Wikibasurek minwikisource https://min.wikisource.org/wiki/Palanta MediaWiki 1.47.0-wmf.21 first-letter Media Istimewa Rundiang Pangguno Rundiang Pangguno Wikibasurek Rundiang Wikibasurek Berkas Rundiang Berkas MediaWiki Rundiang MediaWiki Templat Rundiang Templat Bantuan Rundiang Bantuan Kategori Rundiang Kategori Portal Rundiang Portal Halaman Rundiang Halaman Buku Rundiang Buku TimedText TimedText talk Modul Rundiang Modul Acara Pembicaraan Acara Buku:Pedoman Parsambahan dan Pidato Adat Minangkabau.pdf 252 61 30973 30424 2026-09-24T00:47:20Z PIAM007 401 30973 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Title=Pedoman Parsambahan dan Pidato Adat Minangkabau |Language=min |Author=Sjamsuddin Sutan Radjo Endah |Translator= |Editor= |Year= |Publisher=Pustaka Indonesia Bukittinggi |Address= |Key= |Source=pdf |Image=1 |Progress=T |Volumes= |Pages=<pagelist /> |Remarks= |Width= |Css= }} [[Kategori:Minangkabau]] lfjdapruto7b1p7s0ercjkslooxaghy Buku:Lembaran Adat Minangkabau.pdf 252 384 30972 1508 2026-09-24T00:01:06Z PIAM007 401 30972 proofread-index text/x-wiki {{:MediaWiki:Proofreadpage_index_template |Title=Lembaran Adat Minangkabau |Language=min |Author=N.M. Rangkoto (dengan Dt. Bandaro) |Translator= |Editor= |Year= |Publisher=Lestari Bukittinggi |Address= |Key= |Source= |Image=1 |Progress=C |Volumes= |Pages=<pagelist /> |Remarks= |Width= |Css= }} [[Kategori:Minangkabau]] m8rxrcbg2zl817493xfv0xfxxm8grz9 Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/28 250 9285 30957 2026-09-23T12:01:37Z Naila Fathinah 323 /* Uji baco */ 30957 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Mereka terbang ke ranting pohon tersebut. Karena pohon itu sudah tumbuh besar dan bisa melindungi mereka, maka kehidupan mereka bertambah baik. Jarang ada yang sakit atau pun mati.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu hari para burung camar mengadakan rapat. Sipokkai mengatakan kini mereka sudah selamat dari panas sinar matahari. Kematian sudah berkurang, lalu apa rencana selanjutnya. Salah satu peserta mengusulkan agar berpesta dan yang lain setuju. Sipokkai mengatakan akan mengadakan lomba keliling pulau. Ia mengutus dua camar mengundang burung-burung lain dari tanah seberang sebagai peserta. Kedua camar itu pergi dan beberapa hari mereka kembali bersama tamu-tamu mereka. Ada beo, rangkong, merpati, elang, gagak, dan srigunting. Para tamu disambut tarian camar menyambar ikan dilaut.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Esok paginya diadakan pertandingan dan semua tamu menjadi peserta. Mereka adu kecepatan dan kekuatan mengelilingi Pulau Siberut yang masih gersang. Namun sebelum lomba, para peserta dijamu terlebih dulu makan buah-buahan sekenyang-kenyangnya. Ketika lomba berlangsung burung-burung itu berusaha dahulu-mendahului. Tapi karena mereka kekenyangan, di tengah jalan mereka sering berhenti untuk buang air besar sehingga keluarlah biji-bijian.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Pertandingan dimenangkan beo. Ia mendapat hadiah kalung emas dan peserta lain diberi hadiah ala kadarnya. Usai acara mereka kembali ke tempat masing masing. Diatas bukit tumbuhlah pohon-pohon yang berasal dari bekaskotoran burung-burung tersebut. Pohon-pohon itu menjadi besar tanpa disadari burung-burung camar.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu senja burung-burung camar itu pergi ke laut mencari ikan. Hanya Sipokkai yang tidak ikut. Ia melihat keadaan pantai di sekitar pulau. Dalam perjalanan ia dikejutkan sebuah suara, “Mau kemanakah Saudara?” Ia menoleh, namun tidak melihat siapapun.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Ia melanjutkan perjalanan, tapi suara itu kembali didengarnya. Sipokkai berhenti dan menoleh ke belakang. Kini ia melihat seekor keong merangkak kearahnya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Siapakah Saudara?” tanya Sipokkai.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Saya dari bangsa keong abbaudan, kami bertempat tinggal di akarakarpohon (bakau) yang kalian tanam. Jika boleh kami ingin hidup di sini selamalamanya,” kata keong.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Tentu saja,” jawabnya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Ia melanjutkan perjalanan, namun di tengah perjalanan ia jatuh sakit dan kembali pulang.</div> <br> {{c|21}}<noinclude></noinclude> t0rdva5n7scjbtwi9fv7ghkdyn996xz Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/29 250 9286 30958 2026-09-23T12:07:14Z Naila Fathinah 323 /* Uji baco */ 30958 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Seekor camar bernama Loket menyuruh dua burung lain Ropru dan Takep pergi mencari obat. Keduanya terbang ke tengah pulau dan heran melihat pohon-pohon tumbuh subur. Mereka pun memetik daun-daunan untuk obat. Bergegas mereka kembali pulang. Namun mereka terlambat, Sipokkai telah meninggal. Mendengar Sipokkai telah meninggal keong-keong pun datang. Mereka menunjukkan belasungkawanya atas kematian pimpinan para burung camar yang bijaksana, adil, dan baik hati</div>. <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sepeninggal Sipokkai kehidupan burung camar sangat susah dan tak menentu. Suatu hari mereka berkumpul untuk memilih ketua baru. Yang terpilih adalah Siboak, putra Sipokkai sendiri. Namun Siboak berwatak berbeda dengan ayahnya. Ia angkuh dan sombong sehingga banyak camar yang tidak senang atas kepemimpinannya. <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu pagi burung-burung camar berkumpul. Siboak bicara lantang. “Hai Saudara-saudaraku, saya tidak ingin ada kelompok lain berada dalam wilayah kekuasaanku. Jika ada harus diusir,” katanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “Hai Saudara Boak, janganlah berkata begitu. Tidak mungkin kita hidup tanpa orang lain.” Mendengar itu Siboak tersinggung. “Siapa kau, ayo tunjukan wajahmu di hadapanku. Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku!” katanya. Muncullah seekor keong kehadapan Siboak. “Maafkan saya Saudara, bukan saya bermaksud meremehkan Saudara. Akan tetapi kalau Saudara mengusir kami dimana kami akan tinggal. Kami ingin kita bisa hidup damai,” katanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Namun Siboak bertambah marah. “Hei kau sok tahu dan beraninya menasehatiku. Aku lebih hebat dan lebih tahu segalanya. Engkau hanya makhluk lemah dan tak pantas bicara seperti itu. Apa kehebatanmu, he?” hardiknya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu saya mau bertanding lari keliling pulau ini dengan Saudara. Jika Saudara kalah maka kami tidak akan pergi dari sini. Namun kalau saya kalah maka kami akan pergi dari sini,” kata si keong.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tantangan itu diterima Siboak dan pertandingan dijanjikan esok harinya. Si keong mengumpulkan teman-temannya dan mengatur siasat. Mereka menyebar ke berbagai tempat yang akan dilalui Siboak.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Pagi esoknya pertandingan dimulai. Siboak terbang dengan cepat sedangkan si keong merangkak. Dengan cepat si keong menyelinap di akar pohon bakau. Lama terbang Siboak bertanya apakah si keong masih ada. “Ya, saya ada di belakang Saudara,” kata keong lainnya yang kebetulan berada dekat Siboak. Mendengar si keong tetap bisa mengikutinya Siboak menambah kecepatan terbangnya.</div> <br> {{c|22}}<noinclude></noinclude> mkge6vl3e89xs7v6g1sw9ojfrefx4cu 30959 30958 2026-09-23T12:08:07Z Naila Fathinah 323 30959 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Seekor camar bernama Loket menyuruh dua burung lain Ropru dan Takep pergi mencari obat. Keduanya terbang ke tengah pulau dan heran melihat pohon-pohon tumbuh subur. Mereka pun memetik daun-daunan untuk obat. Bergegas mereka kembali pulang. Namun mereka terlambat, Sipokkai telah meninggal. Mendengar Sipokkai telah meninggal keong-keong pun datang. Mereka menunjukkan belasungkawanya atas kematian pimpinan para burung camar yang bijaksana, adil, dan baik hati</div>. <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sepeninggal Sipokkai kehidupan burung camar sangat susah dan tak menentu. Suatu hari mereka berkumpul untuk memilih ketua baru. Yang terpilih adalah Siboak, putra Sipokkai sendiri. Namun Siboak berwatak berbeda dengan ayahnya. Ia angkuh dan sombong sehingga banyak camar yang tidak senang atas kepemimpinannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu pagi burung-burung camar berkumpul. Siboak bicara lantang. “Hai Saudara-saudaraku, saya tidak ingin ada kelompok lain berada dalam wilayah kekuasaanku. Jika ada harus diusir,” katanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “Hai Saudara Boak, janganlah berkata begitu. Tidak mungkin kita hidup tanpa orang lain.” Mendengar itu Siboak tersinggung. “Siapa kau, ayo tunjukan wajahmu di hadapanku. Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku!” katanya. Muncullah seekor keong kehadapan Siboak. “Maafkan saya Saudara, bukan saya bermaksud meremehkan Saudara. Akan tetapi kalau Saudara mengusir kami dimana kami akan tinggal. Kami ingin kita bisa hidup damai,” katanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Namun Siboak bertambah marah. “Hei kau sok tahu dan beraninya menasehatiku. Aku lebih hebat dan lebih tahu segalanya. Engkau hanya makhluk lemah dan tak pantas bicara seperti itu. Apa kehebatanmu, he?” hardiknya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu saya mau bertanding lari keliling pulau ini dengan Saudara. Jika Saudara kalah maka kami tidak akan pergi dari sini. Namun kalau saya kalah maka kami akan pergi dari sini,” kata si keong.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tantangan itu diterima Siboak dan pertandingan dijanjikan esok harinya. Si keong mengumpulkan teman-temannya dan mengatur siasat. Mereka menyebar ke berbagai tempat yang akan dilalui Siboak.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Pagi esoknya pertandingan dimulai. Siboak terbang dengan cepat sedangkan si keong merangkak. Dengan cepat si keong menyelinap di akar pohon bakau. Lama terbang Siboak bertanya apakah si keong masih ada. “Ya, saya ada di belakang Saudara,” kata keong lainnya yang kebetulan berada dekat Siboak. Mendengar si keong tetap bisa mengikutinya Siboak menambah kecepatan terbangnya.</div> <br> {{c|22}}<noinclude></noinclude> 12xm8xzthv853r4ca6daptdyuhi9zgv 30960 30959 2026-09-23T12:12:11Z Naila Fathinah 323 30960 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Seekor camar bernama Loket menyuruh dua burung lain Ropru dan Takep pergi mencari obat. Keduanya terbang ke tengah pulau dan heran melihat pohon-pohon tumbuh subur. Mereka pun memetik daun-daunan untuk obat. Bergegas mereka kembali pulang. Namun mereka terlambat, Sipokkai telah meninggal. Mendengar Sipokkai telah meninggal keong-keong pun datang. Mereka menunjukkan belasungkawanya atas kematian pimpinan para burung camar yang bijaksana, adil, dan baik hati.</div><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Sepeninggal Sipokkai kehidupan burung camar sangat susah dan tak menentu. Suatu hari mereka berkumpul untuk memilih ketua baru. Yang terpilih adalah Siboak, putra Sipokkai sendiri. Namun Siboak berwatak berbeda dengan ayahnya. Ia angkuh dan sombong sehingga banyak camar yang tidak senang atas kepemimpinannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Suatu pagi burung-burung camar berkumpul. Siboak bicara lantang. “Hai Saudara-saudaraku, saya tidak ingin ada kelompok lain berada dalam wilayah kekuasaanku. Jika ada harus diusir,” katanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “Hai Saudara Boak, janganlah berkata begitu. Tidak mungkin kita hidup tanpa orang lain.” Mendengar itu Siboak tersinggung. “Siapa kau, ayo tunjukan wajahmu di hadapanku. Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku!” katanya. Muncullah seekor keong kehadapan Siboak. “Maafkan saya Saudara, bukan saya bermaksud meremehkan Saudara. Akan tetapi kalau Saudara mengusir kami dimana kami akan tinggal. Kami ingin kita bisa hidup damai,” katanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Namun Siboak bertambah marah. “Hei kau sok tahu dan beraninya menasehatiku. Aku lebih hebat dan lebih tahu segalanya. Engkau hanya makhluk lemah dan tak pantas bicara seperti itu. Apa kehebatanmu, he?” hardiknya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Kalau begitu saya mau bertanding lari keliling pulau ini dengan Saudara. Jika Saudara kalah maka kami tidak akan pergi dari sini. Namun kalau saya kalah maka kami akan pergi dari sini,” kata si keong.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tantangan itu diterima Siboak dan pertandingan dijanjikan esok harinya. Si keong mengumpulkan teman-temannya dan mengatur siasat. Mereka menyebar ke berbagai tempat yang akan dilalui Siboak.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Pagi esoknya pertandingan dimulai. Siboak terbang dengan cepat sedangkan si keong merangkak. Dengan cepat si keong menyelinap di akar pohon bakau. Lama terbang Siboak bertanya apakah si keong masih ada. “Ya, saya ada di belakang Saudara,” kata keong lainnya yang kebetulan berada dekat Siboak. Mendengar si keong tetap bisa mengikutinya Siboak menambah kecepatan terbangnya.</div> <br> {{c|22}}<noinclude></noinclude> 08y2mjz1xpd82cq5tdq37zeldmuqoci Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/30 250 9287 30961 2026-09-23T12:12:32Z Naila Fathinah 323 /* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "Tak lama ia tanya lagi si keong dan jawaban tetap seperti tadi. Tentu saja yang menjawab keong lainnya. Siboak menambah kecepatannya. Namun itu membuat tubuhnya kelelahan. Sayapnya letih dan akhirnya ia terjatuh ke laut dan dimakan hiu. Maka tamatlah riwayat Siboak. Para keong mengadakan pesta kemenangan. Meski Siboak tidak disukai anggotanya, burung-burung camar tetap merasa kehilangan.*** Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja 23" 30961 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>Tak lama ia tanya lagi si keong dan jawaban tetap seperti tadi. Tentu saja yang menjawab keong lainnya. Siboak menambah kecepatannya. Namun itu membuat tubuhnya kelelahan. Sayapnya letih dan akhirnya ia terjatuh ke laut dan dimakan hiu. Maka tamatlah riwayat Siboak. Para keong mengadakan pesta kemenangan. Meski Siboak tidak disukai anggotanya, burung-burung camar tetap merasa kehilangan.*** Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja 23<noinclude></noinclude> rn3sq0vv93erjukxcand3e97udlhusl 30962 30961 2026-09-23T12:13:55Z Naila Fathinah 323 /* Uji baco */ 30962 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tak lama ia tanya lagi si keong dan jawaban tetap seperti tadi. Tentu saja yang menjawab keong lainnya. Siboak menambah kecepatannya. Namun itu membuat tubuhnya kelelahan. Sayapnya letih dan akhirnya ia terjatuh ke laut dan dimakan hiu. Maka tamatlah riwayat Siboak. Para keong mengadakan pesta kemenangan. Meski Siboak tidak disukai anggotanya, burung-burung camar tetap merasa kehilangan.***</div> <br> {{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}} <br> <br> {{c|23}}<noinclude></noinclude> 68fk9eabsaiu5ejn603r4dwnz51n3dw Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/31 250 9288 30963 2026-09-23T12:14:20Z Naila Fathinah 323 /* Indak ado teks */ 30963 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="0" user="Naila Fathinah" /></noinclude>24<noinclude></noinclude> 6yckjqgzxubcb1had4f9lkfnp8d3mvc Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/32 250 9289 30964 2026-09-23T13:05:41Z Naila Fathinah 323 /* Uji baco */ 30964 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Sibulu-bulu</p> <br> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">'''DAHULU''' kala hiduplah seorang perempuan muda yang suaminya baru saja. Ia tinggal sendirian dengan hati yang sedih karena sedang hamil tua. Terbayang di matanya, betapa sulitnya kehidupan kalau sudah melahirkan nanti. Tentu, ia sendirilah yang harus bekerja keras untuk mencari nafkah.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Beberapa bulan kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Muncul hal aneh, seluruh badan bayi itu berbulu seperti monyet. Karena malu, ia membungkus bayinya dengan kain dan ingin membuangnya di sungai. Pada saat itu datang seorang perempuan tua kepadanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Jangan buang bayimu itu. Rawat saja dia baik-baik. Bagaimana pun keadaannya, dia tetaplah anak kandungmu.”</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Ibu muda itu tersadar dengan ucapan si perempuan tua tersebut. Ia kemudian merawat anaknya dengan baik. Anak itu dinamai Sibulu-bulu, yang artinya orang yang memiliki bulu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tersiarlah kejadian aneh itu ke seluruh kampung dan ke semua suku. Banyak orang datang ke rumahnya untuk mengetahui apa yang terjadi. Orang yang datang itu berbisik-bisik, mengejek, dan menertawai anaknya. Si ibu muda itu hanya diam sambil menahan malu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Menjelang Sibulu-bulu dewasa, ketika duduk di rumah, lapisan kulitnya yang berbulu terkelupas. Ia merahasiakan kejadian itu kepada orang lain, termasuk kepada ibunya. Ia mencoba membuka lapisan kulitnya itu seluruhnya. Ternyata, kulitnya yang berbulu itu bisa dilepaskan seperti melepaskan baju. Di balik kulit berbulu itu terlihat kulit yang halus</div>. <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Di balik kulit berbulu itu, terlihat wajah seorang pemuda yang tampan. Ia lebih tampan dibanding pemuda mana pun di kampungnya.</div> <br> {{c|25}}<noinclude></noinclude> 8yo3djt755aatemwvkl96fka9lci1ly 30965 30964 2026-09-23T13:08:03Z Naila Fathinah 323 30965 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><p style="text-align: center; font-weight: bold; font-size: 130%;">Sibulu-bulu</p> <br> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">'''DAHULU''' kala hiduplah seorang perempuan muda yang suaminya baru saja. Ia tinggal sendirian dengan hati yang sedih karena sedang hamil tua. Terbayang di matanya, betapa sulitnya kehidupan kalau sudah melahirkan nanti. Tentu, ia sendirilah yang harus bekerja keras untuk mencari nafkah.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Beberapa bulan kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki. Muncul hal aneh, seluruh badan bayi itu berbulu seperti monyet. Karena malu, ia membungkus bayinya dengan kain dan ingin membuangnya di sungai. Pada saat itu datang seorang perempuan tua kepadanya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">“Jangan buang bayimu itu. Rawat saja dia baik-baik. Bagaimana pun keadaannya, dia tetaplah anak kandungmu.”</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Ibu muda itu tersadar dengan ucapan si perempuan tua tersebut. Ia kemudian merawat anaknya dengan baik. Anak itu dinamai Sibulu-bulu, yang artinya orang yang memiliki bulu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Tersiarlah kejadian aneh itu ke seluruh kampung dan ke semua suku. Banyak orang datang ke rumahnya untuk mengetahui apa yang terjadi. Orang yang datang itu berbisik-bisik, mengejek, dan menertawai anaknya. Si ibu muda itu hanya diam sambil menahan malu.</div><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Menjelang Sibulu-bulu dewasa, ketika duduk di rumah, lapisan kulitnya yang berbulu terkelupas. Ia merahasiakan kejadian itu kepada orang lain, termasuk kepada ibunya. Ia mencoba membuka lapisan kulitnya itu seluruhnya. Ternyata, kulitnya yang berbulu itu bisa dilepaskan seperti melepaskan baju. Di balik kulit berbulu itu terlihat kulit yang halus.</div><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;">Di balik kulit berbulu itu, terlihat wajah seorang pemuda yang tampan. Ia lebih tampan dibanding pemuda mana pun di kampungnya.</div> <br> {{c|25}}<noinclude></noinclude> g5t5kwqlkk8honcdkaigglw8bpzzjmu Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/33 250 9290 30966 2026-09-23T13:08:43Z Naila Fathinah 323 /* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "Sibulu-bulu senang bukan main, ia kemudian memasangkan kembali kulitnya yang berbulu itu. Hal itu dilakukannya agar orang tidak mengetahui perubahan dirinya. Suatu ketika ibu Sibulu-bulu bermimpi bertemu suaminya. Suaminya berkata kepadanya, “Jangan sia-siakan anak kita, ia adalah manusia biasa. Dia anak yang tampan dan gagah. Bulunya itu dapat dilepas dan kulitnya seperti manusia biasa. Sekarang ia sudah dewasa, carikanlah pasangan yang cantik untu... 30966 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>Sibulu-bulu senang bukan main, ia kemudian memasangkan kembali kulitnya yang berbulu itu. Hal itu dilakukannya agar orang tidak mengetahui perubahan dirinya. Suatu ketika ibu Sibulu-bulu bermimpi bertemu suaminya. Suaminya berkata kepadanya, “Jangan sia-siakan anak kita, ia adalah manusia biasa. Dia anak yang tampan dan gagah. Bulunya itu dapat dilepas dan kulitnya seperti manusia biasa. Sekarang ia sudah dewasa, carikanlah pasangan yang cantik untuknya.” Setelah ibu itu terbangun, ia terus memikirkan mimpinya itu. ‘Apakah hal itu memang benar? Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan?’ pikirnya. Ia sangat mengharapkan hal itu terjadi pada anaknya. Tanpa pikir panjang, ia pergi mencari seorang gadis untuk dijadikan menantunya. Setelah menemui beberapa orang gadis, tidak ada yang mau menerima lamarannya. Ia tidak berputus asa dan tetap berusaha mencari. Di suatu tempat, ia bertemu dengan tiga orang gadis bersaudara. Si ibu mendekati mereka dan memberanikan diri melamar untuk anaknya. Pertama ia melamar gadis yang sulung, tetapi ditolak. Si ibu kemudian melamar anak yang di tengah, ia juga ditolak. Ketika ia melamar si bungsu, lamarannya itu diterima. Karena si bungsu menerima lamaran itu, kedua kakaknya marah kepadanya. Mereka menganggapnya sudah tidak waras. Akan tetapi, si bungsu tetap pada pendiriannya. Lalu, si ibu itu membawanya untuk dinikahkan dengan anaknya. Beberapa bulan setelah menikah, istrinya mengajak Sibulu-bulu menghadiri sebuah pesta. Akan tetapi, Sibulu-bulu menolak karena takut ditertawakan orang banyak. Karena Sibulu-bulu tidak mau ikut, istrinya pun pergi bersama teman-temannya. Beberapa waktu setelah istrinya pergi, Sibulu-bulu menanggalkan kulitnya yang berbulu dan disembunyikannya di dalam bambu. Ia kemudian bersolek dan pergi ke tempat pesta itu. Setibanya di tempat pesta, semua orang memandangnya dengan kagum karena ketampanannya. Tidak seorang pun yang mengenalnya, termasuk istrinya sendiri. Ia duduk di dekat istrinya dan mengajaknya bercakp-cakap. Sesekali ia menggoda istrinya itu untuk menguji kesetiaannya. Gadis-gadis lain merasa iri kepada istrinya. Berulang kali Sibulu-bulu menggoda istrinya dalam berbagai kesempatan. Akan tetapi, istrinya tetap tidak tergoda, ia setia kepada suaminya. Beberapa lama kemudian rahasia Sibulu-bulu menanggalkan kulitnya itu terbongkar. Ada orang yang memberi tahu istrinya bahwa yang selalu 26<noinclude></noinclude> mnrk82m0r358pjr451s8nwlpmuh0skg 30967 30966 2026-09-23T13:13:53Z Naila Fathinah 323 /* Uji baco */ 30967 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Sibulu-bulu senang bukan main, ia kemudian memasangkan kembali kulitnya yang berbulu itu. Hal itu dilakukannya agar orang tidak mengetahui perubahan dirinya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Suatu ketika ibu Sibulu-bulu bermimpi bertemu suaminya. Suaminya berkata kepadanya, “Jangan sia-siakan anak kita, ia adalah manusia biasa. Dia anak yang tampan dan gagah. Bulunya itu dapat dilepas dan kulitnya seperti manusia biasa. Sekarang ia sudah dewasa, carikanlah pasangan yang cantik untuknya.”</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Setelah ibu itu terbangun, ia terus memikirkan mimpinya itu.‘Apakah hal itu memang benar? Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan?’ pikirnya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Ia sangat mengharapkan hal itu terjadi pada anaknya. Tanpa pikir panjang, ia pergi mencari seorang gadis untuk dijadikan menantunya. Setelah menemui beberapa orang gadis, tidak ada yang mau menerima lamarannya. Ia tidak berputus asa dan tetap berusaha mencari.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Di suatu tempat, ia bertemu dengan tiga orang gadis bersaudara. Si ibu mendekati mereka dan memberanikan diri melamar untuk anaknya. Pertama ia melamar gadis yang sulung, tetapi ditolak. Si ibu kemudian melamar anak yang di tengah, ia juga ditolak. Ketika ia melamar si bungsu, lamarannya itu diterima.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Karena si bungsu menerima lamaran itu, kedua kakaknya marah kepadanya. Mereka menganggapnya sudah tidak waras. Akan tetapi, si bungsu tetap pada pendiriannya. Lalu, si ibu itu membawanya untuk dinikahkan dengan anaknya. Beberapa bulan setelah menikah, istrinya mengajak Sibulu-bulu menghadiri sebuah pesta. Akan tetapi, Sibulu-bulu menolak karena takut ditertawakan orang banyak. Karena Sibulu-bulu tidak mau ikut, istrinya pun pergi bersama teman-temannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Beberapa waktu setelah istrinya pergi, Sibulu-bulu menanggalkan kulitnya yang berbulu dan disembunyikannya di dalam bambu. Ia kemudian bersolek dan pergi ke tempat pesta itu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Setibanya di tempat pesta, semua orang memandangnya dengan kagum karena ketampanannya. Tidak seorang pun yang mengenalnya, termasuk istrinya sendiri. Ia duduk di dekat istrinya dan mengajaknya bercakp-cakap. Sesekali ia menggoda istrinya itu untuk menguji kesetiaannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Gadis-gadis lain merasa iri kepada istrinya. Berulang kali Sibulu-bulu menggoda istrinya dalam berbagai kesempatan. Akan tetapi, istrinya tetap tidak tergoda, ia setia kepada suaminya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Beberapa lama kemudian rahasia Sibulu-bulu menanggalkan kulitnya itu terbongkar. Ada orang yang memberi tahu istrinya bahwa yang selalu</div> <br> {{c|26}}<noinclude></noinclude> qa1nsw2807gyl9ctlt8xiq2a3jk9a84 30968 30967 2026-09-23T13:17:32Z Naila Fathinah 323 30968 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Sibulu-bulu senang bukan main, ia kemudian memasangkan kembali kulitnya yang berbulu itu. Hal itu dilakukannya agar orang tidak mengetahui perubahan dirinya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Suatu ketika ibu Sibulu-bulu bermimpi bertemu suaminya. Suaminya berkata kepadanya, “Jangan sia-siakan anak kita, ia adalah manusia biasa. Dia anak yang tampan dan gagah. Bulunya itu dapat dilepas dan kulitnya seperti manusia biasa. Sekarang ia sudah dewasa, carikanlah pasangan yang cantik untuknya.”</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Setelah ibu itu terbangun, ia terus memikirkan mimpinya itu.‘Apakah hal itu memang benar? Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan?’ Pikirnya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Ia sangat mengharapkan hal itu terjadi pada anaknya. Tanpa pikir panjang, ia pergi mencari seorang gadis untuk dijadikan menantunya. Setelah menemui beberapa orang gadis, tidak ada yang mau menerima lamarannya. Ia tidak berputus asa dan tetap berusaha mencari.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Di suatu tempat, ia bertemu dengan tiga orang gadis bersaudara. Si ibu mendekati mereka dan memberanikan diri melamar untuk anaknya. Pertama ia melamar gadis yang sulung, tetapi ditolak. Si ibu kemudian melamar anak yang di tengah, ia juga ditolak. Ketika ia melamar si bungsu, lamarannya itu diterima.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Karena si bungsu menerima lamaran itu, kedua kakaknya marah kepadanya. Mereka menganggapnya sudah tidak waras. Akan tetapi, si bungsu tetap pada pendiriannya. Lalu, si ibu itu membawanya untuk dinikahkan dengan anaknya. Beberapa bulan setelah menikah, istrinya mengajak Sibulu-bulu menghadiri sebuah pesta. Akan tetapi, Sibulu-bulu menolak karena takut ditertawakan orang banyak. Karena Sibulu-bulu tidak mau ikut, istrinya pun pergi bersama teman-temannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Beberapa waktu setelah istrinya pergi, Sibulu-bulu menanggalkan kulitnya yang berbulu dan disembunyikannya di dalam bambu. Ia kemudian bersolek dan pergi ke tempat pesta itu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Setibanya di tempat pesta, semua orang memandangnya dengan kagum karena ketampanannya. Tidak seorang pun yang mengenalnya, termasuk istrinya sendiri. Ia duduk di dekat istrinya dan mengajaknya bercakp-cakap. Sesekali ia menggoda istrinya itu untuk menguji kesetiaannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Gadis-gadis lain merasa iri kepada istrinya. Berulang kali Sibulu-bulu menggoda istrinya dalam berbagai kesempatan. Akan tetapi, istrinya tetap tidak tergoda, ia setia kepada suaminya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Beberapa lama kemudian rahasia Sibulu-bulu menanggalkan kulitnya itu terbongkar. Ada orang yang memberi tahu istrinya bahwa yang selalu</div> <br> {{c|26}}<noinclude></noinclude> eah316pl5bgf1xfushl4ji36o9102li Halaman:Burung Pipit dan Buruang Rangga dan Cerita Lainnya.pdf/34 250 9291 30969 2026-09-23T13:18:14Z Naila Fathinah 323 /* ↓Alun diujibaco */ ←Mambuek laman baisi "menggodanya itu adalah suaminya sendiri. “Ia mengujimu dan jika tergoda, tentu kamu akan diceraikan,” kata orang itu. Suatu hari, ketika ada yang mengadakan pesta, istrinya minta izin untuk pergi. Ketika berangkat, ia tidak langsung ke tempat pesta, tetapi bersembunyi di belakang rumah. Tidak lama kemudian, Sibulu-bulu menyusul istri ke pesta itu. Ia menanggalkan kulitnya yang berbulu dan menyimpannya. Setelah Sibulu-bulu pergi, istrinya membakar bu... 30969 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="1" user="Naila Fathinah" /></noinclude>menggodanya itu adalah suaminya sendiri. “Ia mengujimu dan jika tergoda, tentu kamu akan diceraikan,” kata orang itu. Suatu hari, ketika ada yang mengadakan pesta, istrinya minta izin untuk pergi. Ketika berangkat, ia tidak langsung ke tempat pesta, tetapi bersembunyi di belakang rumah. Tidak lama kemudian, Sibulu-bulu menyusul istri ke pesta itu. Ia menanggalkan kulitnya yang berbulu dan menyimpannya. Setelah Sibulu-bulu pergi, istrinya membakar bulu-bulu tersebut. Sibulubulu tidak bisa mengenakan kulit berbulu itu lagi. “Engkau telah membakar buluku. Oleh karena itu, kamu mesti ingat dan katakan kepada gadis lain. Siapa yang melanggar hukum perkawinan, seperti penyelewengan, harus dihukum. Si perempuan akan dipukuli dan rambutnya digunduli, sedangkan si laki-laki akan didenda. Di badannya juga akan tumbuh bulu seperti bulu yang kamu bakar itu.” Mendengar perkataan itu, istrinya semakin patuh dan taat. Tersiarlah berita ini di seluruh kampung. Orang-orang merasa malu kepada Sibulu-bulu karena telah menghinanya dulu. Kini Sibulu-bulu menjadi pujaan. Dua orang kakak istrinya merasa menyesal karena dulu menolak lamarannya. Di Mentawai, calon mempelai perempuan harus membayar mas kawin dengan jumlah banyak. Mas kawin itu berupa batang sagu, durian, kelapa, dan sebagainya. Apabila terjadi penyelewengan dan perceraian, si perempuan akan disiksa. Selain itu, mas kawin harus dikembalikan dua kali lipat kepada pihak laki-laki. Hukum adat ini, kecuali hukuman penyiksaan, masih berlaku hingga sekarang, khususnya di Siberut.*** Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja 27<noinclude></noinclude> rebvvy0a5zx38cjl2jt6befj2ta7tpq 30970 30969 2026-09-23T13:27:24Z Naila Fathinah 323 /* Uji baco */ 30970 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">menggodanya itu adalah suaminya sendiri. “Ia mengujimu dan jika tergoda, tentu kamu akan diceraikan,” kata orang itu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Suatu hari, ketika ada yang mengadakan pesta, istrinya minta izin untuk pergi. Ketika berangkat, ia tidak langsung ke tempat pesta, tetapi bersembunyi di belakang rumah. Tidak lama kemudian, Sibulu-bulu menyusul istri ke pesta itu. Ia menanggalkan kulitnya yang berbulu dan menyimpannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Setelah Sibulu-bulu pergi, istrinya membakar bulu-bulu tersebut. Sibulubulu tidak bisa mengenakan kulit berbulu itu lagi.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> “Engkau telah membakar buluku. Oleh karena itu, kamu mesti ingat dan katakan kepada gadis lain. Siapa yang melanggar hukum perkawinan, seperti penyelewengan, harus dihukum. Si perempuan akan dipukuli dan rambutnya digunduli, sedangkan si laki-laki akan didenda. Di badannya juga akan tumbuh bulu seperti bulu yang kamu bakar itu.” Mendengar perkataan itu, istrinya semakin patuh dan taat.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Tersiarlah berita ini di seluruh kampung. Orang-orang merasa malu kepada Sibulu-bulu karena telah menghinanya dulu. Kini Sibulu-bulu menjadi pujaan. Dua orang kakak istrinya merasa menyesal karena dulu menolak lamarannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Di Mentawai, calon mempelai perempuan harus membayar mas kawin dengan jumlah banyak. Mas kawin itu berupa batang sagu, durian, kelapa, dan sebagainya. Apabila terjadi penyelewengan dan perceraian, si perempuan akan disiksa. Selain itu, mas kawin harus dikembalikan dua kali lipat kepada pihak laki-laki. Hukum adat ini, kecuali hukuman penyiksaan, masih berlaku hingga sekarang, khususnya di Siberut.***</div> <br> {{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja} <br> {{c|27}}<noinclude></noinclude> 3d1azkauy3hil0joboa5gbp70vpsvdq 30971 30970 2026-09-23T13:27:54Z Naila Fathinah 323 30971 proofread-page text/x-wiki <noinclude><pagequality level="3" user="Naila Fathinah" /></noinclude><div style="text-align: justify;">menggodanya itu adalah suaminya sendiri. “Ia mengujimu dan jika tergoda, tentu kamu akan diceraikan,” kata orang itu.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Suatu hari, ketika ada yang mengadakan pesta, istrinya minta izin untuk pergi. Ketika berangkat, ia tidak langsung ke tempat pesta, tetapi bersembunyi di belakang rumah. Tidak lama kemudian, Sibulu-bulu menyusul istri ke pesta itu. Ia menanggalkan kulitnya yang berbulu dan menyimpannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Setelah Sibulu-bulu pergi, istrinya membakar bulu-bulu tersebut. Sibulubulu tidak bisa mengenakan kulit berbulu itu lagi.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> “Engkau telah membakar buluku. Oleh karena itu, kamu mesti ingat dan katakan kepada gadis lain. Siapa yang melanggar hukum perkawinan, seperti penyelewengan, harus dihukum. Si perempuan akan dipukuli dan rambutnya digunduli, sedangkan si laki-laki akan didenda. Di badannya juga akan tumbuh bulu seperti bulu yang kamu bakar itu.” Mendengar perkataan itu, istrinya semakin patuh dan taat.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Tersiarlah berita ini di seluruh kampung. Orang-orang merasa malu kepada Sibulu-bulu karena telah menghinanya dulu. Kini Sibulu-bulu menjadi pujaan. Dua orang kakak istrinya merasa menyesal karena dulu menolak lamarannya.</div> <div style="text-indent: 2em; text-align: justify;"> Di Mentawai, calon mempelai perempuan harus membayar mas kawin dengan jumlah banyak. Mas kawin itu berupa batang sagu, durian, kelapa, dan sebagainya. Apabila terjadi penyelewengan dan perceraian, si perempuan akan disiksa. Selain itu, mas kawin harus dikembalikan dua kali lipat kepada pihak laki-laki. Hukum adat ini, kecuali hukuman penyiksaan, masih berlaku hingga sekarang, khususnya di Siberut.***</div> <br> {{rh|||Diterjemahkan oleh Rus Akbar Saleleubaja}} <br> {{c|27}}<noinclude></noinclude> mxa51ami1aajy7uaqsr1xeh2rg5smtu