Wikibasurek
minwikisource
https://min.wikisource.org/wiki/Palanta
MediaWiki 1.47.0-wmf.20
first-letter
Media
Istimewa
Rundiang
Pangguno
Rundiang Pangguno
Wikibasurek
Rundiang Wikibasurek
Berkas
Rundiang Berkas
MediaWiki
Rundiang MediaWiki
Templat
Rundiang Templat
Bantuan
Rundiang Bantuan
Kategori
Rundiang Kategori
Portal
Rundiang Portal
Halaman
Rundiang Halaman
Buku
Rundiang Buku
TimedText
TimedText talk
Modul
Rundiang Modul
Acara
Pembicaraan Acara
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/8
250
9251
30915
30843
2026-09-22T21:23:36Z
Zhilal Darma
23
/* Divalidasi */
30915
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Zhilal Darma" /></noinclude>{{c|<big>'''Asal Usul Selat Sikakap'''</big>}}
DAHULU kala Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan merupakan sebuah pulau saja. Waktu itu Selat Sikakap belum ada. Di sekitar Pulau Bakat Menuang sekarang, tumbuh sebatang pohon menuang besar. Puncaknya menjulang ke langit biru.
Di bawah pohon selalu gelap, karena cahaya matahari terhalang oleh rimbun daunnya. Dikisahkan bahwa di Muko-Muko, daerah pesisir Pulau Sumatera, pukul dua siang sudah gelap. Orang tidak dapat lagi menjemur apa saja. Hal itu karena sinar matahari telah condong ke barat. Sinarnya terhalang oleh puncak menuang.
Di atas pohon menuang bersaranglah seekor burung raksasa. Konon makanan burung itu manusia dan binatang yang besar-besar. Sekali makan saja burung itu dapat menghabiskan beberapa manusia atau binatang. Jika sudah kenyang, burung itu kembali ke sarangnya. Setelah makan kerjanya hanya tidur di sarang.
Kalau sudah terasa lapar maka pergilah ia berburu manusia atau binatang. Untung saja burung itu tidak berburu setiap hari. Jika setiap hari, betapa banyaknya manusia dan binatang yang menjadi korbannya.
Daerah yang paling sering dijadikan tempat berburu oleh burung raksasa itu adalah Muko-Muko. Sudah banyak korban manusia dan binatang di daerah itu. Banyak orang menjadi janda, duda, dan anak-anak jadi yatim-piatu. Yang dapat mereka lakukan hanya memperhatikan ke mana burung itu terbang membawa mangsanya. Ia membawa mangsanya ke arah barat.<noinclude>{{rh||1}}</noinclude>
la9sqznpx738tet6ur7cuu91udjae4f
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/10
250
9253
30916
30845
2026-09-22T21:25:16Z
Zhilal Darma
23
/* Divalidasi */
30916
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="4" user="Zhilal Darma" /></noinclude>memanjat diserang burung raksasa tersebut. Banyak pendapat yang muncul, namun ada satu pendapat yang terbaik.
Pendapat itu yakni menunggu dulu burung itu pulang berburu. Karena kekenyangan ia tentu akan segera tidur nyenyak. Nah, saat itulah pohon ditebang beramai-ramai dan direbahkan ke laut. Mudah-mudahan burung itu tidak terbangun sampai pohon itu tumbang dan tercebur ke laut. Musyawarah pun selesai dan orang-orang segera menyiapkan peralatan seperti kampak dan beliung.
Juga tidak lupa menyiapkan bekal makanan untuk semua orang yang bekerja. Semua ditanggung penduduk asli karena bekal para pendatang sudah habis. Mula-mula kedua kelompok itu membagi pekerjaan. Penduduk Mentawai mendapat tugas menebang pohon yang mengarah ke darat. Pendatang menebang bagian batang pohon yang mengarah ke laut.
Setelah burung itu kembali berburu, mereka mulai bekerja. Pekerjaan yang mereka lakukan cukup berat. Selain diameter pohon itu puluhan meter, alat perkakas mereka juga sangat sederhana.
Mereka bekerja dengan giat dari pagi hingga sore hari. Bekas tebangan sehari penuh itu jika dibandingkan dengan besarnya pohon belum ada apaapanya. Malam hari mereka tidur dengan nyenyak karena kelelahan. Ketika paginya mereka hendak bekerja lagi, mereka terkejut. Bekas tebangan hasil
kerja mereka seharian sudah bertaut kembali seperti semula.
Karena mereka bertekad untuk membinasakan burung itu, maka mereka mulai lagi bekerja. Beberapa hari mereka bekerja hasilnya setiap hari tetap sama. Pada malam hari pohon itu bertaut kembali. Mereka keletihan dan putus asa. Untunglah seorang dari mereka mendapat petunjuk dalam mimpi.
Dalam mimpi itu ia didatangi seorang tua. Orang tua itu memberi petunjuk. Jika pohon itu ditebang maka bekas tebangannya tidak boleh ditinggal begitu
saja. Bekas tebangan itu harus ditunggui pada malam hari. Seorang arah kelaut dan seorang lagi arah ke darat.Petunjuk mimpi itu mereka laksanakan.
Sejak itu bekas tebangan tidak lagi bertaut dan pekerjaan mereka berjalan dengan lancar. Karena pohon itu sangat besar, pekerjaan memakan waktu cukup lama.Suatu hari berderaklah pohon itu menandakan hendak tumbang. Suara yang keras mengejutkan burung raksasa Itu. Dengan kekuatan penuh ia terbang ke arah laut. Sebelum terbang kakinya menerjang pohon itu
hingga rebah ke arah darat.
Setelah pohon itu tumbang puncaknya sampai ke sebelah barat pulau itu. Karena beratnya pohon tersebut sebagian batangnya terbenam ke dalam tanah. Sejak kejadian itu si burung raksasa tak pernah kembali lagi. Apakah burung itu mati, tidak disebutkan dalam dongeng tersebut.<noinclude>{{rh||3}}</noinclude>
6losscp6e0rfo15hy7wdm8wy22oti8k
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/11
250
9268
30917
2026-09-23T09:27:58Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30917
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude>Lama kelamaan pohon menuang itu lapuk dimakan zaman. Setiap hari diterpa hujan dan panas, akhirnya pohon itu musnah sama sekali. Air laut mengalir dari pantai timur ke pantai barat jika pasang sedang surut dan sebaliknya. Pulau yang sebelumnya hanya satu menjadi dua bagian. Itulah Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Sedangkan laut sempit yang memisahkan kedua pulau menjadi selat. Itulah Selat Sikakap yang kita kenal sekarang.
Jika kita datang dari Padang menuju Sikakap, sebelum memasuki Selat Sikakap, di mulut selat ada sebuah pulau. Konon, itulah tunggul dari pohon menuang yang besar itu. Di pulau itu sekarang banyak kebun cengkeh penduduk. Sedangkan di puncak pulau itu telah didirikan mercusuar untuk pemandu kapal-kapal yang keluar-masuk Sikakap pada malam hari. Pada hari-hari libur pulau itu ramai dikunjungi orang untuk rekreasi. Itulah Pulau Bakat Menuang yang kita kenal sekarang.
Di bagian barat, bekas-bekas dahan pohon Menuang telah membentuk selat-selat kecil dan beberapa pulau kecil. Di antaranya Pulau Bakat Peigu, Pulau Ragi, Pulau Saruso, Pulau Siopa Besar, Pulau Siopa Kecil, dan sebagainya. Pulau-pulau itu ada yang ditanami kelapa dan cengkeh. Ada pula yang hanya ditumbuhi pohon bakau.
Pulau-pulau itu banyak dikunjungi anak sekolah ketika sedang libur. Begitulah kisah terjadinya Selat Sikakap, Pulau Bakat Menuang, dan selat-selat serta pulau-pulau kecil di bagian barat Pulau Sikakap.***
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|4}}<noinclude></noinclude>
ay3n2z19ldqfwap7v96u6xq1l6yvk6f
30918
30917
2026-09-23T09:31:29Z
Naila Fathinah
323
30918
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude> Lama kelamaan pohon menuang itu lapuk dimakan zaman. Setiap hari diterpa hujan dan panas, akhirnya pohon itu musnah sama sekali. Air laut mengalir dari pantai timur ke pantai barat jika pasang sedang surut dan sebaliknya. Pulau yang sebelumnya hanya satu menjadi dua bagian. Itulah Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Sedangkan laut sempit yang memisahkan kedua pulau menjadi selat. Itulah Selat Sikakap yang kita kenal sekarang.
Jika kita datang dari Padang menuju Sikakap, sebelum memasuki Selat Sikakap, di mulut selat ada sebuah pulau. Konon, itulah tunggul dari pohon menuang yang besar itu. Di pulau itu sekarang banyak kebun cengkeh penduduk.
Sedangkan di puncak pulau itu telah didirikan mercusuar untuk pemandu kapal-kapal yang keluar-masuk Sikakap pada malam hari. Pada hari-hari libur pulau itu ramai dikunjungi orang untuk rekreasi. Itulah Pulau Bakat Menuang yang kita kenal sekarang.
Di bagian barat, bekas-bekas dahan pohon Menuang telah membentuk selat-selat kecil dan beberapa pulau kecil. Di antaranya Pulau Bakat Peigu, Pulau Ragi, Pulau Saruso, Pulau Siopa Besar, Pulau Siopa Kecil, dan sebagainya. Pulau-pulau itu ada yang ditanami kelapa dan cengkeh. Ada pula yang hanya ditumbuhi pohon bakau.
Pulau-pulau itu banyak dikunjungi anak sekolah ketika sedang libur. Begitulah kisah terjadinya Selat Sikakap, Pulau Bakat Menuang, dan selat-selat serta pulau-pulau kecil di bagian barat Pulau Sikakap.***
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|4}}<noinclude></noinclude>
ruui40hlpvb4knwvkki0ygs0rgpygpb
30919
30918
2026-09-23T09:32:35Z
Naila Fathinah
323
30919
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude>Lama kelamaan pohon menuang itu lapuk dimakan zaman. Setiap hari diterpa hujan dan panas, akhirnya pohon itu musnah sama sekali. Air laut mengalir dari pantai timur ke pantai barat jika pasang sedang surut dan sebaliknya. Pulau yang sebelumnya hanya satu menjadi dua bagian. Itulah Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Sedangkan laut sempit yang memisahkan kedua pulau menjadi selat. Itulah Selat Sikakap yang kita kenal sekarang.
Jika kita datang dari Padang menuju Sikakap, sebelum memasuki Selat Sikakap, di mulut selat ada sebuah pulau. Konon, itulah tunggul dari pohon menuang yang besar itu. Di pulau itu sekarang banyak kebun cengkeh penduduk.
Sedangkan di puncak pulau itu telah didirikan mercusuar untuk pemandu kapal-kapal yang keluar-masuk Sikakap pada malam hari. Pada hari-hari libur pulau itu ramai dikunjungi orang untuk rekreasi. Itulah Pulau Bakat Menuang yang kita kenal sekarang.
Di bagian barat, bekas-bekas dahan pohon Menuang telah membentuk selat-selat kecil dan beberapa pulau kecil. Di antaranya Pulau Bakat Peigu, Pulau Ragi, Pulau Saruso, Pulau Siopa Besar, Pulau Siopa Kecil, dan sebagainya. Pulau-pulau itu ada yang ditanami kelapa dan cengkeh. Ada pula yang hanya ditumbuhi pohon bakau.
Pulau-pulau itu banyak dikunjungi anak sekolah ketika sedang libur. Begitulah kisah terjadinya Selat Sikakap, Pulau Bakat Menuang, dan selat-selat serta pulau-pulau kecil di bagian barat Pulau Sikakap.***
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|4}}<noinclude></noinclude>
baar0zpu2ctb0vc1kcm8qolejitu4lj
30920
30919
2026-09-23T09:47:22Z
Naila Fathinah
323
30920
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Lama kelamaan pohon menuang itu lapuk dimakan zaman. Setiap hari diterpa hujan dan panas, akhirnya pohon itu musnah sama sekali. Air laut mengalir dari pantai timur ke pantai barat jika pasang sedang surut dan sebaliknya. Pulau yang sebelumnya hanya satu menjadi dua bagian. Itulah Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Sedangkan laut sempit yang memisahkan kedua pulau menjadi selat. Itulah Selat Sikakap yang kita kenal sekarang.</div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Jika kita datang dari Padang menuju Sikakap, sebelum memasuki Selat Sikakap, di mulut selat ada sebuah pulau. Konon, itulah tunggul dari pohon menuang yang besar itu. Di pulau itu sekarang banyak kebun cengkeh penduduk. </div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Sedangkan di puncak pulau itu telah didirikan mercusuar untuk pemandu kapal-kapal yang keluar-masuk Sikakap pada malam hari. Pada hari-hari libur pulau itu ramai dikunjungi orang untuk rekreasi. Itulah Pulau Bakat Menuang yang kita kenal sekarang.</div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Di bagian barat, bekas-bekas dahan pohon Menuang telah membentuk selat-selat kecil dan beberapa pulau kecil. Di antaranya Pulau Bakat Peigu, Pulau Ragi, Pulau Saruso, Pulau Siopa Besar, Pulau Siopa Kecil, dan sebagainya.</div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;"> Pulau-pulau itu ada yang ditanami kelapa dan cengkeh. Ada pula yang hanya ditumbuhi pohon bakau. Pulau-pulau itu banyak dikunjungi anak sekolah ketika sedang libur. Begitulah kisah terjadinya Selat Sikakap, Pulau Bakat Menuang, dan selat-selat serta pulau-pulau kecil di bagian barat Pulau Sikakap.***
</div>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|4}}<noinclude></noinclude>
amzfoy6z3at1r7hc7x2izndg2cozj15
30921
30920
2026-09-23T09:47:58Z
Naila Fathinah
323
30921
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Lama kelamaan pohon menuang itu lapuk dimakan zaman. Setiap hari diterpa hujan dan panas, akhirnya pohon itu musnah sama sekali. Air laut mengalir dari pantai timur ke pantai barat jika pasang sedang surut dan sebaliknya. Pulau yang sebelumnya hanya satu menjadi dua bagian. Itulah Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan. Sedangkan laut sempit yang memisahkan kedua pulau menjadi selat. Itulah Selat Sikakap yang kita kenal sekarang.</div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Jika kita datang dari Padang menuju Sikakap, sebelum memasuki Selat Sikakap, di mulut selat ada sebuah pulau. Konon, itulah tunggul dari pohon menuang yang besar itu. Di pulau itu sekarang banyak kebun cengkeh penduduk. </div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Sedangkan di puncak pulau itu telah didirikan mercusuar untuk pemandu kapal-kapal yang keluar-masuk Sikakap pada malam hari. Pada hari-hari libur pulau itu ramai dikunjungi orang untuk rekreasi. Itulah Pulau Bakat Menuang yang kita kenal sekarang.</div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;">
Di bagian barat, bekas-bekas dahan pohon Menuang telah membentuk selat-selat kecil dan beberapa pulau kecil. Di antaranya Pulau Bakat Peigu, Pulau Ragi, Pulau Saruso, Pulau Siopa Besar, Pulau Siopa Kecil, dan sebagainya.</div>
<div style="text-indent: 2em;text-align: justify;"> Pulau-pulau itu ada yang ditanami kelapa dan cengkeh. Ada pula yang hanya ditumbuhi pohon bakau. Pulau-pulau itu banyak dikunjungi anak sekolah ketika sedang libur. Begitulah kisah terjadinya Selat Sikakap, Pulau Bakat Menuang, dan selat-selat serta pulau-pulau kecil di bagian barat Pulau Sikakap.***
</div>
<br>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|4}}<noinclude></noinclude>
kvptvfuue9fcw81g853q5buiur1r63m
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/12
250
9269
30922
2026-09-23T09:48:31Z
Naila Fathinah
323
/* Indak ado teks */
30922
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Naila Fathinah" /></noinclude><noinclude></noinclude>
07k1vd0jhea5hf0xo9oq7txkc0330z0
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/13
250
9270
30923
2026-09-23T10:04:26Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30923
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Burung Pipit dan Burung Rangga</p>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
'''DAHULU''' kala burung pipit dan burung rangga dikenal berbeda dari burung lainnya. Burung pipit berbadan kecil, tetapi memiliki paruh yang besar. Paruhnya bahkan jauh lebih besar dari badannya. Sebaliknya, burung rangga memiliki badan yang besar, tetapi paruhnya sangat kecil.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Suatu hari burung rangga ingin meninggalkan kampung selama beberapa hari. Ia ingin melakukan perjalanan yang cukup jauh menuju kampung seberang. Ia berencana menetap di sana untuk beberapa lama. Dengan paruh yang kecil, burung rangga akan malu selama di kampung orang. Dengan badannya yang besar, ia tidak pantas memiliki paruh yang kecil.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
Burung rangga teringat kepada sahabatnya, si burung pipit. ‘Saya akan lebih gagah dengan paruh yang besar. Mungkin paruh yang dimiliki burung pipit cocok untuk dipakai,’ katanya dalam hati. Ia berencana menemui burung pipit untuk meminjam paruhnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
Keesokan harinya, setelah mempersiapkan bekal, burung rangga mengunjungi sahabatnya itu. Ia mengutarakan maksud hatinya kepada si burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> “Sahabatku, kedatanganku sekarang tidak seperti perjumpaan kita
sebelum-sebelumnya. Esok hari aku akan berjalan ke negeri seberang. Aku mungkin akan tinggal sedikit agak lama di sana,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Kepergianmu ini dalam rangka apa?” tanya burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Hanya untuk berjalan-jalan saja,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Jadi, apa maksud kedatanganmu ini?” tanya burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Mmmm… seandainya kamu mau membantuku, aku ingin meminjam paruhmu.
</div>
{{c|6}}<noinclude></noinclude>
s7qugfdlkz198rnmthksgrnh1rm36r0
30924
30923
2026-09-23T10:06:20Z
Naila Fathinah
323
30924
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Burung Pipit dan Burung Rangga</p>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
'''DAHULU''' kala burung pipit dan burung rangga dikenal berbeda dari burung lainnya. Burung pipit berbadan kecil, tetapi memiliki paruh yang besar. Paruhnya bahkan jauh lebih besar dari badannya. Sebaliknya, burung rangga memiliki badan yang besar, tetapi paruhnya sangat kecil.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Suatu hari burung rangga ingin meninggalkan kampung selama beberapa hari. Ia ingin melakukan perjalanan yang cukup jauh menuju kampung seberang. Ia berencana menetap di sana untuk beberapa lama. Dengan paruh yang kecil, burung rangga akan malu selama di kampung orang. Dengan badannya yang besar, ia tidak pantas memiliki paruh yang kecil.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
Burung rangga teringat kepada sahabatnya, si burung pipit. ‘Saya akan lebih gagah dengan paruh yang besar. Mungkin paruh yang dimiliki burung pipit cocok untuk dipakai,’ katanya dalam hati. Ia berencana menemui burung pipit untuk meminjam paruhnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
Keesokan harinya, setelah mempersiapkan bekal, burung rangga mengunjungi sahabatnya itu. Ia mengutarakan maksud hatinya kepada si burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> “Sahabatku, kedatanganku sekarang tidak seperti perjumpaan kita
sebelum-sebelumnya. Esok hari aku akan berjalan ke negeri seberang. Aku mungkin akan tinggal sedikit agak lama di sana,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Kepergianmu ini dalam rangka apa?” tanya burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Hanya untuk berjalan-jalan saja,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Jadi, apa maksud kedatanganmu ini?” tanya burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Mmmm… seandainya kamu mau membantuku, aku ingin meminjam paruhmu.
</div>
{{c|6}}<noinclude></noinclude>
bpuh17r3yyp5yqgn9o9t9tqobxwqbhu
30925
30924
2026-09-23T10:07:50Z
Naila Fathinah
323
30925
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Burung Pipit dan Burung Rangga</p>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
'''DAHULU''' kala burung pipit dan burung rangga dikenal berbeda dari burung lainnya. Burung pipit berbadan kecil, tetapi memiliki paruh yang besar. Paruhnya bahkan jauh lebih besar dari badannya. Sebaliknya, burung rangga memiliki badan yang besar, tetapi paruhnya sangat kecil.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Suatu hari burung rangga ingin meninggalkan kampung selama beberapa hari. Ia ingin melakukan perjalanan yang cukup jauh menuju kampung seberang. Ia berencana menetap di sana untuk beberapa lama. Dengan paruh yang kecil, burung rangga akan malu selama di kampung orang. Dengan badannya yang besar, ia tidak pantas memiliki paruh yang kecil.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
Burung rangga teringat kepada sahabatnya, si burung pipit. ‘Saya akan lebih gagah dengan paruh yang besar. Mungkin paruh yang dimiliki burung pipit cocok untuk dipakai,’ katanya dalam hati. Ia berencana menemui burung pipit untuk meminjam paruhnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">
Keesokan harinya, setelah mempersiapkan bekal, burung rangga mengunjungi sahabatnya itu. Ia mengutarakan maksud hatinya kepada si burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> “Sahabatku, kedatanganku sekarang tidak seperti perjumpaan kita
sebelum-sebelumnya. Esok hari aku akan berjalan ke negeri seberang. Aku mungkin akan tinggal sedikit agak lama di sana,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Kepergianmu ini dalam rangka apa?” tanya burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Hanya untuk berjalan-jalan saja,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em;">
“Jadi, apa maksud kedatanganmu ini?” tanya burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Mmmm… seandainya kamu mau membantuku, aku ingin meminjam paruhmu.</div>
{{c|6}}<noinclude></noinclude>
2mk2vvfqkujn3v2mzzkgirsl3ge8p1m
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/14
250
9271
30926
2026-09-23T10:19:33Z
Naila Fathinah
323
/* alun diuji baco */
30926
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">Paruh itu akan kupakai hanya sementara waktu saja. Ya, selama kepergianku ke negeri seberang saja," jelas burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kenapa kamu pinjam paruhku? Ada apa dengan paruhmu?" tanya temannya itu heran.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kupikir paruhku ini tidak pantas dan tidak cocok untuk kupakai. Dengan tubuhku yang besar aku merasa malu kepada burung lain,” jelas burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Jika kupinjamkan paruhku, lalu aku memakai apa?"</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku akan memakai paruhmu dan kamu bisa memakai paruhku. Aku berjanji akan mengembalikan paruhmu sekembalinya dari perjalanan,” kata burung rangga.</div>
“Aku akan memegang janjimu, pakailah paruhku ini,” kata burung pipit.
Kemudian burung pipit melepaskan paruhnya yang besar dan diberikannya
kepada sahabatnya itu. Burung rangga juga melepaskan paruhnya dan
memberikan kepada burung pipit.
“Aku berjanji akan mengembalikan paruhmu nanti,” kata burung rangga.
“Aku memegang janjimu itu,” kata burung pipit.
Burung rangga pun kembali ke rumahnya. Keesokannya ia berangkat
menempuh perjalanan yang jauh dengan percaya diri. Paruh burung pipit yang
dikenakannya membuat dia cepat menyesuaikan diri dengan burung-burung
lainnya.
“Seandainya aku memakai paruh yang kecil, tentu akan sulit bergaul.
Burung lain pasti akan menertawakan dan mengejekku," kata burung rangga
dalam hati.
Burung rangga sudah tinggal beberapa hari di tempat yang baru. Selarna
dalam perjalanan, ia menikmati banyak hal dengan perasaan puas. Tiba-tiba ia
teringat untuk segera pulang ke rumahnya. Ia harus kembali bekerja
sebagaimana kebiasaannya setiap hari.
Sesampainya di kampung, banyak saudara dan sahabatnya datang untuk
menemuinya. Burung rangga pun menceritakan pengalaman dan keindahan-
keindahan yang dilihatnya selama per jalanan. Ketika burung pipit mengetahui
sahabatnya sudah kembali, ia segera menemui burung rangga. Burung rangga
dengan bangga mengisahkan pengalamannya. Setelah berbincang-bincang,
burung pipit pamit untuk pulang dan meminta kembali paruhnya itu.
“Sahabat, kedatanganku ini untuk mengucapkan selamat
atas keberhasilanmu. Aku juga ingin meminta kembali paruhku yang kamu
pinjarn," kata burung pipit.
“Sahabatku," kata burung rangga.
“Selama aku memakai paruhmu, aku merasakan paruh ini sangat cocok
denganku. Paruh ini sesuai dengan ukuran badanku. Paruhku yang kamu pakai
7<noinclude></noinclude>
shzbiph0ogwkcw6p0dbqhtcirl4pnt2
30927
30926
2026-09-23T10:29:15Z
Naila Fathinah
323
30927
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">Paruh itu akan kupakai hanya sementara waktu saja. Ya, selama kepergianku ke negeri seberang saja," jelas burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kenapa kamu pinjam paruhku? Ada apa dengan paruhmu?" tanya temannya itu heran.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kupikir paruhku ini tidak pantas dan tidak cocok untuk kupakai. Dengan tubuhku yang besar aku merasa malu kepada burung lain,” jelas burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Jika kupinjamkan paruhku, lalu aku memakai apa?"</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku akan memakai paruhmu dan kamu bisa memakai paruhku. Aku berjanji akan mengembalikan paruhmu sekembalinya dari perjalanan,” kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku akan memegang janjimu, pakailah paruhku ini,” kata burung pipit. Kemudian burung pipit melepaskan paruhnya yang besar dan diberikannya kepada sahabatnya itu. Burung rangga juga melepaskan paruhnya dan memberikan kepada burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku berjanji akan mengembalikan paruhmu nanti,” kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Aku memegang janjimu itu,” kata burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung rangga pun kembali ke rumahnya. Keesokannya ia berangkat menempuh perjalanan yang jauh dengan percaya diri. Paruh burung pipit yang dikenakannya membuat dia cepat menyesuaikan diri dengan burung-burung lainnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Seandainya aku memakai paruh yang kecil, tentu akan sulit bergaul.Burung lain pasti akan menertawakan dan mengejekku," kata burung rangga dalam hati.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung rangga sudah tinggal beberapa hari di tempat yang baru. Selama dalam perjalanan, ia menikmati banyak hal dengan perasaan puas. Tiba-tiba ia
teringat untuk segera pulang ke rumahnya. Ia harus kembali bekerja sebagaimana kebiasaannya setiap hari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sesampainya di kampung, banyak saudara dan sahabatnya datang untuk menemuinya. Burung rangga pun menceritakan pengalaman dan keindahan-keindahan yang dilihatnya selama perjalanan. Ketika burung pipit mengetahui sahabatnya sudah kembali, ia segera menemui burung rangga. Burung rangga dengan bangga mengisahkan pengalamannya. Setelah berbincang-bincang, burung pipit pamit untuk pulang dan meminta kembali paruhnya itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sahabat, kedatanganku ini untuk mengucapkan selamat atas keberhasilanmu. Aku juga ingin meminta kembali paruhku yang kamu pinjarn," kata burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Sahabatku," kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Selama aku memakai paruhmu, aku merasakan paruh ini sangat cocok denganku. Paruh ini sesuai dengan ukuran badanku. Paruhku yang kamu pakai</div>
{{c|7}}<noinclude></noinclude>
2ffb2mhiwlv2gde3l0sqms68o3alqm9
30928
30927
2026-09-23T10:30:44Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30928
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">Paruh itu akan kupakai hanya sementara waktu saja. Ya, selama kepergianku ke negeri seberang saja," jelas burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kenapa kamu pinjam paruhku? Ada apa dengan paruhmu?" tanya temannya itu heran.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kupikir paruhku ini tidak pantas dan tidak cocok untuk kupakai. Dengan tubuhku yang besar aku merasa malu kepada burung lain,” jelas burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Jika kupinjamkan paruhku, lalu aku memakai apa?"</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku akan memakai paruhmu dan kamu bisa memakai paruhku. Aku berjanji akan mengembalikan paruhmu sekembalinya dari perjalanan,” kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku akan memegang janjimu, pakailah paruhku ini,” kata burung pipit. Kemudian burung pipit melepaskan paruhnya yang besar dan diberikannya kepada sahabatnya itu. Burung rangga juga melepaskan paruhnya dan memberikan kepada burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku berjanji akan mengembalikan paruhmu nanti,” kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Aku memegang janjimu itu,” kata burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung rangga pun kembali ke rumahnya. Keesokannya ia berangkat menempuh perjalanan yang jauh dengan percaya diri. Paruh burung pipit yang dikenakannya membuat dia cepat menyesuaikan diri dengan burung-burung lainnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Seandainya aku memakai paruh yang kecil, tentu akan sulit bergaul.Burung lain pasti akan menertawakan dan mengejekku," kata burung rangga dalam hati.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung rangga sudah tinggal beberapa hari di tempat yang baru. Selama dalam perjalanan, ia menikmati banyak hal dengan perasaan puas. Tiba-tiba ia
teringat untuk segera pulang ke rumahnya. Ia harus kembali bekerja sebagaimana kebiasaannya setiap hari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sesampainya di kampung, banyak saudara dan sahabatnya datang untuk menemuinya. Burung rangga pun menceritakan pengalaman dan keindahan-keindahan yang dilihatnya selama perjalanan. Ketika burung pipit mengetahui sahabatnya sudah kembali, ia segera menemui burung rangga. Burung rangga dengan bangga mengisahkan pengalamannya. Setelah berbincang-bincang, burung pipit pamit untuk pulang dan meminta kembali paruhnya itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sahabat, kedatanganku ini untuk mengucapkan selamat atas keberhasilanmu. Aku juga ingin meminta kembali paruhku yang kamu pinjarn," kata burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;">“Sahabatku," kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Selama aku memakai paruhmu, aku merasakan paruh ini sangat cocok denganku. Paruh ini sesuai dengan ukuran badanku. Paruhku yang kamu pakai</div>
{{c|7}}<noinclude></noinclude>
3sxfxcrai06ak3idvfmakp32efrmo9v
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/15
250
9272
30929
2026-09-23T10:39:23Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30929
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">sekarang, sangat cocok dan sesuai dengan ukuran badanmu. Kalau boleh permintaanku, paruhmu ini biarlah menjadi milikku. Begitu pun paruhku, biarlah menjadi milikmu. Bagaimana?” kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu engkau sudah mengingkari janjimu wahai sahabat!” kata
burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;>“Bukan begitu sahabatku...”</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung rangga terus berkilah dan berkelit. Ia tidak ingin mengembalikan paruh yang dipinjamnya itu. Ia mengingkari janjinya dan sama sekali tidak menghargai kebaikan sahabatnya si burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Akhirnya, si burung pipit tidak berhasil meminta kembali paruhnya yang
besar itu. Paruh itu tetap menjadi milik si burung rangga. Paruh yang ia pakai tetap paruh kecil milik si burung rangga. Begitulah hingga sekarang ini.***</div>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|8}}<noinclude></noinclude>
g0f9akx2hyocffnq15g8k3cfe2lkjxt
30930
30929
2026-09-23T10:39:48Z
Naila Fathinah
323
30930
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">sekarang, sangat cocok dan sesuai dengan ukuran badanmu. Kalau boleh permintaanku, paruhmu ini biarlah menjadi milikku. Begitu pun paruhku, biarlah menjadi milikmu. Bagaimana?” kata burung rangga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu engkau sudah mengingkari janjimu wahai sahabat!” kata
burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em;>“Bukan begitu sahabatku...”</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung rangga terus berkilah dan berkelit. Ia tidak ingin mengembalikan paruh yang dipinjamnya itu. Ia mengingkari janjinya dan sama sekali tidak menghargai kebaikan sahabatnya si burung pipit.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Akhirnya, si burung pipit tidak berhasil meminta kembali paruhnya yang
besar itu. Paruh itu tetap menjadi milik si burung rangga. Paruh yang ia pakai tetap paruh kecil milik si burung rangga. Begitulah hingga sekarang ini.***</div>
<br>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|8}}<noinclude></noinclude>
t47hbh2hj9wqiczvsstmvck0zntboum
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/16
250
9273
30931
2026-09-23T10:40:53Z
Naila Fathinah
323
/* Indak ado teks */
30931
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Naila Fathinah" /></noinclude>9<noinclude></noinclude>
k6oyctqg7w3ilnnzmtutwjt6tcbayx1
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/17
250
9274
30932
2026-09-23T10:43:19Z
Naila Fathinah
323
/* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi " <p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Permusuhan Bulan dan Matahari</p> <br> '''DAHULU''' kala suhu di bumi sangat panas. Matahari bersinar sangat teriknya. Orang-orang tidak bisa keluar rumah untuk mencari nafkah pada siang hari. Mereka baru bisa keluar rumah pada malam hari. Seperti manusia, binatang juga hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan. Pada saat itu, manusia berteman dengan bulan. Sang bulan yang me...
30932
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>
<p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Permusuhan Bulan dan Matahari</p>
<br>
'''DAHULU''' kala suhu di bumi sangat panas. Matahari bersinar sangat teriknya.
Orang-orang tidak bisa keluar rumah untuk mencari nafkah pada siang hari.
Mereka baru bisa keluar rumah pada malam hari. Seperti manusia, binatang
juga hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan.
Pada saat itu, manusia berteman dengan bulan. Sang bulan yang merasa
kasihan membantu manusia untuk lepas dari cengkeraman matahari. Sang bulan
merasa iba melihat manusia kesulitan mencari nafkah. Ia berjanji akan
membantu manusia dengan mengelabui matahari.
Suatu hari, bulan menyembunyikan semua anak-anaknya, yaitu bintangbintang. Setelah bintang-bintang hilang, sang bulan memakan tempurung kelapa
yang masih muda. Tempurung itu bisa dimakan manusia juga. Akibatnya, semua
gigi dan mulut sang bulan menjadi merah seperti darah. Dengan gigi dan mulut
yang memerah, ia pergi menemui matahari.
“Sahabatku, lihatlah semua gigi dan mulutku telah berlumuran darah.”
Melihat keadaan sang bulan itu, matahari menjadi sedih.
“Apakah yang terjadi sahabat dan siapa yang melakukannya?”
“Tidak ada yang melakukannya, aku telah memakan semua anakanakku,” kata sang bulan. Dengan nada tidak percaya, matahari bertanya lagi
kepada bulan.
“Mengapa Engkau melakukan semua itu dan bukankah mereka itu anakanakmu?”
“Aku tahu itu anak-anakku, tetapi mereka tidak mau menuruti semua
perintahku. Itulah sebabnya aku memakan mereka,” jawab sang bulan. Setelah
10<noinclude></noinclude>
qiwmb20vus2we23o4bfrdj9xuwly8uk
30933
30932
2026-09-23T10:50:20Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30933
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude>
<p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Permusuhan Bulan dan Matahari</p>
<br>
<div style="text-align: justify;">'''DAHULU''' kala suhu di bumi sangat panas. Matahari bersinar sangat teriknya. Orang-orang tidak bisa keluar rumah untuk mencari nafkah pada siang hari. Mereka baru bisa keluar rumah pada malam hari. Seperti manusia, binatang juga hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Pada saat itu, manusia berteman dengan bulan. Sang bulan yang merasa kasihan membantu manusia untuk lepas dari cengkeraman matahari. Sang bulan merasa iba melihat manusia kesulitan mencari nafkah. Ia berjanji akan membantu manusia dengan mengelabui matahari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu hari, bulan menyembunyikan semua anak-anaknya, yaitu bintang-bintang. Setelah bintang-bintang hilang, sang bulan memakan tempurung kelapa yang masih muda. Tempurung itu bisa dimakan manusia juga. Akibatnya, semua gigi dan mulut sang bulan menjadi merah seperti darah. Dengan gigi dan mulut yang memerah, ia pergi menemui matahari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Sahabatku, lihatlah semua gigi dan mulutku telah berlumuran darah." Melihat keadaan sang bulan itu, matahari menjadi sedih.</div>
<div style="text-indent: 2em;">"Apakah yang terjadi sahabat dan siapa yang melakukannya?"</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Tidak ada yang melakukannya, aku telah memakan semua anak-anakku," kata sang bulan. Dengan nada tidak percaya, matahari bertanya lagi kepada bulan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Mengapa Engkau melakukan semua itu dan bukankah mereka itu anak-anakmu?"</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Aku tahu itu anak-anakku, tetapi mereka tidak mau menuruti semua perintahku. Itulah sebabnya aku memakan mereka," jawab sang bulan. Setelah</div>
<br>
<br>
{{c|10}}<noinclude></noinclude>
oxyarxqyhv0jz5yz50br85siwsfwsz1
30934
30933
2026-09-23T10:51:57Z
Naila Fathinah
323
30934
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude>
<p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Permusuhan Bulan dan Matahari</p>
<br>
<div style="text-align: justify;">'''DAHULU''' kala suhu di bumi sangat panas. Matahari bersinar sangat teriknya. Orang-orang tidak bisa keluar rumah untuk mencari nafkah pada siang hari. Mereka baru bisa keluar rumah pada malam hari. Seperti manusia, binatang juga hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Pada saat itu, manusia berteman dengan bulan. Sang bulan yang merasa kasihan membantu manusia untuk lepas dari cengkeraman matahari. Sang bulan merasa iba melihat manusia kesulitan mencari nafkah. Ia berjanji akan membantu manusia dengan mengelabui matahari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu hari, bulan menyembunyikan semua anak-anaknya, yaitu bintang-bintang. Setelah bintang-bintang hilang, sang bulan memakan tempurung kelapa yang masih muda. Tempurung itu bisa dimakan manusia juga. Akibatnya, semua gigi dan mulut sang bulan menjadi merah seperti darah. Dengan gigi dan mulut yang memerah, ia pergi menemui matahari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Sahabatku, lihatlah semua gigi dan mulutku telah berlumuran darah." Melihat keadaan sang bulan itu, matahari menjadi sedih.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Apakah yang terjadi sahabat dan siapa yang melakukannya?"</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Tidak ada yang melakukannya, aku telah memakan semua anak-anakku," kata sang bulan. Dengan nada tidak percaya, matahari bertanya lagi kepada bulan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Mengapa Engkau melakukan semua itu dan bukankah mereka itu anak-anakmu?"</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">"Aku tahu itu anak-anakku, tetapi mereka tidak mau menuruti semua perintahku. Itulah sebabnya aku memakan mereka," jawab sang bulan. Setelah</div>
<br>
<br>
{{c|10}}<noinclude></noinclude>
9o2yckwi6nsw95nrmqab7q8wpqno7tv
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/18
250
9275
30935
2026-09-23T11:01:17Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30935
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">itu sang bulan pergi. Akan tetapi, matahari belum sepenuhnya percaya atas semua perkataan bulan. Ia ingin membuktikannya sendiri.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Lama kelamaan, akhirnya matahari percaya. Ia membuktikan sendiri bahwa bulan sungguh-sungguh telah memakan anak-anaknya. Kemudian matahari juga memakan anak-anaknya sampai tidak ada yang tersisa. Sesudah memakan anakanaknya itu, ia pergi menemui bulan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sahabatku bulan, aku juga telah memakan semua anak-anakku,” katanya. Mendengar pengakuan sahabatnya, bulan memasang mimik sedih. Padahal, di dalam hatinya ia sangat senang. Ia telah berhasil mengelabui sahabatnya
itu. Setelah menceritakan semua itu kepada sahabatnya, matahari pun pergi.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Ketika malam datang, sang bulan kembali mengeluarkan bintang-bintang. Melihat hal itu, matahari menjadi geram karena merasa telah dibohongi bulan. Ia kemudian mengambil semua persenjataannya dan mencari bulan. Ketika bertemu dengan bulan, ia langsung memotong tubuh bulan. Tubuh bulan kini menjadi terbelah.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Karena diserang matahari, bulan tidak mau kalah. Ia mengambil persenjataanya dan memotong semua permukaan tubuh matahari. Semenjak kejadian itu, sinar matahari menjadi berpencar-pencar.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Karena sinar yang terpencar-pencar itu, panas matahari menjadi berkurang. Akan tetapi, orang-orang belum juga bisa keluar pada siang hari.
Untuk membuat panas matahari semakin berkurang, mereka pun bersatu menolong bulan. Orang-orang membuat panah beracun dan bersama-sama memanah matahari. Karena tidak tahan dengan serangan itu, matahari melambung tinggi ke angkasa, menjauhi bumi.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sejak saat itulah, sinar matahari semakin berkurang. Panasnya pun tidak begitu terasa sampai ke bumi. Manusia pun bisa keluar rumah pada siang hari untuk mencari nafkah.***</div>
<br>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
{{c|11}}<noinclude></noinclude>
25fam3ffpp2vuq9ml0028poy7w8d08b
30936
30935
2026-09-23T11:01:57Z
Naila Fathinah
323
30936
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">itu sang bulan pergi. Akan tetapi, matahari belum sepenuhnya percaya atas semua perkataan bulan. Ia ingin membuktikannya sendiri.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Lama kelamaan, akhirnya matahari percaya. Ia membuktikan sendiri bahwa bulan sungguh-sungguh telah memakan anak-anaknya. Kemudian matahari juga memakan anak-anaknya sampai tidak ada yang tersisa. Sesudah memakan anakanaknya itu, ia pergi menemui bulan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sahabatku bulan, aku juga telah memakan semua anak-anakku,” katanya. Mendengar pengakuan sahabatnya, bulan memasang mimik sedih. Padahal, di dalam hatinya ia sangat senang. Ia telah berhasil mengelabui sahabatnya
itu. Setelah menceritakan semua itu kepada sahabatnya, matahari pun pergi.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Ketika malam datang, sang bulan kembali mengeluarkan bintang-bintang. Melihat hal itu, matahari menjadi geram karena merasa telah dibohongi bulan. Ia kemudian mengambil semua persenjataannya dan mencari bulan. Ketika bertemu dengan bulan, ia langsung memotong tubuh bulan. Tubuh bulan kini menjadi terbelah.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Karena diserang matahari, bulan tidak mau kalah. Ia mengambil persenjataanya dan memotong semua permukaan tubuh matahari. Semenjak kejadian itu, sinar matahari menjadi berpencar-pencar.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Karena sinar yang terpencar-pencar itu, panas matahari menjadi berkurang. Akan tetapi, orang-orang belum juga bisa keluar pada siang hari.
Untuk membuat panas matahari semakin berkurang, mereka pun bersatu menolong bulan. Orang-orang membuat panah beracun dan bersama-sama memanah matahari. Karena tidak tahan dengan serangan itu, matahari melambung tinggi ke angkasa, menjauhi bumi.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sejak saat itulah, sinar matahari semakin berkurang. Panasnya pun tidak begitu terasa sampai ke bumi. Manusia pun bisa keluar rumah pada siang hari untuk mencari nafkah.***</div><br>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
<br>
{{c|11}}<noinclude></noinclude>
021k8n8gqogaprxnr7ngjoqbp8pltrv
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/19
250
9276
30937
2026-09-23T11:02:25Z
Naila Fathinah
323
/* Indak ado teks */
30937
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Naila Fathinah" /></noinclude>12<noinclude></noinclude>
dudnhy6d720ch2kd398nqpdbr8wz3r3
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/20
250
9277
30938
2026-09-23T11:02:52Z
Naila Fathinah
323
/* alun diuji baco */
30938
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>
Di sebuah desa yang terletak di muara Sungai Simatalu ada sebatang pohon
pogullu yang tumbuh dengan suburnya. Pohon itu tumbuh dengan subur karena
tidak seorang pun berani mengusiknya. Sebab mereka percaya bahwa batang
pogullu itu berasal dari tongkat si Tukku Dere. Ia menancapkannya sebagai
tanda bagi anak-anaknya yang menyusulnya kemudian. Tukku Dere
meninggalkan rumah dan hartanya karena takut kepada abangnya.
Konon, beginilah ceritanya. Pada zaman dulu di Simatalu hiduplah keluarga
Sikapullu. Sukunya Satoleuru yang tinggal dalam satu uma (rumah besar). Anak
laki-laki Sikapullu yang pertama bernama Aman Lagona. Ia punya anak bernama
Lagona. Sedangkan anak laki-laki kedua bernama si Tukku Dere. Meski mereka
bersaudara, Aman Lagona tidak suka kepada adiknya. Si Tukku Dere mempunyai
kebiasaan yang aneh-aneh sehingga kakaknya sering dibuatnya jengkel.
Suatu hari Aman Lagona dan beberapa anaknya pergi ke hutan untuk
melihat jerat yang dipasang sebelumnya. Ternyata ada seekor rusa yang kena
jerat. Rusa itu dibunuhnya dan dibawa pulang. Sampai di rumah dibunyikannya
kentongan sebagai tanda suku itu mendapat hasil buruan. Maka berkumpullah
semua anggota suku. Tak terkecuali Tukku Dere untuk menikmati daging rusa
tersebut.
Setelah daging rusa masak, Aman Lagona membagikannya kepada yang
hadir sesuai jatah mereka. Acara makan pun dimulai. Ada yang makan diruang
tengah, ada juga yang makan di ruang depan. Di tengah-tengah makan si Tukku
Dere berdiri meninggalkan makanannya. Ia turun dari rumah menuju sungai
untuk mandi dengan telanjang.
13<noinclude></noinclude>
3vzju1k3zpml1ekl3u1dgzs7ba41rdc
30939
30938
2026-09-23T11:08:18Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30939
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude>
<p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Pohon Pogullu Tongkat Si Tukku Dere</p><br>
<div style="text-align: justify;">'''Di''' sebuah desa yang terletak di muara Sungai Simatalu ada sebatang pohon
pogullu yang tumbuh dengan suburnya. Pohon itu tumbuh dengan subur karena tidak seorang pun berani mengusiknya. Sebab mereka percaya bahwa batang pogullu itu berasal dari tongkat si Tukku Dere. Ia menancapkannya sebagai tanda bagi anak-anaknya yang menyusulnya kemudian. Tukku Dere meninggalkan rumah dan hartanya karena takut kepada abangnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Konon, beginilah ceritanya. Pada zaman dulu di Simatalu hiduplah keluarga Sikapullu. Sukunya Satoleuru yang tinggal dalam satu uma (rumah besar). Anak laki-laki Sikapullu yang pertama bernama Aman Lagona. Ia punya anak bernama Lagona. Sedangkan anak laki-laki kedua bernama si Tukku Dere. Meski mereka bersaudara, Aman Lagona tidak suka kepada adiknya. Si Tukku Dere mempunyai kebiasaan yang aneh-aneh sehingga kakaknya sering dibuatnya jengkel.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu hari Aman Lagona dan beberapa anaknya pergi ke hutan untuk melihat jerat yang dipasang sebelumnya. Ternyata ada seekor rusa yang kena jerat. Rusa itu dibunuhnya dan dibawa pulang. Sampai di rumah dibunyikannya kentongan sebagai tanda suku itu mendapat hasil buruan. Maka berkumpullah semua anggota suku. Tak terkecuali Tukku Dere untuk menikmati daging rusa tersebut.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Setelah daging rusa masak, Aman Lagona membagikannya kepada yang hadir sesuai jatah mereka. Acara makan pun dimulai. Ada yang makan diruang tengah, ada juga yang makan di ruang depan. Di tengah-tengah makan si Tukku Dere berdiri meninggalkan makanannya. Ia turun dari rumah menuju sungai untuk mandi dengan telanjang.</div>
<br>
{{c|13}}<noinclude></noinclude>
b2zsapmo2ibfxmy487tnu150k0qmgn5
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/21
250
9278
30940
2026-09-23T11:08:50Z
Naila Fathinah
323
/* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "Melihat tingkahnya itu, Aman Lagona menjadi marah. Buru-buru ia menemui Tukku Dere. Selesai mandi, dipanggilnya adiknya itu. “Adikku, apakah Kau tidak mengerti yang Kau lakukan tadi melanggar adat?” tegurnya. “Melanggar adat? Adat mana yang kulanggar?” jawab si Tukku Dere. “Dasar manusia dungu tak tahu adat! Kau mandi tidak berpakaian dan meninggalkan makananmu. Itu berarti Kau menutup rezekiku!” kata Aman Lagona menuding wajah adiknya. “Apa salahny...
30940
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>Melihat tingkahnya itu, Aman Lagona menjadi marah. Buru-buru ia menemui
Tukku Dere. Selesai mandi, dipanggilnya adiknya itu.
“Adikku, apakah Kau tidak mengerti yang Kau lakukan tadi melanggar
adat?” tegurnya.
“Melanggar adat? Adat mana yang kulanggar?” jawab si Tukku Dere.
“Dasar manusia dungu tak tahu adat! Kau mandi tidak berpakaian dan
meninggalkan makananmu. Itu berarti Kau menutup rezekiku!” kata Aman
Lagona menuding wajah adiknya.
“Apa salahnya aku mandi, badanku panas. Aku mandi berpakaian atau tidak
itu urusanku sendiri. Lalu makanan yang kutinggalkan itu kalau Abang tidak
rela memberiku ambil sajalah. Makanlah.... Aku tidak keberatan,” jawab si
Tuku Dere seenaknya.
“Beraninya Kau menentang aku. Awas, kupukul Kau!” kata Aman Lagona
sambil mencabut parang yang terselip di dinding.
Melihat itu takutlah si Tukku Dere. Ia segera melompat dari rumah dan
melarikan diri. Aman Lagona terus mengejarnya. Karena si Tukku Dere sudah
jauh maka ia kembali ke rumah. Ia mengajak anaknya serta anjingnya untuk
mencari adiknya itu.
Orang-orang yang ada di dalam rumah menjadi panik dan melarang Aman
Lagona. Namun ia tetap mencari adiknya itu.
Sebenarnya si Tukku Dere bersembunyi di rumah bibinya. Karena merasa
kurang aman, ia melanjutkan pelariannya. Oleh bibinya, ia diberi lima butir
telur. Hari telah senja dan Aman Lagona tidak dapat menemukan adiknya.
Pulanglah ia bersama anak dan anjingnya.
Si Tukku Dere terus berlari dan bermalam di hutan di daerah Simalegi.
Keesokan harinya si Tukku Dere meneruskan pelariannya. Ketika melihat ada
sungai, ia pun mandi. Ditaruhnya kedua butir telur yang dibawanya itu tidak
jauh dari tempatnya mandi. Saat mandi itulah didengarnya suara perempuan
bercakap-cakap. Maka ia segera mengintai siapa mereka.
Ternyata yang bercakap-cakap itu dua orang gadis yang cantik-cantik.
Ia segera naik dan menghapiri kedua gadis itu.
“Hai motto (gadis), siapa kalian dan mengapa ada di sini. Apakah kalian
disuruh abangku untuk mencariku?” kata si Tukku Dere curiga.
“Tidak, Bang, kami tidak disuruh siapa-siapa. Kami sampai di sini kan Abang
yang membawa,” jawab salah seorang dari gadis itu.
“Aku? Ah, mana mungkin aku yang membawa kalian ke sini?” heran si
Tukku Dere.
“Benar Bang, Abanglah yang membawa kami ke sini!” kata yang seorang
lagi.
14<noinclude></noinclude>
0ij90un3ntvxzjm8dk8j5cnu1nerhru
30941
30940
2026-09-23T11:16:11Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30941
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Melihat tingkahnya itu, Aman Lagona menjadi marah. Buru-buru ia menemui Tukku Dere. Selesai mandi, dipanggilnya adiknya itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Adikku, apakah Kau tidak mengerti yang Kau lakukan tadi melanggar adat?” tegurnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Melanggar adat? Adat mana yang kulanggar?” jawab si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Dasar manusia dungu tak tahu adat! Kau mandi tidak berpakaian dan meninggalkan makananmu. Itu berarti Kau menutup rezekiku!” kata Aman Lagona menuding wajah adiknya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Apa salahnya aku mandi, badanku panas. Aku mandi berpakaian atau tidak itu urusanku sendiri. Lalu makanan yang kutinggalkan itu kalau Abang tidak rela memberiku ambil sajalah. Makanlah.... Aku tidak keberatan,” jawab si
Tuku Dere seenaknya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Beraninya Kau menentang aku. Awas, kupukul Kau!” kata Aman Lagona sambil mencabut parang yang terselip di dinding.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Melihat itu takutlah si Tukku Dere. Ia segera melompat dari rumah dan melarikan diri. Aman Lagona terus mengejarnya. Karena si Tukku Dere sudah jauh maka ia kembali ke rumah. Ia mengajak anaknya serta anjingnya untuk mencari adiknya itu. <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Orang-orang yang ada di dalam rumah menjadi panik dan melarang Aman Lagona. Namun ia tetap mencari adiknya itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sebenarnya si Tukku Dere bersembunyi di rumah bibinya. Karena merasa kurang aman, ia melanjutkan pelariannya. Oleh bibinya, ia diberi lima butir telur. Hari telah senja dan Aman Lagona tidak dapat menemukan adiknya. Pulanglah ia bersama anak dan anjingnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Si Tukku Dere terus berlari dan bermalam di hutan di daerah Simalegi. Keesokan harinya si Tukku Dere meneruskan pelariannya. Ketika melihat ada sungai, ia pun mandi. Ditaruhnya kedua butir telur yang dibawanya itu tidak
jauh dari tempatnya mandi. Saat mandi itulah didengarnya suara perempuan bercakap-cakap. Maka ia segera mengintai siapa mereka.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Ternyata yang bercakap-cakap itu dua orang gadis yang cantik-cantik. Ia segera naik dan menghapiri kedua gadis itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Hai motto (gadis), siapa kalian dan mengapa ada di sini. Apakah kalian disuruh abangku untuk mencariku?” kata si Tukku Dere curiga.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Tidak, Bang, kami tidak disuruh siapa-siapa. Kami sampai di sini kan Abang yang membawa,” jawab salah seorang dari gadis itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku? Ah, mana mungkin aku yang membawa kalian ke sini?” heran si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Benar Bang, Abanglah yang membawa kami ke sini!” kata yang seorang lagi.</div>
<br>
{{c|14}}<noinclude></noinclude>
2dk29hs5khsa8hyuludm30io992fdbv
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/22
250
9279
30942
2026-09-23T11:18:35Z
Naila Fathinah
323
/* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "“Terus terang sajalah, kalian. Siapa, darimana, dan mengapa sampai di sini?” Desak si Tukku Dere. “Begini yang sebenarnya kami berdua berasal dari dua telur yang Abang bawa. Atas kehendak Yang Kuasa kami menjadi manusia seperti yang Abang lihat ini,” jelas salah seorang dari gadis itu. SiTukku Dere ternganga mendengar penjelasan itu. “Lalu ke mana tujuan kalian?” tanyanya. “Abang yang membawa kami kesini. Kami akan mengikuti kemana pun Abang pergi,”...
30942
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>“Terus terang sajalah, kalian. Siapa, darimana, dan mengapa sampai di
sini?” Desak si Tukku Dere.
“Begini yang sebenarnya kami berdua berasal dari dua telur yang Abang
bawa. Atas kehendak Yang Kuasa kami menjadi manusia seperti yang Abang
lihat ini,” jelas salah seorang dari gadis itu.
SiTukku Dere ternganga mendengar penjelasan itu.
“Lalu ke mana tujuan kalian?” tanyanya.
“Abang yang membawa kami kesini. Kami akan mengikuti kemana pun Abang
pergi,” jawab gadis lainnya sambil menunduk.
“Kalau begitu, baiklah. Terus terang saja, karena kalian mau mengikutiku,
apa kalian bersedia kujadikan istriku?” Si Tukku Dere bertanya.
“Kalau memang itu kemauan Abang, kami bersedia saja,” jawab salah
seorang dari mereka.
“Bila kalian telah bersedia, baiklah. Kita cari tempat untuk membuat
rumah,” lanjut si Tukku Dere.
Mereka lalu mencaritempat di dekat sungai dan mendirikan sebuah rumah
disana. Hidup mereka bahagia. Mereka rajin menanam pisang, ubi, dan keladi.
Sedangkan si Tukku Dere sangat sayang kepada kedua istrinya itu.
Suatu sore, ia memanggil kedua istrinya. Ia berkata, “Istriku, kita ini
hidup berkeluarga dan suku kita belum ada. Karena aku tidak mau lagi memakai
nama sukuku yang lama, jika kalian tidak keberatan, suku kita ini kunamakan
suku Sagou ‘gou’. Sebab kalian berasal dari telur ayam,” kata si Tukku Dere.
“Baiklah, Bang, kalau memang itu yang Abang kehendaki, kami tidak
keberatan,” jawab istrinya.
Beberapa tahun kemudian si Tukku Dere telah mempunyai beberapa anak
lelaki dan perempuan. Masalahnya dengan abangnya Aman Lagona sudah
dilupakan. Ia berpendapat bahwa Aman Lagona tidak akan datang lagi, sebab
sudah lama.
Namun pada suatu hari, terkejutlah si Tukku Dere melihat kakaknya
dengan keponakannya datang tiba-tiba. Timbul rasa was-was di hatinya, apa
gerangan yang akan dilakukan abangnya itu.
Si Tukku Dere mempersilakan abang dan keponakannya naik. Mereka
berpelukan sebagai tanda kerinduan.
“Adikku, aku telah lama mencarimu dan kini telah kutemukan di sini. Kulihat
adikku hidup bahagia....” Kata Aman Lagona setelah mereka duduk.
“Ya, seperti Abang lihat sendiri, memang beginilah keadaanku,” jawab si
Tukku Dere.
“Sudah berapa keponakanku?” tanya Aman Lagona melihat sekeliling.
“Sudah banyak Bang, bahkan ada yang sudah berkeluarga. Mereka kini
15<noinclude></noinclude>
1nvoguf0fs78vlaomc1mjksra9fxq75
30943
30942
2026-09-23T11:25:58Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30943
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Terus terang sajalah, kalian. Siapa, darimana, dan mengapa sampai disini?” Desak si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Begini yang sebenarnya kami berdua berasal dari dua telur yang Abang bawa. Atas kehendak Yang Kuasa kami menjadi manusia seperti yang Abang lihat ini,” jelas salah seorang dari gadis itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">SiTukku Dere ternganga mendengar penjelasan itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Lalu ke mana tujuan kalian?” tanyanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Abang yang membawa kami kesini. Kami akan mengikuti kemana pun Abang pergi,” jawab gadis lainnya sambil menunduk.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu, baiklah. Terus terang saja, karena kalian mau mengikutiku, apa kalian bersedia kujadikan istriku?” Si Tukku Dere bertanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau memang itu kemauan Abang, kami bersedia saja,” jawab salah seorang dari mereka.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Bila kalian telah bersedia, baiklah. Kita cari tempat untuk membuat rumah,” lanjut si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Mereka lalu mencari tempat di dekat sungai dan mendirikan sebuah rumah disana. Hidup mereka bahagia. Mereka rajin menanam pisang, ubi, dan keladi. Sedangkan si Tukku Dere sangat sayang kepada kedua istrinya itu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu sore, ia memanggil kedua istrinya. Ia berkata, “Istriku, kita ini hidup berkeluarga dan suku kita belum ada. Karena aku tidak mau lagi memakai nama sukuku yang lama, jika kalian tidak keberatan, suku kita ini kunamakan suku Sagou ‘gou’. Sebab kalian berasal dari telur ayam,” kata si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Baiklah, Bang, kalau memang itu yang Abang kehendaki, kami tidak keberatan,” jawab istrinya.
Beberapa tahun kemudian si Tukku Dere telah mempunyai beberapa anak lelaki dan perempuan. Masalahnya dengan abangnya Aman Lagona sudah dilupakan. Ia berpendapat bahwa Aman Lagona tidak akan datang lagi, sebab sudah lama.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Namun pada suatu hari, terkejutlah si Tukku Dere melihat kakaknya dengan keponakannya datang tiba-tiba. Timbul rasa was-was di hatinya, apa gerangan yang akan dilakukan abangnya itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Si Tukku Dere mempersilakan abang dan keponakannya naik. Mereka berpelukan sebagai tanda kerinduan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Adikku, aku telah lama mencarimu dan kini telah kutemukan di sini. Kulihat adikku hidup bahagia....” Kata Aman Lagona setelah mereka duduk.
“Ya, seperti Abang lihat sendiri, memang beginilah keadaanku,” jawab si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sudah berapa keponakanku?” tanya Aman Lagona melihat sekeliling.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sudah banyak Bang, bahkan ada yang sudah berkeluarga. Mereka kini</div>
<br>
{{c|15}}<noinclude></noinclude>
iidhgpfufoduuopbhhii6y4vu7efz2q
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/23
250
9280
30944
2026-09-23T11:34:39Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30944
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude>sedang di ladang mereka,” jelas si Tukku Dere.
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Malam harinya mereka berkumpul lagi di ruang depan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Aman Lagona mulai membuka pembicaraan, “Adikku, alangkah bahagianya bila kamu sekeluarga bersedia bergabung kembali denganku. Karena kini kita telah lama berpisah maka sebaiknya kita bersatu kembali,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Itu ada baiknya, Bang, tetapi hal ini perlu kubicarakan dengan ipar dan keponakanmu. Sebab mereka juga berhak ikut serta menentukan hal ini,” kata si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Lalu si Tukku Dere merundingkan hal itu kepada istri dan anak-anaknya. Mereka setuju karena akan bergabung dengan suku asal si Tukku Dere. Lalu si Tukku Dere menghampiri abangnya dan berkata, “Bang, kami setuju dengan usul Abang. Sebab mereka juga ingin melihat rumah kakeknya.”</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Wah, betapa senangnya bila ayah yang sudah tua dapat melihat menantu dan cucunya,” kata Aman Lagona.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Lalu kapan adikku pergi ke sana?” sambungnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sebaiknya Abang menjemputku,” pinta si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Baiklah, besok pagi kami pulang. Lalu kapan kami jemput?” kata Aman Lagona.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Pulu mongi....” jawab si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Yang dimaksud “pulu mongi’ adalah “besok lusa”. Namun Aman Lagona salah tafsir, “pulu mongi’ ia artikan sepuluh hari lagi.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Lusa yang diperkirakan si Tukku Dere abangnya datang menjemput
ternyata abangnya tersebut tidak datang. Beberapa hari kemudian abangnya juga belum muncul. Timbullah rasa curiganya. Jangan-jangan abangnya mengumpulkan beberapa temannya untuk menyerangnya. Maka pada malam itu, dikumpulkannyalah semua penghuni rumah itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Anak-anak dan istriku, kalau mengingat kejadian dulu, kemudian ditambah dengan Abangku tak datang sesuai janjinya. Aku khawatir ia datang lagi bersama teman-temannya untuk mengusir kita semua. Mari kita pergi dari sini,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Esoknya, pagi-pagi sekali, berangkatlah rombongan si Tukku Dere untuk melarikan diri. Sesampainya di sekitar muara Sungai Simatalu, beberapa orang anaknya kembali ke rumah untuk mengambil harta yang diperlukan karena ketinggalan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Mereka berjanji akan menyusul secepatnya. Si Tukku Dere beserta beberapa orang anak dan menantunya meneruskan perjalanan. Setiba di tepi laut maka diputuskan perjalanan dilanjutkan melalui laut.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sebelum berangkat si Tukku Dere berkata kepada istrinya. “Istriku, agar anak-anak kita yang menyusul tahu kemana arah kita, sebaiknya kutancapkan tongkatku ke tanah.”</div>
<br>
{{c|16}}<noinclude></noinclude>
idgjelmkxqzuida6mf0y7blr6kl04ya
30945
30944
2026-09-23T11:35:50Z
Naila Fathinah
323
30945
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="; text-align: justify;">sedang di ladang mereka,” jelas si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Malam harinya mereka berkumpul lagi di ruang depan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Aman Lagona mulai membuka pembicaraan, “Adikku, alangkah bahagianya bila kamu sekeluarga bersedia bergabung kembali denganku. Karena kini kita telah lama berpisah maka sebaiknya kita bersatu kembali,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Itu ada baiknya, Bang, tetapi hal ini perlu kubicarakan dengan ipar dan keponakanmu. Sebab mereka juga berhak ikut serta menentukan hal ini,” kata si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Lalu si Tukku Dere merundingkan hal itu kepada istri dan anak-anaknya. Mereka setuju karena akan bergabung dengan suku asal si Tukku Dere. Lalu si Tukku Dere menghampiri abangnya dan berkata, “Bang, kami setuju dengan usul Abang. Sebab mereka juga ingin melihat rumah kakeknya.”</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Wah, betapa senangnya bila ayah yang sudah tua dapat melihat menantu dan cucunya,” kata Aman Lagona.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Lalu kapan adikku pergi ke sana?” sambungnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sebaiknya Abang menjemputku,” pinta si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Baiklah, besok pagi kami pulang. Lalu kapan kami jemput?” kata Aman Lagona.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Pulu mongi....” jawab si Tukku Dere.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Yang dimaksud “pulu mongi’ adalah “besok lusa”. Namun Aman Lagona salah tafsir, “pulu mongi’ ia artikan sepuluh hari lagi.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Lusa yang diperkirakan si Tukku Dere abangnya datang menjemput
ternyata abangnya tersebut tidak datang. Beberapa hari kemudian abangnya juga belum muncul. Timbullah rasa curiganya. Jangan-jangan abangnya mengumpulkan beberapa temannya untuk menyerangnya. Maka pada malam itu, dikumpulkannyalah semua penghuni rumah itu.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Anak-anak dan istriku, kalau mengingat kejadian dulu, kemudian ditambah dengan Abangku tak datang sesuai janjinya. Aku khawatir ia datang lagi bersama teman-temannya untuk mengusir kita semua. Mari kita pergi dari sini,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Esoknya, pagi-pagi sekali, berangkatlah rombongan si Tukku Dere untuk melarikan diri. Sesampainya di sekitar muara Sungai Simatalu, beberapa orang anaknya kembali ke rumah untuk mengambil harta yang diperlukan karena ketinggalan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Mereka berjanji akan menyusul secepatnya. Si Tukku Dere beserta beberapa orang anak dan menantunya meneruskan perjalanan. Setiba di tepi laut maka diputuskan perjalanan dilanjutkan melalui laut.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sebelum berangkat si Tukku Dere berkata kepada istrinya. “Istriku, agar anak-anak kita yang menyusul tahu kemana arah kita, sebaiknya kutancapkan tongkatku ke tanah.”</div>
<br>
{{c|16}}<noinclude></noinclude>
jwvlb06su6y70d5tqgmlc1uusnx42zh
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/24
250
9281
30946
2026-09-23T11:38:24Z
Naila Fathinah
323
/* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Istrinya juga menancapkan tongkatnya dari kayu Aileppet. Mereka lalu meneruskan perjalanan lewat laut menggunakan batang kayu sebagai sampan. Tetapi di tengah perjalanan sampan mereka dihantam badai dan patah menjadi dua. Setengah terdampar di dekat Taileleu, mereka berhenti di sana dan mendirikan rumah. Mereka menamakan suku mereka Saumanuk.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;...
30946
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Istrinya juga menancapkan tongkatnya dari kayu Aileppet. Mereka lalu meneruskan perjalanan lewat laut menggunakan batang kayu sebagai sampan. Tetapi di tengah perjalanan sampan mereka dihantam badai dan patah menjadi
dua. Setengah terdampar di dekat Taileleu, mereka berhenti di sana dan mendirikan rumah. Mereka menamakan suku mereka Saumanuk.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Setengah lagi sampannya hanyut dibawa arus sampai ke Sipora. Anak mereka kemudian menyusul. Sesampainya di muara Simatalu mereka tidak menemukan rombongannya lagi. Mereka hanya menemukan batang kayu Pogullu dan Aileppet. Mereka memutuskan untuk berpencar. Ada yang menuju ke Saibidi. Di sana mereka mendirikan rumah dan menamakan sukunya Siritoitet dan Sagalak. Sedangkan rombongan yang menuju Sarereiket mendirikan rumah dan menamakan sukunya Sapojai. Batang kayu itu sekarang telah tumbang karena erosi dan tinggal kenangan saja.***</div>
Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja
17<noinclude></noinclude>
7wte9hlc2rzgckauvqgy2pkkdrvj0a8
30947
30946
2026-09-23T11:39:20Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30947
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Istrinya juga menancapkan tongkatnya dari kayu Aileppet. Mereka lalu meneruskan perjalanan lewat laut menggunakan batang kayu sebagai sampan. Tetapi di tengah perjalanan sampan mereka dihantam badai dan patah menjadi
dua. Setengah terdampar di dekat Taileleu, mereka berhenti di sana dan mendirikan rumah. Mereka menamakan suku mereka Saumanuk.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Setengah lagi sampannya hanyut dibawa arus sampai ke Sipora. Anak mereka kemudian menyusul. Sesampainya di muara Simatalu mereka tidak menemukan rombongannya lagi. Mereka hanya menemukan batang kayu Pogullu dan Aileppet. Mereka memutuskan untuk berpencar. Ada yang menuju ke Saibidi. Di sana mereka mendirikan rumah dan menamakan sukunya Siritoitet dan Sagalak. Sedangkan rombongan yang menuju Sarereiket mendirikan rumah dan menamakan sukunya Sapojai. Batang kayu itu sekarang telah tumbang karena erosi dan tinggal kenangan saja.***</div><br>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}
<br>
{{c|17}}<noinclude></noinclude>
pijphhmr0nrkw7rjgho31pwzzi4bjn3
30948
30947
2026-09-23T11:39:58Z
Naila Fathinah
323
30948
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Istrinya juga menancapkan tongkatnya dari kayu Aileppet. Mereka lalu meneruskan perjalanan lewat laut menggunakan batang kayu sebagai sampan. Tetapi di tengah perjalanan sampan mereka dihantam badai dan patah menjadi
dua. Setengah terdampar di dekat Taileleu, mereka berhenti di sana dan mendirikan rumah. Mereka menamakan suku mereka Saumanuk.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Setengah lagi sampannya hanyut dibawa arus sampai ke Sipora. Anak mereka kemudian menyusul. Sesampainya di muara Simatalu mereka tidak menemukan rombongannya lagi. Mereka hanya menemukan batang kayu Pogullu dan Aileppet. Mereka memutuskan untuk berpencar. Ada yang menuju ke Saibidi. Di sana mereka mendirikan rumah dan menamakan sukunya Siritoitet dan Sagalak. Sedangkan rombongan yang menuju Sarereiket mendirikan rumah dan menamakan sukunya Sapojai. Batang kayu itu sekarang telah tumbang karena erosi dan tinggal kenangan saja.***</div>
<br>
{{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}}
<br>
{{c|17}}<noinclude></noinclude>
bfse7nlnyjcm0mzyjcqf5qmservqd97
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/25
250
9282
30949
2026-09-23T11:40:19Z
Naila Fathinah
323
/* Indak ado teks */
30949
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="0" user="Naila Fathinah" /></noinclude>18<noinclude></noinclude>
q1xh5uulfgx2qimyijmnxu0uagy3ohg
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/26
250
9283
30950
2026-09-23T11:44:19Z
Naila Fathinah
323
/* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "<p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Pulau Siberut, Keong dan Burung Camar</p> <div style="text-align: justify;">'''DAHULU''' kala sebelum dihuni manusia, Pulau Siberut adalah sebuah pulau gersang dan tandus. Di sepanjang pantainya yang luas tinggallah burung camar. Burung-burung itu suka tinggal di sana. Selain berpantai panjang dan luas, di sana banyak terdapat ikan. Mereka tidak perlu besusah-payah terbang jauh menc...
30950
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Pulau Siberut, Keong dan Burung Camar</p>
<div style="text-align: justify;">'''DAHULU''' kala sebelum dihuni manusia, Pulau Siberut adalah sebuah pulau
gersang dan tandus. Di sepanjang pantainya yang luas tinggallah burung camar. Burung-burung itu suka tinggal di sana. Selain berpantai panjang dan luas, di sana banyak terdapat ikan. Mereka tidak perlu besusah-payah terbang jauh mencari makanan sehari-hari.
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung-burung camar itu dipimpin seekor camar bernama Sipokkai. Ia terkenal arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia dipatuhi dan dihormati. Suatu hari Sipokkai merasa resah dan khawatir karena banyak burung camar anggotanya yang sakit dan mati. Penyebabnya adalah panasnya sinar matahari sehingga bulu-bulu mereka terbakar.
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Bagaimana supaya penderitaan yang kami alami ini bisa berakhir. Apa yang harus kulakukan,” pikir Sipokkai.
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tiga hari ia berpikir terlintaslah di hatinya untuk pergi ke pulau seberang.
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku harus pergi ke tanah seberang untuk mencari jalan bagaimana bisa lepas dari penderitaan ini,” putusnya. <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Secara diam-diam Sipokkai menuju tempat yang dimaksud. Empat hari terbang, sampailah ia ke tempat yang dituju.Tempat itu adalah pulau yang kini dikenal sebagai Pulau Nias. Sipokkai melihat Pulau Nias yang pantainya ditumbuhi banyak pohon. Ia pun menukik turun dan hinggap di sebuah dahan pohon tersebut.
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">‘Pohon ini bisa tumbuh di pantai. Kalau begitu buah pohon ini saya bawa ke tempat saya untuk ditanam. Pohon ini akan menjadi tempat perlindungan saudara-saudaraku,’ kata Sipokkai dalam hati.
<br>
{{c|19}}<noinclude></noinclude>
2zhjeq5go76gjr06ukdfcxfxrhsfcm7
30951
30950
2026-09-23T11:45:30Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30951
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Pulau Siberut, Keong dan Burung Camar</p>
<div style="text-align: justify;">'''DAHULU''' kala sebelum dihuni manusia, Pulau Siberut adalah sebuah pulau
gersang dan tandus. Di sepanjang pantainya yang luas tinggallah burung camar. Burung-burung itu suka tinggal di sana. Selain berpantai panjang dan luas, di sana banyak terdapat ikan. Mereka tidak perlu besusah-payah terbang jauh mencari makanan sehari-hari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung-burung camar itu dipimpin seekor camar bernama Sipokkai. Ia terkenal arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia dipatuhi dan dihormati. Suatu hari Sipokkai merasa resah dan khawatir karena banyak burung camar anggotanya yang sakit dan mati. Penyebabnya adalah panasnya sinar matahari sehingga bulu-bulu mereka terbakar.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Bagaimana supaya penderitaan yang kami alami ini bisa berakhir. Apa yang harus kulakukan,” pikir Sipokkai.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tiga hari ia berpikir terlintaslah di hatinya untuk pergi ke pulau seberang.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Aku harus pergi ke tanah seberang untuk mencari jalan bagaimana bisa lepas dari penderitaan ini,” putusnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Secara diam-diam Sipokkai menuju tempat yang dimaksud. Empat hari terbang, sampailah ia ke tempat yang dituju.Tempat itu adalah pulau yang kini dikenal sebagai Pulau Nias. Sipokkai melihat Pulau Nias yang pantainya ditumbuhi banyak pohon. Ia pun menukik turun dan hinggap di sebuah dahan pohon tersebut.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">‘Pohon ini bisa tumbuh di pantai. Kalau begitu buah pohon ini saya bawa ke tempat saya untuk ditanam. Pohon ini akan menjadi tempat perlindungan saudara-saudaraku,’ kata Sipokkai dalam hati.</div>
<br>
{{c|19}}<noinclude></noinclude>
l48v5etv1ml3b2nsc5gxr6diwys4fdl
30952
30951
2026-09-23T11:46:31Z
Naila Fathinah
323
30952
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Pulau Siberut, Keong dan Burung Camar</p>
<div style="text-align: justify;">'''DAHULU''' kala sebelum dihuni manusia, Pulau Siberut adalah sebuah pulau
gersang dan tandus. Di sepanjang pantainya yang luas tinggallah burung camar. Burung-burung itu suka tinggal di sana. Selain berpantai panjang dan luas, di sana banyak terdapat ikan. Mereka tidak perlu besusah-payah terbang jauh mencari makanan sehari-hari.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Burung-burung camar itu dipimpin seekor camar bernama Sipokkai. Ia terkenal arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Ia dipatuhi dan dihormati. Suatu hari Sipokkai merasa resah dan khawatir karena banyak burung camar anggotanya yang sakit dan mati. Penyebabnya adalah panasnya sinar matahari sehingga bulu-bulu mereka terbakar.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Bagaimana supaya penderitaan yang kami alami ini bisa berakhir. Apa yang harus kulakukan,” pikir Sipokkai.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tiga hari ia berpikir terlintaslah di hatinya untuk pergi ke pulau seberang. “Aku harus pergi ke tanah seberang untuk mencari jalan bagaimana bisa lepas dari penderitaan ini,” putusnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Secara diam-diam Sipokkai menuju tempat yang dimaksud. Empat hari terbang, sampailah ia ke tempat yang dituju.Tempat itu adalah pulau yang kini dikenal sebagai Pulau Nias. Sipokkai melihat Pulau Nias yang pantainya ditumbuhi banyak pohon. Ia pun menukik turun dan hinggap di sebuah dahan pohon tersebut.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">‘Pohon ini bisa tumbuh di pantai. Kalau begitu buah pohon ini saya bawa ke tempat saya untuk ditanam. Pohon ini akan menjadi tempat perlindungan saudara-saudaraku,’ kata Sipokkai dalam hati.</div>
<br>
{{c|19}}<noinclude></noinclude>
niccnnvetmdibqem418qhbut15qzzoj
Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/27
250
9284
30953
2026-09-23T11:47:34Z
Naila Fathinah
323
/* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "Di Pulau Siberut, para burung camar sibuk mencari Sipokkai. Mereka terbang ke sana-kemari mencari, namun tidak menemui ketua mereka. Ketika mencari, seekor di antara mereka bernama Loket berkata, “Saudarasaudaraku, pencarian ketua kita hentikan dulu. Kita tunggu beberapa hari. Siapa tahu ketua sedang mencari obat-obatan untuk saudara-saudara kita yang sedang sakit.” “Kalau begitu baiklah, kita tunggu beberapa hari. Jika ketua tidak datang berarti ia...
30953
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>Di Pulau Siberut, para burung camar sibuk mencari Sipokkai. Mereka terbang ke sana-kemari mencari, namun tidak menemui ketua mereka. Ketika
mencari, seekor di antara mereka bernama Loket berkata, “Saudarasaudaraku, pencarian ketua kita hentikan dulu. Kita tunggu beberapa hari.
Siapa tahu ketua sedang mencari obat-obatan untuk saudara-saudara kita
yang sedang sakit.”
“Kalau begitu baiklah, kita tunggu beberapa hari. Jika ketua tidak datang
berarti ia telah tiada. Kita akan mengadakan pemilihan ketua baru lagi,” jawab
yang lain.
Akhirnya mereka menunggu dan lima hari sudah terlewatkan. Anggota
Sipokkai mulai cemas memikirkan dan khawatir akan keselamatan ketua
mereka. Pada hari ketujuh Sipokkai datang membawa sebuah benda, yaitu
buah pohon. Melihat ketua mereka muncul, semua burung camar menyambut
dengan gembira. Mereka berteriak, “Ketua telah kembali! Ketua telah kembali!”
Mereka membawa Sipokkai ke tempat biasa mereka mengadakan pertemuan.
Hari kedelapan setelah kedatangan Sipokkai mereka mengadakan rapat.
Si Sipokkai menceritakan pengalamannya di tanah seberang dan benda yang
dibawanya. “Saudara-saudara, benda yang saya bawa ini adalah buah pohon
dari tanah seberang. Saya melihat pohon buah ini bisa tumbuh di pantai. Karena
itu saya membawanya. Siapa tahu di sini bisa tumbuh,” katanya.
“Sekarang kita coba menanam buah pohon ini. Kalau tumbuh maka kita
semua sampai ke anak-cucu kita akan mendapat perlindungan dari sinar
matahari,” lanjutnya.
Selesai Sipokkai bicara, semua burung camar pergi menanam
pohon tersebut dengan semangat dan bergembira. Sebagai ketua, Sipokkai menyuruh Loket untuk menanam buah tersebut. Namun yang
lain berkata, “Biarlah Saudara Sipokkai yang menanamnya sebagai ketua kami!”
Akhirnya Sipokkai menanam buah pohon tersebut sambil membacakan
sumpah. “Simatulu, Kuurep ekeu kina buat loina nekne sibailiu bakkat suksukmai
sasarainangku kagogoi ki neneiget teret buruburu, kaule nupuurau simaruei.
Kek murimanua ekeu ake kungan onim “Bakkat’ bule ibailiu ekeu repdemenmai
sasarainangku.”
(Artinya: Keberuntungan, saya menanam buah pohon ini untuk menjadi
perlindungan kami, saudara-saudaraku hari ini dan selama-lamanya. Tumbuh
besarlah segera, jika engkau hidup akan kuberi nama “Pangkal” supaya menjadi
kenangan kami semua.)
Beberapa tahun kemudian buah yang ditanam Sipokkai tumbuh besar.
Melihat itu Sipokkai dan anggotanya sangat gembira. Mereka berseru, “Kita
selamat! Kita selamat dari sinar matahari!”
20<noinclude></noinclude>
39ktqfrehrblrviijrbh5hvbry7jhf6
30954
30953
2026-09-23T11:53:03Z
Naila Fathinah
323
/* Uji baco */
30954
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Di Pulau Siberut, para burung camar sibuk mencari Sipokkai. Mereka terbang ke sana-kemari mencari, namun tidak menemui ketua mereka. Ketika mencari, seekor di antara mereka bernama Loket berkata, “Saudara-saudaraku, pencarian ketua kita hentikan dulu. Kita tunggu beberapa hari. Siapa tahu ketua sedang mencari obat-obatan untuk saudara-saudara kita yang sedang sakit.”</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu baiklah, kita tunggu beberapa hari. Jika ketua tidak datang berarti ia telah tiada. Kita akan mengadakan pemilihan ketua baru lagi,” jawab
yang lain. Akhirnya mereka menunggu dan lima hari sudah terlewatkan. Anggota Sipokkai mulai cemas memikirkan dan khawatir akan keselamatan ketua mereka. Pada hari ketujuh Sipokkai datang membawa sebuah benda, yaitu buah pohon. Melihat ketua mereka muncul, semua burung camar menyambut
dengan gembira. Mereka berteriak, “Ketua telah kembali! Ketua telah kembali!” Mereka membawa Sipokkai ke tempat biasa mereka mengadakan pertemuan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Hari kedelapan setelah kedatangan Sipokkai mereka mengadakan rapat. Si Sipokkai menceritakan pengalamannya di tanah seberang dan benda yang dibawanya. “Saudara-saudara, benda yang saya bawa ini adalah buah pohon dari tanah seberang. Saya melihat pohon buah ini bisa tumbuh di pantai. Karena itu saya membawanya. Siapa tahu di sini bisa tumbuh,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sekarang kita coba menanam buah pohon ini. Kalau tumbuh maka kita semua sampai ke anak-cucu kita akan mendapat perlindungan dari sinar matahari,” lanjutnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Selesai Sipokkai bicara, semua burung camar pergi menanam pohon tersebut dengan semangat dan bergembira. Sebagai ketua, Sipokkai menyuruh Loket untuk menanam buah tersebut. Namun yang lain berkata, “Biarlah Saudara Sipokkai yang menanamnya sebagai ketua kami!”
Akhirnya Sipokkai menanam buah pohon tersebut sambil membacakan sumpah. ''“Simatulu, Kuurep ekeu kina buat loina nekne sibailiu bakkat suksukmai sasarainangku kagogoi ki neneiget teret buruburu, kaule nupuurau simaruei. Kek murimanua ekeu ake kungan onim “Bakkat’ bule ibailiu ekeu repdemenmai
sasarainangku.”''</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">(Artinya: Keberuntungan, saya menanam buah pohon ini untuk menjadi perlindungan kami, saudara-saudaraku hari ini dan selama-lamanya. Tumbuh besarlah segera, jika engkau hidup akan kuberi nama “Pangkal” supaya menjadi
kenangan kami semua.)</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Beberapa tahun kemudian buah yang ditanam Sipokkai tumbuh besar. Melihat itu Sipokkai dan anggotanya sangat gembira. Mereka berseru, “Kita selamat! Kita selamat dari sinar matahari!”</div>
<br>
{{c|20}}<noinclude></noinclude>
oyjes8jlxywt7uem6q7zcmifto5ehcw
30955
30954
2026-09-23T11:54:35Z
Naila Fathinah
323
30955
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Di Pulau Siberut, para burung camar sibuk mencari Sipokkai. Mereka terbang ke sana-kemari mencari, namun tidak menemui ketua mereka. Ketika mencari, seekor di antara mereka bernama Loket berkata, “Saudara-saudaraku, pencarian ketua kita hentikan dulu. Kita tunggu beberapa hari. Siapa tahu ketua sedang mencari obat-obatan untuk saudara-saudara kita yang sedang sakit.”</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu baiklah, kita tunggu beberapa hari. Jika ketua tidak datang berarti ia telah tiada. Kita akan mengadakan pemilihan ketua baru lagi,” jawab
yang lain.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Akhirnya mereka menunggu dan lima hari sudah terlewatkan. Anggota Sipokkai mulai cemas memikirkan dan khawatir akan keselamatan ketua mereka. Pada hari ketujuh Sipokkai datang membawa sebuah benda, yaitu buah pohon. Melihat ketua mereka muncul, semua burung camar menyambut
dengan gembira. Mereka berteriak, “Ketua telah kembali! Ketua telah kembali!” Mereka membawa Sipokkai ke tempat biasa mereka mengadakan pertemuan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Hari kedelapan setelah kedatangan Sipokkai mereka mengadakan rapat. Si Sipokkai menceritakan pengalamannya di tanah seberang dan benda yang dibawanya. “Saudara-saudara, benda yang saya bawa ini adalah buah pohon dari tanah seberang. Saya melihat pohon buah ini bisa tumbuh di pantai. Karena itu saya membawanya. Siapa tahu di sini bisa tumbuh,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sekarang kita coba menanam buah pohon ini. Kalau tumbuh maka kita semua sampai ke anak-cucu kita akan mendapat perlindungan dari sinar matahari,” lanjutnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Selesai Sipokkai bicara, semua burung camar pergi menanam pohon tersebut dengan semangat dan bergembira. Sebagai ketua, Sipokkai menyuruh Loket untuk menanam buah tersebut. Namun yang lain berkata, “Biarlah Saudara Sipokkai yang menanamnya sebagai ketua kami!”
Akhirnya Sipokkai menanam buah pohon tersebut sambil membacakan sumpah. ''“Simatulu, Kuurep ekeu kina buat loina nekne sibailiu bakkat suksukmai sasarainangku kagogoi ki neneiget teret buruburu, kaule nupuurau simaruei. Kek murimanua ekeu ake kungan onim “Bakkat’ bule ibailiu ekeu repdemenmai
sasarainangku.”''</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">(Artinya: Keberuntungan, saya menanam buah pohon ini untuk menjadi perlindungan kami, saudara-saudaraku hari ini dan selama-lamanya. Tumbuh besarlah segera, jika engkau hidup akan kuberi nama “Pangkal” supaya menjadi
kenangan kami semua.)</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Beberapa tahun kemudian buah yang ditanam Sipokkai tumbuh besar. Melihat itu Sipokkai dan anggotanya sangat gembira. Mereka berseru, “Kita selamat! Kita selamat dari sinar matahari!”</div>
<br>
{{c|20}}<noinclude></noinclude>
4jtvzb0h34gv1cz0146kkrt2b7kyxjv
30956
30955
2026-09-23T11:55:22Z
Naila Fathinah
323
30956
proofread-page
text/x-wiki
<noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Di Pulau Siberut, para burung camar sibuk mencari Sipokkai. Mereka terbang ke sana-kemari mencari, namun tidak menemui ketua mereka. Ketika mencari, seekor di antara mereka bernama Loket berkata, “Saudara-saudaraku, pencarian ketua kita hentikan dulu. Kita tunggu beberapa hari. Siapa tahu ketua sedang mencari obat-obatan untuk saudara-saudara kita yang sedang sakit.”</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu baiklah, kita tunggu beberapa hari. Jika ketua tidak datang berarti ia telah tiada. Kita akan mengadakan pemilihan ketua baru lagi,” jawab
yang lain.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Akhirnya mereka menunggu dan lima hari sudah terlewatkan. Anggota Sipokkai mulai cemas memikirkan dan khawatir akan keselamatan ketua mereka. Pada hari ketujuh Sipokkai datang membawa sebuah benda, yaitu buah pohon. Melihat ketua mereka muncul, semua burung camar menyambut
dengan gembira. Mereka berteriak, “Ketua telah kembali! Ketua telah kembali!” Mereka membawa Sipokkai ke tempat biasa mereka mengadakan pertemuan.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Hari kedelapan setelah kedatangan Sipokkai mereka mengadakan rapat. Si Sipokkai menceritakan pengalamannya di tanah seberang dan benda yang dibawanya. “Saudara-saudara, benda yang saya bawa ini adalah buah pohon dari tanah seberang. Saya melihat pohon buah ini bisa tumbuh di pantai. Karena itu saya membawanya. Siapa tahu di sini bisa tumbuh,” katanya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Sekarang kita coba menanam buah pohon ini. Kalau tumbuh maka kita semua sampai ke anak-cucu kita akan mendapat perlindungan dari sinar matahari,” lanjutnya.</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Selesai Sipokkai bicara, semua burung camar pergi menanam pohon tersebut dengan semangat dan bergembira. Sebagai ketua, Sipokkai menyuruh Loket untuk menanam buah tersebut. Namun yang lain berkata, “Biarlah Saudara Sipokkai yang menanamnya sebagai ketua kami!”
Akhirnya Sipokkai menanam buah pohon tersebut sambil membacakan sumpah. ''“Simatulu, Kuurep ekeu kina buat loina nekne sibailiu bakkat suksukmai sasarainangku kagogoi ki neneiget teret buruburu, kaule nupuurau simaruei. Kek murimanua ekeu ake kungan onim “Bakkat’ bule ibailiu ekeu repdemenmai sasarainangku.”''</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">(Artinya: Keberuntungan, saya menanam buah pohon ini untuk menjadi perlindungan kami, saudara-saudaraku hari ini dan selama-lamanya. Tumbuh besarlah segera, jika engkau hidup akan kuberi nama “Pangkal” supaya menjadi
kenangan kami semua.)</div>
<div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Beberapa tahun kemudian buah yang ditanam Sipokkai tumbuh besar. Melihat itu Sipokkai dan anggotanya sangat gembira. Mereka berseru, “Kita selamat! Kita selamat dari sinar matahari!”</div>
<br>
{{c|20}}<noinclude></noinclude>
q1mp2jkxpb1uvvukz6vqi5m2amgwa8t