, agar hubungan baik antar saudara dapat selalu terpelihara. Dan sayalah yang akan pergi ke Astina untuk minta separoh negeri Astina."
Sri Kresna lalu mengumumkan maksudnya hendak pergi ke
negeri Astina, tujuannya ialah hendak minta separoh negeri. Kemudian bala tenteranya diperintahkan bersiap. Sri Baginda mengendarai kereta, dikawal oleh Raden Setyaki.
Karena cepatnya kereta yang dikendarai, kepergian Sri Kresna telah sampai di perbatasan negeri Astina. Tak lama antaranya kota Astina sudah kelihatan. Semua keindahan di sepanjang jalan yang dilalui oleh Sri Kresna, seolah-olah memperlihatkan keprihatinan. Gerak pohon beringin, seolah-olah seperti seorang laki-laki yang lagi bersedih, karena tidak mendapat balasan kasih dari istrinya. Puncak gapura seolah-olah menunggu-nunggu, semoga lebih cepatlah kedatangan Sri Kresna. Bahu gapura seperti hendak menyembah kepada yang baru datang. Cabang pohon cempaka di tepi jalan yang tertimpa angin, seolah-olah seperti lengan Dewi Banowati, melambai-lambai bertanya kepada Sri Kresna, "Apakah Raden Janaka turut serta?" suara kereta Sri Baginda, serta kilatan cahaya permata yang menjadi hiasannya, seolah-olah menjawab serta menggoda dengan matanya kepada si Penanya. Sedangkan jawabnya ialah, "Si Janaka tidak turut serta, dan masih tinggal di Wirata. Seorang pun saudaranya tidak ada yang turut serta."
Dahan yang tertiup angin itu seperti orang melengos, karena tidak puas dengan jawaban itu. Sebabnya ialah, karena Raden Janaka tidak turut serta ke Astina untuk merebut negerinya.
Bunga-bunga di tepi jalan seolah-olah hendak runtuh ke dalam jurang. Pohon-pohonan di tepi jalan yang tertiup angin, daunnya porak-poranda, juga memperlihatkan semu duka karena Pandawa tidak turut serta.
Burung cucur berbunyi terengah-engah, semuanya bagaikan orang ketakutan. Ada setangkai bunga pandan runtuh di {{hws|sela|sela-sela}}<noinclude>{{rh|8}}</noinclude>
q1tlmipzn9e8mxdgf0nu1lbb6o3dong
Kaca:Bratayuda.pdf/12
250
24842
78088
2026-05-16T03:40:25Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78088
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dari. Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Kama
memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan.
Raja Suyudana mengWldurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana.
Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata.
Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah
disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai
senapati ialah Arya Sindureja; Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari
minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang
tidak senonoh ketika meninggalkan tamu.
Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang
sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit
bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benarbenar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah
siap dengan senjata mere~a, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana
pun sudah banyak pula."
Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat mar~h. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi
sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya
mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta
seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh
dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah,
menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa
susah dan mengamba'ng. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara
Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala ma15<noinclude></noinclude>
73gjh0waaxhqqzlazylb2iznrlrm3hb
78089
78088
2026-05-16T03:45:30Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78089
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dan Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Karna memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan.
Raja Suyudana mengWldurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana.
Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata.
Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai senapati ialah Arya Sindureja. Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang tidak senonoh ketika meninggalkan tamu.
Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang
sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benar-benar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah siap dengan senjata mereka, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana pun sudah banyak pula."
Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat marah. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah, menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa susah dan mengambang. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala ma-<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude>
1ril5h396wb2444r11u4y6g9iyox4s6
78267
78089
2026-05-16T09:20:37Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78267
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dan Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Karna memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan.
Raja Suyudana mengundurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana.
Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata.
Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai senapati ialah Arya Sindureja. Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang tidak senonoh ketika meninggalkan tamu.
Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang
sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benar-benar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah siap dengan senjata mereka, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana pun sudah banyak pula."
Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat marah. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah, menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa susah dan mengambang. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala {hws|ma|<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude>
heorv07fvs1g9182au7p9wr6umasm3d
78268
78267
2026-05-16T09:20:49Z
Elcamatcha
1466
78268
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raja Suyudana menoleh ke arah Sangkuni dan Drusasana, hanya mendengus, namun sepatah kata pun tidak terucapkan. Karna memberi isyarat dengan mata kepada Raja Suyudana, agar meninggalkan pertemuan.
Raja Suyudana mengundurkan diri dari pertemuan, diiringkan oleh Sangkuni dan Drusasana.
Lalu memberi perintah supaya mempersiapkan senjata.
Seratus Korawa beserta para prajuritnya sudah siap siaga. Sudah disiapkan pula kuda, kereta, dan gajah. Yang ditunjuk sebagai senapati ialah Arya Sindureja. Dialah yang mendapat kepercayaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Di sebelah utara, selatan, timur dan barat sudah penuh dengan barisan. Dewi Gendari minta kepada Destarata, agar supaya mengingatkan Raja Suyudana, agar tidak memperturutkan wataknya, yang selalu hendak memaksakan kehendaknya, serta mengingatkan perbuatannya yang tidak senonoh ketika meninggalkan tamu.
Tak lama antaranya Raden Setyaki masuk, lalu berdatang
sembah kepada Sri Kresna, "Baginda, di luar sudah berjejal prajurit bersenjata lengkap, akan menumpas paduka. Si Suyudana benar-benar berhati jahat. Di sebelah kiri dan kanan, para Korawa sudah siap dengan senjata mereka, dan sudah disiapkan di tempat masing-masing. Bahkan prajurit yang mendapat tugas masuk ke istana pun sudah banyak pula."
Setelah mendengar laporan Setyaki, Sri Kresna menjadi sangat marah. Ia turun dari tempat duduk, berjalan ke pelataran istana, lalu bertriwikrama. Dalam sekejap mata tubuhnya menjadi sebesar gunung, seperti Batara Kala tengah marah. Tubuhnya mengeluarkan api, kekuatan yang dimiliki manusia sejagad serta seisi Suralaya, demikian pula kesaktian dan kekuasaan seluruh dewata, terkumpul di tubuh Sri Kresna. Ujudnya sebagai manusia telah lenyap, berganti dalam sifat raksasa, lalu melangkah, menggelegar suaranya menantang lawan. Seketika itu bumi bergoncang, air samudra mendidih, sehingga seluruh penghuninya merasa susah dan mengambang. Benar-benar Sri Kresna itu titisan Batara Wisnu, yang mampu menelan bumi meremas gunung. Segala {hws|ma|macam}}<noinclude>{{rh|||15}}</noinclude>
hg1ltpuvk6zu1bjftbxxm2y3z3w2azm
Kaca:Bratayuda.pdf/14
250
24843
78090
2026-05-16T03:45:55Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78090
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Astina diminta kembali yang separoh, berarti harus direbut melalui
peperangan," demikianjawab Sri Kresna.
"Jika demikian kehendak si Suyudana, apa lagi yang harus
dipikirkan? Hanya adikmu si Yudistira saja pimpinlah baik-baik
agar tidak meninggalkan keutamaan, lalu mengurungkan niatnya
merebut negara yang menjadi haknya. Orang yang gugur di medan
perang karena mempertahankan negara, pasti memperoleh sorga.
Pesanku yang terpenting, Anak Prabu, usahakan secara sungguhsungguh agar peperangan itu benar-benar terlaksana," demikian kata-kata Dewi Kunti yang diucapkannya dengan terputus-putus.
Sri Kresna menyatakan kesanggupannya, menyembah lalu
minta diri, kemudian naik kereta bersama Adipati Awangga.
Widura, Sanjaya, demikian pula Yuyutsuh, semua mengiringkannya. Selama dalam petjalanan, Sri Kresna memberi saran kepada
Adipati Awangga, jika perang benar-benar tetjadi, diminta supaya
membantu Pandawa. Akan tetapi ternyata Adipati Awangga tidak
mau. Ia akan tetap membantu Korawa, karena dulu telah bersumpah akan berperang tanding melawan Dananjaya.
Setelah kereta sampai di luar kota, Adipati Awangga mohon
diri, turun dari kereta. Adipati Awangga lalu menemui sang ibu,
Dewi Kunti. Sang ibu bertanya seraya mencucurkan air mata,
"Setelah kakakmu, Anak Prabu Kresna pulang, apa gerangan pesannya kepadamu?"
Adipati Awangga menjawab, "Saya diminta meninggalkan
negeri ini. Dan kalau benar-benar tetjadi perang, disarank~m.supaya
saya membantu Pandawa."
"Saran itu benar-benar baik, seyogyanya kauindahkan, dan
dengan demikian engkau bersatu dengan saudara-saudaramu. Karena tempat yang utama untuk mencapai kematian ialah dalam
Perang Baratayuda itu. Seyogyanya engkau sehidup semati dengan
saudaramu sendiri," demikian nasehat Dewi Kunti.
Permintaan Dewi Kunti itu diucapkannya sambil menangis.
Akan tetapi Adipati Awangga menjawab, "lbu, seorang satria utarna, pasti akan memegang teguh kata-katariya yang telah terucap-
17<noinclude></noinclude>
rpqnek016xo1223tuikzyjislw12vfa
78093
78090
2026-05-16T03:51:33Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78093
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Astina diminta kembali yang separoh, berarti harus direbut melalui peperangan," demikian jawab Sri Kresna.
"Jika demikian kehendak si Suyudana, apa lagi yang harus
dipikirkan? Hanya adikmu si Yudistira saja pimpinlah baik-baik agar tidak meninggalkan keutamaan, lalu mengurungkan niatnya merebut negara yang menjadi haknya. Orang yang gugur di medan perang karena mempertahankan negara, pasti memperoleh sorga. Pesanku yang terpenting, Anak Prabu, usahakan secara sungguh-sungguh agar peperangan itu benar-benar terlaksana," demikian kata-kata Dewi Kunti yang diucapkannya dengan terputus-putus.
Sri Kresna menyatakan kesanggupannya, menyembah lalu
minta diri, kemudian naik kereta bersama Adipati Awangga.
Widura, Sanjaya, demikian pula Yuyutsuh, semua mengiringkannya. Selama dalam petjalanan, Sri Kresna memberi saran kepada Adipati Awangga, jika perang benar-benar terjadi, diminta supaya membantu Pandawa. Akan tetapi ternyata Adipati Awangga tidak mau. Ia akan tetap membantu Korawa, karena dulu telah bersumpah akan berperang tanding melawan Dananjaya.
Setelah kereta sampai di luar kota, Adipati Awangga mohon
diri, turun dari kereta. Adipati Awangga lalu menemui sang ibu, Dewi Kunti. Sang ibu bertanya seraya mencucurkan air mata, "Setelah kakakmu, Anak Prabu Kresna pulang, apa gerangan pesannya kepadamu?"
Adipati Awangga menjawab, "Saya diminta meninggalkan
negeri ini. Dan kalau benar-benar terjadi perang, disarankan supaya saya membantu Pandawa."
"Saran itu benar-benar baik, seyogyanya kauindahkan, dan
dengan demikian engkau bersatu dengan saudara-saudaramu. Karena tempat yang utama untuk mencapai kematian ialah dalam Perang Baratayuda itu. Seyogyanya engkau sehidup semati dengan saudaramu sendiri," demikian nasehat Dewi Kunti.
Permintaan Dewi Kunti itu diucapkannya sambil menangis. Akan tetapi Adipati Awangga menjawab, "Ibu, seorang satria utama, pasti akan memegang teguh kata-katanya yang telah terucap-<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude>
5sa3lk08ebwgiu8xeynyptf4j8lmyxw
78270
78093
2026-05-16T09:21:23Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78270
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Astina diminta kembali yang separoh, berarti harus direbut melalui peperangan," demikian jawab Sri Kresna.
"Jika demikian kehendak si Suyudana, apa lagi yang harus
dipikirkan? Hanya adikmu si Yudistira saja pimpinlah baik-baik agar tidak meninggalkan keutamaan, lalu mengurungkan niatnya merebut negara yang menjadi haknya. Orang yang gugur di medan perang karena mempertahankan negara, pasti memperoleh sorga. Pesanku yang terpenting, Anak Prabu, usahakan secara sungguh-sungguh agar peperangan itu benar-benar terlaksana," demikian kata-kata Dewi Kunti yang diucapkannya dengan terputus-putus.
Sri Kresna menyatakan kesanggupannya, menyembah lalu
minta diri, kemudian naik kereta bersama Adipati Awangga.
Widura, Sanjaya, demikian pula Yuyutsuh, semua mengiringkannya. Selama dalam petjalanan, Sri Kresna memberi saran kepada Adipati Awangga, jika perang benar-benar terjadi, diminta supaya membantu Pandawa. Akan tetapi ternyata Adipati Awangga tidak mau. Ia akan tetap membantu Korawa, karena dulu telah bersumpah akan berperang tanding melawan Dananjaya.
Setelah kereta sampai di luar kota, Adipati Awangga mohon
diri, turun dari kereta. Adipati Awangga lalu menemui sang ibu, Dewi Kunti. Sang ibu bertanya seraya mencucurkan air mata, "Setelah kakakmu, Anak Prabu Kresna pulang, apa gerangan pesannya kepadamu?"
Adipati Awangga menjawab, "Saya diminta meninggalkan
negeri ini. Dan kalau benar-benar terjadi perang, disarankan supaya saya membantu Pandawa."
"Saran itu benar-benar baik, seyogyanya kauindahkan, dan
dengan demikian engkau bersatu dengan saudara-saudaramu. Karena tempat yang utama untuk mencapai kematian ialah dalam Perang Baratayuda itu. Seyogyanya engkau sehidup semati dengan saudaramu sendiri," demikian nasehat Dewi Kunti.
Permintaan Dewi Kunti itu diucapkannya sambil menangis. Akan tetapi Adipati Awangga menjawab, "Ibu, seorang satria utama, pasti akan memegang teguh kata-katanya yang telah {{hws|terucap|terucapkan}}<noinclude>{{rh|||17}}</noinclude>
7jy8f9gjwh18seu0omeg2ge3k7iacgu
Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/9
250
24844
78091
2026-05-16T03:45:59Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
78091
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||7}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦏꦁꦲꦠꦶ꧈ ꦩꦭꦃꦏꦮꦸꦭꦩꦸꦠꦃꦥꦶꦁꦱꦔ꧈ ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦭꦂꦩꦩ꧀ꦧꦸꦲꦼꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦣꦸꦃꦏꦏꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦢꦢꦾꦤ꧀ꦚꦠꦥꦹꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦏꦁꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦺꦥꦹꦤꦥ꧈ ꦲꦤꦲꦹꦂꦫꦶꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦶꦟꦸꦏꦂꦠꦥꦠꦶ꧈ ꦔꦺꦤ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮ꧉ ꧃ ꦤꦢꦾꦤ꧀ꦮꦂꦤꦲꦭꦶꦂꦮꦽꦗꦶꦠ꧀ꦕꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦹꦗꦼꦂꦚꦠꦏꦸꦱꦸꦩꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦲꦶꦏꦸꦗꦼꦂꦏꦏꦁꦩꦸꦣꦺꦮꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦁꦱ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦏꦏꦁꦔꦶꦫꦥꦤ꧀ꦲꦪꦸꦩꦤꦶꦁ꧈ ꦭꦒꦶꦕꦺꦴꦧꦤꦶꦁꦢꦺꦮ꧈ ꦩꦫꦁꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦔꦸꦕꦥ꧀ ꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦮꦼꦫꦸꦃꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦏꦢꦶꦮꦶꦢꦢꦫꦶ꧈ ꦗꦼꦂꦩꦼꦁꦏꦺꦴꦭꦶꦂꦢꦤꦮ꧉ ꧃ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦧꦺꦭꦥꦿꦶꦃꦲꦠꦶꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦏꦱꦫꦸꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦏꦢꦁꦏꦢꦺꦪꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ ꦥꦪꦺꦴꦪꦪꦶꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦱꦫꦔꦶꦤ꧀ ꦏꦔꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦏꦁ꧈ ꦭꦩꦶꦤꦺꦴꦫꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦮꦶꦤꦭꦁꦢꦿꦶꦪ꧈ ꦥꦫꦤ꧀ꦢꦺꦤꦺ {{ref|''꧋ꦲꦮꦶꦠ꧀꧈''}} ꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦏꦸꦕꦶꦮꦩꦭꦶꦃꦫꦹꦥ꧉ ꧅ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦲꦠꦸꦂꦤꦺꦏꦶ꧈ ꦲꦔ꧀ꦭꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦏꦮꦸꦭꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦏꦮꦂꦤꦲꦶꦁꦥꦺꦴꦭꦃꦲꦺ꧈ ꦲꦱꦿꦁꦒꦩꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦸꦩꦾꦸꦁ꧈ ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦩꦶꦢꦼꦂꦏꦁꦥꦺꦴꦤꦁꦭꦫꦶꦃ꧈ ꦲꦫꦏ꧀ꦠꦥꦺꦮꦫꦒꦁ꧈ ꦗꦼꦤꦺꦮꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦁꦒꦸꦂ꧈ ꦱꦼꦁꦒꦏ꧀ꦚꦭꦶꦂꦒꦸꦤꦸꦁꦉꦧꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦔꦶꦢꦸꦁꦏꦥꦾꦂꦱꦏꦢꦾꦏꦼꦣꦱꦶꦃ꧈ ꦏꦼꦥ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦲꦠꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ꦭꦤ꧀꧈ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦢꦪꦮꦸꦫꦸꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦧꦸꦧꦂꦏꦁꦲꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦠꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦩꦸꦭꦶꦃ꧈ ꦩꦶꦮꦃꦏꦶꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦦ
}}<noinclude></noinclude>
mnxqdzqse5a92rdhsgkz8e8eh92f1n3
78092
78091
2026-05-16T03:48:50Z
Abdansykr26
860
78092
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||7}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦏꦁꦲꦠꦶ꧈ ꦩꦭꦃꦏꦮꦸꦭꦩꦸꦠꦃꦥꦶꦁꦱꦔ꧈ ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦭꦂꦩꦩ꧀ꦧꦸꦲꦼꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦣꦸꦃꦏꦏꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦢꦢꦾꦤ꧀ꦚꦠꦥꦹꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦏꦁꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦺꦥꦹꦤꦥ꧈ ꦲꦤꦲꦹꦂꦫꦶꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦶꦟꦸꦏꦂꦠꦥꦠꦶ꧈ ꦔꦺꦤ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮ꧉ ꧃ ꦤꦢꦾꦤ꧀ꦮꦂꦤꦲꦭꦶꦂꦮꦽꦗꦶꦠ꧀ꦕꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦹꦗꦼꦂꦚꦠꦏꦸꦱꦸꦩꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦲꦶꦏꦸꦗꦼꦂꦏꦏꦁꦩꦸꦣꦺꦮꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦁꦱ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦏꦏꦁꦔꦶꦫꦥꦤ꧀ꦲꦪꦸꦩꦤꦶꦁ꧈ ꦭꦒꦶꦕꦺꦴꦧꦤꦶꦁꦢꦺꦮ꧈ ꦩꦫꦁꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦔꦸꦕꦥ꧀ ꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦮꦼꦫꦸꦃꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦏꦢꦶꦮꦶꦢꦢꦫꦶ꧈ ꦗꦼꦂꦩꦼꦁꦏꦺꦴꦭꦶꦂꦢꦤꦮ꧉ ꧃ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦧꦺꦭꦥꦿꦶꦃꦲꦠꦶꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦏꦱꦫꦸꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦏꦢꦁꦏꦢꦺꦪꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ ꦥꦪꦺꦴꦪꦪꦶꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦱꦫꦔꦶꦤ꧀ ꦏꦔꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦏꦁ꧈ ꦭꦩꦶꦤꦺꦴꦫꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦮꦶꦤꦭꦁꦢꦿꦶꦪ꧈ ꦥꦫꦤ꧀ꦢꦺꦤꦺ <ref>''꧋ꦲꦮꦶꦠ꧀꧈''</ref> ꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦏꦸꦕꦶꦮꦩꦭꦶꦃꦫꦹꦥ꧉ ꧅ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦲꦠꦸꦂꦤꦺꦏꦶ꧈ ꦲꦔ꧀ꦭꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦏꦮꦸꦭꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦏꦮꦂꦤꦲꦶꦁꦥꦺꦴꦭꦃꦲꦺ꧈ ꦲꦱꦿꦁꦒꦩꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦸꦩꦾꦸꦁ꧈ ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦩꦶꦢꦼꦂꦏꦁꦥꦺꦴꦤꦁꦭꦫꦶꦃ꧈ ꦲꦫꦏ꧀ꦠꦥꦺꦮꦫꦒꦁ꧈ ꦗꦼꦤꦺꦮꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦁꦒꦸꦂ꧈ ꦱꦼꦁꦒꦏ꧀ꦚꦭꦶꦂꦒꦸꦤꦸꦁꦉꦧꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦔꦶꦢꦸꦁꦏꦥꦾꦂꦱꦏꦢꦾꦏꦼꦣꦱꦶꦃ꧈ ꦏꦼꦥ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦲꦠꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ꦭꦤ꧀꧈ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦢꦪꦮꦸꦫꦸꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦧꦸꦧꦂꦏꦁꦲꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦠꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦩꦸꦭꦶꦃ꧈ ꦩꦶꦮꦃꦏꦶꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦦ
}}<noinclude></noinclude>
i3oy929i7ytyh1g8legakazrff14mao
78387
78092
2026-05-16T10:11:33Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78387
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||7}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦏꦁꦲꦠꦶ꧈ ꦩꦭꦃꦏꦮꦸꦭꦩꦸꦠꦃꦥꦶꦁꦱꦔ꧈ ꦠꦤ꧀ꦏꦼꦭꦂꦩꦩ꧀ꦧꦸꦲꦼꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦣꦸꦃꦏꦏꦁꦲꦠꦸꦂꦫꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦢꦢꦾꦤ꧀ꦚꦠꦥꦹꦠꦿꦶꦑꦼꦣꦶꦫꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦭꦶꦂꦭꦸꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧈ ꦏꦏꦁꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦺꦥꦹꦤꦥ꧈ ꦲꦤꦲꦹꦂꦫꦶꦫꦢꦺꦤ꧀ꦲꦶꦟꦸꦏꦂꦠꦥꦠꦶ꧈ ꦔꦺꦤ꧀ꦛꦺꦁꦔꦏꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦁꦠꦸꦮ꧉ ꧃ ꦤꦢꦾꦤ꧀ꦮꦂꦤꦲꦭꦶꦂꦮꦽꦗꦶꦠ꧀ꦕꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦹꦗꦼꦂꦚꦠꦏꦸꦱꦸꦩꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦲꦶꦏꦸꦗꦼꦂꦏꦏꦁꦩꦸꦣꦺꦮꦺ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦮꦁꦱ꧀ꦥꦁꦒꦶꦃꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦏꦏꦁꦔꦶꦫꦥꦤ꧀ꦲꦪꦸꦩꦤꦶꦁ꧈ ꦭꦒꦶꦕꦺꦴꦧꦤꦶꦁꦢꦺꦮ꧈ ꦩꦫꦁꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦫꦓꦶꦭ꧀ꦏꦸꦤꦶꦁꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦔꦸꦕꦥ꧀ ꦱꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦮꦼꦫꦸꦃꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦏꦢꦶꦮꦶꦢꦢꦫꦶ꧈ ꦗꦼꦂꦩꦼꦁꦏꦺꦴꦭꦶꦂꦢꦤꦮ꧉ ꧃ ꦥꦫꦩꦤꦶꦱ꧀ꦲꦧꦺꦭꦥꦿꦶꦃꦲꦠꦶꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦏꦱꦫꦸꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦥꦿꦥ꧀ꦠ꧈ ꦭꦮꦤ꧀ꦏꦢꦁꦏꦢꦺꦪꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦫꦶꦤꦁꦏꦸꦭ꧀ ꦥꦪꦺꦴꦪꦪꦶꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦱꦫꦔꦶꦤ꧀ ꦏꦔꦼꦤ꧀ꦠꦼꦩꦼꦤ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦏꦁ꧈ ꦭꦩꦶꦤꦺꦴꦫꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦥꦸꦤꦥꦮꦶꦤꦭꦁꦢꦿꦶꦪ꧈ ꦥꦫꦤ꧀ꦢꦺꦤꦺ <ref>''꧋ꦲꦮꦶꦠ꧀꧈''</ref> ꦯꦼꦏꦂꦠꦗꦶꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦏꦸꦕꦶꦮꦩꦭꦶꦃꦫꦹꦥ꧉ ꧅ ꦲꦶꦁꦏꦁꦫꦪꦶꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦲꦠꦸꦂꦤꦺꦏꦶ꧈ ꦲꦔ꧀ꦭꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦏꦮꦸꦭꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ ꦠꦤ꧀ꦏꦮꦂꦤꦲꦶꦁꦥꦺꦴꦭꦃꦲꦺ꧈ ꦲꦱꦿꦁꦒꦩꦼꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦲꦸꦩꦾꦸꦁ꧈ ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦩꦶꦢꦼꦂꦏꦁꦥꦺꦴꦤꦁꦭꦫꦶꦃ꧈ ꦲꦫꦏ꧀ꦠꦥꦺꦮꦫꦒꦁ꧈ ꦗꦼꦤꦺꦮꦼꦂꦭꦤ꧀ꦲꦁꦒꦸꦂ꧈ ꦱꦼꦁꦒꦏ꧀ꦚꦭꦶꦂꦒꦸꦤꦸꦁꦉꦧꦃ꧈ ꦮꦺꦴꦁꦲꦔꦶꦢꦸꦁꦏꦥꦾꦂꦱꦏꦢꦾꦏꦼꦣꦱꦶꦃ꧈ ꦏꦼꦥ꧀ꦭꦺꦴꦏ꧀ꦏꦺꦲꦠꦶꦩ꧀ꦧꦭ꧀ꦭꦤ꧀꧈ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦢꦪꦮꦸꦫꦸꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦮꦸꦱ꧀ꦧꦸꦧꦂꦏꦁꦲꦔꦶꦤꦸꦩ꧀ ꦏꦶꦦꦿꦧꦺꦴꦁꦱꦠꦶꦤꦤ꧀ꦝꦸꦩꦸꦭꦶꦃ꧈ ꦩꦶꦮꦃꦏꦶꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦦ
}}<noinclude></noinclude>
39bgjilhn9wuq5o5217otci8hwqmdhj
Kaca:Bratayuda.pdf/74
250
24845
78094
2026-05-16T03:52:16Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78094
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Yayi Prabu, inggih boten wonten sayoginipun kejawi kagalih wilujengipun, amurih lulus saening akekadang. Kula ingkang badhe
lumampah, anedha sapalihipun nagari ing Ngastina."
Prabu Kresna lajeng andhawahaken parentah, karsa tindak
dhumateng nagari ing Ngastina, badhe amundhut sapalihing nagari.
Anunten bala sami dipun undhangi, sang nata nitih rata, Raden Setyaki andherek.
Saking rikating rata, tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi sajawining kitha. Boten antawis dangu nagari ing Ngastina sampun katingal. Sakathahing kalangenan urut margi ingkang dipun
ambah dening Prabu Kresna, semunipun sami prihatos. Ebahipun godhonging uwit wringin, semunipun kados tiyang jaler kasusahan, boten dipun timbangi tresnanipun dhateng ingk~mg estri.
Pucaking gapura emperipun kados angajeng-ajeng enggale rawuhipun Prabu Kresna. Baunipun ing gapura, kados badhe nyembah
dhumateng ingkang rawuh. Epanging wit cepaka sapinggiring
margi, katempuh ing angin, semunipun kados astanipun Dewi Banowati, angawe-awe badhe pitaken dhateng Prabu Kresna, punapa
Raden Janaka andherek. Swaraning ratanipun sang nata, sarta gebyaring sesotya rerengganipun, kados anyauri sarta angujiwati ingkang pitaken, wondening sauripun, "Si Janaka ora milu ngiring,
isih kari ana ing Wiratha, kadang-kadange siji ora ana kang milu."
Epang kanginan emperipun kados tiyang mengo, boten kadugi ing wangsulan wau, awit Raden Janaka boten andherek dhateng
nagari ing Ngastina, anj abel nagaranipun.
Sekar-sekar ing margi emperipun kados badhe rentah ing jurang. Wit-witan ingkang wonten pinggir margi katempuh ing angin,
godhongipun abosah-basih, semunipun kados tiyang prihatos, dene Pandhawa boten tumut.
Cucur mungel menggah-menggah, semunipun kados tiyang ajrih. Wonten sekar pudhak rentah ing sela, semunipun prihatos,
awit dening Raden Janaka boten tumut andherek.
Lawa gumandhul wonten ing epang, kebet-kebet kados tumut
sedhih. Yen sageda wicanten, wiraosipun makaten, "Yagene Pan78<noinclude></noinclude>
d96ha8xpn7ses5pr7wy0pfyl9rb4bmf
78095
78094
2026-05-16T03:56:46Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78095
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Yayi Prabu, inggih boten wonten sayoginipun kejawi kagalih wilujengipun, amurih lulus saening akekadang. Kula ingkang badhe lumampah, anedha sapalihipun nagari ing Ngastina."
Prabu Kresna lajeng andhawahaken parentah, karsa tindak
dhumateng nagari ing Ngastina, badhe amundhut sapalihing nagari. Anunten bala sami dipun undhangi, sang nata nitih rata, Raden Setyaki andherek.
Saking rikating rata, tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi sajawining kitha. Boten antawis dangu nagari ing Ngastina sampun katingal. Sakathahing kalangenan urut margi ingkang dipun ambah dening Prabu Kresna, semunipun sami prihatos. Ebahipun godhonging uwit wringin, semunipun kados tiyang jaler kasusahan, boten dipun timbangi tresnanipun dhateng ingkang estri. Pucaking gapura emperipun kados angajeng-ajeng enggale rawuhipun Prabu Kresna. Baunipun ing gapura, kados badhe nyembah
dhumateng ingkang rawuh. Epanging wit cepaka sapinggiring
margi, katempuh ing angin, semunipun kados astanipun Dewi Banowati, angawe-awe badhe pitaken dhateng Prabu Kresna, punapa Raden Janaka andherek. Swaraning ratanipun sang nata, sarta gebyaring sesotya rerengganipun, kados anyauri sarta angujiwati ingkang pitaken, wondening sauripun, "Si Janaka ora milu ngiring, isih kari ana ing Wiratha, kadang-kadange siji ora ana kang milu."
Epang kanginan emperipun kados tiyang mengo, boten kadugi ing wangsulan wau, awit Raden Janaka boten andherek dhateng nagari ing Ngastina, anjabel nagaranipun.
Sekar-sekar ing margi emperipun kados badhe rentah ing jurang. Wit-witan ingkang wonten pinggir margi katempuh ing angin, godhongipun abosah-basih, semunipun kados tiyang prihatos, dene Pandhawa boten tumut.
Cucur mungel menggah-menggah, semunipun kados tiyang ajrih. Wonten sekar pudhak rentah ing sela, semunipun prihatos, awit dening Raden Janaka boten tumut andherek.
Lawa gumandhul wonten ing epang, kebet-kebet kados tumut sedhih. Yen sageda wicanten, wiraosipun makaten, "Yagene Pan-<noinclude>{{rh|78}}</noinclude>
pkx3h9e0t3wvg6glwhcvb8imyi04qk4
78328
78095
2026-05-16T09:39:18Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78328
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Yayi Prabu, inggih boten wonten sayoginipun kejawi kagalih wilujengipun, amurih lulus saening akekadang. Kula ingkang badhe lumampah, anedha sapalihipun nagari ing Ngastina."
Prabu Kresna lajeng andhawahaken parentah, karsa tindak
dhumateng nagari ing Ngastina, badhe amundhut sapalihing nagari. Anunten bala sami dipun undhangi, sang nata nitih rata, Raden Setyaki andherek.
Saking rikating rata, tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi sajawining kitha. Boten antawis dangu nagari ing Ngastina sampun katingal. Sakathahing kalangenan urut margi ingkang dipun ambah dening Prabu Kresna, semunipun sami prihatos. Ebahipun godhonging uwit wringin, semunipun kados tiyang jaler kasusahan, boten dipun timbangi tresnanipun dhateng ingkang estri. Pucaking gapura emperipun kados angajeng-ajeng enggale rawuhipun Prabu Kresna. Baunipun ing gapura, kados badhe nyembah
dhumateng ingkang rawuh. Epanging wit cepaka sapinggiring
margi, katempuh ing angin, semunipun kados astanipun Dewi Banowati, angawe-awe badhe pitaken dhateng Prabu Kresna, punapa Raden Janaka andherek. Swaraning ratanipun sang nata, sarta gebyaring sesotya rerengganipun, kados anyauri sarta angujiwati ingkang pitaken, wondening sauripun, "Si Janaka ora milu ngiring, isih kari ana ing Wiratha, kadang-kadange siji ora ana kang milu."
Epang kanginan emperipun kados tiyang mengo, boten kadugi ing wangsulan wau, awit Raden Janaka boten andherek dhateng nagari ing Ngastina, anjabel nagaranipun.
Sekar-sekar ing margi emperipun kados badhe rentah ing jurang. Wit-witan ingkang wonten pinggir margi katempuh ing angin, godhongipun abosah-basih, semunipun kados tiyang prihatos, dene Pandhawa boten tumut.
Cucur mungel menggah-menggah, semunipun kados tiyang ajrih. Wonten sekar pudhak rentah ing sela, semunipun prihatos, awit dening Raden Janaka boten tumut andherek.
Lawa gumandhul wonten ing epang, kebet-kebet kados tumut sedhih. Yen sageda wicanten, wiraosipun makaten, "Yagene {{hws|Pan|Pandhuputra}}<noinclude>{{rh|78}}</noinclude>
81cu5aoz3geu5tq50jp33bx83l0f5lq
Kaca:Bratayuda.pdf/75
250
24846
78096
2026-05-16T03:58:09Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78096
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>dhuputra ora milu rawuh anjabel nagarane dhewe?"
Sekar tanjung anggulasah wonten ing margi, semunipun kados
tumut sedhih. Brengengenging kombang ingkang ngupados sekar,
utawi ingkang anut unthuking toya, kados anangis tumut prihatos,
dene Sang Dananjaya boten andherekaken tindakipun Prabu Kresna.
Lumut aking tumemplek ing sela, semunipun kados tiyang
estri kalenger, amargi kedanan Sang Dananjaya.
Akathah kalangenan ing pinggir margi, utawi pinggiring rawi
ingkang angemper-emperi prihatos. Kapanjangen yen kacariyosna
sadaya.
Tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru,
anunten wonten jawata sakawan tedhak, anama; Janaka, Rama Parasu, Kanwa sarta Narada, badhe ambiyantoni lampahipun sang
nata. Prabu Kresna kaget mirsa wonten dewa anedhaki, lajeng
mingser tumut lenggah kusiripun. Dewa sakawan sami lenggah salebeting rata. Sareng sang nata sampun nyembah, jawata sakawan
angandika, "Sang nata, sampun kasesa ing lampah, kula badhe tumut ing salal11pah andika."
Anunten rata dipun rindhikaken, samargi-margi Sang Prabu
agineman kaliyan dewa sakawan. Wondening ingkang dipun rembag, prayogining lampah, saha saening kadadosanipun ing prakawis.
Sang Prabu Suyudana ing Ngastina sampun midhanget, bilih
Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru. Lajeng andhawahaken parentah, sakathahing lelurung andikakaken anggelari sinjang,
anjog ing sitinggil, dumugi korining kadhaton ingkang jawi. Sarta
para pinisepuh kadhawahan amethuk. Wondening ingkang kapatah amethuk wau; Bisma, Druna, Dhestharata, punika sami suka
ing batos, dene Prabu Kresna ingkang lumampah badhe anjabel
nagari; anyipta yen Prabu Suyudana amesthi badhe ngulungaken.
Ananging Prabu Suyudana akaliyan Patih Sangkuni sami kewedan,
awit Prabu Kresna sampun kalih-kalihing-ngatunggil kaliyan Pandawa. Anunten Korawa sami ngalempak wonten salebeting kadhaton
79<noinclude></noinclude>
8w9abv9ot3fbngtbxomy8a8dumtaqax
78099
78096
2026-05-16T04:02:14Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78099
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>dhuputra ora milu rawuh anjabel nagarane dhewe?"
Sekar tanjung anggulasah wonten ing margi, semunipun kados tumut sedhih. Brengengenging kombang ingkang ngupados sekar, utawi ingkang anut unthuking toya, kados anangis tumut prihatos, dene Sang Dananjaya boten andherekaken tindakipun Prabu Kresna.
Lumut aking tumemplek ing sela, semunipun kados tiyang
estri kalenger, amargi kedanan Sang Dananjaya.
Akathah kalangenan ing pinggir margi, utawi pinggiring rawi ingkang angemper-emperi prihatos. Kapanjangen yen kacariyosna sadaya.
Tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru,
anunten wonten jawata sakawan tedhak, anama; Janaka, Rama Parasu, Kanwa sarta Narada, badhe ambiyantoni lampahipun sang nata. Prabu Kresna kaget mirsa wonten dewa anedhaki, lajeng mingser tumut lenggah kusiripun. Dewa sakawan sami lenggah salebeting rata. Sareng sang nata sampun nyembah, jawata sakawan angandika, "Sang nata, sampun kasesa ing lampah, kula badhe tumut ing salampah andika."
Anunten rata dipun rindhikaken, samargi-margi Sang Prabu
agineman kaliyan dewa sakawan. Wondening ingkang dipun rembag, prayogining lampah, saha saening kadadosanipun ing prakawis.
Sang Prabu Suyudana ing Ngastina sampun midhanget, bilih
Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru. Lajeng andhawahaken parentah, sakathahing lelurung andikakaken anggelari sinjang, anjog ing sitinggil, dumugi korining kadhaton ingkang jawi. Sarta para pinisepuh kadhawahan amethuk. Wondening ingkang kapatah amethuk wau; Bisma, Druna, Dhestharata, punika sami suka ing batos, dene Prabu Kresna ingkang lumampah badhe anjabel nagari; anyipta yen Prabu Suyudana amesthi badhe ngulungaken.
Ananging Prabu Suyudana akaliyan Patih Sangkuni sami kewedan, awit Prabu Kresna sampun kalih-kalihing-ngatunggil kaliyan Pandawa. Anunten Korawa sami ngalempak wonten salebeting kadhaton<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude>
5ch9qckuthvyplb2hdeybjud9yvwhe7
78327
78099
2026-05-16T09:39:03Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78327
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|dhuputra|Pandhuputra}} ora milu rawuh anjabel nagarane dhewe?"
Sekar tanjung anggulasah wonten ing margi, semunipun kados tumut sedhih. Brengengenging kombang ingkang ngupados sekar, utawi ingkang anut unthuking toya, kados anangis tumut prihatos, dene Sang Dananjaya boten andherekaken tindakipun Prabu Kresna.
Lumut aking tumemplek ing sela, semunipun kados tiyang
estri kalenger, amargi kedanan Sang Dananjaya.
Akathah kalangenan ing pinggir margi, utawi pinggiring rawi ingkang angemper-emperi prihatos. Kapanjangen yen kacariyosna sadaya.
Tindakipun Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru,
anunten wonten jawata sakawan tedhak, anama; Janaka, Rama Parasu, Kanwa sarta Narada, badhe ambiyantoni lampahipun sang nata. Prabu Kresna kaget mirsa wonten dewa anedhaki, lajeng mingser tumut lenggah kusiripun. Dewa sakawan sami lenggah salebeting rata. Sareng sang nata sampun nyembah, jawata sakawan angandika, "Sang nata, sampun kasesa ing lampah, kula badhe tumut ing salampah andika."
Anunten rata dipun rindhikaken, samargi-margi Sang Prabu
agineman kaliyan dewa sakawan. Wondening ingkang dipun rembag, prayogining lampah, saha saening kadadosanipun ing prakawis.
Sang Prabu Suyudana ing Ngastina sampun midhanget, bilih
Prabu Kresna sampun dumugi ing Tegal Kuru. Lajeng andhawahaken parentah, sakathahing lelurung andikakaken anggelari sinjang, anjog ing sitinggil, dumugi korining kadhaton ingkang jawi. Sarta para pinisepuh kadhawahan amethuk. Wondening ingkang kapatah amethuk wau; Bisma, Druna, Dhestharata, punika sami suka ing batos, dene Prabu Kresna ingkang lumampah badhe anjabel nagari; anyipta yen Prabu Suyudana amesthi badhe ngulungaken.
Ananging Prabu Suyudana akaliyan Patih Sangkuni sami kewedan, awit Prabu Kresna sampun kalih-kalihing-ngatunggil kaliyan Pandawa. Anunten Korawa sami ngalempak wonten salebeting kadhaton<noinclude>{{rh|||79}}</noinclude>
etkr6jwc16u3kl8h7hy5lbokgtjlg8r
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/29
250
24847
78098
2026-05-16T04:01:04Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
78098
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
78101
78098
2026-05-16T04:03:24Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78101
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||– 30 –}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 29 crop)2.jpg|600px|nirbing]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{C|''PRAGOTA''<br>Wanda BUNDEL.}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{gap}}{{gap}}{{C|''PRABAWA''<br> Wanda GEMBEL.}}
|}<noinclude></noinclude>
ktq42i6a9t7may2x2stprh9pp9lw1ny
78102
78101
2026-05-16T04:04:43Z
Iripseudocorus
1236
78102
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||– 30 –}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 29 crop)2.jpg|600px|nirbing]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{C|''PRAGOTA''<br>Wanda BUNDEL.}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{gap}}{{gap}}{{C|''PRABAWA''<br> Wanda GEMBEL.}}
|}<noinclude></noinclude>
lre7lbhycmxjmpo3rbz2xenzmjjgul3
Kaca:Bratayuda.pdf/76
250
24848
78100
2026-05-16T04:02:38Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78100
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Lampahipun Prabu Kresna angancik kikising nagari Ngastina.
Ratanipun karindhikaken. Arame swaranipun tetiyang ingkang
sami amethuk, utawi ingkang sami anonton. Tiyang simagari
Ngastina ebah sedaya, saking kapenginipun badhe aningali Prabu
Kresna. Ageng alit pating baleber, jejel titip atimbun pinggiring
margi, ajrih manawi kasep ing langkungipun sang nata.
lngkang sami methuk wau sampun pepanggihan kaliyan
Prabu Kresna, sang nata lajeng dipunaturi lumebet dhumateng kadhaton. Wondene para ratu sampun tata pinarak wonten salebeting
kadhaton. Prabu Salya inggih sampun rawuh, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa,Arya Sindureja,Yuyutsuh, sami andher wonten
ngarsanipun Prabu Suyudana. Anunten para pinisepuh ingkang
kautus methuk wau sami dhateng ngrumiyini. Boten antawis dangu Prabu Kresna rawuh, tedhak saking rata kaliyan jawata sakawan. Para Korawa sami ngadeg angurmati. Sang nata akaliyan jawata sakawan dipunaturi pinarak dhateng Prabu Suyudana. Para
pinisepuh kumrubut ingkang sami ambagekaken. Anunten ·pasegah sumaos. Pangandikanipun Prabu Suyudana, "Kakang Prabu
ing Dwarawati, sumangga kula aturi dhahar, minangka jejampining
sa yah."
Prabu Kresna amangsuli, "Yayi Prabu, sakalangkung-langkung pamundhi kula. Pasegah pinanggih ing wingking, bilih padamelan sampun rampung."
Suyudana ngandikan malih, "Dene mawi wigih-wigih, Kakang
Prabu, anampik pasegah kula."
Kresna amangsuli, "Gampil, Yayi Prabu, pinanggih ing wingking kemawon."
Prabu Kresna suka ing galih aningali para ratu ingkang sami
pepakan wonten ing kadhaton, utawi para sepuh ingkang sami
sowan. Anunten pamit ing Prabu Suyudana badhe masanggrahan
rumiyin. Prabu Suyudana amangsuli, "Sumangga ing karsa, kakang
prabu, ratu bijaksana ing sajagat."
Prabu Kresna amangsuli, "Mugi-mugi Yayi Prabu amanggiha
suka, siyosa padamelan ingkang kula lampahi, wilujenga ing kada80<noinclude></noinclude>
c5pttny7sb9miye5clxffi38jom98qm
78104
78100
2026-05-16T04:09:55Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78104
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Lampahipun Prabu Kresna angancik kikising nagari Ngastina. Ratanipun karindhikaken. Arame swaranipun tetiyang ingkang sami amethuk, utawi ingkang sami anonton. Tiyang simagari Ngastina ebah sedaya, saking kapenginipun badhe aningali Prabu Kresna. Ageng alit pating baleber, jejel titip atimbun pinggiring margi, ajrih manawi kasep ing langkungipun sang nata.
Ingkang sami methuk wau sampun pepanggihan kaliyan Prabu Kresna, sang nata lajeng dipunaturi lumebet dhumateng kadhaton. Wondene para ratu sampun tata pinarak wonten salebeting kadhaton. Prabu Salya inggih sampun rawuh, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, sami andher wonten ngarsanipun Prabu Suyudana. Anunten para pinisepuh ingkang kautus methuk wau sami dhateng ngrumiyini. Boten antawis dangu Prabu Kresna rawuh, tedhak saking rata kaliyan jawata sakawan. Para Korawa sami ngadeg angurmati. Sang nata akaliyan jawata sakawan dipunaturi pinarak dhateng Prabu Suyudana. Para
pinisepuh kumrubut ingkang sami ambagekaken. Anunten pasegah sumaos. Pangandikanipun Prabu Suyudana, "Kakang Prabu ing Dwarawati, sumangga kula aturi dhahar, minangka jejampining sayah."
Prabu Kresna amangsuli, "Yayi Prabu, sakalangkung-langkung pamundhi kula. Pasegah pinanggih ing wingking, bilih padamelan sampun rampung."
Suyudana ngandikan malih, "Dene mawi wigih-wigih, Kakang
Prabu, anampik pasegah kula."
Kresna amangsuli, "Gampil, Yayi Prabu, pinanggih ing wingking kemawon."
Prabu Kresna suka ing galih aningali para ratu ingkang sami pepakan wonten ing kadhaton, utawi para sepuh ingkang sami sowan. Anunten pamit ing Prabu Suyudana badhe masanggrahan rumiyin. Prabu Suyudana amangsuli, "Sumangga ing karsa, kakang prabu, ratu bijaksana ing sajagat."
Prabu Kresna amangsuli, "Mugi-mugi Yayi Prabu amanggiha suka, siyosa padamelan ingkang kula lampahi, wilujenga ing kada-<noinclude>{{rh|80}}</noinclude>
no288vc01cjqnx02uueozhea8xd0878
78329
78104
2026-05-16T09:39:42Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78329
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>Lampahipun Prabu Kresna angancik kikising nagari Ngastina. Ratanipun karindhikaken. Arame swaranipun tetiyang ingkang sami amethuk, utawi ingkang sami anonton. Tiyang simagari Ngastina ebah sedaya, saking kapenginipun badhe aningali Prabu Kresna. Ageng alit pating baleber, jejel titip atimbun pinggiring margi, ajrih manawi kasep ing langkungipun sang nata.
Ingkang sami methuk wau sampun pepanggihan kaliyan Prabu Kresna, sang nata lajeng dipunaturi lumebet dhumateng kadhaton. Wondene para ratu sampun tata pinarak wonten salebeting kadhaton. Prabu Salya inggih sampun rawuh, Arya Widura, Adipati Awangga, Karpa, Arya Sindureja, Yuyutsuh, sami andher wonten ngarsanipun Prabu Suyudana. Anunten para pinisepuh ingkang kautus methuk wau sami dhateng ngrumiyini. Boten antawis dangu Prabu Kresna rawuh, tedhak saking rata kaliyan jawata sakawan. Para Korawa sami ngadeg angurmati. Sang nata akaliyan jawata sakawan dipunaturi pinarak dhateng Prabu Suyudana. Para
pinisepuh kumrubut ingkang sami ambagekaken. Anunten pasegah sumaos. Pangandikanipun Prabu Suyudana, "Kakang Prabu ing Dwarawati, sumangga kula aturi dhahar, minangka jejampining sayah."
Prabu Kresna amangsuli, "Yayi Prabu, sakalangkung-langkung pamundhi kula. Pasegah pinanggih ing wingking, bilih padamelan sampun rampung."
Suyudana ngandikan malih, "Dene mawi wigih-wigih, Kakang
Prabu, anampik pasegah kula."
Kresna amangsuli, "Gampil, Yayi Prabu, pinanggih ing wingking kemawon."
Prabu Kresna suka ing galih aningali para ratu ingkang sami pepakan wonten ing kadhaton, utawi para sepuh ingkang sami sowan. Anunten pamit ing Prabu Suyudana badhe masanggrahan rumiyin. Prabu Suyudana amangsuli, "Sumangga ing karsa, kakang prabu, ratu bijaksana ing sajagat."
Prabu Kresna amangsuli, "Mugi-mugi Yayi Prabu amanggiha suka, siyosa padamelan ingkang kula lampahi, wilujenga ing {{hws|kada|kadadosanipun}}<noinclude>{{rh|80}}</noinclude>
tljzmd6r5mc3byxhg8kmpwofd2wp6al
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/34
250
24849
78103
2026-05-16T04:05:49Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
78103
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
78120
78103
2026-05-16T06:25:38Z
Iripseudocorus
1236
78120
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude>{{c|'''ANTJER-ANTJER KATRANGANIPUN BAB WANDA.{{gap}} WANDA PUNIKA BEDA BEDANIPUN KAWUDJUDANING PASEMON INGKANG MAWI PIKADJENG.'''}}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 34 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]
''Wanda DUKUN (Dunuk).''
''Wanda MEGA<br>Kantinipun Bagong.''<noinclude></noinclude>
af12upiyr2c1j3f5fcdz1c1ycco0odn
78121
78120
2026-05-16T06:27:25Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78121
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 35 —}}</noinclude>{{c|'''ANTJER-ANTJER KATRANGANIPUN BAB WANDA.{{gap}} WANDA PUNIKA BEDA BEDANIPUN KAWUDJUDANING PASEMON INGKANG MAWI PIKADJENG.'''}}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 34 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda DUKUN (Dunuk).''}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda MEGA<br>Kantinipun Bagong.''}}
|}<noinclude></noinclude>
lnndz2rirh9tvpm4q7a863vb2bpswve
Kaca:Bratayuda.pdf/125
250
24850
78105
2026-05-16T04:10:39Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78105
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>Prabu Salya lajeng dandos. Srengenge sampun inggil. Balanipun dangu anggenipun sami ngentosi. Prabu Salya miyos anitih
rata. Balanipun lajeng anabuh tengaraning perang, saha angrakit
gelar. Prabu Suyudana sabalanipun angumpul wonten ing ngriku.
Pandhawa inggih sampun angrakit gelar saha anabuh tengara,
lajeng mangsah ing perang. Tempuhing perang kados mendhung
pethukan sami mendhung, ramening perang swaranipun kados redi jugrug. Sampun kathah ingkang pejah. Korawa amesthekaken
yen Pandhawa badhe tumpes dening Senapati Salya.
Prabu Salya amedalaken Aji Candhabirawa, anunten kathah
sarta warni-warni danawa ingkang medal saking sariranipun. Angebeki ing paprangan, sarta sami ambekta dedamel. Ambebujeng
mengsah, anggadani, amedhangi saha anyakoti mengsah. Yen kawales dipun pejahi, sangsaya mewah kathah.
Korawa surak gumerah, sarta sami suka aningali.
Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, giris sami lumajeng,
angungsi wingkingipun Prabu Kresna saha Prabu Yudhisthira.
Prabu Kresna lajeng angundhangi bala Pandhawa sadaya, andikakaken ambucali dedamelipun, sarta sami kekudhunga. Lajeng
sami anglampahi dhawuhipun Prabu Kresna sadaya.
Danawa ingkang medal saking Aji Candhabirawa lajeng sami
dhelog-dhelog kemawon, angadhepi mengsahipun.
Prabu Kresna anunten angatag dhateng Prabu Yudhisthira
amethukna perangipun Salya. Prabu Yudhisthira enggal anitih rata,
majeng dhateng ing paprangan. Prabu Salya amatak Aji Candhabirawa malih, ambrubul wedaling danawa saking sariranipun. Agengageng sarta kathah, angungkuli ingkang rumiyin. Sami amurugi
Prabu Yudhisthira.
Prabu Yudhisthira enggal amawas Kalimausada, amedalaken latu anglangkungi agengipun. Latu wau lajeng ambesmi danawa wau, telas kabesmi sadaya.
Prabu Yudhisthira lajeng anglepasaken Kalimausada. Prabu
Salya kenging jajanipun pejah, gumebrug dhawah ing rata. Bala
129<noinclude></noinclude>
mxuy2z3t1u0wsao0m9tohg6djxp4zr0
78106
78105
2026-05-16T04:16:54Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78106
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>Prabu Salya lajeng dandos. Srengenge sampun inggil. Balanipun dangu anggenipun sami ngentosi. Prabu Salya miyos anitih rata. Balanipun lajeng anabuh tengaraning perang, saha angrakit gelar. Prabu Suyudana sabalanipun angumpul wonten ing ngriku.
Pandhawa inggih sampun angrakit gelar saha anabuh tengara, lajeng mangsah ing perang. Tempuhing perang kados mendhung pethukan sami mendhung, ramening perang swaranipun kados redi jugrug. Sampun kathah ingkang pejah. Korawa amesthekaken yen Pandhawa badhe tumpes dening Senapati Salya.
Prabu Salya amedalaken Aji Candhabirawa, anunten kathah
sarta warni-warni danawa ingkang medal saking sariranipun. Angebeki ing paprangan, sarta sami ambekta dedamel. Ambebujeng mengsah, anggadani, amedhangi saha anyakoti mengsah. Yen kawales dipun pejahi, sangsaya mewah kathah.
Korawa surak gumerah, sarta sami suka aningali.
Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, giris sami lumajeng,
angungsi wingkingipun Prabu Kresna saha Prabu Yudhisthira.
Prabu Kresna lajeng angundhangi bala Pandhawa sadaya, andikakaken ambucali dedamelipun, sarta sami kekudhunga. Lajeng sami anglampahi dhawuhipun Prabu Kresna sadaya.
Danawa ingkang medal saking Aji Candhabirawa lajeng sami
dhelog-dhelog kemawon, angadhepi mengsahipun.
Prabu Kresna anunten angatag dhateng Prabu Yudhisthira
amethukna perangipun Salya. Prabu Yudhisthira enggal anitih rata, majeng dhateng ing paprangan. Prabu Salya amatak Aji Candhabirawa malih, ambrubul wedaling danawa saking sariranipun. Ageng-ageng sarta kathah, angungkuli ingkang rumiyin. Sami amurugi Prabu Yudhisthira.
Prabu Yudhisthira enggal amawas Kalimausada, amedalaken latu anglangkungi agengipun. Latu wau lajeng ambesmi danawa wau, telas kabesmi sadaya.
Prabu Yudhisthira lajeng anglepasaken Kalimausada. Prabu Salya kenging jajanipun pejah, gumebrug dhawah ing rata. Bala<noinclude>{{rh|||129}}</noinclude>
1739tv9ky7pwdxbcpusfoya0i1b2yxr
Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/4
250
24851
78107
2026-05-16T05:04:32Z
Devi 4340
509
/* Titiwaca */
78107
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{missing image}}
{{c|{{sp|{{x-larger|KI MARDIBUDHI}}}}<br>(PANGRIPTA).}}
{{c|Wewenanging Pengarang<br>KAAJOMAN UNDANG-UNDANG<br>Buku kang sah katandha tangan penerbit.}}<noinclude></noinclude>
i69iwxjvpgulucmvsjwi0aklnd8r35o
78135
78107
2026-05-16T06:57:17Z
Ars-arsa
1809
/* Absah */
78135
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Ars-arsa" /></noinclude>{{missing image}}
{{c|{{sp|{{x-larger|KI MARDIBUDHI}}}}<br>(PANGRIPTA).}}
{{c|Wewenanging Pengarang<br>KAAJOMAN UNDANG-UNDANG<br>Buku kang sah katandha tangan penerbit.}}<noinclude></noinclude>
kamchg7u2184yypbe5l7u6l6q10vqx9
Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/60
250
24852
78108
2026-05-16T05:05:31Z
Devi 4340
509
/* Tanpa tulisan */
78108
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Devi 4340" /></noinclude><noinclude></noinclude>
orpaluq2rjem4zg1t4g87ot08xu2vn2
Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/59
250
24853
78109
2026-05-16T05:05:35Z
Devi 4340
509
/* Tanpa tulisan */
78109
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Devi 4340" /></noinclude><noinclude></noinclude>
orpaluq2rjem4zg1t4g87ot08xu2vn2
Kaca:Bratayuda.pdf/133
250
24854
78110
2026-05-16T05:07:11Z
Devi 4340
509
/* Tanpa tulisan */
78110
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Devi 4340" /></noinclude><noinclude></noinclude>
orpaluq2rjem4zg1t4g87ot08xu2vn2
Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/6
250
24855
78111
2026-05-16T05:24:26Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
78111
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||4}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦂꦗꦤꦺꦤꦒꦫ꧉ ꧃ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦏꦏꦁꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦧꦺꦃꦕꦮꦶꦱ꧀ꦱ꧈ ꦮꦔꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦕꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦒꦮꦺꦪꦧꦁꦱꦭ꧀ꦏꦁꦥꦺꦭꦒ꧀ ꦒꦺꦤ꧀ꦚꦲꦩꦱꦁꦥꦥꦤ꧀ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦼꦢꦭ꧀ꦲꦶꦁꦔꦭꦸꦤ꧀ꦲꦭꦸꦤ꧀ ꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦲꦶꦔꦪꦥ꧀ꦲꦶꦁꦥꦸꦠꦿ꧉ ꧄ ꦩꦶꦮꦃꦏꦏꦶꦗꦺꦴꦣꦶꦦꦠꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦥꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦱꦸꦏꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦼꦫꦤꦥꦿꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦫꦩꦺꦤꦺ꧈ ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦥꦢꦸꦏꦗꦶꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦲꦔꦪꦃꦲꦶꦣꦮꦸꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦱꦿꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧉ ꧃ ꦭꦤ꧀ꦱꦶꦫꦮꦼꦠꦺꦴꦏ꧀ꦤꦏꦏꦶ꧈ ꦢꦺꦴꦚꦲꦶꦁꦕꦶꦤ꧀ꦠꦑꦥꦸꦫ꧈ ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦱꦸꦏꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦩꦼꦱꦏ꧀ꦲꦏꦺꦏꦏꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦸꦥꦩꦱꦸꦤ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱ꧈ ꦏꦾꦤ꧀ꦲꦥꦠꦶꦃꦤꦼꦩ꧀ꦧꦃꦩꦠꦸꦂ꧈ ꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿꦣꦠꦼꦁꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧉ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦹꦁꦲꦢꦶꦫꦗ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦠꦱꦶꦫꦱꦸꦤ꧀ꦏꦺꦴꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦏꦏꦶꦥꦿꦧꦸꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦲꦸꦮꦶꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧉ ꧄ ꦭꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦲꦗꦶ꧈ ꦲꦏꦂꦱꦱꦸꦤ꧀ꦉꦁꦒꦉꦁꦒ꧈ ꦲꦶꦪꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦲꦫꦏ꧀ꦩꦤꦺꦃ꧈ ꦏꦭꦮꦤ꧀ꦏꦏꦶꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦏꦪꦢꦸꦏ꧀ꦩꦱꦶꦃꦏꦼꦚ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦠꦼꦩꦸ꧈ ꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦲꦩꦫꦁꦢꦲ꧉ ꧃ ꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦸꦁꦑꦭꦩꦶꦱꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦩꦫꦁꦔꦡꦼꦒꦭ꧀ꦥꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦲꦶꦁꦏꦏꦁꦲꦼꦩ꧀ꦧꦺꦴꦏ꧀ ꦚꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦲꦶꦁꦦꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦥꦺꦴꦤ꧀ꦝꦺꦴꦁꦔꦤꦢꦺꦤ꧀ꦲꦺꦁꦒꦭ꧀ ꦥꦸꦭꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦺꦥꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦺꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦫꦸꦥ꧉ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦫꦶ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦭꦶꦃꦢꦶꦤꦸꦠ꧈ ꦱꦁꦤꦠꦗꦼꦁꦏꦂꦔꦣꦠꦺꦴꦤ꧀ ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦩꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦲꦶꦁꦢꦊꦩ꧀ꦩꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦲꦶꦁꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦸ
}}<noinclude></noinclude>
1es9g06b949c59ueu2tdfquv2v0fwoj
78384
78111
2026-05-16T10:11:09Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78384
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||4}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦂꦗꦤꦺꦤꦒꦫ꧉ ꧃ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦏꦏꦁꦥꦠꦶꦃ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦧꦺꦃꦕꦮꦶꦱ꧀ꦱ꧈ ꦮꦔꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦕꦲꦺꦴꦱ꧀ꦱꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦒꦮꦺꦪꦧꦁꦱꦭ꧀ꦏꦁꦥꦺꦭꦒ꧀ ꦒꦺꦤ꧀ꦚꦲꦩꦱꦁꦥꦥꦤ꧀ ꦪꦺꦤ꧀ꦩꦼꦢꦭ꧀ꦲꦶꦁꦔꦭꦸꦤ꧀ꦲꦭꦸꦤ꧀ ꦧꦺꦚ꧀ꦗꦶꦁꦲꦶꦔꦪꦥ꧀ꦲꦶꦁꦥꦸꦠꦿ꧉ ꧄ ꦩꦶꦮꦃꦏꦏꦶꦗꦺꦴꦣꦶꦦꦠꦶ꧈ ꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦥꦸꦤ꧀ꦝꦸꦠ꧀ꦱꦸꦏꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦼꦫꦤꦥꦿꦶꦃꦲꦼꦤ꧀ꦫꦩꦺꦤꦺ꧈ ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦼꦏꦂꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦥꦢꦸꦏꦗꦶꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧈ ꦲꦔꦪꦃꦲꦶꦣꦮꦸꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦱꦿꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿꦲꦶꦁꦗꦼꦁꦓꦭ꧉ ꧃ ꦭꦤ꧀ꦱꦶꦫꦮꦼꦠꦺꦴꦏ꧀ꦤꦏꦏꦶ꧈ ꦢꦺꦴꦚꦲꦶꦁꦕꦶꦤ꧀ꦠꦑꦥꦸꦫ꧈ ꦲꦩꦿꦶꦃꦲꦱꦸꦏꦤꦺꦏꦧꦺꦃ꧈ ꦩꦼꦱꦏ꧀ꦲꦏꦺꦏꦏꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦸꦥꦩꦱꦸꦤ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱ꧈ ꦏꦾꦤ꧀ꦲꦥꦠꦶꦃꦤꦼꦩ꧀ꦧꦃꦩꦠꦸꦂ꧈ ꦥꦠꦶꦏ꧀ꦧꦿꦣꦠꦼꦁꦱꦤ꧀ꦢꦶꦏ꧉ ꧃ ꦲꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦱꦿꦶꦧꦸꦥꦠꦶ꧈ ꦲꦺꦃꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦹꦁꦲꦢꦶꦫꦗ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦠꦱꦶꦫꦱꦸꦤ꧀ꦏꦺꦴꦁꦏꦺꦴꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿ꧈ ꦏꦏꦶꦥꦿꦧꦸꦲꦶꦁꦢꦲ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦤꦺꦲꦸꦮꦶꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦤꦔꦶꦁꦩꦁꦏꦺꦱꦭꦶꦤ꧀ꦮꦂꦤ꧉ ꧄ ꦭꦤ꧀ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦪꦶꦲꦗꦶ꧈ ꦲꦏꦂꦱꦱꦸꦤ꧀ꦉꦁꦒꦉꦁꦒ꧈ ꦲꦶꦪꦲꦶꦁꦔꦺꦴꦁꦲꦫꦏ꧀ꦩꦤꦺꦃ꧈ ꦏꦭꦮꦤ꧀ꦏꦏꦶꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦏꦪꦢꦸꦏ꧀ꦩꦱꦶꦃꦏꦼꦚ꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦧꦺꦱꦸꦏ꧀ꦠꦼꦩꦸ꧈ ꦢꦺꦤ꧀ꦒꦮꦲꦩꦫꦁꦢꦲ꧉ ꧃ ꦠꦸꦩꦼꦁꦒꦸꦁꦑꦭꦩꦶꦱꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦩꦫꦁꦔꦡꦼꦒꦭ꧀ꦥꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦩꦠꦸꦂꦫꦲꦶꦁꦏꦏꦁꦲꦼꦩ꧀ꦧꦺꦴꦏ꧀ ꦚꦲꦶꦲꦒꦼꦁꦲꦶꦁꦦꦸꦕꦁꦔꦤ꧀ ꦥꦺꦴꦤ꧀ꦝꦺꦴꦁꦔꦤꦢꦺꦤ꧀ꦲꦺꦁꦒꦭ꧀ ꦥꦸꦭꦸꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦺꦥꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦫꦮꦸꦃ꧈ ꦩꦠꦸꦂꦫꦪꦺꦤ꧀ꦱꦭꦶꦤ꧀ꦫꦸꦥ꧉ ꧃ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦲꦮꦺꦴꦠ꧀ꦱꦫꦶ꧈ ꦥꦸꦁꦒꦮꦏꦭꦶꦃꦢꦶꦤꦸꦠ꧈ ꦱꦁꦤꦠꦗꦼꦁꦏꦂꦔꦣꦠꦺꦴꦤ꧀ ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦩꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦲꦶꦁꦢꦊꦩ꧀ꦩꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦲꦶꦁꦩꦫꦨꦔꦸꦤ꧀ ꦱꦩ꧀ꦥꦸ
}}<noinclude></noinclude>
nkeaar4got8qv68cr2iyy7gkmvoje8q
Kaca:ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦟꦫꦮꦺꦴꦁꦱ.pdf/7
250
24856
78116
2026-05-16T05:41:19Z
Abdansykr26
860
/* Titiwaca */
78116
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Abdansykr26" />{{rh||5}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦤ꧀ꦲꦺꦕꦩꦤꦺꦃꦲꦶꦫ꧉ ꧃ ꦲꦏꦛꦃꦏꦁꦧꦣꦺꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦔꦶꦁꦢꦺꦫꦺꦁꦕꦶꦤꦁꦏꦿꦩꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦮꦤꦺꦴꦢꦾꦏꦲꦺꦴꦠ꧀ ꦲꦮꦠꦫꦏꦭꦶꦃꦢꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦮꦺꦴꦁꦢꦺꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦏꦺꦮꦺꦴꦁꦒꦸꦤꦸꦁ꧈ ꦲꦤꦠꦿꦃꦲꦶꦁꦧꦺꦴꦧꦺꦴꦪꦺꦴꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦱꦩꦾꦲꦩꦼꦥꦼꦏ꧀ꦧꦶꦫꦲꦶ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦒꦹꦧꦃꦱꦼꦏꦂ꧈ ꦩꦥꦒ꧀ꦲꦶꦁꦥꦫꦺꦒꦺꦴꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦤꦏꦁꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦠꦺꦴꦪ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦠꦮꦶꦢ꧈ ꦮꦂꦤꦤꦺꦱꦩꦾꦪꦸꦲꦪꦸ꧈ ꦱꦼꦣꦼꦁꦔꦺꦴꦭꦃꦒꦸꦭꦢꦿꦮ꧉ ꧃ ꦣꦤ꧀ꦝꦁꦒꦹꦭ ꧃ ꦱꦏꦛꦃꦲꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦫꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦲꦔꦿꦲꦸꦥ꧀ꦥꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦫꦫꦱꦤ꧀ꦱꦫꦺꦴꦮꦁꦔꦺ꧈ ꦱꦢꦪꦱꦩꦶꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦱ꧀ꦠꦤꦶꦕꦶꦡꦿꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦮꦁ꧈ ꦒꦸꦁꦒꦮꦺꦕꦼꦕꦼꦤ꧀ꦛꦸꦁ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦤꦤꦥꦿꦶꦪꦼꦩ꧀ꦧꦢ꧈ ꦱꦧꦼꦤ꧀ꦢꦶꦤꦩꦼꦭꦫꦁꦔꦶꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁꦫꦩ꧀ꦥꦶꦁ꧈ ꦠꦼꦏꦔꦁꦒꦸꦂꦏꦺꦮꦭ꧉ ꧃ ꦲꦤꦲꦸꦂꦫꦶꦤꦶꦤꦶꦟꦮꦁꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦧꦼꦤꦼꦂꦧꦺꦴꦏ꧀ꦲꦪꦸꦮꦼꦕꦤꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦏꦤꦶꦔꦪꦤꦺ꧈ ꦏꦁꦏꦪꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦤꦺꦴꦫꦏꦺꦠꦁꦲꦸꦠꦁꦲꦚꦶꦭꦶꦃ꧈ ꦭꦥꦏ꧀ꦏꦺꦲꦺꦴꦭꦃꦱ꧀ꦭꦶꦫ꧈ ꦲꦱꦲꦺꦴꦱ꧀ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁ꧈ ꦱꦥꦧꦶꦱꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦤ꧈ ꦱꦭꦮꦱ꧀ꦱꦺꦲꦥꦶꦥꦶꦭꦶꦱ꧀ꦠꦶꦮꦱ꧀ꦲꦏꦶꦁ꧈ ꦧꦪꦢꦶꦥꦹꦤ꧀ꦫꦩ꧀ꦥꦶꦢ꧀ꦢ꧉ ꧃ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦺꦴꦗꦂꦤꦶꦯꦸꦤ꧀ꦢꦪꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦤꦶꦔꦪꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦩꦔꦤ꧀ꦱꦂꦠꦠꦸꦮꦸꦏ꧀ ꦱꦶꦚ꧀ꦗꦁꦔꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦭꦸꦁꦱꦼꦠ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ ꦲꦺꦱꦸꦏ꧀ꦱꦺꦴꦫꦺꦮꦶꦮꦶꦢ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦩ꧀ꦧꦸꦱ꧀ ꦩꦶꦭꦏꦁꦲꦠꦶꦲꦭꦫ꧈ ꦥꦲꦺꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦼꦤꦼꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦮꦉꦒ꧀ꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦣꦠꦸꦮ꧉ ꧄ ꦏꦮꦂꦤꦲꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦭꦗꦼꦁꦣꦠꦼꦁꦥꦭꦠꦂꦫꦤ꧀
}}<noinclude></noinclude>
qv1s9l9940le4lr0t6l6pxsdmw16ezz
78385
78116
2026-05-16T10:11:17Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78385
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||5}}</noinclude>{{Jawa|tag=div|1=
ꦤ꧀ꦲꦺꦕꦩꦤꦺꦃꦲꦶꦫ꧉ ꧃ ꦲꦏꦛꦃꦏꦁꦧꦣꦺꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦔꦶꦁꦢꦺꦫꦺꦁꦕꦶꦤꦁꦏꦿꦩꦤ꧀ ꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦮꦤꦺꦴꦢꦾꦏꦲꦺꦴꦠ꧀ ꦲꦮꦠꦫꦏꦭꦶꦃꦢꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦮꦺꦴꦁꦢꦺꦱ꧈ ꦲꦤꦲꦤꦏ꧀ꦏꦺꦮꦺꦴꦁꦒꦸꦤꦸꦁ꧈ ꦲꦤꦠꦿꦃꦲꦶꦁꦧꦺꦴꦧꦺꦴꦪꦺꦴꦁꦔꦤ꧀꧈ ꧄ ꦱꦩꦾꦲꦩꦼꦥꦼꦏ꧀ꦧꦶꦫꦲꦶ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦤꦒꦹꦧꦃꦱꦼꦏꦂ꧈ ꦩꦥꦒ꧀ꦲꦶꦁꦥꦫꦺꦒꦺꦴꦭ꧀ꦭꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦤꦏꦁꦲꦤꦺꦴꦩ꧀ꦥꦠꦺꦴꦪ꧈ ꦮꦼꦤꦺꦃꦲꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦠꦮꦶꦢ꧈ ꦮꦂꦤꦤꦺꦱꦩꦾꦪꦸꦲꦪꦸ꧈ ꦱꦼꦣꦼꦁꦔꦺꦴꦭꦃꦒꦸꦭꦢꦿꦮ꧉ ꧃ ꦣꦤ꧀ꦝꦁꦒꦹꦭ ꧃ ꦱꦏꦛꦃꦲꦺꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦫꦱꦼꦭꦶꦂ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦱꦩꦾꦲꦔꦿꦲꦸꦥ꧀ꦥꦶꦥꦸꦠꦿ꧈ ꦲꦫꦫꦱꦤ꧀ꦱꦫꦺꦴꦮꦁꦔꦺ꧈ ꦱꦢꦪꦱꦩꦶꦩꦸꦮꦸꦱ꧀ ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦱ꧀ꦠꦤꦶꦕꦶꦡꦿꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦮꦁ꧈ ꦒꦸꦁꦒꦮꦺꦕꦼꦕꦼꦤ꧀ꦛꦸꦁ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦤꦤꦥꦿꦶꦪꦼꦩ꧀ꦧꦢ꧈ ꦱꦧꦼꦤ꧀ꦢꦶꦤꦩꦼꦭꦫꦁꦔꦶꦏꦼꦩ꧀ꦧꦁꦫꦩ꧀ꦥꦶꦁ꧈ ꦠꦼꦏꦔꦁꦒꦸꦂꦏꦺꦮꦭ꧉ ꧃ ꦲꦤꦲꦸꦂꦫꦶꦤꦶꦤꦶꦟꦮꦁꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦧꦼꦤꦼꦂꦧꦺꦴꦏ꧀ꦲꦪꦸꦮꦼꦕꦤꦤꦶꦫ꧈ ꦏꦶꦥꦸꦠꦿꦏꦤꦶꦔꦪꦤꦺ꧈ ꦏꦁꦏꦪꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ ꦤꦺꦴꦫꦏꦺꦠꦁꦲꦸꦠꦁꦲꦚꦶꦭꦶꦃ꧈ ꦭꦥꦏ꧀ꦏꦺꦲꦺꦴꦭꦃꦱ꧀ꦭꦶꦫ꧈ ꦲꦱꦲꦺꦴꦱ꧀ꦮꦺꦴꦁꦲꦒꦸꦁ꧈ ꦱꦥꦧꦶꦱꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦤ꧈ ꦱꦭꦮꦱ꧀ꦱꦺꦲꦥꦶꦥꦶꦭꦶꦱ꧀ꦠꦶꦮꦱ꧀ꦲꦏꦶꦁ꧈ ꦧꦪꦢꦶꦥꦹꦤ꧀ꦫꦩ꧀ꦥꦶꦢ꧀ꦢ꧉ ꧃ ꦲꦭꦺꦴꦤ꧀ꦩꦺꦴꦗꦂꦤꦶꦯꦸꦤ꧀ꦢꦪꦉꦱ꧀ꦩꦶ꧈ ꦏꦤꦶꦔꦪꦫꦢꦺꦤ꧀ꦏꦱꦠꦿꦶꦪꦤ꧀ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦏꦠꦸꦮꦺꦴꦤ꧀ꦤꦺ꧈ ꦲꦩꦔꦤ꧀ꦱꦂꦠꦠꦸꦮꦸꦏ꧀ ꦱꦶꦚ꧀ꦗꦁꦔꦶꦁꦱꦸꦤ꧀ꦭꦸꦁꦱꦼꦠ꧀ꦲꦱꦭꦶꦤ꧀ ꦲꦺꦱꦸꦏ꧀ꦱꦺꦴꦫꦺꦮꦶꦮꦶꦢ꧈ ꦤꦺꦴꦫꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦩ꧀ꦧꦸꦱ꧀ ꦩꦶꦭꦏꦁꦲꦠꦶꦲꦭꦫ꧈ ꦥꦲꦺꦧꦺꦴꦕꦃꦩꦼꦤꦼꦁꦪꦺꦤ꧀ꦲꦮꦉꦒ꧀ꦧꦸꦏ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦥꦣꦠꦸꦮ꧉ ꧄ ꦏꦮꦂꦤꦲꦫꦢꦺꦤ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦶꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ꧈ ꦲꦥꦤ꧀ꦭꦗꦼꦁꦣꦠꦼꦁꦥꦭꦠꦂꦫꦤ꧀
}}<noinclude></noinclude>
ijqg2oxqrd2sqgnvvczq1qvv5vkje6t
Kaca:Bratayuda.pdf/100
250
24857
78118
2026-05-16T06:16:20Z
Suga Widi
1719
/* Durung katitiwaca */
78118
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>kehana ing tatu bungah anemu pati, wis patute satriya mati dikarubl,lt ing perang."
Abimanyu pegat-pegat sesumbaripun, boten kaur anariki jemparing ingkang andhawahi. Susun timbun kados kambengan wonten ing jaja, jemparing ingkang tumancep ing jaja kalih ing lambung kados sekar kanthil ginubah. Rebahipun ing rata manik kalumut dening rah, kados angus awor atal. Maripatipun Abimanyu
kerep kenging ing jemparing, alindri tiningalan. Mastakanipun upami kados sekar kanigara, kalih sekar sumarsana, karebat ing ngakathah badhe dipunanggit. Jajanipun kados tunjung mekar. Sedanipun satriya ambek wanter adamel ngeresing manah. Sanalika grimis, kathah kombang ing ngawang-awang kados badhe angangkah
sekar.
Prabu Yudhisthira sumerep bilih Abimanyu pejah dipunkarubut ing mangsah. Setyaki, Gathutkaca, Drusthajumena, sumedya pulih getih, anarajang gelaring Korawa, tandangipun kados
anggege pejah, angontragaken bumi. Darmaputra kaliyan Pancawala, putra ing Ngamarta, sami ambiyantu. Ramenipun ing perang
ngantos busekan. Anunten kasaput ing dalu, bubar ingkang sami
perangan. Korawa sami bingah-bingah.
Kacariyos Raden Dananjaya ingkang perang wonten sukuning
redi, dipunemong ing Prabu Kresna, arame anggenipunperang.
Prabu Gardapati sampun pejah, anunten sami bibaran mantuk.
Dumuginipun ing pasanggrahan, Raden Dananjaya mireng tangis.
Sasentananipun ingkang saking ibu tuwin rama, punapa malih
garwanipun kekalih, Dewi Wara Sumbadra kaliyan Wara Srikandhi,
tuwin putri Wiratha Dewi Utari, ingkang saweg ambobot wolung
wulan, sami amuwun sartaangadhuh. Akathah pasambat kamirengan wonten ing pasanggrahan, arame kados ungeling peksi gagak.
Dhatengipun Raden Dananjaya sarengan kaliyan Prabu Kresna, saha Raden Wrekodara, ingkang perang wonten pinggiring saganten. Mengsahipun ingkang nama Wresaya. Sampun pejah. Dhatengipun sarengan saking ler sarta saking kidul.
Raden Dananjaya sareng midhanget yen putranipun pejah,
104<noinclude></noinclude>
fgwszz5ybx442pme4x8obj451pryn81
78119
78118
2026-05-16T06:23:17Z
Suga Widi
1719
/* Titiwaca */
78119
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Suga Widi" /></noinclude>kehana ing tatu bungah anemu pati, wis patute satriya mati dikarubut ing perang."
Abimanyu pegat-pegat sesumbaripun, boten kaur anariki jemparing ingkang andhawahi. Susun timbun kados kambengan wonten ing jaja, jemparing ingkang tumancep ing jaja kalih ing lambung kados sekar kanthil ginubah. Rebahipun ing rata manik kalumut dening rah, kados angus awor atal. Maripatipun Abimanyu kerep kenging ing jemparing, alindri tiningalan. Mastakanipun upami kados sekar kanigara, kalih sekar sumarsana, karebat ing ngakathah badhe dipunanggit. Jajanipun kados tunjung mekar. Sedanipun satriya ambek wanter adamel ngeresing manah. Sanalika grimis, kathah kombang ing ngawang-awang kados badhe angangkah sekar.
Prabu Yudhisthira sumerep bilih Abimanyu pejah dipunkarubut ing mangsah. Setyaki, Gathutkaca, Drusthajumena, sumedya pulih getih, anarajang gelaring Korawa, tandangipun kados anggege pejah, angontragaken bumi. Darmaputra kaliyan Pancawala, putra ing Ngamarta, sami ambiyantu. Ramenipun ing perang ngantos busekan. Anunten kasaput ing dalu, bubar ingkang sami perangan. Korawa sami bingah-bingah.
Kacariyos Raden Dananjaya ingkang perang wonten sukuning
redi, dipunemong ing Prabu Kresna, arame anggenipun perang. Prabu Gardapati sampun pejah, anunten sami bibaran mantuk. Dumuginipun ing pasanggrahan, Raden Dananjaya mireng tangis. Sasentananipun ingkang saking ibu tuwin rama, punapa malih garwanipun kekalih, Dewi Wara Sumbadra kaliyan Wara Srikandhi, tuwin putri Wiratha Dewi Utari, ingkang saweg ambobot wolung wulan, sami amuwun sartaangadhuh. Akathah pasambat kamirengan wonten ing pasanggrahan, arame kados ungeling peksi gagak.
Dhatengipun Raden Dananjaya sarengan kaliyan Prabu Kresna, saha Raden Wrekodara, ingkang perang wonten pinggiring saganten. Mengsahipun ingkang nama Wresaya. Sampun pejah. Dhatengipun sarengan saking ler sarta saking kidul.
Raden Dananjaya sareng midhanget yen putranipun pejah,<noinclude>{{rh|104}}</noinclude>
6yhkv29e3oq4l2h4x94swoi7v2otg82
78351
78119
2026-05-16T09:44:09Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78351
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" /></noinclude>kehana ing tatu bungah anemu pati, wis patute satriya mati dikarubut ing perang."
Abimanyu pegat-pegat sesumbaripun, boten kaur anariki jemparing ingkang andhawahi. Susun timbun kados kambengan wonten ing jaja, jemparing ingkang tumancep ing jaja kalih ing lambung kados sekar kanthil ginubah. Rebahipun ing rata manik kalumut dening rah, kados angus awor atal. Maripatipun Abimanyu kerep kenging ing jemparing, alindri tiningalan. Mastakanipun upami kados sekar kanigara, kalih sekar sumarsana, karebat ing ngakathah badhe dipunanggit. Jajanipun kados tunjung mekar. Sedanipun satriya ambek wanter adamel ngeresing manah. Sanalika grimis, kathah kombang ing ngawang-awang kados badhe angangkah sekar.
Prabu Yudhisthira sumerep bilih Abimanyu pejah dipunkarubut ing mangsah. Setyaki, Gathutkaca, Drusthajumena, sumedya pulih getih, anarajang gelaring Korawa, tandangipun kados anggege pejah, angontragaken bumi. Darmaputra kaliyan Pancawala, putra ing Ngamarta, sami ambiyantu. Ramenipun ing perang ngantos busekan. Anunten kasaput ing dalu, bubar ingkang sami perangan. Korawa sami bingah-bingah.
Kacariyos Raden Dananjaya ingkang perang wonten sukuning
redi, dipunemong ing Prabu Kresna, arame anggenipun perang. Prabu Gardapati sampun pejah, anunten sami bibaran mantuk. Dumuginipun ing pasanggrahan, Raden Dananjaya mireng tangis. Sasentananipun ingkang saking ibu tuwin rama, punapa malih garwanipun kekalih, Dewi Wara Sumbadra kaliyan Wara Srikandhi, tuwin putri Wiratha Dewi Utari, ingkang saweg ambobot wolung wulan, sami amuwun sartaangadhuh. Akathah pasambat kamirengan wonten ing pasanggrahan, arame kados ungeling peksi gagak.
Dhatengipun Raden Dananjaya sarengan kaliyan Prabu Kresna, saha Raden Wrekodara, ingkang perang wonten pinggiring saganten. Mengsahipun ingkang nama Wresaya. Sampun pejah. Dhatengipun sarengan saking ler sarta saking kidul.
Raden Dananjaya sareng midhanget yen putranipun pejah,<noinclude>{{rh|104}}</noinclude>
79638iqw4xihpa5jdhfhl9t21oi8g33
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/36
250
24858
78122
2026-05-16T06:28:33Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
78122
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
78123
78122
2026-05-16T06:32:41Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78123
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 37 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 36 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda BREBES''}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda GINUK''}}
|}
{{c| ''Sami-sami Semar nanging beda pasemonipun''}}<noinclude></noinclude>
tgg8c1nyp3knjogl1u1xsnjv7cwdrit
78124
78123
2026-05-16T06:34:09Z
Iripseudocorus
1236
78124
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 37 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 36 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda BREBES''}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{C|''Wanda GINUK''}}
|}
{{c|{{S| ''Sami-sami Semar nanging beda pasemonipun''}}}}<noinclude></noinclude>
o38ylidfrdlzm946bcou7l1de6yvg5j
78125
78124
2026-05-16T06:34:43Z
Iripseudocorus
1236
78125
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 37 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 36 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|''Wanda BREBES''}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|''Wanda GINUK''}}
|}
{{c|{{S| ''Sami-sami Semar nanging beda pasemonipun''}}}}<noinclude></noinclude>
nv1et7a017zi2o2qs0bim64vivvkk8m
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/38
250
24859
78126
2026-05-16T06:37:57Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa ""
78126
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 39 —}}</noinclude><noinclude></noinclude>
djabwbla7288h64jj09y3acy85aqtd9
78128
78126
2026-05-16T06:52:42Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78128
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||— 39 —}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 38 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
oq5buok5ss5moykrkrhjfsa5mji0t04
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/40
250
24860
78129
2026-05-16T06:53:23Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca barès
78129
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude><noinclude></noinclude>
3ykuxguduzn6rpx5lfy068fgabq13cd
78130
78129
2026-05-16T06:54:52Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78130
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 41 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 40 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
qzvw1j48dfnz6qqezm6h4irna46zm62
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/41
250
24861
78131
2026-05-16T06:55:16Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa ""
78131
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 42 ―}}</noinclude><noinclude></noinclude>
68v7g36d60jnkigjvg4d412mr9zo3y4
78134
78131
2026-05-16T06:56:42Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78134
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{rh||― 42 ―}}</noinclude>[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 41 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]<noinclude></noinclude>
8a3bd7cua3oo85oltff6xguy71kr8lx
Kaca:Bauwarna Wajang.pdf/48
250
24862
78136
2026-05-16T06:58:51Z
Iripseudocorus
1236
/* Durung katitiwaca */ Nggawé kaca mawa "Pendeta Relijef Tjandi Panataran. Punika gambar ingkang dipun angge pepiridan ringgit Purwa ngantos saged dados sae kados samangke punika. - 49- Prabu DASAMOEKA Sajid HANOEMAN Sajid"
78136
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Iripseudocorus" /></noinclude>Pendeta Relijef Tjandi Panataran.
Punika gambar ingkang dipun angge
pepiridan ringgit Purwa ngantos saged
dados sae kados samangke punika.
-
49-
Prabu DASAMOEKA
Sajid
HANOEMAN
Sajid<noinclude></noinclude>
22t93wdo5a0m701fgs1tts9dvs36ojw
78138
78136
2026-05-16T07:06:11Z
Iripseudocorus
1236
/* Titiwaca */
78138
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{Rh||― 49 ―}}</noinclude>{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Pendeta Relijef Tjandi Panataran.}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Punika gambar ingkang dipun angge
pepiridan ringgit Purwa ngantos saged
dados sae kados samangke punika.}}
|}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 48 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Prabu DASAMOEKA}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|HANOEMAN}}
|}<noinclude></noinclude>
l3e92muecxzk1adxdhm6d981sk2lqhh
78139
78138
2026-05-16T07:06:54Z
Iripseudocorus
1236
78139
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{Rh||― 49 ―}}</noinclude>{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Pendeta Relijef Tjandi Panataran.}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Punika gambar ingkang dipun angge
pepiridan ringgit Purwa ngantos saged
dados sae kados samangke punika.}}
|}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 48 crop)2.jpg|600px|nirbing|pus]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Prabu DASAMOEKA}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|HANOEMAN}}
|}<noinclude></noinclude>
o0nvn9p6dxvozfhklsc92k3caej11d3
78140
78139
2026-05-16T07:07:58Z
Iripseudocorus
1236
78140
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Iripseudocorus" />{{Rh||― 49 ―}}</noinclude>{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Pendeta Relijef Tjandi Panataran.}}
|{{gap}}
|{{C|Punika gambar ingkang dipun angge<br>
pepiridan ringgit Purwa ngantos saged<br>
dados sae kados samangke punika.}}
|}
[[Barkas:Bauwarna Wajang (page 48 crop)2.jpg|600px|nirbing]]
{|
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|Prabu DASAMOEKA}}
|{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}{{gap}}
|{{C|HANOEMAN}}
|}<noinclude></noinclude>
2u2oognqtkk9543c8li5npxuxkihupl
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/9
250
24863
78142
2026-05-16T07:56:47Z
Kriita
885
/* Proofread */
78142
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Kriita" />{{rh||— 7 —|}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=3
|<poem>Tinemuné wong ngantuk anemu ketuk
male nuk samargi-margi
marmane bungah kang nemu
marga djroning keṯuk isi
kentjana sosotya abjor</poem>}}
{{u|{{sp|Tjéntangan}}}}
#Bubukanipun serat "Djaka Loḏang" punika mèsi sandi-asma. Wiwitaning garis manganḏap mungel "Ranggawarsita basa Kaḏaton",dene pungkasaning garis manganḏap mungel "Basa Kaḏaton Ranggawarsita".
#Limrahipun serat "Djaka Loḏang" inggih namung dumugi sekar Megatruh pada angka 3 punika. Nanging serat "Djaka Loḏang" wedalan "Maha Déwa" tanpa bubuka, sarta wedalan sekar Asmaradana kados ing nganḏap punika :
{{u|{{sp|Asmaradana}}}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Ingkang bisa nemu iki
nora saben sok uwonga
kudu ana pilihane
kang weruh djangkaning djaman
eling kanṯi waspada
tindak tuwadjuh lan djudjur
ingkang antuk kamurahan</poem>
|<poem>Ajwa sira bandjur wedi
samar nora kapanduman
elinga marang kodraté
Pangeran luwih kuwasa
adil tanpa upama
sapa angèstokna ḏawuh
sajekti antuk nugraha</poem>
|<poem>Nugrahanira Hjang Widi
tan kena kinira-kira
marga sèwu dadalané</poem>}}<noinclude></noinclude>
2rbavoa0fuk86tr7xib64k83ar3jl6e
78360
78142
2026-05-16T09:59:22Z
Elcamatcha
1466
/* Absah */
78360
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Elcamatcha" />{{rh||— 7 —|}}</noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=3
|<poem>Tinemuné wong ngantuk anemu ketuk
male nuk samargi-margi
marmane bungah kang nemu
marga djroning keṯuk isi
kentjana sosotya abjor</poem>}}
{{u|{{sp|Tjéntangan}}}}
#Bubukanipun serat "Djaka Loḏang" punika mèsi sandi-asma. Wiwitaning garis manganḏap mungel "Ranggawarsita basa Kaḏaton",dene pungkasaning garis manganḏap mungel "Basa Kaḏaton Ranggawarsita".
#Limrahipun serat "Djaka Loḏang" inggih namung dumugi sekar Megatruh pada angka 3 punika. Nanging serat "Djaka Loḏang" wedalan "Maha Déwa" tanpa bubuka, sarta wedalan sekar Asmaradana kados ing nganḏap punika :
{{u|{{sp|Asmaradana}}}}
{{ordered list|list_style_type=decimal|start=1
|<poem>Ingkang bisa nemu iki
nora saben sok uwonga
kudu ana pilihane
kang weruh djangkaning djaman
eling kanṯi waspada
tindak tuwadjuh lan djudjur
ingkang antuk kamurahan</poem>
|<poem>Ajwa sira bandjur wedi
samar nora kapanduman
elinga marang kodraté
Pangeran luwih kuwasa
adil tanpa upama
sapa angèstokna ḏawuh
sajekti antuk nugraha</poem>
|<poem>Nugrahanira Hjang Widi
tan kena kinira-kira
marga sèwu dadalané</poem>}}<noinclude></noinclude>
n197kzeuxj07e5y0kphno7fyugpt0th
Kaca:Bratayuda.pdf/101
250
24864
78143
2026-05-16T08:21:26Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78143
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sanget anggenipun supe. Prabu Kresna amituturi, pangandikanipun, "Yen satriya kasekelan awit kapaten anak, suda derajate sarta kasiku ing dewa kang linuwih."
Raden Dananjaya mireng pangandikanipun Prabu Kresna lajeng nyembah, anyuwun pangapunten. Anunten nyungkemi sampeyanipun Prabu Yudhisthira, aturipun, "Kadospundi, Gusti, nalaring pejahipun Abimanyu?"
Prabu Yudhisthira amangsuli pangandika, "Patine anakira, awit angleboni gelar Cakrabyuha, katangkeban dening Sindureja. Sanak-sanakira padha pulih getih, si Drusthajumena, si Gathotkaca lan si Setyaki bareng in~ pangamuke, angarah patine si Sindureja, nanging ora kena. Ana dene sing mati dening anakira: si Lesmanakumara, si Kartasuta lan Secaswara. Pangamuke sanak-sanakira oleh pepati pirang-pirang, mung si Sindureja kang luput."
Dananjaya lajeng jumeneng apratignya, "Kawula apunagi, bilih pun Sindureja ing sadinten benjing-enjing boten pejah dening kawula, sontenipun kawula obong."
Prabu Suyudana tuwin sakathahing Korawa mireng pratagnyanipun Raden Dananjaya, anunten Sindureja kadhawahan mantuk. Ing sadinten benjing-enjing kapenging medal-medal, bilih srengenge dereng serap, sarta dipunpurih amemuja anyuwun sawabing kaki, ingkang nama Bagawan Sempani, amurih wilujengipun. Punapa malih jemparing anggenipun angsal saking Abimanyu kapurih anganggeya, sarta amujaa supados wewah kasektenipun.
Kacariyos Prabu Suyudana akaliyan ingkang garwa Dewi Banowati sanget ing prihatos sarta pamuwunipun, awit saking pejahing putra ingkang nama Lesmanakumara. Salebeting kadhaton rame dening tangis, nanging Prabu Suyudana wekasan lejar galihipun, kaengetan pratignyanipun Raden Dananjaya, anggenipun badhe obong. Mila Sindureja dipunreksa sampun ngantos manggih tiwas. Anunten Korawa sami suka-suka, anyipta yen Raden Dananjaya badhe pejah ing sadinten benjing-enjing.
Prabu Yudhisthira sasentananipun sami prihatos sanget. Ing sapejahipun Abimanyu,Dewi Siti Sundari badhe obong {{hws|tumun|tumunten}}<noinclude>{{rh|||105}}</noinclude>
kyiobxls0f7shgvheda3sfujndb1c88
78352
78143
2026-05-16T09:44:22Z
Elcamatcha
1466
78352
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sanget anggenipun supe. Prabu Kresna amituturi, pangandikanipun, "Yen satriya kasekelan awit kapaten anak, suda derajate sarta kasiku ing dewa kang linuwih."
Raden Dananjaya mireng pangandikanipun Prabu Kresna lajeng nyembah, anyuwun pangapunten. Anunten nyungkemi sampeyanipun Prabu Yudhisthira, aturipun, "Kadospundi, Gusti, nalaring pejahipun Abimanyu?"
Prabu Yudhisthira amangsuli pangandika, "Patine anakira, awit angleboni gelar Cakrabyuha, katangkeban dening Sindureja. Sanak-sanakira padha pulih getih, si Drusthajumena, si Gathotkaca lan si Setyaki bareng in~ pangamuke, angarah patine si Sindureja, nanging ora kena. Ana dene sing mati dening anakira: si Lesmanakumara, si Kartasuta lan Secaswara. Pangamuke sanak-sanakira oleh pepati pirang-pirang, mung si Sindureja kang luput."
Dananjaya lajeng jumeneng apratignya, "Kawula apunagi, bilih pun Sindureja ing sadinten benjing-enjing boten pejah dening kawula, sontenipun kawula obong."
Prabu Suyudana tuwin sakathahing Korawa mireng pratagnyanipun Raden Dananjaya, anunten Sindureja kadhawahan mantuk. Ing sadinten benjing-enjing kapenging medal-medal, bilih srengenge dereng serap, sarta dipunpurih amemuja anyuwun sawabing kaki, ingkang nama Bagawan Sempani, amurih wilujengipun. Punapa malih jemparing anggenipun angsal saking Abimanyu kapurih anganggeya, sarta amujaa supados wewah kasektenipun.
Kacariyos Prabu Suyudana akaliyan ingkang garwa Dewi Banowati sanget ing prihatos sarta pamuwunipun, awit saking pejahing putra ingkang nama Lesmanakumara. Salebeting kadhaton rame dening tangis, nanging Prabu Suyudana wekasan lejar galihipun, kaengetan pratignyanipun Raden Dananjaya, anggenipun badhe obong. Mila Sindureja dipunreksa sampun ngantos manggih tiwas. Anunten Korawa sami suka-suka, anyipta yen Raden Dananjaya badhe pejah ing sadinten benjing-enjing.
Prabu Yudhisthira sasentananipun sami prihatos sanget. Ing sapejahipun Abimanyu, Dewi Siti Sundari badhe obong {{hws|tumun|tumunten}}<noinclude>{{rh|||105}}</noinclude>
5ef4a7gc6ihc1pkpwzkgw3xrljrbedr
Kaca:Bratayuda.pdf/102
250
24865
78144
2026-05-16T08:23:02Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78144
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ten|tumunten}}, ambelani ingkang raka. Nanging para santana sami anggendholi, awit para ageng-ageng dereng gilig ing rembag, anggenipun darnel upayaning perang. Wondening Dewi Utari, putri ing Wiratha, baten kenging ambelani ingkang raka, yen dereng lair wawratipun.
Prabu Kresna angandika dhateng Raden Dananjaya, "Heh, Adhi, kapriye · saiki, Korawa wis angrungu punaginira, olehira arepp amateni si Sindureja. Si Sindureja amesthi direksa, ora dililani metoni perang, supaya kalakona ubayanira."
Dananjaya matur, "Mangsa boronga panjenengan dalem."
Prabu Kresna angandika, "Mungguh sarate, Adhi, lestarine kang sira angkah, iya namung memujaa, supaya karsaning dewa kang werit-werit."
Dananjaya matur malih, "Kula sandika nglampahi pitedah Dalem."
Prabu Kresna anyambungi, ''Besuk yen sira perang, kagunganingsun rata sira anggoa, rata iku duwe pangguwasa, pangiride jaran papat. Sing ngarep aran si Ciptawelaha Ian Abrapuspa, sing burl si Sukantha lan Sena. Dene panguwasane, sarupaning gegaman ora ana angenani, Ian sira ingsun paringi gong, jenenge si Pancajannya, iku ing besuk-esuk aja adoh karo kowe. Sira anganggoa panah cakra, Panahira si Pasopati sira tamakna menyang si Sindureja. Kaya iya ing sadina sesuk patine, sanajan abot sanggane, awit bapakne kang aran Bagawan Sempani lagi tinarima semadine ing dewa kang linuwih, ewadene atasna kalawan pujanira ing sawengi iki sing abanget. Suwunen ing patine si Sindureja, mbokmanawa luput pethekku, lah mara nyatakna, mujaa den mesu."
Raden Dananjaya nyembah, kesah saking ngarsanipun Prabu Kresna, lajeng semadi, angeningaken cipta, ngicalaken angenangen gangsal prakawis, sampun prasasat pejah salebeting gesang.
Boten antawis dangu Sang Hyang Jagatnata angatingali, namung wates sangandhaping jangga kemawon, sapangandhap boten katingal. Pangadikanipun Sang Hyang Jagatnata, "Heh, Dananjaya, racuten pujanira, patine si Sindureja ingsun lilakake, awit saka ing panyuwunmu. Panahira si Pasopati sira tamakna, ratane si Kresna<noinclude>{{rh|106}}</noinclude>
g26khze4rq9glfrwy45ubcs37et3hr0
78145
78144
2026-05-16T08:23:18Z
Elcamatcha
1466
78145
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|ten|tumunten}}, ambelani ingkang raka. Nanging para santana sami anggendholi, awit para ageng-ageng dereng gilig ing rembag, anggenipun darnel upayaning perang. Wondening Dewi Utari, putri ing Wiratha, baten kenging ambelani ingkang raka, yen dereng lair wawratipun.
Prabu Kresna angandika dhateng Raden Dananjaya, "Heh, Adhi, kapriye · saiki, Korawa wis angrungu punaginira, olehira arepp amateni si Sindureja. Si Sindureja amesthi direksa, ora dililani metoni perang, supaya kalakona ubayanira."
Dananjaya matur, "Mangsa boronga panjenengan dalem."
Prabu Kresna angandika, "Mungguh sarate, Adhi, lestarine kang sira angkah, iya namung memujaa, supaya karsaning dewa kang werit-werit."
Dananjaya matur malih, "Kula sandika nglampahi pitedah Dalem."
Prabu Kresna anyambungi, "Besuk yen sira perang, kagunganingsun rata sira anggoa, rata iku duwe pangguwasa, pangiride jaran papat. Sing ngarep aran si Ciptawelaha Ian Abrapuspa, sing burl si Sukantha lan Sena. Dene panguwasane, sarupaning gegaman ora ana angenani, Ian sira ingsun paringi gong, jenenge si Pancajannya, iku ing besuk-esuk aja adoh karo kowe. Sira anganggoa panah cakra, Panahira si Pasopati sira tamakna menyang si Sindureja. Kaya iya ing sadina sesuk patine, sanajan abot sanggane, awit bapakne kang aran Bagawan Sempani lagi tinarima semadine ing dewa kang linuwih, ewadene atasna kalawan pujanira ing sawengi iki sing abanget. Suwunen ing patine si Sindureja, mbokmanawa luput pethekku, lah mara nyatakna, mujaa den mesu."
Raden Dananjaya nyembah, kesah saking ngarsanipun Prabu Kresna, lajeng semadi, angeningaken cipta, ngicalaken angenangen gangsal prakawis, sampun prasasat pejah salebeting gesang.
Boten antawis dangu Sang Hyang Jagatnata angatingali, namung wates sangandhaping jangga kemawon, sapangandhap boten katingal. Pangadikanipun Sang Hyang Jagatnata, "Heh, Dananjaya, racuten pujanira, patine si Sindureja ingsun lilakake, awit saka ing panyuwunmu. Panahira si Pasopati sira tamakna, ratane si Kresna<noinclude>{{rh|106}}</noinclude>
9s2pbb10ug15qb49r9avvlz2gmggtu8
Kaca:Bratayuda.pdf/103
250
24866
78146
2026-05-16T08:24:09Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78146
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sesuk sira anggoa. Karo dene gonge kang aran si Pancajannya aja adoh karo sira."
Raden Dananjaya sampun luwaran anggenipun semadi, anjujug panggenanipun Prabu Kresna. Aturipun, "Boten wonten ingkang sisip pangandika dalem, tetes kaliyan wangsitipun Sang Hyang Jagatnata, boten sulaya sarambut."
Prabu Kresna mesem angandika, "Ayo, Adhi, enggal padha angater marang si Siti Sundari, kang arep mati bela."
Kacariyos Dewi Siti Sundari, sampun dandos angagem busananipun pejah, badhe ambelani ingkang raka, sadangunipun angimur Dewi Utari, ingkang kaliyu badhe tumut bela pejah. Sarehning rembulan sampun inggil, Dewi Siti Sundari kasesa, pangandikanipun dhateng Dewi Utari, "Kowe iku lagi meteng, ora kena ambelani bojomu. Sapa sing nyatur kowe angarani wedi bela, oraorane ana wong ngrasani. Kajaba saka ing iku, belane wong lagi meteng ora pakolih, malah anemu dosa, tetela yen kowe lagi meteng wolung sasi. Wis kariya, aku pamit bakal menyang pancaka pabelan."
Dewi. Utari amangsuli, pegat-pegat pangandikanipun, "Tutura menyang si Abimanyu, yen banget prihatinku, awit digendholi dening para ratu, ora kalilan melu mati, bela munggah ing pancaka, sabab werenganaku durung lair, ingaran nemu dukane dewa kang linuwih. Dene ciptaku, saking bangeting tresnaku,mung bisaa melu mati, muga-muga aja ngantiya lawas. Poma tuturna, yen banget ing pangesahku, mung angajap enggala runtung-runtunga ana ing Endraloka, karo si Abimanyu. Yagene teka sarenti, aku ora bisa ambarengi lakumu."
Sareng Dewi Utari sampun lipur, Dewi Siti Sundari lajeng lumampah badhe pamit dhateng rama ibunipun. Sanget andadosaken prihatosipun ingkang sami dipunpamiti, ngantos boten saged angandika. Sareng sampun, Dewi Siti Sundari lumampah dhateng peperangan, anggenaning layonipun ingkang raka, lajeng kabesmi sareng kaliyan Dewi Siti Sundari. Ingkang sami anjenengi pambesminipun sampun sami wangsul. Rembulan sampun andhap, {{hws|se|<noinclude>{{rh|||107}}</noinclude>
shir7y1lm27is8919c82f7yjbgorodh
78147
78146
2026-05-16T08:24:29Z
Elcamatcha
1466
78147
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sesuk sira anggoa. Karo dene gonge kang aran si Pancajannya aja adoh karo sira."
Raden Dananjaya sampun luwaran anggenipun semadi, anjujug panggenanipun Prabu Kresna. Aturipun, "Boten wonten ingkang sisip pangandika dalem, tetes kaliyan wangsitipun Sang Hyang Jagatnata, boten sulaya sarambut."
Prabu Kresna mesem angandika, "Ayo, Adhi, enggal padha angater marang si Siti Sundari, kang arep mati bela."
Kacariyos Dewi Siti Sundari, sampun dandos angagem busananipun pejah, badhe ambelani ingkang raka, sadangunipun angimur Dewi Utari, ingkang kaliyu badhe tumut bela pejah. Sarehning rembulan sampun inggil, Dewi Siti Sundari kasesa, pangandikanipun dhateng Dewi Utari, "Kowe iku lagi meteng, ora kena ambelani bojomu. Sapa sing nyatur kowe angarani wedi bela, oraorane ana wong ngrasani. Kajaba saka ing iku, belane wong lagi meteng ora pakolih, malah anemu dosa, tetela yen kowe lagi meteng wolung sasi. Wis kariya, aku pamit bakal menyang pancaka pabelan."
Dewi. Utari amangsuli, pegat-pegat pangandikanipun, "Tutura menyang si Abimanyu, yen banget prihatinku, awit digendholi dening para ratu, ora kalilan melu mati, bela munggah ing pancaka, sabab werenganaku durung lair, ingaran nemu dukane dewa kang linuwih. Dene ciptaku, saking bangeting tresnaku,mung bisaa melu mati, muga-muga aja ngantiya lawas. Poma tuturna, yen banget ing pangesahku, mung angajap enggala runtung-runtunga ana ing Endraloka, karo si Abimanyu. Yagene teka sarenti, aku ora bisa ambarengi lakumu."
Sareng Dewi Utari sampun lipur, Dewi Siti Sundari lajeng lumampah badhe pamit dhateng rama ibunipun. Sanget andadosaken prihatosipun ingkang sami dipunpamiti, ngantos boten saged angandika. Sareng sampun, Dewi Siti Sundari lumampah dhateng peperangan, anggenaning layonipun ingkang raka, lajeng kabesmi sareng kaliyan Dewi Siti Sundari. Ingkang sami anjenengi pambesminipun sampun sami wangsul. Rembulan sampun andhap, {{hws|se|semunipun}}<noinclude>{{rh|||107}}</noinclude>
a3y7vpcf2b6i73hapemnvtj52mjpgi4
Kaca:Bratayuda.pdf/104
250
24867
78148
2026-05-16T08:25:34Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78148
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|munipun|semunipun}} kados asih dhateng ingkang seda bela.
'''5.SINDUREJA, INGGIH JAYADRATA PEJAH DENING ARJUNA
'''
Anunten byar rainten, arame swaraning kendhang, gong, beri. Gongipun Prabu Kresna ingkang nama Pancajannya katabuh angungkung, swaraning kados dumugi ing Suralaya. Para ratu ingkang sampun sami ngalempak sabalanipun, tiningalan kados saganten. Anunten barising Korawa medal, agengipun anglangkungi, kados upaminipun saganten pasang. Gelaripun taksih Cakrabyuha, kados ingkang sampun kalampahan. Amung ingkang wonten ing kiping sanes Sindureja. Wondening Sindureja boten tumut medal perang, dipunreksa dening para Korawa. Korawa sampun angrakit gelar Cakrabyuha, alanging baris sapaningal. Ujuripun sadasa paningal. Kandeling baris mantri pepilihan punapa dene prajurit ingkang kendel-kendel sarta sekti-sekti sapaningal. Anunten Pandhawa animbangi nata gelar Cakrabyuha. Drusthajumena ngenggeni kiping tengen, Wrekodara wonten ing kiping kiwa. Dananjaya wonten ing gulu, anitih rata kaliyan Prabu Kresna. Wondening rata punika kagunganipun Prabu Kresna, apangirid kapal sakawan. Ingkang ngajeng anama Ciptawelaha kaliyan Abrapuspa, ingkang wingking anama Sukantha kaliyan Senasekti.
Para dewa mireng ungelipun gangsa kang anama Pancajannya, sami aningali wonten ing ngawang-awang sarta anjawahaken wewangi. Menggah gangsa ingkang nama pun Dewadenta wonten ing wingking. Baris Pandhawa medal kapurunanipun, awit saking mireng ungelipun gangsa kekalih wau. Panerakipun kados danawa rebatan daging, gelaring Korawa dhadhal, boten kuwawi anadhahi pangamukipun barising Pandhawa.
Anunten rajaputra ing Mandaraka, anama Raden Burisrawa, majeng nitih rata, badhe males risaking gelaripun. Sesumbaripun, "Heh, Setyaki, ngendi enggonmu kowe, ayo padha ngadu kasekten ana ing kene."<noinclude>{{rh|108}}</noinclude>
o90l82lujzx8urhw3sowjdx38zlbett
78167
78148
2026-05-16T08:45:38Z
Elcamatcha
1466
78167
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|munipun|semunipun}} kados asih dhateng ingkang seda bela.
<ol type="1", start="5">
<li>'''SINDUREJA, INGGIH JAYADRATA PEJAH DENING ARJUNA'''</li>
</ol>
Anunten byar rainten, arame swaraning kendhang, gong, beri. Gongipun Prabu Kresna ingkang nama Pancajannya katabuh angungkung, swaraning kados dumugi ing Suralaya. Para ratu ingkang sampun sami ngalempak sabalanipun, tiningalan kados saganten. Anunten barising Korawa medal, agengipun anglangkungi, kados upaminipun saganten pasang. Gelaripun taksih Cakrabyuha, kados ingkang sampun kalampahan. Amung ingkang wonten ing kiping sanes Sindureja. Wondening Sindureja boten tumut medal perang, dipunreksa dening para Korawa. Korawa sampun angrakit gelar Cakrabyuha, alanging baris sapaningal. Ujuripun sadasa paningal. Kandeling baris mantri pepilihan punapa dene prajurit ingkang kendel-kendel sarta sekti-sekti sapaningal. Anunten Pandhawa animbangi nata gelar Cakrabyuha. Drusthajumena ngenggeni kiping tengen, Wrekodara wonten ing kiping kiwa. Dananjaya wonten ing gulu, anitih rata kaliyan Prabu Kresna. Wondening rata punika kagunganipun Prabu Kresna, apangirid kapal sakawan. Ingkang ngajeng anama Ciptawelaha kaliyan Abrapuspa, ingkang wingking anama Sukantha kaliyan Senasekti.
Para dewa mireng ungelipun gangsa kang anama Pancajannya, sami aningali wonten ing ngawang-awang sarta anjawahaken wewangi. Menggah gangsa ingkang nama pun Dewadenta wonten ing wingking. Baris Pandhawa medal kapurunanipun, awit saking mireng ungelipun gangsa kekalih wau. Panerakipun kados danawa rebatan daging, gelaring Korawa dhadhal, boten kuwawi anadhahi pangamukipun barising Pandhawa.
Anunten rajaputra ing Mandaraka, anama Raden Burisrawa, majeng nitih rata, badhe males risaking gelaripun. Sesumbaripun, "Heh, Setyaki, ngendi enggonmu kowe, ayo padha ngadu kasekten ana ing kene."<noinclude>{{rh|108}}</noinclude>
cpeou355v1otaqpjntq07h6w56zmfxv
Kaca:Bratayuda.pdf/78
250
24868
78149
2026-05-16T08:26:49Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78149
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>kasemekan kemawon, inggih pantes. Sabarang lelewanipun amantesi. Tanpa ganda tanpa sekar, suprandosipun arumipun angebeki kadhaton ing Ngastina.
Kala semanten srengenge angajengaken serap, arindhik lampahipun, kados dereng tuwuk anggenipun aneninga1i rerengganipun kadhaton ing Ngastina, emperipun kados anolih, kapencut aningali Retna Banowati, tuwin para estri ing kadhaton.
Kalanipun serap kados tiyang purik, awit para estri boten wonten ingkang nusul. Arame swaraning peksi ingkang sami ngupados papan patileman, ajrih manawi karumiyinan wedaling rembulan.
Saseraping srengenge kagentosan wedaling rembulan, lintang kados dipunsebar wonten ing langit. Cahyanipun amewahi wingiting rerenggan kadhaton ing Ngastina, sampun kados kayanganipun Bathara Endra. Swaraning peksi amor gabereging angin, anempuh sesekaran, amewahi rame sarta arumipun ing kadhaton . Rerengganing prabayasa ingkang warni mas saha sesotya, pating pancurat katerangan dening cahyaning rembulan.
Dalemipun Retna Banowati anglangkungi saking endah, karengga ing mas kaliyan sesotya. Sakilening dalem wonten patamananipun, mawi pancaksuji mas, kataretes ing jumeru'", pager banonipun sela cendhani, wonten balenipun mas. Palataranipun sinebaran jumerut saha mutyara tuwin sesotya sanesipun. Tangeh telasipun manawi kacariyosna sadaya kalangenanipun salebeting kadhaton. Ing mangke karingkes kemawon.
Kacariyos srengenge sampun malethek, arame swaraning para estri, ingkang sami ngundhuh sekar dhateng patamanan. Prabu Suyudana sampun busana, badhe amanggihi tamunipun, tedhak dhateng pandhapi.
Wondening palenggahanipun para ratu, utawi para pinisepuh sampun katata; Dhestharata, Bisma, Druna, Karpa, Drusasana, Adipati Ngawangga, ratu ing Mandaraka utawi para ratu sanesipun sami dhateng.
Prabu Suyudana adhedhawah dhateng Yuyutsuh saha {{hws|dha|dhahar}}<noinclude>{{rh|82}}</noinclude>
hjqjy8t8yb103u9tb5ygeda20xoueby
78150
78149
2026-05-16T08:27:03Z
Elcamatcha
1466
78150
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>kasemekan kemawon, inggih pantes. Sabarang lelewanipun amantesi. Tanpa ganda tanpa sekar, suprandosipun arumipun angebeki kadhaton ing Ngastina.
Kala semanten srengenge angajengaken serap, arindhik lampahipun, kados dereng tuwuk anggenipun aneninga1i rerengganipun kadhaton ing Ngastina, emperipun kados anolih, kapencut aningali Retna Banowati, tuwin para estri ing kadhaton.
Kalanipun serap kados tiyang purik, awit para estri boten wonten ingkang nusul. Arame swaraning peksi ingkang sami ngupados papan patileman, ajrih manawi karumiyinan wedaling rembulan.
Saseraping srengenge kagentosan wedaling rembulan, lintang kados dipunsebar wonten ing langit. Cahyanipun amewahi wingiting rerenggan kadhaton ing Ngastina, sampun kados kayanganipun Bathara Endra. Swaraning peksi amor gabereging angin, anempuh sesekaran, amewahi rame sarta arumipun ing kadhaton . Rerengganing prabayasa ingkang warni mas saha sesotya, pating pancurat katerangan dening cahyaning rembulan.
Dalemipun Retna Banowati anglangkungi saking endah, karengga ing mas kaliyan sesotya. Sakilening dalem wonten patamananipun, mawi pancaksuji mas, kataretes ing jumeru'", pager banonipun sela cendhani, wonten balenipun mas. Palataranipun sinebaran jumerut saha mutyara tuwin sesotya sanesipun. Tangeh telasipun manawi kacariyosna sadaya kalangenanipun salebeting kadhaton. Ing mangke karingkes kemawon.
Kacariyos srengenge sampun malethek, arame swaraning para estri, ingkang sami ngundhuh sekar dhateng patamanan. Prabu Suyudana sampun busana, badhe amanggihi tamunipun, tedhak dhateng pandhapi.
Wondening palenggahanipun para ratu, utawi para pinisepuh sampun katata; Dhestharata, Bisma, Druna, Karpa, Drusasana, Adipati Ngawangga, ratu ing Mandaraka utawi para ratu sanesipun sami dhateng.
Prabu Suyudana adhedhawah dhateng Yuyutsuh saha {{hws|dha|dhateng}}<noinclude>{{rh|82}}</noinclude>
498ogudil3yilrlwryku3oeb5tvwa90
Kaca:Bratayuda.pdf/79
250
24869
78151
2026-05-16T08:28:47Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78151
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|teng|dhateng}} Yamawidura, angaturi Prabu Kresna. Patih Arya Sangkuni akaliyan Adipati Ngawangga Kadhawahan methuk rawuhipun.
Yuyutsuh kaliyan Yamawidura sampun pinanggih kaliyan Prabu Kresna. Lajeng dipunaturi tedhak dhateng kadhaton. Prabu Kresna enggal busana, para prajuritipun sampun sami dandos. Titihanipun rata sampun sumaos. Anunten bidhal saking pasanggrahan. Wonten ing margi dipunpethuk dening Patih Arya Sangkuni akaliyan Kama, lajeng sami andherekaken tindakipun dhateng ing kadhaton. Sarawuhipun ing kadhaton, Prabu Kresna kaaturan pinarak. Anunten sakathahing ingkang wonten ing pasamuwan sami lenggah atata.
Prabu Kresna tumenga, anunten jawata sakawan tumedhak, anama: Kanekaputra, Janaka, Rama Parasu, Kanwa. Bisma akaliyan Druna munjuk dhateng Prabu Suyudana, bilih wonten jawata tedhak. Suyudana lajeng nyembah, dewa sakawan dipunaturi pinarak. Anunten sami tata pinarak nunggil para pinisepuh. Wondening para ratu nunggil kaliyan sesamining ratu, para satriya nunggil sami satriya. Adangu kendel ingkang sami pinarakan.
Anunten Prabu Kresna ngandika, "Paman Dhestharata, laku kula mriki niki mung nedya ngatutake sanak, empun nganti onten kang sulaya, prayoga padha rukuna, yen ngantiya padha kekerengan, abungah sing boten dhemen. Sabarang reh kula, putra andika yayi prabu ing Ngamarta sasentananipun anut mawon. Mungguh pagaweyan sing kula lakoni niki, wit saking karsane Yayi Prabu ing Ngamarta, anedya saparone nagari ing Ngastina."
Dhestharata amangsuli, "Sampun kasinggihan pangandikanipun anak prabu, sakalangkung prayoginipun."
Dewa sakawan anyambungi, "Luwih dening patut rehe Prabu Kresna, sakecap boten onten sing luput, olehe murih becik lan rakete asesanak."
Bisma, Druna angguyubi pangandikanipun dewa sakawan. Namung Prabu Suyudana anjetung, tumungkul. Boten angandika sakecap. Yamawidura kaliyan Yuyutsuh anyambungi, saha {{hws|mrayo|mrayogekaken}}<noinclude>{{rh|||83}}</noinclude>
fpyl8mx4k78irzsem1f6zgbgtnpn5fx
Kaca:Bratayuda.pdf/105
250
24870
78152
2026-05-16T08:29:53Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78152
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Setyaki majeng nitih rata, anudingi Raden Burisrawa. Wicantenipun, "Heh, Burisrawa, begja banget aku, dene kowe kang mapagake perangku. Aja kowe ngoncati!"
Sareng sampun sarni ajeng-ajengan, Raden Setyaki menthang langkap, anglepasaken jemparing, kenging ratanipun Raden Burisrawa remuk, dalasan kusir kapalipun sami pejah. Burisrawa malumpat, sanget nepsunipun, lajeng amenthang langkap anglepasaken jemparing kenging ratanipun Setyaki remuk. Setyaki malumpat, dados sami perang dharat kemawon. Sami ambucal langkap, anyandhak gada kalih-kalihipun. Lajeng rame agada-ginada. Sareng gada kekalih tugel sarni dipunbucal. Lajeng udreg dedel-dinedel, bucal-binucal. Sare}).ning Setyaki kawon ageng inggil, kangelan anggenipun andugang mengsahipun . Wusana dhawah kalumah, dipun idak-idak dhateng Burisrawa, ngantos meh pedhot napasipun. Sareng Setyaki badhe dipunsuduk, Prabu Kresna angandika dhumateng Dananjaya, "Enggal si Burisrawa panahen baune kang sisih, supaya uwala ole he anjambak si Setyaki."
Dananjaya lajeng anglepasaken jemparing, kenging baunipun Burisrawa tugel. Burisrawa kaget, aseru wicantenipun, "Heh, Pandhawa rusuh, tangkebmu cidra."
Raden Dananjaya amangsuli, "Pandhawa ora cidra, mung nimbangi lakuning Korawa, awit patine si Abimanyu biyen iya kena ing cidra."
Raden Setyaki sareng aningali Burisrawa tugel baunipun, lajeng nyandhak jemparing. Burisrawa dipun jemparing kenging gulunipun tugellajeng pejah.
Gumuruh surakipun bala Pandhawa. Korawa sareng aningali Burisrawa pejah, sami ngangseg sumedya amales ing pejahipun Raden Burisrawa. Pinten-pinten jemparing ingkang dipun lepasaken, ngantos kados jawah. Pangamukipun Raden Dananjaya angobrakabrik. Wrekodara, Drusthajumena, Gathotkaca, Nakula, Sadewa sabalanipun sami anarajang. Korawa kuwalahen sarni mundur, meh dumugi ing panggenanipun Sindureja. Wonten ing ngriku sarni kandheg plajengipun, amepeti margi ingkang dhateng {{hws|pangge|panggenan}}<noinclude>{{rh|||109}}</noinclude>
4tby52dfl44vi3co0dym1hehfrw5s8o
78153
78152
2026-05-16T08:30:10Z
Elcamatcha
1466
78153
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Setyaki majeng nitih rata, anudingi Raden Burisrawa. Wicantenipun, "Heh, Burisrawa, begja banget aku, dene kowe kang mapagake perangku. Aja kowe ngoncati!"
Sareng sampun sarni ajeng-ajengan, Raden Setyaki menthang langkap, anglepasaken jemparing, kenging ratanipun Raden Burisrawa remuk, dalasan kusir kapalipun sami pejah. Burisrawa malumpat, sanget nepsunipun, lajeng amenthang langkap anglepasaken jemparing kenging ratanipun Setyaki remuk. Setyaki malumpat, dados sami perang dharat kemawon. Sami ambucal langkap, anyandhak gada kalih-kalihipun. Lajeng rame agada-ginada. Sareng gada kekalih tugel sarni dipunbucal. Lajeng udreg dedel-dinedel, bucal-binucal. Sare}).ning Setyaki kawon ageng inggil, kangelan anggenipun andugang mengsahipun . Wusana dhawah kalumah, dipun idak-idak dhateng Burisrawa, ngantos meh pedhot napasipun. Sareng Setyaki badhe dipunsuduk, Prabu Kresna angandika dhumateng Dananjaya, "Enggal si Burisrawa panahen baune kang sisih, supaya uwala ole he anjambak si Setyaki."
Dananjaya lajeng anglepasaken jemparing, kenging baunipun Burisrawa tugel. Burisrawa kaget, aseru wicantenipun, "Heh, Pandhawa rusuh, tangkebmu cidra."
Raden Dananjaya amangsuli, "Pandhawa ora cidra, mung nimbangi lakuning Korawa, awit patine si Abimanyu biyen iya kena ing cidra."
Raden Setyaki sareng aningali Burisrawa tugel baunipun, lajeng nyandhak jemparing. Burisrawa dipun jemparing kenging gulunipun tugellajeng pejah.
Gumuruh surakipun bala Pandhawa. Korawa sareng aningali Burisrawa pejah, sami ngangseg sumedya amales ing pejahipun Raden Burisrawa. Pinten-pinten jemparing ingkang dipun lepasaken, ngantos kados jawah. Pangamukipun Raden Dananjaya angobrakabrik. Wrekodara, Drusthajumena, Gathotkaca, Nakula, Sadewa sabalanipun sami anarajang. Korawa kuwalahen sarni mundur, meh dumugi ing panggenanipun Sindureja. Wonten ing ngriku sarni kandheg plajengipun, amepeti margi ingkang dhateng {{hws|pangge|panggenanipun}}<noinclude>{{rh|||109}}</noinclude>
od98fa1mj7dr3dae9gnh0xdnngx03c7
Kaca:Bratayuda.pdf/106
250
24871
78154
2026-05-16T08:31:17Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78154
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|nanipun|panggenanipun}} Sindureja. Anglepasaken jemparing kathah, amurih mangsulaken ing pangamukipun Raden Dananjaya utawi Pandhawa ingkang sekti-sekti.
Wrekodara nyelehaken langkap, nyandhak gada anarajang. Pinten-pinten Korawa ingkang pejah sami anggelasah, amargi dipunamuk ing gada dhateng Raden Wrekodara. Gelar Cakrabyuha ngantos risak.
Pangamukipun Raden Dananjaya kaliyan jemparing, kethen ingkang andhawahi mengsah. Wondening panarajangipun Korawa saking kathahipun kados sulung, ambelasah ingkang pejah dening gada. Kathah para di'pati ingkang pejah, sarta ingkang remuk rata tuwin gajahipun, awit kaamuk dhumateng Raden Wrekodara. Tandangipun kados gajah sewu meta. Pundi ingkang dipunterak tumpes. Baris ingkang ngamping-ampingi panggenanipun Sindureja meh tipis, bala Pandhawa tansah angangseg anarajang, ngantos kangelan anggenipun rumeksa dhumateng Sindureja wau. Anunten Korawa sami amrayogekaken, Prabu Duryudana kondura ngungsi dhumateng kitha. Namung Bagawan Sempani ingkang boten angrembagi, taksiha wonten ing paprangan, kareksa dening baris. Bilih ngantos sesingidan, ciptanipun nistha, sarta boten anetepi kasatriyanipun. Bagawan Sempani anjungkung ing semadi, supados ingkang putra kang nama Raden Sindureja lepata ing pejah salebeting perang Bratayuda. Wondening pamujinipun, sageda anyipta warni satus, ingkang kados Raden Sindureja. Sampun ngantos kenging Sindureja ingkang sayektosipun. Kasupen yen ingkang momong ing Pandhawa Prabu Kresna, boten kenging kekilapan. Wontena warni satus ingkang Sindureja sulap, amesthi sumerep Sindureja ingkang sayektosipun. Sayektosipun Bathara Kresna boten kenging dipundorani.
Raden Dananjaya sayah anggenipun al?emejahi para bupati tuwin prajurit. Angantos telas saara-ara, ing wingking sangsaya ambrubul boten karaos kalonging prajurit, kang pejah akethen. Ingkang punika Sang Prabu Kresna maras ing galih, awit dening surya sampun gumiwang, Sindureja dereng kapanggih, kinubeng ing gegaman. Enggal srengenge tinutupan ing cakra, dipun {{hws|anggang|anggang<noinclude>{{rh|110}}</noinclude>
e13t7nx80a7n4ote3urk21pv2mcqf45
78155
78154
2026-05-16T08:31:31Z
Elcamatcha
1466
78155
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|nanipun|panggenanipun}} Sindureja. Anglepasaken jemparing kathah, amurih mangsulaken ing pangamukipun Raden Dananjaya utawi Pandhawa ingkang sekti-sekti.
Wrekodara nyelehaken langkap, nyandhak gada anarajang. Pinten-pinten Korawa ingkang pejah sami anggelasah, amargi dipunamuk ing gada dhateng Raden Wrekodara. Gelar Cakrabyuha ngantos risak.
Pangamukipun Raden Dananjaya kaliyan jemparing, kethen ingkang andhawahi mengsah. Wondening panarajangipun Korawa saking kathahipun kados sulung, ambelasah ingkang pejah dening gada. Kathah para di'pati ingkang pejah, sarta ingkang remuk rata tuwin gajahipun, awit kaamuk dhumateng Raden Wrekodara. Tandangipun kados gajah sewu meta. Pundi ingkang dipunterak tumpes. Baris ingkang ngamping-ampingi panggenanipun Sindureja meh tipis, bala Pandhawa tansah angangseg anarajang, ngantos kangelan anggenipun rumeksa dhumateng Sindureja wau. Anunten Korawa sami amrayogekaken, Prabu Duryudana kondura ngungsi dhumateng kitha. Namung Bagawan Sempani ingkang boten angrembagi, taksiha wonten ing paprangan, kareksa dening baris. Bilih ngantos sesingidan, ciptanipun nistha, sarta boten anetepi kasatriyanipun. Bagawan Sempani anjungkung ing semadi, supados ingkang putra kang nama Raden Sindureja lepata ing pejah salebeting perang Bratayuda. Wondening pamujinipun, sageda anyipta warni satus, ingkang kados Raden Sindureja. Sampun ngantos kenging Sindureja ingkang sayektosipun. Kasupen yen ingkang momong ing Pandhawa Prabu Kresna, boten kenging kekilapan. Wontena warni satus ingkang Sindureja sulap, amesthi sumerep Sindureja ingkang sayektosipun. Sayektosipun Bathara Kresna boten kenging dipundorani.
Raden Dananjaya sayah anggenipun al?emejahi para bupati tuwin prajurit. Angantos telas saara-ara, ing wingking sangsaya ambrubul boten karaos kalonging prajurit, kang pejah akethen. Ingkang punika Sang Prabu Kresna maras ing galih, awit dening surya sampun gumiwang, Sindureja dereng kapanggih, kinubeng ing gegaman. Enggal srengenge tinutupan ing cakra, dipun {{hws|anggang|anggang-anggang}}<noinclude>{{rh|110}}</noinclude>
34eiykv5d1s91d867ddxdwjl2xghq3w
Kaca:Bratayuda.pdf/107
250
24872
78156
2026-05-16T08:34:02Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78156
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|anggang|anggang-anggang}}, dados sulakipun sumirat jene. Lajeng dipun tetepaken cakranipun, peteng kados serap ing sayektosipun. Kang sarta Bathara Kresna apeparentah dhateng Pandhawa, kapurih akalempak kajeng. Sareng kajeng sampun ngalempak, lajeng kabesmi, andados latunipun.
Unduring perang Pandhawa sami ngumpul, sairib kados anjenengi obongipun Raden Dananjaya.
Sindureja lepat ing pejah bilih sampun kaserapan surya. Sampun kawartos yen Raden Dananjaya badhe obong. Koniwa sami bingah-bingah aningali, boten sumerep yen reka pagurtanipun Prabu Kresna. Srengenge dipuntutupi cakra. Sanget anggenipun sami suka-suka, asurak-surak gumerah, alokipun, "Yen Dananjaya mati, Pandhawa ilang pamuke. Sing kari prasasat cecindhil, mung kari anggetak bae. Wrekodara tandange perang kaku, ora julig kaya si Dananjaya."
Kala semanten Raden Sindureja tumut aningali, wedalipun saking gedhong ingkang kareksa ing baris, kados pratingkahing pandung. Prabu Kresna sumerep sasolahipun Raden Sindureja, angandika dhumateng Raden Dananjaya sarwi anedahaken,:'Kae si Sindureja teka, uculana panahmu si Pasopati dienggal, mbokmanawa kaselak weruh!"
Raden Dananjaya ngungak-ungak, matur dhumateng Prabu Kresna, "Panembahan, panggenanipun Sindureja wonten ing pundi?"
Prabu Kresna lajeng nyeneng langkapipun Raden Dananjaya sarta anedahaken, panggenanipun Sindureja, pangandikanipun, "Kae apa, mara panahen dienggal."
Raden Dananjaya jinjit, sampun sumerep dhateng Sindureja, lajeng dipunlepasi jemparing, ingkang nama Pasopati. Sindureja kenging gulunipun tugel, lajeng pejah. Anunten Prabu Kresna ngandika dhumateng Raden Dananjaya, "Endhase si Sindureja uncalna menyang enggone wong tuwane, isarat panahmu Sarutama."
Raden Dananjaya lajeng menthang langkap, anglepasaken<noinclude>{{rh|||111}}</noinclude>
dwuu51m8zyg0zf0qrihbqmewmjeuqlr
Kaca:Bratayuda.pdf/108
250
24873
78157
2026-05-16T08:35:01Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78157
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>jemparing pun Sarutama. Sirahipun, Raden Sindureja katut kabekta ing jemparing, dhawah ing ngarsanipun ingkang rama.
Bagawan Sempani pinuju saweg semadi, wondene ingkang dipun tetedha salebeting puji, ingkang putra unggula ing perangipun, sampun ngantos mengsah saged amejahi Sindureja ingkang sayektosipun, amunga ingkang sulap kemawon. Dene yen males ing mengsahipun ambilaenana, mengsaha sadasa utawi satus sarenga pejahipun. Anunten sirahing putra dhawah ing ngarsanipun, dipuncandhak dhumateng Bagawan Sempani, sebutipun akaliyan nangis, "Dhuh, Anakku mati, yagene kowe teka nganti mati ing perang Bratayuda? Delengen aku, lagi memuja anenedha unggule perangmu."
Saseraping srengenge, sakathahing baris sami mundur dhateng ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak. Praqu Duryudana muwun, pangandikanipun dhateng Druna, "Kadipundi karep andika, Paman, ing sapatine satriya loro, pun Burisrawa karo pun Sindureja, prasasat kaicalan bau tengen lan bau kiwa, napa kang digawe pepulih."
Anggenipun ngandika makaten punika kaliyan kasesegan, kang sarta angrerepa. Wondening ingkang panuju wonten ing ngajengan: Salya, Karna, Sengkuni, Karpa, Tumunten angandika malih, "Kadospundi pratingkah puniki, menggah karsane Paman Druna. kadospundi, sadulur kula kathah kang pejah: si Citradarma, Citrayuda, Upacitra, Carucitra, Jayasusena, Rakadm:jaya, Darmajati, Angsaangsa, Citraksi, ing sapunika sami pejah dening Wrekodara, kang sarta pangamuke Arjuna, anglangkungi ing prihatos kula, napa kang digawe pepulih?"
Druna awicanten seru, "Sapa amapagna perange Arjuna, saking gedhene sihe Hyang Bathara Guru? Sapa bisa anadhahi pangamuke Wrekodara, sapa kelar nyembadani perange Prabu ing Wiratha, lan sapa kelar andhahi pangamuke Prabu ing Cempala? Lah ana maneh, sapa bisa nulak pagunane Prabu Kresna? Wong gedhe kang limang iji iku, apa sing digawe nadhahi perange?"
Sang Prabu Duryudana lajeng angandika dhumateng Prabu<noinclude>{{rh|112}}</noinclude>
esxnnxggckbaca3bmdp6km9wv1rju5p
Kaca:Bratayuda.pdf/109
250
24874
78158
2026-05-16T08:36:38Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78158
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Ngawangga, "Heh, andika benjing-enjing kang mapagna perange pun Atjuna Ian Wrekodara, nanging anyuwuna parentahipun sang Pandhita Druna."
Aturipun Prabu Kama, "Inggih, benjing-enjing kula ingkang amethukaken perangipun."
Sakalangkung bingah Sang Pandhita Druna.
'''6. GATHOTKACA METHUKAKEN DIPATI<br>KARNA, TIWAS'''
Enjingipun tetengering perang mungel. Korawa ambrubul andalidir, saking ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak, kados banjiring saganten.
Sang Prabu Yudhisthira sampun medalaken bala, gelar taksih kados ingkang wau. Sareng majeng, kados tempuking saganten. Sareng gulet perang tanpa petangan. Sami bujeng-binujeng, dedeldinedel arebut ngangkah pejah, kuwel kang prajurit. Ramening swara boten kantenan, bala asilih ukih. Ingkang dhateng sangsaya kathah. Wrekodara, Dananjaya pengamukipun angorak-arik. Nglepasaken jemparing, wedalipun amradini. Wrekodara nglepasaken Bargawastra, Prabu Yudhisthira angrikataken gajahipun. Kalantur saking ramening perang, ngantos seraping srengenge dereng wonten bibar. Ngantos kados ampuhan amor dados satunggil. Riwut gulet wonten ingkang ngundang-ngundang, "Aku rewangmu." Saweneh ingkang wewartos namanipun, "Aku wong ing Cempala." Wonten ingkang angaken tiyang ing Wiratha, tiyang ing Dwarawati, weneh tiyang Ngastina utawi tiyang ing Sabrang, ambantu tiyang Ngastina, punapa dene tiyang ing Mandaraka tuwin ing Ngawangga pati, kathah ingkang mastani nagarinipun piyambak -piyambak.
Anunten para satriya utawi para mantri kang pepilihan, para ratu tuwin bupati ingkang anitih rata utawi gajah, oboripun sami dhateng, abra kados jawah latu, amewahi ambranang satengahing paprangan. Ubekan kapal gajah, sarta ingkang nitih rata wangsul<noinclude>{{rh|||113}}</noinclude>
aq8slwm3rrf1r0nwg8ebpvls3008f54
78168
78158
2026-05-16T08:46:16Z
Elcamatcha
1466
78168
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Ngawangga, "Heh, andika benjing-enjing kang mapagna perange pun Atjuna Ian Wrekodara, nanging anyuwuna parentahipun sang Pandhita Druna."
Aturipun Prabu Kama, "Inggih, benjing-enjing kula ingkang amethukaken perangipun."
Sakalangkung bingah Sang Pandhita Druna.
<ol type="1", start="6">
<li>'''GATHOTKACA METHUKAKEN DIPATI<br>KARNA, TIWAS'''</li>
</ol>
Enjingipun tetengering perang mungel. Korawa ambrubul andalidir, saking ing pasanggrahanipun piyambak-piyambak, kados banjiring saganten.
Sang Prabu Yudhisthira sampun medalaken bala, gelar taksih kados ingkang wau. Sareng majeng, kados tempuking saganten. Sareng gulet perang tanpa petangan. Sami bujeng-binujeng, dedeldinedel arebut ngangkah pejah, kuwel kang prajurit. Ramening swara boten kantenan, bala asilih ukih. Ingkang dhateng sangsaya kathah. Wrekodara, Dananjaya pengamukipun angorak-arik. Nglepasaken jemparing, wedalipun amradini. Wrekodara nglepasaken Bargawastra, Prabu Yudhisthira angrikataken gajahipun. Kalantur saking ramening perang, ngantos seraping srengenge dereng wonten bibar. Ngantos kados ampuhan amor dados satunggil. Riwut gulet wonten ingkang ngundang-ngundang, "Aku rewangmu." Saweneh ingkang wewartos namanipun, "Aku wong ing Cempala." Wonten ingkang angaken tiyang ing Wiratha, tiyang ing Dwarawati, weneh tiyang Ngastina utawi tiyang ing Sabrang, ambantu tiyang Ngastina, punapa dene tiyang ing Mandaraka tuwin ing Ngawangga pati, kathah ingkang mastani nagarinipun piyambak -piyambak.
Anunten para satriya utawi para mantri kang pepilihan, para ratu tuwin bupati ingkang anitih rata utawi gajah, oboripun sami dhateng, abra kados jawah latu, amewahi ambranang satengahing paprangan. Ubekan kapal gajah, sarta ingkang nitih rata wangsul<noinclude>{{rh|||113}}</noinclude>
hlvsqs77hsyppgysim6wbv7yi9x8p0x
Kaca:Bratayuda.pdf/110
250
24875
78159
2026-05-16T08:37:38Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78159
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>dhateng panggenanipun. Bala kados dipun pilihi, wangsul dhateng panggenanipun piyambak-piyambak.
Amiwiti perang malih, taksih pepak ingkang para ratu, punapa dene sawamining para ratu sesurunan. Majeng saking panggenanipun piyarnbak -pinyam bak. Pan em puhingperang, surak sakalangkung rame, Wrekodara pangamukipun anengah, amung milih ingkang para dipati, ingkang sami nitih gajah utawi rata, punika ingkang dipun trajang. Dipun gada kathah pejah pating sulayah. Punapa dene Raden Dananjaya, anglepasaken jemparing dibya.
Punggawanipun Prabu Kama ingkang sinakti, anama Druwajaya, majeng anitih rata, pilih kang kuwawi nadhahi perangipun. Punika angundha gada, kathah prajurit ingkang pejah dipun amuk Druwajaya wau. Lajeng dipun trajang dhumateng Wrekodara. Punika Druwajaya pejahipun. Anunten dhatenge pangamuke anegah Raden Setyaki, sanget nepsu perangipun, Kathah bupati ingkang pejah, punapa dene para raja ingkang dhadhal saking pangamukipun. Saking riwuting nepsunipun Raden Setyaki, ngantos adamel bingunging mengsah. Anunten Partipeya amethukaken perangipun. Lajeng menthang langkap anglepasaken jemparing, kenging jajanipun Setyaki boten pasah nanging kontal, katut kabekta ing jemparing, dhawah kanteb. Anunten putranipun Raden Setyaki, anama Raden Sanga-sanga enggal majeng, amethukaken pangamukipun Partipeya. Rame jemparing-jinemparing, boten wonten ingkang anedhasi. Lajeng ruket angaben karosan. Sami ing kasektenipun. Dumugi ing sakajeng-kajeng. Arame dipun suraki, kados tiyang angaben sawung, remen ingkang sami aningali, dene sami ing prawiranipun.
Anunten Raden Wrekodara dhateng, atetulung dhumateng Raden Sanga-sanga. Partipeya dipun lepasi jemparing, kenging jajanipun dhawah kanteb. Karaos sakit , sanget ing nepsunipun. Sumerep yen Raden Wrekodara ingkang anjemparing, lajeng males anjemparing. Wrekodara kenging baunipun kiwa, kaget lajeng anyelehaken Bargawastra, anyandhak gada majeng. Raden Partipeya dipun gada remuk sareng kaliyan ratanipun . Ing ngriku pejahipun Partipeya dening Raden Wrekodara.<noinclude>{{rh|114}}</noinclude>
ch8pc7kslvsd82jgxce10uvuvh4lyeb
Kaca:Bratayuda.pdf/116
250
24876
78160
2026-05-16T08:38:56Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78160
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Karpa amangsuli, "Heh, Aswatama, yen kowe ora weruh, bapakmu ing samengko wis mati, dikethok gulune marang Raden Drusthajumena."
Raden Aswatama sareng mireng ingkang rama pejah, sanget ing nepsunipun. Lajeng umangsah anglepasaken jemparing latu, agengipun saredi alit. Bala Pandhawa giris, mboten wonten nyipta gesang.
Raden Janaka dipun dhawahi dhateng Prabu Yudhisthira, kapurih amethukna perangipun Aswatama. Sang nata sarwi amuwuni gurunipun kang nama Druna wau.
Prabu Kresna lajeng parentah dhateng bala Pandhawa, andikakaken sami dharat sadaya, sabab jemparing latu wau mboten purun ambesmi tiyang ingkang dharat.
Anunten Wrekodara dipun ken methukaken latu dhateng Prabu Kresna, sarta numpaka rata, Wrekodara enggal majeng anitih rata.
Sareng Raden Janaka ningali yen ingkang raka badhe kabesmi, enggal anglepasaken jemparing, latu lajeng ical sami sakedhap. Raden Aswatama wau lajeng mundur, saha sanget ing lingsemipun, sumedya tapa malih, supados wewaha kasaktenipun.
Bala Korawa sarta Pandhawa kasaput ing dalu, lajeng sami mundur.
Prabu Suyudana ing dalu pirembagan kaliyan para ratu. Kentheling rembag, Prabu Kama ing Ngawangga ingkang kadadosaken senapati. Prahu Suyudana angebang badhe amasrahi ing Ngastina. Prabu Kama inggih sampun anyagahi, anumpes Pandhawa sami sadinten.
Kacariyos Prabu Kama wau sakalangkung wanter sarta sakti, abagus wamanipun, saha kagungan jemparing anama Wijayadanu. Punapa ing saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados.
Prabu Suyudana sakalangkung suka, amirengaken kasagahanipun Karna. Lajeng angganjar pangangge kang sae-sae dhateng Prabu Kama sabalanipun waradin. Nanging balanipun sadaya sami<noinclude>{{rh|120}}</noinclude>
5fjk1921kvylp0xz2tyfrw86qu1j3de
78400
78160
2026-05-16T10:32:05Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
78400
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Karpa amangsuli, "Heh, Aswatama, yen kowe ora weruh, bapakmu ing samengko wis mati, dikethok gulune marang Raden Drusthajumena."
Raden Aswatama sareng mireng ingkang rama pejah, sanget ing nepsunipun. Lajeng umangsah anglepasaken jemparing latu, agengipun saredi alit. Bala Pandhawa giris, mboten wonten nyipta gesang.
Raden Janaka dipun dhawahi dhateng Prabu Yudhisthira, kapurih amethukna perangipun Aswatama. Sang nata sarwi amuwuni gurunipun kang nama Druna wau.
Prabu Kresna lajeng parentah dhateng bala Pandhawa, andikakaken sami dharat sadaya, sabab jemparing latu wau mboten purun ambesmi tiyang ingkang dharat.
Anunten Wrekodara dipun ken methukaken latu dhateng Prabu Kresna, sarta numpaka rata, Wrekodara enggal majeng anitih rata.
Sareng Raden Janaka ningali yen ingkang raka badhe kabesmi, enggal anglepasaken jemparing, latu lajeng ical sami sakedhap. Raden Aswatama wau lajeng mundur, saha sanget ing lingsemipun, sumedya tapa malih, supados wewaha kasaktenipun.
Bala Korawa sarta Pandhawa kasaput ing dalu, lajeng sami mundur.
Prabu Suyudana ing dalu pirembagan kaliyan para ratu. Kentheling rembag, Prabu Kama ing Ngawangga ingkang kadadosaken senapati. Prahu Suyudana angebang badhe amasrahi ing Ngastina. Prabu Kama inggih sampun anyagahi, anumpes Pandhawa sami sadinten.
Kacariyos Prabu Kama wau sakalangkung wanter sarta sakti, abagus wamanipun, saha kagungan jemparing anama Wijayadanu. Punapa ing saciptanipun ingkang gadhah, Wijayadanu inggih dados.
Prabu Suyudana sakalangkung suka, amirengaken kasagahanipun Karna. Lajeng angganjar pangangge kang sae-sae dhateng Prabu Kama sabalanipun waradin. Nanging balanipun sadaya sami<noinclude>{{rh|120}}</noinclude>
mki35ij0odzbxaqw1652283d7o5a5fa
Kaca:Bratayuda.pdf/117
250
24877
78161
2026-05-16T08:40:32Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78161
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>susah. Tuwin garwanipun inggih sanget susah, amargi sampun kathah dalajatipun, amratandhani yen Prabu Kama badhe kasoran perangipun.
Kocap Pandhawa Prabu Dwarawati saha Yudhisthira tuwin Janaka, ing dalu sami tindak dhateng ing papan paprangan, angupadosi layonipun Druna tuwin Bisma. Sareng sampun kapanggih, lajeng sami kabesmi. Sasireping latu, wonten swara, asanjang yen Pandhawa badhe menang ing perangipun.
Prabu Kresna, Yudhisthira, sarta Janaka, lajeng sami kondur masanggrahan. Enjingipun lajeng sami anabuh tengaraning perang. Sareng sampun sami tata barisipun, lajeng sami amedali ing perang.
Ing sadinten punika Pandhawa kaliyan Korawa kathah ingkang pejah. Bibar kasaput ing dalu.
Ing dalu Prabu Suyudana sami pirembagan akaliyan para ratu: Salya, Kama, sami wonten ing ngarsa. Prabu Kama anyuwun kusir dhateng Prabu Suyudana. Wondening ingkang dipun suwun Prabu Salya ing Mandaraka, supados timbanga akaliyan kusiripun Raden Janaka. Aturipun Prabu Kama, yen Prabu Salya kaparingaken dados kusir, dipun kinten Pandhawa tumpes ing sadinten benjing-enjing dening jemparingipun ingkang nama Wijayadanu.
Prabu Salya sareng ni.idhanget aturipun Kama, sanget dukanipun. Prabu Suyudana enggal angrerepa, anyembah sarta anangis, amemelas aturipun dhateng ingkang marasepuh, kaaturan nuruti panyuwunipun Karna.
Prabu Salya dangu-dangu sareh dukanipun, welas aningali mantunipun, wusana anyagahi dados kusir.
Kocap Pandhawa sami pirembagan. Kresna ngandika dhateng Raden Janaka, "Ing sadina sesuk kowe kang dadia senapati, anganggoa gelar Ardacandra, sarta kowe dingati-ati. Yen kowe kurang pangati-ati, bakal dadi bilaine awakmu, karana si Karna luwih saktine."
Arjuna matur sandika.<noinclude>{{rh|121}}</noinclude>
9q3epeayn8l63tbv208b8mptuud4do2
78162
78161
2026-05-16T08:40:43Z
Elcamatcha
1466
78162
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>susah. Tuwin garwanipun inggih sanget susah, amargi sampun kathah dalajatipun, amratandhani yen Prabu Kama badhe kasoran perangipun.
Kocap Pandhawa Prabu Dwarawati saha Yudhisthira tuwin Janaka, ing dalu sami tindak dhateng ing papan paprangan, angupadosi layonipun Druna tuwin Bisma. Sareng sampun kapanggih, lajeng sami kabesmi. Sasireping latu, wonten swara, asanjang yen Pandhawa badhe menang ing perangipun.
Prabu Kresna, Yudhisthira, sarta Janaka, lajeng sami kondur masanggrahan. Enjingipun lajeng sami anabuh tengaraning perang. Sareng sampun sami tata barisipun, lajeng sami amedali ing perang.
Ing sadinten punika Pandhawa kaliyan Korawa kathah ingkang pejah. Bibar kasaput ing dalu.
Ing dalu Prabu Suyudana sami pirembagan akaliyan para ratu: Salya, Kama, sami wonten ing ngarsa. Prabu Kama anyuwun kusir dhateng Prabu Suyudana. Wondening ingkang dipun suwun Prabu Salya ing Mandaraka, supados timbanga akaliyan kusiripun Raden Janaka. Aturipun Prabu Kama, yen Prabu Salya kaparingaken dados kusir, dipun kinten Pandhawa tumpes ing sadinten benjing-enjing dening jemparingipun ingkang nama Wijayadanu.
Prabu Salya sareng midhanget aturipun Kama, sanget dukanipun. Prabu Suyudana enggal angrerepa, anyembah sarta anangis, amemelas aturipun dhateng ingkang marasepuh, kaaturan nuruti panyuwunipun Karna.
Prabu Salya dangu-dangu sareh dukanipun, welas aningali mantunipun, wusana anyagahi dados kusir.
Kocap Pandhawa sami pirembagan. Kresna ngandika dhateng Raden Janaka, "Ing sadina sesuk kowe kang dadia senapati, anganggoa gelar Ardacandra, sarta kowe dingati-ati. Yen kowe kurang pangati-ati, bakal dadi bilaine awakmu, karana si Karna luwih saktine."
Arjuna matur sandika.<noinclude>{{rh|121}}</noinclude>
6m4hxr9ptie9ql24b36pj10lxjr9or3
78402
78162
2026-05-16T10:33:44Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
78402
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>susah. Tuwin garwanipun inggih sanget susah, amargi sampun kathah dalajatipun, amratandhani yen Prabu Kama badhe kasoran perangipun.
Kocap Pandhawa Prabu Dwarawati saha Yudhisthira tuwin Janaka, ing dalu sami tindak dhateng ing papan paprangan, angupadosi layonipun Druna tuwin Bisma. Sareng sampun kapanggih, lajeng sami kabesmi. Sasireping latu, wonten swara, asanjang yen Pandhawa badhe menang ing perangipun.
Prabu Kresna, Yudhisthira, sarta Janaka, lajeng sami kondur masanggrahan. Enjingipun lajeng sami anabuh tengaraning perang. Sareng sampun sami tata barisipun, lajeng sami amedali ing perang.
Ing sadinten punika Pandhawa kaliyan Korawa kathah ingkang pejah. Bibar kasaput ing dalu.
Ing dalu Prabu Suyudana sami pirembagan akaliyan para ratu: Salya, Kama, sami wonten ing ngarsa. Prabu Kama anyuwun kusir dhateng Prabu Suyudana. Wondening ingkang dipun suwun Prabu Salya ing Mandaraka, supados timbanga akaliyan kusiripun Raden Janaka. Aturipun Prabu Kama, yen Prabu Salya kaparingaken dados kusir, dipun kinten Pandhawa tumpes ing sadinten benjing-enjing dening jemparingipun ingkang nama Wijayadanu.
Prabu Salya sareng midhanget aturipun Karna, sanget dukanipun. Prabu Suyudana enggal angrerepa, anyembah sarta anangis, amemelas aturipun dhateng ingkang marasepuh, kaaturan nuruti panyuwunipun Karna.
Prabu Salya dangu-dangu sareh dukanipun, welas aningali mantunipun, wusana anyagahi dados kusir.
Kocap Pandhawa sami pirembagan. Kresna ngandika dhateng Raden Janaka, "Ing sadina sesuk kowe kang dadia senapati, anganggoa gelar Ardacandra, sarta kowe dingati-ati. Yen kowe kurang pangati-ati, bakal dadi bilaine awakmu, karana si Karna luwih saktine."
Arjuna matur sandika.<noinclude>{{rh|121}}</noinclude>
bfvll0knvw6e23kvga6vz9mc2p73xl2
Kaca:Bratayuda.pdf/118
250
24878
78163
2026-05-16T08:42:25Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78163
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Enjingipun sami nabuh tengaraning perang. Para ratu akaliyan para dipati sami anata baris angrakit gelar.Ingkang sami.nitih rata tuwin gajah saha kapal sampun sami mirantos. Prabu Karna nitih rata, sarta aningali mengsahipun, ambelabar kados seganten. Prabu Karna sakalangkung suka saha matur dhateng kusiripun, "Rama Prabu, barisipun Pandhawa anglangkungi kathahipun. Ingkang wonten ing pinggir mboten katingal, nanging mangke sakedhap kemawon tumpes sadaya dening jemparing Wijayadanu."
Prabu Salya sareng mireng sanget ewa, sarta amajananii, wangsulanipun, "Heh, Karna, kiraku kowe ora bisa anumpes Pandhawa, kowe dak-upamakake iwak mentah, Pandhawa kang bakal angolah, ing sakarep-karepe iya dadi."
Karna sareng midhanget sanget ing wirangipun sarta nepsu, aken ngajengaken rata sarta menthang gandhewa. Korawa sareng aningali senapatinipun majeng, lajeng ambyuk mangsah ing perang. Pandhawa anadhahi. Ramening perang kados alun anempuh redi. Korawa wewah ing kakendelanipun amargi ningali senapatinipun sakalangkung kendel sarta sakti, dhasar bagus warninipun. Jemparingipun Karna ambarubul wedalipun saking gandhewa, ngebeki ing paprangan. Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, ratanipun Karna ngalojok anglancangi bala, kaidak purun, Korawa anuruti angrubut mengsah.
Bala Pandhawa bibrah tatanipun, giris aningali tandangipun Karna saha kawus kala pejahipun Gathutkaca dening Suryaputra. Bala Pandhawa lajeng larut. Raden Nakula, Yuyutsuh, Drusthajumena, ratanipun sami remuk, dipun jemparing dhateng Karna. Nunten sami lumajeng.
Prabu Yudhisthira, Arjuna, Wrekodara, enggal sami anulungi, methukaken pangamukipun Karna sarta sami nglepasi jemparing. Bala Korawa kathah ingkang pejah, kandheg ratanipun Karna, lajeng sami perang ijen-ijenan, ajemparing-jinemparing.
Prabu Suyudana dipun jemparing dhateng Wrekodara dhawah kalumah, nanging mboten pasah, lajeng andhelik wonten wingkingipun ing baris. Raden Wresasena, putranipun Prabu Karna, pejah<noinclude>{{rh|122}}</noinclude>
9fs9w36y6ek6na2yhv1xttikjgurv9r
78404
78163
2026-05-16T10:35:32Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
78404
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Enjingipun sami nabuh tengaraning perang. Para ratu akaliyan para dipati sami anata baris angrakit gelar.Ingkang sami nitih rata tuwin gajah saha kapal sampun sami mirantos. Prabu Karna nitih rata, sarta aningali mengsahipun, ambelabar kados seganten. Prabu Karna sakalangkung suka saha matur dhateng kusiripun, "Rama Prabu, barisipun Pandhawa anglangkungi kathahipun. Ingkang wonten ing pinggir mboten katingal, nanging mangke sakedhap kemawon tumpes sadaya dening jemparing Wijayadanu."
Prabu Salya sareng mireng sanget ewa, sarta amajananii, wangsulanipun, "Heh, Karna, kiraku kowe ora bisa anumpes Pandhawa, kowe dak-upamakake iwak mentah, Pandhawa kang bakal angolah, ing sakarep-karepe iya dadi."
Karna sareng midhanget sanget ing wirangipun sarta nepsu, aken ngajengaken rata sarta menthang gandhewa. Korawa sareng aningali senapatinipun majeng, lajeng ambyuk mangsah ing perang. Pandhawa anadhahi. Ramening perang kados alun anempuh redi. Korawa wewah ing kakendelanipun amargi ningali senapatinipun sakalangkung kendel sarta sakti, dhasar bagus warninipun. Jemparingipun Karna ambarubul wedalipun saking gandhewa, ngebeki ing paprangan. Bala Pandhawa kathah ingkang pejah, ratanipun Karna ngalojok anglancangi bala, kaidak purun, Korawa anuruti angrubut mengsah.
Bala Pandhawa bibrah tatanipun, giris aningali tandangipun Karna saha kawus kala pejahipun Gathutkaca dening Suryaputra. Bala Pandhawa lajeng larut. Raden Nakula, Yuyutsuh, Drusthajumena, ratanipun sami remuk, dipun jemparing dhateng Karna. Nunten sami lumajeng.
Prabu Yudhisthira, Arjuna, Wrekodara, enggal sami anulungi, methukaken pangamukipun Karna sarta sami nglepasi jemparing. Bala Korawa kathah ingkang pejah, kandheg ratanipun Karna, lajeng sami perang ijen-ijenan, ajemparing-jinemparing.
Prabu Suyudana dipun jemparing dhateng Wrekodara dhawah kalumah, nanging mboten pasah, lajeng andhelik wonten wingkingipun ing baris. Raden Wresasena, putranipun Prabu Karna, pejah<noinclude>{{rh|122}}</noinclude>
kavtpojxlkwmfu94s8lsq36xj66mgom
Kaca:Bratayuda.pdf/119
250
24879
78164
2026-05-16T08:44:10Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78164
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>dening Raden Setyaki, Prabu Suyudana kapanggih kaliyan Wrekodara, lajeng dipun jemparing dhateng Wrekodara, kenging kendhengipun pedhot, anunten lumajeng. Raden Dursasana, ingkang rayi Prabu Suyudana, enggal angalingi ingkang raka, ainethukaken Wrekodara, sarta nitih gajah, anglepasi jemparing anama Barla. Wrekodara kenging jajanipun, dhawah kabanting, nanging mboten pasah. Nunten tangi anyandhak gada sarta angesuk. Gajahipun Dursasana dipun gada sirahipun ajur. Dursasana enggal lumumpat dhateng siti. Nunten sami gada-ginada. Dursasana rumaos kuwalahan, badhe 1umajeng, lajeng dipun jambak rambutipun sarta kasendhal dhateng Wrekodara dhawah kalumah, rambutipun taksih kacepeng dhateng Wrekodara sarta dipun gadani.
Prabu Suyudana sasedherekipun nulungi, sami anjemparingi, nanging Wrekodara mboten ajrih. Prabu Yudhisthira sasentananipun lajeng sami amethukaken perangipun Prabu Suyudana, dados Raden Wrekodara wau dipun suraki kemawon saking katebihan.
Raden Wrekodara ing sakajeng-kajengipun, anggenipun badhe damel pangewan-ewan dhateng Dursasana, sarta wicanten seru anyeluk para dewa tuwin para ratu mengsah saha Pandhawa sadaya, "Heh, kabeh padha aneksenana, yen aku bakal angluwari kaule ipeku kangjeneng Dewi Drupadi, garwane Kakang Prabu Yudhisthira. Iku ora gelem gelungan ing salawase, yen durung keramas getihe si Dursasana. Ing mengko bakal kalakon."
Kacariyos, mila Dewi Drupadi gadhah kaul makaten, kala saderengipun perang Bratayuda, Prabu Yudhisthira sasedherekipun pinuju sami kesah tapa. Dewi Drupadi lajeng kaboyong dhateng nagari ing Ngastina. Wonten ing ngriku dipun pisakit saha kadamel sawenang-wenang dhateng Raden Dursasana.
Kacariyos Raden Wrekodara anggenipun darnel pangewanewan wau, wetengipun Dursasana kabedhel, rahipun dipun kokop. Barabeyanipun kaodhet-odhet, lajeng dipun awut-awut. Suku sarta tanganipun sinempal-sempal, lajeng dipun balang-balangaken. Sirahipun kaejur ing gada. Raden Wrekodara lajeng mundur dhateng ing pasanggrahan sumedya manggihi Dewi Drupadi, sarta {{hws|am|am<noinclude>{{rh|||123}}</noinclude>
pal8oq8ejwxco382tdyaruzndfu5t3i
78165
78164
2026-05-16T08:44:23Z
Elcamatcha
1466
78165
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>dening Raden Setyaki, Prabu Suyudana kapanggih kaliyan Wrekodara, lajeng dipun jemparing dhateng Wrekodara, kenging kendhengipun pedhot, anunten lumajeng. Raden Dursasana, ingkang rayi Prabu Suyudana, enggal angalingi ingkang raka, ainethukaken Wrekodara, sarta nitih gajah, anglepasi jemparing anama Barla. Wrekodara kenging jajanipun, dhawah kabanting, nanging mboten pasah. Nunten tangi anyandhak gada sarta angesuk. Gajahipun Dursasana dipun gada sirahipun ajur. Dursasana enggal lumumpat dhateng siti. Nunten sami gada-ginada. Dursasana rumaos kuwalahan, badhe 1umajeng, lajeng dipun jambak rambutipun sarta kasendhal dhateng Wrekodara dhawah kalumah, rambutipun taksih kacepeng dhateng Wrekodara sarta dipun gadani.
Prabu Suyudana sasedherekipun nulungi, sami anjemparingi, nanging Wrekodara mboten ajrih. Prabu Yudhisthira sasentananipun lajeng sami amethukaken perangipun Prabu Suyudana, dados Raden Wrekodara wau dipun suraki kemawon saking katebihan.
Raden Wrekodara ing sakajeng-kajengipun, anggenipun badhe damel pangewan-ewan dhateng Dursasana, sarta wicanten seru anyeluk para dewa tuwin para ratu mengsah saha Pandhawa sadaya, "Heh, kabeh padha aneksenana, yen aku bakal angluwari kaule ipeku kangjeneng Dewi Drupadi, garwane Kakang Prabu Yudhisthira. Iku ora gelem gelungan ing salawase, yen durung keramas getihe si Dursasana. Ing mengko bakal kalakon."
Kacariyos, mila Dewi Drupadi gadhah kaul makaten, kala saderengipun perang Bratayuda, Prabu Yudhisthira sasedherekipun pinuju sami kesah tapa. Dewi Drupadi lajeng kaboyong dhateng nagari ing Ngastina. Wonten ing ngriku dipun pisakit saha kadamel sawenang-wenang dhateng Raden Dursasana.
Kacariyos Raden Wrekodara anggenipun damel pangewanewan wau, wetengipun Dursasana kabedhel, rahipun dipun kokop. Barabeyanipun kaodhet-odhet, lajeng dipun awut-awut. Suku sarta tanganipun sinempal-sempal, lajeng dipun balang-balangaken. Sirahipun kaejur ing gada. Raden Wrekodara lajeng mundur dhateng ing pasanggrahan sumedya manggihi Dewi Drupadi, sarta {{hws|am|ambeksa}}<noinclude>{{rh|||123}}</noinclude>
mlxvbc0hfufglikkrnse4w947dm7ekk
Kaca:Bratayuda.pdf/121
250
24880
78169
2026-05-16T08:48:08Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78169
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>triya kekalih wau sami anggadhahi pangeman, yen pejaha ing salah satunggil, badhe mboten wonten ingkang dipun tingali.
Karna kaliyan Arjuna lajeng sami angaben kasekten. Ratanipun sami ubeng-ubengan, sami lepas-linepasan jemparing. Prabu Karna amenthang gandhewa sarta anginceng jemparingipun. Nunten kasaru wonten sawer dhateng ing ngarsanipun, cumalorot saking ngawang-awang, agengipun anglangkungi, saged wicanten kados tiyang, anama Ardawalika. Matur dhateng Prabu Karna: yen badhe amales ukum dhateng Arjuna.
Karna amangsuli, "Sakarepmu ing kana, enggonmu arep mateni si Janaka, aku ora anyenyambat marang kowe!"
Raden Janaka enggal anyandhak jemparing, lajeng kalepasaken. Sawer pun Ardawalika kenging lajeng pejah, gumebrug dhawah ing siti.
Prabu Karna anggenipun nginceng jemparing wau angangkah jangganipun Raden Janaka. Prabu Salya sumerep, yen pangincengipun Prabu Karna wau badhe ambilaeni dhateng Raden Dananjaya. Nunten tetalining kapal dipun tarik, ratanipun lajeng gonjing anyarengi uculing jemparing, dados ewah ing pangincengipun, kapara manginggil. Raden Janaka makuthanipun timpal kengingjemparing. Prabu Kresna enggal anulungi, angelus rema sarta angleresaken makuthanipun.
Karna sanget ing getunipun, dene Raden Janaka mboten kenging jangganipun, nanging mboten sumerep yen dipun pandamel dhateng kusiripun. Prabu Karna nunten nyandhak jemparingipun Wijayadanu, sarta kawawas. lngkang dipun angkah jangganipun Arjuna. Prabu Salya lajeng anggenjot ratanipun, anyarengi uculing jemparing. Raden Dananjaya kenging gelunganipun tatas.
Janaka sanget nepsunipun sarta lingsem, enggal males anjemparing. Kapal pangiriding ratanipun Karna tatas sukunipun sadaya. Raden Janaka amawas malih jemparing pun Pasopati. Prabu Karna inggih amawas pun Wijayadimu, sarta dipun mantrani. Nanging karumiyinan dhateng Raden Janaka. Prabu Karna tugel jangganipun, kenging ing jemparing Pasopati, gumebrug dhawah<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude>
4y0rj6kx9sqewq06hu5zt9xh5ue8gjn
78171
78169
2026-05-16T08:48:52Z
Elcamatcha
1466
78171
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|triya|satriya}} kekalih wau sami anggadhahi pangeman, yen pejaha ing salah satunggil, badhe mboten wonten ingkang dipun tingali.
Karna kaliyan Arjuna lajeng sami angaben kasekten. Ratanipun sami ubeng-ubengan, sami lepas-linepasan jemparing. Prabu Karna amenthang gandhewa sarta anginceng jemparingipun. Nunten kasaru wonten sawer dhateng ing ngarsanipun, cumalorot saking ngawang-awang, agengipun anglangkungi, saged wicanten kados tiyang, anama Ardawalika. Matur dhateng Prabu Karna: yen badhe amales ukum dhateng Arjuna.
Karna amangsuli, "Sakarepmu ing kana, enggonmu arep mateni si Janaka, aku ora anyenyambat marang kowe!"
Raden Janaka enggal anyandhak jemparing, lajeng kalepasaken. Sawer pun Ardawalika kenging lajeng pejah, gumebrug dhawah ing siti.
Prabu Karna anggenipun nginceng jemparing wau angangkah jangganipun Raden Janaka. Prabu Salya sumerep, yen pangincengipun Prabu Karna wau badhe ambilaeni dhateng Raden Dananjaya. Nunten tetalining kapal dipun tarik, ratanipun lajeng gonjing anyarengi uculing jemparing, dados ewah ing pangincengipun, kapara manginggil. Raden Janaka makuthanipun timpal kengingjemparing. Prabu Kresna enggal anulungi, angelus rema sarta angleresaken makuthanipun.
Karna sanget ing getunipun, dene Raden Janaka mboten kenging jangganipun, nanging mboten sumerep yen dipun pandamel dhateng kusiripun. Prabu Karna nunten nyandhak jemparingipun Wijayadanu, sarta kawawas. lngkang dipun angkah jangganipun Arjuna. Prabu Salya lajeng anggenjot ratanipun, anyarengi uculing jemparing. Raden Dananjaya kenging gelunganipun tatas.
Janaka sanget nepsunipun sarta lingsem, enggal males anjemparing. Kapal pangiriding ratanipun Karna tatas sukunipun sadaya. Raden Janaka amawas malih jemparing pun Pasopati. Prabu Karna inggih amawas pun Wijayadimu, sarta dipun mantrani. Nanging karumiyinan dhateng Raden Janaka. Prabu Karna tugel jangganipun, kenging ing jemparing Pasopati, gumebrug dhawah<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude>
bf7ytf8w4nwm840roqnnkohuh31ni83
78399
78171
2026-05-16T10:30:45Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
78399
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>{{hwe|triya|satriya}} kekalih wau sami anggadhahi pangeman, yen pejaha ing salah satunggil, badhe mboten wonten ingkang dipun tingali.
Karna kaliyan Arjuna lajeng sami angaben kasekten. Ratanipun sami ubeng-ubengan, sami lepas-linepasan jemparing. Prabu Karna amenthang gandhewa sarta anginceng jemparingipun. Nunten kasaru wonten sawer dhateng ing ngarsanipun, cumalorot saking ngawang-awang, agengipun anglangkungi, saged wicanten kados tiyang, anama Ardawalika. Matur dhateng Prabu Karna: yen badhe amales ukum dhateng Arjuna.
Karna amangsuli, "Sakarepmu ing kana, enggonmu arep mateni si Janaka, aku ora anyenyambat marang kowe!"
Raden Janaka enggal anyandhak jemparing, lajeng kalepasaken. Sawer pun Ardawalika kenging lajeng pejah, gumebrug dhawah ing siti.
Prabu Karna anggenipun nginceng jemparing wau angangkah jangganipun Raden Janaka. Prabu Salya sumerep, yen pangincengipun Prabu Karna wau badhe ambilaeni dhateng Raden Dananjaya. Nunten tetalining kapal dipun tarik, ratanipun lajeng gonjing anyarengi uculing jemparing, dados ewah ing pangincengipun, kapara manginggil. Raden Janaka makuthanipun timpal kengingjemparing. Prabu Kresna enggal anulungi, angelus rema sarta angleresaken makuthanipun.
Karna sanget ing getunipun, dene Raden Janaka mboten kenging jangganipun, nanging mboten sumerep yen dipun pandamel dhateng kusiripun. Prabu Karna nunten nyandhak jemparingipun Wijayadanu, sarta kawawas. lngkang dipun angkah jangganipun Arjuna. Prabu Salya lajeng anggenjot ratanipun, anyarengi uculing jemparing. Raden Dananjaya kenging gelunganipun tatas.
Janaka sanget nepsunipun sarta lingsem, enggal males anjemparing. Kapal pangiriding ratanipun Karna tatas sukunipun sadaya. Raden Janaka amawas malih jemparing pun Pasopati. Prabu Karna inggih amawas pun Wijayadimu, sarta dipun mantrani. Nanging karumiyinan dhateng Raden Janaka. Prabu Karna tugel jangganipun, kenging ing jemparing Pasopati, gumebrug dhawah<noinclude>{{rh|||125}}</noinclude>
0xh1kdwfcwbuzdgapxmh3cs1jvwgup5
Kaca:Bratayuda.pdf/122
250
24881
78172
2026-05-16T08:50:05Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78172
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>salebeting rata. Bala Pandhawa surak gurilerah. Korawa sami lumajeng. Nunten sami mundur amargi kasaput ing dalu.
Prabu Suyudana apirembagan kaliyan Patih Sangkuni, sarta Prabu Salya, tuwin ingkang rayi-rayi ingkang namung kantun kalihdasa, sadaya sampun sami pejah. Prabu Suyudana matur sarwi anangis dhateng Prabu Salya, dipun aturi dados senapati, angrebata nagari ing Ngastina. Wangsulanipun Salya mboten purun, sarta angrembagi amasrahna nagari Ngastina ingkang sapalih dhateng Pandhawa. Yen Pandhawa mboten narimah, Salya sagah anumpes.
Aturipun Prabu Suyudana mboten pareng, awit sampun kasep, sarta putra tuwin sadherekipun kathah ingkang sampun sami pejah. Adangu sami diya-diniya.
Anunten Raden Aswatama dhateng, lajeng wicanten seru, sarta amelehaken pratingkahipun Prabu Salya, kalanipun angusiri perangipun Kama.
Prabu Salya sanget dukanipun, lajeng badhe kerengan kaliyan Aswatama, nunten kapisah dhateng Suyudana. Raden Aswatama katundhung, lajeng kesah atapa dhateng ing wana.
Prabu Salya sareh ing dukanipun, wusana anyagahi dados senapati. Prabu Suyudana suka ing galihipun, lajeng angganjar busana kang sae-sae dhateng bala ing Mandaraka, sadaya waradin.
Sampun misuwur yen Prabu Salya dados senapati. Antawis kalih dinten kendelipun ing perang.
Pandhawa sampun sami mireng, yen Prabu Salya dados senapatining Korawa, lajeng sami bingung. Prabu Yudhisthira sasedherekipun sami nedya asrah pejah kemawon dhateng Prabu Salya, awit saking ajrihipun. Dhasar ratu sepuh saha kapernah sepuh, sarta sakalangkung sekti, mboten wonten purun anadhahana perangipun.
Prabu Kresna lajeng dhawah dhateng Raden Nakula, sarta Sadewa, kapurih sowana dhateng ingkang Uwa Prabu Salya, sarta kawulang pratingkahipun yen sampun dumugi ing ngarsanipun Prabu Salya.<noinclude>{{rh|126}}</noinclude>
7tdv3q3d5itbluj4c6j8ju79ssgewyp
Kaca:Bratayuda.pdf/123
250
24882
78173
2026-05-16T08:51:07Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78173
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Raden Nakula sarta Sadewa lajeng mangkat dhateng ing pasanggrahan Mandaraka, tanpa bala. Sareng dumugi ing ngriku, Prabu Salya kapanggih wonten ing sanggar pamujan. Raden Nakula Ian Sadewa lajeng angrungkebi sukunipun ingkang Uwa, sarta anangis. Aturipun, "Bilih Uwa Prabu saestu dados senapati, mhoten sande badan kula, saha sadherek kula sadaya, badhe tumpes dening sampeyan, tuwin para ratu Pandhawa sadaya inggih sami ajrih dhateng kasekten sampeyan. Aluwung kula pejaha ing sapunika kemawon." Raden Nakula saha Sadewa lajeng sami narik dhuwung, ajeng suduk sarira.
Prabu Salya enggal anyandhak dhuwungipun ingkang putra kalih pisan. Angrangkul sarta amuwun. Pangandikanipun, "Wis aja nangis, sanadyan aku wis katrucut saguh dadi senapati, ing batin banget tresnaku marang kowe, karana aku wis ora duwe anak lanang. Anakku si Burisrawa lan si Rukmarata wis padha mati ing perang Bratayuda, dadi ing mengko mung kowe kang wajib duwe negaraku ing Mandaraka. Dene wekasku, sesuk yen aku maju ing perang, kakangmu si Yudhisthira bae konen mapagake perangku, sarta jimate kang aran Kalimausada, iku konen manahake marang aku, amesthi ing kono patiku. Yen liya saka ing iku, gegaman liyane dakkira ora nana kang tumama ing awakku, lan nora nana kang bisa angalahake ajiku Candhabirawa; karana kalane ing biyen aku mateni maratuwaku aran Bagawan Bagaspati, iku nuli ana swara, ujaring swara, "Heh, Salya besuk ing Perang Bratayuda, yen ana ratu ambek pandhita, sarta duwe jimat Kalimausada, ing kono aku males marang kowe. Sarta aku ditinggali Aji Candhabirawa. Amung wekasku marang kowe, yen aku wis mati, nagara ing Mandaraka bae mangsa bodhoa kowe. Wis kowe nuli muliha!"
Raden Nakula saha Sadewa sangsaya sanget anggenipun muwun, lajeng pamit mantuk. Samargi-margi mboten kendel angusapi eluh. Sadhatengipun ing pasanggrahan, lajeng sowan ingkang Raka Prabu Yudhisthira, tuwin Prabu Kresna, Wrekodara, Janaka. Raden Nakula saha Sadewa lajeng matur ing sawewelingipun Prabu Salya.
Prabu Yudhisthira sakaliyan Arjuna sareng midhanget lajeng<noinclude>{{rh|||127}}</noinclude>
csmwlqodr6cq8amiybvo7z31gj0dvl8
Kaca:Bratayuda.pdf/124
250
24883
78174
2026-05-16T08:52:23Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78174
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>sami muwun, welas dhateng Prabu Satya.
Prabu Kresna akaliyan Wrekodara sami gumujeng, sarta anglirik dhateng Prabu Yudhisthira, sabab salaminipun gesang, Prabu Yudhisthira punika dereng nate duka, saha dereng nate anyakitaken manahing tiyang, mangka ing mangke badhe anglampahi mejahi Prabu Salya.
Kacariyos malih pasanggrahan ing Mandaraka, garwanipun Prabu Satya, anama Dewi Setyawati, anglangkungi ayunipun, sarta prakati, saged angladosi kakung, sarta pantes ing salelewanipun. Sampun patutan gangsal, ingkang jaler kekalih, anama Raden Burisrawa akaliyan Rukmarata, nanging sampun sami pejah ing Perang Bratayuda. Putranipun estri tiga, satunggil kagarwa dhateng Prabu Suyudana, satunggil kagarwa ing Prabu Karna, satunggilipun kagarwa ing Prabu Baladewa ing Mandura.
Ing sapengkeripun Raden Nakula sarta Sadewa, Dewi Setyawati sanget anggenipun muwun, anetah dhateng ingkang raka, dene ambelakakaken isarat ingkang badhe adamel ing sedanipun, mboten angowel sariranipun, sarta putra-putranipun estri, amilalah kapenakanipun. Dewi Setyawati badhe suduk sarira, Prabu Salya enggal anyandhak patremipun ingkang Rayi, sarta anyerepaken ingkang dados karsanipun. Lajeng dipun ngungrum, kabekta dhateng ing pasarean.
Sareng ing bangun enjing ingkang gatwa kapatos anggenipun sare, abantal astanipun ingkang raka, sarta paningsetipun dipun tindhihi ingkang sapalih. Prabu Satya alan andudut astanipun, paningsetipun lajeng katigas ing dhuwung. Nunten tumedhak lirih, ingkang garwa lajeng dipun apit ing guling, sarta payudaranipun kaseselan ing golek kancana, sarta kawicantenaken, "lbu, si Bapak lunga perang."
Prabu Salya lajeng tedhak ing jawi, aningali srengenge sampun malethek. Balanipun sampun pepak , nunten wangsul angrangkul sarta angarasi ingkang garwa. Pangandikanipun, "Nimas, karia sare, aku pamit perang." Anggenipun ngandika makaten punika sarwi amegeng waspa.<noinclude>{{rh|128}}</noinclude>
amo6k7vu994ko82hfjx8f4rias4cljt
Kaca:Bratayuda.pdf/126
250
24884
78175
2026-05-16T08:53:46Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78175
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Pandhawa surak gumerah, sarta ambyuk ambujeng mengsah. Korawa lumajeng ing sapurug-purug. Nanging kathah ingkang kacandhak pejah tuwin teluk. Patih Sangkuni kacandhak dhateng Raden Wrekodara, lajeng dipun sempal-sempal. Prabu Suyudana lajeng kondur dhateng pasanggrahanipun, sabala punggawa saha satriyanipun.
Wonten bupati ing Mandaraka satunggil sampun sepuh, kataton kalanipun andherek Prabu Salya amedali perang, punika apratela dhateng Dewi Setyawati, yen ingkang raka seda wonten ing paprangan.
Sareng dipun pratelani makaten, Dewi Setyawati lajeng kantu. Sasampuning enget, kekah ing karsa badhe ambelani ingkang raka, lajeng anitih :rata sarwi angasta patrem, kadherekaken ing parekan satunggil, anama Sugandini. Sumedya tindak dhumateng ing Kurusetra, angupadosi layonipun ingkang raka.
Sareng andungkap dumugi ing Kurusetra, ratanipun remuk, dados kapeksa tindak dharat angupadosi layoning raka. Dangudangu pinanggih, Dewi Setyawati enggal angunus patrem. Katamakaken ing jajanipun, lajeng seda. Parekan ingkang nama sugandini inggih suduk sarira, ambelani gustinipun.
Anunten para dewa saha para widadari sami angiring nyawanipun Prabu Salya, akaliyan nyawanipun Dewi Setyawati dhumateng ing Suralaya. Wonten ing ngriku sami pikantuk kanugrahaning swarga.
<ol type="1", start="9">
<li>'''SUYUDANA PERANG KALIYAN WREKODARA. PANDHAWA LUMEBET DHATENG NGASTINA'''</li>
</ol>
Kacariyos Prabu Suyudana, sabedhahipun nagari ing Ngastina, saking mirisipun asingidan wonten sungapaning saganten, angedhem ing toya. Ananging katitik pasingidanipun dening bala Pandhawa. Lajeng kapratelakaken dhumateng Prabu Yudhisthira, saha dhumateng Prabu Kresna. Anunten sami bidhal sabalanipun.<noinclude>{{rh|130}}</noinclude>
5gvsjglo70ia83df9oi4b4h593qtmf3
78398
78175
2026-05-16T10:29:24Z
Suga Widi
1719
/* Absah */
78398
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Suga Widi" /></noinclude>Pandhawa surak gumerah, sarta ambyuk ambujeng mengsah. Korawa lumajeng ing sapurug-purug. Nanging kathah ingkang kacandhak pejah tuwin teluk. Patih Sangkuni kacandhak dhateng Raden Wrekodara, lajeng dipun sempal-sempal. Prabu Suyudana lajeng kondur dhateng pasanggrahanipun, sabala punggawa saha satriyanipun.
Wonten bupati ing Mandaraka satunggil sampun sepuh, kataton kalanipun andherek Prabu Salya amedali perang, punika apratela dhateng Dewi Setyawati, yen ingkang raka seda wonten ing paprangan.
Sareng dipun pratelani makaten, Dewi Setyawati lajeng kantu. Sasampuning enget, kekah ing karsa badhe ambelani ingkang raka, lajeng anitih :rata sarwi angasta patrem, kadherekaken ing parekan satunggil, anama Sugandini. Sumedya tindak dhumateng ing Kurusetra, angupadosi layonipun ingkang raka.
Sareng andungkap dumugi ing Kurusetra, ratanipun remuk, dados kapeksa tindak dharat angupadosi layoning raka. Dangudangu pinanggih, Dewi Setyawati enggal angunus patrem. Katamakaken ing jajanipun, lajeng seda. Parekan ingkang nama sugandini inggih suduk sarira, ambelani gustinipun.
Anunten para dewa saha para widadari sami angiring nyawanipun Prabu Salya, akaliyan nyawanipun Dewi Setyawati dhumateng ing Suralaya. Wonten ing ngriku sami pikantuk kanugrahaning swarga.
<ol type="1", start="9">
<li>'''SUYUDANA PERANG KALIYAN WREKODARA. PANDHAWA LUMEBET DHATENG NGASTINA'''</li>
</ol>
Kacariyos Prabu Suyudana, sabedhahipun nagari ing Ngastina, saking mirisipun asingidan wonten sungapaning saganten, angedhem ing toya. Ananging katitik pasingidanipun dening bala Pandhawa. Lajeng kapratelakaken dhumateng Prabu Yudhisthira, saha dhumateng Prabu Kresna. Anunten sami bidhal sabalanipun.<noinclude>{{rh|130}}</noinclude>
483hwihqubvc40woe19g8g875hn53si
Kaca:Bratayuda.pdf/127
250
24885
78176
2026-05-16T08:55:05Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78176
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sadhatengipun wonten sungapaning saganten, bala Pandhawa sami sumerep ing solahipun Prabu Suyudana angedhem salebeting toya. Wrekodara anyumbari saking ing dharatan, sarta anguwusuwus, awit mboten prayogi yen ratu kawon perangipun lajeng singidan ajrih manawi pejah. Kapurih mentasa badhe kaajak perang tandhing.
Prabu Suyudana sareng mireng enggal mentas saking toya, reyab-reyab sarta kalebus, anjujug ing ngarsane Prabu Kresna. Prabu Kresna anantun, punapa purun kaaben perang tandhing kaliyan Wrekodara. Wangsulanipun Suyudana inggih purun. Prabu Kresna parentah dhateng balanipun, kinen anyukani busana karajan dhateng Prabu Suyudana, sarta dedamel gada.
Nunten kasaru rawuhipun Prabu Baladewa ing Mandura, saking tapa sangandhaping grojogan toya ageng. Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sasedherekipun enggal sami amethuk sarta ambagekaken. Sarta apratela, yen Prabu Baladewa mboten ameningi Perang Bratayuda, nanging badhe ameningi perang tandhingipun Wrekodara kaliyan Suyudana. Prabu Baladewa kaaturan ngidinana.
Wangsulanipun Prabu Baladewa: mila enggal kondur saking pratapan awit dipun sanjangi dhateng Sanghyang Narada, yen badhe mboten ameningi Perang Bratayuda. Dene ing mangke inggih sumedya angidini dhateng ingkang badhe sami prang tandhing.
Wondene Prabu Suyudana wau sareng aningali rawuhipun Prabu Baladewa, sakalangkung bingahing galihipun, cipta badhe wonten ingkang mitulungi ing sariranipun. Awit nagari Mandura punika kabawah ing nagari Ngastina, sarta Prabu Baladewa kadamel ratu andel-andeling perang.
Sasampuning Prabu Suyudana angagem busana karajan, sarta angasta gada ageng, lajeng wiwit prang tandhing kaliyan Wrekodara. Arjuna maras ing galih, bilih ingkang raka kasoran prangipun. Enggal matur pitaken dhateng Prabu Kresna : sinten kang badhe kasoran prangipun.
Prabu Kresna anyerepaken, sarta Arjuna kadhawahan angengetna dhateng Wrekodara, saking katebihan kemawon, yen {{hws|panga|panga}<noinclude>{{rh|||131}}</noinclude>
77ywmnbgd5spj2jsgx548ox6cmzoown
78177
78176
2026-05-16T08:55:19Z
Elcamatcha
1466
78177
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>Sadhatengipun wonten sungapaning saganten, bala Pandhawa sami sumerep ing solahipun Prabu Suyudana angedhem salebeting toya. Wrekodara anyumbari saking ing dharatan, sarta anguwusuwus, awit mboten prayogi yen ratu kawon perangipun lajeng singidan ajrih manawi pejah. Kapurih mentasa badhe kaajak perang tandhing.
Prabu Suyudana sareng mireng enggal mentas saking toya, reyab-reyab sarta kalebus, anjujug ing ngarsane Prabu Kresna. Prabu Kresna anantun, punapa purun kaaben perang tandhing kaliyan Wrekodara. Wangsulanipun Suyudana inggih purun. Prabu Kresna parentah dhateng balanipun, kinen anyukani busana karajan dhateng Prabu Suyudana, sarta dedamel gada.
Nunten kasaru rawuhipun Prabu Baladewa ing Mandura, saking tapa sangandhaping grojogan toya ageng. Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira sasedherekipun enggal sami amethuk sarta ambagekaken. Sarta apratela, yen Prabu Baladewa mboten ameningi Perang Bratayuda, nanging badhe ameningi perang tandhingipun Wrekodara kaliyan Suyudana. Prabu Baladewa kaaturan ngidinana.
Wangsulanipun Prabu Baladewa: mila enggal kondur saking pratapan awit dipun sanjangi dhateng Sanghyang Narada, yen badhe mboten ameningi Perang Bratayuda. Dene ing mangke inggih sumedya angidini dhateng ingkang badhe sami prang tandhing.
Wondene Prabu Suyudana wau sareng aningali rawuhipun Prabu Baladewa, sakalangkung bingahing galihipun, cipta badhe wonten ingkang mitulungi ing sariranipun. Awit nagari Mandura punika kabawah ing nagari Ngastina, sarta Prabu Baladewa kadamel ratu andel-andeling perang.
Sasampuning Prabu Suyudana angagem busana karajan, sarta angasta gada ageng, lajeng wiwit prang tandhing kaliyan Wrekodara. Arjuna maras ing galih, bilih ingkang raka kasoran prangipun. Enggal matur pitaken dhateng Prabu Kresna : sinten kang badhe kasoran prangipun.
Prabu Kresna anyerepaken, sarta Arjuna kadhawahan angengetna dhateng Wrekodara, saking katebihan kemawon, yen {{hws|panga|pangapesipun}}<noinclude>{{rh|||131}}</noinclude>
70bem2p8p81a4u88hcgf9nqfhqmrr85
Kaca:Bratayuda.pdf/128
250
24886
78178
2026-05-16T08:56:54Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78178
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{hwe|pesipun|pangapesipun}} Prabu Suyudana wonten pupunipun kang kiwa.
Arjuna enggal anyaketi ing sawetawis kang aprang tandhing. Arjuna angejepi sarwi anampel wentisipun kang kiwa. Wrekodara sakedhap aningali pamangsitipun ingkang rayi, sampun anampeni, enggal ngangseg prangipun sumedya ngruket. Suyudana kewedan, sumedya ngoncati amapan kang omber. Lajeng milar, sinarengan sinabet ing gada dhateng Wrekodara, kenging wentisipun kiwa.
Suyudana ambruk, lajeng pinupuh ing gada, jinambak sarta dhinupakan dhateng Wrekodara. Prabu Baladewa sanget murina ing galih, awit pamalanipun Wrekodara sawenang-wenang, mboten angangge caraning prang ratu. Enggal anyandhak nengga1a, kaayataken dhateng Wrekodara. Prabu Kresna sareng aningali, gugup ing galih, enggal anyandhak nanggalanipun Prabu Baladewa, sarwi matur ngrarapu, sampun ngantos andahweni ing solahipun Wrekodara. Mila amanggih pejah siya-siya makaten, awit Prabu Suyudana punika kenging ipat-ipating Bagawan Mentriya, kaliyan kenging panedhanipun Dewi Drupadi. Sabab Dewi Drupadi wau kala rumiyin siniyasiya, dados Wrekodara punika dremi amalesaken. Prabu Baladewa sampun lilih galihipun, lajeng kaaturan angrumiyinana lumebet dhateng nagari Ngastina. Prabu Baladewa inggih lajeng amiturut ing aturipun ingkang Rayi Prabu Kresna.
Sapengkeripun Prabu Baladewa, Wrekodara andumugekaken ing sakarsanipun nggening darnel sawenang-wenang dhateng Suyudana. Sareng Suyudana sampun remuk badanipun lajeng anyuwara mboten purun pejah yen dereng atapakan sirahing Pandhawa. Nanging swara wau mboten kapaelu dhateng Wrekodara.
Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira, Wrekodara sabalanipun nunten sami wangsul dhateng ing pasanggrahan. Jisimipun Suyudana katilar wonten ing ngriku. Kala samanten Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira dereng karsa lumebet dhateng nagari Ngastina. Saben ing wanci dalu sami mider-mider ing tilas papan paprangan, tuwin ing wana sarta ing redi.
Kacariyos wonten putranipun jaler Pandhita Druna satunggil,<noinclude>{{rh|132}}</noinclude>
ak92ky7r1okb206zxxsmky5o31bvj0s
Kaca:Bratayuda.pdf/129
250
24887
78179
2026-05-16T08:58:16Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78179
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>anama Aswatama; punika kalanipun taksih salebeting prang Bratayuda, apadudon kaliyan Prabu Salya, meh dados pancakara. Nanging Prabu Suyudana angleresaken Prabu Salya. Aswatama sakit manahipun, lajeng kesah tapa wonten satengahing wana. Bedhahipun nagari ing Ngastina Aswatama mboten sumerep.
Kala samanten Aswatama sanget kaget kadhatengan garwanipun Prabu Suyudana, sarta santana ing Ngastina kekalih, anama Karpa kaliyan Kartamarma. Sarni sanjang yen ing Ngastina sampun bedhah, Prabu Suyudana ical satengahing paprangan, mboten kantenan pejah gesangipun. Aswatama ngeres manahipun, awelas dhateng Prabu Suyudana, dptanipun badhe ambeiani ing kasusahan. Lajeng mangkat saking wana, alampah pandung, sumedya anyidra para pangagenging Pandhawa. Karpa, Kartamarma inggih tumut.
Sadum:uginipun ing pasanggrahan ing wanci dalu, Prabu Kresna pinuju kesah mider-mider. Prabu Yudhisthira saseduluripun gangsal inggih sami andherek.
Aswatama wau lajeng anjujug pasanggrahanipun Drusthajumena kaliyan Dewi Srikandhi. Kalih pisan sampun sami katigas jangganipun. Ing pasanggrahan geger sarta tangis gumerah. Aswatama lajeng ngamuk angagem jemparing latu, kathah angsalipun pepejah. Raden Pancawala, putranipun jaler Prabu Yudhisthira, tumunten wungu, amethukaken pangamukipun Aswatama, dangu sami alancaran jemparing. Pancawala kasoran, sampun pejah amargi dipun jemparing. Aswatama tuwin Karpa punapa dene Kartamarma, tumunten sami mundur dhateng ing wana malih.
Sareng wanci byar Prabu Kresna kaliyan Prabu Yudhisthira saseduluripun sarrii rawuh ing pasanggrahan. Kaget mireng swaraning tangis gumerah. Lajeng kapratelan, yen Pancawala kalih Drusthajumena, tiga Dewi Srikandhi, sami pejah, amargi dipun cidra dhateng Aswatama.
Prabu Yudhisthira saseduluripun lajeng sami muwun sarta sanget prihatos. Prabu Kresna tansah amituturi supados sampun ngantos sami sanget prihatos, awit ingkang sami pejah wau sampun<noinclude>{{rh|||133}}</noinclude>
ew708hwga9fpmax9aqp19xmddaawg1n
Kaca:Bratayuda.pdf/130
250
24888
78180
2026-05-16T08:59:57Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78180
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>kalebet ing pepesthenipun piyambak.
Anunten sami kaget ing rawuhipun Bagawan Abiyasa, ingkang Eyang Prabu Yudhisthira. mBoten wonten ingkang sumerep ing sangkanipun, awit Bagawan Abiyasa wau sampun gentur ing tapanipun, sampun prasasat dewa. Ingkang sami muwun lajeng sirep. Enggal sami ngabekti dhateng ingkang saweg rawuh.
Bagawan Abiyasa nunten amituturi dhateng para wayahipun kang sami prihatos, sami angicalna ing prihatosipun, awit tanpa damel yen kagaliha, sarta sampun kalebet ing pepesthenipun. Kaliyan sami kapurih angestokna sarta anglampahana sabarang parentahipun Prabu Kresna, amesthi badhe amanggih kamulyaning pejah. Balik ingkang mboten sami anglampahi, saestu badhe manggih sangsaraning pejah, sabab Prabu Kresna punika titisipun Bathara Wisnu, mila prayogi yen dipun enuta. Sanajan dewa ing Suralaya inggih ugi mboten wonten purun ambadali ing parentahipun Bathara Wisnu. Para wayah tuwin kang sami prihatos wau, ing sakala sami ical ing kaprihatosipun. Bagawan Abiyasa lajeng pamit, musna saking ing ngriku.
Anunten wonten bala kang amratelakaken ing panggenanipun Aswatama, wonten ing dhukuh satengahing wana; Karpa kaliyan Kartamarma inggih tumut wonten ing ngriku.
Prabu Kresna sarta Prabu Yudhisthira lajeng bidhalan sabalanipun, sumedya anglurugi Aswatama. Dhukuh pratapanipun Aswatama sampun kinepang sarta sinurakan. Aswatama, Karpa, Kartamarma sami medal amethukaken perang. Aswatama angayataken jemparing, anama Cundhamanik, wasiyat saking bapakipun kang nama Pandhita Druna. Sareng kawawas medallatu ageng. Prabu Kresna enggal ngatag dhateng Arjuna, anangkisa jemparing latu wau. Arjuna lajeng amawas jemparing Pasopati. Inggih medal latu ageng, atempuh sami latu. Saking agengjng latu urubipun sundhul ing Suralaya. Para dewa sami kagegeran.
Bathara Guru enggal angutus Sanghyang Narada, andhawahaken deduka dhateng kang perang, awit purun-purun amedalaken jemparing latu. Sanghyang Narada nunten tumurun. Ingkang<noinclude>{{rh|134}}</noinclude>
37sftytl5gwyhvelmqp5woj6pthxpj8
78380
78180
2026-05-16T10:09:26Z
Devi 4340
509
/* Absah */
78380
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Devi 4340" /></noinclude>kalebet ing pepesthenipun piyambak.
Anunten sami kaget ing rawuhipun Bagawan Abiyasa, ingkang Eyang Prabu Yudhisthira. mBoten wonten ingkang sumerep ing sangkanipun, awit Bagawan Abiyasa wau sampun gentur ing tapanipun, sampun prasasat dewa. Ingkang sami muwun lajeng sirep. Enggal sami ngabekti dhateng ingkang saweg rawuh.
Bagawan Abiyasa nunten amituturi dhateng para wayahipun kang sami prihatos, sami angicalna ing prihatosipun, awit tanpa damel yen kagaliha, sarta sampun kalebet ing pepesthenipun. Kaliyan sami kapurih angestokna sarta anglampahana sabarang parentahipun Prabu Kresna, amesthi badhe amanggih kamulyaning pejah. Balik ingkang mboten sami anglampahi, saestu badhe manggih sangsaraning pejah, sabab Prabu Kresna punika titisipun Bathara Wisnu, mila prayogi yen dipun enuta. Sanajan dewa ing Suralaya inggih ugi mboten wonten purun ambadali ing parentahipun Bathara Wisnu. Para wayah tuwin kang sami prihatos wau, ing sakala sami ical ing kaprihatosipun. Bagawan Abiyasa lajeng pamit, musna saking ing ngriku.
Anunten wonten bala kang amratelakaken ing panggenanipun Aswatama, wonten ing dhukuh satengahing wana; Karpa kaliyan Kartamarma inggih tumut wonten ing ngriku.
Prabu Kresna sarta Prabu Yudhisthira lajeng bidhalan sabalanipun, sumedya anglurugi Aswatama. Dhukuh pratapanipun Aswatama sampun kinepang sarta sinurakan. Aswatama, Karpa, Kartamarma sami medal amethukaken perang. Aswatama angayataken jemparing, anama Cundhamanik, wasiyat saking bapakipun kang nama Pandhita Druna. Sareng kawawas medal latu ageng. Prabu Kresna enggal ngatag dhateng Arjuna, anangkisa jemparing latu wau. Arjuna lajeng amawas jemparing Pasopati. Inggih medal latu ageng, atempuh sami latu. Saking agenging latu urubipun sundhul ing Suralaya. Para dewa sami kagegeran.
Bathara Guru enggal angutus Sanghyang Narada, andhawahaken deduka dhateng kang perang, awit purun-purun amedalaken jemparing latu. Sanghyang Narada nunten tumurun. Ingkang<noinclude>{{rh|134}}</noinclude>
nv8h3n4vw9wka5t508rnxk2y90foqj7
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/1
250
24889
78353
2026-05-16T09:49:12Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78353
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{x-larger|DJANGKA}}<br>{{xxx-larger|'''RANGGAWARSITAN'''}}}}
{{c|[[File:Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop).jpg|200px|Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop)]]}}
{{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT}}
{{c|"KULAWARGA BRATAKESAWA" JOGJAKARTA}}<noinclude></noinclude>
8375ctla9mdej05p933rs9lndmoc6hs
78354
78353
2026-05-16T09:49:28Z
Elcamatcha
1466
78354
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{x-larger|DJANGKA}}<br>{{xxx-larger|'''RANGGAWARSITAN'''}}}}
{{c|[[File:Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop).jpg|200px|Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop)]]}}
{{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT}}
{{c|'''"KULAWARGA BRATAKESAWA" JOGJAKARTA'''}}<noinclude></noinclude>
2fr3u6s4iogxgjmuz8zt4e5paegqckg
78355
78354
2026-05-16T09:49:43Z
Elcamatcha
1466
78355
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|{{x-larger|'''DJANGKA'''}}<br>{{xxx-larger|'''RANGGAWARSITAN'''}}}}
{{c|[[File:Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop).jpg|200px|Djangka Ranggawarsitan (page 1 crop)]]}}
{{c|'''I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT'''}}
{{c|'''"KULAWARGA BRATAKESAWA" JOGJAKARTA'''}}<noinclude></noinclude>
genci60uituv4z5voonz5s6kiishwwu
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/3
250
24890
78357
2026-05-16T09:55:01Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78357
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|DJANGKA<br>{{xx-larger|RANGGAWARSITAN}}}}<br>
{{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT'''}}
{{c|-----}}
{{c|Ingkang ngimpun lan njukani<br>tjéntangan<br>B.K.}}
{{c|============<br>Tjap2-an III - 1959<br>============}}
{{c|Penerbit<br>KULAWARGA BRATAKÉSAWA<br>Jogjakarta}}
{{c|_____}}}}<noinclude></noinclude>
4ynlrprdzgo3vid6jb5ms7e7ke5skpz
78358
78357
2026-05-16T09:55:28Z
Elcamatcha
1466
78358
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|DJANGKA<br>{{xx-larger|RANGGAWARSITAN}}}}<br>
{{c|I. DJAKA LODANG, II. KALA-TIDA, III. SABDA TAMA,<br>IV. SABDA DJATI, V. KALA - TIDA PININGIT,<br>VI. WEDA TAMA PININGIT'''}}
{{c|-----}}
{{c|Ingkang ngimpun lan njukani<br>tjéntangan<br>B.K.}}
{{c|-------------<br>Tjap2-an III - 1959<br>--------------}}
{{c|Penerbit<br>KULAWARGA BRATAKÉSAWA<br>Jogjakarta}}
{{c|_____}}<noinclude></noinclude>
2g6offz9qd4997xizhuvdigyjnhq0pp
Kaca:Djangka Ranggawarsitan.pdf/4
250
24891
78359
2026-05-16T09:58:48Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78359
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{c|Supaja paḏa émut<br>amawasa mbéndjang djroning taun<br>windu kuning kono ana wéwé putih<br>gagamané tebu wulung<br>arsa angrabasèng weḏon<br>("Sabda-Tama" pada 15)}}
{{r|Tjap2-an<br>I Djuli 1957<br>II Pebr. 1958<br>III Maret 1959}}<noinclude></noinclude>
7fgcvfb5f3lih6hibxl6x01a3dhwr2i
Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/6
250
24892
78375
2026-05-16T10:04:33Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78375
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>prana pranawa (pakerti), sahingga ing ngatasing kapitajan marang Kedjatèn mau wus ora bakal was sumelang manèh kanjatahané.
Mangka ija anané Pustaka Djamus Kalima Usada iku kang duk ing kuna kinarja kukum-kukuming Agama Budha, jaiku anané kukuming kahanan iki kang angesthi ing Kedjatèné, mengku ing teteping kahanan sedjati kang Suktji Mulya Wisésa, jaiku mangka kanjatahané awit anané asmaning Dat Kang Maha Suktji, Kang Maha Mulya ija Kang Maha Wisésà mau. Ora lija sun pepinta ing Déwa Luwih, muga-muga babaré wewarah iki dadija batuwah ing rèh kukum-kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonesia), sarta dadija wewengan marang sakèhing para Budhi kang padha mungkul ing Kedjatèné.
{{r|KI MARDIBUDHI}}
::Katiti rampunging tulis
Tinengeran ing Katonggopethik
(Madiun) 27 Nanda (Pasa) 1890
Senen Legi 27, wuku Djulung-
pudjud windu Senghara.
12 Masra Djita 1835.
6 April 1959.
{{c|_______}}<noinclude></noinclude>
ix6oxrsmflo0978k5hqzdhghtk6koz5
78376
78375
2026-05-16T10:04:54Z
Elcamatcha
1466
78376
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>prana pranawa (pakerti), sahingga ing ngatasing kapitajan marang Kedjatèn mau wus ora bakal was sumelang manèh kanjatahané.
Mangka ija anané Pustaka Djamus Kalima Usada iku kang duk ing kuna kinarja kukum-kukuming Agama Budha, jaiku anané kukuming kahanan iki kang angesthi ing Kedjatèné, mengku ing teteping kahanan sedjati kang Suktji Mulya Wisésa, jaiku mangka kanjatahané awit anané asmaning Dat Kang Maha Suktji, Kang Maha Mulya ija Kang Maha Wisésà mau. Ora lija sun pepinta ing Déwa Luwih, muga-muga babaré wewarah iki dadija batuwah ing rèh kukum-kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonesia), sarta dadija wewengan marang sakèhing para Budhi kang padha mungkul ing Kedjatèné.
{{r|KI MARDIBUDHI}}
:Katiti rampunging tulis
<poem>Tinengeran ing Katonggopethik
(Madiun) 27 Nanda (Pasa) 1890
Senen Legi 27, wuku Djulung-
pudjud windu Senghara.
12 Masra Djita 1835.
6 April 1959.</poem>
{{c|_______}}<noinclude></noinclude>
ksj7ixoyjpabk4pz94sxk6l0waw5v5j
Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/9
250
24893
78377
2026-05-16T10:06:57Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78377
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|Tjethanė manawa ngaurip kita iki padha ngaweruhi lan mituhu Sa-Dat sawidji ija Sa-Dat Tunggal kasebut mau, ija iku sedjatiné kang amengku srana utawa usadané pantjadrijaning urip kang anggajuh ing kamulyané. Awit tingaling pramana bandjur pranawa (padhang), ora kasamaran ing pangawikan kang mengaku ing kawaskithan lan kawitjaksanan kang animpuni.
|Mula anané kawruh-kawruh ing Sastra Hardjèndra kasebut ing nguni sinengker dadi kekeraning para Djiwata, ora kena kengis ing ngakèh. Ananging sawusé iku bandjur wus kawedhar klawan tumangkaré serat-serat Wédha, utawa Pustaka-Pustaka kinarja batuwah ing rèh kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonésia) wiwit ing djaman Kadéwatan sahingga turun-tumurun tumekané djaman Madjapahit kang wekasan (Madjapahit VIII) ija Sri Brawidjaja kang
kaping V.
|Ing mangko anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau bakal sun wedharaké ing babaré lan tumangkaré sawidji-widji klawan premati, dadija batuwah ing rèh kukuming Agama Budha, kang amengku wisésa ing sesantining panggajuh:,,MAHA-
JU RAHAJUNING BUDHI MIWAH BAWANA". Mangka sapaa kang tjidra ing laku asalah guna ing rèhing wewawarah-wewarah iki anemaha ing ila-ila déning wisésaning Agama Budha kang wus ginelar déning Hyang Sjiwah Budja (Sjiwa Budha) ing nguni ing purwa kala.}}
Hong mangartjana maswaha,<br>Sang Hyang Haju, Haju, Haju, Haju, su Rahaju.
{{r|Katandha déning kang anidhikara<br>ing pudya samadi:<br><br>
KI MARDIBUDHI}}
{{c|_____}}<noinclude></noinclude>
919dgwe59hrz0wum5qevb5hv1a8k3k4
78378
78377
2026-05-16T10:07:16Z
Elcamatcha
1466
78378
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=12
|Tjethanė manawa ngaurip kita iki padha ngaweruhi lan mituhu Sa-Dat sawidji ija Sa-Dat Tunggal kasebut mau, ija iku sedjatiné kang amengku srana utawa usadané pantjadrijaning urip kang anggajuh ing kamulyané. Awit tingaling pramana bandjur pranawa (padhang), ora kasamaran ing pangawikan kang mengaku ing kawaskithan lan kawitjaksanan kang animpuni.
|Mula anané kawruh-kawruh ing Sastra Hardjèndra kasebut ing nguni sinengker dadi kekeraning para Djiwata, ora kena kengis ing ngakèh. Ananging sawusé iku bandjur wus kawedhar klawan tumangkaré serat-serat Wédha, utawa Pustaka-Pustaka kinarja batuwah ing rèh kukuming Agama Budha ing Hindinuswa (Indonésia) wiwit ing djaman Kadéwatan sahingga turun-tumurun tumekané djaman Madjapahit kang wekasan (Madjapahit VIII) ija Sri Brawidjaja kang
kaping V.
|Ing mangko anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau bakal sun wedharaké ing babaré lan tumangkaré sawidji-widji klawan premati, dadija batuwah ing rèh kukuming Agama Budha, kang amengku wisésa ing sesantining panggajuh:,,MAHA-
JU RAHAJUNING BUDHI MIWAH BAWANA". Mangka sapaa kang tjidra ing laku asalah guna ing rèhing wewawarah-wewarah iki anemaha ing ila-ila déning wisésaning Agama Budha kang wus ginelar déning Hyang Sjiwah Budja (Sjiwa Budha) ing nguni ing purwa kala.}}
::Hong mangartjana maswaha,<br>Sang Hyang Haju, Haju, Haju, Haju, su Rahaju.
{{r|Katandha déning kang anidhikara<br>ing pudya samadi:<br><br>
KI MARDIBUDHI}}
{{c|_____}}<noinclude></noinclude>
afcwnmbctkmdmcm7ov2b0ygfzs6thwz
Kaca:Djamus Kalima Usada.pdf/8
250
24894
78379
2026-05-16T10:08:05Z
Elcamatcha
1466
/* Titiwaca */
78379
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|Djamus tegesé jaiku: ireng meles utawa ireng mulus.
|Kalima-Usada tegesé jaiku: srana utawa ija usada (lelima)
kang amrih mulyaning kauripanè manungsa limang praka-
ra kang kadrija (karasakaké ing djroning kalbu), jaiku ka-
uripaning pantjadrijané.
|Dadi mungguh arané usada utawa srananing urip limang
prakara mau, jaiku musthika utawa ija pustaka kang ireng
mulus, werdiné ateges peteng ananging katon padhang ne-
rawang ing paningaling prana pranawa, jaiku werdiné ana-
né kahanan ing kawruh kang samar utawa gaib. Lah, ija-
iku gaibing Kedjaten, utawa ijaiku kahanan sedjati djat-
ing gelar. Dadi tjethané bab kasebut iku, dudu ireng
utawa peteng kang tumrap sabarang wudjud kang katon
gelar kang njata, ananging jaiku wudjuding kahanan kang
amung bisa tinonton déning paningaling kawruh-kawruh le-
lungit baé.
|Lah jaiku werdiné kang diarani kawruh-kawruhing urip se-
djati, dumununging Sastra Dharja, Dharja tegesé Budhi,
karepé jaiku wudjuding tulis kang tanpa papan, ananging
anané amung kinantjing ing sadjroning budhi premati.
|Sabandjuré mungguh babaré lan tumangkaré anané kawruh-
kawruh Kedjatèn kang bakal kawedhar iki maturut-turut,
ambabaraké wewarah-wewarahing kawruh Kedjatening Sa-
Dat Tunggal kasebut mau kang mangka dadija rèh ing ku-
kuming urip bèrbudhi, mangka ijaiku sedjatinė Kalima Usa-
da kang mengku dadi usadaning pantjadrija ija pantjadri-
janing uripé manungsa iki kang sedjatiné. Mula ija mung-
guh anané kawruh-kawruh ing Kedjatèning Sa-Dat Tung-
gal kang mengku ing rèh kukuming urip bèrbudhi mau,
werdiné jaiku anané kukum lakuning urip kang anetepi ing
saha-Daté, utawa ija laku esthining urip ing pangèsthi Tung-
gal, anunggal Dating Pangéran Kang Maha Suktji,
|Anuli mungguh wewedharaning wewarah mangko, kasurasa
katjundhukaké klawan surasa-surasaning Pustaka Dharja,
surasa-surasaning Djita-Absara (Djitabsara), ing Sastra Har-
djèndra lan sapepadhané. Kasebut ing dalem Sastra Har-
djèndra ija anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau manawa
wus kinawruhan ing Kedjatèné, sajekti hajuningrat, tegesé
rahaju djagade. Unggahe diarani Sastra Tjetha, tegesé ka-
lepasane kawaskithan, satuhune hamardikengrat, jaiku mar-
dika dumunung ing pepidjèning djagad, awit wus ora ka-
samaran marang sangkan-paraning dumadi.<noinclude>{{rh|6}}</noinclude>
03k03wojy946z8dr01yg25qz926nrk1
78381
78379
2026-05-16T10:09:35Z
Elcamatcha
1466
78381
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Elcamatcha" /></noinclude>{{ordered list|list_style_type=decimal|start=6
|Djamus tegesé jaiku: ireng meles utawa ireng mulus. |Kalima-Usada tegesé jaiku: srana utawa ija usada (lelima) kang amrih mulyaning kauripanè manungsa limang prakara kang kadrija (karasakaké ing djroning kalbu), jaiku kauripaning pantjadrijané.
|Dadi mungguh arané usada utawa srananing urip limang prakara mau, jaiku musthika utawa ija pustaka kang ireng mulus, werdiné ateges peteng ananging katon padhang nerawang ing paningaling prana pranawa, jaiku werdiné anané kahanan ing kawruh kang samar utawa gaib. Lah, ijaiku gaibing Kedjaten, utawa ijaiku kahanan sedjati djating gelar. Dadi tjethané bab kasebut iku, dudu ireng utawa peteng kang tumrap sabarang wudjud kang katon gelar kang njata, ananging jaiku wudjuding kahanan kang amung bisa tinonton déning paningaling kawruh-kawruh lelungit baé.
|Lah jaiku werdiné kang diarani kawruh-kawruhing urip sedjati, dumununging Sastra Dharja, Dharja tegesé Budhi, karepé jaiku wudjuding tulis kang tanpa papan, ananging anané amung kinantjing ing sadjroning budhi premati.
|Sabandjuré mungguh babaré lan tumangkaré anané kawruh-kawruh Kedjatèn kang bakal kawedhar iki maturut-turut, ambabaraké wewarah-wewarahing kawruh Kedjatening Sa-Dat Tunggal kasebut mau kang mangka dadija rèh ing kukuming urip bèrbudhi, mangka ijaiku sedjatinė Kalima Usada kang mengku dadi usadaning pantjadrija ija pantjadrijaning uripé manungsa iki kang sedjatiné. Mula ija mungguh anané kawruh-kawruh ing Kedjatèning Sa-Dat Tunggal kang mengku ing rèh kukuming urip bèrbudhi mau, werdiné jaiku anané kukum lakuning urip kang anetepi ing saha-Daté, utawa ija laku esthining urip ing pangèsthi Tunggal, anunggal Dating Pangéran Kang Maha Suktji, |Anuli mungguh wewedharaning wewarah mangko, kasurasa katjundhukaké klawan surasa-surasaning Pustaka Dharja, surasa-surasaning Djita-Absara (Djitabsara), ing Sastra Hardjèndra lan sapepadhané. Kasebut ing dalem Sastra Hardjèndra ija anané kawruh-kawruh Kedjatèn mau manawa wus kinawruhan ing Kedjatèné, sajekti hajuningrat, tegesé rahaju djagade. Unggahe diarani Sastra Tjetha, tegesé kalepasane kawaskithan, satuhune hamardikengrat, jaiku mardika dumunung ing pepidjèning djagad, awit wus ora kasamaran marang sangkan-paraning dumadi.}}<noinclude>{{rh|6}}</noinclude>
bglwx1hj3dhnltg6qxzyg1s0w075rzs
Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ ꦧꦸꦧꦸꦏꦲꦒꦩꦶꦆꦱ꧀ꦭꦩ꧀꧈ ꦗꦶꦭꦶꦢ꧀ I.pdf/8
250
24895
78391
2026-05-16T10:18:55Z
Suga Widi
1719
proses titiwaca
78391
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Suga Widi" /></noinclude>PROSES UJI BACA<noinclude></noinclude>
op7f1qusjzha70kgexzsr0se3ovkcvy
Kaca:ꦏꦶꦠꦧ꧀ꦫꦶꦁꦏꦼꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦧꦧꦢ꧀ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦏꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦑ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀.pdf/5
250
24896
78392
2026-05-16T10:24:44Z
Devi 4340
509
/* Titiwaca */
78392
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br>
꧋ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br>
꧋ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude>
i3sew4vebr2dldk8m4kcim40nfwn8so
78394
78392
2026-05-16T10:25:19Z
Devi 4340
509
78394
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br>꧋ ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br>꧋ ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude>
du882bq1nble9pmd8jkujyewrovh9gx
78395
78394
2026-05-16T10:26:31Z
Devi 4340
509
78395
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦝꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br>꧋ ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br>꧋ ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude>
h2fw8dqusxap5jbgn860227kseq5o4i
78396
78395
2026-05-16T10:27:03Z
Devi 4340
509
Murungaké owahan [[Special:Diff/78395|78395]] déning [[Special:Contributions/Devi 4340|Devi 4340]] ([[User talk:Devi 4340|rembugan]])
78396
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Devi 4340" /></noinclude>{{jawa|tag=div|ꦏꦮꦶꦭꦸꦗꦼꦁꦔꦤ꧀ꦩꦶꦮꦃꦱꦶꦃꦏꦮꦼꦭꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦩꦸꦒꦶꦠꦼꦠꦼꦥ꧀ꦥꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦩꦲꦺꦴꦱ꧀<br>꧋ ꦲꦠꦱ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦄꦱ꧀ꦩꦓꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦩꦲꦩꦶꦫꦃꦠꦸꦂꦮꦼꦭꦱ꧀ꦲꦱꦶꦃ꧉ꦏꦮꦸꦭꦲꦔꦸꦚ꧀ꦗꦸꦏ꧀ꦲꦏꦼꦤ꧀ꦱꦏꦛꦃꦲꦶꦁꦥꦔꦊꦩ꧀ꦧꦤꦲꦶꦁꦔꦂꦱꦢꦊꦩ꧀ꦒꦸꦱ꧀ꦡꦶꦄꦭ꧀ꦭꦃꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦸꦮꦲꦺꦴꦱ꧀ꦲꦁꦒꦸꦭꦮꦼꦟ꧀ꦛꦃꦣꦠꦼꦁꦱꦢꦪꦔꦭꦩ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦩꦼꦮꦃꦲꦤꦫꦺꦴꦃꦩꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦱꦭꦩ꧀ꦝꦠꦼꦁꦑꦁꦗꦼꦁꦟꦨꦶꦩꦸꦏ꦳ꦩ꧀ꦩꦢ꧀ s. a. w. ꦭꦸꦩꦺꦧꦺꦂꦫꦣꦠꦼꦁꦥꦫꦱꦼꦤ꧀ꦠꦤ꧈ꦱꦏ꦳ꦧꦠ꧀ꦭꦤ꧀ꦥꦫꦩꦸꦏ꧀ꦩꦶꦤ꧀ꦱꦢꦪ꧉<br>꧋ ꦱꦲꦺꦱ꧀ꦠꦸꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦕꦫꦶꦪꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧꦺꦴꦁꦱꦧꦺꦴꦁꦱꦲꦶꦁꦏꦁꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦭꦤ꧀ꦲꦚꦸꦩꦼꦉꦥ꧀ꦥꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦤꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦭꦤ꧀ꦭꦭꦩ꧀ꦥꦃ}}<noinclude></noinclude>
du882bq1nble9pmd8jkujyewrovh9gx