Wikipedia niawiki https://nia.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Olayama MediaWiki 1.47.0-wmf.21 first-letter Media Spesial Huhuo Sangoguna Huhuo zangoguna Wikipedia Huhuo Wikipedia Berkas Huhuo berkas MediaWiki Huhuo MediaWiki Templat Huhuo templat Fanolo Huhuo wanolo Kategori Huhuo kategori Portal Huhuo portal TimedText TimedText talk Modul Pembicaraan Modul Acara Huhuo Acara Ni'obögi 0 4487 28414 23629 2026-09-26T05:09:56Z Slaia 39 mangehaogö ösi 28414 wikitext text/x-wiki '''Ni'obögi''' no ngawalö sua-sua ba [[Tanö Niha|Danö Biha]] sangoroma'ö zikhala [[Bögi|mbögi]] sanuge ba geu. Lasua ia tobali tandra wa [[oböwö]] gamuata zokhö [[omo]] si no mamalua [[owasa]] sebua, ma amuata niha sangowaru [[baru]] ni'obögi ma zui sokhö fakake ni'obögi. == Fangoguna'ö == Asese lafagamöi sua-sua andre ba mbuatö [[Omo Niha|Nomo Niha]], ba mbaru ma zui ba wakake. == Faigi göi == {{Ornamen Nias}} == Umbu == * Nehemia Harefa (sama'anö), ''Ornamen Nias dan Penggunaannya'', Gunungsitoli, 2022. [[Kategori:Seni Nias]] [[Kategori:Ornamen Nias]] odurxozrt96x76l4qgh7wpih9hzz9m5 28415 28414 2026-09-26T05:10:41Z Slaia 39 Nibulö'ö ba aplikasi WikiNusa 28415 wikitext text/x-wiki '''Ni'obögi''' no ngawalö sua-sua ba [[Tanö Niha|Danö Niha]] sangoroma'ö zikhala [[Bögi|mbögi]] sanuge ba geu. Lasua ia tobali tandra wa [[oböwö]] gamuata zokhö [[omo]] si no mamalua [[owasa]] sebua, ma amuata niha sangowaru [[baru]] ni'obögi ma zui sokhö fakake ni'obögi. == Fangoguna'ö == Asese lafagamöi sua-sua andre ba mbuatö [[Omo Niha|Nomo Niha]], ba mbaru ma zui ba wakake. == Faigi göi == {{Ornamen Nias}} == Umbu == * Nehemia Harefa (sama'anö), ''Ornamen Nias dan Penggunaannya'', Gunungsitoli, 2022. [[Kategori:Seni Nias]] [[Kategori:Ornamen Nias]] 6pc9zh6by5eq5larh81inx1u9foenbh Sangoguna:Slaia/Asal-usul Orang Nias 2 5049 28416 28406 2026-09-26T09:50:13Z Slaia 39 meneruskan proof reading 28416 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses merebut kembali narasi Nias (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Pulau Nias berada di ujung barat Indonesia, sekitar 120 kilometer dari pulau Sumatra. Orang Nias menyebut pulau ini '''Tanö Niha''' ("Tanah Manusia") dan diri mereka sendiri '''Ono Niha''' ("Keturunan Manusia").<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 14</ref> Pulau ini telah memikat para penjelajah, antropolog, dan sejarawan selama berabad-abad.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 15-17</ref>, bukan hanya karena monumen batu megalitik, arsitektur rumah panggung tradisional yang megah, serta tradisi lompat batu (''hombo batu'') yang legendaris.<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Pertanyaan yang telah lama menggelitik para peneliti adalah tentang dari mana Ono Niha sebenarnya berasal. Pertanyaan ini sering muncul mengingat bahasa Nias agak berbeda dari bahasa-bahasa daerah di sekitarnya dan budaya Nias lebih mengingatkan kita akan budaya masyarakat Naga dari daerah Nagaland di perbatasan India-Myanmar. Untuk memecahkan teka-teki ini, kita menempuh tiga jalur yang sangat berbeda: kesaksian '''mitologi''', penemuan '''arkeologi''', serta cetak biru mikroskopis genetik ('''DNA''').<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Dengan merajut ketiga utas ini, kita berusaha melacak perjalanan epik para leluhur Nias. == 1. Berdasarkan Kesaksian Mitologis == Sebelum mengenal tulisan, sejarah Nias diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang sangat kaya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Di sore atau malam hari, kakek-nenek akan duduk bersama cucu-cucu mereka di langkan jendela rumah tradisional yang panjang, melantunkan syair-syair puitis yang disebut '''''Hoho''''' untuk menceritakan asal-usul mereka.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> === Kampung Teteholi Ana'a === Menurut '''Hoho''' ini leluhur pertama orang Nias diturunkan di sebuah kampung lengendaris bernama '''Teteholi Ana'a'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang berdiri di atas bukit dan karena itu sering diasosiasikan dengan langit. Untuk menggambarkan betapa makmmur penduduk di Teteholi Ana'a, kampung itu dikatakan memiliki banyak emas, baik yang bermutu rendah ''hamo gana'a'' maupun yang berkadar tinggi emas murni ''balaki''.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Dalam mitos tersebut, yang memerintah Teteholi Ana'a adalah raja bernama '''Sirao'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Suatu hari Sirao mengadakan perlombaan bagi sembilan putranya untuk menentukan siapa dari antara mereka yang akan mewarisi takhtanya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Yang memenangkan lomba tsb. adalah putra bungsunya '''Luomewöna''', juga dikenal sebagai '''Saho'''. Luomewöna, secara harafiah berarti hari kemenangan, berhasil menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dengan memanjat ujung tombak dan duduk di atas mata tombak yang tajam seperti seekor ayam jago.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Luomewöna pun mewarisi kerajaan Teteholi Ana'a.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Sementara itu, saudara-saudaranya disebarkan ke "bumi" menjadi leluhur Ono Niha.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Yang pertama adalah '''Tuada Hia''' (atau '''Hia Walangi Sinada''').<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Beliau mendarat di "jantung" pulau Nias, yakni di '''Börönadu''' di daerah '''Gomo'''. Dialah yang membawa peradaban ke Nias: rumah tradisional Nias pertama (''Omo Niha''), tempat pemujaan leluhur pertama (''osali''), timbangan keadilan untuk emas dan beras, serta hukum adat yang mulia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Dari kampung awal Börönadu keturunan Tuada Hia menyebar ke berbagai penjuru pulau Nias. === Penyebaran Manusia === Ada kisah mitologis lain, yang berusaha menjelaskan penyebaran manusia tsb. Dan kendati ada beberapa pertanyaan mendasar tentang hal ini, misalnya apakah Tuada Hia benar leluhur pertama orang Nias atau empat bersaudara merupakan leluhur bersama, patut kita sisipkan di sini, sekedar untuk melihat bagaimana satu mitologi terbentuk untuk menerangkan sesuatu tanpa memikirkan konsistensi dari kisah tsb. Menurut mitos ini ketika '''Tuada Hia''' turun di Gomo, yang terletak di tengah pulau, bobot tubuhnya yang sangat berat membuat pulau Nias miring ke arah Selatan.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Untuk memulihkan keseimbangan pulau, leluhur bernama '''Gözö''' diturunkan di Hilimaziaya di ujung Utara.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Namun hal ini menyebabkan pulau melengkung di bagian tengah. Maka diturunkanlah leluhur ketiga, '''Daeli Sanau Talinga''', di bagian Timur, dan leluhur keempat, '''Hulu Börö Tanötanö''', di bagian Barat di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Melalui pembagian ini, keseimbangan geografis pulau Nias berhasil dipulihkan, dan harmoni pun tercipta di seluruh pulau.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Anda pasti telah melihat inkonsitensi mitos ini dibanding dengan mitos-mitos lainnya yang beredar di Tanö Niha. Misalnya dikatakan bahwa yang "turun" ke "bumi" adalah Tuada Hia dengan ketiga saudaranya. Mitos-mitos lainnya mengatakan hanya Tuada Hia yang turun ke bumi dan keturunannya memenuhi seluruh pulau. Namun misi dari program Warisan Nias adalah merebut kembali narasi. Dan untuk bisa menemukan narasi yang konsisten, kita harus mengetahui juga narasi yang kurang masuk akal. Dalam arti itu kita menyertakan mitos ini dan mitos-mitos lainnya di sini. === Pohon Tora'a === Kendati susah menyelaraskannya dengan narasi koheren asal-usul Ono Niha, kita patut menyebut mitos pohon Tora'a, yang diceritakan berbeda-beda tergantung daerah di Nias. Pohon '''Tora'a,''' juga dikenal sebagai pohon '''Fösi''', merupakan satu jenis pohon yang tumbuh di Nias, namun menempati posisi mistis pada zaman dahulu.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226, 347</ref> Konon, ketika manusia pertama meninggal, pohon kehidupan Tora'a bertumbuh dari jantungnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226</ref> Pohon memiliki tiga dahan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237</ref> Dari dahan paling atas lahirlah roh-roh, termasuk dewa dunia atas '''Lowalangi''' (atau Lowalani di Selatan) dan dewa dunia bawah '''Laturedanö'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237, 238</ref> Dari buah dan bunga emasnya lahirlah umat manusia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 216, 226</ref> Menariknya, mitos-mitos ini sebenarnya adalah metafora simbolis yang menceritakan '''proses kehamilan dan kelahiran''' manusia.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57</ref> P. Johannes Hämmerle sampai pada kesimpulan ini setelah membandingkan hasil penelitian arkeologis dan genetik modern dengan berbagai Hoho, yang dia kumpulkan dari berbagai daerah di Nias. Menurut beliau "sembilan lapis langit" yang disebut dalam mitos-mitos ini sebenarnya merupakan bahasa simbolik yang menunjuk pada sembilan bulan kehamilan. "Teteholi Ana'a" merupakan nama simbolis rahim ibu, "sungai Zea" yang meluap merupakan kata lain dari pecahnya air ketuban, dan "mulut" dari mana pohon Tora'a muncul adalah kiasan puitis untuk anatomi reproduksi wanita.<ref>Hämmerle, 2013, 57, 132, 133</ref> === Putri Siraso dari Asia === Sebelum mengakhiri bagian ini pantaslah kita sebut satu lagi mitos lain tentang '''Putri Siraso''', yang diceritakan di wilayah Nias Tengah dan Selatan.<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75</ref> Siraso adalah seorang putri raja dari daratan Asia, yang hamil di luar nikah.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Demi menyelamatkannya dari hukuman mati, keluarganya menaikkannya ke sebuah perahu kayu yang dilengkapi perbekalan dan seekor anjing, lalu menghanyutkannya ke samudra luas.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Perahu tersebut terapung menyeberangi Samudra Hindia dan akhirnya terdampar di pantai Timur Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Di sana, Siraso melahirkan putranya yang diberi nama '''Telögu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Ketika Telögu dewasa, ia mengelilingi pulau untuk mencari istri namun tidak menemukan satu pun manusia lain.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Akhirnya, ia kembali dan menikahi ibunya sendiri tanpa mengetahui identitas aslinya, menjadi leluhur garis ibu bagi masyarakat Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Yang menarik mitos-mitos ini juga mencatat bahwa sebelum kelompok Hia dan Siraso tiba di pulau Nias, "penduduk pribumi" telah mendiami pulau tsb. Sebagian dari mereka berkulit terang tinggal di atas pohon. Orang Nias menamakan mereka '''Ono Mbela'''. Sebagian lainnya hidup dalam gua-gua gelap (identik dengan dunia bawah) dan dinamakan keturunan '''Laturedanö'''.<ref>Hämmerle, 2013, 44, 46, 127</ref> Seperti yang akan kita lihat, hasil penelitian ilmiah bisa membantu kita menerangkan siapa "penghuni pribumi" Nias ini, yang akhirnya punah setelah "kaum petani migran" tiba di Nias. === '''Rangkuman Kesaksian Mitologis''' === Sebelum kita melompat ke hasil penemuan ilmiah asal-usul Nias, kita coba rangkumkan kesaksian mitologis ini. Ada tiga kemungkinan asal orang Nias: diturunkan dari kampung Teteholi Ana'a, lahir dari pohon kehidupan Tora'a, dan akhirnya dari "seberang laut"/Asia menurut legenda Putri Siraso. Seperti akan menjadi jelas kemudian, semua tempat ini menunjuk pada satu tempat dan perjalanan epik leluhur Nias dari tempat tsb. ke pulau Nias. Di sini kita patut memberi dua catatan tambahan tentang kampung Teteholi Ana'a. Pertama, bila kita membaca mitos tentang Teteholi Ana'a sebagaimana layaknya mitos-mitos lain di dunia, mau tak mau kita mulai berpikir legenda ini bisa jadi merupakan narasi untuk mengingat kampung halaman. Dan manusia cederung mengidolakan kampung halaman, terutama dalam hal Tuada Hia, yang membawa teknologi dan peradaban ke Nias dari tempat asal:<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> teknologi pembangunan rumah tradisional, ritus pemujaan leluhur, timbangan emas dan beras, serta hukum adat. Dalam konteks ini kampung Teteholi Ana'a disebut penuh emas, satu bahasa simbolis untuk menandakan kemajuan, kemegahan dan kemakmuran kampung tsb. Kedua, disebut P. Johannes Hämmerle di atas,<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57, 132, 133</ref> kampung Teteholi Ana'a adalah nama lain dari kampung pertama leluhur orang Nias di Gomo, yakni '''kampung Börönadu sendiri'''. Secara leksikal "tete holi" berarti satu pemukiman di atas bukit dan karena itu dianggap berada di "atas langit". Dari kampung inilah orang Nias "lahir" dan berketurunan banyak dan akhirnya menyebar ke seluruh pulau. Kampung di atas bukit tinggal merpakan ingatan instiktif bagi orang Nias dewasa ini. Namun pada zaman dulu orang Nias biasa mendirikan pemukiman di atas bukit. Dan kampung (''"banua"'') merupakan kosmos kehidupan orang Nias dengan tata sosial yang terstruktur. Adalah penjajah Belanda yang pada tahun 1908 memaksa orang Nias meninggalkan pemukiman di atas bukit ("tete holi") dan pindah ke pinggir jalan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 54, 61, 160, 274, 336</ref> Kampung di atas bukit (''tete holi'') tinggal menjadi kenangan indah (''ana'a'') akan satu sistem kemasyarakatan sempurna, yang telah hilang. == 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis == Ketika mitologi berbicara lewat metafora puitis, arkeologi menggali tanah untuk mencari bukti fisik masa lalu Nias. === Kaum Pribumi Penghuni Gua === Pada tahun 1999, Museum Pusaka Nias memelopori penggalian arkeologi ilmiah pertama di pulau Nias, bertempat di gua '''Tögi Ndrawa''', dekat Gunungsitoli.<ref>Hämmerle, 2013, 37</ref> Hasilnya sangat mengejutkan: ditemukan bukti fisik bahwa manusia telah mendiami pulau Nias sejak setidaknya '''12.000 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 37</ref> Para penghuni gua purba ini tergolong dalam kebudayaan pemburu-pengumpul pra-Neolitikum yang dikenal berbudaya '''Hoabinhian'''.<ref>Hämmerle, 2013, 22, 30, 127</ref> Mereka menggunakan alat-alat batu sederhana, meramu tanaman liar, dan berburu hewan hutan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 149</ref> Dan seperti telah kita lihat di atas, keberadaan para penghuni gua ini sangat cocok dengan legenda tentang "Laturedanö", yang dikisahkan dalam mitos Nias, sebagai penghuni dunia bawah, yakni gua gelap.<ref>Hämmerle, 2013, 36, 127</ref> === Kedatangan Kaum Petani === Ribuan tahun setelah zaman gua purba, sebuah kelompok migran baru mendarat di pantai Timur pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Catatan arkeologi menunjukkan bahwa sekitar tahun '''1000 hingga 1450 M''', masyarakat agraris (petani) yang maju mulai menetap di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 117, 223</ref> Berbeda dengan pemburu-pengumpul, kelompok baru ini sudah mempraktikkan cocok tanam padi, menggunakan peralatan besi, mengenakan perhiasan emas yang rumit, dan mendirikan rumah-rumah kayu yang kokoh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 46, 223</ref> Kehadiran mereka membawa kemajuan, sehingga para penghuni gua purba dan penghuni pohon pun turut mengadopsi peradaban baru ini.<ref>Hämmerle, 2013, 46</ref> === Budaya Batu Megalitik === Nias dikenal di dunia sebagai salah satu kebudayaan megalitik (batu besar), yang masih hidup sampai sekarang.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Para wisatawan sering mengira bahwa tugu batu raksasa, kursi kehormatan (''osa-osa''), dan meja batu yang ada di desa-desa Nias telah berusia ribuan tahun.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Namun, penelitian arkeologi menyingkapkan fakta yang mengejutkan: tradisi megalitik di Nias sebenarnya '''tergolong sangat muda'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Sebagian besar monumen batu tersebut didirikan antara '''200 hingga 500 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Itu berarti peradaban ini turut dibawa ke Nias oleh kaum petani, yang dipimpin oleh Tuada Hia. Itu berarti batu-batu megalitik Nias baru didirikan ratusan tahun setelah berbagai candi di Sumatera dan di Jawa telah didirikan. Bisa jadi bahwa dalam perjalanan mereka ke Nias, mereka telah mendengar pembangunan batu-batu besar di tempat lain di Nusantara. Lebih dari itu seperti dibahas panjang lebar di tulisan lainnya dalam seri ini ([[Sangoguna:Slaia/Batu Megalit Nias|Batu Megalitik Nias]]) dibanding peradaban serupa di tempat lain di dunia, batu-batu megalit Nias sangat unik. Batu serupa didirikan di tempat lain sebagai tempat pemujaan '''para dewa''' atau monumen bagi tokoh '''yang telah meninggal'''. Sebaliknya batu megalit Nias didirikan untuk menandai status sosial seseorang bangsawan '''yang masih hidup'''. Batu megalit ini didirikan dalam pesta adat besar bernama '''owasa''', yang diselenggarakan oleh para bangsawan atau kepala suku (disebut ''balugu'' di Utara atau ''si'ulu'' di Selatan) untuk menghormati leluhur, memamerkan kekayaan perhiasan emas mereka, serta meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Dengan demikian keberadaan budaya megalitik di Nias secara tidak langsung merupakan petunjuk arkeologis asal-usul orang Nias, sekaligus penanda masa kedatangan mereka di Nias. == 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik == Alat paling modern dan presisi untuk melacak asal-usul manusia adalah analisa genetik (DNA). Pada tahun 2002 dan 2003, ahli genetika Jerman Dr. Ingo Kennerknecht bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias mengumpulkan sampel DNA dari sekitar 400 orang di berbagai penjuru pulau.<ref>Hämmerle, 2013, 37, 38</ref> Hasil analisis genetika ini sangat mengejutkan dan meluruskan berbagai narasi asal-usul orang Nias. === Menolak Teori Batak, Burma, dan India === Di masa lalu, banyak peneliti luar berspekulasi tentang asal-usul orang Nias: * Sebagian pejabat kolonial Belanda menduga orang Nias adalah keturunan orang '''Batak''' dari Sumatra.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 222</ref> * Misionaris Jerman pertama, Ludwig Denninger, menduga orang Nias berasal dari '''Burma''' (Myanmar).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 223</ref> * Sebagian peneliti lainnya menghubungkan Nias dengan suku '''Naga''' di India Timur Laut, karena kemiripan batu megalitik dan pesta babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> '''Penelitian DNA membantah seluruh teori tersebut'''.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Secara genetik Orang Nias modern tidak memiliki hubungan dekat dengan suku Batak, Burma, maupun India.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 182</ref> === Tanah Air Ono Niha: Taiwan === Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa orang Nias modern hampir 100% merupakan '''keturunan Austronesia'''.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Kode genetika mereka (lebih lanjut di bawah) merujuk langsung pada '''ekspansi Austronesia''', sebuah migrasi bahari raksasa yang bermula dari pulau '''Formosa''' (sekarang '''Taiwan''') sekitar 4.000 hingga 5,000 tahun yang lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Para pelaut ulung ini mengarungi samudra ke arah selatan melalui Filipina, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Nusantara, termasuk pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> === Misteri "Pergantian Populasi" === Penemuan genetika ini melahirkan sebuah teka-teki besar: jika arkeologi membuktikan manusia telah hidup di gua Tögi Ndrawa 12.000 tahun lalu, tetapi DNA membuktikan bahwa orang Nias modern murni keturunan Austronesia (Taiwan, 4.000 tahun lalu), '''mengapa tak ada jejak DNA para penghuni gua purba tersebut?''' Hasil DNA sangat tegas: para pemburu-pengumpul berusia 12.000 tahun lalu '''tidak meninggalkan jejak genetika sama sekali''' pada tubuh orang Nias modern.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Alih-alih saling mengawini dan bercampur darah, para petani Austronesia yang baru datang sepenuhnya '''menggantikan''' populasi pribumi pulau tersebut.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Meskipun penyebab pastinya masih misterius, para ilmuwan menduga faktor utamanya adalah '''penyakit'''.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para petani Austronesia yang baru datang hidup berdampingan dengan hewan ternak dan membawa virus-virus penyakit baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para penghuni gua yang hidup terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit-penyakit baru tersebut, sehingga wabah mematikan kemungkinan besar menyapu bersih seluruh populasi purba, meninggalkan pulau dalam keadaan kosong untuk dihuni oleh para petani baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> === Genetika yang Sangat Homogen === Biasanya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan besar (seperti Sumatra) memiliki keragaman genetik yang tinggi karena perkawinan antar populasi. Namun, Nias adalah kasus yang sangat langka: '''masyarakat Nias modern secara genetik sangat mirip satu sama lain (sangat homogen)'''.<ref>Hämmerle, 2013, 33, 35</ref> Seluruh populasi yang berjumlah lebih dari 700.000 jiwa saat ini diturunkan dari '''sekelompok kecil leluhur pendiri''' yang mengalami penyempitan populasi (''bottleneck'') dan isolasi yang sangat ketat di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145, 183</ref> === Garis Ibu vs Garis Ayah yang Kontras === Di balik kemiripan genetika tersebut, para ilmuwan menemukan perbedaan yang sangat menarik antara DNA ayah (garis keturunan laki-laki) dan DNA ibu (garis keturunan perempuan):<ref>van Oven et al., 2011, 156, 159</ref> * '''DNA Ayah (Kromosom-Y) terpisah sangat ketat''': DNA ayah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara Nias bagian Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Garis keturunan ayah di Nias Utara didominasi oleh haplogroup '''O-M119*''', sementara garis keturunan ayah di Nias Selatan hampir sepenuhnya didominasi oleh haplogroup '''O-M110''' (mencapai 86,4%).<ref>van Oven et al., 2011, 156, 158, 162</ref> Nyaris tidak ada pertukaran garis keturunan laki-laki antara Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 173</ref> * '''DNA Ibu (mtDNA) tercampur merata''': Sebaliknya, DNA yang diwariskan dari garis ibu tidak mengenal batas Utara-Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 181</ref> Haplogroup garis ibu yang paling dominan, '''Y2''' (ditemukan dalam persentase luar biasa tinggi, yaitu 40%), tersebar merata di seluruh pelosok pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 178</ref> Mengapa DNA ibu tercampur merata sementara DNA ayah terpisah ketat? Rahasianya terletak pada adat pernikahan suku Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 181</ref> Suku Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal dengan adat pernikahan '''patrilokal'''.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Artinya, seorang laki-laki harus menikah dengan perempuan dari klan/desa lain, dan setelah menikah, sang istri harus pindah menetap di desa suaminya.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Selama ratusan generasi, para perempuan terus berpindah antar-desa di seluruh pulau Nias, menyebarkan dan membaurkan DNA garis ibu, sementara para laki-laki tetap tinggal di desa leluhur mereka, menjaga DNA garis ayah tetap terisolasi di wilayah masing-masing.<ref>van Oven et al., 2011, 181</ref> == 4. Misteri Bahasa Nias == Perbedaan DNA ayah yang sangat tajam antara Nias Utara (O-M119*) dan Selatan (O-M110) membuktikan bahwa pulau Nias dihuni melalui '''beberapa gelombang kedatangan kelompok kecil pendiri''' (''founder events'') yang tiba di waktu yang berbeda, dan bukan satu migrasi tunggal yang masif.<ref>van Oven et al., 2011, 173, 174</ref> Selain itu, keragaman genetik menunjukkan bahwa '''haplogroup O-M110 (Nias Selatan) memiliki keragaman internal yang lebih tinggi dibandingkan O-M119* (Nias Utara)'''.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Ini berarti garis keturunan ayah di Nias Selatan berusia lebih tua atau tiba lebih awal di pulau ini, sementara garis keturunan ayah di Nias Utara berasal dari gelombang kedatangan yang lebih baru yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.<ref>van Oven et al., 2011, 174</ref> Jika para leluhur tiba dalam gelombang yang berbeda dan hidup terisolasi di wilayah masing-masing, bagaimana mungkin mereka semua berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu '''Li Nono Niha'''?<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 230</ref> Misteri ini bisa dijelaskan demikian: * '''Rumpun Bahasa yang Sama''': Karena seluruh gelombang migrasi berasal dari satu nenek moyang Austronesia yang sama di Taiwan, sejak awal mereka sudah berbicara dalam dialek-dialek yang saling berkerabat erat dari rumpun bahasa Malayo-Polynesian.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145</ref> * '''Namun Tidak Sama Persis!''' Meskipun menggunakan bahasa yang sama, isolasi yang berlangsung berabad-abad menciptakan perbedaan dialek yang sangat tajam antara Nias Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 231</ref> Perbedaan ini sangat nyata dalam kata-kata dasar sehari-hari: {| class="wikitable" |- valign="top" !Arti Kata !Dialek Nias Selatan [232] !Dialek Nias Utara [232] |- valign="top" |'''Kepala''' |''telau'' |''högö'' |- valign="top" |'''Kelapa''' |''sikhula'' |''banio'' |- valign="top" |'''Atas''' |''lawa'' |''yawa'' |- valign="top" |'''Tuhan''' |''Lowalani'' |''Lowalangi'' |- valign="top" |'''Patung Leluhur''' |''aju/azu'' |''adu'' |- valign="top" |'''"Siapa namamu?"''' |''hata döimö?'' |''haniha döimö?'' |} * '''Penyatuan Bahasa''': Selama berabad-abad, interaksi perdagangan lokal, pertemuan adat, dan interaksi sosial lainnya membantu menyatukan bahasa mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> Kini, orang Nias Utara dan Selatan dapat saling memahami dengan sangat baik, sambil tetap bangga mempertahankan kosakata khas daerah masing-masing.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> == 5. Orang Nias Unik di Indonesia? == Jika kita melihat pulau Sumatra, Jawa, atau Bali, suku-suku di sana sangat banyak bercampur darah dengan pulau tetangga, pedagang India, atau saudagar Arab.<ref>Ingo Kennerknecht_The Genetics Of Nias, 5</ref> Mengapa suku Nias tetap mempertahankan keunikan genetik dan budaya mereka yang begitu murni? Orang Nias memiliki "benteng ganda" yang melindungi mereka dari pengaruh luar: === Benteng Geografis yang Alami === Nias dikelilingi oleh laut dalam dengan gelombang laut yang terkenal sangat ganas.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Berbeda dengan laut pedalaman Nusantara yang tenang, perairan di sekitar Nias sangat berbahaya bagi pelaut asing yang tidak mengenal medannya, membuat pulau ini jarang dikunjungi oleh pendatang asing di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> === Perisai Budaya === Secara historis, Ono Niha memiliki budaya perang dan tradisi berburu kepala (''emali'') yang sangat ditakuti.<ref>Hämmerle, 2013, 41, 127</ref> Berburu kepala adalah bagian penting dari martabat sosial; seorang pria bahkan tidak diizinkan menikah sebelum berhasil membawa pulang kepala musuh.<ref>Hämmerle, 2013, 41, Hummel & Telaumbanua, 2007, 302</ref> Desa-desa dibangun di atas bukit-bukit tinggi yang dibentengi dengan parit-parit pertahanan yang dalam.<ref>Hämmerle, 2013, 116</ref> Reputasi para kesatria yang tangguh dan menakutkan ini membuat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar (seperti Sriwijaya atau Majapahit) maupun kesultanan Islam di Sumatra tidak pernah bisa menjajah atau menetap secara damai di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> === Babi Alih-alih Kerbau === Isolasi yang mendalam ini tercermin dengan sangat jelas dalam kebudayaan Nias. Di Sumatra (seperti suku Batak atau Minangkabau) dan wilayah Indonesia lainnya, hewan yang memainkan peranan utama dalam upacara adat adalah kerbau. Namun, Nias berdiri sendiri secara unik: '''Ono Niha secara khusus menyembelih babi (''bawi'') dalam pesta adat owasa mereka'''.<ref>Hämmerle, 2013, 78, Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> Babi adalah simbol tertinggi dari kekayaan, kehormatan, dan harmoni kosmis di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 248, 273</ref> == 6. Orang Nias Memiliki Sepupu? == Sebuah pertanyaan yang sangat menarik sering kali muncul: Dari segi bahasa orang Nias memiliki hubungan kekerabatan dengan pembicara Malagasy di Madagaskar, sebuah pulau di dekat benua Afrika yang terpisah ribuan kilometer di seberang Samudra Hindia, namun dari segi DNA orang Nias lebih dekat ke penduduk Melanesia, ribuan kilometer di lautan Pasifik. Mengapa? Ya, hubungan itu sangat nyata! Namun, ini bukan karena para pelaut Nias "tersesat" dalam perjalanan ke Afrika. === Sepupu Jauh yang Terpisah === Bahasa Nias dan bahasa Malagasy sama-sama merupakan anggota dari '''rumpun bahasa Austronesia''' yang sangat besar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 230</ref> Namun, studi linguistik menunjukkan bahwa bahasa Nias menempati cabang yang sangat tua dan terisolasi pada pohon keluarga Austronesia tanpa tetangga dekat.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 149</ref> Artinya, bahasa Nias adalah salah satu percabangan awal yang mandiri dari para pelaut Austronesia.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun yang lalu, nenek moyang mereka yang tinggal di Taiwan memulai perjalanan samudra yang luar biasa.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Sementara satu cabang berlayar ke arah barat daya dan menetap di pulau Nias, cabang lainnya melakukan perjalanan bahari legendaris menyeberangi Samudra Hindia hingga akhirnya mendiami pulau Madagaskar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 149</ref> Mereka bukanlah orang tua dan anak, melainkan '''sepupu jauh''' yang berbagi tanah air leluhur yang sama di Taiwan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> === Sepupu Lain di Kepulauan Pasifik === Skala migrasi pelaut Austronesia yang luar biasa ini tertulis langsung dalam DNA para lelaki Nias di bagian Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 169</ref> Penanda DNA ayah '''O-M110''' yang sangat dominan di Nias Selatan (86,4%) '''sama sekali tidak ditemukan''' di daratan Sumatra maupun Malaysia.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Namun, jika kita melihat ke arah timur menyeberangi Samudra Pasifik, tanda genetika yang sama persis ini muncul dengan persentase tinggi di kalangan '''suku asli Taiwan''' (32.6%), '''Filipina''' (12.8%), dan yang luar biasa, ribuan kilometer di Pasifik di kalangan penduduk '''Kepulauan Admiralty dan Trobriand''' di wilayah Melanesia, dekat Papua Nugini.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Ini membuktikan bahwa leluhur Ono Niha adalah bagian dari salah satu migrasi bahari terbesar dalam sejarah manusia, meninggalkan jejak genetika dan kebudayaan mereka di separuh belahan dunia, mulai dari pesisir Afrika Timur hingga pulau-pulau terpencil di Samudra Pasifik.<ref>van Oven et al., 2011, 144</ref> DNA orang Nias mengandung bukti "arkeologis" migrasi bangsa-bangsa kuno dari Afrika Timur sampai ke lautan Pasifik. == 7. Rangkuman == Dengan memadukan kisah '''mitologi''', penemuan fisik dari '''arkeologi''', serta cetak biru ilmiah dari '''DNA''', kita akhirnya dapat melihat kisah nyata Ono Niha yang sangat menakjubkan: * '''Mitologi''' dengan sangat indah melestarikan ingatan akan tanah air leluhur di seberang laut (kampung Teteholi Ana'a di Formosa?), pendaratan Hia di Gomo, dan penyebaran manusia ke berbagai tempat di pulau, serta keberadaan masyarakat gua (keturunan Laturedanö).<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75, 225, 229</ref> * '''Arkeologi''' membuktikan bahwa Nias telah dihuni selama 12.000 tahun, namun menunjukkan bahwa tradisi batu megalitikum yang spektakuler sebenarnya adalah ledakan kreativitas budaya yang tergolong muda dalam beberapa abad terakhir.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 43</ref> * '''Penelitian DNA''' membuktikan bahwa suku Nias modern adalah keturunan murni dari para pelaut tangguh Austronesia asal Formosa yang datang dalam beberapa gelombang, sepenuhnya menggantikan populasi gua purba, dan mempertahankan kemurnian budaya mereka melalui adat pernikahan patrilokal serta isolasi geografis yang ketat.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 181, 182</ref> Bagi generasi muda Nias, warisan sejarah ini adalah sumber kebanggaan yang sangat besar. Ono Niha bukanlah sekadar masyarakat pulau terpencil. Mereka adalah keturunan dari kaum penjelajah samudra terbesar dalam sejarah peradaban manusia, pembawa teknologi dan budaya ke Pulau Nias, dan akan terus menulis lembaran-lembaran sejarah baru sampai hari ini dan ke masa depan. == Sumber == * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). ''150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia''. Anthropos, Vol. 108, No. 1, hlm. 173-204 [30]. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni.''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965)''. Utrecht University [209]. * '''Kennerknecht, Ingo & Hämmerle, Johannes M.''' (2009). ''The Genetics of Nias – Concepts and First Data''. Yayasan Pusaka Nias [1]. * '''Van Oven, Mannis et al.''' (2011). ''Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias''. Molecular Biology and Evolution, Vol. 28, No. 4, hlm. 1349-1361 [143]. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] l286iczk8fmhko1zr3ps70ci04ytky1 28417 28416 2026-09-26T10:26:33Z Slaia 39 /* 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis */ 28417 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses merebut kembali narasi Nias (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Pulau Nias berada di ujung barat Indonesia, sekitar 120 kilometer dari pulau Sumatra. Orang Nias menyebut pulau ini '''Tanö Niha''' ("Tanah Manusia") dan diri mereka sendiri '''Ono Niha''' ("Keturunan Manusia").<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 14</ref> Pulau ini telah memikat para penjelajah, antropolog, dan sejarawan selama berabad-abad.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 15-17</ref>, bukan hanya karena monumen batu megalitik, arsitektur rumah panggung tradisional yang megah, serta tradisi lompat batu (''hombo batu'') yang legendaris.<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Pertanyaan yang telah lama menggelitik para peneliti adalah tentang dari mana Ono Niha sebenarnya berasal. Pertanyaan ini sering muncul mengingat bahasa Nias agak berbeda dari bahasa-bahasa daerah di sekitarnya dan budaya Nias lebih mengingatkan kita akan budaya masyarakat Naga dari daerah Nagaland di perbatasan India-Myanmar. Untuk memecahkan teka-teki ini, kita menempuh tiga jalur yang sangat berbeda: kesaksian '''mitologi''', penemuan '''arkeologi''', serta cetak biru mikroskopis genetik ('''DNA''').<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Dengan merajut ketiga utas ini, kita berusaha melacak perjalanan epik para leluhur Nias. == 1. Berdasarkan Kesaksian Mitologis == Sebelum mengenal tulisan, sejarah Nias diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang sangat kaya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Di sore atau malam hari, kakek-nenek akan duduk bersama cucu-cucu mereka di langkan jendela rumah tradisional yang panjang, melantunkan syair-syair puitis yang disebut '''''Hoho''''' untuk menceritakan asal-usul mereka.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> === Kampung Teteholi Ana'a === Menurut '''Hoho''' ini leluhur pertama orang Nias diturunkan di sebuah kampung lengendaris bernama '''Teteholi Ana'a'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang berdiri di atas bukit dan karena itu sering diasosiasikan dengan langit. Untuk menggambarkan betapa makmmur penduduk di Teteholi Ana'a, kampung itu dikatakan memiliki banyak emas, baik yang bermutu rendah ''hamo gana'a'' maupun yang berkadar tinggi emas murni ''balaki''.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Dalam mitos tersebut, yang memerintah Teteholi Ana'a adalah raja bernama '''Sirao'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Suatu hari Sirao mengadakan perlombaan bagi sembilan putranya untuk menentukan siapa dari antara mereka yang akan mewarisi takhtanya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Yang memenangkan lomba tsb. adalah putra bungsunya '''Luomewöna''', juga dikenal sebagai '''Saho'''. Luomewöna, secara harafiah berarti hari kemenangan, berhasil menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dengan memanjat ujung tombak dan duduk di atas mata tombak yang tajam seperti seekor ayam jago.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Luomewöna pun mewarisi kerajaan Teteholi Ana'a.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Sementara itu, saudara-saudaranya disebarkan ke "bumi" menjadi leluhur Ono Niha.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Yang pertama adalah '''Tuada Hia''' (atau '''Hia Walangi Sinada''').<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Beliau mendarat di "jantung" pulau Nias, yakni di '''Börönadu''' di daerah '''Gomo'''. Dialah yang membawa peradaban ke Nias: rumah tradisional Nias pertama (''Omo Niha''), tempat pemujaan leluhur pertama (''osali''), timbangan keadilan untuk emas dan beras, serta hukum adat yang mulia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Dari kampung awal Börönadu keturunan Tuada Hia menyebar ke berbagai penjuru pulau Nias. === Penyebaran Manusia === Ada kisah mitologis lain, yang berusaha menjelaskan penyebaran manusia tsb. Dan kendati ada beberapa pertanyaan mendasar tentang hal ini, misalnya apakah Tuada Hia benar leluhur pertama orang Nias atau empat bersaudara merupakan leluhur bersama, patut kita sisipkan di sini, sekedar untuk melihat bagaimana satu mitologi terbentuk untuk menerangkan sesuatu tanpa memikirkan konsistensi dari kisah tsb. Menurut mitos ini ketika '''Tuada Hia''' turun di Gomo, yang terletak di tengah pulau, bobot tubuhnya yang sangat berat membuat pulau Nias miring ke arah Selatan.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Untuk memulihkan keseimbangan pulau, leluhur bernama '''Gözö''' diturunkan di Hilimaziaya di ujung Utara.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Namun hal ini menyebabkan pulau melengkung di bagian tengah. Maka diturunkanlah leluhur ketiga, '''Daeli Sanau Talinga''', di bagian Timur, dan leluhur keempat, '''Hulu Börö Tanötanö''', di bagian Barat di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Melalui pembagian ini, keseimbangan geografis pulau Nias berhasil dipulihkan, dan harmoni pun tercipta di seluruh pulau.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Anda pasti telah melihat inkonsitensi mitos ini dibanding dengan mitos-mitos lainnya yang beredar di Tanö Niha. Misalnya dikatakan bahwa yang "turun" ke "bumi" adalah Tuada Hia dengan ketiga saudaranya. Mitos-mitos lainnya mengatakan hanya Tuada Hia yang turun ke bumi dan keturunannya memenuhi seluruh pulau. Namun misi dari program Warisan Nias adalah merebut kembali narasi. Dan untuk bisa menemukan narasi yang konsisten, kita harus mengetahui juga narasi yang kurang masuk akal. Dalam arti itu kita menyertakan mitos ini dan mitos-mitos lainnya di sini. === Pohon Tora'a === Kendati susah menyelaraskannya dengan narasi koheren asal-usul Ono Niha, kita patut menyebut mitos pohon Tora'a, yang diceritakan berbeda-beda tergantung daerah di Nias. Pohon '''Tora'a,''' juga dikenal sebagai pohon '''Fösi''', merupakan satu jenis pohon yang tumbuh di Nias, namun menempati posisi mistis pada zaman dahulu.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226, 347</ref> Konon, ketika manusia pertama meninggal, pohon kehidupan Tora'a bertumbuh dari jantungnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226</ref> Pohon memiliki tiga dahan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237</ref> Dari dahan paling atas lahirlah roh-roh, termasuk dewa dunia atas '''Lowalangi''' (atau Lowalani di Selatan) dan dewa dunia bawah '''Laturedanö'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237, 238</ref> Dari buah dan bunga emasnya lahirlah umat manusia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 216, 226</ref> Menariknya, mitos-mitos ini sebenarnya adalah metafora simbolis yang menceritakan '''proses kehamilan dan kelahiran''' manusia.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57</ref> P. Johannes Hämmerle sampai pada kesimpulan ini setelah membandingkan hasil penelitian arkeologis dan genetik modern dengan berbagai Hoho, yang dia kumpulkan dari berbagai daerah di Nias. Menurut beliau "sembilan lapis langit" yang disebut dalam mitos-mitos ini sebenarnya merupakan bahasa simbolik yang menunjuk pada sembilan bulan kehamilan. "Teteholi Ana'a" merupakan nama simbolis rahim ibu, "sungai Zea" yang meluap merupakan kata lain dari pecahnya air ketuban, dan "mulut" dari mana pohon Tora'a muncul adalah kiasan puitis untuk anatomi reproduksi wanita.<ref>Hämmerle, 2013, 57, 132, 133</ref> === Putri Siraso dari Asia === Sebelum mengakhiri bagian ini pantaslah kita sebut satu lagi mitos lain tentang '''Putri Siraso''', yang diceritakan di wilayah Nias Tengah dan Selatan.<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75</ref> Siraso adalah seorang putri raja dari daratan Asia, yang hamil di luar nikah.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Demi menyelamatkannya dari hukuman mati, keluarganya menaikkannya ke sebuah perahu kayu yang dilengkapi perbekalan dan seekor anjing, lalu menghanyutkannya ke samudra luas.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Perahu tersebut terapung menyeberangi Samudra Hindia dan akhirnya terdampar di pantai Timur Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Di sana, Siraso melahirkan putranya yang diberi nama '''Telögu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Ketika Telögu dewasa, ia mengelilingi pulau untuk mencari istri namun tidak menemukan satu pun manusia lain.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Akhirnya, ia kembali dan menikahi ibunya sendiri tanpa mengetahui identitas aslinya, menjadi leluhur garis ibu bagi masyarakat Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Yang menarik mitos-mitos ini juga mencatat bahwa sebelum kelompok Hia dan Siraso tiba di pulau Nias, "penduduk pribumi" telah mendiami pulau tsb. Sebagian dari mereka berkulit terang tinggal di atas pohon. Orang Nias menamakan mereka '''Ono Mbela'''. Sebagian lainnya hidup dalam gua-gua gelap (identik dengan dunia bawah) dan dinamakan keturunan '''Laturedanö'''.<ref>Hämmerle, 2013, 44, 46, 127</ref> Seperti yang akan kita lihat, hasil penelitian ilmiah bisa membantu kita menerangkan siapa "penghuni pribumi" Nias ini, yang akhirnya punah setelah "kaum petani migran" tiba di Nias. === '''Rangkuman Kesaksian Mitologis''' === Sebelum kita melompat ke hasil penemuan ilmiah asal-usul Nias, kita coba rangkumkan kesaksian mitologis ini. Ada tiga kemungkinan asal orang Nias: diturunkan dari kampung Teteholi Ana'a, lahir dari pohon kehidupan Tora'a, dan akhirnya dari "seberang laut"/Asia menurut legenda Putri Siraso. Seperti akan menjadi jelas kemudian, semua tempat ini menunjuk pada satu tempat dan perjalanan epik leluhur Nias dari tempat tsb. ke pulau Nias. Di sini kita patut memberi dua catatan tambahan tentang kampung Teteholi Ana'a. Pertama, bila kita membaca mitos tentang Teteholi Ana'a sebagaimana layaknya mitos-mitos lain di dunia, mau tak mau kita mulai berpikir legenda ini bisa jadi merupakan narasi untuk mengingat kampung halaman. Dan manusia cederung mengidolakan kampung halaman, terutama dalam hal Tuada Hia, yang membawa teknologi dan peradaban ke Nias dari tempat asal:<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> teknologi pembangunan rumah tradisional, ritus pemujaan leluhur, timbangan emas dan beras, serta hukum adat. Dalam konteks ini kampung Teteholi Ana'a disebut penuh emas, satu bahasa simbolis untuk menandakan kemajuan, kemegahan dan kemakmuran kampung tsb. Kedua, disebut P. Johannes Hämmerle di atas,<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57, 132, 133</ref> kampung Teteholi Ana'a adalah nama lain dari kampung pertama leluhur orang Nias di Gomo, yakni '''kampung Börönadu sendiri'''. Secara leksikal "tete holi" berarti satu pemukiman di atas bukit dan karena itu dianggap berada di "atas langit". Dari kampung inilah orang Nias "lahir" dan berketurunan banyak dan akhirnya menyebar ke seluruh pulau. Kampung di atas bukit tinggal merpakan ingatan instiktif bagi orang Nias dewasa ini. Namun pada zaman dulu orang Nias biasa mendirikan pemukiman di atas bukit. Dan kampung (''"banua"'') merupakan kosmos kehidupan orang Nias dengan tata sosial yang terstruktur. Adalah penjajah Belanda yang pada tahun 1908 memaksa orang Nias meninggalkan pemukiman di atas bukit ("tete holi") dan pindah ke pinggir jalan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 54, 61, 160, 274, 336</ref> Kampung di atas bukit (''tete holi'') tinggal menjadi kenangan indah (''ana'a'') akan satu sistem kemasyarakatan sempurna, yang telah hilang. == 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis == Bila mitologi berbicara tentang asal usul orang Nias lewat metafora puitis, arkeologi berbicara dengan bukti fisik masa lalu. === Kaum Pribumi Penghuni Gua === Pada tahun 1999, Museum Pusaka Nias memelopori penggalian arkeologi ilmiah pertama di pulau Nias, bertempat di gua '''Tögi Ndrawa''', dekat Gunungsitoli.<ref>Hämmerle, 2013, 37</ref> Hasilnya sangat mengejutkan: ditemukan bukti fisik bahwa manusia telah mendiami pulau Nias sejak setidaknya '''12.000 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 37</ref> Para penghuni gua purba ini tergolong dalam kebudayaan pemburu-pengumpul pra-Neolitikum yang dikenal berbudaya '''Hoabinhian'''.<ref>Hämmerle, 2013, 22, 30, 127</ref> Mereka menggunakan alat-alat batu sederhana, meramu tanaman liar, dan berburu hewan hutan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 149</ref> Dan seperti telah kita lihat di atas, keberadaan para penghuni gua ini sangat cocok dengan legenda tentang "Laturedanö", yang dikisahkan dalam mitos Nias, sebagai penghuni dunia bawah, yakni gua gelap.<ref>Hämmerle, 2013, 36, 127</ref> === Kedatangan Petani Migran === Ribuan tahun setelah zaman gua purba, sebuah kelompok migran baru mendarat di pantai Timur pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Catatan arkeologi menunjukkan bahwa sekitar tahun '''1000 hingga 1450 M''', masyarakat agraris (petani) yang maju mulai menetap di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 117, 223</ref> Berbeda dengan pemburu-pengumpul, kelompok baru ini sudah mempraktikkan cocok tanam padi, menggunakan peralatan besi, mengenakan perhiasan emas yang rumit, dan mendirikan rumah-rumah kayu yang kokoh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 46, 223</ref> Kehadiran mereka membawa kemajuan, sehingga penduduk pribumi, para penghuni gua purba dan penghuni pohon, pun turut mengadopsi peradaban baru ini.<ref>Hämmerle, 2013, 46</ref> === Budaya Batu Megalitik === Nias dikenal di dunia sebagai salah satu kebudayaan megalitik (batu besar), yang masih hidup sampai sekarang.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Batu-batu ini bisa memberi petunjuk tentang asal usul orang Nias dan kapan mereka sampai di Nias. Para wisatawan sering mengira bahwa tugu batu (''behu''), kursi kehormatan (''osa-osa''), dan meja batu yang ada di desa-desa Nias telah berusia ribuan tahun.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Namun, penelitian arkeologi menyingkapkan fakta yang mengejutkan: tradisi megalitik di Nias sebenarnya '''tergolong sangat muda'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Sebagian besar monumen batu tersebut didirikan antara '''200 hingga 500 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Itu berarti peradaban ini turut dibawa ke Nias oleh kaum petani, yang dipimpin oleh Tuada Hia. Itu berarti pula bahwa batu-batu megalitik Nias didirikan ratusan tahun setelah berbagai candi di Sumatera dan di Jawa telah berdiri. Apakah leluhur orang Nias mendengar atau bahkan melihat batu-batu tsb. dalam perjalanan mereka ke Nias? Namun seperti dibahas panjang lebar di tulisan lainnya dalam seri ini ([[Sangoguna:Slaia/Batu Megalit Nias|Batu Megalitik Nias]]) dibanding peradaban serupa di tempat lain di dunia, batu-batu megalit Nias sangat unik. Bila di tempat lain batu serupa didirikan sebagai tempat pemujaan '''para dewa''' atau monumen bagi tokoh '''yang telah meninggal''', batu megalit megalit Nias didirikan untuk '''menandai status sosial''' seseorang bangsawan '''yang masih hidup'''. Orang Nias, biasanya kepala kampung (disebut ''balugu'' di Utara atau ''si'ulu'' di Selatan), mendirikan batu megalit dalam pesta besar bernama '''owasa''', untuk menghormati leluhur, memamerkan kekayaan perhiasan emas mereka, serta meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> == 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik == Alat paling modern dan presisi untuk melacak asal-usul manusia adalah analisa genetik (DNA). Pada tahun 2002 dan 2003, ahli genetika Jerman Dr. Ingo Kennerknecht bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias mengumpulkan sampel DNA dari sekitar 400 orang di berbagai penjuru pulau.<ref>Hämmerle, 2013, 37, 38</ref> Hasil analisis genetika ini sangat mengejutkan dan meluruskan berbagai narasi asal-usul orang Nias. === Menolak Teori Batak, Burma, dan India === Di masa lalu, banyak peneliti luar berspekulasi tentang asal-usul orang Nias: * Sebagian pejabat kolonial Belanda menduga orang Nias adalah keturunan orang '''Batak''' dari Sumatra.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 222</ref> * Misionaris Jerman pertama, Ludwig Denninger, menduga orang Nias berasal dari '''Burma''' (Myanmar).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 223</ref> * Sebagian peneliti lainnya menghubungkan Nias dengan suku '''Naga''' di India Timur Laut, karena kemiripan batu megalitik dan pesta babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> '''Penelitian DNA membantah seluruh teori tersebut'''.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Secara genetik Orang Nias modern tidak memiliki hubungan dekat dengan suku Batak, Burma, maupun India.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 182</ref> === Tanah Air Ono Niha: Taiwan === Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa orang Nias modern hampir 100% merupakan '''keturunan Austronesia'''.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Kode genetika mereka (lebih lanjut di bawah) merujuk langsung pada '''ekspansi Austronesia''', sebuah migrasi bahari raksasa yang bermula dari pulau '''Formosa''' (sekarang '''Taiwan''') sekitar 4.000 hingga 5,000 tahun yang lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Para pelaut ulung ini mengarungi samudra ke arah selatan melalui Filipina, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Nusantara, termasuk pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> === Misteri "Pergantian Populasi" === Penemuan genetika ini melahirkan sebuah teka-teki besar: jika arkeologi membuktikan manusia telah hidup di gua Tögi Ndrawa 12.000 tahun lalu, tetapi DNA membuktikan bahwa orang Nias modern murni keturunan Austronesia (Taiwan, 4.000 tahun lalu), '''mengapa tak ada jejak DNA para penghuni gua purba tersebut?''' Hasil DNA sangat tegas: para pemburu-pengumpul berusia 12.000 tahun lalu '''tidak meninggalkan jejak genetika sama sekali''' pada tubuh orang Nias modern.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Alih-alih saling mengawini dan bercampur darah, para petani Austronesia yang baru datang sepenuhnya '''menggantikan''' populasi pribumi pulau tersebut.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Meskipun penyebab pastinya masih misterius, para ilmuwan menduga faktor utamanya adalah '''penyakit'''.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para petani Austronesia yang baru datang hidup berdampingan dengan hewan ternak dan membawa virus-virus penyakit baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para penghuni gua yang hidup terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit-penyakit baru tersebut, sehingga wabah mematikan kemungkinan besar menyapu bersih seluruh populasi purba, meninggalkan pulau dalam keadaan kosong untuk dihuni oleh para petani baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> === Genetika yang Sangat Homogen === Biasanya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan besar (seperti Sumatra) memiliki keragaman genetik yang tinggi karena perkawinan antar populasi. Namun, Nias adalah kasus yang sangat langka: '''masyarakat Nias modern secara genetik sangat mirip satu sama lain (sangat homogen)'''.<ref>Hämmerle, 2013, 33, 35</ref> Seluruh populasi yang berjumlah lebih dari 700.000 jiwa saat ini diturunkan dari '''sekelompok kecil leluhur pendiri''' yang mengalami penyempitan populasi (''bottleneck'') dan isolasi yang sangat ketat di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145, 183</ref> === Garis Ibu vs Garis Ayah yang Kontras === Di balik kemiripan genetika tersebut, para ilmuwan menemukan perbedaan yang sangat menarik antara DNA ayah (garis keturunan laki-laki) dan DNA ibu (garis keturunan perempuan):<ref>van Oven et al., 2011, 156, 159</ref> * '''DNA Ayah (Kromosom-Y) terpisah sangat ketat''': DNA ayah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara Nias bagian Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Garis keturunan ayah di Nias Utara didominasi oleh haplogroup '''O-M119*''', sementara garis keturunan ayah di Nias Selatan hampir sepenuhnya didominasi oleh haplogroup '''O-M110''' (mencapai 86,4%).<ref>van Oven et al., 2011, 156, 158, 162</ref> Nyaris tidak ada pertukaran garis keturunan laki-laki antara Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 173</ref> * '''DNA Ibu (mtDNA) tercampur merata''': Sebaliknya, DNA yang diwariskan dari garis ibu tidak mengenal batas Utara-Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 181</ref> Haplogroup garis ibu yang paling dominan, '''Y2''' (ditemukan dalam persentase luar biasa tinggi, yaitu 40%), tersebar merata di seluruh pelosok pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 178</ref> Mengapa DNA ibu tercampur merata sementara DNA ayah terpisah ketat? Rahasianya terletak pada adat pernikahan suku Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 181</ref> Suku Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal dengan adat pernikahan '''patrilokal'''.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Artinya, seorang laki-laki harus menikah dengan perempuan dari klan/desa lain, dan setelah menikah, sang istri harus pindah menetap di desa suaminya.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Selama ratusan generasi, para perempuan terus berpindah antar-desa di seluruh pulau Nias, menyebarkan dan membaurkan DNA garis ibu, sementara para laki-laki tetap tinggal di desa leluhur mereka, menjaga DNA garis ayah tetap terisolasi di wilayah masing-masing.<ref>van Oven et al., 2011, 181</ref> == 4. Misteri Bahasa Nias == Perbedaan DNA ayah yang sangat tajam antara Nias Utara (O-M119*) dan Selatan (O-M110) membuktikan bahwa pulau Nias dihuni melalui '''beberapa gelombang kedatangan kelompok kecil pendiri''' (''founder events'') yang tiba di waktu yang berbeda, dan bukan satu migrasi tunggal yang masif.<ref>van Oven et al., 2011, 173, 174</ref> Selain itu, keragaman genetik menunjukkan bahwa '''haplogroup O-M110 (Nias Selatan) memiliki keragaman internal yang lebih tinggi dibandingkan O-M119* (Nias Utara)'''.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Ini berarti garis keturunan ayah di Nias Selatan berusia lebih tua atau tiba lebih awal di pulau ini, sementara garis keturunan ayah di Nias Utara berasal dari gelombang kedatangan yang lebih baru yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.<ref>van Oven et al., 2011, 174</ref> Jika para leluhur tiba dalam gelombang yang berbeda dan hidup terisolasi di wilayah masing-masing, bagaimana mungkin mereka semua berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu '''Li Nono Niha'''?<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 230</ref> Misteri ini bisa dijelaskan demikian: * '''Rumpun Bahasa yang Sama''': Karena seluruh gelombang migrasi berasal dari satu nenek moyang Austronesia yang sama di Taiwan, sejak awal mereka sudah berbicara dalam dialek-dialek yang saling berkerabat erat dari rumpun bahasa Malayo-Polynesian.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145</ref> * '''Namun Tidak Sama Persis!''' Meskipun menggunakan bahasa yang sama, isolasi yang berlangsung berabad-abad menciptakan perbedaan dialek yang sangat tajam antara Nias Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 231</ref> Perbedaan ini sangat nyata dalam kata-kata dasar sehari-hari: {| class="wikitable" |- valign="top" !Arti Kata !Dialek Nias Selatan [232] !Dialek Nias Utara [232] |- valign="top" |'''Kepala''' |''telau'' |''högö'' |- valign="top" |'''Kelapa''' |''sikhula'' |''banio'' |- valign="top" |'''Atas''' |''lawa'' |''yawa'' |- valign="top" |'''Tuhan''' |''Lowalani'' |''Lowalangi'' |- valign="top" |'''Patung Leluhur''' |''aju/azu'' |''adu'' |- valign="top" |'''"Siapa namamu?"''' |''hata döimö?'' |''haniha döimö?'' |} * '''Penyatuan Bahasa''': Selama berabad-abad, interaksi perdagangan lokal, pertemuan adat, dan interaksi sosial lainnya membantu menyatukan bahasa mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> Kini, orang Nias Utara dan Selatan dapat saling memahami dengan sangat baik, sambil tetap bangga mempertahankan kosakata khas daerah masing-masing.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> == 5. Orang Nias Unik di Indonesia? == Jika kita melihat pulau Sumatra, Jawa, atau Bali, suku-suku di sana sangat banyak bercampur darah dengan pulau tetangga, pedagang India, atau saudagar Arab.<ref>Ingo Kennerknecht_The Genetics Of Nias, 5</ref> Mengapa suku Nias tetap mempertahankan keunikan genetik dan budaya mereka yang begitu murni? Orang Nias memiliki "benteng ganda" yang melindungi mereka dari pengaruh luar: === Benteng Geografis yang Alami === Nias dikelilingi oleh laut dalam dengan gelombang laut yang terkenal sangat ganas.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Berbeda dengan laut pedalaman Nusantara yang tenang, perairan di sekitar Nias sangat berbahaya bagi pelaut asing yang tidak mengenal medannya, membuat pulau ini jarang dikunjungi oleh pendatang asing di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> === Perisai Budaya === Secara historis, Ono Niha memiliki budaya perang dan tradisi berburu kepala (''emali'') yang sangat ditakuti.<ref>Hämmerle, 2013, 41, 127</ref> Berburu kepala adalah bagian penting dari martabat sosial; seorang pria bahkan tidak diizinkan menikah sebelum berhasil membawa pulang kepala musuh.<ref>Hämmerle, 2013, 41, Hummel & Telaumbanua, 2007, 302</ref> Desa-desa dibangun di atas bukit-bukit tinggi yang dibentengi dengan parit-parit pertahanan yang dalam.<ref>Hämmerle, 2013, 116</ref> Reputasi para kesatria yang tangguh dan menakutkan ini membuat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar (seperti Sriwijaya atau Majapahit) maupun kesultanan Islam di Sumatra tidak pernah bisa menjajah atau menetap secara damai di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> === Babi Alih-alih Kerbau === Isolasi yang mendalam ini tercermin dengan sangat jelas dalam kebudayaan Nias. Di Sumatra (seperti suku Batak atau Minangkabau) dan wilayah Indonesia lainnya, hewan yang memainkan peranan utama dalam upacara adat adalah kerbau. Namun, Nias berdiri sendiri secara unik: '''Ono Niha secara khusus menyembelih babi (''bawi'') dalam pesta adat owasa mereka'''.<ref>Hämmerle, 2013, 78, Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> Babi adalah simbol tertinggi dari kekayaan, kehormatan, dan harmoni kosmis di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 248, 273</ref> == 6. Orang Nias Memiliki Sepupu? == Sebuah pertanyaan yang sangat menarik sering kali muncul: Dari segi bahasa orang Nias memiliki hubungan kekerabatan dengan pembicara Malagasy di Madagaskar, sebuah pulau di dekat benua Afrika yang terpisah ribuan kilometer di seberang Samudra Hindia, namun dari segi DNA orang Nias lebih dekat ke penduduk Melanesia, ribuan kilometer di lautan Pasifik. Mengapa? Ya, hubungan itu sangat nyata! Namun, ini bukan karena para pelaut Nias "tersesat" dalam perjalanan ke Afrika. === Sepupu Jauh yang Terpisah === Bahasa Nias dan bahasa Malagasy sama-sama merupakan anggota dari '''rumpun bahasa Austronesia''' yang sangat besar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 230</ref> Namun, studi linguistik menunjukkan bahwa bahasa Nias menempati cabang yang sangat tua dan terisolasi pada pohon keluarga Austronesia tanpa tetangga dekat.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 149</ref> Artinya, bahasa Nias adalah salah satu percabangan awal yang mandiri dari para pelaut Austronesia.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun yang lalu, nenek moyang mereka yang tinggal di Taiwan memulai perjalanan samudra yang luar biasa.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Sementara satu cabang berlayar ke arah barat daya dan menetap di pulau Nias, cabang lainnya melakukan perjalanan bahari legendaris menyeberangi Samudra Hindia hingga akhirnya mendiami pulau Madagaskar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 149</ref> Mereka bukanlah orang tua dan anak, melainkan '''sepupu jauh''' yang berbagi tanah air leluhur yang sama di Taiwan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> === Sepupu Lain di Kepulauan Pasifik === Skala migrasi pelaut Austronesia yang luar biasa ini tertulis langsung dalam DNA para lelaki Nias di bagian Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 169</ref> Penanda DNA ayah '''O-M110''' yang sangat dominan di Nias Selatan (86,4%) '''sama sekali tidak ditemukan''' di daratan Sumatra maupun Malaysia.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Namun, jika kita melihat ke arah timur menyeberangi Samudra Pasifik, tanda genetika yang sama persis ini muncul dengan persentase tinggi di kalangan '''suku asli Taiwan''' (32.6%), '''Filipina''' (12.8%), dan yang luar biasa, ribuan kilometer di Pasifik di kalangan penduduk '''Kepulauan Admiralty dan Trobriand''' di wilayah Melanesia, dekat Papua Nugini.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Ini membuktikan bahwa leluhur Ono Niha adalah bagian dari salah satu migrasi bahari terbesar dalam sejarah manusia, meninggalkan jejak genetika dan kebudayaan mereka di separuh belahan dunia, mulai dari pesisir Afrika Timur hingga pulau-pulau terpencil di Samudra Pasifik.<ref>van Oven et al., 2011, 144</ref> DNA orang Nias mengandung bukti "arkeologis" migrasi bangsa-bangsa kuno dari Afrika Timur sampai ke lautan Pasifik. == 7. Rangkuman == Dengan memadukan kisah '''mitologi''', penemuan fisik dari '''arkeologi''', serta cetak biru ilmiah dari '''DNA''', kita akhirnya dapat melihat kisah nyata Ono Niha yang sangat menakjubkan: * '''Mitologi''' dengan sangat indah melestarikan ingatan akan tanah air leluhur di seberang laut (kampung Teteholi Ana'a di Formosa?), pendaratan Hia di Gomo, dan penyebaran manusia ke berbagai tempat di pulau, serta keberadaan masyarakat gua (keturunan Laturedanö).<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75, 225, 229</ref> * '''Arkeologi''' membuktikan bahwa Nias telah dihuni selama 12.000 tahun, namun menunjukkan bahwa tradisi batu megalitikum yang spektakuler sebenarnya adalah ledakan kreativitas budaya yang tergolong muda dalam beberapa abad terakhir.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 43</ref> * '''Penelitian DNA''' membuktikan bahwa suku Nias modern adalah keturunan murni dari para pelaut tangguh Austronesia asal Formosa yang datang dalam beberapa gelombang, sepenuhnya menggantikan populasi gua purba, dan mempertahankan kemurnian budaya mereka melalui adat pernikahan patrilokal serta isolasi geografis yang ketat.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 181, 182</ref> Bagi generasi muda Nias, warisan sejarah ini adalah sumber kebanggaan yang sangat besar. Ono Niha bukanlah sekadar masyarakat pulau terpencil. Mereka adalah keturunan dari kaum penjelajah samudra terbesar dalam sejarah peradaban manusia, pembawa teknologi dan budaya ke Pulau Nias, dan akan terus menulis lembaran-lembaran sejarah baru sampai hari ini dan ke masa depan. == Sumber == * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). ''150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia''. Anthropos, Vol. 108, No. 1, hlm. 173-204 [30]. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni.''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965)''. Utrecht University [209]. * '''Kennerknecht, Ingo & Hämmerle, Johannes M.''' (2009). ''The Genetics of Nias – Concepts and First Data''. Yayasan Pusaka Nias [1]. * '''Van Oven, Mannis et al.''' (2011). ''Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias''. Molecular Biology and Evolution, Vol. 28, No. 4, hlm. 1349-1361 [143]. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] qhcs0w4pj3kjgthxe170zi1afylan15 28418 28417 2026-09-26T11:02:44Z Slaia 39 /* 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik */ 28418 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses merebut kembali narasi Nias (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Pulau Nias berada di ujung barat Indonesia, sekitar 120 kilometer dari pulau Sumatra. Orang Nias menyebut pulau ini '''Tanö Niha''' ("Tanah Manusia") dan diri mereka sendiri '''Ono Niha''' ("Keturunan Manusia").<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 14</ref> Pulau ini telah memikat para penjelajah, antropolog, dan sejarawan selama berabad-abad.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 15-17</ref>, bukan hanya karena monumen batu megalitik, arsitektur rumah panggung tradisional yang megah, serta tradisi lompat batu (''hombo batu'') yang legendaris.<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Pertanyaan yang telah lama menggelitik para peneliti adalah tentang dari mana Ono Niha sebenarnya berasal. Pertanyaan ini sering muncul mengingat bahasa Nias agak berbeda dari bahasa-bahasa daerah di sekitarnya dan budaya Nias lebih mengingatkan kita akan budaya masyarakat Naga dari daerah Nagaland di perbatasan India-Myanmar. Untuk memecahkan teka-teki ini, kita menempuh tiga jalur yang sangat berbeda: kesaksian '''mitologi''', penemuan '''arkeologi''', serta cetak biru mikroskopis genetik ('''DNA''').<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Dengan merajut ketiga utas ini, kita berusaha melacak perjalanan epik para leluhur Nias. == 1. Berdasarkan Kesaksian Mitologis == Sebelum mengenal tulisan, sejarah Nias diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang sangat kaya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Di sore atau malam hari, kakek-nenek akan duduk bersama cucu-cucu mereka di langkan jendela rumah tradisional yang panjang, melantunkan syair-syair puitis yang disebut '''''Hoho''''' untuk menceritakan asal-usul mereka.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> === Kampung Teteholi Ana'a === Menurut '''Hoho''' ini leluhur pertama orang Nias diturunkan di sebuah kampung lengendaris bernama '''Teteholi Ana'a'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang berdiri di atas bukit dan karena itu sering diasosiasikan dengan langit. Untuk menggambarkan betapa makmmur penduduk di Teteholi Ana'a, kampung itu dikatakan memiliki banyak emas, baik yang bermutu rendah ''hamo gana'a'' maupun yang berkadar tinggi emas murni ''balaki''.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Dalam mitos tersebut, yang memerintah Teteholi Ana'a adalah raja bernama '''Sirao'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Suatu hari Sirao mengadakan perlombaan bagi sembilan putranya untuk menentukan siapa dari antara mereka yang akan mewarisi takhtanya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Yang memenangkan lomba tsb. adalah putra bungsunya '''Luomewöna''', juga dikenal sebagai '''Saho'''. Luomewöna, secara harafiah berarti hari kemenangan, berhasil menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dengan memanjat ujung tombak dan duduk di atas mata tombak yang tajam seperti seekor ayam jago.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Luomewöna pun mewarisi kerajaan Teteholi Ana'a.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Sementara itu, saudara-saudaranya disebarkan ke "bumi" menjadi leluhur Ono Niha.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Yang pertama adalah '''Tuada Hia''' (atau '''Hia Walangi Sinada''').<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Beliau mendarat di "jantung" pulau Nias, yakni di '''Börönadu''' di daerah '''Gomo'''. Dialah yang membawa peradaban ke Nias: rumah tradisional Nias pertama (''Omo Niha''), tempat pemujaan leluhur pertama (''osali''), timbangan keadilan untuk emas dan beras, serta hukum adat yang mulia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Dari kampung awal Börönadu keturunan Tuada Hia menyebar ke berbagai penjuru pulau Nias. === Penyebaran Manusia === Ada kisah mitologis lain, yang berusaha menjelaskan penyebaran manusia tsb. Dan kendati ada beberapa pertanyaan mendasar tentang hal ini, misalnya apakah Tuada Hia benar leluhur pertama orang Nias atau empat bersaudara merupakan leluhur bersama, patut kita sisipkan di sini, sekedar untuk melihat bagaimana satu mitologi terbentuk untuk menerangkan sesuatu tanpa memikirkan konsistensi dari kisah tsb. Menurut mitos ini ketika '''Tuada Hia''' turun di Gomo, yang terletak di tengah pulau, bobot tubuhnya yang sangat berat membuat pulau Nias miring ke arah Selatan.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Untuk memulihkan keseimbangan pulau, leluhur bernama '''Gözö''' diturunkan di Hilimaziaya di ujung Utara.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Namun hal ini menyebabkan pulau melengkung di bagian tengah. Maka diturunkanlah leluhur ketiga, '''Daeli Sanau Talinga''', di bagian Timur, dan leluhur keempat, '''Hulu Börö Tanötanö''', di bagian Barat di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Melalui pembagian ini, keseimbangan geografis pulau Nias berhasil dipulihkan, dan harmoni pun tercipta di seluruh pulau.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Anda pasti telah melihat inkonsitensi mitos ini dibanding dengan mitos-mitos lainnya yang beredar di Tanö Niha. Misalnya dikatakan bahwa yang "turun" ke "bumi" adalah Tuada Hia dengan ketiga saudaranya. Mitos-mitos lainnya mengatakan hanya Tuada Hia yang turun ke bumi dan keturunannya memenuhi seluruh pulau. Namun misi dari program Warisan Nias adalah merebut kembali narasi. Dan untuk bisa menemukan narasi yang konsisten, kita harus mengetahui juga narasi yang kurang masuk akal. Dalam arti itu kita menyertakan mitos ini dan mitos-mitos lainnya di sini. === Pohon Tora'a === Kendati susah menyelaraskannya dengan narasi koheren asal-usul Ono Niha, kita patut menyebut mitos pohon Tora'a, yang diceritakan berbeda-beda tergantung daerah di Nias. Pohon '''Tora'a,''' juga dikenal sebagai pohon '''Fösi''', merupakan satu jenis pohon yang tumbuh di Nias, namun menempati posisi mistis pada zaman dahulu.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226, 347</ref> Konon, ketika manusia pertama meninggal, pohon kehidupan Tora'a bertumbuh dari jantungnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226</ref> Pohon memiliki tiga dahan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237</ref> Dari dahan paling atas lahirlah roh-roh, termasuk dewa dunia atas '''Lowalangi''' (atau Lowalani di Selatan) dan dewa dunia bawah '''Laturedanö'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237, 238</ref> Dari buah dan bunga emasnya lahirlah umat manusia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 216, 226</ref> Menariknya, mitos-mitos ini sebenarnya adalah metafora simbolis yang menceritakan '''proses kehamilan dan kelahiran''' manusia.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57</ref> P. Johannes Hämmerle sampai pada kesimpulan ini setelah membandingkan hasil penelitian arkeologis dan genetik modern dengan berbagai Hoho, yang dia kumpulkan dari berbagai daerah di Nias. Menurut beliau "sembilan lapis langit" yang disebut dalam mitos-mitos ini sebenarnya merupakan bahasa simbolik yang menunjuk pada sembilan bulan kehamilan. "Teteholi Ana'a" merupakan nama simbolis rahim ibu, "sungai Zea" yang meluap merupakan kata lain dari pecahnya air ketuban, dan "mulut" dari mana pohon Tora'a muncul adalah kiasan puitis untuk anatomi reproduksi wanita.<ref>Hämmerle, 2013, 57, 132, 133</ref> === Putri Siraso dari Asia === Sebelum mengakhiri bagian ini pantaslah kita sebut satu lagi mitos lain tentang '''Putri Siraso''', yang diceritakan di wilayah Nias Tengah dan Selatan.<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75</ref> Siraso adalah seorang putri raja dari daratan Asia, yang hamil di luar nikah.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Demi menyelamatkannya dari hukuman mati, keluarganya menaikkannya ke sebuah perahu kayu yang dilengkapi perbekalan dan seekor anjing, lalu menghanyutkannya ke samudra luas.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Perahu tersebut terapung menyeberangi Samudra Hindia dan akhirnya terdampar di pantai Timur Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Di sana, Siraso melahirkan putranya yang diberi nama '''Telögu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Ketika Telögu dewasa, ia mengelilingi pulau untuk mencari istri namun tidak menemukan satu pun manusia lain.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Akhirnya, ia kembali dan menikahi ibunya sendiri tanpa mengetahui identitas aslinya, menjadi leluhur garis ibu bagi masyarakat Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Yang menarik mitos-mitos ini juga mencatat bahwa sebelum kelompok Hia dan Siraso tiba di pulau Nias, "penduduk pribumi" telah mendiami pulau tsb. Sebagian dari mereka berkulit terang tinggal di atas pohon. Orang Nias menamakan mereka '''Ono Mbela'''. Sebagian lainnya hidup dalam gua-gua gelap (identik dengan dunia bawah) dan dinamakan keturunan '''Laturedanö'''.<ref>Hämmerle, 2013, 44, 46, 127</ref> Seperti yang akan kita lihat, hasil penelitian ilmiah bisa membantu kita menerangkan siapa "penghuni pribumi" Nias ini, yang akhirnya punah setelah "kaum petani migran" tiba di Nias. === '''Rangkuman Kesaksian Mitologis''' === Sebelum kita melompat ke hasil penemuan ilmiah asal-usul Nias, kita coba rangkumkan kesaksian mitologis ini. Ada tiga kemungkinan asal orang Nias: diturunkan dari kampung Teteholi Ana'a, lahir dari pohon kehidupan Tora'a, dan akhirnya dari "seberang laut"/Asia menurut legenda Putri Siraso. Seperti akan menjadi jelas kemudian, semua tempat ini menunjuk pada satu tempat dan perjalanan epik leluhur Nias dari tempat tsb. ke pulau Nias. Di sini kita patut memberi dua catatan tambahan tentang kampung Teteholi Ana'a. Pertama, bila kita membaca mitos tentang Teteholi Ana'a sebagaimana layaknya mitos-mitos lain di dunia, mau tak mau kita mulai berpikir legenda ini bisa jadi merupakan narasi untuk mengingat kampung halaman. Dan manusia cederung mengidolakan kampung halaman, terutama dalam hal Tuada Hia, yang membawa teknologi dan peradaban ke Nias dari tempat asal:<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> teknologi pembangunan rumah tradisional, ritus pemujaan leluhur, timbangan emas dan beras, serta hukum adat. Dalam konteks ini kampung Teteholi Ana'a disebut penuh emas, satu bahasa simbolis untuk menandakan kemajuan, kemegahan dan kemakmuran kampung tsb. Kedua, disebut P. Johannes Hämmerle di atas,<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57, 132, 133</ref> kampung Teteholi Ana'a adalah nama lain dari kampung pertama leluhur orang Nias di Gomo, yakni '''kampung Börönadu sendiri'''. Secara leksikal "tete holi" berarti satu pemukiman di atas bukit dan karena itu dianggap berada di "atas langit". Dari kampung inilah orang Nias "lahir" dan berketurunan banyak dan akhirnya menyebar ke seluruh pulau. Kampung di atas bukit tinggal merpakan ingatan instiktif bagi orang Nias dewasa ini. Namun pada zaman dulu orang Nias biasa mendirikan pemukiman di atas bukit. Dan kampung (''"banua"'') merupakan kosmos kehidupan orang Nias dengan tata sosial yang terstruktur. Adalah penjajah Belanda yang pada tahun 1908 memaksa orang Nias meninggalkan pemukiman di atas bukit ("tete holi") dan pindah ke pinggir jalan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 54, 61, 160, 274, 336</ref> Kampung di atas bukit (''tete holi'') tinggal menjadi kenangan indah (''ana'a'') akan satu sistem kemasyarakatan sempurna, yang telah hilang. == 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis == Bila mitologi berbicara tentang asal usul orang Nias lewat metafora puitis, arkeologi berbicara dengan bukti fisik masa lalu. === Kaum Pribumi Penghuni Gua === Pada tahun 1999, Museum Pusaka Nias memelopori penggalian arkeologi ilmiah pertama di pulau Nias, bertempat di gua '''Tögi Ndrawa''', dekat Gunungsitoli.<ref>Hämmerle, 2013, 37</ref> Hasilnya sangat mengejutkan: ditemukan bukti fisik bahwa manusia telah mendiami pulau Nias sejak setidaknya '''12.000 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 37</ref> Para penghuni gua purba ini tergolong dalam kebudayaan pemburu-pengumpul pra-Neolitikum yang dikenal berbudaya '''Hoabinhian'''.<ref>Hämmerle, 2013, 22, 30, 127</ref> Mereka menggunakan alat-alat batu sederhana, meramu tanaman liar, dan berburu hewan hutan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 149</ref> Dan seperti telah kita lihat di atas, keberadaan para penghuni gua ini sangat cocok dengan legenda tentang "Laturedanö", yang dikisahkan dalam mitos Nias, sebagai penghuni dunia bawah, yakni gua gelap.<ref>Hämmerle, 2013, 36, 127</ref> === Kedatangan Petani Migran === Ribuan tahun setelah zaman gua purba, sebuah kelompok migran baru mendarat di pantai Timur pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Catatan arkeologi menunjukkan bahwa sekitar tahun '''1000 hingga 1450 M''', masyarakat agraris (petani) yang maju mulai menetap di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 117, 223</ref> Berbeda dengan pemburu-pengumpul, kelompok baru ini sudah mempraktikkan cocok tanam padi, menggunakan peralatan besi, mengenakan perhiasan emas yang rumit, dan mendirikan rumah-rumah kayu yang kokoh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 46, 223</ref> Kehadiran mereka membawa kemajuan, sehingga penduduk pribumi, para penghuni gua purba dan penghuni pohon, pun turut mengadopsi peradaban baru ini.<ref>Hämmerle, 2013, 46</ref> === Budaya Batu Megalitik === Nias dikenal di dunia sebagai salah satu kebudayaan megalitik (batu besar), yang masih hidup sampai sekarang.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Batu-batu ini bisa memberi petunjuk tentang asal usul orang Nias dan kapan mereka sampai di Nias. Para wisatawan sering mengira bahwa tugu batu (''behu''), kursi kehormatan (''osa-osa''), dan meja batu yang ada di desa-desa Nias telah berusia ribuan tahun.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Namun, penelitian arkeologi menyingkapkan fakta yang mengejutkan: tradisi megalitik di Nias sebenarnya '''tergolong sangat muda'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Sebagian besar monumen batu tersebut didirikan antara '''200 hingga 500 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Itu berarti peradaban ini turut dibawa ke Nias oleh kaum petani, yang dipimpin oleh Tuada Hia. Itu berarti pula bahwa batu-batu megalitik Nias didirikan ratusan tahun setelah berbagai candi di Sumatera dan di Jawa telah berdiri. Apakah leluhur orang Nias mendengar atau bahkan melihat batu-batu tsb. dalam perjalanan mereka ke Nias? Namun seperti dibahas panjang lebar di tulisan lainnya dalam seri ini ([[Sangoguna:Slaia/Batu Megalit Nias|Batu Megalitik Nias]]) dibanding peradaban serupa di tempat lain di dunia, batu-batu megalit Nias sangat unik. Bila di tempat lain batu serupa didirikan sebagai tempat pemujaan '''para dewa''' atau monumen bagi tokoh '''yang telah meninggal''', batu megalit megalit Nias didirikan untuk '''menandai status sosial''' seseorang bangsawan '''yang masih hidup'''. Orang Nias, biasanya kepala kampung (disebut ''balugu'' di Utara atau ''si'ulu'' di Selatan), mendirikan batu megalit dalam pesta besar bernama '''owasa''', untuk menghormati leluhur, memamerkan kekayaan perhiasan emas mereka, serta meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> == 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik == Alat paling modern dan presisi yang sering digunakan untuk melacak asal-usul dan migrasi manusia adalah analisa genetik (DNA). Pada tahun 2002 dan 2003, ahli genetika Jerman Dr. Ingo Kennerknecht bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias mengumpulkan sampel DNA dari sekitar 400 orang Nias di berbagai penjuru pulau.<ref>Hämmerle, 2013, 37, 38</ref> Hasil analisis genetika ini sangat mengejutkan dan meluruskan berbagai narasi asal-usul orang Nias. === Bukan dari Tanah Batak, Burma, atau India === Di masa lalu, banyak peneliti luar berspekulasi tentang asal-usul orang Nias: * Sebagian pejabat kolonial Belanda menduga orang Nias adalah keturunan orang '''Batak''' dari Sumatra.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 222</ref>. Dalam tulisan "Tarombo Si Raja Batak", bahkan O.H. Sihite Panderadja menempatkan orang Nias dalam silsilah orang Batak,<ref>Sihite, 1941</ref> atau lebih tepat, Serius Lase menginterpretasikan nama Sijau Nias, putra sulung Ompu Raja Ijolma dalam buku Sihite tsb, sebagai leluhur orang Nias.<ref>Lase (1997), 9.</ref> * Misionaris Jerman pertama, Ludwig Denninger, menduga orang Nias berasal dari '''Burma''' (Myanmar).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 223</ref> * Sebagian peneliti lainnya menghubungkan Nias dengan suku '''Naga''' di India Timur Laut, karena kemiripan batu megalitik dan pesta babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> '''Penelitian DNA membantah seluruh teori tersebut'''.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Secara genetik Orang Nias modern tidak memiliki hubungan dekat dengan suku Batak, Burma, maupun India.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 182</ref> === Tanah Air Ono Niha: Taiwan === Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa orang Nias modern hampir 100% merupakan '''keturunan Austronesia'''.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Kode genetika mereka (lebih lanjut di bawah) merujuk langsung pada '''ekspansi Austronesia''', sebuah migrasi bahari raksasa yang bermula dari pulau '''Formosa''' (sekarang '''Taiwan''') sekitar 4.000 hingga 5,000 tahun yang lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Para pelaut ulung ini mengarungi samudra ke arah selatan melalui Filipina, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Nusantara, termasuk pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> === Misteri "Pergantian Populasi" === Penemuan genetika ini melahirkan sebuah teka-teki besar: jika arkeologi membuktikan manusia telah hidup di gua Tögi Ndrawa 12.000 tahun lalu, tetapi DNA membuktikan bahwa orang Nias modern murni keturunan Austronesia (Taiwan, 4.000 tahun lalu), '''mengapa tak ada jejak DNA para penghuni gua purba tersebut?''' Hasil DNA sangat tegas: para pemburu-pengumpul berusia 12.000 tahun lalu '''tidak meninggalkan jejak genetika sama sekali''' pada tubuh orang Nias modern.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Alih-alih saling mengawini dan bercampur darah, para petani Austronesia yang baru datang sepenuhnya '''menggantikan''' populasi pribumi pulau tersebut.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Meskipun penyebab pastinya masih misterius, para ilmuwan menduga faktor utamanya adalah '''penyakit'''.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para petani Austronesia yang baru datang hidup berdampingan dengan hewan ternak dan membawa virus-virus penyakit baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para penghuni gua yang hidup terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit-penyakit baru tersebut, sehingga wabah mematikan kemungkinan besar menyapu bersih seluruh populasi purba, meninggalkan pulau dalam keadaan kosong untuk dihuni oleh para petani baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> === Genetika yang Sangat Homogen === Biasanya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan besar (seperti Sumatra) memiliki keragaman genetik yang tinggi karena perkawinan antar populasi. Namun, Nias adalah kasus yang sangat langka: '''masyarakat Nias modern secara genetik sangat mirip satu sama lain (sangat homogen)'''.<ref>Hämmerle, 2013, 33, 35</ref> Seluruh populasi yang berjumlah lebih dari 700.000 jiwa saat ini diturunkan dari '''sekelompok kecil leluhur pendiri''' yang mengalami penyempitan populasi (''bottleneck'') dan isolasi yang sangat ketat di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145, 183</ref> === Garis Ibu vs Garis Ayah yang Kontras === Di balik kemiripan genetika tersebut, para ilmuwan menemukan perbedaan yang sangat menarik antara DNA ayah (garis keturunan laki-laki) dan DNA ibu (garis keturunan perempuan):<ref>van Oven et al., 2011, 156, 159</ref> * '''DNA Ayah (Kromosom-Y) terpisah sangat ketat''': DNA ayah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara Nias bagian Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Garis keturunan ayah di Nias Utara didominasi oleh haplogroup '''O-M119*''', sementara garis keturunan ayah di Nias Selatan hampir sepenuhnya didominasi oleh haplogroup '''O-M110''' (mencapai 86,4%).<ref>van Oven et al., 2011, 156, 158, 162</ref> Nyaris tidak ada pertukaran garis keturunan laki-laki antara Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 173</ref> * '''DNA Ibu (mtDNA) tercampur merata''': Sebaliknya, DNA yang diwariskan dari garis ibu tidak mengenal batas Utara-Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 181</ref> Haplogroup garis ibu yang paling dominan, '''Y2''' (ditemukan dalam persentase luar biasa tinggi, yaitu 40%), tersebar merata di seluruh pelosok pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 178</ref> Mengapa DNA ibu tercampur merata sementara DNA ayah terpisah ketat? Rahasianya terletak pada adat pernikahan suku Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 181</ref> Suku Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal dengan adat pernikahan '''patrilokal'''.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Artinya, seorang laki-laki harus menikah dengan perempuan dari klan/desa lain, dan setelah menikah, sang istri harus pindah menetap di desa suaminya.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Selama ratusan generasi, para perempuan terus berpindah antar-desa di seluruh pulau Nias, menyebarkan dan membaurkan DNA garis ibu, sementara para laki-laki tetap tinggal di desa leluhur mereka, menjaga DNA garis ayah tetap terisolasi di wilayah masing-masing.<ref>van Oven et al., 2011, 181</ref> == 4. Misteri Bahasa Nias == Perbedaan DNA ayah yang sangat tajam antara Nias Utara (O-M119*) dan Selatan (O-M110) membuktikan bahwa pulau Nias dihuni melalui '''beberapa gelombang kedatangan kelompok kecil pendiri''' (''founder events'') yang tiba di waktu yang berbeda, dan bukan satu migrasi tunggal yang masif.<ref>van Oven et al., 2011, 173, 174</ref> Selain itu, keragaman genetik menunjukkan bahwa '''haplogroup O-M110 (Nias Selatan) memiliki keragaman internal yang lebih tinggi dibandingkan O-M119* (Nias Utara)'''.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Ini berarti garis keturunan ayah di Nias Selatan berusia lebih tua atau tiba lebih awal di pulau ini, sementara garis keturunan ayah di Nias Utara berasal dari gelombang kedatangan yang lebih baru yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.<ref>van Oven et al., 2011, 174</ref> Jika para leluhur tiba dalam gelombang yang berbeda dan hidup terisolasi di wilayah masing-masing, bagaimana mungkin mereka semua berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu '''Li Nono Niha'''?<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 230</ref> Misteri ini bisa dijelaskan demikian: * '''Rumpun Bahasa yang Sama''': Karena seluruh gelombang migrasi berasal dari satu nenek moyang Austronesia yang sama di Taiwan, sejak awal mereka sudah berbicara dalam dialek-dialek yang saling berkerabat erat dari rumpun bahasa Malayo-Polynesian.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145</ref> * '''Namun Tidak Sama Persis!''' Meskipun menggunakan bahasa yang sama, isolasi yang berlangsung berabad-abad menciptakan perbedaan dialek yang sangat tajam antara Nias Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 231</ref> Perbedaan ini sangat nyata dalam kata-kata dasar sehari-hari: {| class="wikitable" |- valign="top" !Arti Kata !Dialek Nias Selatan [232] !Dialek Nias Utara [232] |- valign="top" |'''Kepala''' |''telau'' |''högö'' |- valign="top" |'''Kelapa''' |''sikhula'' |''banio'' |- valign="top" |'''Atas''' |''lawa'' |''yawa'' |- valign="top" |'''Tuhan''' |''Lowalani'' |''Lowalangi'' |- valign="top" |'''Patung Leluhur''' |''aju/azu'' |''adu'' |- valign="top" |'''"Siapa namamu?"''' |''hata döimö?'' |''haniha döimö?'' |} * '''Penyatuan Bahasa''': Selama berabad-abad, interaksi perdagangan lokal, pertemuan adat, dan interaksi sosial lainnya membantu menyatukan bahasa mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> Kini, orang Nias Utara dan Selatan dapat saling memahami dengan sangat baik, sambil tetap bangga mempertahankan kosakata khas daerah masing-masing.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> == 5. Orang Nias Unik di Indonesia? == Jika kita melihat pulau Sumatra, Jawa, atau Bali, suku-suku di sana sangat banyak bercampur darah dengan pulau tetangga, pedagang India, atau saudagar Arab.<ref>Ingo Kennerknecht_The Genetics Of Nias, 5</ref> Mengapa suku Nias tetap mempertahankan keunikan genetik dan budaya mereka yang begitu murni? Orang Nias memiliki "benteng ganda" yang melindungi mereka dari pengaruh luar: === Benteng Geografis yang Alami === Nias dikelilingi oleh laut dalam dengan gelombang laut yang terkenal sangat ganas.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Berbeda dengan laut pedalaman Nusantara yang tenang, perairan di sekitar Nias sangat berbahaya bagi pelaut asing yang tidak mengenal medannya, membuat pulau ini jarang dikunjungi oleh pendatang asing di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> === Perisai Budaya === Secara historis, Ono Niha memiliki budaya perang dan tradisi berburu kepala (''emali'') yang sangat ditakuti.<ref>Hämmerle, 2013, 41, 127</ref> Berburu kepala adalah bagian penting dari martabat sosial; seorang pria bahkan tidak diizinkan menikah sebelum berhasil membawa pulang kepala musuh.<ref>Hämmerle, 2013, 41, Hummel & Telaumbanua, 2007, 302</ref> Desa-desa dibangun di atas bukit-bukit tinggi yang dibentengi dengan parit-parit pertahanan yang dalam.<ref>Hämmerle, 2013, 116</ref> Reputasi para kesatria yang tangguh dan menakutkan ini membuat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar (seperti Sriwijaya atau Majapahit) maupun kesultanan Islam di Sumatra tidak pernah bisa menjajah atau menetap secara damai di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> === Babi Alih-alih Kerbau === Isolasi yang mendalam ini tercermin dengan sangat jelas dalam kebudayaan Nias. Di Sumatra (seperti suku Batak atau Minangkabau) dan wilayah Indonesia lainnya, hewan yang memainkan peranan utama dalam upacara adat adalah kerbau. Namun, Nias berdiri sendiri secara unik: '''Ono Niha secara khusus menyembelih babi (''bawi'') dalam pesta adat owasa mereka'''.<ref>Hämmerle, 2013, 78, Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> Babi adalah simbol tertinggi dari kekayaan, kehormatan, dan harmoni kosmis di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 248, 273</ref> == 6. Orang Nias Memiliki Sepupu? == Sebuah pertanyaan yang sangat menarik sering kali muncul: Dari segi bahasa orang Nias memiliki hubungan kekerabatan dengan pembicara Malagasy di Madagaskar, sebuah pulau di dekat benua Afrika yang terpisah ribuan kilometer di seberang Samudra Hindia, namun dari segi DNA orang Nias lebih dekat ke penduduk Melanesia, ribuan kilometer di lautan Pasifik. Mengapa? Ya, hubungan itu sangat nyata! Namun, ini bukan karena para pelaut Nias "tersesat" dalam perjalanan ke Afrika. === Sepupu Jauh yang Terpisah === Bahasa Nias dan bahasa Malagasy sama-sama merupakan anggota dari '''rumpun bahasa Austronesia''' yang sangat besar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 230</ref> Namun, studi linguistik menunjukkan bahwa bahasa Nias menempati cabang yang sangat tua dan terisolasi pada pohon keluarga Austronesia tanpa tetangga dekat.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 149</ref> Artinya, bahasa Nias adalah salah satu percabangan awal yang mandiri dari para pelaut Austronesia.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun yang lalu, nenek moyang mereka yang tinggal di Taiwan memulai perjalanan samudra yang luar biasa.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Sementara satu cabang berlayar ke arah barat daya dan menetap di pulau Nias, cabang lainnya melakukan perjalanan bahari legendaris menyeberangi Samudra Hindia hingga akhirnya mendiami pulau Madagaskar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 149</ref> Mereka bukanlah orang tua dan anak, melainkan '''sepupu jauh''' yang berbagi tanah air leluhur yang sama di Taiwan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> === Sepupu Lain di Kepulauan Pasifik === Skala migrasi pelaut Austronesia yang luar biasa ini tertulis langsung dalam DNA para lelaki Nias di bagian Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 169</ref> Penanda DNA ayah '''O-M110''' yang sangat dominan di Nias Selatan (86,4%) '''sama sekali tidak ditemukan''' di daratan Sumatra maupun Malaysia.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Namun, jika kita melihat ke arah timur menyeberangi Samudra Pasifik, tanda genetika yang sama persis ini muncul dengan persentase tinggi di kalangan '''suku asli Taiwan''' (32.6%), '''Filipina''' (12.8%), dan yang luar biasa, ribuan kilometer di Pasifik di kalangan penduduk '''Kepulauan Admiralty dan Trobriand''' di wilayah Melanesia, dekat Papua Nugini.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Ini membuktikan bahwa leluhur Ono Niha adalah bagian dari salah satu migrasi bahari terbesar dalam sejarah manusia, meninggalkan jejak genetika dan kebudayaan mereka di separuh belahan dunia, mulai dari pesisir Afrika Timur hingga pulau-pulau terpencil di Samudra Pasifik.<ref>van Oven et al., 2011, 144</ref> DNA orang Nias mengandung bukti "arkeologis" migrasi bangsa-bangsa kuno dari Afrika Timur sampai ke lautan Pasifik. == 7. Rangkuman == Dengan memadukan kisah '''mitologi''', penemuan fisik dari '''arkeologi''', serta cetak biru ilmiah dari '''DNA''', kita akhirnya dapat melihat kisah nyata Ono Niha yang sangat menakjubkan: * '''Mitologi''' dengan sangat indah melestarikan ingatan akan tanah air leluhur di seberang laut (kampung Teteholi Ana'a di Formosa?), pendaratan Hia di Gomo, dan penyebaran manusia ke berbagai tempat di pulau, serta keberadaan masyarakat gua (keturunan Laturedanö).<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75, 225, 229</ref> * '''Arkeologi''' membuktikan bahwa Nias telah dihuni selama 12.000 tahun, namun menunjukkan bahwa tradisi batu megalitikum yang spektakuler sebenarnya adalah ledakan kreativitas budaya yang tergolong muda dalam beberapa abad terakhir.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 43</ref> * '''Penelitian DNA''' membuktikan bahwa suku Nias modern adalah keturunan murni dari para pelaut tangguh Austronesia asal Formosa yang datang dalam beberapa gelombang, sepenuhnya menggantikan populasi gua purba, dan mempertahankan kemurnian budaya mereka melalui adat pernikahan patrilokal serta isolasi geografis yang ketat.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 181, 182</ref> Bagi generasi muda Nias, warisan sejarah ini adalah sumber kebanggaan yang sangat besar. Ono Niha bukanlah sekadar masyarakat pulau terpencil. Mereka adalah keturunan dari kaum penjelajah samudra terbesar dalam sejarah peradaban manusia, pembawa teknologi dan budaya ke Pulau Nias, dan akan terus menulis lembaran-lembaran sejarah baru sampai hari ini dan ke masa depan. == Sumber == * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). ''150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia''. Anthropos, Vol. 108, No. 1, hlm. 173-204 [30]. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni.''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965)''. Utrecht University [209]. * '''Kennerknecht, Ingo & Hämmerle, Johannes M.''' (2009). ''The Genetics of Nias – Concepts and First Data''. Yayasan Pusaka Nias [1]. * '''Van Oven, Mannis et al.''' (2011). ''Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias''. Molecular Biology and Evolution, Vol. 28, No. 4, hlm. 1349-1361 [143]. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] a0vgbw25djz9dbqo4kps35ivxk7xs1d 28419 28418 2026-09-26T11:08:10Z Slaia 39 28419 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses merebut kembali narasi Nias (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Pulau Nias berada di ujung barat Indonesia, sekitar 120 kilometer dari pulau Sumatra. Orang Nias menyebut pulau ini '''Tanö Niha''' ("Tanah Manusia") dan diri mereka sendiri '''Ono Niha''' ("Keturunan Manusia").<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 14</ref> Pulau ini telah memikat para penjelajah, antropolog, dan sejarawan selama berabad-abad.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 15-17</ref>, bukan hanya karena monumen batu megalitik, arsitektur rumah panggung tradisional yang megah, serta tradisi lompat batu (''hombo batu'') yang legendaris.<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Pertanyaan yang telah lama menggelitik para peneliti adalah tentang dari mana Ono Niha sebenarnya berasal. Pertanyaan ini sering muncul mengingat bahasa Nias agak berbeda dari bahasa-bahasa daerah di sekitarnya dan budaya Nias lebih mengingatkan kita akan budaya masyarakat Naga dari daerah Nagaland di perbatasan India-Myanmar. Untuk memecahkan teka-teki ini, kita menempuh tiga jalur yang sangat berbeda: kesaksian '''mitologi''', penemuan '''arkeologi''', serta cetak biru mikroskopis genetik ('''DNA''').<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Dengan merajut ketiga utas ini, kita berusaha melacak perjalanan epik para leluhur Nias. == 1. Berdasarkan Kesaksian Mitologis == Sebelum mengenal tulisan, sejarah Nias diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang sangat kaya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Di sore atau malam hari, kakek-nenek akan duduk bersama cucu-cucu mereka di langkan jendela rumah tradisional yang panjang, melantunkan syair-syair puitis yang disebut '''''Hoho''''' untuk menceritakan asal-usul mereka.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> === Kampung Teteholi Ana'a === Menurut '''Hoho''' ini leluhur pertama orang Nias diturunkan di sebuah kampung lengendaris bernama '''Teteholi Ana'a'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang berdiri di atas bukit dan karena itu sering diasosiasikan dengan langit. Untuk menggambarkan betapa makmmur penduduk di Teteholi Ana'a, kampung itu dikatakan memiliki banyak emas, baik yang bermutu rendah ''hamo gana'a'' maupun yang berkadar tinggi emas murni ''balaki''.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Dalam mitos tersebut, yang memerintah Teteholi Ana'a adalah raja bernama '''Sirao'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Suatu hari Sirao mengadakan perlombaan bagi sembilan putranya untuk menentukan siapa dari antara mereka yang akan mewarisi takhtanya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Yang memenangkan lomba tsb. adalah putra bungsunya '''Luomewöna''', juga dikenal sebagai '''Saho'''. Luomewöna, secara harafiah berarti hari kemenangan, berhasil menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dengan memanjat ujung tombak dan duduk di atas mata tombak yang tajam seperti seekor ayam jago.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Luomewöna pun mewarisi kerajaan Teteholi Ana'a.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Sementara itu, saudara-saudaranya disebarkan ke "bumi" menjadi leluhur Ono Niha.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Yang pertama adalah '''Tuada Hia''' (atau '''Hia Walangi Sinada''').<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Beliau mendarat di "jantung" pulau Nias, yakni di '''Börönadu''' di daerah '''Gomo'''. Dialah yang membawa peradaban ke Nias: rumah tradisional Nias pertama (''Omo Niha''), tempat pemujaan leluhur pertama (''osali''), timbangan keadilan untuk emas dan beras, serta hukum adat yang mulia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Dari kampung awal Börönadu keturunan Tuada Hia menyebar ke berbagai penjuru pulau Nias. === Penyebaran Manusia === Ada kisah mitologis lain, yang berusaha menjelaskan penyebaran manusia tsb. Dan kendati ada beberapa pertanyaan mendasar tentang hal ini, misalnya apakah Tuada Hia benar leluhur pertama orang Nias atau empat bersaudara merupakan leluhur bersama, patut kita sisipkan di sini, sekedar untuk melihat bagaimana satu mitologi terbentuk untuk menerangkan sesuatu tanpa memikirkan konsistensi dari kisah tsb. Menurut mitos ini ketika '''Tuada Hia''' turun di Gomo, yang terletak di tengah pulau, bobot tubuhnya yang sangat berat membuat pulau Nias miring ke arah Selatan.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Untuk memulihkan keseimbangan pulau, leluhur bernama '''Gözö''' diturunkan di Hilimaziaya di ujung Utara.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Namun hal ini menyebabkan pulau melengkung di bagian tengah. Maka diturunkanlah leluhur ketiga, '''Daeli Sanau Talinga''', di bagian Timur, dan leluhur keempat, '''Hulu Börö Tanötanö''', di bagian Barat di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Melalui pembagian ini, keseimbangan geografis pulau Nias berhasil dipulihkan, dan harmoni pun tercipta di seluruh pulau.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Anda pasti telah melihat inkonsitensi mitos ini dibanding dengan mitos-mitos lainnya yang beredar di Tanö Niha. Misalnya dikatakan bahwa yang "turun" ke "bumi" adalah Tuada Hia dengan ketiga saudaranya. Mitos-mitos lainnya mengatakan hanya Tuada Hia yang turun ke bumi dan keturunannya memenuhi seluruh pulau. Namun misi dari program Warisan Nias adalah merebut kembali narasi. Dan untuk bisa menemukan narasi yang konsisten, kita harus mengetahui juga narasi yang kurang masuk akal. Dalam arti itu kita menyertakan mitos ini dan mitos-mitos lainnya di sini. === Pohon Tora'a === Kendati susah menyelaraskannya dengan narasi koheren asal-usul Ono Niha, kita patut menyebut mitos pohon Tora'a, yang diceritakan berbeda-beda tergantung daerah di Nias. Pohon '''Tora'a,''' juga dikenal sebagai pohon '''Fösi''', merupakan satu jenis pohon yang tumbuh di Nias, namun menempati posisi mistis pada zaman dahulu.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226, 347</ref> Konon, ketika manusia pertama meninggal, pohon kehidupan Tora'a bertumbuh dari jantungnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226</ref> Pohon memiliki tiga dahan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237</ref> Dari dahan paling atas lahirlah roh-roh, termasuk dewa dunia atas '''Lowalangi''' (atau Lowalani di Selatan) dan dewa dunia bawah '''Laturedanö'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237, 238</ref> Dari buah dan bunga emasnya lahirlah umat manusia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 216, 226</ref> Menariknya, mitos-mitos ini sebenarnya adalah metafora simbolis yang menceritakan '''proses kehamilan dan kelahiran''' manusia.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57</ref> P. Johannes Hämmerle sampai pada kesimpulan ini setelah membandingkan hasil penelitian arkeologis dan genetik modern dengan berbagai Hoho, yang dia kumpulkan dari berbagai daerah di Nias. Menurut beliau "sembilan lapis langit" yang disebut dalam mitos-mitos ini sebenarnya merupakan bahasa simbolik yang menunjuk pada sembilan bulan kehamilan. "Teteholi Ana'a" merupakan nama simbolis rahim ibu, "sungai Zea" yang meluap merupakan kata lain dari pecahnya air ketuban, dan "mulut" dari mana pohon Tora'a muncul adalah kiasan puitis untuk anatomi reproduksi wanita.<ref>Hämmerle, 2013, 57, 132, 133</ref> === Putri Siraso dari Asia === Sebelum mengakhiri bagian ini pantaslah kita sebut satu lagi mitos lain tentang '''Putri Siraso''', yang diceritakan di wilayah Nias Tengah dan Selatan.<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75</ref> Siraso adalah seorang putri raja dari daratan Asia, yang hamil di luar nikah.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Demi menyelamatkannya dari hukuman mati, keluarganya menaikkannya ke sebuah perahu kayu yang dilengkapi perbekalan dan seekor anjing, lalu menghanyutkannya ke samudra luas.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Perahu tersebut terapung menyeberangi Samudra Hindia dan akhirnya terdampar di pantai Timur Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Di sana, Siraso melahirkan putranya yang diberi nama '''Telögu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Ketika Telögu dewasa, ia mengelilingi pulau untuk mencari istri namun tidak menemukan satu pun manusia lain.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Akhirnya, ia kembali dan menikahi ibunya sendiri tanpa mengetahui identitas aslinya, menjadi leluhur garis ibu bagi masyarakat Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Yang menarik mitos-mitos ini juga mencatat bahwa sebelum kelompok Hia dan Siraso tiba di pulau Nias, "penduduk pribumi" telah mendiami pulau tsb. Sebagian dari mereka berkulit terang tinggal di atas pohon. Orang Nias menamakan mereka '''Ono Mbela'''. Sebagian lainnya hidup dalam gua-gua gelap (identik dengan dunia bawah) dan dinamakan keturunan '''Laturedanö'''.<ref>Hämmerle, 2013, 44, 46, 127</ref> Seperti yang akan kita lihat, hasil penelitian ilmiah bisa membantu kita menerangkan siapa "penghuni pribumi" Nias ini, yang akhirnya punah setelah "kaum petani migran" tiba di Nias. === '''Rangkuman Kesaksian Mitologis''' === Sebelum kita melompat ke hasil penemuan ilmiah asal-usul Nias, kita coba rangkumkan kesaksian mitologis ini. Ada tiga kemungkinan asal orang Nias: diturunkan dari kampung Teteholi Ana'a, lahir dari pohon kehidupan Tora'a, dan akhirnya dari "seberang laut"/Asia menurut legenda Putri Siraso. Seperti akan menjadi jelas kemudian, semua tempat ini menunjuk pada satu tempat dan perjalanan epik leluhur Nias dari tempat tsb. ke pulau Nias. Di sini kita patut memberi dua catatan tambahan tentang kampung Teteholi Ana'a. Pertama, bila kita membaca mitos tentang Teteholi Ana'a sebagaimana layaknya mitos-mitos lain di dunia, mau tak mau kita mulai berpikir legenda ini bisa jadi merupakan narasi untuk mengingat kampung halaman. Dan manusia cederung mengidolakan kampung halaman, terutama dalam hal Tuada Hia, yang membawa teknologi dan peradaban ke Nias dari tempat asal:<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> teknologi pembangunan rumah tradisional, ritus pemujaan leluhur, timbangan emas dan beras, serta hukum adat. Dalam konteks ini kampung Teteholi Ana'a disebut penuh emas, satu bahasa simbolis untuk menandakan kemajuan, kemegahan dan kemakmuran kampung tsb. Kedua, disebut P. Johannes Hämmerle di atas,<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57, 132, 133</ref> kampung Teteholi Ana'a adalah nama lain dari kampung pertama leluhur orang Nias di Gomo, yakni '''kampung Börönadu sendiri'''. Secara leksikal "tete holi" berarti satu pemukiman di atas bukit dan karena itu dianggap berada di "atas langit". Dari kampung inilah orang Nias "lahir" dan berketurunan banyak dan akhirnya menyebar ke seluruh pulau. Kampung di atas bukit tinggal merpakan ingatan instiktif bagi orang Nias dewasa ini. Namun pada zaman dulu orang Nias biasa mendirikan pemukiman di atas bukit. Dan kampung (''"banua"'') merupakan kosmos kehidupan orang Nias dengan tata sosial yang terstruktur. Adalah penjajah Belanda yang pada tahun 1908 memaksa orang Nias meninggalkan pemukiman di atas bukit ("tete holi") dan pindah ke pinggir jalan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 54, 61, 160, 274, 336</ref> Kampung di atas bukit (''tete holi'') tinggal menjadi kenangan indah (''ana'a'') akan satu sistem kemasyarakatan sempurna, yang telah hilang. == 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis == Bila mitologi berbicara tentang asal usul orang Nias lewat metafora puitis, arkeologi berbicara dengan bukti fisik masa lalu. === Kaum Pribumi Penghuni Gua === Pada tahun 1999, Museum Pusaka Nias memelopori penggalian arkeologi ilmiah pertama di pulau Nias, bertempat di gua '''Tögi Ndrawa''', dekat Gunungsitoli.<ref>Hämmerle, 2013, 37</ref> Hasilnya sangat mengejutkan: ditemukan bukti fisik bahwa manusia telah mendiami pulau Nias sejak setidaknya '''12.000 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 37</ref> Para penghuni gua purba ini tergolong dalam kebudayaan pemburu-pengumpul pra-Neolitikum yang dikenal berbudaya '''Hoabinhian'''.<ref>Hämmerle, 2013, 22, 30, 127</ref> Mereka menggunakan alat-alat batu sederhana, meramu tanaman liar, dan berburu hewan hutan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 149</ref> Dan seperti telah kita lihat di atas, keberadaan para penghuni gua ini sangat cocok dengan legenda tentang "Laturedanö", yang dikisahkan dalam mitos Nias, sebagai penghuni dunia bawah, yakni gua gelap.<ref>Hämmerle, 2013, 36, 127</ref> === Kedatangan Petani Migran === Ribuan tahun setelah zaman gua purba, sebuah kelompok migran baru mendarat di pantai Timur pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Catatan arkeologi menunjukkan bahwa sekitar tahun '''1000 hingga 1450 M''', masyarakat agraris (petani) yang maju mulai menetap di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 117, 223</ref> Berbeda dengan pemburu-pengumpul, kelompok baru ini sudah mempraktikkan cocok tanam padi, menggunakan peralatan besi, mengenakan perhiasan emas yang rumit, dan mendirikan rumah-rumah kayu yang kokoh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 46, 223</ref> Kehadiran mereka membawa kemajuan, sehingga penduduk pribumi, para penghuni gua purba dan penghuni pohon, pun turut mengadopsi peradaban baru ini.<ref>Hämmerle, 2013, 46</ref> === Budaya Batu Megalitik === Nias dikenal di dunia sebagai salah satu kebudayaan megalitik (batu besar), yang masih hidup sampai sekarang.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Batu-batu ini bisa memberi petunjuk tentang asal usul orang Nias dan kapan mereka sampai di Nias. Para wisatawan sering mengira bahwa tugu batu (''behu''), kursi kehormatan (''osa-osa''), dan meja batu yang ada di desa-desa Nias telah berusia ribuan tahun.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Namun, penelitian arkeologi menyingkapkan fakta yang mengejutkan: tradisi megalitik di Nias sebenarnya '''tergolong sangat muda'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Sebagian besar monumen batu tersebut didirikan antara '''200 hingga 500 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Itu berarti peradaban ini turut dibawa ke Nias oleh kaum petani, yang dipimpin oleh Tuada Hia. Itu berarti pula bahwa batu-batu megalitik Nias didirikan ratusan tahun setelah berbagai candi di Sumatera dan di Jawa telah berdiri. Apakah leluhur orang Nias mendengar atau bahkan melihat batu-batu tsb. dalam perjalanan mereka ke Nias? Namun seperti dibahas panjang lebar di tulisan lainnya dalam seri ini ([[Sangoguna:Slaia/Batu Megalit Nias|Batu Megalitik Nias]]) dibanding peradaban serupa di tempat lain di dunia, batu-batu megalit Nias sangat unik. Bila di tempat lain batu serupa didirikan sebagai tempat pemujaan '''para dewa''' atau monumen bagi tokoh '''yang telah meninggal''', batu megalit megalit Nias didirikan untuk '''menandai status sosial''' seseorang bangsawan '''yang masih hidup'''. Orang Nias, biasanya kepala kampung (disebut ''balugu'' di Utara atau ''si'ulu'' di Selatan), mendirikan batu megalit dalam pesta besar bernama '''owasa''', untuk menghormati leluhur, memamerkan kekayaan perhiasan emas mereka, serta meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> == 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik == Alat paling modern dan presisi yang sering digunakan untuk melacak asal-usul dan migrasi manusia adalah analisa genetik (DNA). Pada tahun 2002 dan 2003, ahli genetika Jerman Dr. Ingo Kennerknecht bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias mengumpulkan sampel DNA dari sekitar 400 orang Nias di berbagai penjuru pulau.<ref>Hämmerle, 2013, 37, 38</ref> Hasil analisis genetika ini sangat mengejutkan dan meluruskan berbagai narasi asal-usul orang Nias. === Bukan dari Tanah Batak, Burma, atau India === Di masa lalu, banyak peneliti luar berspekulasi tentang asal-usul orang Nias: * Sebagian pejabat kolonial Belanda menduga orang Nias adalah keturunan orang '''Batak''' dari Sumatra.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 222</ref>. Dalam tulisan "Tarombo Si Raja Batak", bahkan O.H. Sihite Panderadja menempatkan orang Nias dalam silsilah orang Batak,<ref>Sihite, 1941</ref> atau lebih tepat, Serius Lase menginterpretasikan nama Sijau Nias, putra sulung Ompu Raja Ijolma dalam buku Sihite tsb, sebagai leluhur orang Nias.<ref>Lase (1997), 9.</ref> * Misionaris Jerman pertama, Ludwig Denninger, menduga orang Nias berasal dari '''Burma''' (Myanmar).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 223</ref> * Sebagian peneliti lainnya menghubungkan Nias dengan suku '''Naga''' di India Timur Laut, karena kemiripan batu megalitik dan pesta babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> '''Penelitian DNA membantah seluruh teori tersebut'''. Secara genetik Orang Nias modern tidak memiliki hubungan dekat dengan suku Batak, Burma, maupun India.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 182</ref> === Tanah Air Ono Niha: Formosa === Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa orang Nias modern hampir 100% merupakan '''keturunan bangsa Austronesia'''.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Kode genetika mereka (lebih lanjut di bawah) merujuk langsung pada '''ekspansi Austronesia''', sebuah migrasi bahari raksasa yang bermula dari pulau '''Formosa''' (sekarang '''Taiwan''') sekitar 4.000 hingga 5,000 tahun yang lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Para pelaut ulung ini mengarungi samudra ke arah selatan melalui Filipina, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Nusantara, termasuk pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> === Misteri "Pergantian Populasi" === Penemuan genetika ini melahirkan sebuah teka-teki besar: jika arkeologi membuktikan manusia telah hidup di gua Tögi Ndrawa 12.000 tahun lalu, tetapi DNA membuktikan bahwa orang Nias modern murni keturunan Austronesia (Taiwan, 4.000 tahun lalu), '''mengapa tak ada jejak DNA para penghuni gua purba tersebut?''' Hasil DNA sangat tegas: para pemburu-pengumpul berusia 12.000 tahun lalu '''tidak meninggalkan jejak genetika sama sekali''' pada tubuh orang Nias modern.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Alih-alih saling mengawini dan bercampur darah, para petani Austronesia yang baru datang sepenuhnya '''menggantikan''' populasi pribumi pulau tersebut.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Meskipun penyebab pastinya masih misterius, para ilmuwan menduga faktor utamanya adalah '''penyakit'''.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para petani Austronesia yang baru datang hidup berdampingan dengan hewan ternak dan membawa virus-virus penyakit baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para penghuni gua yang hidup terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit-penyakit baru tersebut, sehingga wabah mematikan kemungkinan besar menyapu bersih seluruh populasi purba, meninggalkan pulau dalam keadaan kosong untuk dihuni oleh para petani baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> === Genetika yang Sangat Homogen === Biasanya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan besar (seperti Sumatra) memiliki keragaman genetik yang tinggi karena perkawinan antar populasi. Namun, Nias adalah kasus yang sangat langka: '''masyarakat Nias modern secara genetik sangat mirip satu sama lain (sangat homogen)'''.<ref>Hämmerle, 2013, 33, 35</ref> Seluruh populasi yang berjumlah lebih dari 700.000 jiwa saat ini diturunkan dari '''sekelompok kecil leluhur pendiri''' yang mengalami penyempitan populasi (''bottleneck'') dan isolasi yang sangat ketat di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145, 183</ref> === Garis Ibu vs Garis Ayah yang Kontras === Di balik kemiripan genetika tersebut, para ilmuwan menemukan perbedaan yang sangat menarik antara DNA ayah (garis keturunan laki-laki) dan DNA ibu (garis keturunan perempuan):<ref>van Oven et al., 2011, 156, 159</ref> * '''DNA Ayah (Kromosom-Y) terpisah sangat ketat''': DNA ayah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara Nias bagian Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Garis keturunan ayah di Nias Utara didominasi oleh haplogroup '''O-M119*''', sementara garis keturunan ayah di Nias Selatan hampir sepenuhnya didominasi oleh haplogroup '''O-M110''' (mencapai 86,4%).<ref>van Oven et al., 2011, 156, 158, 162</ref> Nyaris tidak ada pertukaran garis keturunan laki-laki antara Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 173</ref> * '''DNA Ibu (mtDNA) tercampur merata''': Sebaliknya, DNA yang diwariskan dari garis ibu tidak mengenal batas Utara-Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 181</ref> Haplogroup garis ibu yang paling dominan, '''Y2''' (ditemukan dalam persentase luar biasa tinggi, yaitu 40%), tersebar merata di seluruh pelosok pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 178</ref> Mengapa DNA ibu tercampur merata sementara DNA ayah terpisah ketat? Rahasianya terletak pada adat pernikahan suku Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 181</ref> Suku Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal dengan adat pernikahan '''patrilokal'''.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Artinya, seorang laki-laki harus menikah dengan perempuan dari klan/desa lain, dan setelah menikah, sang istri harus pindah menetap di desa suaminya.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Selama ratusan generasi, para perempuan terus berpindah antar-desa di seluruh pulau Nias, menyebarkan dan membaurkan DNA garis ibu, sementara para laki-laki tetap tinggal di desa leluhur mereka, menjaga DNA garis ayah tetap terisolasi di wilayah masing-masing.<ref>van Oven et al., 2011, 181</ref> == 4. Misteri Bahasa Nias == Perbedaan DNA ayah yang sangat tajam antara Nias Utara (O-M119*) dan Selatan (O-M110) membuktikan bahwa pulau Nias dihuni melalui '''beberapa gelombang kedatangan kelompok kecil pendiri''' (''founder events'') yang tiba di waktu yang berbeda, dan bukan satu migrasi tunggal yang masif.<ref>van Oven et al., 2011, 173, 174</ref> Selain itu, keragaman genetik menunjukkan bahwa '''haplogroup O-M110 (Nias Selatan) memiliki keragaman internal yang lebih tinggi dibandingkan O-M119* (Nias Utara)'''.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Ini berarti garis keturunan ayah di Nias Selatan berusia lebih tua atau tiba lebih awal di pulau ini, sementara garis keturunan ayah di Nias Utara berasal dari gelombang kedatangan yang lebih baru yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.<ref>van Oven et al., 2011, 174</ref> Jika para leluhur tiba dalam gelombang yang berbeda dan hidup terisolasi di wilayah masing-masing, bagaimana mungkin mereka semua berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu '''Li Nono Niha'''?<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 230</ref> Misteri ini bisa dijelaskan demikian: * '''Rumpun Bahasa yang Sama''': Karena seluruh gelombang migrasi berasal dari satu nenek moyang Austronesia yang sama di Taiwan, sejak awal mereka sudah berbicara dalam dialek-dialek yang saling berkerabat erat dari rumpun bahasa Malayo-Polynesian.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145</ref> * '''Namun Tidak Sama Persis!''' Meskipun menggunakan bahasa yang sama, isolasi yang berlangsung berabad-abad menciptakan perbedaan dialek yang sangat tajam antara Nias Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 231</ref> Perbedaan ini sangat nyata dalam kata-kata dasar sehari-hari: {| class="wikitable" |- valign="top" !Arti Kata !Dialek Nias Selatan [232] !Dialek Nias Utara [232] |- valign="top" |'''Kepala''' |''telau'' |''högö'' |- valign="top" |'''Kelapa''' |''sikhula'' |''banio'' |- valign="top" |'''Atas''' |''lawa'' |''yawa'' |- valign="top" |'''Tuhan''' |''Lowalani'' |''Lowalangi'' |- valign="top" |'''Patung Leluhur''' |''aju/azu'' |''adu'' |- valign="top" |'''"Siapa namamu?"''' |''hata döimö?'' |''haniha döimö?'' |} * '''Penyatuan Bahasa''': Selama berabad-abad, interaksi perdagangan lokal, pertemuan adat, dan interaksi sosial lainnya membantu menyatukan bahasa mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> Kini, orang Nias Utara dan Selatan dapat saling memahami dengan sangat baik, sambil tetap bangga mempertahankan kosakata khas daerah masing-masing.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> == 5. Orang Nias Unik di Indonesia? == Jika kita melihat pulau Sumatra, Jawa, atau Bali, suku-suku di sana sangat banyak bercampur darah dengan pulau tetangga, pedagang India, atau saudagar Arab.<ref>Ingo Kennerknecht_The Genetics Of Nias, 5</ref> Mengapa suku Nias tetap mempertahankan keunikan genetik dan budaya mereka yang begitu murni? Orang Nias memiliki "benteng ganda" yang melindungi mereka dari pengaruh luar: === Benteng Geografis yang Alami === Nias dikelilingi oleh laut dalam dengan gelombang laut yang terkenal sangat ganas.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Berbeda dengan laut pedalaman Nusantara yang tenang, perairan di sekitar Nias sangat berbahaya bagi pelaut asing yang tidak mengenal medannya, membuat pulau ini jarang dikunjungi oleh pendatang asing di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> === Perisai Budaya === Secara historis, Ono Niha memiliki budaya perang dan tradisi berburu kepala (''emali'') yang sangat ditakuti.<ref>Hämmerle, 2013, 41, 127</ref> Berburu kepala adalah bagian penting dari martabat sosial; seorang pria bahkan tidak diizinkan menikah sebelum berhasil membawa pulang kepala musuh.<ref>Hämmerle, 2013, 41, Hummel & Telaumbanua, 2007, 302</ref> Desa-desa dibangun di atas bukit-bukit tinggi yang dibentengi dengan parit-parit pertahanan yang dalam.<ref>Hämmerle, 2013, 116</ref> Reputasi para kesatria yang tangguh dan menakutkan ini membuat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar (seperti Sriwijaya atau Majapahit) maupun kesultanan Islam di Sumatra tidak pernah bisa menjajah atau menetap secara damai di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> === Babi Alih-alih Kerbau === Isolasi yang mendalam ini tercermin dengan sangat jelas dalam kebudayaan Nias. Di Sumatra (seperti suku Batak atau Minangkabau) dan wilayah Indonesia lainnya, hewan yang memainkan peranan utama dalam upacara adat adalah kerbau. Namun, Nias berdiri sendiri secara unik: '''Ono Niha secara khusus menyembelih babi (''bawi'') dalam pesta adat owasa mereka'''.<ref>Hämmerle, 2013, 78, Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> Babi adalah simbol tertinggi dari kekayaan, kehormatan, dan harmoni kosmis di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 248, 273</ref> == 6. Orang Nias Memiliki Sepupu? == Sebuah pertanyaan yang sangat menarik sering kali muncul: Dari segi bahasa orang Nias memiliki hubungan kekerabatan dengan pembicara Malagasy di Madagaskar, sebuah pulau di dekat benua Afrika yang terpisah ribuan kilometer di seberang Samudra Hindia, namun dari segi DNA orang Nias lebih dekat ke penduduk Melanesia, ribuan kilometer di lautan Pasifik. Mengapa? Ya, hubungan itu sangat nyata! Namun, ini bukan karena para pelaut Nias "tersesat" dalam perjalanan ke Afrika. === Sepupu Jauh yang Terpisah === Bahasa Nias dan bahasa Malagasy sama-sama merupakan anggota dari '''rumpun bahasa Austronesia''' yang sangat besar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 230</ref> Namun, studi linguistik menunjukkan bahwa bahasa Nias menempati cabang yang sangat tua dan terisolasi pada pohon keluarga Austronesia tanpa tetangga dekat.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 149</ref> Artinya, bahasa Nias adalah salah satu percabangan awal yang mandiri dari para pelaut Austronesia.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Sekitar 4.000 hingga 5.000 tahun yang lalu, nenek moyang mereka yang tinggal di Taiwan memulai perjalanan samudra yang luar biasa.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Sementara satu cabang berlayar ke arah barat daya dan menetap di pulau Nias, cabang lainnya melakukan perjalanan bahari legendaris menyeberangi Samudra Hindia hingga akhirnya mendiami pulau Madagaskar.<ref>van Oven et al., 2011, 145, 149</ref> Mereka bukanlah orang tua dan anak, melainkan '''sepupu jauh''' yang berbagi tanah air leluhur yang sama di Taiwan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> === Sepupu Lain di Kepulauan Pasifik === Skala migrasi pelaut Austronesia yang luar biasa ini tertulis langsung dalam DNA para lelaki Nias di bagian Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 169</ref> Penanda DNA ayah '''O-M110''' yang sangat dominan di Nias Selatan (86,4%) '''sama sekali tidak ditemukan''' di daratan Sumatra maupun Malaysia.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Namun, jika kita melihat ke arah timur menyeberangi Samudra Pasifik, tanda genetika yang sama persis ini muncul dengan persentase tinggi di kalangan '''suku asli Taiwan''' (32.6%), '''Filipina''' (12.8%), dan yang luar biasa, ribuan kilometer di Pasifik di kalangan penduduk '''Kepulauan Admiralty dan Trobriand''' di wilayah Melanesia, dekat Papua Nugini.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Ini membuktikan bahwa leluhur Ono Niha adalah bagian dari salah satu migrasi bahari terbesar dalam sejarah manusia, meninggalkan jejak genetika dan kebudayaan mereka di separuh belahan dunia, mulai dari pesisir Afrika Timur hingga pulau-pulau terpencil di Samudra Pasifik.<ref>van Oven et al., 2011, 144</ref> DNA orang Nias mengandung bukti "arkeologis" migrasi bangsa-bangsa kuno dari Afrika Timur sampai ke lautan Pasifik. == 7. Rangkuman == Dengan memadukan kisah '''mitologi''', penemuan fisik dari '''arkeologi''', serta cetak biru ilmiah dari '''DNA''', kita akhirnya dapat melihat kisah nyata Ono Niha yang sangat menakjubkan: * '''Mitologi''' dengan sangat indah melestarikan ingatan akan tanah air leluhur di seberang laut (kampung Teteholi Ana'a di Formosa?), pendaratan Hia di Gomo, dan penyebaran manusia ke berbagai tempat di pulau, serta keberadaan masyarakat gua (keturunan Laturedanö).<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75, 225, 229</ref> * '''Arkeologi''' membuktikan bahwa Nias telah dihuni selama 12.000 tahun, namun menunjukkan bahwa tradisi batu megalitikum yang spektakuler sebenarnya adalah ledakan kreativitas budaya yang tergolong muda dalam beberapa abad terakhir.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 43</ref> * '''Penelitian DNA''' membuktikan bahwa suku Nias modern adalah keturunan murni dari para pelaut tangguh Austronesia asal Formosa yang datang dalam beberapa gelombang, sepenuhnya menggantikan populasi gua purba, dan mempertahankan kemurnian budaya mereka melalui adat pernikahan patrilokal serta isolasi geografis yang ketat.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 181, 182</ref> Bagi generasi muda Nias, warisan sejarah ini adalah sumber kebanggaan yang sangat besar. Ono Niha bukanlah sekadar masyarakat pulau terpencil. Mereka adalah keturunan dari kaum penjelajah samudra terbesar dalam sejarah peradaban manusia, pembawa teknologi dan budaya ke Pulau Nias, dan akan terus menulis lembaran-lembaran sejarah baru sampai hari ini dan ke masa depan. == Sumber == * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). ''150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia''. Anthropos, Vol. 108, No. 1, hlm. 173-204 [30]. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni.''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965)''. Utrecht University [209]. * '''Kennerknecht, Ingo & Hämmerle, Johannes M.''' (2009). ''The Genetics of Nias – Concepts and First Data''. Yayasan Pusaka Nias [1]. * '''Lase, Serius''' (1997). ''Membantah''. Sinar Indonesia Baru (SIB). Medan. Sabtu 11.01.1997. * '''Sihite Panderadja, O.H.''' (1941). ''Tarombo Si Raja Batak''. Medan. * '''Van Oven, Mannis et al.''' (2011). ''Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias''. Molecular Biology and Evolution, Vol. 28, No. 4, hlm. 1349-1361 [143]. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] chnqv5n2lwvrefw7y228esv5n2zknbr 28420 28419 2026-09-26T11:35:14Z Slaia 39 menyelesaikan pemeriksaan 28420 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses merebut kembali narasi Nias (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Pulau Nias berada di ujung barat Indonesia, sekitar 120 kilometer dari pulau Sumatra. Orang Nias menyebut pulau ini '''Tanö Niha''' ("Tanah Manusia") dan diri mereka sendiri '''Ono Niha''' ("Keturunan Manusia").<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 14</ref> Pulau ini telah memikat para penjelajah, antropolog, dan sejarawan selama berabad-abad.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 15-17</ref>, bukan hanya karena monumen batu megalitik, arsitektur rumah panggung tradisional yang megah, serta tradisi lompat batu (''hombo batu'') yang legendaris.<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Pertanyaan yang telah lama menggelitik para peneliti adalah tentang dari mana Ono Niha sebenarnya berasal. Pertanyaan ini sering muncul mengingat bahasa Nias agak berbeda dari bahasa-bahasa daerah di sekitarnya dan budaya Nias lebih mengingatkan kita akan budaya masyarakat Naga dari daerah Nagaland di perbatasan India-Myanmar. Untuk memecahkan teka-teki ini, kita menempuh tiga jalur yang sangat berbeda: kesaksian '''mitologi''', penemuan '''arkeologi''', serta cetak biru mikroskopis genetik ('''DNA''').<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Dengan merajut ketiga utas ini, kita berusaha melacak perjalanan epik para leluhur Nias. == 1. Berdasarkan Kesaksian Mitologis == Sebelum mengenal tulisan, sejarah Nias diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang sangat kaya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Di sore atau malam hari, kakek-nenek akan duduk bersama cucu-cucu mereka di langkan jendela rumah tradisional yang panjang, melantunkan syair-syair puitis yang disebut '''''Hoho''''' untuk menceritakan asal-usul mereka.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> === Kampung Teteholi Ana'a === Menurut '''Hoho''' ini leluhur pertama orang Nias diturunkan di sebuah kampung lengendaris bernama '''Teteholi Ana'a'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang berdiri di atas bukit dan karena itu sering diasosiasikan dengan langit. Untuk menggambarkan betapa makmmur penduduk di Teteholi Ana'a, kampung itu dikatakan memiliki banyak emas, baik yang bermutu rendah ''hamo gana'a'' maupun yang berkadar tinggi emas murni ''balaki''.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Dalam mitos tersebut, yang memerintah Teteholi Ana'a adalah raja bernama '''Sirao'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Suatu hari Sirao mengadakan perlombaan bagi sembilan putranya untuk menentukan siapa dari antara mereka yang akan mewarisi takhtanya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Yang memenangkan lomba tsb. adalah putra bungsunya '''Luomewöna''', juga dikenal sebagai '''Saho'''. Luomewöna, secara harafiah berarti hari kemenangan, berhasil menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dengan memanjat ujung tombak dan duduk di atas mata tombak yang tajam seperti seekor ayam jago.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Luomewöna pun mewarisi kerajaan Teteholi Ana'a.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Sementara itu, saudara-saudaranya disebarkan ke "bumi" menjadi leluhur Ono Niha.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Yang pertama adalah '''Tuada Hia''' (atau '''Hia Walangi Sinada''').<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Beliau mendarat di "jantung" pulau Nias, yakni di '''Börönadu''' di daerah '''Gomo'''. Dialah yang membawa peradaban ke Nias: rumah tradisional Nias pertama (''Omo Niha''), tempat pemujaan leluhur pertama (''osali''), timbangan keadilan untuk emas dan beras, serta hukum adat yang mulia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Dari kampung awal Börönadu keturunan Tuada Hia menyebar ke berbagai penjuru pulau Nias. === Penyebaran Manusia === Ada kisah mitologis lain, yang berusaha menjelaskan penyebaran manusia tsb. Dan kendati ada beberapa pertanyaan mendasar tentang hal ini, misalnya apakah Tuada Hia benar leluhur pertama orang Nias atau empat bersaudara merupakan leluhur bersama, patut kita sisipkan di sini, sekedar untuk melihat bagaimana satu mitologi terbentuk untuk menerangkan sesuatu tanpa memikirkan konsistensi dari kisah tsb. Menurut mitos ini ketika '''Tuada Hia''' turun di Gomo, yang terletak di tengah pulau, bobot tubuhnya yang sangat berat membuat pulau Nias miring ke arah Selatan.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Untuk memulihkan keseimbangan pulau, leluhur bernama '''Gözö''' diturunkan di Hilimaziaya di ujung Utara.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Namun hal ini menyebabkan pulau melengkung di bagian tengah. Maka diturunkanlah leluhur ketiga, '''Daeli Sanau Talinga''', di bagian Timur, dan leluhur keempat, '''Hulu Börö Tanötanö''', di bagian Barat di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Melalui pembagian ini, keseimbangan geografis pulau Nias berhasil dipulihkan, dan harmoni pun tercipta di seluruh pulau.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Anda pasti telah melihat inkonsitensi mitos ini dibanding dengan mitos-mitos lainnya yang beredar di Tanö Niha. Misalnya dikatakan bahwa yang "turun" ke "bumi" adalah Tuada Hia dengan ketiga saudaranya. Mitos-mitos lainnya mengatakan hanya Tuada Hia yang turun ke bumi dan keturunannya memenuhi seluruh pulau. Namun misi dari program Warisan Nias adalah merebut kembali narasi. Dan untuk bisa menemukan narasi yang konsisten, kita harus mengetahui juga narasi yang kurang masuk akal. Dalam arti itu kita menyertakan mitos ini dan mitos-mitos lainnya di sini. === Pohon Tora'a === Kendati susah menyelaraskannya dengan narasi koheren asal-usul Ono Niha, kita patut menyebut mitos pohon Tora'a, yang diceritakan berbeda-beda tergantung daerah di Nias. Pohon '''Tora'a,''' juga dikenal sebagai pohon '''Fösi''', merupakan satu jenis pohon yang tumbuh di Nias, namun menempati posisi mistis pada zaman dahulu.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226, 347</ref> Konon, ketika manusia pertama meninggal, pohon kehidupan Tora'a bertumbuh dari jantungnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226</ref> Pohon memiliki tiga dahan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237</ref> Dari dahan paling atas lahirlah roh-roh, termasuk dewa dunia atas '''Lowalangi''' (atau Lowalani di Selatan) dan dewa dunia bawah '''Laturedanö'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237, 238</ref> Dari buah dan bunga emasnya lahirlah umat manusia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 216, 226</ref> Menariknya, mitos-mitos ini sebenarnya adalah metafora simbolis yang menceritakan '''proses kehamilan dan kelahiran''' manusia.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57</ref> P. Johannes Hämmerle sampai pada kesimpulan ini setelah membandingkan hasil penelitian arkeologis dan genetik modern dengan berbagai Hoho, yang dia kumpulkan dari berbagai daerah di Nias. Menurut beliau "sembilan lapis langit" yang disebut dalam mitos-mitos ini sebenarnya merupakan bahasa simbolik yang menunjuk pada sembilan bulan kehamilan. "Teteholi Ana'a" merupakan nama simbolis rahim ibu, "sungai Zea" yang meluap merupakan kata lain dari pecahnya air ketuban, dan "mulut" dari mana pohon Tora'a muncul adalah kiasan puitis untuk anatomi reproduksi wanita.<ref>Hämmerle, 2013, 57, 132, 133</ref> === Putri Siraso dari Asia === Sebelum mengakhiri bagian ini pantaslah kita sebut satu lagi mitos lain tentang '''Putri Siraso''', yang diceritakan di wilayah Nias Tengah dan Selatan.<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75</ref> Siraso adalah seorang putri raja dari daratan Asia, yang hamil di luar nikah.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Demi menyelamatkannya dari hukuman mati, keluarganya menaikkannya ke sebuah perahu kayu yang dilengkapi perbekalan dan seekor anjing, lalu menghanyutkannya ke samudra luas.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Perahu tersebut terapung menyeberangi Samudra Hindia dan akhirnya terdampar di pantai Timur Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Di sana, Siraso melahirkan putranya yang diberi nama '''Telögu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Ketika Telögu dewasa, ia mengelilingi pulau untuk mencari istri namun tidak menemukan satu pun manusia lain.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Akhirnya, ia kembali dan menikahi ibunya sendiri tanpa mengetahui identitas aslinya, menjadi leluhur garis ibu bagi masyarakat Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Yang menarik mitos-mitos ini juga mencatat bahwa sebelum kelompok Hia dan Siraso tiba di pulau Nias, "penduduk pribumi" telah mendiami pulau tsb. Sebagian dari mereka berkulit terang tinggal di atas pohon. Orang Nias menamakan mereka '''Ono Mbela'''. Sebagian lainnya hidup dalam gua-gua gelap (identik dengan dunia bawah) dan dinamakan keturunan '''Laturedanö'''.<ref>Hämmerle, 2013, 44, 46, 127</ref> Seperti yang akan kita lihat, hasil penelitian ilmiah bisa membantu kita menerangkan siapa "penghuni pribumi" Nias ini, yang akhirnya punah setelah "kaum petani migran" tiba di Nias. === '''Rangkuman Kesaksian Mitologis''' === Sebelum kita melompat ke hasil penemuan ilmiah asal-usul Nias, kita coba rangkumkan kesaksian mitologis ini. Ada tiga kemungkinan asal orang Nias: diturunkan dari kampung Teteholi Ana'a, lahir dari pohon kehidupan Tora'a, dan akhirnya dari "seberang laut"/Asia menurut legenda Putri Siraso. Seperti akan menjadi jelas kemudian, semua tempat ini menunjuk pada satu tempat dan perjalanan epik leluhur Nias dari tempat tsb. ke pulau Nias. Di sini kita patut memberi dua catatan tambahan tentang kampung Teteholi Ana'a. Pertama, bila kita membaca mitos tentang Teteholi Ana'a sebagaimana layaknya mitos-mitos lain di dunia, mau tak mau kita mulai berpikir legenda ini bisa jadi merupakan narasi untuk mengingat kampung halaman. Dan manusia cederung mengidolakan kampung halaman, terutama dalam hal Tuada Hia, yang membawa teknologi dan peradaban ke Nias dari tempat asal:<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> teknologi pembangunan rumah tradisional, ritus pemujaan leluhur, timbangan emas dan beras, serta hukum adat. Dalam konteks ini kampung Teteholi Ana'a disebut penuh emas, satu bahasa simbolis untuk menandakan kemajuan, kemegahan dan kemakmuran kampung tsb. Kedua, disebut P. Johannes Hämmerle di atas,<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57, 132, 133</ref> kampung Teteholi Ana'a adalah nama lain dari kampung pertama leluhur orang Nias di Gomo, yakni '''kampung Börönadu sendiri'''. Secara leksikal "tete holi" berarti satu pemukiman di atas bukit dan karena itu dianggap berada di "atas langit". Dari kampung inilah orang Nias "lahir" dan berketurunan banyak dan akhirnya menyebar ke seluruh pulau. Kampung di atas bukit tinggal merpakan ingatan instiktif bagi orang Nias dewasa ini. Namun pada zaman dulu orang Nias biasa mendirikan pemukiman di atas bukit. Dan kampung (''"banua"'') merupakan kosmos kehidupan orang Nias dengan tata sosial yang terstruktur. Adalah penjajah Belanda yang pada tahun 1908 memaksa orang Nias meninggalkan pemukiman di atas bukit ("tete holi") dan pindah ke pinggir jalan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 54, 61, 160, 274, 336</ref> Kampung di atas bukit (''tete holi'') tinggal menjadi kenangan indah (''ana'a'') akan satu sistem kemasyarakatan sempurna, yang telah hilang. == 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis == Bila mitologi berbicara tentang asal usul orang Nias lewat metafora puitis, arkeologi berbicara dengan bukti fisik masa lalu. === Kaum Pribumi Penghuni Gua === Pada tahun 1999, Museum Pusaka Nias memelopori penggalian arkeologi ilmiah pertama di pulau Nias, bertempat di gua '''Tögi Ndrawa''', dekat Gunungsitoli.<ref>Hämmerle, 2013, 37</ref> Hasilnya sangat mengejutkan: ditemukan bukti fisik bahwa manusia telah mendiami pulau Nias sejak setidaknya '''12.000 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 37</ref> Para penghuni gua purba ini tergolong dalam kebudayaan pemburu-pengumpul pra-Neolitikum yang dikenal berbudaya '''Hoabinhian'''.<ref>Hämmerle, 2013, 22, 30, 127</ref> Mereka menggunakan alat-alat batu sederhana, meramu tanaman liar, dan berburu hewan hutan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 149</ref> Dan seperti telah kita lihat di atas, keberadaan para penghuni gua ini sangat cocok dengan legenda tentang "Laturedanö", yang dikisahkan dalam mitos Nias, sebagai penghuni dunia bawah, yakni gua gelap.<ref>Hämmerle, 2013, 36, 127</ref> === Kedatangan Petani Migran === Ribuan tahun setelah zaman gua purba, sebuah kelompok migran baru mendarat di pantai Timur pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Catatan arkeologi menunjukkan bahwa sekitar tahun '''1000 hingga 1450 M''', masyarakat agraris (petani) yang maju mulai menetap di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 117, 223</ref> Berbeda dengan pemburu-pengumpul, kelompok baru ini sudah mempraktikkan cocok tanam padi, menggunakan peralatan besi, mengenakan perhiasan emas yang rumit, dan mendirikan rumah-rumah kayu yang kokoh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 46, 223</ref> Kehadiran mereka membawa kemajuan, sehingga penduduk pribumi, para penghuni gua purba dan penghuni pohon, pun turut mengadopsi peradaban baru ini.<ref>Hämmerle, 2013, 46</ref> === Budaya Batu Megalitik === Nias dikenal di dunia sebagai salah satu kebudayaan megalitik (batu besar), yang masih hidup sampai sekarang.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Batu-batu ini bisa memberi petunjuk tentang asal usul orang Nias dan kapan mereka sampai di Nias. Para wisatawan sering mengira bahwa tugu batu (''behu''), kursi kehormatan (''osa-osa''), dan meja batu yang ada di desa-desa Nias telah berusia ribuan tahun.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Namun, penelitian arkeologi menyingkapkan fakta yang mengejutkan: tradisi megalitik di Nias sebenarnya '''tergolong sangat muda'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Sebagian besar monumen batu tersebut didirikan antara '''200 hingga 500 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Itu berarti peradaban ini turut dibawa ke Nias oleh kaum petani, yang dipimpin oleh Tuada Hia. Itu berarti pula bahwa batu-batu megalitik Nias didirikan ratusan tahun setelah berbagai candi di Sumatera dan di Jawa telah berdiri. Apakah leluhur orang Nias mendengar atau bahkan melihat batu-batu tsb. dalam perjalanan mereka ke Nias? Namun seperti dibahas panjang lebar di tulisan lainnya dalam seri ini ([[Sangoguna:Slaia/Batu Megalit Nias|Batu Megalitik Nias]]) dibanding peradaban serupa di tempat lain di dunia, batu-batu megalit Nias sangat unik. Bila di tempat lain batu serupa didirikan sebagai tempat pemujaan '''para dewa''' atau monumen bagi tokoh '''yang telah meninggal''', batu megalit megalit Nias didirikan untuk '''menandai status sosial''' seseorang bangsawan '''yang masih hidup'''. Orang Nias, biasanya kepala kampung (disebut ''balugu'' di Utara atau ''si'ulu'' di Selatan), mendirikan batu megalit dalam pesta besar bernama '''owasa''', untuk menghormati leluhur, memamerkan kekayaan perhiasan emas mereka, serta meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> == 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik == Alat paling modern dan presisi yang sering digunakan untuk melacak asal-usul dan migrasi manusia adalah analisa genetik (DNA). Pada tahun 2002 dan 2003, ahli genetika Jerman Dr. Ingo Kennerknecht bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias mengumpulkan sampel DNA dari sekitar 400 orang Nias di berbagai penjuru pulau.<ref>Hämmerle, 2013, 37, 38</ref> Hasil analisis genetika ini sangat mengejutkan dan meluruskan berbagai narasi asal-usul orang Nias. === Bukan dari Tanah Batak, Burma, atau India === Di masa lalu, banyak peneliti luar berspekulasi tentang asal-usul orang Nias: * Sebagian pejabat kolonial Belanda menduga orang Nias adalah keturunan orang '''Batak''' dari Sumatra.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 222</ref>. Dalam tulisan "Tarombo Si Raja Batak", bahkan O.H. Sihite Panderadja menempatkan orang Nias dalam silsilah orang Batak,<ref>Sihite, 1941</ref> atau lebih tepat, Serius Lase menginterpretasikan nama Sijau Nias, putra sulung Ompu Raja Ijolma dalam buku Sihite tsb, sebagai leluhur orang Nias.<ref>Lase (1997), 9.</ref> * Misionaris Jerman pertama, Ludwig Denninger, menduga orang Nias berasal dari '''Burma''' (Myanmar).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 223</ref> * Sebagian peneliti lainnya menghubungkan Nias dengan suku '''Naga''' di India Timur Laut, karena kemiripan batu megalitik dan pesta babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> '''Penelitian DNA membantah seluruh teori tersebut'''. Secara genetik Orang Nias modern tidak memiliki hubungan dekat dengan suku Batak, Burma, maupun India.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 182</ref> === Tanah Air Ono Niha: Formosa === Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa orang Nias modern hampir 100% merupakan '''keturunan bangsa Austronesia'''.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Kode genetika mereka (lebih lanjut di bawah) merujuk langsung pada '''ekspansi Austronesia''', sebuah migrasi bahari raksasa yang bermula dari pulau '''Formosa''' (sekarang '''Taiwan''') sekitar 4.000 hingga 5,000 tahun yang lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Para pelaut ulung ini mengarungi samudra ke arah selatan melalui Filipina, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Nusantara, termasuk pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> === Genetika yang Sangat Homogen === Biasanya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan besar (seperti Sumatra) memiliki keragaman genetik yang tinggi karena perkawinan antar populasi. Namun, Nias adalah kasus yang sangat langka: '''masyarakat Nias modern secara genetik sangat mirip satu sama lain (sangat homogen)'''.<ref>Hämmerle, 2013, 33, 35</ref> Seluruh populasi yang berjumlah lebih dari 700.000 jiwa saat ini diturunkan dari '''sekelompok kecil leluhur pendiri''' yang mengalami penyempitan populasi (''bottleneck'') dan isolasi yang sangat ketat di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145, 183</ref> === Garis Ibu vs Garis Ayah yang Kontras === Di balik kemiripan genetika tersebut, para ilmuwan menemukan perbedaan yang sangat menarik antara DNA ayah (garis keturunan laki-laki) dan DNA ibu (garis keturunan perempuan):<ref>van Oven et al., 2011, 156, 159</ref> * '''DNA Ayah (Kromosom-Y) terpisah sangat ketat''': DNA ayah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara Nias bagian Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Garis keturunan ayah di Nias Utara didominasi oleh haplogroup '''O-M119*''', sementara garis keturunan ayah di Nias Selatan hampir sepenuhnya didominasi oleh haplogroup '''O-M110''' (mencapai 86,4%).<ref>van Oven et al., 2011, 156, 158, 162</ref> Nyaris tidak ada pertukaran garis keturunan laki-laki antara Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 173</ref> * '''DNA Ibu (mtDNA) tercampur merata''': Sebaliknya, DNA yang diwariskan dari garis ibu tidak mengenal batas Utara-Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 181</ref> Haplogroup garis ibu yang paling dominan, '''Y2''' (ditemukan dalam persentase luar biasa tinggi, yaitu 40%), tersebar merata di seluruh pelosok pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 178</ref> Mengapa DNA ibu tercampur merata sementara DNA ayah terpisah ketat? Rahasianya terletak pada adat pernikahan suku Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 181</ref> Suku Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal dengan adat pernikahan '''patrilokal'''.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Artinya, seorang laki-laki harus menikah dengan perempuan dari klan/desa lain, dan setelah menikah, sang istri harus pindah menetap di desa suaminya.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Selama ratusan generasi, para perempuan terus berpindah antar-desa di seluruh pulau Nias, menyebarkan dan membaurkan DNA garis ibu, sementara para laki-laki tetap tinggal di desa leluhur mereka, menjaga DNA garis ayah tetap terisolasi di wilayah masing-masing.<ref>van Oven et al., 2011, 181</ref> === Misteri "Pergantian Populasi" === Penemuan genetika ini melahirkan sebuah teka-teki besar: jika arkeologi membuktikan manusia telah hidup di gua Tögi Ndrawa 12.000 tahun lalu, tetapi DNA membuktikan bahwa orang Nias modern murni keturunan Austronesia (Taiwan, 4.000 tahun lalu), '''mengapa tak ada jejak DNA para penghuni gua purba tersebut?''' Hasil DNA sangat tegas: para pemburu-pengumpul berusia 12.000 tahun lalu '''tidak meninggalkan jejak genetika sama sekali''' pada tubuh orang Nias modern.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Alih-alih saling mengawini dan bercampur darah, para petani Austronesia yang baru datang sepenuhnya '''menggantikan''' populasi pribumi pulau tersebut.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Meskipun penyebab pastinya masih misterius, para ilmuwan menduga faktor utamanya adalah '''penyakit'''.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para petani Austronesia yang baru datang hidup berdampingan dengan hewan ternak dan membawa virus-virus penyakit baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para penghuni gua yang hidup terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit-penyakit baru tersebut, sehingga wabah mematikan kemungkinan besar menyapu bersih seluruh populasi purba, meninggalkan pulau dalam keadaan kosong untuk dihuni oleh para petani baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> === Misteri Bahasa Nias === Perbedaan DNA ayah yang sangat tajam antara Nias Utara (O-M119*) dan Selatan (O-M110) membuktikan bahwa pulau Nias dihuni melalui '''beberapa gelombang kedatangan kelompok kecil pendiri''' (''founder events'') yang tiba di waktu yang berbeda, dan bukan satu migrasi tunggal yang masif.<ref>van Oven et al., 2011, 173, 174</ref> Selain itu, keragaman genetik menunjukkan bahwa '''haplogroup O-M110 (Nias Selatan) memiliki keragaman internal yang lebih tinggi dibandingkan O-M119* (Nias Utara)'''.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Ini berarti garis keturunan ayah di Nias Selatan berusia lebih tua atau tiba lebih awal di pulau ini, sementara garis keturunan ayah di Nias Utara berasal dari gelombang kedatangan yang lebih baru yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.<ref>van Oven et al., 2011, 174</ref> Jika para leluhur tiba dalam gelombang yang berbeda dan hidup terisolasi di wilayah masing-masing, bagaimana mungkin mereka semua berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu '''Li Nono Niha'''?<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 230</ref> Misteri ini bisa dijelaskan demikian: * '''Rumpun Bahasa yang Sama''': Karena seluruh gelombang migrasi berasal dari satu nenek moyang Austronesia yang sama di Taiwan, sejak awal mereka sudah berbicara dalam dialek-dialek yang saling berkerabat erat dari rumpun bahasa Malayo-Polynesian.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145</ref> * '''Namun Tidak Sama Persis!''' Meskipun menggunakan bahasa yang sama, isolasi yang berlangsung berabad-abad menciptakan perbedaan dialek yang sangat tajam antara Nias Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 231</ref> Perbedaan ini sangat nyata dalam kata-kata dasar sehari-hari: {| class="wikitable" |- valign="top" !Arti Kata !Dialek Nias Selatan [232] !Dialek Nias Utara [232] |- valign="top" |'''Kepala''' |''telau'' |''högö'' |- valign="top" |'''Kelapa''' |''sikhula'' |''banio'' |- valign="top" |'''Atas''' |''lawa'' |''yawa'' |- valign="top" |'''Tuhan''' |''Lowalani'' |''Lowalangi'' |- valign="top" |'''Patung Leluhur''' |''aju/azu'' |''adu'' |- valign="top" |'''"Siapa namamu?"''' |''hata döimö?'' |''haniha döimö?'' |} * '''Penyatuan Bahasa''': Selama berabad-abad, interaksi perdagangan lokal, pertemuan adat, dan interaksi sosial lainnya membantu menyatukan bahasa mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> Kini, orang Nias Utara dan Selatan dapat saling memahami dengan sangat baik, sambil tetap bangga mempertahankan kosakata khas daerah masing-masing.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> === Sepupu Orang Nias === Skala migrasi pelaut Austronesia yang luar biasa ini tertulis langsung dalam DNA para lelaki Nias di bagian Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 169</ref> Penanda DNA ayah '''O-M110''' yang sangat dominan di Nias Selatan (86,4%) '''sama sekali tidak ditemukan''' di daratan Sumatra maupun Malaysia.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Namun, jika kita melihat ke arah timur menyeberangi Samudra Pasifik, tanda genetika yang sama persis ini muncul dengan persentase tinggi di kalangan '''suku asli Taiwan''' (32.6%), '''Filipina''' (12.8%), dan yang luar biasa, ribuan kilometer di Pasifik di kalangan penduduk '''Kepulauan Admiralty dan Trobriand''' di wilayah Melanesia, dekat Papua Nugini.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Ini membuktikan bahwa leluhur Ono Niha adalah bagian dari salah satu migrasi bahari terbesar dalam sejarah manusia, meninggalkan jejak genetika dan kebudayaan mereka di separuh belahan dunia, mulai dari pesisir Afrika Timur hingga pulau-pulau terpencil di Samudra Pasifik.<ref>van Oven et al., 2011, 144</ref> DNA orang Nias mengandung bukti "arkeologis" migrasi bangsa-bangsa kuno dari Afrika Timur sampai ke lautan Pasifik. == Mengapa Orang Nias Unik? == Jika kita melihat pulau Sumatra, Jawa, atau Bali, suku-suku di sana sangat banyak bercampur darah dengan pulau tetangga, pedagang India, atau saudagar Arab.<ref>Ingo Kennerknecht_The Genetics Of Nias, 5</ref> Mengapa suku Nias tetap mempertahankan keunikan genetik dan budaya mereka yang begitu murni? Orang Nias memiliki "benteng ganda" yang melindungi mereka dari pengaruh luar: === Benteng Geografis yang Alami === Nias dikelilingi oleh laut dalam dengan gelombang laut yang terkenal sangat ganas.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Berbeda dengan laut pedalaman Nusantara yang tenang, perairan di sekitar Nias sangat berbahaya bagi pelaut asing yang tidak mengenal medannya, membuat pulau ini jarang dikunjungi oleh pendatang asing di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> === Perisai Budaya === Secara historis, Ono Niha memiliki budaya perang dan tradisi berburu kepala (''emali'') yang sangat ditakuti.<ref>Hämmerle, 2013, 41, 127</ref> Berburu kepala adalah bagian penting dari martabat sosial; seorang pria bahkan tidak diizinkan menikah sebelum berhasil membawa pulang kepala musuh.<ref>Hämmerle, 2013, 41, Hummel & Telaumbanua, 2007, 302</ref> Desa-desa dibangun di atas bukit-bukit tinggi yang dibentengi dengan parit-parit pertahanan yang dalam.<ref>Hämmerle, 2013, 116</ref> Reputasi para kesatria yang tangguh dan menakutkan ini membuat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar (seperti Sriwijaya atau Majapahit) maupun kesultanan Islam di Sumatra tidak pernah bisa menjajah atau menetap secara damai di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> === Babi Alih-alih Kerbau === Isolasi yang mendalam ini tercermin dengan sangat jelas dalam kebudayaan Nias. Di Sumatra (seperti suku Batak atau Minangkabau) dan wilayah Indonesia lainnya, hewan yang memainkan peranan utama dalam upacara adat adalah kerbau. Namun, Nias berdiri sendiri secara unik: '''Ono Niha secara khusus menyembelih babi (''bawi'') dalam pesta adat owasa mereka'''.<ref>Hämmerle, 2013, 78, Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> Babi adalah simbol tertinggi dari kekayaan, kehormatan, dan harmoni kosmis di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 248, 273</ref> == Rangkuman == Dengan memadukan kisah '''mitologi''', penemuan fisik dari '''arkeologi''', serta cetak biru ilmiah dari '''DNA''', kita akhirnya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang penduduk pribumi Nias, kedatangan petani migran, yang menjadi leluhur orang Nias modern, perjalanan mereka dari pulau Formosa ke pulu Nias, dan teknologi serta peradaban yang mereka bawa ke Nias. * '''Mitologi''' melestarikan ingatan akan tanah air leluhur di seberang laut, pendaratan Tuada Hia di Gomo, dan penyebaran manusia ke berbagai tempat di pulau, serta keberadaan masyarakat asli Nias (keturunan Bela dan Laturedanö).<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75, 225, 229</ref> * '''Arkeologi''' menunjukkan bahwa Nias telah dihuni selama 12.000 tahun, bahwa tradisi batu megalit yang spektakuler merupakan kreativitas budaya yang tergolong muda dalam beberapa abad terakhir.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 43</ref> * '''Penelitian DNA''' membuktikan bahwa suku Nias modern adalah keturunan murni dari para pelaut tangguh Austronesia asal Formosa yang datang dalam beberapa gelombang, sepenuhnya menggantikan populasi gua purba, dan mempertahankan kemurnian budaya mereka melalui adat pernikahan patrilokal serta isolasi geografis yang ketat.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 181, 182</ref> Bagi generasi muda Nias, warisan sejarah ini adalah sumber kebanggaan yang sangat besar. Ono Niha bukanlah sekadar masyarakat pulau terpencil. Mereka adalah keturunan dari kaum penjelajah samudra terbesar dalam sejarah peradaban manusia, pembawa teknologi dan budaya ke Pulau Nias, dan akan terus menulis lembaran-lembaran sejarah baru, hari ini dan esok. == Sumber == * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). ''150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia''. Anthropos, Vol. 108, No. 1, hlm. 173-204 [30]. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni.''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965)''. Utrecht University [209]. * '''Kennerknecht, Ingo & Hämmerle, Johannes M.''' (2009). ''The Genetics of Nias – Concepts and First Data''. Yayasan Pusaka Nias [1]. * '''Lase, Serius''' (1997). ''Membantah''. Sinar Indonesia Baru (SIB). Medan. Sabtu 11.01.1997. * '''Sihite Panderadja, O.H.''' (1941). ''Tarombo Si Raja Batak''. Medan. * '''Van Oven, Mannis et al.''' (2011). ''Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias''. Molecular Biology and Evolution, Vol. 28, No. 4, hlm. 1349-1361 [143]. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] frf50xkxab1cm91k8e6omtfbk0z6glp 28421 28420 2026-09-26T11:37:08Z Slaia 39 28421 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses merebut kembali narasi Nias (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Pulau Nias berada di ujung barat Indonesia, sekitar 120 kilometer dari pulau Sumatra. Orang Nias menyebut pulau ini '''Tanö Niha''' ("Tanah Manusia") dan diri mereka sendiri '''Ono Niha''' ("Keturunan Manusia").<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 14</ref> Pulau ini telah memikat para penjelajah, antropolog, dan sejarawan selama berabad-abad.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 15-17</ref>, bukan hanya karena monumen batu megalitik, arsitektur rumah panggung tradisional yang megah, serta tradisi lompat batu (''hombo batu'') yang legendaris.<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Pertanyaan yang telah lama menggelitik para peneliti adalah tentang dari mana Ono Niha sebenarnya berasal. Pertanyaan ini sering muncul mengingat bahasa Nias agak berbeda dari bahasa-bahasa daerah di sekitarnya dan budaya Nias lebih mengingatkan kita akan budaya masyarakat Naga dari daerah Nagaland di perbatasan India-Myanmar daripada akan budaya-budaya lainnya di Indonesia. Untuk memecahkan teka-teki ini, kita menempuh tiga jalur yang sangat berbeda: kesaksian '''mitologi''', penemuan '''arkeologi''', serta cetak biru mikroskopis genetik ('''DNA''').<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Dengan merajut ketiga utas ini, kita berusaha melacak perjalanan epik para leluhur Nias. == 1. Berdasarkan Kesaksian Mitologis == Sebelum mengenal tulisan, sejarah Nias diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang sangat kaya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Di sore atau malam hari, kakek-nenek akan duduk bersama cucu-cucu mereka di langkan jendela rumah tradisional yang panjang, melantunkan syair-syair puitis yang disebut '''''Hoho''''' untuk menceritakan asal-usul mereka.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> === Kampung Teteholi Ana'a === Menurut '''Hoho''' ini leluhur pertama orang Nias diturunkan di sebuah kampung lengendaris bernama '''Teteholi Ana'a'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang berdiri di atas bukit dan karena itu sering diasosiasikan dengan langit. Untuk menggambarkan betapa makmmur penduduk di Teteholi Ana'a, kampung itu dikatakan memiliki banyak emas, baik yang bermutu rendah ''hamo gana'a'' maupun yang berkadar tinggi emas murni ''balaki''.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Dalam mitos tersebut, yang memerintah Teteholi Ana'a adalah raja bernama '''Sirao'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Suatu hari Sirao mengadakan perlombaan bagi sembilan putranya untuk menentukan siapa dari antara mereka yang akan mewarisi takhtanya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Yang memenangkan lomba tsb. adalah putra bungsunya '''Luomewöna''', juga dikenal sebagai '''Saho'''. Luomewöna, secara harafiah berarti hari kemenangan, berhasil menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dengan memanjat ujung tombak dan duduk di atas mata tombak yang tajam seperti seekor ayam jago.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Luomewöna pun mewarisi kerajaan Teteholi Ana'a.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Sementara itu, saudara-saudaranya disebarkan ke "bumi" menjadi leluhur Ono Niha.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Yang pertama adalah '''Tuada Hia''' (atau '''Hia Walangi Sinada''').<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Beliau mendarat di "jantung" pulau Nias, yakni di '''Börönadu''' di daerah '''Gomo'''. Dialah yang membawa peradaban ke Nias: rumah tradisional Nias pertama (''Omo Niha''), tempat pemujaan leluhur pertama (''osali''), timbangan keadilan untuk emas dan beras, serta hukum adat yang mulia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Dari kampung awal Börönadu keturunan Tuada Hia menyebar ke berbagai penjuru pulau Nias. === Penyebaran Manusia === Ada kisah mitologis lain, yang berusaha menjelaskan penyebaran manusia tsb. Dan kendati ada beberapa pertanyaan mendasar tentang hal ini, misalnya apakah Tuada Hia benar leluhur pertama orang Nias atau empat bersaudara merupakan leluhur bersama, patut kita sisipkan di sini, sekedar untuk melihat bagaimana satu mitologi terbentuk untuk menerangkan sesuatu tanpa memikirkan konsistensi dari kisah tsb. Menurut mitos ini ketika '''Tuada Hia''' turun di Gomo, yang terletak di tengah pulau, bobot tubuhnya yang sangat berat membuat pulau Nias miring ke arah Selatan.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Untuk memulihkan keseimbangan pulau, leluhur bernama '''Gözö''' diturunkan di Hilimaziaya di ujung Utara.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Namun hal ini menyebabkan pulau melengkung di bagian tengah. Maka diturunkanlah leluhur ketiga, '''Daeli Sanau Talinga''', di bagian Timur, dan leluhur keempat, '''Hulu Börö Tanötanö''', di bagian Barat di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Melalui pembagian ini, keseimbangan geografis pulau Nias berhasil dipulihkan, dan harmoni pun tercipta di seluruh pulau.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Anda pasti telah melihat inkonsitensi mitos ini dibanding dengan mitos-mitos lainnya yang beredar di Tanö Niha. Misalnya dikatakan bahwa yang "turun" ke "bumi" adalah Tuada Hia dengan ketiga saudaranya. Mitos-mitos lainnya mengatakan hanya Tuada Hia yang turun ke bumi dan keturunannya memenuhi seluruh pulau. Namun misi dari program Warisan Nias adalah merebut kembali narasi. Dan untuk bisa menemukan narasi yang konsisten, kita harus mengetahui juga narasi yang kurang masuk akal. Dalam arti itu kita menyertakan mitos ini dan mitos-mitos lainnya di sini. === Pohon Tora'a === Kendati susah menyelaraskannya dengan narasi koheren asal-usul Ono Niha, kita patut menyebut mitos pohon Tora'a, yang diceritakan berbeda-beda tergantung daerah di Nias. Pohon '''Tora'a,''' juga dikenal sebagai pohon '''Fösi''', merupakan satu jenis pohon yang tumbuh di Nias, namun menempati posisi mistis pada zaman dahulu.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226, 347</ref> Konon, ketika manusia pertama meninggal, pohon kehidupan Tora'a bertumbuh dari jantungnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226</ref> Pohon memiliki tiga dahan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237</ref> Dari dahan paling atas lahirlah roh-roh, termasuk dewa dunia atas '''Lowalangi''' (atau Lowalani di Selatan) dan dewa dunia bawah '''Laturedanö'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237, 238</ref> Dari buah dan bunga emasnya lahirlah umat manusia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 216, 226</ref> Menariknya, mitos-mitos ini sebenarnya adalah metafora simbolis yang menceritakan '''proses kehamilan dan kelahiran''' manusia.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57</ref> P. Johannes Hämmerle sampai pada kesimpulan ini setelah membandingkan hasil penelitian arkeologis dan genetik modern dengan berbagai Hoho, yang dia kumpulkan dari berbagai daerah di Nias. Menurut beliau "sembilan lapis langit" yang disebut dalam mitos-mitos ini sebenarnya merupakan bahasa simbolik yang menunjuk pada sembilan bulan kehamilan. "Teteholi Ana'a" merupakan nama simbolis rahim ibu, "sungai Zea" yang meluap merupakan kata lain dari pecahnya air ketuban, dan "mulut" dari mana pohon Tora'a muncul adalah kiasan puitis untuk anatomi reproduksi wanita.<ref>Hämmerle, 2013, 57, 132, 133</ref> === Putri Siraso dari Asia === Sebelum mengakhiri bagian ini pantaslah kita sebut satu lagi mitos lain tentang '''Putri Siraso''', yang diceritakan di wilayah Nias Tengah dan Selatan.<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75</ref> Siraso adalah seorang putri raja dari daratan Asia, yang hamil di luar nikah.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Demi menyelamatkannya dari hukuman mati, keluarganya menaikkannya ke sebuah perahu kayu yang dilengkapi perbekalan dan seekor anjing, lalu menghanyutkannya ke samudra luas.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Perahu tersebut terapung menyeberangi Samudra Hindia dan akhirnya terdampar di pantai Timur Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Di sana, Siraso melahirkan putranya yang diberi nama '''Telögu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Ketika Telögu dewasa, ia mengelilingi pulau untuk mencari istri namun tidak menemukan satu pun manusia lain.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Akhirnya, ia kembali dan menikahi ibunya sendiri tanpa mengetahui identitas aslinya, menjadi leluhur garis ibu bagi masyarakat Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Yang menarik mitos-mitos ini juga mencatat bahwa sebelum kelompok Hia dan Siraso tiba di pulau Nias, "penduduk pribumi" telah mendiami pulau tsb. Sebagian dari mereka berkulit terang tinggal di atas pohon. Orang Nias menamakan mereka '''Ono Mbela'''. Sebagian lainnya hidup dalam gua-gua gelap (identik dengan dunia bawah) dan dinamakan keturunan '''Laturedanö'''.<ref>Hämmerle, 2013, 44, 46, 127</ref> Seperti yang akan kita lihat, hasil penelitian ilmiah bisa membantu kita menerangkan siapa "penghuni pribumi" Nias ini, yang akhirnya punah setelah "kaum petani migran" tiba di Nias. === '''Rangkuman Kesaksian Mitologis''' === Sebelum kita melompat ke hasil penemuan ilmiah asal-usul Nias, kita coba rangkumkan kesaksian mitologis ini. Ada tiga kemungkinan asal orang Nias: diturunkan dari kampung Teteholi Ana'a, lahir dari pohon kehidupan Tora'a, dan akhirnya dari "seberang laut"/Asia menurut legenda Putri Siraso. Seperti akan menjadi jelas kemudian, semua tempat ini menunjuk pada satu tempat dan perjalanan epik leluhur Nias dari tempat tsb. ke pulau Nias. Di sini kita patut memberi dua catatan tambahan tentang kampung Teteholi Ana'a. Pertama, bila kita membaca mitos tentang Teteholi Ana'a sebagaimana layaknya mitos-mitos lain di dunia, mau tak mau kita mulai berpikir legenda ini bisa jadi merupakan narasi untuk mengingat kampung halaman. Dan manusia cederung mengidolakan kampung halaman, terutama dalam hal Tuada Hia, yang membawa teknologi dan peradaban ke Nias dari tempat asal:<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> teknologi pembangunan rumah tradisional, ritus pemujaan leluhur, timbangan emas dan beras, serta hukum adat. Dalam konteks ini kampung Teteholi Ana'a disebut penuh emas, satu bahasa simbolis untuk menandakan kemajuan, kemegahan dan kemakmuran kampung tsb. Kedua, disebut P. Johannes Hämmerle di atas,<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57, 132, 133</ref> kampung Teteholi Ana'a adalah nama lain dari kampung pertama leluhur orang Nias di Gomo, yakni '''kampung Börönadu sendiri'''. Secara leksikal "tete holi" berarti satu pemukiman di atas bukit dan karena itu dianggap berada di "atas langit". Dari kampung inilah orang Nias "lahir" dan berketurunan banyak dan akhirnya menyebar ke seluruh pulau. Kampung di atas bukit tinggal merpakan ingatan instiktif bagi orang Nias dewasa ini. Namun pada zaman dulu orang Nias biasa mendirikan pemukiman di atas bukit. Dan kampung (''"banua"'') merupakan kosmos kehidupan orang Nias dengan tata sosial yang terstruktur. Adalah penjajah Belanda yang pada tahun 1908 memaksa orang Nias meninggalkan pemukiman di atas bukit ("tete holi") dan pindah ke pinggir jalan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 54, 61, 160, 274, 336</ref> Kampung di atas bukit (''tete holi'') tinggal menjadi kenangan indah (''ana'a'') akan satu sistem kemasyarakatan sempurna, yang telah hilang. == 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis == Bila mitologi berbicara tentang asal usul orang Nias lewat metafora puitis, arkeologi berbicara dengan bukti fisik masa lalu. === Kaum Pribumi Penghuni Gua === Pada tahun 1999, Museum Pusaka Nias memelopori penggalian arkeologi ilmiah pertama di pulau Nias, bertempat di gua '''Tögi Ndrawa''', dekat Gunungsitoli.<ref>Hämmerle, 2013, 37</ref> Hasilnya sangat mengejutkan: ditemukan bukti fisik bahwa manusia telah mendiami pulau Nias sejak setidaknya '''12.000 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 37</ref> Para penghuni gua purba ini tergolong dalam kebudayaan pemburu-pengumpul pra-Neolitikum yang dikenal berbudaya '''Hoabinhian'''.<ref>Hämmerle, 2013, 22, 30, 127</ref> Mereka menggunakan alat-alat batu sederhana, meramu tanaman liar, dan berburu hewan hutan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 149</ref> Dan seperti telah kita lihat di atas, keberadaan para penghuni gua ini sangat cocok dengan legenda tentang "Laturedanö", yang dikisahkan dalam mitos Nias, sebagai penghuni dunia bawah, yakni gua gelap.<ref>Hämmerle, 2013, 36, 127</ref> === Kedatangan Petani Migran === Ribuan tahun setelah zaman gua purba, sebuah kelompok migran baru mendarat di pantai Timur pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Catatan arkeologi menunjukkan bahwa sekitar tahun '''1000 hingga 1450 M''', masyarakat agraris (petani) yang maju mulai menetap di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 117, 223</ref> Berbeda dengan pemburu-pengumpul, kelompok baru ini sudah mempraktikkan cocok tanam padi, menggunakan peralatan besi, mengenakan perhiasan emas yang rumit, dan mendirikan rumah-rumah kayu yang kokoh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 46, 223</ref> Kehadiran mereka membawa kemajuan, sehingga penduduk pribumi, para penghuni gua purba dan penghuni pohon, pun turut mengadopsi peradaban baru ini.<ref>Hämmerle, 2013, 46</ref> === Budaya Batu Megalitik === Nias dikenal di dunia sebagai salah satu kebudayaan megalitik (batu besar), yang masih hidup sampai sekarang.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Batu-batu ini bisa memberi petunjuk tentang asal usul orang Nias dan kapan mereka sampai di Nias. Para wisatawan sering mengira bahwa tugu batu (''behu''), kursi kehormatan (''osa-osa''), dan meja batu yang ada di desa-desa Nias telah berusia ribuan tahun.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Namun, penelitian arkeologi menyingkapkan fakta yang mengejutkan: tradisi megalitik di Nias sebenarnya '''tergolong sangat muda'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Sebagian besar monumen batu tersebut didirikan antara '''200 hingga 500 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Itu berarti peradaban ini turut dibawa ke Nias oleh kaum petani, yang dipimpin oleh Tuada Hia. Itu berarti pula bahwa batu-batu megalitik Nias didirikan ratusan tahun setelah berbagai candi di Sumatera dan di Jawa telah berdiri. Apakah leluhur orang Nias mendengar atau bahkan melihat batu-batu tsb. dalam perjalanan mereka ke Nias? Namun seperti dibahas panjang lebar di tulisan lainnya dalam seri ini ([[Sangoguna:Slaia/Batu Megalit Nias|Batu Megalitik Nias]]) dibanding peradaban serupa di tempat lain di dunia, batu-batu megalit Nias sangat unik. Bila di tempat lain batu serupa didirikan sebagai tempat pemujaan '''para dewa''' atau monumen bagi tokoh '''yang telah meninggal''', batu megalit megalit Nias didirikan untuk '''menandai status sosial''' seseorang bangsawan '''yang masih hidup'''. Orang Nias, biasanya kepala kampung (disebut ''balugu'' di Utara atau ''si'ulu'' di Selatan), mendirikan batu megalit dalam pesta besar bernama '''owasa''', untuk menghormati leluhur, memamerkan kekayaan perhiasan emas mereka, serta meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> == 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik == Alat paling modern dan presisi yang sering digunakan untuk melacak asal-usul dan migrasi manusia adalah analisa genetik (DNA). Pada tahun 2002 dan 2003, ahli genetika Jerman Dr. Ingo Kennerknecht bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias mengumpulkan sampel DNA dari sekitar 400 orang Nias di berbagai penjuru pulau.<ref>Hämmerle, 2013, 37, 38</ref> Hasil analisis genetika ini sangat mengejutkan dan meluruskan berbagai narasi asal-usul orang Nias. === Bukan dari Tanah Batak, Burma, atau India === Di masa lalu, banyak peneliti luar berspekulasi tentang asal-usul orang Nias: * Sebagian pejabat kolonial Belanda menduga orang Nias adalah keturunan orang '''Batak''' dari Sumatra.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 222</ref>. Dalam tulisan "Tarombo Si Raja Batak", bahkan O.H. Sihite Panderadja menempatkan orang Nias dalam silsilah orang Batak,<ref>Sihite, 1941</ref> atau lebih tepat, Serius Lase menginterpretasikan nama Sijau Nias, putra sulung Ompu Raja Ijolma dalam buku Sihite tsb, sebagai leluhur orang Nias.<ref>Lase (1997), 9.</ref> * Misionaris Jerman pertama, Ludwig Denninger, menduga orang Nias berasal dari '''Burma''' (Myanmar).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 223</ref> * Sebagian peneliti lainnya menghubungkan Nias dengan suku '''Naga''' di India Timur Laut, karena kemiripan batu megalitik dan pesta babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> '''Penelitian DNA membantah seluruh teori tersebut'''. Secara genetik Orang Nias modern tidak memiliki hubungan dekat dengan suku Batak, Burma, maupun India.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 182</ref> === Tanah Air Ono Niha: Formosa === Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa orang Nias modern hampir 100% merupakan '''keturunan bangsa Austronesia'''.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Kode genetika mereka (lebih lanjut di bawah) merujuk langsung pada '''ekspansi Austronesia''', sebuah migrasi bahari raksasa yang bermula dari pulau '''Formosa''' (sekarang '''Taiwan''') sekitar 4.000 hingga 5,000 tahun yang lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Para pelaut ulung ini mengarungi samudra ke arah selatan melalui Filipina, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Nusantara, termasuk pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> === Genetika yang Sangat Homogen === Biasanya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan besar (seperti Sumatra) memiliki keragaman genetik yang tinggi karena perkawinan antar populasi. Namun, Nias adalah kasus yang sangat langka: '''masyarakat Nias modern secara genetik sangat mirip satu sama lain (sangat homogen)'''.<ref>Hämmerle, 2013, 33, 35</ref> Seluruh populasi yang berjumlah lebih dari 700.000 jiwa saat ini diturunkan dari '''sekelompok kecil leluhur pendiri''' yang mengalami penyempitan populasi (''bottleneck'') dan isolasi yang sangat ketat di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145, 183</ref> === Garis Ibu vs Garis Ayah yang Kontras === Di balik kemiripan genetika tersebut, para ilmuwan menemukan perbedaan yang sangat menarik antara DNA ayah (garis keturunan laki-laki) dan DNA ibu (garis keturunan perempuan):<ref>van Oven et al., 2011, 156, 159</ref> * '''DNA Ayah (Kromosom-Y) terpisah sangat ketat''': DNA ayah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara Nias bagian Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Garis keturunan ayah di Nias Utara didominasi oleh haplogroup '''O-M119*''', sementara garis keturunan ayah di Nias Selatan hampir sepenuhnya didominasi oleh haplogroup '''O-M110''' (mencapai 86,4%).<ref>van Oven et al., 2011, 156, 158, 162</ref> Nyaris tidak ada pertukaran garis keturunan laki-laki antara Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 173</ref> * '''DNA Ibu (mtDNA) tercampur merata''': Sebaliknya, DNA yang diwariskan dari garis ibu tidak mengenal batas Utara-Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 181</ref> Haplogroup garis ibu yang paling dominan, '''Y2''' (ditemukan dalam persentase luar biasa tinggi, yaitu 40%), tersebar merata di seluruh pelosok pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 178</ref> Mengapa DNA ibu tercampur merata sementara DNA ayah terpisah ketat? Rahasianya terletak pada adat pernikahan suku Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 181</ref> Suku Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal dengan adat pernikahan '''patrilokal'''.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Artinya, seorang laki-laki harus menikah dengan perempuan dari klan/desa lain, dan setelah menikah, sang istri harus pindah menetap di desa suaminya.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Selama ratusan generasi, para perempuan terus berpindah antar-desa di seluruh pulau Nias, menyebarkan dan membaurkan DNA garis ibu, sementara para laki-laki tetap tinggal di desa leluhur mereka, menjaga DNA garis ayah tetap terisolasi di wilayah masing-masing.<ref>van Oven et al., 2011, 181</ref> === Misteri "Pergantian Populasi" === Penemuan genetika ini melahirkan sebuah teka-teki besar: jika arkeologi membuktikan manusia telah hidup di gua Tögi Ndrawa 12.000 tahun lalu, tetapi DNA membuktikan bahwa orang Nias modern murni keturunan Austronesia (Taiwan, 4.000 tahun lalu), '''mengapa tak ada jejak DNA para penghuni gua purba tersebut?''' Hasil DNA sangat tegas: para pemburu-pengumpul berusia 12.000 tahun lalu '''tidak meninggalkan jejak genetika sama sekali''' pada tubuh orang Nias modern.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Alih-alih saling mengawini dan bercampur darah, para petani Austronesia yang baru datang sepenuhnya '''menggantikan''' populasi pribumi pulau tersebut.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Meskipun penyebab pastinya masih misterius, para ilmuwan menduga faktor utamanya adalah '''penyakit'''.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para petani Austronesia yang baru datang hidup berdampingan dengan hewan ternak dan membawa virus-virus penyakit baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para penghuni gua yang hidup terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit-penyakit baru tersebut, sehingga wabah mematikan kemungkinan besar menyapu bersih seluruh populasi purba, meninggalkan pulau dalam keadaan kosong untuk dihuni oleh para petani baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> === Misteri Bahasa Nias === Perbedaan DNA ayah yang sangat tajam antara Nias Utara (O-M119*) dan Selatan (O-M110) membuktikan bahwa pulau Nias dihuni melalui '''beberapa gelombang kedatangan kelompok kecil pendiri''' (''founder events'') yang tiba di waktu yang berbeda, dan bukan satu migrasi tunggal yang masif.<ref>van Oven et al., 2011, 173, 174</ref> Selain itu, keragaman genetik menunjukkan bahwa '''haplogroup O-M110 (Nias Selatan) memiliki keragaman internal yang lebih tinggi dibandingkan O-M119* (Nias Utara)'''.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Ini berarti garis keturunan ayah di Nias Selatan berusia lebih tua atau tiba lebih awal di pulau ini, sementara garis keturunan ayah di Nias Utara berasal dari gelombang kedatangan yang lebih baru yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.<ref>van Oven et al., 2011, 174</ref> Jika para leluhur tiba dalam gelombang yang berbeda dan hidup terisolasi di wilayah masing-masing, bagaimana mungkin mereka semua berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu '''Li Nono Niha'''?<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 230</ref> Misteri ini bisa dijelaskan demikian: * '''Rumpun Bahasa yang Sama''': Karena seluruh gelombang migrasi berasal dari satu nenek moyang Austronesia yang sama di Taiwan, sejak awal mereka sudah berbicara dalam dialek-dialek yang saling berkerabat erat dari rumpun bahasa Malayo-Polynesian.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145</ref> * '''Namun Tidak Sama Persis!''' Meskipun menggunakan bahasa yang sama, isolasi yang berlangsung berabad-abad menciptakan perbedaan dialek yang sangat tajam antara Nias Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 231</ref> Perbedaan ini sangat nyata dalam kata-kata dasar sehari-hari: {| class="wikitable" |- valign="top" !Arti Kata !Dialek Nias Selatan [232] !Dialek Nias Utara [232] |- valign="top" |'''Kepala''' |''telau'' |''högö'' |- valign="top" |'''Kelapa''' |''sikhula'' |''banio'' |- valign="top" |'''Atas''' |''lawa'' |''yawa'' |- valign="top" |'''Tuhan''' |''Lowalani'' |''Lowalangi'' |- valign="top" |'''Patung Leluhur''' |''aju/azu'' |''adu'' |- valign="top" |'''"Siapa namamu?"''' |''hata döimö?'' |''haniha döimö?'' |} * '''Penyatuan Bahasa''': Selama berabad-abad, interaksi perdagangan lokal, pertemuan adat, dan interaksi sosial lainnya membantu menyatukan bahasa mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> Kini, orang Nias Utara dan Selatan dapat saling memahami dengan sangat baik, sambil tetap bangga mempertahankan kosakata khas daerah masing-masing.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> === Sepupu Orang Nias === Skala migrasi pelaut Austronesia yang luar biasa ini tertulis langsung dalam DNA para lelaki Nias di bagian Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 169</ref> Penanda DNA ayah '''O-M110''' yang sangat dominan di Nias Selatan (86,4%) '''sama sekali tidak ditemukan''' di daratan Sumatra maupun Malaysia.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Namun, jika kita melihat ke arah timur menyeberangi Samudra Pasifik, tanda genetika yang sama persis ini muncul dengan persentase tinggi di kalangan '''suku asli Taiwan''' (32.6%), '''Filipina''' (12.8%), dan yang luar biasa, ribuan kilometer di Pasifik di kalangan penduduk '''Kepulauan Admiralty dan Trobriand''' di wilayah Melanesia, dekat Papua Nugini.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Ini membuktikan bahwa leluhur Ono Niha adalah bagian dari salah satu migrasi bahari terbesar dalam sejarah manusia, meninggalkan jejak genetika dan kebudayaan mereka di separuh belahan dunia, mulai dari pesisir Afrika Timur hingga pulau-pulau terpencil di Samudra Pasifik.<ref>van Oven et al., 2011, 144</ref> DNA orang Nias mengandung bukti "arkeologis" migrasi bangsa-bangsa kuno dari Afrika Timur sampai ke lautan Pasifik. == Mengapa Orang Nias Unik? == Jika kita melihat pulau Sumatra, Jawa, atau Bali, suku-suku di sana sangat banyak bercampur darah dengan pulau tetangga, pedagang India, atau saudagar Arab.<ref>Ingo Kennerknecht_The Genetics Of Nias, 5</ref> Mengapa suku Nias tetap mempertahankan keunikan genetik dan budaya mereka yang begitu murni? Orang Nias memiliki "benteng ganda" yang melindungi mereka dari pengaruh luar: === Benteng Geografis yang Alami === Nias dikelilingi oleh laut dalam dengan gelombang laut yang terkenal sangat ganas.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Berbeda dengan laut pedalaman Nusantara yang tenang, perairan di sekitar Nias sangat berbahaya bagi pelaut asing yang tidak mengenal medannya, membuat pulau ini jarang dikunjungi oleh pendatang asing di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> === Perisai Budaya === Secara historis, Ono Niha memiliki budaya perang dan tradisi berburu kepala (''emali'') yang sangat ditakuti.<ref>Hämmerle, 2013, 41, 127</ref> Berburu kepala adalah bagian penting dari martabat sosial; seorang pria bahkan tidak diizinkan menikah sebelum berhasil membawa pulang kepala musuh.<ref>Hämmerle, 2013, 41, Hummel & Telaumbanua, 2007, 302</ref> Desa-desa dibangun di atas bukit-bukit tinggi yang dibentengi dengan parit-parit pertahanan yang dalam.<ref>Hämmerle, 2013, 116</ref> Reputasi para kesatria yang tangguh dan menakutkan ini membuat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar (seperti Sriwijaya atau Majapahit) maupun kesultanan Islam di Sumatra tidak pernah bisa menjajah atau menetap secara damai di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> === Babi Alih-alih Kerbau === Isolasi yang mendalam ini tercermin dengan sangat jelas dalam kebudayaan Nias. Di Sumatra (seperti suku Batak atau Minangkabau) dan wilayah Indonesia lainnya, hewan yang memainkan peranan utama dalam upacara adat adalah kerbau. Namun, Nias berdiri sendiri secara unik: '''Ono Niha secara khusus menyembelih babi (''bawi'') dalam pesta adat owasa mereka'''.<ref>Hämmerle, 2013, 78, Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> Babi adalah simbol tertinggi dari kekayaan, kehormatan, dan harmoni kosmis di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 248, 273</ref> == Rangkuman == Dengan memadukan kisah '''mitologi''', penemuan fisik dari '''arkeologi''', serta cetak biru ilmiah dari '''DNA''', kita akhirnya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang penduduk pribumi Nias, kedatangan petani migran, yang menjadi leluhur orang Nias modern, perjalanan mereka dari pulau Formosa ke pulu Nias, dan teknologi serta peradaban yang mereka bawa ke Nias. * '''Mitologi''' melestarikan ingatan akan tanah air leluhur di seberang laut, pendaratan Tuada Hia di Gomo, dan penyebaran manusia ke berbagai tempat di pulau, serta keberadaan masyarakat asli Nias (keturunan Bela dan Laturedanö).<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75, 225, 229</ref> * '''Arkeologi''' menunjukkan bahwa Nias telah dihuni selama 12.000 tahun, bahwa tradisi batu megalit yang spektakuler merupakan kreativitas budaya yang tergolong muda dalam beberapa abad terakhir.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 43</ref> * '''Penelitian DNA''' membuktikan bahwa suku Nias modern adalah keturunan murni dari para pelaut tangguh Austronesia asal Formosa yang datang dalam beberapa gelombang, sepenuhnya menggantikan populasi gua purba, dan mempertahankan kemurnian budaya mereka melalui adat pernikahan patrilokal serta isolasi geografis yang ketat.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 181, 182</ref> Bagi generasi muda Nias, warisan sejarah ini adalah sumber kebanggaan yang sangat besar. Ono Niha bukanlah sekadar masyarakat pulau terpencil. Mereka adalah keturunan dari kaum penjelajah samudra terbesar dalam sejarah peradaban manusia, pembawa teknologi dan budaya ke Pulau Nias, dan akan terus menulis lembaran-lembaran sejarah baru, hari ini dan esok. == Sumber == * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). ''150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia''. Anthropos, Vol. 108, No. 1, hlm. 173-204 [30]. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni.''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965)''. Utrecht University [209]. * '''Kennerknecht, Ingo & Hämmerle, Johannes M.''' (2009). ''The Genetics of Nias – Concepts and First Data''. Yayasan Pusaka Nias [1]. * '''Lase, Serius''' (1997). ''Membantah''. Sinar Indonesia Baru (SIB). Medan. Sabtu 11.01.1997. * '''Sihite Panderadja, O.H.''' (1941). ''Tarombo Si Raja Batak''. Medan. * '''Van Oven, Mannis et al.''' (2011). ''Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias''. Molecular Biology and Evolution, Vol. 28, No. 4, hlm. 1349-1361 [143]. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] 8ccemqhzuocbmz6tzkdj5dj2qmcih2p 28422 28421 2026-09-26T11:37:33Z Slaia 39 28422 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses merebut kembali narasi Nias (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Pulau Nias berada di ujung barat Indonesia, sekitar 120 kilometer dari pulau Sumatra. Orang Nias menyebut pulau ini '''Tanö Niha''' ("Tanah Manusia") dan diri mereka sendiri '''Ono Niha''' ("Keturunan Manusia").<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 14</ref> Pulau ini telah memikat para penjelajah, antropolog, dan sejarawan selama berabad-abad.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 15-17</ref>, bukan hanya karena monumen batu megalitik, arsitektur rumah panggung tradisional yang megah, serta tradisi lompat batu (''hombo batu'') yang legendaris.<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Pertanyaan yang telah lama menggelitik para peneliti adalah tentang dari mana Ono Niha sebenarnya berasal. Pertanyaan ini sering muncul mengingat bahasa Nias agak berbeda dari bahasa-bahasa daerah di sekitarnya dan budaya Nias lebih mengingatkan kita akan budaya masyarakat Naga dari daerah Nagaland di perbatasan India-Myanmar daripada akan budaya-budaya lainnya di Indonesia. Untuk memecahkan teka-teki ini, kita menempuh tiga jalur yang sangat berbeda: kesaksian '''mitologi''', penemuan '''arkeologi''', serta cetak biru mikroskopis genetika ('''DNA''').<ref>van Oven et al., 2011, 1349-1350</ref> Dengan merajut ketiga utas ini, kita berusaha melacak perjalanan epik para leluhur Nias. == 1. Berdasarkan Kesaksian Mitologis == Sebelum mengenal tulisan, sejarah Nias diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang sangat kaya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Di sore atau malam hari, kakek-nenek akan duduk bersama cucu-cucu mereka di langkan jendela rumah tradisional yang panjang, melantunkan syair-syair puitis yang disebut '''''Hoho''''' untuk menceritakan asal-usul mereka.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> === Kampung Teteholi Ana'a === Menurut '''Hoho''' ini leluhur pertama orang Nias diturunkan di sebuah kampung lengendaris bernama '''Teteholi Ana'a'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Tempat ini digambarkan sebagai tempat yang berdiri di atas bukit dan karena itu sering diasosiasikan dengan langit. Untuk menggambarkan betapa makmmur penduduk di Teteholi Ana'a, kampung itu dikatakan memiliki banyak emas, baik yang bermutu rendah ''hamo gana'a'' maupun yang berkadar tinggi emas murni ''balaki''.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Dalam mitos tersebut, yang memerintah Teteholi Ana'a adalah raja bernama '''Sirao'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Suatu hari Sirao mengadakan perlombaan bagi sembilan putranya untuk menentukan siapa dari antara mereka yang akan mewarisi takhtanya.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Yang memenangkan lomba tsb. adalah putra bungsunya '''Luomewöna''', juga dikenal sebagai '''Saho'''. Luomewöna, secara harafiah berarti hari kemenangan, berhasil menunjukkan keseimbangan yang luar biasa dengan memanjat ujung tombak dan duduk di atas mata tombak yang tajam seperti seekor ayam jago.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Luomewöna pun mewarisi kerajaan Teteholi Ana'a.<ref>Hämmerle, 2013, 178-188</ref> Sementara itu, saudara-saudaranya disebarkan ke "bumi" menjadi leluhur Ono Niha.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Yang pertama adalah '''Tuada Hia''' (atau '''Hia Walangi Sinada''').<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Beliau mendarat di "jantung" pulau Nias, yakni di '''Börönadu''' di daerah '''Gomo'''. Dialah yang membawa peradaban ke Nias: rumah tradisional Nias pertama (''Omo Niha''), tempat pemujaan leluhur pertama (''osali''), timbangan keadilan untuk emas dan beras, serta hukum adat yang mulia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> Dari kampung awal Börönadu keturunan Tuada Hia menyebar ke berbagai penjuru pulau Nias. === Penyebaran Manusia === Ada kisah mitologis lain, yang berusaha menjelaskan penyebaran manusia tsb. Dan kendati ada beberapa pertanyaan mendasar tentang hal ini, misalnya apakah Tuada Hia benar leluhur pertama orang Nias atau empat bersaudara merupakan leluhur bersama, patut kita sisipkan di sini, sekedar untuk melihat bagaimana satu mitologi terbentuk untuk menerangkan sesuatu tanpa memikirkan konsistensi dari kisah tsb. Menurut mitos ini ketika '''Tuada Hia''' turun di Gomo, yang terletak di tengah pulau, bobot tubuhnya yang sangat berat membuat pulau Nias miring ke arah Selatan.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Untuk memulihkan keseimbangan pulau, leluhur bernama '''Gözö''' diturunkan di Hilimaziaya di ujung Utara.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Namun hal ini menyebabkan pulau melengkung di bagian tengah. Maka diturunkanlah leluhur ketiga, '''Daeli Sanau Talinga''', di bagian Timur, dan leluhur keempat, '''Hulu Börö Tanötanö''', di bagian Barat di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Melalui pembagian ini, keseimbangan geografis pulau Nias berhasil dipulihkan, dan harmoni pun tercipta di seluruh pulau.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 229</ref> Anda pasti telah melihat inkonsitensi mitos ini dibanding dengan mitos-mitos lainnya yang beredar di Tanö Niha. Misalnya dikatakan bahwa yang "turun" ke "bumi" adalah Tuada Hia dengan ketiga saudaranya. Mitos-mitos lainnya mengatakan hanya Tuada Hia yang turun ke bumi dan keturunannya memenuhi seluruh pulau. Namun misi dari program Warisan Nias adalah merebut kembali narasi. Dan untuk bisa menemukan narasi yang konsisten, kita harus mengetahui juga narasi yang kurang masuk akal. Dalam arti itu kita menyertakan mitos ini dan mitos-mitos lainnya di sini. === Pohon Tora'a === Kendati susah menyelaraskannya dengan narasi koheren asal-usul Ono Niha, kita patut menyebut mitos pohon Tora'a, yang diceritakan berbeda-beda tergantung daerah di Nias. Pohon '''Tora'a,''' juga dikenal sebagai pohon '''Fösi''', merupakan satu jenis pohon yang tumbuh di Nias, namun menempati posisi mistis pada zaman dahulu.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226, 347</ref> Konon, ketika manusia pertama meninggal, pohon kehidupan Tora'a bertumbuh dari jantungnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 226</ref> Pohon memiliki tiga dahan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237</ref> Dari dahan paling atas lahirlah roh-roh, termasuk dewa dunia atas '''Lowalangi''' (atau Lowalani di Selatan) dan dewa dunia bawah '''Laturedanö'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 237, 238</ref> Dari buah dan bunga emasnya lahirlah umat manusia.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 216, 226</ref> Menariknya, mitos-mitos ini sebenarnya adalah metafora simbolis yang menceritakan '''proses kehamilan dan kelahiran''' manusia.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57</ref> P. Johannes Hämmerle sampai pada kesimpulan ini setelah membandingkan hasil penelitian arkeologis dan genetik modern dengan berbagai Hoho, yang dia kumpulkan dari berbagai daerah di Nias. Menurut beliau "sembilan lapis langit" yang disebut dalam mitos-mitos ini sebenarnya merupakan bahasa simbolik yang menunjuk pada sembilan bulan kehamilan. "Teteholi Ana'a" merupakan nama simbolis rahim ibu, "sungai Zea" yang meluap merupakan kata lain dari pecahnya air ketuban, dan "mulut" dari mana pohon Tora'a muncul adalah kiasan puitis untuk anatomi reproduksi wanita.<ref>Hämmerle, 2013, 57, 132, 133</ref> === Putri Siraso dari Asia === Sebelum mengakhiri bagian ini pantaslah kita sebut satu lagi mitos lain tentang '''Putri Siraso''', yang diceritakan di wilayah Nias Tengah dan Selatan.<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75</ref> Siraso adalah seorang putri raja dari daratan Asia, yang hamil di luar nikah.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Demi menyelamatkannya dari hukuman mati, keluarganya menaikkannya ke sebuah perahu kayu yang dilengkapi perbekalan dan seekor anjing, lalu menghanyutkannya ke samudra luas.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Perahu tersebut terapung menyeberangi Samudra Hindia dan akhirnya terdampar di pantai Timur Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Di sana, Siraso melahirkan putranya yang diberi nama '''Telögu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Ketika Telögu dewasa, ia mengelilingi pulau untuk mencari istri namun tidak menemukan satu pun manusia lain.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Akhirnya, ia kembali dan menikahi ibunya sendiri tanpa mengetahui identitas aslinya, menjadi leluhur garis ibu bagi masyarakat Nias.<ref>Hämmerle, 2013, 75</ref> Yang menarik mitos-mitos ini juga mencatat bahwa sebelum kelompok Hia dan Siraso tiba di pulau Nias, "penduduk pribumi" telah mendiami pulau tsb. Sebagian dari mereka berkulit terang tinggal di atas pohon. Orang Nias menamakan mereka '''Ono Mbela'''. Sebagian lainnya hidup dalam gua-gua gelap (identik dengan dunia bawah) dan dinamakan keturunan '''Laturedanö'''.<ref>Hämmerle, 2013, 44, 46, 127</ref> Seperti yang akan kita lihat, hasil penelitian ilmiah bisa membantu kita menerangkan siapa "penghuni pribumi" Nias ini, yang akhirnya punah setelah "kaum petani migran" tiba di Nias. === '''Rangkuman Kesaksian Mitologis''' === Sebelum kita melompat ke hasil penemuan ilmiah asal-usul Nias, kita coba rangkumkan kesaksian mitologis ini. Ada tiga kemungkinan asal orang Nias: diturunkan dari kampung Teteholi Ana'a, lahir dari pohon kehidupan Tora'a, dan akhirnya dari "seberang laut"/Asia menurut legenda Putri Siraso. Seperti akan menjadi jelas kemudian, semua tempat ini menunjuk pada satu tempat dan perjalanan epik leluhur Nias dari tempat tsb. ke pulau Nias. Di sini kita patut memberi dua catatan tambahan tentang kampung Teteholi Ana'a. Pertama, bila kita membaca mitos tentang Teteholi Ana'a sebagaimana layaknya mitos-mitos lain di dunia, mau tak mau kita mulai berpikir legenda ini bisa jadi merupakan narasi untuk mengingat kampung halaman. Dan manusia cederung mengidolakan kampung halaman, terutama dalam hal Tuada Hia, yang membawa teknologi dan peradaban ke Nias dari tempat asal:<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 18-25</ref> teknologi pembangunan rumah tradisional, ritus pemujaan leluhur, timbangan emas dan beras, serta hukum adat. Dalam konteks ini kampung Teteholi Ana'a disebut penuh emas, satu bahasa simbolis untuk menandakan kemajuan, kemegahan dan kemakmuran kampung tsb. Kedua, disebut P. Johannes Hämmerle di atas,<ref>Hämmerle, 2013, 30, 57, 132, 133</ref> kampung Teteholi Ana'a adalah nama lain dari kampung pertama leluhur orang Nias di Gomo, yakni '''kampung Börönadu sendiri'''. Secara leksikal "tete holi" berarti satu pemukiman di atas bukit dan karena itu dianggap berada di "atas langit". Dari kampung inilah orang Nias "lahir" dan berketurunan banyak dan akhirnya menyebar ke seluruh pulau. Kampung di atas bukit tinggal merpakan ingatan instiktif bagi orang Nias dewasa ini. Namun pada zaman dulu orang Nias biasa mendirikan pemukiman di atas bukit. Dan kampung (''"banua"'') merupakan kosmos kehidupan orang Nias dengan tata sosial yang terstruktur. Adalah penjajah Belanda yang pada tahun 1908 memaksa orang Nias meninggalkan pemukiman di atas bukit ("tete holi") dan pindah ke pinggir jalan besar.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 54, 61, 160, 274, 336</ref> Kampung di atas bukit (''tete holi'') tinggal menjadi kenangan indah (''ana'a'') akan satu sistem kemasyarakatan sempurna, yang telah hilang. == 2. Berdasarkan Penemuan Arkeologis == Bila mitologi berbicara tentang asal usul orang Nias lewat metafora puitis, arkeologi berbicara dengan bukti fisik masa lalu. === Kaum Pribumi Penghuni Gua === Pada tahun 1999, Museum Pusaka Nias memelopori penggalian arkeologi ilmiah pertama di pulau Nias, bertempat di gua '''Tögi Ndrawa''', dekat Gunungsitoli.<ref>Hämmerle, 2013, 37</ref> Hasilnya sangat mengejutkan: ditemukan bukti fisik bahwa manusia telah mendiami pulau Nias sejak setidaknya '''12.000 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 37</ref> Para penghuni gua purba ini tergolong dalam kebudayaan pemburu-pengumpul pra-Neolitikum yang dikenal berbudaya '''Hoabinhian'''.<ref>Hämmerle, 2013, 22, 30, 127</ref> Mereka menggunakan alat-alat batu sederhana, meramu tanaman liar, dan berburu hewan hutan.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 149</ref> Dan seperti telah kita lihat di atas, keberadaan para penghuni gua ini sangat cocok dengan legenda tentang "Laturedanö", yang dikisahkan dalam mitos Nias, sebagai penghuni dunia bawah, yakni gua gelap.<ref>Hämmerle, 2013, 36, 127</ref> === Kedatangan Petani Migran === Ribuan tahun setelah zaman gua purba, sebuah kelompok migran baru mendarat di pantai Timur pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 149</ref> Catatan arkeologi menunjukkan bahwa sekitar tahun '''1000 hingga 1450 M''', masyarakat agraris (petani) yang maju mulai menetap di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 117, 223</ref> Berbeda dengan pemburu-pengumpul, kelompok baru ini sudah mempraktikkan cocok tanam padi, menggunakan peralatan besi, mengenakan perhiasan emas yang rumit, dan mendirikan rumah-rumah kayu yang kokoh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 46, 223</ref> Kehadiran mereka membawa kemajuan, sehingga penduduk pribumi, para penghuni gua purba dan penghuni pohon, pun turut mengadopsi peradaban baru ini.<ref>Hämmerle, 2013, 46</ref> === Budaya Batu Megalitik === Nias dikenal di dunia sebagai salah satu kebudayaan megalitik (batu besar), yang masih hidup sampai sekarang.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Batu-batu ini bisa memberi petunjuk tentang asal usul orang Nias dan kapan mereka sampai di Nias. Para wisatawan sering mengira bahwa tugu batu (''behu''), kursi kehormatan (''osa-osa''), dan meja batu yang ada di desa-desa Nias telah berusia ribuan tahun.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> Namun, penelitian arkeologi menyingkapkan fakta yang mengejutkan: tradisi megalitik di Nias sebenarnya '''tergolong sangat muda'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Sebagian besar monumen batu tersebut didirikan antara '''200 hingga 500 tahun yang lalu'''.<ref>Hämmerle, 2013, 43</ref> Itu berarti peradaban ini turut dibawa ke Nias oleh kaum petani, yang dipimpin oleh Tuada Hia. Itu berarti pula bahwa batu-batu megalitik Nias didirikan ratusan tahun setelah berbagai candi di Sumatera dan di Jawa telah berdiri. Apakah leluhur orang Nias mendengar atau bahkan melihat batu-batu tsb. dalam perjalanan mereka ke Nias? Namun seperti dibahas panjang lebar di tulisan lainnya dalam seri ini ([[Sangoguna:Slaia/Batu Megalit Nias|Batu Megalitik Nias]]) dibanding peradaban serupa di tempat lain di dunia, batu-batu megalit Nias sangat unik. Bila di tempat lain batu serupa didirikan sebagai tempat pemujaan '''para dewa''' atau monumen bagi tokoh '''yang telah meninggal''', batu megalit megalit Nias didirikan untuk '''menandai status sosial''' seseorang bangsawan '''yang masih hidup'''. Orang Nias, biasanya kepala kampung (disebut ''balugu'' di Utara atau ''si'ulu'' di Selatan), mendirikan batu megalit dalam pesta besar bernama '''owasa''', untuk menghormati leluhur, memamerkan kekayaan perhiasan emas mereka, serta meningkatkan status sosial mereka di mata masyarakat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 247, 285</ref> == 3. Berdasarkan Cetak Biru Genetik == Alat paling modern dan presisi yang sering digunakan untuk melacak asal-usul dan migrasi manusia adalah analisa genetik (DNA). Pada tahun 2002 dan 2003, ahli genetika Jerman Dr. Ingo Kennerknecht bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias mengumpulkan sampel DNA dari sekitar 400 orang Nias di berbagai penjuru pulau.<ref>Hämmerle, 2013, 37, 38</ref> Hasil analisis genetika ini sangat mengejutkan dan meluruskan berbagai narasi asal-usul orang Nias. === Bukan dari Tanah Batak, Burma, atau India === Di masa lalu, banyak peneliti luar berspekulasi tentang asal-usul orang Nias: * Sebagian pejabat kolonial Belanda menduga orang Nias adalah keturunan orang '''Batak''' dari Sumatra.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 222</ref>. Dalam tulisan "Tarombo Si Raja Batak", bahkan O.H. Sihite Panderadja menempatkan orang Nias dalam silsilah orang Batak,<ref>Sihite, 1941</ref> atau lebih tepat, Serius Lase menginterpretasikan nama Sijau Nias, putra sulung Ompu Raja Ijolma dalam buku Sihite tsb, sebagai leluhur orang Nias.<ref>Lase (1997), 9.</ref> * Misionaris Jerman pertama, Ludwig Denninger, menduga orang Nias berasal dari '''Burma''' (Myanmar).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 221, 223</ref> * Sebagian peneliti lainnya menghubungkan Nias dengan suku '''Naga''' di India Timur Laut, karena kemiripan batu megalitik dan pesta babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> '''Penelitian DNA membantah seluruh teori tersebut'''. Secara genetik Orang Nias modern tidak memiliki hubungan dekat dengan suku Batak, Burma, maupun India.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 182</ref> === Tanah Air Ono Niha: Formosa === Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa orang Nias modern hampir 100% merupakan '''keturunan bangsa Austronesia'''.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Kode genetika mereka (lebih lanjut di bawah) merujuk langsung pada '''ekspansi Austronesia''', sebuah migrasi bahari raksasa yang bermula dari pulau '''Formosa''' (sekarang '''Taiwan''') sekitar 4.000 hingga 5,000 tahun yang lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Para pelaut ulung ini mengarungi samudra ke arah selatan melalui Filipina, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Nusantara, termasuk pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> === Genetika yang Sangat Homogen === Biasanya, pulau-pulau yang dekat dengan daratan besar (seperti Sumatra) memiliki keragaman genetik yang tinggi karena perkawinan antar populasi. Namun, Nias adalah kasus yang sangat langka: '''masyarakat Nias modern secara genetik sangat mirip satu sama lain (sangat homogen)'''.<ref>Hämmerle, 2013, 33, 35</ref> Seluruh populasi yang berjumlah lebih dari 700.000 jiwa saat ini diturunkan dari '''sekelompok kecil leluhur pendiri''' yang mengalami penyempitan populasi (''bottleneck'') dan isolasi yang sangat ketat di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145, 183</ref> === Garis Ibu vs Garis Ayah yang Kontras === Di balik kemiripan genetika tersebut, para ilmuwan menemukan perbedaan yang sangat menarik antara DNA ayah (garis keturunan laki-laki) dan DNA ibu (garis keturunan perempuan):<ref>van Oven et al., 2011, 156, 159</ref> * '''DNA Ayah (Kromosom-Y) terpisah sangat ketat''': DNA ayah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok antara Nias bagian Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Garis keturunan ayah di Nias Utara didominasi oleh haplogroup '''O-M119*''', sementara garis keturunan ayah di Nias Selatan hampir sepenuhnya didominasi oleh haplogroup '''O-M110''' (mencapai 86,4%).<ref>van Oven et al., 2011, 156, 158, 162</ref> Nyaris tidak ada pertukaran garis keturunan laki-laki antara Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 173</ref> * '''DNA Ibu (mtDNA) tercampur merata''': Sebaliknya, DNA yang diwariskan dari garis ibu tidak mengenal batas Utara-Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 181</ref> Haplogroup garis ibu yang paling dominan, '''Y2''' (ditemukan dalam persentase luar biasa tinggi, yaitu 40%), tersebar merata di seluruh pelosok pulau Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 159, 178</ref> Mengapa DNA ibu tercampur merata sementara DNA ayah terpisah ketat? Rahasianya terletak pada adat pernikahan suku Nias.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 181</ref> Suku Nias menganut sistem kekerabatan patrilineal dengan adat pernikahan '''patrilokal'''.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Artinya, seorang laki-laki harus menikah dengan perempuan dari klan/desa lain, dan setelah menikah, sang istri harus pindah menetap di desa suaminya.<ref>van Oven et al., 2011, 146</ref> Selama ratusan generasi, para perempuan terus berpindah antar-desa di seluruh pulau Nias, menyebarkan dan membaurkan DNA garis ibu, sementara para laki-laki tetap tinggal di desa leluhur mereka, menjaga DNA garis ayah tetap terisolasi di wilayah masing-masing.<ref>van Oven et al., 2011, 181</ref> === Misteri "Pergantian Populasi" === Penemuan genetika ini melahirkan sebuah teka-teki besar: jika arkeologi membuktikan manusia telah hidup di gua Tögi Ndrawa 12.000 tahun lalu, tetapi DNA membuktikan bahwa orang Nias modern murni keturunan Austronesia (Taiwan, 4.000 tahun lalu), '''mengapa tak ada jejak DNA para penghuni gua purba tersebut?''' Hasil DNA sangat tegas: para pemburu-pengumpul berusia 12.000 tahun lalu '''tidak meninggalkan jejak genetika sama sekali''' pada tubuh orang Nias modern.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 182</ref> Alih-alih saling mengawini dan bercampur darah, para petani Austronesia yang baru datang sepenuhnya '''menggantikan''' populasi pribumi pulau tersebut.<ref>van Oven et al., 2011, 182</ref> Meskipun penyebab pastinya masih misterius, para ilmuwan menduga faktor utamanya adalah '''penyakit'''.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para petani Austronesia yang baru datang hidup berdampingan dengan hewan ternak dan membawa virus-virus penyakit baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> Para penghuni gua yang hidup terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh sama sekali terhadap penyakit-penyakit baru tersebut, sehingga wabah mematikan kemungkinan besar menyapu bersih seluruh populasi purba, meninggalkan pulau dalam keadaan kosong untuk dihuni oleh para petani baru.<ref>Hämmerle, 2013, 127</ref> === Misteri Bahasa Nias === Perbedaan DNA ayah yang sangat tajam antara Nias Utara (O-M119*) dan Selatan (O-M110) membuktikan bahwa pulau Nias dihuni melalui '''beberapa gelombang kedatangan kelompok kecil pendiri''' (''founder events'') yang tiba di waktu yang berbeda, dan bukan satu migrasi tunggal yang masif.<ref>van Oven et al., 2011, 173, 174</ref> Selain itu, keragaman genetik menunjukkan bahwa '''haplogroup O-M110 (Nias Selatan) memiliki keragaman internal yang lebih tinggi dibandingkan O-M119* (Nias Utara)'''.<ref>van Oven et al., 2011, 158, 173</ref> Ini berarti garis keturunan ayah di Nias Selatan berusia lebih tua atau tiba lebih awal di pulau ini, sementara garis keturunan ayah di Nias Utara berasal dari gelombang kedatangan yang lebih baru yang kemudian menyebar dengan sangat cepat.<ref>van Oven et al., 2011, 174</ref> Jika para leluhur tiba dalam gelombang yang berbeda dan hidup terisolasi di wilayah masing-masing, bagaimana mungkin mereka semua berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu '''Li Nono Niha'''?<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 230</ref> Misteri ini bisa dijelaskan demikian: * '''Rumpun Bahasa yang Sama''': Karena seluruh gelombang migrasi berasal dari satu nenek moyang Austronesia yang sama di Taiwan, sejak awal mereka sudah berbicara dalam dialek-dialek yang saling berkerabat erat dari rumpun bahasa Malayo-Polynesian.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 145</ref> * '''Namun Tidak Sama Persis!''' Meskipun menggunakan bahasa yang sama, isolasi yang berlangsung berabad-abad menciptakan perbedaan dialek yang sangat tajam antara Nias Utara dan Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 146, 231</ref> Perbedaan ini sangat nyata dalam kata-kata dasar sehari-hari: {| class="wikitable" |- valign="top" !Arti Kata !Dialek Nias Selatan [232] !Dialek Nias Utara [232] |- valign="top" |'''Kepala''' |''telau'' |''högö'' |- valign="top" |'''Kelapa''' |''sikhula'' |''banio'' |- valign="top" |'''Atas''' |''lawa'' |''yawa'' |- valign="top" |'''Tuhan''' |''Lowalani'' |''Lowalangi'' |- valign="top" |'''Patung Leluhur''' |''aju/azu'' |''adu'' |- valign="top" |'''"Siapa namamu?"''' |''hata döimö?'' |''haniha döimö?'' |} * '''Penyatuan Bahasa''': Selama berabad-abad, interaksi perdagangan lokal, pertemuan adat, dan interaksi sosial lainnya membantu menyatukan bahasa mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> Kini, orang Nias Utara dan Selatan dapat saling memahami dengan sangat baik, sambil tetap bangga mempertahankan kosakata khas daerah masing-masing.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 232</ref> === Sepupu Orang Nias === Skala migrasi pelaut Austronesia yang luar biasa ini tertulis langsung dalam DNA para lelaki Nias di bagian Selatan.<ref>van Oven et al., 2011, 162, 169</ref> Penanda DNA ayah '''O-M110''' yang sangat dominan di Nias Selatan (86,4%) '''sama sekali tidak ditemukan''' di daratan Sumatra maupun Malaysia.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Namun, jika kita melihat ke arah timur menyeberangi Samudra Pasifik, tanda genetika yang sama persis ini muncul dengan persentase tinggi di kalangan '''suku asli Taiwan''' (32.6%), '''Filipina''' (12.8%), dan yang luar biasa, ribuan kilometer di Pasifik di kalangan penduduk '''Kepulauan Admiralty dan Trobriand''' di wilayah Melanesia, dekat Papua Nugini.<ref>van Oven et al., 2011, 162</ref> Ini membuktikan bahwa leluhur Ono Niha adalah bagian dari salah satu migrasi bahari terbesar dalam sejarah manusia, meninggalkan jejak genetika dan kebudayaan mereka di separuh belahan dunia, mulai dari pesisir Afrika Timur hingga pulau-pulau terpencil di Samudra Pasifik.<ref>van Oven et al., 2011, 144</ref> DNA orang Nias mengandung bukti "arkeologis" migrasi bangsa-bangsa kuno dari Afrika Timur sampai ke lautan Pasifik. == Mengapa Orang Nias Unik? == Jika kita melihat pulau Sumatra, Jawa, atau Bali, suku-suku di sana sangat banyak bercampur darah dengan pulau tetangga, pedagang India, atau saudagar Arab.<ref>Ingo Kennerknecht_The Genetics Of Nias, 5</ref> Mengapa suku Nias tetap mempertahankan keunikan genetik dan budaya mereka yang begitu murni? Orang Nias memiliki "benteng ganda" yang melindungi mereka dari pengaruh luar: === Benteng Geografis yang Alami === Nias dikelilingi oleh laut dalam dengan gelombang laut yang terkenal sangat ganas.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> Berbeda dengan laut pedalaman Nusantara yang tenang, perairan di sekitar Nias sangat berbahaya bagi pelaut asing yang tidak mengenal medannya, membuat pulau ini jarang dikunjungi oleh pendatang asing di masa lalu.<ref>van Oven et al., 2011, 145</ref> === Perisai Budaya === Secara historis, Ono Niha memiliki budaya perang dan tradisi berburu kepala (''emali'') yang sangat ditakuti.<ref>Hämmerle, 2013, 41, 127</ref> Berburu kepala adalah bagian penting dari martabat sosial; seorang pria bahkan tidak diizinkan menikah sebelum berhasil membawa pulang kepala musuh.<ref>Hämmerle, 2013, 41, Hummel & Telaumbanua, 2007, 302</ref> Desa-desa dibangun di atas bukit-bukit tinggi yang dibentengi dengan parit-parit pertahanan yang dalam.<ref>Hämmerle, 2013, 116</ref> Reputasi para kesatria yang tangguh dan menakutkan ini membuat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar (seperti Sriwijaya atau Majapahit) maupun kesultanan Islam di Sumatra tidak pernah bisa menjajah atau menetap secara damai di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> === Babi Alih-alih Kerbau === Isolasi yang mendalam ini tercermin dengan sangat jelas dalam kebudayaan Nias. Di Sumatra (seperti suku Batak atau Minangkabau) dan wilayah Indonesia lainnya, hewan yang memainkan peranan utama dalam upacara adat adalah kerbau. Namun, Nias berdiri sendiri secara unik: '''Ono Niha secara khusus menyembelih babi (''bawi'') dalam pesta adat owasa mereka'''.<ref>Hämmerle, 2013, 78, Hummel & Telaumbanua, 2007, 223</ref> Babi adalah simbol tertinggi dari kekayaan, kehormatan, dan harmoni kosmis di pulau ini.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007, 248, 273</ref> == Rangkuman == Dengan memadukan kisah '''mitologi''', penemuan fisik dari '''arkeologi''', serta cetak biru ilmiah dari '''DNA''', kita akhirnya mendapat gambaran yang lebih jelas tentang penduduk pribumi Nias, kedatangan petani migran, yang menjadi leluhur orang Nias modern, perjalanan mereka dari pulau Formosa ke pulu Nias, dan teknologi serta peradaban yang mereka bawa ke Nias. * '''Mitologi''' melestarikan ingatan akan tanah air leluhur di seberang laut, pendaratan Tuada Hia di Gomo, dan penyebaran manusia ke berbagai tempat di pulau, serta keberadaan masyarakat asli Nias (keturunan Bela dan Laturedanö).<ref>Hämmerle, 2013, 46, 75, 225, 229</ref> * '''Arkeologi''' menunjukkan bahwa Nias telah dihuni selama 12.000 tahun, bahwa tradisi batu megalit yang spektakuler merupakan kreativitas budaya yang tergolong muda dalam beberapa abad terakhir.<ref>Hämmerle, 2013, 30, 43</ref> * '''Penelitian DNA''' membuktikan bahwa suku Nias modern adalah keturunan murni dari para pelaut tangguh Austronesia asal Formosa yang datang dalam beberapa gelombang, sepenuhnya menggantikan populasi gua purba, dan mempertahankan kemurnian budaya mereka melalui adat pernikahan patrilokal serta isolasi geografis yang ketat.<ref>van Oven et al., 2011, 144, 181, 182</ref> Bagi generasi muda Nias, warisan sejarah ini adalah sumber kebanggaan yang sangat besar. Ono Niha bukanlah sekadar masyarakat pulau terpencil. Mereka adalah keturunan dari kaum penjelajah samudra terbesar dalam sejarah peradaban manusia, pembawa teknologi dan budaya ke Pulau Nias, dan akan terus menulis lembaran-lembaran sejarah baru, hari ini dan esok. == Sumber == * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). ''150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia''. Anthropos, Vol. 108, No. 1, hlm. 173-204 [30]. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni.''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia (1865-1965)''. Utrecht University [209]. * '''Kennerknecht, Ingo & Hämmerle, Johannes M.''' (2009). ''The Genetics of Nias – Concepts and First Data''. Yayasan Pusaka Nias [1]. * '''Lase, Serius''' (1997). ''Membantah''. Sinar Indonesia Baru (SIB). Medan. Sabtu 11.01.1997. * '''Sihite Panderadja, O.H.''' (1941). ''Tarombo Si Raja Batak''. Medan. * '''Van Oven, Mannis et al.''' (2011). ''Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias''. Molecular Biology and Evolution, Vol. 28, No. 4, hlm. 1349-1361 [143]. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] 80es3uow393qhlkcvubi2etog1rdkpz Sangoguna:Slaia/Linimasa Sejarah Nias 2 5052 28411 28410 2026-09-25T12:04:24Z Slaia 39 /* I. Prasejarah Kuno (Sekitar 55.000 Tahun Lalu – Sekitar 1450 M) */ 28411 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses dekolonisasi eksternal dan internal (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Linimasa ini menyajikan tinjauan kronologis dari sejarah '''Ono Niha''' (orang Nias), melacak perjalanan mereka dari zaman prasejarah kuno, akar mitologi yang mendalam, kontak perdagangan maritim, dan pertemuan kolonial, hingga era modern Republik Indonesia. == I. Prasejarah Kuno (Sekitar 55.000 Tahun Lalu – Sekitar 1450 M) == '''Sekitar 55.000 Tahun Lalu: Nias di Alur Migrasi Kuno''' Manusia modern mulai bermigrasi dari Afrika menuju Australia dan Melanesia. Nias, yang terletak dalam rantai panjang kepulauan yang disebut ''Barrier Islands'' di lepas pantai Sumatra, menjadi batu loncatan selama migrasi maritim pra-Neolitikum awal ini.<ref>van Oven et al., 2011; Mellars et al., 2006</ref> '''Sekitar 12.000 Tahun Lalu: Bukti Pertama Penghuni Nias''' Ekskavasi arkeologis di gua '''Tögi Ndrawa''' (dekat Gunungsitoli) mengungkap adanya penghuni menetap di Nias selama peralihan dari Paleolitikum ke Neolitikum. Para pemburu-pengumpul purba ini termasuk dalam budaya '''Hoabinhian'''.<ref>Forestier et al., 2005; Hämmerle, 2013</ref> ''Hubungan Mitologis:'' Dalam sastra lisan Nias, leluhur para penghuni gua kuno ini diabadikan sebagai '''Laturedanö''' dan '''Ono Mbela''', yang merupakan populasi pribumi, yang mendiami pulau sebelum migrasi utama Austronesia.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Sekitar 4.500 – 3.000 Tahun Lalu: Ekspansi Austronesia''' Masyarakat agraris yang berasal dari '''Formosa''' (sekarang Taiwan) bermigrasi ke selatan melalui Filipina ke Kepulauan Asia Tenggara.<ref>Bellwood, 1997; Bellwood & Dizon, 2005</ref> Studi DNA terhadap lebih dari 400 orang Nias modern menunjukkan bahwa mereka hampir 100% homogen secara genetik, membawa penanda patrilineal Austronesia yang khas ('''O-M119\*''' dan '''O-M110''').<ref>van Oven et al., 2011</ref> ''Misteri Pergantian Populasi:'' Bukti genetik menunjukkan bahwa penghuni gua Tögi Ndrawa berusia 12.000 tahun '''tidak meninggalkan jejak genetik sama sekali''' pada orang Nias modern. Ini menunjukkan terjadinya '''pergantian populasi''' secara total, kemungkinan besar disebabkan oleh penyakit baru yang dibawa oleh para petani Austronesia yang tidak dapat dilawan oleh sistem pertahanan tubuh penduduk asli.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Sekitar 1200 – 1450 M: Kedatangan "Pendatang Baru"''' Kelompok migran agraris yang sangat terorganisasi memasuki Nias, membawa teknologi logam yang maju, alat besi, perhiasan emas, dan tradisi ukiran kayu yang rumit.<ref>Thomsen, 1979; Hämmerle, 2013</ref> ''Lahirnya Pemukiman Pertama:'' Menurut mitologi Nias, para leluhur pertama turun dari langit '''Teteholi Ana'a'''. Dalam kenyataan Teteholi Ana'a adalah pemukiman pertama di Nias yang dibangun di Börönadu, Gomo, dan menjadi asal orang Nias modern.<ref>Hämmerle, 2013; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> Sang leluhur yang membangun pemukiman tsb. dikenal dengan nama '''Tuada Hia''' (setelah wafat dia digelari ''Lawa Lani'' atau ''Lowalangi''). Dialah pendiri kampung '''Teteholi Ana'a''' atau '''Börönadu''' di wilayah pegunungan '''Gomo''' (Nias Tengah), dan dirayakan sebagai tempat lahirnya peradaban Nias.<ref>Hämmerle, 2013; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> Dari desa legendaris ini keturunan Tuada Hia berpencar: '''Gözö''' berangkat ke Utara dan menetap di Hilimaziaya, '''Daeli''' menuju ke Timur dan menetap di Ono Waembo Idanoi, dan '''Hulu''' pindah ke Barat dan menetap di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == II. Catatan Tertulis Awal (Sekitar Abad ke-1 M – Abad ke-14 M) == '''Sekitar Abad ke-1 M: Pulau-Pulau Sebelah Barat Sumatra''' Catatan geografis maritim Romawi, Yunani, dan India kuno membuat penyebutan sporadis tentang rantai panjang pulau yang terletak di lepas pantai barat Sumatra, mengakui lokasi mereka di sepanjang rute perdagangan awal.<ref>Modigliani, 1890</ref> '''851 M: Catatan Tertulis Pertama Tentang Niyan''' Saudagar Persia/Arab bernama '''Sulayman''' mencatat deskripsi eksplisit pertama tentang Nias dengan nama "Niyan." Ia mencatat bahwa pulau ini kaya akan emas, sangat bergantung pada kelapa sebagai makanan, menghasilkan tuak dari pohon palem, dan memiliki masyarakat defensif di mana tradisi berburu kepala menjadi syarat mutlak bagi pria untuk menikah.<ref>Ferrand, 1913-14; Hämmerle, 2013</ref> '''950 M: Nias Kaum Pengayau''' Penjelajah '''Bozorg van Ramhormoz''' menulis tentang Nias dalam ''Kitab al-Hind adjaib'', mendokumentasikan bahwa penduduk pulau itu bangga dengan kepala penggal dan menganggap kuningan sama berharganya dengan emas untuk barter.<ref>Ferrand, 1913-14; Hämmerle, 2013</ref> '''1154 M: Nias Berpopulasi Banyak''' Ahli geografi Arab terkenal '''Al-Edrisi''' mencatat bahwa Nias ("Niyan") memiliki populasi yang padat, memiliki kota besar, dan dihuni oleh pejuang yang sangat berani yang menghormati dan mengagungkan pemburu kepala sebagai pahlawan perang.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''1260 M: Orang Nias yang Cantik dan Berkulit Terang''' Cendekiawan '''Al-Kazwini''' menggambarkan penduduk Nias sebagai orang-orang yang cantik, berkulit terang yang tinggal di pegunungan tengah, yang bersembunyi dari pedagang asing dan hanya menggunakan cawat sederhana atau rok kulit kayu.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''1310 M: Nias dan Hubungan Komersial''' Dokter dan sejarawan Persia '''Rashid ad-Din''' menyebutkan Nias dalam catatan sejarahnya, mencatat hubungan komersialnya dengan pelabuhan ekspor kapur barus di Barus, Sumatra.<ref>Hämmerle, 2013</ref> == III. Tradisi Megalitik & Migrasi Regional (Sekitar 1500 – Sekitar 1760-an) == '''Sekitar 1500 M: Evolusi Megalit & Patung Kayu "Adu"''' ''Transisi Seni Ukir:'' Menurut sejarah lisan Gomo, dua patung leluhur pertama di Börönadu Gomo terbuat dari besi. Ketika patung itu hilang, masyarakat mulai mengukir patung leluhur ('''adu zatua''') dari kayu.<ref>Hämmerle, 2013</ref> ''Tradisi Batu yang Muda:'' Meskipun Nias terkenal dengan '''monumen batu megalit''' raksasa, ekskavasi arkeologis menunjukkan bahwa tradisi megalitikum ini tergolong muda. Sebagian besar monumen batu raksasa (didirikan dalam pesta jasa besar, atau '''owasa''', untuk menghormati kepala suku) sebenarnya baru berusia '''200 hingga 500 tahun'''.<ref>Thomsen, 1976; Hämmerle, 2013</ref> ''Migrasi ke Selatan:'' Kepadatan penduduk dan perselisihan antar-klan mendorong migrasi besar-besaran dari pusat Gomo (Nias Tengah) ke Selatan menuju perbukitan Nias Selatan, di mana desa-desa benteng yang megah dibangun.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Tahun 1660-an: Kontak Pertama dengan Pedagang Eropa (VOC)''' Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda ('''VOC''') mulai berdagang dengan para kepala suku pesisir Nias untuk membarter hasil hutan, kopra, dan babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1669: Kontrak Monopoli VOC''' VOC menandatangani perjanjian dagang formal dengan beberapa kepala suku (''salaŵa'' di Utara di Pulau Hinako dan ''si'ulu'' di Selatan) untuk mengamankan monopoli perdagangan.<ref>Schröder, 1917; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1693: Bangkitnya Perdagangan Budak''' Karena perdagangan biasa kurang menguntungkan, VOC beralih ke '''perdagangan budak''', menukarkan emas dengan tawanan dari para kepala suku pesisir untuk menyediakan tenaga kerja perkebunan di Sumatra. VOC mendirikan gudang dan kantor dagang berbenteng di Gunungsitoli.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Sekitar 1760-an: Migrasi ke Kepulauan Batu''' Kelompok-kelompok dari Nias Selatan bermigrasi ke '''Kepulauan Batu''', membawa serta budaya dan bahasa Nias, yang akhirnya mengasimilasi para pedagang Bugis (''Maru'') yang sudah ada di sana.<ref>Steinhart, 1937; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == IV. Zaman Kegelapan Perbudakan & Pergulatan Awal Eropa (1790 – 1864) == '''1790 – 1830: Puncak Perdagangan Budak''' Pedagang budak dari Sumatra Barat, Aceh, Tiongkok, dan Eropa mengintensifkan penjarahan di Nias. Sekitar 800 hingga 1.500 orang Nias (0,4% dari populasi pulau) dijual sebagai budak setiap tahunnya. Hal ini memicu perang suku yang mendalam, penjarahan berburu kepala (''emali''), dan relokasi desa-desa ke puncak bukit yang berbenteng tinggi.<ref>Reid, 2004; van Oven et al., 2011</ref> '''1819 – 1820: Intervensi Anti-Perbudakan Inggris''' Administrator Inggris '''John Prince''' dan '''William Jack''' mengunjungi Nias untuk menegakkan larangan Inggris terhadap penjualan budak. Meskipun Inggris melarang perdagangan budak, mereka untuk sementara waktu mengizinkan para kepala suku setempat menyimpan budak selama mereka tidak dijual.<ref>Gronert, 1990; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1824: Traktat London''' Inggris menyerahkan kepentingan mereka di Sumatra dan Nias kepada Belanda. Belanda menempatkan administrator resmi pertama mereka (''posthouder'') di Gunungsitoli, tetapi meninggalkannya pada tahun 1826, membiarkan Nias kembali terbuka bagi penjarah budak dari Aceh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1831 – 1832: Misi Katolik Pertama''' Misionaris Prancis '''Jean-Pierre Vallon''' dan '''Jean-Laurent Bérard''', didampingi oleh pasangan katekis orang Nias (Francisco dan Sophie), mendarat di Nias dari Penang. Mereka menetap di Lasara (dekat Gunungsitoli) tetapi meninggal karena malaria dalam hitungan bulan, mengakhiri upaya awal Katolik.<ref>Hämmerle, 1985; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1834: Misionaris Pertama Protestan yang Gagal''' Misionaris Protestan '''Samuel Munson''' and '''Henry Lyman''' dari Boston menjelajahi pantai Timur Nias tetapi ditolak izinnya oleh Belanda untuk menetap. Mereka berlayar ke Sumatra, memasuki tanah Batak, dan tewas di sana.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1847: Pembakaran Lagundri''' Setelah pejabat pemetaan Belanda Donleben diserang, kapal perang Belanda membombardir dan membakar desa Lagundri di selatan, serta mendirikan benteng militer sementara di atas puing-puingnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1855: Perang Orahili (Kekalahan Pertama Belanda)''' Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten De Voss menyerang desa Orahili untuk memaksakan pemetaan kolonial. Para pejuang Orahili yang gagah berani berhasil mengalahkan tentara Belanda, menandai perlawanan militer Nias pertama yang sukses melawan kekuatan Eropa.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1863: Pembersihan Besar-besaran oleh Belanda''' Pasukan ekspedisi Belanda yang besar berkekuatan 600 tentara yang dipimpin oleh Mayor Fritzen secara sistematis menyerang Nias Selatan. Desa-desa Botohösi, Orahili, Lölöwa'u, dan Lagundri dibakar habis. Untuk menguasai wilayah tersebut, Belanda mendirikan Wilayah Yang Dilindungi Pemerintah ('''rapatgebied''') di sekitar Gunungsitoli, membiarkan sisa pulau lainnya di bawah kekuasaan kepala suku yang berdaulat.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == V. Kedatangan Misionaris Protestan & Pemerintahan Langsung Kolonial (1865 – 1914) == '''27 September 1865: Lahirnya Gereja Nias''' Misionaris Jerman '''Ludwig Ernst Denninger''' dari Rhenish Missionary Society (RM) tiba di Gunungsitoli. Tanggal ini dirayakan hari ini sebagai hari lahir Gereja Protestan Nias (BNKP).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Hari Raya Paskah, 1874: Buah Sulung''' Setelah sembilan tahun kerja keras, 25 jemaat Nias pertama dibaptis di Gunungsitoli oleh Denninger dan Friedrich Kramer, setelah secara resmi menyerahkan ''adu zatua'', patung-patung leluhur mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1880: Konferensi Dahana''' Heinrich Sundermann memimpin Konferensi Misionaris Nias resmi pertama di Dahana. Pengajar-pengkhotbah (''guru'') dan penatua (''satua'') Nias pertama diangkat, meletakkan dasar bagi kepemimpinan gereja lokal.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1889: Misi Kepulauan Batu Dimulai''' Masyarakat Misionaris Lutheran Belanda (DLM) memulai pekerjaan perintisan di Kepulauan Batu di bawah misionaris Jerman '''C.W. Frickenschmidt'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1892: Stasiun Sirombu Didirikan''' Misionaris '''August Lett''' mendirikan stasiun misi pertama di Pantai Barat Nias (awalnya Fadoro, kemudian berganti nama menjadi Sirombu). Lett berhasil beradaptasi dengan kebiasaan Nias dengan berbagi ''afo'' (sirih pinang) dan makan dengan tangan.<ref>Lett, 1901; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''29 Januari 1908: Kejatuhan Nias Selatan''' Residen Belanda untuk Tapanuli diserang di Lembah Susua Hulu. Belanda bereaksi dengan kekuatan militer yang luar biasa, berbaris ke pedalaman dan sepenuhnya menundukkan para kepala suku Nias yang berdaulat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1908: Penebangan Pohon Fösi yang Sakral''' Misionaris '''Johannes Bieger''' menebang pohon ''fösi'' kuno yang sakral di Bawalia (pohon mitologis asal leluhur). Penghancuran simbol keagamaan ini, yang bertepatan dengan kemenangan militer Belanda, meruntuhkan benteng spiritual orang Nias.<ref>Bieger, 1916; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1908: Pengenalan Kerja Paksa (''Rodi'')''' Belanda memberlakukan sistem '''rodi'''. Orang Nias dipaksa membangun jalan, menanam kelapa, memindahkan desa mereka dari bukit berbenteng ke jalan-jalan dataran rendah, dan memindahkan kandang babi dari kolong rumah adat. Ini merusak sistem desa otonom tradisional.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1911: Kitab Suci dalam Bahasa Nias''' Heinrich Sundermann menyelesaikan terjemahan lengkap Alkitab ('''Soera Ni'amoni'ö''') ke dalam bahasa Nias.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1914: Pelatihan Pendeta Nias''' Eduard Fries memulai kursus teologi pertama di seminari Ombölata untuk melatih pendeta Nias ('''fandrita Niha''').<ref>Fries, 1922; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == VI. Pertobatan Massal, Otonomi & Perang (1915 – 1945) == '''1915: Kodifikasi Adat Kristen''' Pemerintah kolonial Belanda, bekerja sama dengan misi, menerbitkan buku hukum adat Kristen (''Adat-Recht'') khusus untuk Nias, yang mengatur maskawin pernikahan (''böwö'') dan interaksi sosial.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Akhir 1915 – 1930: Pertobatan Massal (''Fangesa Dödö Sebua'')''' Sebuah gerakan kebangunan rohani yang besar melanda Nias dalam beberapa "gelombang." Diprakarsai oleh orang Nias sendiri (dimulai dari guru bantu Filemo di Helefanikha), gerakan ini ditandai dengan pengakuan dosa massal yang mendalam, penyesalan publik, dan penghancuran patung-patung leluhur (''adu zatua''), yang tersisa. Jumlah orang Kristen yang dibaptis berlipat ganda dari 17.700 (1914) menjadi lebih dari 84,000 (1930).<ref>Müller, 1931; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1935: Pertobatan Börö Nadu Gomo''' Benteng publik terakhir dari spiritualitas orang Nias, yakni pemujaan Tuada Hia di '''Börö Nadu''', Gomo, secara resmi memeluk agama Kristen, mendirikan sebuah gedung gereja di lokasi tersebut.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''November 1936: Pendirian BNKP''' Gereja Nias mengadakan sinode mandiri pertamanya di Gunungsitoli, mendirikan '''Banoea Niha Keriso Protestant ba danö Nias (B.N.K.P.-Nias)'''. Ini menandai transisi menuju kemandirian gereja.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Mei 1940: Interniran Jerman''' Dengan pecahnya Perang Dunia II di Eropa, pemerintah kolonial Belanda menginternir semua misionaris Protestan Jerman di Nias, menyerahkan kepemimpinan gereja sepenuhnya kepada para pejabat Nias.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''17 April 1942: Invasi Jepang''' Tentara Kekaisaran Jepang menduduki Nias (menduduki Kepulauan Batu pada 29 April). Pendudukan Jepang membawa penderitaan yang luar biasa, kelaparan, dan kerja paksa. Pembagian administratif Nias ditata ulang di bawah aturan konstitusi Jepang.<ref>Zebua, 1984; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == VII. Era Modern: Kemerdekaan & Konsolidasi (1945 – 1965) == '''15 Agustus 1945: Kekalahan Jepang''' Jepang menyerah, mengakhiri Perang Dunia II. '''6 Oktober 1945: Berita Kemerdekaan Indonesia Tiba di Nias''' Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus) akhirnya tiba di Nias. Tokoh terpelajar dan para pemimpin gereja Nias dengan penuh semangat menyatakan kesetiaan mereka kepada '''Republik Indonesia''' yang baru, memblokade kota-kota untuk mencegah kembalinya pejabat Belanda.<ref>Zebua, 1996; Hummel & Telaumbanua, 2007 (hlm. 64)</ref> '''1949: Pendeta Ros Telaumbanua Diangkat Menjadi Bupati''' Di bawah Republik Indonesia yang baru, Nias dan Kepulauan Batu secara resmi dipersatukan sebagai '''Kabupaten Nias'''. Pendeta Protestan '''Ros Telaumbanua''' diangkat menjadi Bupati Nias pertama.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Tahun 1950-an: Kembalinya Misi Katolik''' Setelah lebih dari satu abad, misi Katolik kembali ke Nias, mendirikan sekolah-sekolah, klinik kesehatan, dan pusat pelatihan katekis besar di Hilisimaetanö di bawah pimpinan Pastor Van der Weijden.<ref>Steenbrink, 2006; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''27 September 1965: Yubileum 100 Tahun''' BNKP merayakan 100 tahun masuknya Injil di Nias di Gunungsitoli, menerima bantuan ekumenis asing yang besar, termasuk sekolah-sekolah, asrama jemaat, kapal motor (''Kapal Agape''), dan gedung-gedung gereja baru.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''30 September 1965: Krisis Nasional''' Peristiwa Gerakan 30 September (G-30S/PKI) di Jakarta memicu krisis nasional. Nias memasuki era "Orde Baru" Indonesia modern, menandai berakhirnya periode misionaris historis.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1991: Yayasan/Museum Pusaka Nias Berdiri''' P. Johannes Hämmerle mendirikan Yayasan Pusaka Nias, yang menjadi penyelenggara Museum Pusaka Nias. Ini institusi pertama dan satu-satunya, yang didedikasikan untuk pelestarian budaya Nias. '''2013: Merebut Kembali Narasi Nias''' P. Johannes Hämmerle menerbitkan esei berjudul "150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia." Esei ini menandai usaha awal untuk meluruskan interpretasi salah, yang telah terlanjur menjadi narasi utama tentang Nias baik di dunia ilmiah maupun dalam narasi publik. Sepuluh tahun lamanya suara P. Johannes tsb. tidak menggema. Dengan program Warisan Nias ini, generasi berikutnya berusaha menyalakan cahaya redup dari usaha awal tsb. dan berusaha menerima tongkat estafet dari beliau. '''Kini & Masa Depan: Sejarah yang Terus Berlangsung''' Sejarah Nias masih terus berlangsung. Anda dan kita semua turut menulis baris-baris narasi sejarah ini. Setiap langkah pelestarian budaya, dokumentasi bahasa, penelitian arkeologi, dan kepedulian bersama menjaga pusaka leluhur adalah bagian dari babak sejarah yang sedang kita ukir bersama hari ini untuk generasi masa depan. == Bibliografi == * '''Bellwood, Peter''' (1997). ''Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago (Revised Edition)''. Honolulu: University of Hawaii Press. * '''Bellwood, Peter & Dizon, E.''' (2005). "The Batanes archaeological project and the 'Out of Taiwan' hypothesis for Austronesian dispersal." ''Journal of Austronesian Studies'', 1:1-31. * '''Bieger, Johannes N.''' (1916). ''Erlebnisse eines Missionars in 12jähriger Arbeit auf Nias und Sumatra''. Barmen: Verlag der Rheinischen Missionsgesellschaft. * '''Ferrand, Gabriel''' (1913-14). ''Relations de voyages et textes géographiques arabes, persans et turks, relatifs à l'Extrême-Orient du VIIIe au XVIIIe siècles''. Paris: Ernest Leroux. * '''Forestier, Hubert, et al.''' (2005). "Le site de Tögi Ndrawa, île de Nias, Sumatra nord: les premières traces d'une occupation hoabinhienne en grotte en Indonésie." ''Comptes Rendus Palevol'', 4: 727-733. * '''Fries, Eduard''' (1919). ''Nias: Amoeata Hoelo Nono Niha''. Ombölata: Zendingsdrukkerij. * '''Fries, Eduard''' (1922). ''Niassische Pandita''. Barmen: Missionshaus. * '''Gronert, W.''' (1990). "Introduction." In ''Nias Tribal Treasures: Cosmic Reflections in Stone, Wood, and Gold''. Delft: Volkenkundig Museum Nusantara. * '''Hämmerle, Johannes M.''' (1985). ''Sejarah Gereja Katolik di Pulau Nias''. Teluk Dalam: Santa Maria Bintang Laut. * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). "150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia." ''Anthropos'', 108: 173-204. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia 1865-1965''. Zoetermeer: Boekencentrum. * '''Lett, August''' (1901). ''Im Dienst des Evangeliums auf der Westküste von Nias''. Barmen: Verlag der Rheinischen Missionsgesellschaft. * '''Mellars, Paul, et al.''' (2006). "A geographically explicit genetic model of worldwide human-settlement history." ''Science'', 313: 796-800. * '''Modigliani, Elio''' (1890). ''Un viaggio a Nias''. Milano: Treves. * '''Müller, Theodor''' (1931). ''Die "große Reue" auf Nias: Geschichte und Gestalt einer Erweckung auf dem Missionsfelde''. Gütersloh: Der Rufer. * '''Reid, Anthony''' (2004). ''An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra''. Singapore: Singapore University Press. * '''Schröder, E.E.W.Gs.''' (1917). ''Nias: Ethnographische, geographische en historische aanteekeningen en studiën''. Leiden: E.J. Brill. * '''Steinhart, Willem L.''' (1937). ''Niassche Teksten III-XXVI''. Batavia: Martinus Nijhoff. * '''Thomsen, Martin G. Th.''' (1976). ''Famareso ngawalö huku föna awö gowe nifasindro (megalithkultur) ba danö Nias''. Gunungsitoli: Banua Niha Keriso Protestan. * '''Thomsen, Martin G. Th.''' (1979). "Die Sage vom Stammvater Hija: Ein Gesang aus Mittelnias." ''Zeitschrift für Ethnologie'', 104: 209-277. * '''Van Oven, Mannis, Hämmerle, Johannes M., Kennerknecht, Ingo, Kayser, Manfred, et al.''' (2011). "Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias." ''Molecular Biology and Evolution'', 28(3): 1349-1361. * '''Zebua, F. Matias''' (1984). ''Menyelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha''. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias. * '''Zebua, F.''' (1996). ''Kota Gunungsitoli: Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya''. Gunungsitoli: Pusaka. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] ivtuhuowofyifzrtzq265mkrk9n1xpl 28412 28411 2026-09-25T13:29:10Z Slaia 39 28412 wikitext text/x-wiki '''''Catatan:''' Tulisan ini baru draf pertama dan akan pelan-pelan disempurnakan baik dari segi bahasa maupun dari segi pustaka. Mengingat proses dekolonisasi eksternal dan internal (lihat bagian introduksi segenap program), refleksi berkembang sesuai dengan bertambahnya bahan yang dibaca.'' Linimasa ini menyajikan tinjauan kronologis dari sejarah '''Ono Niha''' (orang Nias), melacak perjalanan mereka dari zaman prasejarah kuno, akar mitologi yang mendalam, kontak perdagangan maritim, dan pertemuan kolonial, hingga era modern Republik Indonesia. == I. Prasejarah Kuno (sekitar 55.000 tahun lalu – sekitar 1450 M) == '''Sekitar 55.000 Tahun Lalu: Nias di Alur Migrasi Kuno''' Manusia modern mulai bermigrasi dari Afrika menuju Australia dan Melanesia. Nias, yang terletak dalam rantai panjang kepulauan yang disebut ''Barrier Islands'' di lepas pantai Sumatra, menjadi batu loncatan selama migrasi maritim pra-Neolitikum awal ini.<ref>van Oven et al., 2011; Mellars et al., 2006</ref> '''Sekitar 12.000 Tahun Lalu: Bukti Pertama Penghuni Nias''' Ekskavasi arkeologis di gua '''Tögi Ndrawa''' (dekat Gunungsitoli) mengungkap adanya penghuni menetap di Nias selama peralihan dari Paleolitikum ke Neolitikum. Para pemburu-pengumpul purba ini termasuk dalam budaya '''Hoabinhian'''.<ref>Forestier et al., 2005; Hämmerle, 2013</ref> ''Hubungan Mitologis:'' Dalam sastra lisan Nias, leluhur para penghuni gua kuno ini diabadikan sebagai '''Laturedanö''' dan '''Ono Mbela''', yang merupakan populasi pribumi, yang mendiami pulau sebelum migrasi utama Austronesia.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Sekitar 4.500 – 3.000 Tahun Lalu: Ekspansi Austronesia''' Masyarakat agraris yang berasal dari '''Formosa''' (sekarang Taiwan) bermigrasi ke selatan melalui Filipina ke Kepulauan Asia Tenggara.<ref>Bellwood, 1997; Bellwood & Dizon, 2005</ref> Studi DNA terhadap lebih dari 400 orang Nias modern menunjukkan bahwa mereka hampir 100% homogen secara genetik, membawa penanda patrilineal Austronesia yang khas ('''O-M119\*''' dan '''O-M110''').<ref>van Oven et al., 2011</ref> ''Misteri Pergantian Populasi:'' Bukti genetik menunjukkan bahwa penghuni gua Tögi Ndrawa berusia 12.000 tahun '''tidak meninggalkan jejak genetik sama sekali''' pada orang Nias modern. Ini menunjukkan terjadinya '''pergantian populasi''' secara total, kemungkinan besar disebabkan oleh penyakit baru yang dibawa oleh para petani Austronesia yang tidak dapat dilawan oleh sistem pertahanan tubuh penduduk asli.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Sekitar 1200 – 1450 M: Kedatangan "Pendatang Baru"''' Kelompok migran agraris yang sangat terorganisasi memasuki Nias, membawa teknologi logam yang maju, alat besi, perhiasan emas, dan tradisi ukiran kayu yang rumit.<ref>Thomsen, 1979; Hämmerle, 2013</ref> ''Lahirnya Pemukiman Pertama:'' Menurut mitologi Nias, para leluhur pertama turun dari langit '''Teteholi Ana'a'''. Dalam kenyataan Teteholi Ana'a adalah pemukiman pertama di Nias yang dibangun di Börönadu, Gomo, dan menjadi asal orang Nias modern.<ref>Hämmerle, 2013; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> Sang leluhur yang membangun pemukiman tsb. dikenal dengan nama '''Tuada Hia''' (setelah wafat dia digelari ''Lawa Lani'' atau ''Lowalangi''). Dialah pendiri kampung '''Teteholi Ana'a''' atau '''Börönadu''' di wilayah pegunungan '''Gomo''' (Nias Tengah), dan dirayakan sebagai tempat lahirnya peradaban Nias.<ref>Hämmerle, 2013; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> Dari desa legendaris ini keturunan Tuada Hia berpencar: '''Gözö''' berangkat ke Utara dan menetap di Hilimaziaya, '''Daeli''' menuju ke Timur dan menetap di Ono Waembo Idanoi, dan '''Hulu''' pindah ke Barat dan menetap di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == II. Catatan Tertulis Awal (sekitar abad ke-1 M – abad ke-14 M) == '''Sekitar abad ke-1 M: Pulau-Pulau Sebelah Barat Sumatra''' Catatan geografis maritim Romawi, Yunani, dan India kuno membuat penyebutan sporadis tentang rantai panjang pulau yang terletak di lepas pantai barat Sumatra, mengakui lokasi mereka di sepanjang rute perdagangan awal.<ref>Modigliani, 1890</ref> '''851 M: Catatan Tertulis Pertama Tentang Niyan''' Saudagar Persia/Arab bernama '''Sulayman''' mencatat deskripsi eksplisit pertama tentang Nias dengan nama "'''Niyan'''." Ia mencatat bahwa pulau ini kaya akan emas, sangat bergantung pada kelapa sebagai makanan, menghasilkan tuak dari pohon palem, dan memiliki masyarakat defensif di mana tradisi berburu kepala menjadi syarat mutlak bagi pria untuk menikah.<ref>Ferrand, 1913-14; Hämmerle, 2013</ref> '''950 M: Nias Kaum Pengayau''' Penjelajah '''Bozorg van Ramhormoz''' menulis tentang Nias dalam ''Kitab al-Hind adjaib'', mendokumentasikan bahwa penduduk pulau itu bangga dengan kepala penggal dan menganggap kuningan sama berharganya dengan emas untuk barter.<ref>Ferrand, 1913-14; Hämmerle, 2013</ref> '''1154 M: Nias Berpopulasi Banyak''' Ahli geografi Arab terkenal '''Al-Edrisi''' mencatat bahwa Nias ("'''Niyan'''") memiliki populasi yang padat, memiliki kota besar, dan dihuni oleh pejuang yang sangat berani yang menghormati dan mengagungkan pemburu kepala sebagai pahlawan perang.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''1260 M: Orang Nias yang Cantik dan Berkulit Terang''' Cendekiawan '''Al-Kazwini''' menggambarkan penduduk Nias sebagai orang-orang yang cantik, berkulit terang yang tinggal di pegunungan tengah, yang bersembunyi dari pedagang asing dan hanya menggunakan cawat sederhana atau rok kulit kayu.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''1310 M: Nias dan Hubungan Dagang''' Dokter dan sejarawan Persia '''Rashid ad-Din''' menyebutkan Nias dalam catatan sejarahnya, mencatat hubungan komersialnya dengan pelabuhan ekspor kapur barus di Barus, Sumatra.<ref>Hämmerle, 2013</ref> == III. Tradisi Megalitik & Migrasi Regional (sekitar 1500 – sekitar 1760-an) == '''Sekitar 1500 M: Evolusi Megalit & Patung Kayu "Adu"''' ''Transisi Seni Ukir:'' Menurut sejarah lisan Gomo, dua patung leluhur pertama di Börönadu Gomo terbuat dari besi. Ketika patung itu hilang, masyarakat mulai mengukir patung leluhur ('''adu zatua''') dari kayu.<ref>Hämmerle, 2013</ref> ''Tradisi Batu yang Muda:'' Meskipun Nias terkenal dengan '''monumen batu megalit''' raksasa, ekskavasi arkeologis menunjukkan bahwa tradisi megalitikum ini tergolong muda. Sebagian besar monumen batu raksasa (didirikan dalam pesta jasa besar, atau '''owasa''', untuk menghormati kepala suku) sebenarnya baru berusia '''200 hingga 500 tahun'''.<ref>Thomsen, 1976; Hämmerle, 2013</ref> ''Migrasi ke Selatan:'' Kepadatan penduduk dan perselisihan antar-klan mendorong migrasi besar-besaran dari pusat Gomo (Nias Tengah) ke Selatan menuju perbukitan Nias Selatan, di mana desa-desa benteng yang megah dibangun.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Tahun 1660-an: Kontak Pertama dengan Pedagang Eropa (VOC)''' Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda ('''VOC''') mulai berdagang dengan para kepala suku pesisir Nias untuk membarter hasil hutan, kopra, dan babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1669: Kontrak Monopoli VOC''' VOC menandatangani perjanjian dagang formal dengan beberapa kepala suku (''salaŵa'' di Utara di Pulau Hinako dan ''si'ulu'' di Selatan) untuk mengamankan monopoli perdagangan.<ref>Schröder, 1917; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1693: Bangkitnya Perdagangan Budak''' Karena perdagangan biasa kurang menguntungkan, VOC beralih ke '''perdagangan budak''', menukarkan emas dengan tawanan dari para kepala suku pesisir untuk menyediakan tenaga kerja perkebunan di Sumatra. VOC mendirikan gudang dan kantor dagang berbenteng di Gunungsitoli.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Sekitar 1760-an: Migrasi ke Kepulauan Batu''' Kelompok-kelompok dari Nias Selatan bermigrasi ke '''Kepulauan Batu''', membawa serta budaya dan bahasa Nias, yang akhirnya mengasimilasi para pedagang Bugis (''Maru'') yang sudah ada di sana.<ref>Steinhart, 1937; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == IV. Zaman Perdagangan Budak & Pergulatan Dengan Orang Eropa (1790 – 1864) == '''1790 – 1830: Puncak Perdagangan Budak''' Pedagang budak dari Sumatra Barat, Aceh, Tiongkok, dan Eropa mengintensifkan penjarahan di Nias. Sekitar 800 hingga 1.500 orang Nias (0,4% dari populasi pulau) dijual sebagai budak setiap tahunnya. Hal ini memicu perang suku yang mendalam, penjarahan berburu kepala (''emali''), dan relokasi desa-desa ke puncak bukit yang berbenteng tinggi.<ref>Reid, 2004; van Oven et al., 2011</ref> '''1819 – 1820: Intervensi Anti-Perbudakan Inggris''' Administrator Inggris '''John Prince''' dan '''William Jack''' mengunjungi Nias untuk menegakkan larangan Inggris terhadap penjualan budak. Meskipun Inggris melarang perdagangan budak, mereka untuk sementara waktu mengizinkan para kepala suku setempat menyimpan budak selama mereka tidak dijual.<ref>Gronert, 1990; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1824: Traktat London''' Inggris menyerahkan kepentingan mereka di Sumatra dan Nias kepada Belanda. Belanda menempatkan administrator resmi pertama mereka (''posthouder'') di Gunungsitoli, tetapi meninggalkannya pada tahun 1826, membiarkan Nias kembali terbuka bagi penjarah budak dari Aceh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1831 – 1832: Misi Katolik Pertama''' Misionaris Prancis '''Jean-Pierre Vallon''' dan '''Jean-Laurent Bérard''', didampingi oleh pasangan katekis orang Nias (Francisco dan Sophie), mendarat di Nias dari Penang. Mereka menetap di Lasara (dekat Gunungsitoli) tetapi meninggal karena malaria dalam hitungan bulan, mengakhiri upaya awal Katolik.<ref>Hämmerle, 1985; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1834: Misionaris Pertama Protestan yang Gagal''' Misionaris Protestan '''Samuel Munson''' and '''Henry Lyman''' dari Boston menjelajahi pantai Timur Nias tetapi ditolak izinnya oleh Belanda untuk menetap. Mereka berlayar ke Sumatra, memasuki tanah Batak, dan tewas di sana.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1847: Pembakaran Lagundri''' Setelah pejabat pemetaan Belanda Donleben diserang, kapal perang Belanda membombardir dan membakar desa Lagundri di selatan, serta mendirikan benteng militer sementara di atas puing-puingnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1855: Perang Orahili (Kekalahan Pertama Belanda)''' Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten De Voss menyerang desa Orahili untuk memaksakan pemetaan kolonial. Para pejuang Orahili yang gagah berani berhasil mengalahkan tentara Belanda, menandai perlawanan militer Nias pertama yang sukses melawan kekuatan Eropa.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1863: Pembersihan Besar-besaran oleh Belanda''' Pasukan ekspedisi Belanda yang besar berkekuatan 600 tentara yang dipimpin oleh Mayor Fritzen secara sistematis menyerang Nias Selatan. Desa-desa Botohösi, Orahili, Lölöwa'u, dan Lagundri dibakar habis. Untuk menguasai wilayah tersebut, Belanda mendirikan Wilayah Yang Dilindungi Pemerintah (''rapatgebied'') di sekitar Gunungsitoli, membiarkan sisa pulau lainnya di bawah kekuasaan kepala suku yang berdaulat.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == V. Kedatangan Misi Protestan & Pemerintahan Kolonial (1865 – 1914) == '''27 September 1865: Lahirnya Gereja Nias''' Misionaris Jerman '''Ludwig Ernst Denninger''' dari Rhenish Missionary Society (RM) tiba di Gunungsitoli. Tanggal ini dirayakan hari ini sebagai hari lahir Gereja Protestan Nias (BNKP).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Hari Raya Paskah, 1874: Buah Sulung''' Setelah sembilan tahun kerja keras, 25 jemaat Nias pertama dibaptis di Gunungsitoli oleh Denninger dan Friedrich Kramer, setelah secara resmi menyerahkan ''adu zatua'', patung-patung leluhur mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1880: Konferensi Dahana''' Heinrich Sundermann memimpin Konferensi Misionaris Nias resmi pertama di Dahana. Pengajar-pengkhotbah (''guru'') dan penatua (''satua'') Nias pertama diangkat, meletakkan dasar bagi kepemimpinan gereja lokal.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1889: Misi Kepulauan Batu Dimulai''' Masyarakat Misionaris Lutheran Belanda (DLM) memulai pekerjaan perintisan di Kepulauan Batu di bawah misionaris Jerman '''C.W. Frickenschmidt'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1892: Stasiun Sirombu Didirikan''' Misionaris '''August Lett''' mendirikan stasiun misi pertama di Pantai Barat Nias (awalnya Fadoro, kemudian berganti nama menjadi Sirombu). Lett berhasil beradaptasi dengan kebiasaan Nias dengan berbagi ''afo'' (sirih pinang) dan makan dengan tangan.<ref>Lett, 1901; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''29 Januari 1908: Kejatuhan Nias Selatan''' Residen Belanda untuk Tapanuli diserang di Lembah Susua Hulu. Belanda bereaksi dengan kekuatan militer yang luar biasa, berbaris ke pedalaman dan sepenuhnya menundukkan para kepala suku Nias yang berdaulat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1908: Penebangan Pohon Fösi yang Sakral''' Misionaris '''Johannes Bieger''' menebang pohon ''fösi'' kuno yang sakral di Bawalia (pohon mitologis asal leluhur). Penghancuran simbol keagamaan ini, yang bertepatan dengan kemenangan militer Belanda, meruntuhkan benteng spiritual orang Nias.<ref>Bieger, 1916; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1908: Pengenalan Kerja Paksa (''Rodi'')''' Belanda memberlakukan sistem '''rodi'''. Orang Nias dipaksa membangun jalan, menanam kelapa, memindahkan desa mereka dari bukit berbenteng ke jalan-jalan dataran rendah, dan memindahkan kandang babi dari kolong rumah adat. Ini merusak sistem desa otonom tradisional.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1911: Kitab Suci dalam Bahasa Nias''' Heinrich Sundermann menyelesaikan terjemahan lengkap Alkitab ('''Soera Ni'amoni'ö''') ke dalam bahasa Nias.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1914: Pelatihan Pendeta Nias''' Eduard Fries memulai kursus teologi pertama di seminari Ombölata untuk melatih pendeta Nias ('''fandrita Niha''').<ref>Fries, 1922; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == VI. Pertobatan Massal, Otonomi & Perang (1915 – 1945) == '''1915: Kodifikasi Adat Kristen''' Pemerintah kolonial Belanda, bekerja sama dengan misi, menerbitkan buku hukum adat Kristen (''Adat-Recht'') khusus untuk Nias, yang mengatur maskawin pernikahan (''böwö'') dan interaksi sosial.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Akhir 1915 – 1930: Pertobatan Massal (''Fangesa Dödö Sebua'')''' Sebuah gerakan kebangunan rohani yang besar melanda Nias dalam beberapa "gelombang." Diprakarsai oleh orang Nias sendiri (dimulai dari guru bantu Filemo di Helefanikha), gerakan ini ditandai dengan pengakuan dosa massal yang mendalam, penyesalan publik, dan penghancuran patung-patung leluhur (''adu zatua''), yang tersisa. Jumlah orang Kristen yang dibaptis berlipat ganda dari 17.700 (1914) menjadi lebih dari 84.000 (1930).<ref>Müller, 1931; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1935: Pertobatan Börö Nadu Gomo''' Benteng publik terakhir dari spiritualitas orang Nias, yakni pemujaan Tuada Hia di '''Börö Nadu''', Gomo, secara resmi memeluk agama Kristen, mendirikan sebuah gedung gereja di lokasi tersebut.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''November 1936: Pendirian BNKP''' Gereja Nias mengadakan sinode mandiri pertamanya di Gunungsitoli, mendirikan '''Banoea Niha Keriso Protestant ba danö Nias (B.N.K.P.-Nias)'''. Ini menandai transisi menuju kemandirian gereja.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Mei 1940: Interniran Jerman''' Dengan pecahnya Perang Dunia II di Eropa, pemerintah kolonial Belanda menginternir semua misionaris Protestan Jerman di Nias, menyerahkan kepemimpinan gereja sepenuhnya kepada para pejabat Nias.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''17 April 1942: Invasi Jepang''' Tentara Kekaisaran Jepang menduduki Nias (menduduki Kepulauan Batu pada 29 April). Pendudukan Jepang membawa penderitaan yang luar biasa, kelaparan, dan kerja paksa. Pembagian administratif Nias ditata ulang di bawah aturan konstitusi Jepang.<ref>Zebua, 1984; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == VII. Era Modern: Kemerdekaan & Konsolidasi (1945 – 1965) == '''15 Agustus 1945: Kekalahan Jepang''' Jepang menyerah, mengakhiri Perang Dunia II. '''6 Oktober 1945: Berita Kemerdekaan Indonesia Tiba di Nias''' Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus) akhirnya tiba di Nias. Tokoh terpelajar dan para pemimpin gereja Nias dengan penuh semangat menyatakan kesetiaan mereka kepada '''Republik Indonesia''' yang baru, memblokade kota-kota untuk mencegah kembalinya pejabat Belanda.<ref>Zebua, 1996; Hummel & Telaumbanua, 2007 (hlm. 64)</ref> '''1949: Pendeta Ros Telaumbanua Diangkat Menjadi Bupati''' Di bawah Republik Indonesia yang baru, Nias dan Kepulauan Batu secara resmi dipersatukan sebagai '''Kabupaten Nias'''. Pendeta Protestan '''Ros Telaumbanua''' diangkat menjadi Bupati Nias pertama.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Tahun 1950-an: Kembalinya Misi Katolik''' Setelah lebih dari satu abad, misi Katolik kembali ke Nias, mendirikan sekolah-sekolah, klinik kesehatan, dan pusat pelatihan katekis besar di Hilisimaetanö di bawah pimpinan Pastor Van der Weijden.<ref>Steenbrink, 2006; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''27 September 1965: Yubileum 100 Tahun''' BNKP merayakan 100 tahun masuknya Injil di Nias di Gunungsitoli, menerima bantuan ekumenis asing yang besar, termasuk sekolah-sekolah, asrama jemaat, kapal motor (''Kapal Agape''), dan gedung-gedung gereja baru.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''30 September 1965: Krisis Nasional''' Peristiwa Gerakan 30 September (G-30S/PKI) di Jakarta memicu krisis nasional. Nias memasuki era "Orde Baru" Indonesia modern, menandai berakhirnya periode misionaris historis.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1991: Yayasan/Museum Pusaka Nias Berdiri''' P. Johannes Hämmerle mendirikan Yayasan Pusaka Nias, yang menjadi penyelenggara Museum Pusaka Nias. Ini institusi pertama dan satu-satunya, yang didedikasikan untuk pelestarian budaya Nias. '''2013: Merebut Kembali Narasi Nias''' P. Johannes Hämmerle menerbitkan esei berjudul "150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia." Esei ini menandai usaha awal untuk meluruskan interpretasi salah, yang telah terlanjur menjadi narasi utama tentang Nias baik di dunia ilmiah maupun dalam narasi publik. Sepuluh tahun lamanya suara P. Johannes tsb. tidak menggema. Dengan program Warisan Nias ini, generasi berikutnya berusaha menyalakan cahaya redup dari usaha awal tsb. dan berusaha menerima tongkat estafet dari beliau. '''Kini & Masa Depan: Sejarah yang Terus Berlangsung''' Sejarah Nias masih terus berlangsung. Anda dan kita semua turut menulis baris-baris narasi sejarah ini. Setiap langkah pelestarian budaya, dokumentasi bahasa, penelitian arkeologi, dan kepedulian bersama menjaga pusaka leluhur adalah bagian dari babak sejarah yang sedang kita ukir bersama hari ini untuk generasi masa depan. == Bibliografi == * '''Bellwood, Peter''' (1997). ''Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago (Revised Edition)''. Honolulu: University of Hawaii Press. * '''Bellwood, Peter & Dizon, E.''' (2005). "The Batanes archaeological project and the 'Out of Taiwan' hypothesis for Austronesian dispersal." ''Journal of Austronesian Studies'', 1:1-31. * '''Bieger, Johannes N.''' (1916). ''Erlebnisse eines Missionars in 12jähriger Arbeit auf Nias und Sumatra''. Barmen: Verlag der Rheinischen Missionsgesellschaft. * '''Ferrand, Gabriel''' (1913-14). ''Relations de voyages et textes géographiques arabes, persans et turks, relatifs à l'Extrême-Orient du VIIIe au XVIIIe siècles''. Paris: Ernest Leroux. * '''Forestier, Hubert, et al.''' (2005). "Le site de Tögi Ndrawa, île de Nias, Sumatra nord: les premières traces d'une occupation hoabinhienne en grotte en Indonésie." ''Comptes Rendus Palevol'', 4: 727-733. * '''Fries, Eduard''' (1919). ''Nias: Amoeata Hoelo Nono Niha''. Ombölata: Zendingsdrukkerij. * '''Fries, Eduard''' (1922). ''Niassische Pandita''. Barmen: Missionshaus. * '''Gronert, W.''' (1990). "Introduction." In ''Nias Tribal Treasures: Cosmic Reflections in Stone, Wood, and Gold''. Delft: Volkenkundig Museum Nusantara. * '''Hämmerle, Johannes M.''' (1985). ''Sejarah Gereja Katolik di Pulau Nias''. Teluk Dalam: Santa Maria Bintang Laut. * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). "150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia." ''Anthropos'', 108: 173-204. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia 1865-1965''. Zoetermeer: Boekencentrum. * '''Lett, August''' (1901). ''Im Dienst des Evangeliums auf der Westküste von Nias''. Barmen: Verlag der Rheinischen Missionsgesellschaft. * '''Mellars, Paul, et al.''' (2006). "A geographically explicit genetic model of worldwide human-settlement history." ''Science'', 313: 796-800. * '''Modigliani, Elio''' (1890). ''Un viaggio a Nias''. Milano: Treves. * '''Müller, Theodor''' (1931). ''Die "große Reue" auf Nias: Geschichte und Gestalt einer Erweckung auf dem Missionsfelde''. Gütersloh: Der Rufer. * '''Reid, Anthony''' (2004). ''An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra''. Singapore: Singapore University Press. * '''Schröder, E.E.W.Gs.''' (1917). ''Nias: Ethnographische, geographische en historische aanteekeningen en studiën''. Leiden: E.J. Brill. * '''Steinhart, Willem L.''' (1937). ''Niassche Teksten III-XXVI''. Batavia: Martinus Nijhoff. * '''Thomsen, Martin G. Th.''' (1976). ''Famareso ngawalö huku föna awö gowe nifasindro (megalithkultur) ba danö Nias''. Gunungsitoli: Banua Niha Keriso Protestan. * '''Thomsen, Martin G. Th.''' (1979). "Die Sage vom Stammvater Hija: Ein Gesang aus Mittelnias." ''Zeitschrift für Ethnologie'', 104: 209-277. * '''Van Oven, Mannis, Hämmerle, Johannes M., Kennerknecht, Ingo, Kayser, Manfred, et al.''' (2011). "Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias." ''Molecular Biology and Evolution'', 28(3): 1349-1361. * '''Zebua, F. Matias''' (1984). ''Menyelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha''. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias. * '''Zebua, F.''' (1996). ''Kota Gunungsitoli: Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya''. Gunungsitoli: Pusaka. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] tgyg7p2ppmj95mewh8m8o2e2ufj65ql 28413 28412 2026-09-25T13:32:18Z Slaia 39 28413 wikitext text/x-wiki Linimasa ini menyajikan tinjauan kronologis dari sejarah '''Ono Niha''' (orang Nias), melacak perjalanan mereka dari zaman prasejarah kuno, akar mitologi yang mendalam, kontak perdagangan maritim, dan pertemuan kolonial, hingga era modern. == I. Prasejarah Kuno (sekitar 55.000 tahun lalu – sekitar 1450 M) == '''Sekitar 55.000 Tahun Lalu: Nias di Alur Migrasi Kuno''' Manusia modern mulai bermigrasi dari Afrika menuju Australia dan Melanesia. Nias, yang terletak dalam rantai panjang kepulauan yang disebut ''Barrier Islands'' di lepas pantai Sumatra, menjadi batu loncatan selama migrasi maritim pra-Neolitikum awal ini.<ref>van Oven et al., 2011; Mellars et al., 2006</ref> '''Sekitar 12.000 Tahun Lalu: Bukti Pertama Penghuni Nias''' Ekskavasi arkeologis di gua '''Tögi Ndrawa''' (dekat Gunungsitoli) mengungkap adanya penghuni menetap di Nias selama peralihan dari Paleolitikum ke Neolitikum. Para pemburu-pengumpul purba ini termasuk dalam budaya '''Hoabinhian'''.<ref>Forestier et al., 2005; Hämmerle, 2013</ref> ''Hubungan Mitologis:'' Dalam sastra lisan Nias, leluhur para penghuni gua kuno ini diabadikan sebagai '''Laturedanö''' dan '''Ono Mbela''', yang merupakan populasi pribumi, yang mendiami pulau sebelum migrasi utama Austronesia.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Sekitar 4.500 – 3.000 Tahun Lalu: Ekspansi Austronesia''' Masyarakat agraris yang berasal dari '''Formosa''' (sekarang Taiwan) bermigrasi ke selatan melalui Filipina ke Kepulauan Asia Tenggara.<ref>Bellwood, 1997; Bellwood & Dizon, 2005</ref> Studi DNA terhadap lebih dari 400 orang Nias modern menunjukkan bahwa mereka hampir 100% homogen secara genetik, membawa penanda patrilineal Austronesia yang khas ('''O-M119\*''' dan '''O-M110''').<ref>van Oven et al., 2011</ref> ''Misteri Pergantian Populasi:'' Bukti genetik menunjukkan bahwa penghuni gua Tögi Ndrawa berusia 12.000 tahun '''tidak meninggalkan jejak genetik sama sekali''' pada orang Nias modern. Ini menunjukkan terjadinya '''pergantian populasi''' secara total, kemungkinan besar disebabkan oleh penyakit baru yang dibawa oleh para petani Austronesia yang tidak dapat dilawan oleh sistem pertahanan tubuh penduduk asli.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Sekitar 1200 – 1450 M: Kedatangan "Pendatang Baru"''' Kelompok migran agraris yang sangat terorganisasi memasuki Nias, membawa teknologi logam yang maju, alat besi, perhiasan emas, dan tradisi ukiran kayu yang rumit.<ref>Thomsen, 1979; Hämmerle, 2013</ref> ''Lahirnya Pemukiman Pertama:'' Menurut mitologi Nias, para leluhur pertama turun dari langit '''Teteholi Ana'a'''. Dalam kenyataan Teteholi Ana'a adalah pemukiman pertama di Nias yang dibangun di Börönadu, Gomo, dan menjadi asal orang Nias modern.<ref>Hämmerle, 2013; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> Sang leluhur yang membangun pemukiman tsb. dikenal dengan nama '''Tuada Hia''' (setelah wafat dia digelari ''Lawa Lani'' atau ''Lowalangi''). Dialah pendiri kampung '''Teteholi Ana'a''' atau '''Börönadu''' di wilayah pegunungan '''Gomo''' (Nias Tengah), dan dirayakan sebagai tempat lahirnya peradaban Nias.<ref>Hämmerle, 2013; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> Dari desa legendaris ini keturunan Tuada Hia berpencar: '''Gözö''' berangkat ke Utara dan menetap di Hilimaziaya, '''Daeli''' menuju ke Timur dan menetap di Ono Waembo Idanoi, dan '''Hulu''' pindah ke Barat dan menetap di tepi Sungai Oyo.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == II. Catatan Tertulis Awal (sekitar abad ke-1 M – abad ke-14 M) == '''Sekitar abad ke-1 M: Pulau-Pulau Sebelah Barat Sumatra''' Catatan geografis maritim Romawi, Yunani, dan India kuno membuat penyebutan sporadis tentang rantai panjang pulau yang terletak di lepas pantai barat Sumatra, mengakui lokasi mereka di sepanjang rute perdagangan awal.<ref>Modigliani, 1890</ref> '''851 M: Catatan Tertulis Pertama Tentang Niyan''' Saudagar Persia/Arab bernama '''Sulayman''' mencatat deskripsi eksplisit pertama tentang Nias dengan nama "'''Niyan'''." Ia mencatat bahwa pulau ini kaya akan emas, sangat bergantung pada kelapa sebagai makanan, menghasilkan tuak dari pohon palem, dan memiliki masyarakat defensif di mana tradisi berburu kepala menjadi syarat mutlak bagi pria untuk menikah.<ref>Ferrand, 1913-14; Hämmerle, 2013</ref> '''950 M: Nias Kaum Pengayau''' Penjelajah '''Bozorg van Ramhormoz''' menulis tentang Nias dalam ''Kitab al-Hind adjaib'', mendokumentasikan bahwa penduduk pulau itu bangga dengan kepala penggal dan menganggap kuningan sama berharganya dengan emas untuk barter.<ref>Ferrand, 1913-14; Hämmerle, 2013</ref> '''1154 M: Nias Berpopulasi Banyak''' Ahli geografi Arab terkenal '''Al-Edrisi''' mencatat bahwa Nias ("'''Niyan'''") memiliki populasi yang padat, memiliki kota besar, dan dihuni oleh pejuang yang sangat berani yang menghormati dan mengagungkan pemburu kepala sebagai pahlawan perang.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''1260 M: Orang Nias yang Cantik dan Berkulit Terang''' Cendekiawan '''Al-Kazwini''' menggambarkan penduduk Nias sebagai orang-orang yang cantik, berkulit terang yang tinggal di pegunungan tengah, yang bersembunyi dari pedagang asing dan hanya menggunakan cawat sederhana atau rok kulit kayu.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''1310 M: Nias dan Hubungan Dagang''' Dokter dan sejarawan Persia '''Rashid ad-Din''' menyebutkan Nias dalam catatan sejarahnya, mencatat hubungan komersialnya dengan pelabuhan ekspor kapur barus di Barus, Sumatra.<ref>Hämmerle, 2013</ref> == III. Tradisi Megalitik & Migrasi Regional (sekitar 1500 – sekitar 1760-an) == '''Sekitar 1500 M: Evolusi Megalit & Patung Kayu "Adu"''' ''Transisi Seni Ukir:'' Menurut sejarah lisan Gomo, dua patung leluhur pertama di Börönadu Gomo terbuat dari besi. Ketika patung itu hilang, masyarakat mulai mengukir patung leluhur ('''adu zatua''') dari kayu.<ref>Hämmerle, 2013</ref> ''Tradisi Batu yang Muda:'' Meskipun Nias terkenal dengan '''monumen batu megalit''' raksasa, ekskavasi arkeologis menunjukkan bahwa tradisi megalitikum ini tergolong muda. Sebagian besar monumen batu raksasa (didirikan dalam pesta jasa besar, atau '''owasa''', untuk menghormati kepala suku) sebenarnya baru berusia '''200 hingga 500 tahun'''.<ref>Thomsen, 1976; Hämmerle, 2013</ref> ''Migrasi ke Selatan:'' Kepadatan penduduk dan perselisihan antar-klan mendorong migrasi besar-besaran dari pusat Gomo (Nias Tengah) ke Selatan menuju perbukitan Nias Selatan, di mana desa-desa benteng yang megah dibangun.<ref>Hämmerle, 2013</ref> '''Tahun 1660-an: Kontak Pertama dengan Pedagang Eropa (VOC)''' Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda ('''VOC''') mulai berdagang dengan para kepala suku pesisir Nias untuk membarter hasil hutan, kopra, dan babi.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1669: Kontrak Monopoli VOC''' VOC menandatangani perjanjian dagang formal dengan beberapa kepala suku (''salaŵa'' di Utara di Pulau Hinako dan ''si'ulu'' di Selatan) untuk mengamankan monopoli perdagangan.<ref>Schröder, 1917; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1693: Bangkitnya Perdagangan Budak''' Karena perdagangan biasa kurang menguntungkan, VOC beralih ke '''perdagangan budak''', menukarkan emas dengan tawanan dari para kepala suku pesisir untuk menyediakan tenaga kerja perkebunan di Sumatra. VOC mendirikan gudang dan kantor dagang berbenteng di Gunungsitoli.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Sekitar 1760-an: Migrasi ke Kepulauan Batu''' Kelompok-kelompok dari Nias Selatan bermigrasi ke '''Kepulauan Batu''', membawa serta budaya dan bahasa Nias, yang akhirnya mengasimilasi para pedagang Bugis (''Maru'') yang sudah ada di sana.<ref>Steinhart, 1937; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == IV. Zaman Perdagangan Budak & Pergulatan Dengan Orang Eropa (1790 – 1864) == '''1790 – 1830: Puncak Perdagangan Budak''' Pedagang budak dari Sumatra Barat, Aceh, Tiongkok, dan Eropa mengintensifkan penjarahan di Nias. Sekitar 800 hingga 1.500 orang Nias (0,4% dari populasi pulau) dijual sebagai budak setiap tahunnya. Hal ini memicu perang suku yang mendalam, penjarahan berburu kepala (''emali''), dan relokasi desa-desa ke puncak bukit yang berbenteng tinggi.<ref>Reid, 2004; van Oven et al., 2011</ref> '''1819 – 1820: Intervensi Anti-Perbudakan Inggris''' Administrator Inggris '''John Prince''' dan '''William Jack''' mengunjungi Nias untuk menegakkan larangan Inggris terhadap penjualan budak. Meskipun Inggris melarang perdagangan budak, mereka untuk sementara waktu mengizinkan para kepala suku setempat menyimpan budak selama mereka tidak dijual.<ref>Gronert, 1990; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1824: Traktat London''' Inggris menyerahkan kepentingan mereka di Sumatra dan Nias kepada Belanda. Belanda menempatkan administrator resmi pertama mereka (''posthouder'') di Gunungsitoli, tetapi meninggalkannya pada tahun 1826, membiarkan Nias kembali terbuka bagi penjarah budak dari Aceh.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1831 – 1832: Misi Katolik Pertama''' Misionaris Prancis '''Jean-Pierre Vallon''' dan '''Jean-Laurent Bérard''', didampingi oleh pasangan katekis orang Nias (Francisco dan Sophie), mendarat di Nias dari Penang. Mereka menetap di Lasara (dekat Gunungsitoli) tetapi meninggal karena malaria dalam hitungan bulan, mengakhiri upaya awal Katolik.<ref>Hämmerle, 1985; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1834: Misionaris Pertama Protestan yang Gagal''' Misionaris Protestan '''Samuel Munson''' and '''Henry Lyman''' dari Boston menjelajahi pantai Timur Nias tetapi ditolak izinnya oleh Belanda untuk menetap. Mereka berlayar ke Sumatra, memasuki tanah Batak, dan tewas di sana.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1847: Pembakaran Lagundri''' Setelah pejabat pemetaan Belanda Donleben diserang, kapal perang Belanda membombardir dan membakar desa Lagundri di selatan, serta mendirikan benteng militer sementara di atas puing-puingnya.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1855: Perang Orahili (Kekalahan Pertama Belanda)''' Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten De Voss menyerang desa Orahili untuk memaksakan pemetaan kolonial. Para pejuang Orahili yang gagah berani berhasil mengalahkan tentara Belanda, menandai perlawanan militer Nias pertama yang sukses melawan kekuatan Eropa.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1863: Pembersihan Besar-besaran oleh Belanda''' Pasukan ekspedisi Belanda yang besar berkekuatan 600 tentara yang dipimpin oleh Mayor Fritzen secara sistematis menyerang Nias Selatan. Desa-desa Botohösi, Orahili, Lölöwa'u, dan Lagundri dibakar habis. Untuk menguasai wilayah tersebut, Belanda mendirikan Wilayah Yang Dilindungi Pemerintah (''rapatgebied'') di sekitar Gunungsitoli, membiarkan sisa pulau lainnya di bawah kekuasaan kepala suku yang berdaulat.<ref>Fries, 1919; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == V. Kedatangan Misi Protestan & Pemerintahan Kolonial (1865 – 1914) == '''27 September 1865: Lahirnya Gereja Nias''' Misionaris Jerman '''Ludwig Ernst Denninger''' dari Rhenish Missionary Society (RM) tiba di Gunungsitoli. Tanggal ini dirayakan hari ini sebagai hari lahir Gereja Protestan Nias (BNKP).<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Hari Raya Paskah, 1874: Buah Sulung''' Setelah sembilan tahun kerja keras, 25 jemaat Nias pertama dibaptis di Gunungsitoli oleh Denninger dan Friedrich Kramer, setelah secara resmi menyerahkan ''adu zatua'', patung-patung leluhur mereka.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1880: Konferensi Dahana''' Heinrich Sundermann memimpin Konferensi Misionaris Nias resmi pertama di Dahana. Pengajar-pengkhotbah (''guru'') dan penatua (''satua'') Nias pertama diangkat, meletakkan dasar bagi kepemimpinan gereja lokal.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1889: Misi Kepulauan Batu Dimulai''' Masyarakat Misionaris Lutheran Belanda (DLM) memulai pekerjaan perintisan di Kepulauan Batu di bawah misionaris Jerman '''C.W. Frickenschmidt'''.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1892: Stasiun Sirombu Didirikan''' Misionaris '''August Lett''' mendirikan stasiun misi pertama di Pantai Barat Nias (awalnya Fadoro, kemudian berganti nama menjadi Sirombu). Lett berhasil beradaptasi dengan kebiasaan Nias dengan berbagi ''afo'' (sirih pinang) dan makan dengan tangan.<ref>Lett, 1901; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''29 Januari 1908: Kejatuhan Nias Selatan''' Residen Belanda untuk Tapanuli diserang di Lembah Susua Hulu. Belanda bereaksi dengan kekuatan militer yang luar biasa, berbaris ke pedalaman dan sepenuhnya menundukkan para kepala suku Nias yang berdaulat.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1908: Penebangan Pohon Fösi yang Sakral''' Misionaris '''Johannes Bieger''' menebang pohon ''fösi'' kuno yang sakral di Bawalia (pohon mitologis asal leluhur). Penghancuran simbol keagamaan ini, yang bertepatan dengan kemenangan militer Belanda, meruntuhkan benteng spiritual orang Nias.<ref>Bieger, 1916; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1908: Pengenalan Kerja Paksa (''Rodi'')''' Belanda memberlakukan sistem '''rodi'''. Orang Nias dipaksa membangun jalan, menanam kelapa, memindahkan desa mereka dari bukit berbenteng ke jalan-jalan dataran rendah, dan memindahkan kandang babi dari kolong rumah adat. Ini merusak sistem desa otonom tradisional.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1911: Kitab Suci dalam Bahasa Nias''' Heinrich Sundermann menyelesaikan terjemahan lengkap Alkitab ('''Soera Ni'amoni'ö''') ke dalam bahasa Nias.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1914: Pelatihan Pendeta Nias''' Eduard Fries memulai kursus teologi pertama di seminari Ombölata untuk melatih pendeta Nias ('''fandrita Niha''').<ref>Fries, 1922; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == VI. Pertobatan Massal, Otonomi & Perang (1915 – 1945) == '''1915: Kodifikasi Adat Kristen''' Pemerintah kolonial Belanda, bekerja sama dengan misi, menerbitkan buku hukum adat Kristen (''Adat-Recht'') khusus untuk Nias, yang mengatur maskawin pernikahan (''böwö'') dan interaksi sosial.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Akhir 1915 – 1930: Pertobatan Massal (''Fangesa Dödö Sebua'')''' Sebuah gerakan kebangunan rohani yang besar melanda Nias dalam beberapa "gelombang." Diprakarsai oleh orang Nias sendiri (dimulai dari guru bantu Filemo di Helefanikha), gerakan ini ditandai dengan pengakuan dosa massal yang mendalam, penyesalan publik, dan penghancuran patung-patung leluhur (''adu zatua''), yang tersisa. Jumlah orang Kristen yang dibaptis berlipat ganda dari 17.700 (1914) menjadi lebih dari 84.000 (1930).<ref>Müller, 1931; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1935: Pertobatan Börö Nadu Gomo''' Benteng publik terakhir dari spiritualitas orang Nias, yakni pemujaan Tuada Hia di '''Börö Nadu''', Gomo, secara resmi memeluk agama Kristen, mendirikan sebuah gedung gereja di lokasi tersebut.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''November 1936: Pendirian BNKP''' Gereja Nias mengadakan sinode mandiri pertamanya di Gunungsitoli, mendirikan '''Banoea Niha Keriso Protestant ba danö Nias (B.N.K.P.-Nias)'''. Ini menandai transisi menuju kemandirian gereja.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Mei 1940: Interniran Jerman''' Dengan pecahnya Perang Dunia II di Eropa, pemerintah kolonial Belanda menginternir semua misionaris Protestan Jerman di Nias, menyerahkan kepemimpinan gereja sepenuhnya kepada para pejabat Nias.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''17 April 1942: Invasi Jepang''' Tentara Kekaisaran Jepang menduduki Nias (menduduki Kepulauan Batu pada 29 April). Pendudukan Jepang membawa penderitaan yang luar biasa, kelaparan, dan kerja paksa. Pembagian administratif Nias ditata ulang di bawah aturan konstitusi Jepang.<ref>Zebua, 1984; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> == VII. Era Modern: Kemerdekaan & Konsolidasi (1945 – 1965) == '''15 Agustus 1945: Kekalahan Jepang''' Jepang menyerah, mengakhiri Perang Dunia II. '''6 Oktober 1945: Berita Kemerdekaan Indonesia Tiba di Nias''' Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (17 Agustus) akhirnya tiba di Nias. Tokoh terpelajar dan para pemimpin gereja Nias dengan penuh semangat menyatakan kesetiaan mereka kepada '''Republik Indonesia''' yang baru, memblokade kota-kota untuk mencegah kembalinya pejabat Belanda.<ref>Zebua, 1996; Hummel & Telaumbanua, 2007 (hlm. 64)</ref> '''1949: Pendeta Ros Telaumbanua Diangkat Menjadi Bupati''' Di bawah Republik Indonesia yang baru, Nias dan Kepulauan Batu secara resmi dipersatukan sebagai '''Kabupaten Nias'''. Pendeta Protestan '''Ros Telaumbanua''' diangkat menjadi Bupati Nias pertama.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''Tahun 1950-an: Kembalinya Misi Katolik''' Setelah lebih dari satu abad, misi Katolik kembali ke Nias, mendirikan sekolah-sekolah, klinik kesehatan, dan pusat pelatihan katekis besar di Hilisimaetanö di bawah pimpinan Pastor Van der Weijden.<ref>Steenbrink, 2006; Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''27 September 1965: Yubileum 100 Tahun''' BNKP merayakan 100 tahun masuknya Injil di Nias di Gunungsitoli, menerima bantuan ekumenis asing yang besar, termasuk sekolah-sekolah, asrama jemaat, kapal motor (''Kapal Agape''), dan gedung-gedung gereja baru.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''30 September 1965: Krisis Nasional''' Peristiwa Gerakan 30 September (G-30S/PKI) di Jakarta memicu krisis nasional. Nias memasuki era "Orde Baru" Indonesia modern, menandai berakhirnya periode misionaris historis.<ref>Hummel & Telaumbanua, 2007</ref> '''1991: Yayasan/Museum Pusaka Nias Berdiri''' P. Johannes Hämmerle mendirikan Yayasan Pusaka Nias, yang menjadi penyelenggara Museum Pusaka Nias. Ini institusi pertama dan satu-satunya, yang didedikasikan untuk pelestarian budaya Nias. '''2013: Merebut Kembali Narasi Nias''' P. Johannes Hämmerle menerbitkan esei berjudul "150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia." Esei ini menandai usaha awal untuk meluruskan interpretasi salah, yang telah terlanjur menjadi narasi utama tentang Nias baik di dunia ilmiah maupun dalam narasi publik. Sepuluh tahun lamanya suara P. Johannes tsb. tidak menggema. Dengan program Warisan Nias ini, generasi berikutnya berusaha menyalakan cahaya redup dari usaha awal tsb. dan berusaha menerima tongkat estafet dari beliau. '''Kini & Masa Depan: Sejarah yang Terus Berlangsung''' Sejarah Nias masih terus berlangsung. Anda dan kita semua turut menulis baris-baris narasi sejarah ini. Setiap langkah pelestarian budaya, dokumentasi bahasa, penelitian arkeologi, dan kepedulian bersama menjaga pusaka leluhur adalah bagian dari babak sejarah yang sedang kita ukir bersama hari ini untuk generasi masa depan. == Bibliografi == * '''Bellwood, Peter''' (1997). ''Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago (Revised Edition)''. Honolulu: University of Hawaii Press. * '''Bellwood, Peter & Dizon, E.''' (2005). "The Batanes archaeological project and the 'Out of Taiwan' hypothesis for Austronesian dispersal." ''Journal of Austronesian Studies'', 1:1-31. * '''Bieger, Johannes N.''' (1916). ''Erlebnisse eines Missionars in 12jähriger Arbeit auf Nias und Sumatra''. Barmen: Verlag der Rheinischen Missionsgesellschaft. * '''Ferrand, Gabriel''' (1913-14). ''Relations de voyages et textes géographiques arabes, persans et turks, relatifs à l'Extrême-Orient du VIIIe au XVIIIe siècles''. Paris: Ernest Leroux. * '''Forestier, Hubert, et al.''' (2005). "Le site de Tögi Ndrawa, île de Nias, Sumatra nord: les premières traces d'une occupation hoabinhienne en grotte en Indonésie." ''Comptes Rendus Palevol'', 4: 727-733. * '''Fries, Eduard''' (1919). ''Nias: Amoeata Hoelo Nono Niha''. Ombölata: Zendingsdrukkerij. * '''Fries, Eduard''' (1922). ''Niassische Pandita''. Barmen: Missionshaus. * '''Gronert, W.''' (1990). "Introduction." In ''Nias Tribal Treasures: Cosmic Reflections in Stone, Wood, and Gold''. Delft: Volkenkundig Museum Nusantara. * '''Hämmerle, Johannes M.''' (1985). ''Sejarah Gereja Katolik di Pulau Nias''. Teluk Dalam: Santa Maria Bintang Laut. * '''Hämmerle, Johannes M.''' (2013). "150 Years of Ethnological Interpretation and Misinterpretation on the Example of Nias, Indonesia." ''Anthropos'', 108: 173-204. * '''Hummel, Uwe & Telaumbanua, Tuhoni''' (2007). ''Cross and Adu: A Socio-Historical Study on the Encounter Between Christianity and the Indigenous Culture on Nias and the Batu Islands, Indonesia 1865-1965''. Zoetermeer: Boekencentrum. * '''Lett, August''' (1901). ''Im Dienst des Evangeliums auf der Westküste von Nias''. Barmen: Verlag der Rheinischen Missionsgesellschaft. * '''Mellars, Paul, et al.''' (2006). "A geographically explicit genetic model of worldwide human-settlement history." ''Science'', 313: 796-800. * '''Modigliani, Elio''' (1890). ''Un viaggio a Nias''. Milano: Treves. * '''Müller, Theodor''' (1931). ''Die "große Reue" auf Nias: Geschichte und Gestalt einer Erweckung auf dem Missionsfelde''. Gütersloh: Der Rufer. * '''Reid, Anthony''' (2004). ''An Indonesian Frontier: Acehnese and Other Histories of Sumatra''. Singapore: Singapore University Press. * '''Schröder, E.E.W.Gs.''' (1917). ''Nias: Ethnographische, geographische en historische aanteekeningen en studiën''. Leiden: E.J. Brill. * '''Steinhart, Willem L.''' (1937). ''Niassche Teksten III-XXVI''. Batavia: Martinus Nijhoff. * '''Thomsen, Martin G. Th.''' (1976). ''Famareso ngawalö huku föna awö gowe nifasindro (megalithkultur) ba danö Nias''. Gunungsitoli: Banua Niha Keriso Protestan. * '''Thomsen, Martin G. Th.''' (1979). "Die Sage vom Stammvater Hija: Ein Gesang aus Mittelnias." ''Zeitschrift für Ethnologie'', 104: 209-277. * '''Van Oven, Mannis, Hämmerle, Johannes M., Kennerknecht, Ingo, Kayser, Manfred, et al.''' (2011). "Unexpected Island Effects at an Extreme: Reduced Y Chromosome and Mitochondrial DNA Diversity in Nias." ''Molecular Biology and Evolution'', 28(3): 1349-1361. * '''Zebua, F. Matias''' (1984). ''Menyelusuri Sejarah Kebudayaan Ono Niha''. Gunungsitoli: Yayasan Pusaka Nias. * '''Zebua, F.''' (1996). ''Kota Gunungsitoli: Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya''. Gunungsitoli: Pusaka. == Referensi == {{Reflist|18em}} [[Kategori:Nias Heritage]] [[Kategori:Ondröita Nono Niha]] [[Kategori:Warisan Nias]] 9bmb922hc2ty5wdvwqe5o0g7ysqwn0t