Wikibasurek
minwikisource
https://min.wikisource.org/wiki/Palanta
MediaWiki 1.47.0-wmf.20
first-letter
Media
Istimewa
Rundiang
Pangguno
Rundiang Pangguno
Wikibasurek
Rundiang Wikibasurek
Berkas
Rundiang Berkas
MediaWiki
Rundiang MediaWiki
Templat
Rundiang Templat
Bantuan
Rundiang Bantuan
Kategori
Rundiang Kategori
Portal
Rundiang Portal
Halaman
Rundiang Halaman
Buku
Rundiang Buku
TimedText
TimedText talk
Modul
Rundiang Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/1
250
9248
30837
2026-09-21T09:09:07Z
Sathira15
56
/* Indak ado teks */
30837
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Sathira15" /></noinclude><noinclude></noinclude>
sr3ehb98h79ch9l1cmt07mbtrvupk6z
30838
30837
2026-09-21T09:09:26Z
Sathira15
56
/* alun diuji baco */
30838
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Sathira15" /></noinclude><noinclude></noinclude>
i6o8vb163lh5zw2wx1j3dlvt0qbh74j
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/4
250
9249
30839
2026-09-21T09:13:55Z
Sathira15
56
/* Uji baco */
30839
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude><big>KATA PENGANTAR<br>
KEPALA BALAI BAHASA<br>
PROVINSI SUMATERA BARAT
</big></br>
Alhamdulillah, penerjemahan cerita berbahasa daerah ke bahasa Indonesia ini dapat terwujud. Penerjemahan ini merupakan program prioritas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi, untuk menerjemahkan cerita berbahasa daerah ke bahasa Indonesia dalam rangka memperkaya bahan bacaan literasi bagi siswa. Tahun ini Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menerbitkan sebanyak 4 buku cerita terjemahan. Keempat buku tersebut terdiri atas 2 buku cerita terjemahan dari bahasa Minangkabau ke bahasa
Indonesia dan 2 buku cerita terjemahan dari bahasa Mentawai ke bahasa Indonesia.
Adapun keempat judul buku cerita tersebut, yaitu Siamang Putih dan Cerita Lainnya, Danau Kembar dan Cerita Lainnya, Kesaktian Gua Sipukpuk dan Cerita Lainnya, dan Burung Pipit dan Burung Rangga dan Cerita Lainnya. Buku-buku ini ditujukan untuk kalangan anak usia 10-12 tahun sebagai
bahan pengayaan literasi. Dalam buku-buku ini, selain menampilkan cerita yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, juga memuat cerita asli dalam bahasa Minangkabau dan Mentawai.
Di dalam buku Burung Pipit dan Burung Rangga dan Cerita Lainnya ini terdapat enam cerita, yaitu Asal Usul Selat Sikakap, Burung Pipit dan Burung Rangga, Permusuhan Bulan dan Matahari, Pohon Pogullu Tongkat si Tukku Dere, dan Pulau Siberut, Keong dan Burung Camar, serta Sibulu-bulu.<noinclude>{{rh||iii}}</noinclude>
ns9eox9k8s7wktipeb4u3yjh4z8jtfz
30840
30839
2026-09-21T09:14:37Z
Sathira15
56
30840
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude>{{C|<big>'''KATA PENGANTAR<br>
KEPALA BALAI BAHASA<br>
PROVINSI SUMATERA BARAT'''
</big></br>}}
Alhamdulillah, penerjemahan cerita berbahasa daerah ke bahasa Indonesia ini dapat terwujud. Penerjemahan ini merupakan program prioritas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi, untuk menerjemahkan cerita berbahasa daerah ke bahasa Indonesia dalam rangka memperkaya bahan bacaan literasi bagi siswa. Tahun ini Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menerbitkan sebanyak 4 buku cerita terjemahan. Keempat buku tersebut terdiri atas 2 buku cerita terjemahan dari bahasa Minangkabau ke bahasa
Indonesia dan 2 buku cerita terjemahan dari bahasa Mentawai ke bahasa Indonesia.
Adapun keempat judul buku cerita tersebut, yaitu Siamang Putih dan Cerita Lainnya, Danau Kembar dan Cerita Lainnya, Kesaktian Gua Sipukpuk dan Cerita Lainnya, dan Burung Pipit dan Burung Rangga dan Cerita Lainnya. Buku-buku ini ditujukan untuk kalangan anak usia 10-12 tahun sebagai
bahan pengayaan literasi. Dalam buku-buku ini, selain menampilkan cerita yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, juga memuat cerita asli dalam bahasa Minangkabau dan Mentawai.
Di dalam buku Burung Pipit dan Burung Rangga dan Cerita Lainnya ini terdapat enam cerita, yaitu Asal Usul Selat Sikakap, Burung Pipit dan Burung Rangga, Permusuhan Bulan dan Matahari, Pohon Pogullu Tongkat si Tukku Dere, dan Pulau Siberut, Keong dan Burung Camar, serta Sibulu-bulu.<noinclude>{{rh||iii}}</noinclude>
he6u24vf861l2um4c44r19bdbit854v
30841
30840
2026-09-21T09:15:02Z
Sathira15
56
30841
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude>{{C|<big>'''KATA PENGANTAR'''<br>
'''KEPALA BALAI BAHASA'''<br>
'''PROVINSI SUMATERA BARAT'''
</big></br>}}
Alhamdulillah, penerjemahan cerita berbahasa daerah ke bahasa Indonesia ini dapat terwujud. Penerjemahan ini merupakan program prioritas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekonologi, untuk menerjemahkan cerita berbahasa daerah ke bahasa Indonesia dalam rangka memperkaya bahan bacaan literasi bagi siswa. Tahun ini Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat menerbitkan sebanyak 4 buku cerita terjemahan. Keempat buku tersebut terdiri atas 2 buku cerita terjemahan dari bahasa Minangkabau ke bahasa
Indonesia dan 2 buku cerita terjemahan dari bahasa Mentawai ke bahasa Indonesia.
Adapun keempat judul buku cerita tersebut, yaitu Siamang Putih dan Cerita Lainnya, Danau Kembar dan Cerita Lainnya, Kesaktian Gua Sipukpuk dan Cerita Lainnya, dan Burung Pipit dan Burung Rangga dan Cerita Lainnya. Buku-buku ini ditujukan untuk kalangan anak usia 10-12 tahun sebagai
bahan pengayaan literasi. Dalam buku-buku ini, selain menampilkan cerita yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, juga memuat cerita asli dalam bahasa Minangkabau dan Mentawai.
Di dalam buku Burung Pipit dan Burung Rangga dan Cerita Lainnya ini terdapat enam cerita, yaitu Asal Usul Selat Sikakap, Burung Pipit dan Burung Rangga, Permusuhan Bulan dan Matahari, Pohon Pogullu Tongkat si Tukku Dere, dan Pulau Siberut, Keong dan Burung Camar, serta Sibulu-bulu.<noinclude>{{rh||iii}}</noinclude>
5mb8md64ohuvscp6vzt7aiqepvqlzp2
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/5
250
9250
30842
2026-09-21T09:17:27Z
Sathira15
56
/* Uji baco */
30842
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude>Cerita-cerita yang diterjemahkan tersebut adalah dokumentasi Yayasan Citra Mandiri (YCM). Cerita-cerita itu ditulis dalam bahasa Mentawai dan
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sehubungan dengan itu, kami mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Citra Mandiri, penerjemah, dan konsultan penerjemahan yang sudah bekerja keras sehingga buku ini hadir di tengah-tengah pembaca.
Mudah-mudahan buku ini dapat dibaca dan bermanfaat bagi kalangan siswa di seluruh Indonesia.
{{right|Padang, Agustus 2022
'''Dr.Eva Krisna'''}}<noinclude>{{rh||iv}}</noinclude>
264m6nen43ht53a2aquskv916sobo3m
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/8
250
9251
30843
2026-09-21T09:25:40Z
Sathira15
56
/* Uji baco */
30843
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude>{{c|<big>'''Asal Usul Selat Sikakap'''</big><}}
DAHULU kala Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan merupakan sebuah pulau saja. Waktu itu Selat Sikakap belum ada. Di sekitar Pulau Bakat Menuang sekarang, tumbuh sebatang pohon menuang besar. Puncaknya menjulang ke langit biru.
Di bawah pohon selalu gelap, karena cahaya matahari terhalang oleh rimbun daunnya. Dikisahkan bahwa di Muko-Muko, daerah pesisir Pulau Sumatera, pukul dua siang sudah gelap. Orang tidak dapat lagi menjemur apa saja. Hal itu karena sinar matahari telah condong ke barat. Sinarnya terhalang oleh puncak menuang.
Di atas pohon menuang bersaranglah seekor burung raksasa. Konon makanan burung itu manusia dan binatang yang besar-besar. Sekali makan saja burung itu dapat menghabiskan beberapa manusia atau binatang. Jika sudah kenyang, burung itu kembali ke sarangnya. Setelah makan kerjanya hanya tidur di sarang.
Kalau sudah terasa lapar maka pergilah ia berburu manusia atau binatang. Untung saja burung itu tidak berburu setiap hari. Jika setiap hari, betapa banyaknya manusia dan binatang yang menjadi korbannya.
Daerah yang paling sering dijadikan tempat berburu oleh burung raksasa itu adalah Muko-Muko. Sudah banyak korban manusia dan binatang di daerah itu. Banyak orang menjadi janda, duda, dan anak-anak jadi yatim-piatu. Yang dapat mereka lakukan hanya memperhatikan ke mana burung itu terbang membawa mangsanya. Ia membawa mangsanya ke arah barat.<noinclude>{{rh||1}}</noinclude>
54m3n9qroxzf2g64cnh3hsfco0m80rp
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/9
250
9252
30844
2026-09-21T09:32:54Z
Sathira15
56
/* Uji baco */
30844
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude>Dengan jelasnya arah terbang burung tersebut, timbullah keinginan orang kampung untuk menghancurkan sarang. Untuk maksud itu diadakanlah rapat mengatur strategi.
Semua cerdik pandai mengemukakan pendapatnya. Akhirnya diambillah keputusan. Mereka akan memberangkatkan puluhan orang untuk mencari di
mana sarang burung itu. Orang yang akan pergi dipilih yang kuat dan pemberani. Sebagian dari mereka mengajukan untuk membalas dendam kematian anggota
keluarganya.
Sebelum berangkat mereka menyiapkan bekal. Mereka juga menyediakan perahu-perahu berlayar besar. Saat berangkat orang-orang yang akan pergi bersalaman dan bertangisan karena akan berpisah dengan seluruh kerabat. Apalagi tempat yang akan mereka tuju belum jelas. Perjalanan mereka juga belum pasti berapa lama.
Selesai berpamitan mereka berangkat dengan beberapa perahu layar. Mereka menuju arah matahari terbenam yaitu barat. Jika malam tiba mereka dipandu oleh bintang-bintang di langit. Jika pagi datang, mereka pun memperhatikan jalannya matahari. Selama pelayaran sangat banyak penderitaan yang mereka alami.
Malam hari mereka kedinginan dan siang hari diterpa terik matahari. Kadang mereka kehujanan dan dihantam badai dan ombak besar. Laut seolah menjadi makhluk hidup yang ganas dan airnya berbuih-buih. Cukuplah
penderitaan yang mereka alami selama dalam pelayaran.
Suatu pagi mereka bangun. Di kejauhan terlihat sebatang pohon yang sangat tinggi dan besar. Mereka segera mengarahkan haluan ke pohon itu. Setelah dekat mereka menyaksikan di puncak pohon itu ada sarang burung. Sarang tersebut sangat besar.
Mereka bersorak kegirangan dan semangat yang hampir sirna timbul kembali. Akhirnya mereka mendarat dengan selamat di pulau yang belum mereka kenal itu. Di pulau tersebut para pendatang bertemu dengan penduduk asli pulau. Mereka adalah orang Mentawai. Karena kedua pihak tidak mengerti bahasa masing-masing akhirnya mereka menggunakan bahasa isyarat.
Pendatang tersebut mengatakan maksud kedatangan mereka. Penduduk asli mengatakan mereka pun sering diserang burung raksasa itu. Maka sepakatlah
mereka untuk bahu-membahu membinasakan burung tersebut. Kedua kelompok mengadakan musyawarah. Mereka juga meminta pendapat orang tua-tua kedua
pihak bagaimana cara membinasakan burung itu.
Mereka memang mendapatkan masalah. Jika dipanjat dengan menggunakan akar yang menjalar di pohon itu sangat sulit. Karena, bisa-bisa orang yang<noinclude>{{rh||2}}</noinclude>
25gfg1er25wy42krqv3plmwz6enhkfo
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/10
250
9253
30845
2026-09-21T09:45:34Z
Sathira15
56
/* Uji baco */
30845
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Sathira15" /></noinclude>memanjat diserang burung raksasa tersebut. Banyak pendapat yang muncul, namun ada satu pendapat yang terbaik.
Pendapat itu yakni menunggu dulu burung itu pulang berburu. Karena kekenyangan ia tentu akan segera tidur nyenyak. Nah, saat itulah pohon ditebang beramai-ramai dan direbahkan ke laut. Mudah-mudahan burung itu tidak terbangun sampai pohon itu tumbang dan tercebur ke laut. Musyawarah pun selesai dan orang-orang segera menyiapkan peralatan seperti kampak dan beliung.
Juga tidak lupa menyiapkan bekal makanan untuk semua orang yang bekerja. Semua ditanggung penduduk asli karena bekal para pendatang sudah habis. Mula-mula kedua kelompok itu membagi pekerjaan. Penduduk Mentawai mendapat tugas menebang pohon yang mengarah ke darat. Pendatang menebang bagian batang pohon yang mengarah ke laut.
Setelah burung itu kembali berburu, mereka mulai bekerja. Pekerjaan yang mereka lakukan cukup berat. Selain diameter pohon itu puluhan meter, alat perkakas mereka juga sangat sederhana.
Mereka bekerja dengan giat dari pagi hingga sore hari. Bekas tebangan sehari penuh itu jika dibandingkan dengan besarnya pohon belum ada apaapanya. Malam hari mereka tidur dengan nyenyak karena kelelahan. Ketika paginya mereka hendak bekerja lagi, mereka terkejut. Bekas tebangan hasil
kerja mereka seharian sudah bertaut kembali seperti semula.
Karena mereka bertekad untuk membinasakan burung itu, maka mereka mulai lagi bekerja. Beberapa hari mereka bekerja hasilnya setiap hari tetap sama. Pada malam hari pohon itu bertaut kembali. Mereka keletihan dan putus asa. Untunglah seorang dari mereka mendapat petunjuk dalam mimpi.
Dalam mimpi itu ia didatangi seorang tua. Orang tua itu memberi petunjuk. Jika pohon itu ditebang maka bekas tebangannya tidak boleh ditinggal begitu
saja. Bekas tebangan itu harus ditunggui pada malam hari. Seorang arah kelaut dan seorang lagi arah ke darat.Petunjuk mimpi itu mereka laksanakan.
Sejak itu bekas tebangan tidak lagi bertaut dan pekerjaan mereka berjalan dengan lancar. Karena pohon itu sangat besar, pekerjaan memakan waktu cukup lama.Suatu hari berderaklah pohon itu menandakan hendak tumbang. Suara yang keras mengejutkan burung raksasa Itu. Dengan kekuatan penuh ia terbang ke arah laut. Sebelum terbang kakinya menerjang pohon itu
hingga rebah ke arah darat.
Setelah pohon itu tumbang puncaknya sampai ke sebelah barat pulau itu. Karena beratnya pohon tersebut sebagian batangnya terbenam ke dalam tanah. Sejak kejadian itu si burung raksasa tak pernah kembali lagi. Apakah burung itu mati, tidak disebutkan dalam dongeng tersebut.<noinclude>{{rh||3}}</noinclude>
8ktawbp80cldf0fkd92c5wy6qe7ttu7